<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4938604702076441683</atom:id><lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 02:53:37 +0000</lastBuildDate><category>Artikel Pendidikan</category><category>Artikel Pilihan</category><category>Bisnis</category><category>Internet</category><category>Sosial Media</category><category>Sukses</category><category>Tips</category><category>Tips Sukses</category><title>Irham Wijayakusuma</title><description>Yakin dengan apa yang kita lakukan</description><link>http://irhamwijayakusuma.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Yakin dengan apa yang kita lakukan</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4938604702076441683.post-1696620599805275108</guid><pubDate>Sun, 02 Jun 2013 06:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-01T23:01:43.929-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><title>Kekuatan Karakter Bagi Masa Depan Anak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8Y3B1iGSA7ZI6b06UPfFwBi9Qw0S4zRFEuLVS_j1-lTQ4EEuayr829zhcquxkzQAnlOyijmwm7aPLYF4-pa2f5-vVeUt4ov7ockLkqyHs-pSkkpXgsWP7hzNF1Cy1vY1cniwcX2ddoFM/s1600/post-20.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8Y3B1iGSA7ZI6b06UPfFwBi9Qw0S4zRFEuLVS_j1-lTQ4EEuayr829zhcquxkzQAnlOyijmwm7aPLYF4-pa2f5-vVeUt4ov7ockLkqyHs-pSkkpXgsWP7hzNF1Cy1vY1cniwcX2ddoFM/s320/post-20.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya melihat salah seorang siswa di lingkungan tempat tinggal saya sangat tekun belajar. Sampai-sampai, ia tidak sempat meluangkan waktu untuk bermain dengan teman sebayanya. Tuntutan sekolah yang begitu banyak membuatnya harus berlama-lama di kamar untuk mentransfer informasi yang ada di buku ke dalam otak atau memorinya. Saya sangat kasihan dengan siswa tersebut. Mengapa? Di satu sisi, siswa tersebut memang terasah kemampuan kognitifnya. Namun di sisi lain, ia mengalami ketimpangan atau kelumpuhan emosional (afektif). Hidup itu seperti naik sepeda, perlu sekali menjaga keseimbangan. Jika keseimbangan tidak terjaga maka akan jatuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melihat siswa tersebut, saya sarankan pada orangtuanya untuk membantu mengatur waktu, agar ia tidak terkurung di dalam kamar, sementara kawan-kawannya asyik bermain. Yang tidak ia sadari, bahwa bermain sebenarnya juga bagian dari proses belajar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti yang kita ketahui, manusia sebenarnya memiliki daya cipta, rasa dan karsa. Karena itu, ketika hanya daya cipta (IQ) saja yang diasah, maka terjadi ketidakseimbangan. Lalu apa yang terjadi? Tentunya, efek dari pola pendidikan yang hanya menitik beratkan pada daya cipta (kognisi / IQ) saja dan mengabaikan rasa (afeksi / EQ) dan karsa (action) akan terasa dan terlihat di kala si anak tumbuh dewasa. Si anak tersebut akan lumpuh sosial. Mengapa saya katakan lumpuh sosial? Lumpuh sosial terjadi ketika si anak tidak mampu menjalin hubungan di lingkungan sosialnya. Padahal, dalam setiap pergaulan di masyarakat, baik pergaulan dalam pekerjaan, pergaulan organisasi, pergaulan di sekolah dan lain-lain pasti butuh untuk menjalin hubungan dan bekerjasama dengan sesama. Pada akhirnya bisa menghambat perkembangan potensi dirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukankah sudah menjadi kebutuhan mendasar kita sebagai manusia untuk saling bekerjasama. Dengan bekerjasama, sebenarnya kita membuka banyak peluang untuk mempelajari banyak hal. Dengan begitu kita bisa menambah kesempatan untuk mengeksplore diri kita. Inilah letak pentingnya pergaulan dan interaksi sosial.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dulu, orang tua memang mengarahkan anak-anaknya untuk mengasah IQ-nya. Sebab, IQ yang tinggi diartikan sebagai tingkat kecerdasan yang tinggi pula (dan konon jadi resep sukses kalo IQ tinggi). Namun, sebuah kesadaran baru akhirnya muncul bahwa ada kecerdasan lain yang juga tidak bisa diabaikan, yakni kecerdasan emosional.