<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>Iwank.Blog</title><link>http://iwank.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Iwank" /><description>book, love, and a cup of coffee</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Kuniawan)</managingEditor><lastBuildDate>Sun, 27 Nov 2011 15:20:14 PST</lastBuildDate><generator>Blogger</generator><atom:id xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">tag:blogger.com,1999:blog-3296656</atom:id><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">124</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Iwank" /><feedburner:info uri="iwank" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><title>Arsip: Dari Kaligrafi ke Seni Rupa</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/rQsGrt3WwaM/arsip-dari-kaligrafi-ke-seni-rupa.html</link><category>Art</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Tue, 26 Jul 2011 03:43:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-5265134754137135149</guid><description>&lt;br /&gt;
Belakangan ini Seni Rupa Indonesia disemarakkan oleh berbagai pameran kaligrafi Islam. Perdebatan masalah syariat tentang batas-batas seni Islam dianggap sudah selesai. Kaligrafi pun bergerak ke seni rupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Ada sebuah bingkai kayu berukuran 90 X 90 cm tergantung di dinding bersebelahan dengan beberapa bingkai lain yang lebih kecil. Latarnya berupa kain karung dengan bilah-bilah kayu bersilang vertikal dan horisontal di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atasnya bagian kanan sebidang kayu dengan alur yang jelas melintang tegak dengan sebuah batu akik menempel. Di bidang itu tertulis dengan warna merah penggalan Surat Ibrahim ayat 7 dengan terjemahannya. Sedang sebelah kirinya tampak seutas tali tambang menjalini bilah kayunya. Beberapa paku menancapi tali dengan noda merah di tempat tancapan seolah berdarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya yang di pajang di sebuah galeri mini tak bernama di Jalan Masjid I/19 Pejompongan, Jakarta, ini berjudul Antara Syukur dan Kufur. Sebuah kontras antara doa syukur dan kekerasan seperti tersaji dalam simbol-simbol yang cukup terbaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaligrafi Yoesof&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran tunggal Seni Rupa Kaligrafi Yoesoef Effendi ini berlangsung dari hingga 18 Januari nanti. Belasan karya dipanjang, sebagian sudah laku terjual dengan rentang harga 400 ribu-15 juta rupiah. Perupa yang dulu menggeluti seni lukis ini sekarang menerjuni kaligrafi. "Kaligrafi Arab itu indah," katanya. "Ada sesuatu yang lain dari sekedar lukisan. Saya melihat seni lukis biasa terbentur pada suatu kekurangan, dan menemukannya setelah membuat kaligrafi," ungkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengasuh Bentara Budaya Jakarta, Ipong Purnomo Sidhi, melihat lukisan-lukisan Yoesoef punya kemampuan dalam menggabungkan elemen-lemen kolase seperti batu, pasir, kayu, akik, dan lain-lain. "Karyanya sangat layak untuk lebih memberi aksentuasi di saat reformasi yang sedang terjadi, juga sangat pantas untuk menyambut bulan suci Ramadhan dan Lebaran, sebagai pengingat agar hidup kita lebih bermakna daripada sebelumnya," tulisnya dalam catatan kecil pameran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara perupa Firdaus Alamhudi yang mengkhususkan diri dalam kaligrafi itu melihat satu keberhasilan Yoesoef. "Yoesoef sudah menemukan bentuk pengungkapan diri yang khusus dan unik, yang berbeda dari pelukis lainnya," kata pelukis yang beberapa kali telah berpameran di luar negeri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Deretan karya Yoesoef sebenarnya memetakan ragam karya yang ada. Semua kaligrafi Arab dengan kutipan-kutipan ayat suci Al Quran di sana muncul dalam berbagai gaya lukisan. Dari gaya standar kaligrafi yang mengandalkan penyusunan huruf Arab seperti Hamdalah dan warna hingga bentuk-bentuk tiga dimensi dengan berbagai elemen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menuju Seni Rupa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Jakarta sekarang setidaknya ada dua pameran kaligrafi, satu di Anton's Gallery di Cilandak dengan beberapa perupa, dan kedua pameran tunggal Yoesoef Effendie di daerah Pejompongan. Sepanjang 1998 cukup banyak pameran kaligrafi yang digelar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Momentum Ramadhan memang sering dipilih untuk menggelar karya kaligrafi dan seni Islami. Bila kita tengok ke Ramadhan tahun lalu, pameran itu malah digelar di World Trade Center Jakarta. Perupa-perupa dari berbagai kota memajang karyanya. Karya salah satu pionir kaligrafi Indonesia semacam Sadali (alm.) pun turut digelar. Perupa lain seperti Firdaus Alamhudi, Amri Yahya, dan Popo Iskandar juga layak dicatat, terutama perupa Surabaya yang sampai saat ini diakui kehebatan pengungkapan dan sapuan kuasnya, Amang Rahman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sejarahnya Indonesia sudah cukup lama mengenal kaligrafi. Namun untuk masa yang cukup panjang, kaligrafi hanya sebatas ornamen arsitektur masjid atau mushola saja. Belum banyak seniman yang cukup serius menggarap ranah ini. Meski beberapa seniman Indonesia yang cukup ternama sempat mampir ke sana, seperti pelukis Affandi (alm.).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di masyarakat sendiri kaligrafi umumnya dikaitkan dengan karakter keislaman yang khas. Walhasil, kaligrafi selalu dihubungkan dengan ibadah, atau bahkan mistik. Lembar kartu pos atau kartu lebaran misalnya lebih sering mengambil objek masjid atau kota Mekah ketimbang kaligrafi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dulu bahkan kaligrafi disembunyikan di kamar tidur. Untuk mengusir kejahatan dan mendapat mimpi yang indah barangkali," komentar Firdaus. Baru belakangan menurutnya kaligrafi Islam dipajang di tempat terhormat, seperti ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski seni kaligrafi terus berkembang, namun di permukaannya baru sekitar satu dekade terakhir saja kesenian ini mendapat tempat. Bisa jadi ini terkait dengan mulai adanya angin segar ke pihak Muslim Indonesia. Ini ditandai dengan misalnya berdirinya Museum Istiqlal di Taman Mini Indonesia Indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal lain adalah karena dulu masalah syariat yang terkait dengan kaligrafi masih jadi perdebatan. Seperti bolehkah menulis ayat suci di atas tulang, kayu, besi, atau benda-benda lain yang umumnya dipakai dalam seni rupa? Bolehkah memasukkan objek-objek mahluk hidup dan manusia dalam melukis kaligrafi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdebatan ini mengacu pada dunia Arab yang menggunakan hukum Islam, penerapannya sampai pada ekspresi seni. Sehingga banyak hal dilarang. Namun nampaknya belakangan ini perdebatan itu sudah bisa diselesaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Perdebatan itu sudah selesai. Hal ini mungkin karena masyarakat Indonesia punya kemampuan untuk menerima keragaman yang ada. Indonesia itu plural, dan kaligrafi di Indonesia itu unik jadinya," kata Firdaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Arab Saudi sendiri ekspresi seni mulai lebih terbuka. "Saya sendiri menerima pesanan untuk melukis wajah para bangsawan Saudi, padahal dulu tidak mungkin karena belum ada fatwanya kata mereka," cerita Firdaus yang melukis dengan medium bulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkembangan yang patut dicatat adalah keluarnya kaligrafi dari batasan gaya kufi atau kursif yang umum berkembang di Timur Tengah. Kaligrafi bergerak kearah seni rupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengungkapannya sudah masuk ke tema kerohanian. Misalnya pada lukisan-lukisan Amang Rahman yang lembut dan mengungkapkan dimensi kerohanian, tanpa perlu kaligrafi secara eksplisit. Bahkan perupa Islam di Jawa Barat pernah tampil dengan seni instalasi. Namun, "Kaligrafi Islam nantinya akan jadi seni rupa plus, berada di depan yang lain," kata Firdaus optimis. (Kurniawan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;***&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaligrafi Kufik dan Kursif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak awal abad ke-14 kaligrafi telah menjadi medium yang paling penting dalam kesenian Arab dan budaya Islam. Kaligrafi sendiri berkembang dari gaya penulisan Arab dalam dua keluarga besar, kursif dan kufik. Gaya kufik adalah penulisan yang kering, sedang kursif bergaya campuran. Keduanya sudah ada jauh sebelum Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru setelah Islam, di bawah Umayah dan Abbasiyah, penulisan ini bermuatan religius dan berfungsi dakwah. Abu Ali Muhammad Ibnu Muqlah (wafat 940) menjadi kaligrafer di Baghdad pada abad awal. Abu Ali kemudian mengembangkan penulisan pertama dengan aturan proporsional yang ketat dan standar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kota Kufah berdiri di Irak di tahun 641 M. Kota ini tumbuh pesat dari kamp tentara jadi kota pemukiman dengan kegiatan kebudayaan yang vital. Salah satu kesenian yang berkembang adalah penulisan Arab dalam gaya yang lebih indah dan elegan yang dikenal sebagai Kufik atau Kufi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kufi mengombinasikan persegi empat dan garis kaku di satu sisi dan bentuk lingkaran tebal dan padat. Goresan vertikalnya pendek sementara goresan horisontalnya cenderung panjang dan lebar. Kufi mencapai kesempurnaanya di pertengahan kedua abad ke-8 dan mendorong upaya awal pengembangan kaligrafi Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kufi awal berupa tulisan Arab standar yang biasa dijumpai dalam buku Al Quran atau teks resmi berbahasa Arab. Pada perkembangannya muncul Kufi Timur. Gaya ini bercirikan pada kecenderungan untuk membentuk belah ketupat, menekankan aspek geometris, dan lebih kaku. Gaya ini lebih banyak digunakan untuk buku kaligrafi daripada arsitektur, tapi sangat populer pada keramik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kufi berdaun memanfaatkan goresan tebal dengan ujung-ujung berbentuk kerucut kecil seperti daun-daunan. Ornamen ini ditambahkan pada lingkaran goresan. Gaya ini menjadi gaya paling populer pada inskripsi arsitektural sejak abad ke-10.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kufi terjalin mirip dengan kufi berdaun, tapi dengan garis-garis vertikal yang ditarik tinggi dan saling dikawinkan pada dua garis berdekatan oleh sebuah pola bunga. Gaya ini berkembang di abad ke-11 dan banyak memodifikasi bentuk ornamen. Komposisi kaligrafi kemudian menjadi lebih kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kufi persegi adalah gaya kufi yang sederhana, hanya mengobah kufi standar ke dalam bentuk persegi-segi, sehingga terkesan kaku dan tegas. Gaya yang berkembang di abad 13 dan 14 ini bertentangan dengan tren yang sedang berkembang kala itu yang lebih kompleks. Gaya ini paling sering dipakai dalam arsitektur. (Kurniawan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel ini diterbitkan pertama kali di &lt;i&gt;ADIL&lt;/i&gt;, edisi 16/67/1998&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-5265134754137135149?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IOg2dMY-U8KZjAyNNOzuIvObEDA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IOg2dMY-U8KZjAyNNOzuIvObEDA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IOg2dMY-U8KZjAyNNOzuIvObEDA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IOg2dMY-U8KZjAyNNOzuIvObEDA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=rQsGrt3WwaM:2K7BCJRXnTE:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=rQsGrt3WwaM:2K7BCJRXnTE:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=rQsGrt3WwaM:2K7BCJRXnTE:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=rQsGrt3WwaM:2K7BCJRXnTE:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/rQsGrt3WwaM" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2011-07-26T17:43:13.027+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2011/07/arsip-dari-kaligrafi-ke-seni-rupa.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kita Membaca Karena Lupa</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/6G-Y-XfSapg/kita-membaca-karena-lupa.html</link><category>International</category><category>Book</category><category>Literature</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Mon, 20 Sep 2010 04:16:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-2108400995642888618</guid><description>Mengapa kita membaca sebuah buku? Bahkan berkali-kali membaca buku yang sama? Menurut pengalaman James Collins, itu terjadi karena kita lupa. Demikian pendapatnya dalam esai "&lt;a href="http://www.nytimes.com/2010/09/19/books/review/Collins-t.html?_r=1&amp;amp;partner=rss&amp;amp;emc=rss"&gt;The Plot Escapes Me&lt;/a&gt;" di &lt;i&gt;The New York Times&lt;/i&gt;, 17 September 17 2010:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
One answer is that we read for the aesthetic and literary pleasure we experience while reading. The pleasure — or intended pleasure — of novels is obvious, but it is no less true that we read nonfiction for the immediate satisfaction it provides. The acquisition of knowledge, while you are acquiring it, can be intensely engrossing and stimulating, and a well-constructed argument is a beautiful thing. But that kind of pleasure is transient. When we read a serious book, we want to learn something, we want it to change us, and it hardly seems possible for that to happen if its fugitive content passes through us like light through glass. &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-2108400995642888618?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7wmFgal12v1yW96kZX230vyRzts/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7wmFgal12v1yW96kZX230vyRzts/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7wmFgal12v1yW96kZX230vyRzts/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7wmFgal12v1yW96kZX230vyRzts/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=6G-Y-XfSapg:FpJrMAZlNt4:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=6G-Y-XfSapg:FpJrMAZlNt4:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=6G-Y-XfSapg:FpJrMAZlNt4:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=6G-Y-XfSapg:FpJrMAZlNt4:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/6G-Y-XfSapg" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-09-20T18:16:18.016+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2010/09/kita-membaca-karena-lupa.html</feedburner:origLink></item><item><title>Dokumentasi Lomba Penulisan Iptek 2010</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/JfSrrM4k-YU/dokumentasi-lomba-penulisan-iptek-2010.html</link><category>Science</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Tue, 10 Aug 2010 23:35:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-4473329287420894427</guid><description>Trims buat Mas Setyo utuk foto-fotonya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://setiakata.multiply.com/photos/album/50/Dokumentasi_Lomba_Penulisan_Iptek_2010#4"&gt;&lt;img border="0" src="http://images.setiakata.multiply.com/image/1/photos/50/500x500/4/Juara-3-Wartawan.jpg?et=qC%2B2hA4TBxUd5E6Zxx1Hbg&amp;nmid=356911132"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-4473329287420894427?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Lks-01NJtmNubd4jJX3qlfiPvlY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Lks-01NJtmNubd4jJX3qlfiPvlY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Lks-01NJtmNubd4jJX3qlfiPvlY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Lks-01NJtmNubd4jJX3qlfiPvlY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=JfSrrM4k-YU:hwjMysHxzB8:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=JfSrrM4k-YU:hwjMysHxzB8:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=JfSrrM4k-YU:hwjMysHxzB8:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=JfSrrM4k-YU:hwjMysHxzB8:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/JfSrrM4k-YU" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-08-11T13:36:19.792+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2010/08/dokumentasi-lomba-penulisan-iptek-2010.html</feedburner:origLink></item><item><title>Tabung Gas Paling Berbahaya di Dunia</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/V1OOD2rT9Qg/tabung-gas-paling-berbahaya-di-dunia.html</link><category>Energy</category><category>Politic</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Thu, 29 Jul 2010 06:27:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-6119229266870478510</guid><description>Hidup di Indonesia memang mengerikan. Tidak keluar rumah saja orang bisa mati. Itulah yang dialami korban-korban ledakan tabung melon, tabung LPG ukuran tiga kilogram, yang beberapa pekan terakhir ini membetot perhatian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/07/29/brk,20100729-267273,id.html"&gt;Pemerintah akan segera menarik peredaran tabung gas&lt;/a&gt; yang tak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), yang diperkirakan sebanyak 9 juta. Tapi, langkah ini sudah terlambat. Korban sudah berjatuhan cukup banyak setelah hampir setiap hari &lt;a href="http://www.gatra.com/artikel.php?id=139536"&gt;ledakan tabung gas itu terjadi&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penarikan itu, apa masalahnya selesai?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak bagi tetangga saya. Mereka sudah terlanjur trauma. Keluarga dengan dua orang anak itu kini praktis tak berani menyentuh tabung gas. Sang ibu belanja makan dan minum ke warung. Bahkan, untuk sekadar menyeduh kopi untuk suaminya, dia membeli air panas di warung juga. Kadangkala mereka anak beranak makan bakso bersama di tukang bakso yang parkir di tikungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah tampaknya tak mampu memenuhi hak paling dasar bagi rakyatnya: rasa aman. Bahkan, rasa aman di dapur dan rumah kita sendiri pun tidak bisa mereka dijamin. Lantas, apa saja yang dilakukan SBY dan para menterinya itu?&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-6119229266870478510?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tHuxlrp1Nw7lNhZE45bh-pABqp0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tHuxlrp1Nw7lNhZE45bh-pABqp0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tHuxlrp1Nw7lNhZE45bh-pABqp0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tHuxlrp1Nw7lNhZE45bh-pABqp0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=V1OOD2rT9Qg:nyivCdJ8ok0:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=V1OOD2rT9Qg:nyivCdJ8ok0:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=V1OOD2rT9Qg:nyivCdJ8ok0:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=V1OOD2rT9Qg:nyivCdJ8ok0:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/V1OOD2rT9Qg" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-07-29T20:27:39.216+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2010/07/tabung-gas-paling-berbahaya-di-dunia.html</feedburner:origLink></item><item><title>Tell the world about our new website marketing services &amp; get even more bonus points!</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/4AIIjqfkT8A/tell-world-about-our-new-website.html</link><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Sat, 17 Apr 2010 21:53:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-2191814848069936711</guid><description>&lt;a href="http://www.mcintoshmarketing.com/ih/Kurniawan"&gt;Tell the world about our new website marketing services &amp;amp; get even more bonus points!&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-2191814848069936711?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uRZSroKeM30y7omGj2-UCONluxY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uRZSroKeM30y7omGj2-UCONluxY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uRZSroKeM30y7omGj2-UCONluxY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uRZSroKeM30y7omGj2-UCONluxY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=4AIIjqfkT8A:ekh9eNcTKHw:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=4AIIjqfkT8A:ekh9eNcTKHw:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=4AIIjqfkT8A:ekh9eNcTKHw:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=4AIIjqfkT8A:ekh9eNcTKHw:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/4AIIjqfkT8A" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-04-18T11:53:00.450+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2010/04/tell-world-about-our-new-website.html</feedburner:origLink></item><item><title>Buku tentang Energi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/0av0jZR3T0g/buku-tentang-energi.html</link><category>environment</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Fri, 26 Mar 2010 06:15:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-5637951845457478281</guid><description>Silahkan unduh yang ini juga.
