<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048</atom:id><lastBuildDate>Thu, 13 Oct 2011 10:25:51 +0000</lastBuildDate><category>renungan</category><category>islam</category><category>muslim</category><category>Kajian</category><category>tauhid</category><category>Adab</category><category>salam</category><category>Komunitas</category><category>tawakal</category><title>Keseharian</title><description /><link>http://jafrikoblog.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Jafriko)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Keseharian" /><feedburner:info uri="keseharian" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle></itunes:subtitle><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-7810156374050805140</guid><pubDate>Thu, 13 Oct 2011 10:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-13T17:25:51.143+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">islam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tawakal</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kajian</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">muslim</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tauhid</category><title>Contoh Kekeliruan Bertawakal</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam ranah praktek, banyak terjadi kerancuan dan penyimpangan dalam bertawakal. menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziah dalam &lt;i&gt;madariju al-salikin&lt;/i&gt;, kerancuan dan penyimpangan tersebut antara lain:&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Memaknai kepasrahan sebagai penyia-nyiaan. yakni membuang kesempatan dengan tidak berbuat apa-apa, bahkan malah menganggap sikap diam sebagai bentuk kepasrahan dan tawakal yang sempurna. menyia-nyiakan itu hak Allah, sedangkan kepasrahan adalah hak manusia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengartikan tawakan dengan kesantaian dan keengganan memikul beban, dengan menyakini bahwa tindakan itu merupakan wujud nyata dari tawakal. Padahal orang bertawakal hamba yang rajin bekerja. Tandanya, dia giat berusaha dan memanfaatkan segala peluang yang terbentang di depan mata. sementara, orang malas hanya bekerja sebatas mencukupi kebutuhan hidup dan memenuhi tuntutan syariat saja.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menganggap sama antara mengabaikan peluang dan menutup peluang. mengabaikan peluang masih berada diwilayah tauhid, sedangkan menutup peluang sudah berada diwilayah kekafiran. mengabaikan peluang berarti tidak menyadarkan hati, tidak bergantung dan tidak mengandalkan peluang tersebut. tetapi, menutup peluang berarti membuat anggota badan diam dan pasrah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menganggap sama antara keyakinan atas rahmat Allah SWT, dan kepasrahan. padahal orang yang meyakini rahmat Allah pasti melaksanakan pertintah-Nya, baru kemudian memasrahkan urusan hasil kepada-Nya. dia menabur benih dan mengairi ladang terlebih dahulu, baru kemudian memasrahkan urusan hasil panen kepada-Nya. sementara, orang yang salah dalam memasrahkan diri adalah mereka yang diam lalu berharap Allah akan memberi mereka hasil . ingat, keyakinan atas rahmat ini hanya bisa dibenarkan setelah anda berusaha.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menganggap sama antara ketenteraman bersandar kepada Allah dengan bersandar kepada sesuatu selain-Nya. hanya orang cerdas yang bisa membedakan kedua jenis ketergantungan ini. sayangnya, tanpa sadar, kebanyakan mutawakil bersandar kepada sesuatu, kemudian merasa dirinya sudah bertawakal kepada Allah. tandanya, tatkala sesuatu itu habis atau sirna, timbul rasa takut dan gelisah dalam hati orang tersebut. contohnya, terkandung dalam kisah Abu Sulaiman al-Darani, ketika beberapa hari dia melihat seorang laki-laki di Mekah tidak mengonsumsi apa pun selain air zam-zam. Abu sulaiman bertanya kepadanya, "bagaimana pendapat mu, jika sumur zam-zam ini kering? apa yang akan engkau minum?" orang itu langsung berdiri, mencium kening abu sulaiman dan berkata, "semoga Allah membalas kebaikan mu karena engkau telah memberi ku petunjuk. karena sungguh, aku telah menyembah zam-zam selama beberapa hari ini." selesai berkata demikian, laki-laki itu pun pergi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menganggap sama antara &lt;i&gt;rida&lt;/i&gt; kepada Allah atas semua perbuatan-Nya kepada mahluk dengan keingginan untuk meraih rida-nya. ini adalah dua hal yang berbeda. contohnya perkataan Abu sulaiman, "aku mengharap mendapatkan setitik keridaan Allah. kalau sudah kudapatkan, aku tidak peduli lagi meskipun dimasukkan ke dalam api neraka."&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menganggap sama antara pengetahuan tentang tawakal dengan kondisi orang yang bertawakal. banyak orang yang mengetahui pengertian, makna serta hakikat tawakal, kemudian menyangka dirinya sudah bertawakal. padahal, pengetahuan tidaklah sama dengan praktik. sama halnya dengan orang yang tahu pengertian, cara, serta etika mencintai Allah SWT. kita yang sekedar tahu berbeda dengan orang-orang yang memang dibuai rasa cinta kepada-Nya. sama pula dengan orang yang sakit yang tahu rasanya sehat. bukankah ia tetap sakit kendati pernah merasakan sehat.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: Terapi Tawakal (oleh 10 Ulama Klasik Psikologi) Penerjemah Luqman Junaidi, 2011. Ahsan Books &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-7810156374050805140?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/86cBQdlZCeE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/86cBQdlZCeE/contoh-kekeliruan-bertawakal.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2011/10/contoh-kekeliruan-bertawakal.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-1895987622817737685</guid><pubDate>Fri, 16 Sep 2011 07:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-16T14:47:01.950+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Komunitas</category><title>Tuhan</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh: &lt;a href="http://www.fimadani.com/tuhan/"&gt;Akmal Sjafril ST, MPdI&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
assalaamu'alaikum wr. wb.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika menjelaskan tentang bukti-bukti keberadaan Tuhan, Buya Hamka 
tidak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
merasa perlu berpanjang-panjang dalam penjelasannya, padahal beliau 
dikenal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sebagai ulama-sastrawan yang piawai merangkai kata. Menurutnya, 
keberadaan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tuhan itu terlalu mudah untuk dipahami oleh manusia, siapa pun dia, 
sehingga&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
tak perlu dibuktikan kembali. Apa yang sudah terang tak perlu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
diterang-terangkan lagi. Pengakuan akan keberadaan Tuhan adalah suatu 
hal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
yang sudah terintegrasi dalam jiwa manusia. Yang jadi masalah justru 
jika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
manusia ngotot hendak meng-uninstall program yang sudah dipasang sejak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
dahulu kala dalam dirinya (QS Al A’raf: 172).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari sekian banyak manusia keras kepala yang mengingkari dirinya sendiri&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ini, tidak ada satu pun yang berhasil sepenuhnya. Ustadz Rahmat Abdullah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
rahimahullaah pernah menceritakan tentang seorang mahasiswa yang sepenuh&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
hatinya merasa bangga dengan ateisme yang dijadikannya sebagai prinsip&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
hidup. Tuhan itu tak berwujud, katanya. Tuhan itu hanya ada dalam khayal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
manusia, katanya. Tapi dalam sebuah demonstrasi menuntut reformasi, 
ketika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
peluru berdesingan di atas kepalanya, ia tiarap juga sambil berteriak, 
“Ya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tuhan!” Ternyata pengakuan terhadap Tuhan belum berhasil ia buang dalam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
recycle bin hatinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada akhirnya, kematian adalah pembuktian yang paling nyata. Biarpun 
sudah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
menolak Tuhan dengan berapi-api dan mengklaim bahwa hidupnya adalah 
miliknya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sendiri, toh akhirnya semua manusia menemui ajal juga. Suka tidak suka,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
semua akan mengalaminya. Boleh seenaknya di dunia, tapi akhirnya diseret&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
juga ke akhirat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasti ada juga yang menolak argumen ini. Kematian hanya membuktikan 
bahwa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
masa hidup manusia telah habis. Tak ada bukti jiwa manusia pergi ke 
suatu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
alam yang lain dengan alam dunia ini. Tak ada bukti bahwa Tuhan itu ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah hidup hanya ada kematian, dan di seberang kematian hanya ada&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ketiadaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyangkalan (denial) semacam ini tidaklah melukai siapa pun selain 
dirinya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sendiri. Berusaha meng-uninstall program yang menjadi pondasi dari jiwa 
kita&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ibarat tanaman yang mencabut akarnya sendiri. Tak bisa membuang 
programnya,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
maka jiwanya sendirilah yang dicampakkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak seorang pun manusia yang sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan itu 
tidak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ada. Tidak Nietzsche (“God is dead”), tidak Karl Marx (“Religion is 
opium&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
for the people”), tidak juga Fir’aun (“Aku tidak mengetahui tuhan bagimu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
selain aku.”). Ketika ombak hampir menelan tubuhnya, Fir’aun pada 
akhirnya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
dipaksa mengaku juga bahwa ia hanyalah tulang, darah, daging, kulit, dan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
rambut. Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Meski sudah ke&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
mana-mana mendakwakan bahwa Tuhan telah mati, pada akhirnya Nietzsche 
juga&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
yang mati. Marx, yang punya ‘misi suci’ membebaskan umat manusia dari&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
‘opium’ yang membelenggu hidup mereka, pada akhirnya mati juga, 
sementara&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
mereka yang beriman tetap saja beriman. Merekalah contoh manusia yang 
gagal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
menulis ulang program dirinya, karena sejak awal mereka memang tidak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
mengenal kode program yang sesuai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak ada seorang manusia pun yang sungguh-sungguh beriman akan 
ketiadaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada hakikatnya semua manusia diciptakan dengan ego yang pasti akan 
menolak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
klaim bahwa dirinya tidak lebih daripada seekor hewan yang hidup tanpa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
tujuan pasti selain makan, berkembang biak dan bertahan hidup. Tak ada 
juga&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
manusia yang mau menyamakan dirinya dengan benda mati yang tercipta dan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
hancur tanpa konsekuensi bagi dirinya sendiri. Kematianlah yang memberi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
makna pada kehidupan, dan kehidupan sesudah matilah yang memberi makna 
pada&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
kematian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka yang percaya bahwa kematian itu ada, tapi kehidupan sesudah mati 
itu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
tidak ada, akan menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda dengan kaum&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
yang beriman. Jika kehidupan di dunia ini adalah satu-satunya yang 
mereka&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
miliki, amboi betapa kacaunya dunia ini. Tak ada kebaikan, tak ada 
kemurahan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
hati, tak ada yang saling menolong, tak ada yang saling mendahulukan, 
dan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
tak ada yang saling mencintai. Semua orang hidup untuk dirinya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sendiri-sendiri, memenuhi syahwat perut dan kelaminnya. Mereka memandang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri; jika tak 
lagi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
berguna, maka siapa pun bisa disingkirkan. Demikianlah peradaban manusia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
yang ‘tanpa tuhan’.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam peradaban paling biadab sekalipun, iman kepada Tuhan dan kehidupan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
akhirat masih tetap ada. Itulah yang menjaga manusia dari perilaku keji 
dan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
haus darah. Jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak meng-install program 
yang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
terkoneksi langsung dengan-Nya dalam diri kita (dan juga menciptakan 
program&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
lain yang mencegah siapa pun untuk meng-uninstall-nya), maka manusia 
sudah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sejak dulu punah karena saling bunuh. Sementara binatang yang hanya 
punya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
syahwat tanpa akal saja jika terjepit bisa menjadi kanibal, apalagi 
manusia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
yang bukan hanya punya syahwat, tapi juga punya akal. Hewan buas yang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
kanibal hanya akan memangsa sesuai kapasitas lambungnya, sementara 
manusia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
yang ‘kanibal’ akan menciptakan kulkas untuk menyimpan korban-korbannya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
dalam jumlah banyak dan museum untuk memamerkan tulang-belulangnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Benarlah apa yang dikatakan oleh Buya Hamka. Beriman kepada Allah itu 
adalah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
hal yang terlalu terang untuk diterang-terangkan. Justru penolakan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
terhadap-Nya itulah yang begitu rumit untuk dijelaskan. Itulah sebabnya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
mereka yang keras kepala menolak Allah disebut “kafir” yang artinya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“ingkar”. Mereka tak dapat mengubah kenyataan, melainkan hanya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
mengingkarinya saja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tulisan ini juga di posting oleh saudara &lt;a href="http://groups.google.com/group/daarut-tauhiid/browse_thread/thread/9497b97fd2129497"&gt;satriyo&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
wassalaamu'alaikum wr. wb.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-1895987622817737685?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/GwxTx-WQ-ls" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/GwxTx-WQ-ls/tuhan_16.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2011/09/tuhan_16.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-8479428174483293793</guid><pubDate>Fri, 16 Sep 2011 07:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-16T14:31:30.132+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Komunitas</category><title>Menatap masa depan</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Assalaamu ‘alaikum Wr. Wb. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabat seiman.., &lt;br /&gt;
simaklah indah ayat berikut ini, artinya:&lt;br /&gt;
“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika 
ia Berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" 
mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, 
Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami Hanya 
tunduk patuh kepada-Nya". (Q.S. Al baqoroh: 133)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabat seiman.., &lt;br /&gt;
Lihatlah! Setiapkali mentari bersinar diri ini selalu liar menatap masa 
depan, mengukir rencana apa yang hendak ia lakukan? seakan ia begitu 
yakin dengan kedatangannya, seolah ia tak pernah berputus harapan.. 
seperti pagi ini masing-masing kita pun telah memiliki rencana. 