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keseimbangan antara kecerdasan kognitif (pengetahuan), perasaan (afektif) dan tindakan (action) akan membangun kekuatan karakter diri yang baik. Karakter diri sangatlah penting peranannya. Sebab, karakter diri adalah cara pikir dan prilaku yang khas dari individu untuk hidup dan bekerjasama dengan sekitarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terkadang, karakter diri seseorang terasa tidak seimbang. Ada orang yang memiliki ide-ide brilian namun tidak mampu bekerjasama dengan teamworknya. Itu menunjukkan orang tersebut memiliki kecerdasan IQ yang baik sedang kecerdasan emosionalnya buruk. Ada juga orang yang memiliki otak cemerlang, dia juga baik, namun malas bekerja. Itu menunjukkan actionnya lebih lemah dibanding IQ dan EQ nya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan kita. Lihat saja, seorang Nelson Mandela meraih simpati dunia dengan ide perdamaiannya. Bunda Teresa menggetarkan dunia dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesamanya. Bung Karno dengan ide, kegigihan dan kecerdasannya masih terasa bagi kita bangsa Indonesia yang telah melalui tahun millennium.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semua itu adalah wujud dari kekuatan karakter yang mereka miliki. Ini menegaskan bahwa, karakter seseorang menentukan kesuksesan individu. Dan menurut penelitian, kesuksesan seseorang justru 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya, sedangkan kecerdasan intelegensianya mendapat porsi 20 persen.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Membangun Kekuatan Karakter&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada diri setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Lingkungan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Karakter kita, memiliki peran penting dalam proses kehidupan. Sebab, karakter mengendalikan pikiran dan perilaku kita, yang tentu saja menentukan kesuksesan, cara kita menjalani hidup, meraih obsesi dan menyelesaikan masalah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebenarnya masing-masing dari kita memiliki karakter yang khas. Dan, kekhasan karakter tersebut merupakan kekuatan karakter kita. Sebab, kekhasan atau keunikan itulah yang membedakan kita dengan individu lainnya. Si penghibur akan menebarkan semangat, si pengatur akan memanajemen organisasi. Mereka yang bijak dan tidak suka konflik bisa menjadi pendamai. Itu semua adalah kekuatan karakter. Dan, setiap karakter akan dibutuhkan dalam setiap pergaulan, baik pergaulan kerja, organisasi atau masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ingatlah! Kekuatan karakter harus dibangun sejak awal. Membangun kekuatan karakter bisa dilakukan melalui pendidikan karakter baik di lingkungan formal seperti sekolah, atau non-formal seperti keluarga dan masyarakat. Pendidikan karakter diberikan melalui penanaman nilai-nilai karakter. Bisa berupa pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Output pendidikan karakter akan terlihat pada terciptanya hubungan baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, masyarakat luas dan lain-lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pendidikan karakter tidak hanya diberikan secara teoritik di sekolah, namun juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu adalah bukti bahwa pendidikan yang diberikan telah merasuk dalam diri seseorang. Ketika makan bersikap sopan, ketika hendak tidur membaca doa, ketika keluar rumah berpamitan, tekun dan semangat mewujudkan obsesi dan cita-cita, jujur, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, tidak membuang sampah di sembarang tempat dan lain-lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Membangun kekuatan karakter dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen. Sebab, setiap elemen akan berpengaruh dalam proses pembentukan karakter individu. Seorang anak akan meniru dan mengidentifikasi apa yang ada di sekelilingnya. Role model positif akan membentuk karakter yang positif dan sebaliknya role model negatif akan membentuk keprbadian dan karakter negatif. Karena itu, setiap unsur lingkungan hendaknya dibangun secara positif, sehingga karakter anak akan terbentuk secara positif juga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu bagaimana cara membangun kekuatan karakter itu? Kekuatan karakter akan terbentuk dengan sendirinya jika ada dukungan dan dorongan dari lingkungan sekitar. Bayangkan