<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142</atom:id><lastBuildDate>Fri, 08 Nov 2024 15:06:50 +0000</lastBuildDate><category>Amalan</category><category>ILMU</category><category>fiqih</category><category>Renungan</category><category>aqidah</category><category>intermezzo</category><category>Islam</category><category>amal</category><category>hukum</category><category>Download</category><category>Muamalah</category><category>cerita hikmah</category><category>cinta</category><category>e-Book</category><category>fatwa</category><category>ibu</category><category>nasehat</category><category>Adab</category><category>Contact</category><category>Kata Mutiara</category><category>Quran</category><category>Widi Kurn</category><category>daftar isi</category><category>fiqh</category><category>keajaiban</category><category>masjid</category><category>metallurgy and materials</category><title>Islamic Sensation</title><description>Semoga blog ini bermanfaat dan di jaga akan kesesuaiannya dengan  Qur'an,Hadits.Amien</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (widi kurn)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>70</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:summary>Semoga blog ini bermanfaat dan di jaga akan kesesuaiannya dengan Qur'an,Hadits.Amien</itunes:summary><itunes:subtitle>Semoga blog ini bermanfaat dan di jaga akan kesesuaiannya dengan Qur'an,Hadits.Amien</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-4716531146383610779</guid><pubDate>Mon, 05 Sep 2011 02:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-05T09:03:08.229+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">nasehat</category><title>nasehat untuk para pencari ilmu</title><description>Barangsiapa yang mencari ilmu karena ingin mengamalkannya, maka ilmunya akan mengetuk hatinya dan ia akan menangisi dirinya sendiri karena ia mengerti betapa lemahnya makhluk di hadapan Tuhannya. Dan barangsiapa mencari ilmu karena madrasah-madrasah, fatwa, rasa bangga dan riya', maka ia telah melakukan tindakan bodoh dan kesombongan. Orang yang seperti ini akan binasa dengan ujubnya sendiri dan dibenci jiwa-jiwa manusia. Allah berfirman: "Seesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS. Asy Syams:9-10) yakni mengotorinya dengan kezhaliman dan kemaksiatan. (Adz Dzahabi)[dari: 60 Biografi Ulama Salaf/Syaikh Ahmad Farid/Pustaka Al Kautsar. hlm 667]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai saudaraku, tinggikan dan muliakan saja perintah Allah, dimana saja. Maka Allah pasti akan menjadikanmu mulia dimana saja.(Hasan Al Basri)----------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
link site&lt;br /&gt;
http://pesanhikmah.com/http://pesanhikmah.wordpress.com/http://tarijemari.wordpress.com/http://hikmahdalamkisah.wordpress.com/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ     Enter your email address:</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/09/nasehat-untuk-para-pencari-ilmu.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-7108218701542629189</guid><pubDate>Mon, 05 Sep 2011 01:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-05T08:56:20.210+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">nasehat</category><title>nasehat untuk penguasa</title><description>Wahai sang raja, ketika kamu berkuasa maka ingatlah keadilan Allah padamu, ketika kamu memberikan hukuman maka ingatlah siksaan Allah padamu. Janganlah kamu memuaskan amarahmu dengan mengorbankan agamamu.(Ibnu Al Jauzy)[dari: 60 Biografi Ulama Salaf/Syaikh Ahmad Farid/Pustaka Al Kautsar. hlm 722]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ     Enter your email address:</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/09/nasehat-untuk-penguasa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-5721552137664586272</guid><pubDate>Wed, 27 Jul 2011 23:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-28T06:15:42.474+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Amalan</category><title>hadits palsu&amp;lemah seputar ramadhan</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan ramadhan sebentar lagi, sudah cukupkah persiapan kita? Semoga tulisan ini bisa bermanfaat menambah perbekalan kita dalam menyambut bulan ramadhan ini. آمِّيْنَ يا رَبَّ الْعَالَمِيْن &lt;br /&gt;
HADITS PALSU &amp;amp; LEMAH SEPUTAR RAMADHAN &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. TIDUR ITU IBADAH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلَى فِرَاشِهِ &lt;br /&gt;
“Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini sering kali kita dengar, paling tidak, maknanya bahwa ada yang mengatakan tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah sehingga kemudian ini dijadikan alasan untuk menghabiskan waktu dengan tidur saja, padahal kualitas hadits ini adalah DHO’IF (lemah). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits tersebut disebutkan oleh Imam as-Suyuthiy di dalam kitabnya “al-Jami’ ash-Shaghir”, riwayat ad-Dailamy di dalam Musnad al-Firdaus dari Anas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam al-Manawy memberikan komentar dengan ucapannya, “Di dalamnya terdapat periwayat bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl, Imam adz- Dzahaby berkata di dalam kitabnya adh-Dhu’afa, ‘Ibnu ‘Ady berkata, ‘(dia) termasuk orang yang suka memalsukan hadits.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*akankah kita mengisi waktu-waktu ramadhan ini dengan memperbanyak tidur??&lt;br /&gt;
Mari perbanyak membaca qur'an :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. 10 HARI AWAL RAMADHAN ITU RAHMAT, 10 HARI PERTENGAHAN ITU AMPUNAN, 10 HARI AKHIR ITU BEBAS DARI NERAKA &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"...dialah bulan yang awalnya itu RAHMAT, pertengahannya itu maghfirah/AMPUNAN, dan akhirnya itu 'itqun minan naar/BEBAS DARI NERAKA..."   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Sa'ad berkata, "Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya," dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Tidak kuat". Ibnu Ma'in berkata, "Dha'if." Ibnu Abi Khaitsamah berkata, "Lemah di segala segi"." demikianlah di dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setiap hari di bulan Ramadhan itu terdapat banyak sekali kebaikan-kebaikan didalamnya, tidak dipisah-pisah persepuluh hari seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga dengan penjelasan ini kita lebih berha</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/07/hadits-palsu-seputar-ramadhan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-2893762653290458493</guid><pubDate>Tue, 26 Jul 2011 09:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-26T16:36:12.583+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">amal</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ILMU</category><title>10 penyakit dalam menuntut ilmu</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauhilah oleh kalian 10 penyakit dalam menuntut ilmu ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Niat yang rusak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Cinta popularitas, dan matang sebelum waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Menyia-nyiakan halaqah ilmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Banyak beralasan dengan kesibukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Menyia-nyiakan menuntut ilmu di masa muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Lebih mengikuti perkembangan zaman (fiqih waqi') dari pada mempelajari pokok-pokok ilmu (ta'shil).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Merekomendasi diri sendiri dengan merasa bahwa ilmunya telah cukup banyak lalu menempatkan diri sebagai ustadz, dan gembira dengan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Tidak mengamalkan ilmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Tidak percaya diri dalam menuntut ilmu, karena merasa hafalannya lemah dsbm&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Menunda-nunda waktu dengan mengatakan: nanti&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Di ringkas dari kitab Ma'alim fii thariiq thalabil 'ilmi karya Syaikh Abdul 'Aziz As Sadhaan hal 19-32).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enter your email address:Delivered by coratcoret.net</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/07/10-penyakit-dalam-menuntut-ilmu.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-8270911819419471467</guid><pubDate>Tue, 19 Jul 2011 01:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-19T08:20:23.394+07:00</atom:updated><title>Amplop untuk Imam Tarawih</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bulan Ramadan tiba, di samping mendatangkan peng-kultum, sebagian masjid juga mendatangkan orang-orang tertentu yang memiliki suara yang merdu untuk menjadi imam shalat tarawih. Apa hukum uang amplop untuk imam tarawih semisal ini? Simak jawabannya dalam tanya jawab berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan, “Apa hukum amplop bagi imam shalat tarawih?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban Syekh Abu Said Al-Jazairi, “Sepatutnya, kebiasaan memberikan uang di akhir Ramadan untuk imam shalat tarawih itu dijauhi karena hal itu menyebabkan para imam tersebut memiliki tendensi duniawi dalam ibadah yang mereka lakukan, dan boleh jadi, hal ini menyebabkan adanya ganjalan hati antara takmir masjid dengan para imam tersebut tatkala uang yang diberikan kepada imam tidak sesuai dengan harapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قال الله تعالى (فَمَن كَانَ يَرْجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدَاً ) [الكهف:110] ،&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman (yang artinya), 'Siapa saja yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaknya dia mengerjakan amal saleh dan tidak menduakan dengan siapa pun ketika beribadah kepada Tuhannya.' (Q.S. Al-Kahfi:110)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "اقرؤوا القرآن [وابتغوا به الله تعالى] قبل أن يأتي قوم يقرؤون القرآن فيسألون به الناس "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah bersabda, 'Bacalah Alquran dan niatkanlah hanya untuk Allah, sebelum datang sekelompok orang yang membaca Alquran lalu dia jadikan Alquran sebagai alat untuk meminta-minta harta.' (H.R. Ahmad, dan lain-lain; sahih, sebagaimana dalam Shahih Al-Jami Ash-Shaghir, no. 1169)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Muhammad bin Nasr Al-Maruzi (wafat tahun 294 H) mengatakan bahwa Yahya bin Yahya berkata kepada Abu Waki’, 'Bukankah Abu Ishaq bercerita kepada kalian bahwa Abdullah bin Ma’qil menjadi imam shalat tarawih di bulan Ramadan. Saat Idul Fitri tiba, Ubaidullah bin Ziyad mengirimkan uang sebanyak lima ratus dirham dan satu setel baju baru kepada Abdullah bin Ma’qil, namun Abdullah bin Ma’qil menolak pemberian tersebut sambil mengatakan, 'Sesungguhnya, kami tidaklah mengambil upah karena membaca Alquran'?'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Waki’ berkata, 'Benar, demikianlah yang diceritakan oleh Abu Ishaq.'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Ishaq mengatakan bahwa Mush’ab memerintahkan Abdullah bin Ma’qil bin Muqarrin untuk menjadi imam shalat tarawih di Masjid Jami' ketika bulan Ramadhan. Setelah Idul Fitri tiba, Mush’ab mengirimkan uang sebanyak lima ratus dirham dan satu setel baju, namun Abdullah menolaknya. Abdullah mengatakan, 'Aku tidak mau mengambil upah karena membaca Alquran.' (Dikutip dari Mukhtashar Qiyam Al-Lail, hlm. 246, karya Imam Ahmad bin Ali Al-Maqrizi [wafat tahun 845])&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syekh Abdusy Syakur Al-Atsari mengatakan, 'Fenomena uang amplop karena menjadi imam shalat di bulan Ramadan telah tersebar di zaman kita saat ini. Sampai-sampai, para penghafal Alquran bepergian dari satu daerah ke daerah yang lain dan mereka mencari-cari takmir masjid yang mau menetapkan besaran upah bagi mereka sebelum mereka bertugas sebagai imam shalat tarawih, sehingga mereka menjadi imam dengan penuh semangat dan penuh keyakinan akan mendapatkan upah yang mereka harapkan. Bahkan, sebagian imam shalat tarawih menjadi imam shalat tarawih di suatu masjid, lalu segera menyelesaikan shalat bersama jemaah masjid tersebut, untuk bisa berpindah ke masjid lain dan menjadi imam shalat tarawih di masjid kedua. Kedua shalat tarawih tersebut dilaksanakan di awal malam. Dengan demikian, si imam mendapatkan upah dari kedua masjid tersebut. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Semoga Allah memaafkan kita.'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski demikian, shalat bermakmum dengan orang semacam itu adalah shalat yang sah. Jika ada celaan maka celaan hanya tertuju kepada si imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asyhab mengutip perkataan Imam Malik yang mengatakan, 'Tidaklah mengapa mengerjakan shalat dengan bermakmum kepada imam yang mau menjadi imam shalat karena mendapatkan upah. Jika ada dosanya maka itu adalah tanggungan si imam.' (Dikutip dari An-Nawadir waz Ziyadat, 1:386, karya Ibnu Abi Zaid Al-Qairawani [wafat tahun 386 H], tahqiq oleh Abdul Qadir bin Muhammad Al-Halwu)."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
http://www.abusaid.net/index.php/shariya/294-2009-10-12-10-50-57.html&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" style="border:1px solid #ccc;padding:3px;text-align:center;" target="popupwindow" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true"&gt;&lt;p&gt;Enter your email address:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;input style="width:140px" name="email" type="text"/&gt;&lt;/p&gt;&lt;input value="IslamicSensation" name="uri" type="hidden"/&gt;&lt;input value="en_US" name="loc" type="hidden"/&gt;&lt;input value="Subscribe" type="submit"/&gt;&lt;p&gt;Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/07/amplop-untuk-imam-tarawih.html</link><author>noreply@blogger.com (Luay)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-5321203628901902764</guid><pubDate>Sun, 17 Jul 2011 00:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-17T07:28:58.626+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">amal</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ILMU</category><title>AYO DI INGAT &amp; DI HAPALKAN DOA BUKA PUASA YG SHOHIH.</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Ramadhan sebentar lagi, semua kaum muslimin tentu d wajibkan untuk berpuasa di bulan yang mulia tersebut. Segala bekal harus di siapkan untuk menyambut kedatangan bulan tersebut. Tak terkecuali bekal ilmu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa tentu nantinya akan berbuka dan jangan lupa untuk berdoa. Sayangnya doa Berbuka Puasa yang Terkenal di Tengah Masyarakat adalah&lt;br /&gt;
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت&lt;br /&gt;
...&lt;br /&gt;
“Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka).”&lt;br /&gt;
Mulla ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan ‘wa bika aamantu‘ adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya.&lt;br /&gt;
Artinya do’a ini adalah do’a yang dho’if sehingga amalan tidak bisa dibangun dengan do’a tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat d sayangkan jika puasa kita seharian d tutup dengan do'a yang salah. Untuk itu,berbuka Puasalah dengan Doa-doa Berikut Ini&lt;br /&gt;
Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ&lt;br /&gt;
“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.”&lt;br /&gt;
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki]&lt;br /&gt;
(Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enter your email address:Delivered by coratcoret.net</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/07/ayo-di-ingat-di-hapalkan-doa-buka-puasa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-604563505676320473</guid><pubDate>Tue, 12 Jul 2011 03:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-12T10:54:56.139+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">amal</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ILMU</category><title>hukum bermaaf-maafan sebelum bulan puasa</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum Bermaaf-maafan sebelum bulan puasa adakah haditsnya ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin banyak dari kita yang menerima email seperti ini (liat di bawah), sehingga menyebabkan kita saling meminta maaf (ritual) sebelum berpuasa :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Do'a malaikat Jibril menjelang Ramadhan "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:&lt;br /&gt;
- Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);&lt;br /&gt;
- Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami isteri;&lt;br /&gt;
- Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.&lt;br /&gt;
Maka Rasulullah S.A.W pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah S.A.W dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jumaat.&lt;br /&gt;
(tidak ada referensi nya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal yang benar adalah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Amin, amin, amin".&lt;br /&gt;
Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata 'Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin',&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Jibril berkata lagi, 'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!', maka aku berkata : 'Amin'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata lagi. 'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 [Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah])&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enter your email address:Delivered by c</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/07/hukum-bermaaf-maafan-sebelum-bulan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-3791205170499822571</guid><pubDate>Thu, 30 Jun 2011 23:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-01T06:30:24.091+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ILMU</category><title>Waktu teramat Berharga</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu Teramat Berharga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah nasehat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ &amp;nbsp;، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah pula bahwa setiap orang akan ditanya mengenai kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan dan semuanya akan diperhitungkan (dihisaB). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3475-waktu-amat-berharga-dibanding-menonton-bola.html&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enter your email address:Delivered by coratcoret.net</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/07/waktu-teramat-berharga.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-6399707350939590047</guid><pubDate>Tue, 28 Jun 2011 06:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-28T13:35:36.983+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Adab</category><title>Adab Bercanda dalam Islam</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adab Bercanda dalam&amp;nbsp;Islam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bercanda atau bergurau tidak dilarang dalam Islam. Hukum asal perkara ini adalah boleh, bahkan terkadang menjadi sunnah jika ada maslahatnya, seperti mengakrabi seseorang dan menghangatkan suasana ukhuwah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bercanda bersama sahabatnya. Namun, tentu candaan beliau berada di dalam koridor adab Islam. Berikut ini adalah beberapa adab dalam bercanda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Tidak berdusta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tidak menakut-nakuti, seperti menyembunyikan barang teman agar dikira hilang, mengunci temannya di dalam kamar, dan lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda yang artinya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Janganlah seseorang dari kalian mengambil tongkat saudaranya baik bergurau atau serius. Barangsiapa mengambilnya hendaknya dia kembalikan.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Tidak menjelek-jelekkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Tidak dibumbui ghibah (membicarakan keburukan orang lain yang tidak ada di tempat tersebut).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Jangan terlalu sering. Ulama mengatakan bahwasanya terlalu sering tertawa menyebabkan kebodohan dan kedunguan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pun telah menjelaskan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Janganlah banyak bercanda karena bercanda mematikan qalbu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah aturan Islam yang mulia, tidak meninggalkan satu pun perikehidupan kecuali telah diatur dengan indah. Demikianlah, Islam telah disempurnakan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil sebelum mewafatkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 03 vol. 01 1432 H – 2011 M, dalam artikel ‘Dusta dalam Canda’ hal. 70.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enter your email address:Delivered by coratcoret.net</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/06/adab-bercanda-dalamislam.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-108609844156439398</guid><pubDate>Sat, 11 Jun 2011 00:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-11T07:17:53.249+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Amalan</category><title>Do'a ketika di Puji</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tidak dipungkiri lagi tabiat manusia suka dipuji, disanjung. Tapi, janganlah kita terlena dengan pujian &amp;amp; sanjungan orang kepada kita. Karena pada dasarnya, pujian dan celaan tidaklah merubah hakikat siapa diri kita. Justru yang kita takutkan ketika kita hanya mencari pujian orang lain, beramal karena ingin di puji..Lantas bagaimana sebaiknnya kita menanggapi pujian orang lain?salah satu caranya dengan berdoa. :) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa Ketika Dipuji Orang Lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buka link berikut:&lt;br /&gt;
http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2734-jangan-tertipu-dengan-pujian-orang-lain.html&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enter your email address:Delivered by coratcoret.net</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/06/doa-ketika-di-puji.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-84467826129295007</guid><pubDate>Mon, 06 Jun 2011 23:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-07T06:43:58.055+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Amalan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">fiqh</category><title>Keutamaan Sholat Tahajud</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari biasakan sholat tahajud, karena sholat tahajud memiliki banyak keutamaan :)&lt;br /&gt;
Berikut Keutamaan Shalat Tahajud &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) Shalat tahajud adalah sifat orang bertakwa dan calon penghuni surga.&lt;br /&gt;
Allah berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini, “Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari, mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang shubuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.”2 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) Tidak sama antara orang yang shalat malam dan yang tidak.&lt;br /&gt;
Allah Ta'ala berfirman (yg artinya),&lt;br /&gt;
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azaB) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9). Yang dimaksud qunut dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai dengan khusu'.3 &lt;br /&gt;
Salah satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!”4 Jawabannya, tentu saja tidak sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Read more:&lt;br /&gt;
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2858-panduan-shalat-tahajud.html&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enter your email address:Delivered by coratcoret.net</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/06/keutamaan-sholat-tahajud.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-2276747271273630339</guid><pubDate>Sat, 28 May 2011 23:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-29T06:53:36.433+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">fiqih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Islam</category><title>Siapakah Mahram kita??</title><description>بسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h1&gt;Yang Dianggap Mahrom Padahal Bukan&lt;/h1&gt;Selasa, 27 Januari 2004 07:25:56 WIB&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
YANG DIANGGAP MAHROM PADAHAL BUKAN &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebabkan keengganannya dalam mendalami ilmu agama Islam, maka banyak  kita jumpai adanya beberapa anggapan keliru dalam mahrom. Otomatis  berakibat fatal, orang-orang yang sebenarnya bukan mahrom dianggap  sebagai mahromnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat ironis memang, tapi demikianlah kenyataannya. Oieh karena itu  dibutuhkan pembenahan secepatnya. Berikut beberapa orang yang dianggap  mahrom tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[1]. Ayah Dan Anak Angkat. &lt;br /&gt;
Hal ini berdasarkan firman Alloh : “Dan Alloh tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu”. [Al-Ahzab : 4]. [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[2].  Sepupu (Anak Paman/Bibi). &lt;br /&gt;
Hal ini berdasarkan firman Alloh setelah menyebutkan macam-macam orang  yang haram dinikahi:  “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian”  [An-Nisa': 24]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelaskan ayat tersebut, Syaikh Abdur Rohman Nasir As-Sa'di berkata:   “Hal itu seperti anak paman/bibi (dari ayah) dan anak paman/bibi (dari  ibu)". [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[3]. Saudara Ipar. &lt;br /&gt;
Hal ini berdasarkan hadits berikut:  "Waspadalah oleh kalian dari masuk  kepada para wanita, berkatalah seseorang dari Anshor:  "Wahai Rasulullah  bagaimana pendapatmu kalau dia adalah Al-Hamwu (kerabat suami)?  Rasulullah bersabda: "Al-Hamwu adalah merupakan kematian." [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baghowi berkata: "Yang dimaksud dalam hadits ini adalah saudara  suami (ipar) karena dia tidak termasuk mahrom bagi si istri. Dan  seandainya yang dimaksudkan adalah mertua padahal dia termasuk mahrom,  lantas bagaimanakah pendapatmu terhadap orang yang bukan mahrom?". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lanjutnya: "Maksudnya, waspadalah terhadap saudara ipar sebagaimana engkau waspada dari kematian". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[4]. Mahrom Titipan. &lt;br /&gt;
Kebiasaan yang sering terjadi, apabila ada seorang wanita ingin  bepergian jauh seperti berangkat haji, dia mengangkat seorang lelaki  yang `berlakon' sebagai mahrom sementaranya. Ini merupakan musibah yang  sangat besar.  Bahkan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani menilai dalam  Hajjatun Nabi (hal. 108) :  "Ini termasuk bid'ah yang sangat keji,  sebab tidak samar lagi padanya terdapat hiyal (penipuan) terhadap  syari'at. Dan merupakan tangga kemaksiatan". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menutup pembahasan mengenai mahrom, sebagai pelengkap, berikut akan kami  uraikan hukum-hukum yang berkaitan dengan mahrom. Apa saja yang boleh  dan tidak boleh dilakukan antara wanita dengan mahromnya? Silahkan simak  jawaban dari masalah yang sangat penting ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita Dengan Mahromnya &lt;br /&gt;
Setelah memahami macam-macam mahrom, perlu diketahui pula beberapa hal  yang berkenaan tentang hukum wanita dengan mahromnya adalah: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[1]. Tidak Boleh Menikah &lt;br /&gt;
Alloh Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh  ayahmu, terkecuali pada 'masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan  itu amat sangat keji dan dibenci oleh Alloh dan seburuk-buruk jalan  (yang ditempuh).  Diharamkan alas kamu (mengawini) ibu-ibumu,  anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan,  saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari  saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari  saudarasaudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara  perempuan sepersusuan, ibuibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang  dalam pemeliharaanmu dari istrimu yang telah kamu campuri, tetapi jika  kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu cerai), maka tidak  dosa kamu mengawininya, dan diharamkan bagimu istri-istri anak kandungmu  (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang  bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya  Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [An-Nisa': 22-23]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[2]. Boleh Menjadi Wali Pernikahan &lt;br /&gt;
Wali adalah syarat sah sebuah pernikahan, sebagaimana diriwayatkan oleh  Aisyah bahwasanya Rosululloh bersabda: '“Siapa saja wanita yang menikah  tanpa izin walinya, maka nikahnya batil (tidak sah), maka nikahnya batil  maka nikahnya batil” [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga riwayat dari Abi Musa Al Asy'ari berkata: Rosululloh bersabda: "Tidak sah nikah kecuali ada wali” [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Imam At Tirmidzi: “Yang diamalkan oleh para sahabat Nabi dalam  masalah wall pernikahan adalah hadits ini, diantaranya adalah Umar bin  Khoththob, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Abu Hurairoh dan juga selain  mereka" [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tidak semua mahrom berhak menjadi wali pernikahan begitu juga sebaliknya tidak semua wali itu harus dari mahromnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh wali yang bukan dari mahrom seperti anak laki-laki paman (saudara  sepupu laki-laki), orang yang telah memerdekakannya, sulthon. Adapun  Mahrom yang tidak bisa menjadi wall seperti mahrom karena sebab  mushoharoh. [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[3]. Tidak Boleh Safar (Bepergian Jauh) Kecuali Dengan Mahromnya &lt;br /&gt;
Banyak sekali hadits yang melarang wanita mengadakan safar kecuali dengan mahromnya, di antaranya: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata: Berkata Rosululloh: "Tidak halal  bagi seorang wanita yang beriman kepada Alloh dan hari akhir untuk  mengadakan safar lebih dari tiga hari kecuali bersama ayah, anak  laki-laki, suami, saudara lakilaki atau mahromnya yang lain." [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abdulloh bin Amr bin Ash dari Rosululloh berkata: "Janganlah  seorang wanita muslimah bepergian selama dua hari kecuali bersama  suaminya atau mehramnya." [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairoh, Bersabda Rosululloh: "Tidak halal bagi wanita yang  beriman kepada Alloh dan hari akhir untuk mengadakan safar sehari  semalam tidak bersama mahromnya." [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari beberapa hadits ini, kita ketahui bahwa terlarang bagi wanita  muslimah untuk mengadakan safar kecuali bersama mahromnya, baik safar  itu lama ataupun sebentar. Adapun batasan beberapa hari yang terdapat  dalam hadits diatas tidak dapat di fahami sebagai batas minimal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Syaikh Salim Al Hilali: "Para Ulama' berpendapat bahwa batasan  hari dalam beberapa hadits di atas tidak dimaksud untuk batasan minimal.  Dikarenakan ada riwayat yang secara umum melarang wanita safar kecuali  bersama mahromnya, baik lama maupun sebentar, seperti riwayat Ibnu Abbas  . beliau berkata: “Saya mendengar Rasululloh bersabda: "Janganlah  seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali  bersama mahromnya, juga jangan safar dengan wanita kecuali bersan!a  mahromnya, Maka ada seorang lelaki berdiri lalu berkata: Wahai  Rosululloh, sesungguhnya istri saya pergi haji padahal saya ikut dalam  sebuah peperangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Rosululloh menjawab: "Berangkatlah untuk berhaji dengan istrimu." [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar: "Kebanyakan ulama' memberlakukan larangan  ini untuk semua safar, karena pembatasan yang terdapat dalam  hadits-hadits tersebut sangat berbeda-beda." [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Sholeh Al Fauzan Hafidzohulloh ditanya tentang hukum wanita safar  dengan naik pesawat domestik dalam negeri tanpa mahrom, apakah itu di  bolehkan? Jawab beliau: "Tidak boleh bagi seorang wanita mengadakan  safar tanpa mahrom, baik naik pesawat ataupun mobil, karena Rasululloh  bersabda: "Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Alloh dan hari  akhir mengadakan safar 'sehari semalam kecuali bersama mahrom". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka safar wanita tanpa mahrom itu tidak boleh meskipun dengan alat  transportasi yang cepat, karena pesawat ataupun mobil itu mungkin saja  bisa terlambat, rusak, atau terjadi hal-hal lain yang mengharuskan  wanita itu harus bersama mahromnya agar bisa menjaganya saat terjadi  hal-hal yang tidak diinginkan." [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[4]. Tidak boleh Kholwat (berdua-duaan) kecuali bersama mahromnya. &lt;br /&gt;
[5]. Tidak boleh menampakkan perhiasannya kecuali kepada mahrom. &lt;br /&gt;
[6]. Tidak boleh berjabat tangan kecuali dengan mahromnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jabat tangan dengan wanita di zaman ini sudah menjadi sesuatu yang  lumrah, padahal Rosululloh sangat mengancam keras pelakunya:  Dari  Ma'qil bin Yasar: Bersabda Rasululloh:  "Seandainya kepala seseorang di  tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita  yang tidak halal baginya." [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Syaikh Al Albani: "Dalam hadits ini terdapat ancaman keras  terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya,  termasuk masalah berjabat tangan, karena jabat tangan itu termasuk  menyentuh." [15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Rosululloh tidak pernah berjabat tangan dengan wanita, meskipun  dalam keadaan-keadaan penting seperti membai'at dan lain-lain. Dari  Umaimah binti Ruqoiqoh: Bersabda Rasululloh: "Sesungguhnya saya tidak  berjabat tangan dengan wanita" [16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Aisyah (ia berkata). : "Demi Alloh, tangan Rosululloh tidak pernah  menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membaiat.  Beliau tidak membaiat mereka kecuali dengan mengatakan: "Saya bai'at  kalian." [17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keharaman berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahromnya ini berlaku  umum, baik wanita itu masih muda ataupun sudah tua, cantik ataukah  jelek, juga baik jabat tangan tersebut langsung bersentuhan kulit  ataukah dilapisi dengan kain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah tanya tentang hal tersebut, maka beliau  menjawab: "Tidak boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan  mahromnya secara mutlak, baik wanita tersebut masih muda ataukah sudah  tua renta, baik lelaki yang berjabat tangan tersebut masih muda ataukah  sudah tua, karena berjabat tangan ini bisa menimbulkan fitnah. Juga  tidak dibedakan apakah jabat tangan ini ada pembatasnya ataukah tidak,  hal ini dikarenakan keumuman dalil (larangan jabat tangan), juga untuk  mencegah timbulnya fitnah." [18]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari Majalah Al Furqon, Edisi 3 Th. II, Dzulqo'idah 1423, hal  29-31. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma'had Al-Furqon, Alamat Maktabah  Ma'had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jawa Timur]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Lihat kembali bagian pertama tentang ayah. &lt;br /&gt;
[2]. Lihat Taisir Karimir Rohman hal. 138-139. &lt;br /&gt;
[3]. HR. Bukhori: 5232 dan Muslim: 2172. &lt;br /&gt;
[4]. Shohih, diriwayatkan Abu Dawud: 2083, Tirmidzi: 3/408, Ibnu Majah:  1879, Ahmad 6/47, Ad Darimi 2/137. Lihat Irwaul Gholil 6/243. &lt;br /&gt;
[5]. Shohih, Diriwayatkan Abu Dawud: 2085, Tirmidzi: 3/407, Ad Darimi 2/137, Ibnu Hibban: 1243. Lihat Irwaul Gholil 6/235. &lt;br /&gt;
[6]. Lihat Sunan Tirmidzi 3/410, tahqiq Muhammad Fu' ad Abdul Baqi. &lt;br /&gt;
[7]. Lihat Al Mughni (9/355-360) oleh Ibnu Qudamah, Fiqh Sunnah (2/124) oleh Sayyid Sabiq. &lt;br /&gt;
[8]. HR. Muslim: 1340. &lt;br /&gt;
[9]. HR Ibnu Khuzaimah: 2522. &lt;br /&gt;
[10]. HR Bukhori: 1088, Muslim: 1339. &lt;br /&gt;
[11]. HR. Bukhori: 3006, 523; Muslim 1341. Lihat Mausu'ah Al Manahi Asy Syar'iyah 2/102. &lt;br /&gt;
