<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668</atom:id><lastBuildDate>Sat, 05 Oct 2024 02:01:19 +0000</lastBuildDate><category>aktifita</category><category>hikmah</category><category>an nissa</category><category>jejak pena</category><category>paradigma</category><category>historia</category><category>metafora</category><category>islamia</category><category>sketsa</category><category>rumah cahaya</category><category>resensi</category><title>Kak Galuh</title><description></description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>77</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-5759533663388039969</guid><pubDate>Wed, 11 Mar 2015 01:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-13T22:08:34.839-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">aktifita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">rumah cahaya</category><title>Menjadi Enterpreuneur Yang Mandiri Sejak Kecil</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiy0ZdhuUM5_IYlGGqUSiF3Wxx2HzXCdl1NAUEZ4VweZ43is91z9xXrabdYLbfxzhSlcxHLy3lObwX-4jDPP_D2JWpk6FYNsIXgTFD8OeyzBOlIiM60QNlqyLaZrDB_b2bvkySkdfRJByZ0/s1600/Rumah-Cahaya-Depok.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiy0ZdhuUM5_IYlGGqUSiF3Wxx2HzXCdl1NAUEZ4VweZ43is91z9xXrabdYLbfxzhSlcxHLy3lObwX-4jDPP_D2JWpk6FYNsIXgTFD8OeyzBOlIiM60QNlqyLaZrDB_b2bvkySkdfRJByZ0/s1600/Rumah-Cahaya-Depok.jpg" height="300" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Estrangelo Edessa&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pagi itu
di TBM Rumah Cahaya FLP Depok, Ahad 08 Maret 2015 para relawan cahaya sudah
disibukkan oleh persiapan agenda rutin yang diselenggarakan sebulan sekali,
yaitu Dongeng Bulanan. Di episode bulan Maret ini, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tagline &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yang dipilih adalah &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;“Menjadi Enterpreuneur Yang Mandiri Sejak
Kecil”. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Tagline &lt;/i&gt;ini sengaja
dihadirkan pada bulan ini untuk mengenalkan cara menjadi pengusaha sejak dini
dengan modal seminim mungkin kepada anak-anak pengunjung TBM. Dengan mulai
diberlakukannya pasar bebas ASEAN di tahun 2015 ini, maka tema enterpreuner ini
menjadi signifikan untuk dihadirkan. Pembahasan secara luas mengenai tema ini,
TBM Rumah Cahaya FLP Depok menghadirkan pakar parenting Ibu Emmy Soekresno
sebagai nara sumber. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Estrangelo Edessa&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Meskipun
hujan cukup deras turun selama acara berlangsung, namun ini tidak menjadi
halangan yang berarti. Hal ini dibuktikan dengan membludaknya peserta hingga
sekitar 80 anak , dua kali lipat dari jumlah peserta yang biasa hadir. Acara
yang semula dijadwalkan akan digelar di arena play ground samping TBM,
dipindahkan sementara ke aula utama. Saat itu juga aula terlihat sangat penuh
dikarenakan tempat yang biasa menampung sekitar 30an peserta saja &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;itu mendadak &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;harus menampung 80 peserta pada pagi itu.
Namun demikian, ini tidak menyurutkan semangat teman-teman kecil peserta acara
dongeng bulanan untuk tetap mengikuti acara hingga selesai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Estrangelo Edessa&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Sebelum
sesi pembahasan tentang apa itu enterpreuneur dan bagaimana cara menjalankannya
di usia dini, acara dibuka dengan kegiatan dongeng yang dibawakan oleh salah satu
relawan cahaya. Menyesuaikan dengan tema, cerita tentang kisah sahabat&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Abdu Rahman Bin Auf, ra yang memiliki
strategi cerdas sebagai enterpreuneur sukses menjadi pilihan isi dongeng kali
ini. Dikisahkan bahwa beliau merupakan pengusaha yang sukses karena menjual
unta dengan harga paling murah diantara pedangan unta lainnya. Namun demikian, yang
membuatnya lebih kaya diantara yang lainnya adalah karena ia menyimpan tali
yang dipakai untuk mengikat untanya, pada setiap unta yang berhasil di jual.
Dengan demikian, karena harga unta yang murah, banyak yang membeli unta
padanya, sehingga banyak juga tali yang berhasil ia simpan sebagai upah
penjualan unta yang murah. Hingga akhirnya para pemilik unta sukar menemukan
tali untuk mengikat untanya, maka pada saat itulah beliau menjual tali yang
sudah disimpannya. Keuntungan dari hasil penjualan tali itulah yang membuat ia
menjadi seorang enterpreuneur yang sukses. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Estrangelo Edessa&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Setelah
sesi dongeng selesai, acara dilanjutkan dengan penjelasan mengenai tema terkait
oleh narasumber utama. Tidak selesai sampai di situ, para peserta diajak
membuat sebuah kreatifitas yang bahan-bahannya bisa didapatkan dengan mudah di
lingkungan sekitar. Hasil kreatifitas inilah yang kemudian disarankan oleh nara
sumber untuk dijadikan modal menjadi enterpreuneur pemula. Kemudahan cara
membuat dan bahan-bahan yang diperlukan barang yang akan dijual inilah yang
menjadi poin utama agar para peserta mengenal konsep enterpreuneur ini secara
sederhana terlebih dahulu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Estrangelo Edessa&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Dongeng
bulanan episode Maret telah selesai dilaksanakan. Pada acara kali ini peserta
mendapat banyak pelajaran yang bisa dibawa pulang kerumah sebagai bekal untuk
tumbuh dan berkembang selanjutnya. Mereka belajar bagaimana menjadi mandiri
sejak kecil, berkreatifitas tanpa batas dari barang-abrang bekas, peduli
terhadap lingkungan dengan mengurangi sampah dan menjadikannya barang berguna
baru, mereka juga belajar berbagi karena bahan-bahan yang disiapkan oleh nara
sumber terbatas sesuai dengan estimasi peserta yang biasa hadir dan disamping
itu mereka juga harus belajar bersabar karena tempat mereka belajar pada hari
itu tidak seluas biasanya sehingga mereka harus belajar dengan kondisi yang
kurang nyaman. Selamat berpetualang menjadi enterpreuneur cilik teman-teman...
Selamat bertemu lagi di acara dongeng bulanan selanjutnya. (gkw)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2015/03/menjadi-enterpreuneur-yang-mandiri_13.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiy0ZdhuUM5_IYlGGqUSiF3Wxx2HzXCdl1NAUEZ4VweZ43is91z9xXrabdYLbfxzhSlcxHLy3lObwX-4jDPP_D2JWpk6FYNsIXgTFD8OeyzBOlIiM60QNlqyLaZrDB_b2bvkySkdfRJByZ0/s72-c/Rumah-Cahaya-Depok.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-965673720221957683</guid><pubDate>Mon, 02 Mar 2015 15:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-13T22:03:48.487-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">aktifita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">rumah cahaya</category><title>Dongeng Bulanan Rumcay Maret 2015</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixcb5282rPqPukC_pUabS5FWL8zpykMo8CFTzpPDDju5_jTwkXku5aaTtlW4zvtRSiUGS93L8rfyiYSOk1XB50xIwzM4xgEPytfwzLf0rbloexZvb9XmGtddKFRToM7mn4W5YQcY1LK4oz/s1600/Rumcay-Depok-Activity-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixcb5282rPqPukC_pUabS5FWL8zpykMo8CFTzpPDDju5_jTwkXku5aaTtlW4zvtRSiUGS93L8rfyiYSOk1XB50xIwzM4xgEPytfwzLf0rbloexZvb9XmGtddKFRToM7mn4W5YQcY1LK4oz/s1600/Rumcay-Depok-Activity-1.jpg" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="st"&gt;&lt;i&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="st"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Assalamualaikum Ayah-Bunda dan adik-adik Sahabat Cahaya...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Waaah rasanya kangen ya dua bulan ga ketemu... &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;&lt;span style="background-color: #660000;"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Yuk hadir lagi di acara dongeng bulanan Rumah Cahaya...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="text_exposed_show"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di bulan Maret ini kita mau belajar sama-sama dengan Bunda Emmy 
Soekresno, tentang bagaimana caranya menjadi "enterpreneur" yang mandiri
 sejak kecil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: purple;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Wah pasti seruuu banget yaaa...&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bisa-bisa kalau serius, kita jadi punya tabungan sendiri buat nambahin uang saku atau buat beli buku...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background-color: #20124d;"&gt;Selain itu ada dongengnya juga lho..&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #4c1130;"&gt;Acaranya serruuu banget jangan sampai ketinggalan ya teman-teman...&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="background-color: purple;"&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;Catat nih waktunya...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="background-color: purple;"&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt; Hari: Minggu/Ahad, 8 Maret 2015&lt;br /&gt; Pukul: 9.00 - 12.00 wib&lt;br /&gt; Tempat: Jalan Tole Iskandar Raya, Perum. Griya Lembah Depok Blok B3/20, 04/024 (depan taman/playground).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;Yang mau hadir konfirmasi yaaa...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;It's All for FREE...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CP:&lt;br /&gt;
-Kak Galuh-&lt;br /&gt;
Hp.: 087788656022&lt;br /&gt;
Pin BB.: 538BF79C&lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2015/03/dongeng-bulanan-rumcay-menjadi.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixcb5282rPqPukC_pUabS5FWL8zpykMo8CFTzpPDDju5_jTwkXku5aaTtlW4zvtRSiUGS93L8rfyiYSOk1XB50xIwzM4xgEPytfwzLf0rbloexZvb9XmGtddKFRToM7mn4W5YQcY1LK4oz/s72-c/Rumcay-Depok-Activity-1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-429354021265937384</guid><pubDate>Sat, 28 Jun 2014 17:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-04T11:56:05.969-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">aktifita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">rumah cahaya</category><title>Mengapa Rumah Cahaya</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAeSdcap4zm7Zceu0U_khfQqFfr17sD4XKlMhxAveQDzBk1G3WlLv31SfphyphenhyphenRlS_fTeVKCBl5YFAJhSFRwIWtpifmmNQPHorCD6cxfybIZxM-wvVQ1BO1_rj5YiiJDQpcEywbDgn918Gcp/s1600/Rumcay-Depok-Activity.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAeSdcap4zm7Zceu0U_khfQqFfr17sD4XKlMhxAveQDzBk1G3WlLv31SfphyphenhyphenRlS_fTeVKCBl5YFAJhSFRwIWtpifmmNQPHorCD6cxfybIZxM-wvVQ1BO1_rj5YiiJDQpcEywbDgn918Gcp/s1600/Rumcay-Depok-Activity.jpg" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Tepatnya 1 Ramdhan 1433 H Rumah Cahaya FLP Depok berdiri. Berati Ramadhan
 kali ini adalah tahun yang kedua. Dua tahun lalu, saat memutuskan untuk
 memberi ruang penuh pada Rumah Cahaya di Perumahan Griya Lembah, yang 
terlintas pertama adalah, bahwa rumah ini akan menjadi pusat aktivitas 
anak-anak sekitarnya untuk bertumbuh kembang dengan layak dan 
seharusnya. Namun seiring dengan perjalanannya, hal itu masih dalam 
proses yang tidak mudah untuk terwujud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merekadaya lingkungan anak dengan menjadikannya sebagai wahana kegiatan membaca adalah
 sesuatu hal yang menyenangkan, namun hal itu di zaman sekarang tidaklah semudah 
membalikkan telapak tangan. Di tambah munculnya era trend "gadget" dan 
teknologi tinggi yang mampu mengakses dengan hitungan detik segala 
informasi dunia dalam genggaman. Well, itu semua sudah cukup untuk 
meruntuhkan minat baca buku di kalangan anak-anak dan remaja hari ini. Bagi mereka, memiliki gadget paling mutakhir dan mampu eksis di sosmed adalah lebih keren tinimbang harus berkutat dengan 
buku-buku. Lalu apakah ini akan mematikan langkah kami untuk bergerak? Tentu saja tidak!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski terlihat berjalan seperti keong, tapi harapan dan visi-misi kami 
terhadap anak-anak sekitar Rumah Cahaya belum berhenti. Kami terus 
mencari ide-ide agar membaca buku dan mencintai dunia literasi itu dapat
 menjadi tren yang keren. Satu langkah yang berhasil bertahan hingga 
hari ini adalah dongeng bulanan. Meski kadang terseok-seok hanya dapat 
kami lakukan sebulan sekali saja, tapi ternyata kegiatan ini selalu
 dinanti. Maka muncullah secercah harapan, bahwa kami hanya perlu 
memberikan fasilitas dan ruang bermain alternatif yang konsisten untuk 
dapat merebut hati mereka. Tentu saja dongeng bulanan bukanlah 
satu-satunya cara untuk dapat merangkul mereka mendekat. Karena target 
kegiatan ini terkadang hanya sampai pada level anak-anak balita dan SD 
kelas rendah (1-3). Di atas level tersebut, dengan sendirinya mulai 
berguguran satu demi satu karena merasa sudah tidak ada gregetnya lagi. Ini tentu saja menjadi PR besar bagi kami. Kami harus memikirkan 
rumusan kegiatan lain yang dapat memberi perhatian bagi anak-anak remaja
 tanggung ini agar dapat terfasilitasi proses tumbuh kembangnya. Mungkin suatu saat bisa berupa kelompok teater anak, komunitas 
baca-tulis anak yang permanen, kelompok hafiz Qur'an, kelompok futsal, 
atau wahana lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu kami yang terbatas dalam mengelola Rumah Cahaya juga menjadi PR 
yang terus menunggu untuk diselesaikan. Bukan tidak ingin mencurahkan 
100% waktu pada Rumah Cahaya. Namun, karena kami harus 'menghidupi' 
keluarga dan juga 'Rumah Cahaya' itu sendiri. Maka kami juga bekerja 
untuk memenuhi lumbung-lumbung tersebut. Alhasil, Rumah Cahaya belum dapat tersedia waktu pada tiap harinya. Padahal semakin intens kami hadir di antara 
anak-anak, maka akan semakin besar kesempatan kami untuk dapat merangkul
 mereka. Baiklah, ini PR besar. PR besar yang akan kami serahkan pada 
Sang Maha Perencana agar kami dapat dimampukanNya untuk menyelesaikan PR itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, harapan untuk menjadikan Rumah Cahaya sebagai markas tumbuh 
kembang anak-anak untuk menjadi generasi yang dapat membangkitkan bangsa ini lebih baik, masih menjadi agenda utama kami. Melalui dunia 
literasi tentunya (baca: gemar membaca dan menulis). Dan karena 
pengunjung Rumah Cahaya berasal dari beraneka ragam latar belakang 
(anak-anak komplek perumahan, anak-anak kampung sekitar komplek, dan anak-anak dari
 berbagai lokasi yang lumayan jauh dari Rumah Cahaya) maka kami harus 
sering-sering menyisipkan agenda cinta literasi ini dalam berbagai bentuk
 yang fleksibel, seperti kegiatan mendongeng, bermain dan belajar yang 
menyenangkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah yang akan selalu menjadi alasan kami untuk terus bertahan pada Rumah Cahaya. Wallahualam. [gkw]</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2014/06/mengapa-rumah-cahaya.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAeSdcap4zm7Zceu0U_khfQqFfr17sD4XKlMhxAveQDzBk1G3WlLv31SfphyphenhyphenRlS_fTeVKCBl5YFAJhSFRwIWtpifmmNQPHorCD6cxfybIZxM-wvVQ1BO1_rj5YiiJDQpcEywbDgn918Gcp/s72-c/Rumcay-Depok-Activity.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jalan Griya Lembah Utara, Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat 16417, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.4008207 106.84378059999995</georss:point><georss:box>-6.4027932 106.84125909999995 -6.3988482 106.84630209999995</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-5319803677754416621</guid><pubDate>Thu, 14 Mar 2013 14:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-15T06:10:57.470-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">an nissa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hikmah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">historia</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">jejak pena</category><title>Mereka Panggil Aku Wanita Pemakan Jantung</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgvQ_Z3RaxIoH1glnvr6KMIAjVW-OsU1tzl-xncdeHLWDKKDQo1AMx0M5ChXZtkzgS61Wr5OxL2JW-9gQGv-7LFF2UL4leOozf8b9p3dS2BaXH6SblZ3YwrCni3G5TSSbBkB_5WWqus_bI/s1600/padang+pasir.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgvQ_Z3RaxIoH1glnvr6KMIAjVW-OsU1tzl-xncdeHLWDKKDQo1AMx0M5ChXZtkzgS61Wr5OxL2JW-9gQGv-7LFF2UL4leOozf8b9p3dS2BaXH6SblZ3YwrCni3G5TSSbBkB_5WWqus_bI/s320/padang+pasir.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dadaku bergemuruh menyaksikan kaum Muslimin yang sedang shalat di sekeliling Ka’bah. Apa yang terjadi dengan qolbu-ku? Mengapa rasanya begitu berbeda seperti sebelumnya? Lelaki itu, Muhammad, lelaki yang memimpin kaum Muslimin melaksanakan sujud di Ka’bah, aku membencinya dengan segenap jiwa ragaku. Tapi hari ini, setelah ku saksikan semua ini, aku menyangkal rasa benci itu. Mengapa rasanya aku ingin turut bersama mereka? Apa ini yang sudah dirasakan suamiku sehari sebelumnya? Bergemuruh jugakah seperti diriku? Aku malu. Aku takut.&amp;nbsp; Tapi aku juga ingin merasakan kegembiraan yang meluap-luap itu, seperti saudara-saudaraku yang lain, yang telah bergabung bersama Muhammad, lelaki terakhir penerima wahyu Ilahi. Oh Tuhan, bantulah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa yang masuk ke rumah ku, maka ia akan selamat”. teriakan suamiku tempo hari masih terngiang jelas di telingaku. Bodoh sekali aku, yang tak mempercayai ucapannya di hadapan kaum-ku. Padahal suamiku telah mengetahui kedatangan kaum Muslimin jauh sebelum mereka memasuki kota Mekkah dan menaklukkannya. Bertahan pada harga diri yang salah, telah membuatku buta pada kebenaran cahaya Ilahi. Dengan lantang dan tanpa keraguan, suamiku mengingatkan kaum-ku untuk menyelamatkan diri dari pasukan Muhammad. Tapi aku mencegahnya dengan menyebarkan dusta terhadap seseorang yang seharusnya kutaati karena haknya yang besar padaku. Aku telah membuat kesalahan dengan menghina suamiku sebagai pemimpin kaumnya yang buruk. Saat itu, aku tak terima. Ia memutuskan memeluk Islam dan berdiri bersama pasukan Muhammad yang ku benci. Ia peringatkan setiap orang untuk menyerah dan memeluk Islam bersamanya. Tentu saja aku tak terima. Bukankah selama ini, ia bersama petinggi Quraisy adalah pemimpin yang ajeg mempertahankan agama nenek moyang kami?&amp;nbsp; Apa yang membuatnya berubah seketika. Namun ia tak menyerah dan termakan oleh hasutanku. Ia tetap memperingatkan kaum-ku untuk mengikuti Muhammad sebagai pemimpin baru kami. “Celakalah kalian! Jangan terperdaya oleh ocehan perempuan itu, sungguh Muhammad telah datang dengan membawa kekuatan yang tidak mungkin kalian hadapi” lalu seseorang dari kaum-ku menginterupsinya “semoga Allah membinasakanmu. Mana cukup rumahmu untuk menampung kami semua.”dan suamiku masih mempertahankan ucapannya seraya berkata” barang siapa yang menutup pintunya maka dia aman. Barang siapa masuk ke masjid maka dia aman.” Setelah mendengar penjelasan suamiku yang sudah lebih masuk akal, lalu mereka berpencar dari kerumunan. Ada yang pulang kerumah dan menutup pintu rumahnya, ada pula yang masuk ke dalam masjid. Aku tak percaya menyaksikan ini terjadi. Mereka bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya oleh ucapan-ucapan suamiku. Aku menyesal karena tak turut mempercayai kebenarannya ketika itu. Dan saat Mekkah benar-benar di taklukkan oleh Muhammad beserta pasukan Muslimin. Ada rasa takut yang menghujam sanubariku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa takut-ku bukan tak beralasan. Tidak serta-merta karena aku adalah seorang Quraisy yang menentang ajaran baru Muhammad. Tapi ini semua karena ku teringat akan apa yang ku lakukan pada Hamzah bin Abdul Munthalib. Dendamku yang membara kepada Singa Allah itu telah menutupi nurani kemanusiaanku. Terbayang-bayang olehku kematian Ayah, paman dan saudara kandungku pada perang Badar. Hamzah telah membunuh Ayah, lalu dengan bantuan Ali bin Abu Thalib ia bunuh juga paman dan saudara lelaki yang sangat ku sayangi. Aku sedih dan kecewa atas kematian mereka. Kesedihan ini menimbulkan dendam kesumat yang membara. Lalu kaum-ku merancang penyerangan balik dengan strategi, pasukan dan alat perang yang lebih lengkap dari sebelumnya.&amp;nbsp; Semua itu kami persiapkan demi membalas kekalahan saat Badar. Setahun kemudian, rencana ini terealisasikan pada perang Uhud. Suamiku yang perkasa, memimpin pasukan Quraisy dan membawa kami para wanita ikut serta ke medan peperangan. Hal ini kami lakukan untuk menyemangati pasukan Quraisy agar mampu mengembalikan harga diri kami yang telah terinjak-injak sebelumnya. Bahkan aku telah menghasut Wahsyi bin Harb, budak&amp;nbsp; milikku yang telah kuketahui kemahirannya dalam melempar tombak, untuk turut dalam peperangan dan menjadikan Hamzah sebagai target utamanya. Jika ia berhasil membunuh Hamzah, maka ku hadiahkan padanya kemerdekaan sebagai budak dan beberapa hartaku. Wahsyi pun tak menyiakan kesempatan emas ini. Apa lagi yang diharapkan seorang budak selain kemerdekaannya yang hakiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gencarnya perlawanan kaum Muslimin membuat kami kewalahan. Entah kekuatan dari mana yang menyebabkan mereka menjadi terlihat banyak melebihi pasukan kami, begitu perkasa dan tak takut mati menghadapi kami. Bayang-bayang kekalahan Badar menghantui kami kembali. Kami pun sempat ingin melarikan diri atas sengitnya serangan pasukan Muslimin. Namun, ketika ada beberapa kelompok yang sedang lengah, kami mencoba untuk kembali melawan. Dan keadaan menjadi berbalik. Kelengahan pasukan Muslimin memberikan celah bagi kami untuk membalas. Sebagian dari mereka sibuk mengumpulkan harta rampasan perang. Oleh karenannya, kami mampu memukul mundur mereka. Kemenangan ini semakin terasa menggembirakanku pada saat itu, karena ternyata Wahsyi mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mampu membunuh Hamzah dengan tombaknya hingga menembus ke belakang perut. Aku tak kuasa menahan kegembiraan yang penuh dengan hawa nafsu. Bersama dengan beberapa wanita Quraisy lainnya ku rusak tubuh Hamzah. Ku mutilasi hidung dan kupingnya. Lalu perutnya ku robek hingga terlihat jantungnya. Masih belum terpuaskan oleh rasa benci yang menggelora, aku memakan jantung Hamzah. Sungguh menjijikan perilaku ku saat itu. Tak kuasa ku menelannya, lantas kumuntahkan kembali, sampai-sampai suamiku tak mau bertanggung jawab atas kejadian itu. Aku senang, puas karena kematian Ayah-ku Utbah, pamanku Syaibah dan Saudara laki-lakiku Al-Walid telah terbalaskan. Perasaan senang yang semu. Sesemu keyakinanku pada agama warisan nenek moyang kami dulu. Ya Allah, ampuni aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, aku takut darahku tertumpah oleh kaum Muslimin atas kematian Hamzah yang sangat biadab oleh ke jahiliyahan-ku. Sebenarnya dalam hati kecilku, aku membenarkan segala perkataan Muhammad tentang iman dan islam. Dan perasaan itu semakin kuat kurasakan saat ini. Saat dimana, ada sejumlah kelompok yang berkerumun memuja Tuhannya mampu membuat bulu kuduk-ku merinding. Hari ini hari kedua setelah peristiwa fathu makkah. Penaklukan terhadap Mekkah ini, tak semata-mata merupakan kemenangan kaum Muslimin saja. Karena sejatinya kemenangan ini adalah kemenangan untuk seluruh alam beserta isinya. Inilah visi dan misi lelaki bersahaja itu. Sungguh mulia. Sungguh berat. Dan aku telah menodai kebenaran yang sempurna ini dengan memperturutkan hawa nafsu belaka. “aku ingin mengikuti dan berbai’at pada Muhammad, maka bawalah aku menghadapnya !” pintaku seketika. Suamiku terkejut mendengarnya. Ia mendapati ku selama ini sebagai perempuan yang keras terhadap prinsip, hingga ia berkata padaku “ Sungguh, aku melihat kemarin kamu benci dengan perkataan tersebut?” “Demi Allah, aku belum pernah melihat Allah di sembah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid sebagaimana yang aku lihat kemarin malam. Demi Allah, kemarin malam aku melihat orang-orang tidak melakukan selain shalat dengan berdiri, rukuk, dan bersujud.” Bergetar hatiku saat menceritakan peristiwa yang menakjubkan itu. Semua yang kubicarakan pada suamiku terjadi dengan sendirinya tanpa pernah ku rancang sebelumnya. Spontan saja, mengikuti kata hati dan tak dapat ku tahan. “sesungguhnya engkau telah banyak berbuat salah, maka pergilah bersama laki-laki dari kaum-mu.” Ucap suamiku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa banyak bertanya lagi aku datang pada Umar bin Khattab. Dan Umar menjamin keselamatanku hingga aku berbai’at bersama beberapa wanita quraisy lainnya. Dengan perasaan yang semakin mantab, kukenakan cadar untuk menemui laki-laki terhormat dan termulia sepanjang jaman ini. Berbaris di hadapannya tak mampu mengurangi kecemasanku akan dosa yang pernah ku perbuat terhadap Hamzah. Cadar ini semata untuk menyamarkan perempuan jahiliyah pendosa seperti ku agar tak mendatangkan keburukan seperti keburukan yang pernah kulakukan sebelumnya.&amp;nbsp; Akhirnya tibalah saat-saat mendebarkan bagiku. Lelaki pilihan Allah itu mulai membai’at kami “kalian bai’at aku dengan syarat kalian tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah dan tidak mencuri” aku tak dapat menahan kegundahan tentang perkataannya hingga ku katakan apa yang terjadi padaku sebelumnya “wahai Rasulullah, sesungguhnya suamiku Abu Sofyan adalah lelaki yang sangat kikir. Bagaimana jika aku mengambil sebagian hartanya tanpa dia ketahui?” “semua yang engkau ambil telah ku halalkan!’ ucap suamiku seketika yang berada tak jauh dari kami. Mendengar dialog antara aku dan suamiku, lelaki bersahaja itu tersenyum dan langsung mengenaliku. Ia berkata,“engkau pasti Hindun binti Utbah.” “wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang memenangkan Dien yang telah dipilih-Nya sehingga bermanfaat bagiku, semoga Allah merahmati anda wahai Muhammad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya aku adalah wanita yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya” tak kuasa lagi segera kuakhiri penyamaranku dengan membuka cadar seraya berkata “akulah Hindun binti Utbah, maka maafkanlah dosaku yang silam, semoga Allah memaafkan engkau” dan ia pun menyambutku dengan penuh keramahan “selamat datang untukmu”. Kemudian ia melanjutkan bai’atnya, hingga ku bertanya padanya “wahai Rasulullah, bolehkah kami bersalaman denganmu? “ia pun menjawab dengan lugas “sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan wanita. Perkataanku kepada seratus wanita, seperti perkataanku kepada seorang wanita.” Sungguh di luar perkiraan. Lelaki bijaksana yang ada dihadapanku ini benar-benar menampakkan kemuliaan agama cahaya yang menyinarinya. Ia telah memaafkan orang yang telah memakan jantung sahabat sekaligus pamannya, Hamzah. Tak ada keraguan lagi dalam hati ku untuk memeluk cahaya Ilahi ini sebagai agama baru ku. “Demi Allah, tidak ada di atas bumi ini,&amp;nbsp; penghuni kemah yang aku lebih suka mereka terhina daripada penghuni kemahmu. Sekarang, tidak ada di atas bumi ini, penghuni kemah yang aku lebih suka mereka mulia daripada penghuni kemahmu” ungkapku tulus pada lelaki yang di juluki Al-Amin itu. Lalu ia menjawab “demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya semoga kamu begitu pula”.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampai ku di rumah, kurenungi peristiwa yang baru saja kualami. Peristiwa yang membalikkanku ke titik nol. Titik dimana aku sadar siapa diriku dan untuk apa aku ada di dunia ini. Menangislah aku sejadi-jadinya. Betapa aku telah menyia-nyiakan waktuku selama ini hanya untuk sesuatu yang bathil. Sesuatu yang tak ada jaminannya untuk kupertahankan. Lihatlah patung-patung yang berada di sudut rumahku itu. Aku benci pada mereka. Tak ada yang bisa menahanku untuk mengambil kapak di dapur. Kuhampiri sembahan palsu yang telah menipu keimananku berpuluh tahun yang lalu. Yang menyebabkan qalbu ku menadi mati hingga mampu membunuh dengan kejam seorang solihin seperti Hamzah. “kau telah memperdayaiku” teriak ku geram sambil menghantamkan kapak pada berhala menjijikkan di depanku itu. Tamat sudah riwayatnya. Mereka sudah hancur berkeping-keping bersama kejahiliyahanku yang telah kubunuh dan ku kubur. Lelah setelah melakukannya, lelah terhadap kebohongan yang selama ini menopengi kehidupan kelamku. Tapi juga ada semilir kelegaan yang berhembus makin dalam ke rongga-rongga jiwaku. Kebohongan itu telah tergantikan oleh kebenaran iman yang pasti. Yang menjamin kebersihan hati. Sungguh mulia akhlakmu duhai Rasulullah. Tak sedikitpun kau menoreh dendam padaku yang merupakan musuhmu di masa lalu. Kemuliaan ini adalah gambaran dari keyakinan baru yang kau tawarkan pada kami sejak dulu. Begitu indah, begitu benar. Katamu kami semua sama. Yang membedakan kami adalah ketakwaan kami pada-Nya. Tak perduli seberapa kelam masa lalu kami. Baik yang lebih dulu beriman maupun yang kemudian, semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kekasih-Nya. Keyakinan yang kau pertahankan itu telah memberikan kesempatan pada kami untuk menafasi kehidupan kami dengan kebenaran. Dan ini telah membuat hati kami lebih lapang dalam menjalani kehidupan ya Rasulullah. Meskipun hingga kini tak sedikit yang masih memanggilku dengan julukan Aklatul Akbad, Wanita pemakan jantung!&amp;nbsp; ***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allahuma Shalli ala Muhammad, Ya Robbi Sholli Allaihi Wa Sholli….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buku “35 Sirah Shahabiyah”&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nisaa’ Haular Rasuuli, Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu Nashr Asy-Syalabi.&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tahdziibul Asmaa’ wal Lughaat, An-Nawawi&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buku “ Tokoh-tokoh wanita di sekitar Rasulullah SAW”, Muhammad Ibrahim Salim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nukilan hadist:&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dari Abdullah bin Az-Zubair ra diriwayatkan: “ketika hari penaklukan Mekkah, Hindun Binti Utbah masuk Islam, dan masuk islam juga Ummu Hakim binti al-Haritz bin Hisyam istri Ikramah didikuti sepuluh wanita Quraisy”&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aisyah berkata:”Hindun binti Utbah datang lalu ia berkata;’wahai Rasullullah, dahulu tidak ada di permukaan bumi ini penghuni kemah yang aku lebih suka mereka terhina melebihi penghuni kemahmu. Sekarang tidak ada di seluruh bumi ini penghuni kemah yang aku lebih suka mereka melebihi penghuni kemahmu’ nabi SAW menjawab;’Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, semoga begitu pula dirimu…’ (HR Bukhori dan Muslim)&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Ath-Thabari berkata : “Hindun menemui Rasulullah SAW sambil mengenakan cadar dan menyamar, sebab perbuatannya terhadap Hamzah, dank arena ia takut Rasulullah SAW menghukumnya atas perbuatan itu. Mualailah Rasulullah SAW berkata kepada para wanita, dan Hindu nada diantara mereka: ‘Kalian bai’at aku dengan syarat kalian tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah dan tidak mencuri.&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada hari penaklukan mekkah, hindun binti utbah masuk islam bersama orang-orang perempuan.mereka datang kepada RasulullahSAW yang sedang berada di Al-Abthah, kemudian membaiatnya. Hindun berbicara, maka dia berkata :”wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah memenangkan agama yang dipilih-Nya. semoga hubungan kekeluargaanmu bermanfaat bagiku. Wahai Muhammad, sungguh aku seorang wanita yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya” kemudian ia membuka cadarnya dan berkata :”aku adalah Hindun Binti Utbah” Rasulullah bersabda:”selamat datang untukmu”. Hindun berkata:”Demi Allah, tidak ada diatas bumi ini penghuni kemah yang aku lebih suka mereka terhina dari pada penghuni kemahmu. Sekarang, tidak ada diatas bumi ini penghuni kemah yang aku lebih suka mereka mulia daripada penghuni kemahmu”. Lebih lanjut Rasulullah SAW berbicara dan membacakan Al-Quran kepada mereka dan membaiatnya. Diantara mereka Hindun berkata: ”wahai Rasulullah, bolehkah kami bersalaman denganmu?” Rasulullah SAW menjawab “Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan wanita. Perkataanku pada seratus orang wanita seperti perkataanku pada satu orang wanita” (HR. Malik, Tirmidzi, dan Nasai). [gkw]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/03/mereka-panggil-aku-wanita-pemakan_14.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgvQ_Z3RaxIoH1glnvr6KMIAjVW-OsU1tzl-xncdeHLWDKKDQo1AMx0M5ChXZtkzgS61Wr5OxL2JW-9gQGv-7LFF2UL4leOozf8b9p3dS2BaXH6SblZ3YwrCni3G5TSSbBkB_5WWqus_bI/s72-c/padang+pasir.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-1904270779759577710</guid><pubDate>Wed, 06 Mar 2013 18:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T11:31:48.055-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">an nissa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hikmah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">historia</category><title>Ummul Mukminin Sofiah binti Huyai bin Akhtab r.a</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg22Sw15e5j0r89cdInw5WtbdzVQ8Ks4Pe3tM87ACIbf1yp9Q9GfxSqC96P6Zl4sG8U2hwngSiGDfLq3rOvWQXQJ5bT-yTocePAm_YF3F-i56bTizuptnVXalxun-MWFSBlTF8XMmjOFEY6/s1600/ummu-habibah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg22Sw15e5j0r89cdInw5WtbdzVQ8Ks4Pe3tM87ACIbf1yp9Q9GfxSqC96P6Zl4sG8U2hwngSiGDfLq3rOvWQXQJ5bT-yTocePAm_YF3F-i56bTizuptnVXalxun-MWFSBlTF8XMmjOFEY6/s320/ummu-habibah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Nama lengkapnya adalah Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa’yah 
bin Amir bin Ubaid bin Kaab bin al-Khazraj bin Habib bin Nadhir bin 
al-Kham bin Yakhurn dari keturunan Harun bin Imran. Ibunya bernama 
Barrah binti Samaual darin Bani Quraizhah. Shafiyyah dilahirkan sebelas 
tahun sebelum hijrah, atau dua tahun setelah masa kenabian Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wassalam.. Ayahnya adalah seorang pemimpin Bani 
Nadhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kecil dia menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari 
sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci Taurat dia membaca 
bahwa akan datang seorang nabi dari jazirah Arab yang akan menjadi 
penutup semua nabi. Pikirannya tercurah pada masalah kenabian tersebut, 
terutama setelah Muhammad muncul di Mekah Dia sangat heran ketika 
kaumnya tidak mempercayai berita besar tersebut, padahal sudah jelas 
tertulis di dalarn kitab mereka. Demikian juga ayahnya, Huyay bin 
Akhtab, yang sangat gigih menyulut permusuhan terhadap kaum muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Sifat dusta, tipu muslihat, dan pengecut ayahnya sudah tampak di mata
 Shafiyyah dalam banyak peristiwa. Di antara yang menjadi perhatian 
Shafiyyah adalah sikap Huyay terhadap kaumnya sendiri, Yahudi Bani 
Quraizhah. Ketika itu, Huyay berjanji untuk mendukung dan memberikan 
pertolongan kepada mereka jika mereka melepaskan perjanjian tidak 
rnengkhianati kaurn muslimin (Perjanjian Hudaibiyah). Akan tetapi, 
ketika kaum Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut, Huyay melepaskan 
tanggung jawab dan tidak menghiraukan mereka lagi. Hal lain adalah 
sikapnya terhadap orang-orang Quraisy Mekah. Huyay pergi ke Mekah untuk 
rnenghasut kaum Quraisy agar memerangi kaum muslimin, dan mereka 
menyuruhnya mengakui bahwa agama mereka (Quraisy) lebih mulia daripada 
agama Muhammad, dan tuhan mereka lebih baik daripada tuhan Muhammad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Masa Pernikahannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Sayyidah Shauiyyah bin Huyay r.a. telah dua kali menikah sebelurn 
dengan Rasulullah. Suami pertamanya bernama Salam bin Musykam, salah 
seorang pemimpin Bani Quraizhah, namun rumah tangga mereka tidak 
berlangsung lama. Suami keduanya bernama Kinanah bin Rabi’ bin Abil 
Hafiq, yang juga salah seorang pemimpin Bani Quraizhah yang diusir 
Rasulullah dan kemudian menetap di Khaibar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penaklukan Khaibar dan Penawanannya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

