<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Islamic Centre</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Figur Pasha)</managingEditor><pubDate>Thu, 15 Oct 2026 14:17:54 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">545</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">3</openSearch:itemsPerPage><link>http://multazam-einstein.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>MASA DEPAN KEBUDAYAAN DAN KEBANGKITAN ISLAM</title><link>http://multazam-einstein.blogspot.com/2015/02/masa-depan-kebudayaan-dan-kebangkitan.html</link><author>noreply@blogger.com (Figur Pasha)</author><pubDate>Sat, 14 Feb 2015 16:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2845731176684579410.post-8177591000532562740</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPdjNUsjRmnTLgCKggvcN9lGBjU59HsPqAqfc6wd9lXC9hPf1e0q1X9vALnDPq2JD8DhCNu_tDFquYNHJY0GlctwLZhV61eRwntin3T7tKF6diFXMCSZC5nivOoyH1hraxVeAxCo1G3lA/s1600/kafilah2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPdjNUsjRmnTLgCKggvcN9lGBjU59HsPqAqfc6wd9lXC9hPf1e0q1X9vALnDPq2JD8DhCNu_tDFquYNHJY0GlctwLZhV61eRwntin3T7tKF6diFXMCSZC5nivOoyH1hraxVeAxCo1G3lA/s1600/kafilah2.jpg" height="150" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;I.     PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Umat Islam pernah mengalami masa keemasan yang selalu menjadi motifasi bagi umat Islam pada masa selanjutnya. Kejayaan ini yang sampai saat ini ingin diwujudkan kembali oleh umat Islam setelah sekian abad kejayaan itu berada di tangan bangsa barat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Umat Islam senantiasa mencari trobosan baru dalam menciptakan kejayaan Islam untuk yang kedua kalinya. Telah banyak pemikir atau intelektual-intelektual Islam yang mencoba untuk merumuskan kembali pemikiran agar Islam dapat kembali meraih masa kejayaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam makalah ini penulis mencoba mengungkapkan bagaimana usaha-usaha umat Islam dalam mendesain masa depan agar dapat mencapai masa kejayaan seperti dahulu. Hal itu tidak dapat terlepas dengan wacana bahwa pada abad 15 H merupakan masa kebangkitan Umat Islam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;II.  RUMUSAN MASALAH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
A.       Bagaimana tonggak kebangkitan kembali Islam pada abad 15 H?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
B.       Bagaimana usaha-usaha umat Islam untuk membangun peradaban masa depan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
C.       Bagaaimana kasus yang terjadi di Indonesia mengenai pentas politik, pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya yang menjadi agen perubahan umat Islam ke depan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;III. PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;A.       Tonggak Kebangkitan Kembali Islam pada Abad 15 H&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kita perlu menelusuri pengalaman Islam masa lalu, sebuah pengalaman kejayaan. Pengalaman ini dipergilirkan kepada beberapa negara dan dunia Islam pernah mendapatkan giliran itu sehingga pernah memimpin dunia ini dengan dua kekuatan yaitu kekuatan Islam dibelahan Timur berpusat di Damaskus ketika berada di bawah kekuasan dinasti Umayyah kemudian pindah ke baghdad dibawah kekuasaan Abbasiyah dan dibelahan Barat berpusat di Cordova Spanyol di bawah kekuasaan Umayyah.[1]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kejayaan Islam pada masa Bani Abasiyah dibawah pemerintahan Abu Ja’far Harun Ar Rasyid. Pada masa pemerintahannya Islam mengalami punck kemegahan dan kesejahteraan yang belumpernah dicapai sebelumnya. Pada masa ini dikenal dengan kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuannya, sehingga Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perniagaan di dunia. Pada masa ini, Islam telah tersebar sangat luas. Khalifah mendirikan dewan penerjemah yaitu dengan mengumpulkan para sastrawan, budayawan, kaum cendekiawan, dan ahli ilmu. Kota Baghdad terkenal dengan pusat ilmu pengetahuan di seluruh dunia. Pembangunan prasarana umum juga dilakukan dalam berbagai bidang sehingga menciptakan kesejahteraan bagi umat Islam.[2]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Abad ke-15 Hijriah dicanangkan oleh seluruh umat Islam sebagai abad kebangkitan kembali Islam. Chandra Muzaffar menanggapi gaung kebangkitan kembali Islam ini sebagai suatu proses historis yang dinamis. Ada tiga pengertian &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
tentang konsep kebangkitan kembali Islam yang dikemukakan oleh Muzaffar, dua di antaranya adalah : Pertama, konsep ini merupakan suatu penglihatan dari dalam, suatu cara pandang dalam mana kaum muslimin melihat derasnya dampak agama di kalangan pemeluknya. Hal ini menyiratkan kesan bahwa Islam menjadi penting kambali. Artinya, Islam memperoleh kembali prestise dan kehormatan dirinya. Kedua, “kebangkitan kembali” mengisyaratkan bahwa keadaan tersebut telah terjadi sebelumnya. Maka dalam gerak kebangkitan kembali ini terdapat keterkaitan dengan masa lalu; bahwa kejayaan Islam pada masa lalu itu – jejak hidup Nabi Muhammad saw, dan para pengikutnya – memberi pengaruh besar terhadap pemikiran orang-orang yang menaruh perhatian pada “jalan hidup” Islam pada masa lalu.[3]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Abad ke XV H disebut sebagai masa kebangkitannya umat Islam kembali dapat kita lihat dari beberapa fakta-fakta berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1.    Sejarah itu berulang kejadiannya. Umat Islam mencapai/ menikmati kejayaan selama tujuh abad yaitu dari abad ke I sampai abad ke VII H. Kemudian mulai mundur dan negara-negara Islam jatuh satu demi satu di bawah penjajahan Barat, yang dahulunya belajar dari umat Islam. Tujuh abad pula lamanya umat Islam di bawah cengkraman penjajahan dan penindasan Barat. Sesudah tujuh abad, kini negara-negara Islam yang telah jatuh menjadi jajahan Barat itu sekarang sudah merdeka. Mereka mulai menghirup udara kebebasan sesudah lepas dari belenggu penjajahan. Umat Islam seluruh dunia mulai mengatur negara-negaranya sesuai dengan ajaran Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.    Negara-negara Islam banyak yang memiliki kekayaan berupa sumber minyak, sehingga umat Islam menjadi bangsa yang disegani lawan. OPEC (organisasi pengekspor minyak) sebagian besar anggotanya adalah negara-negara Islam yang meliputi: Arab Saudi, Kuwait, Iran, Irak, Venezuela, Aljazair, Equador, Gabon, Indonesia, Libiya, Nigeria, Qatar, Persatuan Emirat. Negara-negara inilah yang memainkan peranan penting dalam menyediakan suplai energy minyak untuk memenuhi kebutuhan dunia.[4]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3.    Diselenggarakannya konferensi dunia pertama tentang pendidikan Muslim di Makkah pada tahun 1977. Yang merupakan upaya international ototrofik untuk “mengislamisasi ilmu” yang dibuat oleh sarjana-sarjana muslim.[5]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.    Di abad XV H ini umat Islam telah mempunyai pakar-pakar seperti Prof. Abdussalam dari Pakistan sebagai pemenang Nobel bidang Fisika 1979, Prof. Ali Javan dari MIT Boston sebagai salah satu pioneer Fisika LASER, Dr. Musthafa Chakim (Direktur JPL-Pasadena) yang bertanggungjawab mengontrol misi Voyager, serta Prof. Ahmed Zewail dari Mesir sebagai pemenang hadiah Nobel bidang Kimia 1999. Mereka adalah pakar pakar-pakar muslim abad ini yang concern dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi umat Islam.[6]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;B.     