<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;CUABQXc4fip7ImA9WhRaGUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260</id><updated>2012-02-23T03:49:10.936+07:00</updated><category term="Lebih dari Renungan" /><category term="Tokoh Muslim" /><category term="Romadhon" /><category term="Kisah Teladan" /><category term="Jalan Terindah" /><category term="Tasawuf" /><category term="Berita" /><category term="coretan" /><category term="Tanbihul Ghafilin" /><category term="Ebook" /><category term="Al Tanwir fi Isqath al Tadbir" /><title>imamsutrisno weblog ...</title><subtitle type="html">Ya Allah ...jadikanlah setiap hembusan nafasku adalah hembusan nafas tuk menggapai ridlo-Mu....</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/KangImamBlog" /><feedburner:info uri="kangimamblog" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>KangImamBlog</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;DEINQXo5eCp7ImA9WxRUFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-1846642154807453997</id><published>2008-11-24T18:34:00.001+07:00</published><updated>2008-11-24T18:36:30.420+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-24T18:36:30.420+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jalan Terindah" /><title>Memahami Isra’ Mi’raj</title><content type="html">Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Al Qur’an” mencoba memahami Peristiwa Isra’ Mi’raj yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran, menerangkan bahwa ada dua hal berkaitan dengan hal ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. "Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru," kata David Hume. "Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar," kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. "Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B," demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali "a summary o f statistical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan "kebetulan" dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh "superior reasoning power" (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, "Al-'Aziz Al-'Alim", Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra' dan Mi'raj itu dengan firman-Nya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka&lt;/span&gt;) (QS 16:49-50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra' ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Quran tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, dalam surat Isra' sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya (QS 16:8); &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS 16:74); dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS 17:85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: "Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun." Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa "pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra' dan Mi'raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara "ilmiah" menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra' dan Mi'raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Dan itu pulalah sebabnya mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban  ; sebab  merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita percaya kepada Isra' dan Mi'raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar As Shiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-1846642154807453997?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/SmJJUOP8BXc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/1846642154807453997/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=1846642154807453997" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/1846642154807453997?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/1846642154807453997?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/SmJJUOP8BXc/memahami-isra-miraj.html" title="Memahami Isra’ Mi’raj" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/memahami-isra-miraj.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQHRXk6eyp7ImA9WxRUFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-6365230822805315197</id><published>2008-11-24T18:28:00.002+07:00</published><updated>2008-11-24T18:32:14.713+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-24T18:32:14.713+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jalan Terindah" /><title>Penafsiran Isra’ Mi’raj</title><content type="html">Peristiwa Isra’ Miraj telah menimbulkan berbagai penafsiran sampai dengan saat ini. Perbedaan penafsiran mengenai hal ini terjadi, disebabkan oleh perbedaan dalil masing-masing dan terutama berasal dari perbedaan persepsi dan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis, yang dalam hal ini mengenai Isra' Mi'raj. Dan dalil-dalil yang kuat yang berlawanan pun lalu ditakwil dengan hujah atau argumentasi masing-masing secara aqli. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut KH. Mustofa Bisri, ada 3 perbedaan pendapat mengenai hal ini yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. Pendapat yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw ber-Isra'-Mi'raj hanya dengan roh beliau saja. Sayyidatina Aisyah r.a. misalnya, berkata: 'Demi Allah, jasad Rasulullah Saw. tidak meninggalkan tempat, tapi beliau dinaikkan dengan rohnya (saja).' Sementara al-Hasan mengatakan: 'Pengalaman Isra' Mi'raj itu terjadi waktu tidur, merupakan mimpi Rasulullah Saw.' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Kebanyakan ulama salaf dan khalaf berpendapat, peristiwa besar itu dialami Rasulullah dengan roh dan jasad beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Ada pula kelompok yang berpendapat bahwa Isra' Nabi Saw. dengan jasad beliau dan roh (berdasarkan firman Allah di awal surah Al-Israa). Sedangkan Mi'rajnya dengan roh saja. &lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, perbedaan itu semua terjadi disebabkan oleh perbedaan dalil masing-masing dan terutama berasal dari perbedaan persepsi dan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis, yang dalam hal ini mengenai Isra' Mi'raj. Dan dalil-dalil yang kuat yang berlawanan pun lalu ditakwil dengan hujah atau argumentasi masing-masing secara aqli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama (a), misalnya mengatakan bahwa dalam hadis-hadis tentang peristiwa Isra' Mi'raj itu ada disebut-sebut mengenai malaikat Jibril dan Mikail yang membelah dada Rasulullah Saw. sebelum di-Isra'-Mi'raj-kan, lalu isi dada dicuci dengan air Zamzam, kemudian diisi dengan sifat-sifat alhilm (lembah-manah = pesantun), ilmu, dan hikmah. Nah, hal ini memperkuat bahwa peristiwa itu hanya dialami Rasulullah dengan rohnya saja. Masak Jibril dan Mikail yang malaikat membedah jisim Nabi Saw., membersihkan memakai air Zamzam dan isi dada beliau dengan alhilm, ilmu, dan hikmah?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua hanya bisa dibayangkan terjadi secara ruhi atau mimpi saja tidak dengan jasad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa peristiwa itu dialami Nabi Saw. dengan roh dan jasad (b), di sampinng berdalil dengan beberapa hadis Isra' Mi'raj yang sudah populer itu, mengatakan bahwa kata "abdihi" dalam awal surah Al-Israa, itu merupakah penegasan bahwa Nabi Saw. di-Isra'-kan dengan roh dan jasad. Di samping itu, seandainya peristiwa itu hanya dialami Nabi Saw. dengan roh beliau saja atau hanya terjadi dalam mimpi beliau saja, lalu apa anehnya? Orang kebanyakan pun bisa bermimpi yang mungkin lebih tidak masuk akal lagi. Padahal seperti diketahui, peristiwa Isra' Mi'raj itu ketika diceritakan oleh Nabi Saw. banyak yang menertawakannya tidak percaya, bahkan tidak sedikit orang-orang Islam sendiri yang menjadi murtad mendengarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya itu hanya mimpi, tentu tidak terjadi reaksi yang begitu menggemparkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-6365230822805315197?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/_FMltXKExMg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/6365230822805315197/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=6365230822805315197" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/6365230822805315197?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/6365230822805315197?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/_FMltXKExMg/penafsiran-isra-miraj.html" title="Penafsiran Isra’ Mi’raj" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/penafsiran-isra-miraj.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcBQXc8eSp7ImA9WxRUFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-7621856199240642267</id><published>2008-11-24T18:24:00.001+07:00</published><updated>2008-11-24T18:27:30.971+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-24T18:27:30.971+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jalan Terindah" /><title>Peristiwa Isra Mi’raj</title><content type="html">Di dalam QS. Al-Isra':1 Allah menjelaskan tentang Isra':&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentang Mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana Sidratul Muntaha itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan mi'raj dijelaskan di dalam hadits - hadits nabi. Berikut rangkaian kisah Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW ( dikumpulkan dari berbagai sumber )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam datanglah malaikat Jibril, seraya berkata : “Hai Muhammad berdirilah”. Maka sayapun berdiri, kiranya Jibril bersama dengan Mikail. Kata Jibril kepada Mikail “Berikanlah kepada saya sebuah bejana penuh dengan air zamzam, karena saya akan membersihkan hati Muhammad dan melapangkan dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Jibril membedah perut saya dan mencucinya tiga kali dan sungguh Mikail telah memberikan kepada Jibril tiga bejana penuh dengan air berturut-turut, maka dia melapangkan dada saya dan mencabut bersih rasa dengki, bahkan memenuhinya dengan hikmah, ilmu dan iman dan memberikan stempel kenabian diantara dua pundak saya. Kemudian Jibril membimbing tangan saya sampai kesiraman, lau berkata kepada Mikail, “ Berikan kepadaku satu bejana air zamzam atau air telaga kautsar” dan Jibril berkata kepada saya, “Ambillah air wudhu, hai Muhammad !”.Sayapun mengambil air wudhu. Kemudian Jibril berkata :”Pergilah hai Muhammad !”, “Kemana ?”, kata saya. “Kepada Tuhanmu dan Tuhan Segala Sesuatu.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian didatangkan buraq, 'binatang' berwarna putih yang mempunyai dua sayap untuk berjalan bagaikan kilat dan langkahnya sejauh pandangan mata. “Dia (buraq) itu milik Nabi Ibrahim as. Yang dia kendarai sewaktu berkunjung ke Baitul Haram” Kata Jibril.  “Naiklah Muhammad !”, Kata Malaikat Jibril. Kemudian sayapun naik buraq. Kemudian buraqpun berjalan dan bersamanya Malaikat Jibril. “Turunlah engkau Muhammad dan kerjakan  !”, kata Jibril kepada saya. Sayapun turun dan mengerjakan . “Tahukah engkau dimana engkau  ?” tanya Jibril. “Tidak”, jawab saya. “Engkau telah  di Thaibah, dan Insya Allah engkau akan hijrah ke kota itu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kamipun melanjutkan perjalanan, hingga Jibril berkata, “Turunlah Engkau Muhammad dan kerjakan ”, sayapun turun dan mengerjakan . “Tahukah engkau, dimana engkau  ?”, tanya Jibril. “Tidak” jawab saya. “Engkau telah  di Tursina dimana Allah berbicara dengan Musa.” Kemudian perjalanan dilanjutkan, hingga Jibril berkata, “Turunlah engkau Muhammad, dan kerjakan  !” sayapun turun dan mengerjakan . “Tahukah engkau, dimana engkau  ?”, tanya Jibril. “Tidak” jawab saya. “Engkau telah  di Baiti Lahmin/Betlehem, dimana Isa as. dilahirkan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perjalanan dilanjutkan hingga sampai di Baitil Maqdis dan setelah selesai perjalanan, maka disitu saya bersama-sama Malaikat yang turun dari langit yang menyambut saya dengan gembira dan hormat dari Allah Ta’ala, seraya berkata :”Assalamu ‘alaika ya awwalu, yaa aakhiru, yaa haasyiru” (Semoga keselamatan tetap untuk engkau wahai yang pertama dan yang terakhir dan yang menghimpun). “Hai Jibril apakah maksud penghormatan / salam mereka kepada saya itu ?” tanya saya kepada Jibril. Jibrilpun menjawab, “Sesungguhnya dari sebab engkaulah yang pertama kali bumi ini menjadi ada / pecah belah dan dari sebab umat engkau, engkau sebagai penolong yang pertama kali, dan yang pertama kali pula memberikan pertolongan, dan sesungguhnya engkau itu pungkasan dari para nabi serta penghimpunanpun dengan sebab engkau dan umat engkau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kamipun terus lewat sehingga sampai di pintu masjid, kemudian Malaikat Jibril menurunkan saya dari buroq. Tatkala saya masuk pintu ternyata di situ saya bersama-sama dengan para nabi dan para utusan. Merekapun bersalaman kepada saya dan menghormati saya sebagaimana penghormatannya para Malaikat. Kemudian sayapun  bersama mereka. “Hai Jibril, siapakah mereka?”, tanyaku kepada Jibril. Jibrilpun menjawab, “Mereka adalah saudara saudara engkau para nabi ‘alaihimush shalaatu wassalam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sebelum sampai di Baitil Maqdis, saya mendengar panggilan dari arah kanan, “Hai Muhammad pelan pelanlah !”, maka saya terus saja dan tidak menghiraukan kepada suara itu. Kemudian saya dengar pula syara dari arah kiri dan sayapun tidak berpaling kepada suara itu. Lalu saya dijumpai oleh seorang perempuan sedang dia memakai segala macam perhiasan serta melambai lambaian tangannya dan berkata, “Hai Muhammad, pelan-pelan !”, maka sayapun terus saja dan tidak berpaling kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  di Baitil Maqdis, sayapun bertanya kepada Jibril, “Hai Jibril, saya mendengar suara dari arah kanan (suara siapakah itu) ?”, “Itu adalah suara propagandis agama Yahudi, maka ketahuilah sesungguhnya kalau kamu berhenti, niscaya umatmu menjadi orang-orang yahudi”. Kemudian sayapun bertanya, “Sayapun mendengar suara dari arah kiri, (suara siapakah itu) ?”. “Itu adalah suara provokasi agama Nasrani, maka ketahuilah sesungguhnya kalau kamu berhenti, niscaya umatmu menjadi orang-orang nasrani ; dan adapun orang perempuan yang menjumpai kamu ialah dunia ini yang telah berhias untuk kamu, maka sesungguhnya kalau sekiranya kamu berhenti, niscaya umatmu akan lebih memilih duniawi daripada akhirat.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kemudian Jibril membawa Nabi ke sebuah batu besar, maka mulailah  Nabi dan Jibril mendakinya. “Maka disitu terdapat sebuah tangga menghubungkan ke langit, yang saya belum pernah melihatnya baik dan indahnya, dan belum pernah orang melihat sesuatu yang lebih indah dari padanya sama sekali. Dan dari tangga itu para malaikat naik. Pangkal tangga itu diatas batu Baitil Maqdis dan ujungnya sampai melekat pada langit, satu kaki tangga itu dari permata intan merah dan kaki yang satunya dari permata intan hijau, sedang anak tangganya satu tingkat dari perak dan tingkat yang lain dari zamrud dan diberi rangkaian hiasan dari permata dan intan merah. Tangga itupun dipergunakan turun oleh Malaikat Pencabut Jiwa. Kalau kamu sekalian melihat dari antaramu yang mati pandangannya menengadah ke atas, maka sesungguhnya daya penglihatannya terputus ketika melihat keindahan tangga tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perjalanan memasuki langit dunia. Di langit ini dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Di langit ini pula melihat para malaikat yang berdzikir kepada Allah, semenjak mereka dicipta oleh Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perjalanan dilanjutkan, memasuki langit kedua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit kedua saya melihat para malaikat beruku’ kepada Allah SWT semenjak mereka diciptakan, mereka tidak mengangkat kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan menuju langit ketiga bertemu Nabi Yusuf. Di langit ketiga saya melihat para malaikat bersujud kepada Allah semenjak mereka diciptkan dan merekapun tidak mengangkat kepala mereka, kecuali saat saya memberikan salam kepada mereka, dan merekapun mengangkat kepala dan membalas salam dari Rasulullah, kemudian sujud kembali sampai yaumil qiyamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan diteruskan ke langit keempat, dijumpai Nabi Idris. Di langit ini, saya melihat para malaikat duduk tasyahud. Lalu saya bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, di langit kelima ini saya melihat para malaikat membaca tasbih. Kemudian perjalanan di lanjutkan ke langit keenam bertemu Nabi Musa, di langit keenam ini, saya melihat para malaikat bertakbir dan bertahlil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju langit ketujuh dan berjumpa dengan Nabi Ibrahim. Di langit ini saya melihat para malaikat tunduk berserah kepada Allah, semenjak dicipta oleh Allah SWT.  Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat  tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari Sidratul Muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah  wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma'mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian- kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu'min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia...."&lt;/span&gt; (QS. 17:60). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya...." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-7621856199240642267?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/EjItDlutTws" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/7621856199240642267/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=7621856199240642267" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/7621856199240642267?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/7621856199240642267?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/EjItDlutTws/peristiwa-isra-miraj.html" title="Peristiwa Isra Mi’raj" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/peristiwa-isra-miraj.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D08HSXc9fip7ImA9WxRUFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-1114788384264265984</id><published>2008-11-24T18:22:00.000+07:00</published><updated>2008-11-24T18:23:58.966+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-24T18:23:58.966+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jalan Terindah" /><title>Kejadian Sebelum Isra' Mi'raj</title><content type="html">Sebelum terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasululloh SAW mengalami tahun – tahun yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pemboikotan total yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib. Pemboikotan ini, yang hampir membuat kaum Muslimin mati kelaparan, berlangsung selama tiga tahun. Kedua meninggalnya isteri beliau Siti Khadijjah yang sangat mensupport perjuangan beliau, bersama dalam suka maupun duka, juga sempat mengalami berbagai tekanan dari Kaum Kafir. Siti Khadijah menjadi isteri sejak beliau belum diangkat menjadi Rasul.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga meninggalnya paman beliau yang aman dicintai Abu Thalib. Seorang paman yang selalu memberikan perlindungan terhadap Rasul dari tekanan dan serangan Kaum Qurays. Kesedihan semakin mendera ketika melihat, bahwa paman yang beliau cintai meninggal “tidak dalam keadaan islam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian kejadian yang menyedihkan tersebut, ada yang memaknai sebagai tercabutnya simbol  harta, tahta dan wanita. Harta tergambarkan oleh “pemboikotan kaum kafir hingga kelaparan (unsur ekonomi)”, tahta tergambarkan dari “meninggalnya Abu Thalib” yang selalu melindungi Rasul dari tekanan kaum kafir Quraisy, serta wanita tergambarkan dari “meninggalnya isteri beliau Siti Khadijah”. Hal ini yang dimaknai pula sebagai “upaya hamba untuk mencabut 3 hal tersebut dari hati, tatkala akan menuju  sebagai “mi’rajnya orang-orang beriman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-1114788384264265984?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/n6G1Bu09bUQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/1114788384264265984/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=1114788384264265984" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/1114788384264265984?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/1114788384264265984?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/n6G1Bu09bUQ/kejadian-sebelum-isra-miraj.html" title="Kejadian Sebelum Isra' Mi'raj" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/kejadian-sebelum-isra-miraj.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk4DQXc-eip7ImA9WxRUFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-3975768741565736329</id><published>2008-11-24T18:04:00.002+07:00</published><updated>2008-11-24T18:09:30.952+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-24T18:09:30.952+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jalan Terindah" /><title>Pendahuluan</title><content type="html">&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya bertasbih kepada Allah siapa pun yang ada di langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan cara  tasbihnya masing-masing.Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.”&lt;/span&gt;  ( QS. An Nuur : 41 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu-waktu terakhir kita bisa bersyukur, karena telah banyak buku-buku yang beredar di masyarakat yang membahas mengenai shalat, termasuk didalamnya pelatihan shalat “khusyu’” yang diadakan oleh beberapa pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegakkan shalat  harus diawali dengan sebuah pengetahuan tentang hal – hal yang menyertainya. Karena amal sedikit dibarengi ilmu pengetahuan, adalah lebih baik daripada amal banyak penuh kebodohan, sehingga pengetahuan mendalam tentang syarat, rukun termasuk adab lahir maupun batin menjadi hal mutlak, bila ingin menapaki “perjalanan dalam shalat”.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wudhu merupakan tahap pendahuluan dalam proses “penyucian yang agung” dengan menggunakan “air yang merupakan rahasia kehidupan dan hidup itu sendiri” laksana proses penyucian yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah dengan menggunakan air suci “zamzam” dengan membelah dada hingga hilang segala hasud dan dengki, bahkan terisi dengan berbagai ilmu, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iman dan hikmah, sehingga  bisa diperjalankan dalam “Isra’ dan Mi’raj” sebuah perjalanan spiritual yang menjadi titik balik kemenangan, setelah diterpa berbagai ujian dalam kehidupan Rasulullah beserta kaumnya pada saat itu. Proses penyucian dalam wudhu tak sekedar siraman air yang tanpa makna, namun hakikatnya melebihi dari ritualnya itu sendiri, karena wudhu yang sebenarnya merupakan  proses pembersihan jiwa dari segala noda dan cela yang dilakukan oleh nafsu – nafsu dunia yang telah memperalat tangan, wajah, kepala dan kaki. Setelah terbersihkan dari segala noda baru si hamba diperbolehkan mulai memasuki halaman – halaman untuk menghadiri “pertemuan agung dari segala keagungan bahkan jauh – jauh melebihi batas keagungan yang terbersit oleh fikiran dan akal manusia itu sendiri”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saat undangan suci “menuju kemenangan” diperdengarkan, maka sang hatipun begitu bergejolak untuk mendatanginya, sekalipun dengan “merangkak” karena begitu menggelora keinginan rindunya, untuk mendatangi pertemuan dengan Sang Kekasih. Dengan berpakaian “tawadhu” dan membuang pakaian-pakaian “kesombongan” si hambapun tertatih – tatih melangkah ke halaman “tempat pertemuan” dengan penuh kegelisahan “akan tertolaknya penghadapannya” dan rasa malu yang begitu tinggi, atas ditutupinya keburukan – keburukan perangai dan tindak lakunya, dengan pakaian “hijab malakut” oleh Sang Kekasih, sehingga orang lain tidak mengetahui kejelekannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ditengah keputusasaan dan harapan akan rakhmat dan kasih sayang yang begitu agung dari Sang Kekasih, si hamba mulai berdiri dengan lurus, menghadapkan wajahnya kepada Sang Kekasih dan menutup semua kekerdilan – kekerdilan di belakangnya, hanya satu menatap Sang Maha Agung dari Segala Keagungan Yang Ada, hingga terbukalah pintu pertama saat lisan terbata – bata berucap, “Allahu Akbar ( Allah Maha Besar )”, kemudian si hambapun melangkah dengan penuh rasa malu, dan tawadhu karena melihat keagungan yang belum pernah tergambarkan oleh dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iapun terus menerus memuji – muji Sang Kekasih, karena telah memberi “perkenan-Nya” untuk masuk, karena sesungguhnya “tanpa perkenan-Nya” ia termasuk golongan setan yang terkutuk. Iapun tersungkur jatuh tak tersadarkan diri, karena begitu ngeri yang tanpa batas melihat kengerian di hari “yaumid diin”, kemudian Sang Kekasihpun melimpahkan “limpahan rakhmat-Nya” hingga si hamba diberi kemampuan untuk memohon supaya digolongkan ke dalam “orang-orang yang beruntung dan bukan golongan orang – orang yang sesat” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, si hamba terus melangkah dan melangkah sampai “mendengar dan menyaksikan” semua sujud dan tasbihnya semua makhluk di langit dan bumi hingga iapun terjatuh dan terjatuh lagi karena tidak sanggup melihat keagungan dan keluasan yang ia saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sekelumit lintasan yang tergambar melalui tulisan ini, dan sebenarnya tulisan inipun tidak akan menampung begitu maha luas dan mendalamnya “keindahan perjalanan dalam shalat”. Yang tertulis disinipun hanya kata dan ungkapan dari penulis, karena saya sendiripun belum sampai pada tahap anugerah seperti itu.  