<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7627973856178805340</atom:id><lastBuildDate>Mon, 07 Sep 2026 03:34:15 +0000</lastBuildDate><category>Marsigit</category><category>Asesmen</category><category>Filsafat</category><category>Guru Besar</category><title>Marsigit Philosopy 2019 - Wahyu Hartono </title><description>Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A.</description><link>https://wahyuhartonoofficial.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (#Marsigit2019 Wahyu Hartono)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7627973856178805340.post-2912145734776777966</guid><pubDate>Thu, 16 Jan 2020 08:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-01-20T08:34:16.896+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Asesmen</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Filsafat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Marsigit</category><title>Identifikasi Masalah Filsafat pada bidang Asesmen Pembelajaran Matematika</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut &lt;a href=&quot;http://staffnew.uny.ac.id/upload/131268114/pendidikan/Handout_Philosophy+of+Mathematics+Education_+Program+S1+Bilingual+Pendidikan+Matematika_by_Dr+Marsigit+MA.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Marsigit (2009)&lt;/a&gt;, filsafat pendidikan matematika mencakup ulasan 
tentang beberapa masalah utama pendidikan matematika: ideologinya, 
fondasinya dan tujuannya. Hal tersebut juga meliputi sifat dari 
aspek-aspeknya: sifat matematika, nilai-nilai matematika, sifat siswa, 
sifat belajar, sifat mengajar matematika, sifat sumber belajar mengajar,
 sifat penilaian (assessment), sifat matematika sekolah, dan sifat siswa
 belajar matematika.&amp;nbsp;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Wiliam (1994), dalam sebagian besar disiplin ilmu, masalah 
filosofis dan fondasi tampaknya dicirikan oleh tiga hal:&lt;/div&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;li&gt;mereka (masalah filosofis dan fondasi) muncul cukup terlambat dalam 
pengembangan disiplin ilmu&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mereka dianggap bukan hal yang utama oleh sebagian besar praktisi&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mereka jarang dilakukan oleh praktisi terkemuka di lapangan.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pendekatan-pendekatan penilaian pendidikan yang didasarkan pada prinsip 
ilmiah dan asumsi filosofis yang telah ada selama beberapa dekade dan 
telah melayani sejumlah tujuan dengan cukup baik. Tetapi dunia telah 
berubah secara substansial sejak pendekatan-pendekatan itu pertama kali 
dikembangkan, dan fondasi-fondasi di mana mereka dibangun mungkin tidak 
mendukung tujuan-tujuan baru di mana penilaian dapat dilakukan. Selain 
itu, kemajuan dalam pemahaman dan pengukuran pembelajaran membawa asumsi
 baru ke dalam masalah ini dan menawarkan potensi untuk serangkaian 
praktik penilaian yang lebih kaya dan lebih koheren. Penilaian, 
kurikulum, dan pengajaran yang lebih baik dapat membantu pendidik 
mendiagnosis kebutuhan siswa yang “bermasalah” dan menyesuaikan 
perbaikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap penilaian pendidikan, apakah digunakan dalam ruang kelas atau 
konteks berskala besar, didasarkan pada serangkaian prinsip ilmiah dan 
asumsi filosofis, atau fondasi seperti yang disebut dalam tulisan ini. 
Pertama, setiap penilaian didasarkan pada konsepsi atau teori tentang 
bagaimana orang belajar, apa yang mereka ketahui, dan bagaimana 
pengetahuan dan pemahaman berkembang dari waktu ke waktu. Kedua, setiap 
penilaian mengandung asumsi tertentu tentang jenis pengamatan, atau 
tugas, mana yang paling mungkin menimbulkan demonstrasi pengetahuan dan 
keterampilan penting dari siswa. Ketiga, setiap penilaian didasarkan 
pada asumsi tertentu tentang cara terbaik untuk menafsirkan bukti dari 
pengamatan untuk menarik kesimpulan yang bermakna tentang apa yang 
diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi mengubah dunia kerja. Tenaga 
kerja menjadi lebih beragam, batas antara pekerjaan menjadi kabur, dan 
pekerjaan disusun dengan cara yang lebih beragam (NRC, 1999a). 
