<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5632499892829625809</id><updated>2024-10-04T19:04:03.530-07:00</updated><category term="12 Keutamaan"/><category term="Adab-adab Dzikrullah"/><category term="Amalan di bulan Ramadhan"/><category term="Keutamaan Puasa"/><category term="Keutamaan berdzikir"/><category term="Lailatul Qadar"/><category term="Puasa Ramadhan"/><category term="Ramadhan"/><category term="jalan menuju surga"/><category term="malam lailatul qadar"/><category term="surga"/><title type='text'>jalan menuju kebahagiaan surgawi</title><subtitle type='html'>Jalan menuju kebahagiaan surgawi yang sangat di harapkan umat manusia pada umumnya.&#xa;Yang menjadi tujuan akhir dari perjalanan hidup ummat manusia dari dalam kehidupan di bumi ini.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jalanmenujusurgawi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalanmenujusurgawi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17750170108885930287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5632499892829625809.post-7671441784234932720</id><published>2013-07-28T14:52:00.000-07:00</published><updated>2013-07-28T14:52:19.602-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Adab-adab Dzikrullah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Keutamaan berdzikir"/><title type='text'>KEUTAMAAN dan ADAB-ADAB DZIKRULLAH</title><content type='html'>Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),“Wahai orang-orang yang 
beriman, ingatlah Allah dengan dzikir yang banyak.” (QS. Al-Ahzaab: 41).&lt;br /&gt;
Ibnu Katsir rahimahullaah berkata, “Dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata, 
“Sesungguhnya Allah tidaklah memerintahkan sebuah kewajiban atas 
hamba-Nya, melainkan menyebutkan batas-batas kewajiban tersebut dan 
memberikan ‘udzur bagi orang-orang yang tidak mampu melakukannya, 
kecuali dzikir. Allah tidak membatasi kewajiban berdzikir dengan batasan
 tertentu dan tidak pula memberi ‘udzur bagi orang yang meninggalkannya,
 kecuali orang yang tidak&amp;nbsp; sengaja meninggalkannya.&lt;br /&gt;
Allah berfirman (yang artinya),“Maka ingatlah Allah di waktu berdiri,
 duduk dan berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103). Pada waktu malam dan siang,
 di daratan dan di lautan,&amp;nbsp;ketika sedang menetap maupun dalam 
perjalanan, di waktu kaya maupun miskin, sedang sehat ataupun sedang 
sakit, dalam keramaian maupun dalam kesendirian, dan dalam segala hal.” 
(Tafsir Ibnu Katsir).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Membangun masyarakat yang gemar berdzikir&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Banyak problematika dalam kehidupan bermasyarakat, jika diusut dan 
dicari benang merahnya maka akan kita dapatkan bahwa faktor utama 
penyebabnya adalah jauhnya&lt;br /&gt;
kita dari dzikrullah. Di sini penulis menghimbau semua pihak agar proses
 menuju masyarakat yang gemar berdzikir dimulai dari membiasakan diri 
pribadi untuk memperbanyak dzikir. Jadikan semboyan dalam hidup ini: 
“Tiada hari tanpa berdzikir.”&lt;br /&gt;
Agar kita semangat untuk berdzikir, sangat dianjurkan untuk 
mengetahui dan menyadari tentang keutamaan dzikir dan orang-orang yang 
banyak berdzikir. Di antara keutamaannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;[1] Dzikir merupakan salah satu tujuan disyari’atkannya ibadah&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka beribadahlah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaaha: 14).&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), 
“Sesungguhnya disyari’atkannya thawaf, sa’i antara Shafa dan Marwah, dan
 melempar jamrah adalah dalam rangka untuk menegakkan dzikrullah.” (HR. 
Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan yang lainnya. At-Tirmidzi berkata: 
“Hadits ini hasan shahih”).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;[2] Dzikir merupakan senjata utama melawan dan mengusir syaithan&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah 
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Janganlah 
kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya 
syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat 
Al-Baqarah.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;
Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Syaithan itu berdiam di 
dalam hati anak Adam. Apabila seseorang itu lalai, lengah, dan lupa 
mengingat Allah, maka syaithan pun menggodanya. Sedangkan jika ia 
berdzikir mengingat Allah, maka syaithan pun lari bersembunyi” 
(Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 7/135).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;[3] Hidup menjadi lapang dengan berdzikir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Allah berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa berpaling dari 
mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan 
Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. 
Thaaha: 124).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;[4] Dzikir sebagai pembeda antara mu’min dan munafik&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya 
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan 
mereka .Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan 
malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia.Dan tidaklah mereka 
mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa’: 142).&lt;br /&gt;
Hendaknya kita tidak merasa aman dari bahaya kemunafikan. Barangkali 
kita bukan termasuk orang yang suka berdusta, tidak pernah ingkar janji,
 selalu menjaga amanah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, apakah kita 
termasuk orang-orang yang banyak berdzikir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;[5] Dzikir menyejukkan hati&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan 
hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya 
dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menjadi insan yang banyak berdzikir&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “…laki-laki dan 
perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan untuk 
mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35).&lt;br /&gt;
Kapan seorang muslim atau muslimah dikatakan sebagai orang-orang yang banyak berdzikir?&lt;br /&gt;
Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata ketika menafsirkan 
laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir, “Maksudnya adalah yang 
berdzikir setelah selesai shalat, berdzikir pagi dan petang, berdzikir 
sebelum tidur dan sesudah bangun dari tidur, berdzikir setiap keluar 
masuk rumah”&lt;br /&gt;
Mujaahid rahimahullaah berkata, “Seseorang tidak termasuk ke dalam 
golongan orang-orang yang banyak berdzikir sampai ia berdzikir dalam 
semua keadaannya baik ketika sedang berdiri, duduk, atau berbaring” 
(Tafsir Al-Wasiith, Al-Waahidiy Asy-Syaafi’iy, 3/471)&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Adab-adab Berdzikir&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;Setelah mengetahui keutamaan berdzikir, hendaknya seorang 
muslim menghiasi hari-harinya dengan dzikrullah. Nabi shallallaahu 
‘alaihi wa sallam bersabda,“Hendaknya engkau senantiasa membasahi 
lidahmu dengan dzikrullah.” (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;
Di dalam berdzikir, seorang muslim dianjurkan untuk melakukannya dengan adab-adab sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Berdzikir dengan suara yang lemah lembut dan penuh kekhusyu’an.&lt;br /&gt;
Allah berfirman (yang artinya),“Dan berdzikirlah mengingat Tuhanmu dalam
 dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak 
mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk
 orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf: 205).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tidak berteriak dan mengeraskan suaranya.&lt;br /&gt;
Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Tatkala 
orang-orang meninggikan suara mereka dalam berdo’a di sebuah perjalanan,
 maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegur mereka dengan 
bersabda: “Wahai manusia, sayangilah diri-diri kalian! Sesungguhnya 
kalian tidak sedang berdo’a kepada sesuatu yang bisu dan jauh. Akan 
tetapi Dia adalah Dzat yang Maha Mendengar lagi Dekat, bahkan lebih 
dekat dengan kalian daripada leher tunggangan kalian.”(HR. Al-Bukhari 
dan Muslim).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jika berada dalam sebuah jama’ah (baik jama’ah shalat, jama’ah 
pengajian, maupun jama’ah dalam kendaraan), maka hendaknya masing-masing
 berdzikir dengan suaranya sendiri-sendiri, dan tidak dilakukan secara 
berjama’ah (satu suara/koor/dipimpin). &lt;br /&gt;
Dalilnya adalah dari Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, beliau 
berkata, “Kami berangkat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa 
sallam di waktu pagi hari itu (hari Arafah pada haji Wada’ -pen) dari 
Mina menuju Arafah. Di antara kami ada yang bertakbir, ada pula yang 
bertalbiyah. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak 
mengingkarinya.”(HR. Ibnu Maajah.Syaikh Al-Albaany berkata, “Shahih”).&lt;br /&gt;
Seandainya melakukan dzikir dengan cara berjama’ah disyari’atkan, 
tentunya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling 
tepat mencontohkan hal itu kepada umatnya dan seharusnya melarang para 
sahabat pada waktu itu karena ketidakkompakan mereka dalam berdzikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Jika dzikir yang dilakukan berupa membaca Al-Qur’an maka tidak 
dibolehkan membacanya dalam keadaan junub (hadats besar), baik 
membacanya dengan hafalan apalagi membacanya dengan membuka mushaf. &lt;br /&gt;
Dari ‘Ali bin Abi Thaalib radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah 
shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi jamban untuk membuang 
hajatnya. Setelah keluar dari jamban, lalu beliau makan daging dan roti 
bersama kami, dan membaca Al-Qur’an. Tidaklah menghalangi beliau dari 
membaca Al-Qur’an kecuali ketika beliau dalam keadaan junub.” (HR. Ibnu 
Khuzaimah, Shahih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Hendaknya berdzikir dengan penuh keikhlasan hanya mengharap pahala dan balasan dari Allah saja.&lt;br /&gt;
Allah berfirman, (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan 
kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan 
kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5).&lt;br /&gt;
Wallaahu a’lam. Wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.&lt;br /&gt;
[Ustadz Abu Yazid Nurdin]</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/7671441784234932720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/7671441784234932720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalanmenujusurgawi.blogspot.com/2013/07/keutamaan-dan-adab-adab-dzikrullah.html' title='KEUTAMAAN dan ADAB-ADAB DZIKRULLAH'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17750170108885930287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5632499892829625809.post-8949224070020338877</id><published>2013-07-28T11:59:00.002-07:00</published><updated>2013-07-28T13:10:02.718-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="12 Keutamaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Keutamaan Puasa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puasa Ramadhan"/><title type='text'>12 KEUTAMAAN PUASA</title><content type='html'>Bismillah. Kami memuji kepada Allah, satu-satunya &lt;i&gt;Rabb&lt;/i&gt; yang berhak diibadahi. Shalawat dan Salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; beserta keluarga, para sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, Islam adalah satu-satunya 
agama yang paling benar dan sempurna semenjak diutusnya Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/i&gt;
 sampai akhir zaman. Semua syariatnya bertujuan untuk mendatangkan 
kebaikan dunia dan akhirat. Di antaranya adalah adanya syariat puasa. 
Puasa merupakan salah satu ibadah yang agung karena Allah telah 
mensyariatkan puasa kepada umat Muhammad &lt;i&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan umat-umat sebelumnya sebagaimana firman Allah (yang artinya), “&lt;i&gt;Wahai
 orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa 
sebagaimana puasa juga telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kalian&lt;/i&gt;” (QS Al Baqarah : 183)&lt;br /&gt;

