<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>Kabar Terbaru Indonesia Mengajar</title><link>http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/</link><description>Feed untuk kabar terbaru dari tim Indonesia Mengajar.</description><language>id</language><lastBuildDate>Mon, 27 Feb 2012 04:09:40 -0000</lastBuildDate><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/KabarTerbaruIndonesiaMengajar" /><feedburner:info uri="kabarterbaruindonesiamengajar" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>KabarTerbaruIndonesiaMengajar</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><title>Reporter Masa Depan dari Tulang Bawang Barat</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~3/7YJUodwH2SQ/reporter-masa-depan-dari-tulang-bawang-barat</link><description>&lt;p&gt;
	Tulang Bawang Barat (16/02) - Tujuh siswa didik Pengajar Muda Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung mengikuti audisi Reporter Cilik yang diselenggarakan oleh Harian Lampung Post. Program Reporter Cilik merupakan sebuah program tahunan yang digagas oleh Harian Lampung Post untuk mengenalkan dunia jurnalistik sejak dini pada anak-anak. Tahun ini merupakan tahun kedua penyelenggaraan Reporter Cilik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Pada tahun sebelumnya, para reporter cilik yang terpilih mewawancarai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono dan beberapa Menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid dua. Hasil wawancara mereka dengan beberapa tokoh nasional dan lokal Lampung itu dibukukan sebagai arsip dan bukti potensi anak-anak Lampung dalam dunia jurnalistik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Dalam penyelenggaraannya di tahun kedua, telah dipilih 50 calon reporter cilik yang lolos di tingkat kabupaten. Tujuh dari 50 reporter cilik itu adalah siswa didik Pengajar Muda Tulang Bawang Barat. Dari ke-50 calon reporter cilik ini, akan dipilih empat orang yang lolos sebagai reporter cilik tingkat provinsi yang berkesempatan mewawancarai tokoh Lampung seperti Gubernur dan Bupati. Dari empat reporter cilik itu, kemudian akan dipilih lagi dua anak yang akan maju ke tingkat nasional dan berkesempatan untuk mewawancarai Gubernur dari Provinsi selain Lampung, serta jajaran Menteri di Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Menurut Sabam Sinaga, Pemimpin Redaksi Lampung Post, kegiatan ini diadakan untuk mencari mutiara-mutiara terpendam di Tulang Bawang Barat. Menurutnya banyak anak-anak berpotensi di Tulang Bawang Barat namun kekurangan akses sehingga potensi mereka tidak terlihat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	“Dengan Reporter Cilik ini diharapkan mutiara di Tulang Bawang Barat dapat kita temukan dan menjadi duta bagi daerah sebagai reporter cilik di tingkat nasional,” ujarnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Nyatanya, ucapan Sabam terbukti dengan lolosnya satu anak didik Pengajar Muda, Dhela Via Astuti, siswa kelas 5 SDN 01 Bangunjaya, Tulang Bawang Barat, lolos ke tingkat Provinsi dan akan berkompetisi di tingkat nasional. Lolosnya Dhela sekaligus membuktikan bahwa di Tulang Bawang Barat terdapat calon jurnalis masa depan, walaupun berada di tengah keterbatasan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Mita Aditama, Pengajar Muda yang bertugas di sekolah Dhela, mengungkapkan bahwa ia sangat bangga dengan lolosnya Dhela.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	“Kalau ingin melihat keterbatasan boleh jadi kita takkan berpikir Dhela bisa membanggakan Tulang Bawang Barat. Ayahnya adalah seorang pengambil getah karet, ibunya menjadi TKI di Malaysia dan daerah tempat Dhela tinggal bahkan belum dialiri listrik. Tapi semangat dan keinginan Dhela untuk terus belajar membuatnya lolos audisi Reporter Cilik,” ujar Pengajar Muda alumnus Institut Pertanian Bogor ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Lolosnya Dhela tentu menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk menyongsong kemajuan. Sesuai tema Reporter Cilik tahun ini yakni “Dari Lampung Merajut Indonesia”, Dhela adalah bukti nyata bahwa anak Indonesia dimanapun ia berada memiliki kemampuan yang tak kalah dengan anak lain, meskipun di tengah