<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kedai Puisi</title>
	<atom:link href="https://kedaipuisi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kedaipuisi.wordpress.com</link>
	<description>Anak-Anak Kata Yang Santun Pada Ihwal</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2013 03:12:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2294918</site><cloud domain='kedaipuisi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/d14a5090e23f6234d6ce6a0ab9576422b3c9f41d2adcf038c0d401774a597424?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Kedai Puisi</title>
		<link>https://kedaipuisi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://kedaipuisi.wordpress.com/osd.xml" title="Kedai Puisi" />
	<atom:link rel='hub' href='https://kedaipuisi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Mengulik Puisi Yudhistira AN Massardi</title>
		<link>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/08/02/mengulik-puisi-yudhistira-an-massardi/</link>
					<comments>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/08/02/mengulik-puisi-yudhistira-an-massardi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mochammad Asrori]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Aug 2013 03:12:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Yudhistira AN Massardi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=369</guid>

					<description><![CDATA[Yudhistira Ardi Nugraha Massardi, kelahiran Subang, Jawa barat 28 Februari 1954. Aktif menulis sejak 1970, berupa puisi, cerpen, esai, sandiwara dan lirik lagu. Novelnya, Arjuna Mencari Cinta dinyatakan sebagai fiksi terbaik 1977 oleh Yayasan Buku Utama. Novelnya yang lain, Mencoba Tidak Menyerah (Aku Bukan Komunis) memenangkan hadiah sayembara roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (1977). [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/yudhistira-an-masardi.jpg"><img data-attachment-id="370" data-permalink="https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/08/02/mengulik-puisi-yudhistira-an-massardi/yudhistira-an-masardi/" data-orig-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/yudhistira-an-masardi.jpg" data-orig-size="258,375" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="yudhistira an masardi" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/yudhistira-an-masardi.jpg?w=206" data-large-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/yudhistira-an-masardi.jpg?w=258" class="alignleft size-medium wp-image-370" alt="yudhistira an masardi" src="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/yudhistira-an-masardi.jpg?w=206&#038;h=300" width="206" height="300" srcset="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/yudhistira-an-masardi.jpg?w=206 206w, https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/yudhistira-an-masardi.jpg?w=103 103w, https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/yudhistira-an-masardi.jpg 258w" sizes="(max-width: 206px) 100vw, 206px" /></a>Yudhistira Ardi Nugraha Massardi, kelahiran Subang, Jawa barat 28 Februari 1954. Aktif menulis sejak 1970, berupa puisi, cerpen, esai, sandiwara dan lirik lagu. Novelnya, Arjuna Mencari Cinta dinyatakan sebagai fiksi terbaik 1977 oleh Yayasan Buku Utama. Novelnya yang lain, Mencoba Tidak Menyerah (Aku Bukan Komunis) memenangkan hadiah sayembara roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (1977). Sandiwaranya Wot atawa Jembatan (1977) dan Ke (1978) juga memenangkan hadiah sayembara DKJ. Novelnya yang lain: Ding Dong (1978), Obladi Oblada (1978) dan Arjuna Mencari Cinta Part II (1980). Kumcernya: Penjarakan Aku dalam Hatimu (1979), Yudhistira Duda (1981) dan Wawancara dengan Rahwana (1983). Ia juga menulis lirik lagu, sejak 1977, yang dinyanyiakn Franky &amp; Jane yang terekam hingga 7 kaset. Kumpulan sajaknya yang lain Rudi Jalak Gugat (1982).<span id="more-369"></span>Berikut beberapa puisinya yang dicuplik dari <a href="http://www.kepadapuisi.blogspot.com" rel="nofollow">http://www.kepadapuisi.blogspot.com</a></p>
<p>Sajak Sikat Gigi</p>
<p>Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur<br />
Di dalam tidurnya ia bermimpi<br />
Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka<br />
Ketika ia bangun pagi hari<br />
Sikat giginya tinggal sepotong<br />
Sepotong yang hilang itu agaknya<br />
Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali<br />
Dan ia berpendapat bahwa kejadian itu terlalu berlebih-lebihan<br />
(1976)</p>
<p>Biarin</p>
<p>kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin<br />
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin<br />
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin<br />
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin</p>
<p>habisnya, terus terang saia, aku nggak percaya sama kamu<br />
Tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana<br />
cuman, karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti itu</p>
<p>kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin<br />
kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin<br />
soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?<br />
aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu<br />
aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia<br />
ini. lya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi<br />
habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba<br />
bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan<br />
seperti kamu sadari sekarang ini<br />
kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin<br />
kamu bilang itu menyakitkan<br />
(1974)</p>
<p>Tilpon</p>
<p>Tilpon berdering. Seseorang melompat dan mengangkat tilpon itu.<br />
“Halo?”<br />
&#8212; seandainya tilpon itu tidak diangkat<br />
apakah para tentara mengangkat senjata? –<br />
Orang itu melangkah surut. Kemudian mulai yakin<br />
bahwa kabel tilpon, bisa digunting. Oleh siapa saja.<br />
(1976)</p>
<p>Seorang Orang<br />
Seorang murid tak mau bertanya<br />
gurunya mengunyah kembang-gula<br />
Seorang gadis mendesak kawin<br />
pacarnya mengancingkan celana<br />
Seorang kondektur turun dari bis kota<br />
para penumpang menjual karcis<br />
Seorang wartawan membawa pancing<br />
ikan-ikan pada mencibir<br />
Seorang pegawai menolak gaji<br />
kasir melepas kacamatanya<br />
Seorang kawan menodongkan belati<br />
kita semua merasa terancam!<br />
(1978)</p>
<p>Tak Sempat</p>
<p>Pemburu tak sempat menembak<br />
Pencopet tak sempat mencuri<br />
Pelaut tak sempat berlayar<br />
Pelacur tak sempat makmur</p>
<p>(Sungguh genting!)<br />
