<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 10:35:31 +0000</lastBuildDate><category>Religi</category><category>Bisnis</category><category>Blogger</category><category>Mutiara</category><category>Puisi</category><category>Free Template</category><title>jiwa k-cau</title><description>Menyelam Dan Meneguk ke dalam SAMUDERA JIWA</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Doncrack)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>116</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-1112988432827100041</guid><pubDate>Sun, 11 Oct 2009 00:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T17:34:44.951-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Para pecinta adalah para pemabuk yang tidak pernah sadar dari kemabukannya</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada suatu ketika seseorang bertanya kepada syaikh Abdul Qadir tentang karakteristik anugerah Ilahi (Mawarid al-Ilahiyah) dan jalan setan (Mawarid syaitaniyah) maka beliau menjawab, “Anugerah Ilahiyah tidak akan datang kecuali dengan permohonan, dia tidak akan hilang oleh sebab, tidak datang dengan satu bentuk dan dalam waktu khusus. Sedangkan jalan setan biasanya berlawanan dengan karakteristik tersebut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat beliau ditanya tentang mahabbah beliau menjawab, “Mahabbah adalah bisikan di hati dari Sang Kekasih hingga seluruh isi dunia baginya bak lingkaran cincin atau sebuah kumpulan yang tidak penuh. Cinta adalah kemabukan total serta usaha untuk menggapai Sang Kekasih dengan segala cara baik terang-terangan maupun yang tersembunyi. Cinta buta dari Sang Kekasih adalah cemburu. Sedangkan kebutaan cinta terhadap Sang Kelasih adalah merupakan rasa takut kepada-Nya dan dengan demikian orang tersebut buta secara keseluruhan. Para pecinta adalah para pemabuk yang tidak pernah sadar dari kemabukannya kecuali saat mereka menyaksikan Sang Kekasih. Mereka adalah para penderita penyakit yang sakitnya hanya dapat disembuhkan dengan memperhatikan apa yang mereka minta. Mereka juga orang-orang bingung yang tidak bergaul kecuali bersama Tuannya, tidak mengucapkan sesuatu kecuali menyebutkan Dia dan tidak menjawab kecuali dipanggil oleh-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkenaan dengan tajrid Syaikh Abdul Qadir berkata, “Melepaskan sirr tadabbur dengan pembuktian alam dalam rangka mencari Sang Kekasih dan menelanjanginya dalam perendahan diri dengan memakaikannya pakaian ketenangan dalam pemutusdan diri dari yang ditentukan serta menarik diri dari makhluk dan menyerahkannya kepada Al-Haq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkenaan dengan ma’rifat syaikh Abdul Qadir berkata, “Ma’rifah adalah ditampakkannya berbagai rahasia alam, menyaksikan Al-Haq di seluruh benda dengan pancaran ke-Esaan-Nya yang memancar dari seluruh benda dan menguasai ilmu hakikah ketika berada dalam kondisi fana (luruh) dari segala sesuatu. Sesungguhnya efek yang tersisa isyarat al-Baaqy dengan penampakan (talwih) adalah ke-Mahawibawaan Allah. Sedangkan efek dari pemancaran (talmii’) di atas, adalah ke-Agungan Ilahi yang disertai dengan penglihatan bathin”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkenaan dengan himmah, “Adalah melepaskan jiwanya dari kecintaan terhadap dunia, ketergantungan dari sebab akibat dari ruhnya, melepaskan hasrat diri dan menjadikannya hanya berhasrat kepada Ilahi yang ada di dalam kalbu dan menanggalkan perhatiannya terhadap alam semesta dari sirr-nya walaupun hanya sekejap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkenaan dengan hakikat, syaikh Abdul Qadir berkata,”Hakikat adalah yang tidak dapat dihilangkan oleh lawannya dan tidak terhalangi. Bahkan semua lawannya lebur ke dalam dirinya dan semua yang menghalanginya akan hilang ketika dilewatinya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkenaan dengan derajat tertinggi dari dzikir beliau berkata, “Apabila isyarat Al-Haq akan keabadian inayah-Nya terus berbekas di dalam hati. Inilah yang disebut dengan dzikir tanpa putus, yang tidak lagi cacat karena lupa dan tidak pula redup karena alpa. Dalam level ini, fisik jiwa maupun hatilah yang berdzikir. Dzikir inilah yang oleh Al-Haq diisyaratkan sebagai dzikr al-katsiir (dzikir yang banyak) di dalam al-Qur’an. Dan sebaik-baik dzikir adalah yang menggelorakan hati, datang dari Al-Mulk Al-Jabbaar (Allah) dalam wadah rahasia-rahasia hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkenaan dengan syauq (kerinduan) Syaikh Abdul Qadir berkata, “Kerinduan terbaik berasal dari musyahadah (penyaksian) karena kerinduan jenis tersebut tidak melemah oleh perjumpaan, tidak padam oleh cerita, tidak hilang oleh ejekan, tetapi tetap berada dalam keintiman. Bahkan semakin banyak bertemu maka semakin dalam kerinduan yang dirasa. Dan kondisi kerinduan (syauq) baru diakui apabila telah berhasil menanggalkan faktor penyebabnya yaitu mengikuti ruuh atau himmah atau menjaga nafs hingga kerinduan yang ada benar-benar murni dari sebab. Dalam kondisi tersebut dia tidak lagi mencerap sebab kerinduan karena setiap saat ia menyaksikan-Nya dan menjadi semakin rindu dari satu penyaksian ke penyaksian yang lain”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkenaan dengan tawakal Syaikh Abdul Qadir berkata, “Terpusatnya aktivitas sirr kepada Allah semata hingga melupakan untuk apa dia bertawakal dan juga melupakan segala sesuatu. Maka terjadi peningkatan rasa dari perasaan dekat (hisymah)menjadi lebur dalam tawakal (fana’ fii tawakal). Dan dengan memperhatikan esensi ma’rifat, maka tawakal adalah merupakan pancaran As-sirr terhadap rahasia segala sesuatu yang telah ditakdirkan. Juga meyakini hakikat keyakinan sesuai dengan makna – makna pandangan ma’rifat karena hakikat tersebut tersembunyi sehingga tidak dapat dicacati oleh ketidak-yakinan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilain kesempatan Syaikh Abdul Qadir menjelaskan tawakal sebagai berikut, “Tawakal memiliki hakikat sebagaimana yang dimiliki oleh ikhlas. Jika hakikat ikhlas adalah hilangnya himmah (hasrat untuk mendapatkan balasan) dari berbagai amal yang dilakukan, maka hakikat tawakal adalah tidak menyandarkan diri kepada daya dan kekuatan serta mempercayakan diri hanya kepada Allah.” Kemudian Sang Syaikh kembali berkata, “Saudara, berapa banyak perkataanku yang tidak engkau dengar, yang engkau dengar akan tetapi tidak engkau mengerti, yang dimengerti namun tidak diamalkan, dan engkau amalkan namun tanpa keikhlasan, serta tanpa engkau lebur dalam keikhlasan dan wujudmu”.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Ketika Sang Syaikh ditanya tentang inabah, Syaikh Abdul Qadir berkata, “berusaha mendapatkan berbagai maqam dan berhati-hati untuk tidak berhenti hanya pada derajat spiritual, kemudian terus meninggi hingga tempat tertinggi dari alam semesta dan bersandar pada niat hingga mencapai hadirat Ilahi”.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;By &lt;a href=&quot;http://ar-risalah1.blogspot.com/2008/06/para-pecinta-adalah-para-pemabuk-yang.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;span class=&quot;post-author vcard&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fn&quot;&gt;Ar-Risalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/para-pecinta-adalah-para-pemabuk-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-7169088860212336376</guid><pubDate>Sun, 11 Oct 2009 00:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T17:22:13.882-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>ف dalam الفقير adalah Fana</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Musyahadah adalah sesuatu yang tidak bisa dicerap oleh pemahaman. Al Ghaibah adalah (ketiadaan) yang disertai dengan المحبة (kecintaan) adalah sesuatu yang tidak dapat dilukiskan. Apabila hasrat semakin kuat , pikiran terhubung dengannya dan niat semakin kuat maka akan terlahirlah cinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila Yang Dituju telah bertahta di dalam jantungnya, maka semuanya akan dikuasai oleh-Nya, keterkuasaan tersebut menanggalkan semua hasrat selain diri-Nya dan merupakan hakikat. Ketika engkau mengingat-Nya maka engkau adalah pecinta. Dan ketika engkau mendengar-Nya menyebutmu maka engkau adalah yang dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemakhlukanmu menghalangi dirmu dari nafsumu, dan nafsumu menghalangimu dari Tuhanmu. الفقر / kefakiran adalah kematian dan orang-orang berkehendak untuk hidup di dalamnya. القال diperuntukkan bagi orang awam, sedangkan الحال diperuntukkan bagi orang Khas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila dia membahagiakanmu maka engkau akan merasa bahagia dan berubahlah الرخصة (keringanan) yang engkau miliki menjadi azimah yang kemudian berubahn lagi menjadi dilalah (indikator). الرخصة (keringanan) diperuntukkan bagi orang-orang yang kurang keimanannya, sedangkan azimah diperuntukkan bagi mereka yang sempurna keimanannya dan keterkuasaan bagi mereka yang fana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika seseorang bertanya kepada Syaikh Abdul Qadir tentang makna الفقير beliau berkata, “maknanya adalah ف ق ي ر kemudian beliau menyitir :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ف dalam الفقير adalah Fana / luruh dalam Dzat-Nya dan kosong dari sifat dan hasratnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ق dalam الفقير adalah Kekuatan kalbunya (قوي قلب) adalah Sang Kekasih, berdirinya ia karena الله dan dalam keridhaan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ي dalam الفقير adalah harap sekaligus takut kepada Tuhannya dan mendirikan takwa dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ر dalam الفقير adalah Riqqah (Kehalusan) dan kebeningan hati serta ditinggalkannya syahwat dari kalbu karena الله.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Sang Syaikh melanjutkan, seorang fakir harus berpikiran luas, kuat ingatan, pandai berdebat dan kritis. Tidak menuntut dari Al-Haq kecuali yang hak. Paling lapang dadanya, paling merasa hina dirinya. Tersenyum adalah tertawanya, pertanyaannya adalah pelajaran, pengingat mereka yang lupa dan pelajaaran bagi mereka yang bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak pernah menyakiti orang yang menyakitinya. Tidak pernah mencampuri urusan orang lain. Banyak memberi, sedikit menyakiti. Wara dari segala sesuatu yang haram dan menahan diri dari segala sesuatu yang syubhat. Penolong bagi orang asing dan ayah bagi mereka yang yatim. Ceria wajahnya, duka hatinya, sibuk dengan pikirannya dan gembira dalam kefakirannya. Menjaga rahasia dan tidak pernah membuka tabir aib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lembut gerakannya, bertambah besar berkahnya. Manis pandangannya dan dermawan tangannya. Tajam dzauq (perasaannya), bagus akhlaknya, lembut perangainya bagaikan intan yang mengalir. Banyak diam, bagus perangainya, tenang jika ada yang membodohinya sabar terhadap yang menyakitinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak pernah berhenti, kobaran apinya tidak pernah padam, baik oleh adu domba, maupun iri hati, ketergesaan ataupun kedengkian. Hormat kepada yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda. Dipercaya atas amanah dan jauh dari khiyanat. Temannya ketakwaan dan akhlaknya adalah rasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak berjaga, selalu bergadang. Jarang bercanda, banyak merenung. Mengambil yang sedikit untuk dirinya, memberikan yang banyak untuk saudaranya (sesama muslim). Gerakannya beradab dan perkataannya indah mengagumkan. Tidak pernah mengutuk dan tidak pernah membicarakan keburukan orang lain (ghibah). Tenang, sabar, ridha dan selaluu bersyukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit bicara dan banyak shalat dan puasa. Jujur perkataannya, kokoh hatinya. Gembira dengan datangnya tamu, memberi makan siapapun. Para tetangganya merasa aman darinya. Tidak pernah mengutuk, bergunjing, mencari-cari kesalahan, menghujat, tergesa-gesa, pelupa, iri, dengki dan tidak tahu berterimakasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lidanya terjaga, hatinya penuh duka, perkataannya selalu ditimbang dan pikirannya berkelana kepada segaka hak yang belum terjadi dan telah terajdi.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;By &lt;a href=&quot;http://ashari1.blogspot.com/2008/09/dalam-adalah-fana.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Ashari&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/dalam-adalah-fana.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-8698663408645575161</guid><pubDate>Sun, 11 Oct 2009 00:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T17:17:32.793-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Untuk direnungkan</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sayyidina ‘Ali r.a., pernah berwasiat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketahuilah, anakku, bahwa engkau diciptakan untuk akhirat bukan untuk dunia ini. Engkau dilahirkan untuk mati dan tidak untuk hidup selama-lamanya. Keberadaanmu di dunia hanyalah untuk sementara. Engkau hidup di tempat yang penuh kehancuran. Tempat dimana engkau sibuk bersiap dan berbekal untuk akhirat. Engkau berada diatas jalan (menuju akhirat). Kematian mengikutimu. Engkau tak dapat melarikan diri darinya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Allah ta’ala telah berfirman melalui lisan Nabi yang umiy:&lt;br /&gt;
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (maka) Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul- Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadiid: 20-21)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? ” (QS. Al-An’aam: 32)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
akhirulkata mohon maaf bila ada yang tidak berkenan&lt;br /&gt;
semoga Allah mengampuni, merahmati, dan menambahkan pemahaman kepada kita semua&lt;br /&gt;
dan menambahkan nikmat iman dan persaudaraan di antara kita,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayyid Murtadha Muttahari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Singa Tuhan Imam Ali hadir di sebuah majlis&lt;br /&gt;
Seseorang melontarkan kutukan pada dunia&lt;br /&gt;
Haidar menjawab, “Dunia, Nak, bukan untuk dikutuk”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celakalah kau jika mengucilkan diri dari hikmah&lt;br /&gt;
Dunia ini seisinya adalah hamparan ladang&lt;br /&gt;
Untuk didatangi siang dan malam&lt;br /&gt;
Segala yang memancar dari martabat dan kekayaan iman&lt;br /&gt;
Seluruhnya dari dunia ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buah hari esok adalah kembang dari benih hari ini&lt;br /&gt;
Orang yang ragu akan merasakan pahitnya buah penyesalan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia ini adalah tempat terbaik bagimu&lt;br /&gt;
Di dalamnya bekal di hari kemudian dapat kausiapkan&lt;br /&gt;
Pergilah ke dunia, namun jangan dalam hawa nafsu tenggelam&lt;br /&gt;
Dan siapkan dirimu bagi dunia yang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika demikian, maka dunia itu akan pantas bagimu&lt;br /&gt;
Berkariblah dengan dunia, demi tujuan semua itu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;By &lt;a href=&quot;http://manakib.wordpress.com/author/masharryy/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Ashari&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/untuk-direnungkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-36241470151990805</guid><pubDate>Sun, 11 Oct 2009 00:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T17:02:27.545-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Bagaimana Mungkin Allah Terhijab Dari Kita</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو الذى اظهر كل شيء&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana digambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi Dia / menjadi hijab bagi (لله) padahal Dia-lah Yang menampakkan segala sesuatu. (atas apa yang Ia sinarkan sehingga tampaklah seluruh alam yang semula tidak ada menjadi wujud)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر بكل شيء&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah Yang tampak dengan segala sesuatu. (Sehingga dari sesuatu yang wujud, orang-orang dapat mengambil dalil akan adanya لله), sebagaimana firman لله SWT,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;سنريهم آياتنا في الآفاق وفي انفسكم&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami pada setiap ufuk dan pada diri kamu sekalian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر فى كل شيء&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia tampak di dalam segala sesuatu. (karena sesungguhnya Dia bermanifestasi di dalam segala sesuatu dengan segala kebagusan sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر لكل شيء&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah yang tampak bagi segala sesuatu. (di dalam mengkondisikan segala sesuatu sehingga semua yang ada tunduk dan sujud kepada-Nya, bertasbih dengan me-Maha Sucikan-Nya, akan tetapi kita tidak faham dengan tasbih dan tahmid mereka).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظاهرقبل كل شيء&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia telah ada sebelum adanya segala sesuatu. (sebagaimana aktualisasi nama-nya Yang Maha Azali dan Yang Maha Abadi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو اظاهر من كل شيء&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih tampak daripada segala sesuatu. (Karena Yang wujud sudah pasti lebih tampak daripada yang ‘adam / tidak wujud pada segala keadaan, vsebagaimana telah diterangkan bahwa segala sesuatu selain لله pada hakikatnya adalah ‘adam apabila disandingkan dengan wujud لله.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;كيف يتصور ان يحجبه شيء وهوالواحد الذي ليس معه شيء&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia adalah Dzat Yang Maha Esa yang tidak ada sesuatu yang menyertai-Nya. (Karena segala sesuatu selain Dia adalah sudah pasti ‘adam / nihil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;كيف يتصور ان يحجبه شيء وهواقرب اليك من كل شيء&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu. (dikarenakan kesenantiasaan Dia meliputi engkau dan dikarenakan adanya Dia yang mengatur diri engkau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;كيف يتصور ان يحجبه شيء ولولاه ماكان وجود كل شيء&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal kalau bukan karena Dia maka tidak akan terwujud segala sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;يا عجبا كيف يظهر الوجود فى العدم&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Alangkah ajaib, bagaimana Yang Wujud akan tampak di dalam sesuatu yang tidak ada (kosong). (karena العدم adalah gelap, dan الوجود adalah terang. Dan keduanya adalah berlawanan sehingga tidak mungkin terkumpul keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ام كيف يثبت الحادث مع من له وصف القدم&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana sesuatu yang baru (الحدث) akan eksis disandingkan dengan Dzat Yang memiliki sifat Dahulu. (karena sesuatu yang bathil tidak akan eksis apabila tampak Yang Haq sebagaimana firman لله SWT :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;وقل جاءالحق وزهق الباطل ان الباطل كان زهوقا&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Katakanlah kepada mereka, telah datang kebenaran dan rusaklah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil akan binasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;بل نقذف بالحق علي الباطل فيدمغه فاذ هو زاهق&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Tetapi kebatilan kami halau dengan kebenaran sehingga menjadi sia-sia maka kemudian ia binasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Kitab Syarah al-Hikam&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/bagaimana-mungkin-allah-terhijab-dari.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-410922244666326434</guid><pubDate>Sat, 10 Oct 2009 23:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T16:58:17.854-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>الحب في الله والبغض فى الله</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;الحب في الله والبغض فى الله&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dan wajib bagi kamu untuk mencintai atau membenci seseorang karena الله, karena yang demikian itu termasuk tali pengikat iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bersabda رسول الله SAW :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;افضل الاعمال الحب في الله والبغص فى الله تعالى&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Amal yang paling utama adalah cinta karena الله dan marah karena الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila engkau mencintai seseorang yang ta’at kepada الله dan melihat semata-mata karena ketaatannya kepada الله bukan karena motivasi yang lain, demikian pula apabila engkau membenci seseorang yang bermaksiyat, dan kebencian itu timbul semarta-mata karena keadaan orang itu yang bermaksiyat kepada الله bukan karena alasan lain, maka anda termasuk orang yang الحب فى الله والبغض فى الله (orang yang mencintai atau membenci karena الله).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila di dalam hatimu tidak terdapat kecintaan kepada orang yang ahli berbuat kebajikan, atau kebencian terhadap orang yang berbuat zalim yang diperbuatnya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya engkau termasuk orang yang lemah iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan wajib bagimu untuk bersahabat dengan orang-orang yang baik dan menjauhi orang yang berperangai buruk, dan wajib pula engkau berkumpul (مجالسة) dengan orang-orang saleh dan menjauhi orang zalim. Telah bersabda رسول الله SAW yang artinya bahwa agama seseorang itu sebagaimana agama temannya, maka lihatlah diantara kamu sekalian kepada siapa ia berteman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan telah bersabda رسول الله SAW, :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;الجليس الصالح خير من الوحدة والوحدة خير من الجليس السؤ&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Berkumpul dengan orang saleh itu leih baik daripada sendirian. Dan sendirian itu lebih baik daripada berkumpul dengan orang jahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketahuilah bahwa berkumpul dengan orang saleh dan duduk-duduk bersama mereka akan menumbuhkan kecintaan kepada kebajikan di dalam hati, dan menjadi penolong untuk memudahkan melaksanakan kebajikan tersebut sebagaimana berkumpul dengan orang jahat dan duduk bersama mareka akan menumbuhkan di dalam hati kecintaan kepada kejahatan dan senang melakukan kejahatan. Memang demikianlah keadaannya bahwa orang yang berkumpul dengan suatu kaum dan hidup ditengah-tengah mereka sudah pasti akan mencintai mereka, sama saja kaum itu baik atau buruk. Dan seseorang itu selalu bersama dengan orang yang dicintainya, di dunia maupun di akhirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan wajib bagi kamu untuk memiliki sifat kasih sayang kepada hamba الله dan perasaan belas kasihan kepada semua makhluk الله. Jadilah engkau orang yang memiliki sifat رحيم dan welas asih dan penuh persahabatan dan takutlah kamu dengan sifat keras hati, atau kotor, cabul, kasar. Sesungguhnya hamba yang dikasihi الله adalah mereka yang bersifat belas kasih. Dan orang yang tidak memiliki belas kasih maka ia tidak akan dikasihani. Dan sesungguhnya orang mukmin itu saling cinta-mencintai, tidak ada kebajikan bagi siapa yang tidak cinta mencintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan wajib bagi kamu untuk mengajar orang yang tidak mengerti dan memberi nasihat kepada orang zalim, memberi peringatan kepada orang-orang yang lalai, dan jangan engkau abaikan hal itu karena engkau berpendapat , “Sesungguhnya tugas itu adalah bagi mereka yang memiliki ilmu dan mengamalkannya sedangkan aku tidaklah demikian”. Atau kamu berkata, “sesungguhnya aku ini bukanlah orang yang ahli dalam memberi nasihat atau petunjuk dan yang demikian itu adalah tugas orang –orang mulia”. Yang demikian itu adalah perbuatan syaitan karena sesungguhnya at’lim dan tadzkir itu adalah termasuk dalam jumlah mengamalkan ilmu. Dan para ulama besar اكابرtidak lah mereka menjadi ulama melainkan karena anugerah dari الله SWT, dan karena ketaatan kepada-Nya serta karena mereka memberikan nasihat kepada hamba الله untuk ditunjukkan ke jalan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan wajib bagi kamu untuk menambal hati yang retak dan mempergauli dengan baik kepada orang-orang yang lemah dan miskin, dan menghibur orang yang kekurangan dan memberikan kemudahan orang-orang yang mengalami kesulitan, dan memberi pinjaman kepada orang mengalami kesulitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan wajib bagi kamu untuk bertakziyah kepada orang yang tertimpa musibah. Sebagaimana sabda رسول الله SAW :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;من عزي مصابا أي صبره كان له مثل اجره&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Barang siapa yang berbela sungkawa kepada orang yang tertimpa musibah maka pahalanya sama seperti orang yang tertimpa musibah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan janganlah engkau bersenang hati atas musibah yang menimpa seorang muslim. Telah bersabda رسول الله SAW :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ولاتظهر الشماتة بأخيك فيعافيه ويبتليك&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Janganlah engkau perlihatkan kesukaan atas musibah saudaramu maka الله akan mengampuninya dan akan memberikan cobaan kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan janganlah kamu menyiarkan kesalahan orang islam karena tiada sekali kali seseorang membentangkan aib seseorang melainkan ia tiada mati kecuali akan dicoba dengan yang demikian. Dan wajib bagi kamu untuk membahagiakan hati orang yang sedang mengalami kesusahan, dan memenuhi hajat orang yang membutuhkan dan menutupi aib orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah berasbda رسول الله SAW :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;من يسر على معسر يسر الله عليه ومن ستر مسلما ستره الله فى الدنيا والاخرة ومن فرج عن مسلم كربة من كرب الدنيا فرج الله عنه كربة من كروب يوم القيامت ومن كان في حاجة اخيه كان الله في حاجته و الله في عون العبد ماكان العبد في عون أخيه&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Barang siapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka الله akan memudahkan urusannya. Barang siapa yang menutup aib orang islam maka الله akan menutip aibnya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menghilangkan kesusahan orang islam dari beberapa kesedihan dunia maka الله akan menghilangkan kesusahannya dari beberapa kesedihan hari kiayamat. Dan barang siapa yang memenuhi hajat orang islam maka الله akan memenuhi hajatnya. Dan الله akan menolong seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber kitab Risalah al-Muawwanah karya Al-Habib AbduLlah bin ‘Alawy Al-Hadad &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/blog-post.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-4856150035455094317</guid><pubDate>Sat, 10 Oct 2009 23:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T16:49:26.259-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Penjelasan arti سوءالخاتمة</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Neraka Allah yang menyala-nyala itu tidak mengambil selain kepada orang-orang yang terhijab dari Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Penjelasan arti سوءالخاتمة (Berprasangka Buruk) (Ihya ‘Ulumuddin)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau anda bertanya bahwa kebanyakan mereka itu takutnya adalah kepada suu-ul khaatimah maka apa arti suu-ul khaatimah itu ?&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Ketahuilah bahwasanya suu-ul khaatimah itu ada dua tingkat, salah satunya lebih besar dari yang lain. Adapun yang besar, yang mendahsyatkan adalah apabila mengerasi atas hati ketika sakaratil maut dan huru haranya adakalanya oleh keraguan dan ada kalanya oleh keingkaran. Lalu ruh diambil dalam keadaan bersangatannya keingkaran atau keraguan. Maka ikatan keingkaran yang mengeras di dalam hati itu menjadi dinding / hijab antara dirinya dengan Allah untuk selama-lamanya. Dan yang demikian ini menyebabkan kejauhan yang terus menerus dan siksaan yang tiada berkesudahan. Yang kedua adalah kurang dari yang pertama tadi bahwa mengerasi atas hati ketika mati oleh kecintaan kepada sesuatu dari dunia dan keinginan dari beberapa keinginan duniawi. Maka yang demikian ini terbentuk di dalam hatinya dan menenggelamkannya. Sehingga tidak ada lagi dari yang demikian itu tempat untuk yang lain. Maka ber-kebetulan pengambilan nyawanya dalam keadaan yang demikian, akan membalikkan kepalanya arah dunia dan memalingkan mukanya ke dunia itu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Manakala muka telah berpaling dari Allah niscaya terjadilah hijab. Dan manakala telah terjadi hijab maka turunlah azab. Karena neraka Allah yang menyala-nyala itu tidak mengambil selain kepada orang-orang yang terhijab dari Allah. Adapun orang mukmin yang hatinya sejahtera daripada kecintaan dunia danciat-citanya terarah kepada Allah maka neraka akan berkata kepadanya, “Berlalulah hai orang mukmin karena sinarmu telah memadamkan bara apiku”.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Ketika berkebetulan pengambilan nyawa dalam keadaan bersangatannya kecintaan kepada dunia, maka keadaannya menjadi sangat berbahaya. Karena manusia itu mati menurut apa ketika ia hidup. Dan tidaklah mungkin diusahakan sifat lainnya dari hati bagi hati sesudah mati, yang berlawanan dengan sifat yang mengerasi / dominan atas dirinya. Karena tidak berlaku pada hati selain amal perbuatan anggota badan. Dan anggota badan itu telah batil sebab kematian, maka batillah segala amal perbuatan. Oleh karena itu tidak ada harapan lagi pada amal perbuatan. Dan tak ada lagi harapan untuk kembali ke dunia untuk memperoleh apa yang hilang. Dan saat itu amat besar lah penyesalan. Hanya pokok iman dan kecintaan kepada Allah SWT, apabila sifat ini melekat pada hati maka itu adalah masa yang sangat panjang. Dan yang demikian bertambah kuat dengan amal saleh. Maka itu akan menghapuskan dari hati (terhadap kecintaan terhadap dunia) – akan keadaan tersebut yang datang bagi hati ketika mati. Kalau ada kekuatan imannya kepada batas seberat biji sawi niscaya iman itu akan mengeluarkannya dari neraka walaupun sesudah ribuan tahun.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Jika anda mengatakan, bahwa apa yang telah kami sebutkan tersebut menghendaki bahwa bersegeralah neraka kepadanya sesudah matinya, maka apa artinya (neraka) itu ditangguhkan sampai kepada hari kiyamat dan ditangguhkan sepanjang masa itu ?&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Ketahuilah bahwa setiap orang yang mengingkari adanya azab kubur, maka orang itu adalah pembuat bid’ah dan ia terdinding dari nur Allah SWT, dari nur Al-Quran dan dari nur iman. Bahkan yang sahih dari orang-orang yang memiliki mata hati (bashirah) ialah apa yang sahih pada hadits-hadits yaitu bahwa alam kubur itu adalah suatu lobang dari lobang-lobang neraka atau taman dari taman-taman surga. Dan terkadang dibukakan kepada kubur yang diazabkan, tuju puluh pintu dari neraka jahanam, sebagaimana tersebut pada hadits-hadits. Maka ketika nyawanya bercerai dari orang yang mati, lalu turun bala padanya kalau ia termasuk orang yang celaka dengan سوءالخاتمة Hanya saja bermacam-macam jenis azab itu seiring dengan bermacam-macamnya waktu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Oleh karena itu peratanyaan Munkar Nakir ketika orang yang mati itu diletakkan di dalam kubur dan penyiksaan sesudahnya, kemudian perdebatan pada hitungan / hisab, dan tersiarnya di hadapan orang banyak yang menyaksikan di hari kiyamat, sesudah itu bahaya pada titian shiratal mustaqiim, yaitu para malaikat penjaga neraka ( الزبانية) sampai kepada penghabisan apa yang tersebut pada hadits-hadits. Maka senantiasalah orang yang celaka itu berbolak-balik dalam semua keadaannya antara berbagai macam azab. Dan akan diazabkan dalam jumlah hal keadaan itu selain orang yang dilindungi Allah SWT dengan rahmat-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Jangan anda mengira bahwa tempat iman itu dimakan oleh tanah. Akan tetapi tanah memakan semua anggota badan dan dihancurkannya sampai pada waktunya. Maka berkumpulah bagian-bagian yang tercerai berai dan dikembalikan nyawa kepadanya dimana nyawa itu adalah tempat bagi iman. Dan nyawa itu sejak dari waktu mati sampai kepada dikembalikan –adakalanya berada di dalam perut burung hijau yang tergantung di bawah ‘arsy apabila nyawa itu bahagia. Dan adakalanya dalam keadaan yang berlawanan dengan keadaan diatas. Kita berlindung kepada Allah SWT Jikalau ada nyawa itu tidak mendapat kebahagiaan. Jikalau anda bertanya, “ apakah sebab yang membawa kepada ­سوءالخاتمة ? Maka ketahuilah bahwa sebab-sebab dari keadaan ini tidak mungkin dihinggakan dengan uraian, akan tetapi mungkin untuk diisyaratkan kepada kumpulannya. Adapun kesudahan dengan keraguan dan keingkaran maka hal itu terbatas sebabnya pada dua perkara :&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Pertama tergambar kesudahan (ال خاتمة) serta sempurnanya wara’ dan zuhud dan sempurnanya kebaikan pada amal perbuatan itu keadaannya seperti orang yang mengerjakan bid’ah yang zuhud. Maka akibatnya berbahaya sekali walaupun amal perbuatannya salih. Dan tidaklah aku maksudkan suatu mazhab lalu aku katakan bahwa itu bid’ah. Maka penjelasan yang demikian itu akan panjanglah pembicaraan padanya. Akan tetapi yang aku kehendaki dengan bid’ah adalah : bahwa seseorang beri’tikad mengenai dzat Allah SWT, sifatnya dan af’alnya, dengan menyalahi kebenaran. Lalu ia beri’tikad menyalahi apa yang sebenarnya. Adakalanya dengan pendapatnya atau dengan yang dipikirkannya dan dengan pandangannya. Yang demikian itulah ia berdebat dengan para musuhnya, Kepada yang demikian ia berpegang, dan yang demikian itulah ia tertipu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Adakalanya ia mengambil dengan ikut-ikutan / تقلد kepada seseorang yang keadaannya demikian. Maka apabila ia telah mendekati mati, akan tampak ubun-ubun Malakul maut dan bergoncanglah hati dengan apa yang ada padanya. Kadang-kadang terbuka baginya dalam keadaan sakaratul maut itu tentang batilnya / kesalahan apa yang telah dii’tikadkannya disebabkan karena kebodohannya. Karena sesungguhnya keadaan mati itu adalah terbukanya tirai / tutup. Dan permulaan sakarat itu dari permulaan terbukanya tirai. Maka kadang-kadang terbuka sebagian perkara. Maka apabila jelas kesalahan apa yang dii’tikadkannya dan ia telah berketetapan hati dan yakin pada dirinya niscaya ia tidak menyangka bahwa ia bersalah pada i’tikadnya tersebut, karena ia terbawa kepada pendapat yang bathil dan akal yang kurang. Maka ia menyangka bahwa setiap apa yang dii’tikadkannya itu tidak berasal. Karena tidak ada padanya perbedaan antara imannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan aqidah-aqidah yang lain yang benar dengan i’tikad yang salah. Maka tersingkapnya sebagian akidahnya dari kebodohan adalah sebab batalnya akidah-akidahnya yang lain atau karena keraguannya terhadap akidah-akidah itu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Kalau kebetulan keluarnya nyawa pada kali ini sebelum ia tetap dan kembali kepada pokok iman, maka berkesudahanlah baginya dengan keadaan buruk (سوءالخاتمة). Dan keluarlah nyawanya di atas kemusyrikan. Kita berlindung kepada Allah SWT dari keadaan yang demikian. Mereka itulah yang dimaksudkan dengan firman Allah SWT&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وبدا لهم من الله ما لم يكونو ا يحتسبون&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan ketika itu jelas bagi mereka bahwa apa yang dahulu tiada mereka kira itu memang dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dengan firman-Nya&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;قل هل ننبئكم بلاخسرين اعمالا – اللدْين ضل سعيهم في الحيوة الدني وهم يحسبون انهم يحسنون صنعا—ال كهف 103-104&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Katakan, “Kami akan beritakan kepadamu orang-orang yang peling rugi di dalam pekerjaannya. Mereka itulah yang sia – sia usahanya di dalam kehidupan dunia sedang mereka mengira bahwa apa yang mereka kerjakan itu adalah usaha yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sebagaimana kadang-kadang terbuka pada sakaratul maut sebagian keadaan karena, karena kesibukan dunia dan nafsu keinginan badan itulah yang mencegah hati kepada memperhatikan alam malakut. Maka ia (ketika itu akan) membaca apa yang ada di lauh mahfudz supaya terbuka kepadanya keadaan yang sebenarnya. Maka contoh keadaan ini menjadi sebab bagi keterbukaan(kasyaf) dan adalah kasyaf itu akan menjadi sebab keraguan pada i’tikad-i’tikad lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Setiap orang yang beri’tikad mengenai Allah SWT, sifat-sifat-Nya dan af’al-Nya, juga akan sesuatu dibalik yang sebenarnya, maka adakalanya karena ikut ikutan / تقلد dan ada kalanya karena memperhatikan kepada pendapat dan pemikiran. Maka ia berada dalam bahaya ini. Zuhud dan kesalehan itu tidak mencukupi untuk dapat menolak bahaya tersebut. Akan tetapi tidak ada yang dapat melepaskan daripadanya selain oleh i’tikad yang benar. Dan orang-orang yang dungu dapat tersingkirkan dari bahaya ini, yakni mereka yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan kepada hari kiyamat dengan iman yang مجمل (tiada terperinci) yang meresap ke dalam hatinya. Seperti orang arab dusun , orang hitam dan orang-orang awam lainnya yang tiada terjun dalam pembaahsan dan pemerhatian. Dan mereka tidak pula masuki dalam -membahas ilmu kalam (ilmu ketuhanan) secara bebas dan tidak pula mereka bertekun kepada bermacam-macam jenis orang – orang ahli ilmu kalam ( ال متكلمون ) dengan mengikuti pembicaraan mereka yang bermacam-macam. Dan karena itulah Nabi SAW bersabda, اكثر اهل الجنة البله Kebanyakan ahli surga adalah orang-orang dungu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Karena itulah dilarang oleh ulama salaf dari pembahasan , pemerhatian dan penerjunan dalam ilmu kalam. Dan pemeriksaan dari urusan – urusan itu. Mereka (para ulama salaf) memerintahkan manusia untuk membatasi diri untuk mengimani ahli ilmu kalam (ال متكلمون ) dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT semuanya dan dengan setiap apa yang datang secara lahiriyah saja. Serta berti’tikad akan tidak adanya keserupaan (dalam bentuk apapun antara KHALIQ dengan makhluk ). Mereka melarang manusia untuk terjun dalam penta’wilan (mencari pengertian yang dapat difahami dengan pikiran). Karena bahaya dalam membahas sifat-sifat Allah SWT itu amat besar, halangan-halangannya menyusahkan dan jalan-jalannya menyulitkan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Sedangkan akal manusia untuk memahami keagungan Allah SWT itu sangatlah pendek. Dan petunjukAllah SWT dengan نور اليقين pada hati dari tabi’atnya kepada kecintaan akan kehidupan dunia itu terhijab / terdinding. Dan apa yang disebutkan oleh para pembahas ilmu kalam dengan hanya bermodalkan akal pikiran mereka itu -akanlah membuat kacau dan bertentangan. Dan hati itu akan merasa jinak kepada untuk apa yang disampaikan kepadanya pada permulaan kejadiannya dan dengannya itu bersangkut. Dan ta’assub (kemunafikan) yang berkobar diantara manusia itu merupakan paku-paku yang teguh bagi kepercayaan-kepercayaan ayng diwarisi atau yang diambil dengan baik sangka dari para guru pada permulaan keadaannya. Kemudian tabi’at manusia itu tersangkut dengan kecintaan kepada dunia. Kepada dunia, tabi’at itu menghadap. Dan nafsu keinginan dunia itu mencekik lehernya dan menjadikan berpaling dari kesempurnaan pikiran. Maka apabila pintu pembicaraan mengenai Allah SWT dan sifat-sifat-Nya dengan pendapat dan akal itu dibuka, serta berlebih kurangnya manusia dalam kecerdasannya, berbedanya mereka dalam tabi’atnya, dan bersangatan lobanya orang yang bodoh dalam mendakwakan kesempurnaan dirinya atau mendakwakan mengetahui hakikat kebenaran –niscaya terlepaslah lidah mereka dengan apa yang terjadi bagi setiap orang dari mereka. Dan menyangkutlah / menular yang demikian itu dengan hati orang-orang yang memperhatikan kepada mereka. Dan menjadi kuatlah yang demikian sebab lamanya kejinakan hati kepada mereka. Maka adalah keselamatan makhluk itu dengan menyibukkan mereka. Lalu tersumbatlah secara keseluruhan jalan kelepasan kepada mereka. Maka keselamatan makhluk itu adalah dengan menyibukkan mereka dengan amal salih dan tidak membawa mereka kepada apa yang diluar dari batas kesanggupan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Akan tetapi sekarang telah menurunlah tali kekang dan telah berkembanglah kesia-siaan. Setiap orang bodoh menempatkan diri dengan yang bersesuaian dengan pebawaannya yaitu dengan sangkaan dan terkaan. Dia berkeyakinan bahwa yang demikian itu adalah ilmu yang meyakinkan dan keimanan yang murni. Ia menyangka bahwa apa yang terjadi pada dirinya dari terkaan dan uret-uretan itu adalah ilmu yakin dan ainul yakin. Dan akan anda ketahui beritanya sesudah seketika. Dan seyogyalah dinyanyikan kepada mereka itu ketika tabir sudah tersingkap :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau baikkan sangkaan dengan hari-hari karena ia berbuat baik&lt;br /&gt;
Dan engkau tidak takut dengan keburukan yang didatangkan oleh takdir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau diselamatkan oleh malam-malam&lt;br /&gt;
Lalu engkau tertipu dengan semua itu&lt;br /&gt;
Dan ketika malam menjadi jernih&lt;br /&gt;