Perang Khandaq telah membuka tabir pengkhianatan kaum Yahudi terhadap
 perjanjian yang telah mereka sepakati dengan kaum muslimin. Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wassalam. segera menyadari ancaman yang akan menimpa
 kaum muslimin dengan berpindahnya kaum Yahudi ke Khaibar kernudian 
membentuk pertahanan yang kuat untuk persiapan menyerang kaum muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Setelah perjanjian Hudaibiyah disepakati untuk menghentikan 
permusuhan selama sepuluh tahun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi 
wassalam. merencanakan penyerangan terhadap kaum Yahudi, tepatnya pada 
bulan Muharam tahun ketujuh hijriah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. 
memimpin tentara Islam untuk menaklukkan Khaibar, benteng terkuat dan 
terakhir kaum Yahudi. Perang berlangsung dahsyat hingga beberapa hari 
lamanya, dan akhirnya kemenangan ada di tangan umat Islam. 
Benteng-benteng mereka berhasil dihancurkan, harta benda mereka menjadi 
harta rampasan perang, dan kaum wanitanya pun menjadi tawanan perang. Di
 antara tawanan perang itu terdapat Shafiyyah, putri pemimpin Yahudi 
yang ditinggal mati suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Bilal membawa Shafiyyah dan putri pamannya menghadap Nabi Shallallahu
 ‘alaihi wassalam.. Di sepanjang jalan yang dilaluinya terlihat 
mayat-mayat tentara kaumnya yang dibunuh. Hati Shafiyyah sangat sedih 
melihat keadaan itu, apalagi jika mengingat bahwa dirinya menjadi 
tawanan kaum muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. memahami
 kesedihan yang dialaminva, kemudian beliau bersabda kepada Bilal, 
“Sudah hilangkah rasa kasih sayang dihatimu, wahai Bilal, sehingga 
engkau tega membawa dua orang wanita ini melewati mayat-mayat suami 
mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. rnemilih Shafiyyah 
sebagai istri setelah terlebih dahulu menawarkan Islam kepadanya dan 
kemudian diterirnanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Seperti telah dikaji di atas, Shafiyyah telah banyak memikirkan 
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam sejak dia belum 
mengetahui kerasulan beliau. Keyakinannya bertambah besar setelah dia 
mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Anas r a. berkata, 
“Rasulullah ketika hendak menikahi Shafiyyah binti Huyay bertanya 
kepadanya, ‘Adakah sesuatu yang engkau ketahui tentang diriku?’ Dia 
menjawab, ‘Ya Rasulullah, aku sudah rnengharapkanrnu sejak aku masih 
musyrik, dan memikirkan seandainya Allah mengabulkan keinginanku itu 
ketika aku sudah merneluk Islam.” Ungkapan Shafiyyah tersebut 
menunjukkan rasa percayanya kepada Rasulullah dan rindunya terhadap 
Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Bukti-bukti yang jelas tentang keimanan Shafiyyah dapat terlihat 
ketika dia memimpikan sesuatu dalarn tidurnya kemudian dia ceritakan 
mimpi itu kepada suaminya. Mengetahui takwil dan mimpi itu, suaminya 
marah dan menampar wajah Shafiyyah sehingga berbekas di wajahnya. 
Rasulullah melihat bekas di wajah Shafiyyah dan bertanya, “Apa ini?” Dia
 menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di 
Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada 
suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja
 yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Menjadi Ummul-Mukminin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. menikahi Shafiyyah dan 
kebebasannya menjadi mahar perkawinan dengannya. Pernikahan beliau 
dengan Shafiyyah didasari beberapa landasan. Shafiyyah telah mernilih 
Islam serta menikah dengan Rasulullah ketika beliau memberinya pilihan 
antara memeluk Islam dan menikah dengan beliau atau tetap dengan 
agamanya dan dibebaskan sepenuhnya. Ternyata Shafiyyah memilih untuk 
tetap bersama Nabi, Selain itu, Shafiyyah adalah putri pemimpin Yahudi 
yang sangat membahayakan kaum muslimin, di samping itu, juga karena 
kecintaannya kepada Islam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi 
wassalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. menghormati Shafiyyah sebagaimana 
hormatnya beliau terhadap istri-istri yang lain. Akan tetapi, 
istri-istri beliau menyambut kedatangan Shafiyyah dengan wajah sinis 
karena dia adalah orang Yahudi, di samping juga karena kecantikannya 
yang menawan. Akibat sikap mereka, Rasulullah pernah tidak tidur dengan 
Zainab binti Jahsy karena kata-kata yang dia lontarkan tentang 
Shafiyyah. Aisyah bertutur tentang peristiwa tersebut, “Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wassalam. tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba unta 
Shafiyyah sakit, sementara unta Zainab berlebih. Rasulullah berkata 
kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah engkau 
memberikan salah satu dan untamu?’ Zainab menjawab, ‘Akankah aku memberi
 kepada seorang perempuan Yahudi?’ Akhirnya, beliau meninggalkan Zainab 
pada bulan Dzulhijjah dan Muharam. Artinya, beliau tidak mendatangi 
Zainab selama tiga bulan. Zainab berkata, ‘Sehingga aku putus asa dan 
aku mengalihkan tempat tidurku.” Aisyah mengatakan lagi, “Suatu siang 
aku melihat bayangan Rasulullah datang. Ketika itu Shafiyyah mendengar 
obrolan Hafshah dan Aisyah tentang dirinya dan mcngungkit-ungkit 
asal-usul dirinya. Betapa sedih perasannya. Lalu dia mengadu kepada 
Rasulullah sambil menangis. Rasulullah menghiburnya, ‘Mengapa tidak 
engkau katakan, bagaimana kalian berdua lebih baik dariku, suamiku 
Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa.” Di dalam hadits riwayat 
Tirmidzi juga disebutkan, “Ketika Shafiyyah mendengar Hafshah berkata, 
‘Perempuan Yahudi!’ dia menangis, kemudian Rasulullah menghampirinya dan
 berkata, ‘Mengapa cngkau menangis?’ Dia menjawab, ‘Hafshah binti Umar 
mengejekku bahwa aku wanita Yahudiah.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi 
wassalam. bersabda, ‘Engkau adalah anak nabi, pamanmu adalah nabi, dan 
kini engkau berada di bawah perlindungan nabi. Apa lagi yang dia 
banggakan kepadamu?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. kemudian 
berkata kepada Hafshah, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, Hafshah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Salah satu bukti cinta Hafshah kepada Nabi terdapat pada hadits yang 
diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalarn Thabaqta-nya tentang istri-istri Nabi
 yang berkumpul menjelang beliau wafat. Shafiyyah berkata, “Demi Allah, 
ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” 
Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal 
yang demikian, beliau berkata, “Berkumurlah!” Dengan terkejut mereka 
bertanya, “Dari apa?” Beliau menjawab, “Dari isyarat mata kalian 
terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Setelah Rasulullah wafat, Shafiyyah merasa sangat terasing di tengah 
kaum muslimin karena mereka selalu menganggapnya berasal dan Yahudi, 
tetapi dia tetap komitmen terhadap Islam dan mendukung perjuangan Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wassalam. Ketika terjadi fitnah besar atas kematian 
Utsrnan bin Affan, dia berada di barisan Utsman. Selain itu, dia pun 
banyak meriwayatkan hadits Nabi. Dia wafat pada masa kekhalifahan 
Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian 
menguburkannya di Baqi’. Semoga Allah memberinya tempat yang lapang dan 
mulia di sisiNya. Amin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: buku Dzaujatur-Rasulullah &lt;br /&gt;
&lt;div align="center" style="text-align: left;"&gt;
&amp;nbsp;[&lt;a href="http://kisahislami.com/" target="_blank"&gt;kisah islami&lt;/a&gt;]&lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/03/ummul-mukminin-sofiah-binti-huyai-bin.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg22Sw15e5j0r89cdInw5WtbdzVQ8Ks4Pe3tM87ACIbf1yp9Q9GfxSqC96P6Zl4sG8U2hwngSiGDfLq3rOvWQXQJ5bT-yTocePAm_YF3F-i56bTizuptnVXalxun-MWFSBlTF8XMmjOFEY6/s72-c/ummu-habibah.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-5177802685948390346</guid><pubDate>Thu, 28 Feb 2013 20:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T13:17:55.026-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">an nissa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hikmah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">historia</category><title>Asma Binti Umais Muslimah Pilihan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKgC2s08Pxrtg_REDrrQ96u52YYEzZSZoLoYKzeBnDT43iilNmhbL1Rd-ZpDSD_bAeqhJvGYCktrB4uKmzoQuK9oC0vfsTkGuxJRY1b74Hi206FaCLo4owbL_og4MWFMUXZq52PN1a5pgk/s1600/mawar03.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKgC2s08Pxrtg_REDrrQ96u52YYEzZSZoLoYKzeBnDT43iilNmhbL1Rd-ZpDSD_bAeqhJvGYCktrB4uKmzoQuK9oC0vfsTkGuxJRY1b74Hi206FaCLo4owbL_og4MWFMUXZq52PN1a5pgk/s1600/mawar03.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;SIAPAKAH ASMA' BINTI UMAIS &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Ibn Katsir menulis di dalam kitabnya Bidayah wan Nahiyah beliau ialah&amp;nbsp; Asma
 binti Umais bin Maadd bin Tamin al Khatsamiyyah adalah isteri Khalifah 
Abu Bakar ra yang sebelumnya diperisterikan oleh Jafar bin Abi Talib.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Dari perkahwinan dengan Jafar bin Abi Talib beliau&amp;nbsp; melahirkan tiga putra yakni Abdullah, Muhammad dan Aunan.[&lt;i&gt; kitab Nisaa’ Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi &lt;/i&gt;]&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Perkahwinan
 dengan Abu Bakar ra beliau melahirkan Muhammad bin Abu Bakar ra. 
Apabila Asma berkahwin dengan Ali ra, maka Muhammad bin Abu Bakar 
menjadi anak tiri atau anak angkat kepada Ali ra.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Setelah Abu Bakar ra meninggal dunia beliau berkahwin pula dengan Ali bin Abi Talib , adek suaminya yang pertama.[&lt;i&gt;Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini&lt;/i&gt;] Beliau adalah isteri ke enam bagi Ali ra.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Perkhwinan 
dengan Ali melahirkan Yahya dan Muhammad al Ashgar.Ibn Katsir mengambil 
riwayat ini dari Ibnul Kalbi. Bagaimanapun Ibn Katsir mengatakan al 
Waqidi mengatakan “ Beliau memperoleh dua orang putra darinya, Yahya dan
 Aun, adapun Muhammad al Ashghar berasal dari ummul walad&lt;i&gt;[Ummul walad adalah hamba wanita&lt;/i&gt;]. Dalam hal ini kita dapati ada perselisihan pendapat penulis sejarah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;FITNAH PERIHAL RENGGANGNYA KELUARGA ABU BAKAR RA. DENGAN KELUARGA ALI RA.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Suatu
 yang istimewa dengan Asma binti Umais, beliau adalah sahabat terdekat 
Sitti Fatimah r.a. Asma inilah yang mendampingi Fatimah r.a. dengan 
setia dan melayaninya dengan penuh kasih-sayang&amp;nbsp; semasa sakit&amp;nbsp; hingga detik-detik terakhir hayatnya.[&lt;i&gt;Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini&lt;/i&gt;]&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Kalau demikian rapat hubungan Asma ra&amp;nbsp; dengan
 Fatimah ra bermakna rapat jugalah hubungan dengan Abu Bakar ra , kerana
 masa itu Asma adalah isteri Khalifah Abu Bakar. Perlu diingat Fatimah 
ra meninggal dunia enam bulan selepas Rasullah saw meninggal dunia. Jadi
 bagaimana boleh timbul fitnah kerengangan hubungan Fatimah ra dan Ali 
ra dengan Abu Bakar ra.? Dikatakan berita kewafatan Fatimah ra. telah 
dirahsiakan dari pengetahuan Abu Bakar ra.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Rumah Fatimah r.a @ Ali r.a&amp;nbsp; hanya
 ditepi masjid Nabawi, dan ABu Bakar adalh Imamnya – mungkinkah kematian
 Fatimah r.a menjadi rahsia? Asma bt Umais r.a yang menguruskan jenazah 
Fatimah r.a adalah sahabat baik Fatimah r.a adalah isteri Abu Bakar r.a!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;HIJRAH ASMA’ KE MADINAH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
PERJALANAN
 dari Habsyah ke Madinah terasa begitu lama. Rindu pada insan mulia, 
anak saudara suaminya sendiri, membuak-buak di hatinya. Meskipun hidup 
di Habsyah aman dan tenang di bawah pemerintahan Najasyi yang adil serta
 terhindar daripada gangguan kafir Quraisy, hatinya tetap rindu bagi 
bersama insan mulia dalam menegakkan agama Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Jauh
 lagikah? Saya tidak sabar tiba di Madinah. Inilah yang saya harapkan 
sekian lama;' kata Asma' binti Umais pada suaminya, Jaafar bin Abi Talib
 yang mengetuai penghijrahan kaum Muslimin ke Habsyah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Insya-Allah tidak lama lagi;' jawab Jafar lirih.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Jaafar
 memandang ketiga-tiga anaknya yang dilahirkan di Habsyah iaitu 
Muhammad, Abdullah dan Aun. Mereka masih kecil dan belum mengerti apakah
 yang sedang bergolak di hati ibu dan ayah mereka. Mereka belum tahu 
erti perjuangan menegakkan agama Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Namun,
 di bawah didikan Rasulullah nanti, Jaafar mahu melihat mereka membesar 
menjadi pejuang-pejuang agama yang memiliki iman yang kental.&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Jaafar kemudian menoleh pada isterinya. "Tidak sedihkah meninggalkan anak susuanmu Abdullah?" Jaafar cuba menduga hati Asma'. Asma'
 termenung mendengar pertanyaan suaminya itu. Tujuh tahun lamanya dia 
tinggal di Habsyah sesudah berhijrah ke sana bersama segelintir kaum 
Muslimin yang lain demi menyelamatkan diri daripada gangguan kafir 
Quraisy.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Selama
 tujuh tahun, mereka begitu akrab dengan Najasyi yang begitu baik kepada
 mereka. Selepas Najasyi masuk Islam di tangan Jaafar, Asma' mendapat 
tempat yang istimewa dalam keluarga raja itu. Ini
 terbukti apabila Najasyi menamakan puteranya nama yang serupa dengan 
anaknya, Najasyi meminta Asma' menyusukan puteranya bersama-sama 
anaknya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Abdullah
 anak susuan saya dan bumi Habsyah tetap saya ingati. Namun, rindu saya 
pada Rasulullah dan negara Islam Madinah, tidak ada tolak bandingnya;' 
jawab Asma'.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Jaafar
 terangguk-angguk mendengar kata-kata isterinya. "Saya mendapat khabar 
Rasulullah sedang menunggu kepulangan kita. Beliau juga begitu merindui 
kita semua kata Jaafar.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Selepas
 menempuh perjalanan yang lama, akhimya rombongan mereka tiba di 
Madinah. Ketika itu, kaum Muslimin sedang meraikan kemenangan mereka 
mengalahkan kafir Quraisy dalam perang Khaibar.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Allahu
 akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!" Rasulullah dan kaum Muslimin 
bertakbir memuji kebesaran Allah atas kemenangan mereka itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;MUSLIMAH PILIHAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Ketika itulah Jaafar dan rombongannya tiba di hadapan Rasulullah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Sebaik sahaja beliau melihat Jaafar, beliau begitu gembira. Beliau segera memeluk Jaafar dan mencium dahinya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Demi
 Allah, aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakan diriku, kedatangan
 Jaafar atau kemenangan Khaibar kata Rasulullah kepada seluruh hadirin.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma' dan Jaafar tinggal di Madinah dengan penuh bahagia di samping menimba ilmu yang berharga daripada Rasulullah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Isteriku,
 saya telah mendapat perintah daripada Rasulullah supaya berangkat ke 
Syam memerangi tentera Byzantine;' ujar Jaafar kepada Asma' pada suatu 
hari.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Siapakah yang memimpin tentera Muslimin?" soal Asma'.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Zaid
 bin Harisah. Akan tetapi, sekiranya dia syahid, sayalah yang 
menggantikan tempatnya jawab Jaafar, "Pergilah suamiku. Semoga Allah 
memberi kemenangan ke atas kaum Muslimin” kata Asma' kepada suaminya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Seluruh
 umat Islam temanti-nanti kepulangan kaum Muslimin. Belum ada khabar 
berita sama ada kaum Muslim memperoleh kemenangan atau sebaliknya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Hati
 Asma' bergetar apabila Rasulullah datang ke rumahnya. Rasulullah 
mendekati ketiga-tiga anak Asma', lalu mencium mereka dengan , mata 
berlinangan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Wahai
 Rasulullah, apakah yang membuatkan anda menangis? Adakah anda telah 
mendapat khabar tentang Jaafar dan sahabat-sahabatnya?" soal Asma'.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
"Benar, dia telah gugur syahid hari ini” jawab Rasulullah ringkas.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Mendengar
 jawapan Rasulullah itu, Asma' tidak dapat menahan rasa sedihnya. Dia 
menangis teresak-esak di samping anak-anaknya. Namun, dia tetap sabar 
demi mengharapkan reda Allah .&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;ASMA’ MENJADI ISTERI ABU BAKAR AS-SIDDIQ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Tidak
 lama sesudah itu, Asma' berkahwin dengan Abu Bakar as-Siddiq selepas 
isteri beliau, Ummu Rumaan meninggaI. Asma' terus setia di samping Abu 
Bakar, sehingga beliau dilantik menjadi khalifah selepas Rasulullah 
wafat. Asma' juga bersabar ketika menghadapi saat-saat Abu Bakar sakit 
kuat. "Asma',
 apabila aku meninggal dunia, mandikanlah jasadku. Dan bukalah puasamu 
agar dirimu lebih kuat:” pesan Abu Bakar apabila dia merasakan maut 
semakin menghampirinya. "Baiklah:” jawab Asma' sambil matanya tidak lepas memandang suaminya yang berada di ambang sakaratul maut. Tidak lama kemudian, lnnalillahi wainna ilaihirojiun. Asma' berasa sedih dengan kematian Abu Bakar. Namun begitu, dia segera menunaikan wasiat Abu Bakar agar memandikan jenazahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma'
 kembali bersendirian membesarkan anak-anaknya. Dia mendidik mereka 
dengan memohon kepada Allah agar memperbaiki anak-anaknya sehingga 
mereka akhirnya menjadi imam bagi orang-orang bertakwa.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;ASMA’ MENJADI ISTERI ALI BIN ABI TALIB&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Sedih
 yang dialami oleh Asma' segera diubati oleh Ali bin Abi Talib. Beliau 
datang meminang Asma' selepas Fatimah az-Zahra meninggal. Ketika
 Ali bin Abi Talib dilantik sebagai khalifah yang keempat, Asma' turut 
memikul tanggungjawab sebagai isteri khalifah bagi kaum muslimin dalam 
menghadapi peristiwa-peristiwa besar. Demikianlah
 Asma' binti Umais, wanita yang menjadi pendamping kepada tiga pemimpin 
besar kaum Muslimin iaitu Jaafar bin Abi Talib, Abu Bakar bin Siddiq dan
 Ali bin Abi Talib. Semoga Allah merahmatinya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma' amat mencintai ketiga-tiga suaminya. Katanya, "&lt;b&gt;Aku
 tidak melihat seorang pemuda daripada bangsa Arab yang lebih baik 
daripada Jaafar, dan aku tidak melihat seorang setengah baya yang lebih 
baik daripada Abu Bakar, dan Ali tidak kurang kebaikannya dibandingkan 
kedua-duanya&lt;/b&gt;".&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
[&lt;a href="http://www.islam2u.net/" target="_blank"&gt;islam2u&lt;/a&gt;] &lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/02/asma-binti-umais-muslimah-pilihan.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKgC2s08Pxrtg_REDrrQ96u52YYEzZSZoLoYKzeBnDT43iilNmhbL1Rd-ZpDSD_bAeqhJvGYCktrB4uKmzoQuK9oC0vfsTkGuxJRY1b74Hi206FaCLo4owbL_og4MWFMUXZq52PN1a5pgk/s72-c/mawar03.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-1348494975858097218</guid><pubDate>Mon, 25 Feb 2013 19:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T12:07:32.909-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">an nissa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hikmah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">historia</category><title>Ini Alasan Kenapa Harus Cemburu Kepada Ummul Mukminin Khadijah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiv5GJzN2_K_N3gSR7Of1knAvnjO4MJ8POMMj4zc0Syh6VQ-yHZLu6ag3AvNAvcQOqq5JfD0kTkCFrk8D2lH-I0RC586KgKorYoNh1gWKvsYzrWtyHTmxmsqih81hZPHFXCa-GDIrEQ0sxW/s1600/Makam+Siti+Khadijah+Al+Kubra.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="203" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiv5GJzN2_K_N3gSR7Of1knAvnjO4MJ8POMMj4zc0Syh6VQ-yHZLu6ag3AvNAvcQOqq5JfD0kTkCFrk8D2lH-I0RC586KgKorYoNh1gWKvsYzrWtyHTmxmsqih81hZPHFXCa-GDIrEQ0sxW/s320/Makam+Siti+Khadijah+Al+Kubra.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;em&gt;“Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran. Sebaik-baik wanita 
ialah Khadijah binti Khuwailid,” (HR Muslim dari Ali bin Abu Thalib 
radiyallahu ‘anhu).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Dan sebaik -baik wanita dalam masanya adalah Khadijah.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, membenarkanku 
ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika 
orang-orang tidak mau memberi bantuan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala 
memberiku anak darinya ketika Dia tidak memberiku anak dari wanita 
lain.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Bahkan jauh setelah meninggalnya Khadijjah, ada yang selalu membuat 
Asiyah cemburu. Rasullullah Muhammad SAW tak pernah lupa siapa dan 
bagaimana istri pertamanya. Apa yang kurang dari Aisyah? Muda, cantik, 
pintar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Tapi semuanya ini tentang Khadijah binti Khuwailid istri Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama. Ia lahir pada tahun 68 
sebelum Hijrah. Hidup dan tumbuh serta berkembang dalam suasana keluarga
 yang terhormat dan terpandang, berakhlak mulia, terpuji, berkemauan 
tinggi, serta mempunyai akal yang suci, sehingga pada zaman jahiliyah 
diberi gelar “Ath-Thahirah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Khadijah adalah wanita kaya yang hidup dari usaha perniagaan. Dan 
untuk menjalankan perniagaannya itu ia memiliki beberapa tenaga 
laki-laki, diantaranya adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa 
sallam—sebelum beliau menjadi suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Sebenarnya Khadijah adalah wanita janda yang telah menikah dua kali. 
Pertama ia menikah dengan Zurarah At-Tamimi dan yang kedua menikah 
dengan Atid bin Abid Al-Makhzumi. Dan masing-masing wafat dengan 
meninggalkan seorang putera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Pada masa jandanya, banyak tokoh Quraisy yang ingin mempersuntingnya.
 Namun ia selalu menolaknya. Dibalik semua itu, Allah memang telah 
mempersiapkan Khadijah binti khuwailid untuk menjadi pendamping 
Rasul-Nya yang terakhir, yakni Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi
 wa sallam. Untuk pembela dan penolong risalah yang beliau sampaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Pada usianya yang ke empat puluh, beliau menikah dengan Nabi Muhammad
 shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada waktu itu Nabi Muhammad shallallahu
 ‘alaihi wa sallam belum diangkat menjadi rasul dan baru berusia 25 
tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Perbedaan usia tidaklah menimbulkan permasalahan bagi rumah tangga 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan, Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wa sallam pada waktu membentuk rumah tangga dengannya tidak 
mempunyai isteri yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 
dikaruniai beberapa putera oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Qosim, 
Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Namun putera 
beliau yang laki-laki meninggal dunia sebelum dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Suatu hari Khadijah mendapatkan suaminya pulang dalam keadaan 
gemetaran. Terpancar dari raut wajahnya kekhawatiran dan ketakutan yang 
sangat besar. “Selimuti aku!…., Selimuti aku!…, “ seru Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wa sallam kepada isterinya. Demi melihat kondisi yang seperti 
itu, tidaklah membuat Khodijah menjadi panik. Kemudian diselimuti dan 
dicoba untuk menenangkan perasaan suaminya. Rasul pun segera 
menceritakan pada istrinya, kini tanpa disadarinya, tahulah ia bahwa 
suaminya adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan tenang dan 
lemah lembut, Khadijah berkata : ”Wahai putera pamanku, Demi Allah, dia 
tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sesungguhnya engkau 
termasuk orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, berkata benar, 
setia memikul beban, menghormati dan suka menolong orang lain”. Tutur 
kata manis dari sang istri menjadikan beliau lebih percaya diri dan 
tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Diawal permulaan Islam, peranan Khadijah tidaklah sedikit. Dengan 
setia ia menemani suaminya dalam menyampaikan Risalah yang diemban oleh 
beliau dari Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Wanita pertama yang beriman kepada
 Allah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya 
menuju jalan Rabb-Nya. Dia yang membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi 
wa sallam dalam mengibarkan bendera Islam. bersama Rasulullah sebagai 
angkatan pertama. Dengan penuh semangat, Khadijah turut berjihad dan 
berjuang, mengorbankan harta, jiwa, dan berani menentang kejahilan 
kaumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Khadijah seorang yang senantiasa menentramkan dan menghibur Rasul 
disaat kaumnya mendustakan risalah yang dibawa. Seorang pendorong utama 
bagi Rasul untuk selalu giat berda’wah, bersemangat dan tidak pantang 
menyerah. Ia juga selalu berusaha meringankan beban berat di pundak 
Rasul. Perhatikan pujian Rasul terhadap Khadijah: “Dia (Khadijah) beriman kepadaku disaat orang-orang mengingkari. Ia 
membenarkanku disaat orang mendustakan. Dan ia membantuku dengan 
hartanya ketika orang-orang tiada mau,” (HR. Ahmad, Al-Isti’ab karya 
Ibnu Abdil Ba’ar)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Kebijakan, kesetiaan dan berbagai kebaikan Khadijah tidak pernah 
lepas dari ingatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sampai 
Khadijah meninggal. Ia benar-benar seorang istri yang mendapat tempat 
tersendiri di dalam hati Rasulullah shallallalhu ‘alaihi wa sallam. 
Betapa kasih beliau kepada Khadijah, dapat kita simak dari ucapan 
‘Aisyah . “Belum pernah aku cemburu terhadap istri-istri Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana cemburuku pada Khadijah, 
padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa 
sallam selalu menyebut-nyebut namanya, bahkan adakalanya menyembelih 
kambing dan dibagikannya kepada kawan-kawan Khadijah. Bahkan pernah saya
 tegur, seakan-akan di dunia tidak ada wanita selain Khadijah, lalu Nabi
 menyebut beberapa kebaikan Khadijah, dia dahulu begini dan begitu, 
selain itu, aku mendapat anak darinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Khadijah binti Khuwailid, wafat tiga tahun sebelum hijrah dalam usia 
65 tahun. Kepergiaannya membuat kesedihan yang sangat mendalam di hati 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun umat Islam. Ia pergi 
menghadap Rabb-Nya dengan meninggalkan banyak kebaikan yang tak 
terlupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Itulah Khadijah binti Khuwailid, yang Allah pernah menyampaikan 
penghormatan (salam) kepadanya dan Allah janjikan untuknya sebuah rumah 
di Syurga. Sebagaimana telah disebut dalam hadist dari Abu Hurairah: 
“Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: 
“Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepada engkau dengan membawa 
bejana berisi lauk pauk atau makanan atau minuman. Apabila ia datang 
kepadamu, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya Yang Maha Mulia 
lagi Maha Agung dan juga dariku dan kabarkanlah berita gembira kepadanya
 mengenai sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara di dalamnya 
tidak ada keributan dan kesusahan,” (HR Muslim dari Abu Hurairah 
radiyallahu ‘anhu).&lt;br /&gt;