Namun ingatlah, bahwa perjalanan itu sungguh bukan merupakan perjalanan yang mudah, mutlak dibutuhkan bimbingan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“sang mursyid mukammil”&lt;/span&gt; untuk bisa berjalan dengan benar,karena godaan di kiri kanan perjalanan itu sendiri banyak jumlah dan variasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah jauhkan dari diri kami sum’ah dan mahbubiyyah, jadikanlah akhir segala urusan kami sebagai kebaikan.”.  Amiin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-3975768741565736329?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/qaiUlNyfGdg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/3975768741565736329/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=3975768741565736329" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/3975768741565736329?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/3975768741565736329?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/qaiUlNyfGdg/pendahuluan.html" title="Pendahuluan" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/pendahuluan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUNRnwyeSp7ImA9WxRUEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-4096118512352516383</id><published>2008-11-19T07:39:00.003+07:00</published><updated>2008-11-19T07:58:17.291+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-19T07:58:17.291+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tanbihul Ghafilin" /><title>Taubat</title><content type="html">Kata Al Faqih Abu Laits Samarqandy, dari Abdullah bin ‘Ubaid : Nabi Adam as. Berkata : Ya Allah, Engkau menangkan Iblis, sehingga tiada kekuatan bagiku menghadapinya, kecuali dengan pertolonganMu, JawabNya : Setiap anak cucumu (manusia ) lahir pasti Kuperintahkan petugas yang memelihara dari tipu daya iblis, dan para jin yang jahat. Nabi Adam berkata : Ya Allah, tambahkanlah bagiku, JawabNya : Setiap kebaikan dibalas 10, dan mungkin ditambah lagi sedangkan keburukan hanya dibalas satu, dan mungkin dilenyapkan, Katanya : Ya Allah, tambahkanlah bagimu, Jawabnya Taubat selalu diterima, selama masih hidup katanya : Ya Allah tambahkanlah bagiku, JawabNya :&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.&lt;/span&gt; (Az Zumar : 53)&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Al Faqih Abu Laits Samarqandy dari perawi yang kuat dengan sanadnya dari Ibnu “Abbas ra. Katanya : Wahsyi yang membunuh paman Nabi (shahabat Hamzah), dia kirim surat dari Mekkah untuk Rasul saw. Isinya : “Bahwasannya aku tertarik masuk Islam, tatapi keberatanku hanya karena ayat Al Qur’an sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)”&lt;/span&gt; (Al Furqan : 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu turun ayat berikutnya :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;/span&gt;( Al Furqan : 70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ayat tersebut disampaikan kepada Wahsyi, dan jawabannya : “Ayat tersebut membutuhkan syarat, harus beramal shaleh, padahal aku tidak mengerti, bisa atau tidaknya aku beramal shaleh”.Lalu turunlah ayat :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”&lt;/span&gt; (An Nisaa : 116)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ayat tersebut disampaikan kepada Wahsyi, dan jawabannya :”Ayat tersebut membutuhkan syarat, padahal aku tidak tahu persis, Allah akan mengampuni dosaku atau tidak”. Dan turunlah ayat berikutnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.&lt;/span&gt; (Az Zumar : 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ayat tersebut disampaikan lagi kepada Wahsyi, ia merasa lega dengan turunnya ayat ini, karena tiada satupun syarat yang memberatkan dirinya, dan akhirnya ia menuju Madinah untuk menyatakan keIslamnnya dihadapan Rasul Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Faqih Abu Laits Samarqandy dari Abdullah bin Sufyan katanya : Muhammad bin Abdurrahman As Sulami menyampaikan tulisan kepadaku, katanya pula : dari Ayahnya :”Kami bersama shahabat lainnya duduk-duduk dengan Nabi saw di Madinah :”Kemudian seseorang dari mereka ada yang menanyakan :”Aku mendengar Rasul saw bersabda :”Barangsiapa bertaubat kira-kira setengah hari menjelang matinya, pasti diterima taubatnya. Lalu sahutku meyakinkannya, jawabnya :”Ya, bahkan yang lain menyahut : Aku dengar beliau saw. Bersabda : ”Barangsiapa bertaubat kira-kira sesaat menjelang matinya, pasti diterima taubatnya. Dan ada lagi yang menyahut : ”Aku dengar beliau saw. bersabda :”Barangsiapa bertaubat sebelum nyawa sampai tenggorokan, pasti diterima taubatnya” (Al Hadits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Tanbihul Ghafilin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-4096118512352516383?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/PO7VFKIgKBQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/4096118512352516383/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=4096118512352516383" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/4096118512352516383?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/4096118512352516383?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/PO7VFKIgKBQ/taubat.html" title="Taubat" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/taubat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQAR3c4fyp7ImA9WxRUEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-375485253455247426</id><published>2008-11-18T18:45:00.004+07:00</published><updated>2008-11-19T07:59:06.937+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-19T07:59:06.937+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Lebih dari Renungan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tanbihul Ghafilin" /><title>Keberatan Maut dan Kengeriannya</title><content type="html">Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Maan ahabba liqaa Allah, anabballahu liqaa'ahu wamam karina liqaa Allahi karihallahu liqq'ahu bermaksud: Siapa yang suka bertemu kepada Allah, maka Allah suka menerimanya dan siapa yang tidak suka bertemu kepada Allah, Allah juga tidak suka menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mukmin bila dalam sakaratul maut, mendapat khabar gembira bahawa ia diridhoi Allah s.w.t. dan akan mendapat syurga, maka ia lebih suka segera mati daripada terus hidup, maka Allah s.w.t. menyambutnya dengan limpahan kurnia rahmatNya dan sebaliknya orang kafir ketika melihat siksa Allah s.w.t. yang akan diterimanya, ia akan menangis dan enggan (tidak suka) mati dan Allah s.w.t. juga menjauhkannya dari rahmat dan akan menyiksanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sufyan Atstsauri berkata: "Hadis ini tidak bererti bahawa kesukaan mereka untuk bertemu kepada Allah s.w.t. itu yang menyebabkan Allah s.w.t. kasih kepada mereka, bahkan bererti kesukaan mereka untuk bertemu dengan Allah s.w.t. kerana Allah s.w.t. kasih kepada mereka. Sebagaimana ayat Yuhibbuhum wayuhibbunahu (yang bermaksud) Allah kasih kepada mereka, maka mereka cinta kepada Allah juga. Juga didalam hadis: Idza ahabballahu abdan syagholahu bihi (yang bermaksud) Jika Allah kasih kepada seorang hamba, maka disibukkan dengan dzikir dan selalu ingat kepadanya."&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah s.a.w. menyatakan bahawa siapa yang tidak suka bertemu kepada Allah s.w.t. maka Allah s.w.t. tidak suka bertemu kepadanya. Sahabat berkata: "Ya Rasulullah, kita semua tidak suka mati." Jawab Rasulullah s.a.w. "Bukan itu, tetapi seorang mukmin bila akan mati datang Malaikat yang membawa khabar gembira kepadanya apa yang dijanjikan oleh Allah s.w.t. sebaliknya orang kafir jika akan mati datang Malaikat yang mengancamnya dengan siksaan Allah s.w.t., yang akan dihadapi sehingga ia tidak suka bertemu kepada Allah s.w.t."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul-Laits dengan sanadnya dari Jabir r.a. berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Hadditsu an Bani Isra'il wala haraj, fa innahum qaumun qad kaana fahimul a'aajib (yang bermaksud) Kami boleh bercerita tentang bani Isra'il, dan tidak ada dosa, kerana pada mereka telah terjadi berita-berita yang aneh-aneh (ganjil-ganjil).&lt;br /&gt;Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan: Terjadi serombongan Bani Isra'il keluar sehingga sampai diperkuburan, lalu mereka berkata: "Andaikata kita sembahyang disini kemudian berdoa kepada Tuhan supaya keluar salah seprang yang telah mati disini lalu menerangkan kepada kami bagaimana soal mati, maka sembahyanglah mereka kemudian berdoa, tiba-tiba ada orang telah menonjolkan kepalanya dari kuburan berupa hitam, lalu bertanya: "Hai kaum, apakah maksudmu, demi Allah saya telah mati sejak sembilan puluh tahun yang lalu, maka hingga kini belum hilang juga rasa pedihnya mati kerana itu berdoalah kamu kepada Allah untuk mengembalikan aku sebagaimana tadi, padahal orang itu diantara kedua matanya ada tanda bekas sujud."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul-Laits berkata: "Siapa yang yakin akan mati maka seharusnya bersiap sedia menghadapinya dengan melakukan amal yang soleh (baik) dan meninggalkan amal kejahatan (dosa), sebab ia tidak mengetahui bilakah datangnya mati itu kepadanya, sedang Nabi Muhammad s.a.w. telah menerangkan pada umatnya supaya mereka benar-benar bersiap-siap untuk menghadapinya dan supaya mereka sanggup sabar dan tabah menghadapi penderitaan dunia, sebab penderitaan dunia ini jauh lebih ringan dibandingkan dengan siksaan akhirat sedang maut itu termasuk dari siksaan akhirat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Miswar Al-Hasyimi berkata: "Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berkata: "Saya datang kepadamu supaya kau ajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang ganjil." Ditanya oleh  Nabi Muhammad s.a.w.: "Kau telah berbuat apa terhadap pokok ilmu? Orang itu bertanya: "Apakah itu pokok ilmu?"  Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: "Apakah kau telah mengenal Tuhan Azzawajalla.? Jawabnya: "Ya."  Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: "Maka apakah yang telah kau kerjakan pada haknya?" Jawabnya: "Masyaallah. (Yakni apa yang dapat dikerjakan). Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Laksanakan itu sebenar-benarnya, kemudian kamu kembali untuk saya ajarkan kepadamu ilmu yang ganjil-ganjil." Kemudian setelah beberapa tahun ia datang kembali maka  Nabi Muhammad s.a.w. bersabda kepadanya: "Letakkan tanganmu didadamu (hati), maka apa yang kau tidak suka untuk dirimu, jangan kau lakukan terhadap saudaramu sesama muslim, dan yang kau suka untuk dirimu, lakukanlah sedemikian terhadap saudaramu sesama muslim, dan ini termasuk dari ghoro ibul ilmi (ilmu yang ganjil-ganjil)." Nabi Muhammad s.a.w. menjelaskan bahawa persiapan untuk maut itu termasuk pokok dari ilmu, kerana itu harus diutamakan sebelum lain-lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Miswar berkata bahawasanya  Nabi Muhammad s.a.w. membaca ayat yang berbunyi: Faman yaridillah an yahdiyahu yasy-rah shadrahu lil islam, waman yurid an yudhillahu yaj'al shadrahu dhayyigan harajan, ka' annama yash-sh'adu fissamaa'i. (yang bermaksud) Maka siapa yang dikehendaki mendapat hidayat, dilapangkan dadanya untuk menerima Islam, dan siapa yang dikehendaki oleh Allah kesesatan maka menjadikan dadanya sempit sukar, bagaikan akan naik kelangit. Kemudian  Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Nur Islam jika masuk kedalam hati maka lapanglah dada." Nabi Muhammad s.a.w. lau ditanya: "Apakah ada tandanya?" Jawab  Nabi Muhammad s.a.w.: "Ya, menjauh dari tempat-tempat tipuan dan condong pada tempat yang kekal dan bersiap-siap menghadapi maut sebelum tibanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja'far bin Barqaan dari Maimun bin Mahran berkata bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w. ketika menasihati seseorang bersabda yang bermaksud: "Pergunakanlah lima sebelum tibanya lima, Mudamu sebelum tu amu, sihat mu sebelum sakit mu, longgar mu (kelapangan) sebelum sibuk mu, kaya mu sebelum kekurangan mu (miskin) dan hidup mu sebelum mati mu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelajaran ini Nabi Muhammad s.a.w. telah menghimpunkan ilmu yang banyak, sebab seseorang dewasa akan dapat berbuat apa yang tidak dapat dilakukan sesudah tua, pemuda jika biasa berbuat dosa, sukar baginya menghentikannya jika telah tua, maka seharusnya seorang pemuda membiasakan dirinya berbuat baik dimasa muda supaya ringan baginya melakukannya apabila telah tua. Demikian pula ketika sehat sebelum sakit, seharusnya masa sehat itu digunakan untuk lebih rajin berbuat amal soleh, sebab jika telah sakit pasti lemah badannya dan kurang kekuasaan dalam mempergunakan harta kekayaannya. Demikian dimasa luang sebelum sibuk, yakni diwaktu malam yang lapang, sedang diwaktu siang sibuk, kerana itu hendaklah sembahyang malam dan puasa siang terutama dimusim dingin sebagaimana sabda  Nabi Muhammad s.a.w. : "Musim dingin itu keutungan bagi seorang mukmin, panjang malamnya maka digunakan untuk sembahyang, dan pendek siangnya maka digunakan puasa." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lain riwayat: "Malam itu panjang maka jangan kau singkat dengan tidurmu, dan siang itu terang maka jangan kau gelapkan dengan dosa-dosamu." Demikian pula gunakan kesempatan masa kaya dan cukup sebelum masa berkurang dan miskin, yakni dimasa kau masih merasa serba kecukupan dan tidak berhajat kepada apa yang ditangan orang. Dan terutama masa hidup sebelum mati, sebab tiap detik dari hidupmu itu sebagai permata yang sangat besar harganya bila kau gunakan benar-benar untuk kesejahteraan dunia dan akhiratmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada peribahasa Persia yang demikian ertinya: Jika kau masih kecil bermain bersama anak-anak kecil dan bila telah remaja lupa kerana banyak hiburan, lalu bila tua lemah dan tidak kuat, maka bilakah akan beramal untuk Allah s.w.t, sebab bila telah mati tidak akan dapat berbuat apa-apa bahkan semua amal perbuatan telah terhenti, kerana itu harus kau gunakan benar-benar masa hidup untuk segala sesuatu yang akan membawa keselamatan dunia akhirat, dan bersiap-siap menghadapi maut yang sewaktu-waktu akan tiba kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. melihat Malaikat Maut didekat kepala seorang sahabat Anshar, maka Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepadanya: "Kasihanilah sahabatku kerana ia seorang mukmin." Jawab Malaikat Maut: "Terimalah khabar baik hai Muhammad, bahawa aku terhadap tiap mukmin sangat belas kasihan, demi Allah, ya Muhammad, aku mencabut roh seorang anak Adam, maka bila ada orang menjerit dari keluarganya, aku katakan: "Mengapa menjerit, demi Allah kami tidak berbuat aniaya dan tidak mendahului ajalnya, maka kami tidak ada salah dalam mencabut rohnya, maka bila kamu rela dengan hukum Allah kamu mendapat pahala, dan jika kamu murka dan mengeluh kamu berdosa, dan kamu usah mencela kami, sebab masih akan kembali maka berhati-hatilah kamu. Dan tiada penduduk rumah batu atau bambu, kain bulu didarat atau laut melainkan aku perhatikan wajahnya tiap kali lima kali, demi Allah ya Muhammad andaikan aku akan mencabut roh nyamuk tiada dapat kecuali bila mendapat perintah dari Allah s.w.t. untuk mencabutnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Said Alkhudri r.a. berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. melihat orang-orang yang tertawa maka Baginda s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Andaikan kamu banyak ingat mati yang menghapuskan kelazatan, nescaya kamu tidak sempat sedemikian." "Sesungguhnya kubur itu adakalanya sebagai kebun dari kebun-kebun syurga atau salah satu jurang neraka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar r.a. berkata kepada Ka'ab: "Terangkanlah kepada kami tentang maut." Ka'ab berkata: "Maut itu bagaikan pohon berduri dimasukkan kedalam tubuh anak Adam, maka tiap duri berkait dengan urat, lalu dicabut oleh seorang yang kuat sehingga dapat memutuskan apa yang terputus, dan meninggalkan apa yang masih tinggal."&lt;br /&gt;Sufyan Atstsauri jika ingat mati, maka ia tidak berbuat apa-apa sampai beberapa hari, bahkan jika ditanya masalahnya, ia hanya menjawab: "Tidak tahu." Seorang hahim berkata: "Tiga macam yang tidak layak dilupakan oleh seorang yang sihat akalnya iaitu rosaknya dunia dan perubahan-perubahannya, dan maut, dan kerosakan-kerosakan apa yang didunia, yang tidak dapat dielakkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatim al-Asham berkata: "Empat macam yang tidak dapat menilai dan merasakannya kecuali empat iaitu HARGA (NILAI) KEPEMUDAAN tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah tua, HARGA KESIHATAN tidak diketahui benar-benar oleh orang kecuali oleh orang-orang yang sakit, HARGA KESELAMATAN tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang kena bala dan HARGA NILAI HIDUP tidak diketahui benar-benar kecuali oleh orang-orang yang telah mati."&lt;br /&gt;Abul-Laits berkata: "Keterangan ini sesuai dengan hadis yang tersebut iaitu: Jagalah lima sebelum tibanya lima lawannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata: "Ayahku sering berkata: "Saya hairan kepada orang yang sihat akal dan lidahnya ketika dihinggapi maut mengapa tidak suka menerangkan sifat maut itu." Kemudian ia dalam sakaratul maut itu sedang masih sedar akalnya saya berkata kepadanya: "Ayah, kau dahulu hairan terhadap orang yang sihat akal dan lidahnya mengapa tidak menceritakan tentang hal maut?" Jawab Amr: "Anakku, maut itu sangat ngeri dan dahsyat, tidak dapat disifatkan tetapi saya akan menrangkan sedikit kepadamu, demi Allah s.w.t., ia bagaikan bukit Radhwa diatas bahuku, sedang rohku seakan-akan keluar dari lubang jarum, sedang dalam tubuhku seplah-olah ada pohon berduri, sedang langit seakan-akan telah rapat dengan bumi sedang saya ditengah-tengahnya. Hai puteraku, sebenarnya aku telah mengalami tiga masa, pertama saya kafir dan berusaha benar untuk membunuh Nabi Muhammad s.a.w., maka alangkah celaka diriku sekiranya aku mati pada masa itu. Kkedua, kemudian aku mendapat hidayat sehingga masuk Islam dan sangat cinta pada Nabi Muhammad s.a.w. sehingga saya selalu diangkat menjadi pemimpin pasukan yang dikirimnya, alangkah bahagianya sekiranya saya mati ketika itu, nescaya saya akan mendapat berdoa restu Nabi Muhammad s.a.w., kemudian ketiga, kami sibuk dengan urusan dunia, kerana itu saya tidak ketahui bagaimana keadaanku disisi Allah s.w.t." Abdullah berkata: Maka saya tidak bangun dari tempatnya sehingga mati disaat itu. Rahimahullah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaqiq bin Ibrahim berkata: "Orang-orang sependapat dengan aku dalam empat macam tetapi perbuatan mereka berlawanan. Pendapat aku yang pertama mereka mengaku hamba Allah tetapi berbuat seperti orang yang merdeka bebas, mereka mengaku Allah s.w.t. menjamin rezeki tetapi hati tidak tenang bila tidak ada kekayaan ditangan mereka, mereka mengaku akhirat lebih baik dari dunia tetapi mereka hanya mengumpulkan harta untuk dunia semata-mata dan mereka mengaku pasti mereka akan mati tetapi berbuat seperti orang yang tidak akan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abud-Dardaa atau Salman Alfarisi atau Abu Dzar r.a. berkata: "Tiga macam mengkagumkan aku sehingga aku tertawa, dan tiga yang menyedihkan aku hingga aku menangis, adapun yang mentertawakan aku ialah, orang yang panjang angan-angan hidup padahal ia dikejar oleh maut, dan sama sekali tidak memikirkan akan mati, orang yang lupa terhadap maut padahal maut tidak lupa padanya dan orang yang tertawa padahal ia belum mengetahui apakah Allah s.w.t. ridha padanya ataupun murka. Adapun yang menangiskan aku ialah berpisah dengan sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kawan-kawannya, memikirkan dahsyatnya maut bila tiba saatnya dan memikirkan kelak bila berhadapan kepada Allah s.w.t., akan diperintahkan kemana aku ini, apakah ke syurga atau keneraka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Andaikan binatang-binatang itu mengetahui tentang mati sebagaimana yang kamu ketahui nescaya kamu tidak dapat makan daging binatang yang gemuk selamanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hamid Allafaf berkata: "Siapa yang sering ingat mati, maka dimuliakan dengan tiga macam iaitu segera bertaubat dan terima terhadap rezeki (tidak tamak) dan tangkas beribadat. Sedangkan yang selalu lupa akan mati, terkena akibat tiga macam juga iaitu menunda-nunda taubat, tamak dalam rezeki dan malas beribadat."&lt;br /&gt;Nabi Isa a.s. biasa menghidupkan orang mati, maka ditegur oleh orang kafir dengan berkata: "Kau hanya dapat menghidupkan orang yang baru mati, kemungkinan belum mati benar orang itu, maka cuba hidupkan orang yang dulu-dulu itu." Nabi Isa a.s. pun berkata: "Kamu pilih sendiri siapa yang kamu minta  saya hidupkan." Mereka berkata: "Hidupkan Sam bin Nuh a.s.." Lalu nabi Isa a.s. pergi kekuburnya dan disana didirikan sembahyang dua raka'at dan berdoa kepada Allah s.w.t. maka Allah s.w.t. menghidupkan Sam bin Nuh a.s. dalam keadaan rambut dan janggutnya telah putih, maka ditanya oleh Nabi Isa a.s.: "Mengapa kamu berubah padahal pada waktu kamu mati dahulu belum ada uban?" Jawab Sam bin Nuh a.s.: " Ketika aku dengar panggilan untuk keluar aku kira hari kiamat kerana itu rambutku langsung menjadi putih kerana ketakutan." Lalu ditanya lagi: :Berapa lama kamu matu?" Jawab Sam: "Sejak empat ribu tahun yang lalu dan belum hilang rasa pedihnya maut!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada seorang mukmin mati melainkan ditawarkan kepadanya kembali hidup didunia, tetapi ia menolak kerana beratnya sakaratul maut, kecuali orang yang mati syahid, mereka tetap ingin hidup kembali didunia untuk berperang dan mati syadih lagi, sebab mereka tidak merasakan sakitnya sakaratul maut, juga kerana merasakan kebesaran kehormatan orang yang mati syahid disisi Allah s.w.t.&lt;br /&gt;Ibrahim bin Ad'ham ketika ditanya: "Mengapakah kau tidak mengajar?" Jawabnya: "Saya masih sibuk dengan empat macam, bila selesai urusan empat macam itu saya dapat mengajar." Ditanya lagi: "Apakah yang empat macam itu?" Jawabnya: "Saya sedang memikirkan yaumul mistaq ketika Allah s.w.t. menentukan Anak Adam. Mereka ini untuk syurga dan mereka ini untuk neraka, saya tidak mengetahui termasuk golongan yang mana satu. Saya juga memikirkan kejadian manusia ketika diperut ibunya ketika akan diberi roh dan Malaikat disuruh mencatat untung atau celaka, sayapun tidak mengetahui dari golongan manakah saya, saya juga memikirkan nanti dimasa malakulmaut datang kepadaku lalu bertanya kepada Allah s.w.t.: Apakah roh orang ini digolongkan orang muslimin atau bersama orang kafir, sayapun belum mengetahui bagaimana jawab Allah s.w.t. kepada malaikat itu dan yang terakhir saya memikirkan tentang ayat yang berbunyi Wan tazul yauma ayyuhal mujrimum. (Yang bermaksud) Berpisahlah kamu hari ini hai orang yang derhaka. Saya belum mengetahui dalam golongan manakah saya ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul-Laits berkata: "Sungguh untung orang -orang yang diberi Allah s.w.t. pengertian dan disedarkan dari kelalaian, dan dipimpin sehingga berfikir bagaimana akhirnya mati. Semoga Allah s.w.t. menjadikan penghabisan umur kami dalam kebaikan, serta mendapat khabar gembira, sebab orang mukmin pasti mendapat khabar gembira ketika maut, iaitu dalam ayat Innal ladziina qaalu robbunallahu tsummas taqaamu tatanazzalu alaihimul malaikatu alla takhaafu wala tahzannu, wa absyiru biljannatillati kuntum tuu'adun. Nahnu auliyaa'akum fil hayaatiddunya wafil akhiroti. (Yang bermaksud) Sesungguhnya orang-orang yang beriman, percaya benar-benar kepada Allah dan Rasullullah, kemudian tetap istiqomah dalam menunaikan kewajipan dan meninggalkan larangan istiqamah dalam kata dan perbuatannya mengikuti benar-benar sunnatur Rasul, maka akan datang kepadanya Malaikat menyampaikan khabar gembira. kamu jangan takut dan jangan susah, dan bergibaranlah kamu akan mendapat syurga yang dijanjikan, kepadamu. Sebagaimana diterangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khabar gembira itu terdapat dalam lima bentuk:&lt;br /&gt;1. Untuk orang awam yang mukmin diberitahu: Jangan takut, kamu tidak akan kekal dalam neraka bahkan kamu tetap akan mendapat syafaat para Nabi-nabi dan orang-orang solihin, dan jangan sedih atau berduka atas kekurangan pahala dan kamu pasti masuk syurga. &lt;br /&gt;2. Untuk orang yang ikhlas: Kamu jangan khuatir, kerana amalmu telah diterima, dan jangan sedih terhadap kekurangannya pahala, kerana kamu pasti mendapat pahala berlipat ganda. &lt;br /&gt;3. Untuk orang-orang yang bertaubat: Kamu jangan khuatir terhadap dosa-dosamu, maka semua sudah diampuni, dan jangan sedih terhadap pahala, pasti kamu dapatkan atas amalmu sesudah taubat. &lt;br /&gt;4. Untuk orang-orang yang zahid. Kamu jangan khuatir mahsyar atau hisab, dan jangan berduka sebab akan dikurangi pahalamu yang berlipat-lipat ganda itu, dan terimalah khabar gembira bahawa kamu akan masuk syurga tanpa hisab. &lt;br /&gt;5. Untuk ulama yang mengajarkan kebaikan pada manusia. Kamu jangan takut dari dahsyat hari kiamat, dan jangan berduka sebab Allah s.w.t. akan membalas amalmu dengan syurga, juga orang-orang yang mengikuti jejakmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh untung orang yang mendapat berita gembira pada ketika matinya, sebab berita gembira hanya untuk orang mukmin yang baik amal perbuatannya maka turunlah Malaikat kepadanya lalu bertanya: "Siapakah kamu, kami tidak melihat muka yang lebih elok dari kamu dan yang lebih harum dari baumu?" Jawab Malaikat: "Kamu dahulu kawanku yang mencatat amalmu ketika didunia, dan kami juga menjadi kawanmu diakhirat."