sebuah lidi tidak akan memiliki daya untuk menghalau sampah-sampah. Namun, jika didukung oleh ratusan lidi yang lain akan membentuk satu kekuatan untuk membersihkan halaman rumah. Begitu juga dengan karakter, akan menjadi kuat ketika didukung oleh lingkungan. Peran keluarga, sekolah, masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karakter yang kuat pada akhirnya akan berperan optimal di setiap interaksi sosial. Sehingga, individu dengan karakter kuat tersebut akan memberikan sumbangsih –baik moril atau spirituil- yang berdaya guna bagi sekitarnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: http://www.pendidikankarakter.com/kekuatan-karakter-bagi-masa-depan-anak/ </description><link>http://irhamwijayakusuma.blogspot.com/2013/06/kekuatan-karakter-bagi-masa-depan-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8Y3B1iGSA7ZI6b06UPfFwBi9Qw0S4zRFEuLVS_j1-lTQ4EEuayr829zhcquxkzQAnlOyijmwm7aPLYF4-pa2f5-vVeUt4ov7ockLkqyHs-pSkkpXgsWP7hzNF1Cy1vY1cniwcX2ddoFM/s72-c/post-20.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4938604702076441683.post-223728376865467663</guid><pubDate>Sun, 02 Jun 2013 05:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-01T22:58:33.362-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><title>Mewujudkan Pendidikan Karakter Yang Berkualitas</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnDfbpvaJNZTXaEVdz9zaqchZEON2TC3UWJOTAWYXMcJl4Am5fLgwPAQa5ZPpuhFiBYF06c_G8YgDad1Q10aCpy7etWtsfDxNp1lHw_eukImZ4nFykwIO5XfrYMujsgU-H1RvqLo4pHAk/s1600/post-30.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnDfbpvaJNZTXaEVdz9zaqchZEON2TC3UWJOTAWYXMcJl4Am5fLgwPAQa5ZPpuhFiBYF06c_G8YgDad1Q10aCpy7etWtsfDxNp1lHw_eukImZ4nFykwIO5XfrYMujsgU-H1RvqLo4pHAk/s200/post-30.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangat menjanjikan bagi menjawab persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya. Bicara mengenai pengukuran artinya harus ada alat ukurnya, kalo alat ukur pendidikan matematika jelas, kasih soal ujian jika nilainya diatas strandard kelulusan artinya dia bisa. Nah, bagaimana dengan pendidikan karakter?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika diberi soal mengenai pendidikan karakter maka soal tersebut tidak benar-benar mengukur keadaan sebenarnya. Misalnya, jika anda bertemu orang yang tersesat ditengah jalan dan tidak memiliki uang untuk melanjutkan perjalananya apa yang anda lakukan? Untuk hasil nilai ujian yang baik maka jawabannya adalah menolong orang tersebut, entah memberikan uang ataupun mengantarnya ke tujuannya. Pertanyaan saya, apabila hal ini benar-benar terjadi apakah akan terjadi seperti teorinya? Seperti jawaban ujian? Lalu apa alat ukur pendidikan karakter? Observasi atau pengamatan yang disertai dengan indikator perilaku yang dikehendaki. Misalnya, mengamati seorang siswa di kelas selama pelajaran tertentu, tentunya siswa tersebut tidak tahu saat dia sedang di observasi. Nah, kita dapat menentukan indikator jika dia memiliki perilaku yang baik saat guru menjelaskan, anggaplah mendengarkan dengan seksama, tidak ribut dan adanya catatan yang lengkap. Mudah bukan? Dan ini harus dibandingkan dengan beberapa situasi, bukan hanya didalam kelas saja. Ada banyak cara untuk mengukur hal ini, gunakan kreativitas anda serta kerendahan hati untuk belajar lebih maksimal agar pengukuran ini lebih sempurna.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Menurut Helen Keller (manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904) “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ingin mewujudkan pendidikan karakter yang berkualitas? Maka kuncinya sudah dipaparkan diatas, ada alat ukur yang benar sehingga ada evaluasi dan tahu apa yang harus diperbaiki, adanya tiga komponen penting (guru, keluarga dan masyarakat) dalam upaya merelaisasikan pendidikan karakter berlangsung secara nyata bukan hanya wacana saja tanpa aksi. Ingat, Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktekan setelah informasi tersebut di berikan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: http://www.pendidikankarakter.com/mewujudkan-pendidikan-karakter-yang-berkualitas/ </description><link>http://irhamwijayakusuma.blogspot.com/2013/06/mewujudkan-pendidikan-karakter-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnDfbpvaJNZTXaEVdz9zaqchZEON2TC3UWJOTAWYXMcJl4Am5fLgwPAQa5ZPpuhFiBYF06c_G8YgDad1Q10aCpy7etWtsfDxNp1lHw_eukImZ4nFykwIO5XfrYMujsgU-H1RvqLo4pHAk/s72-c/post-30.