[12]. Lihat Fathul Bari 4/75. &lt;br /&gt;
[13]. Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Sholeh Al Fauzan 5/387. &lt;br /&gt;
[14]. Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu'jam kabir 20/174/386 dan  Rauyani dalam Musnad: 1283. Lihat Ash Shohihah 1/447/226. &lt;br /&gt;
[15]. Ash Shohihah 1/448. &lt;br /&gt;
[16]. HR Malik 2/982, Nasa'i 7/149, Tirmidzi: 1597, Ibnu Majah 2874, Ahmad 6/357 dan lainnya. &lt;br /&gt;
[17]. HR Bukhori: 4891. &lt;br /&gt;
[18]. Fatawa Islamiyah 3/76 disusun Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid            &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding: 3px; text-align: center;" target="popupwindow"&gt;Enter your email address:&lt;br /&gt;
&lt;input name="email" style="width: 140px;" type="text" value="" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input name="uri" type="hidden" value="IslamicSensation" /&gt;&lt;input name="loc" type="hidden" value="en_US" /&gt;&lt;input type="submit" value="Subscribe" /&gt;&lt;br /&gt;
Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net/" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2011/05/siapakah-mahram-kita.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-3959237427852064443</guid><pubDate>Tue, 14 Dec 2010 06:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-12-14T13:24:34.870+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Amalan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Muamalah</category><title>Hilangnya Hafalan Al-Qur'an karena musik</title><description>&amp;nbsp;بسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan  sahabatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah  ini adalah kisah berharga yang kami tujukan bagi para penghafal Al  Qur’an. Terserah ia adalah penghafal qur’an yang kaamil (sempurna), atau  hanya 10 juz, 5 juz atau bahkan beberapa surat saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia adalah  seorang yang Allah telah beri nikmat untuk menghafalkan Al Qur’an sejak  kecil. Ia sudah menghafalkannya dengan tertancap mantap di dalam hati.  Sampai katanya, ia tidak pernah melupakan satu ayat pun dalam bacaannya  dan hafalannya. Dan ini sudah dikenal oleh guru dan orang-orang  sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu waktu, ia berpindah ke negeri lain untuk  bekerja. Di sana ia tinggal bersama beberapa orang ikhwan dan  sahabatnya. Beberapa hari berlalu, beberapa temannya menyetel kaset yang  berisi lagu-lagu sehingga ia pun mendengarnya. Pada awalnya, ia enggan  memperhatikan musik tersebut. Bahkan ia sendiri menasehati  teman-temannya akan terlarangnya musik. Namun apa yang terjadi beberapa  waktu kemudian? Perlahan-lahan, ia terbuai dengan musik. Bahkan ia pun  mendengar bagaimana senandung indah dari musik tersebut. Ia dan  teman-temannya sampai-sampai mendengarkan musik tersebut sepanjang malam  hingga datang fajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal di atas berlangsung selama tiga bulan  lamanya. Setelah itu, ia kembali ke negerinya. Suatu saat ia shalat.  Setelah membaca Al Fatihah, ia membaca surat lainnya. Apa yang terjadi?  Ketika itu ia tidak mampu melanjutkan bacaan selanjutnya dari surat  tersebut. Ia pun mengulanginya lagi setelah itu, ia pun tidak bisa  melanjutkannya. Hingga ia menyempurnakan shalatnya. Setelah itu ia  membuka mushaf Al Qur’an Al Karim dan mengulangi ayat yang tadi ia  membaca. Ia pun mengulangi bacaan ayat tadi dalam beberapa shalat. Yang  ia dapati seperti itulah. Setiap kali ia mengulangi hafalannya, ternyata  sudah banyak ayat yang terlupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu ia pun merenung. Ia  memikirkan bagaimanakah dulu ia adalah orang yang telah hafal qura’an  dengan begitu mantap. Namun sekarang banyak yang terlupa. Ia pun  akhirnya menangis tersedu-sedu. Ia kemudian menunduk pada Allah sambil  menangis. Ia menyesali dosa, segala kekurangan dan kelalaian yang ia  lakukan. Ia betul-betul menyesali bagaimana bisa lalai dari amanat Al  Qur’an yang telah ia emban. Ia pun akhirnya menjauh dari  sahabat-sahabatnya tadi. Ia kembali mengulang hafalan Qur’annya siang  dan malam dalam waktu yang lama. Ia pun meninggalkan musik. Ia akhirnya  benar-benar bertaubat pada Allah. Namun usaha dia untuk mengulangi  hafalan saat itu lebih keras dari sebelumnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarlah kata penyair Arab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Jika engkau diberi nikmat, perhatikanlah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah bahwasanya maksiat benar-benar menghilangkan nikmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikanlah untuk selalu taat pada Rabb Al Baroyaa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Rabb Al Baroyaa itu amat pedih siksa-Nya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarlah kata Imam Asy Syafi’i:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Aku pernah mengadukan pada Waki’ tentang buruknya hafalaku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ia pun menunjukiku untuk meninggalkan maksiat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mengabarkan padaku bahwa ilmu adalah cahaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya Allah tidak mungkin ditujukan pada orang yhang bermaksiat[1]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar pula kata Ibnul Qayyim:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Sungguh  nyanyian dapat memalingkan hati seseorang dari memahami, merenungkan  dan mengamalkan isi Al Qur’an. Ingatlah, Al Qur’an dan nyanyian  selamanya tidaklah mungkin bersatu dalam satu hati karena keduanya itu  saling bertolak belakang. Al Quran melarang kita untuk mengikuti hawa  nafsu, Al Qur’an memerintahkan kita untuk menjaga kehormatan diri dan  menjauhi berbagai bentuk syahwat yang menggoda jiwa. Al Qur’an  memerintahkan untuk menjauhi sebab-sebab seseorang melenceng dari  kebenaran dan melarang mengikuti langkah-langkah setan. Sedangkan  nyanyian memerintahkan pada hal-hal yang kontra (berlawanan) dengan  hal-hal tadi.”[2]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga jadi renungan berharga bagi kita semua,  pecinta Al Qur’an dan yang ingin menghafalkannya secara sempurna atau  sebagiannya. Renungkan haramnya musik dan nyanyian di sini (&lt;a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2627-saatnya-meninggalkan-musik.html" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;aeb9eGqAnzRPrp3M4v4GsJGpuNA&amp;quot;, event);" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2627-saatnya-meninggalkan-musik.html&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.rumaysho.com/" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;aeb9ehB2SQ_xChzSKzX2rIlUv2Q&amp;quot;, event);" rel="nofollow" target="_blank"&gt;www.rumaysho.com&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Semoga bermanfaat buat para pembaca :)&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: 13px; white-space: pre;"&gt;&lt;br /&gt;
Dengan Segala kerendahan hati, ku memohon doamu semoga..&lt;br /&gt;
Apa yang ku baca menjadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pahala &lt;/span&gt;bagiku..&lt;br /&gt;
apa yang ku perdengarkan menjadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penghapus dosa&lt;/span&gt;ku..&lt;br /&gt;
Apa yang ku hafal menjadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sahabat&lt;/span&gt; akhiratku..&lt;br /&gt;
Apa yang ku ajarkan memberi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;syafaat&lt;/span&gt; bagiku..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: 13px; white-space: pre;"&gt;Allahumma Alzimny hifhdzi kitabaKa.. amien&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding: 3px; text-align: center;" target="popupwindow"&gt;Enter your email address:&lt;br /&gt;
&lt;input name="email" style="width: 140px;" type="text" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input name="uri" type="hidden" value="IslamicSensation" /&gt;&lt;input name="loc" type="hidden" value="en_US" /&gt;&lt;input type="submit" value="Subscribe" /&gt;&lt;br /&gt;
Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net/" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/12/hilangnya-hafalan-al-quran-karena-musik.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-2995397254958232647</guid><pubDate>Fri, 22 Oct 2010 12:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-10-22T19:53:31.077+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Amalan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">fiqih</category><title>SHALAT SUNNAT JUM’AT</title><description>بسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jum'at adalah hari raya pekanan kita,&amp;nbsp; sangat dianjurkan untuk menyambut dan mengerjakan berbagai amal sholeh pada hari jum'at. salah satunya dalah sholat sunnat Jum'at. Namun, sudah tahukah kita bagaimana tata caranya? berapa rakaat?2 atau 4? di kerjakan di Masjid atau di rumah?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;SHALAT SUNNAT JUM’AT&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Shalat Jum’at Memiliki &lt;span style="color: orange;"&gt;Shalat Sunnat Qabliyah&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;
Tidak pernah ditetapkan bagi shalat Jum’at shalat sunnat qabliyah  tertentu. Sedangkan shalat tathawwu mutlak, maka sudah ada dalil yang  menunjukkan hal tersebut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt; “Barangsiapa mandi kemudian dia menghadiri shalat Jum’at, lalu  mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya dia diam  sehingga imam selesai dari khutbahnya dan kemudian dia mengerjakan  shalat bersamanya, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa antara  satu jum’at itu dengan jum’at yang lain dan ditambah tiga hari” [1]&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dan sebuah riwayat dari Abu Dawud&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt; “Barangsiapa mandi hari jum’at dan memakai pakaian yang terbaik serta  memakai wangi-wangian jika ia memilikinya, kemudian ia menghadiri shalat  Jum’at, dan tidak juga melangkahi leher (barisan) orang-orang, lalu dia  mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya diam jika  imam telah keluar (menuju ke mimbar) sampai selesai dari shalatnya,  maka ia akan menjadi kaffarah baginya atas apa yang terjadi antara hari  itu dengan hari Jum’at sebelumnya”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dia menceritakan, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Dan  ditambah tiga hari”. Dia juga mengatakan :”Sesungguhnya (balasan)  kebaikan itu sepuluh kali lipatnya” [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: orange;"&gt;Shalat Sunnah Ba’diyah Jum’at&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Telah disampaikan sebelumnya hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, yang  di dalamnya disebutkan : “Dan dua rakaat setelah Jum’at di rumahnya”  [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;i&gt;“Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat Jum’at, maka  hendaklah dia mengerjakan shalat empat raka’at setelahnya&lt;/i&gt;”. Diriwayatkan  oleh Muslim.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt; “Barangsiapa di antara kalian akan mengerjakan shalat setelah shalat Jum’at, maka hendaklah dia mengerjakan empat rakaat” [4]&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Kedua hadits di atas menunjukkan disyariatkannya  shalat dua atau empat rakaat setelah Jum’at. Dengan pengertian, seorang  muslim bisa mengerjakan salah satu dari keduanya. Dan yang &lt;span style="color: orange;"&gt;lebih afdhal&lt;/span&gt;  adalah shalat empat rakaat setelah shalat Jum’at. Hal itu sesuai dengan  apa yang dijelaskan di dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,  yang merupakan ketetapan dalam bentuk ucapan mengenai hal tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: orange;"&gt;Sunnat shalat ini –baik dikerjakan dua rakaat ataupun empat rakaat-  lebih baik dikerjakan di rumah secara mutlak&lt;/span&gt; [5] tanpa adanya pembedaan  di dalam mengerjakannya. [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Masuk Masjid Sedang &lt;span style="color: orange;"&gt;Imam Tengah Memberi Khutbah Jum’a&lt;/span&gt;t&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Jika seorang muslim masuk masjid sedang imam tengah menyampaikan khutbah  Jum’at, maka hendaklah dia tidak duduk sehingga mengerjakan shalat  tahiyyatul masjid dua rakaat seraya&lt;span style="color: orange;"&gt; meringankannya&lt;/span&gt;. Yang demikian itu  didasarkan pada dalil berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan : “Sulaik  Al-Ghathfani pernah datang pada hari Jum’at ketika Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah menyampaikan khutbah, lalu dia  duduk, maka beliau berkata kepadanya : ‘Wahai Sulaik, berdiri dan  kerjakanlah shalat dua raka’at dan bersegera dalam mengerjakannya’.  Kemudian beliau bersabda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: orange;"&gt;“Jika salah seorang diantara kalian datang pada hari Jum’at sedang imam  tengah berkhutbah maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua raka’at dan  hendaklah dia bersegera dalam mengerjakan keduanya” &lt;span style="color: black;"&gt;[Diriwayatkan oleh  Asy-Syaikhani] [7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi  Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka  Imam Asy-Syafi’i]&lt;br /&gt;
__________&lt;br /&gt;
Foote Note&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[1]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, di dalam Kitaabul Jumu’ah,  bab Fadhlu Man Istama’a  wa anshata fila Khutbbah (hadits no. 857)&lt;br /&gt;
[2]. Diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam Kitab Kitaabuth Thaharah, bab  Fil Ghusl Yaumal Jumu’ah,  no. 343. Dinilai shahih oleh Al-Albani di  dalam kitab, Shahih Sunan Abi dawud I/70&lt;br /&gt;
[3]. Lihat pembahasan sebelumnya.&lt;br /&gt;
[4]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Jumu’ah,  bab Ash-Shalaah Ba’dal Jumu’ah hadits no. 881. lihat kitab, Jami’ul  Ushul VI/38&lt;br /&gt;
[5]. Hal itu didasarkan pada hadits : “Sebaik-baik shalat adalah shalat  seseorang yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat wajib”. Insya Allah  takhrijnya akan diberikan lebih lanjut. Dan ini termasuk hadits shahih.&lt;br /&gt;
Di dalam kitab, Tamamul Minnah hal. 342-342, Al-Allamah Al-Albani  mengatakan : “Dan jika dia mengerjakan shalat dua atau empat rakaat  setelah shalat Jum’at di masjid maka hal itu pun diperbolehkan, atau  bisa juga dikerjakan di rumah. Dan di rumah lebih baik. Hal itu  didasarkan pada hadits shahih (yakni hadits ; “Sebaik-baik shalat adalah  shalat seseorang yang dikerjakan di rumahnya …”)&lt;br /&gt;
[6]. Pembedaan itu adalah seperti ini : Jika dia mengerjakan shalat itu  di masjid, maka dia mengerjakannya empat rakaat, dan jika mengerjakannya  di rumah, maka dia mengerjakan dua rakaat. Tidak ada dalil shahih yang  mendasari hal tersebut. lihat perdebatan dan bantahannya di dalam kitab,  Tamaamul Minnah hal. 341-342&lt;br /&gt;
[7]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara ringkas di  beberapa tempat, yang di antaranya adalah di didalam Kitaabul Jumu’ah,  bab Idzaa Ra’al Imaam Rajulan Wahuwa Yakhthuhu Amarahu an Yushaliyya  Rak’atain no. 930. Dan diriwayatkan oleh Muslim, di dalam Kitaabul  Jumu’ah, bab At-Tahiyyaat wal Imaam Yakhthuhu no. 875. Dan lafazh di  atas adalah miliknya&amp;nbsp;          &lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span lang="EN-US"&gt;sumber : &lt;a href="http://bit.ly/dbGyGf"&gt;http://bit.ly/dbGyGf&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga kita bisa mengamalkannya :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding: 3px; text-align: center;" target="popupwindow"&gt;Enter your email address:&lt;br /&gt;
&lt;input name="email" style="width: 140px;" type="text" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input name="uri" type="hidden" value="IslamicSensation" /&gt;&lt;input name="loc" type="hidden" value="en_US" /&gt;&lt;input type="submit" value="Subscribe" /&gt;&lt;br /&gt;
Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net/" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/10/shalat-sunnat-jumat.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-7914634900709149863</guid><pubDate>Wed, 01 Sep 2010 02:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-01T09:07:35.338+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Amalan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">fiqih</category><title>Serial Mudik (2)- Ketika Safar</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di postingan sebelumnya saya sertakan artikel Persiapan safar untuk mudik, sekarang melanjutkan pembahasan berikutnya yakni&amp;nbsp; apa saja yang kita lakukan ketika Safar &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;strong&gt;Membaca Do’a Ketika Naik Kendaraan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika menaikkan kaki di atas kendaraan hendaklah seorang musafir membaca, “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bismillah, bismillah, bismillah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;”. Ketika sudah berada di atas kendaraan, hendaknya mengucapkan, “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;”. Lalu membaca,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa kunna&amp;nbsp; lahu muqriniin. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Wa inna ilaa robbina lamun-qolibuun&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;”&lt;/em&gt;  (Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal  kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan  kembali kepada Tuhan kami)&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian mengucapkan, “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;alhamdulillah, alhamdulillah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;”. Lalu mengucapkan, “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Allahu akbar&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Allahu akbar, Allahu akbar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.” Setelah itu membaca,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;سُبْحَانَكَ إِنِّى قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Subhaanaka inni qod zholamtu nafsii, faghfirlii fa-innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;”  (Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku telah menzholimi diriku sendiri,  maka ampunilah aku karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain  Engkau).&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;strong&gt;Membaca Do’a dan Dzikir Safar &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika sudah berada di atas kendaraan untuk melakukan perjalanan, hendaklah mengucapkan, “&lt;em&gt;Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.&lt;/em&gt;” Setelah itu membaca,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;سُبْحَانَ  الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى  رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا  هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ  هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ  أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ  إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ  وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa kunna&amp;nbsp; lahu muqrinin. Wa inna ila robbina lamun-qolibuun&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftn3"&gt;&lt;strong&gt;[3]&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;. Allahumma innaa nas’aluka fi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;i&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;  safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardho. Allahumma  hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘anna bu’dahu. Allahumma antash  shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika  min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil  maali wal ahli&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;” (Mahasuci Allah yang telah  menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak  mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada  Rabb kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon  kepada-Mu kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan  kami ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi  kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan  pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung  kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan,  dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga)&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam perjalanan, hendaknya seorang musafir membaca dzikir “&lt;em&gt;subhanallah&lt;/em&gt;” ketika melewati jalan menurun dan “&lt;em&gt;Allahu akbar&lt;/em&gt;” ketika melewati jalan mendaki. Dalam sebuah riwayat disebutkan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;كان رسول الله صلى الله عليه وسلم و أصحابه إذا علوا الثنايا كبروا و إذا هبطوا سبحوا&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;dan para sahabatnya biasa jika melewati jalan mendaki, mereka bertakbir (mengucapkan “&lt;em&gt;Allahu Akbar&lt;/em&gt;”). Sedangkan apabila melewati jalan menurun, mereka bertasbih (mengucapkan “&lt;em&gt;Subhanallah&lt;/em&gt;”).”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;strong&gt;Hendaklah Memperbanyak Do’a Ketika Safar &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hendaklah seorang musafir memperbanyak do’a ketika dalam perjalanan  karena do’a seorang musafir adalah salah satu do’a yang mustajab  (terkabulkan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَالْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Tiga do’a yang tidak diragukan lagi terkabulnya yaitu do’a  seorang musafir, do’a orang yang terzholimi, dan do’a orang tua kepada  anaknya.&lt;/em&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;strong&gt;Membaca Do’a Ketika Mampir di Suatu Tempat &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hendaklah seorang musafir ketika mampir di suatu tempat membaca, “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;A’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;(Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan setiap makhluk).”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuannya agar terhindar dari berbagai macam bahaya dan gangguan.  Dari Khowlah binti Hakim As Sulamiyah, beliau mendengar Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;مَنْ نَزَلَ  مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ  شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ  مَنْزِلِهِ ذَلِكَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Barangsiapa yang singgah di suatu tempat kemudian dia mengucapkan, ”&lt;strong&gt;A’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq&lt;/strong&gt;  (Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan  setiap makhluk)”, maka tidak ada satu pun yang akan membahayakannya  sampai dia pergi dari tempat tersebut&lt;/em&gt;.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;strong&gt;Ketika Kendaraan Tiba-tiba Mogok atau Rusak &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kendaraan mogok, janganlah menjelek-jelekkan syaithan karena  syaithan akan semakin besar kepala. Namun ucapkanlah basmalah (bacaan “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;bismillah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;”).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Abul Malih dari seseorang, dia berkata, “Aku pernah diboncengi Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam, &lt;/em&gt;lalu tunggangan yang kami naiki tergelincir. Kemudian aku pun mengatakan, “&lt;em&gt;Celakalah syaithan&lt;/em&gt;”. Namun Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menyanggah ucapanku tadi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;لاَ تَقُلْ  تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى  يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ  اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ  الذُّبَابِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Janganlah engkau ucapkan ‘celakalah syaithan’, karena jika  engkau mengucapkan demikian, setan akan semakin besar seperti rumah.  Lalu setan pun dengan sombongnya mengatakan, ‘Itu semua terjadi karena  kekuatanku’. Akan tetapi, yang tepat ucapkanlah “&lt;strong&gt;Bismillah&lt;/strong&gt;”. Jika engkau mengatakan seperti ini, setan akan semakin kecil sampai-sampai dia akan seperti lalat.&lt;/em&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;strong&gt;Musafir Ketika Bertemu Waktu Sahur (Menjelang Shubuh) &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;ketika bersafar dan bertemu dengan waktu sahur, beliau mengucapkan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;سَمَّعَ  سَامِعٌ بِحَمْدِ اللَّهِ وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا رَبَّنَا  صَاحِبْنَا وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Samma’a saami’un bi hamdillahi wa husni balaa-ihi ‘alainaa. Robbanaa shohibnaa wa afdhil ‘alainaa ‘aa-idzan billahi minan naar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;(Semoga  ada yang memperdengarkan pujian kami kepada Allah atas nikmat dan  cobaan-Nya yang baik bagi kami. Wahai Rabb kami, peliharalah kami dan  berilah karunia kepada kami dengan berlindung kepada Allah dari api  neraka)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/strong&gt;Direvisi ulang 4 Ramadhan 1431 H, 14 Agustus 2010 di Panggang-Gunung Kidul&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artikel &lt;a href="http://www.rumaysho.com/"&gt;www.rumaysho.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr /&gt; &lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; QS. Az Zukhruf: 13-14&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; HR. At Tirmidzi no. 3446, dari ‘Ali bin Abi Thalib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; QS. Az Zukhruf: 13-14&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; HR. Muslim no. 1342, dari ‘Abdullah bin ‘Umar.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lihat Al Kalim Ath Thoyyib no. 175. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; HR. Ahmad 2/434. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; HR. Muslim no. 2708&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; HR. Abu Daud no. 4982 dan Ahmad 5/95. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2699-tips-ketika-dalam-perjalanan-mudik-seri-2-mudik-lebaran.html#_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; HR. Muslim no. 2718&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding: 3px; text-align: center;" target="popupwindow"&gt;Enter your email address:&lt;br /&gt;
&lt;input name="email" style="width: 140px;" type="text" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input name="uri" type="hidden" value="IslamicSensation" /&gt;&lt;input name="loc" type="hidden" value="en_US" /&gt;&lt;input type="submit" value="Subscribe" /&gt;&lt;br /&gt;
Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net/" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/09/serial-mudik-2-ketika-safar.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-155252080638307078</guid><pubDate>Wed, 01 Sep 2010 01:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-01T08:42:00.417+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Amalan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">fiqih</category><title>Serial Mudik (1)- Persiapan Safar</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mudik sebentar lagi, namun kebanyakan kita lalai untuk melakukan persiapan dan memperhatikan adab-adab safar. Semoga Artikel ini bisa mengingatkan kita dan membuat suasana mudik jadi penuh keberkahan. Amien! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sudah jadi hal yang begitu ma’ruf di negeri ini, di penghujung bulan  Ramadhan, menjelang lebaran atau Idul Fithri, kaum muslimin begitu sibuk  untuk mempersiapkan mudik lebaran. Bahkan sejak jauh-jauh hari mereka  sudah memesan tiket dan memilih kendaraan yang lebih nyaman nan selamat.  Namun amat jarang yang memikirkan bagaimanakah ajaran Islam mengajarkan  persiapan untuk melakukan perjalanan jauh. Jika seseorang memperhatikan  ajaran tersebut dalam melakukan persiapan perjalanan jauh lantas ia  mengamalkannya, maka sungguh mudik yang ia jalani akan begitu berkah.  Keberkahan ini diperoleh karena ketaatannya dan semangatnya dalam  mengikuti ajaran Allah dan Rasul-Nya.     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Di antara persiapan sebelum mudik:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;,  melakukan shalat istikharah terlebih dahulu untuk memohon petunjuk  kepada Allah mengenai waktu safar, kendaraan yang digunakan, teman  perjalanan dan arah jalan. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -  صلى الله عليه وسلم - يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى  الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para  sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari  shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an.&lt;/em&gt;” &lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;,  jika sudah bulat melakukan perjalanan, maka perbanyaklah taubat yaitu  meminta ampunan pada Allah dari segala macam maksiat, mintalah maaf  kepada orang lain atas tindak kezholiman yang pernah dilakukan, dan  minta dihalalkan jika ada muamalah yang salah dengan sahabat atau  lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;,  menyelesaikan berbagai persengketaan, seperti menunaikan utang pada  orang lain yang belum terlunasi sesuai kemampuan, menunjuk&amp;nbsp; siapa yang  bisa menjadi wakil tatkala ada utang yang belum bisa dilunasi,  mengembalikan barang-barang titipan, mencatat wasiat, dan memberikan  nafkah yang wajib bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, meminta restu dan ridho orang tua atau keluarga, tempat berbakti dan berbuat baik.&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Kelima&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;melakukan safar atau perjalanan bersama tiga orang atau lebih. Sebagaimana hadits,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Satu pengendara (musafir) adalah syaithan, dua pengendara  (musafir) adalah dua syaithan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru  disebut rombongan musafir.&lt;/em&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan syaithan di sini adalah jika kurang dari tiga orang, musafir tersebut sukanya membelot dan tidak taat.&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Namun larangan di sini &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;bukanlah&lt;/span&gt; haram (tetapi makruh) karena larangannya berlaku pada masalah adab.&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Keenam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;mengangkat  pemimpin dalam rombongan safar yang mempunyai akhlaq yang baik, akrab,  dan punya sifat tidak egois. Juga mencari teman-teman yang baik dalam  perjalanan. Adapun perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar  adalah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah di antaranya sebagai ketua rombongan.&lt;/em&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Ketujuh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, hendaklah melakukan safar pada waktu terbaik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dianjurkan untuk melakukan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/em&gt; Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;أَنَّ النَّبِىَّ - صلى  الله عليه وسلم - خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ ، وَكَانَ  يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju perang Tabuk  pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada  hari Kamis.&lt;/em&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dianjurkan pula untuk mulai bepergian pada pagi hari karena waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah. Sebagaimana do’a Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pada waktu pagi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya&lt;/em&gt;.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Baththol mengatakan, “Adapun Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu  tersebut daripada waktu-waktu lainnya karena waktu pagi adalah waktu  yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu  tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena  itu, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juga waktu terbaik untuk melakukan safar adalah di waktu &lt;em&gt;duljah&lt;/em&gt;. Sebagian ulama mengatakan bahwa &lt;em&gt;duljah&lt;/em&gt;  bermakna awal malam. Ada pula yang mengatakan seluruh malam karena  melihat kelanjutan hadits. Jadi dapat kita maknakan bahwa perjalanan di  waktu &lt;em&gt;duljah&lt;/em&gt; adalah perjalanan di malam hari&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt;.  Perjalanan di waktu malam itu sangatlah baik karena ketika itu jarak  bumi seolah-olah didekatkan. Dari Anas bin Malik, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.&lt;/em&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Kedelapan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;melakukan shalat dua raka’at ketika hendak pergi&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt;. Sebagaimana terdapat hadits dari Abu Hurairah, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;إِذَا  خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ  مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ  رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua  raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di  luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua  raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah&lt;/em&gt;.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Kesembilan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Do’a yang biasa diucapkan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;kepada orang yang hendak bersafar adalah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Astawdi’ullaha diinaka, wa&amp;nbsp; amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian hendaklah musafir atau yang bepergian mengatakan kepada orang yang ditinggalkan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’ahu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;(Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="color: blue;"&gt;Kesepuluh&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;ketika keluar rumah dianjurkan membaca do’a:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;”&lt;/em&gt; (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau bisa pula dengan do’a:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;اللَّهُمَّ  إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ،  أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Allahumma inni a’udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya”&lt;/em&gt;  [Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau  disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan  orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari  kebodohan diriku atau dijahilin orang lain]&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Direvisi ulang 4 Ramadhan 1431 H, 14 Agustus 2010 di Panggang-Gunung Kidul&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artikel &lt;a href="http://rumaysho.com/"&gt;www.rumaysho.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;br clear="all" /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;" /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; HR. Bukhari no. 7390.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Adab pertama sampai keempat dijelaskan dalam &lt;em&gt;Al Ghuror As Saafir fiima Yahtaaju ilaihil Musaafir,&lt;/em&gt; hal. 15-16, Al Imam Az Zarkasiy, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;  HR. Abu Daud no. 2607, At Tirmidzi no. 1674 dan Ahmad 2/186. Syaikh Al  Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah  Ash Shohihah no. 62.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;  Lihat Fathul Bari,&amp;nbsp; Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 6/53  dan penjelasan Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lihat perkataan Ath Thobari yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari,&amp;nbsp; 6/53.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; HR. Abu Daud no. 2609. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; HR. Bukhari no. 2950.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;  HR. Abu Daud no. 2606 dan At Tirmidzi no. 1212. Syaikh Al Albani  mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya (baca:  shahih lighoirihi). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1693.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Syarhul Bukhari Libni Baththol, Asy Syamilah, 9/163.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Lihat ‘Aunul Ma’bud, Muhammad Syamsul Haq Abu Ath Thoyib, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, cetakan kedua, 1415 H, 7/171.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;  HR. Abu Daud no. 2571, Al Hakim dalam Al Mustadrok 1/163, dan Al  Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 5/256. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa  hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 681.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;  Lihat pembahasan di Jaami Shohih Al Adzkar, Abul Hasan Muhammad bin  Hasan Asy Syaikh, Darul ‘Awashim, cetakan kedua, Januari 2006, hal. 153.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; HR. Al Bazzar, hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;  HR. Abu Daud no. 2600, Tirmidzi no. 3443 dan Ibnu Majah no. 2826.  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah  Ash Shahihah no. 14 dan 15.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; HR. Ibnu Majah no. 2825. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;  HR. Abu Daud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dari Anas bin Malik.  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At  Targhib wa At Tarhib no. 1605.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2695-tips-persiapan-mudik-lebaran.html#_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;  HR. Abu Daud no. 5094 dan Ibnu Majah no. 3884, dari Ummu Salamah.  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At  Targhib wa At Tarhib no. 2442.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding: 3px; text-align: center;" target="popupwindow"&gt;Enter your email address:&lt;br /&gt;