Kaum muslimin yang berbahagia, berikut ini beberapa keutamaan puasa yang diambil dari Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&amp;nbsp;[1] Puasa adalah salah satu sebab terwujudnya taqwa &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Allah berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman telah 
diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kalian 
agar kalian bertakwa” (QS Al Baqarah 183)&lt;br /&gt;

Syaikh As Sa’di &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;menjelaskan, “yang dimaksud 
dengan “agar kalian bertakwa” adalah sesungguhnya puasa adalah sebab 
takwa yang paling besar. Hal ini karena di dalam puasa terdapat bentuk 
melaksanakan perintah Allah dan bentuk meninggalkan larangan 
Allah”[dikutip secara ringkas dari Taisir Al Kariim Ar-Rahman]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[2] Puasa adalah tameng dari gejolak syahwat dan neraka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Sebagaimana tameng melindungi penggunanya dari hujaman anak panah dan
 tusukan pedang dan tombak maka demikian juga puasa adalah tameng dari 
gejolak syahwat dan api neraka.&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“Wahai
 sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk 
menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih 
menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang 
belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah 
penjaga baginya.”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), “&lt;em&gt;Puasa adalah tameng yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka&lt;/em&gt;.” (HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam &lt;em&gt;Shohihul Jami’&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[3] Puasa adalah pemisah antara hamba dengan neraka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“Tidaklah
 seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan 
dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan.”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; juga bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“Barangsiapa
 berpuasa satu hari di jalan Allah maka Allah akan menjadikan di antara 
neraka dan dirinya parit yang jaraknya sejauh bumi dan langit.” &lt;/i&gt;(HR. Tirmidzi dan dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al Albani)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[4] Puasa adalah salah satu sebab masuk surga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;“Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke dalam surga.”&lt;/i&gt; Kemudian, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab, &lt;i&gt;“Hendaklah engkau melaksanakan puasa karena tidak ada yang semisal dengannya.”&lt;/i&gt; (HR. Nasaai, Ibnu Hibban dan Al Hakim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[5] Pahala puasa tidak terbatas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), “Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman, ‘&lt;i&gt;Semua amalan manusia&amp;nbsp; adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya’…”&lt;/i&gt; (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;