Usaha-Usaha Umat Islam Untuk Membangun Peradaban Masa Depan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah satu perkembangan sosial dan politik umat Islam yang paling signifikan pada dekade-dekade akhir abad 20 adalah munculnya gelombang revivalis (kebangkitan Islam) diseluruh dunia Islam. Etos kebangkitan Islam merupakan salah satu fenomena yang sangat meresap dan memiliki akar yang dalam yang mempengaruhi dunia Islam dewasa ini. Maka tampaklah, “Islam di kebanyakan negaranya sedang mewujudkan kebangkitannya.” Hal ini digerakkan oleh para ideolog revivalis Islam kontemporer meliputi antara lain Hasan al Banna, Abu A’la al-Maududi, Sayyid Qutb, Ayatullah Ruhullah Imam Khumaeni, Muhammad Baqir al-Sadr, ‘Abd al-Salam Faroq, Said Hawa dan Juhaiman al-Utaibi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka berasal dari negara yang berbeda tetapi memiliki tanggung jawab bersama untuk melepaskan umat Islam dari pasungan negara-negara barat dengan mendorong lahirnya kebangkitan Islam. Mereka tidak pernah mengadakan kesepakatan untuk mendorong kebangkitan Islam, tetapi mereka sama-sama memiliki kepedulian terhadap nasib umat Islam, sehingga mereka bergerak melakukan usaha riil yang sangat dibutuhkan umat.[7]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gerakan-gerakan Islam yang ada sampai saat ini berupaya untuk mengembalikan kemajuan peradaban yang telah lama hilang, juga berupaya merevalisasi khasanah keislaman lama. Dr. Hassan Hanafi menangkap adanya visi-visi pemikiran mmahasiswa Islam. Sekitar 15% mereka cenderung kepada konsep salaf dan 15% lagi cenderung kepada konsep sekuler. Adapun sisanya belum mempunyai kecenderungan dan legalitas. [8]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Munculnya gagasan tentang dilakukannya Islamisasi ilmu  pengetahuan, tokohnya yaitu Ismail Rajiq Al-Faruqi. Mengutip Hasan Asari, al-Faruqi telah menjadi pioner modern yang menghidupkan kembali kesadaran umat Islam terhadap pentingnya merubah visi tentang ilmu pengetahuan.[9] Islamisasi pengetahuan ini sudah mulai digalakkan diberbagai negara Islam seperti yang dilakukan di negara negara yang terletak di Asia Tenggara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Umat Islam Indonesia terutama pada level pemikir Islam mulai berbenah untuk memengaruhi dan mendorong level di bawahnya agar melakukan perubahan  strategis, baik dalam pemikiran, sikap, maupun perilaku keseharian. Mereka senantiasa mengingatkan perlunya mengejar kemajuan sekaligus mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang lebih maju.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka terus bergerak maju membangun konsep pemikiran strategis yang dapat dijadikan saluran atau pedoman bagi perubahan perilaku umat Islam. Yaitu dari sejumlah perilaku yang bersifat fanatik, pasif, konsumtif dan menyerah terhadap takdir yang menimpa menjadi beberapa agenda perilaku yang toleran, aktiv, dinamis, produktif, dan mengejar prestasi unggul dalam menatap masa depan. Inilah yang diyakini dapat menyokong dan mengawal kemajuan bangsa dan nefgara sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat umat Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Para pemikir pembaruan Islam telah mengekspresikannya disamping secara lisan, juga melalui tulisan-tulisan, baik disurat kabar, majalah, jurnal, maupun terutama dalam bentuk buku. Sehingga terjadi peningkatan penerbitan buku, Azzyumardi Azra memprediksi bahwa peningkatan penerbitan buku-buku Islam di Indonesia akan menimbulkan pengaruh dan dampak jangka panjang terhadap perjalanan Islam di Negeri ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perkembangan ini akan memainkan sumbangan penting tidak hanya bagi peningkatan attachment kaum Muslim terhadap Islam, tetapi juga pada pengembangan peran pemikir, ulama, dan cendekiawan Muslim Indonesia dalam wacana Islam pada tingkat internasional. Penerbitan buku-buku menjadi media yang efektif  bagi para pemikir Islam. Mereka dapat mendistribusikan pemikiran-pemikiran mereka melalui buku, sehingga dapat menyampaikan pesan-pesan penulis apa adanya.[10]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;C.    Kasus-kasus yang ada di Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1.      Bidang Politik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebenarnya Indonesia menganut reformasi sebagai pandangan politiknya, setelah rezim orde lama digantikan orde baru lalu muncullah reformasi yang digadang-gadang dapat memperbaiki kehidupan rakyat. Namun hingga kini tujuan tersebut belum dapat terealisasi dengan sempurna karena proses demokrasi yang berkembang menjadi tidak murni lagi dan juga paham patrimony dan otoriter masih berkembang kuat didalam pelaku politik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.      Bidang Pendidikan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kasus pendidikan di Indonesia telah dicanangkan beberapa usaha dalam menyiapkan masa depan bangsa yang lebih cerah, diantaranya yaitu dengan digagasanya Kurikulum 2013 yang berbasis Karakter yaitu yang bertujauan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia melalui sistem pendidikan. Karena secara falsafati, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta beserta segenap isi dan peradabannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator strategis, seperti beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam memenuhi kompetensi abad 21 UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas, bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi himpunan kompetensi tiga ranah (sikap, pengetahuan, dan keterampilan). [11]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3.      Ekonomi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ekonomi Indonesia saat ini optimis pertumbuhan ekonomi yang meningkat.dengan pertumbuhan dan pendapatan nasional yang semakin meningkat kita dapat melihat perkembangan dan kemajuan kita pada negara lain. dengan pendapatan nasional per tahun indonesia mampu memberikan kemajuan. Ekonomi makro yang sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi saat ini.salah satu pertumbuhan ekonomi itu dapat dilihat dengan permintaan domestik masih akan menjadi penopang utama kinerja perekonomian. Selain itu, ekspor dan impor, serta investasi. Dan juga semakin maraknya bank-bank yang  berbasis syariah yang memberi kontribusi yang signifikan dalam perekonomian Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.      Sosial dan Budaya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah satu ciri sosial yang ada di Indonesia adalah tentang pluralisme, dan salah satunya pluralisme dalam beragama. Dalam hal ini toleransi agama tidak hanya diwujudkan antar komunitas agama, tetapi juga intern komunitas agama tertentu. Toleransi agama diantara berbagai penganut agama yang berbeda membutuhkan saling pengertian dan saling menghormati.[12] Dengan begitu akan dapat menguntungkan bagi kedua belah pihak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[1] Mujamil Qomar, Merintis Kejayaan Islam Kedua, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 10.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[2] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam Dari Arab Sebelum Islam Hingga Dinasti-Dinasti Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm 94.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[3] Chandra Muzaffar, Kebangkiuatn Kembali Islam: Tinjauan Global dengan Ilustrasi dari Asia Tenggara, (Jakarta: LP3ES, 1989), hlm. 7.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[4] Oemar Bakkry, Kebangkitan Umat Islam Abad Ke-15, (Jakarta: Mutiara, 1980), hlm. 12.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[5] Akbar S. Ahmed, Postmodernisme Bahaya Dan Harapan Bagi Islam, (Bandung: Mizan, 1993), hlm. 49.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[6]Mujamil Qomar, Merintis Kejayaan Islam Kedua.., hlm. 33.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[7] Mujamil Qamar, Merintis Kejayaan Islam Kedua…, hlm. 100-101.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[8] Aunul Abied Syah, Islam Garda Depan, (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 39.