<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475</atom:id><lastBuildDate>Mon, 30 Dec 2024 04:10:18 +0000</lastBuildDate><category>feature</category><category>Sosok</category><category>Featured</category><category>Headline News</category><category>humaninterest</category><category>opini</category><category>budaya</category><category>hiburan</category><category>Politik</category><category>perempuan</category><category>lingkungan</category><category>sastra</category><category>sejarah</category><category>foto</category><title>Pedagang Kata</title><description>Pedagang Kata adalah sebuah blog yang dikelola Munawardi Ismail, seorang wartawan yang terus belajar menulis</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>131</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Pedagang Kata adalah sebuah blog yang dikelola Munawardi Ismail, seorang wartawan yang terus belajar menulis</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-8543590216673317276</guid><pubDate>Tue, 04 Oct 2016 10:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-04T17:27:12.216+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosok</category><title> Emas Bandung Untuk Masa Depan Sulthan</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheGp6VuL6WzfIYFw_8hnj6bduI5X_WUXZh_RNguiMXS35mzJe0ynMTEoGki3k-SVBn6KEPm7ve43uWRdBe60gMoOgykN5zo_h1Ue3_hqIfMyhyiYicB2vHl2_c99jYAO_Vni6lbFFxFE4/s1600/Surahmat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="390" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheGp6VuL6WzfIYFw_8hnj6bduI5X_WUXZh_RNguiMXS35mzJe0ynMTEoGki3k-SVBn6KEPm7ve43uWRdBe60gMoOgykN5zo_h1Ue3_hqIfMyhyiYicB2vHl2_c99jYAO_Vni6lbFFxFE4/s640/Surahmat.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;MENJADI &lt;/b&gt;juara sudah cita-cita setiap atlet. Medali adalah target yang dikejar dalam setiap kompetisi. Begitu juga halnya dengan Surahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atlet angkat besi Aceh ini, kembali menyumbang medali untuk tanah rencong. Saat tampil di Gymnasium Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa(20/9) di mencatat total angkatan 255 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lifter "naturalisasi" ini merebut medali emas cabang olahraga angkat besi kelas 56 kg PON 2016 Jawa Barat. Raihan emas yang diraihnya menjadi kepingan dalam catatan sejarah selama 27 Aceh tampil di PON.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir tiga dekade ikut PON, baru kali ini Aceh menoreh catatan apik dalam perolehan medali. Surahmat ikut bangga menjadi salah satu penyumbangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ikut bangga bisa menyumbang medali ini," ujar lifter kelahiran Blora 11 Mei 1988 kepada Waspada, dalam penerbangan pulang dari Bandung ke Banda Aceh, akhir pekan kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada PON XVIII di Riau pada 2012, atlet yang lahir dari&amp;nbsp; pasutri Sunoto dengan Sumini ini juga menyumbang potongan medali perak. "Alhamdulillah, ada peningkatan," ujar bungsu dari tujuh bersaudara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasinya tak sebatas di PON. Ada sederet prestasi yang direngkuh peraih perak Universiade Kazan XXVII 2013 di Kazan, Rusia. Lalu, dia masuk delapan besar Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Surahmat menempati rangking 13 dunia dengan rekor tertinggi angkatan 263 Kg di Korsel. Tampil dalam Kejuaraan Dunia di Kazakhstan 2015. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masuk 13 besar dari 31 peserta. Saat di Kejuaraan Dunia 2015 di Houston, Amerika Serikat masuk 10 besar," ujar peraih medali perak di PON XVIII Riau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat ke Bandung, Surahmat punya suntikan semangat ekstra. Pemacu adrenalin saat tanding itu tak lain kelahiran anak pertama jenis kelamin laki-laki yang diberi nama Sulthan Abizard Rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah, anak juga menjadi penambah semangat saya saat berangkat ke Bandung," ungkap Rahmat seraya menyebut anaknya lahir pada 13 September 2016 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah hati pertamanya itu lahir dari rahim Nurlaili, perempuan Simpang Ulim, Aceh Timur yang disuntingnya pada 12 Februari 2015. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eforia sudah berlalu. Kini, Rahmat ingin menikmati juara bersama anak dan istri tercintanya. Karena itulah dia sudah berencana membeli sebuah rumah dari bonus Rp250 juta yang bakal diterimanya dari KONI Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, dia tak ingin lama-lama lagi menikmati kemenangan. "Insha Allah, rencana saya begitu, memberi rumah untuk masa depan anak-anak dari kumpulan uang-uang bonus," jelas Rahmat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai PON, katanya, ia akan alihkan fokus ke Sea Games, apalagi Pelatnas pada Januari nanti. "Paling-paling istirahat seminggu, setelah itu latihan lagi. Kalau tak latihan kontinyu bisa-bisa rusak angkatan," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya latihan yang kontinyu, tapi porsi makanan juga wajib dijaga. Pagi tujuh butir telor, siang empat potong daging ayam dan malam 4-5 potong daging sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasanya beberapa bulan menjelang turun di kompetisi, porsi makanan, suplemen dan latihan disesuaikan," tutup lifter yang juga pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
Sumber: &lt;i&gt;Waspapda&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2016/10/emas-bandung-untuk-masa-depan-sulthan.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheGp6VuL6WzfIYFw_8hnj6bduI5X_WUXZh_RNguiMXS35mzJe0ynMTEoGki3k-SVBn6KEPm7ve43uWRdBe60gMoOgykN5zo_h1Ue3_hqIfMyhyiYicB2vHl2_c99jYAO_Vni6lbFFxFE4/s72-c/Surahmat.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-5322791234094882071</guid><pubDate>Thu, 27 Aug 2015 06:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-08-27T13:55:11.333+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><title>"Hidup Kami Belum 'Merdeka' dari Sepakbola.."</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC1YCrwSX37SBlMRB9g9QHNUGltHMmnAPeTfqxasPqQmLgYwYXndzoRNJPpQ_jso_S2jSQaZmLVViFmUjSHA2z0-FhdMCbKVdGnntqQYTqLfGmzeb4e1ZZPNiHzfPq3ErcF-7Lm7r4tEA/s1600/Syakir.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="218" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC1YCrwSX37SBlMRB9g9QHNUGltHMmnAPeTfqxasPqQmLgYwYXndzoRNJPpQ_jso_S2jSQaZmLVViFmUjSHA2z0-FhdMCbKVdGnntqQYTqLfGmzeb4e1ZZPNiHzfPq3ErcF-7Lm7r4tEA/s320/Syakir.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sepakbola dipahami sebagai sebuah permainan yang melibatkan nasib didalamnya. Nasib itu dimain-mainkan di antara kaki ke kaki. Terkadang pula, nasib yang dimain-mainkan itu berbelok tanpa disangka-sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula yang dijalani seorang anak manusia bernama Martunis. Dia seorang anak petani tambak di Desa Tibang, Syiah Kuala, Banda Aceh yang ikut menjadi korban bencana dahsyat pada 26 Desember 2004.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski talentanya belum teruji seperti pemain nasional, Evan Dimas, tapi Martunis sudah menginjakkan kakinya ke akademi Sporting Lisbon, Portugal. Akademi ini diyakini sebagai sebuah sekolah bola terbaik di Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan sekadar gagah-gagahan saja. Terbukti, ada sederet pemain top dunia yang pernah berguru di akademi tersebut. Katakan saja, Luis Figo, Calvanho, Pepe hingga Cristiano Ronaldo. Nama terakir ini punya hubungan baik dengan pemain Aceh; Martunis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkait permainan nasib, saat ini cukup banyak pemain profesional di Indonesia yang menjadi kurang beruntung setelah PSSI dibekukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Akibatnya, semua kompetisi resmi di semua strata terhenti sejak 2 Mei lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi buruk inilah yang sangat berdampak langsung bagi pemain sepakbola di Indosesia. Khususnya pemain yang hanya semata-mata mencari nafkah di lapangan hijau. Untuk membuat asap dapur mengepul, tak sedikit pemain profesional yang biasa bermain di liga bergengsi harus turun kasta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Turun kasta akibat degradasi isi dompet inilah yang membuat banyak pemain harus rela bermain bola antar kampung yang akrab dikenal tarkam. Hasil atau bayaran yang diperoleh, tentu saja tak sebanyak saat masih berbaju klub-klub profesional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena alasan manusiawi itulah, mereka mengunci rasa gengsi dalam lemari. Demi bisa bertahan hidup dengan keahlian yang mereka miliki hanya bermain bola, maka kompetisi Tarkam menjadi sebuah harapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih memiriskan lagi, sejak kompetisi berhenti disusul kebijakan klub yang membubarkan tim, praktis isi dompet tipis bin kosong. Bahkan, tak sedikit pemain liga yang belum menerima gaji mereka di klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, mau tak mau, para pemain inipun melirik liga antar kampung untuk mencari nafkah dengan bayaran yang pas-pasan. Kondisi ini bisa kita lihat langsung di sejumlah daerah yang menjadi lumbung pemain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khusus Banda Aceh, akhir pekan kemarin di lapangan Jasdam, Neusu, dipenuhi pemain-pemain yang masuk dalam uraian di atas. Apalagi di lapangan tersebut, sedang ada tarkam bertajuk Turnamen HUT RI ke-70 memperebutkan Piala Kodam Iskandar Muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada 16 klub yang ambil bagian. Ada dua klub bertarung di final yang umumnya diperkuat pemain-pemain profesional. Dua tim finalis itu adalah AMPI FC dan Keutapang Dua Club atau KDC Keutapang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kubu AMPI FC misalnya, ada Syakir Sulaiman, mantan pemain muda terbaik ISL dua musim lalu. Kurniawan Septi Hariansyah, Safrizani, Andri Muliadi (pemain Persiraja), Ikhwani Hasanuddin (Persigres Gresik) dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan di KDC ada pemain veteran macam Dahlan Jalil, Wahyu AW, Randy Rizky mantan pemain Persiraja, serta pemain-pemain lain yang sempat mengenyam liga profesional; Fitra Ridwan, Rahmat, Helmi PSMS , Nurul Zikra, Jalwandi dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Striker Persiraja yang memperkuat AMPI FC, Septi Hariansyah mengaku dengan mati surinya kompetisi, sulit menolak tawaran main tarkam. "Hidup kami sangat tergantung pada sepakbola," ungkap Septi yang diamini rekannya, Safrizani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami juga tidak punya pemasukan lain, dengan main tarkam, setidaknya bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, beli susu anak juga. Semoga kisruh ini cepat selesai, jangan sampai mematikan karier kami," ungkapnya dengan nada memilukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecuali tampil di tarkam yang ada di seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar, Septi dkk juga tak menolak tawaran main di turnamen-turnamen serupa di&amp;nbsp; seantero Aceh, seperti di wilayah Pantai Barat Selatan Aceh hingga wilayah Timur dan Utara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu diakui kapten Persiraja Banda Aceh Kurniawan yang mengaku nasibnya tak jauh beda dengan pemian lain, seperti Septi. "Tawaran ke luar daerah ada juga kami terima dengan tarif&amp;nbsp; berbeda," kata dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurniawan mengaku tidak malu membeberkan tarif setiap kali tampil pada turnamen antar kampung. "Di Banda Aceh biasa Rp300-350, kalau Aceh Besar dan luar kota sering di bayar Rp 500-700 ribu," ungkap dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemain Sriwijaya FC, Syakir Sulaiman yang juga sempat "dikontrak" AMPI FC juga tampil pada turnamen serupa. Dia sempat tampil dua kali membela tim amatir. Selama dua kali turun itu dia berhasil mencetak empat gol untuk duduk sebagai top skor bersama tiga kawan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penampilan mantan pemain Barito Putra ini mampu menghibur publik Banda Aceh. Skill mumpuni lajang asal Bireuen ini mampu menghipnotis penonton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Selama tak ada kompetisi, sudah sering saya main tarkam. Kalau tidak main bola sakit badan saya, ini juga sekaligus untuk jaga badan biar tetap bugar," ungkap Syakir, yang juga mantan pemain Timnas U-23 ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lain ambisi pemain, lain pula motivasi penonton. "Ini hiburan bagi kami, apalagi sepakbola kompetisi tak ada lagi. Ya, nasib negara kita begitu," tukas Halim, warga setempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Harapan kami pada HUT RI ke-70 ini, kisruh PSSI dengan Kemenpora cepat selesai. Jika begini terus, bukan saja menyiksa banyak pemain, banyak pihak juga rugi. Padalah kemerdekaan sejati kami rakyat kecil adalah mendapat hiburan dengan menonton sepakbola," ujar Halim lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa daya, harapan pemain dan penonton seperti membentur tembok. Sebab, Menpora Imam Nahrawi belum "memerdekakan" pikirannya dari harapan banyak orang. Ya, nasib.&lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/08/hidup-kami-belum-merdeka-dari-sepakbola.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC1YCrwSX37SBlMRB9g9QHNUGltHMmnAPeTfqxasPqQmLgYwYXndzoRNJPpQ_jso_S2jSQaZmLVViFmUjSHA2z0-FhdMCbKVdGnntqQYTqLfGmzeb4e1ZZPNiHzfPq3ErcF-7Lm7r4tEA/s72-c/Syakir.JPG" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-6851631810064980104</guid><pubDate>Thu, 27 Aug 2015 06:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-08-27T13:52:34.872+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><title>Dua Hari Unsyiah Wisuda 1.900 Sarjana Baru</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEg553UOUSbs4fIaHoHj7mOFZqTo7fB4gcox2MCBeQxsO7SrtHJkFChgRJeUwSr1I7zlEFB9I4XQ2MrqrwLYC7Sb9rzzVrDpmZEBBTBTO4DtjJL5dc4XW0IeS2NSdroOEmUPlLZ6KlGy0/s1600/Wisudawan.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEg553UOUSbs4fIaHoHj7mOFZqTo7fB4gcox2MCBeQxsO7SrtHJkFChgRJeUwSr1I7zlEFB9I4XQ2MrqrwLYC7Sb9rzzVrDpmZEBBTBTO4DtjJL5dc4XW0IeS2NSdroOEmUPlLZ6KlGy0/s320/Wisudawan.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Universitas Syiah Kuala kembali mewisudakan 1.900 lulusannya. Wisuda berlangsung dalam dua hari, Rabu-Kamis (26-27/8). Hari pertama wisuda yang berlangsung di AAC Dayan Dawood ini, hanya dihadiri 902 wisudawan baru Unsyiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara 998 orang lulusan lainnya akan akan diwisuda pada hari Kamis (27/8) hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi yang diperoleh Waspada, dari 1.900 wisudawan tersebut, 222 orangnya merupakan lulusan Pascasarjana, 36 orang lulusan Pendidikan Profesi, 1 orang lulusan Program Spesialis, 1.485 orang lulusan sarjana (S1), serta 156 orang lulusan Diploma III.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sambutannya Rektor Unsyiah, Samsul Rizal juga memberikan apresiasi yang tinggi, terhadap 251 orang lulusan Unsyiah yang berhasil meraih tingkat yudisium cumlaude (pujian) pada upacara wisuda kali ini, di mana 154 orang diwisuda pada hari pertama ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan jumlah tersebut, maka persentase lulusan yang lulus dengan yudisium cumlaude pada priode Mei – Juli 2015 ini, meningkat tajam menjadi 13,2 persen, dibandingkan dengan dua periode sebelumnya yang persentasenya hanya 7,5 – 9,1 persen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kesempatan tersebut Rektor juga mengungkapkan, Unsyiah terus berkomitmen untuk meningkatkan kapasitasnya, demi mempersembahkan pelayanan terbaik untuk dunia pendidikan, khususnya di Aceh. "Bukti nyata dari komitmen tersebut adalah, Unsyiah berhasil mendapatkan nilai akriditasi A," ungkap Samsul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rektor menambahkan, nilai akreditasi institusi, nilai akreditasi program studi, serta pencitraan publik Unsyiah selama ini secara umum kian membaik. Kata dia, ini menjadi salah satu faktor yang sangat mempermudah jalan para lulusan untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oleh karena itulah, saya sangat rasa berterima kasih kepada masyarakat sehingga Unsyiah telah berkembang menjadi semakin inovatif, semakin mandiri, dan semakin terkemuka,” ujar Rektor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada para wisudawan, Rektor juga berpesan untuk terus meningkatkan kompetensinya. Salah satu kompetensi yang sangat penting di zaman sekarang adalah kemampuan untuk bekerja sama dalam tim, mengembangkan kemandirian dan kreatifitas, dengan berbekal dasar keilmuan yang telah diperoleh selama di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Rektor, Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi memberikan peluang yang sangat luas kepada mahasiswa untuk mengasah kompetensi ini secara kompetitif melalui Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alhamdulillah, tahun ini sebanyak 47 judul PKM dari Unsyiah lolos dan mendapatkan pembiayaan dari Dikti, dan 10 di antaranya bahkan diundang ke ajang bergengsi, Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) di Sulawesi Tenggara,” ungkap Rektor Unsyiah. &lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/08/dua-hari-unsyiah-wisudakan-1900-lulusan.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEg553UOUSbs4fIaHoHj7mOFZqTo7fB4gcox2MCBeQxsO7SrtHJkFChgRJeUwSr1I7zlEFB9I4XQ2MrqrwLYC7Sb9rzzVrDpmZEBBTBTO4DtjJL5dc4XW0IeS2NSdroOEmUPlLZ6KlGy0/s72-c/Wisudawan.JPG" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-2310819861718960740</guid><pubDate>Mon, 24 Aug 2015 06:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-08-27T13:45:18.115+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><title>  Ingin KPM Berbasis Masjid?, Ada di UIN Ar-Raniry</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-kFUzJb17JSuZ7ai2_hYfOZJBRIdzxwKR8W4HFa0BhnqrDnohK5x4cdaYXbprw6BRM0VLogkuVTbA1DBQPbkRGiK1Dm6Xj5VJK7pPvZA2oZpqQHsjLcugVCS5KYClQ_5xmcvpzdfLgWk/s1600/Ar-Raniry.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-kFUzJb17JSuZ7ai2_hYfOZJBRIdzxwKR8W4HFa0BhnqrDnohK5x4cdaYXbprw6BRM0VLogkuVTbA1DBQPbkRGiK1Dm6Xj5VJK7pPvZA2oZpqQHsjLcugVCS5KYClQ_5xmcvpzdfLgWk/s320/Ar-Raniry.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melakukan terobosan baru dalam menerapkan program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) dan Pengabdian Dosen. Mulai tahun ini, mereka akan menerapkan KMP berbasis masjid yang akan berlangsung selama tiga bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu diungkapkan, Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA yang diwakili oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UIN Ar-Raniry Dr. H. Muhibbuthabry, M.Ag dalam arahannya pada pembekalan KPM berbasis Masjid, Senin (24/8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita terus melakukan upaya perubahan-perubahan setelah alih status IAIN ke Universitas, integrasi ini adalah memberikan peluang untuk melakukan pengabdian dengan keilmuan yang luas, salah satunya pengabdian berbasis masjid ini,” ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warek I menambahkan, KPM dan Pengabdian Dosen berbasis masjid ini sangat tepat dilaksanakan, karena masjid-masjid di Aceh merupakan sebagai central bagi masyarakat Aceh, baik dalam beribadah maupun kegiatan keagaamaan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurutnya, KPM yang dilakukan UIN selama ini sudah tepat dan dapat diimplementasikan dengan karakteristik UIN yang berbasis keislaman. Oleh karena itu, nantinya diharapkan peserta dapat membangun masyarakat dengan spirit spritualitas dan aspek kesejahteraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Peserta yang akan melakukan pengabdian ini terdiri dari berbagai prodi di UIN Ar-Raniry, dengan berbagai disiplin ilmu yang dimiliki dapat membimbing masyarakat sesuai dengan ilmu dan keterampilan yang telah dimiliki selama di bangku kuliah,” ujar Muhibbuthabry.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kesempatan yang sama Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat Drs. M. Jakfar Puteh, M.Pd menambahkan KPM dan Pengabdian Dosen ini merupakan yang pertama dilaksanakan di UIN Ar-Raniry.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“KPM dan Pengabdian dosen ini dilaksanakan secara bersamaan, dimana para dosen yang melakukan pengabdian sekaligus akan menjadi pendamping bagi mahasiswa KPM dan Masyarakat dalam melaksanakan berbagai program di gampong-gampong nantinya,” paparnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutkan, peserta pengabdian berbasis masjid ini berjumlah 175 orang, terdiri 130 mahasiswa dan 45 dosen pembimbing, mereka akan ditempatkan pada lima gampong di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar yaitu gampong Alue Naga, Rukoh, Tibang, Limpok, Tanjong Selamat, Barabung, Baet, Cadek dan Blang Kreung, peserta KPM akan berada di gampong pengabdian selama tiga bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peserta pengabdian masyarakat direncanakan akan diantar langsung oleh Rektor UIN pada 27 Agustus 2015 mendatang. &lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/08/ingin-kpm-berbasis-masjid-ada-di-uin-ar.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-kFUzJb17JSuZ7ai2_hYfOZJBRIdzxwKR8W4HFa0BhnqrDnohK5x4cdaYXbprw6BRM0VLogkuVTbA1DBQPbkRGiK1Dm6Xj5VJK7pPvZA2oZpqQHsjLcugVCS5KYClQ_5xmcvpzdfLgWk/s72-c/Ar-Raniry.