&lt;br /&gt;Maka seharusnya bagi orang yang berakal sedar dari kelalaiannya, dan tanda kesedaran itu ada empat iaitu:&lt;br /&gt; Mengatur urusan dunia dengan tenang dan merasa masih banyak waktu. &lt;br /&gt; Memerhatikan urusan akhirat dengan cermat dan sungguh kerana merasa waktunya mendesak dan tidak dapat ditunda. &lt;br /&gt; Mengatur urusan agama dengan rajin-rajin mencari ilmunya. &lt;br /&gt; Bergaul dengan sesama makhluk dengan saling nasihat dan sabar, dan yang paling utama ialah orang yang mempunyai lima sifat iaitu: &lt;br /&gt;1. Tekun beribadat kepada Tuhan &lt;br /&gt;2. Sangat berguna terhadap sesama manusia &lt;br /&gt;3. Semua orang merasa aman dari gangguan &lt;br /&gt;4. Tidak iri terhadap orang lain &lt;br /&gt;5. Selalu bersiap untuk menghadapi maut. &lt;br /&gt;Ketahuilah saudara bahawa kami dijadikan untuk mati, dan tidak dapat lari daripadanya. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: Innaka mayyitun mainnahum mayyitun Engkau akan mati dan mereka juga akan mati. Dan Firman Allah s.w.t. Qul lan yanta'akumul firaaru in farartum minal mauti awil qatli  katakanlah: (Yang bermaksud) Tidak akan berguna bagimu lari menghindari maut, jika kamu lari dari maut atau perang, kerana demikian keadaannya maka kewajipan seorang muslim harus siap-siap benar untuk maut sebelum tibanya. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: Walan yatamannauhu abada in kuntum shadiqin (Yang bermaksud) Inginkanlah mati jika kau benar-benar dalam imanmu.Firman Allah s.w.t. lagi Walan yatamannauhu abada bima qoddammat aidihim.(Yang bermaksud) Dan mereka tidak akan ingin mati kerana mengetahui amal kejahatan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kedua ayat ini maka nyatalah Allah s.w.t. menjelaskan bahawa seseorang yang benar-benar beriman dan ikhlas kepada Allah s.w.t. tidak gentar akan mati bahkan rindu kepada kematian untuk segera bertemu dengan Allah s.w.t. dan sebaliknya orang munafik, ia akan lari kerana merasakan amal perbuatannya sangat sedikit.&lt;br /&gt;Abud-Dardaa r.a. berkata: "Saya suka kepada kemiskinan kerana itu sebagai tawadhu' merendah diri kepada Tuhanku, dan aku suka penyakit sebab itu sebagai penebus dosa, dan aku suka kepada kematian kerana rindu kepada Tuhanku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas'uud r.a. berkata: "Tiada seorang yang hidup melainkan mati itu lebih baik baginya, jika ia baik, maka firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi) Wama indallahi khoirun lil abrar (Yang bermaksud) Apa yang disediakan oleh Allah lebih baik bagi orang yang bakti taat. Dan bila ia derhaka, maka friman Allah s.w.t. (Yang berbunyi) Inamma numli lahum liyazdadu itsma walahum adzabun muhim. (Yang bermaksud) Sesungguhnya Kami membiarkan mereka supaya bertambah dosa, dan untuk mereka bersedia siksa yang sangat hina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Almautu rahitul mu'min (Yang bermaksud) "Mati itu bagaikan kenderaan seorang mukmin. Ibn Mas'ud r.a. berkata: Nabi Muhammad s.w.t. ditanya: "Siapakah mukmin yang utama dan yang manakah yang terkaya?" Rasullullah s.a.w. menjawab: "Yang terbaik budi akhlaknya, dan mukmin yang terkaya ialah yang banyak ingat mati dan baik persediaannya."&lt;br /&gt;Nabi Muhammassd s.a.w bersabda yang bermaksud: "Orang yang sempurna akal ialah yang selalu memeriksa dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedang yang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsunya, dan mengharapkan pengampunan Allah."(Yakni tanpa amal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Tanbighul Ghafilin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-375485253455247426?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/jSEX3eEkO9Q" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/375485253455247426/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=375485253455247426" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/375485253455247426?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/375485253455247426?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/jSEX3eEkO9Q/keberatan-maut-dan-kengeriannya.html" title="Keberatan Maut dan Kengeriannya" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/keberatan-maut-dan-kengeriannya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0EBQX45cCp7ImA9WxRVGUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-4039894118984178456</id><published>2008-11-18T13:26:00.000+07:00</published><updated>2008-11-18T13:27:30.028+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-18T13:27:30.028+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Lebih dari Renungan" /><title>Belajar Bersyukur</title><content type="html">Seperti biasanya, selepas ba’da shubuh saya bersama istri jalan pagi di sebuah sudut jalan timur kota Bandung, Pasir Impun namanya. Tidak terlalu dikenal, dan kondisi jalannyapun saat ini rusak, sehingga perlu kehati-hatian bila lewat di jalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Den, singkong den,,,” sayup-sayup terdengar suara seorang kakek menawarkan singkong di seberang sana. “Weh, kebetulan sekali…” batin saya. Setelah ngobrol ngalor ngidul, iseng aku bertanya, “ga bosen kek, udah tua masih jualan… kan lebih baik di rumah, nimang cucu… dan banyak ibadah”. Mendengar ocehan saya, sang kakek agak sedikit berbeda raut mukanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Den, justru dengan jualan seperti ini saya terlepas dari kebosanan. Dengan jualan seperti ini sayapun bisa belajar bersyukur….” Sebuah kalimat begitu merdu meluncur dari sang kakek. “Setiap pagi, saya bisa bertemu orang – orang baru, setiap pagi saya bisa menjual singkong yang baru….kalau Aden, memandang ini hal yang membosankan, justru saya memandang setiap hari adalah anugerah yang baru, karena setiap berganti hari, berarti Allah masih ngasih kakek sebuah kesempatan…. untuk belajar bersyukur…”, demikian seutas kalimat hikmah meluncur begitu wangi dari seorang kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di rumah, lama sekali aku merenung, “dalam sekali untaian hikmah kakek tadi”. Saya yang kebetulan masih jauh lebih muda dari sang kakek, sering tidak berfikir ke arah sana, hari-hari yang terlewati serasa hanya sebuah rutinitas belaka. Seorang kakek, dengan segala rendah hatinya, masih berucap “belajar bersyukur”, padahal untuk ukuran saya… wuih…. Itu lebih – lebih dari syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat, sebuah untaian hikmah agung dari Syaikh Ibnu Athaillah dalam karya besarnya “Al Hikam”, “Siapa yang tidak mengenal harga nikmat ketika adanya nikmat itu, maka ia akan mengetahui harga kebesaran nikmat setelah tidak adanya”. Masih terbayang-bayang di pelupuk mata saya, bagaimana saya selalu menggerutu, mengeluh terhadap semua yang terjadi, padahal nikmat di depan mata selalu Allah limpahkan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hari – hari yang saya lalui, disibukan dengan pencarian dunia hingga untuk menjalan shalat tepat waktu saja… sering terabaikan, padahal kurang baik apa, Allah menganugerahkan kesehatan, keselamatan kepada saya. Begitu pongkahnya, berjalan di bumi Allah seolah melupakan segalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kumandang dzhur tiba, tak terasa langkah tubuh lunglai menuju sujud ke hadlirat-Nya, namun…. Begitu saya baca, “wa mahyaaya wa mamaati lillaahi rabbil’aalamin”, tubuhku tersungkur…. begitu malunya diri ini… bagaimana mungkin berkata seperti itu dihadapan Allah ….padahal hidup saya, jauh… daripada itu……, bagaimana kalau saya dicap pendusta ???? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika shalat telah usai, sayapun hanya bisa memohon supaya tidak dimasukkan ke dalam golongan orang yang dicabut nikmatnya dengan tanpa diketahui, seperti terungkap oleh Sariy Assaqathi, “Siapa yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-4039894118984178456?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/YQ6jxfi9HhY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/4039894118984178456/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=4039894118984178456" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/4039894118984178456?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/4039894118984178456?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/YQ6jxfi9HhY/belajar-bersyukur.html" title="Belajar Bersyukur" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/belajar-bersyukur.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0IFSX8_eyp7ImA9WxRVGUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-3864496910444421847</id><published>2008-11-18T13:23:00.000+07:00</published><updated>2008-11-18T13:25:18.143+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-18T13:25:18.143+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Lebih dari Renungan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="coretan" /><title>Sabar Menahan Amarah</title><content type="html">Berikut ini adalah kisah seorang yang berkonsultasi dengan Al Harits Al Muhasibi, karena tidak bisa sabar menahan amarah karena hal – hal yang sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak kuat menahan amarah ketika dicela dan disakiti.” kata si sakit. ”Engkau sulit menahan marah dan mudah membalas, sebab engkau menganggap bahwa menahan marah itu adalah perbuatan hina dan keserampangan sebagai kerhormatan.”kata Al Muhasibi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu dengan apa aku dapat menahan amarah yang besar ?” kata si sakit. ”Dengan kesabaran jiwa dan menahan anggota badan.” jawab Al Muhasibi. ”Dengan apa aku bisa mendapatkan kesabaran jiwa dan mengekang anggota badan?” tanya si sakit. ” Dengan mengetahui dan menyadari bahwa menahan marah itu adalah kemuliaan dan keindahan sedangkan keserampangan adalah kehinaan dan corengan.” jawab Al Muhasibi.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana aku dapat menyadari itu sementara dalam hatiku telah bercokol lawannya ? Dan bagaimana pula aku dapat menyadarinya sementara dalam diriku telah timbul suatu perasaan bahwa jika aku tidak membalas, aku merasa terhina di hadapan orang yang memarahiku ?  selain itu, dalam hatiku timbul perasaan bahwa orang yang memarahiku adalah telah menginjak-injak harga diriku, dan jika aku tidak membalasnya, aku merasa dianggap sangat lemah dan tidak berdaya ?” tanya si sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hatimu terus menerus memiliki perasaaan seperti itu, karena engkau tidak mengetahui bentuk lahir keburukan sikap seseorang yang suka marah. Selain itu engkau tidak mengetahui rahasia menahan marah dan keagungan pahala dari Allah swt. Untukmu di akhirat kelak.” jawab Al Muhasibi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana caranya supaya aku mengetahui kedua hal tersebut (rahasia menahan marah dan pahala agung) ?” tanya si sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Adapun keburukan dari suka marah dan tidak bisa menahan marah dapat engkau lihat dari keadaan orang yang memarahi dan mencela dirimu ketika marah dan emosi. Perhatikan roman mukanya, kelopak kedua matanya, warna merah mukanya, pelototan kedua matanya, ketidakelokan penampilannya, kerendahan dirinya dan hilangnya ketenangan dan ketentraman dari dirinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Engkau melihat dengan jelas keadaan itu dari orang permarah dan tampak nyata oleh setiap orang yang berakal. Jika engkau mendapat ujian dari Allah swt, dengan sikap suka marah, ingatlah pahala yang dijanjikan oleh Allah swt. kepada orang - orang yang menahan marah, yaitu mendapatkan cinta dan pahalanya yang agung. Sesungguhnya sikap suka membalas menimbulkan kegelisahan dan akibat buruk yang akan terus abadi sampai di akhiratmu. Sedangkan menahan marah menimbulkan ketenangan dan dapat menabung pahala Allah swt. di akhirat kelak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidaklah pantas seseorang yang berakal rela atas kehinaan dari akibat dirinya suka dengan kepuasan sekejap, seperti ia marah - marah hanya karena satu perkataan saja, bertindak melampaui batas, sedang anggota badannya tak terkendali, padahal perkataan tersebut tidak mengharuskan si pengucapnya untuk dimarahi. Dan orang yang mendengarnyapun tidak akan rugi, baik secara keagamaan ataupun keduniaan, bahkan sebenarnya si pengucap itu mesti disayangi, karena ia telah menjatuhkan harga diri dan martabatnya serta masuk ke dalam kehinaan. Sementara bagi yang dimarahi dan dihina, haruslah bersyukur sebab ia sesungguhnya tidak dijatuhkan martabatnya, tidak seperti yang menghinanya.” jawab Al Muhasibi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian semoga menjadi bahan renungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari ”Psikoterapi Sufistik: karya Dr. Amir An Najar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-3864496910444421847?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/5HKibkQCwow" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/3864496910444421847/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=3864496910444421847" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/3864496910444421847?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/3864496910444421847?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/5HKibkQCwow/sabar-menahan-amarah.html" title="Sabar Menahan Amarah" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/sabar-menahan-amarah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQERXcycSp7ImA9WxRVFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-6395742204715086214</id><published>2008-11-12T14:13:00.002+07:00</published><updated>2008-11-12T14:18:24.999+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-12T14:18:24.999+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tokoh Muslim" /><title>Dzunnun al Misry</title><content type="html">Sufi agung yang memberikan kontribusi besar terhadap dunia pemahaman dan pengamalan hidup dan kehidupan secara mendalam antara makhluk dengan sang pencipta, makhluk dan sesama ini mempunyai nama lengkap al-Imam al-A'rif al-Sufy al-Wasil Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim, dan terkenal dengan Dzunnun al-Misry. Kendati demikian besar nama yang disandangnya namun tidak ada catatan sejarah tentang kapan kelahirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjalanan menuju Mesir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Waliyullah yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay (satu suku di selatan Mesir) kemudian menetap di kota Akhmim (sebuah kota di propinsi   Suhaj). Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya. Sebagaimana   lazimnya para sufi, ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama Allah mencari   jati diri, menggapai cinta dan ma'rifatulah yang hakiki. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih Allah ini, ia mendengar suara genderang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian dan siulan khas acara pesta.   Karena ingin tahu apa yang terjadi ia bertanya pada orang di sampingnya : "ada   apa ini?". Orang tersebut menjawab : Itu sebuah pesta perkawinan. Mereka   merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian yang diiringi musik ".   Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti ratapan dan jeritan orang   yang sedang dirundung duka. "Fenomena apa lagi ini ?" begitu pikir   sang wali. Iapun bertanya pada orang tadi. Dengan santai orang tersebut menjawab   : "Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota keluarganya meningal.   Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan telinga ". Di sana   ada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di sini ada duka yang   diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu : "Ya Allah   aku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal di sini.   Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka diberi cobaan   tapi tidak bersabar ". Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan kota itu   menuju ke Mesir (sekarang Kairo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjalanan ke dunia tasawuf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara kalau Allah berkehendak menjadikan hambanya menjadi kekasihnya.   Kadang berliku penuh onak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan. Kadang   melewati genangan lumpur dan limbah dosa. Tak dikecualikan apa yang terjadi   pada Dzunnun al-Misri. Bukan wali yang mengajaknya ke dunia tasawuf. Bukan pula   seorang alim yang mewejangnya mencebur ke alam hakikat. Tapi seekor burung lemah   tiada daya. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim al-Maghriby   menghadap Dzunnun dan bertanya "Wahai Abu al-Faidl !" begitu ia memanggil   demi menghormatinya "Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan   diri sepenuhnya pada Allah SWT ? ". "Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu". Begitu jawab al-Misri seperti sedang berteka-teki.   Al-Maghriby semakin penasaran "Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan   padaku" lalu Dzunnun berkata : "Suatu ketika aku hendak keluar dari   Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka   mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Coba   bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya.   Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji. Tiba-tiba bumi   terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas   satunya lagi dari perak. Satu mangkum berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya   lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada   kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad : "Cukup… aku sekarang   bertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah SWT. Akupun terus bersimpuh   di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Asih berkenan menerimaku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjalanan ruhaniah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya harta. Ketika politisi tak   jua puas dengan indahnya kursi. Maka kaum sufipun selalu haus dengan kedekatan   lebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada kenyamanan yang berbeda.   Selalu ada kebahagiaan yang tak sama.&lt;br /&gt;Maka demikianlah, Dzunnun al-Misri tidak puas dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, wejangan para wali, hardikan pendosa, jeritan kemiskinan, rintihan   orang hina semua adalah hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, tatkala Dzunnun bersiap-siap menuju tempat untuk ber-munajat ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang nampaknya baru saja mengarungi samudera   kegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan. Dalam senyap laki-laki itu berdoa   "Ya Allah Engkau mengetahui bahwa aku tahu ber-istighfar dari dosa tapi   tetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku telah meninggalkan istighfar,   sementara aku tahu kelapangan rahmatmu. Tuhanku… Engkaulah yang memberi   keistimewaan pada hamba-hamba pilihan-Mu dengan kesucian ikhlas. Engkaulah Zat   yang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya' dari datangnya kebimbangan.   Engkaulah yang menentramkan para wali, Engkau berikan kepada mereka kecukupan   dengan adanya seseorang yang bertawakkal. Engkau jaga mereka dalam pembaringan   mereka, Engkau mengetahui rahasia hati mereka. Rahasiaku telah terkuak di hadapan-Mu. Aku di hadapan-Mu adalah orang lara tiada asa ". Dengan khusyu' Dzunnun   menyimak kata demi kata rintihan orang tersebut. Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik ratapan lelaki itu, suara itu perlahan   menghilang sampai akhirnya hilang sama sekali di telan gulitanya sang malam   namun menyisakan goresan yang mendalam di hati sang wali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat yang lain ia bercerita pernah mendengar seorang ahli hikmah di lereng   gunung Muqottom. " Aku harus menemuinya " begitu ia bertekad kemudian.   Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan iapun bisa menemukan kediaman   lelaki misterius. Selama 40 hari mereka bersama, merenungi hidup dan kehidupan,   memaknai ibadah yang berkualitas dan saling tukar pengetahuan. Suatu ketika   Dzunnun bertanya : "Apakah keselamatan itu?". Orang tersebut menjawab   "Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al-Muroqobah (mengevaluasi diri)".   "Selain itu ?". pinta Dzunnun seperti kurang puas. "Menyingkirlah   dari makhluk dan jangan merasa tentram bersama mereka!". "Selain itu   ?" pinta Dzunnun lagi. "Ketahuilah Allah mempunyai hamba-hamba yang   mencintai-Nya. Maka Allah memberikan segelas minuman kecintaan. Mereka itu adalah   orang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika sedang   haus". Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun al-Misri dalam kedahagaan   yang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kealiman Dzunnun al-Misri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya ketika ilmu berhiaskan tasawuf. Betapa mahalnya ketika tasawuf   berlandaskan ilmu. Dan betapa agungnya Dzunnun al-Misri yang dalam dirinya tertata   apik kedalaman ilmu dan keindahan tasawuf. Nalar siapa yang mampu membanyah   hujjahnya. Hati mana yang mampu berpaling dari untaian mutiara hikmahnya. Dialah   orang Mesir pertama yang berbicara tentang urutan-urutan al-Ahwal dan al-Maqomaat   para wali Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maslamah bin Qasim mengatakan "Dzunnun adalah seorang yang alim, zuhud   wara', mampu memberikan fatwa dalam berbagai disiplin ilmu. Beliau termasuk   perawi Hadits ". Hal senada diungkapkan Al-Hafidz Abu Nu'aim dalam Hilyah-nya   dan al-Dzahabi dalam Tarikh-nya bahwasannya Dzunnun telah meriwayatkan hadits   dari Imam Malik, Imam Laits, Ibn Luha'iah, Fudail ibn Iyadl, Ibn Uyainah, Muslim   al-Khowwas dan lain-lain. Adapun orang yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah   al-Hasan bin Mus'ab al-Nakha'i, Ahmad bin Sobah al-Fayyumy, al-Tho'i dan lain-lain.   Imam Abu Abdurrahman al-Sulamy menyebutkan dalam Tobaqoh-nya bahwa Dzunnun telah   meriwayatkan hadis Nabi dari Ibn Umar yang berbunyi " Dunia adalah penjara   orang mu'min dan surga bagi orang kafir".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping lihai dalam ilmu-ilmu Syara', sufi Mesir ini terkenal dengan ilmu   lain yang tidak digoreskan dalam lembaran kertas, dan datangnya tanpa sebab.   Ilmu itu adalah ilmu Ladunni yang oleh Allah hanya khusus diberikan pada kekasih-kekasih-Nya   saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena demikian tinggi dan luasnya ilmu sang wali ini, suatu ketika ia memaparkan   suatu masalah pada orang di sekitarnya dengan bahasa Isyarat dan Ahwal yang   menawan. Seketika itu para ahli ilmu fiqih dan ilmu 'dhahir' timbul rasa iri   dan dan tidak senang karena Dzunnun telah berani masuk dalam wilayah (ilmu fiqih)   mereka. Lebih-lebih ternyata Dzunnun mempunyai kelebihan ilmu Robbany yang tidak   mereka punyai. Tanpa pikir panjang mereka mengadukannya pada Khalifah al-Mutawakkil   di Baghdad dengan tuduhan sebagai orang Zindiq yang memporak-porandakan syari'at.   Dengan tangan dirantai sufi besar ini dipanggil oleh Khalifah bersama murid-muridnya.   "Benarkah engkau ini zahidnya negeri Mesir?". Tanya khalifah kemudian.   "Begitulah mereka mengatakan". Salah satu pegawai raja menyela : " Amir al-Mu'minin senang mendengarkan perkataan orang yang zuhud, kalau engkau   memang zuhud ayo bicaralah". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dzunnun menundukkan muka sebentar lalu berkata "Wahai amiirul mukminin….   Sungguh Allah mempunyai hamba-hamba yang menyembahnya dengan cara yang rahasia,   tulus hanya karena-Nya. Kemudian Allah memuliakan mereka dengan balasan rasa   syukur yang tulus pula. Mereka adalah orang-orang yang buku catatan amal baiknya   kosong tanpa diisi oleh malaikat. Ketika buku tadi sampai ke hadirat Allah SWT,   Allah akan mengisinya dengan rahasia yang diberikan langsung pada mereka. Badan   mereka adalah duniawi, tapi hati adalah samawi…….". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzunnun meneruskan mauidzoh-nya sementara air mata Khalifah terus mengalir.   Setelah selesai berceramah, hati Khalifah telah terpenuhi oleh rasa hormat yang   mendalam terhadap Dzunnun. Dengan wibawa khalifah berkata pada orang-orang datang   menghadiri mahkamah ini : "Kalau mereka ini orang-orang Zindiq maka tidak   ada seorang muslim pun di muka bumi ini". Sejak saat itu Khalifah al-Mutawaakil   ketika disebutkan padanya orang yang Wara' maka dia akan menangis dan berkata   "Ketika disebut orang yang Wara' maka marilah kita menyebut Dzunnun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pujian para ulama' terhadap Dzunnun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada maksud paparan berikut ini supaya Dzunnun al-Misri menjadi lebih terpuji.   Sebab apa yang dia harapkan dari pujian makhluk sendiri ketika Yang Maha Sempurna   sudah memujinya. Apa artinya sanjungan berjuta manusia dibanding belaian kasih   Yang Maha Penyayang ?. Dan hanya dengan harapan semoga semua menjadi hikmah   dan manfaat bagi semua paparan berikut ini hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Qusyairy dalam kitab Risalah-nya mengatakan "Dzunnun adalah orang   yang tinggi dalam ilmu ini (Tasawwuf) dan tidak ada bandingannya. Ia sempurna dalam Wara', Haal, dan adab". Tak kurang Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al-Jalak   mengatakan "Saya telah menemui 600 guru dan aku tidak menemukan seperti   keempat orang ini : Dzunnun al-Misry, ayahku, Abu Turob, dan Abu Abid al-Basry".   Seperti berlomba memujinya sufi terbesar dan ternama Syaikh Muhiddin ibn Araby   Sulton al-Arifin dalam hal ini mengatakan "Dzunnun telah menjadi Imam,   bahkan Imam kita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian dan penghormatan pada Dzunnun bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata.   Imam al-Munawi dalam Tobaqoh-nya bercerita : “Sahl al-Tustari (salah satu   Imam tasawwuf yang besar) dalam beberapa tahun tidak duduk maupun berdiri bersandar   pada mihrab. Ia juga seperti tidak berani berbicara. Suatu ketika ia menangis,   bersandar dan bicara tentang makna-makna yang tinggi dan Isyaraat yang menakjubkan.   