Datanglah kekeruhan.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah dengan keyakinan bahwa setiap orang yang memperbedakan iman yang penuh sangkaan dengan Allah SWT , Rasul-Nya dan kitab-kitab-Nya dan menerjunkan diri dalam pembahasan maka sesungguhnya ia menempuh bahaya ini. Contohnya adalah seperti orang yang kapalnya pecah dan dia berada dalam pukulan ombak. Ia dilemparkan oleh ombak kepada ombak yang lain. Kadang-kadang berbetulan ia dilemparkan ke pantai. Dan yang demikian itu jauh dari kejadian yang sebenarnya. Dan yang banyak terjadi adalah ia itu akan binasa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Setiap orang yang masuk dalam suatu akidah yang ia peroleh dari para pembahas (ilmu kalam) dengan modal akal pikiran mereka adakalanya bersama dalil-dalil yang diuraikannya dalam kefanatikan atau tanpa dalil sama sekali. Maka jikalau ia itu ragu padanya niscaya ia itu perusak agama. Dan jikalau ia percaya yang demikian maka dia pasti akan merasa aman dari rencana Allah SWT (مكر الله ) dan tertipu dengan akalnya yang kurang. Dan setiap orang yang terjun dalam pembahasan ilmu kalam maka ia tidak akan terlepas dari dua hal ini, kecuali apabila ia melampaui batas-batas yang diterima akal pikiran kepada nur mukasyafah yang menjadi tempat terbitnya matahari pada alam kewalian dan kenabian. Dan yang demikian itu adalah seperti belerang merah, dari manakah akan mudah diperoleh ?. Maka yang akan selamat daripada bahaya ini adalah orang yang dungu dari orang awam atau mereka yang disibukkan oleh takutnya kepada neraka dengan mentaati Allah SWT. Mereka tidak terjun pada perbuatan yang tidak penting ini.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka inilah salah satu sebab yang membahayakan pada سوءالخاتمة.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun sebab kedua yaitu kelemahan pada pokok iman kemudian kecintaan pada dunia yang menguasai hati. Dan manakala iman lemah niscaya lemahlah kecintaan kepada Allah SWT dan kuatlah kecintaan kepada dunia. Lalu yang terjadi tidak ada lagi tempat di hati untuk mencintai Allah SWT selain hanya dari kata hati saja dan tidak melahirkan bekas pada penentangan hawa nafsu dan perpaling dari jalan setan. Maka yang demikian itu akan menyebabkan kebinasaan pada mengikuti hawa nafsu syahwat, sehingga gelaplah hati, kesat serta hitam. Dan bertindih lapis kegelapan hawa nafsu atas hati maka senantiasalah nur iman yang ada padanya menjadi padam di atas kelemahannya itu, sehingga jadilah yang demikian itu tabi’at dan karat.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka apabila datang sakaratil maut niscaya bertambahlah kecintaan (kepada dunia) itu. Yakni kecintaan kepada Allah SWT bertambah lemah karena apa yang tampak dari perasaan akan berpisah dengan dunia. Dan dunia itu menjadi kecintaan yang mengerasi bagi hati lalu hati itu merasa sedih dengan perasaan perpisahan dengan dunia. Dan ia melihat yang demikian itu dari Allah SWT. Maka tergeraklah hati dengan mengingkari kematian yaitu apa yang ditakdirkan kepadanya. Dan ia tiada menyukai bahwa yang demikian itu dari Allah SWT. Maka ditakuti akan berkobarlah dalam hatinya suatu kemarahan kepada Allah SWT sebagai ganti dari kecintaannya kepada dunia.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Sebagaimana orang yang mencintai anaknya dengan kecintaan yang lemah, apabila anak itu mengambil hartanya yang lebih dikasihinya dari pada anaknya kemudian harta itu dirusakkannya niscaya berubahlah kecintaan itu menjadi kemarahan. Maka jikalau berbetulan keluarnya nyawa dan pada detik itu gurisan ini (حب الدني) yang terguris di dalam hati maka beakhirlah ia dengan سوءالخاتمة dan binasalah ia untuk selama-lamanya. Dan sebab-sebab yang membawa kepada kesudahan yang seperti ini adalah kerasnya kecintaan kepada dunia, kecenderungan kepadanya dan bergembira dengan sebab-sebabnya serta kelemahan iman yang menyebabkan kelemahan kecintaan kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka barang siapa yang di dalam hatinya memperoleh kecintaan kepada Allah SWT yang lebih keras dari pada kecintaannya kepada dunia walaupun masih ada sisa kecintaannya kepada dunia, maka dia itu lebih jauh dari bahaya tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Kecintaan kepada dunia adalah sumber pangkal kesalahan. Dan itu adalah penyakit yang melumpuhkan dan telah meratai kepada semua jenis manusia. Dan semua itu karena sedikitnya ma’rifah kepada Allah SWT, karena tiada yang mencintai Allah SWT selain orang yang mengenali-Nya. Dan karena itulah Allah SWT berfirman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;قل انكان آبائكم وابنائكم واخوانكم وازواجكم وعشيرتكم واموال اقترفتموها&lt;br /&gt;
وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها احب اليكم من الله ورسوله وجهاد فيسبسله فتربصوا حتى يئنى الله بامره&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
“Katakanlah jikalah bapak-bapakmu, anak-anakmu dan saudara-saudaramu dan isteri-isterimu dan kaum keluargamu, kekayaan yang kamu peroleh, perniagaan yang kamu takutkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai –Kalau semua itu lebih kamu sukai daripada Allah SWT dan Rasul-Nya dan dari berjuang di jalan Allah maka tunggulah sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. (At-Taubah 24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setiap orang yang berpisah nyawanya pada keadaan detik keingkaran hati kepada Allah SWT dan melahirkan kemarahan kepada perbuatan Allah SWT dengan hatinya, dan pada terpisahnya ia dengan isterinya, hartanya dan lain-lain yang ia cintai, maka sesungguhnya ia datang kepada Allah SWT sebagai hamba yang dimarah, hamba yang lari dari Tuannya karena terpaksa. Maka tidak tersembunyi lagi apa yang berhak ia terima yaitu berupa kehinaan dan hukuman dari Tuannya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Adapun orang yang mati atas kecintaan kepada Allah SWT maka orang itu datang kepada Allah SWT sebagaimana datangnya hamba yang berbuat baik yang rindu kepada Tuannya yang menangung kesulitan-kesulitan perbuatan dan kesukaran-kesukaran perjalanan karena mengharap bertemu dengan tuannya. Maka tidaklah tersembunyi apa yang akan dijumpainya dari kesenangan dan kegembiraan dengan semata-mata bertemu itu. Lebih-lebih dengan apa yang berhak diterimanya dari kelemah lembutan pemuliaan dan kecemerlangan penikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;By &lt;a href=&quot;http://ihyaulumudin2.blogspot.com/2008/07/penjelasan-arti.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Imam Ghozali&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/penjelasan-arti.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-6405553299490178510</guid><pubDate>Sat, 10 Oct 2009 23:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T16:38:08.882-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Kitab Sabar dan Syukur</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kitab sabar dan syukur&lt;br /&gt;
Yaitu Kitab ke dua dari perempat bagian yang menyelamatkan dari kitab Ihya ‘Ulumuddin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala puji bagi Allah sang Empunya pujian dan sanjungan, yang sendiri dengan baju kebesaran-Nya, Maha Esa dengan sifat-sifat kemuliaan dan keluhuran, yang menguatkan kecemerlangan para wali dengan kekuatan sabar terhadap suka dan duka dan bersyukur atas segala bencana dan ni’mat. Shalawat kepada Muhammad SAW, penghulu para nabi. Dan kepada para sahabatnya penghulu orang-orang yang suci jiwanya, dan kepada keluarganya pemimpin orang-orang yang berbuat kebajikan lagi taqwa. Shalawat yang terlindung dengan kekekalan dari kerusakan, yang terpelihara secara terus menerus dari terputus dan berkesudahan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Amma Ba’d, Maka iman itu terbagi dua bagian. Sebagian sabar, dan sebagiannya lagi syukur sebagaimana yang diutarakan oleh atsar-atsar dan disaksikan oleh hadits-hadits.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Keduanya juga merupakan dua sifat dari sifat-sifat Allah Ta’ala dan juga (merupakan) dua nama dari asma-asma-Nya Yang Maha Baik (Al-Asmaa’ul Husna) karena Ia menamakan diri-Nya dengan Yang Maha Sabar (As-Shabuur) dan Maha Berterimakasih (As-Syakuur).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka kebodohan terhadap hakikat sabar dan syukur adalah juga kebodohan terhadap dua bagian iman. Kemudian merupakan pula kelalaian dari dua sifat dari beberapa sifat Tuhan Yang Maha Pengasih. Tak ada jalan untuk mendekat kepada Allah Ta’ala selain dengan iman. Bagaimana dapat digambarkan menempuh jalan iman tanpa mengenal apa yang dengannya itu iman dan siapa yang dengannya itu iman.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Berhenti dari mengetahui apa itu sabar dan syukur berarti berhenti pula dari mengetahui siapa yang dengan ia itu (disebut) iman. Dan (berhenti pula) dari mengetahui apa yang dengan ia itu disebut iman. Maka alangkah perlunya bagi masing-masing bagian itu (akan adanya) penjelasan. Dan kami akan menjelaskan masing-masing bagian tersebut dalam satu kitab sebab adanya keterikatan yang satu dengan yang lainnya, insya Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian Pertama tentang Sabar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada padannya keutamaan sabar, penjelasan batas-batas sabar dan hakikatnya, penjelasan bahwa sabar itu setengah dari iman, penjelasan perbedaan nama-nama sabar disebabkan berbeda-bedanya hubungan, penjelasan bagian-bagian sabar menurut perbedaan kuat dan lemahnya, penjelasan tempat persangkaan perlunya kepada sabar, dan penjelasan tentang obat sabar dan apa yang dapat dijadikan pertolongan melalui sabar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka itu semua ada tujuh pasal yang melengkapi pada maksud-maksud sabar Insya Allah Ta’ala...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan Keutamaan sabar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala sesungguhnya telah mensifatkan orang-orang yang sabar dengan beberapa sifat. Allah Ta’ala menyebutkan sabar dalam Al-Qur’an lebih pada 70 tempat. Ia menambahkan lebih banyak derajat dan kebajikan kepada sabar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Ia menjadikan derajat dan kebajikan sebagai hasil dari sabar. Maka Allah Ta’ala berfirman,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
“Dan Kami jadikan diantara mereka beberapa pemimpin yang akan memberikan pimpinan dengan perintah Kami yaitu ketika mereka semua bersabar.” (QS. As-Sajdah 42)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan Telah sempurnalah Firman yang baik dari Tuhanmu untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka”. (Al-a’raf 137)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan akan Kami berikan kepada orang-orang yang sabar suatu pahala mereka dengan sebaik-baiknya sebab apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl 96.)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
“Mereka itulah yang diberikan pahala dua kali lipat sebab kesabaran mereka” (Al-Qashas 54).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya akan disempurnakan bagi orang-orang yang sabar, pahala mereka dengan tanpa terhitung”. (Az-Zumar 10.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tidak ada upaya pendekatan diri kepada Allah Ta’ala, melainkan pahalanya ditentukan dengan kadar (perhitungan), kecuali sabar (maka tiadalah ia dihitung).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dan karena puasa itu sebagian dari sabar, dan puasa itu ½ sabar, maka Allah Ta’ala berfirman, “Puasa itu bagu-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”. Allah Ta’ala mengkaitkan puasa itu dengan diri-Nya diantara ibadah ibadah lain dan menjanjikan bagi orang yang bersabar bahwa Ia bersama mereka. Allah Ta’ala berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
“Dan bersabarlah sesungguhnya Allah itu berserta orang-orang yang sabar”. (Al-Anfal 46.)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala meggantungkan pertolongan kepada sabar. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya “Ya..Kalau kamu mau beriman dan memelihara diri, sedang mereka datang (menyerang) kepadamu dengan cepat, maka Tuhan akan membantumu dengan 5000 malaikat yang akan membinasakan”. (Ali Imran 125).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala akan mengumpulkan bagi orang-orang yang sabar beberapa hal yang tidak dikumpulkan-Nya bagi yang lain. Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Merekalah orang-orang yang medapat ampunan dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al-Baqarah 157).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Petunjuk, rahmat dan ampunan dikumpulkan bagi orang yang sabar. Dan penelitian semua ayat tentang kedudukan sabar akan sangatlah panjang bila diteruskan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Adapun hadits yang menyangkut sabar, maka diantaranya adalah sabda RasuluLlah SAW “Sabar itu ½ iman”. Sebagaimana akan diterangkan tentang sabar itu ½ iman.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Nabi SAW bersabda, “Dari hal paling kurang yang diberikan kepada kamu ialah keyakinan dan kesungguhan sabar. Siapa yang diberi keberuntungan dari keyakinan dan kesungguhan sabar niscaya ia tidak peduli terhadap yang luput pada mereka dari shalat malam dan puasa siang dan engkau bersabar atas apa yang menimpamu adalah lebih aku sukai daripada disempurkannya oleh setiap orang dari kamu sekalian untukku dengan seperti amalan kamu semua. Akan tetapi aku takut bahwa akan dibukakan kepada kamu semua (kenikmatan) dunia sesudahku. Kemudian sebagian kamu menantang sebagian yang lain. Dan kamu akan ditantang oleh penduduk langit (malaikat) ketika itu. Maka siapa yang sabar dan memperhitungkan diri, niscaya akan memperoleh kesempurnaan pahala”. Kemudian Nabi membaca firman Allah Ta’ala :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang ada di sisi kamu itu akan hilang, dan apa yang ada di sisi Allah itulah yang kekal. Dan akan Kami beri balasan bagi orang-orang yang sabar berupa pahala mereka dengan yang lebih baik sesuai apa yang telah mereka kerjakan”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Diriwayatkan Jabir, bahwa Nabi SAW ditanya tentang iman maka beliau menjawab “sabar dan suka memaafkan”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Nabi SAW bersabda “Sabar itu perbendaharaan dari beberapa perbendaharaan surga”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Pada suatu saat Nabi SAW ditanya “apakah iman itu”. Lalu beliau menjawab “Sabar”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Ini serupa dengan sabda Nabi SAW, “Hajji itu ‘arafah” artinya yang terbesar dari rukun haji itu adalah wukuf di ‘arafah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Nabi SAW bersabda pula, “Afdhalul a’mal maa ukrihat ‘alaihinnufuus”. Yang artinya, “Amal yang paling utama adalah yang lebih dipaksakan kepadanya nafsu”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dikatakan Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud AS, “Berakhlaklah dengan akhlak-Ku. Sesungguhnya sebagian dari akhlak-Ku adalah Aku sesungguhnya Maha Sabar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Pada Hadits yang diriwayatkan Atha’, dari Ibnu Abbas bahwa ketika RasuluLlah SAW masuk ke tempat orang-orang anshar , lalu beliau bertanya, “A Mu’minu antum ?” yang artinya “apakah kamu semua beriman ?”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Mereka menjawab, “Kami bersyukur atas kelapangan, kami bersabar atas cobaan, dan kami ridho dengan ketetapan Tuhan”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Lalu RasuluLlah SAW bersabda, “Mukminuuna warabbil Ka’bah”. “Benar kamu semua beriman, demi Yang Empunya Ka’bah”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Nabi SAW bersabda, “Pada sabar atas sesuatu yang tidak kamu sukai itu, banyak kebajikan”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Isa Al-Masih AS bersabda, “Engkau sesungguhnya tidak akan memperoleh apa yang kamu inginkan kecuali dengan kesabaranmu atas apa yang tidak engkau sukai”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
RasuluLlah SAW bersabda, “laukaana shabru Rajululan lakaana kariiman waLlaahu yuhibbus shaabiriin”. Yang artinya, ‘Jikalau sabar itu seorang laki-laki niscaya ia itu pemurah. Dan Allah itu cinta akan orang-orang yang sabar”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Hadits-hadits yang menerangkan sabar itu tiada terhingga jumlahnya. Adapun atsar maka diantaranya adalah apa yang terdapat pada surat khalifah Umar bin Khatab RA kepada Abu Musa Al-Asy’ari RA yang bunyinya antara lain : sabar pada saat musibah itu baik, dan yang lebih baik daripadanya adalah sabar / menahan diri dari apa yang diharamkan Allah Ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dan ketahuilah bahwa sabar itu yang memiliki iman. Yang demikian ini adalah bahwasanya taqwa itu merupakan kebajikan yang paling utama. Dan taqwa itu adanya dengan sabar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Sayyidina ‘Ali RA berkata, “Iman itu dibangun atas dasar empat yaitu yakin, sabar, jihad dan adil.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
‘Ali RA berkata pula, “Kedudukan sabar dalam iman itu sebagaimana kepala pada tubuh. Tidak ada tubuh bagi orang yang tidak ada kepala. Dan tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki kesabaran.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Umar RA Berkata, “Amatlah baik dua pikulan yang sebanding, dan amatlah baik tambahan bagi orang-orang yang sabar. Yang dimaksud dua pikulan yang sebandaing adalah ampunan dan rahmat. Sedangkan yang dimaksud dengan tambahan adalah petunjuk. Dan tambahan itu ibaratnya adalah apa yang dibawa di atas dua pikulan yang sebanding tadi atas unta”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Diriwayatkan oleh Urar RA yang demikian itu pada firman Allah Ta’ala, “Ulaaika ‘alaihim shalawaatun mun Rabbikum warahmah. Waulaaika humul muhtaduun”. Yang artinya” mereka itulah orang-orang yang mendapatkan ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk”. (Al-Baqarah 157).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Adalah Habib bin Abi Habib Al Bashri apabila membaca ayat di bawah ini, “Inna wajad-Naahu shaabiran, ni’mal ‘abdu, innahu awwab”. Yang artinya, “Sesungguhnya Kami dapati ia (Ayub) sebagai seorang yang sabar, sebaik-baik hamba dan sesungguhnya dia tetap kembali (kepada Tuhan). (Shad 44).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Lalu beliau menangis dan berkata, “Alangkah menakjubkan. Ia yang memberi dan Ia yang memuji.” Artinya Ia yang menganugerahkan kesabaran dan Ia yang memujikannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Abu Darda’ RA mengatakan, “Ketinggian itu adalah sabar akan hukum Allah Ta’ala dan rela dengan takdir Allah Ta’ala”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Inilah penjelasan tentang sabar dari yang dinukilkan (dari ayat, hadits dan atsar).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Adapun dari segi pandangan mata ibarat, maka anda tidak dapat memahaminya selain setelah memahami hakikat sabar dan artinya. Karena mengetahui keutamaan dan tingkatannya itu ialah mengetahui sifat. Maka tidak akan berhasil , sebelum mengetahui yang bersifat dengan sifat tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka marilah kami lanjutkan menyebutkan hakikatnya dan maknanya, kiranya kita memperoleh taufik dari Allah Ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;By &lt;a href=&quot;http://keutamaan-takut.blogspot.com/2008/04/kiktab-sabar-dan-syukur.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Imam Ghozali &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/kitab-sabar-dan-syukur.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-7800769589795660094</guid><pubDate>Sat, 10 Oct 2009 23:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T16:31:05.755-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>PENJELASAN : Hakikat Sabar dan maknanya.</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketahuilah kiranya bahwa sabar itu merupakan suatu maqam (Tingkat) dari beberapa tingkatan agama. Dan suatu kedudukan dari beberapa kedudukan orang yang berjalan menuju kepada Allah Ta’ala (saalikiin).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Semua maqam-maqam agama itu hanya dapat tersusun dari tiga hal : ma’irfah, haal, dan amal perbuatan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ma’rifah adalah pokok. Dialah yang mewariskan haal ihwal. Dan haal itu yang membuahkan amal perbuatan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Ma’rifah itu seperti pohon kayu. Hal ihwal itu seperti ranting dan amal perbuatan itu seperti buah. Dan ini terdapat pada semua maqam orang-orang yang berjalan menuju Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dan nama iman, sesekali dikhususkan dengan ma’rifah sesekali disebutkan secara mutlak kepada semuanya sebagaimana telah kami sebutkan pada perbedaan nama iman dan islam pada kitab “Kaidah-kaidah ‘aqaid”. Seperti ini pula sabar, tiada akan sempurna sabar itu selain dengan ma’rifah yang mendahuluinya dan dengan hal-ihwal yang tegak berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka sabar pada hakikatnya adalah ibarat dari ma’rifah itu sendiri. Dan amal perbuatan adalah seperti buah yang keluar dari ma’rifah. Dan ini tidak dapat diketahui selain dengan mengetahui cara tertibnya antara malaikat, insan dan hewan. Maka sabar itu adalah ciri khas pada insan. Dan tidak tergambar adanya sabar itu pada hewan dan malaikat karena totalitasmya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Penjelasannya adalah bahwa hewan-hewan itu dikuasai nafsu syahwat. Dan ia diciptakan untuk nafsu syahwat tersebut. Maka tidak ada pembangkit bagi hewan tersebut kepada gerak dan diam selain nafsu dan syahwat. Dan tiada pula pada hewan itu suatu kekuatan yang berbenturan dengan nafsu syahwat dan yang menolaknya dari yang dikehendaki nafsu syahwat. Sehingga dinamakan ketetapan kekuatan pada menghadapi nafsu syahwat dengan istilah sabar.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Adapun para malaikat AS, maka mereka itu di juruskan pada merindui hadlirat ketuhanan. Dan merasa cemerlang dengan tingkat kedekatan kepada hadlirat ketuhanan itu. Dan mereka tiada dikuasai nafsu syahwat yang membelokkan dan yang mencegah dari hadlirat ketuhanan sehingga memerlukan pada pembenturan yang memalingkannya dari hadlirat Yang Maha Agung dengan tentara lain yang akan mengalahkan dan membelokkan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Adapun insan maka sesungguhnya ia diciptakan pada permulaan masa kecilnya dalam keadaan kekurangan seperti halnya hewan. Tidak dijadikan padanya selain keinginan makan yang diperlukannya. Kemudian lahirlah keinginan bermain dan berhias padanya. Kemudian nafsu keinginan kawin, diatas tartib yang demikian. Dan tidak ada sama sekali pada insan itu kekuatan sabar karena sabar itu adalah ibarat dari ketetapan tentara untuk menghadapi tentara lain sehingga terjadilah peperangan diantara keduanya, untuk melawani kehendak dan tuntutan keduanya. Dan pada anak kecil itu tidak ada sesuatupun kecuali tentara hawa nafsu seperti yang ada pada hewan. Akan tetapi Allah Ta’ala dengan karunia-Nya dan keluasan kemurahan-Nya memuliakan anak Adam dan meninggikan derajat mereka dari derajat hewan-hewan. Maka Allah Ta’ala mewakilkan kepada manusia itu ketika sempurna dirinya mendekati kedewasaan dengan dua malaikat. Yaitu satu memberinya petunjuk dan yang satu lagi menguatkanya. Maka berbedalah manusia itu dengan pertolongan dua malaikat tadi daripada hewan-hewan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dan insan itu khusus ditentukan dengan dua sifat “&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Pertama – mengenal Allah Ta’ala dan mengenal Rasul-Nya. Kedua, mengenal kepentingan-kepentingan yang menyangkut dengan akibat (bagi masa yang akan datang). Semua dari yang demikian itu berhasil dari malaikat yang diserahkan kepadanya petunjuk dan pengenalan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka hewan tidaklah memiliki ma’rifah, dan tiada petunjuk kepada kepentingan akibat-akibat, akan tetapi hanya kepada yang dikehendaki nafsu keinginannya yang sesaat saja. Oleh karena itu hewan tidak mencari selain yang dirasa enak. Adapun terhadap obat yang bermanfaat, serta adanya obat itu mendatangkan melarat seketika, maka hal itu tidak dicarinya dan tidak dikenalnya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka jadilah insan itu dengan sinar hidayah dapat mengetahui bahwa mengikuti nafsu syahwat itu memiliki hal-hal yang ghaib (yang belum kelihatan sekarang), yang tidak disukai akan akibatnya. Akan tetapi petunjuk ini belumlah memadai, selama tidak ada baginya kemampuan untuk meninggalkan sesuatu yang mendatangkan melarat. Berapa banyak yang mendatangkan melarat bagi manusia – seperti penyakit yang bersarang pada dirinya umpamanya, akan tetapi tiada kemampuan baginya untuk menolak. Lalu ia memerlukan pada kemampuan dan kekuatan yang dapat menolaknya yaitu kepada menyembelih nafsu syahwat itu. Lalu ia melawan nafsu syahwat itu dengan kekuatan tersebut sehingga diputuskannya permusuhan nafsu syahwat tadi darinya. Maka Allah Ta’ala mewakilkan seorang malaikat lain padanya yang membetulkannya, meneguhkan dan menguatkannya dengan tentara yang tiada engkau dapat melihatnya. Ia memerintahkan tentara ini untuk memerangi tentara nafsu syahwat. Maka sesekali tentara ini yang lemah dan sesekali ia yang kuat. Yang demikian itu menurut pertolongan Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya dengan penguatan. Sebagaimana nur/petunjuk juga berbeda pada makhluk dengan perbedaan yang tiada terhingga.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka kami menamakan sifat tersebut – yang membedakan manusia dan hewan, pada pencegahan nafsu syahwat dan pemaksaannya dengan nama penggerak keagamaan. Dan hendaklah kami namakan penuntutan nafsu syahwat dan semua yang dikehendaki nafsu syahwat itu dengan nama penggerak hawa nafsu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Hendaklah dipahami bahwa peperangan itu terjadi antara penggerak agama dan penggerak hawa nafsu. Dan peperangan diantara keduanya itu berlangsung terus menerus. Adapun medan peperangan ini adalah hati hamba. Sumber bantuan kepada penggerak agama datangnya dari para malaikat yang menolong barisan tentara Allah Ta’ala. Dan sumber bantuan kepada penggerak hawa nafsu itu datangnya dari setan-setan yang membantu musuh-musuh Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka sabar itu adalah ibarat dari tetapnya penggerak agama untuk menghadapi penggerak nafsu syahwat . kalau penggerak agama itu dapat tetap sehingga dapat memaksa penggerak nafsu syahwat dan terus menerus menantangnya, maka penggerak agama itu telah menolong tentara Allah Ta’ala dan berhubungan dengan orang-orang yang sabar. Dan kalau ia tinggalkan dan lemah sehingga ia dapat dikalahkan oleh nafsu syahwat dan ia tidak sabar pada menolaknya, niscaya ia berhubungan dengan mengikuti setan-setan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Jadi meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh nafsu syahwat itu adalah amal perbuatan yang dihasilkan oleh suatu hal yang dinamakan s a b a r, yaitu tetapnya penggerak agama yang berhadapan dengan penggerak nafsu syahwat. Tetapnya penggerak agama itu adalah suatu hal yang dihasilkan oleh ma’rifah dengan memusuhi nafsu syahwat dan melawankannya, karena itulah sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;
Apabila telah kuat keyakinannya yakni ma’rifah, yang dinamakan iman yaitu keyakinan bahwa adanya nafsu syahwat itu musuh yang memutus jalan kepada Allah Ta’ala maka akan kuatlah tetapnya penggerak agama. Dan apabila telah kuat tetapnya penggerak agama itu, maka sempurnalah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan yang dikehendaki oleh nafsu syahwat. Kuatnya ma’rifah dan iman akan mengkejikan apa yang ghaib dari nafsu syahwat dan buruk akibatnya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dua malaikat tersebut adalah yang menanggung dua tentara tadi dengan izin Allah Ta’ala. Dan dijadikannya kedua malaikat tersebut untuk yang demikian. Malaikat tersebut adalah dari malaikat-malaikat yang menulis amal perbuatan manusia. Keduanya adalah malaikat yang ditugaskan kepada tiap-tiap orang dari anak Adam.&lt;br /&gt;
Apabila anda telah mengetahui bahwa pangkat malaikat penunjuk itu lebih tinggi dari malaikat yang menguatkan niscaya tidak tersembunyi lagi bagi anda bahwa yang disamping kanan adalah yang termulia bagi dua sisi dari dua pihak, yang seyogyanya diserahkan kepadanya. Jadi dialah yang empunya kanan (shahibul yamin) sedangkan yang lain adalah yang empunya kiri (shahibus syimal).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Hamba itu memiliki dua hal : kelalaian dan berpikir, melepaskan dan bermujahadah. Dengan kelalaian maka hamba itu akan berpaling dari shahibul yamin dan berbuat jahat kepadanya. Lalu berpalingnya itu dituliskan sebagai kejahatan. Dengan berpikir, hamba itu akan menghadap kepada shahibul yamiin untuk mengambil faedah dan petunjuk padanya. Maka dengan demikian hamba itu berbuat baik terhadap shahibul yamiin. Oleh karena itu penghadapannya kepada shahibul yamiin tersebut akan dituliskan baginya sebagai kebaikan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Demikian pula dengan melepaskan maka dia itu berpaling dari shahibul yasar, meninggalkan meminta bantuan kepadanya, maka dengan demikian ia berbuat jahat kepadanya, lalu ditetapkan hal tersebut sebagai kejahatan atasnya. Dan dengan mujahadah ia meminta bantuan dari tentaranya. Lalu ditetapkan hal tersebut sebagai kebaikan baginya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Sesungguhnya ditetapkannya kebajikan dan kejahatan dengan penetapan dua malaikat tersebut, Oleh karena itulah keduanya dinamakan para malaikat mulia yang yang menuliskan amal manusia (Kiraamal Katibiin).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Adapun al-Kiraam (yang mulia atau yang pemurah), maka dikarenakan dimanfaatkan oleh hamba dengan kemurahan keduanya, dan karena para malaikat itu semua adalah yang mulia yang berbuat kebajikan. Adapun al-Katibiin (penulis) maka karena keduanya itu yang menetapkan (menulis) kebajikan-kebajikan dan kejahatan-kejahatan. Dan keduanya sesungguhnya menuliskan pada lembaran-lembaran yang terlipat dalam rahasia hati dan terlipat dari rahasia hati, sehingga tiada terlihat kepadanya di dunia ini. Maka kedua malaikat tersebut – suratannya, tulisannya, lembarannya, dan apa saja yang menyangkut kedua malaikat itu adalah dari jumlah alam ghaib dan alam malakut tidak dari alam syahadah (alam yang dapat disaksikan dengan panca indera).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Setiap sesuatu dari alam malakut itu tidak dapat dilihat oleh mata di alam ini. Kemudian lembaran-lembaran amal yang terlipat itu akan disiarkan sebanyak dua kali. Sekali pada kiyamat kecil (kematian), sekali pada kiyamat besar.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Yang dimaksud kiyamat kecil adalah waktu mati karena Nabi SAW bersabda, “Man maata faqad qaamat qiyaamatuhu”. Yang artinya, “Barang siapa yang mati maka sesungguhnya telah berdiri kiyamatnya”.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Pada kiyamat kecil ini, adalah hamba itu sendirian dan pada kiyamat ini dikatakan, “Walaqad ji’tumuuna furaada kamaa khalaqnaakum awwala marrat”. Yang artinya dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendirian sebagaimana Kami menjadikanmu pada kali pertama”. (Al-An’am 94).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Pada kiyamat kecil dikatakan pula, “Kafaa binafsikal yauma ‘alaika hasiibaa”. Yang artinya “Cukuplah pada hari ini engkau membuat perhitungan atas dirimu sendiri (Al-Isra’ 14).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Adapun pada kiyamat besar yang mengumpulkan semua makhluk, maka hamba itu tidaklah sendirian, akan tetapi kadang-kadang akan dilakukan perhitungan amal (hisab) dihadapan banyak makhluk. Pada kiyamat besar, orang-orang yang bertaqwa akan dibawa ke sorga. Dan orang-orang berdosa dibawa ke neraka secara beramai-ramai, tidak sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Huru hara pertama adalah huru hara kiyamat kecil. Dan bagi semua huru hara kiyamat besar ada perbandingannya dengan kiyamat kecil, seperti goncangnya bumi-misalnya. Sesungguhnya bumi engkau yang khusus bagi engkau itu bergoncang pada kematian. Maka sesungguhnya engkau mengetahui bahwa kegoncangan itu apabila bergoncang pada suatu negeri niscaya benarlah untuk dikatakan “sesungguhnya bumi mereka telah bergoncang walaupun negeri-negeri yang mengelilingi negeri tersebut tidak bergoncang. Bahkan jika tempat tinggal seorang manusia sendirian bergoncang, maka telah berhasilah kegoncangan itu terjadi padanya karena dia sesungguhnya memperoleh melarat ketika bergoncangnya semua bumi dengan kegoncangan tempatnya tidak dengan kegoncangan tempat tinggal orang lain. Maka bagian dari kegoncangan itu telah sempurna tanpa ada kekurangan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Ketahuilah kiranya bahwa anda adalah makhluk dari tanah yang paling diridha-i, dan keberuntungan engkau yang khusus dari tanah adalah badan engkau saja. Adapun badan orang lain maka bukanlah keberuntungan (urusan) engkau. Dan bumi tempat engkau duduk itu jika dikaitkan kepada badan engkau adalah laksana karung dan tempat. Dan sesungguhnya engkau takut akan kegoncangan tempat itu bahwa badan engkau akan bergoncang disebabkan kegoncangan tempat tersebut. Kalau tidak demikian, maka udara itu selalu juga bergoncang akan tetapi engkau tidak takut kepadanya karena badan engkau tidak ikut bergoncang dari sebab yang demikian. Maka keberuntungan (efek) engkau dari kegoncangan bumi secara keseluruhan adalah kegoncangan badan engkau saja. Maka itulah bumi engkau dan tanah engkau yang khusus dengan engkau. Tulang-belulang engkau adalah bukit-bukit daripada bumi engkau. Hati engkau adalah matahari dari bumi engkau. Pendengaran engkau, penglihatan engkau dan lain-lain yang khusus bagi engkau, adalah laksana bintang-bintang langit engkau. Bercucurnya keringat dari badan engkau adalah laut dari bumi engkau. Rambut engkau adalah tumbuh-tumbuhan bumi engkau. Angota badan engkau adalah pohon-pohonan bumi engkau. Dan begitulah pada semua bagian tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Apabila sendi-sendi badan engkau telah roboh karena kematian, maka sesungguhnya telah bergoncanglah bumi sebagai kegoncangannya. Maka apabila tulang-belulang telah bercerai dari daging, maka sesungguhnya bukit-bukit itu telah diangkat lalu dihancurkan sekali hancur. Apa bila tulang belulang telah hancur, maka gunung-gunung itu telah dihancurkan. Apabila hati engkau gelap gulita sesudah mati, maka sesungguhnya matahari itu telah digulung. Apabila pendengaran engkau, penglihatan engkau dan panca indera engkau yang lain tiada berguna lagi, maka sesungguhnya bintang-bintang itu telah berhamburan. Apabila otak engkau pecah maka sesungguhnya langit itu telah pecah. Apabila dari huru haranya mati lalu terpancarlah keringat kening engkau, maka sesungguhnya lautan itu telah terpancar airnya. Apabila salah satu betis engkau telah berpaling dari yang lain dan keduanya itu adalah lipatan badan engkau, maka sesungguhnya unta-unta betina itu telah telah ditinggalkan. Apabila nyawa itu telah berpisah dari tubuh, maka bumi itu dibawa lalu dipanjangkan sehingga ia mencampakkan isinya dan melepaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tiada akan memperpanjangkan semua perbandingan hal-ihwal dan huru hara itu, akan tetapi aku mengatakan bahwa hanya dengan semata-mata kematian, maka telah tegak berdirilah kiyamat kecil ini. Dan tiada luput bagi engkau dari kiyamat besar itu sesuatu dari apa yang khusus bagi engkau bahkan apa yang khusus bagi orang lain dari engkau. Sesungguhnya masih adanya bintang-bintang itu bagi orang lain, maka apa manfaatnya bagi engkau daripadanya ?. dan telah berguguranlah panca indera engkau yang dengannya engkau dapat mengambil manfaat dengan memandang bintang-bintang itu. Dan orang buta sama baginya antara malam dan siang, gerhana matahari dan terangnya, karena matahari sesungguhnya baginya telah gerhana terhadap dirinya dan itu adalah bahagian nya dari matahari.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka terangnya matahari sesudah itu adalah menjadi bahagian orang lain. Dan siapa yang pecah kepalanya, maka sesungguhnya telah pecah langitnya. Karena langit itu adalah ibarat dari apa yang mengiringi pihak kepala. Maka siapa yang tiada memiliki kepala niscaya tiada langit baginya. Maka darimanakah bermanfaat baginya tetapnya langit bagi orang lain ? (tentu tidak ada manfaatnya).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Maka inilah kiyamat kecil itu. Takut itu sesudah yang di bawah, dan huru hara itu sesudah yang penghabisan. Yang demikian itu adalah apabila telah datang bencana yang besar, maka terangkatlah yang khusus, binasalah langit dan bumi, hancurlah gunung-gunung dan bertambahlah huru hara itu. Ketahuilah kiranya bahwa kiyamat kecil ini walaupun kami panjangkan mensifatkannya, maka sesungguhnya kami tidak menyebutkannya seper seratus dari sifat-sifatnya. Dan kiyamat kecil itu jika dibandingkan kiyamat besar adalah seperti kelahiran kecil dibandingkan kelahiran besar.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Sesungguhnya manusia itu memiliki dua kelahiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan kepada tempat simpanan rahim wanita. Manusia itu berada di dalam rahim adalah pada keadaan yang tetap, tenang, sampai kepada kadar/masa yang ditentukan. Dan manusia dalam perjalanannya kepada kesempurnaan, memiliki tempat-tempat dan tahap-tahap, dari setitik air mani (nuthfah), segumpal darah, segumpal daging, dan lainnya sehingga manusia itu keluar dari kesempitan rahim ibu kepada alam dunia yang lapang. Maka perbandingan secara umum kiamat besar dengan khususnya kiyamat kecil adalah seperti perbandingan luasnya alam yang lapang dengan luasnya lapang rahim ibu. Dan bandingan luasnya alam yang didatangi hamba itu dengan mati jika dibandingkan dengan luasnya dunia adalah seperti bandingan lapangnya dunia juga kepada rahim ibu, bahkan lebih luas dan lebih besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kiaskanlah akhirat itu dengan dunia, maka tidaklah kejadian kamu dan kebangkitan kamu, selain seperti satu diri saja. Dan tidaklah kejadian yang kedua melainkan sebagai kiasan yang pertama, bahkan bilangan kejadian itu tidak terhingga pada dua saja. Dan kepada yang demikian itu diisyaratken oleh firman Allah Ta’ala, “Wanunsyi-a kum fii maa laa ta’lamuun”. Yang artinya, “Dan Kami menjadikan kamu dalam rupa yang tiada kamu ketahui”. (Al-Waqi’ah 61).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang mengakui adanya dua kiyamat itu adalah orang- yang beriman terhadap alam ghaib dan alam syahadah dan yakin dengan alamul mulki wal malakuut. Orang yang mengaku adanya kiyamat kecil dan tidak mengakui adanya kiyamat besar, adalah orang yang memandang dengan mata yang juling kepada salah satu dari dua alam. Yang demikian itu adalah bodoh, sesat dan mengikuti dajjal yang bermata satu / juling.&lt;br /&gt;