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[9] Hasan Asari, Esai-esai Sejarah Penddikan dan Kehidupan,  (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2009), hlm. 174.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[10] Mujamil Qomar, Fajar Baru Islam Indonesia?(Bandung: Mizan, 2012), hlm. 165-168.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[11] Mohammad Nuh, Kurikulum 2013, Kemdikbud.go.id/kemdikbud/artikel-mendikbud-kurikulum2013, diunduh pada 12 Juni 2014, pukul 15:19 WIB&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[12] Aden Wijdan SZ dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2007), hlm. 213.&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPdjNUsjRmnTLgCKggvcN9lGBjU59HsPqAqfc6wd9lXC9hPf1e0q1X9vALnDPq2JD8DhCNu_tDFquYNHJY0GlctwLZhV61eRwntin3T7tKF6diFXMCSZC5nivOoyH1hraxVeAxCo1G3lA/s72-c/kafilah2.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total></item><item><title>ISLAM AGAINST TERORISME </title><link>http://multazam-einstein.blogspot.com/2015/02/islam-against-terorisme.html</link><author>noreply@blogger.com (Figur Pasha)</author><pubDate>Sat, 14 Feb 2015 15:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2845731176684579410.post-6971686261882669771</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvoR1uIHfUxYez9PNos_DUeEFdg5Q0lMXq69mFq4Do5Cl8iU6XjtKxpO7haHTKLODT_FCwrRiRwFTqgzy-Pxd-af0gP4rTTKKlVIcVoC5iVf7Ob0DDIjy009SAfszwXwqsedFiP60aQkM/s1600/Prof.+Abdurrahman+Mas'ud%2C%2BM.A.%2C%2BPh.D.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvoR1uIHfUxYez9PNos_DUeEFdg5Q0lMXq69mFq4Do5Cl8iU6XjtKxpO7haHTKLODT_FCwrRiRwFTqgzy-Pxd-af0gP4rTTKKlVIcVoC5iVf7Ob0DDIjy009SAfszwXwqsedFiP60aQkM/s1600/Prof.+Abdurrahman+Mas'ud%2C%2BM.A.%2C%2BPh.D.jpg" height="200" width="155" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Oleh Prof. Abdurrahman Mas'ud, M.A., Ph.D&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Memahami Mayoritas Dunia Islam&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mainstream dunia Islam: Sunni, sebetulnya dalam realitas historis,  selamat dari faham fundamentalisme dan terrorisme. Ciri-ciri Sunni dibawah diperoleh dari hasil studi historiografis penulis terhadap pandangan sarjana Barat sejak abad sembilan belas sampai kini. Yakni Dari Gibbon, Goldziher sampai ke contemporary scholars tahun 1990an. Mereka berpandangan Sunni yang tidak fundamentalis dan tidak terroris itu ditandai dengan:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Tidak membrontak terhadap sistem pemerintahan yang mapan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Rigiditas, ketangguhannya dalam mempertahankan kesatuan melawan segala bentuk disintegrasi dan kekacauan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Lebih mengutamakan konsep jama`ah, majority, dan supremasi Sunnah hingga lebih pas disebut sebagai Ahlussunah wal Jama`ah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki sikap jalan tengah, tawassuth, middle of the road,  antara teologi dan politik yang ekstrim ( khawarij)  dan syi`ah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Lebih menampakkan diri sebagai "a normative society," kaum normatif, dengan berdiri tegak mempertahankan prinsip kebebasan spiritual dan menegakkan etika standar dan syari`ah.[1]&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Generalisasi dan tipologi diatas tentunya bukanlah hal yang tak bisa diperdebatkan. Unikum dan spesifikasi kaum Sunni Indonesia,  tentunya tidak sama persis dengan kaum Sunni di negara lain yang dibatasi dengan ruang dan waktu.  Bila ada yang tidak sama persis dengan tipologi diatas, tentu ada pengecualian-pengecualian Betapapun,  mainstream  ini agaknya sudah menjadi bagian dari sejarah, dimana there is no way to return: tiada jalan kembali untuk merubah masa lampau.. Kita sendiri sebagai bagian dari umat Sunni Indonesia yang terpelajar mengalami dan merasakan secara jujur bahwa tipologi itu tidak jauh dari keberagamaan kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara lughawi terrorisme berarti Instense fear and panic or a cause of it. Yakni sebuah faham ideologi yang dipraktekkan dalam rangka membuat ketakutan, kepanikan yang tentu biasanya berbentuk violence, atau bahkan severe violence (kekerasan yang dahsyat berlebihan) seperti pembunuhan terhadap Sayyidina Hussein di Karbala.  Tapi sesungguhnya sampai saat ini belum ada definisi yang baku tentang terrorisme&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ciri-ciri diatas merupakan antitesa tipologi Fundamentalisme dan Terorisme dalam dunia Islam.  Terorisme  tentu tidak identik dengan Fundamentalime dalam Islam maupun dalam agama lain. Tapi memang banyak kasus mengindikasikan kekeresan dilakukan oleh oknum-oknum fundamentalis agama-agama. Inilah yang mengahasilakan generalisasi yang berlebihan atau overgeneralization yang salah.  Dalam sejarah Islam klasik (baca: salaf dalam bahasa pesantren) justru awal kekerasan terjadi oleh penguasa (structural violence). Severe violence  pembunuhan terhadap Sayyidina Hussein beserta pengikut dan sanak familinya di Karbala jelas-jelas bermotif politik yang lepas dari faham fundamentalisme agama. Tapi sebaliknya pada masa yang tidak jauh berbeda apa yang dilakukan kaum khawarij dalam bentuk kekerasan, terorisme adalah bagian dari ideologi kekerasan kaum fundamentalis Khawarij. Bahwa khawarij adalah biang keladi fundamentalisme Islam sesungguhnya merupakan interpretasi historis dari penulis sendiri. Tipologi ini mengisyaratkan bahwa jika terjadi kekerasan pada era moderen ini yang dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan diri sebagai bagian dari umat Islam, sesungguhnya kekerasan itu adalah kesinambungan fenomena Khawarij. Dengan kata lain ia adalah cucunya cucu  Khawarij atau Khawarij pada  era moderen. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mendifinisikan  Istilah Terrorisme&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam literatur sosiologi Barat, terrorisme adalah salah satu bentuk aksi bermotif politik yang menggabungkan unsur-unsur psikologis (seperti mengancam: kondisi akibat diancam) dan fisik (aksi kekerasan) yang dilakukan oleh individu-individu atau kelompok kecil dengan tujuan pengajuan tuntutan teroris terpenuhi[2]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Definisi ini sama dengan pandangan seorang intelektual Muslim dari India, bahwa segala bentuk kekerasan sesungguhnya tidak punya justifikasi keagamaan. Kekerasan, terrorisme hanya merupakan fenomena politik dan sosial saja yang dibatasi oleh ruang dan waktu:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;It should be remembered that there is no relation between religion and violence, neither in Islam, nor in any religion for that matter. Violence is a social and political phenomenon. It is true that there is mention of war in scriptures like Ramayana, Mahabharata and the Qura’n. But this mention is not to establish any integral link between religion and violence but to portray certain social and political situation that prevailed at that time. It can be called integral only if these scriptures mandate violence as a desirable solution. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;It is important to distinguish between what is empirical and ideological. The Twain do not always meet. While violence is empirical, peace is ideological. All scriptures, particularly the Qur’an while permitting violence in some inevitable situations, ordain peace as a norm. The great religions of the world came to establish justice and peace, not to perpetrate revenge and violence. Revenge and violence can never become part of any religion, much less that of Islam. Allah has created both in human beings – tendency for aggression and violence and exalted feeling for serenity of peace. Allah, according to the Qur’an, created human person in the best of mould (ahsan-i-taqwim) and then rendered him lowest of the low&lt;/i&gt; (95:4-5) [3]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Definisi diatas memang tidak sempurna dan sampai saat ini belum ada definisi baku dalam literatur Barat. Yang menarik dicermati adalah bahwa istilah terrorisme tidak datang dari dunia Timur melainkan dari dunia Barat sendiri. Sangatlah sah untuk dipertanyakan wacana ini mengingat imperialisme Barat tidak pernah usai. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kritik terhadap dunia Barat adalah bahwa issue terrorisme baru berkembang di paruh kedua abad dua puluh, tidak jauh berbeda masanya dengan issue HAM. Masa penjajahan dunia Barat terhadap dunia ketiga  selama berabad-abad kemudian luput dari issue terrorisme.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Eufimisme moderen agaknya tidak hanya berlaku di Indonesia, tapi juga melanda kebijakan politik AS. Salah satu contoh adalah lontaran Noam Chomsky dalam Pirates and Emperors, yang menggambarkan standar ganda AS dalam memperlakukan terorisme internasional. Sesungguhnya pencipta teroris terbesar adalah Israel dan Amerika itu sendiri, saat memberi dukungan terhadap Israel tanpa syarat.  Pelanggaran hak-hak asasi manusia Israel terhadap kaum Palestina serta pendudukannya yang tidak legal sampai sekarang, telah memberi stimulus lahirnya kelompok keras Hamas, Hizbullah, serta militan-militan lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Eufimisme moderen disini mengalami bias geografis, diskriminatif. Amerika selalu melindungi nilai-nilai kemanusiaan karena paham humanismenya, tapi tatkala politik luar negeri yang diterapkan, corak humanisme itu menjadi hilang. Nyawa demikian mahalnya di dalam negeri, termasuk nyawa binatang, hingga tumbuh subur organisasi-organisasi penyayang binatang, dan pencinta lingkungan. Tetapi ingat saja apa yang pernah dilakukan Amerika terhadap Irak dan embargonya, dengan dalih membungkam Presiden Saddam Hussein. Yang terjadi adalah, hampir 1,5 juta penduduk Irak (sesuai dengan laporan PBB) meninggal karena masalah kesehatan seperti kurang nutrisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam sejarah belum ada kisah terorisme Arab terhadap orang Barat (apalagi istilah senjata pemusnah massa) sebelum Zionist mulai melaksanakan kontrol terhadap  Palestina. Maka dewasa ini reaksi besar-besaran Arab terhadap terorisme Israil, anehnya malah memperkuat kebencian Barat khususnya AS terhadap Islam, atau Arab. Dengan bantuan non-stop propaganda pro-Israel, AS menyimpulkan bahwa Arab pada dasarnya memang bangsa yang suka berbuat kekerasan dan tidak bisa dipercaya. Arab, Islam,  telah disalahpahami sebagai sebuah simptom sebab-sebab pengacau moral. Sesungguhnya frekuensi kekerasan lebih kecil terjadi di Arab ketimbang tingkah laku brutal AS terhadap dunia lainnya. Bahkan mereka senang saat memiliki tetangga yang datang dari AS. Apa yang mereka benci adalah aksi-aksi serta kebijakan-kebijakan Israel dan AS yang selalu merugikan mereka. Bangsa Palestina berjuang untuk kemerdekaannya terhadap kekejaman Israel yang telah melakukan invasi secara tidak legal. Arab telah menderita yang teramat sangat ditangan Israel. Apa yang dilakukan bangsa palestina dengan segala bentuk kekerasannya terhadap Israel dan pendukungnya adalah sah menunrut moral.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semakin jelasnya sutradara teroris dewasa ini juga bisa dilihat dari sikap ilmuwan-ilmuwan AS yang lain serta kaum terdidik. Mereka yang jujur sudah menampakkan ketidak puasannya bahkan kebenciannya terhadap kebijakan politik luar negeri AS yang selalu menganak emaskan  Israel. Ron Lukens-Bull, ahli antropologi Islam Jawa (lebih spesifik komunitas pesantren Jawa dalam disertasinya Peaceful Jihad) merasa malu sebagai ilmuwan AS yang tidak bisa membendung pemerintahnya dalam merugikan dunia Islam. Emailnya pada penulis beberapa waktu yang lalu berbunyi: “apa yang dilakukan AS yang merugikan rakyat Palestina dewasa ini  tidak bisa dipertahankan dalam ukuran moral dan politik:”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;It seems to me that US policy is morally and politically indefensible&lt;/i&gt;[4]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengamati hubungan Islam-Barat yang semakin meruncing ini, baik dunia Barat maupun dunia Islam dituntut memahami makna Islam itu sendiri yang berarti damai. Islam sebagai landasan ideologis, driving force umat Islam untuk menyikapi dunianya  pada era persaingan bebas dan globalisasi ini,  tidak bisa diganggu gugat memang menawarkan kedamaian. Kedamaian ini berlaku universal bagi dunia Islam dan juga bagi dunia Barat. Paradigma semacam inilah yang membuat seorang professor dari Jerman, Prof Bassam Tibi meyakni bahwa  Indonesia, a Model for the Islamic Civilization in Transition to the 2lst Century.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dialog penulis dengan dunia Barat saat mengajar di Universitas Katolik Salve Regina University, New Port Rhode Island, USA, tahun 2004, merupakan pengalaman yang meyakinkan bahwa akal sehat di dunia Islam dan barat sama-sama mendambakan kedamaian, Pengalaman penulis berinteraksi dengan dunia kampus AS di bulan Ramdan membuktikan bahwa potensi manusia untuk damai semestinya harus lebih diberi ruang dan dilatih secara berkesinambungan sebagaimana latihan dalam bulan Ramadan. Bukan sebaliknya sisi-sisi konflik kemanusiaan dan peradaban yang ditonjolkan sebagaimana tulisan Samueal Huntington. Salah seorang wartawati muda Newport Daily, Nicole Chevrette, yang juga berpartisipasi dalam dialog dengan penulis, dalam artikelnya  menjadi saksi pentingnya dialog kemanusiaan dan patut dikutip untuk mentup tulisan ini:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;As Prof. Mas`ud learns about Westrern culture simply by being here, he is also teaching students, many of whom never had any significant interaction with the Islamic world, but who are likely to after graduation. The fact is that Muslims desire peace as much as Westerner do. We must learn to overcome culture devide&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
(Sementara Prof. Masud belajar budaya Barat dengan kehadirannya disini, dia juga mengajar mahasiswa-I yang kebanyakan mereka belum pernah berinteraksi dengan dunia Islam, tapi agaknya mereka akan mengalami interkasi setelah wisuda. Kenyataannya adalah dunia Islam mendambakan kedamaian, sama seperti orang Barat memimpikannya. Kita, orang Barat,  harus belajar untuk mengatasi benturan budaya)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Jihad yang disalah pahami&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak sedikit umat Islam yang berpandangan bahwa “jihad” identik dengan perang. Karena faham ini sering terlontarkan dari mimbar ke mimbar,  ilmuwan dan media Barat sering mengidentikkan “jihad” dengan kekerasan, violence. Fenomena inilah yang mendorong pemerintah AS dewasa ini untuk memasang spionasi kamera di beberapa masjid, dan Islamic center di AS.  Apalagi “Jihad” ini dihubungkan dengan upaya garis keras umat Islam Timur Tengah  melawan hegemoni Barat dan kebrutalan penguasa Israel. Fenomena ini menjadikan imej Islam di mata dunia Barat menjadi sah untuk dipandang sebagai “agama Jihad” atau “agama kekerasan.” Belum lagi peristiwa-peristiwa kerusuhan dan kekerasan di Indonesia dimana-mana yang menjadikan penduduk minoritas Indonesia tidak aman dan tidak nyaman. Ini semua jelas telah  membawa daftar panjang yang semakin memperkuat kesan dan stereotype dunia Barat atas dunia Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebetulnya kasus-kasus kekerasan di Indonesia dan di Timur Tengah jika diteliti lebih cermat belum sebanding dengan warna Islam itu sendiri yang penuh dengan kedamaian. Artinya wajah Islam dan dunia Islam secara umum tetap lebih dominan menampakkan pemandangan  peace dari pada violence.  