<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>ladangkata</title>
	
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 22:02:33 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/Ladangkata" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>Ladangkata</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>Nyanyian Tebu</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/QvmrLRPLvrE/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/10/nyanyian-tebu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 22:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[Kalau bukan rindu, lalu kau namai apa semua ini?
Aku sering mendengar nyanyian tebu. Di siang hari, ketika kaki kuselonjorkan begitu saja di karpet berwarna coklat. Dengan sarung yang lipatannya tak lagi beraturan dan masai di sana-sini. Dengan bantal yang kadang lupa kuganti penutupnya hingga berminggu-minggu, hingga bau apak yang tetap kusukai, menggelitik hidung. Di saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Kalau bukan rindu, lalu kau namai apa semua ini?</em></p>
<p><img class="size-medium wp-image-1021 alignleft" title="tebu" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/tebu-300x239.jpg" alt="tebu" width="300" height="239" />Aku sering mendengar nyanyian tebu. Di siang hari, ketika kaki kuselonjorkan begitu saja di karpet berwarna coklat. Dengan sarung yang lipatannya tak lagi beraturan dan masai di sana-sini. Dengan bantal yang kadang lupa kuganti penutupnya hingga berminggu-minggu, hingga bau apak yang tetap kusukai, menggelitik hidung. Di saat begitu, tak ada yang lebih mendamaikan daripada nyanyian tebu yang mendayu dan dihantarkan angin.</p>
<p>Aku tak akan pernah lupa pada nyanyian tebu. Mengalun dalam frekuensi rendah dengan harmoni nada yang sederhana, namun di sana letak keindahannya. Beberapa kali mendengarnya, aku sudah hapal pada nada-nada itu. Seperti lagu yang langsung akrab di telingamu, lalu dengan mudah kau ulang untuk kau nyanyikan sendiri. Hmm, aku sedang mencari kalimat untuk mendeskripsikannya. Nyanyian tebu itu seperti <em>ensemble </em>dari kumpulan suara tubuh tebu yang bergelayutan satu sama lain. Telingaku seperti memindai saxophone yang ditiup penuh sensasi, lalu dawai harpa yang dipetik jemari lentik, biola yang digesek menyayat hati, dan perkusi yang pelan saja memberi ritme. Nyanyian tebu adalah seruan akustik dari tubuhnya sendiri.</p>
<p>Nyanyian tebu, langsung kudengar begitu aku menginjakkan kakiku di taman itu. Sebuah taman penuh kembang-kembang harapan yang langsung kupeluk dan kubawa masuk ke dalam rumahku. Awalnya sangat pelan. Hingga harus kupejamkan mata dan berkonsentrasi mendengarnya. Lalu nada-nada itu memasuki gendang telingaku. Meninggalkan jejaknya di sana, dan tak akan hilang kemanapun kaki melangkah.</p>
<p>Rumah itu memang dikelilingi kebun tebu. Daun tebu bahkan menggapai-gapai di tembok belakang. Di depan, hanya berkisar jarak 1,5 meter antara taman penuh harap itu dengan kebun tebu yang cepat sekali berbunga. Rumah itu senyap, tak banyak kata, tapi menguarkan senyum dan bahagia. Dari sana, aku pernah menjumpai pelangi paling indah yang pernah melengkung di langit. Lalu, nyanyian tebu adalah hiburan paling mendamaikan sepanjang hari.</p>
<p>Ada satu yang tentang nyanyian tebu yang membuatku mencatatnya di sini. Nyanyian tebu itu tak pernah hilang dari telingaku, bahkan ketika aku jauh dari kebunnya. Ia makin lincah terdengar, dari jarak ratusan kilometer aku menjejak. Ia memanggil-manggil dengan simponi paling memilukan yang pernah diperdengarkan. Nadanya mengoyak isi dada yang tak mampu lagi berkata karena tertutup semua ruang. Justru selalu lebih menyayat ketika aku jauh dari kebunnya. Tak ada yang bisa mengerti lagi bagaimana nyanyian tebu itu bisa mengalun begitu abadinya di telingaku.Tak ada yang bisa paham lagi, bahwa hanya nyanyian tebu itu begitu indah sekaligus pilu.</p>
<p>Nyanyian tebu, apakah ia sebuah gelar simponi yang masih menunggu <em>standing ovation</em> dariku di bibir panggungnya?</p>
<p><em>catatan: gambar diambil dari depan rumah penuh harap itu</em>. <em>dengan kebun tebu bersiram kabut pagi di bulan februari 2009</em></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=1020" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=QvmrLRPLvrE:RepkKcQesO0:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=QvmrLRPLvrE:RepkKcQesO0:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=QvmrLRPLvrE:RepkKcQesO0:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=QvmrLRPLvrE:RepkKcQesO0:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/QvmrLRPLvrE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/10/nyanyian-tebu/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/11/10/nyanyian-tebu/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kata yang Tersimpan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/LyaCOdx-t7E/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/04/kata-yang-tersimpan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 12:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1014</guid>
		<description><![CDATA[