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4938604702076441683.post-7151788630833764829</guid><pubDate>Sat, 01 Jun 2013 19:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-01T12:01:34.467-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><title>Peran Pola Asuh Dalam Membentuk Karakter Anak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8tboquJoamIJnWX_ZlDLAmNJbhzKGN5sVPULD4eFoD3vsmY55rsXtl1om72p5h6yoTSnYfZ7ATTQhBa7KnCL7Vdg-mLNfq3RdmPZuRfVg7eNjtkNkvZMMICZcCYIE2SYgVOeM8eGtTUQ/s1600/post-11.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8tboquJoamIJnWX_ZlDLAmNJbhzKGN5sVPULD4eFoD3vsmY55rsXtl1om72p5h6yoTSnYfZ7ATTQhBa7KnCL7Vdg-mLNfq3RdmPZuRfVg7eNjtkNkvZMMICZcCYIE2SYgVOeM8eGtTUQ/s200/post-11.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu? Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para guru dan orang tua, ijinkan saya bertanya kepada Anda… Pernahkan kita berpikir bahwa program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, akan terus mendominasi dan mengendalikan hidupnya – membuatnya jadi berantakan di masa depan? Jika mau jujur melakukan evaluasi pada diri sendiri, bisa jadi kita semua termasuk saya sebagai orang tua telah dan sedang melakukan hal ini terhadap anak-anak kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jujur sejak saya menikah, saya beruntung sekali memiliki istri yang peduli dengan perkembangan anak kami. Kami saling mengingatkan ucapan yang keluar dari mulut kami dan sikap serta perilaku kami yang “berbahaya” bagi anak kita. Kita sadar betul anak tidak perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi, hanya melihat saja maka itu sudah belajar dan direkam di otaknya. Kami sangat menjaga itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti judul diatas pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita orang tua, karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan mencontohnya dan menyimpannya dalam memory bawah sadarnya dan akan dikeluarkan kembali pada saat “ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita memberikan contoh hormat dan sayang pada pasangan kita, saat anak kita menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku kita orang tua-nya terhadap pasangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini sangat berlaku sekali kata-kata mutiara “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” dan itu saya rasakan betul saat banyak klien saya yang merasakan bahwa kehidupannya adalah hasil dari “fotocopy” orang tua-nya. Kalo orang tua-nya memberikan pengaruh yang baik tidak masalah, tetapi jika rumah tangga berantakan seperti orang tua-nya maka ini adalah suatu musibah. Kenapa ini terjadi? Yah, saya rasa Anda sudah tahu jawabannya bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadilah teladan bagi buah hati tercinta kita, pada mula dan awalnya anak akan selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua. Mereka menyerap informasi dengan baiknya dari kelima indra mereka. Bukan hanya perkataan orang tua tapi sikap serta perilaku orang tua akan mereka serap juga, bahkan secara Anda tidak sadari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita orang tua, ingin tahu berapa nilai Anda sebagai orang tua dalam mendidik anak, ada cara mudah mengetahuinya. Raport pertama anak kita pada waktu sekolah (play group atau TK), itu adalah raport milik kita orang tua, bukan anak. Anda dapat berkaca dari hasil tersebut, bagaimana kualitas “produk” (baca: anak) Anda. Nah itu adalah raport awal saat 3-5 tahun Anda membentuk keluarga dan mendidik anak. Tapi jika mau tahu hasil akhirnya lihatlah kehidupan anak Anda ketika dia sudah berada didalam kehidupan sebenarnya. Lihatlah pergaulannya, cara berbicara dan bersikap dan jika kita orang tua lebih jeli dan bijak lihat keuangannya. Semakin baik kondisi keuangan anak Anda berbanding lurus dengan karakter yang dimiliki anak Anda (yang halal