<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" version="2.0">

<channel>
	<title>Kedai Puisi</title>
	
	<link>http://kedaipuisi.wordpress.com</link>
	<description>Anak-Anak Kata Yang Santun Pada Ihwal</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Mar 2012 23:08:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain="kedaipuisi.wordpress.com" port="80" path="/?rsscloud=notify" registerProcedure="" protocol="http-post" />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kedai Puisi</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kedaipuisi.wordpress.com/osd.xml" title="Kedai Puisi" />
	
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/KedaiPuisi" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="kedaipuisi" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://kedaipuisi.wordpress.com/?pushpress=hub" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">KedaiPuisi</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Rekor Penulisan Puisi Masal</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2012/01/12/rekor-penulisan-puisi-masal/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2012/01/12/rekor-penulisan-puisi-masal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 02:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Rekor MURI untuk penulisan puisi yang sebelumnya dipegang Makassar dengan jumlah peserta 5.344 akhirnya tumbang. Kali ini, yang menumbangkan rekor MURI untuk penulisan puisi dengan jumlah terbanyak adalah LP Maarif Lamongan yang  mampu membuat acara penulisan puisi dengan jumlah peserta mencapai 11.252 peserta, Senin (9/1/2012). Selain itu hadir sebagai saksi penyerahan piagam MURI Wakil Ketua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=270&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/51OkieGdtYMdrtyDS6usMx11-jI/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/51OkieGdtYMdrtyDS6usMx11-jI/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/51OkieGdtYMdrtyDS6usMx11-jI/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/51OkieGdtYMdrtyDS6usMx11-jI/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p><a href="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2012/01/muri-puisi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-272" title="muri-puisi" src="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2012/01/muri-puisi.jpg?w=460" alt=""   /></a>Rekor MURI untuk penulisan puisi yang sebelumnya dipegang Makassar dengan jumlah peserta 5.344 akhirnya tumbang. Kali ini, yang menumbangkan rekor MURI untuk penulisan puisi dengan jumlah terbanyak adalah LP Maarif Lamongan yang  mampu membuat acara penulisan puisi dengan jumlah peserta mencapai 11.252 peserta, Senin (9/1/2012).</p>
<p><span id="more-270"></span></p>
<p>Selain itu hadir sebagai saksi penyerahan piagam MURI Wakil Ketua DPRD Provinsi Jatim Sirmaji, Ketua PCNU Lamongan Habib Husein Al Hadad dan Ketua LP Maarif Pusat.</p>
<p>Ketua LP Maarif Lamongan, Imam Ghozali mengatakan, pembuatan puisi ini melibatkan semua elemen pendidikan yang ada di LP Maarif Lamongan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini hingga SLTA.</p>
<p>&#8220;Kami memberi waktu kurang lebih 2,5 jam untuk menulis puisi ini,&#8221; kata Imam Ghozali kepada wartawan di lokasi.</p>
<p>Ghozali menuturkan, pembuatan puisi ini dilakukan sebagai salah satu cara agar LP Maarif bisa lebih dikenal dan memberi kebanggaan tersendiri bagi warga LP Maarif dan NU secara umum.</p>
<p>Sementaran General Manager MURI, Paulus Pangkah mengaku rekor pembuatan puisi dengan jumlah peserta mencapai 11.252 ini berhasil mengalahkan rekor penulisan puisi terbanyak sebelumnya, yakni Trans Studio Makassar yang berlangsung 29 April 2011 dengan peserta sebanyak kurang lebih 5.344</p>
<p>Penulisan 11.252 puisi di Stadion Surajaya, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Senin (9/1/2012), tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) dengan nomor registrasi 5291.</p>
<p>Jumlah itu memecahkan rekor sebelumnya, 5.345, pada 29 April 2011 di Trans Studio Makassar, Sulawesi Selatan.</p>
<p>Pencatatan Muri tersebut dimeriahkan penampilan budayawan Sujiwo Tejo dan penyair asal Madura, D Zawawi Imron. Penyerahan Piagam Muri disaksikan Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Sirmaji serta Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Lamongan Habib Husein Al-Hadad.</p>
<p>General Manager Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) Paulus Pangka menyatakan, dalam pencatatan rekor kali ini ada syarat tambahan. Isi puisi tidak boleh mencela, menghina orang, dan mengandung unsur suku ras agama antargolongan (SARA).</p>
<p>Selain itu, puisi yang dibuat tidak boleh berisi umpatan atau kata-kata kotor. &#8220;Piagam Muri kami berikan kepada LP Maarif Lamongan sebagai pemrakarsa kegiatan dan berhasil mencatatkan diri dalam rekor Muri,&#8221; kata Pangka.</p>