&lt;input name="email" style="width: 140px;" type="text" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input name="uri" type="hidden" value="IslamicSensation" /&gt;&lt;input name="loc" type="hidden" value="en_US" /&gt;&lt;input type="submit" value="Subscribe" /&gt;&lt;br /&gt;
Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net/" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/09/serial-mudik-1-persiapan-safar.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-2995489301204120167</guid><pubDate>Sat, 21 Aug 2010 10:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-21T17:45:00.217+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita hikmah</category><title>Hidup ini Indah</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah membaca tulisan di bawah ini, anda akan tahu kenapa saya menuliskan judul "&lt;span style="background-color: orange;"&gt;Hidup ini Indah"&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;JANGAN MEMPERSULIT DIRI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
"Allah menghendaki kemudahanbagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. " (Al-Baqoroh 185)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabat,  betapa dahsyatnya beritadan opini yang berkembang diberbagai media  tentang hal-hal yang negatif membuatbanyak diantara kita larut dan ikut  berfikir negatif dan semakin mempersulitdiri..... dan suka menyalahkan  orang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jutaan orang menganggur  ..... wah sulit nih  cari kerja !,  4 : 1 Jumlah wanita dibandinglaki-laki.....aduuuh makin  susah nih cara dapetin jodohku !,  Korupsi merajalela.......mana mungkin  kitabisa kaya dan suskses berbisnis belum untung sudah dikorup !,  pornografi ,pornoaksi dan narkoba telah membudaya diseluruh strata  generasi........aduuhgimana nih tambah ancur saja nih negara.......pak  ustadz, pak Guru, pak Lurah,pak DPR dan Pak Presiden jangan tidur dan  melancong aja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal sebenarnya tidak ada yang sulit  dalam hidup kita ini, karena Allah sendirilah yang punya statmen '  Jangan mempersulit diri, karena Aku tidak pernah mempersulit kalian '  begitulah kira-kira bahasa gampangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba saja kita lihat realitas-relaitas berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada  seseorang saat melamar kerja,memungut sampah kertas di lantai ke dalam  tong sampah, dan hal itu terlihat CCTV oleh peng-interview, maka dia  lolos dan mendapatkan pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata untuk memperolehpenghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada  seorang anak menjadi murid ditoko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang  mengantarkan sepeda rusak untukdiperbaiki di toko tersebut. Selain  memperbaiki sepeda tersebut, si anak inijuga membersihkan sepeda hingga  bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakanperbuatannya. Keesokan  hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, siadik kecil  ditarik/diambil kerja di tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata untuk menjadi orang yangberhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang  anak berkata kepadaibunya: "Ibu hari ini sangat cantik.Ibu menjawab:  "Mengapa?Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak  marah-marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata untuk memiliki kecantikansangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang  petani menyuruh anaknyasetiap hari bekerja giat di sawah.Temannya  berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetapakan  tumbuh dengan subur.Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk  tanamanku, tapi aku sedang membinaanakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata membina seorang anaksangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelatih bola berkatakepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana caramencarinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada  yang menjawab: "Cari mulaidari bagian tengah." Ada pula yang menjawab:  "Cari di rerumputan yang cekung kedalam." Dan ada yang menjawab: "Cari  di rumput yang paling tinggi. Pelatihmemberikan jawaban yang paling  tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujungrumput sebelah sini hingga  ke rumput sebelah sana .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata jalan menujukeberhasilan sangat  gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demisetahap secara  berurutan, jangan meloncat-loncat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katak yang tinggal di  sawahberkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu  terlaluberbahaya, tinggallah denganku."Katak di pinggir jalan menjawab:  "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."Beberapa hari kemudian katak  "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" danmenemukan bahwa si katak  sudah mati dilindas mobil yang lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata sangat mudah menggenggamnasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.&lt;br /&gt;
Ada  segerombolan orang yangberjalan di padang pasir, semua berjalan dengan  berat, sangat menderita, hanyasatu orang yang berjalan dengan gembira.  Ada yang bertanya: "Mengapa engkaubegitu santai?"Dia menjawab sambil  tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata sangat mudah untukmemperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada  seorang gadis datang kepadasang Ustadz, Ustadz gimana sih cara cepat  dapetin jodoh ? gampang mau pilihyang mana ? yang masih perjaka atau  yang sudah punya istri ?,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
eemmm yang perjaka saja gimanacaranya ? bagi cintamu kepada orang tua dan keluarganya maka dia akan membagikancintanya padamu !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau  yang sudah punya istri ?serius nih mau dipoligami ? ya tapi gimana  triknya ? sama gampangnya, bagicintamu kepada istri dan anak-anaknya  dengan penuh ketulusan maka suaminya akandengan mudah menerima cintamu  begitu juga dengan anak dan istrinya !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata mencari jodoh itu mudah, cukup dengan membagi cinta yang benar bukan ngegombal untuk merusak rumahtangga orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak  jauh beda juga ketika kitamerasa sangat sukar meninggalkan maksiat dan  dosa, cukup dengan membiasakandiri berbuat kebaikan mulai dari yang  terkecil dan yang temudah, sepertimembiasakan beristighfar dalam langkah  dan meraskannya dalam denyutan nafaskita.................&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Source :&amp;nbsp; &lt;a href="http://bit.ly/9lTNpO"&gt;http://bit.ly/9lTNpO&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;sudah dibaca kan?? , Ya seperti itulah hidup, tergantung kita memaknai kehidupan yang kita jalani^^. &lt;/blockquote&gt;Ada cerita menarik dari saya, ini adalah pengalaman pribadi saya.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Ketika ibu saya menghendaki untuk dibelikan kamera dia berkata, "Wid, tolong belikan ibu kamera ya, nanti uangnya ibu kirim" . Dalam hati ku merenung, 'ini kesempatan membalas jasa ibu tercinta!,Biarlah aku yang membelikannya, ibu tak usah mengganti uangnya'.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ku kumpulkan rupiah demi rupiah untuk merealisasikan harapan ibuku, dan hal ini masih kurahasiakan ke beliau, hingga akhirnya ku berhasil membelikan Camera &lt;a href="http://www.amazon.com/Canon-PowerShot-SD780IS-Stabilized-Black/dp/B001SER47Y?ie=UTF8&amp;amp;tag=islamics-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Canon PowerShot SD780IS 12.1 MP Digital Camera with 3x Optical Image Stabilized Zoom and 2.5-inch LCD (Black)" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B001SER47Y&amp;amp;tag=islamics-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=islamics-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B001SER47Y" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important; padding: 0px ! important;" width="1" /&gt; canon Ixus 100.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ketika secara kebetulan ibu dan bapak ke jakarta, akhirnya ku serahkan Camera Tersebut .. Sedih?? Tidak!! bahagia ketika melihat beliau menangis bahagia sembari memelukku ... :) *nahan nangis.. hehe*&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan membuat hidup benar-benar indah adalah, malam sebelum camera tersebut saya hadiahkan ke ibu, saya mendapat hadiah HP Nexian QWERTY.. Dah anehnya berapa kalipun hadiah itu di perebutkan, kembali ke saya. Hingga akhirnya setelah tiga kali pengulangan tetap jatuh ke tangan saya :). Masya Allah, baru sekedar niat memberi kejutan ibu, saya sudah di kejutkan dengan hadiah ini..&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ceritanya tidak selesai di situ, tiga hari setelah berpisah dengan ibu, saya mendapat sms dari&amp;nbsp; tinta printer HP bahwa saya mendapat hadiah camera Casio Exilim&lt;a href="http://www.amazon.com/Casio-Exilim-Digital-Optical-2-7-Inch/dp/B001QEPR3Y?ie=UTF8&amp;amp;tag=islamics-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Casio Exilim EX-Z29 10.1 MP Digital Camera with 3x Optical Zoom and 2.7-Inch LCD (Purple) " src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B001QEPR3Y&amp;amp;tag=islamics-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=islamics-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B001QEPR3Y" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important; padding: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Masya Allah, Secepat ini saya di beri&amp;nbsp; kamera pengganti :)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sejak Saat itu banyak pelajaran yang bisa saya ambil :&lt;/blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berilah yang terbaik kepada orang lain, maka kau akan mendapatkan yang lebih baik dari yang kau punya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt; Jangan kau risau masalah rejeki, karena rejeki Allah begitu luas dan dari arah yang tidak diduga-duga&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;blockquote&gt;Dan sekarang coba tebak!!&lt;/blockquote&gt;saya mendapat BalckBerry Curve&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.amazon.com/Protectors-Blackberry-Accessory-Export-Packaging/dp/B002OJTWY0?ie=UTF8&amp;amp;tag=islamics-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="3 Pack of Premium Reusable LCD Screen Protectors for Blackberry Curve 8520 8530[Accessory Export Packaging]" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B002OJTWY0&amp;amp;tag=islamics-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=islamics-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B002OJTWY0" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important; padding: 0px ! important;" width="1" /&gt;. Dan seingat saya sehari sebelum mendapatkan hadiah ini saya nyeletuk ketika memberikan hadiah buku ke dosen saya. "Ga apa-apa pak, Ini hadiah buat bapak, Insya Allah widi nanti ada penggantinya, dan Insya Allah lebih baik.."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga bisa diambil pelajaran ^^ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding: 3px; text-align: center;" target="popupwindow"&gt;Enter your email address:&lt;br /&gt;
&lt;input name="email" style="width: 140px;" type="text" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input name="uri" type="hidden" value="IslamicSensation" /&gt;&lt;input name="loc" type="hidden" value="en_US" /&gt;&lt;input type="submit" value="Subscribe" /&gt;&lt;br /&gt;
Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net/" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/08/hidup-ini-indah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-4288991554264724606</guid><pubDate>Thu, 05 Aug 2010 02:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-05T09:02:30.179+07:00</atom:updated><title>Amalan Keliru Di Bulan Ramadhan</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal dan Yulian Purnama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pembaca At Tauhid yang semoga selalu mendapatkan limpahan barokah dari Allah. Tidak terasa tinggal menghitung hari lagi kita akan menginjak bulan Ramadhan. Melanjutkan edisi ramadhan sebelumnya, saat ini At Tauhid akan mengangkat tema amalan keliru di bulan Ramadhan. Selain itu, kami akan menyebutkan beberapa hadits lemah dan palsu yang sering tersebar di tengah-tengah kaum muslimin berkaitan dengan bulan Ramadhan. Pembahasan ini sengaja kami angkat agar dapat meluruskan berbagai kekeliruan yang selama ini terjadi. Karena sungguh amalan tanpa petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu hanya sia-sia belaka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunan dari kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.”[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Melafazhkan Niat “Nawaitu Shouma Ghodin …”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali untuk melafazhkan niat semacam ini karena tidak adanya dasar dari perintah atau perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dari para sahabat. Letak niat sebenarnya adalah dalam hati dan bukan di lisan. An Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.”[2] Semakin keliru lagi jika niat ini dibaca bareng-bareng selepas shalat tarawih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Membangunkan Sahur … Sahur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya Islam sudah memiliki tatacara sendiri untuk menunjukkan waktu bolehnya makan dan minum yaitu dengan adzan pertama sebelum adzan shubuh. Sedangkan adzan kedua ketika adzan shubuh adalah untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Inilah cara untuk memberitahukan pada kaum muslimin bahwa masih diperbolehkan makan dan minum dan memberitahukan berakhirnya waktu sahur. Sehingga tidak tepat jika membangunkan kaum muslimin dengan meneriakkan sahur … sahur …. baik melalui speaker atau pun datang ke rumah-rumah seperti mengetuk pintu. Cara membangunkan seperti ini sungguh tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dilakukan oleh generasi terbaik dari umat ini. Jadi, hendaklah yang dilakukan adalah melaksanakan dua kali adzan. Adzan pertama untuk menunjukkan masih dibolehkannya makan dan minum. Adzan kedua untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memiliki nasehat yang indah, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian[3]”.[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Pensyariatan Waktu Imsak (Berhenti makan 10 atau 15 menit sebelum waktu shubuh)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan dan minumlah. Janganlah kalian menjadi takut oleh pancaran sinar (putih) yang menjulang. Makan dan minumlah sehingga tampak bagi kalian warna merah.”[5] Hadits ini menjadi dalil bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan- dan bukanlah 10 menit sebelum adzan shubuh. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh[6] dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat”.[7] Lihatlah berapa lama jarak antara sahur dan adzan? Jawabnya, tidak terlalu lama, bahkan sangat dekat dengan waktu adzan shubuh yaitu sekitar membaca 50 ayat Al Qur’an (sekitar 10 atau 15 menit).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Dzikir Jama’ah dengan Dikomandoi dalam Shalat Tarawih dan Shalat Lima Waktu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikir setelah shalat, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.”[8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Perayaan Nuzulul Qur’an&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perayaan Nuzulul Qur’an sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan, “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.[9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Tidak Mau Mengembalikan Keputusan Penetapan Ramadhan dan Hari Raya kepada Pemerintah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Lajnah Ad Da’imah, komisi Fatwa Saudi Arabia mengatakan, “Jika di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat, maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat, hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut wajib mengikuti pendapatnya.”