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-7399303057876632368</guid><pubDate>Sun, 23 Aug 2015 06:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-08-27T13:37:14.031+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><title>  Unsyiah Haramkan Ospek, Tapi Gelar Pakarmaru</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUbwXX8jXA8mB6yAo2HDXUh_NzFLX4ezN7uvZbwHtFQRuVJStMDvQvpePQI-mTzJAI4Ee2KGlIJ4ESHiVNcxaMRKT9Q_Wdh0XTCAUONFdloGCYs9rtURdUpYWo-w_s0t1sKjYWUjFumVE/s1600/unsyiha-transparant.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUbwXX8jXA8mB6yAo2HDXUh_NzFLX4ezN7uvZbwHtFQRuVJStMDvQvpePQI-mTzJAI4Ee2KGlIJ4ESHiVNcxaMRKT9Q_Wdh0XTCAUONFdloGCYs9rtURdUpYWo-w_s0t1sKjYWUjFumVE/s1600/unsyiha-transparant.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengharamkan digelarnya berbagai bentuk orientasi pengenalan kampus bernuansa perploncoan oleh mahasiswa senior. Kendati begitu, Unsyiah akan menggelar Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru (Pakarmaru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Humas Unsyiah, DR Ilham Maulana kepada &lt;i&gt;Waspada,&lt;/i&gt; Minggu (23/8) mengatakan Pakarmaru, digelar untuk dipersiapkan karakter mahasiswa agar siap memasuki dunia&lt;br /&gt;perkuliahan. "Pakarmaru digelar melalui bidang kemahasiswaan yang berada di bawah pembantu rektor III," kata Ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan, tahun lalu, Pakarmaru juga digelar untuk menggantikan ospek terhadap mahasiswa baru. "Pakarmaru wajib diikuti oleh semua mahasiswa baru tahun ini," ungkap dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dia, pelaksanaan Pakarmaru 2015 akan berlangsung selama tiga hari sejak 29-31 Agustus 2015 dan akan berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, dalam sebuah kesempatan Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng mengatakan kegiatan ini sebagai bagian dari pengenalan Unsyiah, khususnya yang terkait dengan proses perkuliahan dan pembentukan karakter yang positif bagi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para mahasiswa nantinya akan mendapatkan ulasan materi dari tokoh-tokoh hebat. Tahun sebelumnya, mahasiswa mendapat pembekalan langsung dari Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Kajati Aceh, serta pejabat pemerintah Aceh dan Unsyiah. Selain itu, ada juga kegiatan yang diisi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan motivasi dari tim ESQ," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor menyebutkan, melalui Pakarmaru mahasiswa juga diharapkan mampu mengenal kampus, baik mengenai kegiatan akademik yang bersifat kurikuler atau ekstrakurikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut rektor, kegiatan tahunan ini akan diikuti oleh 12 fakultas di lingkungan Unsyiah yang dibagi atas tiga kelompok. Hari pertama akan diikuti oleh mahasiswa dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Kelautan dan Perikanan. Kemudian hari kedua diikuti oleh mahasiswa dari Fakultas Teknik, FISIP, FMIPA, dan Fakultas Kedokteran Gigi. Sedangkan hari terakhir diikuti oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran, FKIP, Fakultas Kedokteran Hewan, dan Fakultas Keperawatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagaimana tahun lalu, tahun ini diperkirakan ribuan mahasiswa akan ikut dalam kegiatan akademik ini. Mahasiswa yang lulus PAKARMARU nantinya akan diberikan sertifikat,” papar Samsul. &lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/08/unsyiah-haramkan-ospek-tapi-gelar.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUbwXX8jXA8mB6yAo2HDXUh_NzFLX4ezN7uvZbwHtFQRuVJStMDvQvpePQI-mTzJAI4Ee2KGlIJ4ESHiVNcxaMRKT9Q_Wdh0XTCAUONFdloGCYs9rtURdUpYWo-w_s0t1sKjYWUjFumVE/s72-c/unsyiha-transparant.png" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-3247264658761999457</guid><pubDate>Sat, 22 Aug 2015 06:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-08-27T13:39:30.522+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><title>UIN Ar-Raniry dan Pemkab Simeulue Jalin Kerjasama</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJh1bXMi0EBOTugyjHJFvMCix0aIUqRdYx8C4Om6jLvbSZms4WfS-2Rb2AY5_lauH-X0m0j4QkjVeD9OJqqg7GFm0bOVmMIbSRzVXI73ITuN_-mlXcWRZaAgFWs4Mjf_vBqYSltxGoSfE/s1600/UIN+Simeulue.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJh1bXMi0EBOTugyjHJFvMCix0aIUqRdYx8C4Om6jLvbSZms4WfS-2Rb2AY5_lauH-X0m0j4QkjVeD9OJqqg7GFm0bOVmMIbSRzVXI73ITuN_-mlXcWRZaAgFWs4Mjf_vBqYSltxGoSfE/s320/UIN+Simeulue.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh resmi menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Simeulue dalam bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja sama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA dan Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS berlangsung pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda semester genap TA 2014/2014, Sabtu (22/8) di Auditorium Prof Ali Hasjmy Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor UIN Ar-Raniry Prof Farid Wajdi Ibrahim mengatakan, UIN Ar-Raniry Banda Aceh membuka peluang kepada semua pihak yang ingin melakukan kerja sama, kali ini pemerintah Kabupaten&amp;nbsp; Simeulue sepakat untuk menandatangani naskah kerjasama dengan UIN Ar-Raniry yang dilaksanakan dalam prosesi wisuda UIN tahun 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Simeulue, penandatanganan MoU ini telah lama direncanakan namun baru terlaksana hari ini dan dilakukan pada acara resmi yaitu dalam Rapat Senat Terbuka,” ujar Farid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor menambahkan, UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada masyarakat dan pemerintah Kabupaten Simeulue dan mereka menerimanya dengan baik, pada tahun 2015 ini UIN Ar-Raniry memberikan perhatian khusus kepada putra-puteri Simeulue saat masuk ke UIN Ar-Raniry, sehingga mereka dapat menimba ilmu di UIN Ar-Raniry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kata Farid,&amp;nbsp; UIN Ar-Raniry juga memberikan perhatian kepada masyarakat di Kabupaten Simeulue, misalnya mengikirimkan dosen dalam program pengabdian masyarakat, biasanya berlangsung selama 20-30 hari berada di daerah, ke depan juga akan ada pengabdian mahasiswa dalam bentuk KPM yang akan ditempatkan di Simeulue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS mengatakan, atas nama pemerintah dan masyarakat Simeulue memberikan apresiasi kepada UIN Ar-Raniry yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan kerjasama yang diawali dengan penandatanganan naskah kerjasama antara UIN Ar-Raniry dengan Pemerintah Kabupaten Simeulue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah ke depan kita harapkan putera-puteri dari Kabupaten Simeulue lebih banyak mendapat kesempatan untuk dapat menuruskan pendidikannya di UIN Ar-Raniry ini, dalam tiga tahun terakhir ini disambut baik program-program oleh Rektor UIN Ar-Raniry,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riswan menyebutkan, tahun ini ada 115 orang putera-puteri dari Kabupaten Simeulue yang mengikuti tes masuk ke UIN Ar-Raniry, 106 diantaranya lulus seleksi, selebihnya ada yang diberi kesempatan lulus rekomendasi ke prodi-prodi tertentu, serta sebagian lainnya nilai nya masih dibawah standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada pimpinan UIN Ar-Raniry, dan ini kesempatan yang sangat luar biasa bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Simeulue,” demikian Riswan.&lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/08/uin-ar-raniry-dan-pemkab-simeulue-jalin.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJh1bXMi0EBOTugyjHJFvMCix0aIUqRdYx8C4Om6jLvbSZms4WfS-2Rb2AY5_lauH-X0m0j4QkjVeD9OJqqg7GFm0bOVmMIbSRzVXI73ITuN_-mlXcWRZaAgFWs4Mjf_vBqYSltxGoSfE/s72-c/UIN+Simeulue.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-2795160850092068911</guid><pubDate>Wed, 19 Aug 2015 06:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-08-27T13:35:34.404+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><title> Dua Universitas Aceh Kerjasama Dengan Malaysia</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7YG4ajj5DTWmzP543ZprR8Mat0ufpiOq5zS2dkG5CO9YZcSfZyvhfNcT0_QAFAe9nyL4ooEiT5jWVRyLZBpPnr7Ajvt9x0plufo9579PblQvaRCSEupL9CaMSQLCDFJ6jum_PoNpfmjc/s1600/Unsyiah.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="217" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7YG4ajj5DTWmzP543ZprR8Mat0ufpiOq5zS2dkG5CO9YZcSfZyvhfNcT0_QAFAe9nyL4ooEiT5jWVRyLZBpPnr7Ajvt9x0plufo9579PblQvaRCSEupL9CaMSQLCDFJ6jum_PoNpfmjc/s320/Unsyiah.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dua uversitas di Aceh yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry secara resmi menjalin kerja sama dengan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Trengganu Malaysia dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng dan Rektor UIN Prof De Farid Wajdy dengan Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi penandatanganan nota kesepahaman tersebut berlangsung di masing-masing kampus, , Rabu (19/8) pada waktu yang berbeda. "Kerjasama dengan universitas kerajaan Malaysia ini adalah awal dari kemajuan peradaban pendidikan, terutama pendidikan Islam, mengingat UniSZA berlatar kampus Islam," kata Prof. Samsul dalam kata sambutannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dia, selama ini Unsyiah sudah kerap menjalin kerjasama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) seperti join seminar setiap tahun. Selain itu, ada juga kerjasama berupa konsorsium ilmu pendidikan dengan Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Prof. Yahaya mengaku, UniSZA saat ini merupakan salah satu kampus favorit yang terletak di Pantai Timur Semenanjung Malaysia. Mahasiswa di UniSZA berasal dari multi etnis, bahkan ada mahasiswa dari luar negeri seperti Kazakhstan dan beberapa negara ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Letak kampus UniSZA hampir sama dengan Aceh, karena diapit oleh lautan. Jadi, penghasilan terbesar masyarakat Trengganu berasal dari sektor perikanan,” ujar Guru Besar dari UKM tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, jumlah mahasiswa di UniSZA sekarang berkisar 9 ribu orang. Dan tahun depan akan bertambah menjadi 10 ribu orang. Bahkan, tambahnya, pelajar dari Palestina dapat berkuliah gratis di UniSZA tanpa dipungut biaya apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami ingin membantu seluruh pelajar di seluruh penjuru dunia. Kolaborasi dengan Unsyiah ini juga bagian dari itu. Namun, kami masih membutuhkan tenaga pengajar untuk bidang farmasi dan medis," ungkap dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang sama, Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim juga menjalin kerjasama dengan UIN Ar-Raniry. “Kita berharap dengan penandatanganan nasakah kerjasma ini, UIN dan UnisZA dapat menghasil program-program pendidikan yang mengedepankan mutu dan kualitas,” imbuh Datuk Yahya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA menyebutkan baik kerjasama itu. “UIN Ar-Raniry Aceh ini terus meningkatkan hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus luar negeri, khusus dengan kampus di Malaysia telah dilakukan beberapa bidang kerjasama dengan berbagai kampus yang ada di Malaysia,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dia, hubungan antara Aceh dengan Malaysia telah lama terjalin, begitu halnya dengan kampus Ar-Raniry ini, sejak tahun 1980 telah ada mahasiswa yang berasal dari Malaysia. "Itu artinya Kampus Ar-Raniry ini telah menjalin hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus di Malaysia sejak sebelum tahun 80-an," sebut dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid menyebutkan, beberapa bulan lalu UIN menerima mahasiswa dari Malaysia yang di lakukan dengan dua jalur, yaitu jalur transfer di mana mahasiswa melanjutkan kuliah di UIN Ar-Raniry, dan jalur kedua mereka mengikuti tes untuk masuk mulai semester pertama, tes telah dilaksanakan di Malaysia dan diikuti oleh lebih kurang 16 sekolah menengah yang ada di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hubungan UIN Ar-Raniry dan Aceh dengan Malaysia bukan lah hal yang baru, oleh karena itu setiap pertemuan dan silaturrahim yang dilakukan oleh UIN Insyaallah aka nada tindak lanjut, sehingga ke depan dapat ditingkatkan kerjasama," sebut dia. [mnw]&lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/08/dua-universitas-aceh-kerjasama-dengan.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7YG4ajj5DTWmzP543ZprR8Mat0ufpiOq5zS2dkG5CO9YZcSfZyvhfNcT0_QAFAe9nyL4ooEiT5jWVRyLZBpPnr7Ajvt9x0plufo9579PblQvaRCSEupL9CaMSQLCDFJ6jum_PoNpfmjc/s72-c/Unsyiah.JPG" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-9033876485548929439</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2015 16:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-15T23:18:25.093+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">humaninterest</category><title>Magrib Mengaji, Kearifan Yang Terabaikan</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiJG_dEHRRq6X8mGEkHPg-37_jRD-N1HLTi4WubqPk1B1POWLz1CCVFhw6SJlBI9H14964OsyNc5CcA-8ImSd5_mhudosn4kB27nRrrLs5P3Y7CHGkXkxQdq-U17n2FjhmMfBYASnwfsY/s1600/maghrib-mengaji.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="aceh" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiJG_dEHRRq6X8mGEkHPg-37_jRD-N1HLTi4WubqPk1B1POWLz1CCVFhw6SJlBI9H14964OsyNc5CcA-8ImSd5_mhudosn4kB27nRrrLs5P3Y7CHGkXkxQdq-U17n2FjhmMfBYASnwfsY/s1600/maghrib-mengaji.jpg" height="237" title="" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;ACEH memasuki babak baru dalam khasanah menjaga kearifan lokal. Mengaji 
magrib itu sudah turun temurun berlangsung di tanoh Aceh. Hanya saja 
dalam tiga dekade terakhir, kebiasaan itu luntur dalam kehidupan warga 
Serambi Makkah. Kenapa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dulu, mengaji magrib atas inisiatif keluarga, kini diambil alih 
pemerintah. Maka umara pun melalui Menteri Agama Republik Indonesia 
Suryadharma Ali, Minggu (24/7) malam, di &lt;a href="http://munawardismail.blogspot.com/2011/07/magrib-mengaji-kerarifan-yang-terabai.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Masjid Baiturrahman, Banda Aceh&lt;/a&gt;, meresmikan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencanangan Gemmar Mengaji, kata Suryadharma bertujuan untuk 
menghidupkan kembali kebiasaan mengaji selepas magrib. “Gerakan ini 
untuk menghindari generasi muda agar tidak terjerumus dalam perbuatan 
yang menyesatkan,” ujar dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan itu mengacu pada kondisi generasi muda yang kian tak terurus. 
"Generasi sekarang lumayan banyak yang terjerumus dalam perbuatan tidak 
terpuji misalnya melawan orang tua dan gurunya di sekolah," kata 
Suryadharma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengakui, kearifan lokal yang diwariskan 
secara turun-temurun itu makin merosot. "Akibatnya, kita harus bayar 
mahal dengan munculnya generasi muda Aceh, baik asli Aceh maupun yang 
datang dari luar, buta huruf al-Quran,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bicara Magrib mengaji, Tgk H Faisal Aly, seorang ulama dayah di Aceh 
Besar menilai, langkah pemerintah itu diharapkan bisa mengoptimalkan 
kembali kebiasaan masyarakat Aceh, yang mulai luntur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagi Aceh bukan pencananganan, kebiasaan magrib mengaji itu sudah lama 
hidup di tengah masyarakat. Memang ada beberapa kampung tak optimal 
lagi," sebut pimpinan dayah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata dia, dengan semangat pemerintah itu, dia mengharapkan bisa optimal 
kembali. "Tapi yang paling penting, bagaimana Pemerintah Aceh mendorong 
aparat desa untuk membuat langkah strategis," ujar H Faisal Aly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Ketua PW NU Aceh ini, langkah jitu itu tak tak cukup dengan 
pencanangan, jika tak dibuat hal-hal yang mendukung. "Pemerintah Aceh 
perlu membuat Peraturan Gubernur soal pengaturan waktu kegiatan hiburan,
 termasuk tivi tidak boleh hidup dari jam enam 6 hingga 8 malam," jelas 
dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faisal Aly tak menyalahkan konflik, akibat lunturnya kearifan lokal itu.
 Tapi lebih pada kemauan dan kepedulian orang tua dan anak Aceh yang 
menipis rasa tanggung jawabnya. "Konflik tak mengganggu balai-balai 
pengajian, ini lebih pada keluarga yang abai," papar dia.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tak salah konflik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pegiat kebudayaan, Sulaiman Tripa menilai kemerosotan itu tidak bisa 
digolongkan sebab konflik. "Di sini peran orang tua, yang mungkin abai 
terhadap kehidupan anak, sehingga banyak anak justru tidak mampu baca 
al-Qur’an," jelas dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, katanya, untuk kehidupan kolektif, mungkin konflik bisa jadi salah
 satu sebab, dalam hal, khususnya tidak bisa lagi anak-anak mengaji 
waktu malam karena kondisi waktu itu demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut dia, hal ini seharusnya bisa diantisipasi orangtua secara 
personal. "Dulu orang tidak malu bila tidak mampu, mereka akan 
menyerahkan anaknya kepada teungku-teungku untuk dibina secara santun," 
tuturnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan orang yang mampu, akan mengajarkan sendiri di rumah. "Sekarang
 kondisi itu berbeda, karena banyak orang tua tidak peduli dengan ilmu 
agama anaknya," ungkap Pengajar Hukum dan Masyarakat pada FH Unsyiah 
ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyikapi Gemmar Mengaji, Sulaiman melihat gerakan baca al-Qur’an 
sehabis magrib, penting bagi upaya membangkitkan kembali meunasah 
sebagai cultural center. "Ini akan menjadi fondasi untuk membangun 
sistem pendidikan yang menyatu dengan Islam," ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jauh, dosen yang aktif menulis ini menguraikan, bila membuka 
sejarah Aceh, maka ada hubungan yang erat antara kejayaan Islam dengan 
upaya-upaya yang dilakukan. "Dulu ada kesadaran menguatkan fondasi 
terlebih dahulu, baru kemudian memetik kejayaannya," tukasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kacamata Sulaiman, apa yang dilakukan generasi terdahulu, hingga 
empat abad lebih kejayaannya, patut dihidupkan kembali. "Konon, Belanda 
sekalipun yang sudah pernah berhasil menduduki Aceh, tapi tidak bisa 
mengoyahkan kejayaan Islam tersebut," urainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengulik Magrib mengaji, Sulaiman melihat sebagai sarana pendidikan 
agama bagi anak-anak. Kata dia, pendidikan tersebut, kemudian dipisahkan
 menurut fase-fase tertentu. Misalnya anak-anak yang belum siap 
merantau, ia akan belajar mengaji di meunasah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, anak yang lebih kecil lagi, dididik di rumah. Sedangkan yang 
menanjak remaja, akan memilih meudagang (mencari ilmu di dayah). "Pada 
intinya orang tua perlu berperan aktif, jangan mengabaikan masalah itu,"
 katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal senada diutarakan, Muhammad Yakub Yahya, Direktur TPQ Plus 
Baiturrahman Banda Aceh. "Fungsi orang tua yang paling penting. Orang 
tua juga harus menjadi teladan bagi anaknya. Bagaimana anak mau mengaji,
 kalau orang tuanya masih di depan tivi," urainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yakob menyambut baik Program Gemmar Mengaji tapi baginya yang tak kalah 
penting juga adalah gerakan moral mematikan televisi saat dan usai 
magrib. "Ini memang program nasional, tapi di Aceh sudah turun temurun, 
hanya saja banyak yang mengabaikan," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, sarannya, mendidik anak itu harus dimulai sejak dia dalam 
kandungan. Katanya, selama hamil, sebagian calon ayah dan ibu, sering 
mendatangi mini market, pusat perbelanjaan, atau café dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutnya, selama mengandung anak, sebagian calon ibu dan ayah, cuma 
ahli mengotak-atik ponsel dan remot televisi. "Bukan semestinya yang 
banyak melangkah dan menetap dalam masjid, semestinya harus rajin 
membuka buku atau kitab yang dianjurkan agama suci," papar Yakob. [&lt;b&gt;a&lt;/b&gt;]&lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/04/magrib-mengaji-kearifan-yang-terabai.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiJG_dEHRRq6X8mGEkHPg-37_jRD-N1HLTi4WubqPk1B1POWLz1CCVFhw6SJlBI9H14964OsyNc5CcA-8ImSd5_mhudosn4kB27nRrrLs5P3Y7CHGkXkxQdq-U17n2FjhmMfBYASnwfsY/s72-c/maghrib-mengaji.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-97402437757350338</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2015 15:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-15T22:58:28.224+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><title>Didong Jalu Mengobati Rindu Dirantau </title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAhFBU6luJrcj-cv-vHRQUIGFYovjZuB3GwWyBxILXQkYorx9jYtzf0uR2GrY5HTLYbPYbXBDLdJzF0Pqc3l5tBwmK6OD_jjtqiuU6mxF6VOmmUDaSwO3mhyEzrRjLw-3_4C95N7yIEV0/s1600/didong+jak.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="gayo, didong, aceh" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAhFBU6luJrcj-cv-vHRQUIGFYovjZuB3GwWyBxILXQkYorx9jYtzf0uR2GrY5HTLYbPYbXBDLdJzF0Pqc3l5tBwmK6OD_jjtqiuU6mxF6VOmmUDaSwO3mhyEzrRjLw-3_4C95N7yIEV0/s1600/didong+jak.JPG" height="266" title="" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;DINGIN yang menggelayut di anjungan Aceh, kompleks Taman Mini Indonesia 
Indah, mengingatkan Bengi akan tanah kelahirannya, dataran tinggi Gayo. 