(1975)</p>
<p>Tak Lari</p>
<p>Ketika radio dimatikan<br />
datanglah sepi yang terkenal itu<br />
Sewaktu kopi dihabiskan<br />
matilah lampu. Dan gelap yang terkenal itu datang juga<br />
Padahal, kalau sepi janda-janda pada lari<br />
kalau gelap, perawan-perawan juga lari, ke rumah kekasihnya<br />
Akibatnya banyak orang bunting<br />
lari tak bisa, tak lari tak bisa.<br />
(1975)</p>
<p>Jam</p>
<p>Selalu pada jam kita menengok<br />
Mencari jarum untuk menjahit<br />
Mengokohkan kancing baju atau merapikan potongan</p>
<p>Dengan jam di tangan, kita merasa perlente<br />
Pergi ke toko dan memilih-milih, menawar dasi</p>
<p>Lantas kita melipat dompet, mencocokkan waktu<br />
Dan tidak pernah merasa yakin<br />
Sebab, waktu begitu mendesak, dan sepatu tak sempat disemir<br />
(1976)</p>
<p>Sketsa</p>
<p>1.      Sekelompok orang berkerumun di ujung gang<br />
Kesibukan terhenti<br />
Seseorang jatuh ke dalam kali<br />
Sebuah becak terguling tiba-tiba</p>
<p>“Ada ambulans!” pekik seseorang dari dalam kali</p>
<p>2.      Sekelompok orang berkerumun di dalam ambulans<br />
Percakapan terhenti<br />
Seseorang telah mati<br />
Sebuah becak menindihnya tiba-tiba</p>
<p>“Ada yang jatuh ke dalam kali!” pekik seseorang dari bawah becak</p>
<p>3.      Sekelompk orang berkerumun di dalam becak<br />
Kesedihan terhenti<br />
Seseorang keluar dari dalam kali<br />
Sebuah becak dikayuhnya tiba-tiba</p>
<p>“Ada yang berak di dalam ambulans!” pekik seseorang di ujung gang<br />
(1974)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/08/02/mengulik-puisi-yudhistira-an-massardi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">369</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/bb0ba3cafa3bf97427557f38e45f7cbbd67114f9eccf6ef27481c212637423eb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/yudhistira-an-masardi.jpg?w=206" medium="image">
			<media:title type="html">yudhistira an masardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seteguk Puisi Rabindranath Tagore</title>
		<link>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/07/12/seteguk-puisi-rabindranath-tagore/</link>
					<comments>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/07/12/seteguk-puisi-rabindranath-tagore/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mochammad Asrori]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jul 2013 02:41:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Rabindranath Tagore]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=364</guid>

					<description><![CDATA[Rabindranath Tagore dilahirkan pada tahun 1861 di Calcuta, India. Berasal dari keluarga yang berkecukupan dan mencintai seni, membuat Tagore kecil akrab dengan sajak-sajak penyair India dan Persia. Tagore pernah sekolah di Inggris, pada tahun 1877, mengambil jurusan hukum, tetapi tidak selesai. Ia kembali ke India untuk mengurus tanah orang-tuanya. Dalam perjalanan hidupnya sewaktu muda, Tagore [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/tagore.jpg"><img data-attachment-id="366" data-permalink="https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/07/12/seteguk-puisi-rabindranath-tagore/tagore/" data-orig-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/tagore.jpg" data-orig-size="162,227" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tagore" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/tagore.jpg?w=162" data-large-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/tagore.jpg?w=162" class="alignleft size-full wp-image-366" alt="tagore" src="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/tagore.jpg?w=460"   srcset="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/tagore.jpg 162w, https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/tagore.jpg?w=107&amp;h=150 107w" sizes="(max-width: 162px) 100vw, 162px" /></a>Rabindranath Tagore dilahirkan pada tahun 1861 di Calcuta, India. Berasal dari keluarga yang berkecukupan dan mencintai seni, membuat Tagore kecil akrab dengan sajak-sajak penyair India dan Persia. Tagore pernah sekolah di Inggris, pada tahun 1877, mengambil jurusan hukum, tetapi tidak selesai. Ia kembali ke India untuk mengurus tanah orang-tuanya. Dalam perjalanan hidupnya sewaktu muda, Tagore pernah mengalami kesulitan keuangan. Tetapi karena kecintaannya terhadap hidup dan kehidupan, dalam keadaan seperti itu, ia malah mendirikan sekolah khusus laki-laki, Shanti-Niketan. Maka ia harus banyak membagi waktunya, antara mengajar, menulis, dan menerjemahkan.<span id="more-364"></span>Kontribusi nyata Rabindranath Tagore dalam dunia kesusastraan meliputi 50 drama, 100 kumpulan puisi, 40 kumpulan cerpen dan roman, serta sejumlah buku esai dan filsafat. Gitanyali adalah salah satu kumpulan puisinya yang dianggap sebagai karya puncak kepenyairannya. Tahun 1913, Tagore menerima hadiah Nobel untuk kesusastraan (Nobel Award of Literature). Dan tahun 1915 menerima gelar kebangsawanan sir dari kerajaan Inggris. Tagore meninggal tahun 1941. Puisi-puisi terjemahan di atas dikutip dari buku Antologi Puisi Nobel, yang diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya, Jogjakarta.</p>
<p>Berikut beberapa puisinya hasil terjemahan Dody Kristianto (www.sarbikita.blogspot.com)</p>
<p>Panggilan Hidup</p>
<p>Jika gong berdegung sepuluh kali di pagi hari dan aku berjalan menuju sekolah, bertemulah aku setiap hari dengan penjual kelontong yang berteriak, “Manik! Manik batu!”<br />
Tak ada yang memburu dia, tak ada jalan yang harus ditempuh, tak ada tempat ke mana ia harus pergi.<br />
Aku ingin jadi penjual kelontong yang menghabiskan hari-harinya di jalanan sambil berteriak, “Manik, Manik batu!”<br />
Jika sore hari pukul empat aku pulang dari sekolah, kulihat dari gerbang masuk tukang kebun sedang menyabit rumput di halaman.<br />
Ia bekerja sesuka hatinya, mengotori bajunya dengan debu, berjemur di bawah panas matahari, kehujanan tanpa seorang pun melarangnya.<br />
Aku ingin jadi tukang kebun yang bekerja sesuka hati, dan tak seorang pun melarangku.<br />
Jika malam tiba dan ibu menyuruhku tidur, kulihat lewat jendela, peronda malam bolak-balik di gang.<br />
Jalanan gelap, dan sepi, dan lampu pasar tegak bagai raksasa bermata merah di tengah kepalanya.<br />
Peronda itu berjalan membawa lampunya bersama banyang-banyangnya, dan ia tak pernah tidur selama hidupnya.<br />
Aku ingin jadi peronda dan berjalan di jalanan sepanjang malam sambil menghalau bayang-bayang dengan lampuku.</p>
<p>Tamu</p>
<p>Lama tiada tamu berkunjung ke rumah, pintu-pintuku tertutup, jendela terpalang: kupikir malam-malamku akan sepi.<br />
