<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>ladangkata</title>
	
	<link>http://ladangkata.com</link>
	<description>semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan</description>
	<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 14:14:49 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/Ladangkata" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>Ladangkata</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Janji Seribu Candi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/kvds_5vYgfk/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/07/01/janji-seribu-candi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 14:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>

		<category><![CDATA[ladang kerja]]></category>

		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan, Bandung Bondowoso yang telah gagal dalam percobaan pertamanya memikat Roro Jonggrang dengan 1000 candi, kini telah bereinkarnasi di tahun 2009. Ruh Bandung Bondowoso telah merasuk ke tubuh pemuda matang bernama Boni. Sosok pemuda yang sudah tak perlu memendam ingin lagi, karena semua inginnya sudah bisa terpenuhi dengan menjentikkan jari. Tapi ada satu inginnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-874 alignleft" title="senja3" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/07/senja3-201x300.jpg" alt="senja3" width="201" height="300" />Syahdan, Bandung Bondowoso yang telah gagal dalam percobaan pertamanya memikat Roro Jonggrang dengan 1000 candi, kini telah bereinkarnasi di tahun 2009. Ruh Bandung Bondowoso telah merasuk ke tubuh pemuda matang bernama Boni. Sosok pemuda yang sudah tak perlu memendam ingin lagi, karena semua inginnya sudah bisa terpenuhi dengan menjentikkan jari. Tapi ada satu inginnya yang masih terkekang,  yaitu Roro Jonggrang.</p>
<p>Sejak kelahirannya kembali, Boni bertekad mencari Roro Jonggrang. Segala kelebihan dan kelimpahan materi yang dimiliki semakin membuatnya yakin, kali ini Roro Jonggrang pasti akan jadi miliknya. Perempuan mana yang tak tergiur dengan wajah simpatik Boni, dengan pijar intelegensinya yang benderang, dengan kata-katanya yang santun, dan yang paling menarik dari semua itu adalah kekayaannya yang luber tak terhitung. Roro Jonggrang pasti takluk.</p>
<p>Boni merasa sudah mengantisipasi semuanya, tapi ada satu hal yang tak bisa dikontrol oleh pemuda yang penuh percaya diri itu. Roro Jonggrang, yang penuh semangat perlawanan ternyata menitis di tubuh aktivis politik yang tak silau kekayaan. Vanessa. Meski namanya kebarat-baratan, tapi Vanessa sangat nasionalis. Dia pernah merasakan betul penderitaan rakyat  yang sering dikangkangi hak-hak politiknya, merasakan sangat kesulitan ekonomi hidup akibat ideologi pasar bebas, menyemai dengan sangat sempurna kegelisahan anak-anak yang tak bisa sekolah. Sementara di seberang itu semua, manusia-manusia kapitalis seperti Boni hidup dengan tertawa.</p>
<p><span id="more-867"></span></p>
<p>Ketika pada suatu saat mereka bertatap mata, keduanya langsung tahu, bahwa reinkarnasi sudah berputar kembali ke titik awal kehidupan mereka. Mereka bukan lagi Boni dan Vanessa. Saat pertama berhadapan, jika saja kasat mata bisa melihat, saat itu  Boni adalah Bandung Bondowoso dan Vanessa berubah menjadi Roro Jonggrang. Tapi kali ini Vanessa lebih tegar. Sangat lebih tegar ketimbang beberapa abad lalu ia meringkuk di depan Bandung Bondowoso, ketika mengetahui ayahnya telah terbunuh. Terbata-bata ia mengucap pinta. Satu-satunya kebebasan yang ia miliki saat itu untuk dibuatkan 1000 candi. Bandung Bondowoso yang tak mundur, berjanji menyanggupi. Namun, Roro Jonggrang bukan perempuan bodoh. Ia mampu membuat Bandung Bondowoso gagal memenuhi janji yang diobral penuh kesombongan.</p>
<p>Tahun ini, Bandung Bondowoso dihadapkan kembali pada proyek Roro Jonggrang. Vanessa sudah menyuarakan pinta, kali ini jelas lebih sulit, dalam lima tahun ke depan, Boni harus bisa benar-benar memenuhi Keadilan Sosial dan Kesejahteraan Rakyat. Hanya satu kalimat, tapi implikasinya sungguh luas karena harus dilakukan tanpa ada lagi yang tertinggal.</p>
<p>Sekali lagi, ini tak jauh beda dengan proyek Roro Jonggrang, sebuah proyek yang dirasa mustahil dilakukan dalam waktu yang singkat.Permintaan itu sangat tak masuk akal dalam dunia dengan genggaman sistem ekonomi pasar bebas, dimana keadilan bukan salah satu pengikutnya. Kekuatan pasar yang ada sekarang mengacu pada kebebasan dan minimnya campur tangan lembaga politik untuk penyelesainnya. Dunia ini sedang sibuk dengan privatisasi yang banyak menyingkirkan jauh nasionalisme yang menjadi basis kesejahteraan dan keadilan. Logika pasar sedang berjaya di ranah publik! Dimana keadilan harus diselipkan? Sungguh, ini memang proyek Roro Jonggrang lagi!</p>
<p>Boni terkatup ketika Vanessa berbisik padanya, &#8220;Kali ini, jangan hanya obral janji, sudah kehidupan kesekian kita bertemu, jika kau masih saja tak sanggup, putuskan saja rantai ruhmu&#8221;.</p>
<p>Layaknya sebuah perebutan, Boni punya tiga pilihan bantuan, nomer 1, nomer 2 atau nomer 3. Ia punya pilihan untuk memilih salah satunya. Bandung Bondowoso tak ingin gagal lagi.  Berapa kali pergantian kehidupan yang harus ia lalui untuk saat-saat ini. Tapi sekarang, bantuan mana yang bisa melakukan proyek Roro Jonggrang ini? Dan dengan persyaratan baru dari permata hati, <em>stop</em> obral janji. Karena, Roro Jonggrang hanya punya satu pintu: keadilan, bukan lagi janji.</p>
<p><em>Ditulis untuk Creative Theme Day#2: Stop Obral Janji</em></p>
<p><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2NyZWF0aXZldGhlbWVkYXkuY29t" target=\"_blank\" ><img class="size-full wp-image-876 alignnone" title="banner_ctd125_04" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/07/banner_ctd125_04.gif" alt="banner_ctd125_04" width="125" height="125" /></a></p>
<p><em>catatan: foto senja di Prambanan oleh Lisa Febriyanti untuk <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2pvZ2phcG9ydHJhaXQuY29t" target=\"_blank\" >Jogjaportrait</a></em></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=867" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=kvds_5vYgfk:xhSwyydkbPQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=kvds_5vYgfk:xhSwyydkbPQ:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=kvds_5vYgfk:xhSwyydkbPQ:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=kvds_5vYgfk:xhSwyydkbPQ:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/kvds_5vYgfk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/07/01/janji-seribu-candi/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/07/01/janji-seribu-candi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Keabadian dan Tukang Kebun (habis)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/yOeWwcVnaE8/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/26/keabadian-dan-tukang-kebun-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 17:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Keabadian dan Tukang Kebun (1)
Keabadian dan Tukang Kebun (2)
Pertanyaanku tak terjawab. Aku membiarkannya begitu, hingga aku rangkai pengertian-pengertian baru dalam pertemuan kami kali ini.