Ada banyak kata yang kusimpan dalam dompetku. Berlipat-lipat dengan kertas coretan sisa pijar pikiranku yang lalu-lalu.  Kusimpan dengan rapat, tanpa ada yang terselip keluar.  Sudah kujalin bersama waktu yang kujelang dalam sendiri. Semoga ini tak lagi menyakitkan. Semoga ini menjadi penerang di jalan buram yang telah dijejakkan. Semoga ini meretas kusutnya benang yang kita diamkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2dlbWFzYXN0cmluLmZpbGVzLndvcmRwcmVzcy5jb20vMjAwOC8wNS9jZXJwZW4tbml0YS1wZXJ0ZW11YW4tdGVyYWsuanBn" target=\"_blank\" ><img class="size-medium wp-image-1018 aligncenter" title="cerpen-nita-pertemuan-terak" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/cerpen-nita-pertemuan-terak-300x247.jpg" alt="cerpen-nita-pertemuan-terak" width="300" height="247" /></a></p>
<p>Ada banyak kata yang kusimpan dalam dompetku. Berlipat-lipat dengan kertas coretan sisa pijar pikiranku yang lalu-lalu.  Kusimpan dengan rapat, tanpa ada yang terselip keluar.  Sudah kujalin bersama waktu yang kujelang dalam sendiri. Semoga ini tak lagi menyakitkan. Semoga ini menjadi penerang di jalan buram yang telah dijejakkan. Semoga ini meretas kusutnya benang yang kita diamkan. Semoga bisa kuurai semua, kata yang tersimpan dalam dompetku, pada pertemuan kita selanjutnya, ayah&#8230;(dan kuharap bukan pertemuan kita yang terakhir)</p>
<p>lalu lagu Ayah mengalun&#8230;..</p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=1014" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=LyaCOdx-t7E:SXITKF7SkHc:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=LyaCOdx-t7E:SXITKF7SkHc:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=LyaCOdx-t7E:SXITKF7SkHc:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=LyaCOdx-t7E:SXITKF7SkHc:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/LyaCOdx-t7E" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/04/kata-yang-tersimpan/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/11/04/kata-yang-tersimpan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Alone</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/iEyB85nBHaI/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/11/02/alone/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 08:12:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[One travels more usefully when alone, because he reflects more (Thomas Jefferson)

Aku tulis catatan ini ketika aku sedang sakit. Sebenarnya aku sudah diingatkan untuk lebih banyak beristirahat saja di tempat tidur, menikmati waktu pulasku lebih banyak, setelah sekian lama terampas oleh banyak kletik-kletik yang kulakukan saat malam hingga dini hari. Namun, tak urung, aku seret [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span class="body"><em>One travels more usefully when alone, because he reflects more (Thomas Jefferson)</em><br />
</span></p>
<p><img class="size-medium wp-image-1010 alignleft" title="alone" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/11/alone-248x300.jpg" alt="alone" width="248" height="300" />Aku tulis catatan ini ketika aku sedang sakit. Sebenarnya aku sudah diingatkan untuk lebih banyak beristirahat saja di tempat tidur, menikmati waktu pulasku lebih banyak, setelah sekian lama terampas oleh banyak kletik-kletik yang kulakukan saat malam hingga dini hari. Namun, tak urung, aku seret juga tubuhku ke ladang yang nyaris terlupakan ini. Aku terlalu banyak bermain di jaringan yang mengasyikkan, sehingga lupa punya satu ladang yang harus aku tanami dan berbagi dengan yang lain.</p>
<p>Apa yang hendak aku tulis? aku sendiri tak punya ide. Hanya saat sakit begini, kata &#8220;sendiri&#8221; menjadi lebih mengemuka. Ketika sakit begini, dan tak banyak kegiatan yang bisa aku lakukan, banyak cermin yang muncul di hadapanku. Cermin yang menayangkan kehidupanku sendiri. Banyak waktu yang berwarna hitam dan kosong musti aku lewatkan. Berpikir dengan caraku sendiri, bertindak dengan cara yang aku pahami nilai baiknya, dan mengambil keputusan dengan berpegang pada tempatku berdiri sendirian. Kadang aku merasa terlalu egois untuk semua ini. Berpikir dengan caraku sendiri sering menempatkanku pada posisi yang konfrontatif dengan orang lain. Dan sering aku banyak kehilangan sesuatu ketika pikiranku itu mengubur keinginan orang lain. Kebiasaan buruk yang susah sekali aku bendung.</p>
<p><span id="more-1006"></span></p>
<p>Dari cermin yang muncul, rasanya, aku memang harus lebih banyak belajar berdamai dengan kenyataan. Tak melulu mengedepankan keinginan dan ego untuk bertarung menghadapi hidup. Belajar mengamini duka sebagai salah satu jalan untuk mencapai kesadaran spiritual yang tinggi. Belajar berserah pada banyak keadaan untuk memperkaya jiwa. Dan itu menuntutku untuk tidak berpikir a la aku sendiri. Toh, dalam hidup ini ada karma tentang sebab akibat dalam kehidupan.</p>
<p>Saat sakit begini, ketika lagi-lagi kata sendirian menyeruak, aku teringat sebuah kalimat tentang sebuah pesta. Ketika lampu pesta dinyalakan, semua orang bergembira, saling menyapa, saling memeluk, saling menebar hangat, namun ketika pesta telah usai, lampu-lampu padam, kita kembali ke kehidupan masing-masing. Bahkan mungkin sang pengundang sudah lupa pada siapa saja yang diundang dalam pestanya. Hanya sebuah kesenangan sesaat, kemudian kembali lagi sendiri. Yak, sendiri. Lagi-lagi sendiri.</p>