Bahkan bisa diteorikan, jika sebuah negara berpenduduk mayoritas Muslim maka non-Muslim di negara tersebut pasti aman, terlindungi dan dijamin kedamaian kehidupan sosio-relijius mereka. Hal ini bisa difahami karena Nabi Muhammad saw., sebagai role model memilih jalan peace dari kekerasan. Dengan kata lain ajaran dasar Islam menawarkan kedamaian dari peperangan.  Tidak diragukan lagi pemimpin Muslim in telah membentuk jalan pikiran dan prilaku pengikutnya dimana saja dan sampai kapanpun. Di kalangan kaum Muslim, Muhammad dikenal luas sebagai seorang pendidik. Untuk dapat dipahami secara lebih baik pada poin ini, Dr. James E. Royster dari Cleveland State University, yang telah melakukan riset intensif tentang peran Muhammad sebagai seorang guru, teladan, dan manusia ideal, membahas kesan-kesan kaum Muslim terhadap Nabi mereka. Pada pengantar hasil penelitiannya, ia menyatakan bahwa mungkin tidak ada seorangpun dalam sejarah manusia yang lebih banyak diikuti dari pada Nabi-nya umat Islam (Muhammad). Kenyataan yang  seringkali dilupakan oleh orang-orang non-Muslim ini,  harus dipahami dalam rangka menilai secara tepat pengaruh Muhammad di antara mereka yang mengakuinya sebagai seorang Nabi. Bagi Royster, Muhammad telah mengajarkan kebenaran dengan ucapan dan mengamalkan kebenaran  itu dalam kehidupannya. Kesimpulannya yang tidak kalah penting perlu dicermati:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Muhammad as teacher, exemplar and ideal man fulfills in Islam a role that can hardly be overestimated. From him hundreds of millions of Muslim derive both meaning for personal existence and means for character development and spiritual achievement. In terms of continuing influence Muhammad, the prophet of Islam, must be placed high on the list of  those who have shaped the world. Surely it would be markedly different had he not been.&lt;/i&gt;[5]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kutipan Royster di sini menunjukkan bahwa Muhammad sebagai seorang guru tidak hanya bagi generasi masanya saja namun juga bagi seluruh kaum Muslim pada masa sekarang. Dengan kata lain, sang Guru itu adalah Muhammad, dan murid-muridnya adalah seluruh kaum Muslim di dunia Islam. Ketika itu Muhammad merupakan seorang guru yang aktual bagi para Sahabatnya, bagi kaum Muslim berikutnya beliau menjadi seorang “imaginary educator”. Betapapun, kaum Muslim seluruh dunia mempelajari ajaran satu yang sama dari Qur’an dan sunna. Dua hal tersebut telah terbukti pula menjadi pegangan dalam kehidupan kaum Muslim: “aku telah meninggalkan kepada kamu sekalian (Muslim) dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama kamu sekalian berpegang kepada keduanya: Qur’an dan hadith”.[6] Bahwa beliau adalah seorang guru juga telah dinyatakan dalam beberapa ayat al-Qur’an. Di antaranya, “(Doa Ibrahim dan Isma’il:) Ya Tuhan kami! Utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah) serta mensucikan mereka.”[7]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika Muhammad adalah sosok peaceful, al-Qur’an juga lebih mengedapankan kedamaian. Kata Salam yang berarti peace  bisa dijumpai 157 kali dalam al-Quran.  Islam sebagai universal religion of peace menekankan kedamaian dengan diri sendiri, damai dengan keluarga, damai dengan masyarakat, serta damai dengan alam yang meliputi seluruh  makhluq Allah: fissamawati wal ardl.  Tradisi Assalamu`alaikum, peace be upon you adalah universal greeting yang selalu terdengar ramah dan damai bagi Muslim-Muslimah sejagat. Allah dan Malaikat menyampaikan salawat dan salam pada Nabi-Nabi. Surga dinamakan oleh Allah darussalam: home of peace.  Dalam Islam damai bukanlah masalah international law dan international relation antara negara-negara yang kemudian melahirkan negara super power yang arrogan dan mengklaim diri sebagai polisi dunia, tapi damai  dalam Islam dimulai dari konsep diri kemudian meluas ke keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia. Meminjam istilah Hassan Hanafi, paling tidak ada dua damai: yakni  peace in the soul (internal peace), dan peace in the world (external peace).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan memperhatikan normatif Islam sebagai landasan ideologis, kata “jihad” dalam al-Qur’an lebih pas dimaknai lawan dari “qu`ud” dalam al-Qur’an. Jika qu`ud artinya adalah kondisi passif sebaliknya jihad merujuk pada keaktifan untuk agama Allah. Di dalam al-Qur’an pengertian jihad fisabilillah lebih ditekankan pada upaya perjuangan meningkatkan kegiatan ibadah dalam rangka mengabdi pada Allah, bukan untuk kepentingan yang lain. Dari sekian banyak ayat yang menyebutkan jihad  misalnya al-Hajj 78, al-Taubah 19, 24, al-Mutmainnah l, al-Hujurat 15, dan al-`Ankabut 6, tidak ada satupun ayat yang mengkonotasikan jihad sebagai perang. Ayat-ayat yang berhubungan dengan perang pada umumnya menggunakann istilah qital. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Back to basic&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbagai masalah sosial budaya dan keagamaan diatas semakin memperjelas dan meyakinkan kita bahwa masalah kemrosotan moral adalah sebuah fenomena nyata di lingkungan kita. Dengan demikian budaya bangsa kita disamping memiliki unsur-unsur positif harus diakui juga mengandung unsur-unsur negatif. Mental agraris (meminjam istilah Umar Khayam) telah mewarnai mentalitas manusia Indonesia. Cara pandang agraris mencerminkan sikap statis, tidak produktif karena pasrah pada siklus waktu. Melihat kondisi ini, "culture of poverty"[8] (kultur miskin) yang masih menjadi ajang perdebatan para sosiolog, bisa jadi sah-sah saja dialamatkan ke bangsa kita. Hal-hal tersebut mengundang pemikiran mendalam untuk menata kembali kehidupan beragama yang lebih menyejukkan, santun, damai, dan peduli terhadap masalah-masalah sosial.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Memang hampir dimana-mana di belahan dunia, persoalan pluralisme selalu masih menjadi topik penting. Istilah pluralisme, kemajmukan,  yang digunakan dalam sosiologi moderen dan ilmu politik pada  umumnya mengacu pada tradisi Demokrasi Liberal Barat, dimana pluralitas group atau kelompok elit saling berbagi kekuatan atau saling bersaing untuk memenangkan kekuatan secara terus menerus. Dewasa ini ada kecendrungan umum bahwa pluralisme yang ideal sebaiknya "berkiblat" pada dunia Barat khususnya Amerika yang multi etnis, budaya, dan agama. Argumen ini pada dasarnya menunjukkan sikap inferior kompleks dari dunia ketiga. Profesor Cindy Jurisson dari Chicago, pernah mengingatkan, salah satu masalah besar Amerika saat ini adalah absennya agama sebagai sumber utama nilai atau primary value system. Agama besar yang ada memperoleh tantangan berat dari popular spirituality dan agama sipil, yang keduanya tidak lain adalah agama semu. Pluralisme yang telah mereka rumuskan sejak abad lalu, khususnya oleh salah seorang pemikirnya, James Madison (1751-1836),  memang turut memberi andil besar dalam menyuburkan kehidupan berdemokrasi di Barat, khususnya di AS. Tapi bukan berarti pluralisme ini tidak meninggalkan masalah. Dominasi faham Liberalisme itu sendiri merupakan masalah. Karena Liberalisme dalam masyarakat ini tidak ditopang oleh nilai-nilai agama, hingga issue-issue moderen yang berkembang dalam masyarakat sekuler hampir tidak pernah mencapai harmoni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk itu umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas Indoinesia sudah semstinya kembali ke ajaran dasar Islam, normativeness,  dalam memecahkan persoalan-persoalan ini. Dalam Islam setiap ibadah ritual sarat dengan  pesan moral yang bersifat vertikal dan horizontal. Ibadah puasa misalnya bukan sekadar mengajarkan disiplin diri, atau juga ajakan kesalehan diri, lebih dari itu puasa adalah ajakan peduli terhadap lingkungan dan penegakan HAM. Sangat ironis jika puasa hanya diartikan sebagai takwa pribadi