Itulah Bunda Khadijjah. Perempuan yang selalu membuat Aisyah cemburu. [&lt;a href="http://kisahislami.com/" target="_blank"&gt;tarbiyahkehidupan&lt;/a&gt;] </description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/02/ini-alasan-kenapa-harus-cemburu-kepada.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiv5GJzN2_K_N3gSR7Of1knAvnjO4MJ8POMMj4zc0Syh6VQ-yHZLu6ag3AvNAvcQOqq5JfD0kTkCFrk8D2lH-I0RC586KgKorYoNh1gWKvsYzrWtyHTmxmsqih81hZPHFXCa-GDIrEQ0sxW/s72-c/Makam+Siti+Khadijah+Al+Kubra.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-8587446820176643280</guid><pubDate>Tue, 12 Feb 2013 00:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-02-28T08:13:34.746-07:00</atom:updated><title>Dongeng Gembira Kak Galuh</title><description>&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2QWC8SmEleftiniE2zggofHjNwoh2wseOhfgfQDyoiFeQVS5Zd35HT0A2vWCyQttaVT0DSVE29yK2JrmC69EMeRoN27cg7hglXSZc48Rs1emZds2pGbQCuWVyFekEXw1nh20i0QzQRRqT/s1600/Kak+Galuh+mendongeng.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2QWC8SmEleftiniE2zggofHjNwoh2wseOhfgfQDyoiFeQVS5Zd35HT0A2vWCyQttaVT0DSVE29yK2JrmC69EMeRoN27cg7hglXSZc48Rs1emZds2pGbQCuWVyFekEXw1nh20i0QzQRRqT/s320/Kak+Galuh+mendongeng.jpg" height="320" width="269" /&gt;&lt;/a&gt;Berangkat dari kekhawatiran akan lahirnya generasi yang narsisme dan konsumtif, perempuan yang bernama lengkap Galuh Kencono Wulan ini mentekadkan diri untuk fokus dan berkonsentrasi di dunia pendidikan anak-anak. Bersama teman-teman sevisi nya, Kak Galuh biasa ia dipanggil, mengelola sebuah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang bernama Rumah Cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum terjun menjadi pengelola TBM, perempuan lulusan Psikologi UPI YAI Jakarta ini pernah mengajar sebagai mentor Bahasa Inggris di lembaga kursus LPIA (2006) dan fasilitator program Sahabat Air dan Sanitasi Forum Komunikasi Pengelolaan Air Minum Indonesia (FORKAMI) (2011-2012).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendongeng adalah metode yang saat ini sedang ditekuninya untuk mengadakan pendekatan kepada anak-anak. Metode ini sesungguhnya bukan metode baru, karena dongeng sudah dikenalkan padanya sejak usia balita oleh kedua orang tuanya. Beranjak remaja, ia kerap ‘bercerita’ kepada sepupu-sepupu kecilnya yang sedang menginap di rumah hingga saat mereka kembali ke rumah masing-masing cerita-cerita itu masih lekat dalam ingatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika menikah dan memiliki tiga anak, kebiasaan mendongeng itu kembali dilakukan kepada ketiga anaknya di setiap saat. Ia pun merasakan secara langsung dahsyatnya pengaruh mendongeng yang mampu menanamkan nilai-nilai positif dari cerita kepada ketiga anaknya. Dalam kegiatan ‘bercerita’ ini juga terjadi dialog dan diskusi yang membuat kekuatan cerita itu semakin membekas dalam ingatan anak-anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak berhenti di situ, saat teman-teman anak-anaknya mulai ‘rajin’ dan ‘betah’ berkumpul dan bermain di rumahnya maka ia pun memutuskan untuk membuka rumah baca sebagai fasilitas bermain anak-anak sekitar rumah. Metode dongeng yang selama ini sudah ia terapkan pada anak-anaknya sendiri mulai ia terapkan kepada tamu anak-anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, Rumah Baca yang telah sempat ia rintis seorang diri mendapat bantuan tenaga dan pikiran yang kontributif dari teman-teman sevisinya yang juga ingin memberdayakan rumah baca sebagai alternatif tempat bermain yang edukatif dan menyenangkan. Di bawah naungan Forum Lingkar Pena cabang Depok, tepatnya pada tanggal 21 juli 2012 rumah baca independent yang ia rintis kemudian berjalan dan melebur menjadi sebuah TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang bernama Rumah Cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendongeng tetap menjadi metode andalannya dalam mengembangkan TBM karena metode ini ternyata sangat disukai oleh anak-anak. Teknik mendongengnya disertai oleh lagu-lagu serta kegiatan-kegiatan interaktif lainnya sehingga mendongeng dapat menjadi sebuah paket alternative pembelajaran yang sangat menghibur dan menyenangkan bagi anak-anak.  Kegiatan mendongeng bulanan sebagai metode pendekatan ini, rutin dilakukan olehnya dan teman-teman yang biasa dipanggil dengan Relawan Cahaya  setiap bulannya di pekan kedua. Sejak saat itu ia dan teman-teman relawan cahaya mulai mendongeng dengan serius dalam arti memberikan penampilan terbaik dalam setiap even mendongeng agar anak-anak yang mendengarkan pun serius menerima nilai-nilai moral cerita untuk dijadikan referensi aksinya dalam menghadapi masalah apapun di dunia kecil mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motto mendongengnya adalah Satu Cerita Satu Cahaya. Filosofinya semakin banyak ia bercerita kepada anak-anak, maka akan semakin banyak anak-anak yang menerima cahaya berupa pesan moral dari cerita yang akan menembus ke dalam alam bawah sadar pendengar cerita, hingga lahirlah jiwa-jiwa yang baru. Jiwa-jiwa yang akan membawa perubahan besar pada sebuah peradaban mulia di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cita-cita Kak Galuh adalah melihat anak-anak Indonesia tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang cerdas, memiliki karakter, berakhlak dan memiliki cita-cita tinggi yang bermanfaat untuk masyarakat. Semoga saja lewat TBM Rumah Cahaya Depok yang ia kelola bersama relawan cahaya lainnya saat ini, cita-cita itu bisa terwujud.</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/03/dongeng-gembira-kak-galuh.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2QWC8SmEleftiniE2zggofHjNwoh2wseOhfgfQDyoiFeQVS5Zd35HT0A2vWCyQttaVT0DSVE29yK2JrmC69EMeRoN27cg7hglXSZc48Rs1emZds2pGbQCuWVyFekEXw1nh20i0QzQRRqT/s72-c/Kak+Galuh+mendongeng.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-1451143621891993873</guid><pubDate>Mon, 11 Feb 2013 20:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T11:34:54.609-06:00</atom:updated><title>Aktifita</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJ8LRh4CF4GP3O9SCeEI2uZoIqAsXqUYBhSnqg4utF11WD_4Tl6P7Mb6o42KeWC7Dnrmqn-4FbFvJy8JOhaDuZVq5jNKzotROVyFaFw5labUm696u_D341m6CnxiWsaW2X33Rba97TQ2nk/s1600/Umi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJ8LRh4CF4GP3O9SCeEI2uZoIqAsXqUYBhSnqg4utF11WD_4Tl6P7Mb6o42KeWC7Dnrmqn-4FbFvJy8JOhaDuZVq5jNKzotROVyFaFw5labUm696u_D341m6CnxiWsaW2X33Rba97TQ2nk/s320/Umi.jpg" width="189" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Bergerak dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain itu sangat menyenangkan. Selalu memberi energi baru untuk terus bertahan hidup. Selain mendongeng, menulis dan membaca, saya juga menjadi fasilitator sebuah program peduli lingkungan dari LSM bernama FORKAMI (Forum Komunikasi Pengelolaan Kualitas Air Minum Indonesia).&amp;nbsp; Dari sekolah ke sekolah di seluruh penjuru ibukota kami mengusung tema-tema konservasi air, cinta lingkungan hingga bagaimana caranya menjaga kebersihan diri dan lingkungan sebagai materi sosialisasi kami. Sasaran kami adalah anak-anak Sekolah Dasar. Mereka&amp;nbsp; kami fasilitasi untuk menjadi agen-agen perubahan yang kelak akan memiliki kesadaran untuk bersahabat dengan lingkungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Tak ada kata terlambat untuk membuat perubahan-perubahan kecil yang mungkin akan menjadi gerakan besar untuk menyelamatkan bumi dan moral peradaban beberapa decade ke depan. Dan itu ada di pundak anak-anak masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Training kepenulisan anak, mendongeng, memberikan ruang untuk membaca, belajar dan bermain bagi anak-anak, memfasilitasi anak-anak untuk peduli lingkungan dan lain-lainnya hanyalah langkah kecil yang sedang saya coba jalankan untuk berdamai dengan keadaan yang terjadi hari ini. Saya sadar masih banyak PR yang harus saya kerjakan demi melihat di dunia anak-anak saya menjadi dewasa kelak, akan datang masa seseorang menjadi malu untuk mengkhianati hati nuraninya sendiri. </description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/03/aktifita.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJ8LRh4CF4GP3O9SCeEI2uZoIqAsXqUYBhSnqg4utF11WD_4Tl6P7Mb6o42KeWC7Dnrmqn-4FbFvJy8JOhaDuZVq5jNKzotROVyFaFw5labUm696u_D341m6CnxiWsaW2X33Rba97TQ2nk/s72-c/Umi.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-5129423357412064076</guid><pubDate>Mon, 11 Feb 2013 20:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T11:35:12.517-06:00</atom:updated><title>Jejak Pena</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi93o0QPd9nFSJHnIi2YpFo8BV9nNiprOTd9ckUydocpTYlk4sfKOqap2Gj4bVbzHe3PIEgF8TtemCOE486xpWmjvONIeVApsbB0I3vJfVUz4OZaYBJNczNu524vucKlT_vdeXdaXZ12Fy/s1600/Sweet+Candy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi93o0QPd9nFSJHnIi2YpFo8BV9nNiprOTd9ckUydocpTYlk4sfKOqap2Gj4bVbzHe3PIEgF8TtemCOE486xpWmjvONIeVApsbB0I3vJfVUz4OZaYBJNczNu524vucKlT_vdeXdaXZ12Fy/s400/Sweet+Candy.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ada yang berkata bahwa ketika kita hanya bercerita tanpa menuliskannya maka kata-kata yang terucap akan seperti debu yang tertiup angin. Hilang tak membekas. Tapi menurut saya itu tidak sepenuhnya benar. Kekuatan bercerita dan menumpahkan ide dalam bentuk tulisan sama-sama memiliki keajaiban yang berbeda. Mengingat setiap manusia terlahir unik dan personal maka kedua cara menumpahkan ide itu sama-sama besarnya memberi pengaruh pada pendengar atau pembacanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kecil saya sudah menulis. Menulis adalah sarana saya berbicara tentang apa yang saya rasakan. Saya ingat betul dari sekian mata pelajaran yang ada di sekolah, bahasa indonesialah yang paling saya sukai. Karena ada pelajaran tentang mengarangnya. Entah apa yang terjadi, tiap menggoreskan pena pada sebuah kertas, semangat bercerita itu muncul dengan cara yang menyenangkan tanpa saya sadar saya telah menghabiskan kertas dalam batas yang tak wajar. Saya sudah mulai menulis cerpen sejak SMP, hanya bermodal buku dan pensil. Dan juga hanya di baca oleh kalangan terbatas. Teman-teman dekat saja. Tak bisa di pungkiri kecintaan menulis pun lahir karena kesukaan membaca yang juga tumbuh sejak dini. Saya bahkan ingat betul jika kedua orang tua saya berpergian keluar kota besar, oleh-oleh yang paling saya tunggu adalah buku-buku cerita. Tak jadi soal meski sebagian besarnya hanyalah buku bekas yang mereka telah usahakan beli dari tukang loak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak bergabung bersama FLP Depok saya mulai berani mempublikasikan karya tulis saya. Meski baru buku-buku keroyokan, tapi paling tidak saya telah berusaha memecahkan telur ‘ketidak percayaan diri’ saya bahwa menulis untuk di baca orang lain adalah kegiatan menyenangkan lainnya yang tak boleh di penjara hanya dalam angan.&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan ini semua sama sekali belum ada apa-apanya. Paling tidak
saya masih ingin mencoba menulis buku sendiri sebagai PR yang harus saya
tuntaskan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/03/jejak-pena.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi93o0QPd9nFSJHnIi2YpFo8BV9nNiprOTd9ckUydocpTYlk4sfKOqap2Gj4bVbzHe3PIEgF8TtemCOE486xpWmjvONIeVApsbB0I3vJfVUz4OZaYBJNczNu524vucKlT_vdeXdaXZ12Fy/s72-c/Sweet+Candy.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-6381848627222547180</guid><pubDate>Mon, 11 Feb 2013 20:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T11:35:27.892-06:00</atom:updated><title>Idea</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxq_MTJ1R4trdo9CedClE8OitT7jTwAc2Q2JLr2Q-mNL5F_xgBv4SnxWQczt0va1F3c9SR3ygzAqY90lV_uGVB6-u1lfVMEOKSDMtrLqayZU1FVqtxB4MTRXIRUHH3yo-DhxlA19KPphvS/s1600/Kak+Galuh.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxq_MTJ1R4trdo9CedClE8OitT7jTwAc2Q2JLr2Q-mNL5F_xgBv4SnxWQczt0va1F3c9SR3ygzAqY90lV_uGVB6-u1lfVMEOKSDMtrLqayZU1FVqtxB4MTRXIRUHH3yo-DhxlA19KPphvS/s320/Kak+Galuh.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Suatu hari saya pernah menghayal bersama sahabat seperjuangan di Rumah Cahaya, bahwa suatu saat nanti kami akan memiliki lahan sendiri yang luas pekarangannya dan bisa bermanfaat untuk memberdayakan lingkungan sekitar di setiap lini terutama untuk anak-anak. Ide tentang children center ini bukan sebuah angan-angan belaka. Kami sangat percaya mimpi yang telah menjadi ide itu akan terwujud suatu saat nanti. Keresahan yang sama akan lahirnya generasi yang anti social, narsisme dan eksploitatif membuat kami terus merajut kepingan-kepingan ide itu sedikit demi sedikit saat ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak sedikit rintangan dan ujian yang harus kami hadapi untuk tetap konsisten pada ide itu, padahal belum juga setahun ikrar launching kami ucapkan. Namun karena kami percaya sesudah kesulitan akan datang kemudahan maka rasanya tak ada yang perlu kami khawatirkan untuk tetap berjuang meneruskan mimpi-mimpi itu (baca:ide). </description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/03/idea_13.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxq_MTJ1R4trdo9CedClE8OitT7jTwAc2Q2JLr2Q-mNL5F_xgBv4SnxWQczt0va1F3c9SR3ygzAqY90lV_uGVB6-u1lfVMEOKSDMtrLqayZU1FVqtxB4MTRXIRUHH3yo-DhxlA19KPphvS/s72-c/Kak+Galuh.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-5628211308027566393</guid><pubDate>Mon, 11 Feb 2013 19:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T11:36:02.321-06:00</atom:updated><title>Berbagi Cerita</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0Xv90PFkcz8WJybSeEw24GMrocmIafqfXZr2k2ab1nsFxG4mad4vRgaseqfZvW5oiRXaMFFI4oSFhOM4DRmKvWXX-zkXmV3td8-mdtX2CPdrCn6j2fG2qAYEn41UT-zgYLzPdghyphenhyphenGfH00/s1600/Dongeng+Gembira.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0Xv90PFkcz8WJybSeEw24GMrocmIafqfXZr2k2ab1nsFxG4mad4vRgaseqfZvW5oiRXaMFFI4oSFhOM4DRmKvWXX-zkXmV3td8-mdtX2CPdrCn6j2fG2qAYEn41UT-zgYLzPdghyphenhyphenGfH00/s320/Dongeng+Gembira.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Setiap manusia secara fitrahnya sangat senang mendengar cerita. Ini sudah terjadi sejak awal sejarah manusia bermula. Bahkan hampir sebagian besar isi dari kitab-kitab mulia merekam jejak cerita-cerita masa lalu hingga prediksi akhir zaman. Bagi saya sendiri bercerita bukan suatu hal baru. Sejak kecil ibu saya selalu rajin ‘mendongeng’ sebagai sarana mempererat bonding antara kami. Kebiasaan ini menular hingga saya pun senang mendongeng untuk para sepupu-sepupu kecil, berlanjut pada anak-anak saya dan teman-teman mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi Cerita itu selalu memiliki banyak semangat baru bagi saya. Wajah polos anak-anak, aura keceriaan yang mereka tebar saat mendengarkan cerita…sungguh saya begitu mendapatkan banyak hal dari mereka di setiap kesempatan yang saya miliki untuk berbagi cerita. Tak perlu penelitian ilmiah yang merepotkan untuk membuktikan bahwa Berbagi Cerita adalah sarana untuk menumbuhkan keinginan mengaktivasi nilai-nilai baik ke dalam diri. Setidaknya itu yang saya rasakan, dan itu juga yang terjadi pada anak-anak saya sejak mereka berkenalan dengan kegiatan bercerita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu cerita satu cahaya. Bermakna sebagai semangat yang terus tumbuh bagaikan efek domino dan juga seperangkat bonus system MLM yang menggurita dan menyeluruh hingga ke bawah. Semakin banyak cerita yang saya sampaikan maka akan semakin banyak cahaya yang berpendar menerangi hati saya sendiri khususnya dan juga para pendengar cerita saya pada umumnya.</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/03/berbagi-cerita.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0Xv90PFkcz8WJybSeEw24GMrocmIafqfXZr2k2ab1nsFxG4mad4vRgaseqfZvW5oiRXaMFFI4oSFhOM4DRmKvWXX-zkXmV3td8-mdtX2CPdrCn6j2fG2qAYEn41UT-zgYLzPdghyphenhyphenGfH00/s72-c/Dongeng+Gembira.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-6243699185915187362</guid><pubDate>Mon, 11 Feb 2013 19:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T11:37:41.965-06:00</atom:updated><title>Rumah Cahaya</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRR5QXD0oSqw8nPr2lo8IuzVrX3_VXpzs-H4L_lESyMpI9_BSjuNYsBGj9KCionDITXglxJvtW6d9iQiPVTaFz6vRMSOQ36RzIkjbJ18-L7FLfzGpQl0BhzWfKifXrpNsMnHhFC8_m-OTJ/s1600/Rumah+Cahaya.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRR5QXD0oSqw8nPr2lo8IuzVrX3_VXpzs-H4L_lESyMpI9_BSjuNYsBGj9KCionDITXglxJvtW6d9iQiPVTaFz6vRMSOQ36RzIkjbJ18-L7FLfzGpQl0BhzWfKifXrpNsMnHhFC8_m-OTJ/s320/Rumah+Cahaya.jpg" width="292" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Rumah CaHaYa adalah singkatan dari Rumah Baca Hasilkan karYa. Sekitar kurang lebih 3 tahun lalu saya mulai bergabung di komunitas Forum Lingkar Pena Depok. Rumah CaHaYa adalah rumah baca yang dinaungi oleh komunitas FLP. Seiring waktu saya amati kegiatan di Rumah Cahaya porsinya lebih besar berpusat pada pengembangan anak. Ide ini sangat sejalan dengan saya yang setahun sebelum bergabung dg FLPD dan Rumah Cahaya telah mencoba menjadikan rumah saya sebagai rumah baca. Bermula dari seringnya rumah ramai oleh anak-anak dan tamu-tamu kecil mereka. Terkadang mereka bermain bersama, membaca buku-buku koleksi anak-anak saya atau Cuma sekedar berkumpul dan saling curhat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Momen ini begitu sebentar, momen dimana anak-anak ini bereksplorasi menemukan inti dari kehidupan yang akan mereka jalani. Saya sangat ingin, momen-momen itu terekam dengan baik dan menjejak di rumah baca yang saya bangun. Dan Allah dengan segenap cintaNya mengabulkan hingga mengenalkan saya pada Rumah Cahaya, sebuah rumah baca yang memiliki visi dan misi saya yang telah lama terpendam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepingan cerita-cerita tentang Rumah Cahaya menjadi semakin berwarna bagaikan pelangi saat tanggal 21 juli 2012 silam, ide tentang children center itu mulai menjadi kenyataan dengan launchingnya Rumah Cahaya FLP Depok di rumah tercinta kami, Griya Lembah Depok blok B3/20. Tak terkatakan bagaimana rasanya. Bahagianya serupa saat baru saja mendapatkan amanah bayi-bayi lucu dari rahim saya. Tentu saja akan banyak rintangan yang akan kami hadapi untuk tetap membuat Rumah cahaya bercahaya bagi anak-anak sekitarnya. Tapi dengan saling merapatkan shaf, setia pada komitmen awal, semoga cahaya itu semakin berpendar meluas memenuhi hati-hati kecil yang bersentuhan dengannya.</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/03/rumah-cahaya_13.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRR5QXD0oSqw8nPr2lo8IuzVrX3_VXpzs-H4L_lESyMpI9_BSjuNYsBGj9KCionDITXglxJvtW6d9iQiPVTaFz6vRMSOQ36RzIkjbJ18-L7FLfzGpQl0BhzWfKifXrpNsMnHhFC8_m-OTJ/s72-c/Rumah+Cahaya.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-2156212151372016022</guid><pubDate>Sat, 09 Feb 2013 18:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-15T07:48:27.740-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">an nissa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hikmah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">historia</category><title>Ibu Teladan Asma' Binti Abu Bakar As Siddiq Dzatun Nithaqain</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEAT3o3R3GnFXYfPnFysN93stZusuSI1uLcgGtn8t7ALge6E-VOSUwRBJIoyLG-DRWk1s81icPWm0dFgXlidVl6tk17tkOu_7fen5m6-hwJy35yLbIZgNutjMTR7mfrWsDpdOvmGDKOX_L/s1600/Kak+Galuh+Picture-01.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEAT3o3R3GnFXYfPnFysN93stZusuSI1uLcgGtn8t7ALge6E-VOSUwRBJIoyLG-DRWk1s81icPWm0dFgXlidVl6tk17tkOu_7fen5m6-hwJy35yLbIZgNutjMTR7mfrWsDpdOvmGDKOX_L/s320/Kak+Galuh+Picture-01.jpg" width="270" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
“Ya Allah! 
Kasihanilah dia kerana solat yang panjang diselangi tangisan di tengah 
kedinginan malam yang sepi, ketika orang-orang lain sedang nyenyak 
dibuai mimpi. Ya Allah! Kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan 
dahaga ketika bertugas jauh dari Madinah atau Mekah dalam menunaikan 
ibadah puasa kepadaMu. Ya Allah! Aku menyerahkannya di bawah 
pemeliharaanMu, aku redha dengan apa yang telah Engkau tetapkan bagiku 
dan baginya, dan berilah kami pahala orang-orang yang sabar...!" [Doa 
Asma' radhiallahu anha buat puteranya, Abdullah bin Zubair]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma'
 binti Abu Bakar As-siddiq, saudara kepada Aisyah Ummul Mukminin (isteri
 Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam), puteri kepada sahabat 
Rasulullah yang mulia, Saidina Abu Bakar As-siddiq, isteri Zubair bin 
Awwam, pejuang dan tokoh Islam yang mengutamakan redha Allah di dalam 
perjuangannya, Merupakan seorang wanita muhajir yang mulia dan bonda 
kepada Abdullah bin Zubair, salah seorang pejuang yang gugur 
mempertahankan agamanya, dan sesungguhnya kedudukannya ini cukup untuk 
mengangkat darjat beliau ke tempat yang tinggi, mulia dan terpuji. 
Peribadinya dirahmati Allah dengan keistimewaan yang sangat menonjol, 
setanding dengan para Muslimin di ketika itu, cerdas, cerdik, lincah, 
pemurah dan berani.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Kedermawanan 
beliau dapat dilihat jelas melalui ucapan anaknya," Aku belum pernah 
melihat wanita yang sangat pemurah melebihi ibuku termasuk Aisyah 
Radhiallahu anha. Beliau (Aisyah) mengumpulkan apa yang diperolehinya 
sedikit demi sedikit, lantas setelah itu barulah dinafkahkannya kepada 
mereka yang memerlukannya. Sedangkan ibuku, dia tidak pernah menyimpan 
sedikit pun sehingga hari esok"&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kebijaksanaan Dzatun Nithaqain&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Kecemerlangan
 berfikir Asma Radhiallahu anha terpancar dari sikapnya yang penuh 
prihatin dan perhitungan yang bijaksana. Peristiwa Hijrah Abu Bakar 
menyaksikan pengorbanan seorang sahabat demi Islam, tidak meninggalkan 
sesen pun harta untuk keluarganya melainkan dibelanjakan keseluruhannya 
untuk Allah dan rasulNya.&amp;nbsp; Ketika Abu Quhafah (ayah kepada 
Abu Bakar radhiallahu anhu) yang masih musyrik menemui keluarganya, 
beliau berkata kepada Asma', "Demi Allah! Tentu ayahmu telah mengecewakanmu dengan hartanya, di samping akan menyusahkanmu dengan pemergiannya!". Jawab
 wanita yang mulia ini, "Tidak wahai datuk! sekali-kali tidak! Beliau 
banyak meninggalkan wang buat kami" ujarnya sambil menghibur dan 
menenangkan datuknya. Dikumpulkannya batu-batu kerikil yang kemudiannya 
dimasukkan ke dalam lubang tempat kebiasaannya menyimpan wang. Kemudian 
dibawakan datuknya yang buta itu ke tempat simpanan tersebut, lantas 
berkata, "Lihatlah datukku! Beliau banyak meninggalkan wang buat kami!".
 Perkataan tersebut ternyata berjaya meyakinkan Abu Quhafah. Maksud 
perbuatan tersebut adalah untuk menyenangkan hati datuknya, agar tidak 
bersusah hati memikirkan hal tersebut. Malah, Asma'&amp;nbsp; juga 
tidak menginginkan bantuan dari orang musyrik meskipun datuknya sendiri.
 Inilah bukti yang menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap dakwah
 dan kepentingan kaum Muslimin.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Diberi
 julukan sebagai 'dzatun nithaqain' oleh Rasulullah yang membawa erti 
"wanita yang mempunyai dua tali pinggang", sebagai peringatan terhadap 
peristiwa Hijrah yang menyaksikan pengorbanan dan keberanian Asma' yang 
tiada tolok bandingannya. Beliau bersusah payah menyediakan bekalan 
makanan dan minuman buat Rasulullah dan Abu Bakar Radhiallahu anhu di 
saat genting seperti itu. Beliau mengoyakkan ikat pinggangnya kepada dua
 untuk dijadikan tali pengikat untuk mengikat bekalan makanan dan 
minuman tersebut, sehingga kerana peristiwa itu Rasulullah mendoakan 
beliau agar digantikan tali pinggang tersebut dengan yang lebih baik dan
 lebih indah di syurga kelak.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Tidak
 hanya itu pengorbanan Asma Radhiallahu anha. Peristiwa hijrah ini turut
 menyaksikan kekuatan berfikir dan perancangan strategi yang dimiliki 
oleh seorang Muslimah hasil dari aktiviti politik dan kecemerlangan 
berfikir yang diadun dengan ketaqwaan dan keimanan yang teguh. Asma' 
Radhiallahu anha bukan sekadar menjadi penghantar makanan kepada dua 
orang sahabat yang berperanan penting bagi umat Islam, malah beliau juga
 menyampaikan berita-berita penting tentang rencana-rencana pihak musuh 
terhadap kaum Muslimin. Dengan kehamilannya ketika itu, Asma' mengambil&amp;nbsp; peranan
 yang menjanjikan risiko tinggi, di mana bukan saja nyawanya menjadi 
taruhan, malah lebih dari itu, nyawa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa 
Sallam dan ayahnya turut sama terancam. Memikirkan kemarahan musuh Islam
 lantaran lolosnya Rasulullah dari kepungan, kafir Quraisy pastinya akan
 berusaha bersungguh-sungguh mencari-cari Rasulullah Sallallahu Alaihi 
wa Sallam untuk dibunuh kerana bencinya mereka terhadap dakwah Islam dan
 pejuang-pejuangnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Di
 saat-saat genting seperti itu, Asma' mampu meramal segala kemungkinan 
yang bakal berlaku, dan dengan kecerdikan dan penuh perhitungan, beliau 
berjalan menuju Gua Tsur sambil menggembala kambing-kambingnya berjalan 
di belakangnya. Taktik ini dilakukan untuk mengaburi mata pihak musuh 
kerana jejaknya terhapus oleh jejak-jejak kambing gembalaannya itu. 
Tindakan ini belum tentu mampu dilakukan oleh seorang lelaki yang berani
 sekalipun, lantaran hal tersebut bakal mengundang bahaya, kezaliman, 
dan kekejaman orang-orang kafir Quraisy.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Permasalahan
 ini tidak cukup sampai di situ. Setelah kejayaan Rasulullah dan Abu 
Bakar keluar dari tempat persembunyian dan berhasil berhijrah ke 
Madinah, Asma' Radhiallahu anha dan keluarganya didatangi beberapa orang
 Quraisy, di antaranya Abu Jahal yang telah bertindak kasar menampar 
pipi Asma’ Radhiallahu anha dengan sekali tamparan yang mengakibatkan 
subangnya terlepas!. Asma' menjawab dengan penuh diplomasi saat beliau 
ditanya tempat persembunyian Rasulullah dan ayahnya dengan berkata," 
Demi Allah, aku tidak tahu di mana ayahku berada sekarang!"&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Hijrah
 Asma' Radhiallahu anha dan suaminya ke Madinah berlaku selang beberapa 
lama dari hijrah sebelumnya, di mana pada ketika itu Asma' sedang sarat 
mengandungkan Abdullah bin Zubair dan hanya menanti detik-detik 
kelahirannya. Perjalanan yang jauh dan berbahaya ditempuhi jua 
sehinggalah angkatan para sahabat tiba di Quba'. Kelahiran anak pasangan
 sahabat ini disambut dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan. Dialah 
bayi pertama yang dilahirkan di Madinah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sebaik-baik Ummu wa Rabbatul Bait&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Seorang
 muhajirah yang agung, antara wanita yang awal memeluk Islam, sangat 
memuliakan suaminya meskipun Zubair hanya seorang pemuda miskin yang 
tidak mampu menyediakan pembantu buatnya. Hatta tidak mempunyai harta 
yang dapat melapangkan kehidupan keluarganya, melainkan hanya seekor 
kuda yang dijaganya dengan baik. Beliaulah isteri yang sentiasa sabar 
dan setia berkhidmat untuk suaminya, sanggup bekerja keras merawat dan 
menumbuk sendiri biji kurma untuk makanan kuda suaminya di saat Zubair 
sibuk menjalankan tugas-tugas yang diperintah Rasulullah kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Di
 dalam didikannya, keperibadian Abdullah bin Zubair dibentuk. Beliau 
adalah susuk seorang ibu yang sangat memahami peranannya dalam 
melahirkan generasi utama yang berkualiti, generasi yang menjadikan 
kecintaan kepada Allah dan RasulNya di atas segala-galanya, sama ada 
harta, isteri, keluarga mahupun segala jenis perbendaharaan dunia. 
Beliau mencetak keperibadian generasi yang siap berjuang membela bendera
 Islam dan kalimah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Keperibadian 
seperti ini terpancar jelas di dalam diri puteranya, Abdullah bin 
Zubair. Hal ini dapat kita teladani melalui kisah pertemuan terakhir di 
antara seorang ibu dan anak yang saling menyayangi dan mencintai satu 
sama lain, semata-mata kerana kecintaan keduanya kepada Allah Subhanahu 
wa Taala dan RasulNya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Abdullah: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai ibunda!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma':
 Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ya Abdullah! Mengapa 
engkau datang ke sini di saat-saat seperti ini? Padahal batu-batu besar 
yang dilontarkan Hajjaj kepada tenteramu menggetarkan seluruh Kota 
Mekah?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Abdullah: Aku hendak bermusyawarah dengan ibu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma': Tentang masalah apa?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Abdullah:
 Tenteraku banyak meninggalkanku. Mereka membelot dariku ke pihak musuh.
 Mungkin kerana mereka takut terhadap Hajjaj atau mungkin juga kerana 
mereka menginginkan sesuatu yang dijanjikannya sehingga anak-anak dan 
isteriku sendiri berpaling daripadaku. Sedikit sekali jumlah tentera 
yang tinggal bersamaku. Sementara utusan Bani Umayyah menawarkan 
kepadaku apa saja yang ku minta berupa kemewahan dunia asal saja aku 
bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik 
bin Marwan sebagai khalifah. Bagaimana pendapatmu wahai ibu?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma':
 Terserah kepadamu Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang mengetahui 
tentang dirimu? Jika engkau yakin bahawa engkau mempertahankan yang haq 
dan mengajak kepada kebenaran, maka teguhkanlah pendirianmu sepertimana 
para perajuritmu yang telah gugur dalam mengibarkan bendera agama ini! 
Akan tetapi, jika engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu 
engkau adalah seorang anak lelakiku yang pengecut! dan bererti engkau 
sedang mencelakakan dirimu sendiri dan menjual murah harga 
kepahlawananmu selama ini, anakku!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Abdullah: Akan tetapi, aku akan terbunuh hari ini ibu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma' : Itu lebih baik bagimu daripada kepalamu akan dipijak-pijak juga oleh budak-budak Bani Umayyah&amp;nbsp; dengan mempermainkan janji-janji mereka yang sangat sukar untuk dipercayai!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Abdullah: Aku tidak takut mati, Ibu. Tetapi aku khuatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma':
 Tidak ada yang perlu ditakuti perbuatan orang hidup terhadap kita 
sesudah kita mati. Kambing yang sudah disembelih tidak akan merasa sakit
 lagi ketika kulitnya dikupas orang!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Abdullah:
 Semoga Ibu diberkati Allah. Maksud kedatanganku hanya untuk mendengar 
apa yang telah ku dengar dari ibu sebentar tadi. Allah Maha Mengetahui, 
aku bukanlah orang yang lemah dan terlalu hina. Dia Maha Mengetahui 
bahawa aku tidak akan terpengaruh oleh dunia dan segala kemewahannya. 
Murka Allah bagi sesiapa yang meremehkan segala yang diharamkanNya. 
Inilah aku, anak Ibu! Aku selalu patuh menjalani segala nasihat Ibu. 
Apabila tewas, janganlah ibu menangisiku. Segala urusan dari kehidupan 
Ibu, serahkanlah kepada Allah!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma': Yang ibu khuatirkan andainya engkau tewas di jalan yang sesat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Abdullah:
 Percayalah Ibu! Anakmu ini tidak pernah memiliki fikiran sesat untuk 
berbuat keji. Anakmu ini tidak akan menyelamatkan dirinya sendiri dan 
tidak memperdulikan orang-orang Muslim yang berbuat kebaikan. Anakmu ini
 mengutamakan keredhaan ibunya. Aku mengatakan semua ini di hadapan ibu 
dari hatiku yang putih bersih. Semoga Allah menanamkan kesabaran di 
dalam sanubari Ibu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Asma':
 Alhamdulillah! segala puji bagi Allah yang telah meneguhkan hatimu 
dengan apa yang disukaiNya dan yang Ibu sukai pula. Rapatlah kepada Ibu 
wahai anakku, Ibu ingin mencium baumu dan menyentuhmu. Agaknya inilah 
saat terakhir untuk ibu memelukmu..."&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Abdullah:Jangan bosan mendoakan aku Ibu!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Sebelum
 matahari terbenam di petang itu, Abdullah bin Zubair syahid menemui 
Rabbnya. Dia kembali kerana mengutamakan redha Allah dan redha ibunya 
yang beriman. Diriwayatkan, bahawa Al-Hajjaj berkata kepada Asma' 
setelah Abdullah terbunuh :"Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku 
terhadap puteramu ?" Asma' menjawab :"Engkau telah merosak dunianya, 
namun dia telah merosak akhiratmu." Asma' wafat di Mekkah dalam usia 100
 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya 
masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh 
Thabari, Al-Ishaabah dan Siirah Ibnu Hisyam].&amp;nbsp; Semoga Allah meredhai kedua hambaNya, Asma' dan puteranya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Khatimah &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Inilah
 sebuah teladan yang sangat berharga buat kita semua. Asma' Radiallahu 
anha bukan sahaja menunjukkan keberaniannya, kepatuhannya kepada Allah, 
suami dan ayahnya, juga pengorbanannya yang besar, sikap dermawannya dan
 kecemerlangan berfikir yang menjadi cermin keperibadiannya. Bersama 
suaminya, Zubair bin Awwam, terbentuklah keluarga sakinah, mawaddah wa 
rahmah, bukan kerana harta yang melimpah ruah, tetapi&amp;nbsp; limpahan
 barakah dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Taala kerana ahli 
keluarganya yang menjadikan kecintaan mereka hanya kepada Allah dan 
Rasul di atas kecintaan-kecintaan lainnya. Dari keluarga ini, lahirlah 
seorang syuhada yang gagah berani, tidak takut terhadap apapun kecuali 
Allah Subhanahu wa Taala&amp;nbsp; Semoga kisah Asma’ Abu Bakar ini 
akan sentiasa mekar di jiwa kita sebagai motivasi diri dalam menyemai 
kecintaan serta menjalankan kewajipan terhadap Rabbul Izzati. [&lt;a href="http://www.islam2u.net/" target="_blank"&gt;islam2u&lt;/a&gt;]&lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/02/ibu-teladan-asma-binti-abu-bakar-as.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEAT3o3R3GnFXYfPnFysN93stZusuSI1uLcgGtn8t7ALge6E-VOSUwRBJIoyLG-DRWk1s81icPWm0dFgXlidVl6tk17tkOu_7fen5m6-hwJy35yLbIZgNutjMTR7mfrWsDpdOvmGDKOX_L/s72-c/Kak+Galuh+Picture-01.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-1198806820088854645</guid><pubDate>Mon, 04 Feb 2013 19:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T12:20:34.332-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">an nissa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hikmah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">historia</category><title>Kisah Ummu Habibah R.A dan Cobaan Hidupnya</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4J0yo2JLxUO_5RmYQj3w1KRyjm2Sycxd-8x1hY0AKpX9Ya3PYhw0h3dye4D6zaNV4G1qhrRotQG0NsS9GeA_3-I13CpZ7E_nw-7aCZ4mAOkk9VAmWz3ucrPxKJPCT4bF5Z9LdZsFeuJGT/s1600/Jasmine+Flower.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4J0yo2JLxUO_5RmYQj3w1KRyjm2Sycxd-8x1hY0AKpX9Ya3PYhw0h3dye4D6zaNV4G1qhrRotQG0NsS9GeA_3-I13CpZ7E_nw-7aCZ4mAOkk9VAmWz3ucrPxKJPCT4bF5Z9LdZsFeuJGT/s400/Jasmine+Flower.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dalam perjalanan hidupnya, Ummu Habibah banyak mengalami penderitaan 
dan cobaan yang berat. Setelah memeluk Islam, dia bersama suaminya 
hijrah ke Habasyah. Di sana, ternyata suaminya murtad dari agama Islam 
dan beralih memeluk Nasrani. Suaminya kecanduan minuman keras, dan 
meninggal tidak dalam agama Islam. Dalam kesunyian hidupnya, Ummu 
Habibah selalu diliputi kesedihan dan kebimbangan karena dia tidak dapat
 berkumpul dengan keluarganya sendiri di Mekah maupun keluarga suaminya 
karena mereka sudah menjauhkannya. Apakah dia harus tinggal dan hidup di
 negeri asing sampai wafat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam kesedihan terus-menerus. 
Ketika mendengar penderitaan Ummu Habibah, hati Rasulullah sangat 
tergerak sehingga beliau rnenikahinya dan Ummu Habibah tidak lagi berada
 dalam kesedihan yang berkepanjangan. Hal itu sesuai dengan firman Allah
 bahwa: Nabi itu lebih utama daripada orang lain yang beriman, dan 
istri-istri beliau adalah ibu bagi orang yang beriman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Keistimewaan Ummu Habibah di antara istri-istri Nabi lainnya adalah 
kedudukannya sebagai putri seorang pemimpin kaum musyrik Mekah yang 
memelopori perientangan terhadap dakwah Rasulullah dan kaum muslimin, 
yaitu Abu Sufyan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Masa Kecil dan Nasab Pertumbuhannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ummu Habibah dilahirkan tiga belas tahun sebelum kerasulan Muhammad 
Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. dengan nama Ramlah binti Shakhar bin Harb 
bin Uinayyah bin Abdi Syams. Ayahnya dikenal dengan sebutan Abu Sufyan. 
Ibunya bernama Shafiyyah binti Abil Ashi bin Umayyah bin Abdi Syams, 
yang merupakan bibi sahabat Rasulullah, yaitu Utsman bin Affan r.a.. 
Sejak kecil Ummu Habibah terkenal memiliki kepribadian yang kuat, 
kefasihan dalam berbicara, sangat cerdas, dan sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Pernikahan, Hijrah, dan Penderitaannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ketika usia Ramlah sudah cukup untuk menikah, Ubaidillah bin Jahsy 
mempersunting- nya, dan Abu Sufyan pun menikahkan mereka. Ubaidillah 
terkenal sebagai pemuda yang teguh memegang agama Ibrahirn a.s.. Dia 
berusaha menjauhi minuman keras dan judi, serta berjanji untuk memerangi
 agama berhala. Ramlah sadar bahwa dirinya telah menikah dengan 
seseorang yang bukan penyembah berhala, tidak seperti kaumnya yang 
membuat dan menyembah patung-patung. Di dalarn hatinya terbersit 
keinginan untuk mengikuti suaminya memeluk agama Ibrahim a.s.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Sementara itu, di Mekah mulai tersebar berita bahwa Muhammad datang 
membawa agama baru, yaitu agama Samawi yang berbeda dengan agama orang 
Quraisy pada umumnya. Mendengar kabar itu, hati Ubaidillah tergugah, 
kemudian menyatakan dirinya memeluk agama baru itu. Dia pun mengajak 
istrinya, Ramlah, untuk memeluk Islam bersamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Mendengar misi Muhammad berhasil dan maju pesat, orang-orang Quraisy 
menyatakan perang terhadap kaum muslimin sehingga Rasulullah 
memerintahkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Habasyah. Di antara 
mereka terdapat Ramlah dan suaminya, Ubaidillah bin Jahsy. Setelah 
beberapa lama mereka menanggung penderitaan berupa penganiayaan, 
pengasingan, bahkan pengusiran dan keluarga yang terus mendesak agar 
mereka kembali kepada agama nenek moyang. Ketika itu Ramlah tengah 
mengandung bayinya yang pertama. Setibanya di Habasyah, bayi Ramlah 
lahir yang kemudian diberi nama Habibah. Dari nama bayi inilah kemudian 
nama Ramlah berubah menjadi Ummu Habibah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Selama mereka di Habasyah terdengar kabar bahwa kaum muslimin di 
Mekah semakin kuat dan jumlahnya bertambah sehingga mereka menetapkan 
untuk kembali ke negeri asal mereka. Sementara itu, Ummu Habibah dan 
suaminya memilih untuk menetap di Habasyah. Di tengah perjalanan, 
rombongan kaum muslimin yang akan kembali ke Mekah mendengar kabar bahwa
 keadaan di Mekah masih gawat dan orang-orang musyrik semakin 
meningkatkan tekanan dan boikot terhadap kaum muslimin. Akhirnya mereka 
memutuskan untuk kembali ke Habasyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Beberapa tahun tinggal di Habasyah, kaum muslimin sangat mengharapkan
 kesedihan akan cepat berlalu dan barisan kaum muslimin menjadi kuat, 
namun kesedihan belum habis. Kondisi itulah yang menyebabkan Ubaidillah 
memiliki keyakinan bahwa kaum muslimin tidak akan pernah kuat. Tampaknya
 dia sudah putus asa sehingga sedikit demi sedikit hatinya mulai condong
 pada agama Nasrani, agama orang Habasyah.&lt;br /&gt;

