<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325</id><updated>2024-11-06T09:48:42.315+07:00</updated><category term="Puisi Tentang Cinta"/><category term="Berbagi Kisah Mengharukan"/><category term="Puisi Karyaku Sendiri"/><category term="Puisi Bahasa Inggris"/><category term="Puisi Bebas"/><category term="Kata-Kata Indah"/><category term="Puisi Malam"/><category term="Puisi Tentang Alam"/><category term="Kata Mutiara"/><category term="Cerpen"/><category term="Music Video (Lagu) Favorite Admin"/><category term="Puisi Untuk Ayah dan Ibu"/><category term="Puisi Persahabatan"/><category term="Bebas Posting"/><category term="Puisi Untuk Guru"/><title type='text'>Kumpulan Puisi - Kata Mutiara dan Kisah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>174</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-6725174780945750050</id><published>2014-03-23T03:30:00.000+07:00</published><updated>2014-03-23T03:30:01.224+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Karyaku Sendiri"/><title type='text'>[CERPEN] Dari Sebuah Desa yang Sederhana</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgw5PJLGPp9BZCv0VKeHJpHnVqyIRyb6F2vqvg40XQxTqMM1Rt2mo-Y10lTe8_VnwnRoT2jIQhUiSYEODZPhqaRVXHhnt44GPicQqF-Dh8hF5fAKVp5_lGyBtua5wxtuBjlKuxjARvuqg8/s1600/puisi_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgw5PJLGPp9BZCv0VKeHJpHnVqyIRyb6F2vqvg40XQxTqMM1Rt2mo-Y10lTe8_VnwnRoT2jIQhUiSYEODZPhqaRVXHhnt44GPicQqF-Dh8hF5fAKVp5_lGyBtua5wxtuBjlKuxjARvuqg8/s1600/puisi_n.jpg&quot; height=&quot;265&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
Kumpulan Puisi - Cerpen cinta yang mengharukan, paling romantis dan paling sedih.. Dari sebuah desa yang sederhana..&lt;/blockquote&gt;
~ Judul : &lt;b&gt;&quot;Gadis dan Bunga&quot;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(Itu tidak judul sebenarnya) &lt;i&gt;&#39;Hidden&#39;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;~ Karya sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Trailer:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah desa yang indah dan penuh warna-warni hiduplah seorang gadis yang cantik dan baik hati. Namanya Ellen. Sekolah di SMA Swasta Mutiara. Dia dari kalangan orang kaya. Ibunya super ramah serta bijaksana dan Ayahnya super galak dan tidak suka kepada seorang lelaki yang dekati putrinya. Mereka hidup bahagia dan apa yang diminta putrinya akan dipenuhi kedua orang tuanya karena putrinya adalah putri satu-satunya (tunggal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa sebelah ada seorang pemuda rendah hati bernama Jimmy. Kehidupannya sederhana. Pemuda tersebut mempunyai seorang Ibu dan Ayahnya telah lama meninggal dunia. Dalam hari-hari pemuda tersebut, selain bersekolah ia juga membantu Ibunya bekerja diladang, membantu pekerjaan rumah karena ia tidak ingin Ibunya bekerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari dalam sore yang cerah penuh warna, Jimmy sedang duduk santai di warung bang Rongit yang rindang, menikmati segelah teh manis. Orang-orang dari ladang sedang berpulang. Anak-anak kecil sedang bermain kelereng dan ada yang sedang kejar-kejaran. Di kejauhan, anak pengembala sedang menuntun kerbaunya untuk pulang. Indahnya sore di desa yang penuh warna warni itu sungguh tak terkatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kejauhan yang samar, Jimmy melihat sosok wanita yang cantik. Jimmy terpana akan sosok tersebut. Dan ternyata wanita itu adalah Ellen tapi Jimmy belum terlalu kenal dengan Ellen. Dia cuma tau namanya aja dan itupun dari cerita teman-temannya di desa dan sekolah. Jimmy salah tingkah karena Ellen ternyata menuju warung bang Rongit untuk membeli sesuatu.. &lt;i&gt;Bersambung....&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
Coming Soon !! [....]&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote&gt;
Masih tahap pembuatan, selesai mungkin agak lama karena belum mahir dalam membuat cerpen..&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/6725174780945750050/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2014/03/cerpen-dari-sebuah-desa-yang-sederhana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/6725174780945750050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/6725174780945750050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2014/03/cerpen-dari-sebuah-desa-yang-sederhana.html' title='[CERPEN] Dari Sebuah Desa yang Sederhana'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgw5PJLGPp9BZCv0VKeHJpHnVqyIRyb6F2vqvg40XQxTqMM1Rt2mo-Y10lTe8_VnwnRoT2jIQhUiSYEODZPhqaRVXHhnt44GPicQqF-Dh8hF5fAKVp5_lGyBtua5wxtuBjlKuxjARvuqg8/s72-c/puisi_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-665873702825722438</id><published>2014-03-22T03:44:00.001+07:00</published><updated>2014-03-22T03:44:17.718+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Untuk Ayah dan Ibu"/><title type='text'>Malaikat Penjaga</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWIx5YPiqIVv6JdpXrGQZVtxvg8vfn97SI1Iv30zqlKNx_t7PTMgJXA6INh_bNzAxdQCHTVAxmasfxk1j0zPDY_tjFv0RXX2HJbSbkirQN-_LO9At5NgLHKSt1zxRzEOY95GSrLei-6EQ/s1600/malaikat.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWIx5YPiqIVv6JdpXrGQZVtxvg8vfn97SI1Iv30zqlKNx_t7PTMgJXA6INh_bNzAxdQCHTVAxmasfxk1j0zPDY_tjFv0RXX2HJbSbkirQN-_LO9At5NgLHKSt1zxRzEOY95GSrLei-6EQ/s1600/malaikat.jpeg&quot; height=&quot;310&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau benar.&lt;br /&gt;Engkau rela membiarkan cahaya mentarimu mengelilingi bumi. Membiarkan mereka terbang dengan sayap kegigihan, membiarkan mereka menari-nari diatas api cobaan, merelakan cahaya yang engkau harapakan-redup tak terlihat olehmu sementara waktu. Wahai malaikat penjaga kami...!!. ada maksud lain dibalik semua itu. Ya, ada bintang diantara kegelapan malam. Bukankah engkau hanya berharap agar mentarimu tetap bersinar di puncak tertinggi sana?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau benar.&lt;br /&gt;Engkau mengajarkan kami keberanian untuk berkelana ke sudut terpencilpun. Di saat kondisi mengharuskan kami mundur sekali, namun engkau mengarahkan kami untuk maju dua kali. Engkau menanamkan kami keikhlasan, penerimaan yang tulus, kesederhanaan. Engkau mencontohkan kepada kami agar belajar kesabaran dari orang yang gelisah, belajar kedermawanan dari orang yang kikir, belajar kegigihan dari orang yang seringkali gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau benar.&lt;br /&gt;Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan kami berkelana sebagaimana mestinya. Biarkanlah angin merengkuh kami, membawa kami pergi entah kemana. Lantas kami akan mengerti, kami akan memahami, dan kami akan menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau benar.&lt;br /&gt;Bahwa hidup penuh dengan keberagaman. Berbagi keindahan, menerbarkan cinta, menyemai kebaikan, memahami cobaan, menyayangi sesama, mengindahkan kehidupan. Maka kami akan tersenyum, meyakini dalam hati bahwa kehidupan adalah milik-Nya, kami akan merasa bahwa kehidupan yang indah adalah titipan dari-Nya, kami akan bahagia bahwa kalianlah orang terhebat dalam hidup kami wahai malaikat penjaga kami. Ayah Ibu..!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://redtorza.blogspot.com/2013/07/malaikat-penjaga.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;From&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/665873702825722438/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2014/03/malaikat-penjaga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/665873702825722438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/665873702825722438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2014/03/malaikat-penjaga.html' title='Malaikat Penjaga'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWIx5YPiqIVv6JdpXrGQZVtxvg8vfn97SI1Iv30zqlKNx_t7PTMgJXA6INh_bNzAxdQCHTVAxmasfxk1j0zPDY_tjFv0RXX2HJbSbkirQN-_LO9At5NgLHKSt1zxRzEOY95GSrLei-6EQ/s72-c/malaikat.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-3217732950970123157</id><published>2013-12-05T05:47:00.000+07:00</published><updated>2014-03-22T15:58:16.408+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berbagi Kisah Mengharukan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kata-Kata Indah"/><title type='text'>Ketika Tuhan Menciptakan Wanita [Keren]</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCm_3De0hboY_dFuhpQDLWxkVK4NBWZk-WA7gE8Csk3NeW5CPGNqNotoblsjGuHKFwD5ltu-OUdDdaqkY5PQyv12sIsPb41bMUxoxvMTwMuiXFW6kFQJb7x3npzq_kkx3PNi5U2VPVr38/s1600/9Qj41872.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCm_3De0hboY_dFuhpQDLWxkVK4NBWZk-WA7gE8Csk3NeW5CPGNqNotoblsjGuHKFwD5ltu-OUdDdaqkY5PQyv12sIsPb41bMUxoxvMTwMuiXFW6kFQJb7x3npzq_kkx3PNi5U2VPVr38/s1600/9Qj41872.jpg&quot; height=&quot;400&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;b&gt;Kumpulan Puisi&lt;/b&gt; - Ketika tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,&lt;br /&gt;
&quot;mengapa begitu lama menciptakan wanita, tuhan?&quot;&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Tuhan menjawab,&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?&quot;
 lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, 
punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan 
semua itu hanya dengan dua tangan&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malaikat menjawab dan takjub,&lt;br /&gt;
&quot;hanya dengan dua tangan? Tidak mungkin!&lt;br /&gt;
Tuhan menjawab,&lt;br /&gt;
&quot;tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,&lt;br /&gt;
&quot;tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?&quot;&lt;br /&gt;
tuhan menjawab,&lt;br /&gt;
&quot;itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;untuk apa?&quot;, tanya malaikat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6BI56pZlKyFg2N4iG0z-r0nglCFienIogOE4vF2vPskR4suBDWJlIDv7qooUqBDk7_tw7iKxtbobPWxmitb7TyQdhUbdod5h-f48uT7bbXYrenwmQPPmYcdIwY3aV_SouMm3BagWFleK3/s1600/images.jpeg&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6BI56pZlKyFg2N4iG0z-r0nglCFienIogOE4vF2vPskR4suBDWJlIDv7qooUqBDk7_tw7iKxtbobPWxmitb7TyQdhUbdod5h-f48uT7bbXYrenwmQPPmYcdIwY3aV_SouMm3BagWFleK3/s1600/images.jpeg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tuhan melanjutkan,&lt;br /&gt;
&quot;air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, 
kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita 
ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan
 yang dimiliki wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan 
kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya 
menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan 
tertawa saat ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan 
ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia 
girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia 
mendengar suara kelahiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia 
mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat 
menyembuhkan luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Cintanya tak bersyarat. Hanya ada satu yang kurang dari wanita, dia sering lupa betapa berharganya dia..&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/3217732950970123157/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2013/12/ketika-tuhan-menciptakan-wanita-keren.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3217732950970123157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3217732950970123157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2013/12/ketika-tuhan-menciptakan-wanita-keren.html' title='Ketika Tuhan Menciptakan Wanita [Keren]'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCm_3De0hboY_dFuhpQDLWxkVK4NBWZk-WA7gE8Csk3NeW5CPGNqNotoblsjGuHKFwD5ltu-OUdDdaqkY5PQyv12sIsPb41bMUxoxvMTwMuiXFW6kFQJb7x3npzq_kkx3PNi5U2VPVr38/s72-c/9Qj41872.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-5919604981525293081</id><published>2013-02-27T22:39:00.001+07:00</published><updated>2014-03-22T03:00:07.844+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kata-Kata Indah"/><title type='text'>Coba Renungkan Kata - Kata Indah Ini</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLGjFjlupUpu05wegOzKJgM2OKGegdz8mr08DiV4eMFDkCieFdp1wh832oBIi8s3rExDCLDOHCrEQZdv2xISlbFNim1LfC1BQX4d4jsAvw6Oi8Bnq8CBkPezYW8d7ZJd8g2FqzmLUZrKc/s1600/perenungan-diri.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLGjFjlupUpu05wegOzKJgM2OKGegdz8mr08DiV4eMFDkCieFdp1wh832oBIi8s3rExDCLDOHCrEQZdv2xISlbFNim1LfC1BQX4d4jsAvw6Oi8Bnq8CBkPezYW8d7ZJd8g2FqzmLUZrKc/s1600/perenungan-diri.jpg&quot; height=&quot;400&quot; width=&quot;391&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;b&gt;KumpulanPuisi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; - Coba Renungkan Kata - Kata Indah Ini&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Berfikirlah tentang awan&lt;br /&gt;
bukankah manusia sudah terlalu terbiasa dengan awan&lt;br /&gt;
hingga kadang mereka tidak menyadari keberadaannya&lt;br /&gt;
bahkan enggan untuk sekedar memandangnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah matahari&lt;br /&gt;
kehidupan planet ini&lt;br /&gt;
yang setiap hari menerangi belahan bumi&lt;br /&gt;
memancarkan cahaya dan kehidupan inti&lt;br /&gt;
sudah terlalu biasa untuk sekedar diperhatikan&lt;br /&gt;
bahkan untuk sekedar disadari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah manusia sudah terlalu terbiasa dengan begitu banyak kenikmatan di dunia ini&lt;br /&gt;
hingga mereka lupa untuk sekedar&lt;br /&gt;
memandangnya…&lt;br /&gt;
memikirkannya…&lt;br /&gt;
mensyukurinya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu pikirkan Tuhan&lt;br /&gt;
nikmat yang terlampau banyak membuat manusia terbiasa dengannya&lt;br /&gt;
hingga mereka lupa menyadarinya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nikmat kehidupan dari hari ke hari membuat manusia terlalu terbiasa dengannya&lt;br /&gt;
hingga mereka lupa untuk menyadarinya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nikmat sehat baru disadari saat sekarat&lt;br /&gt;
nikmat harta baru terasa saat tidak punya apa-apa&lt;br /&gt;
dan keluarga tercinta hanyalah hiasan hidup semata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi yang dilupakan?&lt;br /&gt;
menghitungnya akan membuatmu terbunuhmu secara perlahan…&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;KumpulanPuisi&lt;/b&gt;

&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/5919604981525293081/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2013/02/coba-renungkan-kata-kata-indah-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/5919604981525293081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/5919604981525293081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2013/02/coba-renungkan-kata-kata-indah-ini.html' title='Coba Renungkan Kata - Kata Indah Ini'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLGjFjlupUpu05wegOzKJgM2OKGegdz8mr08DiV4eMFDkCieFdp1wh832oBIi8s3rExDCLDOHCrEQZdv2xISlbFNim1LfC1BQX4d4jsAvw6Oi8Bnq8CBkPezYW8d7ZJd8g2FqzmLUZrKc/s72-c/perenungan-diri.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-3650615215177893988</id><published>2013-01-10T18:21:00.000+07:00</published><updated>2013-01-10T18:21:32.228+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Karyaku Sendiri"/><title type='text'>Sesederhana Itu (Kata Indah Ku)</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnLxw4moWNr3nVZZmHseIdMeYxEBCRdAHtwY-tQScKEcZvT6cBmdX6v_nzUi33PjG2RSLlY04_ettkdRraNl-ex_SNTv6xGwArALoonBiP00EsYCRVUNUxFU-9QDK6fC0g8OW_SmEnPSw/s1600/155437_551203218242310_536574146_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;298&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnLxw4moWNr3nVZZmHseIdMeYxEBCRdAHtwY-tQScKEcZvT6cBmdX6v_nzUi33PjG2RSLlY04_ettkdRraNl-ex_SNTv6xGwArALoonBiP00EsYCRVUNUxFU-9QDK6fC0g8OW_SmEnPSw/s400/155437_551203218242310_536574146_n.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;color: red;&quot;&gt;KumpulanPuisi -&lt;/b&gt; Kata indah &lt;b&gt;2012 - 2013&lt;/b&gt;. Mengartikan kepada seseorang.&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mungkin memang tidak ada yang abadi. Sampai sekarang masih tetap begitu. Yang kecil akan bertambah besar. Yang mekar akan mulai layu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Meski aku ingin kebersamaan ini berlangsung selamanya, aku harus berbesar hati menerima kenyataan&quot;.. Kau dengan dia.. Karena kenyataan berbicara berbeda. Aku bukan siapa-siapa yang dapat mengalahkan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak dapat menggetarkan malam. Aku hanya dapat membangunkan malam dengan suaraku. Sesederhana itu. Biarkan ini semua terjadi. Ini semua hanya untukmu, karena aku tidak kuat berbicara langsung kepadamu. Biarkan malam yang menyampaikan, karena malam mengerti tentang yang kulalui sebelumnya. ~&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;https://twitter.com/adakau&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;@adakau&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/3650615215177893988/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2013/01/sesederhana-itu-kata-indah-ku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3650615215177893988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3650615215177893988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2013/01/sesederhana-itu-kata-indah-ku.html' title='Sesederhana Itu (Kata Indah Ku)'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnLxw4moWNr3nVZZmHseIdMeYxEBCRdAHtwY-tQScKEcZvT6cBmdX6v_nzUi33PjG2RSLlY04_ettkdRraNl-ex_SNTv6xGwArALoonBiP00EsYCRVUNUxFU-9QDK6fC0g8OW_SmEnPSw/s72-c/155437_551203218242310_536574146_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-1530702777914402652</id><published>2012-12-11T01:20:00.000+07:00</published><updated>2013-11-24T06:35:03.103+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bebas Posting"/><title type='text'>Tukaran Link yuk</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;center&gt;
&lt;img alt=&quot;Kumpulan Puisi Dan Kisah&quot; height=&quot;85px; &quot; id=&quot;Header1_headerimg&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcn9b3ey07O5AUvVR9BGlfZJA4uurPm7S3C0Ze9iJa2dHihjnD8-fiyDh_eDykjel95zj5-so5pKLRBFLUReNr3GBM0DSEHf42ReSUXZqJkfOgurjLvorV2tZwdWa2bnNFHxj_k3c5bhc/s1600/cooltext847891599.png&quot; style=&quot;display: block;&quot; width=&quot;300px; &quot; /&gt;&lt;/center&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;form name=&quot;copy&quot;&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;
&lt;input onclick=&quot;javascript:this.form.txt.focus();this.form.txt.select();&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;Highlight All&quot; /&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;
&lt;textarea cols=&quot;55&quot; name=&quot;txt&quot; rows=&quot;100&quot; style=&quot;height: 100px; width: 200px;&quot; wrap=&quot;VIRTUAL&quot;&gt;&lt;a href=&#39;http://adakau.com/&#39; rel=&#39;nofollow&#39; style=&#39;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&#39; target=&#39;_blank&#39;&gt;&lt;img alt=&#39;Kumpulan Puisi Dan Kisah&#39; height=&#39;85px; &#39; id=&#39;Header1_headerimg&#39; src=&#39;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcn9b3ey07O5AUvVR9BGlfZJA4uurPm7S3C0Ze9iJa2dHihjnD8-fiyDh_eDykjel95zj5-so5pKLRBFLUReNr3GBM0DSEHf42ReSUXZqJkfOgurjLvorV2tZwdWa2bnNFHxj_k3c5bhc/s1600/cooltext847891599.png&#39; style=&#39;display: block&#39; width=&#39;300px; &#39;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/form&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Cara pemasangan &quot;Link&quot; kami di website Anda;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Klik &quot;Highlight All&quot; untuk copy seluruh codenya, dan pastekan di blog anda. Pilih &lt;b&gt;Tata Letak&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Tambah Gadget&lt;/b&gt;, pastekan di &lt;b&gt;HTML/JavaScript&lt;/b&gt; Anda.