dengan melupakan masalah-masalah sosial atau kesalihan sosial. Budaya kekerasan, budaya menghakimi sendiri, agaknya sudah melembaga dalam masyarakat kita. Istilah "kurang ajar'' (tidak ada istilah "cukup atau berlebihan ajar'') yang biasanya digunakan pendahuluan untuk memukul seseorang adalah ekspresi budaya yang haus "menghajar'' orang lain. Peristiwa kerusuhan atau riot, meskipun para sosiolog menganggap istilah ini kurang pas dan menggantikannya dengan protes sosial, di beberapa tempat dewasa ini jelas melegitimasi bahwa Indonesia sarat kehidupan kekerasan dengan pelbagai macam motifnya. Agaknya di negara kepulauan ini, kekuatan tangan untuk memperingatkan orang lain lebih sering ditempuh. Barangkali karena pengaruh budaya collectivism, atau komunal "mangan ora mangan kumpul'', posisi individu sering tidak terperhatikan dan nyawa nyaris murah dari hari ke hari. Dengan kata  lain, "pasrah dan rela dipukul asal kumpul.'' Keadilan sosial bagi seluruh rakyat ternyata masih menjadi masalah utama. Sungguh puasa dan kepedulian sosial adalah bagaikan roh dan badan. Dengan berpuasa manusia bukan hanya bersimpati terhadap kemiskinan, tapi lebih dari itu secara empati merasakan haus dan lapar, sehingga dia memberi apreasisi yang tepat dan fungsional terhadap kesengsaraan rakyat. Penyakit bangsa yang melumpuhkan bangsa-bangsa terdahulu sebagaimana diingatkan Rasul adalah fudlul al-ta'am, fudlul al-manam, fudlul al-kalam; banyak makan, banyak tidur, dan banyak kata karena terjerat dalam budaya seremoni yang mengalahkan substansi. Jelas penyakit ini adalah cermin penyakit manusia yang tidak berpuasa atau berpuasa tanpa roh dan makna. Pantaskah orang berbicara soal penderitaan rakyat, kemiskinan, dan kelaparan, sedangkan dalam pikirannya belum pernah terlintas apalagi mengalami pahitnya kehidupan. Pantaskah seseorang mengembar-gemborkan demokrasi, sedangkan dia adalah bagian dari masyarakat timokratik (meminjam istilah al-Farabi dalam al-Madinah al-Fadilah) yang haus akan kekuasaan, popularitas dan kehormatan. Sia-sialah mereka yang melakukan puasa, tapi tersenyum tatkala manusia lain menderita, tertawa tatkala rakyat menangis, menimbun harta dan dolar tatkala umat kelaparan dan kebingungan dengan pemenuhan bahan-bahan pokok, serta memamerkan kekerasan tatkala rakyat mengharapkan perlindungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Manusia beriman dalam arti yang sebenarnya semestinya mengikuti pola kehidupan Nabi dan sahabatnya yang selalu menghormati orang lain. Umat Islam perlu merenungkan kisah- kisah nyata masa salafussalih seperti seorang Sahabat Nabi yang melakukan ikram al-duyuf, memberi penghormatan terhadap seorang tamu.  Sang Tuan rumah hanya punya persediaan makan terbatas untuk anaknya, maka sang Ibu menyuruh anaknya untuk segera tidur tanpa makan malam. Sang ayah mematikan lampu mempersilahkan makan tamu dengan pura-pura ikut makan karena persediaan terbatas tersebut. Malam berlalu satu keluarga berkorban tidak memenuhi kebutuhan makan demi Sang Tamu.  Inilah contoh orang-orang salih yang perlu kita renungkan dalam kehidupan sekarang ini&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ajaran Islam yang humanis sebagaimana dipaparkan diatas adalah paradigma utama untuk mendasari upaya membangun visi bersama di tengah kemajmukan. “Indonesia tanpa pagar” (meminjam istilah budayawan Darmanto Jatman) haruslah  dijadikan sasaran bersama dan agenda utama pluralisme umat beragama di Indonesia, yang merupakan sebuah bangsa yang hidup di tengah-tengah masyarakat internasional yang sedang berada dalam global trends and ethics. Indonesia harus menyesuaikan diri dengan etika global ini seperti demokratisasi, pluralisme dan sebagainya. Relevan kita pungkasi tulisan ini dengan syair-syair teolog dan filosuf Jerman Hanskung:                  &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Not just freedom, but also justice&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Not just equality. But also plurality&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Not just brotherhood, but also sisterhood&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Not just coexistence, but peace&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Not just productivity, but solidarity with the environment&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Not just toleration, but ecumenism&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(Hanskung: global trends and ethics: 1999).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[1] Hasil penelitian individual untuk mata kuliah historiografi Islam dibawah bimbingan Prof. Michael Morony dengan topik paper pribadi “Sunnism in the Eyes of Modern Scholars,” UCLA, AS 1993.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[2] David Jary, Sociology, (New York: 1991), halaman 518.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[3] Asghar Ali Engineer, ON DEVELOPING THEOLOGY OF PEACE IN ISLAM, Islam and Modern Age, October, 2001&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[4] Email pribadi 22 April 2002 dari rlukens@unf.edu ke Walisongos@yahoo.com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[5] James E. Royster, “Muhammad as a Teacher and Exemplar”, The Muslim World, 68, no. 4 (1978), hlm. 235-258.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[6]Lihat Ibn Hanbal, Op.cit., III, hlm. 17.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[7] Qur’an, 2: 129. Beberapa ayat lain yang masih berhubungan dengan hal tersebut adalah surat 62: 2 dan 3: 164&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[8] Istilah yang digunakan pertama kali oleh Oscar Lewis (1961) ini menekankan fatalisme sebagai ciri utama masyarakat ini. Sosiolog tersebut berargumen bahwa cycle of deprivation (lingkaran kefakiran) terus berlangsung dalam masyarakat ini hingga anak-anak dalam lingkungan ini mampu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dan sikap-sikap untuk menjadi manusia miskin. Meskipun demikian argumen ini oleh para sosiolog dianggap lemah dan banyak dibantah. &lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvoR1uIHfUxYez9PNos_DUeEFdg5Q0lMXq69mFq4Do5Cl8iU6XjtKxpO7haHTKLODT_FCwrRiRwFTqgzy-Pxd-af0gP4rTTKKlVIcVoC5iVf7Ob0DDIjy009SAfszwXwqsedFiP60aQkM/s72-c/Prof.+Abdurrahman+Mas'ud%2C%2BM.A.%2C%2BPh.D.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PARADIGMA INTEGRASI KEILMUAN ISLAM DAN SAINS DI ABAD KE-21</title><link>http://multazam-einstein.blogspot.com/2015/02/paradigma-integrasi-keilmuan-islam-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Figur Pasha)</author><pubDate>Sat, 14 Feb 2015 15:43:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2845731176684579410.post-5147900719303288789</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUVsMboLvGxg54ut3NMk-1BPEKV1fWib1QB22vHyAvA2XkZqVphWPtqhW38sCOcIwirR47P0HfYXpjH704k2YMkkYDCOrVOfPjyYKMk-49-2HxkelcZ1yD5-7ERxk2Ck9Jop87vL79lhg/s1600/ISLAM+SAINS.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUVsMboLvGxg54ut3NMk-1BPEKV1fWib1QB22vHyAvA2XkZqVphWPtqhW38sCOcIwirR47P0HfYXpjH704k2YMkkYDCOrVOfPjyYKMk-49-2HxkelcZ1yD5-7ERxk2Ck9Jop87vL79lhg/s1600/ISLAM+SAINS.jpg" height="200" width="183" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;b&gt;I.         Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Agama Islam berakar tunjang pada sikap percaya yang sungguh-sungguh atau tulus (iman). Meskipun mungkin pendekatan empiris dapat dilakukan, untuk menguji kebenaran suatu nilai keagamaan, tetapi dasar kebenaran suatu nilai keagamaan terutama terletak dalam verifikasi empiris, melainkan dalam percaya kepada pemberitaan dari atas (wahyu). Karena itu kedudukan sebuah kitab suci dalam agama adalah mutlak. Sebab itu dalam spektrum bidang kognitif manusia, agama menempati ujung yang berlawanan dengan pengetahuan alam. Ilmu pengetahuan, baik yang alamiah maupun yang sosial adalah netral. Artinya tidak mengandung nilai kebaikan atau kejahatan pada dirinya sendiri. Nilainya diberikan oleh manusia yang memilikinya atau menguasainya. Dalam makalah ini akan dibahas tentang integrasi ilmu-ilmu keislaman dan sains modern di abad ke-21.