<p>Aku seperti baru saja datang ke pesta itu. Lalu kembali ke kesendirian yang menjadi hakikatku saat ini. Menekuri jalan panjang yang harus aku retas sendiri. Mencoba mengurai benang kusut yang terjalin, demi untuk mencapai kebahagiaanku di depan sana. Semoga sampai di alamat yang aku tuju di sana. Di nirwana yang jauh, yang saat ini hanya bisa aku lihat melalui teropong berlensa panjang. Semoga&#8230;.</p>
<p>Maaf, mungkin berloncatan saat aku menulis ini. Rasa sakit di kepala dan tenggorokanku yang merajalela merampas kelincahanku untuk berpikir dengan struktur yang baik. Aku hanya mencoba sebuah terapi menulis untuk meringankan semua kelindan pikiran yang berloncatan di kepalaku. Dan sekali lagi semoga ini menjadi bahan renungan buatku sendiri dalam menjalani hidup. Ketika tiba di titik nadir, aku semakin tercerahkan untuk mengarifi kehidupan. Dan ini hanya sebuah catatan tentang cermin yang muncul dalam kesendirian.</p>
<p>Terima kasih telah sudi membacanya.</p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=1006" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=iEyB85nBHaI:RaPv1LMFhDw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=iEyB85nBHaI:RaPv1LMFhDw:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=iEyB85nBHaI:RaPv1LMFhDw:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=iEyB85nBHaI:RaPv1LMFhDw:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/iEyB85nBHaI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/11/02/alone/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/11/02/alone/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mengenang Sukasman: Keteguhan adalah Nama Tengahnya</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/lSZkmAJyRwI/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/10/29/mengenang-sukasman-keteguhan-adalah-nama-tengahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 02:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku mendapatkan berita duka yang cukup menghenyakkan. Sukasman, atau lebih dikenal sebagai Mbah Kasman telah berpulang ke rumah abadinya pukul tujuh pagi di rumah sakit Pantirapih, Jogja. Indonesia kehilangan satu lagi sosok budayawan tangguh yang teguh pada karyanya. Berani dijauhi ketenaran untuk mempertahankan prinsipnya. Mbah Kasman adalah legenda di dunia wayang dan perdalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-1003 alignleft" title="sukasman" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/10/sukasman.jpg" alt="sukasman" width="202" height="300" />Hari ini aku mendapatkan berita duka yang cukup menghenyakkan. Sukasman, atau lebih dikenal sebagai Mbah Kasman telah berpulang ke rumah abadinya pukul tujuh pagi di rumah sakit Pantirapih, Jogja. Indonesia kehilangan satu lagi sosok budayawan tangguh yang teguh pada karyanya. Berani dijauhi ketenaran untuk mempertahankan prinsipnya. Mbah Kasman adalah legenda di dunia wayang dan perdalangan yang telah memberikan nuansa dan warna indah pada bentuk-bentuk wayang. Ia menamai pemikirannya sebagai wayang ukur, sebuah hasil pemikiran terhadap filosofi wayang dan realitas-realitas yang terjadi pada manusia. Ia menyatukan das sollen dan das sein dengan begitu indahnya.</p>
<p>Aku pernah menjumpainya suatu waktu. Sosoknya yang unik membuatku memutuskan mengangkat profil Mbah Kasman di majalahku di Jogja dulu, Andong. Perjumpaan dengannya adalah ruang unik yang tak bisa kulupa. Mbah Kasman menjelaskan kerumitan-kerumitan wayang pada kepalaku yang awam ini, berbekal kapur yang ditorehkan di atas mejanya. Semua kalimatnya tegas dan susah untuk ditelikung begitu saja. Aku lebih banyak mendengarkan penjelasannya, sembari ia menunjukkan koleksi-koleksi wayang yang ia miliki.</p>
<p>Dari tubuhnya sudah jelas terlihat ia menguarkan aura magis yang membuat orang akan menekuk di hadapannya. Begitu pula aku yang semula mematok waktu hanya dua jam wawancara, menjadi empat jam duduk di hadapannya. Meski hanya sekali berjumpa, Mbah Kasman bukan orang yang mudah dilupakan, terlebih dengan segala apa yang dilakukannya untuk pengembangan budaya Indonesia.</p>
<p>Di bawah ini adalah petikan wawancaraku dengannya, yang sudah dimuat juga di Majalah Andong. Hari ini aku tertunduk, mengenang laki-laki tua dengan rambut penuh uban yang telah banyak mewarnai khasanah budaya Indonesia ini pergi menuju tempat barunya. Semoga damai di sana, Mbah Kasman.</p>
<p><span id="more-1000"></span></p>
<p><strong>Budaya Klasik yang Mendunia</strong></p>
<p>Sukasman, dikenal sebagai seniman yang idealis dan teteg pada pendirian. Ciptaannya yang membahana adalah <strong>wayang ukur</strong>, hasil penjelajahannya pada bentuk wayang, yang menurutnya telah mengalami evolusi sangat panjang.</p>
<p><strong>Kenapa Anda memilih wayang?</strong><br />
Bapak saya dulu suka menggambar wayang. Sejak kecil saya sering utak atik hasil gambar wayang milik Bapak. Karena itu saya jadi sangat menyukai wayang. Yang unik dari wayang bagi saya adalah bentuk wajahnya yang oval, berbeda dengan ukuran simetris wajah manusia. Dari situ kemudian saya mempelajari tentang wayang. Dan yang saya dapatkan, wayang yang paling kuno ternyata berasal dari Kedu. Bentuknya diambil dari relief-relief candi yang kemudian dipentaskan melalui pertunjukkan wayang beber. Kemudian dalam perjalanannya, dibawa ke Surakarta hingga Jogja. Wayang, sebagai salah satu kesenian Jawa, menurut saya merupakan gambaran bentuk nenek moyang kita dahulu. Dan dalam ceritanya selalu ada pelajaran-pelajaran lisan yang tersembunyi dan tidak dikatakan terang-terangan. Ini kan sesuai dengan budaya Jawa.</p>
