<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;CE4FR347fyp7ImA9WhBbGE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843</id><updated>2013-05-18T06:21:56.007+07:00</updated><category term="sejarah" /><category term="jawa timur" /><category term="resensi" /><category term="film" /><category term="emas" /><category term="minangkabau" /><category term="cerpen" /><category term="merantau" /><category term="bromo" /><title>Kumpulan Catatan</title><subtitle type="html">Cuma sejumput kata-kata.</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://gombang.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>135</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/KumpulanCatatan" /><feedburner:info uri="kumpulancatatan" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;DUECRnw_cCp7ImA9WhJaGEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-1911949825975647422</id><published>2012-10-10T11:56:00.000+07:00</published><updated>2012-10-10T12:41:07.248+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-10-10T12:41:07.248+07:00</app:edited><title>Mempertanyakan Wikipedia bahasa Minangkabau</title><content type="html">Tulisan ini bermula dari sebuah pembicaraan di Citywalk Jakarta, beberapa tahun lalu, di sebuah sore dalam sebuah kedai kopi. Saya diajak oleh&lt;a href="http://ivanlanin.wordpress.com/"&gt; Ivan Lanin&lt;/a&gt; untuk menemui Nabil Berri, salah seorang wikipediawan asal Banda Aceh yang datang bertandang ke Jakarta. Salah satu pertanyaan yang diajukannya adalah "kapan membuat Wikipedia bahasa Minang?"&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Pertanyaan ini membuat saya berpikir. Cukup banyak kontributor Wikipedia bahasa Indonesia keturunan Minangkabau atau mampu berbahasa Minang. &amp;nbsp;Saya dan Ivan adalah contohnya. Namun saat itu (dan sampai sekarang) Wikipedia edisi bahasa Minang belum juga wujud. Sementara itu, Wikipedia edisi bahasa Nusantara lainnya seperti&lt;a href="http://jv.wikipedia.org/"&gt; Jawa&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://su.wikipedia.org/"&gt;Sunda&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://bug.wikipedia.org/"&gt;Bugis&lt;/a&gt;, &amp;nbsp;&lt;a href="http://ms.wikipedia.org/"&gt;Melayu&lt;/a&gt;&amp;nbsp;sudah dibuat dan sudah berisi puluhan ribu entri. Nabil Berri sendiri sedang merintis Wikipedia bahasa Aceh (sekarang sudah resmi menjadi proyek Wikimedia Foundation).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Tanpa maksud membela diri, saya kira saya bisa menunjukkan keengganan orang Minang membuat Wikipedia dalam bahasa ibunya itu sebagai cerminan kurangnya tradisi tulis dalam bahasa Minangkabau. Tentunya tidak berarti orang Minang enggan menulis. Saya bisa mengajukan banyak sekali nama. Banyak perintis sastra dan bahasa Indonesia adalah orang Minang. Hanya saja hampir semuanya menulis dalam bahasa Indonesia (Melayu).&amp;nbsp;Kurangnya tradisi tulis dalam bahasa Minangkabau juga ditunjukkan oleh gagalnya penerbitan koran berbahasa Minangkabau di Sumatera Barat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Tradisi tulis orang Minang adalah dalam bahasa Melayu. Ketika orang-orang bicara tentang naskah kuno di Sumatera Barat, hampir semuanya ditulis dalam bahasa tersebut. Konon dulu ada aksara asli Minang, tapi ini sudah lama dilupakan. Tambo Minangkabau, naskah yang dianggap "sejarah" asal-usul oleh orang Minang, juga disalin dalam bahasa Melayu, menggunakan huruf Arab. Tidak mengherankan bila orang Minang modern juga lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia: mereka hanya meneruskan tradisi pendahulunya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Saya sendiri berpendapat membuat Wikipedia bahasa Minangkabau tidak terlalu banyak manfaatnya. Kebanyakan orang Minang diajarkan membaca dalam bahasa Indonesia/Melayu, baik menggunakan huruf Latin maupun huruf Arab. Jadi buat orang Minang sendiri pengembangan Wikipedia bahasa Indonesia akan lebih baik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Salah satu alasan yang sering diajukan ketika membuat edisi Wikipedia bahasa Nusantara adalah untuk mempertahankan tradisi. Namun tradisi apa yang hendak dipertahankan bila orang Minang sendiri tradisi menulisnya adalah dalam bahasa Indonesia?&amp;nbsp;Bahasa Minangkabau berabad-abad hidup sebagai bahasa lisan, dan saya kira tidak akan punah hanya karena tidak ditulis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sah-sah saja bila orang Minang ingin menciptakan lagi kebiasaan menulis dalam bahasa Minangkabau. Tapi dalam hal ini saya kira Wikipedia bukanlah tempatnya. Lebih baik bila orang Minang merintis (lagi) penerbitan karya sastra dan media tulis dalam bahasa Minangkabau.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Tentunya ini tidak berarti Wikipedia bahasa Minangkabau tidak bisa didirikan. Kuncinya hanya niat, dan cukup banyak kontributor aktif. Dan mungkin juga gengsi kedaerahan.&amp;nbsp;Ada juga kendala-kendala praktis yang mungkin akan dihadapi, tapi sebaiknya saya tidak menulisnya di sini. Saya tidak ingin dituduh mematahkan semangat orang.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Tambahan: yang ingin merintis Wikipedia bahasa Minangkabau, bisa mengunjungi&amp;nbsp;&lt;a href="http://incubator.wikimedia.org/wiki/Wp/min"&gt;inkubator Wikipedia bahasa Minangkabau&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/GP7t1bi_J7k" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/1911949825975647422/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=1911949825975647422&amp;isPopup=true" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/1911949825975647422?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/1911949825975647422?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/GP7t1bi_J7k/mempertanyakan-wikipedia-bahasa.html" title="Mempertanyakan Wikipedia bahasa Minangkabau" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2012/10/mempertanyakan-wikipedia-bahasa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A08CR30_cCp7ImA9Wx5aEkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-5916063396154008265</id><published>2010-11-09T15:04:00.001+07:00</published><updated>2010-11-09T15:04:26.348+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-09T15:04:26.348+07:00</app:edited><title>Misteri di Jalan Sintra</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;&lt;p&gt;Apa beda fiksi dan fakta? Di Lisboa, akhir abad ke-19, sebuah cerita bersambung (cerbung) yang dimuat di koran tampaknya menceritakan kejadian nyata di balik selubung fiksi. Tanpa pretensi membuka tabir "kebenaran", dan penuh dengan perincian yang patut menjadi bahan gosip, cerpen tersebut menjadi pemicu pergunjingan kelas atas Portugal masa itu. Seorang countess cantik, Countess V, berselingkuh dengan perwira tentara Inggris di Malta, Kapten Rytmel. Kisah cinta ini diperumit tak hanya oleh kehadiran suami sang countess, tetapi juga oleh sepupu lelakinya yang diam-diam mencintainya, dan seorang gadis Kuba yang sebelumnya menjadi kekasih sang kapten gagah tersebut. Bagaimana jalinan kisah cinta penuh skandal ini akan berakhir?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa orang yang tersinggung, di antaranya seorang bangsawan (count) berkali-kali memperingatkan pengarangnya, Eça dan Ramalho, untuk berhenti menulis cerbung tersebut atau paling tidak mengubah detailnya. Film&lt;em&gt; A Mistério da Estrada de Sintra (Misteri di Jalan Sintra) &lt;/em&gt;menceritakan kisah penulisan cerbung ini dan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Hasilnya adalah seperti cerita di dalam cerita, atau cerita berbingkai. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Film Misteri di Jalan Sintra ini, yang diproduksi di Portugal tahun 2007, merupakan salah satu film yang diputar pada Festival Film Eropa tahun 2010. Saya menontonnya bersama dua orang kawan di Kineklub Taman Ismail Marzuki.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buat saya, yang menarik dari film ini adalah bagaimana Eça dan Ramalho berkolaborasi menulis cerbung, dan bagaimana mereka menuangkan cerita yang memang berasal dari kisah nyata tersebut ke dalam bentuk fiksi. Meskipun diintimidasi, kedua pengarang ini cukup berani mengambil jalan sendiri. Diceritakan juga bagaimana sambutan pada cerita tersebut berpengaruh kepada oplah koran yang menerbitkannya. Ketika oplah turun, sang redaktur koran tampak uring-uringan dan mendesak agar kedua pengarang agar tidak terlalu bertele-tele dalam bercerita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fiksi tak harus sesuai dengan kenyataan, dan kedua pengarangnya memilih penyelesaian cerita yang terasa klise. Namun agaknya ini tidak masalah buat para pembacanya, yang pada akhirnya digambarkan puas dengan kisah yang ditulis Eça dan Ramalho. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/xZvJ505ikck" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/5916063396154008265/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=5916063396154008265&amp;isPopup=true" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/5916063396154008265?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/5916063396154008265?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/xZvJ505ikck/misteri-di-jalan-sintra.html" title="Misteri di Jalan Sintra" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/11/misteri-di-jalan-sintra.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEMFQng5cCp7ImA9Wx5UGEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-1018562568673430623</id><published>2010-10-24T00:26:00.001+07:00</published><updated>2010-10-24T00:53:33.628+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-24T00:53:33.628+07:00</app:edited><title>The End of the Affairs</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;&lt;p&gt;I am never sure what this story about. Supposedly it was about an affair, but the central actress of the affair died too soon to my taste, and I am left with the anguish and sadness of the lover for too long. A story about an affair is supposed to expose a conflict between the lover and the husband, at the end it seems the conflict was between the lover and God. It was enjoyable nevertheless. You do not need to comprehend a story to like it.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Storytellers who hold on to the doctrine of "show, don't tell", will be perplexed how Graham Greene managed to break the rule and still write quite well. Perhaps because he was British, and the rule, IIRC, was coined by Americans. The conflicts in the story are largely internal. Every characters behave quite politely to each other without much drama. Only at key scenes some characters let her or his emotion blow up. Sometimes silence is much effective in conveying the pain felt by the protagonist to the readers.