Ketika ditanya tentang ini, ia menjawab "Dulu waktu Dzunnun al-Misri masih   hidup, aku tidak berani berbicara tidak berani bersandar pada mihrab karena   menghormati beliau. Sekarang beliau telah wafat, dan seseorang berkata padaku   padaku : berbicaralah!! Engkau telah diberi izin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cinta dan ma'rifat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Dzunnun ditanya seseorang : "Dengan apa Tuan mengetahui Tuhan?".   "Aku mengetahui Tuhanku dengan Tuhanku ",jawab Dzunnun. "kalau   tidak ada Tuhanku maka aku tidak akan tahu Tuhanku". Lebih jauh tentang   ma'rifat ia memaparkan : "Orang yang paling tahu akan Allah adalah yang paling bingung tentang-Nya". "Ma'rifat bisa didapat dengan tiga cara:   dengan melihat pada sesuatu bagaimana Dia mengaturnya, dengan melihat keputusan-keputusan-Nya,   bagaimana Allah telah memastikannya. Dengan merenungkan makhluq, bagaimana Allah   menjadikannya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang cinta ia berkata : "Katakan pada orang yang memperlihatkan kecintaannya   pada Allah, katakan supaya ia berhati-hati, jangan sampai merendah pada selain   Allah!. Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah dia tidak punya   kebutuhan pada selain Allah". "Salah satu tanda orang yang cinta pada   Allah adalah mengikuti kekasih Allah Nabi Muhammad SAW dalam akhlak, perbuatan,   perintah dan sunnah-sunnahnya". "Pangkal dari jalan (Islam) ini ada   pada empat perkara: “cinta pada Yang Agung, benci kepada yang Fana, mengikuti   pada Alquran yang diturunkan, dan takut akan tergelincir (dalam kesesatan)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karomah Dzunnun al-Misri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Nabhani dalam kitabnya “Jami' al-karamaat “ mengatakan:   “Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: “Suatu ketika aku   menghadap pada Dzunnun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas   dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku   "engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam   keadaan bergembira". Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham.   Dengan izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampai   kota Balkh (kota di Iran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Abu Ja'far ada di samping Dzunnun. Lalu mereka berbicara tentang   ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzunnun mengatakan "Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya". Maka ranjang   itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya.&lt;br /&gt;Imam Abdul Wahhab al-Sya'roni mengatakan: “Suatu hari ada perempuan yang   datang pada Dzunnun lalu berkata "Anakku telah dimangsa buaya". Ketika   melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzunnun datang ke sungai Nil   sambil berkata "Ya Allah… keluarkan buaya itu". Lalu keluarlah   buaya, Dzunnun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam   keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata "Maafkanlah   aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang aku   bertaubat kepada Allah SWT".&lt;br /&gt;Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup waliyullah, sufi besar Dzun Nun   al-Misri yang wafat pada tahun 245 H. semoga Allah me-ridlai-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.al-hasani.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-6395742204715086214?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/rVx5Rh6Khig" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/6395742204715086214/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=6395742204715086214" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/6395742204715086214?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/6395742204715086214?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/rVx5Rh6Khig/dzunnun-al-misry.html" title="Dzunnun al Misry" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/dzunnun-al-misry.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIMQ3g9eSp7ImA9WxRVFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-332713244399995069</id><published>2008-11-12T13:45:00.002+07:00</published><updated>2008-11-12T13:49:42.661+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-12T13:49:42.661+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tokoh Muslim" /><title>Abu al-Hasan as-Syadzili</title><content type="html">Nama lengkap adalah as-Syadzili Ali bin Abdillah bin Abdul-Jabbar, yang kalau diteruskan nasabnya akan sampai pada Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan putranya Fatimah al-Zahra', putri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.&lt;br /&gt;Syekh Abu al-Hasan dilahirkan di negara Maroko tahun 593 H di desa yang bernama Ghimaroh di dekat kota Sabtah (dekat kota Thonjah sekarang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imam Syadzili dan kelimuan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di kota kelahirannya itu Syadzili pertama kali menghafal Alquran dan menerima   pelajaran ilmi-ilmu agama, termasuk mempelajari fikih madzhab Imam Malik. Beliau   berhasil memperoleh ilmu yang bersumber pada Alquran dan Sunnah demikian juga   ilmu yang bersumber dari akal yang jernih. Berkat ilmu yang dimilikinya, banyak   para ulama yang berguru kepadanya. Sebagian mereka ada yang ingin menguji kepandaian   Syekh Abu al-Hasan. Setelah diadakan dialog ilmiah akhirnya mereka mengakui   bahwa beliau mempunyai ilmu yang luas, sehingga untuk menguras ilmunya seakan-akan   merupakan hal yang cukup susah. Memang sebelum beliau menjalani ilmu thariqah,   ia telah membekali dirinya dengan ilmu syariat yang memadahi. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imam Syadzili dan Thariqah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hijrah atau berkelana bisa jadi merupakan sarana paling efektif untuk menemukan   jati diri. Tak terkecuali Imam Syadzili. Orang yang lebih dikenal sebagai sufi   agung pendiri thariqah Syadziliyah ini juga menapaki masa hijrah dan berkelana&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Asal muasal beliau ingin mencari jalan thariqah adalah ketika masuk negara Tunis   sufi besar ini ingin bertemu dengan para syekh yang ada di negeri itu. Di antara   Syekh-syekh yang bisa membuat hatinya mantap dan berkenan adalah Syekh Abi Said   al-Baji. Keistimewaan syekh ini adalah sebelum Abu al-Hasan berbicara mengutarakannya,   dia telah mengetahui isi hatinya. Akhirnya Abu al-Hasan mantap bahwa dia adalah   seorang wali. Selanjutnya dia berguru dan menimba ilmu darinya. Dari situ, mulailah   Syekh Abu al-Hasan menekuni ilmu thariqah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menekuni tekad ini, beliau bertandang ke berbagai negara, baik negara   kawasan timur maupun negara kawasan barat. Setiap derap langkahnya, hatinya selalu bertanya, "Di tempat mana aku bisa menjumpai seorang syekh (mursyid)?".   Memang benar, seorang murid dalam langkahnya untuk sampai dekat kepada Allah   itu bagaikan kapal yang mengarungi lautan luas. Apakah kapal tersebut bisa berjalan   dengan baik tanpa seorang nahkoda (mursyid). Dan inilah yang dialami oleh syekh   Abu al-Hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengembaraannya Imam Syadzili akhirnya sampai di Iraq, yaitu kawasan orang-orang   sufi dan orang-orang shalih. Di Iraq beliau bertemu dengan Syekh Shalih Abi   al-Fath al-Wasithi, yaitu syekh yang paling berkesan dalam hatinya dibandingkan   dengan syekh di Iraq lainnya. Syekh Abu al-Fath berkata kepada Syekh Abu al-Hasan,   "Hai Abu al-Hasan engkau ini mencari Wali Qutb di sini, padahal dia berada   di negaramu? kembalilah, maka kamu akan menemukannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, beliau kembali lagi ke Maroko, dan bertemu dengan Syekh al-Shiddiq   al-Qutb al-Ghauts Abi Muhammad Abdussalam bin Masyisy al-Syarif al-Hasani. Syekh   tersebut tinggal di puncak gunung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum menemuinya, beliau membersihkan badan (mandi) di bawah gunung dan beliau   datang laksana orang hina dina dan penuh dosa. Sebelum beliau naik gunung ternyata   Syekh Abdussalam telah turun menemuinya dan berkata, "Selamat datang wahai   Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar……". Begitu sambutan syekh   tersebut sembari menuturkan nasabnya sampai Rasulullah SAW. Kemudia dia berkata,   "Kamu datang kepadaku laksana orang yang hina dina dan merasa tidak mempunyai   amal baik, maka bersamaku kamu akan memperoleh kekayaan dunia dan akhirat”.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Akhirnya beliau tinggal bersamanya untuk beberapa hari, sampai hatinya mendapatkan   pancaran ilahi. Selama bersama Syekh Abdussalam, beliau melihat beberapa keramat   yang dimilikinya. Pertemuan antara Syekh Abdussalam dan Syekh Abu al-Hasan benar-benar   merupakan pertemuan antara mursyid dan murid, atau antara muwarrits dan waarits.   Banyak sekali futuhat ilahiyyah yang diperoleh Syekh Abu al-Hasan dari guru   agung ini. &lt;br /&gt;Di antara wasiat Syekh Abdussalam kepada Syadzili adalah, "Pertajam penglihatan   keimanan, maka kamu akan menemukan Allah pada setiap sesuatu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tentang nama Syadzili&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dirunut nasab maupun tempat kelahiran syekh agung ini, tidak didapati   sebuah nama yang memungkinkan ia dinamakan Syadzili. Dan memang, nama tersebut   adalah nama yang dia peroleh dalam perjalanan ruhaniah.&lt;br /&gt;Dalam hal ini Abul Hasan sendiri bercerita : "Ketika saya duduk di hadapan   Syekh, di dalam ruang kecil, di sampingku ada anak kecil. Di dalam hatiku terbersit   ingin tanya kepada Syekh tentang nama Allah. Akan tetapi, anak kecil tadi mendatangiku   dan tangannya memegang kerah bajuku, lalu berkata, "Wahai, Abu al–Hasan,   kamu ingin bertanya kepada Syekh tentang nama Allah, padahal sesungguhnya kamu   adalah nama yang kamu cari, maksudnya nama Allah telah berada dalam hatimu.   Akhirnya Syekh tersenyum dan berkata, "Dia telah menjawab pertanyaanmu".&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Selanjutnya Syekh Abdussalam memerintahkan Abu al-Hasan untuk pergi ke daerah   Afriqiyyah tepatnya di daerah bernama Syadzilah, karena Allah akan menyebutnya   dengan nama Syadzili –padahal pada waktu itu Abu al-Hasan belum di kenal   dengan nama tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat Abu al-Hasan meminta wasiat kepada Syekh, kemudian dia berkata,   "Ingatlah Allah, bersihkan lidah dan hatimu dari segala yang mengotori nama Allah, jagalah anggota badanmu dari maksiat, kerjakanlah amal wajib, maka   kamu akan memperoleh derajat kewalian. Ingatlah akan kewajibanmu terhadap Allah,   maka kamu akan memperoleh derajat orang yang wara'. Kemudian berdoalah kepada   Allah dengan doa, "Allahumma arihnii min dzikrihim wa minal 'awaaridhi   min qibalihim wanajjinii min syarrihim wa aghninii bi khairika 'an khairihim   wa tawallanii bil khushuushiyyati min bainihim innaka 'alaa kulli syai'in qadiir".&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Selanjutnya sesuai petunjuk tersebut, Syekh Abu al-Hasan berangkat ke daerah tersebut untuk mengetahui rahasia yang telah dikatakan kepadanya. Dalam perjalanan   ruhaniah kali ini dia banyak mendapat cobaan sebagaimana cobaan yang telah dialami   oleh para wali-wali pilihan. Akan tetapi dengan cobaan tersebut justru semakin   menambah tingkat keimanannya dan hatinya semakin jernih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Syadzilah, yaitu daerah dekat Tunis, dia bersama kawan-kawan dan muridnya menuju gua yang berada di Gunung Za'faran untuk munajat dan beribadah   kepada Allah SWT. Selama beribadah di tempat tersebut salah satu muridnya mengetahui   bahwa Syekh Abu al-Hasan banyak memiliki keramat dan tingkat ibadahnya sudah   mencapai tingkatan yang tinggi. &lt;br /&gt;Pada akhir munajat-nya ada bisikan suara , "Wahai Abu al-Hasan turunlah   dan bergaul-lah bersama orang-orang, maka mereka akan dapat mengambil manfaat darimu, kemudian beliau berkata: "Ya Allah, mengapa Engkau perintahkan   aku untuk bergaul bersama mereka, saya tidak mampu" kemudian dijawab: "Sudahlah,   turun Insya Allah kamu akan selamat dan kamu tidak akan mendapat celaan dari   mereka" kemudian beliau berkata lagi: "Kalau aku bersama mereka, apakah   aku nanti makan dari dirham mereka? Suara itu kembali menjawab : "Bekerjalah,   Aku Maha Kaya, kamu akan memperoleh rizik dari usahamu juga dari rizki yang   Aku berikan secara gaib. &lt;br /&gt;Dalam dialog ilahiyah ini, dia bertanya kepada Allah, kenapa dia dinamakan syadzili   padahal dia bukan berasal dari syadzilah, kemudian Allah menjawab: "Aku   tidak mnyebutmu dengan syadzili akan tetapi kamu adalah syadzdzuli, artinya   orang yang mengasingkan untuk ber-khidmat dan mencintaiku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imam Syadzili menyebarkan thariqah Syadziliyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog ilahiyah yang sarat makna dan misi ini membuatnya semakin mantap menapaki   dunia tasawuf. Tugas selanjutnya adalah bergaul bersama masyarakat, berbaur   dengan kehidupan mereka, membimbing dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan   ketenangan hidup. Dan Tunis adalah tempat yang dituju wali agung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tunis Abul Hasan tinggal di Masjid al-Bilath. Di sekitar tempat tersebut   banyak para ulama dan para sufi. Di antara mereka adalah karibnya yang bernama   al-Jalil Sayyidi Abu al-Azaim, Syekh Abu al-Hasan al-Shaqli dan Abu Abdillah   al-Shabuni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Popularitas Syekh Abu al-Hasan semerbak harum di mana-mana. Aromanya sampai   terdengar di telinga Qadhi al-Jama'ah Abu al-Qasim bin Barra'. Namun aroma ini   perlahan membuatnya sesak dan gerah. Rasa iri dan hasud muncul di dalam hatinya.   Dia berusaha memadamkan popularitas sufi agung ini. Dia melaporkan kepada Sultan   Abi Zakaria, dengan tuduhan bahwa dia berasal dari golongan Fathimi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan meresponnya dengan mengadakan pertemuan dan menghadirkan Syekh Abu al-Hasan   dan Qadhi Abul Qosim. Hadir di situ juga para pakar fiqh. Pertemuan tersebut   untuk menguji seberapa kemampuan Syekh Abu al-Hasan. &lt;br /&gt;Banyak pertanyaan yang dilontarkan demi menjatuhkan dan mempermalukan Abul Hasan   di depan umum. Namun, sebagaimana kata-kata mutiara Imam Syafi'I, dalam ujian,   orang akan terhina atau bertambah mulia. Dan nyatanya bukan kehinaan yang menimpa   wali besar. Kemuliaan, keharuman nama justru semakin semerbak memenuhi berbagai   lapisan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qadhi Abul Qosim menjadi tersentak dan tertunduk malu. Bukan hanya karena jawaban-jawaban   as-Syadzili yang tepat dan bisa menepis semua tuduhan, tapi pengakuan Sultan   bahwa Syekh Abu al-Hasan adalah termasuk pemuka para wali. Rasa iri dan dengki   si Qadhi terhadap Syekh Abu al-Hasan semakin bertambah, kemudian dia berusaha   membujuk Sultan dan berkata: "Jika tuan membiarkan dia, maka penduduk Tunis   akan menurunkanmu dari singgasana".&lt;br /&gt;Ada pengakuan kebenaran dalam hati, ada juga kekhawatiran akan lengser dari   singgasana. Sultan demi mementingkan urusan pribadi, menyuruh para ulama' fikih   untuk keluar dari balairung dan menahan Syekh Abu al-Hasan untuk dipenjara dalam   istana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar penahanan Syekh Abul Hasan mendorong salah seorang sahabatnya untuk menjenguknya.   Dengan penuh rasa prihatin si karib berkata, "Orang-orang membicarakanmu   bahwa kamu telah melakukan ini dan itu". Sahabat tadi menangis di depan   Syekh Abu al-Hasan lalu dengan percaya diri dan kemantapan yang tinggi, Syekh   tersenyum manis dan berkata, "Demi Allah, andaikata aku tidak menggunakan   adab syara' maka aku akan keluar dari sini seraya mengisyaratkan dengan   jarinya-. Setiap jarinya mengisyaratkan ke dinding maka dinding tersebut langsung   terbelah, kemudian Syekh berkata kepadaku: "Ambilkan aku satu teko air,   sajadah dan sampaikan salamku kepada kawan-kawan. Katakan kepada mereka bahwa   hanya sehari saja kita tidak bertemu dan ketika shalat maghrib nanti kita akan   bertemu lagi". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syekh as-Syadzili tiba di Mesir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunis, kendatipun bisa dikatakan cikal bakal as-Syadzili menancapkan thariqah   Syadziliyah namun itu bukan persinggahan terakhirnya. Dari Tunis, Syekh Abu   al-Hasan menuju negara kawasan timur yaitu Iskandariah. Di sana dia bertemu   dengan Syekh Abi al-Abbas al-Mursi. Pertemuan dua Syekh tadi memang benar-benar   mencerminkan antara seorang mursyid dan murid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adapun sebab mengapa Syekh pindah ke Mesir, beliau sendiri mengatakan, "Aku   bermimpi bertemu baginda Nabi, beliau bersabda padaku : "Hai Ali…   pergilah ke Mesir untuk mendidik 40 orang yang benar-benar takut kepadaku”.&lt;br /&gt;Di Iskandariah beliau menikah lalu dikarunia lima anak, tiga laki-laki, dan   dua perempuan. Semasa di Mesir beliau sangat membawa banyak berkah. Di sana   banyak ulama yang mengambil ilmu dari Syekh agung ini. Di antara mereka adalah   hakim tenar Izzuddin bin Abdus-Salam, Ibnu Daqiq al-Iid , Al-hafidz al-Mundziri,   Ibnu al-Hajib, Ibnu Sholah, Ibnu Usfur, dan yang lain-lain di Madrasah al-Kamiliyyah   yang terletak di jalan Al-muiz li Dinillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karomah Imam Syadzili&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, Sultan Abi Zakaria dikejutkan dengan berita bahwa budak perempuan   yang paling disenangi dan paling dibanggakan terserang penyakit langsung meninggal.   Ketika mereka sedang sibuk memandikan budak itu untuk kemudian dishalati, mereka   lupa bara api yang masih menyala di dalam gedung. Tanpa ampun bara api tadi   melalap pakaian, perhiasan, harta kekayaan, karpet dan kekayaan lainnya yang   tidak bisa terhitung nilainya. &lt;br /&gt;Sembari merenung dan mengevaluasi kesalahan masa lalu, Sultan yang pernah menahan   Syekh Syadzili karena hasudan qadhi Abul Qosim tersadar bahwa kejadian-kejadian   ini karena sikap dia terhadap Syekh Abu al-Hasan. Dan demi melepaskan 'kutukan'   ini saudara Sultan yang termasuk pengikut Syekh Abu al-Hasan meminta maaf kepada   Syekh, atas perlakuan Sultan kepadanya. Cerita yang sama juga dialami Ibnu al-Barra.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mati ia juga banyak mengalami cobaan baik harta maupun agamanya.&lt;br /&gt;Di antara karomahnya adalah, Abul Hasan berkata, "Ketika dalam suatu perjalanan   aku berkata, "Wahai Tuhanku, kapankah aku bisa menjadi hamba yang banyak   bersyukur kepada-Mu?, kemudian beliau mendengar suara , "Yaitu apabila   kamu berpendapat tidak ada orang yang diberi nikmat oleh Allah kecuali hanya   dirimu. Karena belum tahu maksud ungkapan itu aku bertanya, "Wahai Tuhanku,   bagaimana saya bisa berpendapat seperti itu, padahal Engkau telah memberikan   nikmat-Mu kepada para Nabi, ulama' dan para penguasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu berkata kepadaku, "Andaikata tidak ada para Nabi, maka kamu tidak   akan mendapat petunjuk, andaikata tidak ada para ulama', maka kamu tidak akan   menjadi orang yang taat dan andaikata tidak ada para penguasa, maka kamu tidak   akan memperoleh keamanan. Ketahuilah, semua itu nikmat yang Aku berikan untukmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara karomah sudi agung ini adalah, ketika sebagian para pakar fiqh menentang   Hizib Bahr, Syekh Syadzili berkata, "Demi Allah, saya mengambil hizib tersebut   langsung dari Rasulullah saw harfan bi harfin (setiap huruf)".&lt;br /&gt;Di antara karomah Syekh Syadzili adalah, pada suatu ketika dalam satu majlis   beliau menerangkan bab zuhud. Beliau waktu itu memakai pakaian yang bagus. Ketika   itu ada seorang miskin ikut dalam majlis tersebut dengan memakai pakaian yang   jelek. Dalam hati si miskin berkata, "Bagaimana seorang Syekh menerangkan   bab zuhud sedangkan dia memakai pakaian seperti ini?, sebenarnya sayalah orang   yang zuhud di dunia". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Syekh berpaling ke arah si miskin dan berkata, "Pakaian kamu   ini adalah pakaian untuk menarik simpatik orang lain. Dengan pakaianmu itu orang   akan memanggilmu dengan panggilan orang miskin dan menaruh iba padamu. Sebaliknya   pakaianku ini akan disebut orang lain dengan pakaian orang kaya dan terjaga   dari meminta-minta".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sadar akan kekhilafannya, si miskin tadi beranjak berlari menuju Syekh Syadzili   seraya berkata, "Demi Allah, saya mengatakan tadi hanya dalam hatiku saja   dan saya bertaubat kepada Allah, ampuni saya Syekh". Rupanya hati Syekh   terharu dan memberikan pakaian yang bagus kepada si miskin itu dan menunjukkannya   ke seorang guru yang bernama Ibnu ad Dahan. Kemudian syekh berkata, "Semoga   Allah memberikan kasih sayang-Nya kepadamu melalui hati orang-orang pilihan.   Dan semoga hidupmu berkah dan mendapatkan khusnul khatimah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syekh Syadzili wafat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Abu al-Abbas al-Mursy, murid kesayangan dan penerus thariqah Syadziliyah   mengatakan bahwa gurunya setiap tahun menunaikan ibdah haji, kemudian tinggal   di kota suci mulai bulan Rajab sampai masa haji habis. Seusai ibadah haji beliau   pergi berziarah ke makam Nabi SAW di Madinah. Pada musim haji yang terakhir   yaitu tahun 656H, sepulang dari haji beliau memerintahkan muridnya untuk membawa   kapak minyak wangi dan perangkat merawat jenazah lainnnya. Ketika muridnya bertanya   untuk apa kesemuanya ini, beliau menjawab, "Di Jurang Humaistara [di propinsi   Bahr al-Ahmar) akan terjadi kejadian yang pasti. maka di sanalah beliau meninggal.&lt;br /&gt;Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disajikan Oleh : Muhammad Mukhlisin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.al-hasani.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-332713244399995069?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/wy-PD7bU2Zg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/332713244399995069/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=332713244399995069" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/332713244399995069?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/332713244399995069?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/wy-PD7bU2Zg/nama-lengkap-adalah-as-syadzili-ali-bin.html" title="Abu al-Hasan as-Syadzili" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/11/nama-lengkap-adalah-as-syadzili-ali-bin.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8ASHY8cSp7ImA9WxdXEE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-683039325839705087</id><published>2008-03-31T18:00:00.001+07:00</published><updated>2008-06-21T15:27:29.879+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-06-21T15:27:29.879+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ebook" /><title>Jalan Terindah - Ebooks</title><content type="html">&lt;object codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" id="doc_156357801476200" name="doc_156357801476200" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle" height="500" width="100%"&gt;  &lt;param name="movie" value="http://documents.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=69236&amp;access_key=fziarlj8a64xm&amp;page=&amp;version=1&amp;auto_size=true"&gt;   &lt;param name="quality" value="high"&gt;   &lt;param name="play" value="true"&gt;  &lt;param name="loop" value="true"&gt;   &lt;param name="scale" value="showall"&gt;  &lt;param name="wmode" value="opaque"&gt;   &lt;param name="devicefont" value="false"&gt;  &lt;param name="bgcolor" value="#ffffff"&gt;   &lt;param name="menu" value="true"&gt;  &lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;   &lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;   &lt;param name="salign" value=""&gt;  &lt;embed src="http://documents.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=69236&amp;access_key=fziarlj8a64xm&amp;page=&amp;version=1&amp;auto_size=true" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" name="doc_156357801476200_object" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle" height="500" width="100%"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;/object&gt;&lt;div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%"&gt;&lt;a href="http://www.scribd.com/doc/69236/Jalan-Terindah-Ebooks"&gt;Jalan Terindah - Ebooks&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://www.scribd.com/upload"&gt;Upload a Document to Scribd&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="display:none"&gt; Read this document on Scribd: &lt;a href="http://www.scribd.com/doc/69236/Jalan-Terindah-Ebooks"&gt;Jalan Terindah - Ebooks&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-683039325839705087?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/b_v0Il3E1ok" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/683039325839705087/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=683039325839705087" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/683039325839705087?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/683039325839705087?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/b_v0Il3E1ok/jalan-terindah-ebooks.html" title="Jalan Terindah - Ebooks" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2008/03/jalan-terindah-ebooks.