<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3721283807290600388</id><updated>2024-10-24T16:59:31.266-07:00</updated><title type='text'>pendekatan behavioristik </title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://k2rrt.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3721283807290600388/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://k2rrt.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08426537675583182483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3721283807290600388.post-3849495412685209888</id><published>2013-11-13T19:30:00.001-08:00</published><updated>2013-11-13T19:30:14.522-08:00</updated><title type='text'>pendekatan behavioristik </title><content type='html'>


 
 
 
 &lt;style type=&quot;text/css&quot;&gt;
 &lt;!--
  @page { margin: 0.79in }
  P { margin-bottom: 0.08in }
 --&gt;
 &lt;/style&gt;


&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;b&gt;A. Filosofi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi pendekatan
behavioristik adalah empirisme; bahwa perilaku manusia ditentukan
oleh lingkungan, bukan oleh faktor hereditas atau genetik. Ekstrimis
behavioristik, Watson, mengemukakan statemennya demikian: “Berilah
saya seribu bayi, saya sanggup menciptakan seribu&amp;nbsp; tipe manusia.
Anggapan dasar behavioristik adalah bahwa perilaku merupakan fungsi
dari apa yang terjadi sebelumnya. &lt;br /&gt;Pendekatan behavioristik
menegaskan bahwa perilaku hanya dapat dijelaskan melalui hal-hal yang
dapat diobservasi. Perilaku bukan merupakan proses mental yang&amp;nbsp;
tidak kelihatan. Proses mental seperti berfikir, perasaan, dan
motivasi, adalah sesuatu yang tersembunyi dan tidak dapat
diobservasi; oleh karena itu teori behavioristik memandangnya sebagai
materi yang tidak ilmiah.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip untuk
menjelaskan perilaku menurut teori behavioristik:&lt;br /&gt;1.Perilaku
dipengaruhi lingkungan&lt;br /&gt;2.Belajar adalah hubungan antara
kejadian-kejadian yang dapat diamati (hubungan S-R) melalui
kondisioning&lt;br /&gt;3.Belajar adalah perubahan perilaku&lt;br /&gt;4.Belajar
terjadi apabila antara stimulus dan munculnya respon waktunya
berdekatan. &lt;br /&gt;5.Ada kesamaan antara proses belajar manusia dan
binatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Ko&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan perilaku (belajar),
menurut behavioristik, terjadi melalui pengkondisian. Ada dua jenis
pengkondisian. Pengkondisian klasikal: UCS menghasilkan CS.
Pengkondisian operan: konsekuensi dari perilaku akan meningkatkan
atau menurunkan frekuensi munculnya perilaku tersebut pada
waktu-waktu selanjutnya. Dalam belajar atau pengkondisian perilaku,
pendekatan behavioristik bertujuan mengubah perilaku bermasalah ke
perilaku sesuai harapan. Dalam proses kondisioning, pendekatan
behavioristik menggunakan instrumen penguat (reinforcement) dan
pelemah (punishment). Penguat terdiri dari penguat positif dan
penguat negatif. Pada penguat positif, perilaku yang diharapkan
terbentuk karena diikuti oleh stimulus yang menyenangkan. Misal:
komentar positif guru (stimulus menyenangkan) akan menyemangati siswa
dalam belajar matematika (siswa rajin belajar matematika). Penguat
negatif membentuk perilaku yang diharapkan&amp;nbsp; karena siswa ingin
menghindari stimulus yang tidak menyenangkan. Misal: Ibu tidak
memberikan uang saku (stimulus tidak menyenangkan) kalau anaknya
tidak rajin mengerjakan PR. Untuk mendapatkan uang saku maka anak
rajin mengerjakan PR. Atau guru mengatakan:&amp;nbsp; Adi, kamu tidak
boleh bergabung membuat poster&amp;nbsp; dengan teman-temanmu (stimulus
tidak menyenangkan), sebelum kamu menyelesaikan tugas.&lt;br /&gt;Beda antara
penguat positif dan negatif: pada penguat positif, siswa berperilaku
positif untuk mendapatkan stimulus yang menyenangkan; sedangkan pada
penguat&amp;nbsp; negatif, siswa berperilaku positif untuk menghindari
stimulus yang tidak menyenangkan.&amp;nbsp; Beda antara penguat negatif
dan punishment: Penguat negatif adalah untuk mengembangkan perilaku
yang diharapkan, sedangkan punishment adalah untuk menghilangkan