&lt;P&gt;
&lt;a title="View KLH Energi on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/28905784/KLH-Energi" style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;"&gt;KLH Energi&lt;/a&gt; &lt;object id="doc_96266" name="doc_96266" height="300" width="450" type="application/x-shockwave-flash" data="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf" style="outline:none;" &gt;                &lt;param name="movie" value="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf"&gt;                 &lt;param name="wmode" value="opaque"&gt;                 &lt;param name="bgcolor" value="#ffffff"&gt;                 &lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;                 &lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;                 &lt;param name="FlashVars" value="document_id=28905784&amp;access_key=key-s8l47y77cjxbj252sc&amp;page=1&amp;viewMode=list"&gt;                 &lt;embed id="doc_96266" name="doc_96266" src="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=28905784&amp;access_key=key-s8l47y77cjxbj252sc&amp;page=1&amp;viewMode=list" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" height="600" width="450" wmode="opaque" bgcolor="#ffffff"&gt;&lt;/embed&gt;             &lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-5637951845457478281?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/15yliKqoEQpevlQn7zF64qVDevU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/15yliKqoEQpevlQn7zF64qVDevU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/15yliKqoEQpevlQn7zF64qVDevU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/15yliKqoEQpevlQn7zF64qVDevU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=0av0jZR3T0g:4N6QzIEInUg:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=0av0jZR3T0g:4N6QzIEInUg:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=0av0jZR3T0g:4N6QzIEInUg:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=0av0jZR3T0g:4N6QzIEInUg:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/0av0jZR3T0g" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-03-26T20:15:16.499+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2010/03/buku-tentang-energi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Buku KLH Sampah dan Pengelolaannya</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/nNJqCJLpyRE/buku-klh-sampah-dan-pengelolaannya.html</link><category>environment</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Fri, 26 Mar 2010 06:07:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-6375447362895470839</guid><description>Silahkan diunduh.
&lt;P&gt;
&lt;a title="View KLH-Sampah Dan Pengelolaannya on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/28905517/KLH-Sampah-Dan-Pengelolaannya" style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;"&gt;KLH-Sampah Dan Pengelolaannya&lt;/a&gt; &lt;object id="doc_55426" name="doc_55426" height="300" width="450" type="application/x-shockwave-flash" data="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf" style="outline:none;" &gt;                &lt;param name="movie" value="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf"&gt;                 &lt;param name="wmode" value="opaque"&gt;                 &lt;param name="bgcolor" value="#ffffff"&gt;                 &lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;                 &lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;                 &lt;param name="FlashVars" value="document_id=28905517&amp;access_key=key-2jmxwl6jz12mn5iwznvi&amp;page=1&amp;viewMode=list"&gt;                 &lt;embed id="doc_55426" name="doc_55426" src="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=28905517&amp;access_key=key-2jmxwl6jz12mn5iwznvi&amp;page=1&amp;viewMode=list" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" height="600" width="200" wmode="opaque" bgcolor="#ffffff"&gt;&lt;/embed&gt;             &lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-6375447362895470839?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/O3RameZopxOYi9B4zbiBl7uc9B4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/O3RameZopxOYi9B4zbiBl7uc9B4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/O3RameZopxOYi9B4zbiBl7uc9B4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/O3RameZopxOYi9B4zbiBl7uc9B4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=nNJqCJLpyRE:gkdoodT-h40:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=nNJqCJLpyRE:gkdoodT-h40:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=nNJqCJLpyRE:gkdoodT-h40:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=nNJqCJLpyRE:gkdoodT-h40:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/nNJqCJLpyRE" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-03-26T20:12:15.293+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2010/03/buku-klh-sampah-dan-pengelolaannya.html</feedburner:origLink></item><item><title>Foto terbaik UNMIT di Timor Leste</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/S6-qjyycV2k/foto-terbaik-unmit-di-timor-leste.html</link><category>Politic</category><category>Timor Leste</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Sun, 13 Dec 2009 23:54:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-801809927835009869</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u-5LnYMXBB8/SyXun1KT5MI/AAAAAAAAALg/Yc1D81xR3pg/s1600-h/unmit2009.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_u-5LnYMXBB8/SyXun1KT5MI/AAAAAAAAALg/Yc1D81xR3pg/s320/unmit2009.jpeg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;United Nations Integrated Mission in Timor-Leste (UNMIT) setiap hari mempublikasikan foto-foto menarik dari Dili. Baru-baru ini mereka memilih foto terbaik tahun ini (Best Of 2009 UNMIT Photo of the Day). Berikut ini pengumumannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;For the young in Timor-Leste, the future holds both promise and challenge. The opportunities available to them tomorrow will largely be determined by decisions made today. Timor-Leste is committed to achieving the Millennium Development Goals (MDG). The second MDG Report, released in April, highlights the progress the nation has thus far made in achieving the targets, while acknowledging the many steps that are still needed. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;(UNMIT Photo/Hipolito da Cruz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-801809927835009869?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I80Un0H5MbAgFTN5StzmUrGnajA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I80Un0H5MbAgFTN5StzmUrGnajA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I80Un0H5MbAgFTN5StzmUrGnajA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I80Un0H5MbAgFTN5StzmUrGnajA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=S6-qjyycV2k:tN-8eCzGLJc:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=S6-qjyycV2k:tN-8eCzGLJc:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=S6-qjyycV2k:tN-8eCzGLJc:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=S6-qjyycV2k:tN-8eCzGLJc:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/S6-qjyycV2k" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-12-14T14:54:48.764+07:00</atom:updated><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_u-5LnYMXBB8/SyXun1KT5MI/AAAAAAAAALg/Yc1D81xR3pg/s72-c/unmit2009.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/12/foto-terbaik-unmit-di-timor-leste.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bukan Aku Tak Mencintaimu</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/7OyVL4CxJI8/bukan-aku-tak-mencintaimu.html</link><category>Journalistic</category><category>Book</category><category>America</category><category>Communism</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Fri, 23 Oct 2009 04:11:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-3822628440593648912</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Pemuda itu menemukan satu posisi di belakang tembok rumah gadis itu, di mana tak seorang pun akan memergokinya, karena senja pelan-pelan gulita. Keributan di rumah-rumah tetangga yang sedang mencuci piring atau memakai toilet telah menyamarkan langkah-langkah kakinya. Dia harus menunggu beberapa jam untuknya. Dua jam, tiga jam -- tak masalah: tak ada orang yang punya jam di Korea Utara.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mi-ran dan Jun-sang besar di pinggiran Ch'ongjin, salah satu kota industri di timur laut Semenanjung Korea. Keduanya bertemu pertama kali pada 1986, ketika masih ada cukup listrik untuk memutar proyektor film di bioskop lokal desa. Jun-sang tergila-gila pada film dan selalu ingin jadi orang pertama yang menonton film baru. Ketika film &lt;i&gt;Birth of a New Government&lt;/i&gt;, tentang Komunis Korea pimpinan Kim Il Sung muda dibentuk untuk melawan pendudukan Jepang, akan diputar, dia segera datang ke bioskop lebih awal. Dia memesan dua tiket--satu untuk saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ketika Jun-sang sedang nongkrong di luar menunggu saudaranya tiba, tampaklan Mi-ran. Serta merta dia tertarik pada gadis itu dan mempertimbangkan untuk membeli tiket tambahan agar bisa duduk bersebelahan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dua sejoli ini diangkat &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Barbara_Demick"&gt;Barbara Demick&lt;/a&gt;, wartawan Amerika Serikat yang kini menjadi kepala biro Los Angeles Times di Beijing, untuk melukiskan kehidupan keseharian masyarakat Korea Utara dalam bukunya, &lt;i&gt;Nothing to Envy: Ordinary Lives in North Korea,&lt;/i&gt; yang akan terbit pada Desember nanti. Nukilannya, "Not Like I Don't Like You", &lt;a href="http://www.theparisreview.org/viewmedia.php/prmMID/5950"&gt;dapat dibaca di The Paris Review&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-3822628440593648912?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_px2ODjN9bTlubIs1h4YLnonrjc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_px2ODjN9bTlubIs1h4YLnonrjc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_px2ODjN9bTlubIs1h4YLnonrjc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_px2ODjN9bTlubIs1h4YLnonrjc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=7OyVL4CxJI8:VLP9s8ZjEHY:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=7OyVL4CxJI8:VLP9s8ZjEHY:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=7OyVL4CxJI8:VLP9s8ZjEHY:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=7OyVL4CxJI8:VLP9s8ZjEHY:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/7OyVL4CxJI8" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-10-23T18:11:55.960+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/10/bukan-aku-tak-mencintaimu.html</feedburner:origLink></item><item><title>Geocities Tutup, Ebook Hilang</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/Yqg7P5vqTlc/geocities-tutup-ebook-hilang.html</link><category>Book</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Fri, 16 Oct 2009 02:47:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-4312591826496829623</guid><description>Sebentar lagi, &lt;a href="http://www.geocities.com/"&gt;Geocities&lt;/a&gt;, layanan hosting Yahoo!, akan ditutup. Tepatnya pada &lt;b&gt;26 Oktober&lt;/b&gt; nanti. Ini surel dari pengelolanya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
We're writing to remind you that Yahoo! GeoCities, our free web site building service and community, is closing on October 26, 2009.
On October 26, 2009, your GeoCities site will no longer appear on the Web, and you will no longer be able to access your GeoCities account and files.
&lt;br /&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ini tentu sangat disayangkan, karena, sepanjang yang saya ketahui, ada banyak naskah, buku dan dokumen elektronik yang menarik dan penting di situs itu yang perlu disimpan. Saya tidak tahu, apakah pengelolanya tahu bahwa situs itu akan tutup, sehingga dia telah menyimpan file-file-nya segera atau tidak.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya hanya mencoba, dalam tempo yang sangat pendek, untuk mendaftar beberapa dokumen menarik itu. Saya hanya mendata buku atau dokumen dalam format &lt;b&gt;PDF&lt;/b&gt; yang umumnya berukuran cukup besar. Dokumen itu bisa diunduh dan disimpan sebelum Geocities tutup.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Komunisme Indonesia
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Edi Cahyono: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/periode-1/pen-no2.pdf"&gt;Dari 'Kiri' Menjadi 'Kanan': Pergeseran Ideologi Semaoen dalam '&lt;i&gt;Tenaga Manusia...&lt;/i&gt;'&lt;/a&gt;  (pdf-154 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Soe Hok Gie: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/periode-1/lenteramerah.pdf"&gt;Di Bawah Lentera Merah&lt;/a&gt; (pdf-270 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Musso: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/periode-2/djalan-baru.pdf"&gt;Djalan Baru Untuk Republik Indonesia&lt;/a&gt; (pdf-146 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Njoto: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/periode-3/njoto.pdf"&gt;"MARXISME Ilmu dan Amalnya"&lt;/a&gt; (pdf-217 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;M.H. Lukman: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/periode-3/MH-Lukman.pdf"&gt;Imperialisme Di Negeri Kita&lt;/a&gt; (pdf-86 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sudisman: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/G30S/sudisman.pdf"&gt;Pledoi Sudisman&lt;/a&gt; (pdf-164 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hilmar Farid: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/G30S/pen-no9.pdf"&gt;Indonesia's Original Sins: Mass Killings And Capitalist Expansion 1965-1966&lt;/a&gt; (pdf - 68 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;b&gt;Kebudayaan dan Filsafat

&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Ira Iramanto: &lt;a href="http://www.geocities.com/mei_satu/poems/sambitan.pdf"&gt;Sambitan: Setumpuk Layang-Layang Putus&lt;/a&gt; (pdf-359 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pierre Teilhard de Chardin: &lt;a href="http://www.geocities.com/mei_satu/files/gejala-manusia.pdf"&gt;Gejala Manusia&lt;/a&gt; (pdf-744 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Edi Cahyono: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/periode-1/mozaik.pdf"&gt;Mozaik Bacaan Tempo Doeloe&lt;/a&gt; (pdf-508 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Razif: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/periode-1/bliar.pdf"&gt;Bacaan Liar&lt;/a&gt;
&lt;/li&gt;
(pdf-444 kb)
&lt;li&gt;Alexander Supartono: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/kebudayaan/lekra.pdf"&gt;LEKRA vs MANIKEBU&lt;/a&gt; (pdf-433 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Alexander Supartono: &lt;a href="http://www.geocities.com/simpang_kiri/kebudayaan/on-utuy.pdf"&gt;Rajawali Berlumur Darah: Karya-Karya Eksil Utuy Tatang Sontani&lt;/a&gt; (pdf-92 kb)
&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/direktoriindonesia/pesntrn.pdf"&gt;Daftar Alamat Pesantren di Indonesia&lt;/a&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Michael Bordt: &lt;a href="http://www.geocities.com/mbordt/documents/indo-eng.pdf"&gt;Kamus Indonesia-Inggris On-line&lt;/a&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Yohanes Manhitu: &lt;a href="http://www.geocities.com/johnmanhitu2001/Concise_Indonesian_English_Dawan_Dictionary.pdf"&gt;Kamus Ringkas Indonesia-Inggris-Dawan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Tentu masih banyak lagi buku-buku dan dokumen lain di situs itu yang segera akan hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-4312591826496829623?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bqvKhKQuRgGP0sP6U9vxMEgplxM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bqvKhKQuRgGP0sP6U9vxMEgplxM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bqvKhKQuRgGP0sP6U9vxMEgplxM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bqvKhKQuRgGP0sP6U9vxMEgplxM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=Yqg7P5vqTlc:uDPl7mgwbok:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=Yqg7P5vqTlc:uDPl7mgwbok:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=Yqg7P5vqTlc:uDPl7mgwbok:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=Yqg7P5vqTlc:uDPl7mgwbok:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/Yqg7P5vqTlc" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-10-23T18:23:27.739+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/10/geocities-tutup-ebook-hilang.html</feedburner:origLink></item><item><title>Buket Biru oleh Octavio Paz</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/oiEkWIM-y1Q/buket-biru-oleh-octavio-paz.html</link><category>International</category><category>Literature</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Tue, 06 Oct 2009 16:00:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-9207875691074739948</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Tak ada masyarakat tanpa puisi, tapi masyarakat tak pernah bisa dipahami sebagai puisi, karena dia tidak puitik. Kadangkala dua istilah itu berusaha bercerai, tapi tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Octavio_Paz"&gt;Octavio Paz Lozano&lt;/a&gt; (31 Maret 1914-19 April 1998) adalah pengarang dan diplomat Meksiko yang menjadi pemenang Nobel Sastra pada 1990. Semula dia penganut komunisme, lalu berubah menjadi kiri demokrat "liberal".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini salah satu cerita pendeknya yang dimuat di &lt;i&gt;Minggu Pagi&lt;/i&gt; No. 16 Th. 55 Minggu III, Juli 2002.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Buket Biru
&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AKU MANDI keringat ketika bangun. Lantai kamarku segar bercahaya dan uap hangat naik dari lantai merah. Seekor ngengat terbang mengitari lampu, tertarik pada cahayanya. Aku turun dari hammock dan berjalan telanjang kaki melintasi kamar, berhati-hati agar tidak menginjak kalajengking yang keluar dari persembunyiannya untuk menikmati dinginnya lantai. Aku berdiri di dekat jendela untuk beberapa menit, menghirup udara dari halaman dan mendengarkan desah malam yang feminin. Aku lalu berjalan ke washstand, mengucurkan air ke baskom dan membasahi handuk. Aku mengusap dada dan kakiku dengan kain basah itu, mengeringkan tubuhku, dan kemudian berpakaian setelah memastikan pakaian itu tidak ada kutunya. Aku kemudian menuruni tangga yang dicat hijau dan secara tak sengaja menjumpai pengelola hotel di pintu. Sebelah matanya buta, dia tampak muram dan pendiam, duduk di kursi, menyedot rokok dengan matanya setengah berpejam.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini dia mengintip aku dengan matanya yang masih baik. "Akan kemana, senor?" tanyanya dengan suara parau.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jalan-jalan. Terlalu panas untuk terus tinggal di kamar!"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi sekarang semuanya tutup. Dan kami tidak punya senter. Lebih baik senor tidak pergi"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat bahu, dan mendesis, "Saya akan kembali," lalu melanjutkan langkah dan masuk ke kegelapan. Semula aku tidak dapat melihat apa pun. Aku berjalan dengan meraba-raba sepanjang jalan-setapak dari batu. Aku kemudian menyalakan rokok. Tiba-tiba bulan keluar dari awan gelap, menyinari dinding yang putih. Aku berhenti di tengah jalan, terbutakan oleh cahaya putih. Angin sepoi-sepoi menggerakkan udara dan aku dapat mencium bau pohon-pohon asam. Malam bergumam dengan suara pepohonan dan serangga. Jengkerik-jengkerik aman tinggal di sela-sela rerumputan yang tinggi. Aku menaikkan mataku: di atas bintang-bintang juga berhenti. Aku berfikir, sebenarnya seluruh jagatraya adalah sistem besar dari tanda tanda, satu percakapan di antara makhluk hidup. Gerakan-gerakanku sendiri, suara jengkerik, kedip bintang, hanyalah jeda-jeda dan silabel, fragmen-fragmen dari dialog. Aku hanyalah sebuah silabel, hanya sebuah kata. Tapi kata apakah itu? Siapa yang mengutarakannya? Dan kepada siapa? Aku melemparkan rokokku ke samping jalan. Rokok itu jatuh dalam lengkungan, melepaskan percik-percik apinya seperti komet mini.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terus berjalan, pelan-pelan, untuk beberapa lama. Aku merasa aman dan merdeka, karena bibir-bibir besar itu menyebutkannya dengan begitu jelas, begitu menyenangkan. Malam adalah sebuah taman mata.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kemudian melintasi jalan, aku tahu seseorang keluar dari pintu. Aku menoleh dan melihat sekeliling, tapi aku tidak melihat apa-apa. Aku mulai berjalan lebih cepat. Beberapa saat kemudian, aku dapat mendengar langkah-langkah sandal di atas batu-batu hangat. Aku tidak ingin menoleh, meski aku tahu bayangan itu terus menguntitku. Aku berusaha lari. Tapi aku tak dapat. Lalu aku berhenti mendadak. Dan sebelum aku dapat mempertahankan diri, aku merasa sebuah pisau telah ditempelkan ke punggungku, dan sebuah suara lembut berkata: "Jangan bergerak, senor, atau anda akan mati!"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa memalingkan kepala, aku bertanya: "Apa yang kau inginkan?"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mata anda, senor!". Suaranya sungguh aneh, lembut, hampir-hampir membuatku bingung.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mataku? Apa yang akan anda lakukan terhadap mataku? Lihat, aku punya sedikit uang. Tidak banyak, tapi cukup berharga. Saya akan memberikan apa saja yang saya miliki, kalau anda membiarkan saya pergi. Jangan bunuh saya!"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Anda tidak perlu takut, senor. Saya tidak ingin membunuh anda. Saya hanya menginginkan mata anda!"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi untuk apa mata itu?"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ini ide kekasih saya. Dia ingin memiliki sebuah buket mata biru. Di sekitar sini tak cukup banyak orang yang bermata biru"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mata saya tidak begitu bagus. Dan lagi tidak biru. Mata saya coklat muda"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak, senor. Jangan coba menipu saya. Saya tahu mata senor biru!"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi kita kan penganut Kristen, sobat! Anda tidak bisa begitu saja mencungkil mata saya. Saya akan memberikan pada anda apa saja yang saya miliki"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan begitu memilih!" suaranya kini kasar. "Balikkan badan!"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membalikkan tubuh. Dia ternyata pendek dan ramping, dengan topi sombrero menutupi setengah mukanya. Dia memiliki machete (sejenis pisau) panjang di tangan kanannya. Kerlap machete itu jelas karena cahaya bulan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Terangi mukamu dengan korek!"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyalakan korek dan mengangkatnya di depan wajahku. Cahaya korek itu dekat dengan mataku dan dia mengangkat pelupuk mataku dengan jari-jarinya. Dia tidak dapat melihat dengan jelas, jadi dia berdiri jinjit dan menatapku dengan tajam. Korek itu membakar jari-jariku dan aku lantas membuangnya. Dia diam untuk sementara.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau yakin sekarang? Bukan biru kan?"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Anda sangat pandai, senor!" katanya. "Nyalakan lagi korek!