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img height='1' width='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5625843-1018562568673430623?l=gombang.blogspot.com'/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img height='1' width='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5625843-1018562568673430623?l=gombang.blogspot.com'/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img height='1' width='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5625843-1018562568673430623?l=gombang.blogspot.com'/&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/P8IzoSk7QSw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/1018562568673430623/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=1018562568673430623&amp;isPopup=true" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/1018562568673430623?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/1018562568673430623?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/P8IzoSk7QSw/end-of-affairs.html" title="The End of the Affairs" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/10/end-of-affairs.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU8CRn09eip7ImA9Wx5UGEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-2111832649370334051</id><published>2010-09-18T14:32:00.001+07:00</published><updated>2010-10-24T01:17:47.362+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-24T01:17:47.362+07:00</app:edited><title>One-line people descriptions</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;&lt;p&gt;One is a witty young man who loves to talk and gossip and have a mischievous laugh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;One is a curious lovely young lady.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;One is kind attractive intelligent young lady who smiles a lot.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;I met them last week. I wonder whether they can recognise themselves from these one-line descriptions. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img height='1' width='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5625843-2111832649370334051?l=gombang.blogspot.com'/&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/kpEsAoLPeqM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/2111832649370334051/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=2111832649370334051&amp;isPopup=true" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/2111832649370334051?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/2111832649370334051?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/kpEsAoLPeqM/one-line-people-descriptions.html" title="One-line people descriptions" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/09/one-line-people-descriptions.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0YBQXg9cSp7ImA9Wx5SGEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-231924045718423128</id><published>2010-08-15T14:48:00.001+07:00</published><updated>2010-08-15T22:12:30.669+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-08-15T22:12:30.669+07:00</app:edited><title>A sketch of a familiar story</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;&lt;p&gt;If you think the story is familiar, perhaps because you have read similar stories before. Perhaps you have witnessed it happened in real life. Perhaps you even experience it yourself. I can assure you this story has happened before, and perhaps is happening in various versions around the world right now. I will just offer a sketch, because the details aren't important.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;It is about a woman and a man she loved. The woman was attractive and intelligent. The man loved her back, at least initially. They were happy. They thought had everything in the world and didn't care much about others, as long as they had their love. Which was very wrong, of course. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;The man left her. There were reasons. Perhaps there were other woman. Perhaps the woman was the other woman, and the man was coming to his senses. Perhaps he simply didn't love her anymore. A lot of explanations can be told, but it doesn't matter. He left her.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Then there was this other man, who waited. He witnessed the woman fell in love and broken, and went to comfort her. Only the woman was too much in pain and still too much in love with her former lover who abandon her. So he waited for the sadness to subside. You see, this man loved the woman and didn't mind the wait.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;There are sad and happy endings to this story, which again are details and aren't really important to me. When I was aware of this story I said I pitied him, whatever the ending would be. I don't want to be in the shoes of that man who waited.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img height='1' width='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5625843-231924045718423128?l=gombang.blogspot.com'/&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/ANrE7Z-mnrE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/231924045718423128/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=231924045718423128&amp;isPopup=true" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/231924045718423128?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/231924045718423128?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/ANrE7Z-mnrE/sketch-of-familiar-story.html" title="A sketch of a familiar story" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/08/sketch-of-familiar-story.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkQNSXo_fSp7ImA9Wx5TF08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-1466548343364917566</id><published>2010-08-02T12:53:00.001+07:00</published><updated>2010-08-02T12:53:18.445+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-08-02T12:53:18.445+07:00</app:edited><title>Milady</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;&lt;p&gt;Bagi banyak orang tokoh favorit dari cerita The Three Musketeers adalah D'Artagnan, tapi saya memilih Milady de Winter. Menurut saya Milady jauh lebih memikat daripada para musketir yang sebenarnya menjadi protagonis dalam kisah Alexandre Dumas tersebut. Dalam serial roman D'Artagnan (Three Musketeers, Twenty Years After, Vicomte de Bragellone) Milady merupakan satu-satunya tokoh perempuan yang digambarkan dengan kuat. Satu-satunya yang cukup mengimbangi adalah Anne dari Austria, yang pada buku pertama digambarkan sebagai perempuan yang ditekan oleh Kardinal Richelieu. Dia jadi jauh lebih tegar pada pada buku-buku berikutnya, namun dia tidak pernah dapat mengimbangi Kardinal Mazarin ataupun anaknya Louis XIV. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buat Dumas mungkin tidak ada yang positif dari Milady. Dia digambarkan sebagai tipe perempuan yang paling ditakuti para pria: cantik, banyak akal, licik dan pintar merayu, tanpa menjelaskan bagaimana watak Milady ini terbentuk. Hanya sedikit informasi latar belakang tentang perempuan ini. Kita hanya mengetahui bahwa Milady pernah merayu dan kemudian lari dengan seorang calon pendeta, kemudian menikahi seorang bangsawan bernama Comte de  La Fere. Bangsawan ini  kemudian menggantung Milady, saat  menemukan bahwa bahu Milady memiliki cap yang hanya dimiliki penjahat. Namun Milady ternyata bertahan hidup, dan kemudian menjadi agen Kardinal Richelieu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kecerdikan Milady de Winter terlihat ketika dia berhasil mencuri dua butir intan yang dikenakan Duke of Buckingham tanpa ketahuan. Ketika dia ditangkap oleh iparnya Lord de Winter di Inggris, Milady berhasil membujuk letnan penjaga penjara agar membebaskannya dan membunuh Buckingham. Dengan terbunuhnya Duke of Buckingham, bantuan Inggris ke La Rochelle, kubu kaum Protestan, berhenti dan kota itu ditaklukkan Perancis. Milady de Winter juga berhasil membunuh pacar d'Artagnan, Constance Bonacieux ... ketika para musketir mendekat. Perlu gabungan empat orang musketir tangguh, pasukan elit Kerajaan Perancis, untuk menghentikan sepak terjangnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun digambarkan Dumas sebagai monster, saya kadang-kadang memandang Milady sebagai perempuan yang hidup di masa yang salah. Di zaman sekarang, meskipun akan tetap memandangnya salah, orang  masih akan bisa menoleransi aksi Milady mengajak lari calon pendeta. Namun pada saat itu tindakan tersebut membawa cap pada bahunya dan menjadi beban seumur hidup buat perempuan itu. Pada saat "pengadilan akhir", Milady meminta agar para musketir mendengarkan kisah versi dia sendiri, namun suaranya terbungkam. &lt;/p&gt;&lt;p/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/ROoe1KL0I5o" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/1466548343364917566/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=1466548343364917566&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/1466548343364917566?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/1466548343364917566?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/ROoe1KL0I5o/milady.html" title="Milady" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/08/milady.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0cMRn04eip7ImA9Wx5TGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-4012211408550661694</id><published>2010-08-01T19:26:00.010+07:00</published><updated>2010-08-04T11:11:27.332+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-08-04T11:11:27.332+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="jawa timur" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bromo" /><title>Ke Jawa Timur (II)</title><content type="html">&lt;a style="" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wLggafgZacM/TFVsaK9w6nI/AAAAAAAAAKA/0mCttzjGN9Q/s1600/IMG_0120-resize.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wLggafgZacM/TFVsaK9w6nI/AAAAAAAAAKA/0mCttzjGN9Q/s320/IMG_0120-resize.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500421716778740338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sabtu malam itu tidur saya tidak terlalu nyenyak, terganggu oleh suara musik sayup-sayup dan hawa dingin. Biarpun mengenakan jaket, sweater, kaus kaki dan selimut, udara dingin masih tetap terasa. Meskipun begitu akhirnya saya bisa juga tertidur barang dua-tiga jam. Saya terbangun sekitar setengah jam sebelum jadwal keberangkatan ke Pananjakan, pukul 03.00 dinihari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu sebentar, saya membangunkan Ayu, kawan saya, dan menunggunya di luar di dekat restoran. Sudah banyak tamu-tamu hotel yang bersiap-siap berangkat. Kebanyakan turis asing. Semua mengenakan pakaian hangat lengkap. &lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;Kami menumpang sebuah jeep hardtop berwarna merah jambu, bersama-sama dengan dua pasang turis asal Perancis. Salah satunya, lelaki, tampaknya keturunan Arab. Harga sewa jeep ini per orangnya Rp 90 ribu. Tanpa jeep wisatawan harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 10 km dari Cemoro Lawang ke Pananjakan. Ada juga yang memilih menunggangi sepeda motor. Di sepanjang perjalanan ke Pananjakan, di tengah pagi buta yang masih gelap dan berkabut, kami menemukan banyak orang-orang seperti ini. Hampir semua berombongan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;Jeep berhenti agak jauh dari puncak Pananjakan, yang harus dicapai dengan jalan kaki. Di tempat ini hawa dingin memaksa saya untuk memasang sarung tangan, selain sweater dan kupluk yang sudah ada. Ayu selain memakai jaket juga mengenakan baju berlapis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_wLggafgZacM/TFVsrxILDQI/AAAAAAAAAKI/JSEqD1ncmnk/s320/IMG_0147-resize.JPG" style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500422019080719618" border="0" /&gt;Dingin dan gelap rupanya tidak mengurangi keinginan banyak wisatawan untuk menikmati matahari terbit di Pananjakan. Jeep-jeep berderetan membawa para wisatawan, dan semakin naik semakin ramai orang. Ketika kami sampai, puncak Pananjakan sudah dijejali orang yang berharap mendapatkan pemandangan matahari terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini saya menemukan lebih banyak lagi wisatawan dari luar negeri. Dari menguping paling tidak ada satu keluarga dari Belanda (sepasang suami istri dan tiga orang anak perempuan), satu keluarga dari Perancis ( suami istri dan dua orang gadis kecil), dan seorang Belgia. Masih banyak wisatawan asing lainnya yang tidak saya ketahui asalnya. Beberapa orang wisatawan domestik menyapa mereka dan mengajak buat berfoto-foto.&lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;Meskipun meriah, sayangnya ketika matahari terbit itu sendiri tertutup oleh awan dan kabut tebal. Kami harus menunggu sampai pukul enam ketika matahari sudah lebih tinggi dan mampu mengenyahkan kabut. Sayangnya kami tidak bisa lama-lama.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;Ketika turun, pemandangan yang tadinya terselubung oleh kelam dinihari mulai kelihatan. Kami dapat menikmati lembah dan puncak-puncak pegunungan Tengger dengan lebih jelas. Lembah yang sebelumnya gelap sekarang tampak menghijau, dan puncak-puncak pegunungan mulai terlihat. Kami berhenti di sebuah spot tempat Bromo dan Semeru terlihat jelas, dan berfoto-foto di sana, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo, yang sebenarnya sudah dilewati ketika menuju Pananjakan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wLggafgZacM/TFVvFNL29dI/AAAAAAAAAKQ/tJw7G1sxnyw/s1600/IMG_0171-resize.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wLggafgZacM/TFVvFNL29dI/AAAAAAAAAKQ/tJw7G1sxnyw/s320/IMG_0171-resize.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500424655132358098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;Bromo terletak di sebuah kaldera yang luas, dan disebut dengan "lautan pasir." Meskipun disebut sebagai lautan pasir, kaldera ini ditumbuhi tanam-tanaman hijau, dan terlihat seperti permadani dari jauh. Hanya di dekat Bromo saja tidak ada tanaman, dan benar-benar berpasir. Di dekat kaki Gunung Bromo terletak sebuah pura. Jeep tidak boleh mendekat sampai ke kaki gunung, dan terdapat pancang-pancang besi yang membatasi kendaraan bermotor agar tidak dapat terlalu dekat. Untuk naik ke kaki gunung, kita bisa berjalan kaki atau naik kuda. Para pemilik kuda cukup gigih menawarkan jasanya. Awalnya mereka menawarkan dengan harga cukup mahal. Namun sewaktu kami terus berjalan, harganya semakin jatuh. Ayu akhirnya naik kuda (menurutnya dia hanya membayar Rp 20 ribu), sementara saya terus berjalan kaki. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;Untuk ke puncaknya sendiri kami harus menaiki jenjang yang cukup curam, dan tentu saja tidak dapat dilalui oleh kuda. Kawahnya sendiri menurut saya biasa-biasa saja, tidak jauh berbeda dengan Tangkuban Perahu misalnya. Namun pemandangan di sekeliling gunung lebih mengesankan. Kita bisa melihat seluruh lautan pasir yang menghijau dengan lebih jelas, sebuah puncak di samping Bromo, dan Pura Poten di kejauhan. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;Setelah puas menyaksikan pemandangan, kami turun dan kembali ke penginapan. Setelah sarapan dan mandi, kami check-out dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Malang. Rencananya kami akan bergabung dengan kawan dari Yogya di sana.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;Bila ketika berangkat kami naik angkutan umum, ketika turun ke Probolinggo kami naik ojek. Biayanya lebih mahal, Rp 65 ribu per orang. Dari Probolinggo kami naik bus ke Malang, dan sampai sekitar pukul setengah lima sore di hotel yang sudah dipesan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 12px 0px; text-indent: 0px;"&gt;&lt;!--EndFragment--&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/0FavoZ9SKAA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/4012211408550661694/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=4012211408550661694&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/4012211408550661694?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/4012211408550661694?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/0FavoZ9SKAA/ke-jawa-timur-ii.html" title="Ke Jawa Timur (II)" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_wLggafgZacM/TFVsaK9w6nI/AAAAAAAAAKA/0mCttzjGN9Q/s72-c/IMG_0120-resize.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/08/ke-jawa-timur-ii.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A04GQn4-fyp7ImA9Wx5TE0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-8453566636216076515</id><published>2010-07-28T18:40:00.003+07:00</published><updated>2010-07-28T19:25:23.057+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-28T19:25:23.057+07:00</app:edited><title>Ke Jawa Timur (I)</title><content type="html">&lt;div xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_wLggafgZacM/TFAgd-khk4I/AAAAAAAAAIo/_E3PYD2f6bY/s320/IMG_0005-resize.jpeg" style="float:right; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498930844403864450" /&gt;&lt;p&gt;Seminggu kemarin saya berjalan-jalan mengunjungi beberapa kota di Jawa Timur, bersama seorang kawan sekantor. Perjalanan ini sudah agak lama juga direncanakan. Tiket pesawat sudah dipesan sejak tiga bulan sebelumnya. Rencananya adalah adalah mengunjungi Bromo, lalu ke Malang dan terakhir kembali ke Surabaya sebelum akhirnya pulang ke Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya belum pernah mengunjungi Jawa Timur. Jadi saya tidak punya bayangan apa-apa tentang daerah ini. Ketika pesawat menyentuh landasan di bandara Juanda Surabaya, saya melihat sebuah hangar Angkatan Laut, yang mengingatkan saya bahwa Surabaya adalah pangkalan utama untuk TNI-AL. Teman-teman saya yang pernah ke Surabaya menyebutnya sebagai kota yang panas. Namun saya tidak sempat terpapar lama terhadap teriknya matahari Surabaya. Kami kemudian segera naik bus Damri ke Terminal Bungurasih, makan siang sebentar di sana, dan kemudian naik bus Patas AC ke Probolinggo.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Probolinggo bukanlah kota satu-satunya yang bisa disinggahi sebelum mencapai Bromo. Tapi dari informasi yang saya cari sebelumnya kota ini merupakan yang satu-satunya menyediakan angkutan umum ke pintu gerbang&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Kondektur bus antarkota yang saya tumpangi berbaik hati menunjukkan pangkalan angkutan umum ke Bromo, yang letaknya tak jauh dari Terminal Probolinggo. Kami sampai di Probolinggo lewat tengah hari.  Angkutan umum ini hanya ada sampai pukul 16.00 sore&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Angkutan ke Bromo itu berupa minibus, dengan ukuran hampir sama dengan yang biasa dipakai travel Jakarta-Bandung. Namun jangan menyangka kenyamanannya sama. Minibus diisi sangat padat dengan penumpang. Backpack kami yang cukup berbobot ditaruh di atap minibus, bersama-sama barang-barang penumpang lain yang dirasa akan memakan tempat. Sebagian besar tampaknya penduduk asli, namun ada tiga orang bule yang turut menumpang. Saya duduk di depan dengan salah seorangnya, seorang lelaki perokok berambut keemasan. Di sepanjang perjalanan dia membaca buku pengarang asal Afghanistan Khaled Hosseini, &lt;em&gt;A Thousand Splendid Suns&lt;/em&gt;. Kami tidak banyak berbicara, namun dia kemudian menyebutkan bahwa dia belum memesan penginapan di Bromo. Dia jelas lebih nekad daripada kami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika mobil terus mendaki, jalan yang sebelumnya lurus menjadi banyak berkelok-kelok Tikungan-tikungan tajam tidak banyak mengurangi keberanian sopir buat memacu mobilnya. Saya yang duduk di depan dan agak terpojok ke pintu agak ngeri juga karena saya tidak yakin dengan keamanan pintu depan minibus. Tapi kengerian saya itu agak berkurang melihat pemandangan yang disajikan di hadapan: lembah dan pegunungan hijau berhutan, dengan puncak-puncak gunung bersaput awan yang tampak seperti kapas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hotel tempat kami menginap, Yoschi, berada 5 km dari perhentian akhir, Cemoro Lawang. Penginapan mungil ini menghadap sebuah lembah kecil di pinggir jalan. Sebuah papan kecil dalam bahasa Jerman (yang baru saya perhatikan pada saat akan keluar), &lt;/p&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_wLggafgZacM/TFAgeQVBkxI/AAAAAAAAAIw/bTPrRAC5YSI/s320/IMG_0028-resize.jpeg" style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498930849170690834" /&gt;mengiklankan bahwa restoran di sana "menyediakan kentang tumbuk (mashed potatoes bahasa kerennya) terbaik dalam 20 tahun". Kamar yang kami pesan, yang paling murah, bersih dan cukup nyaman dengan dinding dari anyaman rotan, tapi tanpa kamar mandi di dalam. Ada dua kamar mandi umum untuk sekitar 6 kamar ditambah tiga kamar mandi lagi di dekat restoran, satu di antaranya kamar mandi air panas.&lt;p&gt;Kami sampai di hotel sekitar pukul 3 sore (kalau tidak salah). Masih cukup lama waktu sebelum malam tiba. Saya tergoda untuk terus berjalan kaki ke Cemoro Lawang, namun akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan saja sekitar hotel untuk melihat-lihat dan mencari warung makan. Restoran di hotel baru buka pukul tujuh malam, masih terlalu lama. Berjalan-jalan sekitar hotel ini ternyata berarti melangkah di jalan menanjak, dan membuat nafas terengah-engah. Namun udara pegunungan yang bersih cukup menyegarkan paru-paru. Kami berfoto-foto di beberapa tempat, termasuk di dekat sebuah pura yang tidak jauh dari hotel. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun rasanya sudah berjalan cukup jauh, kami belum juga menemukan tempat yang tampaknya adalah warung makan. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali. Matahari sudah semakin rendah, dan kabut sudah turun. Gunung-gunung di sebelah utara yang tadinya masih kelihatan sudah sama sekali tertutup awan putih. Hujan renik (mungkin hujan zenith kalau pengetahuan geografi saya masih benar) sempat menerpa. Kami akhirnya makan malam di hotel saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya memesan mi kuah untuk makan malam dan jahe untuk minuman. Ada live music juga, dan meskipun penerangan cukup restoran memberikan lilin di setiap meja pengunjung. Musik Latin (kalau tidak salah) baru benar-benar dimainkan ketika kami hampir selesai makan. Kawan saya memutuskan untuk masuk kamarnya lebih dahulu, dan saya bertahan beberapa lama menikmati musik sebelum akhirnya masuk ke kamar saya. Kami harus bangun dini hari untuk naik &lt;em&gt;jeep&lt;/em&gt; ke Bromo. Lebih baik tidur lebih cepat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="1" width="1" src="https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5625843-8453566636216076515?l=gombang.blogspot.com" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="1" width="1" src="https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5625843-8453566636216076515?l=gombang.blogspot.com" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/njxZVrafwjs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/8453566636216076515/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=8453566636216076515&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8453566636216076515?