Alangkah bersangatannya kelalaianmu hai orang-orang yang patut dikasihani. Dan kita semua adalah orang yang patut dikasihani, sedang dihadapan engkau itu ada huru hara tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jikalau engkau tidak beriman dengan kiyamat besar disebebkan bodoh dan sesat, maka apakah tidak mencukupi bagimu dalil kiyamat kecil ? Atau tidakkah engkau mendengar sabda Penghulu nabi-nabi SAW,”Kafaa bil mauti mau’idhan” mencukupilah kematian sebagai pemberi pelajaran. Atau tidakkah engkau mendengar susahnya Nabi SAW ketika akan wafat sehingga beliau berdo’a “Allahumma hawwin ‘ala Muhammad sakaraatil maut” yang artinya, “Yaa Allah mudahkanlah kepada Muhammad sakarat maut”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau tidakkah engkau malu dengan keterlambatanmu akan serangan maut karena mengikuti orang-orang lalai dan hina yang tiada yang mereka tunggu selain pekikan yang akan menyiksa mereka dan mereka berbantahan dengan sesamanya ? Mereka tiada berkesempatan menyampaikan pesan dan tiada pula dapat kembali kepada keluarganya. Maka datanglah sakit kepada mereka yang memperingatkan kepada mati, tetapi mereka tidak memperoleh peringatan daripadanya. Dan datanglah kepada mereka itu ketuaan sebagai utusan dari kematian. Maka tidakkah mereka mengambil ibarat daripadanya ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah ruginya hamba yang datang rasul kepadanya lalu mereka memperolok-olok rasul itu. Apakah mereka menyangka bahwa mereka akan kekal di aunia ?, atau tidakkah mereka melihat berapa banyak yang telah Kami binasakan sebelum mereka, dari berabad-abad lamanya bahwa mereka itu tidak kembali kepadanya. Ataukah mereka menyangka bahwa orang-orang mati itu telah berjalan jauh dari mereka, lalu mereka itu dianggap tidak ada lagi ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah sekali-lagi demikian ! masing-masing dengan tanpa kecuali akan dihadapkan kepada Kami. Akan tetapi apa yang datang kepada mereka salah satu dari ayat-ayat Tuhannya lalu mereka itu berpaling daripadanya. Dan yang demikian itu karena Kami adakan tutup di hadapan dan dibelakang mereka, lalu mereka Kami tutup. Oleh karena itu mereka tiada juga mau percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang marilah kita kembali kepada yang dimaksud. Sesungguhnya semua yang tersebut itu adalah isyarat yang mengisyaratkan kepada hal-hal yang lebih tinggi dari ilmu muammalah. Maka kami terangkan bahwa telah jelas bahwa sabar itu adalah tetapnya penggerak agama untuk melawan penggerak hawa nafsu. Dan perlawanan ini termasuk ciri khas anak Adam, karena diwakilkan kepada mereka malaikat-malaikat yang mulia yang menuliskan amal perbuatan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua malaikat yang menuliskan amal anak Adam itu tidak menuliskan sesuatu dari anak-anak kecil dan orang gila karena telah kami sebutkan dahulu bahwa kebaikan itu adalah pada menghadapkan diri untuk mengambil faedah daripada keduanya (malaikat). Dan kejahatan itu ada pada berpaling dari keduanya (malaikat). Bagi anak-anak kecil dan orang-orang gila , maka tiada jalan bagi mereka untuk mengambil faedah tersebut. Maka tiadalah tergambar dari anak kecil dan orang gila itu untuk menghadap dan berpaling. Dan kedua malaikat penulis amal itu tiada menulis selain menghadap atau berpaling dari orang-orang yang mampu kepada menghadap dan berpaling itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi umurku, sesungguhnya telah nampak tanda-tanda permulaan kecemerlangan sinar petunjuk ketika tiba pada usia tamzis (usia yang telah dapat untuk membedakan antara bahaya dan manfaat). Tanda kecemerlangan itu tumbuh dan berangsur-angsur sampai kepada tahun datangnya dewasa (baligh). Sebagaimana menampak sinar pagi sampai kepada terbitnya bundaran matahari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi itu adalah petunjuk yang singkat, yang tiada menunjukkan kepada hal-hal yang mendatangkan melarat di akhirat, akan tetapi pada hal-hal yang mendatangkan melarat di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itulah seorang anak akan dipukul karena meninggalkan shalat seketika itu juga dan ia tidak disiksa karena meninggalkan shalat itu kelak di akhirat, dan pula tidak dituliskan pada lembaran-lembaran amal yang akan ditebarkan di akhirat. Akan tetapi menjadi tanggung jawab yang mengurus anak itu yang adil dan walinya yang baik yang penuh belas kasihan kalau ia termasuk orang-orang yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ini adalah sikap dari para malaikat yang mulia, yang selalu menulis amal, yang berbuat baik lagi pilihan, bahwa dituliskan bagi anak kecil itu akan kejahatan dan kebaikannya di atas lembaran hatinya. Lalu dituliskan kepadanya dengan pemeliharaan. Kemudian disiarkan kepadanya dengan memperkenalkan, kemudian ia dihukum dengan pemukulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka setiap wali anak kecil yang demikian sikapnya terhadap anak kecil itu, maka sesungguhnya ia telah mewarisi sikap para malaikat, dan ia mengaplikasikanya terhadap anak kecil itu. Maka dengan demikian, ia akan memperoleh derajat kedekatan dengan Tuhan semesta alam sebagaimana yang diperoleh para malaikat. Maka Wali tersebut bersama nabi-nabi, orang-orang yang dekat dengan Allah (Al-Muqarrabiin) dan orang-orang yang membenarkan agama (Shidiqiin).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada itulah diisyaratkan dengan sabda Nabi Muhammad SAW “Anaa wakaafilul yatiim kahaataini fil jannah” Artinya, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim adalah seperti dua ini di surga”. Nabi SAW mengisyaratkan kepada dua anak jarinya SAW yang mulia.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;By &lt;a href=&quot;http://keutamaan-takut.blogspot.com/2008/04/penjelasan-hakikat-sabar-dan-maknanya.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Imam Ghozali&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/penjelasan-hakikat-sabar-dan-maknanya.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-7976032991958560666</guid><pubDate>Sat, 10 Oct 2009 23:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T16:17:31.429-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Obat Harap dan Jalan kepada Harap</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Penjelasan tentang obat harap, dan jalan yang menghasilkan dari keadaan harap dan menguatkan pada harap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah bahwasanya obat harap ini yang membutuhkannya adalah salah satu dari dua macam orang yaitu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. diperuntukkan bagi seseorang yang telah bersangatan keputus asaaannya dari rahmat Allah sehinga menyebabkan ia meninggalkan ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Diperuntukkan bagi oraang yang bersangatan rasa takutnya kepada Allah dan membuat ia berlebih-lebihan dalam beribadah sehingga dapat merusakkan keadaan dirinya dan keluarganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua macam orang tersebut termasuk orang yang menyimpang dari keseimbangan mengarah pada penyia-nyiaan keadaan dirinya. Maka mereka berdua membutuhkan obat untuk menghilangkan mengembalikannya pada keadaan seimbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun bagi orang yang bermaksiyat, yang tergelincir dan berangan-angan akan rahmat Allah sedang ia berpaling dari beribadah kepadaNya dan terus berbuat maksiyat, maka obat berupa harap akan berubah menjadi racun yang mematikan, seperti jua keadaannya bagaikan madu yang berguna untuk menyembuhkan penyakit yang mengerasi baginya dingin, maka ia / madu tersebut akan menjadi racun yang merusakkan bagi orang yang mengerasi baginya akan panasnya keadaannya. Bahkan orang yang tertipu tiada menggunakan untuk dirinya selain obat-obat takut dan sebab-sebab yang membangkitkan ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka karena itulah harus ada orang yang memberi nasihat kepada orang banyak, yang lemah-lembut, yang memperhatikan kepada sebab-sebab terjadinya penyakit, yang memberi obat kepada setiap penyakit dengan sesuatu yang melawannya, tidak dengan menambah penyakit itu-dengan racunnya. Sesungguhnya yang idcari adalah –keseimbangan atau sederhana dalam sifat dan akhlak. Dan sebaik-baik perkara adalah yang di tengah-tengah (sedang/seimbang). Maka apabila melampaii dari keseimbangan yang di tengah-tengah ke salah satu tepi, niscaya harus diobati dengan mengembalikannya kepada keadaan di tengah, tidak dengan sesujatu menambah kecondongannya dariposisi di tengah-tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zaman sekarang ini adalah zaman yang tidak seyognyanya dipakaikan sebab-sebab harap ke hadapan orang banyak. Akan tetapi perlu sekali kepada sesuatu yang menakutkan juga, agar mengembalikan mereka kepada kebenaran yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun mengutarakan sebab-sebab harap, maka yang demikian ini akan membinasakan mereka dan menjatuhkan mereka secara keseluruhan ke dalam jurang. Apabila sebab-sebab harap itu lebih meresuk ke dalam hati dan lezat di rasa, dan tidaklah maksud dari pemberi nasihat selain untuk menarik mereka dan menuturkan kepada orang banyak dengan pujian di manapun mereka berada, niscaya mereka akan cenderung kepada harap sehingga bertambahlah kerusakan itu. Dan bertambahlah kejerumusan mereka dalam kedurhakaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aliali ra. Berkata,” sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang tidak mendatangkan keputus asaan kepada manusia dari rahmat Allah, dan tidak menjamin keamanan mereka dari ujian Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami akan menyebtkan sebab-sebab harap agar dapat digunakan bagi orang yang putus asa. Atau pada orang yang disangatkan oleh adanya ketakutan, karena mengikuti kitab Allah Ta’ala dan sunah Rasul SAW, karena pada keduanya ini melengkapi akan takut dan harap. Juga karena keduanya mengumpulkan sebab-sebab yang menyembuhkan terhadap jenis-jenis orang sakit. Agar yang demikian ini dipakain oleh para ulama, yang menjadi pewaris para Nabi, menurut kebtuhan, sebagaimana yang dipakai oleh para dokter yang ahli, tidak sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang dungu yang menyangka bahwa setiap penyakit obatnya sama bagaimanapun keadaan penyakit itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi harap akan menguat dengan dua hal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama dengan jalan mengambil ibarat (i’tibar)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua dengan penyelidikan ayat-ayat, hadits dan atsar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun dengan jalan i’tibar yaitu dengan memperhatikan semua yang disebutkan tentang jenis-jenis nikmat pada kitab Syukur. Sehingga ia tahu akan nikmat yang halus-halus dari nikmat Allah yang diberikan kepada hambaNya di dunia. Dan keajaiban-keajaiban hikmaNya yang dipeliharaNya pada penciptaan insan. Sehingga tersedialah bagi insan segala yang penting baginya untuk kelangsungannya hidup di dunia, seperti alat-alat makanan dan apa yang diperlukan seperti anak jari dan kuku. Dan yang menjadi hiasanbaginya seperti lengkungan alis, berlainannya warna bola mata, merahnya kedua bibir dengan tidak sumbing padanya –bibir- tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dengan bantuan ke-Tuhan-an, apabila tidak berhenti dari hamba-hambaNya pada contoh yang halus tersebut, sehingga Ia tidak ridho bagi hambanya bahwa akan hilang dari mereka kelebihan-kelebihan dan tambahan-tambahan pada hiasan dan hajat keperluan, maka bagaimana Ia ridho mereka dibawa kepada kebinasaan yang abadi ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan apabila insan memeperhatikan dengan perhatian yang menyenangkan, maka akna tahulah ia bahwa kebanyakan makhluk telah disiapkan untuknya sebab-sebab kebahagiaannya di dunia. Sehingga ia tidak suka berpindah dari dunia itu dengan kematian, walaupun diberitahukan kepadanya bahwa tiadalah ia akna di azab sesudah kematian selama-lamanya umpamanya. Atau sekali-kali tiada dibangkitkan setelah kematian itu. Maka kebencian mereka itu bukanlah karena tidak lagi mereka di dunia, melainkan kaena sebab-sebab kenikmatan yang membanyak. Dan sesungguhnya yang mengangan-angan akan kematian itu tidaklah banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi keadaan kebanyakan makhluk di dunia itu yang banyak kepadanya adalah keadaan baik dan selamat. Dan tidak engkau jumpai dalam sunnah allah suatu pergantian. Maka dalam hal urusan akhirat akan begitu juga keadaannya, karena yang mengatur dunia dan akhirat itu hanyalah Satu , yaitu Yang Maha Pengampun, Yag Maha Pengasih, Maha kasih Sayang kepada hamba-hambaNya, yang Maha belas Kasih kepada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka apabila diperhatikan dengan sebenar-benarnya, maka akan menjadi kuatlah sebab-sebab harap. Dan juga dari i’tibar dapat diperhatikan tentang hikmah syariat dan sunah-sunahNya, tentang kemuslihatan dunia dan dair segi rahmat bagi seluruh hambaNya. Sehingga sebagian ‘Arifiin melihat ayat tentang utang piutang pada surah Al Baqarah adalah diantara sebab-sebab harap yang terkuat. Maka ditanyaken kepada orang ‘Arifiin tersebut, “apakah yang ada padanya-ayat tersebut- itu harap ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menjawab, “Dunia semuanya itu sedikit, Rizki insan padanya sedikit. Adn hutang itu lebih sedikit daripada rizkinya”. Maka perhatikanlah bagaimana Allah menurunkan ayat terpanjang supaya hambanya mendapat petunjuk kepada jalan menjaga diri dalam menjaga agamanya. Maka bagaimana ia tidak menjaga agamanya yang tiada tukaran baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua : penyelidikan dari ayat-ayat dan hadits-hadits. Maka ayat dan hadits yang menerangkan tentang harap itu tak terhingga banyaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun ayat-ayat yang menerangkan diantaranya adalah Firmn Allah yang berbunyi :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Qul Yaa Ibaadiyalladziina asrafuu ‘alaa anfusihim Laa taqnuthuu min rahmatiLlaahi InnaLlooha yaghfirudzzunuuba jamii’aa, InnaHuu Huwal Ghafuururrahiin” (QS. Azzumar53)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang artinya, “Katakanlah wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas dalam mencelakakan diri sendiri, janganlah kau sekalian putus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa, dan sesungguhnya Dia adalah Maha memberi ampun dan Maha Pengasih”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut pembacaan RasuluLlah SAW adalah : “Walaa yubalii InnaHuu Huwal Ghafuururrahiim”, yang artinya, “Dan tiada peduli bahwasanya Dia-Allah adalah Maha Memberi Maaf dan Maha Pengasih”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala berfirman, “Wal Malaaikatu yusabbihuuna bihamdi Robbihim wayastaghfiruuna liman fil ardhi”. Yang artinya, “Dan para malaikat itu bertasbih/memuji Tuhannya dan memintakan ampunan kepada penduduk bumi”. (QS. Asy-Syura 5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala menerangkan bahwa neraka itu disediakan bagi musuh-musuhNya dan neraka itu ditakutkanNya kepada para wali-waliNya. Allah berfirman, “lahun min fauqihim dhulalun minannaari wamin tahtihim dhulalun. Dzaalika yukhowwifuLlaahu bihii ‘ibaadaHu” yang atinya, “dan bagi mereka ada naungan api dari atas mereka demikian juga dari bawah mereka-(ada api). Dengan Yang demikian itu Allah memberi ancaman kepada hambanya”. (QS. Az-Zumar 16)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala berfirman, “Wattaquunnaarollatii u’iddat lil kaafiriin” yang artinya, “dan takutlah kamu sekalian akan neraka yang disediakan bagi orang-orang yang ingkar”. (QS. Ali Imran 31)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Allah Ta’ala berfirman, “Fa andzarTukum naaron taladhdhoo, laa yashlaahaa illal asyqalladzii kadzaba watawalla”. Yang artinya, “sebab itu Aku memperingatkanmu dari api yang emnyala-nyala. Tidaklah masuk ke dalamnya selain orang-orang yang celaka, yaitu orang yang mendustakan-kebenaran- dan membelakang. (QS. Al-Lail 14-16)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Azza waJalla berfirman, “Wa inna Robbaka ladzuu maghfirotin linnaasi ‘alaa dhulmihim” yang artinya, “dan sesungguhnya Tuhanmu memiliki ampunan bagi manusia atas perbiatan aniayanya”. (QS. Ar-Ra’d 6)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa Nabi SAW senantiasa menanyakan tentang ummatnya. Sehingga dikatakan kepadanya SAW, “Apakah engKau tidak ridho dan telah diturunkan kepada engKau ayat ini, “Wa inna Robbaka ladzuu maghfirotin linnaasi ‘alaa dhulmihim”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tentang penafsiran firman Allah Ta’ala “walasaufa yu’thiiKa RobbuKa fatardho” yang artinya”Dan nanti Tuhanmu akan memberikan kepadamu, maka engKau akan bersenang hati / ridho”. (QS. Adh-Dhuha 5) Bahwa kata Ibnu Abbas, bahwasanya RasuluLlah SAW tiada senang seorangpun dari umatnya masuk neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah Abu Ja’far Muhammad bin Ali mengatakan, “Tuan-tuan penduduk Iraq mengatakan, ‘Ayat yang paling mengandung harapan dari kitab Allah adalah firmanNya “Qul Yaa Ibaadiyalladziina asrafuu ‘alaa anfusihim Laa taqnuthuu min rahmatiLlaahi InnaLlooha yaghfirudzzunuuba jamii’aa, InnaHuu Huwal Ghafuururrahiin” (QS. Azzumar53)- di atas sudah ada.terjemahannya. Dan kami keluarga RasuluLlah SAW mengatakan yang paling mengandung harapan adalah firmanNya ” walasaufa yu’thiiKa RobbuKa fatardho” yang artinya”Dan nanti Tuhanmu akan memberikan kepadamu, maka engKau akan bersenang hati / ridho”. (QS. Adh-Dhuha 5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun hadits, maka diriwayatkan dari Abu Musa dari NabiSAW bahwasanya beliau bersabda, “Ummatyy Ummatun marhuumah laa ‘adzaaba ‘alaihaa fil aakhirah ‘ajjalaLlaahu ‘iqaabahaa fiddunyaa – al zalaazila wal fatana . faidzaa kaana yaumul kiyaamah dufi’a olaa kulli rojulin min ummaty, rajulun ,im ahlil kitaabi faqiila, ‘hadzaa fidaa’uka minannaar”’. Yang artinya, “UmatKu adalah umat yang diberikah rahmat. Tidak ada adzab bagi mereka di akhirat. Allah akan mnenyegerakan siksanya di dunia dengan gempa bumi dan kekacauan/beberapa fitnah. Maka apabila hari kiyamat nanti niscaya akan ditolakkan pada setiap orang dari umatKu akan seorang dari ahli kitab (yahudi dan nasrani) lalu dikatakan,’ ini adalah tebusan engkau dari api neraka”’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut susunan kata yang lain ialah, “Ya’ti kullu rojulin min hadzihil ummah biyahuudiyyin au nashrooniyyin ilaa jahannama fayaquulu, ‘hadzaa fidaa’iy minannaari fayulqaa fiihaa’”. Yang artinya, “Setiap orang dri umat ini akan dtang dengan seorang yahudi atau nasrani ke neraka jahanam, lalu ia berkata, ‘inilah tebusanku dari api neraka’, maka orang yahudi atau nasrani itu dicampakkan ke dalam api neraka”’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW bersabda, “Al humma min faihij jahannam wahiya hadhul mu’mini minannaar”. Yanga artinya, “Demam itu dari panasnya jahannam, dan itu adalah keuntungan orang beriman dari api neraka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan tentang penafsiran firman Allah Ta’ala, ”Yauma laa yukhziiLlaahuNnabiyya walladziina Aamanuu” yang artinya, “Pada hari dimana Allah tiada menghinakan Nabi dan orang-orang beriman yang bersama Dia”. (QS. At-Tahrim 8) bahwa Allah Ta’ala menurunkan wahyunya kepada Nabi SAW, “bahwa Aku jadikan perhitungan amal ummat Engkau kepada Engkau SAW”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW menjawab, “Tidak wahai Tuuhanku, Engkau lebih mengasihani mereka daripadaku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Allah Ta’ala berfirman, “Jdai, Kami tidak akan memberikan kehinaan akan Engkau mengenai mereka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diirwayatkan dari Anas bin Malik bahwa RasuluLlah SAW menanyakan Tuhannya tentang dosa-dosa umatnya, maka Nabi bersabda, “Yaa Robbij’al hisaabuhum ilaYya li’allaa yattholi’a ‘alaa masaawihim ghairYi”. Yang artinya, “Yaa allah jadikanlah hisab mereka kepadaku, supaya tidak terlihat keburukan mereka, selain aku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi SAW, “Mereka itu umatmu dan mereka itu hamba-hambaKu. Aku lebih sayang kepada mereka daripada engkau. Aku tidak akan menjadikanperhitungan amal mereka kepada selainKu. Agar tidak dilihat oleh engkau dan selain engkau kepada keburukan mereka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW berasbda, “HayaatY khoirullakkum wamautY khoirullakum. Ammaa hayatY fa Asunnu lakum sunana wa Usyarri’u lakumussyaraai’a. Wa ammaa mautY fainna a’maalakum tu’radhu alaYya famaa ra aiTu minhaa hasanan hamidTuLlaaha ‘alaihi, wamaa ra aiTu minhaa sayyian istaghfarTuLlaaha Ta’alalakum”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang artinya, “HidupKu adalah kebaikan bagi kamu sekalian. Dan matiKu juga kebaikan bagi kamu. Adapun dengan hidupKu, maka aku sunnahkan bagi kamu sunnah-sunnah dan aku syari’atkan bagi kamu beberapa syari’at (hukum agama). Adapun matiKu, maka semua amalmu dihadapkan kepadaku. Maka apa yang aku lihat dari amal itu suatu kebajikan, maka aku memuji Allah sebab yang demikian. Dan apa yang aku lihat itu sesuatu yang buruk, maka aku memohonkan ampun kepada Allah bagi kamu sekalian”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari Nabi SAW mengucapkan, “Yaa Kariimal ‘afwi” Yang artinya, “Wahai Dzaat Yang Maha Memberi ma’af”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Jibril AS bertanya, “adakah Engkau tahu apa penafsiran Yaa Karimal ‘Afwi ?”Yaitu jikalau Iamemaafkan dari kejahatan-kejahatan dengan rahmatNya, niscaya digantikanNya kejahatan itu dengan kebaikan, dengan kemurahanNya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW mendengar seseorang berdo’a, “Wahai Allah Tuhanku, aku bermohon kepadaMu kesempurnaan ni’mat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Nabi bersabda, “Hal tadry maa tamaamunni’mat” Artinya, “Apakah engkau tahu apa itu kesempurnaan ni’mat ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki itu menjawab, “Tidak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Nabi SAW bersabda, “Dukhuulul Jannah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, “masuk surga”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ulama berkata bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan ni’matnya kepada kita, dengan diridhoinya agama Islam sebagai agama kita, karena Allah telah berfirman, “Wa atmamTu ‘alaikum ni’maTy waradhiiTu lakumul Islaama diinaa” (QS. Al Maa’idah 3). Yang artinya, “dan telah Aku sempurnakan ni’matKu bagi kamu semua, dan Aku ridho Islam menjadi agamamu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disebutkan di dalam hadits, “Idzaa adznabal ‘abdu dzanban fastaghfaraLlaaha, yaquuluLlaaha ‘AzzawaJalla slimalaaikatiHi ‘undzuruu ilaa ‘abdy adznaba dzanban fa’alima anna lahu Rabban yaghfiruudzzunuuba waya’khudzu bidzzanbi –Usyhiduukum AnNy qad ghafartu lahu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang artinya, “apabila seorang hamba melakukan dosa, kemudian meminta ampun kepada Allah, maka Allah Azza waJalla berfirman kepada malaikatNya, lihatlah kepada hambaKu yang melakukan perbuatan dosa, dan ia mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat menerima taubatnya dan menuntutdosa itu. Maka Aku persaksikan kepada kamu sekalian, bahwa Aku tlah mengampuni dosanya”,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Hadits disebutkan, “Lau Adznabal ‘abdu hatta tablugha dzunuubuhuu anaanassamaa’i, ghafarTuhaa lahu mastaghfaraaNy warojaaNyy”. Yang artinya, “Jika seorang hamba berdosa hingga sampai ke langit (banyaknya)maka Aku akan mengampuninya selama ia mau meminta ampun kepadaKu dan mengharapkan rahmatKu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Hadirts diterangkan, “Lau alqiyaNy ‘abDy biqiraabil ‘ardhi dzunuuban, laqaiTuhu biqiraabil ardhi maghfiratan”. Yang artinya, “Jika hambaKu menjumpaiKu dengan dosa sebesar bumi, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan sebesar bumi pula”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutkan dalam hadits, “Innal malaka layarfa’ul qalama ‘anil abdi idzaa adznaba sitta saa’atin, fa in taba wastahgfara lam yaktubhu ‘alaihi, wa illa katabahaa sayyi’atan”. Yang artinya, “Sesungguhnya malaikat mengangkat pena dari hamba apabila ia melakukan perbuatan dosa enam jam. Maka jika ia betobat dan meminta ampun niscaya malaikat itu tidak menuliskannya. Dan jikalau tidak maka malaikat itu menuliskannya sebagai kejahatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada kata-kata yang lain yang artinya, “Maka apabila malaikat itu menuliskannya atas orang itu dan orag etrsebut berbuat baik, niscaya malaikat yang disebelah kanan mengatakan kepada yang di sebelah kiri dimana malaikat yang sebelah kanan itu sebagai amir atas malaikat yang sebelah kiri. “campakkanlah kejahatan itu, sehaingga aku jumpai dari kebaikannya ituy satu dengan penggandaan sepuluh. Dan aku angkatkan baginya akan sembilan kebaikan’. Maka dicampakkanlah kejahatan itu dari padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA. Bahwa Nabi SAW bersabda, “Apabila hamba itu berbuat dosa, niscaya akan dituliskan atas diri hamba itu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian seorang arab desa bertanya, “dan jikalau ia bertobat ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW mnejawab, “niscaya dihapuslah dosa itu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arab desa bertanya lagi, “Jikalau diulanginya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW menjawab, “dituliskan lagi dosa atas orang itu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arab desa bertanya lagi,”Jikalau ia bertobat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW menjawab, “Akan dihapuskan dari halaman amalnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arab desa bertanya, “hingga kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW menjawab, “Sampai ia memohon ampun kepada Allah SWT dan bertobat keadanya. Sesunguhnya Allah tidak akan bosan memberi ampunan sampai hamba itu merasa bosan memohon ampun kepadaNya. Apabila hamba itu bercita-cita akan kebaikan, niscaya ditulis oleh malaikat yang di sebelah kanan sebagai kebaikan sebelum dikerjakannya. Maka bila niat tersebut dikerjakannya, maka akan ditulis sebagai sepuluh kebaikan. Kemudian dilipatkangandakan oleh Allah sampai tujuh ratus kali lipat. Kemudian apabila seorang hamba bercita-cita melakukan kejahatan, niscaya tidak dituliskannya.dan apabila kejahatan itu dikerjakan, niscaya dituliskan sebagai satu kejahatan. Dan apabila ditinggalkan, maka akan ditulis sebagai satu kebaikan. Dan dibelakangnya terdapat kebaikan dan kema’afan Allah Azza Wa Jalla”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang laki-laki datang kepada RasuluLlah SAW lalu berkata, “Wahai RasuluLlah sesungguhnya aku tidak berpuasa selain satu bulan. Tidak aku tambahkan daripadanya. Dan aku tidak mengerjakan salay selain hanya yang lima waktu dan tidak aku tambahkan. Dan tidak ada dari hartaku amalan untuk Allah baik dari sedekah, hajji dan amalan sunat. Dimanakah aku bila aku mati ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RasuluLLah SAW tersenyum dan berkata, “Ya..bersama aku apabila engkau nenjaga hati engkau dari dua perkara, : iri hati dan dengki”. Engkau menjaga lidah engkau dari dua perkara, : umpat dan dusta. Dan dua mata enkau dari dua perkara : memandfang ari apa yang diharamkan oleh Allah dan bahwasanya engkau mengejek orang islam dengan menggunakan mata itu. Engkau akan masuk surga bersama aku atas dua tapak tanganku yang ini”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits yang panjang yang diirwayatkan Anas bin Malik bahwa seorang arab desa bertanya, “Wahai RasuluLlah, siapa yang mengurus hitungan amal makhluk ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RasuluLlah SAW menjawab, “Allah Yang Maha suci dan Maha tinggi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arab desa bertanya lagi, “Dia sendiri ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RasuluLlah SAW menjawab, Ya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka arab desa tiu tersenyum. Lalu RasuluLlah SAW bertanya,”Mengapa engkau tertawa hai arab desa ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menjawab, “Sesungguhnya Yang Maha Pemurah itu apabila mentaqdirkan niscaya memaafkan. Dan apabila mengadakan hitungan amal niscaya penuh dengan kelapangan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu RasuluLlah SAW bersabda, “Benarlah arab desa ini. Ketahuilah kiranya bahwa tiada yang pemurah yang lebih pemurah dari Allah Ta’ala. Dia lah yang Maha pemurah dari orang-orang yang pemurah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Nabi SAW bersabda, “orang desa tersebut telah mengerti”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada hadis ini disebutkan pula, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memuliakan ka’bah dan mengagungkannya. Jikalau ada seoranag hamba yang merobohkannya batu demi batu, kemudian ia membakarnya, maka yang demikian ini belumlah sampai seperti doa orang yang merendahkan wali Allah dari para wali-wali Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang arab desa bertanya, “Siapakah para wali Allah itu ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW menjawab, “Semua orang mukmin adalah wali Allah Ta’ala. Apakah kamu belum mendengar firman Allah Ta’ala, ‘Allah itu wali bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang’”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan diterangkan pada sebagian hadits, “Orang mukmin itu lebih utama daripada Ka’bah”. “Orang Mukmin itu baik lagi suci “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang mukmin itu lebih mulia bagi Allah dari pada malaikat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan di dalah hadits diterangkan, “Allah Ta’ala sesungguhynya menciptakan neraka jahanam karena rasa kasih sayangNya yang dengan neraka tersebut Ia menggiring hambanya agar masuk ke dalam surga”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diterangkan dalam sebuah hadits, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menciptakan makhluk agar merreka berharap kepadaKu dan Aku tidak menciptakan mereka agar Aku mendapatkan keuntungan dari mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Hadits Abi Sa’id Al-Khudhry, dari Rasulillaahi SAW, “Allah Ta’ala tidak menjadikan sesuatu melainkan dijadikanNya apa yang dapat mengalahkannya. Dan dijadikanNya rahmatNya mengalahkan amarahNya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tersebut dalam hadits yang terkenal, “sesungguhnyaAllah Ta’ala menuliskan atas diriNya rahmat, sebelum Ia menjadikan makhluk. Sesungguhnya rahmatKu itu mengalahkan kemarahanKu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwaaytkan dari Mu’adz bin Jabbal RA, dan Anas bin Malik bahwa Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illaLlaah maka ia masuk surga”. “Dan barangsiapa yang akhir kalamnya Laa ilaaha illaLlah maka tidak akan tersentuh api neraka”. ”dan barang siapa yang berjumpa denagn Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu maka haram neraka baginya”. “Dan tidak akanmasuk kedalamnya orang yang di dalam hatinya ada sebutir biji dari iman”. “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dalam hadits diterangkan, “Jika saja orang kafir mengetahui luasnya rahmat Allah niscaya tiada seorangpun yang putus asa dari surgaNya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika Rasulillaahi SAW membaca firman Allah, “Dan sesungguhnya kegoncangan kiyamat adalah sesuatu yang sangat dahsyat”, Lalu beliau SAW bersabda, “Tahukah engkau hari apakah ini ?, ini adalah hari dimana dikatakan kepada Adam AS, Bangunlah dan carilah akan kecaria nerakan dari anak cucumu”. Maka Adam AS bertanya, berapa ?“. Maka dijawab, “dari seribu, maka yang 999 orang ke neraka dan seorang ke dalam surga”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kaum / sahabat penuh keheranan. Maka mereka itu menangis seharian dan mereka juga tidak mau berbuat maupun bekerja. Maka datanglah kepada mereka RasuluLlah SAW dan bersabda, “Mengapa kamu tidak mau bekerja ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka menjawab, “ Bagaimana kami akan beramal setelah mendengarkan berita yang demikian ini ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi bersabda, “berapa banyak kaumdalam umat-umat itu. Dimana Tawil, Tsaris, Ya’juj dan ma’juj, mereka adalah umat-umat yang tak terhingga banyaknya sehingga hanya Alah yang mengetahuinya. Sesungguhnya kamu semua di antara umat-umat tersebut hanyalah laksana sehelai rambut putih pada kulit sapi jantan yang hitam, dan seperti gurisan pada lengan kaki depan binatang kendaraan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka perhatikanlah bagaimana umat manusia dihalau dengan cemeti ketakutan dan dituntun dengan tali harapan kepada Allah Ta’ala. Manakala mereka digiring dengan cemeti ketakutan pada kali pertama, kemudian apabila mereka mulai melewati batas keseimbangan hingga sampai kepada rasa putus asa dari rahmat Allah, maka diberi obatlah mereka dengan obat harap dan mengembalikan mereka pada posisi seimbang. Dan poin yang terakhir tadi tidaklah bertentangan dengan poin pertama / takut , akan tetapi disebutkan pada permulaan apa yang dilihatnya menjadi sebab bagi kesembuhan. Dan disingkatkan pada yang demikian. Maka apabila mereka membutuhkan kepada pengobatan dengan jalan harap, niscaya disebutkan kesempurnaan urusan. Maka wajib bagi orang yang ahli memberi nasihat untuk mencontoh Pemimpin pemberi nasihat yaitu RasuluLlah SAW maka berlemah lembuh dalam mempergunakan berita /hadits tentang khouf atau masalah takut keapda Allah, dan harap, menurut kebutuhan setelah menelaah sakit-sakit bathiniah. Apabila hal ini tidak dijaga, maka kerusakan yang ditimbulkan bagi orang yang diberi nasihat akan lebih banyak dari pada perbaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam khabar disabdakan, “Jikalau kamu tidak berdosa, maka Allah akan menciptakan makhluk yang mana mereka melakukan dosa kemudian Allah memberi ampunan kepada mereka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dalam alfal yang lain, “Niscaya Allah akan pergi dari kamu dan datang kepada kaum yang lain yang melakukan dosa kemudian Allah mengampuni mereka sesungguhna Dia Dzat Yang Maha pemaaf dan Maha Pengasih”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits yang lain, “Jika kamu semua tidak memiliki dosa, maka Aku lebih khawatir akan sesuatu yang lebih buruk dari pada dosa”. Para ashabat bertanya, “Apakah itu ?”. RasuluLlah SAW bersabda, “Ujub”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan RasuluLlah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya sesungguhnya Allah lebih menyayangi hambaNya yang beriman daripada seorang ibu yang mengasihi anaknya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan di dalam hadits diterangkan, “Allah akan memberi ampun kelak di ahri kiyamat akan ampunan yang tiada terguris di hati seseorang. Sampai iblispun menyombongkan diri akan ampunan itu karena mengharap akan diperolehnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tersebut pada hadits, “sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki 100 rahmat, dimana disembunyikanNya rahmat yang 99 dan diperlihatkanNya rahmat yang satu di dunia, yang berdesak-desakanlah semua makhluk pada rahmat yang satu tersebut. Maka ibu kasih sayang kepada anaknya, dan berlemah lembutlah hewan kepada anaknya. Dan apabila telah datang hari kiyamat, maka Allah mengumpulkan rahmat yang satu ini kepada rahmat yang 99 kemudian dihamparkannya kepada makhlukNya. Dan setiap rahmat darnya adalah sebesar lapisan langit dan bumi”. Nabi SAW kemudian bersabda, “Maka tiada binasalah pada hari itu kecuali orang-orang yang binasa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diterangkan dalam sebuah hadits, “Tidak ada diantara kamu sekalian yang amalnya dapat memasukkannya ke dalam surga”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para sahabat bertanya, “Termasuk juga engkau Yaa RasuluLlah ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RasuluLlah SAW menjawab, “ Termasuk juga aku, selain bahwa aku diselubungkan oleh Allah dengan rahmatNya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan RasuluLlah SAW bersabda,”Beramalah kalian semua dan berilah kabar gembira. Dan ketahuilah bahwa seseorang tidak akan diselamatkan oleh amalnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya aku sembunyikan syafa’atku kepada orang-orang yangberbuat dosa besar dari umatku. Adakah engkau lihat syafa’at itu bagi orang-orang yang ta’at, yang taqwa saja ?, Tidak. Bahkan syafaat itu bagi orang-orang yang berlumuran dosa, yang mencampur adukkan antara dosa dan bukan dosa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
19/04/2007 0:26:30&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Nabi SAW bersabda, “Aku diutus membaw agama yang benar,yang penuh kelapangan/samhah, dan penuh kemudahan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan RasuluLlah SAW bersabda, “Aku senang agar diketahui oleh dua golongan ahli kitab bahwa di dalam agama kami adalah penuh kelapangan”. Dan masih menunjukkan makna yang demikian yaitu tentang keterkabulannya do’a orang mu’min pada do’anya, “Janganlah engkau bebankan kepada kami sesuatu yang berat” QS. AL Baqarah 276.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Allah Ta’ala telah berfirman, “dan meringankan beban mereka dan belenggu yang menyusahkan mereka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan telah meriwayatkan Muhammad bin Hanafiyah dari Aly RA sesungguhnya ia berkata, “ketika turun firman Allah Ta’ala. ‘Fashfahishafhassjamiil’ yang artinya ‘maka berimaaflah dengan pemberian ma’af yang baik’ , maka Nabi SAW bertanya, ‘Yaa Jibriil, apa itu Safhasjamiil ?. maka Jibril menjawab, ‘jika engkau memebri ma’af kepada orang yang menganiaya engkau, maka janganlah engkau mencelanya’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka RasuluLlah SAW bersabda, “Wahai Jibril, maka sesungguhnya Allah Ta’ala itu lebih pemurah dari pada Ia mencela orang yang dima’afkanNya’. Maka menangislah Jibril, dan menangislah Nabi SAW, maka Allah Ta’ala mengutus Mika’il Alaihissalam kepada keduanya dan berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan menyampaikan salam kepada kalian dan berfirman, “bagaimana Aku mencela orang yang telah Aku ma’afkan ?. yang demikian ini adalah sesuatu yang tidak menyerupai kemurahanKu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hadits yang menerangkan tentang raja’ atau harap banyak sekali dan tidak terbilang. Adapun atsar atau perkataan sahabat, maka telah berkata Aly KarramaLlaahu Wajhah,”Barang siapa yang berbuat dosa dan Allah menutupinya di dunia, maka Maha Mulia Allah jika Ia membukanya dosa tersebut di akhirat. Dan barang siapa yang berbuat dosa dan Allah telah membalasnya di dunia, maka Allah Ta’ala Maha Adil untuk mengulangi siksaan kepada hambaNya di akhirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Atsauri telah berkata, “Aku ridak suka jika dijadikan perhitungan amalku kepada kedua orang tuaku karena aku mengetahui sesungguhnya Al;ah Ta’ala lebih belas kasih terhadapku daripada keduanya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sebagian ulama salaf berkata, “Orang mu’min apabila berma’siyat kepada Allah Ta’ala maka Allah menutupinya dari penglihatan malaikat agar malaikat tidak melihatnya sehingga mereka dapat berdiri menjadi saksi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Muhammad bin Sha’b menulis surat kepada Aswad bin Salim dengan tulisannya sendiri, “Sesungguhnya seorang hamba apabila ia melampaui batas kepada dirinya sendiri kemudian ia mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a, ‘Wahai Tuhanku’ Maka malaikat menutup/mendindingkan suara hamba tersebut, demikian untuk yang ke dua kalinya dan ke tiga kalinya, apabila sudah sampai yang ke empat kali ia berdoa ‘wahai Tuhanku’, maka Allah Ta’ala berkata kepada para malaikatNya “Sampai kapan kalian menghalangi Aku dari suara hambaKu? Sesungguhnya hambaKu itu mengetahui bahwa baginya tidak ada Tuhan yang dapat mengampuni dosa selain Aku. Aku persaksikan kepada kalian sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah berkata Ibrahim bin Adham RA, suatu malam aku tidak berkesempatan melakukan tawaf karena hari itu turun hujan dan malam sangat gelap gulita. Maka berdirilah aku di multazam di sisi pintu Ka;bah. Aku berdo’a, “Wahai Tuhanku, peliharalah aku sehingga aku tidak bermaksiyat kepadaMu selamanya. Maka terdengarlah hatif / suara tanpa wujud dari dalam baituLlah, ‘Wahai Ibrahim engkau meminta pemeliharaan dariKu dan setiap hambaku meminta pemeliharaan dariKu. Jika Aku memelihara mereka, maka kepada siapa Aku memberikan karunia ? dan kepada siapa aku memberikan ampunan ?’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan AL-Hasan telah berkata, “Seandainya seorang mukmin tidak pernah melakukan dosa, niscaya ia akan terbang ke langit yang tinggi, akan tetapi Allah Ta’ala mencegahnya dengan dosa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan telah berkata Al-Junaid RA. “Jikalau nampaklah mata orang pemurah niscaya menghubungkanlah ia di antara orang jahat dengan orang yang berbuat baiik”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Malik bi Dinar telah bertemu dengan Abban, maka ia bekata kepadanya, Sudah berapa banyak engkau berbicara kepada manusia tentang keringanan/rukhshah ?”. Maka Aban menjawab, “Wahai Abu Yahya, sesungguhnya aku sangat mengharapkan jika engkau melihat kemaafan Allah di hari kiyamat akan apa yang engkau koyak dari pakaian engkau karena sangat gembiranya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan di dalam hadits Rabi’y bin Harasy dari saudaranya, dan sungguh ia termasuk sebaik-baik tabi’in. Dan ia / saudaranya itu termasuk oarng yang berkata-kata sesudah ia meninggal. Maka Rabi’y berkata “Ketika saudaraku meninggal maka ia ditutup dengan pakaiannyadan kami letakkan dia di atas keranda. Maka ia membukakan kain yang menutupinya dari arah wajahnya dan duduk lurus dan berkata, “sesungguhnya aku telah bertemu dengan Tuhanku Azza wa Jalla maka Ia menyambutku dengan penuh suka cita. Dan Tuhanku tidak marah. Dan aku melihat segala urusan sangatlah mudah dari pada apa yang kalian persangkakan, maka janganlah kamu lesu. Dan sesungguhnya RasuluLlah SAW melihatku demikian pula para sahabat beliau hingga aku kembali kepada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rabi’y meneruskan ceritanya, “Kemudian ia (saudaraku) mencampakkan dirinya seakan akan seperti sebuah batu yang jatuh pada tempat cuci tangan, maka kami pikul ia dan kami kebumikan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tersebut di dalam hadits, “Sesungguhnya ada dua orang laki-laki dari bani Israel mengikat persaudaraan karena Allah Ta’ala. Maka salah satu dari keduanya adalah termasuk orang yang menganiaya diri sendiri dengan ma’siyat dan yang satunya lagi adalah ahli ibadah, dan ia menasehatinya dan menghardiknya pula. maka ia berkata kepada temannya yang menghardiknya, “tinggalkanlah aku. Demi Tuhanku, apakah engkau diutus untuk memata-matai aku? hingga pada suatu hari ia mendapat temannya yang ahli ma’siyat sedang melakukan dosa besar maka marahlah ia dan berkata, “Allah tidak akan mengampunimu”. Maka dijawabnya, “Kelak Allah pada hari kiyamat akan berkata ‘Adakah seseorang mampu mencegah rahmatKu atas hambaKu ? pergilah kamu dan sungguh Aku telah mengampuni kamu. Kemudian Allah berkata kepada yang ahli ibadah, ‘dan untukmu, sungguh engkau telah mengharuskan bagi dirimu neraka’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh ia telah berbicara dengan perkataan yang membinasakan dunianya dan akhiratnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan diriwayatkan pula sesungguhnya ada pencuri pada masa bani Israil, dan ia tealh merampok selama empat puluh tahun. Maka lewatlah Nabi Isa AS sedangkan dibelakang beliau ada pula seorang ahli ibadah di kalangan bani Israel dari golongan hawariyyin, Maka berkatalah pencuri itu dalam hatinya, “Ini adalah Nabi Allah dan di samping beliau ada sahabatnya yang ahli ibadah. Jika aku turun bersama mereka, maka aku menjadi ketiganya dari mereka. Maka turunlah pencuri tersebut dan hendak menggabungkan diri dengan mendekati sang hawariyyin dengan cara menghina dirinya sendiri dan memuliakan sang hawariyyin dengan berkata pada dirinya sendiri, ‘orang sepertiku tidaklah pantas berjalan berdampingan dengan orang yang ahli ibadah ini’. Dan sang hawariyyin merasa sesuatu dalam dirinya dan ia berkata dalam hatinya, ‘orang jelek ini berjalan disampingku….Maka ia merapatkan dirinya dengan Nabi Isa AS dan berjalan disamping Nabi Isa AS sedangkan si pencuri tetap berjalan di belakangnya. Maka Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada Nabi Isa AS, “Katakan kepada keduanya agar mereka mengulang semua amal mereka karena sesungguhnya telah terhapuslah semua amal mereka sebelumnya. Adapun hawariyyin telah terhapuslah amal baiknya disebabkan ia ujub kepada dirinya sendiri. dan adapun yang satunya lagi, juga telah terhapuslah keburukannya disebabkan ia telah menghinakan dirinya sendiri”. Maka Nabi Isa AS mengabarkan kepada keduanya hal akan tersebut dan pencuri itu menggabungkan diri dengan beliau AS dan dijadikannya menjadi sahabatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan diriwayatkan dari Masruq sesungguhnya ada seorang Nabi diantara para Nabi AS sedang bersujud. Kemudian seorang ahli maksiyat menginjak lehernya dan lengketlah antara batu dengan dahinya. Maka Nabi AS tersebut mengangkat kepala beliau seraya marah dan berkata, ‘Pergilah, Allah tidak akan mengampunimu’. Maka Allah menurunkan wahyu kepadanya “Engkau telah bersumpah atasKu pada hambaku, sesungguhnya Aku telah mengampuninya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan mendekati dari yang demikian, apa yang diriwayatkan oleh Ibni Abbas RA, “Sesungguhnya RasuluLlah SAW berdo’a untuk orang-orang musyrik dan melaknatin mereka di dalam shalat beliau SAW. Maka turunlah kepada beliau firman Allah Ta’ala, ‘Laisa laka minal amri syai-un, au yatuuba ‘alaihim au yu’adzzibahum Yang artinya, “Tiadalah engkau mempunyai kepentingan dalam perkara itu sedikitpun , Allah menerima taubat mereka atau menyiksa mereka (QS. Ali Imran 128). Kemudian Beliau SAW meninggalkan tidak berdo’a untuk mereka dan Allah telah memberikan hidayahNya kepada kebanyakan mereka dengan agama Islam”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dalam sebuah atsar, bahwasanya ada dua orang yang sama-sama ahli ibadah dan satu level ibadahnya. Maka apabila keduanya telah dimasukkan surga, diangkatlah salah satu dari keduanya kepada derajat yang tinggi mengalahkan temannya yang satu lagi. Maka berkatalah ahli ibadah yang satunya, “Wahai Tuhanku, tidaklah dia di dunia lebih banyak ibadahnya dari pada aku.sehingga engkau tinggikan derajadnya di surga dari pada aku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Allah berfirman, “Sesungguhnya ia meminta kepadaku derajat yang tinggi di surga sedangkan engkau memintaku agar engkau selamat dari api neraka. Maka Aku berikan kepada setiap hamba akan apa yang ia minta kaepdaKu. Dan yang demikian ini menunjukkan bahwasanya beribadah atas dasar harap itu lebih utama daripada beribadah atas dasar takut / khouf, karena sesungguhnya kecintaan itu lebih keras bagi orang yang berharap daripada orang yang takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka berapa banyak perbedaannya pada raja-raja antara orang yang melayani karena takut akan siksanya dan antara orang yang melayaninya karena mengharapkan kebaikan dari raja dan kemurahannya. Karena itu Allah Ta’ala memerintahkan untuk selalu berperasanka baik , dank arena demikian maka RasuluLlah SAW bersabda, “SaluuLlaahad darajaatil ‘ulaa fa innamaa tas’aluuna kariimaa” yang artinya , “mintalah kepada Allah derajad yang tinggi karena sesungguhnya engkau meminta kepada Zat Yang Maha pemurah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan bersabda, “idzaa sa-altumuLlaaha fa-a’dhimuurraghbata was aluul firdausai a’laa fa-innalLaaha Ta’ala laa yata’adhamuHu syai-un”. Yang artinya “Apabila kamu semua meminta kepada Allah maka besarkanlah keinginan dan mintalah surga firdaus yang tertinggi, karena sesungguhnya Allah Ta’ala tiadalah sesuatu yang besar bagiNya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan telah berkata Bakr bin Salim Ash-Shawaaf, “Kami memasuki rumah Malik bin Anas pada waktu sore hari dimana ia wafat pada sore itu. Maka kami bertanya, ‘Wahai aba AbdilLah, bagaimana engkau mendapati dirimu ?’