<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Kisah-Kisah Teladan</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Kisah-kisahTeladan/Story" /><description>Kisah Teladan Islam, Kisah Para Nabi, Kisah Para Ilmuwan Islam, Kisah para Tokoh Islam&amp;lt; Peradaban Islam, Khalifah Islam, Kisah Abu Nawas seorang sufi yg banyak akalnya juga Nasrudin dan masih banyak lagi kisah lainnya</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Kisah7)</managingEditor><lastBuildDate>Wed, 30 May 2012 14:55:15 PDT</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">190</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="kisah-kisahteladan/story" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:keywords>Kisah,Teladan,Islam,Kisah,Para,Nabi,Kisah,Para,Ilmuwan,Islam,Kisah,para,Tokoh,Islam,Kisah,Abu,NaNawas,seorang,sufi,yg,banyak,akalnya,juga,Nasrudin,dan,masih,banyak,lagi,kisah</media:keywords><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:keywords>Kisah,Teladan,Islam,Kisah,Para,Nabi,Kisah,Para,Ilmuwan,Islam,Kisah,para,Tokoh,Islam,Kisah,Abu,NaNawas,seorang,sufi,yg,banyak,akalnya,juga,Nasrudin,dan,masih,banyak,lagi,kisah</itunes:keywords><itunes:subtitle>Kisah Teladan</itunes:subtitle><itunes:summary>Kisah Teladan Islam, Kisah Para Nabi, Kisah Para Ilmuwan Islam, Kisah para Tokoh Islam Kisah Abu NaNawas seorang sufi yg banyak akalnya juga Nasrudin dan masih banyak lagi kisah lainnya</itunes:summary><item><title>Kisah Para Sahabat</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2012/01/kisah-para-sahabat.html</link><category>Kisah Para Sahabat Nabi</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Mon, 30 Jan 2012 00:47:40 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-1509200965016951259</guid><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kisah Para Sahabat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://alkisahteladan.blogspot.com/2012/01/orang-yang-disegani-malaikat.html"&gt;Orang Yang Disegani Para Malaikat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://alkisahteladan.blogspot.com/2012/01/yang-punya-dua-cahaya-dzunnurrain.html"&gt;Yang Punya Dua Cahaya (Dzunnurrain)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-1509200965016951259?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Yang Punya Dua Cahaya (Dzunnurrain)</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2012/01/yang-punya-dua-cahaya-dzunnurrain.html</link><category>Kisah Para Sahabat Nabi</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Mon, 30 Jan 2012 00:52:08 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-1778889273100000494</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang Punya Dua Cahaya (Dzunnurrain)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pernah kita berpikir bagaimana beratnya menyalin lembaran lembaran Al Quran menjadi sebuah kitab yang satu,apalagi pada zaman sahabat Nabi SAW belum ada percetakan apalagi teknologi computer? Inilah salah satu ijtihad terbesar untuk menyelamatkan Al Quran demi menjaga kemurniannya. Adalah seorang sahabat Nabi yang juga menjadi menantunya punya pekerjaan besar ini.Beliau mendapat julukan Dzunnurrain (yang punya dua cahaya). Sebab digelari Dzunnuraian karena Rasulullah menikahkan dua putrinya untuknya; Roqqoyah dan Ummu Kultsum. Ketika Ummu Kultsum wafat, Rasulullah SAW bersabda; “Sekiranya kami punya anak perempuan yang ketiga, niscaya aku nikahkan denganmu.” Dia adalah Sahabat Utsman bin Affan r.a. Seorang saudagar yang kaya raya. Peternakannya juga sangat banyak dari kebanyakan orang arab. Beliau sangat dermawan dan juga sangat pemalu. Utsman bin Affan r.a berasal dari Bani Umayyah. Lahir pada tahun keenam tahun Gajah, lima tahun lebih muda dari Rasullulah SAW. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar. Beliau adalah salah satu sahabat besar dan utama Nabi Muhammad SAW, serta termasuk pula golongan as-Sabiqun al-Awwalin, yaitu orang-orang yang terdahulu Islam.&lt;br /&gt;Sewaktu penyiksaan dan intimidasi dari Kaum Quraisy terhadap umat islam di Mekkah semakin berat maka atas perintah Rasulullah SAW Utsman bin Affan mempin rombongan hijrah ke Habsyah/ Ethiopia. Sahabat sahabat lain yang menyertainya antara lain Abu Khudzaifah, Zubir bin Awwam, Abdurahman bin Auf dan lain-lain. Tapi rupanya dakwah di Habsyah tidak berkembang dengan pesat. Kemudian datang perintah Rasulullah SAW untuk hijrah ke Madinah. Utsman bin Affan segera memenuhi seruan itu, ditinggalkan perniagaanya dan disumbangkan hartanya untuk perjuangan demi tegknya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utsman bin Affan pernah diamanahi sebagai Gubernur Madinah sebanyak dua kali semasa Rasulullah SAW masih hidup, yaitu pada waktu perang Dzatir Riqa dan perang Ghatfahan. Beliau seorang yang dermawan.Banyak harta yang telah disumbangkan untuk perjuangan Islam, seperti :&lt;br /&gt;1. Utsman bin Affan r.a membeli sumur dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah kg emas. Sumur itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum.&lt;br /&gt;2. Memperluas Masjid Madinah dan membeli tanah disekitarnya.&lt;br /&gt;3. Beliau mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya ekspedisi tersebut.&lt;br /&gt;4. Pada masa pemerintahan Abu Bakar,Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, kaum Muslimin dilanda kemarau dahsyat. Mereka mendatangi Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sudah lama sekali hujan tidak turun dan kemarau tidak berkesudahan apa yang harus kami lakukan untuk memenuhi kebutuhan kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar ra menjawab: “Pergilah dan sabarlah. Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian.”&lt;br /&gt;Pada petang harinya di Syam ada sebuah kafilah dengan 1,000 unta mengangkut beragam makanan berisi gandum, minyak dan kismis. Unta itu lalu di depan rumah Utsman bin Affan r.a, lalu mereka menurunkan muatannya. Tidak lama kemudian dating seorang saudgar kaya raya menemui Utsman, si pedagang kaya, dengan maksud ingin membeli barang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Utsman berkata kepada mereka: “Berapa banyak keuntungan yang aku dapatkan bila engkau akan membelinya?&lt;br /&gt;Mereka jawab: “Dua kali lipat.”&lt;br /&gt;Utsman menjawab: “Sayang sekali, sudah ada penawaran yang jauh lebih tinggi.”&lt;br /&gt;Pedagang itu kemudian menawarkan empat sampai lima kali lipat, tetapi Utsman menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan memberi lebih banyak.&lt;br /&gt;Pedagang menjadi bingung lalu berkata lagi pada Utsman bin Affan r.a: “Wahai, Utsman, di Madinah tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran. Siapa yang berani memberi lebih?” Utsman menjawab: Allah SWT memberi kepadaku 10 kali lipat, apakah kalian dapat memberi lebih dari itu?”&lt;br /&gt;Mereka serentak menjawab: “Tidak!”&lt;br /&gt;Utsman berkata lagi: “Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahawa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah sedekah kerana Allah, untuk fakir miskin daripada kaum muslimin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang hari itu juga Utsman ra membahagi-bahagikan seluruh makanan yang dibawa unta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bahagian yang cukup untuk keperluan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usman bin Affan adalah Khalifah yang ketiga setelah Abu Bakar r.a dan Umar bin Khattab r.a. Masa kekhalifahannya adalah masa yang paling makmur dan sejahtera. Rakyat hidup dengan berkecukupan. Susah menjumpai orang yang kelaparan. Daerah kekuasaan Islam pun makin luas. Bahkan apabila ada budak yang dijual maka harganya berdasarkan berat timbangannya. Beliau Khalifah yang pertama merenovasi Masjid Al Haram dan Masjid Nabawi, juga dibangun sebuah gedung untuk mengadili suatu perkara.&lt;br /&gt;Dibawah kekhalifahan Usman bin Affan r.a pasukan islam berhasil menaklukan Syria dan Muawiyah yang menjadi gubernurnya. Sedangkan Afrika Utara ditaklukan oleh panglima Amr bin Ash r.a. Selanjutnya daerah Arjan,Persia,Khurasanan dan wilayah Iran. Prestasi gemilang lainnya adalah meresmikan mushaf yang disebut Mushaf Utsmani, yaitu kitab suci Al Qur’an yang dipakai oleh seluruh umat islam diseluruh dunia sekarang ini. Mushaf  ini dibuat sebanyak lima buah, satu buah dipegang oleh Khalifah Utsman, yang empat disebar kebeberapa daerah seperti Makkah, Syria, Basrah dan Kufah. Dari Mushaf yang ditulis di zaman Utsman itulah kaum muslimin di seluruh pelosok menyalin dan memperbanyak al-Quran.&lt;br /&gt;Allah SWT hendak menyelamatkan Al-Quran dari segala upaya perubahan. Dia memelihara kemurnian dan kelangsungannya sampai hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami (pulalah) yang memeliharanya.” (Al Hijr). Utsman bin Affan r.a akan tetap selalu dikenang sebagai orang yang paling berjasa dalam bidang ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:78%;" &gt;sumber kisahislamidotcom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-1778889273100000494?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Orang yang disegani Malaikat</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2012/01/orang-yang-disegani-malaikat.html</link><category>Kisah Para Sahabat Nabi</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Mon, 30 Jan 2012 00:39:08 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-3800839583196636829</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Orang yang disegani Malaikat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW diutus ke dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Aisyah r.a yang juga istrinya berkata,” Akhlak Rasulullah SAW adalah Al Quran”. Rasulullah itu adalah Al Quran yang berjalan. Meskipun musuh musuhnya dari kaum kafir Quraisy selalu memusuhi Beliau namun bila mereka pergi keluar negeri untuk berdagang mereka selalu menitipkan/mengamanahkan barang titipan mereka kepada Rasulullah SAW. Ini sungguh luar biasa. Demikian tinggi akhlak Rasulullah SAW sampai musuhpun masih percaya kepadanya untuk mengurusi harta mereka. Demikian juga tentang seorang sahabat Nabi SAW yang satu ini, dia sangat memiliki rasa malu. Bahkan ada riwayat yang mengatakan bila ia sedang mandi di kamar mandi yang tertutup sekalipun ia tidak berani menegakkan punggungnya karena demikian tinggi rasa malunya. Dialah Sahabat Utsman bin Affan r.a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah r.a meriwayatkan bahwa pada suatu hari ayahnya Abu Bakar As Shiddiq r.a minta izin bertemu Rasulullah SAW yang sedang beristirahat dan berbaring serta bajunya terangkat sehingga salah satu betisnya terlihat&lt;br /&gt;Selesai berbincang dan menunaikan hajatnya, Abu Bakar r.a pun segera pulang. Kemudian yang kedua datanglah Umar bin Khattab r.a dan selepas berbincang beberapa waktu lamanya Umar r.a pun pulang. Tak berapa lama kemudian datanglah Utsman bin Affan r.a dan minta izin bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar Utsman r.a yang datang, Rasulullah SAW tiba-tiba memperbaiki posisinya dan duduk serta merapikan pakaiannya, lalu menutupi betisnya yang terbuka.Selepas berbincang beberapa waktu lamanya Utsman r.a pun pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Utsman r.a pulang, Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah tadi saya melihat bahwa engkau tidak bersiap siap menerima sahabatamu Abu Bakar r.a dan Umar r.a tetapi kenapa engkau bersiap siap menyambut kedatangan Utsman r.a?”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menjawab: “Utsman seorang pemalu. Kalau dia masuk sedang aku masih berbaring, dia pasti malu untuk masuk dan akan cepat-cepat pulang sebelum menyelesaikan hajatnya. Hai Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seorang yang disegani malaikat?” (Hadis Riwayat Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yang sangat pemalu, bahkan lebih malu dari gadis pingitan. Sifat malu adalah sebagian dari iman. Rasulullah juga bersabda “Sifat malu tiada menimbulkan kecuali kebaikan”&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:78%;" &gt;sumber kisahislamidotcom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-3800839583196636829?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Museum Sibernatika Al Jazari</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2011/08/museum-sibernatika-al-jazari.html</link><category>Ilmuwan Islam</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Mon, 30 Jan 2012 00:33:25 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-5271356600341036432</guid><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: bold;font-family:&amp;quot;;font-size:130%;color:black;"   &gt;Museum Sibernatika Al Jazari di Turki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vfBavQy__xE/TkHmv7y9MeI/AAAAAAAAAHI/2AP-uTFB_f0/s1600/Karya-Al%2BJazari.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Hasil  karya ilmuwan Muslim pertama di bidang sibernatika segera ditampilkan  di sebuah museum baru yang akan dibangun di Provinsi Mardin, Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Gubernur Mardin Turhan Avyaz, Kamis (04/8), Museum Sains Al Jazari yang  menampilkan hasil kerja dan penelitian ilmuwan dan pemikir Muslim  paling berpengaruh, Al Jazari, akan dibangun di lingkungan situs  bersejarah Madrasah Kasimiye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya pembangunan museum  dialokasikan sebesar USD 3 juta. Museum ini nantinya diharapkan menarik  banyak wisatawan terutama dari Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini  rancangan lansekap museum telah rampung dan 70% hasil kerja Al Jazari  yang akan dipamerkan telah tiba di kota tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Jazari yang  bernama lengkap Abu Al Iz bin Ismail bin Al Razaz Al Jazari adalah  seorang ilmuwan Iraq, penemu, insinyur mekanik, perajin, seniman, pakar  matematika dan astronom yang berasal dari wilayah Mesopotamia. Al Jazari  hidup pada kejayaan Islam (1136–1206 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Jazari paling dikenal dengan karyanya &lt;i style="font-weight: bold;"&gt;"Kitab fi Ma'rifat Al Hiyal Al Handasiyya"&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul &lt;i style="font-weight: bold;"&gt;"Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices"&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.&lt;/span&gt; Dalam buku itu Al Jazari menjelaskan puluhan alat-alat mekanik beserta petunjuk bagaimana cara membuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al  Jazari dipandang sebagai sebagai salah satu bapak moderen teknik mesin  karena penemuan-penemuan fundamental yang dihasilkannya. Ia juga  dianggap sebagai pelopor ilmu robotika, karena dialah yang pertama kali  membuat rancangan robot yang dapat diprogram secara mekanik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  orang mengira Leonardo da Vinci adalah pencipta robot pertama di tahun  1495 dan berbagai macam alat mekanik lainnya. Padahal sesungguhnya Al  Jazari lebih dari 1.200 tahun sebelum Da Vinci lahir telah menciptakan  berbagai alat mekanik tersebut lebih dahulu, berikut penjelasan  lengkapnya.*&lt;br /&gt;sumber:hidayatullahdotcom&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-5271356600341036432?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ALLAH TELAH MENGAMPUNI DOSA AL KIFLI</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2011/05/allah-telah-mengampuni-dosa-al-kifli.html</link><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Sun, 01 May 2011 17:51:38 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-822447715846640981</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;ALLAH TELAH MENGAMPUNI DOSA AL-KIFLI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Al-Kifli adalah seorang pemuda Bani Israil, yang tak pernah lepas dari dunia maksiat. Suatu ketika ia tertarik dengan kecantikan seorang wanita. Lalu ia memberikan uang kepada wanita itu sebanyak 60 dinar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ketika dalam posisi sebagaimana seorang suami menggauli isterinya, tiba-tiba wanita itu gemetar. Al-Kifli bertanya, "Apakah aku memaksamu melakukan ini?" Wanita itu menjawab, "Tidak, hanya saja perbuatan ini belum pernah aku lakukan seumur hidupku. Aku lakukan ini semata-mata demi memenuhi kebutuhan hidupku." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Al-Kifli berkata, "Berarti kamu takut kepada Allah untuk memenuhi ajakanku ini sementara aku tidak takut kepadaNya." Kemudian al-Kifli meninggalkan wanita tersebut dan menghadiahkan uang tersebut kepadanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; line-height: normal; font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ia berkata, "Al-Kifli tidak akan pernah bermaksiat lagi kepada Allah." Pada malam hari itu ia mati sementara keesokan harinya di pintu rumahnya terdapat tulisan bahwa Allah telah mengampuni dosa al-Kifli. (&lt;i&gt;Nurul Iqtibas,&lt;/i&gt; hal 36.) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;sumber : &lt;i&gt;99 Kisah Orang Shalih&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-822447715846640981?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Saat penjaga Arasy lupa dengan bacaanya</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2011/05/saat-penjaga-arasy-dengan-bacaannya.html</link><category>Kisah Islami</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Sun, 01 May 2011 17:56:54 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-8911310768358042229</guid><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;    &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saat Penjaga Arasy lupa dengan bacaan  "TASBIH &amp;amp; TAHMIDNYA" &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p face="arial" style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Kakbah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Orang itu berhenti di satu sudut Kakbah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;“Belum,” jawab orang itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Orang Arab badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;sumber :dari berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-8911310768358042229?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Terapi Warna</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/12/terapi-warna.html</link><category>Dunia Islam</category><category>Ilmuwan Islam</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 29 Dec 2010 02:07:32 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-7658098805370477989</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terapi Warna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1S2a-L2pNA8/TRsIDSksRRI/AAAAAAAAAGo/j9stKmiFSHE/s1600/Chakra%2526warna.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 225px; height: 173px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1S2a-L2pNA8/TRsIDSksRRI/AAAAAAAAAGo/j9stKmiFSHE/s320/Chakra%2526warna.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556043417910002962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mewariskan khazanah ilmu pengetahuan yang sangat kaya kepada peradaban  modern. Berbagai macam penemuan para ilmuan Islam masih tetap berlaku dan  dikembangkan hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari bidang pertanian, pertambangan,  kesenian, ilmu-ilmu sosial, kedokteran, hingga manajemen pelayanan pos,  merupakan tindak lanjut dari warisan Islam.  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di bidang kedokteran, banyak dokter Muslim berhasil menciptakan metode-metode  pengobatan. Mereka berhasil menemukan aneka terapi untuk menyembuhkan ragam  jenis penyakit. Salah satunya adalah terapi warna atau lebih dikenal  kromoterapi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1S2a-L2pNA8/TRsIDtASLlI/AAAAAAAAAGw/1lks8-a3RPo/s1600/ilmujiwa2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 280px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1S2a-L2pNA8/TRsIDtASLlI/AAAAAAAAAGw/1lks8-a3RPo/s320/ilmujiwa2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556043425005055570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kromoterapi merupakan metode perawatan penyakit dengan  menggunakan warna-warna. Terapi ini merupakan terapi suportif yang dapat  mendukung terapi utama. Menurut praktisi kromoterapi, penyebab dari beberapa  penyakit dapat diketahui dari pengurangan warna-warna tertentu dari sistem dalam  tubuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kromoterapi, kadang-kadang disebut terapi warna atau  colorology, merupakan metode obat alternatif. Dengan kata lain, seorang dokter  (praktisi terapi) yang terlatih dalam kromoterapi dapat menggunakan warna dan  cahaya untuk menyeimbangkan energi dalam tubuh seseorang yang mengalami  kekurangan baik fisik, emosi, spiritual, maupun mental. Terapi cahaya terbukti  dapat meringankan penyakit depresi yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli kromoterapi  menyatakan, mereka melakukan praktik sesuai dasar ilmiah. Menurut hasil  penelitian mereka, warna membawa reaksi emosional manusia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Standar metode diagnosa menggunakan “tes warna luscher”, dikembangkan oleh  Max Luscher ( 1923) pada awal 1900-an. Saat kromoterapi dilakukan, warna dan  cahaya diterapkan ke daerah-daerah tertentu pada tubuh. Warna terkait dengan  efek positif dan efek negatif. Dalam terapi warna, warna spesifik serta jumlah  warna dianggap penting dalam penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alat yang digunakan  untuk menerapkan warna adalah batu permata, lilin, tongkat wasiat, prisma, kain  tenun warna, dan kaca/lensa warna. Terapeutik (pengobatan) warna dapat  diadministrasikan dalam beberapa cara, tetapi sering dikombinasikan dengan  hidroterapi (terapi air) dan aromaterapi (terapi aroma/wewangian) dalam upaya  untuk mempertinggi efek terapeutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ibnu Sina dan Terapi  Warna&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan sejarah, terapi warna diperkirakan  berasal dari tradisi India kuno, yang diajarkan dalam Ayurveda. Masyarakat India  sudah mempraktikkan terapi tersebut sejak ribuan tahun silam. Sumber sejarah  lain menyebutkan, terapi ini berasal dari tradisi Cina dan Mesir kuno.  Dijelaskan bahwa orang Mesir kuno telah membangun solarium, sejenis kamar, yang  dipasangi dengan kaca jendela berwarna. Matahari akan bersinar melalui kaca dan  pasien dibanjiri dengan warna.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah artikel yang ditulis Michelle Caldwel, Smallpox: Is the Cure  Worse Than the Disease?, disebutkan pada akhir abad ke-19 M, penderita penyakit  cacar di Eropa dirawat di ruang yang ditutupi dengan kain berwarna merah untuk  menyembuhkan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi serupa telah dipraktikkan oleh dokter Muslim  pada abad ke-10 M. Tokoh Islam yang memperkenalkan kromoterapi adalah Ibnu Sina  (980 M-1037 M), yang dikenal oleh masyarakat Barat dengan nama Avicenna. Kurang  lebih sembilan abad sebelum orang Barat mengenal kromoterapi, Ibnu Sina sudah  menggunakan warna sebagai salah satu sarana penting dalam mendiagnosa  (mengenali) penya kit dan untuk pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam adikaryanya yang  berjudul Al-Qanun fi At-Thibb (The Canon of Medicine), Ibnu Sina mengungkapkan  bahwa warna merupakan gejala yang nampak dalam penyakit. Ia juga telah berhasil  mengembangkan grafik hubungan antara warna dengan suhu tubuh dan kondisi fisik  tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Sina juga melakukan klasifikasi warna dan fungsi-fungsinya  dalam proses penyembuhan si sakit. Ia mengemukakan bahwa warna merah memindahkan  darah, biru atau putih mendinginkan, dan kuning mengurangi rasa sakit pada otot  dan radang mata. Ibnu Sina adalah orang pertama yang membuktikan bahwa warna  yang salah yang digunakan untuk terapi dapat menyebabkan tidak adanya respons  dalam penyakit yang spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna yang salah selama proses terapi  tidak akan mendapat respons dari penyakit tertentu, ujarnya dalam Al-Qanun fi  At-Thibb. Diceritakan oleh Samina T. Yousuf Azeemi dan S. Mohsin Raza dalam A  Critical Analysis of Chromotherapy and Its Scientific Evolution, Ibnu Sina suatu  saat mengamati orang yang mimisan/hidung berdarah. Menurutnya, orang yang  mimisan seharusnya tidak melihat warna merah yang mencolok dan tidak boleh  terkena sorot lampu merah. Warna merah akan mendorong cairan sanguin  (sanguineous humor). Orang mimisan, menurut Ibnu Sina, harus melihat warna biru.  Berbeda dengan warna merah, warna biru akan meringankan dan mengurangi aliran  darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengenal chakra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di dalam tradisi India, dikenal yang namanya chakra,  yakni titik atau simpul energi dalam tubuh manusia. Menurut konsep chakra,  kesehatan adalah kesatuan menjaga keseimbangan fisik dan emosi. Di India,  sekelompok ahli pengobatan Ayurvedic menjelaskan, warna yang terkait dengan  tujuh chakra utama, yang menurut sistem mereka merupakan pusat rohani di tubuh,  terletak di sepanjang tulang belakang, jelas Dorothy Parker, dalam karyanya  Color Decoder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat tujuh chakra dan masing-masing terkait dengan  organ tertentu dalam tubuh. Tiap chakra memiliki warna dominan, tetapi ini dapat  menjadi warna yang tidak seimbang. Jika hal ini terjadi dapat menyebabkan  penyakit dan percabangan fisik lainnya, kata Dorothy Parker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  memperkenalkan warna yang sesuai, penyakit ini dapat diperbaiki. Ketujuh chakra  tersebut adalah, pertama, warna merah, terletak di bagian bawah tulang belakang.  Warna ini digunakan untuk merangsang tubuh dan pikiran serta meningkatkan  sirkulasi. Kedua, warna orange, terletak di daerah panggul. Digunakan untuk  menyembuhkan paru-paru dan untuk meningkatkan energi. Ketiga, warna kuning,  terletak pada solar kekusutan. Digunakan untuk mendorong urat dan membersihkan  tubuh. Keempat, warna hijau, terletak di jantung. Kelima, warna biru, terletak  di tenggorokan. Digunakan untuk mengobati penyakit dan meringankan rasa sakit.  Keenam, warna indigo, yakni di bagian rendah pada dahi. Digunakan untuk  meringankan masalah kulit. Ketujuh, warna violet, terletak di atas kepala.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meskipun kromoterapi telah dibuktikan manfaatnya oleh Ibnu Sina dan tradisi  India, namun tidak membuatnya bebas dari kritik. Beberapa kritikus kromoterapi  me lontarkan pandangan bahwa ilmu kedokteran ini adalah palsu belaka. Mereka  juga menuturkan belum ada bukti bah wa warna adalah unsur kunci dalam proses  penyembuhan bagi si sakit.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Ibnu Sina, Dokter Muslim yang Mengajarkan  Kromoterapi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Pengobatan Modern, begitulah sebagian orang  menjulukinya. Ibnu Sina yang di dunia Barat dikenal dengan nama Avicenna,  disebut-sebut sebagai dokter Muslim pertama yang menerapkan kromoterapi dalam  pengobatannya. Hal tersebut dicantumkan dalam karyanya Al-Qanun fi At-Thibb (The  Canon of Medicine).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mempelajari kedokteran sejak usia 16 tahun.  Bahkan memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18. Dalam dunia  kedokteran, ia tak hanya mempelajari teori kedokteran, tetapi juga pera  watan/pelayanan pada orang sakit. Melalui perhitungannya sendiri, ia menemukan  metode-metode baru dari perawatan/pengobatan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Sina mengatakan, ''Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun  menjengkelkan, seperti matematika dan fisika sehingga saya cepat memperoleh  kemajuan. Saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien  menggunakan obat-obat yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mendapat gelar Bapak Pengobatan  Modern, masih banyak lagi predikat kehormatan yang diterimanya di bidang  kedokteran. Itu terkait dengan ke agungan karya-karya yang telah beliau  hasilkan. Karyanya yang sangat terkenal adalah Al-Qanun fi At-Thibb (The Canon  of Medicine) yang merupakan rujukan utama di bidang kedokteran selama  berabad-abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avicenna yang juga dikenal sebagai seorang filsuf dan  ilmuwan dilahirkan tahun 980 M di Afsyahnah dekat Bukhara, Persia (sekarang  masuk wilayah Uzbekistan). Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husayn bin Abdullah  bin Sina. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada bulan Juni 1037 M di Hamadan,  Persia (Iran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Sina merupakan tokoh Muslim yang sangat produktif.  Karya-karyanya tidak terbatas di bidang kedokteran saja, melainkan juga di  bidang filsafat, matematika, logika, akhlak, dan fisika. Total ada sekitar 450  karya yang sampai ke tangan generasi sekarang. Menurut George Sarton, Ibnu Sina  merupakan ilmuwan hebat dan paling terkenal dari dunia Islam pada semua bidang,  tempat, dan waktu. (rep)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-7658098805370477989?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_1S2a-L2pNA8/TRsIDSksRRI/AAAAAAAAAGo/j9stKmiFSHE/s72-c/Chakra%2526warna.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Sejarah Rumah Sakit dalam Islam</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/11/sejarah-rumah-sakit-dalam-islam.html</link><category>Dunia Islam</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Tue, 23 Nov 2010 18:19:12 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-9009785140770754303</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Rumah Sakit dalam Islam&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan bidang medis memicu perkembangan lebih jauh. Tak melulu karya dan pemikiran yang berserak. Namun, pada akhirnya muncul sebuah institusi berupa rumah sakit. Keberadaan rumah sakit selain berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan juga menjadi sentra pengembangan ilmu medis.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit yang representatif paling awal dibangun di Baghdad, Irak pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Tepatnya, ketika Harun al-Rasyid (786809) menjadi khalifah. Rumah sakit dikenal dengan sebutan bimaristan atau maristan. Bangunan rumah sakit di Baghdad besar dan megah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rancang bangunnya menjadi acuan bagi rumah sakit lainnya yang baru didirikan di wilayah Islam. Gambaran mengenai rumah sakit di Baghdad disampaikan oleh sejarawan Muslim terkemuka al-Jubair. Ia mengunjungi Baghdad pada 1184 Masehi. Menurutnya, perlengkapan rumah sakit sangat memadai.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ia mengungkapkan, kemegahannya tak kalah dengan istana khalifah. Kebutuhan air bersih di rumah sakit disalurkan langsung dari Sungai Tigris. Pada masa selanjutnya, umat Islam membangun sejumlah rumah sakit besar dan terintegrasi. Maksudnya, rumah sakit itu mampu memberi pelayanan pengobatan beragam jenis penyakit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, terdapat fasilitas rawat inap, ruang penyimpanan dan pelayanan obatobatan, tempat pendidikan bagi dokter dan tenaga medis, perpustakaan, bahkan menjadi pusat pengembangan ilmu serta praktik kedokteran. Sebagian besar rumah sakit Islam berkonsep modern sudah memiliki standar semacam ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, rancang bangun dan tata letak ruangan rumah sakit menjadi penting untuk dapat mengakomodasi seluruh fungsi tadi. Beberapa ruangan khusus melengkapi sarana yang ada. Hal itu diungkapkan dalam buku History of the Arabs. Si penulis buku, Philip K Hitti, menyebut rumah sakit Islam mempunyai ruangan khusus perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berdiri pula gudang obat yang menyatu dengan bangunan rumah sakit. "Beberapa di antaranya dilengkapi perpustakaan kedokteran. Rumah sakit juga menawarkan kursus pengobatan," urai Hitti. Gambaran yang hampir sama tercantum dalam artikel berjudul "Islamic Culture and the Medical Arts" pada laman National Library of Medicine.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Artikel tersebut menggambarkan, rumah sakit yang didirikan umat Islam di Suriah maupun Mesir sepanjang abad ke-12 dan ke-13 juga memiliki setidaknya empat bangsal besar. Ruangan lain berukuran tidak terlampau luas, seperti ruang untuk dapur, gudang, apotek, tempat istirahat staf, dan perpustakaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tiap bangsal biasanya dilengkapi pancuran air bersih untuk minum atau mandi. Rumah sakit menerapkan pemisahan bangsal pasien perempuan dan laki-laki. Juga bangsal untuk pasien berpenyakit menular dirawat di ruangan terpisah dari pasien lain. Selain itu, ada pula ruang khusus bagi pasien penyakit mata dan disentri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ada area khusus yang digunakan sebagai ruangan operasi dan ruang perawatan pasien gangguan jiwa. Kamar mandi dengan pasokan air memadai tersedia pada beberapa bagian rumah sakit. Para pengelola rumah sakit sangat memerhatikan unsur kebersihan sehingga tidak membiarkan kamar mandi dalam keadaan kotor.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah rumah sakit milik pemerintah memiliki laboratorium guna meracik beragam obat. Tak jarang, pusat farmasi ini sanggup memproduksi obat-obatan dalam skala besar. Sebagian besar obat diberikan untuk pasien rumah sakit dan sebagian lagi disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Prestasi mengagumkan ketika rumah sakit menjadi tempat pendidikan, tempat menempa mahasiswa kedokteran dan perawat, serta pengembangan kajian medis. Ada pula ruangan yang digunakan sebagai tempat belajar-mengajar. Tradisi itu mulai berlangsung pada masa Khalifah al-Ma'mun serta al-Mu'tashim, dan masih ada di era Seljuk dan Usmani.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Rumah Sakit Bursa yang berdiri di dekat istana Sultan Yildirim, dibuka sekolah kedokteran. Di rumah sakit itu, di samping ada ruang belajar, ada pula ruangan pengajar yang juga para dokter senior. Perpustakaan besar yang menyimpan bermacam naskah ilmiah medis turut melengkapi sarana pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit lain yang membuka fasilitas pelatihan kedokteran yakni RS al-Nuri di Damaskus, Suriah dan RS Marakesh di Maroko. Ruangan yang sangat penting dan selalu ada di rumah sakit Islam adalah masjid atau tempat ibadah. Fasilitas tersebut memudahkan pasien dan pengunjung dalam menunaikan ibadah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, ruangannya cukup besar dan bisa menampung banyak jamaah. Selain itu, dalam artikel berjudul "The Beginning of the Islamic Hospitals" pada laman muslimheritage menuturkan, di sana dibangun pula gereja bagi pengunjung, pasien, maupun tenaga kesehatan yang beragama Nasrani.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Manajemen rumah sakit menyediakan ruang tunggu bagi pengunjung. Sarana penunjang lainnya adalah aula, klinik pasien rawat jalan dan penyakit ringan, juga dapur. Dan yang membanggakan, seluruh pelayanan dan sarana itu dapat dinikmati oleh pasien tanpa dipungut biaya sepeser pun. Ilmuwan Hossam Arafa dalam tulisan berjudul "Hospital in Islamic History" mengatakan, karakteristik rumah sakit Islam adalah melayani pasien tanpa memandang asal usul, etnis, suku, maupun agama. Semua berhak menerima perawatan medis tanpa perlu membayar biaya layanan rumah sakit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dana yang dibutuhkan untuk memberikan layanan pengobatan, perawatan, hingga biaya operasional rumah sakit sepenuhnya berasal dari dana wakaf. Umat Muslim dan penguasa mewakafkan sebagian harta mereka untuk kepentingan sosial dan agama. Pada masa itu, dana wakaf yang terkumpul cukup besar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dana wakaf tersebut lebih dari cukup untuk membiayai pembangunan serta operasional rumah sakit. Sebagian anggaran negara juga didistribusikan ke rumah sakit, terutama untuk pemeliharaan peralatan dan penyediaan obat-obatan. Karena itulah, rumah sakit bisa beroperasi secara maksimal dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi pasien. Konsep dan rancang bangun rumah sakit modern milik umat Muslim ini dijadikan model bagi rumah sakit-rumah sakit yang didirikan di Eropa beberapa abad kemudian.&lt;br /&gt;sumber:republika&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-9009785140770754303?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Al Khazin Ahli Matematika dan Astronomi Islam</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/11/al-khazin-ahli-matematika-dan-astronomi.html</link><category>Dunia Islam</category><category>Ilmuwan Islam</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Tue, 23 Nov 2010 18:07:49 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-3124909509818704332</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Al Khazin  Ahli Matematika dan Astronomi Islam&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari wilayah Marv, Khurasan, Iran, lahir seorang ahli matematika terkemuka di dunia Islam. Dia bernama Abu Ja'far Muhammad bin Muhammad Al-Husayn Al-Khurasani Al Khazin. Keahliannya dalam menyajikan rumus dan metode perhitungan untuk menguraikan soal-soal rumit begitu dikagumi dan dijadikan rujukan hingga berabad-abad kemudian.&lt;br /&gt;Tidak diketahui secara pasti tahun kelahiran tokoh ini. Akan tetapi, para sejarawan memperkirakan Al-Khazin meninggal dunia antara 961 dan 971 Masehi. Selain dikenal sebagai ahli matematika, semasa hidup ia juga seorang fisikawan dan astronom yang disegani.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada sejumlah catatan sejarah, Al-Khazin merupakan satu dari sekian banyak ilmuwan yang telah lama dilupakan. Namanya baru mencuat kembali pada masa-masa belakangan ini. Di dunia Barat, Al-Khazin dikenal sebagai Alkhazen. Ejaan dalam bahasa Eropa menyebabkan ketidakjelasan identitas antara dia dan Hasan bin Ibnu Haitsam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang merupakan salah satu penyebab nama Al-Khazin sedikit tenggelam. Al-Khazin merupakan ilmuwan zuhud. Dia menjalani hidup sederhana dalam hal makanan, pakaian, dan sebagainya. Ia sering menolak hadiah para penguasa dan pegawai kerajaan agar tidak terlena oleh kesenangan materi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa guru tenar menghiasi rekam jejak Al-Khazin saat masih menimba ilmu. Salah satu gurunya bernama Abu Al-Fadh bin Al-Amid, seorang menteri pada masa Buwayhi di Rayy. Al-Khazin menuangkan pemikirannya dalam sejumlah risalah bidang matematika dan telah memperkaya khazanah keilmuan di dunia Islam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja, misalnya Kitab al-Masail al-Adadiyya yang di dalamnya tercantum karya Ibnu Majah, yaitu al-Fihrist edisi Kairo, Mesir. Karyanya yang paling terkenal adalah Matalib Juziyya mayl alMuyul al-Juziyya wa al-Matali fi al-Kuraal Mustakima. Seluruh kemampuan intelektualnya dia curahkan pada karya ini.&lt;br /&gt;Termasuk perhitungan rumus teorema sinus untuk segitiga. Seperti tercantum dalam buku al-Fihrist edisi Kairo, AlKhazin pernah memberikan komentar ilmiah terhadap buku Element yang ditulis ilmuwan Yunani, Euclides, termasuk bukti-bukti yang diuraikannya menyangkut kekurangan serta kelemahan pemikiran Euclides.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi luar biasa Al-Khazin mencakup peragaan rumus untuk mengetahui permukaan segitiga sebagai fungsi sisisisinya. Ia mengambil metode penghitungan setiap sisi kerucut. Dengan itu, dirinya berhasil memecahkan bentuk persamaan x3 + a2b = cx2. Di ranah matematika, persamaan itu sangat terkenal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan sebuah soal matematika rumit yang diajukan oleh Archimedes dalam bukunya The Sphere and the Cylinder. Sayangnya, seperti disebutkan pada buku Seri Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah, sekian banyak teks dan risalah ilmiah Al-Khazin tak banyak tersisa pada masa kini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa saja yang masih tersimpan, di antaranya komentarnya terhadap buku ke10 dari Nasr Mansur dalam Rasail Abi Nasr ila al-Biruni. Jejak keilmuan Al-Khazin juga dapat ditelusuri dalam lingkup astronomi. Dia mengukir prestasi gemilang melalui karyakaryanya. Salah satu yang berpengaruh adalah buku berjudul Zij as Safa'ih.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Al-Khazin mempersembahkan karya itu untuk salah satu gurunya, Ibnu Al Amid. Ia juga membahas tentang peralatan astronomi untuk mengukur ketebalan udara dan gas (sejenis aerometer). Saat nilai ketebalan bergantung pada suhu udara, alat ini merupakan langkah penting dalam mengukur suhu udara dan membuka jalan terciptanya termometer.&lt;br /&gt;Manuskrip karya Al-Khazin tersebut tersimpan di Berlin, Jerman, namun hilang ketika berkecamuk Perang Dunia II. Oleh astronom terkemuka, Al-Qifti, karya itu dianggap sebagai subyek terbaik dan sangat menarik untuk dipelajari. Buku Zij as Safa'ih menuai banyak pujian dari para ilmuwan.&lt;br /&gt;Menurut Al-Biruni, beragam mekanisme teknis instrumen astronomi berhasil diurai dan dijelaskan dengan baik oleh Al-Khazin. Tokoh ternama ini pun kagum atas sikap kritis Al-Khazin saat mengomentari pemikiran Abu Ma'syar dalam hal yang sama. Tokoh lain yang menyampaikan komentarnya adalah Abu Al-Jud Muhammad Al-Layth.&lt;br /&gt;Ia menyatakan, pendapat Al-Khazin mengenai cara menghitung rumus chord dari sudut satu derajat. Dalam Zij disebutkan, soal itu bisa dihitung apabila chord dibagi menjadi tiga sudut. Sementara itu, Abu Nash Mansur memberikan koreksi atas sejumlah kekurangan yang terdapat pada karya Al-Khazin itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penetapan inklanasi ekliptika tak luput dari perhatian Al-Khazin. Persoalan astronomi ini sudah mengemuka sejak zaman Archimedes. Para ilmuwan Muslim seperti Al-Mahani, meninggal pada 884 Masehi, yang pertama mengangkat kembali tema ini. Oleh AlKhazin, hal itu kembali dipelajari dan dia berhasil menjabarkannya dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Khazin, pembagian bola dengan sebuah bidang datar dalam satu rasio ditentukan dengan menyelesaikan persamaan pangkat tiga. Demikian ilmuwan ini menyelesaikan soal astronomi tadi yang segera mendapatkan pujian dari astronom-astronom lainnya.&lt;br /&gt;Terdapat beberapa aspek penting yang dikupas oleh Al-Khazin dalam buku astronomi yang ia tulis. Dalam Zij, ia menunjukkan penetapan titik derajat tengah atau cakrawala yang kemiringannya tidak diketahui sebelumnya. Ia juga mampu menghitung sudut matahari melalui penentuan garis bujur.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sumbangsih lain adalah menyangkut penentuan azimut atau ukuran sudut arah kiblat dengan memakai peralatan tertentu. Al-Khazin berhasil mengenalkan metode hitung segitiga sferis. Komentar-komentarnya cukup mendalam terhadap karya astronomi lain, misalnya, ia pernah menulis sebuah komentar atas Almagest karya Ptolemeus.