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEMHQXcyeCp7ImA9WB9UGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-7174040620953953797</id><published>2007-12-17T19:58:00.000+07:00</published><updated>2007-12-17T20:00:30.990+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-17T20:00:30.990+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Lebih dari Renungan" /><title>Belum Haji Sudah Mabrur</title><content type="html">Oleh: Ahmad Tohari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali, karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. &lt;br /&gt;Jadilah, Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka, ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal, Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yu Timah pernah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu, Yu Timah masih bisa menabung di BPR syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi, Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun, setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu, saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Pak, saya mau mengambil tabungan,'’ kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’O, tentu bisa. Tapi, ini hari sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila senin?'’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.'’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Mau ambil berapa?'’ tanya saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Enam ratus ribu, Pak.'’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?'’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.'’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan, dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal, saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?'’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun, sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.'’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.'’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul, karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin, saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah budayawan dan sastrawan.&lt;br /&gt;Tulisan ini juga dimuat di Majalah MataAir edisi ke-7 "Awas, Culik Berkedok Agama"&lt;br /&gt;Sumber : www.gusmus.net&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-7174040620953953797?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/8aI4VOszZN8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/7174040620953953797/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=7174040620953953797" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/7174040620953953797?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/7174040620953953797?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/8aI4VOszZN8/belum-haji-sudah-mabrur.html" title="Belum Haji Sudah Mabrur" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/12/belum-haji-sudah-mabrur.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck4ERXY7fCp7ImA9WB9WGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-5394284745599081222</id><published>2007-11-23T19:21:00.000+07:00</published><updated>2007-11-23T19:28:24.804+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-11-23T19:28:24.804+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Lebih dari Renungan" /><title>Di Zawiyyah Sebuah Masjid</title><content type="html">Oleh Emha Ainun Nadjib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.&lt;br /&gt;"Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya," berkata Pak Kiai kepada santri pertama, "apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agama," jawab santri pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa jumlahnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak dua atau tiga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, "Apa nama agama yang dimaksudkan oleh temanmu itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kau katakan demikian?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah sangat adil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya sinar Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. "Allah mengajari Adam nama benda-benda," katanya, "bahasa apa yang digunakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijawab oleh santri ketiga, "Bahasa sumber yang kemudian dikenal sebagai bahasa Al-Qur'an."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana membuktikan hal itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Manusia telah diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh sehingga dalam kebanyakan hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertama dengan keyakinan iman. Kedua dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam kehendak Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu, Nak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur'an. Oleh karena sifat Islam adalah rahmatan lil 'alamin, berlaku universal secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh bangsa manusia. Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur'anlah yang merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Temanmu tadi mengatakan," berkata Pak Kiai selanjutnya kepada santri keempat, "bahwa Allah hanya menurunkan satu agama. Bagaimana engkau menjelaskan hal itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agama Islam dihadirkan sebagaimana bayi dilahirkan," jawab santri keempat, "Tidak langsung dewasa, tua atau matang, melainkan melalui tahap-tahap atau proses pertumbuhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa jawabmu terhadap pertanyaan tentang adanya berbagai agama selain Islam?"&lt;br /&gt;"Itu anggapan kebudayaan atau anggapan politik bukan anggapan akidah."&lt;br /&gt;"Apakah itu berarti engkau tak mengakui eksistensi agama-agama lain?"&lt;br /&gt;"Aku mengakui nilai-nilai yang termuat dalam yang disebut agama-agama itu --sebelum dimanipulasikan-- sebab nilai-nilai itu adalah Islam jua adanya pada tahap tertentu, yakni sebelum disempurnakan oleh Allah melalui Muhammad rasul pamungkasNya. Bahwa kemudian berita-berita Islam sebelum Muhammad itu dilembagakan menjadi sesuatu yang disebut agama --dengan, ternyata, berbagai penyesuaian, penambahan atau pengurangan sebenarnya yang terjadi adalah pengorganisasian. Itu bukan agama Allah, melainkan rekayasa manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai menatapkan matanya tajam-tajam ke wajah santri kelima sambil bertanya, "Agama apakah yang dipeluk oleh orang-orang beriman sebelum Muhammad?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Islam, Kiai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa agama Ibrahim?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa agama Musa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan agama Isa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah bernama Islamkah ketika itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak mungkin, demikian kemauan Allah, ada nama atau kata selain Islam yang sanggup mewakili kandungan-kandungan nilai petunjuk Allah. Islam dan kandungannya tak bisa dipisahkan, sebagaimana api dengan panas atau es dengan dingin. Karena ia Islam, maka demikianlah kandungan nilainya. Karena demikian kandungan nilainya, maka Islamlah namanya. Itu berlaku baik tatkala pengetahuan manusia telah mengenal Islam atau belum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka apakah gerangan arti yang paling inti dari Islam?" Pak Kiai langsung menggeser pertanyaan kepada santri keenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Membebaskan," jawab santri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pakailah kata yang lebih memuat kelembutan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menyelematkan, Kiai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang menyelamatkan, siapa yang diselamatkan, serta dari apa dan menuju apa proses penyelamatan atau pembebasan itu dilakukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah menyelamatkan manusia, diaparati oleh para khulafa' atas bimbingan para awliya dan anbiya. Adapun sumber dan tujuannya ialah membebaskan manusia dari kemungkinan tak selamat kembali ke Allah. Manusia berasal dari Allah dan sepenuhnya milik Allah, sehingga Islam --sistem nilai hasil karya Allah yang dahsyat itu-- dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman sesuatu yang bukan Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa sebab agama anugerah Allah itu tak bernama Salam, misalnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salam ialah keselamatan atau kebebasan. Itu kata benda. Sesuatu yang sudah jadi dan tertentu. Sedangkan Islam itu kata kerja. Berislam ialah beramal, berupaya, merekayasa segala sesuatu dalam kehidupan ini agar membawa manusia kepada keselamatan di sisi Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai menuding santri ketujuh, "Tidakkah Islam bermakna kepasrahan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, Kiai," jawabnya, "Islam ialah memasrahkan diri kepada kehendak Allah. Arti memasrahkan diri kepada kehendak Allah ialah memerangi segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana manusia mengerti ini kehendak Allah atau bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan memedomani ayat-ayatNya, baik yang berupa kalimat-kalimat suci maupun yang terdapat dalam diri manusia, di alam semesta, maupun di setiap gejala kehidupan dan sejarah. Oleh karena itu Islam adalah tawaran pencarian yang tak ada hentinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa sangat banyak orang yang salah mengartikan makna pasrah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena manusia cenderung malas mengembangkan pengetahuan tentang kehendak Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan manusia makin tidak peka terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka. Bahkan tak sedikit di antara orang-orang yang rajin bersembahyang, sebenarnya tidak makin tinggi pengenalan mereka terhadap kehendak Allah. Mereka makin terasing dari situasi karib dengan kemesraan Allah. Hasilnya adalah keterasingan dari diri mereka sendiri. Tetapi alhamdulillah, situasi terasing dan buntu yang terjadi pada peradaban mutakhir manusia, justru merupakan awal dari proses masuknya umat manusia perlahan-lahan ke dalam cahaya Islam. Sebab di dalam kegelapanlah manusia menjadi mengerti makna cahaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cahaya Islam. Apa itu gerangan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri ke delapan menjawab, "Pertama-tama ialah ilmu pengeahuan. Adam diajari nama benda-benda. Itulah awal mula pendidikan kecendekiaan, yang kelak direkonstruksi oleh wahyu pertama Allah kepada Muhammad, yakni iqra'. Itulah cahaya Islam, sebab agama itu dianugerahkan kepada makhluk tertinggi yang berpikiran dan berakal budi yang bernama manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemikiranmu lumayan," sahut Pak Kiai, "Cahaya Islam tentunya tak dapat dihitung jumlahnya serta tak dapat diukur keluasan dan ketinggiannya: kita memerlukan tinta yang ditimba dari tujuh lautan lebih untuk itu. Bersediakah engkau kutanyai barang satu dua di antara kilatan-kilatan cahaya mahacahaya itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Kiai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesudah engkau sebut Adam, apa yang kau peroleh dari Idris?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dinihari rekayasa teknologi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Nuh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keingkaran terhadap ilmu dan kewenangan Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hud?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebangunan kembali menuju salah satu puncak peradaban dan teknologi canggih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik. Tak akan kubawa kau berhenti di setiap terminal. Tetapi jawablah: pada Ibrahim, terminal Islam apakah yang engkau temui?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rekonstruksi tauhid, melalui metode penelitian yang lebih memeras pikiran dan pengalaman secara lebih detil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada Ismail?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengurbanan dan keikhlasan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayyub?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketahanan dan kesabaran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dawud?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tangis, perjuangan dan keberanian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sulaiman?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke-waskita-an, kemenangan terhadap kemegahan benda, kesetiaan ekologis dan keadilan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang sebutkan yang engkau peroleh dari Musa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keteguhan, ketegasan haq, ilmu perjuangan politik, tapi juga kedunguan dalam kepandaian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Zakaria?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dzikir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelembutan cinta kasih, alam getaran hub."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adapun dari Muhammad, anakku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kematangan, kesempurnaan, ilmu manajemen dari semua unsur cahaya yang dibawa oleh para perutusan Allah sebelumnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tiba kepada santri kesembilan. "Di tahap cahaya Islam yang manakah kehidupan dewasa ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak menentu, Kiai," jawab sanri terakhir itu, "Terkadang, atau bahkan amat sering, kami adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi. Di saat lain kami adalah Ayyub --tetapi-- yang kalah oleh sakit berkepanjangan dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit. Sebagian kami memperoleh jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya; sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakkan ke dalam sumur tanpa ada yang mengambilnya. Ada juga golongan dari kami yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawah-sawah Fir'aun atau membelah kayu-kayu untuk pembangunan istana diktator itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai tersenyum, dan santri itu meneruskan, "Mungkin itu yang menyebabkan seringkali kami tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang menggantikan ketersembelihan kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka sebagian dari kami lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa menelan kami, dan sampai hari ini kami masih belum selesai mendiskusikan dan menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai tertawa terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami belajar pidato seperti Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kami seharusnya diucapkan 15 abad yang lalu, padahal Musa-Musa kami hari ini tidaklah sanggup membelah samudera."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anakku," Pak Kiai menyela, "pernyataan-pernyataanmu penuh rasa sedih dan juga semacam rasa putus asa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insyaallah tidak, Kiai," jawab sang santri, "Cara yang terbaik untuk menjadi kuat ialah menyadari kelemahan. Cara yang terbaik untuk bisa maju ialah memahami kemunduran. Sebodoh-bodoh kami, sebenarnya telah pula berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan Jalut. Tongkat Musa kami pun telah perlahan-lahan kami rekayasa, agar kelak memiliki kemampuan untuk kami lemparkan ke halaman istana Fir'aun dan menelan semua ular-ular sihir yang melata-lata. Kami juga mulai berguru kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem. Seperti Musa kami juga belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidhir. Dan berzikir. Bagai Zakaria, kami memperpeka kehidupan kami agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan kekuatan Allah. Terkadang kami khilaf mengambil hanya salah satu watak Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan. Tetapi kami telah makin mengerti bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan unsur-unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta, kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta menjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang samar, hanyut dan tidak berjuang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tak terbatas apabila perbincangan itu diteruskan jika tujuannya adalah hendak menguak rahasia cahaya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai tahap ini," kata Pak Kiai, "cukuplah itu bagi kalian, sesudah dua pertanyaan berikut ini kalian jawab."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami berusaha, Kiai," jawab mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kalian menghubungkan keyakinan kalian itu dengan keadaan masyarakat dan negeri di mana kalian bertempat tinggal?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebenaran berlaku hanya apabila diletakkan pada maqam yang juga benar. Juga setiap kata dan gerak perjuangan," berkata salah seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebaik-baik urusan ialah di tengah-tengahnya, kata Rasul Agung. Harus pas. Tak lebih tak kurang," sambung lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Muhammad juga mengajarkan kapan masuk Gua Hira, kapan terjun ke tengah masyarakat," sambung yang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mencari titik koordinat yang paling tepat pada persilangan ruang dan waktu, atau pada lalu lintas situasi dan peta sejarah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada dakwah rahasia, ada dakwah terang-terangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hikmah, maw'idhah hasanah, jadilhum billati hiya ahsan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makan hanya ketika lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Itulah irama. Itulah sesehat-sehat kesehatan, yang berlaku bagi tubuh maupun proses sejarah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perjuangan ialah mengetahui kapan berhijrah ke Madinah dan kapan kembali ke Makkah untuk kemenangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan di atas semua itu, Rasulullah Muhammad bersedia tidur beralaskan daun kurma atau bahkan di atas lantai tanah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai tersenyum, "Apa titik tengah di antara kutub kaku dan kutub lembek, anak-anakku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lentur, Kiai!" kesembilan santri itu menjawab serentak, karena kalimat itulah memang yang hampir setiap hari mereka dengarkan dari mulut Pak Kiai sejak hari pertama mereka datang ke pesantren itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fal-yatalaththaf!" ucap Pak Kiai akhirnya sambil berdiri dan menyalami santri-santrinya satu per satu, "titik pusat Al-Qur'an!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : media.isnet.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-5394284745599081222?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/3OZ1R7sKo0U" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/5394284745599081222/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=5394284745599081222" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/5394284745599081222?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/5394284745599081222?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/3OZ1R7sKo0U/di-zawiyyah-sebuah-masjid.html" title="Di Zawiyyah Sebuah Masjid" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/11/di-zawiyyah-sebuah-masjid.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C08GSXc7fCp7ImA9WB9XEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-4367720474824031945</id><published>2007-11-04T00:37:00.000+07:00</published><updated>2007-11-04T00:43:48.904+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-11-04T00:43:48.904+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf" /><title>Definisi Tasawuf</title><content type="html">Definisi Tasawuf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah "tasawuf"(sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian. Menurut pendapat lain kata itu berasal dari kata kerja bahasa Arab safwe yang berarti orang-orang yang terpilih. Makna ini sering dikutip dalam literatur sufi. Sebagian berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti baris atau deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertama dalam salat atau dalam perang suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lainnya lagi berpendapat bahwa kata itu berasal dari shuffa, ini serambi rendah terbuat dari tanah liat dan sedikit nyembul di atas tanah di luar Mesjid Nabi di Madinah, tempat orang-orang miskin berhati baik yang mengikuti beliau sering duduk-duduk. Ada pula yang menganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba, yang me- nunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batin kurang mempedulikan penampilan lahiriahnya dan sering memakai jubah sederhana yang terbuat dari bulu domba sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun asalnya, istilah tasawuf berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencerahan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting diperhatikan bahwa istilah ini hampir tak pernah digunakan pada dua abad pertama Hijriah. Banyak pengritik sufi, atau musuh-musuh mereka, mengingatkan kita bahwa istilah tersebut tak pernah terdengar di masa hidup Nabi Muhammad saw, atau orang sesudah beliau, atau yang hidup setelah mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di abad kedua dan ketiga setelah kedatangan Islam (622), ada sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi, atau menggunakan istilah serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti bahwa mereka mengikuti jalan penyucian diri, penyucian "hati", dan pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa sekalipun mereka tidak melihat Dia, Dia melihat mereka. Inilah makna istilah tasawuf sepanjang zaman dalam konteks Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kutipkan di bawah ini beberapa definisi dari syekh besar sufi: &lt;br /&gt;Imam Junaid dari Baghdad (m.910) mendefinisikan tasawuf sebagai "mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah". Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m.1258), syekh sufi besar dari Arika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai "praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan". Syekh Ahmad Zorruq (m.1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut: &lt;br /&gt;Ilmu yang dengannya Anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan Islam,khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia menambahkan, "Fondasi tasawuf ialah pengetahuan tentang tauhid, dan setelah itu Anda memerlukan manisnya keyakinan dan kepastian; apabila tidak demikian maka Anda tidak akan dapat mengadakan penyembuhan 'hati'."&lt;br /&gt;Menurut Syekh Ibn Ajiba (m.1809): &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnva adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh as-Suyuthi berkata, "Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari banyak ucapan yang tercatat dan tulisan tentang tasawuf seperti ini, dapatlah disimpulkan bahwa basis tasawuf ialah penyucian "hati" dan penjagaannya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Penciptanya. Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk menyucikan "hati"-nya dan menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Islam tradisional tasawuf berdasarkan pada kebaikan budi ( adab) yang akhirnya mengantarkan kepada kebaikan dan kesadaran universal. Ke baikan dimulai dari adab lahiriah, dan kaum sufi yang benar akan mempraktikkan pembersihan lahiriah serta tetap berada dalam batas-batas yang diizinkan Allah, la mulai dengan mengikuti hukum Islam, yakni dengan menegakkan hukum dan ketentuan-ketentuan Islam yang tepat, yang merupakan jalan ketaatan kepada Allah. Jadi, tasawuf dimulai dengan mendapatkan pe ngetahuan tentang amal-amal lahiriah untuk membangun, mengembangkan, dan menghidupkan keadaan batin yang sudah sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah keliru mengira bahwa seorang sufi dapat mencapai buah-buah tasawuf, yakni cahaya batin, kepastian dan pengetahuan tentang Allah (ma'rifah) tanpa memelihara kulit pelindung lahiriah yang berdasarkan pada ketaatan terhadap tuntutan hukum syariat. Perilaku lahiriah yang benar ini-perilaku--fisik--didasarkan pada doa dan pelaksanaan salat serta semua amal ibadah ritual yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw untuk mencapai kewaspadaan "hati", bersama suasana hati dan keadaan yang menyertainya. Kemudian orang dapat majupada tangga penyucian dari niat rendahnya menuju cita-cita yang lebih tinggi, dari kesadaran akan ketamakan dan kebanggaan menuju kepuasan yang rendah hati (tawadu') dan mulia. Pekerjaan batin harus diteruskan da1am situasi lahiriah yang terisi dan terpelihara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.cybermq.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-4367720474824031945?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/cRRiBoR_pKk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/4367720474824031945/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=4367720474824031945" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/4367720474824031945?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/4367720474824031945?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/cRRiBoR_pKk/definisi-tasawuf.html" title="Definisi Tasawuf" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/11/definisi-tasawuf.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0IAQXw8eip7ImA9WB9SFE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-5844818313703150486</id><published>2007-10-03T21:22:00.001+07:00</published><updated>2007-10-03T21:25:40.272+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-10-03T21:25:40.272+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Romadhon" /><title>I'tikaf</title><content type="html">I'tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari'ah agama, I'tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda :&lt;br /&gt;عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان ، متفق عليه .