Setelah Perjanjian Versailles ditandatangani dan Perang Dunia meredup, aku mencoba menemukan kembali kaumku yang berkeliaran. Aku tak menyangka akan menjadi salah satu yang tertua saat itu. Vampir-vampir lainnya mengelukanku untuk membangun kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2xhZGFuZ2thdGEuY29tLzIwMDkvMDYvMjEva2VhYmFkaWFuLWRhbi10dWthbmcta2VidW4tMS8=" target=\"_blank\" >Keabadian dan Tukang Kebun (1)</a><br />
<a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2xhZGFuZ2thdGEuY29tLzIwMDkvMDYvMjIva2VhYmFkaWFuLWRhbi10dWthbmcta2VidW4tMi8=" target=\"_blank\" >Keabadian dan Tukang Kebun (2)</a></em></p>
<p><img class="size-medium wp-image-840 alignleft" title="plant-a-tree" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/plant-a-tree-300x291.jpg" alt="plant-a-tree" width="238" height="231" />Pertanyaanku tak terjawab. Aku membiarkannya begitu, hingga aku rangkai pengertian-pengertian baru dalam pertemuan kami kali ini.</p>
<p>Setelah <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9QZXJqYW5qaWFuX1ZlcnNhaWxsZXM=" target=\"_blank\" >Perjanjian Versailles</a> ditandatangani dan Perang Dunia meredup, aku mencoba menemukan kembali kaumku yang berkeliaran. Aku tak menyangka akan menjadi salah satu yang tertua saat itu. Vampir-vampir lainnya mengelukanku untuk membangun kembali perkumpulan yang porak  poranda. Aku ingat, vampir-vampir perempuan melekat padaku, vampir lain yang lebih muda terus meminta perhatian, tak mempedulikan Zen yang mengkerut di sampingku.</p>
<p>Dengan taktis aku mengumpulkan kembali kelompok-kelompok vampir yang bersembunyi. Membangkitkan dan meminta mereka bertahan pada komunitas masing-masing, sembari terus berhubungan. Namaku terus menanjak di kalangan vampir. Oktagon, Sang Tetua. Begitu aku disebut. Aku jumawa dalam keadaan itu. Tapi itu tak lama, aku segera melempem lagi karena Zen meninggalkanku.</p>
<p>Baru terpetik di pikiranku sekarang, meskipun dia pergi, Zen tak pernah mengkhianatiku dengan berpindah ke pelukan vampir lain. Tak pernah sekalipun. Bagi kami, tindakan itu adalah khianat yang paling menyakitkan. Hampir setiap kami memiliki pasangan abadi. Di kalangan vampir, cinta berbanding lurus dengan panjang hidup kami. Jika salah satu terbunuh, maka dendam kesumat dipastikan akan memenuhi rongga hati. Karena, itu sama saja membunuh diri kita sendiri. Zen tak pernah menyakitiku begitu. Ia selalu pergi sendirian. Bahkan, tak pernah lari ke komunitas vampir lainnya. Dalam pertemuan-pertemuanku dengannya kembali, dia tak pernah terlihat terikat dengan vampir manapun. Kadang, jika keadaan memungkinkan, dia lebih suka berbaur dengan manusia. Mungkin itu menjadikannya lengkap. Menjadikannya seperti manusia dengan sesuatu yang tak dipunyainya. Napas dan degup jantung.</p>
<p><span id="more-819"></span></p>
<p>Perenungan kembali ini membuatku mulai paham apa yang dilakukan Zen. Dia merasa tersisihkan. Dia merasa tak lagi dibutuhkan saat aku asyik dengan diriku sendiri. Dia membaca tiap kelebat dalam pikiranku, tentang jumawaku, tentang hasratku, tentang hal-hal yang aku cari sepanjang aku menjadi vampir. Kuakui, aku sering lupa diri. Sering meninggalkannya termenung sendiri, tanpa aku hendak cari tahu apa yang merisaukannya. Sering pula tak mengajaknya serta dalam langkahku. Ah, betapa tololnya aku mengira apa yang kuinginkan akan mudah diterimanya begitu saja.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau tak pernah mengatakan apa-apa?&#8221; aku bertanya.</p>
<p>&#8220;Aku ingin kau menyadarinya sendiri, Oktagon.&#8221;</p>
<p>Kami terdiam cukup lama. Matanya jernih. Bibir mungilnya terkatup rapat. Tubuhnya bergetar dalam frekuensi yang sangat rendah. Tapi aku masih bisa merasainya. Di saat seperti ini, aku justru ingin segera memeluknya, melumat bibirnya, menghimpit tubuhnya dan menyesap aromanya. Tapi aku tahu, Zen sedang tidak ingin aku melakukannya sekarang. Ini saatnya dia berbicara. Setelah beberapa abad dia tak bicara tentang sejuta alasannya meninggalkan aku.</p>
<p>&#8220;Kau ingat terakhir kita bersama?&#8221; Zen menggugah keheningan diantara kami.</p>
<p>Tentu saja aku  ingat, &#8220;1 September 1939, persis saat <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9BZG9sZl9IaXRsZXI=" target=\"_blank\" >Hitler</a> menginvasi Polandia, membakar api <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9QZXJhbmdfRHVuaWFfSUk=" target=\"_blank\" >Perang Dunia II</a> di dataran Eropa&#8221;.</p>
<p>Saat itu aku terperangah dengan taktik  <em><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9CbGl0emtyaWVn"title=\"Blitzkrieg\"  target=\"_blank\" >Blitzkrieg</a></em>, perang cepat a la Hitler. Hanya iblis yang pada masa itu bisa bergerak secepat Hitler. Untung saja perkumpulan sudah pernah ada dalam situasi perang. Kami sudah siaga dan tetap tak ingin ikut campur urusan manusia itu. Meskipun bagi kami, Hitler tak ubahnya melakukan perburuan mangsa seperti yang kami lakukan. Tetap saja, di situasi perang semacam itu, aku tergugu dan kembali berpindah-pindah tempat. Zen muncul kembali di suatu kelokan jalan sehabis aku menghisap habis darah buruanku. Aku langsung meraih tangannya dan kami melesat ke tepi hutan. Kami bercinta dengan suara pelan, menggugurkan rindu yang sudah di ujung taringku. Dan kami terus bersama sejak saat itu.</p>
<p>&#8220;Aku selalu ada untukmu, Oktagon. Hanya kau yang tidak menyadarinya&#8221;.</p>
<p>Aku mengaduk-aduk pikiranku. Bagaimana mungkin dia berkata selalu ada untuk aku? Cukup lama aku terbungkam, mencari pola pertemuan kami dan kepergiannya. Lalu serangkum pengertian itu menerangi kepalaku, dia datang tiap kali resahku sudah meluber, saat aku merasa sangat sendirian, saat aku merasa porak poranda di hampir kepingan terakhir. Aha! Jadi begitu?</p>
<p>&#8220;Iya, tepat begitu. Di saat itulah kau merasa membutuhkan aku, bukan yang lain. Bukan komunitasmu, bukan perkumpulanmu atau teman-teman vampir lainnya&#8221;.</p>
<p>Hey, dia memang selalu pergi saat aku mampu berdiri tegak dan jumawa. Dan aku mengakui, di saat itu, Zen hanyalah sebuah bagian kecil dari hidupku. Ambisi, ego, kesenanganku dan pengakuan atas diriku menjadi lebih penting. Toh, Zen sudah di sana. Kebutuhan yung meluap-luap atas dirinya terkalahkan oleh semua itu.  Zen mampu membaca itu dengan persis di kepalaku. Sedangkan aku, tak mampu mendengarkan itu semua.</p>
<p>Perang berakhir, dunia mengalami kemajuan dimana-mana. Zen pun pergi lagi. Hingga sekarang, 2009, aku menjumpainya di saat aku merasa komunitas mulai meninggalkanku. Oktagon, Sang Tetua harus mau mundur bersaing dengan vampir-vampir muda lain dengan pemikiran yang lebih cemerlang.</p>
<p>&#8220;Kau gila, Zen. Kalau yang kau rasakan buatku itu cinta, itu cinta yang aneh!&#8221; aku masih tak ingin mengakui egoku.</p>
<p>&#8220;Kau yang tak paham, Oktagon. Karena itu kau bilang aneh&#8221;.</p>
<p>&#8220;Apa yang harus aku pahami? Apa belum cukup rindu yang selalu berdenting itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Seorang pecinta ibarat tukang kebun,&#8221; Zen menyentuh tanganku.</p>
<p>Tukang kebun? Hah?</p>
<p>&#8220;Tukang kebun bukan hanya menanam. Agar tumbuhan itu bisa bertumbuh dengan indah, dia perlu memupuk, dia perlu merawat, dia perlu menyirami, dia bahkan perlu berbicara dengan tanamannya, melakukan pertukaran energi dengannya. Dan itu tidak dilakukan di awal saja. Tapi di setiap kebutuhan, bahkan di setiap langkahmu.&#8221;</p>
