<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>LABIB Al-CIAMISI</title>
	<atom:link href="https://ahmadlabib.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://ahmadlabib.wordpress.com</link>
	<description>Masuklah Ke Dalam Agama Islam Secara Keseluruhan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Dec 2012 07:59:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3196055</site><cloud domain='ahmadlabib.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/ad554f112ba173024caa09bac0e895ec44dd9fe5b16ccf573f415f9292b65621?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>LABIB Al-CIAMISI</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://ahmadlabib.wordpress.com/osd.xml" title="LABIB Al-CIAMISI" />
	<atom:link rel='hub' href='https://ahmadlabib.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Pendekatan dan Metode Pendidikan Agama Islam</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/12/30/pendekatan-dan-metode-pendidikan-agama-islam/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/12/30/pendekatan-dan-metode-pendidikan-agama-islam/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2012 07:59:29 +0000</pubDate>
				<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=307</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Wawan Anwar Sadat &#38; Aas Hikayat Abstrak Kemajuan sebuah Negara sangat tergantung kepada kemajuan pendidikkannya (termasuk di dalamnya pendidikan islam), dan dalam pendidikan itu erat kaitannya dengan penggunaan metode dan pendekatan yang dilakukan selama proses belajar mengajar terjadi.Pendekatan dan metode selayaknya dikuasai oleh seorang pengajar supaya bisa mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Penggunaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/12/4-up-on-2012-05-26-at-09-42-4.jpg"><img id="i-335" alt="Image" src="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/12/4-up-on-2012-05-26-at-09-42-4.jpg?w=211&#038;h=211" width="211" height="211" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Oleh : Wawan Anwar Sadat &amp; Aas Hikayat</strong></p>
<p align="center"><b>Abstrak</b></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="365">
<p>Kemajuan sebuah Negara sangat tergantung kepada kemajuan pendidikkannya (termasuk di dalamnya pendidikan islam), dan dalam pendidikan itu erat kaitannya dengan penggunaan metode dan pendekatan yang dilakukan selama proses belajar mengajar terjadi.Pendekatan dan metode selayaknya dikuasai oleh seorang pengajar supaya bisa mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Penggunaan metode yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran serta situasi dan kondisi yang ada akan mengantarkan anak didik ke dalam pengausaan isi pelajaran yang diharapkan.Pendekatan sistem,pedagogis dan psikologis, keagamaan dan sejarah adala diantara pendekatan yang harus dikedepankan dalam Pendidikan Agama Islam .Metode-metode kontemporer atau konvensional juga senantiasa digunakan selama proses belajar mengajar dengan melihat kesessuaiannya dengan materi yang ada.</p>
<p> <span id="more-307"></span></p>
<p>Kata Kunci :<i> Pendekatan, Metode, Pendidikan</i></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> </p>
<p align="center"><b>PENDAHULUAN</b></p>
<p>Keberhasilan sebuah pendidikan tentu tidak akan terlepas dari apa yang disebut Pendekatan dan metode.Begitu pentingnya sebuah pendekatan dan metode sehingga lebih penting dari materi atau bahan yang yang akan diajarkan.Pepatah mengatakan “<i>cara atau metode itu lebih penting dari bahan</i>”.</p>
<p>Sebagus apapun materi yang akan kita ajarkan, kalau cara atau metodenya kurang tepat maka semua itu tidak akan bisa dicerna oleh peserta didik, sehingga tujuan yang sudah kita tetapkan akan sia-sia dan percuma.</p>
<p>Pemilihan metode juga harus benar dan tepat sesuai dengan karakter dan sifat materi yang akan disajikan.Metode pendidikan yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses belajar mengajar, oleh karena itu metode yang digunakan oleh pendidik harus dapat dikatakan berhasil apabila dengan metode tersebut dapat dicapai tujuan yang diharapkan.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><b> </b></p>
<p><b> </b></p>
<p><b> </b></p>
<p><b> </b></p>
<p><b>A.PENGERTIAN PENDEKATAN, METODE DAN PENDIDIKAN ISLAM</b></p>
<p>Kata “pendekatan” yang dalam bahasa inggrisnya adalah <i>approach </i>mempunyai arti<i> a way of dealing with something</i> <a title="" href="#_ftn2">[2]</a> (sebuah jalan untuk melaksanakan sesuatu).</p>
<p>Kata metode atau metoda berasala dari bahasa Yunani yaitu <i>metha</i> dan <i>hodos</i>. <i>metha</i> berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu, sedang dalam bahasa Arab sering disebut dengan istilah Tariqat.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Pendidikan Islam menurut Muhammad Athiyah Al-Abrasyi adalah bahwa pendidikan islam mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaanya, manis tutur katanya, baik dengan lisan atau dengan tulisan. <a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Marimba juga memberikan pengertian bahwa pendidikan islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran – ukuran islam.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><b> </b></p>
<p><b>B</b>. <b>PENDEKATAN PENDIDIKAN ISLAM</b></p>
<p>Menurut HM.Arifin dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, menuliskan empat pendekatan pendidikan islam.Keempat pendekatan itu adalah :</p>
<ol>
<li><b>Pendekatan Sistem (<i>system approach</i>)</b>.</li>
</ol>
<p>Pendidikan Islam yang ruang lingkupnya sama sebangun dengan kebutuhan hidup umat manusia dalam seluruh bidang-bidangnya, secara sistemik, adalah proses mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan menuju titik optimal kemampuan manusia berlandaskan nilai-nilai Islami, berlangsung menurut sistem hukum tertentu yang menentukan corak dan watak hasil (produk) akhimya.</p>
<p>Watak ilmu pendidikan Islam adalah sistematis dan konsisten menuju ke arah tujuan yang hendak dicapai. Untuk itu maka pendidikan Islam memerlukan pemikiran sistematik dan mengarahkan prosesnya dalam sistem-sistem yang aspiratif terhadap kebutuhan umatnya. Bila tidak demikian, akan timbul gangguan dan hambatan-hambatan teknis operasional yang dapat menghilangkan orientasinya yang benar.Semakin banyak gangguan yang timbul dalam suatu sistem, maka semakin besar pula daya perusak yang mengancam mekanisme sistem itu dan makin menjauhkannya dari tujuan yang dicita-citakan.</p>
<p>Dalam berbagai ayat Al Quran dapat kita temukan makna suatu satem mekanisme alam semesta, sistem kehidupan sosial dan sistem kehidupan individual (dilihat dari segi biologis).</p>
<p>Ayat-ayat yang menunjukkan sistem gerakan benda-benda sa­mawi di ruang angkasa luar planit bumi kita ditunjukkan oleh Tuhan dengan firman-firrnan-Nya seperti berikut:</p>
<p><i>Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. </i>(Yaasin, <i>38).Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, se­hingga (setelah dia sampai pada di manzilah yang terakhir) kembalilah dia kebentuk tanda yang tua&#8221; </i>(Yaasin, 39).<i>Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam­pun tidak dapat mendahului siang. </i><i>Dan masing-masing beredar pada garis peredaranrrya. </i>(Yaasin, 40).</p>
<p>Kaitannya dengan sistem kehidupan sosial, Allah menun­jukkan suatu sistem harmonisasi hubungan antara manusia dengan Khalik-Nya dan hubungan dengan sesamanya secara seimbang, serasi dan selaras. Bila sistem hubungan itu tidak harmonis, maka timbullah kerusakan.</p>
<p>Allah berfirman dalam surat Ali­Imran ayat 112: <i>Mereka diliputi kehinaan di mana-mana mereka berada, kecuuli jika mereka berpegang kepada tali hubungan dengan Allah dan tali hubungan dengan sesama manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi oleh kerendahan &#8230;. (Ali ­</i>Imran, 112).</p>
<p>Firman Allah yang lainnya ialah: <i>Wahai manusia, sesungguhnya Aku telah menciptakan kamu sekalian dari jenis laki-Iaki dan jenis perempuan dan Aku jadikan kamu sekalian bersuku-suku bangsa, dan berkabilah-kabilah agar supaya kamu sekalian saling kenal mengenal; Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa dari antara kamu sekalian.. . . </i>(Al-Hujurat, 13).</p>
<p>Ayat yang berkaitan dengan sistem pertumbuhan dan perkem­bangan manusia sejak dari tahap awal kejadiannya adalah seperti di deskripsikan Allah dalam firman-Nya Al-Mukminun ayat 12 – 14 : <i>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (herasad) dari tanah, kemudian Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bur.gkus dercgan daging. </i><i>Kemudian Kami jadikan dia makhluk (yang berbentul;) lain. Maka Mahasucilah Allah Pencipta yang Paling batk. </i>(Al-Mukminun, 12 &#8211; 14).</p>
<p>Sejalan dengan pendekatan sistem, orientasi pendidikan Islam itu memiliki karakteristik (ciri pokok) yang bersifat &#8220;goal-oriented&#8221; secara operasional pendidikan Islam yang dilaksanakan mendasarkan pende­katan sistem itu dapat dikembangkan ke dalam model sebagai berikut:</p>
<p>1) Secara sistemik, manusia didik dipandang sebagai makhluk yang integralistik, total (berkebulatan) yang terbentuk dari unsur rohaniah dan jasmaniah yang tak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Masing-masing unsur tersebut memiliki organ-organ psikis dan fisikal yang bekerja secara fungsional saling mempengaruhi (in­teraktif) dan saling mendorong perkembangan ke arah pencapaian rujuan yang telah ditetapkan dalam pendidikan Islam.</p>
<p>2) Secara pedagogis, pendidikan Islam diletakkan pada strategi pe­ngembangan seluruh kemampuan dasar (fitrah) secara integralistik, menuju ke arah pembentukan pribadi muslim paripurna (serbaguna) dalam dimensi rohaniah dan jasmaniahya untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Islam yang berorientasi kepada kesejahteraan hidup duniawi-ukhrawi secara simultans (bersamaan).</p>
<p>3) Institusionalisasi (pelembagaan) pendidikan Islam diwujudkan dalam struktur (bentuk) yang hierarkis berjenjang sejalan dengan tingkat perkembangan jiwa manusia-didik, menuju ke arah optimali­sasi kemampuan belajamya yang semakin mendalam dan meluas. Institusi kependidikan Islam selain bertugas sebagai wadah (wahana) juga berfungsi mengarahkan proses kependidikan sesuai dengan program-programnya yang telah ditetapkan.</p>
<p>4) Secara kurikuler, pendidikan Islam mengarahkan seluruh input in­strumental (Guru, metode, kurikulum dan fasilitas) dan input envi­ronmental (tradisi kebudayaan, lingkungan masyarakat, lingkungan alam) menjadi suatu bentuk program kegiatan kependidikan yang ditujukan kepada merealisasikan cita-cita Islami yaitu produk pendidikan Islam yang diharapkan. Proses pelaksanan kurikuler itu harus berdasarkan atas efisiensi dan efektivitas pengelolaan secara tahap demi tahap, sesuai dengan tingkat kemampuan manusia-didik.</p>
<p> </p>
<p><b>2. Pendekatan Paedagogis dan Psikologis</b></p>
<p>Pendekatan ini menuntut kepada kita untuk berpandangan bahwa manusia-didik adalah makhluk Tuhan yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan rohaniah dan jasmaniah yang memer­lukan bimbingan dan pengarahan melalui proses kependidikan.</p>
<p>Membimbing dan mengarahkan perkembangan jiwa dan pertumbuhan jasmani dari pengertian pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pengertian psikologis, karena pekerjaan mendidik atau mengajar yang bersasaran pada manusia yang sedang berkembang dan bertumbuh itu harus didasarkan pada tahap-tahap perkembangan/pertumbuhan psikologis di mana psikologi telah banyak melakukan studi secara khusus dari aspek-­aspek kemampuan belajar manusia.</p>
<p>Tanpa didasari dengan pandangan psikologis, bimbingan dan pengarahan yang bernilai paedagogis tidak akan menemukan sasarannya yang tepat, yang berakibat pada pencapaian produk pendidikan yang tidak tepat pula. Antara paedagogik (ilmu pendidikan) dengan psiko­logi (dalam hal ini psikologi pendidikan) saling mengembangkan dan memperkokoh dalam proses pengembangan akademiknya lebih lanjut, juga dalam proses pencapaian tujuan pembudayaan manusia melalui proses kependidikan.</p>
<p>Berbagai hambatan dan rintangan yang bersifat psikologss dalam din manusia-didik telah diidentifikasikan oleh ahli psikolagi (muslim) untuk dapat diperhatikan oleh para pemproses pendidikan (guru dan pendidik formal lainya) agar hambatan dan rintangan psikologis itu dapat diatasi dengan metode yang tepat dan berdaya guna. Hambatan dan gangguan itu diantaranya adlah penyakit hati, seperti firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 10.” <i>Dalam hati mereka ada penyaki, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”</i></p>
<p>Penyaki hati mula-mula timbul dari kelemahan keyakinan mereka kepada kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. Kelemahan keya­kinan inilah yang menimbulkan kedengkian, iri hati dan dendam kesumat terhadap Nabi, agama Islam, dan orang-orang Islam. Inilah yang tergolong penyakit mental, yang menghambat dan merintangi ;pmses kependidikan Islam. Melalui ilmu jiwa, penyakit-penyakit terse­but dapat diidentifikasikan untuk disembuhkan melalui upaya pen­didikan. Juga termasuk penyakit mental adalah sikap <i>egocentrisme </i>dan egoisme yang menggejala dalam bentuk perbuatan verbal mer.cela, mengejek, merendalxkan orang lain, takabur, congkak, sombong, tinggi &#8216;hati, tidak menghargai martabat orang lain dan lain-lain, seperti didiskripsikan dalam A1 Quran sebagai ciri-ciri mental orang kafir dan munafik.,misalnya disebutkan dalam A1 Baqarah, 13 – 15 : <i>“Apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?&#8221; Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.</i> <i>Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: &#8220;Kami telah beriman.&#8221; Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka<b><sup>[25]</sup></b>, mereka mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.&#8221;</i> <i>Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.</i></p>
<p>Nabi Muhammad SAW dalam berbagai peristiwa paedagogis, sering pula menunjukkan beberapa penyakit mental orang munafik orang musyrik dan kafir yang menggejala dalam prilaku lahiriah dalam pergaulan antara manusia. Seperti penyakit mental munafik diberitahukan oleh beliau dengan sabdanya sebagai berikut: “<i>Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu ketika ia berbicara, ia berdusta. Ketika ia berjanji, ia memungkirinya, dan ketika ia diberi amanat, ia mengkhianatiny.” (H.R<b>. </b></i>Buchari).</p>
<p>Jadi, ingkar janji dan berkhianat terhadap amanat, adalah tergolong penyakit mental yang menjadi ciri orang munafik. Pendidikan Islam bertugas menghilangkan kecenderungan manusia-didik terhadap penyakit mental tersebut dengan mempergunakan berbagai metoda.</p>
<p>Sikap mental berkeluh kesah, mengumpat-umpat, menyalahkan pihak lain dan sebagainya, pada waktu tertimpa kesusahan, dan sikap melupakan Tuhan atau lalai,berwatak kikir dan sebagainya; juga tergolong penyakit mental seperti ditunjukkan dalam firman Allah Surat Al-Ma&#8217;arij ayat 20 &#8211; 22 : <i>“</i><i>Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.</i><i> dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.”</i></p>
<p>Kekuatan iman inilah yang menjadi sumber pendorong (moti­vasi) manusia ke arah ketaqwaan kepada Allah yang menyatakan diri alam berbagai bentuk amal-amal perbuatan saleh dan sikap ubu­diyyahnya kepada Khalik melalui shalat, beribadat saum dan berhaji dan sebagainya.</p>
<p>Sebaliknya Allah juga menjelaskan ciri-ciri tingkah laku orang­-orang yang beriman dan bertaqwa seperti antara lain disebutkan dalam; Surat Al-Mukninun ayat 1-6 : “<i>Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman; (yaitu) orang-orang yang khusyu&#8217; dalam sembahyangnya; dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiadaberguna; dan orang-orang yang menunaikan zakat; dan orang-orang yang menjaga kemaduannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya dalam hal ini rnereka tiada tercela. (Al Mukmirnm, 1 &#8211; 6)</i></p>
<p>Cin-ciri mentalitas Islami seperti tersebut di atas merupakan teberapa aspek mental positif yang hendak dikembang-tumbuhkan oleh pendidikan Islam melalui proses-proses yang direncanakan: Ciri-ciri keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, yang telah tertanam niat dalam jiwa manusia-didik akan menjadi sumber rujukan semua perbuatannya di masa dewasanya. Firman Allah SWT: “<i>Sesungguhnyu manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir; Apabila ia ditimpa .kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir; Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.”.</i>(AI-Ma&#8217;arij, 19 &#8211; 22).</p>
<p>Kaitannya dengan upaya menghilangkan penyakit-penyakit mental tersebut, Pendidikan Islam mengembang-tumbuhkan sumber utama kekuatan mental-spiritual yang mampu menangkal segala bcntuk penyakit mental, yaitu kekuatan IMAN yang benar, ialah iman yang berdasarkan tauhid kepada Allah SWT.</p>
<p><i>1</i>. <i>Proses Perkembangan dan Pertumbuhan manusia-didik, dalam Kaitannya dengan Kemajuan Hidupnya Melalui Proses Belajar.</i></p>
<p>Manusia adalah makhluk Tuhan yang mempunyai kecendenmg­an belajar. Belajar adalah perubahan tingkah laku akibat pengalaman (menurut Edward Walker, 1967). Juga dapat diartikan sebagai suatu proses yang membawa perubahan dalam cara seseorang menanggapi: dan memberikan respon sebagai hasil dari hubungannya dengan alam sekitar. (Floyd, L. Ruch, 1963).</p>
<p>Ciri-ciri perubahan yang terjadi dalam diri sesearang melalui belajar itu bersifat disengaja, bukan terjadi perubahan secara automatis, seperti perubahan tingkah laku akibat mabuk, kelelahan, kematangan usia dan sebagainya.</p>
<p>Manusia mengalami perkembangan adalah berkat dari kegiatan belajarnya, dan kegiatan belajar itu berlangsung melalui proses sejak lahir sampai meninggal dunia (minal mahdi ilal lahdi). Proses belajar yang berhasil-guna adalah jika tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara tepat-guna. Jadi proses belajar adalah kegiatan yang berarah dan bertujuan.</p>
<p> </p>
<p><i>2. Sasaran-sasaran analisis</i></p>
<p>Ilmu Pendidikan Islam dilihat dari segi psikologis dan paedagogis mencakup 5 faktor sebagai berikut:</p>