Setelah membawakan hadits di atas, Imam Al Qurtubi &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;dalam
 tafsirnya mengatakan, “Allah mengkhususkan balasan puasa (yaitu dengan 
tidak menyebutkan bentuk balasannya-pent) daripada ibadah yang lain 
karena dua hal yaitu pertama, puasa mencegah keinginan syahwat tidak 
sebagaimana ibadah yang lain. Kedua, karena puasa adalah amalan yang 
bersifat rahasia antara hamba dan Allah, maka peluang untuk berbuat 
riyanya sangat kecil. Berbeda dengan amalan yang nampak, maka peluang 
untuk berbuat riya lebih besar. (Al Jami’ Li Akamil Qur’an)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[6] Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi daripada minyak misk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“…dan
 demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut
 orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misk…”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[7] Bagi orang yang berpuasa ada 2 kebahagiaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“…Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan, ia bergembira ketika berbuka, dan ia bergembira ketika bertemu dengan Rabbnya.”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;

Syaikh Abdul Muhsin &lt;i&gt;hafidzahullah&lt;/i&gt; mengatakan, “yang dimaksud 
dengan “bergembira ketika buka” bukanlah bergembira karena makan, minum 
akan tetapi yang dimaksudkan adalah bergembira karena dapat 
menyempurnakan amalan shalih (yaitu puasa di hari itu)… yang dimaksud 
dengan “bergembira ketika bertemu dengan Rabbnya” adalah bergembira 
karena mendapatkan pahala dari Allah” (dikutip secara ringkas dari 
Syarah Sunan Abi Dawud)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[8] Puasa dan Al Qur’an akan menjadi syafa’at pada hari kiamat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat pada hari kiamat. &lt;/i&gt;Puasa mengatakan,&lt;i&gt; ‘Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat pada siang hari maka berilah ia syafaat karenaku.’ &lt;/i&gt;Al-Qur’an pun berkata&lt;i&gt;, ‘Aku menghalanginya dari tidur pada malam hari maka berilah ia syafaat karenanya.” &lt;/i&gt;Kemudian, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; mengatakan&lt;i&gt;, “Maka keduanya (puasa dan Al Qur’an) memberikan syafaat.”&lt;/i&gt; (HR. Ahmad dan Al Hakim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[9] Puasa sebagai &lt;i&gt;kafarah&lt;/i&gt; (penebus dosa)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Di antara keutamaan puasa yang tidak ada dalam amalan lain adalah Allah menjadikannya sebagai &lt;i&gt;kafarah&lt;/i&gt;. Misalnya, puasa dapat berfungsi sebagai &lt;i&gt;kafarah&lt;/i&gt; bagi orang yang membatalkan sumpah. Allah berfirman (yang artinya), “&lt;em&gt;…Barangsiapa
 tidak sanggup melakukan yang demikian (memberi makan atau pakaian 
kepada 10 fakir miskin atau membebaskan budak), maka kafarat sumpahnya 
puasa selama tiga hari, yang demikian itu adalah kaffarat sumpahmu bila 
kamu bersumpah (kemudian kamu langgar), dan jagalah sumpahmu….”&lt;/em&gt; (QS. Al-Maa-idah: 89)&lt;br /&gt;

Demikian juga, puasa dan shadaqah bisa menghapuskan musibah seseorang dari harta, keluarga dan anaknya. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda (yang artinya), &lt;em&gt;“Fitnah
 (musibah) seorang pria dalam keluarga (istrinya), harta dan tetangganya
 dapat dihapuskan dengan shalat, puasa dan shadaqah.” &lt;/em&gt;&lt;em&gt;(HR. Bukhari)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[10] Pintu &lt;i&gt;Ar&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;Rayyan&lt;/i&gt; bagi orang yang berpuasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“Sesungguhnya
 dalam surga ada satu pintu yang di sebut dengan Ar-Rayyan. Orang-orang 
yang berpuasa akan memasuki pintu tersebut pada hari kiamat, tidak ada 
selain mereka yang akan memasukinya. Jika orang terakhir yang berpuasa 
telah masuk ke dalam pintu tersebut maka pintu tersebut akan tertutup.”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[11] Doa orang berpuasa tidak tertolak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“Ada
 tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa imam yang adil, doa orang yang 
berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang terdhalimi” &lt;/i&gt;&amp;nbsp;(HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah)&lt;br /&gt;

Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“Sesungguhnya terdapat doa yang dikabulkan ketika berbuka bagi orang yang berpuasa” &lt;/i&gt;&amp;nbsp;(HR Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani di Shahih Jami’)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;[12] Pahala besar bagi orang yang memberi makan sajian buka untuk orang yang berpuasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Rasulullah bersabda (yang artinya), &lt;i&gt;“Barangsiapa yang memberi 
sajian buka kepada orang yang berpuasa maka baginya pahala orang 
berpuasa tadi tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tadi sedikit 
pun”&lt;/i&gt; (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di Shahih Sunan Tirmidzi)&lt;br /&gt;

Semoga kita di mudahkan oleh Allah untuk senantiasa beribadah 
kepadanya dengan penuh keikhlasan. Hanya kepada Allah kita bertawa&#39;kal 
dan hanya kepada Allah kita mohon pertolongan. Semoga tulisan yang 
singkat ini dapat memberikan manfaat bagi penulis, pembaca dan kaum 
muslimin semuanya.&lt;br /&gt;

Penyusun : Fitriyansah, Santri Mahad Ilmi Yogyakarta&lt;br /&gt;

Disarikan dari :&lt;br /&gt;

Kitab &lt;em&gt;Shifatu Shaumin Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam fii Ramadhan &lt;/em&gt;karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly &amp;amp; Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dengan beberapa penambahan.&lt;br /&gt;

Kitab &lt;i&gt;Fadhail Ash Shiyam wa Qiyami Shalatit Tarawih&lt;/i&gt; karya DR. Sa’d bin ‘Ali bin Wahf Al Qahtani dengan beberapa penambahan.</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/8949224070020338877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/8949224070020338877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalanmenujusurgawi.blogspot.com/2013/07/12-keutamaan-puasa.html' title='12 KEUTAMAAN PUASA'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17750170108885930287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5632499892829625809.post-4217032668092936033</id><published>2013-07-28T11:47:00.002-07:00</published><updated>2013-07-28T13:10:02.716-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Amalan di bulan Ramadhan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ramadhan"/><title type='text'>AMALAN DI BULAN SUCI RAMADHAN</title><content type='html'>Kehadiran bulan suci Ramadhan menjadi sebuah hadiah yang indah bagi 
kita, karena padanya kebaikan bernilai lebih serta berlipat ganda, dan 
terdapat padanya amalan-amalan yang tidak terdapat pada bulan lainnya.&lt;br /&gt;