Sabtu malam, (10/11), seusai membawa Tari Munalo, serta menonton Didong 
Jalu, kerinduannya pun terobati.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam Minggu kemarin, hampir lima ratusan warga Gayo se Jakarta, Bogor, 
Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) berkumpul di anjungan Nanggroe
 Aceh Darussalam, di Taman Mini. Hajatannya bukan kenduri usai panen 
kopi, tapi bersilaturrahmi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para sesepuh warga Gayo yang menggelar Halal bihalal di sana, merasa 
amat spesial dengan kehadiran Wakil Gubernur, Muhammad Nazar. Bagaimana 
tidak, Nazar juga mengukuhkan pengurus baru Ikatan Musara Gayo se 
Jabodetabek, pada malam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan cuma acara seremoni saja. Ikatan Musara Gayo juga membuka stand 
pameran. Menariknya di pameran tersebut juga disediakan kupi jelabok, 
Lepak dan masakan khas Aceh Tengah dan Bener Meriah lainnya yang dimasak
 langsung di tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lepas kangen itu juga diwarnai dengan lomba Didong alias Didong Jalu. 
Dua grup dari Jakarta dan Bandung 'berbalas pantun' malam itu. Namun, 
warga Gayo di Parahiyangan unggul dalam lomba tersebut. Pemenang 
mendapat hadiah Rp 1,5 juta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kidung kampung halaman, juga dilantunkan para seniman Gayo. Tentu saja 
termasuk lagu wajib 'Tawar Sedenge' karya A Moese. Moese seorang seniman
 kawakan Gayo yang Agustus lalu menghembuskan nafas terakhir. Dia 
menggubah lagu tersebut pada 1956 saat berusia 22 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didong serta kidung lainnya bukan saja mengobati hati Rosimah Bengi, 
mahasiswi semester V salah satu universitas di Serang, Banten. Ratusan 
warga lainnya juga punya asabat yang sama. "Kami ikut latihan di Sanggar
 Buntul Kubu," kata Bengi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sepuh Gayo, Usman Nuzuli Hatta, malam itu mengajak semua warga 
Aceh dari berbagai suku untuk melestikan budaya-budaya sendiri, meski 
berada diperantauan. Harapan itu bukan cuma sebatas angan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buktinya, sekelompok gadis cilik berusia dibawah sepuluh tahun 
membawakan Tari Kipes dengan sempurna. Bocah-bocah itu bernaung di bawah
 Sanggar Buntul Kubu. "Mereka generasi ketiga, yang sekarang juga 
belajar tarian tradisional Gayo," sambung Bengi lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sambutannya, Usman mengharapkan agar ikatan primordial yang ada di
 perantauan juga harus ikut mendukung pembangunan di Aceh pada masa 
mendatang. "Pertahankan ikatan primordial ini dengan memberikan warna 
untuk mencapai kemajuan Aceh," tutur dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wagub Muhammad Nazar, juga mengajak semua elemen untuk menjaga kondisi 
perdamaian untuk membangun Aceh tanpa terkecuali dan tanpa diskriminasi.
 Saat mengucapkan itu, tepukan pun riuah. "Kami berjanji, pemerintahan 
kami tidak ada diskriminasi," ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti diketahui, wilayah pedalaman seperti Aceh Tengah dan daerah lain
 yang berada di sekitar misalnya, selama ini terkesan diabaikan oleh 
penguasa di Banda Aceh. Sehingga kue pembangunan kurang mengucur ke 
sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau dulu ada daerah terisolir, Insya Allah ke depan tidak boleh ada 
lagi," papar Nazar yang kembali disambut tepuk tangan, apalagi Wagub 
juga sekali-kali menyelingi hadih maja Gayo dalam sambutannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibawah gerimis dan dinginnya pojokan anjungan Aceh makin membuat warga 
Aceh Tengah dan Bener Meriah terasa bak berada di kampungnya. Apalagi 
malam itu, Didong Jalu, berlangsung hingga pagi dan disaksikan, Drs, 
Ishak MS, sekretaris daerah Bener Meriah. Semuanya menjadi bak di 
kampung sendiri. [&lt;b&gt;a&lt;/b&gt;]&lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/04/didong-jalu-mengobati-rindu-dirantau.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAhFBU6luJrcj-cv-vHRQUIGFYovjZuB3GwWyBxILXQkYorx9jYtzf0uR2GrY5HTLYbPYbXBDLdJzF0Pqc3l5tBwmK6OD_jjtqiuU6mxF6VOmmUDaSwO3mhyEzrRjLw-3_4C95N7yIEV0/s72-c/didong+jak.JPG" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-8949941436404973046</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2015 15:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-15T22:51:55.530+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">humaninterest</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perempuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejarah</category><title>Pesan Moral Rumah Tanpa Jendela </title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwBhlQy9pTOmyCCbLu9Kt2uLglBcjILjaGNy-Q7aJm9VJiOdspCCf_f0tsMLWE9Zz3UzCpUYcBtN2ZipatW7cBUHDqLn277ox7Orfc88HGFQLX-dDgc5zmSj86bRmNpn8hxIGr6Hn0YR0/s1600/rumah+tanpa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="aceh" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwBhlQy9pTOmyCCbLu9Kt2uLglBcjILjaGNy-Q7aJm9VJiOdspCCf_f0tsMLWE9Zz3UzCpUYcBtN2ZipatW7cBUHDqLn277ox7Orfc88HGFQLX-dDgc5zmSj86bRmNpn8hxIGr6Hn0YR0/s1600/rumah+tanpa.jpg" height="267" title="" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;RATUSAN pelajar di Banda Aceh mendapat kesempatan menyaksikan Film Rumah
 Tanpa Jendela. Mereka juga berdiskusi langsung dengan sutradaranya. 
Film bergenre drama musikal ini mengangkat kisah tentang kehidupan anak 
jalanan.&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
"Rumah Tanpa Jendela" yang disutradarai Aditya Gumay dirilis pada 24 
Februari lalu. Film ini diangkat dari cerita pendek karya Asma Nadia 
berjudul Jendela Rara. Film ini dibintangi Raffi Ahmad dan Yuni Shara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemutaran dan Diskusi Film tersebut digelar Balai Pelestarian Sejarah 
dan Nilai Tradisional Banda Aceh ini berlangsung di Gedung Sultan Selim 
II, Kamis (10/11). "Film ini sangat ringan dan penuh pesan moral," kata 
sang sutradara Aditya Gumay kepada Waspada, kemarin di Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata dia, "Rumah Tanpa Jendela" memotret fenomena sosial nasib tragis 
anak–anak jalanan yang kurang kasih sayang dan perhatian orang tua 
sehingga anak berusaha untuk menemukan jati diri dan kehidupannya 
melawan kerasnya kehidupan di jalanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aditya menjelaskan, setting dan pengambilan gambar dilakukan di daerah 
Jembatan Merah yang merupakan tempat kumuh dengan populasi anak jalanan 
terbanyak didaerah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Aditya, Banda Aceh adalah kota ke-11 di Indonesia yang melakukan 
pemutaran film "Rumah Tanpa Jendela". Kecuali itu, film tersebut juga 
sudah diputar di Hongkong dan Melbroune, Australia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pelajar Australia sangat antusias sekali. Beberapa di antara mereka, 
katanya, jika sudah selesai pendidikan ingin berkunjung ke daerah kumuh 
tersebut untuk mengajarkan bahasa Inggris," kata pria kelahiran Jambi, 4
 Oktober 1966.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rumah Tanpa Jendela", digarap cuma 10 bulan, ini berbeda dengan 
film-film sejenis yang penggarapannya bisa sampai bertahun-tahun. Meski 
sesingkat itu, akurasi pemeranan cukup detil digarap, terlebih harus 
memanfaatkan anak-anak sanggar yang dipimpin Aditya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya berharap kondisi dengan banyaknya film ber-genre horor komedi seks
 yang&amp;nbsp; ada di tengah-tengah kita, akan sedikit berkurang, dengan film 
anak-anak seperti ini," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara, Kepala BPSNT, Djuniat kepada &lt;i&gt;Waspada&lt;/i&gt; menyebutkan, film
 yang mengetengahkan tema sosial secara ringan dan menyenangkan. "Film 
ini mengandung pesan moral yang sangat sederhana namun perlu ditanamakan
 kepada generasi muda," ujar dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sisi lain, dia menyebutkan, lewat film tersebut, BPSNT 
menjadikannya sebagai salah satu upaya untuk menjawab isu degradasi 
moral anak bangsa. "Kita bisa memanfaatkan ini sebagai media informatif 
dan pendidikan," kata dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berharap, agar kegiatan tersebut mampu membuka wawasan bahwa, filam 
tidak selamanya memuat pesan miring dan negatif. "Film juga dapat 
dijadikan media untuk menanamkan pemahaman nilai-nilai moral, budi 
pekerti kepada generasi muda," sebut Djuniat. [&lt;b&gt;a&lt;/b&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Foto: &lt;i&gt;kompasiana&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/04/pesan-moral-rumah-tanpa-jendela.html</link><author>noreply@blogger.com (Mismail)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwBhlQy9pTOmyCCbLu9Kt2uLglBcjILjaGNy-Q7aJm9VJiOdspCCf_f0tsMLWE9Zz3UzCpUYcBtN2ZipatW7cBUHDqLn277ox7Orfc88HGFQLX-dDgc5zmSj86bRmNpn8hxIGr6Hn0YR0/s72-c/rumah+tanpa.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-8464657467060000542</guid><pubDate>Wed, 08 Apr 2015 10:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-08T17:50:12.066+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perempuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosok</category><title> Karina, Banyak Jalan Menuju Cita-Cita</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgA-OPPamBCXDlQnb91kFzb03-HJgBJENkIqmDQScUpDyMFfbhVnHILrIyZE2ROblROBtQN2cdfaCC72kjE8DwLHD8Q3ewPrQuKaA-l0D3MgfXDnlSfo2n5LGM3vD5xQH3Khu3orjaqhM4J/s1600/Karina+krm3.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="tsunami, dokter, aceh, lukisan " border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgA-OPPamBCXDlQnb91kFzb03-HJgBJENkIqmDQScUpDyMFfbhVnHILrIyZE2ROblROBtQN2cdfaCC72kjE8DwLHD8Q3ewPrQuKaA-l0D3MgfXDnlSfo2n5LGM3vD5xQH3Khu3orjaqhM4J/s1600/Karina+krm3.JPG" height="213" title="" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;JIKA Allah ingin menunjukkan rahmat-Nya buat seorang hamba, akan banyak corak dan langgamnya. Bisa lewat sepotong kaos bola atau selembar lukisan saja. Reka Karina, bocah korban tsunami yang sejak kecil "bermimpi" jadi dokter meresapi rahmat itu. Siapa nyana, bila gambar coretannya setahun silam membawa berkah kemudian.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selasa sore diawal Agustus di Lambaro Skep, Karina kembali membolak-balik dokumen simpanannya. Sebuah bundel biru tua berisi beberapa lembar penghargaan, plus buku "antologi" lukisan. Salah satu isi buku, sebuah coretan berwarna biru berupa dua lintasan gelombang. Karina menatap lagi coretan pembawa berkah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya mau lukis tiga buah gelombang, tapi ngak muat kertasnya," ujar Karina seraya terkekeh. Katanya, dia cuma melukis saja pada saat ikut lomba melukis disuatu hari pada April 2005. Makanya dia bilang, "Saya cuma ingat tsunami, saya lukis aja gelombang&lt;a href="http://pedagangkata.blogspot.com/2015/04/menggores-damai-di-kanvas-aceh.html" target="_blank"&gt; tsunami&lt;/a&gt;." Inilah lukisan tsunami versi Karina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukisan "dua gelombang" itulah yang kemudian menghayutkan Dr Elio Matacana, Ketua Yayasan Ponte diArcimede (PdA) di Messina, Italia. Seakan ikut merasa ekses dari terpaan gelombang dalam lukisan Karina, Matacana lantas mengucurkan kocek yayasannya. Karina pun dapat beasiswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita beasiswa itu tidak muncul serta merta. Ini bermula ketika Matacana kepicut goresan Karina yang dipamerkan bersama 44 buah lukisan anak-anak Aceh korban tsunami di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma. Waktunya 14 Februari lalu. Saat itu, KBRI menggelar acara bertajuk "Memperingati Setahun Tsunami".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pameran ini cukup menyedot perhatian pengunjung. Salah satunya Elio Matacana ketua PdA. Dari 44 lukisan yang ada, Matacana jatuh hati pada "dua gelombang" polesan Karina. Lantas dia memutuskan memberikan apresiasi yang tinggi kepada lukisan "dua gelombang".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Karina pun disodor beasiswa sebesar Euro 10.000. Dana ini jika rupiahkan dengan kurs sekira Rp12.000, maka ada Rp120 juta isi tabungannya. Pria Roma itu berharap dengan pemberian beasiswa itu, Karina dapat menyelesaikan pendidikan yang tinggi serta mengembangkan bakatnya dalam seni setinggi mungkin. Semua&amp;nbsp; bagi masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, Duta Besar Republik Indonesia di Roma Sutanto Sutoyo meminta BRR untuk membukakan deposito berjangka atas nama Karina dari beasiswa yang diberikan yayasan tersebut. "Tujuannya agar bunganya dapat digunakan untuk membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi yang dia cita-citakan," begitu pesan Dr Elio Matacana yang dikutip staf kedubes RI, Minister Counselor Artanto S. Wargadinata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
"Dokter" Cilik Karina&lt;/h3&gt;
Rasanya tak sia-sia Elio mengalirkan kocek yayasannya buat gadis yang punya banyak nama kecil ini. Pasalnya, Karin, Aina atau Nana ---begitu sapaan dalam keluarga--- sejak kecil sudah mematok cita-cita tinggi; dokter. Sebuah asa yang amat mulia. "Ina tetap ngotot ingin jadi dokter," kata Ny Yulia Rosalina, ibunda Karina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karina punya cerita panjang. Cita-citanya tak bisa ditawar. "Apapun ceritanya dia tetap mau jadi dokter, bapak tawarin kuliah di fakultas hukum saja tak mau," kata Abdul Hamid Bujai, ayahnya. "Saya sempat berpikir tentang biaya yang mahal kalau jadi dokter, harga buku saja sudah berapa," timpal sang ibu Yulia Rosalina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, Karina merasa &lt;i&gt;down&lt;/i&gt; semangatnya dan selalu termenung. Namun dengan sikap keibuannya, Yulia membimbing gadis manis itu. "Saya selalu bilang agar dia bersabar. Allah sayang dengan orang-orang yang sabar. Mungkin suatu saat Allah akan menunjukkan jalannya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasihat itu amat meresapi sanubari si alis tebal ini. Dia pun sabar, dan Karina pun menjalani hari-harinya sebagai anak yang mandiri serta inovatif dan suka membantu orang tuanya. "Diam Karin adalah tidur, kalau udah tidur baru nggak ada yang dia kerjakan lagi," sambung ayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga dengan hobi melukis. Waktu senggang dia kerap melukis apa saja. Coretan mencoret di kertas sudah dimulai sejak sekolah dasar sampai sekarang. Antara cita-cita menjadi dokter dan hobi melukis memang paradoks. Tapi Karina tak peduli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pun, dia sama sekali tak pernah melukis sosok seorang pasien yang sedang diobati. Atau seorang pasien yang sedang diinfus. Barangkali dia trauma, sehingga jarang kepikir ke sana. Sebab, menurut ibunya, ketika masih bayi, calon dokter itu kerap diserang diare. Tak&lt;br /&gt;
pernah reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayi yang bernama Chik Wita ini kerap keluar masuk rumah sakit. "Bentar-bentar ke rumah sakit," keluh ibunya. Kedua orang tuanya nyaris putus asa. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengganti nama bayi mungil itu. Lantas dipilihlag nama Reka Karina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajaib. Diare yang akrab dengan adik dari Stranye Apramilia hilang bak ditelan bumi. "Ada kepercayaan seperti itu dalam masyarakat kita. Alhamdullillah, setelah ganti nama dia tidak diare lagi," papar Hamid, bekas Kepala Desa Lambaro Skep ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini Karina beranjak remaja. September nanti umurnya 11 tahun. Saat ini dia tercatat sebagai siswi kelas 1.1 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lampriek, Banda Aceh. "Dia salah satu siswi kelas inti di sini," kata Salma Ismail, S.Pd, wakil kepala bidang kurikulum sekolah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Praktis orang tuanya sangat bangga dengan bekas siswi MIN Banda Aceh ini. Bukan itu saja, Hamid juga merasa surprise dengan beasiswa yang diperoleh Aina. "Dana itu akan dipakai semata-mata untuk pendidikan dia. Terima kasih banyak dari kami sekeluarga," imbuh Abdul Hamid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya bertekad untuk mengelola dengan baik depositnya guna kepentingan sekolah Karina. Tentu saja untuk biaya-biaya sekolahnya hingga perguruan tinggi nanti. Otomatis dia memilih Fakultas Kedokteran. "Kan untuk mencapai cita-cita jadi &lt;a href="http://pedagangkata.blogspot.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;dokter&lt;/a&gt;?," sambung Aina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah rahmat yang diterima anak ketiga pasangan A Hamid Bujai dan Yuli Rosalina ini. Pepatah "Banyak Jalan Menuju Roma", kini benar-benar menyelingkupi hati Katina. Bagaiman tidak, dengan beasiswa dari Roma dia menggapai cita-citanya. Selamat. [Munawardi Ismail]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimuat pada : 11/08/06</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/04/karina-banyak-jalan-menuju-cita-cita.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgA-OPPamBCXDlQnb91kFzb03-HJgBJENkIqmDQScUpDyMFfbhVnHILrIyZE2ROblROBtQN2cdfaCC72kjE8DwLHD8Q3ewPrQuKaA-l0D3MgfXDnlSfo2n5LGM3vD5xQH3Khu3orjaqhM4J/s72-c/Karina+krm3.JPG" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-6422811598687419873</guid><pubDate>Wed, 08 Apr 2015 10:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-08T17:37:16.371+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hiburan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perempuan</category><title>  Yang Mengalir Seperti Air Di Tanoh Aceh</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimMcZ91dJgHf-RFYd38cxeeQ6BDad1kNMM2MwQpeUkQH09N-SP9L4EBxRo2YJZZnhuVQUeR7ISwp8IDEegwHsF2RVlIAPJZ0PFwVRorPCwr3VB35l_Ha1lVnaI8VlwdLrpZwfWuhw6P3sK/s1600/mahdiblog.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="contoh tulisan, aceh, syariat islam, belajar menulis" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimMcZ91dJgHf-RFYd38cxeeQ6BDad1kNMM2MwQpeUkQH09N-SP9L4EBxRo2YJZZnhuVQUeR7ISwp8IDEegwHsF2RVlIAPJZ0PFwVRorPCwr3VB35l_Ha1lVnaI8VlwdLrpZwfWuhw6P3sK/s1600/mahdiblog.jpg" height="240" title="" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;MINAT remaja Aceh untuk menulis terbilang tinggi. Menyimak dari hasrat, terlihat menggebu-gebu. Membaca contoh tulisan, tersimpan banyak potensi. Jelas ada bakat yang terpendam. Mereka tak ubahnya bak mutiara berkubang lumpur. Lantas, Seuramoe Teumuleh pun mengangkat "mutiara" dalam lumpur itu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup beralasan ketika Seuramoe Tumuleh II kembali dimulai. Apalagi putra-putri tanoh Aceh itu punya potensi, ide-ide mereka juga apik. Makanya, bila sedikit saja dipoles, mutiara itupun akan berkilau. Mereka punya segudang ide yang terkadang liar. "Saya tak tahu harus memulai dari mana kalau menulis, sementara ide itu banyak sekali," tukas Aida Yunita, kepada saya ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida adalah satu dari 100 peserta sekolah menulis; Seuramoe Teumuleh II yang digelar Katahati Institute bekerja sama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Pendidikan untuk "tukang tulis" yang gratis itu akan berlangsung selama dua bulan. Desember 2006 lalu, kegiatan serupa juga sudah pernah digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang mendapat "tugas" menyeleksi hampir 200-an calon peserta pada saat wawancara beberapa waktu lalu, menangkap kesan itu. Paling tidak inspirasi calon-calon "tukang tulis" ini cukup cemerlang. Dan yang tak kalah penting adalah mereka kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya kritiknya kuat juga. Tapi dari seratusan remaja, mereka malah tertarik untuk mengkritisi penerapan syariat Islam dan perilaku remaja di Serambi Makkah. Ada apa dengan syariat? Salahkah dia? "Saya tertarik menulis syariat Islam yang lagi susah payahnya diterapkan di Aceh," komentar Nurlaila AR, calon peserta yang saya wawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tertarik bukan disebabkan alasan klasik, karena Islam sudah membumi di tanoh rencong. Nurlaila mengaku melihat syariat Islam itu sudah seperti "benda" asing di Aceh. Ditambah lagi dengan tingkah aparatur pemerintah yang dianggap tebang pilih dalam menerapkan hukum agama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau rakyat biasa yang salah, langsung diproses dan dipersulit. Tapi coba kalau kelas menengah ke atas, pasti berlarut-larut. Sungguh itu bukan cara terbaik untuk masyarakat. Kalo begini caranya, rakyat akan mengamuk," ulas Nirna Yanti, mahasiswa sebuah lembaga pendidikan di Banda Aceh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak komentar warga Keutapang ini, saya teringat Taqwaddin, SH, MS, dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh ini bilang, syariat Islam di Aceh itu mengandung sifat-sifat air; mencari tempat yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hukum bagaikan air. Mengalir ke tempat paling rendah, sehingga pada orang rendahan sajalah hukum itu menumpuk," tamsil pria yang juga menamatkan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Unsyiah itu. Ironis memang, sejatinya hukum itu berlaku untuk siapa saja, tak peduli dia pejabat atau penjahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, seperti kata Taqwaddin, sebaliknya, hukum itu tidak berlaku bagi orang yang lebih tinggi kedudukan dan jabatannya. "Dengan berbagai dalil, hukum itu seperti menjauh dari yang bersangkutan," urai dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwaddin benar. Karena itu pulalah, Safrina, calon peserta lainnya, merasa "tidak bisa" menerima pelaksanaan syariat Islam itu. "Sejak saat diterapkan, saya malah merasa tertantang untuk kucing-kucingan dengan petugas," aku gadis asal Aceh Timur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat "pemaksaan" itulah, Safrina tak pernah merasa peraturan itu menjadi sebuah kewajiban bagi dia, tapi sebaliknya, cuma sebatas formalitas semata. "Kenapa perempuan terus yang disorot," tanya gadis hitam manis ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Syariat Islam&lt;/h3&gt;