<p>a. <i>Pendidik</i></p>
<p>Sebagai pengendali dan pengarah proses serta pembimbing arah perkembangan dan pertumbuhan manusia-didik, ia adalah manusia hamba Allah yang bercita-cita Islami yang telah matang rohaniah dan jasmaniahnya, dan memahami kebutuhan perkembangan dan per­tumbuhan manusia-didik bagi kehidupan masa <a href="http://depan.la">depannya. la</a> tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan yang diperlukan manusia­didik, melainkan juga mentransformasikan tata-nilai Islami ke dalam pribadi mereka sehingga mapan dan menyatu serta mewarnai prilaku mereka sebagai pribadi yang bernafaskan Islam.</p>
<p><i>b. Manusia-didik.</i></p>
<p>Sebagai objek (sasaran) pekerjaan mendidik, manusia-didik adalah mahluk yang sedang berada dalam proses perkembangan/pertum­buhan menurut fitrah masing-masing, sangat memerlukan bimbing­an dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titik optimal kemampuan fitrahnya.</p>
<p>Selain sebagai objek didik, ia juga harus diberi peran. sebagai subjek-didik melalui berbagai kesempatan yang tepat, karena proses kependidikan untuk mengembangkan ciri-ciri individual mereka berdasar atas kemampuan dari komponen-komponen fitrahnya harus didorong ke arah perkembangan positif dan konstruktif bagi kepentingan dirinya. Dorongan atau motivasi, persuasi atau rangsangan yang positif dan koastruktif itu diberikan kepada mereka berdasar­kan hukum-hukum mekanisme perkembangan/pertumbuhan yang bersifat <i>kesatuan organis, konvergensis </i>dan <i>temporer </i>(menurut tempo).</p>
<p><i>c. Alat-alat pendidikan.</i></p>
<p>Alat-alat ini berupa fisik atau non-fisik yang dalam proses <a href="http://kepen-didik.an">kependidikkan</a> perlu didayagunakan secara bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Tujuan utama mempergunakan alat-alat terse­but ialah untuk mencapai hasil yang optimal dalam proses kependidikan itu, oleh karena itu alat-alat tersebut perlu diseleksi terlebih dahulu sebelum dipergunakan dalam proses, mana yang tepat-guna dan mana yang kurang tepat-guna diukur dari tujuan pendidikan yang hendak dicapai dalam proses.</p>
<p>Dalam pengertian Ilmu Pendidikan Islam terdapat persyaratan lain­nya yaitu walaupun alat-alat itu bemilai efektif dan efisien namun bila bemilai <i>tidak halal </i>atau tak dapat dibenarkan menurut norma-­norma Islalmi, maka alat tersebut tidak halal untuk diterapkan dalarn proses kependidikan.</p>
<p>d. <i>Lingkungan sekitar.</i></p>
<p>Lingkungan sekitar dapat dibagi menjadi lingkungan yang disengaja seperti lingkungan kependidikan, kebudayaan, masyarakat dan lain-­lain, dan lingkungan tak-disengaja seperti lingkungan alam, lingkungan hidup (ekosistem) dan sebagainya, namun semua lingkung­an tersebut mengandung pengaruh yang bersifat mendidik atau tak­mendidik terhadap manusia-didik baik di dalam lembaga pendidikan formal, nonformal, maupun dalam kehidupan bebas dalam masya­rakat terbuka.</p>
<p>e. <i>Cita-cita atau Tujuan.</i></p>
<p>Pendidikan Islam adalah suatu sistem di dalam mana terjadi proses kependidikan yang berusaha mencapai suatu tujuan yang telah di­tetapkan. Tujuan pendidikan adalah suatu nilai ideal yang hendak diwujudkan melalui proses kependidikan itu. Pendidikan apapun senantiasa kontekstual dengan nilai-nilai atau bahkan kommitmen dengan tata nilai.</p>
<p>Pendidikan Islam yang membawakan dan menanamkan nilai-nilai Islami, lebih banyak berorientasi kepada nilai-nilai ajaran Islam.</p>
<p>Menurut konsepsi Ilmu Pendidikan Islam, manusia dengan aspek-­aspek kepribadiannya yang berkembang sejak dini dapat di­pengaruhi oleh para pendidik (formal atau non-formal dan informal) dengan corak dan bentuk idealitas yang diinginkan mereka dalam batas-batas fitrahnya masing-masing.</p>
<p><b>3. Pendekatan Keagamaan (Spiritual)</b></p>
<p>Pendekatan ini memandang bahwa ajaran Islam yang bersum­berkan kitab suci A1 Quran dan sunnah Nabi menjadi sumber impirasi dan motivasi pendidikan Islam.</p>
<p>Secara prinsipil, Allah SWT telah memberi petunjuk bagaimana agar manusia yang diciptakan sebagai rnakhluk yang memiliki struktur dan kontur psychis dan fisik yang paling sempuma dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, dapat berkembang ke arah pola kehidupan yang bertaqwa kepada khalik-Nya, tidak menyimpang ke jalan keludupan yang ingkar kepada-Nya.</p>
<p>Allah hanya memberikan dua altematif pilihan yaitu jalan hidup yang benar atau jalan hidup yang sesat untuk dipilih oleh manusia melalui pertimbangan akal pikirannya yang dibantu oleh fungsi-fungsi psikologis lainnya.</p>
<p>Bila ia memilih jalan kebenaran, maka dijamin oleh Allah akan memperoleh kebahagiaan hidup dunia-akhirat dan bila memilih jalan sesat, maka ia diancam oleh Allah dengan sisksaan-Nya yang me­nyengsarakan hidupnya di dunia dan akhirat.</p>
<p>Abul A&#8217;la Al-Maududi mendeskripsikan perkembangan moralitas Islam itu ke da1am riga ciri kehidupan sebagai berikut:</p>
<p>1) Keridhoan Allah menjadi tujuan hidup muslim dan keridhoan Allah menjadi sumber pembakuan moral yang tinggi serta menjadi jalan <a href="http://evolc.si">evolusi</a> moral kemanusiaannya dengan sikap yang berorientasi kepada keridhaan Allah, memberikan sangsi moral untuk mencintai Allah dan takut kepada-Nya, yang pada giliranr.ya mendorong manusia mentaati hukum moral tanpa paksaan dari luar.</p>
<p>2) Seluruh lingkungan kehidupan manusia senantiasa ditegakkan di atas moral Islam sehingga moral itu berkuasa penuh atas semua masalah kehidupannya, sedang hawa nafsu dan <i>vested interest</i> (kecenderungan yang tetap) yang picik tidak diberi kesempatan menguasai kehidupannya.</p>
<p>3) Islam menuntut manusia agar melaksanakan sistem kehidupan yang didasari dengan norma-norma kebajikan yang jauh dari kejahatan. Islam memerintahkan perbuatan yang makruf dan menjauhi per­buatan mungkar, bahkan manusia dituntut untuk menegakkan keadil­an dalam menumpas segala bentuk kejahatan.</p>
<p><i>Model yang ideal </i>bagi proses pendidikan Islam sejalan dengan nilai-nilai riligius yang Islami tersebut di atas dapat didiskripsikan secara prinsipal sebagai berikut:           &#8211;</p>
<p>(1)   <i>Pandangan religious, </i>Tiap manusia adalah makhluk berketuha­nan yang mampu mengembangkan dirinya menjadi manusia yang beitakwa dan taat kepada Allah, Khalik-Nya. Manusia dapat terjerumus ke dalam perbuatan dosa yang mempergelap jiwanya sehingga mengalami derita hidup yang berkepanjangan, namun sesuai dengan fitrahnya pula manusia mampu menjadi hamba Allah yang me­ngabdi dan berserah diri kepada-Nya. Ia mampu membersihkan jiwanya dengan mengamalkan agama Islam. Mendapatkan kendhoan Allah adalah menjadi cita-cita hidup seorang muslim. Oleh karena itu seluruh tingkah lakunya mengandung niat yang ihlas untuk beribadah kepada-Nya.</p>
<p>(2)   <i>Proses kependidikan, </i> diarahkan kepada terbentuknya uaanusia muslim yang dedikatif kepada Allah dan yang bersikap menye­rahkan diri secara total kepada-Nya. Iahirnya dan keseluruhan hidupnya adalah milik Allah semata. Materi pendidikan Islam harus bersifat mendorong manusia-didik untuk menyadari tentang asat-usul kejadiannya; <i>dari mana, di mana </i>dan <i>ke mana </i>ia harus kembali.</p>
<p><i>(4)   Strategi Operasianalisasinya,  </i>adalah meletakkan manusia-didik berada dalam proses pendidikan sepanjang hayat dari sejak lahir sampai meninggal dunia. Belajar tidak dibatasi dalam bentuk institusi atau fonnal melainkan berada dalam kebebasan sepan­jang hayat. Sekolah hanya merupakan bentuk institusional kepen­didikan yang formalistik yang mempersiapkan manusia-didik untuk menerjuni semudera kehidupan yang lebih luas.</p>
<p> </p>
<p><b>4. Pendekutan Historis (Historical Approach)</b></p>
<p>Analisis ilmu pendidikan Islam dilihat dari latar belakang his­toris, berarti menempatkan sasaran analisa pada fakta-fakta sejarah umat Islam yang berawal dari Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasulullah SAW.</p>
<p>Sejak pengangkatan Muhammad SAW menjadi utusan Allah, tahap awal dari proses pendidikan Islam dimulai yaitu pada tahun ke-13 sebelum hijrah ke Madinah, pada waktu Nabi berusia 40 Tahun.</p>
<p>Pendidikan Islam berproses berdasarkan pendekatan individual, kemudian mengembang ke arah pendekatan keluarga, dan berlanjut ke arah pendekatan sosiologis yang semakin meluas ke arah pendekatan nasional dan berpuncak pada pendekatan universal.</p>
<p>Agama Islam yang bersumber dari wahyu Allah yang ditunankan kepada Muhammad SAW mengandung doktrin kehidupan umat manusia yang bemilai mendidik (paedagogis).</p>
<p>Firman-firman Allah dalam kitab suci A1 Quran yang mengan­dung nilai historis, tersirat di dalamnya nilai-nilai paedagogis yang merentang ke arah pembentukan kepribadian yang beriman hanya kepada Allah yang Maha Esa, mentauhidkan kepercayaan manusia kepada kekuasaan yang Maha Esa yang bersifat mntlak, tak ada tan­dingan-Nya dalam alam semesta.</p>
<p>Berbagai-pandangan dari ulama dan ilmuwan Islam tentang faktor historis untuk menganalisa pendidikan Islam menunjukkan bahwa pada prinsipnya pendidikan Islam berproses dalam 5 aspek:</p>
<p>a. <i>Ideal</i>: proses mencapai tujuan pendidikan sesuai dengan cita-cita ajaran Islam dapat berlangsung dengan lancar bila beiprinsip pada konsistensi dan kesinambungan dalam suatu sistem kemasyarakatan yang teratur rapi.</p>
<p>b. <i>Institusional</i>: tujuan atau cita-cita   itu akan lebih mudah dicapai melalui proses kependidikan jika ditransformasikan melalui institusi (lembaga) kependidikan, karena institusi menjadi wadah pengor­ganisasian dan pelaksanaan program untuk mencapai tujuan pen­didikan.</p>
<p>c. <i>Struktur</i>: dengan stn.:ktur (bentuk) kelembagaan, kependidikan yang berjenjang (bertingkat), tujuan pendidikan Islam dicapai secara ber­tahap sesuai <i>tingkat-tingkat </i>perkembangan manusia-didik.</p>
<p>d. <i>Materiil: </i>Tujuan akhir dan sementara pendidikan Islam menentukan corak materi pelajaran, yang baru dapat efektif dan efisien, jika diajarkan dengan sistem dan metode yang tepatguna sesuai dengan kerakteristik dari idealitas nilai-nilai yang terkandung dalam tujuan.</p>
<p>Perkembangan Pendidikan Islam dapat kita kategorikan ke dalam periode-periode sebagai berikut:</p>
<p><i>1. Periode Awal proses Nabi SAW menyampaikan ajaran Islam di Nfakkah.</i></p>
<p>Dalam periode ini pendidikan Islam lebih memfokuskan pada menginternalisasi atau mentranspormasikan nilai-nilai fundamental yaitu <i>keimanan yang tauhidi, </i>karena iman menjadi daya dorong ter­hadap amal perbuatan.</p>
<p>Pendidikan Islam dalam periode ini berlangsung secara indivi­dual dan kelompok di mesjid-mesjid dan rumah-rumah para sahabat (rumah Al-Arqam Ibn Al-Arqam dan sebagainya), serta Al-Kuttab bagi anak-anak untuk belajar baca dan tulis huruf A1 Quran.</p>
<p><i>2. Periode Khulafa Al-Rasyidin</i></p>
<p>Pada periode Khulafa Ar-Rasyidun, sistem pendidikan masih seperti sistem yang berkembang pada zaman Nabi masih hidup, yaitu halaqah-halaqah di masjid, pengajian-pengajian di rumah sahabat dan untuk anak-anak di Al-Kuttab.</p>
<p>Penyelenggaraan dan penanggung jawab pendidikan oleh khali­fah di serahkan sepenuhnya kepada para orang tua mereka, khalifah tidak ikut campur.Saat itu belum ada upah atau gaji untuk guru, muaddib atau pengajar agama di kalangan sahabat. Pendidikan Islam berlangsung secara cuma-cuma (gratis) karena dirasakan menjadi kewajiban umat Islam yang wajib ditunaikan.</p>
<p><i>3. Periode Dinasti-dinasti Khilafat Umayyah, Abasiyyah dan Fatimiyyah.</i></p>
<p>Perkembangan periode ini dimulai pada abad ke-2 H, ketika kerjaaan Islam dibentuk oleh dinasti-dinasti Mu&#8217;awiyah di Damaskus, disusul Daulah Abbasiyah di Bagdad, lalu Daulah Fatimiyah di Mesir, dan terakhir oleh Ottoman dari Turki. Tahap demi tahap perkembangan pendidikan Islam berjalan seiring dengan perkembangan peradaban Islam yang lnendapatkan dorongan baru akibat kontaknya dengan peradaban Yunani dan Persia serta akibat dari penyerapannya terhadap sejumlah unsur peradaban Yahudi dan Nasrani. Kontak-kontak Islam dengan peradaban luar itu membuka cakrawala baru dalam proses penyesuaian dan pengembangan bahan-bahan, pemikiran baru dalam pembentukan peradaban Islam, yang kemudian mempengaruhi bahan-­bahan pelajaran yang diberikan dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam.</p>
<p>4. <i>Periode Kemunduran</i>:</p>
<p>Setelah abad 14 M dunia Islam sedikit demi sedikit tenggelam ke dalam kebekuan dan keterbelakangan, terutama akibat datangnya penjajah Barat yang selain berpolitik devide et impera, juga berpolitik pendidikan yang melemahkan semangat Islam muri, sampai mun­culnya para ulama pembaharuan Islam seperti Jamaluddin Al-Afghany, Muhammad Abduh dan murid-muridnya pada akhir abad 19 di Mesir yang mengajak umat seluruh dunia untuk bangkit dan mengkaji kembali ajaran Islam yang muri dan dinamis, disusul para pembaharu.</p>
<p>5. <i>Periode Kemerdekaan</i></p>
<p>Sejak mulai tahun empat puluhan, satu persatu negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam melepaskan di dari penjajahan Barat secara politis, maka mulailah umat Islam bangkit kembali mempelajari agama Islam yang murni dari sumber aslinya melalui iembaga-lembaga pendidikan Islam di berbagai negara. Para ilmuwan ulama dan ulama ilmuwan mulai sadar akan kelemahan­kelemah umat Islam karena sikap dan pandangannya yang beku dan kurang mergacu kepada kebutuhan modernisasi kehidupannya.</p>
<p>Hasil-hasil pemikiran para ilmuwan Islam berpadu dengan pernikiran ulama-ulama modem, membuahkan hasil analisis ilmiah yang mendorong kesadaran kembali tentang posisi umat Islam sebagai &#8220;khalifatul&#8221; di muka buminya sendiri. Kesadaran tersebut mendorong tumbuhnya upaya mengaktualisikan, memfungsionalkan serta meng­kontekstualkan ajaran Islam yang hakiki ke dalam karena kehidupan masyarakat yang makin maju akibat tuntutan hidup yang semakin meningkat berkat kemajuan ilmu dan teknologi modern di segala bidang. Reorientasi berpikir diarahkan kepada modemisasi umat Islam.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p> </p>
<p><b>C.METODE PENDIDIKAN ISLAM</b></p>
<p>Mahmud dan Tedi Priatna dalam bukunya Kajian Epistemologi, Sistem dan Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, mengemukakan bahwa metode dalam dunia pendidikan secara sederhana adalah suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pendidikan.</p>
<p>Lebih lanjut mereka  menuliskan bahwa metode pendidikan islam menyangkut banyak prinsip-prinsip keilmuan pendidikan islam yang bersumber dari Al-quran dan hadits. Oleh karena itu utuk mendalaminya perlu diungkapkan implikasi-implikasi metodologis pendidikan dalam al-Quran dan Hadits tersebut, yang antara lain sebagai berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Gaya bahasa dan ungkapan yang terdapat dalam firman-firman Allah dalam Al-quran menunjukan fenomena bahwa firman-firman Allah itu mengandung nilai-nilai metodologi yang mempunyai corak dan ragam yang sesuai dengan tempat dan waktu serta sasaran yang dihadapi, namun yang sangat penting adalah bahwa firman-firman Allah itu mengandung hikmah dan kebijaksanaan yang secara metodologis sesuai dengan kecenderungan kemampuan manusia yang hdup dalam kondisi dan situasi yang berbeda-beda.</li>
<li>Allah SWT. dalam hal pemberian perintah dan larangan senantiasa memperhatikan kadar kemampuan masing-masing hamba-Nya , sehingga bebannya bereda-beda meskipu dalam tugas yang sama.</li>
<li>Sistem pendekatan metodologis yang dinyatakan dalam Al-Quran bersifat <i>multi approach</i>, yang meliputi antara lain:</li>
</ol>
<p>&#8211;       <i>Pendekatan Religius</i>, yang menitikberatkan kepada pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berjiwa religious dengan bakat-bakat keberagamaanya.</p>
<p>&#8211;       <i>Pendekatan Filosofis</i>, yang memandang bahwa manusia adalah makhluk yang rasional (zoom politicon) sehingga segala sesuatu yang menyangkut perkembangannya didasarkan pada sejauh mana kemampuan berfikirnya dapat dikembangkan sampai pada titik maksimal perkembangannya.</p>
<p>&#8211;        <i>Pendekatan sosio-kultural</i> yang bertumpu pada pandangan, bahwa manusia itu adalah makhluk bermasyarakat dan berkebudayaan (<i>home socius</i> dan <i>homo sapiens</i>).</p>
<p>&#8211;       <i>Pendekatan scientific</i> yang titik beratnya terletak pada pandangan bahwa manusia itu mmiliki kemampuan menipta (<i>cognitif</i>), berkemauan (<i>konatif</i>), dan merasa (<i>afektif</i> atau emosional)</p>
<p>      Secara operasional islam dalam ajarannyamemiliki banyak implikasi pendidikan, terutama secara metodologis, misalnya:</p>
<ol start="1">
<li>Metode mendidik secara berkelompok yang sering disebut metode <i>mutual education</i>. Hal ini dapat terlihat dalam sabda Rasul yang artinya :<i> “Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku bersalat.</i>”</li>
<li>Metode mendidik secara intruksional yaitu yang bersifat mengerjakan. Hal ini tergambar dalam firman Allah yang memerintahkan seperti diwajibakannya shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu.</li>
<li>Metode mendidik dengan cara bercerita, yaitu dengan mengkisahkan suatu peristiwa sejarah masa lampau yang menyangkut ketaatannya atau kemungkarannya terhadap perintah dan larangan Allah . Sesuai dengan Firman Allah surat Yusuf ayat 111.</li>
<li>Metode mendidik melalui bimbingan dan penyuluhan. Hal ini terlihat dalam firman Allah Surat Yunus ayat 57, an-Nisa ayat 58 dan Luqman ayat 13. Pendekatan yang dilakukan dalam operasionalnya ialah dengan sikap yang lemah lembut dan lunak hati dengan gaya menuntun dan membimbing ke arah kebenaran, seperti yang digambarkan Allah dalam firman-Nya surat Ali Imran ayat 139.</li>
<li> Metode Pemberian Contoh dan Teladan. Firman Allah berkenaan dengan metode ini  Surat al-Ahzab ayat 21 dan ayat 67 – 68.</li>
<li>Metode  mendidik secara berdiskusi. Penjelasan Allah mengenai metode ini seperti dalam Firman-Nya Surat An-Nahl ayat 125.</li>
<li>Metode mendidik dengan cara Tanya jawab. Hal bertanya diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya surat An-Nahl ayat 43.</li>
<li>Metode mendidik dengan menggunakan perumpamaan atau metode internal. Hal ini terlihat dalam firman Allah surat Ar-Ra’d ayat 17 dan Surat Al-ankabut ayat 41.</li>
