<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2498961064481251123</atom:id><lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 18:44:52 +0000</lastBuildDate><title>Konperensi Warisan Otoritarianisme</title><description>Demokrasi dan Tirani Modal</description><link>http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Escalay)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/KonferensiWarisanOtoritarianisme" type="application/rss+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2498961064481251123.post-176674681890934961</guid><pubDate>Sun, 10 Aug 2008 14:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-10T21:49:39.209+07:00</atom:updated><title>RESOLUSI</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resolusi Konperensi Warisan Otoritarianisme II:&lt;br /&gt;Demokrasi dan Tirani Modal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kampus Universitas Indonesia, Depok, 5-7 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tiga hari ini 500 akademisi, intelektual, tokoh dan penggerak masyarakat, pemimpin dan aktivis organisasi sosial dan politik dari kampung dan kampus berkumpul di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Diskusi yang meluas dan mendalam dilakukan secara serempak dalam sebelas panel dan dua seminar, pemutaran film dan pertunjukan. Dalam tiga hari ini para peserta membicarakan betapa Indonesia kini berada di ambang kebangkrutan dan bencana ekologis yang mengancam keberadaan negeri ini. Dibicarakan pula betapa strategi ekonomi yang terus mengeruk kekayaan alam di negeri kepulauan terbesar di dunia ini sudah jauh melampaui batas. Di hulu negeri, hutan yang menjadi pemasok air terus digunduli dengan kecepatan empat kali lapangan bola setiap menit, sementara di hilir ekosistem mangrove hanya menutup kurang dari sepersepuluh garis pantai negeri ini. Lebih dari sepertiga daratan negeri ini dikuasai sekitar seribu pemegang kuasa pertambangan dan kontrak karya. Sembilan dari sepuluh ladang minyak dan gas bumi dikuasai perusahaan lintas negara sehingga hasilnya tidak pernah bisa dinikmati secara maksimal oleh rakyat Indonesia sendiri. Daya dukung lingkungan terus merosot dan dalam beberapa dekade mendatang jika tidak ada langkah drastis yang diambil kita harus menghadapi kenyataan bahwa yang tersisa di negeri ini hanyalah ampas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergema suara Soekarno – yang tadi malam dibawakan dengan indah oleh Wawan Sofwan – ketika di hadapan pengadilan kolonial pada 16 Juni 1930 mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musnah buat selama-lamanya!&lt;br /&gt;Musnah, musnahlah kekayaan-kekayaan itu buat selama-lamanya bagi kami.&lt;br /&gt;Musnahlah buat selama-lamanya bagi pergaulan hidup Indonesia, masuk dalam kantong beberapa pemegang andil belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tata dan kelola ekonomi ini masyarakat hidup dalam keadaan carut-marut. Para pemegang kuasa justru mengutamakan pengerukan sumber daya alam, memberi kemudahan pada sektor manufaktur ringan dan pasar uang yang hanya mengembalikan sedikit hasil kepada orang banyak dalam bentuk upah dan pajak. Lebih dari 37 juta orang masih hidup dalam kategori miskin, yang masih harus ditambah lebih dari tiga juga korban bermacam bencana. Satu dari sepuluh orang Indonesia hidup tanpa pekerjaan. Mereka yang bekerja sebagai buruh kini harus menghadapi ancaman dari pasar tenaga kerja yang fleksibel. Sistem kontrak dan outsourcing mengancam keamanan kerja dan membuat jutaan orang hidup tanpa kepastian sementara pengusaha menikmati keuntungan berlipat. Di pedesaan, petani yang merupakan separuh penduduk Indonesia memberikan sumbangan besar terhadap perekonomian tapi tidak mendapat perhatian dan dukungan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Indonesia tidak sendirian. Ini adalah pola global. Ketimpangan makin menjadi di era yang oleh pemikir penguasa dengan pongah disebut “akhir dari sejarah.” Pendapatan dari 500 orang terkaya di dunia jauh lebih besar dari total pendapatan 500 juta penduduk termiskin. Sementara 2,5 milyar penduduk miskin dunia hanya memiliki 5% dari pendapatan global, 10% orang terkaya menguasai lebih dari 50% dari pendapatan itu. Kesenjangan kelas tidak lagi bisa