Saudaraku, bulan Ramadhan yang hanya berlalu satu tahun sekali, 
merupakan jarak waktu yang membawa kita pada suatu keadaan, dimana kita 
terkadang agak terlupakan dengan amalan-amalan di tahun sebelumnya. Oleh
 karena itu, mari kita bersama-sama mengingatnya kembali.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;1. Puasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; 　　　　Amalan yang pertama dan paling utama di bulan 
Ramadhan adalah melaksanakan puasa yang merupakan rukun Islam yang 
keempat. Semua kita mengetahui tentang hal itu, tapi yang perlu kita 
ingat bahwa puasa setiap orang dari kita berbeda nilai dan pahalanya di 
sisi Allah Ta’ala. 　　　　Oleh karena itu, mari kita berpuasa bukan sekedar
 untuk melepaskan kewajiban, tapi kita melaksanakannya dengan penuh 
keimanan dan mengharap balasan Allah. Kita merasa senang dengan puasa 
dan bukan merasa terbebani. Kita melaksanakan kewajiban dan 
sunnah-sunnahnya serta meninggalkan larangan dan hal-hal yang mengurangi
 nilainya, sehingga kita menjadi bagian dari sabda Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan setiap anak Adam dilipat gandakan
 sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman : ‘Kecuali 
puasa, ia adalah untuk-Ku. Aku yang membalasnya (tanpa batasan tadi). Ia
 (orang yang berpuasa-red) meninggalkan syahwat dan makanannya karena 
Aku”. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;2. Shalat Malam (Tarawih) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Shalat malam adalah shalat sunnah yang sangat besar pahalanya baik 
dikerjakan di bulan Ramadhan ataupun di luar bulan Ramadhan. Namun 
shalat malam di bulan Ramadhan yang kita kenal dengan shalat Tarawih 
memiliki keutamaan lebih daripada di selain bulan Ramadhan. Maka 
hendaklah kita berlomba-lomba untuk melakukannya. Suasana Ramadhan dan 
balasan pahala yang besar memberikan kepada kita semangat yang lebih 
untuk melaksanakannya. Dan semoga apa yang kita lakukan di bulan 
Ramadhan menjadi latihan bagi kita untuk membiasakan diri setelah 
Ramadhan berlalu.&lt;br /&gt;

Diantara pahala yang besar dari shalat Tarawih adalah diampuni dosa 
yang telah lalu, -semoga kita menjadi bagian darinya-, sebagaimana yang 
disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa 
yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap 
pahala, diampuni dosanya yang telah lalu”. (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;3. Membaca dan Tadabbur Al Qur’an&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an. Pada bulan Ramadhan, Al Qur’an
 diturunkan. Allah Ta’ala berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang 
diturunkan di dalamnya Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan 
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq
 dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah : 185)&lt;br /&gt;

Pada bulan Ramadhan, Jibril ‘alahis salam menemui Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersama membaca dan mengulangi 
bacaan Al Qur’an. Di bulan Ramadhan, para Shahabat dan salafus shalih 
berlomba-lomba mengkhatamkan Al Qur’an, baik dalam bacaan shalat ataupun
 bacaan di luar shalat.&lt;br /&gt;

Al Qur’an adalah kitab petunjuk. Dan agar kita bisa mengambil 
petunjuk darinya, maka kita harus memahami arti dan maknanya. Membaca Al
 Qur’an adalah amalan yang luar besar nilainya. Tapi mentaddaburi dan 
memahami maknanya, kemudian mengambil petunjuk hidup darinya, itulah 
tujuan Al Qur’an diturunkan. Oleh karena itu, mari kita jadikan bulan 
Ramadhan bulan membaca dan mentaddaburi Al Qur’an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;4. Sedekah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; 　　　　Amalan ibadah bulan Ramadhan tidak hanya yang 
berhubungan langsung dengan Allah Ta’ala, tapi juga terdapat amalan yang
 memberikan efek kebaikan langsung kepada orang lain, salah satunya 
adalah sedekah. Memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan telah dicontohkan
 oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam sebuah 
hadist yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, 
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang
 paling dermawan. Dan kedermawaan beliau akan bertambah pada bulan 
Ramadhan ketika bertemu dengan Jibril. Beliau bertemu dengan Jibril 
setiap malam Ramadhan untuk mempelajari Al-Qur’an, dan&amp;nbsp; Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dari hembusan angin (yakni 
sangat mudah mengeluarkan sedekah).”&amp;nbsp;(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;

Sedekah di bulan Ramadhan bisa kita lakukan dengan mengeluarkan 
sedekah seperti biasanya, dan kita akan mendapatkan nilai lebih jika 
sedekah itu dilakukan dengan memberi makanan berbuka, karena kita 
mendapatkan pahala sedekah dan pahala memberi makan orang berbuka puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;4. I’tikaf&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; 　　　　I’tikaf dilakukan dengan menetap di masjid 
selama waktu i’tikaf, baik itu siang ataupun malam hari, dan tidak 
keluar dari masjid kecuali untuk memenuhi kebutuhan yang darurat, 
seperti makan dan buang air.&lt;br /&gt;

Seorang yang beri’tikaf menyibukkan dirinya hanya dengan ibadah, 
berdzikir, membaca Al Qur’an, memperbanyak shalat, dan amalan-amalan 
ibadah yang lainnya. Ia meninggalkan pekerjaan yang melalaikan dan 
amalan yang sia-sia sehingga waktu ia beri’tikaf benar-benar menjadi 
waktu yang ia khususkan untuk mendekat dirinya kepada Allah Ta’ala. 
I’tikaf merupakan kebiasaan dan keteladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
 wa sallam di bulan Ramadhan, sebagaimana yang di sebutkan oleh Abu 
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 
beri’tikaf selama sepuluh hari setiap bulan Ramadhan, dan beri’tikaf 
selama dua puluh hari pada tahun beliau wafat”. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. 
Menghidupkan Malam Lailatul Qadar&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;

Dengan kasih sayang dan rahmat-Nya, Allah Ta’ala menghadiahkan kita 
satu malam yang istimewa di bulan Ramadhan, malam yang barangsiapa 
menghidupkannya, akan di ampuni dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari). 
Bahkan mendapat pahala yang berlipat ganda yang lebih baik dari amalan 
seribu bulan. Pahala seperti ini hanya ada pada malam itu. Allah Ta’ala 
berfirman tentangnya (yang artinya), “Malam Lailatul Qadar lebih baik 
dari seribu bulan” (QS. Al Qadar : 3).&lt;br /&gt;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidupkan malam laitul 
qadar dan menganjurkan umatnya untuk menghidupkannya. Oleh karena itu, 
mari kita berlomba-lomba untuk menghidupkan malam laitul qadar dengan 
memperbanyak amalan-amalan ibadah padanya.&lt;br /&gt;

