<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>ASUHAN KEPERAWATAN</title><description>ASUHAN KEPERAWATAN, ASKEP, KUMPULAN ASUHAN KEPERAWATAN, KUMPULAN ASKEP, KEPERAWATAN</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Muhammad Nurjayadi)</managingEditor><pubDate>Sun, 9 Aug 2026 15:07:53 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">997</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://anakkomik.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>ASUHAN KEPERAWATAN, ASKEP, KUMPULAN ASUHAN KEPERAWATAN, KUMPULAN ASKEP, KEPERAWATAN</itunes:subtitle><itunes:category text="Health"><itunes:category text="Alternative Health"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Askep Sinusitis </title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2016/06/askep-sinusitis.html</link><category>askep</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 1 Jun 2016 18:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-7260637937972380242</guid><description> 
Askep KMB 
 A. Pengertian
Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus.


B. Etiologi

 Rinogen
 Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :
 Rinitis Akut (influenza)
 Polip, septum deviasi
 Dentogen
 Penjalaran infeksi dari gigi geraham atas

 Penyebabnya adalah kuman :
 Streptococcus pneumoniae
 Hamophilus influenza
 Steptococcus viridans
 Staphylococcus aureus
 Branchamella catarhatis


C. Tanda dan Gejala

 Febris, pilek kental, berbau, bisa bercampur darah
 Nyeri pada :
 Pipi : biasanya unilateral
 Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari
 Gigi (geraham atas) homolateral.
 Hidung :
 buntu homolateral
 Suara bindeng


D. Pemeriksaan Penunjang

 Rinoskopi anterior :
 Mukosa merah
 Mukosa bengkak
 Mukopus di meatus medius
 Rinoskopi postorior
 Mukopus nasofaring
 Nyeri tekan pipi yang sakit
 Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit
 X Foto sinus paranasalis
 Kesuraman
 Gambaran “airfluidlevel”
 Penebalan mukosa


E. Penatalaksanaan

 Drainage
 Medical :
 Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak)
 Dekongestan oral :Psedo efedrin 3 X 60 mg
 Surgikal : irigasi sinus maksilaris.
 Antibiotik diberikan dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu :
 Ampisilin 4 x 500 mg
 Amoksilin 3 x 500 mg
 Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet
 Diksisiklin 100 mg/hari
 Simtomatik
 Prasetamol, metampiron 3 x 500 mg.
 Untuk kronis adalah :
 Cabut geraham atas bila penyebab dentogen
 Irigasi 1 x setiap minggu (10-20)
 Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)


Download Askep Sinusitis di sini dan di sini


Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis

A. Pengkajian

 Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,
 Riwayat Penyakit sekarang : penderita mengeluah hidung tersumbat,kepala pusing, badan terasa panas, bicara bendeng.
 Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan.
 Riwayat penyakit dahulu :
 Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma
 Pernah mempunyai riwayat penyakit THT
 Pernah menedrita sakit gigi geraham
 Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.
 Riwayat spikososial
 Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih)
 Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
 Pola fungsi kesehatan
 Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat
 Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping.
 Pola nutrisi dan metabolisme
 Biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung
 Pola istirahat dan tidur
 Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek
 Pola Persepsi dan konsep diri
 Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun
 Pola sensorik
 Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).
 Pemeriksaan fisik
 status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.
 Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa merah dan bengkak).


B. Diagnosa Keperawatan

 Nyeri : kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung
 Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis(irigasi sinus/operasi)
 Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang mengental
 Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu., nyeri sekunder peradangan hidung
 Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus
 Gangguan konsep diri berhubungan dengan bau pernafasan dan pilek


C. Intervensi

 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung
 Tujuan : Nyeri klien berkurang atau hilang
 Kriteria hasil :
 Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang
 Klien tidak menyeringai kesakitan.

 Intervensi :
 Kaji tingkat nyeri klien
 R/: Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya
 Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya
 R/: Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri
 Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi
 R/: Klien mengetahui tehnik distraksi dn relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri
 Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien
 R/: Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.
 Kolaborasi dengan tim medis :
 Terapi konservatif :
 Obat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung
 Drainase sinus
 Pembedahan :
 Irigasi Antral : Untuk sinusitis maksilaris
 Operasi Cadwell Luc
 R/: Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien

 Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (irigasi/operasi)
 Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang
 Kriteria hasil:
 Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya
 Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.

 Intervensi :
 Kaji tingkat kecemasan klien
 R/: Menentukan tindakan selanjutnya
 Berikan kenyamanan dan ketentaman pada klien :
 Temani klien
 Perlihatkan rasa empati(datang dengan menyentuh klien)
 R/: Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan
 Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti
 R/: Meingkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif
 Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :
 Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang
 Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan
 R/: Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien.
 Observasi tanda-tanda vital
 R/: Mengetahui perkembangan klien secara dini.
 Bila perlu, kolaborasi dengan tim medis
 R/: Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien


 Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi (penumpukan secret hidung) sekunder dari peradangan sinus
 Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret (seous, purulen) dikeluarkan
 Kriteria hasil :
 Klien tidak bernafas lagi melalui mulut
 Jalan nafas kembali normal terutama hidung

 Intervensi :
 Kaji penumpukan secret yang ada
 R/: Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya
 Observasi tanda-tanda vital
 R/: Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi
 Koaborasi dengan tim medis untuk pembersihan sekret
 R/: Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah


DAFTAR PUSTAKA
Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000
Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan FK Unair, Pedoman diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair, Surabaya
Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cara Cepat Hamil  </title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2016/06/cara-cepat-hamil.html</link><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 1 Jun 2016 18:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-6757851067047395141</guid><description>Setiap pasangan yang baru menikah umumnya menginginkan bagaimana supaya cepat hamil. Ada juga yang pengen cepat hamil agar bayinya bisa lahir sesuai dengan waktu yang di rencanakan misalnya tanggal yang cantik, supaya bersamaan bulan dan atau tanggal lahir (tentunya dengan cesar) dan berbagai alasan lainnya. Berikut ini ada cara-cara yang dapat dilakukan agar bisa cepat hamil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;1. Tentukan dan pastikan kapan terjadinya ovulasi&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Inilah rahasia terbesar cara cepat hamil yang utama. Karena setiap bulannya wanita hanya berteluir sekali saja dan memiliki batas waktu, dimana sel telur akan mati jika tidak dibuahi. Terdapat berbagai cara untuk mendeteksi adanya ovulasi. Kalau ingin cepat hamil, dianjurkan memakai kit prediksi ovulasi dengan mengukur kadar hormon LH dalam air seni. Cara dengan sistem kalender sering tidak akurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;2. Lakukan hubungan seksual di saat yang tepat&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Setelah ovulasi sudah bisa ditentukan, maka lakukan hubungan seks disaat yang paling subur yaitu 3 hari sebelum ovulasi dan saat hari ovulasi. Pastikan juga pasangan sudah mengeluarkan sperma 4 hari sebelum ovulasi, agar dihasilkan sperma yang baik(tidak banyak yang mati).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;3. Lakukan hubungan seksual dengan posisi yang baik&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Posisi yang dianjurkan agar cepat hamil adalah wanita di bawah (missionary). setelah melakukan hubungan, dianjurkan untuk tetap di posisi berbaring setidaknya 15 menit. Karena dalam satu penelitian pada inseminasi buatan, dengan diam 15 menit-an, angka untuk jadi hamil meningkat menjadi 50%. Lagian kan gak ada susahnya untuk tetap berada di posisi berbaring beberapa saat setelah berhubungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;4. Lakukan hubungan sex dengan relax dan enjoy&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Karena desakan agar segera hamil, maka aktifitas sex tidak bisa lagi dinikmati dan dilakukan dengan rasa gelisah. Kelenjar hypothalamus di otak yang mengatur ovulasi, tidak akan bekerja secara normal jika dalam kondisi stress.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;5. Menjaga kualitas sperma&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Sperma akan memiliki kesempatan yang lebih bagus untuk membuahi jika spermanya sehat, kuat dan banyak. Berikut ini upaya yang dapat dilakukan agar bisa mendapatkan kondisi seperti diatas : hindari alkohol dan merokok. Makan makanan yang mengandung Zinc, asam folat, calcium vitamin C dan D. Hindari hal-hal yang mengganggu produksi sperma seperti sauna, berendam panas dll&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;6. Persiapakan tubuh untuk menerima kehamilan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Berhenti merokok, minum alkohol serta obat2an (narkoba). Periksa kesehatan apakah ada penyakit yang bisa mempengaruhi kesuburan dan kehamilan.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Apakah saya hamil ?</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2016/06/apakah-saya-hamil.html</link><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 1 Jun 2016 18:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-1359645811956584397</guid><description>Jika kamu seorang wanita dan melakukan hubungan seks tanpa proteksi (tanpa kontrasepsi) kamu bisa saja hamil. Kehamilan sangat mungkin terjadi jika melakukan hubungan seks. Banyak rumor tentang kapan dan dimana kamu bisa hamil. Berikut ini penjelasan singkatnya, Jangan dengarkan omongan orang yang gak jelas, karena justru akan membuat kamu bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang benar adalah, kehamilan bisa terjadi walaupun :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Baru pertama kali berhubungan seks&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kapan saja bisa terjadi, termasuk berhubungan saat haid&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahkan "tembak di luar" pun masih ada kemungkinan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahkan saat haid tidak datang melakukan hubungan seks&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mau posisi apapun juga, termasuk posisi berdiri&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Segera berdiri , melompat juga setelah berhubungan tidak bisa mencegah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak orgasme&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Apa tanda2 hamil ?&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Tanda pertama hamil adalah tidak datang bulan/terlambat bulan. Gejala lain kehamilan berupa : nyeri payudara, mual muntah, rasa letih dan sering pipis. Selanjutnya lakukan tes kehamilan. Test ini bisa dibeli bebas di Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Kapan tes kehamilan dapat dilakukan ?&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Test dapat dilakukan saat hari haid seharusnya datang. Jika tidak pasti kapan haid, maka lakukan tes 21 hari setelah melakukan hubungan seks tanpa perlindungan (kontrasepsi). Tes di katakan positif jika terdapat 2 garis merah pada tes strip.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title> Disfungsi Simfisis Pubis (SPD=Symhysis Pubis Dysfunction)</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2016/06/disfungsi-simfisis-pubis-spdsymhysis.html</link><category>kebidanan</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 1 Jun 2016 18:01:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-7312221745558562170</guid><description>Simfisis Pubis Disfungsi adalah nyeri panggul yang kuat sehingga penderita jadi susah untuk berjalan naik tangga, serta gerakan-gerakan lainnya yang mempergunakan tulang-tulang panggul. Simfisis pubis (KLIK TUK LIHAT) adalah pertemuan antara tulang pinggul kiri dan kanan di bagian depan tubuh tepat di atas kemaluan (pubis).&lt;br /&gt;
Angka kejadiannya sekitar 35%. Nyeri ini terjadi akibat terpisahnya (separasi) simfisis pubis. &amp;nbsp;Area di simfisis pubis sebetulnya terdiri dari tulang rawan. Selama kehamilan hormon seperti relaxin melembutkan tulang rawan ini supaya rongga panggul menjadi lebih fleksibel buat persalinan. Pada beberapa wanita terjadi peregangan yang berlebih, sehingga daerah ini menjadi nyeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sebagian wanita, nyeri ini sudah mulai dirasakan di awal-awal kehamilan sementara yang lainnya mengalaminya saat bersalin atau bahkan setelah persalinan (masa nifas). &amp;nbsp;Yang pernah mengalami di kehamilan sebelumnya tidak harus selalu muncul di kehamilan berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyeri SPD bisa dirasakan saat di sentuh di bagian depan panggul. Nyeri juga bisa dirasakan pada perut bagian bawah, pinggul, paha dalam dan ari-ari. Nyeri semakin terasa jika dibawa berjalan, menaiki tangga, mengangkat kaki atau gerakan-gerakan lain yang mempergunakan panggul. Kadang terdengar juga bunyi clicking.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan berupa USG jika masih dalam kondisi hamil. Rontgen dan x-ray panggul / scanning MRI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengobatan bisa diberikan penghilang rasa sakit (analgetik) serta di lakukan fisioterapi. Oleh fisoterapis bisa dilakukan terapi dengan alat TENS (Transutaneous Electronic Nerve Stimulation) guna menghilangkan sakitnya. Tali pinggang pendukung (support belts) juga dapat di pakai. Pengobatan tambahan lainnya juga bisa dilakukan jika memang ada seperti : akupunktur, pijat refleksi, aromaterapi, herbal dan lain lain. Yang semuanya bertujuan meminimalisir nyeri. SPD tidak bisa di cegah. Kondisi ini akan membaik setelah persalinan. Selama hamil diusahakan untuk mengurangi/menghindari gerakan panggul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persalinan pervaginam masih bisa dilakukan. Posisi terbaik untuk melahirkan adalah "all-fours" (berlutut dengan tangan) atau posisi menyamping (side-lying). Kaki tidak boleh di buka lebar. Karena posisi ini akan memperburuk nyerinya. Jika nyeri menjadi berat, dapat dilakukan tindakan pembiusan yang sekaligus pembiusan persalinan (anestesi regional)</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title> Laminaria</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2016/06/laminaria.html</link><category>kebidanan</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 1 Jun 2016 17:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-3111891380595561477</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7GLAGD-u3q520FUQrKqrl-hbw17GKHLfxfzp0YnA0evrFRY8Ivx_v1gvzVmlF7QtqSC7LttkIZ3kvCf8YYrKMP6okk_gMRju5r2Z36gXhtV3xtsYWRYBtVyLFp4sNTvEPOsaMAGHO9us/s1600/laminaria3b.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Laminaria" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7GLAGD-u3q520FUQrKqrl-hbw17GKHLfxfzp0YnA0evrFRY8Ivx_v1gvzVmlF7QtqSC7LttkIZ3kvCf8YYrKMP6okk_gMRju5r2Z36gXhtV3xtsYWRYBtVyLFp4sNTvEPOsaMAGHO9us/s1600/laminaria3b.jpg" title="Laminaria" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Laminaria berasal dari batang Laminaria Japonica dan Laminaria digitate. Laminaria adalah rumput laut yang banyak tumbuh dan dibudidayakan di Korea, Cina, dan Jepang. Hal ini sudah tercatat dalam literatur Cina kuno sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu. Selama 100 tahun terakhir Laminaria telah digunakan di Amerika Serikat. Panjangnya lebih kurang 6-7 cm dan diamternya 2 - 3 mm. Laminaria dikemas dan disterilkan menggunakan radiasi gamma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laminaria digunakan untuk membuka leher rahim guna evakuasi kehamilan misalnya pada BO atau janin mati. Laminaria bekerja secara hidroskopik yaitu menyerap air dari leher rahim, lalu mengembang secara perlahan2 membuka leher rahim. Laminaria juga merangsang pembentukan dan pelepasan prostaglandin yang menyebabkan perubahan lokal di leher rahim berupa pematangan leher rahim(lunak dan melebar) sehingga lebih mudah didilatasi dengan alat (dilatator) agar evakuasi isi rahim lebih mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika tindakan evakuasi di paksa (hanya dengan dilatasi saja) maka risiko cidera pada leher rahim besar berupa robekan leher rahim, kerusakan pada otot-otot leher rahim , inkompetensi leher rahim (terjadi keguguran dini karena leher rahim tidak mampu menahan kehamilan), rahim perforasi (tembus/berlubang), cedera usus, perdarahan, atau kematian ibu. Tingkat komplikasi berkurang sebesar 20 sampai 40% dengan menggunakan Laminaria. Laminaria dimasukkan ke dalam leher rahim, bisa 1 saja atau bahkan sampai 6 batang pada kehamilan awal trimester 2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laminaria dibiarkan selama 3-24 jam. Semakin besar usia kehamilan, maka semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk proses pematangan leher rahim. Pasien bisa tetap bekerja di kantor tiga sampai empat jam sebelum dilakukan prosedur evakuasi isi rahim. Atau boleh pulang baru datang pada keesokan harinya untuk dilakukan evakuasi isi rahim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komplikasi pemasangan laminaria yang dapat terjadi berupa sulit melepaskan, masuk kedalam rahim, impactment (terjebak di dalam) di leher rahim, putus dari ujung ke ujung. Komplikasi2 ini jarang terjadi jika Laminaria dipasang secara benar dan hati-hati ditempatkan langsung di dalam leher rahim. Komplikasi lain termasuk kram pada saat pemasangan. Ada beberapa kasus yang dilaporkan terjadi reaksi alergi terhadap laminaria (anafilaksis) dan infeksi.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7GLAGD-u3q520FUQrKqrl-hbw17GKHLfxfzp0YnA0evrFRY8Ivx_v1gvzVmlF7QtqSC7LttkIZ3kvCf8YYrKMP6okk_gMRju5r2Z36gXhtV3xtsYWRYBtVyLFp4sNTvEPOsaMAGHO9us/s1600/laminaria3b.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7GLAGD-u3q520FUQrKqrl-hbw17GKHLfxfzp0YnA0evrFRY8Ivx_v1gvzVmlF7QtqSC7LttkIZ3kvCf8YYrKMP6okk_gMRju5r2Z36gXhtV3xtsYWRYBtVyLFp4sNTvEPOsaMAGHO9us/s1600/laminaria3b.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7GLAGD-u3q520FUQrKqrl-hbw17GKHLfxfzp0YnA0evrFRY8Ivx_v1gvzVmlF7QtqSC7LttkIZ3kvCf8YYrKMP6okk_gMRju5r2Z36gXhtV3xtsYWRYBtVyLFp4sNTvEPOsaMAGHO9us/s72-c/laminaria3b.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PERSIAPAN KURETASE DAN PERAWATAN SETELAH KURETASE</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2016/05/persiapan-kuretase-dan-perawatan.html</link><category>kebidanan</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Tue, 31 May 2016 19:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-858774998082800404</guid><description>Pengertian Kuretase&lt;br /&gt;
Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi memakai alat kuretase (sendok kerokan).&lt;br /&gt;
Kuretase adalah serangkaian proses pelepasan jaringan yang melekat pada dinding kavum uteri dengan melakukan invasi dan memanipulasi instrument (sendok kuret) ke dalam kavum uteri.&lt;br /&gt;
Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi memakai alat kuretase (sendok kerokan). Sebelum melakukan kuretase, penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus, keadaan serviks dan besarnya uterus. Gunanya untuk mencegah terjadinya bahaya kecelakaan misalnya perforasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuret adalah tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim. Jaringan itu sendiri bisa berupa tumor, selaput rahim, atau janin yang dinyatakan tidak berkembang maupun sudah meninggal. Dengan alasan medis, tidak ada cara lain jaringan semacam itu harus dikeluarkan. ( Dr. H. Taufik Jamaan, Sp.OG )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah kuret adalah alat bedah yang dirancang untuk mengorek jaringan biologis atau puing di sebuah biopsi, eksisi, atau prosedur pembersihan. (Michelson, 1988).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan Kuretase&lt;br /&gt;
Menurut ginekolog dari Morula Fertility Clinic, RS Bunda, Jakarta, tujuan kuret ada dua yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Sebagai terapi pada kasus-kasus abortus. Intinya, kuret ditempuh oleh dokter untuk membersihkan rahim dan dinding rahim dari benda-benda atau jaringan yang tidak diharapkan.&lt;br /&gt;
c. Penegakan diagnosis. Semisal mencari tahu gangguan yang terdapat pada rahim, apakah sejenis tumor atau gangguan lain. Meski tujuannya berbeda, tindakan yang dilakukan pada dasarnya sama saja. Begitu juga persiapan yang harus dilakukan pasien sebelum menjalani kuret.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persiapan Sebelum Kuretase&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Konseling pra tindakan :&lt;br /&gt;
1) Memberi informed consent&lt;br /&gt;
2) Menjelaskan pada klien tentang penyakit yang diderita&lt;br /&gt;
3) Menerangkan kepada pasien tentang tindakan kuretase yang akan dilakukan:&lt;br /&gt;
garis besar prosedur tindakan, tujuan dan manfaat tindakan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4) memeriksa keadaan umum pasien, bila memungkinkan pasien dipuasakan.&lt;br /&gt;
· Pemeriksaan sebelum curretage&lt;br /&gt;
1. USG (ultrasonografi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mengukur tensi dan Hb darah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Memeriksa sistim pernafasan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Mengatasi perdarahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Memastikan pasien dalam kondisi sehat dan fit&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Persiapan tindakan&lt;br /&gt;
1) menyiapkan pasien&lt;br /&gt;
· mengosongkan kandung kemih&lt;br /&gt;
· membersihkan genetalia eksterna&lt;br /&gt;
· membantu pasien naik ke meja ginek&lt;br /&gt;
· Lakukanlah pemeriksaan umum : Tekanan Darah, Nadi, Keadaan Jantung, dan Paru – paru dan sebagainya.&lt;br /&gt;
· Pasanglah infuse cairan sebagai profilaksis&lt;br /&gt;
· Pada umumnya diperlukan anestesi infiltrasi local atau umum secara IV dengan ketalar.&lt;br /&gt;
· Sebelum masuk ke ruang operasi, terlebih dahulu pasien harus dipersiapkan dari ruangan&lt;br /&gt;
· Puasa: Saat akan menjalani kuretase, dilakukan puasa 4-6 jam sebelumnya. Tujuannya supaya perut dalam keadaan kosong sehingga kuret bisa dilakukan dengan maksimal.&lt;br /&gt;
· Cek adanya perdarahan&lt;br /&gt;
Dokter akan melakukan cek darah untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan perdarahan atau tidak. Jika ada indikasi gangguan perdarahan, kuret akan ditunda sampai masalah perdarahan teratasi. Namun tak menutup kemungkinan kuret segera dilakukan untuk kebaikan pasien. Biasanya akan dibentuk tim dokter sesuai dengan keahlian masing-masing, dokter kandungan, dokter bedah, dokter hematologi, yang saling berkoordinasi. Koordinasi ini akan dilakukan saat pelaksanaan kuret, pascakuret, dan sampai pasien sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Persiapan psikologis&lt;br /&gt;
Setiap ibu memiliki pengalaman berbeda dalam menjalani kuret. Ada yang bilang kuret sangat menyakitkan sehingga ia kapok untuk mengalaminya lagi. Tetapi ada pula yang biasa-biasa saja. Sebenarnya, seperti halnya persalinan normal, sakit tidaknya kuret sangat individual. Sebab, segi psikis sangat berperan dalam menentukan hal ini. Bila ibu sudah ketakutan bahkan syok lebih dulu sebelum kuret, maka munculnya rasa sakit sangat mungkin terjadi. Sebab rasa takut akan menambah kuat rasa sakit. Bila ketakutannya begitu luar biasa, maka obat bius yang diberikan bisa tidak mempan karena secara psikis rasa takutnya sudah bekerja lebih dahulu. Walhasil, dokter akan menambah dosisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, bila saat akan dilakukan kuret ibu bisa tenang dan bisa mengatasi rasa takut, biasanya rasa sakit bisa teratasi dengan baik. Meskipun obat bius yang diberikan kecil sudah bisa bekerja dengan baik. Untuk itu sebaiknya sebelum menjalani kuret ibu harus mempersiapkan psikisnya dahulu supaya kuret dapat berjalan dengan baik. Persiapan psikis bisa dengan berusaha menenangkan diri untuk mengatasi rasa takut, pahami bahwa kuret adalah jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah yang ada. Sangat baik bila ibu meminta bantuan kepada orang terdekat seperti suami, orangtua, sahabat, dan lainnya. Bila diperlukan, gunakan jasa psikolog apabila ibu tak yakin dapat mengatasi masalah ini sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Mengganti baju pasien dengan baju operasi&lt;br /&gt;
· Memakaikan baju operasi kepada pasien dan gelang sebagai identitas&lt;br /&gt;
· Pasien dibawa ke ruang operasi yang telah ditentukan&lt;br /&gt;
· Mengatur posisi pasien sesuai dengan jenis tindakan yang akan dilakukan, kemudian pasien dibius dengan anesthesi narkose&lt;br /&gt;
· Setelah pasien tertidur, segera pasang alat bantu napas dan monitor EKG&lt;br /&gt;
· Bebaskan area yang akan dikuret&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Persiapan petugas&lt;br /&gt;
a) mencuci tangan dengan sabun antiseptic&lt;br /&gt;
b) baik dokter maupun perawat instrumen melakukan cuci tangan steril&lt;br /&gt;
c) memakai perlengkapan : baju operasi, masker dan handscoen steril&lt;br /&gt;
d) Perawat instrumen memastikan kembali kelengkapan alat-alat yang akan digunakan dalamtindakan kuret&lt;br /&gt;
e) Alat disusun di atas meja mayo sesuai dengan urutan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3) Persiapan alat dan obat :&lt;br /&gt;
a) Alat tenun, terdiri dari :&lt;br /&gt;
· baju operasi&lt;br /&gt;
· laken&lt;br /&gt;
· doek kecil&lt;br /&gt;
· sarung meja mayo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b) Alat-alat kuretase hendaknya telah tersedia alam bak alat dalam keadaan aseptic berisi :&lt;br /&gt;
· Speculum dua buah (Spekullum cocor bebek (1) dan SIMS/L (2) ukuran S/M/L) speculum 2 Buah.&lt;br /&gt;
· Sonde (penduga) uterus:&lt;br /&gt;
1) untuk mengukur kedalaman rahim&lt;br /&gt;
2) untuk mengetahui lebarnya lubang vagina&lt;br /&gt;
· Cunam muzeus atau Cunam porsio&lt;br /&gt;
· Berbagai ukuran busi (dilatator) Hegar&lt;br /&gt;
· Bermacam – macam ukuran sendok kerokan (kuret 1 SET)&lt;br /&gt;
· Cunam tampon (1 buah)&lt;br /&gt;
· Pinset dan klem&lt;br /&gt;
· Kain steril, dan sarung tangan dua pasang.&lt;br /&gt;
· Menyiapkan alat kuret AVM&lt;br /&gt;
· Ranjang ginekologi dengan penopang kaki&lt;br /&gt;
· Meja dorong / meja instrument&lt;br /&gt;
· Wadah instrumen khusus ( untuk prosedur AVM )&lt;br /&gt;
· AVM Kit (tabung, adaptor, dan kanula)&lt;br /&gt;
· Tenakulum (1 buah)&lt;br /&gt;
· Klem ovum/fenster (2 buah)&lt;br /&gt;
· Mangkok logam&lt;br /&gt;
· Dilagator/ busi hegar (1 set)&lt;br /&gt;
· Lampu sorot&lt;br /&gt;
· Kain atas bokong dan penutup perut bawah&lt;br /&gt;
· Larutan anti septik (klorheksidin, povidon iodin, lkohol)&lt;br /&gt;
· Tensimeter dan stetoskop&lt;br /&gt;
· Sarung tangan DTT dan alas kaki&lt;br /&gt;
· Set infus&lt;br /&gt;
· Abocatt&lt;br /&gt;
· Cairan infus&lt;br /&gt;
· Wings&lt;br /&gt;
· Kateter Karet 1 buah&lt;br /&gt;
· Spuit 3 cc dan 5 cc&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Obat-obatan :&lt;br /&gt;
· Analgetik ( petidin 1-2 mg/Kg BB&lt;br /&gt;
Indikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyeri sedang sampai berat, nyeri pasca bedah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontra indikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek samping&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan Sediaan Petidin (generik) injeksi 50 mg/ml, tabl 50 mg&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Ketamin HCL 0.5 ml/ Kg BB&lt;br /&gt;
Ketamine (Ketalar or Ketaject) merupakan arylcyclohexylamine yang memiliki struktur mirip dengan phencyclidine. 11 Ketamin pertama kali disintesis tahun 1962, dimana awalnya obat ini disintesis untuk menggantikan obat anestetik yang lama (phencyclidine) yang lebih sering menyebabkan halusinasi dan kejang. Obat ini pertama kali diberikan pada tentara amerika selama perang Vietnam. Ketamin hidroklorida adalah golongan fenil sikloheksilamin, merupakan “rapid acting non barbiturate general anesthesia”. Ketalar sebagai nama dagang yang pertama kali diperkenalkan oleh Domino dan Carson tahun 1965 yang digunakan sebagai anestesi umum. Ketamin kurang digemari untuk induksi anastesia, karena sering menimbulkan takikardi, hipertensi , hipersalivasi , nyeri kepala, pasca anasthesi dapat menimbulkan muntah – muntah , pandangan kabur dan mimpi buruk. Ketamin juga sering menebabkan terjadinya disorientasi, ilusi sensoris dan persepsi dan mimpi gembira yang mengikuti anesthesia, dan sering disebut dengan emergence phenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mekanisme kerja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa blok terhadap reseptor opiat dalam otak dan medulla spinalis yang memberikan efek analgesik, sedangkan interaksi terhadap reseptor metilaspartat dapat menyebakan anastesi umum dan juga efek analgesik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek farmakologis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek pada susunan saraf pusat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila diberikan intravena maka dalam waktu 30 detik pasien akan mengalami perubahan tingkat kesadaran yang disertai tanda khas pada mata berupa kelopak mata terbuka spontan dan nistagmus. Selain itu kadang-kadang dijumpai gerakan yang tidak disadari, seperti gerakan mengunyah, menelan, tremor dan kejang. Apabila diberikan secara intramuskular, efeknya akan tampak dalam 5-8 menit, sering mengakibatkan mimpi buruk dan halusinasi pada periode pemulihan sehingga pasien mengalami agitasi. Aliran darah ke otak meningkat, menimbulkan peningkatan tekanan darah intrakranial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek pada mata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menimbulkan lakrimasi, nistagmus dan kelopak mata terbuka spontan, terjadi peningkatan tekanan intraokuler akibat peningkatan aliran darah pada pleksus koroidalis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek pada sistem kardiovaskular.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketamin adalah obat anestesia yang bersifat simpatomimetik, sehingga bisa meningkatkan tekanan darah dan jantung. Peningkatan tekanan darah akibat efek inotropik positif dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek pada sistem respirasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dosis biasa, tidak mempunyai pengaruh terhadap sistem respirasi. dapat menimbulkan dilatasi bronkus karena sifat simpatomimetiknya, sehingga merupakan obat pilihan pada pasien ashma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosis dan pemberian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketamin merupakan obat yang dapat diberikan secara intramuskular apabila akses pembuluh darah sulit didapat contohnya pada anak – anak. Ketamin bersifat larut air sehingga dapat diberikan secara I.V atau I.M. dosis induksi adalah 1 – 2 mg/KgBB secara I.V atau 5 – 10 mg/Kgbb I.M , untuk dosis sedatif lebih rendah yaitu 0,2 mg/KgBB dan harus dititrasi untuk mendapatkan efek yang diinginkan. Untuk pemeliharaan dapat diberikan secara intermitten atau kontinyu. Emberian secara intermitten diulang setiap 10 – 15 menitdengan dosis setengah dari dosis awal sampai operasi selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek samping&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dapat menyebabkan efek samping berupa peningkatan sekresi air liur pada mulut,selain itu dapat menimbulkan agitasi dan perasaan lelah , halusinasi dan mimpi buruk juga terjadi pasca operasi, pada otot dapat menimbulkan efek mioklonus pada otot rangka selain itu ketamin juga dapat meningkatkan tekanan intracranial. Pada mata dapat menyebabkan terjadinya nistagmus dan diplopia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontra indikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat efek farmakodinamiknya yang relative kompleks seperti yang telah disebutkan diatas, maka penggunaannya terbatas pada pasien normal saja. Pada pasien yang menderita penyakit sistemik penggunaanya harus dipertimbangkan seperti tekanan intrakranial yang meningkat, misalnya pada trauma kepala, tumor otak dan operasi intrakranial, tekanan intraokuler meningkat, misalnya pada penyakit glaukoma dan pada operasi intraokuler. Pasien yang menderita penyakit sistemik yang sensitif terhadap obat – obat simpatomimetik, seperti ; hipertensi tirotoksikosis, Diabetes militus , PJK dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Tramadol 1-2 mg/ BB&lt;br /&gt;
Indikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyeri sedang sampai berat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontra indikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek samping&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mual, muntah, konstpasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian. Sediaan Tramadol (generik) injeksi 50 mg/ml, tablet 50 mg&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Sedativa ( diazepam 10 mg)&lt;br /&gt;
Indikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemakaian jangka pendek pada ansietas atau insomnia, tambahan pada putus alkohol akut, status epileptikus, kejang demam, spasme otot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara Pemberian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Injeksi i.m atau injeksi i.v lambat : (kedalam vena besar dengan kecepatan tidak lebih dari 5 mg/menit)untuk ansietas akut berat, pengendalian serangan panik akut, penghentian alkohol akut, 10 mg, jika perlu ulangi setelah 4 jam.Catatan : Rute i.m hanya digunakan jika rute oral dan i.v tidak mungkin diberikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontraindikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Depresi pernafasan, gangguan hati berat, miastenia gravis, insufisiensi pulmoner akut, glaukoma sudut sempit akut, serangan asma akut, trimester pertama kehamilan, bayi prematur; tidak boleh digunakan sebagai terapi tunggal pada depresi atau ansietas yang disertai dengan depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek Samping&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek samping pada susunan saraf pusat : rasa lelah, ataksia, rasa malas, vertigo, sakit kepala, mimpi buruk dan efek amnesia. Efek lain : gangguan pada saluran pencernaan, konstipasi, nafsu makan berubah, anoreksia, penurunan atau kenaikan berat badan, mulut kering, salivasi, sekresi bronkial atau rasa pahit pada mulut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Atropine sulfas 0.25- 0.50 mg/ml&lt;br /&gt;
Indikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Spasme/kejang pada kandung empedu, kandung kemih dan usus, keracunan fosfor organik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontraindikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Glaukoma sudut tertutup, obstruksi/sumbatan saluran pencernaan dan saluran kemih, atoni (tidak adanya ketegangan atau kekuatan otot) saluran pencernaan, ileus paralitikum, asma, miastenia gravis, kolitis ulserativa, hernia hiatal, penyakit hati dan ginjal yang serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosis : 0.25- 0.50 mg/ml&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Oksigen dan regulator&lt;br /&gt;
Pemberian oksigen dilakukan setelah post operasi pasien diberikan oksigen 2 liter/menit melalui nasal kanule dan tetap observasi keadaan pasien sampai dipindahkan ke ruangan perawatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Perawatan Setelah Kuretase&lt;br /&gt;
Perawatan usai kuretase pada umumnya sama dengan operasi-operasi lain. Harus menjaga bekas operasinya dengan baik, tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat, tidak melakukan hubungan intim untuk jangka waktu tertentu sampai keluhannya benar-benar hilang, dan meminum obat secara teratur. Obat yang diberikan biasanya adalah antibiotik dan penghilang rasa sakit. Jika ternyata muncul keluhan, sakit yang terus berkepanjangan atau muncul perdarahan, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Mungkin perlu dilakukan tindakan kuret yang kedua karena bisa saja ada sisa jaringan yang tertinggal. Jika keluhan tak muncul, biasanya kuret berjalan dengan baik dan pasien tinggal menunggu kesembuhannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang perlu juga dilakukan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Setelah pasien sudah dirapihkan, maka perawat mengobservasi keadaan pasien dan terus memastikan apakah pasien sudah bernapas spontan atau belum&lt;br /&gt;
