<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922</atom:id><lastBuildDate>Thu, 19 Sep 2024 20:55:29 +0000</lastBuildDate><category>Cinta</category><category>Akhlak</category><category>Manhaj salaf</category><category>Tauhid</category><category>Politik</category><category>buat saudaraku</category><category>Do'a</category><category>MP3</category><category>Tafsir</category><category>aqidah</category><category>fatwa seputar hari raya</category><category>musibah</category><category>Fiqh</category><category>Ilmu</category><category>Thibbun Nabawi</category><category>info</category><category>kisah</category><title>Kajian  Salaf</title><description>TEGUH DENGAN MANHAJ SALAF</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (dwinggy)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>TEGUH DENGAN MANHAJ SALAF</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-8961981835904016420</guid><pubDate>Fri, 15 Apr 2011 03:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-15T10:21:45.444+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Do'a</category><title>MENOLAK DOA IBU</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3KWgF3mbrK9TtnNuSR5I8adiHCHcRMVocBXSNOLkmiLAXqf5uPfOHSNvpQQt3m3o7MsxDk1zfr8h_ALSp73Gyp7yBgQbfeucdfegcv-IqjjABAxA728FtucdsYkj7fX5c_ns5xBsCh0k/s1600/berdoa1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 90px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3KWgF3mbrK9TtnNuSR5I8adiHCHcRMVocBXSNOLkmiLAXqf5uPfOHSNvpQQt3m3o7MsxDk1zfr8h_ALSp73Gyp7yBgQbfeucdfegcv-IqjjABAxA728FtucdsYkj7fX5c_ns5xBsCh0k/s320/berdoa1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595645161630487682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz, saya wanita 33 tahun, punya 3 orang anak (dari mantan suami kedua), yang selalu memahami kondisi hati mamanya. Saat ini saya menikah, merupakan pernikahan ke 3 bagi saya dan kedua bagi suami ( 3 anak dari suami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz…. Pernikahan kami tidak di restui oleh orang tua saya, bahkan saat ini saya dan anak-anak sudah di buang dari keluarga besar. Kedua orang tua saya memberikan syarat agar saya bercerai dari suami jika masih ingin diakui sebagai anak. Subhanallah….. sungguh tidak dapat saya terima syarat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat saya menikah lagi ketika itu agar dapat membentuk keluarga yang sakinah,warahmah dan mawaddah. Terlepas dari kesalahan &amp; dosa kami di masa lalu,  niat mempertahankan dan menjalankan pernikahan ini begitu kuat dan saya terus belajar agar menjadi umat–Nya yang dicintai &amp; selalu bertaubat, menjadi istri &amp; mama yang pantas bagi keluarga kecil kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain telah mengenakan jilbab, saya berusaha menjalankan ibadah wajib dan sunnah lebih baik, juga di tambah dengan berdzikir memohon ampunan, &lt;span class="fullpost"&gt;petunjuk, dan perlindungan dari-Nya. Sangat sering bibir ini berdoa dan air mata ini mengalir memohon Ridha Allah l agar pintu hati kedua orang tua saya terbuka dan dapat menerima kami. Dan tak henti saya memohon agar kami di berikan ketenangan, kekuatan, dan kesabaran dalam menghadapi kehidupan ini (amin) ( yang kadang ada saja pertengkaran suami istri yang tak dapat saya hindari, Nauzubillah…) mengingat suami sangat sensitif dan temperamental. Subhanallah….. Saya selalu berusaha bersabar dan memohon di berikan kekuatan ketika keluar kata-kata yang sering menyakitkan hati saya dari mulut suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini karena orang tua tidak ridha? Ibu saya terus berdoa dan berharap agar rumah tangga saya hancur. Padahal Ibu saya adalah orang yang sangat baik ibadah dan amalnya. Apakah saya anak yang durhaka? Bagaimana dengan doa Ibu saya tadi? Dan bagaimana menyikapi suami yang kadang tak dapat saya kendalikan emosi dan amarahnya ? Suami sangat bertanggung jawab dalam menafkahi keluarga dan alhamdullillah hubungan saya dengan mertua baik. Mohon saran dan doanya ustadz. “syukran” ( Hamba Allah – Kota BM )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waalikumsalam warahmatullah wabarokatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa setia mengikuti ajarannya yang lurus hingga hari kiamat. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku yang dirahmati Allah, Islam adalah agama yang sempurna dan pembawa rahmat bagi alam semesta. Islam juga merupakan satu-satunya agama yang memberikan solusi tepat untuk menggapai kehidupan rumah tangga yang bahagia (sakinah, mawaddah, dan rahmah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, problema yang sedang anda alami itu hanyalah sebagian dari sekian banyak ujian yang Allah berikan kepada para hamba-Nya, maka sebagai seorang muslim, kita harus bersikap sabar dalam menghadapi ujian apapun agar kita sukses dengan meraih pahala yang besar dan keridhoan dari Allah. Apalagi niat dari awal anda untuk menikah sungguh mulia, yaitu agar dapat membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah dan terbebas dari segala dosa yang telah diperbuat di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan saja jika ia telah mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka sehingga terbukti bagi Allah orang-orang yang sungguh-sungguh dalam imannya dan terbukti juga orang-orang yang berdusta.” [QS. Al-Ankabut: 2-3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, bertakwalah kepada Allah dan istiqomahlah dalam berdoa kepada-Nya agar Dia membukakan pintu hati kedua orang tuamu supaya mau merestui pernikahanmu dan menyambung kembali hubungan silaturahim denganmu yang telah terputus. Semoga dengan demikian Allah merubah keadaan keluargamu menjadi lebih baik. Berdasarkan janji Allah di dalam Al-Quran Al-Karim: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya”. [QS. Ath-Thalaq: 2] dan firman-Nya pula: “Barangsiapa bertakwa kepada Alla niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” [QS. Ath-Thalaq: 4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga ingin menanyakan kepada anda, dengan sebab apakah kedua orang tuamu tidak merestui pernikahanmu dan bahkan tidak menganggapmu dan anak-anakmu sebagai anggota keluarganya? Apakah alasannya dibenarkan syariat atau sebaliknya (tidak syar’i). kalau alasannya memang syar’i maka hendaklah kamu berdua segera bertaubat kepada Allah dan berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahanmu agar hati kedua orang tuamu terbuka dan mau merestui pernikahanmu. Akan tetapi jika alasan kedua orang tuamu membuangmu dan anak-anakmu dari anggota keluarga besarnya itu tidak syar’i, maka kami nasehatkan kepada mereka agar bertaubat kepada Allah atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya kepada anak kandungnya sendiri seperti tidak merestui pernikahannya, membuangnya dari anggota keluarganya, menyuruhnya bercerai dari suaminya dan bahkan mendoakan kehancuran bagi rumah tangga anaknya. Ketahuilah –wahai orang tua- akan bahaya dari memutus tali silaturahim apalagi dengan anak kandungmu sendiri. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak akan masuk surga orang yang mmemutuskan (silaturahim).” [HR. Al-Bukhari 10/347 dan Muslim no. 2556 dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu anhu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabdanya pula: “Tidak ada dosa yang pantas untuk disegerakan hukumannya oleh Allah bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan (hukuman) yang disimpan untuknya di akhirat, daripada kezaliman dan pemutusan silaturahim.” [HR. Ahmad, 5/36, Abu Dawud no. 4901, At-Tirmidzi no.1513, dan beliau mengatakan hadits ini shahih, Ibnu Majah no. 4211]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah juga melarang mendoakan keburukan bagi anak karena ditakutkan doa tersebut bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa, sehingga doa tersebut dikabulkan Allah, dan akhirnya orang tua menyesali akibat perbuatannya sendiri. Sebagaimana hadits shahih yang panjang dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma: Sesungguhnya seseorang berkata kepada untanya: “Hai (unta)! Semoga Allah melaknatmu. “Lalu Rasulullah berkata, “Siapa yang melaknat untanya?” Dia berkata, “Aku wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Turunlah dari unta tersebut, janganlah engkau menyertakan kami dengan sesuatu yang terlaknat, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian sendiri, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, dan janganlah kalian mendoakan keburukan untuk harta kalian. Jangan sampai kalian berdoa, bertepatan dengan saat dimana permohonan kepada Allah dikabulkan, sehingga permohonan kalian pun dikabulkan”. [HR. Muslim no. 3009]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang tuamu mensyaratkan agar kamu bercerai dari suamimu maka janganlah anda menuruti perintahnya karena syarat ini tidak dibenarkan oleh syariat, apalagi suamimu seorang muslim yang bertanggung jawab. Dan sikap ini (tidak memenuhi permintaan orang tua) pun tidak menjadikanmu sebagai anak yang durhaka, karena taat pada orang tua meskipun hukumnya fardhu ain bagi setiap anak tetapi sebatas dalam hal yang ma’ruf saja, berdasarkan sabda Rasulullah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada ketaatan (kepada siapapun) dalam kemaksiatan kepada Allah sang Pencipta. Sesungguhnya (wajibnya) taat itu hanya dalam kebaikan.” [HR.Bukhari no.7252 dan Muslim no.4871].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kami ingin menanyakan pula kepada anda, gerangan apakah yang membuat suamimu cepat marah? Apakah karena anda tidak menunaikan hak-haknya atau memang karakter suamimu selalu marah dengan atau tanpa sebab. Jika memang sebabnya yang pertama, maka hendaknya anda memperbaiki kekuranganmu dengan menunaikan hak-haknya dan selalu mentaatinya dalam kebaikan. Tetapi jika sebabnya yang kedua, maka kami nasehatkan kepada suami anda agar berusaha semaksimal mungkin menahan amarah, mengetahui keutamaan orang yang sabar dan tahan emosi, dan mengetahui bahaya yang ditimbulkan akibat sering marah. Apalagi jika marahnya tanpa sebab. Maka ini merupakan marah yang dibenci Allah karena ia datangnya dari setan sebagaimana dikabarkan Nabi shallallahu alihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami nasehatkan pula kepada suamimu dengan sabda Nabi shallallahu alihi wasallam: “Berwasiatlah kalian yang baik kepada kaum wanita, karena mereka tercipta dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, maka kalau engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, namun jika engkau membiarkannya maka dia akan selamanya bengkok, oleh karena itu berwasiatlah yang baik kepada wanita.” [HR. Bukhori 5168, Muslim : 1468 dari jalan Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bias menyelesaikan berbagai problem rumah tanggamu dan menggapai kehidupan yang bahagia sebagaimana diidamkan oleh setiap pasangan suami istri, amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Telah dimuat di dalam Majalah Nikah Sakinah Volume 8 No.11 tanggal 15 Februari – 15 Maret 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tulis ulang dari : http://abufawaz.wordpress.com &lt;/span&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/04/menolak-doa-ibu.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3KWgF3mbrK9TtnNuSR5I8adiHCHcRMVocBXSNOLkmiLAXqf5uPfOHSNvpQQt3m3o7MsxDk1zfr8h_ALSp73Gyp7yBgQbfeucdfegcv-IqjjABAxA728FtucdsYkj7fX5c_ns5xBsCh0k/s72-c/berdoa1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-2870584253401207341</guid><pubDate>Wed, 30 Mar 2011 10:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-30T17:12:02.418+07:00</atom:updated><title>BAGAIMANA CARA MENASEHATI PENGUASA YANG ZHALIM DI DALAM ISLAM</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhE6W4_kgwxmhOZIArg6tdq_ILJwWfObqJiYee_IhP-PYW1jHAPmhOEjpW_h21H2I1ib4oNBj49gjF1pBOFaWaqR75b_EDDDT6dZKtVon13OaAdRI_y6uU5nY160OUvkSNyqlO1EQpHnKM/s1600/palu-hakim.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhE6W4_kgwxmhOZIArg6tdq_ILJwWfObqJiYee_IhP-PYW1jHAPmhOEjpW_h21H2I1ib4oNBj49gjF1pBOFaWaqR75b_EDDDT6dZKtVon13OaAdRI_y6uU5nY160OUvkSNyqlO1EQpHnKM/s320/palu-hakim.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589813591410427026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa tentang sesuatu urusan, maka janganlah ia tampakkan nasehatnya itu kepadanya secara terang-terangan (di depan umum). Akan tetapi hendaklah ia memegang tangannya, lalu ia bersembunyi dengannya (yakni nasehati dia secara sembunyi tidak ada yang mengetahuinya kecuali engkau dan dia). Maka kalau dia menerima nasehatnya, maka itulah (yang dikehendaki). Tetapi kalau dia tidak mau menerima nasehatnya, maka sesungguhnya ia telah menunaikan kewajiban menasehatinya.”&lt;span class="fullpost"&gt;HADITS SHAHIH. Telah dikeluarkan oleh Ahmad (3/403-404 no.15408 dan ini lafazhnya) dan Ibnu Abi ‘Ashim di kitabnya “As Sunnah” (no.1096, 1098 &amp; 1099) dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FIKIH HADITS&lt;br /&gt;Hadits yang mulia ini mengajarkan kepada kita salah satu adab dan akhlak di dalam Islam yang sangat tinggi dan mulia dalam ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar, menasehati dan memperingati penguasa yang zhalim. Nabi yang mulia –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengajarkan kepada kita apabila kita ingin menasehati atau memperingati penguasa yang zhalim, nasehatilah secara tersembunyi. Jangalah menasehati atau memperingatinya secara terang-terangan di depan umum, di mimbar atau di majelis terbuka dengan membuka aibnya. Karena yang demikian akan menafikan maksud dan tujuan dari nasehat atau peringatan itu sendiri kepada penguasa yang zhalim. Bahkan akan menambah kezhaliman dan kemarahannya khususnya kepada orang-orang yang memperingatinya. Sebab maksud dan tujuan menasehati atau memperingati penguasa yang zhalim ialah agar dia sadar akan kezhalimannya kemudian bertaubat dan beramal shalih. Inilah maksud dari perintah Allah Tabaaraka wa Ta’ala kepada Musa dan Harun untuk berda’wah memperingati Fir’aun:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [QS. Thaahaa: 43-44].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat yang mulia ini terdapat ibrah yang sangat besar dalam berda’wah kepada penguasa yang zhalim. Fir’aun ketika itu adalah seorang yang sangat melampaui batas, sombong bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan. Sedangkan Musa adalah seorang Nabi yang besar dan mulia di sisi Allah bersama saudaranya Harun. Meskipun demikian Allah tetap memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk berbicara kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut agar mengena dan masuk ke dalam hati Fir’aun. Yang tujuannya agar supaya Fir’aun sadar, ingat akan kezhalimannya, kemudian tunduk dan takut kepada Allah. Kalau terhadap Fir’aun, Allah telah memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk berbicara dengan kata-kata yang lemah lembut, maka tentunya penguasa muslim yang zhalim lebih berhak mendengar kata-kata yang lemah lembut dari seorang alim yang akan menasehati dan memperingatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, hadits yang mulia ini bagaikan petir yang menyambar kaum harakah islamiyyah yang telah menghalalkan  dan menyukai bahkan hampir-hampir mereka mewajibkan berdemontrasi, berorasi dan unjuk rasa kepada penguasa. Walaupun mereka menamakannya demontrasi tertib dan islamiy!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai disitulah ilmu mereka!”. [QS.an-Najm:30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Disalin ulang dari buku Al Masail jilid 4, al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat –hafizhahullah-, Masalah ke 91, Penerbit Darussunnah, Cet.2, Hal.220-222.&lt;/span&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/03/bagaimana-cara-menasehati-penguasa-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhE6W4_kgwxmhOZIArg6tdq_ILJwWfObqJiYee_IhP-PYW1jHAPmhOEjpW_h21H2I1ib4oNBj49gjF1pBOFaWaqR75b_EDDDT6dZKtVon13OaAdRI_y6uU5nY160OUvkSNyqlO1EQpHnKM/s72-c/palu-hakim.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-1150417045009914897</guid><pubDate>Wed, 30 Mar 2011 09:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-30T17:11:20.654+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Politik</category><title>SIAPAKAH PEMERINTAHAN YANG BODOH?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHMyMZuXH950HWqdQtLwH1KWjI_kaXTS929H9ZCGIiSnyCfTUlY41hcHiYusUpThFTQQij2GpM1YkXWYh-d6mMCWPlSXzXCYRIH1mJ-5_wJiaJyVQ72PRTz5Q_oTUW9IFkfqazp_HkfU4/s1600/palu-hakim.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHMyMZuXH950HWqdQtLwH1KWjI_kaXTS929H9ZCGIiSnyCfTUlY41hcHiYusUpThFTQQij2GpM1YkXWYh-d6mMCWPlSXzXCYRIH1mJ-5_wJiaJyVQ72PRTz5Q_oTUW9IFkfqazp_HkfU4/s320/palu-hakim.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589813051922349346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Abdillah (ia berkata): Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada Ka’ab bin ‘Ujrah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Ka’ab bin ‘Ujrah! Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan yang bodoh!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka’ab bin ‘Ujrah bertanya: “Kenapa demikian ya Rasulullah, dan siapakah pemerintahan yang bodoh itu?”.&lt;br /&gt;Beliau menjawab: “Para umarah (penguasa) yang akan datang nanti sesudahku, mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak mengamalkan Sunnahku. Maka barang siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan menolong ke zhaliman mereka, maka mereka itu bukan dariku dan aku bukan dari mereka [1], dan mereka tidak akan dibawa ke telagaku (pada hari kiamat). Akan tetapi barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak menolong ke zhaliman mereka, maka mereka itu dariku dan aku dari mereka [2], dan mereka akan dibawa ke telagaku (pada hari kiamat).&lt;span class="fullpost"&gt;Ya Ka’ab bin ‘Ujrah! Puasa itu sebagai perisai, dan shadaqah itu sebagai penghapus dosa, sedangkan shalat itu sebagai cara untuk mendekatkan diri (kepada Allah) -atau beliau bersabda: Shalat itu sebagai bukti (bahwa dia seorang muslim)-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Ka’ab bin ‘Ujrah! Sesungguhnya tidak akan masuk sorga daging yang tumbuh dari hasil yang haram, maka nerakalah yang lebih berhak dengannya (memakannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Ka’ab bin ‘Ujrah! Manusia (setiap hari) berangkat di waktu pagi terbagi menjadi dua golongan: Yang membeli dirinya, kemudian dia memerdekakannya (dari api neraka). (Dan) Yang menjual dirinya, kemudian dia membinasakannya (memasukkan dirinya ke dalam api neraka)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADITS SHAHIH. Telah dikeluarkan oleh Ahmad (3/321 &amp; 399 dan ini lafazhnya), Daarimiy (2/318 dengan sangat ringkas) dan Ibnu Hibban (no. 1569 –mawaarid-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini shahih atas syarat Muslim sebagaimana telah saya luaskan takhrijnya di Riyaadhul Jannah (no:511). Dan Hadits ini pun telah mempunyai syawaahid (penguat atau pembantunya) dari jama’ah para sahabat dan keluasan takhrijnya ada di Riyaadul Jannah (no:757 s/d 761).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGIAN DARI  FAEDAH HADITS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As sufahaa’ bentuk jama’ dari safiih yang artinya sebagaimana di tafsirkan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir:&lt;br /&gt;”Sufahaa’ bentuk jama’ dari safiih, sedangkan safiih artinya: Orang yang jahil (bodoh), yang dha`if (lemah) akalnya, yang sedikit sekali pengetahuannya tentang mana yang maslahat dan mana yang mudharat”. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang mulia ini merupakan hadits yang sangat besar dan agung sekali, yang menjadi salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian beliau -shalallahu ‘alaihi wa sallam-. Bahwa apa yang beliau -shalallahu ‘alaihi wa sallam- kabarkan akan terjadi, pasti terjadi tidak dapat tidak, karena ini merupakan wahyu dari Rabbul ‘alamin sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan dia tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain melainkan wahyu yang di wahyukan (kepadanya)”. (Surat An-Najm:3 dan 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”(Allah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya…”. (Surat Jin:26 &amp; 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita saksikan -dengan sangat menyesal dan menyedihkan- sebagian besar negeri-negeri Islam pemerintahannya adalah pemerintahan sufahaa’. Yaitu satu pemerintahan yang di pimpin oleh para penguasa yang tidak mengikuti petunjuk (hidayah) Nabi yang mulia -shalallahu ‘alaihi wa sallam-. Padahal sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau -shalallahu ‘alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu pemerintah yang tidak mengamalkan dan berjalan di atas Sunnah beliau -shalallahu ‘alaihi wa sallam-. Padahal tidak akan tersesat selamanya orang yang berpegang dengan Al Kitab dan Sunnah Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu pemerintahan mereka adalah pemerintahan yang bodoh, miskin, terhina, lebih banyak mudharatnya dari maslahatnya. Bahkan hampir-hampir tidak ada maslahatnya kalau dinisbahkan dengan mudharatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah balasan -dan balasan sesuai dengan jenis amalnya- bagi setiap pemerintahan yang berpaling dari petunjuk dan Sunnah Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya,pemerintahan yang mengikuti petunjuk dan Sunnah Nabi yang mulia - shalallahu ‘alaihi wa sallam- adalah sebuah pemerintahan yang berilmu, kaya, kuat, penuh dengan kemaslahatan dan sedikit sekali mudharatnya. Bisa dikatakan hampir-hampir tidak ada mudharatnya kalau dinisbahkan dengan maslahatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang mulia ini bagaikan petir yang menyambar kaum Harakah Islamiyyah yang telah menceburkan diri mereka di dalam kubangan pemerintah sufahaa’ yang membuat mereka lebih sufahaa’ dari pemerintahan sufahaa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah melindungi kita dari pemerintahan sufahaa’. Allahumma amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foot Note:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Yakni, mereka bukanlah orang-orang yang mengikuti Sunnahku dalam masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Yakni, merekalah orang-orang yang mengikuti Sunnahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Tafsir Ibnu Katsir di dalam menafsirkan ayat 13 surat al-Baqarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Disalin ulang dari buku Al Masail jilid 4, al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat –hafizhahullah-, Masalah ke 90, Penerbit Darussunnah, Cet.2, Hal.214-218.&lt;/span&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/03/siapakah-pemerintahan-yang-bodoh_30.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHMyMZuXH950HWqdQtLwH1KWjI_kaXTS929H9ZCGIiSnyCfTUlY41hcHiYusUpThFTQQij2GpM1YkXWYh-d6mMCWPlSXzXCYRIH1mJ-5_wJiaJyVQ72PRTz5Q_oTUW9IFkfqazp_HkfU4/s72-c/palu-hakim.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-6326196181649161738</guid><pubDate>Thu, 24 Mar 2011 09:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-24T16:57:40.886+07:00</atom:updated><title>Wasiat-wasiat Generasi Salaf</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNHhyphenhyphentVdTDpaFQqFRcToIHyG3zzInOJlXdTaulxDKT5A53mysWOtuHU9XxFvaBladCiPKMSnFVSNaOUyYcnQAAahvyb9lKEAhUokwvmSz9fNrpb_Y1V3yz_rp-WeTuuE7NRIEAIWKkaYc/s1600/smit081000461.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 168px; height: 158px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNHhyphenhyphentVdTDpaFQqFRcToIHyG3zzInOJlXdTaulxDKT5A53mysWOtuHU9XxFvaBladCiPKMSnFVSNaOUyYcnQAAahvyb9lKEAhUokwvmSz9fNrpb_Y1V3yz_rp-WeTuuE7NRIEAIWKkaYc/s320/smit081000461.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587583412562584690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ust. Abu Ihsan Al Atsary&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta`ala berfirman dalam kitab-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-taubah : 100) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta`ala memberi pujian kepada para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah generasi terbaik yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nya dalam mengemban risalah  ilahi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau kelebihan mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi Rabbani yang selalu mengikuti  jejak langkah Rasulullah Shallallahu `alaihiwa sallam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan menapak tilasi jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan bisa meraih kembali masa keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah,  Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat  generasi awalnya menjadi baik. Sungguh sebuah ucapan yang pantas ditulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini mengambil generasi terbaik itu sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan niscaya kebahagiaan akan menyongsong mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf menyucikan jiwa mereka, yang kami nukil dari petikan kata-kata mutiara dan hikmah yang sangat berguna bagi kita.