Anda juga dapat merubah ukuran fotonya sesuai ukuran yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Anda tidak ingin ada fotonya tertampil, Anda bisa juga hanya memasang link kami pada website Anda.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Contoh;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Instruksi;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Jika Link kami telah Anda pasang pada website Anda, Silahkan beri komentar pada kotak komentar yang tertera dibawah ini. Kami akan linkback (akan pasang link Anda pada website kami ini). &lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;NB;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Tukaran link ini kami buat agar memperindah dan mempererat tali persaudaraan antar kita (para blogger). Dan yang pastinya &lt;b&gt;Tukaran Link&lt;/b&gt; ini tidak dalam keadaan PAKSAAN !!.. Terima Kasih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Admin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;1&quot; style=&quot;width: 550px;&quot;&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt; &lt;th colspan=&quot;100%&quot; scope=&quot;col&quot;&gt;Link Sahabat&lt;/th&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div style=&quot;font-family: arial; font-size: 12px; height: 150px; overflow: scroll; width: 550px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;overflow: hidden; padding: 0 px; text-align: center; width: 100%;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://anehdan-nyata.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;1. http://anehdan-nyata.blogspot.com/ &lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://siantar-community.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;2. http://siantar-community.com/ &lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/1530702777914402652/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/tukaran-link-yuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/1530702777914402652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/1530702777914402652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/tukaran-link-yuk.html' title='Tukaran Link yuk'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcn9b3ey07O5AUvVR9BGlfZJA4uurPm7S3C0Ze9iJa2dHihjnD8-fiyDh_eDykjel95zj5-so5pKLRBFLUReNr3GBM0DSEHf42ReSUXZqJkfOgurjLvorV2tZwdWa2bnNFHxj_k3c5bhc/s72-c/cooltext847891599.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-5560297462671814317</id><published>2012-12-10T22:06:00.001+07:00</published><updated>2012-12-10T22:06:54.939+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Karyaku Sendiri"/><title type='text'>Tak Ada Alasan (Puisi karyaku)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZFpBahBLrBzPTS2kCY-NcXzZ0aPnLVAW5ufV3SmwZZWgc2_gw-gMH1pZa1FrJI9vspDQdizcHOwTW1czWT9YmK5yPbZb_l-DBp1MMz0Opto8g687rIunE8nQESqXjdyOpr8-pVvrTGFM/s1600/adakau.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZFpBahBLrBzPTS2kCY-NcXzZ0aPnLVAW5ufV3SmwZZWgc2_gw-gMH1pZa1FrJI9vspDQdizcHOwTW1czWT9YmK5yPbZb_l-DBp1MMz0Opto8g687rIunE8nQESqXjdyOpr8-pVvrTGFM/s400/adakau.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: lime;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuisi&lt;/b&gt; - &lt;u&gt;Tak Ada Alasan&lt;/u&gt; by &lt;b style=&quot;color: blue;&quot;&gt;Marco/ Valen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sabtu 21 January 2012&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fbPhotosPhotoCaption&quot; id=&quot;fbPhotoPageCaption&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;span class=&quot;hasCaption&quot;&gt;Kehidupan ini telah berubah sejak kehadiranmu,&lt;br /&gt; Hatiku dan hatimu bagai satu dipenjara.&lt;br /&gt; Hari ketika kau datang kepada ku,&lt;br /&gt; Dan itu membuat ku bahagia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dunia adalah suatu tempat yang indah,&lt;br /&gt; Bagi kita untuk hidup bahagia.&lt;br /&gt; Wajah mu telah meluncurkan seribu kapal indah,&lt;br /&gt; Namun pelabuhan mu sekarang di sini dengan ku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Setiap pagi ketika aku bangun,&lt;br /&gt; Dan merasa kau sampingku.&lt;br /&gt; Aku bersumpah aku tidak bisa meminta lebih,&lt;br /&gt; Cinta yang kau berikan kepada ku itu sudah cukup bagiku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kau membawa cahaya untuk kegelapan ku,&lt;br /&gt; Kau obatnya terhadap rasa sakitku.&lt;br /&gt; Kau membuatku bahagia ketika aku sedih,&lt;br /&gt; Dan menangkap air mata ku ketika mulai jatuh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Aku menyaksikan matahari terbenam dalam matamu,&lt;br /&gt; Dan merasakan pelukan hangat darimu.&lt;br /&gt; Kau mengambil awan gelap dari langit ku,&lt;br /&gt; Kau membantu ku menghapus semua ketakutan yang ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Aku sangat memberkati engkau,&lt;br /&gt; Ini untuk keabadian kau dan aku.&lt;br /&gt; Dan aku berdoa agar kita tidak akan pernah terpisah,&lt;br /&gt; Selamanya kau dan aku sampai kehidupan ini hilang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tidak ada alasan untuk tidak mencintaimu.&lt;br /&gt; Ingatlah masih ada tempat untuk kita di sana.&lt;br /&gt; Tempat kita berdua di saat usia kita menua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Aku mencintaimu dan tidak ada alasan untuk ku tidak mencintaimu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/5560297462671814317/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/tak-ada-alasan-puisi-karyaku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/5560297462671814317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/5560297462671814317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/tak-ada-alasan-puisi-karyaku.html' title='Tak Ada Alasan (Puisi karyaku)'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZFpBahBLrBzPTS2kCY-NcXzZ0aPnLVAW5ufV3SmwZZWgc2_gw-gMH1pZa1FrJI9vspDQdizcHOwTW1czWT9YmK5yPbZb_l-DBp1MMz0Opto8g687rIunE8nQESqXjdyOpr8-pVvrTGFM/s72-c/adakau.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-7135784741435965390</id><published>2012-12-10T04:24:00.000+07:00</published><updated>2012-12-10T04:24:09.672+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Tentang Cinta"/><title type='text'>&quot;Pelukan&quot; Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghHY4en7y82sb8u5bobcwOIp96YKlHjdRLASDjUkhsM7sIioxJG88yeU0NMh6JRKJIJSCqyZzSPfbiP1ktA8RZVoDkWM_3me0s9rxWnSoNQbwRoV-oen3UJoALcKWV7jM7mfPiIfZ6RlM/s1600/adakau.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;271&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghHY4en7y82sb8u5bobcwOIp96YKlHjdRLASDjUkhsM7sIioxJG88yeU0NMh6JRKJIJSCqyZzSPfbiP1ktA8RZVoDkWM_3me0s9rxWnSoNQbwRoV-oen3UJoALcKWV7jM7mfPiIfZ6RlM/s400/adakau.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuisi&lt;/b&gt; - Pelukan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;color: cyan;&quot;&gt;(1). Sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?&lt;/b&gt;&lt;span class=&quot;hasCaption&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
masih aku ingat pertanyaanmu itu&lt;br /&gt;
dulu aku tak bisa menjawabnya&lt;br /&gt;
tetapi begitulah kau, selalu begitu,&lt;br /&gt;
jika ada pertanyaan kau lontarkan&lt;br /&gt;
sudah kau siapkan juga jawaban&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lenganmu memang terlalu pendek buat tubuhmu&lt;br /&gt;
tetapi tentu saja cukup panjang buat tubuhku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu kau merasuk ke dalam pelukanku&lt;br /&gt;
dan berdiam di sana&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
masih kau simpan pelukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kita bertanya serempak&lt;br /&gt;
lalu sama-sama terbahak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pelukanlah satu-satunya&lt;br /&gt;
jawaban atas pertanyaan itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu benam kita ke dalam kenangan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;color: red;&quot;&gt;(2). Istriku lebih suka memeluk dari pada berkata-kata:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku mencintaimu, nak!&lt;br /&gt;
aku mencintaimu, pak!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seolah-olah dua lengannya&lt;br /&gt;
bisa menyampaikan semua rahasia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
anak-anak kami tumbuh&lt;br /&gt;
lebih mencintai lengan dari pada kata-kata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
itulah sebabnya istriku setiap malam&lt;br /&gt;
berdoa agar ia bisa jadi seekor gurita&lt;br /&gt;
dan semua kami bisa masuk ke dalam&lt;br /&gt;
pelukan tangan-tangannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;color: #f1c232;&quot;&gt;(3). Satu per satu tubuh akan lepas dari pelukan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu lengan-lengan kita&lt;br /&gt;
mulai mengenal sengketa&lt;br /&gt;
mulai mengenal senjata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tubuh memang ditakdirkan&lt;br /&gt;
awalnya jadi milik pelukan&lt;br /&gt;
lalu kemudian milik peluru&lt;br /&gt;
**&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/7135784741435965390/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/pelukan-sudahkah-kau-memeluk-dirimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/7135784741435965390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/7135784741435965390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/pelukan-sudahkah-kau-memeluk-dirimu.html' title='&quot;Pelukan&quot; Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghHY4en7y82sb8u5bobcwOIp96YKlHjdRLASDjUkhsM7sIioxJG88yeU0NMh6JRKJIJSCqyZzSPfbiP1ktA8RZVoDkWM_3me0s9rxWnSoNQbwRoV-oen3UJoALcKWV7jM7mfPiIfZ6RlM/s72-c/adakau.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-577288022034854186</id><published>2012-12-10T04:06:00.000+07:00</published><updated>2014-03-22T16:06:34.501+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kata-Kata Indah"/><title type='text'>Menangis Sebentar Saja</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBZMn43xBF2vvXLVyh2RQHMdUztprgi8dYso6gz6wuvamxKU9Tepctf6MiUU3ZXbaHSSi06Hc7xc0SApB9ylMtq3Hgf7N5cytdSRN68EglEq9fx5wf38SIwKCm_GeS2yjFyOj0ZPdK5Q4/s1600/8b88380281cb42a74cf9851ed8730c7e.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBZMn43xBF2vvXLVyh2RQHMdUztprgi8dYso6gz6wuvamxKU9Tepctf6MiUU3ZXbaHSSi06Hc7xc0SApB9ylMtq3Hgf7N5cytdSRN68EglEq9fx5wf38SIwKCm_GeS2yjFyOj0ZPdK5Q4/s1600/8b88380281cb42a74cf9851ed8730c7e.jpeg&quot; height=&quot;400&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuis&lt;/b&gt;i - &lt;u&gt;Menangis Sebentar Saja&lt;/u&gt; &lt;b&gt;by&lt;/b&gt;: &lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;qyqy&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
Aku ingin menangis sebentar saja,&lt;br /&gt;
Bukan karena aku cengeng,&lt;br /&gt;
bukan karena aku tak punya pikiran, yang bodoh menyelesaikan masalah dengan tangisan!!!&lt;br /&gt;
aku hanya ingin meluapkan sedikit sakit ku ini,&lt;br /&gt;
agar ia mengalir bersama air mata ku,&lt;br /&gt;
lalu kering karena hembusan angin,&lt;br /&gt;
dan kemudian......&lt;br /&gt;
HILANG&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Anonim &lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/577288022034854186/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/menangis-sebentar-saja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/577288022034854186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/577288022034854186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/menangis-sebentar-saja.html' title='Menangis Sebentar Saja'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBZMn43xBF2vvXLVyh2RQHMdUztprgi8dYso6gz6wuvamxKU9Tepctf6MiUU3ZXbaHSSi06Hc7xc0SApB9ylMtq3Hgf7N5cytdSRN68EglEq9fx5wf38SIwKCm_GeS2yjFyOj0ZPdK5Q4/s72-c/8b88380281cb42a74cf9851ed8730c7e.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-3413465215256245990</id><published>2012-12-10T03:50:00.000+07:00</published><updated>2014-03-22T16:10:41.461+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Bebas"/><title type='text'>Logika Imajinatif</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjcYofzwfxq1lFyf2BbIePJ_-DXqJwJXPp3kugVpDARQErOvzwGHReKsdJd_BmUoBL60M_58FXRaMYsT5mSXgvob0dUL3oA9xLPHtqvAdYXsdlCDl_jusg9kb2EAhE5aGtzfNeEEoEBms/s1600/new_sad_lonely_girl_image.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjcYofzwfxq1lFyf2BbIePJ_-DXqJwJXPp3kugVpDARQErOvzwGHReKsdJd_BmUoBL60M_58FXRaMYsT5mSXgvob0dUL3oA9xLPHtqvAdYXsdlCDl_jusg9kb2EAhE5aGtzfNeEEoEBms/s1600/new_sad_lonely_girl_image.jpg&quot; height=&quot;250&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuisi&lt;/b&gt; - &lt;u&gt;Logika Imajinatif&lt;/u&gt; &lt;b&gt;by:&lt;/b&gt; &lt;b style=&quot;color: red;&quot;&gt;Gema Dermawan. S&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
Hitam sinar putih kegelapan&lt;br /&gt;
Malam dalam matahari yang membara&lt;br /&gt;
Hilang aku di seluruh keramaian zaman&lt;br /&gt;
Logikaku mati dalam kenyataan dunia&lt;br /&gt;
Teori belakaku butakan kewarasan waktu&lt;br /&gt;
Hanya mimpiku yang selalu benar&lt;br /&gt;
Karena itu&lt;br /&gt;
Inilah logika dalam imajinatif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hitam sinar putih kegelapan&lt;br /&gt;
Ribuan rayap itu gerogoti singgasana&lt;br /&gt;
Di atas rumput-rumput hitam yang kelaparan&lt;br /&gt;
Menagih hutang pada sang serigala&lt;br /&gt;
Namun inilah kenyataan&lt;br /&gt;
Logika yang mati memaksa hati&lt;br /&gt;
Sudahi duka yang tak mungkin lagi pergi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hitam sinar putih kegelapan&lt;br /&gt;
Kesepian ini menampar amarah&lt;br /&gt;
Dalam sinar putih yang hampa&lt;br /&gt;
Dalam lingkaran kesengsaraan&lt;br /&gt;
Dia pergi dirantai luka&lt;br /&gt;
Hilang jauh dari terawang bintang&lt;br /&gt;
Jauh lagi dari itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hitam sinar putih kegelapan&lt;br /&gt;
Lihat pelangi hitam itu&lt;br /&gt;
Mengiris cakrawala hati&lt;br /&gt;
Dalam mimpi ini&lt;br /&gt;
Dalam hati ini&lt;br /&gt;
Kau adalah aku&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/3413465215256245990/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/logika-imajinatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3413465215256245990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3413465215256245990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/logika-imajinatif.html' title='Logika Imajinatif'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjcYofzwfxq1lFyf2BbIePJ_-DXqJwJXPp3kugVpDARQErOvzwGHReKsdJd_BmUoBL60M_58FXRaMYsT5mSXgvob0dUL3oA9xLPHtqvAdYXsdlCDl_jusg9kb2EAhE5aGtzfNeEEoEBms/s72-c/new_sad_lonely_girl_image.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-7972088409479032983</id><published>2012-12-09T17:58:00.000+07:00</published><updated>2012-12-09T17:58:13.257+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berbagi Kisah Mengharukan"/><title type='text'>Ketika Kita Harus Memilih (Percakapan Mengharukan)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRd3k1BXi-Z9H6DhDXYOFeNNzt32UGsIWAtxMpLv2LWQunKNbTxAXlzJZTMcNtdwd_0ipi97s_QDn73xOCR7lDtTxNGj3rLiEtMHRUY-QV2N13f3WyOpLFs1N5rxTTpE3JJVSjdFcs4U4/s1600/577396_522662431096389_1803686564_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;270&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRd3k1BXi-Z9H6DhDXYOFeNNzt32UGsIWAtxMpLv2LWQunKNbTxAXlzJZTMcNtdwd_0ipi97s_QDn73xOCR7lDtTxNGj3rLiEtMHRUY-QV2N13f3WyOpLFs1N5rxTTpE3JJVSjdFcs4U4/s400/577396_522662431096389_1803686564_n.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuisi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; - &lt;span class=&quot;hasCaption&quot;&gt;&lt;b&gt;Ketika Kita Harus Memilih&lt;/b&gt; (Percakapan Mengharukan)&lt;br /&gt; &lt;u&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&quot;Pilihan Sulit&quot;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Dari: Widiyanto Yudie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Silahkan pilih orang yang terpenting dalam sepanjang hidupmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;
 Disaat menujuh jam-jam istirahat kelas, dosen mengatakan pada mahasiswa/mahasiswinya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kemudian salah satu mahasiswi berjalan menuju pelataran papan tulis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; DOSEN: Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda, pada papan tulis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Dalam sekejap sudah di tuliskan semuanya oleh mahasiswi tersebut. Ada 
nama tetangganya, teman kantornya, orang terkasih dan lain-lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; DOSEN: Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang menurut anda paling tidak penting !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mahasiswi itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; DOSEN: Silahkan coret satu lagi!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kemudian mahasiswi itu mencoret satu nama teman kantornya lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; DOSEN: Silahkan coret satu lagi !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mahasiswi itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan seterusnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sampai pada akhirnya diatas papan tulis hanya tersisa tiga nama, yaitu nama orang tuanya, suaminya dan nama anaknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua 
Mahasiswa/mahasiswi tertuju memandang ke arah dosen, dalam pikiran 
mereka (para mahasiswa/mahasiswi) mengira sudah selesai tidak ada lagi 
yang harus dipilih oleh mahasiswi itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tiba-tiba dosen memecahkan keheningan dengan berkata, “Silahkan coret satu lagi!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Dengan pelahan-lahan mahasiswi itu melakukan suatu pilihan yang amat 
sangat sulit. Dia kemudian mengambil kapur tulis, mencoret nama orang 
tuanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; DOSEN: Silahkan coret satu lagi!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Hatinya 
menjadi binggung. Kemudian ia mengangkat kapur tulis tinggi-tinggi. 