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyalakan lagi korek dan mendekatkan pada mataku.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merenggut lengan bajuku. "Berlutut!"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlutut. Dia menjambak rambutku dan menariknya ke belakang. Dia kemudian menjulurkan tubuh ke atasku, memperhatikan dengan intens, dan pisau itu makin dekat dan makin dekat saja, sehingga menyentuh pelupuk mataku. Aku menutup mataku.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Buka!" perintahnya. "Lebar-lebar!"
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka mataku lagi. Api korek itu menghanguskan bulu mataku.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba dia pergi. "Bukan. Bukan biru. Maafkan saya!" dan dia lantas menghilang.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersandar ke tembok dengan kedua tangan menutup wajahku. Kemudian aku bangkit dan lari melewati jalan-jalan tak terpelihara, hampir satu jam lamanya. Ketika aku akhirnya sampai di plaza, aku melihat pengelola hotel masih duduk di pintu. Aku masuk ke hotel tanpa bicara dengannya. Hari berikutnya, aku meninggalkan tempat itu!
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*** Judul asli: &lt;i&gt;The Blue Bouquet&lt;/i&gt;, dalam &lt;i&gt;Contemporary Latin American Short Stories&lt;/i&gt;, diedit Pat McNees Mancini, 1974. Diterjemahkan secara bebas oleh Israk AM
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-9207875691074739948?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZHbKsEdH8x6E_Q09uj4lscnK-6k/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZHbKsEdH8x6E_Q09uj4lscnK-6k/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZHbKsEdH8x6E_Q09uj4lscnK-6k/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZHbKsEdH8x6E_Q09uj4lscnK-6k/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=oiEkWIM-y1Q:HzbmEGneZbY:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=oiEkWIM-y1Q:HzbmEGneZbY:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=oiEkWIM-y1Q:HzbmEGneZbY:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=oiEkWIM-y1Q:HzbmEGneZbY:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/oiEkWIM-y1Q" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-10-23T18:24:27.810+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/10/buket-biru-oleh-octavio-paz.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kebohongan by Nawal el-Sadawi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/79aLhY4kTNs/kebohongan-by-nawal-el-sadawi.html</link><category>International</category><category>Literature</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Tue, 06 Oct 2009 03:38:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-4850988286434357917</guid><description>&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nawal_El_Saadawi"&gt;Nawal el-Sadawi&lt;/a&gt; adalah seorang sastrawan wanita Mesir yang karya-karyanya telah mampu menembus batas-batas dunia. Tulisan-tulisannya sebagian besar mengangkat persoalan-persoalan perempuan (feminis). Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Seperti: &lt;i&gt;Perempuan di Titik Nol&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Matinya Sang Penguasa&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Memoar Seorang Dokter Perempuan&lt;/i&gt;, serta &lt;i&gt;Catatan dari Penjara Perempuan&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini salah stu cerita pendeknya yang pernah dimuat &lt;a href="http://www.republika.co.id/"&gt; &lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; hampir satu dekade lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Kebohongan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja ia menjadi telanjang bulat.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak tahu, bagaimana dia melepas pakaiannya. Tetapi yang jelas, dia ingin menaruhnya di depan yang ada, di depan seseorang yang telanjang. Menurutnya, telanjang dapat menjamin kedekatan hubungan antara dirinya dengan perempuan. Kesabaran tidak akan pernah kembali. Masa kini merupakan tantangan sementara masa depan tidak pernah ada jaminan. Waktu juga tak akan pernah kembali lagi. Masa mudanya telah berlalu dan kini usianya hampir melewati 40 tahun, tenaganya menjadi berkurang, dan seringkali badannya menjadi lemah pada saat semangatnya menyala-nyala.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbicara tentang berbagai hal, dengan tema yang amat luas. Mungkin ilmu pengetahuan, politik, atau filsafat. Sedangkan di depannya duduk seorang perempuan dengan memakai gaun baru. Pandangan perempuan itu tidak menggoda, menggairahkan dan tidak berbau seksual, selayaknya perempuan-perempuan pemalu. Sebaliknya, tatapan mata perempuan tersebut membuat lelaki itu membuang jauh-jauh segala keinginannya. Sebuah tatapan mata yang amat sadis dan tajam sebagaimana usaha yang kita lakukan untuk mengusir rasa sakit, kematian ataupun segala penderitaan dari diri kita, agar ia tidak membinasakan kita.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kita adalah orang-orang yang berjalan menuju kematian, baik itu kita inginkan atau tidak,'' katanya dalam hati saat dia memandang dirinya telanjang di depan cermin. Dua puluh tahun lamanya dia hidup bersama ibu dari kelima orang anaknya. Seorang istri yang taat, pemalu, suci, mencintai dengan tulus, serta bertubuh mulus.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan wajahnya dari cermin. Kedua bola matanya menatap bulu dadanya yang seperti dada kera, lalu pada perutnya yang buncit seperti perut perempuan hamil. Dia tidak pernah menyangka bahwa perutnya akan sebesar itu. Setiap hari, tanpa terasa sedikit demi sedikit perutnya semakin membesar. Celananya terasa makin menyempit, kira-kira satu atau setengah milimeter. Tetapi dia menjadi gemuk. Ukuran itu menjadi semakin bertambah seiring dengan bertambahnya waktu. Sehari, seratus hari, seribu hari, dan begitu terus-menerus sampai dua puluh tahun.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perempuan itu duduk sambil memegang buku. Ia tahu bahwa lelaki yang duduk di kursi dengan penuh wibawa itu sedang berbicara. Dari mulutnya selalu keluar kata-kata yang tak putus-putus, seolah-olah dia sedang mengunyah air liurnya kemudian diludahkan menjadi huruf-huruf yang memanjang seperti air bah yang mengalir atau benang panjang yang terjuntai dari mulutnya, tidak habis-habis dan tidak putus-putus; kadang-kadang berbelok-belok dan kacau balau seperti kepompong. Kadang ada satu huruf yang dapat melepaskan diri dari kehendaknya dan terbang di udara seperti embun atau gelembung-gelembung air yang tak pernah jatuh di atas sesuatu yang membawanya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perempuan itu mendiamkannya. Dia bukan tamu biasa. Dia adalah teman lama suaminya, bahkan persahabatan mereka lebih lama dari usia pernikahannya dan lebih lama dari perkenalan suaminya dengan siapa pun. Dia adalah seorang lelaki terpelajar. Perempuan itu dapat mengetahuinya dari raut muka serta kerutan-kerutan otot lehernya, dan kalung yang melingkar kuat di lehernya, seolah-olah tak akan dilepas dan tak akan mungkin terlepas untuk selamanya. Sepertinya kalung itu selalu dipakainya, baik saat terjaga maupun sedang tidur. Bahkan seolah-olah dia dilahirkan dengan memakai kalung tersebut. Jaketnya mempunyai dua deret kancing. Celananya yang ketat dikancingkan dengan kuat sembari merapatkan kedua betis dan lututnya bagai duduknya seorang gadis pemalu ataupun gadis perawan. Ya, dia mempunyai kemuliaan seorang lelaki yang selamanya tidak akan pernah menampakkan bahwa dirinya pernah melepas pakaiannya atau pakaiannya dapat dilepas saat dia menginginkannya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempunyai rumah, sehingga ketika suami perempuan itu tidak ada, dia menjadi gelisah. Perempuan itu meninggalkannya saat dia berbicara di kursinya. Lalu dia melakukan segala yang dia inginkan, kadang menulis, kadang membaca. Ketika sebuah pena jatuh dan menggelinding ke bawah lemari, ia berjanji untuk mengambilkannya. Perempuan itu tidak berteriak saat rok mininya tersingkap dan ia kelihatan telanjang dari belakang. Lelaki itu tidak mungkin melihatnya. Dan saat dia memandang, maka pandangannya adalah tatapan yang sopan dan terdidik. Pandangan itu turun ke tubuhnya dengan tenang dan tanpa gelora seperti udara, sehingga kejadian itu terus berlanjut. Akan tetapi perempuan itu tidak merasa cemas, bahkan mungkin ia terhipnotis, hingga ia lupa memutar radio.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berdiri membelakangi perempuan tersebut. Perempuan itu duduk di kursi rendah yang ada di depannya. Kedua pahanya mengangkang, sehingga sebagian pahanya kelihatan dengan jelas. Posisi duduk seperti itu merupakan gaya duduk wanita modern yang memamerkan pahanya. Tanpa terkontrol lagi mata lelaki itu menatap di antara keduanya sampai ke pangkalnya dengan mudah. Kemudian lelaki itu mengalihkan pembicaraan dari masalah politik internasional ke pokok permasalahan, fatalisme dalam agama. Saat dia berbicara dengan keras, otot-otot lehernya menegang, suaranya menjadi terdengar aneh. Hal itu terjadi saat dia berbicara dengan suara tinggi yang dibawa oleh budaya modern. Dia merasa dadanya sesak, tetapi suaranya menggema di dalam ruangan yang mempunyai perlengkapan modern itu. Sambil menikmati suaranya, ia menggerak-gerakkan potongan-potongan kain (korden) yang berada di atas jendela, yang menggelitik telinganya dengan lembut. Ketika dia mengucapkan kata-kata, dia selalu merasakan kenikmatan yang luar biasa.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku itu masih berada di tangannya. Pandangannya selalu tertuju pada garis yang ada dalam salah satu halaman. Kedua bola matanya tak pernah bergerak dari satu kata ke kata yang lain. Perempuan itu menyukai buku, tetapi ia tidak suka membaca. Kedua bola matanya tetap berjalan dari atas garis menuju kuku-kukunya yang panjang, keperakan dan diraut seperti parang. Menelusuri kelembutan kertas dan kelentikan ujung-ujung jarinya, ia merasakan hubungan emosional antara dirinya dengan kebudayaan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia masih berdiri membelakangi perempuan tersebut. Perempuan itu tidak mengangkat wajahnya setelah membaca buku itu. Semua itu terjadi saat suaranya terputus. Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya ke arah radio. Sesaat kemudian ruangan itu penuh dengan suara bacaan Alquran yang merdu. Barangkali acara-acara yang lain memang tidak ada yang menarik, iklan misalnya, atau cuplikan musik. Kadang ia bergeser dari tempatnya. Sedangkan lelaki itu, walaupun bacaan Alquran dan suara-suara yang merdu tersebut telah berlalu dan dari depannya, dia tetap berdiri di tempatnya semula dan tidak bergerak.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim hujan, hari terakhir bulan Januari. Walaupun dia berada di balik jendela yang kuat, akan tetapi gelombang udara dingin tetap menerpa tulang punggungnya. Dia berpikir sejenak untuk menjulurkan tangannya, memungut sesuatu dari pakaiannya yang terinjak. Namun dia takut untuk bergerak, untuk memalingkan pandangannya sebelum bacaan ayat-ayat suci itu selesai. Dia hanya bisa menatap sedih karpet Inggrisnya yang mahal, yang menyebarkan kehangatan di lantai, dan ke arah medali yang ada di sampingnya, dengan talinya yang kuat lagi berharga, dan ujungnya yang panjang dan bersinar, yang terbuat dari benang emas. Dia memandang sekitarnya hingga dia hampir menyentuh sesuatu, yang di sana terdapat celana katunnya yang kasar dan besar sehingga memperlihatkan bahwa perutnya buncit dan pahanya besar. Dia mempertontonkan keduanya tanpa belas kasihan, tanpa rasa malu, dan tanpa menjaga kesopanan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bacaan Alquran itu telah selesai. Dia mulai bergerak. Dia berpikir bahwa gerakan lengan adalah gerakan yang paling cocok daripada gerakan yang lain. Barangkali dia benar-benar menggerakkan lengannya, karena rambut rambut tebal yang berada di bawah ketiaknya menjadi tampak jelas oleh mata. Tetapi gerakan tersebut tidak membuat perempuan itu beranjak. Ia masih tetap duduk sambil membaca buku, sedangkan duduknya yang mengangkang membuat sebagian pahanya terlihat jelas, sebuah kebiasaan wanita modern saat asyik membaca. Hal itu merupakan kenikmatan hakiki bagi seorang yang terpelajar. Namun lelaki itu tidak pernah menyangka atau memikirkan sama sekali bahwa keasyikan yang datang dari nurani atau kebudayaan itu dapat memperdaya seorang perempuan dan lelaki yang telanjang. Kedua telinganya mendengar suara orang membaca. Spontan ia mengulurkan tangannya dan memutar knop radio karena ketakutan, dan terdengarlah suara seperti guruh, yang menyiarkan siaran berita. Barangkali andaikata ia sendirian, ia akan mengulurkan tangannya sekali lagi dan memutar knop tersebut. Namun ia tahu bahwa lelaki itu duduk di kursi. Sebuah kalung terikat dan tergantung di lehernya. Bagian atasnya terdapat kotak kuat yang terkunci dengan dua deret kancing. Kedua betisnya merapat dan saling bersentuhan dengan penuh kesopanan, sebuah kebiasaan yang dilakukan lelaki modern ketika mendengarkan berita. Dengan sembunyi-sembunyi, pandangan matanya menyusuri garis yang ada di atas tangan halus perempuan tersebut, sementara kedua lengan lelaki itu masih terus memperlihatkan rambut-rambutnya yang kumal, sehingga membuatnya teringat waktu memotong rambut.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki itu mulai merasa kebingungan. Apa yang akan ia lakukan untuk melepaskan perempuan tersebut dari keasyikannya. Kemudian dia menaruh jari-jarinya di mulutnya untuk bersuit, seperti yang pernah dia lakukan waktu kecil ketika bermain dengan telanjang bulat di kampung. Dia menaruh jari-jarinya di mulut, tetapi dia tidak bersuit. Otot-otot mulutnya tidak mampu lagi mengeluarkan suara-suara negatif. Dia masih berdiri, membisu, sambil telanjang seperti patung. Tiba-tiba kebisuan merangkak di ruangan tersebut. Aliran listrik terputus, dan ia mengangkat kepalanya dari buku ketika ruangan itu menjadi gelap gulita. Mereka hampir bertabrakan saat perempuan itu berjalan menuju perpustakaan, seandainya ia tidak melangkah kembali ke belakang. Ketika ia kembali pada buku-buku yang lain, aliran listrik telah normal kembali dan lelaki itu telah kembali duduk di kursinya dengan seluruh pakaian dan kewibawaannya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alibahasa: Ahmad Qomaruddin
&lt;br /&gt;
Sumber: &lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt;, 26 Maret 2000&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-4850988286434357917?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/T1UCvJs0QJReNuS1CnW6M2k0v_8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/T1UCvJs0QJReNuS1CnW6M2k0v_8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/T1UCvJs0QJReNuS1CnW6M2k0v_8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/T1UCvJs0QJReNuS1CnW6M2k0v_8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=79aLhY4kTNs:NNnYROL4x14:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=79aLhY4kTNs:NNnYROL4x14:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=79aLhY4kTNs:NNnYROL4x14:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=79aLhY4kTNs:NNnYROL4x14:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/79aLhY4kTNs" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-10-23T18:26:10.281+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/10/kebohongan-by-nawal-el-sadawi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Njoto dan Puisi Cak</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/wboC9YIiVnU/njoto-dan-puisi-cak.html</link><category>Politic</category><category>Literature</category><category>Indonesia</category><category>Communism</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Mon, 05 Oct 2009 05:54:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-2177656884326248372</guid><description>Majalah Tempo edisi pekan ini menurunkan &lt;a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/10/05/LK/"&gt;laporan khusus tentang Njoto&lt;/a&gt;, Wakil Ketua CC Partai Komunis Indonesia. Selain jago meniup saksofon, Njoto juga pandai menulis puisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini saya salin salah satu puisinya yang dimuat di &lt;i&gt;Harian Rakjat&lt;/i&gt; pada tahun 1962. Puisi ini juga masuk dalam &lt;i&gt;Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra, Harian Rakyat 1950-1965&lt;/i&gt; yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan dan terbit pada September 2008.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat menikmati...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Variasi Cak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak-cak&lt;br /&gt;cak-cak-cak-cak&lt;br /&gt;cak-cak&lt;br /&gt;cak-cak-cak-cak&lt;br /&gt;penari-petani menari&lt;br /&gt;di Blahbatu sini&lt;br /&gt;mata menari perut menari&lt;br /&gt;menuntut merdeka dan nasi&lt;br /&gt;cak-cak&lt;br /&gt;cak-cak-cak-cak&lt;br /&gt;satu bedil&lt;br /&gt;satu cangkul&lt;br /&gt;cak-cak&lt;br /&gt;cak-cak-cak-cak&lt;br /&gt;imperialisme&lt;br /&gt;kananbaru&lt;br /&gt;feodalisme&lt;br /&gt;sikepalabatu&lt;br /&gt;kita tinju&lt;br /&gt;satu persatu&lt;br /&gt;cak-cak&lt;br /&gt;cak-cak-cak-cak&lt;br /&gt;cak-cak&lt;br /&gt;cak-cak-cak-cak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Blahbatu, Maret 1962&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-2177656884326248372?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sw0Y9x5AUFdjb1OAfqf021jixv4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sw0Y9x5AUFdjb1OAfqf021jixv4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sw0Y9x5AUFdjb1OAfqf021jixv4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sw0Y9x5AUFdjb1OAfqf021jixv4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=wboC9YIiVnU:Cht0_eBHR08:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=wboC9YIiVnU:Cht0_eBHR08:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=wboC9YIiVnU:Cht0_eBHR08:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=wboC9YIiVnU:Cht0_eBHR08:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/wboC9YIiVnU" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-10-05T19:54:21.850+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/10/njoto-dan-puisi-cak.html</feedburner:origLink></item><item><title>Rendra, Sang Kepala Suku Naga</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/p6GU3bT1oRs/rendra-sang-kepala-suku-naga.html</link><category>Art</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Thu, 06 Aug 2009 23:48:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-8473517275589929901</guid><description>&lt;blockquote&gt;
Sepuluh tahun lalu saya berbincang-bincang semalam suntuk dengan Rendra di padepokan Bengkel Teater di Citayam, Depok, Jawa Barat. Saat itu dia sedang menyiapkan pementasan drama &lt;i&gt;Suku Naga&lt;/i&gt;, dua puluh tiga tahun setelah karyanya itu dipentaskan pertama kali di TIM.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah terakhir kali saya ngobrol begitu lama dengannya, dari menjelang malam hingga Subuh menjelang. Kami berbincang-bincang ke mana-mana. Dia bicara dari teater sampai puisi, dari politik sampai ekonomi, dari sejarah tahu-tempe hingga kebudayaan. Sesekali kami makan pisang goreng yang dihidangkan Ken Zuraida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Kenangan itu berkelebat ketika saya mendengar kabar bahwa Rendra meninggal dunia pada Kamis malam, 6 Agustus 2009, sekitar pukul 22.10 WIB di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok. &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/panggung/2009/08/06/brk,20090806-191238,id.html"&gt;Ia meninggal dalam usia 73 tahun&lt;/a&gt;. Menurut Maryam Supraba, 31 tahun, salah satu anak Rendra, almarhum meninggal karena penyakit jantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat jalan, Rendra.