Ketika mataku kubuka kusaksikan gelap telah lenyap.<br />
Aku bangkit dan lari kemudian kulihat batu gapura rumah-ku hancur, dan lewat pintu terbuka angin dan cahayamu mengibarkan bendera-benderanya.<br />
Dulu ketika aku jadi tawanan di rumahku sendiri, dan pintu-pintu tertutup, hatiku senantiasa ingin melarikan diri dan pergi mengembara.<br />
Kini aku masih saja duduk di muka gapuraku yang hancur, menunggu kehadiramu.<br />
Kini kau telah mengikatku dengan kebebasanku.</p>
<p>Sajak-Sajak Masa Tua</p>
<p>Ketika aku masih muda<br />
Siang hari pukul dua<br />
Kuhadapkan kepalaku ke pintu<br />
Kamarku di atap<br />
Tikarku lebar terhampar<br />
Dan kuhabiskan jam-jam riang.<br />
Jauh di udara burung elang<br />
Memanggil-manggil<br />
Di angin basah<br />
Daun-daun shirish berkilauan<br />
Dengan paruh pecah karena haus, burung gagak<br />
Terbelalak matanya memandang tembok batu.<br />
Burung-burung gereja menggelepar<br />
Di kasau-kasau kamarku.<br />
Menyebrangi gang kudengar suara penjaja makanan:<br />
Di sebuah atap nun jauh seseorang bermain layang-layang.<br />
Jauh di balik pelupuk mata,<br />
Yang Tak Dikenal<br />
Meniup seruling membujuk hatiku<br />
Meninggalkan rumah.<br />
Cinta dan duka bercampur entah kenapa,<br />
Menenun mimpi tanpa awal<br />
Tanpa akhir.<br />
Seakan aku memandang –<br />
Teman seseorang yang tak punya teman.<br />
Aku melangkah ke umur tujuh puluh,<br />
Menuju akhir pantai.<br />
Kusingkap jendela kalbuku<br />
Seakan di masa kanak<br />
Merenung. Waktu-waktuku lewat.<br />
Dalam panas membakar ini<br />
Dahan-dahan Shirish bergetar<br />
Dekat perigi di tepi pohon tamarin.<br />
Anjing tetangga tidur;<br />
Bebas dari gerobak, sapi jantan<br />
Membaringkan dirinya di padang.<br />
Bunga gandharaya berlayuan di atas kerikil,<br />
Mataku menyentuh semua,<br />
Pikiranku berada di tiap benda.<br />
Seakan bocah bebas bertelanjang, pikiranku<br />
Menyertai kenaungan hutan<br />
Dan langit,<br />
Kulit kerang-kerangan tak dikenal<br />
Bergema dalam semua yang kukenal.<br />
***<br />
Dunia kini buas dengan mata gelap kebencian,<br />
Pertikaian kian ganas dan ketakutan tak kunjung henti,<br />
Miring jalannya, kacau oleh timbunan kelobaan.<br />
Segenap makhluk meneriakkan kelahiran baru darimu.<br />
O Kamu kehidupan yang tak terbatas,<br />
Selamatkanlah mereka, bangkitkanlah suara kekal harapanmu.<br />
Biarkan teratai cinta dengan kekayaan madunya tak habis-habis<br />
Mebukakan kelopak-kelopaknya di dahan cahayamu.<br />
O Terang, O Kebebasan,<br />
Dalam kasih saying dan kebaikanmu yang tak terhingga<br />
Spulah semua najis kegelapan dari hati bumi ini.<br />
Kaulah pemberi karunia abadi<br />
Beri kami kekuatan menyangkal<br />
Dan tuntutlah dari kami kebanggaan kami.<br />
Dalam pesona fajar baru kearifan</p>
<p>Biar si buta memperoleh penglihatan terang<br />
Dan biar hidup mendatangi jiwa-jiwa mati.<br />
O Terang, O Kebebasan,<br />
Dalam kasih saying dan kebaikanmu yang tak terhingga<br />
Sapulah semua najis kegelapan dari hati bumi ini.<br />
Hati manusia cemas oleh bara kegelisahan,<br />
Oleh racun kepentingan diri,<br />
Oleh dahaga tak kenal akhir.<br />
Negeri-negeri jauh dan luas menunjukkan kening mereka<br />
Yang memercikkan darah merah kebencian.<br />
Rabalah mereka dengan tangan kananmu,<br />
Jadikan mereka satu dalam semangat,<br />
Bawakan keselamatan dalam hidup mereka,<br />
Bawakan nada keindahan.<br />
O Terang, O Kebebasan<br />
Dalam kasih saying dan kebaikanmu yang tak terhingga<br />
Sapulah semua najis kegelapan dari hati bumi ini.<br />
***<br />
Dari jauh aku memikirkanmu<br />
Kaum zalim, tak tergugat.<br />
Dunia gemetar dalam ketakutan<br />
Mengerikan.<br />
Kobaran api kelobaanmu<br />
Melalap hati yang patah<br />
Di tanganmu trisula<br />
Naik menuju awan bertopan<br />
Menurunkan guntur.<br />
Hatiku gemetaran<br />
Aku berdiri di depanmu.<br />
Dalam pandang matamu yang mencakar<br />
Terhambur ancaman bagaikan gelombang<br />
Angin kencang turun.<br />
Seraya menekankan tanganku ke hati<br />
Aku bertanya,<br />
“masih ada lagikah<br />
Halilintarmu yang terakhir?”<br />
Angin kencang bertiup.<br />
Hanya inikah?<br />
Rasa takutku lenyap.<br />
Jika halilintarmu kau enyahkan,<br />
Kau jadi lebih agung dariku.<br />
Tiupan anginmu membuatmu tegelincir<br />
Jatuh ke duniaku.<br />
Kau jadi kecil<br />
Dan rasa takutku lenyap.<br />
Betapapun besar<br />
Kau tak lebih agung dari kemarin.<br />
Bahwa aku lebih agung<br />
Itulah kata-kataku yang terakhir<br />
Jika aku pergi.<br />
***<br />
Pintu senantiasa terbuka<br />
Hanya mripat si buta yang tertutup<br />
Ia yang tak berani masuk<br />
Tak kenal jalan ruh.<br />
Pintu, serumu bergema dalam terang dan gelap<br />
Musik selamat datangmu begitu khidmat<br />
Palang pintumu dalam matahari fajar<br />
Dan dalam kegelapan bintang-bintang.<br />
Pintu, dari benih sampai pucuk sulur.<br />
Kau berjalan dari kembang ke buah<br />
Walau waktu-waktu tak terurai<br />
Dari mati menuju hidup.<br />
O Pintu, kehidupan dunia<br />
Perjalanan demi perjalanan dari mati ke mati<br />
Kau lambaikan isyarat pada peziarah kebebasan<br />
Suara “Tak Takut” terdengar dari malam keputusasaan.<br />
***<br />
Bertebaran di ruang ini<br />
Benda-benda bisu tuli berbaur<br />
Ada yang mencucuk mata, ada yang sukar dipandang:<br />
Jambang bunga di sudut,<br />
Poci the menyembunyikan wajahnya;<br />
Isi almari, aneka ragam<br />
Berkerumun menuju kekosongan.<br />
Sepasang bingkai jendela pecah tergeletak di sisi tirai<br />
Sekonyong kulihat tirai memerah sendiri<br />
Kulihat tapi tak kusaksikan.<br />
Cahaya pagi mengusut liku-liku desain permadani,<br />
Di situ – taplak meja hijau; lama telah kukhayalkan<br />
Agar menyala warnanya di mataku.<br />
Kini kehijauan terkubur, seakan asap rokok<br />
Dan ia tetap berada di situ sekaligus lenyap.<br />
Pengambilan barang ada di sini, penaruh penuh kertas<br />
Aku lupa membuangnya jauh-jauh.<br />
Almanac condong ke arah meja,<br />
Mengingatkan aku bahwa kini tanggal delapan,<br />
Botol minyak rambut merebut cahaya;<br />
Jam berdetak: sulit kulihat.<br />
Dekat dinding<br />
Sebuah rak, penuh buku –<br />
Banyak yang tetap tak dikenal.<br />
Gambar-gambar yang kugantung<br />
tampak bagai hantu, terlupakan,<br />
garis-garis babut yang dulu mengucap jelas<br />
kini hamper membisu.<br />
Hari-hari lenyap, kemarin dan kini<br />
Terbaring tanpa pertalian.<br />
Di ruang sempit ini<br />
Ada benda yang karib, begitu banyak yang asing,<br />
Dan meja lintas sejenak<br />