Ummu Habibah mengatakan bahwa dia memimpikan sesuatu, “Aku melihat 
suamiku berubah menjadi manusia paling jelek bentuknya. Aku terkejut dan
 berkata, ‘Demi Allah, keadaannya telah berubah.’ Pagi harinya 
Ubaidillah berkata, ‘Wahai Ummu Habibah, aku melihat tidak ada agama 
yang lebih baik daripada agama Nasrani, dan aku telah menyatakan diri 
untuk memeluknya. Setelah aku memeluk agama Muhammad, aku akan memeluk 
agama Nasrani.’ Aku berkata, ‘Sungguhkah hal itu baik bagimu?’ Kemudian 
aku ceritakan kepadanya tentang mimpi yang aku lihat, namun dia tidak 
mempedulikannya. Akhirnya dia terus-menerus meminum minuman keras 
sehingga merenggut nyawanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Demikianlah, Ubaidillah keluar dan agama Islam yang telah dia 
pertaruhkan dengan hijrah ke Habasyah, dengan menanggung derita, 
meninggalkan kampung halaman bersama istri dan anaknya yang masih kecil.
 Ubaidillah pun berusaha mengajak istrinya untuk keluar dari Islam, 
namun usahanya sia-sia karena Ummu Habibah tetap kokoh dalam Islam dan 
memertahankannya hingga suaminya meninggal. Ummu Habibah merasa terasing
 di tengah kaum muslimin karena merasa malu atas kernurtadan suaminya. 
Baginya tidak ada pilihan lain kecuali kembali ke Mekah, padahal orang 
tuanya, Abu Sufyan, sedang gencar menyerang Nabi dan kaurn muslimin. 
Dalam keadaan seperti itu, Ummu Habibah merasa rumahnya tidak aman lagi 
baginya, sementara keluarga suarninya telah meeninggalkan rumah mereka 
karena telah bergabung dengan Rasulullah. Akhirnya, dia kembali ke 
Habasyah dengan tanggungan derita yang berkepanjangan dan menanti takdir
 dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Menjadi Ummul-Mukminin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. selalu memantau keadaan umat 
Islam, tidak saja yang berada di Mekah dan Madinah, tetapi juga yang di 
Habasyah. Ketika memantau Habasyahlah beliau mendengar kisah tentang 
Ummu Habibah yang ditinggalkan Ubaidillah dengan derita yang 
ditanggungnya selama ini. Hati beliau terketuk dan berniat menikahinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Ummu Habibah menceritakan mimpi dan kehidupannya yang suram. Dia 
berkata, “Dalam tidurku aku melihat seseorang menjumpaiku dan 
memanggilku dengan sebutan Ummul-Mukminin. Aku terkejut. Kemudian aku 
mentakwilkan bahwa Rasulullah akan menikahiku.” Dia melanjutkan, “Hal 
itu aku lihat setelah masa iddahku habis. Tanpa aku sadari seorang 
utusan Najasyi mendatangiku dan meminta izin, dia adalah Abrahah, 
seorang budak wanita yang bertugas mencuci dan memberi harum-haruman 
pada pakaian raja. Dia berkata, ‘Raja berkata kepadamu, ‘Rasulullah 
mengirimku surat agar aku mengawinkan kamu dengan beliau.” Aku menjawab,
 ‘Allah memberimu kabar gembira dengan membawa kebaikan.’ Dia berkata 
lagi, ‘Raja menyuruhmu menunjuk seorang wali yang hendak 
rnengawinkanmu’. Aku menunjuk Khalid bin Said bin Ash sebagai waliku, 
kemudian aku memberi Abrahah dua gelang perak, gelang kaki yang ada di 
kakiku, dan cincin perak yang ada di jari kakiku atas kegembiraanku 
karena kabar yang dibawanya.” Ummu Habibah kembali dan Habasyah bersarna
 Syarahbil bin Hasanah dengan membawa hadiah-hadiah dari Najasyi, Raja 
Habasyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Berita pernikahan Ummu Habibah dengan Rasulullah merupakan pukulan 
keras bagi Abu Sufyan. Tentang hal itu, Ibnu Abbas meriwayatkan firman 
Allah, “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan 
orangorang yang kamu musuhi di antara mereka. …“ (QS. Al-Mumtahanah: 7).
 Ayat ini turun ketika Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. menikahi Ummu 
Habibah binti Abi Sufyan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Hidup bersama Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Rasululullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. mengutus Amru bin Umayyah ke 
Habasyah dengan membawa dua tugas, yaitu mengabari kaum Muhajirin untuk 
kembali ke negeri mereka (Madinah) karena posisi kaum muslimin sudah 
kuat serta untuk meminang Ummu Habibah untuk Rasulullah. Di tengah 
perjalanan kembali ke Madinah mereka mendengar berita kernenangan kaum 
muslimin atas kaum Yahudi di Khaibar. Kegembiraan itu pun mereka rasakan
 di Madinah karena saudara mereka telah kembali dan Habasyah. Rasulullah
 menyambut mereka yang kembali dengan suka cita, terlebih dengan 
kedatangan Ummu Habibah. Beliau mengajak Ummu Habibah ke dalarn rumah, 
yang ketika itu bersarnaan juga dengan pernikahan beliau dengan 
Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, putri salah seorang pimpinan Yahudi 
Khaibar yang ditawan tentara Islam. Ketika itu Nabi mernbebaskan dan 
menikahinya. Istri-istri Rasulullah lainnya menyambut kedatangan Ummu 
Habibah dengan hangat dan rasa hormat, berbeda dengan penyambutan mereka
 terhadap Shafiyyah.&lt;br /&gt;

Perjalanan hidup Ummu Habibah di tengah keluarga Rasulullah tidak 
banyak menimbulkan konflik antar istri atau mengundang amarah beliau. 
Selain itu, belum juga ada riwayat yang mengisahkan tingkah laku Ummu 
Habibah yang menunjukkan rasa cemburu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Posisi yang Sulit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Telah kita sebutkan di atas tentang posisi Ummu Habibah yang istimewa di
 antara istri-istri Rasulullah. Ayahnya adalah seorang pemimpin kaum 
musyrik ketika Ummu Habibah mendapat cahaya keimanan, dan dia menghadapi
 kesulitan ketika harus menjelaskan keyakinan itu kepada orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Orang-orang Quraisy mengingkari perjanjian yang telah mereka 
tanda-tangani di Hudaibiyah bersama Rasulullah. Mereka menyerang dan 
membantai Bani Qazaah yang telah terikat perjanjian perlindungan dengan 
kaum muslimin. Untuk mengantisipasi hal itu, Rasulullah berinisiatif 
menyerbu Mekah yang di dalamnya tinggal Abu Sufyan dan keluarga Ummu 
Habibah. Orang-orang Quraisy Mekah sudah mengira bahwa kaum muslimin 
akan menyerang mereka sebagai balasan atas pembantaian atas Bani Qazaah 
yang mereka lakukan. Mereka sudah mengetahui kekuatan pasukan kaum 
muslimin sehingga mereka memilih jalan damai. Diutuslah Abu Sufyan yang 
dikenal dengan kemampuan dan kepintarannya dalam berdiplomasi untuk 
berdamai dengan Rasulullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Sesampainya di Madinah, Abu Sufyan tidak langsung menemui Rasulullah,
 tetapi terlebih dahulu rnenemui Ummu Habibah dan berusaha rnemperalat 
putrinya itu untuk kepentingannya. Betapa terkejutnya Ummu Habibah 
ketika melibat ayahnya berada di dekatnya setelah sekian tahun tidak 
berjumpa karena dia hijrah ke Habasyah. Di sinilah tampak keteguhan iman
 dan cinta Ummu Habibah kepada Rasulullah. Abu Sufyan menyadari 
keheranan dan kebingungan putrinya, sehingga dia tidak berbicara. 
Akhirnya Abu Sufyan masuk ke kamar dan duduk di atas tikar. Melihat itu,
 Ummu Habibah segera melipat tikar (kasur) sehingga tidak diduduki oleh 
Abu Sufyan. Abu Sufyan sangat kecewa melihat sikap putrinya, kemudian 
berkata, “Apakah kau melipat tikar itu agar aku tidak duduk di atasnya 
atau rnenyingkirkannya dariku?” Ummu Habibah menjawab, “Tikar ini adalah
 alas duduk Rasulullah, sedangkan engkau adalah orang musyrik yang 
najis. Aku tidak suka engkau duduk di atasnya.” Setelah itu Abu Sufyan 
pulang dengan merasakan pukulan berat yang tidak diduga dari putrinya. 
Dia merasa bahwa usahanya untuk menggagalkan serangan kaurn muslimin ke 
Mekah telah gagal. Ummu Habibah telah menyadari apa yang akan terjadi. 
Dia yakin akan tiba saatnya pasukan muslim menyerbu Mekah yang di 
dalarnnya terdapat keluarganya, namun yang dia ingat hanya Rasulullah. 
Dia mendoakan kaum muslimin agar rnemperoleh kemenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Allah mengizinkan kaum muslimin untuk mernbebaskan Mekah. Rasulullah 
bersama ribuan tentara Islam memasuki Mekah. Abu Sufyan merasa dirinya 
sudah terkepung puluhan ribu tentara. Dia merasa bahwa telah tiba 
saatnya kaum muslimin membalas sikapnya yang selama ini menganiaya dan 
menindas mereka. Rasulullah sangat kasihan dan mengajaknya memeluk 
Islam. Abu Sufyan menerrna ajakan tersebut dan menyatakan keislamannya 
dengan kerendahan diri. Abbas, paman Rasulullah, meminta beliau 
menghormati Abu Sufyan agar dirinya merasa tersanjung atas kebesarannya.
 Abbas berkata, “Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang yang sangat suka 
disanjung.” Di sini tampaklah kepandaian dan kebijakan Rasulullah. 
Beliau menjawab, “Barang siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, dia akan 
selamat. Barang siapa yang menutup pintu rumahnya, dia pun akan selamat.
 Dan barang siapa yang memasuki Masjidil Haram, dia akan selamat.” 
Begitulah Rasulullah menghormati kebesaran seseorang, dan Allah telah 
memberi jalan keluar yang baik untuk menghilangkan kesedihan Ummu 
Habibah dengan keislaman ayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Akhir sebuah Perjalanan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setelah Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. wafat, Ummu Habibah hidup
 menyendiri di rumahnya hanya untuk beribadah dan mendekatkan diri 
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kejadian fitnah besar atas 
kematian Utsman bin Affan, dia tidak berpihak kepada siapa pun. Bahkan 
ketika saudaranya, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, berkuasa, sedikit pun dia 
tidak berusaha mengambil kesempatan untuk menduduki posisi tertentu. Dia
 juga tidak pernah menyindir Ali bin Abi Thalib lewat sepatah kata pun 
ketika bermusuhan dengan saudaranya itu. Dia pun banyak meriwayatkan 
hadits Nabi yang kemudian diriwayatkan kembali oleh para sahabat. Di 
antara hadits yang diriwayatkannya adalah: “Aku mendengar Rasulullah 
bersabda,&lt;br /&gt;