ditutupi. Di Indonesia jumlah orang yang bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari Rp 20.000 per hari sudah melebihi separuh, dan masuk ke dalam jajaran penduduk miskin dunia. Sementara 20.000 orang terkaya menguasai lebih dari separuh pendapatan nasional. Akibat dari ketimpangan ini kita saksikan setiap hari. Di Koja, Jakarta Utara, seorang ibu membakar diri bersama dua anaknya, sementara di Jawa Timur, seorang anak gantung diri karena tidak kuat menahan lapar. Dari seminar pemiskinan dan kekerasan terhadap perempuan yang berlangsung kemarin kita mendapat gambaran nyata bagaimana perempuan dan anak menjadi korban utama ketika negara tidak lagi menjalankan tugasnya, yakni menjamin kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel-panel yang membahas masalah ekonomi dalam konperensi ini melihat bahwa akar persoalan yang kita hadapi sekarang dapat ditelusuri dari kegagalan melakukan pembalikan historis (historical reversal) terhadap struktur ekonomi kolonial. Kelahiran Orde Baru justru menjadi basis bagi dibukanya Indonesia sebagai “surga bagi para investor.” Undang-undang baru di bidang penanaman modal asing, kehutanan, pertambangan dan juga ketenagakerjaan membuat tata dan kelola ekonomi menjadi sandera dari perusahaan raksasa multinasional, lembaga keuangan internasional dan segelintir komprador yang turut menikmati ketimpangan ini. Negara sepertinya tidak punya kedaulatan untuk menentukan kebijakan. Modal internasional tidak hanya mengeruk keuntungan dari kebijakan yang dibuat tapi juga menganjurkan agar pemerintah mengurangi tanggung jawabnya untuk melindungi dan mensejahterakan rakyat. Kekuasaan korporasi yang tidak terbatas membuat semua bidang kehidupan digerus oleh kepentingan mencari untung. Di titik inilah modal menjadi tirani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian yang sangat bergantung pada pembiayaan luar negeri ini menghasilkan warisan utang yang luar biasa. Hingga Januari 2008 outstanding Surat Utang Negara hampir menyentuh angka Rp 900 trilyun sementara utang luar negeri tercatat US$ 79 milyar. Pembangunan diarahkan untuk menutup defisit anggaran yang sudah nyata tidak berhasil mengatasi krisis tapi justru membuat krisis semakin mendalam. Subsidi dan pengeluaran sosial dibuntungi agar pemerintah punya cukup uang untuk membayar utang. Korupsi yang sudah sampai taraf memuakkan membuat sedikit dana yang tersisa tidak pernah bisa digunakan secara efektif untuk melakukan perbaikan. Stolen asset yang mencapai ratusan trilyun tidak pernah bisa disentuh, sementara kasus pencurian baru pun seperti sukar dielakkan. Desentralisasi kekuasaan membuat munculnya predator baru di tingkat lokal yang justru membuat perubahan semakin sulit dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemegang kuasa sepertinya tidak menyadari bahwa krisis yang menyeluruh ini tidak hanya mengancam perekonomian Indonesia tapi juga keberadaan Indonesia sebagai sebuah political project. Tirani modal membuat ruang hidup semakin sesak. Ruang publik pun semakin berkurang sehingga kreativitas dan daya kritis tidak dapat berkembang. Lembaga negara dikuasai oleh penganjur neoliberalisme yang justru mendekatkan pasar dengan negara. DPR setiap minggu menghasilkan satu undang-undang baru yang memudahkan jalan modal untuk menguasai negeri ini. Birokrasi diatur sedemikian rupa di bawah panji-panji reformasi dan good governance sehingga tanggap terhadap kebutuhan dan kepentingan modal. Ketika Bank Dunia memberi jutaan dolar kepada DPR untuk menyusun undang-undang sumber daya air, kita tahu bahwa undang-undang itu tidak akan mewakili kepentingan rakyat banyak. Dan yang lebih menyedihkan: uang jutaan dolar itu adalah pinjaman yang harus dibayar kembali oleh rakyat melalui pajak dan pungutan lainnya. Artinya rakyat harus membayar mahal untuk kebijakan yang merugikan dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi yang terpusat pada pemilihan umum atau electoral democracy hanya memberi kesempatan pada kekuatan neoliberal dan predatoris untuk bergantian menguasai lembaga-lembaga negara di pusat maupun daerah. Hasil dari pertarungan ini adalah kombinasi yang amat buruk: liberalisasi di bidang ekonomi dan konservatif di bidang politik. Kemunculan pejabat dan anggota