&lt;br /&gt;" Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw. biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;عن أبي هريرة رضى الله عنه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما ـ رواه البخاري.&lt;br /&gt;"  Dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rasulullah SAW. biasa beri'tikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah beri'tikaf selama dua puluh hari. (Hadist Riwayat Bukhori).&lt;br /&gt; Sebagian ulama mengatakan bahwa ibadah I'tikaf hanya bisa dilakukan dengan berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan I'tikaf.&lt;br /&gt;1. Dalam rangka menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam rangka pencapaian ketakwaan hamba.&lt;br /&gt;2. Sebagai salah satu bentuk penghormatan kita dalam meramaikan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah swt.&lt;br /&gt;3. Menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat 97:3.&lt;br /&gt;4. Membina rasa kesadaran imaniyah kepada Allah dan tawadlu' di hadapan-Nya, sebagai mahluk Allah yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukun I'tikaf.&lt;br /&gt;I'tikaf dianggap syah apabila dilakukan di masjid dan memenuhi rukun-rukunnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Niat. Niat adalah kunci segala amal hamba Allah yang betul-betul  mengharap ridla dan pahala dari-Nya.&lt;br /&gt;2. Berdiam di masjid. Maksudnya dengan diiringi dengan tafakkur, dzikir, berdo'a dan lain-lainya.&lt;br /&gt;3. Di dalam masjid. I'tikaf dianggap syah bila dilakukan di dalam masjid, yang biasa digunakan untuk sholat Jum'ah. Berdasarkan hadist Rasulullah saw. &lt;br /&gt;" ولا اعتكاف إلا في مسجد جامع ـ رواه أبو داود.&lt;br /&gt;"Dan tiada I'tikaf kecuali di masjid jami' (H.R. Abu Daud)&lt;br /&gt;4. Islam dan suci serta akil baligh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara ber-I'tikaf.&lt;br /&gt;1. Niat ber-I'tikaf karena Allah. Misalnya dengan mengucapkan : Aku berniat I'tikaf karena Allah ta'ala. &lt;br /&gt;نويت الاعتكاف لله تعالى&lt;br /&gt;2. Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak berzikir, tafakkur, membaca do'a, bertasbih dan memperbanyak membaca Al-Qur'an.&lt;br /&gt;3. Diutamakan memulai I'tikaf setelah shalat subuh, sebagaimana hadist Rasulullah saw. &lt;br /&gt;وعنها رضى الله عنها قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أراد أن يعتكف صلى الفجر ثم دخل معتكفة "ـ متفق عليه .&lt;br /&gt;"Dan dari Aisyah, ia berkata bahwasannya Nabi saw. apabila hendak ber-I'tikaf beliau shalat subuh kenudian masuk ke tempat I'tikaf. (H.R. Bukhori, Muslim)&lt;br /&gt;4. Menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. Dan disunnahkan memperbanyak membaca: &lt;br /&gt;أللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا&lt;br /&gt;Ya Allah sesungguhnya Engkau Pemaaf, maka maafkanlah daku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Waktu I'tikaf.&lt;br /&gt;1. Menurut mazhab Syafi'i I'tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber-I'tikaf. Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat I'tikaf maka syahlah I'tikafnya.&lt;br /&gt;2. I'tikaf dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang lebih utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh hadist di atas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal-hal yang membatalkan I'tikaf.&lt;br /&gt;1. Berbuat dosa besar.&lt;br /&gt;2. Bercampur dengan istri.&lt;br /&gt;3. Hilang akal karena gila atau mabuk.&lt;br /&gt;4.Murtad (keluar dari agama).&lt;br /&gt;5. Datang haid atau nifas dan semua yang mendatangkan hadas besar.&lt;br /&gt;6. Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak atau uzur, karena maksud I'tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan hanya untuk ibadah.&lt;br /&gt;7. Orang yang sakit dan  membawa kesulitan dalam melaksanakan I'tiakf.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hikmah Ber-I'tikaf .&lt;br /&gt;1. Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah.&lt;br /&gt;2. Seseorang yang tinggal di masjid mudah untuk memerangi hawa nafsunya, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan  jiwa.&lt;br /&gt;3. Masjid merupakan madrasah ruhiyah yang sudah barang tentu selama sepuluh hari ataupun lebih hati kita akan terdidik untuk selalu suci dan bersih.&lt;br /&gt;4. Tempat dan saat yang baik untuk menjemput datangnya Lailatul Qadar.&lt;br /&gt;5. I'tikaf adalah salah satu cara untuk meramaikan masjid.&lt;br /&gt;6. Dan ibadah ini adalah salah satu cara untuk menghormati bulan suci Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.pesantrenvirtual.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-5844818313703150486?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/1yapGP6IR1k" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/5844818313703150486/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=5844818313703150486" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/5844818313703150486?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/5844818313703150486?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/1yapGP6IR1k/itikaf.html" title="I'tikaf" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/10/itikaf.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU4DSHc4eCp7ImA9WB9SE0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-5936195718591476430</id><published>2007-10-02T16:37:00.000+07:00</published><updated>2007-10-02T16:39:39.930+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-10-02T16:39:39.930+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Romadhon" /><title>GHIBAH DAN PUASA</title><content type="html">Dari 'Ubaid r.a, dia berkata : "Di masa Rasulullah S.A.W , beliau memerintahkan orang-orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah S.A.W , untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka.&lt;br /&gt;Sesampainya utusan tsb kepada Rasulullah S.A.W , beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kedua wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah S.A.W bersabda : "Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah 'daging-daging' mereka yang dipergunjingkan." (Hadits Riwayat Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)&lt;br /&gt;"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan yang haram." (Al-Qur'an Surat Al-Maidah : 42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. " (Al-Qur'an Surat Al-Hujuraat:12)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SUDAHKAH KITA MENJAGA PUASA KITA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah S.A.W bersabda : "Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil." (Hadits Riwayat Bukhari - Muslim)&lt;br /&gt;"Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat." (Hadits Riwayat Al-Azdiy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah SWT tidak berhajat kepada puasanya." (Hadits Riwayat Bukhari)&lt;br /&gt;“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar." (Hadits Riwayat Turmudzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Ghazali berkata : "Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu, selain lapar dan haus. Sebab puasa itu bukanlah semata-mata menahan lapar dan haus, akan tetapi adalah menahan hawa nafsu. Boleh jadi orang tersebut berdusta, menggunjing dan memandang dengan syahwat, sehingga yang demikian itu membatalkan hakikat puasa." (Ihya' Ulumiddin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Ulama berkata: "Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa." Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain." (Ihya' Ulumiddin) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah S.A.W bersabda : "Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanahnya." (Hadits Riwayat Al-Kharaithy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita menjaga puasa kita?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-5936195718591476430?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/c-DQtNouo3o" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/5936195718591476430/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=5936195718591476430" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/5936195718591476430?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/5936195718591476430?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/c-DQtNouo3o/ghibah-dan-puasa.html" title="GHIBAH DAN PUASA" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/10/ghibah-dan-puasa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C08BRXw6eSp7ImA9WB9SE00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-3922178753496602618</id><published>2007-10-02T12:08:00.000+07:00</published><updated>2007-10-02T12:10:54.211+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-10-02T12:10:54.211+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Romadhon" /><title>Jadwal Kegiatan Ramadhan</title><content type="html">&lt;object width="450" height="500"&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="SameDomain" /&gt;&lt;param name="movie" value="http://static.scribd.com/FlashPaperS3.swf?guid=caytdpxklpsum&amp;document_id=280100&amp;page=1" /&gt;&lt;param name="scale" value="noScale"&gt; &lt;embed width="450" height="500" scale="noScale" src="http://static.scribd.com/FlashPaperS3.swf?guid=caytdpxklpsum&amp;document_id=280100&amp;page=1" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-3922178753496602618?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/wvhe2IJpT1I" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/3922178753496602618/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=3922178753496602618" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/3922178753496602618?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/3922178753496602618?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/wvhe2IJpT1I/jadwal-kegiatan-ramadhan.html" title="Jadwal Kegiatan Ramadhan" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/10/jadwal-kegiatan-ramadhan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0AGQH09fyp7ImA9WB5bEE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-8979537867465977793</id><published>2007-08-25T09:34:00.000+07:00</published><updated>2007-08-25T09:42:01.367+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-08-25T09:42:01.367+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Romadhon" /><title>Puasa Secara Takhalli, Tahalli dan Tajalli</title><content type="html">Drs. Syamsuri, MA. - Tim Penulis Ensiklopedi Tasawuf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini banyak orang yang berpuasa tetapi tidak berbekas. Sebab menurut dosen sekaligus Ketua Jurusan Aqidah Filsafat &amp; Pemikiran Politik Islam pada UIN Jakarta ini, mereka tidak memenuhi kriteria puasa secara sufistik. Apa saja kriteria puasa secara sufistik itu? Berikut petikan wawancara Sufi dengan kandidiat doktor yang tengah menyelesaikan penelitian disertasi tentang Tasawuf Seyyed Hossein Nasr pada Pascasarjana UIN Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang anda ketahui bagaimana pandangan kaum sufi pada umumnya mengenai hakikat ibadah, terutama ibadah puasa?&lt;br /&gt;Pertama-tama, ibadah apapun bagi kaum sufi secara umum bisa dikerangkakan ke dalam tiga langkah atau tahapan, yaitu takhalli, tahalli dan tajalli. Takhalli secara bahasa berarti mengosongkan, dalam terminologi tasawuf berarti membersihkan diri dari berbagai dosa yang mengotori jiwa, baik dari dosa lahir maupun dari dosa batin, atau istilah al-Ghazali itu penyakit hati. Yang dimaksud dosa lahir di sini adalah setiap perbuatan dosa yang melibatkan aspek fisik atau badan jasmani kita. Contohnya seperti membunuh, berzina, merampok, mencuri, mabuk-mabukan, menyalahgunakan narkoba dan sebagainya. Adapun yang termasuk dosa batin atau dosa yang timbul dari aktivitas hati antara lain berdusta, menghina orang lain, memfitnah, ghibah, dendam, iri, dengki, riya, ujub, takabur dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tahalli secara bahasa berarti menempatkan atau mengisi. Dalam dunia tasawuf berarti mengisi atau menghiasi diri dengan berbagai amal saleh, baik amalan lahir maupun amalan batin. Atau kalau lebih dalam lagi, berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji dengan “meniru” akhlak atau sifat-sifat Allah serta meneladani akhlak Rasul Allah. Dalam kaitan ini misalnya ada hadits yang sudah cukup populer karena sering dikutip, takhallaqu bi akhlaqillah. Mengenai keteladanan Rasul ada ayat, laqad kana lakum fi rasullillah uswatun hasanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tajalli merupakan hasil atau buah dari dua langkah sebelumnya, takhalli dan tahalli, yang berupa tersingkapnya selubung atau hijab yang menghalangi seorang manusia dengan Tuhan, sehingga ia benar-benar dekat dengan Allah, sudah benar-benar merasakan kehadiran Allah secara intens. Bahkan pengalaman spiritual yang lebih intens lagi melalui proses tajalli ini adalah bersanding, bahkan bersatu dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa manusia itu dapat terjebak pada perbuatan dosa?&lt;br /&gt;Jadi begini! Dalam pandangan kaum sufi, kualitas ruhani manusia itu pada dasarnya adalah suci, dalam istilah agama disebut fitrah, karena memang ia bersumber dari Allah SWT langsung. Nabi sendiri pernah bersabda: “Setiap (bayi) yang dilahirkan pada mulanya bersifat suci (fitrah), kedua orangtuanya lah yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Jadi kualitas ruhani manusia itu sebermulanya laksana kaca yang sangat bening, yang dapat menerima dan memantulkan kembali dengan sempurna setiap cahaya yang datang. Demikian halnya jiwa yang suci dapat menerima dengan sempurna cahaya kebenaran (hidayah) dari Tuhan untuk kemudian memantulkannya kembali dengan sempurna dalam bentuk akhlaq al-karimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan takhalli?&lt;br /&gt;Seperti ibadah-ibadah lainnya, puasa bagi kaum sufi adalah sebagai sarana atau media untuk melakukan takhalli, tahalli, dan pada akhirnya mencapai tajalli. Bahkan, dibanding dengan ibadah-ibadah lainnya, puasa merupakan media atau sarana yang paling lengkap untuk melakukan ketiga langkah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi makna puasa secara sufistik itu?&lt;br /&gt;Puasa, secara bahasa berarti imsak (menahan, menghentikan, atau mengendalikan). Dalam dunia tasawuf, yang dimaksud puasa adalah menahan atau mengendalikan hawa nafsu, yang kalau ia tidak terkendali akan menjadi sumber dan penyebab terjadinya berbagai dosa dan kejahatan, baik dosa lahir maupun dosa batin yang dapat mengotori dan merusak kesucian jiwa. Jadi lingkup hawa nafsu di sini bukan cuma mengekang nafsu makan dan nafsu seksual saja. Pengendalian nafsu yang merupakan inti dari puasa itu dengan sendirinya dapat menghindarkan manusia dari segala dosa, yang dalam istilah tasawuf disebut dengan takhalli tadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti harus bertakhalli?&lt;br /&gt;Ya! Sebab orang yang berpuasa tetapi masih juga melakukan berbagai dosa, baik dosa lahir maupun dosa batin, berarti dia tidak mampu mengendalikan nafsu, dan karena itu puasa yang dilakukannya tidak bernilai sama sekali. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, pada bulan Ramadan ada seorang wanita mencaci maki pembantunya. Ketika Rasalullah mengetahui kejadian tersebut, beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan dan memanggil wanita itu, lalu Rasulullah bersabda, "makanlah makanan ini". Wanita itu menjawab, “saya ini sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasululah bersabda lagi, "Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesunguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa banyaknya orang yang berpuasa, dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa orang yang hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi tidak sanggup mewujudkan pesan moral di balik ibadah puasa itu, yaitu berupa takhalli dari dosa lahir dan batin, maka puasanya itu tidak lebih dari sekedar orang-orang yang lapar saja. Hal ini sesuai juga dengan hadits Nabi yang lain, "Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa kriteria kedua?&lt;br /&gt;Yaitu harus menempuh proses tahalli! Jadi puasa juga melatih orang untuk bertahalli, yakni mengisi dan memenuhi jiwa dengan berbagai perbuatan dan akhlak yang baik. Karena itu, walaupun tidur orang yang berpuasa masih dinilai ibadat, dia juga disunnahkan untuk banyak-banyak melakukan ibadat, seperti salat malam atau qiyam al-lail dengan tarawih dan tahajjud, membaca al-Qur'an, yakni tadarrus dan tadabbur, i'tikaf di masjid, banyak berzikir dan berdoa, banyak bersedekah, menolong orang yang kelaparan dan kesusahan, dan berbagai amal saleh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa juga selalu dikaitkan dengan taqwa?&lt;br /&gt;Tujuan utama puasa sesuai dengan penjelasan al-Qur'an adalah untuk mencetak manusia bertaqwa, yang memiliki karakteristik antara lain: beriman pada yang gaib, menegakkan salat, berinfak, beriman pada al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya, yakin akan terjadinya akhirat, mendapat hidayah dan selalu memperoleh kemenangan atau kebahagiaan. Atau adalam rumusan lain memiliki sifat dermawan, mampu mengendalikan emosi, pemaaf, mawas diri (selalu instrospeksi diri) dan selalu berbuat baik (produktif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang taqwa juga selalu menegakkan salat dalam arti selalu memenuhi aktifitas hidup dan jiwanya dengan berbagai macam ibadat, membaca ayat Allah, zikir, doa dan amal saleh lainnya baik berupa lahir maupun batin. Orang yang menegakkan shalat juga selalu terhindar dari segala macam dosa dan maksia, karena salat akan menjadi penjegah orang taqwa dari segala perbuatan dan akhlak yang keji dan munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang taqwa juga bersifat dermawan, memiliki kepekaan atau solidaritas sosial yang tinggi, sehingga ia selalu menolong orang yang lemah, menggunakan segala kekuasaan dan kekayaannya untuk menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama, tidak bersifat rakus, tamak, egois dan individualis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang taqwa juga mampu mengendalikan emosi, dia akan tetap berpikir dingin dan jernih meskipun dalam kondisi terjepit atau terpepet; dia akan tetap dapat berbuat adil meskipun terhadap musuh atau orang yang dibencinya. Dia juga akan selalu bersifat lapang dada, menerima dan memaafkan kesalahan orang lain meskipun itu sangat menyakitkan.&lt;br /&gt;Orang taqwa juga selalu mawas diri, senantiasa menerima kritikkan orang lain demi kebaikan, karena itu ia selalu berskap inklusif, terbuka dan selalu menghargai pendapat dan informasi orang lain, meskipun hal itu berbeda atau bertentangan dengan pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang taqwa juga yakin pada akhirat, dalam arti selalu berorientasi masa depan, tidak mengejar keseanangan dan kebahagiaan sesaat yang menipu, menghargai waktu, selalu bersikap produktif inovatif, hemat dalam menggunakan energi dan fasilitas, tidak bermewah-mewah apalagi memamerkan kekayaan, hidup sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pandangan kaum sufi mengenai malam lailatul qadar?&lt;br /&gt;Malam Qadr, malam yang ditentukan, malam yang istimewa, yang juga disebut malam penuh berkah itu, dalam terminologi tasawuf digunakan untuk menggambarkan kondisi puncak spiritual Nabi Muhammad SAW, yakni pencapaian tajalli, tersingkapnya hijab atau dinding yang menghalangi beliau dengan Tuhannya. Karena itu al-Qur'an menggambarkanya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana Malaikat Jibril mewakili Tuhan bertanazzul ke dalam jiwa Nabi Muhammad, menerima wahyu berupa al-Qur'an, dengan izin Allah, dan membawa kedamaian, keselamatan dan kebahagian sampai terbit fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah mencapai tajalli, yang digambarkan dengan lailat al-qadr, setelah beliau menjalani tahapan takhalli dan tajalli dengan tahannuts di gua Hira dan ibadah puasa. Malaikat (yang mewakili Allah) bertanazzul pada malam itu, dapat diartikan Nabi Muhammad telah berhasil mendekati Allah, bersanding bahkan bersatu dengan-Nya. Segala sifat-sifat atau nilai-nilai ketuhanan telah merasuk atau mengalami internalisasi dalam jiwa Nabi Muhammad. Nabi Muhammad juga memperoleh pencerahan berupa wahyu al-Qur'an, sebagai anugerah Allah, yang berfungsi sebagai pedoman dan petunjuk dalam mengarungi hidup dan kehidupan, yang akan mengantar umat manusia pada kedamaian, keselamatan dan kebahagiaan; dan akan membawa fajar kehidupan baru yang lebih baik seribu kali lipat dibandingkan kondisi kehidupan umat manusia sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan lailatur qadar bagi umat Islam pada umumnya?&lt;br /&gt;Orang yang mengikuti langkah Nabi Muhammad bertakhalli dan tahalli dengan ibadah puasa juga akan berhasil mencapai tajalli, memperoleh lailat al-qadr, walaupun kualitasnya tidak sama dengan yang dicapai oleh Nabi Muhammad sendiri. Ia bisa mendapat tanazzul, bersanding dan bersatu dengan Tuhan, menyerap sifat-sifat, nilai-nilai dan cahaya ketuhanan; memperoleh pencerahan berupa ilham dan inspirasi kebaikan; memantulkan kembali sifat-sifat dan nilai-nilai ketuhanan dengan membawa kedamaian, keselamatan dan kebahagiaan bagi diri dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeknya, orang yang mencapai lailat al-qadr akan mengalami revolusi spiritual, ia memiliki kualitas jiwa yang jauh lebih baik dibandingkan manusia lainnya. Namun demikian, kualitas tajalli atau lailat al-qadr yang akan dicapai tiap orang yang berpuasa itu akan berbeda-beda, demikian juga waktu pencapaiannya, tergantung pada intensitas dan kegigihan masing-masing dalam melakukan takhalli dan tahalli dengan atau selama menjalani puasanya itu. Karena itu, bisa jadi ada yang berhasil menjumpai lailat al-qadr pada tanggal 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadan. Inilah yang dimaksud bahwa lailat al-qadr akan datang pada tanggal-tanggal ganjil sepertiga terakhir bulan Ramadan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.sufinews.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-8979537867465977793?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/voqxi3ArnGs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/8979537867465977793/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=8979537867465977793" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/8979537867465977793?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/8979537867465977793?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/voqxi3ArnGs/puasa-secara-takhalli-tahalli-dan.html" title="Puasa Secara Takhalli, Tahalli dan Tajalli" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/08/puasa-secara-takhalli-tahalli-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ak4FRnszcSp7ImA9WB5bEE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-2035031741666112372</id><published>2007-08-25T09:19:00.000+07:00</published><updated>2007-08-25T09:28:37.589+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-08-25T09:28:37.589+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Romadhon" /><title>Keutamaan Bulan Sya'ban</title><content type="html">Firman Alloh,”Innaloha wa malaikatahu yusholluna ala nabi, ya ayyuhaladzina amanu shollu alaihi wa salimu taslima”&lt;br /&gt;artinya,” Sesungguhnya Alloh dan malaikatNya bersholawat pada Nabi (Muhammad), wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah pada Nabi (Muhammad)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi,”Bulan Rojab adalah bulan Alloh, bulan Sya’ban adalah bulanku, dan bulan Romadhon adalah bulannya Alloh, tetapi sedikit yang mengingat Sya’ban”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sedikit yang meningat bulan Sya’ban. Sebagai bulannya Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapakah bulan Sya’ban disandarkan pada Nabi Muhammad SAW ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah, turunnya ayat di atas, yaitu tentang perintah bersholawat, Firman Alloh,”Innaloha wa malaikatahu yusholluna ala nabi, ya ayyuhaladzina amanu shollu alaihi wa salimu taslima”, ayat tersebut turunnya adalah di dalam bulan Sya’ban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itulah, pada bulan ini, bagi orang-orang tasawuf (yang mendalami melalui thoriqoh), merupakan kesempatan besar untuk mendekatkan diri pada nabi Muhammad, melalui memperbanyak membaca sholawat, dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bagi orang yang perempuan yang lagi berhalangan, tidak diperkenankan untuk sholat, tetapi membaca sholawat pada Nabi adalah merupakan ibadah yang tetap boleh dilaksanakan oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perhatikanlah firman Alloh di atas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Alloh bersholawat pada Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Malaikat bersholawat pada Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Orang-orang yang beriman bersholawat pada Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada tiga macam sholawat pada Nabi Muhammad. SholawatNya Alloh, Sholawatnya malaikat dan sholawatnya orang-orang mukmin. Yang masing-masing adalah berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi umumnya pemahaman, bersholawat (sholawatnya orang mukmin) adalah MENGHADIAHI do’a pada Nabi. Bagi sebagian lagi orang awam, bersholawat pada Nabi adalah mendo’akan Nabi Muhammad agar senantiasa diberi KESELAMATAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menurut pemahaman yang saya yakini, dua pendapat umum di atas adalah kurang tepat dan akan membuka peluang bagi orang agama lain untuk menyerang agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah, Nabinya Islam itu masih meminta di do’akan supaya selamat, maka jelas berarti Nabi Muhammad adalah BELUM selamat. Ya lebih baik beragama Kristen, karena Yesus tidak minta dido’akan selamat lagi, karena Dia adalah Juru selamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah seandainya kita ditanya seperti itu ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah MENGHADIAHI do’a pada nabi Muhammad. Hadiah itu diberikan dari seseorang yang “berlebih”, pada seseorang yang “kurang”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beranikah kita mengatakan derajat kita MELEBIHI derajatnya Nabi  Muhammad SAW??