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8453566636216076515?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/njxZVrafwjs/ke-jawa-timur-i.html" title="Ke Jawa Timur (I)" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_wLggafgZacM/TFAgd-khk4I/AAAAAAAAAIo/_E3PYD2f6bY/s72-c/IMG_0005-resize.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/07/ke-jawa-timur-i.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0UFQns6cSp7ImA9WxFbGUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-1926471311910164720</id><published>2010-07-12T13:13:00.001+07:00</published><updated>2010-07-12T13:13:33.519+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-12T13:13:33.519+07:00</app:edited><title>Garuda Pancasila</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;&lt;p&gt;Untuk memperingati hari jadi Pancasila, mari kita nyanyikan lagu pelesetan dari mendiang Harry Roesli berikut:&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Garuda Pancasila&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Aku lelah mendukungmu&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Semenjak proklamasi &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;selalu berkorban untukmu&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Pancasila dasarnya apa&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Negara adil makmurnya kapan&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Pribadi bangsaku&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Tidak maju maju, tidak maju-maju, tidak maju-maju.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/XwhSr_2nRCs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/1926471311910164720/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=1926471311910164720&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/1926471311910164720?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/1926471311910164720?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/XwhSr_2nRCs/garuda-pancasila.html" title="Garuda Pancasila" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/07/garuda-pancasila.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEcAQ34_cCp7ImA9WxFbF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-5762956516173697306</id><published>2010-07-10T18:40:00.001+07:00</published><updated>2010-07-10T18:40:42.048+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-10T18:40:42.048+07:00</app:edited><title>Children</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;&lt;p&gt;Somehow kids just fascinate me. I find some of their behaviour interesting and puzzling. For example, they laugh all the time. Sometimes they cry of course. But the emotion is always on their faces. I can't remember children with expressionless faces.&lt;/p&gt;&lt;p/&gt;&lt;p&gt;Children also seem to be able to play with anything. Everything can be a toy: a ball, a chair, or a rock. They will always play. A chair can be a car, a train, or a spaceship. Adults still play, of course, but it seems adults need really expensive toys like cars, computers or smartphones.&lt;/p&gt;&lt;p/&gt;&lt;p&gt;They also like to run around. In Jakarta, where empty spaces are rare and very valuable, this is a problem. Still they run and run. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/6KIRQMZ_Sec" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/5762956516173697306/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=5762956516173697306&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/5762956516173697306?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/5762956516173697306?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/6KIRQMZ_Sec/children.html" title="Children" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/07/children.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck8MSH4ycSp7ImA9WxBXGEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-847439503226882652</id><published>2010-01-31T02:48:00.001+07:00</published><updated>2010-01-31T02:48:09.099+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-31T02:48:09.099+07:00</app:edited><title>Makzul</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;&lt;p&gt;Saya sekarang jarang mengikuti berita politik terkini. Namun rupanya saya tidak bisa menghindar, karena kericuhan politik yang sedang berlangsung sudah terlalu besar sehingga merembes ke dalam media yang saya ikuti: Facebook dan Twitter. Satu istilah yang sering muncul dari kedua jaringan sosial ini, berkaitan dengan rusuh di kalangan dunia politik, adalah "makzul", atau lebih sering lagi, "pemakzulan".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata "makzul" ini rupanya membuat banyak orang garuk-garuk kepala karena tidak paham artinya. Saya tadinya ingin menuliskan gerutu panjang lebar tentang kemiskinan kosa kata orang-orang ini, dan mengomel bahwa orang Indonesia lebih tahu istilah Inggris untuk kata tersebut. Namun setelah berpikir agak lama saya bisa memakluminya. Saya rasa kita dapat menyalahkan (lagi-lagi) Orde Baru sebagai penyebab mengapa orang Indonesia tidak mengenal kata "pemakzulan". Konsep tersebut terlalu peka dan haram buat penguasa zaman itu buat dipikirkan, apatah lagi kalau dituliskan dan diucapkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin lebih menarik untuk membahas kata pemakzulan tersebut dari segi bahasa. Pertama adalah etimologi. Dari bunyinya, kita bisa menduga bahwa ini berasal dari bahasa Arab. Teman saya, &lt;a href='http://kramput.blogspot.com'&gt;Ikram Putra&lt;/a&gt;, berusaha mencari arti aslinya dalam bahasa Arab. Dia pertama kali mencoba mencari terjemahan dari "impeach" dalam bahasa Arab, lewat Google Translate. Impeach dan impeachment adalah istilah bahasa Inggris untuk memakzulkan dan pemakzulan. Dia menemukan bahwa "impeach" berarti 'azl dalam bahasa Arab. Lucunya ini juga berarti "coitus interruptus" atau sanggama terputus. Persamaannya? Kata Ikram "impeach dan coitus interruptus sama-sama memberhentikan seseorang di tengah kegiatan yang sedang berjalan ... &lt;em&gt;if you know what I mean&lt;/em&gt;&lt;span style=' font-family:&amp;apos;Lucida Grande,sans-serif&amp;apos;; color:#333333;'&gt;."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cukup mudah untuk melihat hubungan 'azl dengan makzul (ma'zul), bila kita mengingat bahwa maklum (ma'lum) berasal dari akar kata 'ilm (ilmu) dalam bahasa Arab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kebanyakan pengicau di Twitter berkomentar bahwa "makzul" merupakan kata baru. Tidak benar juga. Berbeda dengan berbagai istilah teknologi yang memang baru dan harus dicari padanannya dalam bahasa Indonesia, konsep pemakzulan sudah dikenal sejak orang-orang kenal sistem pemerintahan. Dan manusia Indonesia sudah membangun negara-negara besar sejak berabad-abad silam. Jadi bisa diperkirakan kata ini sudah sangat lama dikenal dalam bahasa Indonesia, atau mungkin lebih tepat bahasa Melayu, karena istilah bahasa Indonesia sendiri baru dipopulerkan awal abad ke-20.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk melacak kemunculan istilah "makzul" ini dalam tulisan bahasa Melayu, alat yang bagus adalah fasilitas pencarian dari situs web &lt;a href='http://mcp.anu.edu.au/'&gt;Malay Concordance Project &lt;/a&gt;(MCP). Di situs ini kita bisa melacak kemunculan sebuah kata dalam naskah-naskah berbahasa Melayu, mulai dari Batu Bersurat Terengganu (ca. abad ke-14) sampai Hikayat Kerajaan Sikka (1925-1953). Naskah-naskah tersebut berasal dari berbagai penjuru Nusantara, mulai dari Pattani (Thailand Selatan) di utara sampai Sikka (di Pulau Flores) di selatan, dan dari Aceh di barat sampai Hitu (Ambon) di Timur. Kemunculan kata tersebut dapat &lt;a href='http://mcp.anu.edu.au/Q/chronological.html'&gt;diurutkan berdasarkan kronologi&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan alat dari MCP saya bisa menemukan bahwa istilah makzul (dalam bentuk ma'zul) muncul pertama kali di &lt;em&gt;Hikayat Muhammad Hanafiah&lt;/em&gt;. Hikayat yang disadur dari cerita Persia ini diperkirakan paling tidak ditulis tahun 1450, bahkan mungkin sudah ada sejak tahun 1380.  Jadi paling tidak dalam bahasa Melayu istilah ini sudah dikenal sejak lebih dari 450 tahun yang lalu. Jauh dari baru bukan? &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Istilah makzul juga digunakan di berbagai karya sastra Melayu lain seperti&lt;em&gt; Hikayat Aceh&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Hikayat Patani,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Hikayat Hang Tuah &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Bustanus Salatin&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun sudah lama diperkenalkan, saya sendiri sebenarnya bertanya-tanya mengapa kita harus meminjam istilah ini dari bahasa Arab. Tidak adakah kata Indonesia yang cocok? Atau seperti kata Wimar Witoelar " &lt;a href='http://twitter.com/wimar/status/8352220812'&gt;what does makzul mean in plain Indonesian?&lt;/a&gt;" Ada yang menjawab "pemberhentian", tapi saya lebih memilih arti lain yang ditawarkan oleh penulis &lt;em&gt;Aqaid Al Nasafi &lt;/em&gt;(tertanggal tahun 1590): "ma'zul ya'ni dipaccat". &lt;span style=' font-family:&amp;apos;Courier New,courier&amp;apos;; font-size:9pt; color:#222222;'&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/sDYpDCzZTRU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/847439503226882652/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=847439503226882652&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/847439503226882652?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/847439503226882652?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/sDYpDCzZTRU/makzul.html" title="Makzul" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2010/01/makzul.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEUERXk7fyp7ImA9WxNQEU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-2278992868352750721</id><published>2009-09-17T03:16:00.001+07:00</published><updated>2009-09-17T03:16:44.707+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-09-17T03:16:44.707+07:00</app:edited><title>On Woman Ugliness</title><content type="html">&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;If the woman is not ugly, intelligence trumps beauty. Every time.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Contrary to some belief, beauty is not inversely proportional to intelligence.  Beautiful intelligent women exist, and they are quite numerous.  Whoever thinks otherwise doesn't look long and far enough, or deludes him/herself. It is also very probable that the person in question is ugly.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Intelligence cannot overcome ugliness. An ugly girl is still ugly. It just makes it tolerable (see also #8)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;There is no such thing as inner beauty. Whoever believes otherwise is probably ugly and deluded.