Lain lagi dengan Alvi Chairiah, siswa SMU 3 Banda Aceh yang juga mengikuti kegiatan serupa. Gadis manis ini mengatakan syariat Islam bukan rintangan bagi dia. "Kalau kita berbusana dengan sopan tak perlu takut dengan WH. Kita hanya takut kepada Allah SWT," urai Alvi. WH akronim dari Wilayatul Hisbah yang menjadi semacam polisi syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nindy Silvie, siswi SMU I Banda Aceh juga tak jauh beda. Sebagai muslimah dia melihat syariah itu kebutuhan. "Tanpa dipaksa pun, kita selalu memakai jilbab kok," ujar siswi yang aktif di OSIS sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro kontra masalah &lt;a href="http://pedagangkata.blogspot.com/2015/04/menggores-damai-di-kanvas-aceh.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;syariat Islam&lt;/a&gt;, seakan mengalir seperti air juga. Di bendung sana-sini, sesuai dengan kondrat air, dia juga tetap mencari dataran rendah. Meski yang sangat disayangkan adalah penerapannya yang "mengadopsi" gaya air. "Seharusnya semua orang di mata hukum sama," sambung Mu'arif, juga calon peserta yang saya tanyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang lain, kalangan ulama mengharapkan penerapan syariat Islam di Aceh tidak boleh gagal, kendati dalam implementasinya banyak kendala yang dihadapi. "Tidak ada istilah gagal syariat Islam di Aceh, ini tanggung jawab kita bersama," kata Tgk. H. Nuruzzahri Yahya, seorang ulama Aceh baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Wakil I Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) ini, komitmen pemerintah dalam menjalankan syariat Islam di Aceh sudah merupakan sebuah kemajuan. "Di sinilah perlunya dijaga kekompakan agar semua pihak bersatu dalam mengawal jalannya syariat Islam," ujar pria yang kerap disapa Waled Nu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama bersatu untuk pengawalan, seperti diutarakan ulama dayah ini, tentu kita juga akan menunggu kritikan remaja Aceh yang sedang belajar menjadi "tukang &lt;a href="https://plus.google.com/105342462886119083173/posts" rel="nofollow" target="_blank"&gt;tulis&lt;/a&gt;"&lt;br /&gt;di Seuramoe Tumuleh. Akankah mereka juga mengkritik seperti air yang mengalir. [Munawardi Ismail] </description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/04/yang-mengalir-seperti-air-di-tanoh-aceh.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimMcZ91dJgHf-RFYd38cxeeQ6BDad1kNMM2MwQpeUkQH09N-SP9L4EBxRo2YJZZnhuVQUeR7ISwp8IDEegwHsF2RVlIAPJZ0PFwVRorPCwr3VB35l_Ha1lVnaI8VlwdLrpZwfWuhw6P3sK/s72-c/mahdiblog.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-8719778175034793242</guid><pubDate>Wed, 18 Mar 2015 12:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-08T17:26:38.761+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">opini</category><title>Hikayat Tsunami</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4DMd5WWhMWhlQVxdBseMomt0OwDHxlZTWkXACWRyQ2MOM1r1nk8qySK3qFkQxFRlKwD0t9Ayy1nEJJw71UCAYNPkgPWDyDjpS-SnlzFdSyEyVoq_dCQEiZCL9N-fPwFtbUTLvWrdYvWBb/s1600/ilustrasi+Tsunami.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="tsunami, tsunami aceh, banda aceh, " border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4DMd5WWhMWhlQVxdBseMomt0OwDHxlZTWkXACWRyQ2MOM1r1nk8qySK3qFkQxFRlKwD0t9Ayy1nEJJw71UCAYNPkgPWDyDjpS-SnlzFdSyEyVoq_dCQEiZCL9N-fPwFtbUTLvWrdYvWBb/s1600/ilustrasi+Tsunami.jpg" height="180" title="" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BERDIWANA&lt;/span&gt; ke Ulee Lheue, saya membayangkan apa yang terjadi 135 tahun silam, ketika Pante Ceureumen digebrak Belanda. Pada 26 Maret 1873, mereka menyatakan perang kepada Aceh. Dari kapal perang Citdadel van Antwerpen, Marnix, Coehoorm, dan Bronbeek kompeni menggempur daratan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah maklumat perang dinyatakan, baru Senin, 6 April 1873, Belanda mendaratkan pasukannya di Ulee Lheue dibawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler. Sepekan kemudian, Kohler wabakiras alias wabakireuh ditembak pejuang Aceh pada 14 April 1873. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Oh god, ik ben gtroffen &lt;/i&gt;(Ya Tuhan, aku kena),” kata Kohler setelah sebutir peluru menembus dadanya. Dia tewas di depan Masjid Raya Baiturrahman, pada pagi hari sekira pukul 8.30. Saat itu, dia baru saja mengelilingi Masjid Raya dengan teropongnya dalam upaya mengintip tentara Aceh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, untuk melihat tempat Kohler tertembak masih ada pohon geulumpang atau kelumpang (sterculia foetida) di dekat gerbang kiri Masjid Raya. Orang Belanda menyebut pohon itu Kohlerboom atau pohon Kohler. Kalau ingin melihat memorial park-nya pun masih ada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tewasnya Kohler praktis menggegerkan. Seorang jenderal Belanda mati ditembak di wilayah jajahannya. Nama Aceh ikut terdongkrak, lantas, menjadi buah bibir di daratan Eropa dan belahan dunia lainnya. Kabar soal agresi ke Aceh ikut menghiasi Koran-koran dunia; &lt;i&gt;The New York Times &lt;/i&gt;dan London Time. Belanda pun menuai malu besar.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai kini, kita masih bisa melihat pohon Kohler dan kuburan para marsose Belanda yang merenggang nyawa dalam Perang Aceh. Kuburan Militer Peutjut begitu nama yang ditabalkan. Ribuan nama prajurit Belanda yang tewas di masa menaklukkan Aceh dipahat di dinding marmer gerbang masuk Kerkhoff.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menariknya, nama yang tertera di sana lengkap dengan tempat serta tahun kematiannya. Contoh; Kandang 1871, Missisigit Raya 1873-1874, Aroen 1875, dan Kota Toeankoe 1889. Datanya, tercantum dari 1873 sampai 1935. Syukurlah, sisa-sisa dokumen fisiknya masih bisa dilihat kendati sudah sedikit uzur. Tapi, paling tidak masih berjejak meski nyaris tak ada yang peduli. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memelototi itu, saya takjub luar biasa. Dari segi mengelola fakta sejarah–biarpun itu pahit--, mereka hebat. Tentu, ini belum lagi dokumentasi yang tersimpan rapi di Leiden sana. Aneh juga, selama ini generasi Aceh cuma membaca dan mendengar itu dari hikayat-hikayat yang ditulis. Memang banyak hikayat yang mengisahkan kegigihan pejuang Aceh masa silam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;b&gt;Perang dan Tsunami &lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, pekan kemarin saya kembali ke Ulee Lheue terpakur lagi di sana. Kini saya tak melihat lagi ada Pante Ceureumen. Pantai itu ditelan laut setelah diamuk gelombang maut. Saya tak pernah membayangkan kengerian yang terjadi dalam musibah 26 Desember 2004 silam. Saat lidah tsunami menjilat daratan Aceh, di pagi Minggu. Lalu, semua porak-poranda. Ada ratusan ribu nyawa melayang dan hilang ketika itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi yang selamat dia senantiasa berucap; “Alhamdulillah ya Allah, lon mantong neu bie panyang umu (Alhamdulillah ya Allah, saya masih diberi panjang umur).” Masjid Baiturrahim di Ulee Lheue menjadi saksi bisu dari kemurkaan alam, tiga setengah tahun silam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musibah ini kembali membuat Aceh tenar di dunia. Kali ini juga akibat perang plus tsunami yang berandil menanyarkan tanoh rincong. Perang yang sudah 30 tahun berkecamuk juga punya saham ‘mengharumkan’ Aceh. Kemudian ditambah lagi tsunami yang makin membuat Aceh begitu dekat dengan sahabat-sahabat di benua lain. Hanya saja, jika seabad silam karena kegigihan dan keperkasaan prajuritnya, kini malah terbalik. Kedukaan dari peristiwa alam terbesar dalam sejarah peradaban manusia terjadi di Aceh. Itulah tsunami, sebuah maklumat Tuhan—yang dari kacamata agama dilihat sebagai cobaan— kepada hamba-NYA yang sudah bangga berselimut dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ie beuna atau smong—kata syedara kita di Simeulue— nama Aceh tertoreh dengan tinta hitam di berbagai koran dunia. Kabar bencana dahsyat tsunami menghiasi koran elite mulai dari yang terbit di Washington, Amerika Serikat sampai di London, Inggris Raya. Tentu saja tak ketinggalan dengan Ashahi Shimbun di Jepang. Intinya mulai dari Kutub Utara hingga ke Selatan semua berduka untuk korban&lt;a href="http://pedagangkata.blogspot.com/2015/04/menggores-damai-di-kanvas-aceh.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;tsunami &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;di sejumlah negara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.acehfootball.com/2015/04/07/gawat-polisi-belum-restui-arema-kontra-barito/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Tsunami &lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;itu juga yang membuat anak-anak distrik Sumaysi, Arab Saudi, Mondera, di Portugal, Bacharach di Jerman atau distrik Yamagata di Jepang serta kaum Aborigin di Australia ikut larut dalam duka. Mereka pun mau menyumbang apa yang dia punyai. Atas nama kemanusiaan, empati dunia menguat. Orang Eropa, Amerika dan sebagainya menjadi begitu lengket dengan tanoh Aceh. Tak ada yang bertanya, agama, ras dan warna kulitnya apa. Semua menjadi sahabat negeri Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;h4&gt;
Seabad Tsunami &lt;/h4&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuh bulan lagi, kisah tsunami memasuki masa 1.460 hari. Memang, jika dilihat dari tarikh, empat tahun waktu yang paling singkat. Tapi Anda tahu di mana sekarang jejak tsunami? Sudahkah tertera dalam bingkai kaca, untuk dikenang dan menjadi renungan bersama? Apakah kita harus mencari ke sebuah Museum di Tokyo atau di sebuah gerai di Pattani, Thailand.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, semua orang tahu, kalau smong bin ie beuna terjadi di Aceh. Dan itu paling dahsyat.  Tak salah lagi. Sayangnya, aroma tsunami kini bagai tak berbau lagi. Lantas apakah kita harus menunggu tempo seabad, untuk melihat seperti yang didata Belanda? Entahlah! Apakah kita harus berdiwana ke Srilanka, Amerika atau bahkan hingga ke alam baka untuk mencari memorinya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, haruskah, cucu dan cicit kita nanti hanya membaca kisah tsunami lewat hikayat yang akan atau mungkin ditulis ‘Dokarim-dokarim baru’. Sulit bin sukar menjawabnya. Sebab sampai hari ini, belum ada tanda-tanda ‘otentik’ ke arah sana. Kalau ada pembaca yang mulai tahu, syukurlah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, saya tidak mendapati jejaknya seperti yang sudah ‘dicatat’ Belanda dalam Perang Aceh. Perang Aceh boleh dikatakan musibah bagi negeri Snouck Hurgronje itu. Tapi saya belum melihat model Belanda dalam musibah Aceh. Memang ada ‘Kerkhoff’ tsunami di Ulee Lheue dan Lambaro, namun itu tak lebih gundukan tanah. Bisa dimaklumi, sebab amat sulit untuk mengenali siapa saja yang terbujur di sana, apalagi untuk sebuah nama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski gelombang raya sudah lewat, dia masih meninggalkan jejak. Salah satunya kapal apung. Sebutan kapal apung sesungguhnya sudah menunjukkan sesuatu yang ganjil, unik dan misterius. Bukankah semua kapal sudah semestinya terapung? Kapal apung ini tetap saja nongkrong di tengah perkampungan padat di Punge, Blang Cut, di dalam Kota Banda Aceh, tanpa bisa digeser, diusik atau diganggu gugat. Apa boleh buat. Kapal Apung bukan hanya besar, tapi super berat. Beratnya 2.600 ton. Dari pantai terdekat, jaraknya dua kilometer lebih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditarik ke laut? Ah, ”Perlu satu tsunami lagi untuk mengembalikannya ke laut,” kata seorang turis asing yang mendatanginya pertengahan tahun lalu. Inilah salah satu tanda mata tsunami: sebuah kapal raksasa yang didorong ombak hingga ribuan meter dari tepian Pantai Ulee Lheue ke tengah-tengah permukiman di kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih untung, nama kapal apung yang berhubungan dengan muatan yang digendong kapal ini: generator pembangkit listrik, masih terjerembab utuh hingga sekarang. Mungkin saja, jika tak dikelola, si raksasa ini akan tinggal kenangan. Karena itu sebelum benda-benda tsunami itu hilang dan sejarah pun akan menjadi hikayat, dari sekarang selamatkanlah dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak sulit, apalagi kita hidup di zaman canggih sekarang bukan hal mustahil rasanya kalau nama-nama korban tsunami tidak bisa kita ukir di dinding-dinding kuburan massal. Kalau kita ingin menjiplak gaya Belanda, tentu tak ada salahnya nama-nama syuhada tsunami dicatat juga. Sehingga anak cucu kita—katakannya seabad kemudian, pada tahun 2104 misalnya—bisa membaca nama kakek buyutnya yang meninggal dalam bencana dahsyat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan sampai nanti, tsunami itu malah dijadikan dongeng peu dodaidi aneuk. Malahan, saya sempat berpikir jika Masjid Baiturrahman dan Kerkhoff tak berbekas, generasi sekarang mungkin akan berpikir, kegigihan pejuang Aceh itu hanya sebatas dongeng. Lantas, kalau suatu saat nanti tsunami pun dianggap dongeng, ke mana tanggungjawab kita yang sudah menggaruk banyak untung dari musibah itu? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkinkah kita hanya merangkai kata-katanya saja untuk menjadi hikayat? Jika dipikir-pikir, zaman Belanda saja bisa, kenapa sekarang tidak? Bukankah kini lebih maju dari seabad lalu. Tapi kok kompeni punya nama-nama prajuritnya yang mati di Aceh. Masak kita yang katanya hidup di zaman bermartabat malah tak tau nama-nama rakyat, sungguh naif. Terakhir, apakah generasi Aceh seratus tahun nanti percaya bahwa&lt;i&gt;&lt;b&gt; tsunami&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; itu bukan dongeng. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Entahlah...&lt;/span&gt; [&lt;b&gt;Munawardi Ismail&lt;/b&gt;]&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Artikel ini sudah pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia, Selasa (</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/03/hikayat-tsunami.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4DMd5WWhMWhlQVxdBseMomt0OwDHxlZTWkXACWRyQ2MOM1r1nk8qySK3qFkQxFRlKwD0t9Ayy1nEJJw71UCAYNPkgPWDyDjpS-SnlzFdSyEyVoq_dCQEiZCL9N-fPwFtbUTLvWrdYvWBb/s72-c/ilustrasi+Tsunami.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-2019633388876645931</guid><pubDate>Mon, 12 Jan 2015 08:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-08T15:24:00.428+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><title> Menggores Damai Di Kanvas Aceh...</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0JB6oTlUcHEzRa3oCIWWlCyrLQzX5_G82hbtjH_A8S0_8NdhPMfn5GEtSsswrDUUAAGzt4n7a2hhTZGvXWYz4FJWWdXizC4Y8OYLbXnAYdwdi-iXzpuWnFNPfVlZhDfXMZtH2O8JPZ0Br/s1600/Meuseujid_Raya.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Banda Aceh, aceh " border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0JB6oTlUcHEzRa3oCIWWlCyrLQzX5_G82hbtjH_A8S0_8NdhPMfn5GEtSsswrDUUAAGzt4n7a2hhTZGvXWYz4FJWWdXizC4Y8OYLbXnAYdwdi-iXzpuWnFNPfVlZhDfXMZtH2O8JPZ0Br/s1600/Meuseujid_Raya.JPG" height="240" title="" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Ratusan bocah-bocah belasan tahun di Banda &lt;a href="http://pedagangkata.blogspot.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Aceh &lt;/a&gt;dengan semangat mengikuti lomba melukis. Kali ini bukan melukis tentang tsunami seperti yang marak beberapa bulan silam. Tapi sekarang tentang perdamaian. Menarik memang, ketika damai itu digores anak-anak.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulunya, jika anak-anak diajak melukis yang digambar pasti soal senjata, granat dan rumah-rumah yang terbakar. Lalu, ketika musibah dahsyat tsunami menghayak Aceh, giliran gelombang dan orang-orang berlarian ke segala arah yang digambarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu sudah berlalu, kini mengisi masa damai. Hasil goresan pun berbeda pula. Tidak seperti biasanya. Apik dan menarik. Semua kegiatan tersebut dirangkum guna menyambut 2 tahun perdamaian Aceh pada 15 Agustus nanti. "Bergandeng Tangan, Merenda Damai" itulah tema acara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, hajatan tersebut digelar Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA). Mulai dari Duek Pakat Ulama dan Tokoh Masyarakat Aceh "Pikee Keu Damee" hingga Lomba Lukis dan Menulis Surat Anak untuk Perdamaian Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faurizal Moechtar, ST, staf BRA Pusat kepada Waspada, kemarin mengatakan pihaknya juga akan menggelar Tour Perdamaian Keliling Aceh, pada 15 Agustus nanti. Katanya, kegiatan tersebut akan 15 becak yang mulai bergerak dari Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tour perdamaian tersebut, para peserta akan mengusung atribut-atribut serta buletin perdamaian ntuk dibagi-bagikan kepada masyarakat. "Kita targetkan 10 hari keliling Aceh itu akan selesai," ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan cuma itu, dalam tour tersebut selain abang becak, juga akan ikut puluhan mahasiswa yang akan diawal foreder serta satu unit mobil ambulan. "Setiap masuk kabupaten kota mereka akan disambut dan dilepaskan oleh BRA setempat," sebut Faurizal yang juga Koordinator Bidang Ekonomi BRA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut mantan aktivis ini, ketika berbicara damai mendengar suara hati anak-anak adalah langkah tidak salah dan bijaksana. Toh, anak-anak paling punya hak menikmati perdamaian ini. Dan itulah yang dilakukan lembaga reintegrasi ini dalam memperingati dua tahun perjanjian damai yang diteken pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya terharu melihat goresan anak-anak. Apresiasi mereka tentang perdamaian sangat luar biasa," kata Faurizal mengomentari aksi 210 anak-anak di &lt;a href="http://www.acehfootball.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Banda Aceh&lt;/a&gt; yang mengikuti lomba lukis dimaksud. Acara yang digelar di kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, pada Senin (6/8) petang itu, berlangsung sukses.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula dengan Tijana Syarafana, salah satu peserta lomba lukis. Siswa SD Percontohan Lamlagang mengaku senang dengan kondisi Aceh yang sudah damai. "Kemana-mana kita nggak takut lagi, nggak ada suara bom," celotehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua Harian BRA, M Nur Djuli yang menyempatkan diri menengok apresiasi anak-anak di atas kertas menyambut positif kegiatan tersebut. Bukan hanya sebatas itu, dia juga mengaku kagum dan tak menyangka, ketika melihat lukisan karya anak-anak. "Bagus-bagus dan menarik," komentarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Goresan anak-anak yang dilihat Nur Djuli bervariasi, ada yang menggambar orang bersalaman, pos TNI dan GAM, bendera merah putih dan bendera GAM. "Isinya tidak ada lagi unsur-unsur kekerasan dalam pikiran anak-anak serang, semuanya sudah damai. Positif sekali," sebutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kendati menarik, kita harus menunggu sepekan lagi untuk menunggu siapa pemenangnya. Tapi yang penting damai sudah tersemai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipublish pada 07/08/07&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2015/04/menggores-damai-di-kanvas-aceh.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0JB6oTlUcHEzRa3oCIWWlCyrLQzX5_G82hbtjH_A8S0_8NdhPMfn5GEtSsswrDUUAAGzt4n7a2hhTZGvXWYz4FJWWdXizC4Y8OYLbXnAYdwdi-iXzpuWnFNPfVlZhDfXMZtH2O8JPZ0Br/s72-c/Meuseujid_Raya.JPG" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-1669345335573610992</guid><pubDate>Tue, 29 Nov 2011 05:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-21T17:23:19.395+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosok</category><title>Antara IPL, ISL dan Persiraja</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
&lt;img alt="" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvZFf2PZEuGXePHc2Do_ZacRs0DhJBcY-wsd_9FsHTzAgqw47Md3WXiVJEEkh9JDkncM9-5D-KteolH-OTP3nSXGXKtlIh35Yle_610Ph0t5sS1fnR-ifS7wMlVeQimBt-uLjGfdY3m-U1/s320/Tim+Raja.jpg" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680359009187787938" style="float: left; height: 213px; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 320px;" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
