<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2980895827478599904</id><updated>2010-11-25T20:58:57.823+07:00</updated><title type='text'>Koleksi Dongeng</title><subtitle type='html'>Jadikan Dongeng sebagai sarana komunikasi dengan anak-anak kita</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sunantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08298182295701865001</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2980895827478599904.post-4747722441312070892</id><published>2010-11-19T15:28:00.007+07:00</published><updated>2010-11-25T20:50:30.644+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fabel'/><title type='text'>KELEDAI PEMBAWA GARAM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TOY2jKkNoAI/AAAAAAAAAPw/YFHC4AMkL3U/s1600/keledai.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="188" src="http://2.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TOY2jKkNoAI/AAAAAAAAAPw/YFHC4AMkL3U/s200/keledai.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Karena tindakan yang salah akan menyebabkan kerugian bagi kita.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu hari di musim panas, tampak seekor keledai berjalan di pegunungan. Keledai itu membawa  beberapa  karung  berisi  garam  di  punggungnya.  &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karung  itu  sangat  berat, sementara matahari bersinar dengan teriknya. "Aduh panas sekali. Sepertinya aku sudah tidak kuat berjalan lagi," kata keledai. Di depan sana, tampak sebuah sungai. "Ah, ada sungai! Lebih baik aku berhenti sebentar," kata keledai dengan gembira.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanpa berpikir panjang, ia masuk ke dalam sungai dan byuur! Keledai itu terpeleset dan tercebur. Ia berusaha untuk berdiri kembali, tetapi tidak berhasil. Lama sekali keledai berusaha untuk berdiri.   Anehnya,   semakin   lama   berada   di   dalam   air,   ia merasakan beban di punggungnya semakin ringan. Akhirnya keledai itu bisa berdiri lagi. "Ya ampun, garamnya habis!" kata tuannya dengan marah. "Oh, maaf! garamnya larut di dalam air ya?" kata keledai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hari kemudian, keledai mendapat tugas lagi untuk membawa garam. Seperti biasa, ia harus berjalan melewati pegunungan bersama tuannya. "Tak lama lagi akan ada sungai di depan sana," kata keledai dalam hati. Ketika berjalan menyeberangi sungai, keledai menjatuhkan dirinya dengan sengaja. Byuuur!. Tentu saja garam yang ada di punggungnya menjadi larut di dalam air. Bebannya menjadi ringan. "Asyik! Jadi ringan!" kata keledai ringan. Namun, mengetahui keledai melakukan hal itu dengan sengaja, tuannya menjadi marah. "Dasar keledai malas!" kata tuannya dengan geram.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keesokan  harinya,  keledai  mendapat  tugas  membawa  kapas.  Sekali  lagi,  ia  berjalan bersama tuannya melewati pegunungan. Ketika sampai di sungai, lagi-lagi keledai menjatuhkan diri dengan sengaja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Byuuur!. Namun apa yang terjadi? Muatannya menjadi berat sekali. Rupanya kapas itu menyerap air dan menjadi seberat batu. Mau tidak mau, keledai harus terus berjalan dengan beban yang ada di punggungnya. Keledai berjalan sempoyongan di bawah terik matahari sambil membawa beban berat dipunggungnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2980895827478599904-4747722441312070892?l=koleksi-dongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/feeds/4747722441312070892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/keledai-pembawa-garam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/4747722441312070892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/4747722441312070892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/keledai-pembawa-garam.html' title='KELEDAI PEMBAWA GARAM'/><author><name>Sunantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08298182295701865001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='18391427397672364729'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TOY2jKkNoAI/AAAAAAAAAPw/YFHC4AMkL3U/s72-c/keledai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2980895827478599904.post-1914734429142270016</id><published>2010-11-15T13:55:00.004+07:00</published><updated>2010-11-15T14:16:16.415+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fabel'/><title type='text'>KERA JADI RAJA</title><content type='html'>&lt;div style="-moz-background-inline-policy: -moz-initial; border: 1px solid rgb(255, 255, 255); padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TODaQUY3qbI/AAAAAAAAAO4/2KhoR_PuxqA/s1600/kera+copy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TODaQUY3qbI/AAAAAAAAAO4/2KhoR_PuxqA/s1600/kera+copy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Perlakukanlah teman-teman kita dengan baik, janganlah sombong dan bermalas-malasan. Jika kita sombong dan memperlakukan teman-teman semena- mena, nantinya kita akan kehilangan mereka.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;spanclass="dropcap"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;S&lt;/span&gt;ang  Raja  hutan  "Singa"  ditembak  pemburu,  penghuni  hutan rimba jadi gelisah. Mereka tidak mempunyai Raja lagi. Tak berapa lama  seluruh  penghuni  hutan  rimba  berkumpul  untuk  memilih Raja yang baru. Pertama yang dicalonkan adalah Macan Tutul, tetapi macan tutul menolak. "Jangan, melihat manusia saja aku sudah  lari  tunggang  langgang,"  ujarnya.  "Kalau  begitu  Badak saja, kau kan amat kuat," kata binatang lain. "Tidak-tidak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali." "Oh! mungkin Gajah saja yang jadi Raja, badan kau kan besar..", ujar binatang-binatang lain. "Aku tidak bisa berkelahi dan gerakanku amat lambat," sahut gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang-binatang menjadi bingung, mereka belum menemukan raja pengganti. Ketika hendak bubar, tiba-tiba kera berteriak, "Manusia saja yang menjadi raja, ia kan yang sudah membunuh Singa". "Tidak mungkin," jawab tupai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba kalian semua perhatikan aku, aku mirip dengan manusia bukan?, maka akulah yang cocok menjadi raja," ujar kera. Setelah melalui perundingan, penghuni hutan sepakat Kera menjadi raja yang baru. Setelah diangkat menjadi raja, tingkah laku Kera sama sekali  tidak  seperti  Raja.  Kerjanya  hanya  bermalas-malasan sambil menyantap makanan yang lezat-lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni binatang menjadi kesal, terutama srigala. Srigala berpikir, "bagaimana si kera bisa menyamakan dirinya dengan manusia ya?, badannya saja yang sama, tetapi otaknya tidak". Srigala mendapat ide. Suatu hari, ia menghadap kera. "Tuanku, saya menemukan makanan yang amat lezat, saya yakin tuanku pasti suka. Saya akan antarkan tuan ke tempat itu," ujar srigala. Tanpa pikir panjang, kera, si Raja yang baru pergi bersama srigala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah hutan, teronggok buah-buahan kesukaan kera. Kera yang tamak langsung menyergap buah-buahan itu. Ternyata, si kera langsung terjeblos ke dalam tanah. Makanan yang disergapnya ternyata jebakan yang dibuat manusia. "Tolong! tolong," teriak kera, sambil berjuang keras agar bisa keluar dari perangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahahaha! Tak pernah kubayangkan, seorang raja bisa berlaku bodoh, terjebak dalam perangkap yang dipasang manusia, Raja seperti kera mana bisa melindungi rakyatnya," ujar srigala dan binatang lainnya. Tak berapa lama setelah binatang-binatang meninggalkan kera, seorang pemburu datang ke tempat itu. Melihat ada kera di dalamnya, ia langsung membawa tangkapannya ke rumah.&lt;/spanclass="dropcap"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2980895827478599904-1914734429142270016?l=koleksi-dongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/feeds/1914734429142270016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/kera-jadi-raja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/1914734429142270016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/1914734429142270016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/kera-jadi-raja.html' title='KERA JADI RAJA'/><author><name>Sunantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08298182295701865001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='18391427397672364729'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TODaQUY3qbI/AAAAAAAAAO4/2KhoR_PuxqA/s72-c/kera+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2980895827478599904.post-8194161836136752946</id><published>2010-11-05T17:18:00.003+07:00</published><updated>2010-11-25T20:51:05.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Rakyat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Legenda'/><title type='text'>Situ Bagendit</title><content type='html'>&lt;div style="-moz-background-inline-policy: -moz-initial; border: 1px solid rgb(255, 255, 255); padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNPZro5KvDI/AAAAAAAAAOo/GRhsXYfxG2s/s1600/situbagendut.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="143" src="http://2.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNPZro5KvDI/AAAAAAAAAOo/GRhsXYfxG2s/s200/situbagendut.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Situ Jaman Balanda&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Legenda dari Jawa Barat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Wah kapan ya nasib kita berubah?” ujar seorang petani kepada temannya. “Tidak tahan saya hidup seperti ini. Kenapa yah, Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sssst, jangan kenceng-kenceng atuh, nanti ada yang denger!” sahut temannya. “Kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Kan Tuhan mah tidak pernah tidur!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara iru Nyai Endit sedang memeriksa lumbung padinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barja!” kata nyai Endit. “Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?” kata nyai Endit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi! Lumbungnya sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!” kata Nyai Endit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit. Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat disbanding saat kita jual dulu. Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain. Ya Tuhan, berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nyi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi tersebut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” tanya si nenek&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan. Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi Endit?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ah percuma saja nenek minta sama dia, ga bakalan dikasih. Kalau nenek lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi seadanya,” kata Nyi Asih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tidak perlu,” jawab si nenek. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap-siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga milik kalian,” kata si nenek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Ganggu orang makan saja!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Endit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan,” kata nenek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Lah..ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hei Endit..! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit sombong.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2980895827478599904-8194161836136752946?l=koleksi-dongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/feeds/8194161836136752946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/situ-bagendit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/8194161836136752946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/8194161836136752946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/situ-bagendit.html' title='Situ Bagendit'/><author><name>Sunantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08298182295701865001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='18391427397672364729'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNPZro5KvDI/AAAAAAAAAOo/GRhsXYfxG2s/s72-c/situbagendut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2980895827478599904.post-5718988614982985742</id><published>2010-11-04T11:43:00.002+07:00</published><updated>2010-11-19T15:41:59.668+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fabel'/><title type='text'>Kisah Anak Ikan</title><content type='html'>&lt;div style="-moz-background-inline-policy: -moz-initial; border: 1px solid rgb(255, 255, 255); padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNI5q32M0JI/AAAAAAAAAOQ/6_5XZB9ndUk/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="149" src="http://3.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNI5q32M0JI/AAAAAAAAAOQ/6_5XZB9ndUk/s200/images.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah seekor anak ikan dan ibunya yang sedang berenang-renang dilautan dalam. Ibu ikan sedang mengajar anak kesayangannya akan erti kehidupan dan realiti yang mereka hadapi. Anak ikan ini bertanya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Apa banyakkah perkara yang aku tidak ketahui wahai ibu?".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu ikan ini pun berkata, "Duhai anakku yang ku kasihi, sesungguhnya terdapat suatu perkara yang amat penting yang ibu ingin sampaikan...ajaran ini telah disampaikan oleh ustadz-ustadz ikan yang terulung sejak zaman berzaman, telah disebarkan kepada seluruh warga alam air ini dan ibu harap anakanda juga memperhatikan apa yang ingin ibu katakan...Suatu hari nanti, anakanda akan diuji dengan godaan-godaan yang menggiurkan... akan anakanda jumpa cacing yang sungguh enak sedang dicucuk oleh mata kail dan diikat pada tali yang tidak nampak oleh mata kasar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cacing itu kelihatan sungguh mengiurkan, sungguh lazat sehinggakan anakanda tidak terfikir akan apapun kecuali utk menikmati cacing yang enak itu... tetapi anakanda harus ingat itu hanyalah muslihat manusia, mengumpan anakanda ke alam lain yang penuh sengsara."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Alam apa itu ibu?" "Jika anakanda terjerumus ke perangkap manusia itu.. leher anakanda akan disentap oleh besi yang bercangkuk tajam dan akananda akan merasa kesakitan di mulut anakanda. Kemudian, mereka akan tarik anakanda ke arah sesuatu yang menyilaukan pandangan sehingga anakanda rasa anakanda akan buta... anakanda akan di campak umpama sampah di perut perahu mereka dan anakanda akan berasa sesak karena anakanda bukan lagi dikelilingi oleh air tetapi udara...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian mereka akan membawaan anakanda ke pasar, mereka letakkan harga..ada manusia yang datang dan mencocok-cocok badan anakanda sebelum ada yang membawa anakanda ke rumah mereka. Siksaan mereka belum selesai...manusia itu akan mengelar- ngelar anakanda, menghiris daging dan meletakkan garam dan .. pedihnya ibu tak dapat bayangkan dan ceritakan..", sambil si ibu tunduk sayu dan ketakutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Setelah dikelar-kelar... anakanda akan melihat minyak yang panas mengelegak, sehingga percikannya bisa meleburkan kulit anakanda yang halus itu... manusia kemudiannya akan menurunkan anakanda ke dalam minyak yang panas itu sehingga segala daging dan kulit anakanda melecur dan bertukar warna...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya.. anakanda akan dilapah, dimamah dan dikunyah oleh gigi-gigi manusia yang tidak mengenal arti belas kasihan itu... Semua siksaan itu berpuncak dari godaan yang sedikit... ibu berpesan agar anakanda ingat dan berhati-hati di laut lepas itu..