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Subjek yang ia bahas adalah tentang sudut kemiringan ekliptik. Sebelumnya, rumus itu dikenalkan Banu Musa pada 868 Masehu di Baghdad, Irak. Ia juga mencermati hasil pengamatan AlMawarudzi, Ali bin Isa Al-Harrani, dan Sanad bin Ali. Hal ini terkait dengan penentuan musim semi dan musim panas. Sementara itu, melalui tulisannya yang berjudul Sirr al-Alamin, Al-Khazin mengembangkan lebih jauh gagasan-gagasan dari Ptolemeus yang terdapat pada buku Planetary.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#999999;"&gt;sumber:republika&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-3124909509818704332?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Khalifah Ali Bin Abi Thalib ra</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/khalifah-ali-bin-abi-thalib-ra.html</link><category>Khulafaur Rasyidin</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Thu, 28 Oct 2010 02:48:50 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-1944421228544109402</guid><description>Khalifah Ali Bin Abi Thalib ra (Tahun 35-40 H/656-661 M)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-1944421228544109402?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Khalifah Utsman Bin 'Affan ra</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/khalifah-utsman-bin-affan-ra.html</link><category>Khulafaur Rasyidin</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Thu, 28 Oct 2010 02:48:08 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-7495800945968747139</guid><description>Khalifah Utsman Bin 'Affan ra (Tahun 23-35 H/644-656 M)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-7495800945968747139?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Khalifah Umar Bin Khaththab ra</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/khalifah-umar-bin-khaththab-ra.html</link><category>Khulafaur Rasyidin</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Thu, 28 Oct 2010 02:51:19 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-538946413993100622</guid><description>&lt;strong&gt;Khalifah Umar Bin Khaththab ra (Tahun 13-23 H/634-644 M)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-538946413993100622?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/khalifah-abu-bakar-ash-shiddiq-ra.html</link><category>Khulafaur Rasyidin</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Thu, 28 Oct 2010 03:04:03 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-7851864943751597372</guid><description>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra (Tahun 11-13 H/632-634 M)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi – radhiyallahu` anhu. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Abu Bakar adalah shahabat Rasulullah – shalallahu`alaihi was salam – yang telah menemani Rasulullah sejak awal diutusnya beliau sebagai Rasul, beliau termasuk orang yang awal masuk Islam. Abu Bakar memiliki julukan “ash-Shiddiq” dan “Atiq”.&lt;br /&gt;Ada yang berkata bahwa Abu Bakar dijuluki “ash-Shiddiq” karena ketika terjadi peristiwa isra` mi`raj, orang-orang mendustakan kejadian tersebut, sedangkan Abu Bakar langsung membenarkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mempersaksikan persahabatan Rasulullah dengan Abu Bakar dalam Al-Qur`an, yaitu dalam firman-Nya : “…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: `Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (QS at-Taubah : 40)&lt;br /&gt;`Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan : “Abu Bakar-lah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”&lt;br /&gt;Allah juga berfirman : “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (az-Zumar : 33)&lt;br /&gt;Al-Imam adz-Dzahabi setelah membawakan ayat ini dalam kitabnya al-Kabaa`ir, beliau meriwayatkan bahwa Ja`far Shadiq berujar :”Tidak ada perselisihan lagi bahwa orang yang datang dengan membawa kebenaran adalah Rasulullah, sedangkan yang membenarkannya adalah Abu Bakar. Masih adakah keistimeaan yang melebihi keistimeaannya di tengah-tengah para Shahabat?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu` anhu, bahwa Rasulullah mengutusnya atas pasukan Dzatus Salasil : “Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya “Siapa manusia yang paling engkau cintai?” beliau bersabda :”Aisyah” aku berkata : “kalau dari lelaki?” beliau menjawab : “ayahnya (Abu Bakar)” aku berkata : “lalu siapa?” beliau menjawab: “Umar” lalu menyebutkan beberapa orang lelaki.” (HR.Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Sa`id radhiyallahu` anhu, bahwa Rasulullah duduk di mimbar, lalu bersabda :”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia dengan apa yang di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya” lalu Abu bakar menangis dan menangis, lalu berkata :”ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu” Abu Sa`id berkata : “yang dimaksud hamba tersebut adalah Rasulullah, dan Abu Bakar adalah orang yang paling tahu diantara kami” Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih (dalam riwayat lain ada tambahan : “selain rabb-ku”), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi ini adalah persaudaraan dalam Islam. Tidak ada di dalam masjid sebuah pintu kecuali telah ditutup, melainkan hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka).” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian malah berkata `kamu adalah pendusta’. Sedangkan Abu Bakar membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) shahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti (oleh seorangpun dari kaum muslimin). (HR. Bukhari)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masa Kekhalifahan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu` anha, bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh. Beliau turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata : “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal.”Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata : “duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata : “Amma bad`du, barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah telah berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul .... kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)&lt;br /&gt;Ibnu Abbas radhiyallahu` anhuma berkata : “demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang mendengarnya melainkan melantunkannya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sa`id bin Musayyab rahimahullah berkata : bahwa Umar ketika itu berkata : “Demi Allah, sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat al-Bukhari lainnya, Umar berkata : “maka orang-orang menabahkan hati mereka sambil tetap mengucurkan air mata. Lalu orang-orang Anshor berkumpul di sekitar Sa`ad bin Ubadah yang berada di Saqifah Bani Sa`idah” mereka berkata : “Dari kalangan kami (Anshor) ada pemimpin, demikian pula dari kalangan kalian!” maka Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarroh mendekati mereka. Umar mulai bicara, namun segera dihentikan Abu Bakar. Dalam hal ini Umar berkata : “Demi Allah, yang kuinginkan sebenarnya hanyalah mengungkapkan hal yang menurutku sangat bagus. Aku khawatir Abu Bakar tidak menyampaikannya” Kemudian Abu Bakar bicara, ternyata dia orang yang terfasih dalam ucapannya, beliau berkata : “Kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri.” Habbab bin al-Mundzir menanggapi : “Tidak, demi Allah kami tidak akan melakukannya, dari kami ada pemimpin dan dari kalian juga ada pemimpin.” Abu Bakar menjawab : “Tidak, kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri. Mereka (kaum Muhajirin) adalah suku Arab yang paling adil, yang paling mulia dan paling baik nasabnya. Maka baiatlah Umar atau Abu Ubaidah bin al-Jarroh.”Maka Umar menyela : “Bahkan kami akan membai`atmu. Engkau adalah sayyid kami, orang yang terbaik diantara kami dan paling dicintai Rasulullah.” Umar lalu memegang tangan Abu Bakar dan membai`atnya yang kemudian diikuti oleh orang banyak. Lalu ada seorang yang berkata : “kalian telah membunuh (hak khalifah) Sa`ad (bin Ubadah).” Maka Umar berkata : “Allah yang telah membunuhnya.” (Riwayat Bukhari)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut `ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata : “sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata : “tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umroh, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. beliau memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar) : “ini putramu (telah datang)!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata : “wahai ayahku, janganlah anda berdiri!” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah bin Abi Jahal, dan al-Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar : “Assalamu`alaika wahai khalifah Rasulullah!” mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata : “wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!” Abu Bakar berkata : “Wahai ayahku, tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah.” Lalu Abu Bakar berkata : “Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?” Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wafatnya&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah) . Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;-Al-Bidayah wan Nihayah, Masa Khulafa’ur Rasyidin Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir. - Shifatush-Shofwah karya Ibnul Jauzi. Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah -Al-Kabaa`ir karya Adz-Dzahabi.  &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber  yudhim.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-7851864943751597372?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Syech Jangkung-Saridin</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/syech-jangkung-saridin.html</link><category>Sunan Kalijaga</category><category>Penyebar Agama Islam</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 13 Oct 2010 03:40:49 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-8074261955059728279</guid><description>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color:black;mso-themecolor:text1"&gt;Syech Jangkung-Saridin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color:black;mso-themecolor:text1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;SIAPA sebenarnya Saridin itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, warga Pati dan sekitarnya mungkin bisa membaca buku Babad Tanah Jawa yang hidup sekitar awal abad ke-16. Sebab, menurut cerita tutur tinular yang hingga sekarang masih diyakini kebenarannya oleh masyarakat setempat, dia disebut-sebut putra salah seorang Wali Sanga, yaitu Sunan Muria dari istri bernama Dewi Samaran.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Siapa wanita itu dan mengapa seorang bayi laki-laki bernama Saridin harus dilarung ke kali? Konon cerita tutur tinular itulah yang akhirnya menjadi pakem dan diangkat dalam cerita terpopuler grup ketoprak di Pati, Sri Kencono. Cerita babad itu menyebutkan, bayi tersebut memang bukan darah daging Sang Sunan dengan istrinya, Dewi Samaran.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terlepas sejauh mana kebenaran cerita itu, dalam waktu perjalanan cukup panjang muncul tokoh Branjung di Desa Miyono yang menyelamatkan dan merawat bayi Saridin hingga beranjak dewasa dan mengakuinya sebagai saudaranya. Cerita pun merebak. Ketika masa mudanya, Saridin memang suka hidup mblayang (berpetualang) sampai bertemu dengan Syeh Malaya yang dia akui sebagai guru sejati.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Syeh Malaya itu tak lain adalah Sunan Kalijaga. Kembali ke Miyono, Saridin disebutkan telah menikah dengan seorang wanita yang hingga sekarang masyarakat lebih mengenal sebutan ”Mbokne (ibunya) Momok” dan dari hasil perkawinan tersebut lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Momok.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sampai pada suatu ketika antara Saridin dan Branjung harus bagi waris atas satu-satunya pohon durian yang tumbuh dan sedang berbuah lebat. Bagi waris tersebut menghasilkan kesepakatan, Saridin berhak mendapatkan buah durian yang jatuh pada malam hari, dan Branjung dapat buah durian yang jatuh pada siang hari.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kiasan&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semua itu jika dicermati hanyalah sebuah kiasan karena cerita tutur tinular itu pun melebar pada satu muara tentang ketidakjujuran Branjung terhadap ibunya Momok. Sebab, pada suatu malam Saridin memergoki sosok bayangan seekor macan sedang makan durian yang jatuh.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan sigap, sosok bayangan itu berhasil dilumpuhkan menggunakan tombak. Akan tetapi, setelah tubuh binatang buas itu tergolek dalam keadaan tak bernyawa, berubah wujud menjadi sosok tubuh seseorang yang tak lain adalah Branjung.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk menghindari cerita tutur tinular agar tidak vulgar, yang disebut pohon durian satu batang atau duren sauwit yang menjadi nama salah satu desa di Kecamatan Kayen, Durensawit, sebenarnya adalah ibunya Momok, tetapi oleh Branjung justru dijahili.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terbunuhnya Branjung membuat Saridin berurusan dengan penguasa Kadipaten Pati. Adipati Pati waktu itu adalah Wasis Joyo Kusumo yang harus memberlakukan penegakan hukum dengan keputusan menghukum Saridin karena dinyatakan terbukti bersalah telah membunuh Branjung.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Meskipun dalam pembelaan Saridin berulang kali menegaskan, yang dibunuh bukan seorang manusia tetapi seekor macan, fakta yang terungkap membuktikan bahwa yang meninggal adalah Branjung akibat ditombak Saridin.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, dia harus menjalani hukuman yang telah diputuskan oleh penguasa Pati.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pulang&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagai murid Sunan Kalijaga yang tentu mempunyai kelebihan dan didorong rasa tak bersalah, kepada penguasa Pati dia menyatakan telah punya istri dan anak. Karena itu, dia ingin pulang untuk menengok mereka.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ulahnya Menjengkelkan Sunan Kalijaga&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ONTRAN - ontran Saridin di perguruan Kudus tidak hanya menjengkelkan para santri yang merasa diri senior, tetapi juga merepotkan Sunan Kudus. Sebagai murid baru dalam bidang agama, orang Miyono itu lebih pintar ketimbang para santri lain.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Belum lagi soal kemampuan dalam ilmu kasepuhan. Hal itu membuat dia harus menghadapi persoalan tersendiri di perguruan tersebut. Dan itulah dia tunjukkan ketika beradu argumentasi dengan sang guru soal air dan ikan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk menguji kewaskitaan Saridin, Sunan Kudus bertanya, “Apakah setiap air pasti ada ikannya?” Saridin dengan ringan menjawab, “Ada, Kanjeng Sunan.”&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mendengar jawaban itu, sang guru memerintah seorang murid memetik buah kelapa dari pohon di halaman. Buah kelapa itu dipecah. Ternyata kebenaran jawaban Saridin terbukti. Dalam buah kelapa itu memang ada sejumlah ikan. Karena itulah Sunan Kudus atau Djafar Sodiq sebagai guru tersenyum simpul.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi murid lain menganggap Saridin lancang dan pamer kepintaran. Karena itu lain hari, ketika bertugas mengisi bak mandi dan tempat wudu, para santri mengerjai dia. Para santri mempergunakan semua ember untuk mengambil air.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saridin tidak enak hati. Karena ketika para santri yang mendapat giliran mengisi bak air, termasuk dia, sibuk bertugas, dia menganggur karena tak kebagian ember. Dia meminjam ember kepada seorang santri.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun apa jawab santri itu? ”Kalau mau bekerja, itu kan ada keranjang.” Dasar Saridin. Keranjang itu dia ambil untuk mengangkut air. Dalam waktu sekejap bak mandi dan tempat wudu itu penuh air. Santri lain pun hanya bengong.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam WC&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cerita soal kejadian itu dalam sekejap sudah diterima Sunan Kudus. Demi menjaga kewibawaan dan keberlangsungan belajar para santri, sang guru menganggap dia salah. Dia pun sepantasnya dihukum.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sunan Kudus pun meminta Saridin meninggalkan perguruan Kudus dan tak boleh lagi menginjakkan kaki di bumi Kudus. Vonis itu membuat Saridin kembali berulah. Dia unjuk kebolehan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tak tanggung-tanggung, dia masuk ke lubang WC dan berdiam diri di atas tumpukan ninja. Pagi-pagi ketika ada seorang wanita di lingkungan perguruan buang hajat, Saridin berulah. Dia memainkan bunga kantil, yang dia bawa masuk ke lubang WC, ke bagian paling pribadi wanita itu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena terkejut, perempuan itu menjerit. Jeritan itu hingga menggegerkan perguruan. Setelah sumber permasalahan dicari, ternyata itu ulah Saridin. Begitu keluar dari lubang WC, dia dikeroyok para santri yang tak menyukainya. Dia berupaya menyelamatkan diri. Namun para santri menguber ke mana pun dia bersembunyi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lagi-lagi dia menjadi buronan. Selagi berkeluh kesah, menyesali diri, dia bertemu kembali dengan sang guru sejati, Syekh Malaya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sang guru menyatakan Saridin terlalu jumawa dan pamer kelebihan. Untuk menebus kesalahan dan membersihkan diri dari sifat itu, dia harus bertapa mengambang atau mengapung) di Laut Jawa.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Padahal, dia tak bisa berenang. Syekh Malaya pun berlaku bijak. Dua buah kelapa dia ikat sebagai alat bantu untuk menopang tubuh Saridin agar tak tenggelam.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam cerita tutur-tinular disebutkan, setelah berhari-hari bertapa di laut dan hanyut terbawa ombak akhirnya dia terdampar di Palembang. Cerita tidak berhenti di situ. Karena, dalam petualangan berikutnya, Saridin disebut-sebut sampai ke Timur Tengah.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lulang Kebo Landoh Tak Tembus Senjata&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ATAS jasanya menumpas agul-agul siluman Alas Roban, Saridin mendapat hadiah dari penguasa Mataram, Sultan Agung, untuk mempersunting kakak perempuannya, Retno Jinoli.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, wanita itu menyandang derita sebagai bahu lawean. Maksudnya, lelaki yang menjadikannya sebagai istri setelah berhubungan badan pasti meninggal.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia harus berhadapan dengan siluman ular Alas Roban yang merasuk ke dalam diri Retno Jinoli. Wanita trah Keraton Mataram itu resmi menjadi istri sah Saridin dan diboyong ke Miyono berkumpul dengan ibunya, Momok.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saridin membuka perguruan di Miyono yang dalam waktu relatif singkat tersebar luas sampai di Kudus dan sekitarnya. Kendati demikian, Saridin bersama anak lelakinya, Momok, beserta murid-muridnya, tetap bercocok tanam.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagai tenaga bantu untuk membajak sawah, Momok minta dibelikan seekor kerbau milik seorang warga Dukuh Landoh. Meski kerbau itu boleh dibilang tidak lagi muda umurnya, tenaganya sangat diperlukan sehingga hampir tak pernah berhenti dipekerjakan di sawah.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mungkin karena terlalu diforsir tenaganya, suatu hari kerbau itu jatuh tersungkur dan orang-orang yang melihatnya menganggap hewan piaraan itu sudah mati. Namun saat dirawat Saridin, kerbau itu bugar kembali seperti sedia kala.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Membagi&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam peristiwa tersebut, masalah bangkit dan tegarnya kembali kerbau Landoh yang sudah mati itu konon karena Saridin telah memberikan sebagian umurnya kepada binatang tersebut. Dengan demikian, bila suatu saat Saridin yang bergelar Syeh Jangkung meninggal, kerbau itu juga mati.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hingga usia Saridin uzur, kerbau itu masih tetap kuat untuk membajak di sawah. Ketika Syeh Jangkung dipanggil menghadap Yang Kuasa, kerbau tersebut harus disembelih. Yang aneh, meski sudah dapat dirobohkan dan pisau tajam digunakan menggorok lehernya, ternyata tidak mempan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bahkan, kerbau itu bisa kembali berdiri. Kejadian aneh itu membuat Momok memberikan senjata peninggalan Branjung. Dengan senjata itu, leher kerbau itu bisa dipotong, kemudian dagingnya diberikan kepada para pelayat.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kebiasan membagi-bagi daging kerbau kepada para pelayat untuk daerah Pati selatan, termasuk Kayen, dan sekitarnya hingga 1970 memang masih terjadi. Lama-kelamaan kebiasaan keluarga orang yang meninggal dengan menyembelih kerbau hilang.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kembali ke kerbau Landoh yang telah disembelih saat Syeh Jangkung meninggal. Lulang (kulit) binatang itu dibagi-bagikan pula kepada warga. Entah siapa yang mulai meyakini, kulit kerbau itu tidak dimasak tapi disimpan sebagai piandel.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Barangsiapa memiliki lulang kerbau Landoh, konon orang tersebut tidak mempan dibacok senjata tajam. Jika kulit kerbau itu masih lengkap dengan bulunya. Keyakinan itu barangkali timbul bermula ketika kerbau Landoh disembelih, ternyata tidak bisa putus lehernya. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, serif; line-height: normal; "&gt;&lt;a href="javascript:void(0)"&gt;Publish Post&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 18px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;sumber suaramerdekadotcom&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-8074261955059728279?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Sunan Geseng - Ki Ageng Gribik</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/sunan-geseng-ki-ageng-gribik.html</link><category>Penyebar Agama Islam</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 13 Oct 2010 03:29:16 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-4949590634209243623</guid><description>&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333;mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;b&gt;Sunan Geseng - Ki Ageng Gribik.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333;mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333;mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-size: 12.5pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Calibri;color:#333333;mso-ansi-language:EN-US;mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Menurut versi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%; font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333; mso-ansi-language:EN-US;mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%; font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333; mso-ansi-language:EN-US;mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Babad Tanah Jawi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333;mso-ansi-language: EN-US;mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;-- Sunan Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng namanya. Nama asli petani penyadap nira ini adalah Ki Cokrojoyo. Alkisah, dalam pengembaraannya, Sunan Kalijaga terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi setelah menyadap nira.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333;mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan. Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah menjadi padang ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar padang ilalang, tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Tubuhnya hangus, alias&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;geseng&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;, dimakan api. Tapi, penyadap nira ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit. Sunan Kalijaga membangunkannya dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Julukan itu berangkat dari pilihan Sunan Geseng untuk tinggal di rumah beratap&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;gribik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;--anyaman daun nyiur. Menurut legenda setempat, ketika Ki Ageng Gribik pulang dari menunaikan ibadah haji, ia melihat penduduk Jatinom kelaparan. Ia membawa sepotong kue apem, dibagikan kepada ratusan orang yang kelaparan. Semuanya kebagian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Kia Ageng Gribik meminta warga yang kelaparan makan secuil kue apem seraya mengucapkan zikir:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Ya-Qowiyyu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;(Allah Mahakuat). Mereka pun kenyang dan sehat. Sampai kini, masyarakat Jatinom menghidupkan legenda Ki Ageng Gribik itu dengan menyelenggarakan upacara ''&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Ya-Qowiyyu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;'' pada setiap bulan Syafar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Warga membikin kue apem, lalu disetorkan ke masjid. Apem yang terkumpul jumlahnya mencapai ratusan ribu. Kalau ditotal, beratnya sekitar 40 ton. Puncak upacara berlangsung usai salat Jumat. Dari menara masjid, kue apem disebarkan para santri sambil berzikir,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Ya-Qowiyyu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;.... Ribuan orang yang menghadiri upacara memperebutkan apem ''gotong royong'' itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333;mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333;mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;sumber suaramerdeka dot com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-4949590634209243623?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ki Pandarang-Sunan Tembayat</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/ki-pandarang-sunan-tembayat.html</link><category>Penyebar Agama Islam</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 13 Oct 2010 03:28:10 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-5401713278681944732</guid><description>&lt;div&gt;&lt;b&gt;Ki Pandarang-Sunan Tembayat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-size: 12.5pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Calibri;color:#333333;mso-ansi-language:EN-US;mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA"&gt;Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J. De Graaf dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.5pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:Calibri;color:#333333;mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;''Ia bersama istrinya mengundurkan diri dari dunia ramai,'' tulis De Graaf dan Pigeaud dalam buku&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;Kerajaan Islam Pertama di Jawa&lt;/i&gt;. ''Pasangan bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari berdakwah,'' kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden, Negeri Belanda, itu menambahkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci dengan sebutan Sunan Tembayat. Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ. Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. ''Kemudian, pada 1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam Tembayat,'' tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari Semarang yang dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti oleh D.A. Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum Leiden, Negeri Belanda. ''Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,'' tulis De Graaf, yang dijuluki ''Bapak Sejarah Jawa''.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sumber suaramerdeka dot com&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-5401713278681944732?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sunan Gunung jati</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/08/sunan-gunung-jati.html</link><category>Walisongo</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 18 Aug 2010 23:27:12 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-8222777449247475711</guid><description>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Gunung jati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Asal - Usul&lt;br /&gt;Sebelum era Sunan Gunung Jati berdakwah di Jawa Barat. Ada seorang ulama besar dari Bagdad telah datang di daerah Cirebon bersama duapuluh dua orang muridnya. Ulama besar itu bernama Syekh Kahfi. Ulama inilah yang lebih dahulu menyiarkan agama Islam di sekitar daerah Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kisah, putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran bernama Pangeran Walangsungsang dan adiknya Rara Santang pada suatu malam mendapat mimpi yang sama. Mimpi itu terulang hingga tiga kali yaitu bertemu dengan Nabi Muhammad yang mengajarkan agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Nabi Muhammad yang agung dan caranya menerangkan Islam demikian mempersona membuat kedua anak muda itu merasa rindu. Tapi mimpi itu hanya terjadi tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti orang kehausan, kedua anak muda itu mereguk air lebih banyak lagi, air yang akan menyejukkan jiwanya itu agama Islam. Kebetulan mereka telah mendengar adanya Syekh Dzatul Kahfi atau lebih muda disebut Syekh Datuk Kahfi yang membuka perguruan Islam di Cirebon. Mereka mengutarakan maksudnya kepada Prabu Siliwangi untuk berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, mereka ingin memperdalam agama Islam seperti ajaran Nabi Muhammad SAW. Tapi keinginan mereka ditolak oleh Prabu Siliwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Walangsungsang dan adiknya nekad, keduanya melarikan diri dari istana dan pergi berguru kepada Syekh Datuk Kahfi di Gunung Jati. Setelah berguru beberapa lama di Gunung Jati, Pangeran Walangsungsang diperintahkan oleh Syekh Datuk Kahfi untuk membuka hutan di bagian selatan Gunung Jati. Pangeran Walangsungsang adalah seorang pemuda sakti, tugas itu diselesaikannya hanya dalam beberapa hari. Daerah itu dijadikan pendukuhan yang makin hari banyak orang berdatangan menetap dan menjadi pengikut Pangeran Walangsungsang. Setelah daerah itu ramai Pangeran Walangsungsang diangkat sebagai kepala Dukuh dengan gelar Cakrabuana. Daerahnya dinamakan Tegal Alang-alang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menetap di Tegal Alang-alang terdiri dari berbagai rasa atau keturunan, banyak pula pedagang asing yang menjadi penduduk tersebut, sehingga terjadilah pembauran dari berbagai ras dan pencampuran itu dalam bahasa Sunda disebut Caruban. Maka Legal Alang-alang disebut Caruban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar rakyat Caruban mata pencariannya adalah mencari udang kemudian dibuatnya menjadi petis yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Sunda Petis dari air udang itu, Cai Rebon. Daerah Carubanpun kemudian lebih dikenal sebagai Cirebon hingga sekarang ini. Setelah dianggap memenuhi syarat, Pangeran Cakrabuana dan Rarasantang di perintah Datuk Kahfi untuk melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Di Kota Suci Mekkah, kedua kakak beradik itu tinggal di rumah seorang ulama besar bernama Syekh Bayanillah sambil menambah pengetahuan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu mengerjakan tawaf mengelilingi Ka’bah kedua kakak beradik itu bertemu dengan seorang Raja Mesir bernama Sultan Syarif Abdullah yang sama-sama menjalani Ibadah haji. Raja Mesir itu tertarik pada wajah Rarasantang yang mirip mendiang istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah ibadah haji diselesaikan Raja Mesir itu melamar Rarasantang pada Syekh Bayanillah. Rarasantang dan Pangeran Cakrabuana tidak keberatan. Maka dilangsungkanlah pernikahan dengan cara Mazhab Syafi’i. Nama Rarasantang kemudian diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari perkawinan itu lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Cakrabuana sempat tinggal di Mesir selama tiga tahun. Kemudian pulang ke Jawa dan mendirikan Negeri Caruban Larang. Negeri Caruban Larang adalah perluasan dari daerah Caruban atau Cirebon, pola pemerintahannya menggunakan azas Islami. Istana negeri itu dinamakan sesuai dengan putri Pangeran Cakrabuana yaitu Pakungwati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat Negeri Caruban Larang telah terkenal ke seluruh Tanah Jawa, terdengar pula oleh Prabu Siliwangi selaku penguasa daerah Jawa Barat. Setelah mengetahui negeri baru tersebut dipimpin putranya sendiri, maka sang Raja tidak keberatan walau hatinya kurang berkenan. Sang Prabu akhirnya juga merestui tampuk pemerintahan putranya, bahkan sang Prabu memberinya gelar Sri Manggana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam usia muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir, tapi anak muda yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud pulang ke tanah Jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu berada di negeri Mesir, Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulama besar didaratan Timur Tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya yaitu Jawa, ia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perjuangan Sunan Gunung Jati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali terjadi kerancuan antara nama Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati. Orang menganggap Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah satu, tetapi yang benar adalah dua orang. Syarif Hidayatullah cucu Raja Pajajaran adalah seorang penyebar agama Islam di Jawa Barat yang kemudian disebut Sunan Gunungjati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Fatahillah adalah seorang pemuda Pasai yang dikirim Sultan Trenggana membantu Sunan Gunungjati berperang melawan penjajah Portugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti bahwa Fatahillah bukan Sunan Gunungjati adalah makam dekat Sultan Gunungjati yang ada tulisan Tubagus Pasai Fathullah atau Fatahillah atau Faletehan menurut lidah orang Portugis. Syarif Hidayatullah dan ibunya Syarifah Muda’im datang di negeri Caruban Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di Gujarat dan Pasai untuk menambah pengalaman. Kedua orang itu disambut gembira oleh Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Syekh Datuk Kahfi sudah wafat, guru Pangeran Cakrabuana dan Syarifah Muda’im itu dimakamkan di Pasambangan. Dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya, Syarifah Muda’im minta agar diijinkan tinggal di Pasambangan atau Gunungjati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarifah Muda’im dan putranya yaitu Syarif Hidayatullah meneruskan usaha Syekh Datuk Kahfi membuka Pesantren Gunungjati. Sehingga kemudian dari Syarif Hidayatullah lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunungjati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah saat yang ditentukan, Pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya yaitu Nyi Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Selanjutnya yaitu pada tahun 1479, karena usianya sudah lanjut Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan Negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhunan artinya orang yang dijunjung tinggi. Disebutkan, pada tahun pertama pemerintahannya Syarif Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya yaitu Prabu Siliwangi. Sang Prabu diajak masuk Islam kembali tapi tidak mau. Mesti Prabu Siliwangi tidak mau masuk Islam, dia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama Islam di wilayah Pajajaran. Syarif Hidayatullah kemudian melanjutkan perjalanan ke Serang. Penduduk Serang sudah ada yang masuk Islam dikarenakan banyaknya saudagar dari Arab dan Gujarat yang sering singgah ke tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Syarif Hidayatullah disambut baik oleh adipati Banten. Bahkan Syarif Hidayatullah dijodohkan dengan putri Adipati Banten yang bernama Nyi Kawungten. Dari perkawinan inilah kemudian Syarif Hidayatullah di karuniai orang putra&lt;br /&gt;yaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking. Dalam menyebarkan agama islam di Tanah Jawa, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati tidak bekerja sendirian, beliau sering ikut bermusyawarah dengan anggota wali lainnya di Masjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdrinya Masjid Demak. Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para Wali lainnya ini akhirnya Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati dan ia memproklamirkan diri sebagai Raja yang pertama dengan gelar Sultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berdirinya Kesultanan tersebut Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan lewat Kadipaten Galuh. Tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan oleh Raja Pajajaran. Raja Pajajaran tak peduli siapa yang berdiri di balik Kesultanan Cirebon itu maka dikirimkannya pasukan prajurit pilihan yang dipimpin oleh Ki Jagabaya. Tugas mereka adalah menangkap Syarif Hidayatullah yang dianggap lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan Pajajaran. Tapi usaha ini tidak berhasil, Ki Jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke Pajajaran, mereka masuk Islam dan menjadi pengikut Syarif Hidayayullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka makin bertambah besarlah pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti : Surantaka, Japura, Wana Giri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri menjadi wilayah Kasultanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya Pelabuhan Muara Jati, makin bertambah besarlah pengaruh Kasultanan Cirebon. Banyak pedagang besar dari negeri asing datang menjalin persahabatan. Diantaranya dari negeri Tiongkok. Salah seorang keluarga istana Cirebon kawin dengan Pembesar dari negeri Cina yang berkunjung ke Cirebon yaitu Ma Huan. Maka jalinan antara Cirebon dan negeri Cina makin erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Sunan Gunungjati pernah diundang ke negeri Cina dan kawin dengan putri Kaisar Cina yang bernama Putri Ong Tien. Kaisar Cina yang pada saat itu dari dinasti Ming juga beragama Islam. Dengan perkawinan itu sang Kaisar ingin menjalin erat hubungan baik antara Cirebon dan negeri Cina, hal ini ternyata menguntungkan bangsa Cina untuk dimanfaatkan dalam dunia perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah kawin dengan Sunan Gunungjati, Putri Ong Tien di ganti namanya menjadi Nyi Ratu Rara Semanding. Kaisar ayah Putri Ong Tien ini membekali putranya dengan harta benda yang tidak sedikit, sebagian besar barang-barang peninggalan putri Ong Tien yang dibawa dari negeri Cina itu sampai sekarang masih ada dan tersimpan di tempat yang aman. Istana dan Masjid Cirebon kemudian dihiasi dan diperluas lagi dengan motif-motif hiasan dinding dari negeri Cina. Masjid Agung Sang Ciptarasa dibangun pada tahun 1480 atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati atau istri Sunan Gunungjati. Dari pembangunan masjid itu melibatkan banyak pihak, diantaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh Raden Patah. Dalam pembangunan itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membangun masjid, diserukan dengan membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan Cirebon dengan daerah-daerah Kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan Islam di seluruh Tanah Pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1511 Malaka diduduki oleh bangsa Portugis. Selanjutnya mereka ingin meluaskan kekuasaan ke Pulau Jawa. Pelabuhan Sunda Kelapa yang jadi incaran mereka untuk menancapkan kuku penjajahan. Demak Bintoro tahu bahaya besar yang mengancam kepulauan Nusantara. Oleh karena itu Raden Patah mengirim Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor untuk menyerang Portugis di Malaka. Tapi usaha itu tak membuahkan hasil, persenjataan Portugis terlalu lengkap, dan mereka terlanjur mendirikan benteng yang kuat di Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Adipati Unus kembali ke Jawa, seorang pejuang dari Pasai (Malaka) bernama Fatahillah ikut berlayar ke Pulau Jawa. Pasai sudah tidak aman lagi bagi mubaligh seperti Fatahillah karena itu beliau ingin menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Patah wafat pada tahun 1518, berkedudukannya digantikan oleh Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, baru saja beliau dinobatkan muncullah pemberontakanpemberontakan dari daerah pedalaman, didalam usaha memadamkan pemberontakan itu Pangeran Sabrang Lor meninggal dunia, gugur sebagai pejuang sahid. Pada tahun 1521 Sultan Demak di pegang oleh Raden Trenggana putra Raden Patah yang ketiga. Di dalam pemerintahan Sultan Trenggana inilah Fatahillah diangkat sebagai Panglima Perang yang akan ditugaskan mengusir Portugis di Sunda Kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatahillah yang pernah berpengalaman melawan Portugis di Malaka sekarang harus mengangkat senjata lagi. Dari Demak mula-mula pasukan yang dipimpinnya menuju Cirebon. Pasukan gabungan Demak Cirebon itu kemudian menuju Sunda Kelapa yang sudah dijarah Portugis atas bantuan Pajajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Pajajaran membantu Portugis ? Karena Pajajaran merasa iri dan dendam pada perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas, ketika Portugis menjanjikan bersedia membantu merebut wilayah Pajajaran yang dikuasai Cirebon maka Raja Pajajaran menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Pasukan gabungan Demak-Cirebon itu tidak dipimpin oleh Sunan Gunungjati ? Karena Sunan Gunungjati tahu dia harus berperang melawan kakeknya sendiri, maka diperintahkannya Fatahillah memimpin serbuan itu. Pengalaman adalah guru yang terbaik, dari pengalamannya bertempur di Malaka, tahulah Fatahillah titik-titik lemah tentara dan siasat Portugis. Itu sebabnya dia dapat memberi komando dengan tepat dan setiap serangan Demak-Cirebon selalu membawa hasil gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Portugis dan Pajajaran kalah, Portugis kembali ke Malaka, sedangkan Pajajaran cerai berai tak menentu arahnya. Selanjutnya Fatahillah ditugaskan mengamankan Banten dari gangguan para pemberontak yaitu sisa-sisa pasukan Pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan karena Fatahillah dibantu putra Sunan Gunungjati yang bernama Pangeran Sebakingking. Di kemudian hari Pangeran Sebakingking ini menjadi penguasa Banten dengan gelar Pangeran Hasanuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatahillah kemudian diangkat segenap Adipati di Sunda Kelapa. Dan merubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, karena Sunan Gunungjati selaku Sultan Cirebon telah memanggilnya untuk meluaskan daerah Cirebon agar Islam lebih merata di Jawa Barat. Berturut-turut Fatahillah dapat menaklukkan daerah TALAGA sebuah negara kecil yang dikuasai raja Budha bernama Prabu Pacukuman. Kemudian kerajaan Galuh yang hendak meneruskan kebesaran Pajajaran lama. Raja Galuh ini bernama Prabu Cakraningrat dengan senopatinya yang terkenal yaitu Aria Kiban. Tapi Galuh tak dapat membendung kekuatan Cirebon, akhirnya raja dan senopatinya tewas dalam peperangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan demi kemenangan berhasil diraih Fatahillah. Akhirnya Sunan Gunungjati memanggil ulama dari Pasai itu ke Cirebon. Sunan Gunungjati menjodohkan Fatahillah dengan Ratu Wulung Ayu. Sementara kedudukan Fatahillah selaku Adipati Jayakarta kemudian diserahkan kepada Ki Bagus Angke. Ketika usia Sunan Gunungjati sudah semakin tua, beliau mengangkat putranya yaitu Pangeran Muhammad Arifin sebagai Sultan Cirebon ke dua dengan gelar Pangeran Pasara Pasarean. Fatahillah yang di Cirebon sering disebut Tubagus atau Kyai Bagus Pasai diangkat menjadi penasehat sang Sultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Sunan Gunungjati lebih memusatkan diri pada penyiaran dakwah Islam di Gunungjati atau Pesantren Pasambangan. Namun lima tahun sejak pengangkatannya mendadak Pangeran Muhammad Arifin meninggal dunia mendahului ayahandanya. Kedudukan Sultan kemudian diberikan kepada Pangeran Sebakingking yang bergelar sultan Maulana Hasanuddin, dengan kedudukannya di Banten. Sedang Cirebon walaupun masih tetap digunakan sebagai kesultanan tapi Sultannya hanya bergelar Adipati. Yaitu Adipati Carbon I. Adpati Carbon I ini adalah menantu Fatahillah yang diangkat sebagai Sultan Cirebon oleh Sunan Gunungjati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nama aslinya Adipati Carbon adalah Aria Kamuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Gunungjati wafat pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, dan pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun kemudian wafat pula Kyai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan ditempat yang sama, makam kedua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah riwayat perjuangan Sunan Gunungjati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-8222777449247475711?