SPANDUK 'Welcome ISL" yang dipasang pendukung Persiraja Banda Aceh di tribun utara Stadion H Dimurthala raib. Sebelumnya, spanduk yang sudah dipasang dalam dua bulan terakhir selalu setia 'menemani' latihan rutin Andria dan kolega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama seperti setianya para Skullers--sebutan untuk Suporter Kutaraja Untuk Lantak Laju (Skull) Persiraja. Mereka jugalah yang acap memompa semangat pemain ketika bertanding. Tujuan cuma satu menapak di kasta elite sepakbola tanah air. &lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, semua pemain berharap bisa tampil dikasta tertinggi sepakbola tanah air --ketika itu---bernama Indonesian Super League (ISL). Promosi ke kasta tertinggi adalah prestasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menjadi petanda juga melejitnya karier seorang pemain bersama klub. Di tambah isi spanduk, menjadi pemantik motivasi untuk menggapai prestasi lebih tinggi. Dia seakan-akan mampu menyuntik adrenalin skuad Laskar Rencong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbukti, mereka lolos ke ISL secara jantan sebagai runner-up Divisi Utama Liga Indonesia musim 2011-2012. Di posisi pertama tentu saja Persiba Bantul yang sukses tampil sebagai champione. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerja keras dan perjuangan sudah dibuktikan Abdul Musawir dkk sepanjang satu musim silam. Namun, kala angin reformasi di tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menerjang, kompetisi yang digulirkan pun sempat berhenti. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, nama kompetisi pun berganti; dari ISL ke IPL (Indonesian Premier League). "Kami tak masalah main di kompetisi dengan nama apapun, yang penting legal," pungkas el capiten Laskar Rencong, Abdul Musawir. "Apapun namanya, ini sepakbola kasta tertinggi di Indonesia, kami sudah ada di sana."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ISL masih dianggap sebagai kompetisi yang sah sesuai hasil kongres di Bali, dan dikelola oleh PT Liga Indonesia (LI). Kini terjadi dualisme kompetisi. Hal ini bermula dari keputusan PSSI mengalihkan pengelolaan liga dari PT Liga Indonesia (PT LI) ke PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin kembali menegaskan, PSSI hanya mengakui Indonesian Premier League (IPL) sebagai kompetisi yang sah. Kompetisi di luar PSSI, seperti Indonesian Super League (ISL), adalah kompetisi yang ilegal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pendukung tim juga memberi komentar yang nyaris sama. "Saya rasa Persiraja sudah memilih kompetisi yang tepat dan legal," ungkap Aziz, seorang tifosi Lantak Laju di Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula dengan para suporter di jejaring sosial juga ikut mendukung. "Mau ISL kek, mau IPL kek.....yang jelas dimana pun Persiraja main dan siapapun lawan-lawannya nanti yang penting kami ingin Persiraja dan sepakbola Indonesia maju," ulas Taufik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas tersiar kabar, dukungan fans Persiraja pada musim ini diperkirakan akan sedikit berkurang. Penyebabnya tak lain karena faktor klub berkompetisi di IPL.  &lt;br /&gt;
Bahkan, di kalangan Skullers terjadi perdebatan soal penampilan Persiraja di ajang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehadiran dua kompetisi kasta tertinggi di Indonesia, yaitu IPL dan ISL, membuat suporter setia Persiraja bak dipersimpangan jalan. Meski pada prinsipnya, Skull siap memberi dukungan untuk Yufha Andika dkk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini terbukti pada debut di IPL, akhir pekan kemarin. Para Skullers tetap mendukung penuh Persiraja Banda Aceh meskipun terjadi konflik di tubuh PSSI dengan munculnya dua kompetisi level tertinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Terserah mau di IPL, ISL, bahkan pertandingan tarkam sekalipun, kami merasa berkewajiban mendukung Persiraja. Kehadiran kami murni karena kecintaan pada tim ini," tukas Ketua Skull Teuku Iqbal Djohan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Iqbal, punca masalah itu ada di PSSI pusat, bukan di klub dan suporternya. &lt;br /&gt;
"Jangan gara-gara perpecahan di PSSI merembet ke pengurus dan suporter klub," keluhnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkait itu, Iqbal menyarankan semua klub untuk duduk bersama mencari solusi menyikapi dualisme kompetisi itu. Pasalnya, Laskar Rencong tak pernah bermimpi bertarung di IPL. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasalnya, musim lalu, Persiraja sukses promosi ke kasta elite Liga Super usai tampil sebagai runner-up Divisi Utama Liga Indonesia. Namun musim ini, Persiraja tampil di IPL, kompetisi resmi yang digelar PSSI. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibat kisruh di tubuh PSSI, semua mimpi skuller untuk menyaksikan tim elite Indonesia tampil di Aceh menjadi buyar. Dia antara dualiasme kompetisi itu, Skull tak pernah mendorong Persiraja berkompetisi di IPL, atau pun mendesak pengurus Persiraja untuk ikut ISL.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang ironi, berjuang merebut tiket ke ISL, Persiraja malah bermain di IPL. Tapi memang begitulah kompetisi negeri ini, sehingga spanduk "Welcome IPL" dianggap tak begitu perlu. &lt;br /&gt;
[tulisan ini sudah Waspada, Selasa 29/11/2011]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
   &lt;w:UseFELayout/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
   &lt;w:UseFELayout/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0cm;
 mso-para-margin-right:0cm;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; tab-stops: 28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;google_ad_client =
"ca-pub-7208310640203116";&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;/* AcehFootball1 */&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;google_ad_slot = "0231942559";&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;google_ad_width = 728;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;google_ad_height = 90;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;//&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div 113.35pt="" 141.7pt="" 170.05pt="" 198.4pt="" 226.75pt="" 255.1pt="" 283.45pt="" 311.8pt="" 340.15pt="" 56.65pt="" 85.0pt="" class="&amp;quot;MsoNormal&amp;quot;" mso-layout-grid-align:none="" mso-pagination:none="" normal="" quot="" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;" tab-stops:28.3pt="" text-autospace:none=""&gt;
&lt;span elvetica="" font-family:="" quot="" sans-serif="" style="font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
--&amp;amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; tab-stops: 28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;script span="span" type="text/javascript"&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0cm;
 mso-para-margin-right:0cm;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; tab-stops: 28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;google_ad_client =
"ca-pub-7208310640203116";&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;/* AcehFootball1 */&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;google_ad_slot = "0231942559";&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;google_ad_width = 728;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;google_ad_height = 90;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;//&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; tab-stops: 28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; tab-stops: 28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;script span="span" type="text/javascript"&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:
normal;mso-pagination:none;tab-stops:28.3pt 56.65pt 85.0pt 113.35pt 141.7pt 170.05pt 198.4pt 226.75pt 255.1pt 283.45pt 311.8pt 340.15pt;
mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;
&lt;span style="font-size:12.0pt;
font-family:"Helvetica","sans-serif""&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;

</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2011/11/antara-ipl-isl-dan-persiraja.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvZFf2PZEuGXePHc2Do_ZacRs0DhJBcY-wsd_9FsHTzAgqw47Md3WXiVJEEkh9JDkncM9-5D-KteolH-OTP3nSXGXKtlIh35Yle_610Ph0t5sS1fnR-ifS7wMlVeQimBt-uLjGfdY3m-U1/s72-c/Tim+Raja.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-2950807143814687587</guid><pubDate>Tue, 26 Apr 2011 13:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-18T16:00:33.374+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosok</category><title>Panggil Saja Aku Nakata...</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzpclVCiDqSLQntZNaUor5mz6U06WEHaNwm3hShoNYjkrqAEsm66nwUX6mKdjMBBalsvlHcxz8_6IfFmESHHQ2uq4RVjEb6rZQSOagp8kbYidoaV7uSspInnJ-qYrULokO3RfYQvq-Epie/s1600/raja+%252812%2529.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzpclVCiDqSLQntZNaUor5mz6U06WEHaNwm3hShoNYjkrqAEsm66nwUX6mKdjMBBalsvlHcxz8_6IfFmESHHQ2uq4RVjEb6rZQSOagp8kbYidoaV7uSspInnJ-qYrULokO3RfYQvq-Epie/s320/raja+%252812%2529.JPG" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680413951353151666" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 255px; margin: 0 10px 10px 0; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
MUKLIS Nakata memang gagal mencatatkan namanya dipapan skor pada laga terakhir saat timnya melipat PS Bengkulu 3-0 di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh, Senin lalu. "Kemenangan tim lebih berharga ketimbang saya harus mencetak gol," ujarnya dalam bincang-bincang dengan Waspada, kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tugas mencetak gol memang bukan kewajibannya. Namun, Nakata punya kenangan manis dengan klub asal Bengkulu ini. Pasalnya, pada laga pembuka Divisi Utama Liga Indonesia di Sawah Besar, Bengkulu 19 November 2010 lalu, dia menjadi pencetak gol dalam kemenangan timnya 2-1. Satu gol lagi dilesakkan Abdul Musawir.&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
"Memang, saya sempat berharap bisa cetak gol lagi lawan Bengkulu, untuk menutup putaran kedua dengan gol kedua. Itu satu-satunya gol saya musim ini. Sepertinya itu menjadi gol pertama sekaligus terakhir. Tapi, belum tahu bagaimana peluang di 8 besar," ungkap lajang kelahiran, Lambaro, Aceh Besar 12 Mai 1988 ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mencetak gol dilaga pamungkus, bukan lantas membuatnya kecewa. Sebab, selama ini, kontribusinya bagi tim juga tak kalah besar. "Dia memang tak banyak mencetak gol, tapi assit dia yang menjadi gol juga banyak. Peran dia juga tak kalah penting," timpal Dicky Anggriawan, kiper Persiraja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, anak kedua dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Usman (60) dan Saudah (53) sedang merengkuh bahagia. Sebagai pemain profesional, dia dkk, mampu membawa timnya mengakhiri kompetisi musim ini dengan status juara grup. Apalagi ini tahun keduanya di level Persiraja senior.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lahir dengan nama Mukhlis, pria ini malah lebih tenar dengan nama Nakata. Asal usul panggilan itu, Mukhlis sendiri tak ingat sejak kapan muncul. Tapi, setidaknya sejak tim nasional Jepang berlaga di Piala Dunia 2002 yang dikapteni Hidetoshi Nakata, sejak itulah orang dikampungnya pun 'mengganti' panggilan Mukhlis dengan Nakata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya tak berlebihan, jika pengidola Lionel Messi ini, disapa begitu. Karena ciri-cirinya Mukhlis yang paling kontras adalah pada matanya yang sipit. "Akhirnya, semua orang memanggil saya dengan nama Nakata," urai mantan siswa SMP 3 Ingin Jaya, Aceh Besar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas ball boy&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua pemain bola itu tak memulai karier dengan gampang. Begitu pula dengan Mukhlis. Sejak masih dibangku kelas lima sekolah dasar, dia sudah bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Aneuk Rincong. Hingga usia 18 tahun, dia masih memperkuat klubnya dalam berbagai even termasuk mengikuti Piala Bogasari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umur 18 tahun, pria bermata sipit ini juga menjadi bagian dari Persiraja junior dan PSAB Aceh Besar junior.&lt;br /&gt;
Sebelumnya, dia juga menjadi pemain PPLP bahkan sempat tampil di Thailand dan menjadi juara empat di sana.&lt;br /&gt;
Pada 2006 dia memperkuat daerahnya di Porda X di Takengon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukhlis juga membela Aceh pada Pra PON di Jakarta dan menjadi pilar tim Aceh pada PON 2008 di Kalimantan Timur. Sebelum bergabung dengan Persiraja, dia memperkuat PSAB Aceh Besar di Divisi I pada musim 2009-2010.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dan temannya Agus Mulyadi masuk pada putaran kedua, saat Persiraja dilatih arsitek bertangan dingin Anwar. "Coach Anwar berjasa dalam perkembangan karier saya di tim ini," ujar pria yang juga mengangumi, Dahlan Djalil, mentor dan seniornya di Persiraja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katanya, peran Anwar yang kini membesut PSAP Sigli tidak kecil. "Awalnya, posisi saya gelandang. Karena postur saya yang tidak besar, Bang Anwar menyarankan saya main sebagai wing back kanan, Alhamdulillah, sampai sekarang saya main di posisi ini," ungkap jebolan tim PON Aceh 2008 ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuknya Nakata dan Agus ketika itu, makin menambah jumlah pemain jebolan PON yang memperkuat barisan Persiraja. Sebelumnya, sudah ada Fahrizal, Fahrizal Dillah, Nanda Lubis dan Defri Rizki. Nama terakhir pindah ke Persikabo dan sekarang bermain di Persih Tembilahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dia pemain yang potensial dan masih bisa berkembang. Usianya, masih muda baru 23 tahun, prospeknya cerah. Sekarang tergantung Nakata sendiri, mau eksis di sepakbola atau tidak," ujar Dahlan Djalil ketika diminta komentarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bermain di Persiraja memang menjadi cita-citanya sejak kecil. Masa di mana dia harus membongkar tabungan untuk membeli sepatu bola. Dan terpaksa membolos dari sekolah agar bisa latihan pada sore harinya. Ada satu kenangan yang tak bisa dilupakan saat masih belajar di SMK 2 Banda Aceh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tas sekolah tidak saya isi dengan banyak buku, tapi sepatu bola. Saat jam praktek di bengkel sekolah, saya bolos  dan berangkat ke lapangan untuk latihan," ujar mahasiwa Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekkah ini yang masih tercatat sebagai tenaga kontrak di bank daerah.</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2011/11/panggi-aku-nakata.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzpclVCiDqSLQntZNaUor5mz6U06WEHaNwm3hShoNYjkrqAEsm66nwUX6mKdjMBBalsvlHcxz8_6IfFmESHHQ2uq4RVjEb6rZQSOagp8kbYidoaV7uSspInnJ-qYrULokO3RfYQvq-Epie/s72-c/raja+%252812%2529.JPG" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-8602011144088535241</guid><pubDate>Thu, 20 Jan 2011 08:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-21T17:21:48.894+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosok</category><title>Pada Safri Reidl Percaya</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOYTkpjQmwsKQ0IIQTP8fGozbENptmJdUUQE_F2Hk2PCZa13RM3atFz8OHEIvdfVJJfRj7UWkEQaUzKETQ8s7OvITtygrrlWhOj8857fhXe75UqgIZ_43wxFmE2R__1X4fzoulwjrvXsuC/s1600/Umri+Kuning.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOYTkpjQmwsKQ0IIQTP8fGozbENptmJdUUQE_F2Hk2PCZa13RM3atFz8OHEIvdfVJJfRj7UWkEQaUzKETQ8s7OvITtygrrlWhOj8857fhXe75UqgIZ_43wxFmE2R__1X4fzoulwjrvXsuC/s320/Umri+Kuning.jpg" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564181181443178530" style="float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 234px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
SAFRI Umri baru saja menyelesaikan  latihan di komplek Stadion Harapan Bangsa. Dia ditemani empat rekannya  yang juga pemain bola. Sebelum matahari tepat di atas kepala, dia  istirahat sambil menyeruput minuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu tak lain, fullback Persiraja musim 2010-2011. Mantan anak  didik Diklat Ragunan itu terpilih sebagai satu dari 24 pemain lainnya  yang akan memperkuat Indonesia di ajang Pra Olimpiade 2012. Ini untuk  keempat kali namanya masuk dalam skuad tim nasional (timnas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya, lelaki kelahiran Kutacane 12 Februari 1990 ini rutin  menghuni skuad timnas junior. Rekam jejaknya dimulai dari timnas U-17  yang diasuh duet pelatih Iwan Setiawan dan Aji Santoso pada 2006. Lalu  pada skuad timnas U-19 tahun 2008 yang saat itu dilatih Bambang  Nurdiansyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setahun kemudian, pada 2009 dia juga masuk skuad timnas U-21 yang  diasuh Banur, mantan pemain sepakbola legendaris Indonesia. Tahun 2010  ini, Safri kembali masuk skuad timnas yang dipersiapkan untuk Pra  Olimpiade 2012. Timnas U-23 ini dilatih Alfred Reidl.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pelatih asal Austria itu mengumumkan 25 nama skuadnya, Safri  masih dalam penerbangan Jakarta-Banda Aceh. "Saya baru tahu saat transit  di Medan. Waktu buka hape sudah banyak pesan masuk," cerita Safri dalam  bincang-bincang dengan Waspada, Selasa (18/1) di Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu pesan tersebut, kata Safri dari Asisten Pelatih Wolfgang  Pikal. "Awalnya saya tak sempat terbanyang bisa lolos. Ternyata Allah  menentukan lain, dan alhamdulillah," ujar putra sulung pasangan Saiful  Bahri dan Salamah Ariga ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi langganan timnas, tak diperoleh Safri dengan gampang.  Kiprahnya dijagat sepakbola dia rintis sejak belia di sekolah sepak bola  (SSB) Aneuk Rincong. SBB tersebut didirikan orang tuanya, Saiful Bahri  yang seorang pegawai negeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantan siswa SMP 1 Banda Aceh melanjutkan sekolah ke Diklat Ragunan  selama tiga tahun, dari 2005-2008. Dalam periode itulah di memperkuat  tim usia 18 tahun (suratin) Persita Tangerang pada 2005. Kemudian  bermain di tim usia 18 Persijap Jepara tahun 2006.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun berikutnya dia bermain di junior PSIS Semarang. Pada tahun  yang sama yakni 2007-2008 dia masuk skuat Pelita Jaya di bawah asuhan  Fandi Ahmad, mantan pemain nasional Singapura. Dia bahkan masuk skuad  U-23 Persija Jakarta pada 2008.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim kompetisi 2009, pemain sayap ini bermain untuk klub PSIS  Semarang. Baru, pada 2010 dia kembali ke kampung halaman, memperkuat  Laskar Rencong Persiraja Banda Aceh. Di bawah polesan Herry Kiswanto,  Safri belum tampil maksimal, meski timnya melesat di puncak klasemen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Persiraja, karirnya memang sedikit mandek. Hingga sembilan kali  bertanding, dia baru dua kali masuk line up starting eleven. Lima kali  sebagai pemain cadangan, dan masuk di babak kedua. Sisanya dua kali, dia  absen karena ikut seleksi timnas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pun begitu, Safri tak berkecil hati. Dia maklum, itulah stategi  pelatih. Apalagi dia sendiri merasa menanggung beban berat jika tampil  di depan publik sendiri. Diakuinya, ekspektasi penonton yang begitu  tinggi, membuat dirinya grogi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini terbukti dalam beberapa laga terakhir di H Dimurthala. Menyikapi  kondisi ini Headcoach Persiraja, Herry Kiswanto mengakui, sejumlah  talenta mudanya masih grogi. "Mereka punya potensi besar, karena itu  jangan putus asa, teruslah berusaha melawan rasa itu semua," kata Herkis  suatu ketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sisi lain, dia juga salut dan memuji habis taktik Herkis dalam  membesut Laskar Rencong. Kata pengagum Gareth Bale--pemain Tottenham  Hotspur, dia terkesan dengan mantan gelandang timnas 80-an ini dalam  segala hal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula dengan Alfred Reidl. Menurut mantan pemain PPLP ini yang  mengagumi klub Arsenal itu, Reidl adalah tipe pelatih penuh disiplin.  Reidl ikut pula mensupport semua pemain muda yang potensinya dan  pengalamannya masih perlu ditingkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Semua pemain muda Indonesia memang lamban berkembang. Berbeda  dengan pemain muda di Eropa. Tapi semua pemain muda butuh pengalaman,"  ujar pria yang juga mengagumi Nasuha itu mengutip komentar pelatih asal  Austria itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tuanya, Saiful Bahri, ketika dihubungi terpisah mengaku bangga  anaknya mewakili klub Persiraja Banda Aceh untuk bermain di tim  nasional. Kecuali Safri, dari Laskar Rencong ada satu skuad lagi yang  ikut seleksi yakni Fahrizal Dillah. Namun, striker jangkung ini gagal  bersaing dan akhirnya dicoret Reidl.</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2011/01/pada-safri-reidl-percaya.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOYTkpjQmwsKQ0IIQTP8fGozbENptmJdUUQE_F2Hk2PCZa13RM3atFz8OHEIvdfVJJfRj7UWkEQaUzKETQ8s7OvITtygrrlWhOj8857fhXe75UqgIZ_43wxFmE2R__1X4fzoulwjrvXsuC/s72-c/Umri+Kuning.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-6452613018080782056</guid><pubDate>Fri, 24 Dec 2010 13:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-18T16:02:43.204+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosok</category><title>Namaku Robert...</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhdH0xGvwwDCWh8ReCM5Sp7HEOh8XTHXVdBgRhxNtVFOB4xrf_r_Cd7KAM9utidNzNAFnRASxX8swZ5FMbitHHWSrjOOed5oRkOA_DZrui_nPWCr4gD6WkxHAfiyLOf2nxc5FZJ2JsO0on/s1600/andrea.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhdH0xGvwwDCWh8ReCM5Sp7HEOh8XTHXVdBgRhxNtVFOB4xrf_r_Cd7KAM9utidNzNAFnRASxX8swZ5FMbitHHWSrjOOed5oRkOA_DZrui_nPWCr4gD6WkxHAfiyLOf2nxc5FZJ2JsO0on/s320/andrea.jpg" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680415446036656226" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0 10px 10px 0; width: 226px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