<p><strong>Bagaimana proses terciptanya wayang ukur?</strong><br />
Begitu lulus dari ASRI tahun 1962, saya ke Jakarta dan bertemu dengan pemborong yang akhirnya bisa membawa saya menginjakkan kaki di Amerika. Di sana, saya malah dibuat malu karena ternyata budaya klasik wayang itu sangat dihargai di negeri orang. Di negeri sendiri kok malah tidak banyak peminatnya.</p>
<p>Kemudian saya pindah ke Belanda, dan meneruskan eksperimen saya di sana. Saya sering memadukan unsur-unsur Barat di wayang eksperimen saya itu.</p>
<p>Kembali ke Indonesia tahun 1974, saya langsung menghubungi penatah wayang untuk mengerjakan wayang eksperimen saya itu. Eksperimen ini ternyata langsung dipamerkan di Pekan Wayang Indonesia.</p>
<p>Pada saat Museum Wayang dibuka di tahun yang sama, pimpinan museum saat itu Bapak Budiharjo meminta saya memberikan nama untuk wayang eksperimen tersebut. Karena saya bukan orang sastra yang pandai memilih nama yang indah, maka saya sebut saja wayang itu sebagai Wayang Ukur. Ini sesuai dengan cara kerja dan proses pembuatannya, yaitu tidak menurutkan ukuran baku namun terus mencari ukuran-ukuran baru. Karena, dari pengalaman dan buku yang saya baca, tiap benda selalu memiliki ukuran sendiri sesuai maksudnya.</p>
<p><strong>Hal-hal apa saja yang dipunyai Wayang Ukur?</strong><br />
Banyak orang yang mengatakan bahwa segala hal tentang wayang sudah ada pakemnya, dan tidak mungkin diperbarui lagi. Tapi itu tidak selalu benar menurut saya. Makanya saya sering dipinggirkan karena mempunyai pendapat yang berbeda.</p>
<p>Wayang ukur, saya buat dalam keterbatasan bentuk wayang purwa yang sudah jadi, memiliki keunikan tersendiri dari segi bentuk dan warna. Namun semua itu dilandasi dengan filosofi seni rupa dan masih tetap mengandung nilai-nilai agung di dalamnya. Semua “penyimpangan” itu sudah diukur secara cermat. Selain bentuk, Wayang Ukur juga memiliki keunikan dalam hal cerita dan teknik pertunjukkan.</p>
<p>Bentuk Wayang Ukur lebih disesuaikan dengan kondisi realis manusia, namun tetap memiliki simbol. Seperti tokoh Sumba, yang saya buat bentuk dagunya yang agak ke atas, seperti orang sombong. Karena dalam cerita saya Sumba itu wataknya sombong. Atau untuk penggambaran dewa, saya beri warna ungu muda. Warna yang menggambarkan dunia atas yang berbeda dengan dunia bawah.</p>
<p>Dalam bentuk cerita, pertunjukkan Wayang Ukur gubahan saya hanya memiliki durasi sekitar dua jam, namun tidak mengurangi esensi ceritanya.</p>
<p><strong>Bisakah digambarkan bagaimana pementasan Wayang Ukur?</strong><br />
Wayang Ukur dipentaskan dalam bahasa Indonesia. Ceritanya masih banyak yang mengambil lakon kisah Mahabarata, namun saya imbuhi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang up to date. Karena itu, sampai sekarang saya membuat kliping koran tentang berbagai hal yang menarik.</p>
<p>Agar semakin menarik, karena kebetulan keponakan saya bekerja di sebuah perusahaan jasa lighting dan sound system, pementasannya kemudian menggunakan ratusan lampu yang disesuaikan dengan alur cerita. Bahkan saya sendiri sering jadi operator lampunya. Ada pula tokoh wayang yang diperankan oleh manusia hadir dalam kisahnya sehingga pementasan bisa terkesan hidup. Saya juga menambahkan dekoratif panggung dari fiberglas rancangan saya sendiri.</p>
<p><strong>Dalam petualangan Anda di dunia wayang, hal apa yang paling berkesan?</strong><br />
Saat melakukan pementasan di luar negeri memberikan kesan mendalam bagi saya. Terutama saat di Vancouver, Kanada. Di sana hampir semua seniman besar seluruh dunia berkumpul untuk berbagi ilmu. Dan setelah itu saya bisa memborong satu set gamelan yang saya idamkan.</p>
<p>Tanggal Lahir: Jogjakarta, 10 April 1937<br />
Nama orang tua: Bapak: Zainal (pengusaha batik), Ibu: Sudilah (masih keturunan Hamengkubuwono I)<br />
Penghargaan untuk Wayang Ukur:</p>
<p>1986: Diundang ke Festival Kesenian Dunia di Vancouver, Kanada<br />
2000: Diundang ke Union Internationale de la Marrionetter-UNIMA di Magdeburg, Jerman</p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=1000" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=lSZkmAJyRwI:26WICMVj1lQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=lSZkmAJyRwI:26WICMVj1lQ:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=lSZkmAJyRwI:26WICMVj1lQ:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=lSZkmAJyRwI:26WICMVj1lQ:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/lSZkmAJyRwI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/10/29/mengenang-sukasman-keteguhan-adalah-nama-tengahnya/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/10/29/mengenang-sukasman-keteguhan-adalah-nama-tengahnya/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Ruang Nocturno</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/h0qcr6Itr38/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/10/22/ruang-nocturno/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 22:28:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=991</guid>
		<description><![CDATA[
Hanya mengingat sebuah waktu yang beku. Tiada detik yang bergerak. Tiada usia yang terbuang. Mengayun dan berlenggak-lenggok. Membungkam liat, menggenggam pekat, meratap pada debu dan menggigil pada pilu. Masih saja beku.