Lewat mata yang biasa terpejam.<br />
Betapa banyak yang hilang dari apa yang kupandang.<br />
Tapi tanpa acuh kusebrangi dan kusebrangi lagi<br />
Jembatan antara yang dikenal dan tak dikenal.<br />
Seseorang menaruh sebuah foto bocah<br />
Di bawah bingkai kaca; cetakan memudar<br />
Ramang mendekati bayangan<br />
Dalam pikiran aku adalah Rabindranath,<br />
Seperti ruang ini<br />
Dalam bahasa kabur, mengharukan<br />
Ada benda yang tampak terang, ada<br />
Yang jauh tersembunyi di sudut.<br />
Banyak yang hampir lupa kupindahkan<br />
Seperti makna yang hilang ini,<br />
Hari-hari silang menyusut<br />
Menghapus haknya mengada.<br />
Bayang-bayang lenyap di tengah yang baru<br />
Dan abjad yang menggeram makna<br />
Tak seorang telah membacanya</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/07/12/seteguk-puisi-rabindranath-tagore/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">364</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/bb0ba3cafa3bf97427557f38e45f7cbbd67114f9eccf6ef27481c212637423eb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/tagore.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tagore</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Telah Berpulang, Fahrudin Nasrulloh</title>
		<link>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/06/01/telah-berpulang-fahrudin-nasrulloh/</link>
					<comments>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/06/01/telah-berpulang-fahrudin-nasrulloh/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mochammad Asrori]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Jun 2013 05:00:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[Fahrudin Nasrulloh]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan Jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=359</guid>

					<description><![CDATA[Fahrudin Nasrulloh, eseis, cerpenis, dan editor buku freelance kelahiran Jombang menghembuskan nafas terakhir di RSUD dr Soetomo Surabaya, Kamis 30 Mei 2013. Sastrawan muda Jombang yang pernah nyantri di Denanyar Jombang dan pesantren Salafiyah Al-Muhsin Nglaren Yogyakarta adalah pegiat komunitas Lembah Pring Jombang dan Tim Pelestarian dan Perlindungan Seni-Budaya Jombang. Fahrudin yang juga seorang sarjana [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/fahrudin-nasrulloh.jpg"><img data-attachment-id="360" data-permalink="https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/06/01/telah-berpulang-fahrudin-nasrulloh/fahrudin-nasrulloh/" data-orig-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/fahrudin-nasrulloh.jpg" data-orig-size="450,461" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1372877866&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Fahrudin Nasrulloh" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/fahrudin-nasrulloh.jpg?w=293" data-large-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/fahrudin-nasrulloh.jpg?w=450" class="alignleft size-medium wp-image-360" alt="Fahrudin Nasrulloh" src="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/fahrudin-nasrulloh.jpg?w=291&#038;h=300"   srcset="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/fahrudin-nasrulloh.jpg?w=226 226w, https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/fahrudin-nasrulloh.jpg?w=146 146w, https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/fahrudin-nasrulloh.jpg 450w" sizes="(max-width: 226px) 100vw, 226px" /></a>Fahrudin Nasrulloh, eseis, cerpenis, dan editor buku freelance kelahiran Jombang menghembuskan nafas terakhir di RSUD dr Soetomo Surabaya, Kamis 30 Mei 2013. Sastrawan muda Jombang yang pernah nyantri di Denanyar Jombang dan pesantren Salafiyah Al-Muhsin Nglaren Yogyakarta adalah pegiat komunitas Lembah Pring Jombang dan Tim Pelestarian dan Perlindungan Seni-Budaya Jombang. Fahrudin yang juga seorang sarjana agama jebolan IAIN Sunan Kalijaga ini tak sanggup menahan gempuran sakit akibat gagal ginjal dan infeksi paru<span id="more-359"></span></p>
<p>Banyak orang merasa kehilangan atas meninggalnya cerpenis muda ini, tak terkecuali Nasrul Illahi (Cak Nas), budayawan yang juga adik adik kandung Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Bagi Cak Nas, Fahrudin merupakan oase di tengah keringnya dunia sastra di Kota Santri. Bahkan, Fahrudin juga mampu menggugah khasanah sastra di Jombang yang mati suri pada periode tahun 2000-an yang terlihat dari minimya karya sastra dan juga keringnya komunitas pegiat dunia tulis tersebut. Kalau pun ada, lanjut Cak Nas, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.</p>
<p>Bermula dari kepulangan Fahrudin sekitar tahun 2007 setelah bermukim di Yogyakarta untuk menyelesaikan studinya di UIN Sunan Kalijaga. Sulung dari tiga bersaudara ini mulai menggelorakan dunia satra di Jombang. Tulisan-tulisan &#8216;nakalnya&#8217; mulai menghiasi sejumlah media lokal dan regional. Bahkan, dalam rubrik sastra di koran terbesar di Jatim, tulisan Fahrudin selalu mejeng tiap hari minggu.</p>
<p>Tidak cukup itu saja. Ia juga kerap mengumpulkan koleganya untuk berdiskusi tentang sastra di Jombang serta mendirikan komunitas-komunitas pegiat sastra. Fahrudin sendiri kemudian mendirikan komunitas Lembah Pring di rumahnya. Gayung pun bersambut. Komunitas serupa mulai bermunculan seperti jamur di musim hujan. Dengan banyaknya komunitas tersebut, ruh sastra di Jombang yang lama mati perlahan bangkit.</p>
<p>Karena kegigihannya menghidupkan sastra Fahrudin pernah dicap sebagai teroris. Ceritanya, sekitar tahun 2010, komunitas Lembah Pring membedah tiga buku hasil karya seniman Lekra. Masing-masing buku itu &#8216;Kisah-kisah dari tanah Merah&#8217;, kemudian &#8216;Tanah Merah yang Merah&#8217; dan &#8216;Gelora Api 26&#8217;. Namun di tengah gayengnya acara, sejumlah intel menyatroni diskusi tersebut. Akibatnya, warga sekitar juga ikut panik, dan acara itu nyaris dibubarkan.</p>
<p>Terlepas dari itu semua, Fahrudin memang dikenal sebagai penulis yang produktif meski usianya masih muda. Dari tangannya lahir berbagai tulisan yang menghisasi media massa. Selain itu, almarhum juga menulis sejumlah buku dan kumpulan cerpen. Puisinya termuat dalam antologi Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang Budaya, 2006, Yogyakarta). Cerpennya berjudul Nubuat dari Sabrang masuk nominasi dalam antologi cerpen Loktong (kerjasama CWI dan MENPORA, 2007, Jakarta).</p>