Restrukturisasi ini sering meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan 
pekerja untuk melakukan pekerjaannya. Sebagai contoh, banyak pabrik 
membuat teknologi informasi dan pelatihan karyawan yang canggih untuk 
berpartisipasi dalam tim kerja (Appelbaum, Bailey, Berg, dan Kalleberg, 
2000). Mencerminkan transformasi ini dalam pekerjaan, pekerjaan yang 
membutuhkan keterampilan khusus dan pendidikan pasca sekolah menengah 
diperkirakan akan tumbuh lebih cepat daripada jenis pekerjaan lain di 
tahun-tahun mendatang (Bureau of Labor Statistics, 2000).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk berhasil dalam ekonomi yang semakin kompetitif ini, semua siswa, 
tidak hanya beberapa, harus belajar bagaimana berkomunikasi, berpikir 
dan bernalar secara efektif, untuk memecahkan masalah yang kompleks, 
untuk bekerja dengan data multidimensi dan representasi canggih, untuk 
membuat penilaian tentang keakuratan informasi yang masif, untuk 
berkolaborasi dalam tim yang beragam, dan untuk menunjukkan motivasi 
diri (Barley dan Orr, 1997; NRC, 1999a, 2001). Seiring ekonomi AS 
melanjutkan transformasi dari manufaktur ke layanan dan, di dalam 
layanan, menjadi &quot;ekonomi informasi,&quot; banyak pekerjaan yang membutuhkan 
keterampilan tingkat yang lebih tinggi daripada di masa lalu. Banyak 
tugas rutin sekarang diotomatisasi melalui penggunaan teknologi 
informasi, sehingga mengurangi permintaan pekerja untuk melakukannya. 
Sebaliknya, permintaan untuk pekerja dengan keterampilan kognitif 
tingkat tinggi telah tumbuh sebagai akibat dari meningkatnya penggunaan 
teknologi informasi di tempat kerja (Bresnahan, Brynjolfsson, dan Hitt, 
1999). Sebagai contoh, organisasi menjadi tergantung pada interaksi 
e-mail cepat alih-alih memperlambat nota dan balasan. Individu yang 
tidak siap untuk secara cepat tetapi efektif reflektif berada pada 
posisi yang kurang menguntungkan dalam lingkungan seperti itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perubahan-perubahan ini berarti bahwa lebih banyak tuntutan dari semua 
aspek pendidikan, termasuk penilaian. Penilaian harus memanfaatkan 
kompetensi yang lebih luas daripada di masa lalu. Mereka harus menangkap
 keterampilan yang lebih kompleks dan pengetahuan konten yang lebih 
dalam tercermin dalam harapan baru untuk belajar. Mereka harus secara 
akurat mengukur tingkat pencapaian yang lebih tinggi sambil juga 
memberikan informasi yang bermakna tentang siswa yang masih berprestasi 
di bawah harapan. Semua tren ini sedang dimainkan dalam skala besar 
dalam upaya untuk menetapkan standar yang menantang untuk pembelajaran 
siswa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika penilaian tidak selaras dengan apa yang diajarkan siswa, tidaklah 
adil untuk mendasarkan promosi atau penghargaan pada hasil, terutama 
jika siswa yang kurang beruntung dirugikan secara tidak proporsional 
oleh hasilnya. Jika penilaian saat ini tidak secara efektif mengukur 
dampak pengajaran atau gagal menangkap keterampilan dan pengetahuan 
penting, bagaimana pendidik dapat menafsirkan dan mengatasi kesenjangan 
dalam prestasi siswa?. Pembelajaran abad 21 secara sederhana diartikan 
sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21 kepada peserta 
didik, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) 
Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div id=&quot;cleantext&quot;&gt;