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Beauty is skin deep, ephemeral and will perish with old age. However, if a woman is intelligent her wisdom and experience is more than capable to maintain her attractiveness.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Young ugly women will only get uglier as the time passes. See #3. Get used to it.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;It is futile  for ugly women to gain beauty by cosmetics. They will be still ugly, with or without cosmetics. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Ugly women can be charming and lovable, in some mysterious ways. They are still ugly though.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/qmnIO83v6JU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/2278992868352750721/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=2278992868352750721&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/2278992868352750721?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/2278992868352750721?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/qmnIO83v6JU/on-woman-ugliness_17.html" title="On Woman Ugliness" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2009/09/on-woman-ugliness_17.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUMNQn06fSp7ImA9WxNSFUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-7037692242767726846</id><published>2009-08-30T00:36:00.001+07:00</published><updated>2009-08-30T00:38:13.315+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-08-30T00:38:13.315+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="merantau" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="resensi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="film" /><title>Review: Merantau</title><content type="html">Akhirnya saya punya waktu juga buat menonton film Merantau setelah lewat 3 minggu sejak premiernya. Saya tahu cukup banyak tentang film ini: garis besar alur cerita, pembuatannya,  termasuk spoiler penting tentang nasib Yuda, tokoh utama film ini, di akhir cerita. Namun saya masih penasaran bagaimana jadinya semua itu ditampilkan di layar bioskop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah banyak review film ini bertebaran di web, saya tidak akan membahas tentang alur ceritanya. Sebaliknya akan mengupas beberapa tentang hal-hal yang sering disinggung dalam review. Semacam metareview, begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tentang alur cerita: &lt;/span&gt;standar dan tidak mengesankan. Namun ini biasa saja untuk film laga. Film-film laga Hong Kong setahu saya (baca, sangat sedikit) punya alur cerita yang begitu-begitu saja. Kalaulah ada yang bagus, biasanya diambil dari cerita rakyat atau legenda Cina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tokoh Astri yang lemah&lt;/span&gt;. Salah satu kritik yang banyak saya baca adalah soal terlalu kotornya mulut tokoh ini. Menurut saya sih biasa saja dia memaki-maki, tapi mungkin kemarahan Astri bisa diungkapkan dengan dialog yang lebih baik. Mungkin penulis skrip yang harus disalahkan di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Silatnya sendiri&lt;/span&gt;: banyak yang menganggap peniruan film Tony Jaa. Saya belum pernah menontonnya, jadi tidak ada komentar soal ini. Yang jelas adegan silatnya keren. Terlihat juga perubahan teknik yang digunakan Yuda, mulai hanya sekedar melumpuhkan lawan di awal cerita, yang kemudian bergeser menjadi jurus-jurus mematikan di akhir film. Titik kritisnya terjadi pada saat Yuda menemukan bahwa lawannya tidak segan-segan membunuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah yang terlihat bohong-bohongan adalah kelemahan lain film ini. Begitu pula adegan menelepon interlokal dari telepon umum, yang setahu saya tidak mungkin dilakukan (mengapa tidak dari wartel?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kadang timbul kesan bahwa skrip cerita dibikin pertama kali dalam bahasa Inggris, meskipun umumnya penerjemahannya cukup baik (kalau memang aslinya ditulis dalam bahasa Inggris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pandangan Minangkabau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merantau mencoba menyodorkan  Minangkabau sebagai latar belakang cerita. Keluhan pertama saya sebenarnya soal nama-nama tokoh Minangkabau yang terdengar lebih Jawa atau Sunda, namun saya kemudian teringat bahwa orang Minang zaman sekarang tidak punya identitas nama yang jelas. Gambar-gambar di desa (tidak disebutkan namanya, tapi dekat Bukittinggi) cukup indah, dan saya sebenarnya ingin lebih banyak lagi shot di sana. Tapi ini mungkin hanya akan memperlambat pergerakan cerita, yang sudah dikeluhkan lambat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan lain adalah bahasa yang digunakan tokoh-tokoh Minangkabau yang tidak konsisten. Kalimat awal pertama kali adalah bahasa Minangkabau, tapi kemudian beralih kepada bahasa Indonesia berlogat Minang. Kalau ingin realistis sebenarnya semua dialog di kampung harus pakai bahasa Minangkabau, dan baru waktu di Jakarta beralih ke bahasa Indonesia (berlogat Minangkabau). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iko Uwais, pemeran Yuda yang sebenarnya orang Betawi itu menurut saya cukup baik menggunakan bahasa Indonesia logat Minangkabau, kecuali di beberapa adegan yang ketahuan sebenarnya pemerannya adalah orang Jakarta. Pengucapan bahasa Minangnya sendiri menurut saya masih kedengaran janggal, namun kebanyakan penonton yang bukan orang Minang mungkin tidak akan dapat mendeteksinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini mengekspos silat Harimau, yang hanya salah satu aliran yang bisa ditemukan di Minangkabau. Saya tidak pernah belajar silat, tapi dibesarkan dengan  bacaan cerita silat Minangkabau karangan Makmur Hendrik di tahun 80-an, seperti Giring-giring Perak dan Tikam Samurai. Makmur Hendrik adalah guru silat merangkap pengarang  novel dan wartawan yang sekarang pulang kampung ke Buluh Cina (dekat Pekanbaru), provinsi Riau.  Saya jadi penasaran juga bagaimana aliran silat Minang  lain ditampilkan di layar lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya lihat adalah Silek Tuo, yang kalau tidak salah digunakan oleh tokoh utama dalam Giring-Giring Perak. Aliran ini unik karena konon pesilatnya hanya menyerang setimpal dengan  serangan yang diterima. Kalau menerima pukulan satu kali, sang pesilat akan membalas dengan serangan satu kali pula, tidak pernah lebih. Kalau film Merantau ini bisa memicu munculnya era film-film silat dengan mutu setingkat, saya kira harapan ini tidaklah mustahil.&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/OWHGUR-xoUk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/7037692242767726846/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=7037692242767726846&amp;isPopup=true" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7037692242767726846?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7037692242767726846?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/OWHGUR-xoUk/review-merantau.html" title="Review: Merantau" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2009/08/review-merantau.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0UMQn44eyp7ImA9WxNSFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-6767125645684509330</id><published>2009-08-28T22:58:00.001+07:00</published><updated>2009-08-28T23:01:23.033+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-08-28T23:01:23.033+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerpen" /><title>Menangis</title><content type="html">Di Jumat petang yang terang seorang perempuan muda menangis terisak di pinggir jalan yang sepi dan berdebu.  Perempuan itu menangis sampai matanya sembab, dan pakaiannya lembap. Seorang anak lelaki kecil  bertelanjang kaki berdiri di sampingnya mengamati terheran-heran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu kenapa menangis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu terlalu asyik menangis buat memperhatikan pertanyaan anak kecil itu. Dia menggerung-gerung dan melolong, suaranya naik sampai ke langit petang yang tidak berawan itu. Merasa tidak dipedulikan, anak kecil itu pun lalu menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki tua berpakaian rapi berjalan perlahan mendekati anak dan perempuan itu. Pada awalnya dia tidak memperhatikan keduanya menangis, mungkin karena kurang pendengaran. Tapi kemudian dia berdiri di depan anak dan perempuan itu, lalu tercenung memandangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kalian menangis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak menjawab, terlalu larut dan khusuk dalam tangisan masing-masing. Si lelaki tua bertanya lagi.  Si perempuan hanya mengoceh tidak jelas memukul-mukul dada, sedangkan si anak lelaki menghentak-hentakkan kakinya ke tanah keras-keras. Anak itu merasa sakit, lalu menangis lebih keras lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah, usahlah menangis. Baiklah, hidup itu memang keras. Penuh tantangan. Tapi semuanya pasti bisa diatasi dengan kerja keras. Kalian masih muda. Berapa umurmu, perempuan? Dua puluh lima? Tiga puluh? Dan anak ini mungkin baru lima tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya mereda, tangis perempuan itu semakin keras. Dia mengacak-acak rambut panjangnya sehingga kusut. Air matanya mengalir tidak terputus-putus, masuk ke sela-sela bajunya dan sampai ke pergelangan kakinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putus asa, akhirnya lelaki tua itu meninggalkan mereka, sambil menggerutu. "Anak muda zaman sekarang memang mudah patah semangat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Catatan: kata-kata pertama cerita ini berasal dari &lt;a href="http://bukuterbuka.multiply.com"&gt;Feby Indirani&lt;/a&gt;&lt;/small&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/qd8zhz8d1Kc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/6767125645684509330/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=6767125645684509330&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/6767125645684509330?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/6767125645684509330?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/qd8zhz8d1Kc/menangis.html" title="Menangis" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2009/08/menangis.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU8FSXw-fyp7ImA9WxJbGEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-9198667259430659379</id><published>2009-07-30T00:06:00.003+07:00</published><updated>2009-07-30T00:16:58.257+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-30T00:16:58.257+07:00</app:edited><title>Kutipan dari 1984</title><content type="html">Pandangan Orwell tentang rakyat, tepatnya kaum proletar.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;If there was hope, it must lie in the proles...If only they could somehow become conscious of their own strength, [they] would have no need to conspire. They needed only to rise up and shake themselves like a horse shaking off flies. If they chose they could blow the Party to pieces tomorrow morning. Surely sooner or later it must occur to them to do it? And yet--!