<p>Beberapa buku yang telah terbit Syekh Branjang Abang (Pustaka Pesantren, 2007), Geger Kiai (Pustaka Pesantren, 2009). Fahrudin sendiri lahir di Jombang, 16 Agustus 1976. Usai menuntut ilmu di pesantren Denanyar Jombang (1995) dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2002). Selamat jalan kawan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/06/01/telah-berpulang-fahrudin-nasrulloh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">359</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/bb0ba3cafa3bf97427557f38e45f7cbbd67114f9eccf6ef27481c212637423eb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/fahrudin-nasrulloh.jpg?w=292" medium="image">
			<media:title type="html">Fahrudin Nasrulloh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanggal Lahir Abdoel Moeis Sebagai Hari Sastra Indonesia</title>
		<link>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/05/01/tanggal-lahir-abdoel-moeis-sebagai-hari-sastra-indonesia/</link>
					<comments>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/05/01/tanggal-lahir-abdoel-moeis-sebagai-hari-sastra-indonesia/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mochammad Asrori]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 May 2013 04:16:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[Abdoel Moeis]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Sastra Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=355</guid>

					<description><![CDATA[Setelah Indonesia memiliki Hari Puisi Indonesia yang dirayakan setiap tanggal 26 Juli, giliran Hari Sastra Indonesia dimaklumatkan untuk diperingati setiap 3 Juli. Maklumat Hari Sastra Indonesia sendiri dilaksanakan di SMA 2 Bukittinggi (dulu Kweekschool) pada tanggal 24 Maret 2013. Jika Hari Puisi Indonesia didasarkan pada tanggal kematian penyair Chairil Anwar, maka dasar penetapan Hari Sastra [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/abdoel_moeis.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="357" data-permalink="https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/05/01/tanggal-lahir-abdoel-moeis-sebagai-hari-sastra-indonesia/abdoel_moeis/" data-orig-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/abdoel_moeis.jpg" data-orig-size="180,229" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Abdoel_moeis" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/abdoel_moeis.jpg?w=180" data-large-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/abdoel_moeis.jpg?w=180" class="alignleft size-full wp-image-357" alt="Abdoel_moeis" src="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/abdoel_moeis.jpg?w=460"   srcset="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/abdoel_moeis.jpg 180w, https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/abdoel_moeis.jpg?w=118&amp;h=150 118w" sizes="(max-width: 180px) 100vw, 180px" /></a>Setelah Indonesia memiliki Hari Puisi Indonesia yang dirayakan setiap tanggal 26 Juli, giliran Hari Sastra Indonesia dimaklumatkan untuk diperingati setiap 3 Juli. Maklumat Hari Sastra Indonesia sendiri dilaksanakan di SMA 2 Bukittinggi (dulu Kweekschool) pada tanggal 24 Maret 2013. Jika Hari Puisi Indonesia didasarkan pada tanggal kematian penyair Chairil Anwar, maka dasar penetapan Hari Sastra Indonesia (HIS) setiap 3 Juli berkaitan dengan hari lahir Sastrawan Abdoel Moeis.<span id="more-355"></span></p>
<p>HSI digagas oleh sastrawan terkemuka Indonesia, seperti Ati Taufiq Ismail yang bertindak sebagai koordinator, Raudha Thaib, Harris Effendi Thahar, Darman Moenir, Rusli Marzuki Saria dan Taufiq Ismail. Pada awalnya mereka mencari naskah sastrawan terkemuka yang diterima Balai Pustaka. Tapi tidak berhasil menemukan tanggal terbitan pertama Balai Pustaka sehingga akhirnya panitia kecil menetapkan tanggal lahir Abdoel Moeis sebagai HIS.</p>
<p>Penetapan tanggal tersebut dilakukan Wakil Menteri Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti saat acara Maklumat Hari Sastra Indonesia di gedung SMA 2 Bukittinggi. Dipilihnya SMA 2 Bukittinggi sebagai lokasi penetapan HSI karena merupakan sekolah yang sangat bersejarah, serta tempat bersemainya sastra modern Indonesia.</p>
<p>Taufiq Ismail dalam pidato sambutannya menilai Abdoel Moeis adalah sastrawan yang paling aktif dalam pergerakan nasional di zaman penjajahan Belanda. Beliau juga mengemukakan Abdoel Moeis memiliki banyak karya yang fenomenal seperti novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950) dan sejumlah terjemahan novel sastra dunia.</p>
<p>Abdoel Moeis lahir di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun. Beliau dikenal sebagai sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia. Penguruh besar Sarekat Islam ini juga pernah menjadi anggota Volksraad (anggota DPR) zaman Belanda. Sebagai penghargaan atas jasa dan perjuangannya bagi bangsa Indonesia, Abdul Muis dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional yang pertama oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959.</p>
<p>Latar belakang keluarganya, Abdoel Moeis lahir dari kalangan orang terpandang di Minangkabau. Beliau putra Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman, seorang demang yang menentang keras kebijakan Belanda di Agam. Sebagaimana lazimnya anak-anak bangsawan zaman Belanda, Abdoel Moeis pun dimasukkan sekolah dokter STOVIA di Batavia, yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun, beliau tidak bisa menyelesaikan pendidikannya di sana, karena sakit.</p>
<p>Gagal menjadi dokter—berkat bantuan Direktur Pendidikan Mr Abendanon—Abdoel Moeis menjalani karir sebagai klerk atau juru tulis di Departemen Onderwijs en Eredienst. Kehadirannya yang tidak disukai karyawan lain, membuatnya hanya 2,5 tahun bekerja di sana.</p>
<p>Dari juru tulis, beliau memasuki dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan di Bandung. Pada tahun 1905, beliau jadi anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia. Kemudian ia sempat menjadi mantri lumbung, dan kembali menjadi wartawan pada surat kabar Belanda Preanger Bode dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim.</p>
<p>Beliau memasuki dunia politik dengan bergabung di Sarekat Islam pada tahun 1913, disamping menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda. Setahun kemudian, melalui Komite Bumiputera yang didirikannya bersama Ki Hadjar Dewantara, Abdul Muis menentang rencana pemerintah Belanda mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis.</p>
<p>Salah satu jasa Abdoel Moeis terhadap dunia pendidikan di Indonesia, mendorong tokoh-tokoh Belanda mendirikan Institut Teknologi Bandung yang sekarang menjadi kampus terkenal. Dorongan mendirikan Technische Hooge School—Institut Teknologi Bandung (ITB)—di Priangan ini muncul saat beliau dipercaya sebagai utusan Sarekat Islam pergi ke negeri Belanda untuk mempropagandakan komite Indie Weerbaar tahun 1917. Pada tahun 1918, Abdul Muis ditunjuk sebagai anggota Volksraad mewakili Central Sarekat Islam.</p>