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;b&gt;II.      Rumusan Masalah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;A.    Bagaimana paradigma integrasi ilmu agama dan sains serta upaya islamisasi ilmu pengetahuan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;B.     Bagaimana transformasi IAIN menjadi UIN di Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;b&gt;III.   Pembahasan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;A.  Paradigma Integrasi Ilmu Agama dan Sains serta Upaya Islamisasi Ilmu Pengetahuan.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Hingga kini, masih kuat anggapan dalam masyarakat luas yang mengatakan bahwa “agama” dan “ilmu” adalah dua entitas yang tidak bisa dipertemukan. Keduanya mempunyai wilayah sendiri-sendiri, terpisah antara satu dan lainnya, baik dari segi objek formal - material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan maupun status teori masing-masing bahkan sampai ke institusi keagamaan.[1]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Pembicaraan tentang ilmu akan selalu hangat dan menarik untuk diperbincangkan, karena ilmu akan selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Ilmu tidak akan terhenti selama manusia masih mampu berpikir untuk mencermati segala fenomena-fenomena yang terjadi, baik fenomena dalam dirinya sendiri maupun di luar dirinya.[2]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Pada bagian lain, ilmu pengetahuan dan teknologi modern tidak selalu membawa manfaat bagi kehidupan manusia. Dalam waktu yang bersamaan, keduanya menimbulkan ancaman yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Tampaknya, sains dan teknologi itu melahirkan kondisi yang kontras: ada realitas yang positif dan ada pula realita yang negatif. Keduanya beriringan, realitas negatif menyertai realitas positif dan begitu juga sebaliknya. Akibat yang terjadi dari sains dan teknologi modern terhadap lingkungan semesta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Dampak negatif dari sains dan teknologi modern itu dan itu bermula dari paradigma sekuler yakni model berpikir memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan duniawi, sehingga membahayakan kehidupan manusia. Ketika dampak negatif itu benar-benar merusak, islam harus meresponsnya dengan memberikan solusi terbaik. Kunto Wijoyo menegaskan bahwa dalam sebuah dunia di mana kekuatan dan pengaruh ilmu pengetahuan menjadi dektruktif, mengancam kehidupan umat manusia dan peradabannya, islam jelas harus tampil untuk menawarkan alternatif paradigmatiknya di bidang ilmu. Paradigma Islam di bidang keilmuan ini bertitik tolak pada wahyu yang mengandung premis-premis normatif terutama dari Al-Qur’an kemudian dirumuskan cara berpikir.[3]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Dalam pandangan islam posisi ilmu menempati tingkat yang sangat tinggi, karena itu tidaklah heran jika banyak nash baik Al-Qur’an maupun al-Sunnah yang menganjurkan kepada manusia untuk menuntut ilmu, di antaranya, firman Allah dalam surat Al-Alaq. Bentuk serta ilmu keislaman terangkum dalam syahadah, “kesaksian” yang menjadi dasar tauhid. Oleh karena itu, hal yang terpenting dari berbagai ilmu adalah ilmu tentang Tuhan, sedangkan ilmu tentang selain tuhan merupakan sarana untuk mencapai ilmu tentang Tuhan, karena segala sesuatu pasti akan kembali kepada-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Dalam hal ilmu, Al-Ghazali membaginya menjadi tiga bagian. Pertama, ilmu-ilmu yang terkutuk baik sedikit maupun banyak, ilmu-ilmu ini tidak ada manfaatnya baik di dunia maupun akhirat, seperti ilmu nujum, sihir, ilmu ramalan. Kedua, ilmu-ilmu yang terpuji baik sedikit maupun banyak, jenis ilmu ini dibagi menjadi dua, yaitu wajib ain dan wajib kifayah, yang termasuk kategori ilmu wajib ain untuk dipelajari ini mencakup ilmu-ilmu agama dengan segala jenisnya sedangkan ilmu yang termasuk fardhu kifayah mencakup ilmu keselamatan, kedokteran, hitung, dan lain-lain. Ketiga, ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, atau sedikit, dan akan tercela jika dipelajari secara mendalam, karena akan menyebabkan kekacauan antara keyakinan dan keraguan serta membawa kekafiran, ilmu kategori ini mencakup filsafat, ilmu ilahiyat, logika dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Berbeda dengan Al-Ghazali, Ibnu Arabi berpendapat bahwa ilmu terdiri dari ilmu tentang Tuhan, ilmu tentang dunia yang akan datang, ilmu tentang dunia ini, ilmu tentang penciptaan serta pemeliharaan dunia, maka segala urusan manusia akan selalu berada “di tangannya” di mana pun dia berada dan manusia pun sadar akan diri dan segala perbuatannya. Masih menurutnya, bahwa ilmu adalah sifat Tuhan yang meliputi segala sesuatu, sehingga ia merupakan karunia Tuhan yang paling besar. Sebagai karunia yang paling besar, ilmu merupakan tuntutan di samping agama bagi manusia dalam mengabdikan dirinya sebagai khalifah di dunia. Dengan demikian, manusia dituntut memaknai hukum-hukum Allah yang kemudian diambil manfaatnya untuk membangun dunia ini. Namun begitu bahwa ilmu yang dijadikan pegangan tidak bisa lepas begitu saja dari agama karena agama merupakan puncak dari pencapaian, sedangkan ilmu adalah alat atau jalan dari pencapaian tersebut. Agama tidak mengadakan perubahan dan memang bukan alat pembaruan, melainkan ilmulah yang mengadakan perubahan dan menjadi alat pembaruan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Dari sini tampak jelas bahwa tidak ada dikotomi antara agama dan ilmu. Agama dan ilmu merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, karena ketika kita membiarkannya berjalan terpisah, hal itu merupakan malapetaka bagi manusia itu sendiri.[4]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Sejarah hubungan ilmu dan agama di barat mencatat bahwa pemimpin gereja menolak Teori Heliosentris Galileo atau teori Evolusi Darwin. Pemimpin gereja membuat pernyataan yang berada di luar kompetensinya. Sebaliknya Issac Newton dan tokoh-tokoh ilmu sekuler menempatkan Tuhan hanya sekedar sebagai penutup sementara lobang kesulitan (to fill gaps) yang tidak pernah terpecahkan dan terjawab oleh teori keilmuan mereka, sampai tiba waktunya diperoleh data yang lebih lengkap atau teori baru yang dapat menjawab kesulitan tersebut. Begitu kesulitan itu terjawab, maka secara otomatis intervensi Tuhan tidak lagi diperlukan. Akhirnya Tuhan dalam benak ilmuwan “sekuler” hanya ibarat pembuat jam (clock maker). Begitu alam semesta ini selesai diciptakan, Ia tidak peduli lagi dengan alam raya ciptaan-Nya dan alam semesta pun berjalan sendiri secara mekanis tanpa campur tangan tujuan agung ketuhanan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Sementara dalam dunia timur, dalam hal ini dunia Islam, pengajaran ilmu-ilmu agama Islam yang normatif-tekstual terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu-ilmu sosial, ekonomi, hukum dan humaniora pada umumnya.[5]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Sejarah telah mencatat kontribusi peradaban islam dalam peradaban umat manusia, lewat kontribusi mereka dalam peradaban barat. Untuk itu barangkali dapat kita susun sederet nama intelektual islam yang terdiri dari para filosof, sastrawan, penulis, maupun ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Berikut ini dapat kita ikuti deretan jenis kontribusi:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;1.    Astronomi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, 'Times New Roman', serif;"&gt;Astronomi ternyata bukan hanya dipelajari oleh para ilmuwan melainkan juga menarik minat para sultan, Khifah maupun alkhan yang menjadi raja dalam masyarakat muslim. Khalifah Al-Mansyur, misalnya, yang menjadi khalifah kedua dari bani Abasiyah yang berpusat di Baghdad (754-775 M), adalah termasuk salah seorang ahli astronomi dari mazhab Baghdad.