[10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Puasa Tetapi Tidak Shalat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya, “Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat?” Beliau rahimahullah menjawab, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,”Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At Taubah: 11) Alasan lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”[11] … Oleh karena itu, apabila seseorang berpuasa namun dia meninggalkan shalat, puasa yang dia lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang dia lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti. Kami katakan, “Shalatlah kemudian tunaikanlah puasa”. Adapun jika engkau puasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak karena orang kafir (karena sebab meninggalkan shalat) tidak diterima ibadah dari dirinya.[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa Hadits Lemah dan Palsu di Bulan Ramadhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama: “Berpuasalah, kalian akan sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di Ath Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), oleh Ath Thabrani di Al Ausath (2/225), oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (3/227). Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437). Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga: “Wahai manusia, bulan yang agung telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1. 000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran itu balasannya adalah surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong. Di dalamnya rezki seorang mukmin ditambah. Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberikan hidangan berbuka kepada seorang yang berpuasa, dosa-dosanya akan diampuni, diselamatkan dari api neraka dan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tadi sedikitpun” Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan hidangan berbuka berupa sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (6/512), Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115). Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (2/115), juga didhaifkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi di Sifatu Shaumin Nabiy (110), bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar Razi dalam Al ‘Ilal (2/50) juga Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (871) bahwa hadits ini Munkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah, ”Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat: “Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6) hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Az Zuhd. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Al Kuna. Hadits ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11/197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari dalam Al Asrar Al Marfu’ah (211). Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (2460) mengatakan hadits ini Munkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya (tidak ada sanadnya). Tidak ada seorang pun ulama hadits yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197). Artinya, makna dari hadits palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga sajian ini bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. [Muhammad Abduh Tuasikal dan Yulian Purnama]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
_____________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[1] HR. Abu Daud no. 2335, An Nasai no. 2173, Tirmidzi no. 687 dan Ahmad 2/234. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;
[2] Rowdhotuth Tholibin, 1/268.&lt;br /&gt;
[3] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id (1/181) bahwa para perowinya adalah perawi yang shohih.&lt;br /&gt;
[4] Lihat pembahasan at tashiir di Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 334-336.&lt;br /&gt;
[5] HR. Tirmidzi no. 705 dan Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.&lt;br /&gt;
[6] Yang dimaksudkan dengan adzan di sini adalah adzan kedua yang dilakukan oleh Ibnu Ummi Maktum, sebagai tanda masuk waktu shubuh atau terbit fajar (shodiq). (Lihat Fathul Bari, 2/54)&lt;br /&gt;
[7] HR. Bukhari no. 575 dan Muslim no. 1097.&lt;br /&gt;
[8] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/190.&lt;br /&gt;
[9] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13/12.&lt;br /&gt;
[10] Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’no. 388, 10/101-103. Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua; Syaikh Abdullah bin Mani’ dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan selaku anggota.&lt;br /&gt;
[11] HR. Muslim no. 82.&lt;br /&gt;
[12] Diringkas dari Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17/62.&lt;br /&gt;
 &lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" style="border:1px solid #ccc;padding:3px;text-align:center;" target="popupwindow" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true"&gt;&lt;p&gt;Enter your email address:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;input style="width:140px" name="email" type="text"/&gt;&lt;/p&gt;&lt;input value="IslamicSensation" name="uri" type="hidden"/&gt;&lt;input value="en_US" name="loc" type="hidden"/&gt;&lt;input value="Subscribe" type="submit"/&gt;&lt;p&gt;Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/08/amalan-keliru-di-bulan-ramadhan.html</link><author>noreply@blogger.com (Luay)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-1490321656201473094</guid><pubDate>Fri, 23 Jul 2010 07:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-23T14:03:11.667+07:00</atom:updated><title>12 Hadits Lemah dan Palsu Seputar Ramadhan</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pentingnya hal ini, tidak heran apabila Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan perkataan yang terkenal:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من شاء ما شاء&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Juz I, halaman 12)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, penting sekali bagi umat muslim untuk memilah hadits-hadits, antara yang shahih dan yang dhaif, agar diketahui amalan mana yang seharusnya diamalkan karena memang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta amalan mana yang tidak perlu dihiraukan karena tidak pernah diajarkan oleh beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, akan kami sampaikan beberapa hadits lemah dan palsu mengenai puasa yang banyak tersebar di masyarakat. Untuk memudahkan pembaca, kami tidak menjelaskan sisi kelemahan hadits, namun hanya akan menyebutkan kesimpulan para pakar hadits yang menelitinya. Pembaca yang ingin menelusuri sisi kelemahan hadits, dapat merujuk pada kitab para ulama yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صوموا تصحوا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berpuasalah, kalian akan sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di Ath Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), oleh Ath Thabrani di Al Ausath (2/225), oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (3/227).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterangan: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat juga riwayat yang lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadits ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan bulan ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai manusia, bulan yang agung telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1. 000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan,  ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran itu balasannya adalah surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong. Di dalamnya rezki seorang mukmin ditambah. Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberikan hidangan berbuka kepada seorang yang berpuasa, dosa-dosanya akan diampuni, diselamatkan dari api neraka dan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tadi sedikitpun” Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan hidangan berbuka berupa sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (6/512), Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (2/115), juga didhaifkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi di Sifatu Shaumin Nabiy (110), bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar Razi dalam Al ‘Ilal (2/50) juga Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (871) bahwa hadits ini Munkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar  berdasarkan hadits yang lemah ini. Walaupun keyakinan ini tidak benar, sesungguhnya Allah ta’ala melipatgandakan pahala amalan kebaikan berlipat ganda banyaknya, terutama ibadah puasa di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2358), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (4/1616), Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (289/1), Ibnul Mulaqqin dalam Badrul Munir (5/710)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Authar (4/301), juga oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Dan doa dengan lafadz yang semisal, semua berkisar antara hadits lemah dan munkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata lain, ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qaari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih: “Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan tambahan ‘wabika aamantu’ sama sekali tidak ada asalnya, walau secara makna memang benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar, doa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terdapat dalam hadits:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 juga oleh Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 5&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة لم يقضه وإن صام الدهر كله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari  di bulan Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di Al’Ilal Al Kabir (116), oleh Abu Daud di Sunannya (2396), oleh Tirmidzi di Sunan-nya (723), Imam Ahmad di Al Mughni (4/367), Ad Daruquthni di Sunan-nya (2/441, 2/413), dan Al Baihaqi di Sunan-nya (4/228).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di Al Muhalla (6/183), Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid (7/173), juga oleh Al Albani di Dhaif At Tirmidzi (723), Dhaif Abi Daud (2396), Dhaif Al Jami’ (5462) dan Silsilah Adh Dha’ifah (4557). Namun, memang sebagian ulama ada yang menshahihkan hadits ini seperti Abu Hatim Ar Razi di Al Ilal (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah (2/329) dan Al Haitsami di Majma’ Az Zawaid (3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar -wal ‘ilmu ‘indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i,ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.” (Periksa: Fatawa Lajnah Daimah no. 16480, 9/191)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لا تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء الله تعالى ولكن قولوا شهر رمضان&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan menyebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia adalah salah satu nama Allah, namun sebutlah dengan ‘Bulan Ramadhan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya (4/201), Adz Dzaahabi dalam Mizanul I’tidal (4/247), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), Ibnu Katsir di Tafsir-nya (1/310).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnul Jauzi dalam Al Maudhuat (2/545) mengatakan hadits ini palsu. Namun, yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh As Suyuthi dalam An Nukat ‘alal Maudhuat (41) bahwa “Hadits ini dhaif, bukan palsu”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), An Nawawi dalam Al Adzkar (475), oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari (4/135) dan Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (6768).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar adalah boleh mengatakan ‘Ramadhan’ saja, sebagaimana pendapat jumhur ulama karena banyak hadits yang menyebutkan ‘Ramadhan’ tanpa ‘Syahru (bulan)’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 7&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أن شهر رمضان متعلق بين السماء والأرض لا يرفع إلا بزكاة الفطر&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini disebutkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/157). Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar, jika dari hadits ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri, keyakinan ini salah, karena haditsnya dhaif. Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 8&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
رجب شهر الله ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر أمتي&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh (1/186).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini didhaifkan oleh di Asy Syaukani di Nailul Authar (4/334),  dan Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (4400). Bahkan hadits ini dikatakan hadits palsu oleh banyak ulama seperti Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ash Shaghani dalam Al Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al Manaarul Munif (76), Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 9&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (1/300), Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1441), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Adh Dhuafa (3/318), Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (1/152)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhuat (2/555), As Sakhawi dalam Maqasidul Hasanah (495), Al Albani dalam Dhaif At Targhib (654)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar,orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yang diberi hidangan tadi, berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 10&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر . قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال : جهاد القلب&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6) hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Az Zuhd. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Al Kuna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11/197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari dalam Al Asrar Al Marfu’ah (211). Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (2460) mengatakan hadits ini Munkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun ulama hadits yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197). Artinya, makna dari hadits palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 11&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قال وائلة : لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت : تقبل الله منا ومنك ، قال : نعم تقبل الله منا ومنك&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wa’ilah berkata, “Aku bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Ied, lalu aku berkata: Taqabbalallahu minna wa minka.” Beliau bersabda: “Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (2/319), Al Baihaqi dalam Sunan-nya (3/319), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (3/1246)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhuafa (7/524), oleh Ibnu Qaisirani dalam Dzakiratul Huffadz (4/1950), oleh Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (5666).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar, ucapan ‘Taqabbalallahu Minna Wa Minka’ diucapkan sebagian sahabat berdasarkan sebuah riwayat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : تقبل الله منا ومنك&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294), dishahihkan oleh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354). Oleh karena itu, boleh mengamalkan ucapan ini, asalkan tidak diyakini sebagai hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits 12&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Jauraqani di Al Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131), Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (1708).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa. Sebagaimana hadits:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ، فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian, semoga Allah memberi kita taufiq untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam yang sahih. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat dan ampunannya kepada kita di bulan mulia ini. Semoga amal-ibadah di bulan suci ini kita berbuah pahala di sisi Rabbuna Jalla Sya’nuhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disusun oleh: Yulian Purnama&lt;br /&gt;
Muraja’ah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar&lt;br /&gt;
Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" style="border:1px solid #ccc;padding:3px;text-align:center;" target="popupwindow" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true"&gt;&lt;p&gt;Enter your email address:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;input style="width:140px" name="email" type="text"/&gt;&lt;/p&gt;&lt;input value="IslamicSensation" name="uri" type="hidden"/&gt;&lt;input value="en_US" name="loc" type="hidden"/&gt;&lt;input value="Subscribe" type="submit"/&gt;&lt;p&gt;Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/07/12-hadits-lemah-dan-palsu-seputar.html</link><author>noreply@blogger.com (Luay)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-6559136303858799501</guid><pubDate>Thu, 22 Jul 2010 01:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-22T08:50:12.027+07:00</atom:updated><title>Sering Terucap, Luput Dari Renungan</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, banyak diantara kita belum merenungkan secara mendalam, ayat Qur’an, dzikir dan doa yang hampir setiap hari terucap dari lisan kita, yang sebenarnya sangat lugas mengikrarkan konsep Tauhid yang benar. Ya, konsep Tauhid yang diajarkan Islam sesungguhnya sangat bisa dipahami dari dzikir, doa dan ayat-ayat sederhana yang sering dibaca oleh kebanyakan kita. Beberapa diantaranya akan dibahas pada tulisan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laa Ilaaha Illallah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat ini tentu tidak asing lagi bagi kita, sering kita ucapkan di dalam maupun di luar shalat, banyak terdapat di dalam Al Qur’an dan merupakan rukun pertama dari rukun Islam. Kalimat ini merupakan pondasi dari agama seorang muslim. Karena dengan mengucapkan kalimat ini, seorang muslim telah mengikrarkan konsep Tauhid. Secara bahasa arab, dan menurut penafsiran pada ulama, makna dari ‘Laa Ilaaha Illallah‘ adalah ‘tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah’. Dengan kata lain, ‘walaupun sesuai realita sesembahan lain itu memang ada, namun satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah semata’. Jika demikian, orang yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah‘ konsekuensinya ia tidak boleh sujud, berdoa, shalat, tawakkal dan mempersembahkan bentuk ibadah yang lain kepada selain Allah. Tidak kepada berhala, tidak kepada pohon, tidak kepada batu, tidak kepada kyai, tidak kepada kuburan, melainkan hanya kepada Allah semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itulah kaum Qura’isy bersikeras enggan mengucapkan kalimat ini, padahal mereka juga menyembah Allah dan mengakui Allah sebagai satu-satunya Rabb pencipta alam semesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab: “Allah” “ (QS. Yunus: 31)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika diseru untuk mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah‘, mereka berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa Muhammad menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” (QS. Shaad: 5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya itu, bahkan marah dan memerangi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Padahal sesembahan-sesembahan yang mereka sembah itu hanya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah” ” (QS. Yunus: 18)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika konsep Tauhid itu semata-mata mengakui Allah sebagai satu-satunya Rabb pencipta alam semesta, tentu kaum musyrikin ketika itu dengan senang hati mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah‘ dan tidak perlu marah serta memerangi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sungguh sangat disayangkan, banyak orang yang bersemangat dalam dzikir ‘Laa Ilaaha Illallah‘ namun justru berbuat kesyirikan dengan mempersembahkan bentuk-bentuk ibadah kepada selain Allah.  Renungkanlah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat di atas adalah sebuah ayat dari surat Al Fatihah, yang tentunya sering kita baca lebih dari 17 kali dalam sehari dan dihafal hampir oleh semua muslim diseluruh dunia. Yang artinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah: 5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara bahasa arab, gaya bahasa ayat ini mengandung makna pembatasan. Sehingga maknanya ‘Hanya kepadaMu lah satu-satunya kami beribadah, hanya kepadaMu lah satu-satunya kami memohon pertolongan‘. Ayat ini menegaskan konsep Tauhid, bahwa peribadatan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta menggantungkan pertolongan hanya kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminta dan menggantungkan pertolongan kepada selain Allah, semisal dukun, kyai, jin, atau menggunakan jimat, rajah, jampi-jampi, berarti telah berbuat yang bertentangan dengan surat Al Fatihah ayat 5 ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat ini adalah dzikir yang sudah tidak asing lagi di telinga dan lisan kita, dikenal dengan istilah hauqolah. Biasa kita baca ketika mendengar adzan, ketika setelah shalat, atau ketika melihat sesuatu yang menakjubkan. Arti dari kalimat ini adalah ‘Tiada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah Ta’ala‘. Begitu agungnya kalimat ini sampai-sampai oleh Rasulullah Shallalahu’alaihi Wasallam dikatakan sebagai tabungan surgawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna dari kalimat ini adalah, bahwa tercapainya sesuatu, perubahan kondisi menjadi lebih baik, adalah semata-mata karena kehendak Allah dan pertolongan dari-Nya. Bukan karena pertolongan dukun, bantuan jin, keajaiban jimat atau kesaktian kyai. Sama sekali bukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia” (QS. Yunus: 107)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsekuensinya, memohon kebaikan, memohon tercapainya sesuatu, menggantungkan pertolongan hanyalah ditujukan kepada Allah Ta’ala. Inilah konsep Tauhid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Fushilat: 36)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat Yaasin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep Tauhid dalam surat Yasin sangatlah kental, terutama dalam ayat tentang seorang lelaki yang mau mengikuti dakwah utusan Allah yang menyerukan Tauhid, di tengah masyarakat yang berbuat kesyirikan. Lelaki tersebut berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Faktor apa yang bisa sampai membuatku tidak menyembah Rabb yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu semua akan dikembalikan? Untuk apa aku menyembah sesembahan-sesembahan selain-Nya padahal jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at dari para sesembahan itu tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku?” (QS. Yaasin: 22-23)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat ini menggelitik nalar manusia, yaitu bahwa telah jelas Allah lah semata yang menciptakan alam beserta isinya dan seluruh manusia. Lalu mengapa mempersembahkan ritual-ritual ibadah kepada selain Allah? Sungguh kemusyrikan telah melempar jatuh akal sehat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat ini juga membantah telak orang yang meminta-minta pertolongan kepada selain Allah. Karena pertolongan dari sesembahan selain Allah, tidak bermanfaat jika Allah tidak menghendakinya terjadi. Begitu juga keburukan  dari sesembahan selain Allah, tidak membahayakan jika Allah tidak menghendakinya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sangat disayangkan, sebagian orang bersemangat untuk selalu membaca surat Yasin setiap pekannya, namun belum meresap dalam hati mereka konsep Tauhid yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat Kursi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di negeri kita, hampir semua orang menghapal ayat kursi, yaitu surat Al Baqarah ayat 255. Orang yang merenungkan ayat kursi akan mendapati di dalamnya sarat akan konsep Tauhid. Semisal firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya” (QS. Al Baqarah: 255)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan ayat ini, Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” “ (QS. Az Zumar: 44)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat-ayat ini memberi pengajaran bahwa syafa’at itu sepenuhnya milik Allah Ta’ala. Dan syafa’at dapat diberikan semata-mata atas izin Allah Ta’ala. Memang benar bahwa sebagian makhluk Allah ada yang dapat memberi syafa’at, itupun terbatas pada orang-orang yang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at. Sehingga tidak boleh sembarang kita mengklaim kyai Fulan, habib Fulan, mbah Fulan bisa memberi syafa’at padahal tidak ada keterangan bahwa Allah Ta’ala mengizinkan mereka untuk memberi syafa’at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajaran lain, baginda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at. Namun syafa’at dari Baginda Nabi tidak dapat diberikan kepada salah seorang di antara kita tanpa izin Allah Ta’ala. Seseorang tidak akan mendapatkan syafa’at jika Allah tidak me-ridhai dia untuk mendapatkannya, walau orang tersebut telah memintanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ribuan kali. Jika demikian, bukankah seharusnya kita memohon syafa’at tersebut kepada Allah dan bukan memohonnya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam? Terlebih lagi berdoa memohon syafa’at kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bertentangan dengan konsep Tauhid bahwa doa hanya ditujukan kepada Allah semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzikir Setelah Shalat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa yang sering kita baca setelah shalat ini berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allahumma, laa maani’a limaa a’thaita, wa laa mu’thia limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi jika Engkau memberikan sesuatu, dan tidak ada yang dapat memberi jika Engkau telah menghalanginya. Tidak berguna kekayaan seseorang dihadapun-Mu wahai Dzat Yang Maha Kaya”  (HR. Bukhari no.6615, Muslim no.477)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzikir ini menegaskan bahwa doa hanyalah ditujukan kepada Allah bukan kepada selain-Nya. Karena Allah-lah yang memiliki hak veto untuk memberi kebaikan dan keburukan atau tidak memberinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya” (QS. Yunus: 107)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzikir yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ini berisi puji-pujian terhadap Allah terutama memuji kebesaran Allah dalam hal kekuasaan-Nya untuk memberi kebaikan atau keburukan. Berkaitan dengan hal tersebut, digunakannya lafadz ‘Allahumma‘ di sini memberikan pengajaran bahwa permintaan kita kepada Allah disampaikan langsung kepada Allah tanpa melalui perantara siapapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan Allah berfirman: “Berdoalah (langsung) kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan” (QS. Al Mu’min: 60)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian, semoga kita dan seluruh umat muslim berhenti sejenak saja untuk merenungkan kalimat-kalimat di atas yang senantiasa meluncur deras dari lisan kita, sehingga dapat kita resapi hakikat ajaran Tauhid yang agung yang merupakan modal utama untuk mengharap secercah rahmat dari Allah Ta’ala di hari akhir kelak. [Yulian Purnama]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" style="border:1px solid #ccc;padding:3px;text-align:center;" target="popupwindow" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true"&gt;&lt;p&gt;Enter your email address:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;input style="width:140px" name="email" type="text"/&gt;&lt;/p&gt;&lt;input value="IslamicSensation" name="uri" type="hidden"/&gt;&lt;input value="en_US" name="loc" type="hidden"/&gt;&lt;input value="Subscribe" type="submit"/&gt;&lt;p&gt;Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/07/sering-terucap-luput-dari-renungan.html</link><author>noreply@blogger.com (Luay)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-2850009230607060690</guid><pubDate>Sat, 17 Jul 2010 05:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-17T12:14:00.257+07:00</atom:updated><title>Piala Dunia Telah Usai, Mari Menyongsong Piala Akhirat</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Di seluruh penjuru dunia, begitu banyak orang yang larut dalam gegap gempita piala dunia. Namun hanya sedikit di antara mereka yang menyadari bahwa sebenarnya kehidupan ini adalah perlombaan untuk mendapatkan piala akhirat.&lt;br /&gt;
Perhelatan piala dunia telah disiapkan dari beberapa tahun sebelumnya oleh penyelenggaranya. Negara-negara yang ingin dapat mengikuti piala dunia beserta para pelatih dan pemain sepakbolanya juga telah mempersiapkan diri dari beberapa tahun sebelumnya. Para pebisnis, pengusaha, kontraktor, pemborong, perbankan/lembaga keuangan, buruh, karyawan/pegawai, kuli bangunan, pedagang, distributor, pengusaha transportasi, pengrajin, agen periklanan, media cetak dan elektronik, aktor, artis, penyanyi, komentator, peramal, pengamen, pengemis dan semua orang/profesi yang terkait juga ikut mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan para supporter dan penonton/pemirsa juga telah menanti-nanti kedatangannya jauh-jauh hari sebelumnya.&lt;br /&gt;
Apa yang sudah  kita persiapkan untuk mendapatkan piala akhirat?&lt;br /&gt;
Kini piala dunia telah usai, mari kita songsong piala akhirat. Piala dunia hanya sebentar dan sementara, sedangkan piala akhirat akan abadi, kekal selama-lamanya. Piala dunia dan kegembiraannya amatlah kecil bila dibandingkan dengan piala akhirat dan kenikmatan surga.&lt;br /&gt;
 Waktu terasa berjalan begitu cepat, bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang.&lt;br /&gt;
Para pebisnis, pengusaha, penerbit buku, percetakan dan para pedagang telah mempersiapkan berbagai produk dan jasanya untuk ditawarkan di bulan Ramadhan, begitu juga para pemasok dan distributornya. Para petani sudah mulai menanam berbagai buah-buahan, sayur-sayuran dan hasil bumi lainnya untuk dijual di bulan Ramadhan. Para sutradara, aktor, artis, penyanyi, media cetak dan elektronik, sudah mempersiapkan tayangan-tayangan, film-film dan lagu-lagu religi. Bar, diskotik dan tempat-tempat hiburan sudah mulai membuat rencana untuk menghadapi penurunan omzet di bulan Ramadhan. Para pegawai dan orang-orang yang ingin mudik dengan nyaman juga ikut mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelumnya.&lt;br /&gt;
Apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi bulan Ramadhan?&lt;br /&gt;
Mari kita tingkatkan iman, ‘ilmu dan ‘amal untuk menyongsong piala akhirat yang puncaknya akan datang di bulan Ramadhan, khususnya di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan yang didalamnya terdapat malam kemuliaan (laylatul qadr).&lt;br /&gt;
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Surat Al-Baqarah: 185)&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam kemuliaan (laylatul qadr), dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Surat Al-Qadr: 1-5)&lt;br /&gt;
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Surat Ali Imran: 133).&lt;br /&gt;
“Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Surat Al Hadid: 21)&lt;br /&gt;
 “Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Surat Al-Muthaffifin: 22-26)&lt;br /&gt;
“Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja." (Surat Ash-Shaffat: 61)&lt;br /&gt;
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Surat Al-Baqarah: 148)&lt;br /&gt;
Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan rahmat, hidayah, taufiq, kesabaran, kekuatan, pertolongan dan kemudahan kepada kita semua dalam meningkatkan iman, ‘ilmu dan ‘amal, sehingga dengan izin dan ridha-Nya, Allah berkenan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan kemenangan, kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta melindungi kita dari adzab neraka. Amin.&lt;br /&gt;
Mari kita perbanyak do’a:&lt;br /&gt;
 اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, tolonglah diriku untuk berdzikir kepada-Mu, untuk bersyukur kepada-Mu dan untuk beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud: 2/86 dan An-Nasai: 3/53. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Abi Dawud, 1/284.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 ,&lt;br /&gt;
Basuki M. Mukhlish&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
  &lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" style="border:1px solid #ccc;padding:3px;text-align:center;" target="popupwindow" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true"&gt;&lt;p&gt;Enter your email address:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;input style="width:140px" name="email" type="text"/&gt;&lt;/p&gt;&lt;input value="IslamicSensation" name="uri" type="hidden"/&gt;&lt;input value="en_US" name="loc" type="hidden"/&gt;&lt;input value="Subscribe" type="submit"/&gt;&lt;p&gt;Delivered by &lt;a href="http://feedburner.google.com" target="_blank"&gt;coratcoret.net&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/07/piala-dunia-telah-usai-mari-menyongsong.html</link><author>noreply@blogger.com (Luay)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-4868637794771719915</guid><pubDate>Fri, 09 Jul 2010 01:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-09T08:20:34.138+07:00</atom:updated><title>Adab Salam dan Shalawat</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis: Ummu Sufyan bintu Muhammad&lt;br /&gt;
Muraja’ah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu bentuk ibadah yang terlalaikan, namun dianggap sebagai hal biasa di kalangan kaum muslimin sekarang ini adalah menulis salam dan shalawat dengan disingkat. Padahal telah diketahui bahwa dalam kaidah penggunaan bahasa Arab, kesempurnaan tulisan dan pembacaan lafadz akan mempengaruhi arti dan makna dari sebuah kata dan kalimat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, bagaimana jika salam dan shalawat disingkat dalam penulisannya?&lt;br /&gt;
Apakah akan merubah arti dan makna kalimat tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adab Menulis Salam&lt;br /&gt;
Kata salaam memuat makna keterbebasan dari setiap malapetaka dan perlindungan dari segala bentuk aib dan kekurangan. Salaam juga berarti aman dari segala kejahatan dan terlindung dari peperangan. Oleh karena itu, Islam memerintahkan supaya menampakkan salam dan menyebarluaskannya (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin, Bab Keutamaan Salam dan Perintah Untuk Menyebarluaskannya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya, “Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Qs. An-Nisaa’: 86)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan penghormatan pada ayat diatas adalah ucapan salam, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Assalaamu ‘alaykum&lt;br /&gt;
Atau assalaamu ‘alaykum warahmatullaah&lt;br /&gt;
Atau assalamu ‘alaykum warahmatullaah wabarakaatuh&lt;br /&gt;