Lambat laun menetapkan dan mencoret nama anaknya. Dalam sekejap waktu, 
terdengar suara isak tangis, sepertinya sangat sedih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Setelah 
suasana tenang, Dosen lalu bertanya, “Orang terkasihmu bukannya Orang 
tuamu dan Anakmu? Orang tua yang membesarkan anda, anak adalah anda yang
 melahirkan, sedang suami itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa anda 
berbalik lebih memilih suami sebagai orang yang paling sulit untuk 
dipisahkan ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang akan di jawabnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Setelah agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata, “Sesuai waktu 
yang berlalu, orang tua akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak 
jika sudah besar setelah itu menikah bisa meninggalkan saya juga, yang 
benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Note :&lt;br /&gt; Terkadang dalam hidup ini kita sering di hadapkan akan pilihan sulit. Dan kita harus melalui semua itu dengan hati yang lapang.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/7972088409479032983/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/ketika-kita-harus-memilih-percakapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/7972088409479032983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/7972088409479032983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/ketika-kita-harus-memilih-percakapan.html' title='Ketika Kita Harus Memilih (Percakapan Mengharukan)'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRd3k1BXi-Z9H6DhDXYOFeNNzt32UGsIWAtxMpLv2LWQunKNbTxAXlzJZTMcNtdwd_0ipi97s_QDn73xOCR7lDtTxNGj3rLiEtMHRUY-QV2N13f3WyOpLFs1N5rxTTpE3JJVSjdFcs4U4/s72-c/577396_522662431096389_1803686564_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-861769712972172952</id><published>2012-12-09T17:50:00.000+07:00</published><updated>2012-12-09T17:50:24.573+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Bebas"/><title type='text'>Hujan Malam Ini</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-vmtJ5rNCW3EJo2jusl7yqNJmXAJGu6h0rp-jtYEuG_SS00MVH0h2yEJRJZMxk-qgsaej8TrUfyPcTudgVlfY54bM1jMhI6uIb_8cfrnvGiPZYMO3nAKF8tCuaRU5yb38H6V29-_EF7w/s1600/29831_535502279812404_303122270_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-vmtJ5rNCW3EJo2jusl7yqNJmXAJGu6h0rp-jtYEuG_SS00MVH0h2yEJRJZMxk-qgsaej8TrUfyPcTudgVlfY54bM1jMhI6uIb_8cfrnvGiPZYMO3nAKF8tCuaRU5yb38H6V29-_EF7w/s400/29831_535502279812404_303122270_n.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuisi &lt;/b&gt;- siapa sangka hujan mendera lamun. rindu yang bertingkah mericik&lt;br /&gt;cemas di samping suami yang lelap; wajahmu berat.&lt;br /&gt;mungkin mau kami selalu lebat menghujam hutanhutanmu. tapi maafkan aku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujannya makin deras. beribu butirannya pecah dalam tubuhku meluruh reranting mati yang biasa kusimpan di rahimku dan pada&lt;br /&gt;rambutku yang basah menjalur sungai mengaliri debu ke hilir kaki.&lt;br /&gt;hujan menghanyutkannya ke selokanselokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembicaraan ini belum bisa kuputus. udara memagutku begitu&lt;br /&gt;nyaman dan bersetia menjagaku dari pancaroba yang nyeri. Tapi&lt;br /&gt;adakah kau serupa aku dalam dusta? sebab hujan juga mengguyur&lt;br /&gt;perempuan di jalan yang biasa kau lalui. tidakkah hendak menjeratmu dan memilih dusta saat itu? kurasa tidak. sebab kau terlalu bodoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk itu. kau terlalu mematri aku di denyutmu. dan aku tak perlu&lt;br /&gt;memilih sebentuk kepercayaan yang rumit. aku bebaskan kau ke&lt;br /&gt;mana pun. pulang kau padaku jua, suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapa sangka hujan mengecupku malam ini yang datang dari gelap&lt;br /&gt;langit dan melintasi kaldera yang kubentuk dari semangatku. Begitu&lt;br /&gt;lama kutunggu bibir hujan di bibir risauku. bangku yang asing kami&lt;br /&gt;nikmati dalam gigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mari menari, bisik hujan. telingaku menghangat dan aku menari&lt;br /&gt;sebisanya mengikuti detak hujan di kakikakiku.&lt;br /&gt;tik tik tik…. Lembut menjadi gaib melepas cemas. tik tik tik…. Pukau melorong lentur di tingkah gamang. sehelai kelopakku luruh.&lt;br /&gt;tiktiktiktiktiktiktik…. hujan mendera merah bibirku menyusup sampai ke jantung menyirami biji rindu yang telah pecah sebab detak bukan kuasaku lagi. sehelai kelopakku luruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiktiktiktiktiktiktik…. lenggokku mengimbangi lenggok hujan mamanasi udara yang hinggap di setiap lekuk tubuh lantas meniupniup pengetahuan yang lama tertimbun. sehelai kelopakku luruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiktiktiktiktiktiktik…. oh, desahku mengalir cepat di selasela gigi&lt;br /&gt;menjadi kabut putih di udara. aku melayang bersama hujan. Ricik&lt;br /&gt;purba menguyurguyur rindu. serupa kupukupu kakikaki kami hinggap di pucukpucuk bunga kertas yang masih setia pada tangkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiktiktiktiktiktiktik…. hujan menyusupiku ke rimbun bonsai yang rumit. sekecup lembut menyingkap kelapangan tubuh membenturbentur ringan di batangbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiktiktiktiktiktiktik…. hujan merendah ke rumput basah dan kami&lt;br /&gt;berputarputar dalam lingkar kaldera sampai ke pagar batas kemengertianku. helaihelai kelopakku luruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh, inilah angin. kau mengenalkanku akan angin. sstt…, hujan&lt;br /&gt;mendiamkanku lantas mengecupkan hurufhuruf yang hilang dari&lt;br /&gt;katakataku ke bibir yang semakin gersang. gairahku menarik hujan&lt;br /&gt;semakin rapat. detak pecah di kakiku membuncah. kutelusuri jejak tarian kami tadi. siapa sangka inang bersemayam dalam tubuhku dan hujan mengiringi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap gerak. putaranku makin cepat ke puncak lantas pelan di lentik jemari lantas diam lantas meloncat ke bunga kertas lantas menusup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke rimbun bonsai yang rumit lantas berembus merendah ke rumput basah lantas berputar lebih cepat sampai ke pagar batas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemengertianku lantas hujan mengguyur buas tak ada ciuman&lt;br /&gt;putaranku makin cepat membuncah gairah kupeluk hujan aku dalam hujan di manamana tak mampu terjepit di selangkangku putar makin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kencang makin buas oh suamiku bangunlah dan bunuhlah hujanku&lt;br /&gt;putaranku makin cepat ke pucukpucuk bunga kertas merendah ke&lt;br /&gt;rumput basah membentur pagar bonsai yang rumit batas&lt;br /&gt;kemengertianku membentur bunga kertas merontok daun jatuh ke&lt;br /&gt;rumput basah oh suamiku bangunlah dan bunuh hujanku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bangunlah, suamiku! bunuhlah hujan untukku! aku ingin berhenti dari lelah ini karena tamanku telah porakporanda….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;PADANG 062011&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/861769712972172952/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/hujan-malam-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/861769712972172952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/861769712972172952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/hujan-malam-ini.html' title='Hujan Malam Ini'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-vmtJ5rNCW3EJo2jusl7yqNJmXAJGu6h0rp-jtYEuG_SS00MVH0h2yEJRJZMxk-qgsaej8TrUfyPcTudgVlfY54bM1jMhI6uIb_8cfrnvGiPZYMO3nAKF8tCuaRU5yb38H6V29-_EF7w/s72-c/29831_535502279812404_303122270_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-5962293490368599579</id><published>2012-12-07T03:57:00.000+07:00</published><updated>2012-12-07T03:57:43.389+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Bebas"/><title type='text'>Orang Bayangan Sang Dewi</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiu_pw8D2l-i_QUcBjEMBWsX3Up__C3LF0QBR2gQNpsFw2cYHoqql230IYI7oroZZSV0IdHV9hABhAdkS2DqBbB0LfkXe_Dwo9eVfqdfGjaIpl8FiFVPuZxK8g1C9qh65dILYWsmXgbd_I/s1600/578040_443445915682849_1938629788_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiu_pw8D2l-i_QUcBjEMBWsX3Up__C3LF0QBR2gQNpsFw2cYHoqql230IYI7oroZZSV0IdHV9hABhAdkS2DqBbB0LfkXe_Dwo9eVfqdfGjaIpl8FiFVPuZxK8g1C9qh65dILYWsmXgbd_I/s320/578040_443445915682849_1938629788_n.jpg&quot; width=&quot;292&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuisi&lt;/b&gt; - Wahai orang bayangan……&lt;br /&gt;
Bawalah daku ke alam bayangan mu&lt;br /&gt;
Meramu asmara di atas ketulusan teratai kuning&lt;br /&gt;
Mengukir cinta dalam ayuanan rangkaian mawar biru&lt;br /&gt;
Menjalin kasih dengan melati putih kejujuran&lt;br /&gt;
Menguntai sayang bersama kamboja ungu kepedulian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai orang bayangan ……&lt;br /&gt;
Biarkanlah alam mu menjadi alam ku juga&lt;br /&gt;
Bersemayam di sana di batu nisan tua kelabu&lt;br /&gt;
Menjadi permaisuri di mahligai kegelapanmu yang murni&lt;br /&gt;
Bertahta di singgasana mutiara hatimu yang terselubung lumpur hitam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai orang bayangan……&lt;br /&gt;
Alam banyanagnmu begitu elok dan damai&lt;br /&gt;
Kan ku ukir tamanmu dengan kenangan kisah hidupku&lt;br /&gt;
Agar tiada duka dan lara mengiringi langkah kakiku&lt;br /&gt;
Tak ingin ku tengelam dalam lautan air mata yang tiada berkesudahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai orang bayangan…..&lt;br /&gt;
Engkau setia menemani malamku yang tiada bintang dan bulan&lt;br /&gt;
Lembut jemarimu membelai rambut kusan abu – abu&lt;br /&gt;
Bisikanmu menenangkan jiwa porak poranda oleh dusta dan kepalsuan&lt;br /&gt;
Pengertianmu memberikan kebahagian sesaat pada bathin yang tiada berbingkai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai orang banyangan….&lt;br /&gt;
Akankah selamanya kita terpisah oleh dunia&lt;br /&gt;
Yang memiliki dua dimensi yang berbeda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai orang bayangan…..&lt;br /&gt;
Ulurkanlah tangan kekarmu&lt;br /&gt;
Agar ku dapat menggapai alam bayanganmu&lt;br /&gt;
Bersamamu selamanya di sana dalam keabadian yang tak bertepi</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/5962293490368599579/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/orang-bayangan-sang-dewi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/5962293490368599579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/5962293490368599579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/orang-bayangan-sang-dewi.html' title='Orang Bayangan Sang Dewi'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiu_pw8D2l-i_QUcBjEMBWsX3Up__C3LF0QBR2gQNpsFw2cYHoqql230IYI7oroZZSV0IdHV9hABhAdkS2DqBbB0LfkXe_Dwo9eVfqdfGjaIpl8FiFVPuZxK8g1C9qh65dILYWsmXgbd_I/s72-c/578040_443445915682849_1938629788_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-3389746243520765387</id><published>2012-12-07T03:21:00.000+07:00</published><updated>2012-12-09T13:51:42.724+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>Cerpen Cinta : Bukan Cinta Laki-Laki Biasa</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhh8m9KIO8eRmyV_zeqB4WcRUPH4XBXFA9hpOBdmOQSST8QnufczL8Ty5D5jirumRud9nixiygVMfb-H17Jc2T_p1XNZecPLUheOpRx54nI-BMWGVaWdIOz5WmJr3P7SVGooU0ScCIwnho/s1600/adakau.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhh8m9KIO8eRmyV_zeqB4WcRUPH4XBXFA9hpOBdmOQSST8QnufczL8Ty5D5jirumRud9nixiygVMfb-H17Jc2T_p1XNZecPLUheOpRx54nI-BMWGVaWdIOz5WmJr3P7SVGooU0ScCIwnho/s320/adakau.jpg&quot; width=&quot;305&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuisi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; - Menjelang hari H, Narnia masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Narnia. Mereka ternyata sama herannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kenapa? Tanya mereka di hari Narnia mengantarkan surat undangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saat itu teman-teman baik Narnia sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tiba-tiba saja pipi Narnia bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Narnia terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Narnia yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Narnia menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Narnia dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kamu pasti bercanda!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Narnia menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Narnia bercanda.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Narnia yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Narnia!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Narnia tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tapi Narnia tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia terkesima.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kenapa?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Narnia sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata &#39;kenapa&#39; yang barusan Narnia lontarkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tapi kenapa?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bergantian tiga saudara tua Narnia mencoba membuka matanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Narnia!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cukup!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sayangnya Narnia lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Narnia memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak &#39;luar biasa&#39;. Narnia Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Narnia menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Narnia bahagia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka akhirnya menikah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setahun pernikahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Narnia, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Narnia masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Narnia bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Narnia. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Narnia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nada suara Narnia tegas, mantap, tanpa keraguan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketiga saudara Narnia hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli juga pintar!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak sepintarmu, Narnia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hanya lumayan, Narnia. Bukan sukses. Tidak sepertimu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lihat hidupmu, Narnia. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Teganya kakak-kakak Narnia mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Narnia dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Narnia lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Narnia memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Narnia cukup, maksud Narnia jika digabungkan dengan gaji Abang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebaiknya Narnia tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Narnia dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Narnia cerah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Narnia. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Narnia di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Narnia besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Narnia memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Narnia dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Narnia, bisik Papa dan Mama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cantik ya? dan kaya!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak imbang!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Narnia belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Narnia masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Narnia mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Narnia, atau membuat Narnia menangis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bayi yang dikandung Narnia tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Narnia. Harus segera dikeluarkan!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mula-mula dokter kandungan langganan Narnia memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Narnia. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Narnia di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Narnia belum satu pun yang datang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Narnia tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Narnia per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Baru pembukaan satu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Belum ada perubahan, Bu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Narnia dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tigapuluh jam berlalu. Narnia baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masih pembukaan dua, Pak!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli tercengang. Cemas. Narnia tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bang?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dokter?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli dan Narnia berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagaimana jika terlambat?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka berpandangan, Narnia berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pembiusan dilakukan, Narnia digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Narnia merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Narnia mendekat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pendarahan hebat!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Narnia dalam kondisi kritis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mama Narnia yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Narnia menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Narnia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sudah seminggu lebih Narnia koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Narnia dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mama, Papa, dan ketiga saudara Narnia terkadang ikut menunggui Narnia di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Narnia dengan Rafli.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begitulah Rafli menjaga Narnia siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Narnia yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Narnia bisa merasakan kehadirannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia, bangun, Cinta?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Narnia sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Narnia ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia, bangun, Cinta?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Narnia sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Narnia, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Narnia. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia ingin melihat Narnia lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Narnia sudah tidur terlalu lama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Narnia sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Narnia dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asalkan Narnia sadar, semua tak penting lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Narnia selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Narnia, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Narnia ke teras, melihat senja datang sambil memangku Narnia seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika malam Rafli mendandani Narnia agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Narnia selalu merasa cantik. Meski seringkali Narnia mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Narnia, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Narnia. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Narnia harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Narnia. Begitu bertahun-tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Awalnya tentu Narnia sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Narnia ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu berangsur Narnia menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Narnia tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Baik banget suaminya!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Narnia beruntung!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Narnia makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tapi dia salah. Sangat salah. Narnia menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari teras Narnia menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Narnia menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Narnia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Cerpen Asma Nadia &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/3389746243520765387/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/cerpen-cinta-bukan-cinta-laki-laki-biasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3389746243520765387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3389746243520765387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/cerpen-cinta-bukan-cinta-laki-laki-biasa.html' title='Cerpen Cinta : Bukan Cinta Laki-Laki Biasa'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhh8m9KIO8eRmyV_zeqB4WcRUPH4XBXFA9hpOBdmOQSST8QnufczL8Ty5D5jirumRud9nixiygVMfb-H17Jc2T_p1XNZecPLUheOpRx54nI-BMWGVaWdIOz5WmJr3P7SVGooU0ScCIwnho/s72-c/adakau.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-2323305850321535116</id><published>2012-12-06T18:06:00.000+07:00</published><updated>2012-12-09T13:52:04.365+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>Dia di Hari Minggu - Cerpen Sedih</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNUUn-7ebA7zCUleAmnw2DqXR9Tm45qAMuV8ibAvLxRpveVp1noieaxpkV2mRUodR_CCbo7sftQ4_aZE1IAmyzhCOIhmNdavDiIsxpkGmy4nS7JiTap0yJsPHR47Q1tNKHBVFOVL2mcU4/s1600/alone-girl-railroad-railroad-tracks-teddy-bear-Favim.com-69882.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;298&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNUUn-7ebA7zCUleAmnw2DqXR9Tm45qAMuV8ibAvLxRpveVp1noieaxpkV2mRUodR_CCbo7sftQ4_aZE1IAmyzhCOIhmNdavDiIsxpkGmy4nS7JiTap0yJsPHR47Q1tNKHBVFOVL2mcU4/s400/alone-girl-railroad-railroad-tracks-teddy-bear-Favim.com-69882.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuisi&lt;/b&gt; - Tepat hari ini aku kerap menemui dia di tempat ini, dengan sejuta alasan yang melekat dibenak hal apapun tak terpikirkan ketika aku telah berada di hadapannya. Menatapnya dengan lekat sembari tersenyum lembut. Tepat di hari ini semua bebanku terasa sirna tatkala ku merebahkan kepalaku di pundaknya, memegang tangannya yang sarat akan kasih sayang. Tepat di hari ini pun semua terasa menyenangkan saat dia bisikkan “Aku cinta kamu selamanya” tepat di telingaku.Dan tepat di hari ini juga ku nikmati kebersamaan yang amat dalam ketika aku dan dia berhayal tentang masa depan, menatap awan-awan sembari memberinya makna, membuat iri seisi tempat itu seakan kami berteriak dan ungkapkan : “Heyy… lihat kami, ini lho pasangan terkompak tahun ini…!” Semua terasa indah saat itu, tatkala aku dan dia bergelut dalam kebersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tepat di hari ini, aku sendiri. Tak ada lagi tempat untuk kusandarkan kepalaku, tak ada tangan sarat kasih sayang yang bisa kupegang saat ini, tak ada bisikan-bisikan cinta yang bisa kudengar lagi, dan tak ada pula orang-orang yang iri ketika melihatku. Seisi tempat itu kurasa telah mencampakkan aku saat ini, mengacuhkanku, dan seakan menyiratkan beberapa kata : “Siapa orang ini? hanya duduk seorang diri dengan tatapan kosong. Seharusnya kau tak datang ke sini!” Ketika itulah aku sadar bahwa memang benar.. aku hanya sendiri, dia tak datang ke tempat itu lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti biasa, dia selalu mengirimi aku sebuah pesan singkat yang kemudian aku balas dengan perasaan berbunga. Walaupun ia tak seromantis yang aku kira, tetapi ia mampu menumbuhkan rasa cinta yang amat besar di hatiku, ketika berkali-kali ia ungkapkan kata cinta dan sayang. Rasanya seperti melayang… terbang ke langit terang.. Menggapai bintang-bintang dan seakan tak terbayang. Berkali-kali ia ucapkan janji bahwa dia tak akan pernah meninggalkanku, takkan pernah buatku menangis dan menjadikanku yang terakhir dihatinya. Akupun turut menyambutnya dengan janji yang sama. Tak sedikitpun aku merasakan sangsi dalam mengucapkan janjiku, karena aku sungguh yakin dengan apa yang kuucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala itu, saat kutemuinya di tempat langganan yang biasa kami datangi untuk melepas segenap kerinduan yang membendung. Makhlum saja, kami berlainan sekolah, oleh karena itu kami hanya dapat bertemu di akhir pekan saja : Hari Minggu. Bergurau, bermanja-manjaan. Hal itulah yang biasa kami lakukan ketika bertemu. Ditengah canda tawa itu ia kembali meyakinkanku atas janjinya, sampai akhirnya ia memberi jari kelingkingnya untuk dikaitkannya di jari kelingkingku. Spontan saja aku terima, dan ia pun berucap, “Aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai kapanpun juga, kaulah yang terakhir, kita tak akan terpisahkan oleh apapun juga, percayalah!” Mendengar itu, aku tersenyum tipis sembari mengangguk. Kalkulator cintaku telah menunjukkan angka 100% terhadap kesaksiannya.&lt;br /&gt;
Tak seperti biasanya, ia tak menghubungiku lagi. Makin jarang, dan seiring hal itu sifatnya pun menjadi sedikit berubah. Entah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tanya, mengapa dia seperti itu. Perasaan aku tak pernah telat membalas pesan singkatnya, sesibuk apapun aku tetap ingat menanyakan keadaannya, dan aku merasa tak pernah mengacuhkannya. Namun, mengapa dia seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Dia menjawab pertanyaanku, dan saat itu juga aku berpikir : Aku menyesaal menanyakan hal ini. Kau tahu apa yang dia katakana kepadaku? Dia bilang kalau….. Ah,,sungguh jawaban yang tak dapat kuterima dalam keadaan apapun. Jawaban yang merenggut senyumku seketika. “Aku belum bisa melupakan Dia. Sedikitpu.” Beberapa patah kata itulah yang ku terima sebagai imbalan dari pertanyaanku. Ya… “Dia” mantannya pacarku. Aku tak tahu apa salahku sehingga aku berada di posisi ini sekarang. Antara galau, sedih, tak yakin dan tak terima… Semua terasa manyakitkan saat sifatnya makin memburuk terhadapku. Semakin parah, sampai aku tak bisa membedakan Ini kekasih atau musuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini dia menggantung hubungan kami. Berkali kutanyakan, “Maumu apa???”. Lalu dia hanya menjawab, “Terserah padamu saja!”. Sungguh sadis bukan? Cukup membuat aku tercengang untuk beberapa saat. Heyy… Kemana janjimu yang dulu? Pergi kemana dia? Kemana dirimu yang selalu berbisik, “Aku sayang kamu..”. Kemana harapan-harapan indah yang kau tuangkan ke dalam hatiku. Kini aku rasa semua telah jauh meninggalkanku. Tapi dia diam. Tak sedikitpun menampik rasa kecewaku ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua tak seperti yang kuharapkan. Aku kira semua akan indah seperti pelangi, penuh warna dan penuh keceriaan. Namun aku baru sadar, indahnya pelangi tak sejalan dengan berapa lama ia akan bertahan tampak seperti itu. Aku mulai tahu, pelangi hanya muncul sesaat dan menghilang untuk waktu yang lama.. lama selama ia mengkehendakinya. Aku pikir seperti inilah cintanya terhadapku. Kasih sesaat dan janji yang semu. Aku mulai sakit hati…. Di sisi lain aku juga masih menyimpan rasa itu, rasa yang tak mungkin aku hilangkan dalam sekejap kedipan mata.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tak beranjak dari tempat dudukku. Aku termenung. Handphoneku aku genggam di tangan kananku dengan posisi menengadah. Ku pandangi sosok yang berada dalam wallpaper handphoneku, wajahnya berseri-seri seperti menatap ke arahku dengan lekat. Aku tersenyum tipis. Ingin rasanya aku banting handphone itu, dalam senyumnya aku melihat suatu kebohongan yang amat besar. Terlalu keras ia tancapkan belati itu di tengah-tengah jantungku. Sakit sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butiran-butiran bening mulai menitik di pipiku. Mengalir dan terus mengalir. Tak kuasa ku usap, hanya ku biarkan. Ku anggap ini bentuk duka cita dari mataku untuk hatiku. Aku tak berhenti menangis, aku ingin dia yang mengusap air mataku ini seperti apa yang selalu ia katakana dulu. Tapi apa daya, dia tak datang. Aku tak akan pernah melupakan semua kepahitan ini, sampai kapanpun aku akan tetap ingat apa itu janji, apa itu hutang, apa itu kesetiaan. Dan di sinilah aku akan menunggu janji itu dengan setia. Di sini, di tempat ini. Saat ini, di hari ini : Hari Minggu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin: 5px 20px 20px;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;smallfont&quot; style=&quot;margin-bottom: 2px;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;b&gt;Spoiler &lt;/b&gt;&lt;i&gt;for Penulis &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;: &lt;input onclick=&quot;if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display != &#39;&#39;) { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display = &#39;&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;Tutup&#39;; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display = &#39;none&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;Buka&#39;; }&quot; style=&quot;font-size: 12px; margin: 0px; padding: 0px; width: 55px;&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;Buka&quot; /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;alt2&quot; style=&quot;border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;display: none;&quot;&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nama&lt;/b&gt; : Desak Ketut Putri Handayani&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Alamat&lt;/b&gt; : Klungkung, Bali.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;TTL&lt;/b&gt; : Klungkung, 5 Maret 1995&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Zodiak&lt;/b&gt; : Pisces&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sekolah&lt;/b&gt; : SMA N 2 Semarapura, Bali.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hobby&lt;/b&gt; : Menulis, menyanyi dan berpetualang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/2323305850321535116/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/dia-di-hari-minggu-cerpen-sedih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2323305850321535116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2323305850321535116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/dia-di-hari-minggu-cerpen-sedih.html' title='Dia di Hari Minggu - Cerpen Sedih'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNUUn-7ebA7zCUleAmnw2DqXR9Tm45qAMuV8ibAvLxRpveVp1noieaxpkV2mRUodR_CCbo7sftQ4_aZE1IAmyzhCOIhmNdavDiIsxpkGmy4nS7JiTap0yJsPHR47Q1tNKHBVFOVL2mcU4/s72-c/alone-girl-railroad-railroad-tracks-teddy-bear-Favim.com-69882.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-2646334874481243872</id><published>2012-12-06T17:46:00.000+07:00</published><updated>2012-12-09T13:52:25.569+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>ZIARAH LAUT cerpen Balyanur MD</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiPgz0dERa1C2MP6tqPWBQIxEvEMYnPtvCoCVzEfEXn_wsDyY_9BXJ1IKZNJbBktugR1GGVjM5qLRjEc3WgCU6dPLKU2wUA572TNVeHtptTK_ns1NXi6rOXFdUEc0GrmLbFdgFfB4PSgQ/s1600/adakaudotcom.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiPgz0dERa1C2MP6tqPWBQIxEvEMYnPtvCoCVzEfEXn_wsDyY_9BXJ1IKZNJbBktugR1GGVjM5qLRjEc3WgCU6dPLKU2wUA572TNVeHtptTK_ns1NXi6rOXFdUEc0GrmLbFdgFfB4PSgQ/s400/adakaudotcom.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;color: lime;&quot;&gt;KumpulanPuisi&lt;/b&gt; - HUJAN mulai turun rintik-rintik. Anwar masih berdiri tegak di pinggir pantai Malam merangkak diiringi deru ombak. Dia masih mengharapkan ayanya pulang menenteng ikan. Kerlip lampu nelayan di kejauhan menambah keyakinannya.&lt;br /&gt;
Tapi sebentar dia ragu. Sebenarnya dia datang ke pinggir pantai itu untuk tujuan ziarah. Tangannya gemetar, bunga dalam kantong plastik hitam yang ditentengnya basah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya dikepalkan. Sudah berkali-kali tangan itu mengambil kembang dalam kantong plastik. Sudah dibulatkan tekadnya untuk melempar kembang itu ke laut. Tapi kerlip lampu nelayan melemahkan tekadnya. Sekali saja dia mebenamkan kembang iu ke dalam laut, berarti dia membenamkan harapan kepulangan ayahnya.&lt;br /&gt;
Sampai matahari menyapanya dari ujung laut, kembang itu masih lekat dalam genggamannya. Silau matahari mendorongnya untuk segera pulang. Dia tidak berusaha menolak dorongan itu.&lt;br /&gt;
“Mengapa tidak kau taburkan bunga itu?” sapaan lembut ibunya menyadarkan dia dari lamunan panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya berdiri tegak di dapan pintu rumahnya seakan menantangnya. Anwar seperti tidak perduli, dia masuk ke dalam rumah, ibunya mengikuti.&lt;br /&gt;
“Almarhum ayahmu tentu menantikan kiriman bunga itu semalaman. Kasihan dia,” ibunya menghilang ke balik dapur. “Hari ini kau tidak usah mencari ikan. Mukamu Nampak pucat, pikiranmu kacau.”&lt;br /&gt;
“Pikiranku memang kacau, Bu.” Anwar merebahkan badannya dib alai bambu, “ setidaknya sejak tadi malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak kematian ayahmu pikiranmu memang sudah kacau,” suara ibunya dari balik dapur terdengar agak parau, “Sebagai anak seorang nelayan, musibah yang menimpa ayahmu seharusnya sudah kau perhitungkan.”&lt;br /&gt;
“Ibu menerima kematian ayah seperti kehilangan sebuah perahu kecil. Aku sangsi, apakah ibu juga mengharapkan seperti saya mengharapkan suatu saat ayah akan kembali. Dia akan datang membuka pintu belakang rumah kita. Menggantung beberapa ekor ikan besar di dapur. Dia tidak akan mengganggu mimpi kita. Lalu dia pergi lagi untuk mencari beberapa ekor ikan yang mungkin lebih besar dari itu. Kita lalu menyangka, mungkin ada orang iseng yang sengaja menaruh ikan di dapur sebagai rasa belesungkawa. Bu ……….. mengapa ibu diam?”&lt;br /&gt;
Anwar memusatkan pendengarannya ke dalam dapur. Tidak Nampak ada kegiatan disana. “Ibu menangis?” Tidak ada jawaban.&lt;br /&gt;
Dengan langkah gontai dia menghampiri ibunya di dapur. Dia melihat punggung ibunya bergerak-gerak. Nampaknya ibunya menahan isak tangis.&lt;br /&gt;
“Seharusnya kau kembali ke bangku kuliahmu. Tempatmu bukan disini. Kau bukan seorang nelayan,” Suara Ibunya tersendat-sendat. “Besok ibu akan bilang pada Mang Ihin agar dia tidak lagi mengajakmu ke laut.”&lt;br /&gt;
Anwar tidak ingin mengganggu ibunya. Dia berjalan ke pintu depan, di lorong depan rumahnya, beberapa bocah bertelanjang dada mengejar seekor kucing hitam. “Aku memang bukan nelayan,” gumamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kecil ayahnya memang tidak menginginkan dia menjadi nelayan. Dia dikirim ke rumah pamannya di luar kota, bersekolah disana. Setamat SMA sebenarnya dia ingin menemani ayahnya barang satu atau dua tahun. Tapi ayahnya tetap menginginkan dia tetap melanjutkan sekolah.&lt;br /&gt;
Menginjak semester ketiga, musibah itu datang menghantam jiwanya. Ayahnya dikabarkan hilang dalam suatu musibah di laut lepas bersama lima nelayan lainnya. Tiga diantaranya dapat diketemukan mayatnya. Sudah hampir sebulan mayat ayahnya dan nelayan satunya lagi belum juga diketemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah merasa cukup buat bersedih dan mengurung diri dalam kamar, dia bermaksud akan membuat kuburan buat ayahnya. Ibunya menangis sejadi-jadinya. Dia baru saja delapan hari kehilangan suami, sekarang anaknya sudah berpikiran tidak waras. Dia merasa sebentar lagi akan kehilangan anaknya.&lt;br /&gt;
“Aku tidak gila , Bu,” katanya waktu itu. “Aku masih waras. Bagi ibu kuburan itu barangkali memang tidak terlalu penting. Ibu sudah menanam wajah ayah dalam hati ibu. Tapi ibu kan tahu , aku jarang bertemu dengan ayah. Aku khawatir, setahun kemudian aku sudah lupa bahwa aku pernah mempunyai seorang ayah. Lagi pula aku ingin terus berbakti kepada ayah. Aku ingin sering berziarah seperti layaknya orang berziarah. Itulah alasanku membuat kuburan untuk ayah . aku akan mengubur pakaian ayah dan beberapa benda kesayangannya. Agar aku benar-benar yakin bahwa ayah memang sudah benar-benar telah tiada untuk selam-lamanya. Tanpa kuburan itu, aku hanya merasa ayah cuma seperti sebentar saja. Atau dia cuma tersesat di jalan. Suatu saat pasti akan kembali. Lalu kalau pada kenyataannya ayah benar-benar telah meninggal, apakah aku harus menunggu kepulangan ayah sampai batas ajalku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau saja Mang Ihin tidak mencegahnya, niat membuat kuburan tiu sudah dilaksanakannya. “Itu tidak baik, Jang anwar. Malah akan membuat aib keluarga. Ibumu akan ikut menanggung malu.”&lt;br /&gt;
Mang Ihin adalah teman karib ayahnya.&lt;br /&gt;
“Kau harus yakin, ayahmu sudah meninggal. Dia sudah tenang di alam baka. Dia tidak membutuhkan kuburan.” Kata ibuny suatu malam. “Kau harus kembali ke rumah pamanmu, kau harus kuliah.”&lt;br /&gt;
Hampir saja Anwar menghubung-hubungkan perkataan ibunya dengan kehadiran Mang Ihin, tapi dia tidak ingin melukai hati ibunya.&lt;br /&gt;
“Malam jumat besok, bawalah kembang, tebarkan ke laut agar hatimu benar-benar mantap. Dalam sebulan ini kau boleh ikut Mang Ihin mencari ikan, tapi setelah itu kau harus kembali kuliah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seekor kucing hitam menerobos masuk ke dalam rumahnya membuyarkan lamunannya. Beberapa bocah bertelanjang dada berdiri malu-malu dihadapannya. Dengan sekali isyarat, bocah-bocah itu berlari berpencaran sambil tertawa riang. Dia menghampiri ibunya.ibunya sedang mengaduk kopi dalam cangkir. “Bu, aku akan berhenti kuliah. Setidaknya dalam setahun ini.” Cangkir kopi di tangan ibunya hamper saja jatuh ke tanah. “Anwar, kau semakin tidak waras saja!”&lt;br /&gt;
“Aku akan ikut Mang Ihin mencari ikan di laut. Aku memang tidak berbakat menjadi nelayan. Niatku memang bukan sekedar mendapat ikan. Aku hanya ingin ziarah, setiap aku melaut, setiap itu pula aku berziarah. Dan siapa tahu….” Anwar tidak melanjutkan kata-katanya. Dilihatnya mata ibunya berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anwar, ibu bicara untuk terakhir kalinya. Kembalilah ke bangku kuiahmu. Sebab itulah harapan ayahmu, berarti kau telah berziarah dengan penuh, setiap kau berangkat dan pluang kuliah, berarti kau berangkat dan pulang berziarah. Persoalan dulu ibu putus kuliah karena tertarik oleh seorang pemuda nelayan, Ayahmu itu, itu persoalan lain.”&lt;br /&gt;
Ibunya menyodorkan secangkir kopi yang sejak tadi dipegangnya. “ini persembahan ibumu untuk ayahmu. Dan sekarang ibu berikan kepadamu. Minumlah. Ibu tidak ingin lagi kau membantah.”&lt;br /&gt;