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Si anak..hanya mengangguk-anggukkan kepalanya... dalam hatinya masih tidak yakin..kerana belum pernah ketemu cacing yang sebegitu... Suatu hari.. setelah si anak ini remaja..dan bersiar-siar dengan kawan-kawannya..mereka melihat seekor cacing yang amat besar, tampak lazat berseri-seri... semua ikan-ikan itu telah mendengar cerita dari orang tua masing-masing.. cuma baru sekarang melihatnya dengan mata kasar sendiri.. masing- masing menolak satu sama lain.. dan mencabar-cabar agar pergi menjahinya.. akhirnya si anak yang tidak yakin dengan cerita ibunya tadi berkata, " Ahhhh...masa  kata-kata ibuku benar.. makanan selazat ini tidak akan mendatangkan apa-apa kecuali kenyang ini baru nikmat....", terlintas nafsu yang  menggoda... lalu.. setelah si anak itu mengangakan mulutnya lebar-lebar dan dengan rakusnya memakan cacing itu... mulut dan tekaknya terasa kesakitan yang amatsangat...setelah puas ia mencoba melepaskan diri.. si anak tadi merasa kesal dan sedih dalam dirinya.. karena dia tahu...apa yang ibu katakan memang benar...cuma segalanya sudah terlambat..hanya karena nafsu.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2980895827478599904-5718988614982985742?l=koleksi-dongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/feeds/5718988614982985742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/kisah-anak-ikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/5718988614982985742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/5718988614982985742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/kisah-anak-ikan.html' title='Kisah Anak Ikan'/><author><name>Sunantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08298182295701865001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='18391427397672364729'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNI5q32M0JI/AAAAAAAAAOQ/6_5XZB9ndUk/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2980895827478599904.post-4780749426208539296</id><published>2010-11-03T15:31:00.003+07:00</published><updated>2010-11-25T20:50:16.115+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Rakyat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Legenda'/><title type='text'>Mundinglaya Dikusumah</title><content type='html'>&lt;div style="-moz-background-inline-policy: -moz-initial; border: 1px solid rgb(255, 255, 255); padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJSRlhhm9I/AAAAAAAAAOY/OFOyuJDqM2g/s1600/Mundinglaya.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJSRlhhm9I/AAAAAAAAAOY/OFOyuJDqM2g/s200/Mundinglaya.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;b&gt;rabu Silihwangi &lt;/b&gt;memiliki dua orang istri yaitu Nyimas Tejamantri dan Nyimas Padmawati yang menjadi permaisuri. Dari Nyimas Tejamantri, Prabu Silihwangi mendapat seorang anak yaitu pangeran Guru Gantangan. Sedangkan dari permaisuri Nyimas Padmawati, raja memperoleh anak yang diberi nama Mundinglaya. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Beda umur antara pangeran Guru Gantangan dan pangeran Mundinglaya sangat jauh. Saat pangeran Guru Gantangan ditunjuk jadi bupati di Kutabarang dan sudah menikah, Mundinglaya masih anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena tidak mempunyai anak, pangeran Guru Gantangan memungut anak dan diberi nama Sunten Jaya. Guru Gantangan juga tertarik untuk merawat Mundinglaya sebagai anaknya. Saat pangeran Guru Gantangan meminta Mundinglaya dari permaisuri Nyimas Padmawati, permaisuri memberikannya karena mengetahui bahwa pangeran Guru Gantangan sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat pangeran Mundinglaya dewasa, pangeran Guru Gantangan lebih menyayangi pangeran Mundinglaya daripada pangeran Sunten Jaya. Hal ini disebabkan perbedaan karakter yang sangat jauh antara pangeran Mundinglaya dan pangeran Sunten Jaya. Pangeran Mundinglaya selain rupawan juga baik budi pekertinya sedangkan keponakannya sifatnya angkuh dan manja. Hal ini sangat membuat iri pangeran Sunten Jaya. Terlebih lagi ibunya juga sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya saja perhatian istri pangeran Guru Gantangan kepada pangeran Mundinglaya sangat berlebihan sehingga membuat pangeran Guru Gantangan cemburu. Akhirnya pangeran Mundinglaya dijebloskan kedalam penjara oleh saudara tirinya itu dengan alasan bahwa pangeran Mundinglaya mengganggu kehormatan wanita. Keputusan ini menjadikan mayarakat dan bangsawan Pajajaran terpecah dua, ada yang menyetujui dan ada yang menentang keputusan tersebut sehingga mengancam ketentraman kerajaan kearah permusuhan antar saudara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada saat yang gawat ini, terjadi sesuatu yang aneh. Pada suatu malam, permaisuri Nyimas Padmawati bermimpi aneh. Dalam tidurnya, permaisuri melihat tujuh guriang, yaitu mahluk yang tinggal di puncak gunung. Diantara mereka ada yang membawa jimat yang disebut Layang Salaka Domas. Permaisuri mendengar perkataan guriang yang membawa jimat tersebut: “Pajajaran akan tenteram hanya jika seorang kesatria dapat mengambilnya dari Jabaning Langit.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera setelah bangun pada pagi harinya, permaisuri menceritakan mimpi itu kepada raja. Prabu silihwangi sangat tertarik oleh mimpi permaisuri dan segera meminta seluruh rakyat juga bangsawan, termasuk pangeran Guru Gantangan dan pangeran Sunten Jaya, untuk berkumpul di depan halaman istana untuk membahas mimpinya permaisuri. Setelah seluruhnya berkumpul, raja berkata: “Adakah seorang kesatria yang berani pergi ke Jabaning Langit untuk mengambil jimat Layang salaka domas?