&lt;br /&gt;
&lt;/blockquote&gt;
---------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(ADIL, edisi 01, 1998)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Pentas &lt;i&gt;Suku Naga&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Nostalgia dari Wonoroto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Orang-orang harus dibangunkan. Kesaksian harus diberikan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jakarta, 1974. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bendera Bengkel Teater Rendra (BTR) berkibar-kibar memarakkan dunia teater negeri ini. Beberapa pentas dan pengulangan pentas seperti &lt;i&gt;Antigone&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Qasidah Barzanji&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Oedipus Berpulang&lt;/i&gt;; menandai kebesaran kelompok ini. Namun, beberapa kali pentas mereka gagal. Beberapa disebabkan oleh campur tangan aparat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Ketanggungan Wetan, Yogyakarta, pasukan kecil BTR belajar dan diskusi dengan para dosen UGM seperti YB Mangunwijaya, Umar Kayam, dan Dick Hartoko. Dari seorang staf ahli PBB yang diperbantukan di UGM, mereka belajar metode penelitian yang membuahkan rencana meneliti di Desa Wonoroto. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Yogyakarta, awal 1975&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar 22 orang awak BTR berkemah di kebun Jambu, di perbatasan desa Wonoroto, dekat pantai Parangtritis. WS Rendra mengatur pembagian kerja; investigasi tentang adat kehidupan masyarakat desa. Di bawah tekanan berbagai pihak, mereka akhirnya bisa bersahabat dengan masyarakat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu berkemah, mereka turut menanam vanili bersama penduduk setempat. Melalui pembauran dengan masyarakat desa, mereka menyerap karakter berbagai tokoh. Walhasil, catatan-catatan mereka cukup kaya. Masalah sosial, politik, dan lingkungan hidup menginspirasikan banyak hal. Sebuah embrio &lt;i&gt;Kisah Perjuangan Suku Naga&lt;/i&gt; mulai tumbuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita akan bikin drama tentang dukuh," kata Rendra waktu itu. Dan dimulailah persiapan pentas &lt;i&gt;Suku Naga&lt;/i&gt;. Rendra mendiktekan peran dan ucapan setiap lakon secara bertahap. Untuk berbagai peran, WS Rendra mendiktekan langsung kepada calon pemainnya. "Bagian tertentu saya diktekan untuk Adi Kurdi, sebagian lain untuk Sitoresmi..." kata Willy--begitu WS Rendra biasa dipanggil--mengenang proses penciptaan lakon itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana masih tegang. Para pemain berlatih dan menghapal naskah secara diam-diam. Kekhawatiran terhadap ancaman gagal pentas masih terasa. Mereka ingat bagaimana Rendra saat berperan sebagai Creon dalam &lt;i&gt;Antigone&lt;/i&gt; nyaris dibawa aparat di tengah pertunjukan berlangsung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jakarta, Juli 1975&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti sudah diduga, pertunjukan &lt;i&gt;Suku Naga&lt;/i&gt; di Teater Terbuka TIM berjalan tersendat. Aparat keamanan menuntut pementasan ditunda. Sementara Dewan Kesenian Jakarta dan BTR bertahan. Pangkopkamtib Laksamana Soedomo mengizinkan pentas, tapi setelah 17 Agustus. Gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin, bertahan untuk tetap mementaskan. Apa boleh buat, Ketua DKJ Wahyu Sihombing pun jadi "jaminan" dan dibawa ke Komdak selama pementasan dua hari itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu setahun lebih Malari berlalu. Rumah Sakit Harapan Kita milik Tien Soeharto baru hendak didirikan. Kabar penggusuran penduduk untuk Proyek Bendungan Asahan di Sumatra Utara sedang hangat-hangatnya. Kegerahan dan kegeraman terhadap masalah itu berubah menjadi makian di warteg. Saat itulah &lt;i&gt;Suku Naga&lt;/i&gt; mengumbar kritik pedas terhadap segalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat kesuksesan di Jakarta, &lt;i&gt;Suku Naga&lt;/i&gt; diusung ke Bandung dan Surabaya pada tahun yang sama. Sementara pentas di Yogyakarta baru berlangsung tiga tahun berikutnya. GOR Kridosono membludak selama dua hari pertunjukan. "Karcis yang terjual tidak sebesar jumlah penontonnya, karena banyak yang merasa dirinya warga Bengkel juga, jadi enggan masuk dengan karcis," tutur anggota Bengkel Edi Haryono. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jakarta, September 1998&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat gladi resik (28/9) Adi Kurdi kehilangan suara. Rendra panik. Tapi &lt;i&gt;the show must go on&lt;/i&gt;, dan untungnya tak ada kesulitan berarti yang menghalangi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka berceritalah Sang Dalang (Dewi Pakis); Kepala Suku Naga Abisavam (Adi Kurdi) dan rakyatnya menghadapi tekanan Ratu Astinam (Ken Zuraida) dan anak buahnya yang hendak mengubah kampung Suku Naga menjadi kota pertambangan. Sang juta-juta-jutawan The Big Bos (Sawung Jabo) lewat duta Mr. Joe (Otig Pakis) hendak mengeruk tembaga dari kampung Suku Naga. Rakyat Suku Naga dengan dibantu wartawan luar negeri Carlos (Kurt Kaler) berupaya mempertahankan adat, tanah, dan masa depan dan peradaban Suku Naga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya melihat drama ini masih relevan, karena kekuatan dari bentuk drama itu adalah amsal; amsal dari suku naga, penindasan, mesin industri, hubungan adikuasa dan negara berkembang, dan amsal dari negara totaliter," ujar Rendra tentang pengulangan pentasnya ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain relevansinya, juga lantaran dia menghendaki keaslian (otentisitas) naskahnya tetap terpelihara. Makanya, tak ada perubahan besar dari naskah asli yang dimainkan tahun 1975. Tata panggungnya tetap sederhana. Hanya kostum pemainnya yang lebih bagus daripada pementasan tahun 1975 yang seadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musiknya yang digarap Dedek Wahyudi dan para pemusik jebolan STSI Yogya memberi sumbangan besar bagi ritme dan nuansa pementasan. Apalagi Dedek yang mengandalkan instrumen gamelan ini mampu memberi sentuhan pop, blues, keroncong, sampai lagu dolanan anak. Jangan heran bila terdengar kepingan melodi &lt;i&gt;Roots to Branches&lt;/i&gt; milik Jethro Tull atau &lt;i&gt;Jaranan&lt;/i&gt;, satu judul lagu dolanan bocah-bocah di pedesaan Jawa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang penonton tak sempat menyaksikan permainan Rendra. Malam itu, dia tak bermain. Tapi penonton cukup antusias menyambut kemunculan Adi Kurdi, Kurt Kaler, dan Ken Zuraida. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus diakui, keaktoran Adi masih hebat. Dan ia tak sendiri. Otig yang bergabung BTR sejak 1983 juga bermain bagus. Sementara aktor muda Daryanto Bended (Abivara) mulai unjuk gigi. Sayang Sawung Jabo dan Dewi Pakis tak terlalu mulus bermain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pementasan &lt;i&gt;Perjuangan Suku Naga&lt;/i&gt; kali ini bisa jadi sebuah nostalgia. Nostalgia kebesaran Bengkel Teater dan nostalgia masa lalu suram yang pernah dilalui republik ini. Segala kritik yang termuat dalam drama ini, bagi Rendra sekarang sebagai penegasan saja. "Memperingatkan kembali dari apa yang sudah terjadi," katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan memang segalanya tetap harus diingatkan, harus dikabarkan. &lt;i&gt;Langit di luar, langit di badan, bersatu dalam jiwa. Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan, sama saja.&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(kurniawan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Dinasti Bengkel dalam Teater&lt;/h2&gt;
Perkembangan sejarah teater Indonesia tak mungkin lepas dari keberadaan Bengkel Teater Rendra. Sejak berdirinya di tahun 1967, teater yang bersarang di Yogya (sekarang di Cipayung, Depok) ini cukup produktif mementaskan berbagai naskah. Sayang hingga kini awak BTR sendiri belum mendokumentasikan segala kegiatannya dengan baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumbangan terbesar yang diberikan kelompok ini adalah Teater Mini Kata yang diciptakan Rendra dan pengolahan seni pertunjukan rakyat ke dalam bentuknya yang lebih modern. Olah gerak dan meditasi menjadi basis latihan dasar berteater mereka. Disiplin berteater ini nyatanya membuahkan hasil. Banyak alumni BTR yang sukses berkarir di luar kelompok ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila kita menyebut beberapa kelompok teater yang ada di bumi nusantara ini, sebagian besar dari mereka adalah jebolan Bengkel. Sebutlah Teater Adinda dan Bengkel Deklamasi (Jose Rizal Manua), Teater Mandiri (Putu Wijaya), Teater Satu Merah Panggung (Ratna Sarumpaet), Bela Studio (Edi Haryono), dan Teater Gerak (Sawung Jabo). Sebagian besar kelompok ini masih aktif, bahkan masih menentukan denyut nadi perteateran Indonesia. Sementara nama-nama seperti Chaerul Umam, Adi Kurdi, Arifin C. Noer, dan penari Sardono W. Kusumo cukup kita kenal kiprahnya dalam berbagai media. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BTR kemudian lebih mirip padepokan yang punya banyak cantrik. Ketika para cantrik itu merasa sudah cukup &lt;i&gt;nyantrik&lt;/i&gt;-nya, maka mereka pun berkiprah keluar, mengembangkan dirinya sendiri. Hasilnya mereka menjamur mewarnai matra kesenian republik. Sementara Bengkel sendiri relatif tak lagi sebesar dulu. Cantrik-cantriknya malah mengambil alih peran itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rendra bukanlah mahaguru yang punya Bengkel-isme, karena setiap cantrik punya gaya dan konsep berteater sendiri. Tampaknya tak ada suatu kekhasan BTR yang terus mewarnai gaya para cantriknya. Entah kalau nanti ada sebuah penelitian luas tentang Bengkel dan alumni-alumninya yang menghasilkan kesimpulan berbeda. Rendra sendiri menyatakan, "BTR justru menjaga keragaman yang dibawa oleh masing-masing awaknya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinasti BTR --kalau boleh disebut begitu-- telah memberi sumbangan besar dalam kehidupan berteater. Dinasti lain adalah dari garis Teater Populer Teguh Karya. Kedua dinasti inilah yang terus menyemangati dunia teater, dunia yang sama sekali tidak basah secara ekonomi dan tidak populer secara politik. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt; mereka terus bertahan hidup. &lt;b&gt;(Kurniawan/wwb)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-8473517275589929901?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yB6PXTT9mc4R57khLQmKU8ya0OY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yB6PXTT9mc4R57khLQmKU8ya0OY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yB6PXTT9mc4R57khLQmKU8ya0OY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yB6PXTT9mc4R57khLQmKU8ya0OY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=p6GU3bT1oRs:FxMg1m0xrbU:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=p6GU3bT1oRs:FxMg1m0xrbU:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=p6GU3bT1oRs:FxMg1m0xrbU:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=p6GU3bT1oRs:FxMg1m0xrbU:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/p6GU3bT1oRs" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-10-23T18:29:19.074+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/08/rendra-sang-kepala-suku-naga.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bahasa Indonesia: Politik Bahasa untuk Kini dan Esok</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/0R6VR1i-Fhw/bahasa-indonesia-politik-bahasa-untuk.html</link><category>My Writing</category><category>Language</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Wed, 05 Aug 2009 17:39:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-8449172559692803800</guid><description>&lt;i&gt;Ini sebuah catatan lama dari tahun 1998. Kongres Bahasa sepakat untuk membuat sebuah undang-undang bahasa. Tahun ini konon undang-undang tersebut akan lahir. Apa dampaknya nanti masih belum pasti.&lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---------------------
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(ADIL edisi 05/68/1998)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Bahasa Indonesia: Politik Bahasa untuk Kini dan Esok&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kongres Bahasa VII sudah usai. Setumpuk agenda belum selesai. Masih berkutat pada persoalan lama.&lt;/b&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Marilah kita menggunakan bahasa secara lugas. Tidak perlu membungkus kenyataan pahit dengan istilah-istilah yang mengaburkan kenyataan,'' ucap Presiden Habibie pada pembukaan Kongres VII Bahasa Indonesia di Istana Negara, Senin (26/10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kongres yang berlangsung hingga Jumat (30/10), hadir sekitar 800 peserta dari seluruh Indonesia. Sekitar 70 persidangan digelar. Delapan belas di antaranya membahas topik kesusastraan, yang cenderung tersingkir dalam kongres-kongres sebelumnya. Di luar itu para sastrawan punya acara kesukaan mereka: baca puisi dan cerpen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;POLITIK BAHASA&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum para pakar yang hadir menyoroti hubungan yang kuat antara Bahasa Indonesia (BI) dan kekuasaan pemerintah melalui lembaga resminya, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sering disebut Pusat Bahasa). Hubungan ini menghasilkan rekayasa bahasa dalam bentuk berbagai pembakuan dan peraturan berbahasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1901 tatkala BI dibikin oleh sebuah sekumpulan ahli Belanda pimpinan CA van Ophuysen. Sebuah rekayasa politik bahasa pun dilakukan dan menghasilkan pemilahan bahasa Melayu Tinggi dan Melayu Rendah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pemikir kolonial saat itu tidak henti-hentinya mencela bahasa Melayu Rendah yang berkembang di kalangan rakyat dan penerbitan swasta peranakan Cina dan Indo Eropa. Untuk melawan perkembangan bahasa Melayu 'pasar' pada tahun 1918 pemerintah membangun Balai Poestaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dalam salah satu edisi &lt;i&gt;Bintang Timur&lt;/i&gt; tahun 1906 misalnya, seorang pembaca menulis bahwa ia tidak begitu mengerti artikel-artikel yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Melayu Tinggi. Ini menunjukkan betapa tidak populernya bahasa versi rekayasa. Sekarang pun hal itu tampak masih terjadi. Beberapa istilah yang diciptakan Pusat Bahasa malah menjadi aneh di kuping masyarakat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, politik bahasa kolonial terus berjalan. Perdebatan tetap terjadi di kalangan intelektual, seperti Sutan Takdir Alisyahbana dan Sanusi Pane. Wartawan &lt;i&gt;Soeara Oemoem&lt;/i&gt; RM Soedardjo Tjokrosiswojo dan Mr. Sumanang kemudian berinisiatif menggelar Kongres Bahasa 1938 di Solo yang dihadiri sekitar 500 orang. Selanjutnya Kongres Bahasa menjadi agenda tetap di republik ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MENGRITIK ORBA&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kongres kali ini evaluasi kritis dan terbuka terhadap kenyataaan BI di masa kepemimpinan Orde Baru (ORBA) diurai habis-habisan. Prof. Dr. Soenjono dari Lembaga Bahasa Universitas Katolik Atma Jaya langsung menunjuk bahwa upaya pembinaan BI sering dirusak oleh pejabat yang kemampuan bahasanya &lt;i&gt;amburadul&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, terasa wajar ketika pada pleno ke-5, Selasa (27/10), Taufik Abdullah menggagas reformasi politik bahasa dan masa depan yang bakal dihadapai BI. ''Pembenahan bahasa birokrasi bukan saja merupakan reformasi bahasa politik dan kekuasaan, tetapi juga sesungguhnya mengembalikan bahasa sebagai simbol dan realitas yang komunikatif,'' katanya. Hegemoni itu, menurut Taufik, menyebabkan BI pada masa Orba sangat tercemar oleh pemaksaan kata, eufemisme, kata-kata bersayap, dan sakralisasi konsep. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walhasil, sejarawan itu mengusulkan agar Pusat Bahasa menangani polusi bahasa di lingkar birokrasi dan kekuasaan. Selain itu Taufik menekankan bahwa politik bahasa harus menghadapkan dirinya pada struktur hari ini, kemungkinan hari depan, dan keberlanjutan kebudayaan. Parakitri Tahi Simbolon pun mengharapkan bahwa peran dan fungsi Pusat Bahasa ditingkatkan, kalau perlu dikelola seperti swasta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KESUSASTRAAN&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kongres kali ini rupanya kesusastraan telah mulai mendapat perhatian. Pembahasan di bidang ini cenderung untuk kembali ke akar sejarah dan tradisi. Seperti misalnya dalam pandangan Dirjen Kebudayaan Edi Sedyawati dengan makalah &lt;i&gt;Sastra dan Jati Diri Bangsa&lt;/i&gt;, Achdiati Ikram dengan &lt;i&gt;Kesusastraan Indonesia Lama sebagai Sumber Pembinaan Jati Diri Bangsa&lt;/i&gt;, dan Ajip Rosidi berharap kebijakan bahasa nasional memberi perhatian pada sastra dan budaya daerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kualitas sastra dibahas Faruk HT dengan makalah &lt;i&gt;Mutu Sastra Kita&lt;/i&gt;, sedang Sapardi Djoko Damono dengan &lt;i&gt;Pengaruh Asing dalam Sastra Indonesia&lt;/i&gt; dan Budi Darma dengan &lt;i&gt;Sastra Indonesia di Forum Internasional&lt;/i&gt; menghampirinya dalam konteks global. Masalah pendidikan sastra digulirkan oleh Taufiq Ismail dengan &lt;i&gt;Tentang Cara Menjadi Rabun Sastra dan Lumpuh Menulis&lt;/i&gt;. Hal ini didukung Ignas Kleden yang berharap bahwa tujuan pengajaran bahasa di sekolah ke arah kemahiran berbahasa dan bukan pada teori bahasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;NASIONALISME&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ada yang tersisa dari kongres kali ini. Dari waktu pelaksanaannya jelas kongres ini terkait dengan Hari Sumpah Pemuda. Suatu peristiwa ketika para politikus muda kita mengikrarkan Soempah Pemoeda 1928. Mengapa BI dimasukkan dalam ikrar itu? Mengenai ini para pakar masih sibuk memperdebatkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang jelas sebuah semangat kebangsaan atau nasionalisme Tampak jelas di situ. Istilah ini sebenarnya muncul menjelang Perang Dunia I di kalangan para pemuda &lt;i&gt;priyayi&lt;/i&gt; yang kembali dari negeri Belanda dan orang-orang Cina yang mengikuti perkembangan Dr. Sun Yat-Sen. Bentuk politiknya muncul dengan berdirinya Partai Nasional (1927) dengan konsep-konsep yang dikembangkan Soekarno. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928 selanjutnya menjadi penting karena bahasa saat itu secara terbuka dinyatakan sebagai unsur identitas suatu bangsa. Bahasa melayu yang awalnya adalah &lt;i&gt;lingua franca&lt;/i&gt; (bahasa untuk berkomunikasi-Red) kemudian menjadi BI yang menunjuk pada keberadaan sebuah bangsa bernama Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun entah mengapa BI kemudian seolah terpisah dari Sumpah Pemuda itu sendiri. Dan Habibie pun berpidato pada puncak peringatan Sumpah Pemuda tahun ini di Pusat Pendidikan Polisi Militer, Cimahi, Jawa Barat, pada Rabu (28/10) lalu. Dia bicara di depan birokrat dan tokoh pemuda, bukan di depan ribuan mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut berbagai agenda politik bangsa ini yang digelar bersamaan di Gedung DPR/MPR. &lt;b&gt;(Kurniawan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BOKS
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Pekerjaan Rumah Buat Tuan Rumah&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kongres telah usai, namun tuan rumahnya, Pusat Bahasa, masih punya banyak pekerjaan rumah. Enam halaman Putusan Kongres BI VII ditambah berbagai masukan dan perubahan dari peserta pada sidang terakhir kongres akan dibawa pulang Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Hasan Alwi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''BI itu masih dalam tahap formasi,'' kata Dirjen Kebudayaan Edi Sedyawati kepada ADIL seusai penutupan kongres. Karena itulah menurutnya usaha pembakuan dan penguatannya masih perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dan bertahap. Dia membandingkannya dengan bahasa Sansekerta. ''Itu bahasa yang betul-betul rekayasa, tapi kan terbukti begitu komperhensifnya sistematika kaidah-kaidah kebahasaannya sehingga dia menjadi bahasa yang tingkat intelektualnya begitu tinggi,'' katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun menurutnya reformasi yang perlu justru dalam sikap menangani permasalahan bahasa, yakni dengan perlunya pemberian keluangan untuk berkembangnya variasi bahasa. ''Jadi kita tak boleh bersikap terlalu liberal, namun di sisi lain ragam bahasa boleh macam-macam tergantung tempat dan waktunya,'' tuturnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain masalah formasi BI, pe-er lain buat Pusat Bahasa adalah hutang-hutang Kongres BI VI yang belum dilaksanakan. Salah satu hutang itu adalah soal Undang-Undang Kebahasaan. ''UU Kebahasaan sejauh ini masih merupakan persiapan,'' kata Hasan Alwi. ''Karena ada pandangan waktu itu bahwa yang penting bukan soal UU tapi memberikan himbauan agar para pemakai bahasa sadar perbedaaan kedudukan, tugas dan fungsi, serta peran BI, bahasa daerah, dan bahasa asing,'' lanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasan berargumen bahwa seringkali masalah bahasa ini dikaitkan dengan masalah budaya. ''Logikanya, kalau induknya saja belum punya UU, artinya belum ada UU Tentang Kebudayaan, tidak mungkin UU Kebahasaan mendahului,'' jelasnya. Sejauh ini sedang disusun konsep yang dari isinya tampaknya akan menjadi salah satu bab dari isi Rencana UU Kebudayaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang baru dari kongres kali ini adalah adanya rekomendasi untuk membentuk suatu Badan Pertimbangan Bahasa (BPB). Dalam Putusan Kongres ada dua ketentuan tentang badan ini. Pertama, keanggotaannya terdiri dari tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra. Kedua, Tugasnya ialah memberikan nasehat, diminta atau tidak, kepada Pusat Bahasa serta mengupayakan peningkatan status kelembagaan Pusat Bahasa. &lt;b&gt;(Kurniawan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-8449172559692803800?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WuL4WnbGgTPjg5WPPSHAWIkrn-w/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WuL4WnbGgTPjg5WPPSHAWIkrn-w/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WuL4WnbGgTPjg5WPPSHAWIkrn-w/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WuL4WnbGgTPjg5WPPSHAWIkrn-w/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=0R6VR1i-Fhw:FpT73008L5I:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=0R6VR1i-Fhw:FpT73008L5I:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=0R6VR1i-Fhw:FpT73008L5I:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=0R6VR1i-Fhw:FpT73008L5I:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/0R6VR1i-Fhw" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-07-30T16:19:21.283+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/08/bahasa-indonesia-politik-bahasa-untuk.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mbah Surip, I Love U Full...</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/7ARjo81a-oI/mbah-surip-i-love-u-full.html</link><category>Music</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Wed, 05 Aug 2009 01:27:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-6893554367952852322</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/mbah.surip/selusur_files/img01.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="139" src="http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/mbah.surip/selusur_files/img01.jpg" width="200" alt="Foto Tempointeraktif.com" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Mbah Surip, alias Urip Ariyanto, meninggal dunia tepat di puncak karir musiknya. Dia meninggal Selasa lalu ketika lagu "Tak Gendong" yang didagangkan sebagai nada sambung pribadi (ring back tone) mencatat rekor dengan melewati angka Rp 2 miliar. Mengapa penyanyi dengan musikalitas pas-pasan ini begitu meroket namanya tiba-tiba? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca laporan khususnya di &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/mbah.surip/"&gt;Tempointeraktif&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-6893554367952852322?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JvL_ZvLHuegEoB6Q487x9t88atQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JvL_ZvLHuegEoB6Q487x9t88atQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JvL_ZvLHuegEoB6Q487x9t88atQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JvL_ZvLHuegEoB6Q487x9t88atQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=7ARjo81a-oI:bumGbcKJWzA:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=7ARjo81a-oI:bumGbcKJWzA:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=7ARjo81a-oI:bumGbcKJWzA:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=7ARjo81a-oI:bumGbcKJWzA:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/7ARjo81a-oI" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-08-05T15:33:08.084+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/08/mbah-surip-i-love-u-full.html</feedburner:origLink></item><item><title>Tanpa Nasib oleh Imre Kertész</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/6li0CwSgT0M/tanpa-nasib-oleh-imre-kert.html</link><category>International</category><category>Literature</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Wed, 05 Aug 2009 01:13:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-8048763559812086059</guid><description>(&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, Minggu, 02 Maret 2003)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggalan dari novel &lt;i&gt;Fateless&lt;/i&gt; (Illinois: Northwestern UP, 1992, hlm183-191) karya Imre Kertész, pemenang Nobel Sastra 2002.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----------------
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SETELAH beberapa langkah maju ke depan, tampak bangunan yang sangat kukenal. Di situ kami tinggal. Masih berdiri utuh seluruhnya dalam bentuk yang bagus. Begitu melewati gerbang depan, aroma lama itu tak berubah. Lift ringkih dengan pintu berkisi-kisi dan bekas jejak kaki kekuningan menyambutku. Berjalan sedikit ke atas sempat kubalas sapa seorang penghuni apartemen yang sedang turun. Itu kebiasaan bertetangga yang menghangatkan. Sampai di lantai tempat tinggal kami, aku pencet bel. Cepat sekali pintu itu dibuka tapi hanya sedikit, terganjal oleh kunci rantai. Itu agak mengherankanku. Seingatku dulu tak ada rantai pencegah di pintu. Wajah tak kukenal muncul di celah itu. Seorang perempuan dengan tulang pipi menonjol, kuning, setengah baya, menatapku. Ia tanya aku cari siapa, dan kujawab, "Aku tinggal di sini." "Tidak mungkin," jawabnya, "kamilah yang tinggal di sini." Dia sudah hampir menutup pintu tapi tak bisa, karena kutahan dengan kakiku. Kucoba menjelaskan padanya, "Pasti ada salah pengertian. Terakhir kali dulu saya pergi meninggalkan tempat ini, dan saya yakin kami sungguh-sungguh tinggal di sini." Dia sebaliknya terus mendesak bahwa justru akulah yang keliru. Sebab, sudah sangat jelas mereka memang tinggal di situ. Dengan gerak kepala yang sopan dan simpatik, melembutkan otot muka, ia berusaha menutup pintu. Aku masih berusaha mencegahnya. Lalu, aku coba melongok nomor rumah untuk memastikan bahwa memang bukan aku yang keliru. Tapi, dia berhasil menutup pintu. Pasti kakiku tadi terselip lepas dari celah itu. Ia menutup pintu dengan keras dan menguncinya dua kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
AKU kembali ke tangga, perhatianku terserap pada pintu rumah yang kukenal betul bentuknya. Kupencet bel. Perempuan gemuk, berdaging, muncul. Ia juga hendak menutup pintu-aku mulai terbiasa dengan perlakuan seperti ini-tapi sepasang kacamata membersit dan wajah kelabu Paman Fleischmann muncul dari temaram. Di sampingnya berdiri laki-laki tua perut buncit, dengan sandal kain, jenggotnya merah lebat, potongan rambut kekanakan dan cerutu padam menggantung di bibirnya. Ini Tuan Steiner tua yang dulu datang persis ketika aku hendak meninggalkan rumah pada malam terakhir sebelum hari aku diangkut dari kantor pabean. Mereka berdiri memelototiku, lalu mengujarkan namaku. Dan, Tuan Steiner tua itu memelukku, sementara aku masih mengenakan topi, baju narapidana bergaris-garis, dan tubuhku berkeringat. Mereka menarikku masuk ruang tamu, dan Bibi Fleischmann buru-buru ke dapur menyiapkan "segigit makanan", begitu katanya. Aku harus menjawab pertanyaan yang itu itu juga: dari mana, bagaimana, kapan. Lalu, aku bertanya dan kudengarkan jawaban mereka, orang lain sekarang memang sudah menempati apartemen kami. "Lalu kami sendiri, bagaimana?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena mereka tampak sulit menjawab, aku tanyakan lagi, "Ayahku?" Tanggapannya, semua diam. Sejurus kemudian sebuah tangan—-aku yakin ini pasti tangan Paman Steiner—- pelan-pelan terangkat dan seperti seekor kelelawar hinggap pelan-pelan di lenganku. Aku hanya ingat mereka mengatakan bahwa "kebenaran kabar sedih itu, sayangnya, tidak dapat diragukan", karena didasarkan "pada kesaksian seorang mantan narapidana." Menurutnya ayah telah meninggal "setelah sejurus waktu derita yang sebentar saja" di sebuah kam Jerman, meski terletak di wilayah Austria. Apa nama kam itu? Manthaussen? Bukan, Mauthaussen. Mereka tampak senang bisa mengingat nama itu, tapi kemudian berubah serius lagi. Ya, begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, kutanyakan tentang ibuku. Apa mereka tahu kabarnya? Mereka serentak menjawab ya, memang mereka punya suatu kabar baik. Dia hidup, dia sehat, beberapa bulan yang lalu dia datang ke sini, dan bahwa mereka telah berbicara dengannya. "Lalu ibu tiriku?" kutanya dan jawabnya, "Dia sudah kawin lagi." Dengan siapa? Salah satu menjawab, "Kovacs, kukira." Yang lain, "Bukan, bukan Kovacs. Tapi Futo. Maksudku Suto." Lalu, mereka mengangguk-angguk senang. Ya, tentu, begitulah yang terjadi: Suto tak berubah seperti yang sudah-sudah. Ibumu harus banyak berterima kasih padanya, "sebenarnya dalam segala hal", itu kata mereka padaku. Suto adalah orang yang "menyelamatkan keberuntungan keluarga." Ia menyembunyikan ibumu "selama masa yang paling sulit". Begitu rupanya mereka memahami masalah. "Tapi, barangkali," Paman Fleischmann merenung, "ia agak terlalu cepat." Dan, Tuan Steiner tua setuju. "Tapi, kalau kita timbang-timbang seluruhnya," Tuan Steiner menambahkan, "semuanya dapat dipahami," dan Tuan Steiner tua setuju lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih di situ beberapa saat lagi. Rasanya lama aku duduk di sofa agak tinggi, empuk, warna merah anggur itu. Sementara itu, Bibi Fleischmann muncul lagi dan membawakanku sepotong roti dengan lemak, paprika, dan beberapa irisan tipis bawang merah di atas piring tembikar berhias pinggirnya. Ia katakan, ia ingat makanan ini adalah kesukaanku, dan cepat kutanggapi bahwa aku tetap suka. Ketika aku makan, di antaranya kedua orang tua itu berkata padaku, "Kehidupan di rumah juga tak mudah." Berbagai peristiwa mereka ceriterakan. Tapi, kalau diingat lagi semuanya, aku hanya menangkap lukisan kabur tentang kejadian-kejadian yang membingungkan, mengusik hati. Pada hakikatnya,semua itu tak dapat kulukiskan atau kupahami. Justru sebaliknya, kalau kuperhatikan baik-baik, mereka ternyata mengulang-ulang ungkapan singkat yang hampir-hampir sudah usang dari mulut mereka, setiap kali ada perubahan atau kejadian baru. Misalnya, bintang-bintang kuning itu "akhirnya kejadian", pembebasan "akhirnya terjadi".