“Barang siapa yang shalat sebanyak dua belas rakaat sehari semalam, 
niscaya Allah akan membangun baginya rumah di surga.’ Ummu Habibah 
berkata, “Sungguh aku tidakpernah meninggalkannya setelab aku mendengar 
dari Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Ummu Habibah wafat pada tahun ke-44 hijrah dalarn usia tujuh puluh 
tahun. Jenazahnya dikuburkan di Baqi’ bersama istri-istri Rasulullah 
yang lain. Semoga Allah memberinya kehormatan di sisi-Nya dan 
menempatkannya di tempat yang layak penuh berkah. Amin.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Sumber: Dzaujatur-Rasulullah – Amru Yusuf [&lt;a href="http://kisahislami.com/" target="_blank"&gt;kisah islami&lt;/a&gt;]</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/02/kisah-ummu-habibah-ra-dan-cobaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4J0yo2JLxUO_5RmYQj3w1KRyjm2Sycxd-8x1hY0AKpX9Ya3PYhw0h3dye4D6zaNV4G1qhrRotQG0NsS9GeA_3-I13CpZ7E_nw-7aCZ4mAOkk9VAmWz3ucrPxKJPCT4bF5Z9LdZsFeuJGT/s72-c/Jasmine+Flower.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-4920527885075262648</guid><pubDate>Wed, 23 Jan 2013 12:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-13T11:45:54.820-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">islamia</category><title> Pendidikan Karakter</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTzZqgx4h19tJ8qytqB2q8sDZQuvGCpeCME-6VDH_yBKuuWv9EPf2JOckYyruIub1qJTkJpm96O7XHKMupbCpG93AjUs2xLJ78bYdcHTNNiESvdmy3564XGQL7KHTvUkmLX8t_1plR2lef/s1600/Mengaji.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTzZqgx4h19tJ8qytqB2q8sDZQuvGCpeCME-6VDH_yBKuuWv9EPf2JOckYyruIub1qJTkJpm96O7XHKMupbCpG93AjUs2xLJ78bYdcHTNNiESvdmy3564XGQL7KHTvUkmLX8t_1plR2lef/s1600/Mengaji.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Ketika
 anak-anak sekolah hobi tawuran hingga baku bunuh; di saat anak-anak 
remaja kecanduan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba); manakala
 kasus perkosaan biasa menimpa remaja wanita bahkan anak-anak dibawah 
umur, orang lalu bertanya salah siapa?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Jika
 orang mencari kesalahan tuduhan pertama tentu mengarah pada pendidikan 
sekolah. Tapi pihak sekolah pasti akan mengkritik pendidikan orang tua. 
Orang tua pun merasa tidak berdaya melawan pengaruh kehidupan masyarakat
 yang rusak. Seperti sebuah lingkaran, orang tidak segera menemukan 
sebab awalnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Kini solusi yang ditawarkan adalah pendidikan karakter (&lt;em&gt;character education&lt;/em&gt;)
 yang dibebankan ke pundak sekolah. Di Amerika pendidikan ini sebenarnya
 bukan hal baru. Sebelum terjadi hura hara kekerasan di sekolah-sekolah 
Amerika, Horce Mann, tokoh pendidikan Amerika, sudah mendukung dan 
mengarahkan adanya program pendidikan karakter di sekolah. Tapi ia 
bersama tokoh pendidikan abad 20 ragu pendidikan karakter ini akan 
mengarah pendidikan moral. Sebab moral biasanya dikaitkan dengan 
keluarga dan gereja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Meski
 dikhawatirkan menjadi pendidikan moral atau agama, tapi pada tahun 1980
 dan 1990an pendidikan karakter di Amerika memperoleh perhatian kembali.
 Menurut Vessels, G. G &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;ini untuk pencegahan dekadensi moral (&lt;em&gt;Character and community development: A school lanning and teacher training handbook&lt;/em&gt;, 1998,&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;hal.5).
 Tapi menurut Beach, W dan Lickona, T., ini bukan hanya mencegah tapi 
sudah harus memperbaiki moral yang sudah merosot. (Lihat Beach, W. &lt;em&gt;Ethical education in American public schools. &lt;/em&gt;Lickona, T. (1991). &lt;em&gt;Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility).&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tapi
 karena inisiatif solusi ini tidak datang dari pendidik, penekanannya 
hanya pada perilaku standar dan kebiasaan yang positif. Perhatian 
kembali ini didukung oleh para politisi dan pemimpin Negara. Clinton, 
misalnya mengadakan lima konferensi tentang pendidikan karakter. 
Dilanjutkan oleh George W Bush yang menjadikan pendidikan karakter 
sebagai fokus utama dalam agenda reformasi pendidikan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tapi
 apa itu pendidikan karakter itu? Lockwood, A. T mengartikan pendidikan 
karakter sebagai program sekolah, untuk membentuk anak-anak muda secara 
sistematis dengan nilai-nilai yang diyakini dapat mengubah perilaku 
mereka.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(Lockwood, A. T. &lt;em&gt;Character education: Controversy and consensus &lt;/em&gt;1997, hal. 5-6).&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Namun
 secara luas diartikan pula sebagai penanaman sifat sopan, sehat, 
kritis, dan sikap-sikap sosial seperti kewarganegaraan yang dapat 
diterima masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Kekhawatiran
 Horace Mann terbukti. Pendidikan karakter dianggap sama dengan 
pendidikan moral atau sekurangnya mirip. Maka para penganut Protestan di
 Amerika segera mencium bau pendidikan moral dalam pendidikan karakter 
ini. Mereka pun protes. Ini mereka anggap sebagai penjelmaan dari 
program pendidikan agama dan nilai yang dianggap telah gagal di masa 
lalu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Untuk
 itu arti pendidikan moral mulai dikaburkan dari nilai-nilai agama dan 
diartikan sebagai upaya sadar untuk membantu orang lain mencari 
pengetahuan, skill, tingkah laku, dan nilai untuk kepentingan pribadi 
dan sosial&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(Kirschenbaum, &lt;em&gt;100 ways to enhance values and morality in school and youth settings&lt;/em&gt;).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tapi
 istilah dan konsep pendidikan karakter pun bukan tanpa masalah. Apa 
yang disebut baik dan perilaku baik itu di Barat relatif. Nilai baik 
buruk berubah seiring dengan perubahan kehidupan. Akhirnya pendidikan 
bukan untuk menanamkan nilai, tapi menggali nilai-nilai yang sesuai 
dengan nilai mereka yang boleh jadi bersifat lokal. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Di Amerika karakter yang ditanamkan di sekolah sesuai dengan latar belakang dan perkembangan sosial dan ekonomi mereka sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Di Amerika isu sentralnya adalah nilai-nilai feminisme, liberalisme, pluralisme, demokrasi, humanisme dan sebagainya.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Maka
 arah pendidikan karakter di sana adalah untuk mencetak sumber daya 
manusia yang pro gender, liberal, pluralis, demokratis, humanis agar 
sejalan dengan tuntutan sosial, ekonomi, dan politik di Amerika. Tapi 
herannya mengapa di Indonesia yang problemnya berbeda mesti harus 
menanamkan nilai-nilai dari negara asing?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Berhasilkah
 pendidikan karakter ini menyelesaikan masalah bangsa Amerika? Ternyata 
tidak. Pada tahun 2007 Kementerian Pendidikan Amerika Serikat melaporkan
 bahwa mayoritas pendidikan karakter telah gagal meningkatkan 
efektifitasnya.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Bulan oktober 2010 sebuah penelitian 
menemukan bahwa program pendidikan karakter di sekolah-sekolah tidak 
dapat memperbaiki perilaku pelajar atau meningkatkan prestasi akademik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Ternyata dibalik itu terdapat beberapa masalah. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;
 tidak ada kesepakatan dari konseptor dan programmer pendidikan karakter
 tentang nilai-nilai karakter apa yang bisa diterima bersama. Karakter 
kejujuran, kebaikan, kedermawanan, keberanian, kebebasan, keadilan, 
persamaan, sikap hormat dan sebagainya secara istilah bisa diterima 
bersama. Namun, ketika dijabarkan secara detail akan berbeda-berbeda 
dari satu bangsa dengan bangsa lain.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Masalah &lt;em&gt;kedua, &lt;/em&gt;ketika
 harus menentukan tujuan pendidikan karakter terjadi konflik kepentingan
 antara kepentingan agama dan kepentingan ideologi. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, konsep karakter masih ambigu karena - merujuk pada wacana para psikolog - masih merupakan campuran &lt;/span&gt;&lt;span&gt;antara kepribadian (&lt;em&gt;personality&lt;/em&gt;) dan perilaku (&lt;em&gt;behaviour&lt;/em&gt;).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Persoalan &lt;em&gt;keempat&lt;/em&gt; dan terakhir arti karakter dalam perspektif Islam hanyalah bagian kecil dari &lt;em&gt;akhlaq&lt;/em&gt;. Pendidikan karakter hanya menggarami lautan makna pendidikan &lt;em&gt;akhlaq&lt;/em&gt;. Sebab akhlaq berkaitan dengan iman, ilmu dan amal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Semua perilaku dalam Islam harus berdasarkan standar syariah dan setiap syariah berdimensi &lt;em&gt;maslahat.&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Maslahat&lt;/em&gt; dalam syariah pasti sesuai dengan &lt;em&gt;fitrah&lt;/em&gt; manusia untuk beragama (&lt;em&gt;hifz al-din&lt;/em&gt;), berkepribadian atau berjiwa (&lt;em&gt;hifz al-nafs&lt;/em&gt;), berfikir (&lt;em&gt;hifz al-‘aql&lt;/em&gt;), berkeluarga (&lt;em&gt;hifz al-nasl&lt;/em&gt;) dan berharta (&lt;em&gt;hifz al-mal&lt;/em&gt;). Jadi untuk menyelesaikan persoalan bangsa secara komprehensif tidak ada jalan lain kecuali kita letakkan agama untuk menjaga &lt;em&gt;kemaslahatan&lt;/em&gt; manusia dan kita sujudkan &lt;em&gt;maslahat&lt;/em&gt; manusia untuk Tuhannya. &lt;em&gt;Wallahu a’lam.*&amp;nbsp;&lt;/em&gt; [&lt;a href="http://insistnet.com/" target="_blank"&gt;insist&lt;/a&gt;]&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/01/pendidikan-karakter.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTzZqgx4h19tJ8qytqB2q8sDZQuvGCpeCME-6VDH_yBKuuWv9EPf2JOckYyruIub1qJTkJpm96O7XHKMupbCpG93AjUs2xLJ78bYdcHTNNiESvdmy3564XGQL7KHTvUkmLX8t_1plR2lef/s72-c/Mengaji.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-6040350717828305501</guid><pubDate>Fri, 18 Jan 2013 08:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-13T11:35:01.187-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">islamia</category><title> Enam Prinsip Pendidikan Karakter Islami</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiOywolAk9ThjRrUCu6CT0XKYCstyyiwBi95y0Q1N3WDB4Q8Rgqf6XN6nQhyvEQvX0IhnLsQaA1mPrvqrpwCXVrDv7zCG1QHTv5yvneCauwt7dOwNQ-nzVWiU2oqJIE5WkG5WRS3t07Nh-/s1600/islamic-education.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="220" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiOywolAk9ThjRrUCu6CT0XKYCstyyiwBi95y0Q1N3WDB4Q8Rgqf6XN6nQhyvEQvX0IhnLsQaA1mPrvqrpwCXVrDv7zCG1QHTv5yvneCauwt7dOwNQ-nzVWiU2oqJIE5WkG5WRS3t07Nh-/s320/islamic-education.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Oleh: Erma Pawitasari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;(Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Pendidikan
 karakter adalah sesuatu yang baik. Dalam Islam, karakter identik dengan
 akhlaq, yaitu kecenderungan jiwa untuk bersikap/bertindak secara 
otomatis. Akhlaq yang sesuai ajaran Islam disebut dengan &lt;i&gt;akhlaqul karimah&lt;/i&gt; atau akhlaq mulia (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Mohamed Ahmed Sherif, &lt;i&gt;Ghazali’s Theory of Virtue&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;1975),
 yang dapat diperoleh melalui dua jalan. Pertama, bawaan lahir, sebagai 
karunia dari Allah. Contohnya adalah akhlaq para nabi. Kedua, hasil 
usaha melalui pendidikan dan penggemblengan jiwa (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;SM Ziauddin Alavi, &lt;i&gt;Muslim Educational Thought in The Middle Ages,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt; 1988). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Berdasarkan
 pengkajian penulis terhadap konsep akhlak Islam yang berlandaskan nash 
al-Quran dan hadits Nabi serta konsep karakter dalam tradisi 
empiris-rasional Barat, program pendidikan karakter yang baik seyogyanya
 memenuhi enam prinsip pendidikan akhlaq, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="line-height: normal;"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3118172912543833668" name="_Toc219573656" title="_Toc219573656"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;1. Menjadikan Allah Sebagai Tujuan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Perbedaan mendasar antara masyarakat sekular dengan Islam terletak pada cara memandang Tuhan. Masyarakat
 sekular hanya mengimani “ide ketuhanan” karena ide ini berpengaruh baik
 bagi perilaku manusia. Mereka tidak ambil pusing apakah yang diimani 
benar-benar wujud atau sekedar khayalan (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Muhammad Ismail, &lt;i&gt;Bunga Rampai Pemikiran Islam&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;1993). Sebuah penelitian menunjukkan, 80% responden &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;menyatakan bahwa mencuri tetap salah sekalipun diperintahkan Tuhan (Larry Nucci, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Handbook of Moral and Character Education, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;2008).
 Kaum secular mengurung agama dalam interpretasi kemanusiaan. Agama 
versi sekular tidak dapat menjelaskan keajaiban yang dialami Nabi 
Ibrahim tatkala menerima wahyu untuk menyembelih putranya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Islam
 mengimani Allah sebagai Tuhan yang wujud sehingga ketaatan kepadaNya 
menjadi mutlak. Islam bukanlah agama sekular yang memasung agama dalam 
dinding kehidupan privat. Agama tidak diakui sekedar diambil manfaatnya.
 Agama merupakan penuntun kehidupan dunia menuju keridhaan Allah. “&lt;i&gt;Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” &lt;/i&gt;[QS. al-Dzaariyaat 56]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keridhaan
 Allah merupakan kunci sukses kehidupan. Ilmu, kecerdasan, maupun rizki 
hanya mungkin dicapai apabila Allah menganugerahkannya kepada manusia 
(Zibakalam-Mofrad, 1999; Alavi, 1975). Untuk menggapai keridhaan Allah 
inilah, manusia wajib menghiasi diri dengan akhlaq mulia (Sherif, 1975).
 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="line-height: normal;"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3118172912543833668" name="_Toc219573657" title="_Toc219573657"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;2. Memperhatikan Perkembangan Akal Rasional&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Perilaku
 manusia dipengaruhi oleh pengetahuan dan pemahamannya tentang hidup 
(an-Nabhani, 2002). Pendidikan karakter tidak akan membawa kesuksesan 
apabila murid tidak memahami makna-makna perilaku dalam kehidupannya. 
Untuk itu, Islam sangat menekankan pendidikan akal. Allah Swt 
menyebutkan keutamaan orang-orang yang berpikir dan mempunyai ilmu dalam
 berbagai ayat, salah satunya adalah QS. at-Thariq [86] ayat 5 (yang 
artinya): &lt;i&gt;Maka hendaklah manusia memperhatikan (sehingga memikirkan konsekuensinya) dari apakah dia diciptakan?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 35.45pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Akal
 adalah alat utama untuk mencapai keimanan. Akal harus diasah dengan 
baik sehingga manusia memahami alasan perilaku baiknya. Pada tahap awal 
pendidikan, anak-anak memerlukan doktrinasi. Orang tua tidak boleh 
membiarkan mereka memukul teman atau bermain api walaupun mereka belum 
memahami alasan pelarangan itu. Namun, sejalan dengan usia, akal manusia
 mulai mempertanyakan alasan rasional. Keingintahuan ini tidak boleh 
diabaikan. Salah satu cara untuk mengasah akal adalah dengan perumpamaan
 dan dialog (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Abdullah Nasih Ulwan, &lt;i&gt;Pendidikan Anak Dalam Islam&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;1995).
 Rasulullah Saw sering melakukan dialog dengan para sahabatnya dalam 
rangka mengasah kemampuan akal mereka. Salah satunya tergambar dalam 
hadist berikut: &lt;i&gt;“Apakah pendapat kalian, jika sebuah sungai berada 
di depan pintu salah satu dari kalian, sehingga ia mandi darinya sehari 
lima kali; apakah akan tersisa kotoran pada badannya?” Para sahabat 
menyahut, “Tidak sedikit pun kotoran tersisa pada badannya.” Nabi 
melanjutkan, “Demikianlah seperti shalat lima waktu, dengannya Allah 
menghapus kesalahan-kesalahan.”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;[HR. Muslim]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Dialog
 antara pendidik dan anak didik harus selalu dipelihara. Pendidik harus 
cerdas sehingga mampu mengimbangi pertanyaan-pertanyaan dari anak didik.
 Pendidik memberikan kesempatan kepada anak didik untuk memikirkan 
persoalan yang dihadapi dan mengarahkannya pada solusi Islam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="line-height: normal;"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3118172912543833668" name="_Toc219573658" title="_Toc219573658"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;3. Memperhatikan Perkembangan Kecerdasan Emosi&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Perilaku
 manusia banyak terpengaruh oleh kecenderungan emosinya (Elias dkk, 
2008; Narvaez, 2008). Pendidikan karakter yang baik memperhatikan 
pendidikan emosi, yaitu bagaimana melatih emosi anak agar dapat 
berperilaku baik. Penelitian menunjukkan bahwa program pendidikan 
karakter yang efektif harus disertai dengan pendidikan emosi (Elias dkk,
 2008; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Kessler &amp;amp; Fink, 2008).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Ketika
 seorang pemuda datang meminta ijin berzina, Rasulullah Saw tidak 
menghardik pemuda ini atas kegagalannya memahami larangan zina secara 
kognitif. Nabi Saw menyentuh faktor emosinya dengan mengatakan, “Sukakah
 dirimu jika seseorang menzinai ibumu?” Sang pemuda menjawab, tidak. 
Maka Nabi mengatakan, “Sama, orang lain juga tidak suka ibunya kamu 
zinai. Sukakah dirimu jika seseorang menzinai putrimu?” Sang pemuda 
terkejut dan secara tegas menolaknya. Nabi Saw melanjutkan, “Sama, orang
 lain juga tidak suka jika putrinya kamu zinai.” Nabi Saw memahami 
gejolak sang pemuda dan memilih menyentuh faktor emosinya. Sang pemuda 
diarahkan untuk merasakan bahwa apa yang hendak dilakukannya akan 
menyakiti orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 35.45pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Pembangunan
 kecerdasan emosi juga Rasulullah Saw lakukan melalui upaya meningkatkan
 kedekatan hamba kepada Allah Swt. Disebutkan dalam sebuah hadits qudsi:
 &lt;i&gt;“Jika seorang hamba bertaqarrub kepadaKu sejengkal, Aku 
mendekatinya sehasta. Jika ia mendekatiKu sehasta, Aku medekatinya 
sedepa. Jika ia mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku mendekatinya 
dengan berlari.”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(Shahih Bukhari)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 35.45pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Kecerdasan
 emosi anak didik harus mendapatkan perhatian. Emosi anak yang ditekan 
dapat menjadikan anak tumbuh sebagai individu yang masa bodoh (al-Naqib,
 1993). Kehebatan akal yang tidak didukung dengan kecerdasan emosi 
menyebabkan manusia melakukan tindakan spontan yang bertentangan dengan 
rasional dan nilai-nilai akhlaq.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="line-height: normal;"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3118172912543833668" name="_Toc219573659" title="_Toc219573659"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;4. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Praktik &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Melalui Keteladanan dan Pembiasaan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Lingkungan masyarakat yang mempraktikkan akhlaqul karimah merupakan bentuk keteladanan dan pembiasaan terbaik. Penelitian menyebutkan bahwa perilaku anak lebih ditentukan oleh lingkungannya daripada kondisi internal si anak (Leming, 2008). Keteladanan dan pembiasaan merupakan faktor utama dalam mengasah kecerdasan emosi (Narvaez, 2008).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Dalam
 mendidik karakter umat Islam, Rasulullah Saw menjadikan dirinya suri 
teladan terlebih dahulu sebelum menuntut umatnya mempraktikkannya. 
Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh para pendidik. Bahkan, 
para teladan harus menunjukkan kebaikan yang lebih besar dari apa yang 
dituntut atas anak-anak sehingga anak-anak menjadi lebih termotivasi 
dalam menjalankan kebaikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Keteladanan Rasululullah Saw ditegaskan Allah Swt dalam firmanNya di Surat al-Ahzab ayat 21: &lt;i&gt;Sesungguhnya
 telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu 
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari 
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Dalam
 kehidupan sehari-hari, Rasulullah Saw selalu berpegang teguh kepada 
perilaku terpuji sesuai ajaran Islam, sehingga Aisyah ra. menyatakan: &lt;i&gt;“Akhlaq Rasulullah Saw adalah (sesuai) al-Qur’an.”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(HR. Muslim)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Selain
 memberikan keteladanan, Rasulullah Saw menyuruh para orang tua untuk 
membiasakan anak-anak menjalankan perintah agama sejak kecil, walaupun 
mereka baru terkena beban agama setelah baligh. Dalam sebuah hadist Nabi
 Saw bersabda: &lt;i&gt;“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan 
shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah 
mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah mereka apabila tidak 
melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(HR. Abu Daud &amp;amp; al-Hakim)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Rasulullah
 Saw memberikan keteladanan sekaligus membiasakan perbuatan baik melalui
 penerapan Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Larangan zina, misalnya,
 didukung dengan langkah-langkah untuk menjauhkan manusia dari berzina, 
seperti larangan untuk berdua-duaan, kewajiban untuk menutup aurat, 
serta pelaksanaan hukuman bagi pelaku zina. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="line-height: normal;"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3118172912543833668" name="_Toc219573660" title="_Toc219573660"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;5. Memperhatikan Pemenuhan Kebutuhan Hidup&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Karakter
 tidak dapat dilepaskan dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia. 
Seseorang yang beristri lebih mudah untuk menghalau keinginan berzina 
daripada mereka yang membujang. Seseorang yang kenyang akan terhindar 
dari mencuri makanan. Tindakan kriminalitas sering terjadi akibat 
tekanan kebutuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Islam
 memerintahkan negara untuk menjamin kebutuhan pokok masyarakat. Apabila
 seseorang tidak mampu mendapatkan pekerjaan sendiri, maka negara wajib 
menyediakan lapangan pekerjaan untuknya. Apabila seseorang tidak mampu 
bekerja (cacat, tua, gila, dsb) maka Islam mewajibkan keluarganya untuk 
menanggung hidupnya. Apabila keluarganya tidak mampu atau tidak memiliki
 keluarga, maka Islam mewajibkan negara untuk mengurusi segala 
keperluannya (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Abdul Aziz Al-Badri, &lt;i&gt;Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;1995). Rasulullah Muhammad Saw bersabda: &lt;i&gt;“Barangsiapa
 mati meninggalkan harta, maka itu hak ahli warisnya. Dan barangsiapa 
mati meninggalkan keluarga yang memerlukan santunan, maka akulah 
penanggungnya.” &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(HR. Muslim)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Jaminan
 atas kebutuhan dasar hidup memberikan rasa aman bagi tiap-tiap individu
 dalam masyarakat. Masyarakat tidak lagi perlu khawatir biaya sekolah 
anak cucunya sehingga menumpuk harta melebihi kebutuhannya, bahkan 
dengan cara-cara tidak halal. Masyarakat lebih rela mengantri apabila 
ada jaminan bahwa mereka yang mengantri tidak akan kehabisan sembako, 
tiket, atau kursi. Penumpang pesawat terbang bersedia mengantri dengan 
tertib karena jatah kursinya sudah terjamin. Penumpang kereta ekonomi 
tidak mau mengantri karena mereka harus berebut kursi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="line-height: normal;"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3118172912543833668" name="_Toc219573661" title="_Toc219573661"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;6. Menempatkan Nilai Sesuai Prioritas&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Pendidikan
 karakter seringkali tidak efektif karena ada perbedaan prioritas dalam 
memandang nilai. Ada seorang siswa laki-laki sekolah menengah trauma ke 
sekolah akibat digundul secara paksa oleh gurunya. Perbedaan persepsi 
rambut panjang bahkan pernah berujung menjadi tawuran antara orang tua 
murid dengan guru &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Islam
 memiliki konsep prioritas perbuatan, yang terbagi dalam 5 (lima) 
kategori, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Penilaian 
moralitas tidak terlepas dari kelima tingkatan prioritas ini. Islam 
tidak melarang laki-laki berambut panjang, namun mewajibkan merapikan 
dan menjaga kebersihannya (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Sayyid Sabiq, &lt;i&gt;Fiqih Sunnah Jilid 1&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;2011).
 Dalilnya adalah kisah Abu Qatadah ra. yang memiliki rambut panjang dan 
menanyakan kebolehannya kepada Nabi. Beliau Saw menyuruhnya untuk 
merapikan dan menyisirnya setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Pendidik
 wajib mengetahui kedudukan tiap-tiap perbuatan sebelum mengambilnya 
sebagai aturan kedisiplinan. Dalam wilayah yang sunnah, mubah, dan 
makruh, apabila ada hal yang ingin dijadikan aturan kedisiplinan, maka 
pendidik harus mengkomunikasikan dan mengikutsertakan anak-anak dalam 
membuat keputusan sehingga mereka memaklumi manfaat aturan tersebut bagi
 kelangsungan komunitas dan menjalankannya secara bersungguh-sungguh. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 11pt;"&gt;Demikianlah
 enam prinsip pendidikan karakter. Keenam prinsip ini harus dipenuhi 
agar pendidikan karakter dapat mencapai kesuksesan.* [&lt;a href="http://insistnet.com/" target="_blank"&gt;insist&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/01/enam-prinsip-pendidikan-karakter-islami.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiOywolAk9ThjRrUCu6CT0XKYCstyyiwBi95y0Q1N3WDB4Q8Rgqf6XN6nQhyvEQvX0IhnLsQaA1mPrvqrpwCXVrDv7zCG1QHTv5yvneCauwt7dOwNQ-nzVWiU2oqJIE5WkG5WRS3t07Nh-/s72-c/islamic-education.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-5062769310866017687</guid><pubDate>Wed, 16 Jan 2013 19:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T12:40:24.828-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">an nissa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hikmah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">historia</category><title>Mengenal Sosok Ummul Mukminin Zainab binti Khuzaimah R.A</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA8TX3HrVnhMjuGlTzVQ3HOOT0jr49yVTyC1tOHqFuP8YP5ThOkR13EwJNIfS_JUlsZyW-1ySAmwLkAesTXtpPfo6Jop4pMIp6cMP8Y76cWqEJzRQ9EGQeM8pfnaOexQlHvOv_EzEcHLXL/s1600/mawar01.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA8TX3HrVnhMjuGlTzVQ3HOOT0jr49yVTyC1tOHqFuP8YP5ThOkR13EwJNIfS_JUlsZyW-1ySAmwLkAesTXtpPfo6Jop4pMIp6cMP8Y76cWqEJzRQ9EGQeM8pfnaOexQlHvOv_EzEcHLXL/s320/mawar01.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin 
Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah 
al-Hilaliyah. Ibunya bemama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan asal-usul keturunannya, dia termasuk keluarga yang 
dihormati dan disegani. Tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, 
namun ada riwayat yang rnenyebutkan bahwa beliau lahir sebelum tahun ketiga
 belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar 
Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) sebagaimana telah dijelaskan 
dalam kitab Thabaqat ibnu Saad bahwa Zainab binti Khuzaimali bin Haris 
bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah 
al-Hilaliyah adalah Ummul-Masakin. Gclar tersebut disandangnya sejak 
masa jahiliah. Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi 
Ummahatil Mu’minin pun di terangkan bahwa Rasulullah. menikahinya 
sebelum beliau menikah dengan Maimunah, dan ketika itu dia sudah dikenal
 dengan sebutan Ummul-Masakin sejak zaman jahiliah. Berdasarkan hal itu 
dapat disimpulkan bahwa Zainab binti Khuzaimah terkenal dengan sifat 
kemurah-hatiannya, kedermawanannya, dan sifat santunnya terhadap 
orang-orang miskin yang dia utamakan daripada kepada dirinya sendiri. 
Sifat tersebut sudah tertanarn dalam dirinya sejak memeluk Islam 
walaupun pada saat itu dia belum mengetahui bahwa orang-orang yang baik,
 penyantun, dan penderma akan memperoleh pahala di sisi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Keislaman dan Pernikahannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Zainab binti Khuzaimah. termasuk kelompok orang yang pertama-tama 
masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah 
akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala 
dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Para perawi berbeda pendapat tentang nama-nama suami pertama dan 
kedua sebelum dia menikah dengan Rasulullah. Sebagian perawi mengatakan 
bahwa suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harits bin 
Abdil-Muththalib, yang kemudian menceraikannya. Dia menikah lagi dengan 
Ubaidah bin Harits, namun dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang 
Uhud. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami keduanya adalah Abdullah 
bin Jahsy. Sebenarnya masih banyak perawi yang mengemukakan pendapat 
yang berbeda-beda. Akan tetapi, dari berbagai pendapat itu, pendapat 
yang paling kuat adalah riwayat yang mengatakan bahwa suami pertamanya 
adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak 
dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah 
ke Madinah. Untuk mernuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara 
laki-laki Thufail) menikahi Zainab. Sebagaimana kita ketahui, Ubaidah 
bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling 
perkasa setelah Hamzah bin Abdul-Muththalib dan Ali bin Abi Thalib. 
Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan 
akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang 
kehidupannya hingga Rasulullah . menikahinya. Rasulullah menikahi Zainab
 karena beliau ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang 
dialaminya. Hati beliau menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, 
sementara sejak kecil dia sudah dikenal dengan kelemah- lembutannya 
terhadap orang-orang miskin. Scbagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam
 semesta, beliau rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk 
kepentingan Zainab. Beiau senantiasa memohon kepada Allah agar hidup 
miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar 
bersama orangorang miskin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Meskipun Nabi. mengingkari beberapa nama atau julukan yang dikenal 
pada zaman jahiliah, tetapi beiau tidak mengingkari julukan 
“ummul-masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Menjadi Ummul-Mukminin&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