<li>Metode mendidik dengan cara targib dan tarhib, yaitu memberikan pengajaran dengan cara meberikan dorongan (motivasi) untuk memperoleh kegembiraan dan mendapat kesusahan jika tidak mengikuti kebenaran. Firman Allah berkaitan dengan metode ini surat Az-Zilzalah ayat 6-8 dan surat Fusilat ayat 46.</li>
<li>Metode mendidik dengan cara taubat dan ampunan, yaitu cara membangkitkan jiwa dari rasa frustrasi kepada kesegarn hidup dan optimism dalam belajar dengan memberikan kesempatan untuk bertaubat dari kesalahan diikuti dengan pengampunan atas dosa dan kesalahannya.</li>
</ol>
<p> Kaitannya dengan Konteks proses pembelajaran sebagai  salah satu bagian penting dari pendidikan (termasuk di dalamnya pendidikan Islam), secara teknis operasional dikenal beberapa metode pembelajaran, yaitu: 1. Metode Ceramah, Metode Latihan, Metode Tanya jawab, Metode Proyek , Metode Eksperimen, Metode Penugasan, Metode Diskusi, Metode Demontrasi, Metode Eksperimen, Metode Problem solving, Metode Sosio Drama dan Metode Karyawisata<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p> </p>
<p><b>D. METODE PENDIDIKAN MENURUT AHLI DIDIK ISLAM</b></p>
<p><b>1. Al-Gazali</b></p>
<p>Menurut beliau metode mengajar dimulai dengan hafalan beserta pemahaman lalu diikuti dengan keyakinan dan pembenaran. Sesudah itu ditegakan dengan dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang menunjang pengokohan akidah.</p>
<p> </p>
<p><b>2. Ulwan</b></p>
<p>Beliau menguaraikan empat macam yang harus dilakukan oleh pendidikan di rumah tangga orang tua) dalam tanggung jawabnya mendidik keimanan anak:</p>
<ol start="1">
<li>Menyuruh anak-anak sejak awal membaca La ilaha illallah</li>
<li>Memperkenalkan sejak awal tentang halal haram</li>
<li>Menyuruh anak beribadah semenjak umur tujuh tahun</li>
<li>Mendidik anak cinta Rasul dan keluarganya serta cinta membaca al-Quran</li>
</ol>
<p> </p>
<p> </p>
<ol>
<li><b>4.   </b><b>Abd al-Rahman al-Nahlawi </b></li>
</ol>
<p>Beliau mengemukakan metode Quran dan Hadits yang dapat menyentuh perasaan yaitu:</p>
<ol start="1">
<li>metode hiwar (percakapan Qurani dan Nabawi)</li>
<li>Mendidik dengan kisah Qurani dan Nabawi</li>
<li>Mendidik dengan amtsal Qurani dan Nabawi</li>
<li>Mendidik dengan memberi tauladan</li>
<li>Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman</li>
<li>Mendidik dengan mengambil ‘ibrah (pelajaran) dan peringatan</li>
<li>Mendidik dengan membuat senang (targhib) dan membuat takut (tarhib)<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></li>
</ol>
<p> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"><b>KESIMPULAN</b></p>
<p> </p>
<ol>
<li>Pendidikan Islam layaknya pendidikan-pendidikan yang lain, memerlukan pendekatan dan metode yang tepat.</li>
<li> Pemilihan pendekatan dan metode yang tepat guna dan berdaya guna sangat perlu dilakukan untuk mencapai apa yang sudah ditetapkan dalam tujuan.</li>
<li>Pendekatan Pendidikan Islam dintaranya : Pendekatan system, Pendekatan sejarah, Pendekatan Pedagogis dan psikologis dan Pendekatan Agama.</li>
<li>Metode Pendidikan Islam diantaranya; Metode mendidik secara berkelompok, secara intruksional, berceritra, melalui bimbingan dan penyuluhan, Contoh dan Teladan, diskusi, menggunakan perumpamaan atau metode internal, dengan cara targib dan tarhib.dan Tanya jawab.</li>
<li>secara teknis operasional dikenal beberapa metode pembelajaran, yaitu: 1. Metode Ceramah, Metode Latihan, Metode Tanya jawab, Metode Proyek , Metode Eksperimen, Metode Penugasan, Metode Diskusi, Metode Demontrasi, Metode Eksperimen, Metode Problem solving, Metode Sosio Drama dan Metode Karyawisata.</li>
<li>Metode Pendidikan Agama Islam menurut Para Ahli Pendidikan Islam daintaranya Al-Ghazali, Ulwan dan Abdurrahman An-Nahwawi.</li>
</ol>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p align="center"><b>Daftar Pustaka</b></p>
<p align="center"><b> </b></p>
<p><b>Arifin, HM</b>,  <i>Ilmu Pendidikan Isla, </i>(Jakarta: Bumi Aksara, 1991)</p>
<p><b>Dictionary</b> version 2.1.3 (80.4) coyright 2005-2009 Apple Inc</p>
<p><b>Mahmud &amp; Tedi Priatna</b>, <i>Kajian Epistimologi, Sistem dan Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam,</i> (Bandung: Azkia Pustaka Utama, 2008)</p>
<p><b>Ramayulis</b>, <i>Ilmu Pendidikan Islam</i>, (Jakarta:Kalam Mulia, 1998)</p>
<p> </p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Mahmud &amp; Tedi Priatna, <i>Kajian Epistimologi, Sistem dan Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam,</i> (Bandung: Azkia Pustaka Utama, 2008), hlm 160</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Dictionary version 2.1.3 (80.4) coyright 2005-2009 Apple Inc.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Kalam Mulia, 1998), hlm 77</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> ibid, hlm 4</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> ibid, hlm 4</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> HM.Arifin,  <i>Ilmu Pendidikan Isla, </i>(Jakarta: Bumi Aksara, 1991) hlm.116-181</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Mahmud &amp; Tedi Priatna, <i>Kajian Epistimologi, Sistem dan Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam,</i> (Bandung: Azkia Pustaka Utama, 2008), hlm 160 &#8211; 190</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Kalam Mulia, 1998), hlm 80 &#8211; 82</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/12/30/pendekatan-dan-metode-pendidikan-agama-islam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">307</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/12/4-up-on-2012-05-26-at-09-42-4.jpg?w=436" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ILMU PENDIDIKAN ISLAM: Sebagai Ilmu yang Normatif, Teoritis, Praktis</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/12/11/ilmu-pendidikan-islam-sebagai-ilmu-yang-normatif-teoritis-praktis/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/12/11/ilmu-pendidikan-islam-sebagai-ilmu-yang-normatif-teoritis-praktis/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2012 08:43:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[tulisan teman-s2 IAID]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=296</guid>

					<description><![CDATA[Oleh :Jamal Abdul Nasir (Mahasiswa Pasca IAID 2012)  BAB I PENDAHULUAN Pendidikan teramat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan darinya. Sifat pendidikan dalam kehidupan adalah mutlak, baik untuk kehidupan pribadi, keluarga, alam, berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya suatu bangsa sangat dipengaruhi dari berhasil tidaknya suatu pendidikan yang diselenggarakan di Negara itu, meskipun banyak factor [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<address>Oleh :<b>Jamal Abdul Nasir</b> (Mahasiswa Pasca IAID 2012)</address>
<address>
<p align="center"> <b>BAB I</b></p>
<p align="center"><b>PENDAHULUAN</b></p>
<p>Pendidikan teramat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan darinya. Sifat pendidikan dalam kehidupan adalah mutlak, baik untuk kehidupan pribadi, keluarga, alam, berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya suatu bangsa sangat dipengaruhi dari berhasil tidaknya suatu pendidikan yang diselenggarakan di Negara itu, meskipun banyak factor lain juga yang mempengaruhi keberhasilannya seperti birokrasi yang sehat dan cerdas, kepemerintahan yang sangat lihai mengurus rakyatnya; baik dalam bidang ekonominya, kesehatannya dsb. Tetapi semuanya itu ada pada regenerasi rakyat (manusia) sebagai sumber daya untuk menjadi penerus kepemerintahan; apabila penerusnya buta norma, akidah, maka tunggu kehancuran bangsa itu. Tetapi bila penerusnya sangat menjunjung norma dan amalan yang baik manfaat, maka siap-siaplah menjadi bangsa yang cerdas, sehat dan maju. Itu semua dapat diraih lewat pendidikan, baik pendidikan dari Negara (<i>formal</i>) mau pun pendidikan <i>non-formal</i> dan <i>in-formal</i> yang keduanya saling membantu terhadap pendidikan formal.</p>
<p><span id="more-296"></span></p>
<p>Mengingat sangat pentingnya pendidikan bagi kehidupan, maka pendidikan itu mesti dilaksanakan sebaik mungkin sehingga hasilnya pun akan sesuai harapan. Dalam proses pendidikan biasanya dikomandoi oleh tenaga pendidikan. Kemampuan guru sebagai salah satu tenaga pendidikan harus benar-benar dipikirkan, karena guru ini adalah tenaga yang langsung melaksanakan kependidikan dan sebagai ujung tombak keberhasilan suatu pendidikan.</p>
<p>Maka dari itu guru perlu ilmu pendidikan. Karena ilmu pendidikan merupakan ilmu yang mempersiapkan tenaga pendidikan yang professional, karena bagi guru itu merupakan syarat utama. Bagaimana cara mendidik, bagaimana metode untuk sampai tujuannya, caranya untuk mengajar dsb, semuanya ada pada ilmu pendidikan.</p>
<p>Maka dari itu untuk mendalaminya, akan dibahas dalam makalah yang telah penyusun buat dengan judul; <i>Ilmu Pendikan; Sebagai Ilmu yang Normatif, Teoritis, Praktis.</i></p>
<p>Untuk itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada Dosen pengampu Ilmu Pendidikikan Islam (IPI) yang telah memberikan kesempatannya pada penyusun untuk mempresentasikan hasilnya pada seminar kelas ini. Maka apabila ada suatu kekeliruan, kesulitan dalam seminar kelas, penyusun sangat mengharapkan sekali kontribusi dari Dosen.</p>
</address>
<address><b>                                                                                                                       BAB II</b></p>
<p align="center"><b>PEMBAHASAN</b></p>
<ol>
<li><b>A.    </b><b>Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan</b></li>
</ol>
<p>Ilmu Pengetahuan ialah suatu uraian yang lengkap dan juga tersusun tentang suatu objek yang mempunyai cirri-ciri sebagai berikut;</p>
<ol>
<li>Mempunyai objek (lapangan) yang jelas dan dapat dipisahkan dari objek ilmu pengetahuan lain.</li>
<li>Dalam uraian (lengkap) itu dijelaskan bagian demi bagian secara bersama-sama yang saling berkaitan secara keseluruhannya (sistematis).<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></li>
</ol>
<p>Ilmu Pengetahuan menurut kadar sistemnya dapat kita bedakan menjadi dua; <i>pertama; </i>ilmu-ilmu murni dan <i>kedua; </i>ilmu-ilmu pengalaman (<i>empiris</i>).<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<ol>
<li>Ilmu pengetahuan murni adalah ilmu yang terbebas dari factor pengalaman atau empiris, ia murni berdiri sendiri. Contohnya seperti ilmu pasti (matematika, hitung-hitungan), logika dan filsafat.</li>
<li>Ilmu pengetahuan empiris atau pengalaman adalah ilmu yang terikat dengan objek-objek tertentu saja yang didapat dari pengalaman. Objek-objeknya bisa terdiri dari gejala-gejala kehidupan, seperti alam (ilmu alam), sejarah, gejala-gejala hidup atau situasi pendidikan.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ol>
<p>Bagian ilmu pengetahuan empiris (pengalaman) dibagi kembali menjadi dua bagian, pertama; ilmu-ilmu pengetahuan alam kedua; ilmu-ilmu pengetahuan rohani.</p>
<ol>
<li>Ilmu pengetahuan alam, objek-objeknya terdapat di alam. Sifat metodenya eksperimental, empiris, analitis dan sintetis.</li>
<li>Ilmu pengetahuan rohani, objek-objeknya terdapat dalam berbagai kegiatan rohani, seperti berbicara, kebahasaan, kesusastraan, kegiatan belajar mengajar (<i>didaktik metodik</i>) dan praktek-praktek yang mendidik lainnya. Sifat metodenya menyelam supaya tahu, memperhatikan sebab dan tujuan, menggunakan angket, tes dan interview.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></li>
</ol>
<p>Ilmu pendidikan merupakan ilmu pengetahuan rohani karena situasi pendidikan berdasarkan atas tujuan manusia tidak membiarkan anak manusia kepada keadaan alamnya, tetapi anak manusia dipandang sebagai <i>mahluk susila</i> dan mesti dibawa kea rah mahluk (manusia) susila yang berbudaya.</p>
<p>Dari ilmu pengetahaun rohani itu dibagi kembali menjadi ilmu deskriptif dan normatif.</p>
<ol>
<li>Ilmu pengetahuan deskriptif, hanya menggambarkan objek-objek dari ilmu pengetahaan rohani itu</li>
<li>Ilmu pengetahaun normatif, tergantung kepada pertimbangan nilainya.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ol>
<p>Untuk menentukan berbagai objek dari ilmu-ilmu pendidikan itu tergantung kepada apa yang ditegaskan mengenai arti dari “mendidik”. Dalam hal ini pengukurannya menggunakan saatu norma.</p>
<p>Selain itu ada juga pembagian ilmu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang <i>bersifat teoritis dan praktis</i>. Ilmu pendidikan teoritis dibagi menjadi ilmu mendidik sistematis, historis dan praktis.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ilmu pendidikan termasuk ilmu pengetahuan empiris, rohani dan rormatif yang diangkat dari pengalaman (emiris) pendidikan, kemudian disusun secara teoritis untuk kemudian digunakan secara praktis.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Sebagai ilmu yang berdiri sendiri, maka ilmu pendidikan termasuk kepada ilmu yang baru saja berkembang; padahal secara praktis, proses pendidikan telah dimulai sejak manusia ada.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p align="center"><i>Tabel 1. Pembagian Ilmu Pengetahuan</i></p>
<p align="center"><i> </i></p>
<ol>
<li><b>B.     </b><b>Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu yang Normatif</b></li>
</ol>
<p>Secara singkat ilmu pendidikan sebagai ilmu yang normative, alasannya karena ilmu pendidikan berdasar atas pemilihan antara yang baik dan sebaliknya untuk anak manusia secara husus dan manusia secara universal.</p>
<p>Kenapa normatif, karena ilmu pendidikan senantiasa berurusan dengan pertanyaan yang singkat, <i>siapa manusia itu</i>?.</p>
<p>Secara umum pembahasan mengenai manusia itu ada pada bidang filsafat, yaitu filsafat antropologi. Pandangannya tentang manusia ini sangat besar penaruhnya terhadap konsep-konsep pendidikan dan praktek-praktek pendidikan. Pandangan filsafat dapat menentukan dilai-dilai luhur yang dipegang teguh oleh pendidik mau pun bangsa yang mau atau sedang melaksanakan pendidikan. Nilai-nilai yang dipegang teguh itu dijadikan suatu norma-norma untuk menentukan cirri manusia yang diharapkan melalui praktek pendidikan. Sebenarnya nilai itu tidak hanya didapat dari praktek mendidik (pengalaman) saja, tapi juga bersumber dari norma-norma masyarakat, norma filsafat, pandangan hidup (way og life) dan juga dari norma agama.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Penjelasan mengenai system nilai yang menjadi norma bagi pendidikan, dapat kita cermati kisah sejarah berikut;<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<ol>
<li>Kisah Yunani</li>
</ol>
<p>Tujuan pendidikan Yunani yakni pembentukan rakyat yang kuat jasmaninya. Mereka berpandangan bahwa manusia adalah mahluk bermain (<i>homo ludens</i>). Mereka berpandangan bahwa pendidikan jasmani adalah pendidikan utama karena <i>mensana incorpore sano </i><b><i>العقل السليم فى الجسم السلبم</i></b>. Orang Yunani berpandangan demikian, dapat diketahui latar belakangnya; mereka berada di Negara yang sering mengalami ketegangan dengan Negara lain, sehingga perlu solusinya, untuk itu mereka harus kuat jasmaninya.</p>
<p>Dari kisah sejarah tadi dapat dipahami bahwa system nilai yang menjunjung tinggi aspek jasmani telah memberikan corak normative tersendiri terhadap system pendidikan Yunani.</p>
<ol>
<li>Kisah Rasionalisme; pengaruhnya terhadap Eropa Barat</li>
</ol>
<p>Pandangan manusia menurut mereka adalah mahluk berfikir (<i>homo sapiens</i>). Akal dijadikannya pangkal tolak. Rakyatnya sangat menjunjung akal, baik akal teoritis maupun praktis. Dengan akal, manusia menghasilkan pengetahuan. Dengan pengetahuan maka manusia dapat berbuat baik dalam arti sempurna.</p>
<p>Untuk contoh konkrit, Rene Descartes dengan metode kesangsiannya <i>Cogito Ergo Sum (saya berfikir karena saya ada); sebab saya sadar saya ada, maka berarti ada yang meng-ada-kan saya, dan yang mengadakan itu adalah sempurna, maka apa-apa yang diciptakannya adalah sempurna. </i></p>
<p>Dari faham ini dapat dikatakan bahwa akal (pengetahuan) maha kuasa. Ini merupakan aksioma:<a title="" href="#_ftn11">[11]</a> implikasi pendirian ini bahwa pendidikan ini sangat menjunjung tinggi pengaruh pengetahuan dan peranan akal rasio.</p>
<p>John Locke (bapaknya) empirisme yang sangat mementingkan pengaruh pendidikan atas dasar teori tabularasa (anak lahir secara fitrah).</p>
<p>Dari contoh-contoh ini dapat dilihat bahwa ada nilai-nilai tertentu yang menjadi norma, seperti tadi pengetahuan yang merupakan norma bagi pelaksanaan pendidikan.</p>
<ol>
<li>Kisah John Dewey</li>
</ol>
<p>John Dewey dengan pragmatism (etika utilitarisme, ilmu jiwa behaviorisme). Diketahui normanya terletak pada; <i>kebenaran itu terletak pada kenyataan yang praktis</i>. Apa yang berguna bagi diri itu adalah benar, segala yang sesuai dengan praktek itulah yang benar.</p>
<p>Pandangan John Dewey ini sangat berpengaruh dalam psikologi dan dapat menghasilkan berbagai metode mendidik dengan cara mendrill dan latihan yang akhirnya menghasilkan manusia sebagai mesin yang berdasar response terhadap stimulus.</p>
<p>Dari kisah-kisah di atas Nampak jelas bahwa nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam pandangan manusia seseorang atau suatu bangsa itulah yang dijadikan norma atau criteria untuk mendidik. Norma-norma ini biasanya tergambar dalam <i>tujuan pendidikan.<a title="" href="#_ftn12"><b>[12]</b></a></i></p>
<p>Dengan demikian ilmu pendidikan diarahkan kepada perbuatan yang mendidik dengan tujuan. Tujuan itu ditentukan oleh nilai yang dijunjung tinggi oleh seseorang atau bangsa, adapun nilai itu sendiri merupakan ukuran yang bersifat normatif. Maka dari itu ilmu pendidikan dikatakan sebagai ilmu yang bersifat normatif.</p>
<p>Adapun al-qur’an memuat nilai-nilai normatif yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut;<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<ol>
<li>I’tiqodiyah yang berkaitan dengan iman kepada rukun iman yang 6, bertujuan sebagai piñata kepercayaan individu</li>
<li>Khuluqiyah yang berkaitan dengan pendidikan etika, tujuannya membersihkan diri dari prilaku rendah dan menghiasi diri dengan prilaku mahmudah</li>
<li>Amaliyah yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari-hari; baik yang berhubungan dengan muamalah atau pun ibadah.