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perhatikan mereka membuat kesalahan yang terus diulang-ulang. Seolah-olah semua peristiwa itu tak jelas, sulit dibayangkan, hampir-hampir tak dapat direkonstruksikan lagi, atau tak terjadi dalam batas-batas waktu, menit, jam, hari, minggu, dan bulan, tapi, begitulah mereka berujar dan berujar, semuanya seakan-akan terjadi seketika. Barangkali, seperti dalam sekali putaran kejadian kekacauan yang membingungkan, seolah-olah kejadian itu berlangsung begitu saja di suatu pertemuan di sore hari yang aneh dan tiba-tiba secara tak terduga kemudian berubah jadi pahit karena para pesertanya—hanya Tuhan yang tahu, bagaimana persisnya—tiba-tiba kehilangan kepalanya dan akhirnya bahkan mereka tak tahu apa yang mereka lakukan. Pada saat tertentu, kedua orang tua itu terdiam, dan setelah beberapa saat, Tuan Fleischmann tua tiba-tiba bertanya padaku, "Apa rencanamu ke depan?" Aku agak terkejut dan kukatakan padanya aku belum banyak berpikir tentang itu. Kemudian orang tua yang lain memutar posisi duduknya di sofa dan mengarahkan perhatian padaku. Kelelawar itu bangkit lagi dan tampak ringan, kali ini tak hanya di lenganku tapi juga di lututku. "Yang paling penting," katanya, "kamu harus melupakan semua teror itu." Aku bertanya, bahkan agak lebih terheran lagi, "Kenapa begitu?" "Supaya kamu bisa hidup." Dan, Paman Fleischmann mengangguk setuju. Lalu ujarnya, "Dengan beban seberat itu orang tak akan dapat mulai kehidupan baru." Memang harus kubilang, ada benarnya kata-katanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya tak mengerti bagaimana mereka bisa berharap pada sesuatu yang tak mungkin. Kukatakan bahwa apa yang terjadi sungguh-sungguh telah terjadi. Dan, meskipun semua telah berlalu, sulit buatku untuk membuat agar ingatanku tunduk pada perintahku. Aku hanya dapat memulai hidup baru, kataku, seandainya aku dilahirkan lagi atau jika suatu penyakit menyerang atau kecelakaan mencederai otakku. Tentu saja aku tak berharap. Di samping itu, kutambahkan, tak dapat kuingat telah kulihat ada hal-hal yang menakutkan. Tapi, kuperhatikan, mereka jadi agak terheran-heran. Entah bagaimana mereka memahami ungkapanku "tak dapat kuingat telah kulihat". Ganti kutanya mereka, apa yang mereka lakukan selama "masa-masa sulit" itu. "Ya begitulah, kami tetap hidup," salah seorang tua itu merenung. "Kami berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya bisa selamat." Yang lain menyambung. Itu berarti, kataku, bahwa Paman juga menjejak selangkah demi selangkah. Apa itu artinya, mereka balik bertanya. Kemudian kuceriterakan pada mereka bagaimana kam konsentrasi berfungsi, misalnya, yang di Auschwitz. Paman harus membayangkan ada sekitar tiga ribu orang dalam satu kereta api. Mungkin tak selalu begitu dan barangkali tak sepersis itu, karena aku tak tahu secara pasti. Tapi, setidaknya itulah yang menimpaku. Ambil saja misalnya kaum laki-lakinya. Jumlahnya sekitar seribu. Mari kita bayangkan satu atau dua detik dokter membutuhkan waktu untuk memeriksa. Padahal, setiap orang biasanya lebih dari dua detik. Baiklah, tak usah dihitung urutan pertama dan yang terakhir, sebab biasanya mereka memang tak dihitung. Tapi, yang di tengah-tengah, di mana aku berdiri dalam antrean, kami dipaksa menunggu sepuluh sampai dua puluh menit. Lalu, ketika kami sampai pada titik penentuan keputusan, masih tak jelas apakah kami akan langsung dimasukkan kamar gas sekarang juga, atau kami masih dapat waktu penangguhan hukuman mati barang sebentar? Padahal, selama waktu itu antrean terus bergerak, terus maju. Setiap orang melangkah maju, langkah lebar atau langkah pendek semuanya tergantung dari kecepatan operasi itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana hening, hanya disela oleh suara Bibi Fleischmann mengangkat piring kosong dari depanku lalu membawanya pergi. Tak kulihat dia balik. Kedua orang tua itu bertanya, "Apakah semua ini memang baik, dan apa maksudmu mengatakan ini semua?" Aku menjawab, "Tak ada yang istimewa. Tapi mengatakan bahwa semua itu begitu saja terjadi tidaklah seluruhnya tepat," sebab kami menjalaninya selangkah demi selangkah. Hanya sekarang ini semuanya tampak sudah berakhir, tak ada perubahan lagi, final, begitu cepat dan sulit dipercaya, dan begitu kabur, sehingga tampaknya semua terjadi begitu saja. Hanya sekarang, dengan laku surut, kami melihatnya kembali ke belakang. Tentu saja, seandainya kami tahu nasib kami sebelumnya, apa yang dapat kami lakukan hanyalah mengurutkan dan menjalani bagaimana waktu berjalan. Sebuah ciuman perpisahan yang tolol tentu sulit dihindari, misalnya, seperti halnya satu hari tanpa kegiatan di kantor pabean atau di kamar gas itu. Tapi, selama kami memandang ke depan atau ke belakang, kami sama-sama tak bergerak, kataku. Karena nyatanya dua puluh menit pada dasarnya adalah rentang waktu yang cukup panjang. Setiap menit berdetak, berlalu, dan akhirnya berhenti sebelum menit kedua bergerak lanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, kuminta mereka mempertimbangkan hal ini, "Setiap menit sebenarnya dapat menyebabkan timbulnya urusan baru." Memang, tidaklah selalu begitu, tapi harus diakui bahwa tentu saja bisa terjadi. Maka, kalau dilihat secara keseluruhan, sesuatu entah apa pun itu mungkin saja telah terjadi selama menit-menit berlangsung, sesuatu lain yang akhirnya sungguh-sungguh terjadi di Auschwitz, seperti halnya juga di rumah ini, katakanlah begitu, ketika kita semua sedang mengucapkan kata perpisahan pada ayah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kata-kataku yang terakhir, Tuan Steiner tua mulai gerah, berdiri dan bergerak memutar. "Lalu, menurutmu, apa yang seharusnya kita lakukan?" tanyanya, setengah kesal hatinya, setengah mengeluh. Kukatakan padanya, "Tak ada, tentu saja, atau ...," kutambahkan, "sesuatu yang sama-sama tak bermakna seperti halnya kita tak pernah melakukan apa pun. Sudah tentu. Tapi, bukan itu yang penting," aku mencoba menjelaskan. "Lalu apa?" mereka tanya balik, karena mereka juga tampak hilang kesabaran, seperti aku sendiri juga semakin merasa kesal. "Yang paling penting terletak pada langkah-langkah itu sendiri. Setiap orang melangkah maju sejauh dia mampu. Aku pun melangkahkan kakiku—tidak hanya selama berada di antrean di Auschwitz tapi juga sebelumnya ketika aku masih di rumah. Aku bergerak maju bersama dengan ayahku, dengan ibuku, dengan Anne-Marie, dan—barangkali ini yang paling sulit—dengan kakak perempuanku yang paling tua. Sekarang, aku bisa bilang kepadanya, apa artinya jadi "orang Yahudi". Sebelumnya itu tak berarti apa-apa sebelum langkah-langkah itu mulai dijejakkan. Sekarang, tak ada darah lain, dan memang tak ada apa-apa sama sekali, kecuali ...," di sini aku macet bicara, tapi kemudian aku ingat kata-kata wartawan itu, "kecuali situasi yang ada dan apa pun yang ada bersamaan dengan semua itu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga menghidupi nasib yang menimpaku. Sebetulnya itu bukan nasibku, tapi akulah yang menghayati nasib itu sampai akhir. Aku sungguh-sunguh tak mengerti mengapa sulit sekali membuat kedua orang tua itu mengerti. Kupikir, lebih baik aku pergi dan melakukan sesuatu, sementara sekarang aku tak dapat memuaskan diri dengan mengandaikan bahwa semuanya adalah kesalahan, penyimpangan, sejenis kecelakaan atau bahwa semua itu tak pernah terjadi, entah bagaimanapun caranya. Dapat kulihat, dapat kulihat dengan jelas bahwa mereka tak memahamiku dan malah mereka tidak suka dengan kata-kataku. Bahkan, beberapa kataku membuat hati mereka kesal. Kuperhatikan beberapa kali Paman Steiner sudah hendak menyela bicaraku. Ia ingin melompat bangkit. Dan, juga kuperhatikan orang tua yang lain menahannya, dan kudengar apa yang diucapkannya, "Biar saja. Apakah tak kaulihat bahwa dia hanya ingin berbicara? Biarkan dia berbicara. Biarkan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, memang aku berbicara, barangkali sia-sia dan sulit dipahami. Aku pun masih ingin menyampaikan sesuatu pada mereka, "Kita tidak akan pernah dapat memulai suatu hidup baru. Kita hanya dapat melanjutkan hidup kita yang lama. Aku menjangkahkan langkah hidupku sendiri. Itu tak akan dapat dilakukan oleh orang lain. Dan, pada akhirnya aku tetap jujur terhadap nasib yang digariskan untukku. Satu-satunya keburukan atau keindahan, barangkali dapat kukatakan, satu-satunya ketidaktepatan, yang dapat dituduhkan kepadaku oleh siapa pun adalah bahwa kita sekarang ini saling berbicara. Tapi, jelas bukan itu yang kukerjakan. Apakah Paman berdua ingin semua kekerasan yang menakutkan itu dan semua langkahku sebelum ini kemudian hilang maknanya sama sekali begitu saja? Mengapa harus ada perubahan sikap ini, mengapa kita harus melawannya? Mengapa tidak bisa Paman sadari bahwa jika ada suatu hal yang disebut nasib, sebagai akibatnya tak akan ada kebebasan? Di sisi lain, jika ...," terus kulanjutkan, aku semakin heran juga pada diriku sendiri, dan semakin merasa kesal, "jika di sisi lain tak ada kebebasan, maka tak akan ada nasib." Tiba-tiba aku jadi memahaminya dengan begitu jelas, sesuatu yang tak pernah kusadari sebelumnya. Aku menyesal mengapa hanya bertemu dengan kedua orang ini dan bukan dengan seseorang yang lebih pintar, katakanlah, lawan bicara yang lebih layak. Tapi, hanya merekalah yang ada di sini, saat ini, dan bagaimana pun mereka adalah orang-orang yang waktu itu berada di sini pula ketika kami semua menyampaikan kata perpisahan dengan ayah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka pun sudah melangkahkan kaki dalam hidup. Mereka juga menyadarinya. Mereka sudah tahu itu sebelumnya. Mereka juga menyampaikan ucapan perpisahan pada ayah seolah-olah kami sudah harus buru-buru keluar rumah. Lalu, mereka ganti bahan pembicaraan. Sekarang, mereka membicarakan apakah aku harus naik tram atau bus untuk menuju ke Auschwitz. Saat itulah Paman Steiner dan juga Paman Fleischmann melompat bangkit dari tempat duduknya. Paman Fleischmann mencoba mencegah Paman Steiner, tapi sudah tak mungkin lagi. "Apa?" ia berteriak padaku, mukanya merah dan memukulkan kepalan tangannya ke dada. "Apa? Apakah sekarang justru kami yang salah-kami para korban ini?" Aku berupaya menjelaskan, "Ini bukan berarti dosa. Dengan rendah hati kita wajib mengakuinya demi kehormatan kita, begitu mungkin bisa dikatakan." Mereka mencoba mengerti bahwa mereka tak bisa mengambil semuanya dariku. Perkaranya pasti bukan apakah aku ini korban ataukah orang yang kalah, bahwa aku tak dapat dibenarkan dan tidak dapat bersalah, bahwa aku ini bukanlah sebab atau akibat dari suatu tindakan tertentu, apa pun itu wujudnya. Aku hampir-hampir meminta-minta mereka untuk memahami hal ini. Aku tak mampu menelan begitu saja kepahitan tolol ini hanya karena ingin dipandang tidak bersalah. Kulihat mereka tak mau mengerti apa pun. Begitulah, lalu segera kuambil topi dan tasku dan pergi dari situ, sementara masih ada kata-kata yang menggantung dan kalimat-kalimat yang tak selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Turun dari tangga, jalanan menyambutku. Aku harus naik kendaraan umum untuk menuju ke ibu. Tapi, kemudian aku ingat. Tentu saja, aku tak punya uang, lalu kuputuskan untuk jalan kaki. Namun, untuk mendapatkan kekuatan, aku berhenti istirahat sebentar di alun-alun lama di bangku yang sama seperti dulu. Di sana, menghadap ke depan, ke arah aku hendak pergi, jalan tampak melebar, memanjang dan hilang di kejauhan, bukit-bukit kebiruan dimahkotai awan kemerahan, dan langit bersaput jingga. Di sekelilingku, rasanya sesuatu sedang berubah. Lalu lintas lebih sepi, langkah orang lalu lalang tampak lebih tenang, suara mereka lebih rendah, ekspresi wajah mereka lebih lembut. Wajah mereka tampak seolah-olah tertukar satu sama lain. Ini adalah saat-saat yang paling istimewa—aku ingat benar sekarang, dan aku merasakannya di sini—ini saat-saat favoritku selama dalam kam, dan muncul keinginan yang pasti jadi sia-sia, menyakitkan dan memang tajam menusuk ke dalam dada: aku rindu rumah. Mendadak semuanya jadi hidup, semuanya kembali lagi, semuanya menggenangi kesadaranku. Aku kaget dengan perasaan yang aneh ini, bergetar rasaku mengingat kenangan sampai ke perkara-perkara kecil. Ya, benar, dalam arti tertentu, hidup jadi lebih murni, lebih sederhana, berada di situ. Aku jadi ingat semuanya, satu demi satu, ahwal dan orang, bahkan mereka yang tak menarik perhatianku, tetapi terutama mereka yang keberadaannya dapat kunilai saat ini: Pjetyka, Bohus, dokter itu, dan semua yang lain. Dan, untuk pertama kalinya sekarang aku berpikir tentang mereka dengan sedikit sesal sekaligus rasa sayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, tak perlulah melebih-lebihkan persoalan, karena kesulitan yang kuhadapi sekarang persis ada di hadapanku: bahwa aku berada di sini, dan aku tahu sepenuhnya bahwa aku harus membayar harga mengapa aku diizinkan hidup. Ya, ketika kurasakan petang yang lembut di alun-alun ini, di atas jalan yang sudah diempas badai, tapi sekaligus penuh seribu janji, rasa siapku sedang tumbuh, mulai bertumpuk dalam diri. Aku harus melanjutkan hidup yang tak dapat lagi kulanjutkan ini. Ibu menantikanku. Tentu ia akan bahagia melihatku. Kasihan dia. Aku ingat bagaimana dia dulu ingin aku jadi insinyur atau dokter atau sesuatu seperti itu. Tentu saja itu yang diinginkannya. Tak ada kemustahilan yang tak dapat ditembus (lolos selamat?), tentu saja, dan semakin turun ke jalan, sekarang aku tahu, kebahagiaan menantikanku seperti perangkap yang menjebak. Juga di belakang sana, di bawah bayang cerobong-cerobong pembakaran itu, ketika sebentar saja rasa sakit itu berhenti menusuk, ada sesuatu yang mirip dengan yang disebut kebahagiaan. Setiap orang akan bertanya padaku tentang penderitaan, "teror dari kam-kam konsentrasi", tapi bagiku, kebahagiaan justru selalu jadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Barangkali. Ya, itu yang akan kuceriterakan pada mereka, nanti kalau mereka bertanya padaku: kebahagiaan di kam-kam pembantaian itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika memang mereka sampai hati bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jika aku belum lupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------------------------------
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diterjemahkan oleh PRASETYOHADI)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imre Kertész lahir di Bupadest, Hungaria, 1929. Sebagai orang Yahudi, peraih hadiah Nobel Sastra 2002 ini dideportasi ke Auschwitz (Polandia) dan Buchenwald (Jerman), 1944. Novelnya &lt;i&gt;Fiasco&lt;/i&gt; (1988) dan novel &lt;i&gt;Kaddish for a Child not Born&lt;/i&gt; (1997) umumnya dipandang sebagai trilogi bersama dengan novelnya yang pertama &lt;i&gt;Fateless&lt;/i&gt; yang sebagian diterjemahkan di atas (Illinois: Northwestern UP, 1992, hlm183-191).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CATATAN:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Bintang segi tiga sama sisi bertumpuk warna kuning, bintang Nabi Dawud, menjadi lambang pengejaran dan pembunuhan terhadap orang Yahudi di Jerman. Setelah Perang Dunia II mulai, para penguasa fasis memaksakan penyematan lencana Bintang Kuning pada lengan kanan orang Yahudi, mulai yang berumur 10 tahun, yang sedianya hendak dipekerjakan secara paksa atau dibunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tanggal itu warga Yahudi Jerman dan Austria mulai dideportasikan ke dalam berbagai ghetto di Eropa Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Panah Bersilang adalah lambang partai fasis Hungaria yang melaksanakan keputusan Nazi Jerman melakukan holocaust.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Catatan sejarah menyebutkan, Januari 1942, polisi Hungaria membantai sekitar 3.500 orang; 800-an di antaranya orang Yahudi. Mereka membuang ribuan mayat begitu saja di sungai Danube di bagian Hungaria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-8048763559812086059?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rYtiAIJtfgmSY-639qeD_oiP1WQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rYtiAIJtfgmSY-639qeD_oiP1WQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rYtiAIJtfgmSY-639qeD_oiP1WQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rYtiAIJtfgmSY-639qeD_oiP1WQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=6li0CwSgT0M:iG28q8QVT9w:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=6li0CwSgT0M:iG28q8QVT9w:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=6li0CwSgT0M:iG28q8QVT9w:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=6li0CwSgT0M:iG28q8QVT9w:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/6li0CwSgT0M" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-07-30T16:20:01.013+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/08/tanpa-nasib-oleh-imre-kert.html</feedburner:origLink></item><item><title>Paku Kuntilanak Porno?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/ORGSexBFsJo/paku-kuntilanak-porno.html</link><category>Film</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Tue, 04 Aug 2009 04:19:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-8706496643278729968</guid><description>&lt;object width="280" height="170"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/rXygXO8Ags4&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/rXygXO8Ags4&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="280" height="170"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganggap &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paku_Kuntilanak"&gt;&lt;i&gt;Paku Kuntilanak&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;, film horor yang dibintangi Dewi Persik, sebagai film semiporno dan menuntut kepada pemerintah supaya menarik peredaran film yang diproduksi Maxima tersebut. "Film itu sudah keterlaluan," ujar Said Budairy, pengurus MUI.
&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Saya belum pernah menonton film itu. Jadi tidak bisa mengomentarinya. Anda sudah?