2. Setelah itu pasien dipindahkan ke recovery room&lt;br /&gt;
3. Melakukan observasi keadaan umum pasien hingga kesadaran pulih&lt;br /&gt;
4. Pasien diberikan oksigen 2 liter/menit melalui nasal kanule dan tetap observasi keadaan pasien sampai dipindahkan ke ruangan perawatan.&lt;br /&gt;
5. Konseling pasca tindakan&lt;br /&gt;
6. Melakukan dekontaminasi alat dan bahan bekas operasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Dampak Setelah Kuretase&lt;br /&gt;
Terkadang kuret tidak berjalan lancar. Meskipun telah dilakukan oleh dokter kandungan yang sudah dibekali ilmu kuret namun kekeliruan bisa saja terjadi. Bisa saja pada saat melakukannya dokter kurang teliti, terburu-buru, atau jaringan sudah kaku atau membatu seperti pada kasus abortus yang tidak ditangani dengan cepat. Berikut adalah dampaknya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Perdarahan&lt;br /&gt;
Bila saat kuret jaringan tidak diambil dengan bersih, dikhawatirkan terjadi perdarahan. Untuk itu jaringan harus diambil dengan bersih dan tidak boleh tersisa sedikit pun. Bila ada sisa kemudian terjadi perdarahan, maka kuret kedua harus segera dilakukan. Biasanya hal ini terjadi pada kasus jaringan yang sudah membatu. Banyak dokter kesulitan melakukan pembersihan dalam sekali tindakan sehingga ada jaringan yang tersisa. Namun biasanya bila dokter tidak yakin sudah bersih, dia akan memberi tahu kepada si ibu, “Jika terjadi perdarahan maka segera datang lagi ke dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Cerukan di Dinding Rahim&lt;br /&gt;
Pengerokan jaringan pun harus tepat sasaran, jangan sampai meninggalkan cerukan di dinding rahim. Jika menyisakan cerukan, dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan rahim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Gangguan Haid&lt;br /&gt;
Jika pengerokan yang dilakukan sampai menyentuh selaput otot rahim, dikhawatirkan akan mengganggu kelancaran siklus haid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Infeksi&lt;br /&gt;
Jika jaringan tersisa di dalam rahim, muncul luka, cerukan, dikhawatirkan bisa memicu terjadinya infeksi. Sebab, kuman senang sekali dengan daerah-daerah yang basah oleh cairan seperti darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
e. Kanker&lt;br /&gt;
Sebenarnya kecil kemungkinan terjadi kanker, hanya sekitar 1%. Namun bila kuret tidak dilakukan dengan baik, ada sisa yang tertinggal kemudian tidak mendapatkan penanganan yang tepat, bisa saja memicu munculnya kanker. Disebut kanker trofoblast atau kanker yang disebabkan oleh sisa plasenta yang ada di dinding rahim.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>LAPORAN PENDAHULUAN RESIKO BUNUH DIRI</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2014/06/laporan-pendahuluan-resiko-bunuh-diri.html</link><category>askep</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Sun, 1 Jun 2014 21:18:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-5434262248093929201</guid><description>A. &amp;nbsp;MASALAH UTAMA&lt;br /&gt;
Resiko bunuh diri&lt;br /&gt;
B. &amp;nbsp;PROSES TERJADINYA MASALAH&lt;br /&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pengertian&lt;br /&gt;
Risiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah. Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan untuk beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang berarti, perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri keputusasaan (Stuart, 2006).&lt;br /&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Tanda Dan Gejala&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mempunyai ide unutk bunuh diri&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Mengungkapkan keinginan unutk mati&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mengungkapkan rasa bersaah dan keputusasaan&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Impulsif&lt;br /&gt;
e. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Menunjukkan perilaku yang mencurigakan ( menjasi sangat patuh)&lt;br /&gt;
f. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Memiliki riwayat percobaan bunuh diri&lt;br /&gt;
g. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Verbal terselubung ( berbicara tentang kematian)&lt;br /&gt;
h. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Menanyakan tentang obat dosis mematikan&lt;br /&gt;
i. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Status emosional ( harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah, mengasibngkan diri)&lt;br /&gt;
j. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Kesehatan mental ( secara klinis klien terlihat sangat depresi, psikosis, dam menyalahginakan alkohol)&lt;br /&gt;
k. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Kesehatan fisik ( biasanya pada kliemn dengan penyakit kronis atau terminal)&lt;br /&gt;
l. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pengangguran&lt;br /&gt;
m. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Kehilangan pekerjaan atau kegagagalan dalam karir&lt;br /&gt;
n. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Umur 15- 19 tahun atau di atas 45 tahun&lt;br /&gt;
o. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Status perkawinan ( mengalami kegagalan dalam perkawinan)&lt;br /&gt;
p. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pekerjaan&lt;br /&gt;
q. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Konflik interpersonal&lt;br /&gt;
r. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Latar belakang keluarga&lt;br /&gt;
s. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Orientasi seksual&lt;br /&gt;
t. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Sumber-sumber personal&lt;br /&gt;
u. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Sumber-sumber sosial&lt;br /&gt;
v. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil&lt;br /&gt;
w. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Mandi / hygiene&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Rentang Respon Respon adaptif&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;respon maladaptif&lt;br /&gt;
peningkatan diri&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;pengambilan resiko yang meningkatkan pertumbuhan&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;perilaku destruktif-diri tidak langsung&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;pencederaan diri&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;bunuh diri&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambar 1.1.&lt;br /&gt;
rentang respon protektfi diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Peningkatan diri&lt;br /&gt;
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai &amp;nbsp;loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya.&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Beresiko destruktif&lt;br /&gt;
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Destruktif diri tidak langsung&lt;br /&gt;
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pencederaan diri&lt;br /&gt;
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.&lt;br /&gt;
e. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bunuh diri&lt;br /&gt;
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.&lt;br /&gt;
Perilaku bunuh diri menurut (Stuart dan Sundeen, 1995. Dikutip Fitria, Nita, 2009) dibagi menjadi tiga kategori yang sebagai berikut.&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Upaya bunuh diri (scucide attempt)&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;sengaja melakukan kegiatan menuju bunuh diri dan bila kegiatan itu sampai tuntas akan menyebabkan kematian. Kondisi ini terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan. Orang yang hanya berniat melakukan upaya bunuh diri dan tidak benar-benar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Isyarat bunuh diri (suicide gesture)&lt;br /&gt;
bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ancaman bunuh diri (suicide threat)&lt;br /&gt;
suatu peringatan baik secara langsung verbal atau nonverbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh diri. Orang tersebut mungkin menunjukkan &amp;nbsp;secara verbal bahwa dia tidak akan ada di sekitar kita lagi atau juga mengungkapkan secara nonverbal berupa pemberian hadiah, wasiat, dan sebagainya. Kurangnya respon positif dari orang sekitar dapat dipersepsikan sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.&lt;br /&gt;
4. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Faktor Predisposisi&lt;br /&gt;
Lima factor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku destruktif-diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Diagnosis Psikiatrik&lt;br /&gt;
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Sifat Kepribadian&lt;br /&gt;
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Lingkungan Psikososial&lt;br /&gt;
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian negatif dalam hidup, penyakit krinis, perpisahan, atau bahkan perceraian. Kekuatan dukungan social sangat penting dalam menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab masalah, respons seseorang dalam menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Riwayat Keluarga&lt;br /&gt;
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan factor penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.&lt;br /&gt;
e. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Faktor Biokimia&lt;br /&gt;
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak sepeti serotonin, adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui ekaman gelombang otak Electro Encephalo Graph (EEG).&lt;br /&gt;
5. &amp;nbsp; &amp;nbsp;faktor Presipitasi&lt;br /&gt;
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang memalukan.Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi sangat rentan.&lt;br /&gt;
6. &amp;nbsp; &amp;nbsp;sumber Koping&lt;br /&gt;
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara sadar memilih untuk melakukan tindakan bunuh diri. Perilaku bunuh diri berhubungan dengan banyak faktor, baik faktor social maupun budaya. Struktur social dan kehidupan bersosial dapat menolong atau bahkan mendorong klien melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi social dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam kegiatan masyarakat lebih mampu menoleransi stress dan menurunkan angka bunuh diri. Aktif dalam kegiatan keagamaan juga dapat mencegah seseorang melakukan tindakan bunuh diri.&lt;br /&gt;
7. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Mekanisme Koping&lt;br /&gt;
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization, regression, dan magical thinking. Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping alternatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. &amp;nbsp;DATA YANG PERLU DIKAJIMasalah Keperawatan&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Data yang perlu dikaji&lt;br /&gt;
Resiko bunuh diri&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Subjektif :&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mengungkapkan keinginan bunuh diri.&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mengungkapkan keinginan untuk mati.&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari keluarga.&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat yang mematikan.&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mengungkapkan adanya konflik interpersonal.&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekeasan saat kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Objektif :&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Impulsif.&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Menunujukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ada riwayat panyakit mental (depesi, psikosis, dan penyalahgunaan alcohol).&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ada riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau penyakit terminal).&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan dalam karier).&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun.&lt;br /&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; Status perkawinan yang tidak harmonis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. &amp;nbsp;MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL&lt;br /&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Risiko bunuh diri&lt;br /&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp;bunuh diri&lt;br /&gt;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp;isolasi sosial&lt;br /&gt;
4. &amp;nbsp; &amp;nbsp;harga diri rendah kronis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E. &amp;nbsp;DIAGNOSIS KEPERAWATAN&lt;br /&gt;
Risiko bunuh diri&lt;br /&gt;
F. &amp;nbsp; RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;
Tujuan umum: sesuai masalah (problem).&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Tujuan khusus&lt;br /&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Klien dapat membina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;
Tindakan:&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Perkenalkan diri dengan klien&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Bersifat hangat dan bersahabat.&lt;br /&gt;
e. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat.&lt;br /&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Jauhkan klien dari benda benda yang dapat membahayakan (pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan lain lain).&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Awasi klien secara ketat setiap saat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Klien dapat mengekspresikan perasaannya&lt;br /&gt;
Tindakan:&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dengarkan keluhan yang dirasakan&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan keputusasaan.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapannya&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaan, kematian, dan lain lain.&lt;br /&gt;
e. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.&lt;br /&gt;
4. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Klien dapat meningkatkan harga diri&lt;br /&gt;
Tindakan:&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Kaji dan kerahkan sumber sumber internal individu.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bantu mengidentifikasi sumber sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal hal untuk diselesaikan).&lt;br /&gt;
5. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Klien dapat menggunakan koping yang adaptif&lt;br /&gt;
Tindakan:&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman pengalaman yang menyenangkan setiap hari &amp;nbsp;(misal : berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulis surat dll).&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Bantu untuk mengenali hal hal yang ia cintai dan yang ia sayang, dan pentingnya terhadap kehidupan orang lain, mengesampingkan tentang kegagalan dalam kesehatan.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai suatu masalah dan atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut dengan koping yang efektif.&lt;br /&gt;
6. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Klien dapat menggunakan dukungan social&lt;br /&gt;
Tindakan:&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kaji dan manfaatkan sumber sumber ekstemal individu (orang orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama).&lt;br /&gt;
7. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat&lt;br /&gt;
Tindakan:&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
G. POHON MASALAH&lt;br /&gt;
effect &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; bunuh diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
core problem &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; risiko bunuh diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
causa &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; isolasi sosial &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;harga diri rendah kronis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gambar 1.2. pohon masalh risiko bunuh diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC, 1995&lt;br /&gt;
Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999&lt;br /&gt;
Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003&lt;br /&gt;
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000&lt;br /&gt;
Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia : Lipincott-Raven Publisher. 1998</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>LAPORAN PENDAHULUAN VENTRIKEL SEPTUM DEFEK</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2014/06/laporan-pendahuluan-ventrikel-septum.html</link><category>askep</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Sun, 1 Jun 2014 21:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-8772156690022563299</guid><description>VENTRIKEL SEPTUM DEFEK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.    DEFINISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defek Septum Ventrikel adalah kelainan jantung bawaan berupa lubang pada septum interventrikuler, lubang tersebut hanya satu atau lebih yang terjadi akibat kegagalan fungsi septum interventrikuler semasa janin dalam kandungan. Sehingga darah bisa mengalir dari ventrikel kiri ke kanan ataupun sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.     KLASIFIKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Klasifikasi Defek Septum Ventrikel berdasarkan kelainan Hemodinamik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Defek kecil dengan tahanan paru normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Defek sedang dengan tahahan vaskuler paru normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Defek besar dengan hipertensi pulmonal hiperkinetik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Defek besar dengan penyakit obstruksivaskuler paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Klasifikasi  Defek Septum Ventrikel berdasarkan letak anatomis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§   Defek didaerah pars membranasea septum, yang disebut defek membran atau lebih baik perimembran (karena hampir selalu mengenai jaringan di sekitarnya). Berdasarkan perluasan (ekstensi) defeknya, defek peri membran ini dibagi lagi menjadi yang dengan perluasan ke outlet, dengan perluasan ke inlet, dan defek peri membran dengan perluasan ke daerah trabekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§   Defek muskuler, yang dapat dibagi lagi menjadi : defek muskuler inlet, defek muskuler outlet dan defek muskuler trabekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§   Defek subarterial, terletak tepat dibawah kedua katup aorta dan arteri pulmonalis, karena itu disebut pula doubly committed subarterial VSD. Defek ini dahulu disebut defek suprakristal, karena letaknya diatas supraventrikularis. Yang terpenting pada defek ini adalah bahwa katup aorta dan katup arteri pulmonalis terletak pada ketinggian yang sama, dengan defek septum ventrikel tepat berada di bawah katup tersebut. (dalam keadaan normal katup pulmonal lebih tinggi daripada katup aorta, sehingga pada defek perimembran lubang terletak tepat di bawah katup aorta namun jauh dari katup pulmonal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.    ETIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 90% kasus penyakit jantung bawaan penyebabnya adalah multifaktor. Faktor yang berpengaruh adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Faktor eksogen         : ibu mengkonsumsi beberapa jenis obat penenang dan jamu. Penyakit ibu (penderita rubella, ibu menderita IDDM) dan Ibu hamil dengan alkoholik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Faktor endogen        :  penyakit genetik (Sindrom Down), anak yang lahir sebelumnya menderita PJB, ayah dan ibu menderita PJB dan lahir dengan kelainan bawaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.    GAMBARAN KLINIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      VDS Kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.      Biasanya asimtomatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.     Defek kecil 5 – 10 mm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.      Tidak ada gangguan tumbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.     Bunyi jantung normal, kadang ditemukan bising pansistolik yang menjalar keseluruh tubuh prekardium dan berakhir pada waktu diastolik karena terjadi penurunan VSD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      VSD Sedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.      Sesak nafas pada saat aktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.     Defek 5 – 10 mm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.      BB sukar naik sehingga tumbang terganggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.     Takipnoe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.      Retraksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.       Bentuk dada normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.     Bising pansistolik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Auskultasi jantung à mur-mur pansistolik keras dan kasar , umumnya paling jelas terdengar pada tepi kiri bawah sternum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Pantau tekanan darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Foto rontgen toraks à hipertrofi ventrikel kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Elektrocardiografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  Echocardiogram à hipertrofi ventrikel kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§  MRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.     KOMPLIKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§                                           Gagal jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§                                           Endokarditis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§                                           Insufisiensi aorta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§                                           Stenosis pulmonal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§                                           Hipertensi pulmonal (penyakit pembuluh darah paru yang progresif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.      PENATALAKSANAAN MEDIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembedahan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð  menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonary bypass&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð  pembedahan Pulmonal Arteri Bunding (PAB) atau penutupan defek untuk mengurangi aliran ke paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian vasopresor atau vasodilator : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Dopamin ( intropin )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung dan peningkatan tekanan  sistolik serta tekanan nadi , sedikit sekali atau tidak ada efeknya pada tekanan diastolik ;digunakan untuk gangguan hemodinamika yang disebabkan bedah jantung terbuka (dosis diatur untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi ginjal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.         Isopreterenol ( isuprel )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung : menurunan tekanan diastolik dan tekanan rata-rata sambil meningkatkan tekanan sisitolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diagnosa keperawatan, perlu dilakukan pengkajian data dari hasil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anamnesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palpasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pengkajian tersebut, data yang diperoleh adalah masalah yang dialami klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab timbulnya keluhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi tentang kelainan struktur dan fungsi jantung atau pembuluh darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi tentang kekuatan jantung dan aktivitas klien yang tidak memperberat kerja jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anamnesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang perlu diungkapkan dalam melakukan anamnesa adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Riwayat perkawinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian apakah anak ini diinginkan atau tidak, karena apabila anak tersebut tidak diinginkan kemungkinan selama hamil ibu telah menggunakan obat-obat yang bertujuan untuk menggugurkan kandungannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Riwayat kehamilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah selama hamil ibu pernah menderita penyakit yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin, seperti hipertensi, diabetus melitus atau penyakit virus seperti rubella khususnya bila terserang pada kehamilan trisemester pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Riwayat keperawatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon fisiologis terhadap defek ( sianosisi, aktivitas terbatas )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung: nafas cepat, sesak nafas, retraksi, bunyi jantung tambahan ( mur-mur ), edema tungkai dan hepatomegali )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Kaji adanya tanda-tanda hipoxia kronis : clubbing finger&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Apakah diantara keluarga ada yang menderita penyakit yang sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      Apakah ibu atau ayah perokok (terutama selama hamil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.      Apakah ibu atau ayah pernah menderita penyakit kelamin (seperti sipilis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Sebelum hamil apakah ibu mengikuti KB dan bentuk KB yang pernah digunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  Obat-obat apa saja yang pernah dimakan ibu selama hamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Untuk anak sendiri apakah pernah menderita penyakit demam reumatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.  Apakah ada kesulitan dalam pemberian makan atau minum khususnya pada bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.  Obat-obat apa saja yang pernah dimakan anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan malformasi jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : meningkatkan curah jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna dan kehangatan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Tegakkan derajad sinosis ( sirkumoral, membran mukosa, clubbing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Monitor tanda-tanda CHF ( gelisah, takikardi, tacipnea, sesak, lelah saat minum susu, periorbotal edema, oliguri dan hepatomegali )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berkolaborasi dalam pemberian digoxin sesuai order dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toxisitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berikan diuretik sesuai indikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : meningkatkan resisitensi pembuluh paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Monitor kualitas dan irama pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Atur posisi anak dengan posisi fowler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Hindari anak dari orang yang terinfeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berikan istirahat yang cukup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berikan nutrisi yang optimal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berikan oksigen jika ada indikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Tidak toleransi terhadap aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplay oksigen ke sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat dan anak akan berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh seusianya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Ijinkan anak untuk sering beristirahat dan hindari gangguan pada saat tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Bantu anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi dan kemampuan anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berikan periode istirahat setelah melakuakan aktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan kecemasan pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Perubahan pertumbuhan dan perkembanganberhubungan dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : mempertahankan pertumbuhan berat badan yang sesuai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat-zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Monitor tinggi dan berat badan, dokumentasikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui kecenderungan pertumbuhan anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : anak akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan waktu yang sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Catat intake dan output secara benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berikan makanan dengan porsi kesil tapi sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Hindari kegiatan perawatan yang tidak perlu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Pertahankan nutrisi dengan mencegah kekurangan kalium, natrium dan memberikan zat gizi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Anak-anak yang mendapatkan diuretik biasanya sangat haus, oleh karena itu cairan tidak dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya status kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : mencegah terjadinya infeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berikan istirahat yang adekuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Perubahan peran orangtua berhubungan dengan hospitalisasi anak, kekhawatiran terhadap peyakit anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : memberikan dukungan pada orang tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : orang tua akan mengekspresikan perasaannya karena memiliki anak denan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Ajarkan orang tua untuk mengeskpresikan perasaannya akibat memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilana pengbatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Eksplorasi perasaan orang tua mengenai perasaan ketakutan, rasa bersalah, berduka dan perasaan tidak mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Mengurangi ketakutan dan kecemasan orang tua dengan memberikan informasi yang jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð Memberikan dorongan kepada keluarga untuk melibatkan anggota keluarga yang lain dalam perawatan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan pemulangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Kontrol sesuai waktu yang ditentukan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.         Jelaskan aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuia dengan usia dan kondisi penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.         Mengajarkan keterampilan yang diperlukan di rumah, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð  Tehnik pemberian obat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð  Tehnik pemberian makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð  Tindakan untuk mengatasi jika terjadi hal-hal ynag mencemaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ð  Tanda-tanda komplikasi, siapa yang akan dihubungi jika membutuhkan pertolongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suriadi, Rita yuliani, (2001). Asuhan Keperawatan Pada Anak, jakarta : CV. Sagung Seto .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heni Rokhaeni, Elly Purnamasari, (2001). Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, jakarta : Pusat Kesehatan jantung dan Pembuluh Darah Nasional “ Harapan Kita “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corwin, Elizabeth J, (200). Buku Saku Patofisiologi, alih bahasa Brahm U Pendit jakarta : EGC &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Markum A.H, (1991), Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doenges, Marilynn E, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Edisi 3. Jakarta : EGC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Sjamsuhidajat &amp;amp; Wim de Jong, (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nettina, Sandra M, (2001). Pedoman Praktik Keperawatan, alih bahasa Setiawan,Sari Kurnianingsih, Monica Ester, jakarta : EGC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carpenito Linda Juall, (1997). Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 6, jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Tucker, martin, (1998). Standart Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi.Edisi V. Volume 3. Jakarta. EGC.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ASKEP FRAKTUR TIBIA</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2014/06/askep-fraktur-tibia.html</link><category>askep</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Sun, 1 Jun 2014 21:13:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-3968971931638116639</guid><description>BAB I&lt;br /&gt;