Hanya mengenang pada aroma manis, lalu asam, tawar, tanpa pahit. Merasuki alur napas tanpa reda. Dalam pagi, dalam petang, bahkan dalam hari anomali yang tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-large wp-image-992 aligncenter" title="tugu" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/10/tugu-1024x736.jpg" alt="tugu" width="499" height="364" /></p>
<p>Hanya mengingat sebuah waktu yang beku. Tiada detik yang bergerak. Tiada usia yang terbuang. Mengayun dan berlenggak-lenggok. Membungkam liat, menggenggam pekat, meratap pada debu dan menggigil pada pilu. Masih saja beku.</p>
<p>Hanya mengenang pada aroma manis, lalu asam, tawar, tanpa pahit. Merasuki alur napas tanpa reda. Dalam pagi, dalam petang, bahkan dalam hari anomali yang tak juga terjemahkan.</p>
<p>Hanya menengok pada ruang yang datang, lalu harus pergi.</p>
<p>Jogja.</p>
<p>(ruang nocturnoku, 2009)</p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=991" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=h0qcr6Itr38:UKoRxgSJomg:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=h0qcr6Itr38:UKoRxgSJomg:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=h0qcr6Itr38:UKoRxgSJomg:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=h0qcr6Itr38:UKoRxgSJomg:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/h0qcr6Itr38" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/10/22/ruang-nocturno/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/10/22/ruang-nocturno/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kepada Ai</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/JhkYR-Y0cVU/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/10/18/kepada-ai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 18:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=980</guid>
		<description><![CDATA[Ai,
Aku terkenang wajahmu lagi. bulat telur yang proposional dengan rambut yang kau pangkas pendek. Bola matamu yang berwarna sephia, dengan lingkaran biru cemerlang sebagai batasnya. Paduan yang aneh, tapi itu yang paling kusukai dari wajahmu. Pernah berkaca dan menelisik matamu sendiri, Ai?
Aku terus menghitung malam demi malam yang aku tuai tanpa matamu, tanpa sentuhmu dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-987 alignleft" title="kanji-ai1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/10/kanji-ai1.jpg" alt="kanji-ai1" width="200" height="200" />Ai,<br />
Aku terkenang wajahmu lagi. bulat telur yang proposional dengan rambut yang kau pangkas pendek. Bola matamu yang berwarna sephia, dengan lingkaran biru cemerlang sebagai batasnya. Paduan yang aneh, tapi itu yang paling kusukai dari wajahmu. Pernah berkaca dan menelisik matamu sendiri, Ai?</p>
<p>Aku terus menghitung malam demi malam yang aku tuai tanpa matamu, tanpa sentuhmu dan tanpa hadirmu. Nyatanya aku masih bisa tetap hidup, Ai. Aku masih tetap bisa menjalani hari. Tetapi hidup semacam apa? mungkin semacam lilin yang sumbunya sudah basah. Lembab oleh rindu yang menderu. Mengharap hangat sentuhmu bisa hilangkan lembabnya dan biarkan aku menyala. Kapan, Ai?</p>
<p>Ai,<br />
Sudah aku titipkan padamu sebongkah rasa yang bergulung-gulung, sebuah fusi dari desir nadi dan napas. Dibalut air mata dan darah dendam lalu yang pernah kurasa. Lalu, dibungkus bahagia dan berpita mesra buatmu. Semuanya lantak di situ. Tanpa tudung dan sekat lagi. Nyata-nyata buatmu. Kuserahkan padamu untuk kau jaga dan agar tak terusik.</p>
<p>Dan, jika suatu saat aku tak kembali lagi, kurasa sudah tuntas dharmaku akan rasa. Semuanya sudah ada padamu. Semaikanlah Ai, jika kau tak keberatan.</p>
<p>Ai,<br />
Biar aku tutup malam ini dengan kenangan cium yang kualamatkan di bibirmu saat perpisahan kemarin. aku terperangah, karena lekatnya bibirku di bibirmu, bukan hanya meresap rasamu, tapi bisa kurasai jiwamu di sana. lalu ia rebah, tak terhapus oleh hari.</p>
<p><em>Ai, sekarang ada jiwamu di sini yang memanggil-manggilku&#8230;..untuk kembali, padamu&#8230;</em></p>
<p><em>catatan: image di atas adalah huruf kanji yang berbunyi &#8220;ai&#8221;, dan dalam bahasa indonesia berarti &#8220;cinta&#8221;&#8230;&#8230;..<br />
</em></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=980" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=JhkYR-Y0cVU:yR2O2IMfk0M:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=JhkYR-Y0cVU:yR2O2IMfk0M:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=JhkYR-Y0cVU:yR2O2IMfk0M:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=JhkYR-Y0cVU:yR2O2IMfk0M:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/JhkYR-Y0cVU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/10/18/kepada-ai/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/10/18/kepada-ai/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Gemulai Awan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/afDEkMku_G0/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/09/27/gemulai-awan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 09:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>

		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=969</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana jika aku jadi awan?