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sama artinya menaburkan garam ke dalam lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Nguyahi segoro”, -bhs Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimanakah semestinya ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang berpendapat, bahwa ibaratnya kita membaca sholawat itu, seperti menambahi air di satu tempat, sedangkan di tempat itu airnya sudah penuh, maka air yang kita tambahkan akan jatuh kembali pada diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga sama saja kurang tepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahamilah ini benar-benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Nabi Muhammad itu adalah sebaik-baiknya manusia dan semulia mulianya manusia. Beliaulah yang dapat memberikan SYAFA’AT pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliaulah USWATUN HASANAH, beliaulah WASILATUL UDMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu bagaimanakah semestinya iktiqod kita di saat bersholawat ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sholawat” akar katanya adalah “Shollu”. Sama dengan akar kata dari “Sholat”, yang “Shollu” itu berarti “HUBUNGAN”, pada saat kita membaca sholawat pada Nabi, ibarat kita memasang suatu jalur penghubung antara kita pada Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau itu sama artinya kita menjalin KOMUNIKASI dengan nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah mestinya IKTIQOD kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengharap syafaat beliau, mengharap petunjuk beliau, mengharap limpahan rohmat beliau, sebagaimana yang sudah kita pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“TAAT pada ROSULULLOH sama dengan TAAT pada ALLOH”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak akan sampai pada ALloh kecuali melalui Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita pernah berpikir bahwa ALloh mengajarkan Islam secara langsung pada kita ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak......., melainkan Melalui beliaulah(Muhammad), Alloh menurunkan ajaran Islam pada seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliaulah WASILATUL ‘UDMA, atau “WASILAH YANG AGUNG”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian melalui para Ulama “Warosatul Anbiya” atau Ulama yang mewarisi ilmu-ilmu para nabi-lah kita memperoleh pengajaran dan keterangan tentang agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak langsung dari Alloh seketika, pada kita, melainkan melalui perantara beliau-beliau itu, para alim ulama, para tabiin, para sahabat dan melalui Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itulah Alloh memerintahkan pada kita di Al-Qur’an untuk mencari PERANTARA atau WASILAH yang dapat mendekatkan diri pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat juga berdo’a dengan memanfaatkan PERANTARA Muhammad, Paman Muhammad, Ibnu Abbas, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada keutamaan bulan Sya’ban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan ini, sekali lagi merupakan kesempatan kita mendekatkan diri pada Nabi Muhammad SAW melalui banyak-banyaklah membaca sholawat pada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholawatnya Alloh pada Muhammad adalah berbeda dengan sholawatnya malaikat pada Nabi Muhammad, dan berbeda pula dengan sholawatnya orang mukmin pada Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholawatnya malaikat adalah berbeda dengan sholawatnya Alloh pada Muhammad dan berbeda pula dengan sholawatnya orang mukmin pada Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Pada tanggal 15 Sya’ban atau nisfu sya’ban, merupakan puncak keistimewaan bulan ini, dan sungguh-sungguh sangat merugi orang yang tidak mau memanfaatkan tanggal tersebut untuk memohon pada Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 15 Sya’ban itu-lah turun 300 rohmat, sebagaimana berita Jibril pada Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada tanggal 15 Sya’ban inilah seandainya catatan “pencabutan nyawa seseorang” untuk tahun depan sudah akan berlaku, pada malam 15 Sya’ban ini, catatan itu turun pada malaikat pencabut nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok orang-orang tasawuf memanfaatkan malam ini untuk memohon pada Alloh, agar seandainya catatan itu untuk kita sudah turun, mohon supaya ditangguhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Di Jombang Ploso Jawa Timur, dengan dipimpin oleh Syech Muchammad Muchtar bin al-Haj abdul Mu’thi - Mursyid thoriqoh Shiddiqiyyah-, biasanya diajak berdo’a bersama untuk beberapa permohonan, salah satunya adalah tentang masalah itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Sya’ban ini marilah, saya mengajak saudara-saudara seiman, untuk benar-benar memanfaatkan hari-hari, jam-jam, bahkan tiap detik, untuk dijaga agar tidak lepas HUBUNGAN dengan Nabi Muhammad SAW, melalui bacaan-bacaan sholawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wasalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.huttaqi.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-2035031741666112372?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/exITDANRFAM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/2035031741666112372/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=2035031741666112372" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/2035031741666112372?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/2035031741666112372?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/exITDANRFAM/keutamaan-bulan-syaban.html" title="Keutamaan Bulan Sya'ban" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/08/keutamaan-bulan-syaban.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk4ARnw_eip7ImA9WB5WEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-8869378026025206486</id><published>2007-07-21T20:34:00.000+07:00</published><updated>2007-07-21T20:35:47.242+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-21T20:35:47.242+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tokoh Muslim" /><title>Ibnu Taimiyah</title><content type="html">Demi Allah, tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang bodoh atau pengikut hawa nafsu. Qodhinya para qadhi Abdul Bar As-Subky&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMA DAN NASAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah imam, Qudwah, `Alim, Zahid dan Da`i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah daan penghidup sunah Rasul shalallahu`alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu`ul Awal tahun 661H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta`ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur`an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu`jam At-Thabarani Al-Kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu`alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha` dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUJIAN ULAMA Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah ….. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam serta lebih ittiba` dibandingkan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-`Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma`ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta`dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DA`I, MUJAHID, PEMBASMI BID`AH DAN PEMUSNAH MUSUH Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da`i yang tabah, liat, wara`, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: …tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari… Akhirnya dengan izin Allah Ta`ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEHIDUPAN PENJARA Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal`ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tiada pernah tinggalkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, terpenjaraku adalah khalwat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematianku adalah mati syahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pernah berkata dalam penjara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid`ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari`at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid`ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAFATNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-`Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berada di penjara ini selamaa dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur`an. Dikisahkan, dalam tiah harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur`an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara`, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang saksi mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah musuh. Wallahu a`lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinukil dari buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli, cet II 1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma`rifah–Dimasyq. hal. Depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Taimiyah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-8869378026025206486?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/5P-jmxlmLx8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/8869378026025206486/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=8869378026025206486" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/8869378026025206486?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/8869378026025206486?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/5P-jmxlmLx8/ibnu-taimiyah.html" title="Ibnu Taimiyah" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/07/ibnu-taimiyah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkAARH0-eSp7ImA9WB5WEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-2052721036459222052</id><published>2007-07-21T20:30:00.000+07:00</published><updated>2007-07-21T20:32:25.351+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-21T20:32:25.351+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tokoh Muslim" /><title>Ibnu Araby</title><content type="html">Ibnu 'Araby dikenal luas sebagai ulama besar yang banyak pengaruhnya dalam percaturan intelektualisme Islam. Ia memiliki sisi kehidupan unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali. Lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M, di Kota Marsia, ibukota Andalusia Timur (kini Spanyol), Ibnu 'Araby bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim. Ia biasa dipanggil dengan nama Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu 'Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul Ahmar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh besar di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan. Sikap demikian kelak ditanamkan kuat pada anak-anaknya, tak terkecuali Ibnu 'Araby. Sementara ibunya bernama Nurul Anshariyah. Pada 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan inilah menjadi awal sejarah yang mengubah kehidupan intelektualisme 'Araby kelak; terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibnu 'Araby. Kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fikih dan sastra. Karena itu, tidak heran jika ia kemudian dikenal bukan saja sebagai ahli dan pakar ilmu-ilmu Islam, tetapi juga ahli dalam bidang astrologi dan kosmologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Ibnu 'Araby belajar pada banyak ulama, seperti Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy, Abul Qasim asy-Syarrath, dan Ahmad bin Abi Hamzah untuk pelajaran Alquran dan Qira'ahnya, serta kepada Ali bin Muhammad ibnul Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun'im al-Khazrajy, untuk masalah fikih dan hadis madzhab Imam Malik dan Ibnu Hazm Adz-Dzahiry, Ibnu 'Araby sama sekali tidak bertaklid kepada mereka. Bahkan ia sendiri menolak keras taklid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu 'Araby membangun metodologi orisinal dalam menafsirkan Alquran dan Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang. "Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu dengan hati kosong dari kontemplasi pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bermunajat dan dialog dengan Allah di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima apa yang datang dari-Nya, sehingga Al-Haq benar-benar melimpahkan ajaran bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat... dan semoga Allah memberikan pengetahuan kepada kalian semua..." ujar Ibnu 'Araby suatu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jalan tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perjalanan intelektualismenya, Ibnu 'Araby akhirnya menempuh jalan halaqah sufi (tarekat) dari beberapa syeikhnya. Setidaknya, ini terlihat dari apa yang ia tulis dalam salah satu karya monumentalnya Al-Futuhatul Makkiyah, yang sarat dengan permasalahan sufisme dari beberapa syeikh yang memiliki disiplin spiritual beragam. Pilihan ini juga yang membuat ia tak menyukai kehidupan duniawi, sebaliknya lebih memusatkan pada perhatian ukhrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kepentingan ini, ia tak jarang melanglang buana demi menuntut ilmu. Ia menemui para tokoh arif dan jujur untuk bertukar dan menimba ilmu dari ulama tersebut. Tidak mengherankan bila dalam usia yang sangat muda, 20 tahun, Ibnu 'Araby telah menjadi sufi terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, tarekat sufi dibangun di atas empat cabang, yakni: Bawa'its (instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); Dawa'i (pilar pendorong ruhani jiwa); Akhlaq, dan Hakikat-hakikat. Sementara komponen pendorongnya ada tiga hak. Pertama, hak Allah, adalah hak untuk disembah oleh hamba-Nya dan tidak dimusyriki sedikitpun. Kedua, hak hamba terhadap sesamanya, yakni hak untuk mencegah derita terhadap sesama, dan menciptakan kebajikan pada mereka. Ketiga, hak hamba terhadap diri sendiri, yaitu menempuh jalan (tarekat) yang di dalamnya kebahagiaan dan keselamatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hak Allah (hak pertama), dapat dilacak secara sempurna pada seluruh karya Ibnu 'Araby. Di sini, tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai cahaya hati, dan Alquran sebagai akhlaknya. Lalu naik ke tahap yang tak ada lagi selain al-Haq, yakni Allah SWT. Karakter Ibnu 'Araby senantiasa naik dan naik ke wilayah yang luhur. Kuncinya senantiasa bertambah rindu, dan hatinya jernih semata hanya bagi al-Haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara rahasia batinnya bermukim menyertai-Nya, tak ada yang lain yang menyibukkan dirinya kecuali Tuhannya. Ibnu 'Araby menggunakan kendaraan mahabbah (kecintaan), bermadzhab ma'rifah, dan ber-wushul tauhid. Ubudiyah dan iman satu-satunya dalam pandangan 'Araby hanyalah kepada Allah Yang Esa dan Mahakuasa, Yang Suci dari pertemanan dan peranakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara hak sesama makhluk, ia mengambil jalan taubat dan mujahadah jiwa, serta lari kepada-Nya. Ia gelisah ketika kosong atas tindakan kebajikan yang diberikan Allah, sebagai jalan mahabbah dan mencari ridha-Nya. Hak ini bersumber pada ungkapan ruhani dimana semesta alam yang ada di hadapannya merupakan penampilan al-Haq. Seluruh semesta bertasbih pada Sang Khaliq, dan menyaksikan kebesaran-Nya. Hak terhadap diri sendiri adalah menempuh kewajiban agar sampai pada tingkah laku ruhani dengan cara berakhlak yang dilandaskan pada sifat-sifat al-Haq, dan upaya penyucian dalam taman Zat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kontroversial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, tak sedikit yang menilai pandangan-pandangan filsafat tasawuf Ibnu 'Araby, terutama kaum fuqaha' dan ahli hadis, sebagai sangat kontroversial. Sebut saja, misalnya, teorinya tentang Wahdatul Wujud yang dianggap condong pada pantheisme. Salah satu sebabnya adalah lantaran dalam karya-karyanya itu Ibnu 'Araby banyak menggunakan bahasa-bahasa simbolik yang sulit dimengerti khususnya kalangan awam. Karenanya, tidak sedikit yang mengganggap 'Araby telah kufur, misalnya Ibnu Taimiyah, dan beberapa pengikutnya yang menilainya sebaga 'kafir'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pada akhirnya, Ibnu Taimiyah menerima pandangan Ibnu 'Araby setelah bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athaillah as-Sakandari asy-Syadzily di sebuah masjid di Kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu 'Araby. "Kalau begitu yang sesat itu adalah pandangan pengikut Ibnu 'Araby yang tidak memahami makna sebenarnya," komentar Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, ketersesatan memahami Ibnu 'Araby juga terjadi khususnya di Jawa, ketika aliran kebatinan Jawa Singkretik dengan tasawuf Ibnu 'Araby. Diskursus Manunggaling Kawula Gusti telah membuat penafsiran yang menyesatkan di kebatinan Jawa, yang sama sekali tidak pantas untuk dikaitkan dengan Wahdatul Wujud-nya Ibnu 'Araby. Bahkan di pulau padat penduduk ini, sudah melesat ke arah kepentingan jargon politik yang menindas atas nama Tuhan. Karena itulah, untuk memahami karya-karya dan wacana Ibnu 'Araby, harus disertai tarekat secara penuh, komprehensif dan iluminatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian para ulama dan orientalis, Ibnu Araby mempunyai sedikitnya 560 kitab dalam berbagai disiplin ilmu keagamaan dan umum. Malah ada yang mengatakan, termasuk risalah-risalah kecilnya, mencapai 2.000 judul. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al-Kabir yang terdiri 90 jilid, dan ensiklopedi tentang penafsiran sufistik, yang paling masyhur, yakni Futuhatul Makkiyah (8 jilid), serta Futuhatul Madaniyah. Sementara karya yang tergolong paling sulit dan penuh metafora adalah Fushushul Hikam. Dalam lentera karya dan pemikirannya itulah, ia begitu kuat mewarnai dunia intelektualisme Islam universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Araby&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-2052721036459222052?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/p9F5hhb5gic" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/2052721036459222052/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=2052721036459222052" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/2052721036459222052?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/2052721036459222052?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/p9F5hhb5gic/ibnu-araby.html" title="Ibnu Araby" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/07/ibnu-araby.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMARHYyfSp7ImA9WB5XF0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-5963667440655902899</id><published>2007-07-17T21:18:00.000+07:00</published><updated>2007-07-18T22:27:25.895+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-18T22:27:25.895+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita" /><title>Perhiasan Terindah adalah Wanita Shalehah</title><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khadijah - The True Love Story of Muhammad SAW&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzQMvYq0AI/AAAAAAAAAC0/oN3PV-4C3mY/s1600-h/khadijah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzQMvYq0AI/AAAAAAAAAC0/oN3PV-4C3mY/s200/khadijah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088170596318760962" /&gt;&lt;/a&gt;Tak dapat dipungkiri, Khadijah, istri Rasulullah saw., merupakan sosok yang fenomenal. Bukan saja memiliki perilaku yang mulia, Khadijah juga merupakan sosok yang cerdas dengan ketabahan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;la rela mengorbankan seluruh harta dan jiwanya untuk dakwah Rasulullah. Dengan kematangan, kebijaksanaan, dan integritas dirinya, Khadijah menyokong, membangkitkan tekad, dan mengobarkan semangat dakwah Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada wanita yang langsung menerima salam dari Allah, maka Khadijahlah orangnya. Peristiwa itu terjadi ketika Jibril mendatangi Rasulullah. Allah menjaga diri Khadijah dari segala cela, sehingga penduduk Mekah menjulukinya sebagai "wanita suci".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah pun menjadi wanita teristimewa bagi Rasulullah. Rasulullah selalu menyebut-nyebut nama Khadijah dan mengistimewakan teman-teman Khadijah, walau hingga Khadijah wafat. Inilah kisah Khadijah, cinta sejati Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wanita - Wanita Sekitar Rasulullah&lt;/span&gt; ; Oleh:  Umar Ahmad ar-Rawi&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzSkfYq0BI/AAAAAAAAAC8/clZ8yAr74mw/s1600-h/wanitarasul.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzSkfYq0BI/AAAAAAAAAC8/clZ8yAr74mw/s200/wanitarasul.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088173203363909650" /&gt;&lt;/a&gt;  "Sejarah adalah kumpulan perjalanan hidup orang besar." Kalimat diatas mungkin tidak terlalu tepat menggambarkan arti 'sejarah' yang sebenarnya, namun juga tidak terlalu melenceng karena begitu besarnya peranan seorang pelaku utama sejarah dalam sebuah alur sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Islam juga amat didominasi oleh perjalan hidup para pelakunya, terutama Muhammad Rasulullah saw. Kita mengenal banyak sosok pahlawan Islam di dalam diri sahabat-sahabat Rasulullah, baik dari kalangan kerabatnya, maupun kalangan yang jauh. Baik yang kemudian menjadi pemimpin umat maupun yang tetap menjadi orang biasa. Mereka itu tak hanya dari kalangan laki-laki, tapi juga banyak sahabat wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya banyak buku yang sudah ditulis tentang para pelaku sejarah permulaan Islam, tak banyak menampilkan tokoh wanita shahabiyah. Kalaupun ada, paling di seputar anak dan isteri Rasulullah saw. saja. Padahal peran para sahabat wanita itu tidak kalah besar dibanding sahabat laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengisi celah informasi sejarah ini, Umar Ahmad ar-Rawi menulis buku ini. Tak kurang dari 122 srikandi ditampilkan di buku laris ini. Mereka adalah wanita-wanita agung yang hidup di masa Rasulullah saw., dan yang setia bersama beliau dalam suka dan duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara mereka adalah ibunda, isteri, anak, dan kerabat dekat Rasulullah. Juga wanita yang menyusui dan mengasuh Nabi, serta para shahabiyah lainnya, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar. Diantara mereka ada pemimpin rumah tangga yang sukses, da'i penyebar agama Islam, pengusaha sukses, bahkan anggota pasukan perang yang gigih membela Rasulullah dengan darah dan nyawanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Renew Your Marriage - Kembali Menjaga Bahtera Kembali Memadu Cinta&lt;/span&gt; ; Oleh Mohammad Al-Kadhy, Psy. D &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzT4_Yq0CI/AAAAAAAAADE/A3fM4ppjjac/s1600-h/merriage.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzT4_Yq0CI/AAAAAAAAADE/A3fM4ppjjac/s200/merriage.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088174655062855714" /&gt;&lt;/a&gt;bila cintamu cinta sejati&lt;br /&gt;tentu semuanya kan jadi mudah&lt;br /&gt;kar’na segala yang ada di atas tanah&lt;br /&gt;tak lain hanyalah tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siratan makna puisi di atas seakan menjadi saksi betapa akan hangat dan nyamannya bahtera hidup, bila semua masalah secara matang ditempatkan pada duduk perkara sejatinya. Rumah tangga yang tenteram jelas bukan yang tanpa masalah, tapi yang secara dewasa dan bijak, dengan hiasan senyum ataupun linangan air mata, membijaki masalah demi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Al-Khady, Doctor of Psychology, penulis buku ini, meneliti dan mencermati berbagai pengalaman rumah tangga, lalu mendulang berbagai solusi tak terduga untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;50 Nasihat Rasulullah untuk Kaum Wanita&lt;/span&gt; ; Oleh Majdi Sayyid Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzV0vYq0DI/AAAAAAAAADM/bShq2xjTZl8/s1600-h/nasehat+rasul.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzV0vYq0DI/AAAAAAAAADM/bShq2xjTZl8/s200/nasehat+rasul.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088176781071667250" /&gt;&lt;/a&gt;Pernahkah Anda membayangkan bahwa sesuatu yang tadinya Anda anggap sepele berakhir dengan bencana? Mungkin tanpa Anda sadari, ketika sedang enak-enak mengobrol dengan suami Anda, Anda menceritakan teman wanita Anda kepada suami secara mendalam, termasuk kecantikannya. Begitu antusiasnya Anda sehingga seakan-akan Anda telah menghadirkan teman wanita Anda tersebut ke hadapan suami Anda. Suami Anda pun menjadi tertarik kepada teman wanita Anda dan bisa jadi dia akan berusaha mendekatinya, bahkan tidak mustahil akan mengawininya dan menceraikan Anda, padahal sebelumya suami Anda sama sekali tidak mengenal teman Anda tersebut. Jika hal ini benar-benar terjadi, Anda hanya dapat menyesali kesalahan yang telah Anda lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Rasulullah Saw. sejak dini telah memperingatkan agar hal yang demikian tidak terjadi. Kesalahan yang sering terjadi pada sebagian istri, sebagaimana disinggung di atas, adalah salah satu tema pembahasan dalam buku ini. Selain itu, masih banyak lagi tema menarik yang semuanya sarat dengan pendidikan dan penyempurnaan akhlak wanita Muslimah. Di antaranya, kemuliaan mendidik anak perempuan, hiburan yang diperbolehkan, dan wasiat Nabi Saw. untuk istri-istri beliau. Dari buku ini, Anda dapat belajar menapaki dunia dan sedapat mungkin melaksanakan nasihat-nasihat Rasulullah Saw. ini dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kisah Teladan Wanita Ahli Surga&lt;/span&gt; ; Oleh Musthafa Murad &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzW7fYq0EI/AAAAAAAAADU/Vhoe6765X94/s1600-h/wanitasurga.