Malam itu adalah salah satu dari malam ganjil di sepuluh malam 
terakhir bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;
Dan pada malam ke-27, Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wa sallam memberikan isyarat kuat tentangnya, tanpa 
memastikannya sebagai malam lailatul qadar.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;6. Umrah di Bulan Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Setiap hati pasti rindu untuk datang ke 
Masjidil Haram untuk Thawaf mengelilingi Ka’bah, shalat di hadapannya 
bersama jutaan kaum muslimin lainnya. Ibadah umrah dapat di lakukan 
sepanjang tahun. Namun umrah di bulan Ramadhan memiliki nilai pahala 
yang lebih tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Umrah di bulan Ramadhan (pahalanya) menyerupai haji” (HR. Tirmidzi)&lt;br /&gt;

Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan bagi kita untuk melaksanakan 
umrah di bulan Ramadhan dan memberi Taufik dan Inayah-nya kepada kita 
agar dapat menghidupkan bulan Ramadhan dengan amal-amal kebaikan. Amiin.&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;Penulis : Ustadz Sanusin Muhammad, M.A (Alumni S2 Universitas Islam Madinah Jurusan Tarbiyah) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Ziyadah &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
Figur Anti Korupsi Dan Anti Kezhaliman, berbicara tentang suap atau 
korupsi seakan memperdalam luka dan nestapa bagi rakyat indonesia. 
Korupsi telah menjadi budaya dan tradisi, Suap juga telah menjadi 
aturan tak tertulis di negeri tercinta ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Walau demikian, asa tetap ada dan harapan tetap berkobar bahwa suatu 
saat nanti negeri kita akan dipimpin oleh orang-orang yang beriman kepada
 Allah dan hari akhir, dan meneladani sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
 sallam seutuhnya tanpa ditambah atau dikurangi. Semoga kisah pendek 
berikut menjadi inspirasi bagi saudaraku sekalian untuk bisa bersikap 
adil dan jujur.&lt;br /&gt;

Sahabat ‘Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu yang diutus oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam, untuk menaksir kewajiban upeti/kharaj yang
 harus dibayarkan oleh kaum yahudi negeri Khaibar. Setelah menaksir 
kewajiban upeti yang harus mereka bayarkan, pemuka-pemuka yahudi Khaibar
 menawarkan uang suap kepadanya agar sedikit mengurangi kewajiban kharaj
 yang harus mereka tunaikan. Mendapat tawaran ini, bukannya beliau 
senang, namun sebaliknya beliau marah besar dan berkata, “Wahai 
musuh-musuh Allah! Apakah kalian akan memberiku harta haram?&lt;br /&gt;

Sungguh aku adalah utusan orang yang paling aku cintai. Sedangkan 
kalian adalah orang yang paling aku benci, lebih aku benci dibanding 
perkumpulan kera dan babi sebanyak kalian.&lt;br /&gt;
Walau demikian, kebencianku 
kepada kalian dan cintaku kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam tidak menjadikan aku berbuat curang kepada kalian!” Mendengar 
jawaban ini, kaum yahudi berkata, “Dengan sikap seperti inilah langit 
dan bumi dapat tegak” ( Riwayat Imam Malik, Ahmad, Ibnu Hibban dan 
lainnya) Oleh : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri (Alumni S3 Universitas 
Islam Madinah jurusan fiqih, staf pengajar Sekolah Tinggi Dirasat 
Islamiyyah (STDI) Jember, dan&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;kontributor www.PengusahaMuslim.com) Di kutip dari status facebook beliau (http://www.facebook.com/muhammadarifin.badri)&lt;/em&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/4217032668092936033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/4217032668092936033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalanmenujusurgawi.blogspot.com/2013/07/amalan-di-bulan-suci-ramadhan.html' title='AMALAN DI BULAN SUCI RAMADHAN'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17750170108885930287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5632499892829625809.post-8703028699485068505</id><published>2013-07-28T11:27:00.002-07:00</published><updated>2013-07-28T13:02:40.892-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Lailatul Qadar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="malam lailatul qadar"/><title type='text'>MALAM LAILATUL QA&#39;DAR</title><content type='html'>&lt;div id=&quot;BlogContent&quot;&gt;
Malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karunia dari &lt;i&gt;Rabbul ‘alamin&lt;/i&gt;
 kepada para hamba-Nya yang mencintai ketaatan kepada-Nya. Keutamaan dan
 keistimewaannya masyhur di tengah kita semua. Lalu, bagaimana 
memburunya?&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Tips Dalam Berburu Lailatul Qadar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Komisi Tetap Penelitian dan Fatwa Saudi Arabia yang diketuai oleh 
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz memberikan beberapa tips untuk berburu 
lailatul qadar :&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Pertama &lt;/b&gt;: Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; 
bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan 
kesungguhnya yang lebih dari pada malam-malam sebelumnya dalam 
mengerjakan shalat, membaca Al Qur’an, dan berdo’a. Sebagaimana hadits 
diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dari ‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu ’anha&lt;/i&gt;, bahwa Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam &lt;/i&gt;jika memasuki sepuluh malam akhir bulan Ramadhan, beliau &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya dan mengencangkan kain sarungnya.&lt;br /&gt;