KONSEP DASAR&lt;br /&gt;
A. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pengertian&lt;br /&gt;
Menurut Mansjoer (2005:356), fraktur tibia (bumper fracture/fraktur tibia plateau) adalah fraktur yang terjadi akibat trauma langsung dari arah samping lutut dengan kaki yang masih terfiksasi ke tanah. &amp;nbsp; Menurut pendapat lain yaitu Smeltzer (2002:2357), fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. &amp;nbsp;Sedangkan menurutN Sjamsuhidajat (1996:1138), fraktur adalah terputusnya jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. &amp;nbsp;Kemudian menurut Tucker (1998:198), fraktur adalah patah tulang atau &amp;nbsp;terputusnya kontinuitas tulang. &amp;nbsp;Pendapat lain oleh Doenges (1999:761) yang menerangkan bahwa, fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang.&lt;br /&gt;
Kesimpulan yang dapat diambil dari berbagai pengertian tersebut di atas adalah bahwa fraktur merupakan suatu keadaan terputusnya jaringan atau kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang pada umumnya disebabkan oleh rudapaksa dan ditentukan sesuai dengan jenis dan luasnya.&lt;br /&gt;
B. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Menurut Smeltzer (2001:257) jenis-jenis fraktur yaitu:&lt;br /&gt;
Fraktur complete adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran (bergeser pada posisi normal). &amp;nbsp;Fraktur in complete, patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.&lt;br /&gt;
Fraktur tertutup (fraktur simple) tidak menyebabkan robeknya kulit. &amp;nbsp;Fraktur terbuka (fraktur kompleks) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. &amp;nbsp;Fraktur terbuka digradasi menjadi:&lt;br /&gt;
Grade I dengan luka bersih kurang dari l cm panjangnya.&lt;br /&gt;
Grade II luka lebih besar, luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.&lt;br /&gt;
Grade III yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif, merupakan yang paling kuat.&lt;br /&gt;
Menurut Smeltzer (2001:257) fraktur juga digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang, fraktur bergeser/tidak bergeser. &amp;nbsp;Jenis ukuran fraktur adalah:&lt;br /&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Greenstick &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; fraktur di mana salah satu sisi tulang patah sedang sisi &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; lainnya membengkok.&lt;br /&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Transversal &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; fraktur sepanjang garis tengah tulang.&lt;br /&gt;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Oblique &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : fraktur yang membentuk sudut dengan garis tengah &amp;nbsp; &amp;nbsp;tulang (lebih tidak stabil dibanding batang tulang).&lt;br /&gt;
4. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Spiral &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp;fraktur memuntir seputar batang tulang.&lt;br /&gt;
5. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Communitive &amp;nbsp; : &amp;nbsp;fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen.&lt;br /&gt;
6. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Depresi &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;: &amp;nbsp; fraktur dengan tulang patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).&lt;br /&gt;
7. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Kompresi &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; fraktur di mana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).&lt;br /&gt;
8. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Patologik &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; fraktur yang terjadi pada bawah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget, metastasis tumor tulang).&lt;br /&gt;
9. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Avulasi &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;: &amp;nbsp;tertariknya fragmen tulang dan ligamen atau tendon pada perlekatannya.&lt;br /&gt;
10. &amp;nbsp;Impaksi &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : &amp;nbsp; fraktur di mana fragmen tulang lainnya rusak.&lt;br /&gt;
C. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Etiologi&lt;br /&gt;
Menurut Long (1996:357) dan Reeves (2001:248), faktor-faktor yang dapat menyebabkan fraktur adalah:&lt;br /&gt;
Benturan dan cidera (jatuh pada kecelakaan).&lt;br /&gt;
Fraktur patologik, kelemahan tulang karena penyakit/osteoporosis.&lt;br /&gt;
Patah karena letih, patah tulang karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi, seperti karena berjalan kaki yang terlalu jauh.&lt;br /&gt;
Fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. &amp;nbsp;Fraktur sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau luka yang disebabkan kecelakaan kendaraan bermotor.&lt;br /&gt;
Sedangkan menurut Appley (1995:212) faktor-faktor yang dapat menyebabkan fraktur adalah:&lt;br /&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Fraktur akibat trauma&lt;br /&gt;
Terjadi akibat benturan dan cidera yang disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan.&lt;br /&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Trauma langsung&lt;br /&gt;
Tulang dapat patah pada area yang terkena jaringan lunak. &amp;nbsp;Pemukulan menyebabkan fraktur melintang. &amp;nbsp;Penghancuran menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Trauma tidak langsung&lt;br /&gt;
Tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang tertekan kekuatan itu. &amp;nbsp;Kekuatan dapat berupa:&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pemuntiran, menyebabkan fraktur spinal&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Penekukan, menyebabkan fraktur melintang&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Penekukan dan penekanan menyebabkan fraktur yang sebagian melintang tetapi disertai fragmen kupu-kupu berbentuk segitiga terpisah.&lt;br /&gt;
4. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Fraktur kelelahan&lt;br /&gt;
Terjadi akibat tekanan berulang-ulang sering ditemukan pada tibia, fibula, metatarsal, terutama pada atlet dan penari.&lt;br /&gt;
5. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Fraktur patologik&lt;br /&gt;
Fraktur yang dapat terjadi oleh tekanan yang normal jika tulang itu lemah (misal: oleh tumor atau tulang itu sangat rapuh atau osteoporosis).&lt;br /&gt;
6. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Fraktur oblique pendek&lt;br /&gt;
Fraktur yang terjadi dari kombinasi pemuntiran, penekukan dan penekanan.&lt;br /&gt;
D. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Manifestasi Klinis&lt;br /&gt;
Menurut Smeltzer (2002:2358), manifestasi klinis fraktur adalah:&lt;br /&gt;
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai tulang diimobilisasi.&lt;br /&gt;
Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.&lt;br /&gt;
Deformitas (terlihat maupun teraba).&lt;br /&gt;
Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.&lt;br /&gt;
Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.&lt;br /&gt;
E. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Penatalaksanaan Fraktur&lt;br /&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Tindakan umum menurut Handerson (1997:222) yaitu:&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Reposisi&lt;br /&gt;
Setiap pergeseran atau angulasi pada ujung patahan harus direposisi dengan hati-hati melalui tindakan manipulasi yang biasanya dengan anestesi umum.&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Imobilisasi&lt;br /&gt;
Untuk memungkinkan kesembuhan fragmen yang diperlukan:&lt;br /&gt;
1) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Fiksasi Interna&lt;br /&gt;
Ujung patahan tulang disatukan dan difiksasi pada operasi misalnya : dengan sekrup, paku, plat logam.&lt;br /&gt;
2) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Fiksasi Interna&lt;br /&gt;
Fraktur diimobilisasi menggunakan bidai luas dan traksi.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Fisioterapi dan mobilisasi&lt;br /&gt;
Untuk memperbaiki otot yang dapat mengecil secara cepat jika tidak dipakai.&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Penatalaksanaan medis dengan ORIF&lt;br /&gt;
ORIF atau Open Reduction Internal Fixation adalah reduksi terbuka dari fiksasi internal di mana dilakukan insisi pada tempat yang mengalami fraktur. &amp;nbsp;Kemudian direposisi untuk mendapatkan posisi yang normal dan setelah direduksi, fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat orthopedik berupa pen, sekrup, plat dan paku (Price,1996:374).&lt;br /&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Penatalaksanaan keperawatan&lt;br /&gt;
Tindakan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepat mungkin:&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Berikan toksin anti tetanus&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Berikan antibiotik untuk kuman gram positif dan negatif.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dengan teknik debridement. &amp;nbsp;Prosedur teknik debridement adalah: melakukan nekrosis umum atau anestesis lokal bila luka ringan dan kecil, bila cukup luas pasang tourniquet, cuci seluruh ekstremitas selama 5-10 menit, kemudian lakukan pencukuran, luka diirigasi dengan hall steril, lakukan tindakan desinfeksi dan pemasangan duk, eksisi luka lapis demi lapis mulai dari kulit, sub kulit fasia otot, eksisi otot-otot yang tidak vital dan dibuang, lalu buang tulang-tulang kecil yang tidak melekat periosteum. &amp;nbsp;Pertahankan program tulang besar yang perlu untuk stabilitas, luka fraktur terbuka dan lalu dibiarkan terbuka dan perlu ditutup satu minggu, kemudian setelah edema menghilang (secondary sature) atau dapat juga hanya dijahit pada situasi bila luka tidak terlalu terbuka atau lebar (jahit luka jarang).&lt;br /&gt;
F. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;
Pemeriksaan penunjang pada pasien fraktur menurut Doenges (2000: 762) adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pemeriksaan Rontgen&lt;br /&gt;
Untuk menentukan lokasi atau luasnya fraktur.&lt;br /&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;CT Scan/ MRI (Magnetic Resonance Imaging)&lt;br /&gt;
Untuk memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.&lt;br /&gt;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pemeriksaan Laboratorium&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Hb (Hemoglobin) mungkin meningkat (Hemokonsentrasi) atau juga dapat menurun (perdarahan).&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Leukosit meningkat sebagai respon stress normal setelah trauma.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kreatinin, trauma meningkatkan beban kreatinin untuk klien ginjal.&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Arteriogram, dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.&lt;br /&gt;
G. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Konsep Keperawatan&lt;br /&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan.&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Potensial terjadinya infeksi b/d adanya luka trbuka.&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Cemas b/dkurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.&lt;br /&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Intervensi / implementasi&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan.&lt;br /&gt;
Tujuan : nyeri dapat berkurang atau teratasi&lt;br /&gt;
Intervensi :&lt;br /&gt;
1) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;observasi tanda – tanda vital&lt;br /&gt;
Rasional : untuk mengetahui keadaan klien&lt;br /&gt;
2) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;kaji tingkat nyeri klien dengan skala nyeri&lt;br /&gt;
Rasional : untuk megetahui sejauh mana tingkat nyeri yang di rasakan&lt;br /&gt;
3) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;atur posisi klien dengan menyokong ekstremitasyang berluka&lt;br /&gt;
Rasional : untuk memberikan kenyamanan pada klien&lt;br /&gt;
4) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;beri obat analgetik sesuai program&lt;br /&gt;
Rasional : untuk mengurangi atau menghilangkan ras nyeri&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Gangguan pemenuhan ADL / immobilisasi&lt;br /&gt;
Intervensi :&lt;br /&gt;
1) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;observasi TTV&lt;br /&gt;
Rasional : untuk mengetahui keadaan klien&lt;br /&gt;
2) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari&lt;br /&gt;
Rasional : utuk memenuhi kebutuhan ADLnya&lt;br /&gt;
3) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;tingkatkan kemandirian klie dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sesuai kemempuan&lt;br /&gt;
Rasional : mengurangi ketergantungan kepada orang lain&lt;br /&gt;
4) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari – harinya&lt;br /&gt;
Rasional : agar keluarga dapat membantu kebutuhan sehari – hari.&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Potensial terjadi infeksi b/d adanya luka terbuka&lt;br /&gt;
Tujuan: tidak terjadi infeksi&lt;br /&gt;
Intervensi :&lt;br /&gt;
1) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;kaji keadaan luka klien dan TTV&lt;br /&gt;
Rasional : informasi awal dalam intervensi selanjutnya&lt;br /&gt;
2) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;kaji apakah ada peningkatan nyeri,rasa terbakar&lt;br /&gt;
Rasional : tanda – tanda tersebut merupakan awal terjadi infeksi&lt;br /&gt;
3) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;ciptakan lingkungan yang bersih di sekitr klien&lt;br /&gt;
Rasional : menmcegah terjadinya infeksi&lt;br /&gt;
4) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;ganti balutan / perban tiap hari&lt;br /&gt;
Rasional : untuk mencegah terjadinya infeksi&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Cemas b/d kurangnya pengetahuan tentan penyakitnya&lt;br /&gt;
Intervensi :&lt;br /&gt;
1) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;kaji tingkat kecemasan klien&lt;br /&gt;
Rasional : informasi untuk tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
2) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;bina hubungan saling percaya antara perawat,klien dan keluarga klien&lt;br /&gt;
Rasional : untuk menjalin kerja sama&lt;br /&gt;
3) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;jelaskan tentang penyakit klien&lt;br /&gt;
Rasional : agar klien dan keluarga klien dapat mengerti&lt;br /&gt;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Evaluasi&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; nyeri dapat berkurang atau teratasi&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;kebutuhan ADL dapat terpenuhi&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; infeksi tidak terjadi&lt;br /&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;cemas dapat berkurang atau teratasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
Appley, Ag Dan Scloman, L, 1999, Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Applay Edisi 7, Widya Medika, Jakarta.&lt;br /&gt;
Brunner and Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah Volume 3 Edisi 8, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;
Carpunito, L. J, 2000, Diagnosa Keperawatan dan Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif (terjemahan), Edisi 2, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;
Carpenito, L. J, 2000, Hand Book of Nursing Diagnosis, Edisi 8, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;
Depkes, RI, 1996, Asuhan Keperawatan pada Sistem Muskuloskeletal, Depkes RI, Jakarta.&lt;br /&gt;
Doenges, E, Marilyn, 1996, Rencana Asuhan Keperawatan dan Pedoman untuk Mendokumentasikan Perawatan Pasien (terjemahan), Edisi 3, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;
Handei, Engram, Barbara, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah (terjemahan), volume 3, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;
Handerson, M. A, 1997, Ilmu Bedah Untuk Perawat, Yayasan Enssential Medika, Yogyakarta.&lt;br /&gt;
Mansjoer, Areif, 2005, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, FKUI, Jakarta.&lt;br /&gt;
Nanda, 2007, Panduan Diagnosa Keperawatan, Prima Medika, Jakarta.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KOLESISTITIS</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2012/10/kolesistitis.html</link><category>askep</category><category>keperawatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 17 Oct 2012 19:34:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-455209888277031528</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;
CHOLECISTITYS&lt;/div&gt;
&lt;div align="left" style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;A. Definisi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang menrupakan inflamasi akut&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;dinding kandung empedu disertai nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan panas&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;badan. Dikenal dua klasifikasi yaitu akut dan kronis (Brooker, 2001).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kolesistitis Akut adalah peradangan dari dinding kandung empedu, biasanya&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;merupakan akibat dari adanya batu empedu di dalam duktus sistikus, yang secara&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;tiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa (www.medicastore.com).&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kolesistitis Kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung empedu,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam dan hebat&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;(www.medicastore.com).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Cholesistektomy adalah bedah pengangkatan kandung empedu (biasanya untuk&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;relief batu empedu sakit) (Dictionary: WordNet).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;B. Etiologi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut, memiliki batu empedu.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kadang suatu infeksi bakteri menyebabkan terjadinya peradangan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kolesistitis akut tanpa batu merupakan penyakit yang serius dan cenderung&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;timbul setelah terjadinya: - cedera,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- pembedahan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- luka bakar&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh)&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- penyakit-penyakit yang parah (terutama penderita yang menerima makanan lewat&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;infus dalam jangka waktu yang lama).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Sebelum secsara tiba-tiba merasakan nyeri yang luar biasa di perut bagian&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;atas, penderita biasanya tidak menunjukan tanda-tanda penyakit kandung empedu.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kolesistitis kronis terjadi akibat serangan berulang dari kolesistitis akut,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding kandung empedu dan penciutan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;kandung empedu.Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu menampung empedu.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya meningkat&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pada usia diatas 40 tahun.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Faktor resiko terjadinya kolesistitis kronis adalah adanya riwayat&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;kolesistitis akut sebelumnya (www.medicastore.com).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span class="fullpost" style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span id="fullpost" style="display: inline; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;C. Patofisiologi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kandung empedu memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cairan empedu dan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara mengabsorpsi air dan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;elektrolit. Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;hati.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Pada individu normal, cairan empedu mengalir ke kandung empedu pada saat&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;katup Oddi tertutup. Dalam kandung empedu, cairan empedu dipekatkan dengan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;mengabsorpsi air. Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh peningkatan konsentrasi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;zat-zat padat. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;empedu, dapat menyebabkan infeksi kandung empedu (www.mamashealth.com).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;D. Gejala&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Timbulnya gejala bisa dipicu oleh makan makanan berlemak. Gejala bisa berupa:&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Tanda awal dari peradangan kandung empedu biasanya berupa nyeri di perut kanan&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;bagian atas.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Nyeri bertambah hebat bila penderita menarik nafas dalam dan sering menjalar ke&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;bahu kanan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Biasanya terdapat mual dan muntah.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Nyeri tekan perut&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Dalam beberapa jam, otot-otot perut sebelah kanan menjadi kaku.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Pada mulanya, timbul demam ringan, yang semakin lama cenderung meninggi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Serangan nyeri berkurang dalam 2-3 hari dan kemudian menghilang dalam 1 minggu.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Gangguan pencernaan menahun&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Nyeri perut yang tidak jelas (samar-samar)&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Sendawa.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;E. KOMPLIKASI&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Demam tinggi, menggigil, peningkatan jumlah leukosit dan berhentinya gerakan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;usus (ileus) dapat menunjukkan terjadinya abses, gangren atau perforasi kandung&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;empedu.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Serangan yang disertai jaundice (sakit kuning) atau arus balik dari empedu ke&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;dalam hati menunjukkan bahwa saluran empedu telah tersumbat sebagian oleh batu&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;empedu atau oleh peradangan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Jika pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan kadar enzim amilase, mungkin&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;telah terjadi peradangan pankreas (pankreatitis) yang disebabkan oleh penyumbatan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;batu empedu pada saluran pankreas (duktus pankreatikus).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;F. Pemeriksaan penunjang&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- CT scan perut&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Kolesistogram oral&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- USG perut.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- blood tests (looking for elevated white blood cells)&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;G. Penatalaksanaan medis&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Pengobatan yang biasa dilakukan adalah pembedahan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Kolesistektomi bisa dilakukan melalui pembedahan perut maupun melalui&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;laparoskopi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Penderita yang memiliki resiko pembedahan tinggi karena keadaan medis lainnya,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;dianjurkan untuk menjalani diet rendah lemak dan menurunkan berat badan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Bisa diberikan antasid dan obat-obat antikolinergik.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;MANAJEMEN KEPERAWATAN&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;A. PENGKAJIAN&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;menyeluruh (Boedihartono, 1994).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Pengkajian pasien Post operatif (Doenges, 1999) adalah meliputi :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1). Sirkulasi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;trombus).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2). Integritas ego&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;stimulasi simpatis.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;3). Makanan / cairan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;4). Pernapasan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;5). Keamanan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ;&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;6). Penyuluhan / Pembelajaran&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;potensial bagi penarikan diri pasca operasi).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;B. Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien post Operatif meliputi :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1. Pola nafas, tidak efektif berhubungan dengan neuromuskular, ketidakseimbangan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;perseptual/kognitif, peningkatan ekspansi paru, obstruksi trakeobronkial.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan kimia misalnya penggunaan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;obat-obat farmasi, hipoksia ; lingkungan terapeutik yang terbatas misalnya&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;stimulus sensori yang berlebihan ; stress fisiologis.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;3. Kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap berhubungan dengan pembatasan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pemasukkan cairan tubuh secara oral, hilangnya cairan tubuh secara tidak&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;normal, pengeluaran integritas pembuluh darah.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;4. Nyeri akut berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integrittas&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;otot, trauma muskuloskletal, munculnya saluran dan selang (Doenges,1999).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;C. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1994).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi ,1995).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Intervensi keperawatan pada pasien post Operatif (Doenges, 1999) meliputi :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;DP 1 :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tujuan : menetapkan pola napas yang normal/efektif dan bebas dari sianosis atau&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;tanda-tanda hipoksia lainnya.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kriteria hasil : tidak ada perubahan pada frekuensi dan kedalaman pernapasan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;INTERVENSI&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Pertahankan jalan udara pasien dengan memiringkan kepala, hiperekstensi rahang,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;aliran udara faringeal oral.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : mencegah obstruksi jalan napas.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Auskultasi suara napas. Dengarkan ada/tidaknya suara napas.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : kurangnya suara napas adalah indikasi adanya obstruksi oleh mukus atau&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;lidah dan dapat dibenahi dengan mengubah posisi ataupun pengisapan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Observasi frekuensi dan kedalaman pernapasan, pemakaian otot-otot bantu&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pernapasan, perluasan rongga dada, retraksi atau pernapasan cuping hidung,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;warna kulit, dan aliran udara.