<p>Penulisan puisi itu digagas Lembaga Pendidikan (LP) Maarif Lamongan dengan melibatkan siswa, mulai pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga setingkat SMA, di bawah naungan LP Maarif.</p>
<p>Ketua LP Maarif Lamongan Imam Ghozali mengatakan, peserta diberi waktu lebih kurang 2,5 jam untuk menulis puisi. &#8220;Pembuatan puisi yang tercatat Muri itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga LP Maarif dan NU secara umum,&#8221; katanya.</p>
<p>Sejumlah siswa, seperti M Haryanto, Didik Setyono, Nurul Azizah, dan Ilha Fabun Nuraini, merasa senang bisa berpartisipai. Para siswa ada yang menulis puisi soal ibu, guru, alam, banjir, dan harapan agar Indonesia semakin makmur, aman, dan rakyatnya sejahtera. Mereka bebas berekspresi meski kadang saling lihat puisi karya teman.</p>
<p>Budayawan asal Madura, D Zawawi Imron, dalam kesempatan itu berpesan kepada para siswa sebagai generasi muda agar rajin belajar dan terus berkarya dari Lamongan untuk Indonesia. Anak muda tidak perlu ikut-ikutan saling fitnah dan saling mencela.</p>
<p>Menurut dia, saling fitnah dan saling cela hanya akan menimbulkan permusuhan. Ketika manusia saling menghina, saling bermusuhan, saling mencela, alam yang dihuni pun ikut stres sehingga akhirnya bergolak. &#8220;Alamnya bisa bergolak karena ulah manusia bisa menjadi gempa, tsunami, banjir, longsor, dan lainnya,&#8221; katanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kedaipuisi.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kedaipuisi.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kedaipuisi.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kedaipuisi.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=270&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2012/01/12/rekor-penulisan-puisi-masal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2012/01/muri-puisi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">muri-puisi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HB IX Award UGM Buat Goenawan Mohamad</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/12/19/hb-ix-award-ugm-buat-goenawan-mohamad/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/12/19/hb-ix-award-ugm-buat-goenawan-mohamad/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 01:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Goenawan Mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[HB IX Award UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Budayawan Goenawan Soesatyo Mohamad atau akrab dipanggil GM menerima anugerah Hamengku Buwono IX bidang kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada. Penulis catatan pinggir di Majalah Tempo itu tercatat satu-satunya jurnalis yang menerima penghargaan HB IX. &#8220;Pak GM layak mendapat anugerah itu karena capaiannya luar biasa dalam karya sastra, esai, catatan pinggir, dan ketokohannya,&#8221; kata Djoko Moerdianto, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=264&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aBwM8gz2J9E0gG8JHqQROl0h-8Q/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aBwM8gz2J9E0gG8JHqQROl0h-8Q/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aBwM8gz2J9E0gG8JHqQROl0h-8Q/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aBwM8gz2J9E0gG8JHqQROl0h-8Q/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p><a href="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/12/goenawan-mohamad.jpg"><img class="alignleft  wp-image-265" title="goenawan-mohamad" src="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/12/goenawan-mohamad.jpg?w=276&#038;h=198" alt="" width="276" height="198" /></a>Budayawan Goenawan Soesatyo Mohamad atau akrab dipanggil GM menerima anugerah Hamengku Buwono IX bidang kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada. Penulis catatan pinggir di <em>Majalah</em> <em>Tempo</em> itu tercatat satu-satunya jurnalis yang menerima penghargaan HB IX.</p>
<p><span id="more-264"></span></p>
<p>&#8220;Pak GM layak mendapat anugerah itu karena capaiannya luar biasa dalam karya sastra, esai, catatan pinggir, dan ketokohannya,&#8221; kata Djoko Moerdianto, Sekretaris Eksekutif Universitas Gadjah Mada kepada wartawan di Gedung Pusat UGM, Selasa, 13 November 2011. Penganugerahan untuk mantan Pemimpin Redaksi <em>Majalah</em> <em>Tempo</em> ini akan diserahkan oleh Rektor UGM Sudjarwadi pada acara puncak Dies Natalis ke-62 UGM pada 19 Desember ini.</p>
<p>Menurut Djoko, nama GM masuk dalam seleksi sejak awal tahun lalu setelah diusulkan oleh masyarakat. Selain GM, ada beberapa nama yang masuk dari kalangan masyarakat dan kalangan kampus yang dianggap layak mendapatkan anugerah itu . Hanya, dalam seleksi itu, GM memperoleh nilai tertinggi. &#8220;Nilainya 384,17,&#8221; kata Djoko. Sayang, Djoko enggan menyebutkan nama-nama kandidat lain dengan alasan datanya hanya dimiliki Majelis Guru Besar UGM.</p>