Juga dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad, beliau &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan kesungguhan yang berbeda dari pada malam-malam sebelumnya.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Kedua &lt;/b&gt;: Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menghasung 
umatnya untuk mengerjakan shalat malam dengan dasar keimanan yang 
mengharapkan pahala yang besar. Sebagaimana hadits Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhu, &lt;/i&gt;dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam,&lt;/i&gt; beliau bersabda, “&lt;i&gt;Barangsiapa
 mengerjakan shalat malam pada malam lailatul qadar karena iman dan 
mengarapkan pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni&lt;/i&gt;” (HR. Al Jama’ah kecuali Ibnu Majah)&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Hadits ini merupakan dalil disyariatkannya menghidupkan malam di sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan shalat malam.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Ketiga &lt;/b&gt;: Do’a yang paling afdhal untuk diperbanyak dibaca ketika malam lailatul qadar adalah do’a yang diajarkan Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; kepada ‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu ’anha&lt;/i&gt;. Sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan At Tirmidzi yang juga beliau nilai &lt;i&gt;shahih&lt;/i&gt;, dari ‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu ’anha&lt;/i&gt; ia berkata, “&lt;i&gt;Wahai
 Rasulullah, bagaimana jika seandainya saya mengetahui bahwa suatu malam
 adalah malam lailatul qadar. Apa yang saya baca ketika itu?”&lt;/i&gt; Rasulullah bersabda&lt;i&gt;,
 “Bacalah : ‘Allāhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (Ya 
Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Maaf, dan Engkau menyukai 
permintaan maaf, maka ampunilah aku)’&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Keempat &lt;/b&gt;: Mengkhususkan suatu malam dari malam-malam Ramadhan 
bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar itu membutuhkan dalil yang 
jelas. Namun secara umum, malam-malam ganjil terutama malam ke dua puluh
 tujuh lebih besar kemungkinannya sebagai malam lailatul qadar dibanding
 malam-malam yang lain. Karena terdapat hadits-hadits shahih yang 
menyatakan hal tersebut.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;: Adapun perbuatan bid’ah, tidak diperbolehkan di bulan Ramadhan maupun di waktu lain. Karena terdapat hadits &lt;i&gt;shahih&lt;/i&gt; dari Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bahwa beliau bersabda, “&lt;i&gt;Barangsiapa mengada-ada suatu perkara dalam urusan kami ini (urusan agama), yang tidak ada asalnya dari agama, maka itu tertolak&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Hal ini terkait yang diadakan sebagian orang di bulan Ramadhan berupa perayaan-perayaan yang tidak kita ketahui tuntunannya (&lt;i&gt;Fatawa Ramadhan&lt;/i&gt;, 10/414-415)&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Apakah Perlu Bersungguh-Sungguh Di Siang Hari Juga?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits riwayat Muslim, “&lt;i&gt;beliau shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; &lt;i&gt;bersungguh-sungguh
 pada al ‘asyrul al awakhir (sepuluh hari terakhir) bulan Ramadhan 
dengan kesungguhan yang berbeda dari pada malam-malam sebelumnya&lt;/i&gt;”.&lt;br /&gt;

Dalam hadits ini digunakan lafadz &lt;i&gt;al ‘asyrul al awakhir &lt;/i&gt;yang 
artinya ‘sepuluh terakhir’. Ini menunjukkan kesungguhkan beliau tidak 
hanya pada malam hari saja, namun sehari-semalam beliau 
bersungguh-sungguh.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; mengatakan, 
“Disunnahkan mengerjakan shalat malam terutama pada sepuluh malam 
terakhir bulan Ramadhan. Dan malam-malam yang ganjil lebih ditekankan 
lagi, dan yang paling kuat kemungkinannya pada malam ke dua puluh tujuh.
 Dan disyariatkan untuk bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada 
Allah pada siang dan malam hari di sepuluh hari terakhir Ramadhan” (&lt;i&gt;Majmu’ Fatawa Ibnu Baz&lt;/i&gt;, 15/432).&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Apakah Perlu Berburu Lailatul Qadar Di Malam-Malam Genap?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Imam Ibnu Hazm Al Andalusi memiliki pandangan yang memberikan kita 
alasan untuk berburu malam lailatul qadar di malam genap juga. Dalam 
kitab &lt;i&gt;Al Muhalla&lt;/i&gt; beliau berkata, “Lailatul Qadar itu ada hanya 
sekali dalam setahun, dan hanya khusus terdapat di bulan Ramadhan-nya 
serta hanya ada di sepuluh malam terakhirnya, tepatnya hanya satu hari 
saja dan tidak akan pernah berpindah harinya. Namun, tidak ada satu 
orang manusia pun lailatul qadar jatuh di malam yang mana dari sepuluh 
malam tersebut. Yang diketahui hanyalah bahwa ia jatuh di malam ganjil.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Andaikata Ramadhan itu 29 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari
 sepuluh malam terakhir adalah malam ke-20. Sehingga, lailatul qadar 
dimungkinkan jatuh pada malam ke-20, atau ke-22, atau ke-24, atau ke-26,
 atau ke-28. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam 
terakhir.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Andaikata Ramadhan itu 30 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari
 sepuluh malam terakhir adalah malam ke-21. Sehingga, lailatul qadar 
dimungkinkan jatuh pada malam ke-21, atau ke-23, atau ke-25, atau ke-27,
 atau ke-29. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam 
terakhir” (&lt;i&gt;Al Muhalla&lt;/i&gt;, 4/457)&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Amalan Untuk Meraih Lailatul Qadar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Shalat Malam&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Sebagaimana hadits yang telah lewat, Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda, “&lt;i&gt;Barangsiapa
 mengerjakan shalat malam pada malam lailatul qadar karena iman dan 
mengarapkan pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;ol start=&quot;2&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Berdo’a&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Sebagaimana hadits ‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu ’anha &lt;/i&gt;yang bertanya kepada Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt;
 meminta diajari amalan yang dilakukan ketika lailatul qadar, ternyata 
Rasulullah mengajarkan ‘Aisyah untuk berdo’a. Dari sini para ulama 
mengatakan bahwa malam lailatul qadar adalah malam yang dianjurkan untuk
 memperbanyak do’a. Dan do’a yang paling afdhal adalah do’a yang Nabi 
ajarkan, sebagaimana telah disebutkan.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;ol start=&quot;3&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Membaca Al Qur’an&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Ramadhan adalah bulan Al Qur’an. Dan setiap malam malaikat Jibril datang kepada Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; untuk mengajarkan dan mendengarkan hafalan Al Qur’an Nabi. Hal ini diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhuma,&lt;/i&gt; “&lt;i&gt;Rasulullah
 shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan 
beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril.
 Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan 
kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin 
yang berhembus&lt;/i&gt;” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;