&lt;span class="fullpost"&gt;Salaf dan Tazkiyatun Nufus&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu sisi ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Allah selalu menyebutan tazkiyatun nufus bersama dengan ilmu.  Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang  membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum  kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah : 151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, ilmu itu bisa jadi bumerang bila tidak disertai dengan tazkiyatun nufus. Oleh sebab itu dapat kita temui dalam biografi ulama salaf tentang kezuhudan,  keikhlasan, ketawadhu`an dan kebersihan jiwa mereka. Begitulah, mereka selalu saling mengingatkan tentang urgensi tazkiyatun nufus ini. Dari situ kita dapati ucapan-ucapan ulama salaf sangat menghunjam ke dalam hati dan penuh dengan hikmah. Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: Mengapa ucapan-ucapan para salaf lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita? beliau menjawab: Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman, sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia dan mencari ridha  manusia!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salaf dan Kegigihan Dalam Menuntut Ilmu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi berkata: Ya`qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari  Shalih bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar berkata:  Saya datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya: Sampaikanlah kepadaku beberapa hadits! Beliau berkata: Bacalah!&lt;br /&gt;Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku! jawabku.&lt;br /&gt;Bacalah! kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau. Akhirnya ia berkata: Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan pukul dia lima belas kali! Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku lima belas cambukan. Kemudian ia membawaku kembali kepada beliau. Pelayan itu berkata: Saya telah mencambuknya! Maka aku berkata kepada beliau: Mengapa tuan menzhalimi diriku? tuan telah mencambukku lima belas kali tanpa ada kesalahan yang kuperbuat? Aku tidak sudi memaafkan tuan!&lt;br /&gt;Apa tebusannya? tanya beliau.&lt;br /&gt;Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits! jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan  kepada beliau: Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits untukku! Imam Malik hanya tertawa dan berkata: Pergilah!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salaf dan Keikhlasan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Generasi salaf adalah generasi yang sangat menjaga aktifitas hati. Seorang lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau. Dengan marah ia berkata: Demi Allah satu rakaat yang kukerjakan di tengah malam  secara tersembunyi, lebih kusukai daripada shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada orang-orang!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ar-Rabi` bin Khaitsam berkata: Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti, mendengarkan dan mencintai mereka. Imam Mujahid pernah berkata: Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati manusia  kepadanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang diakui, menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan tidak mendapat bagian apapun darinya. Sahal bin Abdullah berkata: Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan -red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sehingga Abu Sulaiman Ad-darani berkata: Beruntunglah bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha Allah!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka juga sangat menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasan, seperti gila popularitas, gila kedudukan, suka dipuji dan diangkat-angkat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka popularitas. Yahya bin Muadz berkata: Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan. Abu Utsman Sa`id bin Al-Haddad berkata: Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila sanjungan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh karena itulah ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada murid-muridnya. Ar-Rabi` bin Shabih menuturkan: Suatu ketika, kami hadir dalam majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat ini!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salaf dan Taubat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  dalam sebuah hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;`Aisyah berkata: Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar. Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak  tahu kapan turunnya ampunan!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tangis Generasi Salaf&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur`an.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika membaca firman Allah: Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu (QS. Al-Ahzab : 33) `Aisyah menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian pula Ibnu Umar , ketika membaca ayat yang artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). (QS. Al-Hadid:16) Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat yang artinya: Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam. (QS. Al-Muthaffifiin : 5-6) Beliau menangis dan bertambah  keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salaf dan Tawadhu`&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pernah disebut-sebut tentang tawadhu` di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu`! Mereka  berkata: Apa itu tawadhu` wahai Abu Sa`id? Beliau menjawab: Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin Uyainah, ia berkata: Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih senior dari kami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: Apa itu tawadhu`? Ia menjawab: Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mutharrif bin Abdillah berkata: Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali  diriku merasa semakin kecil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salaf dan Sifat Santun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata: Apakah engkau gila! Umar menjawab: Tidak Namun para pengawal berusaha meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya berkata: Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab:  Tidak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau! Ia menjawab: Kelihatannya setan tidak menemukan  kurir selain engkau!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salaf dan Sifat Zuhud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta  dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi kita dalam menuju proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dalam meniti jejak generasi salaf dalam setiap aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ditulis ulang dari Majalah As Sunnah Edisi 04/VI/1423H) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : salafyoon.net&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/03/wasiat-wasiat-generasi-salaf.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNHhyphenhyphentVdTDpaFQqFRcToIHyG3zzInOJlXdTaulxDKT5A53mysWOtuHU9XxFvaBladCiPKMSnFVSNaOUyYcnQAAahvyb9lKEAhUokwvmSz9fNrpb_Y1V3yz_rp-WeTuuE7NRIEAIWKkaYc/s72-c/smit081000461.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-9087340219811477902</guid><pubDate>Tue, 08 Mar 2011 09:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-08T16:37:48.773+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">aqidah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tauhid</category><title>Keutamaan Tauhid</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwYzdSHZlYRDIebAHamiFq3Mx6ma7zdJhI1LxcnG07u04TE1Segsd5E6oQiJRqO8drt05GFPRJwHuY5-4ANnDwd2VcgjgTXjt6dX9fFjQ2K3qWopoVBv5Ogy1SlG8YfylNlkHLoAzUkoE/s1600/16a.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwYzdSHZlYRDIebAHamiFq3Mx6ma7zdJhI1LxcnG07u04TE1Segsd5E6oQiJRqO8drt05GFPRJwHuY5-4ANnDwd2VcgjgTXjt6dX9fFjQ2K3qWopoVBv5Ogy1SlG8YfylNlkHLoAzUkoE/s320/16a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581640438302934578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tauhid adalah tujuan diciptakannya alam semesta. Tauhid adalah ajaran keselamatan yang dibawa oleh para nabi. Tak seorang nabi pun melainkan menyeru umatnya kepada tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid merupakan kewajiban pertama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada umat manusia, dan sebaliknya larangan pertama yang Allah larang kepada mereka adalah syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 21-22)&lt;span class="fullpost"&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan: “Ketika ayat ini turun, hal itu cukup memberatkan kaum muslimin. Mereka mengatakan, ‘Adakah di antara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri?’ Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ‘Bukan demikian yang dimaksud, tetapi maksudnya adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada putranya, “Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kezhaliman yang besar.” (Muttafaq ‘alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bertauhid yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kemusyrikan, bahkan mereka justru menjauhinya, maka mereka mendapatkan rasa aman yang sempurna dari adzab Allah di akhirat. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iman itu ada lebih dari 60 cabang: yang tertinggi ialah pernyataan laa ilaaha illallaah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari tengah jalan.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam buku Dalilul Muslim fil I`tiqad wat Tathhir karya Fadhilatusy Syaikh Abdullah al-Khayyath sebagai berikut di bawah judul: Tauhid Menyebabkan Kebahagiaan dan Menghapuskan dosa-dosa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, seseorang terkadang kakinya tergelincir dan jatuh dalam kemaksiatan. Jika ia termasuk ahli tauhid yang murni dari segala noda syirik, maka tauhidnya dan keikhlasannya dalam menyatakan la ilaha illallah akan menjadi faktor terbesar untuk kebahagiaannya, menghapuskan dosa-dosanya dan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagiNya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya; serta bahwa Isa adalah hamba Allah, utusanNya, kalimatNya yang sampaikan kepada Maryam dan ruh dariNya, surga itu hak, dan neraka itu hak, maka Allah memasukkannya ke dalam surga atas amal yang telah dilakukannya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni sejumlah persaksian ini, yang dipersaksikan oleh setiap muslim lewat prinsip-prinsip ini, menyebabkan dirinya masuk ke dalam surga, negeri kenikmatan, meskipun pada sebagian amalnya terdapat kesalahan dan kelalaian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Wahai anak Adam, sekiranya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa hampir sepenuh bumi, kemudian kamu berjumpa kepadaKu dengan tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya aku mem­berikan ampunan kepadamu hampir sepenuh bumi pula.” (Hasan, riwayat at-Tirmidzi dan adh-Dhiya’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, seandainya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa dan kemaksiatan hampir sepenuh bumi, asal kamu mati dalam keadaan bertauhid, niscaya Aku mengampuni dosa-dosamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berjumpa Allah dengan tanpa mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun, niscaya ia masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa Allah dengan mempersekutukannya pada sesuatu pun, niscaya ia masuk neraka.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hadits ini memperjelas keutamaan tauhid, dan bahwa tauhid adalah faktor terbesar kebahagiaan seorang hamba, serta sarana terbesar untuk menghapuskan dosa-dosanya dan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Tauhid merupakan tugas dan tanggung jawab setiap individu muslim selama hayat di kandung badan. Dia mengawali hidupnya dengan tauhid, dan meninggalkan alam dunia ini juga harus dengan tauhid. Demikian pula kewajibannya seumur hidup adalah menegakkan nilai-nilai tauhid, mendakwahkannya. Dan hanya tauhidlah yang bisa menyatukan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid akan membebaskan manusia dari peribadahan kepada selain Allah. Karena segala sesuatu selain Allah tidak menciptakan ataupun menguasai kemanfaatan dan kemudharatan. Sehingga ia tidak layak untuk diibadahi. Maka dengan tauhid seorang manusia akan hanya tunduk beribadah kepada Rabb yang menciptakan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid akan membentuk kepribadian yang unggul dan diperhitungkan. Karena dengan tauhid maka seorang manusia hanya memiliki satu sesembahan yang menjadi tujuan ibadah dan ketundukannya, baik ketika bersendirian ataupun bersama keramaian. Dia akan senantiasa berdoa kepada Allah di waktu lapang ataupun di waktu sempit. Berbeda dengan kondisi hati kaum musyrikin yang tercerai-berai demi mengabdi kepada sesembahan-sesembahan mereka. Hati mereka berserakan sebagaimana sesembahan mereka beraneka ragam. Seorang mukmin akan bisa merasakan ketenangan dan keteguhan karena hanya mengabdi kepada satu sesembahan yang benar. Adapun orang-orang musyrik, mereka harus menyeret hatinya kesana kemari menuruti kemauan sesembahan mereka yang beraneka ragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid merupakan sumber keamanan bagi umat manusia. Karena orang yang bertauhid hanya akan merasa takut kepada siksaan Allah, sehingga dia tidak akan merasa takut kepada selain Allah. Dia tidak dicekam oleh rasa takut gara-gara masalah rezeki, keselamatan jiwa, ataupun sanak familinya. Adapun seorang muwahhid hanya menyimpan rasa takut kepada Allah. Sehingga dialah orang yang bisa merasa aman ketika orang lain dicekam oleh ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid merupakan sumber kekuatan diri. Karena dengan tauhid akan melahirkan kekuatan pada diri manusia yang muncul karena rasa harapnya kepada Allah, tawakal kepada-Nya, ridha dengan takdir-Nya dan sabar dalam menghadapi musibah yang menimpanya, serta tidak bergantung kepada makhluk-Nya. Maka seorang muwahhid memiliki hati yang kokoh laksana gunung. Kalau musibah menimpa dirinya maka dia meminta kepada Allah untuk menyingkapkan darinya. Sehingga tidaklah ia meminta kepada orang-orang yang sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid merupakan asas persaudaraan yang hakiki dan persamaan. Karena ajaran tauhid tidak mengizinkan bagi siapapun untuk mengangkat sebagian makhluk untuk menjadi sesembahan tandingan selain-Nya. Maka uluhiyah adalah hak Allah semata dan sudah menjadi kewajiban bagi seluruh manusia untuk tunduk beribadah hanya kepada-Nya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan dan panutan bagi segenap umat manusia dalam menjalankan kewajiban yang agung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari buku “Meniti dan Meneladani Golongan yang  Selamat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka At-Tibyan&lt;br /&gt;Artikel : an-naba.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/03/keutamaan-tauhid.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwYzdSHZlYRDIebAHamiFq3Mx6ma7zdJhI1LxcnG07u04TE1Segsd5E6oQiJRqO8drt05GFPRJwHuY5-4ANnDwd2VcgjgTXjt6dX9fFjQ2K3qWopoVBv5Ogy1SlG8YfylNlkHLoAzUkoE/s72-c/16a.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-5802365415673261843</guid><pubDate>Thu, 03 Mar 2011 07:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-03T14:34:47.156+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Akhlak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">buat saudaraku</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cinta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kisah</category><title>SEORANG AYAH BERTAUBAT DENGAN SEBAB ANAKNYA YANG MASIH BERUSIA 7 TAHUN</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvRqskxirgq_Kn1pMv8NCXVOQ-PdqAbGAW3hAXpnN-h2xtI5KoXJObINhlW2gcxFnf0BECN6aRf-5GIFAxcn9emOCCF22cqOUqYd2Sk6BTU42zjmj3DjU0dB0kLjcxR4Xd9S6YKHcAU7s/s1600/father-and-son.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 192px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvRqskxirgq_Kn1pMv8NCXVOQ-PdqAbGAW3hAXpnN-h2xtI5KoXJObINhlW2gcxFnf0BECN6aRf-5GIFAxcn9emOCCF22cqOUqYd2Sk6BTU42zjmj3DjU0dB0kLjcxR4Xd9S6YKHcAU7s/s200/father-and-son.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579753500394646562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.&lt;span class="fullpost"&gt;Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar… lalu ia shalat maghrib di hadapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setalah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), ”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut… Dan Marwan selalu memandang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, ”Sudahlah wahai Abi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, ”Kamu jangan cemas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah- saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( “Da’i Cilik”, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darul Falah, Jakarta, Indonesia )&lt;/span&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/03/seorang-ayah-bertaubat-dengan-sebab.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvRqskxirgq_Kn1pMv8NCXVOQ-PdqAbGAW3hAXpnN-h2xtI5KoXJObINhlW2gcxFnf0BECN6aRf-5GIFAxcn9emOCCF22cqOUqYd2Sk6BTU42zjmj3DjU0dB0kLjcxR4Xd9S6YKHcAU7s/s72-c/father-and-son.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-2285756194579782195</guid><pubDate>Wed, 23 Feb 2011 01:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-02T09:39:29.040+07:00</atom:updated><title>SEUNTAI KATA TENTANG CINTA</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRH4Vp9gTYhlNAV93BLslJrjmGM0Jpp_rqPuuz6P6oLqA-b4E-WhPJYKWwH5lDg0CWlyhVXKoCwaeBpjdiFCqXM_bpnTptMFvymrhXzG6YXp8ZpqZmY4CdzKgz7h2efpVEVKv5hqW-qpM/s1600/images_2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 131px; height: 87px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRH4Vp9gTYhlNAV93BLslJrjmGM0Jpp_rqPuuz6P6oLqA-b4E-WhPJYKWwH5lDg0CWlyhVXKoCwaeBpjdiFCqXM_bpnTptMFvymrhXzG6YXp8ZpqZmY4CdzKgz7h2efpVEVKv5hqW-qpM/s200/images_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5576698064130441570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cinta bagaikan gema, engkau kirimkan kepada orang-orang disekelilingmu, lalu ia kembali kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau tebarkan dilingkunganmu, ia kembali kepangkuanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang engkau lihat pada orang lain engkau dapatkan pada dirimu. Mereka pun memberikan kepadamu cinta dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau yang melukis jalan yang akan dilalui  mereka dalam  bersikap kepadamu. Jika engkau bersikap baik kepada mereka dan mencintai mereka, niscaya mereka mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau engkau memberikan faedah untuk mereka, mereka akan memberimu faedah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti! Saling mencintai dan mengasihi itu karena dan dijalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang yang paling pertama mendapatkan cinta dan kelembutan perasaanmu adalah orangtua, istri atau suami dan anak-anakmu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul shollalllahu ‘alaihi wa sallama bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خيركم خيركم لأهله و أنا خيركم لأهلي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik bagi keluarganya dan aku adalah yang paling baik bagi keluargaku”.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah tersesat banyak manusia dari jalan Robb mereka melainkan karena mereka lebih mengedepankan cinta kepada segala sesuatu melebihi cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga sebagian orang yang tenggelam dalam lembah permusuhan, dengki dan dendam kesumat adalah karena hilangnya cinta dari hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah rasakan hidup – walau sebentar – dengan merasakan cinta manusia kepadamu, sedikit atau pun banyak. Bukankah hari-hari itu akan menjadi hari-hari terindah dalam kehidupanmu?.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الذين أمنوا وعملوا الصالحات سيجعل لهم الرحمن ودا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh Allah yang Maha pengasih akan menjadikan untuk mereka kasih-sayang”.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya cinta di hati manusia untuk mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah engkau bertanya pada dirimu sendiri, “Bagaimana diriku dengan cinta dilangit ini?”. Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah Ta’ala dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya aku mencintai fulan, maka cintailah ia”. Lalu malaikat menyambutnya dengan penuh cinta dan rindu, kemudian diletakkan untuk penerimaan di muka bumi yaitu dengan cinta manusia kepadanya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dicintai Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dicintai Jibril dan para malaikat yang menghuni langit. Kemudian Allah jadikan manusia mencintainya … alangkah indahnya hidup orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang di antara kita selalu mencari dan mengharapkan cinta makhluk kepadanya. Dadanya akan serasa sesak dan lidahnya bagai kelu jika mereka membencinya. Dan ia akan terbang karena gembira jika mereka mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang ini mencari cinta manusia kepadanya disetiap tempat dan pada setiap insane. Akan tetapi ia lupa – kadang-kadang atau bahkan sering – cinta Robb-nya insan. Ia lupa apakah ia termasuk orang-orang yang dicintai Allah atau sebaliknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, saudaraku!! Apa guna cinta seluruh makhluk kepada kita jika Robb pencinta seluruh makhluk membenci kita?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkan bagaimana Asiyah mendahulukan tetangga sebelum tempat tinggal dalam do’anya, “Robbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di dalam surga”.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurutmu, kalau dikatakan kepada orang-orang mukminin : pilihlah antara surga tidak ada padanya Robb kalian dan padang tandus kalian bersama Robb kalian. Menurutmu apa yang akan mereka pilih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oohh .. alangkah meruginya orang yang tidak pernah merasakan yang paling indah dan manis dalam kehidupan ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau apa itu? Dicintai Allah dan mencintai-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta Allah kepada hamba adalah puncak cita-cita orang-orang yang sholeh. Karena apabila Allah cinta kepada hamba-Nya, Dia ridho kepadanya, meridhoi amalan, perkataan dan hatinya. Kebahagiaan apalagi yang melebihi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakana kepadaku sejujurnya: apakah ada seseorang yang tulus dan benar dalam mencintai kekasihnya lalu ia menyiksa kekasihnya? neraka apalagi yang ditakuti seorang hamba apabila ia dicintai Allah? (dan bagi Allah adalah perumpamaan yang lebih tinggi – walillahil Matsalil A’laa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Shohih Al Jami’ (3314).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Kholid Al Ahmady, Al Hubb dengan beberapa penyesuaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Maryam : 96.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] At-Tahrim : 11.&lt;br /&gt;Sumber : Abuzubair.net&lt;/span&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/02/seuntai-kata-tentang-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRH4Vp9gTYhlNAV93BLslJrjmGM0Jpp_rqPuuz6P6oLqA-b4E-WhPJYKWwH5lDg0CWlyhVXKoCwaeBpjdiFCqXM_bpnTptMFvymrhXzG6YXp8ZpqZmY4CdzKgz7h2efpVEVKv5hqW-qpM/s72-c/images_2.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-3514236726364683838</guid><pubDate>Sat, 05 Feb 2011 09:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-04T08:23:09.909+07:00</atom:updated><title>Hati-Hati dengan Ruwaibidhah</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpsgz1Eu_baujvcCbsJzIvjaf27PxUk2ZxmzkLc7qIeH_FXXNAV_IYZivc1t-JAbDYgKzdXYPLB-CAuDcIyHii2LnDIdPA_-PxihZkmQRciombJxp9XqMI70BHUlMV-WuIbZidvqmFnEY/s1600/dilarang-bicara.