perilaku yang tidak diharapkan. Agar penguat bekerja efektif, penguat
harus diberikan segera setelah perilaku yang diharapkan muncul
(prinsip kontingensi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C. Mempertahankan perilaku yang
diharapkan : &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Melalui penguatan intrinsik. Caranya:
sering melibatkan siswa pada kegiatan yang menyenangkan dan
memberikan kepuasan dalam kaitannya dengan perilaku positif yang akan
dipertahankan.&lt;br /&gt;2.Penguatan intermitten. Seperti disebutkan bahwa
perilaku yang diharapkan frekuensinya akan meningkat dengan cepat
apabila diberi penguat setiap kali perilaku tersebut muncul. Apabila
munculnya perilaku tersebut sudah teratur, maka pemberian penguat
dikurangi, yaitu pada kondisi tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D. Mengurangi
perilaku yang tidak diharapkan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Extinction. Jangan
memberikan penguat apapun terhadap perilaku yang tidak
diharapkan&lt;br /&gt;2.Cueing. Menggunakan bahasa isyarat seperti kontak
mata, menaikkan alis mata, mendekati meja siswa dan berhenti di sana
sampai perilaku yang tak diharapkan berhenti.&lt;br /&gt;3.Punishment. Ada
pendapat bahwa hukuman tidak dapat menghentikan perilaku yang tidak
diharapkan. Namun demikian kalau guru dapat menggunakan instrumen
hukuman secara tepat maka hukuman tetap berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk
hukuman yang efektif:&lt;br /&gt;1.Mencela secara verbal singkat, saat itu
juga, tanpa emosi, suara rendah, langsung mendekati siswa&lt;br /&gt;2.Memberi
denda&lt;br /&gt;3.memberikan konsekuensi logis&lt;br /&gt;4.Time out, menempatkan
siswa pada situasi yang membosankan&lt;br /&gt;5.Mengasingkan siswa ditempat
tertentu sampai waktu yang ditentukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk hukuman tidak
efektif:&lt;br /&gt;1.Hukuman fisik&lt;br /&gt;2.Hukuman psikologis&lt;br /&gt;3.PR
berlebihan&lt;br /&gt;4.Skorsing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan hukuman yang
manusiawi:&lt;br /&gt;1.Informasikan bahwa perilaku tertentu akan mendapat
hukuman dan sebutkan bentuk hukumannya&lt;br /&gt;2.Pemberian hukuman diikuti
dengan konsekuensi &lt;br /&gt;3.Memberi hukuman secara personal&lt;br /&gt;4.Memberi
penjelasan bahwa perilaku yang mendapat hukuman adalah perilaku yang
tidak bisa diterima&lt;br /&gt;5.Tegaskan bahwa yang tidak bisa diterima
bukanlah siswanya tapi perilakunya&lt;br /&gt;6.Secara bersamaan ajarkan dan
berikan penguat terhadap perilaku yang diharapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus
dipedomani dalam memberikan hukuman:&lt;br /&gt;1.Menghukum secara hemat,
hanya dilakukan apabila sangat perlu&lt;br /&gt;2.Menghukum harus jelas bagi
anak; apa alasannya sehingga ia dihukum &lt;br /&gt;3.Hindari menghukum
karena ketidakmampuan kognitif anak&lt;br /&gt;4.Memberi cara alternatif bagi
anak untuk mendapatkan penguat positif&lt;br /&gt;5.Memberikan penguat
terhadap perilaku yang belawanan dengan perilaku yang tidak
diharapkan &lt;br /&gt;6.Hindari menghukum ketika dalam kedaan emosi dan
marah&lt;br /&gt;7.Menghukum pada awal kemunculan misbehavior daripada
misbehavior itu sudah terjadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu guru memberikan hukuman
fisik, sekarang hukuman fisik tidak diperbolehkan karena dapat
menyebabkan luka fisik, dan psikis (trauma). Selain itu kenyataan
bahwa kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan. Hukuman dapat
menimbulkan kecemasan, pemberontakan, rasa tidak aman, amarah, dan
bahkan dendam. Bisa juga ngambek, atau malah jadi pahlawan diantara
temannya, jadi hukuman sama sekali tidak efektif. Hukuman hanya
mengajarkan kepada siswa bagaimana menghindari sesuatu dan bukan
bagaimana mengembangkan perilaku yang positif. Bisa terjadi untuk
menghindari hukuman membuat siswa bolos sekolah. Anak-anak yang
dihukum mengalami kecemasan dan ketakutan serta gejolak emosi yang
kuat; akibatnya mereka tidak dapat berkonsentrasi dalam mengikuti
pelajaran, yang mungkin akan berlangsung lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;E.