<ol>
<li>Pendidikan ibadah yang memuat hubungan antara manusia dengan tuhannya, seperti sholat, puasa, zakat, haji dan nadir; yang bertujuan untuk aktualisasi nilai-nilai ubudiyah</li>
<li>Pendidikan muamalah yang memuat hubungan antar manusia, baik secara individual maupun institusional.
<ol>
<li>Pendidikan syahsyiyah seperti prilaku individu (masalah pernikahan), hubungan suami-istri, keluarga serta kerabat dekat; bertujuan untuk membentuk keluarga sakinah dan mawadah warohmah.</li>
<li>Pendidikan madaniyah yang berhubungan dengan perdagangan seperti upah, gadai, kongsi dan sebagainya; bertujuan untuk mengelola harta benda atau hak individu.</li>
<li>Pendidikan jana’iyah yang berhubungan dengan pidana atau pelanggaran yang dilakukan; bertujuan untuk memelihara kelangsungan kehidupan manusia, baik berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun hak individu lainnya.</li>
<li>Pendidikan murofa’at yang berhubungan dengan acara seperti peradilan, saksi maupun sumpah; betujuan untuk menegakkan keadilan di antara anggota masyarakat.</li>
<li>Pendidikan dusturiyah yang berhubungan dengan undang-undang Negara yang mengatur hubungan antara rakyat dengan pemerintah atau Negara; bertujuan untuk stabilitas bangsa Negara.</li>
<li>Pendidikan duwaliyah yang berhubungan dengan tata Negara, seperti tata Negara Islam/ non-islam, wilayah perdamaian dan wilayah perang, hubungan muslim satu Negara dengan yang lainnya; bertujuan untuk perdamaian dunia.</li>
<li>Pendidikan iqtishodiyah yang berhubungan denan perekonomian individu dan Negara, hubungan miskin dan yang kaya; bertujuan untuk keseimbangan atau pemerataan pendapatan.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol>
<li><b>C.    </b><b>Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu yang Teoritis dan Praktis</b></li>
</ol>
<p>Ilmu pendidikan tidak hanya mencari pengetahuan deskiriptif tentang objek pendidikan, tetapi juga mencari pengetahuan bagaimana caranya agar berguna bagi objek didiknya.</p>
<p>Dilihat dari maksud dan tujuannya, ilmu pendidikan disebut sebagai ilmu yang praktis karena ditujukan kepada praktek-praktek dan perbuatan yang mempengaruhi anak didiknya. Namun walaupun ilmu pendidikan ditujukan pada peaktek mendidik, tetapi perlu dibedakan antara ilmu pendidikan sebagai ilmu bersifat teoritis dan ilmu pendidikan sebagai ilmu bersifat praktis.</p>
<p>Dalam ilmu pendidikan teoritis dibagi lagi menjadi ilmu pendidikan sistematis dan ilmu pendidikan historis.</p>
<ol>
<li>Ilmu Pendidikan Teoritis</li>
</ol>
<p>Ilmu pendidikan teoritis para ahli dalam pemikirannya mengatur dan mensistemkan berbagai masalah yang tersusun sebagai pola pemikiran pendidikan. Caranya dari berbagai praktek pendidikan disusunlah suatu pemikiran-pemikiran secara teoritis. Pemikiran teoritis ini kemudian disusun menjadi satu system pendidikan. inilah yang dimaksud dengan ilmu pendidikan teoritis (sistematis). Teoritis sama saja dengan sistematis.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Ilmu pendidikan sistematis memberikan suatu pemikitan-pemikiran secara tersusun dan lengkap tentang masalah-masalah pendidikan. ilmu pendidikan sistematis ini membahas semua permasalahan pokok dalam pendidikan secara universal, abstrak dan objektif (pendapat Langeveld).<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Pendidikan sistematis ini sangat berkatian dengan sejarah pendidikan. sejarah pendidikan berisikan tentang berbagai uraian yang terakhir menganai system-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan melihat latar belakang kebudayaan yang sangat berpengaruh pada waktu itu.<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Seberapa besar keterkaitan atau sumbangan sejarahpendidikan terhadap teori pendidikan maupun praktek pendidikan? untuk mengetahuinya kita ikuti kisah berikut;</p>
<p>Di jaman Yunani kuno ada aliran Stoa, salah seorang pengikutnya bernama Epiktetos. Dia adalah seorang yang berlatar belakang budak, ia berusaha untuk tetap membela teori sikap kolektivisme. Apabila teori Epiktetos ini benar, berarti ia tidak mengakui perbedaan manusia. Tetapi dia dengan tegas tidak menyatakan perbedaan dalam derajat. Menurutnya walaupun ada persamaan secara lahir, tetapi dalam derajat rohaniyah kita perlu mengakui bahwa ada perbedaan. Dengan kata lain bahwa walaupun Epiktetos mengatakan semua anak manusia itu sama derajat dan martabatnya, tapi perlu diakui bahwa tiap anak manusia terdapat perbedaan yang khas. Menurut dia, kata ‘persamaan’ tidak bole diartikan sebagai kesamaan lair, tapi perlu diperhatikan lagi dimana letak konkrit kesamaannya. Sebaliknya harus berhati-hati dalam kesamaan itu, keduanya harus silang dalam kenyataan atau dikatakan harus ada keseimbangan dalam menerangkan kedua prinsip itu.</p>
<p>Dari kisah sejarah pendidikan ini terlihat secara jelas bahwa pandangan-pandangan teoritis yang tersusun dapat dipakai sebagai peringatan untuk menyusun teori pendidikan selanjutnya (yang baru).</p>
<p>Kesimpulannya bahwa terlihat ilmu pendidikan sistematis mendahului ilmu pendidikan historis, tetapi ilmu pendidikan historis ini memberikan bantuan dan menjadikan bahan untuk memperkaya ilmu pendidikan sistematis. Teori-teori yang ditemukan (baik dari ilmu sistematis maupun historis) keduannya membantu para pendidik agar selalu waspada dan hati-hati dalam praktek-praktek pendidikan.<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Ilmu pendidikan historis memberikan uraian-uraian teoritis tentang system-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan melihat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada jaman itu.</p>
<p>Ilmu pendidikan historis mempunyai hubungan timbale balik dengan ilmu pendidikan sistematis. Sebaliknya ilmu pendidikan sistematis akan dibangkitkan untuk masalah pendidikan yang baru apabila ilmu ini terbuka untuk menerima bahan-bahan dari ilmu pendidikan historis, tetapi bila dibandingkan antara keduanya maka yang sistematislah yang primair karnea penuturan yang sistematis harus lebih dahulu untuk memungkinkan penyusunan ilmu historis<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Para pendidik yang genial<a title="" href="#_ftn19">[19]</a> sebenarnya memakai teorinya tersendiri, walau teroi itu belum disadari atau belum disistematiskan. Seorang pakar ilmu pendidikan J.M. Gunning pernah berkata bahwa <i>teori tanpa praktek adalah baik untuk para cendikia, dan praktek tanpa teori hanya ada pada orang-orang yang gila da para penjahat</i>. Maka dari itu para pendidik perlu suatu teori dan praktek yang berjalan bersama-sama (saling).</p>
<p>Ilmu pendidikan adalah suatu ilmu pendidikan yang memerlukan pemikiran teoritis, kenapa?</p>
<ol>
<li>Tiap-tiap pendidik akan mendengarkan kritik-kritik, catatan-catatan, sumbangan pemikiran dari para ahli. Pendidik akan mulai memikirkan secara kritis tindakan-tindakan dalam perbuatan mendidiknya (ia bis belajar dari catatan dan kritik saran orang lain). J.M Gunning pernah berkata bahwa mempelajari ilmu pendidikan berarti mengubah diri sendiri menjadi orang lain, karena ada pemikiran teoritis tentang tindakan mendidik itu sendiri, sehingga dianggap bahwa teori itu diperlukan.</li>
<li>Salah satu masalah yang dianggap perlu pemikiran teoritis adalah apakah anak peserta didik itu perlu untuk berkembang, perlu berapa jauh lingkungan pendidikan, potensi kreatifitas peserta didik berkembang. Pemikiran yang mendasar ini selalu dibicarakan dari abad-ke adab. Hal-hal ini memerlukan pemikiran teoritis. Bertolak pula dari kenyataan praktek pendidikan pada jaman tersebut.</li>
<li>Ketika kita membaca rumusan tujuan pendidkan dari jaman ke jaman, akan kita dapatkan gambaran bagaimana caranya orang memperagakan suatu gambaran ideal tentang manusia dan masyarakat yang diharapkan. Setiap saat tujuan pendidikan itu berpindah dan berbeda-beda; suatu saat orang menghendaki tujuan pendidikannya membentuk rakyat yang kuat seperti terjadi di Yunani, suatu saat tujuan pendidikannya membentuk manusia yang baik yang mengabdi pada Negara, suatu saat tujuan pendidikannya adalah membentuk manusia yang baik yang dipersiapkan (kehidupan di dunia-akhirat), suatu saat orang menekankan kebebasan manusia sebagai individu dan lain pihak menghendaki kepentingan bersama, pada suatu saat orang menginginkan keseimbangan antara individu dan kepentingan bersama.</li>
<li>Pendidikan perlu jangka waktu yang panjang, sebab pendidikan bercorak perbuatan pendidkan. Dalam perbuatan, biasanya orang bisa melihat dan men-cek hasilnya segera. Hasil pendidikan itu baru dapat dilihat pada generasi berikutnya. Untuk meneliti hasil pendidikan itu orang harus melihat bagaimana cara bertindak, mendidik dan bagaimana cara hidup anak di masa dewasa nanti.</li>
</ol>
<p>Kesimpulannya bahwa pendidik ini memerlukan; 1 status dia sebagai pendidik, 2 tahu tujuan pendidikan, 3 tahu peserta didiknya, 4 tahu cara dan metode mendidik yang sesuai jenjang perkembangan anak yang selanjutnya membawanya pada pencapaian tujuan pendidikan, 5 tahu martabat manusia secara umum (dijelaskan dalam antropologi pendidikan).</p>
<p>Dari penjelasan ini dapat dikatakan bahwa ilmu pendidikan memerlukan pemikiran teoritis, yakni perlu pemikiran yang tersusun secara teratur dan sistematis.</p>
<ol>
<li>Ilmu Pendidikan Praktis</li>
</ol>
<p>Ilmu pendidikan praktis memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan-ketentuan pendidikan yang langsung ditujukan kepada perbuatan mendidik. Ilmu pendidikan praktis ini menempatkan diri di dalam situasi pendidikan dan mengarahkan diri pada perwujudan/ realisasi dari ide-ide yang dibentuk dan dari kesimpulan-kesimpulan yang diambil.</p>
<p>Menurut Langeveld dalam bukunya dikatakan bahwa praktek yang tidak dibimbing oleh hipotesa atau teori-teori tertentu, maka akan berakhir sebagai pemborosan dana, tenaga dan waktu karena hanya didasarkan pada percobaan yang tidak terarah dan tidak menentu.</p>
<p>Sebenarnya praktek dapat mengubah teori atau dengan kata lain apabila pakta tida sesuai dengan teori, maka teori itu mesti diubah. Jadi pakta ini dapat memperkaya teori.</p>
<p>Kesimpulannya antara teori dan praktek harus saling mengisi. Teori tanpa praktek seperti kompas yang di pendam. Sebaliknya bila praktek tanpa teori seperti kapal berlayar tanpa radar.<a title="" href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Dari ilmu pendidikan praktis dapat dihasilkan ilmu-ilmu seperti pendidikan social, keluarga, luar biasa, agama, dan lainnya.</p>
<p align="center"><i>Tabel 2. Pembagian Ilmu Pendidikan</i></p>
<p align="center"><i> </i></p>
<p>            Teori dan Praktek dalam Pendidikan Islam</p>
<p>Pengkajian bahan-bahan yang didapat dari proses empiris, baik itu penelitian kualitatif atau kuantitatif, sangat memerlukan pendalaman dan pengulasan teori yang dikembangkan.</p>
<p>Intinya antara teori (ilmu pendidikan islam) dan fakta yang berkembang dalam lapangan empiris mesti saling berkaitan. Adapun keterkaitannya meliputi;</p>
<ol>
<li>Teori menetapkan adanya hubungan dari fakta yang ada</li>
<li>Teori mengembangkan system klarifikasi dan struktur dari konsep-konsep.</li>
</ol>
<p>Perlu dilihat bahwa fakta alam yang ada disekitar kita tidak menyediakan system yang siap pakai untuk pengklasifikasian objek keilmuan yang berupa fakta dan kejadian-kejadian, metode dan sebagainya; manusia itulah yang bertindak sebagai pengatur dan merumuskannya sehingga menjadi bermakna dan berguna bagi dirinya.</p>
<ol>
<li>Teori harus mengikhtisarkan fakta-fakta, oleh sebab itu sbuah teori mesti mampu menerangkan sejumlah besar fakta.</li>
<li>Teori harus dapat meramalkan fakta. Karena salah satu tugas dari sebuah teori adalah dapat meramalkan kejadian-kejadian sebelum terjadi.</li>
</ol>
<p>Antara teori dan praktek di satu pihak harus saling berhubungan, di lain pihak harus dikembangkan melalui kegiatan penelitian sebagai sarana memperkaya dan mengoreksi konsep-konsep operasional pendidikan tersebut.</p>
<p>Karena melihat bahwa ilmu pendidikan Islam bersifat teoritis dan praktis, maka agar keduanya bercorak ilmiyah- harus ada usaha sistematisasi yang tersusun baik sehingga mampu memberikan deskripsi tentang fakta/ data dari pengalaman dalam pengertian yang sederhana mungkin.</p>
<p>Agar corak teoritis dari keilmuan kependidikan Islam itu tidak berkurang, maka teori-teori yang dirumuskan itu lahir dari hipotesa-hipotesa yang dianalisis melalui proses pemikiran yang sifatnya deduktif dan induktif serta analisis-sintesis. Suatu fakta atau pengalaman yang relevan merupakan bahan-bahan analisis yang dijadikan pembuktian atas kebenaran hipotesis tersebut.</p>
<p>Ilmu pendidikan Islam teoritis juga mengandung watak dan cirri praktis. Watak dan cirri ini tidak perlu ada pemisahan antara bersifat teoritis dan yang praktis, keduanya telah mencakup dalam pengertian ilmu itu sendiri. Teori tanpa praktek tidak akan bermakna, praktek tanpa teori adalah kabur.</p>
<ol>
<li>Teori harus menunjukan kebutuhan-kebutuhan untuk dikembangkan dalam penelitian lebih lanjut.<a title="" href="#_ftn21">[21]</a></li>
</ol>
<p>Poin-Poin Penjelasan Ilmu Pendidikan bersifat Normatif</p>
<ol>
<li>Sebagai ilmu pengetahuan normative, ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma atau ukuran tingkah laku, perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan manusia. Atau ilmu pendidikan bertugas merumuskan peraturan-peraturan tentang tingkah laku perbuatan makhluk yang bernama manusia dalam kehidupan dan penghidupannya.</li>
<li>Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan atau pendidik/ guru adalah menanamkan system-sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat.</li>
<li>Sesuai dengan kenyataan di atas, ilmu pendidikan erat hubungannya dengan ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan normative lainnya yang dalam sejarah perkembangan merupakan bagian dari yang tak terpisahkan dan baru pada abad modern ini memisahkan diri sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri yang dinamai <i>Filsafat Pendidikan</i> pada tahun 1908 M.</li>
<li>Ilmu pengetahuan yang dapat dimasukan kepada ilmu pengetahun normative meliputi; agama, filsafat dengan cabang-cabangnya (metafisika, etika, estetika, logika), way of life sosial masyarakat, kaidah pundamental Negara maupun tradisi kepercayaan bangsa.</li>
<li>Bahwa agama, filsafat dengan cabangnya serta istilah yang ekuifalen lainnya menentukan dasar-dasar dan tujuan hidup yang akan menentukan dasar dan tujuan pendidikan manusia, dan selanjutnya akan menentukan tingkah laku perbuatan manusia dalam kehidupan dan penghidupannya.</li>
<li>Bahwa dalam perumusan tujuan-tujuan altimit dan proksimit, pendidikan akan ditetapkan hakikat dan sifat hakikat manusia dari segi-segi pendidikan yang akan dibina dan dikembangkan melalui prose pendidikan sebagaimana yang tercantum/ dirumuskan dalam system pendidikan (science of education).</li>
<li>Bahwa system pendidikan atau science of education bertugas merumuskan alat-alat, prasarana, pelaksanaan, tekhnik-tekhnik dan atau pola-pola proses pendidikan dan pengajaran yang di mana akan dicapai dan dibina tujuan-tujuan pendidikan, dan ini meliputi problematika kepemimpinan dan metode pendidikan, politik pendidikan, sampai kepada seni mendidik (the art of education).</li>
<li>Isi moral pendidikan atau tujuan intermidit adalah berisi perumusan norma-norma atau nilai-nilai spiritual etis yang akan dijadikan system nilai pendidikan dan atau merupakan konsepsi dasar nilai moral pendidikan yang berlaku disegala jenis dan tingkat pendidikan.</li>
<li>Bahwa wajar setiap manusia mempunyai filsafat hidup atau kaidah-kaidah berpikir dan pikiran tentang kehidupan dan penghidupannya, maka suatu keharusan agar setiap pendidik dan gurumemiliki dan membina filsafat pendidikan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas pendidikan dan pengajarannya, baik di dalam maupun di luar lembaga pendidikan formal sekolah yaitu di dalam masyarakat.</li>
<li>Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi bertugas merumuskan secara normative dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hakikat dan sifat hakaikat manusia, hakikat dan segi-segi pendidikan, isi moral pendidikan, system pendidikan yang meiputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan dan metodologi pengajarannya, pola-pola kaulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat.<a title="" href="#_ftn22">[22]</a></li>
</ol>
<ol>
<li><b>D.    </b><b>Faktor-faktor Pendidikan</b></li>
</ol>
<p>Unsure pokok yang tersusun dalam pemikiran teoritis (gambaran manusia yang diharapkan) antara lain; 1 yang menyangkut tujuan pendidikan. Gambaran manusia yang bagaimana yang menjadi norma, dalil asasi antropologi yang memungkinkan terjadinya proses mendidik, 2 siswa, 3 guru, 4 alat-alat pendidikan dan 5 alam milieu.<a title="" href="#_ftn23">[23]</a></p>
<ol>
<li>Tujuan pendidikan</li>
</ol>