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;2.    Matematika&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, 'Times New Roman', serif;"&gt;Salah seorang ahli matematika muslim yang terkenal adalah Muhamad bin Musa bin Khawarizmi yang hidup di masa khalifah Al-Ma’mun, yang menulis buku Al-Jabar berjudul Al-Jabar Wal’maakalala (perhitungan dan simbol). Kata Al-jabar sendiri berarti perhitungan, dan istilah al-goritma berasal dari nama penemunya, yaitu Al-khawarizmi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;3.    Kedokteran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, 'Times New Roman', serif;"&gt;Batang tubuh ilmu kedokteran telah ditulis oleh Rhases (Abu bakar ibnu zakaria Al-Razi ) dalam judul havi, yang ditulis dalam khalifah Al-Mansur. Havi merupakan satu dari Sembilan jilid buku kedokteran yang terpampang dalam fakultas kedokteran di Paris pada tahun 1395.[6]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;4.    Filsafat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Abu Yusuf Ya’kub al-Kindi di anggap termasuk ke dalam barisan terdepan para pemikir yang muncul pada periode pembentukan filsafat islam dan pada permulaan periode-periode transisi kebudayaan dari masa teologi murni ke masa di mana pemikiran islam berakulturasi dengan filsafat Yunani, Persia, India&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;B.   Transformasi IAIN menjadi UIN di Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Aktivitas pendidikan dan keilmuan di Perguruan Tinggi Umum dan Perguruan Tinggi Agama di tanah air mirip-mirip seperti pola kerja keilmuan awal abad renaissance hingga era revolusi reformasi, yang sekarang ini mulai diratapi oleh banyak kalangan. Hati nurani terlepas dari akal sehat. Nafsu serakah menguasai perilaku cerdik pandai. Praktek korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela. Lingkungan alam rusak berat. Tindakan kekerasan dan mutual distrust mewabah di mana-mana.[7]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Pendidikan tinggi Islam pada dasarnya merupakan sebuah institusi sosial yang menjadi bagian integral dari masyarakatnya. Sebagai institusi sosial  fungsi pendidikannya secara ideal menjadi fungsi budaya untuk melestarikan dan mengembangkan sistem nilai masyarakatnya. Sebagai suatu organized intelegence, ia menjadi centrum dari berbagai kecerdasan yang diorganisasi untuk menyelenggarakan sebuah masyarakat yang beradab. Dalam fungsi itu Perguruan Tinggi Islam mempunyai kekuatan vital karena bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sulit dibayangkan, ilmu pengetahuan akan dapat dipertahankan dan dikembangkan tanpa adanya lembaga yang bergerak di bidang itu.[8]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Belakangan ini, muncul ide di kalangan pembuat kebijakan pendidikan tinggi Islam untuk mengembalikan semangat kajian Islam yang lebih komprehensif lagi; disiplin keilmuan yang dicakup IAIN tidak melulu meliputi disiplin ilmu agama semata, namun juga ilmu-ilmu umum yang bernuansa keislaman, seperti psikologi, komunikasi, sosiologi, antropologi, dan lain sebagainya, ke depan IAIN akan dikembangkan dalam bentuk Universitas Islam Negeri (UIN) yang membawahi bidang kajian keislaman dan ilmu-ilmu sekuler.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Rencana besar transformasi IAIN menjadi UIN didasari oleh kesadaran futuristik umat Islam terhadap urgensi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menyesuaikan diri  dengan akselerasi perubahan zaman yang begitu cepat. Selain itu, transformasi itu muncul sebagai wujud kesadaran umat islam yang tidak mau mengikuti pola dualisme keilmuan, antara ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu sekuler sebagai dampak historis kebijakan kolonialisme Belanda.[9]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Pengembangan dan konversi IAIN ke UIN adalah proyek keilmuan. Proyek pengembangan wawasan keilmuan dan perubahan tata pikir keilmuan yang bernafaskan keagamaan transformatif. Bukan berubah asal berubah, bukan sekedar ikut-ikutan, bukan pula sekedar proyek fisik. Konversi dari IAIN ke UIN adalah momentum untuk membenahi dan menyembuhkan “luka-luka dikotomi” keilmuan dan agama yang makin hari makin menyakitkan.[10]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Terlepas dari persoalan kontroversi transformasi IAIN menjadi UIN, hal menarik yang perlu digaris bawahi di kalangan IAIN adalah kecenderungan kajian Islam yang berlangsung di dalamnya. Sejak berdirinya, lembaga pendidikan tinggi Islam ini membawa dua tugas utama: sebagai lembaga keagamaan dan sebagai lembaga keilmuan. Sebagai sentral pengkajian keagamaan, IAIN membawa misi religius untuk memberikan pencerahan masyarakat muslim untuk memahami ajaran Islam (lembaga dakwah). IAIN diharapkan menjadi ­avant garde dalam mengkaji Islam sebagai sebuah disiplin akademis, bukan sebagai doktrin agama.[11]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Atas dasar berbagai analisa tentang konsep pendidikan Islam dan berbagai kritisi dari kalangan ilmuwan dan masyarakat terhadap masa depan IAIN, dapat dinyatakan di sini bahwa terdapat dua persoalan spesifik yang dihadapi IAIN, yaitu perihal esensi-substansi kurikulum yang masih berorientasi persial, dan perihal pemberdayaan kelembagaan dalam konteks manajemen dan relevansi SDM. Perubahan sejumlah IAIN menjadi UIN tidak menjadi persoalan sepanjang perubahan tersebut disertai dengan reformulasi esensi-substansi kurikulum, pemberdayaan tenaga birokrasi, pemberdayaan manajemen tenaga edukasi, yang kesemuanya dimaksudkan untuk merespons kebutuhan masyarakat pada era milenium ini.[12]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[1] M. Amin Abdullah, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 92.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[2] Abuddin Nata, dkk., Integrasi Ilmu Agama &amp;amp; Ilmu Umum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 111.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[3] Mujamil Qomar, Pemikiran Islam Metodologis Model Pemikiran Alternatif Dalam Memajukan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 210 – 211.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[4] Abuddin Nata, dkk., Integrasi..., hlm. 112 – 113.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[5] M. Amin Abdullah, Islamic..., hlm. 93 – 94.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[6] Abu Su’ud, Islamologi Sejarah, Ajaran dan peranannya dalam peradaban umat manusia, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), hlm. 201 – 206.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[7] M. Amin Abdullah, Islamic..., hlm. 94.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[8] Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 2008), hlm. 584 – 585.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[9] Masdar Hilmy dan Akh. Muzakki, Dinamika Baru Studi Islam, (Surabaya: Arkola, 2005), hlm. 54.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[10] M. Amin Abdullah, Islamic..., hlm. 399.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[11] Azyumardi azra, Studi-studi Agama Di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Dalam Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 169 – 170.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;[12] Abdullah Idi dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hlm. 201.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUVsMboLvGxg54ut3NMk-1BPEKV1fWib1QB22vHyAvA2XkZqVphWPtqhW38sCOcIwirR47P0HfYXpjH704k2YMkkYDCOrVOfPjyYKMk-49-2HxkelcZ1yD5-7ERxk2Ck9Jop87vL79lhg/s72-c/ISLAM+SAINS.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item></channel></rss>