tentunya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel:&amp;nbsp; http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-karakter-anak/</description><link>http://irhamwijayakusuma.blogspot.com/2013/06/peran-pola-asuh-dalam-membentuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8tboquJoamIJnWX_ZlDLAmNJbhzKGN5sVPULD4eFoD3vsmY55rsXtl1om72p5h6yoTSnYfZ7ATTQhBa7KnCL7Vdg-mLNfq3RdmPZuRfVg7eNjtkNkvZMMICZcCYIE2SYgVOeM8eGtTUQ/s72-c/post-11.jpg" width="72"/><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4938604702076441683.post-1231094730673912989</guid><pubDate>Sat, 01 Jun 2013 18:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-01T11:59:03.491-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><title>Menanamkan Pendidikan Karakter Bangsa Adalah Suatu Prioritas</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBCBRxau3vavUAl6Jb7Kwlyt0UnSb73a4s3GHI1F-mZlf-8C-6B7ijVxhGP1sSJERVCh1vp1TyUBYz6QLe5v1kLuBrudQbJmMC2MQ7aN89lHDZ0H5J-6Qav4LTdysG9G7S4szMUQ6bIvQ/s1600/post-27.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBCBRxau3vavUAl6Jb7Kwlyt0UnSb73a4s3GHI1F-mZlf-8C-6B7ijVxhGP1sSJERVCh1vp1TyUBYz6QLe5v1kLuBrudQbJmMC2MQ7aN89lHDZ0H5J-6Qav4LTdysG9G7S4szMUQ6bIvQ/s200/post-27.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mendidik karakter adalah bahasan unik, mengapa unik? Karena bahasan ini bisa “lari” kemana-mana bila kita membahas tentang manusia. Dan masalah tentang manusia adalah pekerjaan yang tidak ada habisnya, dari manusia lahir hingga meninggal banyak kejadian ajaib serta memalukan terjadi dalam kehidupannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Manusia adalah faktor penting dalam menciptakan kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik dan sejahtera itu dapat dibentuk dan diciptakan. Pertanyaannya bagaimana membentuknya?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bentuklah dari kebiasaan. Sebagai contoh, di Hong Kong kepadatan lalu lintas tidak seruwet di Jakarta, bahkan cenderung sepi dan lenggang. Dengan penduduk sekitar 8,8 juta lalu lintas kendaraan di Hong Kong termasuk lenggang, bahkan hari-hari sibuk juga lenggang. Apa orang hongkong tidak memiliki kendaraan? Tidak, ternyata di Hong Kong ada 2 kehidupan, kehidupan di dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia yang saya maksudkan lenggang, tetapi dunia bawah adalah jalur subway atau kereta bawah tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jelas lebih padat aktifitas transportasi di dunia bawah. Hampir semua penduduk Hong Kong menggunakan fasilitas ini. Walaupun padat, tetapi meraka sangat teratur. Keluar melalui pintu samping kanan dan penumpang masuk melalui pintu samping kiri, rapi dan teratur. Bagaimana ini bisa terjadi?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ternyata ini adalah proses dari pembiasaan, hal ini sudah di biasakan sejak anak di sekolah dasar, sekolah mengajarkan keteraturan-keteraturan ini sejak usia dini. Mereka dibiasakan untuk melakukan ini, sehingga kelak mereka terbiasa. Para pembaca sekalian, anda tahu berapa waktu yang di butuhkan untuk membentuk karakter seperti ini? Apakah 6 bulan? 1 tahun? Ini butuh proses yang cukup lama dan perlu dibudayakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Indonesia memiliki nenek moyang yang ramah tamah dan sangat santun dalam berelasi dengan sesama dan kehidupan kesehariannya. Tetapi mengapa hingga ke belakang (saat ini), nilai itu pudar semua? Australia, suku asli Aborigin, mereka jauh tidak beradap dan jauh lebih brutal dari nenek moyang kita, tetapi kini mereka masuk dalam kategori negara yang sangat teratur dan tingkat kehidupan yang cenderung makmur. Ungkap seorang kawan yang bercerita kepada saya. Teringat juga saya ketika rekan saya lebih tepatnya dosen pembimbing skripsi saya saat pulang dari Australia dan kita bertemu di tahun 2012. Dia bercerita, saat terjadi banjir yang melumpuhkan Brisbane, dosen saya termasuk orang yang beruntung karena dia tinggal di flat yang agak tinggi dan tidak perlu mengungsi. “Orang disana tidak egois, rumah yang masih ada penghuninya saling di datangi, entah mereka kenal apa tidak. Mereka ketok setiap pintu mereka tawarkan bahan makan dan selimut, bertanya apa yang kita butuhkan, mereka saling berbagi dengan