<p>Kalau di Indonesia, manusia yang diharapkan dari pendidikan adalah menjadi manusia pancasilais. Manusia pancasilais ini dijabarkan kembali dalam rumusan tentang gambaran manusia seperti rumusan tujuan pendidikan nasional yang tertulis pada ketetapan MPR nomor IV/MPR/1987 tentang pendidikan.</p>
<p>Untuk mewujudkan itu, maka melalui pendidikan formal di sekolah didirikan jenjang-jenjangnya, mulai dari Taman Kanak-kanak/ Raudhatul Athfal, Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Menengah Umum/ Madrasah Tsanawiyah, Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah, Perguruan Tinggi/ Jami’ah Ulya. Tiap jenjang ini mempunyai sub tujuan sendiri dalam rangka mencapai tujuan nasional. Rumusan tujuan pendidikan biasanya terdapat dalam kurikulum tiap jenjang sekolah atau dikenal dengan <i>tujuan institusional.</i></p>
<p>Setelah tujuan institusional, selanjutnya tujuan kurikuler yang selanjutnya dijabarkan menjadi tujuan instruksioal umum yang kemudian disusunlah pokok-pokok bahasan.</p>
<p>Tiap-tiap guru mempunyai kewajiban untuk menyusun tujuan instruksional khusu. Jadi secara berurutan dalam kurikulum biasanya kerangka berfikir tergambar dengan jelas dengan tujuan-tujuan berikut;</p>
<ol>
<li>Cita-cita nasional (alinea dua pembukaan Undang-undang Dasar 1945)</li>
<li>Tujuan nasional (alinea empat pembukaan Undang-undang Dasar 1945)</li>
<li>Tujuan pembangunan nasional (TAP MPR no. IV/MPR/1978 tentang bidang pendidikan)</li>
<li>Tujuan institusional (tiap jenjang sekolah)</li>
<li>Tujuan kurikuler</li>
<li>Tujuan instruksional umum</li>
<li>Tujuan instruksional khusus.</li>
</ol>
<p>Secara teoritis, tujuan pendidikan dapat dibagi menjadi enam (menurut Langeveld); tujuan umum/ akhir, tujuan tidak lengkap, tujuan sementara, tujuan kebetulan, tujuan perantara (intermediaair). <i>dijelaskan di bahasan selanjutnya</i>.</p>
<ol>
<li>Siswa</li>
</ol>
<p>Tujuan hakiki dalam pendidikan adalah objeknya, yaitu siswa. Siswa ini ingin menjadi manusia yang diharapkan. Gambaran manusia yang diharapkan ini ada dalam tujuan pendidikan yang mesti sesuai dengan gambaran anak, hakikatnya (sebagai mahluk susila), perkembangan jiwanya. Dalam hal ini pendidik mesti mempelajari psikologi perkembangan, psikologi pendidikan dan psikologi belajar. Dan yang perlu diketahui bahwa tiap anak itu tidak sama, jadi guru harus bisa memahami proses pengidentifikasian siswa.</p>
<p>Adapun penentu tanggung jawab pendidikan anak adalah; orang tuanya dan penggantinya bila orang tua tidak ada, guru (karena sebagai jabatan pendidik), masyarakat, tokoh agama dan penentu lainnya.</p>
<p>Crow &amp;Crow usia perkembangan meliputi; usia kronologis, usia kejasmanian, usia anatomis, usia kejiwaan, usia pengalaman dan lainnya. Inilah yang perlu diperhatikan oleh guru dalam mendidik, harus bisa mengetahui perkembangan anak-anak didikanya.<a title="" href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Adapun factor perkembangan manusia (siswa) dapat kita amati tiga pakar berikut;</p>
<ol>
<li>Factor keturunan yang dibawa oleh Scopenhauer dengan nativismenya mengatakan bahwa anak sejak lahir sudah memiliki berbagai pembawaan yang akan berkembang sendiri menurut arahnya, perkembangan yang di bawa mereka bisa baik bisa juga buruk. Pembawa pendapat ini disebut juga kelompok pesimis.</li>
<li>Factor lingkungan yang dibawa oleh John Lock dan Francis Bacon dengan empirismenya bahwa anak dilahirkan dalam keadaan kosong (bagai kertas putih). Anak akan mengalami perkembangan dengan melalui pengalaman (empiris) yakni melalui lingkungan. Kelompok ini disebut juga kelompok optimis.<a title="" href="#_ftn25">[25]</a></li>
<li>Tetapi karena kita ketahui sekarang bahwa antara factor keturunan dan factor lingkungan mempunyai hubungan yang berkatian. Pendapat ini dikenal dengan pendapat konvergensi (penyatuan poin a dan b) yang dibawa oleh William Stern. Ini sesuai dengan sabda nabi Muhammad saw berikut;</li>
</ol>
<p><b>حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى ذِئْبٍ عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ أَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ قَالَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; </b><b>« كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ</b><b> ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ، كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ ، هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ</b><a title="" href="#_ftn26">[26]</a><b>                                  </b></p>
<ol>
<li>Guru</li>
</ol>
<p>Salzman tokoh guru jaman Aufklarung/ pencetakan sering menulis buku tentang pendidikan yang mengambil contoh-contoh hidup dari binatang. Bukunya berjudul <i>Buku Semut, Buku Kepiting</i> dan lainnya.</p>
<p>Di kisah bukunya (kepiting) ada seekor induk kepiting dan anaknya mengikuti; induknya berkata: ‘nak, ikut ibu’, anaknya jawab: iya bu, saya memang ikut jalannya ibu, ibu jalan seperti itu, maka saya juga demikian.</p>
<p>Dari anekdot ini dapat diambil kesimpulan bahwa pendidik punya pengaruh besar sebagai <i>uswatun hasanah</i> bagi siswanya. Ia harus tahu siapa dirinya (pendidik), ia mesti tahu konsep diri, ide tentang diri, identitas diri sebagai guru.</p>
<p>Sokrates mengatakan bahwa kenalilah dirimu sendiri. Bila telah kenal, ia akan sadar kelebihan dan kelemahannya seperti guru mengucapkan kata “eu” sebanyak 40 kali. Sadar akan diri sendiri menjadi permulaan dari kemungkinan untuk mampu mendidik orang lain.</p>
<ol>
<li>Alat pendidikan</li>
</ol>
<p>Dalam menggapai tujuan pendidikan, perlu alat-alat pendidikan yang saling berpasangan; perintah-larangan, dorongan-hambatan, nasihat-anjuran, hadiah-hukuman, membuka kesempatan-menutup kesempatan.</p>
<p>Jadi alat pendidikan adalah perbuatan yang diadakan sengan sengaja untuk mecapai tujuan pendidikan.<a title="" href="#_ftn27">[27]</a></p>
<p>Crow &amp; Crow maksud dari alat pendidikan (media) meliputi rencana-rencana kelas, bangku, papan tulis, projector, ruangan dan alat-alat jasmani lainnya.</p>
<p>Penggunaan alat pendidikan mesti sesuai dengan tujuan, keadaan siswa, situasi pendidikan dan lingkungan pendidikan.</p>
<p>Target dari alat pendidikan sebagai pembantu pencapaian tujuan pendidikan meliputi; apa yang hendak ditujunya (dengan alat apa), alat-alat yang mana yang ada, guru mana yang akan memakai alat ini, kepada siswa mana menggunakan alat ini (jenisk kelaminnya, umurnya, bakatnya, perkembangannya, lingkungannya). Intinya tiap anak didik berbeda, tidak dengan alat yang sama dapat membantu tujuan pendidikan.<a title="" href="#_ftn28">[28]</a></p>
<ol>
<li>Lingkungan</li>
</ol>
<p>Factor alam atau milie ini adalah segala sesuatu yang ada disekeliling siswa. Para ahli membagi ala mini menjadi; lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiganya saling keterkaitan tidak bisa memisah, ia harus sebagai mata rantai yang selalu berputar bekerjasama satu sama lain.</p>
<p>Ada juga sebagian pendidik yang membagi milieu ini menjadi; wujud manusia (keluarga, teman main/ sekolah, tetangga), wujud kesenian (macam pertunjukan, bioskop, wayang, overa), kesusastraan (buku bacaan, majalah, koran, tabloid), tempat (tempat tinggal, iklim).<a title="" href="#_ftn29">[29]</a></p>
<p>Kesemuanya ini mempunyai pengaruh pada perkembangan jiwa siswa dalam upaya menuju pada tujuan pendidikan.</p>
<ol>
<li><b>E.     </b><b>Tujuan Pendidikan (versi M.J. Langeveld) dan para Pakar</b></li>
</ol>
<p>Langeveld membagi tujuan dari pendidikan menjadi enam;</p>
<ol>
<li>Tujuan Umum/ Akhir/ Lengkap</li>
</ol>
<p>Tujuan akhir pendidikan adalah membawa anak dengan sengaja dan penuh tanggung jawab kea rah kedewasaan jasmani dan rohani.</p>
<ol>
<li>Tujuan Khusus</li>
</ol>
<p>Tujuan ini adalah penjabaran tujuan umum. Tiap anak pasti berbeda, dan tujuannya tergantung pada kejadian; tergantung sifat dan bakat anaknya, kemungkinan dalam keluarga dan lingkungan anaknya, tergantung tujuan kemasyarakatan siswanya, tergantung kesanggupan gurunya dan tergantung pada kinerja lembaga pendidikan.</p>
<ol>
<li>Tujuan Seketika/ Insidentil</li>
</ol>
<p>Tujuan ini merupakan tujuan tersendiri yang sifatnya seketika/ momentil. Contoh guru mengajak siswa makan bersama. Guru dengan tanpa mengatakan pada siswa, ia ingin melatih siswa supaya makan dengan tertib-teratur. Tapi beda waktu guru mengajak lagi makan dengan tanpa tujuan mendidik apapun (hanya makan saja).</p>
<ol>
<li>Tujuan Sementara</li>
</ol>
<p>Tujuan ini dikenal dengan jeda istirahat untuk siap-siap pada tujuan umum. Contoh seperti belajar bicara, membaca yang akan membantu dalam perkembangannya. Ketika hendak mengajar, guru mesti tahu tingkat kepekaan siswa.</p>
<ol>
<li>Tujuan tidak Lengkap</li>
</ol>
<p>Tujuan ini mempunyai hubungan dengan aspek kepribadian manusia, sebagai fungsi kerohanian pada bidang etika, agama, estetika, sikap socialnya.</p>
<ol>
<li>Tujuan Perantara/ Intermediaair</li>
</ol>
<p>Tujuan ini persis seperti tujuan sementara, tapi ini khusus pada pelaksanaan tekhnis tugas belajar, contoh belajar membaca, menulis yang seolah-olah terlepas dari tujuan akhir, seakan-akan belajar mengeja tidak lagi terikat pada pandangan hidup tertentu. Tapi itu keliru, hubungannya sangat erat dengan tujuan akhir/ umum pendidikan.<a title="" href="#_ftn30">[30]</a></p>
<p>Undang-undang Dasar Sispenas. 20 2003</p>
<p>Menurut Undang-undang Sispenas. 20 2003 disebutkan bahwa tujuan pendidikannya adalah untuk pengembangan potensi diri agar memiliki kekuatan spiritual agama, kendali diri, punya kepribadian, cerdas, berakhlak mulia, memiliki keterampilan yangdiperlukan baik untuk dirinya, bangsa, agama dan Negara.<a title="" href="#_ftn31">[31]</a></p>
<p>Dapat kita katakana bahwa pendidikan adalah usaha orang dewasa/ guru untuk mengambil kendali perkembangan potensi jasmani dan rohaninya ke arah manusia karim.</p>
<p>Socrates berpendapat bahwa tujuan manusia dalam hidupnya adalah mengenali diri pribadi. Ia menganjurkan supaya hidup dengan jiwa sehat, bersusila, dan berbahagia.</p>
<p>Plato (siswa Sokrates) berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah mencapai keadilan dalam suatu Negara dengan dipimpin oleh raja yang bijaskana. Dalam Negara itu tiap orang harus berbuat menurut kecakapan dan bakatnya mencampuri perkara orang lain.</p>
<p>Raden Van Ryan berpendapat bahwa tujuan pendidikan (katolik) <i>to know God and to enjoy eternal happiness with Him in Heaven </i>(mengetahui tuhan dan hidup bahagia di dunia-akhirat).</p>
<p>Kohnstamm berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menolong manusia yang sedang berkembang, supaya memperoleh perdamaian batin yang sedalam-dalamnya, tana mengganggu dan menjadi beban orang lain.</p>
<p>Arifin berpendapat bahwa tujuan pendidikan (islam) adalah mencapai kebahagiaan kehidupan dunia dan akhirat, dan untuk beribadah kepada Allah swt. Seperti tertera dalam al-Qur’an.<a title="" href="#_ftn32">[32]</a></p>
<p dir="RTL"><b>$</b><b>t</b><b>B</b><b>u</b><b>r</b><b>à</b><b>M</b><b>ø</b><b>)</b><b>n</b><b>=</b><b>y</b><b>z</b><b>£</b><b>`</b><b>Å</b><b>g</b><b>ø</b><b>:</b><b>$</b><b>#</b><b>}</b><b>§</b><b>R</b><b>M</b><b>}</b><b>$</b><b>#</b><b>u</b><b>r</b><b></b><b>w</b><b>Î</b><b>)</b><b>È</b><b>b</b><b>r</b><b>ß</b><b></b><b>ç</b><b>7</b><b>÷</b><b>è</b><b>u</b><b></b><b>Ï</b><b>9</b><b> (الداريات: 56)</b></p>
<p dir="RTL"><b>O</b><b>ß</b><b>g</b><b>÷</b><b>Y</b><b>Ï</b><b>B</b><b>u</b><b>r</b><b>`</b><b>¨</b><b>B</b><b>ã</b><b>A</b><b>q</b><b>à</b><b>)</b><b>t</b><b></b><b>!</b><b>$</b><b>o</b><b>Y</b><b>­</b><b>/</b><b>u</b><b></b><b>$</b><b>o</b><b>Y</b><b>Ï</b><b>?</b><b>#</b><b>u</b><b>ä</b><b></b><b>Î</b><b>û</b><b>$</b><b>u</b><b></b><b>÷</b><b>R</b><b></b><b></b><b>9</b><b>$</b><b>#</b><b>Z</b><b>p</b><b>u</b><b>Z</b><b>|</b><b>¡</b><b>y</b><b>m</b><b></b><b>Î</b><b>û</b><b>u</b><b>r</b><b>Í</b><b>o</b><b>t</b><b></b><b>Å</b><b>z</b><b>F</b><b>y</b><b>$</b><b>#</b><b>Z</b><b>p</b><b>u</b><b>Z</b><b>|</b><b>¡</b><b>y</b><b>m</b><b>$</b><b>o</b><b>Y</b><b>Ï</b><b>%</b><b>u</b><b>r</b><b>z</b><b>&gt;</b><b>#</b><b>x</b><b></b><b>t</b><b>ã</b><b>Í</b><b></b><b>$</b><b>¨</b><b>Z</b><b>9</b><b>$</b><b>#</b><b> (البقرة:201)</b></p>
<p>Paul haberlin (aliran haberlin) berpendapat bahwa tujuan pendidikan cakap batin supaya dapat memenuhi kewajibannya, tugas hidupnya, dan tujuan hidupnya.</p>
<p>John Dewey (aliran pragmatis) berpendapat bahwa tujuan umum pendidikan adalah memenuhi proses hidup. Tujuan hidup ini dapat berubah sesuai pengalaman dan pendidikan, memperbaiki filsafat hidup. Artinya suatu tujuan hanya dapat dicapai dengan bersama (dicapai dengan jalan hidup dan berdemokrasi).</p>
<p>Langeveld (aliran fenomenologi) berpendapat bahwa tujuan pendidikan tercapainya kedewasaan.</p>
<p>Sikun Pribadi berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah psycho hygience (sehat jiwa). Kesehatan jiwa ini mutlak untuk produktif, kreatif, progresif. Psycho hygience berbeda dengan mental hygience yang menitik beratkan pada bagian rohani saja, sedangkan psycho hygience sebagai totalitet psycho hygience/ psycho somatic. Psycho hygience adalah keadaan jiwa yang dapat menyeimbangkan antara kepribadian dengan perasaan bersatu dengan seluruh hidup kejiwaannya</p>
<p>Indonesia memberikan pedoman filsafat pancasila sebagai cita-cita pendidikan bangsa yang mesti dilaksanakan dan diusahakan dalam pendidikan Indonesia.</p>
<ol>
<li>Ketuhanan yang maha Esa</li>
<li>Kemanusiaan yang adil dan beradab</li>
<li>Persatuan Indonesia</li>
<li>Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan</li>
<li>Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.<a title="" href="#_ftn33">[33]</a></li>
</ol>
<p>Tujuan umum pendidikan Indonesia sudah tersusun dalam tapMPR 1966 atau sekarang undang-undang dasar 1945 Sispenas. 20 2003.</p>
<ol>
<li><b>F.     </b><b>Pandangan Pendidikan menurut Para Pakar</b></li>
</ol>
<p>Ki Hajar Dewantara mengemukakan pengertian pendidikan sebagai berikut:</p>
<p>Pendidikan adalah tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak.</p>
<p>Pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti, pikiran dan jasmani anak-anak.</p>
<p>D. Marimba berpendapat bahwa penegertian pendidikan adalah bimbingan atau pimipinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rokhani si terdidik menuju terbentunya kepribadian yang utama.</p>
<p>Menurut Carter V. Good dalam ‘Dictionary of Education’, Pendidikan adalah (1) Seni, praktek, atau profesi sebagai pengajar. (2) Ilmu yang sistematik atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid.</p>
<p>Menurut Richey dalam bukunya ‘Planning for teaching, an Introduction to Education’ menyatakan: Istilah ‘Pendidikan’ berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat.</p>
<p>Menurut S. Brojonegoro pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut : Pendidikan adalah tuntutan kepada manusia yang belum dewasa untuk menyiapkan dirinya agar dapat memenuhi sendiri tugas hidupnya.</p>
<p>Menurut Rupert C.Lodge beranggapan bahwa pendidikan adalah kehidupan dan kehidupan adalah pendidikan (Education is Life and Life is Education).<a title="" href="#_ftn34">[34]</a></p>
<p>Plato (filosof Yunani) mengartikan pendidikan sebagai upaya membentuk pisik dan akal anak dengan suatu pendidikan dan mengantarkannya ada kebaikan dan kesempurnaan.</p>
<p>Herbert Spencer (filosof Inggris) pendidikan adalah upaya menyiapkan manusia untuk mencapai tingkatan kesenangan dan ketentraman hidup.</p>
<p>Ferdick Herbert (filosof Jerman) mengatakan bahwa pendidikan adalah upaya mengangkat martabat dan akhlak manusia.</p>
<p>Aristoteles (filosof Yunani) pendidikan adalah upaya menyiapkan (membuka) akal manusia untuk menerima pendidikan sebagai mana bumi siap untuk ditanami.</p>
<p>Jean Jacque Rosseau (filosof Prancis) mengatakan pendidikan sebagai usaha pembekalan manusia terhadap jiwa anak yang masih fitrah, dan membekalinya dengan suatu yang dibutuhkannya ketika tengah dewasa.</p>
<p>James Mill (filososf Inggris) mengatakan bahwa pendidikan adalah upaya memberikan keahlian kepada anak agar menjadi manusia yang berbahagia, manfaat bagi diri dan orang lain.</p>
<p>John Stuart Mill (filosof Inggris) mengatakan bahwa pendidikan adalah segala yang diperbuat manusia untuk dirinya maupun orang lain, untuk mencapai tujuan kesempurnaan.</p>
<p>Festalozzi (pakar pendidikan Swiss) mengatakan bahwa pendidikan sebagai upaya mengatasi problema-problema hidup dan merubah keadaan menjadi sejahtera.</p>
<p>Frobel (pakar pendidikan jerman) mengatakan bahwa pendidikan adalah upaya mengantarkan manusia kepada manusia seutuhnya.</p>
<p>William Chanler Bagley (dosen American Univercity) mengatakan pendidikan sebagai upaya pembentukan keahlian sehingga mempunyai pengalaman yang menguatkan perbuatannya untuk menjadi lebih baik dan sempurna di masa selanjutnya</p>
<p>Findlaij (dosen Manchaster University) mengatakan pendidikan sebagai proses mempengaruhi anak didik dengan teori-teori dan cara yang telah disusun secara sistematis untuk dijadikan pola dalam membentuk keluarga, masyarakat, kepemerintahan dan lainnya sebagai bekal untuk generasi penerusnya agar hidup bahagia.</p>