. Ia menjawab, ‘aku tidak tahu, apa yang aku katakan kepadamu selain engkau akan melihat dari kemaafan Allah apa yang tidak ada bagimu pada penghitungan amal (hisab)”. Kemudian kami tetap di situ hingga kami tidak mengetahui lagi maksud perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah berkata Yahya bin Mu’adz di dalam munajahnya, “Harapku kepadaMu dalam kesalahanku, hampir mengalahkan harapanku kepadaMu dalam ta’atku. Karena sesungguhnya aku berpegangan dalam amal dengan ikhlash, dan bagaimana pula aku dapat menjaganya ? sedangkan aku berada dalam bahaya. Dan aku mendapati diriku ketika berdosa, maka aku berpegangan kepada kema’afanMu. Maka bagaimana Engkau tidak mema’afkanku sedangkan Engkau bersifat Maha Pemurah ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan bahwasanya ada seorang majusi bertamu kepada Ibrahim Al-Khalil AS, Maka beliau berkata, “Apabila kamu mau masuk Islam maka aku akan menjamu kamu sebagai tamu. Orang Majusi itu lalu pergi, kemudian Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim AS, ‘Engkau tidak memberi makan kepada majusi kecuali ia mau merobah agamanya. Dan Aku selalu memberinya makan selama 70 tahun dalam kekafirannya. Jika saja engkau menjamunya semalam, maka apa yang ada atas engkau ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka pergilah Nabi Ibrahim AS menyusul majusi itu dan memintanya kembali dan menerimanya sebagai tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Majusi itu bertanya kepada Nabi Ibrahim AS, “apa yang terjadi padamu akan semua ini ?.” Maka Nabi Ibrahim menceritakan semua kejadiannya. Maka berkatalah orang majusi, “apakah karena ini engkau menghubungiku ?. dan dilanjutkannya ,”kemukakanlah kepadaku tentang Islam”. Maka masuk islam lah majusi itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ustadz Abu Sahl Ash-Sha’luki Telah melihat Abu Sahl Az-Zujaji di dalam mimpi. Dan beliau Abu Sahl Az-Zujaji telah berkata tentang janji azab selama-lamanya. Lalu Abu Sahl Ash-Sha’luki bertanya, “bagai mana keadaanmu ?”. beliau menjawab, ‘kami mendapati urusan lebih mudah adripada yang kami perkirakan. Kemudian sebahagian dari mereka bermimpi bertemu dengan Abu Sahl Ash-Sha’luki dalam keadaan yang sangat bagus yang tidak dapat disifatkan. Maka ditanyakan kepada beliau, ‘wahai ustadz, dengan apa engkau memperoleh derajad ini ?’ maka dijawab, “dengan berbaik sangka kepada Tuhanku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikisahkan sesungguhnya Abul Abbas bin Suraij RA semoga Allah merahmati beliau bermimpi dalam sakit dimana beliau meninggal pada sakitnya itu, seakan kiyamat sudah terjadi. Tiba-tiba Allah Yang Maha Perkasa berfirman, “Dimanakah para Ulama ?”. Maka datanglah para Ulama, kemudian Allah berfirman, “Apa yang kamu amalkan dengan ilmumu ?”. kamipun menjawab, ‘Wahai TUhanku, kami teledor dan kami berbuat jahat’. Maka Allahpun mengulangi pertanyaan seakan Dia tidak berkenan dengan jawabantadi dan menghendaki jawaban yang lain. Maka aku menjawab, ‘ Adapun aku yaa Allah tiadalah terdapat pada catatan amalku sesuatu syirik dan sungguh Engkau telah berjanji bahwa Engkau akan mengampuni yang kurang dari itu. Maka Allah berfirman, “pergilah kalian semua dengan dia / Abul Abas dan telah Akuampuni kalian semua. Dan wafatlah Abul Abbas setelah tiga hari –darimimpi itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan adalah seorang laki-laki peminum khamr, mengumpulkan teman-temannya, dan memberikan 4 dirham kepada budaknya dan memerintahkannya untuk membelikan sesuatu dari buah-buahan untuk hidangan. Maka lewatlah budak tadi di pintu majli Manshur bin ‘Ammar, dan beliau meminta sesuatu untuk pafa fakir miskin, dengan berkata, “Barang siapayang memberinya uang 4 dirham, maka aku akan mendoakannya dengan 4 macam doa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya diceritakan, “maka budak tersebut menyerahkan uangnya yang 4 dirham , maka berkatalah Manshur,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang engkau inginkan agar aku mendo’akanmu ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang itu menjawab, “Aku mempunyai tuan, dan aku ingin agar aku terbebas/merdeka darinya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka berdoalah Manshur yang demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian bertanya lagi, “yang lain ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian budak itu berkata lagi, “Aku mohon dido’akan agar Allah SWT mengganti dirham-dirhamku. Lalu Manshur mendoakannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kemudian bertanya lagi “yang lain ?” Budak itu menjawab “Kiranya Allah mengampuniku dan juga tuanku dan juga engkau serta rombongan teman-temanku”. Maka berdoalah Manshur yang demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kembalilah budak tadi kepada tuannya maka tuannya bertanya “mengapa terlambat”. Maka budak ltu menceritakan kisah yang dialaminya di perjalanan dengan Manshur, dan tuannya bertanya, “apa yang engkau mohonkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BUdak itu menjawab, “Aku mohon agar aku terbebas / merdeka .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuannya berkata , “Pergilah sekarang engkau merdeka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuannya bertanya lagi,” dan apa permintaanmu yang ke dua ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budak itu menjawab, “Aku meminta agar Allah SWT mengganti dirham-dirhamku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuannya berkata, “Bagimu aku beri 4000 dirham.”. Tuannya bertanya lagi “ KEmudian apa permintaanmu yang ke tiga ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budak itu menjawab, Aku mohon agar Allah SWT membuat engkau mau bertobat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuan itu menjawab, “Sekarang aku bertobat kepada Allah SWT”. Tuannya bertanyalagi, “Kemudian apa permintaanmu yang ke empat ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budak itu mrenjawab, “Aku mohon agar Allah SWT mengampuniku dan engkau, dan teman-temanmu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuannya menjawab, “Yang satu ini tidak ada pada diriku “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ketika terrtidur malam itu, bermimpilah ia seakan – akan ada yang berkata kepadanya, “ Engkau telah berbuat apa yang ada padamu, apakah engkau akan melihat bahwa Aku tidak melakukan apa yang ada padaKu ? Sungguh telah Aku ampuni engkau, dan juga budak engkau , dan kepada Manshur ibnu ‘Ammar, dan juga teman-temanmu semua”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan diriwayatkan dari Abdul Wahab bin Abdul Hamid, Ats-Tsaqafi, berkata, “Aku melihat tiga orang laki-laki dan seorang perempuan sedang mengusung jenasah, maka aku ambil alih posisi wanita itu dan kami mengusungnya ke kuburan, dan kami menshalatkannya di sana kemudian kamu menguburkannya. Aku bertanya kepada wanita tadi, “Siapakah mayit ini dari pihak engkau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita itu mwnjawab, “Dia adalah anakku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanyan ,”Apakah engkau tidak memiliki tetangga ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita itu menjawab, “Aku mempunyai tetangga akan tetapi mereka semua meremehkan dia“.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya, “Mengapa demikian ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita itu menjawab, “Dia /a anakku adalah banci”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul Wahab meneruskan ceritanya, “Maka aku merasa kasihan kepadanya, selanjutnya aku ajaklah wanita itu ke rumahku, dan aku berikan beberapa dirham serta gandum dan beberapa helai kain. Pada malam harinya ketika tidur aku bermimpi, ada seseorang yang dating kepadaku, dimana wajahnya bersinar bak bulan purnama dengan mengenakan pakaian putih dan berterimakasih kepadaku. Maka aku bertanya, “Siapakah kamu ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab, “aku adalah banci yang telah engkau kuburkan. Tuhanku telah mengampuniku disebabkan karena manusia telah menghinaku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah berkata Ibrahim Al – Athruusyi “Suatu ketika kami duduk-duduk di Baghdad bersama Ma’ruuf Al-Kharqi RA di tepi sungai Dajlah, tiba-tiba lewatlah anak – anak muda dengan menaiki perahu dan menabuh rebana seraya minum khamr dan bersenang-senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang berkata kepada Ma’ruuf, “Bukankah engkau lihat mereka bermaksiyat kepada Allah SWT secara terang-terangan ? Maka berdo’alah bagi mereka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Syaikh Ma’ruuf Al-Kharqi mengangkat tangan beliau dan berdo’a, “Wahasi Tuhanku, sebagaimana Engkau gembirakan mereka di dunia, maka gembirakanlah mereka di akhirat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang bertanya kepada Syaikh Ma’ruuf, “Sesungguhnya kami memohon engkau agar engkau mendo’akan bagi kebinasaan mereka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Ma’ruuf menjawab, “jika Allah SWT memberikan mereka kebahagiaan di akhirat niscaya Allah SWT membuat mereka bertobat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sesungguhnya sebagian ulama salaf berkata dalam do’anya, “Wahai Tuhanku, penduduk mana yang tidak pernah bermaksiyat kepadaMu ? kemudian ni’matmu Engkau berikan kepada mereka ? dan rizki tetap Engkau edarkan kepada mereka ? Maha suci Engkau, alangkah kasihnya Engkau, Demi keagungan Engkau, sesungguhnya Engkau menghinggakan, kemudian Engkau menyempurnakan ni’mat dan engkau cuurahkan, dan Engkau peredarkan rizki. Seakakn-akan Engkau Wahai Tuhanku tiada akan marah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka demikian ini beberapa sebab yang menarik ruuh harap pada hati orang-orang tang takut dan putus asa. Adapun orang yang dungu dan tertipu, tidak seharusnya mendengarkan sesuatu dari semua ini (yang menarik harap) akan tetapi sebaiknya mendengarkan Inasihat yang dapat mengambalikannya kepada rasa takut karena sesungguhnya kebanyakan manusia tidak akan menjadi baikkecuali dengan pentakutan seperti budak yang buruk dan anak kecil yang jorok, tidak dapat berlaku benar kecuali dengan cambuk dan tongkat dan melahirkan kata-kata kotor. Adapun kebalikan dari yang demikian, maka akan menyumbat mereka pintu perbaikan pada agama dan dunia mereka.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;By &lt;a href=&quot;http://ihyaulumuddin.wordpress.com/2007/05/18/obat-harap-dan-jalan-kepada-harap/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Ashari&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/obat-harap-dan-jalan-kepada-harap.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-6158563103075364785</guid><pubDate>Sat, 10 Oct 2009 23:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-10T16:11:56.505-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Kajian Tasawuf</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam Al Ghazaly dalam bukunya yang berjudul Minhajul Abidin, mengatakan, bahwa Ilmu yang fardlu ain dituntut oleh seorang muslim adalah mencakup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 hal, yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ilmu Tauhid&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ilmu Syariat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ilmu Sir (Ilmu tentang hati)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tidaklah ilmu-ilmu itu semua dituntut untuk tujuan berargumentasi atau memberikan keyakinan kepada orang lain baik yang beragama Islam maupun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi ilmu tersebut fardlu ain untuk dituntut, yang berhubungan dengan untuk perubahan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Tauhid dan syariat, dikalangan ummat Islam sekarang ini demikian popular untuk dipelajari. Namun jarang sekali orang yang&amp;nbsp; mempelajari dan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengerti mengenai Ilmu Sir (Ilmu tentang hati).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas mungkin kita akan bertanya, untuk apakah belajar Ilmu tentang hati, atau macam manakah ilmu tentang hati tsb?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah SAW pernah bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dalam diri manusia ada segumpal darah. Yang apabila shalih (tidak rusak), maka akan shalih seluruhnya, tetapi apabila buruk maka akan buruk pula seluruhnya, itulah hati&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan di hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan : &quot; Sesungguhnya sebuah amal itu bergantung dari niatnya&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh, hal-hal ibadah syariat yang kita laksanakan sepanjang hari akan tidak mempunyai nilai, bila tidak disertai niat yang shalih...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan letak niat itu adalah di HATI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian besar fungsi hati, sehingga wajar saja bila Imam Al Ghazaly mengkatagorikan Ilmu ini menjadi ilmu yang fardlu ain untuk dituntut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikajian tasawuf, pembahasan tentang hati merupakan agenda utama. Hal ini sesungguhnya untuk penyelarasan dari Ilmu Tauhid dan Syariat, yang sebelumnya (oleh kebanyakan orang) telah dipelajari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah kata-kata hikmah (bagi sebagian ulama ini dikatakan sebagai hadits dari Rasulullah SAW) bahwa : &quot;Man &#39;Arofa Nafsahu faqod &#39;Arofa Rabbahu&quot;. &quot;Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal Tuhannya&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Ali. R.A mengatakan bahwa : &quot;Awwaluddina Ma&#39;rifatullah&quot;. &quot;Awalnya beragama adalah mengenal Allah&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga dapat dilihat hubungannya, bahwa Mengenal diri (An-Nafs) merupakan awal dari seorang beragama dengan haq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HATI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diri manusia dapat dilihat secara indrawi dengan perilaku dan perangai seseorang. Dan seorang berperilaku, seorang berperangai, merupakan cerminan dari HATI-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga untuk mengenal diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal Hati kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati itu terdapat 2 jenis :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Hati Jasmaniyah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati jenis ini bentuknya seperti buah shaunaubar. Hewan memilikinya, bahkan orang yang telah matipun memilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Hati Ruhaniyyah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati jenis inilah yang merasa, mengerti, dan mengetahui. Disebut pula hati latifah (yang halus) atau hati robbaniyyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kajian kita, yang dituju dengan kata HATI atau Qalb adalah hati jenis 2, hati Ruhaniyyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Hati inilah yang merupakan tempatnya Iman :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;... Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu ...&quot; (QS. 49:7)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;...karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, ...&quot;. (QS. 49:14)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;...Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka ...&quot; (QS. 58:22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan lebih dari itu, dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;...Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku tetapi yang cukup bagi-Ku hanyalah hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan : Apakah sebenarnya Iman (mukmin) itu ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahasan tentang Iman (mukmin) akan dibahas lebih lanjut dalam Subject NUR IMAN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dengan hatilah, seseorang dapat merasakan iman. Dengan hatilah seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kita beranjak jauh tentang hati, ada beberapa hal yang nantinya bersangkut paut dengan hati dan perlu kita jelaskan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebanyakan orang hanya mengerti bahwa manusia itu hanya terdiri jasad dan ruh. Mereka tidak mengerti bahwa sesungguhnya manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu : jasad, jiwa dan ruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang yang tidak mengerti tentang Jiwa ini. Bahkan dalam bukunya Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, &quot;bahkan ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red) banyak yang tidak mengerti hal ini&quot;. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly. Berapa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal jelas-jelas dalam Al Qur&#39;an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh (Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;JASAD&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jasad adalah anggota tubuh dari manusia. Seperti : tangan, kaki, mata, mulut, hidung, telinga, dan lain-lainnya. Bentuk dan keberadaannya dapat diindera oleh manusia. Hewanpun dapat menginderanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jasad inilah, timbulnya kecenderungan dan keinginan yang disebut SYAHWAT. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur&#39;an :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada syahwat, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik&quot;. (QS Ali Imran : 14)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;JIWA (An Nafs)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An-Nafs dalam kebanyakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, diartikan dengan Jiwa atau diri. Padahal sesungguhnya An-Nafs ini menunjuk kepada dua maksud, yaitu : hawa nafsu dan hakikat dari manusia itu sendiri (diri manusia).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Hawa Nafsu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafsu yang mengarah kepada sifat-sifat tercela pada manusia. Yang akan menyesatkan dan menjauh dari Allah. Inilah yang oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada diantara kedua lambungmu&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan aku tidaklah membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu suka menyuruh kepada yang buruk&quot;. (QS Yusuf : 53)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;... dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah...&quot;. (QS Shaad : 26)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Diri Manusia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diri manusia ini apabila tenang, jauh dari goncangan disebabkan pengaruh hawa nafsu dan syahwat, dinamakan Nafsu Muthmainnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu, merasa senang (kepada Tuhan) dan (Tuhan) merasa senang kepadanya&quot;. (QS Al Fajr : 27-28)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun diri manusia yang&amp;nbsp; tidak sempurna ketenangannya, yang mencela ketika teledor dari menyembah Tuhan, disebut Nafsu Lawwamah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat mencela kejahatan (Nafsu Lawwamah)&quot;. (QS Al Qiyamah : 2)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;RUH (Ar Ruh)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan Ruh, mempunyai dua arah. Sebagai nyawa dan sebagai suatu yang halus dari manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Nyawa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemberi nyawa bagi tubuh. Ibarat sebuah lampu yang menerangi ruangan. Ruh adalah lampu, ruangan adalah tubuh. Mana yang terkena cahaya lampu akan terlihat. Mana yang terkena ruh akan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Yang Halus dari Manusia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu yang merasa, mengerti dan mengetahui. Hal ini yang berhubungan dengan hati yang halus atau hati ruhaniyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Al Qur&#39;an, Allah SWT menggunakan kata Ruh dengan kata Ruhul Amin, Ruhul Awwal, dan Ruhul Qudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun maksud-maksud dari kata tersebut merujuk kepada keterangan yang berbeda-beda yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ruhul Amin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan ini adalah malaikat Jibril.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan sesungguhnya Al Qur&#39;an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin&quot;. (QS Asy-Syu&#39;araa&#39; : 192-193)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ruhul Awwal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan ini adalah nyawa atau sukma manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ruhul Qudus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksudkan dengan ini bukanlah malaikat Jibril, tetapi ruh yang datang dari Allah, yang menguatkan, menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katakanlah : &quot;Ruhul Qudus menurunkan Al Qur&#39;an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)&quot;. (QS An Nahl : 102)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;... dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran kepada Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus... &quot;. (QS Al Baqarah :87)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;...Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan ruh yang datang dari pada-Nya...&quot;. (QS Al Mujadillah : 22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan : Bahasan Mengenai Ruhul Qudus akan dibahas lebih jauh dalam Subject RUHUL QUDUS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kita mengetahui definisi-definisi atau penjelasan mengenai jasad, jiwa, dan ruh mungkin kita akan bertanya, lalu apa manfaatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;TENTARA HATI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati itu bagi seorang manusia, bagaikan raja dengan tentara-tentara berupa tentara zahir dan tentara bathin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika seorang berada dalam ancaman bahaya, maka orang tersebut untuk menolak atau melawan bahaya, memerlukan dua tentara tsb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentara batin : yaitu marah untuk melawan ancaman bahaya, tentara Zahir : yaitu tangan dan kaki untuk mengeluarkan langkah-langkah perlawanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula ketika seorang akan makan. Ia memerlukan dua tentara tsb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentara batin : Syahwat untuk makan, tentara zahir : tangan dan kaki untuk mengambil makanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sedang lapar bagaimanapun, bila hatinya mendiamkan syahwat (keinginan jasad) untuk makan dan tidak memerintahkan tangan dan kaki untuk mengambil makan, maka ia tidak akan melakukan pekerjaan makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itulah dikatakan HATI adalah Raja, bagi seluruh tubuh dan diri manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga perna penting Raja untuk mengarahkan kemana tubuh dan diri berjalan, sangat menentukan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HATI DI TIGA PERSIMPANGAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya Hati yang merupakan Raja ini, berada pada 3 persimpangan. seperti gambar dibawah ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ruhul Qudus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; /&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; /&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nafsu Muthmainnah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; /&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; /&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Syahwat&amp;nbsp; ---- HATI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; \&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; \&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hawa Nafsu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati berada dalam pengaruh Jasad (Syahwat), Hawa Nafsu, dan Nafsu Muthmainnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang manusia, yang membiarkan hatinya berada dalam dominasi Syahwat dan Hawa Nafsunya, maka akan menjadi orang yang tersesat. Yang lambat laun bisa tergelincir menjadi orang yang dimurkai Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hawa Nafsu itu melingkupi segala aspek.&amp;nbsp; Tidak diperbolehkan kita mengikuti hawa nafsu, dalam BERAGAMA sekalipun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak para aktivis dakwah, demikian bersemangatnya dalam berdakwah kadang kala terlena, tidak menyadari kalau dalam mengatur strategi dakwah, telah ditunggangi oleh Hawa Nafsunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak pula para alim-ulama, yang demikian bangga terhadap ilmu yang dipelajarinya, sehingga merasa pendapatnya adalah pendapat yang paling benar, dan selainnya (selain golongannya) adalah pendapat yang salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak disadari bahwa Hawa Nafsu telah merasuk dalam kemurnian beragamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kalaulah kita dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan Syahwat ini, maka Allah menjanjikan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka : &quot;Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu&quot;, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(QS. 4:66)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dalam ayat diatas, maksud bunuh diri adalah mengambil pisau lalu menghujamkannya ke perut? Atau mengambil racun lalu meminumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah kesalahan yang dapat terjadi bila kita tidak mengetahui arti yang sesungguhnya dari kata An-Nafs tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ini dalam Arabnya dipergunkan kata Anfus (Jamak dari An-Nafs).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila Al Qur&#39;an menggunakan An-Nafs dalam bentuk jamak, ini sesungguhnya merefer kepada Jiwa-jiwa yang banyak. Yaitu Hawa Nafsu. Karena bentuk Hawa Nafsu itu banyak. Seperti marah, sombong, ria, ujub, ingin dihormati, dsb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun bila An-Nafs ini dalam bentuk tunggal, maka sesungguhnya ia merefer kepada Jiwa yang tunggal yaitu Nafsu Muthmainnah. Karena memang Nafsu Muthmainnah ini tunggal. Dan ini merupakan Hakikat diri manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, bunuhlah dirimu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud : Keluar dari Dominasi Hawa Nafsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluar dari kampungmu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud : keluar dari kampung si Jiwa, yaitu Jasad. Atau keluar dari dominasi Syahwat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga, bila seorang dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan Syahwatnya, sesungguhnya Allah akan menguatkan iman mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun... Sangat sedikit sekali yang mau melaksanakan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hawa Nafsu dan Syahwat ini bukan dibunuh dan dihilangkan. Tetapi dikontrol oleh Nafsu Muthmainnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada saatnya hawa nafsu dan syahwat dikeluarkan, dan saat lain kembali dikekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. (QS. 79:40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:41)&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesalahpahaman pengartian An-Nafs juga berimplikasi kepada penafsiran yang kadang kala kurang tepat pada ayat-ayat seperti dibawah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;... Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. ... (QS. 4:95)&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang sering langsung mengarah kepada ayat-ayat sejenis diatas, berjihad dengan harta dan Jiwa (An-Nafs) adalah merupakan perang fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah memang demikian? Apakah Islam harus selalu perang sementara Islam adalah sebuah agama yang damai?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang betul, dalam kondisi yang mewajibkan kita berperang ayat ini merupakan perintah pula untuk berperang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dalam kondisi damai ada yang lebih berat dibandingkan dengan perang fisik, yaitu berjihad melawan syahwat dan hawa nafsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melakukan perang dan akan memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kita kembali dari jihad kecil kepada perjuangan besar&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Hadits riwayat Al Baihaqy dan Jabir, dalam hadits ini ada sanad yang lemah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlepas dari ke-dhoifan hadits diatas logikanya seperti ini :&amp;nbsp; Seorang manusia yang telah dapat melepaskan hatinya dari takut kehilangan harta, keluarga, jabatan, dsb, hanya seorang yang telah mampu melawan syahwat dan hawa nafsunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalaulah kita temukan orang yang seperti ini, niscaya dia tidak takut lagi mati. Niscaya dia tidak akan pernah mengelak dari perintah untuk berperang, bila kondisinya mewajibkannya untuk berperang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi orang yang hatinya masih takut kehilangan harta, pekerjaan, keluarga, jabatan, dsb. ia akan takut mati. Peperangan adalah sebuah hal yang sangat berat baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, dalam logika sederhana tersebut, akan tergambar, kalaupun hadits tsb dhoif dari sanadnya, namun secara ilmiah hal itu dapat dibenarkan dan secara mathan, tidak ada ayat Al Qur&#39;an yang bertentangan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam bahasan saya diatas, saya juga mencoba menunjukkan, bahwa tasawuf&amp;nbsp; yang bagi sebagian orang diidentikkan sebagai pola pendekatan Islam yang mengabaikan perintah untuk berperang adalah kurang tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berperang adalah suatu kewajiban apabila kondisinya mewajibkan untuk melakukannya. Namun bila masa damai bukan lantas mencari-cari supaya ada perang! Tetapi melakukan jihad yang lebih berat, yaitu melawan Hawa Nafsu dan Syahwat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Allah menjanjikan bagi mereka yang mampu melawan Hawa Nafsu dan Syahwatnya ini dengan menguatkan iman dan surga sebagai tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga kita termasuk kedalam golongan orang yang dikuatkan Allah untuk melawan dominasi syahwat dan hawa nafsu yang ada dalam diri kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;NAFSU MUTHMAINNAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang yang hatinya telah didominasi oleh Nafsu Muthmainnah, bukan lagi oleh syahwat atau hawa nafsu, maka Nafsu Muthmainnah menjadi Imam bagi seluruh tubuh dan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti dikatakan dalam penjelasan sebelumnya, sesungguhnya Nafsu Muthmainnah inilah yang disebut Jati Diri manusia itu. Hakikat dari manusia itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (An-Nafs)&amp;nbsp; mereka (seraya berfirman): &quot;Bukankah Aku ini Tuhanmu&quot;. Mereka menjawab:&quot;Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi&quot;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:&quot;Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)&quot;. (QS. 7:172)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapakah yang berjanji dalam ayat diatas ? Apakah kita pernah merasa berjanji?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang berjanji seperti disebutkan di ayat diatas, bukanlah ruh. Tetapi Jiwa yang tunggal, Nafsu Muthmainnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kemana Nafsu Muthmainnah kita sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kita dilahirkan ke bumi, berapa puluh tahun yang lalu, sudah berapa banyak kita membiarkan hati kita di dominasi Syahwat dan Hawa Nafsu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dasarnya, Jiwa (Nafsu Muthmainnah) kita ini seperti juga jasad. Jasad membutuhkan makan, demikian pula dengan Jiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jasad membutuhkan makanan berupa : karbohidrat, vitamin, mineral, protein,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dsb. Jiwa juga membutuhkan makanan, seperti : shalat, dzikir, puasa, dsb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sehari orang pada umumnya jasadnya membutuhkan makan 3 kali, dengan kadar karbohidrat, vitamin, mineral, protein tertentu. Apabila ini tidak terpenuhi maka akan sakit, bahkan mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula jiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sehari Allah telah menetukan makanan minimalnya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==========================================&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MAKANAN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; JUMLAH&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KADAR (misal)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==========================================&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Subuh&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2 Rakaat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 200&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzuhur&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4 Rakaat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 400&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashar&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4 Rakaat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 400&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maghrib&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3 Rakaat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 300&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isya&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4 Rakaat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 400&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Total&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 17 Rakaat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1700&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==========================================&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sehari Allah mempersyaratkan minimal 1700 nilai (misal untuk memudahkan deskripsi) bagi jiwa kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika subuh kita sholat sambil mengantuk, mungkin nilainya hanya 50.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzuhur selagi masih banyak perkerjaan, nilainya mungkin 20. Ashar Sudah hampir pulang bekerja, nilainya mungkin 40. Maghrib sudah sampai rumah tapi masih capek, mungkin nilainya 60. Isya bisa konsentrasi dengan baik mungkin nilainya 400.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dalm sehari itu total yang dikonsumsikan oleh Jiwa hanya 570. Jauh dari nilai minimal 1700. Dan selama puluhan tahun hidup tahun ini, sepanjang hari kita kurang dalam memberikan konsumsi pada Jiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi? Jiwa kita sakit. Nafsu muthmainnah sakit. Mungkin sekarang ia lumpuh, buta, tuli, dan bisu, atau mungkin mati !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang dikatakan Allah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), (QS. 2:18)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. 22:46)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati adalah tempat dari Nafsu Muthmainnah. Ketika Nafsu Muthmainnah yang dominan terhadap hati, maka hati itu adalah si Nafsu Muthmainnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak menyadari, bahwa dengan perjalanan hidup kita selama sekian puluh tahun, dengan memberikan konsumsi makanan yang kurang terhadap Jiwa kita dan membiarkan terdominasi oleh Hawa Nafsu dan Syahwat, Jiwa (hati) kita menjadi lumpuh, buta, tuli, bisu, bahkan mungkin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jiwa (hati) kita menjadi sakit. Sehingga lupa terhadap perjanjian yang pernah diucapkan pada Allah seperti dalam QS 7:172.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;JIWA YANG SEHAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada orang-orang yang berhasil dalam pelaksanaan agamanya, menghidupkan dan menyehatkan kembali Jiwa (Nafsul Muthmainnah) nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga hatinya di dominasi oleh Nafsul Muthmainnahnya. Jiwa yang sekarang ini abstrak/ghaib (tidak terindera) oleh kita, apabila telah hidup, telah sehat, maka matanya akan melihat, telinganya akan mendengar, mulutnya dapat berkata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jiwa apa bila melihat maka ia akan melihat sesuai dengan dimensi keghaibannya. Inilah yang dalam terminologi tasawuf dikatakan Mukasyafah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bukanlah suatu hal yang aneh dikalangan para pejalan tasawuf yang lurus, dapat melihat jin, malaikat, jiwa-jiwa manusia yang telah mati, dan lain sebagainya yang menurut pandangan kita adalah sesuatu yang ghaib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sesungguhnya bukan mata inderawi (jasad) lah yang melihat tetapi mata si Jiwa yang ada didalam dada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sehatnya Jiwa Muthmainnah inilah, salah satu paramater seorang telah beriman dengan benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Al Qur&#39;an dan Terjemah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Al Ihya Ulumuddin, Jilid IV : Imam Al Ghazaly, terjemahan : Prof. TK. H. Ismail Yakub SH. MA, CV Faisan, Jakarta, Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Minhajul Abidin : Imam Al Ghazaly, terjemahan : Meniti Jalan Menuju Surga, M. Adib Bisri, Pustaka Amani, Jakarta, Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Tao Of Islam : Sachiko Murata, Mizan, Bandung, Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Jalan Ruhani : Said Hawwa, Mizan, Bandung, Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Kajian Islam : Zamzam Ahmad Jamaluddin, drs. MSc, Yayasan Islam Paramartha, Bandung, Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;By &lt;a href=&quot;http://www.angelfire.com/il/Nalapralaya/Buku.htm&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Nalapralaya Buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/kajian-tasawuf.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-2628118314119962242</guid><pubDate>Sat, 03 Oct 2009 21:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-03T14:10:44.826-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Free Template</category><title>Free Template</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiZDmyRZNK9CrOJm91Z2OnTV4moLWExiGt_iyH84ta4QrMsgceNPRqYOXXupyKFztgrNmfTVGb5a7RYwoNO64n61jq5eegsfWHEyOd5-_8nJrLKS_TLSoN0pUQxShyQcpaNz71eE-BRXdS/s1600-h/andreas_blogger_templates.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiZDmyRZNK9CrOJm91Z2OnTV4moLWExiGt_iyH84ta4QrMsgceNPRqYOXXupyKFztgrNmfTVGb5a7RYwoNO64n61jq5eegsfWHEyOd5-_8nJrLKS_TLSoN0pUQxShyQcpaNz71eE-BRXdS/s400/andreas_blogger_templates.