<p>Aku mencerna kata-katanya.</p>
<p>Zen melanjutkan, &#8220;Dan kau biarkan tanaman ini mengkerut, menghilangkan kebiasaanmu menyirami dan merawatnya, sehingga ia mengering bahkan tanpa kau ketahui&#8221;.</p>
<p>Aku menggenggam tangannya dalam diamku. Aku tak hendak mengingkari kata-katanya lagi. Aku memang bukan tukang kebun yang baik. Membiarkannya mengkerut begitu rupa di saat vampir-vampir lain menginginkanku dan membiarkannya kering ketika aku berkelindan memenuhi hasratku sendiri. Aku paham kini, betapa berartinya Zen ketika dia sedang meninggalkanku. Saat dia di sampingku, aku tak lagi mengindahkannya. Melupakan hal berharga yang sebenarnya aku miliki dengan mencari penghargaan yang lain. Pantas saja, denting gelas itu makin nyaring ketika dia pergi. Lalu memudar pelan ketika nada-nada lain dalam hatiku berbicara.</p>
<p>&#8220;Yang paling tolol dari semua ini, butuh waktu tiga abad untuk kau menyadarinya!&#8221; katanya sembari mengukir senyum yang miris di bibir.</p>
<p>Reaksi itu justru membuat aku tertawa. Menertawakan diriku sendiri.</p>
<p>Bagiku, vampir perempuan di hadapanku ini adalah vampir paling cantik yang aku temui selama tiga abad terakhir dan seharusnya menjadi yang paling cantik selama usia imortalku. Aku tahu aku sangat mencintainya, dan mestinya tak cukup hanya dengan mengucap dan merasakan rindu. Seperti tukang kebun itu, tak cukup menanam, cinta yang ini harus terus dipupuk dalam waktu yang memang diperlukan. Keabadian yang kumiliki memang tak hanya diisi dengan cinta, tapi selain usia, hanya cinta yang bisa mengiringi keabadianku, bukan hal-hal mortal lainnya. Untuk yang satu itu, tugas &#8220;tukang kebun&#8221; memang membuat segalanya tetap terjaga dan indah.</p>
<p>&#8220;Dan&#8230;,&#8221; ia menggantungkan kalimatnya.</p>
<p>Apa lagi?</p>
<p>&#8220;Aku juga masih perlu belajar menjadi tukang kebun,&#8221; lalu terburai lah tawanya.</p>
<p>Vampir pasangan abadiku ini sungguh gila. Berdiam diri sebentar, berharap dimengerti tanpa berkata apa-apa, dan jika tak ada yang aku lakukan, dia pun pergi. Dia belajar dengan caranya sendiri dan membiarkan aku belajar dengan caraku sendiri. Hmm..cara yang hebat untuk menjalani keabadian.</p>
<p><em>:tabik untuk tukang kebun, yang bekerja untuk keabadian.</em></p>
<p><em>thanks to Stephani Meyer di Twilight, atas inspirasi, dialog yang menggugah, serta petikan pelajaran bahwa cinta dan kasih sayang tak hanya bekerja dalam keseragaman, tapi juga menjadi indah dalam keberagaman.</em></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=819" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=yOeWwcVnaE8:03f2kSoY4uQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=yOeWwcVnaE8:03f2kSoY4uQ:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=yOeWwcVnaE8:03f2kSoY4uQ:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=yOeWwcVnaE8:03f2kSoY4uQ:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/yOeWwcVnaE8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/26/keabadian-dan-tukang-kebun-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/06/26/keabadian-dan-tukang-kebun-habis/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Keabadian dan Tukang Kebun (2)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/P0Gh0Le7J48/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/22/keabadian-dan-tukang-kebun-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 16:10:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=817</guid>
		<description><![CDATA[Keabadian dan Tukang Kebun sebelumnya


Rasanya baru kemarin ketika aku pertama kali melihatnya. 14 Juli 1789, penyerbuan ke Penjara De Bastille. Sebuah momentum yang mengawali Revolusi Perancis. Aku melihat sosoknya diantara kerumunan orang-orang yang marah pada monarki. Kulitnya yang pucat, matanya yang kelam serta geraknya yang sangat gesit untuk ukuran manusia biasa, langsung bisa kukenali sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2xhZGFuZ2thdGEuY29tLzIwMDkvMDYvMjEva2VhYmFkaWFuLWRhbi10dWthbmcta2VidW4tMS8=" target=\"_blank\" ><em>Keabadian dan Tukang Kebun sebelumnya</em></a></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2dvb2RiYWRhbmR1bnJlYWQuY29tL3dwLWNvbnRlbnQvdXBsb2Fkcy8yMDA4LzAyL2xvbmctZGlzdGFuY2UtcmVsYXRpb25zaGlwLmpwZw==" target=\"_blank\" ><img class="size-medium wp-image-831 alignleft" title="long-distance-relationship" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/long-distance-relationship-300x222.jpg" alt="long-distance-relationship" width="300" height="222" /></a>Rasanya baru kemarin ketika aku pertama kali melihatnya. 14 Juli 1789, penyerbuan ke <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9CYXN0aWxsZQ==" target=\"_blank\" >Penjara De Bastille</a>. Sebuah momentum yang mengawali <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9SZXZvbHVzaV9QZXJhbmNpcw==" target=\"_blank\" >Revolusi Perancis</a>. Aku melihat sosoknya diantara kerumunan orang-orang yang marah pada monarki. Kulitnya yang pucat, matanya yang kelam serta geraknya yang sangat gesit untuk ukuran manusia biasa, langsung bisa kukenali sebagai salah satu ciri kaumku. Di tengah gemuruh massa yang berseru &#8220;<em>Vox Populi, Vox Dei</em>!&#8221;, aku masih bisa mendengar desis dan geram dari bibirnya. Tahu aku perhatikan, dia menoleh ke tempatku berdiri. Terpana beberapa saat, mungkin tak mengira ada juga yang seperti dia. Bahkan dekat dengannya.</p>
<p>Sebuah pedang hendak menyambar dari belakangnya. Aku melesat, meraih tubuhnya. Menganyunkan tubuhnya dalam pelukanku, menghindari kilat pedang yang bercampur darah menyentuh tubuhnya. Saat itulah mata kami bertaut.</p>
<p>&#8220;Kau pasti tahu, aku tidak akan mati hanya dengan goresan pedang saat itu,&#8221;  dia membaca pikiranku. Mengetahui bahwa aku mengenangkan pertemuan pertamaku dengannya.</p>
<p>&#8220;Tapi, kau yang akan membuat banyak orang mati. Kau pasti akan marah jika sedikit saja terluka. Bukan engkau yang aku selamatkan. Para revolusioner itu. Mereka sudah cukup menderita dengan <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9Mb3Vpc19YVklfZGFyaV9QZXJhbmNpcw==" target=\"_blank\" >Louis XVI</a>,&#8221; aku tahu,  pikiran Zen langsung meloncat pada kilat pedang yang hampir menggores bahunya dan masa hidup di bawah dua tekanan sekaligus. Monarki dan Gereja.</p>
<p>&#8220;Lebih dari 10 tahun kebersamaan kita, Zen. Lalu kau pergi begitu saja,&#8221; aku memutus ingatannya.</p>
<p>&#8220;Aku tidak pergi. Aku hanya menyingkir. Ambisimu dengan ekspansi <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9OYXBvbGVvbl9Cb25hcGFydGU=" target=\"_blank\" >Bonaparte</a> itu membuatku lelah. Matamu tidak lagi coklat, tapi menjadi lebih keruh dan kau makin kerap mendesis. Aku ada di dekatmu, tapi kau seperti jauh,&#8221; gantian dia yang menatapku lekat.</p>
<p><span id="more-817"></span></p>
<p>Aku terdiam. Sebelumnya Zen tak pernah bicara tentang itu. Aku kira dia memang sudah bosan denganku. Dia pergi untuk ambisiku?</p>
<p>Pernyataannya itu membangkitkan pengertian baru di kepalaku, &#8220;Tapi sesungguhnya kau tak pernah jauh kan? Jujur padaku, kau sengaja meninggalkan aromamu pada tempat-tempat yang kau pikir akan aku datangi? Betul begitu?&#8221;  aku mulai membaca pikirannya.</p>
<p>Zen tak segera menjawab pertanyaanku. Lima belas detik kemudian dia bergumam,  &#8220;Seandainya kau tahu dari dulu.&#8221;</p>