Tengoklah potensi kita begitu besar untuk menatap masa depan..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabat seiman..,&lt;br /&gt;
Berapa banyak tugas kita hari ini, kapan ia akan diselesaikan, berapa 
dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya, kemana kita akan menuju? 
Subhanallah! Semua telah terencana begitu rapi.. tetapi apa yang sudah 
kita perbuat untuk akhirat, seberapa kuat keyakinan kita akan dekat 
kedatangannya? Bagaimana agenda kita tuk meraihnya? Subhanallah! 
Ternyata sebenarnya Allah SWT telah mempersiapkan diri ini tuk siap 
menghadapinya!&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
Sahabat seiman..,&lt;br /&gt;
Perhatikanlah baik-baik nasihat Nabi Ya’qub, ia adalah gambaran 
seseorang yang memiliki visi ke depan, ia bukan saja mampu mempersiapkan
 masa depannya, tapi juga anak-anaknya.. masih ada waktu tersisa ke 
depan, mari kita perbaiki rencana, semoga hari ini, esok dan seterusnya 
akan selalu lebih baik, Selamat beraktifitas! (SaiBah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh: &lt;a href="http://groups.google.com/group/daarut-tauhiid/browse_thread/thread/9c755b67458473bf"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abuzar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-8479428174483293793?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/2sg5rimfId0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/2sg5rimfId0/menatap-masa-depan.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2011/09/menatap-masa-depan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-3491150755690261934</guid><pubDate>Wed, 07 Sep 2011 17:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-08T00:58:15.880+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kajian</category><title>Sabar dan Iklas</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wahai orang yang bersedih, ketahuilah bahwa kesedihan itu ada jalan keluarnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bergembiralah dengan kebaikan, karena yang memberi jalan keluar adalah Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
 Putus asa terkadang bisa membunuh pemiliknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jangan sekali-kali berputus asa, karena yang mencukupi adalah Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Allah menjadikan kemudahan setelah kesulitan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jangan sekali-kali berkeluh kesah, karena yang menjadikannya adalah Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika engkau di uji, yakinlah kepada Allah dan ridhalah kepada-Nya. Sesungguhnya, yang menghilangkan ujian hanyalah Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Demi Allah, tiada seorang pun yang dapat menolong mu selain-Nya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh karena itu, cukuplah Allah bagi mu dalam setiap keadaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dr. Abdul Muhdi Abdul Hadi&amp;nbsp; dan Hamd Bin Abdillah Ad-dausari dalam bukunya "Allah Sayang Kamu" Hlm. 86. Aqwam. 2008. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;
&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-7367835679237995";
google_ad_host = "pub-1556223355139109";
/* My Ads */
google_ad_slot = "1827259721";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js" type="text/javascript"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-3491150755690261934?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/ga-_lXPhq3Y" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/ga-_lXPhq3Y/sabar-dan-iklas.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2011/09/sabar-dan-iklas.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-7543152043584939214</guid><pubDate>Sat, 03 Sep 2011 10:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-03T17:59:40.036+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kajian</category><title>Bersyukur dan Nikmat Sehat</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada sebuah riwayat yang menyebutkan tentang seorang hamba Allah yang saleh telah mencapai usia tujuh puluh tahun dan anggota badannya masih sehat. ketika ditanya tentang hal itu, ia berkata, "Angota badan ku ini sejak kecil aku jaga untuk selalu taat kepada Allah SWT. Karenanya, Allah SWT menjaganya untuk ku disaat aku sudah tua".&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wahai orang yang sehat! bertanyalah pada diri sendiri, apakah engkau telah bersyukur kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya atas nikmat anggota badan yang dikaruniakan kepada mu? sudahkah engkau menggunakannya untuk mentaati Allah SWT dan mencegahnya dari maksiat kepada-Nya?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syukur yang hakiki harus diwujudkan dengan amalan anggota badan, sebagaimana pula harus diyakini dengan hati dan diikrarkan dengan lisan. Allah SWT berfirman dalam Surat Saba ayat 13 yang berbunyi "Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang bersyukur". &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dikutip dari buku karangan DR. Abdul Muhdi Abdul Hadi dan HamdBin Abdillah Ad-Dausari "Allah Sayang Kamu" Halm: 65-66, AQWAM. 2008. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-7543152043584939214?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/vwa9AsgYpsk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/vwa9AsgYpsk/bersyukur-dan-nikmat-sehat.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2011/09/bersyukur-dan-nikmat-sehat.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-8132679824681341907</guid><pubDate>Mon, 21 Dec 2009 05:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-21T12:45:19.278+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kajian</category><title>Ampunan Allah Lebih Besar Dari Dosa</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Dikisahkan bahwa pada zaman Nabi Musa AS ada seorang laki-laki yang tidak bisa bertobat dengan baik. Setiap kali bertobat setelah itu ia berbuat kejahatan lagi. Hal itu berlangsung selama dua puluh tahun. Allah SWT mewahyukan kepada Musa AS, “katakan kepada hamba Ku si Fulan bahwa aku murka kepadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Musa AS menyampaikan risalah itu kepada orang tersebut, orang itu bersedih dan pergi ketengah gurun sahara sambil berkata, “wahai Tuhan ku, telah habiskah rahmat Mu? Ataukah kemaksiatan ku telah merugikan-Mu atau Engkau kikir kepada hamba-hamba-Mu? Adakah dosa yang besarnya melebihi ampunan-Mu? Padahal kemurahan adalah termasuk sifat-sifat-Mu yang qadim. Adapun ketercelaan adalah termasuk sifat-sifat ku yang lahir kemudian. Apakah sifat ku telah mengalahkan sifat-Mu? Jika Engkau tutupkan tirai rahmat-Mu dari hamba-hamba-Mu, kepada siapa lagi mereka berharap? Jika Engkau usir mereka, kepada siapa lagi mereka datang? Wahai Tuhan ku, jika telah habis rahmat-Mu, pastilah aku mendapatkan siksaan. Sampaikanlah kepada semua hamba-hamba-Mu bahwa aku telah menebus mereka dengan diri ku."&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Allah SWT berfirman, “wahai Musa AS, pergilah kepadanya dan katakan, `kalaupun dosa-dosa mu banyaknya sepenuh bumi, niscaya Aku mengampuninya setelah engkau mengenal akan kesempurnaan kekuasaan, ampunan dan rahmat-Ku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan bahwa seorang nabi diantara para nabi melakukan dosa. Karena itu, Allah mewahyukan kepadanya, “Demi keagungan-Ku, kalau engkau mengulanginya, niscaya Aku mengadzabmu.” Dia berkata, “Tuhanku, Engkau adalah Engkau (Tuhan) dan aku adalah aku (manusia). Demi keagungan-Mu, jika Engkau tidak memelihara diri ku, niscaya aku mengulanginya,” maka Allah SWT memelihara dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diambil dari Buku “Mukasyafah Al-Qulub, Bening Hati dengan Ilmu Tasawuf” Karya Imam Al-Ghazali. Penerbit Marja`. Agustus 2003.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-8132679824681341907?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/fiDQPD35jdg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/fiDQPD35jdg/dikisahkan-bahwa-pada-zaman-nabi-musa.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>1</thr:total><georss:featurename>Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point><georss:box>-22.240875 84.0385145 20.662325 143.80413950000002</georss:box><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2009/12/dikisahkan-bahwa-pada-zaman-nabi-musa.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-935723882597847320</guid><pubDate>Sun, 02 Nov 2008 08:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-02T16:59:29.540+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kajian</category><title>Kiat Menggapai Ketinggian</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaian Pertama&lt;br /&gt;IRADAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorang hamba yang menginginkan ketinggian di mata Allah SWT, sehingga ia menjadi orang yang dicintai-Nya, terlebih dahulu haruslah melewati apa yang dinamakan dengan iradah, yaitu keinginan (tekad) untuk meninggalkan apapun selain Allah. Iradah ini merupakan tahapan yang pertama sekali yang harus ia lalui dalam mencapai keinginannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, “dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, karena mencari keridhaan-Nya....,” (QS. Al-An`am [6]: 52) dan, “dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya diagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.” (QS. Al-Khafi [18]: 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui ayat-ayat diatas, Allah SWT telah memerintahkan nabi-Nya untuk mengusir dan menjauhi orang-orang yang melakukan iradah tersebut, dan memerintahkannya untuk bersabar menghadapi mereka dengan baik. Sebab, tujuan mereka hanya satu, yaitu mencari keridhaan-Nya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sedang menjalani roses iradah ini – disebut dengan murid – haruslah senantiasa menghadap kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya, serta memperhatikan segala perintah dan larangan-Nya yang tertuang di dalam Al-Qur`an dan Sunnah. Allah-lah satu-satunya yang menjadi tujuan dan kecintaannya. Rasulullah Saw bersabda, “kecintaanmu pada sesuatu dapat membuatmu menjadi buta (dari melihat selain-Nya) dan menjadi tuli (dari mendengar selainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tidak akan mencintai sesuatu melainkan setelah menginginkannya, tidak akan menginginkannya melainkan setelah keinginannya itu tulus baginya, tidak akan tulus keinginannya itu melainkan setelah membakar apapun yang ada dihatinya. Allah SWT berfirman, “.....Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, mereka membinasakannya, dan menjadi penduduknya yang mulia menjadi hina....” (QS. An-Naml [27]: 34) sebagaimana dikatakan bahwa perasaan cinta yang medalam itu akan dapat menyebabkan entengnya segala persoalan yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, ia akan selalu merasa nyaman bila “berdua” dengan Allah, bersabar meninggalkan segala pantangan-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya dan merasa malu dihadapan-Nya. Ia juga akan mengarahkan segenap kemampuannya untuk mencintai-Nya dan menggunakan semua cara yang dapat menyampaikannya kepada golongan orang-orang yang dicintai-Nya. Jika sudah demikian adanya, maka sampailah ia (si murid itu tadi) kesebuah derajat yang disebut dengan murad (orang yang dikehendaki oleh Allah).&lt;br /&gt;Orang yang telah sampai ke derajat murad ini, beban apapun yang menghalanginya saat menempuh jalan kebenaran akan terasa ringan baginya. Sebab, ia telah dekat dengan Allah SWT lantaran diberi rahmat dan kasih sayang, serta ma`rifat dan ketenangan jiwa oleh-Nya. Bahkan ia diberi kemampuan oleh Allah untuk mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh orang lain. Kalau sudah demikian, maka setiap kata-kata yang dikeluarkannya akan mengandung hikmah, dan ia pun menjadi disegani oleh orang-orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang seperti ini akan menjadi kepercayaan dan saksi Allah SWT di bumi ini. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, “Tiadalah cara yang paling baik bagi Hamba Ku untuk mendekat kepada-Ku melainkan dengan melakukan amal-amal wajib. Dan sungguh apabila Hamba-Ku juga senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan amal-amal sunnah (disamping amal-amal wajib tersebut), maka Aku akan mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan hatinya. Sehingga, ia akan mendengar dengan pendengaran-Ku, melihat dengan penglihatan-Ku, berbicara dengan lisan-Ku, berpikir dengan pikiran-Ku, dan bertindak dengan tindakan-Ku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hamba yang benar-benar mempergunakan pikirannya, dan hawa nafsunya menjadi terendam oleh genggaman Allah SWT, sehingga hatinya menjadi khazanah (kekayaan)-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa ketinggian ini tidak akan terwujud melainkan atas kehendak Allah SWT jua. Sebab, sekiranya Ia sendiri tidak menginginkan seseorang mendapatkan ketinggian tersebut, tentulah Ia tidak mendatangkan keinginan untuk mendapatkannya pada hati orang tersebut. Ketinggian ini mutlak karunia dan rahmat Allah SWT terhada hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan antara murid (orang yang berusaha mencapai ketinggian di sisi Allah) dan murad (orang yang telah mendapatkan ketinggian tersebut) dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Murid adalah pemula, sedangkan murad adalah orang yang telah menjadi ahlinya;&lt;br /&gt;2. Murid adalah pencari, seedangkan murad adalah yang dicari;&lt;br /&gt;3. Murid memandang amalnya sebagai usaha untuk mendapatkan ketinggian, sedangkan murad tidak memandangnya melainkan sebagai taufiq dan karunia dari-Nya;&lt;br /&gt;4. murid menempuh suatu jalan, sedangkan murad berada diatas semua jalan;&lt;br /&gt;5. murid memandang dengan cahaya Allah, sedangkan murad memandang dengan Allah itu sendiri;&lt;br /&gt;6. murid melaksanakan perintah Allah, sedangkan murad melaksanakan perbuatan Allah itu sendiri;&lt;br /&gt;7. murid berusaha menentang hawa nafsunya, sedangkan murad berlepas diri dari hawa nafsunya itu;&lt;br /&gt;8. murid berusaha mendekat keada Allah, sedangkan murad telah berada di dekat-Nya;&lt;br /&gt;9. murid adalah orang yang terelihara dari gangguan jin (setan), sedangkan murad adalah orang yang si murid menjadi terpelihara karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Junaid al-Baghdadi mengatakan, “murid adalah orang yang dituntun oleh strategi ilmu, sedangkan murad adalah orang yang dituntun oleh penjagaan Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya yang terjadi antara mutashawwif (calon sufi) dengan sufi (orang sufi itu sendiri), dimana mutashawwif adalah orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang sufi sehingga ia berusaha keras ke arahnya, sedangkan sufi – sesuai dengan makna katanya, yakni orang yang suci – adalah orang yang suci dari penyakit-penyakit jiwa, terbebas dari sifat-sifat tercela, senantiasa menempuh jalan kebenaran, dan tidak menggantungkan hatinya kepada mahluk. Ada yang mengatakan bahwa tasawuf itu adalah jujur kepada Allah dan baik kepada mahluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mutashawwif  adalah pemula, sedang sufi adalah orang yang telah menjadi ahlinya, mutashawwif adalah orang yang sedang menempuh jalan menuju kesucian, sedangkan sufi adalah orang yang telah berhasil menempuhnya, dan mutashawwif  adalah orang yang sedang menanggung beban untuk meraih cita-titanya, sedangkan sufi adalah orang yang telah melalui beban tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mutashawiif haruslah menanggung segala bebannya itu, berat atau ringan, untuk sampai kepada derajat kesufian. Hal itu dimaksudkan agar hawa nafsunya dan kehendak-kehendaknya bisa dikendalikannya dengan baik, sehingga jiwanya menjadi bersih dan mampu menjadi sumber ilmu dan hikmah, tempat yang penuh keamanan dan kemenangan, guanya para wali dan orang-orang shaleh, tempat melabuhnya pandangan yang memberikan kenyamanan dan ketenteraman. Dengan kualifikasi ini, ia akan menjadi permata dalam kalung, mutiara dalam mahkota, dan tempat untuk memandang Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang murid yang mutashawwif adalah orang yang selalu berjuang mengendalikan dirinya dari cengkraman hawa nafsu, setan, dan mahluk-mahluk lainnya, yang dapat menghalanginya untuk mewujudkan keinginannya. Ia akan selalu beribadah kepada Allah di mana pun dan dalam kondisi apapun. Bahkan, ibadahnya bukan lagi untuk mendapatkan surga, melainkan untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Dengan sikap seperti ini, ia akan keluar dari tipu daya duniawi dan terbebas dari fenomena-fenomenanya yang menyesatkan, seperti harta, keluarga dan anak-anak sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga akan berbuat laksana seorang Alim yang mengetahui betul apa-apa yang telah dan akan terjadi, mengetahui yang lahir dan yang batin. Ia akan menjadi dekat dengan Allah dan akan memperoleh ketenangan jiwa karenanya. Kepadanya akan dibukakan tabir penghalang antara dirinya dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akan menyerahkan jiwa raganya untuk Allah dan akan selalu siap untuk menerima apapun yang timbul dari-Nya. Ia tidak memerlukan persemedian lagi karena persemedian itu hanyalah untuk orang-orang yang belum dekat dengan-Nya. Ia adalah ibarat anak kecil yang tidak akan makan melainkan jika disuapin dan tidak akan berpakaian melainkan dengan dipakaikan pakaian kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lahir, ia sama seperti mahluk lainnya karena terdiri dari jasad dan ruh, namun pada hakikatnya mereka jauh berbeda dari mereka lantaran ia berperangai, berinsting dan berniat yang betul-betul lain dari mereka. Ia disebut dengan sufi (orang yang bersih) karena hatinya telah dibersihkan oleh Allah SWT dari sifat-sifat kejelakan mahluk. Allah SWT telah mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya serta menjadi pelindung baginya. Ia berfirman, “Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)” (QS. Al-Baqarah [2]: 257) jika sudah demikian adanya, maka nafsu maupun setan tidak akan mampu mengelincirkannya dari kebenaran. Allah SWT berfirman, “sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu (Iblis) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang sesat,” (QS. Al-Hijr [15]: 42) “...demikianlah agar Kami memalingkan kemungkaran dan kekejian daripadanya. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih,” (QS. Yusuf [12]: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Allah SWT akan menjaganya, mengendalikan hawa nafsu angkara murkanya, meneguhkan kedudukannya, serta memberi taufiq kepadanya, setelah mereka benar-benar telah berlaku jujur pada setiap langkahnya, sabar dalam setiap menghadapi ujian hidupnya, selalu menjalankan syari`at-Nya, dan menjalani proses penyucian diri. Maka menjadi sempurnalah baginya tingkat kewalian. Ia berfirman, “....dan Dia melindungi orang-orang shaleh.” (QS. Al-A`raf [7]: 196)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT akan menjadikannya Sibuk dengan-Nya dari apapun selain-Nya, berada dalam genggaman-Nya, menguasai pikirannya, dan menjadikannya sebagai orang-orang terercaya di sisi-Nya. Sehingga ia akan selalu mendapat penjagaan dari-Nya dan hidup dalam lapangan tauhid dan rahmat-Nya. Ia tidak akan sibuk melainkan dengan amalan-amalan yang diridhai-Nya, dan dalam kesibukannya itu, ia tidak akan dapat diganggu oleh setan dan hawa nafsunya. Maka, bersihlah amalan-amalan lahirnya dari gangguan setan, dan sucilah hatinya dari sifat-sifat riya`, munafiq, `ujub, dan syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman dalam sebuah hadist Qudsi, “tiadalah cara yang paling baik bagi hamba-Ku untuk mendekat kepada-Ku melainkan dengan melakukan amalan-amalan wajib. Dan sungguh apabila hamba-Ku juga senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunnah (di samping amal-amal wajib tersebut) maka Aku akan menyintainya. Jika Aku telah menyintainya, maka jadilah Aku pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan hatinya. Sehingga, ia akan mendengar dengan pendearan-Ku, melihat dengan penglihatan-Ku, berbicara dengan lisan-Ku, berpikir dengan pikiran-Ku, dan bertindak dengan tindakan-Ku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist Qudsi ini, yang juga telah kami sebutkan sebelumnya, adalah dasar dari kedudukan ini, dimana hati hamba itu telah dienuhi oleh rasa cinta kepada Allah, dan kepada cahaya, ilmu, dan ma`rifat-Nya, dan tidak terdapat selain itu di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, nabi Musa berdoa kepada Allah SWT, “wahai Tuhan, dimanakah Engkau? Allah menjawabnya, wahai Musa! Rumah manakah yang akan muat menampung-Ku, dan tempat manakah yang akan sanggup menanggung beban-Ku? Jika engkau masih ingin juga mengetahui di mana Aku, maka sesungguhnya Aku berada di dalam hati orang yang meninggalkan, berpisah, lagi suci.” Maksudnya adalah orang yang berkerja keras meninggalkan segala sesuatu selain Allah, lalu mendapat anugrah dari-Nya berupa kedudukan yang tinggi sebagai balasan atas pemenuhan segala kewajiban serta amalan-amalan sunnah sehingga ia berpisah sama sekalian dengan selain-Nya itu dan suci daripadanya (tidak berpaling sedikitpun kepada selain-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tingkatan yang paling tinggi yang bisa diperoleh oleh seorang wali. Tingkatan yang lebih tinggi lagi dari itu tidak bisa ia dapatkan, karena itu hanya diperuntukkan bagi para nabi dan rasul. Sebab, akhir tingkatan wali adalah awal bagi nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali bukanlah seorang nabi. Nabi adalah orang yang menerima kalam (wahyu) dari Allah melalui malaikat Jibril. Ini wajib diyakini kebenarannya, dan menjadi kafir jika mengingkarinya, sedangkan wali hanyalah seorang hamba Allah yang ucapannya dikuasai oleh Allah melalui ilham dari-Nya, sehingga sehingga ia mempunyai kata-kata hikmah. Maka dari itu, wahyu adalah untuk para nabi, sedangkan kata-kata hikmah adalah untuk para wali; mengingkari wahyu akan menyebabkan kekafiran, sedangkan mengingkari kata-kata hikmah hanyalah menyebabkan kerugian.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari buku “Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani” dengan judul asli “Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.&lt;br /&gt;Penerjemah, Abad Badruzzaman &amp; Nunu Burhanuddin; &lt;br /&gt;penyunting Tim Sahara&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-935723882597847320?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/XeSOS_FLghc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/XeSOS_FLghc/kiat-menggapai-ketinggian.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/11/kiat-menggapai-ketinggian.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-8305532745620086218</guid><pubDate>Sun, 13 Jul 2008 13:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-13T21:26:23.462+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Adab</category><title>Beberapa Kewajiban Bagi Para Pencari Ketinggian</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Kewajiban Guru Terhadap Murid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru wajiblah mengajar muridnya karena Allah semata – bukan karena yang lain – sehingga ia berbuat dengan penuh nasehat kepadanya, dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, dan bersikap ramah kepadanya pada saat ia tidak mampu menanggung beban latihan yang ia berikan kepadanya. Ia harus bersikap kepadanya seperti seorang ibu, atau ayah yang penyayang, terhadap anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus mengawali pendidikannya dengan hal-hal yang paling ringan terdahulu, kemudian baru – lah meningkat kepada yang lebih berat dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali, ia menyuruhnya untuk meninggalkan memperturutkan hawa nafsu dalam segala urusannya, diganti dengan mengikuti rukhash – bentuk jama` dari rukhsakh – (keringanan-keringanan) yang diberikan oleh syari`at, agar ia bisa terlepas dari kungkungan hawa nafsunya itu dan hanya terkait dengan syari`at Allah. Setelah itu, beralih secara berlahan kepada perintah untuk memiliki `azimah (tekad yang kuat) untuk meninggalkan kedua-duanya (hawa nafsu dan rukhshah). Jika ternyata ia lihat si murid telah mampu sampai ke tahap `azimah ini, baru-lah ia melanjutkannya kepada tingkat yang lebih tinggi lagi.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia (sang guru) tidak selayaknya berkeinginan untuk memamfaatkan sesuatu yang bersifat duniawi dari muridnya, seperti hartanya dan lain-lain. Juga tidak layak untuk mengharap-harap balasan dari Allah sebagai kompensasi dari pendidikan dan pengajaran yang ia berikan kepadanya. Akan tetapi, semua itu ia lakukan hanyalah demi mengharap ridha-Nya, dan menuruti perintah-Nya. Sebab, murid itu datang kepadanya bukanlah semata-semata keinginannya, melainkan karena kehendak Allah jua agar ia mendapatkan ilmu dan hidayah melalui dirinya.  