ANDREA adalah bek sayap impresif yang dimiliki Persiraja Banda Aceh saat ini. Untuk ukuran pemain bola, dia memang tidak berpostur Eropa. Tapi lihat saja aksinya saat berduel di lapangan hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketat dalam menjaga lawan, dan rajin membantu serangan. Itulah yang membuat lajang kelahiran 18 April 1984 ini selalu menjadi pilihan setiap pelatih yang menjadi juru taktik di Persiraja. &lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Terbukti, meski kerap berganti pelatih, posisinya di sayap kiri selalu di bawah kawalannya. Meski dengan tinggi 162 cm, Andrea selalu bisa tampil spartan dalam membela klubnya. Terbukti, untuk sementara timnya meraup 15 poin dari lima kali pertandingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengagum Roberto Carlos yang akrab disapa Ateng ini, amat menjiwai kariernya sebagai pengocek si kulit bundar. Pun begitu, menjadi aneh jika kemudian ada yang menanyakan koleksi golnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pada intinya, semua pemain itu ingin mencetak gol setiap tampil. Meski tugas utama itu ada di pundak stiker," ujar sulung dari enam bersaudara putra pasangan Fakhri AR (57) dengan Puteri (50) ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Momentum mencetak gol itu menjadi langka bagi Andrea. Pasalnya, karena posisinya sebagai pemain belakang. Jadi, tipis peluang untuk mengoyak jala lawan. Akan tetapi, begitu kans ada di depan mata, dia pun tak menyia-nyiakan momen bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang terjadi di Stadion Narasinga Rengat, pada Senin (20/12) lalu. Saat timnya membabat Persires 3-1, Ateng menyumbang sebiji gol. "Saya sudah empat tahun lamanya menunggu gol ini," ujarnya sembari tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini mengingatkan kita pada aksi winger Manchester United, Patrick Evra. Bek sayap asal Perancis itu pun mengakui pandangan tersebut. Untuk mencari sebiji gol saja, dia harus menunggu tiga tahun lamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berseloroh, dia mengakui, mungkin ada siklus empat tahun sekali, sehingga pria 26 tahun ini mencetak gol lagi. "Hasrat saya, Insya Allah, ingin selalu tampil bagus dan memberi yang terbaik untuk tim," sebutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu yang disesalinya usai tampil di Rengat, yakni kartu kuning. Kibasan kartu itulah yang membuatnya, absen pada 3 Januari nanti saat timnya melawan Persipasi Bekasi di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab, pada laga perdana di Bengkulu, pemilik jersey nomor 3 ini juga mendapat kartu serupa, menariknya dari wasit yang sama. "Dua kali kartu dari wasit yang sama, mungkin dia dendam dengan saya," katanya sambil terkekeh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenangan di SUGBK&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lazimnya pemain bola, begitu juga Andrea dalam menjalani karier sepakbolanya. Dia mengawali dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Ban Timoh saat masih masih belia, yakni saat masih sekolah menengah pertama 1996.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sepakbola itu sudah mendarah daging dalam hidupku sejak kecil," ujar putra Montasik, Aceh Besar ini. Darah bolanya mungkin saja mengalir dari sang ayah, yang juga pemain bola antar kampung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia delapan tahun belajar ilmu sepakbola di SBB Ban Timoh yang diasuh Darmawan AG--mantan pemain Persiraja 80-an. Dari situ dia, mulai memperkuat Persiraja Junior U-16 dan U-18. "Waktu itu main di Liga Bogasari," kenang Andrea.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Debut profesionalnya di tim senior Persiraja dimulai penuh kenangan. Bagaimana tidak, dia langsung tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) saat Laskar Rencong berduel dengan Persija Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kala itu, Persiraja diasuh Sinyoe Aliandoe. Bermain dengan rekan senior semacam Tarmizi Rasyid, Irwansyah (alm), Dahlan Djalil Cs, tak membuat Andrea grogi dan salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mental Andrea bagus, dia tidak demam panggung saat tampil perdana. Padahal mainnya di Gelora," ujar mantan pilar Persiraja, Tarmizi Rasyid, yang kini sudah gantung sepatu disepakbola profesional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak itulah, namanya mewarnai sepakterjang Persiraja. Pada musim 2007-2008 dia ikut sang mentor yakni Anwar main di PSSB Bireuen dan PSAP Sigli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dua musim terakhir dia sudah tak berpindah ke lain hati. "Insya Allah, jika ada umur panjang dan sehat badan, akan bermain untuk persiraja terus," tutup Andrea. Semoga.</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2010/12/namaku-robert.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhdH0xGvwwDCWh8ReCM5Sp7HEOh8XTHXVdBgRhxNtVFOB4xrf_r_Cd7KAM9utidNzNAFnRASxX8swZ5FMbitHHWSrjOOed5oRkOA_DZrui_nPWCr4gD6WkxHAfiyLOf2nxc5FZJ2JsO0on/s72-c/andrea.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-6338167417119113561</guid><pubDate>Sat, 04 Dec 2010 05:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-18T16:05:15.281+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejarah</category><title>Kerkhof, bukan Kuburan Biasa</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcpMD5dXSk7ddruxJBQRI_CUbjja-9czGzUysk296Et-Yqv9p1WYh9HfOH7lzLjclFlimqWPeOtwZLZA7E4eNEXZGHRgwDFPTvjURAqWxr5-iEJTFgiYXED95rHpCXXfkrRb_obp1Ry1jn/s1600/kerkof.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcpMD5dXSk7ddruxJBQRI_CUbjja-9czGzUysk296Et-Yqv9p1WYh9HfOH7lzLjclFlimqWPeOtwZLZA7E4eNEXZGHRgwDFPTvjURAqWxr5-iEJTFgiYXED95rHpCXXfkrRb_obp1Ry1jn/s320/kerkof.jpg" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552231973613579074" style="cursor: pointer; float: left; height: 222px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
ITU kuburan Belanda," tunjuk Zulkifli, seorang penarik becak mesin kepada dua turis penumpangnya pagi itu. Jumat pagi kemarin, cuaca tak begitu cerah, tapi malah berselimut panas.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Zulkifli berselisihan jalan dengan Waspada saat sama 'ziarah' ke kompleks makam bersejarah itu. Kedua turis ini asal Jerman. "Mereka rencana berangkat ke sabang," sebut dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di depan pintu gerbang terdapat kalimat bertuliskan “2.200 Prajurit dikuburkan di sini. Angkatan Perang Kerajaan Hindia Belanda Timur (KNIL) membayar mahal atas kehadirannya di Aceh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kompleks perkuburan militer Belanda ini terletak di Kelurahan Blower Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Namanya; Kerkhof Peutjoet. Kerkhof, dalam bahasa Indonesia berarti permakamanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sejumlah literatur disebutkan, kata ini dalam bahasa aslinya: kerkhoff, dengan huruf ‘f’ ganda. Kalau di-pecah atas dua suku kata, maka ‘kerk’ diartikan sebagai gereja dan ‘hoff’ adalah halaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi tradisi orang Belanda yang mayoritas Kristen menguburkan keluarganya di samping gereja, lambat-laun kata "kerkhoff" menjadi sebutan untuk kuburan atau permakaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Peutjoet adalah, panggilan kesayangan Meurah Pupok, putera Sultan Iskandar Muda yang dihukum mati. Makamnya juga terdapat di areal seluas 3,25 hektar ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerkhof Peutjoet itu dikelola Yayasan Dana Peutjuet yang didirikan pada 29 Januari 1976. Yayasan ini digagas setelah seorang veteran tentara Marsose Kolonel J.H.J. Brendgen bertandang ke Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama berkunjung, Brendgen melihat fakta miris, bahwa kuburan militer Peutjuet dalam kondisi tak terawat. Di bagian Aceh lain juga, makam tentara marsose memprihatinkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas alasan itu, didirikanlah yayasan ini guna melestarikan kuburan militer Peutjut agar dapat dipelajari oleh generasi mendatang. Sedang dana untuk perawatan dan perbaikan berasal dari para donatur negeri Kincir Angin itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makam Perang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah kuburan militer Belanda yang terletak di luar negeri Balanda yang terluas di dunia. Dalam sejarah Belanda, Perang Aceh adalah perang paling pahit yang melebihi pahitnya pengalaman mereka pada saat Perang Napoleon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Data Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) Banda Aceh menyebutkan, di kompleks Kerkhof Peutjoet yang dibangun tahun 1880 itu terdapat 2.200 jasad serdadu Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan hanya makam serdadu berpangkat kopral, yang berpangkat jenderal pun bukan satu orang. Di sana juga dikubur jasad tentara kolonial dari berbagai suku bangsa, bahkan ada juga sekelompok makam orang Yahudi yang dulu tinggal di Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ini memang bukan kuburan biasa," sebut Ridwan Aswad, Sekretatis PDIA Aceh kepada penulis belum lama ini. Katanya, bukan kuburan biasa karena, di nisan-nisannya kita bisa membaca banyak sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak hal menarik yang dapat ditemui di perkuburan ini. Cerita tentang prajurit semasa hidupnya sampai pada saat dikubur. Nama dan pangkat mereka serta tahun-tahun tewas terpahat rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalamnya terdapat sejumlah tugu yang diukir begitu apik. Itu semua diceritakan sepintas pada batu nisan sehingga makam ini seolah-olah sedang bercerita kepada pengunjung tentang masa lalu penghuninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita menilik pada nisan-nisan yang tersebar, maka penanggalan tertua yang didapati adalah pada kuburan seorang prajurit angkatan laut Belanda yang tewas karena terkena penyakit kolera pada tanggal 27 Desember 1873.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita lebih teliti maka akan ditemukan berbagai kisah memilukan dan konyol pada sejumlah batu nisan. Mulai dari yang tewas secara heroik dalam perang tertembus kelewang hingga yang mati konyol ditusuk rencong saat jalan-jalan sore.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada juga kisah mengharukan dari Letnan satu H.P de Bruijn yang tewas satu hari sebelum pernikahannya di Pendopo Aceh. Dia tersungkur dalam medan perang yang ganas di Seunagan pada tahun 1902.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Intinya, setiap batu nisan dibuat tanda untuk menjelaskan yang dikuburkan tersebut tewas karena perang atau karena sakit," ujar Amri, sang penjaga kuburan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ridwan menambahkan, Perang Aceh menjadi perang terberat bagi Kerajaan Belanda. Di Aceh pula jenderal Belanda meregang nyawa. Sesuatu yang langka terjadi di wilayah jajahan lain saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agus Budi Wibowo, seorang peneliti di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh menyebutkan di Kerkhof ini terdapat makam pimpinan Belanda dalam penyerangan pertama, yaitu Jenderal Kohler yang mati ditembak oleh pasukan Aceh di depan Masjid Raya Baiturrahman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awal mulanya Jenderal Kohler ini dimakamkan di Tanah Abang Jakarta. Akan tetapi, sejak 19 Mei 1978 tulang belulang Kohler tersebut dipindahkan ke Kerkhof ini. Pemindahan ini atas inisiatif gubernur, saat itu Muzakir Walad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Karena Köhler ini meninggalnya di Aceh, makanya tulang belulangnya pun dimakamkan lagi di Aceh,” sebut Adli Abdullah, pemerhati sosial dan budaya Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perwira pertama yang dikuburkan di sini adalah J.J.P Weijerman yang tewas pada tanggal 20 Oktober 1883 di dekat Mesjid Siem Krueng Kale, Kecamatan Darussalam Aceh Besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, di kuburan ini terdapat makam Jenderal Pel, Jenderal Van der Heyden dan Jenderal Van Aken. Jenderal Pel ini ditembak pasukan Aceh di Lamnyong, Darussalam. "Ada empat jenderal yang dikubur di sana," tambah Agus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pihak Yayasan Dana Peutjuet atau yang belakangan dikenal Stichting Renovatie Peucut juga mengupah pekerja untuk merawat makam. Itulah Amri. Dia hampir 20 tahun mengurus kompleks ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tugas Amri, menjaga kebersihan, agar Kerkhof tetap rapi dan bersih. Terkadang dia juga memperbaiki nisan rusak, serta mengecat kuburan dan pagar sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut dia, Kerkhof menjadi bagian dari bukti-bukti sejarah. Dari jejak sejarah yang terkubur itu menjadi penting. Sebab itu bagian indentitas suatu bangsa,” katanya.&lt;/blockquote&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2010/12/kerkhof-bukan-kuburan-biasa.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcpMD5dXSk7ddruxJBQRI_CUbjja-9czGzUysk296Et-Yqv9p1WYh9HfOH7lzLjclFlimqWPeOtwZLZA7E4eNEXZGHRgwDFPTvjURAqWxr5-iEJTFgiYXED95rHpCXXfkrRb_obp1Ry1jn/s72-c/kerkof.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-949013010027003019</guid><pubDate>Mon, 29 Nov 2010 05:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-08T15:28:14.051+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><title>Barisan Di Bawah Hujan</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWUkGQOAOo0AmiznP85FjxAePdemoUylPGw6s5xHnh23olk1YiO8YAKTluo04N0_3ZZtS_zVM4Ma9B1cyBohKFfXeV12sGjjOHTCzllX5_0wG3tr8LPrbpvqs8d1dWQLodkeob-jQAW2VB/s1600/bakar.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWUkGQOAOo0AmiznP85FjxAePdemoUylPGw6s5xHnh23olk1YiO8YAKTluo04N0_3ZZtS_zVM4Ma9B1cyBohKFfXeV12sGjjOHTCzllX5_0wG3tr8LPrbpvqs8d1dWQLodkeob-jQAW2VB/s320/bakar.JPG" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552232622880741282" style="float: left; height: 225px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
HUJAN menyirami &lt;a href="https://www.facebook.com/?_rdr" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Banda Aceh &lt;/a&gt;sebelum Ashar, pada Senin kemarin. Kata pepatah lama, hujan itu membawa berkah. Mereka yang datang di bawah hujan pertanda baik. Bukti alam menerima si tamu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
Begitu lakab kuno yang kian usang di telan zaman. Untuk menyambut tamu itulah, anak-anak sekolah terpaksa harus berhujan ria. Mereka mengibas-ngibas kertas dua warna. Basah nyaris kuyup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Presiden akan lewat di jalan ini. Anak-anak sekolah disuruh berbaris melambaikan bendera merah putih," kata seorang guru yang ikut mengawal puluhan siswa di jalan H Dimurthala. Persis depan stadion sepakbola milik Persiraja Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan itu memang dilalui rombongan mobil yang mengangkut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara. Dari hotel tempat dia bermalam, iring-iringin mobil RI-1 menembus jalan T Nyak Arief yang melempangkan jalannya ke lokasi acara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serangkainya kegiatan sudah dikemas dalam kunjungan selama dua hari di Aceh. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kursi perdamaian dari Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Presiden juga menyaksikan penyerahan secara simbolis kartu Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) kepada dua warga di Tibang yang diterima buruh bangunan dan ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia menanam secara simbolis pohon trembesi di Hutan Kota BNI kawasan Gampong Tibang, Kec Syiah Kuala. Tibang salah satu gampong yang hancur saat tsunami pada 26 Desember 2004.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SBY menghibahkan 125 ribu batang pohon trembesi untuk ditanam di sekujur Aceh. Aksi ini bagian dari program nasional menanam satu miliar pohon yang dimulainya di Jatiluhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, pada Selasa (30/11) kepala negara membuka Jambore Nasional Wirakarya 2010 di Pegunungan Seulawah, Pidie. Kawasan yang hutannya kian gundul akibat rambahan warga sekitar.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Hujan dan Mahasiswa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan SBY menuju Tibang selazimnya tidak begitu 'gampang'. Sebab, ratusan mahasiswa sudah menghadangnya di pintu jalan menuju lokasi acara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aksi mahasiswa ini, terganjal oleh pengamanan polisi yang melakukan bubar paksa pada mereka. Mahasiswa pun  ngotot ingin menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Presiden.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Simpang Prada, Lingke yang jaraknya sepelemparan batu dari Markas Polisi Daerah Aceh, mahasiswa berorasi di bawah kawalan aparat. Hujan jatuh deras, sederas tuntutan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orasi yang digalang Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh itu mengusung berbagai isu. Mulai dari isu nasional sampai masalah lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tataran Aceh, KAMMI melihat secara politik SBY bersikap dingin terhadap syariat Islam. "SBY tak pernah memberi dukungannya terhadap implementasi syariat Islam di Aceh," sebut Muaz Munauwar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua KAMMI Aceh ini ingin juga SBY berkata jujur mengenai pendapatan dana Migas. Kata dia, hingga kini belum jelas berapa jumlah total pendapatan dana tersebut yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pembagian dana migas antara pusat dan daerah tidak transparan dan terkesan ditutup-tutupi," tukasnya sembari meminta pusat untuk mempercepat pembangunan Aceh di wilayah barat dan tengah dengan kucuran dana APBN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika barisan KAMMI berkoar-koar dengan aman, lainya halnya dengan kelompok mahasiswa lain. Aksinya termasuk anarkis yang dimulai dari saling dorong antara petugas dan mahasiswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi dorong, baku hantam, dan aksi saling lempar batu pun terjadi. Mereka memblokir jalan, mencabut sejumlah marka jalan, membakar dan puluhan ban bekas. Suasana rusuh serasa aksi saat reformasi 1998 lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua unit mobil water canon polisi dikerahkan untuk mengusir para mahasiswa. Cara yang dilakukan oleh aparat kepolisian ternyata cukup ampuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SBY beserta rombongan pun berhasil melenggang tanpa tahu ada hadangan dari mahasiswa. Tak jauh beda dengan tuntuan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barisan mahasiswa ini menuntut pemerintah agar tak menjual BUMN yang ada di &lt;a href="http://www.acehfootball.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Aceh&lt;/a&gt; seperti PT KKA dan AAF. Di saat aksi, hujan belum mau berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tak berhentinya kibasan kertas merah putih dari lambaian barisan seratusan anak-anak yang kuyup dibasahi hujan. Demi sebuah kunjungan, mereka pun berbasah-basahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal harapan mereka mungkin cuma satu. Bisa belajar dengan nyaman. Lalu, bila datang lagi, jangan ikut membawa hujan, tapi berilah harapan. Semoga. &lt;/div&gt;
</description><enclosure length="0" type="http://www.acehfootball.com/" url="http://www.acehfootball.com/"/><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2010/11/barisan-di-bawah-hujan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWUkGQOAOo0AmiznP85FjxAePdemoUylPGw6s5xHnh23olk1YiO8YAKTluo04N0_3ZZtS_zVM4Ma9B1cyBohKFfXeV12sGjjOHTCzllX5_0wG3tr8LPrbpvqs8d1dWQLodkeob-jQAW2VB/s72-c/bakar.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>HUJAN menyirami Banda Aceh sebelum Ashar, pada Senin kemarin. Kata pepatah lama, hujan itu membawa berkah. Mereka yang datang di bawah hujan pertanda baik. Bukti alam menerima si tamu. Begitu lakab kuno yang kian usang di telan zaman. Untuk menyambut tamu itulah, anak-anak sekolah terpaksa harus berhujan ria. Mereka mengibas-ngibas kertas dua warna. Basah nyaris kuyup. "Presiden akan lewat di jalan ini. Anak-anak sekolah disuruh berbaris melambaikan bendera merah putih," kata seorang guru yang ikut mengawal puluhan siswa di jalan H Dimurthala. Persis depan stadion sepakbola milik Persiraja Banda Aceh. Jalan itu memang dilalui rombongan mobil yang mengangkut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara. Dari hotel tempat dia bermalam, iring-iringin mobil RI-1 menembus jalan T Nyak Arief yang melempangkan jalannya ke lokasi acara. Serangkainya kegiatan sudah dikemas dalam kunjungan selama dua hari di Aceh. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kursi perdamaian dari Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Presiden juga menyaksikan penyerahan secara simbolis kartu Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) kepada dua warga di Tibang yang diterima buruh bangunan dan ibu rumah tangga. Lalu dia menanam secara simbolis pohon trembesi di Hutan Kota BNI kawasan Gampong Tibang, Kec Syiah Kuala. Tibang salah satu gampong yang hancur saat tsunami pada 26 Desember 2004. SBY menghibahkan 125 ribu batang pohon trembesi untuk ditanam di sekujur Aceh. Aksi ini bagian dari program nasional menanam satu miliar pohon yang dimulainya di Jatiluhur. Kemudian, pada Selasa (30/11) kepala negara membuka Jambore Nasional Wirakarya 2010 di Pegunungan Seulawah, Pidie. Kawasan yang hutannya kian gundul akibat rambahan warga sekitar. Hujan dan Mahasiswa Jalan SBY menuju Tibang selazimnya tidak begitu 'gampang'. Sebab, ratusan mahasiswa sudah menghadangnya di pintu jalan menuju lokasi acara. Namun aksi mahasiswa ini, terganjal oleh pengamanan polisi yang melakukan bubar paksa pada mereka. Mahasiswa pun ngotot ingin menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Presiden. Di Simpang Prada, Lingke yang jaraknya sepelemparan batu dari Markas Polisi Daerah Aceh, mahasiswa berorasi di bawah kawalan aparat. Hujan jatuh deras, sederas tuntutan mereka. Orasi yang digalang Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh itu mengusung berbagai isu. Mulai dari isu nasional sampai masalah lokal. Dalam tataran Aceh, KAMMI melihat secara politik SBY bersikap dingin terhadap syariat Islam. "SBY tak pernah memberi dukungannya terhadap implementasi syariat Islam di Aceh," sebut Muaz Munauwar. Ketua KAMMI Aceh ini ingin juga SBY berkata jujur mengenai pendapatan dana Migas. Kata dia, hingga kini belum jelas berapa jumlah total pendapatan dana tersebut yang sebenarnya. "Pembagian dana migas antara pusat dan daerah tidak transparan dan terkesan ditutup-tutupi," tukasnya sembari meminta pusat untuk mempercepat pembangunan Aceh di wilayah barat dan tengah dengan kucuran dana APBN. Jika barisan KAMMI berkoar-koar dengan aman, lainya halnya dengan kelompok mahasiswa lain. Aksinya termasuk anarkis yang dimulai dari saling dorong antara petugas dan mahasiswa. Aksi dorong, baku hantam, dan aksi saling lempar batu pun terjadi. Mereka memblokir jalan, mencabut sejumlah marka jalan, membakar dan puluhan ban bekas. Suasana rusuh serasa aksi saat reformasi 1998 lalu. Dua unit mobil water canon polisi dikerahkan untuk mengusir para mahasiswa. Cara yang dilakukan oleh aparat kepolisian ternyata cukup ampuh. SBY beserta rombongan pun berhasil melenggang tanpa tahu ada hadangan dari mahasiswa. Tak jauh beda dengan tuntuan yang pertama. Barisan mahasiswa ini menuntut pemerintah agar tak menjual BUMN yang ada di Aceh seperti PT KKA dan AAF. Di saat aksi, hujan belum mau berhenti. Seperti tak berhentinya kibasan kertas merah putih dari lambaian barisan seratusan anak-anak yang kuyup dibasahi hujan. Demi sebuah kunjungan, mereka pun berbasah-basahan. Padahal harapan mereka mungkin cuma satu. Bisa belajar dengan nyaman. Lalu, bila datang lagi, jangan ikut membawa hujan, tapi berilah harapan. Semoga.