Maka pada malam hari bulan Ramadhan terutama sepuluh hari terakhir dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al Qur’an.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;ol start=&quot;4&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Istighfar&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Hendaknya memperbanyak istighfar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Sebagaimana hadits ‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu ’anha&lt;/i&gt;
 yang diajari Rasulullah sebuah do’a untuk diamalkan ketika malam 
lailatul qadar yang isinya adalah permohonan ampun kepada Allah. Waktu 
malam secara umum adalah waktu yang afdhal untuk beristighfar, Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya: “&lt;i&gt;Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdo’a memohon ampunan&lt;/i&gt;” (QS. Adz Dzariyat: 18)&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;ol start=&quot;5&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;I’tikaf&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; beri’tikaf di sepuluh hari 
terakhir bulan Ramadhan untuk meraih lailatul qadar. Sebagaimana hadits 
yang terdapat dalam Shahih Muslim, Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda, “&lt;i&gt;Aku dahulu beri’tikaf pada&lt;/i&gt; &lt;i&gt;sepuluh
 hari pertama bulan Ramadhan untuk mencari lailatul qadar , lalu aku 
beri’tikaf pada sepuluh hari. Kemudian diwahyukan kepadaku bahwa 
lailatul qadar ada di sepuluh hari terakhir. Maka barangsiapa yang mau 
beri’tikaf hendaknya ia beri’tikaf&lt;/i&gt;”. Maka para sahabat pun beri’tikaf bersama beliau&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Inilah beberapa amalan utama untuk meraih lailatul qadar. Namun 
selain amalan-amalan ini, hendaknya juga melakukan amalan-amalan 
ketaatan lain yang termasuk dalam kategori ‘menghidupkan malam’, seperti
 memperbanyak dzikir dan bershalawat.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Apakah Orang Yang Tidak Bisa I’tikaf Berkesempatan Meraih Lailatul Qadar?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah memberi teladan 
kepada kita bahwa cara untuk mendapatkan lailatul qadar adalah dengan 
i’tikaf. Ini menunjukkan bahwa orang yang beri’tikaf berkesempatan lebih
 besar untuk meraih lailatul qadar. Namun bagi orang yang berhalangan 
untuk beri’tikaf semisal wanita haid, orang yang sakit, musafir, 
semisalnya tetap berkesempatan untuk meraih lailatul qadar. Ibnu Rajab 
Al Hambali mengatakan, “Dalam &lt;i&gt;Musnad Ahmad&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Sunan An Nasa-i&lt;/i&gt; terdapat hadits dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/i&gt; dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bahwa beliau bersabda tentang bulan Ramadhan, “&lt;i&gt;Di
 dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa 
terhalang dari berbuat kebaikan di malam itu maka terhalang baginya 
kebaikan seribu bulan”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Juwaibir pernah bertanya kepada Adh Dhahhak, “Bagaimana pandanganmu 
tentang wanita-wanita yang sedang nifas, haid, dan juga musafir serta 
orang yang tidur di malam lailatul qadar? Apakah mereka mendapat bagian 
dari lailatul qadar?’. Adh Dhahhak berkata, “Ya, setiap orang yang 
diterima amalannya pada malam itu mendapat bagiannya dari lailatul 
qadar’’ (&lt;i&gt;Lathaa-if Al Ma’arif&lt;/i&gt;, 192).&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Semoga kita termasuk hamba Allah yang sukses meraih lailatul qadar. &lt;i&gt;Wabillahi at taufiq&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Penulis : Ustadz Yulian Purnama, S.Kom (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)&lt;br /&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;hr class=&quot;Divider&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; /&gt;
      Article printed from Buletin At-Tauhid: &lt;strong dir=&quot;ltr&quot;&gt;http://buletin.muslim.or.id&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