DPR di pusat dan daerah dari kalangan akademik maupun gerakan sosial belum mampu mengimbangi kecenderungan ini, apalagi membawa perubahan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konperensi ini tentu tidak hanya membicarakan masalah, tapi juga berbagai ide dan praktek alternatif yang bermunculan di seluruh negeri. Dan di tengah pemiskinan yang makin menjadi, ancaman sektarianisme dan perpecahan yang bisa berakibat runtuhnya social fabric, dan dominasi modal di segala bidang, kita berkeyakinan bahwa alternatif itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah masyarakat majemuk. Karena itu kiranya tidak ada rumus atau resep tunggal yang secara menyeluruh dapat mengatasi tumpukan masalah yang demikian bervariasi, baik dari segi geografis maupun sektoral. Konperensi ini berhasil mengidentifikasi sejumlah prinsip dan ruang di mana alternatif yang majemuk ini dapat berkembang. Prinsip dasar yang penting adalah mengakhiri atau memutus ketergantungan terhadap modal dan pasar. Kepercayaan buta pada mekanisme pasar dan neoliberalisme yang merajalela dalam tata dan kelola perekonomian Indonesia harus ditinggalkan, dan diganti dengan pemikiran dan kebijakan yang berpihak pada rakyat dan mengutamakan kesejahteraan. Ada tiga kata kunci di sini: keadilan, keberlanjutan dan kemakmuran, yang berporos pada kedaulatan, artinya kuasa dan kendali yang efektif untuk menentukan nasib sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara juga harus mengambil keputusan politik untuk mengakhiri ketergantungan pada pembiayaan luar negeri, mengupayakan pengurangan utang luar negeri, dan memegang kendali penuh dalam kebijakan fiskal dan moneter. Dominasi lembaga keuangan internasional dan perusahaan multinasional dalam menentukan kebijakan ekonomi Indonesia harus diakhiri. Penjualan aset negara untuk menutupi defisit anggaran harus dihentikan segera dan rencana pengembalian aset yang sudah dijual harus segera disusun. Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur di sektor energi mutlak diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas, yang menjadi blok pengeluaran sangat besar dalam anggaran belanja negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara harus mengupayakan kedaulatan pangan dengan meningkatkan produksi pertanian untuk keperluan konsumsi di dalam negeri. Impor bahan makanan pokok, terutama beras, kedelai, jagung dan gula harus dikurangi. Distribusi kebutuhan pokok harus ditangani badan khusus yang melibatkan masyarakat luas dan tidak dapat diserahkan kepada mekanisme pasar. Upah di segala sektor harus dinaikkan untuk meningkatkan daya beli, dan sistem pajak yang adil diberlakukan secara efektif untuk mengurangi kesenjangan yang makin menjadi. Tidak ada alasan bagi negara untuk membiarkan sebagian penduduk menikmati kemewahan yang sukar dibayangkan di negara maju sekalipun sementara mayoritas penduduk hidup dalam penderitaan. Kepastian kerja harus ditegakkan dengan menghapus informalisasi kerja yang hanya merupakan strategi pengusaha untuk mendapat keuntungan berlipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar dari perubahan arah pembangunan ini adalah “untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Karena itu keterlibatan rakyat secara langsung dalam pembuatan dan pelaksanaan perekonomian menjadi mutlak diperlukan. Prinsip ini pada gilirannya menuntut perubahan dalam sistem politik Indonesia. Demokrasi perlu diperdalam dengan bermacam bentuk demokrasi langsung yang lebih partisipatoris dan menjamin keterwakilan semua unsur masyarakat, yang tidak terlihat (invisible) dalam demokrasi elektoral. Kontrol terhadap pelaksanaan demokrasi elektoral harus ditegakkan, mulai dari sistem pemilihan umum, pembiayaan partai politik sampai demokrasi internal partai politik itu sendiri. Dengan langkah-langkah ini kita bisa berharap terjadinya peningkatan kualitas demokrasi yang menjamin keterwakilan, lebih menampung yang pada gilirannya menghasilkan kebijakan yang berkualitas. Lembaga-lembaga negara harus dibebaskan dari kepentingan predatoris dan neoliberal dengan menempatkan penyelenggara negara yang bisa berpikir di luar paradigma dominan dan bersedia menantang tirani modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan ini tidak