</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Unknown)</itunes:author><itunes:summary>HUJAN menyirami Banda Aceh sebelum Ashar, pada Senin kemarin. Kata pepatah lama, hujan itu membawa berkah. Mereka yang datang di bawah hujan pertanda baik. Bukti alam menerima si tamu. Begitu lakab kuno yang kian usang di telan zaman. Untuk menyambut tamu itulah, anak-anak sekolah terpaksa harus berhujan ria. Mereka mengibas-ngibas kertas dua warna. Basah nyaris kuyup. "Presiden akan lewat di jalan ini. Anak-anak sekolah disuruh berbaris melambaikan bendera merah putih," kata seorang guru yang ikut mengawal puluhan siswa di jalan H Dimurthala. Persis depan stadion sepakbola milik Persiraja Banda Aceh. Jalan itu memang dilalui rombongan mobil yang mengangkut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara. Dari hotel tempat dia bermalam, iring-iringin mobil RI-1 menembus jalan T Nyak Arief yang melempangkan jalannya ke lokasi acara. Serangkainya kegiatan sudah dikemas dalam kunjungan selama dua hari di Aceh. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kursi perdamaian dari Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Presiden juga menyaksikan penyerahan secara simbolis kartu Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) kepada dua warga di Tibang yang diterima buruh bangunan dan ibu rumah tangga. Lalu dia menanam secara simbolis pohon trembesi di Hutan Kota BNI kawasan Gampong Tibang, Kec Syiah Kuala. Tibang salah satu gampong yang hancur saat tsunami pada 26 Desember 2004. SBY menghibahkan 125 ribu batang pohon trembesi untuk ditanam di sekujur Aceh. Aksi ini bagian dari program nasional menanam satu miliar pohon yang dimulainya di Jatiluhur. Kemudian, pada Selasa (30/11) kepala negara membuka Jambore Nasional Wirakarya 2010 di Pegunungan Seulawah, Pidie. Kawasan yang hutannya kian gundul akibat rambahan warga sekitar. Hujan dan Mahasiswa Jalan SBY menuju Tibang selazimnya tidak begitu 'gampang'. Sebab, ratusan mahasiswa sudah menghadangnya di pintu jalan menuju lokasi acara. Namun aksi mahasiswa ini, terganjal oleh pengamanan polisi yang melakukan bubar paksa pada mereka. Mahasiswa pun ngotot ingin menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Presiden. Di Simpang Prada, Lingke yang jaraknya sepelemparan batu dari Markas Polisi Daerah Aceh, mahasiswa berorasi di bawah kawalan aparat. Hujan jatuh deras, sederas tuntutan mereka. Orasi yang digalang Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh itu mengusung berbagai isu. Mulai dari isu nasional sampai masalah lokal. Dalam tataran Aceh, KAMMI melihat secara politik SBY bersikap dingin terhadap syariat Islam. "SBY tak pernah memberi dukungannya terhadap implementasi syariat Islam di Aceh," sebut Muaz Munauwar. Ketua KAMMI Aceh ini ingin juga SBY berkata jujur mengenai pendapatan dana Migas. Kata dia, hingga kini belum jelas berapa jumlah total pendapatan dana tersebut yang sebenarnya. "Pembagian dana migas antara pusat dan daerah tidak transparan dan terkesan ditutup-tutupi," tukasnya sembari meminta pusat untuk mempercepat pembangunan Aceh di wilayah barat dan tengah dengan kucuran dana APBN. Jika barisan KAMMI berkoar-koar dengan aman, lainya halnya dengan kelompok mahasiswa lain. Aksinya termasuk anarkis yang dimulai dari saling dorong antara petugas dan mahasiswa. Aksi dorong, baku hantam, dan aksi saling lempar batu pun terjadi. Mereka memblokir jalan, mencabut sejumlah marka jalan, membakar dan puluhan ban bekas. Suasana rusuh serasa aksi saat reformasi 1998 lalu. Dua unit mobil water canon polisi dikerahkan untuk mengusir para mahasiswa. Cara yang dilakukan oleh aparat kepolisian ternyata cukup ampuh. SBY beserta rombongan pun berhasil melenggang tanpa tahu ada hadangan dari mahasiswa. Tak jauh beda dengan tuntuan yang pertama. Barisan mahasiswa ini menuntut pemerintah agar tak menjual BUMN yang ada di Aceh seperti PT KKA dan AAF. Di saat aksi, hujan belum mau berhenti. Seperti tak berhentinya kibasan kertas merah putih dari lambaian barisan seratusan anak-anak yang kuyup dibasahi hujan. Demi sebuah kunjungan, mereka pun berbasah-basahan. Padahal harapan mereka mungkin cuma satu. Bisa belajar dengan nyaman. Lalu, bila datang lagi, jangan ikut membawa hujan, tapi berilah harapan. Semoga.</itunes:summary><itunes:keywords>feature, Featured</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-4061222629352482498</guid><pubDate>Fri, 19 Nov 2010 05:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-19T12:51:10.714+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">opini</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosok</category><title>Namanya Martti Ahtisaari</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK1nP9D0_5ydVbv4vrehbbQ5jLwOQnsKhe_AUEn_ahuUa9eZpaHkE6-dfZ1ryYL_48cwHTNAT6_e2zhG1NOm9VZ4UzPd6VSc3Pm7g9lab9iZZHiJigl_xEI6dXte4IHb1QFf2tEOP1CrV5/s1600/martti_ahtisaari_2007.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK1nP9D0_5ydVbv4vrehbbQ5jLwOQnsKhe_AUEn_ahuUa9eZpaHkE6-dfZ1ryYL_48cwHTNAT6_e2zhG1NOm9VZ4UzPd6VSc3Pm7g9lab9iZZHiJigl_xEI6dXte4IHb1QFf2tEOP1CrV5/s320/martti_ahtisaari_2007.jpg" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552233124707009442" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 209px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Pria ini datang dari benua biru. Dalam lima tahun terakhir dia rajin bolak-balik ke Aceh. Pekan kemarin, dia kembali menginjak tanah Aceh untuk keempat kalinya. Dia juga memantau perkembangan perdamaian di kawasan itu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
Mantan Presiden Finlandia ini adalah perunding veteran yang telah memainkan peran utama dalam transaksi perdamaian di beberapa daerah di dunia, termasuk Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memainkan peran yang sangat penting dalam perjanjian perdamaian 2005 antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Kesepakatan itu mengakhiri konflik tiga dekade di mana 15.000 orang tewas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran-perannya dalam diplomasi dunia, dan terakhir sepak terjangnya mendamaikan Aceh, sudah membantu memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2008.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantan Guru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkapnya Martti Oiva Kalevi Ahtisaari. Dia lahir di Viipuri, Finlandia (kini Vyborg, Rusia) pada 23 Juni 1937. Sekarang umur 73 tahun. Sudah tergolong uzur memang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahtisaari dilatih sebagai guru sekolah dasar sebelum bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Finlandia pada tahun 1965.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menghabiskan 20 tahun di luar negeri, pertama sebagai duta besar untuk Tanzania dan kemudian ke PBB di New York. Dia juga memainkan peran penting dalam negosiasi yang menyebabkan kemerdekaan Namibia dari kekuasaan Afrika Selatan pada 1990.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bicara masalah prestasinya yang membanggakan, dalam sebuah moment dia mengatakan itu adalah "benar-benar yang paling penting karena membutuhkan waktu yang lama".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiprah diplomat ini berlanjut. Pada 1993, ia diangkat sebagai penasihat khusus tahun Sekjen PBB di bekas Yugoslavia, tetapi kemudian terpilih sebagai presiden Finlandia pada tiket demokrat sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertindak untuk Uni Eropa, pada tahun 1999 Ahtisaari membantu membujuk Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic untuk menerima syarat NATO untuk mengakhiri perang di Kosovo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, dia memutuskan mengundurkan diri dari politik Finlandia pada 2000, mendirikan Crisis Management Initiative yang bekerja untuk mempromosikan perdamaian dan resolusi krisis. Ia Ketua Dewan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 2000, ia menyusun laporan mengenai hak asasi manusia dan situasi politik di Austria setelah masuk Kebebasan kanan-jauh Partai ke dalam pemerintahan koalisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun berikutnya, ia menjabat sebagai inspektur senjata independen di Irlandia Utara. Dia sudah mempertahankan hubungan yang kuat dengan PBB, menuju  penyelidikan keamanan setelah serangan bom mobil yang menghancurkan markas Baghdad pada bulan Agustus 2003.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 2005, ia kembali kembali ke sorotan internasional ketika ia mengadakan pembicaraan antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, yang akhirnya menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri pemberontakan 30 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun yang sama, ia memimpin upaya mediasi intens untuk meraih kesepakatan bersama antara Serbia dan Kosovo, meskipun mendorong gagal setelah Pristina secara sepihak menyatakan kemerdekaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ke Konflik Aceh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama kali, ia diminta untuk menengahi konflik Aceh pada Februari 2004. Setidaknya membutuhkan sekitar delapan bulan untuk menyelesaikan naskah kesepahaman Helsinki dan ia tampil sebagai aktor utama di balik penandatanganan perjanjian damai antara GAM dan pemerintah Indonesia pada 15 Agustus 2005.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas perannya itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Bintang Republik Indonesia Utama pada 18 Agustus 2006 di Istana Merdeka, Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekan kemarin dia kembali menyambangi Aceh. Kata sumber yang dekat dengannya, itu adalah kunjungan tahunan untuk memonitor Aceh sejak perdamaian dijalin. Ayah Marko Ahtisaari itu berada di Aceh beberapa hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tugas Ahtisaari belum selesai. Sebagai penerima hadiah nobel, dia harus terus memantau perkembangan Aceh. Apalagi masih ada kesepakatan yang belum diterapkan dengan baik," ujar Irwansyah, Juru bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) kepada Waspada, Kamis (18/11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu dia mengingatkan banyak poin-poin yang masih harus dituntaskan pemerintah. "Kami sudah serahkan draf-draf tersebut kepada Martti dan pemerintah Indonesia untuk kembali dibahas," sebut dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedang Wakil Ketua DPR Aceh, Drs H Sulaiman Abda ketika diminta tanggapannya melihat, Presiden Finlandia ke-10 itu sosok yang tegas dan bijaksana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Berkat doa-doa masyarakat dan serta kerja keras Ahtisaari, Aceh bisa menikmati perdamaian. Masyarakat bisa beraktivitas dalam berbagai sektor tanpa dicekam rasa takut," ujar dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Atas semua kiprahnya selama, kita patut mengucapkan terima kasih." [dbs]&lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2010/11/namanya-martti-ahtisaari.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK1nP9D0_5ydVbv4vrehbbQ5jLwOQnsKhe_AUEn_ahuUa9eZpaHkE6-dfZ1ryYL_48cwHTNAT6_e2zhG1NOm9VZ4UzPd6VSc3Pm7g9lab9iZZHiJigl_xEI6dXte4IHb1QFf2tEOP1CrV5/s72-c/martti_ahtisaari_2007.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-4727527718459446976</guid><pubDate>Wed, 28 Jul 2010 05:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-02-14T15:23:33.175+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perempuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosok</category><title>Bukan Cinta Fitri</title><description>ARENA Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XI Aceh punya kesan tersendiri bagi Fitri. Sehingga benar seperti bunyi sebuah iklan. Kesan pertama begitu menggoda. Begitu pula dengan gemini yang masih 16 tahun ini. Dia baru pertama kali tampil pada even olahraga tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
Kiprah siswi kelas 2 SMA Plus Banda Aceh ini begitu menjanjikan. Pasalnya, di even olahraga empat tahunan yang dipusatkan di Bireuen itu, dia langsung memborong tujuh medali; empat emas, tiga perak. Beruntung, Kota Subulussalam yang dibela gadis belia itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dara bernama lengkap Fitri Ramayana Siregar ini sedang merintis karier sebagai atlit. Tak tanggung-tanggung, dunia angkat besi pun digeluti. Dan pelan namun pasti, pemilik tinggi 165 cm yang sedang menanjak remaja  ini ingin mengikuti jejak Lisa Rumbewas, menjadi lifter. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, Kota Juang Bireuen, akan selalu dikenangnya. Gadis yang akrab disapa Fitri ini baru terjun pertama di even seperti Porprov. Sehingga suasana batin dan semangatnya masih perlu ditempa lagi demi menjadi lifter handal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat wajah kelahiran 15 Juni 1994 ini, mungkin kita tak percaya, anak ketiga dari empat bersaudara ini lebih memilih angkat besi ketimbang olahraga lain, bulutangkis, atau renang misalnya. "Saya memang suka dengan angkat besi," katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai calon lifter handal, Fitri digembleng dua atlet kawakan Aceh penyumbang medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON). Mereka adalah Tarso dan Yudhi Suharsono. Fitri beruntung juga, karena selalu dibawah bimbingan pelatih nasional asal Aceh, Effendi Eria. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mentalnya bagus, dia calon atlet masa depan," komentar Efendi singkat. Lalu dia menimpali, dengan pangakuan kesalutan melihat mental Fitri. "Mentalnya bagus, dia punya semangat tanding yang luar biasa," kata dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pun begitu, baik Effendi maupun Tarso, ingin Fitri berlatih terus dan tidak puas dengan hasil yang sudah dicapai selama ini. "Dia harus banyak pengalaman tanding di luar. Nanti akan kita pertandingkan di even-even di luar daerah," sambung Tarso. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis penyuka Pasha Ungu yang tidak hobi main Facebook itu lahir di Medan dari ayah Panyambang Siregar dan Siti Rolan Hasibuan. Mereka tinggal di Ujong Batee, Kecamatan Masjid Raya Aceh Besar. Terlepas dari dunia olahraga, sebernya Fitri bercita-cita ingin menjadi Polisi Wanita (Polwan) atau pengacara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fitri memang mengagumi Eko Yuli Irawan, lifter asal Lampung peraih medali emas di pentas SEA Games 2007. Dia mengaku hobi jalan-jalan, dan dengan menjadi atlit, Fitri bisa menyalurkan hobinya itu. Pasalnya, selepas di Porprov dia serta 11 atlet lainnya langsung terbang ke Jogyakarta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana dia mengikuti Kejuaran Angkat Besi dan Angkat Berat Remaja Junior yang berlangsung dari 28 Juli-6 Agustus. Meski begitu, ternyata, angkat besi bukan cintanya Fitri. Sebab, dia lebih memilih Polwan atau pengacara. Jadi Fit, angkat besi, hanya sekadar hobi?&lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2010/07/bukan-cinta-fitri.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-899471811025301825</guid><pubDate>Thu, 08 Apr 2010 06:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-11-12T12:23:01.113+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Featured</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Headline News</category><title>Gunongan, Monumen Cinta Sultan</title><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiI8Akomq_wYaXSiuSYnXCcoLmcArFUgjZg7geuW3T3CB2PSeOKiHoNHsqJLASkvWFZdP9Cq3VCIlj_HQ2phf7HzISjNtB_KUXlmmswdDPR34h3ndZLAffgJqXJIk7EaZzbfmhmEcYavLqk/s1600/Gunongan-Banda-Aceh.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiI8Akomq_wYaXSiuSYnXCcoLmcArFUgjZg7geuW3T3CB2PSeOKiHoNHsqJLASkvWFZdP9Cq3VCIlj_HQ2phf7HzISjNtB_KUXlmmswdDPR34h3ndZLAffgJqXJIk7EaZzbfmhmEcYavLqk/s1600/Gunongan-Banda-Aceh.jpg" height="213" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Banyak cara membuktikan cinta. Syah Jehan Raja Mogul V di India mendirikan Taj Mahal buat istrinya. Di Kerajaan Aceh Darussalam juga tak jauh beda. Tengok saja Sultan Iskandar Muda. Membangun Taman Sari Gunongan buat Putroe Phang, sebagai bukti cintanya kepada sang permaisuri.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
Barangkali, tak banyak yang tahu, kalau esensi dibikinnya bangunan megah itu nyaris senada. Kendati, memang membandingkan Taj Mahal dengan Gunongan bak melihat Monas Jakarta dengan Tugu Modal di Banda Aceh. Begitulah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jangan salah, ada sejumlah perbedaan sekaligus persamaan tentunya. Syah Jehan Raja Mogul V membangun Taj Mahal untuk menghormati istrinya Arjuman Banu Begum atau Mumtaz Mahal yang sudah almarhumah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk ukuran masa itu, istana tersebut memang benar-benar mahal. Syah Jehan merogoh kas kerajaan mencapai 40 juta rupee. Taj Mahal mulai dibangun tahun 1632 dengan jumlah pekerja sebanyak 20.000 orang. Konsultannya diimpor dari Turki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kompleks Taj Mahal berbentuk bujur sangkar, membujur dari utara ke selatan terdiri tiga bagian. Di tengah terdapat taman bunga dengan kolam air mancur yang amat menawan. Antara satu bagian dengan lainnya dibatasi bidang empat persegi panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu gerbang di bagian selatan dan Mausoleum sebagai bangunan utama dilingkupi dua bangunan simetris. Di bagian barat terdapat masjid dan timur ruang jawaban. Mausoleum berbentuk segi delapan dan di atasnya ditutup kubah, tinggi bangunan tujuh meter dan puncak kubahnya mencapai 26 meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding bagian dalam dilapisi batu pualam warna kemerah-merahan dan di bagian luar sudut-sudutnya terdapat menara yang menjulang tinggi. Bangunan masjid dan ruang jawaban dibuat menghadap mausoleum, bahan bangunan untuk masjid terdiri pasir dan marmer yang disusun sesuai keindahan dekoratif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masjid di bagian dalam Taj Mahal hingga sekarang masih digunakan masyarakat Muslim India untuk menunaikan shalat Jumat. Satu lagi, di dalam istana pilihan terdapat makam. Bangunan megah ini terletak di pinggir Sungai Yamuna, Agra, India sekitar 190 kilometer dari New Delhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taj Mahal jadi simbol gabungan aneka arsitektur yang berkembang zaman itu. Perpaduan karya arsitek terkemuka yang mengadopsi corak bangunan dari India, Persia dan Asia Tengah. Arsiteknya, Ustadz Isa dari Turki. Dia cukup tenar ketika itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Skuel sejarah menyebutkan bangunan inti selesai tahun 1643 dan secara keseluruhan selesai pada 1654. Itulah Taj Mahal yang menjadi lambang kejayaan Dinasti Mogul. Sebuah kerja yang spetakuler sehingga mendatangkan kekaguman di sepanjang zaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Produk yang fenomenal ini membuat takjub tanpa batas ruang dan waktu. Raja Mogul V, barangkali tak menyangka, kelak istana yang dibuat mengenang istrinya ini akan masuk dalam salah satu keajaiban dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman Ghairah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak jauh beda dengan Dinasti Mogul yang menunjukkan kejayaannya lewat Taj Mahal. Sultan Iskandar Muda di Kerajaan Aceh Darussalam melambangkan kemakmuran dan kejayaan negerinya dengan sebuah taman nan indah. Taman Sari Gunongan, namanya. Taman tersebut juga dibangun dipinggir sungai, yakni sungai Darul Isyki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sarjana sejarah profesional terkemuka pada awal abad 20, Raden DR Hoesein Djajadininggrat yang mengutip tradisi lisan pernah menulis tentang Gunongan. Karyanya De Stichting Van Het “Gunongan” Geheeten Monument Te Koetaradja (Pembangunan Monumen yang dinamakan “Gunongan” di Kutaraja) dimuat dalam majalah TBG, 57 (1916).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut cerita, mengutip Hoesein, seorang raja di Kerajaan Aceh telah memerintahkan kepada bawahannya utoih-utoih Aceh (tukang-tukang di Aceh) untuk  membuat sebuah Gunongan Buatan.  Gunongan yang dikelilingi sebuah taman itu dibikin untuk menyenangi pemaisurinya yang berasal dari Pahang yang populer dengan sebutan Putroe Phang atau Putri Pahang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merunut pada tahun memerintah, praktis Iskandar Muda yang identik dengan “gajah puteh” itu lebih dulu merefleksikan cintanya kepada permaisuri dengan Taman Sari Gunongan. Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1607-1636. Baru Syah Jehan Mogul V menyusul kemudian. “Ini semata-mata dibangun untuk menyenangi permaisurinya,” tulis Hoesein. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunongan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara garis besar Taman Sari Gunongan tersebut dapat disimpulkan atas beberapa bangunan; Gunongan berdiri dengan tinggi 9,5 meter menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Dalam masyarakat Aceh pada masa lalu, ternyata sudah mengenal seni arsitektur terutama pada Kerajaan Aceh di bawah kekuasaan Kesultanan Iskandar Muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan Iskandar Muda memerintah Aceh dari tahun 1607-1636 M. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Aceh mengalami masa kejayaannya. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan Islam, bahkan menjadi bandar transisto yang dapat menghubungkan dengan pedagang Islam di dunia barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemakmuran Kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda menjadi bukti dapat dibangunnya sebuah Gunongan yang dilapisi dengan emas. Gambar Gunongan berbentuk bunga matahari dapat ditafsirkan bahwa Sultan Iskandar Muda dengan penuh kasih sayang kepada permaisurinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, nampak dari kejauhan bentuk gunongan seperti mega berarak di angkasa yang melambangkan cinta kasih dan kesetian sultan pada permaisurinya sangat besar, laksana luasnya angkasa sedangkan warna putih pada gunongan melambangkan cintanya yang tulus dan suci pada Putro Phang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap relung gunongan terdapat hiasan atau ornamen menyerupai bunga matahari yang sedang mekar adalah melambangkan kesuburan. Dalam metologi Hindu bunga Fatma adalah pusaka Prabu Krisna yang khasiatnya dapat menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, di atas pintu masuk pada bangunan gunongan terdapat relief berupa figure yang disinyalir menyerupai kepala gajah bermahkota yang merupakan simbol kegemaran Sultan dalam menggunakan laskar gajah sebagai salah satu angkatan tempur Kerajaan Aceh yang paling tangguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada pula serumpun bunga kelopak yang runcing dan bintang pada bagian kandang merupakan ciri bendera Ustmani dan mengandung nilai perpaduan serta kerja sama antar negara Turki. Gunongan adalah bagian dari suatu kompleks yang lebih luas, yaitu Taman Ghairah, yang merupakan bagian dari taman istana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kompleks ini sekarang hanya tersisa empat buah bangunan: Gunongan itu sendiri; leusong (lesung batu) terletak di kaki Gunongan, agak di bagian Tenggara; kandang, sebuah bangunan empat persegi di bagian utara di arah timur laut sepanjang sungai Krueng Daroy; dan Pinto Khop adalah sebuah pintu gerbang berbentuk kubah yang dulunya menghadap istana dan menghubungkan taman dengan alun-alun istana. Hanya anggota keluarga istana kerajaan yang diizinkan melewati pintu gerbang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman ini terletak di tengah-tengah kota Banda Aceh dan merupakan salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi masyarakat setempat terutama pada sore hari. Dahulunya, Pinto Khop merupakan satu kesatuan dengan Taman Sari Gunongan. Pinto Khop (Pintu Biram Indrabangsa) secara bebas dapat diartikan sebagai pintu mutiara keindraan atau kedewaan/raja-raja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Bustan as Salatin disebut dengan Dewamala. Gerbang ini dikenal pula dengan sebutan Pinto Khop, merupakan pintu penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu ini berukuran panjang 2 m, lebar 2 m dan tinggi 3 m. Pintu Khop ini terletak pada sebuah lembah sungai Darul Isyki. Dugaan sementara, tempat ini merupakan tebing yang disebutkan dalam Bustan as Salatin dan bersebelahan dengan sungai tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan adanya perombakan tata kota Banda Aceh dewasa ini, kini pintu tersebut tidak berada dalam satu kompleks dengan Taman Sari Gunongan. Bangunan pintu Khop dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-langit berbentuk busur untuk dilalui dengan arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang, sehingga menimbulkan fantasi (efek) stiliran figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atap bangunan yang bertingkat tiga dihiasi dengan berbagai hiasan dalam bingkai-bingkai, antara lain biram berkelopak (mutiara di dalam kelopak bunga seperti yang juga ditemukan pada bangunan gunongan) dan bagian puncak dihiasi dengan sangga pelinggam (mahkota berupa topi dengan bagian puncak meruncing).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian atap merupakan pelana dengan modifikasi di empat sisi dan berlapis tiga. Pada sisi utara dan selatan dewala ini berkesinambungan dengan tembok tebal (tebal 50 m dan tinggi 130 m) yang diduga merupakan pembatas antara lingkungan kraton dengan taman, tetapi tembok tersebut sudah tidak ditemukan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman Lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelang perayaan 805 tahun lahir kota Banda Aceh, daerah tersebut sudah melalui beragam kejadian. Peristiwa teranyar adalah tsunami yang menghancurkan kota yang didirikan pada 1 Ramadhan 601 Hijriyah atau 22 April 1205 Masehi. Banyak fasilitas umum hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada periode sekarang, Banda Aceh setidaknya mempunyai sejumlah taman antara lain Taman Sari yang berada persis di depan Kantor Walikota serta Taman Ratu Safiatuddin. Pascatsunami hanya Taman Sari yang sudah mulai baik pengelolaannya. Itu setelah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat dari Amerika Serikat membangun kembali taman tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Taman Ratu Safiatuddin yang digagas masa Aceh ditangan Abdullah Puteh. Perkampungan budaya itu sejatinya diharapkan menjadi semacam Taman Mini Aceh. Kecuali itu, Taman Putroe Phang juga sudah ditata ulang. Belum lagi taman-taman tepi Krueng Aceh, makin menambah semarak taman di Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang gaungnya kalah tenar dengan taman Central Park yang ada di New York. Taman umum yang luas di Manhattan, New York City setiap tahunnya, dikunjungi sekitar 25 juta orang, dan sekaligus taman yang paling banyak didatangi orang di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana dengan taman-taman di Aceh? Ini akan menjadi tantangan Pemerintah kota Banda Aceh yang mulai mempromosikan Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami, juga menyongsong visit Banda Aceh Year 2011. Mampukah? Kita tunggu saja. []&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Foto: acehtourismagency.blogspot.com &lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2010/04/monumen-cinta-raja.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiI8Akomq_wYaXSiuSYnXCcoLmcArFUgjZg7geuW3T3CB2PSeOKiHoNHsqJLASkvWFZdP9Cq3VCIlj_HQ2phf7HzISjNtB_KUXlmmswdDPR34h3ndZLAffgJqXJIk7EaZzbfmhmEcYavLqk/s72-c/Gunongan-Banda-Aceh.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-8131857029380647486</guid><pubDate>Fri, 26 Mar 2010 06:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-21T18:53:04.613+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejarah</category><title>Indrapatra, Sejarah yang Terlupa</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0-YDkmtouXO3Xm0KtHYtmeO4V7Ehb9ETdmmqiI0i1R4xIn-QoMVzZ2ylPmB6qlmlxbZAT6F-lnYan0T95ss3tUgXqGoVTlHYITj7YJsELRNdlzuMa40HMWcy_dGF_SsGHm5wYR-s5uuMc/s1600/Benteng+Indra+Patra+01.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0-YDkmtouXO3Xm0KtHYtmeO4V7Ehb9ETdmmqiI0i1R4xIn-QoMVzZ2ylPmB6qlmlxbZAT6F-lnYan0T95ss3tUgXqGoVTlHYITj7YJsELRNdlzuMa40HMWcy_dGF_SsGHm5wYR-s5uuMc/s1600/Benteng+Indra+Patra+01.jpg" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sejarah mencatat, benteng Indrapatra pernah menjadi pusat pertahanan Kerajaan Aceh Darussalam. Namun, kini benteng bikinan abad tujuh masehi itu tak kuasa menahan gempuran zaman. Dia cuma bisa berdiri angkuh. Iseng-iseng, dipakai remaja buat memadu asmara.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
Berdiri tak jauh dari bibir Selat Malaka di daratan Gampong Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng ini dibangun oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh pada masa sebelum kedatangan Islam di Aceh. Kira-kira pada 604 Masehi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sejumlah literatur disebutkan, benteng Indrapatra dibangun oleh keturunan Raja Harsya dari India Selatan pada abad ketujuh. Semula bangunan ini merupakan tempat tinggal keluarga raja dan digunakan untuk kegiatan ritual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika pasukan Iskandar Muda merebutnya dari Portugis, peninggalan kerajaan Hindu tersebut berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan senjata, seperti meriam dan bedil. Situs Benteng Indrapatra satu dari beberapa benteng lain yang berdiri di sana. Di antaranya, Benteng Inong Bale, Benteng Kuta Lubuk dan Benteng Iskandar Muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangunan cagar budaya bersejarah itu di bawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) yang berkantor di Jalan Teuku Umar. Bukan cuma di Aceh, wilayah kerja BP3 juga mencakup Sumatera Utara. Lembaga itu dikepalai Insa Ansari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Insa Ansari mengatakan Indrapatra adalah bangunan kuno yang dibangun dari batu gunung dicampur dengan kapur dan lumpur pasir dan alat perekat lainnya. "Jadi kalau ada yang bilang itu dibangun dari putih telur tidak benar, kita sudah teliti itu," kata dia menguatkan analisa peneliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata dia, benteng ini memiliki keunikan pada arsitektur bangunannya. Bangunan yang pertama di tengah-tengah dari bangunan lainnya dengan ukuran yang besar. Dalam bangunan ini terdapat tiga buah sumur yang bertutup dengan baru tembok yang menyerupai stupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jejak arsitektur yang ada, dalam kompleks Benteng Indrapatra terdapat tiga bagian besar benteng. Dan yang paling luas berukuran 70 x 70 meter dengan tinggi dinding tiga meter lebih. Paling kurang seukuran lapangan bola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sebuah ruangan yang besar dan kokoh berukuran 40 x 40 meter dan tinggi 4 meter.  Bagian lain benteng adalah tempat pertahanan yang langsung menghadap ke Selat Malaka, sehingga terlihat strategis. Sedangkan di sisi lain, ada sebuah ruangan yang sangat kokoh berukuran 35 x 35 meter dan tinggi 4 meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan, untuk mencapai ke bagian dalam benteng harus dilakukan dengan memanjat dinding. Dahulunya, dari benteng pertama dengan benteng kedua dihubungkan oleh terowongan bawah tanah. Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, jumlah benteng itu kini hanya tersisa dua yang terlihat masih kokoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut M Djunus Djamil dalam bukunya Tawarich Raja-Raja Kerajaan Aceh menyebutkan benteng Indrapatra dibangun oleh Kerajaan Indrapatra sebelum Islam masuk ke Aceh. Bersamaan dengan itu dibangun pula Benteng Indrapuri oleh Kerajaan Indrapuri yang kemudiaan dijadikan Masjid Indrapuri. Jarakanya sekira 30 kilometer dari Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, dibangun juga Benteng Indrapurwa oleh Kerajaan Indrapurwa yang kemudian dijadikan Masjid Indrapurwa di Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada. "Ketiga benteng itu adalah benteng-benteng pertahanan dari Kerajaan dengan ibukotanya yang terkenal Lam U-Riek, mukim Lam Krak, kecamatan Suka Makmu," tulis Djamil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti disebutkan tadi, Benteng Indrapatra masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1606-1637 M, dijadikan media pertahanan bersama dengan Benteng Iskandar Muda yang letaknya dekat Pasar Krueng Raya, tepatnya di Gampong Beurandeh, dalam kecamatan yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecuali itu, benteng ini Sultan Iskandar Muda juga memanfaatkan Benteng Inong Balee yang dibangun Laksamana Keumala Hayati atau yang lebih populer Malahayati. Kemudian, Sultan Iskandar Muda juga memanfaatkan Benteng Lubok yang dibangun Portugis di Lhok Mee.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal Indrapatra, menurut Insa, jika dilihat dari posisi geografis benteng ini berada di Teluk Krueng Raya dan berhadapan dengan Benteng Inong Balee yang berada pada kawasan perbukitan diseberangnya. Sangat dimungkinkan bahwa benteng ini berperan dalam menghadang armada portugis yang ingin memasuki Aceh melalui teluk tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kawasan pantai teluk dimuara sungai Krueng Raya itu juga berdiri Benteng Iskandar Muda. Keberadaan tiga buah benteng yang membentuk rangkaian segitiga ini menjadi pelindung Teluk Krueng Raya dari armada asing yang ingin memasuki wilayah Kerajaan Aceh pada waktu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Potensi Wisata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua Aceh Heritage Community (AHC) Yenni Rahmayanti, menyayangkan kurangnya kepedulian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh. "Kalau kita memang kurang perhatian, sebagai contoh papan informasi penunjuk sejarah tidak ada di tempelkan," ujar Yenni. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Yenni, ada yang menyedihkan pihaknya, terutama terkait dengan keberadaan benteng. Banyak masyarakat sekitar mengambil batu-batuan benteng untuk keperluan membuat rumah bahkan ada yang mendirikan pondasi di atas reruntuhan benteng. "Ini memang sangat kita sayangkan,"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyebutkan, beberapa bulan lalu, yakni sekira 20-21 Desember 2009 lalu, pihaknya sudah melakukan survei ke sana. Katanya, untuk menyelamatkan situs bersejarah itulah, AHC bekerja sama dengan Pusat Dokumentasi Arsitektur Jakarta (PDAJ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yenni mengatakan, survei Benteng Indrapatra bukan saja mencatat fisik bangunan tetapi juga mengumpulkan kisah-kisah sejarah seputar benteng. "Tim melakukan studi pustaka dan wawancara dengan masyarakat sekitar untuk menggali cerita-cerita seputar Benteng Indrapatra," katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut dia, instansi terkait melakukan renovasi benteng Indrapatra tak sesuai dengan kaidah. Renovasi yang dilakukan sedikit banyak mengubah keasliannya. "Harusnya situs sejarah ini mendapat perhatian dari Balai Pelestarian Sejarah, tapi sepertinya tidak" ujar ketika itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT), Djuniat, S.Sos mengatakan, masalah itu bukan tugas lembaganya, tetapi bagian dari kerja BP3. "Tapi kita melihat, itu terlantar tidak semata-mata kesalahan pemerintah. Masyarakat juga tidak merasa itu milik mereka. Nilainya yang tidak ada di masyarakat kita," kata Djuniat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Kepala BP3, Insa Ansari menjelaskan kendala yang mereka hadapi. "Masyarakat kita, tidak begitu peduli dengan peninggalan sejarah. Kepedulian itu tidak mesti mereka harus menjaga siang malam. Dengan melarang pihak-pihak tertentu merusak situs, sudah bagian dari menjaga," sebutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan cuma itu, dia juga menyayangkan sikap masyarakat yang abai dengan cagar budaya itu. Katanya, masyarakat setempat cuma mengutip dana untuk masuk kompleks tersebut. "Itu untuk pemuda, tapi kini sudah tak ada dikutip lagi," jelas Amin Yusuf, seorang warga di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Insa menambahkan, sejak tahun 2008 lalu, pihaknya sudah membangun pagar kompleks benteng dengan dana bantuan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias. Kini, dia berharap pihak Dinas Pariwisata Aceh yang harus mengambil peran lebih besar. Peran itu adalah untuk 'menjual' kawasan itu sebagai objek wisata budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kita tidak bisa menyalahkan siapa, sehingga situs tersebut seperti tergerus zaman. Tak sedikit cagar budaya yang dilupakan. Bahkan, menunggu runtuh dari kealpaan sejarah yang abai. Pada sisi lain, situs ini setidaknya menjadi modal bagi pengembangan dunia pariwisata sejarah di Aceh, asalkan dikelola secara apik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Foto-foto yang ditampilkan Waspada pada Minggu 14 Maret lalu dalam Rubrik Potret membuat banyak orang tergugah. Namun, kita tak ingin terus berandai-andai, sebelum cagar itu lenyap. Sebelum dia runtuh dan bahkan musnah, sebaiknya segera diselamatkan...! Siapa peduli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Foto: Suaradarussalam &lt;/div&gt;
</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2010/12/indrapatra-sejarah-yang-terlupa.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0-YDkmtouXO3Xm0KtHYtmeO4V7Ehb9ETdmmqiI0i1R4xIn-QoMVzZ2ylPmB6qlmlxbZAT6F-lnYan0T95ss3tUgXqGoVTlHYITj7YJsELRNdlzuMa40HMWcy_dGF_SsGHm5wYR-s5uuMc/s72-c/Benteng+Indra+Patra+01.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2037413422019756475.post-8710771459808453452</guid><pubDate>Thu, 25 Feb 2010 02:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-12-12T19:29:54.443+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">feature</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">humaninterest</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosok</category><title>Gol Dari Trienggadeng...</title><description>Gelandang Persiraja, Zulkarnaen diyakini punya naluri tinggi. Ini dibuktikannya dengan acap mencetak gol saat-saat lini depan timnya buntu. Ketajamannya terbukti ampuh memberi kemenangan bagi timnya. Namun, ia berdalih, itu semua karena perjuangan rekan-rekan satu tim.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;Kontribusi anyar pria yang memulai karier sepakbolanya di Medan Jaya itu diperlihatnya saat menggorok Ayam Kinantan, PSMS Medan 2-0 pada lanjutan Divisi Utama Liga Joss Indonesia di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Banda Aceh, Selasa (23/2).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam laga yang diwarnai hujan itu, pria kelahiran Trienggadeng, 14 September 1982 ini, menyumbang sepasang gol untuk kemenangan timnya. "Semua itu berkat dukungan teman-teman, pelatih serta pendukung," kata suami Romauli Silalahi ini merendah saat bincang-bincang dengan Waspada, kemarin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahan dua gol itu membuat ayah Mona (6 tahun) dan Salsa (3 Tahun) ini menambah koleksi golnya menjadi tujuh. Mantan pemain Perseden Denpasar, Bali ini satu-satu pemain yang rajin cetak gol di klub berjuluk Laskar Rencong. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zulkarnaen pun mendedikasikan gol tersebut untuk keluarga dan orang-orang dekatnya. "Yang jelas, gol-gol itu saya dedikasikan buat pecinta Persiraja," ungkap sulung dari empat bersaudara yang lahir dari pasangan Sulaiman dan Nilawati ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Zul, mencetak gol ke gawang PSMS punya arti tersendiri. "Kalau lawan PSMS motivasi saya sangat tinggi, meski sebenarnya sama saja. Tapi tahun ini agak beda," ujar pria yang beristrikan orang Sumatera Utara ini dan tinggal di Medan Marelan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekadar diketahui, dalam dua kali pertemuan pada kompetisi tahun ini, Izul sudah tiga kali membobol gawang M Halim. Kecuali dua seperti yang sudah disebutkan tadi, satunya lagi di kandang PSMS saat bermain imbang 1-1 di Stadion Teladan, Medan pada 27 Desember 2009 lalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi itu, kata Izul, untuk menunjukkan kependukung Persiraja, bahwa dia bekerja profesional, kendati Izul sendiri sudah 'berpaspor' alias ber-KTP Medan. Memori lain yang membuatnya ingin membenam PSMS adalah saat kompetisi 2009-2010 belum dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katanya, jika saja kesepakatan kontrak cocok dengan managemen PSMS, sudah pasti Zulkarnaen tidak akan berada dikubu Persiraja. "Saat itu tidak cocok harga, padahal masih bisa didiskusikan. Alasan pengurus tidak ada dana," kenang dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski, kerap menjadi 'penyelamat' bagi timnya, Zulkarnaen juga memendam rasa kecewa karena tak kuasa menggerek timnya ke papan atas klasemen sementara. Apalagi dia sempat beberapa kali absen. "Yang paling kecewa saat tidak bisa main saat lawan Semen Padang. Itu saya kecewa berat," tukasnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang dalam laga lawan Kabau Sirah, Zulkarnaen tak tampil saat timnya bermain imbang 1-1. Tanpa mengucilkan peran dan kerja keras teman-teman yang lain, dia yakin, suasananya akan berbeda jika saja kartu merah tidak dikbas wasit kepadanya saat main di Deli Serdang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kartu merah itulah, yang membuat bekas pemain Persim Maros, Sulawesi Selatan, hanya menjadi penonton ketika timnya imbang di kandang pada Jumat (19/2). Sebelum berlabuh di Persiraja, pria yang bisa main bertahan dan menyerang ini sudah melalang buana di kancah sepakbola. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari riwayat hidupanya, dia pernah memulai karier dari Medan Jaya, ikut memperkuat PSMS Medan, Perseden Denpasar, Bali, Persim Maros, PSDS Deli Serdang, PSPS Pekan Baru, PSBL Langsa, PSSB Bireuen dan Persiraja. &lt;br /&gt;
Di Persiraja, dulu dia main dengan almarhum Irwansyah dan Ismet Sofyan, yang kini memperkuat Persija Jakarta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia juga mengaku sudah padu dengan gaya kepelatihan Anwar. Karena, setiap ada peluang dia ingin cetak gol untuk kemenangan timnya; Persiraja, bukan yang lain. Bravo Zulkarnaen... &lt;/div&gt;</description><link>http://pedagangkata.blogspot.com/2010/02/gol-dari-trienggadeng.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>