<p>Aku terkesiap. Aku memutar lagi pertemuan-pertemuanku dengannya. Setelah Perancis, kami bertemu kembali di Inggris, tepat ketika Belanda harus menyerahkan seluruh negara jajahannya kepada Inggris. Itu kebersamaan kami yang singkat. Di tahun 1811, hampir saja aku menyusul perjalanan <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9TdGFtZm9yZF9SYWZmbGVz" target=\"_blank\" >Raffles</a> ke Pulau Jawa, jika saja Zen tak kemudian menghilang. Aku yakin, jika aku ke Jawa, menyusul Raffles menjadi Letnan Gubernur Jawa pada waktu itu, aku akan kehilangan Zen untuk selamanya.</p>
<p>Bagi kami, kaum vampir, hidup berpindah-pindah sudah menjadi keharusan. Jika tidak, kemudaan kami akan menjadi pertanyaan banyak orang. Drama kematian yang berulang-ulang harus kami ciptakan agar manusia di sekeliling kami tak pernah curiga.</p>
<p>Demi Zen, aku memilih bertahan di Inggris, sambil mencarinya, meskipun gejolakku untuk melihat Jawa tak tertahankan. Bagiku, tanah itu sungguh eksotik. Aku sudah banyak mendengar keelokannya. Negeri dengan peradaban kuno yang luas namun menjadi jajahan Belanda yang jauh lebih kecil darinya. Untung saja, sekembalinya Raffles dari Jawa, dia segera membuat sebuah buku mengenai Jawa, History of Java. Aku membacanya, sembari mencari tahu dimana Zen ku.</p>
<p>Aku bertemu kembali dengannya lebih dari tiga puluh tahun kemudian, pada 1845, ketika Texas resmi menjadi negara bagian Amerika Serikat. Aku sudah hampir seperti gelandangan saat itu. Tak ada komunitas yang menyertaiku. Aku bersorak ketika hidungku menangkap aromanya. Dan dia di sana. Aku baru menyadari, dia sepertinya sudah menungguku. Girang yang kurasakan menutup kemungkinan itu. Ya betul, dia berdiri di sana.  Dengan sengaja, memperlihatkan dirinya di tempat sepi, bukan di tengah kerumunan. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?</p>
<p>Hampir 20 tahun kami bersama lagi. Zen, masih dengan kejutan-kejutannya. Di suatu waktu ia begitu tenang dengan senyumnya, di waktu yang lain dia begitu murung. Tapi tetap tak banyak kata yang keluar. Sepanjang yang aku kenal, kebiasaannya ini membuat Zen nampak menganggap semua persoalan bukan himpitan baginya. Seperti angin saja yang bertiup, sekencang apapun, dalam beberapa saat pasti akan menghilang. Ah, dan itu sangat mirip dirinya. Angin.</p>
<p>Aku mengiringi Jenderal <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9VbHlzc2VzX1MuX0dyYW50" target=\"_blank\" >Ullyses Grant</a> berperang di Sungai Mississippi ketika Civil War Amerika meruyak dan menggerogoti pemerintahan baru Presiden Lincoln, ketika aku tak lagi menemukan Zen di rumah. Dia sudah pergi lagi. Tanpa pesan.</p>
<p>&#8220;Kau terlalu besar buatku saat itu,&#8221;  dia selalu tahu apa yang aku pikirkan.</p>
<p>Aku terhenyak. Kaget dan bingung. Alasan apa lagi itu?</p>
<p>&#8220;Semua orang mengelukanmu. Orang kepercayaan Ullyses Grant yang tak pernah kalah dalam setiap pertempuran. Kau yang membuat Sang Jenderal dipercaya sebagai Jenderal Terbaik oleh Lincoln.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, sekarang kau yang menggampangkan,&#8221; Zen membalasku dengan telak.</p>
<p>&#8220;Pernah merasa tak dipandang sebelah mata? Ketika kau menikmati semua itu, pernah berpikir tentang aku? Ah, mungkin kau jawab iya. Tapi, seberapa besar? Sebesar inginmu saat mengendusi dimana aku berada? <em>I dont think so</em>,&#8221; dia berkobar dan menggeram, tanpa jeda. Tangannya sudah mengepal. Mungkin tinggal menunggu aku bergerak, satu inchi saja, dia sudah pasti akan menubrukku.</p>
<p>Aku diam tak bergerak.</p>
<p>Zen melanjutkan, &#8220;Kau tak lagi memikirkan aku, toh aku sudah di sampingmu. Dan itu kesalahan terbesarmu!&#8221;</p>
<p>Kenapa jadi aku yang salah? Aku mengingat saat-saat dia menghilang. Aku memang begitu menggebu menemukannya. Mencari jejaknya dan mengendusi baunya. Dulu kukira ia begitu bodoh membiarkan baunya mudah aku telusuri. Tapi sekarang aku menyadari, Zen sengaja melakukan permainan ini. Dia justru hewan buruan yang sangat pintar. Di saat naluri berburuku menggelegak, di saat aku begitu menginginkannya, dia justru sangat senang. Dia meninggalkan jejak dimana-mana untuk aku telusuri.</p>
<p>Di Jerman, 1867, ketika dia tiba-tiba aku jumpai tengah duduk di sebuah ladang dengan membaca buku <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9EYXNfS2FwaXRhbA==" target=\"_blank\" >Das Kapital</a>, karya <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9LYXJsX01hcng=" target=\"_blank\" >Karl Marx</a>.  Kami bercinta tanpa lelah, mulai malam hingga pagi di ladang itu. Keesokan harinya, dia pergi, meninggalkan buku Das Kapital cetakan pertama itu dalam pelukanku.</p>
<p>Sebelum itu, aku merasa sempat melihatnya di 1833, tapi aku tak beruntung mendapatinya tersenyum untukku. Letusan Krakatau pada 26 dan 27 Agustus itu membuat dunia kelam. Debu vulkanik menghalangi penciumanku. Aku seperti melihat bayangannya berkelebat, tapi aku tidak yakin.</p>
<p>&#8220;Itu memang aku. Sengaja mengulang jejakku, untukmu,&#8221;  dia membenarkan pikiranku.</p>
<p>Perang Dunia I di tahun 1914 hingga 1918 memiliki arti yang sangat mendalam bagi kami. Perang besar dengan melibatkan banyak sekali pasukan itu, membuat kami justru lebih merapat dan bersatu. Kami hidup berpindah-pindah lebih kerap, baik di Eropa maupun Asia, tak ada yang luput dari imbas perang ini. Tapi kami justru menikmatinya. Kami jelas tidak takut mati oleh perang, tapi kami tak ingin makin membuat para prajurit itu panik mengetahui diri kami yang sebenarnya. Sepasang vampir yang sedang kasmaran dan bisa menghabiskan satu peleton prajurit dengan sekali kibas jika sedang marah. Di saat begitu, kami lebih baik bersembunyi jika tidak ingin menjadi incaran negara-negara yang ingin memenangkan perang.</p>
<p>Kebersamaanku dengannya kini terngiang, seperti sebuah film yang terhampar dengan layar di depanku. Aku memang bersamanya, tapi agenda-agendaku  menjadi vampir yang tak sekadar menjalani keabadian juga tak pernah aku lewatkan sedikitpun. Aku ingin berjaya atas diriku sendiri. Apakah itu salah? Apakah itu yang membuatnya pergi?</p>
<p><em>bersambung di:</em></p>
<p><em><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2xhZGFuZ2thdGEuY29tLzIwMDkvMDYvMjYva2VhYmFkaWFuLWRhbi10dWthbmcta2VidW4taGFiaXMv" target=\"_blank\" >Keabadian dan Tukang Kebun (habis)</a><br />
</em></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=817" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=P0Gh0Le7J48:U83NXXDvBRw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=P0Gh0Le7J48:U83NXXDvBRw:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=P0Gh0Le7J48:U83NXXDvBRw:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=P0Gh0Le7J48:U83NXXDvBRw:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/P0Gh0Le7J48" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/22/keabadian-dan-tukang-kebun-2/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/06/22/keabadian-dan-tukang-kebun-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Keabadian dan Tukang Kebun (1)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/iEME4_4kvPM/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/21/keabadian-dan-tukang-kebun-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 12:55:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=813</guid>
		<description><![CDATA[Kau tentu tahu bagaimana bunyi denting gelas, bukan?&#8221; aku menatap lekat matanya.