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 167px; height: 104px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpsgz1Eu_baujvcCbsJzIvjaf27PxUk2ZxmzkLc7qIeH_FXXNAV_IYZivc1t-JAbDYgKzdXYPLB-CAuDcIyHii2LnDIdPA_-PxihZkmQRciombJxp9XqMI70BHUlMV-WuIbZidvqmFnEY/s320/dilarang-bicara.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580028584256617362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya : &lt;p style="text-align: center;"&gt;حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي  شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ  بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ  الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى  اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ  خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ  وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ  فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ  التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid  bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah  al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari  al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata;  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan  penipuan.&lt;span class="fullpost"&gt; Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur  malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah  justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah  berbicara.” Ada yang bertanya, “&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;”.&lt;span class="fullpost"&gt; Beliau menjawab, “&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Hadits yang agung ini menerangkan kepada kita:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Peringatan akan bahaya berbicara      tanpa landasan ilmu. Allah  ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah      kamu mengikuti sesuatu  yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya      pendengaran,  penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawabannya.”       (QS. al-Israa’ : 36). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya),  “Hai      umat manusia, makanlah sebagian yang ada di bumi ini yang  halal dan baik,      dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah  syaitan, sesungguhnya dia      adalah musuh yang nyata bagi kalian.  Sesungguhnya dia hanya akan menyuuh      kalian kepada perbuatan dosa  dan kekejian, dan agar kalian berkata-kata      atas nama Allah dalam  sesuatu yang tidak kalian ketahui ilmunya.” (QS.      al-Baqarah :  168-169). Maka barangsiapa yang gemar berbicara mengatasnamakan       agama tanpa ilmu, sesungguhnya dia adalah antek-antek Syaitan, bukan       Hizbullah dan bukan pula pembela keadilan atau penegak Syari’at Islam!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadits ini menunjukkan pentingnya      kejujuran dan mengandung  peringatan dari bahaya kedustaan. Rasulullah      shallallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk bersikap      jujur, karena  kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu      akan  menuntun ke surga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan       berjuang keras untuk senantiasa jujur maka di sisi Allah dia akan  dicatat      sebagai orang yang shiddiq. Dan jauhilah kedustaan, karena  kedustaan itu      akan menyeret kepada kefajiran, dan kefajiran akan  menjerumuskan ke dalam      neraka. Apabila seseorang terus menerus  berdusta dan mempertahankan      kedustaannya maka di sisi Allah dia  akan dicatat sebagai seorang      pendusta.” (HR. Muslim dari Abdullah  bin Mas’ud radhiyallahu’anhu).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadits ini juga menunjukkan      pentingnya menjaga amanah dan  memperingatkan dari bahaya mengkhianati      amanah. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila amanah      telah  disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat.” Lalu ada yang       bertanya, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?”. Maka beliau menjawab,       “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah       kiamatnya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).  Rasulullah      shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tidak  lengkap iman pada diri      orang yang tidak memiliki sifat amanah.”  (HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul      Iman dari Anas bin Malik  radhiyallahu’anhu, dihasankan al-Albani dalam      Takhrij Misykat  al-Mashabih [35] as-Syamilah)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa jalan      keluar ketika menghadapi  situasi kacau semacam itu adalah dengan kembali      kepada ilmu dan  ulama. Yang dimaksud ilmu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah      dengan  pemahaman salafus shalih. Dan yang dimaksud ulama adalah ahli ilmu       yang mengikuti perjalanan Nabi dan para sahabat dalam hal ilmu, amal,       dakwah, maupun jihad.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Penulis: &lt;a href="http://abumushlih.com/"&gt;Abu Mushli Ari Wahyudi&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;a href="http://www.muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.muslim.or.id/"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/02/hati-hati-dengan-ruwaibidhah.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpsgz1Eu_baujvcCbsJzIvjaf27PxUk2ZxmzkLc7qIeH_FXXNAV_IYZivc1t-JAbDYgKzdXYPLB-CAuDcIyHii2LnDIdPA_-PxihZkmQRciombJxp9XqMI70BHUlMV-WuIbZidvqmFnEY/s72-c/dilarang-bicara.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-3989350663123578459</guid><pubDate>Fri, 14 Jan 2011 23:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-08T21:19:06.459+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Thibbun Nabawi</category><title>Pengobatan Tekanan Batin Dan Stress</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5oDj1XONu1ujAzBdHFecXPCQTotmuLeodgz5jY4loEKp2_OUKHHMPNyaYYSAGU_RPSx3bG1fY53xIYIb4QhE7jYxAgF1_h46CIyfgLkVd5cDo4el_dkuC33ziQgjsC1xnFFCzuW6GyL4/s1600/Stop_Stress.GIF"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 193px; height: 192px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5oDj1XONu1ujAzBdHFecXPCQTotmuLeodgz5jY4loEKp2_OUKHHMPNyaYYSAGU_RPSx3bG1fY53xIYIb4QhE7jYxAgF1_h46CIyfgLkVd5cDo4el_dkuC33ziQgjsC1xnFFCzuW6GyL4/s320/Stop_Stress.GIF" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581711332648800114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;    Oleh&lt;br /&gt;&lt;div class="catItemIntroText"&gt;&lt;p align="justify"&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (www.almanhaj.or.id)&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Syaikh  Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya seorang wanita muda,  usia dua puluh tahunan, muslimah taat agama, bersuami sejak satu  setengah tahun yang lalu, dan alhamdulillah, saya diberi anak sejak enam  bulan lalu dengan kelahiran berlangsung normal, Alhamdulillah. Sekitar  satu minggu setelah melahirkan, saya mengalami stress yang luar biasa.  Kondisi seperti ini belum pernah saya alami sebelumnya. Tidak ada lagi  kemampuan memberikan perhatian kepada apapun, juga terhadap anak. Saya  telah mendatangi psikiater dan saya melakukan pengobatan hingga  baru-baru ini. Pengobatan ini tidak mengembalikan saya kepada kondisi  semula, sebagaimana sebelum melahirkan. Saya telah merasa hilang/mati  karena lamanya masa pengobatan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya memohon  kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, agar kalian diberi taufiq dalam  mengenal pengobatan syar'i untuk perasaan tertekan dan kesedihan jiwa  ini atau pengobatan yang terbaik, agar saya bisa kembali kepada sifat  saya, memperhatikan suami, anak dan mengurus rumah. Saya pernah  mendengar di masa lalu sebuah hadits yang berbunyi, "Air zam-zam adalah  untuk sesuatu (niat) yang diminumnya darinya" [1]. Sesungguhnya saya  mengharap kepada Allah penjelasan hadits ini. Apakah sesuai atas kondisi  kejiwaan saya ataukah ia hanya untuk kondisi anggota tubuh. Dan apabila  air zam-zam memberi faedah dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam  menyembuhkan kondisi saya ini, bagaimanakah membawanya ke tempat saya ?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Berpegang  teguhlah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, berbaik sangkalah kepadaNya,  serahkanlah perkaramu kepadaNya, janganlah anda putus asa dari rahmat,  karunia dan kebaikanNya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak  akan menurunkan penyakit melainkan menurunkan juga obatnya. Anda harus  mengambil segala sebab (untuk kesembuhan berobat,-pent). Teruslah  berkonsultasi kepada para dokter spesialis dalam mengenal berbagai macam  penyakit dan pengobatan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bacalah atas dirimu  surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq, surah An-Nas tiga kali. Meludahlah  sedikit dikedua tanganmu setiap sekali, usaplah mukamu dengan keduanya,  dan bagian tubuhmu yang kamu bisa. Ulangilah terus hal itu beberapa kali  siang malam dan ketika mau tidur. Bacalah pula atas dirimu surah  Al-Fatihah di waktu kapan pun, siang dan malam hari. Bacalah ayat Kursi  ketika berbaring di tempat kasurmu untuk tidur. Hal itu adalah ruqyah  manusia untuk dirinya sendiri dan menjaganya dari kejahatan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Berdo'alah kepada Allah dengan do'a Al-Kurab, bacalah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Artinya  : Tiada Ilah yang berhak diibdahi selain Allah yang Mahaagung lagi Maha  Penyantun. Tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah Penguasa Arsy  yang besar. Tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah Rabb langit,  Rabb bumi dan Rabb Arsy yang mulia".[2]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ruqyahlah  pula diri anda sendiri dengan ruqyah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa  sallam maka bacalah, "Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit,  sembuhkanlah dia, hanya Engkau yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan  melainkan kesembuhan (dari)Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan  sakit" [3]. Hingga dzikir-dzikir, ruqyah dan do'a-do'a lainnya yang  disebutkan dalam kitab-kitab hadits, An-Nawawi menyebutkannya dalam  kitab Riyadh Ash-Shalihin dan kitab Al-Adzkar.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adapun  yang ada sebutkan tentang air zam-zam karena Nabi Shallallahu 'alaihi  wa sallam bersabda, "Air zam-zam adalah untuk sesuatu (niat) yang  diminum darinya". Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dari Jabir  bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa  sallam. Ia adalah hadits hasan dan bersifat umum. Dan yang lebih shahih  darinya adalah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang air  zam-zam, "Sesungguhnya ia penuh berkah, ia adalah makanan yang  mengenyangkan dan penawar sakit" [4] Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu  Daud. Dan ini lafazh Abu Daud. Apabila anda menginginkan sedikir dari  air zam-zam itu, anda bisa berpesan kepada penduduk negerimu yang  berhaji agar ia membawa sedikit di saat ia kembali dari hajinya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Semoga rahmat dan kesejahteraan Allah tercurah atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[Fatawa  Al-Ilaj bil Qur'an wa Sunnah Ar-Ruqa wa ma ya'taallaqu biha, karya  Syaikh bin Baz, Ibn Utsaimin, Al-Lajnah Ad-Da'imah, hal. 25-27]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[Disalin  dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min  Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini,  Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerbit Darul Haq]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Hadits Riwayat At-Tirmidzi, kitab Al-Hajj 963 dan ia berkata 'Hasan Gharib'&lt;br /&gt;[2]. Hadits Riwayat Bukhari, kitab Ad-Da'awat 6345, 6346, Muslim, kitab Adz-Dzikr wad Du'at 2730.&lt;br /&gt;[3]. Hadits Riwayat Al-bukhari, kitab Ath-Thibb 5743, Muslim kitab As-Salam 2191&lt;br /&gt;[4].  Hadits Riwayat Muslim, kitab Fadha'il Ash-Shahabah 2473 tanpa lafazh  'penawar sakit', ia ada di Musnad Abu Daud Ath-Thayalisi no 457&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;artikel : Assunnah-qatar.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/01/pengobatan-tekanan-batin-dan-stress.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5oDj1XONu1ujAzBdHFecXPCQTotmuLeodgz5jY4loEKp2_OUKHHMPNyaYYSAGU_RPSx3bG1fY53xIYIb4QhE7jYxAgF1_h46CIyfgLkVd5cDo4el_dkuC33ziQgjsC1xnFFCzuW6GyL4/s72-c/Stop_Stress.GIF" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-3162085510693986850</guid><pubDate>Fri, 14 Jan 2011 23:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-08T22:01:35.535+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tafsir</category><title>Sembilan Faedah Surat al-Fatihah (2)</title><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Faedah Keenam: Kewajiban untuk meminta petunjuk kepada-Nya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini terkandung dalam ayat &lt;em&gt;‘Ihdinas shirathal mustaqim’&lt;/em&gt;.  Hidayah merupakan anugerah dari Allah ta’ala kepada hamba yang  dipilih-Nya. Sedangkan hidayah itu terdiri dari dua macam; hidayah ilmu  dan hidayah amal. Dan hidayah semacam itu dibutuhkan oleh manusia di  setiap saat dalam perjalanan hidupnya. Setiap hamba senantiasa  membutuhkan hidayah tersebut selama dia masih hidup di alam dunia ini.  Oleh karena besarnya kebutuhan setiap hamba untuk memohon hidayah maka  Allah pun mewajibkan mereka memintanya dalam sehari dan semalam minimal  tujuh belas kali di dalam sholat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-648"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Katsir &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; mengatakan, “…Seandainya bukan  karena besarnya kebutuhan dirinya untuk mendapatkan hidayah di waktu  malam maupun siang niscaya Allah ta’ala tidak akan membimbingnya untuk  melakukan hal itu -meminta hidayah setiap kali sholat-. Sebab seorang  hamba itu sesungguhnya di setiap saat dan keadaan senantiasa memerlukan  pertolongan dari Allah untuk bisa tegar mengikuti hidayah dan berpijak  dengan kokoh padanya, agar terus mendapatkan pencerahan, peningkatan  ilmu, dan bisa terus menerus berada di atasnya. Karena setiap hamba  tidaklah menguasai kemanfaatan maupun kemudharatan bagi dirinya sendiri  kecuali sebatas yang Allah kehendaki. Oleh sebab itulah maka Allah  ta’ala membimbingnya untuk senantiasa meminta hidayah itu di setiap saat  agar Allah mencurahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan tafik  dari-Nya.” (&lt;em&gt;Tafsir al-Qur’an al-’Azhim&lt;/em&gt; [1/39])&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad mengatakan, “Doa ini mengandung  seagung-agung tuntutan seorang hamba yaitu mendapatkan petunjuk menuju  jalan yang lurus. Dengan meniti jalan itulah seseorang akan keluar dari  berbagai kegelapan menuju cahaya serta akan menuai keberhasilan dunia  dan akhirat. Kebutuhan hamba terhadap petunjuk ini jauh lebih besar  daripada kebutuhan dirinya terhadap makanan dan minuman. Karena makanan  dan minuman hanyalah bekal untuk menjalani kehidupannya yang fana.  Sedangkan petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan bekal kehidupannya  yang kekal dan abadi. Doa ini juga mengandung permintaan untuk diberikan  keteguhan di atas petunjuk yang telah diraih dan juga mengandung  permintaan untuk mendapatkan tambahan petunjuk.” (&lt;em&gt;Min Kunuz al-Qur’an&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kita ke jalan  Islam. Sebab dengan Islam inilah seorang hamba akan bisa masuk ke dalam  surga. Allah ta’ala berfirman mengenai kegembiraan penduduk surga,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا  لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ  رَبِّنَا بِالْحَقِّ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Mereka mengatakan; ‘Segala puji hanya bagi Allah yang telah  menunjukkan kepada kami ke surga ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk  sekiranya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kami. Sesungguhnya  rasul-rasul Rabb kami telah datang dengan membawa kebenaran.’.”&lt;/em&gt; (QS. al-A’raaf: 43)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ  مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ  لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir  maka tidak akan pernah diterima dari mereka emas sepenuh bumi walaupun  hal itu mereka gunakan untuk menebus siksa, mereka itu memang layak  untuk menerima siksa yang sangat menyakitkan dan tidak ada bagi mereka  seorang penolongpun.”&lt;/em&gt; (QS. Ali Imran: 91)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah juga berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ  الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh  Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan  bagi orang-orang zalim itu tidak ada seorang penolong.”&lt;/em&gt; (QS. al-Maa’idah: 72)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tidak akan masuk ke dalam surga melainkan jiwa yang muslim.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam riwayat lainnya, beliau bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tidak akan masuk surga selain orang-orang yang beriman.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim dari Umar bin Khatthab &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hidayah juga bukan yang perkara sepele, namun dia adalah anugerah Allah kepada hamba pilihan-Nya. Allah ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberikan hidayah (taufik)  kepada orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberikan  petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui  siapakah orang yang ditakdirkan mendapatkan hidayah.”&lt;/em&gt; (QS. al-Qashash: 56)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;al-Musayyab &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt; menuturkan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ  وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ رَسُولُ  اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ  إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو  جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ  أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ  اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدُ  لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا  كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Di saat kematian akan menghampiri Abu Thalib maka Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang untuk menemuinya dan ternyata  di sisinya telah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin  al-Mughirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata; ‘Wahai  pamanku, ucapkanlah la ilaha illallah, sebuah kalimat yang akan aku  gunakan untuk bersaksi untukmu di sisi Allah’. Maka Abu Jahal dan  Abdullah bin Abi Umayyah mengatakan; ‘Wahai Abu Thalib, apakah kamu  benci kepada agama Abdul Muthallib -bapakmu-?’. Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam terus menawarkan dan mengulangi ajakannya itu, sampai  akhirnya Abu Thalib mengucapkan perkataan terakhirnya kepada mereka  bahwa dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan untuk  mengucapkan la ilaha illallah…”&lt;/em&gt; (HR. Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Faedah Ketujuh: Kewajiban untuk mengikuti Rasul dan para sahabatnya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal itu terkandung dalam ayat &lt;em&gt;‘Shirathalladzina an’amta ‘alaihim’&lt;/em&gt;.  Jalan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu jalan  para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada’ dan orang-orang salih. Allah  ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ  أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ  وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul, maka mereka itulah  orang-orang yang akan bersama dengan orang-orang yang diberi kenikmatan  oleh Allah yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada’, dan  orang-orang salih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”&lt;/em&gt; (QS. an-Nisaa’: 69)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah ta’ala juga berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى  وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى  وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk  dan dia juga mengikuti selain jalan orang-orang beriman maka Kami akan  membiarkan dia terlantar di atas kesesatan yang dipilihnya dan Kami pun  akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu  adalah sejelek-jelek tempat kembali.”&lt;/em&gt; (QS. an-Nisaa’: 115)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ  وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan  apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian  masih ada bagi mereka pilihan yang lainnya dalam menghadapi masalah  mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka  sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.”&lt;/em&gt; (QS. al-Ahzab: 36)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا  رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ  وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Maka para  sahabat bertanya, ‘Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?’.  beliau menjawab, “Barangsiapa yang menaatiku akan masuk surga dan  barangsiapa yang durhaka kepadaku dialah yang enggan.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dari Abu Hurairah &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga berpesan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا  فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ  الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ  وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ  وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang masih hidup  sesudahku maka dia pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka  wajib bagi kalian untuk tetap mengikuti Sunnah/ajaranku dan Sunnah para  khalifah yang berada di atas petunjuk dan terbimbing. Berpegang teguhlah  dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah  perkara-perkara yang diada-adakan -di dalam agama-, karena sesungguhnya  setiap yang diada-adakan -dalam agama- itu adalah bid’ah dan setiap  bid’ah pasti sesat.”&lt;/em&gt; (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Irbadh bin Sariyah &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt;, disahihkan al-Albani dalam &lt;em&gt;Shahih at-Targhib wa at-Tarhib&lt;/em&gt; [37])&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah jalan lurus itu, yaitu mengikuti pemahaman Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam hal ilmu maupun amalan. Allah ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ  وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا  عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ  خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama -membela Islam- dari  kalangan Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti  mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha  kepada-Nya. Allah sediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya  mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah  keberuntungan yang sangat besar.”&lt;/em&gt; (QS. at-Taubah: 100)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Faedah Kedelapan: Kewajiban untuk mengamalkan ilmu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini terkandung dalam potongan ayat &lt;em&gt;‘Ghairil maghdhubi ‘alaihim’.&lt;/em&gt;  Orang yang dimurkai itu adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi  justru tidak mau mengamalkannya. Sebagaimana orang-orang Yahudi dan yang  mengikuti mereka. Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; berkata, “(&lt;em&gt;Shirathal Mustaqim&lt;/em&gt;)  adalah jalan terang yang akan mengantarkan hamba menuju Allah dan masuk  ke dalam Surga-Nya. Hakikat jalan itu adalah mengetahui kebenaran dan  mengamalkannya…” (&lt;em&gt;Taisir Karimir Rahman&lt;/em&gt;, hal. 39). Sehingga jalan yang lurus itu menuntut seorang muslim untuk mengamalkan &lt;a title="Faedah surat Al-Fatihah" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html"&gt;ilmunya&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Abdul Muhsin mengatakan, “Petunjuk menuju jalan yang lurus itu  akan menuntun kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan yaitu  para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’, dan orang-orang salih.  