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senyap! Tidak ada suara yang terdengar. Pangeran Sunten Jaya pun tidak mengeluarkan suaranya. Dia takut akan barhadapan dengan Jonggrang Kalapitung, seorang raksasa berbahaya yang selalu menghalangi jalan ke puncak gunung. Setelah beberapa saat, patih Lengser angkat bicara: “Paduka,” dia berkata, “setiap orang telah mendengarkan apa yang disampaikan paduka, kecuali masih ada satu orang yang belum mendengarkannya. Dia berada dalam penjara. Paduka belum menanyainya. Dia adalah pangeran Mundinglaya.” Mendengar ini, raja memerintahkan agar pangeran Mundinglaya dibawa menghadap. Patih Lengser kemudian meminta izin pangeran guru Gantangan untuk melepaskan pangeran Mundinglaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat pangeran Mundinglaya sudah berada di hadapannya, raja berkata: “Mundinglaya, maukah ananda mengambil jimat layang salaka domas, yang diperlukan untuk mencegah negara dari kehancuran akibat malapetaka?” Karena layang salaka domas penting bagi keselamatan negara, ananda akan pergi mencarinya, ayahanda,” kata pangeran Mundinglaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prabu Silihwangi sangat senang mendengar jawaban ini. Demikian juga masyarakat dan para bangsawan. Bagi pangeran Mundinglaya, tugas ini juga berarti kebebasan jika dia berhasil mendapatkan layang salaka domas. Sementara bagi pangeran Sunten Jaya ini berarti menyingkirkan musuhnya, karena dia yakin bahwa pamannya akan dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung. “Kakek,” kata pangeran Sunten Jaya, “dia adalah seorang tahanan, jika kakek membiarkannya pergi sekarang, tidak akan ada jaminan bahwa dia akan kembali.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apa yang cucunda usulkan, Sunten Jaya?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jika dia tidak kembali setelah sebulan, penjarakan kanjeng ibu Padmawati dalam istana.” Masyarakat dan bangsawan kaget mendengar permintaan ini. Prabu Silihwangi berbalik kepada pangeran Mundinglaya: “Bagaimana menurutmu?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ananda akan kembali dalam sebulan dan setuju dengan usulan Sunten Jaya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam beberap minggu, pangeran Mundinglaya diajari oleh patih Lengser ilmu perang dan cara menggunakan berbagai senjata sebagai bersiapan untuk menghadapi rintangan yang akan ditemui selama perjalanan ke Jabaning Langit. Kemudian pangeran Mundinglaya meninggalkan Pajajaran. Karena dia tidak pernah keluar dari ibukota tersebut, pangeran Mundinglaya tidak mengetahui jalan ke Jabaning Langit. Dengan berserah diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa, sang pangeran pergi melewati berbagai hutan lebat untuk menemukan Jabaning Langit dan bertemu dengan para guriang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam perjalanan, pangeran Mundinglaya melewati kerajaan kecil Muara Beres (atau Tanjung Barat) yang merupakan bawahan dari Pajajaran. Disana pangeran Mundinglaya bertemu dan jatuh hati dengan putri kerajaan yang bernama Dewi Kania atau Dewi Kinawati. Mereka saling berjanji akan bertemu lagi setelah pangeran Mundinglaya berhasil menjalankan tugas dari Prabu silihwangi untuk memperoleh jimat layang salaka domas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pangeran Mundinglaya meneruskan perjalanannya. Tiba-tiba di tengah perjalanan dia dicegat oleh raksasa Janggrang Kalapitung yang berdiri di depannya. “Mengapa kamu memasuki wilayahku? Apakah kamu menyerahkan diri sebagai santapanku?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Coba saja kalau bisa!” jawab pangeran Mundinglaya dengan tenang. Jonggrang Kalapitung menubruknya tapi pangeran Mundinglaya berkelit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkali-kali si raksasa menyerang pangeran Mundinlaya, tapi lagi dan lagi jatuh ke tanah sampai akhirnya kehabisan nafas. Dengan kerisnya, pangeran Mundinglaya mengancam musuhnya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Katakan dimana Jabaning Langit?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Di dalam dirimu.” Berpikiran bahwa si raksasa berbohong, pangeran Mundinglaya menekankan keris lebih dalam ke leher si raksasa. “Jangan berbohong! Di manakah Jabaning Langit?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Di dalam hatimu.” Setelah itu, pangeran Mundinglaya melepaskan raksasa tersebut, sambil berkata: “Aku membebaskanmu, tapi jangan ganggu rakyat Pajajaran lagi.” Jonggrang Kalapitung menuruti dan berterima kasih kepada pangeran Mundinglaya dan meninggalkan Pajajaran selamanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika dia pergi, pangeran Mundinglaya menemukan suatu tempat untuk beristirahat dan berdoa meminta tolong kepada tuhan yang Maha Esa untuk diberikan jalan. Suatu hari dia merasakan seolah-olah terangkat dari tempatnya dan terbang ke suatu tempat yang sangat terang. Di sana dia diterima oleh tujuh guriang, mahluk-mahluk supranatural yang menjaga Layang Salaka Domas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka bertanya kepada pangeran Mundinglaya mengapa berani datang ke Jabaning Langit. “Tujuanku datang ke sini adalah untuk mengambil Layang Salaka Domas yang diperlukan oleh negaraku sebagai obat untuk mencegah permusuhan antar saudara. Akan banyak orang menderita dan mati memperebutkan yang tidak jelas.” “Kami menghargaimu, pangeran Mundinglaya, tapi kami tidak dapat memberimu Layang Salaka Domas karena ini bukan untuk manusia. Bagaimana kalau pemberian lain sebagai hadiah untukmu? Misalnya seorang putri cantik atau kesejahteraan, atau kami dapat menjadikanmu manusia tersuci di dunia?