Tidak diketahui dengan pasti masuknya Zainab binti Khuzaimah ke dalam
 rumah tangga Nabi, apakah sebelum Perang Uhud atau sesudahnya. Yang 
jelas, Rasulullah . menikahinya karena kasih sayang terhadap umamya 
walaupun wajah Zainab tidak begitu cantik dan tidak seorang pun dari 
kalangan sahabat yang bersedia menikahinya. Tentang lamanya Zainab 
berada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah pun banyak tendapat 
perbedaan. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Zainab memasuki rumah 
tangga Rasulullah selama tiga bulan, dan pendapat lain delapan bulan. 
Akan tetapi, yang pasti, prosesnya sangat singkat kanena Zainab 
meninggal semasa Rasulullah hidup. Di dalam kitab sirah pun tidak 
dijelaskan penyebab kematiannya. Zainab meninggal pada usia relatif 
muda, kurang dari tiga puluh tahun, dan Rasulullah yang menyalatinya. 
Allahu A’lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Zainab binti 
Khuzaimah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. 
Amin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: buku Dzaujatur-Rasulullah [&lt;a href="http://kisahislami.com/" target="_blank"&gt;kisah islami&lt;/a&gt;] </description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/01/mengenal-sosok-ummul-mukminin-zainab.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA8TX3HrVnhMjuGlTzVQ3HOOT0jr49yVTyC1tOHqFuP8YP5ThOkR13EwJNIfS_JUlsZyW-1ySAmwLkAesTXtpPfo6Jop4pMIp6cMP8Y76cWqEJzRQ9EGQeM8pfnaOexQlHvOv_EzEcHLXL/s72-c/mawar01.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-3460858084853919538</guid><pubDate>Sun, 13 Jan 2013 17:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T11:04:32.188-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hikmah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sketsa</category><title>Kisah Dua Jasad Sahabat Nabi Yang Utuh</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2QdULDPORpOIMz0yZuDPp3xIMqmErzlMQOE44s8f6c9eljDLjHkLAkpWFN2PDKTzYBe_VjXE41Z8XcuChFHy5lgIriCozt-yduCpysWM5pGybbdSsmGhgVugka0GZc57yo0EB6TX0aQau/s1600/Sahabat+Rosul.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2QdULDPORpOIMz0yZuDPp3xIMqmErzlMQOE44s8f6c9eljDLjHkLAkpWFN2PDKTzYBe_VjXE41Z8XcuChFHy5lgIriCozt-yduCpysWM5pGybbdSsmGhgVugka0GZc57yo0EB6TX0aQau/s1600/Sahabat+Rosul.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sebagaimana lazimnya kita mengetahui bahwa apabila mayat sudah 
dikubur pasti akan segera mengalami proses pembusukan dan penguraian 
apalagi mayat yang sudah dikubur dalam waktu yang sangat lama. Namun, 
dengan Kuasa Allah, kita bisa temui banyak fakta dan bukti yang sangat 
kuat bahwa mayat atau jenazah para Syuhada (Orang Yang Mati Syahid 
/Martir), para Nabi, dan orang-orang suci (Waliyullah) itu tetap segar 
bugar dan tidak mengalami proses pembusukan ketika kuburan mereka itu 
digali kembali. Salah satunya adalah peristiwa yang sangat luar biasa 
ini, yang sempat menghentak publik dunia terutama penduduk di kawasan 
Timur Tengah.
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1932 (bertepatan dengan tahun 1351 H), Raja Iraq yang 
bernama Shah Faisal I bermimpi dimana dalam mimpinya ia ditegur oleh 
Huzaifah Al-Yamani (salah seorang sahabat Nabi saww) yang berkata:&lt;br /&gt;
“ Wahai Raja ! Ambillah jenazahku dan jenazah Jabir Al-Ansari (juga 
salah seorang sahabat Nabi saww) dari tepian sungai Tigris dan kemudian 
kuburkan kembali di tempat yang aman karena kuburanku sekarang dipenuhi 
oleh air; kuburan Jabir juga sedang dipenuhi oleh air.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi yang sama terjadi berulang-ulang pada malam-malam berikutnya 
akan tetapi Raja Faisal I tidak peduli dengan mimpi itu karena ia merasa
 ada hal-hal lain yang jauh lebih penting dalam kehidupannya yang berupa
 urusan-urusan kenegaraan. Pada malam ketiga Huzaifah Al-Yamani hadir 
dalam mimpi Mufti Besar Iraq. Huzaifah Al-Yamani berkata dalam mimpi 
sang Mufti itu:&lt;br /&gt;
“ Aku telah memberitahukan Raja dua malam sebelumnya untuk 
memindahkan jenazahku akan tetapi tampaknya ia tidak peduli. 
Beritahukanlah kepada Raja agar ia mau sedikit berempati untuk 
memindahkan kuburan-kuburan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja Faisal I (1883 – 1933)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu setelah mendiskusikan masalah ini, Raja Faisal disertai oleh 
Perdana Menteri dan Mufti Besar bermaksud untuk melaksanakan tugas ini. 
Diputuskanlah bahwa Mufti Besar akan memberikan fatwa mengenai hal ini 
dan Perdana Menteri akan menyampaikan pernyataan pers supaya semua orang
 tahu tentang rencana besar ini. Kemudian diumumkanlah kepada publik 
bahwa rencana ini akan dilangsungkan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah 
shalat Dzhuhur dan Ashar. Kuburan kedua sahabat Nabi itu akan dibuka dan
 jenazahnya akan dipindahkan ke tempat lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada waktu itu sedang musim Haji, maka para jamaah haji yang 
sedang berkumpul di kota Makkah. Mereka meminta Raja Faisal I untuk 
menunda rencana itu selama beberapa hari agar mereka juga bisa turut 
menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses ekskavasi dari kedua tubuh
 sahabat Nabi itu. Mereka ingin agar proses ekskavasi itu ditunda hingga
 mereka selesai beribadah haji. Akhirnya Raja Faisal setuju untuk 
menangguhkannya dan mengundurkannya hingga tanggal 20 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah shalat Dzhuhur dan Ashar, pada tanggal 20 Dzulhijjah tahun 
1351 (Hijriah) bertepatan dengan tahun 1932 Masehi, orang-orang 
berdatangan ke kota Baghdad. Dan yang datang ketika itu bukan hanya kaum
 Muslimin melainkan juga dihadiri oleh banyak Non-Muslim. Mereka 
berkumpul di kota Baghdad hingga penuh sesak. Ketika kuburan Hudzaifah 
Al-Yamani dibuka segera mereka melihat bahwa kuburan itu dipenuhi air di
 dalamnya. Tubuh Hudzaifah Al-Yamani diangkat dengan menggunakan katrol 
dengan sangat hati-hati agar tidak rusak dan kemudian jenazah yang 
tampak masih sangat segar itu dibaringkan di sebuah tandu. Kemudian Raja
 Faisal beserta Mufti Besar, Perdana Menteri dan Pangeran Faruq dari 
Mesir mendapatkan kehormatan untuk mengangkat tandu itu bersama-sama dan
 kemudian meletakkan jenazah segar itu ke sebuah peti mati dari kaca 
yang dibuat khusus untuk menyimpan jenazah-jenazah itu. Selanjutnya 
tubuh Jabir bin Abdullah Al-Ansari juga dipindahkan ke peti mati dari 
kaca yang sama dengan cara yang sama hati-hatinya dan dengan segenap 
penghormatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prosesi Pemindahan Jenazah Dua Sahabat Nabi Yang Mulia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemandangan yang sangat menakjubkan itu sekarang sedang dilihat oleh 
banyak orang laki-laki dan perempuan, muda dan tua, miskin dan kaya, 
Muslim dan Non-Muslim. Kedua jenazah suci dari sahabat sejati Nabi yang 
kurang dikenal kaum Muslimin ini kelihatan masih segar dan tak tersentuh
 oleh bakteri pengurai sedikitpun. Keduanya dengan mata terbuka, mata 
yang telah menatap sinar Kenabian. Kedua jenazah mulia yang 
menggemparkan dunia dan membuat semua yang menyaksikan saat itu 
terperangah dan tak bisa menutup mulutnya. Kebisuan pun mengharu 
biru……….. Mereka seolah tak percaya dengan apa yang mereka saksikan pada
 hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain tubuh keduanya yang tampak segar bugar, juga peti mati mereka 
yang juga tampak masih utuh dan baru; bahkan pakaian yang mereka kenakan
 pada saat dikubur semuanya utuh dan kalau dilihat sekilas kedua Sahabat
 Nabi dan Pahlawan Islam ini tampak seperti masih hidup dan hanya 
terbaring saja.&lt;br /&gt;
Kedua jasad suci ini akhirnya dibawa dan dikebumikan kembali di 
kuburan yang baru tidak jauh dari kuburan sahabat sejati Nabi lainnya 
yaitu Salman Al-Farisi yang terletak di SALMAN PARK kurang lebih 30 mil 
jauhnya dari kota Baghdad. Kejadian ajaib ini sangat mengundang 
kekaguman para ilmuwan, kaum filsafat, dan para dokter. Mereka yang 
selalu mampu berkicau memberikan analisa sesuai dengan bidangnya 
masing-masing, kali ini hanya tertunduk bisu, terkesima dengan kejadian 
yang teramat langka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makam Baru Jabir bin Abdullah Al-Anshary&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu dari mereka adalah seorang ahli fisiologis dari Jerman yang 
kelihatan sangat tertarik dengan fenomena ini. Ia sangat ingin melihat 
langsung kondisi tubuh jenazah kedua sahabat Nabi itu yang telah 
dikuburkan selama 1300 tahun lamanya. Oleh karena itu, ia serta merta 
langsung mendatangi Mufti Besar Iraq. Sesampainya ia di tempat dimana 
peristiwa akbar itu sedang terjadi, dan setelah menyaksikan sendiri 
Tanda Kekuasaan Allah tersebut, dia langsung memegang kedua tangan sang 
Mufti dengan eratnya sambil berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ BUKTI APALAGI YANG HARUS DICARI BAHWA ISLAM ITU BENAR. AKU SEKARANG JUGA AKAN MASUK ISLAM DAN TOLONG AJARI AKU TENTANG ISLAM “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hadapan ribuan orang yang sedang menyaksikan dirinya, dokter dari 
Jerman itu menyatakan keIslamannya. Dan seketika itu juga banyak orang 
lainnya yang beragama Kristen bahkan Yahudi turut juga menyatakan diri 
sebagai Muslim karena mereka telah melihat bukti yang sangat nyata 
dipampangkan di depan mereka. Ini bukan yang pertama dan terakhir. Masih
 banyak lagi setelah itu kaum Nasrani dan Yahudi serta dari agama lain 
yang berbondong-bondong masuk Islam karena telah menyaksikan atau 
mendengar kejadian aneh nan menakjubkan ini. [&lt;a href="http://kisahislami.com/" target="_blank"&gt;kisah islami&lt;/a&gt;]</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2013/01/kisah-dua-jasad-sahabat-nabi-yang-utuh.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2QdULDPORpOIMz0yZuDPp3xIMqmErzlMQOE44s8f6c9eljDLjHkLAkpWFN2PDKTzYBe_VjXE41Z8XcuChFHy5lgIriCozt-yduCpysWM5pGybbdSsmGhgVugka0GZc57yo0EB6TX0aQau/s72-c/Sahabat+Rosul.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-3047246818965571836</guid><pubDate>Wed, 05 Dec 2012 18:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-15T06:04:28.392-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">islamia</category><title> Tujuan Pendidikan Dalam Islam</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6e51Hv4QJ_dcjphe7201FD3ylir-QKAxXRrJfLrZn_s-luO9xlGRL_9Z3Iu15glZbKvny0y6KWWVlGIstFuert5nBMTT5lwTaZ3fL4xt543s8hVJS2xyOnz5tN_pveY6aR7WLaFh58DVU/s1600/Anak+Muslim.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6e51Hv4QJ_dcjphe7201FD3ylir-QKAxXRrJfLrZn_s-luO9xlGRL_9Z3Iu15glZbKvny0y6KWWVlGIstFuert5nBMTT5lwTaZ3fL4xt543s8hVJS2xyOnz5tN_pveY6aR7WLaFh58DVU/s400/Anak+Muslim.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Islam sangat 
mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, 
individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan 
kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun 
institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas,
 namun institusi-institusi tersebut masih belum &amp;nbsp;memproduksi
 individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang
 mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam 
tujuan institusi pendidikan. Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saat ini, banyak 
institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang 
memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk 
melahirkan individu-individu
 pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi 
sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan 
dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar”
 dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih 
supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem 
pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang 
memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan
 menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pendidikan
 yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh 
dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat 
sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan 
kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari 
hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari 
kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan 
nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih
 ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan 
rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan 
visi dan misi pendidikan yang pragmatis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebenarnya,
 agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif 
dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan
 para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tujuan
 utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah swt. Dengan 
pendidikan, diharapkan akan lahir individu-indidivu yang baik, bermoral,
 berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, 
masyarakatnya, negaranya dan ummat manusia secara keseluruhan. 
Disebabkan manusia merupakan fokus utama pendidikan, maka seyogianyalah i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;nstitusi-institusi &amp;nbsp;pendidikan
 memfokuskan kepada substansi kemanusiaan, membuat sistem yang mendukung
 kepada terbentuknya manusia yang baik, yang menjadi tujuan utama dalam 
pendidikan. Dalam pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari 
komponen fisik dan materi, namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa. 
Oleh sebab itu, sebuah institusi pendidikan bukan saja memproduksi anak 
didik yang akan memiliki kemakmuran materi, namun juga yang lebih 
penting adalah melahirkan individu-individu yang memiliki diri yang baik
 sehingga mereka akan menjadi manusia yang serta bermanfaat bagi ummat 
dan mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Institusi pendidikan
 perlu mengarahkan anak didik supaya mendisiplinkan akal dan jiwanya, 
memiliki akal yang pintar dan sifat-sifat dan jiwa yang baik, 
melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, memiliki 
pengetahuan yang luas, yang akan menjaganya dari kesalahan-kesalahan, 
serta memiliki hikmah dan keadilan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh
 sebab itu juga, ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam institusi 
pendidikan seyogianya dibangun di atas Wahyu yang membimbing kehidupan 
manusia. Kurikulum yang ada perlu mencerminkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;memiliki 
integritas ilmu dan amal, fikr dan zikr, akal dan hati. Pandangan hidup 
Islam perlu menjadi paradigma anak didik dalam memandang kehidupan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam Islam, Realitas dan Kebenaran bukanlah&amp;nbsp; semata-mata
 fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, 
sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada dalam konsep Barat 
sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. 
Realitas dan kebenaran didasarkan kepada dunia yang nampak dan tidak 
nampak; mencakup dunia dan akhirat, yang aspek dunia harus dikaitkan 
dengan aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang 
terakhir dan final. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, &lt;i&gt;Prolegomena to the Metaphysics of Islam&lt;/i&gt;).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jadi,
 institusi pendidikan Islam perlu mengisoliir pandangan hidup 
sekular-liberal yang tersurat dan tersirat dalam setiap disiplin ilmu 
pengetahuan modern saat ini, dan sekaligus memasukkan unsur-unsur Islam 
setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevant. Dengan 
perubahan-perubahan kurikulum, lingkungan belajar yang agamis, 
kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam, maka 
institusi-institusi pendidikan Islam akan membebaskan manusia dari 
kehidupan sekular menuju kehidupan yang berlandaskan kepada ajaran 
Islam. Institusi–institusi p&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;endidikan sepatutnya&amp;nbsp; melahirkan
 individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur 
dan mulia, yang dengan ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap 
Tuhannya, serta&amp;nbsp; memahami dan melaksanakan 
kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan yang lain dalam masyarakatnya,
 dan berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari 
dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang beradab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;span style="font-family: 'Times New Arabic','serif';"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;span class="author"&gt;Adnin Armas/&lt;a href="http://insistnet.com/" target="_blank"&gt;insist&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2012/12/tujuan-pendidikan-dalam-islam.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6e51Hv4QJ_dcjphe7201FD3ylir-QKAxXRrJfLrZn_s-luO9xlGRL_9Z3Iu15glZbKvny0y6KWWVlGIstFuert5nBMTT5lwTaZ3fL4xt543s8hVJS2xyOnz5tN_pveY6aR7WLaFh58DVU/s72-c/Anak+Muslim.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-6455543672548743107</guid><pubDate>Tue, 25 Sep 2012 15:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-13T12:24:44.004-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">islamia</category><title>Membangun Generasi Qur'ani Melalui Sistem Pendidikan Terpadu </title><description>&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6n-r22mY9TOx7OWX0O5vrH6eT6Zksr5O_FyTZgbKIo9lp68JF-L1EVn1PdiQjbSbKPOLSQsl_IfRg0ltgfdeD-KSselu06QkHuyLGkbkAVY0J0k5ESbokPyqpBo2mLR4L8fGfCPFy8nHJ/s1600/group-reading-of-quran.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6n-r22mY9TOx7OWX0O5vrH6eT6Zksr5O_FyTZgbKIo9lp68JF-L1EVn1PdiQjbSbKPOLSQsl_IfRg0ltgfdeD-KSselu06QkHuyLGkbkAVY0J0k5ESbokPyqpBo2mLR4L8fGfCPFy8nHJ/s320/group-reading-of-quran.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Oleh : Dr. Muchlis M. Hanafi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn1" name="_ftnref1" title="_ftnref1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Keterpaduan 
antara keluarga, sekolah dan masyarakat menunjukkan bahwa proses 
pendidikan berlangsung sepanjang kehidupan. Oleh karena itu pendidikan 
dalam Islam bersifat seumur hidup (Lifelong Education). Adapun tujuan 
pendidikan Al Qur’an adalah membentuk generasi rabbâniyy (QS. Âl Imrân :
 79), yang dapat dicapai dengan mengajarkan (bacaan : tu`allimûn) atau 
mengetahui (bacaan : ta`lamûn) petunjuk-petunjuk Allah (al-kitâb), baik 
yang terbaca dalam mushaf maupun yang terbentang di alam raya, dan 
mempelajarinya secara terus menerus (tadrusûn).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Al Qur’an memperkenalkan dirinya di banyak tempat sebagai kitab hidayah (&lt;i&gt;hudan&lt;/i&gt;/ petunjuk) yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Fungsi ini sejalan&amp;nbsp; dengan
 misi yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi yang 
bertugas memelihara dan memakmurkan bumi. Kendati Al Qur’an bukan buku 
ilmu pendidikan, tetapi tidak terlalu sulit untuk mendapatkan beberapa 
prinsip dasar pendidikan dalam ajarannya. &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dalam
 wujud nyata, Rasulullah telah menerapkannya dan berhasil membina dan 
membentuk manusia yang tangguh dan berkepribadian tinggi. Untuk itulah 
memang Rasulullah diutus. QS. Al-Jumu`ah : 2 menjelaskan tugas utama 
Rasulullah yaitu, 1) menyampaikan/ membacakan petunjuk-petunjuk Al 
Qur’an (&lt;i&gt;yatlû `alayhim âyâtihi&lt;/i&gt;) ; 2) menyucikan (hati) (&lt;i&gt;yuzakkîhim&lt;/i&gt;), dan 3) mengajarkan manusia (&lt;i&gt;yu`alimuhul kitâb wal hikmah&lt;/i&gt;). Ketiga tugas tersebut dapat diidentikkan dengan pendidikan dan pengajaran. &lt;i&gt;Menyucikan&lt;/i&gt;
 identik dengan mendidik, sedang mengajarkan dan menyampaikan materi 
yang berupa petunjuk Al Qur’an tidak lain adalah membekali peserta didik
 dengan berbagai ilmu pengetahuan, baik yang terkait dengan alam nyata 
maupun metafisika. Karena itu dalam salah satu ungkapan yang sangat 
populer, Rasulullah tidak segan-segan menyatakan dirinya diutus sebagai 
"guru" (&lt;i&gt;bu`itstu mu`alliman&lt;/i&gt;)&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn2" name="_ftnref2" title="_ftnref2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Sejarah
 membuktikan, Rasulullah adalah seorang guru/ pendidik yang tangguh. 
Dari tangannya lahir sebuah generasi dengan kehidupan yang sangat 
berbeda antara sebelum dan sesudah dididik oleh beliau. Dari sebuah 
bangsa yang &lt;i&gt;ummiyyîn&lt;/i&gt; (buta huruf), hidup di sebuah padang pasir
 yang kering dan tandus, beliau melahirkan sebuah komunitas yang 
berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah kemanusiaan dengan 
peradaban yang gemilang. Generasi yang dilahirkannya (para sahabat) 
mendapat apresiasi Tuhan seperti dinyatakan dalam firman-Nya : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;وَالسَّابِقُونَ
 الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ 
اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ 
وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ 
فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ&amp;nbsp; [التوبة/100]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di &lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;antara &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;orang-orang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Muhajirin dan Ansar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada me&lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;reka dan mereka pun rida kepada Allah.&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt; Allah menyediakan bagi mereka&lt;/span&gt; surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya &lt;span style="letter-spacing: -0.3pt;"&gt;selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; letter-spacing: -0.3pt;"&gt; (QS. Al-Taubah [9] : 100)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Setiap
 sosok para sahabat menjadi bukti keagungan kepribadian Rasulullah 
seabagai seorang pendidik. Tidak berlebihan jika Imam al-Qarafi pernah 
berujar : seandainya Rasulullah tidak memiliki mukjizat (bukti kebenaran
 risalahnya) selain para sahabatnya, maka mereka itu cukup menjadi bukti
 kebenaran akan kenabiannya&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn3" name="_ftnref3" title="_ftnref3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Generasi
 para sahabat mendapat bimbingan Rasulullah dengan panduan wahyu. 
Kepribadian Rasulullah yang merupakan terjemahan nyata nilai-nilai 
Al-Qur`an&amp;nbsp; menjadi magnet yang membalikkan keadaan jahiliah
 masyarakat Arab saat ini menjadi bangsa yang berperadaban. Mereka 
itulah generasi qur`ani yang sekarang diidam-idamkan kemunculannya di 
tengah keterpurukan umat Islam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dalam
 konteks keindonesiaan, Prof. Dr. Muhammad Ali, mantan Dirjen Dirjen 
Pendidikan Islam Kementerian Agama RI (2007-2012), dalam penilaiannya 
melihat bahwa pendidikan agama ternyata belum mampu mentransformasikan 
nilai-nilai agama dan kepribadian manusia Indonesia yang berbudi pekerti
 dan berakhlak mulia. Nilai-nilai agama kurang ditransformasikan secara 
positif, kritis dan berorientasi ke depan. Lebih jauh ia mengatakan 
bahwa kekurangan pendidikan agama disebabkan 1) kurikulum pendidikan 
agama lebih menekankan aspek kognitif dan kurang memperhatikan aspek 
pengamalan ajaran agama dalam pembentukan akhlak dan karakter; 2) jumlah
 pendidik dan kependidikan lainnya yang bermutu belum mencukupi; 3) 
sarana dan prasarana yang terbatas; dan 4) fasilitas lainnya yang belum 
memadai; serta 5) kendala lain, arus globalisasi terutama media cetak 
dan elektronik sangat deras masuk dalam lingkungan keluarga dan 
masyarakat sehingga mempengaruhi peserta didik dan perilaku sosial yang 
tidak sejalan dengan agama. Selain itu ia melihat, mulai SD, SMP dan SMA
 materi pendidikan agama pada setiap jenjang pendidikan belum terpadu&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn4" name="_ftnref4" title="_ftnref4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Pengutusan Rasul dengan mengemban tiga fungsi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;pada QS. Al-Jumu`ah : 2 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;didahului dengan ungkapan &lt;i&gt;ba`atsa fil ummiyyîn &lt;b&gt;rasûlan minhum&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, yang berarti rasul yang diutus itu berasal dari kalangan masyarakat itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Atas
 dasar ini kita dapat berkata, sistem serta tujuan pendidikan bagi suatu
 masyarakat atau negara tidak dapat diimpor atau diekspor dari atau ke 
suatu negara atau masyarakat. Ia harus timbul dari dalam masyarakat itu 
sendiri. Ia adalah "pakaian" yang harus diukur dan dijahit sesuai dengan
 bentuk dan ukuran pemakainya, berdasarkan identitas, pandangan hidup, 
serta nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat atau negara tersebut&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn5" name="_ftnref5" title="_ftnref5"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.
 Dari sini menjadi penting bagi kita umat Islam untuk selalu menggali 
konsep pendidikan dalam Al Qur’an agar terlahir kembali generasi 
qur`ani. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Definisi dan Term Pendidikan dalam Al Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Para ahli berbeda pendapat dalam mendefinisikan pendidikan. Dalam &lt;i&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;
 disebutkan bahwa pendidikan ialah : “Proses pengubahan sikap dan tata 
laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia 
melalui upaya pengajaran dan pelatihan”&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn6" name="_ftnref6" title="_ftnref6"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.
 Ki Hajar Dewantara menyatakan: “Pendidikan umumnya berarti daya upaya 
untuk memajukan budi pekerti (kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan 
jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”.&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn7" name="_ftnref7" title="_ftnref7"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Muhammad Natsir dalam tulisannya &lt;i&gt;Ideology Islam&lt;/i&gt;,
 menulis : “Yang dinamakan didikan, ialah satu pimpinan jasmani dan 
rohani yang menuju kepada kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan 
dengan arti sesungguhnya”&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn8" name="_ftnref8" title="_ftnref8"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.
 Ahmad D. Marimba mengajukan definisi pendidikan sebagai berikut : 
“Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik
 terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju 
terbentuknya kepribadian yang utama”&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn9" name="_ftnref9" title="_ftnref9"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.
 Meski berbeda redaksi, tetapi satu hal yang pasti, dari beberapa 
pengertian di atas diketahui bahwa cakupan pendidikan jauh lebih luas 
dari sekadar membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan. Ia adalah 
upaya untuk membentuk peserta didik menjadi manusia seutuhnya; kuat 
jasmani dan rohani, berpengetahuan luas sekaligus berkepribadian kuat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Istilah pendidikan dalam Al Qur’an dapat ditemukan pada term-term yang menggunakan akar kata &lt;i&gt;rababa&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;rabâ&lt;/i&gt;. Dari akar kata &lt;i&gt;rababa&lt;/i&gt; lahir kata &lt;i&gt;rabb&lt;/i&gt;. Kata ini biasa diartikan secara sederhana dengan kata Tuhan. Tetapi jika melihat makna semantiknya dalam bahasa Arab, kata &lt;i&gt;rabb&lt;/i&gt; dan yang seakar dengannya memiliki cakupan makna yang sangat luas, antara lain &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;memiliki, menguasai, mengatur, memelihara, memberi nikmat dan mengawasi. Semua kata &lt;i&gt;rabb&lt;/i&gt; dalam Al Qur‘an &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;bermakna
 Tuhan yang memiliki sifat-sifat seperti di atas, dan tentu lebih dari 
itu semua, kecuali hanya di beberapa tempat yang bermakna tuan/ majikan,
 raja dan seseorang yang memberi nikmat, yaitu pada QS. Yusuf : 23, 41, 
42 dan 50. &lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn10" name="_ftnref10" title="_ftnref10"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Kata &lt;i&gt;rabâ&lt;/i&gt; dalam bahasa Arab berarti tumbuh, bertambah dan berkembang&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn11" name="_ftnref11" title="_ftnref11"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dari kata ini lahir kata &lt;i&gt;rabbâ, yurabbî, tarbiyah&lt;/i&gt;
 yang biasa diartikan dengan mendidik dan pendidikan. Fakultas yang 
membidangi pendidikan di perguruan tinggi Islam disebut tarbiyah. 
Menurut sebagian pakar, kata &lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; berasal dari kata &lt;i&gt;rabbaba&lt;/i&gt;, kemudian untuk meringankan pengucapan (&lt;i&gt;takhfîf&lt;/i&gt;), huruf &lt;i&gt;ba&lt;/i&gt; yang terakhir diganti dengan huruf &lt;i&gt;ya&lt;/i&gt;&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn12" name="_ftnref12" title="_ftnref12"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Hujan dinamakan &lt;i&gt;rabâb&lt;/i&gt; karena ia menumbuhkan dan menjaga kelangsungan hidup tumbuh-tumbuhan&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn13" name="_ftnref13" title="_ftnref13"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dalam Alquran tidak ditemukan kata &lt;i&gt;‘at-Tarbiyah’&lt;/i&gt;, tetapi ada istilah yang senada dengan itu antara lain; &lt;i&gt;ar-rabb, rabbayânî&lt;/i&gt; (QS. Al-Isra : 24), &lt;i&gt;nurabbika&lt;/i&gt; (QS. Al-Syu`ara : 18), &lt;i&gt;rabbâniyyîn&lt;/i&gt; (QS. Âl Imran : 79). Semua fonem tersebut mempunyai konotasi makna yang berbeda-beda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Sejak awal risalah, Allah selalu memperkenalkan diri-Nya sebagai &lt;i&gt;rabb&lt;/i&gt;
 yang menguasai, memiliki, memelihara, menolong, mengawasi dan memiliki 
sifat-sifat lain yang dapat menjaga kelangsungan hidup manusia. Sifat 
ini diperkenalkan karena kaum kafir Mekkah telah sangat mengenal Allah, 
namun dengan persepsi yang berbeda dengan yang seharusnya diyakini 
(Perhatikan misalnya QS. Al-Ankabut : 61). Perintah &lt;i&gt;membaca&lt;/i&gt; yang dikaitkan dengan &lt;i&gt;bismi rabbika&lt;/i&gt;
 pada unit wahyu yang pertama turun mengesankan agar membaca yang 
diperintah itu menghasilkan sesuatu yang dapat menjaga kelangsungan 
hidup manusia secara utuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dari sini, pendidikan dalam pandangan Al Qur‘an merupakan sebuah proses &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;penumbuhan
 dan pengembangan potensi peserta didik untuk mencapai keseimbangan dan 
kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Salah satunya melalui proses 
pengajaran yang di dalam Al Qur‘an diungkapkan dengan kata &lt;i&gt;'allama', yu`allimu&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;wa yu`alllimuhul kitâb&lt;/i&gt;). Dari kata ini lahir istilah &lt;i&gt;ta`lîm&lt;/i&gt; (pengajaran). Ada kaitan yang erat antara pendidikan (&lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt;) dan &lt;i&gt;ta`lîm&lt;/i&gt; (pengajaran). QS. Âl Imran : 79 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;menjelaskan bahwa generasi yang terdidik dengan sifat-sifat ketuhanan (&lt;i&gt;rabbâniy&lt;/i&gt;) dapat terwujud dengan mendalami ilmu pengetahuan dan senantiasa mempelajari petunjuk Allah dalam &lt;i&gt;al-kitâb&lt;/i&gt;, baik yang terbaca dalam bentuk mushaf maupun yang terbentang di alam raya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Sebagian ahli memperkenalkan term lain yang terkait dengan pendidikan dalam Islam yaitu &lt;i&gt;ta`dîb&lt;/i&gt;. Istilah ini tidak ditemukan dalam Alquran, tetapi diambil dari sebuah ungkapan dalam hadis Nabi saw, &lt;i&gt;Addabanî rabbî fa ahsana ta`dîbî&lt;/i&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;(Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang terbaik)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn14" name="_ftnref14" title="_ftnref14"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kata &lt;i&gt;addaba&lt;/i&gt; yang melahirkan kata &lt;i&gt;ta`dîb&lt;/i&gt; berasal dari kata &lt;i&gt;adab&lt;/i&gt; yang berarti akhlak mulia dan terpuji. Dengan demikian &lt;i&gt;ta`dîb&lt;/i&gt;
 adalah proses pembentukan karakter dan akhlak mulai dalam diri peserta 
didik. Peran ini sangat terhormat dalam Islam. Dalam sebuah hadis sahih,
 Rasulullah menyatakan, seseorang yang mendidik budaknya dengan akhlak 
dan perilaku mulia dan mengajarkan ilmu syar`i kemudian mengawininya 
termasuk salah satu dari tiga orang yang akan mendapatkan dua pahala&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn15" name="_ftnref15" title="_ftnref15"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Tujuan Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Tujuan
 adalah batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat 
perhatiannya untuk dicapai melalui usaha. Dalam usaha terkandung 
cita-cita, kehendak, kesengajaan serta berkonsekwensi penyusunan daya 
upaya untuk mencapainya. Bagi seorang Muslim, tujuan akhir hidupnya 
adalah pengabdian kepada Allah sejalan dengan tujuan penciptaan manusia 
yang ditegaskan oleh Alquran dalam QS. Al-Dzâriyât : 56 : &lt;i&gt;Aku tidak 
menciptakan manusia dan jin kecuali untuk menjadikan tujuan akhir atau 
hasil segala aktifitasnya sebagai pengabdian kepadaku&lt;/i&gt;&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn16" name="_ftnref16" title="_ftnref16"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dalam QS. Al-Najm : 42 dijelaskan, segala aktifitas manusia hendaknya berakhir dan bertujuan kepada Tuhan (&lt;i&gt;wa anna ilâ rabbika al-muntahâ&lt;/i&gt;).
 Al Qur’an tidak hanya membentuk dan membimbing manusia secara empirik 
melalui metode ilmiah, tetapi juga mengarahkannya untuk dapat merasakan 
cahaya kalbu melalui pendidikan akhlak mulia, ketakwaan, keikhlasan, 
cinta kasih sesama manusia dan sikap saling menolong dalam kebaikan. 
Karena itu, Islam menjadikan ilmu pengetahuan bercirikan kebaikan dan 
sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah &lt;i&gt;subhânahu wata`âlâ&lt;/i&gt;.
 Berbeda dengan ilmu dalam pandangan peradaban modern yang tidak terikat
 dengan etika moral, serta bebas dari nilai kebaikan atau keburukan. 
Ilmu dalam Islam dipenuhi dengan nuansa nilai-nilai ketuhanan (&lt;i&gt;bismi rabbika&lt;/i&gt;) &lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn17" name="_ftnref17" title="_ftnref17"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dari
 sini proses pendidikan, termasuk proses transformasi ilmu pengetahuan, 
seperti digariskan dalam Al Qur’an (QS. Âl `Imrân ; 79) bertujuan 
membentuk generasi &lt;i&gt;Rabbâniyyîn&lt;/i&gt;. Allah berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;مَا
 كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ 
وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ 
اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ 
الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ&amp;nbsp; [آل عمران/79]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Tidak
 mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah
 dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu &lt;span style="letter-spacing: 0.6pt;"&gt;penyembahku, bukan penyembah&lt;/span&gt; Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah,&lt;b&gt; &lt;/b&gt;karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Kata &lt;i&gt;rabbâniyyîn&lt;/i&gt; merupakan bentuk jamak dari &lt;i&gt;rabbâniy&lt;/i&gt; yang dinisbatkan kepada &lt;i&gt;rabb&lt;/i&gt; dengan penambahan &lt;i&gt;alif&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;nûn&lt;/i&gt; untuk menunjukkan kedekatan yang sangat dengan sifat-sifat ketuhanan. Yang dimaksud dengan &lt;i&gt;rabbâniyy&lt;/i&gt;
 adalah seseorang yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah, bertakwa, 
mawas diri dalam berbicara dan bertindak, memadukan antara ilmu dan amal
 serta mengabdikan dirinya untuk mengajarkan manusia sesuatu yang 