Berdasarkan paparan di atas, terkait dengan masalah 
filosofis dalam realita masalah penilaian pendidikan saat ini, maka 
muncul tiga pertanyaan untuk mengidentifikasi permasalahan dalam 
penilaian yaitu, apakah serangkaian prinsip ilmiah dan asumsi filosofis,
 atau fondasi filosofis berikut ini masih relevan?&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;li&gt;Setiap penilaian didasarkan pada konsepsi atau teori tentang 
bagaimana orang belajar, apa yang mereka ketahui, dan bagaimana 
pengetahuan dan pemahaman berkembang dari waktu ke waktu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Setiap penilaian mengandung asumsi tertentu tentang jenis 
pengamatan, atau tugas, mana yang paling mungkin menimbulkan demonstrasi
 pengetahuan dan keterampilan penting dari siswa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Setiap penilaian didasarkan pada asumsi tertentu tentang cara 
terbaik untuk menafsirkan bukti dari pengamatan untuk menarik kesimpulan
 yang bermakna tentang apa yang diketahui dan dapat dilakukan oleh 
siswa.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Permasalahan berikutnya adalah:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dipuji sebagai metafora utama pembelajaran manusia sejak 1970-an (Liu 
&amp;amp; Matthews, 2005), konstruktivisme, tanpa diragukan, telah menjadi 
rujukan bagi banyak upaya reformasi pendidikan barat postmodern. Namun, 
kinerja luar biasa dari negara-negara Asia Timur dalam studi 
internasional tes prestasi matematika untuk &lt;span class=&quot;items&quot;&gt;&lt;span class=&quot;item&quot;&gt;&lt;i&gt;junior high school&lt;/i&gt;
                                                            
                                                        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; seperti Trend in International 
Mathematics and Science Study (TIMSS) and the Programme for 
International Student Assessment (PISA) (ICMI, 2012) dimana mereka 
menyatakan masih menggunakan pendekatan tradisional dalam pengajaran 
matematika menambah motivasi lebih lanjut untuk memeriksa kembali 
konstruktivisme sebagai filosofi pembelajaran (Ndlovu, 2013). Disisi 
lain, Bercermin dari hasil PISA yang baru saja diumumkan beberapa minggu
 lalu, dimana peringkat Indonesia terus merosot dari tahun ke tahun dan 
disaat yang sama sedang terjadi transformasi dari KTSP ke Kurikulus 
2013.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;4.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Apakah
konstruktivisme sebagai landasan filosofi kurikulum 2013 perlu ditinjau ulang?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;5.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Apa
landasan filosofi yang digunakan dalam pembelajaran pendidikan matematika
negara-negara di asia timur yang sukses dalam TIMSS dan PISA?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;6.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Penilaian
dalam pendidikan tinggi didorong oleh tuntutan kelembagaan maupun pendidikan
dan oleh karena itu perlu melayani tujuan formatif, sumatif dan normatif.
Terdapat kebutuhan untuk secara jelas membedakan antara &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;test&lt;/i&gt; dan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;examination&lt;/i&gt;
untuk tujuan seleksi, evaluasi untuk tujuan penilaian dan pemeringkatan dan
penilaian untuk tujuan memberikan umpan balik kepada pelajar dan pendidik.