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/6758611/template-andreas02.zip.html&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNCzXLyVVBiZEAZbL1J9bjwFAnvUj4zfnXUU_4HzokSxjTO0hZAcnLvtVp1Z8nz7cQp4w7phkVxUwuZAkMeIPzJ6olHJ4bEdpMvu4fblvNozl-8BXufdFswXfgOzepPqfPTjCuc3lRyAPX/s1600-h/blogspot_template.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNCzXLyVVBiZEAZbL1J9bjwFAnvUj4zfnXUU_4HzokSxjTO0hZAcnLvtVp1Z8nz7cQp4w7phkVxUwuZAkMeIPzJ6olHJ4bEdpMvu4fblvNozl-8BXufdFswXfgOzepPqfPTjCuc3lRyAPX/s400/blogspot_template.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/6758608/erudite.zip.html&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhbbiBHCmscxEpnrLEUZXjreAzrI74M9cwIbbaCxK4dGHWUpdCbV_FNm4FBYcJHVaoZ_M9zD1Dr4eY53YImtwgZeJS0vbeAgGS3pKXTLDrgMMIEUx5__O6fLzwaNJ871xrneAGTQTPrQY3/s1600-h/emire_blogger_template.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhbbiBHCmscxEpnrLEUZXjreAzrI74M9cwIbbaCxK4dGHWUpdCbV_FNm4FBYcJHVaoZ_M9zD1Dr4eY53YImtwgZeJS0vbeAgGS3pKXTLDrgMMIEUx5__O6fLzwaNJ871xrneAGTQTPrQY3/s400/emire_blogger_template.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/6758609/template-emire.zip.html&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhskapaD36gxbJ2eMYTBjaKYiG8hmIoJC0PD6nOSZKQZEQtIIEt1k44Iv96ARJOh8InSMsk-aWUaf_LJvzwa3AcNjWPX3zJIAphXkNBHS4OEZ5bCF4It9GoXspF3K53SGoGj4jCiIL0i7M3/s1600-h/free_xml_blogger_blogspot_template_vista_download.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhskapaD36gxbJ2eMYTBjaKYiG8hmIoJC0PD6nOSZKQZEQtIIEt1k44Iv96ARJOh8InSMsk-aWUaf_LJvzwa3AcNjWPX3zJIAphXkNBHS4OEZ5bCF4It9GoXspF3K53SGoGj4jCiIL0i7M3/s400/free_xml_blogger_blogspot_template_vista_download.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/6758607/vista_blogger_templates_xml.zip.html&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZUbIfIBehj9SmSX6RQa_Vygf3OAmMOrV5rAmGEDRVjdF5GWEMLQd4qVtmeODqdTmeJD3Hd5Qk1BCEE4imAQZ4ECHtxx8L2fYhZsswXUWpb44rqTqP9mhSnBpBEeYzCL2dCdXrLxqIxhOJ/s1600-h/kubrivk_2_k2_blogspot_template.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZUbIfIBehj9SmSX6RQa_Vygf3OAmMOrV5rAmGEDRVjdF5GWEMLQd4qVtmeODqdTmeJD3Hd5Qk1BCEE4imAQZ4ECHtxx8L2fYhZsswXUWpb44rqTqP9mhSnBpBEeYzCL2dCdXrLxqIxhOJ/s400/kubrivk_2_k2_blogspot_template.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/6758612/template-k2.zip.html&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/free-template_2412.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiZDmyRZNK9CrOJm91Z2OnTV4moLWExiGt_iyH84ta4QrMsgceNPRqYOXXupyKFztgrNmfTVGb5a7RYwoNO64n61jq5eegsfWHEyOd5-_8nJrLKS_TLSoN0pUQxShyQcpaNz71eE-BRXdS/s72-c/andreas_blogger_templates.jpg" height="72" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-2006242516704446897</guid><pubDate>Sat, 03 Oct 2009 19:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-03T13:06:39.067-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Free Template</category><title>Free Template</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUFORTPSYhI0-ZRXvYFH0nWCELr8IB5-wZXwNSY-zoXLacyZAuoGi7V1lcwgjhI6hYl78yWNlNTh3MGn3l4OXj6Cxrs_B44gvzuKTF5plJ23DcGZ9huyxcgvwOd-Vp-xcSaDXk462hqWVp/s1600-h/bluecomp.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUFORTPSYhI0-ZRXvYFH0nWCELr8IB5-wZXwNSY-zoXLacyZAuoGi7V1lcwgjhI6hYl78yWNlNTh3MGn3l4OXj6Cxrs_B44gvzuKTF5plJ23DcGZ9huyxcgvwOd-Vp-xcSaDXk462hqWVp/s400/bluecomp.jpg&quot; alt=&quot;free download ,template blogspot,apliacation,software,anti virus,music,image and more&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6757787/blue_comp.rar&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNTWlkfX9Sv6YQucqoYXVoc79U_sg3IugcrQqNqeQgl5mSr3QmTMScRl0yaGYQB0Es3sSeqd-qTZpfSJ06V0ENrbhaDZpetzrw2zJrgfUmSOdfcksC4qJUMQfCFaBEmQt9ltHnY49z8_mf/s1600-h/bluefuture.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNTWlkfX9Sv6YQucqoYXVoc79U_sg3IugcrQqNqeQgl5mSr3QmTMScRl0yaGYQB0Es3sSeqd-qTZpfSJ06V0ENrbhaDZpetzrw2zJrgfUmSOdfcksC4qJUMQfCFaBEmQt9ltHnY49z8_mf/s400/bluefuture.jpg&quot; alt=&quot;free download ,template blogspot,apliacation,software,anti virus,music,image and more&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6757789/blue_future.rar&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVEILsx3yLSiSJIquDpYwCbXcnNYaytQqqrb1OUt-AArl45TAbE8phYbK4nudAsxs19xzeU3sNKNj4jz5ZpFmxEYwpSrDMPXnRHuI1lYVRl63bUQUtNdeFR4vJLnYaApKkR_6xubkHq6No/s1600-h/bluecool.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVEILsx3yLSiSJIquDpYwCbXcnNYaytQqqrb1OUt-AArl45TAbE8phYbK4nudAsxs19xzeU3sNKNj4jz5ZpFmxEYwpSrDMPXnRHuI1lYVRl63bUQUtNdeFR4vJLnYaApKkR_6xubkHq6No/s400/bluecool.jpg&quot; alt=&quot;free download ,template blogspot,apliacation,software,anti virus,music,image and more&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6757788/cool_blue.rar&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTFjjrnj4eTAgm0CX4cjPCN4ZfFd6mslpjRqEEM5x_tUtxtSKIv8X6fNmtlJmWp6wmHfJjeJQxQgxW7p_M-KTIKuhirbHjiy5ZOYqx4MwG3sMOtsTw23TPwsEftk3yUBnrFM8amQmI1I1L/s1600-h/clock_charm.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTFjjrnj4eTAgm0CX4cjPCN4ZfFd6mslpjRqEEM5x_tUtxtSKIv8X6fNmtlJmWp6wmHfJjeJQxQgxW7p_M-KTIKuhirbHjiy5ZOYqx4MwG3sMOtsTw23TPwsEftk3yUBnrFM8amQmI1I1L/s400/clock_charm.jpg&quot; alt=&quot;free download ,template blogspot,apliacation,software,anti virus,music,image and more&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6757794/clock_charm.rar&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWSixmgADDj0iHKsCMEuBm1c1Popi4-Kvx-YzYJxuQ7HQh5cN9LjWq17FRLUEhqEQ5Fq7Yk3AEZ5ZwNMWsqGH9Yxeb07BC4JUtpofwTH8PhNV_FYLr-D2_OIrkmuGRrVC_s7ZC5bG3hnB8/s1600-h/itheme-techno-2columns-med.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWSixmgADDj0iHKsCMEuBm1c1Popi4-Kvx-YzYJxuQ7HQh5cN9LjWq17FRLUEhqEQ5Fq7Yk3AEZ5ZwNMWsqGH9Yxeb07BC4JUtpofwTH8PhNV_FYLr-D2_OIrkmuGRrVC_s7ZC5bG3hnB8/s400/itheme-techno-2columns-med.png&quot; alt=&quot;free download ,template blogspot,apliacation,software,anti virus,music,image and more&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6757791/itheme-techno-2c-left-blogger.zip&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1NxtfOTN3P9347FzA81bSQMzJZgbEquoat3J7jViOuf-OPhhTdN0KRtiBjKpj3NIMQAu9eh-_RuJPiFEbFNgDjH0BZjYTmAhztmesjOwnwvCAvBqH2GBhkyM0huNruJvYQhy_2mNsarXT/s1600-h/kameraalbum.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1NxtfOTN3P9347FzA81bSQMzJZgbEquoat3J7jViOuf-OPhhTdN0KRtiBjKpj3NIMQAu9eh-_RuJPiFEbFNgDjH0BZjYTmAhztmesjOwnwvCAvBqH2GBhkyM0huNruJvYQhy_2mNsarXT/s400/kameraalbum.jpg&quot; alt=&quot;free download ,template blogspot,apliacation,software,anti virus,music,image and more&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6757791/itheme-techno-2c-left-blogger.zip&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEm1uagVwGqBY5kA0OEY-GpKgI3fCVauzm0cOqIcSRPvmQL60aylCAWKOPycZqhR64jGX1shqO1OV_omG3fbba3ZpCH1BNBYTK2evJzSnAdd3aY-xopQYSPxL8TjA6bANmWEyBcaDIh1YK/s1600-h/Purple-PS3.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEm1uagVwGqBY5kA0OEY-GpKgI3fCVauzm0cOqIcSRPvmQL60aylCAWKOPycZqhR64jGX1shqO1OV_omG3fbba3ZpCH1BNBYTK2evJzSnAdd3aY-xopQYSPxL8TjA6bANmWEyBcaDIh1YK/s400/Purple-PS3.jpg&quot; alt=&quot;free download ,template blogspot,apliacation,software,anti virus,music,image and more&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6757792/purplePS3.rar&quot;&gt;Download &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/free-template_6149.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUFORTPSYhI0-ZRXvYFH0nWCELr8IB5-wZXwNSY-zoXLacyZAuoGi7V1lcwgjhI6hYl78yWNlNTh3MGn3l4OXj6Cxrs_B44gvzuKTF5plJ23DcGZ9huyxcgvwOd-Vp-xcSaDXk462hqWVp/s72-c/bluecomp.jpg" height="72" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-8534829673243991403</guid><pubDate>Sat, 03 Oct 2009 19:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-03T14:50:36.414-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Free Template</category><title>Free Template</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQD6J9b9PDCIC7sPjbM-cpRm7V2R5xgsnz6Qc6eXRhFU0YcDrvqWVpKcbdbSnCgDfxNLZh4gyLGpXGF4S1fkJ3VA6dW4HiYR7B6R_KMwqaWQWiNScnEhTNnS3kB7vK4fscQ0rU1I9RrMC_/s1600-h/redcar.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;free download ,template blogspot,apliacation,software,anti virus,music,image and more&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQD6J9b9PDCIC7sPjbM-cpRm7V2R5xgsnz6Qc6eXRhFU0YcDrvqWVpKcbdbSnCgDfxNLZh4gyLGpXGF4S1fkJ3VA6dW4HiYR7B6R_KMwqaWQWiNScnEhTNnS3kB7vK4fscQ0rU1I9RrMC_/s400/redcar.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/6757793/redcar.rar.html&quot;&gt;Download&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;More Template &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-51weddingbreeze&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755409/Donkrax-51weddingbreeze.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-85grungedgirl &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755408/Donkrax-85grungedgirl.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-52deathnote &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755407/Donkrax-52deathnote.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-Agosto &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755406/Donkrax-Agosto.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-59masjid &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755405/Donkrax-59masjid.zip&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Download&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-26weddinganime3 &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755081/Donkrax-26weddinganime3.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-50olympicgames2008&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755080/Donkrax-50olympicgames2008.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-47thegift &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755079/Donkrax-47thegift.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-10romanticgoose&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755078/Donkrax-10romanticgoose.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-2weddingivory&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755077/Donkrax-2weddingivory.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-49WOW-SE &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755076/Donkrax-49WOW-SE.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-43wedding-rose&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755075/Donkrax-43wedding-rose.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-45narutorasengan&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755074/Donkrax-45narutorasengan.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-7Color &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755073/Donkrax-7Color.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;Donkrax-25weddinganimesmall&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755072/Donkrax-25weddinganimesmall.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fontfamilyverdana normal11bluebold&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/free-template_03.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQD6J9b9PDCIC7sPjbM-cpRm7V2R5xgsnz6Qc6eXRhFU0YcDrvqWVpKcbdbSnCgDfxNLZh4gyLGpXGF4S1fkJ3VA6dW4HiYR7B6R_KMwqaWQWiNScnEhTNnS3kB7vK4fscQ0rU1I9RrMC_/s72-c/redcar.jpg" height="72" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-5796187198395483909</guid><pubDate>Sat, 03 Oct 2009 19:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-03T14:33:39.510-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Free Template</category><title>Free Template</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPygeAZAwEMvNLhWCijrVgYGjGDRVYMYviSu1vTFiKatb0_uA-UEZg9M0xOUsqFbIwYOHr_LIZGW_WkK7_xRXGFmTV5k9KUnPvzkqtIPcZNcNUQBFlzMrUuGLl7rZCSewGwT3L5KG_VsLn/s1600-h/xbox.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;free download ,template blogspot,apliacation,software,anti virus,music,image and more&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPygeAZAwEMvNLhWCijrVgYGjGDRVYMYviSu1vTFiKatb0_uA-UEZg9M0xOUsqFbIwYOHr_LIZGW_WkK7_xRXGFmTV5k9KUnPvzkqtIPcZNcNUQBFlzMrUuGLl7rZCSewGwT3L5KG_VsLn/s400/xbox.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://draft.blogger.com/goog_1254594662033&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/6757790/xbox.rar.html&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;More Template &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;anime-you-re-under-arres&amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755465/Donkrax-anime-you-re-under-arrest.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;batman-the-dark-knight &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755464/Donkrax-batman-the-dark-knight.zip&quot;&gt; Download&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-Astro &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755463/Donkrax-Art_Imagination.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-Banyard &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755461/Donkrax-Banyard.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-Beauty-Blog &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755460/Donkrax-Beauty-Blog.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-assassins &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755459/Donkrax-assassins.zip&quot;&gt;&amp;nbsp; Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-anime-smiling &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755458/Donkrax-anime-smiling.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-anotherflower &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755457/Donkrax-anotherflower.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-azulmetal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755456/Donkrax-azulmetal.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-Aku-Boonto &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755414/Donkrax-Aku-Boonto.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-Abril &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755413/Donkrax-Abril.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-80coupleblack&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755412/Donkrax-80coupleblack.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-64candles &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755411/Donkrax-64candles.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Donkrax-AnimeMusic &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : &amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/downloadlink/6755410/Donkrax-AnimeMusic.zip&quot;&gt;Download&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/10/free-template.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPygeAZAwEMvNLhWCijrVgYGjGDRVYMYviSu1vTFiKatb0_uA-UEZg9M0xOUsqFbIwYOHr_LIZGW_WkK7_xRXGFmTV5k9KUnPvzkqtIPcZNcNUQBFlzMrUuGLl7rZCSewGwT3L5KG_VsLn/s72-c/xbox.jpg" height="72" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-6962537188690065470</guid><pubDate>Sat, 19 Sep 2009 13:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-19T06:38:55.540-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mutiara</category><title>Selamat Hari raya Idul Fitri</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;KetiKa KesaLahaN yang daTang MenErPa diRi Kita&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;KeTika SeBuah PRaHara datanG MengHampiRi &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Dan TentunYA memBuat Kita BiNgunG&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;DiSaat iTulah Kita MeMohoN seBuah PenGhaRapan&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Kepada YanG MaHa SegaLanya Untuk MeMberikan Ampunan Dan PeTunjuK&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;DaN seLayaknyaLah ApabiLa ada SeseoRang yaNg MemPunYai KesaLahan TerHadaP Kita&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Kita MaaFkan&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Dibulan Yang penuh makna ini&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Akan TeRAsa iNdah apaBila Kita Berucap&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgYLidFj5es8yx5LN8jLNouoC-wgjR_fw4Qku2DmL8NOr4sfj4JjXrYNDDKTJcHs9ROYGHK9dwmC5pgvAkjPrpXK_xlh0Yx1JaAjTPoSohuluI5wwjp6azlakRmnwAL49rZ-dBlFB38QjDH/s1600-h/kartu-ucapan-lebaran-5.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgYLidFj5es8yx5LN8jLNouoC-wgjR_fw4Qku2DmL8NOr4sfj4JjXrYNDDKTJcHs9ROYGHK9dwmC5pgvAkjPrpXK_xlh0Yx1JaAjTPoSohuluI5wwjp6azlakRmnwAL49rZ-dBlFB38QjDH/s400/kartu-ucapan-lebaran-5.jpg&quot; alt=&quot;selamat hari raya idul fitri,puisi ,kata mutiara ,Bisnis , tutorial blogspot,religius&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Menyambung kasih, merajut cinta,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Beralas ikhlas, beratap DOA&lt;br /&gt;
Semasa hidup bersimbah khilaf &amp;amp; dosa,&lt;br /&gt;
Berharap dibasuh dengan maaf-memaafkan&lt;br /&gt;
Melati semerbak harum mewangi,&lt;br /&gt;
Sebagai penghias di Hari nan fitri,&lt;br /&gt;
Ulurkan tangan silaturahmi&lt;br /&gt;
Tuk Sambut Hari kemenangan &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/selamat-hari-raya-idul-fitri.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgYLidFj5es8yx5LN8jLNouoC-wgjR_fw4Qku2DmL8NOr4sfj4JjXrYNDDKTJcHs9ROYGHK9dwmC5pgvAkjPrpXK_xlh0Yx1JaAjTPoSohuluI5wwjp6azlakRmnwAL49rZ-dBlFB38QjDH/s72-c/kartu-ucapan-lebaran-5.jpg" height="72" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-8130637637704491962</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 06:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T23:08:53.124-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemahan Kimyatusy- Sya’adah { PENDAHULUAN }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;K etahuilah bahawa manusia ini bukanlah dijadikan untuk gurau-Senda atau &quot;sia-sia&quot; saja. Tetapi adalah dijadikan dengan &#39;Ajaib sekali dan untuk tujuan yang besar dan mulia. Tetapi adalah dijadikan dengan &#39;Ajaib sekali dan untuk tujuan yang besar dan mulia. Meskipun manusia itu bukan Qadim (kekal dari azali lagi), namun ia hidup selama-lamanya. Meskipun manusia itu bukan qadim (kekal dari Azali lagi), namun ia hidup selama-lamanya. Meskipun tubuhnya kecil dan berasal dari bumi, namun Ruh atau Nyawa adalah tinggi dan berasal dari sesuatu yang bersifat Ketuhanan. Meskipun tubuhnya kecil dan berasal dari bumi, namun Ruh atau Nyawa adalah tinggi dan berasal dari sesuatu yang bersifat Ketuhanan. Apabila hawa nafsunya dibersihkan sebersih-bersihnya, maka ia akan mencapai taraf yang paling tinggi. Apabila hawa nafsunya dibersihkan sebersih-bersihnya, maka ia akan Mencapai Taraf yang paling tinggi. Ia tidak lagi menjadi hamba kepada hawa nafsu yang rendah. Ia tidak lagi menjadi hamba kepada hawa nafsu yang rendah. Ia akan mempunyai sifat-sifat seperti Malaikat. Ia akan mempunyai sifat-sifat seperti Malaikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam peringkat yang tinggi itu, didapatinya SyurgaNya adalah dalam bertafakur mengenang Alloh Yang Maha Indah dan Kekal Abadi. Dalam peringkat yang tinggi itu, didapatinya SyurgaNya adalah bertafakur dalam Mengenang Alloh Yang Maha Indah dan Kekal Abadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah lagi ia tunduk kepada kehendak-kehendak kebendaan dan kenafsuan semata-mata. Tidaklah lagi ia tunduk kepada kehendak-kehendak kebendaan dan kenafsuan semata-mata. Al-Kimiya&#39; Keruhanian yang membuat pertukaran ini. Al-Kimiya &#39;Keruhanian yang membuat Pertukaran ini. Seorang manusia itu adalah ibarat Kimia yang menukarkan logam biasa (Base Metal) menjadi emas. Seorang manusia itu adalah ibarat Kimia yang menukarkan logam biasa (Base Metal) menjadi emas. Kimia ini bukan senang hendak dicari. Kimia ini bukan senang hendak dicari. Ia bukan ada dalam sebarang rumah orang. Ia bukan ada dalam sebarang rumah orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimia ini ialah ringkasnya berpaling dari dunia dan menghadap kepada Alloh Subhanahuwa Taala. Kimia ini ialah ringkasnya berpaling dari dunia dan menghadap kepada Alloh Subhanahuwa Taala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahan-bahan Kimia ini adalah empat : Bahan-bahan Kimia ini adalah empat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. 1. Mengenal Diri Mengenal Diri&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. 2. Mengenal Alloh Mengenal Alloh&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. 3. Mengenal Dunia ini Sebenarnya. Mengenal Dunia ini Sebenarnya. (Hakikat Dunia) (Hakikat Dunia)&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. 4. Mengenal Akhirat sebenarnya (Hakikat Akhirat) Mengenal Akhirat sebenarnya (Hakikat Akhirat) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambah lagi satu bahan-bahan kimianya yaitu Mencintai Alloh sebagaimana yang terdapat dalam bab-bab. Tambah lagi satu bahan-bahan kimianya yaitu Mencintai Alloh Sebagaimana yang Terdapat dalam bab-bab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita akan teruskan perbincangan kita berkenaan bahan-bahan ini satu-persatu…Insya Alloh. Kita akan teruskan Perbincangan kita berkenaan bahan-bahan ini satu-persatu ... Insya Alloh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menerangkan Al-Kimiya&#39; itu dan cara-cara operasinya, maka pengarang (Imam Ghazali) coba menulis Kitab ini dan diberi judul “Al-Kimiya&#39; As-Saadah” yakni Kimia Kebahagiaan. Untuk menerangkan Al-Kimiya &#39;itu dan cara-cara operasinya, maka pengarang (Imam Ghazali) coba menulis Kitab ini dan diberi judul &quot;Al-Kimiya&#39; As-Saadah&quot; yakni Kimia Kebahagiaan. Bahwa perbendaharaan Tuhan dimana Kimia ini boleh didapati ialah Hati Para Ambiya&#39; dan pewaris-pewarisNya dari kalangan ulama-ulama Sufi kalangan Aulia Alloh. Perbendaharaan Bahwa Tuhan dimana Kimia ini boleh didapati ialah Hati Para Ambiya &#39;dan Pewaris-pewarisNya dari kalangan ulama-ulama Sufi kalangan Aulia Alloh. Barang siapa yang mencarinya selain itu adalah sia-sia dan akan Muflis (bangkrut) di Hari Pengadilan kelak apabila ia mendengar suara yang mengatakan : Barang siapa yang mencarinya selain itu adalah sia-sia dan akan Muflis (bangkrut) di Hari Pengadilan kelak apabila ia Mendengar suara yang mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kami telah angkat tirai dari kamu, dan pandangan kamu hari ini sangat tajam dan nyata”. (Qaaf:22) &quot;Kami telah angkat tirai dari kamu, dan pandangan kamu hari ini sangat tajam dan nyata&quot;. (Qaaf: 22) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alloh Subhanahuwa Taala telah turunkan ke bumi ini 124,000 orang Ambiya untuk mengajar manusia tentang bahan-bahan Al-Kimiya ini. Subhanahuwa Alloh Taala telah Turunkan ke bumi ini 124,000 orang Ambiya untuk mengajar manusia tentang bahan-bahan Al-Kimiya ini. Bagaimana hendak menyucikan hati mereka dari sifat-sifat rendah dan keji itu. Ikuti perkembangan perbincangan Imam Ghazali ini dari satu tingkat ke satu tingkat yang membuka jalan-jalan orang-orang Sufi yang mencapai Maqam Mahabbah, puncak tertinggi kebahagiaan yang ingin dimiliki oleh orang-orang yang Mengenal Alloh. Bagaimana hendak menyucikan hati mereka dari sifat-sifat rendah dan keji itu. Ikuti perkembangan Perbincangan Imam Ghazali ini dari satu tingkat ke satu tingkat yang Membuka jalan-jalan orang-orang sufi yang Mencapai Maqam Mahabbah, puncak Tertinggi kebahagiaan yang ingin dimiliki oleh orang-orang yang Mengenal Alloh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya&#39;adah - KIMIA KEBAHAGIAAN - Karya : Imam Al-Ghazali &lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemahan-kimyatusy-syaadah.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-4144929507542354013</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 06:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T23:05:05.241-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemahan Kimyatusy- Sya’adah { MEMANDANG ALLOH }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Cinta kepada Alloh ini adalah hal yang paling tinggi sekali dan itulah tujuan kita yang terakhir.&amp;nbsp; Kita telah berbicara berkenaan bahaya kerohanian yang akan menghalangi cinta kepada Alloh dalam hati manusia,&amp;nbsp; dan kita telah berbicara berkenaan berbagai sifat-sifat yang baik sebagai keperluan asas menuju Cinta Alloh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesempurnaan manusia itu terletak dalam Cinta kepada Alloh ini.&amp;nbsp; Cinta kepada Alloh ini hendaklah menakluki dan menguasai hati manusia itu seluruhnya.&amp;nbsp; Kalau pun tidak dapat seluruhnya,&amp;nbsp; maka sekurang-kurangnya hati itu hendaklah cinta kepada Alloh melebihi cinta kepada yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya mengetahui Cinta Ilahi ini bukanlah satu hal yang senang sehingga ada satu golongan orang bijak pandai agama yang langsung menafikan cinta kepada Alloh atau Cinta Ilahi itu.&amp;nbsp; Mereka tidak percaya manusia boleh mencintai Alloh Subhanahuwa Taala karena Alloh itu bukanlah sejenis dengan manusia.&amp;nbsp; Kata mereka;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; maksud Cinta Ilahi itu adalah semata-mata tunduk dan patuh kepada Alloh saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya mereka yang berpendapat demikian itu adalah orang yang tidak tahu apakah hakikatnya agama itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang Islam setuju bahwa cinta kepada Alloh (cinta Alloh) itu adalah satu tugas.&amp;nbsp; Alloh ada berfirman berkenaan dengan orang-orang mukmin;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ” Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. “. (Al Maidah:54)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi pernah bersabda;&lt;br /&gt;
“Belum sempurna iman seseorang itu hingga ia Mencintai Alloh dan Rasulnya lebih daripada yang lain”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila malaikat maut datang hendak mengambil nyawa Nabi Ibrahim,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Ibrahim berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pernahkah engkau melihat sahabat mengambil nyawa sahabat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alloh berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pernahkah engkau melihat sahabat tidak mau melihat sahabatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Nabi Ibrahim berkata,&amp;nbsp; “Wahai Izrail!&amp;nbsp; Ambillah nyawaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa ini diajar oleh Nabi kepada sahabatnya;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Alloh,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kurniakanlah kepada ku Cinta terhadap Mu dan Cinta kepada mereka yang Mencintai mu,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan apa saja yang membawa aku hampir kepada CintaMu,&amp;nbsp; dan jadikanlah CintaMu itu lebih berharga kepadaku dari air sejuk kepada orang yang dahaga.”&lt;br /&gt;
Hasan Basri berkata;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang kenal Alloh akan Mencintai Alloh,&amp;nbsp; dan orang yang mengenal dunia akan benci kepada dunia itu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang marilah kita membicarkan pula berkenaan dengan keadaan cinta itu.&amp;nbsp; Bolehlah ditafsirkan bahwa cinta itu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang indah atau nyaman.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ini nyata sekali pada dari yang lima (pancaindera) yaiitu tiap-tiap satunya mencintai apa yang memberi keindahan atau kepuasan kepadanya.&amp;nbsp; Mata cinta kepada bentuk-bentuk yang indah.&amp;nbsp; Telinga cinta kepada bunyi-bunyinya yang merdu,&amp;nbsp; dan sebagainya.&amp;nbsp; Inilah jenis cinta yang kita miliki dan binatang pun memilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi ada dari yang keenam atau keupayaan pandangan yang terletak dalam hati,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan ini tidak ada pada binatang.&amp;nbsp; Dengan melalui inilah kita mengenal keindahan dan keagungan keruhanian.&amp;nbsp; Oleh karena itu,&amp;nbsp; mereka yang terpengaruh dengan kehendak-kehendak jasmaniah dan kedunian saja tidak dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi apabila baginda berkata bahwa baginda cinta kepada sembahyang melebihi dari cintanya kepada perempuan dan bau harum wangi,&amp;nbsp; meskipun perempuan dan wangi-wanginya itu disukai juga oleh baginda.&amp;nbsp; Tetapi siapa yang mata batinnya terbuka untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; melihat keindahan dan kesempurnaan Ilahi akan memandang rendah kepada semua hal-hal yang zhohir walau bagaimanapun cantiknya sekalipun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang memandang zhohir saja akan berkata bahwa kecantikan itu terletak pada warna kulit yang putih dan merah,&amp;nbsp; kaki dan tangan yang eloknya dan sebagainya lagi,&amp;nbsp; tetapi orang ini buta kepada kecantikan akhlak,&amp;nbsp; seperti apa yang dikatakan orang bahwa seseorang itu mempunyai sifat-sifat akhlak yang “indah”.&amp;nbsp; Tetapi bagi mereka yang mempunyai pandangan batin dapat mencintai orang-orang besar yang telah kembali kealam baka,&amp;nbsp; seperti Khalifah Umar dan Abu Bakar misalnya,&amp;nbsp; karena kedua-dua orang besar ini mempunyai sifat-sifat yang agung dan mulia,&amp;nbsp; meskipun tubuh mereka telah hancur menjadi tanah.&amp;nbsp; Cinta seperti ini bukan memandang kepada sifat-sifat zhohir saja,&amp;nbsp; tetapi memandang kepada sifat-sifat batin.&amp;nbsp; Bahkan apabila kita hendak menimbulkan cinta dalam hati kanak-kanak terhadap seseorang,&amp;nbsp; maka kita tidak memperihalkan keindahan bentuk zhohirnya,&amp;nbsp; dan lain-lain,&amp;nbsp; tetapi kita perihalkan keindahan-keindahan batinnya.&lt;br /&gt;
Apabila kita gunakan prinsip ini terhadap cinta kepada Alloh,&amp;nbsp; maka kita akan dapati bahwa Dia sajalah sepatutnya kita Cinta.&amp;nbsp; Mereka yang tidak mencintai Alloh itu ialah karena mereka tidak mengenal Alloh itu.&amp;nbsp; Apa saja yang kita cinta kepada seseorang itu,&amp;nbsp; kita cintai karena itu adalah bayangan Alloh.&amp;nbsp; Karena inilah kita cinta kepada Muhammad Saw karena baginda adalah Rasul dan kekasih Alloh,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan cinta kepada orang-orang alim dan orang-orang auliya itu adalah sebenarnya cinta kepada Alloh.&lt;br /&gt;
Kita akan lihat ini lebih jelas jika kita perhatikan apakah sebab-sebabnya yang menyemarakkan cinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab pertama ialah, bahwa seseorang itu cinta kepada dirinya sendiri dan menyempurnakan keadaannya sendiri.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ini membawanya secara langsung menuju Cinta kepada Alloh,&amp;nbsp; karena wujudnya dan sifatnya manusia itu adalah semata-mata Kurniaan Alloh saja.&amp;nbsp; Jika tidaklah karena kehendak Alloh Subhanahuwa Taala dan KemurahanNya,&amp;nbsp;&amp;nbsp; manusia tidak akan zhohir ke alam nyata itu.&amp;nbsp; Kejadian manusia itu dan pencapaian menuju kesempurnaan adalah juga dengan kurnia Alloh semata.&amp;nbsp; Sungguh aneh jika seseorang itu berlindung ke bawah pohon dari sinar matahari tetapi tidak berterima kasih kepada pohon itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu jugalah jika tidaklah karena Alloh,&amp;nbsp; manusia tidak akan wujud dan tidak akan ada mempunyai sifat-sifat langsung.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Oleh karena itu,&amp;nbsp; kenapa manusia itu tidak Cinta kepada Alloh? Jika tidak cinta kepada Alloh berarti ia tidak mengenalNya.&amp;nbsp; Tanpa mengenalNya orang tidak akan Cinta kepadaNya,&amp;nbsp; karena Cinta itu timbul dari pengenalan . Orang yang bodoh saja yang tidak mengenal.&lt;br /&gt;
Sebab yang kedua ialah, bahwa manusia itu cinta kepada orang yang menolong dan memberi kurnia kepada dirinya.&amp;nbsp; Pada hakikatnya yang memberi pertolongan dan kurnia itu hanya Alloh saja.&amp;nbsp; Sebenarnya apa saja pertolongan dan kurnia dari makhluk atau hamba itu adalah dorongan dari Alloh Subhanahuwaa Taala juga.&amp;nbsp; Apa saja niat hati untuk membuat kebaikan kepada orang lain,&amp;nbsp; sama ada keinginan untuk maju dalam bidang agama atau untuk mendapatkan nama yang baik,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka Alloh itulah pendorong yang menimbulkan niat,&amp;nbsp; keinginan dan usaha untuk mencapai apa yang dicinta itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab yang ketiga ialah cinta yang ditimbulkan dengan cara renungan atau tafakur tentang Sifat-sifat Alloh,&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kuasa dan KebijaksanaanNya.&amp;nbsp; Dan bermula Kekuasaan dan kebijaksanaan manusia itu adalah bayangan yang amat kecil dari Kekuasaan dan Kebijaksanaan Alloh Subhanahuwa Taala juga.&amp;nbsp; Cinta ini adalah seperti cinta yang kita rasakan terhadap orang-orang besar di zaman dulu,&amp;nbsp; misalnya Imam Malik dan Imam Syafie meskipun kita tidak akan menyangka menerima sebarang faedah pribadi dari mereka itu,&amp;nbsp; dan dengan itu adalah jenis yang tidak mencari untung.&amp;nbsp; Alloh berfirman kepada Nabi Daud,&lt;br /&gt;
“Hamba yang paling aku Cintai ialah mereka yang mencari Aku bukan karena takut hukumKu atau hendakkan KurniaanKu,&amp;nbsp; tetapi adalah semata-mata karena Aku ini Tuhan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab Zabur ada tertulis,&lt;br /&gt;
“Siapakah yang lebih melanggar batas daripada orang yang menyembahKu karena takutkan Neraka atau berkehendakkan Syurga?&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika tidak aku jadikan Surga dan Neraka itu tidakkah Aku ini patut disembah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab yang keempat berhubungan dengan cinta ini ialah karena keterikat yang erat antara manusia dan Tuhannya,&amp;nbsp; yang maksudkan oleh Nabi dalam sabdanya :&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya Alloh jadikan manusia menurut bayanganNya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya Alloh berfirman;&lt;br /&gt;
“HambaKu mencari kehampiran denganKu,&amp;nbsp; supaya Aku jadikan dia kawanKu,&amp;nbsp; dan bila Aku jadikan ia kawanku,&amp;nbsp; jadilah Aku telinganya,&amp;nbsp; matanya dan lidahnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alloh berfirman juga kepada Nabi Musa;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sakit,&amp;nbsp;&amp;nbsp; engkau tidak mengungjungiKu.”&amp;nbsp; Nabi Musa menjawab,&amp;nbsp; “Aahai Tuhan,&amp;nbsp; Engkau itu Tuhan langit dan bumi,&amp;nbsp; bagaimana engkau boleh sakit?”&amp;nbsp;&amp;nbsp; Alloh menjawab,&amp;nbsp; “Seorang hambaKu sakit,&amp;nbsp; kalau engkau mengunjungi dia,&amp;nbsp; maka engkau mengunjungi Aku.”&lt;br /&gt;
Ini adalah satu hal yang agak bahaya hendaklah dikaji lebih dalam karena ia tidak terjangkau oleh pengetahuan orang awam,&amp;nbsp; bahkan yang bijak pandai pun mungkin tumbang dalam perjalanan hal ini,&amp;nbsp; lalu menganggap ada penzhohiran atau penjelmaan Tuhan dalam manusia.&amp;nbsp; Tambahan pula hal kemiripan hamba dengan Tuhan ini dibantah oleh Alim Ulama’ yang tersebut diatas dulu karena mereka berpendapat bahwa manusia itu tidak dapat mencintai Alloh oleh sebab Alloh bukan sejenis manusia.&amp;nbsp; Walau pun berapa jauh jaraknya antara mereka,&amp;nbsp; namun manusia boleh mencintai Alloh karena yang kemiripan itu ada ditunjukkan oleh sabda Nabi :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alloh jadikan manusia menurut rupanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kataku pula (suluk),&amp;nbsp; untuk mendapat dan menjejaki maksud sabda Nabi yang penuh dan melimpah dengan lautan hikmah zhohir dan batin ini,&amp;nbsp; perlulah diambil pengajaran dari kalangan ulama yang muqarrabin yang arifbiLlah dari kalangan Aulia Alloh yang apabila berbicara,&amp;nbsp; hanya akan mengungkapkan sesuatu yang didatangi dari Alam Tinggi,&amp;nbsp;&amp;nbsp; bukan beralaskan sesuatu kepentingan atau pengaruh hawa nafsunya.&amp;nbsp; Ilmu mereka adalah pencampakkan Ilham dari Alloh Taala yang didapati terus dari Alloh sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Ghazali dalam karyanya Al-Risalutul lil Duniyyah sebagaimana berikut;&lt;br /&gt;
Ilham adalah kesan Wahyu. Wahyu adalah penerangan Urusan Ghoibi manakala Ilham ialah pemaparannya. Ilmu yang didapati menerusi Ilham dinamakan Ilmu Laduni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Laduni ialah ilmu yang tidak ada perantaraan dalam mendapatkannya di antara jiwa dan Alloh Taala. Ia adalah seperti cahaya yang datang dari lampu Qhaib jatuh ke atas Qalbu yang bersih, kosong lagi halus (Lathif).&lt;br /&gt;
Semua orang Islam percaya bahwa memandang Alloh itu adalah puncak segala kebahagiaan karena ada tercatat dalam hukum.&amp;nbsp; Tetapi bagi kebanyakan orang,&amp;nbsp;&amp;nbsp; ini adalah berbicara di mulut saja yang tidak menimbulkan rasa dalam hati.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebenarnyalah begitu karena bagaimana orang dapat menyintai sesuatu jika ia tidak tahu dan tidak kenal?&amp;nbsp; Kita akan coba menunjukkan secara ringkas bagaimana memandang Alloh itu puncak segala kebahagiaan yang bisa dicapai oleh manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama ,&amp;nbsp; tiap-tiap bakat atau anggota manusia itu ada tugas-tugasnya masing-masing dan ia merasa tertarik dan suka menjalankan tugas itu.&amp;nbsp; Ini serupa saja sejak dari kehendak tubuh yang paling rendah hinggalah kepada pengetahuan akal yang paling tinggi.&amp;nbsp; Usaha mental (otak) yang paling rendah pun mendatangkan ketertarikan yang lebih dari hanya memuaskan kehendak tubuh saja.&amp;nbsp; Kadang-kadang seseorang yang khusuk bermain catur tidak mau makan meskipun ia berkali-kali dipanggil untuk makan.&lt;br /&gt;
Makin tinggi hal pengetahuan kita itu,&amp;nbsp; maka makin bertambah menarik dan sukalah kita mengusahakan hal itu.&amp;nbsp; Misalnya kita lebih berminat untuk mengetahui rahasia Sultan dan rahasia menteri.&amp;nbsp; Dengan demikian,&amp;nbsp; oleh karena Alloh itu adalah objek atau hal pengetahuan yang paling tinggi,&amp;nbsp; maka mengenal atau mengetahui Alloh itu mestilah memberi kebahagiaan dan kelezatan lebih daripada yang lain-lain.&amp;nbsp; Orang yang mengetahui dan mengenal Alloh walaupun dalam dunia ini.&amp;nbsp;&amp;nbsp; seolah-olah di dalam syurga,&amp;nbsp; buah-buahan bebas untuk dipetik,&amp;nbsp; dalam lebarnya tidak disempitkan oleh penghuninya yang ramai itu.&lt;br /&gt;
Firman Alloh SWT :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ” (Al Imran:133)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi kenikmatan ilmu atau pengetahuan masih tidak menyamai atau menyerupai kenikmatan pandangan sebagaimana ketertarikan kita dalam memikirkan mereka yang bercinta adalah lebih rendah daripada ketertarikan yang diberi oleh memandangnya dengan benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terpenjaranya kita dalam tubuh kita dari tanah dan air dan terbelenggu kita dalam hal-hal indera (pancaindera) menjadikan hijab yang melindungi kita daripada memandang Alloh , meskipun tidak menghalang pencapaian kita kepada mengetahui dan mengenalNya.&amp;nbsp; karena inilah Alloh berfirman kepada Nabi Musa di Gunung Sinai,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al Araaf:143)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakikat hal ini adalah sebagaimana benih manusia itu menjadi manusia,&amp;nbsp; dan biji tamar menjadi pohon tamar,&amp;nbsp; begitu jugalah mengenal Alloh yang diperoleh di dunia ini akan bertukar menjadi “Memandang Alloh” di akhirat kelak,&amp;nbsp; dan mereka yang tidak mempelajari pengetahuan itu tidak akan mendapat pandangan itu.&amp;nbsp; Pandangan ini tidak akan dibagi-bagikan sama rata kepada mereka yang tahu tetapi “konsep pemahaman” mereka tentangnya akan berbeda-beda sebagaimana ilmu mereka.&lt;br /&gt;
Alloh itu Satu tetapi ia kelihatan dengan berbagai-bagai cara,&amp;nbsp; sebagaimana satu benda itu terbayang dalam berbagai cara dalam berbagai cermin.&amp;nbsp; Ada yang lurus,&amp;nbsp;&amp;nbsp; ada yang bengkok,&amp;nbsp; ada yang terang dan ada yang gelap.&amp;nbsp; Sesuatu cermin itu mungkin terlalu bengkok dan ini menjadikan bentuk-bentuk yang cantik kelihatan buruk dalam cermin itu.&amp;nbsp; Seseorang manusia itu mungkin membawa ke akhirat hati yang gelap dan bengkok,&amp;nbsp; dan dengan itu pandangan yang menjadi puncak kedamaian dan kebahagiaan kepada orang lain,&amp;nbsp; akan menjadi sumber kesengsaraan dan kedukaan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang Menyintai Alloh sepenuh hati dan Cintanya kepada Alloh melebihi Cintanya kepada yang lain akan memperolehi lebih banyak kebahagiaan&amp;nbsp; daripada pandangan melebihi daripada mereka yang dalam hatinya tidak ada pandangan ini.&amp;nbsp; Umpama dua orang yang kekuatan matanya sama saja memandang kepada wajah yang cantik.&amp;nbsp; Orang yang telah ada cintanya kepada orang yang memiliki wajah itu akan merasa tertarik dan bahagia memandang wajah itu melebihi dari orang yang tidak ada cintanya kepada orang yang mempunyai wajah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kebahagiaan yang sempurna,&amp;nbsp; ilmu saja tidak tidaklah cukup.&amp;nbsp; Hendaklah disertakan dengan Cinta.&amp;nbsp; Cinta kepada Alloh itu tidak akan tercapai selagi hati itu tidak dibersihkan daripada cinta kepada dunia.&amp;nbsp; Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menahan diri dari hawa nafsu yang rendah dan bersikap zuhud.&lt;br /&gt;