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Sunan Muria</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/08/sunan-muria.html</link><category>Walisongo</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 18 Aug 2010 23:30:21 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-2532256868855308910</guid><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Muria&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Asal usul Sunan Muria&lt;br /&gt;Beliau adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letaknya di sebelah utara kota Kudus. Menurut Solichim Salam, sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliaulah satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sakti Mandraguna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Sunan Muria itu adalah Wali yang sakti, kuat fisiknya dapat dibuktikan dengan letak padepokannya yang terletak di atas gunung. Menurut pengalaman penulis jarak antara kaki undag-undagan atau tangga dari bawah bukit sampai ke makam Sunan Muria (tidak kurang dari 750 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah, jika Sunan Muria dan istrinya atau dengan muridnya setiap hari harus naik-turun, turun-naik guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat. Soalnya menunggang kuda tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal Sunan Muria. Harus jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian tinggi, demikian pula murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti bahwa Sunan Muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah Perkawinan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah putri Sunan Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat karena ketinggian ilmunya, tempat tinggalnya di Juana. Demikian saktinya Sunan Ngerang ini sehingga Sunan Muria dan Sunan Kudus sampai-sampai berguru kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas usia Dewi Roroyono yang genap dua puluh tahun. Murid-murid diundang semua. Seperti : Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak, Kapa dan adiknya Gentiri. Tetangga dekat juga diundang, demikian pula sanak kadang yang dari jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tamu berkumpul Dewi Roroyono dan adiknya yaitu Dewi Roro Pujiwati keluar menghidangkan makanan dan minuman. Keduanya adalah dara-dara yang cantik rupawan. Terutama Dewi Roroyono yang berusia dua puluh tahun, bagaikan bunga yang sedang mekarmekarnya. Bagi Sunan Kudus dan Sunan Muria yang sudah berbekal ilmu agama dapat menahan pandangan matanya sehingga tidak terseret oleh godaan setan. Tapi seorang murid Sunan Ngerang yang lain yaitu Adipati Pathak Warak memandang Dewi Roroyono dengan mata tidak berkedip melihat kecantikan gadis itu. Sewaktu menjadi cantrik atau murid Sunan Ngerang, yaitu ketika Pathak Warak belum menjadi Adipati, Roroyono masih kecil, belum nampak benar kecantikannya yang mempersona, sekarang, gadis itu benar-benar membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dibakar api asmara yang menggelora, Pathak Warak tidak tahan lagi. Dia menggoda Roroyono dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Lebih-lebih setelah lelaki itu bertindak kurang ajar. Tentu saja Roroyono merasa malu sekali, lebih-lebih ketika lelaki itu berlaku kurang ajar dengan memegangi bagian-bagian tubuhnya yang tak pantas disentuh. Si gadis naik pitam, nampan berisi minuman yang dibawanya sengaja ditumpahkan ke pakaian sang Adipati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi dilihatnya para tamu menertawakan kekonyolannya itu, diapun semakin malu. Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis itu adalah putri gurunya. Roroyono masuk ke dalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena dipermalukan oleh Pathak Warak. Malam hari tamu-tamu dari dekat sudah pulang ke tempatnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu dari jauh terpaksa menginap dirumah Sunan Ngerang, termasuk Pathak Warak dan Sunan Muria. Namun hingga lewat tengah malam Pathak Warak belum dapat memejamkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pathak Warak kemudian bangkit dari tidurnya mengendap-endap ke kamar Roroyono. Gadis itu disiramnya sehingga tak sadarkan diri, kemudian melalui genteng Pathak Warak melorot turun dan membawa lari gadis itu melalui jendela. Dewi Roroyono dibawa lari ke Mandalika, wilayah Keling atau Kediri. Setelah Sunan Ngerang mengetahui bahwa putrinya di culik oleh Pathak Warak, maka beliau berikrar siapa saja yang berhasil membawa putrinya itu bila perempuan akan dijadikan saudara Dewi Roroyono. Tak ada yang menyatakan kesanggupannya. Karena semua orang telah maklum akan kehebatan dan kekejaman Pathak Warak. Hanya Sunan Muria yang bersedia memenuhi harapan Sunan Ngerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan berusaha mengambil Diajeng Roroyono dari tangan Pathak Warak,” Kata Sunan Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ditengah perjalanan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri, adik seperguruan yang lebih dahulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Kedua orang itu merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju arah daerah Keling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Kakang tampak tergesa-gesa ?” tanya Kapa. Sunan Muria lalu menceritakan penculikan Dewi Roroyono yang dilakukan oleh Pathak Warak. Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua. Keduanya lantas menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi Roroyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakang sebaiknya pulang ke Padepokan Gunung Muria. Murid-murid Kakang sangat membutuhkan bimbingan. Biarlah kami yang berusaha merebut di Ajeng Roroyono kembali. Kalau berhasil Kakang tetap berhak mengawininya, kami hanya sekedar membantu.” Demikian kata Kapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih sanggup merebutnya sendiri,” Ujar Sunan Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam juga lebih penting, percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali.” kata Kapa ngotot. Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus menengok para santrinya di Padepokan Gunung Muria. Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri ternyata meminta bantuan seorang Wiku Lodhang di pulau Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang tandingannya. Usaha mereka berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang. Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang. Ingin mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Ditengah jalan beliau bertemu dengan Adipati Pathak Warak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Pathak Warak berhenti kau !” Bentak Sunan Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pathak Warak yang sedang naik kuda terpaksa berhenti karena Sunan Muria menghadang di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggir ! Jangan menghalangi jalanku !” Hardik Pathak Warak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh, asal kau kembalikan Dewi Roroyono !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Goblok ! Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri ! Kini aku hendak mengejar mereka !” Umpat Pathak Warak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa kau mengejar mereka ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merebutnya kembali !” jawab Pathak Warak dengan sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu langkahi dulu mayatku, Roroyono telah dijodohkan denganku !” Ujar Sunan Muria sambil pasang kuda-kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi Pathak Warak melompat dari punggung kuda. Dia merangsak ke arah Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan putra Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak telah jatuh atau roboh di tanah dalam keadaan fatal. Seluruh kesaktiannya lenyap dan ia menjadi lumpuh tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana, kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara pernikahanpun segera dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapa da Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah Tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang kehidupannya serba berkecukupan. Sedang Sunan Muria segera memboyong istrinya ke Pedepokan Gunung Muria. Mereka hidup bahagia, karena merupakan pasangan yang ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari Keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang malam mereka tak dapat tidur. Wajah wanita itu senantiasa terbayang. Namun karena wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya penyesalan yang menghujam didada. Mengapa dulu mereka buru-buru menawarkan jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang nenikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehormatan mereka (kemaluan). Andaikata Kapa dan Gentiri tidak menatap terus kearah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona, dan tidak terjerat oleh Iblis yang memasang perangkap pada pandangan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Kapa dan Gentiiri benar-benar telah dirasuki Iblis. Mereka bertekad hendak merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat untuk menjadikan wanita itu sebagai istri bersama secara bergiliran. Sungguh keji rencana mereka. Gentiri berangkat lebih dulu ke Gunung Muria. Namun ketika ia hendak melaksanakan niatnya dipergoki oleh murid-murid Sunan Muria, terjadilah pertempuran dasyart. Apalagi ketika Sunan Muria keluar menghadapi Gentiri, suasana menjadi semakin panas, akhirnya Gentiri tewas menemui ajalnya di puncak Gunung Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi tidak membuat surut niat Kapa. Kapa cukup cerdik. Dia datang ke Gunung Muria secara diam-diam di malam hari. Tak seorangpun yang mengetahuinya. Kebetulan pada saat itu Sunan Muria dan beberapa murid pilihannya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Kapa menyirap murid-murid Sunan Muria yang berilmu rendah .......... yang ditugaskan menjaga Dewi Roroyono. Kemudian dengan mudahnya Kapa menculik dan membawa wanita impiannya itu ke Pulau Seprapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, sepulangnya dari Demak Bintoro, Sunan Muria bermaksud mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang. Datuk di Pulau Seprapat. Ini biasa dilakukannya bersahabat dengan pemeluk agama lain bukanlah suatu dosa. Terlebih sang Wiku itu pernah menolongnya merebut Dewi Roroyono dari Pathak Warak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ajaran Sunan Kalijaga yang mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dalam suatu negeri. Lalu ditunjukkan akhlak Islam yang mulia dan agung. Bukannya berdebat tentang perbedaan agama itu sendiri. Dengan menerapkan ajaran-ajaran akhlak yang mulia itu nyatanya banyak pemeluk agama lain yang pada akirnya tertarik dan masuk Islam secara suka rela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, kedatangan Kapa ke pulau Seprapat itu tidak di sambut baik oleh Wiku Lodhang Datuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memalukan ! benar-benar nista perbuatanmu itu ! Cepat kembalikan istri kakang seperguruanmu sendiri itu !” hardik Wiku Lodhang Datuk dengan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapa guru ini bagaimana, bukankah aku ini muridmu ? Mengapa tidak kau bela ?” protes Kapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ? Membela perbuatan durjana ?” Bentak Wiku Lodhang Datuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai matipun aku takkan sudi membela kebejatan budi perkerti walau pelakunya itu muridku sendiri !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan antara guru dan murid itu berlangsung lama. Tanpa mereka sadari Sunan Muria sudah sampai di tempat itu. Betapa terkejutnya Sunan Muria melihat istrinya sedang tergolek ditanah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Sementara Kapa dilihatnya sedang adu mulut dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang Datuk menjauh, melangkah menuju Dewi Roroyono untuk membebaskan dari belenggu yang dilakukan Kapa. Bersamaan dengan selesainya sang Wiku membuka tali yang mengikat tubuh Dewi Roroyono. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, serangan dengan mengerahkan aji kesaktian yang dilakukan Kapa berbalik menghantam dirinya sendiri. Itulah ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Mampu membalikkan serangan lawan. Karena Kapa mempergunakan aji pemungkas yaitu puncak kesaktian yang dimilikinya maka ilmu akhirnya merengut nyawa nya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya Tuan Wiku ….. “ ujar Sunan Muria agak menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mengapa, sudah sepantasnya dia menerima hukuman ini. Menyesal aku telah memberikan ilmu kepadanya. Ternyata ilmu itu digunakan untuk jalan kejahatan,” Guman sang Wiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah gontai sang Wiku mengangkat jenazah muridnya. Bagaimanapun Kapa adalah muridnya, pantaslah kalau dia menguburkannya secara layak. Pada akhirnya Dewi Roroyono dan Sunan Muria kembali ke padepokan dan hidup berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-2532256868855308910?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sunan Kudus</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/08/sunan-kudus.html</link><category>Walisongo</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 18 Aug 2010 23:26:08 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-6540743326099324405</guid><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Kudus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Asal - Usul&lt;br /&gt;Menurut salah satu sumber, Sunan Kudus adalah Raden Usman haji yang bergelar Sunan Ngudung dari Jipang Panolan. Ada yang mengatakan letak Jipang Panolan ini di sebelah utara kota Blora. Didalam Babad Tanah Jawa, disebutkan bahwa Sunan Ngudung pernah memimpin pasukan Demak Bintoro yang berperang melawan pasukan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Ngudung selaku senopati Demak berhadapan dengan Raden Timbal atau Adipati Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran yang sengit dan saling mengeluarkan aji kesaktian itu Sunan Ngudung gugur sebagai pahlawan sahid. Kedudukannya sebagai senopati Demak kemudian digantikan oleh Sunan Kudus yaitu putranya sendiri bernama asli Ja’far Sodiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Demak hampir saja menderita kekalahan, namun berkat siasat Sunan Kalijaga, dan bantuan pusaka dari Raden Patah yang dibawa dari Palembang kedudukan Demak dan Majapahit akhirnya berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya melalui jalan diplomasi Patih Wanasalam dan Sunan Kalijaga, peperangan itu dapat dihentikan. Adipati Terung yang memimpin lasykar Majapahit diajak damai dan bergabung dengan Raden Patah yang ternyata adalah kakaknya sendiri. Kini keadaan berbalik. Adipati Terung dan pengikutnya bergabung dengan tentara Demak dan menggempur tentara Majapahit hingga ke belah timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya perang itu dimenangkan oleh pasukan Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kebijakan Sunan Kudus Dalam Menyebarkan Agama Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping belajar agama kepada ayahnya sendiri, Raden Jakfar Sodiq juga belajar kepada beberapa ulama terkenal. Diantaranya kepada Kiai Telingsing. Nama asli Kiai Telingsing ini adalah The Ling Sing, beliau adalah seorang ulama dari negeri Cina yang datang ke Pulau Jawa bersama Laksamana Jenderal Cheng Hoo. Sebagaimana disebutkan dalam sejarah Jenderal Cheng Hoo yang beragama Islam itu datang ke Pulau Jawa mengadakan tali persahabatan dan menyebarkan agama Islam melalui perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jawa, The Ling Sing cukup dipanggil dengan sebutan Telingsing, beliau tinggal di sebuah daerah subur yang terletak diantara sungai Tangulangin dan Sungai Juwana sebelah Timur. Disana beliau bukan hanya mengajarkan agama Islam, melainkan juga mengajarkan kepada para penduduk seni ukir yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang datang berguru seni ukir kepada Kiai Telingsing, termasuk Raden Jakfar Sodiq itu sendiri. Dengan belajar kepada ulama yang berasal dari Cina itu, Jakfar Sodio mewarisi bagian dari sifat positif masyarakat Cina yaitu ketekunan dan kedisiplinan dalam mengejar atau mencapai cita-cita. Hal ini berpengaruh besar bagi kehidupan dakwah Raden Jakfar Sodiq di masa yang akan datang yaitu takkala menghadapi masyarakat yang kebanyakan masih beragama Hindu dan Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Raden Jakfar Sodiq juga berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya selama beberapa tahun. Didalam legenda dikisahkan bahwa Raden Jakfar Sodiq itu suka mengembara, baik ke Tanah Hindustan maupun ke Tanah Suci Mekkah. Sewaktu berada di Mekkah beliau menunaikan ibadah haji. Dan kenetulan di sana ada wabah penyakit yang sukar di atasi. Penguasa negeri Arab mengadakan sayembara, siapa yang berhasil melenyapkan wabah penyakit itu akan diberi hadiah harta benda yang cukup besar jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak orang mencoba tapi tak pernah berhasil. Pada suatu hari Sunan Kudus atau Jakfar Sodiq menghadap penguasa negeri itu tapi kedatangannya disambut dengan sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan apa Tuan akan melenyapkan wabah penyakit itu ?” tanya sang Amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan do’a,” jawab Jakfar Sodiq singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau hanya do’a kami sudah puluhan kali melakukannya. Di Tanah Arab ini banyak para ulama dan Syekh-Syekh ternama. Tapi mereka tak pernah berhasil mengusir wabah penyakit ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengerti, memang Tanah Arab ini gudangnya para ulama. Tapi jangan lupa ada saja kekurangannya sehingga do’a mereka tidak terkabulkan,” kata Jakfar Sodiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hem, sungguh berani Tuan berkata demilian,” kata Amir itu dengan nada berang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kekurangan mereka ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda sendiri yang menyebabkannya,” kata Jakfar Sodiq dengan tenangnya. “Anda telah menjanjikan hadiah yang menggelapkan mata hati mereka sehingga do’a mereka tidak ikhlas. Mereka berdo’a hanya karena mengharap hadiah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Amirpun terbungkam atas jawaban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakfar Sodiq lalu dipersilahkan melaksanakan niatnya. Kesempatan itu tak disiasiakan. Secara khusu Jakfar Sodiq berdo’a dan membaca beberapa amalan. Dalam tempo singkat wabah penyakit mengganas di negeri Arab telah menyingkir. Bahkan beberapa orang yang menderita sakit keras mendadak saja sembuh. Bukan main senangnya hati sang Amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kagum mulai menjalari hatinya. Hadiah yang dijanjikannya bermaksud diberikannya kepada Jakfar Sodiq. Tapi Jakfar Sodiq menolaknya, dia hanya minta sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis. Sang Amir mengijinkannya. Batu itupun dibawa ke Tanah Jawa, di pasang di pengimaman masjid yang didirikannya sekembali dari Tanah Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakfar Sodiq adalah pengikut jejak Sunan Kalijaga, dalam berdakwah menggunakan cara halus atau Tutwuri Handayani. Adat istiadat rakyat tidak ditentang secara frontal, melainkan diarahkan sedikit demi sedikit menuju ajaran Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat kota Kudus pada waktu itu masih banyak yang beragama Hindu dan Budha. Para Wali mengadakan sidang untuk menentukan siapakah yang pantas berdakwah di kota itu. Pada akhirnya Jakfar Sodiq yang bertugas di daerah itu. Karena masjid yang dibangunnya dinamakan Kudus maka Raden Jakfar Sodiq pada akhirnya disebut Sunan Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cara Berdakwah Yang Luwes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kudus pada waktu penduduknya masih banyak yang beragama Hindu dan Budha. Untuk mengajak mereka masuk Islam tentu bukannya pekerjaan mudah. Juga mereka yang masih memeluk kepercayaan lama dan memegang teguh adat-istiadat lama, jumlahnya tidak sedikit. Didalam masyarakat seperti itulah Jakfar Sodiq harus berjuang menegakkan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Sunan Kusus atau Jakfar Sodiq membeli seekor sapi (dalam riwayat lain disebut Kebo Gumarang). Sapi tersebut berasal dari Hindia, dibawa para pedagang asing dengan kapal besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi itu ditambatkan di halaman rumah Sunan Kudus. Rakyat Kudus yang kebanyakan beragama Hindu itu tergerak hatinya, ingin tahu apa yang akan dilakukan Sunan Kudus terhadap sapi itu. Sapi dalam pandangan agama Hindu adalah hewan suci yang menjadi kendaraan para Dewa. Menyembelih sapi adalah perbuatan dosa yang dikutuk para Dewa. Lalu apa yang akan dilakukan Sunan Kudus ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Sunan Kudus hendak menyembelih sapi di hadapan rakyat yang kebanyakan justru memujanya dan menganggap binatang keramat. Itu berarti Sunan Kudus akan melukai hati rakyatnya sendiri. Dalam tempo singkat halaman rumah Sunan Kudus dibanjiri rakyat, baik yang beragama Islam maupun Budha dan Hindu. Setelah jumlah penduduk yang datang bertambah banyak, Sunan Kudus keluar dari dalam rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedulur-sedulur yang saya hormati, segenap sanak kadang yang saya cintai,” Sunan Kudus membuka suara. “Saya melarang saudara-saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi. Sebab di waktu saya masih kecil dulu hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita tersebut para pemeluk agama Hindu terkagum-kagum. Mereka menyangka Raden Jakfar Sodiq itu adalah titisan Dewa Wisnu, maka mereka bersedia mendengarkan ceramahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah satu diantara surat-surat Al-Qur’an yaitu surat yang kedua juga dinamakan Surat Sapi atau dalam bahasa Arabnya Al-Baqarah,” kata Sunan Kudus. Masyarakat makin tertarik. Kok ada sapi di dalam Al-Qur’an, mereka jadi ingin tahu lebih banyak dan untuk itulah mereka harus sering-sering datang mendengarkan keterangan Sunan Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, sesudah simpati itu berhasil didapatkan akan lapanglah jalan untuk mengajak masyarakat berduyun-duyun masuk agama Islam. Bentuk masjid yang dibuat Sunan Kuduspun juga tak jauh bedanya dengan candi-candi milik agama Hindu. Lihatlah Menara Kudus yang antik itu, yang hingga sekarang dikagumi orang di seluruh dunia karena keanehannya. Sesudah berhasil menarik ummat Hindu ke dalam agama Islam hanya karena sikap toleransinya yang tinggi, yaitu menghormati sapi, binatang yang dikeramatkan ummat Hindu. Kini Sunan Kudus bermaksud menyaring ummat Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya? memang tidak mudah, harus kreatif dan tidak bersifat memaksa. Sesudah masjid berdiri, Sunan Kudus membuat padasan atau tempat berwudhu dengan pancuran yang berjumlah delapan. Masing-masing pancuran diberi arca diatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disesuaikan dengan ajaran Budha. “Jalan berlipat delapan” atau Asta Sanghika Marga” yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Harus memiliki pengetahuan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Mengambil keputusan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Berkata yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Hidup dengan cara yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;Bekerja dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt;Beribadah dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&lt;br /&gt;Dan Menghayati agama dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahanya itupun membuahkan hasil, banyak ummat Budha yang penasaran, untuk apa Sunan Kudus memasang lambang wasiat Budha itu di padasan atau tempat berwudhu. Didalam cerita tutur disebutkan bahwa Sunan Kudus itu pada suatu ketika gagal mengumpulkan rakyat yang masih berpegang teguh pada adat istiadat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui bersama Rakyat Jawabanyak yang melakukan adat-adat yang aneh, yang kadangkala bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya berkirim sesaji di kuburan, selamatan mitoni, neloni dan lain-lain. Sunan Kudus sangat memperhatikan upacara-upacara ritual itu, dan berusaha sebaik-baiknya untuk merubah atau mengarahkannya dalam bentuk Islami. Hal ini dilakukan juga oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, bila seorang istri orang Jawa hamil tiga bulan maka akan dilakukanlah acara selamatan yang disebut yang mitoni sembari minta kepada Dewa bahwa bila anaknya lahir supaya tampan seperti Arjuna, jika anaknya perempuan supaya cantik seperti Dewi Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat tersebut tidak ditentang secara keras oleh Sunan Kudus. Melainkan di arahkan dalam bentuk Islami. Acara selamatan boleh terus dilakukan tapi niatnya bukan sekedar kirim sesaji kepada para Dewa, melainkan bersedekah kepada penduduk setempat dan boleh di bawa pulang. Sedang permintaannya langsung kepada Allah dengan harapan anaknya lahir laki-laki akan berwajah tampan seperti Nabi Yusuf, dan bila perempuan seperti Siti Mariam ibunda Nabi Isa. Untuk itu sang ayah dan ibu harus sering-sering membaca Surat Yusuf dan Surat Mariam dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan cara lama, pihak tuan rumah membuat sesaji dari berbagai jenis makanan, kemudian di ikrar hajatkan di ikrarkan oleh sang dukun atau tetua masyarakat dan setelah upacara sakral itu dilakukan sesajinya tidak boleh dimakan melainkan diletakkan di candi, di kuburan atau ditempat-tempat sunyi di lingkungan rumah tuan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali melaksanakan gagasannya, Sunan Kudus pernah gagal, yaitu beliau mengundang seluruh masyarakat, baik yang Islam maupun yang Hindu dan Budha ke dalam Masjid. Dalam undangan disebutkan hajat Sunan Kudus yang hendak mitoni dan bersedekah atas hamilnya sang istri selama tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masuk masjid, rakyat harus membasuh kakinya dan tangannya di kolam yang sudah disediakan. Dikarenakan harus membasuh tangan dan kaki inilah banyak rakyat yang tidak mau, terutama dari kalangan Budha dan Hindu. Inilah kesalahan Sunan Kudus. Beliau hanya bermaksud mengenalnya syariat berwudhu kepada masyarakat tapi akibatnya masyarakat malah menjauh. Apa sebabnya ? Karena iman mereka atau tauhid mereka belum terbina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada kesempatan lain, Sunan Kudus mengundang masyarakat lagi. Kali ini masyarakat tidak usah membasuh tangan dan kakinya waktu masuk masjid, hasilnya sungguh luar biasa. Masyarakat berbondong-bondong memenuhi undangannya. Di saat itulah Sunan Kudus menyisipkan bab keimanan dalam agama Islam secara halus dan menyenangkan rakyat. Caranya menyampaikan materi cukup cerdik, ketika rakyat tengah memusatkan perhatiannya pada keterangan Sunan Kudus tetapi karena waktu sudah terlalu lama, dan dikuatirkan mereka jenuh maka Sunan Kudus mengakhiri ceramahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara tersebut kadang mengecewakan, tapi disitulah letak segi positifnya, rakyat jadi ingin tahu kelanjutan ceramahnya. Dan pada kesempatan lain mereka datang lagi ke masjid, baik dengan undangan maupun tidak, karena rasa ingin tahu itu demikian besar mereka tak perduli lagi pada syarat yang diajukan Sunan Kudus yaitu membasuh kaki dan tangannya&lt;br /&gt;lebih dulu, yang lama-lama menjadi kebiasaan untuk berwudhu. Dengan demikian Sunan Kudus berhasil menebus kesalahannya di masa lalu. Rakyat tetap menaruh simpati dan menghormatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara-cara yang ditempuh untuk mengislamkan masyarakat cukup banyak. Baik secara langsung melalui ceramah agama maupun adu kesaktian dan melalui kesenian, beliau yang pertama kali menciptakan tembang Mijil dan Maskumambang. Di dalam tembang-tembang tersebut beliau sisipkan ajaran-ajaran agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tantangan Ki Ageng Kedu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Sunan Kudus itu seorang Wali berilmu tinggi dan sakti sudah dimaklumi masyarakat, tapi ada seorang yang merasa lebih sakti daripada Sunan Kudus. Orang itu bernama Ki Ageng Kedu. Seorang sakti hanya memiliki ilmu peringan tubuh sedemikian rupa sehingga hanya dengan melemparkan tampah ke udara kemudian dia meloncat hinggap di atas tampah itu diapun dapat terbang menurut keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Ki Ageng Kedu yang penasaran atas kesaktian Sunan Kudus ingin mencoba adu kesaktian. Seperti biasa, dia mengambil tampah kemudian terbang ke daerah Kudus. Orang-orang yang melihatnya merasa kagum dan heran, Ki Ageng Kedu lewat begitu saja dengan cepatnya di atas rumah-rumah penduduk. Sewaktu berada di daerah Kudus ia tidak langsung turun dari tampahnya, mala tertawa ngakak berkeliling kota Kudus. Muridmurid Sunan Kudus sudah penasaran melihat kepongahannya, tapi saat itu Sunan Kudus belum keluar dari Masjid, beliau masih membaca dzikir seusai shalat. Dia juga tak merasa heran saat keluar dari masjid melihat Ki Ageng Kedu berteriak-teriak memanggil namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Sunan Kudus ayo keluarlah! Hadapilah aku Ki Ageng Kedu yang hendak menantangmu adu kesaktian !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sunan Kudus menundingkan tangannya ke arah Ki Ageng Kedu sembari berkata, “Aku di sini Ki Ageng Kedu !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika tersirap darah Ki Ageng Kedu. Tampah yang dikendarainya mendadak oleng kesana-kemari. Tak terkendalikan lagi, tubuhnya yang ringan mendadak berubah menjadi berat dan segera tersedot oleh gaya tarik bumi, bahkan seperti dihempaskan oleh tenaga gaib yang tak tampak oleh mata. Tubuh Ki Ageng Kedu terlempar ke tanah yang becek, yang&lt;br /&gt;dalam bahasa Jawanya disebut Jember, hingga sekarang tempat Ki Ageng Kedu itu jatuh disebut Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah roboh ke tanah yang becek dan kotor, segala kesaktian Ki Ageng Kedu lenyap seketika. Dia telah berubah menjadi manusia biasa, tak bisa terbang lagi seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sunan Kudus Sebagai Seorang Senopati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kudus di dalam Babad Tanah Jawa disebut sebagai Senopati atau Panglima Perang Kerajaan Demak Bintoro. Juga Senopati Waliullah artinya beliau itu menjadi Senopatinya para Wali. Sebagai Senopati Kerajaan Demak beliau pernah memimpin peperangan melawan Majapahit yang pada waktu itu dipimpin oleh Adipati Terung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan sebagai Senopati para Wali beliau pernah ditugaskan untuk mengeksekusi Syekh Siti Jenar, seorang Wali yang meremehkan syariat sehingga dianggap sesat. Pada bagian ini akan diceritakan secara singkat tugas Sunan Kudus di saat haus berhadapan dengan seorang murid Syekh Siti Jenar yang masih punya darah keturunan dari Raja Majapahit. Penduduk desa Pengging yang terletak di tepi hutan, malam itu tak dapat tidur, sebabnya malam itu terdengar auman harimau secara terus menerus. Para penduduk berjaga-jaga, kalau-kalau malam itu harimau yang mengaum itu akan masuk ke dalam desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sampai pagi tidak ada seekor harimau tampak masuk kampung. Para penduduk penasaran. Mereka beramai-ramai masuk ke dalam hutan untuk memeriksa, apakah benar di dalam hutan itu ada harimaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah hutan, bukan harimau yang mereka dapatkan, melainkan tujuh orang santri dan seorang berjubah putih yang tampak agung berwibawa. Orang itu tak lain adalah Sunan Kudus dan tujuh prajurit Demakyang menyamar sebagai santri biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah tuan melihat harimau di sekitar hutan ini ?” Tanya tetua desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” jawab Sunan Kudus, “Semalam kami tidur di hutan ini tapi tidak melihat seekor harimau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh, semalam kami tak dapat tidur karena auman suara harimau yang terus menerus,” Guman tetua desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu namakanlah tempat ini desa Sima. Karena kau mendengar suara Sima (harimau) padahal tak ada Sima.” Kata Sunan Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetua desa itu menurut, hingga sekarang tempat Sunan Kudus bermalam itu dinamakan desa Sima. Sunan Kudus kemudian meneruskan perjalanannya ke Pengging untuk menemui Adipati Kebo Kenanga atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Pengging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun yang lalu, diawal tampak pemerintahan Raden Patah. Patih Wanasalam telah diutus untuk menemui Ki Ageng Pengging. Tujuannya adalah untuk meminta ketegasan Ki Ageng Pengging, apakah Ki Ageng Pengging bersedia mengakui Raden Patah selaku Raja Demak Bintoro dan penerus dinasti Majapahit atau sebaliknya Ki Ageng Pengging ingin menjadi Raja Demak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu tidak pernah dijawab dengan tegas oleh Ki Ageng Pengging. Patih Wanasalam orang kepercayaan Raden Patah, memberi batas waktu tiga tahun untuk berfikir dan menentukan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tiga tahun telah berlalu, Ki Ageng Pengging tidak pernah menghadap ke Demak. Bahkan Kadipaten Pengging yang dulu pernah mengalami kejayaan di jaman ayahnya yaitu Adipati Handayaningrat tidak diurus lagi. Kebo Kenanga, cucu Raja Majapahit itu malah tenggelam dalam dunia kebatinan yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar. Walau tampaknya Ki Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging itu tak mengurus pemerintahan Kadipaten, tapi sesungguhnya para prajurit masih setia kepadanya, mereka menyembunyikan di balik baju petani. Tapi sewaktu-waktu mereka bisa di gerakkan di saat diperlukan oleh Ki Ageng Pengging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini di sadari oleh pemerintah pusat Demak Bintoro. Raden Patah kemudian memerintahkan Sunan Kudus untuk mengadili pembangkangan Ki Ageng Pengging ini. Suasana Kadipaten Pengging benar-benar lenggang. Pagi itu penduduk banyak yang pergi ke sawah dan ladang masing-masing. Pendapa atau istana Kadipaten tidak kelihatan, di pusat bekas pemerintahan Adipati Handayaningrat itu kini hanya ada sebuah rumah yang tak seberapa besar, bentuknya seperti rumah penduduk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kudus memerintahkan tujuh orang pengikutnya menunggu di ujung desa. Dia sendiri berjalan menuju rumah Ki Ageng Pengging. Langkahnya mantap. Dia yakin tugasnya kali ini akan membawa hasil. Seperti sudah dilambangkan oleh Bende Kyai Sima, yaitu pusaka warisan dari mertuanya yang disembunyikan di dalam hutan saat dia kemalaman. Bila bende itu dipukul bunyinya seperti harimau maka tandanya akan berhasil, bila tidak mengeluarkan auman harimau berarti dia akan menemui kegagalan. Di depan pintu rumah Ki Ageng Pengging ada seorang pelayan wanita setengah baya. Sunan Kudus memberi salam kemudian mengutarakan maksud kedatangannya untuk menemui Ki Ageng Pengging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Tuan, sudah beberapa hari Ki Ageng mengurung diri di dalam kamarnya, beliau tidak bisa menemui tamu.” Kata pelayan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bukan tamu biasa,” Kata Sunan Kudus. “Katakan aku adalah utusan Tuhan yang datang dari Kudus. Ingin bertemu dengan Ki Ageng Pengging.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayan itu masuk ke dalam rumah menyampaikan pesan Sunan Kudus yang dianggapnya aneh. Ternyata Ki Ageng bersedia menerima tamunya. Sunan Kudus dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya. Istri Ki Ageng Pengging membuatkan minuman untuk menghormat tamu khusus itu. Tinggallah di ruang tamu itu Ki Ageng Pengging dan Sunan Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Ki Ageng, saya diperintahnya oleh Sultan Demak Bintoro. Manakah yang kau pilih. Di luar atau di dalam? Di atas atau di bawah ?” Tanya Sunan Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Pengging menghela nafas, tiga tahun yang lalu dia juga diberi pertanyaan serupa oleh Ki Wanasalam. Patih Demak Bintoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawabanku tetap sama dengan tiga tahun yang lalu,” kata Ki Ageng Pengging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atas-bawah, luar-dalam adalah milikku. Aku tak bisa memilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu bagi Sunan Kudus sudah sangat jelas. Berarti Ki Ageng Pengging punya maksud ganda. Ingin menjadi rakyat atau bawahan Demak Bintoro sekaligus ingin menjadi penguasa Demak Bintoro. Jelasnya dia tidak mau mengakui Raden Patah sebagai raja Demak. Ini pembangkangan namanya. Kasarnya memberontak !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Ki Ageng Pengging itu murid Syekh Siti Jenar, gurunya itu sudah dihukum mati karena kesesatannya. Sunan Kudus ingin mengetahui apakah Ki Ageng Pengging masih meyakini ilmu dari Syekh Siti Jenar itu atau sudah meninggalkan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pernah mendengar bahwa Ki Ageng bisa hidup di dalam mati dan mati di dalam hidup,” Kata Sunan Kudus. “Benarkah apa yang saya dengar itu ? Saya ingin melihat buktinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang begitu !” Jawab Ki Ageng Pengging. “Kau anggap apa saya aku ini maka aku akan menurut apa yang kau sangka. Kau anggap aku santri memang aku santri, kau anggap aku ini raja, memang aku keturunan raja, kau anggap aku ini rakyat memang aku rakyat, dan kau anggap aku ini Allah aku memang Allah !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klop sudah! Ki Ageng Pengging adalah pengikut Syekh Siti Jenar yang berfaham Wihdatul Wujud atau berfilsafat serba Tuhan. Faham itu adalah bertentangan dengan Islam yang disiarkan para Wali, sehingga Syekh Siti Jenar dihukum mati. Sunan Kudus juga cerdik, dia tahu murid-murid Syekh Siti Jenar itu mempunyai ilmu-ilmu yang aneh, kadangkala mereka kebal, tak mempan senjata apapun juga. Maka Sunan Kudus bermaksud menggorek kelemahan Ki Ageng Pengging dengan jalan diplomasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti pengakuan Ki Ageng bahwa Ki Ageng dapat mati didalam hidup. Saya ingin melihat buktinya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi itukah yang dikehendaki Sultan Demak” Baiklah, tidak ada orang mati tanpa sebab, maka kau harus membuat sebab kematianku. Tapi jangan melibatkan orang lain. Cukup aku saja yang mati.” Sunan Kudus menyanggupi permintaan Ki Ageng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tusuklah siku lenganku ini ……! Ujar Ki Ageng membuka titik kelemahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kuduspun melakukannya. Siku Ki Ageng ditusuk dengan ujung keris, seketika matilah Ki Ageng Pengging. Sunan Kudus kemudian keluar rumah Ki Ageng Pengging dengan langkah tenang. Disambut oleh tujuh pengikutnya di ujung desa. Mereka berjalan menuju Demak Bintoro. Sementara itu istri Ki Ageng Pengging yang hendak menghidangkan jamuan makan menjerit keras manakala melihat suaminya mati di ruang tamu. Penduduk sekitar berdatangan ke rumahnya. Setelah tahu pemimpinnya dibunuh mereka memanggil penduduk lainnya dan bersama-sama mengejar Sunan Kudus. 200 orang bekas prajurit dan perwira dipimpin oleh bekas Senopati Kadipaten Pengging mencabut senjata dan berteriak-berteriak memanggil Sunan Kudus dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kudus berhenti. Dibunyikannya Bende Kyai Sima. Tiba-tiba muncul ribuan prajurit Demak yang berlarian ke arah timur. Orang-orang Pengging mengejar kearah timur, padahal Sunan Kudus dan pengikutnya berada di sebelah utara. Tidak berapa lama kemudian ribuan prajurit itu lenyap. Orang Pengging kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Akal mereka seperti hilang. Sunan Kudus kasihan melihat keadaan mereka, akhirnya mereka dibuat sadar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan turut campur urusan besar ini. Ki Ageng Pengging sudah diperingatkan selama tiga tahun. Tapi dia tetap tak mau menghadap ke Demak. Itu berarti dia sengaja hendak memberontak! nah, kalian rakyat kecil, tak ada hubungannya dengan urusan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulanglah !” Suara Sunan Kudus terdengar berat dan mengandung perbawa kuat. Penduduk Pengging itu seperti baru sadar dan mengerti bahwa yang mereka hadapi adalah seorang Senopati Demak Bintoro yang kondang mempunyai seribu satu macam kesaktian. Mereka tak akan mampu menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tugas yang lebih penting daripada berbuat kesia-siaan ini,” Kata Sunan Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segeralah kalian urus jenazah Ki Ageng. Itulah penghormatan kalian yang terakhir kepada pemimpin kalian.” Orang-orang Pengging itu tak menemukan pilihan lain. Akhirnya mereka kembali ke rumah Ki Ageng untuk menguburkan jenazah pemimpin mereka. Sunan Kudus sangat dihormat para penguasa pada jamannya. Baik oleh Raja Pajang yaitu Sultan Handiwijaya maupun Raja Jipang yaitu Ario Penangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Jami Kudus. Jika orang memandang Menara Masjid Kudus yang lain sangat aneh dan artistik tersebut pasti akan segera teringat pada pendirinya yaitu Sunan Kudus.