keterbatasan. Usaha Dhela bisa menjadi inspirasi bagi jutaan anak Indonesia di luar sana bahwa keterbatasan bukanlah sebuah halangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	*) Ditulis oleh&lt;a href="http://indonesiamengajar.org/pengajar-muda/ardi-irawan/"&gt; Ardi Wilda Irawan&lt;/a&gt;, Pengajar Muda Kab. Tulang Bawang Barat, Lampung&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~4/7YJUodwH2SQ" height="1" width="1"/&gt;</description><guid isPermaLink="false">http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/reporter-masa-depan-dari-tulang-bawang-barat</guid><feedburner:origLink>http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/reporter-masa-depan-dari-tulang-bawang-barat</feedburner:origLink></item><item><title>PM Lebak Adakan Pelatihan Sains Kreatif</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~3/NZou21WyaM0/pm-lebak-adakan-pelatihan-sains-kreatif</link><description>&lt;p&gt;
	Ditulis oleh: Eko Budi Wibowo*&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Lebak, (13/02/2012) – Pada tanggal 6, 7 dan 8 Februari 2012 yang lalu, para Pengajar Muda Kabupaten Lebak menyelenggarakan pelatihan Sains Kreatif tingkat Kabupaten Lebak. Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru-guru Sains dan membuat pembelajaran sains yang menyenangkan, sehingga diharapkan nantinya guru-guru dapat mentransfer ilmu dan sains dengan cara yang menyenangkan tersebut kepada anak-anak didiknya. Pelatihan ini diadakan di tiga zona, antara lain; zona Rangkasbitung (10 Kecamatan), zona Muncang (8 kecamatan), dan zona Bayah (10 Kecamatan) yang diikuti oleh total 236 guru Sains se-Lebak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Adapun konten materi pelatihan berupa simulasi sains kreatif, antara lain mencakup;&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;
		Sistem pernafasan paru-paru manusia; merupakan simulasi dari cara kerja alat pernafasan manusia, dilakukan dengan alat sederhana yaitu botol bekas dan balon. Para peserta pelatihan dipandu untuk menggali lebih dalam bagaimana pernafasan bisa terjadi.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;
		Api dan oksigen; materi ini berisi penjelasan mengapa lilin bisa mati ketika dinyalakan di dalam gelas kemudian disiram dengan air cuka. Praktek ini menjelaskan bahwa ketika api menyala dibutuhkan oksigen di sekitarnya. Ketika oksigen terdorong keluar oleh cairan asam maka lilin akan mati.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;
		Struktur bahan benda; materi ini diberikan untuk melihat struktur benda seperti apa yang bisa menyerapa air dengan baik. Adapun caranya adalah dengan menyediakan tiga berbahan dasar kertas yaitu tisu, kertas koran dan kertas karton. Hal ini dilakukan untuk melihat daya serap bahan mana yang paling baik.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;
		Perpindahan panas; praktik ini ingin memperlihatkan perpindahan panas yang terjadi. Percobaan dilakukan dengan memanaskan gelas plastik hingga air berbuih, tetapi gelas plastik tersebut tidak bocor. Di sini peserta bisa belajar tentang perpindahan panas yang terjadi.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;
		Gunung meletus; paraktek simulasi gunung meletus merupakan simulasi terjadinya perbedaan tekanan yang terjadi. Simulasi ini menggunakan gumpalan tanah yang dibentuk menyerupai gundukan gunung berapi kemudian dari dalam gundukan tersebut keluar material busa sabun yang telah terkombinasi dengan cairan cuka.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;
	 &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Seluruh peserta terlihat antusias dalam mengikuti pelatihan ini, yang dapat terlihat dari semangat mereka untuk bertanya dan menggali materi lebih jauh. Sebagai follow up, para peserta mendapatkan tugas untuk menghasilkan listrik dari kentang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Hasil output pembelajaran ini kemudian akan ditindaklanjuti pada ajang perlombaan Nasional yaitu Olimpiade Sains Kuark. Dalam olimpiade ini, materi yang diujikan berupa pembelajaran sains yang diambil dari Majalah Kuark (majalah komik untuk pembelajaran sains). Dengan dukungan dan bantuan dari Pengajar Muda Lebak, Kabupaten Lebak akan