<p>Djoko menyebutkan, UGM tidak melupakan tulisan GM dalam laporannya tentang pemakaman Raja Yogyakarta HB IX tahun 1989. &#8220;Judul <em>cover</em> <em>Majalah</em> <em>Tempo,</em> <em>Duh Gusti, </em>ditulis oleh Pak GM dan sangat menyentuh dan bagus sekali,&#8221; kata Djoko.</p>
<p>Kepala Humas dan Protokoler UGM, Suryo Baskoro, menambahkan, Goenawan menjadi satu-satunya jurnalis yang menerima penghargaan ini. Sebelumnya, penerima penghargaan didominasi dalam bidang sains, lingkungan, dan sejarah. &#8220;&#8221;Pak GM satu-satunya penerima penghargaan dengan<em> basic</em> karier jurnalis,&#8221; kata Suryo.</p>
<p>Anugerah HB IX yang diterima GM merupakan pemberian yang ke-15 sejak tahun 1991. Penerima pertama penghargaan ini adalah Prof Dr Ir Herman Johanes dan Prof Dr Mochtar Kusuma Atmadja. Hanya, tahun 2005, 2007, dan 2010, pemberian anugerah HB IX absen lantaran tidak ada yang mengusulkan. Nama lain yang tercatat memperoleh HB IX Award adalah Selo Sumardjan, Ahmad Syafii Maarif, Teuku Jacob, Saparinah Sadli, dan Ajip Rosidi.</p>
<p>Setelah menerima penghargaan pagi hari di Graha Sabha Pramana, malamnya GM bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X akan menyampaikan orasi mereka di Pag­elaran Keraton Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono mendapat penghargaan <em>Honoris Causa</em> dari UGM.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kedaipuisi.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kedaipuisi.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kedaipuisi.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kedaipuisi.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=264&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/12/19/hb-ix-award-ugm-buat-goenawan-mohamad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/12/goenawan-mohamad.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">goenawan-mohamad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi William Butler Yeats</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/11/06/puisi-puisi-william-butler-yeats/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/11/06/puisi-puisi-william-butler-yeats/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 23:46:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[William Butler Yeats]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[William Butler Yeats dilahirkan di Sandymout Irlandia pada tahun 1865. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di sebuah desa kecil di Sligo yang masih alami, lalu belajar seni di Dublin. Ia memutuskan untuk memusatkan perhatian pada puisi ketika mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya semenjak pindah ke London pada tahun 1888. Kumpulan puisi pertamanya adalah The Wandering of Oisin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=155&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BmVc_KCT-lqNTA6tG4r5z7-YYXs/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BmVc_KCT-lqNTA6tG4r5z7-YYXs/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BmVc_KCT-lqNTA6tG4r5z7-YYXs/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BmVc_KCT-lqNTA6tG4r5z7-YYXs/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p><a href="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/11/yeats.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-156" title="yeats" src="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/11/yeats.jpeg?w=460" alt=""   /></a>William Butler Yeats dilahirkan di Sandymout Irlandia pada tahun 1865. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di sebuah desa kecil di Sligo yang masih alami, lalu belajar seni di Dublin. Ia memutuskan untuk memusatkan perhatian pada puisi ketika mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya semenjak pindah ke London pada tahun 1888.</p>
<p><span id="more-155"></span>Kumpulan puisi pertamanya adalah The Wandering of Oisin (1889), disusul kumpulan-kumpulan puisi lain, diantaranya The End among The Reds (1899), The Wild Swans at Coole (1917), dan The Tower (1928). Semasa hidup Yeats banyak melakukan perjalanan ke luar negeri, seperti Perancis dan Italia, namun ia senantiasa kembali ke tanah airnya untuk mendapatkan ilham bagi karya-karyanya. Yeats menerima hadiah nobel Kesusasteraan tahun 1923 dan meninggal di Nice, Perancis tahun 1939.</p>
<p>Berikut ini beberapa puisi William Butler Yeats, semoga berkenan:</p>
<p><strong>Kalau Kau Tua</strong></p>
<p>kalau kau tua, lusuh, dan pengantuk<br />
terkantuk-kantuk di samping perapian, ambil buku ini<br />
baca pelan-pelan dan khayalkan sebuah tatapan lembut<br />
yang dahulu milik matamu juga, yang berlekuk begitu dalam</p>
<p>berapa banyak yang pernah mengagumi saat-saat ceriamu<br />
dan mencintai kemolekanmu dengan genggam cinta murni atau palsu<br />
namun bagi putih jiwamu hanya seorang yang mencintai<br />
hingga ujung duka derita di wajahmu yang tak muda lagi</p>
<p>sambil membungkuk di samping api membara<br />