Tubuhku terdiri dari uap air yang mengapung di atmosfer. Lembut dan putih pada warna normalnya. Bergulung-gulung dan berpadu dengan birunya langit.
Menjadi awan berarti adalah kepasrahan. Aku gemulai saja ditiup angin. Mengawang dalam hembusannya. Ringan saja. Kadang aku biarkan saja lepas tak menentu arah. Hanya mengikuti angin yang membawa. Kadang aku bersikukuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-973 alignleft" title="awan1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/09/awan1.jpg" alt="awan1" width="318" height="212" />Bagaimana jika aku jadi awan?</p>
<p>Tubuhku terdiri dari uap air yang mengapung di atmosfer. Lembut dan putih pada warna normalnya. Bergulung-gulung dan berpadu dengan birunya langit.</p>
<p>Menjadi awan berarti adalah kepasrahan. Aku gemulai saja ditiup angin. Mengawang dalam hembusannya. Ringan saja. Kadang aku biarkan saja lepas tak menentu arah. Hanya mengikuti angin yang membawa. Kadang aku bersikukuh dan memeluk pucuk gunung untuk bersandar. Membelenggu puncak yang dingin demi sebuah pemberhentian. Tak hirau pada gemuruh batu-batu gunung yang keras menggoncang. Aku tetap diam, sekali lagi demi sebuah menyandarkan lembutku.</p>
<p>Apa lagi yang bisa kulakukan sebagai awan?</p>
<p>Ah, ya,  menjadi awan adalah kemurahan hati. Uap air yang terbenam di tubuhku lambat laun menghitam dan penuh. Kelabunya mendung kutahan dengan pelukku. Tulus, tak hendak mengadu kata tentangnya. Kubiarkan saja panas matahari bekerja membentukku, hingga menghitam. Sesudah itu, di batas kemampuanku menampung kelabunya mendung, kusiram bumi dengan hujan yang menyegarkan.</p>
<p>Lalu selesailah tugasku. Aku murca. Digantikan awan-awan lebih muda dan lebih lincah. Aku ada, untuk tiada.</p>
<p><em>catatan: kita semua adalah awan-awan yang hidup untuk memberi. Meski setitik, awan kecil adalah satu butir hujan untuk bumi. </em></p>
<h3 class="UIIntentionalStory_Message"><span class="UIStory_Message"><br />
</span></h3>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=969" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=afDEkMku_G0:qLUr-FEO2PQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=afDEkMku_G0:qLUr-FEO2PQ:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=afDEkMku_G0:qLUr-FEO2PQ:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=afDEkMku_G0:qLUr-FEO2PQ:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/afDEkMku_G0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/09/27/gemulai-awan/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/09/27/gemulai-awan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>ILUMINASI-The Cover</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/J1F8jVzs65g/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/09/12/iluminasi-the-cover/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 05:41:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>

		<category><![CDATA[ladang kerja]]></category>

		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=959</guid>
		<description><![CDATA[Setelah melalui diskusi panjang dan ide-ide yang berlompatan, perjalanan novel saya, ILUMINASI sudah masuk ke tahap penyelesaian cover. Sebagai penulis, penerbit Kakilangit Kencana telah memberikan keleluasaan penuh bagi saya untuk menentukan dan memilih sendiri cover yang sesuai dengan ruh dan filosofi novel. Dan inilah dia&#8230;..


ILUMINASI adalah sebuah novel tentang pencerahan dan manusia-manusia berkekuatan super yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah melalui diskusi panjang dan ide-ide yang berlompatan, perjalanan novel saya, ILUMINASI sudah masuk ke tahap penyelesaian cover. Sebagai penulis, penerbit Kakilangit Kencana telah memberikan keleluasaan penuh bagi saya untuk menentukan dan memilih sendiri cover yang sesuai dengan ruh dan filosofi novel. Dan inilah dia&#8230;..</p>
<p style="text-align: center;">
<p><img class="size-full wp-image-960 aligncenter" title="sampul-depan-iluminasi-alternatif-10" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/09/sampul-depan-iluminasi-alternatif-10.jpg" alt="sampul-depan-iluminasi-alternatif-10" width="378" height="604" /></p>
<p>ILUMINASI adalah sebuah novel tentang pencerahan dan manusia-manusia berkekuatan super yang bertanya tentang makna kehadirannya bagi semesta.<br />
Harap sabar (heheheeh..saya sendiri sudah tidak sabar kok), karena baru direncanakan terbit pada pertengahan Oktober 2009.</p>
<p>Dan soal cover novel, saya tunggu kritik bagi karya seni kecil yang satu ini&#8230;..terima kasih.</p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=959" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=J1F8jVzs65g:b91q9CoBmRY:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=J1F8jVzs65g:b91q9CoBmRY:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=J1F8jVzs65g:b91q9CoBmRY:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=J1F8jVzs65g:b91q9CoBmRY:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/J1F8jVzs65g" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/09/12/iluminasi-the-cover/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/09/12/iluminasi-the-cover/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Celoteh Air</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/fgs8-bxYnsU/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/08/31/celoteh-air/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 09:59:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>

		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=951</guid>
		<description><![CDATA[Aku tetap mengalir. Apapun yang kau kata, aku tetap air yang galibnya mengalir. Sudah kucatat selaksa kilometer aliranku. Melumat pasir, tanah dan sampah. Berkubang dalam ceruk yang bahkan mungkin tak kuhendaki, tetapi galibku mendesak untuk mengalir. Rasanya tak ada tempat untuk berhenti, sebuah kutuk yang harus kuamini.