Anwar agak ragu menerimanya. Kopi itu rasanya pahit, tapi demi ibunya Anwar meminum juga.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/2646334874481243872/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/ziarah-laut-cerpen-balyanur-md.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2646334874481243872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2646334874481243872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/ziarah-laut-cerpen-balyanur-md.html' title='ZIARAH LAUT cerpen Balyanur MD'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiPgz0dERa1C2MP6tqPWBQIxEvEMYnPtvCoCVzEfEXn_wsDyY_9BXJ1IKZNJbBktugR1GGVjM5qLRjEc3WgCU6dPLKU2wUA572TNVeHtptTK_ns1NXi6rOXFdUEc0GrmLbFdgFfB4PSgQ/s72-c/adakaudotcom.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-3571429779727683823</id><published>2012-12-06T17:37:00.000+07:00</published><updated>2012-12-09T13:52:44.734+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>(Cerpen) Persembahan Untuk Bunda</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEAPnAWbnqNmOI7xs2lJXzlTtLxB-l9AH4VUactLcZ2RxWa9ewi5m8hvQtR-e9nVqn93ooyrY1AvrbHS6YHw2bm_iE3ebeXhCztwujlm3X105iQepvmhdkil8WvN6OrqM6XX1qeCkIL0g/s1600/mom-and-kid.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;338&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEAPnAWbnqNmOI7xs2lJXzlTtLxB-l9AH4VUactLcZ2RxWa9ewi5m8hvQtR-e9nVqn93ooyrY1AvrbHS6YHw2bm_iE3ebeXhCztwujlm3X105iQepvmhdkil8WvN6OrqM6XX1qeCkIL0g/s400/mom-and-kid.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Apa yang kuberikan untuk mama&lt;br /&gt;Untuk mama tersayang&lt;br /&gt;Tak kumiliki sesuatu berharga&lt;br /&gt;Untuk mama tercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ini kunyanyikan&lt;br /&gt;Senandung dari hatiku untuk mama&lt;br /&gt;Hanya sebuah lagu sederhana&lt;br /&gt;Lagu cintaku untuk mama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;color: lime;&quot;&gt;&lt;br /&gt;KumpulanPuisi&lt;/b&gt; - Tak terasa air mataku menetes membasahi pipi. Hati ku selalu bergetar ketika mendengar lagu tersebut. Teringat kembali dengan masa lalu ku. Andai waktu dapat ku putar,dan mengantisipasi kesalahan yang akan ku perbuat , mungkin saat ini Bunda masih bersama ku dan akan bangga pada ku.&lt;br /&gt;
Lamunan ku kembali memutar ulang sebuah rekaman dalam memori ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Pokoknya Laras mau pergi. Laras sudah besar bunda,laras bisa jaga diri. Lagian Laras cuma ke pesta ultahnya Nia. Ga’ mungkin Laras ga datang.” Aku mencoba meyakinkan Bunda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Tapi bunda lagi sakit, ayah juga lagi dinas di luar kota. Bunda juga punya firasat ngga’ enak kalau kamu pergi. Kamu itu perempuan, ngga’ boleh pulang malam.” Ujar bunda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Kan ada bibi yang bisa jaga bunda. Pokoknya Laras pergi. Jam 11 Laras pulang.” Aku tetap bersikukuh untuk pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda tak mempunyai kekuatan lagi untuk melarang ku. Mungkin karena beliau juga tahu bahwa aku adalah anak tunggalnya yang memiliki sifat keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+++&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu aku tetap pergi meninggalkan Bunda sendiri. Di pesta tersebut sudah menunggu Nia dan pacar ku Andika. Kami berpesta dan berdansa ria tanpa lelah, dan saat ku melihat jam tangan ku, waktu sudah menunjukkan waktu 00.20. Aku sudah berniat ingin pulang, namun Andika menahan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Sabar donk yank, sebentar lagi ya, nanti aku antar pulang….” Andika berusaha membujuk.&lt;br /&gt;
Aku tak sempat menjawab karena mulut ku sudah d’ cekoki dengan segelas minuman yang aku tak tau minuman apa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kepala ku pusing, pandangan ku berputar-putar dan aku tak mengetahui kejadian apa yang selanjutnya telah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+++&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ku terbangun, matahari sudah muncul ke permukaan. Aku berada di sebuah kamar dan aku baru tersadar bahwa di sebelah aku adalah Andika. Aku menjerit sekeras-kerasnya…..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Tenang Laras, aku akan bertanggung jawab. Kamu tidak perlu takut. Aku mencintai kamu Laras.” Andika mencoba meyakinkan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Tapi kalau aku hamil bagaimana ??? Aku harus berkata apa pada ayah dan bunda ???” Aku semakin cemas mengingat bunda memiliki penyakit jantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Aku yang akan bicara pada kedua orang tua mu. Laras,percayalah….” Andika terus saja meyakinkan ku hingga aku luluh juga dengan kata-katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+++&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah sebulan lebih sejak kejadian malam itu, aku dan Andika semakin dekat. Kami sering melakukan hubungan yang tak layak, hingga akhirnya aku telat datang bulan. Aku hamil.&lt;br /&gt;
Dan sepertinya Bunda sudah mencium ketidak beresan ku akhir-akhir ini. Hingga suatu malam Bunda ingin bicara pada ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Laras, Bunda lihat kamu sering sekali pulang malam,apa kegiatan mu tidak terlalu padat ?? Bunda takut itu semua mengganggu kuliah kamu.” Bunda mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Ngga’ kok bunda, semuanya baik-baik saja. Nilai Laras juga baik-baik saja, bunda jangan terlalu cemas. “ Aku berbohong, karena sebenarnya aku sudah jarang masuk kuliah. Dan nilai-nilai ku sudah sangat anjlok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Laras, kamu satu-satunya anak ayah dan bunda, kamu harapan kami satu-satunya. Bunda ingin melihat anak bunda bahagia dan sukses. Bunda sudah tua, sekarang pun bunda sudah sering sakit-sakitan, sebelum bunda pergi meninggalkan kalian semua, bunda berharap sekali bisa melihat kamu dengan tambahan nama gelar di belakang nama kamu. Bunda ingin datang ke acara saat kamu di wisuda.” Bunda menyampaikan harapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Ya bunda.” Aku hanya bisa mengangguk. Karena sebenarnya aku tidak tahu apakah aku bisa mewujudkan harapan bunda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+++&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Andika, kamu di mana ? kenapa sekarang kamu sulit di hubungi. Apa kamu menghindar ?? Bagaimana dengan janji kamu ? Sekarang aku HAMIL….!!!” Aku menelefon Andika karena saat ini dia sangat sulit untuk di hubungi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Aku tidak menghindar Laras, aku sedang sibuk.” Andika hanya menjawab sekenanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Besok kita harus bertemu…!!!” Aku mulai frustasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun saat keesokkan harinya, aku menunggu Andika, namun ia tidak kunjung datang. Perasaan ku kacau, aku mulai putus asa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+++&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setibanya di rumah, aku mendapati bibi sedang menangis sambil memegangi telepon.&lt;br /&gt;
“ Kenapa bibi kok nangis ??” Aku mulai bertanya karena penasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Non Laras dari mana, kenapa Hp nya tidak bisa di hubungin ??” Bibi malah balik bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Tadi baterai Hp Laras habis. Memangnya kenapa bi ?” Aku beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Nyonya masuk rumah sakit kena serangan jantung setelah menerima surat dan masuk ke kamar non Laras.” Bibi menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kaget karena di atas kasur ku terdapat surat peringatan akan di DO jika nilai-nilai ku tidak di perbaiki. Nilai-nilaiku sangat buruk. Mungkin inilah yang membuat bunda syok dan penyakit jantungnya kumat. Aku mengecewakan bunda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku semakin kaget ketika di samping amplop terdapat alat test kehamilan ku. Aku sudah membuangnya, apakah mungkin Bunda membongkar tempat sampah ku??&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lunglai dan tak sadar aku menjatuhkan diriku di lantai. Betapa bodohnya aku. Maafkan aku bunda….&lt;br /&gt;
Aku segera bergegas ke rumah sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+++&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampainya di rumah sakit, aku sudah melihat ayah di sana. Tatapan matanya kosong. Aku agak takut mendekatinya, aku yakin ayah sudah mengetahui alasan mengapa bunda bisa masuk rumah sakit. Beliau tidak bergeming ketika aku datang, tidak ada rasa marah yang ku baca dari wajahnya. Hanya tatapan kosong ketika beliau memandang ku. Aku membaca sesuatu yang buruk telah terjadi. Dengan sikap tenangnya, beliau mengangguk. Walau sebenarnya ia ingin menangis, sama seperti yang aku lakukan sekarang. Bunda telah tiada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menghempaskan diri ku ke lantai, aku menangis dengan histeris. Seketika pandangan ku kabur. Dan aku tak tahu apa yang selanjutnya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+++&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata dokter aku keguguran.&lt;br /&gt;
Aku terlalu banyak pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah masih menunggui ku di rumah sakit.&lt;br /&gt;
“ Ayah, maafkan Laras…” Hanya itu yang bisa ku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah hanya membalas dengan senyuman.&lt;br /&gt;
“Kamu harus segera sehat.” Hanya itu yang beliau katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+++&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Mama, chica mau minyum cucu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersadar oleh suara anak ku. Ya…saat ini aku telah memiliki sebuah keluarga kecil. Aku menikah dengan Randy yang bisa menerima kekurangan ku, dan telah di karuniai anak berumur 1 tahun bernama Chika. Aku masih tinggal bersama ayah ku yang telah pensiun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andai bunda masih ada, pasti akan lengkap kebahagiaan ku saat ini. Bersama ayah dan bunda serta keluarga kecil ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ku pandangi piagam yang terpajang di ruang keluarga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarjana Termuda dengan Nilai Cumlaude&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LARAS ANGGITA, ST.,M.Kom.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Maafkan Laras bunda, semoga bunda bahagia di alam sana.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/3571429779727683823/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/cerpen-persembahan-untuk-bunda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3571429779727683823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/3571429779727683823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/cerpen-persembahan-untuk-bunda.html' title='(Cerpen) Persembahan Untuk Bunda'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEAPnAWbnqNmOI7xs2lJXzlTtLxB-l9AH4VUactLcZ2RxWa9ewi5m8hvQtR-e9nVqn93ooyrY1AvrbHS6YHw2bm_iE3ebeXhCztwujlm3X105iQepvmhdkil8WvN6OrqM6XX1qeCkIL0g/s72-c/mom-and-kid.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-8600617905249792584</id><published>2012-12-05T16:55:00.001+07:00</published><updated>2012-12-05T16:55:25.874+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Tentang Cinta"/><title type='text'>Kupuja, Kusuka, Kucinta</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgB0MmzFzKNCoDhsf6sVLVCYUq4-6-4PlhjCCVDr5wN-AWzOKvBF-gEMXO7E9uKm9Xz9x9Ex8cd7ckVVD3RnFSOVmYuJ4062M7Y-hHx_u4FbePk7Nsrc-cGFRj8qGO6wnJHinR4LZoyLW0/s1600/303981_413570965372920_1216452082_n-300x199.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;265&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgB0MmzFzKNCoDhsf6sVLVCYUq4-6-4PlhjCCVDr5wN-AWzOKvBF-gEMXO7E9uKm9Xz9x9Ex8cd7ckVVD3RnFSOVmYuJ4062M7Y-hHx_u4FbePk7Nsrc-cGFRj8qGO6wnJHinR4LZoyLW0/s400/303981_413570965372920_1216452082_n-300x199.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memujamu, memuja binar tatapmu yang teduh&lt;br /&gt;memuja bibirmu yang tipis membasah&lt;br /&gt;lenggak-lenggok gemulai manakala menari di rerimbun ilalang&lt;br /&gt;memaksa netra tak berpaling menatapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka, manjamu yang merayu&lt;br /&gt;gelak tawamu nan lucu&lt;br /&gt;dan murka yang meletup manakala kucoba gurau dikala kau risau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kucintai parasmu nan jelita pramesti di sasana mega&lt;br /&gt;pipimu yang bersemu merah senantiasa menggumpalkan rindu membara</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/8600617905249792584/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/kupuja-kusuka-kucinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/8600617905249792584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/8600617905249792584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/kupuja-kusuka-kucinta.html' title='Kupuja, Kusuka, Kucinta'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgB0MmzFzKNCoDhsf6sVLVCYUq4-6-4PlhjCCVDr5wN-AWzOKvBF-gEMXO7E9uKm9Xz9x9Ex8cd7ckVVD3RnFSOVmYuJ4062M7Y-hHx_u4FbePk7Nsrc-cGFRj8qGO6wnJHinR4LZoyLW0/s72-c/303981_413570965372920_1216452082_n-300x199.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-2099138462165627070</id><published>2012-12-05T16:52:00.000+07:00</published><updated>2012-12-09T13:53:14.710+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>Peri Biru dan Mawar Biru</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC4mUDPnjHJzmJWG9P9FIC2B7qh08CiQ7B3a8vgJC-LztBri5AUKadvFSWUOswDNXdoeJ-Ujcvl2r9W0nJszA42OP_Fckwz27cb-VnbzuRL7yzoCZWuRDiUW36RBWESLNs7EaW0mua108/s1600/576911_149008151909262_252231706_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC4mUDPnjHJzmJWG9P9FIC2B7qh08CiQ7B3a8vgJC-LztBri5AUKadvFSWUOswDNXdoeJ-Ujcvl2r9W0nJszA42OP_Fckwz27cb-VnbzuRL7yzoCZWuRDiUW36RBWESLNs7EaW0mua108/s400/576911_149008151909262_252231706_n.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Kumpulan Puisi&lt;/b&gt; &lt;b&gt;dan Kisah&lt;/b&gt; - Peribiru berlari di taman istana. Bunga-bunga bermekaran di sana. Hujan baru saja membasahi bumi. Tumpah ruah airnya seperti sebuah guyuran satu bak ember air ke sebuah pot bunga kecil. Genangan air masih membasahi tanah yang becek. Kotor. Air berkecipakan di lompat kodok yang bersuka ria meloncat diantara genangan. Bubur tanah menjadi lumpur yang mampu menodai baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peribiru tak mempedulikan semua itu. Ia berlari. Ia sesungguhnya tak menyukai hujan.tapi kali ini hujan tampak begitu romantic baginya. Pohon tampak lebih hijau setelah diguyur hujan. Bunga-bunga tampak lebih berwarna diguyur hujan. Air seperti berlaku sebagai fungsinya. Seperti sebuah lukisan dalam crayon pensil warna yang dioleskan iar sehingga tampak lebih hidup. Warna lebih cerah dan tampak sangat basah. Ya, sangat basah oleh air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peribiru berlari menghampiri bunga-bunga bermekaran. Ada melati, bunga kertas, tulip, dan mawar. Semua berwarna dan begitu cantik. Putih, merah muda, kuning, merah, dan biru. Di dekatinya sebuah mawar berwarna biru. Biru seperti langit saat selesai hujan tanpa awan. Bisa kau bayangkan bagaimana indahnya? Sangat cerah. Seperti terlepas dari beban awan hitam yang mengelayut manja di sana. Seperti terbebas dari sebuah ikatan rantai yang mengekangnya. Biru itu tampak bebas. Tak bersedih. Dan bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peribiru mendekatkan jemarinya pada mawar biru itu. Ia ingin merasakan lebih dekat biru yang mampu dirasakannya saat ia melihat mawar itu. Rasa yang sama untuk langit. Tapi tiba-tiba “ouch”. Tangannya terluka. Ia terlalu tergesa-gesa menggapai tangkai mawar itu. Ia tak menyadari ada sebuah tangkai kecil tajam di cabang pohon kecil itu. Jemarinya berdarah. Setetes merah menitik pada bunga mawar biru itu. Birunya tampak lecet.Seperti ada noda disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka itu kecil. Namun sangat sakit dijemarinya. Ditariknya segera lengannya dari pohon mawar itu. Diurungkannya niatnya untuk memetiknya. Jemarinya masih berdarah. Dirasakannya sakitnya. Tak serta merta dijilatinya luka itu. Kecil memang. Tapi sakit. Dibiarkannyadarah mengalir perlahan. Dibiarkannya dia menyerap semua sakitnya. Di netralkannya semua darahnya. Diikutkannya sakit itu dalam perih darah yang keluar diujung jemarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air matanya hamper tumpah. Namun tetap ditahannya. Rasanya cengeng untuk sebuah luka sekecil ini. Namun sudut matanya tak sanggup untuk menahan air mata itu. Ada bulir air bening yang mengalir di pipinya. Rasanya tak tertahankan. Jemari lukanya menjangkau bibirnya. Jemari lukanya merasakan hangatnya lidahnya. Dijilatinya perlahan. Ada rasa serupa besi karatan diujung lidahnya. Perih sesaat. Namun ia tak lagi merasakan apapun. Hanya sisa air mata yang terasa lengket di pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia berlari menuju perpustakaan. Ada air pancuran di tengah hallnya. Dibasuhnya mukanya. Mengapa tiap sedih selalu beriringan dengan air mata. Ia menanyakan sakit itu. Ia membongkar buku perpustakaan. Mencarinya dalam buku peta tubuh, saraf, dan rahasia anatomi. Namun tak ditemukannya jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana rasa mampu memantik sebuah gerak biologis tubuh. Ia berlari mencari kakek penyihir. Tapi tak ditemuinya di dapur ramuan. Dia merenung di kamar. Dikamar menara. Dilihatnya hujan kembali tumpah. Memandikan bumi dan segala isinya. Ia masih berpikir. Ia masih merenung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ada hujan tentu akan ada matahari. Jika hujan terus maka bumi akan kelebihan air. Perlu ada matahari untuk menyerap kembali air yang tak terserap oleh bumi. Matahari perlu menguapkan kembali genangan air itu. Seperti itu pula sakit dan sehat. Sedih dan bahagia. Selalu ada opposite yang menjadikan mereka imbang. Karena jika salah satunya tak ada maka neracanya takkan seimbang. Dan dunia pun akan sedikit lebih berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa ada duri di tangkai mawar itu? Ini sebuah penjelasan lain dalam definisi yang sama. Selalu ada keburukan dari sesuatu yang indah. Tak ada sesuatu yang begitu sempurna. Tak ada yang tak memiliki celah. Semua perlu memiliki celah agar ia bisa mengabsorsi dan melepaskan. Duri itu pun sebuah bentuk tameng kecil bagi sang mawar. Tak semudah itu memetik sebuah keindahan. Selalu ada harga yang harus dibayar. Agar seseorang mengikuti aturan atau berhati-hati. Bertindak bijak adalah sebuah kalimat yang lebih tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika terlalu gegabah, durinya bakal menusuk. Perlu kehati-hatian dalam memetiknya. Peribiru memikirkan ini lebih dalam. Ia mencari pesan kuno yang selalu ditinggalkan oleh ibunya. Ibu mengajarinya dengan sangat baik. Namun terkadang ada bahasa yang perlu ia simpulkan lagi. Ibu tak pernah tersurat menyampaikan pesan. Selalu ada makna symbol yang perlu ditebaknya. Ia harus kembali menarik deduksi dari induksi yang begitu banyak. Perlu menarik akar makna dari pohon-pohon kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peribiru memahami bahwa dunia adalah moazaik indah yang penuh keragaman. Dan dari sesuatu yang indah itu juga ada sesuatu yang tak begitu indah. Mereka saling melengkapi. Pendefinisian itu pun bergantungan pada individu. Sesuatu itu tetaplah sesuatu sampai seseorang meletakkan nilai padanya. Ini baik dan ini buruk. Ini indah dan ini jelek. Pada akhirnya definisi adalah sebuah ciptaan yang lahir dari rekonstruksi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun definisi perlu untuk memahami sesuatu. Mencari gerak hendak kemana dan bagaimana ia berubah. Dan seperti itu pulalah mawar dan duri itu. Peribiru mendefinisikannya seperti itu. Ia mungkin masihlah kecil. Masih banyak duri yang perlu di maknainya. Perlu dirasakan sakitnya. Hidup bukanlah keseimbangan nyata yang hadir begitu saja. Hidup mengikuti gerak alam yang juga terus berubah. Ia hanya perlu belajar berhati-hati. Menimbang secara bijak tiap langkah. Dan tak cengeng pada darah yang keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini peribiru begitu rindu dengan kesatria putih. Ingin rasanya kembali bertualang bersamanya lagi. (*)&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/2099138462165627070/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/peri-biru-dan-mawar-biru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2099138462165627070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2099138462165627070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/peri-biru-dan-mawar-biru.html' title='Peri Biru dan Mawar Biru'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC4mUDPnjHJzmJWG9P9FIC2B7qh08CiQ7B3a8vgJC-LztBri5AUKadvFSWUOswDNXdoeJ-Ujcvl2r9W0nJszA42OP_Fckwz27cb-VnbzuRL7yzoCZWuRDiUW36RBWESLNs7EaW0mua108/s72-c/576911_149008151909262_252231706_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-1847453650868661030</id><published>2012-12-04T19:40:00.000+07:00</published><updated>2012-12-05T13:46:56.705+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berbagi Kisah Mengharukan"/><title type='text'>Kisah Suami Istri yang Mengharukan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWMvQiXW7J5FC8lIxPg3mRMSDGBiQapP_MCbI-y4SrnhcgF_MwYdaXyinPWs2tqKmbAzIw9w0eGV01m0UhSUyh-zEnUCtCGiEnEfDSqbo1igsF5TLrvpC4fpXcolHzzYFXCHoMF2kY4SM/s1600/154681_527158153978291_284580200_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWMvQiXW7J5FC8lIxPg3mRMSDGBiQapP_MCbI-y4SrnhcgF_MwYdaXyinPWs2tqKmbAzIw9w0eGV01m0UhSUyh-zEnUCtCGiEnEfDSqbo1igsF5TLrvpC4fpXcolHzzYFXCHoMF2kY4SM/s320/154681_527158153978291_284580200_n.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