mengirim 820 peserta dari seluruh SD yang ada di Lebak untuk mengikuti seleksi awal Olimpiade Sains Kuark yang akan berlangsung pada tanggal 18 Februari 2012 mendatang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	*) &lt;a href="http://indonesiamengajar.org/pengajar-muda/eko-wibowo/"&gt;Eko Budi Wibowo&lt;/a&gt;, Pengajar Muda Kab. Lebak, Banten&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~4/NZou21WyaM0" height="1" width="1"/&gt;</description><guid isPermaLink="false">http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/pm-lebak-adakan-pelatihan-sains-kreatif</guid><feedburner:origLink>http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/pm-lebak-adakan-pelatihan-sains-kreatif</feedburner:origLink></item><item><title>Sekolah 5 Senti</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~3/OCNbNoIIRyo/sekolah-5-senti</link><description>&lt;p&gt;
	&lt;em&gt;Akhir-akhir ini, saya sering membaca tulisan dari Prof. Rhenald Kasali. Tulisan-tulisan beliau, sungguh menohok, terlebih yang terkait dengan dunia pendidikan. Harus banyak-banyak belajar dan ingat selalu untuk menjadi yang lebih baik... Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;
	&lt;strong&gt;Sekolah 5 Senti&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;
	Jawapos, 30 Januari 2012&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Oleh Rhenald Kasali&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Setiap kali berkunjung ke Yerusalem, saya sering tertegun melihat orang-orang Yahudi orthodox yang penampilannya sama semua. Agak mirip dengan China di era Mao yang masyarakatnya dibangun oleh dogma pada rezim otoriter dengan pakaian ala Mao. Di China, orang-orang tua di era Mao jarang senyum, sama seperti orang Yahudi yang baru terlihat happy  saat upacara tertentu di depan Tembok Ratapan. Itupun tak semuanya. Sebagian terlihat murung dan menangis persis di depan tembok yang banyak celahnya dan di isi kertas-kertas bertuliskan harapan dan doa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Perhatian saya tertuju pada jas hitam, baju putih, janggut panjang dan topi kulit berwarna hitam yang menjulang tinggi di atas kepala mereka. Menurut Dr. Stephen Carr Leon yang pernah tinggal di Yerusalem, saat istri mereka mengandung, para suami akan lebih sering berada di rumah mengajari istri rumus-rumus matematika atau bermain musik. Mereka ingin anak-anak mereka secerdas Albert Einstein, atau sehebat Violis terkenal Itzhak Perlman.   &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Saya kira bukan hanya orang Yahudi yang ingin anak-anaknya menjadi orang pintar. Di Amerika Serikat, saya juga melihat orang-orang India yang membanting tulang habis-habisan agar bisa menyekolahkan anaknya. Di Bekasi, saya pernah bertemu dengan orang Batak yang membuka usaha tambal ban di pinggir jalan. Dan begitu saya intip rumahnya, di dalam biliknya yang terbuat dari bambu dan gedek saya melihat seorang anak usia SD sedang belajar sambil minum susu di depan lampu templok yang terterpa angin.Tapi tahukah anda, orang-orang yang sukses itu sekolahnya bukan hanya 5 senti? &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Dari Atas atau Bawah ? Sekolah 5 senti dimulai dari kepala di bagian atas. Supaya fokus, maka saat bersekolah, tangan harus dilipat, duduk tenang dan mendengarkan. Setelah itu, apa yang di pelajari di bangku sekolah diulang dirumah, di tata satu persatu seperti melakukan filing, supaya tersimpan teratur di otak. Orang-orang yang sekolahnya 5 senti mengutamakan raport dan transkrip nilai. Itu mencerminkan seberapa penuh isi kepalanya. Kalau diukur dari kepala bagian atas, ya paling jauh menyerap hingga 5 sentimeter ke bawah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Tetapi ada juga yang mulainya bukan dari atas, melainkan dari alas kaki. Pintarnya, minimal harus 50 senti, hingga ke lutut. Kata Bob Sadino, ini cara goblok. Enggak usah mikir, jalan aja, coba, rasain, lama-lama otomatis naik ke atas. Cuma, mulai dari atas atau dari bawah, ternyata sama saja. Sama-sama bisa sukses dan bisa gagal. Tergantung berhentinya sampai dimana.