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...They were born, they grew up in the gutters, they went to work at twelve, they passed through a brief blossoming period of beauty and sexual desire, they married at twenty, they were middle-aged at thirty, they died, for the most part, at sixty. Heavy physical work, the care of home and children, petty quarrels with neighbours, films, football, beer, and above all, gambling, filled up the horizon of their minds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...It was not desirable that the proles should have strong political feelings. All that was required of them was a primitive patriotism which could be appealed to whenever it was necessary to make them accept longer working-hours or shorter rations. And even when they became discontented, as they sometimes did, their discontent led nowhere, because being without general ideas, they could only focus in on petty specific grievances. The larger evils invariably escaped their notice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...Until they become conscious they will never rebel, and until after they have rebelled they cannot become conscious.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serasa melihat rakyat Indonesia sendiri, terutama yang diberi label "rakyat kecil."&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/HPY5R1APknM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/9198667259430659379/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=9198667259430659379&amp;isPopup=true" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/9198667259430659379?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/9198667259430659379?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/HPY5R1APknM/kutipan-dari-1984.html" title="Kutipan dari 1984" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2009/07/kutipan-dari-1984.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYGQ3o8eip7ImA9WxJWEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-7147897987943764884</id><published>2009-06-15T15:04:00.000+07:00</published><updated>2009-06-15T15:05:22.472+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-15T15:05:22.472+07:00</app:edited><title>Jealousy</title><content type="html">“These women, they are bad for you,” she whispered.&lt;br /&gt;“But they are the only one that cared for me here.”&lt;br /&gt;“They aren't. They want you as a return, you who are mine and mine alone.”&lt;br /&gt;“Same difference.  I am mine.”&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/kN6rk14xODU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/7147897987943764884/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=7147897987943764884&amp;isPopup=true" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7147897987943764884?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7147897987943764884?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/kN6rk14xODU/jealousy.html" title="Jealousy" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2009/06/jealousy.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUEGQH0_fSp7ImA9WxJXFEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-4347477040927602023</id><published>2009-06-08T13:11:00.005+07:00</published><updated>2009-06-08T14:53:41.345+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-08T14:53:41.345+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="minangkabau" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="emas" /><title>Emas dan Minangkabau</title><content type="html">Bila kita bicara tentang budaya Minangkabau modern emas sering terabaikan. Bicara tentang Minangkabau atau orang Minang yang teringat mungkin masakannya, kemampuannya sebagai pedagang, keindahan alam, tapi bukan emas. Saat ini pertambangan emas di Sumatera Barat tidak lagi terdengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebenarnya emas Sumatera pernah terkenal sebagai Pulau Emas, atau Suwarnadwipa menurut istilah Sansekerta. Sumber emas yang dulu terkenal adalah di Minangkabau. Belanda konon datang ke Indonesia buat mencari rempah-rempah, namun ketika mereka datang ke Minangkabau di abad ke-17, selain lada mereka juga mencari emas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Pagaruyung yang sekarang sudah tinggal nama itu juga berdiri gara-gara emas. Ketika Adityawarman di abad ke-14 memindahkan ibukota kerajaan Melayu dari Jambi ke Tanah Datar,  salah satu alasannya adalah untuk menguasai sumber emas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarawan Inggris Christine Dobbin penguasaan raja-raja Minangkabau terhadap emas ini terus berlangsung berabad-abad sejak masa Adityawarman, sampai pecahnya Perang Padri. Dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Islamic Revivalism in Changing Peasant Economy&lt;/span&gt; Dobbin memaparkan dengan cukup baik bagaimana keluarga kerajaan ini mengendalikan tambang-tambang emas dan perdagangannya baik ke pantai barat (Pariaman dan Padang) maupun ke pantai timur (Siak, Kampar-Pelalawan dan Indragiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berangsur habisnya cadangan emas di Minangkabau, kemakmuran dan pengaruh keluarga bangsawan di Minangkabau pun ikut pupus. Ekonomi Minangkabau kemudian beralih ke ekspor tanaman keras seperti kulit manis, gambir, dan kopi. Penanaman dan perdagangan tanaman-tanaman tersebut terlepas dari kendali para bangsawan Pagaruyung dan Suruaso. Desa-desa penghasil komoditas ekspor baru ini kemudian banyak yang memihak kaum Padri dalam perang melawan golongan adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang, Kerajaan Pagaruyung berdiri karena emas dan runtuh juga karena emas.&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/E_zLuvzm1_o" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/4347477040927602023/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=4347477040927602023&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/4347477040927602023?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/4347477040927602023?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/E_zLuvzm1_o/emas-dan-minangkabau.html" title="Emas dan Minangkabau" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2009/06/emas-dan-minangkabau.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcFR3c5fyp7ImA9WxJQEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-8394313081616480902</id><published>2009-05-25T11:44:00.002+07:00</published><updated>2009-05-25T12:06:56.927+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-25T12:06:56.927+07:00</app:edited><title>Menulis di kertas</title><content type="html">Sudah lama juga saya tidak menulis buku harian. Buku harian benaran, terbuat dari kertas, bukan blog, bukan yang ditulis di komputer. Saya terpikir hal ini ketika beberapa waktu lalu harus menulis agak banyak di buku catatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya setelah berpanjang lebar menulis di kertas : betapa tidak terbacanya tulisan saya ini. Tulisan tangan saya dari dulu memang buruk. Ketika sekolah dasar nilai pelajaran menulis saya tidak pernah lebih tinggi daripada angka tujuh, meskipun sudah berusaha keras. Angka enam lebih sering didapat. Untungnya pelajaran itu tidak ada lagi di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Namun tetap saja dalam masa-masa setelah itu beberapa kali guru-guru saya mencela tulisan saya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pasrah saja. Tulisan saya memang begitu, mau diapakan lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu yang membuat saya antusias merangkul teknologi mesin ketik, lalu komputer. Tulisan tangan saya yang rombeng dan bisa bikin mata berbulu  tersembunyi aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang saya pikir menulis tangan tetap punya pesonanya sendiri. Saya merasa tulisan lebih mengalir di kertas. Mungkin karena tidak ada godaan untuk menekan tombol backspace, menghapus untuk memilih kata-kata yang lebih enak, lebih indah atau lebih rapi. Tidak ada godaan untuk memperbaiki tata bahasa yang kacau balau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tinta sudah ditorehkan, tidak ada kesempatan untuk kembali, kata-kata tidak bisa terhapus. Tulisan di atas kertas terasa lebih abadi dan tahan lama dibandingkan ketika ia hanya merupakan pulsa arus listrik di rangkaian elektronik komputer. &lt;span style="font-style:italic;"&gt; Scripta manent, verba volant&lt;/span&gt;, ungkapan yang berlaku untuk kalam, dawat dan kertas.&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/Bi3ELdMPsrI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/8394313081616480902/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=8394313081616480902&amp;isPopup=true" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8394313081616480902?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8394313081616480902?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/Bi3ELdMPsrI/menulis-di-kertas.html" title="Menulis di kertas" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2009/05/menulis-di-kertas.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkcASXs7eyp7ImA9WxVRFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-6074124658789696540</id><published>2009-01-23T13:58:00.000+07:00</published><updated>2009-01-23T14:00:48.503+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-01-23T14:00:48.503+07:00</app:edited><title>Kurus</title><content type="html">T: Bang, lu kok tambah kurus?&lt;br /&gt;J: Berat badan gue tetap. Kayaknya orang-orang di sekitar lu yang tambah gemuk.&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/o3976ABo8ZE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/6074124658789696540/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=6074124658789696540&amp;isPopup=true" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/6074124658789696540?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/6074124658789696540?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/o3976ABo8ZE/kurus.html" title="Kurus" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2009/01/kurus.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D04AQXgyfip7ImA9WxRXEUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-8062992774597994274</id><published>2008-10-16T20:52:00.003+07:00</published><updated>2008-10-16T21:05:40.696+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-10-16T21:05:40.696+07:00</app:edited><title>Indo atau Indon? Mencari nickname untuk  Indonesia</title><content type="html">Sebenarnya saya tidak berminat membahasnya, tapi jadi tergelitik karena posting &lt;a href="http://kramput.blogspot.com"&gt;Ikram&lt;/a&gt;. Yang jelas saya malas memperdebatkan. Indon itu menghina atau tidak. Kita lihat dari segi bahasa sajalah ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Indonesia itu panjang, jadi susah disebut. Begitu konon kata jiran kita. Lalu mereka memotong jadi Indon. Orang Indonesia menganggapnya sebagai ejekan, dan meminta disebut nama lengkap. Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya menemukan orang Indonesia sendiri suka menyingkat nama Indonesia. Bukan jadi Indon memang, tapi Indo. Pulang ke Indo, bertemu orang Indo di Amrik (singkatan lagi!), makanan Indo, dan seterusnya. Tentu saja, karena potongan yang satu ini berasal dari Indonesia  jadinya berasa lebih akrab dan jadi panggilan sayang. Dan tentu saja lebih terhormat dari potongan buatan Malaysia. Ya, Indon itu loh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberatan saya terhadap panggilan sayang Indo ada satu: ini artinya India atau Hindu. Orang Indonesia kebanyakan bukan orang India atau Hindu bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan Indon atau Indo, jadi apa dong &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nickname&lt;/span&gt; buat kita? Apa baiknya kita membuang bagian depan saja, jadi Nesia mungkin? Atau ada usul lain?&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/L1_L3xlmYgs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/8062992774597994274/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=8062992774597994274&amp;isPopup=true" title="5 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8062992774597994274?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8062992774597994274?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/L1_L3xlmYgs/indo-atau-indon-mencari-nickname-untuk.html" title="Indo atau Indon? Mencari nickname untuk  Indonesia" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2008/10/indo-atau-indon-mencari-nickname-untuk.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkcBQnwzfip7ImA9WxRTEUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-7403869842023087206</id><published>2008-08-31T18:09:00.003+07:00</published><updated>2008-08-31T19:00:53.286+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-08-31T19:00:53.286+07:00</app:edited><title>Istilah kelautan nusantara</title><content type="html">Cuma sebagai catatan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Angin&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;Angin haluan: angin dari arah haluan&lt;br /&gt;Angin buritan: angin dari arah buritan&lt;br /&gt;Angin sorong buritan: angin yang keras dari buritan&lt;br /&gt;Angin sakal: angin dari depan yang menghalangi pelayaran&lt;br /&gt;Angin paksa: angin yang memaksa perahu untuk membongkar sauh&lt;br /&gt;Angin tambang ruang: angin bertiup keras dari sisi perahu&lt;br /&gt;Angin ekor duyung: angin yang datang dari berbagai jurusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri atas angin: India, Arab, Iran, Eropa, Afrika&lt;br /&gt;Negeri bawah angin: negeri-negeri di Nusantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Awak kapal&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Perwira&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Nakhoda, kadang terbagi menjadi nakhoda laut yang mengurus perahu, dan nakhoda darat yang mengurus hal-hal yang dilakukan di darat (mengurus muatan, mencatat pengeluaran, penjualan)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Jurumudi: yang memegang kemudi&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Jurubatu: bertanggung jawab atas jangkar dan mencegah kapal tidak kandas. Tempatnya di haluan. Menggunakan batu untuk menduga kedalaman pelabuhan. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Mualim/mualim besar: pandu laut. Dibantu oleh mualim kecil/mualim angin yang bertanggung jawab atas tali, layar dan arah angin.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Tukang (setara dengan bintara)&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Tukang agung: kepala para tukang (kecuali tukang gantung layar)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Tukang kiri, tukang kanan bertugas di masing-masing sisi lambung&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Tukang petak: mengurus ruang-ruang (petak) dalam kapal&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Tukang tengah: bertugas di tengah kapal&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Tukang gantung layar: bawahan mualim angin&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Anak kapal&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Serang (mandor): kepala anak kapal&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Orang banyak: orang merdeka&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Orang abdi: budak&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Orang berutang&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Juragan merupakan pemilik kapal.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Lain-lain&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Orang turun penukan: orang berutang kepada nakhoda, tetapi punya wewenang tertentu di kapal&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Muda-muda: kadet, orang yang berlayar untuk mencari pengalaman. Tugasnya membantu nakhoda di darat dan mengawasi orang abdi&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kiwi: pedagang yang tidak ikut serta dalam tugas pelayaran. Pemimpinnya disebut maula kiwi&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Orang tumpang atau penumpang&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Orang senawi: penumpang yang tidak membayar orang tambang, dan sebagai gantinya bekerja di kapal&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Jenis kapal&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Gali, galai: galley (Ing.)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Galiung: galleon (Ing.)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Galiut: galeot (Ing.)&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Perahu&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Jung&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pergata: frigate (ing.)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pilang&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pencalang&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pila&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Gurpa&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sekunar: schoener (Bel.)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sekoci: schuitje (Bel.)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/kj1H52voBu4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/7403869842023087206/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=7403869842023087206&amp;isPopup=true" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7403869842023087206?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7403869842023087206?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/kj1H52voBu4/istilah-kelautan-nusantara.html" title="Istilah kelautan nusantara" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2008/08/istilah-kelautan-nusantara.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0UEQnc7eip7ImA9WxdbEkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-7658132652764271928</id><published>2008-08-09T23:26:00.001+07:00</published><updated>2008-08-09T23:26:43.902+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-08-09T23:26:43.902+07:00</app:edited><title>Tinjauan buku: Solusi untuk Indonesia</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;Tadi sore saya iseng jalan-jalan ke Toko Buku Gramedia di Plaza Semanggi. Di bagian buku-buku baru pandangan saya tertumbuk pada sebuah judul: Solusi untuk Indonesia: Prediksi Ekonofisik / kompleksitas. Saya berhenti sejenak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pertama, saya rasanya pernah membaca judul ini di bulletin board Friendster. Kedua, saya kenal salah satu pengarangnya, Hokky Situngkir. Saya menjumpainya pertama kali dulu, waktu kami masih sama-sama kuliah di ITB. Kemudian dia juga menjadi salah satu teman saya di Friendster. Ternyata inilah buku yang dipromosikannya di bulletin board tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Penasaran, saya pindai buku itu sejenak. Makin lama saya makin tertarik.  Kemudian saya memutuskan untuk membelinya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya tahu Hokky dan teman-temannya (beberapa di antaranya juga saya kenal) beberapa tahun lalu mendirikan lembaga penelitian yang diberi nama Bandung Fe Institute. Saya pernah diberi beberapa edisi jurnal terbitannya ketika berkunjung ke sana. Penelitian mereka banyak berkisar tentang ilmu sosial. Namun berbeda dengan lembaga penelitian sosial kemasyarakatan umumnya, mereka menggunakan pendekatan matematika dan fisika. Ketika itu sejujurnya saya agak skeptis. Sekilas yang saya temukan adalah berbagai model dan simulasi yang tidak didukung oleh data. Menarik, tapi tidak banyak data empiris. Saya kemudian tidak banyak menaruh perhatian lagi: ketertarikan saya pada matematika dan fisika sendiri saat itu sedang lemah-lemahnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya tidak mendengar lagi sepak terjang mereka (meskipun masih sering ke Bandung), sampai menemukan buku ini. Menarik. Buat saya, buku &lt;i&gt;Solusi untuk Indonesia&lt;/i&gt; bisa dibilang merupakan garis besar penelitian yang dilakukan Bandung Fe Institute  selama ini. Dalam buku ini dibeberkan berbagai permasalahan sosial di Indonesia, dengan matematika sebagai alat analisisnya. Atau, lebih tepatnya mungkin ekonofisika. Namun sebutan ekonofisika agak menyesatkan juga, karena yang dibahas tidak hanya ekonomi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Buat saya pribadi, yang paling menarik adalah bagian akhir yang diberi nama "Sebuah Catatan". Menurut saya ini adalah semacam manifesto para pengarang buku ini: bahwa masalah Indonesia memerlukan diagnosis dan perumusan yang lebih baik, dan bahwa ini memerlukan pertolongan metode kuantitatif yang lebih ketat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Metode kuantitatif cenderung dianggap tidak sesuai buat ilmu sosial (termasuk oleh saya sendiri), karena berbagai faktor, antara lain sukarnya melakukan percobaan dan memperoleh data, tidak seperti ilmu-ilmu alam. Menurut catatan di bagian akhir ini, jawabannya adalah Teori Kompleksitas. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam bagian ini juga diceritakan sekilas tentang latar belakang pendirian Bandung Fe Institute sendiri, mulai dari saat-saat para anggotanya masih di bangku kuliah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Judul Solusi untuk Indonesia menurut saya agak menyesatkan, karena&lt;br /&gt;kebanyakan isi buku ini hanyalah deskripsi permasalahan. Tidak ada&lt;br /&gt;solusi yang tegas. Namun menurut saya pernyataan dan perumusan masalah itu sendiri sudah langkah maju. Dan tiap ilmuwan yang baik tahu perumusan yang tepat adalah langkah pertama buat memecahkan masalah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/HC5e1v1Welo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/7658132652764271928/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=7658132652764271928&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7658132652764271928?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7658132652764271928?