membuatku membenci suamiku sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Istriku Liliana tersayang,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/1847453650868661030/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/kisah-suami-istri-yang-mengharukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/1847453650868661030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/1847453650868661030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/kisah-suami-istri-yang-mengharukan.html' title='Kisah Suami Istri yang Mengharukan'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWMvQiXW7J5FC8lIxPg3mRMSDGBiQapP_MCbI-y4SrnhcgF_MwYdaXyinPWs2tqKmbAzIw9w0eGV01m0UhSUyh-zEnUCtCGiEnEfDSqbo1igsF5TLrvpC4fpXcolHzzYFXCHoMF2kY4SM/s72-c/154681_527158153978291_284580200_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-1279857875444401043</id><published>2012-12-02T20:57:00.000+07:00</published><updated>2012-12-02T20:57:41.461+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berbagi Kisah Mengharukan"/><title type='text'>Hadiah Terakhir Dari Ayah</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYZT6tZFS-ub7xUSrXa8zLPke5_L0nsQa__U9tobph2iB31RtzI1cdP5i1OcsVGLqSFyTd4eKgbt-2IXu8KJPK4kro-MWQ5zDh9rXIWuit3AX0TRlRVV2rJAjsNwNA4gQYutB4fGGskgc/s1600/548750_395017640525677_1331524838_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;250&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYZT6tZFS-ub7xUSrXa8zLPke5_L0nsQa__U9tobph2iB31RtzI1cdP5i1OcsVGLqSFyTd4eKgbt-2IXu8KJPK4kro-MWQ5zDh9rXIWuit3AX0TRlRVV2rJAjsNwNA4gQYutB4fGGskgc/s400/548750_395017640525677_1331524838_n.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Di sebuah perumahan terkenal di jakarta tinggalah seorang gadis bersama sang ayah..&lt;br /&gt;sang ibu telah lama mendahuluinya pergi sejak ia masih kecil. .&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Seorang gadis yg akan di wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia sangat yakin&amp;nbsp; nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diapun ber&#39;angan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan putrinya, dan betapa dia mencintai anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Jaket kulit Terkenal, di belakangnya terukir indah namanya dengan sutra emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, &quot;Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan jaket ini untukku?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia membuang Jaket itu dan lari meninggalkan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia hanya berdiri mematung, tak tahu apa yg harus di lakukannya .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu, sang gadis telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang wanita karir. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi suami yang tampan dan anak yang cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa sayangnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap buruk terhadap ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Dan ketika dia membuka lemari pakaian ayahnya, dia menemukan Jaket itu, masih terbungkus dengan kertas kado yang sama beberapa tahun yang lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sesuatu jatuh dari bagian kantong Jaket itu. Dia memungutnya.. sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan! Dia merogoh kantong sebelahnya dan menemukan sesuatu,, di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok kedalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk disamping mobil itu, ia menangis. air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang takan mungkin bisa terobati...&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/1279857875444401043/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/hadiah-terakhir-dari-ayah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/1279857875444401043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/1279857875444401043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/hadiah-terakhir-dari-ayah.html' title='Hadiah Terakhir Dari Ayah'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYZT6tZFS-ub7xUSrXa8zLPke5_L0nsQa__U9tobph2iB31RtzI1cdP5i1OcsVGLqSFyTd4eKgbt-2IXu8KJPK4kro-MWQ5zDh9rXIWuit3AX0TRlRVV2rJAjsNwNA4gQYutB4fGGskgc/s72-c/548750_395017640525677_1331524838_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-2168333347305739437</id><published>2012-12-02T16:58:00.000+07:00</published><updated>2012-12-02T16:58:05.669+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Bebas"/><title type='text'>Sebuah Lagu yang Panjang</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgyuuaetfSN-_xip2Ng3flC-buQ1VzgP779C-aKKrPseU8VG0ynIwfYFPuZSE1we28aWnLGhB8KEownbos9i5BCUHGXEWVlTkpwP8dJr94b_K1ChrHvSvUQ6gjPtYMsMRGETAK41OJcVU/s1600/sweet20piano1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;267&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgyuuaetfSN-_xip2Ng3flC-buQ1VzgP779C-aKKrPseU8VG0ynIwfYFPuZSE1we28aWnLGhB8KEownbos9i5BCUHGXEWVlTkpwP8dJr94b_K1ChrHvSvUQ6gjPtYMsMRGETAK41OJcVU/s400/sweet20piano1.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku menyanyikan sebuah lagu,sebuah lagu yang di ciptakan begitu saja, tanpa lirik-lirik yang jelas tetapi di situ tertampung nada-nada kegetiran, keironisan,ketidakadilan, kekesalan, kebahagian yang pendek, rintihan hati, tawa dan tentu tangis pilu. Saking panjangnya lagu itu membuat ia tersambung menjadi sebuah cerita, Tiada musik intru pengiring, tiada piano, saksofon, bass, gitar, drum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyanyikan lagu ini,dari waktu ke waktu,kadang suaranya lagunya mengecil, vocalnya hilang sesaat, tetapi bukan lagunya telah usai, di saat tertentu vokalnya melengking, berteriak seakan sampai sebuah nada ref yang panjang,irama-irama lagu sedikit tidak beraturan, tidak menentu, tetapi ia hanyalah irama berjalan dengan lirik-lirik yang terus berjalan dan berubah, musik pengiringnya hanyalah suara-suara jalanan, deru-deru mesin, deburan-deburan ombak, suara rintik-rintik hujan, ataupun suara-suara lagu yang terdengar sayup-mayup dari sudut cafe-cafe, semua itu mungkin bisa dikatakan sebagai musik penggiring sebuah nyanyian panjang akan sepotong lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin berhenti untuk menyanyikan lagu itu, tetapi ia bagaikan sebuah nafas, sekali hidup, ia harus senantiasa hidup, dikala berhenti, hidupnya berakhir. Sampai kapan aku harus berhenti bernyanyi?, sementara nyanyianku telah menyatu dalam satu jiwa nafasku, hidup didalam jantungku yang terus berdetak, di situ ia selalu berduet dengan hati yang mungkin berperan sebagai dirigen, kadang ia berduet untuk musik jazz, kadang pop,kadang musik classic, kadang hanya instrument,kadang rock yang tidak jelas. Tetapi, temanya selalu sama yaitu cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian panjangku akan selalu bergema dalam setiap ruang rindumu, di setiap saat, di setiap kenangan yang tertinggal jauh di belakang jejakmu, mengusik setiap ruang sepimu,setiap malam sunyimu, laguku bergema melewati batas-batas ruangmu, bagai hantu-hantu yang tidak berhenti kamu debatkan, akan kenyataan ada atau tiada, tetapi senantiasa terus membuatmu teringat dan menakuti, begitupun laguku yang selalu mengema, merasuki dalam lorong-lorong jiwamu, ia ada disana, selalu, dan sepotong lagu itu selalu sama yaitu cinta. ~@anonim&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/2168333347305739437/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/sebuah-lagu-yang-panjang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2168333347305739437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2168333347305739437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/sebuah-lagu-yang-panjang.html' title='Sebuah Lagu yang Panjang'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgyuuaetfSN-_xip2Ng3flC-buQ1VzgP779C-aKKrPseU8VG0ynIwfYFPuZSE1we28aWnLGhB8KEownbos9i5BCUHGXEWVlTkpwP8dJr94b_K1ChrHvSvUQ6gjPtYMsMRGETAK41OJcVU/s72-c/sweet20piano1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-2430102763984620406</id><published>2012-12-02T16:00:00.000+07:00</published><updated>2012-12-02T16:00:11.898+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Tentang Cinta"/><title type='text'>Aku Merindukan Seorang Dirimu yang tak Bernama</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM4cBRTm0GWyEIRQaVIJ_uL38PhkKHXbq8KVUde6oaHhWzHaIpava6uzzhcOsfsLiwhgj6zt6Kh8cR1LxWpJNbBmjbepgJBHGPUTrURgK6ffr-O88_AEpW_es47cnt4juqN9ziDJybFKU/s1600/tumblr_lhwwbc3WdL1qf75j7o1_500_large.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM4cBRTm0GWyEIRQaVIJ_uL38PhkKHXbq8KVUde6oaHhWzHaIpava6uzzhcOsfsLiwhgj6zt6Kh8cR1LxWpJNbBmjbepgJBHGPUTrURgK6ffr-O88_AEpW_es47cnt4juqN9ziDJybFKU/s320/tumblr_lhwwbc3WdL1qf75j7o1_500_large.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku merindukan seorang dirimu yang tak bernama, terkadang aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rupamu, bagaimana paras wajahmu, bagaimana lekuk tubuhmu, apakah kamu secantik model-model majalah yang selalu aku baca di kala mengubur sepi di sudut café, seanggun artis-artis di karpet merah, atau selugu gadis pantai yang hanya kenal debur ombak dan senja camar yang bernyanyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merindukan seorang dirimu yang tak bernama, karena aku masih tidak tahu siapa namamu, di kala dulu aku pernah merasa menemukanmu.ku temukanmu dalam satu wujud utuh, desahanmu, suara detak jantungmu, sentuhan manis bibirmu, rengkuhan halus tanganmu, warna baju kesukaanmu, sapaan mesra darimu dan identitas jelas dirimu, semua dalam satu keutuhan yang bisa aku raba, yang bisa aku dengar, yang bisa aku lihat.tetapi, seperti bias, pelan-pelan dirimu menghilang, di telan waktu, di bawa angin, tinggalkan sepi yang bergelut luka, meninggalkan satu sosok yang asing bagiku, mungkin benar aku terlalu percaya dan itu bukan dirimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikala aku terperangkap dalam keramaian, tiba-tiba rinduku padamu bisa menggebu-gebu dan menjadi-jadi, lalu hatiku terus bergumam ”andaikan ada kamu”, keramaian ini menghempaskanku dalam julang kesepian yang tak bertepi, seperti sebuah sunyi yang menyisakan satu gema yang panjang,seperti gema di dalam hutan yang sepi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ku pandangi langit malam,ku bisikkan pada embun pagi, mungkin sesosok dirimu masih terpisah di sana-sini, pada embun pagi yang mengantung di ujung daun,pada senja sore yang betaburan ombak di garis pantai, pada bintang yang berkedip rindu di malam sunyi, pada gerimis yang meninggalkan sisa bau tanah, karena itulah aku tidak melihat wujudmu, hanya merasakan sekejap kehadiranmu yang juga tidak pernah utuh, samar-samar, antara ada dan tidak, tiada satu bahasa dunia yang bisa menggambarkanmu, tiada huruf yang bisa menjelaskanmu, hanya rasa yang bisa muncul dan hilang sekelebat kemudian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merindukanmu, tapi aku tidak tahu siapa namamu, bagaimana rupamu. Mungkin dirimu masih menanti, sesosok yang tepat untuk jadikan kamu tempat bernaung,mungkin, ketika aku melihatmu nanti,aku juga melihat senja,embun pagi,gerimis, dan bintang malam bersinar dari balik wajahmu. Di saat itulah aku menangkap, sesosok dirimu yang telah menyatu, harapku semua itu tidak salah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
@anonim&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/2430102763984620406/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/aku-merindukan-seorang-dirimu-yang-tak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2430102763984620406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/2430102763984620406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/aku-merindukan-seorang-dirimu-yang-tak.html' title='Aku Merindukan Seorang Dirimu yang tak Bernama'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM4cBRTm0GWyEIRQaVIJ_uL38PhkKHXbq8KVUde6oaHhWzHaIpava6uzzhcOsfsLiwhgj6zt6Kh8cR1LxWpJNbBmjbepgJBHGPUTrURgK6ffr-O88_AEpW_es47cnt4juqN9ziDJybFKU/s72-c/tumblr_lhwwbc3WdL1qf75j7o1_500_large.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-239050400777211029</id><published>2012-12-02T15:49:00.001+07:00</published><updated>2012-12-09T13:53:50.983+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>Peri Biru dan Pangeran Hippo</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOPLgtFr5azdmAThBvWKC0hodT-Py88JPkRgOVdnE60-aF-YxMh76-eFgPnmB33PKqzm1zhnwSeacQDcAEkRkJYkZTUjhEL5OLSJ7Z3SRoQDXseUxv7KMQoOMn4PSoa4EcVula5GOgNGs/s1600/tumblr_li6d7xgPsH1qh7a1to1_500_large.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;267&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOPLgtFr5azdmAThBvWKC0hodT-Py88JPkRgOVdnE60-aF-YxMh76-eFgPnmB33PKqzm1zhnwSeacQDcAEkRkJYkZTUjhEL5OLSJ7Z3SRoQDXseUxv7KMQoOMn4PSoa4EcVula5GOgNGs/s400/tumblr_li6d7xgPsH1qh7a1to1_500_large.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi masih berembun. Matahari belum sepenuhnya terbit. Awan masih menggantung di langit. Penduduk di Negeri Rawa Air belum sepenuhnya terbangun. Pasar di alun-alun belum terlalu ramai. Peri biru merenggangkan tubuhnya. Di kerajaan ini dia akan tinggal untuk beberapa saat. Ia harus bertemu penyihir bijak, kakeknya untuk berguru sihir dan cara menunggang naga.&lt;br /&gt;
Dilangkahkannya kakinya menuju pusat kerajaan. Pasar tetap sepi padahal matahari sudah sejengkal di atas kepala. Kerajaan pun tampak sunyi. Seperti ada sesuatu yang terjadi di kerajaan ini. Peri biru melangkahkan kakinya menuju tempat tinggal penyihir bijak. Diketuknya perlahan pintu kayu rumah yang terbuat dari batu gunung itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tok…tok…tok….belum ada jawaban. Sekali lagi Peri biru mengetuk pintu. Terdengar sesuatu yang meringsek dari dalam rumah. Lubang kecil di atas pintu yang biasa digunakan untuk mengetahui tamuyang dating tergeser. Sosok tubuh tua mengintip di baliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kakek penyihir, ini Peri Biru “ katanya saat melihat sosok di lubang kecil itu.&lt;br /&gt;
Citt…pintu kayu perlahan terbuka. “Peri Biru, lama juga akhirnya kamu berkunjung “ sambut Kakek Penyihir perlahan. Ia tersenyum pada Peri Biru. Sinar wajahnya tampak hangat. Gurat-gurat wajahnya memahat usia tahunan, mungkin telah mencapai angka ratusan. Namun senyumnya masih tampak sama seperti 10 tahun lalu, saat Peri Biru berkunjung kali terakhir ke Negeri Rawa Air di usia 13 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kakek, apa kabar? Aku melakukan pengembaraan. Aku meninggalkan Negeri Koin Emas untuk bertemu penyihir lain di negeri lain. Belajar ilmu sihir dari mereka”.&lt;br /&gt;
“Masuk dan duduklah. Kubuatkan jus jahe untuk menghangatkan badanmu”ajak Kakek Penyihir. Dilepasnya jubah dari kaitan di lehernya. Disisihkannya di kursi terdekat yang sanggup ia jangkau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kakek, apa yang terjadi dengan Negeri Rawa Air? Aku melihat kerajaan tampak sepi. Alun-alun kota juga tak seramai dulu”Tanya Peri Biru sambil meraih jus jahe yang disodorkan Kakek Penyihir padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerajaan Rawa Air dalam keadaan bersedih. Raja jatuh sakit. Sedangkan pangeran menghilang. Nini Hitam si penyihir jahat sedang berusaha untuk mengambil alih kerajaan. Makanya kerajaan tampak sepi. Seluruh prajurit dikerahkan untuk mencari pangeran. Prajurit-prajurit pilihan berjaga diperbatasan dan di pos-pos khusus kerajaan untuk berjaga-jaga dari si Nini Hitam.”&lt;br /&gt;
“Mengapa pangeran menghilang?”Tanya Peri Biru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia menghilang sejak sebulan lalu saat pergi berburu di hutan. Saat itu raja mempersiapkan penyerahan tahta. Penobatan pangeran sebagai pengganti raja akan dilakukan seminggu kemudian. Tapi tiba-tiba sang pangeran menghilang. Raja sangat sedih karena itu. Ia jatuh sakit. Tiba-tiba Nini Hitam mengeluarkan ancaman akan segera merebut kerajaan saat purnama bulan Juni. Dan itu 15 hari lagi.Hanya pangeran yang sanggup mengalahkan si Nini Hitam. Karena ia adalah turunan murni dari raja Rawa Air”tutur Kakek Penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kakek harus membantu raja untuk menemukan pangeran “kata Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Kami kaum penyihir telah berusaha mencari tahu di mana pangeran. Namun, Peri Biru kami pun punya batas kemampuan. Kami hanya mendapatkan ramalan bahwa seseorang akan datang dari negeri seberang untuk menemukan sang pangeran. Hanya itu petunjuk yang kami punya,” kata Kakek Penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kakek, itu berarti bisa siapapun yang datang ke Negeri Rawa Air”kata Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Benar. Itu berarti bisa siapapun. Atau itu berarti bahwa siapapun itu hanya dirimu. Hanya kamu yang berkunjung ke Negeri Rawa Air dalam waktu sebulan ini sayang. Namun bisa jadi ia bukan dirimu. Kami masih menunggu orang lain datang untuk menyelamatkan pangeran.Sudahlah Peri Biru, kamu masih sangat muda. Kamu tinggal dan belajarlah untuk memperdalam ilmu sihirmu” tutur Kakek Penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peri Biru tampak terdiam. Bisa jadi orang itu dia atau juga bukan dia. Jika memang pangeran menghilang, kemana ia menghilang. Ia masih sibuk dengan lamunannya. Matahari sudah terik. Kakek penyihir mengajaknya ke belakang rumah. Ditepi hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengajarimu menunggang naga. Aku tahu kamu ke sini untuk mempelajarinya”.&lt;br /&gt;
Peri Biru tersenyum. “Mengapa kakek tahu?”&lt;br /&gt;