Suatu ketika aku menari-menari riang, berdansa dengan alam dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-954 alignleft" title="air1-copy" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/air1-copy-229x300.jpg" alt="air1-copy" width="229" height="300" />Aku tetap mengalir. Apapun yang kau kata, aku tetap air yang galibnya mengalir. Sudah kucatat selaksa kilometer aliranku. Melumat pasir, tanah dan sampah. Berkubang dalam ceruk yang bahkan mungkin tak kuhendaki, tetapi galibku mendesak untuk mengalir. Rasanya tak ada tempat untuk berhenti, sebuah kutuk yang harus kuamini.</p>
<p>Suatu ketika aku menari-menari riang, berdansa dengan alam dalam bentuk butir-butir yang memuncrat. Gembira tak terkira.  Lagu-lagu dengan <em>beat</em> dan langgam ceria menjadi kawan berceloteh dan mendongengi dunia. Aku meloncat dalam iramanya, melompat seiring gebuk perkusinya.</p>
<p>Ada kala aku berganduh pada serat daun. Menggantung dengan nyaman, mengukir mimpi dan bergelimang kesat serat yang mempertahankan. Tetapi daun juga berhenti berfotosintesis, tunduk pada aturan evolusi dan membiarkan aku luruh jatuh, tak tertahankan.</p>
<p>Lalu sebilah cerita lagi, aku mengalir dalam senyap. Bertekuk sepi, tanpa suara. Aku nyaris membeku di nol derajat, menepi di kutub dan abai pada ontran-ontran di luar sana. Kadang beku ini begitu nikmat, menggarisi hari hanya dengan suaraku. Tetapi dalam banyak waktu, beku adalah perih dan mengingatkanku bahwa tanpa air yang lain aku hanya jadi sebutir yang tak berarti. Maknaku ada pada menyatu dengan yang lainnya dan mengalir, mengitari semesta.</p>
<p>Mengalir adalah galibku. Kemanapun arus membawa, menetes dari ketinggian, menyublim menjadi embun, ataupun meluruh tanpa sisa. Hingga tiba pada sebuah pertemuan di muara yang hakiki.</p>
<p><em>gambar diambil oleh Icha, saat gerimis di Puncak, bersenjatakan Nikon D40x</em></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=951" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=fgs8-bxYnsU:Jh29CVDI4p8:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=fgs8-bxYnsU:Jh29CVDI4p8:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=fgs8-bxYnsU:Jh29CVDI4p8:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=fgs8-bxYnsU:Jh29CVDI4p8:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/fgs8-bxYnsU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/08/31/celoteh-air/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/08/31/celoteh-air/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Berdialog dengan Kematian (2)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/eLUOYr785io/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/08/22/berdialog-dengan-kematian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 17:44:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=940</guid>
		<description><![CDATA[Aku bertemu dengannya lagi. Masih dengan gaya flamboyannya yang memesona. Sepatunya masih berkilap dan tatatan rambutnya masih bergaya spike ala Becham.
Hei, tetapi ada yang berbeda darinya kini. Kesempatan yang lalu, aku melihatnya memakai baju hitam, sekarang ia memilih hadir di hadapanku dengan kaus putih ketat dan celana pipa berwarna putih. Duh, ini benar Si Mamat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2ZjMDYuZGV2aWFudGFydC5jb20vZnMzOS9mLzIwMDgvMzY1LzMvNC9XaGl0ZV9BbmdlbF9CR19ieV9OZW9hcHR0LmpwZw==" target=\"_blank\" ><img class="size-medium wp-image-943 alignleft" title="white_angel_bg_by_neoaptt" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/08/white_angel_bg_by_neoaptt-300x225.jpg" alt="white_angel_bg_by_neoaptt" width="300" height="225" /></a>Aku bertemu dengannya lagi. Masih dengan gaya flamboyannya yang memesona. Sepatunya masih berkilap dan tatatan rambutnya masih bergaya<em> spike</em> ala Becham.</p>
<p>Hei, tetapi ada yang berbeda darinya kini. Kesempatan yang lalu, aku melihatnya memakai baju hitam, sekarang ia memilih hadir di hadapanku dengan kaus putih ketat dan celana pipa berwarna putih. Duh, ini benar Si Mamat atau Brad Pitt sih?</p>
<p>Wajah Si Mamat lebih bersinar dari biasanya. Tetapi tajam matanya masih sama seperti dulu. Pesonanya itu masih membuatku mendendam rindu padanya. Tanpa banyak kata, Si Mamat menaruh pantatnya pada kursi sofa berwarna hijau di hadapanku. Sementara aku sendiri dengan belepotan cat <em>acrylic</em> dan kuas di tangan, memandang setiap gemulai langkahnya dengan takjub.</p>
<p>&#8220;Lukisanmu sadis,&#8221; Mamat membuka percakapan, memandang gores tebal <em>acrylic</em> pada kanvas.</p>
<p>Tadi, kuguyur kanvas dengan hitam sebagai dasar, lalu mencipratkan sapuan merah tebal di sana-sini. Tak ada gambar realis di sana, hanya goresan yang marah merah, silang sengkarut dalam motif tak beraturan. Aku pun tak tahu bentuk apakah itu, hanya sebuah coretan tanpa judul.</p>
<p>&#8220;Kanvas ini memang mengandung pisau,&#8221; jawabku ringan.</p>
<p>&#8220;Pisau yang sama untuk memanggilku?&#8221; Mamat mengernyitkan dahi dan mencondongkan tubuhnya mendekat padaku.</p>
<p>Aku meringis. Layaknya emoticon <img src='http://ladangkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> pada <em>messenger.</em></p>
<p>&#8220;Sebegitu kuatkah rindumu padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mendambamu.&#8221;</p>
<p><span id="more-940"></span></p>