Mereka itu adalah orang-orang yang memadukan ilmu dengan amal. Maka  seorang hamba memohon kepada Rabbnya untuk melimpahkan hidayah menuju  jalan lurus ini yang merupakan sebuah pemuliaan dari Allah kepada para  rasul-Nya dan wali-wali-Nya. Dia memohon agar Allah menjauhkan dirinya  dari jalan musuh-musuh-Nya yaitu orang-orang yang memiliki ilmu akan  tetapi tidak mengamalkannya. Mereka itulah golongan Yahudi yang  dimurkai.” (&lt;em&gt;Min Kunuz al-Qur’an&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan &lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt; berkata,&lt;br /&gt;“Hendaknya diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya  maka ilmunya itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya. Hal ini  sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Barzah &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt;, bahwa Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah bersabda, &lt;em&gt;“Kedua  telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai  dia akan ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah tentang  ilmunya, apa yang sudah diamalkannya.”&lt;/em&gt; (HR. Tirmidzi 2341)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini bukan berlaku bagi para ulama saja, sebagaimana anggapan  sebagian orang. Akan tetapi semua orang yang mengetahui suatu perkara  agama maka itu berarti telah tegak padanya hujjah. Apabila seseorang  memperoleh suatu pelajaran dari sebuah pengajian atau khutbah Jum’at  yang di dalamnya dia mendapatkan peringatan dari suatu kemaksiatan yang  dikerjakannya sehingga dia pun mengetahui bahwa kemaksiatan yang  dilakukannya itu adalah haram maka ini juga ilmu. Sehingga hujjah juga  sudah tegak dengan apa yang didengarnya tersebut. Dan terdapat hadits  yang sah dari Abu Musa al-Asy’ari &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; bahwa Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk menjatuhkan dirimu” (HR. Muslim)” &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;Hushulul Ma’mul&lt;/em&gt;, hal. 18)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Abdurrahman bin Qasim &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; mengatakan, “Amal  adalah buah dari ilmu. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang  lainnya. Ilmu diibaratkan seperti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah  seperti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang  harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi  tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh. Di  dalam hadits disebutkan, &lt;em&gt;“Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya.”&lt;/em&gt;  Orang semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang  dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam  sebuah sya’ir dikatakan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Orang alim yang tidak mau&lt;br /&gt;Mengamalkan ilmunya&lt;br /&gt;Mereka akan disiksa sebelum&lt;br /&gt;Disiksanya para penyembah berhala&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Hasyiyah Tsalatsatul Ushul&lt;/em&gt;, hal. 12)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Katsir &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; di dalam kitab tafsirnya ketika membahas firman Allah ta’ala (yang artinya), &lt;em&gt;“Hai  orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan pendeta dan  rahib-rahib benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan  memalingkan manusia dari jalan Allah.”&lt;/em&gt; (QS. at-Taubah: 34)  menukilkan ucapan Sufyan bin Uyainah yang mengatakan, “Orang-orang yang  rusak di antara orang berilmu di kalangan kita, padanya terdapat  keserupaan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara para ahli  ibadah di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Nasrani.” (&lt;em&gt;Min Kunuz al-Qur’an&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Faedah Kesembilan: Kewajiban untuk beribadah di atas ilmu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini terkandung dalam potongan ayat ‘wa lad dhaallin’. Orang-orang  yang sesat itu adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah  namun dengan cara yang tidak benar, sebagaimana kaum Nasrani. Allah  ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan minta ampunlah bagi dosa-dosamu.”&lt;/em&gt; (QS. Muhammad: 19)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ilmu merupakan landasan ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu Imam Bukhari &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; membuat sebuah bab di dalam Kitab Shahihnya dengan judul &lt;em&gt;al-’Ilmu qablal qaul wal ‘amal&lt;/em&gt; (Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan). Allah ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu  tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua  pasti akan diminta pertanggungjawabannya.”&lt;/em&gt; (QS. al-Israa’: 36)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barangisapa ang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnul Qayyim &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; mengatakan, “Sesungguhnya seluruh  sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an maka  itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang  disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat  darinya…” (&lt;em&gt;al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu&lt;/em&gt;, hal. 128). Beliau  juga menegaskan, “Tidaklah diragukan bahwa sesungguhnya kebodohan adalah  pokok seluruh kerusakan. Semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan  di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (&lt;em&gt;al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu&lt;/em&gt;, hal. 101)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Muhammad al-Amin as-Syinqithi mengatakan di dalam kitabnya &lt;em&gt;Adhwa’ul Bayan&lt;/em&gt;  (1/53), “Orang-orang Yahudi dan Nasrani -meskipun sebenarnya mereka  sama-sama sesat dan sama-sama dimurkai- hanya saja kemurkaan itu lebih  dikhususkan kepada Yahudi -meskipun orang Nasrani juga termasuk di  dalamnya- dikarenakan mereka telah mengenal kebenaran namun justru  mengingkarinya, dan secara sengaja melakukan kebatilan. Karena itulah  kemurkaan lebih condong dilekatkan kepada mereka. Adapun orang-orang  Nasrani adalah orang yang bodoh dan tidak mengetahui kebenaran, sehingga  kesesatan merupakan ciri mereka yang lebih menonjol. Meskipun begitu  Allah menyatakan bahwa &lt;em&gt;‘al magdhubi ‘alaihim’&lt;/em&gt; adalah kaum Yahudi melalui firman-Nya ta’ala tentang mereka (yang artinya), &lt;em&gt;“Maka mereka pun kembali dengan menuai kemurkaan di atas kemurkaan.”&lt;/em&gt; (QS. al-Baqarah: 90). Demikian pula Allah berfirman mengenai mereka (yang artinya), &lt;em&gt;“Katakanlah;  maukah aku kabarkan kepada kalian tentang golongan orang yang  balasannya lebih jelek di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati  Allah dan dimurkai oleh-Nya.”&lt;/em&gt; (QS. al-Ma’idah: 60). Begitu pula firman-Nya (yang artinya), &lt;em&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan patung sapi itu sebagai sesembahan niscaya akan mendapatkan kemurkaan.”&lt;/em&gt; (QS. al-A’raaf: 152). Sedangkan golongan &lt;em&gt;‘adh dhaalliin’&lt;/em&gt; telah Allah jelaskan bahwa mereka itu adalah kaum Nasrani melalui firman-Nya ta’ala (yang artinya), &lt;em&gt;“Dan  janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat,  dan mereka pun menyesatkan banyak orang, sungguh mereka telah tersesat  dari jalan yang lurus.”&lt;/em&gt; (QS. al-Ma’idah: 77)”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat. &lt;em&gt;Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yogyakarta, Senin 9 Jumadil Ula 1430 H&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hamba yang fakir kepada Rabbnya&lt;br /&gt;Semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya&lt;br /&gt;dan segenap kaum muslimin&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel &lt;a title="Faedah surat Al-Fatihah" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/01/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-1544152788459259565</guid><pubDate>Fri, 14 Jan 2011 22:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-08T22:01:38.216+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tafsir</category><title>Sembilan Faedah Surat al-Fatihah (1)</title><description>Surat al-Fatihah menyimpan banyak pelajaran berharga. Surat yang hanya terdiri dari tujuh ayat ini telah merangkum berbagai prinsip dan pedoman dalam ajaran Islam. Sebuah surat yang harus dibaca setiap kali mengerjakan sholat. Di dalam surat ini, Allah ta’ala memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Di dalamnya, Allah mengajarkan kepada mereka tugas hidup mereka di dunia. Di dalamnya, Allah mengajarkan kepada mereka untuk bergantung dan berharap kepada-Nya, cinta dan takut kepada-Nya. Di dalamnya, Allah menunjukkan kepada mereka jalan yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan. Berikut ini kami akan menyajikan petikan faedah dari surat ini dengan merujuk kepada al-Qur’an, as-Sunnah, serta keterangan para ulama salaf. Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat untuk yang menyusun maupun yang membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah Pertama: Kewajiban untuk mencintai Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’ terkandung al-Mahabbah/kecintaan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan, “Di dalam ayat tersebut terkandung kecintaan, sebab Allah adalah Yang memberikan nikmat. Sedangkan Dzat yang memberikan nikmat itu dicintai sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan olehnya.” (Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui bahwa kecintaan merupakan penggerak utama ibadah kepada Allah ta’ala. Karena cintalah seorang hamba mau menundukkan diri dan menaati perintah dan larangan Allah ta’ala. Sebaliknya, karena sedikit dan lemahnya kecintaan maka ketundukan dan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya pun akan semakin menipis. Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Setiap pemberi kenikmatan maka dia berhak dipuji sesuai dengan kadar kenikmatan yang dia berikan. Dan hal ini melahirkan konsekuensi keharusan untuk mencintainya. Sebab jiwa-jiwa manusia tercipta dalam keadaan mencintai sosok yang berbuat baik kepadanya. Sementara Allah jalla wa ‘ala adalah Sang pemberi kebaikan, Sang pemberi kenikmatan dan pemberi keutamaan kepada hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu hati akan mencintai-Nya karena keutamaan dan kebaikan-Nya, sebuah kecintaan yang tak tertandingi dengan kecintaan mana pun. Oleh karena itu, kecintaan merupakan jenis ibadah yang paling agung. Maka alhamdulillahi Rabbil ‘alamin mengandung -ajaran- kecintaan.” (Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di antara manusia, ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman lebih dalam kecintaannya kepada Allah.” (QS. al-Baqarah: 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang mencintai selain Allah sebagaimana kecintaannya kepada Allah ta’ala maka dia tergolong orang yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Ini merupakan persekutuan dalam hal kecintaan, bukan dalam hal penciptaan maupun rububiyah, sebab tidak ada seorang pun di antara penduduk dunia ini yang menetapkan sekutu dalam hal rububiyah ini, berbeda dengan sekutu dalam hal kecintaan, maka sebenarnya mayoritas penduduk dunia ini telah menjadikan selain Allah sebagai sekutu dalam hal cinta dan pengagungan.” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tiga perkara, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan mendapatkan manisnya iman. Yaitu apabila Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripa selain keduanya. Apabila dia mencintai orang tidak lain karena kecintaannya kepada Allah. Dan dia membenci kembali ke dalam kekafiran sebagaimana orang yang tidak senang untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu jalinan kecintaan karena selain Allah akan musnah, sedangkan kecintaan yang dibangun di atas ketaatan dan kecintaan kepada-Nya akan tetap kekal hingga hari kemudian. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari itu orang-orang yang saling berkasih sayang akan saling memusuhi satu dengan yang lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf: 67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Tidak tersisa selain kecintaan sesama orang-orang yang bertakwa, karena ia dibangun di atas landasan yang benar, ia akan tetap kekal di dunia dan di akhirat. Adapun kecintaan antara orang-orang kafir dan musyrik, maka ia akan terputus dan berubah menjadi permusuhan.” (Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا  يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا  لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ingatlah pada hari kiamat itu nanti orang yang gemar melakukan kezaliman akan menggigit kedua tangannya dan mengatakan, ‘Aduhai alangkah baik seandainya dahulu aku mengambil jalan mengikuti rasul itu. Aduhai sungguh celaka diriku, andai saja dulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman dekatku. Sungguh dia telah menyesatkanku dari peringatan itu (al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.’  Dan memang syaitan itu tidak mau memberikan pertolongan kepada manusia.” (QS. al-Furqan: 27-29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah Kedua: Kewajiban untuk berharap kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat ‘ar-Rahman ar-Rahim’ terkandung roja’/harapan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “Di dalam ayat tersebut terkandung roja’.” (Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 18). Harapan merupakan energi yang akan memacu seorang insan. Dengan masih adanya harapan di dalam dirinya, maka ia akan bergerak dan melangkah, berjuang dan berkorban. Dia akan berdoa dan terus berdoa kepada Rabbnya. Demikianlah karakter hamba-hamba pilihan. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka itu -sosok orang salih yang disembah oleh orang musyrik- justru mencari jalan untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah; siapakah di antara mereka yang lebih dekat dengan-Nya, mereka mengharapkan rahmat-Nya dan merasa takut dari siksa-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu harus senantiasa ditakuti.” (QS. al-Israa’: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rabb kalian berfirman; Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku maka mereka akan masuk ke dalam Neraka dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang di antara kalian berdoa maka janganlah dia mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Kamu mau’ tetapi hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam memintanya dan memperbesar harapan, sebab Allah tidak merasa berat terhadap apa pun yang akan diberikan oleh-Nya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dihasankan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Tirmidzi [3373])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan bukanlah angan-angan kosong, namun ia merupakan perbuatan hati yang mendorong pemiliknya untuk berusaha dan bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya. Karena harapan itulah maka dia tetap tegar di atas keimanan, rela untuk meninggalkan apa yang disukainya demi mendapatkan keridhaan Allah, dan dia akan rela mengerahkan segala daya dan kekuatannya di jalan Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 218)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya harapan yang terpuji tidaklah ada kecuali bagi orang yang beramal dengan ketaatan kepada Allah dan mengharapkan pahala atasnya, atau orang yang bertaubat dari kemaksiatannya dan mengharapkan taubatnya diterima. Adapun harapan semata yang tidak diiringi dengan amalan, maka itu adalah ghurur/ketertipuan dan angan-angan yang tercela.” (Syarh Tsalatsat Ushul, hal. 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah Ketiga: Kewajiban untuk takut kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat ‘Maaliki yaumid diin’ terkandung ajaran untuk merasa takut kepada hukuman Allah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Di dalamnya terkandung khauf/rasa takut.” (Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 18). Dengan adanya rasa takut inilah, seorang hamba akan menahan diri dari melanggar aturan-aturan Allah ta’ala. Dengan adanya rasa takut inilah, seorang hamba akan rela meninggalkan sesuatu yang disukainya karena takut terjerumus dalam larangan dan kemurkaan-Nya. Sebab pada hari kiamat nanti manusia akan mendapatkan balasan atas amal-amalnya di dunia. Barangsiapa yang amalnya baik, maka baik pula balasannya Dan barangsiapa yang amalnya buruk, maka buruk pula balasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى  فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun orang yang merasa takut kepada kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari memperturutkan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya.” (QS. an-Nazi’at: 40-41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari kiamat nanti, semua orang akan tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada seorang pun yang berani dan mampu untuk menentang titah-Nya. Ketika itu langit dan bumi akan dilipat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَطْوِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ ثُمَّ يَطْوِي الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah ‘azza wa jalla akan melipat langit pada hari kiamat nanti kemudian Allah akan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, lalu Allah berfirman; ‘Akulah Sang raja, di manakah orang-orang yang bengis, di manakah orang-orang yang suka menyombongkan dirinya.’ Kemudian Allah melipat bumi dengan tangan kirinya, kemudian Allah berfirman; ‘Aku lah Sang Raja, di manakah orang-orang yang bengis, di manakah orang-orang yang suka menyombongkan diri.’.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari kiamat nanti, harta dan keturunan tidak ada gunanya, kecuali bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ  إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari itu tidak berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih, dan surga itu akan didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan akan ditampakkanlah dengan jelas neraka itu kepada orang-orang yang sesat.” (QS. as-Syu’ara’: 88-91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika kegoncangan di hari itu sangatlah dahsyat, sampai-sampai seorang ibu melalaikan bayi yang disusuinya dan setiap janin akan gugur dari kandungan ibunya. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ  يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai umat manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian, sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah kejadian yang sangat besar. Ingatlah, pada hari itu ketika kamu melihatnya, setiap ibu yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan mengalami keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sesuangguhnya mereka tidak sedang mabuk, namun ketika itu adzab Allah sangatlah keras.” (QS. al-Hajj: 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khauf kepada Allah semata merupakan bukti jujurnya keimanan seorang hamba. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya itu hanyalah syaitan yang menakut-nakuti para walinya, maka janganlah kalian takut  kepada mereka, akan tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalin benar-benar beriman.” (QS. Ali Imran: 175)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Apabila ketiga perkara ini terkumpul: cinta, harap, dan takut, maka itulah asas tegaknya aqidah.” (Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga hal di atas -mahabbah, raja’ dan khauf- merupakan pondasi aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu para ulama kita mengatakan, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja maka dia adalah seorang Zindiq. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan rasa takut semata, maka dia adalah seorang Haruri/penganut aliran Khawarij. Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan rasa harap semata, maka dia adalah seorang Murji’ah. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan cinta, takut, dan harap maka dia adalah seorang mukmin muwahhid.” (Syarh Aqidah at-Thahawiyah tahqiq Ahmad Syakir [2/275] as-Syamilah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah Keempat: Kewajiban untuk mentauhidkan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ terkandung ajaran untuk mentauhidkan Allah ta’ala. Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan kandungan ayat ini, “Maknanya adalah: Kami mengkhususkan ibadah dan isti’anah hanya untuk-Mu…” (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/28]). Inilah hakikat ajaran Islam yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Karena tujuan itulah Allah menciptakan jin dan manusia. Untuk mendakwahkan itulah Allah mengutus para nabi dan rasul kepada umat manusia. Dengan ibadah yang ikhlas itulah seorang hamba akan bisa menjadi sosok yang bertakwa dan mulia di sisi-Nya. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah Kami mengutus sebelum seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiya’: 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai umat manusia, sembahlah Rabb kalian, yaitu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian menjadi bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka barangsiapa yang menujukan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah sungguh dia telah terjerumus dalam kemusyrikan. Sebagaimana kita meyakini bahwa Allah satu-satunya yang menciptakan alam semesta ini, yang menghidupkan dan mematikan, yang menguasai dan mengatur alam ini, maka sudah seharusnya kita pun menujukan segala bentuk ibadah kita yang dibangun di atas rasa cinta, harap, dan takut itu hanya kepada Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah Kelima: Kewajiban untuk bertawakal kepada-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terkandung di dalam potongan ayat ‘wa iyyaka nasta’in’. Karena kita meyakini bahwa tidak ada yang menguasai kemanfaatan dan kemadharatan kecuali Allah, tidak ada yang mengatur segala sesuatu kecuali Dia, maka semestinya kita pun bergantung dan berharap hanya kepada-Nya. Kita tidak boleh meminta pertolongan dalam perkara-perkara yang hanya dikuasai oleh Allah kepada selain-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai anak muda, aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan menemukan-Nya di hadapanmu. Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketauhilah, seandainya seluruh manusia bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu maka mereka tidak akan memberikan manfaat itu kepadamu kecuali sebatas apa yang Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk memudharatkan dirimu dengan sesuatu maka mereka tidak akan bisa menimpakan mudharat itu kecuali sebatas apa yang Allah tetapkan menimpamu. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah mengering.” (HR. Tirmidzi, dia berkata; hasan sahih, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [2516])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan baginya jalan keluar dan akan memberikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah pasti mencukupinya.” (QS. at-Thalaq: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang beriman adalah orang yang bertawakal kepada Allah semata. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. al-Maa’idah: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Allah ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ  أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka hati mereka menjadi takut/bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka. Orang-orang yang mendirikan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang mukmin yang sejati, mereka akan mendapatkan derajat yang berlainan di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (QS. al-Anfal: 2-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengingat Allah maka hati mereka menjadi tenang. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. ar-Ra’d: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda halnya dengan orang yang bergantung dan berharap kepada selain Allah. Hati mereka tenang dan gembira ketika mengingat sesembahan dan pujaan selain Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila disebut nama Allah saja maka akan menjadi kesal hati orang-orang yang tidak beriman dengan hari akhirat itu, sedangkan apabila disebut selain-Nya maka mereka pun tiba-tiba merasa bergembira.” (QS. az-Zumar: 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tawakal pula seorang hamba akan bisa masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan masuk surga tujuh puluh ribu orang di antara umatku tanpa hisab, mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak mempunyai anggapan sial/tathayyur, dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (HR. Bukhari dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/01/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-1.