Sedetik dia tahu bahwa aku sedang menghujamnya dengan pandangan yang menuntut. Dia sadar itu, kemudian mengalihkan matanya ke cangkir bulat yang sedang dipegangnya. Dia menjentikkan jarinya ke cangkir dan terdengarlah bunyi &#8216;tek!&#8217;, pelan saja, karena cangkir separuh penuh dan lebih tebal dari gelas yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL3ZpYml6bGlmZS5jb20vVXNlckZpbGVzL0ltYWdlL251bXBhbmdzZW55dW0tMjlvY3QwNy9kaW5pbmclMjBzdHVmZi9kaW5pbmcuZ2VsYXMuanBn" target=\"_blank\" ><img class="size-medium wp-image-821 alignleft" title="dininggelas" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/dininggelas-216x300.jpg" alt="dininggelas" width="216" height="300" /></a>Kau tentu tahu bagaimana bunyi denting gelas, bukan?&#8221; aku menatap lekat matanya.</p>
<p>Sedetik dia tahu bahwa aku sedang menghujamnya dengan pandangan yang menuntut. Dia sadar itu, kemudian mengalihkan matanya ke cangkir bulat yang sedang dipegangnya. Dia menjentikkan jarinya ke cangkir dan terdengarlah bunyi<em> &#8216;tek!&#8217;</em>, pelan saja, karena cangkir separuh penuh dan lebih tebal dari gelas yang kumaksud.</p>
<p>&#8220;Seperti ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan. Seharusnya lebih nyaring,&#8221; aku mencari-cari matanya lagi.</p>
<p>&#8220;Lalu kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bayangkan jika dentingnya itu bisa kau dengar sepanjang kau membuka mata. Terus berdenting, tanpa henti. Suaranya indah sekaligus menyakitkan. Bisa terbayang?&#8221; aku terus memandanginya, berharap bisa melihat bagaimana reaksi perempuan itu.</p>
<p>Bola matanya naik ke atas. Jari telunjuknya mengetuk bibir berkali-kali. Dia benar-benar membayangkan bagaimana bunyi denting gelas yang tak pernah berhenti itu.</p>
<p>&#8220;Ya, aku sudah dapat bayangannya. Lalu?&#8221; Aku mendesah. Perempuan ini suka bertingkah memang. Aku memang bilang untuk membayangkannya, tapi aku tak berharap  dia sungguh-sungguh membayangkan seperti itu. Seharusnya dia sudah langsung paham. Ah, tapi dia bukan aku. Dia tetap dia. Sepanjang tiga abad yang kukenal,  dia tidak berubah.</p>
<p>&#8220;Seperti itu rindu buatmu,&#8221; aku memutuskan tak mengomentari tingkahnya.</p>
<p><span id="more-813"></span></p>
<p>Dia terdiam. Mungkin tak mengira aku menganalogikan denting gelas itu dengan rinduku. Tak mengira aku punya rasa sekuat itu, hingga tiga abad kehidupanku. Jika memang ini boleh dibilang kehidupan.</p>
<p>&#8220;Kemana saja kau?&#8221; aku melanjutkan.</p>
<p>&#8220;Berkeliaran, berburu, sekaligus bersembunyi jika memang aku harus sembunyi,&#8221; dia menjawab ringan.</p>
<p>Aku mendesah lagi. Sepertinya dia tak pernah menganggap rasaku penting baginya, meskipun sudah ribuan kali aku mengatakan padanya. Perempuan ini datang dan pergi sekehendaknya sendiri. Bodohnya, aku selalu tak bisa mencegahnya. Bagiku, alasan terpenting aku mencintainya adalah melihatnya bahagia. Walau aku tahu, dalam daftar bahagianya, seringkali aku tak masuk hitungan. Tapi setiap kali dia tersenyum dengan mata berbinar-binar, aku luluh. Kubiarkan diriku didera rasa sakit, asal jangan dia.</p>
<p>&#8220;Zen, apakah kau akan pergi lagi?&#8221; aku menyerukan pertanyaan yang aku sudah tahu pasti jawabannya.</p>
<p>&#8220;Belum tahu&#8221;.</p>
<p>Persis seperti yang aku kira. Pertemuan ini pun, bukan karena dia yang ingin. Aku yang selalu mencoba mencegatnya di berbagai tempat. Mengendusi baunya dimanapun aku berada. Beberapa kali aku beruntung, tapi dia terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Kadang memang benar-benar sendirian. Kadang yang lain, bergerombol dengan teman-temannya. Berganti masa, teman-temannya pun berganti. Dan dia selalu bisa mengumpulkan temam-temannya yang baru.</p>
<p><em>bersambung di:<br />
</em></p>
<p><em><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2xhZGFuZ2thdGEuY29tLzIwMDkvMDYvMjIva2VhYmFkaWFuLWRhbi10dWthbmcta2VidW4tMi8=" target=\"_blank\" >Keabadian dan Tukang Kebun (2)</a><br />
</em></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=813" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=iEME4_4kvPM:14B7hoyceDE:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=iEME4_4kvPM:14B7hoyceDE:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=iEME4_4kvPM:14B7hoyceDE:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=iEME4_4kvPM:14B7hoyceDE:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/iEME4_4kvPM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/21/keabadian-dan-tukang-kebun-1/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/06/21/keabadian-dan-tukang-kebun-1/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Inspirasi Perih Fitri Nganthi Wani</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/g_8y9nnADJU/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/17/inspirasi-perih-fitri-nganthi-wani/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 03:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang budaya]]></category>

		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=794</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak perih, ketika terus berada dalam situasi gamang, ketidaktahuan dan diberangus kebersamaanya dengan seseorang yang begitu dikasihi? Fitri Nganthi Wani, baru berusia 11 tahun ketika ayahnya, Wiji Thukul dihilangkan paksa oleh Orde Baru. Hingga sekarang, Wiji Thukul belum pula kembali ke keluarganya, belum kembali bercanda dan berpelukan dengan kawan-kawannya, dan belum pula kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Siapa yang tidak perih, ketika terus berada dalam situasi gamang, ketidaktahuan dan diberangus kebersamaanya dengan seseorang yang begitu dikasihi? Fitri Nganthi Wani, baru berusia 11 tahun ketika ayahnya, Wiji Thukul dihilangkan paksa oleh Orde Baru. Hingga sekarang, Wiji Thukul belum pula kembali ke keluarganya, belum kembali bercanda dan berpelukan dengan kawan-kawannya, dan belum pula kembali ke puisi-puisinya yang sederhana, realistis sekaligus indah, meski kerap menyuarakan ketertindasan. Dan perih gadis itu, bergema ke telinga, menyodok relung hati, lewat puisi-puisinya.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-full wp-image-797 aligncenter" title="picture1" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/picture1.jpg" alt="picture1" width="573" height="381" />Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah<br />
</em></p>
<p>Peluncuran buku puisi &#8220;Selepas Bapakku Hilang&#8221; karya Fitri Nganthi Wani di Graha Bhakti Budaya semalam, sungguh menjadi sebuah pesan bahwa perih itu bukan milik Wani seorang. Kawan-kawan, simpatisan dan semua yang pernah mengenal Wiji Thukul ikut terguncang dan tak ingin berhenti berteriak, &#8220;kembalikan kawan kami!&#8221;.  Warna ini yang membuat acara peluncurannya menjadi spektakuler. Adalah Iwan Fals, Oppie Andaresta, Sitok Srengenge dan PM Toh, sederet nama besar yang ikut membacakan dan melagukan puisi Wani pada malam itu. Kemasannya bukan hanya sekadar peluncuran buku, tapi merupakan paduan hiburan sekaligus pesan pengingat. Lewat beberapa aliran lagu, mulai balada, rock, acapella, R&amp;B, kumpulan kata-kata tentang HAM, diperkaya tata lampu dan tata suara a la konser musik, mengalun begitu menawan dan membuat badan saya ikut bergoyang. Eits, bukan saya saja kok, sebelah saya Nia Damayanti ikut menaikkan tangan ke atas dan di sebelah saya yang lain, Daniel Mahendra, saya yakin juga ikut menggoyangkan kepala dan mengetukkan kakinya mengikuti irama, meskipun ringan saja, tak seheboh kami.</p>
<p><span id="more-794"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-798 aligncenter" title="picture21" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/picture21.jpg" alt="picture21" width="529" height="353" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>seluruh pendukung acara</em></p>
<p>Oke, itu satu hal yang membuat acara peluncuran begitu semarak. Hal penting lainnya adalah bagaimana Wani menggarap puisinya? Nama Wiji Thukul jelas memberikan semburat tebal bagi perjalanan Wani. Baik sebagai ayah maupun sebagai inspirator. Puisi-puisi Wani memiliki gaya yang hampir tak beda dengan ayahnya. Membumi dan menggunakan bahasa yang tidak ambigu. Tapi, dari membaca kumpulan puisinya, saya menilai, Wani berani menambahkan warna tersendiri, warna pemikiran gadis seusianya yang mencari makna cinta tanpa harus dramatis dan mendayu-dayu, memendam amarah pada rezim yang membuat keluarganya hingga kini kehilangan sosok ayah, anak yang rindu ayahnya, serta kekaguman pada ibunya. Wani berani berbicara atas namanya sendiri di panggung puisi. Bolehlah kita tengok satu puisinya yang dibacakan dengan sangat melangut di atas panggung semalam,</p>