<p>Penjara bukanlah tempat yang asing bagi tokoh-tokoh pergerakan zaman Belanda. Begitu juga dengan Abdoel Moeis. Beliau pernah di penjara setelah berpidato di Toli-Toli, Sulawesi Utara. Bulan Juni 1919, seorang pengawas Belanda di Toli-Toli, Sulawesi Utara dibunuh. Abdoel Moeis dituduh telah menghasut rakyat untuk menolak kerja rodi, sehingga terjadi pembunuhan tersebut. Atas kejadian itu dia dipersalahkan dan dipenjara. Selain berpidato ia juga berjuang melalui berbagai media cetak. Dalam tulisannya di harian berbahasa Belanda De Express, Abdoel Moeis mengecam seorang Belanda yang sangat menghina bumiputera.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/05/01/tanggal-lahir-abdoel-moeis-sebagai-hari-sastra-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">355</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/bb0ba3cafa3bf97427557f38e45f7cbbd67114f9eccf6ef27481c212637423eb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/abdoel_moeis.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Abdoel_moeis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sayembara Menulis Kritik Puisi KSI Award 2013</title>
		<link>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/04/11/sayembara-menulis-kritik-puisi-ksi-award-2013/</link>
					<comments>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/04/11/sayembara-menulis-kritik-puisi-ksi-award-2013/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mochammad Asrori]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Apr 2013 04:17:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sayembara Menulis Kritik Puisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=279</guid>

					<description><![CDATA[Dalam rangka memeriahkan Hari Puisi Indonesia (HPI) pada 26 Juli 2013 sekaligus menyambut hari ulang tahun ke-17 Komunitas Sastra Indonesia (KSI), KSI menyelenggarakan Sayembara Menulis Kritik Puisi KSI Award 2013. Menurut Ketua Panitia, Bambang Widiatmoko, M.Si., lomba menulis kritik puisi diharapkan dapat mendorong para penyair untuk mencapai penciptaan karya sastra/puisi tertinggi dan untuk dapat mengapresiasi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/menulis.gif"><img loading="lazy" data-attachment-id="280" data-permalink="https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/04/11/sayembara-menulis-kritik-puisi-ksi-award-2013/menulis/" data-orig-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/menulis.gif" data-orig-size="300,300" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Menulis" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/menulis.gif?w=300" data-large-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/menulis.gif?w=300" class="alignleft  wp-image-280" alt="Menulis" src="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/menulis.gif?w=101&#038;h=93" width="101" height="93" /></a>Dalam rangka memeriahkan Hari Puisi Indonesia (HPI) pada 26 Juli 2013 sekaligus menyambut hari ulang tahun ke-17 Komunitas Sastra Indonesia (KSI), KSI menyelenggarakan Sayembara Menulis Kritik Puisi KSI Award 2013. Menurut Ketua Panitia, Bambang Widiatmoko, M.Si., lomba menulis kritik puisi diharapkan dapat mendorong para penyair untuk mencapai penciptaan karya sastra/puisi tertinggi dan untuk dapat mengapresiasi karya sastra dengan lebih baik.<span id="more-279"></span></p>
<p>“Melalui lomba kritik puisi diharapkan dapat membuat karya sastra khususnya puisi yang dihasilkan berikutnya akan menjadi lebih baik dan berbobot,” katanya.Dikatakan lebih lanjut, lomba ini terbuka untuk umum dan anggota KSI, termasuk anggota KSI yang bukunya dijadikan salah satu materi kritik selama dia tidak mengritik karyanya sendiri (tidak mempengaruhi penilaian). Mengritik kumpulan puisi tunggal karya anggota KSI. Naskah diketik dalam 2 (dua) spasi dengan Times New Roman, Font 12, panjang naskah 8-20 halaman kuarto, dan dilampiri cover buku yang dikritik.</p>
<p>Baik naskah yang belum maupun yang sudah dipublikasikan dalam bentuk apa pun boleh diikutsertakan. Naskah diterima paling lambat 15 Mei 2013. Naskah dikirim melalui pos elektronik ke ksastraindonesia@yahoo.co.id dengan CC ke bwdwidi@yahoo.com.</p>
<p>Dewan juri, yang terdiri atas Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (Universitas Indonesia), Prof. Drs. Maman S. Mahayana, M.Hum. (Hankuk University, Korea Selatan), serta Ahmadun Yosi Herfanda (KSI), akan menilai dan menentukan 1 (satu) kritikus peraih KSI Award 2013 dan 4 (empat) kritikus unggulan serta sejumlah naskah pilihan yang akan dibukukan.</p>
<p>Peraih KSI Award 2013 dan 4 (empat) kritikus unggulan akan menerima hadiah berupa piagam penghargaan, cenderamata, dan uang tunai. Pengumuman pemenang dilaksanakan pada peringatan Hari Puisi Indonesia, 26 Juli 2013, di Jakarta.</p>
<p>Adapun daftar sebagian buku yang dilombakan adalah</p>
<p>1. Memuja di Tahta Langit, Shobir Poer (Dewan Kesenian Tangsel, 2013). Kontak permintaan buku: 0817126993.</p>
<p>2. Langit Pilihan, Eka Budianta (Kosa Kata Kita, 2012). Kontak 08159707263.</p>
<p>3. Musim Hujan Datang di Hari Jumat, Mustofa W. Hasyim (Penerbit Madah, 2012). Kontak 087839613231.</p>
<p>4. Tembang Tembakau, Jumari HS (KPK, 2012). Kontak: 085225147311.</p>
<p>5. Derai Hujan Tak Lerai, Nanang Suryadi (nulisbuku.com, 2012). Kontak  087884246262.</p>
<p>6. Surau Kecil Berdinding Bilik, Teteng Jumara (Yudha Pratama Mandiri, 2012). Kontak: 08179169806.</p>
<p>7. Jazirah Api, Hasan Bisri BFC (Pustaka KSI, 2011). Kontak: 0818988613.</p>
<p>8. Bulan di Pucuk Embun, Dinullah Rayes (Penerbit Ombak, 2011). Kontak: 081339513893.</p>
<p>9. Bungkam Mata Gergaji, Ali Syamsudin Arsi (Framepublishing, 2011). Kontak: 081351696235.</p>
<p>10. Serumpun Ayat-Ayat Tuhan, Iberamsyah Barbary (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru/KSSB, 2011). Kontak: 081381667070.</p>
<p>11. Perempuan yang Mencari, Diah Hadaning (Pustaka Yashiba, 2010). Kontak  08561381893.</p>
<p>12. Lumpur di Mulutmu, Endang Supriyadi (Penerbit Yashiba, 2010). Kontak 08128556494.</p>
<p>13. Hikayat Kata, Bambang Widiatmoko (Penerbit Gama Media, 2010). Kontak 08122786397.</p>
<p>14. Airmata Tuhan, Medy Loekito (Bukupop, 2009). Kontak 0811164310.</p>
<p>15. Tanah Airku Melayu, Fakhrunnas MA Jabbar (Adi Cita-Balai Pengembangan Kebudayaan Melayu, 2009). Kontak 08127532100.</p>
<p>16. Meditasi Rindu, Micky Hidayat (Tahura Media, 2008). Kontak  082149652892.</p>