gumamkan sedikit sedih, bagaimana cinta pun terbang<br />
dan melayang di atas gunung tinggi jauh di sana<br />
dan menyembunyikan mukanya di antara rimbun bintang</p>
<p><strong>Angsa-Angsa Liar Coole</strong></p>
<p>pepohonan musim gugur yang indah<br />
jalan-jalan setapak hutan pun kering sudah<br />
dipayungi langit senja oktober<br />
air memantulkan langit yang diam<br />
di antara bebatuan di tepian</p>
<p>untukku inilah musim gugur ke sembilan belas<br />
sejak perhitunganku yang paling lekas<br />
kusaksikan, sebelum aku selesai menghitung<br />
mendadak saja mereka tercerabut terbang<br />
berpencaran dalam patah-patah lingkaran<br />
dengan sayap-sayap yang ribut</p>
<p>aku amati makhluk-makhluk yang pintar itu<br />
dan sekarang hatiku tersentuh<br />
irama kesiur sayap-sayap di atas kepalaku<br />
melayang ringan berkelepak</p>
<p>belum lelah juga, sepasang demi sepasang<br />
berenang nyaman di arus dingin<br />
atau terbang tinggi ke udara<br />
hati mereka makin matang<br />
gairah atau menang, ke mana mereka pergi<br />
masih menunggu mereka</p>
<p>tapi sekarang mereka di arus yang diam<br />
betapa eloknya<br />
di antara rumput airyang mana mereka bersarang<br />
pemandangan yang menyenangkan, ketika terjaga<br />
mereka sudah menghilang</p>
<p><strong>Aedh Mengharap Kain Surga</strong></p>
<p>andai aku penya kain sulaman surga<br />
berhias cahaya perak dan keemasan<br />
kain malam cahaya dan separuh cahaya<br />
yang biru yang suram dan yang kelam<br />
akan kugelar kain itu di bawah kakimu<br />
tetapi karena melarat aku hanya punya mimpi sekerat<br />
dan telah kugelar mimpiku di bawah kakimu<br />
lewatlah hati-hati sebab kau melewati mimpiku</p>
<p><strong>Kepada Seekor Tupai di Kyle-Na-O</strong></p>
<p>mendekat dan bermainlah denganku<br />
kenapa mesti bergegas lari<br />
melintasi pohon-pohon bergoyang<br />
padahal aku membawa senjata<br />
bisa menembakmu mati<br />
padahal yang kuinginkan hanyalah<br />
sekedar mengelus kepalamu<br />
lalu kubiarkan kau pergi lagi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kedaipuisi.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kedaipuisi.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kedaipuisi.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kedaipuisi.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=155&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/11/06/puisi-puisi-william-butler-yeats/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/11/yeats.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">yeats</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencicipi Buli-Buli Lima Kaki Nirwan Dewanto</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/10/25/buli-buli-limakaki/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/10/25/buli-buli-limakaki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 02:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Buli-Buli Lima Kaki]]></category>
		<category><![CDATA[nirwan dewanto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[ Puisi-puisi Nirwan Dewanto dalam Buli-Buli Lima Kaki seperti kolam eksotis yang misterius. Menggoda kita untuk mencelupkan tangan dan kaki ke dalamnya, atau bahkan menceburkan diri ke dalamnya untuk merasakan hangat dan sejuknya. Namun kita harus waspada, karena remang kabut dan aneka makhluk-tak-dikenal yang menyesak di sekelilingnya membuat kira ragu-ragu untuk masuk lebih dalam. Butuh keberanian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=137&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pmr4ZqZsJr4UZa2kz0DrlrAGyzc/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pmr4ZqZsJr4UZa2kz0DrlrAGyzc/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pmr4ZqZsJr4UZa2kz0DrlrAGyzc/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pmr4ZqZsJr4UZa2kz0DrlrAGyzc/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p><a href="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/10/buli2-lima-kaki.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-140" title="buli2 lima kaki" src="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/10/buli2-lima-kaki.jpg?w=133&#038;h=201" alt="" width="133" height="201" /></a> Puisi-puisi Nirwan Dewanto dalam <em>Buli-Buli Lima Kaki</em> seperti kolam eksotis yang misterius. Menggoda kita untuk mencelupkan tangan dan kaki ke dalamnya, atau bahkan menceburkan diri ke dalamnya untuk merasakan hangat dan sejuknya. Namun kita harus waspada, karena remang kabut dan aneka makhluk-tak-dikenal yang menyesak di sekelilingnya membuat kira ragu-ragu untuk masuk lebih dalam. Butuh keberanian lebih untuk menyelaminya.</p>
<div><span id="more-137"></span></div>
<div>Berikut ini beberapa pilihan puisi Nirwan Dewanto dalam <em>Buli-buli Lima Kaki, </em>silahkan menkmati!</div>
<div><em><br />
</em></div>
<div><strong>Apel dan Roti</strong></div>
<div>Di balik dua butir apel selalu ada sekeping matahari</div>