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzW7fYq0EI/AAAAAAAAADU/Vhoe6765X94/s200/wanitasurga.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088177996547412034" /&gt;&lt;/a&gt;Ada sepuluh wanita suci yang dijanjikan masuk surga. Siapakah mereka? Mereka adalah wanita-wanita yang menampilkan sifat-sifat dan akhlak yang amat terpuji, antara lain: sungguh-sungguh dalam beribadah; tulus dalam melayani suami; ikhlas dalam beramal; mengorbankan jiwa-raga hanya untuk Allah; dermawan kepada sesama; kasih pada yang lemah dan menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang mereka peroleh kelak di surga? Bagaimana Allah memperlakukan mereka? Kisah-kisah mereka terekam dalam buku yang sarat hikmah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menjadi Wanita Sukses dan Dicintai&lt;/span&gt; ; Oleh Syekh Adnan Ath-Tharsyah&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzX5vYq0FI/AAAAAAAAADc/BGYxqKosNC8/s1600-h/wanitasukses.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzX5vYq0FI/AAAAAAAAADc/BGYxqKosNC8/s200/wanitasukses.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088179065994268754" /&gt;&lt;/a&gt;Sukses, sering diidentikkan dengan kehidupan di luar rumah. Baik di tempat bekerja, sekolah atau kampus, dan juga organisasi; entah itu bersifat keagamaan, kemasyarakatan, ataupun politik. Dan, sukses pun menjadi identik dengan karir. Padahal, kesuksesan dalam kehidupan rumah tangga jauh lebih penting dan bernilai artinya bagi seorang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wanita, sukses adalah sebuah angan yang mahal. Banyak wanita berusaha keras menggapai sebuah kesuksesan, karena ia dapat memberikan rasa bahagia tersendiri di hati dan menanamkan rasa percaya pada diri sendiri. Lebih dari itu, kesuksesan dapat mendorong semangat bekerja tak kenal lelah dan kemauan untuk selalu maju. Namun, apalah arti sebuah kesuksesan tanpa cinta. Terasa hampa hidup ini jika orang-orang di sekeliling tak mencinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah dambaan sangat mulia; menjadi wanita yang sukses dalam karir, dicintai suami dan anak-anak, dicintai orangtua dan saudara-saudara, disukai teman-teman, dan disukai di masyarakat. Buku "Menjadi Wanita Sukses dan Dicintai" ini —insya Allah— akan membantu setiap wanita untuk dapat meraih sukses dan cinta yang scnantiasa didamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aura Wanita-wanita Sufi &lt;/span&gt;; Oleh Abu Abdurrahman Al-Sulami&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzYePYq0GI/AAAAAAAAADk/3O-MVp3s7uo/s1600-h/wanitasufi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzYePYq0GI/AAAAAAAAADk/3O-MVp3s7uo/s200/wanitasufi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088179693059493986" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika Ibn Arabi mengatakan bahwa, untuk menjadi sufi sejati, seseorang harus menjadi perempuan dulu, tampaknya Guru Agung ini tidak sedang bercanda. Setidaknya, ini terbukti dari banyaknya sufi perempuan yang menjadi guru bagi sufi-sufi besar sekaliber dia, Bayazid Al-Busthami, Dzun Nun Al-Misri dan seterusnya. Sufi perempuan yang dimaksud antara lain: Fathimah dari Kordoba, Fathimah Al-Naisafuri dan Aisyah dari Damaskus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti dalam fiqih -- yang disebut-sebut sering mengecilkan peran perempuan, kalau bukannya menindas dan dengan demikian melanggar prinsip kesetaraan Al Quran --, dalam tasawuf peran kaum perempuan sungguh amat besar dan diakui. Para sufi seringkali mengenang sufi-sufi perempuan yang menjadi guru mereka, dari siapa mereka menyerap rahasia cinta dan suluh kasih-keibuan yang amat lembut dan indah. Hanya saja, karena mereka kurang dikenal dan amat jarang dilaporkan buku-buku biografi, maka keberadaan mereka seperti terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memuat tidak kurang dari kisah dan mutiara 84 wanita sufi secara singkat dan memikat. Seluruh materi yang, seperti diakui pentahkik buku ini, amat jarang diangkat oleh buku-buku biografi lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-5963667440655902899?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/S_9DpVpplbE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/5963667440655902899/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=5963667440655902899" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/5963667440655902899?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/5963667440655902899?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/S_9DpVpplbE/perhiasan-terindah-adalah-wanita.html" title="Perhiasan Terindah adalah Wanita Shalehah" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_2o1dZJqFgfs/RpzQMvYq0AI/AAAAAAAAAC0/oN3PV-4C3mY/s72-c/khadijah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/07/perhiasan-terindah-adalah-wanita.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0MHQXc7fyp7ImA9WB5XFUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-3947405098956956343</id><published>2007-07-16T22:15:00.000+07:00</published><updated>2007-07-16T22:23:50.907+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-16T22:23:50.907+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Lebih dari Renungan" /><title>Nasehat Rasulullah kepada Fatimah</title><content type="html">Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anakndanya Fatimah az-zahra rha. Didapatinya anakndanya sedang menggiling syair (sejenis bijirin) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bertanya pada anakndanya, "Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fatimah? semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". Fatimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtangga lah yang menyebabkan anaknda menangis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anakndanya. Fatimah rha melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta 'Ali (suaminya) mencarikan anaknda seorang jariah untuk menolong anaknda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataan anakndanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anakndanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW, demi Allah, Tuhan yang telah menjadikan engkau dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah engkau menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fatimah az-zahra di dalam syurga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda kepada anakndanya, "Jika Allah SWT menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keredhaan suami terhadap isterinya. Jikalau suamimu tidak redha denganmu tidaklah akan aku do'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa redha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga, dan Allah SWT akan mengkurniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya satu persalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikurniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menghias rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit(malaikat), "teruskanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimah, perempuan mana yang meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya sertakukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai syurga dan Allah SWT akan meringankan sakratulmautnya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga serta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Sirat". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://virtualfriends.net/article/articleview.cfm?AID=7677&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-3947405098956956343?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/pb5qoj2RJS0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/3947405098956956343/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=3947405098956956343" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/3947405098956956343?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/3947405098956956343?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/pb5qoj2RJS0/nasehat-rasulullah-kepada-fatimah.html" title="Nasehat Rasulullah kepada Fatimah" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/07/nasehat-rasulullah-kepada-fatimah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkYCR3szfCp7ImA9WB5QEE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-243443922389769260.post-7954823542148644550</id><published>2007-06-28T18:17:00.000+07:00</published><updated>2007-06-28T18:29:26.584+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-06-28T18:29:26.584+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Lebih dari Renungan" /><title>"Salafi" Tampering of Riyad al-Salihin</title><content type="html">Answered by Shaykh GF Haddad &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Moin Shaheed, President, Ahlus Sunnah Muslim Association of Sri Lanka and GF Haddad © &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warning : Avoid this English translation of Riyad al-Salihin !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A review of the translation of al-Nawawi's Riyad al-Salihin published in 1999 by Darussalam Publishing House, Riyad : http://www.dar-us-salam.com/h4riyad-us.htm &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A team of unprincipled editors and translators out of a Ryad publishing house by the name of Darussalam was commissioned to produce a glossy 2-volume English edition of Imam al-Nawawi's Riyad al-Salihin - being distributed for free to Islamic schools around the world - designed to propagate "Salafi" ideology to the unwary English-speaking Muslim students of Islamic knowledge. This ideology is couched within a thoroughly unscrupulous "commentary" inserted into the book chapters and authored by an unknown or spurious "Hafiz Salahuddin Yusuf of Pakistan," "revised and edited by Mahmud Rida Murad" (1:7). Following are some examples of what is contained in this brand new "Salafi" product: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) The work is laced with unabashed eulogy of Nasir Albani whom it calls "the leading authority in the science of hadith" (1:88). The fact is that the only agreed-upon title Albani has been able to earn from the verifying Ulema of the Umma from East to West, is that of erratic innovator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b) Declaring that "in case of breach of ablution, the wiping over the socks is sufficient, and there is no need for washing the feet" (1:31). This ruling invalidates one of the conditions of wudu' spelled out in the Qur'an and the Sunna, making salât prayed with such a wiping null and void according to the Four Schools, which prohibit wiping over non-waterproof footwear. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c) Declaring that "ours should not be the belief that the dead do hear and reply [to our greeting]" (1:515). The Jumhur differs. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(d) Declaring that expressing the intention (niyya) verbally before salât "is a Bid`ah (innovation in religion) because no proof of it is found in Shar'`ah" (1:14). This is not only a wanton attack on the Shafi`i School but an ignorant violation of the criteria of calling something an innovation in the Religion. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(e) "Prohibition [of kissing] is only effective if the kissing of hands is also involved." (2:721). Note that Imam Sufyan al-Thawri called the kissing of the hands of the Ulema a Sunna and that the majority of the scholars concur on its permissibility! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(f) Saying "unapproved hadith" - an invented classification! - for the sahih hadith of the two Jews who kissed the Prophet's - Allah bless and greet him - hands and feet as narrated by al-Tirmidhi (sah'h) and others. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(g) The weakening of the hasan hadith whereby the Prophet kissed Zayd ibn Haritha as narrated by al-Tirmidhi (hasan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(h) Declaring "the hadiths about the kissing of hands are weak and deficient from the viewpoint of authenticity," an outright lie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(i) Declaring after the hadith stating: "I suffer like two men of you": "This Hadith... throws light on the fact that the Prophet was merely a human being." (2:737) This discourse is that of the disbelievers mentioned in many places of the Qur'an: {They said: You are but mortals like us} (14:10), {Shall we put faith in two mortals like ourselves?} (23:47), {They said: You are but mortals like unto us} 36:15, {Shall mere mortals guide us?} (64:6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(j) Claiming: "We are uncertain that after saying a funeral prayer, the Prophet and his Companions ever stood around the bier and supplicated for the dead body. It is an innovation and must be abolished"! (2:755) This is flatly contradicted by the sound narrations ordering the Companions to make du`â for the deceased directly after burial. The commentor(s) go on to say: "It looks strange that believers should persist in reciting supplications in their own self-styled way after the funeral prayer, but desist from them during the funeral prayer to which they have relevance. It implies that prayer is not the object of their pursuit, otherwise they would have prayed in accordance with the Sunna. In fact, they cherish their self-fabricated line of action and seem determined to pursue it." Yet the commentator(s) a few pages later (2:760) state: "The Prophet has instructed his followers that after a Muslim's burial, they should keep standing beside his grave for some time and pray for his firmness"! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(k) Omitting (2:760) to translate the words of Imam al-Shafi`i related by al-Nawawi in Chapter 161 ("Supplication for the Deceased after his Burial"): ""It is desirable (yustahabb) that they recite something of the Qur'an at the graveside, and if they recite the entire Qur'an it would be fine." Omitting to translate these words which are in the original text of Riyad al-Salihin is deceit and a grave betrayal of the trust (amâna) of the translation of one the mother books of knowledge in Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(l) As if the above were not enough, the "commentary" goes on to state: "The reference made to Imam al-Shafi`i about the recitation of Qur'an beside a Muslim's grave is in disagreement with the Prophet's practice... the reference made to Imam al-Shafi`i seems to be of doubtful authenticity"! However, al-Za`farani said: "I asked al-Shafi`i about reciting Qur'an at the graveside and he said: la ba'sa bihi - There is no harm in it." This is narrated by Imam Ahmad's student al-Khallal (d. 311) in his book al-Amr bi al-Ma`ruf (p. 123 #243). Similar fatwas are reported from al-Sha`bi, Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahuyah, and others of the Salaf by no less than Ibn al-Qayyim and al-Shawkani in their books - the putative authorities of the "Salafi" movement.1 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(m) Stating (2:761): "Qur'an reading meant to transmit reward to the dead man's soul is against the Prophet's example. All such observances are of no use to the dead." This is the exact same position as the Mu`tazila on the issue, who went so far as to deny the benefit of the Prophet's intercession. It should be noted that the manipulative editors /commentators of Riyad al-Salihin deliberately omit any mention of the Companions' practice, as it is authentically recorded from Ibn `Umar that he ordered that Qur'an be read over his grave, which has the status of the Sunna of the Prophet as this particular Companion was known to be the staunchest of all people in his adherence to the Prophet's example. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(n) Stating (2:761): "For further detail, one can refer to Shaykh al-Albani's Ahkam al-Jana'iz." This is the book in which this man lists among the innovations of misguidance the fact that the Prophet's grave is inside his Mosque in Madina and the fact that it has a dome built over it, and he asks for both of them to be removed. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(o) Stating (2:791-792): "If a woman has no husband or Mahram, Hajj is not obligatory on her. Neither can she go for Hajj with a group of women, whether for Hajj or any other purposes.... Under no circumstances a woman may travel alone." This contradicts the fatwa of the majority of the Ulema as well as the principle that when there is scholarly disagreement over an issue, it becomes automatically impermissible to declare it prohibited. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(p) Rephrasing a hadith (2:810-811) by omitting key words which invalidate their position. In chapter 184 of Riyad al-Salihin titled "Desirability of Assembling for Qur'an-Recitation," al-Nawawi cites the hadith of Muslim whereby the Prophet said: "No group of people assemble in one of the Houses of Allah, all of them reciting [plural pronoun] the Book of Allah (yatlِna kitâb Allâh) and studying It among themselves except Serenity (al-sak'na) shall descend upon them, etc." The editor/ commentator(s) of Riyad al-Salihin rephrased the hadith thus: "Any group of people that assemble in one of the Houses of Allâh to study the Qur'ân, tranquillity will descend upon them, etc." omitting the key words: "all of them reciting the Book of Allah." Then the same editor/ commentator(s) had the gall to comment: "This Hadith... does not tell us in any way that this group of people recite the Qur'an all at once. This is Bid`ah for this was not the practice of the Messenger of Allah ." This is tampering compounded with a shameless lie. This misinterpretation and false claim of bid`a is, of course, directed at the Maghribi style of Qur'anic recitation that relies heavily on collective tilâwa in order to strengthen memorization. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(q) The statement (2:848) concerning the Prophet's miracle of seeing behind his back: "It must be borne in mind that a miracle happens with the will of Allah only. It is not at all in the power of the Prophet . Had he been capable of working a miracle on his own, he would have shown it at his own pleasure. But no Prophet was ever capable of it, nor was the Prophet an exception to this rule." In truth this speech comes directly from books such as Isma`il Dehlvi's Taqwyatul Iman concerning which Abu al-Hasan al-Thanvi said: "The words used by Isma`il Dehlvi are, of course, disrespectful and insolent. These words may never be used." (Imdaad-ul-Fataawa 4:115) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(r) The statement (2:861): "The right number of rak`ats in the Tarawih prayers is eight because the Prophet never offered more than eight rak`ats... It is not in any case twenty rak`ats. Authentic Ahâdith prove this pont abundantly." This is a transgressive innovation (bid`a mufassiqa) as it rejects the command of the Prophet to "obey the Sunna of the Rightly-Guided Caliphs after me" and also kufr as it violates the passive Consensus (ijmâ` sukut') of the Companions over twenty rak`ats. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(s) The statement (2:905): "Twenty rak`at Tarawih is not confirmed from any authentic hadith, nor its ascription to `Umar ( is proved from any muttasil (connected) hadith." This is a blatant lie, as the number of hadith masters who graded as sah'h the connected chains back to `Umar establishing twenty rak`at Tarawih are too numerous to count. They provided the basis on which the Ulema concur in declaring that Consensus formed on the matter among the Companions as stated by al-Qari, al-Zayla`i, al-Haytami, Ibn al-Humam, Ibn Qudama, and a number of other major jurists of the Four Schools.2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(t) The statement (2:1025): "In the present age Shaykh Nasir al-Din al-Albani has done a very remarkable work in this field [hadith]. He has separated the weak Ahadith found in the four famous volumes of Ahadith (Abu Dawud, al-Tirmidhi, al-Nasa'i, and Ibn Majah) from the authentic and prepared separate volumes of authentic and weak ahadith. This work of Albani has made it easy for the ordinary Ulema to identify the weak Ahadith. Only a man of Shaykh Albani's caliber can do research on it. The ordinary Ulema and religious scholars of the Muslims are heavily indebted to him for this great work and they should keep it in view before mentioning any hadith. They should mention only the authentic Ahadith and refrain from quoting the weak ones. It is wrong to ignore this work on the ground that Shaykh Albani is not the last word on the subject.... As Muhaddithin have done a great service to the Muslim Umma by collecting and compiling the Ahadith, similarly in the style of Muhaddithin, and in keeping with the principles laid down by them, the research carried out to separate the authentic Ahadith from the weak is in fact an effort to complete their mission. In this age, Almighty Allah has bestowed this honor on Shaykh Albani." All this fawning will not hide the facts that al-Albani has been exposed as the innovator of this age par excellence and that his splitting of the books of Sunan into Sahih al-Tirmidhi and Da`if al-Tirmidhi and so forth is an unprecedented attack on the Motherbooks of Islam for which, undoubtedly, he shall be brought to account on the Day of Judgment as he was rejected for it by the Ulema of the Umma from East to West. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(u) Another systematic mistranslation for the Chapter-title 338 (2:1294) states: "Prohibition of placing the hands on the sides during Salat" when the Arabic clearly states al-khâsira which means "waist" or "hip" rather than "sides." The same mistranslation is then repeated in the body of the chapter, then a third time in the commentary. This mistranslation is part of the "Salafi" campaign against the Maliki form of sadl consisting in letting the arms hang down by the sides during the standing part of Salât. In some places of North Africa today, such as Marrakech, certain people are paid to declare takfir and tadlil, in the name of the Sunna, of those who pray with their arms hanging by their sides although it is an established Sunna! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Truly we belong to Allah and to Him is our return, and there is no power nor might except in Allah the Exalted and Almighty Lord. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All sincere Muslims should consider themselves warned and warn others that this is NOT a Sunni translation of the great classic of Imam al-Nawawi but an innovative, deviant, and inauthentic translation which should never have been allowed. There are two other English translations of Riyad al-Salihin available in print, any one of which would be preferable to this one. And from Allah comes all success.&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Download dalam format : &lt;a href="http://www.scribd.com/word/download/129248?extension=pdf"&gt;Pdf&lt;/a&gt; ; &lt;a href="http://www.scribd.com/word/download/129248?extension=doc"&gt;Doc&lt;/a&gt; ; &lt;a href="http://www.scribd.com/word/download/129248?extension=txt"&gt;Txt&lt;/a&gt; ; &lt;a href="http://www.scribd.com/word/download/129248?extension=mp3"&gt;Mp3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://static.scribd.com/docs/4hs8wgej5mo2i.swf"&gt;Baca dalam fullscreen (format swf)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan Online :&lt;br /&gt;&lt;object width="190" height="20"&gt;&lt;param name="autostart" value="false" /&gt;&lt;param name="file" value="http://static.scribd.com/docs/4hs8wgej5mo2i.mp3" /&gt;&lt;embed type="application/x-shockwave-flash" src="http://static.scribd.com/mp3player.swf" id="audio_player" name="audio_player" bgcolor="#ffffff" quality="high" flashvars="file=http://static.scribd.com/docs/4hs8wgej5mo2i.mp3&amp;autostart=false" height="20" width="190"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/243443922389769260-7954823542148644550?l=imamsutrisno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KangImamBlog/~4/vOj-gdm3_3I" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://imamsutrisno.blogspot.com/feeds/7954823542148644550/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=243443922389769260&amp;postID=7954823542148644550" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/7954823542148644550?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/243443922389769260/posts/default/7954823542148644550?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KangImamBlog/~3/vOj-gdm3_3I/salafi-tampering-of-riyad-al-salihin.html" title="&quot;Salafi&quot; Tampering of Riyad al-Salihin" /><author><name>Kang Imam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13375613978358933510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="28" src="http://bp2.blogger.com/_2o1dZJqFgfs/SGDQcXBjFNI/AAAAAAAAAGk/IU6_YqMlJj0/S220/Tris5.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://imamsutrisno.blogspot.com/2007/06/salafi-tampering-of-riyad-al-salihin.html</feedburner:origLink></entry></feed>