&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-6540743326099324405?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sunan Kalijaga</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/08/sunan-kalijaga.html</link><category>Walisongo</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 13 Oct 2010 03:35:12 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-1272273329235367221</guid><description>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Kalijaga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Asal Usul Sunan Kalijaga&lt;br /&gt;Sudah banyak orang tahu bahwa Sunan Kalijaga itu aslinya bernama Raden Said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur, walau dia termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban. Tetapi karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said berontak. Gelora jiwa muda Raden said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat Kadipaten Tuban di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangkala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah mereka untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak. Raden Said yang mengetahui hal itu pernah mengajukan pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Suatu hari dia menghadap ayahandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rama Adipati, rakyat tahun ini sudah semakin sengsara karena panen banyak yang gagal,” kata Raden Said. “Mengapa pundak mereka masih harus dibebani dengan pajak yang mencekik leher mereka. Apakah hati nurani Rama tidak merasa kasihan atas penderitaan mereka ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adipati Wilatikta menatap tajam kea rah putranya. Sesaat kemudian dia menghela nafas panjang dan kemudian mengeluarkan suara, “Said anakku ..... saat ini pemerintah pusat Majapahit sedang membutuhkan dana yang sangat besar untuk melangsungkan roda pemerintahan. Aku ini hanyalah seorang bawahan sang Prabu, apa dayaku menolak tugas yang dibebankan kepadaku. Bukan hanya Kadipaten Tuban yang diwajibkan membayar upeti lebih banyak dari tahun-tahun yang lalu. Kadipaten lainnya juga mendapat tugas serupa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi …… mengapa harus rakyat yang jadi korban.” Sahut Raden Said. Tapi Raden Said tak meneruskan ucapannya. Dilihatnya saat itu wajah ayahnya berubah menjadi merah padam pertanda hatinya sedang tersinggung atau naik pitam. Baru kali ini Raden Said membuat ayahnya marah. Hal yang selama hiduptak pernah dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said tahu diri. Sambil bersungut-sungut dia merunduk dan mengundurkan diri dari hadapan ayahnya yang sedang marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Raden Said tak perlu melanjutkan pertanyaan. Sebab dia sudah dapat menjawabnya sendiri. Majapahit sedang membutuhkan dana besar karena negeri itu sering menghadapi kekacauan, baik memadamkan pemberontakan maupun terjadinya perang saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau Raden Said putra seorang bangsawan dia lebih menyukai kehidupan yang bebas, yang tidak terikat oleh adapt istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga yang paling atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia banyak mengetahui selukbeluk kehidupan rakyat Tuban. Niat untuk mengurangi penderitaan rakyat sudah disampaikan kepada ayahnya. Tapi agaknya ayahnya tak bisa berbuat banyak. Dia cukup memahaminya pula posisi ayahnya sebagai adipati bawahan Majapahit. Tapi niat itu tak pernah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika malam-malam sebelumnya dia sering berada di dalam kamarnya sembari mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka sekarang dia keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat penjaga gudang Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil sebagian hasil bumi yang ditarik dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit. Bahan makan itu dibagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja rakyat yang tak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampur girang menerima rezeki yang tak diduga-duga. Walau mereka tak pernah tahu siapa gerangan yang memberikan rezeki itu, sebabnya Raden Said melakukannya di malam hari secara sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya rakyat yang terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit itu. Penjaga gudang Kadipaten juga merasa kaget, hatinya kebat-kebit, soalnya makin hari barangbarang yang hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu makin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin mengetahui siapakah pencuri barang hasil bumi di dalam gudang itu. Suatu malam ia sengaja sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah, tak jauh dari gudang Kadipaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaannya benar, ada seseorang membuka pintu gudang, hampir tak berkedip penjaga gudang itu memperhatikan, pencuri itu. Dia hampir tak percaya, pencuri itu adalah Raden Said, putra junjungannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melaporkannya sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani. Kuatir dianggap membuat fitnah. Maka penjaga gudang itu hanya minta dua orang saksi dari sang Adipati untuk memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang tersimpan di gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said tak pernah menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal ketahuan. Ketika ia hendak keluar dari gudang sambil membawa bahan-bahan makanan, tiga orang prajurid Kadipaten menangkapnya beserta barang bukti yang dibawanya. Raden Said dibawa kehadapan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh memalukan sekali perbuatanmu itu !” hardik Adipati Wilatikta. “Kurang apakah aku ini, benarkah aku tak menjamin kehidupanmu di istana Kadipaten ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku pernah melarangnya untuk makan sekenyang-kenyangnya di Istana ini ? Atau aku tidak pernah memberimu pakaian ? Mengapa kau lakukan perbuatan tecela itu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said tidak mengeluarkan suara. Biarlah, bisik hatinya. Biarlah orang tak pernah tahu untuk apa barang-barang yang tersimpan di gudang Kadipaten itu kuambil. Biarlah ayahku tak pernah tahu kepada siapa barang-barang itu kuberikan. Adipati Wilatikta semakin marah melihat sikap anaknya itu. Raden Said tidak menjawabnya untuk apakah dia mencuri barang-barang hasil bumi yang hendak disetorkan ke Majapahit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untuk itu Raden Said harus mendapat hukuman, karena kejahatan mencuri itu baru pertama kali dilakukannya maka dia hanya mendapat hukuman cambuk dua ratus kali pada tangannya. Kemudian disekap selama beberapa hari, tak boleh keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerakah Raden Said atas hukuman yang sudah diterimanya ? Sesudah keluar dari hukuman dia benar-benar keluar dari lingkungan istana. Tak pernah pulang sehingga membuat cemas ibu dan adiknya. Apa yang dilakukan Raden Said selanjutnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengenakan topeng khusus, berpakaian serba hitam dan kemudian merampok harta orang-orang kaya di kabupaten Tuban. Terutama orang kaya yang pelit dan para pejabat Kadipaten yang curang. Harta hasil rampokan itupun diberikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang menderita lainnya. Tapi ketika perbuatannya ini mencapai titik jenuh ada saja orang yang bermaksud mencelakakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang pemimpin perampok sejati yang mengetahui aksi Raden Said menjarah harta pejabat kaya, kemudian pemimpin rampok itu mengenakan pakaian serupa dengan pakaian Raden Said, bahkan juga mengenakan topeng seperti topeng Raden Said juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, Raden Said yang baru saja menyelesaikan shalat Isyá mendengar jerit tangis para penduduk desa yang kampungnya sedang dijarah perampok. Dia segera mendatangi tempat kejadian itu. Begitu mengetahui kedatangan Raden&lt;br /&gt;Said, kawanan perampok itu segera berhamburan melarikan diri. Tinggal pemimpin mereka yang sedang asyik memperkosa seorang gadis cantik. Raden Said mendobrak pintu rumah si gadis yang sedang diperkosa. Di dalam sebuah kamar dia melihat seseorang berpakaian seperti dirinya, juga mengenakan topeng serupa sedang berusaha mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya dia sudah selesai memperkosa gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said berusaha menangkap perampok itu. Namun pemimpin rampok itu berhasil melarikan diri. Mendadak terdengar suara kentongan di pukul bertalu-talu, penduduk dari kampung lain berdatangan ke tempat itu. Pada saat itulah si gadis yang baru diperkosa perampok tadi menghamburkan diri dan menangkap erat-erat tangan Raden Said. Raden Said pun jadi panik dan kebingungan. Para pemuda dari kampung lain menerobos masuk dengan senjata terhunus. Raden Said ditangkap dan dibawa ke rumah kepala desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala desa yang merasa penasaran mencoba membuka topeng di wajah Raden Said. Begitu mengetahui siapa orang dibalik topeng itu sang kepala desa jadi terbungkam. Sama sekali tak disangkanya bahwa perampok itu adalah putra junjungannya sendiri yaitu Raden Said. Gegerlah masyarakat pada saat itu. Raden Said dianggap perampok dan pemerkosa. Si gadis yang diperkosa adalah bukti kuat dan saksi hidup atas kejadian itu. Sang kepala desa masih berusaha menutup aib junjungannya. Diam-diam ia membawa Raden Said ke istana Kadipaten Tuban tanpa diketahui orang banyak. Tentu saja sang Adipati menjadi murka. Sang Adipati yang selama ini selalu merasa sayang dan selalu membela anaknya kali ini juga naik pitam. Raden Said diusir dari wilayah Kadipaten Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergi dari Kadipaten Tuban ini !” kau telah mencoreng nama baik keluargamu sendiri ! pergi ! jangan kembali sebelum kau dapat menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban ini dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sering kau baca di malam hari !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Adipati Wilatikta juga sangat terpukul atas kejadian itu. Raden Said yang diharapkan dapat menggantikan kedudukannya selaku Adipati Tuban ternyata telah menutup kemungkinan ke arah itu. Sirna sudah segala harapan sang adipati. Hanya ada satu orang yang tak dapat mempercayai perbuatan Raden Said, yaitu Dewi Rasawulan, adik Raden said. Raden Said itu berjiwa bersih luhur dan sangat tidak mungkin melakukan perbuatan keji. Hati siapa yang takkan hancur mengalami peristiwa seperti ini. Raden Said bermaksud menolong fakir miskin dan penduduk yang menderita tapi akibatnya justru dia sendiri yang harus menelan derita. Diusir dari Kadipaten Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua mana yang tak terpukul batinnya mengetahui anak dambaan hati tiba-tiba berbuat jahat dan menghancurkan nama dan masa depannya sendiri. Tapi itulah peristiwa yang memang harus dialami oleh Raden Said. Seandainya tidak ada fitnah seperti itu, barangkali Raden Said tidak bakal menjadi seorang ulama besar, seorang Wali yang dikagumi oleh seluruh penduduk Tanah Jawa. Raden Said betul-betul meninggalkan Kadipaten Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Rasawulan yang sangat menyayangi kakaknya itu merasa kasihan, tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya dia meninggalkan istana Kadipaten Tuban untuk mencari Raden Said untuk diajak pulang. Tentu saja sang ayah dan ibu kelabakan mengetahui hal ini. Segera saja diperintahkan puluhan prajurit Tuban untuk mencari Dewi Rasawulan tak&lt;br /&gt;pernah ditemukan oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan bahwa Dewi Rasawulan pada akhirnya telah ditemukan oleh Empu Supa, seorang Tumenggung Majapahit yang menjadi murid Sunan Kalijaga. Dewi Rasawulan kemudian dijodohkan dengan Empu Supa. Dan kembali ke Tuban bersama-sama dengan diantar Sunan Kalijaga yang tak lain adalah Raden Said sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masa Penggemblengan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanakah Raden Said sesudah diusir dari Kadipaten Tuban ? Ternyata ia mengembara tanpa tujuan pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi. Selama bertahun-tahun dia menjadi perampok budiman. Mengapa disebut perampok budiman ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hasil rampokannya itu tak pernah dimakannya. Seperti dulu, selalu diberikan kepada fakir miskin. Yang dirampoknya hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata, dan tidak mau membayar zakat. Di hutan Jatiwangi dia membuang nama aslinya. Orang menyebutnya sebagai Brandal Lokajaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ada seorang berjubah putih lewat di hutan Jatiwangi. Dari jauh Brandal Lokajaya sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti gagang tongkat itu terbuat dari emas,” bisik Brandal Lokajaya dalam hati. Terus diawasinya orang tua berjubah putih itu. Setelah dekat dia hadang langkahnya sembari berkata, “Orang tua, apa kau pakai tongkat ? Tampaknya kau tidak buta, sepasang matamu masih awas dan kau juga masih kelihatan tegar, kuat berjalan tanpa tongkat !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berjubah putih itu tersenyum, wajahnya ramah, dengan suara lembut dia berkata, “Anak muda ………. Perjalanan hidup manusia itu tidak menentu, kadang berada di tempat terang, kadang berada di tempat gelap, dengan tongkat ini aku tidak akan tersesat bila berjalan dalam kegelapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi .......... saat ini hari masih siang, tanpa tongkat saya kira kau tidak akan tersesat berjalan di hutan ini.” Sahut Raden Said. Kembali lelaki berjubah putih itu tersenyum arif, “anak muda ………. Perjalanan hidup manusia itu tidak menentu, kadang berada di tempat terang, kadang berada di tempat gelap, dengan tongkat ini aku tidak akan tersesat&lt;br /&gt;bila berjalan dalam kegelapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi .......... saat ini hari masih siang, tanpa tongkat saya kira kau tidak akan tersesat berjalan di hutan ini.” Sahut Radeb Said. Kembali lelaki berjubah putih itu tersenyum arif, “Anak muda tongkat adalah pegangan, orang hidup haruslah mempunyai pegangan supaya tidak tersesat dalam menempuh perjalanan hidupnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya jawab-jawab yang mengandung filosofi itu tak menggugah hati Raden Said. Dia mendengar dan mengakui kebenarannya tapi perhatiannya terlanjur tertumpah kepada gagang tongkat lelaki berjubah putih itu. Tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih. Karena tongkat itu dicabut dengan paksa maka orang&lt;br /&gt;berjubah putih itu jatuh tersungkur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan susah payah orang itu bangun, sepasang matanya mengeluarkan air walau tak ada suara tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang dipegangnya. Ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas, hanya gagangnya saja terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari, seperti emas. Raden Said heran melihat orang itu menangis. Segera diulurkannya kembali tongkat itu, “Jangan menangis, ini tongkatmu kukembalikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan tongkat ini yang kutangisi,” Ujar lelaki itu sembari memperlihatkan beberapa batang rumput di telapak tangannya. “Lihatlah ! Aku telah berbuat dosa, berbuat kesiasiaan. Rumput ini tercabut ketika aku aku jatuh tersungkur tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya beberapa lembar rumput. Kau merasa berdosa ?” Tanya Raden Said heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, memang berdosa ! Karena kau mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata guna makanan ternak itu tidak mengapa. Tapi untuk suatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa !” Jawab lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Raden Said agak tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak muda sesungguhnya apa yang kau cari di hutan ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengintai harta ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hemm, sungguh mulia hatimu, sayang ...... caramu mendapatkannya yang keliru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang tua .......... apa maksudmu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aku bertanya anak muda ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan .......... “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh perbuatan bodoh,” sahut Raden Said. “Hanya manambah kotor dan bau pakaian itu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tersenyum, “Demikian pula amal yang kau lakukan. Kau bersedekah dengan barang yang di dapat secara haram, merampok atau mencuri, itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu melanjutkan ucapannya, “Allah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal.”Raden Said makin tercengang mendengar keterangan itu. Rasa malu mulai menghujam tubuh hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini. Di pandangnya sekali lagi wajah lelaki berjubah putih itu. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai suka dan tertarik pada lelaki berjubah putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Kau tidak bisa merubahnya hanya dengan memberi para penduduk miskin bantuan makan dan uang. Kau harus memperingatkan para penguasa yang zalim agar mau merubah caranya memerintah yang sewenang-wenang, kau juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang didambakannya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau tak mau kerja keras, dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah maka ambillah itu. Itu barang halal. Ambillah sesukamu !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata demikian lelaki itu menunjuk pada sebatang pohon aren. Seketika pohon itu berubah menjadi emas seluruhnya. Sepasang mata Raden Said terbelalak. Dia adalah seorang pemuda sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dikecapnya. Berbagai ilmu yang aneh-aneh telah dipelajarinya. Dia mengira orang itu mempergunakan ilmu sihir, kalau benar orang itu mengeluarkan ilmu sihir ia pasti dapat mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, setelah ia mengerahkan ilmunya, pohon aren itu tetap berubah menjadi emas. Berarti orang itu tidak mempergunakan sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said terpukau di tempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu. Benar-benar berubah menjadi emas seluruhnya. Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu. Mendadak buah aren itu rontok, berjatuhan mengenai kepala Raden Said. Pemuda itu terjerembab ke tanah. Roboh dan pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia sadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti aren-aren lainnya. Raden Said bangkit berdiri, mencari orang berjubah putih tadi. Tapi yang dicarinya sudah tak ada di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti dia seorang sakti yang berilmu tinggi. Menilik caranya berpakaian tentulah dari golongan para ulama atau mungkin salah seorang dari Waliullah, aku harus menyusulnya, aku akan berguru kepadanya,” demikian pikir Raden Said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said mengejar orang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat, akhirnya dia dapat melihat bayangan orang itu dari kejauhan. Seperti santai saja orang itu melangkahkan kakinya, tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. Jatuh bangun, terseok-seok dan berlari lagi, demikianlah, setelah tenaganya terkuras habis dia baru sampai di belakang lelaki berjubah putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berjubah putih itu berhenti, bukan karena kehadiran Raden Said melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar. Tak ada jembatan, dan sungai itu tampaknya dalam, dengan apa dia harus menyeberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu .......... “ ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudilah Tuan menerima saya sebagai murid ...... “ Pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjadi muridku ?” Tanya orang itu sembari menoleh. “Mau belajar apa ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja, asal Tuan menerima saya sebagai murid …… “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berat, berat sekali anak muda, bersediakah kau menerima syarat-syaratnya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bersedia …… “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu kemudian menancapkan tongkatnya di tepi sungai. Raden Said diperintahkan menungguinya. Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki itu kembali menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said bersedia menerima syarat ujian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya lelaki itu menyeberangi sungai. Sepasang mata Raden Said terbelalak heran, lelaki itu berjalan di atas air bagaikan berjalan didaratan saja. Kakinya tidak basah terkena air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lelaki itu hilang dari pandangan Raden Said, pemuda itu duduk bersila, dia berdo’a kepada Tuhan supaya ditidurkan seperti para pemuda di goa Kahfi ratusan tahun silam. Do’anya dikabulkan. Raden Said tertidur dalam samadinya selama tiga tahun. Akar dan rerumputan telah membalut dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiga tahun lelaki berjubah putih itu datang menemui Raden Said. Tapi Raden Said tak bisa dibangunkan. Barulah setelah mengumandangkan adzan, pemuda itu membuka sepasang matanya. Tubuh Raden Said dibersihkan, diberi pakaian baru yang bersih. Kemudian dibawa ke Tuban. Mengapa ke Tuban ? Karena lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang. Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkatnya, yaitu tingkat para Waliullah. Di kemudian hari Raden Said terkenal sebagai Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalijaga artinya orang yang menjaga sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengartikan Sunan Kalijaga adalah penjaga aliran kepercayaan yang hidup pada masa itu. Dijaga maksudnya supaya tidak membahayakan ummat, melainkan diarahkan kepada ajaran Islam yang benar. Ada juga yang mengartikan legenda pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang hanya sekedar simbol saja. Kemanapun Sunan Bonang pergi selalu membawa tongkat atau pegangan hidup, itu artinya Sunan Bonang selalu membawa agama, membawa iman sebagai penunjuk jalan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said kemudian disuruh menunggui tongkat atau agama di tepi sungai. Itu artinya Raden Said diperintah untuk terjun ke dalam kancah masyarakat Jawa yang banyak mempunyai aliran kepercayaan dan masih berpegang pada agama lama yaitu Hindu dan Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Bonang mampu berjalan di atas air sungai tanpa ambles ke dalam sungai. Bahkan sedikitpun ia tidak terkena percikan air sungai. Itu artinya Sunan Bonang dapat bergaul dengan dengan masyarakat yang berbeda agama tanpa kehilangan identitas agama yang dianut oleh Sunan Bonang sendiri yaitu Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said sewaktu bertapa ditepi tubuhnya tidak sampai hanyut ke aliran sungai, hanya daun, akar dan rerumputan yang menutupi sebagian besar anggota tubuhnya. Itu artinya Raden Said bergaul dengan masyarakat Jawa, adat istiadat masyarakat di pakai sebagai alat dakwah, dan diarahkan kepada ajaran Islam yang bersih, namun usaha itu tampaknya sedikit mengotori tubuh Raden Said dan setelah tiga tahun Sunan Bonang membersihkannya dengan ajaran-ajaran Islam tingkat tinggi sehingga Raden Said masuk kegolongan para Wali. Dan pengetahuan agamanya benar-benar telah cukup untuk dipergunakan menyebarkan agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sehingga tafsiran dari kisah legenda pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kerinduan Seorang Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertahun-tahun ditinggalkan kedua anaknya, permaisuri Adipati Wilatikta seperti kehilangan gairah hidup. Terlebih setelah usaha Adipati Tuban menangkap para perampok yang mengacau Kadipaten Tuban membuahkan hasil. Hati ibu Raden Said seketika berguncang. Kebetulan saat ditangkap oleh para prajurit Tuban, perampok itu mengenakan pakaian dan topeng yang dikenakan Raden Said. Rahasia yang selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah. Dari pengakuan perampok itu tahulah Adipati Tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Raden Said menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar telah menyesal mengusir anak yang sangat disayanginya itu. Sang ibu tak pernah tahu bahwa anak yang didambakannya itu bertahun-tahun kemudian sudah kembali ke Tuban. Hanya saja tidak langsung ke Istana Kadipaten Tuban, melainkan ketempat tinggal Sunan Bonang. Untuk mengobati kerinduan sang ibu. Tidak jarang Raden Said mengerahkan ilmunya yang tinggi. Yaitu membaca Qur’an dari jarak jauh lalu suaranya dikirim ke istana Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Raden Said yang merdu itu benar-benar menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten. Bahkan mengguncangkan isi hati Adipati Tuban dan istrinya. Tapi Raden Said, masih belum menampakkan diri. Banyak tugas yang masih dikerjakannya. Di antaranya menemukan adiknya kembali. Pada akhirnya, dia kembali bersama adiknya yaitu Dewi Rasawulan. Tak terkirakan betapa bahagianya Adipati Tuban dan istrinya menerima kedatangan putra-putri yang sangat dicintainya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan Adipati Tuban. Dia lebih suka menjalani kehidupan yang dipilihnya sendiri. Walau sedikit kecewa Adipati Tuban agak terhibur, sebab suami Dewi Rasawulan juga bukan orang sembarangan. Empu Supa adalah seorang Tumenggung Majapahit yang terkenal. Cucu yang lahir dari keturunan Empu. Akhirnya kedudukan Adipati Tuban diberikan kepada cucunya sendiri yaitu putra Dewi Rasawulan dan Empu Supa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Said meneruskan pengembaraannya. Berdakwah atau menyebarkan agama Islam di Jawa tengah hingga ke Jawa Barat. Dalam usia lanjut beliau memilih Kadilangu sebagai tempat tinggal nya yang terakhir. Hingga sekarang beliau dimakamkan di Kadilangu, Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jasa Sunan Kalijaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa Sunan Kalijaga sangat sukar dihitung karena banyaknya. Beliau dikenal sebagai Mubaligh, ahli seni, budayawan, ahli filsafat, sebagai Dalang Wayang Kulit dan sebagainya. Untul lebih detailnya para pembaca dipersilahkan membaca literatur berjudul Sunan Kalijaga yang ditulis oleh saudara Umar Hayim, diterbitkan oleh Menara Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku tersebut diuraikan dengan lengkap jasa dan karya Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku ini kami nukilkan sebagian kecil dari karya dan jasa Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sebagai Mubaligh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dikenal sebagai ulama besar, seorang Wali yang memiliki karisma tersendiri diantara Wali-Wali lainnya. Dan paling terkenal di kalangan atas maupun dari kalangan bawah. Hal itu disebabkan Sunan Kalijaga suka berkeliling dalam berdakwah, sehingga beliau juga dikenal sebagai Syekh Malaya yaitu mubaligh yang menyiarkan agama Islam sambil mengembara. Sementara Wali lainnya mendirikan pesantren atau pedepokan untuk mengajar murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya berdakwah sangat luwes, rakyat Jawa yang pada waktu itu masih banyak menganut kepercayaan lama tidak ditentang adat istiadatnya. Beliau dekati rakyat yang masih awam itu dengan cara halus, bahkan dalam berpakaian beliau tidak memakai jubah sehingga rakyat tidak merasa angker dan mau menerima kedatangannya dengan senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian yang dikenakan sehari-hari adalah pakaian adat Jawa yang di disain dan disempurnakan sendiri secara Islami. Adat istiadat rakyat, yang dalam pandangan Kaum Putihan dianggap bid’ah tidal langsung ditentang olehnya selaku Pemimpin Kaum Abangan. Pendiriannya adalah rakyat dibuat senang dulu, direbut simpatinya sehingga mau menerima agama Islam, mau mendekat pada para Wali. Sesudah itu barulah mereka diberi pengertian Islam yang sesungguhnya dan dianjurkan membuang adat yang bertentangan dengan agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian rakyat baik yang berupa gamelan, gencing dan tembang-tembang dan wayang dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai alat dakwah. Dan ini ternyata membawa keberhasilan yang gemilang, hampir seluruh rakyat Jawa pada waktu itu dapat menerima ajakan Sunan Kalijaga untuk mengenal agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sunan Kalijaga Sebagai Ahli Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar tersebut tidak berlebihan karena beliaulah yang pertama kali menciptakan seni pakaian, seni suara, seni ukir, seni gamelan, wayang kulit, bedug di mesjid, Gerebeg Maulud, seni Tata Kota dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.&lt;br /&gt;Seni Pakaian :&lt;br /&gt;Beliau yang pertama kali menciptakan baju taqwa. Baju taqwa ini pada akhirnya disempurnaka oleh Sultan Agung dengan dester nyamping dan keris serta rangkaian lainnya. Baju ini masih banyak di pakai oleh masyarakat Jawa, setidaknya pada upacara pengantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.&lt;br /&gt;Seni Suara :&lt;br /&gt;Sunan Kalijagalah yang pertama kali menciptakan tembang Dandang Gula dan Dandang Gula Semarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.&lt;br /&gt;Seni Ukir :&lt;br /&gt;Beliau pencipta seni ukir bermotif dedaunan, bentuk gayor atau alat menggantungkan gamelan dan bentuk ornamentik lainnya yang sekarang dianggap seni ukir Nasional. Sebelum era Sunan Kalijaga kebanyakan seni ukir bermotifkan manusia dan binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.&lt;br /&gt;Bedug atau Jidor di Mesjid :&lt;br /&gt;Beliaulah yang pertama kali mempunyai ide menciptakan Bedug di masjid, yaitu memerintahkan muridnya yang bernama Sunan Bajat untuk membuat Bedug di masjid Semarang guna memanggil orang untuk pergi mengerjakan shalat jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.&lt;br /&gt;Gerebeg Maulud :&lt;br /&gt;Ini adalah acara ritual yang diprakarsai Sunan Kalijaga, asalnya adalah tabliqh atau mengajian akbar yang diselenggarakan para wali di Masjid Demak untuk memperingati Maulud Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.&lt;br /&gt;Gong Sekaten :&lt;br /&gt;Adalah gong ciptaan Sunan Kalijaga yang nama aslinya adalah Gong Syahadatain yaitu dua kalimah Syahadat. Bila gong itu dipukul akan berbunyi bermakna : di sana di situ, mumpung masih hidup, berkumpullah untuk masuk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.&lt;br /&gt;Pencipta Wayang Kulit :&lt;br /&gt;Pada jaman sebelum Sunan Kalijaga, wayang bentuknya adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt;Adegan demi adegan wayang tersebut digambar pada sebuah kertas dengan gambar ujud manusia. Dan ini diharamkan oleh Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena diharamkan oleh Sunan Giri, Suna Kalijaga membuat kreasi baru, bentuk wayang dirubah sedemikian rupa, dan digambar atau di ukir pada sebuah kulit kambing, satu lukisan adalah satu wayang, sedang di jaman sebelumnya satu lukisan adalah satu adegan. Gambar yang ditampilkan oleh Sunan Kalijaga tidak bisa disebut gambar manusia, mirip karikatur bercita rasa tinggi. Diseluruh dunia hanya di Jawa inilah ada bentuk wayang seperti yang kita lihat sekarang. Itulah ciptaan Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h.&lt;br /&gt;Sebagai Dalang :&lt;br /&gt;Bukan hanya pencipta wayang saja, Sunan Kalijaga juga pandai mendalang. Sesudah peresmian Masjid Demak dengan shalat Jum’ah, beliaulah yang mendalang bagi pagelaran wayang kulit yang diperuntukkan menghibur dan berdakwah kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon yang dibawakan seringkali ciptaannya sendiri, seperti ; Jimat Kalimasada, Dewi Ruci, Petruk Jadi Raja, Wahyu Widayat dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalang dari kata “dalla” artinya menunjukkan jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i.&lt;br /&gt;Ahli Tata Kota :&lt;br /&gt;Baik di Jawa maupun Madura seni bangunan Tata Kota yang dimiliki biasanya selalu sama. Sebab Jawa dan Madura mayoritas penduduknya adalah Islam. Para penguasanya kebanyakan meniru cara Sunan Kalijaga dalam membangun Tata Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tehnik bangunan Kabupaten atau Kota Praja biasanya terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Istana atau Kabupaten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Alun-alun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Satu atau dua pohon beringin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letaknya juga sangat teratur, bukan sembarangan. Alun-alun ; berasal dari kata “Allaun” artinya banyak macam atau warna. Diucapkan dua kali “Allaun-allaun” yang maksudnya menunjukkan tempat bersama ratanya segenap rakyat dan penguasa di pusat kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waringin : dari kata “Waraa’in artinya orang yang sangat berhati-hati. Orang-orang yang berkumpul di alun-alun itu sangat hati-hati memelihara dirinya dan menjaga segala hukum atau undang-undang, baik undang-undang negara atau undang-undang agama yang dilambangkan dengan dua pohon beringin yaitu Al-Qur’an dan hadits Nabi. Alun-alun biasanya berbentuk segi empat hal ini dimaksudkan agar dalam menjalankan ibadah seseorang itu harus berpedoman lengkap yaitu syariat, hadiqat dan tariqat dan ma’rifat. Jadi tidak dibenarkan hanya mempercayai yang hakikat saja tanpa mengamalkan syariat agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu disediakan Masjid sebagai pusat kegiatan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letak istana atau kantor kabupaten : letak istana atau pendapat kabupaten biasanya berhadapan dengan alun-alun dan pohon beringin. Letak istana atau kabupaten itu biasanya menghadap ke laut dan membelakangi gunung. Ini artinya para penguasa harus menjauhi kesombongan, sedang menghadap ke laut artinya penguasa itu hendaknya berhati pemurah dan pemaaf seperti luasnya laut. Sedang alun-alun dan pohon beringin yang berhadapan dengan istana atau kabupaten artinya penguasa harus selalu mengawasi jalannya undang-undang dan rakyatnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Murid Murid Sunan Kalijaga antara lain :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/ki-pandarang-sunan-tembayat.html"&gt;Ki Pandarang-Sunan Tembayat&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/sunan-geseng-ki-ageng-gribik.html"&gt;Sunan Geseng-Ki Ageng Gribrik &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/10/syech-jangkung-saridin.html"&gt;Syech Jangkung&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-1272273329235367221?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sunan Drajad</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/08/sunan-drajad.html</link><category>Walisongo</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 18 Aug 2010 23:24:19 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-4553761101598636894</guid><description>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Drajad&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Asal Usul&lt;br /&gt;Nama asli Sunan Drajad adalah Raden Qosim, beliau putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati dan merupakan adik dari Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Qosim yang sudah mewarisi ilmu dari ayahnya kemudian di perintah untuk berda’wah di sebelah barat Gresik yaitu daerah kosong dari ulama besar antara Tuban dan Gresik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden mulai perjalanannya dengan naik perahu dari Gresik sesudah singgah di tempat Sunan Giri. Dalam perjalanan ke arah barat itu perahu beliau tiba-tiba di hantam oleh ombak yang besar sehingga menabrak karang dan hancur. Hampir saja Raden Qosim kehilangan jiwa, tapi bila Tuhan belum menentukan ajal seseorang bagaimanapun hebatnya kecelakaan pasti dia akan selamat, demikian pula halnya dengan Raden Qosim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kebetulan seekor ikan besar yaitu ikan talang datang kepadanya. Dengan menunggang punggung ikan tersebut Raden Qosim dapat selamat hingga ke tepi pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Qosim sangat bersyukur dapat lolos dari musibah itu. Beliau juga berterima kasih kepada ikan talang yang dengan lantarannya dia selamat. Untuk itu beliau telah berpesan kepada anak turunannya agar jangan sampai makan daging ikan talang. Bila pesan ini dilanggar akan mengakibatkan bencana, yaitu ditimpa penyakit yang tiada obatnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan talang itu membawa Raden Qosim hingga ke tepi pantai yang termasuk wilayah desa jelag ( sekarang termasuk wilayah desa Banjarwati ), kecamatan Paciran. Di tempat itu Raden Qosim disambut masyarakat setempat dengan antusias, lebih-lebih setelah mereka tahu bahwa Raden Qosim adalah putra Sunan Ampel seorang Wali besar dan masih terhitung kerabat keraton Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa Jelag itu Raden Qosim mendirikan pesantren. Karena caranya menyiarkan agama Islam yang unik maka banyaklah orang yang datang berguru kepadanya. Setelah menetap satu tahun di desa Jelag, Raden Qosim mendapat ilham supaya menuju ke arah selatan, kira-kira berjarak 1 kilo meter, disana beliau mendirikan surau langgar untuk berdakwah. Tiga tahun kemudian secara mantap beliau mendapat petunjuk agar membangun tempat berdakwah yang strategis yaitu ditempat ketinggian yang disebut Dalem Duwur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bukit yang disebut Dalem Duhur itulah yang sekarang dibangun Museum Sunan Drajad, adapun makam Sunan Drajad terletak di sebelah barat Museum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Qosim adalah pendukung aliran putih yang dipimpin oleh Sunan Giri. Artinya, dalam berdakwah menyebarkan agama Islam, beliau menganut jalan lurus, jalan yang tidak berliku-liku. Agama harus diamalkan dengan lurus dan benar sesuai dengan ajaran Nabi. Tidak boleh dicampur baur dengan adat dan kepercayaan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian beliau juga mempergunakan kesenian rakyat sebagai alat dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam museum yang terletak di sebelah timur makamya terdapat seperangkat bekas gamelan Jawa, hal itu menunjukkan betapa tinggi penghargaan Sunan Drajad kepada kesenian Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ajaran Sunan Drajad Yang Terkenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara ajaran beliau yang terkenal adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menehono teken marang wong wuto&lt;br /&gt;Menehono mangan marang wong kan luwe&lt;br /&gt;Menehono busono marang wong kang mudo&lt;br /&gt;Menehono ngiyub marang wong kang kudanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya kurang lebih demikian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berilah tongkat kepada orang buta&lt;br /&gt;Berilah makan kepada orang yang kelaparan&lt;br /&gt;Berilah pakaian kepada orang yang telanjang&lt;br /&gt;Berilah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun maksudnya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berilah petunjuk kepada orang bodoh ( buta )&lt;br /&gt;Sejahterakanlah kehidupan rakyat yang miskin ( kurang makan )&lt;br /&gt;Ajarkanlah budi pekerti ( etika ) kepada orang yang tidak tahu malu&lt;br /&gt;atau belum punya beradaban tinggi.&lt;br /&gt;Berilah perlindungan kepada orang-orang yang menderita atau ditimpa bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajarannya ini sangat supel, siapapun dapat mengamalkan sesuai dengan tingkat dan kemampuan masing-masing. Bahkan pemeluk agama lainpun tidak berkeberatan untuk mengamalkannya. Di samping terkenal sebagai seorang Wali yang berjiwa dermawan dan social, beliau juga dikenal sebagai anggota Wali Songo yang turut serta mendukung dinasti Demak dan ikut pula mendirikan Masjid Demak. Simbol kebesaran ummat Islam pada waktu itu. Di bidang kesenian, disamping terkenal sebagai ahli ukir, beliau juga pertama kali yang menciptakan Gending Pangkur.Hingga sekarang gending tersebut masih disukai rakyat Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Drajad, demikian gelar Raden Qosim, diberikan kepadanya karena beliau bertempat tinggal di sebuah bukit yang tinggi, seakan melambangkan tingkat ilmunya yang tinggi, yaitu tingkat atau derajat para ulama’ muqarrobin. Ulama yang dekat dengan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari makam beliau telah dibangun Museum yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan beliau di bidang kesenian.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-4553761101598636894?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sunan Bonang</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/08/sunan-bonang.html</link><category>Walisongo</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 18 Aug 2010 23:23:50 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-2628926271398246988</guid><description>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Bonang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Putra Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila. Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah putri Prabu Kertabumi ada pula yang berkata bahwa Dewi Condrowati adalah putri angkat Adipati Tuban yang sudah beragama Islam yaitu Ario Tejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa, tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin. Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha para Wali itu lebih berat dari pada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon Wali yang besar, maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dari berbagai literature bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang, yaitu Negeri Pasai. Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah  kandung dari Sunan Giri, juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai. Seperti ulama ahli tasawuf yang berasal dari Bagdad, Mesir, Arab dan Persi atau Iran. Sesudah belajar di Negeri Pasai, Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang ke Jawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal sebagai Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di&lt;br /&gt;Tuban. Dalam berdakwa Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan di bagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat. Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang Wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang, pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim.&lt;br /&gt;Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran Islam kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam. Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tembang yang terkenal ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tamba ati iku sak warnane,&lt;br /&gt;Maca Qur’an angen-angen sak maknane,&lt;br /&gt;Kaping pindho shalat sunah lakonona,&lt;br /&gt;Kaping telu wong kang saleh kancanana,&lt;br /&gt;Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe,&lt;br /&gt;Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe,&lt;br /&gt;Sopo wongé bisa ngelakoni, Insya Allah Gusti Allah nyemba dani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat sakit jiwa (hati) itu ada lima jenisnya.&lt;br /&gt;Pertama membaca Al-Qur’an dengan artinya,&lt;br /&gt;Kedua mengerjakan shalat malam (sunnah Tahajjud),&lt;br /&gt;Ketiga sering bersahabat dengan orang saleh (berilmu),&lt;br /&gt;Keempat harus sering berprihatin (berpuasa),&lt;br /&gt;Kelima sering berdzikir mengingat Allah di waktu malam,&lt;br /&gt;Siapa saja mampu mengerjakannya, Insya Allah Tuhan Allah mengabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang lagi ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jama’ah, baik di pedesaan maupun dipesantren. Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang. Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di PerpustakaanUniversitas Leiden, Belanda. (Nederland)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suluk berasal dari bahasa Arab “Salakattariiqa” artinya menempuh jalan (tasawwuf) atau tarikat. Ilmunya sering disebut Ilmu Suluk. Ajaran yang biasa disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawah ini adalah Suluk karya Sunan Bonang yang disebut Suluk Wragul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suluk Wragul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhandhhanggula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berang-berang, jika diteliti ini raga&lt;br /&gt;Belum ketemu hakikatnya&lt;br /&gt;Ada atau tidakkah ia&lt;br /&gt;Sebenarnya aku ini siapa&lt;br /&gt;Impian beraneka ragam&lt;br /&gt;Kalau dipikirkan&lt;br /&gt;Akhirnya menyedihkan&lt;br /&gt;Yang mustahil banyak sekali&lt;br /&gt;Segala wujud di semesta ini&lt;br /&gt;Tak putus-putus sama sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengarlah perlambang ini&lt;br /&gt;Ada kera hitam sedang berdiri&lt;br /&gt;Di tepi sungai&lt;br /&gt;Tertawa keras tak kepalang&lt;br /&gt;Kepada berang-berang yang mencari makan&lt;br /&gt;Siang dan malam&lt;br /&gt;Terus tanpa kesudahan&lt;br /&gt;Tak ingat bahwa ia diciptakanTuhan&lt;br /&gt;Yang diingat hanya makanan&lt;br /&gt;Tanpa memperdulikan&lt;br /&gt;Bahaya mengncam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilalapnya apa saja ia dapatkan&lt;br /&gt;Tidaklah ia memperhatikan&lt;br /&gt;Tuhan Yang Maha Agung yang menciptakan&lt;br /&gt;Mustahil ia tak sanggup memberi makan&lt;br /&gt;Dari kehidupan hingga kematian&lt;br /&gt;Apapun saja yang dikodratkan&lt;br /&gt;Telah disesuaikan&lt;br /&gt;Ulat dalam batu pun diberi santunan&lt;br /&gt;Maka jangan hanya suntuk mencari makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya terlupa bahwa ia ciptaan Allah&lt;br /&gt;Berang-berang berkata dengan ramah&lt;br /&gt;Duh kera hitam, sungguh engkau kejam&lt;br /&gt;Kau paksa aku mengikutimu&lt;br /&gt;Yang kata orang tanpa dipikirkan&lt;br /&gt;Ya, aku terpaksa&lt;br /&gt;Mencari makan, tapi tidaklah&lt;br /&gt;Dengan susah payah&lt;br /&gt;Sekedar semampu diriku ini&lt;br /&gt;Aku tak mencari-cari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak orang lain tak kurebut&lt;br /&gt;Tak kuperhatikan bencana dan kutuk&lt;br /&gt;Tak kulihat yang hidup&lt;br /&gt;Demikian pulalah halnya burung elang&lt;br /&gt;Mengikuti tenggiling untuk cari makan&lt;br /&gt;Susah untuk memberi peringatan&lt;br /&gt;Jika engkau merasa&lt;br /&gt;Sebagai makhluk Tuhan adanya&lt;br /&gt;Janganlah hati mendua&lt;br /&gt;Tak usah campuri urusan orang lain&lt;br /&gt;Karena semua punya kadar masing-masing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah diberi hak hidup sendiri-sendiri&lt;br /&gt;Seperti juga berbagai tetumbuhan ini&lt;br /&gt;Atau yang memakan dedaunan&lt;br /&gt;Mengikuti takdir Tuhan&lt;br /&gt;Siapa akan mengikuti kata-katamu&lt;br /&gt;Siapa menuruti ajakanmu&lt;br /&gt;Sedangkan di hutan tempatmu&lt;br /&gt;Sang kera hitam menjawab&lt;br /&gt;Tidaklah akan kuubah&lt;br /&gt;Makananmu, hanya ingatlah&lt;br /&gt;Kepada yang memberi makan kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatlah amal kebajikan&lt;br /&gt;Terpaksa harus kuberitahukan&lt;br /&gt;Hal-hal yang berfaedah saja&lt;br /&gt;Sekedar menunjukkan yang benar adanya&lt;br /&gt;Jawab Berang-berang&lt;br /&gt;Tahulah aku&lt;br /&gt;Maksud omonganmu&lt;br /&gt;Kau inginkan&lt;br /&gt;Agar kuberi kau makan&lt;br /&gt;Tapi aku tak akan tunduk kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat sudah tahu kebohongannya&lt;br /&gt;Mulut jujur hati berdusta&lt;br /&gt;Karena memaksa harus berbuat begini&lt;br /&gt;Menghormat kepada yang belum mengerti&lt;br /&gt;Agar dipercaya di dunia ini&lt;br /&gt;Berapa kekuatannya&lt;br /&gt;Tak tahu bahwa&lt;br /&gt;Dengan bertapa sesungguhnya bersembunyi&lt;br /&gt;Ingin kulihat mana pendeta yang benar-benar sakti&lt;br /&gt;Kalau berhasil melebihi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya luhur dan mulia&lt;br /&gt;Serba benar pembicaraannya&lt;br /&gt;Tuntas luar dalamnya&lt;br /&gt;Bagus penampilannya&lt;br /&gt;Kena kotoran sedikitpun tak bersedia&lt;br /&gt;Seperti burung elang akibatnya&lt;br /&gt;Terbang tinggi&lt;br /&gt;Lupa melihat kanan kiri&lt;br /&gt;Begitu musuh disiasati&lt;br /&gt;Selamat sampai akhir hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ibarat ikan&lt;br /&gt;Ikan gegenjong yang lemah badannya&lt;br /&gt;Namun tajam tajinya&lt;br /&gt;Hai kera hitam&lt;br /&gt;Mana kata-katamu yang benar&lt;br /&gt;Yang diharamkan ditolaknya&lt;br /&gt;Itu kalau sedikit jumlahnya&lt;br /&gt;Dan walaupun haram&lt;br /&gt;Tapi kalau ada sedikit manisnya ditutupi&lt;br /&gt;Dengan amat tersembunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas itu dicampur aduk&lt;br /&gt;Ada yang diucapkan dengan pura-pura&lt;br /&gt;Yang terlihat tindakannya&lt;br /&gt;Pujangga maupun pendeta&lt;br /&gt;Sama-sama kurang budinya&lt;br /&gt;Aku tahu semuanya&lt;br /&gt;Sama-sama meminta-minta&lt;br /&gt;Hanya satu dua yang mengamalkan&lt;br /&gt;Meminta tanpa dibantah&lt;br /&gt;Walaupun tidak sungguhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kikir kalau dimintai&lt;br /&gt;Lagaknya seperti pendeta sakti&lt;br /&gt;Usaha seakan tak henti&lt;br /&gt;Dalam hidup ini hendaklah mengerti&lt;br /&gt;Upaya orang lain&lt;br /&gt;Dalam hidup ini seyogianya&lt;br /&gt;Tak demikian tindakannya&lt;br /&gt;Di mana ada niat yang tak semestinya&lt;br /&gt;Kata ahli kitab tak mau makan riba&lt;br /&gt;Sebab ia pendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang besar orang kecil berebut bersaing&lt;br /&gt;Berupaya menggunakan akal masing-masing&lt;br /&gt;Yang namanya raga manusia&lt;br /&gt;Siap semuanya&lt;br /&gt;Untuk beramal senantiasa&lt;br /&gt;Sedangkan apa kelebihan pendeta&lt;br /&gt;Sibuk mengolah ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;Rahasianya mencari pekerjaan&lt;br /&gt;Berkah yang melimpah diharapkan&lt;br /&gt;Jaksa pun demikian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah yang tersembunyi pada para penulis&lt;br /&gt;Mencari nafkah dengan menipu mengemis&lt;br /&gt;Supaya ada kaulnya&lt;br /&gt;Demikian para dukun adanya&lt;br /&gt;Menjual mantra&lt;br /&gt;Juga para guru yang terhormat&lt;br /&gt;Mengajarkan ilmu luhur&lt;br /&gt;Sama saja yang diharapkan&lt;br /&gt;Yaitu pengabdian murid&lt;br /&gt;Seperti burung kuntul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertapa ada tujuannya&lt;br /&gt;Agar memperoleh ikan di rawa&lt;br /&gt;Agar semua itu kena olehnya&lt;br /&gt;Adapun yang bertapa di gunung&lt;br /&gt;Tujuannya pun&lt;br /&gt;Untuk memperoleh Negara&lt;br /&gt;Oleh masyarakat dipercaya&lt;br /&gt;Begitu yang namanya pendeta&lt;br /&gt;Terus menerus bertukar pikiran&lt;br /&gt;Berbuat kepercayaan dalam pemerintahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang benar ditentang&lt;br /&gt;Mencari saksi makin kesulitan&lt;br /&gt;Diuji dengan kepercayaannya&lt;br /&gt;Tak tahu bahwa terlalu asyik ia&lt;br /&gt;Membicarakan keburukan orang&lt;br /&gt;Sementara pada dirinya sendiri tak kelihatan&lt;br /&gt;Padahal kejelekannya sebesar gunung&lt;br /&gt;Lagi pula ia tertarik pada rupa&lt;br /&gt;Serta keanekaragaman suara yang masuk telinganya&lt;br /&gt;Dari awal hingga akhir diterimanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena banyak orang membingungkan&lt;br /&gt;Tersandunglah ia di tempat yang rata&lt;br /&gt;Sembuh, tapi mati akhirnya&lt;br /&gt;Yang samar dikira nyata&lt;br /&gt;Yang bukan-bukan dikira mengalir&lt;br /&gt;Yang duduk dikira air&lt;br /&gt;Yang tidak terlihat&lt;br /&gt;Senantiasa melihat cela orang lain&lt;br /&gt;Sedang aku, cari makan tak sembunyi-sembunyi&lt;br /&gt;Sang kera bicara gusar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kamu jadinya&lt;br /&gt;Mencela tingkah laku pendeta&lt;br /&gt;Kalau begitu&lt;br /&gt;Kamu pantas diburu&lt;br /&gt;Hidupmu bagiku gambling&lt;br /&gt;Merintangi pekerjaan&lt;br /&gt;Kemudian sang berang-berang&lt;br /&gt;Berucap : Apa maumu !&lt;br /&gt;Seraya merunduk sambil menerjang&lt;br /&gt;Tapi telah meloncat si kera hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dahan kayu sambil bersiaga&lt;br /&gt;Sehingga mengagetkan kera-kera lainnya&lt;br /&gt;Semua pun angkat bicara&lt;br /&gt;Dengan bahasa lambang mereka&lt;br /&gt;Marah mereka&lt;br /&gt;Siapa saja yang mencela pendeta&lt;br /&gt;Boleh kita mengejarnya&lt;br /&gt;Sampai mati ia&lt;br /&gt;Semua kera mengepung di pinggir sungai itu&lt;br /&gt;Tapi berang-berang sudah tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sudah berkumpul semua kera hitam&lt;br /&gt;Berang-berang masuk ke dalam air pelan-pelan&lt;br /&gt;Karena kera sebanyak itu tidaklah terlawan&lt;br /&gt;Kemudian si berang-berang&lt;br /&gt;Sambil makan ikan, memberi peringatan:&lt;br /&gt;Kera hitam, pulanglah kau&lt;br /&gt;Bersama teman-temanmu&lt;br /&gt;Sebab siapa tahu si empunya datang&lt;br /&gt;Yang di sungai ini ia punya larangan&lt;br /&gt;Siapa tahu firasat ia dapatkan ……….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggupkah kau lindungi teman-temanmu ?&lt;br /&gt;Maka semua kera hitampun bubar berlalu&lt;br /&gt;Agaknya mereka malu&lt;br /&gt;Dan sang berang-berang keluar dari air&lt;br /&gt;Mengamati kiri kanan dengan rasa khawatir&lt;br /&gt;Kalau-kalau masih ada kera yang belum menyingkir&lt;br /&gt;Sang berang-berang berkata dalam hati&lt;br /&gt;Berangan-angan ia&lt;br /&gt;Kera hitam merasa suci dirinya&lt;br /&gt;Mencela orang yang sedang mencari mangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang perbuatan yang cemar&lt;br /&gt;Adalah perbuatan melanggar&lt;br /&gt;Hanya saja tak terlihat&lt;br /&gt;Sungguh, cari saja yang mempunyai&lt;br /&gt;Kebahagiaa, berlakulah laku sejati&lt;br /&gt;Meskipun seorang pendeta&lt;br /&gt;Seulung apapun ia&lt;br /&gt;Jika menulis, lupa beribadah&lt;br /&gt;Dirinya sendiri tak tampak olehnya&lt;br /&gt;Karena orang lain saja yang dilihatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tingkah laku orang peroranglah&lt;br /&gt;Yang merupakan makanan kesukaannya&lt;br /&gt;Kelihatan bijak perbuatannya&lt;br /&gt;Namanya pujangga&lt;br /&gt;Yang terkandung di hati yang ditatapnya&lt;br /&gt;Tapi setelah keluar darinya&lt;br /&gt;Terlihat ia ingin menjiplaknya&lt;br /&gt;Demikian ibarat seekor burung&lt;br /&gt;Bertengger di pohon beringin yang terbalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sang berang-berang&lt;br /&gt;Bersoal jawab dengan kera hitam&lt;br /&gt;Turunlah burung tuhu&lt;br /&gt;Menanyakan kesejatian&lt;br /&gt;Mungkin selama perbincangan itu&lt;br /&gt;Yang demikian yang diinginkan&lt;br /&gt;Kepada kalimat tauhid amat senang&lt;br /&gt;Sehingga dipertuhankan&lt;br /&gt;Tak ingat yang sungguh-sungguh Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir dan batin, dulu dan kemudian&lt;br /&gt;Baik buruk, suka dan duka&lt;br /&gt;Sudah nasib manusia, tiada bedanya&lt;br /&gt;Takdir Allah yang Maha Agung&lt;br /&gt;Siang malam sembah puji senantiasa&lt;br /&gt;Jika rahmat tak datang juga&lt;br /&gt;Jika belum mencapainya&lt;br /&gt;Masih ragu adanya&lt;br /&gt;Berterus teranglah dalam memperolehnya&lt;br /&gt;Demikian burung tuhu berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sebulan aku berdampingan&lt;br /&gt;Namun dengan gagak belum tercapai kesepakatan&lt;br /&gt;Sebab semua&lt;br /&gt;Yang ia makan adalah kotoran&lt;br /&gt;Jadi selalu kuhindari&lt;br /&gt;Tak akan aku ikuti&lt;br /&gt;Yang najis&lt;br /&gt;Sungguh selama hidupku&lt;br /&gt;Yang halal saja makananku&lt;br /&gt;Yang diajak bicara menjawab begitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu semua pengetahuan&lt;br /&gt;Namun tak mengerti sastra agama&lt;br /&gt;Dari mana asalnya&lt;br /&gt;Yang meskipun seolah telah merasuk dihati&lt;br /&gt;Tak mungkin ditolak di dunia ini&lt;br /&gt;Burung tuhu berujar :&lt;br /&gt;Walau manis tutur katanya&lt;br /&gt;Sebenarnya takhyul yang dibeberkan&lt;br /&gt;Sang berang berkata : Pernah kudengar&lt;br /&gt;Bahwa dalang tak pernah ditanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemburu tak henti berkelana&lt;br /&gt;Ibarat burung bangau bertapa di rawa&lt;br /&gt;Tiada lain niatnya&lt;br /&gt;Kecuali mencari ikan di air&lt;br /&gt;Dimakannya siang malam&lt;br /&gt;Seperti bangau botak&lt;br /&gt;Seperti kambing prucul&lt;br /&gt;Maka orang yang menjalani laku&lt;br /&gt;Jangan cepat melangkah dulu&lt;br /&gt;Bertanyalah kepada yang tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruslah lahir batin kalau memuji&lt;br /&gt;Yang diucapkan musti dimengerti&lt;br /&gt;Yang dilihat hendaknya dipahami&lt;br /&gt;Juga segala yang didengar&lt;br /&gt;Betapa sukar orang memuji&lt;br /&gt;Maka sebaiknya carilah guru&lt;br /&gt;Yakni orang yang lebih tahu&lt;br /&gt;Yakni ahli ibadah&lt;br /&gt;Dan memujilah hingga merasuki hati&lt;br /&gt;Begitulah orang melakukan sembah puji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tak tahu apa yang disembah&lt;br /&gt;Hilanglah apa yang disembah&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya tak ada tirai itu&lt;br /&gt;Tataplah gunung&lt;br /&gt;Dan bunga dalam kesepian&lt;br /&gt;Ikan tanpa mata&lt;br /&gt;Wahyu sejati&lt;br /&gt;Pandanglah Arjuna&lt;br /&gt;Kalau bertapa tak tergoda&lt;br /&gt;Oleh apa saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga macam pepuji&lt;br /&gt;Pertama melihat yang disembah&lt;br /&gt;Kedua melihat rupanya&lt;br /&gt;Ketiga tak melihat&lt;br /&gt;Kepada sesuatu, namun&lt;br /&gt;Menghadap yang disembah&lt;br /&gt;Ibarat mencari&lt;br /&gt;Dalang topeng yang sedang melakukan pertunjukan&lt;br /&gt;Tak beda segala yang dimiliki&lt;br /&gt;Berpadu satu ragawi ruhani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tak begitu kafir jadinya&lt;br /&gt;Yang namanya gajah, gerangan mana ia&lt;br /&gt;Sejauh-jauh usiaku&lt;br /&gt;Belum mengerti hal itu&lt;br /&gt;Ibarat menyatukan perjalanan gajah&lt;br /&gt;Dengan petualangan burung garuda&lt;br /&gt;Ibarat menyatukan punggung dengan dada&lt;br /&gt;Atau wayang dengan kelirnya&lt;br /&gt;Tapi sesungguhnya cermin satu adanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu jelas sama&lt;br /&gt;Yang dicari sedang tak ada&lt;br /&gt;Tapi burung tuhu sedang memahaminya&lt;br /&gt;Ibarat malam yang dibakar&lt;br /&gt;Tak ada yang dipikirkan&lt;br /&gt;Ajaran dari berang-berang&lt;br /&gt;Biasanya sudah diajarkan&lt;br /&gt;Jiwa yang hidup dan yang mati itu satu&lt;br /&gt;Ingat bahwa engkau dikuasai Tuhanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya tinta&lt;br /&gt;Masih menyatu dengan tempatnya&lt;br /&gt;Jangan menghindar meski mati bayarannya&lt;br /&gt;Kalau hidup, hiduplah seperlunya&lt;br /&gt;Selalu perhatikan guru&lt;br /&gt;Jangan seperti orang bermimpi&lt;br /&gt;Atau seperti burung yang disuruh berbicara&lt;br /&gt;Mengikuti kata-kata&lt;br /&gt;Dijadikan panutan pikirannya&lt;br /&gt;Berang-berang bersiap-siap menyingkir&lt;br /&gt;Burung tuhu terbang ke dahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kemudian matahari terbenam&lt;br /&gt;Terdengar suara pertunjukan wayang&lt;br /&gt;Tampaknya di istana&lt;br /&gt;Tergetar tabirnya&lt;br /&gt;Di depan kelir berada semua wayangnya&lt;br /&gt;Burung tuhu tampak&lt;br /&gt;Ki dalang terlihat&lt;br /&gt;Yang terlihat gawang-gawangnya&lt;br /&gt;Wayangnya tiada, hanya dalangnya&lt;br /&gt;Padahal tabir penglihatan tidaklah ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalang dapat bertukar rupa&lt;br /&gt;Banyak orang jatuh cinta&lt;br /&gt;Menyaksikan tingkah wayangnya&lt;br /&gt;Terlihat segala tingkah lakunya&lt;br /&gt;Semua saling jatuh cinta&lt;br /&gt;Betapa mendalam keinginan&lt;br /&gt;Menatap sang dalang&lt;br /&gt;Namun dicari tak ketemu&lt;br /&gt;Meskipun dengan susah dan rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragul 37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih jika kurenungkan ini&lt;br /&gt;Dengan teliti&lt;br /&gt;Betul-betul ingin bekerja&lt;br /&gt;Terlalu penuh perhitungan akhirnya&lt;br /&gt;Atas kekayaan orang-orang kaya&lt;br /&gt;Maka kalau tak paham&lt;br /&gt;Jangan ikut-ikutan&lt;br /&gt;Sampai kapan demikian&lt;br /&gt;Sesungguhnya engkau disuruh mencari kembali&lt;br /&gt;Raga yang tersembunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan beliau pernah menaklukkan seorang pemimpin perampok dan anak buahnya hanya mempergunakan tambang dan gending. Dharma dan irama Mocopot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu gending ditabuh Kebondanu dan anak buahnya tidak mampu bergerak, seluruh persendian mereka seperti dilolosi dari tempatnya. Sehingga gagallah mereka melaksanakan niat jahatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun .......... hentikanlah bunyi gamelan itu, kami tidak kuat !” Demikian rintih Kebondanu dan anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gending yang kami bunyikan sebenarnya tidak berpengaruh buruk terhadap kalian jika saja hati kalian tidak buruk dan jahat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kami menyerah, kami tobat ! Kami tidak akan melakukan perbuatan jahat lagi, tapi .......... “ Kebondanu ragu meneruskan ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Kebondanu, teruskan ucapanmu !” ujar Sunan Bonang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah Tuhan mengampuni dosa-dosa kami yang sudah tak terhitung lagi banyaknya,” kata Kebondanu dengan ragu. “Kami sudah sering merampok, membunuh dan melakukan tindak kejahatan lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja,” kata Sunan Bonang. “Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Penerima tobat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walau dosa kami setinggi gunung ?” Tanya Kebondanu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, walau dosamu setinggi gunung dan sebanyak pasir dilaut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Kebondanu benar-benar bertobat dan menjadi murid Sunan Bonang yang setia. Demikian pula anak buahnya. Pada suatu ketika juga ada seorang Brahmana sakti dari India yang berlayar ke  Tuban. Tujuannya hendak mengadu kesaktian dan berdebat tentang masalah keagamaan dengan Sunan Bonang. Namun ketika ia berlayar menuju Tuban, perahunya terbalik dihantam badai. Walaupun ia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah tenggelam ke dasar laut. Di tepi pantai mereka melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat. Mereka menghentikan lelaki itu dan menyapanya. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkah dan menancapkan tongkatnya ke pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan&lt;br /&gt;Bonang.” kata sang Brahmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang ?” tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan, kata sang Brahmana.” Tapi sayang kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara lelaki itu mencabut tongkatnya yang menancap di pasir, mendadak tersemburlah air dari lubang tongkat itu, membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut ?” Tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar miliknya sendiri. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapa sebenarnya lelaki berjubah putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini ?” tanya sang Brahmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan berada di pantai Tuban !” jawab lelaki itu. Serta merta Brahmana dan para pengikutnya menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah dapat menduga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa lagi orang sakti berilmu tinggi yang berada di kota Tuban selain Sunan Bonang. Sang Brahmana tidak jadi melaksanakan niatnya menantang Sunan Bonang untuk adu kesaktian dan mendebat masalah keagamaan, malah kemudian ia berguru kepada Sunan Bonang dan menjadi pengikut Sunan Bonang yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi legenda aneh tentang Sunan Bonang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu beliau wafat, jenasahnya hendak di bawa ke Surabaya untuk dimakamkan di samping Sunan Ampel yaitu ayahandanya. Tetapi kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak sehingga terpaksa jenazahnya Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami’ Tuban.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-2628926271398246988?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sunan Giri</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/08/sunan-giri.html</link><category>Walisongo</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 18 Aug 2010 23:23:01 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-1525770410458500566</guid><description>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Giri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syeh Wali Lanang&lt;br /&gt;Di Awal abad 14 M. Kerajaan Blambangan diperintah oleh Prabu Menak Sembuyu. Salah sorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Raja dan rakyatnya memeluk agama Hindu dan ada sebagaian yang memeluk agama Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Prabu Menak Sembuyu gelisah, demikian pula permaisurinya, pasalnya putri mereka satu-satunya telah jatuh sakit selama beberapa bulan. Sudah diusahakan mendatangkan tabib dan dukun untuk mengobati tapi sang putri belum sembuh juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda pegebluk atau wabah penyakit. Banyak sudah korban berjatuhan. Menurut gambaran babad Tanah Jawa esok sakit sorenya mati. Seluruh penduduk sangat prihatin, berduka cita, dan hampir semua kegiatan sehari-hari menjadi macet total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Prabu hampir putus asa penyakit yang diderita putrinya. Dewi Sekardadu hanya terbaring di kamarnya, makin hari tubuhnya makin susut, tinggal kulit pembalut tulang. Tanda putri itu masih hidup hanyalah adanya nafas lemah yang masih keluar masuk dari hidungnya. Sepasang matanya tetap terpejam dan wajahnya pucat pasi, hampir seperti mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kanda Prabu ……” ujar permaisuri. “Apakah Kanda tega membiarkan anak kita satu-satunya ini terus dalam keadaan begini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu Dinda ?” sahut Prabu Menak Sembuyu. “Bukankah aku sudah berusaha mendatangkan semua ahli pengobatan di negeri ini. Bahkan belum lama berselang telah mendatangkan tabib terkenal dari Pulau Dewata. Kurangkah usahaku itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, bukan begitu maksudku Kanda ......”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa maumu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buatlah sayembara,” kata permaisuri. “Siapa yang dapat menyembuhkan putri kita akan kita beri hadiah, kalau perlu kita ambil sebagai menantu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Menak Sembuyu terdiam beberapa saat. Pada akhirnya dia setuju atas saran istrinya. Segera dia perintahkan mahapatih kerajaan Blambangan yaitu Patih Bayul Sengara untuk mengumumkan bahwa siapa yang dapat menyembuhkan penyakit putrid Dewi Sekardadu akan dijodohkan dengan putrinya itu. Dan siapa dapat mengusir wabah penyakit dari Blambangan maka akan diberi separo dari wilayah kerajaan Blambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayembara disebar di hampir pelosok negeri. Sehari, dua hari, seminggu bahkan berbulan-bulan kemudian tak ada seorangpun yang menyatakan kesanggupannya untuk mengikuti sayembara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permaisuri makin sedih hatinya. Prabu Menak Sembuyu berusaha menghibur istrinya dengan menugaskan Patih Bayul Sengara untuk mencari pertapa sakti guna mengobati penyakit putrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diiringi beberapa prajurit pilihan, Patih Bayul Sengara berangkat melaksanakan tugasnya. Para pertapa biasanya tinggal di puncak atau lereng-lereng gunung, maka kesanalah Patih Bayul Sengara mengajak pengikutnya mencari orang-orang sakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari mereka menempuh perjalanan, masuk hutan keluar hutan, naik dan turun gunung. Pada suatu ketika mereka bertemu dengan seorang Resi bernama Kandabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan bahwa Resi Kandabaya itu memang sakti, maka sengaja sang patih memerintahkan para prajuritnya menyerang dan mengeroyok Sang Resi dengan senjata terhunus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh orang maju serentak menyerangsang Resi yang sedang duduk terpekur dalam semedi. Resi itu seperti tak menghiraukan adanya bahaya yang mengancam dirinya. Sepasang matanya masih terpejam. Tapi begitu sepuluh orang itu mendekat kearahnya dalam jarak dua langkah tubuh mereka tiba-tiba terpental sejauh sepuluh tombak, tubuh mereka terjerembab ke tanah, senjata mereka terlepas dari tangan dan mereka meringis kesakitan tanpa dapat bergerak untuk bangub lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patih Bajul sengara kaget mengetahui hal itu. Tapi dia masih penasaran. Diam-diam dia mencabut kerisnya. Sang Resi masih duduk bersila, sepasang matanya masih terpejam, Seperti tak terusik oleh prilaku Patih Bajul Sengara dan anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssssst !” tiba-tiba Patih Bajul Sengara melempar kerisnya. Tepat kearah jantung sang Resi. Bukan sekedar lemparan biasa, melainkan lemparan seorang Mahapatih kerajaan Blambangan yang tentu juga memiliki kesaktian tinggi. Dan memang, lemparan keris itu disertai pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung keris itu meleset ke arah sang Resi, hampir saja menyentuh dada Sang Resi. Namun tiba-tiba keris itu membalik, melesat ke arah Patih Bajul Sengara. Patih Bajul Sengara melengak, secepat kilat dia merundukkan badan. Keris itu melesat di atas tubuhnya. Menghantam sebatang pohon sawo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jresss !” keris itu terbenam ke batang pohon sawo yang cukup besar, tinggal gagangnya saja yang tampak. Patih Bajul Sengara hampik tak berkedip menyaksikan gagang kerisnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi hilang rasa terkejutnya Sang Patih, dilihatnya batang pohon sawo itu mengeluarkan asap dan kulit pohon itu menjadi hitam. Tak lama kemudian buah dan pohon sawo itu rontok, berguguran ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta merta Patih Bajul Sengara menjatuhkan diri, berlutut didepan sang Resi. Resi Kandabaya masih dalam sikap semula. Duduk bersila dengan mata terpejam. Seperti tak pernah terjadi suatu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun …… ampunilah kekurangajaran hamba,” ujar Patih Bajul Sengara dengan terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada reaksi dari sang Resi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada seekor merpati putih hinggap di depan sang Resi. Merpati itu meletakkan selembar daun lontar yang dijepit di paruhnya. Dan sesaat kemudian merpati itu mengeluarkan bunyi. (mbekur istilah Jawanya). Aneh, sang Resi kemudian membuka sepasang matanya setelah mendengar suara si merpati. Sang Resi tersenyum dan segera mengelus-elus sayap merpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Pethak ………” ujar sang Resi.” Sekarang kau boleh bermain-main atau beristirahat sesukamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merpati itu mengangguk-anggukkan kepala, seolah mengerti apa yang diucapkan sang Resi. Kemudian dia mengepakkan sayapnya, terbang ke sebuah pohon kenari tak jauh dari Padepokan Resi Kandabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Resi segera mengambil daun lontar yang diletakkan merpati tadi. Dia seperti tak menghiraukan adanya Patih Bajul Sangara yang membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai Padepokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun ......... ampunilah kekurangajaran dan kelancangan hamba menganggu ketenangan Bapa Resi ......... “ Demikian ucap Patih Bajul Sengara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resi Kandabaya masih tak menghiraukan sang patih. Dia sedang asyik membaca gurat-gurat berbentuk tulisan di daun lontar yang dipegangnya. Sesudah membaca tulisan didaun lontar, sang Resi bangkit berdiri. Berjalan kearah sepuluh prajurit yang menggeletak kesakitan tanpa dapat bergerak. Hanya dengan beberapa kali tepukan pada bagian-bagian tertentu di tubuh para prajurit itu maka kesepuluh anak buah Patih Bajul Sengara dapat bergerak lagi dan rasa sakit di sekujur tubuh mereka telah hilang. Serta merta sepuluh orang itu menjatuhkan diri berlutut didepan sang Resi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Resi itu tidak menghiraukan mereka lagi. Dia berjalan kearah Padepokan tempatnya bersemedi tadi. Tapi kali ini dia tidak duduk bersemedi melainkan tegak didepan Patih Bajul Sengara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang hebat dan sopan caramu bertamu kemari hai Patih Bajul Sengara !” tegur sang Resi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun bapa Resi ......... hamba harus yakin bahwa orang yang hendak mintai pertolongan memang benar-benar mumpuni.” ujar Patih Bajul Sengara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku sudah tahu hal itu,” tukas sang resi. “Kau hendak memintaku mengobati penyakit sang putri Dewi Sekardadu dan mengusir wabah pagebluk dari Blambangan atas perintah Prabu Menak Sembuyu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mohon ampun Bapa Resi, memang demikianlah adanya kedatangan hamba kemari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kau salah alamat Patih ! Wabah penyakit itu sudah dikehendaki Dewata Agung. Aku tak mampu mengusirnya, juga tak mampu menyembuhkan Dewi Sekardadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ……… hamba mohon petunjuk ……… “ kata Patih Bajul Sengara, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Mumpung bisa bertemu dengan tokoh seperti Resi Kandabaya dia harus memperoleh hasil, setidak-tidaknya dia harus mendapatkan keterangan bagaimana cara mengobati atau mendapatkan orang yang mampu mengobati Dewi Sekardadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resi Kandabaya seperti mengerti apa yang tersirat di hati Patih Bajul Sengara. Sesudah menarik nafas panjang karena kesal melihat sikap sang Patih diapun berkata, “Baiklah Patih, aku akan memberimu petunjuk. Pada saat itu hanya ada satu orang yang mampu menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu sekaligus mengusir wabah penyakit dari seluruh wilayah Blambangan. Tapi ……”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resi Kandabaya tidak meneruskan ucapannya. Ditatapnya tajam-tajam wajah Patih Bajul Sengara. Sang Patih makin menundukkan mukanya, tak ada keberanian baginya untuk bertatap muka dengan Resi yang terbukti sangat sakti itu. “Apapun yang terjadi, hamba ……… juga Gusti Prabu Menak Sembayu takkan peduli asal Dewi Sekardadu sembuh dari sakitnya.” ujar Patih Bajul Sengara untuk menghapus keraguan Resi Kandabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah? Tapi aku tidak yakin,” sahut sang Resi.” Akan terjadi sesuatu di luar perhitunganmu dan hal itu akan membakar hatimu. Tapi baiklah, kalau kau ingin mengetahui orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu. Ikutilah merpati putih itu terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kuperingatkan, jangan kau mencoba bersikap kurang ajar kepada orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu itu. Dan apapun syaratnya yang diajukannya hendaknyan kau dan Prabu Menak Sembuyu meluluskannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala pesan Bapa Resi akan hamba perhatikan baik-baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah hampir malam, beristirahatlah di Padepokan ini. Besok pagi kalian boleh berangkat menuju gunung Selangu. Merpati putih akan mengantarmu hingga ke tempat tujuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, Patih Bajul Sengara dan anak buahnya malam itu bermalam di Padepokan Resi Kandabaya. Esok harinya mereka sudah bersiap-siap berangkat kegunung Selangu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampaikan salam perdamaian kepada pertapa di gunung Selangu itu.” Pesan Resi Kandabaya sebelum Patih Bajul Sengara meninggalkan Padepokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pesan Bapa Resi akan hamba sampaikan,” jawab Patih Bajul Sengara penuh hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke gunung Selangu memakan waktu yang cukup lama. Walau mereka naik kuda pilihan tapi pada tengah hari barulah mereka sampai di gunung Selangu. Mereka terus mengikuti arah merpati putih terbang menuju suatu tempat. Ketika jalanan semakin naik, maka mereka menambatkan kudanya dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya merpati penunjuk jalan itu berhenti didepan sebuah goa. Saat itu hari mulai gelap. Tapi ada suatu keanehan, dari dalam goa itu memancar sinar terang, sebuah cahaya yang mampu menerangi tempat sekitarnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patih Bajul Sengara memerintahkan para prajurit pengiring untuk menunggu di luar goa. Dia sendiri segera berjalan memasuki goa itu. Makin ke dalam makin terang cahaya yang memancar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sepasang mata Patih Bajul Sengara terbelalak heran, ternyata cahaya itu bukan berasal dari sebuah lampu atau benda melainkan berasal dari tubuh seorang berjubah putih yang sedang bersujud di tanah. Seluruh tubuh dan pakaian orang itu mengeluarkan cahaya terang benderang. Ingat pesan Resi Kandabaya maka Patih Bajul Sengara tidak berbuat macam-macam yang justru akan membahayakan dirinya sendiri. Dengan bersabar dia menunggu orang itu bersujud kemudian duduk bertafakkur. Setelah selesai barulah Patih Bajul Sengara menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Patih Bajul Sengara, datang kemari dengan membawa pesan alam perdamaian dari Resi Kandabaya,” ujar sang Patih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terima salam Resi Kandabaya,” ujar pertapa itu. “Sudah lama aku bersahabat dengan Resi Kandabaya walaupun hanya melalui selembar daun lontar yang diantar oleh merpati sang Resi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patih Bajul Sengara lalu mengutarakan maksud kedatangannya menemui sang pertapa. Pertapa itu mengangguk –anggukkan kepala mendengar penjelasan sang Patih. “Sebelum aku menyatakan kesanggupanku terlebih dahulu kuperkenalkan diriku ini, “kata pertapa itu. “Namaku Maulana Ishak, berasal dari negeri Pasai. Aku bersedia mengobati Dewi Sekardadu dan sekaligus mengusir wabah penyakit dari Blambangan dengan syarat bahwa Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya masuk agama Islam. Dan rakyat Blambangan bersedia mendengar nasehatku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali inilah hal-hal yang termasuk di luar perhitunganku, demikian bisik hati sang Patih. Soal pindah agama dia tidak berani memberi keputusan. Untuk itu dia harus menghadap sang Prabu lebih dahulu. Maka diapun berpamit kepada Syekh Maulana Ishak untuk pulang ke istana Blambangan, menyampaikan persyaratan yang diajukan pertapa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ada baiknya anda berunding dengan Prabu Menak Sembuyu lebih dahulu,” kata Syekh Maulana Ishak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaksa Patih Bajul Sengara kembali ke Blambangan dan menyampaikan persyaratan yang diajukan Syekh Maulana Ishak kepada Prabu Menak Sembuyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja sangat berat bagi sang Prabu untuk melepaskan agama lama yang terlanjur diyakini selama bertahun-tahun, namun demi rasa kasih sayangnya pada Dewi Sekardadu, maka dia terpaksa memenuhi syarat yang diajukan Syekh Maulana Ishak. Patih Bajul Sengara diperintahkan menjemput Syekh Maulana Ishak. Sesampainya di goa gunung Selangu, Patih Bajul Sengara dipersilahkan berangkat ke Blambangan lebih dahulu. Syekh Maulana Ishak akan menyusul kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi betapa terkejut Patih Bajul Sengara ketika sampai di istana Blambangan. Ternyata Syekh Maulana Ishak sudah datang lebih dahulu. Bahkan sang Prabu Menak Sembuyu menegur keterlambatan sang Patih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarlah sang Patih, bahwa Syekh Maulana Ishak itu benar-benar pertapa sakti yang mumpuni. Dia yang menempuh perjalanan naik kuda masih dikalahkan dengan Syekh Maulana Ishak yang datang ke istana Blambangan hanya berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga malam Syekh Maulana Ishak melakukan tirakat untuk mengobati Dewi Sekardadu. Di malam keempat, sesudah melaksanakan shalat sunnah hajat ditiupkan wajah sang putri tiga kali. Seketika sang putri membuka matanya dan bangkit dari tidurnya. Seluruh isi istana gembira menyaksikan hal itu terlebih permaisuri dan Prabu Menak Sembuyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Menak Sembuyu menepati janjinya. Syekh Maulana Ishak diambil menantu. Dijodohkan dengan Dewi Sekardadu. Sambil menunggu keadaan tubuh Dewi Sekardadu supaya benar-benar pulih seperti sedia kala, Syekh Maulana Ishak berkeliling ke seluruh negeri Blambangan untuk memberikan nasehat dan memudarkan pengaruh pagebluk yang melanda rakyat Blambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Syekh Maulana Ishak akhirnya diketahui bahwa rakyat Blambangan sangat ceroboh dalam menjaga kebersihan dan kesehatan mereka. Makanan sehari-hari mereka banyak yang mengandung racun dan penyakit, cara mereka buang hajat disembarang tempat dan mereka jarang mandi atau membersihkan tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Maulana Ishak memberikan penyuluhan merawat kesehatan dan membersihkan diri serta lingkungan tempat tinggal. Dan nasehat itu dilaksanakan maka banyaklah rakyat Blambangan yang sembuh dari sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa orang yang penyakitnya tergolong berat terpaksa mendapat perawatan khusus dari Syekh Maulana Ishak. Dan semuanya berhasil disembuhkan seperti sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah pada hari yang ditentukan, pernikahan Dewi Sekardadu dan Syekh Maulana Ishak dilaksanakan. Upacara diselenggarakan dengan penuh meriah. Karena Syekh Maulana Ishak bukan hanya berhasil menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu melainkan juga mengusir wabah penyakit dari Blambangan maka dia juga diangkat sebagai raja muda atau Adipati. Mendapat kekuasaan separo dari wilayah kerajaan Blambangan, sesuai dengan janji yang diucapkan oleh Prabu Menak Sembuyu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Babad Tanah Jawi, dalam upacara pernikahan yang diselenggarakan itu sudah terjadi ketegangan antara Syekh Maulana Ishak dengan pihak keluarga kerajaan. Yaitu disaat jamuan makan dikeluarkan. Ternyata makanan yang dihidangkan kepada Syekh Mulana Ishak kebanyakan adalah terdiri dari daging binatang haram, seperti babi hutan, harimau, ular, kera dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Syekh Mulana Ishak pada saat itu sungguh sulit sekali. Kalau dia tidak mau menyantap hidangan itu nantinya disangka bersikap sombong dan menghina Prabu Menak Sembuyu. Jika disantap dagingnya terdiri dari hewan yang diharamkan agama Islam, maka diapun berdoá kepada Allah, memohon jalan keluar yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai berdoá terjadilah sesuatu diluar dugaan. Daging-daging binatang haram yang sudah dimasak itu tiba-tiba berubah menjadi binatang hidup berloncatan kesana–kemari. Yang asalnya dari ular menjadi ular, yang berasal dari harimau menjadi harimau, yang asalnya babi hutan menjadi babi hutan. Tentu saja suasana menjadi panik. Pesta meriah geger, Syekh Maulana Ishak mengajak isterinya pulang di Kadipaten baru yang harus diperintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Maulana Ishak hidup berbahagia bersama istrinya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena sejak terjadinya keributan pada jamuan makan itu Patih Bajul Sengara meniupkan isyu jahat kepada Prabu Menak Sembuyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Patih Bajul Sengara, Syekh Maulana Ishak sengaja mempermalukan sang Prabu dengan menghidupkan binatang yang sudah dimasak dan siap dimakan para peserta pesta. Bukan hanya itu saja, keberhasilan Syekh Maulana Ishak berdakwa mengajak rakyat Blambangan masuk Islam dianggap membahayakan kedudukan Prabu Menak Sembuyu selaku penguasa tunggal kerajaan Blambangan. Karena semakin hari semakin banyak pengikut Syekh Maulana Ishak yang masuk Islam. Bahkan tidak sedikit rakyat di wilayah kekuasaan istana Blambangan pindah menjadi penduduk Kadipaten yang dipimpin oleh Syekh Maulana Ishak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama Syekh Maulana Ishak merebut kerajaan Blambangan ini dari tangan Gusti Prabu, demikian hasut Patih Bayul Sengara. “Ya, tidak mustahil dia akan berontak dan memaksa kita benar-benar menjadi pengikutnya. Memang sejauh ini dia tidak tahu bahwa kita pura-pura saja masuk Islam. Tapi pada akhirnya dia pasti mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Menak Sembuyu memang hanya pura-pura masuk agama Islam demi kesembuhan putrinya. Kini setelah termakan oleh hasutan Patih Bajul Sengara dia mulai menaruh kebencian kepada menantunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh bulan sudah Syekh Maulana Ishak menjadi adipati baru di Blambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin hari semakin bertambah banyak saja pengikutnya. Hati Prabu Menak Sembuyu makin panas mengetahui hal ini. Sementara Patih Bajul Sengara tak henti-hentinya mempengaruhi sang Prabu dengan hasutan-hasutan jahatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patih Bajul Sengara sendiri tanpa sepengetahuan sang Prabu sudah mengadakan terror pada pengikut Syekh Maulana Ishak. Tidak sedikit penduduk Kadipaten yang dipimpin Syekh Maulana Ishak di culik disiksa dan dipaksa kembali kepada agama lama. Walau kegiatan itu dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi pada akhirnya Syekh Maulana Ishak mengetahui juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Dewi Sekardadu sedang hamil tujuh bulan. Syekh Maulana Ishak sadar, bila hal itu diteruskan akan terjadi pertumpahan darah yang seharusnya tidak perlu. Kasihan rakyat jelata yang harus menanggung akibatnya. Maka dia segera berpamit kepada istrinya untuk meninggalkan Blambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh tidak pantas seorang anak menantu berperang melawan mertuanya. Lebih tidak tega lagi hatiku bila melihat rakyat yang tak berdosa, sama-sama sewilayah Blambangan harus berperang habis-habisan. Yang diinginkan Rama Prabu adalah diriku, maka relakanlah daku pergi kembali ke Pasai. Bila anak kita lahir laki-laki berilah nama Raden Paku, jika lahir perempuan terserah adinda menamakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, pada tengah malam, dengan hati berat karena harus meninggalkan istri tercinta yang hamil tujuh bulan, Syekh Maulana Ishak berangkat meninggalkan Blambangan seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya sepasukan besar prajurit Blambangan yang dipimpin Patih Bajul Sengara menerobos masuk wilayah Kadipaten yang sudah ditinggalkan Syekh Maulana Ishak. Tentu saja Patih kecele, walaupun seluruh isi istana di obrak-abrik dia tidak menemukan Syekh Maulana Ishak yang sangat dibencinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Patih hanya dapat memboyong Dewi Sekardadu untuk pulang ke istana Blambangan. Seluruh pengikut Syekh Maulana Ishak sudah diperintah Dewi Sekardadu untuk menyerah agar tidak terjadi pertumpahan darah. Patih Bajul Sengara untuk sementara merasa bangga atas kemenangannya itu. Tapi sesungguhnya dendam kesumat masih membara di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan kemudian dari rahim Dewi Sekardadu lahir bayi laki-laki yang elok rupanya. Sesungguhnya Prabu Menak Sembuyu dan permaisurinya merasa senang dan bahagia melihat kehadiran cucunya yang montok dan rupawan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi itu lain daripada yang lain, wajahnya mengeluarkan cahaya terang. Terlebih Dewi Sekardadu, dengan kelahiran bayinya itu hatinya yang sedih ditinggal suami sedikit terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seisi istana bergembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Patih Bajul Sengara. Dibiarkannya bayi itu mendapat limpahan kasih saying keluarga istana selama empat puluh hari. Sesudah itu dia menghasut Prabu Menak Sembuyu. Kebetulan pada saat itu wabah penyakit berjangkit lagi di Blambangan. Maka Patih Bajul Sengara mengkambing hitamkan Syekh Maulana Ishak sebagai penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua bencana yang menimpa rakyat Blambangan ini disebabkan ulah Syekh Maulana Ishak. Dewa murka karena penduduk Blambangan banyak masuk agama Islam dan meninggalkan kepercayaan lama. Jika penduduk Blambangan ingin terhindar dari bencana kita harus kembali kepada agama lama, dan melenyapkan semua bekas peninggalan Syekh Maulana Ishak,” demikian kata sang Patih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu dengan melenyapkan bekas peninggalan Syekh Maulana Ishak itu?”