Proses penilaian juga harus relevan, valid, andal, dan nyaman. Pertanyaannya
adalah, apa aturan dari penilaian dan bagaimana cara penerapannya?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 1cm; text-align: justify;&quot;&gt;
Ernest (1991)
menggambarkan lima kelompok sosial guru, di mana setiap kelompok memiliki ideologi
pendidikan matematika yang berbeda yang meliputi: pandangan matematika sekolah,
teori masyarakat, teori kemampuan dalam matematika, tujuan pendidikan
matematika, teori pembelajaran matematika, teori mengajar matematika, teori
sumber daya untuk belajar matematika, dan teori keanekaragaman sosial dalam
matematika. Kelima kelompok sosial guru ini adalah: &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Industrial trainer, technological pragmatist, old humanist, progressive
educator, and public educator&lt;/i&gt;. Seorang guru dapat memiliki kombinasi dari
beberapa kelompok sosial tadi. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;7.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana
berpengaruh kelompok sosial guru &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Industrial
trainer&lt;/i&gt; terhadap cara guru menyikapi penilaian pada kurtilas dan dampaknya pada
hasil belajar siswa?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;8.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana
berpengaruh kelompok sosial guru &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;technological
pragmatist&lt;/i&gt; terhadap cara guru menyikapi penilaian pada kurtilas dan
dampaknya pada hasil belajar siswa?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;9.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana
berpengaruh kelompok sosial guru &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;old
humanist&lt;/i&gt; terhadap cara guru menyikapi penilaian pada kurtilas dan dampaknya
pada hasil belajar siswa?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;10. &lt;/span&gt;Bagaimana
berpengaruh kelompok sosial guru &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;progressive
educator&lt;/i&gt; terhadap cara guru menyikapi penilaian pada kurtilas dan dampaknya
pada hasil belajar siswa?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;11.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana
berpengaruh kelompok sosial guru &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;public
educator &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;terhadap cara guru
menyikapi penilaian pada kurtilas dan dampaknya pada hasil belajar siswa?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;12.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana
berpengaruh kelompok sosial kombinasi dari guru &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Industrial trainer, technological pragmatist, old humanist, progressive
educator, and public educator&lt;/i&gt; terhadap cara guru menyikapi penilaian pada
kurtilas dan dampaknya pada hasil belajar siswa?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 35.45pt; text-align: justify;&quot;&gt;
Platonisme memiliki ciri berikut: Objek matematika ada secara abstrak, 
tidak tergantung pada ruang, waktu, dan kesadaran manusia; kebenaran 
matematika adalah fitur objektif dan nyata dari alam semesta, bukan 
ketentuan formal maupun ciptaan manusia; semua proposisi karenanya 
memiliki nilai kebenaran yang tidak tergantung pada pikiran manusia, 
yang dapat kita ketahui melalui intuisi dan deduksi apriori. Namun, 
Hersh berpendapat bahwa Platonisme salah: Sejarah menunjukkan bahwa 
pengetahuan matematika terletak secara sosial-budaya dan dapat diubah, 
sehingga tidak dapat dipastikan. Intuisi Platonis dan ranah abstrak 
adalah peninggalan agama yang “dibuat-buat”, tidak berhubungan dengan 
ilmu pengetahuan alam dan dunia sekuler (1997, 11). Paul Ernest, editor 
Philosophy of Mathematics Education Journal, mengatakan bahwa keyakinan 
guru tentang matematika sangat penting; tetapi Platonisme — hanya 
sedikit lebih baik daripada hafalan “instrumentalis” - menghambat 
pendidikan progresif yang berpusat pada siswa. Dia mengatakan para guru 
harus melupakan kebenaran abstrak yang tak lekang oleh waktu dan sebagai
 gantinya memfasilitasi konstruksi pengetahuan bersama (Ernest 1989). 