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Ada orang yang mulainya dari atas dan berhenti di 5 senti itu, ia hanya menjadi akademisi yang steril dan frustasi. Hanya bisa mikir tak bisa ngomong, menulis, apalagi memberi contoh. Sedangkan yang mulainya dari bawah juga ada yang berhenti sampai dengkul saja, seperti menjadi pengayuh becak. Keduanya sama-sama berat menjalani hidup, kendati yang pertama dulu bersekolah di ITB atau ITS dengan IPK 4.0. Supaya bisa menjadi manusia unggul, para imigran Arab, Yahudi, China, dan India di Amerika Serikat menciptakan kondisi agar anak-anak mereka tidak sekolah hanya 5 senti tetapi sekolah 2 meter. Dari atas kepala hingga telapak kaki. Pintar itu bukan hanya untuk berpikir saja, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan, melakukan hubungan ke kiri dan kanan, mengambil dan memberi, menulis dan berbicara. Otak, tangan, kaki dan mulut sama-sama di sekolahkan, dan sama-sama harus bekerja. Sekarang saya jadi mengerti mengapa orang-orang Yahudi Mengirim anak-anaknya ke sekolah musik, atau mengapa anak-anak orang Tionghoa di tugaskan menjaga toko, melayani pembeli selepas sekolah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Sekarang ini Indonesia sedang banyak masalah karena guru-guru dan dosen-dosen nya – maaf- sebagian besar hanya pintar 5 senti dan mereka mau murid-murid nya sama seperti mereka. Guru Besar Ilmu Teknik (sipil) yang pintarnya hanya 5 senti hanya asyik membaca berita saat mendengar Jembatan Kutai Kartanegara ambruk atau terjadi gempa di Padang. Guru besar yang pintarnya 2 meter segera berkemas dan berangkat meninjau lokasi, memeriksa dan mencari penyebabnya. Mereka menulis karangan ilmiah dan memberikan simposium kepada generasi baru tentang apa yang ditemukan di lapangan.Yang sekolahnya 5 senti hanya bisa berkomentar atas komentar-komentar orang lain. Sedangkan yang pandainya 2 meter cepat kaki dan ringan tangan.Sebaliknya yang pandainya dari bawah dan berhenti sampai di dengkul hanya bisa marah-marah dan membodoh-bodohi orang-orang pintar, padahal usahanya banyak masalah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Saya pernah bertemu dengan orang yang memulainya dari bawah, dari dengkul nya, lalu bekerja di perusahaan tambang sebagai tenaga fisik lepas pantai. Walau sekolahnya susah, ia terus menabung sampai akhirnya tiba di Amerika Serikat. Disana ia hanya tahu Berkeley University dari koran yang menyebut asal sekolah para ekonom terkenal.Tetapi karena bahasa inggris nya buruk, dan pengetahuannya kurang, ia beberap kali tertipu dan masuk di kampus Berkeley yang sekolahnya abal-abal. Bukan Berkeley yang menjadi sekolah para ekonom terkenal. Itupun baru setahun kemudian ia sadari, yaitu saat duitnya habis. Sekolah tidak jelas, uang pun tak ada, ia harus kembali ke Jakarta dan bekerja lagi di rig lepas pantai.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Dua tahun kemudian orang ini kembali ke Berkeley, dan semua orang terkejut kini ia bersekolah di Business School yang paling bergengsi di Berkeley. Apa kiatnya? “Saya datangi dekannya, dan saya minta diberi kesempatan . Saya katakan, saya akan buktikan saya bisa menyelesaikannya. Tetapi kalau tidak diberi kesempatan bagaimana saya membuktikannya?”Teman-teman nya bercerita, sewaktu ia kembali ke Berkeley semua orang Indonesia bertepuk tangan karena terharu. Anda mau tahu dimana ia berada sekarang?Setelah meraih gelar MBA dari Berkeley dan meniti karir nya sebagai eksekutif, kini orang hebat ini menjadi pengusaha dalam bidang energy yang ramah lingkungan, besar dan inovatif.Saya juga bisa bercerita banyak tentang dosen-dosen tertentu yang pintarnya sama seperti Anda, tetapi mereka tidak hanya pintar bicara melainkan juga berbuat, menjalankan apa yang dipikirkan dan sebaliknya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Maka jangan percaya kalau ada yang bilang sukses itu bisa dicapai melalui sekolah atau sebaliknya. Sukses itu bisa dimulai dari mana saja, dari atas oke, dari bawah juga tidak masalah. Yang penting jangan berhenti hanya 5 senti, atau 50 senti. Seperti otak orang tua yang harus di latih, fisik anak-anak muda juga harus di  sekolahkan. Dan sekolahnya bukan di atas bangku, tetapi ada di alam semesta, berteman debu dan lumpur, berhujan dan berpanas-panas, jatuh dan bangun.