<p><em><strong>RINDU ADIK PADA AYAH</strong><br />
Adikku sayang,<br />
Menangislah sejadimu<br />
Luapkan segala emosimu<br />
Tapi jangan kau tanya<br />
Di mana ayah kita<br />
Karena kakak tak tahu<br />
Di mana ia berada</em></p>
<p><em>Adikku sayang,<br />
Inilah nasib kita<br />
Janganlah putus asa</em></p>
<p><em>Apa yang kau inginkan dari anak lain?<br />
Mereka bisa sekolah<br />
Kau pun juga bisa<br />
Mereka bisa mainkan drum dan gitar<br />
Kau pun juga bisa</em></p>
<p><em>Apa yang kau inginkan dari mereka<br />
Kaupun bisa miliki semuanya<br />
Namun jangan kau tanya<br />
Mengapa kita tidak punya ayah<br />
Karena ibu pernah berkata<br />
Ayah kita bukan hanya ayah kita<br />
Ia kini milik banyak orang<br />
Karena ia putuskan menjadi pejuang</em></p>
<p><em>Dari itu semua, adikku<br />
Janganlah lemah walau ayah tak ada<br />
Jadikanlah semua ini awal<br />
Dari perjalanan hidupmu<br />
Untuk menjadi lelaki sejati dan pemberani</em></p>
<p><em>(7 Desember 2005)</em></p>
<p>Bisa dibayangkan emosi yang meruyak dalam diri gadis kelahiran 6 Mei 1989 itu. Sebagai kakak, yang hatinya remuk, ia berusaha mendorong adiknya, Fajar Merah, yang juga marah. Mendulangi adiknya dengan serpih kekuatan  agar sebagai satu-satunya laki-laki yang masih bertahan dan menunggu tetap tegar. Semalam, diiringi gitar Fajar Merah, Wani membacakan puisi di atas dengan sangat sangat sangat menyentuh. Bibir saya terkatup, merinding dengan lengking suara dan intonasinya yang pas. Ah Wani!</p>
<p>Di tengah marahnya, Wani tetap gadis biasa yang merasakan cinta. Di buku kumpulan puisinya bertebaran puisi-puisi tentang cinta, yang lagi-lagi sederhana namun indah. Mari, saya cuplik satu diantaranya:</p>
<p><em><strong>KIRA-KIRA</strong><br />
Kira-kira 3 taun yang lalu<br />
Kita berdekatan</em></p>
<p><em>Kira-kira 2 tahun yang lalu<br />
Kita jadian</em></p>
<p><em>Kira-kira 1 tahun yang lalu<br />
Kita bertengkar</em></p>
<p><em>Kira-kira 11 bulan yang lalu<br />
Kita bermaafan</em></p>
<p><em>Kira-kira 1 bulan yang lalu<br />
Kau kurindukan</em></p>
<p><em>Kira-kira 9 jam yang lalu<br />
Kita berpelukan</em></p>
<p><em>Kira-kira 3 jam yang lalu<br />
Pada saat mendung kelabu<br />
Ku ingin lagi bertemu</em></p>
<p><em>Kira-kira 5 menit yang lalu<br />
Ku bertanya padamu</em></p>
<p><em>Kira-kira&#8230;<br />
Maukah kau hidup bersamaku?</em></p>
<p><em>(7 Februari 1005)</em></p>
<p>Tak banyak kata mendayu,<em> melow</em> dan <em>lebay</em> dalam kletik-kletik puisi cintanya. Wani menuturkan keberaniannya dalam cinta justru dengan cara yang sederhana, namun penuh penekanan dan kepastian. Puisi cinta tak nampak romantis di tangannya, tapi menunjukkan pemahamannya yang mendalam, bahkan untuk gadis seusianya. Wani menyoal cinta dengan logika, seperti satu bait puisinya yang berjudul Sesaat Tentang Cinta,</p>
<p><em>Sekarang gadis ini menyimpulkan<br />
Cinta bagai pelajaran matematika yang membingungkan<br />
Namun dengan logika<br />
Cinta akan ada jawabannya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-full wp-image-799 aligncenter" title="picture31" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/picture31.jpg" alt="picture31" width="550" height="367" />Opening Act<br />
</em></p>
<p>Baru 20 tahun usianya, tapi inspirasi perihnya membawa kematangan berpikir dan mencipta kata dengan berani, mendalam namun tetap sederhana. Beberapa panggung budaya dan kemanusiaan pernah menjadi saksi lantang puisinya, diantaranya Malam Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2003. Wani sudah menetapkan garisnya. Tetaplah berani, Wani!</p>
<p><em><br />
</em></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=794" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=g_8y9nnADJU:mBEZwfG5zkQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=g_8y9nnADJU:mBEZwfG5zkQ:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=g_8y9nnADJU:mBEZwfG5zkQ:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=g_8y9nnADJU:mBEZwfG5zkQ:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/g_8y9nnADJU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/17/inspirasi-perih-fitri-nganthi-wani/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/06/17/inspirasi-perih-fitri-nganthi-wani/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>madeinINDONESIA(05)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/IxsTPe5QFPk/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/16/madeinindonesia05/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 05:36:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang cinta indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[ladang gambar]]></category>

		<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama tidak posting serial madeinINDONESIA. Kali ini, kembali ke rokok. Nemu di salah satu swayalan dekat rumah di Jogja.



Serial madeinINDONESIA adalah usaha (iseng) mengumpulkan barang atau produk yang memiliki label MADE IN INDONESIA. Serial ini dipersembahkan dari Indonesia untuk dunia. Kumpulan seri yang lain ada di sini
 ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama tidak posting serial madeinINDONESIA. Kali ini, kembali ke rokok. Nemu di salah satu swayalan dekat rumah di Jogja.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-773 aligncenter" title="picture3" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/picture3-269x300.jpg" alt="picture3" width="295" height="330" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-774 aligncenter" title="picture2" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/picture2-300x235.jpg" alt="picture2" width="300" height="235" /></p>
<p>Serial madeinINDONESIA adalah usaha (iseng) mengumpulkan barang atau produk yang memiliki label MADE IN INDONESIA. Serial ini dipersembahkan dari Indonesia untuk dunia. Kumpulan seri yang lain ada <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2xhZGFuZ2thdGEuY29tL2NhdGVnb3J5L3BpY3R1cmVzcXVlL2xhZGFuZy1jaW50YS1pbmRvbmVzaWEv" target=\"_blank\" >di sini</a></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=772" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=IxsTPe5QFPk:P506jbd2vvE:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=IxsTPe5QFPk:P506jbd2vvE:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=IxsTPe5QFPk:P506jbd2vvE:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=IxsTPe5QFPk:P506jbd2vvE:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/IxsTPe5QFPk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/16/madeinindonesia05/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/06/16/madeinindonesia05/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>jejak untuk pulang</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/aaWAvRFZglA/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/15/jejak-untuk-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 19:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=759</guid>
		<description><![CDATA[penjelajah penjelajah kecil itu terbang
menyongsong matahari di balik cakrawala
kepak sayapnya membumbung lebar
menerjang angin, menantang udara


aku menggeliat di antara mereka
berkelana menyerbu takdir yang memerah
aku dengan sayap kecil terbentang
menyongsong sebuah senyum yang merekah


pelukan bapakku kukantongi 
tangisan ibuku kupilin dalam jemari
adikku, dia hanya berdiam diri
dalam pandangan nanar tak mengerti


bapak, ibu, adik&#8230;kali ini aku benar pergi
aku yang selalu bersahabat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">penjelajah penjelajah kecil itu terbang</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">menyongsong matahari di balik cakrawala</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">kepak sayapnya membumbung lebar</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">menerjang angin, menantang udara</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">aku menggeliat di antara mereka</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">berkelana menyerbu takdir yang memerah</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">aku dengan sayap kecil terbentang</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">menyongsong sebuah senyum yang merekah</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">pelukan bapakku kukantongi </span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">tangisan ibuku kupilin dalam jemari</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">adikku, dia hanya berdiam diri</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">dalam pandangan nanar tak mengerti</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">bapak, ibu, adik&#8230;kali ini aku benar pergi</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">aku yang selalu bersahabat dengan perih</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">tolong, lepaskan benang yang melingkar di kaki</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">agar aku mampu menjalinnya sendiri</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">peganglah sebuah untaian kata</span></div>