&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Beritanya di &lt;a href="http://movie.detikhot.com/read/2009/08/04/174543/1177383/229/mui-tuntut-film-panas-dewi-persik-turun-layar"&gt;Detikcom&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-8706496643278729968?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YPciRxoBLz5uCXvV6WwmiDdmtm0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YPciRxoBLz5uCXvV6WwmiDdmtm0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YPciRxoBLz5uCXvV6WwmiDdmtm0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YPciRxoBLz5uCXvV6WwmiDdmtm0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=ORGSexBFsJo:rVr20rHbAiA:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=ORGSexBFsJo:rVr20rHbAiA:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=ORGSexBFsJo:rVr20rHbAiA:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=ORGSexBFsJo:rVr20rHbAiA:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/ORGSexBFsJo" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-08-04T18:21:53.985+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/08/paku-kuntilanak-porno.html</feedburner:origLink></item><item><title>Ayatollah Khamenei Endorses Vote to President-elect</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/DavvLACZwQ8/ayatollah-khamenei-endorses-vote-to.html</link><category>International</category><category>Politic</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Tue, 04 Aug 2009 00:03:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-4371374438634409530</guid><description>"In the Name of God, the Merciful, the Compassionate&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thank God Who once more made Iran honored and helped our smart people to create one more endurable epic. June 12, 2009 became a golden page in the book of Iran's destiny line by line of which written by the grand will and firm resolve of our people and safeguarded by their vigilance and perseverance.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
The 85 percent turnout in the latest ballot is a clear proof to a feeling of attachment and zeal that this historical and honored nation keeps for its 3-decade-old legacy as well as a hope it keeps for the grandeur of the legacy and its improvement.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
These are due to the blessing and favor of the all-knowing and all-powerful God Whom must be cherished by this meager servant as well as all remembering and modest hearts and to Whom we must rub our forehead of gratitude.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The decisive and unprecedented vote of the people to the respected president-elect is a vote to the traits which helped adorn the four-year record of the ninth government, standing as a proof to the direction of majority of the nation.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This vote is a vote to the blessed and dignified discourse of Islamic Revolution; a vote to anti-arrogance combat and a vote to brave perseverance against the international domineering powers; a vote to combat against poverty, corruption and discrimination and a vote to fight against aristocracy; a vote to modest lifestyle, closeness to people and sympathy with the poor and the underprivileged; and finally a vote to untiring work and efforts.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
These are the significant parts of the claims of the Iranian nation from its elected people. The nation pins hope in those who have the same inclination and brings them to office using the privilege of freedom gifted to them by the Islamic Revolution.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
On the eve of the auspicious birth anniversary pf the savior of mankind, Vali-Allah A'zam, may God hasten his reappearance, I mark this Eid and congratulate Dr. Ahmadinejad on his reelection in the tenth presidential elections and follow the great Iranian nation in endorsing the vote to the brave, hard-working and prudent man.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I pray God to bestow him and his colleagues the opportunity to serve people, strive for the grandeur of the word of Islam, produce great and endurable moves which the dear nation and country deserves, and push for progress and justice.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indeed, the vote of people and my endorsement will last until the time he keeps this sound track.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In the end, I commemorate the name and memory of the honored Imam and the lofty martyrs to whom the nation owes its great accomplishments. I ask God to promote their immaculate souls and their heavenly ranks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And peace be upon the devout servants of Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayyed Ali Khamenei&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei then made a speech, calling religious democracy a unique and thought-provoking phenomenon which can cater to the current needs of the human community.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei reminded the non-presence of people in political fields during the Pahlavi regime and the ironical cooperation of the so-called advocates of human rights with the regime, adding that under the auspicious of the nation's revolution and submission to the divine statute, a single reality was formed called Islamic Republic.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei called the discussion on which of republic or Islamic must be prioritized as a meaningless topic, adding that the two are two inseparable elements as reliance on public vote lies in the heart of divine statute.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei said the ups and downs of the past thirty years have proved the efficiency of the Islamic Republic, adding that the electoral process during the past decades signifies a large capacity which most observers outside the association have been unable to understand.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei said the religious democracy and the intrinsic composition of Islam and republicanism in the association was the key to its endurance and invulnerability, adding that by the favor of God and vigilance of people and authorities, the securing reality will survive.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei then pointed to some significant lessons of the blessed elections, saying that in the first step, the elections proved how robust the Islamic Republic is in attracting public trust and mobilizing the masses.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Some waited for the system in the early post-revolutionary years to fall from the public attention however the recent elections which broke international electoral records showed that the Islamic System after 30 years even has become more powerful and successful in attracting public trust.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The IR Leader said the second lesson of the elections was the existence of a mutual trust between the system and the public, adding that the open political field for different affiliations shows the trust of the system in itself and the nation.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"The people for their part trusted the system and proved their interest in their elected system. The reality shows that those who speak of a public mistrust are ignorant, unless ill-wisher," the IR Leader said.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei noted that the trust of people was the capital of the system and seriously urged all authorities to progressively promote the trust by their word and deed.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei as a third lesson of the elections pointed to an existence of hope and vivacity in people.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"A hopeless heart never takes the field of elections. The vivacious presence of the youths and other strata shows a social hope in the prospects," Ayatollah Khamenei said.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei then cautioned the people and the authorities to take heed of the warning that the enemy is always lurking and any negligence about its blows proves dangerous even amid best conditions in society..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei said the claim that enemy tries to produce nerve-wracking issues for people was based on genuine information at hand, adding that if people in society look at each other as enemies and fail to keep thought and prudence, they will suffer blows from real enemies.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The IR Leader then urged the enemies to pick experiences from the recent developments, urging them to realize what a people and system they face and to abandon the thought they could bring the nation to knee through lowly decision.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei warned the enemies to quit the perceptions that they could deal a blow to the Islamic System through a faulty, cartoon-like imitation of the auspicious 1979 revolution as the system is more deep-rooted than suffering a blow due to such moves.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei added that by a faulty imitation of Imam Khomeini, the Great, who was imbued with Koranic teachings, no one could deceive people because the nation has its heart illuminant with the light of faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei then said the great Iranian nation has passed the divine test of elections, adding that many of the youths and elites out of responsibility and faith took to the ballot and then bowed to the Constitution during the ensuing electoral process. "They passed the great test."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei said however that some of the elites failed the test and that some of the youths who had sincerely entered the field, went wrong at some points.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei said the president-elect was in a test regarding the great blessing of public presence and that the test could be passed by practically cherishing the presence.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"The respected president who has been elected with a high and rare percent of votes as well as his colleagues in the next cabinet are expected to cherish Islam and faith of nation and employ all their efforts to serve the people and the revolutionary goals," he added.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei then instructed the next administration to strictly follow the Constitution and deal with national affairs based on due planning.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei said the president and the tenth administration were owned by all those who cast ballots in the June 12 elections, adding that the reality must be heeded in every planning for the country.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The IR Leader said parallel to the large group of advocates of the president, there are also two other groups who must be taken into account; one the angry and wounded opponents who will continue to oppose the administration in the next four years and the other the critics who have no enmity towards the system and the president and must be consulted in all affairs. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei then said that supports must be delivered to those who have incurred damages to their reputation or financial affairs or otherwise have lost a beloved, adding that anyone behind the damages and losses must be identified and taken to task.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayatollah Khamenei concluded his remarks by pointing to ample natural, material and human resources within the dear Iran, saying that there are many problems which must be resolved with continuous efforts of the president and his colleagues as well as the help of elites with different tastes, even the critics of the administration.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source: &lt;a href="http://www.leader.ir/"&gt;www.leader.ir&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-4371374438634409530?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kixM4aDzsgBeK44mYUgWeJEtGfQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kixM4aDzsgBeK44mYUgWeJEtGfQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kixM4aDzsgBeK44mYUgWeJEtGfQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kixM4aDzsgBeK44mYUgWeJEtGfQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=DavvLACZwQ8:Rs8gAYafotU:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=DavvLACZwQ8:Rs8gAYafotU:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=DavvLACZwQ8:Rs8gAYafotU:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=DavvLACZwQ8:Rs8gAYafotU:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/DavvLACZwQ8" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-07-30T16:20:29.605+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/08/ayatollah-khamenei-endorses-vote-to.html</feedburner:origLink></item><item><title>Di Hadapan Hukum oleh Franz Kafka</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/UVax-HiUe1I/di-hadapan-hukum-oleh-franz-kafka.html</link><category>My Writing</category><category>International</category><category>Literature</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Fri, 31 Jul 2009 04:54:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-4416750973560653530</guid><description>&lt;B&gt;&lt;FONT SIZE="+7"&gt;D&lt;/FONT&gt;I HADAPAN&lt;/B&gt; berdiri seorang penjaga pintu. Kepada penjaga ini datanglah seorang lelaki dari dusun dan berdoa meminta ijin masuk ke dalam Hukum. Tapi penjaga pintu itu mengatakan bahwa dia tak bisa memberikan izin masuk saat itu. Lelaki itu mengira Hukum sudah tutup dan bertanya apakah dia akan diizinkan masuk nanti. "Mungkin saja," jawab sang penjaga, "tapi tidak saat ini." Ketika pintu terbuka, seperti biasa, penjaga itu melangkah ke satu sisinya, lelaki dusun itu lalu membungkuk untuk mengintip ke dalam melalui pintunya. Mengetahui hal ini, si penjaga tertawa dan berkata: "Jika kau begitu tertarik padanya, coba saja masuk meskipun aku larang. Tapi ingatlah: Aku sangat kuat. Dan aku hanyalah satu saja dari banyak penjaga. Dari ruang ke ruang ada seorang penjaga di setiap pintunya, setiap penjaga lebih kuat dari penjaga sebelumnya. Penjaga ketiga begitu mengerikannya sehingga aku sendiri tak mampu melihatnya." Kesulitan-kesulitan ini tidaklah diharapkan oleh lelaki dari dusun itu. Hukum, menurutnya, seharusnya benar-benar bisa dicapai setiap waktu dan oleh setiap orang. Tapi kini ketika dia memperhatikan lebih teliti penjaga pintu itu, pada jubah bulu binatangnya, hidungnya yang besar, panjang, dan tajam, dan jenggot Tartar hitamnya yang jarang-jarang, dia memutuskan bahwa lebih baik menunggu saja sampai dia diizinkan masuk. Penjaga itu memberinya sebuah bangku dan membiarkannya duduk di satu sisi dari pintu itu. Dia duduk di sana berhari-hari dan bertahun-tahun. Dia berusaha dengan berbagai cara agar diizinkan masuk dan mengiba-iba tanpa kenal lelah kepada penjaga itu. Penjaga itu sering bercakap-cakap dengannya, bertanya tentang rumahnya dan tetek bengek lainnya, tapi pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dengan acuh tak acuh, seperti para bangsawan besar bertanya, dan selalu berakhir dengan pernyataan bahwa penjaga itu tak membolehkannya masuk. Lelaki itu, yang membekali dirinya dengan banyak barang untuk perjalanan ini, mengorbankan segala yang dimilikinya, meski sangat berharga sekali pun, untuk menyogok penjaga itu. Penjaga itu menerima apa saja tapi selalu dengan balasan: "Aku hanya mengambilnya supaya kamu berpikir bahwa kamu telah menghilangkannya." Selama bertahun-tahun lelaki itu menyogok penjaga itu hampir tanpa berhenti. Dia lupa bahwa masih ada penjaga-penjaga lain dan yang pertama ini tampak baginya sebagai satu-satunya penghalang memasuki Hukum. Sejak awal dia mengutuk penjaga itu agar mendapat kemalangan dengan berani dan keras; kemudian, ketika dia bertambah tua, dia hanya bisa menggerutu di dalam hati. Dia menjadi kekanak-kanakan, dan sejak masa yang lama dia memperhatikan si penjaga dia bahkan bisa mengenali kutu-kutu di jubah bulunya dan meminta kutu-kutu itu menolongnya untuk mengubah pendirian sang penjaga pintu. Lama-lama pandangan matanya mulai kabur, dan dia tak tahu lagi apakah dunia ini sungguh-sungguh lebih kelam ataukah matanya hanya menipu dirinya. Maka dalam kegelapan dia sekarang menyadari adanya sebuah cahaya yang memberkas tanpa pernah padam dari gerbang Hukum itu. Sekarang hidupnya tak akan bertahan lama. Sebelum dia mati, semua pengalamannya selama bertahun-tahun ini menggumpal di kepalanya menuju satu titik, sebuah pertanyaan yang dia belum ajukan kepada penjaga itu. Dia melambaikan tangan meminta penjaga itu mendekat karena dia tak lagi mampu mengangkat tubuh kakunya. Penjaga itu harus membungkuk padanya karena perbedaan tinggi di antara mereka telah membuat banyak kemalangan kepada lelaki itu. "Apa yang ingin kau ketahui sekarang?" tanya penjaga itu, "kau tak pernah puas tampaknya." "Setiap orang berjuang untuk mencapai Hukum," kata lelaki itu, "maka bagaimana mungkin bisa terjadi selama bertahun-tahun ini tak ada seorang pun kecuali diriku yang pernah meminta izin masuk?" Penjaga itu paham bahwa lelaki itu telah mencapai titik akhirnya, dan, untuk membiarkan perasaan kalahnya itu bisa memahami kata-katanya, dia berteriak di telinganya: "Tak ada orang lain yang mungkin diizinkan masuk ke sini karena pintu ini dibikin hanya untukmu. Sekarang aku harus menutupnya."
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
---- &lt;br /&gt;Diterjemahkan oleh Kurniawan dari "Before the Law" dalam Franz Kafka, &lt;i&gt;Parables and Paradoxes&lt;/i&gt; (Schocken Books, 1958).