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Rhenald Kasali&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Guru Besar Universitas Indonesia&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=168&amp;amp;Itemid=57&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~4/OCNbNoIIRyo" height="1" width="1"/&gt;</description><guid isPermaLink="false">http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/sekolah-5-senti</guid><feedburner:origLink>http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/sekolah-5-senti</feedburner:origLink></item><item><title>Mari Ajak Mereka Kuliah - Fasilitasi Beasiswa Bidik Misi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~3/8BwcYKhndKw/mari-ajak-mereka-kuliah-fasilitasi-beasiswa-bidik</link><description>&lt;p&gt;
	&lt;strong&gt;Mari Ajak Mereka Kuliah - Fasilitasi Beasiswa Bidik Misi 2012&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;object height="355" width="425"&gt;&lt;param name="movie" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=ajakkuliah-fasilitasibidikmisi-120210034051-phpapp01&amp;amp;stripped_title=ajak-kuliah-fasilitasi-bidik-misi-11510352&amp;amp;userName=indonesiamengajar"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;embed allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" height="355" name="__sse11510352" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=ajakkuliah-fasilitasibidikmisi-120210034051-phpapp01&amp;amp;stripped_title=ajak-kuliah-fasilitasi-bidik-misi-11510352&amp;amp;userName=indonesiamengajar" type="application/x-shockwave-flash" width="425"&gt;&lt;/object&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Download &lt;a href="http://indonesiamengajar.org/media/uploads/files/Download_Slide_Show-Mari_Ajak_Kuliah-Fasilitasi_Bidik_Misi.html"&gt;slide show di atas&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;a href="../media/uploads/files/BIDIKMISI_A3.jpg"&gt;&lt;img src="http://agungfirmansyah.files.wordpress.com/2012/02/bidikmisi_thumb.jpg" title="klik gambar"&gt;&lt;/a&gt;                                &lt;a href="../media/uploads/files/SNMPTN_Jalur_Undangan_A3.jpg"&gt;&lt;img src="http://agungfirmansyah.files.wordpress.com/2012/02/snmptn_thumb.jpg" title="klik gambar"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	 &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Pengalaman Pengajar Muda dalam Sosialisasi Bidik Misi:&lt;/p&gt;
&lt;ul&gt;
	&lt;li&gt;
		"Mereka yang Mungkin Batal Jadi Sarjana" (&lt;a href="http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/agung-firmansyah/mereka-yang-mungkin-batal-jadi-sarjana"&gt;baca selengkapnya&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;
		"Sebarkan! Biarkan Mereka Mengecap Pendidikan yang Lebih Baik (^_^)" (&lt;a href="http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/adeline-sutanto/sebarkan-biarkan-mereka-mengecap-pendidikan-yang-l"&gt;baca selengkapnya&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;
		"Sekarang, Lilis Ngerti Internet" (&lt;a href="http://catatanyunie.wordpress.com/2012/02/15/sekarang-lilis-ngerti-internet/"&gt;baca selengkapnya&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;p&gt;
	 &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Bagi teman-teman yang mau meluangkan waktunya untuk mensosialisasikan informasi ini, bisa unduh file-file di bawah ini:&lt;/p&gt;
&lt;ul&gt;
	&lt;li&gt;
		Download &lt;a href="http://indonesiamengajar.org/media/uploads/files/BIDIKMISI_A3.jpg"&gt;Alur Pendaftaran Bidik Misi 2012&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;
		Download &lt;a href="http://indonesiamengajar.org/media/uploads/files/SNMPTN_Jalur_Undangan_A3.jpg"&gt;Alur Pendaftaran SNMPTN Jalur Undangan 2012&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;
		Situs resmi Bidik Misi (&lt;a href="http://bidikmisi.dikti.go.id/"&gt;http://bidikmisi.dikti.go.id/&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;