“ Sejak kecil kau selalu menyukai naga. Bukankah terakhir kali kau ke sini, kau mencoba menungganginya sampai kau terjatuh dari punggung naga hingga tanganmu retak. Meski penuh bebat, esok harinya kamu masih tetap ingin menungganginya” kata Kakek Penyihir dengan tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku mengingat saat itu, Kek. Naga Ekor Merah kecil. Dimana ia sekarang?” Tanya Peri Biru.Kakek tak menjawab pertanyaannya. Ia hanya bergumam yang terdengar seperti bersiul. Dari langit tampak sebuah benda terbang yang tiba-tiba menukik ke arahnya. Mengepakkan sayap dan mendarat empuk tanah. Berjarak lima meter dari kakek penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Inilah naga ekor merah itu. Ia masih tinggal disini. Tak mau pergi. Mungkin menunggumu untuk menungganginya lagi”kata kakek sambil menepuk-nepuk leher Naga Ekor Merah.Naga Ekor Merah tidaklah terlalu besar. Tingginya lima meter. Sayapnya hanya sepanjang tiga meter. Ia adalah jenis naga ukuran sedang. Meski usia mungkin sudah hampir 15 tahun.&lt;br /&gt;
Peri Biru perlahan mengulurkan tangannya. Meraih mencong naga itu.Naga Ekor Merah mengusap perlahan moncongnya di tangan Peri Biru. Ia masih mengingatnya. Anak usia 13 tahun yang dulu jatuh dari punggungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Naga ekor merah menekuk kakinya. Menyilakan Peri Biru untuk naik di punggungnya.&lt;br /&gt;
“Naiklah. Ia mempersilakanmu menungganginya”, kata Kakek Penyihir.&lt;br /&gt;
Ditungganginya sang naga. Ia berpegangan pada dua duri di belakang pundak sang naga. Harusnya ini lebih gampang, batinnya. Naga Ekor Merah mengepakkan sayapnya. Menyentakkan kakinya di tanah untuk terakhir kalinya dan membumbung tinggi ke langit.&lt;br /&gt;
Peri Biru tampak pucat. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan ketika sang Naga menyentakkan kakinya. Untungnya ia masih berpegang erat di duri-duri tubuh naga itu. Mereka terbang ke langit hingga ketinggian 500 meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peri Biru hanya mampu merasakan desiran angin di sisi telinganya. Ia tak sanggup membuka mata. Ia masih harus beradaptasi dengan ketinggian, naga dan takutnya sediri. Perlahan ia merasakan terbang sang naga mulai memelan. Ia tak lagi merasakan kepakan sayap di antara sela kakinya. Dibukanya matanya. Hijau hutan di bawahnya tampak sangat indah. Ia melihat langit biru. Matahari tak menyilaukan matanya ,karena mereka terbang membelakangi matahari. Ini adalah pengalaman terbang pertama baginya. Ia tak pernah tahu bahwa melihat bumi dari atas mampu mendatangkan rasa bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Naga Ekor Merah terbang menukik ke arah danau.Kali ini Peri Biru telah menguasai gerakan sang Naga. Kapan sang Naga akan berbelok, kapan akan menukik. Dilepaskan pengangannya. Ia merentangkan tangannya, memejamkan mata, dan menghirup udara segar. Mungkin sperti ini yang dirasakan burung saat terbang. Lepas, bebas, dan begitu damai.&lt;br /&gt;
Penerbangan pertamanya berjalan dengan sempurna. Mereka mendarat saat matahari kemerahan di langit barat. Kakek Penyihir menyambutnya dengan wajah yang tampak risau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kalian pulang juga. Ayo cepat masuk ke dalam rumah,”ajak kakek.&lt;br /&gt;
“Kenapa kakek tampak cemas?”tanya Peri Biru setelah mengantar naga Ekor Merah ke istal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya naga itu tak perlu tinggal di istal karena ia tak dikekang. Ketika ia ingin terbang ia bisa melakukannya kapan pun. Tapi kakek penyihir selalu mengantarnya ke istal jika sore. Memberinya beberapa kilogram daging mentah agar ia tak kelaparan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kabar dari kerajaan. Raja sekarat. Nini Hitam makin mempertegas usaha penyerangannya. Ia mengirim pesan bahwa pengambilalihkan kekuasaan mungkin akan ia percepat”kata Kakek Penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kakek, izinkan Peri Biru untuk bertemu raja. Aku ingin membantunya menemukan pangeran”pinta Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Tapi kamu masih sangat muda, anakku”.&lt;br /&gt;
“izinkan aku mencobanya, Kek. Kumohon. Jika kita tak pernah bertindak maka kita takkan pernah tahu apa yang akan kita dapati di depan. Ayolah “ rengek Peri Biru.&lt;br /&gt;
****&lt;br /&gt;
Esok pagi, bersama kakek penyihir peri biru bertemu dengan raja rawa air. Singgasana raja kosong. Raja terbaring lemah di kamar raja. Ia tampak sangat lemah. Raut muka bijaknya terselubungi oleh sakit yang dideritanya. Permaisuri mendampingi disampingnya. Juga dengan wajah lelah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mulia, hamba menghadap kepadamu untuk menjengukmu. Hamba bersama cucu hamba. Peri Biru”kata kakek penyihir sambil berlutut di sisi tempat tidur baignda raja. Peri biru mengikutinya. Raja tersenyum pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baginda, hamba telah mendengar tentang kemalangan yang dialami Negeri Rawa Air. Hamba juga mendengar tentang ramalan itu. Izinkan hamba untuk mencari sang pangeran. Tanpa pangeran, Negeri Rawa Air akan hancur” sahut Peri Biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja mencoba duduk. Dibutuhkan waktu lima menit untuk mendapat posisinya yang nyaman untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Anakku. Aku sangat senang dirimu mau membantu negeri ini. Aku tak punya pilihan lain selain mengizinkanmu. Karena aku pun telah lama menanti seseorang datang untuk memenuhi ramalan itu” kata raja dengan suara parau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Besok datanglah ke istana sebelum matahari terbit. Aku akan memberimu sesuatu yang mungkin akan berguna dalam perjalananmu. Dan tolong lakukan pertemuan para penyihir, Kakek. Aku yakin Peri Biru butuh setidaknya petunjuk bijak dari kalian” kata sang Raja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan penyihir dilaksanakan di aula besar samping istana. Di sana berkumpullah para penyihir Negeri Rawa Air. Jumlahnya sekitar 10 orang. Semua telah berusia tua. Yang paling muda mungkin berumur 65 tahun. Menjadi penyihir haruslah memiliki darah penyihir. Dan hanya sedikit orang yang mampu memiliki darah penyihir. Dan jika seseorang tersebut tidak menyadari jika ia memiliki darah penyihir, pada usianya yang ke 25, darah sihir itu akan hilang. Sesungguhnya Peri Biru memiliki darah itu. Dan ia telah menyadarinya sejak usia 5 tahun. Kakek penyihir adalah kerabat jauhnya yang juga anggota tertua dan merupakan ketua dewan penyihir di Negeri Rawa Air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini cucuku Peri Biru ingin memenuhi ramalan yang pernah terbaca sebulan lalu. Kita tak pernah tahu apakah ia yang disebutkan oleh ramalan itu. Tapi aku yakin dengan ketulusan hati Peri Biru untuk membantu Negeri Rawa Air, apapun kelak yang terjadi ia telah menunjukkan keberanian kepada kita”, kata Kakek Penyihir di depan dewan penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para tetua penyihir tampak mengangguk – ngangguk. Seorang penyihir pria yang tampak seumuran kakek menghampirinya. Penyihir itu lantas membuka jubah yang dikenakannya.&lt;br /&gt;
“Jubah ini mampu menghangatkanmu ketika kau kedinginan, mampu menyejukkanmu ketika kau merasa kepanasan. Ia mampu merasakan kecemasanmu. Gunakanlah ia. Ia akan melindungimu. Kekuatannya pun tak terduga, Anakku”. Disampirkannya jubah itu ke pundak Peri Biru. Peri biru tampak berdiri kikuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih untuk semua dukungan para dewan penyihir. Aku berjanji akan menemukan pangeran” kata Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Anakku, berjalanlah ke arah hutan. Dis ana tempat terakhir kali pangeran terlihat. Mulailah mencari jejaknya di sana. Hutan itu selalu menyimpan banyak kejutan tak terduga. Telah banyak prajurit yang kesana dan tak kembali. Berhati-hatilah”kata Kakek Penyihir.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Matahari masih sejam lagi terbit. Namun Peri Biru telah tiba di istana. Raja tampak bersemangat. Ada sedikit cerah di wajah tuanya. Disambutnya Peri Biru dengan suka cita. Diajaknya si peri ke ruang rahasia di jantung istana. Ruang itu sebenarnya tidaklah tampak begitu rahasia. Di lalui setiap hari oleh orang- orang istana. Bahkan dijadikan gudang alat kebersihan. Namun dalam ruangan itu masih ada ruangan. Dan dalam ruangan yang satu masih ada ruangan yang lain. Peri Biru sendiri bingung berapa ruangan yang telah dilaluinya hingga mereka tiba pada ruang penuh benda pusaka. Benda-benda bersejarah dan bernilai magis tersimpan di sana. Sejak raja pertama Rawa Air hingga raja yang berdiri di depan Peri Biru saat ini. Raja meraih satu buah pedang kecil. Lebih mirip belati yang ujungnya patah. Diserahkannya kepada Peri Biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
” Peri Biru, belati ini adalah belati yang ingin aku serahkan pada pangeran saat penobatannya. Namun aku tak tahu apakah aku masih bis bertahan untuk menyerahkan belati ini langsung kepadanya. Tiap pangeran akan memiliki senjata pusakanya ketika ia menjadi raja. Namun senjata itu sesungguhnya telah ia pilih sejak ia kecil. Belati inilah yang ia pilih saat aku mengajaknya pertama kali ke tempat ini. Dialah yang mematahkan ujungnya. Ujung itu dia tetap simpan. Ia kalungkan di lehernya. Pada saat penobatannya ia berencana menyatukan ujung belati patah itu. Ia baru kembali dari petualanganya empat bulan lalu. Dan ia kembali menghilang” cerita raja sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peri Biru hanya mampu terdiam. Ia melihat sosok di depannya bukanlah seorang raja yang memiliki kuasa. Tapi seorang ayah yang kehilangan anaknya.“Hanya orang-orang yang memiliki keberanian dan ketulusan mampu menemukan ruangan ini. Dan kau memiliki semua itu anakku” kata sang raja sambil menyerahkan belati berujung patah itu ke Peri Biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peri Biru tak berkata apapun. Ia baru menyadari bahwa petualangannya kali ini lebih berat dan ia sendiri. Ia tak didampingi lagi si Kesatria Putih, kawan yang menemaninya membunuh naga di Negeri Koin Emas. Sesaat ia merindukan Kesatria Putih. Mereka berpisah enam bulan silam. Saat Peri Biru memutuskan untuk belajar ramuan dan tumbuh-tumbuhan di Desa Tenggara, sedang Kesatria Putih melanjutkan perjalanannya ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baginda, aku akan memulai perjalananku. Para dewan penyihir telah memberiku petunjuk hendak kemana aku pergi”kata Peri Biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Sudah saatnya kau pergi”kata braja. Mereka lantas menuju ketirai di sisi dinding. Peri Biru mengira akan kembali ke gudang sapu tempat mereka pertama masuk, namun ternyata mereka telah berada di halaman belakang istana. Peri Biru tak ingin mengambil pusing untuk memikirkan bagaimana itu terjadi.Setelah meminta izin pada raja ia pun kembali ke rumah kakek penyihir. Kakek telah menunggunya.&lt;br /&gt;
“Raja telah memberikan benda pusaka kepadaku yang harus kuserahkan kepada pangeran” kata Peri Biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakek penyihir mengangguk. “Telah kupersiapkan bekalmu anakku. Busur dan panah, jubahmu dan sedikit makanan untukmu di jalan. Berhati-hatilah” pesan kakek penyihir.&lt;br /&gt;
“Jika kau membutuhkan jalan penuntun pulang panggillah sang Naga Ekor Merah. Bersiullah. Dan ia akan datang padamu. Ia adalah hewan mistik jadi yakinlah pada kekuatannya”.&lt;br /&gt;
Dipeluknya kakek penyihir untuk terakhir kalinya sebelum menuju arah hutan. Ada sedih yang menyesak di dadanya. Ia mengerjapkan matanya yang terasa panas dan perih. Ia benar-benar merindukan Kesatria Putih sekarang. Tapi ia harus berjuang sendiri kali ini.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Peri Biru melangkah memasuki hutan. Dieratkannya jubahnya di kaitan lehernya. Ia tak tahu hendak kemana. Ia hanya mengikuti langkah kakinya menuju hutan yang lebih dalam. Beberapa bagian hutan adalah rawa-rawa. Ditemukannya berbagai macam pohon-pohon menjulang. Jamur-jamur yang biasa dia gunakan untuk saat belajar ramuan. Beberapa hewan-hewan hutan yang tak menakutkan. Mengapa Negeri Rawa Air disebut demikian? Mungkin karena banyak bagian dari negeri ini berupa rawa-rawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makin ke dalam hutan suasana pun makin suram. Sinar matahari mulai susah menembus rimbun dedaunan pohon. Ia tersesat. Ia tak tahu harus kemana. Peri Biru mengistirahatkan tubuhnya di salah satu akar pohon. Dibukanya bekal makanan yang disiapkan Kakek Penyihir. Sambil menikmati makan siangnya, ia memandang ke sekelilingnya. Hutan adalah tempat misterius yang indah. Dinikmatinya musik alami yang diciptakan angin, dahan, dan burung-burung kecil. Tanpa ia sadari ia sudah jatuh tertidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petang menggelap. Peri biru terbangun. Ia tersadar telah tidur cukup lama. Tak tahu harus ke arah mana ia pun memilih untuk tetap di kaki pohon itu. Namun tampak di depannya terdapat kerlap kerlip cahaya. Ia ingin mencari tahu cahaya apa itu. Dengan pelan didekatinya sumber cahaya itu. Sumber cahaya itu berasal dari kunang-kunang. Tapi kunang-kunang yang satu ini bukan kunang-kunang biasa. Ukurannya sebesar jari telunjuk. Memiliki bentuk tubuh manusia. Mereka memiliki antena yang menyala-nyala di kepalanya. Sayap-sayapnya pun bersinar keperakan.Peri Biru mencoba menyapanya “permisi” katanya pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segerombolan kunang-kunang terkejut dan lari bersembunyi di dalam pohon. “maaf,Tapi aku butuh bantuan kalian.Tenanglah aku tidak akan menganggu kalian” kata Peri Biru lagi.&lt;br /&gt;
Seekor kunang-kunang pria keluar dari pohon. Mencoba terbang mendekati Peri Biru namun tetap waspada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kalian memahami bahasa saya?” Tanya Peri Biru.&lt;br /&gt;
Sang kunang-kunang tidak menjawab. Peri Biru tertunduk putus asa. ia memutuskan berbalik dan kembali ke akar pohon besar tempatnya semula.&lt;br /&gt;
“Hei, mau kemana?” tiba-tiba sebuah suara menyapanya. Peri Biru mengurungkan niatnya. Ia kembali memperhatikan kunang-kunang itu.&lt;br /&gt;
“ Maaf , jika sambutan kami kurang berkenan. Kawananku hanya takut pada sesuatu yang asing. Duduklah.Beberapa waktu lalu sesuatu yang seperti dirimu pun pernah datang ke tempat kami. Dan ia menakuti kawananku. Ia baik, tapi kawannya jahat” kata kunang-kunang. Peri Biru duduk di akar pohon rumah kunang-kunang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami adalah peri kunang-kunang. Akulah yang memimpin kawanan peri kunang-kunang yang lain” kata kunang-kunang pria itu memperkenalkan diri. Dipanggilnya kawanannya yang lain untuk mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku Peri Biru.Aku kesini mencari seorang kawan. Kamu tadi bilang pernah datang manusia sepertiku di sini. Apakah kau melihatnya. Kejadian itu sebulan yang lalu ya. Kau tahu dimana ia sekarang ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peri kunang-kunang perempuan bercerita ia tak ingat itu sebulan yang lalu atau tidak. Tak ada konsep waktu dalam kehidupan peri kunang-kunang. Waktu bagi mereka adalah absurd dan tak peduli berapa lama bagi mereka, mereka adalah makhluk abadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia manusia. Lelaki. Saat itu ia tersesat di hutan ini. Kami sempat menjamunya. Ia tampak kelelahan. Namun tiba-tiba sesosok makhluk jahat menyerangnya. Awalnya ia mampu mengalahkannya. Namun tiba-tiba mereka berduel hebat dan makhluk jahat itu merubah manusia itu menjadi sesuatu yang sangat besar. Makhluk jahat itu lantas membawa pergi kawanmu yang telah berubah itu. Kami sempat mengikutinya namun di pohon-pohon yang melingkar ditengah hutan ini mereka tiba-tiba menghilang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus mencari tempat itu. Tempat dimana mereka menghilang “kata Peri Biru panik.&lt;br /&gt;
“Peri Biru, tunggulah sampai pagi. Kami akan mengantarmu ke tempat di mana mereka menghilang“,sahut peri kunang-kunang. Peri Biru mengiyakan. Malam itu ia tak bisa tidur nyenyak. Ia bermimpi bertemu dengan makhluk besar yang menyeramkan.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Mereka tiba di pohon pohon yang melingkar yang dimaksud kawanan peri kunang-kunang. Tak ada apa-apa di sana. Yang ada hanyalah jejeran pohon yang melingkar menyisakan ruang kosong di tengahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Peri Biru, kami tak bisa lagi menemanimu lebih jauh. Sesuatu yang jahat sangat kuat disini. Kami hanya bisa memberikanmu ini”kata ketua peri kunang-kunang.&lt;br /&gt;
Dicabutnya antena kecil yang mengeluarkan cahaya dari puncak kepalanya. “ini bisa membantumu menyinari kegelapan. Sangat berbahaya jika menyalakan api untuk penerang”. Peri Biru menerima antena kecil itu di telapak tangannya. Sangat kecil namun terasa berat seperti logam. Ia melihat ke arah kepala sang peri kunang-kunang yang terlihat aneh tanpa satu antena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenanglah, akan terganti kembali”sahut peri kunang-kunang membaca ekspresi Peri Biru.&lt;br /&gt;
Mereka pun berpisah. Peri Biru hanya mampu duduk menunggui sesuatu yang ajaib dari tengah lingkaran itu. Ia hanya berjalan dipinggir lingkaran itu. Pada tengah lingkaran itu tampak sesuatu yang bening serupa air. Tapi penuh dengan humus. Rawa. Yah, bagian tengah itu adalah rawa. Sesuatu tampak menyembul dari air itu. Sesuatu yang gelap dan besar. Peri Biru terperanjat. Dia melangkah mendekati namun tiba-tiba ia tak memijak pada apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaaarrrggggghhhhh”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan segalanya tiba-tiba gelap. Antenna peri kunang-kunanglah yang berpendar dan menyilaukan matanya. Membuatnya tersadar bahwa ia sedang terjatuh ke dalam rawa. Rawa yang tak basah tepatnya. Karena pakaian yang dikenakannya masih kering.&lt;br /&gt;
Ia mencoba berdiri dan melihat di mana ia berada. Yang didapatinya adalah sebuah labirin panjang dan berkelok. Ia harus mencari ujung labirin IniTak disadarinya bahwa ada sesuatu yangmemata-matainya. Sesuatu yang besar dan sangat menyeramkan. Benda besar itu tiba-tiba berlari dan menyeruduknya. Peri Biru terkejut namun masih mampu dihindarinya serangan dadakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seekor binatang. Hippopotamus. Hewan yang sangat besar dan kuat. Hippo itu kembali menyerangnya namun kali ini Peri Biru sudah siap menangkis serangan. Ditembakkannya anak panah ke tubuh hewan itu. Namun Hippopotamus itu tampak tak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dasar kulit badak” kutuk Peri Biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia hanya mampu menghindari serangan-serangan Hippopotamus itu. Berlari menjauh menyusuri labirin. Namun pada belokan didepannya peribiru menemui jalan buntu. Ia terdesak. Dilemparkannya segala sesuatu yang ia punya ke arah Hippopotamus itu. Buntalan pakaiannya. Busur panahnya, hingga belati pusaka titipan raja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siiinggg…..”belati patah itu terlepas dari sarungnya. Mejadi perisai terakhir Peri Biru. Ia hanya mampu mengangkat tangannya dan menutup matanya. Bersiap menghadapi serang.&lt;br /&gt;