mungkin berjalan jika hanya berlangsung di tingkat kebijakan. Pemberhalaan hukum – seolah kebijakan yang baik akan menghasilkan praktek yang baik pula – juga harus ditinggalkan. Perubahan kebijakan harus disertai dukungan masif dari berbagai unsur masyarakat untuk memastikan bahwa perubahan yang diharapkan muncul sebagai akibat dari keluarnya kebijakan tertentu, memang terjadi. Dan lebih jauh, politik pengetahuan dan perumusan kebijakan semestinya bertolak dari praktek-praktek alternatif terhadap tirani modal yang berlangsung di berbagai tingkat dan sektor. Aliansi antara kekuatan-kekuatan yang mengupayakan alternatif yang bersifat lintas-sektor perlu dibangun dan diperkuat. Kenyataan bahwa Universitas Indonesia menjadi tuan rumah bagi konperensi ini yang diselenggarakan bersama kalangan ornop, gerakan sosial dan intelektual, menjadi bukti bahwa aliansi seperti itu bukan hanya mungkin, tapi sudah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kombinasi dari berbagai bentuk perjuangan di berbagai tingkat dan kalangan harus dipikirkan secara sungguh-sungguh, dan konperensi ini baru membuka jalan dengan mempertemukan berbagai kalangan dalam satu forum yang menghasilkan kesepakatan bersama. Kunci keberhasilan dari strategi untuk membangun alternatif ini adalah kehadiran critical mass, yang merumuskan, melaksanakan dan mengawal agenda perubahan ini. Tingkat partisipasi yang sangat tinggi dalam konperensi ini kiranya menjadi tanda yang baik bahwa kita sedang bergerak ke arah itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TATAP INDONESIA BARU, YANG CURANG JADI DONGENG!
http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2498961064481251123-176674681890934961?l=konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com/2008/08/resolusi.html</link><author>noreply@blogger.com (Escalay)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2498961064481251123.post-8464516395911460679</guid><pubDate>Mon, 28 Jul 2008 18:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-10T12:37:24.877+07:00</atom:updated><title /><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CEcERRCcNM8/SI4V7cdBknI/AAAAAAAAAF4/LwMgzekNr3U/s1600-h/KWO-undangan-pembukaan-web.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CEcERRCcNM8/SI4V7cdBknI/AAAAAAAAAF4/LwMgzekNr3U/s400/KWO-undangan-pembukaan-web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228140328418120306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TATAP INDONESIA BARU, YANG CURANG JADI DONGENG!
http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2498961064481251123-8464516395911460679?l=konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com/2008/07/blog-post.html</link><author>noreply@blogger.com (Escalay)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_CEcERRCcNM8/SI4V7cdBknI/AAAAAAAAAF4/LwMgzekNr3U/s72-c/KWO-undangan-pembukaan-web.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2498961064481251123.post-5250181308508408529</guid><pubDate>Sun, 27 Jul 2008 08:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-29T04:21:01.375+07:00</atom:updated><title>PEMBUKAAN KONPERENSI</title><description>Indonesia harus tetap ada dan jangan pernah ia menjadi dongeng bagi generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;Datang dan ikuti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konperensi Warisan Otoritarianisme II-"Demokrasi dan Tirani Modal" yang akan diselenggarakan di Kampus FISIP Universitas Indonesia tanggal 5 - 7 Agustus 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembukaan Konperensi: Selasa, 5 Agustus 2008, pukul: 08:30 WIB di&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Auditorium Pusat Studi Jepang, FIB-UI, Depok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konperensi akan diantarkan oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I Gusti Agung Putri, MA &lt;/span&gt;selaku&lt;br /&gt;Penanggung Jawab Konperensi dan dibuka oleh Rektor Universitas&lt;br /&gt;Indonesia, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pidato Politik dan Kebudayaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. Dr. A Syafi' i Maarif &lt;/span&gt;(Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. Dr. Sri Edi Swasono &lt;/span&gt;(Guru Besar