   URL to article: &lt;strong dir=&quot;ltr&quot;&gt;http://buletin.muslim.or.id/ibadah-2/berburu-lailatul-qadar&lt;/strong&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/8703028699485068505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/8703028699485068505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalanmenujusurgawi.blogspot.com/2013/07/malam-lailatul-qadar.html' title='MALAM LAILATUL QA&#39;DAR'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17750170108885930287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5632499892829625809.post-1231480607105880852</id><published>2013-07-28T11:24:00.000-07:00</published><updated>2013-07-28T12:17:33.010-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="jalan menuju surga"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="surga"/><title type='text'>JALAN MENUJU SURGA</title><content type='html'>&lt;div id=&quot;BlogContent&quot;&gt;
Abud Darda’ &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt; berkata,
 “Perumpamaan para ulama di tengah-tengah umat manusia bagaikan 
bintang-bintang di langit yang menjadi penunjuk arah bagi manusia.” 
(lihat &lt;i&gt;Akhlaq al-’Ulama&lt;/i&gt;, hal. 29)&lt;br /&gt;
Dari Abud Darda’ &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;
 bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut 
ilmu (agama, ed) maka Allah akan membimbingnya ke dalam salah satu jalan
 menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya
 karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang ahli ilmu akan 
dimintakan ampunan oleh segala yang di langit dan segala yang di bumi, 
bahkan ikan yang berada di lautan sekalipun. Keutamaan seorang ahli ilmu
 di atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan di malam purnama di 
atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris 
para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan uang dinar ataupun dirham. Akan
 tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya 
sesungguhnya dia telah mendapatkan jatah [warisan] yang sangat banyak.” 
(HR. Abu Dawud dalam &lt;i&gt;Kitab al-’Ilmi&lt;/i&gt; [3641])&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ilmu merupakan pondasi tegaknya amalan dan ibadah. Sebagian ulama 
salaf (terdahulu) berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah 
tanpa ilmu maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” 
(lihat &lt;i&gt;al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu&lt;/i&gt;, hal. 93)&lt;br /&gt;
Imam Bukhari &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; membuat bab dalam Shahihnya di dalam Kitab &lt;i&gt;al-’Ilmu&lt;/i&gt; sebuah bab dengan judul ‘Ilmu sebelum berkata dan beramal, berdasarkan firman Allah &lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt; (yang artinya), “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah.”&lt;i&gt; &lt;/i&gt;(QS. Muhammad: 19).’ Beliau berkata, “Allah memulai dengan ilmu.” (lihat &lt;i&gt;Fath al-Bari&lt;/i&gt; [1/194])&lt;br /&gt;
Ibnul Munayyir &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata, “Beliau -Imam Bukhari- 
bermaksud untuk menjelaskan bahwa ilmu merupakan syarat benarnya ucapan 
dan amalan. Sehingga keduanya -ucapan dan amalan- tidak dianggap -benar-
 tanpanya. Maka ilmu lebih didahulukan daripada keduanya, sebab ilmu 
menjadi faktor yang meluruskan niat, sedangkan lurusnya niat itulah yang
 menjadi pelurus amalan…” (lihat &lt;i&gt;Fath al-Bari&lt;/i&gt; [1/195])&lt;br /&gt;
Fudhail bin Iyadh &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;berkata, “Sesungguhnya amalan
 jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula 
apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia
 ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan 
benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat &lt;i&gt;Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam&lt;/i&gt;, hal. 19 cet. Dar al-Hadits).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hakikat Ilmu dan Ulama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ibnu Mas’ud &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt; berkata kepada para 
sahabatnya, “Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di masa para 
ulamanya masih banyak dan tukang ceramahnya sedikit. Dan akan datang 
suatu masa setelah kalian dimana tukang ceramahnya banyak namun ulamanya
 amat sedikit.” (lihat &lt;i&gt;Qowa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama&lt;/i&gt;, hal. 40)&lt;br /&gt;
Ilmu tidak diukur semata-mata dengan banyaknya riwayat atau banyaknya
 pembicaraan. Akan tetapi ia adalah cahaya yang ditanamkan ke dalam 
hati. Dengan ilmu itulah seorang hamba bisa memahami kebenaran. 
Dengannya pula seorang hamba bisa membedakan antara kebenaran dengan 
kebatilan (lihat &lt;i&gt;Qowa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama&lt;/i&gt;, hal. 39)&lt;br /&gt;
Imam Ibnul A’rabi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata, “Seorang yang 
berilmu tidak dikatakan sebagai alim robbani sampai dia menjadi orang 
yang -benar-benar- berilmu, mengajarkan ilmunya, dan juga 
mengamalkannya.” (lihat &lt;i&gt;Fath al-Bari&lt;/i&gt; [1/197])&lt;br /&gt;
Lebih daripada itu, ahli ilmu yang sejati adalah yang senantiasa takut kepada Allah. Allah &lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;
 berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang benar-benar merasa takut 
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang 
berilmu.” (QS. Fathir: 28). Karena ilmu dan rasa takutnya kepada Allah, 
para ulama menjadi orang yang paling jauh dari hawa nafsu dan paling 
mendekati kebenaran sehingga pendapat mereka pun diperhitungkan dalam 
syari’at Islam (lihat &lt;i&gt;Qowa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama&lt;/i&gt;, hal. 52).&lt;br /&gt;
Masruq berkata, “Sekadar dengan kualitas ilmu yang dimiliki seseorang
 maka sekadar itulah rasa takutnya kepada Allah. Dan sekadar dengan 
tingkat kebodohannya maka sekadar itulah hilang rasa takutnya kepada 
Allah.” (lihat &lt;i&gt;Syarh Shahih al-Bukhari&lt;/i&gt; karya Ibnu Baththal, 1/136)&lt;br /&gt;
Sa’id bin Jubair &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata, “Sesungguhnya rasa 
takut yang sejati adalah tatkala kamu takut kepada Allah dan rasa takut 
itu menghalangimu dari perbuatan maksiat. Itulah rasa takut yang 
sebenarnya. Hakikat dzikir adalah kepatuhan kepada Allah. Siapa pun yang
 patuh kepada Allah maka dia telah berdzikir kepada-Nya. Barangsiapa 
yang tidak patuh kepada-Nya maka dia bukanlah orang yang berdzikir 
kepada-Nya, meskipun dia banyak membaca tasbih dan tilawah al-Qur’an.” 
(lihat &lt;i&gt;Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar&lt;/i&gt;, hal. 31)&lt;br /&gt;
Sa’ad bin Ibrahim &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; pernah ditanya; Siapakah 
ulama yang paling fakih (paham agama, ed) di antara penduduk Madinah? 
Maka beliau menjawab, “Yaitu orang yang paling bertakwa di antara 
mereka.” (lihat &lt;i&gt;Ta’liqat Risalah Lathifah&lt;/i&gt;, hal. 44).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nasehat Bagi Para Da’i dan Penimba Ilmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sufyan &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; pernah ditanya, “Menuntut ilmu yang 
lebih kau sukai ataukah beramal?”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya ilmu 
itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan tinggalkan menuntut ilmu 
dengan dalih untuk fokus beramal, dan jangan tinggalkan amal dengan 
dalih untuk fokus menuntut ilmu.” (lihat &lt;i&gt;Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal&lt;/i&gt;, hal. 44-45)&lt;br /&gt;
Abud Darda’ &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt; berkata: Aku tidak takut apabila kelak ditanyakan kepadaku, &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;Hai
 Uwaimir, apa yang sudah kamu ilmui?”. Namun, aku khawatir jika 
ditanyakan kepadaku, “Apa yang sudah kamu amalkan dari ilmu yang sudah 
kamu ketahui?” (lihat &lt;i&gt;Syarh Shahih al-Bukhari&lt;/i&gt; karya Ibnu Baththal, 1/136)&lt;br /&gt;
Ibnu Baththal berkata, “Barangsiapa yang mempelajari hadits demi 
memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya (baca: riya’) maka kelak 
di akherat Allah akan memalingkan wajahnya menuju neraka.” (lihat &lt;i&gt;Syarh Shahih al-Bukhari&lt;/i&gt; karya Ibnu Baththal, 1/136)&lt;br /&gt;
Sufyan bin ‘Uyainah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; mengatakan, “Barangsiapa 
yang rusak di antara ahli ibadah kita maka pada dirinya terdapat 
kemiripan dengan orang Nasrani. Barangsiapa yang rusak di antara ahli 
ilmu kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Yahudi.” 
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hal itu dikarenakan orang Nasrani beribadah 
tanpa ilmu sedangkan orang Yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi 
mereka justru berpaling darinya.” (lihat &lt;i&gt;Ighatsat al-Lahfan&lt;/i&gt;, hal. 36)&lt;br /&gt;
Imam Ibnul Qoyyim&lt;i&gt; rahimahulllah &lt;/i&gt;berkata,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;“… 
Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha 
Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya 
amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak 
akan mencela orang-orang munafik.”&lt;i&gt; &lt;/i&gt;(lihat&lt;i&gt; al-Fawa’id, &lt;/i&gt;hal. 34)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnus Samak &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;berkata, “Wahai saudaraku. Betapa 
banyak orang yang menyuruh orang lain untuk ingat kepada Allah sementara
 dia sendiri melupakan Allah. Betapa banyak orang yang menyuruh orang 
lain takut kepada Allah akan tetapi dia sendiri lancang kepada Allah. 
Betapa banyak orang yang mengajak ke jalan Allah sementara dia sendiri 
justru meninggalkan Allah. Dan betapa banyak orang yang membaca Kitab 
Allah sementara dirinya tidak terikat sama sekali dengan ayat-ayat 
Allah. Wassalam.” (lihat &lt;i&gt;Ta’thirul Anfas&lt;/i&gt;, hal. 570)&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wallahu a’lam bish showaab.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[redaksi]&lt;/div&gt;
&lt;hr class=&quot;Divider&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; /&gt;
Article printed from Buletin At-Tauhid: &lt;b dir=&quot;ltr&quot;&gt;http://buletin.muslim.or.id&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
URL to article: &lt;b dir=&quot;ltr&quot;&gt;http://buletin.muslim.or.id/nasehat/ilmu-jalan-menuju-surga&lt;/b&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/1231480607105880852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5632499892829625809/posts/default/1231480607105880852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalanmenujusurgawi.blogspot.com/2013/07/jalan-menuju-surga.html' title='JALAN MENUJU SURGA'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17750170108885930287</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>