Namun, Schroter (2018) menyatakan ketidaksetujuannya dengan pendapat 
tersebut. Ia mengatakan, sementara Ernest dan Hersh benar untuk 
menekankan filosofi matematika dalam mengajar, kesimpulan anti-Platonis 
mereka tidak beralasan. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;13.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Identifikasi
masalah yang muncul adalah, apakah dasar dari filosofi yang digunakan oleh
kurikulum 2013. Apakah berasal dari salah satu kubu tadi atau kombinasi dari
kedua kubu?. Hal ini penting untuk mengetahui arah sebenarnya dari kurikulum
yang kita jalani.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;14.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Siswa
menghadapi kesulitan yang signifikan untuk memahami konsep infinity, terutama
bentuk sebenarnya, menurut dikotomi Aristoteles. Bagaimana studi eksperimental
pada efek instruksi (termasuk assessment) ke aspek filosofis/epistemologis
dasar yang &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;infinite&lt;/i&gt; dapat meningkatkan
kemampuan siswa untuk berhasil dalam belajar matematika dengan situasi yang
melibatkan, langsung atau tidak langsung, konsep &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;infinity&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 12pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;15.&lt;span style=&quot;font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Salah
satu ciri dari pendidikan abad ke-21 adalah &lt;span style=&quot;background: white; color: #222222;&quot;&gt;menerapkan&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;pembelajaran&lt;/span&gt;&amp;nbsp;yang
mengaktifkan siswa berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah. Menurut Ernes
(2015), aturan Descartes untuk pengarahan pikiran pada 1628 merupakan seperangkat
heuristik &quot;pemecahan masalah&quot; yang sangat lengkap. Menurutnya, Salah
satu kesulitan dalam membahas penyelesaian masalah adalah bahwa konsepnya tidak
didefinisikan secara jelas dan dipahami secara berbeda oleh penulis yang
berbeda. Apakah pemahaman konsep pemecahan masalah yang berbeda tersebut
dipengaruhi oleh ideologi guru?. Bagaimana dampaknya terhadap penilaian?.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #222222;&quot;&gt;#Bidang Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #222222;&quot;&gt;#Filsafat Matematika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #222222;&quot;&gt;#Matematika Universitas &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>https://wahyuhartonoofficial.blogspot.com/2020/01/identifikasi-masalah-filsafat-pada.html</link><author>noreply@blogger.com (#Marsigit2019 Wahyu Hartono)</author><thr:total>15</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7627973856178805340.post-6484621840435194326</guid><pubDate>Thu, 16 Jan 2020 08:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-01-20T08:40:08.845+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Guru Besar</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Marsigit</category><title>Marsigit Point of View: Sebuah Review Perkuliahan Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan di Pascasarjana UNY </title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;e24kjd&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Ilmu Filsafat pendidikan adalah bidang
yang baru pertama kali saya pelajari. Saat pertama kali ikut perkuliahan ini terus
terang saya tidak mengerti apa yang disampaikan. Saat diberikan kuis yang berjumlah
50 soal, saya bingung apakah harus mencari sinonim, antonim, atau yang lain. Pada
pertemuan selanjutnya akhirnya saya tahu bahwa yang dijawab untuk kuis adalah
analogi dari istilah-istilah yang ditanyakan. Tetapi kemudian jawaban yang
disampaikan oleh Prof. Marsigit sering membuat saya bingung dan sering bertolak
belakang dengan pemahaman yang sudah saya miliki. Tiga pertemuan pertama kuliah
filsafat pendidikan membuat kepala saya sering pusing. Akhirnya saya putuskan
untuk memainkan analogi dalam pikiran saya. Saya menganalogikan pikiran dan
pemahaman yang sudah saya memiliki sebagai sebuah gelas yang telah terisi. Saat
perkuliahan filsafat pendidikan, gelas tersebut saya ganti dengan gelas yang
kosong agar saya bisa menerima apa yang Prof. Marsigit sampaikan tanpa harus
mempertentangkannya dengan pemahaman yang sudah saya miliki. Walhasil, selama
pertemuan berikutnya, saya jadi bisa mengikuti perkuliahan dengan lebih tenang
dan berusaha memahami apa yang Prof. Marsigit sampaikan. Saat membaca artikel pada &lt;a href=&quot;https://powermathematics.blogspot.com/&quot;&gt;https://powermathematics.blogspot.com/&lt;/a&gt;
 ternyata banyak sekali pembahasan bidang filsafat yang selama ini saya 
cari-cari karena begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya 
selama belajar mata kuliah filsafat ini. Saya memutuskan untuk membeli 
tablet android agar bisa terus membaca blogspot tersebut dengan lebih 
nyaman dan santai. Paragraf berikutnya
dari tulisan ini akan menjelaskan hal apa saja yang sudah saya peroleh 
selama
perkuliahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoBodyText&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Objek
filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Masalah filsafat adalah
menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran dan mengetahui atau memahami apa yang
ada di luar pikiran. Filsafat menggunakan bahasa analog. Contoh: kata ragu-ragu
merupakan bahasa orang awam. Dalam kajian filsafat, kata ragu-ragu berubah menjadi
skeptisism. Tingkatan dimensi filsafat: material, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt; line-height: 115%; position: relative; top: 3.0pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;formal, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt; line-height: 115%; position: relative; top: 3.0pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;normatif, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt; line-height: 115%; position: relative; top: 3.0pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;spiritual.