<p>&#8220;Menyedihkan sekali, mendamba pada kematian. Ketika semua orang berlomba untuk hidup, kau justru memanggilku. Kau pikir aku tukang ojek yang siap mengantarmu ke gerbang hitam yang kau tuju?&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh, jadi bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sialan! Mana ada tukang ojek dengan wangi Bvlgari Aqva?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmm, kuharap bukan parfum bibit isi ulang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ck!&#8221;</p>
<p>Wajahnya berubah kesal. Dan aku tersenyum senang. Menyadari betapa susahnya menghadirkan dirinya lagi untuk berdialog seperti ini. Dialog tak penting yang kusukai, rayuan untuk mengorek banyak rahasia yang jadi misteri besar bagi semua orang dan kawan yang menyenangkan kala kesepian memberenggut.</p>
<p>&#8220;Menyebalkan sekali tugas ini. Kenapa sih kau ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bosan, tahu! Kau tak pernah datang lagi. Aku rindu berdialog denganmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Enak saja bilang bosan. Masih banyak yang mencoba bertahan hingga berdarah-darah. Sementara kau justru menciptakan darah untuk menghadirkanku. Kau ini sungguh edan, masa cuma ingin berdialog saja harus bermain-main dengan maut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena kau memang maut!&#8221;</p>
<p>&#8220;Emang sudah kehabisan teman bicara, kau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kupingnya pada sibuk semua. Hatinya pada semrawut semua. Apalagi bahunya, pada payah semua.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengerikan sekali caramu memandang orang lain. Serasa mereka benar-benar tak bisa mendengar. Mungkin kau yang menahan. Jadi, mana bisa mereka dengar?&#8221;</p>
<p>Aku terdiam, lalu meraup satu <em>tube</em> cat berwarna indigo dan menorehkannya di kanvas tanpa menggunakan kuas. Memberi sapuan magis pada warna merah yang sudah tertera di situ.</p>
<p>Si Mamat aka Kematian mencakung di sofa, memperhatikan gerakanku. Risih rasanya, dalam diam diintai oleh matanya.</p>
<p>&#8220;Jadi, kau memang menjemputku?&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Dress code </em>warna putih. Memang waktunya penjemputan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ow..aku baru tahu aturan itu. Baiklah aku sudah siap.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak. Kau hanya sok siap! aku bisa lihat dari matamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah sediakan pisau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan cara apa akan kau jelang aku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku punya dua pilihan: satu, menghujamkannya di jantungku. Pilihan lain, menyayat nadiku pelan-pelan. Aku memilih pilihan kedua. Rasanya lebih nikmat, lagipula aku ingin tahu cara kerjamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sinting!&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena itulah dunia ini bukan tempatku. Aku sudah terlalu sinting.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau ini menghadap Selatan, sementara dunia bergerak ke Utara.  Kenapa salahkan dunia? Kenapa bukan kau yang berbalik badan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu tidak menjadi diriku sendiri dan mengikuti apa kata semua orang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hei, itu kesimpulan yang sumir! Bernapas itu indah, meski kerap merasa sesak, tapi bukan berarti berhenti. Paling tidak belum sekarang. Ini belum waktumu. Kau saja yang menyeretku ke sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu kapan?&#8221; aku merajuk.</p>
<p>&#8220;Mana aku tahu. Aku cuma eksekutor. Kau selalu anggap aku ampuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habisnya, kau memang keren sih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ahh..capek aku meladeni orang sinting macam kau. Kau jadi mau mati <em>nggak</em> sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh, katanya belum boleh? Ah, kau justru membingungkan. Datang ke sini dengan tujuan menjemput eh lalu berceramah tentang indahnya napas dan geliat jalanku. Lalu sekarang bertanya padaku, apakah aku jadi mati apa tidak? Bukankah kau yang lebih tahu?&#8221; tanpa jeda aku menyerangnya.</p>
<p>Si Mamat terbeliak kaget. Baru pertama kalinya dibentak manusia.</p>
<p>&#8220;Ah sudahlah&#8230;kau hanya mempermainkan kematian. Aku pergi dulu. Jika sudah waktunya, aku akan datang lagi tanpa ampun.&#8221;</p>
<p>Kematian berdiri dari sofa dan dengan gerakan cepat sudah menghilang di balik pintu yang terbuka.</p>
<p>Aku menyungging senyum. Kali ini aku sedikit berhasil mengecohnya untuk datang, karena aku memang rindu berdialog dengannya, karena aku ingin ia meyakinkanku soal kehidupan. Aku memang &#8220;sakit&#8221;, tapi rupanya masih belum waktunya mati.</p>
<p>tautan: <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2xhZGFuZ2thdGEuY29tLzIwMDkvMDEvMjYvYmVyZGlhbG9nLWRlbmdhbi1rZW1hdGlhbi8=" target=\"_blank\" >Berdialog dengan Kematian (1)</a></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=940" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=eLUOYr785io:tMc7C37Zg5s:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=eLUOYr785io:tMc7C37Zg5s:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=eLUOYr785io:tMc7C37Zg5s:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=eLUOYr785io:tMc7C37Zg5s:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/eLUOYr785io" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/08/22/berdialog-dengan-kematian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/08/22/berdialog-dengan-kematian-2/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