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/HC5e1v1Welo/tinjauan-buku-solusi-untuk-indonesia.html" title="Tinjauan buku: Solusi untuk Indonesia" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2008/08/tinjauan-buku-solusi-untuk-indonesia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUYDSXw4eSp7ImA9WxdVE00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-8093861930146135496</id><published>2008-07-17T21:19:00.005+07:00</published><updated>2008-07-17T22:06:18.231+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-17T22:06:18.231+07:00</app:edited><title>Huesca</title><content type="html">Sebenarnya saya ingin posting sajak ini setelah pulang dari Padang dulu. Konon puisi karya John Cornford ini salah satu kesukaan almarhum ayah saya. Chairil Anwar juga pernah menyadurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini ditulis ketika John Cornford ketika tergabung dengan Brigade Internasional, dalam Perang Saudara Spanyol. Judul aslinya adalah "To Margot Heinemann", namun di Indonesia sajak ini rupanya lebih dikenal dengan nama "Huesca", judul yang dipakai Chairil Anwar buat sadurannya. Dengan judul ini jugalah saya mendengarkan musikalisasi puisi di acara peringatan meninggalnya almarhum ayah. Ada pula yang menyebut judulnya sebagai "Heart of the heartless world", baris pertama dalam sajak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Cornford gugur sehari setelah ulang tahunnya yang kedua puluh satu, di front Cordoba, tanggal 28 Desember 1936. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;To Margot Heinemann&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;Heart of the heartless world,&lt;br /&gt;Dear heart, the thought of you&lt;br /&gt;Is the pain at my side,&lt;br /&gt;The shadow that chills my view.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The wind rises in the evening,&lt;br /&gt;Reminds that autumn is near.&lt;br /&gt;I am afraid to lose you,&lt;br /&gt;I am afraid of my fear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the last mile to Huesca,&lt;br /&gt;The last fence for our pride,&lt;br /&gt;Think so kindly, dear, that I&lt;br /&gt;Sense you at my side.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And if bad luck should lay my strength&lt;br /&gt;Into the shallow grave,&lt;br /&gt;Remember all the good you can;&lt;br /&gt;Don't forget my love.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saduran Chairil Anwar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;Huesca&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;Jiwa di dunia yang hilang jiwa&lt;br /&gt;jiwa sayang, kenangan padamu&lt;br /&gt;adalah derita di sisiku&lt;br /&gt;bayangan yang bikin tinjauan beku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin bangkit ketika senja&lt;br /&gt;mengingat musim gugur akan tiba&lt;br /&gt;aku cemas akan kehilangan kau..&lt;br /&gt;aku cemas pada kecemasanku,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di batu penghabisan ke Huesca&lt;br /&gt;pagar penghabisan dari kebanggaan kita&lt;br /&gt;kenanglah sayang, dengan mesra&lt;br /&gt;kau kubayangkan di sisiku ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan jika untung malang menghamparkan&lt;br /&gt;aku dalam kuburan dangkal&lt;br /&gt;ingatlah sebisamu segala yang baik&lt;br /&gt;dan cintaku yang kekal.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;Bacaan lebih lanjut&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.counterpunch.org/galloway07212006.html"&gt;John Cornford and the Fight for the Spanish Republic&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.dailymirror.lk/2004/01/31/feat.asp"&gt;English poet who died in Spain&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Cornford"&gt;Wikipedia: John Cornford&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/hP1swCoBxvk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/8093861930146135496/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=8093861930146135496&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8093861930146135496?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8093861930146135496?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/hP1swCoBxvk/huesca.html" title="Huesca" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2008/07/huesca.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkECQXY9eSp7ImA9WxdXGUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-7812447700607832050</id><published>2008-07-02T17:52:00.003+07:00</published><updated>2008-07-02T18:37:40.861+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-02T18:37:40.861+07:00</app:edited><title>Structured Procrastination</title><content type="html">Tugas-tugas saya sekarang mulai banyak bertumpuk. Begitu pula proyek pribadi dan janji-janji. Dan belum ada satu pun yang berhasil saya kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali mengisi blog ini, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering menuduh diri sendiri sebagai pemalas. Namun sebagai pembelaan, mungkin sebenarnya saya tidak malas-malas amat. Hanya suka menunda-nunda pekerjaan saja. Biasanya ini dianggap sifat buruk. Namun ketika saya sedang menunda-nunda tugas dengan cara berselancar di web beberapa waktu lalu, saya menemukan konsep yang mengakali sifat buruk satu ini. Namanya '&lt;a href="http://www.structuredprocrastination.com/"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Structured Procrastination&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis esai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Structured Procrastionation&lt;/span&gt;n orang-orang yang suka menunda-nunda pekerjaan sebenarnya bukan pemalas. Mereka memang tidak mengerjakan hal yang 'seharusnya'. Namun tidak berarti mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya mengerjakan hal lain, untuk menghindari tugas yang 'lebih penting.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Profesor John Perry, yang menulis esai tersebut buat menunda tugas-tugas lainnya, mengusulkan satu cara untuk masih bisa mengerjakan hal-hal berguna, walaupun sebenarnya kita juga masih menunda. Menurutnya kita cenderung mengurutkan tugas-tugas dalam daftar berdasarkan urgensi dan kepentingannya. Tugas-tugas paling penting dan paling urgen akan berada di urutan teratas. Orang yang suka menunda-nunda pekerjaan, procrastinator, akan menghindari melakukan pekerjaan yang ditaruh paling atas itu, dan akan mengerjakan tugas-tugas lain terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melakukannya saat ini dengan menulis posting blog ini. Pada saat ini (daftar tanpa urutan prioritas atau urgensi) saya harus menulis artikel untuk lapsus, memesan tiket pesawat, bikin paspor, menulis artikel sisipan, menyelesaikan review notebook, mengerjakan rencana-rencana cerita fiksi, dan masih banyak lagi lainnya. Namun karena saya malas mengerjakan semuanya saya malah menyentuh blog saya yang sudah lama tidak disentuh lagi ini, yang sebenarnya cukup penting juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Perry, triknya adalah menaruh tugas-tugas yang 'seolah-olah penting dan perlu dapat prioritas' di urutan nomor satu. Namun sebenarnya tugas-tugas ini tidaklah merupakan yang paling penting atau paling urgen. Ini tentu perlu sedikit kemampuan buat menipu diri sendiri. Tapi menurut Perry, para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;procrastinator&lt;/span&gt; umumnya juga ahli dalam bidang menipu diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas-tugas yang bisa dilakukan untuk menunda tugas lain yang lebih 'penting' &lt;a href="http://www.pickthebrain.com/blog/14-ways-to-procrastinate-productively/"&gt; dibahas lebih jauh oleh John Wesley&lt;/a&gt;.&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/uQ-IMO1dgNc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/7812447700607832050/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=7812447700607832050&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7812447700607832050?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/7812447700607832050?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/uQ-IMO1dgNc/structured-procrastination.html" title="Structured Procrastination" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2008/07/structured-procrastination.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQFSHs-eSp7ImA9WxdSFkk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5625843.post-8526241026374040078</id><published>2008-05-24T22:12:00.001+07:00</published><updated>2008-05-24T23:41:59.551+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-05-24T23:41:59.551+07:00</app:edited><title>Rupa-rupa</title><content type="html">&lt;div xmlns='http://www.w3.org/1999/xhtml'&gt;&lt;div style=''&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Meskipun harga minyak sudah naik tapi ongkos angkutan umum belum menyesuaikan diri. Aku tadinya sudah bersiap-siap mengeluarkan uang lebih buat bemo, tapi supirnya masih mau menerima Rp 2000. Kiranya ini tak akan bertahan lama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jalan-jalan ke Gramedia Plaza Semanggi dan menemukan satu edisi lain Max Havelaar. Sebelumnya aku sudah pernah baca terjemahan HB Jassin (yang juga dijual). Terjemahan baru ini rasanya kurang menggigit, terutama pada kalimat terakhir. Jassin menggunakan kata 'menghisap', sedangkan terjemahan baru 'mengeksploitasi'. Terlalu panjang dan kurang bunyi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Omong-omong soal terjemahan buku lagi: edisi bahasa Indonesia karya Christine Dobbins&lt;i&gt;, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847&lt;/i&gt; diterbitkan lagi. Sebelumnya ini juga pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Belum tahu apakah ini terjemahan baru atau bukan, karena buku itu masih dibungkus plastik. Yang jelas judul terjemahannya jauh diubah, dan lebih menekankan pada Perang Padri yang malah tidak dipasang sebagai judul di buku aslinya. Dobbins sebenarnya memang membahas Perang Padri, tapi dengan menekankan aspek ekonominya. Konflik tersebut dilihat sebagai pertentangan antara negeri-negeri yang meningkat perekonomiannya akibat tanaman keras (a.l kopi, gambir, kulit manis) dengan negeri-negeri penghasil emas (yang dikendalikan oleh keluarga Kerajaan Pagaruyung). Dalam sejarah Indonesia biasanya  Perang Padri ditampilkan sebagai perang melawan penjajah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akhirnya mendapat pemecahan latihan beban tanpa membeli barbel. Caranya dengan menggunakan dua laptop (kira-kira 4,5 kg)  yang dimasukkan ke dalam tas. Bisa digunakan sebagai beban untuk latihan otot bisep, beban jongkok berdiri, dan &lt;i&gt;push-up&lt;/i&gt;.&lt;br/&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/KumpulanCatatan/~4/03OOicewe1Q" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://gombang.blogspot.com/feeds/8526241026374040078/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5625843&amp;postID=8526241026374040078&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8526241026374040078?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5625843/posts/default/8526241026374040078?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/KumpulanCatatan/~3/03OOicewe1Q/rupa-rupa.html" title="Rupa-rupa" /><author><name>Gombang Nan Cengka</name><uri>https://plus.google.com/116216773581870006207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-H2XbZ2aZ2sw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABAw/W94_6TFHTo0/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://gombang.blogspot.com/2008/05/rupa-rupa.html</feedburner:origLink></entry></feed>