&lt;br /&gt;tanya sang Prabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah satu diantaranya ialah bayi keturunannya, Gusti Prabu !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudmu aku harus membunuh cucuku sendiri ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar gusti Prabu ! Cepat atau lambat bayi itu akan menjadi bencana di kemudian hari. Wabah penyakit inipun menurut dukun-dukun terkenal di Blambangan ini disebabkan adanya hawa panas yang memancar dari jiwa bayi itu !” kilah Patih Bajul Sengara dengan alasan yang dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Prabu tidak cepat mengambil keputusan, dikarenakan dalam hatinya dia terlanjur menyukai kehadiran cucunya itu, namun sang Patih tiada bosan-bosannya menteror denga hasutan dan tuduhan keji akhirnya sang Prabu terpengaruh juga. Walau demikian tiada juga dia memerintahkan pembunuhan atas cucunya itu secara langsung. Bayi yang masih berusia empat puluh hari dimasukkan kedalam peti dan diperintahkan untuk dibuang kelaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarlah Dewata sendiri yang menentukan nasibnya di Samodra.” Ujar sang Prabu kepada Dewi Sekardadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Dewi Sekardadu menangis dengan suara menghayat hati. Ibu mana yang rela bayinya dibuang begitu saja tanpa alasan yang masuk di akal. Apalagi tempat pembuangan itu adalah lautan besar di selat Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati hancur ia ikut mengantarkan upacara Pelarungan atau pembuangan bayi yang tak berdosa itu. Dengan tatapan kosong ia memandang ke arah peti yang dibuang ke tengah lautan, peti itu makin lama makin ke tengah pada akhirnya hilang dari pandangan mata. Meski demikian wanita muda itu tidak beranjak dari tempatnya. Suasana di tepi pantai itu sudah sunyi senyap, hanya debur ombak yang terdengar membentur batu karang. Matahari mulai condong ke langit barat. Para prajurit yang diperintahkan menunggu Dewi Sekardadu segera pulang ke istana, melaporkan prilaku sang putri yang masih duduk tepekur di tepi pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat para prajurit meninggalkannya itulah Dewi sekardadu beranjak dari tempatnya duduk. Dengan gontai dia melangkahkan kakinya. Bukan ke istana Blambangan. Melainkan mengembara tanpa tujuan yang pasti. Dan tak seorangpun dapat menemukannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan baru diketahui bahwa sikap benci sang Patih kepada Syekh Maulana Ishak adalah dikarenakan ambisinya untuk dapat memperistri Dewi Sekardadu sendiri. Tapi ambisi itu memudar manakala kenyataan berbicara lain, Dewi Sekardadu yang telah lama diimpikannya sebagai batu loncatan untuk dapat mewarisi tahta Blambangan ternyata lebih dahulu di sunting oleh Syekh Maulana Ishak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian ambisi itu tak pernah padam. Setelah berhasil menyingkirkan Syekh Maulana Ishak dari bumi Blambangan, dia berharap akan dapat berjodoh dengan Dewi Sekardadu yang telah menjadi janda, demikian pikir sang Patih. Untuk itu dia harus menyingkirkan putra Syekh Maulana Ishak, supaya Dewi Sekardadu benar-benar dapat melupakan suaminya yang dahulu dan di belakang hari bayi itu tidak menjadi perintang cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah mendengar laporan para prajurit bahwa Dewi Sekardadu yang duduk terpekur di tepi pantai hingga sore hari ternyata sudah tidak ada di tempat. Patih itu kelabakan, dia perintahkan ratusan prajurit untuk mencari sang putrid, namun itu sia-sia belaka. Sang Putri seolah-olah lenyap di telan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, Syekh Maulana Ishak sebelum meneruskan perjalanan ke negeri Pasai sempat mampir ke Ampeldenta di Surabaya. Kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel dia berpesan, apabila bertemu dengan anak yang pernah dibuang ke laut oleh Prabu Menak Sembuyu itu supaya dinamakan Raden Paku dan hendaklah Raden Rahmat suka mendidiknya secara Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu Sunan Ampel tidak berkeberatan menerima amanat itu. Jika kita amati di dalam Babat Tanah Jawa, sesudah pertemuan dengan Sunan Ampel, Syekh Maulana Ishak masih terus mengembara di sekitar Pulau Jawa terutama di bagian Tengah. Dan kemudian beliau mendapat sebutan Syekh Wali Lanang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berangkatlah Syekh Maulana Ishak ke negeri Pasai. Mendirikan perguruan Islam di sana dan terkenal sebutan Syekh Awwalul Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, berdasarkan bukti adanya makam Syekh Maulana Ishak di Gresik dekat makam Maulana Malik Ibrahim, maka di duga pada usia lanjut atau pada jaman kejayaan Sunan Giri. Syekh Maulana Ishak itu kembali ke Jawa, mendampingi Sunan Giri yang memerintah di Giri Kedaton dan kemudian wafat di Gresik lalu dimakamkan tak jauh dari komplek pemakaman Syekh Maulana Malik Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Joko Samodra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam ada sebuah perahu dagang dari Gresik melintasi Selat Bali. Ketika perahu itu berada ditengah-tengah Selat Bali tiba-tiba terjadi keanehan, perahu itu tidak dapat bergerak, maju tak bisa mundurpun tak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakhoda memerintahkan awak kapal untuk memeriksa sebab-sebab kemacetan itu, mungkinkah perahunya membentur batu karang. Setelah diperiksa ternyata perahu itu hanya menabrak sebuah peti berukir indah, seperti peti milik kaum bangsawan yang digunakan menyimpan barang berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakhoda memerintahkan mengambil peti itu. Diatas perahu peti itu dibuka, semua orang terkejut karena didalamnya terdapat seorang bayi mungil yang bertubuh montok dan rupawan. Nakhoda merasa gembira dapat menyelamatkan jiwa si bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang tega membuang bayi itu ke tengah lautan, sungguh orang yang tidak berperikemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakhoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Bali. Tapi perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan ke Gresik ternyata perahu itu melaju dengan pesatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini benar-benar kejadian gaib, kejadian diluar perhitungan manusia biasa. Pertama hanya karena peti perahu ini tak dapat bergerak, kemudian setelah peti ini kita buka perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan ke Gresik ternyata perahu itu melaju dengan pesatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini benar-benar kejadian gaib, kejadian diluar perhitungan manusia biasa. Pertama hanya karena petiperahu ini tak dapat bergerak, kemudian setelah peti ini kita buka perahu tak dapat melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali. Baiklah kita kembali saja ke Gresik, kita laporkan kejadian aneh ini kepada majikan kita,” demikian kata Nakhoda kepada anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu itupun melaju cepat ke arah Gresik. Tanpa ada halangan dan rintangan. Padahal berdasarkan perhitungan, berlayar ke arah barat saat itu sama dengan menentang gelombang dan badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tiba di pelabuhan Gresik dengan selamat. Tetapi Nyai Ageng Pinatih merasa cemas melihat kapal perahu dagang miliknya kembali lebih cepat dari biasanya. “Apa yang terjadi? Mengapa kalian pulang secepatnya ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih setelah diperiksa barang dagangan masih utuh seperti semula. Nyai Ageng Pinatih mulai naik pitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakhoda perahu tak banyak bicara, dia perintahkan anak buahnya membawa peti berisi bayi ke hadapan Nyai Ageng Pinatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peti inilah yang menyebabkan kami kembali dalam waktu secepat ini. Kami tak dapat meneruskan pelayaran ke Pulau Bali,” kata sang Nakhoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya karena peti? Apa isinya? Harta karun?” hardik Nyai Ageng Pinatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah isinya, kata Nakhoda sembari membuka tutup peti itu. Sepasang mata Nyai Ageng Pinatih terbelalak heran melihat bayi montok, sehat dan rupawan menggerakgerakkan tangannya sembari menatap ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayi ………. ? Bayi siapa ini ?” guman Nyai Ageng Pinatih sembari mengangkat bayi itu dari dalam peti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu diangkat bayi itu tampak tersenyum. Hati Nyai Ageng Pinatih berbinar-binar, seketika itu juga dia merasa sangat suka pada si bayi. Lebih-lebih dia itu adalah seorang janda yang tidak dikaruniai seorang putrapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami menemukannya di tengah samodra Selat Bali, jawab nakhoda kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tengah samodra ?” ulang Nyai Ageng Pinatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar Nyai Ageng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa rencana kalian atas bayi ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak di antara kami yang menyukai bayi itu dan mengambilnya sebagai anak. Tapi kami tahu betapa lama Nyai Ageng mendambahkan seorang putra, maka lebih tepat kiranya bila Nyai Ageng yang merawat dan membesarkan bayi itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelasnya kalian berikan bayi ini kepadaku ?” Nyai Ageng menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar Nyai Ageng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ageng Pinatih merasa sangat berterima kasih kepada nakhoda dan anak buahnya. Memang sudah lama dia mengingingkan seorang anak. Sebagai ungkapan rasa senangnya.... Kepada nakhoda dan anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya bayi itu diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Pinatih, seorang janda kaya raya yang disegani masyarakat Gresik. Karena bayi itu ditemukan di tengah samodra maka Nyai Ageng Pinati kemudian memberinya nama Joko Samodra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ageng Pinatih adalah seorang muslimah yang baik, walau Joko Samodra bukan anak kandungnya dia merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Terlebih Joko Samodra itu ternyata mempunyai sifat yang baik, kepada ibunya dia sangat berbakti selalu bersikap menyenangkan hati. Kepada orang yang lebih tua dia selalu menghormati dan menjunjung tinggi. Kepada teman-teman sebayanya dia tak pernah menyakiti atau berbuat usil. Pendek kata Joko Samodra benar-benar merupakan profil anak yang menjadi buah hati orang tua dan pantas dibanggakan setiap orang tua. Ketika berumur 11 tahun, Nyai Ageng Pinatih mengantarkan Joko Samodra untuk berguru kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut beberapa sumber mula pertama Joko Samodra setiap hari pergi ke Surabaya dan sorenya kembali ke Gresik. Sunan Ampel kemudian menyarankan agar anak itu mondok saja di pesantren Ampeldenta supaya lebih konsentrasi dalam mempelajari agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa minggu saja Sunan Ampel telah dapat mengetahui bahwa Joko Samodra bukanlah anak sembarangan. Muridnya yang satu ini memiliki kecerdasan luar biasa. Semua pelajaran yang diberikan mampu dicerna dan dihafal dalam tempo yang tidak terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, seperti biasa Raden Rahmat hendak mengambil air wudhu guna melaksanakan shalat tahajjud, mendoákan murid-muridnya dan mendoákan ummat agar selamat di dunia dan akhirat. Sebelum berwudlu Raden Rahmat menyempatkan diri melihat-lihat para santri yang tidur di asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Raden Rahmat terkejut. Ada sinar terang memancar dari salah seorang santrinya. Selama beberapa saat beliau tertegun, sinar terang itu menyilaukan mata, untuk mengetahui siapakah murid yang wajahnya bersinar itu maka Sunan Ampel memberi ikatan pada pada sarung murid itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, sesudah shalat subuh, Sunan Ampel memanggil murid-muridnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah di antara kalian yang waktu bangun tidur kain sarungnya ada ikatan ?” Tanya Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Kanjeng Sunan ………. “acung Joko Samodra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat yang mengacungkan tangan Joko Samodra, Sunan Ampel makin yakin bahwa anak itu pastilah bukan anak sembarangan. Kebetulan pada saat itu Nyai Ageng Pinatih datang untuk menengok Joko Samodra, kesempatan ini digunakan Sunan Ampel untuk bertanya lebih jauh tentang asal usul Joko Samodra. Nyai Ageng Pinatih menjawab&lt;br /&gt;sejujur-jujurnya. Bahwa Joko Samodra di temukan di tengah Selat Bali ketika masih bayi. Peti yang digunakan untuk membuang bayi itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di rumah Nyai Ageng Pinatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Ampel kemudian menyempatkan diri datang ke Gresik untuk melihat peti yang masih tersimpan rapi itu. Berdasarkan pengamatan Sunan Ampel peti itu memang berasal dari kalangan istana Blambangan, hal itu diketahui dari ciri-ciri ukiran dan tanda khusus pada peti itu. Yakinlah Sunan Ampel bahwa Joko Samodra adalah putra Syekh&lt;br /&gt;Maulana Ishak yang dibuang ke tengah samodra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat pada pesan Syekh Maulana Ishak sebelum berangkat ke negeri Pasai maka Sunan Ampel kemudian mengusulkan pada Nyai Ageng Pinatih agar nama anak itu diganti dengan nama Raden Paku. Nyai Ageng Pinatih menurut saja apa kata Sunan Ampel, dia percaya penuh kepada Wali besar yang sangat dihormati masyarakat bahkan juga masih terhitung seorang Pangeran Majapahit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Raden Paku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu mondok di pesantren Ampeldenta, Raden Paku sangat akrab bersahabat dengan putra Raden Rahmat yang bernama Raden Makdum Ibrahim. Keduanya bagai saudara kandung saja, saling menyayangi dan saling mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berusia 16 tahun, kedua pemuda itu dianjurkan untuk menimba pengetahuan yang lebih tinggi di negeri Seberang sambil meluaskan pengalaman. “Di Negeri Pasai banyak orang pandai dari berbagai negeri. Disana juga ada ulama besar yang bergelar Syekh Awwallul Islam. Dialah ayah kandungmu yang nama aslinya adalah Syekh Maulana Ishak. Pergilah kesana tuntutlah ilmunya yang tinggi dan teladanilah kesabarannya dalam mengasuh para santri dan berjuang menyebarkan agama Islam. Hal itu akan berguna kelak bagi kehidupanmu yang akan datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu dilaksanakan oleh Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim. Dan begitu sampai di negeri Pasai keduanya disambut gembira, penuh rasa haru dan bahagia oleh Syekh Maulana Ishak ayah kandung Raden Paku yang tak pernah melihat anaknya sejak bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Paku menceritakan riwayat hidupnya sejak masih kecil ditemukan di tengah samodra dan kemudian diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Pinatih dan berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya. Sebaliknya Syekh Maulana Ishak kemudian menceritakan pengalamannya di saat berdakwah di Blambangan sehingga terpaksa harus meninggalkan istri yang sangat dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Paku menangis sesenggukan mendengar kisah itu. Bukan menangisi kemalangan dirinya yang telah disia-siakan kakeknya yaitu Prabu Menak Sembuyu tetapi memikirkan nasib ibunya yang tak diketahui lagi tempatnya berada. Apakah ibunya masih hidup atau sudah meninggal dunia. Dalam hatinya telah bertekad untuk pada suatu ketika akan datang ke Blambangan menuntut balas atas kekejaman kakeknya itu. Namun Syekh Maulana Ishak segera meredahkan gelora hati Raden Paku yang masih berusia muda itu. “janganlah kau diperbudak iblis sehingga berniat membalas dendam pada kakekmu, Ujar Syekh Maulana Ishak.” Memang boleh kita membalas perbuatan jahat seorang dengan balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Tapi memberi maaf itu lebih baik. Jika engkau pemuda Islam yang baik yang tidak sama dengan pemuda lain dengan menunjukkan kepribadian kita yang baik, sudah otomatis kita berdakwah dengan perbuatan nyata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena nasehat ayahnya yang bijaksana itu Raden Paku mengurungkan niatnya untuk membalas dendam pada Prabu Menak Sembuyu. Toh raja Blambangan itu masih terhitung kakeknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri Pasai ulama besar dari negeri asing yang menetap dan membuka pelajaran agana Islam kepada penduduk setempat. Hal ini tidak disia-siakan oleh Raden Paku dan Maulana Makdum Ibrahim. Kedua pemuda itu belajar agama dengan tekun, baik kepada Syekh Maulana Ishak sendiri maupun kepada guru-guru agama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang beranggapan bahwa Raden Paku dikaruniai ilmu laduni yaitu ilmu yang langsung berasal dari Tuhan, sehingga kecerdasan otaknya seolah tiada bandingnya. Disamping belajar ilmu Ta uhid mereka juga mempelajari ilmu Tasawuf dari ulama Iran, Bagdad dan Gujarat yang banyak menetap di negeri Pasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu yang dipelajari itu berpengaruh dan menjiwai kehidupan Raden Paku dalam prilakunya sehari-hari sehingga kentara benar bila ia mempunyai ilmu tingkat tinggi, ilmu yang sebenarnya hanya pantas dimiliki ulama yang berusia lanjut dan berpengalaman. Guru-gurunya kemudian memberinya gelar Syekh Maulana A’inul Yaqin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiga tahun berada di Pasai, dan masa belajar itu sudah dianggap cukup oleh Syekh Maulana Ishak, kedua pemuda itu diperintahkan kembali ke Tanah Jawa. Oleh ayahnya, Raden Paku diberi sebuah bungkusan putih berisi tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelak, bila tiba masanya dirikanlah Pesantren di Gresik, carilah tanah yang sama betul dengan tanah dalam bungkusan ini, disitulah kau membangun Pesantren,” Demikian pesan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pemuda itu kembali ke Surabaya. Melaporkan segala pengalamannya kepada Sunan Ampel. Sunan Ampel memerintah Makdum Ibrahim berdakwah di daerah Tuban. Sedang Raden Paku diperintah pulang ke Gresik kembali ibu angkatnya yaitu Nyai Ageng Pinatih. “Tiba masanya bagimu untuk berbakti kepada Nyai Ageng Pinatih.” Kata Sunan Ampel. “Walau dia bukan ibu kandungmu tapi dialah yang membesarkan dan merawatmu sejak kecil. Bantulah dagangan ibumu sambil berdakwah. Orang-orang pendahulu kita juga melakukan da’wah sambil berdagang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, Raden Makdum Ibrahim berdakwah di Tuban dengan menggunakan gamelan untuk menarik masa maka akhirnya dia dikenal sebagai Sunan Bonang. Sesuai dengan nama gamelan yang sering di gunakan melantunkan lagu-lagu atau tembang keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Raden Paku kembali ke Gresik untuk membantu ibu angkatnya dalam mengurus perdagangan antar pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Membersihkan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 23 tahun, Raden Paku diperintah oleh ibunya untuk mengawal barang dagangan ke pulau Banjar atau Kalimantan. Tugas ini diterimanya dengan senang hati. Nakhoda kapal diserahkan kepada pelaut kawakan yaitu Abu Hurairah. Walau pucuk pimpinan berada di tangan Abu Hurairah tapi Nyai Ageng Pinatih memberi kuasa pula kepada Raden Paku untuk ikut memasarkan dagangan di Pulau Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga buah kapal berangkat meninggalkan pelabuhan Gresik dengan penuh muatan. Biasanya, sesudah dagangan itu terjual habis di pulau Banjar maka Abu Hurairah diperintah membawa barang dagangan dari Pulau Banjar yang sekiranya laku di Pulau Jawa, seperti rotan, damar, emas dan lain-lain. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh menjadi berlipat ganda. Tapi kali ini tidak, sesudah kapal merapat di pelabuhan Banjar, Raden Paku membagi-bagikan barang dagangan dari Gresik itu secara gratis kepada penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal ini membuat Abu Hurairah menjadi cemas. Dia segera memprotes tindakan Raden Paku, “Raden …… kita pasti akan mendapat murka Nyai Ageng Pinatih. Mengapa barang dagangan kita diberikan secara Cuma-Cuma ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kuatir Paman, “Kata Raden Paku. “Tindakan saya ini sudah tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Banjar pada saat ini sedang dilanda musibah. Mereka dilanda kekeringan dan kurang pangan. Sedangkan ibu sudah terlalu banyak mengambil keuntungan dari mereka. Sudahkah ibu memberikan hartanya dengan membayar zakat kepada mereka ?. Saya kira belum, nah sekaranglah saatnya ibu mengeluarkan zakat untuk membersihkan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu diluar wewenang saya Raden ,” Kata Abu Hurairah. “Jika kita tidak memperoleh uang lalu dengan apa kita mengisi perahu supaya tidak oleng dihantam ombak dan badai ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Paku terdiam beberapa saat. Dia sudah maklum bila dagangan habis biasanya Abu Hurairah akan mengisi kapal atau perahu dengan barang dagangan dari Kalimantan. Tapi sekarang tak ada uang dengan apa dagangan Pulau Banjar akan dibeli. “Paman tak usah risau,” kata Raden Paku dengan tenangnya “Supaya kapal tidak oleng isilah karung-karung kita dengan batu dan pasir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun agak konyol tapi benar juga akal itu, demikian pikir Abu Hurairah. Kapal itupun diisi dengan karung-karung yang berisi pasir dan batu. Sekedar menjaga keseimbangan agar kapal itu tidak karam dihantam badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, mereka dapat berlayar hingga di pantai Gresik dalam keadaan selamat. Tapi hati Abu Hurairah menjadi kebat kebit sewaktu berjalan meninggalkan kapal untuk menghadap Nyai Ageng Pinatih. Dugaan Abu Hurairah memang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ageng Pinatih terbakar amarahnya demi mendengar perbuatan Raden Paku yang dianggap tidak normal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu jangan terburu marah-marah,” kata Raden Paku. “Lebih baik ibu lihat dulu apakah isi karung-karung dalam kapal itu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah yang dilihat lagi, Abu Hurairah tak pernah berbohong kepadaku. Pasir dan batu apa susahnya mencari di Gresik ini. Aku tidak keberatan barang dagangan itu kau sedekahkan kepada penduduk Banjar yang menderita tapi pasir dan batu itu buat apa ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya ibu lihat lebih dahulu !” pinta Raden Paku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, jangan banyak bicara, buang saja pasir dan batu itu. Hanya mengotori karung-karung kita saja !” Hardik Nyai Ageng pinatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika awak kapal membuka karung-karung itu, mereka terkejut. Karung-karung itu isinya berubah menjadi barang-barang dagangan yang biasa mereka bawa dari Banjar, seperti rotan, damar, kain dan emas serta intan. Bila ditaksir harganya jauh lebih besar ketimbang barang dagangan yang disedekahkan kepada penduduk Banjar. Sejak saat itu Nyai Ageng Pinatih tidak berani menganggap sembarangan pada anak angkatnya. Dia yakin kelak Raden Paku akan menjadi orang besar, seorang yang mempunyai kelebihan dibanding pemuda-pemuda biasa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Perkawinan Raden Paku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-kisah, ada seorang bangsawan Majapahit bernama Ki Ageng Supa Bungkul. Ia mempunyai Sebuah pohon delima yang aneh di depan pekarangan rumahnya. Setiap kali ada orang hendak mengambil buah delima yang berbuah satu itu pasti mengalami nasib celaka, kalau tidak ditimpa penyakit berat tentulah orang tersebut meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Raden Paku tanpa disengaja lewat di depan pekarangan Ki Ageng Bungkul. Begitu dia berjalan di bawah pohon delima tiba-tiba buah pohon itu jatuh mengenai kepala Raden Paku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Bungkul tiba-tiba muncul mencegat Raden Pakuh, dan ia berkata, “kau harus kawin dengan putriku, Dewi Wardah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, Ki Ageng Bungkul telah mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat memetik buah delima itu dengan selamat maka ia akan dijodohkan dengan putrinya yang bernama Dewi Wardah. Raden Paku bingung menghadapi hal itu. Maka peristiwa itu disampaikan kepada Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah bingung. Ki Ageng Bungkul itu seorang muslim yang baik, aku yakin Dewi Wardah juga seorang muslimah yang baik. Karena hal itu sudah menjadi niat Ki Ageng Bungkul kuharap kau tidak mengecewakan niat baiknya itu.” Demikian kata Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi .......... bukankah saya hendak menikah dengan putri Kan jeng Sunan yaitu dengan Dewi Murtasiah ?” Ujar Raden Paku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mengapa?” Kata Sunan Ampel. “Sesudah melangsungkan akad nikah dengan Dewi Murtasiah selanjutnya kau akan melangsungkan perkawinan dengan Dewi Wardah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah liku-liku perjalanan hidup Raden Paku. Dalam sehari ia menikah dua kali. Menjadi menantu Sunan Ampel, kemudian menjadi menantu Ki Ageng Bungkul seorang Bangsawan Majapahit yang hingga sekarang makamnya terawat baik di Surabaya. Sesudah berumah tangga, Raden Paku makin giat berdagang dan berlayar antar pulau. Sambil berlayar itu pula beliau menyiarkan agama Islam pada penduduk setempat sehingga namanya cukup terkenal di kepulauan Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama kegiatan dagang tersebut tidak memuaskan hatinya. Ia ingin berkonsentrasi menyiarkan agama Islam dengan mendirikan pondok Pesantren. Iapun minta izin kepada ibunya untuk meninggalkan dunia perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ageng Pinatih yang kaya raya itu tidak keberatan. Andaikata hartanya yang banyak itu dimakan setiap hari dengan anak dan menantunya rasanya tiada akan habis, terlebih Juragan Abu Hurairah orang kepercayaan Nyai Ageng Pinatih menyatakan kesanggupannya untuk mengurus seluruh kegiatan perdagangan miliknya, maka wanta itu ikhlas melepaskan Raden Paku yang hendak mendirikan pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah Raden Paku bertafakkur di goa yang sunyi, 40 hari 40 malam beliau tidak keluar goa, hanya bermunajat kepada Allah. Tempat Raden Paku bertafakkur itu hingga sekarang masih ada, yaitu desa Kembangan dan Kebomas. Usai bertafakkur teringatlah Raden Paku pada pesan ayahnya sewaktu belajar di Negeri Pasai. Diapun berjalan berkeliling untuk mencari daerah yang tanahnya mirip dengan tanah yang di bawa dari Negeri Pasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui desa Margonoto, sampailah Raden Paku di daerah perbukitan yang hawanya sejuk, hatinya terasa damai, iapun mencocokan tanah yang dibawanya dengan tanah di tempat itu. Ternyata cocok sekali. Maka di desa Sidomukti itulah ia kemudian mendirikan pesantren. Karena tempat itu adalah dataran tinggi atau gunung maka dinamakanlah pesantren Giri. Giri dalam bahasa Sangsekerta artinya gunung. Atas dukungan istri-istri dan ibunya juga dukungan spiritual dari Sunan Ampel. Tidak begitu lama, hanya dalam waktu tiga tahun Pesantren Giri sudah terkenal ke seluruh Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Peranan Sunan Giri Dalam Perjuangan Wali Sanga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuka telah disebutkan bahwa hanya dalam tempo waktu tiga tahun Sunan Giri berhasil mengelola Pesantrennya hingga namanya terkenal ke seluruh Nusantara. Menurut Dr. H.J. De Graaf, sesudah pulang dari pengembaraannya atau berguru ke Negeri Pasai, ia memperkenalkan diri kepada dunia, kemudian berkedudukan di atas bukit di Gresik, dan ia menjadi orang pertama yang paling terkenal dari Sunan-sunan Giri yang ada. Di atas gunung tersebut seharusnya ada istana karena dikalangan rakyat dibicarakan adanya Giri Kedaton ( Kerajaan Giri ) . Murid-murid Sunan Giri berdatangan dari segala penjuru, seperti Maluku, Madura, Lombok, Makasar, Hitu dan Ternate. Demikian menurut De Graaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Babat Tanah Jawa murid-murid Sunan Giri itu justru bertebaran hampir di seluruh penjuru benua besar, seperti Eropa ( Rum ), Arab, Mesir, Cina dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu adalah pengembara kebesaran nama Sunan Giri sebagai ulama besar yang sangat dihormati orang pada jamannya. Disamping pesantrennya yang besar ia juga membangun masjid sebagai pusat ibadah dan pembentukan iman ummatnya. Untuk para santri yang datang dari jauh beliau juga membangun asrama yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disekitar bukit tersebut sebenarnya dahulu jarang dihuni oleh penduduk dikarenakan sulitnya mendapatkan air. Tetapi dengan adanya Sunan Giri masalah air itu dapat diatasi. Cara Sunan Giri membuat sumur atau sumber air itu sangat aneh dan gaib, hanya beliau seorang yang mampu melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sebagai Pemimpin Kaum Putihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menentukan hokum agama yang pada saat itu memang sedang menghadapi ujian adanya masalah-masalah ummat yang pelik, Sunan Giri sangat berhati-hati, beliau kuatir terjerumus pada jurang kemusyrikan. Itu sebabnya beliau sangat berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang sahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah menurut beliau haruslah sesuai dengan ajaran Nabi, tidak boleh dicampuri dengan berbagai kepercayaan lama yang justru bertentangan dengan agama Islam. Karena mahirnya beliau di bidang ilmu fiqih maka beliau mendapat sebutan Sultan Abdul Fakih. Di bidang tauhid beliau juga tak kenal kompromi dengan adat istiadat lama dan kepercayaan lama. Kepercayaan Hindu-Budha atau animesme dan dinamisme harus dikikis habis. Adat istiadat lama yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus dilenyapkan supaya tidak menyesatkan ummat dibelakang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan syariat Islam di bidang agama ibadah haruslah sesuai dengan ajaran aslinya yang termasuk di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena sikapnya ini maka Sunan Giri dan pengikutnya disebut kaum Putihan atau Islam Putih. Islam Putihan ini artinya adalah dalam beragama mengikuti jalan lurus, putih bersih seperti ajaran aslinya. Pemimpin kaum putihan adalah Sunan Giri yang didukung oleh Sunan Ampel dan Sunan Drajad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada Islam Putihan tentunya ada Islam Abangan, anak Islam Abangan ini adalah para pengikut Sunan Kalijaga yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati dan Sunan Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Aliran Islam Abangan ini adalah agar Islam cepat tersiar keseluruh penduduk Tanah Jawa. Agar semua rakyat dapat menerima agama Islam, karena itu mereka berpendapat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Membiarkan dahulu adat istiadat yang sukar diubah, atau tidak merubah adat yang berat ditiadakan, sehingga tidak terjadi usaha kekerasan dalam menyebarkan Islam.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi mudah dihilangkan maka ditiadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat tetapi diusahakan untuk mempengaruhi sedikit demi sedikit agar mereka menerima Islam yang benar.&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Menghindarkan terjadinya konfrontasi secara langsung atau terjadinya kekerasan dalam menyiarkan agama Islam. Maksudnya ialah mengambil ikannya tanpa mengeruhkan airnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;Tujuan utama kaum Abangan adalah merebut simpati rakyat sehingga rakyat mau diajak berkumpul, mendekat dan bersedia mendengarkan keterangan apa sih ajaran agama Islam itu ? Jadi tidak dibenarkan menghalau rakyat dari kalangan ummat Islam, melainkan berusaha menyenangkan hati mereka supaya mau mendekat kepada para ulama atau para Wali. Untuk itu tidak ada salahnya penggunaan kesenian rakyat seperti gending dan wayang kulit sebagai media dakwah untuk mengumpulkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pendapat kaum Abangan yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Perlu diketahui walaupun ada perbedaan dalam cara menyiarkan Islam, tapi pada waktu itu tidak sampai terjadi ketegangan kedua pihak masih sama-sama berfaham Ahlussunah waljamaah dan bermahZab Syafi’i. Kedua pihak sama-sama menyadari pentingnya pos mereka. Pihak Putihan menjaga kemurnian agama Islam agar tidak bercampur dengan faham yang berbau syirik. Sedangkan pihak Abangan adalah mengajak masyarakat atau rakyat secepatnya menjadi pemeluk agama Islam. Bila sudah menjadi pemeluk Islam tinggal menyempurnakan iman mereka saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Peresmian Masjid Demak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peresmian Masjid Demak, Sunan Kalijaga mengusulkan agar dibuka dengan pertunjukan wayang kulit yang pada waktu itu bentuknya masih wayang beber yaitu gambar manusia yang dibeber pada sebuah kulit binatang. Usul Sunan Kalijaga ditolak oleh Sunan Giri, karena wayang yang bergambar manusia itu haram hukumnya dalam ajaran Islam, demikian menurut Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Sunan Kalijaga mengusulkan peresmian Masjid Demak itu dengan membuka pegelaran wayang kulit, kemudian diadakan dakwah dan rakyat berkumpul boleh masuk setelah mengucapkan syahadat, maka Sunan Giri mengusulkan agar Masjid Demak diresmikan pada saat hari jum’at sembari melaksanakan shalat jamaah Jum’at. Sunan Kalijaga yang berjiwa besar kemudian mengadakan kompromi dengan Sunan Giri. Sebelumnya Sunan Kalijaga telah merubah bentuk wayang kulit sehingga gambarannya tidak bisa disebut sebagai gambar manusia lagi. Lebih mirip karikatur seperti bentuk wayang yang ada sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga membawa wayang kreasinya itu dihadapan sidang para Wali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak bisa disebut sebagai gambar manusia maka akhirnya Sunan Giri menyetujui wayang kulit itu digunakan sebagai media dakwah. Perubahan bentuk wayang kulit itu adalah dikarenakan sanggahan Sunan Giri, karena itu, Sunan Kalijaga memberi tanda khusus pada momentum penting itu. Pemimpin para dewa dalam pewayangan oleh Sunan Kalijaga dinamakan Sang Hyang Girinata, yang arti sebenarnya adalah Sunan Giri yang menata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perdebatan tentang peresmian Masjid Demak bisa diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresmian itu akan diawali dengan shalat Jum’at, kemudian diteruskan dengan pertunjukan wayang kulit yang dinamakan oleh Ki Dalang Sunan Kalijaga. Peranan Sunan Giri dalam perjuangan Wali Songo sebenarnya masih banyak, diantaranya akan kami turunkan dalam bab lain di buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Prabu Satmata Dan Giri Kedaton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari pengaruh Sunan Giri semakin besar. Kekuatan spiritualnya juga semakin luas. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pesantren Giri kemudian berubah menjadi kerajaan Giri yang sering disebut Giri Kedaton. Dan Sunan Giri sebagai raja pertama bergelar Prabu Satmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sunan Ampel wafat pada tahun 1478, maka Sunan Girilah yang diangkat sebagai sesepuh Wali Songo atau Mufti ( pemimpin agama se Tanah Jawa ). Sunan Ampel adalah Penasehat bagian politik Demak. Jasa beliau sungguh besar bagi perjuangan Wali Songo, yaitu menyebarkan agama Islam tanpa kekerasan. Beliaulah yang paling tidak setuju atas beberapa usul agar Raden Patah segera menyerang Majapahit agar Demak dapat berdiri sebagai kerajaan Islam merdeka tanpa harus tunduk kepada Majapahit. Sunan Ampel dan Sunan Giri yang masih terhitung keluarga kerajaan Majapahit memang dianggap Prabu Brawijaya sebagai pembesar atau para Pangeran Majapahit yang berkuasa didaerah masing-masing. Sunan Ampel berkuasa di Surabaya dan Sunan Giri berkuasa di Giri Gresik. Dengan demikian Sunan Ampel adalah orang yang paling tahu situasi kerajaan Majapahit. Ketika beberapa wali mengusulkan untuk menyerbu Majapait, Sunan Ampel menyatakan ketidak setujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanpa diserbupun Kerajaan Majapahit sudah keropos dari dalam. Lagi pula Prabu Brawijaya Kertabumi itu masih ayah kandung Raden Patah selaku Pangeran Demak Bintoro,” Kata Sunan Ampel. “Apa kata orang nanti bila seorang anak durhaka menyerang dan merebut tahta ayahnya sendiri ? Saya kira Kerajaan Majapahit akan sirna dengan sendirinya, beberapa adipati yang masih beragama Hindu sudah banyak yang ingin merebut kekuasaan. Kita tak usah ikut-ikutan merebut tahta Majapahit yang hanya mencemarkan keagungan agama yang kita anut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan Sunan Ampel memang benar. Tidak lama setelah beliau meninggal dunia. Adipati Keling atau Kediri bernama Girindrawardhana menyerbu kerajaan Majapahit. Ada yang menyebutkan bahwa Prabu Kertabumi atau Ayah Raden Patah itu tewas dalam serangan mendadak yang dilakukan Prabu Girindrawardhana dari Kediri. Setelah Sunan Ampel wafat, penasehat bagian politik Demak digantikan oleh Sunan Kalijaga. Sedang Sunan Giri dianggap sesepuh yang sering dimintai pertimbangan di bidang politik kenegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Wali mengadakan sidang sesudah jatuhnya Majapahit oleh serangan menyerang Prabu Girindrawardhana yang berkuasa di Majapahit. Sebab Raden Patah adalah pewaris utama kerajaan Majapahit. Dengan demikian ketika Demak menyerbu Majapahit bukanlah menyerang Prabu Kertabumi yang menjadi ayah Raden Patah, melainkan justru merebut tahta Majapahit dari tangan musuh Prabu Kertabumi. Pada waktu Prabu Girindrawardhana ini berkuasa di Majapahit pernah berusaha menggempur Giri Kedaton, karena Sunan Giri dianggap salah satu kerabat Prabu Kertabumi. Tetapi serangan itu dapat dipatahkan oleh Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebesaran nama Sunan Giri yang bergelar Prabu Satmata itu juga terdengar oleh seorang Begawan dari Lereng Lawu. Namanya Begawan Mintasemeru. Brahmana ini sengaja datang ke Giri Kedaton untuk menentang Sunan Giri adu kesaktian. Diantara adu kesaktian beragam jenisnya itu, yang paling terkenal adalah adu tebakan. Begawan Mintasemeru menciptakan sepasang angsa jantan dan betina, kemudian dikubur hidup-hidup diatas gunung Patukangan. Sesudah itu dia kembali menemui Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah yang baru saya tanam di puncak gunung Patukangan itu, demikian tanya Begawan Mintasemeru menguji Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang Tuan tanam adalah sepasang naga jantan dan betina!” jawab Sunan Giri dengan tenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begawan itu tertawa terbahak-bahak sembari memperolok-olok kebodohan Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Tuan Begawan tidak percaya boleh anda lihat lagi, hewan apakah yang Tuan tanam di puncak gunung itu,” kata Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Begawan menurut. Dia bongkar kuburan sepasang angsa ciptaannya. Ternyata angsa itu lenyap sebagai gantinya adalah sepasang naga yang meliuk-liuk hendak menerkamnya. Tentu saja sang Begawan merasa teramat malu. Selanjutnya dikatakan bahwa Begawan Mintasemeru masih mendemonstrasikan beberapa kesaktiannya yang menakjubkan, tapi semuanya dapat dikalahkan oleh Sunan Giri. Pada akhirnya Begawan Mintasemeru menyerah kalah, tunduk dan masuk Islam, kemudian menyebarkan agama Islam di Gunung Lawu. Legenda tentang adu tebak kewaskitaan itu diabadikan dalam monumen patung sepasang naga di tangga masuk ke makam Sunan Giri yaitu tangga yang sebelah selatan. Disana ada sepasang naga dari ukiran batu yang mirip dengan angsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Jasa-Jasa Sunan Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasanya yang terbesar tentu saja perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa bahkan ke Nusantara, baik dilakukannya sendiri sewaktu masih muda sambil berdagang ataupun dilakukannya sendiri sewaktu masih muda sambil berdagang ataupun melalui murid-muridnya yang ditugaskan keluar pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pernah menjadi hakim dalam perkara pengadilan Syekh Siti Jenar, seorang Wali yang dianggap murtad karena menyebarkan faham Pantheisme dan meremehkan syariat Islam yang disebarkan para Wali lainnya. Dengan demikian Sunan Giri ikut menghambat tersebarnya aliran yang bertentangan dengan faham Ahlussunnah wal jama’ah. Keteguhannya dalam menyiarkan agama Islam secara murni dan konsekwen berdampak positif bagi generasi Islam berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam yang disiarkannya adalah Islam sesuai ajaran Nabi, tanpa di campuri kepercayaan atau adapt istiadat lama. Di bidang kesenian beliau juga berjasa besar, karena beliaulah yang pertama kali menciptakan tembang dan tembang dolanan anak-anak yang bernafas Islam antara lain : Jamuran, Cublak-ublak Suweng, Jithungan dan Delikan. Diantara permainan anak-anak yang dicintanya ialah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara anak-anak yang bermain ada yang menjadi pemburu, dan yang lainnya menjadi obyek buruan. Mereka akan selamat dari kejaran pemburu bila telah berpegang pada tonggak atau batang pohon yang telah ditentukan lebih dulu. Inilah permainan yang disebut Jelungan. Arti permainan tersebut adalah seseorang yang sudah berpegang teguh kepada agama Islam Tauhid maka ia akan selamat dari ajakan setan atau iblis yang dilambangkan sebagai pemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari melakukan permainan yang disebut jelungan itu biasanya anak-anak akan menyanyikan lagu Padhang Bulan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padhang-padhang bulan, ayo gage dha dolanan,&lt;br /&gt;dolanane na ing latar,&lt;br /&gt;ngalap padhang gilar-gilar,&lt;br /&gt;nundhung begog hangetikar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam terang bulan, marilah lekas bermain,&lt;br /&gt;bermain di halaman, mengambil di halaman,&lt;br /&gt;mengambil manfaat benderangnya rembulan,&lt;br /&gt;mengusir gelap yang lari terbirit-birit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud lagu dolanan tersebut ialah : Agama Islam telah datang, maka marilah kita segera menuntut penghidupan, di muka bumi ini, untuk mengambil manfaat dari agama Islam, agar hilang lenyaplah kebodohan dan kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Giri jauh-jauh sudah memperingatkan umat agar berhati-hati terhadap perubahan jaman. Beliau pernah meramalkan bahwa pada masa yang akan datang akan banyak orang yang mengaku mendapat wahyu Tuhan tetapi sebetulnya mereka sangat jauh dari agama. Bahkan sama sekali tak mengerti ilmu agama. Mereka dipuja-puja&lt;br /&gt;ummat padahal menjadi benalu atau pemeras ummat. Mereka tidak lagi menghiraukan syariat agama, bahkan menginjak-nginjak syariat tersebut dengan mendakwakan dirinya sudah tidak perlu melakukan shalat, tidak perlu berpuasa dan berzakat karena dirinya sudah baik, sudah sempurna. Itulah orang yang tergelincir ilmunya. Mereka sesat dan menyesatkan ummat pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimasa yang akan datang juga akan muncul guru-guru ilmu yang merasa ilmunya sudah tinggi, sudah sempurna, mereka mengaku mendapat wangsit dari Tuhan dan karenanya bebas berbuat apa saja. Guru semacam ini justru dipuja-puja para pengikutnya sampai-sampai masyarakat rela mengorbankan harta, harga diri dan jiwanya demi kesenangan sang guru. Dalam kenyataannya ramalan Sunan Giri itu memang sudah sering terbukti. Sudah berapa kalikah masyarakat dibodohi guru-guru semacam itu, mulai dari dukun cabul hingga orang-orang yang mengaku dirinya Wali ternyata adalah bajingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Para Pengganti Sunan Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Giri atau Raden Paku lahir pada tahun 1442, memerintahkan kerajaan Giri selama kurang lebih dua puluh tahun. Mulai tahun 1487 hingga tahun 1506. Sewaktu memerintah Giri Kedaton beliau bergelar Prabu Satmata. Pengaruh Sunan Giri sangat besar terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Jawa maupun di luar Jawa. Sebagai bukti adalah adanya kebiasaan bahwa apabila seorang hendak dinobatkan menjadi raja haruslah memerlukan pengesahan dari Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giri Kedaton atau Kerajaan Giri berlangsung selama hampir 200 tahun. Sesudah Sunan Giri yang pertama meninggal dunia beliau digantikan anak keturunannya yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Sunan Dalem&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Sunan Sedomargi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Sunan Giri Prapen&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Sunan Kawis Guwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;Panembahan Ageng Giri&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt;Panembahan Mas Witana Sideng Rana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&lt;br /&gt;Pangeran Singonegoro ( bukan keturunan Sunan Giri )&lt;br /&gt;8.&lt;br /&gt;Pangeran Singosari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Singosari ini berjuang gigih mempertahankan diri dari sebuah Sunan Amangkurat II yang dibantu oleh VOC dan Kapten Jonker. Serbuan ke Giri itu adalah dalam rangka penumpasan pemberontakan yang dilakukan oleh Trunojoyo seorang murid dari Pesantren Giri yang pernah menyungkir balikkan Surakarta dan bahkan pernah menjadi Raja di Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan Trunojoyo itu dilakukan karena tindakan sewenang-wenang dari Sunan Amangkurat I yang pernah menumpas dan membunuh 6000 ulama’ Ahlusunnah yang dituduh menyebarkan isu ketidakpuasan rakyat terhadap raja. Padahal itu hanya fitnah dari orang-orang yang menjadi kaki tangan Sunan Amangkurat I, mereka adalah para pengikut faham Manunggaling Kawula Gusti, faham yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar yang ditentang Wali Sanga. Sesudah Pangeran Singosari wafat pada tahun 1679, habislah kekuasaan Giri Kedaton. Yang tinggal hanyalah makam-makam dan peninggalan Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dirawat oleh juru kunci makam Sunan Giri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-1525770410458500566?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sunan Ampel</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/08/sunan-ampel.html</link><category>Walisongo</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 18 Aug 2010 23:21:37 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-4413744454887592197</guid><description>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Ampel&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di Rusia selatan ada sebuah daerah yang disebut Bukhara. Bukhara ini terletak di Samarqand. Sejak dahulu daerah yang disebut Bukhara. Bukhara ini terletak di Samarqand. Sejak dahulu daerah Samarqand dikenal sebagai daerah Islam yang menelorkan ulama-ulama besar seperti sarjana hadist terkenal yaitu Imam Bukhari yang mashur sebagai perawi hadits sahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Samarqand ini ada seorang ulama besar bernama Syekh jamalluddin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah bermahzab Syafi’i, beliau mempunyai seorang putra bernama Ibrahim. Karena berasal dari Samarqand maka Ibrahim kemudian mendapat tambahan Samarqandi. Orang jawa sangat sukar mengucapkan Samarqandi maka mereka hanya menyebutkan sebagai Syekh Ibrahim Asmarakandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra untuk berda’wah ke negara-negara Asia. Perintah ini dilaksanakan, dan beliau kemudian diambil menantu oleh raja Cempa, dijodohkan dengan putri raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan. Negeri Cempa ini menurut sebagian ahli sejarah terletak di Muangthai. Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawulan maka Ibrahim Asmarakandi mendapat dua orang putra yaitu Raden Rahmat atau Sayyid Ali Rahmatullah dan raden Santri atau Sayyid Alim Murtolo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan adik Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarawati diperistri oleh Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian Raden Rahmat itu keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan. Raja Majapahit sangat senang mendapat istri dari negeri Cempa yang wajahnya tidak kalah menarik dengan Dewi Sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga istri-istri lainnya diceraikan, banyak yang diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh adalah istri yang bernama Dewi Kian, seorang putri Cina yang diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Dewi Kian di ceraikan dan diberikan kepada Ario Damar saat itu sedang hamil tiga bulan. Ario Damar tidak diperkenankan menggauli putri Cina itu sampai si jabang bayi terlahir ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi dari rahim Dewi Kian itulah yang nantinya bernama Raden Hasan atau lebih terkenal dengan nama Raden Patah, salah seorang murid Sunan Ampel yang menjadi raja di Demak Bintoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Majapahit sesudah ditinggal mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadinya perang saudara, dan para adipati banyak yang tak loyal lagi kepada Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya Kertabhumi. Pajak dan upeti kerajaan tak banyak yang sampai ke istana Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat sang Prabu bersedih hati. Lebih-lebih lagi dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berpesta pora dan main judi serta mabuk-mabukan. Prabu Brawijaya sadar betul bila kebiasaan semacam itu diteruskan negara akan menjadi lemah dan jika negara sudah kehilangan kekuatan betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan Majapahit Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratu Dwarawati, yaitu istri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati suaminya. Dengan memberanikan diri ia mengajukan pendapat kepada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kanda Prabu, agaknya para ponggawa dan rakyat Majapahit sudah tidak takut lagi kepada Sang Hyang Widhi. Mereka tidak segan dan tidak merasa malu melakukan tindakan yang tidak terpuji, pesta pora, foya-foya, mabuk dan judi sudah menjadi kebiasaan mereka bahkan para pangeran dan kaum bangsawan sudah mulai ikut-ikutan. Sungguh berbahaya bila hal ini dibiarkan berlarut-larut. Negara bisa rusak karenanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, hal itulah yang membuatku risau selama ini,” sahut Prabu Brawijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa tindakan Kanda Prabu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih bingung,” kata sang Prabu. “Sudah kuusahakan menambah bikhu dan brahmana untuk mendidik dan memperingatkan mereka tapi kelakuan mereka masih tetap seperti semula, bahkan guru-guru agama Hindu dan Budha itu dianggap sepele.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mempunyai seorang keponakan yang ahli mendidik dalam hal mengatasi kemerosotan budi pekerti,” kata ratu Dwarawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betulkah ?” tanya sang Prabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra dari kanda Dewi Candrawulan di Negeri Cempa. Bila kanda berkenan saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Ali Rahmatullah ke Majapahit ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja aku akan merasa senang bila Rama Prabu di Cempa bersedia mengirimkan Sayyid Ali Rahmatullah ke Majapahit ini.” Kata Raja Brawijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada suatu hari diberangkatkanlah utusan dari Majapahit ke negeri Cempa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan utusan Majapahit disambut gembira oleh raja Cempa, dan raja Cempa tidak keberatan melepas cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalaman. Keberangkatan Sayyid Ali Rahmat ke Tanah Jawa tidak sendirian. Ia ditemani oleh ayah dan kakaknya. Sebagaimana disebutkan di atas, ayah Sayyid Ali Rahmat adalah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan kakaknya bernama Sayyid Ali Murtadho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diduga mereka tidak langsung ke Majapahit, melainkan mendarat di Tuban. Tetapi di Tuban, tepatnya di desa Gesikharjo, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia, beliau dimakamkan didesa tersebut yang masih termasuk ke camatan Palang kabupaten Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Murtadho kemudian meneruskan perjalanan, beliau berda’wah keliling ke daerah Nusa Tenggara, Madura dan sampai ke Bima. Disana beliau mendapat sambutan raja Pandita Bima, dan akhirnya berda’wah di Gresik mendapat sebutan Raden Santri, beliau wafat dan dimakamkan di Gresik. Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan Ratu Dwarawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanda Rahmatullah, bersediakah engkau memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerti mulia ?” tanya sang Prabu. Dengan sikapnya yang sopan tutur kata halus Sayyid Ali Rahmatullah menjawab. “Dengan senang hati Gusti Prabu, saya akan berusaha sekuat-kuatnya untuk mencurahkan kemampuan saya mendidik mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus !” sahut sang Prabu. “Bila demikian kau akan kuberi hadiah sebidang tanah berikut bangunannya di Surabaya. Di sanalah kau akan mendidik para bangsawan dan pangeran Majapahit agar berbudi pekerti mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih saya haturkan Gusti Prabu,” jawab Sayyid Ali Rahmatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam literatur bahwa selanjutnya Sayyid Ali Rahmatullah menetap beberapa hari di istana Majapahit dan dijodohkan dengan salah satu putri Majapahit yang bernama Dewi Candrawati. Dengan demikian Sayyid Ali Rahmatullah adalah salah seorang Pangeran Majapahit, karena dia adalah menantu raja Majapahit. Selanjutnya, pada hari yang telah ditentukan berangkatlah rombongan Sayyid Ali Rahmatullah ke sebuah daerah di Surabaya yang disebut sebagai Ampeldenta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dalam perjalanan banyak hal-hal aneh di jumpai rombongan itu. Diantaranya adalah pertemuan Sayyid Ali Rahmatullah dengan seorang gadis bernama Siti Karimah yang kemudian menjadi isterinya. Dan sepanjang perjalanan itu beliau juga melakukan da’wah sehingga bertambahlah anggota rombongan yang mengikuti perjalanannya ke Ampeldenta. Semenjak Sayyid Ali Rahmatullah diambil menantu Raja Brawijaya maka beliau adalah anggota keluarga kerajaan Majapahit atau salah seorang pangeran, para pangeran pada jaman dulu di tandai dengan nama depan Raden. Selanjutnya beliau lebih dikenal dengan sebutan Raden Rahmat. Dan karena beliau menetap di desa Ampeldenta, menjadi penguasa daerah tersebut maka kemudian beliau dikenal sebagai Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan artinya yang di junjung tinggi atau panutan masyarakat setempat. Langkah pertama yang dilakukan Raden Rachmat di Ampeldenta adalah membangun masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi sewaktu hijrah ke Madinah. Selanjutnya beliau mendirikan pesantren tempat mendidik putra bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa saja yang mau datang berguru kapada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil didikan beliau yang terkenal adalah falsafah Mo Limo atau tidak mau melakukan lima hal tercela yaitu: main judi, minum arak atau bermabuk-mabukkan, mencuri, madat atau menghisap madu dan madon atau main perempuan yang bukan isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Brawijaya sangat senang atas hasil didikan Raden Rahmat. Raja menganggap agama Islam itu adalah ajaran budi pekerti yang mulia, maka ketika Raden Rahmat kemudian mengumumkan ajarannya adalah agama Islam maka Prabu Brawijaya tidak menjadi marah, hanya saja ketika dia diajak untuk memeluk agama Islam ia tidak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Rahmat diperbolehkan menyiarkan agama Islam di wilayah Surabaya bahkan diseluruh Majapahit, dengan catatan bahwa rakyat tidak boleh dipaksa, Raden Rahmatpun memberi penjelasan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat, maka Sunan Ampel diangkat sebagai sesepuh Wali Songo, sebagai Mufti atau pemimpin agama Islam se Tanah Jawa. Beberapa murid dan putra Sunan Ampel sendiri juga menjadi anggota Wali Songo, mereka adalah Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah putra Sunan Ampel sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa beliau yang besar adalah pencetus dan perencana lahirnya kerajaan Islam dengan rajanya yang pertama yaitu Raden Patah, murid dan menantunya sendiri. Beliau juga turut membantu mendirikan Masjid Agung Demak yang didirikan pada tahun 1477 M. Salah satu diantara empat tiang utama masjid Demak hingga sekarang masih diberi nama sesuai dengan yang membuatnya yaitu Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Sunan Ampel terhadap adapt istiadat lama sangat hati-hati, hal ini didukung oleh Sunan Giri dan Sunan Drajad. Seperti yang pernah tersebut dalam permusyawaratan para Wali di masjid Agung Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman. Mendengar pendapat Sunan Kalijaga tersebut bertanyalah Sunan Ampel :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah tidak mengkwatirkan di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampel, “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama Tauhid maka kita akan memberinya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekuatiran Kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ada benarnya yaitu agar agama Islam cepat diterima oleh orang Jawa, dan ini terbukti, dikarenakan dua Wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolelir Islam maka penduduk Jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam. Pada prinsipnya mereka mau menerima Islam lebih dahulu dan sedikit demi sedikit kemudian mereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekwen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat ummat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati atau Nyai Ageng Manila Sunan Ampel mendapat beberapa putra di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Raden Qosim atau Sunan Drajad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Maulana Akhmad atau Sunan Lamongan.&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Siti Mutmainah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;Siti Alwiyah&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt;Siti Asikah yang diperistri Raden Patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dari perkawinannya dengan Nyai Karimah putri Ki Wiryosaroyo beliau dikaruniai dua orang putri yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Dewi Murtasia yang diperistri Sunan Giri.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Dewi Mursimah yang diperistri Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebatan para Wali tersebut memang mengagumkan, sebagai bukti adalah kesiapan mereka dalam menerima adanya perbedaan pendapat. Dalam hal adat istiadat rakyat Jawa sudah jelas Sunan Ampel berbeda pendapat dengan Sunan Kudus, Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati. Tetapi mereka tetap bisa hidup rukun damai tanpa terjadi percekcokan yang menjurus pada pertikaian. Bahkan Sunan Kalijaga yang terkenal sebagai pelopor penjaga aliran lama itu menjadi menantu Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Sunan Ampel sendiri yaitu Sunan Bonang adalah pendukung pendapat Sunan Kalijaga. Sunan Drajad atau Raden Qosim yang juga putra Sunan Ampel pada akhirnya juga memanfaatkan gamelan sebagai media dakwah yang ampuh untuk mendekati rakyat Jawa agar mau menerima Islam. Itulah jiwa besar yang dimiliki para Wali. Saling menghargai medan perjuangan masing-masing anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M, beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel. Setiap hari banyak orang yang berziarah ke makam beliau bahkan pada malam harinya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah manaikkan beliau ke derajat yang tinggi, drajad para auliya muqorrobin&lt;br /&gt;dan meridhai segala amal beliau.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-4413744454887592197?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sunan Gresik-Maulana Malik Ibrahim</title><link>http://alkisahteladan.blogspot.com/2010/08/sunan-gresik-maulana-malik-ibrahim.html</link><category>Walisongo</category><author>noreply@blogger.com (Kisah7)</author><pubDate>Wed, 18 Aug 2010 23:20:26 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8653960343458379018.post-5483279857528624085</guid><description>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Gresik/Maulana Malik Ibrahim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Satria Mega Pethak&lt;br /&gt;Siang yang terik. Matahari memanggang bumi yang gersang di desa Tanggulangin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ujung desa nampak serombongan orang berkuda bersorak-sorai meneriakkan kata-kata kasar dan kotor. Mereka memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk desa, terutama wanita dan anak-anak yang berada di luar rumah, langsung berteriak ketakutan dan masuk ke dalam rumah masing-masing ketika melihat gerombolan orang berkuda itu memasuki jalanan desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerombolan orang berkuda itu ada sekitar dua puluh orang, terus memacu kudanya hingga ketengah-tengah perkampungan penduduk.Dua orang berada di barisan terdepan mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebagai pertanda agar mereka yang dibelakangnya berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya dua orang yang berada paling depan itu adalah pemimpinnya. Yang pertama tubuhnya tinggi besar, berewokan, ada membawa tanda tentara kerajaandi dadanya namun tanda itu dikenakan enaknya saja tanpa mengindahkan aturan satuan pasukan. Yang seorang lagi bertubuh sedang bahkan agak kurus, namun pakaiannyalebih bersih dan rapi. Hanya saja pakaian yang dikenakannya adalah pakaian biasa pakaian para petani perdesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan belas orang di belakang lebih parah lagi. Potongan mereka memang seperti prajurit kerajaan, tapi cara berpakaian mereka sudah tidak keruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai penduduk Tanggulangin!” teriak si tinggi besar dan berewokan dengan kerasnya.” Aku Julung Pujud ! Kuperintahkan kalian menyerahkan harta benda yang kalian punyai di pelataran rumah masing-masing. Jika tidak ! Seluruh desa ini akan kuratakan dengan tanah, kubakar habis rumah kalian !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada reaksi maupun jawaban. Rumah para penduduk tetap tertutup rapat. Tak seorangpun berani menampakkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah si penunggang kuda berpakaian petani nampak murung mendengar ucapan orang yang menyebut dirinya Julung Pujud itu. Namun dia hanya dapat menghela nafas panjang. “Sampai kapan ini akan berlangsung ……….?” Gumannya lirih. Sebenarnya aku sudah muak melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Tekuk Panjalin ! “Tegur Julung Pujud.” Kau barusan bicara apa ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, “Sahut Tekuk Panjalin.” Tak usah dihiraukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan macam-macam,” tukas Julung Pujud.” Kita harus melakukannya. Terus melakukannya hingga harta kita terkumpul banyak dan nantinya dapat kita gunakan untuk bersenang-senang hingga tujuh turunan .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang disebut Tekuk Panjalin hanya berdiam diri. Beberapa saat kemudian, karena tak ada jawaban dari penduduk setempat. Wajah Julung Pujud nampak merah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang ajar !” Bentaknya marah.” Di desa manapun orang akan membungkuk-bungkuk dan menyembah kakiku jika mendengar namaku disebut. Tapi kalian penduduk Tanggulangin tidak memandangku sebelah mata. Baik ! Kalian memang perlu diberi pelajaran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menoleh kepada anak buah yang berada di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyalakan obor !” Perintahnya. “Bakar semua rumah desa ini !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang segera turun dari kuda untuk menyalakan obor yang sudah mereka siapkan. Lalu naik lagi ke atas kuda beberapa rekannya yang lain tinggal menyahutkan api pada obor itu. Dalam tempo singkat tiga belas orang itu sudah memegang obor menyala di tangan kanan. Sementara tangan kirinya tetap memegang kendali kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mereka mulai mendekati rumah-rumah penduduk. Siap menyulutkan api ke dinding-dinding rumah yang terbuat dari kayu dan beratapkan ilalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang mata Julung Pujud tiba-tiba menatap lurus ke arah sebuah bangunan aneh. Sebuah rumah terbuat dari dinding kayu beratapkan genteng. Nampaknya baru saja didirikan di sebelah barat pusat perkampungan. Sepasang matanya yang tajam dapat melihat sekelompok orang sedang duduk bersila dengan mulut komat kamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julung Pujud segera mendekati bangunan baru itu. Sepertinya Sanggar Pemujaan. Tapi makin dekat hatinya makin yakin jika bangunan itu bukan tempat beribadahnya orang-orang beragama Hindu maupun Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada saat itu orang yang duduk di bagian paling depan mengorak sila, berdiri dan mengajak orang-orang yang berada di belakangnya untuk keluar menemui Julung Pujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hoooo ! Jadi kalian berkumpul dan bersembunyi di tempat ini. Apa yang kalian rundingkan. Mau melawanku ?” tanya Julung Pujud dengan suara mengejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun maju menghampiri Julung Pujud yang masih duduk di atas kudanya. Wajahnya bersih bercahaya. Kepalanya dibungkus dengan kain putih hingga sebagian rambutnya tak kelihatan kecuali di dekat pelipis dan telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ki Julung Pujud !” tegur pemuda itu dengan suara mantap.” Sudah lama kudengar nama dan sepak terjangmu ! Sungguh sangat kebetulan sekali sekarang dapat bertemu denganmu. Mana anak buahmu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julung Pujud mendelik. Hampir saja sepasang matanya meloncat keluar saking marahnya. Baru kali ini ada seorang penduduk berani berkata seperti kepada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya mereka tak berani menatap wajahnya, menunduk bahkan menyembah-nyembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Edan ! Gila !” umpatnya keras-keras. “Lancang sekali mulutmu anak muda. Sudah bosan hidup rupanya. Katakan kaukah yang mengumpulkan para penduduk untuk bersembunyi di tempat ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu malah menatap lekat kearah Julung Pujud. Lalu ganti ke arah lelaki di sampingnya yaitu Tekuk Penjalin yang lebih suka berdiam diri dan nampaknya lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada rasa takut maupun gentar. Julung Pujud benar-benar merasa dilecehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Julung Pujud ! Sebagian orang memang takut kepadamu. Terutama wanita yang lemah dan anak-anak. Tetapi tadi kami berkumpul di surau bukannya bersembunyi. Melainkan sedang mengerjakan shalat dhuhur !” jawab pemuda tampan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julung Pujud menoleh ke arah Tekuk Penjalin yang tetap berdiam diri namun sepasang matanya menatap tajam-tajam ke arah si pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hem, akhirnya kita ketemu macan juga rupanya, “Guman Tekuk Penjalin lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Macan ?” tukas Julung Pujud. “Masih perlu dibuktikan lagi, apakah dia seekor macan atau sekedar kucing buduk dan anjing kurap yang biasanya Cuma mengonggong !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buktikanlah ! sahut Tekuk Penjalin tanpa basa basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, panggil anak buah kita supaya dapat menyaksikan bagaimana caranya aku menggebuk anjing muda-muda ini supaya lari terkaing-kaing !” kata Julung Pujud sembari melompat dari atas kuda dan langsung hinggap di hadapan si pemuda tampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekuk Penjalin memutar kudanya dan segera memacu ke arah anak buahnya yang sudah bersiap-siap hendak membakar rumah-rumah penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat berkumpul. Buang obor kalian ! Kita bakal menyaksikan pertandingan menarik!” teriak Tekuk Penkalin begitu melihat anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka delapan belas orang berkuda itu segera mengikuti langkah kaki kuda Tekuk Penjalin untuk menuju ke tempat Julung Pujud sedang berhadapan dengan si pemuda tampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak muda !” hardik Julung Pujud.” Sebelum nyawamu lepas dari badan. Katakan siapa namamu supaya orang-orangku mengetahui bahwa pernah ada seorang anak muda berani coba-coba melawanku, dan akhirnya bernasib sial !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namaku Ghafur ! Tetapi lidah orang-orang jawa memanggilku Gapur. Kuperingatkan kepadamu, tinggalkan dunia kejahatan, jadilah orang baik-baik sebelum terlambat !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hoo! Jadi namamu Kapur ?” ejek Julung Pujud” Pantas wajah dan kulitmu putih seperti mayat. Dan memang kau akan segera jadi mayat !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada saat itu Tekuk Penjalin datang bersama tiga belas orang anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hem,” ujar Tekuk Penjalin. “Jadi kaupun ikut-ikutan jadi anjing, Pujud ? Apakah kaupun hanya akan mengajak anak muda itu untuk saling mengonggong ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julung Pujud melirik ke arah Tekuk Penjalin dengan hati mendongkol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penjalin ! Aku hanya sekedar mengisi waktu untuk menunggu kedatanganmu !” ujarnya pedas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, mulai meraung lagi. Kenapa tidak lekas kau bikin modar anak muda itu ?” tukas Tekuk Penjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu pemuda bernama Gafur segera melipat lengan bajunya yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya pertarungan antaranya dengan Julung Pujud tak bias dihindarkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘sebenarnya aku paling benci menggunakan kekerasan. Tapi kepala kalian memang kepala batu yang patut dipukul dengan tangan besi !” ujar Gafur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiaaaaat !” Tanpa basa basi lagi karena malu terus diejek Tekuk Penjalin, lelaki berewokan itu menerjang maju ke arah Gafur. Sepasang tangannya membentuk cakar rajawali di arahkan ke wajah Gafur yang putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang, terutama para pendududk desa yang berdiri di belakang Gafur berteriak kaget. Sebab Gafur sepertinya tak bereaksi, hanya diam saja, Seolah membiarkan Julung Pujud menampar dan mencakar wajahnya begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plak ! Dess !” ternyata tidak. Begitu jarak serangan tinggal sekilan (kurang lebih 10 cm) Gafur menangkis tangan yang hendak mencengkeram wajahnya bahkan langsung balik mengirim serangan dengan menendang dada Julung Pujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julung Pujud mengaduh kesakitan dengan tubuh terdorong ke belakang beberapa langkah. Dadanya terasa bagai di hantam palu godam puluhan kilo. Benar-benar kecele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah diperhitungkan, melihat keberanian si pemuda tentulah Gafur itu mempunyai sedikit kepandaian. Tapi sungguh tak disangkanya jika kepandaian ilmu silat si pemuda demikian tingginya sehingga sekali gebrak dia dibikin mundur sempoyongan dengan dada ampek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya ia berharap akan meringkus pemuda itu dengan sekali serangan saja. Itu sebabnya dia langsung mengerahkan jurus Rajawali Sakti tingkat ke delapan belas. Dia ingin mencengkeram dan langsung memutar leher Gafur, sekali pelintir putuslah nyawa pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa sangka keadaan jadi terbalik. Justru dia yang terkena tendangan telak. Kini dengan wajah merah padam Julung Pujud langsung mencabut golok di pinggangnya. Dan dengan teriakan mengguntur dia merangsak lagi ke depan. Menebaskan goloknya ke arah perut Gafur. Namun dengan mudahnya pemuda itu berkelit ke sana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua serangan Julung Pujud hanya mengenai tempat kosong. Keringat dingin segera membasahi wajahnya. Ia merasa malu dan penasaran. Tekuk Penjalin juga merasa terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah seorang pendekar kawakan. Belum pernah dia melihat kecepatan gerak seorang pesilat seperti Gafur. Ia terus memperhatikan cara-cara Gafur mengelak dan balas menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia dapat menyimpulkan ciri khas dari ilmu silat yang dimiliki pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lembu Sekilan ………. ?” teriaknya agak ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julung Pujud yang mendengar teriakan Tekuk Penjalin terkejut sekali. Lembu Sekilan adalah ilmu tingkat tinggi. Tak sembarang orang mampu mempelajari ilmu itu. Tapi Gafur yang berusia semuda itu sudah menguasainya dengan baik. Sehingga setiap serangan yang dilancarkan tidak akan pernah menyentuhnya. Selalu berjarak kurang dari sekilan dari sasaran. Tiga puluh jurus telah berlalu. Selama ini Gafur lebih banyak mengalah. Ia lebih sering mengelak atau menangkis, hanya sesekali balas menyerang dengan tenaga biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Julung Pujud sangat bernafsu merobohkan atau membunuh pemuda itu dengan seluruh kemampuan yang ada. Ia telah mengerahkan semua ilmunya. Baik ilmu yang dipelajarinya dari satuan pasukan elite Majapahit maupun ilmu kotor dengan jurus-jurus keji yang penuh gerak tipuan. Semua itu ternyata tak mampu dipergunakan untuk menyentuh tubuh Gafur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar tak tahu diri !” tiba-tiba Tekuk Penjalin angkat bicara. “Kalau mau sebenarnya sudah mampu mencabut nyawamu sejak tadi !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julung Pujud makin panas mendengar ejekan rekannya itu. Tekuk Penjalin memang selalu jadi saingannya dalam segala hal. Ilmu mereka berimbang tapi Tekuk Penjalin nampak lebih tenang dan penuh perhitungan. Tak gampang terbawa arus nafsu amarah yang merusak segala pertimbangan akal sehat. Kini Julung Pujud menyerang Gafur dengan membabi buta. Hingga suatu ketika Gafur merasa sudah saatnya memberikan pelajaran kepada pemimpin gerombolan perampok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Trang ! Desss ! Desss !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Julung Pujud membacokan goloknya ke arah kepala Gafur. Gafur menangkis dengan tangan kirinya. Semua orang terkejut. Mengira tangan Gafur yang bakal putus dibabat golok itu. Ternyata justru golok itulah yang patah menjadi dua. Dan sebelum hilang rasa terkejutnya, Julung Pujud tahu-tahu merasa perutnya kena tendangan teramat keras dari sepasang kaki Gafur yang dilancarkan secara beruntun. Tubuh Julung Pujud terjungkal ke belakang dengan terjembab ke tanah dengan keras sekali. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Nafasnya terengah-engah. Tiga belas anak buahnya hanya memandanginya dengan bengong, tak tahu apa yang harus dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goblok !” umpatnya dengan nafas tersenggal. “Mengapa kalian diam saja. Cepat serbu bangsat itu ! Bunuh dia !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan belas prajurit itu langsung turun dari kudanya masing-masing. Dengan menghunus golok di tangan mereka menyerbu ke arah Gafur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun puluhan penduduk yang tadinya hanya berdiri di belakang Gafur segera mengambil senjata seadanya. Dan mereka segera menyerbu ke arah kawanan perampok yang hendak mengeroyok Gafur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ada beberapa pemuda desa yang telah mempunyai kepandaian ilmu silat. Dan cukup membuat kawanan rampok itu repot meladeni serangannya. Belum lagi puluhan penduduk yang menyerang dengan nekad dengan senjata parang, golok, tombak, cangkul, tongkat penumbuk padi, lemparan batu dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menjarah desa puluhan kali belum pernah kawanan rampok itu mendapat perlawanan sesengit ini. Biasanya para penduduk desa sudah mengkeret begitu mendengar gertakan mereka. Tak ada yang berani melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Tekuk Penjalin bahwa mereka sedang bertemu dengan macan rupanya benar-benar menjadi kenyataan. Seluruh penduduk desa Tanggulangin agaknya telah berubah menjadi sekawanan harimau terluka. Siap menerkam siapa saja yang coba-coba mengusik ketenangannya. Julung Pujud melangkah tertatih-tatih ketepian. Menjauhi pertempuran. Mendekati kudanya yang ditambatkan pada sebatang pohon sawo. Sementara delapan belas anak buahnya bertarung sengit dengan puluhan penduduk desa. Tekuk Penjalin langsung meloncat ke depan Gafur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senang sekali bertemu denganmu anak muda.” Katanya dengan wajah berseri-seri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lama sekali aku tak bertemu lawan tangguh yang dapat mengimbangi ilmuku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis berkata demikian dia langsung melancarkan serangan dari jarak jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangkum hawa panas meluncur ke dada Gafur. Pemuda itu, sudah merasakan kesiuran angin sebelum tenaga dalam yang dilancarkan Tekuk Penjalin mengenai tubuhnya. Cepat ia membaca beberapa ayat Al-Qurán. Kedua telapak tangannya dibentangkan lebar-lebar untuk menangkis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wesssss .......... ! Hiaaaaat ! Tap !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerdik sekali Tekuk Penjalin. Ia sudah menduga serangannya bakal membalik. Maka dia meloncat tinggi-tinggi ke arah pohon mangga. Dan hinggap disalah satu dahannya. Gafur memandangnya sejenak. Kemudian menoleh ke arah penduduk desa yang sedang bertempur melawan kawanan perampok. Ia mengerutkan dahi. Buas dan brutal sangat cara para perampok itu bertempur. Beberapa penduduk berhasil dilukainya, bahkan ada lima orang penduduk yang sudah roboh di atas tanah dengan luka parah terbabat golok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak bisa membiarkan ini terjadi.” Gumannya lirih. Lalu meloncat ke arah Tekuk Penjalin yang masih tertengger diatas dahan pohon mangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampa diduga tiba-tiba Tekuk Penjalin menyambitkan sebuah daun ke arahnya. Gafur berjumpalitan di udara beberapa kali untuk menghindari daun mangga yang meluncur bagai sebatang anak panah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tasss ! Jreppp !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gafur berhasil menghindari sembitan daun mangga yang telah diisi dengan tenaga sakti. Daun itu mengenai batang pohon pisang di sebelahnya, tembus dan meluncur lagi ke arah batang pohon kelapa. Amblas dan menancap do batang pohon kelapa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gafur bergidik ngeri. Bagaimanakah jika daun itu mengenai tubuhnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalurinya berkata lawannya kali ini bukan sembarang orang. Melainkan lawan tangguh yang mempunyai ilmu sangat tinggi. Ia sudah berhasil hinggap di salah satu dahan pohon mangga, tepat diseberang Tekuk penjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ki Tekuk Penjalin, andika seorang pendekar perkasa, “Tegur Gafur dengan sopan sekali. “Mengapa harus berloncatan ke dahan pohon seperti tupai ? Mari kita tuntaskan pertarungan ini di atas tanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau takut bertempur di atas pohon ? Ejek Tekuk Penjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andika salah sangka. Saya hanya tidak mau merusak pohon ini tanpa suatu alasan yang benar. Kasihan penduduk desa yang telah menanamnya dengan susah payah selama puluhan tahun” ujar Gafur dengan suara datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekuk Penjalin melangak. Hanya sebatang pohon mangga. Pemuda itu demikian menghargainya. Ia merasa malu karena selama bertahun - tahun membunuh dan memperlakukan manusia bagaikan barang yang tidak berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kuturuti apa maumu !” kata Tekuk Penjalin sembari melayang turun. Dengan ringan tubuhnya hinggap di atas tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gafur melakukan hal serupa. Bahkan gerakannya membuat Tekuk Penjalin tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat bagai kilat namun indah bagaikan sehelai daun kuning jatuh ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, majulah anak muda !” tantang Tekuk Penjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gafur memang bermaksud segera menyudahi pertempuran itu. Ia merasa kasihan pada para penduduk desa yang terus menerus berjatuhan karena kalah pengalaman dibanding kawanan perampok yang asalnya memang dari pasukan tempur kerajaan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampa basa basi lagi Gafur mengerahkan ilmunya. Ilmu silat yang berasal dari Perguruan Al-Karomah. Tekuk Penjalin langsung roboh terjungkal ke tanah. Nafasnya terengah-engah. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Beberapa bagian tubuhnya nampak matang biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan itu. Julung Pujud yang sudah naik ke atas punggung kuda menjadi kecut hatinya. Ia menggiring kudanya secara diam-diam untuk menjauhi arena pertarungan. Rupanya Julung Pujud bersiap-siap hendak melarikan diri jika ternyata pihaknya menderita kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu setan ……….!” Desis Tekuk Penjalin dengan pandang mata penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andika keliru !” sahut Gafur sembari melangkah mendekati Tekuk Penjalin yang terkapar tanpa dapat bangun lagi.” Kami bahkan sangat membenci ilmu setan. Ilmu yang barusan kupergunakan tadi adalah ilmu Pencak Silat Karomah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau berasal dari perguruan mana ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garawesi !” Sahut Gafur menoleh ke arah penduduk yang masih terus bertempur dengan kawanan perampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berpaling dan mendekati ke arah Tekuk Penjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat perintahkan anak buahmu untuk menyerah !” Bentak Gafur dengan pandang mata mencorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekuk Penjalin hanya diam saja. Gafur jadi gelisah. Ia melangkah makin dekat. Sepasang kakinya berdiri di sisi tubuh Tekuk Penjalin yang terkapar. “Jika kau tak mau perintahkan anak buahmu menyerah, maka sekali kuinjakkan kakiku ke dadamu, pasti kau akan mati !” ancamnya tanpa main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekuk Penjalin masih tak mau buka suara. Sepasang matanya memandang Gafur dengan penuh penasaran. Rasanya dia masih belum percaya jika telah dirobohkan pemuda itu hanya dalam tiga kali gebrakan. Benar-benar mustahil. Tapi kenyataan telah membuka pandangan hidup bahwa seolah-olah di dunia ini tidak ada orang sakti selain dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat ! perintahkan anak buahmu untuk menyerah ! “ Ancam Gafur dengan hati galau. Kini ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Siap dihantamkan ke dada Tekuk Penjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekuk Penjalin sendiri masih bungkam. Hatinya bergolak, “Bertahun-tahun aku mengembara. Ingin bertemu dengan tokoh silat tingkat tinggi, kini tokoh itu ternyata hanya seorang anak muda. Aku kecewa, daripada hidup menanggung malu, lebih baik aku mati ditangannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diduga oleh Gafur, tiba-tiba Tekuk Penjalin menggerakkan mulutnya. Bukan untuk memberi perintah agar anak buahnya menyerah. Melainkan justru meludahi wajah Gafur yang hendak menginjak dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juhhhhh .......... !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gafur tak sempat mengelak. Ludah itu menempel di wajahnya. Seketika wajahnya yang putih bersih berubah jadi merah padam pertanda marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang tangannya terkepal erat. Kaki kanannya bergetar hebat menahan amarah. Sekali injak tentu ambrol dada Tekuk Penjalin. Melihat wajah Gafur yang merah membara itu tergetarlah hati Tekuk Penjalin, bagaimanapun sebenarnya dia tidak rela mati begitu saja. Kini lenyaplah kepongahan hatinya. Berubah jadi kecut dan ciut. Wajahnya seketika berubah jadi pucat pasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kali ini tamatlah riwayatku .......” Desis Tekuk Penjalin melihat kaki kanan Gafur diangkat tinggi-tinggi. Siap menggempur dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terjadilah keanehan. Gafur mengrungkan niatnya menghantam dada Tekuk Penjalin dengan kakinya. Dia menarik kaki kanannya dan berdiri dengan sikap biasa. Terdengar ia menyebut , “Astaghfirullah ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya yang tadi merah pedam karena dialiri darah amarah yang menggelegak mendadak berubah lagi jadi putih bersih. Perlahan dia membersihkan ludah Tekuk Penjalin yang menempel di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa ? mengapa aku tak jadi kau bunuh ?” tanya Tekuk Penjalin keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena tadi kau telah membuatku marah !” jawab Gafur datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak boleh menghukum orang dalam keadaan marah. Itu termasuk dosa !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa berdosa ?” ujar Tekuk Penjalin masih penasaran.” Bukankah aku ini perampok jahat yang pantas di bunuh ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tadi .......... “kata Gafur.” Sebelum kau meludahiku dan sebelum aku marah. Aku boleh membunuhmu karena niatku membunuhmu adalah untuk jihad fi sabilillah, memerangi kejahatan. Tetapi setelah kau meludahi, maka hatiku jadi marah. Yang marah adalah aku pribadi. Karena diri pribadiku tersinggung. Sedangkan aku tak boleh mencampur adukkan antara kepentingan pribadi dengan niat berjuang di jalan Allah. Saat aku marah hatiku sudah menyeleweng dari jalan Allah, jadi aku akan menanggung dosa besar jika membunuhmu atas dasar kebencian pribadi. Bukan atas dasar perang di jalan Allah, yang sesuai dengan ajaran agamaku !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekuk Penjalin tertegun. Hatinya bergolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa luhur ajaran agamamu, apakah nama agama yang kau anut itu ?” tanya Tekuk Penjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam !” jawab Gafur. “Islam artinya selamat. Siapa yang memeluk agama Islam akan selamat hidupnya di dunia dan akhirat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ………. adalah bekas perwira Majapahit yang membelot dan menjadi pemimpin rampok. Kejahatanku bertumpuk-tumpuk, apakah Tuhanmu masih mau mengampuniku ?” tanya Tekuk Penjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa tidak ?” Sahut Gafur. “Misalkan dosamu setinggi gunung sepenuh langit dan bumi. Namun kalau kau masuk agama Islam, dan bertobat secara sungguh-sungguh. Artinya kita tidak akan mengulangi perbuatanmu yang jahat, menggantinya dengan perbuatan baik, maka Tuhan akan mengampunimu. Dosa-dosa di masa lalu akan dihapus semua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah begitu ?” sahut Tekuk Penjalin ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bicara apa adanya. Dusta adalah suatu dosa !” sahut Gafur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tekuk Penjalin berusaha bangkit untuk berdiri. Karena tubuhnya masih lemah maka ia segera roboh lagi. Gafur cepat menyambarnya. Sementara itu, pertempuran antara penduduk desa dengan kawanan perampok masih berlangsung seru. Tiba-tiba terdengar bentakan yang membahana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti ! Hentikan pertempuran !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang terkejut dan segera menghentikan pertempuran. Ternyata bentak itu berasal dari Tekuk Penjalin. Dia berdiri tegak di samping Gafur. Gafur telah menolong Tekuk Penjalin sehingga tubuhnya kembali segar bugar seperti semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengarkan ! Mulai sekarang kutinggalkan dunia kejahatan. Aku tak mau lagi hidup bergemilang dosa. Hari ini juga aku masuk agama Islam dam menjadi pengikut saudara Gafur Satria Mega Pethak !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang terkejut mendengar perkataan itu. Baik dari kalangan penduduk desa maupun para perampok itu sendiri. Sementara bagi Pulung Pujud ucapan Tekuk Penjalin itu bagaikan petir menyambar di telinganya. Jika Tekuk Penjalin yang tadinya andalan gerombolannya sudah menyeberang ke pihak lain, maka tamatlah riwayatnya. Tekuk Penjalin menatap wajah seluruh anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian boleh pilih, tetap menjadi gerombolan perampok dengan risiko diburu petugas pemerintah Majapahit dan dimusuhi seluruh rakyat atau hidup baik-baik, bertobat dan membaur dengan masyarakat !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan belas perampok itu sekarang tinggal lima belas. Tiga rekannya telah mati di tangan penduduk desa. Delapan orang langsung membuang senjatanya ditanah begitu mendengar seruan Tekuk Penjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh lainnya berlari ke arah kudanya masing-masing dan bergerak menuju Julung Pujud. “Ki Tekuk Penjalin ! Tidak sudi kami mengikuti jejakmu. Biarkan kami menempuh jalan kami sendiri !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah kalian !” sahut Tekuk Penjalin. “Tapi jangan coba-coba mengganggu desa ini lagi. Bila itu kalian lakukan maka aku sendiri yang bakal membasmi kalian !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha ha ha ha .......... !” Julung Pujud tertawa keras. “Mari anak buahku yang jantan !” kita tinggalkan Tekuk Penjalin yang telah menjadi banci !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julung Pujud mendahului memacu kudanya keluar desa. Diikuti tujuh orang anak buahnya yang tidak mau menerima fitrah kebenaran abadi. Beberapa penduduk desa yang masih merasa geram dan dendam segera menendang dan memukuli delapan perampok yang telah menyerah, duduk bersimpuh di atas tanah tanpa mengadakan perlawanan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gafur segera membentak ke arah penduduk desa, “Hentikan ! tidak pantas menyerang orang yang sudah menyerahkan diri !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka sudah membujuk teman-teman kami !” protes penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serahkan mereka padaku. Aku akan mengurusnya !” jawab Gafur dengan suara berwibawa. Kemudian ia memberi isyarat kepada seluruh penduduk untuk berkumpul. Ki Tekuk Penjalin dan anak buahnya duduk bersimpul di belakang Gafur, menghadap ke arah penduduk desa yang segera berkumpul di hadapan Gafur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kalian saksikan sendiri, “Gafur membuka suara.” Muslim yang kuat lebih disukai Allah. Dengan adanya kekuatan kita dapat mempertahankan diri dari pemaksaan kehendak orang lain, itulah sebabnya para pemuda di desa ini kuajari ilmu pencak silat di samping belajar ilmu agama !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, secara panjang lebar Gafur memberikan bimbingan kepada penduduk setempat untuk mengenal dan memperdalam agama Islam. Bukan hanya sekedar ceramah saja. Melainkan dibuktikan dengan perbuatan nyata. Gafur adalah murid si Kakek Bantal yang ditugaskan membina desa-desa tertinggal, dan masyarakat yang belum mengenal Islam. Dia membantu para penduduk untuk meningkatkan taraf kehidupannya dengan cara membimbing mereka bertanam padi dengan cara yang lebih baik. Dengan ilmu pengobatan yang dipelajari dari gurunya ia juga telah banyak menolong para penduduk yang menderita sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk setempat akhirnya menaruh simpati. Di saat itulah Gafur baru menawarkan dan mengenalkan keindahan dan keluhuran agama Islam kepada mereka. Tekuk Penjalin dan anak buahnya dibina di desa itu. Akhirnya mereka menjadi orang baik-baik dan menjadi pelindung desa dari rongrongan para perampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah cara dakwah yang ditempuh oleh Gafur yang oleh Tekuk Penjalin disebut sebagai Satria Mega Pethak atau Satria Awan putih. Seputih hati dan sebersih jiwa pemuda dalam menempuh perjalanan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gafur sangat toleran terhadap kepentingan pribadi, patuh terhadap ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh menjauhi kemungkaran dan tiada henti-hentinya menegakkan kebenaran yang dinodai sekelompok orang tak bertanggung jawab. Gafur hanyalah salah satu di antara sekian banyak murid Kakek Bantal yang tinggal di Garawesi atau Gresik. Lalu siapakah si Kakek Bantal itu. “Ya, siapakah sebenarnya Guru saudara Gafur yang disebut Kakek Bantal itu ?” tanya Tekuk Penjalin pada suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gafur tersenyum lalu menjawab, “Kakek Bantal adalah seorang ulama besar dari Negeri Seberang. Beliau tinggal di Jawa, tepatnya di Gresik. Bantal artinya Bumi. Disebut demikian karena beliau mampu membaur dengan penduduk setempat sehingga boleh dikatakan sudah membumi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Ada pula yang mengatakan Bantal adalah bantal untuk alas tidur, sebab beliau sangat berilmu tinggi. Petuah dan nasehatnya melegakan semua orang yang mendengarkannya sehingga hati dan jiwa menjadi tenang, setenang saat mereka tidur nyenyak diatas bantal empuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menanti Tetes Air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kematian Maha Patih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk, kerajaan Majapahit mengalami kemunduran drastis. Berangsur-angsur kerajaan yang dahulu pernah dipersatukan Gajah Mada, mulai memisahkan diri, baik secara terang-terangan maupun dengan sembunyisembunyi. Namun demikian Majapahit masih merupakan kerajaan terbesar di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wibawanya masih terasa kuat di dunia luar, walaupun sesungguhnya dari dalam kerajaan itu sudah sangat keropos. Perang saudara antara kerabat istana tiada henti-hentinya. Rakyat menjadi korban. Kesengsaraan dan bahaya kelaparan melanda di mana-mana. Kesetiaan para pembesar dan bupati mulai menipis. Banyak upeti kerajaan yang tidak sampai ke tangan raja. Kejahatan melanda di mana-mana, banyak tindak kekerasan, perampokan dan pencurian. Bahkan banyak satuan-satuan tentara kerajaan yang melepaskan diri dan beralih profesi sebagai gerombolan perampok yang menjarah harta benda kaum bangsawan dan rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak ada jaminan stabilitas keamanan maka para penduduk merasa tak tenang dalam mengolah lahan pertanian mereka. Akibatnya bahaya kelaparan melanda di mana-mana. Ditambah adanya musim kemarau panjang di beberapa tempat, maka situasi jadi semakin menggenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat demikian sesekali si Kakek Bantal dan beberapa muridnya mengadakan peninjauan langsung ke beberapa daerah. Ingin melihat sendiri keadaan dan nasib penduduk setempat. Pada suatu hari Kakek Bantal dan lima orang muridnya sampai di sebuah desa yang teramat gersang. Hampir tak ada pepohonan yang hidup. Tanah-tanah yang terinjak sangat kering, tak ada rerumputan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus berjalan hingga tiba di suatu tanah lapang yang cukup luas. Di tengah-tengah tanah lapang itu nampak puluhan penduduk sedang berkerumun. Mengelilingi dua orang pemuda bertubuh kurus sedang berlaga. Dua orang pemuda itu hanya mengenakan celana, tubuh bagian atasnya terbuka. Mereka saling memukulkan sebatang rotan ke punggung masing-masing. Setiap pukulan nampaknya disertai tenaga yang sangat kuat sehingga punggung yang terkena menjadi matang biru bahkan ada beberapa dari melintang yang penuh darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus menerus kedua pemuda itu saling menghantamkan rotan ditangannya. Hingga kedua punggung anak muda itu penuh luka yang melepuh. Beberapa lelaki yang mengelilinginya menabuh gending untuk memberi semangat. Hingga pada akhirnya kedua pemuda itu roboh ke tanah dalam keadaan pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irama gending segera berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pendeta berpakaian kuning, yang agaknya menjadi ketua adat segera memberi perintah untuk menyeret kedua pemuda itu keluar arena. Kemudian pendeta itu menuding ke arah seorang gadis yang sedang dicekal kedua lengannya oleh dua orang lelaki bertubuh kekar. “Bawa kemari anak perawan itu !” Teriak sang pendeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua lelaki bertubuh kekar menyeret si gadis ke tengah lingkaran menusia berkerumun. Di tengah-tengah lingkaran itu ada batu altar persembahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan ! Jangan bunuh aku !” teriak gadis itu ketakutan. Dia berusaha berontak, namun tenaganya kalah kuat dibanding ke dua lelaki bertubuh kekar yang mencekal dan menyeretnya dengan paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si gadis yang sudah diberi pakaian putih segera dibaringkan di atas altar. Empat orang lelaki memegangi kedua tangan dan kakinya yang dipentangkan. Gadis itu meronta-ronta ketakutan. Kakek Bantal makin tertarik, ia kelima muridnya makin mendekati kerumunan orang itu. Kini sang pendeta mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi sembari mendongkak ke atas langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Dewa Hujan ! Terimalah perembahan kami ! Hentikan kemarau panjang ini. Curahkan limpahan airmu ke bumi yang gersang ini !” Demikian teriaknya berkali-kali. Si pendeta tua segera mendekati si gadis dengan senyum menyeringai. Ia melemparkan tongkatnya lalu mencabut belati dari balik pinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai perawan suci, serahkan dirimu dengan rela kepada Dewa Hujan. Sederas darah yang keluar dari jantungmu sederas itu pula hujan yang akan diturunkan oleh sang Dewa. Pengorbanan mu tidak akan dilupakan oleh seluruh penduduk desa ini !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jaj ...... jangan ...... ! Aku tidak mau ...... !” rintih si gadis cantik dengan tubuh gemetar ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam !” bentak lelaki berwajah seram yang memegangi tangan si gadis. Wajah si gadis langsung mengkeret, pucat pasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita mulai !” kata sang pendeta. Keempat lelaki yang memegangi sepasang tangan dan kaki si gadis makin mempererat cekalannya. San pendeta mendekati altar persembahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangkat belati itu di atas dada si gadis. Tepat di atas jantungnya. Agaknya ia hendak menikam jantung si gadis cantik dengan belati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti !” tiba-tiba terdengar seruan lembut namun jelas terdengar oleh semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Bantal dan kelima orang muridnya menerobos kerumunan orang. Langsung menghampiri si pendeta yang memegang belati, siap dihujamkan ke jantung si gadis. “Untuk apa gadis ini dikorbankan ?” tanya Kakek Bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengharap turunnya hujan !” sahut sang Pendeta dengan nada ketus. Dia sangat tidak suka atas kedatangan Kakek Bantal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan ?” tanya Kakek Bantal. “Mengharap hujan dengan mengorbankan seorang gadis gadis cantik ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, hanya dengan mengorbankan gadis itu kepada Dewa Hujan maka kami akan mendapat air.” Sahut sang pendeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah berapa kali acara seperti ini dilakukan ?” tanya Kakek Bantal lagi. Sang pendeta tidak segera menjawab. Dia tidak suka urusannya dicampuri orang lain. Maka ia segera memberi isyarat agar kedua orang kaki tangannya yang bertubuh kekar untuk mengusir Kakek Bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang bertubuh kekar segera menghunus goloknya masing-masing lalu menghampiri Kakek Bantal. Tanpa basa-basi mereka langsung mengayunkan goloknya untuk membelah kepala Kakek Bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sungguh aneh. Saat keduanya mengangkat golok, tiba-tiba gerakannya terhenti. Mereka berdiri kaku dengan golok di tangan sedang terangkat tinggi-tinggi. Sang pendeta terbelalak menyaksikan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia tak mau rencananya berantakan. Segera ditikamnya belati yang dipegangnya ke jantung si gadis cantik. Namun ia berteriak kaget. Tangannya tak dapat digerakkan untuk meluncurkan belati itu ke dada si gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ...... ? Kau ...... ?” teriak sang pendeta sembari menuding ke arah Kakek Bantal.” Mau apa kau mengganggu jalannya upacara ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Bantal dan kelima muridnya maju ke tengah arena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf kisanak, sudah berapa kali kau korbankan gadis-gadis suci itu kepada Dewa Hujan ?” tanya Kakek Bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah dua kali !” jawab pendeta dengan sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hem, dua kali, “ulang Kakek Bantal.” Jadi sudah dua jiwa melayang sia-sia !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengorbanan mereka tidak sia-sia, “Tukas pendeta tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah dengan mengorbankan kedua gadis tadi hujan sudah turun ke desa ini ?” tanya Kakek Bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeta tua tidak segera menjawab, tetapi orang yang berkerumun tanpa dapat dicegah lagi menjawab dengan serentak, “Belum …… “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah sang pendeta nampak jadi beringas mendengar jawaban orang-orang desa itu. Dengan lantang ia berkata, “Hujan belum turun karena pengorbanan baru dilakukandua kali. Dewa Hujan akan menerima pengorbanan yang dipersembahkan tiga kali. Barulah sesudah itu hujan akan diturunkan !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika pengorbanan dilakukan ketiga kalinya tetapi hujan belum turun juga? Tanya Kakek Bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merah padam wajah sang pendeta. Dia memberi isyarat kepada dua lelaki kekar dibelakangnya untuk meringkus Kakek Bantal yang dianggapnya sebagai pengacau. Dua lelaki itu, yang agaknya adalah pengikut setia sang pendeta segera bergerak maju. Mereka bermaksud menghajar Kakek Bantal hingga babak belur. Tapi sungguh aneh, sepasang kaki mereka tiba-tiba terasa kejang tanpa ada sebabnya. Keduanya melolong kesakitan sembari memegangi pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bermaksud menentang kami hai orang asing !” bentak pendeta tua.” Kau sengaja mengganggu upacara kami !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bermaksud mengganggu. ujar Kakek Bantal. “Aku dan kelima muridku bermaksud menolong orang-orang desa ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puih !” pendeta tua meludah sambil bertolak pinggang.” Apa yang dapat kau berikan kepada warga desa ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kalian inginkan dari kami ?” Kakek Bantal balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan ! Kami minta hujan !” jawab para penduduk desa serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma hujan ?” ujar Kakek Bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh !” Dengus pendeta tua.” Lagak bicaramu seolah dunia ini berada dalam genggamanmu ! Coba turunkan kalau kau bisa. Tapi ingat, jika kau gagal melakukannya maka kami tak segan-segan akan membunuhmu, karena kau berani mengganggu upacara kami !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Allah mengijinkan maka hujan pun akan segera turun !” kata Kakek Bantal dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah ? Siapa Allah ?” tanya pendeta tua.” Mengapa minta ijin segala kepadanya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Termasuk yang menciptakan kita semua,” Ujar Kakek Bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah ! Jangan bicara ! Jika kau memang bisa menurunkan hujan cepat lakukan saja!” bentak pendeta tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh saja, tapi dengan syarat, jika kami bisa menurunkan hujan aras ijin Allah, maka kalian harus membebaskan gadis itu !” kata Kakek Bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa ?” tukas pendeta tua.” Kedua orang tua gadis itu sudah mati. Dia tak punya sanak kadang, sudah pantas jika dia terpilih sebagai persembahan untuk Dewa Hujan !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Bantal menghadap ke arah kerumunan orang-orang desa, kemudian bertanya, Kalau kami dapat menurunkan hujan. Maukah kalian membebaskan gadis itu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mauuuuu …… !” jawab orang-orang desa dengan serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih,” jawab Kakek Bantal.” Dalam ajaran agama kami, seorang anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya disebut yatim piatu. Tidak boleh disia-siakan dan ditelantarkan, melainkan harus disantuni dan diperhatikan nasibnya. Bukannya dikorbankan kepada Dewa Hujan !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penduduk desa nampak tercenung mendengar ucapan Kakek Bantal. Sementara Kakek Bantal dan kelima muridnya yang selalu berusaha dalam keadaan suci (tak batal wudhu’nya) segera melaksanakan shalat istisqo’ dan berdoá dengan khusyu’nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian, langit tiba-tiba berubah menjadi hitam oleh mendung yang berarak. Dan hujan turun dengan derasnya. Membasahi bumi yang kering kerontang. Semua orang yang berkumpul langsung bersorak-sorai kegirangan. Hanya pendeta tua dan keempat lelaki yang masih memegangi tangan dan kaki gadis yang berdiam diri dalam keangkuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sihir ! Pasti kalian mempergunakan ilmu sihir, “teriak pendeta tua, “Hujan itu tidak nyata, hanya khayalan saja !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Bantal segera menghampiri pendeta tua sembari berkata, “Kisanak, sihir itu terlarang bagi orang Islam. Kami tidak boleh mempelajarinya apalagi mengamalkannya. Hujan ini adalah nyata rahmat dari Allah yang menciptakan langit dan bumi !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya pendeta tua itu tak mau mengakui kenyataan yang ada. Dia memberi isyarat kepada keempat anak buahnya yang memegangi si gadis cantik untuk melepaskannya dan segera mengikuti langkahnya pergi meninggalkan desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hujan sudah reda, orang-orang yang bersorak sorai kegirangan segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kakek Bantal dan kelima muridnya. Termasuk si gadis cantik yang hampir saja dikorbankan nyawanya oleh pendeta tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangunlah Kisanak semua !” kata Kakek Bantal. “kalian tidak boleh bersujud kepada sesama manusia. Hanya Tuhan Allah yang pantas kalian sembah dalam sujud.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar ucapan Kakek Bantal, semua orang segera bangkit untuk bersila, salah seorang dari mereka yang nampaknya berusia lanjut berkata, “Kami sangat berterima kasih kepada Tuan, karena Tuan telah menolong kami menurunkan hujan yang telah lama kami tunggu-tunggu. Bolehkah kami minta diajarkan tata cara meminta hujan seperti tadi ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya !” sahut penduduk lainnya. “Ajarkan kepada kami cara menurunkan hujan tanpa mengorbankan manusia !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Bantal tersenyum arif. Orang-orang desa itu telah manaruh simpati kepadanya. Rasa simpati itulah modal utama untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kalian ingin diajari cara minta hujan seperti tadi,” kata Kakek Bantal. “Maka kalian harus mengenal dan mempelajari dulu agama Islam. Maukah kalian ?” “Mauuuuuu ...... ! jawab para penduduk dengan serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, selama beberapa hari Kakek Bantal tinggal di desa itu. Membimbing para penduduk desa untuk mempelajari agama Islam sesuai dengan tingkat pemahaman mereka selaku orang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Kakek Bantal meneruskan perjalanan pulang ke Gresik. Ia telah menugaskan dua orang muridnya yang ahli dalam mengolah lahan pertanian dan bangunan untuk membimbing penduduk desa itu. Sehingga terbinalah imam dan taraf hidup penduduk desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap desa yang dilaluinya Kakek Bantal selalu berbuat kebajikan. Jika dipandang perlu untuk menempatkan muridnya di desa yang disinggahi maka murid itupun ditugaskan untuk membimbing penduduk desa yang dilaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Siapa Kakek Bantal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum Kakek Bantal datang ke Pulau Jawa, sebenarnya sudah ada masyarakat Islam di daerah-daerah pantai utara. Termasuk di desa Leran. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya makam seorang wanita bernama Fatimah Binti Maimun yang meninggal pada tahun 475 Hijriyyah atau pada tahun 1082 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada tahun 99 H, Sri Maharaja Serindrawarman dari kerajaan Sriwijaya di Sumatra telah masuk Islam. Kemudian pada abad pertama Hijriyyah, menurut K.H. Sirajuddin Abbas, di Pulau Jawa sudah ada seorang raja yang masuk agama Islam yaitu Ratu Sima. Menurut dokumen disebut Ratu Simon. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa Rati Sima adalah penguasa kerajaan Kalingga di Jepara Jawa Timur (mungkin dahulu wilayah Jawa Timur, tetapi sekarang kota Jepara adalah daerah Jawa Tengah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Khalifah Bani Umaiyah, pengganti Khalifah Sulaiman Bin Abdul Malik, yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa dari tahun 99 – 101 H, pernah berkorespondensi dengan Maharaja Jambi (Sriwijaya) dan Ratu Sima tersebut. Kumpulan dari surat-surat itu masih tersimpan baik di Musium Granada Spanyol sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebelum jaman Wali Songo, Islam sudah ada di Pulau Jawa yaitu daerah Jepara dan Leran. Tetapi Islam pada masa itu belum berkembang secara besar-besaran. Kakek Bantal diperkirakan datang ke Gresik tahun 1404 M. Beliau berdakwah di Gresik hingga akhir wafatnya yaitu pada tahun 1419.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja dan rakyatnya kebanyakan masih beragama Hindu atau Budha. Sebagaian rakyat Gresik sudah ada yang beragama Islam tetapi masih banyak yang beragama Hindu. Atau bahkan tidak beragama sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berdakwah Kakek Bantal menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran Al-Qurán yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaknya engkau ajak kejalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan petunjuk-petuhjuk yang baik serta ajakan mereka berdialoq (bertukar pikiran) dengan cara yang sebaik-baiknya. (QS An Nahl 125).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Turki. Dan pernah mengembara di Gujarat sehingga beliau cukup berpengalaman menghadapi orang-orang Hindu di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gujarat adalah wilayah negeri Hindia yang kebanyakan penduduknya beragama Hindu. Di Jawa, Kakek Bantal bukan hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu, melainkan juga harus bersabar terhadap mereka yang tak beragama maupun mereka yang terlanjur mengikuti aliran sesat, juga meluruskan imam dari orang-orang Islam yang bercampur dengan kegiatan Musyrik. Caranya : Beliau tidak langsung menentang kepercayaan mereka yang salah itu melainkan mendekati mereka dengan penuh hikmah, beliau tunjukkan keindahan dan ketinggian akhlak Islami sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari huruf-huruf Arab yang terdapat di batu nisannya dapat diketahui bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah si Kakek Bantal, penolong fakir miskin, yang dihormati para pangeran dan para sultan ahli tata negara yang ulung, hal itu menunjukkan betapa hebat perjuangan beliau terhadap masyarakat, bukan hanya pada kalangan atas melainkan juga pada golongan rakyat bawah yaitu kaum fakir miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat Al-Qurán yang tertulis di batu nisannya terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Al-Baqarah ayat 255, terjemahannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah, tidak ada Tuhan malainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi (ilmu dan kekuasaan) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Mahatinggi dan Mahabesar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Ali Imran ayat 185, terjemahannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu, barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya ia beruntung. Kehidupan di dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Ar-Rahman ayat 25, 27, terjemahannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua yang di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat At-Taubah ayat 21, 22, terjemahannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga. Mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tertulis data siapa yang dimakamkan di kuburan itu. “Inilah makam Almarhum Almaghfur, yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para Pangeran, sendiri Sultan dan para Menteri, penolong para fakir dan miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan Rahmat-Nya dan keridhaan-Nya, dan dimasukkan ke dalam surga. Telah wafat pada hari senin 12 Rabiul Awwal tahun 822 H.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut literatur yang ada, beliau juga ahli pertanian dan ahli pengobatan. Sejak beliau berada di Gresik hasil pertanian rakyat Gresik meningkat tajam. Dan orang-orang sakit banyak yang di sembuhkannya dengan daun-daunan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifatnya lemah lembut, welas asih dan ramah tamah kepada semua orang, baik sesama muslim atau dengan non muslim membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati. Kepribadiannya yang baik itulah yang menarik hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka rela dan menjadi pengikut beliau yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai misal, bila beliau menghadapi rakyat jelata yang pengetahuannya masih awam sekali, beliau tidak menerangkan Islam secara njelimet. Kaum bawah tersebut dibimbing untuk bisa mengolah tanah agar sawah dan ladang mereka dapat dipanen lebih banyak lagi, sesudah itu mereka dianjurkan bersyukur kepada Yang Memberikan Rezeki, yaitu Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikalangan rakyat jelata Syekh Maulana Malik Ibrahim sangat terkenal, terutama dari kalangan kasta rendah. Sebagaimana diketahui agama Hindu membagi masyarakat menjadi empat kasta; kasta Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Dari keempat kasta tersebut kasta Sudra adalah yang paling rendah dan sering ditindas oleh kasta-kasta yang jauh lebih tinggi. Maka ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim menerangkan kedudukan seorang di dalam Islam, orang-orang Sudra dan Waisya banyak yang tertarik, Syekh Maulana Malik Ibrahim menjelaskan bahwa dalam agama Islam semua manusia sama sederajat. Orang sudra boleh saja bergaul dengan kalangan yang lebih atas, tidak dibeda-bedakan. Di hadapan Allah semua manusia adalah sama, yang paling mulia di antara mereka hanyalah yang paling taqwa kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa itu letaknya di hati, hati yang mengendalikan segala gerak kehidupan manusia untuk berusaha sekuat-kuatnya mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Dengan taqwa itulah manusia akan hidup berbahagia di dunia hingga di akhirat kelak, orang yang bertaqwa, sekalipun dia dari kasta Sudra bisa jadi lebih mulia dari pada mereka yang berkasta Ksatria dan Brahmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar keterangan ini, mereka yang berasal dari kasta Sudra dan Waisya merasa lega, mereka merasa dibela dan dikembalikan haknya sebagai manusia utuh sehingga wajarlah bila mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka cita. Setelah pengikutnya semakin banyak, beliau kemudian mendirikan masjid untuk beribadah bersama-sama dan mengaji. Dalam membangun masjid ini beliau mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Raja&lt;br /&gt;Carmain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk mempersiapkan kader ummat yang nantinya dapat meneruskan perjuangan menyebarkan Islam ke seluruh Tanah Jawa yang seluruh Nusantara maka beliau kemudian mendirikan pesantren yang merupakan perguruan Islam. Tempat mendidik dan menggembleng para santri sebagai calon mubaligh. Pendirian Pesantren yang pertama kali di Nusantara itu diilhami oleh kebiasaan masyarakat Hindu yaitu para Biksu dan pendeta Brahmana yang mendidik cantrik dan calon pemimpin agama di mandala-mandala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu strategi para wali yang cukup jitu; orang Budha dan Hindu yang mendirikan mandala-mandala untuk mendidik kader tidak dimusuhi secara frontal, melainkan beliau-beliau itu mendirikan bentuk Pesantren yang mirip mandala-mandala milik kelompok Hindu dan Budha tersebut untuk menjaring ummat. Dan ternyata hasilnya sungguh memuaskan, dari pesantren Gresik kemudian muncul para mubaligh yang menyebar ke seluruh Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Pesantren tersebut berlangsung hingga di jaman sekarang. Dimana para ulama menggodok calon Mubaligh di pesantren yang diasuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila orang bertanya sesuatu masalah agama kepada beliau maka beliau tidak menjawab dengan berbelit-belit melainkan di jawabnya dengan mudah dan gamblang sesuai dengan pesan Nabi yang menganjurkan agama disiarkan dengan mudah, tidak dipersulit, ummat harus dibuat gembira, tidak ditakut-takuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tersebut dalam buku History of Java karangan Sir Stamford Raffles; pada suatu hari Syekh Maulana Malik Ibrahim ditanya : “Apakah yang dinamakan Allah itu ?” Beliau tidak menjawab bahwa Allah itu adalah Tuhan yang memberi pahala sorga hambaNya yang berbakti dan menyiksa sepedih-pedihnya bagi hamba yang membangkang kepadaNya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya cukup singkat dan jelas yaitu, “Allah adalah Zat yang diperlukan adaNya.” Dua tahun sudah Syekh Maulana Malik Ibrahim berdakwah di Gresik, beliau tidak hanya membimbing ummat untuk mengenal dan mendalami agama Islam, melainkan juga memberikan pengarahan agar tingkat kehidupan rakyat Gresik menjadi lebih baik. Beliau pula yang mempunyai gagasan mengalirkan air dari gunung untuk mengairi lahan pertanian penduduk. Dengan adanya sistim pengairan yang baik ini lahan pertanian menjadi subur dan hasil panen bertambah banyak, para petani menjadi makmur dan mereka dapat mengerjakan ibadah dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kata Syekh Maulana Malik Ibrahim tidak ikut membenahi dan meningkatkan taraf hidup rakyat Gresik tentulah mereka sukar diajak beribadah dengan baik dan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda nabi bahwa kafakiran menjurus pada kekafiran. Bagaimana mungkin bisa beribadah dengan tenang jika sehari-hari disibukkan dengan urusan sesuap nasi. Inilah resep yang harus ditiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang imam surau, musholla atau masjid adalah pemimpin jamaahnya. Pada saat imam mengucapkan, “Iya kana’budu waiyya kanasta’in, “KepadaMu kami menyembah dan kepadaMu kami mohon pertolongan. Kemudian makmumnya mengaminkanya. Bisakah sang imam atau pemimpin tadi menjamin bahwa makmumnya benar-benar hanya mengabdi, menyembah dan mohon pertolongan hanya kepada Allah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika shalat makmumnya tidak khusyu’? sebabnya tidak khusyu’ karena masalah ekonomi. Apakah imam yang menjadi wakil makmum menghadapkan diri kepada Tuhan itu bersiap masa bodoh dan tidak menghiraukan masalah ekonomi makmumnya. Sehingga setiap kali memimpin shalat sang imam terus saja berbohong kepada Tuhannya bahwa dia menyatakan siap mengabdi, menyembah hanya kepada Allah saja, tetapi makmum atau orang yang dipimpinnya ternyata belum siap dikarenakan masalah duniawi. Itulah sebabnya para Wali tidak hanya membimbing agama kepada ummatnya melainkan juga berusaha meningkatkan taraf kehidupan ummatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tamu dari Negeri Cermain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ganjalan di hati Syekh Maulana Malik Ibrahim, dia telah berhasil mengislamkan sebagaian besar rakyat Gresik adalah bagian dari wilayah Majapahit. Kalau seluruh rakyat sudah memeluk Islam sementara Raja Brawijaya penguasa Majapahit masih beragama Hindu apakah di belakang hari tidak timbul ketegangan antara rakyat dengan rajanya. Untuk menghindari hal itu maka Syekh Maulana Malik Ibrahim mempunyai rencana mengajak Raja Brawijaya untuk masuk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu diutarakan kepada sahabatnya yaitu Raja Cermain. Ternyata Raja Cermain juga mempunyai maksud serupa. Sudah lama Raja Cermain ingin mengajak Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Pada tahun 1321 M. Raja Cermain datang ke Gresik disertai putrinya yang cantik rupawan. Putri Raja Cermain itu bernama Dewi Sari, tujuannya dalam misi tersebut adalah untuk memberikan bimbingan kepada para putri istana Majapahit mengenal agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Syekh Maulana Malik Ibrahim rombongan dari negeri Cermain itu menghadap Prabu Brawijaya. Usaha mereka ternyata gagal. Prabu Brawijaya bersikeras mempertahankan agama lama dengan ucapan yang diplomatis. Bahwa dia bersedia masuk Islam bila Dewi Sari bersedia dipersuntingnya sebagai istri. Dewi Sari menolak. Tidak ada gunanya masuk Islam bila ditunggangi dengan kepentingan duniawi. Beragam seperti itu hanya hanya akan merusak keagungan agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan dari negeri Cermain lalu kembali ke Gresik. Mereka beristirahat di Leran sembari menunggu selesainya perbaikan kapal untuk berlayar pulang. Sungguh sayang sekali, selama beristirahat di Leran itu banyak anggota rombongan dari negeri Cermain yang diserang wabah penyakit. Banyak diantara mereka yang tewas, termasuk Dewi Sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar kematiannya Dewi Sari terdengar ke telinga Prabu Brawijaya. Raja yang memang tertarik dan merasa jatuh cinta kepada Dewi Sari itu kemudian menyempatkan diri beserta ponggawa kerajaan ke desa Leran. Brawijaya sang raja Majapahit itu memerintahkan kepada para ponggawa kerajaan untuk menggali kubur dan memakamkan Dewi Sari dengan upacara kebesaran. Di desa Leran itulah Dewi Sari dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rombongan dari negeri Cermain meninggalkan pantai Leran maka Prabu Brawijaya menyerahkan seluruh daerah Gresik kepada Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk diperintah sendiri dibawah kedaulatan Majapahit. Penyerahan daerah itu adalah siasat dari sang Raja agar rakyat Gresik yang beragama Islam itu tidak memberontak kepada rajanya yang masih beragama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat raja Majapahit itu diterima Syekh Maulana Malik Ibrahim denga suka rela. Sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan perdamaian walaupun dengan kafir zimmi yaitu orang-orang bukan muslim yang mau hidup bersampingan dengan aman dalam satu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekilas tentang Syekh Maulana Malik Ibrahim, seorang Wali yang dianggap sebagai ayah dari Wali Sanga. Beliau wafat di Gresik pada tahun 882 H atau 1419M.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653960343458379018-5483279857528624085?l=alkisahteladan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating><media:description type="plain">Kisah Teladan</media:description></channel></rss>