Kilau bajanya yang tampak bersinar menyilaukan mata sang Hippopotamus. Tiba-tiba saja sang Hippopotamus terdiam ditempat dan berhenti menyerang. Peri Biru shock.seluruh tubuhnya gemetaran. Napasnya terengah-engah. Dia memicingkan matanya. Mengintip pada apa yang didepannya. Didapatinya Hippopotamus itu terduduk diam sambil menggelengkan lehernya. Seperti ada sesuatu yang menjeratnya disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan Peri Biru menghampirinya dengan hati-hati. Mencoba mengusap kepalanya. Namun masih mengacungkan belati itu dengan siaga. Hippopotamus itu tampak pasrah menerima elusan Peri Biru. Ia lantas menyusuri hingga ke leher Hippopotamus. Agak susah untuk tahu mana yang leher dan mana yang perutnya. Semua terlihat sama besarnya untuk sebuah kuda nil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didapatinya sebuah tali serupa kalung yang melingkar dileher sang Hippo. Ditelusurinya hingga kebagian bawah leher Hippopotamus itu. Peri Biru bahkan harus berbaring dan mendongak di bawah tubuh sang Hippo untuk melihat mata kalung itu. Sebuah baja yang tampak patah. Runcing dan tajam. Seketika itu ia tersadar dan terbangun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pangeran” sahutnya sambil berlutut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata Hippopotamus itu adalah pangeran yang dicarinya. Ia pun mulai menautkan semua cerita yang dituturkan para kawanan peri kunang-kunang. Sosok itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang besar dan gelap. Dibawa lari oleh sesuatu yang jahat dan menghilang di pohon-pohon melingkar.Pangeran dikutuk menjadi Hippopotamus. Dan Hippopotamus itulah yang dia lihat di tengah rawa tengah pohon-pohon yang melingkar. Sesungguhnya ia tidak terjatuh di rawa, ia terjatuh di jalan menuju labirin ini. Karena itu pakaiannya tetaplah kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peri Biru menaruh kasihan pada sang pangeran. Ditatapnya mata Hippo itu. Ia seperti mengenal tatapan itu, namun entah siapa. “Aku akan mengantar pangeran pulang. Kita harus menemukan jalan keluar” kata Peri Biru.Tapi Peribiru tak tahu hendak kemana di labirin ini. Dan tampaknya pangeran Hippo paham yang dikhawatirkan Peri Biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pangeran Hippo memimpin perjalanan. Ia telah menghapal labirin ini. Labirin ini adalah tempatnya terkungkung selama ini. Mereka menyusuri labirin dalam diam. Peri Biru tahu bahwa masih akan ada sesuatu yang dihadapinya di depan nanti. Semua nampak sangat mudah, pasti ada yang sulit pada akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tiba di tengah labirin. Sebuah rawa terdapat ditengah situ. Rawa yang mirip dengan rawa di tengah pohon-pohon melingkar itu. Ternyata rawa itu adalah pantulan.&lt;br /&gt;
Di depannya terdapat sebuah tempat duduk. Mungkin bisa dianggap singgasana. Di sampingnya Sebuah berlian merah tampak mengapung dalam wadah kaca yang melayang dengan api berwarna biru jingga dibawahnya. Di atas labirin itu adalah langit. Tak ada atap ataupun batu yang menghalangi. Disanalah jalan keluar. Dan jarak mereka dengan lubang langit itu sangatlah tinggi. Bahkan untuk mendakinya saja butuh waktu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih Hippo telah mengantar tamu kita hingga disini “ sahut seseorang.Nini hitam si penyihir jahat muncul dari rawa.Melangkah menuju singgasananya. Ini baru kali pertama Peri Biru melihatnya, namun ia sudah mampu mengenalinya. Aura jahatnya sangat terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu Nini Hitam? “kata Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Tak sadarkah kau Peri Biru, bahwa aku telah menjebak kalian. Memanfaatkan kalian agar sampai d isini. Mengantarkan belati itu. Belati yang mampu membuatku menguasai tak hanya negeri rawa air tapi juga negeri-negeri lain.hahahahahaha” tawa Nini Hitam dengan licik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akulah yang menyerang dan menculik Pangeran. Karena dia yang memegang patahan belati itu. Kutuk ia menjadi Hippopotamus gendut. Raja jatuh sakit karena memikirkan putranya. Itu semakin mempermudahku. Dan ramalan itu akhirnya membawamu ke sini lengkap dengan belati itu. Bulan purnama hampir penuh malam ini. Kekuatan belati itu akan memuncak jika disatukan dibawah cahaya bulan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih lima hari hingga penanggalan ke 15 bulan juni. Bulan belumlah sempurna”kata Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Di labirin ini, konsep waktu di dunia permukaan lebih cepat daripada waktu di sini. Dunia permukaan mungkin telah berjalan berhari-hari, namun kamu baru merasakan beberapa jam”sahut Nini Hitam.&lt;br /&gt;
“Serahkan belati itu dan patahannya sekarang”teriak sang penyihir hitam.&lt;br /&gt;
Namun tanpa diduga Pangeran dalam wujud Hippo menyerang Nini Hitam. “Kamu telah berani melawanku Hippo gendut” kutuk Nini Hitam. “Rasakan pembalasanku”. Dirapalnya mantra yang membuat pangeran Hippo menjadi liar dan tak terkendali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pangeran sadarlah “teriak Peri Biru. Namun ia tak mampu berbuat banyak. Nini hitam pun mulai melancarkan serangan kepadanya. Peri Biru hanya mampu menghindar di balik dinding-dinding batu. Di bidiknya panah kearah penyihir hitam, namun meleset. Hanya menyerempet pipi sang pnyihir jahat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak kecil. Kamu berani mengancamku” murka Nini Hitam.&lt;br /&gt;
Pangeran Hippo tampak begitu menderita. Ia seperti tak bisa bernafas. Menyeruduk kasar ke arah rawa ditengah ruang itu. Namun yang didapatinya hanyalah tumpukan debu kering.&lt;br /&gt;
“Seperti itulah rasanya tanpa air hewan amphibi. Terimalah kutukanmu” sahut Nini Hitam puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peri Biru menyadari bahwa yang dibutuhkan pangeran adalah air. Kondisi tubuhnya saat ini adalah seekor Hippo, dan hippopotamus adalah hewan ampibi. Diambilnya busur panah tiga sekaligus. Ia punya rencana untuk menyelamatkan pangeran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibidiknya satu-satu panah itu ke arah Nini Hitam. Ia berusaha mengalihkan perhatian penyihir itu dari pangeran. Panah pertama mengenai lengan gaun hitamnya dan tertancap di kursi singgasana. Peri Biru meringsek mendekati sang pangeran. Pangeran dalam wujud Hippo tampak sangat menderita. Ia sangat sekarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nini hitam menyerangnya dengan mantra sihir, untungnya mampu ia tangkis. Panah kedua ditembakkannya lagi. Kali ini sang penyihir mampu menghindar. Jarak Peri Biru dan pangeran Hippo hanyalah berjarak 5 meter. Kembali ditembakkannya panah ketiganya ke arah si penyihir namun kali ini mampu dimatahkannya dengan mantra. Ia tak mempedulikan itu, yang paling penting ia telah menjangkau pangeran. Dibukanya ikatan jubahnya. Jubah yang dititipkan para tetua penyihir.”ia bisa melindungimu”kata-kata itu masih terngiang ditelinganya. Dibungkusnya badan Hippo dengan jubah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyihir hitam mulai melancarkan serangannnya kembali. Meninggalkan singgasananya. Peri Biru dan Hippo berusaha berlindung dibalik dinding batu. Tapi ada satu hal yang janggal yang dirasakan Peri Biru, tubuh pangeran Hippo tidak sebesar Hippo yang sebenarnya. Ukurannya terasa lebih kecil dalam bungkus jubah itu.Dibalik dinding batu mereka melihat penyihir hitam ke arah tempat persembunyian mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarlah. Sudah saatnya menyerah” teriak Nini Hitam.&lt;br /&gt;
Hippo menurunkan jubah yang menyelubungi tubuhnya. Peri Biru membantunya. Keduanya bertatapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kesatria Putih.apa yang kau lakukan di sini???” teriak Peri Biru.Otaknya berjalan cepat, jubah itu telah melumpuhkan kutukan Hippopotamus.&lt;br /&gt;
“Peri Biru??” Tanya sang pangeran sambil mengerutkan dahi.&lt;br /&gt;
“Bukan saatnya reunian sekarang. Ayo keluarlah dan serahkan belati itu. Atau kalo tidak aku ubah kalian menjadi gajah.hahaahahaha” ancam Nini Hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kali ini kita harus setuju dengan Nini Hitam. Ini bukan saatnya menjawab pertanyaan.Kita selesaikan Nini Hitam dan kujelaskan semuanya nanti”kata Kesatria Putih.&lt;br /&gt;
“Iya aku sepakat. Tapi apa rencanamu untuk menghancurkan majikanmu itu”Tanya Peri Biru sambil sesekali menyerang Nini Hitam dengan mantra. Mereka hanya mampu berlari dan menghindar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mengalihkan perhatiannya. Aku akan mencuri berlian hatinya. Di sanalah tempat kekuatannya”jelas Kesatria Putih.&lt;br /&gt;
“Yah, seperti dulu. Aku yang mengalihkan perhatian” rajuk Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Belum saatnya kau merajuk. Mana belati itu?” Tanya Kesatria putih yang juga adalah pangeran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada di kantung jubah itu. Baiklah aku kan mengalihkan perhatian si Nini Hitam. Aku akan ke arah barat. Dan kau ke arah timur untuk mengambil berlian itu. Aku akan menghitung sampai tiga. Dan kita sama-sama berlari”,kata Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Satu…dua…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiga” Peri Biru menembakkan anak panahnya kea rah nini hitam. Berlawanan arah dengannya Kesatria Putih berlari kearah singgasana. Menyatukan patahan belatinya. Namun ternyata Nini Hitam mampu menangani keduanya. Ia melancarkan serangan dua arah. Peri Biru terjebak dan Kesatria Putih jatuh tersungkur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian terlalu mudah untukku “ kata Nini Hitam congkak.&lt;br /&gt;
Peri Biru berusaha mengatur nafasnya. Mencoba menggumamkan sesuatu dari suaranya yang parau. Ia mencoba bersiul. Sekali, dua kali, hingga tiga kali akhirnya ia berhasil melakukannya. Keduanya putus asa. Nini Hitam melangkahkan kakinya untuk menjangkau belati yang terlepas dari tangan sang Pangeran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dari celah lubang diatas tampak sesuatu yang menukik dan menyerangnya.&lt;br /&gt;
“Aow…pergi kau burung jelek…auw”usir si Nini Hitam.&lt;br /&gt;
“Naga Ekor Merah. Aku selalu percaya kau akan selalu menjagaku”teriak Peri Biru.&lt;br /&gt;
Kesatria Putih tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bulan telah penuh diatas. Diambilnya patahan belati dan disatukannya. Di jangkaunya tomples berisi berlian hati itu dengan sekali lompatan. Ditusuknya berlian itu. Wadah kacanya pecah. Ujung belati itu menembus berlian itu tepat di tengahnya. Bulan tepat menyinari belati dan berlian itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“AAAAARRRGGGGGHHHH…….ttttiiiiiidddddaaaaaakkkkkk”teriak Nini Hitam. Dan kemudian yang tertinggal dari penyihir jahat itu hanyalah debu dan seonggok pakaian lusuh.&lt;br /&gt;
Naga Ekor Merah tampak kecewa melihat mainan barunya berubah menjadi debu. Peri Biru mendekatinya dan menepuk lehernya “Hai…senang bertemu kembali denganmu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo aku?Senang bertemu kembali?”goda kesatria putih.&lt;br /&gt;
“ Jika aku tahu bahwa jubah itu bisa mengambalikan wujud aslimu aku takkan menyelubungimu dengan itu” kata Peri Biru ketus.&lt;br /&gt;
“Baiklah aku kembalikan. Tapi nantinya aku pinjam dulu.”kata Kesatria Putih sambil menutup dadanya yang tak memakai baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terserah kau saja. Kita harus segera pergi sebelum tempat ini menjadi debu”ajak Peri Biru.&lt;br /&gt;
Mereka pun terbang keluar dari celah labirin. Menunggangi Naga Ekor Merah. Di belakangnya labirin Nini Hitam perlahan hancur menjadi debu.&lt;br /&gt;
“Selalu menyenangkan melihat langit malam bersamamu Peri Biru “ goda Kesatria Putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peri Biru hanya cemberut. Dibuatnya gerakan untuk memerintah Naga Ekor Merah untuk menukik tajam. Hampir membuat Kesatria Putih terjengkal dari duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu hutang banyak cerita padaku pangeran Hippo. Makanya aku tak menjatuhkanmu dari punggung naga ini” kata Peri Biru ketus.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Pagi mengembun. Matahari dibalik awan. Peri Biru memilih terbang bersama Naga Ekor Merah menuju danau. Di bawah telah menunggu Kesatria Putih. Entah telah berapa jam ia menunggu Peri Biru. Karena Peri Biru baru kembali setelah matahari bersinar terik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Aku akan membayar janjiku. Tapi kau harus ikut denganku” kata Kesatria putih sambil mengusap leher Naga Ekor Merah dan menaikinya.&lt;br /&gt;
“Sebaiknya kau lakukan segera” jawab Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Kau tampak manis kalo cemberut, Peri Biru” goda Kesatria Putih. Peri Biru yang saat itu hendak mengikuti Kesatria Putih menunggangi Naga Ekor Merah tiba-tiba menghentikan gerakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah, jangan merajuk. Yuk “ajak Kesatria Putih sambil memegang tangan Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Awas kalo kau menggodaku lagi. Aku berani terjun dari punggung naga ini”,ancamnya.&lt;br /&gt;
“Siap tuan putri” sahut Kesatria Putih, tetap menggodanya.&lt;br /&gt;
Mereka terbang ke arah kastil istana. Duduk di puncak tertinggi dan melihat seluruh pemandangan negeri rawa air. Dibiarkannya naga ekor merah untuk terbang kembali. Terbang semau sang naga itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang ingin kamu tahu Peri Biru” Tanya Kesatria Putih.&lt;br /&gt;
“Aku rasa kamu sudah tahu pertanyaanku “ jawab Peri Biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku sebenarnya adalah pangeran di negeri ini. Tapi aku menyukai petualangan. Ketika ke Negeri Koin Emas dulu, saat itu aku hanyalah sedang lewat saja. Dan mencoba memberi bantuan. Bertemu denganmu. Dan ternyata kita berhasil mengalahkan naga itu. Kemudian kita sama-sama melakukan perjalanan. Mengapa aku meninggalkanmu sendiri di Desa Tenggara, karena aku bertemu seorang prajurit Negeri Rawa Air.Ia mengenaliku dan menyampaikan pesan ayahku, Raja Negeri Rawa Air. Aku pun memutuskan kembali ke sini. Empat bulan lalu aku kembali ke sini. Ayah telah mempersiapkan penobatanku menjadi raja. Aku melarikan diri. Karena aku merasa tak sanggup dengan beban sebagai raja. Aku menyukai petualangan, Peri Biru. Hingga kemudian aku tersesat di hutan dan tertangkap oleh si Nini Hitam. Ia mengubahku menjadi Hippopotamus. Aku tak bisa melarikan diri. Harus ada seseorang yang dating menyelamatkanku. Dan itu adalah dirimu. ”jelas Kesatria Putih, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lantas mengapa kau tak mengenaliku saat wujudmu Hippo?”Tanya Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Kau harus mencoba menjadi Hippo sayang. Berat badanmu melebihi yang kau bayangkan. Leher dan perutnya tak ada bedanya. Harus selalu berendam. Dan matamu pun tak sejelas ketika kau menjadi manusia. Tapi aku menyukai saat dirimu berbaring terlentang di bawahku”kata Kesatria Putih tertawa.&lt;br /&gt;
Peri Biru tak mengatakan apapun, hanya mencubit lengan pangeran Hippo itu dengan kuat. Membuat Kesatria Putih berteriak kesakitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa kau menyerangku saat itu. Bukankah kau tahu bahwa orang yang datang adalah orang yang akan menyelamatkanmu?”&lt;br /&gt;
“Kutukan menjadi Hippo satu paket dengan menyerang orang selain Nini Hitam. Untungnya kau mencabut belati itu dari sarungnya. Karena belati itu mampu melumpuhkan kutukanku sesaat dan menggiring kehadapan Nini Hitam”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selanjutnya, apa yang akan kau lakukan pangeran?”Tanya Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Aku belum memutuskan apapun. Kondisi ayahku belumlah pulih benar. Adikku pun masih aku latih untuk menjadi pengganti raja. Aku masih belum memutuskan akan mengambil kekuasaan ini atau tidak”tuturnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm….sejujurnya aku menyenangi dirimu jika menjadi pangeran hippo” kata Peri Biru.&lt;br /&gt;
“Jadi kau tak suka melihatku berubah kembali menjadi Kesatria Putih yang kau kenal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan Kesatria Putih, kamu pengeran, Hippo” ejek Peri Biru.&lt;br /&gt;
Kedua lalu tertawa bersama. Tertawa bebas di ketinggian 20 meter dari permukaan tanah.&lt;br /&gt;
“Rasanya begitu bebas disini Peri Biru” kata Kesatria Putih.”Kamu akan kemana setelah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak tahu. Aku masih ingin belajar pada kakek penyihir. Masih ingin menunggangi Naga Ekor Merah.”katanya.&lt;br /&gt;
“Dan aku masih ingin bersamamu disini”bisiknya pelan.&lt;br /&gt;
Kesatria putih mendengar bisikan peribiru. Namun ia tak menjawabnya. Dirangkulnya peribiru. “Tinggallah lebih lama. Ajari aku menunggang Naga Ekor Merah. Sepertinya ia cemburu aku dekat denganmu” pinta Kesatria Putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Peri Biru hanya tersenyum. Hari telah menua. Sore telah menghitam. Ia pun bersiul memanggil sang naga. “Yuk, kuajak melihat bulan” katanya sambil menggandeng tangan Kesatria Putih. (*)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/239050400777211029/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/peri-biru-dan-pangeran-hippo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/239050400777211029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/239050400777211029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/peri-biru-dan-pangeran-hippo.html' title='Peri Biru dan Pangeran Hippo'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOPLgtFr5azdmAThBvWKC0hodT-Py88JPkRgOVdnE60-aF-YxMh76-eFgPnmB33PKqzm1zhnwSeacQDcAEkRkJYkZTUjhEL5OLSJ7Z3SRoQDXseUxv7KMQoOMn4PSoa4EcVula5GOgNGs/s72-c/tumblr_li6d7xgPsH1qh7a1to1_500_large.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3763539682414886325.post-8059516162817677487</id><published>2012-12-02T14:58:00.000+07:00</published><updated>2012-12-02T14:58:23.434+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi Malam"/><title type='text'>Kenapa Harus Malam</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9YA6PXlLnDEVPtWWZn7Bu9QQRyqGaeyTtKciIvlcTgB88AkB5k0dAAUBTaoO2QwioJoH0LRh5ov1xw4WPtGZKJ0eyTPsVp2Ugk_nHBvmbNsneXgHLXDdub0g3cYc-hy0JFFc6k94frBM/s1600/night.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9YA6PXlLnDEVPtWWZn7Bu9QQRyqGaeyTtKciIvlcTgB88AkB5k0dAAUBTaoO2QwioJoH0LRh5ov1xw4WPtGZKJ0eyTPsVp2Ugk_nHBvmbNsneXgHLXDdub0g3cYc-hy0JFFc6k94frBM/s320/night.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa hanya malam,&lt;br /&gt;
dimana sunyi selalu menjadi pengantar,&lt;br /&gt;
membawaku pada sebuah bilik&lt;br /&gt;
Dengan lusinan kenangan di dalam&lt;br /&gt;
Yang ku tumpuk dengan waktu&lt;br /&gt;
Dan tak ingin ku bongkar lagi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa harus malam,&lt;br /&gt;
dimana sepi itu bicara&lt;br /&gt;
mengusik rindu,&lt;br /&gt;
membakar rasa&lt;br /&gt;
Lalu,mempertegas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa harus malam&lt;br /&gt;
Dimana sepi itu bertahta&lt;br /&gt;
Dan aku pun bersujud </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/feeds/8059516162817677487/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/kenapa-harus-malam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/8059516162817677487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3763539682414886325/posts/default/8059516162817677487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com/2012/12/kenapa-harus-malam.html' title='Kenapa Harus Malam'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08306616772776471550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9YA6PXlLnDEVPtWWZn7Bu9QQRyqGaeyTtKciIvlcTgB88AkB5k0dAAUBTaoO2QwioJoH0LRh5ov1xw4WPtGZKJ0eyTPsVp2Ugk_nHBvmbNsneXgHLXDdub0g3cYc-hy0JFFc6k94frBM/s72-c/night.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>