<p>Raijmaunt (dosen London University) mengatakan pendidikan sebagai upaya memberikan pengaruh pada siswa sejak kecil secara khusus dengan sesuatu yang akan ditemui dalam kehidupan masyarakat social pada waktu yang akan dating, melalui perantara keluarga, lingkungan, masyarakat dan lembaga.<a title="" href="#_ftn35">[35]</a></p>
<p>Langeveld</p>
<p>Pendidikan ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buka, putaran hidup sehari-hari, dsb) dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa.</p>
<p>John Dewey</p>
<p>Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.</p>
<p>J.J Rousseau</p>
<p>Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutukannya pada waktu dewasa.</p>
<p>Carter V. Good<em>a.  </em>menyatakan <em>“Pedagogy is the art, practice or profession of teaching. b.      The systematized learning or instruction concerning principles and methods of teaching and of student control and guidance, largely replaced by the term education”.</em></p>
<p>Pendidikan ialah:</p>
<ol start="1">
<li>Seni, praktik, atau profesi sebagai pengajar</li>
<li>Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.</li>
</ol>
<p>Kamus Besar Bahasa Indonesia</p>
<p>Pendidikan berasal dari kata dasar “didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.</p>
<p>Sukardjo dan Komarudin</p>
<p>Sukardjo dan Komarudin, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah kumpulan dari semua proses yang memungkinkan seseorang mampu mengembangkan seluruh kemampuan (potensi) yang dimilikinya, sikap dan bentuk perilaku yang bernilai positif di masyarakat tempat individu yang bersangkutan berada.</p>
<p>Ki Hajar Dewantara</p>
<p>Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Lebih lanjut beliau ( Kerja Ki Hajar Dewantara (1962) menjelaskan bahwa “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti ( kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak, dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu, agar supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya “.</p>
<p>UU No 20 Tahun 2003</p>
<p>Dalam UU NO 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa pendidikan adalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat.</p>
<p>Pidarte Made</p>
<p>Pidarta Made (2007: 169) menyatakan pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berperilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Dimanapun orang berada disitulah terjadi proses pendidikan dan enkulturasi. Tempat terjadinya enkulturasi adalah sekolah, keluarga, dalam perkumpulan pemuda, perkumpulan olahraga, kesenian, keagamaan, di tempat kursus dan latihan.</p>
<p>Dari beberapa pengertian pendidikan yang diberikan oleh para ahli tersebut, berbeda secara redaksional, namun secara esensial terdapat kesatuan unsur-unsur atau faktor-faktor yang terdapat didalamnya.</p>
<p>Unsur-unsur esensial dalalam pengertian pendidikan adalah sebagai berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Pembinaan (kepribadian), pengembangan (kemampuan atau potensi diri), peningkatan (pengetahuan) serta tujuan (kearah mana peserta didik akn diharapakan akan mengaktualisasikan dirinya seoptimal mungkin.</li>
<li>Ada hubungan antara kedua belah pihak (pendidik dan peserta didik)</li>
<li>Aktifitas pendidikan berlangsung dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.<a title="" href="#_ftn36">[36]</a></li>
</ol>
<p>Musthofa al-Maraghi memberikan definisi pendidikan pada dua; pertama <i>tarbiyah khalqiyah</i> yakni penciptaan, pembinaan dan pengembangan jasmani peserta didik agar dapat dijadikan sebagai sarana bagi pengembangan jiwanya, keduanya <i>tarbiyah diniyah tahzibiyah</i> yakni pembinaan jiwa manusia dan kesempurnaannya melalui petunjuk wahyu ilahi.</p>
<p>Al-Abrasyi memberikan pengertian bahwa pendidikan adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, teratur fikirnya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya (lisan maupun tulisan)<a title="" href="#_ftn37">[37]</a></p>
<p>Crow &amp; Crow memberikat arti bahwa pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untun kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan kebudayaan serta kelembagaan social dari generasi ke generasi.<a title="" href="#_ftn38">[38]</a></p>
<p>Tim Dosen IKIP Malang mengatakan bahwa pendidikan sebagai upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia agar masing-masing individu dapat berperan secara tepat sesuai dengan kodratnya dengan pembekalan-pembekalan berikut;</p>
<ol>
<li>Keimanan dan ketakwaan pada Allah swt</li>
<li>Budi pekerti yang luhur</li>
<li>Kepribadian yang kuat</li>
<li>Mandiri</li>
<li>Keinginan untuk maju</li>
<li>Ketangguhan</li>
<li>Kecerdasan</li>
<li>Kreatifitas</li>
<li>Keterapmilan</li>
<li>Disiplin yang tinggi</li>
<li>Etos kerja yang tinggi</li>
<li>Profesionalisme yang mantap</li>
<li>Tanggung jawab yang tinggi</li>
<li>Produktifitas yang tinggi</li>
<li>Sehat jasmani dan rohani. (disarikan dari GBHN 1993).<a title="" href="#_ftn39">[39]</a></li>
</ol>
<p>Menurut John Dewey dalam buku Filsafat Pendidikan menyatakan bahwa pendidikan adalah proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pun pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan social. Prose ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok di mana ia hidup.</p>
<p>Horne mengatakan pendidikan sebagai proses yang terus menerus dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.</p>
<p>Frederick J. Mc. Donald mengatakan pendidikan sebagai suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior/ pembawaan) manusia.</p>
<p>M.J. langeveld mengatakan bahwa pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu keadaan di mana pekerjaan mendidik itu berlangsung.</p>
<p>A.D. Marimba mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar yang dilakukan guru terhadap perkembangan jasmani dan rohani si pendidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.<a title="" href="#_ftn40">[40]</a></p>
<p>Tetapi pada akhirnya di Negara Indonesia sendiri mempunyai tujuan pendidikan yakni yang tertera dalam UU NO 20 tahun 2003 tentang Sispenas. dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat.</p>
<p>Adapun Indonesia memberikan pedoman filsafat pancasila sebagai cita-cita pendidikan bangsa yang mesti dilaksanakan dan diusahakan dalam pendidikan Indonesia.</p>
<p><i>Ketuhanan yang maha Esa</i></p>
<p><i>Kemanusiaan yang adil dan beradab</i></p>
<p><i>Persatuan Indonesia</i></p>
<p><i>Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan</i></p>
<p><i>Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.</i></p>
<p>Tujuan umum pendidikan Indonesia sudah tersusun dalam tapMPR 1966 atau sekarang undang-undang dasar 1945 Sispenas. 20 2003.</p>
<p align="center"><b>BAB III</b></p>
<p align="center"><b>KEIMPULAN</b></p>
<p align="center"><b> </b></p>
<p><b>            </b>Kesimpulannya adalah bahwa ilmu pendidikan itu adalah tentang bagaimana cara untuk mendidik. Sebagai ilmu yang bersifat normatif, maka ilmu pendidikan adalah ilmu yang mengarah kepada perbuatan mendidik dengan tujuan-tujuan yang ditentukan, dimana tujuan-tujuan ini ditentukan oleh norma-norma yang dijunjung tinggi oleh manusia, di mana di dalam proses pendidikan itu sangat berkatitan erat dengan agama, filsafat, etika, estetika, way of life masyarakat sosial dengan melalui proses penyusunan teori-teori yang tersusun rapi untuk dilakukan secara praktis dalam proses pendidikan manusia menuju kepada kepribadian, kesusilaan yang berupakan ukuran yang bersifat normative untuk mencapai kualitas manusia yang mendapat gelar manusia seutuhnya, sebagai persiapan bagi generasi-generasi seterusnya dalam mengisi kemerdekaan dengan manusia-manusia yang pancasilais dan berbudi luhur sesuai yang tertera dalam amanat Undang-undang Dasar 1945; memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut serta memelihara perdamaian dunia dengan meletakan norma-norma di atas segala sikap yang lain, yang mana dengan pendidikan dapat mengubah keadaan dari primitive menjadi normatif.</p>
<p><b>            </b>Hasil pendidikan secara normatif tidak akan tercapai tanapa teori-teori pendidikan yang dipraktekan secara praktis.</p>
<p>Teori perkembangan anak yaitu nativisme dengan teori empirisme dipadukan menjadi satu kesatuan yang disebut teori konvergensi, sehingga menyajikan sifat ilmu pengetahuan normatif, teoritis dan praktis secara matang dengan sinergitas yang kokoh.</p>
<p align="center"><b><br />
</b></p>
<p align="center"><b>SARAN</b></p>
<p><b> </b></p>
<p>Untuk para pembaca makalah ini semoga menyajikan kontribusi ilmiyah bagi para pembaca khususnya dan umumnya bagi siapa pun yang peduli terhadap dunia pendidikan.</p>
<p><b>            </b>Penulis sangat terbuka menerima sumbang saran, kritik membangun, manakala dalam makalah ini terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini.</p>
<p><b> </b></p>
<p align="center"><b> DAFTAR PUSTAKA</b></p>
<p><b> </b></p>
<p><b>Buku:</b></p>
<p>Tim Dosen FIP-IKIP Malang. 2003. <i>Pengantar Dasar-dasar Kependidikan</i>. Surabaya: Usaha Nasional.</p>
<p>Barnadib, Sutari Imam. 1986. <i>Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis</i>. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Yogyakarta.</p>
<p>Hadikusumo, Kunaryo., Supratignyo, Titi., Sayuti, Sadjat., Sutarto, Joko., Rifai, Ahmad RC., Salim, Agus., Budiyono., Buchori, Mochtar. 1996. <i>Pengantar Pendidikan</i>. Semarang: IKIP Semarang Press.</p>
<p>Arifin, M. 2006. <i>Ilmu Pendidikan Islam, Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner</i>. Jakarta: PT. Bumi Aksara.</p>
<p>Mujib, Abdul. 2008. <i>Ilmu Pendidikan Islam</i>. Jakarta: Fajar Interpratama Offset</p>
<p>Yunus. 1999. Filsafat Pendidikan. Bandung: CV. Citra Sarana Grafika.</p>
<p>Purwanto, Ngalim. 2009. <i>Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis</i>. Bandung: Remaja Rosdakarya.</p>
<p>Yunus, Mahmud., Bakri, Muhamad Qosim. 1992. <i>Tarbiyah wa at-Ta’lim</i>. Ponorogo: Darusalam Press.</p>
<p>Ramayulis. 2008. <i>Ilmu Pendidikan Islam</i>. Jakarta: Penerbit Kalam Mulia.</p>
<p><b>Website:</b></p>
<p><a href="http://binham.wordpress.com/2012/01/07/konsep-dasar-ilmu-pendidikan/">http://binham.wordpress.com/2012/01/07/konsep-dasar-ilmu-pendidikan/</a>.</p>
<p><a href="http://alixwijaya.com/2010/08/12-definisi-pendidikan-2.html">http://alixwijaya.com/2010/08/12-definisi-pendidikan-2.html</a>.</p>
<p><b>Software:</b></p>
<p>Kitab Maktabah Syamilah <b>المكتبة الشاملة</b> versi 2</p>
<p align="center"><b>Abstraksi</b></p>
<p>            Makalah ini mempunyai tujuan untuk mengkaji; 1. Ilmu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan, 2. Ilmu pendidikan sebagai ilmu normative, 3. Ilmu pendidikan sebagai ilmu yang teoritis dan praktis, 4. Factor-faktor pendidikan, 5. Tujuan pendidikan versi Langeveld dkk, 6. Pandangan pendidikan menurut para pakar.</p>
<p>Pada intinya pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara.</p>
<p>Dalam makalah ini dipaparkan bahwa ilmu pendidikan itu bersifat normatif, yakni memberikan pemikiran tentang pemilihan nilai-nilai yang baik, kesusilaan, kepribadian, keadaban dan kearifan. Ilmu pendidikan juga bersifat teoritis karena memberikan renungan teori yang berarti tersusun secara sistematis, logis tentang masalah-masalah dan ketentuan pendidikan. bersifat praktis yakni memberikan pemikiran tentang masalah-masalah dan ketentuan-ketentuan pendidikan yang langsung ditujukan kepada perbuatan mendidik, mengarahkan diri pada perwujudan/ realisasi dari teori-teori yang dibentuk dan kesimpulan-kesimpulan yang diambil untuk tercapainya tujuan pendidikan.</p>
<p align="center">Kata kunci: <i>ilmu pendidikan, normatif, teoritis, praktis, tujuan, pandangan.</i></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Barnadib, Imam Sutari. 1986. <i>Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis</i>. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Yogyakarta hal: 14</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <i>Ibid.</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <i>Ibid. </i>Lihat juga Syam, M. Noor., Sahertian, Piet A., Saifullah, Ali., Rosyidan, Moeslichatoen., Faisal, Sanapiah., Manan, Abdul., Suparna, B. 2003. <i>Pengantar Dasar-dasar Kependidikan.</i> Copyright IKIP Malang. Surabaya: Usaha nasional hal: 21</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <i>Ibid.</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <i>Ibid.</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Syam, M. Noor., Sahertian, Piet A., Saifullah, Ali., Rosyidan, Moeslichatoen., Faisal, Sanapiah., Manan, Abdul., Suparna, B. 2003. <i>Pengantar Dasar-dasar Kependidikan.</i> Copyright IKIP Malang. Surabaya: Usaha nasional hal: 22</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> <i>Ibid.</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <i>Ibid.</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> <i>Ibid. hal: 23</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> <i>Ibid. hal: 24-25</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> <i>Aksioma</i> adalah suatu pernyataan yang dapat diterima secara qoth’I sebagai suatu kebenaran tanpa perlu adanya pembuktian lagi. Lihat di Sumbu, Telly., Kalalo, Merry E., Palandeng, Engelien R., Lumolos, Johny. (2010). <i>Kamus Umum Hukum dan Politik</i>. Jakarta: Jala Permata Aksara. Hal: 18</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat Syam, M. Noor., Sahertian, Piet A., Saifullah, Ali., Rosyidan, Moeslichatoen., Faisal, Sanapiah., Manan, Abdul., Suparna, B. 2003. <i>Pengantar Dasar-dasar Kependidikan.</i> Copyright IKIP Malang. Surabaya: Usaha nasional hal: 25</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Lihat Mujib, Abdul., Mudzakkir, Jusuf. 2008<i>. Ilmu Pendidikan Islam</i>. Jakarta: Fajar Interpratama Offset hal: 36.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat Syam, M. Noor., Sahertian, Piet A., Saifullah, Ali., Rosyidan, Moeslichatoen., Faisal, Sanapiah., Manan, Abdul., Suparna, B. 2003. <i>Pengantar Dasar-dasar Kependidikan.</i> Copyright IKIP Malang. Surabaya: Usaha nasional hal: 27.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Lihat Barnadib, Imam Sutari. 1986. <i>Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis</i>. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Yogyakarta hal: 19</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> <i>Ibid. hal: 16</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Lihat Syam, M. Noor., Sahertian, Piet A., Saifullah, Ali., Rosyidan, Moeslichatoen., Faisal, Sanapiah., Manan, Abdul., Suparna, B. 2003. <i>Pengantar Dasar-dasar Kependidikan.</i> Copyright IKIP Malang. Surabaya: Usaha nasional hal: 28</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> Lihat Barnadib, Imam Sutari. 1986. <i>Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis</i>. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Yogyakarta hal: 19</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a> <i>Genial</i> adalah luar biasa (tentang kecerdasan berpikir); hebat. Lihat di Sumbu, Telly., Kalalo, Merry E., Palandeng, Engelien R., Lumolos, Johny. (2010). <i>Kamus Umum Hukum dan Politik</i>. Jakarta: Jala Permata Aksara. Hal: 206</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat Barnadib, Imam Sutari. 1986. <i>Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis</i>. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Yogyakarta hal: 18-19</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a> Lihat Arifin. 2006. Ilmu Pendidikan Islam, Tinjauan Teoritis dan Praktis berdasarkan pendekatan Interdisipliner. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal: 16.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a> Lihat Syam, M. Noor., Sahertian, Piet A., Saifullah, Ali., Rosyidan, Moeslichatoen., Faisal, Sanapiah., Manan, Abdul., Suparna, B. 2003. <i>Pengantar Dasar-dasar Kependidikan.</i> Copyright IKIP Malang. Surabaya: Usaha nasional hal: 54-56</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref23">[23]</a> <i>Ibid. hal: 32</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref24">[24]</a> Lihat Barnadib, Imam Sutari. 1986. <i>Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis</i>. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Yogyakarta hal: 79</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref25">[25]</a> Lihat Purwanto, Ngalim. 2009. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal: 59. Lihat juga Barnadib, hal: 65</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref26">[26]</a> Lihat Muhamad Ibn Isma’il Ibn Ibrohim Ibn Mughiroh al-Bukhori, Abu Abdillah. t.t. <i>Kitab Shohih Bukhori</i>. hal: 321 di software Maktabah Syamilah copyright©</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref27">[27]</a> Lihat Syam, M. Noor., Sahertian, Piet A., Saifullah, Ali., Rosyidan, Moeslichatoen., Faisal, Sanapiah., Manan, Abdul., Suparna, B. 2003. <i>Pengantar Dasar-dasar Kependidikan.</i> Copyright IKIP Malang. Surabaya: Usaha nasional hal: 36</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref28">[28]</a> Lihat Barnadib, Imam Sutari. 1986. <i>Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis</i>. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Yogyakarta hal: 113</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref29">[29]</a> <i>Ibid. hal: 40-41</i></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref30">[30]</a> Ibid. hal: 49-51</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref31">[31]</a> Lihat Ramayulis. 2008. <i>Ilmu Pendidikan Islam</i>. Jakarta: Penerbit Kalam Mulia. Hal: 13</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref32">[32]</a> Lihat Arifin.2006. <i>Ilmu Pendidikan Islam, Tinjauan Teoritis &amp; Praktis berdasarkan pendekatan interdisipliner</i>. Jakarta: PT. Bumi Aksara hal: 63</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref33">[33]</a> Lihat Barnadib, Imam Sutari. 1986. <i>Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis</i>. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Yogyakarta hal: 53-60</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref34">[34]</a> <a href="http://alixwijaya.com/2010/08/12-definisi-pendidikan-2.html" rel="nofollow">http://alixwijaya.com/2010/08/12-definisi-pendidikan-2.html</a></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref35">[35]</a> Lihat Yunus, Mahmud., Bakri, Muhamad Qosim. 1992. <i>Tarbiyah wa Ta’lim</i>. Ponorogo: Darusalam Press. Hal: 8-12.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref36">[36]</a> <strong><a href="http://binham.wordpress.com/2012/01/07/konsep-dasar-ilmu-pendidikan/" rel="nofollow">http://binham.wordpress.com/2012/01/07/konsep-dasar-ilmu-pendidikan/</a></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref37">[37]</a> Lihat Ramayulis. <i>Ilmu Pendidikan Islam</i>. Jakarta: Kalam Mulia. 2008. Hal: 16</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref38">[38]</a> Hadikusumo, Kunaryo., dkk. 1996. Pengantar Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang Press hal: 20</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref39">[39]</a> Lihat Syam, M. Noor., Sahertian, Piet A., Saifullah, Ali., Rosyidan, Moeslichatoen., Faisal, Sanapiah., Manan, Abdul., Suparna, B. 2003. <i>Pengantar Dasar-dasar Kependidikan.</i> Copyright IKIP Malang. Surabaya: Usaha nasional hal: 22.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref40">[40]</a> Lihat Yunus. 1999. <i>Filsafat Pendidikan</i>. Bandung: CV. Citra Sarana Grafika hal: 8</p>