Langkah-langkah pendekatan behavioral&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.menentukan masalah
(perilaku yang tidak sesuai)—definisikan masalah&lt;br /&gt;2.menentukan
tujuan konseling, untuk apa!&lt;br /&gt;3.mempertimbangkan
alternatif-alternatif pemecahannya &lt;br /&gt;4.memilih satu
altrernatif&lt;br /&gt;5.menentukan jadwal penguatan&lt;br /&gt;6.perjanjian dengan
klien akan melakukan alternatif itu dengan sistem
penguat&lt;br /&gt;7.pelaksanaan strategi/alternatif yang dipilih
tadi&lt;br /&gt;8.evaluasi&lt;br /&gt;8.follow-up. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;F. Macam-macam
pendekatan behavioral:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Applied Behavior Analysis (ABA)
(=modifikasi perilaku, terapi perilaku, managemen kontingensi).
Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa problem-problem perilaku
berasal dari situasi lingkungan masa lalu dan sekarang&lt;br /&gt;Prosedur:
&lt;br /&gt;a.Jelaskan perilaku saat ini dan perilaku yang diharapkan secara
jelas &lt;br /&gt;b.Kenali dan gunakan satu atau lebih penguat yang
efektif&lt;br /&gt;c.Buat rencana perlakuan dengan menggunakan penguat untuk
membentuk perilaku yang diharapkan&lt;br /&gt;d.Catat peningkatan frekuensi
perilaku yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan&lt;br /&gt;e.Pantau
efektivitas perlakuan dengan melihat perubahan perilaku dari waktu ke
waktu, jika perlu lakukan modifikasi perlakuan&lt;br /&gt;f.Meminta siswa
untuk mempraktekkan perilaku diharapkan yang sudah terbentuk ke
berbagai situasi nyata&lt;br /&gt;g.Secara bertahap hentikan perlakuan dengan
menggunakan penguatan intermitten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Functional Analysis &amp;amp;
Positive Behavioral Support:&lt;br /&gt;a.Ajarkan perilaku yang
diharapkan&lt;br /&gt;b.Secara konsisten perkuat perilaku yang
diharapkan&lt;br /&gt;c.Ubahlah lingkungan kelas untuk meminimalkan kondisi
yang dapat memicu munculnya perilaku yang tidak
diharapkan&lt;br /&gt;d.Kembangkan rutinitas harian yang menjamin siswa
merasa nyaman dan aman&lt;br /&gt;e.Buka peluang agar siswa memiliki
pilihan-pilihan untuk memperoleh hasil yang diinginkan &lt;br /&gt;f.Lakukan
adaptasi terhadap kurikulum dan/atau pembelajaran untuk
mengoptimalkan kesuksesan akademik siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;G. Syarat
kesuksesan pendekatan behavioristik:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Titik berat
perlakuan pada hubungan sebab-akibat&lt;br /&gt;2.Fokus pada proses belajar
(kondisioning): membentuk dan melemahkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; perilaku&lt;br /&gt;3.Klien
berkeinginan berperan secara aktif, dan mau diprogram&lt;br /&gt;4.Konselor
menganalisa masalah klien untuk menemukan faktor penyebabnya &lt;br /&gt;5.Ada
hubungan baik antara konselor dan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konselor harus
melakukan analisis untuk menemukan hal-hal yang berhubungan dengan
permasalahan klien, misal lingkungan sosialnya,
kebiasaan-kebiasaannya. Konselor harus bersikap tanggap, dan sikap
tanggap ini akan terjadi bila terjadi hubungan baik. Hubungan baik
ini merupakan social reinforcement. Oleh karena itu harus
dikembangkan terlebih dulu. Kalau social reinforcment ini sudah
dirasakan klien, maka biasanya klien bersikap lebih terbuka, dan
klien lalu bisa memilih sendiri hal-hal yang dapat dilakukan yang
dirasa menguntungkan, sehingga klien aktif merencanakan program
behavior modification untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;H. Kekuatan dan
Kelemahan Pendekatan behavioristik:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan:&lt;br /&gt;1.Efektif
untuk mengarahkan problem perilaku menjadi perilaku yang sesuai
dengan harapan. &lt;br /&gt;2.Tepat untuk siswa yang tidak
motivated&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan:&lt;br /&gt;1.Membutuhkan waktu lama&lt;br /&gt;2.Kurang
efektif untuk siswa yang kemampuan kognitifnya tidak memadai,
sehingga&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memerlukan
bantuan pendekatan kognitif&lt;br /&gt;3.Pemberian penguat ekstrinsik
menyebabkan siswa kurang tertarik pada pelajaran yang tidak ada
penguatnya&lt;br /&gt;4.Guru harus menguasai dan mengetahui jenis penguat dan
kapan penguat harus diberikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div style=&quot;margin-bottom: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://k2rrt.blogspot.com/feeds/3849495412685209888/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://k2rrt.blogspot.com/2013/11/pendekatan-behavioristik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3721283807290600388/posts/default/3849495412685209888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3721283807290600388/posts/default/3849495412685209888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://k2rrt.blogspot.com/2013/11/pendekatan-behavioristik.html' title='pendekatan behavioristik '/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08426537675583182483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>