<div>Hijau, sehingga pisaumu tentu akan tersipu malu</div>
<div>Menatap merah yang selalu padam itu.</div>
<div>Di antara dua potong roti selalu ada selapis jantung</div>
<div>Kuning, sehingga lidahmu pasti akan berhenti</div>
<div>Sebelum mencapai putih yang menyala itu.</div>
<div>Di antara hijau dan kuning selalu ada ekor rubah</div>
<div>Abu-abu, yang empunya hanya mampu bertahan</div>
<div>Di balik gaunmu, sebelum menerkam sajakku.</div>
<div>Di antara perutmu dan piring yang termangu, lapar</div>
<div>Bisa juga bernama bianglala, yang segera berakhir</div>
<div>Ketika aku menumpahkan sajakku ke mejamu.</div>
<div>Sungguh lapar dan birahi tak akan terlihat oleh mata</div>
<div>Yang tersembunyi dalam sajakku yang terlalu lama</div>
<div>Tersimpan dalam lemari es di sudut dapurmu</div>
<div>Di luas meja yang telanjur basah oleh umpama itu</div>
<div>Terkecoh oleh si matahari dan si jantung, rubahmu</div>
<div>Makan hitam berulam mata. Mataku barangkali.</div>
<div>(2009)</div>
<div><strong>Lazar</strong></div>
<div>Jangan renggut kematian dariku,</div>
<div>Aku tengah berusaha memilikinya.</div>
<div>Tolong tutup lagi pintu mausoleum ini,</div>
<div>Sebab terang di luar sana hanya milikmu.</div>
<div>Pasti kudengar langkah kakimu ke mari.</div>
<div>(Kau belum pernah melayatku, bukan?)</div>
<div>Namun jika aku mampu bangkit bahkan</div>
<div>Dalam kafan yang mulai terasa sejuk ini,</div>
<div>Yeshua, bukanlah aku juru selamatmu.</div>
<div>(2010)</div>
<div><strong>Tulisan pada Nisan</strong></div>
<div>Kuucapkan selamat tinggal kepadanya,</div>
<div>Meski aku tetap terjatuh ke haribaannya.</div>
<div>Kukenakan pakaian panjang putih. Supaya ia</div>
<div>Leluasa menodaiku. Mungkin menghitamkanku.</div>
<div>Masih ada bercak darah kubawa, ternyata.</div>
<div>Ia berkata seseorang menembakku di Gaza.</div>
<div>Ia bertanya kenapa aku bergegas ke mari.</div>
<div>Kujawab tidak. Sudah kulupakan matahari,</div>
<div>Sebab terang bukan milikku dan percayalah</div>
<div>Namaku telanjur terpahat di batu gamping ini.</div>
<div>Ia bumi, bukan? Aku belajar mencintainya</div>
<div>Ketika kalian berebut wajahnya nun di atasku.</div>
<div>(2010)</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>Setiap tengah malam</strong></div>
<div>Setiap tengah malam, bunyi serunai kereta api pengangkut batubara</div>
<div>Mendesak gendang telinganya. Tengah malam ketika ia merasa mesti</div>
<div>Menginum segelas susu, sebelum menyelamatkan ke dalam mimpinya—</div>
<div>Menyelamatkan, misalnya, warna merah pangkal sayap burunghitam</div>
<div>Atau ceceran darah rakun yang mati terlindas sia-sia di jalan raya –</div>
<div>Sudah tiga musim begini, dan ia tetap saja tak mampu memastikan</div>
<div>Rangkaian gerbong terbuka yang merayap sopan itu melewati depan</div>
<div>Ataukah belakang rumahnya. Dan ia berharap si masinis selalu belia.</div>
<div>(2009)</div>
<div><strong>Kuintet</strong></div>
<div>Namaku piano, dan bebilahku lelah oleh jemarimu.</div>
<div>Namaku klarinet, dan mulutku mencurigai mulutmu.</div>
<div>Aku teramat haus, tapi telingamu hanya menatapku.</div>
<div>Baiklah, di bawah sorot lampu akan kupuja sepatumu.</div>
<div>Di depan kita, mereka yang hanya membawa bola mata</div>
<div>Mengira kita pasangan yang serasi meninggi menari.</div>
<div>Tapi namaku biolin, dan betapa dawaiku sudah beruban.</div>
<div>Dan kau masih hijau, masih menghapal khazanah lagu.</div>
<div>Mereka bertepuk tangan ketika terhunus pisau tiba-tiba</div>
<div>Dari balik lambungku, siap menyadap madu di lehermu.</div>
<div>Ternyata namaku kontrabas, dan aku jirih pada pujian.</div>
<div>Mereka memacuku ke puncak penuh karangan kembang.</div>
<div>Maka namaku masih marimba, dan kuseret kau ke danau.</div>
<div>Di mana si komponis buta rajin mencuci telinga mereka.</div>
<div>(2009)</div>
<div><strong>Jalan ke Vignole</strong></div>
<div>Berjam-jam (tidak, barangkali juga berabad-abad)</div>
<div>Aku dan kaum jemaat itu sabar menunggu di Giudecca</div>
<div>Si tukang perahu yang akan mendamparkan kami</div>
<div>Ke sebuah pulau yang dilahirkan matahari</div>
<div>Pastilah ia akan benar-benar serupa</div>
<div>Dengan si pemberontak yang dihukum mati</div>
<div>Di Golgotha, ketika umurnya baru 33. (Tetapi</div>
<div>Ia bangkit pada hari ketiga.) ”Tak ada</div>
<div>Pendayung ulung serupa itu di sini,”</div>
<div>Kata seorang lelaki berkuda, angkuh</div>
<div>Dan beku dalam baju zirahnya</div>
<div>Berabad-abad, seakan pasukan Turki</div>
<div>Akan selalu menyerbu ke mari. Dan jawabku:</div>
<div>“Colleoni, kamilah para penyerbu terkini</div>
<div>Tapi kami tak membunuh pulau-pulaumu.”</div>
<div>Ya, aku telah membinasakan barisan mobil</div>
<div>Pakaian seragam, jalanan aspal, kitiran besi.</div>
<div>Kepalaku penuh abu, embun dan maut</div>
<div>Ketika aku terbangun di bawah pohon palma</div>