</div>
</div>
</address>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/12/11/ilmu-pendidikan-islam-sebagai-ilmu-yang-normatif-teoritis-praktis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">296</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SMA TERPADU AR-RISALAH JUARA DA&#8217;I MUDA SE PERIATIM</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/04/11/sma-terpadu-ar-risalah-juara-dai-muda-se-periatim/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/04/11/sma-terpadu-ar-risalah-juara-dai-muda-se-periatim/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 04:34:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=290</guid>

					<description><![CDATA[Pada hari jum&#8217;at,6 April 2012 diselenggarakan perlombaan Da&#8217;i muda seperiangan timur di UNIGAL(Universitas Galuh) Ciamis Jawa Barat.Kegiatan itu diselenggarakan oleh BEM UNIGAL dalam rangka Pekan Raya Kampus tahun 2012. Pemenang Pertama pada kegiatan itu adalah Putri Ulfah pelajar kelas XI SMA terpadu Ar-Risalah&#8230; alhamdulillah&#8230;selamat untuk Putri Ulfah&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari jum&#8217;at,6 April 2012 diselenggarakan perlombaan Da&#8217;i muda seperiangan timur di UNIGAL(Universitas Galuh) Ciamis Jawa Barat.Kegiatan itu diselenggarakan oleh BEM UNIGAL dalam rangka Pekan Raya Kampus tahun 2012.</p>
<p>Pemenang Pertama pada kegiatan itu adalah Putri Ulfah pelajar kelas XI SMA terpadu Ar-Risalah&#8230;</p>
<p>alhamdulillah&#8230;selamat untuk Putri Ulfah&#8230;<a href="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3132.jpg"><img data-attachment-id="291" data-permalink="https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/04/11/sma-terpadu-ar-risalah-juara-dai-muda-se-periatim/attachment/291/" data-orig-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3132.jpg" data-orig-size="3000,4000" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;3.2&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;SAMSUNG ES60 / VLUU ES60 / SAMSUNG SL105 / SAMSUNG ES63&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1297141436&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;COPYRIGHT, 2009&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;6.3&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.004&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&lt;SAMSUNG DIGITAL CAMERA&gt;&quot;}" data-image-title="juara da&amp;#8217;i" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3132.jpg?w=225" data-large-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3132.jpg?w=468" class="alignleft size-medium wp-image-291" title="juara da'i" src="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3132.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" srcset="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3132.jpg?w=225 225w, https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3132.jpg?w=450 450w, https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3132.jpg?w=113 113w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></a><a href="https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/04/11/sma-terpadu-ar-risalah-juara-dai-muda-se-periatim/#gallery-290-1-slideshow">Click to view slideshow.</a><a href="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3133.jpg"><img data-attachment-id="292" data-permalink="https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/04/11/sma-terpadu-ar-risalah-juara-dai-muda-se-periatim/attachment/292/" data-orig-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3133.jpg" data-orig-size="4000,3000" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;3.2&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;SAMSUNG ES60 / VLUU ES60 / SAMSUNG SL105 / SAMSUNG ES63&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1297141457&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;COPYRIGHT, 2009&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;6.3&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.0028571428571429&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&lt;SAMSUNG DIGITAL CAMERA&gt;&quot;}" data-image-title="juara da&amp;#8217;i" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3133.jpg?w=300" data-large-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3133.jpg?w=468" class="alignright size-medium wp-image-292" title="juara da'i" src="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3133.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" srcset="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3133.jpg?w=300 300w, https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3133.jpg?w=600 600w, https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3133.jpg?w=150 150w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/04/11/sma-terpadu-ar-risalah-juara-dai-muda-se-periatim/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">290</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3132.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">juara da&#039;i</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/sam_3133.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">juara da&#039;i</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembukaan Pelatihan</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/01/06/pembukaan-pelatihan/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/01/06/pembukaan-pelatihan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 16:07:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=283</guid>

					<description><![CDATA[Alhamdulillah pembukaan Pelatihan Peningkatan Wawasan dan Kompetensi Guru Mata Pelajaran PAI di SMA se-Periangan Timur berjalan dengan lancar, juga penyampaian materi sesi pertama berjalan tepat waktu dan materi-materi baru. Ada yang menarik dari sambutan rektor IAIC KH.Bunyamin Ruhiat mengenai beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang buru PAI khususnya di SMA, dantaranya beliau mengemukakan bahwa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah pembukaan Pelatihan Peningkatan Wawasan dan Kompetensi Guru Mata Pelajaran PAI di SMA se-Periangan Timur berjalan dengan lancar, juga penyampaian materi sesi pertama berjalan tepat waktu dan materi-materi baru.<br />
Ada yang menarik dari sambutan rektor IAIC KH.Bunyamin Ruhiat mengenai beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang buru PAI khususnya di SMA, dantaranya beliau mengemukakan bahwa seorang guru PAI harus mengajari anak didiknya dengan &#8220;layyin&#8221; atau lemah lembut, tidak malah sebaliknya ditakuti anak.Menurut beliau sudah tidak saatnya seorang guru menjadi ditakuti oleh anak didiknya karena kegalakannya.<br />
Sambutan berikut adalah dari Dr.Amin Haidari Dirjen Pendidikan Agama Islam di Sekolah.Beliau lebih menekankan kepada para guru PAI untuk untuk menjadi &#8220;Khalifah&#8221; dii sekolahnya.Seperti halnya tugas kholifah yang diemban oleh nabi Adam yang diajarkan oleh Allah nama-nama seluruhnya. Sehingga seorang &#8220;khalifah&#8221;/guru PAI senantiasa mencari tau nama-nama seluruhnya, berbagai ilmu seluruhnya supaya lebih siap ketika berhadapan dengan muridnya. Jangan malah menjadi guru PAI yang dilecehkan oleh muridnya gara-gara tidak menguasai internet misalnya, atau yang lainya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2012/01/06/pembukaan-pelatihan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">283</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijrah dan kaitannya dengan niat</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/11/28/hijrah-dan-kaitannya-dengan-niat/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/11/28/hijrah-dan-kaitannya-dengan-niat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 05:57:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[makna hijrah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=284</guid>

					<description><![CDATA[Alhamdulillah saat ini kita bisa memasuki tahun 1433 Hijriah. Tahun baru bagi segenap umat Islam yng meyakini akan keagungan peradaban islam yng dinafasi al-quran dan hadits. Terlepas dari ketidakberdayaan kita menjadikan tahun hijriah menjadi tahun standar internasional seperti tahun masehi, ada hal yang perlu kita soroti dari makna hijrah itu sendiri. Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah saat ini kita bisa memasuki tahun 1433 Hijriah. Tahun baru bagi segenap umat Islam yng meyakini akan keagungan peradaban islam yng dinafasi al-quran dan hadits. Terlepas dari ketidakberdayaan kita menjadikan tahun hijriah menjadi tahun standar internasional seperti tahun masehi, ada hal yang perlu kita soroti dari makna hijrah itu sendiri.</p>
<p><span id="more-284"></span></p>
<p>Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb t, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah r bersabda:</p>
<p><em>“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”</em> <strong>(HR. al-Bukhāriy dan Muslim)</strong></p>
<p>Terkait dengan hadits di atas maka hijrah atau kepindahan kita dari sesuatu ke sesuatu itu sangat terkait dengan kehendak atau tujuan atau target yang akan kita capai. Motivasi dalam berhijrah senantiasa diselaraskan dengan kebenaran hati nurani yang meyakini akan kebenaran Allah SWT dan RAsu-Nya.</p>
<p>Seandainya motif dari hijrah kita untuk mencapai keridoan Allah semata dengan kemurnian tauhidullah kita, maka insya Allah keridoan Allah akan kita dapatkan,  bahkan sangat memungkinkan akan munculnya kelebihan-kelebihan yang berupa duniawi yang kita dapatkan, yang kesemuanya itu sudah diridoi oleh Allah.</p>
<p>Seandainya keinginan dan motif berjihad hanya untuk dunia maka yakinlah dunia akan didapat tanpa keberkahan yang Allah janjikan.Untuk itu marilah berjihad dengan meluruskan niat atau motif kita yang hanya mendapat keridoan Allah semata.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/11/28/hijrah-dan-kaitannya-dengan-niat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">284</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UTS SMA Terpadu Ar-Risalah ciamis</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/10/13/uts-ujian-tengah-semester/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/10/13/uts-ujian-tengah-semester/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 01:16:58 +0000</pubDate>
				<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=279</guid>

					<description><![CDATA[Mulai tanggal 10-15  Oktober 2011 SMA Terpadu Ar-risalah Cijantung Ciamis mengadakan UTS )Ujian Tengah Semester. UTS ini dilaksanakan mulai jam 7.30 &#8211; jam 12.00 siang. Semoga dengan UTS ini akan lebih meningkatkan kualitas belajar dan mengajar di SMA terpadu Ar-Risalah]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mulai tanggal 10-15  Oktober 2011 SMA Terpadu Ar-risalah Cijantung Ciamis mengadakan UTS )Ujian Tengah Semester. UTS ini dilaksanakan mulai jam 7.30 &#8211; jam 12.00 siang. Semoga dengan UTS ini akan lebih meningkatkan kualitas belajar dan mengajar di SMA terpadu Ar-Risalah<a href="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-13-at-08-09.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="280" data-permalink="https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/10/13/uts-ujian-tengah-semester/photo-on-2011-10-13-at-08-09/" data-orig-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-13-at-08-09.jpg" data-orig-size="640,480" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Photo on 2011-10-13 at 08.09" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-13-at-08-09.jpg?w=300" data-large-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-13-at-08-09.jpg?w=468" class="aligncenter size-medium wp-image-280" title="Photo on 2011-10-13 at 08.09" src="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-13-at-08-09.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" srcset="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-13-at-08-09.jpg?w=300 300w, https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-13-at-08-09.jpg?w=600 600w, https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-13-at-08-09.jpg?w=150 150w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/10/13/uts-ujian-tengah-semester/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">279</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-13-at-08-09.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Photo on 2011-10-13 at 08.09</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PPL (Program Pengalaman Lapangan)</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/10/04/ppl-program-pengalaman-lapangan/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/10/04/ppl-program-pengalaman-lapangan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 04:27:49 +0000</pubDate>
				<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=274</guid>

					<description><![CDATA[Ada yang bisa kita ambil pelajaran dari sebuah PPL (program pengalaman lapangan) yaitu &#8220;Pengalaman&#8221; atau dalam istilah bahasa Ingrisnya adalah &#8220;experience&#8221;. Tidak salah kalau seorang filosof mengemukakan bahwa &#8220;experience is the best tacher&#8221; pengalaman adalah guru yang paling utama. Kita bisa berguru dan meng-update rangkaian ilmu dari pengalaman-pengalaman yang kita alami tanpa kita sadari. Kita [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-04-at-10-22.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="275" data-permalink="https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/10/04/ppl-program-pengalaman-lapangan/photo-on-2011-10-04-at-10-22/" data-orig-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-04-at-10-22.jpg" data-orig-size="640,480" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="ppl unigal" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-04-at-10-22.jpg?w=300" data-large-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-04-at-10-22.jpg?w=468" class="alignleft size-medium wp-image-275" title="ppl unigal" src="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-04-at-10-22.jpg?w=300&#038;h=225" alt="ppl unigal 2011" width="300" height="225" srcset="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-04-at-10-22.jpg?w=300 300w, https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-04-at-10-22.jpg?w=600 600w, https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-04-at-10-22.jpg?w=150 150w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a>Ada yang bisa kita ambil pelajaran dari sebuah PPL (program pengalaman lapangan) yaitu &#8220;Pengalaman&#8221; atau dalam istilah bahasa Ingrisnya adalah &#8220;experience&#8221;. Tidak salah kalau seorang filosof mengemukakan bahwa &#8220;experience is the best tacher&#8221; pengalaman adalah guru yang paling utama.<span id="more-274"></span></p>