Ragu-ragu adalah dimensi material, dalam dimensi spiritual adalah godaan syaitan,
dalam dimensi formal adalah kontradiksi, dalam dimensi normatif adalah
skeptisism. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoBodyText&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Rene
Descartes pernah bermimpi satu macam saja, sehingga ia tidak bisa membedakan
antara mimpi atau kenyataan. Itulah contoh keragu-raguan yang dialami Rene
Descartes. Untuk membedakan mimpi atau nyata adalah dengan cara bertanya.
Ketika ia bertanya (skeptisism), maka ia berpikir (rasionalism). Sehingga
skeptisism muncul bersamaan dengan rasionalism. Berfilsafat haruslah didasarkan
pada filsuf tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoBodyText&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Infinit
regres adalah lapisan-lapisan metafisis atau lapisan-lapisan kualitas. Lapisan
pertama atau kualitas pertama adalah yang dapat terlihat langsung. Dimana rumah
anda?, jawabnya ada di dalam bahasa. Karena filsafat kontemporer adalah
filsafat analitik yang ada di dalam bahasa. Ikhlas dalam hati adalah ikhlas dalam
arti biasa. Ikhlas dalam pikir adalah mengerti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoBodyText&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kontradiktif
adalah ilmu. Komponen utama idealita adalah konsistensi dari konsep-konsep.
Konsep-konsep adalah definisi adalah dunia adalah ruang adalah waktu. Jiwa
adalah naumena (di luar fenomena/tidak dapat dipersepsi). Tindakanku tidak bisa
mengejar tulisanku, tulisanku tidak bisa mengejar kata-kataku. Kata-kataku
tidak mampu mengejar pikiranku. Pikiranku tidak mampu mengejar perasaanku/hati.
Di dalam hati ada keyakinan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoBodyText&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Fenomena
hidup adalah siklik dan linear. Contoh siklik adalah matahari yang terbit
setiap hari. Contoh linear adalah waktu yang tidak bisa kembali. Gabungan
siklik dan linear adalah spiral. Ada tiga jenis spiral yaitu: tetap,
mengembang, meruncing/mengurangi. Sebenar-benar hidup adalah spiral yang
meruncing. Meruncing itu artinya fokus. Fokus itu memilih. Setiap titik pada
spiral juga memilih apakah akan tetap, mengembang, atau meruncing.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoBodyText&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Filsafat
gunung, puncaknya di atas. Andaikata puncaknya di bawah maka matematika atau
relatif, bisa juga ada gunung yang lebih kecil sehingga puncaknya ada di bawah
dari gunung yang lebih tinggi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Saat
diberikan tugas untuk mengidentifikasi masalah filsafat dalam asesmen di bidang
pendidikan matematika, saya jadi memahami betapa pentingnya landasan filosofis
suatu objek kajian. Saya jadi mengetahui bahwa terdapat pertentangan antara
matematika yang landasan filosofisnya berasal dari platonisme dan matematika
yang landasan filosofisnya adalah kontruktivisme. Dengan mengetahui landasan
filosofis suatu objek kajian, pembahasan kita akan menjadi lebih tajam dan
langsung ke akar masalahnya. Sehingga mata kuliah filsafat pendidikan ini sudah
sangat memadai untuk dijadikan landasan dalam pembuatan disertasi. Terima kasih
saya ucapkan kepada Guru Besar&amp;nbsp; Prof. Marsigit, MA selaku dosen pengampu mata kuliah
Filsafat Pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;#Marsigit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;#PEP S3 UNY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;#Guru Besar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang=&quot;id&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;e24kjd&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>https://wahyuhartonoofficial.blogspot.com/2020/01/marsigit-point-of-view-sebuah-review.html</link><author>noreply@blogger.com (#Marsigit2019 Wahyu Hartono)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>