<div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">kemanapun aku bergerak</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">kemanapun aku mengepak</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">aku tak lupa meninggalkan jejak</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">remah remah kenang itu kulepas di sana</span></div>
<div><span style="font-family: Trebuchet MS; font-size: small;">agar aku tak lupa untuk pulang</span></div>
</div>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=759" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=aaWAvRFZglA:PFs5oxHLVhE:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=aaWAvRFZglA:PFs5oxHLVhE:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=aaWAvRFZglA:PFs5oxHLVhE:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=aaWAvRFZglA:PFs5oxHLVhE:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/aaWAvRFZglA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/15/jejak-untuk-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/06/15/jejak-untuk-pulang/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Buku dan Film: Dua Sisi Mata Uang atau Keping Puzzle?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/7Ay7aHjWrNk/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/08/buku-dan-film-dua-sisi-mata-uang-atau-keping-puzzle/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 21:17:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=732</guid>
		<description><![CDATA[
Dua media hiburan itu kini makin saling erat bertautan. Film yang diadaptasi dari novel atau karya sastra lainnya, kerap diharapkan menjadi penggenap citra yang sudah dimuntahkan lewat kata-kata. Ada yang berhasil, bahkan ada yang melebihi harapan, tapi banyak yang dikritik habis-habisan karena jauh dari citra yang sudah melekat di kepala. Yang terakhir ini ikut membuktikan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em></p>
<p>Dua media hiburan itu kini makin saling erat bertautan. Film yang diadaptasi dari novel atau karya sastra lainnya, kerap diharapkan menjadi penggenap citra yang sudah dimuntahkan lewat kata-kata. Ada yang berhasil, bahkan ada yang melebihi harapan, tapi banyak yang dikritik habis-habisan karena jauh dari citra yang sudah melekat di kepala. Yang terakhir ini ikut membuktikan, kadang kata-kata lebih liar menerobos alam imajinasi, ketimbang gambar-gambar yang sudah diatur dari <em>scene </em>ke <em>scene. </em></p>
<p><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL3d3dy50aGV3cml0ZXJzY29pbi5jb20vd3AtY29udGVudC91cGxvYWRzLzIwMDgvMDUva2l0ZS1ydW5uZXIuanBn" target=\"_blank\" ><img class="size-full wp-image-741 alignright" title="kite-runner" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/kite-runner.jpg" alt="kite-runner" width="132" height="193" /></a>Dalam hal tautan antara buku dan film, kebiasaan lama saya adalah membaca bukunya dulu baru menonton film. Lagipula, jika memang diadaptasi dari buku, jelas bukunya keluar dulu baru muncul ide membuat filmnya. Beberapa buku yang saya baca, kemudian saya tonton filmnya: <em><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9YLU1lbg==" target=\"_blank\" ><strong>X-Men</strong> </a>(Stan Lee &amp; Jack Kirby untuk Marvel Comics Universe), <strong><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2h0dHA6Ly9lbi53aWtpcGVkaWEub3JnL3dpa2kvVGhlX0Nocm9uaWNsZXNfb2ZfTmFybmlh" target=\"_blank\" >The Chronicles of Narnia</a>: The Lion, The Witch and The Wardrobe </strong>dan <strong>Prince Caspian</strong> (C.S. Lewis), <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9UaGVfRGFfVmluY2lfQ29kZQ==" target=\"_blank\" ><strong>The Da Vinci Code</strong> (</a>Dan Brown), <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9LaXRlX1J1bm5lcg==" target=\"_blank\" ><strong>Kite Runner</strong></a> (Khaled Hosseini), <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2lkLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9MYXNrYXJfUGVsYW5naQ==" target=\"_blank\" ><strong>Laskar Pelangi</strong></a> (Andrea Hirata), <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL3d3dy5uaWNob2xhc3NwYXJrcy5jb20vTm92ZWxzL01lc3NhZ2VJbkFCb3R0bGUvSW5kZXguaHRtbA==" target=\"_blank\" ><strong>Message in a Bottle</strong></a> (Nicholas Sparks) </em>dan beberapa lagi yang sekarang sedang lepas dari ingatan saya.</p>
<p>Menonton film-film adaptasi itu, sama menghiburnya dengan menonton film-film lain yang tak berkait dengan buku. Sayangnya, kepala saya sudah punya intensi sendiri tentang kisah yang diangkat. Dan sayang yang kedua kalinya, apa yang di kepala saya ternyata lebih liar daripada gambar-gambar itu. Yang saya nikmati kemudian adalah sajian <em>special effect</em> (jika ada) atau iseng mencari perubahan cerita atau bahkan <em>bloopers</em>. Karena itu, dalam kasus buku dan film, sekarang ini saya berusaha untuk tidak membawa intensi saya dalam gedung bioskop atau ruang menonton TV (melalui DVD). Di luar itu, saya punya metode lain untuk membuat sebuah film tidak menjatuhkan imaji yang saya dapatkan dari membaca buku. Saya mencobanya di film-film kolosal yang memang sangat menggoda untuk menyandingkan buku dengan filmnya.</p>
<p><span id="more-732"></span></p>
<p><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL3d3dy5kb3dubG9hZGZ1bGxvbmxpbmVtb3ZpZS5jb20vd3AtY29udGVudC91cGxvYWRzLzIwMDkvMDEvdHJhbnNmb3JtZXItbW92aWUuanBn" target=\"_blank\" ><img class="size-full wp-image-735 alignleft" title="transformer-movie" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/transformer-movie.jpg" alt="transformer-movie" width="168" height="168" /></a>Serial <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2hhcnJ5cG90dGVyLndhcm5lcmJyb3MuY29tLw==" target=\"_blank\" ><strong>Harry Potter</strong></a> dan <strong><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9UaGVfTG9yZF9vZl90aGVfUmluZ3NfZmlsbV90cmlsb2d5" target=\"_blank\" >The Lord of The Ring</a>, <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9KdW1wZXJfKGZpbG0p" target=\"_blank\" >Jumper</a> </strong>dan<strong> <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL3d3dy50cmFuc2Zvcm1lcnNtb3ZpZS5jb20v" target=\"_blank\" >Transformer</a> </strong> (yang juga akan jadi serial) adalah film yang sukses menyundul jempol saya terangkat (khusus untuk Transformer, saya menjura untuk <em>special effectnya</em>). Film-film itu saya tonton, tanpa membaca bukunya terlebih dahulu. Saya memutuskan untuk tak merubah persepsi saya lagi, dengan tetap tidak membaca bukunya, seusai menonton. Saya biarkan genangan ingatan saya pada Harry Potter  berujung pada sosok <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL3d3dy5kYW5yYWRjbGlmZmUuY29tLw==" target=\"_blank\" ><strong>Daniel Radcliffe</strong></a> dan meletakkan sosok <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9PcmxhbmRvX0Jsb29t" target=\"_blank\" ><strong>Orlando Bloom</strong></a> untuk Legolas Greenleaf di Lord of The Ring. Saya biarkan hati terlena dengan <em>long coat</em> <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9IYXlkZW5fQ2hyaXN0ZW5zZW4=" target=\"_blank\" ><strong>Hayden Christensen</strong></a> ketika memerankan David Rice di Jumper atau mengenang suara <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9PcHRpbXVzX1ByaW1l" target=\"_blank\" ><strong>Optimus Prime</strong></a> yang bariton, namun lembut. Saya cukupkan sampai di situ saja. Film itu sudah cukup meyakinkan dan menganggumkan. Ini metode pertama. Dan berhasil! Film-film kolosal itu tetap menempati ruang dengan tirai indah di hati saya.</p>
<p>Nah metoda kedua. Saya baru melakukan percobaannya dengan Twilight. Ketika <strong><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL3d3dy50aGV0d2lsaWdodHNhZ2EuY29tLw==" target=\"_blank\" >Twilight Saga</a> </strong><em>(Stephenie Meyer) </em>masuk ke jaringan toko buku, saya sengaja menahan diri untuk tidak membelinya. Karena, saya sudah mendengar, filmnya akan segera beredar juga. Saya tekankan pada diri sendiri bahwa masih tak layak untuk membeli bukunya sebelum membuktikan kehebatan ceritanya di film. Pikir saya, jika di film memukau, maka serialnya yang total seharga Rp295.000 itu bisa layak jadi koleksi.</p>