Dan itu merupakan hadiah atau amanah dari – Nya yang harus ia terima dan ia laksanakan dengan sebaik-baiknya. Maka janganlah ia sampai memamfaatkan tenaga atau hartanya kecuali dengan izin Allah, yakni atas pemberian murid itu kepadanya; bukan atas permintaannya sendiri. Pemberian tersebut hendaklah diterimanya, dan tidak layak ia menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak boleh memilih sendiri murid yang akan dididiknya, melainkan menunggu sampai ia datang sendiri kepadanya. Barangsiapa yang Allah datangkan seorang murid kepadanya tanpa dimintanya, maka itu berarti bahwa Allah setuju ia yang menjadi guru bagi orang itu. Oleh sebab itu, hendaklah ia menjauhi hawa nafsu dalam mendidiknya sehingga ia kehilangan berkah dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga harus senantiasa menjaga rahasia-rahasia muridnya, dan tidak memberitahukan kepada orang lain tentang kelebihan-kelebihan yang telah diperoleh oleh muridnya itu, sebab itu merupakan amanah baginya. Ia haruslah menjadi tempat beristirahat, tempat menyimpan rahasia, dan tempat merujuk baginya, serta berfungsi sebagai motivator, penunjuk, penegar semangatnya, dan pengawasannya dalam menempuh pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia melihat suatu pelanggaran syari`at dari muridnya, seperti meninggalkan kewajiban pokok atau cabang, mendakwakan suatu kelebihan yang sebenarnya tidak ada padanya, atau membanggakan diri sendiri, maka hendaklah ia menasehatinya dengan bijaksana, dan melarangnya untuk mengulanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika ia bermaksud memberikan nasehat kepada seluruh muridnya, maka hendaklah ia mengumpulkan seluruhnya, lalu menyampaikan hal itu kepada mereka secara umum, bukan menunjuk batang hidung orang yang bersangkutan dihadapan teman-temannya. Misalnya ia berkata kepada mereka, “Sungguh telah sampai informasi kepadaku bahwa diantara kalian ada yang begini begitu,” Menunjuk langsung kepada pelaku pelanggaran, dikhawatirkan akan menyebabkan orang itu menjadi lari darinya, ataupun muncul sikap sakit hati dan dendam darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya semua kewajiban ini terasa tidak mampu baginya untuk dilaksanakan, maka lebih baik ia melepaskan kedudukannya sebagai guru, lalu sibuk memperbaiki diri sendiri, sampai ia benar-benar mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut. []&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Diambil dari buku “Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani” dengan judul asli “Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.&lt;br /&gt;Penerjemah, Abad Badruzzaman &amp;amp; Nunu Burhanuddin;&lt;br /&gt;penyunting Tim Sahara&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-8305532745620086218?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/V-7x1FhrVkY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/V-7x1FhrVkY/beberapa-kewajiban-bagi-para-pencari_13.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/07/beberapa-kewajiban-bagi-para-pencari_13.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-1811731265190553933</guid><pubDate>Thu, 03 Jul 2008 10:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-13T21:26:50.266+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Adab</category><title>Beberapa Kewajiban Bagi Para Pencari Ketinggian</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Kewajiban Terhadap Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pencari ketinggian haruslah tidak melanggar apa-apa yang diajarkan oleh gurunya, juga tidak mengingkarinya di dalam hatinya. Sebab, jika ia melakukan hal tersebut, berarti ia tidak lagi menghormatinya. Ia harus senantiasa mengendalikan dirinya agar tidak sampai berselisih dengannya, baik secara lahir maupun batin, dan hendaklah ia sering-sering mengingat firman-Nya yang berbunyi, “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan suadara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”  (QS. Al-hasyr [59]: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya ia melihat ada hal-hal yang dibenci oleh agama pada diri gurunya itu, maka hendaklah ia berusaha memberitahukan hal itu kepadanya dengan cara yang bijaksana, misalnya dengan menyebutkan perumpamaan sehingga guru itu menjadi sadar akan kekhilafannya. Bukan dengan jalan menyampaikan kesalahan tersebut secara terus terang kepadanya, karena dikhawatirkan ia merasa tidak enak, lalu menghindar darinya. Jika, ia melihat sebuah aib pada guru itu, maka hendaklah ia menutupinya seraya ber-khusnuzhzhan (berperasangka baik) kepadanya. Dan jika kesalahan guru itu memang tidak bisa dimaafkan lagi secara agama, maka hendaklah ia memintakan ampun baginya kepada Allah serta mendoakannya agar diberi taufiq dan hidayah kepadanya agar ia meninggalkannya. Ia tidak boleh menyampaikannya kepada orang lain, dan yang tak kalah pentingnya, ia tidak boleh beranggapan bahwa gurunya itu ma`shum (terpelihara dari dosa) seperti para nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika gurunya itu telah menyadari kesalahannya lalu meninggalkannya, maka hendaklah ia melupakannya dan menganggap bahwa kesalahan lalu-nya itu hanyalah sebuah kelalaian atau kekhilafan darinya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya guru itu marah, lalu bermuka masam kepadanya atau bersikap seperti menghindar darinya, maka janganlah ia sampai memutuskan hubungan dengannya. Akan tetapi, hendaklah ia mengintrospeksi dirinya sendiri, karena boleh jadi ia tanpa disadarinya telah bersikap kurang sopan kepada gurunya itu atau pun telah lalai melaksanakan kewajibannya kepada Allah. Kemudian, hendaklah ia segera meminta ampun dan bertobat kepada-Nya, lalu meminta maaf kepada guru tersebut serta merendah dihadaannya sambil berjanji untuk tidak lagi berbuat sesuatu yang tidak disukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus bersikap baik dan santun kepada gurunya itu. Dan hendaknya ia menjadikannya sebagai wasilah atau jalan yang dapat menyampaikannya kepada Allah. Dalam hal ini ia bagaikan seorang yang ingin bertemu dengan raja yang belum dikenalnya, sehingga ia butuh keada orang lain yang akan memperkenalkan ciri-ciri serta sifat-sifat dari raja tersebut kepadanya agar ia dapat dengan mudah mencarinya dan bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah ia menyadari bahwa Allah SWT telah menetapkan bahwa sepanjang masa akan ada guru dan murid, pembimbing dan yang dibimbing, serta yang diikut dan pengikut dimuka bumi ini. Lihatlah bahwa nabi Adam `alaihissalam, setelah diciptakan oleh Allah SWT, Ia ajarkan kepadanya nama-nama seluruh benda, dan Ia jadikan Adam itu ibarat seorang murid bagi-Nya – dan Dia-lah gurunya. Dia berkata kepadanya, “Hai Adam, ini adalah kuda, ini keledai, ini pohon Thin, ini Zaitun, dan seterusnya.” Kemudian, setelah Adam mengerti semuanya, Allah pun menjadikannya sebagai guru bagi yang lainnya (para malaikat). Allah SWT mengumpulkan para malaikat-Nya, lalu berkata kepada Adam, “Hai Adam, baritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini,” (QS. Al-Baqarah [2]: 33) sebab mereka tidak mengetahuinya; mereka telah berkata kepada-Ku, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selai dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” (QS. Al-Baqarah [2]: 32). Maka Adam pun mengajarkannya kepada mereka sehingga jadilah ia sebagai guru bagi mereka, dan mereka sebagai murid baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Adam diturunkan ke bumi lantaran memakan buah khuldi, maka ia pun merasa asing di sana dan merasakan apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya, seperti lapar, haus, gelisah, bingung, serta berbagai perasaan lainnya. Nah ! pada saat itu ia membutuhkan orang lain yang akan berfungsi sebagai guru, pemandu, penunjuk, pelatih, dan penasehat baginya. Maka diutuslah malaikat Jibril oleh Allah untuk menempati posisi tersebut. Jibril pun melaksanakan tugas yang diembannya; Ia mengajarkan kepada Adam segala hal yang dibutuhkannya, seperti bercocok tanam , membangun rumah, mengolah makanan, membersihkan badan, beribadah kepada Allah, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seterusnya, dimana anak Adam yang bernama Syits berguru kepada ayahnya (Adam), dan anak-anaknya berguru kepadanya. Nabi-nabi lain juga demikian, sampai kepada nabi Muhammad saw yang juga berguru kepada malaikat Jibril, kemudian mengajarkannya kepada para sahabatnya. Dari sahabat menurun ke tabi`in, dan begitu-lah seterusnya sampai akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorang nabi pun melainkan mempunyai murid yang belajar kepadanya, lalu murid itu menjadi guru bagi yang lain. Murid nabi Musa adalah anak saudara perempuannya yang bernama Yusyi` ibn Nun, murid nabi Isa adalah orang-orang Hawariyyin, dan murid nabi Muhammad adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sebagainya, dimana masing-masing mereka memiliki murid yang nantinya akan  menjadi guru juga bagi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, para ulama tau guru adalah jalan untuk menuju Allah, petunjuk untuk sampai kepada-Nya, dan pintu untuk masuk kedalam-Nya. Setiap yang menginginkan Allah, harus memiliki seorang guru yang akan membimbingnya untuk mencapai keinginannya itu. Kecuali orang-orang tertentu yang diajar langsung oleh Allah SWT serta dipelihara-Nya dari ganguan setan dan hawa nafsunya, seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad saw (dari kalangan nabi) Uwais al-Qarni (dari kalangan wali), dan selain mereka. Cuma saja itu hanyalah pengecualian, sedangkan yang kita terangi disini hanyalah yang kebanyakan terjadi, diamana sorang murid tidak akan terlepas dari orang lain yang berfungsi sebagai guru baginya. Tidak dibenarkan seorang pun belajar tanpa guru dengan dalih bahwa Allah saja-lah gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidaklah layak baginya memutuskan pertalian dengan gurunya kecuali jika ia telah sampai kepada Allah SWT. Sebab, pada saat itu posisinya sudah tidak sama lagi dengannya. Ia sekarang sudah dididik langsung oleh Allah SWT, bahkan dibukakan baginya hal-hal yang tidak diketahui oleh gurunya itu. Fungsi yang selama ini dijalankan oleh gurunya, sekarang telah berpindah kepada Allah, sihingga Dia-lah yang akan memperlakukannya sekehendak-Nya, menyuruh atau melarangnya, melapangkan atau menyempitkan rezekinya, dan mengayakan atau memiskinkannya. Tugasnya pada waktu itu hanyalah senantiasa menjaga adab serta ibadahnya terhadap-Nya. Pada saat itu, terputuslah keterkaitannya dengan gurunya, bahkan barangkali terlarang baginya menemuinya, kecuali tanpa ia sengaja, untuk memelihara keadaannya, agar ia benar-benar mencukupkan Allah sebagai guru dan pembimbingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara adab lain yang harus ia perhatikan adalah tidak memotong pembicaraan gurunya ketika sedang berbicara kepadanya, kecuali dalam keadaan terpaksa. Ia juga tidak boleh menonjolkan kelebihan yang ada pada dirinya kepadanya dengan maksud membesarkan diri di hadapannya. Juga tidak pantas membentangkan sejadah di hadapan gurunya kecuali pada waktu shalat, dan apabila telah selesai dari shalatnya, hendaklah ia melipat kembali sejadahnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya sebuah permasalahan dipertanyakan kepada guru itu di hadapannya, maka hendaklah ia diam saja, sekalipun ia mengetahui betul akan jawabannya, kecuali jika guru tersebut mempersilahkannya untuk menjawabnya. Jika jawaban gurunya itu kurang memuaskan menurutnya, janganlah ia membantahnya, bahkan bersyukurlah kepada Allah lantaran ia diberi kelebihan ilmu oleh Allah daripada gurunya itu. Kekurangan yang ada pada gurunya itu hendaknya ia tutupi, tidak ia sebar luaskan kepada orang lain, seperti mengatakan, “Sungguh syaikh itu telah keliru dalam masalah ini.” Ia tidak boleh membantahnya, sekalipun perkataannya keliru, kecuali jika telah berulang-ulang dikatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak pantas saat gurunya memberi penjelasan. Jangan pernah berbuat sesuatu yang terkesan meremehkannya seperti bergerak-gerak (berpindah-pindah) dan lain-lain, sekalipun misalnya guru itu seorang yang buta, kecuali jika ia diperintahkannya untuk itu. Ia harus memperhatikannya ketika itu, dan tidak boleh memalingkan pandangan darinya. Murid yang benar, semangatnya tidak akan pernah pudar, keinginan kuatnya itu terpantul dari wajahnya, dan adab sopan santunyan tidak pernah ia tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ia harus meyakini bahwa tidak ada orang lain yang lebih utama dari gurunya itu di daerah tempat ia belajar. Ia harus yakin bahwa ia telah belajar pada orang yang tepat, sahingga ia benar-benar mencurahkan perhatiannya untuk memamfaatkan kesempatan belajar itu dengan sebaik-baiknya. Juga agar Allah SWT membantu keduanya dalam proses belajar mengajar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tidak pantas meminta rukhshah (keringanan) kepada gurunya itu untuk melakukan hal-hal yang telah dilarangnya, atau pun menarik kembali apa-apa yang telah diberikan (hadiahkan) kepadanya karena Allah. Tindakan seperti ini menurut ahli tarekat, dipandang sebagai dosa besar dan dapat membatalkan iradah-nya. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang menarik kembali pemberiannya adalah seperti anjing yang menelan muntahnya sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus mendengar kata-katanya dan patuh kepada gurunya. Sekiranya ia terlanjur berbuat sesuatu yang menurutnya keliru, maka hendaklah ia memberitahukan hal itu kapadanya agar ia dapat mengetahui pendapatnya tentang hal itu. Ia harus senantiasa mendoakannya agar diberi pertolongan, kemudahan, dan kemenangan oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari buku “Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani” dengan judul asli “Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.&lt;br /&gt;Penerjemah, Abad Badruzzaman &amp;amp; Nunu Burhanuddin;&lt;br /&gt;penyunting Tim Sahara&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-1811731265190553933?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/3bmOU_jjF2I" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/3bmOU_jjF2I/beberapa-kewajiban-bagi-para-pencari_03.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/07/beberapa-kewajiban-bagi-para-pencari_03.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-2347708769493290162</guid><pubDate>Fri, 27 Jun 2008 11:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-13T21:10:36.956+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Adab</category><title>Beberapa Kewajiban Bagi Para Pencari Ketinggian</title><description>&lt;div align="justify"&gt;1. Kewajiban Terhadap Diri Sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemula dalam menempuh jalan ini wajib memiliki akidah yang benar, yang dibawa oleh Rasulullah saw, yang diikuti oleh para sahabat, tabi`in, ulama salaf yang shaleh, dan orang-orang pengikut mereka, yang semua mereka disebut dengan orang-orang Ahlussunah wal Jama`ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus berpegang kepada Al-Qur`an dan Sunnah, mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalam keduanya, serta menjadikan keduanya sebagai sayap baginya untuk terbang menuju Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, ia harus bersifat jujur, dan selalu berjuang sampai ia beroleh petunjuk, bimbingan, perlindungan, dan penghibur dari-Nya, agar ia tidak tersesat dalam menempuh jalan tersebut. Sebab, sungguh banyak Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad [untuk mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.....” (QS. Al-`Ankabut [29]: 69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli hikmah berkata, “Barang siapa yang sungguh-sungguh mencari sesuatu, pasti akan mendapatkannya”.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ia wajib mengikhlaskan niatnya untuk Allah semata, dan berjanji kepada-Nya untuk tidak akan berpaling dari jalan-Nya sebelum sampai pada tujuan. Hal ini dimaksudkan agar selama menempuh perjalanan itu, ia tidak tergoda oleh sesuatu sehingga ia menjadi lupa diri dan lupa terhadap tujuan sebenarnya. Misalkan, dipertengahan jalan ia beroleh karamah (keistimewaan) dari-Nya, ia tidak akan berpaling dari-Nya dan merasa cukup dengan karamah tersebut, lalu menghentikan perjalanannya sampai disitu, padahal belum sampai di tujuan. Ia harus amanah dalam memegang perjanjian ini, sebab pengkhianatannya akan menyebabkannya terhalang dari mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya jika ia telah mencapai tujuan, dimana karamah atau keistimewaan yang ia peroleh dari-Nya tidak akan mampu menggagalkannya. Sebab, karamah itu termasuk kepada qudrah Tuhan, sedang sampainya ia kepada Allah juga merupakan qudrah Tuhan, dan sesama qudrah-Nya tidak akan saling menggagalkan. Kenapa tidak! Jika ia sudah sampai kepada Allah, terkadang ia telah menjadi tauladan di muka bumi dan memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang lain. Kata-katanya mengandung hikmah, dan tindak-tanduknya menjadi `ibrah (pelajaran) bagi orang lain. Perbuatan Allah telah terpantul pada dirinya sehingga orang-orang menjadi kagum kepadanya. Sehingga pada saat itu, memang seharusnya ia meminta karamah kepada-Nya, sebab karamah itu akan dapat melindungi dirinya dan mendatangkan mamfaat yang banyak baginya dalam menambah kedekatannya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap lainnya yang harus diambil oleh pencari ketinggian adalah tidak berada di negeri atau komunitas yang rusak, serta tidak bercampur dengan orang-orang lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban agama dan orang-orang munafiq, yaitu orang-orang yang dikatakan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya, “Hai orang-orang  yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang kalian kerjakan, (QS. Ash-Shaff [61]: 2-3) dan “mengaa kalian siruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kalian melupakan [kewajiban] mu sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berfikir?” (QS. Al-Baqarah [2]: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga harus tidak berlaku bakhil terhadap apa yang ada padanya lantaran merasa sulit mendapatkannya kembali. Ia juga ridha menerima segala kesusahan yang dihadapinya, seperti kekurangan uang, makanan, dan lain-lain, serta celaan orang lain terhadapnya. Jika ia tidak ridha menerimanya, maka boleh jadi Allah SWT tidak membukakan tabir baginya, sehingga ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan dari usahanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, hendaklah ia tidak menunggu-nunggu datangnya anugrah dari Allah, melainkan senantiasa meminta ampun kepada-Nya atas segala dosa yang telah dierbuatnya, meminta perlindungan kepada-Nya dari terjatuh kembali kepada perbuatan dosa, memohon taufiq-Nya agar berhasil mencapai tujuannya, serta bersedia menaati gurunya yang menjadi wasilah antra dirinya dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari buku “Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani” dengan judul asli “Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.&lt;br /&gt;Penerjemah, Abad Badruzzaman &amp;amp; Nunu Burhanuddin;&lt;br /&gt;penyunting Tim Sahara&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-2347708769493290162?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/P_QGDowB4s0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/P_QGDowB4s0/beberapa-kewajiban-bagi-para-pencari.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/06/beberapa-kewajiban-bagi-para-pencari.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-7137108357453434593</guid><pubDate>Mon, 23 Jun 2008 10:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-13T21:21:25.456+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Adab</category><title>Beberapa Adab Penting Dalam Pergaulan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Adab Orang Fakir Dalam Menyikapi Kefakirannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya orang fakir menyukai kefakirannya sebagaimana orang kaya yang menyukai kekayaannya, dan hendaknya ia berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kefakirannya itu seperti berusahanya orang kaya semaksimal mungkin agar kekayaannya tidak lenyap. Janganlah ia sampai berdoa kepada Allah Swt agar dilepaskan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik ia merasa puas dengan apa yang ada padanya dan tidak berambisi untuk medapatkan lebih dari itu, jika memang yang ada itu sudah cukup membuat dirinya mampu berbuat taat kepada Allah serta terhindar dari kematian. Apa yang ada itu harus ia mamfaatkan, dan tidak boleh ia tinggalkan. Sebab, haram baginya untuk tidak memenihi hak dirinya sendiri, seperti makan, pakaian dan lain-lain. Firman Allah, “dan janganlah kalian membunuh diri sendiri; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’[4]: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah ia tidak menyesali nasib yang menimpa dirinya itu, malainkan menerimanya dengan ridha kepada Allah, karena Dia lah yang menakdirkan hal itu baginya. Nikmati-lah kefakiran itu melebihi orang kaya menikmati kekayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga harus tegar menghadapi kesulitan hidupnya. Sebab, semakin kurang materi padanya, maka semakin banyaklah kebaikan pada jiwanya, di samping semakin besar pula keberuntungannya lantaran dengan kefakirannya itu akan bisa mengantarkan kapada derajat keshalehan di sisi Allah. Sebaliknya, jika ia menghadapinya dengan berkeluh kesah dan kecewa, berdosalah ia kepada Allah lantaran tidak ridha kepada-Nya, dan haruslah ia cepat-cepat bertobat kepada-Nya serta memohon ampunan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia mempunyai tanggungan (keluarga/anak), maka semakin banyak tanggungannya, semakin kuat jua-lah hendaknya keyakinannya terhadap Allah SWT. Hendaklah ia berhati-hati dari cara-cara yang terlarang dalam mencari kehidupan buat mereka, dan tetap meyakini bahwa janji-janji Allah SWT terhadapnya adalah benar, dimana rezeki mereka itu pasti akan datang kepada mereka, baik melalui tangannya sendiri maupun orang lain. Jadi, ia tidak perlu berkeluh kesah menghadapinya, apalagi sampai menyalahkan Tuhan, melainkan menganggapnya sebagai sebuah ujian dari-Nya, agar ia selalu ingat dan meminta tolong serta menggantungkan diri kepada-Nya. Dan ini amat disukai oleh-Nya, dan ia akan mendapat kebaikan yang banyak karenanya, baik di dunia ini apalagi diakhirat kelak.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga harus senantiasa optimis dalam menjalani kehidupan ini dengan tetap berusaha semaksimal mungkin. Kewajibannya hanyalah menaati Allah SWT dalam usaha tersebut, adapun mengenai hasilnya serahkan kepada-Nya karena Dia-lah yang tahu apa yang terbaik baginya. Dengan demikian ia tidak akan pernah berputus asa menghadapi kehidupan ini atau menyalahkan diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, ia harus senantiasa bersiap-siap menghadapi ajalnya agar ia semakin ridha terhadap-Nya dan semakin kuat dan sabar menanggung segala penderiataannya. Sebab, dengan mengingat mati, segala ambisi duniawi akan memudar sebagaimana Rasulullah Saw mengatakan, “Perbanyaklah mengingat pelenyap berbagai (ambisi duniawi yang mendatangkan) kenikmatan, yakni kematian.”  Ia juga harus bersikap wara` (tidak tamak) sehingga tidak terangsang untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh syari`at. Dengan sikap wara` ini, ia akan selamat dari hal-hal yang dapat merusak agama dan harga dirinya. Orang-orang shaleh berkata, “orang-orang fakir yang tidak wara` pasti terjerumus kepada perbuatan haram, tanpa disadarinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah ia meminta-minta kepada orang lain kecuali dalam keadaan terpaksa; kalaupun terpaksa, haruslah memintanya sekedar kebutuhannya, tidak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang itu memberinya, maka hendaklah ia segera menyadari sebenarnya Allah-lah yang memberinya, sedangkan orang tersebut hanyalah sekedar penyalur saja, yang diberikan amanah oleh Allah SWT untuk menyimpan rezekinya pada orang itu. Sehingga, ia tidak akan mendewa-dewakan orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam meminta kepada orang lain, haruslah diniatkannya sekedar memberitahuan kepadanya tentang kesusahan yang sedang dialaminya, bukan untuk mengadu atau meminta belas kasihan darinya, karena hal itu hanyalah diperuntukan bagi Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang itu memberinya, maka hendaklah ia berterima kasih kepadanya. Namun jika ia menolaknya, hendaklah ia bersabar dan mengembalikan urusannya kepada Allah sambilo memohon kemudahan dan kelapangan kepada-Nya; jangan sampai ia membalasnya dengan sikap yang tidak baik, seperti mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar, menampakkan muka masam kepadanya, dan lain-lain. Beginilah sifat yang benar dari seorang fakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ia menghadiri sebuah jamuan makan, maka hendaklah ia mempersilahkan orang lain terlebih dahulu untuk mengambil makanan sebagai penghormatan bagi mereka. Hindari mengucapkan, “Silahkan makan!” kepada orang lain, atau pun ucapan, “Mari makan bersama kami,” kepada tuan rumah. Dan jika ia dipersilahkan untuk duduk disuatu tempat, maka janganlah ia berpindah dari tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat makan, hendaknya ia tidak mengambil makanan yang terletak jauh dari tangannya, dan jika dituangkan air minum kedalam gelasnya, maka jangan lah ia menolaknya, melainkan menerimanya walaupun seteguk (sedikit). Jangan pula ia terburu-buru untuk menyudahi makannya sementara yang lain masih makan. Dan hendaklah ia tidak menjadikan makan itu sebagai tujuan, melainkan hanya sekedar menopang hidupnya agar ia bisa berbuat taat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap sesama orang fakir pun ia harus bersikap baik dan tidak berbuat semena-mena. Janganlah ia sampai menghalangi mereka dari pertolongannya, sekecil apa pun. Dan jangan pula menyuruh-nyuruh mereka demi keperluannya sendiri, melainkan hendaklah ia melaksanakannya sendiri. Jika ia berjanji untuk memberikan makanan kepada mereka, maka janganlah ia menunda-nunda janjinya itu, karena itu akan mengecewakan mereka. Ketika makan bersama mereka, hendaklah ia mempersilahkannya terlebih dahulu sebelum dirinya. Dan banyak lagi adab-adab lain yang harus diperhatikannya, yang cukup panjang untuk dijelaskan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disamping itu semua, hendaklah ia menyadari bahwa jika ia benar-benar bertakwa kepada Allah, bersabar atas kekurangan di dunia dan mengerahkan segenap jiwa, harta, dan keluarganya kepada-Nya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larang-Nya, dan menggantungkan dirinya serta berharap kepada-Nya semata, maka sesungguh ia telah berada di dalam kemuliaan, dan dihari kemudian nanti Allah SWT akan menjaganya serta memberi kebaikan yang banyak baginya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan [mereka],”  (QS. Yasin [36]: 55) “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin akan diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka,”  (QS. At-Taubah [9]: 111) “..... Itulah yang terbaik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah...,” (QS. Ar-Rum [30]: 38) dan, “Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”  (QS. As-sajdah [32]: 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT, dalam beberapa kitab-Nya yang terdahulu, berfirman, “Aku menyukai hamba yang merindukan-Ku tanpa berharap apa-apa dari-Ku, sehingga menjadi haknya-lah penjagaan dari-Ku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman, “Aku telah menjanjikan kepada hamba-hamba-Ku yang shaleh suatu kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh pandangan mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbesit di hati mereka”. []                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diambil dari buku &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dengan judul asli &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerjemah, Abad Badruzzaman &amp;amp; Nunu Burhanuddin;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penyunting Tim Sahara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-7137108357453434593?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/2LoMJfJMLLc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/2LoMJfJMLLc/beberapa-adab-penting-dalam-pergaulan_23.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/06/beberapa-adab-penting-dalam-pergaulan_23.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-116330914326463420</guid><pubDate>Tue, 17 Jun 2008 07:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-13T21:25:21.269+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Adab</category><title>Beberapa Adab Penting Dalam Pergaulan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Adab Bergaul Dengan Orang Fakir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang fakir hendaklah lebih didahulukan, baik ketika sedang makan, minum, di dalam sebuah majelis, dan lain-lain. Janganlah sekali-kali merasa lebih baik darinya sehingga bersikap seperti meremehkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa Ahmad ibn Isa berkata, “saya telah berteman dengan orang-orang fakir selama tiga puluh tahun, dan tidak pernah sekalipun aku mengucapkan kata-kata yang menyakiti mereka dan tidak pernah terjadi perselisihan diantara kami.” Taatkala ditanyakan sebabnya kepadanya, ia menjawab, “Sebab aku selalu menganggap mereka sama seperti diriku, dan jika bertemu dengan mereka, aku selalu bermuka manis dan ceria kepada mereka. Saya selalu menghormati mereka dan memperlakukan mereka dengan baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap dengan baik terhadap orang-orang fakir, dan membantu meringankan beban mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, akan mendatangkan berkah dan kasih sayang dari Allah SWT, dan akan menjadikan pelakunya menjadi ahli dalam berkhidmah kepada orang-orang fakir. Sebab, orang-orang fakir yang shaleh adalah keluarga dan kekasih Allah, sehingga membantu mereka berarti membantu keluarga dan kekasih Allah. Sama halnya dengan orang yang menghafalkan isi Al-Qur`an disebut dengan ahli Al-Qur`an, sebagaimana Rasulullah Saw, dalam sebuah sabdanya, berkata, “Ahli Al-Qur`an adalah keluarga dan kekasih Allah. Maka ahli Al-Qur`an adalah orang yang mengamalkan isinya, bukan sekedar membacanya.” Beliau Saw juga bersabda, “tidaklah beriman kepada Al-Qur`an orang yang menghalalkan apa-apa yang diharamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah sampai orang fakir menjadi enggan untuk meminjam sesuatu (berhutang) kepadamu.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia meminjam atau berhutang kepadamu, maka anggaplah itu bukan hutang, melainkan sebagai pemberian saja. Dan janganlah memberitahukan niatmu itu kepadanya pada saat itu juga, melainkan beberapa hari setelah itu, agar ia tidak merasa segan atau malu kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah pandai-pandai menjaga hatinya dengan menyegerakan keinginannya, tanpa mengulur-ulur waktu sehingga mereka harus menunggu lama. Bersabarlah mendengar keluhannya, dan hadapilah ia dengan cara yang ramah sehingga mereka dapat menyampaikan apa yang ia inginkan. Jangan sekali-kali bermuka masam padanya, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan permintaannya tidak dapat engkau penuhi saat itu, maka janganlah langsung engkau tolak begitu saja, melainkan usahakanlah terlebih dahulu untuk mecarikan jalan keluarnya, jika memungkinkan. Jika tidak, maka pandai-pandailah menyatakannya. Sikap kasar dan masa bodoh darimu hanyalah akan menimbulkan rasa penyesalan pada dirinya lantaran ia telah terlanjur mengungkapkan rahasianya padamu. Ia juga akan merasa terhina dihadapanmu, lalu menjadi benci. Dan boleh jadi saja imannya menjadi lemah karenanya, dimana ia sampai merasa kecewa terhadap Allah SWT yang telah menakdirkan kefakiran terhadap dirinya, dan akhirnya timbul niat-niat yang tidak baik pada dirinya. Engkaupun tentunya akan mendapat dosa juga karenanya, jika memang engkaulah yang menjadi penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sekiranya engkau bersikap baik kepadanya, boleh jadi kebaikanmu itu akan mendatangkan mamfaat yang besar bagi dirinya, dimana melalui pertolonganmu itu keadaannya menjadi berubah kepada yang lebih baik, dan itupun merupakan pahala bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diambil dari buku &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dengan judul asli &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerjemah, Abad Badruzzaman &amp;amp; Nunu Burhanuddin; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penyunting Tim Sahara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-116330914326463420?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/KMR2sU7sg0A" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/KMR2sU7sg0A/beberapa-adab-penting-dalam-pergaulan_17.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/06/beberapa-adab-penting-dalam-pergaulan_17.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-5126089926092956028</guid><pubDate>Fri, 13 Jun 2008 04:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-13T11:19:17.908+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Adab</category><title>Beberapa Adab Penting Dalam Pergaulan</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa Adab Penting Dalam Pergaulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Adab Bergaul dengan Orang kaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kaya hendaklah dihormati dalam pergaulan, namun disamping itu hendaklah berhati-hati bergaul dengannya demi terjaga kehormatan diri dan agama. Misalnya, janganlah sampai mengharap-harap pemberian darinya, ataupun mengangankan kekayaan yang dimilikinya, dan jangan pula sampai merendahkan diri dihadapannya lantaran kayanya, sebab Rasulullah Saw bersabda, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Barangsiapa merendahkan dirinya kepada orang kaya lantaran kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga dari agamanya.”&lt;/span&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bertemu dengannya di suatu tempat, seperti di jalanan, di dalam masjid, atau didalam sebuah ruang pertemuan, maka hendaklah bersikap baik kepadanya seperti kepada orang-orang lain (jangan memulia-muliakannya dari orang lain lantaran kayanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang tak kalah pentingnya, janganlah sekali-kali beranggapan bahwa dirimu lebih baik darinya, melainkan anggaplah semua orang – bukan orang kaya itu saja – lebih baik dari dirimu, agar engkau terlepas dari sikap sombong dan takabur. Dan jangan juga sampai meminta-minta kepada Allah agar Dia menakdirkanmu menjadi orang fakir lantara beranggapan bahwa kekayaan itu akan dapat membahayakan dunia dan akhiratmu, sedang kefakiran itu akan lebih utama bagi dunia dan akhiratmu. Sebab, sebagaimana dikatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Barangsiapa yang meminta-minta takdir, maka tidak adalah takdir baginya, dan barangsiapa yang membuat-buat keutamaan, maka tidak adalah keutamaan baginya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang kaya hendaklah berbuat baik kepada orang-orang fakir/miskin dengan cara membantu mereka dengan memberikan sebagian hartanya kepada mereka. Adapun orang fakir, maka hendaklah ia mengosongkan hatinya dari keinginan untuk mendapatkan harta benda seperti orang kaya tersebut, bahkan dari dunia beserta isinya, sebab semuanya itu hanyalah nikmat dari Allah, yang belum apa-apa dibanding dengan nikmat-Nya yang diakhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diambil dari buku &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dengan judul asli &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerjemah, Abad Badruzzaman &amp;amp; Nunu Burhanuddin; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penyunting Tim Sahara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-5126089926092956028?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/k_Fcxe1vbHA" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/k_Fcxe1vbHA/beberapa-adab-penting-dalam-pergaulan.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/06/beberapa-adab-penting-dalam-pergaulan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-3359201350626674285</guid><pubDate>Mon, 09 Jun 2008 04:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-11T15:58:50.523+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kajian</category><title>ZUHUD, CINTA ALLAH, CINTA RASUL</title><description>&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;ZUHUD, CINTA ALLAH, CINTA RASUL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah Swt berfirman, &lt;i&gt;"&lt;span&gt;katakanlah, jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscya Allah mengasihi kalian"&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;(QS Ali `Imran [3]:31)&lt;/span&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, wahai yang dikasihi Allah, bahwa kecintaan hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Adapun kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan ampunan-Nya kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan, apabila hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allah dan setiap yang tampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan kerena Allah, cintanya hanya milik dan kepada Allah. hal itu menuntut keinginan menaati-Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu,&lt;i&gt; &lt;span&gt;mahabbah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan kelaziman mengikuti Rasulullah Saw dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan menuju ketaatan kepada-Nya. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Ra berkata, "beberapa kaum bersumpah setia dihadapan Rasulullah Saw, 'Wahai Rasulullah, sungguh kami mencintai Tuhan kami.' Maka turunlah ayat diatas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basyar al-Hafi berkata, "aku bermimipi bertemu dengan Nabi Saw. Beliau bertanya'Wahai Basyar, tahukah engkau, dengan apa Allah meninggikan kamu di antara kawan-kawamu?'&lt;br /&gt;"Tidak, wahai Rasulullah," jawabku. Beliau bersabda, Dengan baktimu kepada orang-orang saleh, nasehatmu kepada saudara-saudaramu, kecintaanmu kepada sahabat-sahabatmu dan pengikut Sunnahku, dan kepatuhanmu kepada Sunnahku." Selanjutnya Nabi Saw bersabda, "barang siapa menghidupkan Sunnahku, dia telah mencintaiku. Dan, barang siapa mencintaiku, pada hari kiamat dia bersamaku di surga."&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadis mahsyur disebutkan bahwa orang yang berpegang pada Sunnah Rasulullah Saw ketika orang lain berbuat kerusakan dan terjadi pertikaian diantara para penganut mazhab, dia memperoleh pahala dengan seratus pahala syuhada. demikian disebutkan dalam Syir`ah al-islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Saw berkata, "Semua umat ku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya". Para sahabat bertanya "Siapa yang tidak menginginkannya"? Beliau menjawab, "Orang yang menaati ku masuk surga, sedangkan orang yang durhaka pada ku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan Sunnah ku adalah maksiat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama sufi berkata, "Kalau anda melihat seorang guru sufi terbang diudara, berjalan diatas laut atau memakang api, dan sebagainya, sementara dia meninggalkan perbuatan fardhu dan sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah karamah. Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Junayd Ra berkata, "Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali melalui Allah. Jalan untuk sampai kepada Allah adalah mengikuti al Mushthafa (Nabi Muhammad Saw)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad al-Hawari Ra berkata, "Setiap perbuatan tanpa mengikuti sunnah adalah batil. Sebagaimana sabda nabi saw, Barang siapa yang mengabaikan sunnah ku, haram baginya syafa`atku." (Tercantum dalam Syir`ah al-Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang gila yang tidak meremehakan dirinya. Kemudian, hal itu diberitahukan kepada Ma`ruf al-Karkhi. Dia tersenyum, lalu berkata, "Wahai saudara ku, Allah memiliki para pencinta dari anak-anak, orang dewasa, orang berakal, dan orang gila . Yang ini adalah yang engkau lihat pada orang gila."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Junayd berkata, “Guruku al-Sari Ra jatuh sakit. Kami tidak tahu obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan juga tidak tahu sebab sakitnya. Dokter yang berpengalaman memberikan resep kepada kami. Oleh karena itu, kami menampung air seninya kedalam sebuah botol. Lalu, dokter itu melihat dan mengamatinya dengan seksama. Kemudian dia berkata, ‘Aku melihat air seni iniseperti air seni seorang pencinta (al-`asyiq).’ Aku seperti disambar petir dan jatuh pingsan. Botol itu pun jatuh dari tangan ku. Kemudian, aku kembali kepada al-Sari dan mengabarkan hal itu kepadanya. Dia tersenyum dan berkata, ‘Allah mematikan apa yang dia lihat.’ Aku bertanya, ‘Wahai guru, apakah mahabbah itu tampak jelas dalam air seni?’ Dia menjawab, ‘Benar’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Fudhayl Ra berkata, “Apabila ditanyakan kepadamu, apakah engkau mencintai Allah? Diamlah. Sebab, jika engkau menjawab ‘tidak’, engkau menjadi kafir. Sebaliknya, jika engkau menjawab ‘ya’, berarti sifat mu bukan sifat para pencinta Allah. Maka waspadalah dalam mencintai dan membenci (sesuatu).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan berkata, “Barang siapa mencintai orang yang mencintai Allah Swt, berarti dia mencintai Allah. Barang siapa memuliakan orang yang memuliakan Allah Swt, berarti dia memuliakan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl berkata, “Tanda cinta kepada Allah adalah cinta kepada al-Quran. Tanda cinta kepada allah dan al-Quran adalah cinta kepada Nabi Saw. Tanda cinta kepada Nabi Saw adalah cinta kepada sunnahnya. Tanda cinta kepada sunnahnya adalah cinta kepada akhirat. Tanda cinta kepada akhirat adalah benci dunia. Tanda benci dunia adalah tidak mengambilnya kecuali sebagai bekal dan perantara menuju akhirat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu al-Hasan al-Zanjani berkata, “pokok ibadah itu adalah tiga anggota badan, yaitu telinga, hati, dan lidah. Telinga untuk mengambil pelajaran, hati untuk bertafakkur, sedangkan lidah untuk berkata benar, bertasbih dan berdzikir. Sebagaimana Allah Swt berfirman, &lt;i&gt;Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbilah kepadanya-Nya diwaktu pagi dan petang&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Ahzab [33]: 41-42)&lt;/strong&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah dan Ahmad bin Harb bverada disuatu tempat. Lalu, Ahmad bin Harb memotong sehelai daun rumput. Kemudian ‘Abdullah berkata kepadanya, “engkau mengambil lima hal yang melalaikan kalbumu dari bertasbih kepada Maulamu. Engkau terbiasa sibuk dengan selain dzikir kepada Allah Swt. Engkau jadikan hal itu sebagai jalan yang diikuti orang lain, dan engkau mencagahnya dari bertasbih kepada Tuhannya. Engkau bebankan kepada diri mu &lt;i&gt;hujjah &lt;/i&gt;(argumen) Allah Swt pada hari kiamat.” Demikian dikutif dari Raunaq al-Majalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Sari Ra berkata, “aku bersama al-Jurjani melihat tepung. Lalu, al-Jurjani menelannya. Aku tanyakan hal itu kepadanya, ‘mengapa engkau tidak memakan makanan yang lain?’ Dia menjawab, ‘Aku hitung diantara mengunyah dan menelan itu ada tujuh puluh kali tasbih. Karena itu, aku tidak pernah lagi memakan roti sejak empat puluh tahun yang lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl bin ‘Abdullah makan setiap lima belas hari sekali. Ketika memasuki bulan Ramadhon, dia tidak makan kecuali sekali saja. Sekali-sekali dia menahan lapar hingga tujuh puluh hari. Apabila makan, badannya menjadi lemah. Namun jika lapar, badannya menjadi kuat. Dia beriktikaf di Masjid al-Haram selama tiga puluh tahun tanpa terlihat makan dan minum. Dia tidak melewatkan sesaatpun dari berdzikir kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Umar bin ‘Ubayd tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali karena tiga hal, yaitu shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, dan melayat orang yang meninggal. Dia berkata, ‘aku melihat orang-orang mencuri dan merampok. Umur adalah mutiara indah yang tidak ternilai, maka hendaklah umur itu disimpan dalam lemari yang abadi diakhirat. Ketahuilah pencari akhirat harus melakukan kezuhudan dalam kehiduapan dunia  agar cita-citanya hanya satu dan batinnya tidak terpisah dari lahirnya. Tidak mungkin menjaga keadaan itu kecuali dengan penguasaan lahir dan batin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bin al-Hakim berkata, “apabila hendak tidur, bapak ku sering menceburkan diri ke laut, lalu bertasbih. Ikan-ikan pun berkumpul dan ikut bertasbih bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahab bin Munabbih berdoa kepada Allah agar dihilangkan rasa kantuk pada malam hari. Karena itu, dia tidak pernah tidur selama empat puluh tahun, Hasan al-Hallaj mengikat kakinya dari mata kaki hingga lutut dengan tiga belas ikatan. Dia menunaikan shalat dalam keadaan seperti itu sebanyak seribu rakaat dalam sehari semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Junayd pernah pergi ke pasar dan membuka tokonya. Dia masuk, menurunkan tirai, menunaikan shalat empat ratus rakaat, kemudian pulang selama empat puluh tahun. Hasbyi bin Dawud menunaikan shalat dhuha dengan wudhu untuk shalat `isya, maka hendaklah orang-orang Mukmin selalu dalam keadaan suci. Setiap kali berhadas, bersegeralah bersuci, shalat dua rakaat, dan berusaha menghadap kiblat dalam setiap duduknya. Hendaklah dia membayangkan bahwa dirinya sedang duduk dihadapan Nabi Saw menurut kadar kehadiran dan pengawasan batinnya. Dengan demikian dia, terbiasa tenang dalam segala perbuatan. Dia rela menanggung penderitaan, tidak melakukan sesuatu yang menyakiti (orang lain), dan memohon ampun dari setiap hal yang menyakitkan. Dia tidak membanggakan diri atas perbuatannya, karena bangga (`ujb) termasuk sifat-sifat setan. Pandanglah diri dengan mata kehinaan dan pandanglah orang-orang shaleh dengan mata kemuliaan dan keagungan. Barangsiapa yang tidak mengenal kemuliaan orang-orang shaleh, allah mengharamkannya bergaul dengan mereka. Dan barang siapa yang tidak mengenal mulanya ketaatan, dicabutlah manisnya ketaatan itu dari kalbunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Fudhayl bin `Iyadh ditanya, “Wahai Abu `Ali, kapan seseorang bisa dijuliki orang shaleh?” Dia menjawab, “Apabila ada kesetiaan dalam niatnya, ada ketakutan dalam kalbunya, ada kebenaran pada lidahnya, dan ada amal shaleh pada anggota tubuhnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman ketika Nabi Saw melakukan mi`raj, “Wahai Ahmad, jika engkau ingin menjadi orang yang paling wara`, berlaku zuhudlah di dunia dan cintailah akhirat,” Nabi Saw bertanya, “Wahai Tuhan ku, bagaimana cara aku berlaku zuhud di dunia?” Allah menjawab, “Ambillah dari keduniaan itu sekedar memenuhi keperluan makan, minum, dan pakaian. Janganlah menyimpannya untuk hari esok dan biasakanlah berdzikir kepada-Ku.” Nabi Saw bertannya lagi, “Wahai Tuhan ku, bagaimana cara aku membiasakan berdzikir kepada Mu?” Allah menjawab, “Dengan mengasingkan diri dari manusia. Gantilah tidurmu dengan shalat dan (gantilah juga) makan mu dengan lapar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Saw bersabda, “Zuhud di dunia dapat menenangkan hati dan badan. Cinta kepadanya dapat memperbanyak emosi dan kesedihan. Cinta kepada keduniaan merupakan induk setiap kesalahan, dan zuhud dari dunia merupakan induk setiap kebaikan dan taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang saleh melewati sekelompok orang. Tiba-tiba dia mendengar seorang dokter sedang menerangkan tentang penyakit dan obat-obatan. Dia bertanya, “Wahai penyembuh penyakit tubuh, dapatkah engkau mengobati penyakit hati?” Dokter itu menjawab, “Ya, sebutkan penyakitnya.” Orang saleh itu berkata, “Dosa telah menghitamkannya sehingga menjadi keras dan kering. Apakah engkau dapat mengobatinya?” Dokter menjawab, “Obatnya adalah ketundukan, permohonan yang sungguh-sungguh, istighfar di tengah malam dan siang hari, bersegeralah menuju ketaatan kepada Zat Yang Mahamulia dan Maha Pemberi ampunan, dan permohonan maaf kepada Raya Yang Mahakuasa. Inilah obat penyakit hati dan penyembuhnya dari Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu orang saleh itu menjerit dan berlalu sambil menangis. Dia berkata, “Dokter yang baik, engkau telah mengobati penyakit hati ku.” Dokter itu berkata, “Ini adalah penyembuh penyakit hati orang yang bertobat dan mengembalikan kalbunya kepada Dzat Yang Mahabenar dan Maha Menerima tobat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa seseorang membeli seorang budak. Lalu budak itu berkata, “Wahai tuan ku, aku ingin mengajukan tiga syarat kepada anda:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, Anda tidak menghalangiku untuk menunaikan shalat wajib apabila tiba waktunya;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; Anda boleh memerintah ku sesuka anda pada siang hari, namun tidak menyuruhku pada malam hari;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;ketiga,&lt;/i&gt; Anda memberikan kepada ku sebuah kamar di rumah anda yang tidak boleh dimasuki orang lain.”&lt;br /&gt;Pembeli budak itu berkata, “Aku akan memenuhi syarat-syarat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dia berkata, “Lihatlah kamar-kamar itu.” Budak itu berkeliling dan menemukan sebuah kamar yang sudah rusak, lalu berkata, “Aku mengambil kamar ini.” Pembeli budak bertanya, “Wahai budak, mengapa engkau memilih kamar yang rusak?” Budak itu menjawab, “Wahai tuan ku, tidakkah anda tahu bahwa yang rusak di sisi Allah merupakan taman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budak itu melayani tuannya pada siang hari, dan malamnya dia beribadah kepada Tuhannya. Hingga pada suatu malam, tuannya berkeliling di sekitar rumahnya, lalu sampai dikamar budak itu. Tiba-tiba dia melihat kamar itu bercahaya, sementara budak itu sedang bersujud  dan di atas kepalanya ada cahaya yang tergantung diantara langit dan bumi. Budak itu bermunajat dan merendahkan diri (kepada Allah). Dia berdoa, “Ya Allah, aku memenuhi hak tuan ku dan melayaninya pada siang hari. Kalau tak begitu aku tidak akan melewatkan siang dan malam ku selain untuk berkhidmat kepada Mu, maka ampini aku, wahai Tuhan ku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan nya menyaksikan hal itu hingga tiba waktu subuh. Pelita itu menghilang dan atap kamar itu pun menutup kembali. Lalu, dia kembali dan memberitahukan hal itu kepada istrinya. Ketika malam kedua tiba, dia mengajak istrinya dan mendatangi pintu kamar itu. Tiba-tiba mereka menemukan budak itu sedang bersujud dan ada pelita diatas kepalanya. Mereka pun berdiri di depan pintu kamar sambil memandangi budak itu dan menangis hingga tiba waktu subuh. Lalu, mereka memanggil budak itu dan berkata, “Engkau aku merdekakan karena Allah Swt sehingga engkau dapat mengisi siang dan malam mu dengan beribadah kepada Dzat yang engkau mohonkan maaf Nya.” Kemudian, budak itu menadahkan tangannya ke langit dan berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Wahai pemilik segala rahasia&lt;br /&gt;Kini rahasia itu telah tampak&lt;br /&gt;Hidup ini tak lagi kuinginkan&lt;br /&gt;Setelah rahasia itu tersebar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia berdoa, “Ya Allah, aku memohon kematian kepada Mu.” Budak itupun tersungkur dan kemudian wafat. Demikianlah keadaan orang-orang saleh, serta para pencinta dan pendamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Zahr al-Riyad disebutkan bahwa Musa As punya seorang sahabat yang sangat dekat. Pada suatu hari, sahabatnya berkata, “Wahai Musa, berdoalah kepada Allah agar aku dapat mengenal Nya dengan makrifat yang sebenar-benarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musa As berdoa, dan doanya dikabulkan. Kemudian, karibnya pergi ke puncak gunung bersama binatang-binatang buas. Musa pun kehilangan dia. Maka Musa berdoa, “Wahai Tuhan ku, aku kehilangan saudara dan sahabat ku.” Tiba-tiba ada jawaban, “Wahai Musa, orang yang mengenal Ku dengan makrifat yang sebenar-benarnya tidak bergaul dengan makhluk untuk selama-lamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Yahya As dan Isa As sedang berjalan dipasar. Tiba-tiba seorang perempuan menabrak mereka. Yahya As berkata, “Demi Allah, aku tidak merasakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu `Isa As bertanya, “Mahasuci Allah badanmu ada bersama ku, tetapi kalbumu ada dimana?” Yahya As menjawab, “Wahai anak bibi ku, kalau kalbu merasa tenteram kepada selain Allah sekejap mata pun, niscaya engkau mengira aku tidak mengenal Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama berkata, “Makrifat yang benar adalah menceraikan dunia dan akhirat, dan menyendiri untuk Maula (Allah Swt). Dia mabuk karena tegukan mahabbah. Karena itu, dia tidak sadar kecuali ketika melihat Allah. Dia berada di atas cahaya dan Tuhannya.” []&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;diambil dari terjemahan &lt;strong&gt;Buku &lt;span&gt;Imam Al-Ghazali "Mukasyafah al-Qulub; al-Muqarrib ila hadhrah al-Ghuyub fi`Ilmi al-Tashawwuf,&lt;/span&gt;&lt;span&gt;" Dar al-Fikr&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Mukasyafah al-Qulub&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;span&gt;&lt;i&gt;"Bening Hati Dengan Ilmu Tasawuf"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span&gt;&lt;strong&gt;Imam Al-Ghazali&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penerbit, Marja Agustus 2003&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-3359201350626674285?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/me1yE8TgF20" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/me1yE8TgF20/zuhud-cinta-allah-cinta-rasul.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/06/zuhud-cinta-allah-cinta-rasul.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-129656743843430124</guid><pubDate>Sun, 08 Jun 2008 06:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-11T16:01:31.856+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Komunitas</category><title>Membangun Komunitas Link Web</title><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Membangun Komunitas Link Web Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img class="aligncenter size-full wp-image-592" src="http://style7.wordpress.com/files/2008/05/web-indonesia.gif" alt="web indonesia" width="160" height="66" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah &lt;strong&gt;Filosofi politik&lt;/strong&gt; yang mengatakan &lt;strong&gt;"Tidak ada teman dan tidak ada musuh yang abadi, yang ada adalah kepentingan bersama" &lt;/strong&gt;. Mungkin filosofi ini yang meng-ilhami perushaan &lt;strong&gt;IBM &lt;/strong&gt;bekerja sama dengan komunitas &lt;strong&gt;open source &lt;/strong&gt;untuk menghadapi dominasi &lt;strong&gt;Microsoft&lt;/strong&gt; dalam aplikasi sever. &lt;p&gt;Ter-inspirasi dari&lt;strong&gt; filosofi itu &lt;/strong&gt;dan dari membaca dan berusaha memahami masalah link building dari posting &lt;strong&gt;Darren Rowse&lt;/strong&gt; di &lt;strong&gt;problogger.net&lt;/strong&gt;-nya (12 Tools and Techniques for Building Relationships with Other Bloggers) juga dari membaca ebook &lt;strong&gt;link building secret&lt;/strong&gt; yg saya temukan , maka saya mencoba menarik kesimpulan intinya dan mencoba membangun ide untuk mengajak para blogger Indonesia bersama-sama menciptakan suatu komunitas online bagi blogger indonesia , untuk saling mengenal dan membangun suatu kerjasama &lt;strong&gt;win and win&lt;/strong&gt; bukan &lt;strong&gt;win and lose&lt;/strong&gt; (menang dan menang bukan menang dan kalah) dalam hal traffic , untuk menghadapi apa? yah boleh kalau di bilang untuk menghadapi web-web full komersil yang memiliki budged cukup untuk membeli segala fasilitas mendatangkan traffic , atau paling tidak ini adalah suatu cara untuk berkenalan dan saling mengenal dengan para blogger Indonesia yang lain dan kelak bisa kita jadikan &lt;strong&gt;Katalog Pribadi Web/Blog Indonesia&lt;/strong&gt;.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, ini bicara promosi blog , yang saya rasa lebih efektif di banding sekedar bertukar link lalu memasangnya di sidebar sebagai blogroll, karena umumnya pengunjung blog kita tidak melirik sama sekali link-link dalam blogroll kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oke, yang saya maksud di sini adalah menyebarkan posting saya ini secara berantai, karena &lt;strong&gt;posting utama akan paling menjadi perhatian pengunjung blog kita.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yap ini ajakan suka-rela ,&lt;strong&gt;silahkan yang tertarik&lt;/strong&gt;, dan yang tidak &lt;strong&gt;abaikan saja&lt;/strong&gt;, bagi rekan-rekan senior yang trafficnya sudah tinggi juga silahkan jika ingin berbagi bersama, di bawah ini langkahnya: &lt;strong&gt;1.&lt;/strong&gt;Buat sebuah posting dengan judul &lt;strong&gt;Web Indonesia&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;2.Copy-paste&lt;/strong&gt; seluruh isi posting ini untuk isi posting anda. &lt;strong&gt;3.&lt;/strong&gt;Pada bagian atas kumpulan kode dalam teks area di atas ,masukan url-judul web anda di bawah url-judul web saya dan menambahkan nomor urut setelah web saya, jadi angka nomor urut anda adalah setelah no urut web saya....dan seterusnya secara berantai. &lt;strong&gt;4.&lt;/strong&gt;Setelah itu abadikan link url posting misalnya di letakan di sidebar, supaya kelak gampang di cari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu tujuan utama saya adalah dalam rangka menyebarkan budaya ngeblog, saling mengenal dan membantu traffic bagi rekan2 pemula .&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anda tidak akan saya curangi untuk memasang &lt;strong&gt;anchor text&lt;/strong&gt; atau &lt;strong&gt;link web saya &lt;/strong&gt;atau web lain-nya, &lt;strong&gt;tak ada satu link pun yang menuju alamat web atau blog saya &lt;/strong&gt;atau lain-nya , tapi hanya sekedar alamat dalam bentuk teks untuk saling mengenal. juga logo web indonesia di atas cuma sekedar logo bersama, tak ada link atau keyword yang saya sisipkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan jika masih ada pemikiran di akali karena web saya ada di urutan atas dari link anda , maka &lt;strong&gt;abaikan tulisan ini. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika berjalan lancar, saya rasa cara promosi ini tidak kalah efektif di banding &lt;strong&gt;berburu link&lt;/strong&gt; dan mencari&lt;strong&gt; RSS submissions&lt;/strong&gt; sebanyak banyaknya dengan melelahkan, bahkan &lt;strong&gt;RSS atau tukar link &lt;/strong&gt;banyak kemungkinan link anda akan &lt;strong&gt;terhapus&lt;/strong&gt; karena banyak sebab, tapi &lt;strong&gt;posting &lt;/strong&gt;secara umum akan tetap &lt;strong&gt;ada sampai kapanpun .&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan ini bisa menjadi acuan untuk pelacakan hubungan link secara berantai melalui dari mana anda mendapatkan posting ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil dari copy-paste dan penyebaran posting ini seterusnya adalah persis seperti isi posting ini dengan daftar link di bawah &lt;strong&gt;logo Web Indonesia &lt;/strong&gt;yang semakin bertambah.&lt;/div&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika ingin copy-paste kode HTML secara langsung&lt;br /&gt;&lt;a title="web tutorial komputer indonesia" target="_blank" href="http://iwanfree7a.googlepages.com/web-indonesia.html"&gt;klik di sini&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;(paragraf terakhir ini terserah anda mau di ikutkan atau tidak )&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; 1.FREE-7.NET- &lt;a href="http://free-7.net/"&gt;http://www.free-7.net&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;p&gt;2.O-OM.COM - &lt;a href="http://www.o-om.com/"&gt;Http://www.o-om.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;3. Keseharian - &lt;a href="http://www.jafrikoblog.blogspot.com/"&gt;http://www.jafrikoblog.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;4. Pecinta Sejagad - &lt;a href="http://www.pecintasejagad.blogspot.com/"&gt;http://www.pecintasejagad.blogspot.com&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-129656743843430124?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/wdpAqfoNMVI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/wdpAqfoNMVI/membangun-komunitas-link-web.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/06/membangun-komunitas-link-web.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4669819428301409048.post-5481452996292203154</guid><pubDate>Fri, 06 Jun 2008 09:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-06T16:24:18.990+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">salam</category><title>"Keseharian"</title><description>"Keseharian" adalah blog yang dibuat dengan inisiatif untuk mencatat segala keseharian penulis, entah apa saja bentuknya, dan ini merupakan anak dari blog http://pecintasejagad.blogspot.com atau kloningan dari blog tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog ini lahir pada tanggal 06 Juni 2008 pukul 16:13 WIB di Bandar Lampung. selain itu tujuan dari terciptanya blog Keseharian ialah tidak lain dan tidak bukan untuk meramaikan dunia blogger terutama di indonesia. mudah-mudahan blog keseharian dapat menjadi teman, sahabat, atau lainnya bagi para blogger sekalian. atas perhatiannya terimakasih dan harap maklum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heheheheh emang siapa blog keseharian? sok-sok jadi blog penting aja, pakai-pakai diumummin segala, hhahhaha norak lo....... Wah ga masalah yang penting hidup ngeblog dan nulis selalu jaya blogger.........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;meta name="verify-v1" content="/ug8whyRy0Dw0vdM1zPyVXwWjR8eApnQvTbCJeyWRuM=" /&gt;
Publisher ID: pub-7367835679237995&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4669819428301409048-5481452996292203154?l=jafrikoblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Keseharian/~4/E5g2uq-aWRw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Keseharian/~3/E5g2uq-aWRw/keseharian.html</link><author>noreply@blogger.com (Jafriko)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://jafrikoblog.blogspot.com/2008/06/keseharian.html</feedburner:origLink></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