<div>Di dunia yang baru saja ditorehkan Carpaccio:</div>
<div>aku pun bangkit bersama iringan jemaat berjubah</div>
<div>(Yang baru saja menguburkan Santo Jarome)</div>
<div>Merayap di lelurung berbau kemih anjing</div>
<div>Muntah di teras lapang aneka basilika</div>
<div>Dengan tubuh hijau lebam kami rubuh lagi</div>
<div>Di antara meja-kursi di Paizza San Marco</div>
<div>Dan seekor singa bersayap menggeram:</div>
<div>”Pergilah kalian para pemabuk jahanam,</div>
<div>Bertobatlah hanya sebelum tiba malam.”</div>
<div>Maka terdamparlah kami di muara amis itu:</div>
<div>“Persetan dengan si tukang perahu!”</div>
<div>Tapi sebuah perahu besar tiba-tiba</div>
<div>Merenggutkan kami dari kabut muram lena.</div>
<div>Melewati pekuburan yang dilindungi ombak</div>
<div>Kami terhadang hantu Pound dan Stravinsky</div>
<div>Padahal sudah lama kami membenci musik dan puisi</div>
<div>Yang pasti bukan bagian dari penyelamatan kami</div>
<div>Yang cuma hiburan jika kami sampai di neraka nanti.</div>
<div>Musim semi menggosok tangan kami</div>
<div>Yang perlahan terlihat seperti sayap</div>
<div>Tidak, sungguh kami tak ingin terbang,</div>
<div>Kami tak pernah bersekutu dengan Gabriel,</div>
<div>Kami suka mengukur laut dengan jengkalan.</div>
<div>”Pesiarkah, atau pembuangankah ini?”</div>
<div>Tanya dua belas orang di antara kami</div>
<div>Yang tiba-tiba mirip serdadu Roma, seraya</div>
<div>Mengeluarkan palu dan paku dari saku</div>
<div>Kami akan segera sampai di pulau matahari itu</div>
<div>Untuk menghajar berpiring ikan mentah</div>
<div>Dengan baluran minyak zaitun dan cuka</div>
<div>Dengan roti gandum coklat dan anggur merah tua.</div>
<div>Kemudian di anatra rerumpun asparaga</div>
<div>Kami akan memilih perawan paling murni</div>
<div>Untuk berlama-lama mendoakan kami</div>
<div>Agar kami segera menemukan pemberontak itu</div>
<div>Yang kukira menyamar sebagai si tukang perahu.</div>
<div>Padahal ia bekerja sebagai koki di restoran tujuan kami:</div>
<div>Pastilah ia tengah melubangi kedua telapak tangannya</div>
<div>Dan mengucurkan darahnya ke hidangan siang kami.</div>
<div>(1994)</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kedaipuisi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kedaipuisi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kedaipuisi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kedaipuisi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=137&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/10/25/buli-buli-limakaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/10/buli2-lima-kaki.jpg?w=197" medium="image">
			<media:title type="html">buli2 lima kaki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca Puisi-Puisi A. Muttaqin</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/10/17/membaca-puisi-puisi-a-muttaqin/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/10/17/membaca-puisi-puisi-a-muttaqin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 02:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[A. Muttaqin. Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[A. Muttaqin, dilahirkan di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Lulusan Universitas Negeri Surabayaini bergiat di Komunitas Rabo Sore. Puisinya merambah berbagai media, seperti: majalah sastra Horison, Kompas, Koran Tempo, Surya, Suara Merdeka, Suara Indonesia, dan Surabaya Post. Selain itu, terhimpun juga dalam antologi bersama Album Tanah Logam 2006, Pelayaran Bunga (Festival Cak Durasim 2007), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=126&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/66cD1iv0zh_HhkW1DRmhtjh1ZQM/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/66cD1iv0zh_HhkW1DRmhtjh1ZQM/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/66cD1iv0zh_HhkW1DRmhtjh1ZQM/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/66cD1iv0zh_HhkW1DRmhtjh1ZQM/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p><a href="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/10/krs.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-184" title="krs" src="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/10/krs.jpeg?w=300&#038;h=80" alt="" width="300" height="80" /></a>A. Muttaqin, dilahirkan di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Lulusan Universitas Negeri Surabayaini bergiat di Komunitas Rabo Sore. Puisinya merambah berbagai media, seperti: majalah sastra Horison, Kompas, Koran Tempo, Surya, Suara Merdeka, Suara Indonesia, dan Surabaya Post. Selain itu, terhimpun juga dalam antologi bersama Album Tanah Logam 2006, Pelayaran Bunga (Festival Cak Durasim 2007), Rumah Pasir (Festival Seni Surabaya 2008), dan 100 Puisi Indonesia Terbaik (Anugerah Sastra Pena Kencana) 2008.</p>
<p><span id="more-126"></span></p>
<p>Berikut ini beberapa hasil karyanya yang diarsip dari Lampung Post, Sabtu, 19 Juni 2010 dan Jurnal Nasional, Minggu, 01 Maret 2009.</p>