Semasa dalam dunia ini,&amp;nbsp; keadaan seseorang itu terhadap “Memandang Alloh” adalah ibarat&amp;nbsp; orang yang cinta yang melihat muka orang yang yang dicintai dalam waktu senja kala dan pakaiannya penuh dengan penyengat dan kalajengking yang senatiasa menggigitnya.&amp;nbsp; Tetapi sekiranya matahari terbit dan menunjukkan muka yang dicintai dengan segala keindahannya,&amp;nbsp; dan penyengat serta kala itu telah pergi darinya,&amp;nbsp; maka kebahagiaan orang yang cinta itu adalah seperti hamba Alloh yang terlepas dari gelap senja dan azab cobaan di dunia ini,&amp;nbsp; lalu melihat dia tanpa hijab lagi .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Sulaiman berkata;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa yang sibuk dengan dirinya sendiri saja di dunia ini,&amp;nbsp; akan sibuk juga dengan dirinya di akhirat kelak,&amp;nbsp; dan siapa yang sibuk dengan Alloh di dunia ini akan sibuk juga dengan Alloh di akhirat kelak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yahya bin Mu’adz menceritakan;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya lihat Abu Yazid Bustomin sembahyang sepanjang malam.&amp;nbsp; apabila beliau telah habis sembahyang,&amp;nbsp; beliau berdoa dan berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh Tuhan!!!&amp;nbsp; Setengah dari hambaMu meminta padaMu kuasa untuk membuat sesuatu yang luar biasa (karamat) seperti berjalan di atas air,&amp;nbsp;&amp;nbsp; terbang di udara,&amp;nbsp; tetapi aku tidak meminta itu;&amp;nbsp; ada pula yang meminta harta karun,&amp;nbsp; tetapi aku tidak meminta itu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kemudian ia memalingkan mukanya dan setelah dilihatnya saya,&amp;nbsp; ia berkata;&amp;nbsp; “Kamu di situ Yahya?”&amp;nbsp; Saya menjawab;&amp;nbsp; “Ya!”&amp;nbsp; Beliau bertanya lagi;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sejak kapan?”&amp;nbsp; Saya menjawab;&amp;nbsp; “Telah lama saya di sini”&amp;nbsp; Kemudian saya bertanya dan beliau menceritakan kepada saya setengah daripada pengalaman keruhaniannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya akan menceritakan”&amp;nbsp; Jawab beliau.&amp;nbsp; “Apa yang boleh saya ceritakan kepadamu,&amp;nbsp; Alloh Subhahahuwa Taala menunjukkan aku kerajaanNya dari yang paling tinggi hingga ke paling rendah.&amp;nbsp; DiangkatNya saya melampaui Arash dan Kursi dan tujuh petala langitnya,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kemudian Ia (Alloh) berkata;&amp;nbsp; “Pintalah kepadaKu apa saja yang engkau kehendaki”.&lt;br /&gt;
Saya menjawab; “Ya Alloh!!! tidak akan saya minta apa pun melainkan Engkau”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
JawabNya (Alloh) :&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sesungguhnya engkau hambaKu yang sebenar benarnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu ketika pula Abu Yazid berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekiranya Alloh mengkaruniakan engkau kemiripan denganNya seperti Ibrahim,&amp;nbsp; kekuasaan Sholat Musa,&amp;nbsp;&amp;nbsp; keruhanian ‘Isa,&amp;nbsp; namun wajahmu hadapkanlah kepada Dia saja karena ia ada harta yang melampaui segala-galanya itu”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepada beliau;&amp;nbsp; “Selama tiga puluh tahun saya puasa di siang hari dan sembahyang di malam hari tetapi saya tidak dapati kenikmatan keruhanian yang engkau katakan itu”.&lt;br /&gt;
Abu Yazid menjawab;&amp;nbsp; “Jika engkau puasa dan sembahyang selama tiga ratus tahun pun,&amp;nbsp; engkau tidak akan mendapatkannya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabatnnya berkata;&amp;nbsp; “Bagaimanakah itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Abu Yazid;&amp;nbsp; “obatnya ada tetapi engkau tidak akan sanggup menelannya obat itu”.&amp;nbsp; Tetapi oleh karena sahabatnya itu bersungguh-sungguh benar meminta supaya diceritakan,&amp;nbsp; Abu Yazid pun berkata;&lt;br /&gt;
“Pergilah kepada tukang gunting dan cukurlah janggutmu itu;&amp;nbsp; buanglah pakaianmu itu kecuali seluar dalam saja.&amp;nbsp; Ambil satu kampit penuh yang berisi “Siapa yang mau menempeleng kuduk leherku dia akan mendapat buah ini”&amp;nbsp; Kemudian dalam keadaan ini pergilah kepada Kadi dan ahli syariat dan berkata;&amp;nbsp; “Berkatilah Ruhku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata sahabatnya;&amp;nbsp; “Tidak sanggup saya berbuat demikian,&amp;nbsp; berilah saya cara yang lain”.&lt;br /&gt;
Abu Yazid pun berkata;&amp;nbsp; “Inilah saja caranya,&amp;nbsp; tetapi seperti yang telah saya katakan kamu ini tidak dapat diobat lagi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab Abu Yazid berkata demikian kepada orang itu ialah karena orang itu sebenarnya pencari pangkat dan kedudukan.&amp;nbsp; Bercita-cita hendak pangkat dan kedudukan seperti bersikap sombong dan bangga adalah penyakit yang hanya dapat diobat dengan cara yang demikian itu.&lt;br /&gt;
Alloh berfirman :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kami lah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff:14)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila orang bertanya kepada Nabi ‘Isa;&amp;nbsp; “Apakah kerja yang paling tinggi sekali derajatnya?”&amp;nbsp; Beliau menjawab;&amp;nbsp; “Mencintai Alloh dan tunduk kepadaNya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika orang bertanya kepada Wali Alloh bernama Rabi’atul Adawiyah sama ada beliau cinta kepada Nabi Muhammad SAW.&amp;nbsp; Beliau menjawab; ” Cinta kepada Alloh menghalang aku cinta kepada makhluk”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibrahim bin Adham dalam doanya berkata;&amp;nbsp; “Ya Alloh!&amp;nbsp; pada mataku syurga itu sendiri lebih kecil dari unggas jika dibandingkan dengan Cintaku terhadapMu dan kenikmatan mengingatiMu&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang Engkau telah kurniakan kepadaku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang&amp;nbsp; menganggap ada kemungkinan menikmati kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Alloh adalah orang yang telah jauh sesat anggapannya,&amp;nbsp; karena segala-galanya di akhirat itu adalah kembali kepada Alloh dan Alloh itulah alamat yang dituju dan dicapai setelah melalui halangan yang tidak terhingga banyaknya.&amp;nbsp; Nikmat memandang Alloh itu adalah kebahagiaan.&amp;nbsp; Jika seseorang itu tidak suka kepada Alloh di sini,&amp;nbsp; maka di sana pun ia tidak suka juga kepada Alloh.&amp;nbsp; Jika sedikit saja sukanya&amp;nbsp; kepada Alloh di sini,&amp;nbsp; maka sedikit jugalah sukanya kepada Alloh di sana .&amp;nbsp; Pendeknya,&amp;nbsp; kebahagiaan kita di akhirat adalah tergantung pada kadar Cintanya kita kepada Alloh di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya jika dalam hati manusia itu ada tumbuh cinta kepada&amp;nbsp; apa saja yang berlawanan dengan Alloh,&amp;nbsp; maka keadaan hidup di akhirat sana akan berlainan dan ganjil sekali kepadanya dan dengan ini apa saja yang mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain,&amp;nbsp; akan mendatangkan ‘azab sengsara kepadanya.&amp;nbsp; Mudah-mudahan Alloh lindungi kita dari terjadi sedemikian itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bolehlah kita gambarkan dengan misalnya seperti berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pengangkut sampah pergi ke kedai yang menjual minyak wangi.&amp;nbsp; Apabila beliau membawa bau-bauan yang harum wangi itu,&amp;nbsp; ia pun jatuh dan tidak sadar diri.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Orang pun datang hendak memberi pertolongan kepadanya.&amp;nbsp; Air dipercikkan kemukanya dan dihidungnya diletakkan kasturi.&amp;nbsp; Tetapi beliau bertambah parah.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Akhirnya datanglah seorang pengangkut sampah juga,&amp;nbsp; lalu diletakkan sedikit sampah kotor di bawah hidung orang yang pingsan itu.&amp;nbsp; Dengan segera orang itu pun sadar semula sambil berseru dengan rasa puas hati,&amp;nbsp; “Wah! Inilah sebenarnya wangi!”&lt;br /&gt;
Demikian jugalah,&amp;nbsp; ahli dunia tidak akan menjumpai lagi karat dan kotor dunia ini diakhirat.&amp;nbsp; Kenikmatan keruhaniah alam sana berlainan sekali dan tidak sesuai dengan kehendaknya.&amp;nbsp; Maka ini menjadikannya bertambah parah dan sengsara lagi.&amp;nbsp; karena alam sana itu adalah alam ruhaniah dan penzhohiran Jamal (keindahan) Alloh Subhanahuwa Taala.&amp;nbsp; Berbahagialah mereka yang ingin mencapai kebahagiaan di sana itu dan menyesuaikan dirinya dengan alam itu.&amp;nbsp; Semua sikap zahud,&amp;nbsp; menahan diri ibadah,&amp;nbsp;&amp;nbsp; menuntut ilmu adalah bertujuan untuk mencapai penyesuaian itu dan penyesuaian itu adalah cintanya.&amp;nbsp; Inilah maksud Al-Quran:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; …….., Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.(Al Baqoroh:222)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa dan maksiat sangat bertentang dengan masalah ini&amp;nbsp; Oleh karena itulah tercantum dalam Al-Quran:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. (Al Jaatsiyah:27)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang dikaruniai dengan mata keruhanian telah nampak hakikat ini dalam rasa pengalaman mereka bukan hanya kata-kata yang diterima turun-menurun sejak dahulu lagi.&amp;nbsp; Pandangan mereka itu membawa kepercayaan bahwa orang yang berkata demikian adalah sebenarnya Nabi,&amp;nbsp;&amp;nbsp; ibarat orang yang mengkaji ilmu pengobatan,&amp;nbsp; akan tahu adakah orang yang berbicara berkenaan pengobatan itu sebenarnya dokter ataupun bukan.&amp;nbsp; Ini adalah jenis keyakinan yang tidak perlu dibantu dengan mukjizat atau perbuatan yang diluar kebiasaan karena yang&amp;nbsp; demikian pun dapat dilakukan juga oleh tukang sihir atau tukang silap mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya’adah – KIMIA KEBAHAGIAAN – Karya : Imam Al-Ghazali&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemahan-kimyatusy-syaadah-memandang.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-1140821754366006965</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 06:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T23:02:53.535-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemahan Kimyatusy- Sya’adah { TANDA-TANDA CINTA KEPADA ALLOH   }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ramai orang berkata ia Cinta kepada Alloh Subhanahuwa Taala.&amp;nbsp; Perkataan itu hendaklah diuji terlebih dahulu adakah yang murni atau hanya palsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujian pertama adalah : Dia hendaklah tidak benci kepada mati karena tidak ada orang yang enggan bertemu dengan sahabatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Muhammad saw bersabda :&lt;br /&gt;
“Siapa yang ingin melihat Alloh,&amp;nbsp; Alloh ingin melihat dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar ada juga orang yang ikhlas cintanya kepada Alloh berasa gentar apabila mengingat kedatangan mati sebelum ia siap menyiapkan persediaan untuk pulang ke akhirat,&amp;nbsp;&amp;nbsp; tetapi jika betul-betul ikhlas dia akan bertambah rajin berusaha lagi untuk menyiapkan persediaan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujian kedua adalah : ia mestilah bersedia mengorbankan kehendaknya untuk menurut kehendak Alloh dan dengan daya upaya yang ada menghampirkan diri kepada Alloh dan benci kepada apa saja yang menjauhkan dirinya dengan Alloh.&amp;nbsp; Dosa yang dilakukan oleh seseorang itu bukanlah bukti ia tidak cinta kepada Alloh langsung tetapi itu membuktikan yang ia tidak menyintai Alloh sepenuh jiwa raganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fudhoil bin Iyadh seorang wali Alloh berkata kepada seorang lelaki :&lt;br /&gt;
“Jika seseorang bertanya kepada mu apakah kamu cinta kepada Alloh?&amp;nbsp; hendaklah kamu diam karena jika kamu kata:&amp;nbsp; “Saya tidak cinta kepadaNya”,&amp;nbsp; maka kamu kafir dan jika kamu berkata,&amp;nbsp; “Saya cinta”,&amp;nbsp; maka perbuatan kamu berlawanan dengan katamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujian yang ketiga adalah : ingat kepada Alloh itu mestilah sentiasa ada dalam hati manusia itu tanpa ditekan atau direkayasa kebenarannya,&amp;nbsp; karena apa yang kita cinta itu mestilah sentiasa kita ingat.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekiranya cinta itu sempurna,&amp;nbsp; ia tidak akan lupa yang dicintainya itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada juga kemungkinan bahwa sementara cinta kepada Alloh itu tidak mengambil tempat yang utama dalam hati seseorang itu,&amp;nbsp; maka cinta kepada menyintai Alloh itu mungkin mengambil tempat juga,&amp;nbsp; karena cinta itu satu hal dan cinta kepada cinta itu adalah satu masalah yang lain pula.&lt;br /&gt;
Ujian yang keempat adalah : kemudian menunjukkan adanya cinta kepada Alloh ialah bahwa seseorang itu cinta kepada Al-Quran,&amp;nbsp; yaiitu Kalam Alloh,&amp;nbsp; dan cinta kepada Muhammad yaitu Rasul Alloh.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika cintanya benar-benar kuat,&amp;nbsp; ia akan cinta kepada semua orang karena semua manusia itu adalah hamba Alloh.&amp;nbsp; Bahkan cintanya meliputi semua makhluk,&amp;nbsp; karena orang yang kasih atau cinta kepada seseorang itu tentulah kasih pula kepada kerja-kerja yang dibuat oleh kekasihnya itu dan cintanya juga kepada tulisan atau karangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujian yang kelima adalah : ia suka duduk bersendirian untuk maksud beribadat dan ia suka malam itu cepat datang agar dapat berbicara dengan rekan atau sahabatnya tanpa ada yang menggangu.&amp;nbsp; Jika ia suka berbual-bual di siang hari dan tidur di malam hari maka itu menunjukkan cintanya tidak sempurna.&amp;nbsp; Alloh berfirman kepada Nabi Daud :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat lalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat”. (Shaad:24)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hakikatnya,&amp;nbsp; jika cinta kepada Alloh itu benar-benar mengambil tempat seluruhnya didalam hati seseorang itu,&amp;nbsp; maka cintanya kepada yang&amp;nbsp; lain itu tidak akan dapat mengambil tempat langsung ke dalam hati itu.&amp;nbsp; Seorang dari Bani Israel telah menjadi kebiasaan sembahyang di malam hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi apabila melihat burung bernyanyian di sebatang pohon dengan merdu sekali,&amp;nbsp; dia pun sembahyang di bawah pohon itu supaya dapat menikmati nyanyian burung itu.&amp;nbsp; Alloh menyuruh Nabi Daud pergi berjumpa dia dan berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Engkau telah mencampurkan cinta kepada nyanyian burung dengan cinta kepadaKu,&amp;nbsp; Martabat engkau di kalangan Auliya’ Alloh telah diturunkan,”&lt;br /&gt;
Sebaliknya ada pula orang yang terlalu cinta kepada Alloh, suatu hari sedang ia melakukan ibadatnya kepada Alloh rumahnya telah terbakar,&amp;nbsp; tetapi ia tidak tahu dan sadar rumahnya terbakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujian yang keenam adalah : ibadahnya menjadi senang sekali.&amp;nbsp; Seorang Wali Alloh ada berkata :&lt;br /&gt;
“Dalam tiga puluh tahun&amp;nbsp; yang pertama saya melakukan sembahyang malam dengan susah payah sekali,&amp;nbsp;&amp;nbsp; tetapi tiga puluh yang kedua sembahyang itu menjadi indah dan nikmat pula kepada saya.”&amp;nbsp; Apabila cinta kepada Alloh itu sempuna,&amp;nbsp; maka tidak ada keindahan yang sebanding dengan keindahan beribadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujian yang ke ketujuh adalah : Orang yang cinta kepada Alloh itu akan cinta kepada mereka yang taat kepada Alloh dan mereka benci kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang durhaka kepada Alloh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Quran menyatakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ” Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, .”&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hujurat:7)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu masa,&amp;nbsp; Nabi bertanya kepada Alloh,&amp;nbsp; “Wahai Tuhan,&amp;nbsp; siapakah kekasihmu?” Terdengarlah jawaban,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa yang berpegang teguh kepadaKu seperti bayi dengan ibunya,&amp;nbsp; mengambil perlindungan dengan MengingatiKu seperti burung mencari perlindungan disarangnya,&amp;nbsp; dan yang marah melihat dosa seperti singa yang marah yang tidak takut kepada apa dan siapa pun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya’adah – KIMIA KEBAHAGIAAN – Karya : Imam Al-Ghazali&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemahan-kimyatusy-syaadah-tanda.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-1122069204066680849</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 06:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T23:01:23.831-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya’adah { MEMERIKSA DIRI SENDIRI &amp; MENGINGAT ALLOH }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketahuilah wahai saudaraku,&amp;nbsp; dalam Al-Qur’an Alloh berfirman,&amp;nbsp;&amp;nbsp; lebih kurang maksudnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ” Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. ” (Al Zalzalah:6-7)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tercantum juga dalam Al-Qur’an firman yang berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ” maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. ” (At Takwir:14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khalifah Umar ada berkata,&amp;nbsp; ” perhitunglah dirimu sebelum engkau diperhitungkan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alloh SWT berfirman :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ” Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan. “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wali-wali Alloh sentiasa mengetahui bahwa manusia datang ke dunia ini untuk menjalankan pengembaraan keruhanian,&amp;nbsp; yang akibatnya ialah untung atau rugi dan tujuannya adalah neraka atau syurga.&amp;nbsp; Senantiasalah mereka itu berwaspada terhadap kehendak-kehendak jasamaniah (tubuh) yang diibaratkan sebagai rekan dalam bisnis yang bersifat jahat dan ada kalanya mendatangkan kerugian kepada bisnis itu.&amp;nbsp; Sebenarnya orang yang bijak itu adalah orang yang mau merenung sebentar selepas sembahyang subuh memikirkan hal dirinya dan berkata kepada jiwanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai jiwaku,&amp;nbsp;&amp;nbsp; engkau hanya hidup sekali.&amp;nbsp; Tiap-tiap saat yang berlalu tidak akan datang lagi dan tidak akan dapat diambil kembali kerena di Hadirat Alloh Subhanahuwa Taala,&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bilangan nafas turun naik yang dikurniakan kepada engkau itu telah ditetapkan dan tidak boleh ditambah lagi.&amp;nbsp; Inilah perjalanan hidup dalam dunia hanya sekali,&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak ada kali yang kedua dan seterusnya.&amp;nbsp; Oleh itu,&amp;nbsp; apa yang engkau hendak perbuat,&amp;nbsp; buatlah sekarang.&amp;nbsp; Anggaplah seolah-olah hidupmu telah berakhir,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan hari ini adalah hari tambahan yang diberi kepada engkau karena karunia Alloh Subhanahuwa Taala juga.&amp;nbsp; Alangkah ruginya membiarkan hari ini berlalu dengan sia-sia.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak ada yang lebih rugi dari itu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari berbangkit di akhirat kelak,&amp;nbsp; seseorang itu akan melihat semua waktu hidupnya di dunia ini tersusun seperti susunan peti harta dalam satu barisan yang panjang.&lt;br /&gt;
Pintu sebuah daripada peti itu terbuka dan kelihatanlah penuh dengan cahaya:&amp;nbsp; Ini menunjukkan waktu yang dipenuhinya dengan membuat amalan yang sholeh.&amp;nbsp; Hatinya akan terasa indah dan bahagia sekali,&amp;nbsp; bahkan sedikit saja rasa bahagia itu pun sudah cukup membuat penghuni neraka melupakan api neraka yang bernyala itu.&lt;br /&gt;
Kemudian peti yang kedua terbuka,&amp;nbsp; maka terlihatlah gelap gelita di dalamnya.&amp;nbsp; Dari situ keluarlah bau busuk yang amat sangat hingga orang terpaksa menutup hidungnya:&amp;nbsp; Ini menunjukkan waktu yang dipenuhinya dengan amal maksiat dan dosa.&amp;nbsp; Maka akan dirasainya azab yang tidak terhingga bahkan sedikit saja pun dari azab itu sudah cukup menggusarkan ahli syurga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selepas itu terbuka pintu peti yang ketiga,&amp;nbsp; dan kelihatanlah kosong saja,&amp;nbsp; tidak ada gelap dan tidak ada cahaya di dalamnya:&amp;nbsp; Inilah melambangkan waktu yang dihabiskannya dengan tidak membuat amalan sholeh dan tidak juga membuat amalan maksiat dan dosa.&amp;nbsp; Ia akan merasa sesal dan tidak tentu arah seperti orang yang ada mempunyai harta yang banyak membiarkan hartanya terbuang dan lepas begitu saja dengan sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah seluruh waktu yang dijalannya itu akan dipamerkan kepadanya satu persatu.&amp;nbsp; Oleh karena itu,&amp;nbsp; seseorang itu hendaklah berkata kepada jiwanya tiap-tiap pagi :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alloh telah mengkaruniakan engkau dua puluh empat jam peti harta.&amp;nbsp; Berhati-hatilah mengawasinya supaya jangan kehilangan,&amp;nbsp; karena engkau tidak akan boleh menanggung rasa sesal yang amat sangat jika engkau kehilangan harta itu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aulia Alloh ada berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun sekiranya Alloh mengampuni kamu,&amp;nbsp; setelah hidup disia-siakan,&amp;nbsp; kamu tidak akan mencapai derajat orang-orang yang Sholeh dan pasti kamu akan meratapi dan manangisi kerugianmu itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Oleh itu jagalah lidahmu,&amp;nbsp; matamu dan tiap-tiap anggota mu yang tujuh itu kerena semua itu mungkin menjadi pintu untuk menuju ke Neraka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katakanlah kepada tubuhmu;&amp;nbsp; “Jika kamu memberontak,&amp;nbsp; sesungguhnya kamu akan kuhukum”, karena meskipun tubuh itu kotor,&amp;nbsp; ia boleh menerima arahan dan boleh dijinakkan dengan zuhud”.&amp;nbsp; Demikianlah tujuan memeriksa atau memperhitung diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda :&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang beramal sekarang apa yang menguntungkannya di akhirat kelak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sekarang kita masuk pula kepada bagian yang berhubungan dengan Zikirulloh (mengenang atau mengingat Alloh). Manusia itu hendaklah ingat bahwa Alloh Melihat dan Memperhatikan semua tingkah laku dan pikirannya.&amp;nbsp; Manusia hanya melihat yang zhohir saja,&amp;nbsp; tetapi Alloh Melihat zhohir dan batinnya manusia itu.&amp;nbsp; Orang yang percaya dengan ini sebenarnya dapatlah ia menguasai dan mendisiplinkan zhohir dan bathinnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ia tidak percaya ini,&amp;nbsp; maka KAFIRLAH ia.&amp;nbsp; Jika ia percaya tetapi ia bertindak berlawanan dengan kepercayaan itu,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka salah besarlah ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari,&amp;nbsp; seorang Negro menemui Nabi SAW. dan berkata;&amp;nbsp; “Wahai Rasulullah!&amp;nbsp; Saya telah melakukan banyak dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakah taubatku diterima atau tidak?”. Nabi SAW.&amp;nbsp; menjawab; “Ya”. Kemudian Negro itu berkata lagi,&amp;nbsp; “Wahai Rasulullah!&amp;nbsp; Setiap kali aku membuat dosa adakah Alloh Melihatnya?”. Nabi SAW.&amp;nbsp; menjawab lagi;&amp;nbsp; “Ya”&lt;br /&gt;
Negro itu pun menjerit lalu mati.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sehingga seseorang itu benar-benar percaya bahwa ia sentiasa dalam perhatian Alloh,&amp;nbsp; maka tidaklah mungkin baginya membuat amalan yang baik-baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang Sheikh ada seorang murid yang lebih disayanginya daripada murid-murid yang lain.&amp;nbsp; Dengan itu murid-murid yang lain itu pun berasa dengki kepada murid yang seorang itu.&amp;nbsp; Suatu hari Sheikh itu memberi kepada tiap-tiap murid itu seekor ayam dan menyuruh mereka menyembelih ayam itu di tempat yang tidak ada seseorang pun melihat ia menyembelih itu.&amp;nbsp; Maka pergilah mereka tiap-tiap murid membawa seekor ayam ke tempat yang sunyi dan menyembelih ayam di situ.&amp;nbsp; Kemudian membawanya kembali kepada Sheikh mereka.&amp;nbsp; Semuanya membawa ayam yang telah disembelih kepada Sheikh mereka kecuali seorang yaitu murid yang&amp;nbsp; lebih disayangi oleh Sheikh itu.&amp;nbsp; Murid yang seorang ini tidak menyembelih ayam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia berkata; “Saya tidak menjumpai tempat yang dimaksudkan itu kerena Alloh di mana-manapun Melihat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sheikh itu pun berkata kepada murid-murid yang lain: “Sekarang sekelian telah lihat sendiri derajat pemuda ini.&amp;nbsp; Dia telah mencapai ke taraf ingat sentiasa kepada Alloh”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila Zulaiha coba menggoda Nabi Yusuf ,&amp;nbsp; ia menutup dengan kain muka sebuah berhala yang selalu disimpannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Yusuf berkata kepadanya :&lt;br /&gt;
“Wahai Zulaiha,&amp;nbsp;&amp;nbsp; adakah kamu malu dengan batu?&amp;nbsp; sedangkan dengan batu engkau malu,&amp;nbsp; betapa aku tidak malu dengan Alloh yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada seorang datang berjumpa dengan Sheikh dan berkata;&amp;nbsp; “Saya tidak dapat menghindarkan mataku dari hal-hal yang membawa dosa.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagaimanakah saya hendak mengawalnya?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sheikh menjawab; “Dengan cara mengingat Alloh Melihat kamu lebih jelas dan terang lagi daripada kamu melihat orang lain”.&lt;br /&gt;
Dalam hadis ada diterangkan bahwa Alloh ada berfirman seperti demikian;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syurga itu adalah bagi mereka yang bersabar hendak membuat suatu dosa,&amp;nbsp; dan kemudian mereka ingat bahwa Aku sentiasa Memandang mereka,&amp;nbsp; lalu mereka pun menahan diri mereka”.&lt;br /&gt;
Abdullah Ibnu Dinar meriwayatkan;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu ketika saya berjalan dengan Khalifah Omar menghampiri kota Mekah.&amp;nbsp; Kami bertemu dengan seorang gembala yang sedang membawa gembalaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omar berkata kepada gembala itu :&amp;nbsp; “Jualkan pada saya seekor kambing itu”. Gembala itu menjawab;&amp;nbsp; “Kambing itu bukan saya punya,&amp;nbsp; tuan saya yang mempunyainya.” Kemudian untuk mencobanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omar berkata;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Baiklah,&amp;nbsp; kamu katakanlah kepada tuanmu bahwa yang seekor itu telah dimakan oleh serigala” .&amp;nbsp;&amp;nbsp; Budak gembala itu menjawab; “Tidak,&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesungguhnya tuan saya tidak tahu tetapi Alloh Mengetahuinya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar jawapan budak gembala itu,&amp;nbsp; bertetesanlah air mata Omar.&amp;nbsp; Beliau pun pergi berjumpa dengan tuan budak gembala kambing itu lalu membelinya dan membebaskannya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beliau berkata kepada budak itu :&amp;nbsp; “Karena kata-katamu itu,&amp;nbsp; engkau bebas dalam dunia dan akan bebas juga di akhirat kelak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua derajat berkenaan Zikir Alloh (mengenang Alloh) ini.&amp;nbsp; Derajat pertama ialah derajat Aulia Alloh.&amp;nbsp; Mereka&amp;nbsp; bertafakur dan tenggelam dalam tafakur mereka dalam mengenang Keagungan dan Kemuliaan Alloh. dan tidak ada tempat langsung dalam hati mereka untuk ‘gairuLlah” (selain dari Alloh).&amp;nbsp; Ini adalah derajat zikir Alloh yang bawah,&amp;nbsp;&amp;nbsp; karena apabila hati seseorang itu telah tetap dan anggotanya dikontrol penuh oleh hatinya hingga mereka dapat mengawal mereka dari hal-hal yang halal pun,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka tidak perlulah lagi ia menyediakan alat atau penahan untuk menghalangi dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kepada zikir Alloh seperti inilah Nabi Muhammad (S.W.T) maksudkan apabila ia berkata,&lt;br /&gt;
“Orang yang bangun pagi-pagi dengan hanya Alloh dalam hatinya,&amp;nbsp; Alloh akan memeliharanya didunia dan diakhirat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setengah daripada mereka golongan ini sangat asyik dan tenggelam dalam mengenang dalam mengingati Alloh hingga kalau ada orang berbicara kepada mereka tidaklah mereka dengar,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kalau orang berjalan dihadapan mereka tidaklah mereka nampak.&amp;nbsp; Mereka seolah-olah diam seperti dinding.&amp;nbsp; Seseorang Wali Alloh berkata :&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Suatu hari saya melintasi tempat ahli-ahli pemanah sedang bertanding memanah.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak berapa jauh dari situ ada seorang duduk seorang diri.&amp;nbsp; Saya pergi kepadanya dan coba hendak berbicara dengannya.&lt;br /&gt;
Tetapi ia menjawab,&amp;nbsp; “Mengenang Alloh itu lebih baik dari berbicara”.&lt;br /&gt;
Saya bertanya,&amp;nbsp; “tidakkah kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
“Tidak” jawabnya, “Alloh dan dua orang malaikat ada bersamaku” .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya kepada beliau sambil menunjukkan kepada pemanah-pemanah itu, “Antara mereka itu,&amp;nbsp; yang manakah akan menang?”&lt;br /&gt;
Beliau menjawab,&amp;nbsp; “Yang itu,&amp;nbsp; Alloh telah beri kemenangan&amp;nbsp; kepadanya.”&lt;br /&gt;
Kemudian saya bertanya, “dari manakah kamu tahu ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar itu,&amp;nbsp; ia merenung ke langit lalu berdiri dan pergi sambil berkata,&amp;nbsp; “Oh Tuhan!&amp;nbsp; Banyak hamba-hambamu mengganggu seorang yang sedang mengingatimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang wali Alloh bernama Syubli satu hari pergi berjumpa seorang sufi bernama Thauri.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beliau lihat Thauri duduk dengan berdiam diri dalam tafakkur hingga sehelai bulu romanya pun tidak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syubili bertanya kepada Thauri, “Kepada siapa anda belajar latihan bertafakkur dengan diam diri seperti itu?” Thauri menjawab, “Dari seekor kucing yang saya lihat menunggu di depan lubang tikus.&amp;nbsp; Kucing itu akan lebih diam dari apa yang saya lakukan ini.”&lt;br /&gt;
Ibn&amp;nbsp; Hanif meriwayatkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya diberitahu bahwa di Bandar Thur ada seorang Syeikh dan muridnya sentiasa duduk dan tenggelam dalam zikir Alloh.&amp;nbsp; Saya pergi ke situ dan saya dapati kedua orang itu duduk dengan muka mereka menghadap ke kiblat.&amp;nbsp; Saya memberi salam kepada mereka tiga kali.&amp;nbsp; Tetapi mereka tidak menjawab.&amp;nbsp; Saya berkata,&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Dengan nama Alloh saya minta tuan-tuan menjawab salamku”.&amp;nbsp; Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai Ibn Hanif! dunia ini untuk sebentar waktu saja,&amp;nbsp; dan yang sebentar itupun tinggal sedikit saja.&amp;nbsp; Anda mengganggu kami karena meminta kami menjawab salammu itu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia menundukkan kepalanya lagi dan terus berdiam diri.&amp;nbsp; Saya rasa lapar dan dahaga pada masa itu,&amp;nbsp; tetapi dengan memandang mereka itu saya lupa pada diri saya.&amp;nbsp; Saya terus bersama mereka dan sembahyang Dhuhur dan Ashar bersama mereka.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya minta mereka memberi nasihat kepada saya berkenaan kerohanian ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemuda itu menjawab,&amp;nbsp; ” Wahai Ibni Hanif,&amp;nbsp; kami merasa susah,&amp;nbsp; kami tidak ada lidah untuk memberi nasihat itu.” Saya terus berdiri di sepertiga malam.&amp;nbsp; Kami tidak berbicara antara satu sama lain,&amp;nbsp; dan tidak tidur.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kemudian saya berkata kepada diri saya sendiri,&amp;nbsp; saya akan mohon kepada Alloh supaya mereka menasihati saya.”&amp;nbsp; Pemuda itu mengangkat kepalanya dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergilah cari orang seperti itu,&amp;nbsp; ia akan dapat membawa Alloh kepada ingatan anda dan melengkapkan rasa takut kepada hatimu,&amp;nbsp; dan ia akan memberi anda nasihat yang disampaikan secara diam tanpa berbicara sembarangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah dzikir Alloh para Aulia yaitu melenyapkan dan menenggelamkan pikiran dan khayalan dalam Mengenang Alloh.&amp;nbsp; Zikir Mengenang Alloh (dzikir Alloh) yang kedua ialah dzikirnya “golongan kanan” yaitu yang disebut dalam Quran sebagai Ashabul&amp;nbsp;&amp;nbsp; Yamin.&amp;nbsp; Mereka ini tahu dan kenal bahwa Alloh sangat mengetahui terhadap mereka dan mereka merasa tunduk dan tawaduk di Hadirat Alloh SWT tetapi tidaklah sampai mereka melenyapkan dan menenggelamkan pikiran dan khayalan mereka dalam mengenang Alloh saja sehingga tidak peduli keadaan keliling mereka.&amp;nbsp; Mereka sadar diri mereka dan sadar terhadap alam ini.&amp;nbsp; Keadaan mereka adalah seperti seorang yang terkejut karena didapati dalam keadaan telanjang dan cepat-cepat menutup aurat mereka.&lt;br /&gt;
Golongan yang satu lagi adalah seperti orang yang tiba-tiba mendapati diri mereka di majlis raja yang besar lalu ia merasa tidak tentu arah dan merasa takjub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Golongan yang mula-mula itu memeriksa terlebih dahulu apa yang memasuki hati mereka dengan rapi sekali,&amp;nbsp; karena di hari kiamat kelak tiga persoalan akan ditanya terhadap tiap-tiap perbuatan.&amp;nbsp; Dan tindakan yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;
Pertama:&amp;nbsp; “Kenapa kamu membuat ini?” ,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua:&amp;nbsp; “Dengan cara apa kamu membuat ini?”,&amp;nbsp; dan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga:&amp;nbsp; “Untuk tujuan apa kamu melakukan ini?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang pertama itu dipermasalahkan karena seseorang itu hendaklah bertindak dari niat dan dorongan Ketuhanan dan bukan dorongan Syaitan dan hawa nafsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika masalah itu dijawab dengan memuaskan hati,&amp;nbsp; maka diadakan ujian kedua yaitu masalah bagaiman tindakan itu dilakukan dengan bijak,&amp;nbsp; dengan cara baik,&amp;nbsp; atau dengan cara tidak peduli atau tidak baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang ketiga,&amp;nbsp; adanya perbuatan dan tindakan itu karena Alloh semataa atau bukan karena hendak disanjung oleh manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika seseorang itu memahami makna dari masalah masalah ini,&amp;nbsp; maka ia tentu berhati-hati sekali terhadap keadaan hatinya dan bagaimana ia melawan pikiran yang mungkin menimbulkan tindakannya.&amp;nbsp; Sebenarnya memilih dan menapis pikiran dan khayalan itu sangatlah susah dan rumit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangsiapa yang tidak sanggup membuatnya hendaklah pergi berguru dengan orang-orang&amp;nbsp; keruhanian.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengaji dan berguru dengan mereka itu dapat mendatangkan cahaya ke dalam hati.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dia hendaklah menjauhkan diri dari orang-orang alim kedunian kerena mereka ini adalah alat atau ujian syaitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Alloh berfirman kepada Nabi Daud a.s.;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ” Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. “. (Shaad:26)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Muhammad SAW.&amp;nbsp; pernah bersabda;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alloh kasih kepada orang yang tajam matanya terhadap hal-hal yang menimbulkan syak-wasangka dan tidak membiarkan akalnya diganggui oleh serangan hawa nafsu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akal dan pilihan sangat berkaitan,&amp;nbsp; dan orang yang akalnya tidak menguasai hawa nafsu tidak akan dapat memilih yang baik dari yang jahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping membuat pilihan dan berhati-hati sebelum bertindak,&amp;nbsp; maka seseorang itu hendaklah menghitung dan menyadari apa yang telah dilakukannya dahulu.&amp;nbsp; Tiap-tiap malam periksalah dengan hati dan lihatlah apa yang telah dilakukan dan sama adanya untung atau rugi dalam bisnis keruhaniaan ini.&amp;nbsp; Ini adalah penting karena hati itu ibarat rekan dalam berbisnis yang jahat yang senantiasa hendak menipu dan menjilat.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kadang-kadang ia menunjukkan diri jahatnya itu.&amp;nbsp; Sebaliknya topeng taat kepada Alloh,&amp;nbsp; agar manusia menganggap ia telah beruntung tetapi sebenarnya ia telah rugi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang Wali Alloh bernama Amiya yang berumur 60 tahun telah menghitung berapa hari umurnya.&amp;nbsp; Maka didapati umurnya ialah selama 21, 600 hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau berkata kepada dirinya sendiri :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aduhai!&amp;nbsp; jika saya telah melakukan satu dosa dalam sehari,&amp;nbsp; bagaimana saya hendak lari dari beban 21, 600 dosa?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menjerit dan terus rebah.&amp;nbsp; Apabila orang datang hendak mengangkatkannya,&amp;nbsp;&amp;nbsp; mereka telah mendapati beliau telah meninggal dunia.&amp;nbsp; Tetapi malang ,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kebanyakan orang telah lupa.&amp;nbsp; Mereka tidak memperhitung diri mereka sendiri.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika tiap-tiap satu dosa itu diibaratkan sebiji batu,&amp;nbsp; maka penuhlah sebuah rumah dengan batu itu.&amp;nbsp; Jika malaikat Kiraman Kaatibin meminta gaji karena menulis dosa yang telah manusia lakukan,&amp;nbsp; maka tentulah habis uangnya bahkan tidak cukup untuk membayar gaji mereka itu.&amp;nbsp; Orang berpuas hati membilang biji tasbih sambil berzikir nama Alloh,&amp;nbsp; tetapi mereka tidak ada biji tasbih untuk mengira berapa banyak percakapan sia-sia yang telah diucapkannya.&amp;nbsp; Oleh karena itulah, Khalifah Omar berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Timbanglah perkataan dan perbuatanmu sekarang sebelum ia dipertimbangkan di akhirat kelak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau sendiri sebelum pergi tidur malam hari memukul kakinya dengan cambuk sambil berkata : “Apa yang telah engkau lakukan hari ini?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari Thalhah sedang sembahyang di bawah pohon-pohon kurma dan terlihat olehnya seekor burung yang jinak berterbangan di situ.&amp;nbsp; Karena memandang burung itu beliau terlupa berapa kalikah beliau sujud.&amp;nbsp; Untuk menghukum dirinya karena kelalaian itu,&amp;nbsp;&amp;nbsp; beliau pun memberi pohon-pohon khurma itu kepada orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aulia Alloh mengetahui hawa nafsu mereka itu selalu membawa kepada kesesatan.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Oleh itu mereka berhati-hati benar dan menghukum diri mereka setiap kali mereka telah melanggar batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika seseorang itu mendapati diri mereka telah terjauh dan menyeleweng dari sifat zuhud dan disiplin diri,&amp;nbsp; maka sepatutnya beliau belajar dan meminta nasihat dari orang yang pakar dalam latihan keruhanian,&amp;nbsp; supaya hati mereka lebih bersemangat kepada sifat zuhud,&amp;nbsp; disiplin diri dan akhlak yang suci itu.&lt;br /&gt;
Seorang Wali Alloh pernah berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila saya berasa merosot dalam disiplin diri,&amp;nbsp; saya akan melihat Muhammad bin Abu Wasi,&amp;nbsp; dan melihat beliau itu bersemagatlah hatiku sekurang-kurangnya seminggu”.&lt;br /&gt;
Jika seseorang itu tidak mendapati seseorang yang zuhud di sekitarnya,&amp;nbsp; maka indahlah mengkaji riwayat Aulia Alloh.&amp;nbsp; indah juga ia menasihat jiwanya seperti demikian :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai jiwaku!&amp;nbsp; engkau fikir dirimu cerdik pandai dan engkau marah jika disebut bodoh.&amp;nbsp; Maka apakah engkau ini?&amp;nbsp; Engkau sediakan kain baju untuk melindungi dingin tetapi tidak bersedia untuk kembali ke akhirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keadaanmu adalah seperti orang dalam musim sejuk berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak pakai pakaian panas,&amp;nbsp; cukuplah aku bertawakkal kepada Alloh untuk melindungi aku dari dingin”.&lt;br /&gt;