bermanfat&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn18" name="_ftnref18" title="_ftnref18"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Semua itu dapat dicapai dengan selalu mengajarkan al-kitab (&lt;i&gt;tu`allimûn al-kitâb&lt;/i&gt;) dan selalu terus mempelajarinya (&lt;i&gt;tadrusûn&lt;/i&gt;). Jika dibaca dengan &lt;i&gt;'ta`lamûn'&lt;/i&gt;, mengikuti bacaan Abu Amr, Ibn Katsir dan Nafi, maka sifat &lt;i&gt;rabbaniyy&lt;/i&gt;
 dapat dicapai dengan pengetahuan tentang al-kitab, sebab pengetahuan 
itu dapat membentengi seseorang dari perbuatan tercela. Menurut Al-Razi,
 ayat ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan, pengajaran dan proses 
belajar dapat mengantarkan seseorang kepada tingkat &lt;i&gt;rabbaniy&lt;/i&gt;. 
Tanpa tujuan itu maka akan sia-sia, seperti seseorang yang menanam pohon
 yang indah dipandang mata tetapi tidak berbuah. Karena itu doa yang 
selalu dibaca oleh Rasulullah adalah memohon perlindungan dari ilmu yang
 tidak bermanfaat dan hati yang tidak khusyuk. Dengan demikian, proses 
pengajaran dan pendidikan hendaknya bertujuan membentuk sifat &lt;i&gt;rabbâniy&lt;/i&gt; dalam diri peserta didik. Dengan kata lain, pendidikan dalam pandangan Al Qur’an bertujuan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;mewujudkan penyerahan mutlak kepada Allah (&lt;i&gt;islâmul wajhi lillâh&lt;/i&gt;), pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Atas
 dasar petunjuk Al Qur’an di atas para pakar pendidikan Islam berupaya 
merumuskan tujuan pendidikan Islam. Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan
 adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap 
perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya 
kepribadian utama&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn19" name="_ftnref19" title="_ftnref19"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.
 Dalam definisi ini terlihat jelas bahwa secara umum yang dituju oleh 
kegiatan pendidikan adalah terbentuknya kepribadian utama. Definisi ini 
tampak sejalan dengan prinsip di atas yang menyatakan bahwa tujuan 
pendidikan pada hakikatnya adalah gambaran manusia yang kekal dan utuh. 
Atau dengan kata lain, generasi &lt;i&gt;rabbâniyyûn&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Menurut
 Hasan Langgulung, berbicara tentang tujuan pendidikan tidak dapat tidak
 mengajak kita berbicara tentang tujuan hidup. Sebab pendidikan 
bertujuan untuk memelihara kehidupan manusia. Tujuan ini menurutnya 
tercermin dalam surat al-An’am ayat 162 yang berbunyi : &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An-‘am : 162)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn20" name="_ftnref20" title="_ftnref20"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;i&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dari
 penjelasan di atas tampak bahwa pendidikan moral adalah jiwa dari 
pendidikan Islam. Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan yang
 sebenarnya dari pendidikan dalam pandangan Al Qur’an. Hal ini sejalan 
dengan misi yang dibawa oleh Rasulullah seperti dijelaskan dalam sebuah 
hadis : &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;“Sesungguhnya saya diutus hanya untuk menyempurnakan moral yang mulia”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Keterpaduan dalam Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Berdasarkan
 uraian di atas dan penjelasan lainnya dalam Al-Qur’an kita dapat 
simpulkan keterpaduan yang ditawarkan melalui konsep pendidikan dalam 
Al-Qur’an, antara lain : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;1. Keterpaduan antara unsur &lt;i&gt;ilâhiyyah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;insâniyyah&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Mendidik
 pada hakekatnya adalah sebuah proses mengantarkan peserta didik untuk 
lebih dekat dan berperilaku dengan sifat-sifat ketuhanan (&lt;i&gt;al-takhalluq bi akhlâqillâh&lt;/i&gt;).
 Yaitu dengan menggali potensi yang tersimpan dalam diri manusia yang 
akan menghidupkannya seperti lampu yang mengeluarkan potensi cahayanya 
dari minyak, atau seperti cahaya listrik yang dihasilkan oleh energi. 
Potensi itu antara lain berupa akal, ilmu dan iman. Al-Qur`an sebagai 
sesuatu yang dapat menghidupkan dijelaskan dalam firman Allah : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;يَا
 أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا 
دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ 
الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ&amp;nbsp; [الأنفال/24]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila&lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt; dia menyerumu kepada sesuatu yang&lt;/span&gt; memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya &lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu&lt;/span&gt; akan dikumpulkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; (QS. Al-Anfal [8] : 24).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Pakar tafsir asal Tunisia, Ibnu Asyur, menjelaskan, memberi kehidupan pada ayat di atas bermakna&amp;nbsp; memberi
 sesuatu yang dapat mengantarkan manusia menjadi sosok insan kamil, 
antara lain dengan menerangi akal dengan keyakinan yang benar dan akhlak
 mulia, menunjukinya jalan untuk berbuat kebaikan, memperbaiki individu 
dan masyarakat dengan akhlak terpuji&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn21" name="_ftnref21" title="_ftnref21"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;2. Keterpaduan dalam bentuk keseimbangan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dalam pendidikan Islam prinsip keseimbangan meliputi ; a) keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;; b) &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;; c) &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;d) keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal. Prinsip ini telah ditegaskan misalnya dalam QS. Al-Qashash : 77. &lt;i&gt;Dan
 carilah pada apa yang telah dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri
 akhirat, dan jaganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) 
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah 
berbuat baik kepadamu&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dalam pandangan A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;-Qur`an
 manusia terdiri dari dua unsur ; ruh dan jasad. Dalam proses penciptaan
 manusia pertama (Adam) dijelaskan bahwa Allah telah menciptakannya dari
 tanah kemudian meniupkan ke dalam tubuhnya ruh (QS. Shad : 71-72). 
Kedua unsur itu memiliki hak yang harus dipenuhi. Karena itu Rasulullah 
mengecam keras sahabatnya yang dianggapnya berlebihan dalam beribadah 
dengan mengabaikan hak tubuhnya, keluarga dan masyarakatnya. Beliau 
bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;صُمْ وَأَفْطِرْ ، وَقُمْ وَنَمْ &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;، &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Puasa
 dan berbukalah, bangun malam (untuk salat) dan tidurlah, sesungguhnya 
tubuhmu memiliki hak yang harus dipenuhi, matamu punya hak untuk 
dipejamkan, isterimu punya hak yang harus dipenuhi &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;(HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Amr bin al-Ash)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Kelangsungan hidup manusia secara keseluruhan sangat bergantung pada komitmen mereka terhadap petunjuk Allah (&lt;i&gt;al-Kitâb&lt;/i&gt;) dan prinsip keseimbangan (&lt;i&gt;al-Mîzân&lt;/i&gt;). Dua hal ini (mengenalkan &lt;i&gt;al-kitâb&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;al-mîzân&lt;/i&gt;) adalah termasuk misi utama pengutusan para rasul ke muka bumi. Allah berfirman : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;لَقَدْ
 أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ
 وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ [الحديد/25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Sungguh,
 Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan 
kami turunkan bersama mereka kitab dan al-mîzân (neraca/ keadilan) agar 
manusia dapat berlaku adil.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; (QS. Al-Hadîd : 25).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Karena itu ajaran Islam secara umum bercirikan &lt;i&gt;wasath&lt;/i&gt; (tengahan) (QS. Al-Baqarah : 143).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;3. Keterpaduan antara ilmu, iman dan amal dalam diri anak didik &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dalam
 pandangan Al Qur’an ilmu bukan sekadar untuk ilmu, tetapi ilmu harus 
dapat membuahkan iman, dan selanjutnya iman melahirkan sikap ketundukan (&lt;i&gt;al-ikhbâth&lt;/i&gt;) yang tercermin dalam amal. Dalam sebuah ayat Allah berfirman ;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;وَلِيَعْلَمَ
 الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا 
بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ 
آَمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [الحج/54]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Dan
 supaya mereka yang berilmu itu tahu bahwa Al Qur’an itu benar berasal 
dari Allah sehingga mereka mengimaninya dan hati mereka menjadi tunduk 
kepada ajarannya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;(QS. Al-Hajj : 54) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Ada tiga hal yang saling berkaitan pada ayat di atas; ilmu (&lt;i&gt;al-`ilm&lt;/i&gt;), iman (&lt;i&gt;al-Îmân&lt;/i&gt;) dan ketundukan (&lt;i&gt;al-Ikhbât&lt;/i&gt;). Ilmu diikuti tanpa jarak, sesuai dengan penggunaan kata penghubung &lt;i&gt;fa&lt;/i&gt;, dengan keimanan (&lt;i&gt;liya`lamû fayu`minû&lt;/i&gt;),
 dan selanjutnya keimanan akan membuahkan gerakan hati yang terpancar 
melalui ketundukan dan kekhusyukan kepada Allah Swt. Karena itu, menurut
 Ibnu Mas`ud, ukuran sebuah ilmu bukan pada banyaknya (kuantitas), 
tetapi sejauh mana ilmu tersebut dapat mengantarkan kepada kekhusyukan (&lt;i&gt;laysa al-`ilm bikatsrat al-riwâyati, innama al-`ilmu khasyyatullâh&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;
 Ketiga unsur di atas tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seorang 
Muslim, termasuk dalam pendidikan. Pendidikan Islam harus dapat 
melahirkan sosok seorang Muslim yang berilmu, beriman dan beramal 
(berakhlak). Atau dengan kata lain, memiliki kecerdasan intelektual, 
emosional dan spiritual. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Sebuah
 lembaga pendidikan Islam dapat dinilai gagal jika tidak dapat 
mengantarkan peserta didik menjadi seorang Muslim yang kuat secara 
keilmuan dan keimanan. Ulama besar India, Wahiduddin Khan, dalam bukunya
 &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Tajdîd `Ulûm al-Dîn&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; mengritik keras lembaga pendidikan Islam dengan mengatakan, kebanyakan lembaga pendidikan Islam belum lagi meletakkan unsur &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;khasyyah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;(kekhusyukan pada Tuhan) dan taqwa sebagai dasar pengajaran, tetapi baru sekadar mengajarkan disiplin ilmu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Sistem
 pendidikan terpadu juga tidak mengenal dikotomi ilmu umum dan ilmu 
agama. Semua ilmu yang dapat mengantarkan kepada khasyyatullah 
dianjurkan oleh Islam untuk dipelajari. Model pendidikan terintegrasi 
itulah yang dipakai para ulama pada zaman Islam klasik. Tak aneh, 
lanjutnya, di masa kejayaan Islam dahulu, seorang ulama sekaligus juga 
pakar kedokteran, biologi, ilmu perbintangan. Ibnu Sina dan Ibnu Haitsam
 adalah sebagian dari ulama yang sekaligus ilmuwan. Mereka menyadari 
benar bahwa untuk dapat menguasai ilmu alam, harus menguasai ilmu 
dasarnya terlebih dahulu, yakni Al Qur’an dan Hadis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;eorang
 guru dituntut agar dapat menciptakan pembelajaran yang holistik sesuai 
dengan perkembangan anak. Guru mengajar tidak hanya membangun anak untuk
 pintar saja, tetapi bagaimana membangun karakter anak yang baik yang 
dapat berguna atau bermanfaat untuk lingkungan atau kehidupannya. 
Disinilah tugas guru mengarahkan atau menunjukkan informasi kepada anak.
 Dengan pembelajaran terpadu kualitas pendidikan dapat diperbaiki, 
terutama untuk mencegah penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran 
di sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;4. Keterpaduan pendidikan antara keluarga, sekolah dan masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Manusia
 sepanjang hidupnya sebagian besar akan menerima pengaruh dari tiga 
lingkungan pendidikan yang utama yakni, keluarga, sekolah, dan 
masyarakat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;. K&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;etiganya biasa disebut dengan tripusat pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;L&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;ingkungan yang pertama kali dikenal oleh anak, tapi merupakan hal yang terpenting adalah keluarga.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Kehidupan masa depan anak pada masyarakat tradisional tidak jauh berbeda dengan kehidupan orang tuanya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; O&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;rang
 tua yang mengajar pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk 
hidup. Orang tua pula yang melatih dan memberi petunjuk tentang berbagai
 aspek kehidupan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;ampai anak menjadi dewasa dan berdiri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Al-Qur`an
 memberikan perhatian tinggi terhadap peran keluarga dalam pendidikan. 
Misalnya dapat dilihat dari peringatan kepada orang tua (yang berposisi 
sebagai kepala keluarga) agar menjaga anggota keluarga dari segala 
sesuatu yang dapat menjerumuskan kepada kehidupan akhir yang tragis 
(neraka) (QS. Al-Tahrîm [66] : 6). Pola pendidikan anak juga dijelaskan 
secara rinci dalam kisah Lukman yang terdapat dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;QS. Luqman/31: 13-19&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;. Di situ Al-Qur`an menekankan beberapa hal penting dalam pendidikan anak, yaitu : (1) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;pendidikan anak hendaknya dimulai dari upaya memperkenalkan dan menanamkan a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;q&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;idah dan prinsip-prinsip ketuhanan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;(QS. Luqman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; [&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;31&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; : 13&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;, 16&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;(2) k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;epercayaan
 akan keesaan Allah harus disertai dengan amal saleh dan aneka 
peribadatan, diantaranya yaitu dengan menegakkan salat (QS. Luqman/31 : 
17); (3) pentingnya menanamkan akhlak, baik kapada diri sendiri maupun 
kepada orang lain, antara lain dengan berbakti dan menghormati orang 
tua; (4) menanamkan kepedulian social &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;mengajak orang lain mengerjakan yang baik dan mencegah perbuatan yang mungkar (QS. Luqman 17)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;; (5)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;mengajarkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;sikap lemah lembut terhadap orang lain, sopan dalam berjalan dan berbicara serta tidak sombong (ayat 18-19).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;ada
 masyarakat modern, pendidikan yang semula menjadi tanggung jawab 
keluarga itu kini sebagian besar diambil alih oleh sekolah dan 
lembaga-lembaga sosial lainnya. Pada tingkat permulaan fungsi ibu 
sebagian sudah diambil alih oleh pendidikan prasekolah. Bahkan fungsi 
pembentukan watak dan sikap mental pada masyarakat modern 
berangsur-angsur diambil alih oleh sekolah dan organisasi sosial 
lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; Sekolah merupakan rumah kedua bagi pelajar (&lt;i&gt;home for learning&lt;/i&gt;). Sekolah tidak hanya menyediakan kesempatan mendapatkan pengetahuan, tetapi juga berperan dalam pembangunan karakter. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Meskipun
 keluarga kehilangan sejumlah fungsi yang semula menjadi tanggung 
jawabnya, namun keluarga masih tetap merupakan lembaga yang paling 
penting dalam proses sosialisasi anak, karena keluarga yang memberikan 
tuntunan dan contoh-contoh sejak masa anak sampai dewasa dan berdiri 
sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;alam masyarakat modern orangtua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;juga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;harus membagi otoritas dengan orang lain terutama guru dan pemuka masyarakat, bahkan dengan anak mereka sendiri yang memperol&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;h
 pengetahuan baru dari luar keluarga. Perubahan sifat hubungan orang tua
 dengan anaknya itu, akan diiringi pula dengan perubahan hubungan guru &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;siswa serta didukung &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;norma-norma dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;masyarakat. Dengan kata lain, terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara ketiga pusat pendidikan itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Masa di saat Rasulullah hidup membimbing para sahabatnya dapat disebut sebagai sekolah besar (&lt;i&gt;madrasah Rasûlillâh&lt;/i&gt;).
 Di situ beliau berperan sebagai guru di sekolah sekaligus pembina 
masyarakat. Pendidikan dilakukan secara kolektif dan terpadu, antara 
satu dan lainnya saling mendidik dan mengajar. Dalam kehidupan 
bermasyarakat beliau menetapkan hak-hak dan kewajiban bertetangga 
sebagai sebuah ikatan sosial. Begitu kuatnya ikatan tersebut dan tekanan
 ajaran yang disampaikan malaikat Jibril sampai-sampai Rasulullah 
menduga tetangga akan ikut mendapatkan warisan tetangganya yang 
meninggal dunia. Di antara hak dan kewajiban yang utama adalah saling 
mengajarkan antara satu dengan lainnya. Suatu ketika Rasulullah 
berkhutbah dengan memuji sekelompok orang, kemudian setelah itu beliau 
mengatakan, “Mengapa ada sebagian komunitas yang tidak ‘mencerdaskan’ 
tetangganya, tidak mengajarkan mereka, dan tidak beramar makruf nahi 
munkar? Mengapa ada sebagian orang yang tidak mau belajar dari 
tetangganya? Demi Allah, setiap komunitas hendaknya saling mendidik, 
saling mengajarkan dan beramar makruf nahi munkar. Bila tidak, sanksi 
dan siksa akan dipercepat kedatangannya di dunia”. Para sahabat 
bertanya-tanya tentang siapa yang dimaksud oleh Nabi dalam ucapannya 
itu, sebab kebiasaan beliau tidak “tunjuk hidung” ketika menegur 
seseorang. Sindiran itu sampai ke telinga suku/ kabilah Asy`ari yang 
dikenal banyak memiliki orang pandai dan hidup bertetangga dengan 
sekelompok masyarakat yang berwatak keras (orang yang hidup di sepanjang
 perairan dan pedalaman/ badui). Merasa mendapat teguran mereka meminta 
waktu satu tahun untuk mencerdaskan tetangga ‘kampungnya’, dan 
Rasulullah memperkenankan. Beliau kemudian menyitir sebuah ayat dalam 
Al-Qur`an yang berbunyi : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt;لُعِنَ
 الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ 
وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) 
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا 
يَفْعَلُونَ (79) [المائدة/78، 79]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) &lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Dawud dan Isa putra Maryam. Yang&lt;/span&gt; demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.&lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt; &lt;/span&gt;Mereka
 tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. 
Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat (QS. Al-Maidah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; [5] : 78-79)&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn22" name="_ftnref22" title="_ftnref22"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Ulama
 besar Syiria, Syeikh Mushtafa al-Zarqa mengomentari hadis di atas 
dengan mengatakan, “Sikap Rasulullah yang menganggap kelalaian dalam 
belajar-mengajar sebagai sebuah kriminalitas sosial yang berakibat 
pelakunya mendapat siksa dunia, merupakan sikap memuliakan ilmu yang 
tiada duanya dalam sejarah, baik sebelum atau sesudah masa beliau”&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftn23" name="_ftnref23" title="_ftnref23"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif'; font-size: 12pt;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Keterpaduan
 antara keluarga, sekolah dan masyarakat menunjukkan bahwa proses 
pendidikan berlangsung sepanjang kehidupan. Oleh karena itu pendidikan 
dalam Islam bersifat seumur hidup (&lt;i&gt;Lifelong Education&lt;/i&gt;). Di atas telah disinggung bahwa tujuan pendidikan Al Qur’an adalah membentuk generasi &lt;i&gt;rabbâniyy&lt;/i&gt; (QS. Âl Imrân : 79), yang dapat dicapai dengan mengajarkan (bacaan : &lt;i&gt;tu`allimûn&lt;/i&gt;) atau mengetahui (bacaan : &lt;i&gt;ta`lamûn&lt;/i&gt;) petunjuk-petunjuk Allah (&lt;i&gt;al-kitâb&lt;/i&gt;), baik yang terbaca dalam mushaf maupun yang terbentang di alam raya, dan mempelajarinya secara terus menerus (&lt;i&gt;tadrusûn&lt;/i&gt;). Kesinambungan itu disimpulkan dari penggunaan bentuk redaksi &lt;i&gt;mudhâri&lt;/i&gt;` (&lt;i&gt;present tense&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Kehidupan seorang Muslim harus selalu ditandai dengan peningkatan ilmu pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Traditional Arabic','serif'; font-size: 16pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;“Katakan, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu pengetahuanku’.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;
 (Q.,s. Thaha : 114), demikian doa yang harus selalu dipanjatkan oleh 
seorang Muslim. Atau dengan kata lain, seorang Muslim harus selalu 
berusaha menambah pengetahuannya selama hayat dikandung badan, baik 
secara formal maupun non-formal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Wa akhîran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Demikian
 sekelumit petunjuk yang dapat penulis 'raba' dari Al Qur‘an, sebab 
selain begitu luas dan dalamnya lautan Al Qur‘an yang sangat sulit untuk
 dijangkau semua, tema pendidikan bukanlah 'cangkir kopi' penulis. Meski
 begitu, penulis berharap semoga tetesan air yang menempel saat jari 
dicelupkan ke atas permukaan laut Al-Qur`an dapat merangsang untuk 
menyelami lautannya yang luas.&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt; [&lt;a href="http://insistnet.com/" target="_blank"&gt;insist&lt;/a&gt;]&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Calibri','sans-serif';"&gt;Daftar Pustaka:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Abu Ghuddah Abdul Fattah, 2008. &lt;i&gt;Al-Rasûl al-Mu`allim wa Asâlîbuhu fi al-Ta`lîm&lt;/i&gt;, Beirut, Dar al-Basyâ`ir al-Islâmiyyah&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Depdkbud, Tim Penyusunan Kamus Pusat dan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994. &lt;i&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;, Jakarta, Balai Pustaka. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Dewantara, Ki Hajar, 1967. &lt;i&gt;Masalah Kebudayaan : Kenang-kenangan Promosi Doctor Honoris Causa&lt;/i&gt;, Yogyakarta. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;Marimba, &lt;/span&gt;A.D., 1980. &amp;nbsp;&lt;i&gt;Filsafat Pendidikan Islam&lt;/i&gt;, Bandung, Alma’arif.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Mahmud, Abdul Halim, 2005. &lt;i&gt;Manhaj al-Ishlâh al-Islâmiy fi al-Mujtama, &lt;/i&gt;Kairo, Al-Hay`ah al-Mishriyyah al-Ammah li al-Kitâb. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;Mu`jam Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm&lt;/i&gt;, Tim Penyusun, 1996. Kairo, Majma` al-Lughah al-Arabiyyah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Natsir, M., 1954, &lt;i&gt;Capita Selecta&lt;u&gt;,&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; Bandung, Gravenhage&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Langgulung, Hasan, 1968. &lt;i&gt;Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, &lt;/i&gt;Jakarta, Pustaka al-Husna. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Saridjo, Marwan, 2009. &lt;i&gt;Mereka Bicara Pendidikan Islam, Sebuah Bunga Rampai,&lt;/i&gt; Jakarta Rajawali Pers. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Shihab M. Quraish, 1992. &lt;i&gt;Membumikan Al-Qur`an&lt;/i&gt;&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;&amp;nbsp;Bandung, Mizan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;Multimedia:&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;Kanz al-`Ummâl&lt;/i&gt;, (Maktabah Syamilah) 10/147&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Al-Qarafi, &lt;i&gt;al-Furûq&lt;/i&gt;, 4/170&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Ibnu Asyur, &lt;i&gt;Al-Tahrîr wa al-Tanwîr,&lt;/i&gt; 6/118&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Manzhur, Ibnu, &lt;i&gt;Lisân al-Arab&lt;/i&gt;&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Maktabah Syamilah), 14/304&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Al-Fayruzabadi, &lt;i&gt;Bashâir Dzawî al-Tamyîz&lt;/i&gt; (Maktabah Syamilah), 3/2 &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
Muhammad Sayyed Thanthawi, &lt;i&gt;Al-Tafsîr al-Wasîth&lt;/i&gt; (Maktabah Syamilah), h. 1/656&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin: 6pt 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr size="1" width="33%" /&gt;
&lt;div id="ftn1"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref1" name="_ftn1" title="_ftn1"&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;*&lt;/span&gt; &amp;nbsp;Kepala
 Bidang Pengkajian Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama 
RI, Ketua Tim Penyusun Tafsir Tematik Kemenag RI, Manager Program Pusat 
Studi Al-Qur`an (PSQ) Jakarta, Dosen Sekolah Pascasarjana UIN Syarif 
Hidayatullah Jakarta. Meraih seluruh gelar kesarjanaannya di bidang 
tafsir dan ilmu-ilmu Alquran dari Universitas Al-Azhar Kairo. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn2"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref2" name="_ftn2" title="_ftn2"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Kanz al-`Ummâl&lt;/i&gt;, (Maktabah Syamilah) 10/147&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn3"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref3" name="_ftn3" title="_ftn3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Al-Qarafi, &lt;i&gt;al-Furûq&lt;/i&gt;, 4/170&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn4"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref4" name="_ftn4" title="_ftn4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;Dikutip dari Marwan Saridjo, &lt;i&gt;Mereka Bicara Pendidikan Islam, Sebuah Bunga Rampai,&lt;/i&gt; Jakarta : Rajawali Pers, Cet. 1, 2009, h. xxxiv- xxxv&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn5"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref5" name="_ftn5" title="_ftn5"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. M. Quraish Shihab, &lt;i&gt;Membumikan Al-Qur`an&lt;/i&gt; (Bandung: Penerbit Mizan, Cet. I, 1992), h. 173&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn6"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref6" name="_ftn6" title="_ftn6"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Tim Penyusunan Kamus Pusat dan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, &lt;i&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;, (Jakarta : Balai Pustaka, 1994), h. 42 &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn7"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref7" name="_ftn7" title="_ftn7"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Ki Hajar Dewantara, &lt;i&gt;Masalah Kebudayaan : Kenang-kenangan Promosi Doctor Honoris Causa&lt;/i&gt;, (Yogyakarta, 1967) h. 42&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn8"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref8" name="_ftn8" title="_ftn8"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. M. Natsir, &lt;i&gt;Capita Selecta&lt;u&gt;,&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; (Bandung : Gravenhage, 1954), h. 87&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn9"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref9" name="_ftn9" title="_ftn9"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. A.D. Marimba, &lt;i&gt;Filsafat Pendidikan Islam&lt;/i&gt;, (Bandung : Alma’arif, 1980), cet ke-4, h. 19&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn10"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref10" name="_ftn10" title="_ftn10"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Tim Penyusun &lt;i&gt;Mu`jam Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm&lt;/i&gt; (Kairo : Majma` al-Lughah al-Arabiyyah, 1996), v 3, h. 14&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn11"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref11" name="_ftn11" title="_ftn11"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Ibnu Manzhur, &lt;i&gt;Lisân al-Arab&lt;/i&gt; (Maktabah Syamilah), 14/304&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn12"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref12" name="_ftn12" title="_ftn12"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. &lt;i&gt;Mu`jam Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm&lt;/i&gt;, 3/22&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn13"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref13" name="_ftn13" title="_ftn13"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. &amp;nbsp;Al-Fayruzabadi, &lt;i&gt;Bashâir Dzawî al-Tamyîz&lt;/i&gt; (Maktabah Syamilah), 3/2 &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn14"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref14" name="_ftn14" title="_ftn14"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Diriwayatkan oleh Ibnu Mas`ud. Menurut Ibn al-Jawzî, Al-Munawi dan al-Sakhawi riwayat tersebut lemah (&lt;i&gt;dhâ`îf&lt;/i&gt;) (Kanz al-Ummâl, 7/214) &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn15"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref15" name="_ftn15" title="_ftn15"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. HR. Bukhari, &lt;i&gt;bâb ta`lîm al-rajul amatahu wa ahlahu&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn16"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref16" name="_ftn16" title="_ftn16"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. M. Quraish Shihab, h. 172&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn17"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref17" name="_ftn17" title="_ftn17"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Abdul Halim Mahmud, &lt;i&gt;Manhaj al-Ishlâh al-Islâmiy fi al-Mujtama&lt;/i&gt; (Kairo : Al-Hay`ah al-Mishriyyah al-Ammah li al-Kitâb, 2005), h. 96-97&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn18"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref18" name="_ftn18" title="_ftn18"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Muhammad Sayyed Thanthawi, &lt;i&gt;Al-Tafsîr al-Wasîth&lt;/i&gt; (Maktabah Syamilah), h. 1/656&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn19"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref19" name="_ftn19" title="_ftn19"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Ahmad D. Mariba, h. 19&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn20"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref20" name="_ftn20" title="_ftn20"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt; Hasan Langgulung, &lt;i&gt;Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan&lt;u&gt;,&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; (Jakarta : Pustaka al-Husna, 1968), Cet. Ke-1 h. 33&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn21"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref21" name="_ftn21" title="_ftn21"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;Ibnu Asyur, &lt;i&gt;Al-Tahrîr wa al-Tanwîr,&lt;/i&gt; 6/118&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn22"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref22" name="_ftn22" title="_ftn22"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Thabrani dalam &lt;i&gt;al-Mu`jam al-Kabîr&lt;/i&gt;. Lihat juga dalam &lt;i&gt;Kanz al-`Ummâl&lt;/i&gt; 3/685. Menurut pakar hadis Abdul Fattah Abu Ghuddah hadis ini berstatus hukum hasan atau mendekati hasan sehingga dapat diterima (&lt;i&gt;Al-Rasûl al-Mu`allim,&lt;/i&gt; h. 17).&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=381:membangun-generasi-qurani-melalui-sistem-pendidikan-terpadu&amp;amp;catid=27:mengenal-ahmadiyah&amp;amp;Itemid=28#_ftnref23" name="_ftn23" title="_ftn23"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;sup&gt; &lt;/sup&gt;Mushtafa al-Zarqa, &lt;i&gt;Al-Madkhal al-Fiqhiy al-`Âmm&lt;/i&gt;, Dar al-Qalam, cet. 7, 2/641. Lihat juga : Abdul Fattah Abu Ghuddah, &lt;i&gt;Al-Rasûl al-Mu`allim wa Asâlîbuhu fi al-Ta`lîm&lt;/i&gt;, Beirut : Dar al-Basyâ`ir al-Islâmiyyah, cet. 4, 2008, h. 16-18&lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2012/09/membangun-generasi-qurani-melalui.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6n-r22mY9TOx7OWX0O5vrH6eT6Zksr5O_FyTZgbKIo9lp68JF-L1EVn1PdiQjbSbKPOLSQsl_IfRg0ltgfdeD-KSselu06QkHuyLGkbkAVY0J0k5ESbokPyqpBo2mLR4L8fGfCPFy8nHJ/s72-c/group-reading-of-quran.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-3795499484329856910</guid><pubDate>Sat, 22 Sep 2012 14:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-13T15:05:06.556-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">aktifita</category><title>Workshop Mendongeng Bersama Kak Awam Prakoso</title><description>&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnzxKP8nYwA8xuYGAYjTO999r_2cT5vwIIIGrkdycTdqHbp5T2VrCdoFyhPxoLjtLH8netQJ9ii3RshcbUXG7fnOjcMmdg18jCWYYaIOIAIjg1UK3Am3ZsqwXwCNAqu4jq0UEQb_nYuPvR/s1600/aktivita-7.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnzxKP8nYwA8xuYGAYjTO999r_2cT5vwIIIGrkdycTdqHbp5T2VrCdoFyhPxoLjtLH8netQJ9ii3RshcbUXG7fnOjcMmdg18jCWYYaIOIAIjg1UK3Am3ZsqwXwCNAqu4jq0UEQb_nYuPvR/s320/aktivita-7.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;K&lt;/span&gt;etiga anakku memiliki karakter yang berbeda. Si Abang jagoan 
pertama pembawaannya cuek, tapi jika ada anggota keluarga yg sedang 
tertimpa masalah, ia adalah orang pertama yang bertanya ada apa?&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Lain Abang lain juga Kakak, si tengah. Dengan perkembangan bahasa yang 
tumbuh paling pesat diantara saudara-saudara sekandungnya, ia tumbuh sebagai 
gadis kecil yang banyak tanya, banyak bicara banyak tahu. Kadang-kadang aku 
dibuat kewalahan oleh "kecerewetannya" ^_^&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Lalu Si Bungsu yang terlihat paling pemalu, faktanya ia pendengar yang setia.Ringan tangan dan suka berbagi.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Meski berbeda tapi jika sudah menyinggung soal dongeng, ketiganya 
kompak untuk segera mencari posisi ternyaman untuk mendengar dongeng 
dariku. Saat-saat seperti itu adalah salah satu saat-saat terdekatku dengan 
anak-anak. Selain aku bisa menanamkan pesan moral untuk diingat oleh memori 
mereka, saat-saat itu pulalah mereka berada begitu dekat dalam dekapanku, 
merasakan belaianku hingga biasanya setelah satu cerita berlalu, mereka 
berebut untuk mendengar cerita lainnya. Dan dunia rasanya hanya milik 
kami ber-empat.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Mendongeng adalah cara yang efektif bagiku untuk berkomunikasi dengan 
interaktif bersama anak-anak. Meski terlihat sepele, namun melalui 
dongeng proses internalisasi nilai-nilai positif terjadi setelahnya, memang tak ada yang instant. Tapi semakin terbiasa mereka mendengar 
cerita-cerita yang mengandung hikmah kebaikan, semakin sering mereka 
menerapkan nilai-nilai itu ketika menyelesaikan masalah yang mereka hadapi
 dalam kehidupan dunia kecil mereka.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Ayah- Bunda yang sholeh dan sholihah...&lt;br /&gt;