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : dilakukan untuk memastikan efektivitas pernapasan sehingga upaya&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;memperbaikinya dapat segerra dilakukan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Letakkan pasien pada posisi yang sesuai, tergantung pada kekuatan pernapasan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;dan jenis pembedahan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : elevasi kepala dan posisi miring akan mencegah terjadinya aaspirasi dari&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;muntah, posisi yang benar akan mendorong ventilasi pada lobus paru bagian&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;bawah dan menurunkan tekanan pada diafragma.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Lakukan latihan gerak sesegera mungkin pada pasien yang reaktif dan lanjutkan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pada periode pascaoperasi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : ventilasi dalam yang aktif membuka alveolus, mengeluarkan sekresi,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;meningkatkan pengangkutan oksigen, membuang gas anastesi ; batuk membantu&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;mengeluarkan sekresi dari sistem pernapasan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Lakukan pengisapan lendir jika diperlukan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : obstruksi jalan napas dapat terjadi karena adanya darah atau mukus dalam&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;tenggorok atau trakhea.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Kolaborasi, pemberian oksigen sesuai kebutuhan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : dilakukan untuk meningkatkan atau memaksimalkan pengambilan oksigen yang&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;akan diikat oleh Hb yang menggantikan tempat gas anastesi dan mendorong&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pengeluaran gas terssebut melalui zat-zat inhalasi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;DP 2:&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tujuan : meningkatkan tingkat kesadaran.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kriteria hasil : pasien mampu mengenali keterbatasan diri dan mencari sumber&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;bantuan sesuai kebutuhan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;INTERVENSI&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Orientasikan kembali pasien secara terus menerus setelah keluar dari pengaruh&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;anastesi ; nyatakan bahwa operasi telah selesai dilakukan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : karena pasien telah meningkat kesadarannya, maka dukungan dan jaminan akan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;membantu menghilangkan ansietas.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Bicara pada pasien dengan suara yang jelaas dan normal tanpa membentak, sadar&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;penuh akan apa yang diucapkan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : tidak dapat ditentukan kapan pasien akan sadar penuh, namun sensori&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pendengaran merupakan kemampuan yang pertama kali akan pulih.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Evaluasi sensasi/pergerakkan ekstremitas dan batang tenggorok yang sesuai.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : pengembalian fungsi setelah dilakukan blok saraf spinal atau lokal yang&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;bergantung pada jenis atau jumlah obat yang digunakan dan lamanya prosedur&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;dilakukan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Gunakan bantalan pada tepi tempat tidur, lakukan pengikatan jika diperlukan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : berikan keamanan bagi pasien selama tahap darurat, mencegah terjadinya&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;cedera pada kepala dan ekstremitas bila pasien melakukan perlawanan selama&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;masa disorientasi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Periksa aliran infus, selang endotrakeal, kateter, bila dipasang dan pastikan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;kepatenannya.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : pada pasien yang mengalami disorientasi, mungkin akan terjadi bendungan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pada aliran infus dan sistem pengeluaran lainnya, terlepas, atau tertekuk.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : stimulus eksternal mungkin menyebabkan abrasi psikis ketika terjadi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;disosiasi obat-obatan anastesi yang telah diberikan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;DP 3 :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tujuan : keseimbangan cairan tubuh adekuat.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kriteria hasil : tidak ada ada tanda-tanda dehidrasi (tanda-tanda vital stabil,&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;kualitas denyut nadi baik, turgor kulit normal, membran mukosa&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;lembab dan pengeluaran urine yang sesuai).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;INTERVENSI&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran. Tinjau ulang catatan intra operasi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;cairan/kebutuhan penggantian dan pilihan-pilihan yang mempengaruhi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;intervensi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Kaji pengeluaran urinarius, terutama untuk tipe prosedur operasi yang dilakukan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : mungkin akan terjadi penurunan ataupun penghilangan setelaha prosedur pada&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;sistem genitourinarius dan atau struktur yang berdekatan mengindikasikan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;malfungsi ataupun obstruksi sistem urinarius.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Pantau tanda-tanda vital.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : hipotensi, takikardia, peningkatan pernapasan mengindikasikan kekurangan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;kekurangan cairan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Letakkan pasien pada posisi yang sesuai, tergantung pada kekuatan pernapasan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;dan jenis pembedahan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : elevasi kepala dan posisi miring akan mencegah terjadinya aaspirasi dari&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;muntah, posisi yang benar akan mendorong ventilasi pada lobus paru bagian&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;bawah dan menurunkan tekanan pada diafragma.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Periksa pembalut, alat drain pada interval reguler. Kaji luka untuk terjadinya&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pembengkakan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : perdarahan yang berlebihan dapat mengacu kepada hipovolemia/hemoragi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : kulit yang dingin/lembab, denyut yang lemah mengindikasikan penurunan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk penggantian cairan tambahan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Kolaborasi, berikan cairan parenteral, produksi darah dan atau plasma ekspander&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;sesuai petunjuk. Tingkatkan kecepatan IV jika diperluakan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : gantikan kehilangan cairan yang telah didokumentasikan. Catat waktu&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;penggangtian volume sirkulasi yang potensial bagi penurunan komplikasi,&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;misalnya ketidak seimbangan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;DP 4:&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tujuan : pasien mengatakan bahwa rasa nyeri telah terkontrol atau hilang.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kriteria hasil : pasien tampak rileks, dapat beristirahat/tidur dan melakukan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pergerakkan yang berarti sesuai toleransi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;INTERVENSI&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Evaluasi rasa sakit seccara reguler, catat karakteristik, lokasi dan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;intensiitas (0-10).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : sediakan informasi mengenai kebutuhan/efektivitas intervensi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Catat munculnya rasa cemas/takut dan hubungkan dengan lingkungan dan persiapan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;untuk prosedur.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : perhatikan hal-hal yang tidak diketahui dan/atau persiapan inadekuat&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;misalnya apendikstomi darurat) dapat memperburuk persepsi pasien akan rasa&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;sakit.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Kaji tanda-tanda vital, perhatikan takikardia, hipertensi dan peningkatan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pernapasan, bahkan jika pasien menyangkal adanya rasa sakit.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Berikan informasi mengenai sifat ketidaknyamanan, sesuai kebutuhan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : pahami penyebab ketidaknyamanan, sediakan jaminan emosional.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Lakukan reposisi sesuai petunjuk, misalnya semi – Fowler ; miring.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : mungkin mengurangi rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi. Posisi semi –&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Fowler dapat mengurangi tegangan otot abdominal dan otot pungguung&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;artritis, sedangkan miring mengurangi tekanan dorsal.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Observasi efek analgetik.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : respirasi mungkin menurun pada pemberian narkotik, dan mungkin menimbulkan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;efek-efek sinergistik dengan zat-zat anastesi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; - Kolaborasi, pemberian analgetik IV sesuai kebutuhan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : analgetik IV akan dengan segera mencapai pusat rasa saki, menimbulkan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;penghilang yang lebih efektif dengan obat dosis kecil.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;B. EVALUASI&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Evaluasi yang diharapkan pada pasien post Operatif meliputi : 5&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1. Menetapkan pola napas yang normal/efektif dan bebas dari sianosis atau tanda-&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;tanda hipoksia lainnya.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2. Meningkatkan tingkat kesadaran.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;3. Keseimbangan cairan tubuh adekuat.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;4. Pasien mengatakan bahwa rasa nyeri telah terkontrol atau hilang.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;DAFTAR REFERENSI :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;http://arifs45.multiply.com/journal/item/8&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;http://kamus.landak.com/cari/cholecystectomy&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;http://www.mamashealth.com/stomach/cholecy.asp&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;http://www.medicastore.com/index.php?mod=penyakit&amp;amp;id=607&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;http://www.medicastore.com/index.php?mod=penyakit&amp;amp;id=608&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula, Edisi I. Jakarta : EGC.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Syaifudin, H, B.Ac, Drs. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, Edisi 2.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Jakarta: EGC.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ULCUS DEKUBITUS</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2012/10/ulcus-dekubitus.html</link><category>askep</category><category>keperawatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 17 Oct 2012 19:33:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-5274168960362107533</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div align="left" style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="color: #006600; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Definisi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #003366; display: inline; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; height: auto; line-height: 21.75px; overflow: visible; padding: 1px 0px; text-align: justify;"&gt;
Ulkus dekubitus adalah kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan dari bawah kulit bahkan menembus otot sampai mengenai tulang, akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus – menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah.&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; text-align: justify;"&gt;Ulkus dekubitus adalah ulkus yang ditimbulkan karena tekanan yang kuat oleh berat badan pada tempat tidur.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; text-align: justify;"&gt;Luka dekubitus adalah nekrosis pada jaringan lunak antara tonjolan tulang dan permukaan padat, paling umum akibat imobilisasi.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #006600; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Etiologi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; text-align: justify;"&gt;a) Tekanan&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; text-align: justify;"&gt;b) Kelembaban&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; text-align: justify;"&gt;c) Gesekan&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span class="fullpost" style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span id="fullpost" style="display: inline; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span style="color: #006600; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Patofisiologi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tekanan imobilisasi yang lama akan mengakibatkan terjadinya dekubitus, kalau salah satu bagian tubuh berada pada suatu gradient (titik perbedaan antara dua tekanan). Jaringan yang lebih dalam dekat tulang, terutama jaringan otot dengan suplai darah yang baik akan bergeser kearah gradient yang lebih rendah, sementara kulit dipertahankan pada permukaan kontak oleh friksi yang semakin meningkat dengan terdapatnya kelembaban, keadaan ini menyebabkan peregangan dan angggulasi pembuluh darah (mikro sirkulasi) darah yang dalam serta mengalami gaya geser jaringan yang dalam, ini akan menjadi iskemia dan dapat mengalami nekrosis sebelum berlanjut ke kulit.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span style="color: #006600; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Manifestasi Klinis dan Komplikasi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;a) Tanda cidera awal adalah kemerahan yang tidak menghilang apabila ditekan ibu jari.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;b) Pada cidera yang lebih berat dijumpai ulkus dikulit.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;c) Dapat timbul rasa nyeri dan tanda-tanda sistemik peradangan, termasuk demam dan peningkatan hitung sel darah putih.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;d) Dapat terjadi infeksi sebagai akibat dari kelemahan dan perawatan di Rumah Sakit yang berkepanjangan bahkan pada ulkus kecil.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span style="color: #006600; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Pemeriksaan Diagnostik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;a) Kultur : pertumbuhan mikroorganisme tiruan atau sel – sel jaringan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;b) Albumin serum : protein utama dalam plasma dan cairan serosa lain.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span style="color: #006600; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Penatalaksanaan medis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;a) Merubah posisi pasien yang sedang tirah baring.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;b) Menghilangkan tekanan pada kulit yang memerah dan penempatan pembalut yang bersih dan tipis apabila telah berbentuk ulkus dekubitus.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;c) Sistemik : antibiotic spectrum luas, seperti :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Amoxilin 4x500 mg selama 15 – 30 hari.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Siklosperm 1 – 2 gram selama 3 – 10 hari.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Topical : salep antibiotic seperti kloramphenikol 2 gram.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span style="color: #006600; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Manajemen Keperawatan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;1.Pengkajian&lt;/span&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;a)Aktivitas/ istirahat&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tanda : penurunan kekuatan, ketahanan, keterbatasan rentang gerak.pada area yang sakit gangguannya misalnya otot perubahan tunas.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;b) Sirkulasi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tanda : hipoksia, penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cidera, vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin, pembentukan edema jaringan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;c) Eleminasi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tanda : keluaran urin menurun adalah tidak adanya pada fase darurat, warna mungkin hitam kemerahan , bila terjadi, mengidentifiasi kerusakan otot.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;d)Makanan/cairan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tanda : edema jaringan umum, anoreksia, mual dan muntah.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;e) Neurosensori&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Gejala : area kebas/kesemutan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;f) Pernapasan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Gejala :menurunnya fungsi medulla spinalis, edema medulla, kerusakan neurology, paralysis abdominal dan otot pernapasan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;g) Integritas ego&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Gejala : masalah keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tanda : ansietas, menangis, ketergantungan, mmenarik diri, marah.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;h) Keamanan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tanda : adanya fraktur akibat dilokasi (jatuh, kecelakaan, kontraksi otot tetanik, sampai dengan syok listrik).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;2.Diagnosa Keperawatan&lt;/span&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1)Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan destruksi mekanis jaringan sekunder terhadap tekanan, gesekan dan fraksi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2)Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan pembatasan gerak yang diharuskan, status yang dikondisikan, kehilangan control motorik akibat perubahan status mental.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;3)Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukkan oral.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;4)Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemajanan dasar dekubitus, penekanan respons inflamasi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;5)Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang etiologi, pencegahan, tindakan dan perawatan dirumah.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;3.Intervensi dan Implementasi&lt;/span&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1)Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan destruksi mekanis jaringan sekunder terhadap tekanan, gesekan dan fraksi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Terapkan prinsip pencegahan luka dekubitus.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : prinsip pencegahan luka dekubitus, meliputi mengurangi atau merotasi tekanan dari jaringan lunak.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Atur posis pasien senyaman mungkin.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : meminimalkan terjadinya jaringan yang terkena dekubitus.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Balut luka dengan balutan yang mempertahankan kelembaban lingkungan diatas dasar luka.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : luka yang lembab dapat mempercepat kesembuhan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan pembatasan gerak yang diharuskan, status yang dikondisikan, kehilangan control motorik akibat perubahan status mental.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Dukungan mobilisasi ketingkat yang lebih tinggi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : gerakan teratur menghilangkan tekanan konsisten diatas tonjolan tulang.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan, seperti mandi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan control pasien dalam situasi dan peningkatan kesehatan lingkungan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Berikan perhatian khusus pada kulit.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : penelitian menunjukkan bahwa kulit sangat rentan untuk mengalami kerusakan karena konsentrasi berat badan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukkan oral.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Beri makan dalm jumlah kecil, sering dan dalam keadaan hangat.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : membantu mencegah distensi gaster/ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukkan, menambah napsu makan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Bantu kebersihan oral sebelum makan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : mulut/peralatan bersih meningkatkan napsu makan yang baik.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Pertahankan kalori yang ketat.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : pedoman tepat untuk pemasukkan kalori yang tepat.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;4) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemajanan dasar dekubitus, penekanan respons inflamasi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Gunakan tehnik yang tepat selama mengganti balutan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : teknik yang baik mengurangi masuknya mikroorganisme pathogen kedalam luka.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Ukur tanda – tanda vital .&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : peningkatan suhu tubuh, takikardia menunjukkan adanya sepsis.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Gunakan sarung tangan steril setiap mengganti balutan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : setiap ulkus terkontaminasi oleh mikroorganisme yang berbeda, tindakan ini dapat mencegah infeksi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Cuci dasar luka dengan larutan NaCl 0,9 %.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : Dapat membuang jaringan yang mati pada permukaan kulit dan mengurangi mikroorganisme.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Berikan obat antibiotic sesuai indikasi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : antibiotic pilihanpada ulkus dekubitus berguna melawan organisme gram negative dan gram positif.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;5) Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang etiologi, pencegahan, tindakan dan perawatan dirumah.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Anjurkan tindakan untuk mencegah luka dekubitus.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : pencegahan luka dekubitus lebih mudah dari pengobatan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;- Anjurkan tindakan untuk mengobati luka dekubitus.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;R : instruksi spesifik ini membantu pasien dan keluarga belajar untuk meningkatkan penyembuhan dan mencegah infeksi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;4. Evaluasi&lt;/span&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1) Pasien dapat mencegah dan mengidentifikasi factor penyebab luka dekubitus; menunjukkan kemajuan penyembuhan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2) Pasien mempunyai kulit tanpa neritema dan tidak pucat.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;3) Pasien menunjukkan peningkatan berat badan dan massa otot.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;4) Kulit tidak akan teritasi akibat pemajanan terhadap fekal atau urine drainage.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;5) Menunjukkan hasil pembelajaran yang efektif untuk tujuan pemulangan dan perawatan pasien dirumah.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Capernito, Linda Juall. 1999. Rencana Diagnosa dan Dokumentasi Keperawatan : Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif Ed.2. Jakarta : EGC.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Keperawatan : Pedoman Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Nurachman, Elly. 2001. Nutrisi Dalam Keperawatan. Jakarta : Sagung Seto.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>INSOMNIA</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2012/10/insomnia.html</link><category>askep</category><category>keperawatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 17 Oct 2012 19:32:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-2167376607371986682</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;
NURSING CARE IN INSOMNIA&lt;/div&gt;
&lt;div align="left" style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="left" style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;