<p>Oke, <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL3R3aWxpZ2h0dGhlbW92aWUuY29tLw==" target=\"_blank\" ><strong>Twilight</strong> </a>sudah saya tonton. Sedikit terlambat memang. Film ini sudah heboh sejak semester awal tahun 2009, dan saya baru menontonnya kemarin! Film berdurasi 121 menit itu membuat saya terpesona dengan <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9Sb2JlcnRfUGF0dGluc29u" target=\"_blank\" ><strong>Robert Pattinson</strong> </a>yang memerankan Edward Cullen, si vampir tampan dan kecuekan <a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9LcmlzdGVuX1N0ZXdhcnQ=" target=\"_blank\" ><strong>Kristen Stewart</strong> </a>sebagai Bella Swan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL3d3dy52aXZhZ29hbC5jb20vaW1hZ2VzL3dhbGxwYXBlcnMvdHdpbGlnaHQuanBn" target=\"_blank\" ><img class="size-full wp-image-744 aligncenter" title="twilight" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/twilight.jpg" alt="twilight" width="349" height="277" /></a></p>
<p>Saya menimbang, apakah saya akan bertahan seperti metode pertama atau masuk ke metode kedua, dengan segera membeli bukunya? Ah, saya tak tahan, saya yakin ada yang tercecer dari novelnya dan tidak termaktub di film. Saya putuskan untuk membeli bukunya. Seharian membacanya, dan benar juga, dialog-dialog memikat antara Bella dan Edward dalam buku serasa memancarkan aura cinta yang lebih pekat. Karakter mereka menjadi lebih kuat. Saya merasakan metode kedua ini bukan saling menghancurkan, tapi bagi saya justru saling melengkapi. Film tak jatuh citranya di benak saya, lalu melengkapinya dengan novel, meskipun serasa seperti menonton film ulang, memperkuat pesona kedua tokoh remaja itu.</p>
<p>Eh, eh..terlepas dari segala metode ini semua, kalian boleh tetap saja menganggap buku dan film itu hiburan semata. Jangan terlalu dianggap seriuslah. Saya menulis ini juga karena sedang tidak bisa tidur hehhehe&#8230;</p>
<p>Tetap baca..tetap nonton film! Biarkan saja, apakah mereka dua sisi mata uang atau keping <em>puzzle</em> yang melengkapi. Keduanya tetap bisa menggelilitik rasa, menjadi cermin bagi kehidupan nyata jika kita bisa belajar dari keduanya atau paling tidak memberi hiburan.</p>
<p><em>Catatan:</em></p>
<p><em>Film selanjutnya: Angels and Demon..menggunakan metode melepaskan intensi..karena sudah baca bukunya.</em></p>
<p><em>Selanjutnya lagi, yang paling saya tunggu sepanjang satu tahun terakhir: Transformer 2: Revenge of the Fallen (rencana release Juni 2009)</em></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=732" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=7Ay7aHjWrNk:c3nANdOz8Ds:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=7Ay7aHjWrNk:c3nANdOz8Ds:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=7Ay7aHjWrNk:c3nANdOz8Ds:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=7Ay7aHjWrNk:c3nANdOz8Ds:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/7Ay7aHjWrNk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/08/buku-dan-film-dua-sisi-mata-uang-atau-keping-puzzle/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/06/08/buku-dan-film-dua-sisi-mata-uang-atau-keping-puzzle/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jadi, Ini Kosong?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/NoYCsDmKtO4/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/06/kosong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 17:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang &#8216;kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Aku-Chairil Anwar)
Jadi ini yang disebut kosong? Atau nol? Mungkin nadir? Entah kali keberapa  sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kalau sampai waktuku<br />
Ku mau tak seorang &#8216;kan merayu<br />
Tidak juga kau</em></p>
<p><em>Tak perlu sedu sedan itu</em></p>
<p><em>Aku ini binatang jalang<br />
Dari kumpulannya terbuang</em></p>
<p><em>Biar peluru menembus kulitku<br />
Aku tetap meradang menerjang</em></p>
<p><em>Luka dan bisa kubawa berlari<br />
Berlari<br />
Hingga hilang pedih peri</em></p>
<p><em>Dan aku akan lebih tidak perduli</em></p>
<p><em>Aku mau hidup seribu tahun lagi<br />
(Aku-Chairil Anwar)</em></p>
<p>Jadi ini yang disebut kosong? Atau nol? Mungkin nadir? Entah kali keberapa  sudah memagut. Seperti tak jera. Jika saja hati bisa kuraih dan kutunjuk-tunjuk, sudah seribu kata aku semburkan di hadapannya. Sayang, melongok hati sendiri saja sudah membuat kepala sakit.</p>
<p>Biasanya bukan kosong seperti ini yang datang, biasanya justru penuh dan menyesakkan. Biasanya berdebam di dada, seperti dihimpit dua buah truk container besar dari kiri dan kanan. Menggapai udara, tapi tak satu atom oksigen pun bisa terangkum. Tersengal-sengal dan tersaruk dalam napas.</p>
<p>Tapi ini berbeda. Kosong. Seperti duduk diam di hampa udara, dimana lengkungan waktu membentuk kurva dengan begitu gamblangnya. Hanya bayangan-bayangan, kilasan-kilasan, tapi tanpa ada gerak. Karena ini ruang hampa. Andai terucap juga tanya, &#8220;<em>Apa yang kau rasakan?&#8221;</em> aku sudah tak lagi punya jawabannya. Terlalu perih, hingga kosong dan menghampa. Tercabik-cabik, hingga tak tahu lagi, kata utuh itu harus dimulai dari mana.</p>
<p>Jadi, seperti ini kosong? Yang aku tahu kosong tanpa suara. Lalu kenapa masih ada bongkah-bongkah bunyi di telingaku. Membentak dan menuntut jawab, &#8220;Kenapa kau masih di sini?&#8221; terus berdengung dan melibas. Tak pernah ada jawaban yang memuaskan. Ruam-ruam luka sudah menganga, sementara tanganku terus menggenggam bom waktu. Pemicunya sudah menyala, tinggal menunggu waktu untuk meledak dalam tanganku.</p>
<p>Ya, ini kosong, dengan segala kesempurnaannya. Udara yang hampa, semua benda yang tak lagi masif nampaknya, suara-suara yang lalu lalang tanpa ampun, dan aku yang melayang terluka..aku, dalam kosong yang sepi berteriak: aku memang  binatang jalang! Bisakah hidupku seribu tahun lagi?</p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=662" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=NoYCsDmKtO4:gwxlFebUmCc:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=NoYCsDmKtO4:gwxlFebUmCc:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=NoYCsDmKtO4:gwxlFebUmCc:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=NoYCsDmKtO4:gwxlFebUmCc:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/NoYCsDmKtO4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/06/kosong/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/06/06/kosong/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Surabaya dalam Kata</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Ladangkata/~3/GFc_AzJ-Dxg/</link>
		<comments>http://ladangkata.com/2009/06/01/surabaya-dalam-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 12:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lisa Febriyanti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ladang bahasa]]></category>

		<category><![CDATA[ladang inspirasi]]></category>

		<category><![CDATA[ladang kreasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ladangkata.com/?p=719</guid>
		<description><![CDATA[Dipersembahkan untuk Creative Theme Day#1 (Juni 2009)


 ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dipersembahkan untuk Creative Theme Day#1 (Juni 2009)</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-720" title="ctd01" src="http://ladangkata.com/wp-content/uploads/2009/06/ctd01.jpg" alt="ctd01" width="591" height="214" /></p>
<p align="right"><a href="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?url=aHR0cDovL2NyZWF0aXZldGhlbWVkYXkuY29t" ><img src="http://creativethemeday.com/images/banner_ctd125_03.gif" alt="Creative Theme Day" width="61" height="61" /></a></p>
 <img src="http://ladangkata.com/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=719" width="1" height="1" style="display: none;" /><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=GFc_AzJ-Dxg:n1q09dJWyKw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=GFc_AzJ-Dxg:n1q09dJWyKw:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?i=GFc_AzJ-Dxg:n1q09dJWyKw:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?a=GFc_AzJ-Dxg:n1q09dJWyKw:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Ladangkata?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Ladangkata/~4/GFc_AzJ-Dxg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladangkata.com/2009/06/01/surabaya-dalam-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://ladangkata.com/2009/06/01/surabaya-dalam-kata/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