Ingin tahu cara mendongeng yang membuat buah hati anda menjadi tertarik dan terpikat pada anda??&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Ikuti WORKSHOP MENDONGENG bersama KAK AWAM PRAKOSO (pendiri KAMPUNG DONGENG INDONESIA)&lt;br /&gt;

CATAT TANGGALNYA !!!!&lt;br /&gt;

29 September 2012 @MIZAN BOOKSTORE, D-MALL (depok mall) LT.2 jam 13-16 WIB&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

INVESTASI : Rp.100.000 (DVD tutorial, Snack, Sertifikat)&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

SEAT TERBATAS!!! BURUAAAN DAFTAR YAAA AYAH-BUNDA...&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

info :&lt;br /&gt;

Kak Pita : 085691062407 / BB 287AE87E&lt;br /&gt;

Kak Galuh : 082113099818 / BB 275F3912&lt;br /&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2012/09/workshop-mendongeng-bersama-kak-awam.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnzxKP8nYwA8xuYGAYjTO999r_2cT5vwIIIGrkdycTdqHbp5T2VrCdoFyhPxoLjtLH8netQJ9ii3RshcbUXG7fnOjcMmdg18jCWYYaIOIAIjg1UK3Am3ZsqwXwCNAqu4jq0UEQb_nYuPvR/s72-c/aktivita-7.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-4695478272866398765</guid><pubDate>Thu, 30 Aug 2012 18:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-14T12:49:00.415-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">an nissa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hikmah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">historia</category><title>Teguran Ummu Salamah Kepada Pembantunya</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1O5WxX0tynE1FN7o_BdILiMLov6PNelWRxgE0RYkl8VqoKlsrIyAyzABt6hyphenhyphenQh3Fr0Qf2VY9-FmOzxPPLqR_CXWsVQwOrbN7hrjOCGKtM5yP2TEkhcs5Zh0qXjtTSxArk52X_xJlbtbOX/s1600/mawar02.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="224" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1O5WxX0tynE1FN7o_BdILiMLov6PNelWRxgE0RYkl8VqoKlsrIyAyzABt6hyphenhyphenQh3Fr0Qf2VY9-FmOzxPPLqR_CXWsVQwOrbN7hrjOCGKtM5yP2TEkhcs5Zh0qXjtTSxArk52X_xJlbtbOX/s320/mawar02.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Islam sangat mencintai kaum fakir miskin. Allah SWT memerintahkan 
kepada hambanya senantiasa menyantuni orang-orang miskin, dan melarang 
mereka untuk berperilaku boros atau menghamburkan harta.
&lt;br /&gt;
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, 
kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu 
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros,” firman Allah SWT dalam 
surrah Al-israa’ ayat 26.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW banyak memberikan tauladan sikap 
kepada kaum fakir miskin. Bahkan istri-istri nabi seakan berlomba-lomba 
mengamalkan anjuran nabi untuk menyantuni kaum miskin dengan bersedekah,
 seperti Ummu Salamah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Suatu hari, beberapa orang fakir datang secara bergerombolan mengetuk
 rumah Ummu Salamah untuk meminta. Mereka semua memakai pakaian yang 
compang-camping, tangannya selalu menengadah mengharap uluran tangan 
dari orang-orang kaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Namun bukannya mendapat pemberian, mereka yang mengetok pintu rumah 
Ummu Salamah justru mendapat makian dari pembantu Ummu Salamah bernama 
Ummu Husain. Sambil memaki, Ummu Husain juga mengusir gerombolan orang 
fakir. “Keluarlah,” kata Ummu Husain yang berdiri di depan pintu sambil mengarahkan telunjuknya ke luar rumah. Dengan berat hati, orang-orang fakir itu pergi sampai menghilang dari
 pandangan mata. Karena perkataan Ummu Husain kencang, Ummu Salamah yang
 di dalam kamarnya mendengar dan segera melihat apa yang sedang terjadi. Setelah mengetahui permasalahannya, kemudian Ummu Salamah dengan 
sabar dan kasih sayang menjelaskan dan meluruskan pemahaman pembantunya 
itu.&lt;br /&gt;

“Hai pembantu, bukan begitu yang seharusnya kita lakukan. Berilah 
masing-masing mereka meski hanya satu butir kurma, dan kamu letakkan di 
tangan mereka masing-masing,” kata Ummu Salamah.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

(Buku 99 Kisah Teladan Sahabat Perempuan Rasulullah – Manshur Abdul Hakim) [&lt;a href="http://kisahislami.com/" target="_blank"&gt;kisah islami&lt;/a&gt;]</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2012/08/teguran-ummu-salamah-kepada-pembantunya.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1O5WxX0tynE1FN7o_BdILiMLov6PNelWRxgE0RYkl8VqoKlsrIyAyzABt6hyphenhyphenQh3Fr0Qf2VY9-FmOzxPPLqR_CXWsVQwOrbN7hrjOCGKtM5yP2TEkhcs5Zh0qXjtTSxArk52X_xJlbtbOX/s72-c/mawar02.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-8866836893446900324</guid><pubDate>Sun, 29 Jan 2012 18:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-13T14:58:39.561-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">aktifita</category><title>FESTIVAL MEMBACA DAN MENULIS 2012</title><description>&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Dalam rangka milad Forum Lingkar Pena (FLP) yang ke-15, FLP mengadakan lomba-lomba sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;LOMBA FOTO AKU GILA BUKU &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresikan dirimu bersama koleksi buku-bukumu, segila, senarsis, dan sekeren-kerennya!&lt;br /&gt;
Syaratnya:&lt;br /&gt;
1. Peserta lomba terbuka untuk umum&lt;br /&gt;
2. Pose foto harus memperlihatkan buku-buku FLP&lt;br /&gt;
2. Kamera yang digunakan boleh DSLR, kamera poket, maupun kamera ponsel&lt;br /&gt;
4. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) foto&lt;br /&gt;
5. Foto dikirim melalui email: flp.pusat@gmail.com dengan ukuran maksimal 500 kb dan beri Subject: LOMBA FOTO AKU GILA BUKU&lt;br /&gt;
6. Panitia akan mengunggah foto di Twitter @flpoke dan Group Facebook Forum Lingkar Pena.&lt;br /&gt;
6. Waktu pelaksanaan mulai 25 Januari sampai dengan 19 Februari 2011&lt;br /&gt;
7. Foto dengan “Like” terbanyak di Facebook akan dinobatkan sebagai “Foto Favorit”&lt;br /&gt;
8. Pemilihan Foto Favorit akan ditutup pada 22 Februari 2011&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadiah:&lt;br /&gt;
* Foto Terbaik akan mendapat: Kamera poket + Paket buku dari penerbit, total hadiah senilai Rp1.500.000,-&lt;br /&gt;
* Foto Favorit akan mendapat: Handphone + Paket buku dari penerbit, total hadiah senilai Rp1.000.000,-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;LOMBA RESENSI BUKU &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persyaratan:&lt;br /&gt;
a. Lomba terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;
b. Resensi ditulis sepanjang 1000-1500 kata, dengan memilih buku-buku berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Catatan Cinta dari Mekkah (Awy’ Ameer Qolawun, Jendela, 2012)&lt;br /&gt;
2. Cinta Sang Penjaga Telaga (Azzura Dayana, Pro-U, 2009)&lt;br /&gt;
3. Cintaku di Negeri Jackie Chan (Ida Raihan, Jendela, 2012)&lt;br /&gt;
4. Goes to Pesantren (M. Dzanuryadi, LPPH, 2011)&lt;br /&gt;
5. Happy Working Mom (Aprilina Prastari, Gramedia, 2012)&lt;br /&gt;
6. Jatuh dari Cinta (Benny Arnas, Grafindo, 2011)&lt;br /&gt;
7. Lampuki (Arafat Nur, Serambi, 2011)&lt;br /&gt;
8. Livor Mortis (Deasylawati, Indiva, 2011)&lt;br /&gt;
9. Memoirs of Stientje (MD Aminuddin, Mybook, 2011)&lt;br /&gt;
10. Mengapung Bersama Nil (Arif Friyadi, LPPH, 2009)&lt;br /&gt;
11. Musim Gugur Terakhir di Manhattan (Julie Nava, LPPH, 2011)&lt;br /&gt;
12. Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (Ragdi F Daye, LPPH, 2010)&lt;br /&gt;
13. Rindu Rumpun Ilalang (Nailiya Nikmah, KSI Banjarmasin, 2010)&lt;br /&gt;
14. Sakura (Nova Ayu Maulita, LPPH, 2010)&lt;br /&gt;
15. Suami Sempurna (Nurul F Huda, LPPH, 2012)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Resensi belum pernah dipublikasikan.&lt;br /&gt;
d.
 Resensi dikirim melalui email ke flp.pusat@gmail.com, dengan subjek 
“Lomba Resensi Milad FLP ke-15”. Juga ditulis di note akun Facebook 
peserta dan menandai (men-tag) minimal 15 akun kawan.&lt;br /&gt;
e. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul naskah.&lt;br /&gt;
f. Naskah ditunggu paling lambat 17 Februari 2012.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadiah:&lt;br /&gt;
- Resensi terbaik pertama akan mendapat: Smartphone + Paket buku dari penerbit, total hadiah senilai Rp2.000.000,-&lt;br /&gt;
- Resensi terbaik kedua akan mendapat: Handphone + Paket buku dari penerbit + Suvenir, total hadiah senilai Rp1.500.000,-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;LOMBA BLOG &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persyaratan:&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
1. Peserta terbuka untuk umum&lt;br /&gt;
2. Blog harus milik pribadi peserta dan memuat hal-hal yang berhubungan dengan dunia membaca, tulis menulis, serta tentang FLP&lt;br /&gt;
3. Publikasi tulisan boleh dari arsip lama yang kemudian dimuat ulang di halaman awal blog&lt;br /&gt;
4.
 Kirim URL blog ke email: flp.pusat@gmail.com dan beri Subject: LOMBA 
BLOG, juga ke Twitter dengan mention @flpoke dan hastag 
#FestivalMembacadanMenulis2012&lt;br /&gt;
5. Ditunggu paling lambat 19 Februari 2012.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadiah:&lt;br /&gt;
- Blog terbaik pertama akan mendapat: Smartphone + Paket buku dari penerbit, total hadiah senilai Rp2.000.000,-&lt;br /&gt;
- Blog terbaik kedua akan mendapat: Handphone + Paket buku dari penerbit, total hadiah senilai Rp1.500.000,-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;LOMBA ESAI “AKU DAN FLP” &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persyaratan:&lt;br /&gt;
1. Peserta untuk anggota FLP&lt;br /&gt;
2. Panjang esai 1.000-2.000 kata&lt;br /&gt;
3.
 Esai dikirim ke email: flp.pusat@gmail.com, serta dipublikasikan 
melalui blog pribadi atau note akun Facebook peserta, dengan men-tag 20 
orang kawan. Link note di Facebook dilampirkan pada naskah asli yang 
dikirim melalui email. Panitia akan memuat link note peserta melalui 
Twitter.&lt;br /&gt;
4. Peserta hanya boleh mengirim 1 (satu) esai&lt;br /&gt;
5. Naskah ditunggu maksimal 17 Februari 2012.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadiah:&lt;br /&gt;
- Esai terbaik pertama akan mendapat: Notebook + Paket buku dari penerbit, total hadiah senilai Rp3.000.000,-&lt;br /&gt;
- Esai terbaik kedua akan mendapat: Kamera poket + Paket buku dari penerbit, total hadiah senilai Rp1.500.000,-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;LOMBA MUSIKALISASI PUISI &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persyaratan:&lt;br /&gt;
1. Peserta perorangan atau kelompok dengan menggunakan alat musik apa saja&lt;br /&gt;
2. Puisi yang dimusikalisasikan adalah puisi-puisi yang sudah pernah diterbitkan atau dipublikasikan oleh penulisnya&lt;br /&gt;
3. Peserta merekam musikalisasi puisinya dan diunggah ke Youtube.com. Durasi rekaman maksimal 15 menit&lt;br /&gt;
4.
 Copy-paste URL Youtube musikalisasi puisi ke akun Facebook dan Twitter 
peserta. Untuk Facebook, peserta men-tag minimal 20 teman, untuk Twitter
 mention @flpoke dan hashtag #FestivalMembacadanMenulis2012&lt;br /&gt;
6. Upload ditunggu sampai 19 Februari 2012&lt;br /&gt;
7. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) video&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadiah:&lt;br /&gt;
- Video terbaik pertama akan mendapat: Uang tunai Rp1.500.000,- + Paket buku dari penerbit&lt;br /&gt;
- Video terbaik kedua akan mendapat: Uang tunai Rp1.000.000,- + Paket buku dari penerbit&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;**Semua
 pemenang lomba akan diumumkan pada 25 Februari 2012, sekaligus 
Gathering/Silaturahim Milad Forum Lingkar Pena, yang juga akan 
diramaikan dengan beberapa acara:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Satu Jam Menulis Serentak&lt;br /&gt;
- Orasi budaya oleh Ketua Umum FLP, Setiawati Intan Savitri, S.Si, M.Psi.&lt;br /&gt;
- Peluncuran buku "Suami Sempurna" (alm. Nurul F Huda) dan "Al Banna: Sang Pemusar Gelombang" (M. Irfan Hidayatullah)&lt;br /&gt;
- Diskusi "Penulis dan Serba-Serbi Hukum" bersama Heru Susetyo*&lt;br /&gt;
- Diskusi "Internet, Buku Digital, dan Masa Depan Penulis" bersama Widanardi Satryatomo&lt;br /&gt;
- Book swap&lt;br /&gt;
- Book game&lt;br /&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2012/01/festival-membaca-dan-menulis-2012.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3118172912543833668.post-6762560631106861480</guid><pubDate>Fri, 30 Dec 2011 21:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-13T14:57:21.561-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">aktifita</category><title>PENTING! : PERUBAHAN TEKNIS LOMBA’ Menulis Bareng Pipiet Senja: Ketika Kita Membincang Guru’ (Mohon disebarluaskan)</title><description>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;
&lt;span&gt;&lt;div&gt;
Dear Semua Calon Peserta ‘Menulis Bareng Pipiet Senja: Ketika Kita Membincang Guru,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam semangat! :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah sampai mana nulisnya nih?&lt;br /&gt;
Berdasarkan
 pertanyaan dan usulan dari beberapa peserta serta&amp;nbsp; calon peserta 
mengenai teknis lomba, maka diumumkan bahwa ada beberapa perubahan 
terkait pelaksanaan lomba&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Menulis BarengPipiet Senja: Ketika Kita Membincang Guru&lt;/strong&gt;, sekaligus jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan (agar tidak ditanyakan kembali) yaitu sbb:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Naskah yang diikutsertakan      lomba&amp;nbsp;&lt;strong&gt;TIDAK HARUS&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;di
 publish di note FB. Jadi      peserta bebas untuk mempublish naskah via
 FB ataupun tidak. Yang      terpenting dikirim ke alamat email saya:&lt;strong&gt;winwin.faizah@gmail.com&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;dengan      ketentuan (subjek email, bentuk naskah, dsb) sama dengan pengumuman      sebelumnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Setiap naskah      diharapkan&amp;nbsp;&lt;strong&gt;HANYA MENCERITAKAN SATU GURU&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;dengan
      sudut pandang penceritaan orang pertama. Panjang naskah tetap 6-12
 halaman      kertas ukuran A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman ukuran 
12 dan Margin 3.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk pembublikasian info      lomba tetap diharuskan men-tag minimal 20 teman di FB.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Biodata penulis, nomor HP      serta nomor rekening disertakan di bagian akhir naskah (dalam 1 file).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk
 memastikan naskah      sudah masuk, saya akan membalas email pengiriman
 naskah dari rekan-rekan      &amp;nbsp;dan menyatakan naskah sudah saya terima.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Jadi jika      belum ada balasan email mohon konfirmasi ke saya&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;(boleh via      inbox FB/tulis di wall).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk
 peserta yang sudah      mengirim naskah dan ada ketidaksesuaian dengan 
poin 2 (mengenai jumlah      halaman, dsb) dipersilakan untuk mengirim 
ulang naskah (dengan tidak      merubah isinya, hanya merubah jenis 
font, margin, dsb) dengan menyertakan      keterangan bahwa naskah tsb 
adalah naskah kiriman ulang.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Deadline lomba tetap      tanggal 30 Desember 2011 dan keputusan hasil lomba tidak bisa diganggu      gugat.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pengumuman perubahan teknis lomba ini. Kami tunggu partisipasi teman-teman secepatnya yaa.. selamat menulis! :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
NB:
 Semua peserta maupun calon peserta yang sudah men-tag info lomba ke 
teman-temannya yang lain harap menyebarluaskan info ini juga. Terima 
kasih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~ Pipiet Senja &amp;amp; Winwin Faizah ~&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.facebook.com/notes/winwin-faizah/penting-perubahan-teknis-lomba-menulis-bareng-pipiet-senja-ketika-kita-membincan/10150440967663237"&gt;http://www.facebook.com/notes/winwin-faizah/penting-perubahan-teknis-lomba-menulis-bareng-pipiet-senja-ketika-kita-membincan/10150440967663237&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kak-galuh.blogspot.com/2011/12/penting-perubahan-teknis-lomba-menulis.html</link><author>noreply@blogger.com (Kak Galuh)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>