		Situs resmi SNMPTN Jalur Undangan (&lt;a href="http://undangan.snmptn.ac.id/"&gt;http://undangan.snmptn.ac.id/&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~4/8BwcYKhndKw" height="1" width="1"/&gt;</description><guid isPermaLink="false">http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/mari-ajak-mereka-kuliah-fasilitasi-beasiswa-bidik</guid><feedburner:origLink>http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/mari-ajak-mereka-kuliah-fasilitasi-beasiswa-bidik</feedburner:origLink></item><item><title>Sampai jumpa, 'Mbak' Rasidah!</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~3/U-saVWwoLpo/sampai-jumpa-mbak-rasidah</link><description>&lt;p&gt;
	"Terima kasih. &lt;em&gt;Thank you for taking me in. This organisation is wonderful&lt;/em&gt;," demikian Rasidah mengucapkan salam perpisahan. Ia tidak menitikkan air mata karena ia dan beberapa staf Indonesia Mengajar sudah saling berjanji tidak akan menitikkannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;em&gt;Mbak &lt;/em&gt;Rasidah (demikan Pak Eko, manajer umum kami memanggilnya) bernama asli Rasidah Dobbs. Perempuan muda itu berprofesi sebagai guru tetap sains di sebuah sekolah menengah di Perth, Australia. Ia keturunan Melayu-Singapura yang lahir dan besar di Australia. Ia juga mahasiswa paruh waktu untuk program &lt;em&gt;Masters in Development Studies&lt;/em&gt;, Murdoch University.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Ketertarikan &lt;em&gt;Mbak &lt;/em&gt;Rasidah akan dunia pendidikan mengantarkannya ke kantor Gerakan Indonesia Mengajar. Sebagai peserta praktikum &lt;em&gt;Development Studies&lt;/em&gt; yang diselenggarakan &lt;em&gt;Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS)&lt;/em&gt;, ia memilih menikmati pengalaman selama empat minggu pada sebuah organisasi pendidikan di Indonesia.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	"Meskipun organisasi ini baru, saya bisa melihat bahwa Anda semua bersungguh-sungguh," ujarnya dalam bahasa ayahnya. Tentu saja acara pagi ini penuh canda karena beberapa di antara kami  menerjemahkannya dalam berbagai bahasa. Salah seorang Pengajar Muda yang kini bergabung di kantor IM, Mansyur Ridho, malah menerjemahkan kata-katanya dalam logat Jawa Timur.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Staf IM memang suka bercanda. Bahasa adalah salah satu bahan canda di sini. Rasidah juga mengalaminya. Meskipun dia keturunan Melayu, ia tidak bisa banyak mengucapkan kata dalam bahasa Indonesia, ketika dia pertama kali datang ke sini awal Januari lalu. Sementara, selama masa magangnya, para "warga Galuh" (disebut demikian dari nama daerah tempat Indonesia Mengajar berkantor) justru mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Kehadiran Rasidah, meski hanya satu bulan, memang berkesan. Dia selalu meminta dan meminta tugas lagi kepada Retno Widyastuti atau biasa dipanggil Chiku, penjaga gawang website ini. Dia juga sering terlihat berdiskusi dengan Agung Firmansyah dan Melati Nur Utami (Ami) untuk berbagi cerita mengenai pendidikan. Rasidah juga ikut memilih dan mengepak buku bersama para Penyala lainnya pada acara Pack Your Spirit beberapa waktu lalu, Dia, meskipun terkesan pemalu, juga sangat menikmati makan siang di tepi jalan bersama teman-teman. &lt;em&gt;"I will miss Rujak,"&lt;/em&gt; katanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Rasidah berjanji akan datang lagi ke Indonesia pada masa libur sekolah di Australia tahun depan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Lalu, mungkin Anda penasaran seberapa jauh Rasidah bisa berbahasa Indonesia setelah satu bulan di sini? Acara hari ini juga menjadi ajang pembuktian kemampuan Rasidah. Ketika ditantang untuk mengucapkan beberapa kata dengan cepat, ia langsung dengan mantap mengatakan, "10 kata?" Kami semua mengiyakannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh...," demikian ujar Rasidah mengucapkan '10 kata dengan cepat.' Ah, dia sudah bercanda dalam gaya "warga Galuh". &lt;em&gt;She is one of us.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	Sampai jumpa, &lt;em&gt;Mbak&lt;/em&gt; Rasidah!&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KabarTerbaruIndonesiaMengajar/~4/U-saVWwoLpo" height="1" width="1"/&gt;</description><guid isPermaLink="false">http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/sampai-jumpa-mbak-rasidah</guid><feedburner:origLink>http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/sampai-jumpa-mbak-rasidah</feedburner:origLink></item></channel></rss>