<p>Kita bisa berguru dan meng-update rangkaian ilmu dari pengalaman-pengalaman yang kita alami tanpa kita sadari. Kita mungkin merasa lebih percaya diri apabila kita pernah melakukan sesuatu daripada kita pernah mempelajari sesuatu. apalagi mungkin mempelajari dan melakukan sesuatu tentu akan lebih percaya diri.</p>
<p>Pengalaman di lapangan akan terasa lebih mendalam apabila mendapatkan tantangan yang mendalam juga, sehingga pada akhir cerita kita merasa lega dan bahagia karena telah berhasil melewati dan menyelesaikan sebuah problem yang di mata kita merupan beban yang sangat berat.</p>
<p>Konsep islam mengenai pengalaman tentu bisa dilihat dari pengutusan Allah terhadap Nabi-nabi  dan rasul-rasul Allah.Mereka diutus Allah ketika sudah berusia 40 tahun, ini memperlihatkan bagaimana sebuah kedewasaan atau kematangan yang dilandasi oleh pengalaman hidup akan mampu menghalau masalah-masalah yang timbul di kemudian hari.</p>
<p>Banyaknya ilmu pengetahuan tentu tidak cukup kalau belum didukung oleh pengalaman-pengalaman yang menimpa diri kita.Semua pengalaman akan terasa manfaatnya apabila kita selalu berusaha untuk selalu ber-husnudzonn kepada Allah hususnya, kepada orang lain juga kepada diri kita sendiri, karena dengan positive thinking kita akan tetap semangat dan lebih mempunyai nyali untuk menghadapi masa depan.</p>
<p>semoga bermanfaat..</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2011/10/04/ppl-program-pengalaman-lapangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">274</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/photo-on-2011-10-04-at-10-22.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ppl unigal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami Perbedaan Idul Adha 1431 H</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/11/16/memahami-perbedaan-idul-adha-1431-h/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/11/16/memahami-perbedaan-idul-adha-1431-h/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 08:18:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Awal Dzul Hijjah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=269</guid>

					<description><![CDATA[KOMPAS.com &#8211; Potensi adanya perbedaan Idul Adha 1431 Hijriah sudah diprediksi para ahli hisab rukyat dan astronom sejak beberapa tahun lalu. Perbedaan itu terwujud saat ini dengan adanya sebagian umat Islam Indonesia yang memperingati Idul Adha pada Selasa ini, sama seperti di Arab Saudi, dan sebagian lagi Rabu esok. Melalui sidang isbat atau penetapan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KOMPAS.com</strong> &#8211; Potensi  adanya perbedaan Idul Adha 1431 Hijriah sudah diprediksi para ahli hisab  rukyat dan astronom sejak beberapa tahun lalu. Perbedaan itu terwujud  saat ini dengan adanya sebagian umat Islam Indonesia yang memperingati  Idul Adha pada Selasa ini, sama seperti di Arab Saudi, dan sebagian lagi  Rabu esok.</p>
<p><span id="more-269"></span></p>
<p>Melalui sidang isbat atau penetapan  yang dilakukan Kementerian Agama dan dihadiri wakil berbagai organisasi  massa Islam, pemerintah menetapkan Idul Adha 10 Zulhijah 1431 H jatuh  pada 17 November 2010.</p>
<p>Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian  Agama yang juga Profesor Riset Astronomi Lembaga Penerbangan dan  Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin di Jakarta, Senin (15/11),  mengatakan, secara teoretis atau hisab, bulan sabit tipis atau hilal  tidak mungkin diamati pada 6 November karena ketinggiannya di atas ufuk  masih di bawah dua derajat. Hal itu juga didukung dengan data pengamatan  yang menunjukkan hilal belum bisa dilihat atau dirukyat di seluruh  Indonesia.</p>
<p>Dengan demikian, bulan Dzulqa’dah atau bulan ke-11  dalam kalender Islam dibulatkan menjadi 30 hari sehingga 1 Zulhijah  bertepatan dengan 8 November.</p>
<p>Di Indonesia, lanjut Djamaluddin,  jika ada yang menetapkan Idul Adha pada 16 November, hal itu karena  menggunakan kriteria wujudul hilal atau terbentuknya hilal (tanpa perlu  diamati) sehingga bulan Dzulqa’dah hanya 29 hari.</p>
<p>Perbedaan lain  muncul dengan ketetapan Pemerintah Arab Saudi yang menetapkan Idul Adha  juga pada 16 November sehingga puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah  dilakukan pada 9 November kemarin.</p>
<p>Menurut Djamaluddin, keputusan  Pemerintah Arab Saudi menentukan Idul Adha tahun ini tergolong  kontroversial. Secara teoretis, hilal tidak bisa dirukyat pada 6  November di Mekah. Namun, ternyata otoritas setempat menentukan berbeda.</p>
<p>Sebagai  catatan, dalam keputusan penentuan hari raya, Pemerintah Arab Saudi  sering kali digugat oleh para astronom di Timur Tengah dan kawasan lain.  Meskipun Arab Saudi menggunakan metode melihat hilal untuk menentukan  awal bulan, tapi sering kali hilal yang diklaim bisa dilihat itu secara  teoretis astronomi tidak mungkin bisa dilihat.</p>
<p><strong>Garis penanggalan bulan</strong></p>
<p>Anggota  Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama lainnya yang juga ahli kalender di  Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto,  mengatakan, garis penanggalan pada kalender Hijriah berbeda dengan garis  penanggalan kalender Masehi.</p>
<p>Garis penanggalan Masehi didasarkan  pada patokan garis bujur timur atau garis bujur barat 180 derajat. Dalam  penanggalan ini, daerah yang memiliki garis bujur sama atau berdekatan  mulai dari kutub utara hingga kutub selatan akan selalu memiliki hari  yang sama. Perubahan hari dimulai pada pukul 00.00.</p>
<p>Daerah yang  lebih timur juga dipastikan akan lebih dahulu waktunya dibandingkan  daerah di baratnya. Karena itu, dalam sistem penanggalan Masehi, waktu  di Jakarta atau waktu Indonesia barat (WIB) selalu empat jam lebih dulu  dibandingkan waktu Mekkah.</p>
<p>Namun, garis penanggalan bulan berbeda.  Garis penanggalan bulan memiliki 235 variasi. Setiap bulannya, garis  penanggalan bulan berbeda-beda. Garis penanggalan bulan akan kembali di  dekat tempat yang sama sekitar 19 tahun kemudian.</p>
<p>Banyaknya  variasi garis penanggalan bulan ini ditentukan oleh posisi Bulan  terhadap Bumi, dan posisi sistem Bumi-Bulan terhadap Matahari.</p>
<p>Daerah  yang pertama kali melihat hilal akan mengawali hari lebih dulu. Hal ini  berarti, daerah yang terletak pada garis bujur yang sama atau  berdekatan, hari atau awal bulan Hijriahnya bisa berbeda. Hari dimulai  setelah Matahari terbenam atau magrib, bukan pukul 00.00.</p>
<p>Kondisi  ini, lanjut Moedji, yang membuat waktu di Jakarta tidak selalu lebih  dahulu dibanding Mekkah. Jika diasumsikan, hilal pada Zulhijah kali ini  pertama kali dilihat di Mekkah, maka sesudah magrib atau sekitar pukul  18.00 di Mekkah sudah masuk bulan baru.</p>
<p>Saat itu, di Jakarta sudah  pukul 22.00 WIB. Baru pada magrib keesokan harinya, Jakarta memasuki  Zulhijah. Artinya, pada bulan Zulhijah kali ini waktu di Jakarta  tertinggal 20 jam dibandingkan waktu Mekkah.</p>
<p>”Dalam penanggalan  Hijriah, waktu di Indonesia bisa jadi lebih dulu dibandingkan waktu di  Arab Saudi. Namun, bisa jadi pula Arab Saudi lebih dulu dibanding  Indonesia,” tambahnya.</p>
<p>Menurut Moedji, perbedaan awal hari dalam  kalender Hijriah inilah yang sering dipahami secara salah. Mereka  beranggapan, karena waktu di Indonesia lebih cepat dibanding Mekkah,  maka saat di Mekkah berhari raya, di Indonesia juga harus berhari raya.  Padahal, konsep ini didasarkan atas pencampuradukkan konsepsi kalender  Hijriah dan Masehi sehingga menimbulkan kerancuan.</p>
<p>”Umat Islam  Indonesia harus memahami bahwa mereka menggunakan dua sistem kalender.  Kalender Masehi untuk keperluan sehari-hari dan kalender Hijriah untuk  keperluan ibadah. Setiap kalender memiliki konsep dan konsekuensi  masing-masing yang berbeda,” ungkapnya.</p>
<p>Meskipun berbeda, baik  Moedji maupun Djamaluddin mengajak umat Islam menghormati perbedaan yang  ada. Kejadian ini harus kembali memacu umat Islam Indonesia untuk  segera membuat kriteria penentuan awal bulan Hijriah secara bersama yang  berlaku nasional.</p>
<p>Jika sudah ada, maka konsepsi ini bisa  disosialisasikan secara regional dan internasional sehingga diperoleh  sistem penanggalan Hijriah yang bisa berlaku secara global.</p>
<p>”Sistem  penanggalan Hijriah memang lebih kompleks dibandingkan penanggalan  Masehi, tapi itu bukan berarti tidak bisa distandardisasi,” ujar Moedji.</p>
<p>Kompas Cetak</p>
<div><strong>Sumber :</strong></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/11/16/memahami-perbedaan-idul-adha-1431-h/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">269</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Video Mesum mirip Ariel-Luna</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/06/24/video-mesum-mirip-ariel-luna/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/06/24/video-mesum-mirip-ariel-luna/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 07:59:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=264</guid>

					<description><![CDATA[Kasus beredarnya video mesum mirip Ariel Luna Maya seolah menjadi santapan berita harian bulan-bulan ini, terutama di negeri kita Indonesia yang merupakan tanah air mereka berdua. Semua kalangan baik tingkat pusat samapai tingkat bawah tak luput untuk membicarakan beredarnya video tersebut. Pelajaan yang mungkin dapat kita ambil dari kasus tersebut yang pertama adalah tentang penegasan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/06/04886-ariel-peterpan11.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="266" data-permalink="https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/06/24/video-mesum-mirip-ariel-luna/04886-ariel-peterpan1-2/" data-orig-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/06/04886-ariel-peterpan11.jpg" data-orig-size="296,294" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="04886-ariel-peterpan1" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/06/04886-ariel-peterpan11.jpg?w=296" data-large-file="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/06/04886-ariel-peterpan11.jpg?w=296" class="alignleft size-full wp-image-266" title="04886-ariel-peterpan1" src="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/06/04886-ariel-peterpan11.jpg?w=468" alt=""   srcset="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/06/04886-ariel-peterpan11.jpg 296w, https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/06/04886-ariel-peterpan11.jpg?w=150&amp;h=150 150w" sizes="(max-width: 296px) 100vw, 296px" /></a>Kasus beredarnya video mesum mirip Ariel Luna Maya seolah menjadi santapan berita harian bulan-bulan ini, terutama di negeri kita Indonesia yang merupakan tanah air mereka berdua. Semua kalangan baik tingkat pusat samapai tingkat bawah tak luput untuk membicarakan beredarnya video tersebut.</p>
<p><span id="more-264"></span>Pelajaan yang mungkin dapat kita ambil dari kasus tersebut yang pertama adalah tentang penegasan hukum atau penetapan hukum itu sendiri. Ahli-ahli hukum saling berdebat dan hasilnyapun beluma ada kepastian. Inilah bukti bahwa yang namanya hukum buatan manusia akan selamanya menimbulkan pertentangan dan merugikan satu sama lainnya, karena itu Allah SWT sudah dengan tegas mengatakan bahwa barang siapa yang tidak memakai hukum dengan apa yang Allah turunkan yaitu al-quran maka mereka termasuk golongan orang-orang kafir (Al-Maidah:44), walaupun pendefinisian kafir itu sendiri terdapat beberapa perbedaan pendapat di kalangan ulama islam.</p>
<p>Pelajaran kedua yang mungkin bisa kita ambil adalah bagaimana pentingnya pelajaran akhlak dan etika bergaul sesama dengan sesama manusia terutama ketika ada kesempatan untuk bergaul dengan lawan jenis bukan dalam ikatan perkawinan. Siapapu pelakunya yang ada dalam video tersebut, itu memperlihatkan pergaulan yang tidak semestinya dilakukan oleh pasangan yang belum terikat oleh nikah. Allah SWT. sudah mewanti-wanti untuk tidak mendekati apa yang namanya zina apalagi melakukanya (Al-Isra:32)</p>
<p>Selanjutnya ini meupakan pelajaran bagi kita ummat islam yang sudah bersuami atau beristri, untuk tidak pernah merencanakan pengambilan gambar atau perekaman kegiatan &#8220;ibadah nikmat&#8221; kita barang sekalipun, walupun dengan dalih untuk koleksi pribadi, selain perbuatan itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah karena belum ditemukannya alat-alat tersebut juga kemanfaatan dan keuntungan dari itu tidak ada. Allah SWT. telah menyuruh kita untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluan kita dari tindakan yang memalukan (An-Nur:30).</p>
<p>Semoga kita terjaga dari perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan kita ke neraka.</p>
<p>Bangkok, 24 Juni 2010</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/06/24/video-mesum-mirip-ariel-luna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">264</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ahmadlabib.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/06/04886-ariel-peterpan11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">04886-ariel-peterpan1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>APRIL MOP</title>
		<link>https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/03/31/april-mop/</link>
					<comments>https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/03/31/april-mop/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ahmadlabib]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 04:35:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadlabib.wordpress.com/?p=257</guid>

					<description><![CDATA[Sumber : http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/april-mop-hari-dimana-umat-islam-dibantai.htm Maret akan segera usai. Bulan April menjelang. Ada suatu kebiasaan jahiliah yang patut kita waspadai bersama sebagai seorang Muslim; 1 April sebagai hari April Mop. April Mop sendiri adalah hari di mana orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Tapi tahukah Anda apakah April Mop itu sebenarnya? Sejarah April Mop Sebenarnya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Sumber : <a href="http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/april-mop-hari-dimana-umat-islam-dibantai.htm" target="_blank">http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/april-mop-hari-dimana-umat-islam-dibantai.htm<br />
</a></p>
<p>Maret akan segera usai. Bulan April menjelang. Ada suatu kebiasaan jahiliah yang patut kita waspadai bersama sebagai seorang Muslim; 1 April sebagai hari April Mop. April Mop sendiri adalah hari di mana orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Tapi tahukah Anda apakah April Mop itu sebenarnya?</p>
<p><strong>Sejarah April Mop</strong></p>
<p>Sebenarnya, April Mop adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.</p>
<p><span id="more-257"></span></p>
<p>Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.</p>
<p>Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine&#8217;s Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.</p>
<p>Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan? April Mop, atau The April&#8217;s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.</p>
<p>Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes , Bordeaux , Lyon, Poitou, Tours , dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.</p>
<p>Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur&#8217;an, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Qur&#8217;an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.</p>
<p>Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol.</p>
<p>Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur&#8217;an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.</p>
<p>Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.</p>
<p>Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.</p>
<p>Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar meninggalkan Spanyol.</p>
<p>Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.</p>
<p>Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.</p>
<p>Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.</p>
<p>Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April&#8217;s Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.</p>
<p>Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya se-iman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.</p>
<p>Jadi, perhatikan sekeliling Anda, anak Anda, atau Anda sendiri, mungkin terkena bungkus jahil April Mop tanpa kita sadari. (sa/berbagaisumber)</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ahmadlabib.wordpress.com/2010/03/31/april-mop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">257</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/7d1834f9c3375e1a8be7f2dc187e6c65e599f2d2ea87e465737c789d3ef9bc94?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadlabib</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