PENGERTIAN&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tidur adalah bagian dari ritme biologis tubuh untuk mengembalikan stamina. Kebutuhan tidur bervariasi pada masing-masing orang, umumnya 6-8 jam per hari. Agar tetap sehat, yang perlu diperhatikan adalah kualitas tidur (www.depkes.go.id).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Insomnia adalah kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur yang bisa bersifat sementara atau persisten (Kaplan &amp;amp; Sadock, 1997).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Insomnia adalah salah satu fenomena umum dalam gangguan pola tidur. Jangka panjang dapat menyebabkan menderita gejala somatic dan perkembangan penyakit. Ia bahkan dapat menimbulkan penyakit mental dengan dimensi (www.ncbi.nlm.nih.gov).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Insomnia insomnia adalah ketidakmampuan untuk tidur, tetap tidur, atau merasa segar dengan tidur. Akut dan sementara selama periode stres, insomnia dapat menjadi kronis, konstan menyebabkan kelelahan, kegelisahan ekstrim sebagai pendekatan sensasi, dan gangguan kejiwaan (www.wrongdiagnosis.com).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span class="fullpost" style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span id="fullpost" style="display: inline; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;PENYEBAB&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1. karena kondisi medis : tiap kondisi yang menyakitkan atau tidak menyenangkan,sindroma apnea tidur, restless leggs syndrome,faktor diet, parasomnia, efek zat langsung (drugs/alcohol), efek putus zat, penyakit endokrin/metabolik, penyakit infeksi, neoplastic, nyeri/ketidaknyamanan,lesi batang otak/hipotalamus, akibat penuaan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2. sekunder karena kondisi psikiatri&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;kecemasan, ketegangan otot-otot, perubahan lingkungan, gangguan tidur irama sirkadian, depresi primer, stress pascatraumatik, skizofrenia (Kaplan &amp;amp; Sadock, 1997).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), menunjukkan beberapa gejala dimana seseorang dapat didiagnosis sedang menderita insomnia karena faktor psikologis, yaitu:&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1. Kesulitan untuk memulai, mempertahankan tidur, dan tidak dapat memperbaiki tidur selama sekurangnya satu bulan merupakan keluahan yang paling banyak terjadi.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2. Insomnia ini menyebabkan penderita menjadi stres sehingga dapat mengganggu fungsi sosial,pekerjaan atau area fungsi penting yang lain.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;3. Insomnia karena faktor psikologis ini bukan termasuk narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan ritme sirkadian atau parasomnia.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;4. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena gangguan mental lain seperti gangguan depresi, delirium.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;5. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena efek fisiologis yang langsung dari suatu zat seperti penyalahgunaan obat atau kondisi medis yang umum.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Dengan adanya gejela-gejala yang disebutkan oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), maka insomnia karena faktor psikologis dapat mengganggu berbagai fungsi sosial. (www.e-psikologi.com).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;SIKLUS INSOMNIA KRONIS&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Jika seseorang mengalami insomnia sementara karena faktor psikologis (mengalami kesulitan tidur dengan nyenyak selama kurang lebih satu malam dan kurang dari empat minggu) tetapi tidak dapat beradaptasi dengan penyebab insomnia (tidak mampu mengelola stres tersebut secara sehat) maka akan mengakibatkan seseorang mengalami insomnia jangka pendek (kesulitan tidur nyenyak selama empat minggu hingga enam bulan). Jika insomnia jangka pendek ini tetap tidak dapat diatasi oleh si penderita maka akan mengakibatkan insomnia kronis. Jika terjadi insomnia kronis maka akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk penyembuhannya (www.e-psikologi.com).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim ARAS (Ascending Reticulary Activity System). Bila aktifitas ARAS ini meningkat orang tersebut dalam keadaan terjaga. Aktifitas ARAS menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Aktifitas ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem serotoninergik, noradrenergik, kholonergik, histaminergik.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Sistem serotonergik&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam amino trypthopan. Dengan &amp;nbsp; &amp;nbsp;bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga meningkat akan &amp;nbsp; &amp;nbsp;menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin dari tryptopan terhambat pembentukannya, maka terjadikeadaan tidak bisa tidur/jaga. Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di batang otak, yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan tidur REM.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Sistem Adrenergik&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan sel nukleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan aktifitas neuron noradrenergic akan menyebabkan penurunan yang jelas pada tidur REM dan peningkatan keadaan jaga.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Sistem Kholinergik&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Sitaram et al (1976) membuktikan dengan pemberian prostigimin intra vena dapat mempengaruhi episode tidur REM. Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas gambaran EEG seperti dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga terjadi pemendekan latensi tidur REM. Pada obat antikolinergik (scopolamine) yang menghambat pengeluaran kholinergik dari lokus sereleus maka tamapk gangguan pada fase awal dan penurunan REM.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Sistem histaminergik&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Sistem hormon&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormone seperti ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus patway. Sistem ini secara teratur mempengaruhi pengeluaran neurotransmitter norepinefrin, dopamin, serotonin yang bertugas menagtur mekanisme tidur dan bangun (perawat-jiwatiga.blogspot.com).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;DAMPAK INSOMNIA&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Insomnia dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan, yaitu:&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1. Depresi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2. Kesulitan untuk berkonsentrasi&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;3. Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;4. prestasi kerja atau belajar mengalami penurunan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;5. Mengalami kelelahan di siang hari&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;6. Hubungan interpersonal dengan orang lain menjadi buruk&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;7. Meningkatkan risiko kematian&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;8. Menyebabkan kecelakaan karena mengalami kelelahan yang berlebihan&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;9. Memunculkan berbagai penyakit fisik&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Dampak insomnia tidak dapat di anggap remeh, karena bisa menimbulkan kondisi yang lebih serius dan membahayakan kesehatan dan keselamatan. Oleh karenanya, setiap penderita insomnia perlu mencari jalan keluar yang tepat (www.e-psikologi.com).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;THERAPY&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;1. CBT (Cognitive Behavioral Therapy)&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;CBT digunakan untuk memperbaiki distorsi kognitif si penderita dalam memandang dirinya, lingkungannya, masa depannya, dan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya sehingga si penderita merasa berdaya atau merasa bahwa dirinya masih berharga.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;2. Sleep Restriction Therapy&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Sleep restriction therapy digunakan untuk memperbaiki efisiensi tidur si penderita insomnia.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;3. Stimulus Control Therapy&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Stimulus control therapy berguna untuk mempertahankan waktu bangun pagi si penderita secara reguler dengan memperhatikan waktu tidur malam dan melarang si penderita untuk tidur pada siang hari meski hanya sesaat.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;4. Relaxation Therapy&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Relaxation Therapy berguna untuk membuat si penderita rileks pada saat dihadapkan pada kondisi yang penuh ketegangan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;5. Cognitive Therapy&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Cognitive Therapy berguna untuk mengidentifikasi sikap dan kepercayaan si penderita yang salah mengenai tidur.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;6. Imagery Training&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Imagery Training berguna untuk mengganti pikiran-pikiran si penderita yang tidak menyenangkan menjadi pikiran-pikiran yang menyenangkan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Banyak di antara para penderita insomnia karena factor psikologis yang menggunakan obat tidur untuk mengatasi insomnianya. Namun penggunaan yang terus menerus tentu menimbulkan efek samping yang negative, baik secara fisiologis (efek terhadap organ dan fungsi organ tubuh) serta efek psikologis. Logikanya, insomnia yang disebabkan factor psikologis, berarti factor psikologis itu lah yang harus di atasi, bukan symtomnya. Kalau kita hanya focus mengatasi simtom-nya dengan minum berbagai obat tidur, maka ketika mata terbuka, masalah akan datang kembali, bahkan akan dirasa lebih berat karena dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi pada akar masalah.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Perlu diketahui, bahwa keberhasilan terapi tergantung dari motivasi si penderita untuk sembuh sehingga si penderita harus sabar, tekun dan bersungguh-sungguh dalam menjalani sesi terapi. Selain itu, sebaiknya terapi yang dilakukan juga diiringi dengan pemberian terapi keluarga. Hal ini disebabkan, dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita dilibatkan untuk membantu kesembuhan si penderita. Dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita juga diberi tahu tentang seluk beluk kondisi si penderita dan diharapkan anggota keluarganya dapat berempati untuk membantu kesembuhan si penderita.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;ASKEP&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;kaji efek samping pengobatan pada pola tidur klien.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;pantau pola tidur klien dan catat hubungan faktor-faktor fisik (misalnya : apnea saat tidur, sumbatan jalan nafas, nyeri/ketidaknyamanan, dan sering berkemih).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;jelaskan pada klien pentingnya tidur adekuat (selama kehamilan, sakit, stress psikososial).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;ajarkan klien dan keluarga untuk menghindari faktor penyebab (misal : gaya hidup, diet, aktivitas, dan faktor lingkungan).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;ajarkan klien dan kelurga dalam teknik relaksasi (pijat/urut sebelum tidur, mandi air hangat, minum susu hangat).&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Solusi mencegah insomnia&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Insomnia karena faktor psikologis dapat dicegah dengan cara memanage stres secara positif dan jika ada mengalami masalah sebaiknya sharing pada seseorang yang dapat Anda percaya. Semoga dengan pembahasan tentang insomnia ini, dapat memberikan manfaat bagi Anda. Dengan informasi ini, diharap kita pun bisa memahami penderita insomnia dan dapat memberikan bantuan yang tepat. Perhatian dan empati terhadap penderita insomnia, bisa sedikit mengobati kegalauan emosi jiwanya. Semoga bermanfaat.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;KEPUSTAKAAN&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=483&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18836979?ordinalpos=2&amp;amp;itool=EntrezSystem2.PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DefaultReportPanel.Pubmed_RVDocSum&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;http://www.wrongdiagnosis.com/symptoms/insomnia/causes.htm&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Kaplan, Harold I. &amp;amp; Sadock, Benjamin J. 1997. Sinopsis Psikiatri Jilid 2 edisi 7. Jakarta : Binarupa Aksara.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Wilkinson, Judit M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MODEL KONSEPTUAL MYRA ESTRINE LEVINE</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2012/10/model-konseptual-myra-estrine-levine.html</link><category>askep</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 17 Oct 2012 19:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-4596381736348012114</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center;"&gt;
TEORI LEVINE&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; text-align: justify;"&gt;TEORI LEVINE &amp;amp; EMPAT KONSEP POKOK&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; text-align: justify;"&gt;Levine menekankan kebutuhan dalam memandang individu sebagai makhluk holistik yang termasuk individu sebagai makhluk yang kompleks. Dia mendefinisikan perawatan berdasarkan pada ketergantungan/ hubungan manusia dengan orang lain. Besarnya ketergantungan ini membuatnya merencanakan empat prinsip konservasi yakni kebutuhan energi dan pemakaiannya, integritas sosial, integritas struktur, integritas personal. Manusia tergantung pada yang lain pada semua aspek kehidupan, makanan, keamanan, rekreasi dan penghargaan. Levine mengharapkan seorang perawat :&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;ol style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 12px 0px 12px 30px; text-align: justify;"&gt;
&lt;li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;mengetahui kekomplekan interaksi&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;mendukung dalam mempertahankan atau memulihkan hubungan saat klien mengalami gangguan kesehatan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; text-align: justify;"&gt;Keseimbangan yang normal berubah saat sakit dan klien akan berusaha mengatasi stress nya dan mungkin menunjukkan perubahan pola tingkah laku dan fungsi. Seorang perawat harus mempersepsikan pertanggung jawaban dalam membantu klien untuk mengadaptasi perubahan kearah cara pemeliharaan kesehatan yang positif. Pengaruh masyarakat atau lingkungn dalam teori Levine sangat penting. Inti dari definisi teori Levine bahwa perawatan adalah interaksi antara manusia, ia menggunakan konsep adaptasi dan peningkatan respon tubuh melalui pendekatan sistem.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span class="fullpost" style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span id="fullpost" style="display: inline; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;TEORI LEVINE DAN PROSES KEPERAWATAN&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Teori perawatan Levine pada pokoknya sama dengan elemen-elemen proses perawatan. Menurutnya harus selalu mengobservasi klien, memberikan intervensi yang tepat sesuai dengan perencanaan dan mengevaluasi. Semua tindakan ini bertujuan untuk membantu klien. Menurutnya dalam perawatan klien, perawat dan klien harus bekerja sama.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Dalam teori Levine, klien dipandang dalam posisi ketergantungan, sehingga kemampuan klien terbatas untuk berpartisipasi dalam pengumpulan data, perencanaan, implementasi atau semua fase dari posisi ketergantungan. Klien membutuhkan bantuan dari perawat untuk beradaptasi terhadap gangguan kesehatannya. Perawat bertanggung jawab dalam menentukan besarnya kemampuan partisipasi klien dalam perawatan.Dalam fase pengkajian, klien dikaji melalui dua metoda yaitu interview dan observasi. dalam pengkajian berfokus pada klien, keluarga, anggota lainnya, atau hanya mempertimbangkan penjelasan dari mereka dalam membantu memecahkan permasalahan kesehatanklien. Hal ini juga mempengaruhi kesiapan klien dalam menghadapi lingkungan eksternal. Menurut Levine, jika anggota keluarga membutuhkan suatu perjanjian maka keluarga harus menjadi sasaran pengkajian. Dalam pengkajian menyeluruh, perawat menggunakan empat prinsip teori Levine yang disebut pedoman pengkajian. Perawat menitik beratkan pada keseimbangan energi klien dan pemeliharaan integritas klien. Kemudian perawat mengumpulkan sumber energi klien yaitu nutrisi, istirahat (tidur), waktu luang, pola koping, hubungan dengan anggota keluarga/orang lain, pengobatan, lingkungan dan penggunaan energi yakni fungsi dari beberapa sistem tubuh, emosi dan stress sosial dan pola kerja. Juga data tentang integritas struktur klien yaitu pertahanan tubuh, struktur fisik, integritas personal (sistem diri klien) yakni keunikan, nilai, kepercayaan dan integritas sosial yakni : proses keputusan dari klien dan hubungan klien dengan orang lain serta kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain atau masyrakat.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Setelah mengumpulkan semua data, perawat menganalisa data secara menyeluruh. Analisa ini mencerminkan keseimbangan kekuatan dan kelemahan dari diri klien pada empat area pengkajian (prinsip konservasi). Analisa ini juga membutuhkan pengumpulan data lebih banyak. Dalam menganalisa, konsep dan teori dari disiplin lain juga sama penekanannya.Dalam fase perencanaan dimasukkan tujuan akhir. Proses perawatan menekankan kualitas dari aktivitas klien dan perawat. Bagaimanpun, Levine tidak secara khusus mengidentifikasikan atau menekankan kebutuhan sebagai tujuan akhir. Kesimpulannya mutu adalah sangat penting diaplikasikan dalam teori ini untuk mencapai tujuan klinik. Dasar dari pendapat ini adalah : Posisi ketergantungan dari klien sebagai akibat dari sakit atau bantuan kesehatan yang membutuhkan bantuan perawatan.Tanggung jawab perawat untuk memonitor kondisi klien dalam mengatur keseimbangan antara intervensi keperawatan dan partisipasi klien dalam perawatan. Perawat sebagai individu harus melibatkan klien dalam aktivitas pengkajian dasar dan kemampuan partisipasi klien dalam mencapai tujuan akhir. Tujuan harus mencerminkan usaha membantu klien untuk beradaptasi dan mencapai kondisii sehat. Dalam fase perencanaan, perawat harus menetapkan tujuan :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;ol style="font-size: 13px; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 12px 0px 12px 30px;"&gt;
&lt;li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;Menetapkan strategi yang dipakai untuk perencanaan.&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;Menentukan tingkat perencanaan yang harus dikembangkan untuk mencapai tujuan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Levine menyatakan perawat harus mempunyai dasar pengetahui praktis, kemudian tahapan dari perencanaan perawatan harus berdasar dari prinsip, hukum, konsep, teori, dan pengetahuan tentang diri manusia. Dalam mengembangkan perencanaan perawat harus meningkatkan kemampuan partisipasi klien dalam perencanaan perawatan dan mengidentifikasi tingkat partisipasi klien. Selama fase perencanaan perawat boleh konsul dengan team kesehatan lain. Pelaksanaan dari perawatan disebut implementasi. Perawat harus mengawasi respon klien. Data dikumpulkan kemudian dipakai dalam fase evaluasi. Selama fase evaluasi perawat bertanggung jawab untuk memberikan perawatan kepada klien. Teori Levine menyatakan bahwa :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;ol style="font-size: 13px; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 12px 0px 12px 30px;"&gt;
&lt;li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;Perawat harus memiliki skill untuk melaksanakan intervensi keperawatan.&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;Intervensi perawat mendorong adaptasi klien.&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;Dalam fase evaluasi perawat memusatkan respon dari klien untuk melakukan tindakan perawatan.&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;Perawat mengumpulkan data tentang respon klien untuk menetukan intervensi perawatan yaitu tentang pengobatan atau support.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Bagaimana teori Levine berfokus pada orang per orang, berorientasi pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang, dan klien dengan gangguan kesehatan membutuhkan intervensi perawatan.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;REFERENSI :&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Dwidiyanti, Mediana. 1998. Aplikasi Konseptual Keperawatan. AKPER DEPKES : Semarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ASKEP GADAR PERDARAHAN</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2012/10/askep-gadar-perdarahan.html</link><category>keperawatan</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (cah bumen)</author><pubDate>Wed, 17 Oct 2012 19:29:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-5811810925127208135</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #003366; display: inline; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; height: auto; line-height: 21.75px; overflow: visible; padding: 1px 0px; text-align: justify;"&gt;
Definisi&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Perdarahan terjadi jika pembuluh darah putus atau pecah.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Perdarahan luar&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Perdarahan dalam&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Perdarahan hebat, dapat membahayakan shock hipovolemik&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Klafisikasi : perdarahan kapiler, perdarahan arteri, perdarahan vena.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Asuhan Keperawatan&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Pengkajian&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;li style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Pengkajian ABCD, pucat, kulit dingin dan lembab, tekanan darah turun, nadi cepat tapi lemah, nafas dalam dan cepat, menurunnya produksi urine.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Diagnosa keperawatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Kurang volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan darah aktif.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Penurunan kardiak output berhubungan dengan penurunan preload, kehilangan darah.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan kehilangan darah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px 0px 8px;"&gt;&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan perfusi otak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #003366; display: inline; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; height: auto; line-height: 21.75px; overflow: visible; padding: 1px 0px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Tujuan keperawatan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #003366; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21.75px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt; Mengontrol perdarahan.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Mempertahankan volume darah sirkulasiadekuat untuk oksigenasi.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Mencegah shock.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span class="fullpost" style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;span id="fullpost" style="display: inline; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Penatalaksanaan kedaruratan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Potong baju pasien untuk mengidentifikasi area perdarahan dan lakukan pengkajian fisik dengan cepat.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Beri penekanan pada area perdarahan.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Penekanan langsung&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Tekan langsung area perdarahan dengan telapak tangan atau menggunakan pembalut atau kainyang bersih selama kurang lebih 15 menit, dan pasang balutan tekanan kuat.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Penekanan arteri&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Penekanan dilakukan pada ujung arteri yang sesuai (ujung dimana arteri ditekan melawan tulang yang berada dibawahnya).&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Enam titik utama penekanan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Arteri temporalis : pada daerah depan masing-masing telinga dan dapat ditekan pada tulang tengkorak.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Arteri fasialis : terletak dibawah dagu dan 2,5 cm sebelah dalam dagu.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Arteri karotis komunis : pada sisi samping trachea. Saat dilakukan tekanan observasi pernapasan pasien dan tidak boleh pada kedua arteri karotis dalam waktu bersamaan.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Arteri subklavia : terletak dibawah kedua sisi klavikula (tulang collar). Penekanan harus dilakukan pada posisi melintang dibelakang dan kira – kira setengah panjang klavikula.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Arteri brakhialis : pada pertengahan antara siku dan bahu, terletak pada daerah yang lebih dalam dari lengan atas antara otot biseps dan triseps.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Arteri femoralis : dapat dirasakan pada lipat paha.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Torniket&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Pemasanagan torniket pada ekstremitas hanya sebagai upaya terakhir ketika perdarahan tidak dapat dikontrol dengan metode lain.&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Torniket dipasang tepat proksimal dengan luka ; torniket cukup kencang untuk mengontrol aliran darah arteri.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Berikan tanda pada kulit pasien dengan pulpen atau plester dengan tanda T, menyatakan lokasi dan waktu pemasangan torniket.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Longgarkan torniket sesuai petunjuk untuk mencegah kerusakan vascular atau neurologik. Bila sudah tidak ada perdarahan arteri, lepasakan torniket dan coba lagi balut dengan tekanan.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Pada kejadian amputasi traumatic, jangan lepaskan torniket sampai pasien masuk ruang operasi.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Tinggikan atau elevasikan bagian yang luka untuk memperlambat mengalirnya darah.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Baringkan korban untuk mengurangi derasnya darah keluar.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Berikan cairan pengganti sesuai saran, meliputi cairan elektrolit isotonic, plasma atau protein plasma, atau terapi komponen darah (bergantung perkiraan tipe dan volume cairan yang hilang).&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Darah segar diberikan bila ada kehilangan darah massif.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;• Tamabahan trombosit dan factor pembekuan darah diberikan ketika jumlah darah yang besar diperlukan karena darah penggantian kekurangan factor pembekuan.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Lakukan pemeriksaan darah arteri untuk menentukan gas darah dan memantau tekanan hemodinamik.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt; Awasi tanda – tanda shock atau gagal jantung karena hipovolemia dan anoksia.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;REFERENSI&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Hudak, Carolyn M. 1996. Keperawatan Kritis-Pendekatan holistic, Ed. 6. Vol. 2. EGC : Jakarta.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Pusponegoro, A.D. Dkk . Buku Panduan Penanggulangan Penderita gawat Darurat. Ambulance 118 : Jakarta.&amp;nbsp;&lt;br style="margin: 0px; padding: 0px;" /&gt;Skeet, Muriel. 1995. Tindakan paramedic Terrhadap Kegawatan dan Pertolongan Pertama, Ed. 2. EGC : Jakarta.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kurangi Garam untuk Kesehatan Jantung</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2011/06/kurangi-garam-untuk-kesehatan-jantung.html</link><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 23 Jun 2011 17:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-4705306117843144795</guid><description>reallynatural.com&lt;br /&gt;MENGURANGI asupan garam, khususnya bagi pencinta makanan bercita rasa asin, bukanlah hal yang mudah. Tapi, Anda bisa memulai dengan jumlah kecil. Studi terbaru mengungkap, mengurangi tiga gram garam dalam sehari atau setara dengan setengah sendok teh mampu mengurangi kemungkinan penyakit jantung secara dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis studi yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, manfaat pengurangan tiga gram garam ini setara dengan pengurangan 50 persen kebiasaan merokok dan pengurangan lima persen indeks massa tubuh pada orang yang obesitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manfaat pengurangan garam dalam menurunkan tekanan darah dan penyakit jantung telah lama diketahui. Penelitian ini hanya memetakan jumlah yang baik. Studi ini mempunyai bukti ilmiah pentingnya mengurangi garam dalam meningkatkan kualitas hidup dan angka harapan hidup," tutur Dr. Robert Eckel dari University of Colorado Denver School of Medicine, seperti dikutip situs healthday.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan-badan kesehatan di Amerika menganjurkan agar orang dewasa membatasi asupan garam hingga 5,8 gram (2.300 miligram sodium) sehari. Akan lebih baik lagi jika bisa membatasi hingga 3,7 gram sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Jantung Amerika (American Heart Association) juga menganjurkan konsumsi sodium kurang dari 2.300 mg sehari. Akan tetapi, jumlah ini dikurangi lagi hinga kurang dari 1.500 mg per hari bagi mereka yang berusia lanjut atau penderita hipertensi. (IK/OL-08)</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teknik Memenuhi Rasa Nyaman Pada Masa Hamil (Distraksi &amp; Relaksasi)</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2011/06/teknik-memenuhi-rasa-nyaman-pada-masa.html</link><category>askep</category><category>keperawatan</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 23 Jun 2011 17:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-2902485899442755501</guid><description>Ibu hamil dan bayiTidak semua wanita mengalami ketidaknyamanan akibat kehamilan yang disebutkan dibawah ini, akan tetapi tidak sedikit juga wanita yang mengalami ketidaknyamanan tersebut. Cara meringankan ketidaknyamanan bisa membuat perbedaan yang signifikan dalam cara wanita tersebut memandang pengalaman kehamilannya. Dasar fisiologis, psikologis dan anatomis untuk masing-masing ketidaknyamanan tersebut diberikan untuk merangsang pemikiran selanjutnya tentang cara-cara meringankannya. Cara-cara meringankan tersebut didasarkan pada penyebab dari ketidaknyamanan tersebut serta diarahkan ke penatalaksanaan symptomatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa letih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa letih sering terjadi selama trimester pertama tanpa diketahui penyebabnya. Salah satu sangkaan yang diajukan ialah penurunan awal dalam laju metabolik dasar pada awal-awal kehamilan, tetapi mengapa hal itu terjadi tidaklah jelas. Untunglah hal ini hanya merupakan ketidaknyamanan yang terbatas, biasanya akan lenyap pada akhir trimester pertama. Namun, hal tersebut bisa mempunyai efek meningkatkan intensitas respon psikologis yang dialami wanita selama masa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah peringanannya ialah meyakinkan ibu tentang kenormalan rasa letih tersebut serta pengurangan dengan sendirinya pada trimester kedua di kemudian hari. Hal ini akan dapat membantu ibu tersebut untuk mengambil lebih banyak waktu istirahat pada siang hari hingga masa ini berlalu. Sedikit senam berikut konsumsi makanan yang bergizi akan dapat melawan rasa letih ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punggung atas sakit (bukan karena penyakit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit punggung bagian atas bisa terjadi selama trimester pertama oleh karena pertambahan ukuran dan akibat beratnya payudara, yang juga merupakan pertanda presumtif kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah peringanan, karenanya ialah dengan mengenakan BH yang cocok ukurannya dan menopang payudara. Dengan menambah mobilitas payudara, BH yang pas dan menopang juga akan mengurangi ketidaknyamanan kelembutan payudara akibat pembesaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kram kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan-alasan fisiologis dari kram di kaki ini tidaklah jelas diketahui. Selama sekian tahun, kram di kaki dianggap disebabkan oleh kurangnya atau terganggunya konsumsi kalsium atau ketidakseimbangan dalam perbandingan kalsium-fosfor didalam tubuh, tetapi semua penyebab ini sekarang tidak lagi dinyatakan demikian dalam literatur-literatur saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu aliran lain menganggap bahwa uterus yang membesar memberikan tekanan pada pembuluh-pembuluh darah panggul, dan dengan demikian mempengaruhi sirkulasi, atau pada syaraf saat mereka meresap melalui foramen obturator dalam perjalanannya ke tungkai bagian bawah. Langkah-langkah peringanan yang disarankan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anjurkan wanita tersebut meluruskan kakinya yang kram dan meruncingkan telapak kakinya (mendorsifleksikan telapak kakinya). Jika wanita tersebut sedang diatas tempat tidur, maka akan memerlukan penekanan yang kuat dan terus menerus terhadap dasar telapak kakinya, baik oleh tangan seseorang atau oelh papan penahan ranjang bagian bawah, atau ditekankan. Jika wanita tersebut sedang berdiri, maka lantai bisa berfungsi untuk itu. Langkah ini hampir dapat dipastikan bisa dengan segera memperbaiki sirkulasi.&lt;br /&gt;    Senam umum dan kebiasaan gerakan tubuh (body mekanik) yang baik untuk memperbaiki sirkulasi&lt;br /&gt;    Mengangkat kaki lebih tinggi secara periodik sepanjang hari&lt;br /&gt;    Diet yang meliputi baik kalsium maupun fosfor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edema tungkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edema (penimbunan cairan atau bengkak) tungkai adalah akibat sirkulasi vena yang terganggu serta tekanan vena yang meningkat didalam tungkai bagian bawah. Gangguan-gangguan sirkulasi ini adalah disebabkan tekanan dari uterus yang membesar pada pembuluh-pembuluh vena panggul pada saat wanita tersebut sedang duduk atau berdiri serta pada vena cava inferior ketika wanita tersebut berbaring menggeletak. Setiap pakaian yang ketat dan membatasi dan menghambat aliran balik darah dari tungkai bagian bawah akan menambah parahnya masalah ini. Edema tungkai pada tungkai pada umumnya akan terlihat dibagian pergelangan kaki dan harus cermat dibedakan dari edema yang berkaitan dengan pre eklampsia/eklampsia. Langkah-langkah peringanannya meliputi hal-hal berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menghindari pakaian-pakaian yang ketat&lt;br /&gt;    Menaikkan kaki secara periodik sepanjang hari&lt;br /&gt;    Memposisikan diri dalam keadaan miring pada saat berbaring&lt;br /&gt;    Mengenakan penopang atau korset abdominal yang bisa meringankan tekanan pada vena-vena panggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varikositas/varises&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah faktor ikut menentukan perkembangan varikositas selama kehamilan. Vena-vena varikositas adalah lebih mungkin terjadi pada wanita yang memiliki kecenderungan familial atau kecenderungan bawaan. Varikositas bisa timbul dari sirkulasi vena yang terganggu serta pada vena yang mengalami tekanan meningkat pada tungkai bagian bawah. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh tekanan dari uterus yang membesar pada vena panggul ketika wanita tersebut sedang duduk atau berdiri dan pada vena cava inferior ketika ia sedang berbaring menggeletak. Setiap pakaian yang dapat menghambat aliran balik vena dari tungkai bagian bawah atau karena berdiri terlalu lama akan membuat masalah ini lebih parah. Relaksasi yang diakibatkan oleh progesteron atas dinding vena serta katup-katupnya dan sekeliling otot-otot halus (rata) juga akan ikut memicu berkembangnya varikositas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varikositas selama masa kehamilan paling jelas menonjol kelihatan pada bagian kaki dan atau vulva. Langkah-langkah peringanan yang spesifik bagi varikositas vulva diantaranya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penggunaan kaus kaki penunjang, verban atau stocking elastis, yang dipakai setelah mengangkat kaki sebelum bangun&lt;br /&gt;    Menghindari pakaian yang terlalu sempit&lt;br /&gt;    Menghindari berdiri terlalu lama&lt;br /&gt;    Saat istirahat, kaki dinaikan/ditinggikan secara periodik sepanjang hari&lt;br /&gt;    Berbaring dalam posisi tegak lurus beberapa kali sehari (ibu tidur ditempat yang rata lalu kaki dipijakkan ke tembok sehingga antara kaki, pantat dan tembok seolah2 membentuk sudut 90ᴼ)&lt;br /&gt;    Mengambil posisi bersandar miring beberapa kali sehari (boleh miring ke kanan atau pun ke kiri, dimana posisi kaki yang ada pada bagian bawah diluruskan sedangkan posisi kaki yang ada pada bagian atas agak ditekuk sedikit)&lt;br /&gt;    Menjaga agar kaki tidak bersilang bila duduk&lt;br /&gt;    Jika memungkinkan duduk dengan posisi kaki ditinggikan dan jangan berdiri&lt;br /&gt;    Mempertahankan postur dan mekanisme tubuh yang baik&lt;br /&gt;    Ikut serta dalam senam ringan dan berjalan kaki, untuk membantu peningkatan sirkulasi&lt;br /&gt;    Memberikan penopang fisik untuk varikositas vulva dengan bantalan karet busa yang dipegang ditempatnya dengan tali pinggang yang saniter&lt;br /&gt;    Mengenakan penopang abdominal ibu atau tali pengikat, untuk mengurangi tekanan pada vena panggul&lt;br /&gt;    Melakukan senam kegel untuk varikositas vulva atau hemoroid/wasir, untuk meningkatkan sirkulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyeri urat (ligamen) bundar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ligamen (urat) bundar melekat pada kedua sisi uterus persis dibawah dan didepan jalan masuk tuba fallopii, ligamen-ligamen ini kemudian melintasi ligamen yang lebar didalam sebuah lipatan peritoneum, melintasi kanal inguinal dan masuk menusuk didalam bagian anterior (atas) dari labia mayora pada kedua sisi perineum. Ligamen-ligamen tersebut sebagian besar terdiri dari otot-otot halus-rata yang bersambung terus dengan otot uterus. Jaringan otot ini memungkinkan ligamen-ligamen bundar untuk berhipertropi selama kehamilan, dan pada hakikatnya, ikut meregang saat uterus membesar. Secara anatomis, ligamen-ligamen bundar tersebut mau tidak mau harus meningkatkan ukuran panjangnya saat uterus membesar dan naik ke atas ke dalam abdomen. Rasa nyeri ligamen bundar diyakini adalah disebabkan oleh pemelaran dan juga oleh karena tekanan dari uterus yang terus bertambah berat terhadap ligamen-ligamen tersebut. Hal ini merupakan ketidaknyamanan yang sangat umum yang harus dibedakan dari penyakit saluran gastro intestinal dan organ abdomen, misalnya usus buntu, peradangan kantung empedu, dan bisul perut. Satu ciri yang dapat membantu dalam perbedaan ini ialah melebarnya rasa nyeri tersebut ke daerah lipatan paha inguinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah pentalaksanaannya tidak banyak dan tidak terlalu bisa efektif. Nyeri ligamen itu merupakan salah satu dari ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima oleh para wanita hamil. Langkah-langkah penatalaksanaannya diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menekuk lutut kearah abdomen&lt;br /&gt;    Membungkukan badan ke arah yang sakit untuk mengendorkan rentangan ligamen&lt;br /&gt;    Mengangkat panggul&lt;br /&gt;    Mandi air hangat&lt;br /&gt;    Menopang uterus dengan sebuah bantal dibawahnya dan sebuah bantal lain diantara dengkul pada waktu berbaring miring&lt;br /&gt;    Memakai penopang abdomen atau korset ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sakit pada punggung bawah (bukan karena penyakit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sakit punggung merupakan sakit punggung yang terjadi di bagian lumbosakral. Nyeri tersebut biasanya akan bertambah parah dalam intensitasnya pada kehamilan lanjut, karena hal ini memang disebabkan pergeseran dari titik gaya berat dan juga posturnya, perubahan-perubahan ini dihasilkan oleh bobot dari uterus yang membesar. Masalah ini akan bertambah parah jika otot abdomen wanita tersebut longgar atau lemah, otot-otot ini tidak memberikan topangan kepada uterus yang terus membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penatalaksanaan dalam mengatasi nyeri punggung bagian bawah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Posisi tubuh yang baik&lt;br /&gt;    Gerak tubuh yang tepat untuk mengangkat&lt;br /&gt;    Hindari emmbengkokan tubuh, mengangkat secara berlebihan, atau berjalan tanpa periode istirahat&lt;br /&gt;    Menggunakan sepatu bertumit rendah/tidak bertumit, karena sepatu bertumit tinggi tidak stabil&lt;br /&gt;    Jika masalah menjadi berat, penopang perut eksternal dianjurkan, seperti korset atau penopang perut&lt;br /&gt;    Kehangatan (tidak terlalu panas) pada punggung seperti bantal hangat, mandi air hangat&lt;br /&gt;    Pemberian es pada punggung&lt;br /&gt;    Pijitan/urut punggung&lt;br /&gt;    Menggunakan matras yang keras serta tidur menggunakan bantal untuk meluruskan punggung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dalam pusat gravitasi yang timbul dari uterus yang membesar dan berat dapat menyebabkan wanita tersebut mengalami posisi dimana bahunya berada jauh ke belakang dan kepalanya dilenturkan ke depan dalam usaha untuk mengimbangi bagian depannya yang berat dan punggung yang melengkung. Posisi tubuh ini dianggap menyebabkan kompresi syaraf pada lengan, yang akan menyebabkan rasa gatal dan mati rasa pada jari-jari. Langkah-langkah peredaan mencakup penjelasan tentang kemungkinan penyebab dan anjurkan untuk mengambil posisi tubuh yang baik. Beberapa wanita memperoleh perbaikan hanya dengan berbaring. Kelemahan dari otot-otot abdominal adalah lebih umum pada wanita yang sudah banyak sekali mengalami kehamilan dan melahirkan, yang tidak melakukan senam dan tidak mendapatkan kembali tonus abdominalnya setelah setiap kali habis melahirkan. Wanita primigravida biasanya memiliki tonus otot yang baik sekali, karena otot-otot mereka sebelumnya belum pernah meregang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit punggung juga bisa disebabkan oleh pembungkukan yang berlebihan, berjalan terus tanpa istirahat, dan mengangkat barang, terutama jiak semua hal tersebut dilakukan ketika wanita tersebut sedang lelah. Kegiatan semacam itu akan menambah ketegangan pada punggung. Pergerakan tubuh yang benar dalam hal mengangkat benda berat adalah sangat penting untuk menghindari ketegangan otot. Ada dua prinsip yang harus diikuti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Merunduk dan bukannya membengkokan tubuh untuk mengangkat sesuatu sehingga kaki (paha) dan bukannya punggung yang memikul beban dan merentang&lt;br /&gt;    Rentangkan kaki dan letakkan satu kaki agak didepan yang lain ketika merunduk sehingga ada landasan luas bagi keseimbangan ketika berdiri dari posisi merunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGURANGI RASA SAKIT SAAT PERSALINAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi rasa sakit sangat bervariasi tergantung pada keadaan emosional ibu. Dukungan yang baik selama persalinan dapat menenangkan dan mengurangi rasa sakit. Rasa sakit ini dapat dikurangi dengan mengalihkan perhatian ibu melalui menganjurkan ibu berjalan-jalan atau mengubah posisi yang nyaman sesuai kehendak ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran dari pendamping persalinan juga sangat bermanfaat untuk memberikan support persalinan atau pun melakukan massase punggung atau mengusap mukanya diantara kontraksi. Teknik mengurangi rasa sakit juga dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pernafasan tertentu atau dengan berendam air hangat untuk memberikan efek rileksasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi mengatasi gangguan rasa nyaman pada fase 1 laten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi yang nyaman untuk mengatasi rasa sakit pada setiap tahap tidak sama. Cobalah beberapa posisi agar dapat mengikuti proses yang terjadi. Suami atau pendamping persalinan lainnya dapat memberi semangat dan membantu meringankan ketidaknyamanan yang dialami ibu dengan mengurut pinggang belakang serta menenangkan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduklah di kursi dengan menghadap ke belakang, kedua kaki dilebarkan. Rebahkan kepala ke sandaran kursi, sementara suami mengurut punggung isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandar tegak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kontraksi, bersandarlah pada sesuatu yang dekat seperti dinding, punggung kursi atau tempat tidur. Berlututlah bila perlu dan letakan bantal di lantai untuk menahan lutut. Condongkan panggul ke depan, lalu kembali ke posisi semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandar ke depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk menghadap sandaran kursi dengan kedua kaki mengangkang. Letakkan sebuah bantal di sandaran kursi supaya kepala dan tangan tidak sakit. Selain pada kursi, ibu dapat juga bersandar pada tubuh suami, pintu, meja dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlutut ke depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dapat mengatasi rasa sakit dengan berlutut dilantai dengan kaki melebar. Gunakan beberapa bantal besar untuk menopang. Punggung tetap lurus. Setelah itu, duduklah dengan posisi miring diantara kontraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naikkan pantat dengan kepala tetap diatas bantal akan membantu mengurangi sakit di punggung (karena kepala bayi menekan perut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatasi sakit punggung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlutut dengan bertumpu pada kedua lutut dan lengan, serta punggung lurus dapat mengurangi sakit saat kontraksi. Letakkan bantal dibawah lutut. Saat diantara kontraksi, bersandarlah ke depan atau duduklah bersila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miring ke depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miringkan panggul beberapa kali ke depan dan belakang diantara kontraksi, lalu beristirahatlah dengan meletakan kepala di lengan. Tekanan kepala bayi pada punggung akan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan meneran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pembukaan belum sepenuhnya lengkap, jangan meneran dulu, aturlah posisi seperti bersujud/menungging, tapi kaki diluruskan, dan kepala menghadap ke samping dan diletakkan diatas lengan sambil melakukan pernafasan pendek-pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengurut punggung (massase)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mengurut bagian bawah punggung dengan telapak tangannya, dengan gerakan berputar. Taburkan bedak talk untuk menghindari lecet pada kulit. Selain dapat mengurangi sakit punggung, juga dapat memberikan efek tenang dan tenteram pada ibu. Disini amat besar peran pendamping untuk memberikan perhatian kepada ibu, tidak hanya dalam hal massase tapi juga dalam bentuk kalimat-kalimat yang berisi motivasi kepada ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik mengatur pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernafasan tahap 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali kontraksi, dari awal sampai berakhir, tariklah nafas dalam-dalam dan teratur melalui hidung dan keluarkan melalui mulut. Pada puncak kontraksi, bernafaslah ringan dan pendek-pendek melalui mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernafas pendek-pendek yaitu bernafaslah dengan mulut sewaktu kontraksi memuncak, tapi jangan terlalu lama karena dapat mengakibatkan pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernafasan saat transisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontraksi akan terjadi selama satu menit dan bisa terasa setiap menit. Agar ibu tidak meneran terlalu awal katakan : “huh-huh, pyuh”, sambil bernafas pendek-pendek. Lalu bernafaslah panjang. Setelah itu bernafaslah perlahan dan teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatur pernafasan dapat dilakukan dengan menarik nafas pendek-pendek untuk mengurangi rasa sakit selama tahap kedua, selain untuk menahan keinginan meneran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolong diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kontraksi semakin kuat dan sering, cobalah beberapa posisi yang pernah dicoba sebelumnya. Bila ibu ingin berbaring, lakukan berbaring miring, jangan terlentang. Gunakan beberapa bantal untuk menyangga kepala dan paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi kontraksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bergerak terus diantara kontraksi untuk mengatasi rasa sakit&lt;br /&gt;    Pusatkan perhatian pada pernafasan untuk mengalihkan perhatian pada kontraksi&lt;br /&gt;    Rileks sewaktu tidak kontraksi untuk menghemat tenaga&lt;br /&gt;    Jangan menahan BAK agar kandung kemih tidak penuh saat bayi keluar&lt;br /&gt;    Punggung tetap lurus agar bayi tetap di mulut rahim. Kontraksi akan menajdi lebih kuat&lt;br /&gt;    Jika terasa sakit, berteriaklah atau menangis. Jangan ditahan atau merasa malu.&lt;br /&gt;    Pusatkan perhatian pada suatu objek tertentu untuk mengalihkan perhatian dari rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami dapat turut berperan dalam proses persalinan dengan menghibur dan memberi semangat. Bersabarlah, walaupun isteri menjengkelkan pada saat dia sangat menderita. Ingatkan ibu akan latihan teknik pernafasan, usap keningnya yang berkeringat, peluk bahunya, urut punggungnya dan beri minum bila ibu haus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandar pada suami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ibu masih bisa berjalan pada awal persalinan, berhentilah saat terjadi kontraksi dan bersandarlah pada suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lenteraimpian.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bennet, V. R. &amp; Brown L.K. 1996. Myles. ed 12. London : Chounchil Livingstone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenwick, Elisabeth. 1999. Tips Penting Melahirkan. Jakarta : Dian Rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varney, Helen. 1997. Varney’s Midwifery. Ed. 3. New York : Jones and banthet</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Faktor Individual dalam Pengambilan Keputusan</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2011/06/faktor-individual-dalam-pengambilan.html</link><category>askep</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 23 Apr 2011 16:36:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-2373307886976683892</guid><description>Sebelumnya telah dikemukakan proses dasar pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang dalam pengambilan keputusan. Dalam kenyataannya pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seseorang tidak sistematis seperti proses yang dikemukakan sebelumnya. Keputusan individu dalam organisasi biasanya dilakukan untuk permasalahan-permasalahan yang tidak kompleks. Dalam pengambilan suatu keputusan individu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian dan kecenderungan dalam pengambilan resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nilai individu pengambil keputusan&lt;br /&gt;Nilai-nilai individu pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang digunakan seseorang jika ia dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu keputusan. Nilai-nilai ini telah tertanam sejak kecil melalui suatu proses belajar dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak keadaan individu bahkan tidak berfikir untuk menyusun / menilai keburukan dan lebih ditarik oleh kesempatan untuk menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kepribadian&lt;br /&gt;Keputusan yang diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepribadian. Dua variabel utama kepribadian yang berpengaruh terhadap keputusan yang dibuat, seperti ideologi versus kekuasaan dan emosional versus obyektivitas. Beberapa pengambil keputusan memiliki suatu orientasi ideologi tertentu yang berarti keputusan dipengaruhi oleh suatu filosofi atau suatu perangkat prinsip tertentu. Sementara itu pengambil keputusan atau orang lain mendasarkan keputusannya pada suatu yang secara politis akan meningkatkan kekuasaannya secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pengambil keputusan kadang kala emosionalnya mempengaruhi keputusan yang diambilnya. Emosional tersebut dapat berupa kecenderungan kepribadian seseorang atau emosional yang berasal dari kebutuhan akan perlindungan. Emosional dapat mempengaruhi cara suatu permasalahan dianalisis, jenis informasi dan alternatif yang dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan. Informasi yang obyektif diabaikan, dan keputusan hanya didasarkan pada perasaannya saja. Sementara itu beberapa pengambil keputusan yang lain lebih obyektif, dimana mereka menghindari adanya kekeliruan persepsi tentang permasalahan maupun informasi yang berkaitan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Kecenderungan terhadap pengambilan resiko&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan kecakapan dalam membuat keputusan, perawat haus membedakan situasi ketidakpastian dari situasi resiko, karena keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut. ketidakpastian adalah kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan resiko adalah kurangnya kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil keputusan memiliki pengetahuan hasil tindakan walaupun ia tidak dapat mengendalikannya. Lebih sulit membuat keputusan dibawah ketidakpastian dibanding dibawah kondisi bahaya. Dibawah ketidakpastian si pengambil keputusan tidak memiliki dasar rasional terhadap pilihan satu strategi atas strategi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengambil suatu keputusan ada orang yang senang dengan resiko dan ada orang yang tidak senang. Ada juga orang yang dikatakan netral terhadap resiko. Orang yang senang dengan resiko akan berbeda dalam mengevaluasi serangkaian alternatif maupun memilih suatu alternatif dengan mereka yang tidak senang dengan resiko. Dalam keputusan investasi misalnya, orang yang senang dengan resiko akan memilih investasi yang memberikan hasil yang besar sekalipun resikonya juga besar. Sebaliknya, orang yang tidak senang dengan resiko akan memilih alternatif investasi yang resikonya paling kecil sekalipun hasilnya juga rendah.&lt;br /&gt;Neil Niven (2002) menerangkan secara aplikatif bahwa jika suatu keputusan mempunyai resiko yang tinggi, orang akan lebih mungkin mengikuti aturan yang rasional dan matematis. Banyak keputusan yang berhubungan dengan kesehatan pasien mencakup resiko tingkat tinggi dan karenanya mempunyai komponen penggunaan subyektif dan membutuhkan pertimbangan yang cermat.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ASKEP TETANUS</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2011/01/askep-tetanus.html</link><category>askep</category><category>keperawatan</category><category>kmb</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 12 Jan 2011 17:50:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-7616199828028742166</guid><description>TETANUS&lt;br /&gt;A. DefenisiPenyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanisfestasi dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot massater dan otot-otot rangkaB. EtiologiClostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 – 0,5 milimikron yang berspora termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob. Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanuspasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, pada suhu 65 0 C akan hancur dalam lima menit. Disamping itu dikenal pula tetanolysin yang bersifat hemolisis, yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit.C. PatofisiologiPenyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku, pecahan kaca, atau kaleng, luka tembak, luka bakar, luka yang kototr dan pada bayi dapat melalui tali pusat. Organisme multipel membentuk 2 toksin yaitu tetanuspasmin yang merupakan toksin kuat dan atau neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot, dan mempngaruhi sistem saraf pusat. Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem saraf pusat dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler. Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh aritititoksin. Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawah ke korno anterior susunan saraf pusat. Kedua, toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat. Toksin bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot-otot menjadi kejang dan mudah sekali terangsang. Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari .D. Gejala klinisTimbulnya gejala klinis biasanya mendadak, didahului dengan ketgangan otot terutama pada rahang dan leher. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut (trismus) karena spsme otot massater. Kejang otot ini akan berlanjut ke kuduk (opistotonus) dinding perut dan sepanjang tulang belakang. Bila serangan kejang tonik sedang berlangsung serimng tampak risus sardonukus karena spsme otot muka dengan gambaran alsi tertarik ke atas, sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi. Gambaran umum yang khas pada tetanus adalah berupa badan kaku dengan epistotonus, tungkai dalam ekstrensi lengan kaku dan tangan mengapal biasanya kesadaran tetap baik. Serangan timbul paroksimal, dapat dicetus oleh rangsangan suara, cahaya maupun sentuhan, akan tetapi dapat pula timbul spontan. Karena kontraksi otot sangat kuat dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis (pada anak). Kadang dijumpai demam yang ringan dan biasanya pada stadium akhirE. Pemeriksaan diagnostik· Pemeriksaan fisik : adanya luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang· Pemeriksaan darah leukosit 8.000-12.000 m/LF. Komplikasi· Bronkopneumoni· Asfiksia dan sianosisG. Pengobatan· Anti Toksin : ATS 500 U IM dilanjutkan dengan dosis harian 500-1000 U· Anti kejang : Diazepam 0,5-1,0 mg/kg BB / 4 jam IM Efek samping stupor, koma· Antibiotik : Pemberian penisilin prokain 1,2 juta U/hariH. PencegahanPencegahan penyakit tetanus meliputi :1. Anak mendapatkan imunisasi DPT diusia 3-11 Bulan2. Ibu hamil mendapatkan suntikan TT minimal 2 X3. Pencegahan terjadinya luka &amp; merawat luka secara adekuat4. Pemberian anti tetanus serumI. Proses Keperawatan1. Pengkajiana. Identitas pasien : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, rencana terapib. Identitas orang tua:· Ayah : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.· Ibu : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamatc. Identitas sudara kandung2. Keluhan utama/alasan masuk RS.3. Riwayat Kesehatana. Riwayat kesehatan sekarangb. Riwayat kesehatan masa lalu§ Ante natal care§ Natal§ Post natal carec. Riwayat kesehatan keluarga4. Riwayat imunisasi5. Riwayat tumbuh kembang§ Pertumbuhan fisik§ Perkembangan tiap tahap6. Riwayat Nutrisi§ Pemberin asi§ Susu Formula§ Pemberian makanan tambahan§ Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini7. Riwayat Psikososial8. Riwayat Spiritual9. Reaksi Hospitalisasi§ Pemahaman keluarga tentang sakit yang rawat nginap10. Aktifitas sehari-hari§ Nutrisi§ Cairan§ Eliminasi BAB/BAK§ Istirahat tidur§ Olahraga§ Personal Hygiene§ Aktifitas/mobilitas fisik§ Rekreasi11. Pemeriksaan Fisik§ Keadaan umum klien§ Tanda-tanda vital§ Antropometri§ Sistem pernafasan§ Sistem Cardio Vaskuler§ Sistem Pencernaan§ Sistem Indra§ Sistem muskulo skeletal§ Sistem integumen§ Sistem Endokrin§ Sistem perkemihan§ Sistem reproduksi§ Sistem imun§ Sistem saraf : Fungsi cerebral, fungsi kranial, fungsi motorik, fungsi sensorik, fungsi cerebelum, refleks, iritasi meningen12. Pemeriksaan tingkat perkembangan§ 0 – 6 tahun dengan menggunakan DDST (motorik kasar, motorik halus, bahasa, personal sosial)§ 6 tahun keatas (perkembangan kognitif, Psikoseksual, Psikososial)13. Tes Diagnostik14. Terapid. Diagnosa Keperawatan♦ Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan meningkatnya sekretsi atau produksi mukus♦ Defisit velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat♦ Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulut♦ Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan, dan spasme otot faring.♦ Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang♦ Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan aktifitas tatanuslysin♦ Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan aktifitas kejang♦ Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit berhubungan dengan perubahan status kesehatan, penata laksanaan gangguan kejang♦ Cemas berhubungan dengan kemungkinan injuri selama kejang Rencana Keperawatan dan RasionalC Dx. 1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan meningkatnya sekretsi atau produksi mukus.Tujuan : Anak memperlihatkan kepatenan jalan nafas dengan kriteria jalan nafas bersih, tidak ada sekresiIntervensiRasionala. Kaji status pernafasan, frekwensi, irama, setiap 2 – 4 jamb. Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati dan pasti bila ada penumpukan sekretc. Gunakan sudip lidah saat kejangd. Miringkan ke samping untuk drainagee. Observasi oksigen sesuai programf. Pemberian sedativa Diazepam drip 10 Amp (hari pertama dan setiap hari dikurangi 1 amp)g. Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut§ Takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena adanya sekret§ Menurunkan resiko aspirasi atau aspeksia dan osbtruksi§ Menghindari tergigitnya lidah dan memberi sokongan pernafasan jika diperlukan§ Memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas§ Memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu dalam pencegahan hipoksia§ Mengurangi rangsangan kejang§ Memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan pencegahan hipoksiaC Dx. 2. Defisit velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuatTujuan : Anak tidak memperlihatkan kekurangan velume cairan yang dengan kriteria:§ Membran mukosa lembab, Turgor kulit baikIntervensiRasional1. Kaji intake dan out put setiap 24 jam2. Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran mukosa, dan turgor kulit setiap 24 jam3. Berikan dan pertahankan intake oral dan parenteral sesuai indikasi ( infus 12 tts/m, NGT 40 cc/4 jam) dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasien4. Monitor berat jenis urine dan pengeluarannya5. Pertahankan kepatenan NGT@ Memberikan informasi tentang status cairan /volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian@ Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler@ Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh@ Penurunan keluaran urine pekat dan peningkatan berat jenis urine diduga dehidrasi/ peningkatan kebutuhan cairan@ Mempertahankan intake nutrisi untuk kebutuhan tubuhC Dx. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulutTujuan : Status nutrisi anak terpenuhi dengan kriteria:@ Berat badan sesuai usia@ makanan 90 % dapat dikonsumsi@ Jenis makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan gizi anak (protein, karbohidrat, lemak dan viotamin seimbangIntervensiRasional1. Pasang dan pertahankan NGT untuk intake makanan2. Kaji bising usus bila perlu, dan hati-hati karena sentuhan dapat merangsang kejang3. Berikan nutrisi yang tinggi kalori dan protein4. Timbang berat badan sesuai protokol@ Intake nutrisi yang seimbang dan adekuat akan mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh@ Bising usus membantu dalam menentukan respon untuk makan atau mengetahui kemungkinan komplikasi dan mengetahui penurunan obsrobsi air.@ Suplay Kalori dan protein yang adekuat mempertahankan metabolisme tubuh@ Mengevalusai kefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisiC Dx. 4. Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan, dan spasme otot faring.Tujuan : Tidak terjadi aspirasi dengan kriteria:- Jalan nafas bersih dan tidak ada sekret- Pernafasan teraturIntervensiRasional1. Kaji status pernafasan setiap 2-4 jam2. Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati3. Gunakan sudip lidah saat kejang4. Miringkan ke samping untuk drainage5. Pemberian oksigen 0,5 Liter6. Pemberian sedativa sesuai program7. Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut@ Takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena adanya sekret@ Menurunkan resiko aspirasi atau aspiksia dan osbtruksi@ Menghindari tergigitnya lidah dan memberi sokongan pernafasan jika diperlukan@ Memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas@ Memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu dalam pencegahan hipoksia@ Mengurangi rangsangan kejang@ Memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan pencegahan hipoksiaC Dx. 5. Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejangTujuan : Cedera tidak terjadi dengan kriteriaC Klien tidak ada cederaC Tidur dengan tempat tidur yang terpasang pengamanIntervensiRasional1. Identifikasi dan hindari faktor pencetus2. Tempatkan pasien pada tempat tidur pada pasien yang memakai pengaman3. Sediakan disamping tempat tidur tongue spatel4. Lindungi pasien pada saat kejang5. Catat penyebab mulai terjadinya kejang@ Menghindari kemungkinan terjadinya cedera akibat dari stimulus kejang@ Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang@ Antisipasi dini pertolongan kejang akan mengurangi resiko yang dapat memperberat kondisi klien@ Mencegah terjadinya benturan/trauma yang memungkinkan terjadinya cedera fisik@ Pendokumentasian yang akurat, memudah-kan pengontrolan dan identifikasi kejangC Dx. 6. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tetanus lysin , pembatasan aktifitas (immobilisasi)Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit, dengan kriteria :C Tidak ada kemerahan , lesi dan edemaIntervensiRasional1. Observai adanya kemerahan pada kulit2. Rubah posisi secara teratur3. Anjurkan kepada orang tua pasien untuk memakaikan katun yang longgar4. Pantau masukan cairan, hidrasi kulit dan membran mukosa5. Pertahankan hygiene kulit dengan mengeringkan dan melakukan masagge dengan lotion@ Kemerahan menandakan adanya area sirkulasi yang buruk dan kerusakan yang dapat menimbulkan dikubitus@ Mengurangi stres pada titik tekanan sehingga meningkatkan aliran darah ke jaringan yang mempercepat proses kesembuhan@ Mencegah iritasi kulti secara langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit@ Mendeteksi adanya dehidrasi/overhidrasi yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan@ Mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering dapat menjadi barier infeksi dan masagge dapat meningkatkan sirkulasi kulit@ Dx. 7. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan aktifitas kejangTujuan : Kebutuhan aktifitas sehari-hari/perawatan diri terpenuhi, dengan kriteria@ Tempat tidur bersih,Tubuh anak bersih,Tidak ada iritasi pada kulit, BAB/BAK dapat dibantu.IntervensiRasional1. Pemenuhan kebutuhan aktifitas sehari-hari2. Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktifitas , BAB/BAK, membersihkan tempat tidur dan kebersihan diri3. Berikan makanan perparenteral4. Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.C Kebutuhan sehari-hari terpenuhi secara adekuat dapat membantu proses kesembuhanC Memenuhi kebutuhan nutrisi klienC Orang tua mandiri dalam merawat anak di rumah sakitC Dx. 8. Cemas berhubungan dengan kemungkinan injuri selama kejang Tujuan : Orang tua menunjukan rasa cemas berkurang dan dapat mengekspresikan perasaan tentang kondisi anak yang dialami, dengan kriteria : Orang tua klien tidak cemas dan gelisah.IntervensiRasional1. Jelaskan tentang aktifitas kejang yang terjadi pada anak2. Ajarkan orang tua untuk mengekspresikan perasaannya tentang kondisi anaknya3. Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan4. Gunakan komunikasi dan sentuhan terapetikC Pengetahuan tentang aktifitas kejang yang memadai dapat mengurangi kecemasanC Ekspresi/ eksploitasi perasaan orang tua secara verbal dapat membantu mengetahui tingkat kecemasanC Pengetahuan tentang prosedur tindakan akan membantu menurunkan / menghilangkan kecemasanC Memberikan ketenangan dan memenuhi rasa kenyamanan bagi keluarga</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Askep Kejang Demam</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2011/01/askep-kejang-demam_12.html</link><category>anak</category><category>askep</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 12 Jan 2011 17:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-3688736202061038899</guid><description>A. Konsep Dasar&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).&lt;br /&gt;Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).&lt;br /&gt;Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).&lt;br /&gt;Kejang Demam (Febrile Convulsion) adalah kejang pada bayi atau anak-anak yang terjadi akibat demam, tanpa adanya infeksi pada susunan saraf pusat maupun kelainan saraf lainnya. (www.medicastore.com)&lt;br /&gt;Seorang anak yang mengalami kejang demam, tidak berarti dia menderita epilepsi karena epilepsi ditandai dengan kejang berulang yang tidak dipicu oleh adanya demam.&lt;br /&gt;Hampir sebanyak 1 dari setiap 25 anak pernah mengalami kejang demam dan lebih dari sepertiga dari anak-anak tersebut mengalaminya lebih dari 1 kali.Kejang demam biasanya terjadi pada anak-anak yang berusia antara 6 bulan-5 tahun dan jarang terjadi sebelum usia 6 bulan maupun sesudah 3 tahun.&lt;br /&gt;2. Patofisiologi&lt;br /&gt;a. Etiologi&lt;br /&gt;Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk tumor otak, trauma, bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan elektrolit, dan gejala putus alkohol dan obat gangguan metabolik, uremia, overhidrasi, toksik subcutan dan anoksia serebral. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya).&lt;br /&gt;1) Intrakranial&lt;br /&gt;Asfiksia : Ensefolopati hipoksik - iskemik&lt;br /&gt;Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular&lt;br /&gt;Infeksi : Bakteri, virus, parasit&lt;br /&gt;Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith - Lemli - Opitz.&lt;br /&gt;2) Ekstra kranial&lt;br /&gt;Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan elektrolit (Na dan K)&lt;br /&gt;Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.&lt;br /&gt;Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan dan kekurangan produksi kernikterus.&lt;br /&gt;3) Idiopatik&lt;br /&gt;Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)&lt;br /&gt;b. Patofisiologi&lt;br /&gt;Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glucose,sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi, dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya, kecuali ion clorida.&lt;br /&gt;Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah. Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial nmembran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA, K, ATP yang terdapat pada permukaan sel.&lt;br /&gt;Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.&lt;br /&gt;Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.&lt;br /&gt;Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.&lt;br /&gt;c. Manifestasi Klinis&lt;br /&gt;Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkhitis, serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik.&lt;br /&gt;Kejang berhenti sendiri, menghadapi pasien dengan kejang demam, mungkin timbul pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita epilepsy.&lt;br /&gt;untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu :&lt;br /&gt;1. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)&lt;br /&gt;2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever&lt;br /&gt;Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana, yaitu :&lt;br /&gt;1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan &amp; 4 tahun&lt;br /&gt;2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.&lt;br /&gt;3. Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak &gt; 4 kali&lt;br /&gt;4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal&lt;br /&gt;6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.&lt;br /&gt;3. Klasifikasi Kejang Demam&lt;br /&gt;Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang tonik dan kejang mioklonik.&lt;br /&gt;a. Kejang Tonik&lt;br /&gt;Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus&lt;br /&gt;b. Kejang Klonik&lt;br /&gt;kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Askep Kejang Demam</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2011/01/askep-kejang-demam.html</link><category>anak</category><category>askep</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 12 Jan 2011 17:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-1539067483151920722</guid><description>A. Konsep Dasar&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).&lt;br /&gt;Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).&lt;br /&gt;Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).&lt;br /&gt;Kejang Demam (Febrile Convulsion) adalah kejang pada bayi atau anak-anak yang terjadi akibat demam, tanpa adanya infeksi pada susunan saraf pusat maupun kelainan saraf lainnya. (www.medicastore.com)&lt;br /&gt;Seorang anak yang mengalami kejang demam, tidak berarti dia menderita epilepsi karena epilepsi ditandai dengan kejang berulang yang tidak dipicu oleh adanya demam.&lt;br /&gt;Hampir sebanyak 1 dari setiap 25 anak pernah mengalami kejang demam dan lebih dari sepertiga dari anak-anak tersebut mengalaminya lebih dari 1 kali.Kejang demam biasanya terjadi pada anak-anak yang berusia antara 6 bulan-5 tahun dan jarang terjadi sebelum usia 6 bulan maupun sesudah 3 tahun.&lt;br /&gt;2. Patofisiologi&lt;br /&gt;a. Etiologi&lt;br /&gt;Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk tumor otak, trauma, bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan elektrolit, dan gejala putus alkohol dan obat gangguan metabolik, uremia, overhidrasi, toksik subcutan dan anoksia serebral. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya).&lt;br /&gt;1) Intrakranial&lt;br /&gt;Asfiksia : Ensefolopati hipoksik - iskemik&lt;br /&gt;Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular&lt;br /&gt;Infeksi : Bakteri, virus, parasit&lt;br /&gt;Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith - Lemli - Opitz.&lt;br /&gt;2) Ekstra kranial&lt;br /&gt;Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan elektrolit (Na dan K)&lt;br /&gt;Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.&lt;br /&gt;Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan dan kekurangan produksi kernikterus.&lt;br /&gt;3) Idiopatik&lt;br /&gt;Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)&lt;br /&gt;b. Patofisiologi&lt;br /&gt;Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glucose,sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi, dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya, kecuali ion clorida.&lt;br /&gt;Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah. Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial nmembran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA, K, ATP yang terdapat pada permukaan sel.&lt;br /&gt;Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.&lt;br /&gt;Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.&lt;br /&gt;Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.&lt;br /&gt;c. Manifestasi Klinis&lt;br /&gt;Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkhitis, serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik.&lt;br /&gt;Kejang berhenti sendiri, menghadapi pasien dengan kejang demam, mungkin timbul pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita epilepsy.&lt;br /&gt;untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu :&lt;br /&gt;1. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)&lt;br /&gt;2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever&lt;br /&gt;Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana, yaitu :&lt;br /&gt;1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan &amp; 4 tahun&lt;br /&gt;2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.&lt;br /&gt;3. Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak &gt; 4 kali&lt;br /&gt;4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal&lt;br /&gt;6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.&lt;br /&gt;3. Klasifikasi Kejang Demam&lt;br /&gt;Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang tonik dan kejang mioklonik.&lt;br /&gt;a. Kejang Tonik&lt;br /&gt;Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus&lt;br /&gt;b. Kejang Klonik&lt;br /&gt;kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Allergy Relief Products</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2010/10/allergy-relief-products.html</link><category>Allergies</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 26 Oct 2010 19:53:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-1480399945795472059</guid><description>An allergy is an defence complement malfunction which causes a physique to have a excessively sensitive greeting to a routinely day-to-day substance. There have been opposite sorts of allergy; nasal allergy, asthma allergy, food allergy, insect allergy, skin allergy though a single might be reacting to usually a single sort or a little between all a allergies. One might be allergic to food, pollen, dust, insects, etc. So it is improved to initial exam for a piece causing a allergy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An allergy exam of a single form or an additional is mostly indispensable to establish which piece is causing a inauspicious reaction, if a complaint seems to be imagining from a food an allergy exam might exhibit which a particular is not allergic to a suspected food though to a sure component benefaction in a food.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although there have been many allergy contrast methods used to establish a participation of allergens, though a 3 many usual allergy contrast procedures have been skin tests, rejecting tests, as well as a radioallergosorbent exam (RAST). It is seen which a correctness of these tests varies during large as well as even a same exam achieved during opposite times might produce opposite results. It is additionally probable for a chairman to conflict to a piece during contrast though no greeting in normal exposure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergy skin contrast is a many used of a 3 methods though it varies in methodology. With a blemish exam a tiny volume of a suspected allergen is placed upon a forearm or tip arm as well as afterwards introduced underneath a aspect by scratching or pricking. The skin is afterwards celebrated for flourishing or redness. Skin tests have been utilitarian in detecting respiratory allergies, penicillin allergy, insect allergies, as well as food formed allergies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Food allergies have been additionally mostly investigated around an rejecting diet. Suspect dishes have been private from a diet for multiform weeks as well as afterwards re-introduced a single during a time with a chairman monitoring their reactions. The radioallergosorbent or RAST exam is achieved in a laboratory as well as tests for specific amounts of Immunoglobulin E (IgE) antibodies which will be benefaction in a red blood during a loyal allergic reaction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There have been many allergy products upon a marketplace which ease we from usual allergies as well as use of these allergy caring products or allergy carry out products during initial pointer of allergy will assistance ease a symptoms sooner. These allergy service products have been being used as a surety according to a symptoms found from a allergy tests. Being wakeful of what any a single have been will safeguard which we select a medication, which will discharge your allergy symptoms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some of a tip allergy service products upon a marketplace have been elaborated in a following paragraph.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasal sprays are medicinal sprays which assistance transparent nasal thoroughfare as well as ease dry raw nasal passages. This mist can be used with cold, allergy, as well as sinus medications. They have been ethanol giveaway as well as non-medicated, as well as non-habit combining too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasal strips assistance ease nasal overload due to colds as well as allergies, in further to which they additionally assistance revoke snoring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasal gels used to relive exasperation in a dry nose, these gels ease a chafed as well as dry skin of a nose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vacuum cleaners as well as dusters have been products which have been able of capturing as well as stealing allergens such as dirt mites, as well as a many allergy causing particles. They have been used to transparent a dirt from a vicinity of a room floor, walls as well as from seat which means allergy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air filters have been disposable glue filters with a inside coated with a glass glue which captures dirt particles as well as lint. Air filters have been in all done of steel or assorted fibers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dehumidifiers have been special inclination to mislay dampness from ambience to revoke humidity. These inclination have been really beneficial in diagnosis as well as determining of respiratory disorders such as asthma, or bronchial allergies. Many unstable dehumidifiers have been accessible in a market.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Allergy Air Purifier</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2010/10/allergy-air-purifier.html</link><category>Allergies</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 26 Oct 2010 19:35:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-2242667491386408162</guid><description>There is many difficulty over what causes allergies yet we will strew a little light upon a loyal inlet of allergies in a home sourroundings as well as how an allergies air cleanser can revoke symptoms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergies can be caused by bearing to wickedness in a molecule form such as dirt mite or a containing alkali form such as formaldehyde. A tellurian physique can have opposite defence responses to a pollutant depending upon assorted environmental factors. The great headlines is, selecting a right air cleanser can minimize allergy symptoms whilst during home.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The indoor air cleanser is a elementary device that can have a extreme alleviation in your indoor air. The genuine pass to bargain an air cleanser is to recollect that usually a indoor air that travels yet a section gets cleaned. For example, really vast bedrooms might need dual tiny air purifiers during possibly finish rsther than than a single vast section in a middle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proper Technology Is The Key&lt;br /&gt;The air purifying technologies accessible should be selected according to a sort of pollutant we have been perplexing to mislay from a indoor air. Adsorption media such as activated CO have been in effect during stealing containing alkali pollutants, tall fit particulate aie (HEPA) as well as electronic technologies have been improved matched to mislay particles. There have been additionally ultraviolet (UV) units accessible that have been privately written to kill microorganisms such as viruses. Utilizing a assorted technologies together will have a biggest alleviation in a indoor air peculiarity of a home. Airborne particles such as pollen, dirt mites, cat dander, domicile dirt as well as insecticide dirt have been deliberate a particulate pollutant as well as have been many appropriate addressed with a HEPA air purifier. Other airborne particles such a fume have been private some-more well with an electronic air purifying system. A HEPA filter inside of an air cleanser is really in effect yet a filters contingency be changes upon only during certain time of year basement up to 5-years depending upon a manufacturer. Electronic filter elements do not need becoming different yet do need to be cleared continually to sojourn effective.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Microorganisms&lt;br /&gt;Microorganisms such as viruses, germ as well as molds contingency be tranquil if a domicile part of has a enervated or shop-worn defence complement together with a really immature or elderly. The many in effect routine to carry out microorganisms is a operate of a UV air purifier. UV light can fall short or shift a DNA of a bacterium creation it incorporeal as an indoor pollutant. Air purifiers that occupy both HEPA as well as UV technologies have been an preferred multiple for shortening as many as 85% of indoor pollutants.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chemicals&lt;br /&gt;Chemicals in a indoor sourroundings have been private by a routine well known as media adsorption. Media adsorption such as activated CO granules have a lot of aspect area as well as essentially adsorb chemicals from a air. Activated CO granules have been a many appropriate preference as a ubiquitous role containing alkali dismissal media. There have been alternative media’s accessible such as Zeolite as well as potassium permanganate that aim containing alkali compounds that activated CO is ineffectual during removing.. A media should be selected by bargain that containing alkali compounds we have been targeting for dismissal from a indoor air. Air purifiers that enclose activated CO polyester filter media should not be used to mislay chemicals given they do not enclose sufficient aspect area. Utilizing a correct air cleanser record for a specific indoor air pollutant can dramatically revoke allergy symptoms whilst in a home environment.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Allergy ? Causes, Symptoms and Types With Their Treatments</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2010/10/allergy-causes-symptoms-and-types-with.html</link><category>Allergies</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 26 Oct 2010 19:33:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-1233622975523606501</guid><description>An allergy refers to an farfetched greeting by a defence complement in reply to corporeal hit with sure unfamiliar substances. It is farfetched since these unfamiliar substances have been customarily seen by a physique as submissive as good as no reply occurs in non- allergic people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergic reactions can be mild, similar to a runny nose, or they can be severe, similar to worry breathing. An asthma attack, for example, is mostly an allergic greeting to something which is breathed in to a lungs in a chairman who is susceptible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergy symptoms&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergy symptoms vary, though might include:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Breathing problems&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Burning, tearing, or tingling eyes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Coughing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Diarrhea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Headache&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Hives&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Itching of a nose, mouth, throat, skin, or any alternative area&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergy Causes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You have an allergy when your physique overreacts to things which do not means problems for most people. These things have been called allergens. Your body’s overreaction to a allergens is what causes symptoms (see a box next for a list of symptoms). For example, infrequently a tenure “hay fever” is used to report your body’s allergic greeting to anniversary allergens in a air, such as weed or pollen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eggs have been a single of a most usual allergy-causing foods. Although egg allergy can start adults, it’s some-more usual in children. Most young kids outgrow their egg allergy by a time they’re 5 years old.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergies Types&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pollen is an additional vital means of allergies (most people know pollen allergy as grain heat or rose fever). Trees, weeds, as good as grasses recover these little particles in to a air to fertilize alternative plants. Pollen allergies have been seasonal, as good as a sort of pollen a kid is allergic to determines when symptoms will occur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latex&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A latex allergy develops after a little sensitizing hit with latex. Rubber gloves have been a categorical source of allergic reactions. A member of a latex piece itself is an allergen for most people. The latex glove powder excess is an airborne allergen which causes top airway allergic reactions in a little people, as good as getting worse asthma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cosmetics Allergy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergy Conjunctivitis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conjunctivitis is a single of a most usual as good as treatable eye conditions in young kids as good as adults. Often called “pink eye,” it is an inflammation of a conjunctiva, a hankie which lines a inside of a eyelid as good as helps keep a eyelid as good as eyeball moist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Symptoms of allergic conjunctivitis include:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redness in a white of a eye or middle eyelid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Increased volume of tears&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itchy eyes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blurred vision&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergic Conjunctivitis Treatment&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There have been additionally most accepted antihistamines which have been accessible for diagnosis of allergic conjunctivitis which additionally assistance to revoke redness in a eyes though as good flourishing as good as itching. There have been accepted steroids which have been mostly endorsed as good as which contingency be used with clever care since differently they can be potentially dangerous.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergic Conjunctivitis Treatment – Other Options&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since avoidance, a optimal allergic conjunctivitis treatment, is in all not feasible, alternative solutions contingency be considered. Many healthcare providers indicate a operate of cold compresses or synthetic tears as proxy allergic conjunctivitis treatments to rinse divided allergens from a aspect of a eye. As noted, however, this is usually a proxy resolution which provides short-term relief.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ALLERGY (FOOD) – LEARN ABOUT ALLERGY SYMPTOMS, TYPES AND HOW ARE ALLERGY TREATED</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2010/10/allergy-food-learn-about-allergy.html</link><category>Allergies</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 26 Oct 2010 19:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-234691028490090850</guid><description>Allergy (Food)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergy (Food) it is a greeting by your defence complement to a normal volume of a sold food. This greeting happens each time which food is eaten. Although food allergies have been rare, they have been many usual in young kids underneath a age of four. The many visit food allergies have been to: milk, fish, eggs, nuts, tomatoes, citrus fruit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allergy (Food) Medications [Sorted by Popularity]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zyrtec®, Singulair®, FML Forte®, Proventil®, Ventolin®, Flonase®, Benadryl®, Zaditor®, Phenergan®, Quibron-T®, Claritin®, Periactin®, Pulmicort®, Decadron®, Medrol®, Prednisolone®, Rhinocort®, Alavert®, Advair Diskus®, Prednisone®, Serevent®, Clarinex®, Brand Advair Diskus®, Entocort®, Astelin®, Allegra®, Aristocort®, Beconase AQ®, Deltasone®, Flovent®.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;» View medications: Allergy (Food)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How do food allergies begin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A excessively sensitive greeting towards food is customarily a sort 1 allergic greeting to something in a diet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This equates to your child’s defence complement produces a category of antibodies called IgE in reply to a sold food. These antibodies means a allergic symptoms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In fact, usually about 3 per cent of young kids humour allergic reactions towards food, as well as many will outgrow them prior to they strech a age of three.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almost a single third of a race replace sure dishes from their diet or their children’s diet since they hold they means an allergic reaction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Food allergy symptoms&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Children with food allergies mostly have multiform opposite symptoms. These include:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asthmatic bronchitis or asthma Allergic cold (itchy, streaming eyes as well as nose) Severe babyish eczema or skin unreasonable Vomiting as well as scour for no strong reason</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Acne Tips – Beware Popular Brands Make Acne Worse!</title><link>http://anakkomik.blogspot.com/2010/10/acne-tips-beware-popular-brands-make.html</link><category>ance</category><category>healthy</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 25 Oct 2010 16:51:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6903161068081836275.post-5880652308638848956</guid><description>The intolerable contingency examination law is which a many renouned skin caring brands targeted towards treating acne have been deleterious to your skin as well as have acne worse. Learning a law will save we disappointment, income as well as a lot of time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many advertisements have been directed during creation consumers (you) hold which if we buy their products your acne will disband as well as we will have clear, well-spoken as well as eager skin. Pretty models massage cleaner onto their cheeks afterwards dash it off all a whilst lucent with happiness during this so called supernatural product. When you’re pang from homely breakouts as well as red delirious pimples, it’s easy to be led erroneous as well as we all a time find yourself desperately shopping any latest blemish fighting product dynamic which this time it’s starting to work, usually it never does.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Below is a examination upon a little products in dual of a many renouned acne targeted skin caring ranges.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clean &amp; Clear:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Continuous Control Acne Cleanser contains Vaseline as well as vegetable oil which adds a lot of neglected oil as well as functions towards clogging your pores causing some-more pimples to form.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Other products we should never operate from this line are; Continuous Control Acne Wash Oil Free, Deep Action Cleansing Wipes Oil Free, Deep Action Cream Cleanser, Clarifying Toner, Oil Fighting Deep Cleaning Astringent, Sensitive Skin Astringent, Moisturizing Mist, Invisible Blemish Treatment as well as Overnight Acne Patches.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All of these products enclose potently vitriolic mixture similar to camphor, peppermint as well as clove which work to have skin red as well as inflamed. Many of these products have a tall commission of ethanol which is additionally rarely vitriolic as well as intensely parching towards skin, creation your skin splinter as well as flay adding to your problems. