<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DUUMQ3g4eCp7ImA9WhRRFE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749</id><updated>2011-11-27T15:41:22.630-08:00</updated><category term="orang tua" /><category term="ibu" /><category term="ayah" /><category term="anak" /><title>kesehatan dan anak</title><subtitle type="html">ini kupersembahkan untuk "one" ku..untuk anaku tercinta (kelak...) untuk tiap pemberontak yang ingin melahirkan pejuang. untuk kalian cinta ini kupersembahkan..pada Allah cinta itu datang..pada rama dan bunda cinta itu dilahirkan...salam kasih cinta dan sayang dalam kepal tangan yang keras..</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/KesehatanDanAnak" /><feedburner:info uri="kesehatandananak" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;CUUHQ3k8eyp7ImA9Wx5TFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-3225799144902862436</id><published>2010-07-30T19:26:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T19:27:12.773-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-30T19:27:12.773-07:00</app:edited><title>Wanita Masa Depan Lebih Subur di Usia 40-an Tahun</title><content type="html">Merry Wahyuningsih - detikHealth&lt;br /&gt;http://health.detik.com/read/2010/07/27/080233/1407288/764/wanita-masa-depan-lebih-subur-di-usia-40-an-tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi (healthplusclinics)Sheffield, Inggris, Seorang wanita dianjurkan hamil sebelum usia 35 tahun karena bila melebihi usia tersebut kehamilan akan sangat berisiko. Tapi studi terbaru menunjukkan bahwa wanita di masa depan akan lebih subur pada usia 40-an tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian oleh ilmuwan University of Sheffield, Inggris menemukan usia terbaik untuk melahirkan akan terus berkembang dengan berjalannya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seleksi alam yang membuat wanita subur di usia muda mungkin akan melemah seiring waktu, serta kekuatan relatif dari seleksi alam di masa lalu (yang diturunkan dari orangtua) dapat meningkatkan kesuburan di usia tua, sesuatu yang berpotensi mengarah pada peningkatan kesuburan selama beberapa generasi," jelas Duncan Gillespie dari Departemen Hewan dan Ilmu Tanaman di Universitas of Sheffield, seperti dilansir dari FoxNews, Selasa (27/7/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika banyak wanita menunggu usia lebih tua untuk melahirkan maka hanya wanita yang memiliki gen kesuburan yang baik akan berhasil. Itu berarti rata-rata panjang kesuburan akan bertambah dan gen kesuburan tersebut akan diteruskan kepada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian dilakukan dengan mengamati pola-pola pernikahan 1.591 wanita dan menggunakan catatan dari Finlandia dari abad ke-18 sampai abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti menemukan bahwa di masa lalu wanita lebih mungkin menikah antara usia 30 dan 35 tahun karena sering tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya pada usia tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurut Gillespie, wanita sekarang tidak ingin melahirkan pada usia muda karena banyak wanita yang menunda pernikahan hingga usia yang tergolong lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang, banyak orang yang menunda menikah dan memulai keluarga pada usia yang lebih tua. Akibatnya, ini bisa menyebabkan perkembangan evolusi di masa depan, yaitu kesuburan akan terjadi pada wanita usia yang lebih tua, sekitar usia 40-an tahun," jelas Gillespie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(mer/ir)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-3225799144902862436?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WTkTCVYG9H8QIT_Q9FRZ_FkCy3g/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WTkTCVYG9H8QIT_Q9FRZ_FkCy3g/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WTkTCVYG9H8QIT_Q9FRZ_FkCy3g/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WTkTCVYG9H8QIT_Q9FRZ_FkCy3g/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/BVaxcS8eQKA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/3225799144902862436/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=3225799144902862436" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/3225799144902862436?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/3225799144902862436?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/BVaxcS8eQKA/wanita-masa-depan-lebih-subur-di-usia.html" title="Wanita Masa Depan Lebih Subur di Usia 40-an Tahun" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2010/07/wanita-masa-depan-lebih-subur-di-usia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkYGQXgycCp7ImA9WxBaF0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-564279945394583883</id><published>2010-03-27T21:21:00.000-07:00</published><updated>2010-03-27T21:22:00.698-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-27T21:22:00.698-07:00</app:edited><title>Eits, Jangan Asal Bersihkan Telinga Bayi!</title><content type="html">Minggu, 28 Maret 2010 - 10:03 wib. okezone.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"KOTORAN di kupingnya enggak usah dibersihkan, nanti juga bakal keluar sendiri. Nanti malah terdorong ke dalam, lho!" ujar seorang teman Rianti (29) yang kebetulan melihat Rianti hendak membersihkan kuping Sasha, bayinya yang berusia 7 bulan, dengan cotton bud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lain waktu, seorang teman lagi malah menganjurkan agar Rianti membersihkannya dengan alasan, "Dulu waktu Radit masih bayi, aku juga enggak berani bersihin kupingnya. Eh, tapi kok waktu usia Radit sudah 2 tahun, aku perhatiin kotoran di kupingnya sudah menggumpal dan keras. Pantas saja kalau aku ajak bicara, responnya lambat. Rupanya pendengarannya jadi terganggu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, Rianti jadi bingung. Dibersihkan sendiri, salah, enggak dibersihkan, juga salah! Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika penasaran, pemaparan dr Adelena Anwar SpTHT dari RSK THT Bedah Proklamasi, Jakarta berikut mampu menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya Mengorek Telinga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, tak ada yang salah dalam membersihkan telinga bayi. Hanya saja yang harus diperhatikan adalah bagian telinga mana yang perlu dibersihkan dan bagaimana cara membersihkannya. Kedua teman Rianti benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jangan mengorek kotoran telinga bayi menggunakan cotton bud. Selain kapas dari cotton bud bisa tertinggal di dalam telinganya, bila Anda tak hati-hati, bisa-bisa selaput gendang telinga si kecil tertusuk. Kalau sudah begitu, fatal akibatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi, mengorek telinga justru akan mengakibatkan terdorongnya getah telinga (serumen) ke bagian telinga yang lebih dalam. Secara alamiah, getah telinga ini akan diproduksi lagi. Jika pengorekan dilakukan terus-menerus, getah yang terdorong akan menumpuk dan menyumbat, sehingga pendengaran pun bisa menurun karena gelombang suara tak bisa disalurkan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, mengorek telinga juga bisa mengakibatkan perbenturan sebab telinga bayi bentuknya bersudut. Perbenturan ini akan mengakibatkan pembengkakan atau perdarahan. Pengorekan yang terlalu keras atau dalam juga bisa mengakibatkan trauma, ditambah dinding telinga bayi mudah berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya, mengorek telinga juga bisa bikin kolaps, lho! Anda mungkin pernah mengalami batuk-batuk saat mengorek kuping. Nah, hal ini disebabkan adanya refleks syaraf pagus yang terdapat di dinding telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaraf pagus membentang ke tenggorokan, dada sampai perut. Batuk-batuk adalah refleks yang ringan. Refleks yang berat dan berbahaya bisa mengakibatkan kolaps. Wah, jangan sampai kejadian itu menimpa si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersihkan Bagian Luar Telinga Saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sama dengan organ tubuh lain, kuping si kecil juga perlu dibersihkan. Nah, dalam hal ini, Moms cukup membersihkan telinga bagian luarnya saja, yang terlihat oleh mata. Tak usah membersihkan hingga jauh ke dalam lubang atau liang telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mencoba membersihkan sampai ke liang telinga, sebagian besar kotoran malah akan terdorong masuk ke bagian lebih dalam, yakni gendang telinga. Sehingga kotoran bisa menumpuk dan membatu, apalagi kalau jenis kotorannya kering dan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tak hati-hati, cotton bud atau alat pengorek lain pun bisa melukai kulit atau gendang telinga, sehingga menyebabkan infeksi. Kasus gangguan telinga pada balita lantaran cara membersihkan telinga yang salah ini cukup banyak terjadi. Infeksi ini sering menimbulkan demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan oleh Ahlinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membersihkan kotoran telinga di dalam liang telinga hanya boleh dilakukan oleh ahlinya. Kalau diketahui ada kotoran yang telah mengeras di dekat gendang telinga si kecil, segera periksakan ke dokter ahli THT untuk dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya dokter akan memberikan obat tetes telinga (karbol gliserin 10 persen) untuk memecahkan kotoran tersebut. Kotoran yang sudah pecah disemprot atau dikorek keluar dengan alat khusus. Nah, infeksi yang barang kali timbul lantaran iritasi kotoran itu diatasi dengan pemberian obat antibiotika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tip Membersihkan Kuping si Kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moms pernah merasa was-was saat akan membersihkan telinga si buah hati? Jangan takut! Selama tahu caranya dan melakukan dengan benar, telinga si kecil dijamin akan bersih. Otomatis, pendengarannya pun tak akan terganggu. Yuk, simak tip berikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sehabis si kecil mandi, cukup lap liang telinga luarnya dengan tisu kering.&lt;br /&gt;2. Senandungkan lagu-lagu lembut dan ajak si kecil "bercakap-cakap", agar kegiatan membersihkan telinga menyenangkan hatinya.&lt;br /&gt;3.  Basahi baby's cotton bud khusus atau kapas bulat dengan air hangat terlebih dahulu. Pegang kepala si kecil, lalu bersihkan bagian depan, lekukan dalam daun telinga, dan belakang daun telinganya dengan hati-hati. Lakukan hal yang sama untuk telinga lainnya. Setelah usai, keringkan telinga si kecil dengan handuk atau kain yang lembut.&lt;br /&gt;4. Hindari penggunaan cairan kimia (baby oil atau minyak telon) untuk membersihkan telinga bayi karena kadang-kadang menimbulkan iritasi atau membuat kulit tambah berminyak.&lt;br /&gt;5. Jangan membersihkan telinga dengan cara mengoreknya, baik menggunakan cotton bud maupun benda lain. Bersihkan telinga bagian luar saja, karena telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan lubang telinga. Kerangka daun telinga dan sepertiga bagian luar lubang telinga terdiri dari tulang rawan yang elastis, sehingga aman untuk dibersihkan.&lt;br /&gt;6.  Usahakan agar anak mengunyah makanan atau mengisap dot secara benar. Mengunyah atau mengisap dot merupakan mekanisme alamiah tubuh untuk mengeluarkan kotoran dari dalam telinga.(Mom&amp; Kiddie//nsa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-564279945394583883?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6XinYMzgunyD9XK3ZstBRwgJoSc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6XinYMzgunyD9XK3ZstBRwgJoSc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6XinYMzgunyD9XK3ZstBRwgJoSc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6XinYMzgunyD9XK3ZstBRwgJoSc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/aRpejEUSuZU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/564279945394583883/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=564279945394583883" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/564279945394583883?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/564279945394583883?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/aRpejEUSuZU/eits-jangan-asal-bersihkan-telinga-bayi.html" title="Eits, Jangan Asal Bersihkan Telinga Bayi!" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2010/03/eits-jangan-asal-bersihkan-telinga-bayi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQBQHk7fyp7ImA9WxJbEUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-5262627834849115390</id><published>2009-07-20T19:44:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T19:45:51.707-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-20T19:45:51.707-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="anak" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ibu" /><title>Inisiasi Menyusu Dini yang Menakjubkan</title><content type="html">&lt;span class="date"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://health.detik.com/read/2009/07/07/143248/1160617/775/inisiasi-menyusu-dini-yang-menakjubkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span class="reporter"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Nurul Ulfah&lt;/strong&gt; - detikHealth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;     &lt;!--&lt;br /&gt;--&gt;   &lt;br /&gt;  &lt;div class="image"&gt;&lt;img src="http://images.detik.com/content/2009/07/07/775/IMD-%28sirensmag%29-dalam.jpg" alt="img" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(dok Sirensmag)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Jakarta,&lt;/strong&gt; Bayi yang baru keluar dari rahimnya ibunya kemudian merangkak di dada sang ibu dengan susah payah untuk mencari air minum dari puting ibu merupakan proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Siapa pun akan terharu melihat bayi yang baru berumur beberapa menit akhirnya berhasil mendapatkan puting ibu untuk menyusui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, banyak sekali manfaat yang didapatkan dari kegiatan IMD ini, baik untuk si ibu maupun sang buah hati. Bagi calon ibu yang akan melahirkan, segera rencanakan dan cari dokter yang siap melaksanakan 'Early Initiation Of Breastfeeding' agar bisa melihat momen-momen pertama si bayi yang sungguh menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Utami Roesli, SpA., IBCLC, FABM yang merupakan pelopor IMD, menekankan betapa pentingnya seorang ibu melakukan IMD demi mengoptimalkan tumbuh kembang anak serta menurunkan angka kematian bayi dan balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan IMD segera setelah bayi lahir (setidaknya 1 jam) dapat menyelamatkan 22% kasus kematian bayi. Meskipun Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara luar, terutama Skandinavia yang sudah melancarkan program tersebut pada tahun 1987, namun pada tahun 2006 program ini mulai dipromosikan dengan gencar di Indonesia oleh Dr. Utami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dahulu, pengertian 'menyusu dini' masih salah dinterpretasikan oleh masyarakat dan kalangan dokter, dimana si bayi dipaksa mendapatkan ASI dari puting ibunya segera setelah melahirkan. Padahal yang benar adalah bayi diberi kesempatan menyusu atau mencari puting susu dengan cara merangkak di dada si ibu," jelasnya disela-sela acara peringatan hari ulang tahun Ikatan Dokter Anak Indonesia ke-55 pada 21 Juni 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap gerakan yang dilakukan bayi sebelum menyusu punya maksudnya dan semua itu sudah dirancang sedemikian rupa oleh yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kita ingin melihat keajaiban Tuhan yang paling sederhana dan paling awal dalam perjalanan hidup manusia, perhatikanlah apa yang dilakukan oleh seorang bayi pada saat ia mencari puting susu ibunya", ujar Dr. Utami yang juga merupakan ketua sentra laktasi Indonesia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat 5 tahapan perilaku bayi sebelum menyusu, dimana setiap perilakunya mengandung makna yang sangat dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahap pertama, yaitu 30 menit pertama merupakan tahap istirahat bayi di perut atau dada ibunya, karena segera setelah lahir bayi belum siap untuk minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali-kali ia akan melihat ibunya dan menyesuaikan dengan lingkungan. Ajaibnya, kulit ibu dapat berfungsi sebagai thermoregulator thermal synchron, artinya jika si bayi kedinginan, maka kulit ibu akan meningkat suhunya 2 derajat celcius, dan jika si bayi kedinginan, maka akan menurun satu derajat celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahap kedua, bayi akan mengeluarkan suara, gerakan menghisap dan memasukkan tangan ke mulutnya. Gerakan tersebut merupakan upaya si bayi untuk mengenali arah atau sumber puting berdasarkan indera penciumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi akan menjilati punggung tangannya karena bau ketuban yang masih terdapat di tangannya sama dengan bau pada payudara si ibu, sehingga ia akan bergerak ke arah bau tersebut berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahap ketiga, sebelum si bayi mulai merangkak ke arah dada ibu, ia akan mengeluarkan air liur dulu. "Itu tandanya ia sudah mengenali bau puting si ibu, dan artinya makanan sudah dekat", ujar dokter anak senior di RS St Carolus Jakarta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahap keempat, setelah tahu darimana arah makanannya berasal, bayi pun akan mulai bergerak merangkak dan kakinya akan menekan perut ibu untuk bergerak ke arah payudara. Ternyata pula, hentakan kaki bayi di perut si ibu dapat mengurangi pendarahan di rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahap kelima, dari gerakan bayi adalah menjilat-jilati kulit ibu, menghentak kepala ke dada ibu, menemukan puting, menyentuh dengan tangannya, kemudian mengulum puting susu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si bayi menjilati kulit si ibu, secara tidak langsung ia akan memasukkan bakteri-bakteri yang bermanfaat untuk ususnya, dan ketika ia menghentakkan kepala ke dada ibunya, ia melakukan massage yang akan melancarkan pengeluaran ASI dari payudara si ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Utami menambahkan, jika si bayi sudah menemukan puting ibunya, biarkan paling tidak satu jam atau lebih sampai proses menyusu awal selesai. Bila dalam 1 jam si bayi belum menemukan puting, dekatkan bayi ke puting tapi jangan memasukkan puting ke mulut bayi. "Beri ia waktu 30 menit atau 1 jam lagi", ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun serangkaian proses menakjubkan pada awal kehidupan manusia tersebut hanya dapat terjadi jika si ibu maupun bayi sama-sama dalam keadaan stabil, artinya ibu tidak mengalami pendarahan atau bayi tidak berwarna biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayi yang memerlukan pengobatan segera setelah lahir serta dipisahkan dari ibunya tidak akan bisa melakukan IMD sama sekali, atau 100% tidak bisa menyusu," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dokter yang juga kakak kandung almarhum seniman Harry Roesli tersebut, yang paling penting setelah IMD selesai dilakukan adalah melakukan rawat-gabung bayi, artinya ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, dan dalam jangkauan ibu selama 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menurutnya akan memperkuat ikatan ibu dan anak, serta meningkatkan daya tahan tubuh si bayi. "Seorang bayi yang dipisahkan 6 jam saja dari ibunya, maka hormon stressnya akan meningkat 2 kali lipat karena adanya trauma pemisahan", ungkap dokter yang merekam seluruh proses kelahiran cucunya untuk sosialisasi IMD ke publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IMD dan ASI Bikin Anak Cerdas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi terbaru menunjukkan kombinasi yang efektif dari IMD dan ASI eksklusif dapat meningkatkan kecerdasan anak, sehingga para ibu pun saat ini mulai tertarik mengaplikasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak yang diberi ASI lebih pandai dibanding mereka yang tidak diberi ASI. Mereka yang tidak mendapatkan ASI diketahui 15-20% sel-sel otaknya akan mati, sehingga mengurangi tingkat kecerdasannya," kata Dr. Utami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian-penelitian yang dilakukan di Selandia Baru, Inggris, Denmark dan Amerika Serikat menjadi acuan dari Dr Utami, dokter yang selama ini gencar mempromosikan pentingnya IMD dan telah banyak mendapatkan penghargaan dalam pengembangan program ASI eksklusif tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penelitian di Denmark menyebutkan bahwa terdapat korelasi antara lamanya pemberian ASI dengan tingkat IQ seseorang. Penelitian yang dilakukan terhadap 3.253 orang di Denmark tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang disusui kurang dari 1 bulan, tingkat IQ-nya 5 poin lebih rendah dari yag disusui setidaknya 7-9 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa fakta penelitian lainnya pun dibeberkan oleh Dr. Utami, diantaranya mereka yang diberi IMD dan ASI eksklusif akan 6-8 kali lebih jarang menderita kanker anak (leukemia, limphositik, neuroblastoma, lymphoma maligna); 16,7 kali lebih jarang terkena pneumonia, 16 kali lebih jarang dirawat di rumah sakit dan 40-50% risiko asma berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kolostrum pada ASI ibu yang baru melahirkan diduga merupakan faktor penyebab seorang anak dapat memiliki daya tahan tubuh dan kecerdasan yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mendapatkan ASI. Seorang bayi yang baru lahir belum memiliki organ tubuh yang sempurna, salah satunya ususnya yang masih belum merekat dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kolostrum yang masuk ke dalam tubuh bayi akan menutup lubang-lubang pada sel-sel usus bayi, sehingga ASI yang masuk tidak akan bercampur dengan darah yang mungkin dapat menyebabkan alergen. Selain itu, kolostrum juga dapat merangsang growth hormon yang baik untuk tumbuh kembang bayi," jelas dokter lulusan FK UNPAD Bandung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lanjut Dr. Utami, bukan hanya mendapatkan 1-2 tetes kolostrum yang paling penting, melainkan kontak dengan ibunyalah yang lebih utama. "Kolostrum memang penting untuk sistem imun bayi, namun yang tak kalah penting adalah the whole skin to skin contact-nya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan American Academic Breastfeeding Medicine menyatakan dalam 48 jam pertama kehidupan seorang bayi, sebenarnya tidak dibutuhkan cairan apapun. "Jadi tidak masalah jika ASI belum bisa keluar setelah melahirkan, karena kontak kulit dengan si ibu jauh lebih penting," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Utami menegaskan jika seorang ibu ingin merencanakan IMD dan ASI eksklusif, hal tersebut harus dibicarakan dengan suami dan juga dokter sebelum kelahiran, karena belum semua rumah sakit mempraktekkan IMD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada kecenderungan sekarang ini rumah sakit membiarkan ibu terpisah dari anaknya, dimana bidan-bidan yang menangani kelahiran bayi justru menyarankan penggunaan susu formula hanya untuk mendapatkan keuntungan semata. "Mereka-mereka itulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mendzalimi ciptaan Tuhan," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang sehat adalah bayi yang dekat dengan ibunya, tidak dipisahkan oleh kamar yang berbeda. "Tidak ada namanya merawat separo-separo. Kalau bisa, si ibu lah yang memandikan dan menyelimuti si bayi," tegas dokter yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah cukup senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah harapan bagi setiap orang tuanya, oleh karena itu berikanlah makanan standar emas untuk buah hati Anda jika ingin menghasilkan anak generasi cerdas dan berkualitas. Makanan emas itu mulai dari IMD, ASI eksklusif 6 bulan, dan ASI hingga 2 tahun serta makanan pendamping ASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya ibu yang berperan penting dalam hal menyusui, namun sang ayah juga perlu mendampingi dengan penuh kasih sayang. "Bahkan di luar negeri, cuti menyusui pun diberikan untuk seorang ayah," ujarnya.(&lt;strong&gt;fah/ir&lt;/strong&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-5262627834849115390?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_9fOFNwZwZWTE4jSnvmKGCGWCwY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_9fOFNwZwZWTE4jSnvmKGCGWCwY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_9fOFNwZwZWTE4jSnvmKGCGWCwY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_9fOFNwZwZWTE4jSnvmKGCGWCwY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/B8dVM5ws_CM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/5262627834849115390/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=5262627834849115390" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/5262627834849115390?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/5262627834849115390?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/B8dVM5ws_CM/inisiasi-menyusu-dini-yang-menakjubkan.html" title="Inisiasi Menyusu Dini yang Menakjubkan" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2009/07/inisiasi-menyusu-dini-yang-menakjubkan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUACQXY6fSp7ImA9WBFbF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-674775717842824852</id><published>2007-05-09T02:42:00.001-07:00</published><updated>2007-05-09T02:42:40.815-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-05-09T02:42:40.815-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ayah" /><title>Pria langsung tidur setelah bercinta</title><content type="html">&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;strong&gt;Pria langsung tidur setelah bercinta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jangan buru-buru tersinggung dengan sikapnya itu, karena tidak ada kaitannya dengan Anda, melainkan karena pengaruh hormon. Pada pria, orgasme atau ejakulasi akan memicu lepasnya prolactin, hormon yang juga diproduksi wanita saat memberikan ASI. Prolactin ini akan membuat seseorang merasa ngantuk, seperti halnya bayi yang sering tertidur saat disusui.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-674775717842824852?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LdFkTGOntdr-R6GHR39pQRV0GbE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LdFkTGOntdr-R6GHR39pQRV0GbE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LdFkTGOntdr-R6GHR39pQRV0GbE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LdFkTGOntdr-R6GHR39pQRV0GbE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/8iEaicubibo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/674775717842824852/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=674775717842824852" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/674775717842824852?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/674775717842824852?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/8iEaicubibo/pria-langsung-tidur-setelah-bercinta.html" title="Pria langsung tidur setelah bercinta" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2007/05/pria-langsung-tidur-setelah-bercinta.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C08HRHs-fSp7ImA9WBFbEkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-1952296086349832800</id><published>2007-05-03T20:52:00.000-07:00</published><updated>2007-05-03T21:10:35.555-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-05-03T21:10:35.555-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ibu" /><title>puisi ini ditulis dengan hati (dr wrm)</title><content type="html">&lt;p style="font-family: courier new;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:14;" &gt;Semangkuk Indomie Pada Pukul Satu Pagi&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:14;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: courier new;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="small"&gt;&lt;span style=""&gt;Pengirim: Agnes Tri Harjaningrum &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="font-family: courier new;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Duduklah saja Sayang, katamu dini hari tadi&lt;br /&gt;Kubuatkan hadiah spesial di hari jadimu ini&lt;br /&gt;Bukankah tadi perut hanya kita isi dengan roti&lt;br /&gt;Dan kau pun beraksi persis seperti koki&lt;br /&gt;Cemplung sana cemplung sini&lt;br /&gt;Potong sana potong sini&lt;br /&gt;Dan tarraaa! Hadiah untukku pun tersaji!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: courier new;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: courier new;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Duduklah saja Sayang, katamu dini hari tadi&lt;br /&gt;Kubuatkan hadiah spesial di hari jadimu ini&lt;br /&gt;Bukankah tadi perut hanya kita isi dengan roti&lt;br /&gt;Dan kau pun beraksi persis seperti koki&lt;br /&gt;Cemplung sana cemplung sini&lt;br /&gt;Potong sana potong sini&lt;br /&gt;Dan tarraaa! Hadiah untukku pun tersaji! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;pre style="font-family: courier new;"&gt;&lt;span style=";font-size:12;" &gt;Semangkuk Indomie pada pukul satu pagi&lt;br /&gt;Sungguh, ini kado yang paling membuatku geli!&lt;br /&gt;Tapi bukan hanya geli, aku juga happy&lt;br /&gt;Meja makan kita sesesak tumpukan jerami&lt;br /&gt;Mangkuk-mangkuk kita tak kebagian posisi&lt;br /&gt;Tapi kau tak pernah mengambil hati&lt;br /&gt;Ah Cinta, kau ini selalu membuatku bertanya lagi&lt;br /&gt;Terbuat dari apa sesungguhnya hatimu ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi bila kulirik tumpukan lain di ruang dapur&lt;br /&gt;Ugh, rasanya ingin kugembok saja pintu dapur itu seumur-umur&lt;br /&gt;Belakangan ini dapurku kerap ngebul&lt;br /&gt;Pamali nolak rejeki, begitu kan kata orang&lt;br /&gt;Padahal deadline pekerjaan mengejar-ngejar&lt;br /&gt;Padahal amanah lain baru saja kuemban&lt;br /&gt;Dan anak-anakku, mereka pun butuh belaian&lt;br /&gt;Duh Tuhan, aku memang senang&lt;br /&gt;Tapi ritme hidupku lagi-lagi seperti komedi putar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ingat kan masa-masa sulit itu&lt;br /&gt;Dalam hitungan hari baru saja ia berlalu&lt;br /&gt;Isak ku kembali kau dengar&lt;br /&gt;Amarah pun kembali ku umbar&lt;br /&gt;Anak-anakku, entah apa kabar&lt;br /&gt;Istri macam apa aku ini, kau butuh istri baru barangkali&lt;br /&gt;Begitu ucapku, lantaran PMS, depresi, feeling guilty, dan entah apa lagi&lt;br /&gt;Kau seperti dejavu bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat lelahmu yang hampir meremukkan sendi-sendimu&lt;br /&gt;Aku lihat kesalmu yang dengan penuh juang kau perangi&lt;br /&gt;Aku dengar degup jantungmu ketika tahun terakhir studi membayangimu&lt;br /&gt;Aku dengar desah nafasmu ketika timbunan deadline seolah akan menerkammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengapa, ketika dejavu itu bukan lagi dejavu&lt;br /&gt;ketika ia nyata membentang di depan matamu&lt;br /&gt;Kau masih saja bisa memberikan bahumu untukku&lt;br /&gt;Kau masih saja bisa meniadakan dirimu&lt;br /&gt;Kau masih saja bisa menjelma peri penolongku&lt;br /&gt;Ah Cinta, terbuat dari apa sesungguhnya hatimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiks…maafkan aku Cinta, tanganku hanya dua,&lt;br /&gt;dan aku selalu kalah melawan pembagian waktu&lt;br /&gt;Tapi kau sangat tahu kan Cinta,&lt;br /&gt;Aku bisa gila kalau hidupku hanya kuisi dengan termangu saja&lt;br /&gt;Dan kau juga tahu kan Cinta,&lt;br /&gt;Ide-ide yang menari di kepalaku lebih membuat hidupku berseri&lt;br /&gt;lebih menarik ketimbang tarian piring dan bumbu dapur warna-warni&lt;br /&gt;Maafkan aku, aku bukan istri sholehah ya Cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jawabmu seringkali membuatku tergugu&lt;br /&gt;Memasak, menyetrika dan mencuci itu bukan kewajiban istri&lt;br /&gt;Semua itu bisa kita bagi, ucapmu&lt;br /&gt;Ah Cinta, itu katamu, tapi apa kata dunia, kesahku&lt;br /&gt;Mengapa tak kau didik saja aku menjadi istri sholehah itu Cinta?&lt;br /&gt;Aku tak ingin mendidik, aku hanya ingin menggali potensimu, jawabmu&lt;br /&gt;Tapi Cinta, lihat akibatnya, komedi putar itu bergerak kencang lagi&lt;br /&gt;Ripple, itu namanya, sungguh wajar untuk sebuah perubahan, jawabmu lagi&lt;br /&gt;Ah Cinta… aku hanya bisa termangu dan kembali tergugu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kau tahu betapa sempurna engkau mengajari aku&lt;br /&gt;Dengan caramu, dengan kasihmu, dengan ucapmu, dengan hatimu&lt;br /&gt;Hadiah itu, semangkuk indomie pada pukul satu pagi itu&lt;br /&gt;Menjadi begitu bermakna, tak tergantikan dengan emas permata&lt;br /&gt;Semangkuk indomie pada pukul satu pagi&lt;br /&gt;Kado yang membuatku geli, tapi juga membuatku menangis lagi&lt;br /&gt;Terimakasihku tak kan pernah cukup Cinta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Cintaku seorang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Groningen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 Maret 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat musim semi bersalju &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;   &lt;p style="font-family: courier new;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-1952296086349832800?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vLB8b6-DO81VSA9ZSzF8RJ2grx8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vLB8b6-DO81VSA9ZSzF8RJ2grx8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vLB8b6-DO81VSA9ZSzF8RJ2grx8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vLB8b6-DO81VSA9ZSzF8RJ2grx8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/jTAeiVTXNMo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/1952296086349832800/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=1952296086349832800" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/1952296086349832800?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/1952296086349832800?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/jTAeiVTXNMo/puisi-ini-ditulis-dengan-hati.html" title="puisi ini ditulis dengan hati (dr wrm)" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2007/05/puisi-ini-ditulis-dengan-hati.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkUDRHo_fip7ImA9WBFVF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-5502677933856169571</id><published>2007-04-16T17:02:00.000-07:00</published><updated>2007-04-16T17:04:35.446-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-04-16T17:04:35.446-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="anak" /><title>Kecerdasan Akademik vs Kecerdasan Emosional</title><content type="html">&lt;span class="small"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Oleh : Eva Tio Pitna &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="Active Image" style="'position:absolute;margin-left:-9pt;margin-top:12.6pt;width:75pt;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\User\LOCALS~1\Temp\msohtml1\06\clip_image001.jpg" title="brain"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/User/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/06/clip_image002.jpg" alt="Active Image" shapes="_x0000_s1026" align="left" height="71" hspace="5" vspace="5" width="100" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Mana lebih penting, kecerdasan akademik atau kecerdasan emosional? Sebagian besar orang tua pasti akan sangat bangga jika anak-anak mereka cerdas dalam bidang akademik. 'Anakku matematikanya 9 lho di raport", kata seorang Ibu atau "Anakku sudah menguasai dan lancar berkomunikasi dalam Bahasa Inggris sejak kecil, kata Bunda yang lain atau "Wah, kalau anakku, main pianonya sudah top deh," seorang ibu tak mau kalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Tapi pernahkah kita dengar seorang ibu yang bangga jika anaknya memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan interpersonal? Hmm rasanya sih, 3 kecerdasan yang terakhir itu, hampir bisa dipastikan tidak masuk hitungan dan sudah pasti tidak ada nilainya di raport atau di sekolah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Anak-anak dengan nilai akademik tinggi, selalu mendapat perhatian dan kasih sayang lebih dari para orang tuanya dan hampir bisa dipastikan selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan jika ada pertemuan keluarga atau lepas kangen dengan teman-teman lama dan membahas soal anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Sangat membanggakan jika menceritakan anak-anak yang berhasil menjadi dokter, insinyur, ahli kimia, biologi, dsb daripada anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional. Mengapa? Pastinya gengsi lebih meningkat dong, dan karena anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional tidak pernah dianggap dan tidak masuk hitungan, bahkan di raport pun tidak pernah ada nilai untuk kecerdasan emosional. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Banyak orang tua yang merasa rendah diri, ketika anaknya tidak masuk ranking sepuluh besar di sekolahnya. Tapi, para orang tua tidak merasa rendah diri ketika anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki kepribadian egois, mau menang sendiri, sensitif, sombong, suka menipu dan tidak biasa bergaul. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Padahal disadari atau tidak, di setiap penerimaan test pegawai, justru yang lebih banyak diterima adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan akademik, masuk dalam golongan biasa-biasa aja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Saudaraku pernah cerita, dia yang kemampuan akademiknya biasa-biasa aja, sempat tidak percaya diri pada saat harus bersaing dengan salah satu temannya yang prestasi akademiknya bisa dibilang luar biasa, tapi akhirnya mereka diterima di satu perusahaan yang sama. Pada akhirnya malah saudaraku karirnya lebih menanjak daripada temannya yang pintar itu, karena ternyata temannya yang luar biasa pintar itu, hanya pintar text book, pintar akademik, tapi tidak luwes dalam pergaulan. Sedangkan kita semua tahu, tak cukup dengan modal pintar saja kalau kita ingin karir kita gemilang &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;? Tapi bukan berarti lalu jadi penjilat, sikut sana-sini lho ya, ini sih sudah pasti tidak cerdas secara emosional :D. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Kasus lain yang pernah aku baca di sebuah majalah wanita, tentang seorang anak yang ditinggal ART-nya pulang kampung, menulis &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt; kepada mbaknya, isinya permohonan maaf kalau selama ini si anak sering merepotkan si mbak. Buatku pribadi, anak yang bisa seperti ini adalah luar biasa! Anak yang pintar akademik itu bicara hal yang cukup mudah, anak tekun belajar atau memang ada bakat atau ada turunan pintar, biasanya si anak akan pintar juga. Tapi kepintaran emosional tidak ada sekolahnya. Bahkan (maaf) lulusan pesantren atau sekolah teologi atau yang mendasarkan pada tiang agamapun tidak menjamin lulusannya akan memiliki kecerdasan emosional. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Tak membuat terharu dan banggakah, jika suatu hari, guru sekolah bercerita kepada kita, orang tuanya, kalau anak kita senang membantu teman-temannya di sekolah atau mendamaikan dua orang temannya yang bertikai atau lebih memilih membagikan apa yang ia punya untuk temannya yang kurang mampu? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Benarkah hanya kecerdasan akademik anak, cucu, dan ponakan yang membuat bangga kita sebagai orang tua, kakek-nenek,om-tantenya ? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Sudah pasti aku sebagai Bunda dan pasti orang tua-orang tua lain pasti akan sangat bersyukur jika anaknya memiliki kecerdasan akademik plus punya kecerdasan emosional juga &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Nah ini PR besar buat buat para orang tua lainnya. Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum yuk kita coba mulai dari anak kita dan saat ini juga (ETP/WRM)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;ini utk ngingati gw kl punya anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-5502677933856169571?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pVMbnsbky_d1Q3YD3E-Sm_Axaz4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pVMbnsbky_d1Q3YD3E-Sm_Axaz4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pVMbnsbky_d1Q3YD3E-Sm_Axaz4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pVMbnsbky_d1Q3YD3E-Sm_Axaz4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/xRoyUKgWKtk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/5502677933856169571/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=5502677933856169571" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/5502677933856169571?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/5502677933856169571?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/xRoyUKgWKtk/kecerdasan-akademik-vs-kecerdasan.html" title="Kecerdasan Akademik vs Kecerdasan Emosional" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2007/04/kecerdasan-akademik-vs-kecerdasan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUGRXg4eSp7ImA9WBFWFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-5186284657559637008</id><published>2007-04-02T02:28:00.000-07:00</published><updated>2007-04-02T02:30:24.631-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-04-02T02:30:24.631-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="anak" /><title>SEBELUM ORGAN BAYI TUMBUH SEMPURNA</title><content type="html">&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: black;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;enali kelainan-kelainan bayi baru lahir dengan mengetahui bagaimana organ tubuhnya berkembang.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: black;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;ita mungkin pernah mendengar bahwa bayi A menderita kelainan sejak lahir. Perlu diketahui, sebenarnya sebelum dan sesudah lahir, banyak sekali organ tubuh bayi yang belum berfungsi secara sempurna. Namun, seiring dengan waktu, organ-organ tersebut akan berfungsi normal. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Hanya saja, jika organ tersebut tak berfungsi normal sesuai waktunya biasanya akan timbul masalah. Simak penjelasan &lt;b&gt;dr. Rulina Suradi, Sp.A.(K)&lt;/b&gt;, dari Subbagian Neonatologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta berikut ini : &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: black;"&gt;Jantung, Peredaran Darah, Dan Paru-Paru&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;antung, imbuh &lt;b&gt;Rulina&lt;/b&gt;, merupakan organ tubuh yang besarnya hanya sekepalan tangan. Terletak di rongga dada (toraks) sebelah kiri. Benda ini terdiri atas otot-otot kuat yang saling bersambung, sehingga membentuk jaringan. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Jantung memiliki empat ruangan dua di sebelah kiri dan dua di kanan dengan fungsi berbeda. Fungsi intinya adalah mengalirkan darah ke seluruh tubuh, dan setelah darah mencapai ujung, secara otomatis akan kembali ke sumber semula. Dua ruangan di kiri, sebelah atas disebut &lt;i&gt;atrium&lt;/i&gt; (serambi) kiri, sedang bagian bawah dinamai &lt;i&gt;ventricle&lt;/i&gt; (bilik) kiri. Di ruangan kanan juga sama, yaitu &lt;i&gt;atrium&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ventricle&lt;/i&gt; kanan. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Kondisi jantung bayi saat masih dalam kandungan berbeda dengan saat lahir. Ketika masih dalam kandungan, jantung bayi belum sepenuhnya berfungsi secara normal. Peredaran darah dari jantung kiri bisa langsung melewati jantung kanan. Begitu juga sebaliknya. Tidak ada sekat yang memisahkannya. Akibatnya, darah bersih dapat bercampur dengan darah kotor. Namun secara medis, kondisi ini tak jadi masalah, karena kala dalam kandungan, janin menerima pasokan darah dan oksigen dari sang ibu lewat plasenta. Barulah setelah beberapa jam bayi dilahirkan, saluran tersebut secara otomatis langsung menutup. "Lamanya, kurang lebih 4-8 jam," ungkap Rulina. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;"Saat lahir, paru-paru bayi juga mulai berfungsi, sehingga menimbulkan tekanan udara yang kuat di sekitarnya. Tekanan tersebut mengakibatkan saluran yang menghubungkan bilik kiri dan kanan jantung menutup." &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Namun, ia mengingatkan, jika saluran peredaran darah tersebut tidak menutup lebih dari 24 jam, maka orang tua harus mewaspadainya karena hal itu menandakan jantung si bayi mengalami kebocoran. Kelainan ini disebabkan posisi sekat pemisah bilik atau serambi jantung kiri dan kanan belum atau tidak tertutup sempurna. Akibatnya, jantung tidak berfungsi dengan baik. Padahal, jantunglah yang memompa darah ke seluruh tubuh. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Dari bilik kiri jantung, darah bersih berwarna merah segar yang mengandung 96% zat asam dialirkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah nadi. Saat kembali ke bilik kanan, darah tidak lagi bersih dan warnanya berubah menjadi lebih tua. Pada saat itu kadar zat asamnya tinggal sekitar 60%. Selanjutnya, darah kotor ini dipompa dari bilik kanan ke paru-paru untuk mengambil zat asam sehingga menjadi bersih kembali. Begitulah aliran darah pada tubuh berlangsung tanpa henti sepanjang hidup kita. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Nah, bila sekat pemisah tidak tertutup sempurna, tentu saja darah kotor akan bercampur dengan darah bersih. Akibatnya kerja jantung akan terganggu. Hal ini ditandai dengan sering keluarnya tanda-tanda biru, khususnya pada kuku jari tangan dan bibir bayi. Selain itu, badannya kurus, pucat, dan tidak bersemangat. Aktivitas pun terbatas, bayi akan mudah capai dan sering menderita demam. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Cara mengatasinya bermacam-macam, tergantung faktor penyebabnya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang dengan obat-obatan saja sudah cukup, tapi ada juga yang harus ditangani lewat tindakan operasi. "Penting diperhatikan, tidak semua gangguan jantung ini harus ditangani langsung dengan cara menutup saluran yang bocor." Masalahnya, dalam situasi dan kondisi tertentu, penutupan saluran tersebut malah bisa berdampak fatal, yaitu meninggal dunia. Pada mereka, biasanya diberikan obat-obatan terlebih dahulu, setelah itu barulah dilakukan operasi. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Jadi, kapan tindakan operasi dilakukan, sepenuhnya harus dengan pertimbangan dokter. Semakin besar usia sang bayi, semakin besar ukuran jantungnya. Dengan begitu operasi pun lebih mudah dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Tingkat kesulitan pembedahan penyakit jantung bawaan sangat tergantung pada letak dan parah tidaknya kelainan itu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang cukup dilakukan satu kali koreksi, ada yang sampai beberapa kali. Selama dilakukan pembedahan jantung terbuka diperlukan mesin jantung-paru yang menggantikan fungsi jantung dan paru-paru untuk sementara. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: black;"&gt;Ubun-Ubun&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: black;"&gt;U&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;bun-ubun atau yang dalam istilah kedokterannya &lt;i&gt;fontanela&lt;/i&gt; merupakan bagian kecil dari kepala bayi. Bentuknya sangat lunak. Itu sebab, orang tua kerap tidak tega menyentuh atau merawatnya. Padahal, ubun-ubun sebenarnya tak selunak yang kita bayangkan karena ia dilapisi membran (selaput tipis jaringan) yang cukup kuat. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Perlu diketahui, kepala bayi dibentuk oleh beberapa lempeng tulang, yaitu 1 buah tulang di bagian belakang (tulang oksipital), 2 buah tulang di kanan dan kiri (tulang parietal), dan 2 buah tulang di depan (tulang frontal). Di antara tulang-tulang yang belum bersambung itu terdapat celah yang disebut sutura. Sutura-sutura ini ada yang membujur dan ada pula yang melintang. Nah, titik silang celah-celah itulah yang membentuk ubun-ubun depan (besar) dan ubun-ubun belakang (kecil). &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Sebenarnya, hingga usia beberapa bulan setelah dilahirkan, tulang-tulang kepala bayi belum menyambung satu sama lain. Namun, letaknya telah tersusun berdampingan secara rapi. Ubun-ubun yang tak segera menutup inilah yang kerap mengkhawatirkan para orang tua. Padahal, dengan begitu otak bayi justru bisa berkembang normal. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Ubun-ubun dan sutura-sutura ini normalnya menutup antara usia 6-20 bulan. Secara kasat mata, akibat proses penutupan tulang tengkorak yang kelewat dini ini bisa dilihat melalui bentuk kepala yang tak normal. Ini terjadi karena pertumbuhan kepala cenderung mengarah ke tulang yang suturanya menutup belakangan. Contohnya, kalau sutura bagian depan sudah menutup lebih dulu, pertumbuhan kepala akan lebih mengarah ke belakang, dan akibatnya kepala jadi panjul. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Penyebab ubun-ubun cepat menutup biasanya adalah kelainan bawaan, adanya infeksi selama kehamilan, atau adanya gangguan perkembangan jaringan otak dan kelainan tulang seperti osteopetrosis (pertumbuhan dan kepadatan tulang yang berlebihan). &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Sudah pasti, ubun-ubun yang menutup terlalu cepat akan menghambat perkembangan otak bayi dan menimbulkan gangguan. Dengan kata lain, sel-sel otak yang seharusnya berkembang malah tertahan oleh tulang tengkoraknya sendiri. Biasanya, gangguan yang muncul berupa &lt;i&gt;cerebral palsy&lt;/i&gt; atau kelumpuhan yang sifatnya kaku. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Terlebih bila proses penutupan tulang tengkorak ini berlangsung sejak ia baru lahir atau berada di kandungan, proses keterhambatan perkembangan otaknya tentu lebih lama sehingga gangguan yang timbul akan lebih banyak dan berat. Artinya, manifestasi gangguan tumbuh kembang pada bayi yang bersangkutan bisa berbeda-beda, tergantung bagian otak sebelah mana yang perkembangannya terhambat, dan kapan terjadinya proses penghambatan atau penutupan itu. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Cara mengatasinya adalah dengan operasi melepas sambungan yang menutup terlalu cepat. Dengan begitu, diharapkan otaknya bisa terus tumbuh dan berkembang. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: black;"&gt;Usus Besar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: black;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;ayi baru lahir umumnya sudah bisa BAB (Buang Air Besar) dalam waktu 24 jam setelah persalinan. Feses di hari pertama dan kedua disebut mekonium yang berwarna gelap atau hitam. Tak heran bila ada yang menyebutnya tahi gagak. Pada hari ketiga, feses atau tinjanya mungkin sudah bercampur dengan susu atau kotoran peralihan (campuran tahi gagak dan susu). Perlu diketahui, bayi yang diberi ASI, biasanya pada hari-hari pertama atau minggu-minggu pertama akan lebih sering buang air besar, bisa sampai 6 kali lebih. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Kalau dalam waktu lebih dari 48 jam mekoniumnya tidak keluar-keluar, biasanya bayi diduga menderita &lt;i&gt;hirschprung&lt;/i&gt;. Kelainan &lt;i&gt;hirschsprung&lt;/i&gt; terjadi pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga ke bagian usus di atasnya, termasuk &lt;i&gt;ganglion parasimpatis&lt;/i&gt; yang membuat usus bisa bergerak melebar dan menyempit. "Nah, pada bayi yang punya kelainan &lt;i&gt;hirschsprung&lt;/i&gt;, persarafan ini tak ada sama sekali atau kalaupun ada, jumlahnya sedikit sekali. Ada-tidaknya persarafan inilah yang menentukan derajat ringan-beratnya kelainan &lt;i&gt;hirschsprung&lt;/i&gt;," urai Rulina. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Akibat selanjutnya, kotoran akan menumpuk dan menyumbat usus di bagian bawah, hingga bayi tak bisa BAB. Penumpukan kotoran di usus besar ini akan diteruskan dengan pembusukan. Jika terjadinya sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan tanpa ketahuan, di dalam usus besar akan berkembang banyak kuman. Pada akhirnya timbullah radang usus. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Bisa juga, proses pembusukan ini kemudian menghasilkan cairan yang akan merembes keluar tanpa bisa ditahan oleh anus karena tak ada persarafan tadi. "Mungkin saja orang tua ataupun dokter tak menyadari adanya kelainan ini, dianggapnya si bayi mengalami mencret atau diare biasa." &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Untuk mengatasinya, pada bayi akan dilakukan pemeriksaan barium enema lewat anus. Dengan begitu, bisa kelihatan seberapa sempit ususnya dan seberapa panjang kerusakan yang terjadi. Bagian usus yang tidak memiliki persarafan akan dibuang lewat operasi pertama. Berikutnya, operasi dilakukan lagi; kalau ususnya bisa ditarik ke bawah, ia akan langsung disambung ke anus. Kalau ternyata ususnya belum bisa ditarik, maka dibuatlah lubang di dinding perut (kolostomi) untuk saluran BAB. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Nanti, kalau ususnya sudah cukup panjang, operasi bisa dilakukan lagi untuk menarik dan menyambung ususnya langsung ke anus. Menunggunya bisa sampai 3 bulan, tergantung kondisi anak yang bersangkutan. Selama itu pun, kondisinya tetap harus dikontrol, dua minggu sekali atau sebulan sekali. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Menurut Rulina, setelah dibuang dan diperbaiki kelainannya, BAB anak biasanya akan normal kembali. Kecuali jika kelainannya parah sampai usus besarnya harus dibuang semua. Masalah tidak akan berhenti sampai di situ. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: black;"&gt;Bilirubin/Kuning Pada Bayi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: black;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;imbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit akan membuat kulit bayi terlihat kuning. Perlu diketahui, pada saat masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah yang sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Sel darah merah inilah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke janin melalui plasenta. Nah, sesudah ia lahir, paru-parunya berfungsi, sehingga sel darah merah ini tidak dibutuhkan lagi dan dihancurkan. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Bilirubin alias pecahan hemoglobin ini bermacam-macam sifatnya, ada yang &lt;i&gt;indirect&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;direct&lt;/i&gt;, dan bebas. Yang &lt;i&gt;indirect&lt;/i&gt; atau belum diolah adalah bilirubin yang terikat albumin sebagai zat pengangkutnya. Ia akan dibawa ke hati untuk diproses menjadi bilirubin &lt;i&gt;direct&lt;/i&gt;. Bilirubin &lt;i&gt;direct&lt;/i&gt; ini lalu disimpan di kantong empedu. Namun demikian, kadang tidak semua hasil pemecahan hemoglobin bisa diikat oleh albumin dan dibawa ke hati. Bagian yang tidak terangkut inilah yang disebut bilirubin bebas. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Bilirubin bebas bisa menyebar ke mana-mana ke seluruh tubuh. Jenis inilah yang dapat menimbulkan bahaya, terutama kalau sampai masuk ke otak, karena tak bisa dilepas lagi. Akibatnya, akan muncul gangguan yang disebut &lt;i&gt;kern ikterus&lt;/i&gt; atau timbunan bilirubin di dasar otak. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Namun, kalau bayi sampai kuning, kita tidak perlu keburu khawatir. Kasus ini sebenarnya terbagi atas kuning faali (fisiologis) dan kuning patologis (penyakit). Yang bersifat patologis dapat mengganggu tumbuh kembang bayi di kemudian hari. Sementara yang faali adalah sesuatu yang normal. Umumnya terjadi di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran hingga 7 atau 14 hari. Walaupun bersifat faali, keberadaannya tetap perlu diwaspadai, karena mungkin saja dilatarbelakangi masalah patologis. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Selain itu, bayi yang minum ASI dapat juga terlihat kuning pada minggu pertama dan kedua, yang nantinya berangsur-angsur hilang sendiri. Di dalam ASI memang ada komponen yang mempengaruhi timbulnya kuning pada bayi. Jadi, kuning ini hanyalah gejala biasa. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Kendati demikian, orang tua harus tetap waspada. Terutama kalau si bayi sedang dalam keadaan sakit yang berkaitan dengan &lt;i&gt;acidosis&lt;/i&gt; (penyakit yang berhubungan dengan menurunnya kadar pH darah). Misalnya, sesak napas atau mencret berat. Sebab, saat itu kadar bilirubin bebas bisa meningkat. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Inilah sejumlah hal mencurigakan yang harus diwaspadai. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;1. Kuning muncul cepat sekali. Misal, pagi lahir, sore sudah kuning. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;2. Peningkatan kadar kuning berlangsung sangat cepat. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;3. Kuning berlangsung lama atau proses menghilangnya sangat lambat, misalnya sesudah 2 minggu kuningnya masih ada. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;"Jika salah satu atau semua hal itu terjadi pada si kecil, segera bawa ia dokter!" pesan Rulina. "Mendeteksi bayi kuning atau tidak, sebetulnya tak terlampau sulit. Lihat di bagian putih matanya. Kalau memang kuning, warna itu akan terlihat jelas di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;."   &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt;Saeful Imam. Foto: Iman Dharma S./nakita&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-5186284657559637008?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pdY3X8HOOvT5lPihOESiiovApRc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pdY3X8HOOvT5lPihOESiiovApRc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pdY3X8HOOvT5lPihOESiiovApRc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/pdY3X8HOOvT5lPihOESiiovApRc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/QRGaZJDKqCo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/5186284657559637008/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=5186284657559637008" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/5186284657559637008?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/5186284657559637008?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/QRGaZJDKqCo/sebelum-organ-bayi-tumbuh-sempurna.html" title="SEBELUM ORGAN BAYI TUMBUH SEMPURNA" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2007/04/sebelum-organ-bayi-tumbuh-sempurna.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0YGQX08eCp7ImA9WBFXGEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-2814185414466272000</id><published>2007-03-21T04:16:00.000-07:00</published><updated>2007-03-25T19:12:00.370-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-03-25T19:12:00.370-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="orang tua" /><title>Mendengar atau Terdengar ?</title><content type="html">&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pengirim: Eva Tio Pitna &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;(http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&amp;task=view&amp;amp;id=1041&amp;Itemid=2)&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tuesday, 20 March 2007&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\umum\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.png" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: -1; left: 0px; margin-left: 0px; margin-top: 0px; width: 71px; height: 95px;"&gt;&lt;img src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cumum%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_image002.jpg" shapes="_x0000_s1026" height="95" width="71" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anak : "Bunda, aku nggak mau sekolah lagi. Di sekolah banyak anak nakal Bunda…, aku sering diganggu. Pokoknya aku gak mau sekolah lagi, aku takut Bunda……" (sambil menangis)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bunda : (Bundanya sambil matanya menonton televisi yang menayangkan sinetron favorit). "Masa sih? Anak Bunda gak boleh takut dong, kalau Cuma diganggu aja sih gak apa-apa, gak perlu takut. Pokoknya besok harus tetap ke sekolah seperti biasa ya. Ya sudah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; gih, Bunda lagi nonton TV nih, nanti kelewat deh ceritanya...! Kamu sih ada-ada aja, gitu aja takut...!&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Problem Komunikasi Dalam Keluarga&lt;/strong&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Situasi di atas sepertinya tidak asing lagi di jaman ini, di mana setiap orang, termasuk orang tua, seolah membangun dunia sendiri yang terpisah dari orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri. Komunikasi keluarga menjadi “barang mahal dan barang langka” karena masing-masing sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaannya masing-masing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Akhirnya komunikasi yang tercipta di dalam keluarga menjadi komunikasi yang sifatnya informatif dan superfisial (hanya sebatas permukaan). Misalnya, pemberitahuan agenda kerja ayah hari ini, rapat di kantor, janji bertemu orang, harus presentasi, atau mungkin membicarakan mengenai t eman ayah punya pekerjaan baru, si Pak Tiar pergi ke luar negeri, tingkat bunga bank, kurs dollar, situasi politik, kerusuhan yang terjadi di luar daerah, dan lain sebagainya. Sementara ibu membicarakan tentang teman kerja di kantor, rencana bisnis ibu, rencana masak memasak, pertemuan arisan, acara televisi baru, atau membicarakan tentang anak teman ibu yang punya masalah. Anak-anak, punya dunianya sendiri yang sarat dengan keanekaragaman pengalaman dan cerita-cerita seru yang beredar di kalangan teman-teman mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Dalam kepadatan arus informasi yang serba superfisial dan sempitnya “waktu bersama”, membuat hubungan antara orang tua – anak semakin berjarak dan semu. Artinya, hal-hal yang diutarakan dan dikomunikasikan adalah topik umum selayaknya ngobrol dengan orang-orang lainnya. Akibatnya, masing-masing pihak makin sulit mencapai tingkat pemahaman yang dalam dan benar terhadap apa yang dialami, dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan dan dirindukan satu sama lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Dalam pola hubungan komunikasi seperti ini, tidak heran jika ada orang tua yang kaget melihat anaknya tiba-tiba menunjukkan sikap aneh, seperti tidak mau makan, sulit tidur (insomnia), murung atau prestasinya meluncur drastis. Orang tua merasa selama ini anaknya seperti “tidak ada apa-apa” dan biasa saja. Lebih parah lagi, mereka menyalahkan anak, menyalahkan pihak lain, entah pihak sekolah, guru, atau malah saling menyalahkan antara ayah dengan ibu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Seringkali orang tua lupa, bahwa setiap masalah adalah hasil dari sebuah interaksi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Setiap orang, punya kontribusi dalam mendorong munculnya masalah, termasuk masalah pada anak-anak mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Seni Mendengarkan&lt;/strong&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks : bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Seni mendengarkan membutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan, hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya kompleksitas emosi dan pikiran orang yang sedang berbicara. Bahkan, komunikasi yang sejati, sang pendengar mampu memahami apa yang terjadi / yang dirasakan oleh lawan bicara meski dengan kata-kata yang sangat minimal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Cara Mendengarkan Yang Baik ?&lt;/strong&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Di awal artikel ini pembaca dapat menarik gambaran bagaimana suasana hati sang anak dan apa yang diharapkannya ketika ia mencoba “berkomunikasi” dengan sang ibu; dan bagaimana keadaan “hati” anak setelah itu? Kejadian tersebut tampaknya sangat umum terjadi di mana-mana, di hampir setiap keluarga. Memang tidak ada orang tua sempurna, karena setiap orang tua memiliki masalahnya masing-masing hingga seringkali memblokir hubungan positif yang seharusnya terjalin antara mereka dengan anak-anak. Tapi bukan berarti hal itu dapat selalu dimaklumi, bukan? Bagaimanapun setiap kita para orang tua perlu diingatkan kembali bagaimana cara “mendengarkan” anak kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Fokuskan perhatian pada anak&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pada saat anak mencoba mengatakan sesuatu, berilah perhatian sepenuhnya pada ceritanya. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengalihkan perhatian sejenak dari film atau sinetron yang sedang ditonton, majalah, koran, atau dari pekerjaan yang sedang dihadapi. Tataplah langsung di matanya sambil memberi kesan bahwa kita benar-benar siap memperhatikan ceritanya, dan mendorongnya untuk bercerita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Re-statement, mengulangi      cerita anak untuk menyamakan pengertian&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tahanlah diri untuk tidak menginterupsi ceritanya sampai anak selesai bercerita. Ketika anak selesai bercerita, cobalah memberikan kesimpulan berdasarkan hasil tangkapan kita terhadap ceritanya. Pola ini, memberikan feedback bagi orang tua dan anak, apakah kita benar-benar telah memahami apa yang diceritakan atau apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Menggali perasaan dan      pendapat anak akan masalah yang sedang dihadapi&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kita boleh bertanya pada mereka : “bagaimana perasaan adek, waktu itu....”; cara ini jauh lebih baik ketimbang menjatuhkan penilaian subyektif atas diri mereka : “ ah, kamu pasti takut! Kamu &lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt; penakut....” atau “ah, paling kamu menangis...&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt; kamu cengeng...” atau “kamu nggak menangis, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;? Anak mama papa pemberani, tentu tidak pernah menangis!”...Penilaian tersebut malah membuat anak frustrasi karena mereka mengharap orang tua bisa mengerti perasaan mereka, bukan menilai sikap dan perasaan mereka.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Selain itu, penilaian subyektif orang tua yang datang terlalu cepat, bisa membuat anak menarik diri untuk tidak lebih lanjut menceritakan perasaan yang sebenarnya, karena orang tua sudah punya anggapan tertentu. Misal, anak itu se benarnya takut ketika berhadapan dengan teman sekolah yang lebih besar badannya dan suka mengganggunya – namun urung bercerita karena orang tua sudah memberi label pada sang anak sebagai “anak mama-papa pasti pemberani”. Menceritakan perasaan dan kejadian yang sesungguhnya, hanya akan membuat dirinya dimarahi atau malu karena dianggap lemah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Bantu anak mendefinisikan      perasaan&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Mendengarkan sepenuhnya cerita pengalaman anak, baik itu menyedihkan dan menyenangkan, membuat kita berdua (dengan anak) dapat berbagi rasa dan anak pun akan merasa orang tua menghargainya. Anak akan biasa bersikap terbuka karena yakin orang tua pasti bersedia mendengarkan mereka.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jika anak masih sulit mengidentifikasi perasaan mereka, bantulah dengan mendengarkan cerita mereka sungguh-sungguh, dan melontarkan kesan seperti “Wah..adek sepertinya sedih sekali”..atau “Kamu kelihatan sangat marah”...atau “adek sepertinya sedang bosan?”. Anak akan sangat lega ketika orang tua bisa menangkap perasaan mereka. Interaksi demikian, melatih anak mengidentifikasikan perasaan mereka secara tepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Bertanya&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hindari sikap memaksakan pendapat, cara, penilaian orang tua; alangkah lebih baik jika orang tua membimbing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka semakin memahami kejadian yang dialami, teman yang dihadapi, perasaan yang mereka rasakan serta sikap - tindakan yang harus mereka lakukan sebagai pemecahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Mendorong semangat anak untuk      bercerita&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hanya dengan memberi respon “Ooo....O ya?...Wow!...” sudah menjadi stimulasi bagi mereka untuk makin giat bercerita.Pola ini dapat membuat anak tenang dan nyaman karena merasa orang tua memahami apa yang mereka ungkapkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Mendorong anak mengambil      keputusan yang tepat&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jika orang tua ingin membantu anak menghadapi masalahnya, sebaiknya kita tidak mengambil alih keputusan (“ya sudah, besok kamu tidak usah masuk sekolah”) atau tindakan (“biar mama yang hadapi si boy teman mu yang nakal...biar mama si boy tahu apa yang anaknya lakukan!). Sebaliknya, hadirkan beberapa alternatif yang membuat mereka berpikir dan memilih manakah solusi terbaik sambil membicarakan akibat-akibat yang bisa dirasakan baik oleh anak maupun oleh orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Menunggu redanya emosi anak      dan mengajak berpikir positif&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jika anak masih diliputi emosi yang memuncak hingga membuatnya sulit berbicara, orang tua jangan memaksakan anak untuk segera bicara. Kita tidak akan berhasil membuatnya bercerita dan kita pun makin tidak sabar untuk tidak memberikan opini kita padanya. Konflik seringkali terjadi dan ini menyebabkan memburuknya hubungan orang tua anak.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Berikan waktu untuk menyendiri sampai intensitas perasaannya mereda. Ketika emosinya mereda, anak akan lebih siap untuk diajak bicara. Sekali lagi, berusahalah untuk tidak memberikan opini kita pribadi, baik terhadap pilihan sikapnya, emosinya, dan tindakannya.Tanyakan pemikiran mereka terhadap masalah ini dan bagaimana kira-kira sikap yang sebaiknya mereka lakukan di kemudian hari. Sikap ini tidak saja menghindarkan anak dari perasaan dihakimi, namun juga membantu mereka lebih memahami kejadian / peristiwa itu secara obyektif serta menemukan nilai atau pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kejadian itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Apa manfaat dari mendengarkan?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bagi seorang anak, komunikasi bukan hanya bertujuan untuk membuat orang dewas a atau orang lain mengetahui dan memenuhi kebutuhannya. Dari komunikasi itu lah, anak dapat menarik kesimpulan, bagaimana orang dewasa memandang dirinya; dan dari kesan ini lah seorang anak membangun rasa percaya diri dan sense of self. &lt;/span&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Anak akan merasa dihargai, merasa percaya diri dan mengembangkan penilaian positif terhadap dirinya, ketika orang tua menaruh perhatian tidak hanya pada ceritanya, tapi juga pada pendapat, keyakinan, kesimpulan, ide-ide, perasaan, bahkan ketika pendapat tersebut tidak sesuai dengan pendapat orang tua. Sikap orang tua yang “mendengarkan” anak, membuat anak berani membuat perbedaan dan menjadi berbeda, tanpa takut dihukum, dilecehkan atau ditertawakan. Hal itulah yang menjadi salah satu landasan keberanian dan keinginan anak, untuk menjadi diri sendiri apa adanya. &lt;/span&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari tanggapan-tanggapan orang tua, anak akan belajar mengenal banyak informasi dan pengetahuan, mendengar sesuatu yang berbeda dari yang dipikirkannya selama ini, melihat alternatif yang lain, menilai pendapat dan tindakannya sendiri, menilai posisi dirinya di mata orang lain, dan menarik kesimpulan apa yang harus dilakukan olehnya. Proses saling mendengarkan dan didengarkan, mengasah daya kritis dan kreativitas berpikir anak karena ketika antara anak dengan orang tua terdapat jalur 2 arah yang terbuka, maka terbuka pula akses informasi, pengetahuan, perasaan, pemikiran dan pengalaman dari kedua belah pihak. Satu sama lain, saling belajar dan saling memperkaya, saling mengenal dan semakin memahami. &lt;/span&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Proses komunikasi antara orang tua dengan anak, sangat membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikasi perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain. Lama kelamaan, semakin anak terlatih dalam mengenali emosi, tumbuh keyakinan dan sense of control terhadap perasaannya sendiri (lebih mudah mengendalikan sesuatu yang telah diketahui). Misal, jika anak sudah tahu bagaimana rasanya marah, sedih, kecewa, takut, kesepian, dsb, maka akan lebih mudah bagi orang tua memberikan alternatif-alternatif cara menghadapi dan menyelesaikannya. &lt;/span&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mendengarkan anak secara sungguh-sungguh , membuat anak percaya pada orangtua. Hubungan mutual trust, ini membuat anak merasa lebih nyaman berada bersama orang tua, lebih memilih ‘curhat dengan orang tua dan siap menjadi “partner” ketika orang tua yang giliran butuh didengarkan. &lt;/span&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Evaluasi Diri&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mendengarkan dan didengarkan, adalah kunci hubungan orang tua-anak yang sangat bermanfaat, baik untuk pengembangkan kematangan emosional, kepandaian intelektual, kemampuan membina kehidupan sosial yang baik serta penanaman nilai prinsip moral yang baik pada anak. Dengan mendengar dan didengar, jalur komunikasi 2 arah terbuka lebar antara orang tua – anak, memungkinkan keduanya saling mengerti dan membuat orang tua dapat memberikan dukungan yang diperlukan oleh anak. &lt;/span&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Namun sebaliknya, jika kata-kata yang diucapkan anak hanya sekedar “terdengar” di telinga kita, akan hilang begitu saja terbawa angin dan tidak memberikan makna serta kontribusi apapun dalam proses pertumbuhan anak. Nah, apakah kita sebagai orang tua, tega mengorbankan kualitas perkembangan dan tingkat kematangan emosional, intelektual, moral, dan kemampuan sosial anak kita demi kesenangan sesaat (film yang menarik, obrolan gossip yang asik, berita yang sedang dibaca, dan lain sebagainya).....Inilah saatnya kita sebagai orang tua merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita sudah lebih sering mendengarkan anak....ataukah cerita mereka hanya terdengar sayup-sayup oleh kita? (ETP/WRM) &lt;/span&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-2814185414466272000?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WAnm2NSXPb3mpayLdWw72vD_sTM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WAnm2NSXPb3mpayLdWw72vD_sTM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WAnm2NSXPb3mpayLdWw72vD_sTM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WAnm2NSXPb3mpayLdWw72vD_sTM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/UO4C0DTR2hQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/2814185414466272000/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=2814185414466272000" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/2814185414466272000?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/2814185414466272000?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/UO4C0DTR2hQ/mendengar-atau-terdengar.html" title="Mendengar atau Terdengar ?" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2007/03/mendengar-atau-terdengar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIBRXY7fSp7ImA9WBFWEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-7549328348390462994</id><published>2007-03-20T12:21:00.000-07:00</published><updated>2007-03-27T23:15:54.805-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-03-27T23:15:54.805-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ibu" /><title>Tips Memilih Nursing Bra (BH Untuk Menyusui)</title><content type="html">&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Tuesday, 30 May 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;oleh: Shrie&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\umum\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="nursingbra"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cumum%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_image002.jpg" style="height: 79px; width: 77px;" shapes="_x0000_s1026" align="left" border="0" height="83" hspace="3" vspace="2" width="88" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Nursing Bra atau BH menyusui adalah BH yang dirancang khusus untuk ibu yang sedang menyusui. Dirancang dengan kelepak (&lt;i&gt;flap&lt;/i&gt;) yang bisa dibuka-tutup pada bagian mangkuk (&lt;i&gt;cup&lt;/i&gt;) BH, memudahkan busui (ibu menyusui) bila akan menyusui bayinya. BH menyusui tidak wajib dipakai oleh busui, tetapi hanya bersifat sebagai alat bantu saja. Bila busui merasa tidak nyaman memakai BH menyusui ini, maka tidak ada pengaruhnya terhadap kuantitas atau kualitas ASI yang dikeluarkan. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jika mom memutuskan untuk memakai bra menyusui pada saat menyusui si kecil, berikut tips memilih bra menyusui yang aku kutip dari Majalah parents Guide edisi Februari 2006 : &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Belilah BH menyusui di pertengahan atau akhir kehamilan, atau ketika BH yang mom gunakan selama hamil sudah tidak nyaman lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Belilah minimal dua buah BH, agar mom selalu mempunyai persediaan BH bersih.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jika susah menentukan ukuran BH dengan tepat, siapkan BH lebih dari dua, dengan ukuran mangkuk yang berbeda-beda. BH dengan ukuran mangkuk yang lebih besar dipakai saat payudara sedang penuh-penuhnya. BH dengan ukuran mangkuk paling kecil dipakai saat payudara dalam kondisi tidak terlalu penuh/bengkak.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Pilih BH yang bisa menopang payudara dengan baik tapi masih punya cukup ruang di puncak mangkuk untuk menyisipkan bantalan ASI (&lt;i&gt;nursing pads&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jika memilih BH yang berkelepak, carilah yang elastis dan kelepaknya mudah dibuka dengan satu tangan (biasanya dikaitkan dengan klip plastik ke tali bahu, atau ketengah BH).&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jika memilih BH tanpa kelepak, carilah yang tali bahunya mudah diturun-naikkan dengan satu tangan (biasanya bertali lebar, terbuat dari bahan yang lembut, tipis dan elastis, serta tidak memakai kawat penopang. BH jenis ini lebih cocok dipakai di rumah.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jika ukuran payudara sangat besar, utamakan memilih BH yang mampu menopang payudara dengan baik. (Disarankan memilih BH dengan kawat penopang)&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jika mom berencana memerah ASI dengan pompa, pilihlah BH yang bukaan kelepaknya cukup lebar agar corong pompa bisa menempel dengan baik pada payudara. (WRM/SA) &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sumber :&lt;br /&gt;- Majalah Parents Guide&lt;br /&gt;- Berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-7549328348390462994?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9DVGEyXOfewbPvOohjZbHmmjBig/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9DVGEyXOfewbPvOohjZbHmmjBig/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9DVGEyXOfewbPvOohjZbHmmjBig/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9DVGEyXOfewbPvOohjZbHmmjBig/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/KkmWsEgaWp4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/7549328348390462994/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=7549328348390462994" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/7549328348390462994?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/7549328348390462994?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/KkmWsEgaWp4/tips-memilih-nursing-bra-bh-untuk.html" title="Tips Memilih Nursing Bra (BH Untuk Menyusui)" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2007/03/tips-memilih-nursing-bra-bh-untuk.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEEASH8-fCp7ImA9WBFWEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-5993449244005754592</id><published>2007-03-20T11:54:00.000-07:00</published><updated>2007-03-27T23:17:29.154-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-03-27T23:17:29.154-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ibu" /><title>Kembali Langsing Setelah Melahirkan?</title><content type="html">&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Tuesday, 20 February 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Oleh: Shrie&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\umum\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="pregex"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cumum%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_image002.jpg" shapes="_x0000_s1026" align="left" border="0" height="102" hspace="3" vspace="2" width="80" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Bisakah kembali langsing setelah melahirkan? Bisa saja. Tetapi dibutuhkan waktu, kesabaran, nutrisi yang baik dan latihan fisik yang cukup untuk mengembalikan bentuk tubuh seperti semula. Keinginan mengembalikan bentuk tubuh seperti sebelum melahirkan mungkin merupakan keinginan mommies yang paling utama, namun sebaiknya lakukanlah secara bertahap. Sekolah Obstetri dan Ginekologi Amerika menginformasikan bahwa cukup aman melakukan “Olahraga Ringan” kembali seperti sebelum melahirkan, namun sebaiknya dilakukan secara bertahap atau disesuaikan dengan kondisi fisik mommies. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Lakukan latihan fisik yang ringan terlebih dulu, seperti jalan cepat selama 5 menit, setelah itu berangsur-angsur moms boleh menambah lamanya latihan sesuai dengan kondisi fisik moms. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Yang perlu dihindari adalah latihan fisik yang dapat membuat payudara moms terasa perih dan sakit. Dan juga cobalah untuk selalu memulai latihan setelah menyusui bayi moms, karena payudara tidak akan terasa penuh dan si kecil pun sedang tidak rewel. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; penelitian yang mengungkapkan bahwa bayi akan malas atau tidak bersemangat menyusui dari ibu yang baru saja melakukan latihan fisik dan masih menurut penelitian tersebut, rasa enggan untuk menyusui ini akan bertahan sampai 60 menit setelah ibu nya latihan. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Berikut ini daftar latihan fisik yang dapat di lakukan oleh moms yang baru saja melahirkan: &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Minggu 1 s/d 4 &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;* Latihan lantai untuk panggul &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Otot panggul mudah lelah, jadi sebaiknya latihan kontraksi/kegel tetap di lakukan oleh ibu yang baru saja melahirkan.&lt;br /&gt;Caranya:&lt;br /&gt;- Berbaringlah di atas punggung dengan posisi lutut di tekuk dan telapak kaki menempel di lantai.&lt;br /&gt;- Tegangkan otot vagina seperti saat moms sedang menahan keinginan untuk buang air kecil.&lt;br /&gt;- Tahan sampai hitungan keempat lalu lepaskan. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;* Push up &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Pushup merupakan cara yang paling baik untuk menguatkan otot tubuh bagian atas yang sangat di perlukan untuk mengendong bayi. Bila moms hanya mempunyai waktu sedikit dalam melakukan latihan fisik, pastikan moms melakukan latihan pushup.&lt;br /&gt;Caranya:&lt;br /&gt;- Mulailah dengan posisi lutut di bawah panggul. Rentangkan tangan sedikit lebih lebar dari bahu.&lt;br /&gt;- Jaga agar posisi punggung tetap rata dan perut masuk kedalam, kemudian secara perlahan-lahan tekuk siku dan luruskan kembali.&lt;br /&gt;- Tetaplah bernafas dengan normal dan jangan kunci siku moms pada saat meluruskannya.&lt;br /&gt;- Ulangi 10 sampai 15 kali. Lakukan sesuai dengan kondisi moms. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;* Latihan Bahu dan Kepala&lt;br /&gt;- Berbaringlah di atas punggung dengan posisi lutut di tekuk dan tangan di belakang kepala.&lt;br /&gt;- Ambil nafas dan pada saat melepaskannya, kencangkan otot perut dan tahan posisi punggung bagian bawah agar tetap menempel di lantai lalu angkat bahu dan kepala. Kemudian, turunkan kembali secara perlahan-lahan dan lakukan sebanyak 7-10 kali. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Minggu 4 – dan Seterusnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Empat sampai dengan 6 minggu setelah melahirkan, lakukanlah latihan tambahan seperti berikut: &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;* Latihan Kaki&lt;br /&gt;- Berbaringlah dengan posisi punggung menempel lantai dan lutut di tekuk.&lt;br /&gt;- Tegakkan otot perut dan tekan punggung bagian bawah ke lantai saat moms mengeluarkan nafas.&lt;br /&gt;- Luruskan kaki sejauh mungkin, gunakan otot perut untuk menahan posisi punggung tetap rata dan menempel lantai.&lt;br /&gt;- Saat punggung moms mulai terangkat, kembalikan kaki ke posisi semula, lalu tahan perut dalam posisi menegang.&lt;br /&gt;- Ulangi 8 – 10 kali.&lt;br /&gt;Perhatikan pernafasan moms saat melakukan latihan ini. Ingatlah untuk mengencangkan otot perut dan meratakan posisi punggung sebelum meluncurkan kaki. Pada saat otot perut mengencang, moms akan dapat meluruskan kaki lebih jauh. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;* Latihan Dengan Posisi Duduk&lt;br /&gt;- Duduklah di bagian pinggir kursi, tekuk lutut dan telapak kaki menempel rata di lantai; dengan halter seberat 1,5-2,5 kg di samping masing-masing kaki.&lt;br /&gt;- Bungkukkan badan ke depan mendekati paha. Jaga posisi punggung tetap rata.&lt;br /&gt;- Dengan masing-masing tangan memegang halter, luruskan lengan dan biarkan dalam posisi menggantung ke bawah dengan telapak tangan berhadapan.&lt;br /&gt;- Tekuk siku dan angkat ke arah bahu. - Luruskan lengan dan ulangi 8-10 kali. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;* Latihan dengan Halter&lt;br /&gt;- Dengan halter seberat 1,5-2,5kg di masing-masing tangan, duduklah di bagian pinggir sebuah kursi dengan posisi lutut di tekuk dan kaki rata.&lt;br /&gt;- Putar pangkal bahu ke depan dan ke belakang.&lt;br /&gt;- Luruskan seperti posisi semula. Ulangi 8-10 kali. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sebelum melakukan setiap latihan, lakukanlah pemanasan terlebih dahulu: Cobalah melakukan jalan di tempat atau jalan cepat selama 5 menit. Tahan setiap latihan peregangan selama 20 detik. Kemudian akhiri dengan beberapa gerakan stretching yang ringan untuk coolingdown. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sekali lagi yang perlu di ingat, sebaiknya mommies melakukan semua latihan fisik diatas sesuai dengan kodisi fisik moms. Jangan memaksakan diri apa lagi sampai merugikan si kecil. Selamat mencoba dan selamat membuktikan khasiat nya. (WRM/SA-2007) &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sumber tulisan: * Female Magazine * Segala Sumber&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-5993449244005754592?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UHEerFoNZLLJ22J9zGH5JEi_nOY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UHEerFoNZLLJ22J9zGH5JEi_nOY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UHEerFoNZLLJ22J9zGH5JEi_nOY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UHEerFoNZLLJ22J9zGH5JEi_nOY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/4KizSVq1rSo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/5993449244005754592/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=5993449244005754592" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/5993449244005754592?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/5993449244005754592?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/4KizSVq1rSo/kembali-langsing-setelah-melahirkan.html" title="Kembali Langsing Setelah Melahirkan?" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2007/03/kembali-langsing-setelah-melahirkan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YAQ345cSp7ImA9WBFXFEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-923087916715695749.post-4993033187294046734</id><published>2007-03-20T10:12:00.000-07:00</published><updated>2007-03-20T10:19:02.029-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-03-20T10:19:02.029-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="anak" /><title>Membantu Anak Yang Pemalu</title><content type="html">&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Tuesday, 06 March 2007) - Oleh: Nieza Graha&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ketika si kecil pemalu memang agak sedikit membuat masalah dalam sosial kontaknya dengan orang lain. Si Pemalu tidak mudah bergaul dengan orang lain, dan lebih banyak menghindar ketika dia harus berhadapan dengan orang lain. Terkadang banyak orang tua yang akhirnya putus asa menghadapi tingkah anak-anak yang mempunyai sifat pemalu ini. Sifat pemalu pada anak-anak dapat diketahui dari keseharian dia melakukan kontak dengan orang lain. Sifat ini mungkin karena kurangnya rangsangan buat anak untuk melakukan kontak dengan orang lain atau pun mungkin pula disebabkan oleh faktor genetika yang dimilikinya yang banyak mempengaruhi sifat pemalu pada anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pernah melihat seorang anak yang sukar sekali berpisah dengan ibunya? Di tempat-tempat umum ataupun pada sebuah acara keramaian seperti ulang tahun anak-anak ada anak yang selalu berlindung dibalik badan sang ibu dan tidak mau kontak dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit anak-anak yang mempunyai sifat pemalu lebih senang menyendiri daripada beramai-ramai.  Walaupun rasa malu ini merupakan salah faktor genetik yang ada pada diri seseorang anak, tetapi sifat ini dapat diubah dengan berbagai usaha yang dilakukan untuk mengatasinya. Usaha sungguh-sungguh dan latihan yang diberikan secara terus menerus yang dilakukan orang tua tanpa mengenal putus asa dapat membantu seorang anak yang mempunyai sifat pemalu untuk tampil lebih berani, dan dengan perlahan-lahan rasa malu itu pun mulai berkurang dan sekarang anak bisa tampil dengan penuh percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa latihan dan cara yang dapat diterapkan untuk membantu mengatasi sifat pemalu yang dimiliki anak-anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sering-sering mengajak dia keluar rumah dan bertemu dengan orang banyak&lt;/span&gt;.Dengan sering bertemu dengan berbagai ragam orang, si kecil yang pemalu akan mulai mengenal banyak karakter orang. Dia akan mulai terbiasa dengan lingkungan yang asing yang tidak biasa dengan lingkungannya sehari-hari. Ini melatih dia menjadi terbiasa menghadapi lingkungan yang berbeda-beda. Dan melatih dia pula untuk bisa mengatur dirinya menghadapi lingkungan yang berbeda-beda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengajaknya bermain dengan anak-anak sebayanya&lt;/span&gt;. Dengan bermain dengan anak-anak sebayanya, si kecil akan merasa senang karena dia akan merasakan bagaimana&lt;br /&gt;senangnya bermain dengan sebaya. Kalau dia masih malu-malu untuk memulai, biasanya pertama kali orang tua bisa ikutan bermain dengan anak-anak kecil itu. Seandainya si kecil sudah mulai merasa nyaman, orang tua bisa sedikit demi sedikit menjauh, tetapi masih berdiri dekat tempat bermain itu. Si kecil masih bisa melihat anda. Perlahan-lahan si kecil&lt;br /&gt;akan nyaman dengan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mencarikan sahabat yang tepat untuk si kecil. &lt;/span&gt;Setelah si kecil mulai mengenal teman-teman sebayanya, orang tua dapat berdialog dengan dia bagaimana perasaan dia dengan teman-temannya itu, dan menanyakan dengan siapa dia merasa senang bermain. Dengan teman yang menurut si kecil paling baik itu, orang tua sebaiknya mengintensifkan si kecil bermain dengannya. Yang akhirnya mereka bisa menjadi bersahabat. Ini membantu si kecil untuk belajar berkenalan dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perkuat Rasa Percaya Diri.&lt;/span&gt; Carilah apa yang menjadi kegemaran si kecil, apa kelebihannya. Misalnya dia senang sekali menggambar. Seringseringlah orang tua mengajak si kecil untuk mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan hobbynya itu. Si kecil yang pemalu akan merasa nyaman dan senang dengan kegiatannya, karena mereka merasa mempunyai kemampuan dan kelebihan dalam bidang yang mereka senangi itu. Hal ini akan semakin memperkuat rasa percaya dirinya. Perkuat rasa percaya diri si kecil dengan kegiatan yang membuat dia merasa bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan memaksa si kecil untuk berani, tetapi rangsang dia untuk berani&lt;/span&gt;. Jangan pernah memaksa si kecil yang pemalu untuk tampil, tetapi rangsanglah dia untuk berani tampil di depan umum. Seandainya si kecil dipaksa, dia akan merasa terbebani, akhirnya si kecil malah akan semakin menghindar dan menjadi semakin pemalu. Dengan merangsangnya si kecil akan dapat menentukan sikapnya, akhirnya dia menjadi lebih berani dan tampil penuh percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Munich, Maret 2007&lt;br /&gt;http://www.wrm-indonesia.org - We R Mommies Powered by Mambo Open Source Generated: 20 March, 2007, 11:11&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/923087916715695749-4993033187294046734?l=kesehatan-dan-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JLMoPONzz7IyRZ5-Y9WoOTHermg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JLMoPONzz7IyRZ5-Y9WoOTHermg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JLMoPONzz7IyRZ5-Y9WoOTHermg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JLMoPONzz7IyRZ5-Y9WoOTHermg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KesehatanDanAnak/~4/X9H8phkYE6A" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/feeds/4993033187294046734/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=923087916715695749&amp;postID=4993033187294046734" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/4993033187294046734?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/923087916715695749/posts/default/4993033187294046734?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KesehatanDanAnak/~3/X9H8phkYE6A/membantu-anak-yang-pemalu.html" title="Membantu Anak Yang Pemalu" /><author><name>wahyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11395295320428047245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_VKvIdzE_EZ4/SSJfM663ilI/AAAAAAAAAJ4/AMsJi3ARA6I/S220/wahyu+2.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://kesehatan-dan-anak.blogspot.com/2007/03/membantu-anak-yang-pemalu.html</feedburner:origLink></entry></feed>