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-4416750973560653530?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QJFRZh0SAqR9VgMrXtm3h351Mvc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QJFRZh0SAqR9VgMrXtm3h351Mvc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QJFRZh0SAqR9VgMrXtm3h351Mvc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QJFRZh0SAqR9VgMrXtm3h351Mvc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=UVax-HiUe1I:Uu4HcOYlidc:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=UVax-HiUe1I:Uu4HcOYlidc:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=UVax-HiUe1I:Uu4HcOYlidc:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=UVax-HiUe1I:Uu4HcOYlidc:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/UVax-HiUe1I" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-08-04T19:29:33.489+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/07/di-hadapan-hukum-oleh-franz-kafka.html</feedburner:origLink></item><item><title>Senja Ungu</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/UCBtDQ5bcRk/senja-ungu.html</link><category>Literature</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Thu, 30 Jul 2009 06:45:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-8052979834276511124</guid><description>Oleh &lt;a href="mailto:aandri@indonet.com"&gt;Aulia Andri&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat beramplop putih agak kekuningan itu diantar bersama dengan setumpuk surat-surat lainnya. Terselip, terhimpit surat-surat dinas untuk pak Lurah. Pasti tak ada yang istimewa dari surat itu. Lihatlah warna amplopnya yang putih sudah agak kekuningan. Pasti surat itu sudah terlampau lama ditumpuk di kantor pos. Juga prangko yang tertempel di sudut kanannya, sudah hampir terkelupas dan fashionable. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari tangan hansip kelurahan yang menerima setumpuk surat yang didalamnya ada surat beramplop putih agak kekuningan itu, lalu  jatuh kepada sekretaris kelurahan. Wanita muda dan cantik dengan seragam pegawai negeri itu lantas memeriksa satu per satu surat-surat. Memisahkannya menurut penting atau tidaknya surat-surat itu untuk segera diketahui pak Lurah. Tangannya begitu cekatan, "Dari Parmin di Desa Timbul," bibirnya bergumam pelan. Wuzzz.. Surat itu melayang ke keranjang sampah di dekat kakinya, bersama surat-surat lain yang sudah terlebih dahulu mendiaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dari...???" Wanita itu membalik-balik surat beramplop putih agak kekuningan yang kini ada ditangannya. Matanya mencari ke setiap sudut amplop merek AA itu. Penasaran dia mencari sesuatu di amplop itu. Dibolak-baliknya surat itu beberapa kali tetapi tak dijumpainya tertulis nama pengirim. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dasar usil, ngirimi surat kaleng kok ke kelurahan, ke presiden kek. Biar di-tin-dak-lan-juti," katanya mengeja kata terakhir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi.." sekretaris kelurahan itu jadi terkejut ketika memperhatikan tujuan surat itu. "Kepada: Yang Terhormat," dia bergumam membaca tulisan yang ada di bagian depan surat beramplop putih agak kekuningan itu. Tak ada lagi tulisan lain selain itu. Wah ini surat misterius amat, batin wanita itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin buat pak Lurah, wanita itu berkata dalam hati lagi. Tanpa pikir panjang lagi surat itu diletakkannya dengan baik-baik di atas meja, bersama surat-surat penting lain untuk pak Lurah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menikmati siaran HBO dari televisi kabel, sambil ditemani sebatang rokok Marlboro, pak Lurah sibuk membaca surat-surat yang baru masuk buatnya diantar sekretaris kelurahan. Ditangannya kini ada surat dari pak Gubernur yang mengabarkan akan berkunjung ke kelurahan ini pekan depan. Ini sih urusan kecil, besok dia tinggal memerintahkan masyarakat untuk bergotong royong membersihkan jalan dan parit-parit. Pak Gubernur tentu akan senang karena kawasan kelurahannya bersih. Dan dia tentu akan dipuji, begitu kata pak Lurah dalam hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, dengan tangan kiri dia mengambil surat lain di atas meja. Kali ini sebuah surat dari sebuah lembaga sosial yang diketuai isteri seorang pejabat tinggi. Isinya, mereka minta dia segera mengirimkan laporan pemakaian dana Jurang Pemisah Kesusahan (JPS). Huh. dia mencibir, kalau ini sih urusan yang lebih gampang. Besok juga dia akan mengirimkan laporan itu ke lembaga sosial itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak Lurah kemudian meraih surat berikutnya. Keningnya lantas berkerut, di bolak-baliknya surat beramplop puti agak kekuningan itu. Sudah tiga kali dia membaca tujuan surat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Asihhh...," pak Luruh berteriak memanggil wanita sekretaris kelurahan tadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kamu tahu surat ini untuk siapa?" diacungkannya surat beramplop putih agak kekuningan itu, saat Asih sang sekretaris kelurahan sudah ada di hadapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ini pasti surat buat pak Camat. Coba kamu baca Asih, disini tertulis, Kepada: Yang Terhormat. Kirim segera surat ini ke pak Camat," perintah pak Lurah tegas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kantornya pak Camat bersafari masih sibuk dengan handphone-nya. Bicaranya tampak begitu berhati-hati. Pun raut wajahnya menunjukkan kecemasan. Persoalannya, beberapa proyek perintah pak Bupati belum dapat diselesaikannya. Sebenarnya ini karena masalah ganti rugi tanah penduduk kampung di tepi kali yang katanya terlalu kecil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Baik pak. Ya..ya, saya mengerti, pak," &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Akan segera saya laksanakan, pak," pak Camat  mengakhiri pembicaraanya, nafasnya ditarik dalam-dalam.  Matanya nanar memandang ke seluruh ruangan. Cepat diraihnya sebotol coca cola dingin dari kulkas di sudut ruangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah nafasnya kembali teratur, pak Camat kemudian duduk kembali di kursinya dan meraih surat-surat yang menumpuk di atas meja dihadapannya. Matanya kemudian membaca satu per satu surat-surat tersebut.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat berwarna kekuningan itu lagi. Mata pak Camat mendelik, dibacanya lagi dengan seksama tujuan surat itu. Hampir saja dia terjatuh dari kursi empuknya karena buru-buru meraih handphone-nya di sudut meja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Selamat pagi, pak. Ya, saya lagi, pak," ujarnya terburu-buru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada sesuatu yang penting, pak. Sebuah surat, saya yakin ini pasti untuk bapak," pak Camat bersafari ini berhenti sebentar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, segera saya antarkan, pak," tukasnya dengan mantap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat beramplop putih agak kekuningan itu berada di tangan pak Bupati. Di bolak-baliknya surat itu, ditimang-timangnya. Otaknya bekerja keras. Dia benar-benar ragu untuk membuka surat yang ditujukan kepada yang terhormat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah sudah berapa kali dibacanya sebaris tulisan di bagian depan amplop itu. Mondar-mandir dia memikirkan persoalan surat yang ada di tangannya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Surat itu pasti untuk, bapak," pak Camat bersafari mencoba memberi pertimbangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah pak Bupati berhenti, matanya menatap tajam pak Camat yang duduk di sofa di depannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak mungkin, disini hanya tertulis, Kepada: Yang Terhormat. Anda pasti mengerti, saya bukanlah orang yang terhormat di sini. Masih banyak orang yang terhormat di negeri ini. Bayangkan saja, diatas saya masih ada pak Gubernur, pak Dirjen, pak Menteri bahkan pak Presiden. Kamu bayangkan itu! Kedudukan saya bakal terancam jika saya berani-beranian membaca surat untuk mereka ini," pak Bupati berhenti bicara sambil mengacungkan surat itu ke wajah pak Camat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi, pak.." pak Camat mencoba membantah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang juga kita mengahdap pak Gubernur. Surat ini harus segera sampai ke tangan beliau," tukas pak Bupati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat beramplop putih agak kekuningan itu kembali tersuruk di tumpukan surat-surat buat pak Gubernur. Setelah pak Camat dan pak Bupati mengantarkan surat itu sore tadi, pak Gubernur belum sempat membacanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat malam turun dengan jubah-jubah kegelapannya. Saat orang-orang bermimpi tentang negeri di awan. Saat benda-benda mati bengkit dari kebisuannya. Saat mereka bercerita satu dan yang lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ruangan kantor pak Gubernur yang dingin ber-AC, setumpuk surat masih asyik ngobrol. Berisik sekali kedengarannya. Mereka bahkan tak memperdulikan ketika jam dinding berteriak-teriak memperingatkan mereka untuk beranjak tidur. Surat-surat itu tetap saja dengan santai berbagi cerita. Kini rupanya giliran sebuah surat amplop putih bersih dengan lambang lembaga tinggi negara untuk bercerita. Surat itu menceritakan soal kesaktiannya yang akan menundukkan pak Gubernur. Dia sangat yakin, isi suratnya akan membuat pak Gubernur mati ketakutan ketika membacanya besok. Surat itu dengan pongahnya terus bercerita. Dan surat-surat yang lain hanya bisa mendengar terkagum-kagum. Begitu juga surat beramplop putih agak kekuningan tersebut. Ia terdiam sambil melipat tubunya lebih kecil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hei." Tiba-tiba saja sebuah surat yang lain menoleh padanya. Surat beramplop putih agak kekuningan tersebut terkejut. Ia tersentak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dari tadi kau hanya diam saja. Bisakah kamu menceritakan isi suratmu itu?" kata surat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, ya, ya." serempak yang lain menjawab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bentukmu paling aneh dari kami semua. Lihatlah warnamu yang sudah agak kekuningan itu. Tentunya kau sudah lama sekali mengembara. Kabar apa yang kau bawa sebenarnya," sahut sebuah surat beramplop bagus yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat beramplop putih agak kekuningan itu bertul-betul bingung. Ia jadi malu dengan keadaanya. Tapi dipaksakan hatinya untuk bercerita. Ia sebenarnya takut untuk menceritakan hal ini pada surat-surat yang lain. Ceritanya nanti tentu tak akan lebih menarik dan lebih seru dibanding cerita surat yang lain. Tapi setelah menarik nafas dan memejamkan mata, ia pun mulai bercerita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu perlahan bagai sebuah tirai layar mengalirlah sebuah cerita klasik. Sebuah pergumulan antara si kuat dan si lemah. Di sebuah desa di tepi kali, wajah ibu-ibu hamil, pos ronda tempat para bapak berkumpul malam hari, anak-anak SD yang berlarian di gang sempit, semua mengalir dari surat beramplop putih aagak kekuningan itu. Namun, semua gambaran kedamaian itu tiba-tiba saja lenyap diberangus sepatu-sepatu lars, suara bising bulldozer, teriak kesakitan, ceceran darah, dan asap yang mengepul dari rumah yang sengaja dibakar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si lemah berduka, semua habis dalam sekejab. Surau yang mereka dirikan dengan bergotong royong sudah rata dengan tanah. WC umum juga sudah duluan habis dibakar. Pos ronda cuma tersisa atapnya saja. Semua tertunduk, mereka tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menangis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat beramplop putih agak kekuningan itu cepat-cepat mengakhiri ceritanya. Nafasnya terengah-engah dan sesak. Matanya berkunang-kunang karena digenangi air mata. Sejurus kemudian ketika memandang ke sekeliling ia terkejut, semua surat menangis. Tubuh mereka tersentak-sentak menahan haru yang dalam. Lalu meja pak Gubernur basah oleh air mata. Surat beramplop putih agak kekuningan itu terdiam, ia sudah tak bisa menangis lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelang pagi surat-surat itu berangkulan. Mereka berpelukan erat berbagi kedukaan. Kemudian atas kesepakatan bersama surat beramplop putih agak kekuningan itu diletakkan pada tumpukan paling atas. Agar besok ia yang dibaca pak Gubernur pertama sekali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Catatan: diterbitkan sebelumnya pada 17.09.2002&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-8052979834276511124?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/35ucMdtN_CCJOS-EgFPkrLzAknU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/35ucMdtN_CCJOS-EgFPkrLzAknU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/35ucMdtN_CCJOS-EgFPkrLzAknU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/35ucMdtN_CCJOS-EgFPkrLzAknU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=UCBtDQ5bcRk:U9mGOPUGMwI:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=UCBtDQ5bcRk:U9mGOPUGMwI:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=UCBtDQ5bcRk:U9mGOPUGMwI:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=UCBtDQ5bcRk:U9mGOPUGMwI:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/UCBtDQ5bcRk" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2010-07-30T16:22:18.367+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/07/senja-ungu.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bom Marriott, SBY, dan Drakula</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/2Ucl9xpDioc/bom-marriott-sby-dan-drakula.html</link><category>Terrorism</category><category>Politic</category><category>America</category><category>Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Fri, 17 Jul 2009 03:46:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-2555523884655536419</guid><description>Dua ledakan bom menghajar Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Jakarta pada pagi tadi sekitar pukul 08.00 WIB. Sedikitnya sembilan orang meninggal dunia dan puluhan korban luka-luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siangnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah pidato soal temuan intelijen yang menunjukkan bahwa dirinya jadi sasaran teroris dan memamerkan foto yang menunjukkan fotonya jadi sasaran latihan tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SBY juga menyatakan bahwa teror ini terkait dengan pemilihan umum, seperti adanya informasi intelijen soal rencana pendudukan KPU. Tapi,&lt;br /&gt;
Direktur International Crisis Group (ICG), Sidney Jones, menduga bom di dua hotel itu &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2009/07/17/brk,20090717-187741,id.html"&gt;tidak ada kaitannya dengan pemilihan presiden lalu&lt;/a&gt;..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, SBY juga menyinggung soal "penghilangan orang"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Kepada Polri, TNI, BIN, termasuk kepada Gubernur, Bupati, dan Walikota, saya minta untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terus berusaha keras mencegah aksi-aksi teror dan kemudian yang lebih penting lagi, para penegak hukum harus betul-betul bisa mencari, menangkap, dan mengadili para pelaku, para penggerak, dan otak di belakang kekerasan ini. Barangkali ada di antara kita yang di waktu yang lalu &lt;span style="color: red;"&gt;melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang barangkali dan para pelaku itu masih lolos dari jeratan hukum&lt;/span&gt;, kali ini negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negeri kita.&lt;/blockquote&gt;Mengapa SBY mendadak menyebut hal itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pidato lengkap SBY dapat dibaca di&lt;a href="http://www.presidensby.info/index.php/pers/presiden/2009/07/17/439.html"&gt; PresidenSBY.info&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-2555523884655536419?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oENCtJIeS3ZwgwY4p5J8U3pxIf0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oENCtJIeS3ZwgwY4p5J8U3pxIf0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oENCtJIeS3ZwgwY4p5J8U3pxIf0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oENCtJIeS3ZwgwY4p5J8U3pxIf0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=2Ucl9xpDioc:dn1P0yvc0Po:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=2Ucl9xpDioc:dn1P0yvc0Po:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=2Ucl9xpDioc:dn1P0yvc0Po:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=2Ucl9xpDioc:dn1P0yvc0Po:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/2Ucl9xpDioc" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-07-17T17:46:05.522+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/07/bom-marriott-sby-dan-drakula.html</feedburner:origLink></item><item><title>Game Mini Gridlock</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/izr45gxrCnc/game-mini-gridlock.html</link><category>Game</category><category>Information Tech</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Fri, 10 Jul 2009 07:57:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-4933106857396747142</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u-5LnYMXBB8/SldWeRCqUsI/AAAAAAAAALM/NO7mxnF3ZGg/s1600-h/gridlock.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="248" src="http://1.bp.blogspot.com/_u-5LnYMXBB8/SldWeRCqUsI/AAAAAAAAALM/NO7mxnF3ZGg/s320/gridlock.jpg" width="287" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Saya suka bermain game mini, seperti beberapa game online di Yahoo!.&lt;br /&gt;
Hari ini saya menemukan gudang game mini di &lt;a href="http://topminigames.com/"&gt;Topminigames.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya coba beberapa. Salah satu yang menarik dan menantang adalah &lt;a href="http://www.topminigames.com/ability/342.asp"&gt;Gridlock&lt;/a&gt;. Game ini sederhana: Anda dengan bantuan mouse berusaha mengeluarkan kotak biru yang terjepit di tengah ke sebuah pintu keluar. Semua kotak berbentuk persegi panjang dan hanya bisa bergerak maju-mundur ke arah sisi panjangnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja ada beberapa game lain yang menarik di sini selain Gridlock. Silahkan Anda mencoba sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-4933106857396747142?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-jFMaZ1ZNlfXOdtjUy_s2pjT1OI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-jFMaZ1ZNlfXOdtjUy_s2pjT1OI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-jFMaZ1ZNlfXOdtjUy_s2pjT1OI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-jFMaZ1ZNlfXOdtjUy_s2pjT1OI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=izr45gxrCnc:Gpq5QG_Bgok:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=izr45gxrCnc:Gpq5QG_Bgok:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=izr45gxrCnc:Gpq5QG_Bgok:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=izr45gxrCnc:Gpq5QG_Bgok:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/izr45gxrCnc" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-07-31T19:58:32.302+07:00</atom:updated><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_u-5LnYMXBB8/SldWeRCqUsI/AAAAAAAAALM/NO7mxnF3ZGg/s72-c/gridlock.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/07/game-mini-gridlock.html</feedburner:origLink></item><item><title>Situs tentang Iran</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/CFmjFHZsUYU/situs-tentang-iran.html</link><category>International</category><category>Politic</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Fri, 03 Jul 2009 01:43:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-722333009056900098</guid><description>Iran kini sedang ramai-ramainya setelah hasil pemilihan umum diprotes sebagian pihak. Berikut ini beberapa situs yang dapat memberi serba sedikit informasi di negeri itu. Ini adalah situs-situs pemerintahan atau media milik pemerintah, jadi isinya tentulah versi pemerintah. Untuk versi alternatif atau kelompok oposisi, Anda harus mencarinya di situs-situs lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Situs Resmi Kantor Pemimpin Tertinggi Iran : &lt;a href="http://www.leader.ir/"&gt;http://www.leader.ir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
- Situs Resmi Kantor Presiden Iran : &lt;a href="http://www.president.ir/"&gt;http://www.president.ir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
- Situs Resmi Deplu Iran : &lt;a href="http://www.mfa.gov.ir/"&gt;http://www.mfa.gov.ir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Kantor Berita Irna : &lt;a href="http://www.irna.ir/"&gt;http://www.irna.ir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Kantor Berita Fars : &lt;a href="http://english.farsnews.net/"&gt;http://english.farsnews.net&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
- Kantor Berita Mehr : &lt;a href="http://www.mehrnews.com/en/"&gt;http://www.mehrnews.com/en/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
- Kantor Berita ISNA : &lt;a href="http://isna.ir/"&gt;http://isna.ir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
- IRIB News : &lt;a href="http://english.iribnews.ir/"&gt;http://english.iribnews.ir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Situs Resmi PressTV : &lt;a href="http://www.presstv.ir/"&gt;http://www.presstv.ir&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-722333009056900098?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tLJsG4PoeQVTTO7wMEPKsDv4YEQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tLJsG4PoeQVTTO7wMEPKsDv4YEQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tLJsG4PoeQVTTO7wMEPKsDv4YEQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tLJsG4PoeQVTTO7wMEPKsDv4YEQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=CFmjFHZsUYU:Ht4CVT2eyXc:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=CFmjFHZsUYU:Ht4CVT2eyXc:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=CFmjFHZsUYU:Ht4CVT2eyXc:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=CFmjFHZsUYU:Ht4CVT2eyXc:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/CFmjFHZsUYU" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-07-03T15:43:56.054+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/07/situs-tentang-iran.html</feedburner:origLink></item><item><title>The King is Dead</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Iwank/~3/sI3kz6xgiro/king-is-dead.html</link><category>Music</category><category>America</category><author>noreply@blogger.com (Kuniawan)</author><pubDate>Fri, 26 Jun 2009 04:11:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3296656.post-2582468726558085477</guid><description>Pagi ini sebuah kabar mengejutkan. Sang raja pop &lt;a href="http://www.michaeljackson.com/"&gt;Michael Jackson&lt;/a&gt; meninggal karena serangan jantung. Semua media, juga media Indonesia, menyiarkan kabar ini berulang-ulang, termasuk mewawancarai warga Indonesia di Calofornia, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2009/06/26/fks,20090626-690,id.html"&gt;Tempointeraktif&lt;/a&gt; menulis demikian:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Raja pop dunia Michael Jackson meninggal dunia hari Kamis (25/6) tengah malam, setelah dilarikan ke University California Los Angeles Medical Center. Dia terjatuh akibat serangan jantung di dalam rumahnya di Holmby Hills, Los Angeles, pada siang harinya, dan dipastikan meninggal pada malam harinya. "Dia meninggal di rumah sakit akibat serangan jantung," ujar saudaranya Randy Jackson. &lt;/blockquote&gt;dan menurunkan laporan tentang &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2009/06/26/fks,20090626-691,id.html"&gt;metamorfosis wajahnya&lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Michael Jackson rajin datang ke dokter bedah plastik. Alhasil, hanya dalam sekitar 10 tahun, ia berubah dari seorang pemuda kulit hitam menjadi seperti berwajah perempuan berkulit putih.&lt;/blockquote&gt;Seharian ini saya juga menikmati radio internet Prancis, &lt;a href="http://draft.blogger.com/%20%09%20%20http://www.skyrock.com/"&gt;Skyrock&lt;/a&gt;, yang terus menerus memutar lagu-lagu Jacko, dari &lt;i&gt;Black or White&lt;/i&gt; sampai  &lt;i&gt;Thriller&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Tapi, saya sebenarnya lebih suka dengan "semangat antiselingkuhnya" dalam Billie Jean:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Billie Jean is not my lover &lt;br /&gt;
She's just a girl who claims that I am the one &lt;br /&gt;
But the kid is not my son &lt;br /&gt;
She says I am the one, but the kid is not my son &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat jalang, bung. The king is dead, long live the king...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3296656-2582468726558085477?l=iwank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PuJgwZtZQNi430l8QgkUupZfzag/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PuJgwZtZQNi430l8QgkUupZfzag/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PuJgwZtZQNi430l8QgkUupZfzag/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PuJgwZtZQNi430l8QgkUupZfzag/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=sI3kz6xgiro:aG7s7m7mzsY:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=sI3kz6xgiro:aG7s7m7mzsY:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=sI3kz6xgiro:aG7s7m7mzsY:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?a=sI3kz6xgiro:aG7s7m7mzsY:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Iwank?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Iwank/~4/sI3kz6xgiro" height="1" width="1"/&gt;</description><atom:updated xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">2009-06-26T18:12:37.817+07:00</atom:updated><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://iwank.blogspot.com/2009/06/king-is-dead.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