Dia telah lupa bahwa Alloh disamping menjadikan dingin itu ada juga memberi petunjuk kepada manusia bagaimana membuat pakaian untuk melindungi dari dari sejuk dan dingin,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan disediakan alat dan bahan-bahan untuk membuat pakaian itu.&amp;nbsp; Ingatlah jiwa!&amp;nbsp;&amp;nbsp; hukuman kepadamu di akhirat kelak bukanlah karena Alloh murka karena tidak patuhmu,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan janganlah berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana pula dosaku boleh menyakiti Alloh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakah hawa nafsumu sendiri yang menyalakan api neraka di dalam dirimu sendiri,&amp;nbsp;&amp;nbsp; seperti orang yang memakan makanan yang membawa penyakit.&amp;nbsp; adalah penyakit itu tejadi dalam tubuh&amp;nbsp; manusia,&amp;nbsp; dan bukan karena dokter marah kepadanya karena tidak mematuhi perintahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak malukah kamu wahai jiwa!&amp;nbsp; karena kamu sangat cenderung kepada dunia!!!.&amp;nbsp; Jika kamu tidak percaya dengan Syurga dan Neraka,&amp;nbsp; maka sekurang-kurangnya percayalah kepada mati yang akan merampas dari kamu semua keindahan dunia dunia dan membuat kamu merasa kepayahan berpisah dari dunia ini.&amp;nbsp; Semakin kuat keterikan kamu kepada dunia,&amp;nbsp; maka semakin pedihlah yang kamu rasakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dunia ini bagimu?&amp;nbsp; Jika seluruh dunia ini dari Timur ke Barat kepunyaanmu dan menyembahmu,&amp;nbsp; namun itu tidaklah lama.&amp;nbsp; Akan semuanya hancur jadi abu bersama dirimu sendiri dan namamu makin lama makin dilupakan,&amp;nbsp;&amp;nbsp; seperti Raja-raja yang dahulu sebelum kamu.&amp;nbsp; Setelah kamu&amp;nbsp; melihat bagaimana kecil dan kerdilnya kamu di dunia ini,&amp;nbsp; maka kenapa kamu bergila-gila benar menjual keindahan dan kebahagiaan yang abadi dan memilih kebahagian yang sementara seperti menjual intan berlian yang mahal untuk mendapatkan kaca yang tidak berharga,&amp;nbsp; dan menjadikan kamu bahan ketawa orang lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terjemahan Kitab Kimyatusy- Sya’adah – KIMIA KEBAHAGIAAN – Karya : Imam Al-Ghazali&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemahan-kitab-kimyatusy-syaadah.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-7351146244147374118</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 05:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T22:46:58.641-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemah ringkas kitab Risalah Al-Qusyairiyah { Sesungguhnya iradah adalah kepedihan hati karena jeratan cinta kepada الله }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;ه SWT berfirman :&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ولا تطرد الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang hari, sedangkan mereka menghendaki keridaan-Nya (Al-An’am 52).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas bin Malik diceritakan bahwa Nabi SAW bersabda, :&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;اذا اراد الله بعبد خيرا استعمله, قيل له كيف يستعمله يا رسول الله ؟ قال : يوفقه لعمل صالح قبل الموت&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Jika الله menghendaki kebaikan seorang hamba maka dia dipekerjakan (dengan kebaikan itu). Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana ia dipekerjakan-Nya Ya رسول الله ?” Nabi menajwab, ‘Diberi pemahaman untuk beramal kebajikan sebelum mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iradah (kehendak) adalah awal perjalanan para salik yang sebenarnya merupakan nama bagi tahapan / maqam pertama pendakian para salik untuk menuju ke hadirat الله. Sifat ini dinamakan iradah karena iradah merupakan awal segala urusan. Barang siapa tidak memiliki kehendak terhadap sesuatu maka tidaklah mungkin ia melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala persoalan yang berkenaan dengan langkah awal perjalanan para salik dalam meniti jalan menuju الله dinamakan iradah. Kedudukannya sama dengan mukadimah dalam segala urusan yang berkaitan dengan tujuan. Murid harus memiliki iradah sebagai belahan kesatuan langkah-langkahnya sebagaimana seorang alim diharuskan memiliki ilmu sebagai belahan kealimannya. Murid dalam pengertian ahli sufi bukanlah perwujudan kehendak milik murid sendiri karena orang yang belum bisa memurnikan dirnya sendiri dari eksistensi kehendak dirinya maka belumlah dinamakan murid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang yang memberikan arti iradah, masing-masing mengungkapkannya sebatas apa yang tersirat di dalam hatinya. Sementara para sufi mengatakan bahwa iradah adalah meninggalkan apa yang telah menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan manusia pada umumnya adalah terpaku kepada hukum penapakan pada tempat-tempat yang membuat dirinya lupa, percaya pada ajakan syahwat dan cenderung mengikuti apa yang dibisikkan oleh harapan atau angan-angan. Sedangkan seorang murid harus terlepas dari identitas ini. Semuanya tidak boleh melekat pada dirinya. Kemampuan salik keluar dari kenyataan-kenyataan (semu) iradahnya, menjadi bukti atas kebenaran iradah-Nya. Keadaan semacam inilah yang dinamakan iradah yaitu keluarnya salik dari hukum kebiasaan. Dengan demikian keberhasilan meninggalkan kebiasaan merupakan tanda-tanda iradah, adapun hakikatnya adalah manifestasi kebangkitan hati dalam pencarian Al-Haq. Karena itu dikatakan, “Sesungguhnya iradah adalah kepedihan hati karena jeratan cinta kepada الله yang mampu menghinakan setiap keharuan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan dari seorang guru sufi, “Suatu hari saya sendirian berada di sebuah pedusunan yang sunyi. Tiba-tiba dada saya terasa sempit yang mendorong lidah saya mengucapkan,’Wahai manusia, bicaralah kepada saya, wahai jin bicaralah kepada saya’. Tiba-tiba sebuah suara tanpa bentuk menyahut, ‘Apa yang kamu kehendaki ?’ Saya menjawab, ‘الله’ yang saya kehendaki’. Dai kembali bertanya, ‘Kapan kamu menghendaki الله ?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah ini mengandung pelajaran tentang makna iradah. Orang tersebut mengatakan, ‘Bicaralah kepada saya’. Menunjukkan sebagai orang yang berkehendak (murid) pada الله. Orang yang berkehendak (murid) selalu tidak tenang dan lemas sepanjang malam dan siang. Dia dalam lahiriyahnya dihiasi dengan berbagai mujahadah dan di dalam bathiniyahnya disifati dengan penahanan berbagai bentuk beban kesulitan. Dia senantiasa menjauhkan diri dari tempat tidur, selalu siaga, siap memikul berbagai kesulitan dan menanggung berbagai kepayahan, mengobati akhlak, membiasakan diri dengan hal-hal yang berat, merangkul obyek-obyek yang menakutkan dan memisahkan diri dengan berbagai bentuk eksistensi atau simbol-simbol keperanan. Sebagaimana tersebut di dalam sebuah syair :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian malam saya putus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam berbagai kenikmatannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada singa yang saya takuti&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak pun serigala&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rinduku mengalahkan saya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu saya melipat rahasia saya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan orang yang punya kerinduan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang selalu dikalahkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah mengatakan, bahwa yang dimaksud iradah adalah pedihnya kerinduan di dalam hati, sengatan yang menimpa hati, cinta yang menyala-nyala dan membakar nurani, kecemasan yang menggedor dinding-dinding bathin, api cahaya yang membakar kubah hati. Beliau juga mengatakan, “Saya di dalam permulaan kerinduan, dalam keadaan terbakar di tungku perapian iradah. Kemudian saya membisikkan ke dalam hati saya, “Duhai perasaan hati, alangkah pedihnya ! Apa arti iradah itu ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yusuf bin Husin mengatakan, “Antara Abu Sulaiman Ad-Daraani dan Ahmad bin Abi Al-Hiwari terikat tali perjanjian. Ahmad tidak bisa membantah setiap perintah yang diberikan Abu Sulaiman. Suatu hari ia mendatangi Abu Sulaiman yang sedang memberi fatwa di majlisnya, kemudian melapor, “Sesungguhnya bunga api telah berpijar, menyala dan membakar, maka apa yang engkau perintahkan ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Sulaiman diam dan tidak menjawab. Ahmad mengulanginya hingga dua kali atau tiga kali dan akhirnya mengatakan, ‘Abu Sulaiman pergi lalu duduk di dalamnya’. (seakan-akannya sempit dan Abu Sulaiman lupa tentang Ahmad, kemudian ingat lagi dan mengatakan, “Lihatlah Ahmad, sesungguhnya dia berada di dalam jilatan cahaya. Dia mampu menguasai dirinya dengan tidak hendak menentang perintah saya’. Kemudian mereka melihatnya, dan tiba-tiba Ahmad dalam pembakaran cahaya yang tidak selembar rambutpun terbakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa diantara sifat-sifat murid adalah cinta amalan-amalan sunah, ikhlas dalam memberikan nasihat asih, sopan, dan senang dengan kesenidrian, sabar di dalam memikul segala kekerasan hukum, mengutamakan perintah, malu terhadap suatu pandangan, pelimpahan tenaga dan anugerah pada apa yang diperjuangkannya dengan penuh kecintaan, menyongsong segala sebab yang bisa mengantarkannya kepada-Nya, puas terhadap segala bentuk kelemahan, dan ketiadaan pengakuan hati akan ketersampaian diri kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Bakar Muhammad Al-Waraq berkata, “Penyakit murid ada tiga macam, kawin, catatan wicara, dan lembaran-lembaran”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“bagaimana mungkin tuan meninggalkan catatan wicara”. Tanya seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menjawaab, “sebab akan menjadi penghalangku dari perolehan iradah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatim Al-Asham mengatakan, “”Jika saya melihat seorang murid yang menghendaki selain yang dia (Hatim) kehendaki, maka ketahuilah bahwa ia telah menampakkan kerendahan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara hukum bagi murid ada tia hal : tidurnya karena bersangatan mengantuk, makannya karena sangat butuh, dan ucapannya karena sangat terpaksa. Demikian nasihat Muhammad Al-Kattani&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika الله menghendaki murid kebaikan, maka Dia akan memposisikannya dalam sikap sufi dan mencegahnya dari pergaulan para qari. Demikian fatwa Al-Junaid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari Abu Ali Ad-Daqaq memberikan wejangan kepada para santri dan mengatakan “Akhir iradah akan mengarahkan isyarat pada الله sehingga menjumpai-Nya bersama isyarat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang dimuat dalam iradah ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menjawab, “Engkau menjumpai الله dengan tanpa isyarat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kesempatan lain Syaikh Abu Ali mengatakan, “Seorang murid tidak akan menjadi murid hingga orang disebelah kirinya (malaikat pencatat kejahatan) tidak menulisnya selama 20 tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu Abu Utsman Al-Hirri menasihatkan, bahwa jika seorang murid mendengarkan sesuatu dari ilmu-ilmu suatu kelompok masyarakat (ahli hikmah/syaikh), lalu mengamalkannya, maka yang demikian itu dalam hatinya akan menjadi suatu hikmah sampai akhir usianya, dan selama itu dia bisa mengambil manfaatnya. Seandainya ia berbicara dengan ilmu tersebut maka orang yang medengarkannya pasti juga akan memperoleh manfaat. Dan barang siapa mendengarkan ilmu dari mereka lalu tidak mengamalkanya, maka hikayat yang diperoleh dan dijaganya akan masih tetap terjaga tetapi kemudian hilang terlupakan. Barang siapa iradahnya tidak sehat, maka perjalanan hari tidak akan menambahnya selain kemunduran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awal maqam murid adalah munculnya iradah Al-Haq dengan menggugurkan iradahnya sendiri. Demikian kata AL-Wasithi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal yang memperberatkan murid adalah mempergauli musuh dengan baik”. Kata Yahya bin Mu’adz.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika saya melihat murid sibuk dengan hal-hal yang ringan, dispensasi dan usaha mencari nafkah, maka tidak ada sesuatu yang mendatanginya”. Demikain kata Yusuf bin Husain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu kesempatan Imam Al-Junaid ditanya tentang masalah iradah dan murid. “Apa yang dapat dimiliki para murid dengan perjalaan hikayat / manakib (orang – orang saleh) ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menjawab, “hikayat / manakib adalah tentara-tentara الله yang dengannya dapat memperkuat hati seorang mukmin”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa dalam hal ini Tuhan punya saksi ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, yaitu firman الله yang berbunyi :&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;وكلا نقص عليك من أنباء الرسل ما نثبت به فؤادك&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu (Hud 120)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jauh Al-Junaid mengatakan, Murid yang benar adalah yang tidak butuh ilmu para ulama. Seorang murid pada hakikatnya adalah orang yang dikehendaki الله karena jika tidak dikehendaki الله (sehingga ia memiliki iradah), maka ia bukan menjadi seorang murid / salik. Sedangkan murad adalah murid karena jika الله menghendaki seseorang untuk menjadi murid dengan kekhususan, maka Dia akan memberi pemahaman akan makna iradah. Akan tetapi para sufi membedakan antara murid dan murad. Murid bagi mereka adalah seorang pemula sedangkan murad adalah pamungkas. Murid ditegakkan dengan mata kepayahan dan dilemparkan dalam kawah kesulitan-kesulitan sedangkan murad dicukupkan dengan perintah yang tidak memiliki kesulitan. Murid adalah orang yang aktif dan muncul sebagai subyek sedangkan murad adalah orang yang diisi oleh الله, diberi faedah, dan dengannya dia disenangkan. sunatuLlah akan bersama para perambah jalan menuju الله memiliki bentuk yang berbeda-beda. Masing-masing memiiiki tingkatan hukum yang tidak sama. Kebanyakan mereka memiliki anugerah dengan disertai syarat mujahadah, kemudian mencapai maqam kedekatan dengan الله setelah mengalami berbagai kesulitan dari tahun ke tahun dalam kurun waktu yang tidak pendek. Sedangkan sebagian yang lain disingkapkan (terbuka) bathinnya sejak permulaan usia dengan keagungan makna-Nya kemudian mencapai maqam kewalian yang tidak dapat dicapai oleh kelompok ahli riyadhah atau mujahadah. Golongan ahli riyadhah pada umumnya dalam pencapaian maqam kewalian akan dilemparkan oleh الله kedalam penggemblengan mujahadah. Penggemblengan ini terjadi setelah mereka memperoleh kesadaran hakikat. Tujuannya supaya mereka memperoleh apa-apa yang terkandung dalam hukum riyadhah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq juga berkata, murid adalah orang yang menanggung sedang murad adalah orang yang ditanggung.” Beliau juga pernah mejelaskan bahwa nabi Musa AS adalah seorang nabi yang menduduki jabatan seorang murid. Karena itu di dalam doanya dia mengatakan, “&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;رب اشرح لي صدري&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku (Thaha 25)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan nabi kita Muhammad SAW adalah seorang murad sehingga firman yang diwahyukan الله berbunyi demikian :&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;الم نشرح لك صدرك, ووضعنا عنك وزرك, الذي أنقض ظهرك,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ورفعنا لك ذكرك&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Tidakkah telah Kami lapangkan dadamu, dan Kami hilangkan bebanmu yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan penyebutanmu (Alam Nasyrah 1-4)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula ketika Musa mengatakan,&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;رب أرنى أنظر اليك قال : لن ترانى&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Tuhan , tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku sehingga aku dapat melihat-Mu. Tuhan menjawab, “Kamu sekali-kali tidak dapat melihat-Ku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga ketika الله SWT berfirman kepada Nabi Muhammad SAW,&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;الم ترى الى ربك كيف مد الظل&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Tidakkah kamu melihat Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang (Al-Furqan 45)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua konteks di atas menunjukkan bahwa Nabi Musa AS berada pada maqam murid sedang nabi kita Muhammad SAW di maqam murad. Menurut syaikh Abu Ali Ad-Daqaq maksud ayat “Apakah kamu tidak melihat Tuhanmu dan potongan berikutnya Bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang adalah merupakan penutupan kisah dan pembagusan keadaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Al-Junaid pernah ditanya tentang makna murid lalu dijawab, “murid adalah orang yang dikuasai oleh siasat ilmu, sedangkan murad adalah yang dikuasai oleh pemeliharaan dari Al-Haq secara langsung. Murid berjalan sedangkan murad terbang. Maka kapan para pejalan dapat menyusul mereka yang terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikisahkan bahwa Dzunun pernah mengirimkan seorang utusan untuk menjumpai Abu Yazid Al Bustami. Dia berpesan, “Katakan kepadanya, sampai kapan tidur dan istirahat , sementara kafilah telah berlalu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah utusan tersebut sampai dan telah mengatakan pesan dari Dzunun, maka Syaikh Abu Yazid berkata, “Katakan kepada saudaraku Dzunun, orang alaki-laki adalah orang yang tidur sepanjang malam dan memasuki waktu subuh telah sampai di tempat sebelum kafilah sampai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betapa Indahnya, ini adalah ucapan yang keadaan kami belum bisa mencapainya”. Sambut Dzunun&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemah-ringkas-kitab-risalah-al_2567.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-1046449756027135523</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 05:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T22:41:15.445-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemah ringkas kitab Risalah Al-Qusyairiyah { Dukacita/Al-Hazan }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp; Allah SWT berfirman, “Alhamdu liLlaahilladzii adzhaba ;annal hazana “.(Fathir 34).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Saya telah mendengar RasuluLlah SAW bersabda, “Tidak sedikitpun sesuatu yang akan menimpaseorang hamba yang beriman, baik berupa sakit, duka cita ataupun penyakit yang menyusahkan, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Yang dimaksud duka cita atau ikhuznu adalah suatu keadaan yang menyusahkan hati karena terhindar dari keterjerumusan hati dalam jurang kelalaian.&amp;nbsp; Duka cita juga merupakan bagian dari sifat orang-orang yang menempuh jalan kehidupan untuk Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Orang yang berduka cita akan memutuskan jalan Allah dalam jangka waktu satu bulan terhadap apa-apa yang diputuska oleh Allah karena tidak mendapatkan kesusahan selama dua tahun”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalah hadits disebutkan, “Allah SWT akan mencintai hati yang berduka cita”. Dalam kitab taurat disebutkan, “Jika Allah mencintai seorang hamba maka hatinya dijadikan meratap. Jika Allah membencinya maka hatinya dijadikan keras.” Diriwayatkan bahwa RasuluLlah SAW selalu berduka cita apabila dalam keadaan berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Menurut Bisyir bin Harits, duka cita di ibaratkan saja yakni apabila ia menempati suatu tempat, maka ia tidak akan rela tempat itu diduduki orang lain. Menurut pendalat lain, apabila di dalam hati tidak terdapat duka, maka ia akan runtuh dan roboh. Ibarat rumah apabila tidak ada penghuninya maka ia akan rubuh dan roboh. Menurut Abu Sa’id Al Quraisy, menangis karena duka cita mengakibatkan buta, dan menangis karena rindu, pandangan mata akan terhalang, tetapi tidak buta. Allah SWT berfirman, “Wabayyadhat ‘ainaahu minal huzni fahuwa kadhiim”. “Kedua matanya menjadi putih karena dukacita, tetapi dia tidak mampu menahan amarah”.(QS. Yusuf 48).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Sedangkan menurut Ibnu Khafif, duka cita dapat memperkecil keinginan hawa nafsu dan bergejolaknya suka cita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Rabi’ah AL-Adawiyah pernah mendengar seorang laki-laki mengeluh, “alangkah dukanya hati ini”. Rabi’ah Al-Adawiyah menegurnya,” Berkatalah alangkah sedikitnya duka ini. Apabila engkau mendapatkan duka cita, maka engkau tidak akan mengeluh.” Menurut Sufyan bin Uyainah, apabila seorang yang berduka cita karena menangis untuk kepentingan umat, maka Allah SWT akan memberikan rahmat kepada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Dawud At-Tha’I adalah orang yang sangat berduka cita. Di tengah malam ia mengeluh, “Wahai TUhan, telah Engkau timpakan berbagai duka cita kepadaku, sehingga aku tidak bias tidur. “ Dia berkata kepada dirinya, “Bagaimana mungkin orang yang selalu mendapatkan cobaan setiap waktu hatinya akan terhibur dan terlepas dari duka cita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Menurut satu pendapat, duka cita dapat mencegah makanan, sedangkan takut akan dapat mencegah dosa. Seorang ulama pernah ditanya, “apa indikasi orang yang berduka cita ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak mengeluh” jawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarry As-Saqthi berkata, “Saya sangat menginginkan duka cita yang telah dialami oleh kebanyakan orang.” Ketika mereka (Ulama) ditanya tentang duka cita, mereka akan menjawab, “Berduka cita karena akhirat adalah terpuji, sedangkan berduka cita karena dunia adalah tercela”. Menurut Abu Utsman, segala bernut duka cita adalah keistimewaan dan kautamaan bagi orang mukmin selagi bukan untuk kemaksiyatan. Apabila ia tidak memberiakn keistimewaan, maka pasti ia memberikan kebersihan. Sebagian guru sufi apabila hendak bepergian akan berkata, “Apabila saya melihat orang yang berduka cita, maka saya mengucapkan salam”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Saya (Syaikh Al-Qusyairy) telah mendengar Syaikh Au Ali Ad-Daqaq berkata, “Sebagian guru sufi bertanya kepada matahari ketika terbenam, ‘apakah engkau hari ini terbit dalam keadaan duka ?” . pada suatu cerita, Hasan Al-Bashri tidak pernah terlihat oleh seseorang. Dia menduga bahwa Hasan tertimpa musibah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Waki’ berkata, “ketika Fudhail bin Iyadh meninggal dunia, ‘Pada hari ini duka cita telah lenyap dari bumi”. Menurut ulama salaf, kebanyakan sesuatu yang dijumpai orang mukmin dalam catatan amalnya adalah susah dan duka cita.” Menurut Fudhail bin Iyadh, ulama salaf selalu berkata, “Segala sesuatu adalah zakat. Sedangkan zakat adalah duka citanya akal”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Suatu saat Abu Utsman Al-hirri ditanya tentang duka cita. Dia menjawab, “Orang yang selalu berduka cita tidak akan lepas dari permohonan orang yang berduka cita. Bersungguh-sungguhlah mencari duka cita, setelah itu memohonlah”.&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemah-ringkas-kitab-risalah-al_8610.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-6563500372778632668</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 05:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T22:36:52.148-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemah ringkas kitab Risalah Al-Qusyairiyah { Raja’ / Harap }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp; Allah SWT berfirman, “Man kaana yarjuu liqaa-aLlaahi fa inna ajala-Llaahi la Aati” Yang artinya, “Barang siapa yang berharap bertemu dengan Allah, sesungguhnya janji Allah pasti datang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-‘Ala’ bin Zaid bercerita, “Saya bertamu ke rumah Malik bin Dinar dan melihat Syahr bin Hausyab&amp;nbsp; berada di sampingnya. Ketika keluar, saya mengatakan kepada Syahr, ‘Mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat kepadamu. Bekalilah diriku, maka Allah akan membekalimu”. Ia menjawab, ‘Ya, bibiku Umi Darda’ pernah menceritakan kepadaku suatu hadits dari Abi Darda’ yang diperoleh dari Nabi Muhammad SAW. Hadits itu menceritakan bahwa beliau memperoleh pengajaran adri Jibril as. Yang menceritakan : Tuhan kamu sekalian berfirman, Wahai hambaku, jika kamu beribadah kepadaKu, berharaplah bertemu denganKu dan tidak menyekutukan sedikitpun padaKu, maka Aku akan mengampuni segala dosamu, sekalipun kamu datang dengan membawa kesalahan dan dosa sebesar bumi, Aku akan mengampunimu, dan tidak mempedulikan (berapa banyak dosa yang telah kamu lakukan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anas bin Malik ra. Mengatakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Allah SWT beerfirman, “Wahai Malaikat, keluarkanlah dari api neraka orang yang dalam hatinya beriman meskipun seberat bji kurma.”Allah SWT juga berfirman, “Keluarkanlah dari api neraka orang yang dalam hatinya beriman meskipun seberat biji gandum”. Setelah itiu Allah&amp;nbsp; SWT menegaskan, “Demi kemuliaan dan keagunganKu, orang yang beriman kepadaKu meskipun satu detik di waktu malam atau siang, tidak akan Aku jadikan seperti orang yang tidak beriman”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja’ (Harap/Harapan) adalah ketergantungan&amp;nbsp; hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebagaimana khauf (takut) yang berhubungan dengan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, maka demikian juga Raja’ akan membawa implikasi terhadap hal yang di cita-citakan di masa yang akan datang. Dengan Raja’ maka hidup akan menjadi hidup dan merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan antara Raja’ dan tamanni (berangan angan pada sesuatu yang mustahil) terletak pada nilai dan dampaknya. Tamanni dapat menyebabkan orang menjadi malas dan tidak mau berjerih payah dan bersungguh-sungguh. Sedangkan Raja’ adalah kebalikan dari tamanni. Raja’ merupakan perbuatan terpuji sedangkan tamanni merupakan perbuatan tercela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Syah Al-Kirmani, tanda raja’ adalah kebaikan ta’at. Menurut Abdullah bin Khubiq, raja’ memiliki tiga bentuk. Pertama orang yang mengerjakan peprbuatan baik dan berharap dapat diterima. Kedua, orang yang mengerjakan perbuatan jahat lantas ia bertobat kemudian berharap mengharapkan ampunan. Ketiga, orang yang mengerjakan perbuatan dusta dan tidak mengulangi perbuatan dosa, lalu mengharapkan ampunan. Barang siapa yang mengetahui dirinya berbuat jahat sebaiknya ia bersikap khauf daripada bersikap raja’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut satu pendapat, raja’ merupakan&amp;nbsp; sikap percaya terhadap sifat kedermawanan Allah SWT. Menurut yang lain, raja’ adalah melihat Tuhan dengan pandangan yang baik. Ada yang berpendapat, raja’ adalah dekatnya hati terhadap kelemah lembutan Tuhan. Menurut yang lain, Raja’ adalah senangnya hati terhadap tempat kembali yang baik (akhirat). Sedangkan pandangan yang lain, raja adalah memandang keleluasaan rahmat Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Ali Ar-Rudzabaari menganalogkan khauf dan raja’ sebagai dua sayap burung. Apabila keduanya seimbang, maka burung itu akan seimbang dan terbang dengan sempurna. Apabila salah satu sayapnya ada yang kurang, maka ia tidak akan seimbang. Apabila burung itu terbang maka ia akan mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahmad bin ‘Ashim Al-Anthaki pernah ditanya, “Apa tanda raja’ bagi seorang hamba ?”. Ia menjawab, “Apabila mendapatkan kebaikan, maka ia akan bersyukur dengan mengharapkan kenikmatan yang sempurna dari Allah SWT di dunia dan pengampunan di akhirat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Abu AbdilLah bin Khafif, yang dimaksud raja adalah merasa bahagia karena mendapatkan keutamaan dari Allah SWT dan leganya hati karena dapat melihat keagungan Dzat yang diharapkan dan dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Al-Qusyairy berkata, “Saya mendengar Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, ‘barang siapa yang mementingkan diri sendiri dengan mengesampingkan raja’ maka dia akan rusak’. Barang siapa yang mementingkan diri sendiri dan mengesampingkan khauf maka dia akan terputus. Diantara keduanya terkadang yang pertama terjadi dan terkadang yang kedua’”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bakar bin Sulaim Ash-Shawaf bertemu kepada Malik bin Anas diwaktu sore hari ketika akan meninggal dunia. Bakar bertanya kepadanya, “Wahai Abu AbdiLlah, bagaimana engkau mendapati keadaaan dirimu ?”. Malik menjawab, “Saya tidak tahu apa yang harus aku katakan, hanya saja engkau harus memohon pengampunan kepada Allah SWT sebelum di hisab”. Setelah itu Bakar senantiasa memohon sehingga dapat memejamkan kedua matanya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yahya bin Muadz mengatakan, “Saya hampir mengharapkan dosa kepadaMu yang dapat mengalahkan harapanku terhadap perbuatan baik. Dalam mengerjakan perbuatan baik saya selalu ikhlas, bagaimana saya dapat memeliharanya sedangkan saya dalam keadaan bahaya. Dalam mengerjakan dosa, saya selalu mengharapkan pengampunan-Mu. Bagaimana Engkau tidak mengampuniku sedangkan Engkau mempunyai sifat dermawan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang membicarakan Dzun_nun Al-Mishri ketika ia sakit yang mengantarkan pada kematian. Dzun-Nun mengatakan, “Jangan menyibukkan diri untuk diriku karena aku sudah memperoleh karunia Allah SWT yang selalu bersamaku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Ya.. Tuhan beberapa pemberian akan kuhiaskan di dalam hatiku untuk mengharapkan-Mu. Beberapa ucapan akan ku tanamkan di dalam mulutku untuk memuji-Mu, dan setiap saat akan ku cintakan di dalam diriku agar dapat berjumpa dengan-Mu”. Sebagian kitab menjelaskan bahwa RasuluLlah SAW&amp;nbsp; berkumpul-kumpul dengan para sahabat di depan pintu Syaibah seraya beliau bersabda, “Kenapa kalian tertawa, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui pasti kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. (HR. Bukhari dan Turmudzi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu Qahqari (salah seorang sahabat yang berkumpul ) pulang dan bertemu dengan RasuluLlah SAW beliau bersabda, “Malaikat Jibril datang kepadaku dan menyampaikan firman Allah SWT, ‘Peringatilah hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun’”. (QS. Al-Hijr 49).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;‘Aisyah RA mengatakan bahwa RasuluLLah SAW bersabda, “Allah SWT menertawakan hamba yang berputus asa karena rahmatNya selalu dekat dengannya”’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Demi ayah dan Ibu, apa betul Allah SWT tertawa, ya RasuluLLah SAW ?”. tanya ‘Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Demi Dzat yang diriku ada dalam kekuasaannya, sesungguhnya Allah SWT tertawa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; ‘Aisyah kemudian berkata bahwa seseorang tidak dianggap baik apabila ia tertawa. Tertawa merupakan sifat-sifat pekerjaan yakni dengan menampakkan keutamaan sebagaimana ungkapan, “Bumi tertawa karena adanya tumbuh-tumbuhan,” . Allah SWT menertawakan hamba-hambaNya yang berputus asa karena merupakan keutamaan-Nya yang mereka tidak mampu melihatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada suatu cerita, seorang Majusi bertamu dan minta jamuan kepada Nabi Ibrahim AS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Ya.. asalkan engkau masuk Islam maka engkau akan kujamu”. Jawab Nabi Ibrahim AS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Jika saya masuk Islam ? Maka mana kedermawananmu yang bisa engkau berikan kepadaku ?”. kata si Majusi. Setelah itu ia pergi. Allah SWT kemudian menurunkan wahyu sebagai teguran kepada Nabi Ibrahim AS “Wahai Ibrahim, mengapa engkau tidak memberikan makanan kecuali dengan menuntut kepindahan agamanya ? Aku (Allah) selama 70 tahun telah memberikan ia makanan meski ia dalam kekafiran. Engkau semalampun tidak bisa memberinya jamuan, maka dimana kekonsistenanmu (sebagai Nabi ?)”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Ibrahim AS menyesal kemudian segera menyusul orang majusi dan memberinya jamuan. Orang majusi kemudian bertanya, “apa yang menyebabkan kamu berbuat yang demikian ?” Maka Nabi Ibrahim menceritakan kisahnya , dan orang majusi kemudian bertanya, “Apa karena itu engkau berbuat seperti ini ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Ibrahim AS menjawab, “Tunjukkanlah Islammu !”. maka orang majusi itupun kemudian masuk Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Bakar bin Asykib mengatakan, “Saya bermimpi bertemu Abu Sahal Ash-Shu’luki dalam keadaan yang sangat baik. Saya bertanya, “Wahai Ustadz, dengan cara apa engkau memperoleh semua ini ?” Ia menjawab, “Dengan cara baik sangka kepada Tuhan”. Malik bin Dinar pernah bermimpi, ia ditanya, “Apa yang telah Allah berikan kepadamu ?” Ia menjawab, “Saya ,emghadap Tuhan dengan membawa dosa yang banyak, tetapi Allah SWT memberikan ampunan karena saya selalu berbaik sangka kepada-Nya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda, yang artinya “Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi : Aku berada sebagaimana persangkaan hamba-Ku kepadaKu dan Aku akan selalu bersamanya selagi mereka mengingatku. Jika dia ingat kepadaku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Jika ia mengingatKu dalam kerumunan orang ramai, maka Aku akan mengingatnya dalam kerumunan yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat kepadaKu satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadany satu hasta. Jika ia mendekat kepadaKu satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Jika dia mendekat kepadaKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekat kepadanya seraya berlari”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Kisah Ibnu Mubarak ingin membunuh orang kafir ajam / non arab. Ketika waktu shalat tiba, dia tidak mempedulikan hingga waktupun berganti tidak mempedulikannya. Sewaktu orang kafir itu menyembah matahari, Ibnu Mubarak hendak memenggal lehernya dangan pedangnya. Tiba-tiba Ibnu Mubarak mendengar suara dari atas awan yang menegurnya ,”Hendaklah engkau memenuhi janji karena janji&amp;nbsp; itu akan dimintai pertanggung jawaban”. (QS. Al-Isra 34).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika itu dia menahan tangannya, dan setelah majusi selesai mengerjakan ibadahnya, dia mengucap salam dan mengatakan kepada Ibnu Mubarak, “Kenapa tidak engkau lanjutkan apa yang engkau inginkan ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Mubarak menjelaskan apa yang telah ia dengar. Orang majusi itu menimpalinya, “Ya..Tuhan benar,. Tuhan mencela kekasihNya yang terlibat dalam permusuhan “. Setelah kejadian itu orang majusi itupun masuk Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut satu pendapat, Allah SWT akan menjatuhkan orang-orang dalam lumpur dosa sehingga Dzat Allah SWT akan disebut sebagai Dzat Yang Maha Pengampun. Menurut satu pendapat lain, seandainya Allah SWT berfirman, “Aku tidak akan mengampuni dosa-dosa maka orang Islam tidak akan pernah mengerjakan dosa. Dan seandainya Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang yang menyekutukan-Ku maka tentu seorang muslim tidak akan pernah menyekutukanNya. Akan tetapi Allah SWT berfirman, “Dan Allah akan mengampuni dosa-dosa selain syirik kepada orang yang dikehendaki”.(QS. An-Nisa 48). Untuk itu tentu mereka akan mengharapkan ampunanNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Ibrahim bin Adham, yang menceritakan, “saya pernah menunggu sesuatu dalam tenggang waktu&amp;nbsp; yang tidak ada angin topan. Namun ketika malam menjadi sangat gelap, hujan turun dengan sangat lebatnya. Setelah angin topan itu reda, saya memasuki tempat yang dikelilingi orang banyak dan saya berdo’a, Ya allah lindungilah diriku’. Tiba-tiba saya mendengar suara gaib yang menegurku, Wahai Abu Adham, engkau mwminta perlindungan kepadaKu, demikian pula semua orang memohon perlindungan kepadaKu. Jika Aku memberikan perlindungan kepada semuanya, maka kepada siapa Aku memberikan rahmat ?’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu ungkapan diceritakan bahwa Abu Al-Abas As-Suraij pernah bermimpi, dalam mimpi itu ia akan meninggal dunia sementara kiamat seakan akan telah tiba. Kemudian Allah SWT&amp;nbsp; bertanya, “dimana Ulama?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika para ulama menghadap, Allah SWT bertanya, “Apa yang te;ah engkau kerjakan ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;“Ya Tuhan, kami tealh lengah dan telah berbuat kejahatan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah SWT kemudian mengembalikan pernyataan itu kepada mereka seakan – akan Ia tidak rela dan menghendaki jawaban yang lain. Setelah itu saya memberanikan diri menjawab, “Di dalam buku catatan amalku, aku tidak menemukan dosa syirik, padahal engkau tealh berjanji akan mengampuni dosa-dosa selain syirik”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah SWT berfirman, “ Pergilah Aku telah mengampuni dosa-dosamu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga hari setelah kejadian itu, Abu Al-Abbas meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada seorang laki-laki peminum khamr mengumpulkan para peminum. Dianmemberikan uang 4 dirham kepada hamba sahayanya agar membeli buah-buahan untuk jamuan id tempat pertemuan. Hamba itu melewati depan pintu rumah Manshur bin Amar yang sedang meminta-minta untuk kepentingan orang fakir. Manshur mengatakan“ Barang siapa yang memberiku 4 dirham maka akan aku do’akan empat kali. Makahamba itupun menyerahkan uangnya yang 4 dirham yang sedang ia pegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang engkau inginkan agar aku mendo’akanmu ?’”. tanya Manshur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Saya ingin merdeka”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Apalagi ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Agar Allah SWT mengembalikan dirham-dirhamku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “ Ada yang lain ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Agar Allah SWT menerima tobat tuanku “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kemudian ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; Agar Allah SWT mengampuniku, tuanku, dirimu, dan orang banyak”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manshur kemudian mendoakan segala permintaan hamba itu. Setelah hamba itu kembali kepada tuannya, maka tuannya bertanya, “Kenapa engkau terlambat ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Hamba itu menceritakan peristiwa yang dialaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Apa saja yand didoakan olehnya “? Tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Pertama aku minta agar diriku dimerdekakan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Pergilah, sekarang engkau merdeka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Ke dua, agar Allah SWT menggantiakn dirham yang sedang saya pegang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Engaku mendapat empat ribu dirham”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Ketiga, Agar Allah SWT meenerima tobatmu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Saya telah bertobat kepada Allah SWT”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; “Ke empat agar Allah SWT mengampunimu, diriku, orang banyak, dan orang yang memberikan peringatan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si tuan lantas mengatakan “Ini yang saya tidak miliki”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiak si tuan ini tidur di waktu malam, dia bermimpi seakan akan ada yang mengatakan, “Engkau telah mengerjakan sesuatu yang telah engkau pinjamkan untuk kepentinganmu yang Aku tidak mengerjakan sesuatu untuk&amp;nbsp; kepentingan-Ku. Aku tealh memngampunimu, hamba sahayamu, Manshur bin Amar dan orang-orang yang hadir”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam cerita yang lain, Ribah Al-Qaisi telah melaksanakan haji berkali-kali. Suau hari ia berhenti di bawah mizab seraya memohon, “Yaa Tuhanku, beberapa haji yang telah aku lakukan kuberikan kepada RasuluLLah SAW. , sepuluh untuk sepuluh sahabat, dua untuk ke dua orang tuaku, dan sisanya untuk orang-orang Islam.” Dia tidak menyisakan untuk dirinya sendiri sehingga ia mendengarlah sebuah suara gaib,”Dia adalah orang yang dermawan. Oleh karena itu Aku akan mengampunimu, ke dua orang tuamu, dan orang-orang yang mengetahui kebenaran”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatakn dari Muhammad bin Abdul Wahab Ats-Tsaqafi yang mengatakan, “Saya pernah melihat jenazah yang dipanggul oleh tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan. Maka saya mengambil alih tempat perempuan itu. Setelah itu kami berlima pergi bersama-sama menuju tempat kuburan, mengerjakan salat janazah, dan menguburkannya, saya bertanya kepada perempuan itu, “Siapa jenazah itu?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; ‘Dia adalah puteraku’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; ‘Apa engkau tidak memiliki tetangga?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; ‘Punya tetapi mereka mengenggapnya rendah’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; ‘Apa sebenarnya yang terjadi ?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; ‘Dia adalah waria’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya merasa kasihan kepadanya. Suatu saat perempuan itu datang ke rumahku dan kuberikan dirham, buah labu dan pakaian. Di malam harinya, ketika tidur aku bermimpi melihat waria itu seakan – akan datang kepadaku seperti bulan di malam purnama dengan berpakaian serba putih dan berterima kasih kepadaku. Saya bertanya, “’Siapa engkau ?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab, ‘Saya adalah waria yang telah engkau kubur di siang itu’. Allah SWT telah memberikan rahmat kepadaku karena banyaknya orang yang merendahkanku’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairy RA berkata, “Saya telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ‘Suatu hari Abu Amr Al-Baikindi melewati jalan yang datar. Dia melihat kaum yang hendak mengusir seorang pemuda dari tempatnya karena membuat kerusakan. Ibunya menangis sehingga Abu Amr merasa kasihan dan memberikan pertolongan. Abu Amr mengatakan, ‘Serahkanlah perkara ini kepadaku. Jika ia membuet kerusakan lagi maka ia akan kuserahkan kepadamu’. Mereka menyerahkan pemuda itu kepada Abu Amr . selang beberapa hari Abu Amr melewati tanah datar tersebut dan mendengar isak tangis dari perempuan (ibu pemuda itu) di balik pintu. Abu Amr bergumam dalam hatinya, ‘Barang kali&amp;nbsp; pemuda itu membuat kerusakan lagi sehingga diasingkan dari tempat ini’. Abu Amr mengetuk pintu dan menanyakan tentang pemuda itu. Perempuan tua itu keluar dan berkata, “Dia telah meninggal”. Abu Amr menanyakan peristiwanya. Perempuan itu menjawab, “Ketiak akan meninggal ia mengatakan kepadaku, Wahai Ibu jangan kau ceritakan kepada tetangga tentang kematianku. Saya telah menyakiti mereka. Oleh karena itu mereka akan menyia-nyiakan diriku dan tidak akan menghadiri jenazahku. Apabila engkau telah menguburku, maka inilah cincin yang bertuliskan “BismiLlahirrahmaanirrahiim” hendaklah engkau pendam bersamaku. Jika telah selesai hendaklah memohon pertolongan kepada Tuhanku”. Perempuan itu melanjutkan ceritanya. “Saya telah melaksanakan wasiyatnya’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Abu Amr hendak pulang, dari tempat kuburan itu Abu Amr mendengar suara memanggil ‘Wahai Ibu pulanglah , saya telah menghadap Tuhan’”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan sebuah wahyu kepada Nabi Daud AS “Katakan kepada mereka sesungguhnya Aku Allah telah menciptakan mereka bukan untuk mendapatkan keuntungan, akan tetapi Aku menciptakan mereka agar mereka mengambil keuntungan dariKu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibrahim Al-Athrusi mengatakan, “di Baghdad saya duduk bersama Syaikh Ma’ruf Al-Kharqi RA di tepi sungai tigris. Di depanku, beberapa pemuda berlayar menggunakan sampan kecil. Mereka berlabuh menuju tepi sungai sambil minum, makan dan bercanda. Saya bertanya kepada Syaikh Ma’ruf Al-Kharqi, apakah negkau tidak melihat bagaimana mereka bermaksiyat kepada Allah SWT dengan cara membuka saluran air?’