Dalam ayat diatas juga terdapat perintah untuk membalas salam dengan yang lebih baik atau serupa dengan itu. Misalkan ada yang memberi salam dengan ucapan assalaamu ‘alaykum maka balaslah dengan yang serupa, yaitu wa’alaykumussalaam. Atau yang lebih baik dari itu, yaitu, wa’alaykumussalaam warahmatullaah, dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ayat yang mulia di atas dapat diketahui bahwa hukum menjawab atau membalas salam dengan lafadz yang serupa atau sama dengan apa yang diucapkan adalah fardhu atau wajib. Sedangkan membalas salam dengan lafadz yang lebih baik dari itu hukumnya adalah sunah. Dan berdosalah orang yang tidak menjawab atau membalas salam dengan lafadz yang serupa atau yang lebih baik dari itu. Karena dengan sendirinya dia telah menyalahi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan untuk membalas salam orang yang memberi salam kepada kita (al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam kitab Al-Masaail, Masalah Kewajiban Membalas Salam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari penjelasan di atas, lafadz “aslkm” bahkan “ass” dan singkatan yang sejenisnya bukan termasuk dalam kategori salam. Dan bagaimana lafadz-lafadz tersebut dapat disebut salam, sementara dalam lafadz tersebut tidak mengandung makna salam yaitu penghormatan dan do’a bagi penerima salam. Bahkan lafadz “ass”, dalam perbendaharaan kosa kata asing memiliki pengertian yang tidak sepantasnya, bahkan mengandung unsur penghinaan (wal ‘iyyadzubillah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adab Menulis Shalawat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, yang artinya,“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai, orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs. Al-Ahzaab: 56)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di masa hidup maupun sepeninggal beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi-Nya dan membersihkan beliau dari tindakan atau pikiran jahat orang-orang yang berinteraksi dengan beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud shalawat Allah adalah puji-pujian-Nya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang dimaksud shalawat para malaikat adalah do’a dan istighfar. Sedangkan yang dimaksud shalawat dari ummat beliau adalah do’a dan mengagungkan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin Bab Shalawat Kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan –sebagian ulama mewajibkannya– mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap kali menyebut atau disebut nama beliau, yaitu dengan ucapan: “shallallahu ‘alaihi wa sallam” (al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam kitab Sifat Shalawat dan Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah riwayat dari Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang yang (apabila) namaku disebut disisinya, kemudian ia tidak bershalawat kepadaku shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal no. 1736, dengan sanad shahih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali mengatakan bahwa disunnahkan bagi para penulis agar menulis shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh, tidak disingkat (seperti SAW, penyingkatan dalam bahasa Indonesia – pent) setiap kali menulis nama beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat juga mengatakan dalam kitab Sifat Shalawat dan Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa disukai apabila seseorang menulis nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bershalawatlah dengan lisan dan tulisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah saudariku, shalawat ummat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bentuk dari sebuah do’a. Demikian pula dengan makna salam kita kepada sesama muslim. Dan do’a merupakan bagian dari ibadah. Dan tidaklah ibadah itu akan mendatangkan sesuatu selain pahala dari Allah Jalla wa ‘Ala. Maka apakah kita akan berlaku kikir dalam beribadah dengan menyingkat salam dan shalawat, terutama kepada kekasih Allah yang telah mengajarkan kita berbagai ilmu tentang dien ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudariku, apakah kita ingin menjadi hamba-hamba-Nya yang lalai dari kesempurnaan dalam beribadah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu Ta’ala a’lam bish showwab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maraji’:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur’an dan terjemahan.&lt;br /&gt;
Al-Masaail Jilid 7, karya al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Darus Sunnah.&lt;br /&gt;
Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin (Terjemah) Jilid 3 dan 4, takhrij oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cetakan Pustaka Imam asy-Syafi’i.&lt;br /&gt;
Sifat Shalawat dan Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.&lt;br /&gt;
Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah Li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Terjemah) karya Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthaniy, Edisi Indonesia Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah, penerjemah Hawin Murtadho, cetakan Pustaka at-Tibyan.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel muslimah.or.id&lt;br /&gt;
Untuk Keamanan berselancar di dunia maya, Pergunakanlah Yufid.com, islamic search engine...www.yufid.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" style="border:1px solid #ccc;padding:3px;text-align:center;" target="popupwindow" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true"&gt;&lt;p&gt;Enter your email address:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;input style="width:140px" name="email" type="text"/&gt;&lt;/p&gt;&lt;input value="IslamicSensation" name="uri" type="hidden"/&gt;&lt;input value="en_US" name="loc" type="hidden"/&gt;&lt;input value="Subscribe" type="submit"/&gt;&lt;p&gt;Delivered by &lt;a href="http://feedburner.google.com" target="_blank"&gt;FeedBurner&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/07/adab-salam-dan-shalawat.html</link><author>noreply@blogger.com (Luay)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-7036914283086146722</guid><pubDate>Thu, 08 Jul 2010 05:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-08T12:44:33.976+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kata Mutiara</category><title>Umur bukan parameter kebermanfaatan seseorang</title><description>بسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sering pada umur yang panjang masanya tapi sedikit manfaatnya. Ada pula umur yang pendek waktunya tapi panjang manfaatnya. (Ibnu Athailah) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
semoga dengan menjadi penulis, pengajar,peneliti nilai kebermanfaatanku bisa untuk jangka panjang..&lt;br /&gt;
karena sepeninggalku masih ada tulisan yang bisa kalian baca, ilmu yang telah di pelajari serta temuan penelitian yang bermanfaat. Amien&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding: 3px; text-align: center;" target="popupwindow"&gt;Enter your email address:&lt;br /&gt;
&lt;input name="email" style="width: 140px;" type="text" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input name="uri" type="hidden" value="IslamicSensation" /&gt;&lt;input name="loc" type="hidden" value="en_US" /&gt;&lt;input type="submit" value="Subscribe" /&gt;&lt;br /&gt;
Delivered by &lt;a href="http://coratcoret.net/" target="_blank"&gt;CoratCoret&lt;/a&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/07/umur-bukan-parameter-kebermanfaatan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-2265816011025977191</guid><pubDate>Tue, 18 May 2010 01:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-18T08:59:06.725+07:00</atom:updated><title>Yufid.com: Islam Search Engine</title><description>بٍسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ     &lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" style="border:1px solid #ccc;padding:3px;text-align:center;" target="popupwindow" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true"&gt;&lt;br /&gt;
Pernahkan Anda tersesat di belantara dunia maya? Mungkin Anda akan menjawab, “Seringkali,” atau bahkan, “Saya selalu tersesat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia maya adalah dunia tanpa tapal batas. Sekali Anda mengetikkan satu kata kunci (misal: Islam) ke dalam mesin pencari (Google, misalnya), maka Anda akan dibawa kepada ratusan ribu, jutaan, bahkan puluhan juta hasil pencarian. Itu semua adalah informasi yang berserakan di dunia maya, informasi yang shahih dan terpercaya bercampur dalam perangkap informasi-informasi yang menyesatkan, bagaimana Anda memilahnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yufid.com, dengan pertolongan Allah, mencoba memberikan satu solusi terhadap permasalahan yang kami gambarkan di atas. Berbagai website Islam dalam 3 bahasa (Indonesia, Inggris, dan Arab) kami kumpulkan, kami periksa dan kami sortir satu per satu, kemudian kami susun dan masukkan ke dalam teknologi mesin pencari Google yang sangat canggih. Hasilnya bisa Anda lihat di www.Yufid.com. Cobalah dan rasakan manfaatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yufid.com pada tahapan awal ini memberikan hasil pencarian khusus konten teks dalam 3 bahasa (Indonesia, Inggris, dan Arab). Silakan pilih menu bahasa untuk hasil pencarian sesuai dengan bahasa yang Anda inginkan. Tahap selanjutnya, insya Allah kami akan terus mengembangkan Yufid.com untuk hasil pencarian yang lebih luas lagi (misal: video, audio, gambar, dll).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontribusi&lt;br /&gt;
Anda dapat memberikan dukungan dan kontribusi pada pengembangan Yufid.com dan proyek-proyek pendidikan Islam kami yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontribusi seperti apakah? Anda dapat memberikan ide, saran, informasi website dan konten Islam, info ilmu pengetahuan dan teknologi, dan dana infaq pengembangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silakan kirimkan via email ke: info@yufid.org&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ttd&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tim Yufid&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
www.yufid.com (Islam Search Engine)&lt;br /&gt;
www.yufid.org (Official Website)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;p&gt;Enter your email address:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;input style="width:140px" name="email" type="text"/&gt;&lt;/p&gt;&lt;input value="IslamicSensation" name="uri" type="hidden"/&gt;&lt;input value="en_US" name="loc" type="hidden"/&gt;&lt;input value="Subscribe" type="submit"/&gt;&lt;p&gt;Delivered by &lt;a href="http://feedburner.google.com" target="_blank"&gt;FeedBurner&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/05/yufidcom-islam-search-engine.html</link><author>noreply@blogger.com (Luay)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946139381516600142.post-8106876740960492219</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 14:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-06T21:07:16.464+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Amalan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ILMU</category><title>Agar Al-Qur'an Meresap di Hati</title><description>بسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmxdrkkrf7CNShh49k8PS1dxDeMV-czNU-itblaV7RwPjomENT9MrLu9uImUHl5ukiCjk6rXjtwAIdPIeYgANUGJiUQFPFYSy6V3sSOa8p4dyFugeIRpWAf8OQ7AVZGkQgOon8_6uDeuoW/s1600/100_2223.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmxdrkkrf7CNShh49k8PS1dxDeMV-czNU-itblaV7RwPjomENT9MrLu9uImUHl5ukiCjk6rXjtwAIdPIeYgANUGJiUQFPFYSy6V3sSOa8p4dyFugeIRpWAf8OQ7AVZGkQgOon8_6uDeuoW/s320/100_2223.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agar Al-Qur’an memberi bekas ke dalam hati, ada adab-adab yang perlu Anda perhatikan saat membacanya. Berikut ini beberapa adab yang bisa Anda lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pilihlah waktu yang terkategori waktu Allah ber-tajalli kepada hamba-hamba-Nya. Di saat itu rahmat-Nya memancar. Bacalah Al-Quran di waktu sepertiga terakhir malam (waktu sahur), di malam hari, di waktu fajar, di waktu pagi, dan di waktu senggang di siang hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Pilih tempat yang sesuai. Misalnya, di masjid atau sebuah ruangan di rumah yang dikosongkan dari gangguan dan kegaduhan. Meski begitu, membaca Al-Qur’an saat duduk dengan orang banyak, di kendaraan, atau di pasar, dibolehkan. Hanya saja kondisi seperti itu kurang maksimum untuk memberi bekas di hati Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Pilih cara duduk yang sesuai. Sebab, Anda sedang menerima pesan Allah swt. Jadi, harus tampak ruh ibadahnya. Harus terlihat ketundukan dan kepasrahan di hadapan-Nya. Arahkan wajah Anda ke kiblat. Duduk terbaik seperti saat tasyahud dalam shalat. Jika capek, silakan Anda mengubah posisi duduk. Tapi, dengan posisi yang menunjukkan penghormatan kepada Kalam Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Baca Al-Qur’an dalam keadaan diri Anda suci secara fisik. Harus suci dari jinabah. Bila Anda wanita, harus suci dari haid dan nifas. Berwudhulah. Tapi, Anda boleh membaca atau menghafal Al-Qur’an tanpa wudhu. Sebab, tidak ada nash yang mensyaratkan berwudhu sebagai syarat sah membaca Al-Qur’an. Bahkan, para ulama menfatwakan boleh membaca Al-Qur’an bagi wanita yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an saat ia sedang haid atau nifas dengan alasan darurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sucikan semua indera Anda -lidah, mata, telinga, hati– yang berhubungan dengan tilawah Al-Qur’an dari perbuatan maksiat. Sesungguhnya Al-Qur’an itu seperti hujan. Batu tidak akan menyerap air hujan. Air hujan hanya berinteraksi dengan lahan yang siap menyerap segala keberkahan. Jadi, jangan Anda bungkus lidah, mata, telinga, dan hati dengan lapisan masiat, dosa, dan kemunkaran yang kedap dari limpahan rahmat membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Hadirkan niat yang ikhlas hanya kepada Allah swt. Dengan begitu tilawah yang Anda lakukan akan mendapat pahala. Ketahuilah, amal dinilai berdasarkan niat. Sedangkan ilmu, pemahaman, dan tadabbur adalah nikmat dan rahmat yang murni dari Allah. Dan rahmat Allah tidak diberikan kepada orang yang hatinya bercampur aduk dengan niat-niat yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Berharaplah akan naungan dan lindungan Allah swt. seperti orang yang kapalnya sedang tenggelam dan mencari keselamatan. Dengan perasaan itu Anda akan terbebas dari rasa memiliki daya dan upaya, ilmu, akal, pemahaman, kecerdasan, serta keyakinan secara pasti. Sebab, kesemuanya itu tidak akan berarti tanpa Allah swt. menganugerahkan tadabbur, pemahaman, pengaruh, dan komitmen untuk beramal kepada diri Anda.&lt;br /&gt;
8. Bacalah isti’adzah dan basmalah. “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98). Basmalah dibaca saat awal membaca surat di awal, kecuali surat At-Taubah. Membaca basmalah juga dianjurkan saat Anda membaca Al-Qur’an di tengah surat dan ketika Anda memutus bacaan karena ada keperluan kemudian meneruskan bacaan Anda. Membaca basamalah adalah tabarruk (mencari berkah) dan tayammun (mencari rahmat) dengan menyebut nama Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Kosongkan jiwa Anda dari hal-hal yang menyita perhatian, kebutuhan, dan tuntutan yang harus dipenuhi sebelum membaca Al-Qur’an. Jika tidak, semua itu akan terbayang saat Anda membaca Al-Qur’an. Pintu tadabbur pun tertutup. Jadi, selesaikan dulu urusan Anda jika sedang lapar, haus, pusing, gelisah, kedinginan, atau ingin ke toilet. Setelah itu, baru baca Al-Qur’an dengan haqul tilawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Saat membaca, batasi pikiran Anda hanya kepada Al-Qur’an saja. Pusatkan pikiran, buka jendela pengetahuan, dan tadabburi ayat-ayat dengan sepenuh jiwa, perasaan, cita rasa, imajinasi, pemikiran, dan bisikan hati. Dengan begitu, Anda akan merasakan limpahan rahmat dan lezatnya membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Hadirkan kekhusyu’an. Menangislah saat membaca ayat-ayat tentang azab. Hadirkan azab itu begitu nyata dalam penglihatan Anda dengan menyadari dosa-dosa dan maksiat yang masih lekat dengan diri Anda. Jika Anda tidak mampu berbuat seperti itu, tangisilah diri Anda yang tidak mampu tersentuh dengan ayat-ayat yang menggambarkan kedahsyatan azab neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Rasakan keagungan Allah swt. Yang Mahabesar yang dengan kemurahannya memancarkan nikmat dan anugerah-Nya kepada Anda. Pengagungan ini akan menumbuhkan rasa takzim Andfa kepada Allah dan Kalam-Nya. Dengan begitu interasi, tadabbur, dan tarbiyah Anda dengan Al-Qur’an akan memberi bekas, makna, hakikat, pelajaran, dan petunjuk yang sangat luar biasa manfaatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Perhatikan ayat-ayat untuk ditadabburi. Pahami maknanya. Resapi hakikat-hakikat yang terkandung di dalamnya. Kaitkan juga dengan berbagai ilmu, pengetahuan, dan pelajaran yang bisa menambah pengayaan Anda tentang ayat-ayat tersebut. Inilah tujuan tilawah. Tilawah tanpa tadabbur, tidak akan melahirkan pemahaman dan memberi bekal apa pun pada Anda. Al-Qur’an hanya sampai di tenggorokan Anda. Tidak sampai ke hati Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Hanyutkan perasaan dan emosi Anda sesuai dengan ayat-ayat yang Anda baca. Bergembiralah saat membaca kabar gembira. Takutlah saat membaca ayat peringatan dan tentang siksaan. Buka hati saat membaca ayat tentang perintah beramal. Koreksi diri saat bertemu tilawah Anda membaca sifar-sifat orang munafik. Resapi ayat-ayat yang berisi doa. Dengan begitu hati Anda hidup dan bergetar sesuai dengan sentuhan setiap ayat. Inilah ciri orang beriman yang sejati dengan imannya (Al-Anfal: 2).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Rasakan bahwa diri Anda sedang diajak berbicara Allah swt. lewat ayat-ayat-Nya. Berhentilah sejenak saat bertemu dengan ayat yang didahului dengan kalimat “Wahai orang-orang yang beriman…, hai manusia….” Rasakan setiap panggilan itu hanya untuk Anda. Dengan begitu lanjutan ayat yang berisi perintah, larangan, teguran, peringatan, atau arahan akan dapat Anda respon dengan baik. Kami dengar dan kami taat. Bukan kami dengarin lalu kami cuekin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
WaAllahu a'lam.&lt;br /&gt;
moga bermanfaat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh: Ust. Mochamad Bugi&amp;nbsp;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;----------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;supported by : &lt;a href="http://www.markazalquran.com/"&gt;http://www.markazalquran.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;form action="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify" method="post" onsubmit="window.open('http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=IslamicSensation', 'popupwindow', 'scrollbars=yes,width=550,height=520');return true" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding: 3px; text-align: center;" target="popupwindow"&gt;Enter your email address:&lt;br /&gt;
&lt;input name="email" style="width: 140px;" type="text" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input name="uri" type="hidden" value="IslamicSensation" /&gt;&lt;input name="loc" type="hidden" value="en_US" /&gt;&lt;input type="submit" value="Subscribe" /&gt;&lt;br /&gt;
Delivered by &lt;a href="http://feedburner.google.com/" target="_blank"&gt;FeedBurner&lt;/a&gt;&lt;/form&gt;</description><link>http://omahkeong.blogspot.com/2010/05/agar-al-quran-meresap-di-hati.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmxdrkkrf7CNShh49k8PS1dxDeMV-czNU-itblaV7RwPjomENT9MrLu9uImUHl5ukiCjk6rXjtwAIdPIeYgANUGJiUQFPFYSy6V3sSOa8p4dyFugeIRpWAf8OQ7AVZGkQgOon8_6uDeuoW/s72-c/100_2223.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>