<p><strong>Penangkapan</strong></p>
<p>Di ranting garing, gelap merambat bagai sayap codot Mendekap buah. Buah-buah membuka mata. Segerumbul Anggur terpekur dari tidur. Segantang kunang terlepas, bagai Bulir emas. Seekor jengkrik mengiris sepi. Sepi merenggang, Dan apel-apel pun berlubang. Daun delima berbisik pada Angin. Angin memainkan lagu lembutnya. Tomat, pepaya, Dan pisang yang mulai matang jadi tak tenang. Sebutir apel Mengintip bulan, betapa merah dan menggoda ia&#8211;o, sisa Sorga yang tetap terjaga. Sebiji bintang yang bergelantung Tegang di sana, lalu lepas ke bawah. Sementara, Aku yang Menyaksikan itu semua, berdoa, seperti berharap Keberuntungan menetas dari seberkas senja.<br />
2009</p>
<p><strong>Panduan</strong></p>
<p>Dengan kesabaran, kita putar kaki pelan-pelan. Dua kaki Berkitaran, seperti laku matahari dan bulan. Kita bersepeda, Mengikuti rima jalan. Biar jalan bergeronjal dan berbenjol, Tak apa. Mari kayuh dengan tabah. Dengan kekhusukan yang Nyata. Tak boleh curang kaki sebelah. Karena akan melukai Kaki sebelahnya. Juga mengingkari kaki kita semua. Tak Perlu tergesa. Karena akan berat sendiri. Jadi dibutuhkan kaki Yang kompak, seperti pribahasa tentang ringan dan berat. Sabar adalah kunci. Nikmati saja pemandangan sekitar: buah-Buah mangga yang sedang bertapa, kebun kelapa yang Menanti air sorga, atau sedap kamboja yang setiap malam Sampai ke ranjang kita. Kayuh terus. Dan santai saja. Itu jurus Membunuh bosan. Juga demi perut yang gampang gendut. Tak perlu gupuh ke jalan pulang. Semua jalan adalah pilihan. Tugas kita hanyalah jangan sampai sepeda tabrakan.<br />
2010</p>
<p><strong>Perlawanan</strong></p>
<p>Kupakai jaket panjang, bertabur kunang-kunang. Kupadu Kaos kutang bergambar codot terbang. Celanaku cingkrang Bermotif ganja jarang. Kukalungkan ranting mawar di leherku Jenjang. Kulubangi hidung dan bibir, agar umang-umang Sesekali bisa mampir. Kutampung tawon dan laron yang tak Punya pohon, di dadaku yang monoton. Kupasang walang Garing dan kepinding di dua kuping. Darah meninggi. Hati Dan paru mekar. Dan nafas pun terdengar kembar, seperti Babi lapar yang diseret sepanjang pasar.<br />
2009</p>
<p><strong>Pelepasan</strong></p>
<p>Datang ya angin. Leburkan segala ingin. Datang ya bulan. Balur sekujurku dengan kelembutan. Datang ya matahari. Ajari aku memberi dan membagi. Datang ya air. Mahirkan Aku mengalir dan mendesir. Datang ya kembang. Ajak Kumbang. Kupu juga. Juga ulat dan telurnya. Biar pada Mekar kekuncup habbah. Datang ya buah. Bawa bijimu. Biar Tumbuh di perutku. Hingga tak sendiri daun hatiku. Datang Ya burung. Tetaskan jantung. Setelah itu kita terbang. Tinggalkan usus yang tak kunjung lurus. Menyusul sepasang Mata yang telah jadi kupu kurus. Menyusul telinga yang Menjelma lelawa halus. Menyusul nafasku ungu ke daur Debu. Menempel di pucuk-pucuk wuku, di pohon-pohon Waktu.<br />
2009</p>
<p><strong>Sepuluh Lanturan Tentang Hutan</strong></p>
<p>i<br />
Malam adalah telur yang menetas,<br />
dan aku ingin kau tak menetaskanku.</p>
<p>Begitu berwarni perangai mimpi,<br />
sedang pagi tinggal kuning tai</p>
<p>dan kau tak akan kembali.<br />
Tapi, aku tetap memimpikanmu,</p>
<p>keluar dari kuntum bunga dan<br />
berkata, larilah, kejarlah…</p>
<p>ii<br />
Darahku membeku.<br />
Sepasang kakiku jadi batu.<br />
Dan, jika ada yang terbang dari ubunku,<br />
itulah yang menumbuhi malam-<br />
malamku.</p>
<p>Kau tahu?</p>
<p>Duh, bagaimana aku tanya itu padamu,<br />
sementara tak ada angin puyuh<br />
yang sanggup menerbangkan kunang-<br />
kunang dari matamu?</p>
<p>iii<br />
Rusukku pun berbulu.<br />
Malam bergemuruh.<br />
dan aku ingin angan jadi ungu,<br />
setenang subuh.</p>
<p>Biar kuda-kuda merah meringkik.<br />
Biar langit yang masih punya banyak kerdip itu<br />
memekik.</p>
<p>Aku tak ingin seperti kumbang<br />
dan singgah dari kembang ke tembang.<br />
Aku tak ingin jadi jalang dan mengerang<br />
di padang panjang.</p>
<p>Sayangku, datanglah kau bagai subuh.<br />
Beri aku pagi dan kupu-kupu</p>
<p>iv<br />
Aku sebut namamu,<br />
tapi separuh lidahku jadi batu.</p>
<p>Menyebut namamu dengan batu?<br />
Ah, bukankah dengan lidah dan seluruh pun<br />
aku hanya gagu?</p>
<p>v<br />
Rambutku mengeras<br />
dan mataku terlepas,<br />
seperti kelereng menggelindingi sepi.</p>
<p>Sepinya basah. Oh,<br />
apa mataku sedang menangis sendiri?<br />
Seperti dulu, ketika ia sering<br />
kupakai mencuci bajuku.</p>
<p>Ketika<br />
tanganku masih bisa<br />
rasakan air dan dingin.<br />
Ketika<br />
masih ada ledakan-ledakan kecil<br />
di balik dadaku.<br />
Ketika<br />
kuku belum merambat<br />
ke sekujur dagingku</p>
<p>vi<br />
Kau tak usah jadi ibu dan mengutukku.<br />
Kini, aku telah sempurna jadi batu,<br />
lebih hening dari spinx<br />
menghikmati sepasang mawar<br />
yang memekari dagingmu.</p>
<p>Dan aku pun tak mungkin lagi menikammu,<br />
seperti bayi ranum yang mengasah<br />
segenap taring dan purbaku?</p>
<p>Tubuhmu lebih luas timbang waktu.<br />
Dadamu lebih bebas timbang kupu-kupu.<br />
Dan farjimu seganas giras sungai<br />
yang menabrak dan melemparku<br />
ke gunung,<br />
ke kembaranku yang setia<br />
menunggu terjun</p>
<p>vii<br />
Kau tahu,<br />
sungai dan batu tak pernah bersekutu?</p>
<p>Maksudku, aku tak mungkin<br />
mencumbumu. Aku selalu gagal<br />
mencecap getah perdumu, seperti dulu,<br />
ketika mula belajar tidur.</p>
<p>Sebagaimana keinginan kembali<br />
ke gua gaib, di mana tuhan pernah mengintip,</p>
<p>membisikkan tiga suku kata<br />
yang memekarkan jantungku:</p>
<p>tiga suku kata yang mirip panggilanmu.</p>
<p>Hingga,<br />
rusukku yang berbulu itu terbang,<br />
layaknya kupu-kupu lugu yang hinggap<br />
di lengkung alismu,<br />
di kelopak matamu<br />
yang dungu</p>
<p>viii<br />
Tapi dungu bukanlah milikmu.<br />
Kau lebih beku dari batu.<br />
Kau lebih ungu timbang masa lalu.<br />
Kau juga melebihi keruh ibuku.</p>
<p>Hingga,<br />
aku tak bisa menemukan perutmu.<br />
menyusup ke rahim,<br />
atau mengalir<br />
di arus nadimu.<br />
Menjadi terumbu di laut darahmu,<br />
dan bukan jadi batu yang sendiri,</p>
<p>di sini,<br />
di bugil pagi yang menggigil<br />
di bawah kuntum matahari</p>
<p>ix<br />
Ini tentu sudah ngelantur, bukan?<br />
tapi tidak. Tidak, Sayangku.<br />
Prihal cinta memang sering tampak ganjil.<br />
Dan mungkin, 1001 pangkur,<br />
1001 mazmur tak akan manjur bertutur.</p>
<p>Sebelum kita benar tidur,<br />
baiklah, kulengkapkan cerita ini:</p>
<p>Kamu tahu, apa yang diminta Hawa<br />
ketika Adam mulai tergoda?</p>
<p>Waktu itu, sorga serupa bunga raksasa<br />
dengan bulu dan sepasang-pasang<br />
penuh warna.</p>
<p>Dia meminta itu. Maksudku,<br />
lubang itu. Dan seperti Adam yang merajuk<br />
ceruk hitam, aku terkenang<br />
lubang batang kayu yang<br />
persis milikmu.<br />
Milikmu.<br />
Dan milikmu.</p>
<p>Di lubang itu, bersembunyi<br />
ular bermahkota mawar yang membuat<br />
jantung keduanya jadi nanar.<br />
Hingga tanpa sadar<br />
mereka bareng berujar,</p>
<p>ajari kami, ajari kami terbang<br />
menuju hulu dan kupu-kupu…</p>
<p>Dan mereka pun diajar.<br />
Mula-mula mereka dianjur menjuluri tidur.<br />
Dan tidur mereka jadi ular yang saling membelit,<br />
seperti sepasang kutuk yang melingkari pohon.</p>
<p>Pohon yang di tengahnya,<br />
lubang yang tak pernah habis terbakar itu,<br />
tiba-tiba menyala dan menjatuhkan mereka<br />
ke kedalaman panas dan bergetah.</p>
<p>Sebutir apel pun pecah.<br />
Sepuluh kupu di pucuk tangan adam terbang,<br />
seperti luput pertama yang berteriak dan meminta:<br />
Bapa! Bapa!</p>
<p>:sejak itu, manusia punya kuku<br />
untuk mencakar dan berdoa.</p>
<p>x<br />
Pagi jadi bangka.<br />
Waktu seperti lelaki tua<br />
yang diam tak bersuara.</p>
<p>Dan, seperti Adam yang kembali terjaga,<br />
aku hanya duka yang menatapmu,</p>
<p>menatap dedaun yang tumbuh dan gugur<br />
di wajahmu, seperti jari-jari gaib, melambai<br />
hari-hari yang pucat pergi, tanpa berahi&#8230;<br />
(2008)</p>
<p>Bunga Batu</p>
<p>Duh, bunga batu yang tumbuh di badanku,<br />
aku ingin mencucupmu sekeras batu:<br />
batu yang melahir dan mengutukku.<br />
Lalu, kita sama pergi,<br />
seperti mimpimu,<br />
seperti mimpi batu yang tak mati-mati<br />
dan berkedipan<br />
sepanjang pantai.<br />
Aku tahu,<br />
(seperti yang juga kau tahu),<br />
pantai hanya pantai.<br />
Pantai bukan ibu yang membuat kau dan aku<br />
lebih batu.<br />
Dan aku juga tak mencintaimu seperti cinta batu.<br />
Ketahuilah,<br />
cintaku bukan gelang atau cincin,<br />
cintaku hanya pasang saat aku bimbang<br />
dan tuhan menghilang.<br />
Jangan katakan cintaku bulan, sebab<br />
cintaku hanya bunga api yang menyala pergi.<br />
Jamur-jamur di tubuhku meninggi,<br />
lebih tinggi dari mulutmu,<br />
mulut batu<br />
juga mulut nujum<br />
yang tak pandai<br />
menyebut mati.<br />
Lalu,<br />
aku pun mencucupmu<br />
seperti menciumi selingkar batu<br />
dalam kitaran pantai,<br />
seperti mengitari hari-hari<br />
yang pulang-<br />
pergi<br />
dengan ciuman batu<br />
yang membunuh sang ibu<br />
dan melubangi perahuku…<br />
(2008)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kedaipuisi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kedaipuisi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kedaipuisi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kedaipuisi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&amp;blog=2294918&amp;post=126&amp;subd=kedaipuisi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2011/10/17/membaca-puisi-puisi-a-muttaqin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kedaipuisi.files.wordpress.com/2011/10/krs.jpeg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">krs</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>