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku tidak memerlukan semua itu, jika rakyat Pajajaran terlibat dalam perang.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau begitu, kamu harus merebutnya setelah mengalahkan kami.” Maka terjadilah perkelahian. Karena para guriang sangat kuat, pangeran Mundinglaya terjatuh dan meninggal. Segera setelah itu, muncul mahluk supranatural lainnya, yaitu Nyi Pohaci yang menampakkan diri dan menghidupkan kembali pangeran Mundinglaya. Pangeran Munding Laya bersiap kembali untuk bertempur dengan para guriang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tida perlu ada lagi pertempuran, karena engkau telah menunjukkan sifatmu yang sebenarnya,” kata salah satu dari tujuh guriang, “jujur, tidak tamak. Engkau mempunyai hak untuk membawa Layang Salaka Domas.” Dan dia kemudian memberikannya kepada pangeran Mundinglaya. Pangeran Mundinglaya sangat bergembira dan mengucapkan terima kasih. Dia juga berterima kasih kepada Nyi Pohaci atas bantuannya. Dengan dipandu oleh tujuh guriang yang kemudian menyebut diri mereka sebagai Gumarang Tunggal, pangeran Mundinglaya pergi pulang ke Pajajaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Pajajaran, pangeran sunten Jaya mengganggu ketentraman permaisuri. Kepada Prabu Silihwangi, pangeran Sunten Jaya mengatakan bahwa permaisuri sebenarnya tidak bermimpi, bahwa dia berdusta untuk membebaskan putranya dari penjara. Dengan demikian, dia membujuk Prabu Silihwangi untuk menghukum mati permaisuri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pangeran Sunten Jaya bahkan lebih jauh berniat untuk mengganggu ketentraman Dewi Kinawati di Muara Beres dengan menceritakan bahwa pangeran Mundinglaya telah dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung. Tentara digelar untuk mendatangi kerajaan itu. Pada saat yang gawat tersebut, pangeran Mundinglaya beserta ajudannya telah sampai ke Pajajaran. Mereka senang dan berteriak kegirangan. Pangeran Sunten Jaya dan pengikutnya diusir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu. Prabu Silihwangi menobatkan pangeran Mundinglaya sebagai raja Pajajaran menggantikannya dengan gelar Mundinglaya Dikusumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak lama setelah itu, Mundinglaya Dikusumah menikahi Dewi Kinawati dan menjadikannya sebagai permaisuri dan Pajajaran menjadi negara yang adil makmur dan aman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2980895827478599904-4780749426208539296?l=koleksi-dongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/feeds/4780749426208539296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/mundinglaya-dikusumah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/4780749426208539296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/4780749426208539296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/mundinglaya-dikusumah.html' title='Mundinglaya Dikusumah'/><author><name>Sunantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08298182295701865001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='18391427397672364729'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJSRlhhm9I/AAAAAAAAAOY/OFOyuJDqM2g/s72-c/Mundinglaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2980895827478599904.post-2110102905378454626</id><published>2010-11-03T15:21:00.008+07:00</published><updated>2010-11-25T20:50:50.905+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Rakyat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Legenda'/><title type='text'>Legenda Sangkuriang</title><content type='html'>&lt;div style="-moz-background-inline-policy: -moz-initial; border: 1px solid rgb(255, 255, 255); padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJXQZ7Tr5I/AAAAAAAAAOc/UnAFFeCaQoU/s1600/sangku.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="140" src="http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJXQZ7Tr5I/AAAAAAAAAOc/UnAFFeCaQoU/s200/sangku.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sangkuriang&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; adalah legenda yang berasal dari Tatar Sunda. Legenda tersebut berkisah tentang terciptanya danau Bandung, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang, dan Gunung Bukit Tunggul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari legenda tersebut, kita dapat menentukan sudah berapa lama orang Sunda hidup di dataran tinggi Bandung. Dari legenda tersebut yang didukung dengan fakta geologi, diperkirakan bahwa orang Sunda telah hidup di dataran ini sejak beribu tahun sebelum Masehi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun palem yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskha tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan pulau Bali pada akhir abad ke-15.