FE-UI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seminar Konperensi&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abdul Hakim Garuda Nusantara, LLM &lt;/span&gt;(Pakar Hukum)&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;drs. Andrinof Chaniago, Msi. &lt;/span&gt;(Dosen Fisip UI)&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Firman Jaya Daeli, SH &lt;/span&gt;(Pakar Hukum)&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. Hermanto Siregar PHD &lt;/span&gt;(Wakil Rektor IPB Bogor)&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Binny Buchori &lt;/span&gt;(Perkumpulan Prakarsa)&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. Dr Melani Budianta, MA &lt;/span&gt;( Guru Besar FIB UI)&lt;br /&gt;7. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hersri Setiawan &lt;/span&gt;(Seniman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungi Panitia di 021-799 6681 untuk informasi lengkap atau kunjungi&lt;br /&gt;&lt;a class="moz-txt-link-freetext" href="http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com/"&gt;http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Konperensi ini diselenggarakan oleh ELSAM, PUSKAPOL UI, PUSDEP Sanata Darma, Jaringan Kerja Budaya, FISIP UI, INFID, TURC, Praxis, Reform Institute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TATAP INDONESIA BARU, YANG CURANG JADI DONGENG!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TATAP INDONESIA BARU, YANG CURANG JADI DONGENG!
http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2498961064481251123-5250181308508408529?l=konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com/2008/07/pembukaan-konperensi.html</link><author>noreply@blogger.com (Escalay)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2498961064481251123.post-8476856198457936907</guid><pubDate>Tue, 10 Jun 2008 04:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-10T11:25:01.468+07:00</atom:updated><title>Undangan Simposium Ekonomi</title><description>  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Baskerville Old Face&amp;quot;;"&gt;Simposium Ekonomi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Baskerville Old Face&amp;quot;;"&gt;Pra Konferensi Warisan Otoritarianisme II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;DEMOKRASI DAN TIRANI MODAL&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Kawan-kawan sekalian, &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Problematik kehidupan ekonomi politik dan sosial budaya masyarakat di negeri ini kian hari kian tak menentu. Kendati pun telah berbagai usaha telah dilakukan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial telah diupayakan oleh berbagai pihak, namun hasilnya tak sebanding dengan apa yang diharapkan. Kini setelah 10 tahun reformasi berlalu, problematik di muka semakin menenggelamkan gambaran akan  masa depan bangsa ini. Sehingga penting kemudian untuk membicarakan persoalan persoalan seperti:&lt;/div&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Legislasi       ala Neoliberal dan Kebijakan Privatisasi&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Outsourcing       Perburuhan dan Kebijakan Investasi&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Reproduksi       Sosial Ekonomi, Citra Perempuan, dan Ekonomi Politik Rente&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Neoliberalisasi       Agraria dan Kebijakan Pertanian&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Pembicaraan tentang keempat hal ini akan diselenggarakan dalam bentuk Simposium Ekonomi. Acara ini akan diselenggarakan pada:&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Hari: Rabu, 11 Juni 2008&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Tempat: Hotel Cemara, Menteng, &lt;st1:City&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div  class="MsoNormal"&gt;Jam: 11.00  17.30 Wib&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Rincian acara: &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;11.00  12.00&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pembukaan: &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;1. Panitia&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;2. Keynote Speaker: Dr Revrisond Baswir&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;12.00  