<p>17. Nyanyian Sepasang Daun Waru, Thomas Budi Santosa (IndonesiaTera, 2007). Kontak  085225147311.</p>
<p>18. Sukma Silam, Budhi Setyawan (Kacarara, 2007).  Kontak: 08158030529.</p>
<p>19. Romansa Pemintal Benang, Husnul Khuluqi (Komite Sastra Dewan Kesenian Tangerang &amp; KSI, 2006). Kontak 081286078246.</p>
<p>20. Perawan Mencuri Tuhan, Amien Wangsitalaja (Pustaka Sufi, 2004). Kontak 085348859414</p>
<p>21. Silir Pulau Dewata, Tajuddin A. Bacco (Grafika Indah, 2003). Kontak 082158919945.</p>
<p>22. South Bank &amp; Air Mata, Viddy AD (Visi Amansentosa Dahsyat, 1996). Kontak  08561310996.</p>
<p>23. Anggur Duka, Arsyad Indradi, (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru/KSSB, 2009). Kontak  081351696235. Selain buku-buku tsb peserta lomba diperbolehkan mengritik buku kumpulan puisi tunggal karya anggota KSI yang lain dan/atau judul buku yang lain karya penyair di atas.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/04/11/sayembara-menulis-kritik-puisi-ksi-award-2013/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">279</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/bb0ba3cafa3bf97427557f38e45f7cbbd67114f9eccf6ef27481c212637423eb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/menulis.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Menulis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puisi &#8211; Puisi Ironi Enzensberger</title>
		<link>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/03/12/puisi-puisi-ironi-enzensberger/</link>
					<comments>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/03/12/puisi-puisi-ironi-enzensberger/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mochammad Asrori]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Mar 2013 08:37:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Hans Magnus Enzensberger]]></category>
		<category><![CDATA[Penyair Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Ironi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=289</guid>

					<description><![CDATA[Hans Magnus Enzensberger merupakan salah satu penyair terbesar Jerman. Kiprahnya dalam dunia sastra dapat dibilang unik, ia menunjukkan minat yang beragam dalam pergulatan intelektual, mulai dari sisi kiri hingga kecewa dan meragukan pandangan-pandangan kiri, sampai bergeser ke kanan dengan tetap senantiasa kritis pada segala yang kanan. Enzensberger lahir di Kaufbeuren, kota kecil di Jerman Selatan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/enzensberger.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="290" data-permalink="https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/03/12/puisi-puisi-ironi-enzensberger/enzensberger/" data-orig-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/enzensberger.jpg" data-orig-size="227,320" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="enzensberger" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/enzensberger.jpg?w=213" data-large-file="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/enzensberger.jpg?w=227" class="alignleft size-medium wp-image-290" alt="enzensberger" src="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/enzensberger.jpg?w=212&#038;h=300"   srcset="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/enzensberger.jpg?w=146 146w, https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/enzensberger.jpg?w=106 106w, https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/enzensberger.jpg 227w" sizes="(max-width: 146px) 100vw, 146px" /></a>Hans Magnus Enzensberger merupakan salah satu penyair terbesar Jerman. Kiprahnya dalam dunia sastra dapat dibilang unik, ia menunjukkan minat yang beragam dalam pergulatan intelektual, mulai dari sisi kiri hingga kecewa dan meragukan pandangan-pandangan kiri, sampai bergeser ke kanan dengan tetap senantiasa kritis pada segala yang kanan.</p>
<p>Enzensberger lahir di Kaufbeuren, kota kecil di Jerman Selatan pada 11 November 1929. ketika Magnus berumur 9 tahun, perang dunia II meletus, kota Nurnberg yang ditinggalinya sejak 1931 mulai dibom sekutu tahun 1942. selesai perang Jerman hancur total. Paska perang ia pernah menjadi pedagang di pasar gelap dan penerjemah bagi tentara Inggris yang sedang menduduki Jerman. Pada tahun 1955 ia meraih gelar doktor dengan menulis disertasi bertemakan puitika penyair romantis Jerman Clemen Brentano (1778-1842). <span id="more-289"></span></p>
<p>karya-karyanya dipenuhi nada ironi bahkan sarkastik. Kumpulan puisinya al: Verteidigung der wolfe (Pembelaan Serigala; 1957), Landessprache (Bahasa Nasional; 1960), yang mengukuhnya nama harumnya sebagai “penyair politis” dan “penyair kiri”, Blindenschrift (Huruf Braille; 1964), Mausoleum. 37 Balladen aus der Geschichte des Fortschritts (Mausoleum. 37 Balada dari Sejarah Kemajuan; 1975), Die Furie des Verschwindes (Dewa Sang Kehilangan;1980), Zukunftsmusik (Cita-cita Masa Depan; 1991), Kiosk. Neue Gedichte  (Kios. Sajak-sajak baru; 1995), Leichter als Luft. Moralische Gedichte (Lebih Ringan daripada Udara. Sajak-sajak Moral; 1999), Die Geschichte der Wolken. 99 Meditationen (Sejarah Awan. 99 Meditasi; 2003) dan kira-kira 30 buku non-puisi (novel, cerpen, esai, dan sebagainya).</p>
<p>Mari kita simak beberapa puisinya:</p>
<p>Rondeau</p>
<p>Bicara itu gampang</p>
<p>Tapi kata-kata tak bisa dimakan<br />
Maka buatlah roti<br />
Membuat roti itu sulit<br />
Maka jadilah tukang roti</p>
<p>Tapi roti tak bisa dihuni<br />
Maka bangunlah rumah<br />
Membangun rumah itu sulit<br />
Maka jadilah tukang bangunan</p>
<p>Tapi di atas gunung tak bisa dibangun rumah<br />
Maka pindahkanlah gunung<br />
Memindahkan gunung itu sulit<br />
Maka jadilah nabi</p>
<p>Tapi pikiran tak bisa didengar<br />
Maka bicaralah<br />
Bicara itu sulit<br />
Maka jadilah engkau seperti kau adanya</p>
<p>dan teruslah bergumam sendirian,<br />
wahai makhluk tak berguna.</p>
<p>Kelebihan Istriku</p>
<p>Kelebihan istriku kelewat banyak<br />
untuk selembar kertas A 4<br />
Ia adalah makhluk multisel dengan rambut gemerisik,<br />
yang malam hari, bila ia tidur, berbiak dengan anggun.<br />
Tiap helai rambutnya kugemari. Ia dikaruniai<br />
bagian-bagian empuk. Bila cuping hidungnya<br />
sedikit bergetar, aku tahu: ia sedang berpikir.<br />
Betapa sering ia berpikir, dan betapa tak semena-mena ia hidup!<br />
Aku tahu, ia pandai meleletkan lidah,<br />
pandai main kaki. Bila tertawa atau marah,<br />
pada mulutnya tampak kerutan baru<br />
yang kusukai. Ia tak seluruhnya putih,<br />
ia memiliki beberapa warna. Tarikan nafasnya<br />
pun banyak jumlahnya, belum lagi<br />