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat ini beserta legendanya. Laporannya adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Leumpang aing ka baratkeun (Aku berjalan ke arah barat)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;datang ka Bukit Patenggeng (kemudian datang ke Gunung Patenggeng)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sakakala Sang Kuriang (tempat legenda Sang Kuriang)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Masa dek nyitu Ci tarum (Waktu akan membendung Citarum)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Burung tembey kasiangan (tapi gagal karena kesiangan)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ringkasan Cerita&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Terminological kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2980895827478599904-2110102905378454626?l=koleksi-dongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/feeds/2110102905378454626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/legenda-sangkuriang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/2110102905378454626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/2110102905378454626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/11/legenda-sangkuriang.html' title='Legenda Sangkuriang'/><author><name>Sunantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08298182295701865001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='18391427397672364729'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJXQZ7Tr5I/AAAAAAAAAOc/UnAFFeCaQoU/s72-c/sangku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2980895827478599904.post-2159961782974345857</id><published>2010-10-30T16:20:00.005+07:00</published><updated>2010-11-13T23:35:18.110+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Rakyat'/><title type='text'>Tujuh Burung Gagak</title><content type='html'>&lt;div style="-moz-background-inline-policy: -moz-initial;  border: 1px solid #fff; padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJXrLaXmfI/AAAAAAAAAOg/jRneWT-a1bI/s1600/gagak.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="157" src="http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJXrLaXmfI/AAAAAAAAAOg/jRneWT-a1bI/s200/gagak.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu, ada seorang laki-laki yang memiliki tujuh orang  anak laki-laki, dan laki-laki tersebut belum memiliki anak perempuan  yang lama diidam-idamkannya. Seriiring dengan berjalannya waktu,  istrinya akhirnya melahirkan seorang anak perempuan. Laki-laki tersebut  sangat gembira, tetapi anak perempuan yang baru lahir itu sangat kecil  dan sering sakit-sakitan. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Seorang tabib memberitahu laki-laki tersebut  agar mengambil air yang ada pada suatu sumur dan memandikan anak  perempuannya yang sakit-sakitan dengan air dari sumur itu agar anak  tersebut memperoleh berkah dan kesehatan yang baik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah lalu  menyuruh salah seorang anak laki-lakinya untuk mengambil air dari sumur  tersebut. Enam orang anak laki-laki lainnya ingin ikut untuk mengambil  air dan masing-masing anak laki-laki itu sangat ingin untuk mendapatkan  air tersebut terlebih dahulu karena rasa&amp;nbsp;sayangnya terhadap adik  perempuan satu-satunya. Ketika mereka tiba di sumur dan semua berusaha  untuk mengisi kendi yang diberikan kepada mereka, kendi tersebut jatuh  ke dalam sumur. Ketujuh anak laki-laki tersebut hanya terdiam dan tidak  tahu harus melakukan apa untuk mengambil kendi yang jatuh, dan tak  satupun dari mereka berani untuk pulang kerumahnya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayahnya yang menunggu di rumah akhirnya hilang kesabarannya dan  berkata, "Mereka pasti lupa karena bermain-main, anak nakal!" Karena  takut anak perempuannya bertambah sakit, dia lalu berteriak marah, "Saya  berharap anak laki-lakiku semua berubah menjadi burung gagak." Saat  kata itu keluar dari mulutnya, dia mendengar kepakan sayap yang terbang  di udara, sang Ayah lalu keluar dan melihat tujuh ekor burung gagak  hitam terbang menjauh. Sang Ayah menjadi sangat menyesal karena  mengeluarkan kata-kata kutukan dan tidak tahu bagaimana membatalkan  kutukan itu. Tetapi walaupun kehilangan tujuh orang anak laki-lakinya,  sang Ayah dan Ibu masih mendapatkan penghiburan karena kesehatan anak  perempuannya berangsur-angsur membaik dan akhirnya anak perempuan  tersebut tumbuh menjadi gadis yang cantik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gadis itu tidak pernah mengetahui bahwa dia mempunyai tujuh orang  kakak laki-laki karena orangtuanya tidak pernah memberitahu dia, sampai  suatu hari secara tidak sengaja gadis tersebut mendengar percakapan  beberapa orang, "Gadis tersebut memang sangat cantik, tetapi gadis  tersebut harus disalahkan karena mengakibatkan nasib buruk pada ketujuh  saudaranya." Gadis tersebut menjadi sangat sedih dan bertanya kepada  orangtuanya tentang ketujuh saudaranya. Akhirnya orangtuanya  menceritakan semua kejadian yang menimpa ketujuh saudara gadis itu. Sang  Gadis menjadi sangat sedih dan bertekad untuk mencari ketujuh  saudaranya secara diam-diam. Dia tidak membawa apapun kecuali sebuah  cincin kecil milik orangtuanya, sebuah roti untuk menahan lapar dan  sedikit air untuk menahan haus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gadis tersebut berjalan terus, terus sampai ke ujung dunia. Dia  menemui matahari, tetapi matahari terlalu panas, lalu dia kemudian  menemui bulan, tetapi bulan terlalu dingin, lalu dia menemui  bintang-bintang yang ramah kepadanya. Saat bintang fajar muncul, bintang  tersebut memberikan dia sebuah tulang ayam dan berkata, "Kamu harus  menggunakan tulang ini sebagai kunci untuk membuka gunung yang terbuat  dari gelas, disana kamu akan dapat menemukan saudara-saudaramu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gadis tersebut kemudian mengambil tulang tersebut, menyimpannya  dengan hati-hati di pakaiannya dan pergi ke arah gunung yang di tunjuk  oleh bintang fajar. Ketika dia telah tiba di gunung tersebut, dia baru  sadar bahwa tulang untuk membuka kunci gerbang gunung telah hilang.  