mudahnya dan ikhlas”, “apakah itu petugas khusus penanganan bencana yang datang kerumah anda?” tanya saya, “bukan, itu adalah tetangga–tetangga saya yang senasib dengan saya, dan mereka tidak tinggal di pengungsian” merinding saya dengar cerita tersebut. Bagaimana mereka dapat hidup berdampingan seperti itu dan memperlakukan orang lain yang bukan asli Australia seperti itu, tanpa pamrih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seandainya kita bisa berlaku seperti negara tetangga kita, indahnya hidup dan kebersamaan ini. Hingga akhirnya saya diberi tahu suatu fakta yang membuat otak saya “kram” sesaat. Ternyata untuk mendidik dan menanamkan sikap seperti di negara tetangga kita itu butuh waktu minimal 16 tahun, secara kontinyu dan konsisten. Dan untuk mendidik anak baca dan tulis serta berhitung tidak lebih dari 6 bulan. Orangtua di Australia, tidak pusing jika anaknya belum bisa baca tulis, karena itu akan dikuasai dalam 6 bulan ke depan, tetapi sikap disiplin dan pembentukan karakter diterapkan sedini mungkin, mereka tahu itu lebih penting dari sekedar baca tulis diusia 3 -5 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semoga hal ini bermanfaat, dapat membawa pencerahan dan kebaikan bagi negara kita, dan tetap semangat dan majulah pendidikan karakter di Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Sumber Artikel: http://www.pendidikankarakter.com/menanamkan-pendidikan-karakter-bangsa-adalah-suatu-prioritas/&lt;/div&gt;
</description><link>http://irhamwijayakusuma.blogspot.com/2013/06/menanamkan-pendidikan-karakter-bangsa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBCBRxau3vavUAl6Jb7Kwlyt0UnSb73a4s3GHI1F-mZlf-8C-6B7ijVxhGP1sSJERVCh1vp1TyUBYz6QLe5v1kLuBrudQbJmMC2MQ7aN89lHDZ0H5J-6Qav4LTdysG9G7S4szMUQ6bIvQ/s72-c/post-27.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4938604702076441683.post-6620084160413251532</guid><pubDate>Sat, 01 Jun 2013 18:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-01T11:54:13.369-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Bisnis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sukses</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tips</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tips Sukses</category><title>Tips Sukses Membangun Relasi Bisnis</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKUeDJW5ssuRuq46nZD47QZK5IbJDa4lNY-zyhJ6ru7gzJlR4oCrwfV8B0TuYrhvPNJGlLgKtcTy5-eJv1zjWZDwh81ZQiSstlkuGo9qWDm_s30Ns55tgcnHzW6-2TyCCwLkvb_uDJp9MJ/s1600/online_business_networking.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKUeDJW5ssuRuq46nZD47QZK5IbJDa4lNY-zyhJ6ru7gzJlR4oCrwfV8B0TuYrhvPNJGlLgKtcTy5-eJv1zjWZDwh81ZQiSstlkuGo9qWDm_s30Ns55tgcnHzW6-2TyCCwLkvb_uDJp9MJ/s200/online_business_networking.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada sebuah kata bijak yang dikutip dari sebuah perguruan Shaolin :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Hidup adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman"&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kata tersebut di atas sangat dalam maknanya, demikian pula dalam 
pembahasan kali ini tentang "Tips Sukses Membangun Relasi Bisnis." Pada 
saat akan memulai bisnis terkadang kita kebingungan dengan modal, skill 
self (keahlian kita sendiri) dan berbagai macam kendala yang terkadang 
ini menjadi penghambat untuk mulai berbisnis. Pada dasarnya ketika akan 
membangun bisnis hal yang terpenting bukanlah modal ataupun skill self 
tapi lebih pada "keberanian," ya! Ini adalah tentang keberanian untuk 
memulai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengapa demikian, pemaparan berikut adalah penuturan sekaligus 
pengalaman penulis yang sudah cukup lama menggeluti dunia bisnis dari 
sejak 2009, berbagai kendala dan pastinya tantangan menjadi makanan 
sehari-hari. lalu bisnis apa? Nah, jika lebih spesifik seperti ini anda 
harus mampu mengolah apa yang selama ini menjadi hal yang paling 
disukai, karena ada istilah bijak "Do What You Love, And Love What You 
Do," saat kita memulai usaha dengan bidang yang kita sukai maka 
hasilanya akan semakin optimal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian jika modal lemah, skill pun lemah maka cara terakhir adalah 