13.00&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Rehat makan siang&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;13.00  16.00&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;FGD 4 Isu Simposium&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;16.00  16.30&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Koordinasi Raportur&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;16.30  17.30&lt;span  style=""&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pleno&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Besar harapan kami akan rancak dan maraknya diskusi-diskusi di seputar problematik di muka, dan oleh karenanya kami mengharapkan kehadiran kawan kawan sekalian di dalam acara tersebut. Demikian pengumuman ini kami sampaikan dan atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:City&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 10 Juni 2008&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Atas Nama &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;u&gt;Panitia Konferensi Warisan Otoritarian-Demokrasi dan Tirani Modal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Esther Rini Pratsnawati  I Gusti Agung Anom Astika  Andy K. Yuwono&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&amp;#32;          &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TATAP INDONESIA BARU, YANG CURANG JADI DONGENG!
http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2498961064481251123-8476856198457936907?l=konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com/2008/06/undangan-simposium-ekonomi.html</link><author>noreply@blogger.com (tambur)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2498961064481251123.post-3914664485548915359</guid><pubDate>Sun, 08 Jun 2008 15:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-08T22:46:31.005+07:00</atom:updated><title>Ralat: Pengumuman Abstrak</title><description>&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Agung Anom &amp;lt;anomastika@yahoo.com&amp;gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; wrote:&lt;blockquote class="replbq" style="border-left: 2px solid rgb(16, 16, 255); margin-left: 5px; padding-left: 5px;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;font style="font-weight: bold;"&gt;PANITIA KONFERENSI WARISAN OTORITARIANISME II-&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;font style="font-weight: bold;"&gt;DEMOKRASI DAN TIRANI MODAL&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;font style="font-weight: bold;" size="2"&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;font style="font-weight: bold;" size="2"&gt;PENGUMUMAN HASIL SELEKSI ABSTRAK&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;font style="font-weight: bold;" size="2"&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;font style="font-weight:  bold;" size="2"&gt;Dengan hormat,&lt;/font&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah mendapatkan pertimbangan dari masing masing panel di dalam  konferensi, dan tentunya juga setelah masing masing panel mendiskusikan setiap abstrak yang masuk ke panitia konferensi, maka pada hari ini, 8 Juni 2008, Panitia Konferensi akhirnya mengumumkan judul-judul abstrak yang dapat dipresentasikan di dalam Konferensi Warisan Otoritarianisme II - Demokrasi dan Tirani Modal. Judul judul tersebut adalah:&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt; 1. Pertahanan Negara di Era Internet: Tantangan dan Peluang&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;2. Dehumanisasi Peserta didik melalui sistem Penilaian Pendidikan yang berlandasakan semangat neoliberalisme&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;3. Performance of Killing : Capital Space of Dance&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align:  justify;"&gt;4. Konstitusionalitas Penguasaan Negara atas Sumberdaya Alam : Tinjauan Terhadap Beberapa Putusan Mahkamah konstitusi&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;5.  Pagar Rekontrak sebagai wadah dan simbol Perlawanan Korban Lumpur Lapindo&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;6. Mou 1974 (Indonesia-Australia): Warisan Otoritarianisme Indonesia di Laut &lt;st1:place&gt;Timor&lt;/st1:place&gt; yang merugikan Orang Timor dan Orang Rote di Provensi Nusa Tenggara Timur.