Karena dia berharap untuk menolong ketujuh saudaranya, maka sang Gadis  lalu mengambil sebilah pisau, memotong jari kelinkingnya dan  meletakkannya di depan pintu gerbang. Pintu tersebut kemudian terbuka  dan sang Gadis dapat masuk kedalam, dimana seorang kerdil menemuinya dan  bertanya kepadanya, "Anakku, apa yang kamu cari?" "Saya mencari tujuh  saudaraku, tujuh burung gagak," balas sang Gadis. Orang kerdil tersebut  lalu berkata, "Tuanku belum pulang ke rumah, jika kamu ingin menemuinya,  silahkan masuk dan kamu boleh menunggunya di sini." Lalu orang kerdil  tersebut menyiapkan makan siang pada tujuh piring kecil untuk ketujuh  saudara laki-laki sang Gadis yang telah menjadi burung gagak. Karena  lapar, sang Gadis mengambil dan memakan sedikit makanan yang ada pada  tiap-tiap piring dan minum sedikit dari tiap-tiap gelas kecil yang ada.  Tetapi pada gelas yang terakhir, dia menjatuhkan cincin milik  orangtuanya yang dibawa bersamanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba dia mendengar kepakan sayap burung di udara, dan saat itu  orang kerdil itu berkata, "Sekarang tuanku sudah datang." Saat ketujuh  burung gagak akan mulai makan, mereka menyadari bahwa seseorang telah  memakan sedikit makanan dari piring mereka. "Siapa yang telah memakan  makananku, dan meminum minumanku?" kata salah satunya. Saat burung gagak  yang terakhir minum dari gelasnya, sebuah cincin masuk ke mulutnya dan  ketika burung tersebut memperhatikan cincin tersebut, burung gagak  tersebut berkata, "Diberkatilah kita, saudara perempuan kita yang  tersayang mungkin ada disini, inilah saatnya kita bisa terbebas dari  kutukan." Sang Gadis yang berdiri di belakang pintu mendengar perkataan  mereka, akhirnya maju kedepan dan saat itu pula, ketujuh burung gagak  berubah kembali menjadi manusia. Mereka akhirnya berpelukan dan pulang  bersama ke rumah mereka dengan bahagia.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2980895827478599904-2159961782974345857?l=koleksi-dongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/feeds/2159961782974345857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/10/tujuh-burung-gagak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/2159961782974345857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/2159961782974345857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/10/tujuh-burung-gagak.html' title='Tujuh Burung Gagak'/><author><name>Sunantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08298182295701865001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='18391427397672364729'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJXrLaXmfI/AAAAAAAAAOg/jRneWT-a1bI/s72-c/gagak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2980895827478599904.post-1905779636199985224</id><published>2010-10-30T15:46:00.006+07:00</published><updated>2010-11-13T23:35:36.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fabel'/><title type='text'>Kerbau dan Kambing</title><content type='html'>&lt;div style="-moz-background-inline-policy: -moz-initial;  border: 1px solid #fff; padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJYTXjlosI/AAAAAAAAAOk/1B0v2lYbalo/s1600/kebo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJYTXjlosI/AAAAAAAAAOk/1B0v2lYbalo/s200/kebo.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seekor kerbau jantan berhasil lolos dari serangan seekor singa dengan  cara memasuki sebuah gua dimana gua tersebut sering digunakan oleh  kumpulan kambing sebagai tempat berteduh dan menginap saat malam tiba  ataupun saat cuaca sedang memburuk. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Saat itu hanya satu kambing jantan  yang ada di dalam gua tersebut. Saat kerbau masuk kedalam gua, kambing  jantan itu menundukkan kepalanya, berlari untuk menabrak kerbau tersebut  dengan tanduknya agar kerbau jantan itu keluar dari gua dan dimangsa  oleh sang Singa. Kerbau itu hanya tinggal diam melihat tingkah laku sang  Kambing. Sedang diluar sana, sang Singa berkeliaran di muka gua mencari  mangsanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lalu sang kerbau berkata kepada sang kambing, "Jangan berpikir bahwa  saya akan menyerah dan diam saja melihat tingkah lakumu yang pengecut  karena saya merasa takut kepadamu. Saat singa itu pergi, saya akan  memberi kamu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sangatlah jahat, mengambil keuntungan dari kemalangan orang lain&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2980895827478599904-1905779636199985224?l=koleksi-dongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/feeds/1905779636199985224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/10/kerbau-dan-kambing.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/1905779636199985224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2980895827478599904/posts/default/1905779636199985224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://koleksi-dongeng.blogspot.com/2010/10/kerbau-dan-kambing.html' title='Kerbau dan Kambing'/><author><name>Sunantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08298182295701865001</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='18391427397672364729'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6EbiYRihFBg/TNJYTXjlosI/AAAAAAAAAOk/1B0v2lYbalo/s72-c/kebo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>