. Berdoalah kepada Allah SWT untuk mereka. Syaikh Ma’ruf lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “Ya Tuhan sebagaimana engkau telah membahagiakan mereka di dunia, maka bahagiakanlah mereka di akhirat”. Saya menegurnya, “Saya meminta kepadamu untuk mendoakan mereka”. Syaikh Ma’ruf balik berkata, “Jika Allah SWT membahagiakan mereka di akhirat berarti Allah SWT menerima taubatnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan oleh Abu Abdullah Husain bin Sa’id yang mengatakan, “Yahya bin Akhtsam Al-Qadhi adalah orang yang setia kawan. Dia mencintaiku, begitupun juga aku mencintainya. Saya ingin bermimpi bermimpi bertemu dengannya dan ingin kutanyakan sesuatu, ‘Apa yang telah Allah SWT berikan kepadamu ?’. Yahya menjawab, ‘Allah SWT telah mengampuniku, hanya saja Allah SWT mencelaku. Kemudian dikatakannya kepadaku, ‘Wahai Yahya engkau hanyalah temanKu di dunia. Kemudian saya menjelaskan satu hadits yang diriwayatkan oleh Asbu Hurairah RA bahwa RasuluLlah SAW bersabda, ‘Engkau telah berkata bahwa Engkau akan menyiksa orang tua dengan api’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu aku mendapatkan jawaban yakni : Allah SWT telah memaafkanmu, wahai Yahya, dan apa yang disabdakan oleh Nabi SAW adalah benar, hanya saja engkau adalah seorang teman di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemah-ringkas-kitab-risalah-al_1485.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-187931745656631464</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 05:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T22:26:50.980-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemah ringkas kitab Risalah Al-Qusyairiyah { Lapar dan meninggalkan syahwat }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan suatu cobaan, yaitu ketakutan, lapar, kekurangan harta benda, jiwa dan buah-buahan. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al Baqarah 155).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, berilah mereka kabar gembira dengan perolehan pahala yang baik akrena mereka mampu bersabar menghadapi sakitnya lapar . Allah SWT berfirman “Mereka mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri meskipun mereka sangat butuh”. (QS. Al-Hasyr 9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Fathimah RA. Pernah memberikan pecahan roti kepada RasuluLlah SAW, beliau bertanya, “pecahan apa ini wahai Fathimah ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pecahan roti”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fathimah RA. Diam sebelum melanjutkan jawabannya, “Saya tidak akan merasa tenang sebelum memberikan pecahan roti ini keayah “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pecahan roti ini adalah makanan pertama yang masuk ke dalam mulut ayahmu selama tiga hari”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian lapar merupakan bagian dari sifat – sifat ulama dan merupakan salah satu sendi perjuangan. Orang-orang yang menempuh perjalanan menuju Allah SWT berangsur-angsur dapat mengembalikan lapar pada posisinya di dalam diri mereka sehingga mereka mampu menghindari makanan. Oleh karena itu mereka telah menemukan sumber kebijaksanaan dengan cara melaparkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Ibnu Salim, tata cara lapar adalah seseorang tidak diperkenankan mengurangi kebiasaan lapar kecuali dia seperti telinga kucing. Menurut satu cerita, Sahal bin AbduLlah tidak makan kecuali setelah 15 hari. Jika bulan puasa tiba, ia tidak mau makan sebelum ia melihat hilal/bulan. Setiap malam ia berbuak dengan air putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yahya bin Mu’adz berkata, “seandainya lapar dapat dijual di pasar, maka tidak pantas bagi orang-orang yang mencari kenikmatan akhirat apabila masuk ke pasar membeli yang lainnya”. Sahal bin AbuLlah berkata, “Ketika Allah SWT menciptakan dunia, Dia menjadikan kenyang untuk kemaksiyatan dan kebodohan, dan menjadikan lapar untuk pengetahuan dan kebijaksanaan. “ Oleh karena itu Yahya bin Mu’adz berpendapat, lapar bagi orang yang menempuh jalan menuju Allah SWT adalah latihan, bagi orang yang tobat adalah ujian, bagi orang yang zuhud adalah pengaturan, dan bagi orang yang makrifat adalah kemuliaan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya (Syaikh Al-Qusyairi) mendengar tuan guru Abu Ali Ad-Daqaq bercerita tentang seorang murid yang bertamu kapada gurunya. Murid itu melihat gurunya dalam keadaan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang menyebabkan tuan menangis ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya lapar”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tangisan tuan akrena lapar ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diamlah, apakah engkau tahu bahwa yang dimaksud lapar adalah tangisku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan oleh Dawud bin Mu’adz, “Saya telah mendengar Mukhalid berkata, ‘Hajjaj bin Farafishah bersama kami di Syam. Di tinggal di sana selama limapuluh hari. Dia tidak pernah minum air, demikian pula makan sampai kenyang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu cerita, Abu Turan An-Naqsyabi mengunjungi kota Makkah melalui daerah padang pasir Bashrah. Kami bertanya tentang makannya, ia menjawab, “Saya keluar dari Bashrah dan makan di Nibaj (Suatu tempat /jalanan di antara kota Bashrah dan Makkah). Kemudian makan di Dzat Iraq. Dari sana saya menuju kalian. Oleh karena itu saya meninggalkan padang pasir Bashrah hanya dua kali makan.” Dalam suatu ungkapan juga diceritakan bahwa Sahal bin AbduLlah apabila lapar, ia akan menjadi kuat, dan apabila ia makan maka ia menjadi lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Utsman Al-Maghribi berkata, “Rabbani tidak makan selama 40 hari, sedangkan Shamdani tidak makan selama 80 hari.” Abu Sulaiman Ad-Darani berpendapat, kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah lapar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditanyakan pada Sahal bin AbduLlah bahwa ada seorang laki-laki hanya makan satu kali. Dia menjawab, “i&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu makannya orang-orang yang baik”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana jika makan dua kali ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“itu makannya orang-orang mukmin”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagai mana jika makan tiga kali ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu seperti orang yang mendirikan tempat makan untuk binatang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Yahya bin Mu’adz, lapar di ibaratkan cahaya, kenyang di ibaratkan api, dan syahwat di ibaratkan kayu yang dapat dibakar yang apinya tidak akan mati sebelum membakar pemiliknya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Nashr As-siraj At-Thuusi bercerita bahwa di suatu hari seorang sufi bertamu kepada gurunya. Gurunya memberikan jamuan seraya bertanya, “berapa hari engkau tidak makan ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lima hari”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Laparmu adalah laparnya orang kikir. Oleh karena itu engkau wajib memberikan pakaianmu. Engkau harus lapar, sebab laparmu ini bukan laparnya orang fakir”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Sulaiman Ad-Daraani berkata, “Meninggalkan satu suapan lebih dicintai Allah daripada shalat sepanjang malam”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abul Qasim Ja’far bin Ahmad Ar-Razi menuturkan sebuah cerita tentang kawannya yang bernama Abul Khair Al-Asqalaani. Kawannya ini selama 2 tahun sangat menginginkan ikan. Tidak lama kemudian ia memperolehnya yang diambil dari tempat yang halal. Ketika hendak mengulurkan tangannya untuk makan, jari-jarinya tertancap duri sampai melukai tulang ujung jarinya. Dia terkejut, “Ya Tuhan, ini hukuman bagi orang yang mengulurkan tangannya karena sangat menginginkan makanan yang halal. Bagaimana jadinya jika makanan yang hendak diambilnya adalah makanan yang haram ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya (Syaikh Al Qusyairy) telah mendengar Rustam Asy_Syairazi As-Shufi berkata, “Abu AbdiLlah bin Khafif pernah diundang dalam suatu jamuan. Salah seorang yang hadir dari murid-muridnya mengulurkan tangan untuk mendapatkan makanan. Sebagian murid-murid lain yang melihatnya tidak suka kepadanya karena budi pekertinya yang buruk. Dia bertindak lancing dengan mengulurkan tangannya terlebih dahulu sebelum gurunya mengambil. Setelah itu temannya yang lain meletakkan makanan di hadapan temannya yang fakir ini. Rupanya murid yang menjadi pusat perhatian kawan-kawannya ini menyadari. Dia faham bahwa dirinya tidak disukai. Kemudian ia bertekad untuk tidak makan selama lima puluh hari sebagai hukuman untuk dirinya sendiri. Dia menghajar dirinya dengan tidak memberinya makan selama sepuluh hari supaya ia sadar.dengan demikian ia akan memperoleh pelajaran etika, disamping perubahan sikap setelah pembuktian tobat atas budi pekertinya yang buruk. Dia mengerjakan hal tersebut di tengah ia sangat membutuhkan makanan. “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Malik bin Dinar, orang yang mampu mengalahkan keinginan dunia, maka setan akan lari dari bayangannya. Abu Ali Ar-Rudzabaari berkata, “Apabila setelah lima hari seorang shufi berkata, ‘saya lapar’, maka bawalah ia ke pasar dan suruhla ia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya (Asyaikh Abul Qasim Al-Qusyairy) pernah mendengar Syaikh Abu Ali Adf-Daqaq bercerita tentang sebagian gurunya. Dia berkata, “Orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka adalah orang-orang yang sikalahkan oleh syahwat / keinginannya sehingga ia terjerumus ke dalam hal-hal yang dilarang. Oleh karena itu mereka menjadi cacat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya (Asy-Syaikh Al-Qusyairy) juga telah mendengar tentang sebagian gurunya yang pernah di Tanya, “Apakah anda tidak berkeinginan (tidak bernafsu) ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya sebenarnya bernafsu, akan tetapi saya melarangnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian shufi yang lain juga pernah di Tanya hal yang hamper sama, “Apakah engkai tidak berkeinginan ?”. kemudian di jawab, “Saya ingin agar tidak ingin”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Nashr At-tammar berkata, “di waktu malam ada seseorang yang datang kepadaku. Saya menyambutnya dengan mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah mendatangkanmu.’ Suatu hari kami kedatangan kapas dari khurasan. Setelah itu seorang anak perempuan menarik dan menjualnya . dia membelikannya daging untuk kami dan berbuka di samping kami. Orang yang datang pertama berkata, ‘Seandainya saya mau makan di samping orang lain, pasti saya mau makan di samping kalian. Saya sebenarnya menginginkan terong selama dua tehun, akan tetapi saya tidak pernah memakannya.’ Saya memberitahukan,’ di tempat itu ada terong yang halal.’ Dia menjawab, ‘selagi saya menginginkan buah terong, maka saya tidak akan memakannya’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya (Syaikh Al Qusyairy) telah mendengar Abu Ahmad As-Shaghir berkata, “Saya diperintah oleh AbdulLah bin Khafif agar menghidangkan 10 biji buah anggur untuk berbuka setiap malam. Di malam itu saya merasa khawatir, oleh karena itu saya tambahkan untuknya lima biji, tetapi ia keburu melihat saya. Dia menegur, “Siapa yang memerintahkanmu berbuat seperti ini ?” Semenjak itu dia hanya memakan 10 biji dan meninggalkan sisanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Thurab An-Naqsyabi berkata, “Diriku tidak pernah menginginkan sesuatu kecuali satu kali, yaitu menginginkan roti dan telur. Di tengah perjalanan pulang ke suatu desa, tiba tiba ada seseorang berdiri dan menghadangku. Dia berteriak, “Orang ini bersama pencuri’. Maka orang-orang yang ada di situ memukulku dan mencambukku. Selang beberapa waktu ada oraqng yang mengenaliku. Dia terkejut sebelum akhirnya berkata, “Orang laki-laki ini adalah Abu Thurab An-Naqsyabi.’ Mereka kemudian meminta maaf kepadaku. Setelah itu diantara mereka ada yang mengajakku mampir ke rumahnya dan memberikan hidangan roti dan telur. Saya bergumam pada diri sendiri, ‘Makanlah setelah engkau mendapatkan 70 cambukan’.&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemah-ringkas-kitab-risalah-al_7754.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-5631097452442277244</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 05:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T22:21:57.759-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemah ringkas kitab Risalah Al-Qusyairiyah { Khusyu’ dan Tawadhu’ }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah SWT berfirman, “Sungguh telah beruntung orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu’ di dalam shalatnya”. (Al-Mukminun 1-2).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutib dari AbdulLah bin Mas’ud, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebiji berat timbangan kesombongan dan tidak akan masuk neraka orang yang dalam hatinya terdapat satu biji berat timbangan keimanan”. Seorang laki-laki mengatakan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
, ‘Wahai RasuluLlah sesunguhnya ada orang yang menginginkan pahalanya itu baik’. RasuluLlah SAW menjawab, “Sesunggyuhnya Allah itu baik dan mencintai orang-orang yang baik sedangkan sombong adalah menolak yang benar dan merendahkan orang lain”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik bahwasanya RasuluLlah SAW pernah menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menunggangi keledai, dan memenuhi undangan seorang budak. Dalam suatu cerita, suatu hari orang dari suku Bani Quraizhah dan Nadhier menunggangi keledai yang diikat dengan tali serabut dan di atasnya terdapat pelana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud khusyu’ adalah mencari keselamatan diri demi kebenaran (Allah), sedangkan yang dimaksud tawadhu’ / merendahkan diri adalah menyerahkan diri untuk tunduk kepada kebenaran (Allah) dan meninggalkan hal-hal yang bertentanan dengan hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hudzaifah mengatakan, “permulaan sesuatu yang akan hilang dari agama adalah khusyu”. Seorang ulama pernah ditanya tentang khusyu’, dia menjawab, “Yang dimaksud khusyuk adalah hati yang tenang di hadapan Allah.” Sahal mengatakan, “Barang siapa yang hatinya khusyuk maka setan tidak akan mendekatinya”. Menurut suatu pendapat, salah satu indikasi khusyuk adalah apabila ia dibenci, disakiti atau diusir, maka dia menerima dengan lapang dada. Yang lain berpendapat, yang dimaksud khusyuk adalah orang yang mampu memadamkan gejolak syahwat, mampu menetralisir asap jantung, dan mampu memberikan penerangan kepada hati agar gejolak syahwatnya menjadi padam dan hatinya menjadi hidup, sehinga seluruh anggota tubuh menjadi kusyuk. Sedangkan menurut Hasan Al-Bashri, yang dimaksd khusyuk adalah takut secara konsisten untuk kepentingan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Junaid pernah ditanya tentang khusyuk beliau emnjawab, “Wa ‘ibaduRrahman alladziina yamsauna ‘alal ardhi haunan” (QS. Al Furqaan 63) “Hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan tenang (tidak sombong)”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Al-Qusyairy pernah mendengar syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “yang dimaksud ayat tersebut adalah orang-orang yang tawadhu’ dan orang-orang yang khusyuk, mereka itu adalah orang-orang yang tidak menganggap baik terhadap jauhnya perjalanan ketika mereka bepergian”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Ulama sepakat bahwa khhusyuk adalah terletak di dalam hati. Dalam suatu cerita, seorang ulama melihat seorang laki-laki yang berduka cita dan penglihatannya pecah. Sang ulama itu pernah mendekati kedua pundaknya seraya mengatakan, “Wahai fulan, khusyuk itu terletak si dalam hati bukan terletak di kedua pundak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan bahwa RasuluLLah SAW melihat seorang laki-laki yang mempermainkan janggutnya ketika shalat. Beliau bersabda, “Lau khasya’a qalbu hadza lakhasya’at jawaarichuhu, ‘ Seandainya hati orang ini khusyuk niscaya akan khusyuk pula anggota badannya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut satu pendapat, syarat khusyuk dalam shalat adalah apabila ia tidak mengetahui orang lain yang berada di sebelah kanan atau kirinya. Menurut Tuan Guru Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq yang dimaksud khusyuk adalah tunduknya hati dengan berperilaku yang baik. Yang lain berpendapat yang dimaksud khusyuk adalah leganya hati ketika berada di hadapan Tuhan. Ada pula yang berpendapat yang dimaksud khusyuk adalah keringnya hati dan perasaaan rendah ketika berada di hadapan Allah. Sebagian yang lain berpendapat, khusyuk adalah awal kemenangan dari sebuah kekuatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Sulaiman Ad-Darane mengatakan, “seandainya orang-orang berkumpul untuk meletakkan diriku seperti kehinaanku ini, tentu mereka tidak akan mampu.” Sebagian Ulama mengatakan, “Barang siapa yang tidak merasa rendah dihadapan dirinya sendiri, maka derajadnya tidak akan terangkat di hadapan orang lain.” Menurut satu ungkapan Umar bin Abdul Aziz tidak pernah bersujud kecuali di atas tanah (tidak beralas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun hanya seberat biji sawi”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mujahid mengatakan bahwa ketika Allah Ta’ala menenggalamkan kaum Nabi Nuh as., gunung-gunung menjadi tinggi. Sedangkan gunung Judi menjadi rendah. Setelah itu Allah menjadikan perahu untuk Nabi Nuh as. Sebagai tempat bebrteduh dan ketenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam cerita yang lain Umar bin Khatab ra berjalan dengan cepat. Menurut sebagian ulama, Umar mempercepat jalannya karena dia mempunyai kepentingan dan untuk menghindari sikap sombong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu malam Umar bin Abdul Aziz menulis surat yang disampingnya ada seorang tamu, sementara lampu hampir mati. Tamu itu bertanya, “Apa disini tidak ada orang yang memperbaiki lampu ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sebagian kemuliaan tidak untuk menjadikan tamu sebagai pelayan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak ada budak ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sekarang ia sedang tidur”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu Umar mengambil wadah minyak dan menuangkan ke dalam lampu. Tamu itu hanya bisa melihatnya dengan heran. Bagaimana mungkin seorang raja melakukan perbuatan yang sepatutnya dilakukan oleh seorang pelayan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa hal itu engkau kerjakan sendiri wahai Amirul Mukminin ?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika saya pergi, maka saya adalah Umar. Dan jika saya kembali, saya juga adalah Umar”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudry bahwa RasuluLlah SAW pernah memberikan makanan kepada unta, menyapu rumah, menjahit sandal, menambal pakaian, menggembala kambing, makan bersama pelayan dan menggoreng ikan. RasuluLlah SAW tidak merasa malu membawa barang belanjaannya dari pasar menuju ke tempat keluarganya, beliau juga bersalaman baik dengan orang kaya maupun orang fakir, mengawali salam, tidak pernah meremehkan pemberian (hadiah) apabila beliau diundang, meskipun hanya beberapa potong roti. Beliau suka memberi makanan, berbudi pekerti baik, berkarakter baik, pandai bergaul, muka berseri-seri, tersenyum tanpa tertawa, berdukacita tanpa masam, rendah diri tanpa merasa hina, dermawan tanpa berlebih-lebihan, lemah lembut dan belas kasih terehadap orang Islam, tidak pernah merasakan kenyang dan tidak pernah mengulurkan tangan terhadap makanan meskipun sangat ingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fudhail bin Iyadh mengatakan, :Orang yang selalu mnegadukan kepada Allah adalah orang yang khusyuk dan tawadhuk, sedangkan orang yang selalu mengadu kepada hakim adalah orang yang tinggi hati dan sombong.” Dia juga megatakan barang siapa yang melihat dirinya tinggi dan berharga maka dia tidak akan mendapatkan bagian tawadhuk. Fudhail juga pernah ditanya tentang tawadhuk maka ia menjawab, “rendah diri untuk kebenaran, menyelamatkan diri untuk kebenaran, dan menerima kebenaran dari orang lain”. Dia juga pernah mengatakan, “ Allah menurunkan wahyu kepada gunung : Aku Allah berfirman kepada seorang nabi diantara kamu sekalian. Gunung-unung menjadi tinggi sedangkan gunung thur Sina menjadi rendah. Setelah itu Allah berfirman kepada Nabi Musa AS, karena dia rendah diri”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Junaid pernah ditanya tentang tawadhuk maka beliau manjawab, “merendahkan lambung kepada orang lain dan lemah lembut kepada mereka”. Wahab mengatakan, “Sebagian ayat yang diturunkan Allah pada berbagai kitab antara lain, “Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan keturunan Adam dari tulang rusuknya. Tetapi Aku belum pernah melihat hati yang lebih hebat tawadhuknya dari pada hati Musa. Oleh karena itu Aku telah memilihnya dan berfirman kepadanya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Ibnu Mubarak, sombong terhadap orang kaya dan rendah diri terhadap orang fakir merupakan bagian dari tawadhuk. Abu Yazid ditanya, “Kapan orang harus tawadhuk ?”. Beliau menjawab, “Orang yang tidak memandang dirinya sendiri mempunyai kedudukan dan bukan sebagai sesuatu apapun serta tidak memandang orang lain buruk”.ada orang yang berpendapat tawadhuk adalah kenikmatan yang tidak dapat dipublikasikan, sombong adalah cobaan yang tidak dapat dikasihani, dan kemuliaan terletak pada tawadhuk. Ibrahim bin Syaiban mengatakan, “Keagungan terletak pada tawadhuk, kemuliaan terletak pada takwa, dan kemerdekaan terletak pada qanaah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Said Al-Arabi mengatakan, “Sufyan Atsauri telah mengajariku. Dia mengatakan orang yang mulia dibagi menjadi lima, yaitu ‘alim yang zuhud, faakih yang sufi, orang kaya yang tawadhuk, orang fakir yang syukur, dan orang yang berpangkat yang mukanya berseri seri”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Yahya bin Muadz, tawadhuk adalah suatu kebaikan yang dapat dikerjakan oleh setiap orang. Akan tetapi apabila dikerjakan oleh orang kaya tentu akan lebih baik. Sombong adalah keburukan yang dapat dikerjakan oleh setiap orang. Tetapi apabila dikerjakan oleh orang yang fakir tentu akan leibih buruk. Menurut Ibnu Atha’ tawadhuk adalah mau menerima kebenaran dari orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu cerita, Zaid bin Tsabit mengendarai hewan tunggangan. Tiba-tiba Ibnu Abbas mendekatinya untuk memperoleh pengajaran seraya memegang kendali hewan tunggangannya dengan sikap menunduk. Zaid merasa tidak enak kemudian melarangnya. “Lepaskan wahai putera paman RasuluLlah”. Namun Ibn Abbas tidak mau mempedulikannya, dia terus memegangnya seraya mengatakan, “Seperti inilah kami diperintahkan untuk berbuat baik kepada ulama kami.” Rupanya Zaid cukup cerdik. Dia segera merebut tangan Ibnu Abbas , menarik kemudian menciumnya sambil mengatakan, “Seperti inilah kami diperintahkan untuk berbuat baik kepada keluarga RasuluLlah SAW”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urwah bin Zubair mengatakan, “Saya pernah melihat Khalifah Umar bin Khatab memanggul air. Diatas pundaknya terdapat sebuah ghirbah (tempat air dari kulit). Saya mengatakan, ‘Wahai Amirul Mukmininn tidak sepantasnya tuan berbuat seperti ini’. Dia menjawab, ‘Ketika para utusan datang kepadaku, mereka mendengarkan dan tunduk kepadaku, sehingga kesombongan terkadang muncul dalam hatiku. Oleh karena itu saya harus menghilangkannya’. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya dan membawa ghirbah itu ke ruang dapur seorang wanita dari golongan anshar dan menuangkannya ke dalam wadahnya sampai penuh”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Abu hurairah ra. Seorang gubernur Madinah pernah terlihat di atas pundaknya terdapat muatan ikatan kayu. Dia mengatakan, “Berilah jalan yang luas untuk seorang pemimpin”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manurut AbduLlaah Ar-Razi yang dimaksud tawadhuk adalah meninggalkan anak yang telah mencapai umur tamyiz dalam pelayanan. Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan barang siapa yang melihat diri sendiri berharga maka ia tidak akan mencicipi lezatnya / manisnya pelayanan. Yahya bin Muadz mengatakan, “Sombong kepada orang yang sombong adalah tawadhuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang lai-laki dating kepada Asy-Syibli. Dia ditanya oleh Syibli “siapa engkau ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai tuan, saya adalah titik yang terletak di bawah huruf ba’”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Engkau adalah penyaksiku selagi engkau belum memberikan (menjadikan) tempat (kedudukan) untuk dirimu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manurut Ibnu Abbas, sebagian dari tawadhuk adalah orang yang meminum air sisa saudaranya. Bisyir mengatakan, “Sampaikanlah salam kepada putra-putri yang ada di dunia ini karena banyak orang yang tidak memberikan salam kepada mereka”. Syu’aib bin Harb mengatakan, “Suatu hari saya mengerjakan tawaf tiab-tiba seseorang memukulku dengan sikunya. Saya menoleh dan ternyata dia adalah Fudhail bin Iyadh. Dia mengatakan, ‘Wahai Abu Shalih jika engkau menduga bahwa musim ini adalah buruk maka dugaanmu adalah buruk’”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang ulama mengatakan, “Ketika tawaf saya melihat seseorang. Dihadapannya terdapat beberapa pelayan yang menghalangi orang lain dari tempat tawaf. Selang beberapa waktu saya melihat orang itu berada di atas jembatan Baghdad. Orang-orang meminta sesuatu kepadanya dan saya merasa kagum kepadanya. Setelah itu dia mengatakan kepadaku, “Saya adalah orang yang sombong di suatu tempat yang orang lain dalam keadaan rendah. Oleh karena itu Allah mengujiku dengan kerendahan / kehinaan di suatu tempat yang orang lain dalam keadaan terangkat derajatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar bin Abdul Azis telah menerima informasi bahwa puteranya telah membeli sebuah cincin dengan harga 100 dirham. Ayahnya menulis surat kepada puteranya, “Telah sampai informasi kepadaku bahwa engkau telah membeli cincin dengan harga 1000 dirham. Apabila surat ini telah sampai kepadamu, maka juallah cincin itu, kenyangkanlah 1000 perut, ambilah dari cincin itu dua dirham, gantilah permata cincin itu dengan besi buatan cina dan tulislah cincin itu dengan kata-kata ‘mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada seseorang yang mengetahui kemampuan dirinya sendiri’”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu cerita, di hadapan sebagian para raja seorang budak ditawarkan dengan harga 1000 dirham. Ketika uang disodorkan ia menganggap harganya terlalu tinggi. Uang itu ditarik kembali dan di masukkan ke dalam lemari. Budak tersebut mengatakan, “Wahai tuan, belilah diri saya. Sesungguhnya diri saya pada setiap satu dirham dari beberapa dirham terdapat perangai baik yang nilainya lebih daripada 1000 dirham’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih sedikit dan lebih dekat. Seandainya engkau membeliku dan mendatangkanku di hadapan semua budakmu, maka diriku tidak keberatan dan saya tahu bahwa diriku adalah budakmu”. Setelah itu ia membelinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Jabuir bin Hawiah dia mengatakan, “Beberapa pakaian Umar bin Abdul Azis telah dipersiapkan. Dia hendak melamar seorang perempuan dengan harga 12 dirham. Pakaian-pakaian tersebut hanya terdiri dari mantel, celana, selendang, dua kaos kaki dan kopiah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah cerita menuturkan bahwa AbulLah bin Muhammad bin Wasi’ berjalan dengan sikap yang tidak terpuji. Ayahnya menasehatinya, “Ibumu telah mengetahui bahwa engkau membeli sesuatu dengan harga 13 dirham. Padahal Allah belum pernah memberikan harta yang banyak kepada orang-orang Islam yang sama dengan apa yang dimiliki ayahmu, sedangkan engkau berjalan dengan sikap yang seperti ini”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud tawadhuk adalah jangan menganggap orang lain itu butuh kepada dirimu, baik uruasn dunia maupun akhirat. Dalam satu ungkapan dijelaskan, Abu Dzar Al-Ghifari dan Bilal AL-Habsyi pernah saling berbantahan.Abu Dzar mencela Bilal dengan kata-kata ‘hitam’. Bilal kemudian mengadu kepada Nabi Muhammad SAW kemudian beliau memanggil Abu Dzar dan menegurnya, “Wahai Abu Dzar, di dalam hatimu masih ada sifat sombong seperti kesombongan orang-orang jahiliyah”. Setelah itu Abu Dzar menimpakan beban kepada dirinya sendiri. Dia bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya sebelum pipinya diinjak oleh Bilal dengan telapak kakinya. Ia tidak mau mengangkat kepalanya hingga bilal melaksanakan apa yang diinginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Hasan bin Ali bertemu dengan anak-anak kecil di perjalanan. Disamping mereka terdapat pecahan roti yang mereka suguhkan. Hasan RA lantas turun dari tunggangannya dan makan bersama mereka. Dan setelah itu ia mmembawa mereka mampir ke rumahnya. Dia memberikan makanan dan pakaian. Dia mengatakan, “Keutamaan ini adalah milik mereka. Mereka belum pernah mendapatkan makanan selain apa yang telah mereka suguhkan kepadaku. Sedangkan kita mendapatkan makanan lebih banyak dari ini”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut satu pendapat, Umar bin Khatab RA membagi-bagikan pakaian baru dari harta ghanimah (rampasan perang) kepada para sahabat. Umar mengirimkan sebuah yang kuat kepada Mu’adz bin Jabal. Namun dia menjual papkaian pemberian itu dan di pakai membeli 6 orang budak kemudian dimerdekakan. Peristiwa tersebut sampai kepada Umar RA. Setelah selesai pembagiannya, Umar mengirimkan lagi sebuah pakaian baru kepada Mu’adz. Mu’adz mencela apa yang dikerjakan Umar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Celaan itu tidak ada artinya bagiku karena engkau telah menjual pemberian yang pertama”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu adalah kewaajibanmu. Berikanlah bagianku ! Saya bersumpah, kepalamu benar-benar akan saya pukul”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kepalaku sudah ada di hadapanmu, orang tua akan berteman dengan orang tua”.&lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemah-ringkas-kitab-risalah-al_3775.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8305697717029595162.post-768151413570237004</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 05:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-16T22:20:02.587-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Religi</category><title>Terjemah ringkas kitab Risalah Al-Qusyairiyah { Menentang nafsu }</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah SWT berfirman, “Adapun orang-orang yang takut dengan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah menjadi tempat tinggalnya”. (An-Naazi’aat 40-41).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan dari Jabir bin AbdiLlah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Saya peringatkan umatku terhadap sesuatu yang saya takuti, yaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu akan menjauhkan diri dari kebenaran sedangkan panjang angan-angan akan melupakan akhirat. Kemudian katakanlah, ‘sesungguhnya mencegah hawa nafsu adalah fondasi ibadah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah seorang dari para guru sufi pernah ditanya tentang Islam maka beliau menjawab, “Menyembelih nafsu dengan pedang yang mampu mencegahnya. Oleh karena itu katakanlah, orang yang memperlihatkan bekas (pengaruh) hawa nafsunya, maka cahaya kelembutan akan sirna dari hatinya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Dzunun Al Mishri, kunci ibadah adalah berfikir, tanda-tanda cobaan / ujian adalah mencegah hawa dan nafsu, sedangkan mencegah keduanya harus meninggalkan keinginan keduanya. Manurut Ibnu Atha’ Nafsu akan didaki di atas buruknya budi pekerti, dan seorang hamba diperintah agar terus menerus berbudi pekerti yang baik. Oleh karena itu nafsu akan berjalan di medan penentangan kebaikan karena kelobaannya dan seorang hamba akan menolak keburukan tuntutannya dengan sungguh-sungguh. Barang siapa melepas tali kekangnya (yaitu hawa nafsu) maka ia akan menjadi temannya dalam membuat kerusakan. Sedangkan menurut Al-Junaid, nafsu amarah akan selalu memerintah berbuat jahat, mendorong pada perbuatan merusak yang dipancing oleh musuh-musuh, mengiuti keinginan nafsu, dan penghiasan diri dengan sifat-sifat buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hafs mengatakan, “Barang siapa yang tidak mempedulikan nafsunya sepanjang masa, tidak mencegahnya dalam segala hal, dan tidak menariknya dari segala hal yang dibenci, maka dia adalah orang yang tertipu. Barang siapa yang menganggap baik, maka ia akan dirusak. Bagaimana mungkin orang yang berakal sehat rela terhadap hawa nafsunya”. Karim bin Karim bin Karim bin karim Yusuf bin ya’qub bin Ibrahim AL Khalil mengomentari dengan menggunakan firman Allah,”Dan aku tiada melepaskan hawanafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mememrintahkan kepada keburukan”. (QS. Yusuf : 53)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Junaid menceritakan bahwa pada suatu malam ia sedang terjaga dan mengambil bunga warna merah. Dia belum pernah mendapatkan kenikmatan yang sekarang sedang diprolehnya. Dia ingin tidur tetapi tidak bisa. Kemudian ia membuka pintu dan keluar. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang terbungkus dalam selimut yang terbuang di tengah jalan. Ketika mengetahuinya, laki-laki itu mengangkat kepalanya kemudian berteriak memanggil, “Wahai Abu Qasim datanglah kepada saya sejenak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai tuan, tanpa ada perjanjian “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saya bertanya tentang penggerak hati yang hatimu ingin bergerak (datang) kepadaku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu telah terjadi, lantas apa kepentinganmu ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kapan penyakit nafsu menjadi obat ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila engkau mampu mencegah keinginan nafsumu, maka penyakitnya menjadi obat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu ia menghadapkan dirinya pada nafsunya. Dia mencoba berkonsentrasi sebelum akhirnya mengatakan, “Wahai nafsu, dengarkanlah ! Saya telah menjawabmu dengan jawaban ini sebanyak tujuh kali, kemudian saya menolakmu kecuali engkau mau mendengarkan jawaban dari Junaid. Saya telah mendengarkannya. Untuk itu pergilah dariku . saya tidak mau tahu dan tidak mau memberimu posisi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Abu Bakar At-Thamatsani, kenikmatan yang terbesar adalah kemampuan diri untuk menghindar dari keinginan nafsu. Ia akan menjadi penghalang yang paling kuat antara diri hamba dengan Allah. Menurut Sahal bin AbduLlah, orang yang tidak dapat beribadah kepada Tuhan seperti orang yang tidak mampu mencegah nafsu dan dorongannya. Ibnu Atha pernah ditanya tentang sesuatu yang paling mendekati kemarahan Allah. Dia menjawab, “memperhatikan nafsu dan hal ihwalnya. Lebih hebat dari itu mengetahui tujuan dari aktivitasnya (nafsu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibrahim Al-Khawas mengatakan, “Saya berada di Gunung Lukam. Ketika itu saya melihat sebuah delima. Saya sangat menginginkannya. Saya mendekat dan mengambilnya sebuah. Saya belah dan saya makan, tetapi rasanya masam. Kemudian saya berlalu dan meninggalkan delima itu. Setelah itu saya melihat seorang laki-laki terlempar dengan membawa rebana. Saya mengucapkan salam kepadanya, kemudian dia menjawab, “Wa’alaikum salam yaa Ibrahim”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana engkau mengetahui namaku ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang oleh Allah telah diberikan pengetahuan ma’rifat maka tidak ada sedikitpun yang samar / tersembunyi baginya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya selalu melihat keadaanmu selalu bersama Allah. Bagaimana seandainya saya menanyakan penyakit yang melarang dan menjagamu agar terhindar dari beberapa tuduhan “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya selalu melihat keadaanmu selalu bersama Allah. Bagaimana seandainya saya menanyakan penyakit yang menjagamu agar terhindar dari keinginan terhadap buah delima. Sesungguhnya sakit sengatan delima akan ditemukan oleh orang di akhirat. Sedangkan sakit sengatan beberapa tuduhan akan ditemukan oleh orang di dunia.’ Setelah itu saya (Ibrahim Al-Khawash) berlalu dan meninggalkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Ibrahim bin Syaiban. Dia mengatakan, “Saya tidak pernah tidur di bawah atap dan tidak pula di suatu tempat yang terkunci selama empat puluh tahun. Beberapa waktu lalu perutku terasa kenyang dengan memakan kacang adas. Setelah itu saya tidak pernah memakannya. Selang beberapa waktu saya tinggal di Syam. Wadah yang berisi kacang adas berada di hadapanku dan saya ambil kemudian saya makan. Setelah itu saya keluar. Saya melihat lampu-lampu bergantungan. Di alamnya menyerupai bentuk model. Saya menduga hal itu adalah cuka. Seseorang bertanya kepadaku, “Apa yang kamu lihat di dalam bentuk model khamar ini ?”. Saya menjawab, ‘Ini adalah bagian dari kewajibanku’. Lantas saya masuk ke kedai keledai. Saya menginginkan barang antik itu. Dia menduga bahwa keinginanku karena ada perintah dari Raja. Ketika tahu, dia membawaku ke hadapan Ibnu Thulun. Dia memberikan perintah agar memukulku dengan dua ratus kayu dan menjebloskan diriku ke penjara selama satu masa. Suatu saat Abu AbdiLlah Al-Maghribi, guruku berkunjung ke kota itu dan menolongku. Ketika ia memandangku, ia bertanya, ‘Apa yang engkau peroleh ?” Saya menjawab, ‘Kenyang memakan kacang adas dan duaratus pukulan kayu’. Dia mengatakan kepadaku, ‘Engkau masih beruntung tidak mendapatkan siksaan di akhirat’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sariy mengatakan, “Selama tigapuluh atau empatpuluh tahun nafsuku menuntut agar memakan manisan pohon anggur tetapi asya tidak memakannya. “ Saya (Syaikh Abul Qasim) telah mendengar Abul Abas All Baghdadi mengatakan, “Saya telah mendengar kakekku mengatakan, ‘penyakit seorang hamba adalah rela terhadap nafsu dan yang terkandung di dalamnya’”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isham bin Yusuf Al-Balkhi memberi sesuatu kepada Hatim AL-Asham. Dia lantas menciumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa barang itu kau cium ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika saya mengambilnya, maka saya adalah hina dan ia (barang itu) adalah mulia. Apabila saya tolak, maka saya adalah mulia dan ia adalah hina. Oleh karena itu kemuliaannya akan sirnya di atas kemuliaanku, dan kehinaannya akan sirna di atas kehinaanku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian ulama perenah ditanya, “Saya hendak melaksanakan ibadah haji sendirian.” Dia menjawab, “Pertama hatimu harus kau sendirikan dari kelupaan, dirimu dari permainan, mulutmu dari kesia-siaan, kemudian tempuhlah apa yang engkau kehendaki”. Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, “Barang siapa yang berbuat baik di waktu malam, maka ia akan dicukupi di waktu siang. Barang siapa yang berbuat baik di waktu siang, maka dia akan dicukupi di waktu malam. Barang siapa meninggalkan syahwat, maka ia akan dicukupi biaya hidupnya. Allah akan memuliakan orang yang menyiksa hatinya dengan meninggalkan syahwat karena mengharapkan pahala”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta’alamenurunkan wahyu kepada Nabi Dawud AS, “Wahai Dawud, peringatilah teman-temanmu agar menghindarkan diri dari syahwat. Hati yang selalu berhubungan dengan syahwat dalam memperoleh kesenangan dunia maka akal pikiraqnnya akan terhalang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang laki-laki duduk di atas udara di tanya, “Dengan apa engkau memperoleh ini ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya meninggalkan keinginan dunia. Oleh karena itu udara tunduk kepadaku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu riwayat diceritakan, seandainya ditampakkan kepada seorang mukmin seribu syahwat, pasti dia akan mengeluarkannya dengan perasaan takut /khauf. Ada yang mengatakan, “Jika pemimpin engkau dudukkan dalam kekuasaan hawa nafsu, maka dia akan membawamu kepada kelaliman”. Yusuf bin Atsbat mengatakan, “Tidak ada yang mampu menghilangkan syahwat dari hait kecuali takut yang dibingungkan dan rindu yang digoncangkan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibrahim AL Khawas mengatakan, barang siapa yang meninggalkan syahwat, tetapi dia tidak menemkan pengganti di dalam hati, maka dia adalah bohong. Ja’far bin Nashr mengatakan, “Al-Junaid pernah memberikan satu dirham kepadaku dania mengatakan, ‘Belikanlah buah tin waziri untukku’. Saya lantas membelikannya. Ketika dia berbuka, ia mengambil satu dan meletakkannya ke dalam mulutnya, kemudian ia memuntahkan seraya menangis. ‘Bawalah buah tin ini’. Apa yang dia perintahkan maka saya laksanakan. Pada waktu ia mengatakan, ‘Hatif memanggilku dan mengatakan : Apakah engkau tidak malu terhadap syahwat yang telah engkau tinggalkan, lantas engkau akan kembali kepadanya”. &lt;/div&gt;</description><link>http://jiwak-cau.blogspot.com/2009/09/terjemah-ringkas-kitab-risalah-al_5361.html</link><author>noreply@blogger.com (Doncrack)</author></item></channel></rss>