&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;7. Intelektual, Modal dan Negara L Diskursus Peran Intelektual &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dalam Era Reformasi&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;8. Reformasi, Pragmastisme Politik, dan Kreatifitas Manusia &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;9. Diujung  Tanduk : Hak-hak pekerja Di Tengah Kuasa Pemodal&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;10. Membaca Kemungkinan Exit dari Electoral Democracy ? Penguatan Demokrasi  Partisipatif Melalui Forum Warga&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;11. Ditepi Gemerlap Dewata (Sweeping Pendatang dan Reaksi Masyarakat Adat Bali pasca Bom Bali)&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;12. Reformasi sektor keamanan &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan pembangunan Komunitas Keamanan Asean&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;13. Agama, Tindakan sosial dan Solidaritas&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;14. Perluasan Akses Publik Menuju Politik Yang Deliberatif&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;15. Kapitalisme dan Determinabilitas Demokrasi&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;16. Ham yang Partikular  dan Universal&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;17. Memperkokoh Elit dan Membendung Neo-leberalisme : Narasi Perlawanan Akar Rumput Terhadap Elit , Dan Korporasi  Di Sumatera Barat."&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;18. Dimana Tanah Dipijak, Disitu Langit dijunjung": Mencermati Politik Identitas dalam Proses Pembentukan Hukum Lingkungan di Indonesia&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;19. The Notion of Rule of Law in the Judicial Reform: Case Study of &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;20. Ketatanegaraan Indonesia: Good Governance atau Good For Governing Neoliberal Performance&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;21. Pengaruh Ideologi Neoliberalisme dalam Membentuk Wacana&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Diskursus Demokrasi di Indonesia&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align:  justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kepada para penulis yang telah mengajukan abstrak ini, panitia konferensi mengharapkan yang  bersangkutan menindaklanjuti pengumuman ini dengan penyelesaian makalah. Deadline makalah sesuai dengan pengumuman yang telah dibuat oleh panitia konferensi, yaitu pada tanggal&amp;nbsp; 15 Juli 2008. &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagai penutup, panitia meminta maaf sebesar besarnya oleh karena keterlambatan pengumuman ini, dan atas perhatiannya Panitia Konferensi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:City&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 08 Juni 2008&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Atas Nama &lt;br&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Panitia Konferensi Warisan Otoritarianisme II-Demokrasi dan Tirani Modal&lt;/div&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Esther Rini Pratsnawati - I Gusti Agung Anom Astika - Andy K. Yuwono&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;           &lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;p&gt;&amp;#32;          &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TATAP INDONESIA BARU, YANG CURANG JADI DONGENG!
http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2498961064481251123-3914664485548915359?l=konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com/2008/06/ralat-pengumuman-abstrak.html</link><author>noreply@blogger.com (tambur)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2498961064481251123.post-1512995137391824831</guid><pubDate>Thu, 28 Feb 2008 10:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-12T21:13:33.235+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kerangka Acuan Konferensi</category><title>KERANGKA ACUAN KONFERENSI</title><description>&lt;center&gt;KERANGKA ACUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;large&gt;Konferensi Warisan Otoritarianisme:&lt;br /&gt;“Demokrasi Indonesia dan Tirani Modal”&lt;/large&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latar Belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses demokrasi dan pembangunan ekonomi yang berjalan selama 10 tahun reformasi di Indonesia ternyata belum dapat memberikan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Pemilihan umum langsung, otonomi daerah dan pilkada, ternyata tidak dapat memberikan solusi atas krisis ekonomi yang dialami rakyat paska krisis moneter 1998. Dalam berbagai diskusi tentang problem ekonomi politik Indonesia muncul analisis yang melihat pengaruh globalisasi sebagai faktor yang turut menghancurkan gerak ekonomi Indonesia. Kemiskinan, kelaparan dan pengangguran dari hari ke hari berkembang kian menguat di tengah masyarakat seiring dengan merosotnya nilai riil pendapatan mereka di bawah aura deprivasi nilai-nilai kehidupan. Sementara itu, seluruh perangkat politik dan perangkat pemerintahan mengalami kelumpuhan di dalam menghadapi akibat dari globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadapkan pada persepsi dan kenyataan seperti itu, pertanyaan terbesar yang harus dijawab saat ini adalah apa sesunguhnya yang menganjal dalam demokrasi Indonesia? Ini masalah yang coba dijawab pada tahun 2005 oleh ELSAM, Pusdep-Universitas Sanata Dharma dan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dengan mengelar sebuah konferensi untuk mengenali permasalahan yang dihadapi demokrasi Indonesia dengan menelaah akar-akar otoritarian yang diwariskan oleh sistem otoriter Orde Baru. Hal ini dilakukan dengan pengandaian bahwa otoritarianisme Orde Baru adalah sumber dari segala kemandegan proses demokrasi yang ada di masa reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah dua tahun dari konferensi itu, sepertinya warisan otoritarian tidak lagi memadai untuk menjelaskan loyonya perangkat politik dan pemerintah dalam menjalankan demokrasi. Cara pandang yang menilai tersendatnya demokrasi disebabkan oleh warisan otoritarian semata tidak mampu menjawab masalah-masalah kekinian yang tidak bisa langsung dilihat hubungannya dengan masa lalu. Artinya, perlu penggeledahan dan konfrontasi analisis yang jauh lebih dalam mengenai cara melihat dan memahami kenyataan-kenyataan dan persepsi yang berkembang sekarang ini, melalui pemahaman yang lebih komprehensif terhadap relasi-relasi modal dan kekuatan-kekuatan politik. Persoalan-persoalan relasi sosial semacam inilah yang membentuk struktur kekuatan dan kekuasaan modal di berbagai bidang kehidupan. Pertanyaan yang ingin dijawab kemudian adalah aspek-aspek penting apa yang membuat tirani modal menjadi seperti tak terpisahkan dari demokrasi Indonesia dewasa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa melihat adanya keterkaitan antara warisan otoritarian dan selubung demokrasi konsep tirani adalah konsep yang paling tepat. Maka dari itu tema besar yang hendak diusung dalam konfrensi kali ini adalah “Demokrasi Indonesia di Bawah Tirani Modal”. Persoalan Tirani Modal inilah yang absen dari perbincangan selama reformasi berjalan sedari 1998. Apa lagi mengeledah hubungan antar otoritarianisme, demokrasi dan modal secara lebih rinci. Menjelang 10 tahun reformasi, aspek modal ini harus menjadi perhatian utama dalam menilai kualitas kehidupan demokrasi dan mutu dari perangkat politik dan negara di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan Modal yang dimaksud di sini tidak terbatas hanya pada soal modal dalam pengertian ekonomi semata atau kekuasaan bisnis yang terlalu besar. Ini berkait juga dengan persoalan, reproduksi kekerasan, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan hal lain yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Artinya, modal dalam pengertian relasi-relasi sosial yang membentuk struktur kekuatan dan kekuasaannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TATAP INDONESIA BARU, YANG CURANG JADI DONGENG!
http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2498961064481251123-1512995137391824831?l=konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://konferensi-otoritarianisme2008.blogspot.com/2008/02/kerangka-acuan-konferensi.html</link><author>noreply@blogger.com (Escalay)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>