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-124423496628765167</guid><pubDate>Sun, 02 Jan 2011 10:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-02T17:07:45.117+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">aqidah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">MP3</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tauhid</category><title>Hukum Peringatan Tahun Baru (download)</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Umat Islam mulia dengan penanggalan  Hijriyah, penanggalan Masehi dan perayaannya adalah bagian dari  kebudayaan non-muslim, sehingga seorang muslim yang benar imannya tidak  akan mengikuti perayaan-perayaan tersebut bahkan melewatinya dengan  penuh kemuliaan sebagai seorang muslim.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun ketahuilah bahwa selain merupakan  kebudayaan non-muslim, terlarangnya mengikuti perayaan tahun baru masehi  juga disebabkan oleh beberapa pelanggaran syariat di dalamnya.  Diantaranya yaitu Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; melarang  bergadang tanpa ada keperluan yang penting dan bermanfaat. Apalagi jika  bergadang tersebut samapi membuat lalai dari shalat shubuh berjama’ah.  Allah dan Rasul-Nya juga melarang perbuatan &lt;i&gt;tabdzir&lt;/i&gt;, yaitu  membuang-buang harta pada hal yang tidak bermanfaat seperti perayaan  tahun baru yang biasanya diadakan acara meriah yang menghabiskan uang  yang tidak sedikit. Dan pelanggaran yang lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lebih lengkapnya silakan klik pada &lt;a href="http://www.assunnah-qatar.com/audio/G/13-gabungan-beberapa-ustadz/71-hukum-peringatan-tahun-baru.html#"&gt;link ini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/01/hukum-peringatan-tahun-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-3355115696594450185</guid><pubDate>Sun, 02 Jan 2011 03:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-02T11:05:55.958+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Manhaj salaf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tauhid</category><title>KESEMPURNAAN SYARI’AT ISLAM</title><description>Oleh : Ust. Abu Thohir, Lc&lt;br /&gt;Syari’at agama Islam adalah syari’at yang sempurna yang menjaga kemaslahatan manusia dalam mengarungi kehidupan dunia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kita dan Allah lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita akan menemukan dalam agama yang mulia ini tuntunan dalam hidup kita yang kesemuanya akan mengantarkan kita kepada tujuan hidup kita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Allah nyatakan dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengibadatiku”. ( QS. Azzariyat: 56)&lt;br /&gt;Oleh : Ust. Abu Thohir, Lc&lt;br /&gt;Syeikh Abdurrahman Assa’di mengatakan : Ini adalah tujuan mengapa Allah menciptakan jin dan manusia serta Allah mengutus seluruh para Rasul adalah menyeru umat kepada mengibadati-Nya. Ini adalah suatu tujuan yang mengharuskan seseorang untuk mengenal, mencintai dan tunduk kepadaNya.serta menerima sepenuhnya dan berpaling dari selain-Nya. (Tafsiir Karim Arrahman hal 755)&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan tujuan ini jualah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan sebuah tuntunan yang akan menjadi pedoman dan petunjuk dalam kehidupan berupa sebuah syari’at yang sempurna yang mencakup segala aspek kehidupan, baik pribadi ataupun masyarakat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu menjadi agamamu”. (QS. Al-Maidah: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksudkan oleh Allah dalam ayat ini adalah agama Islam, sebagai syari’at yang sempurna baik secara zahir maupun batin, ushul(dasar) ataupun furu’(cabang), maka tidak membutuhkan penambahan karena Allah telah menyempurnakannya dan juga tidak boleh dikurangi. (Lihat tafsir Qur-anil Azhim 3/26 dan tafsir karim Arrahman hal 183).&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam kitab Tafsir beliau : ini adalah karunia Allah Ta’ala yang paling besar untuk umat ini, dimana Allah ta’ala telah menyempurnakan agama mereka untuk mereka, maka mereka tidak lagi membutuhkan agama lain, dan tidak juga seorang nabi selain dari nabi mereka ( Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasalam), oleh karena itu Allah telah memilih beliau sebagai penutup para nabi serta mengutus beliau kepada manusia dan jin, maka tidak ada yang halal kecuali apa yang beliau halalkan, dan tidak ada yang haram kecuali apa yang beliau haramkan, dan tidaklah dianggap sebagai agama kecuali apa yang beliau telah khabarkan, maka beliau adalah benar lagi terpercaya, yang tidak ada kedustaan padanya tidak ada juga penyimpangan, sebagaimana firman Allah Ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Telah sempurnalah Kalimat Tuhanmu ( Al- Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil”. (QS. Al-an’am : 115)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar apa yang dikhabarkan, adil dalam perintah dan larangan. ( Tafsir Qur-anil Azhim 3/26)&lt;br /&gt;Rasulullah Salallahu’alaihi wasallam pernah bersabda dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar radiyallahu’anhu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tidak ada seorang Nabipun sebelumku kecuali sudah menjadi kewajiban atasnya untuk menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang telah ia ketahui dan memperingatkan mereka dari keburukan yang telah ia ketahui”. (diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Al-Imarah, Bab wujubul wafa’ no 4753, Abu Daud di kitab Alfitan Wal Malahim, Bab : Zikrul Fitan Wadala iluha no 4248, An-Nasa-i di kitab Albai’ah, bab Zikru ‘ala man bayaa’al Imam no 4202 dan Ibnu Majah di kitab Alfitan. Bab Ma Yakunu minal fitan no 3956 Lihat Tuhfatul Asyraf ( 8881)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atthabrani meriwayatkan dalam Muj’am Alkabir beliau (1647) sebuah riwayat dari Abi Dzar Alghifari radiyallahu’anhu, beliaumengatakan : “ tidaklah ada kepakan sayap burung di udara kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami, maka beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah ada satupun yang tertinggal dari apa-apa yang akan mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka kecuali telah diterangkan pada kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Nabi yang mulia inijelas menunjukkan kepada kita bahwa semua jalan yang akan mendekatkan kita ke surga telah diterangkan oleh rasulullah kepada kita, dan semua jalan yang akan menjauhkan kita dari nerakajuga telah diterangkan kepada kita ( Ilmu Ushulil bida’ hal 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bukan suatu yang berlebihan bila Allah dan Rasul-Nya sangat mencela dan melarang seseorang menambah atau merubah syariat yang telah ditetapkan, sebagaimana sabda Rasulullah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindarilah oleh kalian perkara yang dibuat-buat, karena semua perkara yang dibuat-buat dan tidak adanya tuntunan itu adalah bid’ah dan semua bid’ah itu sesat”. ( Diriwayatkan oleh Abu Daud di kitab Assunnah, bab Luzum Assunnah no 4607, Attirmidzi di kitab Al-ilm, Bab Al-akhzu Bissunnah wajtinabil Bida’ no 2678, Ibnu Majah di mukaddimah. Bab Ittiba’ Sunnah Khulafa’arrasyidin no 42. Dan Attirmidzi mengatakan : hadits ini hasan shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Rasulullah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Adapun selanjutnya, maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam dan sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara yang baru yang diada-adakan dan setiap bid’ah tersebut adalah sesat”. (diriwayatkan oeleh Muslim di kitab Jum’ah, bab Raf’u Asshaut fil Khutbah no 2002, Annasa-I di kitab Al ‘aidain, bab kaifa Alkhutbah no 1577, Ibnu majah di Mukaddimah. Bab ijtinab Albida’ wal jadal no 45 dan lihat lihat tuhfatul Asyraf no 2599)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka apapun yang dijadikan sebagai tambahan ataupun perubahan yang tidak ada dalilnya dalam syari’at agama yang mulia ini dinamakan bid’ah yang notabenenya adalah sikap buruk yang memberikan gambaran pada pelakunya bahwa syari’at ini belum cukup dan belum sempurna, sehingga mengharuskan mereka untuk mengadakan perubahan ataupun penambahan. ( lihat Ilmu Ushulil Bida’ Syeikh Ali Hasan Al Halabi Hafizhahullahu Ta’ala hal 19)&lt;br /&gt;Sementara Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang hal ini dalam hadits-hadits beliau yang shahih dan menamakannya dengan kesesatan yang harus dihindari dan dijauhi oleh setiap muslim dalam kehidupannya. Wallahua’lam bissawab&lt;br /&gt;Sumber : Buletin Al istiqomah volume 1/Th.3/1426 H</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2011/01/kesempurnaan-syariat-islam.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-4950844033871487902</guid><pubDate>Thu, 04 Feb 2010 01:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-04T10:12:49.294+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fiqh</category><title>Panduan Tata Cara Tayammum</title><description>Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulul Islam, Muhammad bin Abdillah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak jarang dari kita melihat sebagian dari saudara-saudara kita kalangan kaum muslimin yang masih asing dengan istilah tayammum atau pada sebagian lainnya hal ini tidak asing lagi akan tetapi belum mengetahui bagaimana tayammum yang Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam ajarkan serta yang diinginkan oleh syari’at kita. Maka penulis mengajak pembaca sekalian untuk meluangkan waktu barang 5 menit untuk bersama mempelajari hal ini sehingga ketika tiba waktunya untuk diamalkan sudah dapat beramal dengan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Tayammum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai pembahasan ini dengan mengemukakan pengertian tayammum. Tayammum secara bahasa diartikan sebagai Al Qosdu (القَصْدُ) yang berarti maksud. Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang bersih[1]. Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tidak[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil Disyari’atkannya Tayammum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayammum disyari’atkan dalam islam berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin[3]. Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5] : 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil dari As Sunnah adalah sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan bagi kami (ummat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam ) permukaan bumi sebagai thohur/sesuatu yang digunakan untuk besuci[4] (tayammum) jika kami tidak menjumpai air”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media yang dapat Digunakan untuk Tayammum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu di atas dan secara khusus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جُعِلَتِ الأَرْضُ كُلُّهَا لِى وَلأُمَّتِى مَسْجِداً وَطَهُوراً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan (permukaan, pent.) bumi seluruhnya bagiku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk bersuci”.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada orang yang mengatakan bukankah dalam sebuah hadits Hudzaifah ibnul Yaman[7] Nabi mengatakan tanah?! Maka kita katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ash Shon’ani rohimahullah, “Penyebutan sebagian anggota lafadz umum bukanlah pengkhususan”[8]. Hal ini merupakan pendapat Al Auzaa’i, Sufyan Ats Tsauri Imam Malik, Imam Abu Hanifah[9] demikian juga hal ini merupakan pendapat Al Amir Ashon’ani[10], Syaikh Al Albani[11], Syaikh Abullah Alu Bassaam[12] -rohimahumullah-, Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan[13] dan Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy hafidzahumallah[14].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan yang  Dapat Menyebabkan Seseorang Bersuci  dengan Tayammum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan beberapa keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun tidak[15].&lt;br /&gt;    * Terdapat air (dalam jumlah terbatas pent.) bersamaan dengan adanya kebutuhan lain yang memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan memasak.&lt;br /&gt;          o Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin lama sembuh dari sakit.&lt;br /&gt;          o Ketidakmapuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat.&lt;br /&gt;          o Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata Cara Tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata cara tayammum Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dijelaskan hadits ‘Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke permukaan bumi sekali pukulan lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits di atas kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan kemudian meniupnya.&lt;br /&gt;    * Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.&lt;br /&gt;    * Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.&lt;br /&gt;    * Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan sekali usapan saja.&lt;br /&gt;    * Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudhu[17].&lt;br /&gt;    * Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil.&lt;br /&gt;    * Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatal Tayammum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatal tayammum sebagaimana pembatal wudhu. Demikian juga tayammum tidak dibolehkan lagi apa bila telah ditemukan air bagi orang yang bertayammum karena ketidakadaan air dan telah adanya kemampuan menggunakan air atau tidak sakit lagi  bagi orang yang bertayammum karena ketidakmampuan menggunakan air[18]. Akan tetapi shalat atau ibadah lainnya[19] yang telah ia kerjakan sebelumnya sah dan tidak perlu mengulanginya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ – وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ – فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا ، فَصَلَّيَا ، ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ ، فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ ، وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ : أَصَبْت السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْك صَلَاتُك وَقَالَ لِلْآخَرِ : لَك الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang lelaki keluar untuk safar. Kemudian tibalah waktu shalat dan tidak ada air di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan bumi yang suci lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air sedangkan saat itu masih dalam waktu yang dibolehkan shalat yang telah mereka kerjakan tadi. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi shalat sedangkan yang lainnya tidak mengulangi shalatnya. Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan kepada orang yang tidak mengulang shalatnya, “Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan kamu telah mendapatkan pahala shalatmu”. Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya,  “Untukmu dua pahala[20]”[21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّعِيدُ وُضُوءُ الْمُسْلِمِ ، وَإِنْ لَمْ يَجِدْ الْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ.فَإِذَا وَجَدَ الْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seluruh permukaan bumi (tayammum) merupakan wudhu bagi seluruh muslim jika ia tidak menemukan air selama sepuluh tahun (kiasan bukan pembatasan angka)[22], apabila ia telah menemukannya hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menggunakannya sebagai alat untuk besuci”.[23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Antara Hikmah Disyari’atkannya Tayammum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup kami sampaikan hikmah dan tujuan disyari’atkannya tayyamum adalah untuk menyucikan diri kita dan agar kita bersyukur dengan syari’at ini serta tidaklah sama sekali untuk  memberatkan kita, sebagaimana akhir firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 6,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak menyucikan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Maidah: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Faroj Ibnul Jauziy rohimahullah mengatakan ada empat penafsiran ahli tafsir tentang nikmat apa yang Allah maksudkan dalam ayat ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, nikmat berupa diampuninya dosa-dosa[24].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, nikmat berupa hidayah kepada iman, sempurnanya agama, ini merupakan pendapat Ibnu Zaid rohimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, nikmat berupa keringanan untuk tayammum, ini merupakan pendapat Maqotil dan Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, nikmat berupa penjelasan hukum syari’at, ini merupakan pendapat sebagian ahli tafsir[25].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah akhir tulisan ini mudah-mudahan menjadi tambahan ‘amal bagi penulis dan tambahan ilmu bagi pembaca sekalian. Allahumma Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu Dhuha, Ahad 12 Dzulhijjah 1430 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Aditya Budiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muroja’ah: M.A. Tuasikal&lt;br /&gt;sumber : www.muslim.or.id</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2010/02/panduan-tata-cara-tayammum.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-4131953917787898611</guid><pubDate>Thu, 03 Dec 2009 03:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-03T10:11:13.331+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">info</category><title>Jadwal Taklim MTIQ Payakumbuh</title><description>INFO KAJIAN UMUM&lt;br /&gt;MAJELIS TAKLIM IBNUL QOYYIM PAYAKUMBUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Ust. Abdul Halim Lc, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Hari : Senin, Ba’da maghrib-Isya&lt;br /&gt;   Dilanjutkan ba’da isya&lt;br /&gt;  Tempat :  Sekretariat  majelis taklim Ibnul &lt;br /&gt;                                   Qoyyim jl. Arisun 47 Payakumbuh&lt;br /&gt; Materi  : 1. Fathul Baari ( Syarh kitab Shahih&lt;br /&gt;      Bukhori)&lt;br /&gt;  2. Tanya Jawab masalah Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ust. Ahmad Daniel, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari : Sabtu (Minggu II dan IV)&lt;br /&gt; Jam 16.30 WIB -Maghrib (khusus muslimah)&lt;br /&gt;o Tempat     : Sekretariat Majelis Taklim Ibnul Qoyyim &lt;br /&gt;                            Jl. Arisun 47 Payakumbuh&lt;br /&gt;o Materi       : 1. Fiqh Muslimah&lt;br /&gt;     2. Tanya jawab masalah Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Ba’da Maghrib-Isya, dilanjutkan Ba’da isya - 21.30WIB&lt;br /&gt;o Tempat    :  Mushalla Al Islam (Tarok)&lt;br /&gt;o Materi   : 1. Tafsir As Sa’di&lt;br /&gt;    2. Tanya jawab masalah Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radio Ranah 107,3 FM ( Khusus Kota Payakumbuh dan sekitarnya)&lt;br /&gt;Mari kita dengarkan bersama-sama radio Ranah FM setiap hari jam 16.30 WIB- Maghrib.</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/12/jadwal-taklim-mtiq-payakumbuh.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-4783314412868339841</guid><pubDate>Wed, 11 Nov 2009 03:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-11T10:23:58.315+07:00</atom:updated><title>Ponari Sweat</title><description>Oleh: Ammi Nur Baits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat sedikit kaget, ketika kami mendengar seorang teman yang pulang ke Tuban (Jawa Timur) naik bus jurusan Jogja-Surabaya turun di Jombang. Tepat ketika turun dari bus, tukang becak, ojek, dan kernet angkot serempak menawarkan jasa tunggangan untuk ke satu arah.. “Ponari… Ponari… Ponari…”, setelah jauh bertolak dari kabupaten Jombang ke arah utara, hampir semua awak bus jurusan Jombang teriak-teriak “Ponari… Ponari… Ponari…”. Laris manis.. seolah hampir semua orang yang menuju ke Jombang diduga kuat mau menuju seorang bocah yang memiliki batu kecil, yakni Ponari. Tak heran jika harus ada ribuan orang rela antri bahkan sampai rela untuk mempertaruhkan nyawanya demi mendapatkan “bau batu ajaib” yang bercampur “keringat tangan” bocah.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi sikap para pakar dalam menanggapi masalah ini. Pendapat pro dan kontra bermunculan. Namun sayangnya, tinjauan mereka hanya baru pada taraf kajian sisi ekonomi, stabilitas sosial, dan hak asasi anak. Hampir tidak ada tokoh nasional yang membahas masalah ini dari sudut pandang aqidah. Seolah semua telah buta kalau kasus ini erat kaitannya dengan masalah aqidah. Jika jajaran tokoh masyarakat bersikap semacam ini, bagaimana lagi dengan orang awamnya[?] Wajar saja jika kesyirikan di Indonesia begitu laris manis dan bahkan telah menjadi selera massa.. kita ucapkan: innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun… ada musibah besar yang menimpa kaum muslimin… rela berkorban demi untuk melakukan kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benar apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Syirik di umat ini (umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih samar dari pada jejak semut.” (HR. Ahmad. Dishahihkan oleh Al Albani dalam tahqiq beliau untuk kitab Al Iman karya Syaikhul Islam). Perhatikanlah wahai saudaruku kaum muslimin, betapa samarnya syirik yang digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika noda syirik ini hanya dilihat sekilas tanpa diamati dengan seksama, maka tidak akan mungkin bisa kelihatan. Itulah ujian bagi kita umat islam, tidak ada yang bisa selamat dari ujian ini kecuali orang yang mendapat rahmat Allah. Untuk memahami kasus batu Ponari dari tinjauan aqidah, silakan baca penjelasan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum mengambil sebab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan untuk mencapai apa yang diharapkan semua tergantung pada sebab. Seseorang akan bisa meraih apa yang dia inginkan jika dia menggunakan sebab-sebab yang bisa mengantarkan ke arah sana. Sebaliknya, jika orang tidak menggunakan sebab tersebut maka sangat sulit untuk bisa mendapatkan apa yang dia cita-citakan. Dengan takdir Allah, setiap kejadian telah ditetapkan sebabnya. Orang sakit ingin sembuh, Allah takdirkan sebabnya dengan berobat. Orang bodoh ingin jadi pintar, Allah takdirkan sebabnya dengan belajar, dst. Namun di sana ada beberapa cara penggunaan sebab yang melanggar syariat. Ada yang hukumnya makruh, haram, bahkan sampai pada tingkat kesyirikan. Berikut adalah rinciannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 kriteria yang harus terpenuhi dalam pengambilan sebab, yaitu:&lt;br /&gt;• kriteria zhahir, yaitu kriteria yang terkait dengan sebab yang digunakan,&lt;br /&gt;• kriteria batin, yaitu kriteria yang terkait dengan orang yang menggunakan sebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria zhahir dalam mengambil sebab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sebab bisa dianggap telah memenuhi kriteria zhahir jika terpenuhi salah satu di antara dua syarat:&lt;br /&gt;Pertama, masuk akal dan terbukti secara empirik. Artinya sebab tersebut merupakan bagian dari hasil pengalaman dan penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa sesuatu tersebut merupakan sebab munculnya sesuatu yang lain.&lt;br /&gt;Misalnya: makan adalah sebab kenyang, belajar merupakan sebab bisa mendapatkan ilmu, bekerja merupakan sebab untuk mendapatkan penghasilan, dst.&lt;br /&gt;Kedua, sesuai dengan syari’at (sebab syar’i). Artinya Allah tetapkan sebab tersebut melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau dengan kata lain, sebab syar’i adalah sebab yang ditetapkan berdasarkan dalil, baik Al Qur’an maupun As Sunnah, meskipun sebab tersebut tidak masuk dalam lingkup penelitian ilmiah.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• Ruqyah (membacakan Al Qur’an untuk orang yang sedang sakit) merupakan salah satu sebab untuk sembuh. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ruqyah itu sangat mujarab jika dibacakan pada orang yang terkena penyakit ‘ain dan demam.” (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;• Sedekah merupakan salah satu sebab kesembuhan. Hal ini berdasarkan hadits, “Obatilah orang-orang yang sakit dengan sedekah.” (HR. Al Baihaqi dan Thabrani, dishahihkan Syaikh Al Albani)&lt;br /&gt;• Pandangan mata tajam kepada orang lain karena rasa takjub atau dengki bisa menyebabkan orang yang dilihat menjadi sakit. Keadaan ini sering disebut “ ’A-in”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan, “‘A-in itu benar adanya” (HR. Al Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara-perkara di atas merupakan sebab yang ditetapkan syariat berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun secara nalar hal itu tidak masuk akal. Dalam kajian kedokteran tidak dibahas hubungan antara bacaan Al Qur’an, sedekah, dan pandangan mata dengan penyakit. Dari sisi medis sama sekali tidak bisa diuji dan dikaji. Karena masalah ini di luar kajian ilmu medis. Namun hal ini ditetapkan sebagai sebab berdasarkan dalil dan bukan berdasarkan penelitian ilmiyah. Berbeda dengan obat-obatan dokter, meskipun obat-obatan ini tidak ada dalam dalil, namun pengobatan ini telah terbukti ilmiyah secara medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari persyaratan ini berarti sebab tersebut tidak memiliki hubungan sebab akibat dengan kejadian tertentu. Sementara terdapat kaidah: “Barangsiapa yang menggunakan suatu sebab sementara sebab itu tidak memenuhi dua persyaratan di atas maka dia telah melakukan syirik (kecil).” Dikatakan sebagai perbuatan syirik karena orang yang melakukan perbuatan itu berarti telah berdusta atas nama Allah dalam masalah taqdir dan syari’at. Artinya orang tersebut meyakini bahwa Allah mentaqdirkan suatu sebab padahal Allah sama sekali tidak menjadikannya sebagi sebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mengklaim bahwasanya benda A atau cara A bisa digunakan sebagai obat atau sarana terapi penyembuhan maka untuk bisa diterima pernyataannya harus diuji terlebih dahulu dengan dua syarat di atas. Yang pertama kita tentukan, apakah benda atau cara tersebut telah terbukti secara ilmiah ataukah tidak? Jika tidak terbukti secara ilmiah, maka harus memenuhi persyaratan kedua, apakah ada dalil yang menyatakan bahwa benda A atau cara A merupakan obat ataukah tidak? Jika tidak ada dalilnya maka benda A atau cara A ini tidak memiliki hubungan sebab akibat, dan pelakunya telah terjerumus ke dalam syirik kecil. Untuk memudahkan pemahaman, mari kita bawa penjelasan di atas pada kasus “Ponari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang meyakini bahwa batu kecil yang dimiliki ponari mampu menyembuhkan penyakit. Dalam kasus ini, masyarakat tersebut menganggap bahwa batu milik Ponari merupakan sebab sembuhnya penyakit. Namun, benarkah anggapan bahwa batu tersebut memiliki hubungan sebab akibat dengan penyembuhan penyakit? Jawabannya bisa ditimbang dengan dua persyaratan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat pertama, bagaimanakah kesimpulan pakar medis terhadap batu milik Ponari, apakah bisa dijadikan obat ataukah tidak? Jika para pakar medis berkesimpulan bahwa batu tersebut sama sekali tidak bisa dijadikan obat karena tidak terbukti secara ilmiah, maka syarat pertama gagal terpenuhi. Kemudian kita beralih pada syarat kedua, apakah batu Ponari tersebut ada dalilnya dalam Al Qur’an atau Hadits? Jika tidak ada maka bisa disimpulkan bahwa batu Ponari tersebut bukanlah sebab kesembuhan dan tidak bisa dijadikan obat. Oleh karena itu, jika ada orang berkeyakinan bahwa batu Ponari adalah obat berarti dia telah terjerumus dalam syirik karena dia telah menganggap Allah menakdirkannya sebagai obat padahal bukan obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memahami kaidah dan teori ini, kita bisa mendapatkan jawaban dari setiap masalah yang tersebar di masyarakat terutama yang terkait dengan pengobatan Alternatif. Kasus pengobatan terapi CERAGEM, BATU GIOK, BIOENERGI, senam YOGA, TENAGA DALAM, JIMAT, sampai pada kasus rebutan tahi KEBO BULE, semuanya bisa dijawab dengan kaidah ini. Intinya segala sesuatu yang dianggap sebagai obat, bisa dijadikan sebagai obat jika terpenuhi persyaratan hubungan sebab akibat, yaitu dua syarat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1. Jika ada orang yang menggunakan sebab yang sesuai kriteria pertama namun sebab itu adalah sebab yang haram maka dinilai sebagai kemaksiatan dan bukan kesyirikan. Misalnya, untuk lulus ujian dengan nilai baik seseorang mengambil sebab dengan menipu atau mencontek.&lt;br /&gt;2. Telah dijelaskan bahwa orang yang mengambil sebab namun tidak terpenuhi kriteria pertama maka dia terjerumus ke dalam syirik kecil. Namun keadaan ini bisa menjadi syirik besar yang menyebabkan pelakunya jadi kafir jika pelakunya melakukan dua hal:&lt;br /&gt;• Dia meyakini bahwa kejadian hubungan sebab-akibat tersebut keluar dari taqdir Allah. Patut dibedakan bahwa yang dinilai sebagai syirik kecil adalah jika orang yang menggunakan sebab yang tidak memenuhi dua kriteria di atas masih meyakini bahwa sebab tersebut berpengaruh dengan taqdir Allah. Namun jika diyakini bahwa sebab tersebut berpengaruh di luar taqdir Allah maka hukumnya menjadi syirik besar. Misalnya, orang yang berobat dengan batu “Ponari”. Jika dia meyakini bahwa batu tersebut bisa menyembuhkan dengan taqdir Allah maka hukumnya syirik kecil. Namun jika diyakini bahwa batu tersebut bisa menyembuhkan dengan sendirinya di luar taqdir Allah maka hukumnya syirik besar.&lt;br /&gt;Hal ini perlu untuk ditegaskan mengingat adanya sebagian orang yang beranggapan bahwa selama orang itu masih meyakini kalau yang mentaqdirkan pengaruh sebab itu adalah Allah maka tidak dinilai kesyirikan.&lt;br /&gt;• Ketika menggunakan sebab tersebut, orangnya harus melakukan ritual tertentu terhadap benda itu agar dia bisa berpengaruh maka dia terjerumus ke dalam syirik besar yang dapat menyebabkan pelakunya keluar dari islam. Meskipun ritual tersebut dibalut dengan kedok ajaran islam, seperti puasa ngebleng, puasa tiga hari tanpa berbuka, dzikir-dzikir yang tidak ada tuntunannya dalam syariat, shalat ratusan rakaat, dan yang semacamnya. Karena pada hakekatnya orang tersebut telah menyerahkan peribadatan kepada selain Allah. Dia melakukan ritual-ritual yang dibuat mirip dengan ajaran islam tersebut tujuannya bukan untuk Allah tetapi untuk benda. Kasus ini banyak dijumpai pada orang yang “demen” dengan jimat. Orang yang menggunakan jimat untuk kesaktian, kekebalan, atau susuk kecantikan umumnya melakukan ritual-ritual tertentu sebelum menggunakannya dengan harapan jimat tersebut bisa berpengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria batin ketika mengambil sebab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan suatu sebab yang dizinkan oleh syariat, yaitu sebab yang memenuhi salah satu dari dua syarat kriteria zhahir di atas, berikutnya kita diharuskan menata hati dan batin ketika menggunakan sebab tersebut. Ada dua hal yang harus dilakukan ketika orang menggunakan sebab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, hati harus tetap bersandar kepada Allah dan tidak bersandar kepada sebab. Maksudnya, ketika menggunakan sebab tersebut untuk mencapai apa yang diinginkan, hati harus tetap bertawakkal kepada Allah dengan tetap memohon pertolongan kepada-Nya agar sebab tersebut bisa memberikan pengaruh. Hatinya tidak boleh condong kepada sebab tersebut sehingga pasrah sepenuhnya kepada sebab dan bukan kepada Allah. Orang yang hatinya condong dan terlalu bersandar pada sebab maka dia terjerumus ke dalam syirik kecil, meskipun dia meyakini bahwa Allah-lah yang mentaqdirkan segala sesuatu.&lt;br /&gt;Misalnya, ada orang berobat ke dokter. Agar tidak melanggar larangan dalam aqidah, orang tersebut tetap harus bersandar kepada Allah dan tidak boleh pasrah kepada dokter.&lt;br /&gt;Ada beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa seseorang telah bersandar pada sebab, di antaranya:&lt;br /&gt;• Merasa yakin akan keberhasilan dalam melakukan sesuatu setelah menggunakan sebab tertentu. Misalnya, merasa yakin bisa sembuh karena obat yang diberikan dokter.&lt;br /&gt;• Merasa sedih dan kecewa berat terhadap kegagalan padahal dirinya telah melakukan langkah-langkah yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tetap berkeyakinan bahwa apapun kehebatan sebab tersebut semua tergantung pada taqdir Allah. Artinya jika Allah menghendaki sebab itu berpengaruh, maka akan menghasilkan akibat. Sebaliknya jika Allah menghendaki tidak berpengaruh, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Jika ada orang yang berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang bisa berpengaruh di luar taqdir Allah, maka dia terjerumus ke dalam syirik besar, karena dia telah menganggap adanya penguasa taqdir selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa perbedaan pelanggaran pada kriteria batin yang pertama dan pelanggaran pada kriteria batin yang kedua?&lt;br /&gt;Untuk pelanggaran pada kriteria batin yang pertama orang tersebut masih meyakini bahwa Allah-lah yang mentaqdirkan terjadinya sebab akibat. Namun dirinya terlalu bersandar kepada sebab dan bukan kepada Allah. Pelanggaran ini berdampak pada kasus syirik kecil atau para ulama sering mengistilahkan dengan syirik khofi (samar). Sedangkan pelanggaran pada kriteria batin yang kedua, orang tersebut meyakini bahwa hubungan sebab-akibat tersebut terjadi di luar taqdir Allah. Di antara bentuk pelanggaran ini adalah sikap sebagian orang mengingkari mukjizat kenabian. Seperti mengingkari kebenaran mukjizat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang selamat ketika dibakar api. Dia menganggap tidak mungkin tubuh manusia bisa tahan dari kobaran api yang menyelimutinya. Kemudian dia mendustakan kisah Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam. Padahal bisa jadi hal itu terjadi jika Allah berkehendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, perlu kami ingatkan bahwa syirik kecil bukanlah dosa kecil. Syirik kecil dosanya lebih besar dibandingkan dosa besar. Besar maupun kecil, syirik adalah bentuk kezhaliman yang besar terhadap hak Allah. Jika dosa ini dibawa mati sebelum bertaubat maka Allah tidak akan mengampuninya. Berbeda dengan dosa besar. Ada kemungkinan Allah mengampuninya jika Allah menghendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Rujukan pembahasan di atas: Al Qoulus Sadid Syarah Kitab Tauhid, Syaikh As Sa’di dan Mutiara Faidah Kitab At Tauhid, Ust. Abu Isa hafizhahullah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ada yang sembuh setelah minum air “Ponari Sweat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa sesuatu yang benar terjadi belum tentu dibenarkan. Sihir mungkin bisa mendatangkan keuntungan, di samping mendatangkan kerugian. Dengan sihir, suami istri yang hubungannya retak bisa disatukan kembali. Namun, kalau ini benar terjadi, sihir tetap tidak dibenarkan. Allah telah menyatakan bahwa orang yang melakukan sihir tidaklah beruntung di dunia dan akhirat. Maka melakukan sihir tetap terlarang. Bahkan mengenai bahaya sihir juga sebenarnya sudah diketahui yaitu tidak mendatangkan manfaat dan mendatangkan kerugian di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.” (QS. Al Baqarah [2]: 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ada yang berdo’a dengan do’a yang haram dan do’anya dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa belum tentu yang dia lakukan diridhoi oleh Allah. (Iqtdho’ Ash Shirothil Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tahqiq: Dr. Nashir ‘Abdul Karim Al ‘Aql, 2/214-215)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ada yang berobat dengan cara yang haram bahkan bernilai kesyrikan seperti mendatangkan bantuan jin, lalu tiba-tiba penyakitnya itu sembuh dengan melakukan semacam ini, maka ini juga tidak menunjukkan bahwa melakukan perbuatan semacam ini dibenarkan dan diridhoi. Juga dalam kasus Ponari ini, jika memang ada yang mendatangi Ponari, lalu meminum air “Ponari Sweat”, lalu sembuh, maka ini juga tidak menunjukkan bahwa pengobatan tersebut dibenarkan. Jadi ingatlah selalu kaedah ini: “Sesuatu yang riil (nyata) terjadi, belum tentu benar dan diridhoi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan barangkali ini adalah kebinasaan perlahan-lahan yang sengaja Allah berikan melalui kesembuhan setelah minum air Ponari. Karena tidak selamanya nikmat diberikan karena kemuliaan seseorang. Boleh jadi tanpa dia rasakan, dia terlena pada kenikmatan yang Allah berikan melalui kesembuhan, harta, umur, dan sebagainya. Namun akhirnya, keadaan orang ini akan binasa. Oleh karena itu, janganlah kita terperdaya dengan kenikmatan yang semu. Jadi semata-mata sembuh setelah minum air Ponari tidak menunjukkan benarnya pengobatan tersebut. Ingatlah baik-baik hal ini.&lt;br /&gt;Allahu waliyyut taufiq…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang bisa kami sampaikan semoga kita diselamatkan dari berbagai macam fitnah. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Penulis: Ammi Nur Baits, dilengkapi oleh Muhammad Abduh Tuasikal]</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/11/ponari-sweat.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-4935064682570274838</guid><pubDate>Wed, 11 Nov 2009 02:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-11T09:57:58.810+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tauhid</category><title>Apakah Allah Membutuhkan Perantara?</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh : Ari Wahyudi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan”&lt;/em&gt; (QS. Al-Mu’min : 60). Setiap hamba pasti membutuhkan sesuatu yang menopang kehidupannya, sehingga dia akan berusaha untuk meraihnya. Ketika mereka tertimpa bencana, mereka pun bersimpuh dan memohon kepada Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; agar dilepaskan dari marabahaya. Namun sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin justru terjerumus ke dalam praktek-praktek kesyirikan tanpa mereka sadari karena berdo’a untuk menggapai keinginan mereka itu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span id="more-97"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- more --&gt;&lt;br /&gt;Niat Baik Kaum Musyrikin&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam berdoa kepada Allah, kita tidak perlu melalui perantara, karena hal itu termasuk perbuatan syirik. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Dan mereka (kaum musyrikin) beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak sanggup mendatangkan madharat dan manfaat untuk mereka. Dan mereka beralasan, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah’”&lt;/em&gt; (QS. Yunus : 18). Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; juga berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong mengatakan, ‘Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka, melainkan hanya supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’ ” &lt;/em&gt;(QS. Az-Zumar : 3).&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam dua ayat ini Allah menjelaskan kepada kita tentang alasan yang diajukan oleh kaum musyrikin untuk mendukung kesyirikan mereka. Mereka berkata bahwa mereka memiliki niat yang baik. Mereka hanya ingin menjadikan orang-orang shalih yang sudah meninggal sebagai perantara doa mereka kepada Allah. Mereka menganggap bahwa diri mereka penuh dengan dosa, sehingga tidak pantas untuk langsung berdoa kepada Allah. Sedangkan orang-orang shalih memiliki keutamaan di sisi Allah. Mereka ingin agar semakin dekat dengan Allah dengan perantaraan orang-orang shalih itu. Tidak ada yang mencela niat baik ini. Akan tetapi, lihatlah cara yang mereka tempuh. Mereka meminta syafaat kepada orang-orang yang sudah meninggal. Padahal Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; sudah menegaskan yang artinya, &lt;em&gt;“Katakanlah, ‘Semua syafaat itu pada hakikatnya adalah milik Allah’ “&lt;/em&gt; (QS. Az-Zumar : 44). Dan meminta kepada orang yang sudah meninggal adalah termasuk perbuatan &lt;strong&gt;syirik akbar&lt;/strong&gt; yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Oleh karena itu, niat baik kaum musyrikin ini tidak bermanfaat sama sekali karena cara yang mereka tempuh adalah kesyirikan, perbuatan yang merupakan penghinaan kepada Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“&lt;strong&gt;Kami ‘kan bukan orang musyrik”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau ayat-ayat di atas kita sampaikan kepada para penyembah kubur para wali pada masa kini, tentulah mereka akan mengingkari sikap kita dengan keras. Bisa jadi mereka akan mengatakan, “Ayat-ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang musyrik yang memuja patung. Sedangkan kami ini bukanlah pemuja patung. Kami sekedar menjadikan orang-orang shalih yang sudah wafat itu sebagai perantara. Lantas bagaimana kalian ini kok menilai orang shalih sama halnya dengan patung?!” Maka seorang muslim yang benar-benar memahami tauhid tentu akan bisa menanggulangi &lt;em&gt;syubhat&lt;/em&gt; (kerancuan pemahaman) mereka ini.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Shalih Al-Fauzan &lt;em&gt;hafizhahullah &lt;/em&gt;menjelaskan bahwa Allah telah menceritakan bahwa kaum musyrikin itu sendiri ternyata memiliki sesembahan yang beraneka ragam, tidak hanya patung. Ada juga di antara mereka yang menyembah wali, orang-orang shalih, bahkan para malaikat. Meskipun demikian, Allah tetap menyamakan hukum atas mereka dan tidak membeda-bedakannya. Maksudnya, mereka sama-sama kafir. Allah berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Pada hari mereka semua dikumpulkan, kemudian para malaikat ditanya, ‘Apakah semasa hidup di dunia mereka beribadah kepada kalian? ‘Malaikat menjawab, ‘Maha Suci Engkau, Engkau lah penolong kami. Sebenarnya mereka itu telah beribadah kepada jin. Kebanyakan mereka beriman kepada jin.’ ” &lt;/em&gt;(QS. Saba’: 40-41). Ayat ini menunjukkan bahwasannya di antara kaum musyrikin itu ada yang menyembah malaikat. Akan tetapi, para malaikat berlepas diri dari perbuatan mereka itu pada hari kiamat. Para malaikat mengatakan bahwa mereka tidak memerintahkan kaum musyrikin untuk melakukan hal itu, dan mereka pun tidak senang terhadapnya. Padahal kita telah mengetahui bersama bahwa para malaikat itu adalah termasuk makhluk yang paling shalih. Demikian pula halnya dengan peribadatan yang ditujukan kepada para Nabi dan para wali, semuanya tetap disebut sebagai kesyirikan. Karena ibadah adalah hak Allah semata, tidak boleh dibagi-bagi kepada selain-Nya. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah, namun diiringi dengan beribadah kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik dan keluar dari Islam (lihat &lt;em&gt;Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat&lt;/em&gt;, Syaikh Shalih Al-Fauzan).&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apakah Kalian Mengingkari Syafaat ?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan keterangan di atas, mungkin ada orang yang bertanya kepada kita, “Apakah kalian mengingkari syafaat? Yang saya lakukan ini bukanlah meminta kepada selain Allah. Akan tetapi saya hanya mencari syafaat Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Bukankah pada hari kiamat nanti beliau akan memberikan syafaat ?!” Maka kita jawab pertanyaan mereka bahwa kita sama sekali tidak mengingkari syafaat. Syafaat Nabi itu benar adanya. Akan tetapi, syafaat itu tidak boleh diminta kepada Nabi yang telah wafat. Syafaat itu hanya boleh diminta kepada Allah, karena syafaat itu memang hak-Nya. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; menegaskan yang artinya, &lt;em&gt;“Katakanlah, ‘Semua syafaat itu pada hakikatnya adalah milik Allah’ “&lt;/em&gt; (QS. Az-Zumar : 44). Nabi tidaklah menguasai pemberian syafaat. Dan syafaat juga tidak bisa memberikan manfaat untuk setiap orang. Syafaat hanya akan bermanfaat bagi orang-orang yang bertauhid. Terdapat dua syarat agar syafaat diterima. Pertama, diminta kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Kedua, orang yang diberi syafaat termasuk orang yang bertauhid (lihat &lt;em&gt;Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat&lt;/em&gt;, Syaikh Shalih Al-Fauzan).&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tawassul,&lt;/em&gt; yang Terlarang dan yang Dibolehkan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Tawassul &lt;/em&gt;atau mengambil perantara dalam beribadah kepada Allah dalam bentuk berdoa kepada orang yang sudah meninggal atau tidak hadir adalah bentuk kesyirikan. Namun, ada pula &lt;em&gt;tawassul &lt;/em&gt;yang diperbolehkan, yaitu: (1) Menyebut nama-nama atau sifat-sifat Allah pada permulaan berdoa (dengan menyesuaikannya dengan permintaan yang dimohon, -ed) seperti mengatakan,”&lt;em&gt;Yaa Ghafuur, ighfirlii&lt;/em&gt;” (“Wahai Yang Maha pengampun, ampunilah hamba”); (2) Meminta kepada orang shalih yang masih hidup dan bisa memahami permintaan agar mendoaakan kebaikan baginya, sebagaimana Khalifah Umar yang meminta tolong paman Nabi Al-’Abbas untuk berdo’a bagi kaum muslimin; (3) Menyebutkan amal shalih yang pernah dilakukannya sebagaimana kisah 3 orang yang terperangkap di dalam gua.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Faedah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nah, dengan pemaparan yang amat ringkas ini kita dapat memahami bahwa sebenarnya aqidah Islam yang diwariskan oleh Rasul dan para sahabat adalah aqidah yang sangat mulia. Islam menghendaki agar kita hanya bergantung kepada Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;. Islam menghendaki agar kita memahami hakikat sesuatu sebelum mengikuti ataupun menolaknya. Islam menghendaki agar kita berpikir dan tidak terjebak dalam kebekuan berpikir (kejumudan). Allah tidak membutuhkan siapa pun sebagai perantara (&lt;em&gt;wasilah&lt;/em&gt;)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dalam hal ibadah. Di sisi lain, Allah juga mengangkat Rasul sebagai perantara (&lt;em&gt;wasilah&lt;/em&gt;) untuk menyampaikan tata cara beribadah yang benar kepada-Nya. Barangsiapa yang mengingkari &lt;em&gt;wasilah &lt;/em&gt;yang pertama, maka dia adalah seorang mukmin. Dan barangsiapa yang mengingkari &lt;em&gt;wasilah &lt;/em&gt;yang kedua, maka dia kafir. &lt;em&gt;Wallahu a’lam bish-shawaab. &lt;/em&gt;[Ari Wahyudi]&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;               &lt;div class="post_meta"&gt;               sumber :http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/11/apakah-allah-membutuhkan-perantara.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-8204645078266592909</guid><pubDate>Mon, 09 Nov 2009 01:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-09T09:06:00.221+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">MP3</category><title>Aqidah syi'ah (mp3)</title><description>&lt;div&gt;silakan download mp3 ceramah tentang aqidah syi'ah oleh ust. Abdul Hakim bin amr abdat di link di bawah ini :&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/77730527/6ea4ca40/Aqidah_Syiah_01.html"&gt;Aqidah syi'ah 1&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/77790059/8a26abca/Aqidah_Syiah_02.html"&gt;Aqidah syi'ah 2&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/77794351/9d90af6/Aqidah_Syiah_03.html"&gt;Aqidah syi'ah 3&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/77790059/8a26abca/Aqidah_Syiah_02.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/77732176/c9d46ec4/Aqidah_Syiah_04.html"&gt;Aqidah syi'ah 4&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/11/aqidah-syiah-mp3.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-1985047210316156472</guid><pubDate>Thu, 08 Oct 2009 02:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-11T10:03:22.644+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Akhlak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">musibah</category><title>Banyak Gempa Bumi Dan Banyaknya Kematian Mendadak</title><description>Oleh&lt;br /&gt;Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUKADIMAH&lt;br /&gt;Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang nampak.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, katanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak akan datang Kiamat sehingga banyak terjadi gempa bumi" [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan 13 : 81-82]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diriwayatkan dari Salamah bin Nufail As-Sukuni, Ia berkata : Kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau menyebutkan suatu hadits yang antara lain isinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sebelum terjadinya hari Kiamat akan terdapat kematian-kematian yang mengerikan, dan sesudahnya akan terjadi tahun-tahun gempa bumi" [Musnad Imam Ahmad 4 : 104 dengan catatan pinggir Muntakhab Al-Kanz. Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, Al-Bazaar, dan Abu Ya'ala dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan" Majmu'uz Zawa'id 7 : 306]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata, "Telah banyak terjadi gempa bumi di negara-negara bagian utara, timur dan barat, tetapi yang dimaksud oleh hadits ini ialah gempa bumi secara merata dan terus menerus" [Fathul Bari 13 : 87]. Hal ini diperhatikan dengan riwayat Abdullah bin Hawalah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah meletakkan tangan beliau di kepala saya, lalu beliau bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wahai putra Hawalah, jika engkau melihat perselisihan telah terjadi di tanah suci, maka telah dekat terjadinya gempa-gempa bumi, bala bencana, dan perkara-perkara yang besar, dan hari Kiamat pada waktu itu lebih dekat kepada manusia dari pada kedua tanganku ini terhadap kepalamu" [Musnad Ahmad, 5 : 188 dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul 'Ummal, 'Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abu Daud, Kitab Al-Jihad, Bab Fi-Ar-Rajuli Taghzuu wa yaltamisu Al-Ajra wa Al-Ghanimah 7 : 209-210, Mustadrak Al-Hakim 4 : 425, dan beliau berkata, "Ini adalah hadits yang shahih isnadnya, hanya saja Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya". Perkataan Al-Hakim ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dan Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam shahih Al-Jami'ush Shagir 6 : 263, hadits nomor 7715]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAKNYA KEMATIAN MENDADAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan secara marfu' dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari Kiamat ialah â€¦ banyak terjadi kematian secara mendadak". [Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shagir dan Al-Ausath dari gurunya Al-Haitsam bin Khalid Al-Mashishi, sedangkan dia itu dhaif". Majma'uz-Zawaid 7 : 325, Al-Albani berkata, "Hasan" Dan beliau menyebutkan orang-orang yang meriwayatkannya, yaitu Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Adh-Dhiya' Al-Maqaddasi. Lihat : Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 5 : 214, hadits nomor 5775]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan kejadian yang sudah dapat disaksikan pada masa sekarang di mana banyak terjadi kematian mendadak pada manusia. Maka anda dapat menyaksikan seseorang yang tadinya sehat dan segar bugar, tiba-tiba ia mati secara mendadak, yang sekarang diistilahkan dengan kegagalan jantung atau serangan jantung. Karena itu bagi orang yang berakal sehat, hendaklah ia sadar dan kembali serta bertaubat kepada Allah Ta'ala sebelum datangnya kematian secara mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari Rahimahullah pernah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Peliharalah keutamaan ruku'mu pada waktu senggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, boleh jadi kematianmu akan datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tiba-tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata : "Sungguh ajaib, bahwa kematian secara mendadak ini juga menimpa beliau â€“Imam Bukhari- sendiri' [Hadyus-Sari Muqaddimah Fathul Bari, halaman 481, oleh Al-Hafizh Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalani, dengan ikhraj dan tashhih oleh Muhibbuddin Al-Khatib, dicetak oleh Qushay Muhibuddin Al-Khathib, dipublikasikan dan dibagi-bagikan oleh Riasah Idaaratil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta'. Riyadh]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 132 -133, 154-155 terbitan Pustaka Mantiq, penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]&lt;br /&gt;sumber : al manhaj.or.id</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/10/banyak-gempa-bumi-dan-banyaknya.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-1854689084348585250</guid><pubDate>Thu, 08 Oct 2009 02:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-11T10:05:36.442+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Akhlak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">musibah</category><title>Ada Apa Di Balik Gempa ?</title><description>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh. Prof. Dr. Abdurrazzak bin Abdul Muhsin Al Badr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan, ampunan dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan kejelekan amalan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, pilihan dan kekasih-Nya, yang Dia percayai untuk menyampaikan wahyu dan syariat-Nya kepada umat manusia. Semoga shalawat Allah dan salam-Nya senantiasa tercurah kepada beliau, serta semua keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum mukminin dan para hamba Allah… Bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya orang yang bertakwa kepadaNya akan dijaga dan dibimbing oleh-Nya kepada kebaikan urusan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini dunia seisinya membicarakan sebuah peristiwa besar, yaitu gempa dahsyat yang karenanya bumi tergoncang hebat, dia berasal dari satu pulau di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya bumipun bergoncang dahsyat kemudian timbul setelahnya badai besar Tsunami dan angin topan yang melumat berbagai kota dan banyak desa. Bahkan sebagian tenggelam tertutup air sama sekali, seketika itulah meninggal ratusan bahkan ribuan jiwa. Data terakhir menyebutkan bahwa korban mencapai 120 ribu jiwa. Mereka meninggal dalam satu waktu akibat tenggelam oleh air yang menerjang rumah, sawah, dan berbagai sarana hidup mereka!. Data ini bukanlah data final. Sebab diprediksi bahwa jumlah korban jauh lebih besar dari jumlah ini. Di samping itu, puluhan ribu orang luka-luka, serta jutaan yang lain kehilangan harta benda dan tempat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah peristiwa besar yang semestinya menggerakkan hati kita. Karenanya, dunia seisinya membicarakannya dan mengikuti berita serta perkembangannya. Seorang mukmin yang dikaruniai taufiq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam kejadian dan musibah besar seperti ini, harus melakukan berbagai renungan keimanan, sehingga akan menambah keshalihan dan kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga menambah rasa takutnya untuk bertemu dan berhadapan dengan-Nya. Selain itu ia juga akan mengambil hikmah dan pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab itu, setelah peristiwa besar ini kita harus merenungi beberapa hal yang harus senantiasa diingat dan disadari sepenuhnya oleh setiap muslim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama:&lt;br /&gt;Peristiwa ini dan semisalnya akan membimbing seorang muslim pada suatu perkara –yang telah dia yakini- yaitu bertambahnya keimanan dia akan kesempurnaan kuasa dan kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta meyakini bahwa Allah-lah yang mengatur alam ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan memutuskan apa yang Ia inginkan. Tidak ada seorangpun yang bisa menolak keputusan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Yang Berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)".[Al An'am : 65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari "azab dari atas" dalam ayat tersebut adalah seperti petir, halilintar yang menghancurkan, dan angin topan. Adapun makna “azab dari&lt;br /&gt;bawah" adalah seperti gempa dan tanah longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca ayat: “Yang Berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu.” Beliau bersabda: "Aku berlindung dengan wajah Allah yang mulia". Dan ketika membaca: “atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain.” Beliau bersabda : "Ini lebih ringan". [HR Bukhari].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian renungkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya beraneka-ragamnya tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntun kita kepada pemahaman, keimanan dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)” Yakni: agar mereka memahami tujuan yang harus diwujudkan dari penciptaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua:&lt;br /&gt;Peristiwa ini betul-betul salah satu tanda-tanda agung kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dengannya Dia menumbuhkan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan tidaklah kami mengirimkan tanda-tanda itu kecuali untuk menakuti". [Al Isra : 59]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya ; Allah Subhanahu wa Ta’ala menumbuhkankan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya dengan tanda-tanda yang agung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Qatadah rahimahullah: "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda kekuasaan yang Dia kehendaki, agar mereka mengambil pelajaran, ingat dan kembali (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)". Adapun penisbatan peristiwa ini kepada alam, itu termasuk dalam kejahiliyahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hendaknya seorang mu'min takut, merenung dan mengambil pelajaran ; bahwasanya Yang telah menimpakan musibah kepada saudara-saudaranya, Maha Kuasa untuk menimpakan hal yang serupa atau lebih kepada selain mereka. Jatuh korban 120.000 jiwa atau lebih dalam satu waktu!. Adakah di antara kita yang mengambil hikmah dan pelajaran?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga:&lt;br /&gt;Setelah kejadian ini mari kita renungi bersama nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa menetapnya bumi, sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tetap". [Ghafir : 64]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya : Tidak bergoncang-goncang atau bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita renungi dari sini, betapa besar Dzat yang memegang bumi ini, sehingga dia menetap dan tidak bergoncang atau bergoyang. Bayangkan bagaimana jika bumi yang kita berjalan di atas permukaannya selalu bergoncang dan bergetar, bisakah kita hidup di atasnya?, bisakah kita tidur?, bisakah kita bekerja? (tentu jawabnya adalah : tidak -pent). Jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan karunia-Nya kepada kita berupa ketenangan dan menetapnya bumi ini. Maka hendaknya kita mengambil pelajaran dari nikmat ini, lantas kita bandingkan dengan gempa yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari waktu ke waktu ; hingga kita bisa mengambil kesimpulan : Betapa besar karunia ketenangan bumi dan alangkah sempurnanya nikmat ini. Jika bumi ini bergoncang dalam sekejap saja, telah memakan korban 120 ribu jiwa, bagaimana jika bergoncang sehari penuh, atau berhari-hari, apa yang akan terjadi dengan manusia di permukaannya???.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya adalah tidak meluapnya lautan hingga menenggelamkan semua daratan. Padahal kita tahu bahwa luas lautan di muka bumi ini dua pertiga luas daratan. Allah-lah yang Maha Kuasa untuk menahan air laut hingga tidak meluap ke daratan, padahal Dia mampu untuk menenggelamkan seluruh daratan!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa ambil pelajaran dari sejarah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera" [Al Haqqah : 11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu jauh-jauh, bencana yang baru saja terjadi bisa menggambarkan bagi kita hal itu ; air telah menenggelamkan berbagai daerah secara total, hingga semua yang berada di atasnya mati, tidak tersisa seorangpun jua. Dua karunia ini ; menetapnya bumi dan tidak meluapnya lautan ke daratan haruslah kita syukuri, sembari kita panjatkan puji kepada-Nya atas segala curahan nikmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat :&lt;br /&gt;Bumi adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia-lah yang telah menciptakannya dan menjadikannya ada. Dia pula yang telah menciptakan manusia dia atasnya. Maka Dia pula-lah yang berhak untuk bertindak sekehendak-Nya. Perhatikanlah sebagian perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap bumi-Nya dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesunguhnya Kami mendatangi bumi, lalu kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya ; Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya". [Ar-Ra'd: 41]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud dari "Kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya" adalah dengan tenggelamnya (sebagian bumi -pent), gempa dan berbagai macam bencana. Jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengurangi bumi dari tepi-tepinya sesuai dengan kehendak-Nya, tidak ada yang bisa menolak keputusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita telah sadar bahwa bumi ini adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan yang berhak untuk bertindak di dalam-Nya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala juga; maka mari kita sama-sama merenungi apa hikmah di balik penciptaan kita di muka bumi ini?. Tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka menegakkan kalimat tauhid Allah Subhanahu wa Ta’ala, mentaati perintah-Nya, mengikuti syari'at-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, patuh terhadap perintah-Nya dan perintah rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam;. Kita wajib beriman terhadap ayat-ayat yang jelas, hujjah-hujjah yang tinggi serta dalil-dalil agung yang menjelaskan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kewajiban untuk taat kepada-Nya lantas mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya. Hingga kita dapat menjalankan tujuan penciptaan kita dengan sempurna ; yaitu menjalankan perintah-Nya dan mengikuti rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima:&lt;br /&gt;Seharusnya seorang muslim bersikap tenang dalam menghadapi musibah yang menimpanya atau menimpa saudaranya ; yakni dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakin dan bertawakkal kepada-Nya. Sesungguhnya musibah itu akan membuahkan bertambahnya iman seorang mu'min, bertambah baiknya hubungan dia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta semakin sempurna kedekatan dia dengan-Nya. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Alangkah mengagumkan kondisi seorang mu'min; seluruh perkaranya adalah kebaikan. Jika dia mendapatkan nikmat, bersyukur, dan itu adalah merupakan kebaikan baginya. Dan jika dia tertimpa musibah, bersabar, itupun merupakan kebaikan baginya". [HR Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal ini tidak akan ada kecuali dalam diri seorang mu'min.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam:&lt;br /&gt;Sesungguhnya seorang yang beriman akan sadar bahwa musibah-musibah ini tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dosa-dosa. Tidaklah terjadi suatu malapetaka melainkan gara-gara perbuatan dosa, dan malapetaka itu tidak akan dicabut (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) kecuali dengan taubat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya". [Al-'Ankabut : 40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat inilah seharusnya seorang mu'min mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa taubat dan berserah diri kepada-Nya, sehingga dia dapat memetik pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain. "Sesungguhnya orang yang bahagia adalah yang dapat memetik pelajaran dari (apa yang menimpa) saudaranya, kebalikannya orang yang merugi adalah jika saudaranyalah yang mengambil pelajaran dari apa yang menimpa dirinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh :&lt;br /&gt;Terakhir, kita memiliki beberapa kewajiban terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa musibah besar ini, di antaranya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]. Berdo'a agar Allah Subhanahu wa Ta’ala meringankan penderitaan mereka, serta menjadikan musibah ini sebagai titik tolak bagi mereka untuk kembali kepada kebaikan dan bertaubat kepada-Nya. Kita juga memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menenangkan ketakutan mereka, menutupi aurat mereka dan memberi rizki orang-orang yang ditimpa kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Juga kita berkewajiban untuk mengulurkan tangan membantu mereka semampu kita. Saat ini ribuan orang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal, rumah, makanan dan minuman. Sedangkan kita hidup dalam kenikmatan. Bersyukurlah kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala atas nikmat dan karunia-Nya, kemudian bantulah saudara-saudara kita semampunya!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tutup khutbah ini dengan sebuah doa agung dan berbarakah, yang selalu dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam; setiap malam sebelum merebahkan tubuhnya di peraduan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kita makan, minum dan mencukupi kita, serta memberi kita tempat tinggal. Betapa banyak orang yang tidak mendapatkan yang mencukupi dia serta memberi dia tempat tinggal". [HR Muslim dari Anas bin Malik]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin (3X), hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, serta hancurkanlah musuh-musuh agama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ringankanlah musibah yang menimpa saudara-saudara kami di manapun mereka berada, kuatkanlah mereka wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah. Ya Allah, tenangkanlah rasa takut mereka, obatilah kelaparan dan dahaga mereka, tutupilah aurat mereka, karuniakanlah kepada mereka tempat tinggal yang baik, wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, kembalikanlah kami dan mereka kepada-Mu dengan baik, berilah kami taufik untuk bertaubat kepada-Mu, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang beriman dan mengikuti rasul-Mu Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, juga karuniailah kami -wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah- taufik untuk mengerjakan hal-hal yang Engkau cintai dan ridhai, bantulah kami untuk melakukan kebaikan dan ketakwaan, janganlah Engkau jadikan kami bergantung kepada diri sendiri, meskipun hanya sekejap mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, baik yang kecil maupun yang besar, yang terdahulu maupun yang akan datang, serta yang tersembunyi maupun yang terlihat. Ya Allah, sesungguhnya kami telah mendzalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang merugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ini yang dapat kami sampaikan, kami mohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita dan seluruh kaum muslimin dari segala dosa, mintalah ampun kepada-Nya, niscaya Dia akan ampuni. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ditranskrip dan diterjemahkan dari khutbah Jum'at Syeikh. Prof. Dr. Abdur Razzak bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr –Hafizhahullahu- oleh : Anas Burhanuddin dan Abdullah Zaen (Mahasiswa S-2 Univ. Islam Madinah. Disebarkan oleh FSMS (Forum Silaturrahim Mahasiswa as-Sunnah) Surabaya 2004/1425]&lt;br /&gt;sumber : Al manhaj.or.id</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/10/ada-apa-di-balik-gempa.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-8316205137634432235</guid><pubDate>Thu, 08 Oct 2009 02:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-11T10:11:57.026+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">fatwa seputar hari raya</category><title>Nasehat Dalam Menghadapi Musibah ; Gempa Bumi Dan Bencana Alam</title><description>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua syari’at dan semua yang diperintahkan. Allah menciptakan tanda-tanda apa saja yang dikehendakiNya, dan menetapkannya untuk menakut-nakuti hambaNya. Mengingatkan terhadap kewajiban mereka, yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla. Mengingatkan mereka dari perbuatan syirik dan melanggar perintah serta melakukan yang dilarang.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Artinya : Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti” [Al-Israa : 59]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FirmanNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” [Fushilat : 53]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Aza wa Jalla berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Katakanlah (Wahai Muhammad) : “Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebahagian yang lain” [Al-An’am : 65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Shahih-nya dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,dia (Jabir) berkata : “sifat firman Allah Azza wa Jalla “ Qul huwal al-qaadiru ‘alaa an yab’atsa ‘alaikum ‘adzaaban min fawuqikum” turun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a : “Aku berlindung dengan wajahMu”, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan (membaca) “ Awu min tajti arjulikum”, Rasulullah berdo’a lagi, “Aku berlindung dengan wajahMu” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Syaikh Al-Ashbahani dari Mujtahid tentang tafsir ayat ini : “Qul huwal al-qaadiru ‘alaa an yab’atsa ‘alaikum ‘adzaaban min fawuqikum”. Beliau mengatakan, yaitu halilintar, hujan batu dan angin topan. ““ Awu min tajti arjulikum”, gempa dan tanah longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah, bahwa musibah-musibah yang terjadi pada masa-masa ini di beberapa tempat termasuk ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan yang digunakan untuk menakut-nakuti para hambaNya. Semua yang terjadi di alam ini, (yakni) berupa gempa, longsor, banjir dan peritiwa lain yang menimbulkan bahaya bagi para hamba serta menimbulkan berbagai macam penderitaan, disebabkan oleh perbuatan syirik dan maksiat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [Asy-Syuura : 30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri” [An-Nisaa : 79]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang umat-umat terdahulu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” [Al-Ankabut : 40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajib bagi setiap kaum Muslimin yang mukallaf dan yang lainnya, agar bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, konsisten diatas diin (agama)Nya, serta waspada terhadap semua yang dilarang, yaitu berupa perbuatan syirik dan maksiat. Sehingga, mereka selamat dari seluruh bahaya di dunia dan akhirat, serta Allah menolak semua adzab dari mereka, dan menganugrahkan kepada mereka segala jenis kebaikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [Al-A’raaf : 96]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman tentang Ahli Kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” [Al-Maidah : 66]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi” [Al-A’raaf : 97-99]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Alamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : ”Pada sebagian waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ijin kepada bumi untuk bernafas, lalu terjadilah gempa yang dahsyat. Dari peristiwa itu, lalu timbul rasa takut pada diri hamba-hamba Allah, taubat dan berhenti dari perbatan maksiat, tunduk kepada Allah dan penyesalan. Sebagaimana perkataan ulama Salaf, pasca gempa. ”Sesungguhnya Rabb kalian mencela kalian”, Umar bin Khaththab Radhiyallahu ’anhu, pasca gemba di Madinah menyampaikan khutbah dan nasihat ; beliau Radhiyallahu ’anhu mengatakan, ”Jika terjadi gempa lagi, saya tidak akan mengijinkan kalian tinggal di Madinah”. Selesai perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atsar-atsar dari Salaf tentang hal ini sangat banyak. Maka saat terjadi gempa atau peristiwa lain, seperti gerhana, angin ribut atau banjir, wajib segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, merendahkan diri kepadaNya dan memohon afiyah kepadaNya, memperbanyak dzikir dan istighfar. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya : Jika kalian melihat hal itu, maka segeralah berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, berdo’a dan beristighfar kepadaNya” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan juga menyayangi fakir miskin dan bershadaqah kepada mereka. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya : Kasihanilah, niscaya kalian akan dikasihani” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya : orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Kasihinilah yang di muka bumi, kalian pasti akan dikasihani oleh (Allah) yang di atas langit” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya : Orang yang tidak memiliki kasih sayang, pasti tidak akan disayang” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahulah, bahwa saat terjadi gempa, dia menulis surat kepada pemerintah daerah agar bershadaqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara faktor terselamatkan dari segala keburukan, yaitu pemerintah segera memegang kendali rakyat dan mengharuskan agar konsisten dengan al-haq, menerapkan hukum Allah Azza wa Jalla, di tengah-tengah mereka, memerintahkan kepada yang ma’ruf serta mencegah kemungkaran. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijakasana” [At-Taubah : 71]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya : Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar ; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” [Al-Hajj : 40-41]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” [Ath-Thalaaq : 2-3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat tentang ini sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya : Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah Azza wa Jalla akan menolongnya” [Muttafaq ’Alaih] [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya : Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah Azza wa Jalla akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah Azza wa Jalla akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah Azza wa Jalla akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya] [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits yang semakna ini banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada Allah kita memohon agar memperbaiki kondisi kaum Musimin, memberikan pemahaman agama dan menganugrahkan kekuatan untuk istiqomah, segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dari semua perbuatan dosa. Semoga Allah memerbaiki kondisi para penguasa kaum Muslimin, semoga Allah menolong al-haq melalui mereka serta menghinakan kebathilan, membimbing mereka untuk menerapkan syari’at Allah Azza wa Jalla atas para hamba. Dan semoga Allah melindungi mereka dan seluruh kaum Muslimin dari fitnah dan jebakan setan yang menyesatkan. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Majmu Fatawa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah IX/148-152]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/Th X/1427/2006M.Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. Judul diatas disesuaikan oleh admin almanhaj]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Dikeluarkan Imam Al-bukhari dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Azhim, no. 4262, dan diriwayatkan Imam Tirmidi no. 2991&lt;br /&gt;[2]. Diriwayatkan Imam Bukhari di dalam Al-Jum’ah,no. 999 dan Imam Muslim dalam Al-Kusuf, no. 1518&lt;br /&gt;[3]. Diriwayatkan Imam Ahmad, no. 6255&lt;br /&gt;[4]. Diriwayatkan Imam Tirmidzi di dalam Al-Birr wash Shilah, no. 1847&lt;br /&gt;[5]. Diriwayatkan Imam Bukhari di dalam Al-Adab no. 5538, dan Imam Tirmidzi di dalam Al-Birr wash Shilah,no. 1834&lt;br /&gt;[6]. Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Al-Mazhalim wa Ghasab, no. 2262 dan Muslim dalam Al-Birr wash Shilah wal Adab, no. 4677&lt;br /&gt;[7]. Diriwayatkan Imam Muslim, no. 4867 dan Imam Tirmidzi dalam Al-Birr wash Shilah, no. 1853&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : almanhaj.or.id</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/10/nasehat-dalam-menghadapi-musibah-gempa.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-8161232538823694768</guid><pubDate>Thu, 16 Apr 2009 02:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-11T10:09:03.735+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Akhlak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">buat saudaraku</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cinta</category><title>Wahai Putriku</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHONauIP7OyxOtp7zPXvBW0B2z3-8I0zuwBHNrABCe5xCjtravBV5kexnkX8qHaEc-uUD430BcuJtJX4OqZeymazh038y6k1AyTO3mCJILgQP-N5USui8LPuu30BfjFApJ2tRqQLJCeMk/s1600-h/Autumn+Leaves.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHONauIP7OyxOtp7zPXvBW0B2z3-8I0zuwBHNrABCe5xCjtravBV5kexnkX8qHaEc-uUD430BcuJtJX4OqZeymazh038y6k1AyTO3mCJILgQP-N5USui8LPuu30BfjFApJ2tRqQLJCeMk/s200/Autumn+Leaves.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325107918911212834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarkanlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, yang belum pernah engkau dengar dari orang lain sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, tetapi kami tidak menghasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engakulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang  usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila ia akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita amoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki  untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertakwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan menaruh simpati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu?    Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut  dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi wanita berkepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju keburukan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri tanpa tutup  wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang menggembar-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong bila dilihat dari dua sebab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, seperti kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New York. Sekalipun berupa dansa, pornografi, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisasi, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain  untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat orang gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan selain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat ditemukan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkannya, persis seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini janganlah engkau percayai. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(wallahul musta’an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Islamways.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/04/wahai-putriku.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHONauIP7OyxOtp7zPXvBW0B2z3-8I0zuwBHNrABCe5xCjtravBV5kexnkX8qHaEc-uUD430BcuJtJX4OqZeymazh038y6k1AyTO3mCJILgQP-N5USui8LPuu30BfjFApJ2tRqQLJCeMk/s72-c/Autumn+Leaves.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-8287799480481825240</guid><pubDate>Sat, 28 Feb 2009 07:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-28T14:30:10.434+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Akhlak</category><title>Rahasia di Balik Sakit</title><description>&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 115px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" alt="" src="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:gTIrA9HV2Qyj6M:http://daengrusle.com/wp-content/uploads/2008/02/bunga.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35).&lt;a href="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:gTIrA9HV2Qyj6M:http://daengrusle.com/wp-content/uploads/2008/02/bunga.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:gTIrA9HV2Qyj6M:http://daengrusle.com/wp-content/uploads/2008/02/bunga.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:gTIrA9HV2Qyj6M:http://daengrusle.com/wp-content/uploads/2008/02/bunga.JPG"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:gTIrA9HV2Qyj6M:http://daengrusle.com/wp-content/uploads/2008/02/bunga.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;a href="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:gTIrA9HV2Qyj6M:http://daengrusle.com/wp-content/uploads/2008/02/bunga.JPG"&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/a&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.&lt;br /&gt;Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Sakit akan menghapuskan dosa&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)&lt;br /&gt;Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)&lt;br /&gt;Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa &lt;a title="Rahasia di balik sakit" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-sakit.html"&gt;penyakit&lt;/a&gt; dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)&lt;br /&gt;Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Penulis: Abu Hasan PutraArtikel &lt;a title="Rahasia di balik sakit" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-sakit.html"&gt;http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-sakit.html&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/02/rahasia-di-balik-sakit.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-5971310303937002081</guid><pubDate>Thu, 12 Feb 2009 04:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-12T11:57:20.285+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cinta</category><title>Terimalah Aku Apa Adanya</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://majalah-nikah.com/images/stories/p2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 210px; height: 126px;" src="http://majalah-nikah.com/images/stories/p2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Di bawah naungan ajaran Islam, pernikahan sepasang insan suami istri menjalani hidup mereka dalam satu perasaan, menyatunya hati dan cita-cita. Namun adakalanya pernikahan harus berjalan di atas kerikil. Apalagi saat pandangan mulai berbeda, tujuan tak lagi sama. Mempertahankan keutuhan dan keharmonisan rumah tangga terasa tak lagi mudah. Di mata kita pasangan selalu serba salah dan penuh kekurangan. &lt;/span&gt;&lt;p&gt;    &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keluarga Samara&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan. Karenanya Islam menganjurkan, sebab nikah merupakan gharizah insaniyah. Sebagaimana Allah berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Ar-Ruum : 30).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Islam memberi penghargaan tinggi pada pernikahan dan Allah menyebutnya sebagai ikatan yang kuat. Dalam al-Quran surat An Nisaa : 21&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“… dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian agungnya ikatan pernikahan hingga sebanding dengan separuh agama. Begitulah, keputusan dua insan berbeda untuk menikah tentunya dengan pertimbangan matang, faham dan tahu tujuan dari pernikahan. Mengerti betul perbedaan akan disatukan dalam perkawinan. Hingga pemahaman-pemahaman dari ini diharapkan akan membawa pada keharmonisan dan kelangsungan pernikahan pada keabadian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pernikahan adalah bangunan yang bertiang Adam dan Hawa yang membangun kecintaan dan kerjasama, penuh mawadah, ketenteraman, pengorbanan, dan juga hubungan rohani yang mulia dan keterikatan jasad yang disyariatkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (Ar-Ruum :21).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayat ini merupakan pondasi kehidupan yang diliputi suasana perasaan yang demikian sejuk. Istri ibarat tempat bernaung bagi suami setelah seharian bekerja keras. Penghiburnya di saat lelah. Suasana rumah yang penuh belas kasih hingga menumbuhkan ketenteraman. Sebaliknya suami yang baik akan memberikan timbal balik yang sama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suami sebagai pemimpin rumahnya dengan bantuan dan dukungan istri akan bertindak sebijaksana mungkin mengatur rumah tangganya tanpa harus bersikap otoriter. Dan jika tugas suami istri berjalan seimbang maka akan memberi ketenteraman dan kemantapan dalam hubungan suami istri. Dan anak-anak yang tumbuh dalam “lembaga” yang bersih ini akan tumbuh dengan baik. Sebab individu yang bernaung di dalamnya tahu hak dan kewajibannya sebagaimana sabda Rasulullah n,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka tak heran kalau keluarga harmonis yang saking penuh mawadah warahmah akan mudah diwujudkan. Insyaallah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hak dan kewajiban suami istri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesan terbaik yang tertangkap dari rumah tangga Nabawi adalah terjaganya hak dan kewajiban dalam hubungan suami istri. Bahkan hak itu tetap diperoleh Khadijah dari Rasulullah meski Khadijah telah wafat hingga membuat Aisyah cemburu. Padahal Aisyah tak pernah berjumpa dengannya. Hal itu semua karena Rasulullah sering mengingat kebaikan dan jasanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keharmonisan dalam rumah tangga akan dengan sendirinya terwujud jika pihak suami atau istri tahu hak dan kewajiban masing-masing. Rasa kasih dan sayang sebagai fitrah Allah di antara pasangan suami dan istri akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan pada keduanya. Sebaliknya, akan berkurang seiring menurunnya kebaikan pada keduanya. Sebab secara alami, jiwa mencintai orang yang memperlakukannya dengan berbuat baik dan memuaskan untuknya, termasuk melaksanakan hak dan kewajiban suami istri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suami memiliki hak yang besar atas istrinya. Di antara hak itu misalnya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menjaga kehormatan dan harga dirinya, mengurusi anak-anak, rumah dan hartanya saat suami tak ada di sisinya. Allah l berfirman :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“….. wanita yang shalihah adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri saat suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara mereka…… “ (An Nisa: 34).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam haditsnya Rasulullah bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya.” (Riwayat Bukhari Muslim).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berpenampilan menyenangkan di depan suami dan bersikap manis. Sebagaimana Rasulullah bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sebaik-baik wanita adalah yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, menaatimu saat engkau perintah dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.” (Riwayat Tabrani)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hak lain suami adalah tidak mengizinkan istri memasukan orang yang dibenci suami, menjaga rahasia suami istri termasuk dalam urusan ranjang, berusaha menjaga kelanggengan bahtera rumah tangga, tidak meminta cerai tanpa sebab syar’i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Tsauban, Rasulullah berkata, “wanita manapun yang minta cerai kepada suami tanpa sebab, maka haram baginya mencium bau surga”. (Riwayat Tirmidzi, Abu Daud).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu istri harus banyak bersyukur dan tidak banyak menuntut. Perintah ini sangat ditekankan Islam, bahkan ancaman Allah tak akan melihatnya pada hari kiamat kelak jika istri berbuat demikian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup)”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masih banyak hak-hak suami atas istrinya. Di samping itu suami pun harus memberikan hak istrinya serta menjalankan kewajibannya. Di antaranya adalah memberi makan pada istri apabila ia makan, memberikannya pakaian, tidak memukul wajah istri, tidak menjelek-jelekkan kekurangannya, tidak meninggalkan istri melainkan di dalam rumah, memperlakukan dengan lembut dan menggaulinya dengan baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain suami memiliki kewajiban memberi nafkah lahir batin, suami berkewajiban mengajarkan ilmu agama apalagi ia memegang kepemimpinan dalam rumah tangga. Hingga ia pun wajib membekali diri dengan ilmu yang syar’i, dengan demikian ia akan mampu membawa keluarganya, istri dan anaknya dalam kebaikan. Jika ia tidak sanggup, mengajar mereka, suami harus mengajak mereka menuntut ilmu syar’i bersama ataupun menghadiri majelis-majelis ilmu. Suami pun harus memberi teladan baik dalam mengemban tanggung jawabnya dan atas apa yang dipimpinnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menerima Kekurangan dan Kelebihan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita melihat bagaimana al-Qur’an membangkitkan pada diri masing-masing pasangan suami istri suatu perasaan bahwa masing-masing mereka saling membutuhkan satu sama lain dan saling menyempurnakan kekurangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibaratnya wanita laksana ranting dari laki-laki dan laki-laki adalah akar bagi wanita. Karena itu akar selalu membutuhkan ranting dan ranting selalu membutuhkan akar. Sebagaimana firman Allah dalam al-A’raf 189,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena itu, pernikahan tak hanya menyatukan dua manusia berbeda tapi juga menyatukan dua perbedaan, kelebihan dan kekurangan sepasang anak manusia. Dimana masing-masing akan saling mengisi dan melengkapi kekurangan satu dengan yang lain. Sementara menjadikan kelebihan masing-masing untuk merealisasikan cita-cita pernikahan sesungguhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al Baqarah : 187).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan memahami hal ini, kehidupan rumah tangga akan tenteram. Dan tenang berlayar, sangat mustahil ditemukan sepasang suami istri yang sempurna segala sesuatunya. Yang bisa dilakukan adalah dengan jalan saling memahami dan menghargai satu sama lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menerima apa adanya kekurangan atau kelebihan pasangan. Tidak membandingkan pasangan kita dengan yang lain. Karena hal-hal seperti ini tidak akan membuat nyaman hubungan namun hanya akan menjadikan kita makin sensitif dengan segala perbedaan. Dan sekali lagi memaafkan semua kekurangan pasangan adalah lebih baik. Hargailah segala kelebihannya. Dan berterima kasihlah atas semua yang telah dikerjakan dan diberikan pasangan pada kita. Insyaallah ini akan membuat makin manisnya hubungan dengan pasangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mungkin ada hal-hal yang tak kita sukai pada pasangan kita, namun bukanlah masih ada hal-hal baik yang kita sukai dan lihat ada padanya? Kita harus bijaksana menyikapi hal ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita tak perlu berpura-pura dan menutupi kekurangan kita hanya karena takut tak sempurna di hadapan si dia. Karena bisa saja justru hal ini akan menyeret kita pada hal-hal berbahaya. Moralnya saja dengan berbohong menjanjikan ini dan itu serta janji setinggi langit. Padahal kita tahu tak akan bisa memenuhinya. Jika pasangan tahu tentu ia akan marah dan jengkel hingga membuahkan pertengkaran dan hal-hal buruk lain. Bukanlah lebih baik kita selalu tampil apa adanya, karena itu tak akan membebani kita ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sungguh, jika si dia benar-benar mencintai kita tentu dia akan menerima kita apa adanya. Mau menerima kekurangan dan kelebihan kita. Tanpa basa-basi. Yang perlu diingat kita selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, semampu kita. Insyaallah di rumah kita. (&lt;em&gt;&lt;strong&gt;ummu fatimah ahmad&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : majalah-nikah.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/02/terimalah-aku-apa-adanya.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1855842579778724922.post-3985508791900133715</guid><pubDate>Thu, 12 Feb 2009 04:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-12T11:48:19.645+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Akhlak</category><title>Kepada Anakku yang Durhaka</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPn3W4e4Q7TJkj0_cgfRdTM_TUqpWJrYbnXN7lNwMOK3K9HvrZJ_cyDkrqrooNqy3szz2DsiQm8VT8U_UXrg0yhNqvAFo8wBtrES55rSstOdJ9q-uKJ44DycdyNGdmsJcv83zSbC6OXSZ_/s320/5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 157px; height: 181px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPn3W4e4Q7TJkj0_cgfRdTM_TUqpWJrYbnXN7lNwMOK3K9HvrZJ_cyDkrqrooNqy3szz2DsiQm8VT8U_UXrg0yhNqvAFo8wBtrES55rSstOdJ9q-uKJ44DycdyNGdmsJcv83zSbC6OXSZ_/s320/5.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;blockquote&gt;Anakku yang tercinta, ibu sangat menyayangkan kalau surat ini menjadi sarana komunikasi antara kita, akan tetapi dialah satu-satunya cara yang tersisa padaku, yang memungkinkan bagiku untuk memberitahukanmu tentang hal-hal yang harus kamu dengar dariku sebelum ibu meninggalkan kefanaan ini. Ibu, semenjak kamu menipu dan membuat ibu masuk ketempat (rumah sakit) ini, walaupun ibu tidak menginginkannya .. ibu tidak melihatmu kecuali sedikit sekali, oleh karena itu sekarang ibu ingin berbicara dan kamu akan mendengarkannya tanpa bisa memotong perkataan ibu.&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt; &lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Anakku tercinta … ketika surat ini sampai kepadamu berarti ibu telah meninggalkan kehidupan ini, dan mungkin saja kamu tidak akan membaca suratku ini selama-lamanya, oleh karena itu ibu merasa merasa perlu menyebar-luaskannya sehingga orang selainmu ikut membacanya, dengan demikian setiap anak yang durhaka adalah anakku …&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Wahai anakku, sesungguhnya ibu merasa akan mati dalam waktu dekat, dokter telah memberitahukan bahwa kondisi kesehatan ibu kian melemah … dan keengganan ibu untuk mengkonsumsi obat membuat ibu membutuhkan darah tambahan dalam jumlah besar … ketika itu ibu berusaha untuk bersikeras agar tidak makan obat … akan tetapi kehendak dokter memaksaku untuk menyetujuinya karena ibu adalah seorang wanita yang mengimani bahwasanya darah-darah tersebut tidak akan mengembalikan sisa-sisa kehidupan ke-hati dan ruhku … karena pada detik-detik ini ibu melihat sayap-sayap malaikat maut didalam kamarku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-23"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Wahai anakku, janganlah mengira, bahwa ibu dengan kata-kata ini berusaha untuk menarik simpatimu agar datang kepadaku. Tidak, bukan ini tujuan dan maksudku, karena ibu telah wasiatkan kepada pembawa surat ini agar tidak menyerahkannya kepadamu kecuali setelah ibu meninggalkan kehidupan. Karena ibu tahu bahwasanya selama ibu masih hidup kamu tidak akan membacanya, akan tetapi mungkin kamu akan membacanya setelah kematianku, karena kamu tahu bahwa dengan membacanya setelah kematianku tidak akan memberikan tanggung jawab apa-apa .. akan tetapi ini bukan berarti ibu tidak berangan-angan untuk melihatmu terakhir kalinya sebelum ibu mati, bukan saja karena ibu merindukanmu … akan tetapi juga karena lain-lain hal …&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Diantaranya :&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Pertama : ibu tidak ingin melewatkan sa’at-sa’at terakhir umur ibu sendirian, hanya ditemani oleh ketakutan-ketakutan dan pikiran-pikiran. Ibu berangan-angan seperti seorang muslim lainnya, pada sa’at-sa’at seperti itu mendapatkan orang yang menghormati ke-manusiaan-ku dan memperhatikan urusanku, mengarahkan wajahku kekiblat, dan mentalkinkanku dua kalimat syahadat serta mendo’akan rahmat untukku … apakah berlebihan apabila ibu berangan mendapatkan hak ibu yang islam sendiri telah menjaminnya untukku??&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Sesungguhnya kesendirian yang ibu perhatikan pada kebanyakan wanita sepertiku mendorongku mengangankan apa yang ibu angankan …&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Sesungguhnya kematian ditempat ini tidak ada harganya .. karena si sakit tidak lebih dari tempat tidur yang kosong pada hari pertama untuk diisi pada hari berikutnya oleh pesakitan lain, menanti gilirannya diatas papan penantian! Karenanya ibu tidak terlalu bersedih mendengar kematian salah seorang pasien. Kesedihanku yang paling besar adalah ketika ibu tahu bahwa dia, disa’at-sa’at kematiannya sendirian, tidak ada orang disisinya yang mentalkinkannya .. tidak ada orang yang dicintainya yang meneteskan air mata sedih karena kapergiannya .. selain dari air mata teman-teman sesama pasien yang sama-sama meniti jalan kesedihan …&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Kedua : sesungguhnya ibu ingin mema’afkanmu .. dan ini tidak bisa ibu lakukan apabila kamu tidak datang kepadaku dengan air mata penyesalan diwajahmu seraya kamu berkata, “Ma’afkan saya Ibu” … tahukah kamu, kalau kamu melakukan ini ibu akan melupakan semua masa lalumu, dan ibu akan berdo’a kepada Allah agar Ia mengampuni segala kesalahanmu terhadapku. Ibu akan memohon dengan merendahkan diri kepada-Nya agar akhir hayatmu tidak seperti akhirku … akan tetapi ibu yakin bahwa kamu tidak akan melakukannya … dan kamu tidak akan datang … oleh karena itu janganlah menanti ma’af dariku wahai anakku … karena ibu, walaupun mema’afkanmu .. ibu tidak akan menjamin bahwa kamu akan selamat dari azab Allah yang tidak pernah lupa dan tidak tidur …&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Ibumu yang terluka&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;Sumber : Abuzubair.net&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://dwinggy.blogspot.com/2009/02/kepada-anakku-yang-durhaka.html</link><author>noreply@blogger.com (dwinggy)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPn3W4e4Q7TJkj0_cgfRdTM_TUqpWJrYbnXN7lNwMOK3K9HvrZJ_cyDkrqrooNqy3szz2DsiQm8VT8U_UXrg0yhNqvAFo8wBtrES55rSstOdJ9q-uKJ44DycdyNGdmsJcv83zSbC6OXSZ_/s72-c/5.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item></channel></rss>