aneka jiwa di dadanya.<br />
Aku heran, bahwa di sini,<br />
tempat kebetulan aku berada, kerap ia ada.</p>
<p>Riset tentang Motivasi</p>
<p>Sayang aku tak punya pilihan lain selain membunuh kalian,</p>
<p>karena kalian menolak bicara bahasa Bask<br />
karena bank memblokir kartu kredit saya<br />
karena Papa<br />
karena tak tahan memandang perempuan tak bercadar<br />
karena keki sama orang kaya<br />
demi menyenangkan Tuhan Maha Pengasih<br />
karena kalian tak memberiku uang untuk suntikan berikutnya<br />
karena kalian tak cukup Katolik/terlalu Katolik<br />
karena tersinggung<br />
karena Mama<br />
karena kalian selalu menatapku dengan aneh<br />
karena dalam ujian aku salah conteng dan tidak lulus<br />
karena mendapat bisikan-bisikan gaib<br />
karena sudah begitu. Begitu saja.</p>
<p>Terima kasih atas pengertian kalian.<br />
(Conteng pilihan anda sebelum berbuat!)</p>
<p>Kunjungan</p>
<p>Ketika kumendongak dari kertasku yang kosong<br />
sang malaikat telah hadir di kamar</p>
<p>Sesosok malaikat yang serba biasa,<br />
kemungkinan besar dari kasta sudra.</p>
<p>Anda tak bisa bayangkan,<br />
ucapnya, betapa Anda tak ada pentingnya.</p>
<p>Satu saja dari lima belas ribu nuansa<br />
warna biru, katanya,</p>
<p>lebih masuk hitungan bagi dunia<br />
dari segala yang Anda perbuat atau tak perbuat,</p>
<p>belum lagi kita bicara tentang belerang<br />
atau galaksi Magellan</p>
<p>Bahkan cocor bebek, betapapun sederhananya<br />
meninggalkan rumpang, sedang Anda tidak.</p>
<p>Pada cerlang matanya kulihat, ia mengharap<br />
sanggahan, pergulatan panjang.</p>
<p>Aku diam saja. Aku menunggu,<br />
hingga ia menghilang, bisu.</p>
<p>Tentang Sulitnya Penataran Ulang</p>
<p>Sungguh menakjubkan<br />
segala agenda raksasa ini:<br />
Zaman keemasan<br />
Kerajaan Tuhan di bumi<br />
sirnanya negara.<br />
Meyakinkan memang.</p>
<p>Andai saja orang-orang itu tak ada!<br />
Senantiasa dan di mana saja mereka pengganggu.<br />
Bikin kacau semua rencana.</p>
<p>Ketika manusia akan dimerdekakan<br />
mereka tergesa ke salon<br />
Bukannya berbaris mengekor sang perintis<br />
mereka malah bilang: Duh enaknya kalau ada bir<br />
Bukannya berjuang demi cita luhur mulia<br />
mereka giat mengurus encok dan jerawat<br />
Saat-saat kritis dan menentukan<br />
mereka justru cari tempat jajan atau warung rokok<br />
Tepat menjelang Seribu Tahun Yang Jaya<br />
mereka sibuk mengurus popok</p>
<p>Orang-orang itu selalu bikin gagal semuanya.<br />
Mereka tak bisa dipegang dan diandalkan<br />
Sekarung kutu jauh lebih mudah ditata.</p>
<p>Keplinplanan borjuis kecil!<br />
Konsumtif dungu!<br />
Sisa produk lama!</p>
<p>Tak gampang membunuh mereka semua!<br />
Tak gampang pula menatarnya siang malam!</p>
<p>Coba kalau orang-orang itu tak ada<br />
semua pasti berbeda.</p>
<p>Coba kalau orang-orang itu tak ada<br />
semua bakal beres segera<br />
Coba kalau orang-orang itu tak ada<br />
Coba<br />
(Maka di sini aku pun tak perlu bikin repot lagi.)</p>
<p>Middle Class Blues</p>
<p>Kami baik-baik saja.<br />
Kami sibuk.<br />
Kami kenyang.<br />
Kami makan.</p>
<p>Rumput tumbuh,<br />
Produk sosial,<br />
Kuku jari,<br />
Masa lalu.</p>
<p>Jalanan kosong<br />
Kontrak-kontrak sudah beres.<br />
Sirene-sirene membisu.<br />
Semua bakal berlalu.</p>
<p>Kaum almarhum sudah siapkan surat wasiat.<br />
Hujan sudah berkurang<br />
Perang belum dinyatakan<br />
Itu tak perlu buru-buru.</p>
<p>Kami lahap rumput.<br />
Kami lahap produk sosial.<br />
Kami lahap kuku jari.<br />
Kami lahap masa lalu.</p>
<p>Kami punya tiada yang perlu dirahasiakan<br />
Kami punya tiada yang perlu dianggap kehilangan.<br />
Kami punya tiada yang perlu dikatakan.<br />
Kami punya.<br />
Jam sudah diputar.<br />
Semuanya sduah tertata.<br />
Piring-piring sudah dicuci.<br />
Bis terakhir sudah lewat.<br />
Kosong pula.<br />
Kami baik-baik saja.<br />
Apa lagi yang kami nantikan?</p>
<p>Si Malang Kassandra</p>
<p>Cuma dia yang tahu apa yang bakal terjadi,<br />
dia cuma: semua itu, katanya,<br />
bakal berakhir dengan buruk. Tentu saja<br />
tak seorang pun yang percaya.<br />
Memang kejadiannya sudah sangat lama. Tapi sejak itu<br />
semuanya bilang begitu. Lihat saja<br />
kurs saham, kemacetan,<br />
dan warta berita malam. Masalahnya adalah<br />
apakah arti “semua itu”, dan kapan?<br />
Sampai saatnya tiba tentu tak ada yang percaya<br />
apa yang dicemaskan semua orang.<br />
Lihat saja mobil-mobil baru,<br />
tempat-tempat hiburan, dan iklan jodoh.</p>
<p>Kassandra: tokoh perempuan dalam mitologi Yunani. Kassandra peramal yang tidak dipercayai siapa pun. Sedangkan ramalannya selalu menjadi kenyataan.</p>
<p>Creditur</p>
<p>Ketiadaan mutlak saja<br />
sudah gawat rasanya.<br />
Membuat mulas<br />
kaum metafisikawan.<br />
Menemukan nol<br />
tak seperti memetik bunga.</p>
<p>Apalagi ketika<br />
seorang India sembarangan<br />
kejatuhan ide<br />
bahwa sesuatu bisa kurang dari tiada.<br />
Kontan orang Yunani mogok.</p>
<p>Para pakar ketuhanan pun<br />
merasa canggung dengan ide itu.<br />
Tipuan setan, ucap mereka,<br />
bisikan iblis.</p>
<p>Inikah angka-angka alami,<br />
pekik skeptiswan-skeptiswati,<br />
minus satu, minus satu milyar?</p>
<p>Hanya dia yang berduit,<br />
dan jumlahnya segelintir saja,<br />
yang sama sekali tak pernah gentar:</p>
<p>Hutang dan potongan pajak,<br />
pembukuan ganda.<br />
Dunia binasa oleh bunga.<br />
Aritmetika – lumbung mereka.<br />
Kita semua berkredit,<br />
kata para banker.<br />
Cuma soal kepercayaan</p>
<p>Sejak itu, ia makin membesar saja<br />
yakni ia yang kurang dari tiada.</p>
<p>Creditur, bahasa latin; bentuk pasif dari kata kerja credere yang artinya percaya. Istilah kredit (pinjaman) berasal dari kata latin itu.</p>
<p>Perkabungan atas Apel</p>
<p>Di sini dulu apel terbaring<br />
Di sini dulu meja<br />
Itu dulu rumah<br />
Itu dulu kota<br />
Di sini tanah istirah</p>
<p>Apel itu<br />
adalah bumi<br />
sebuah planet elok<br />
tempat apel-apel dulu ada<br />
juga para pemakannya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://kedaipuisi.wordpress.com/2013/03/12/puisi-puisi-ironi-enzensberger/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">289</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/bb0ba3cafa3bf97427557f38e45f7cbbd67114f9eccf6ef27481c212637423eb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://kedaipuisi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/04/enzensberger.jpg?w=212" medium="image">
			<media:title type="html">enzensberger</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