dengan membangun partnership atau lebih sedehananya membangun relasi 
dengan orang  yang memiliki skill dan modal denagn cara seperti ini akan
 sangat efektif mendongkrak kehidupan bisnis anda. "Satu batang lidi 
akan mudah patah, sedangkan jika digabung batang lidi tadi akan lebih 
kuat dari kayu batangan sekalipun," demikian juga dengan bisnis kita 
maka akan lebih baik jika dibangun dengan orang lain (bermitra) apapun 
bisnis anda saat ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu bagaimana dengan cara menemukan  partner yang tepat?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&amp;nbsp; http://www.mas-sugeng.com/2013/03/tips-sukses-membangun-relasi-bisnis.html
</description><link>http://irhamwijayakusuma.blogspot.com/2013/06/tips-sukses-membangun-relasi-bisnis.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKUeDJW5ssuRuq46nZD47QZK5IbJDa4lNY-zyhJ6ru7gzJlR4oCrwfV8B0TuYrhvPNJGlLgKtcTy5-eJv1zjWZDwh81ZQiSstlkuGo9qWDm_s30Ns55tgcnHzW6-2TyCCwLkvb_uDJp9MJ/s72-c/online_business_networking.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4938604702076441683.post-3429281197837785934</guid><pubDate>Sat, 01 Jun 2013 18:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-01T11:52:58.101-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pilihan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Internet</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Media</category><title>Social Bookmark Terbaik</title><description>&lt;div itemprop="articleBody"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhb7sSnPCBYXwcwqVMCtF4v7ks8U9tR8DtoWhlh-fvX1yeopVWwRTvT7cdPIPj1ZdfYZBtnT5rPwyyNKs1zK8hPyOTg50h3tTGfQ1sGMDljw3n7kkm8GOqGlCMOAxVtJn16cUSTmNNVjsYo/s1600/images.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhb7sSnPCBYXwcwqVMCtF4v7ks8U9tR8DtoWhlh-fvX1yeopVWwRTvT7cdPIPj1ZdfYZBtnT5rPwyyNKs1zK8hPyOTg50h3tTGfQ1sGMDljw3n7kkm8GOqGlCMOAxVtJn16cUSTmNNVjsYo/s200/images.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Social Bookmark Terbaik&lt;/b&gt; - Sesuai dengan namanya, social bookmark 
pada dasarnya berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan, mengelola, dan 
mencari penanda online berupa alamat-alamat situs web yang ada di 
internet. Namun, di kalangan blogger, social bookmark bukan lagi sekedar
 sebagai alat penanda online, tapi sudah menjadi tempat mencari trafik 
pengunjung dan juga backlink.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada banyak sekali situs social bookmark terbaik di internet, baik yang 
dalam maupun luar negeri. Untuk yang di dalam negeri sebut saja 
lintas.me. Saya yakin sobat blogger semua sudah tidak asing lagi dengan 
situs ini. Bisa dibilang lintas.me adalah situs social bookmark terbaik 
di Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nah selain lintas.me, ada satu lagi situs social bookmark dari Indonesia
 yang bisa dibilang terbaik. Situs social bookmark tersebut adalah 
bookmark.bertanyaseo.com. Mungkin dilihat sekilas dari alamat situsnya 
tidak mencerminkan social bookmark terbaik. Yap, memang, tapi terbaik 
yang saya maksud di sini adalah terbaik dalam segi SEO atau search 
engine optimization.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kenapa bisa disebut terbaik dalam segi SEO? karena situs social bookmark
 bookmark.bertanyaseo.com ini dibuat oleh seorang yang paham betul 
tentang SEO. Sobat bisa cek sendiri, meskipun situs ini masih terbilang 
baru, tapi sudah memiliki PageRank 4. Wow.. Wow.. Luar biasa bukan? :D&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nah bagi sobat yang ingin menambah kualitas blognya di mata mesin 
pencari, atau bagi yang sedang mengikuti kontes SEO, bisa deh submit 
artikelnya di bookmark.bertanyaseo.com dan dapatkan backlink dofollow 
gratis dari situs ber-pagerank 4 ini.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://irhamwijayakusuma.blogspot.com/2013/06/social-bookmark-terbaik.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhb7sSnPCBYXwcwqVMCtF4v7ks8U9tR8DtoWhlh-fvX1yeopVWwRTvT7cdPIPj1ZdfYZBtnT5rPwyyNKs1zK8hPyOTg50h3tTGfQ1sGMDljw3n7kkm8GOqGlCMOAxVtJn16cUSTmNNVjsYo/s72-c/images.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>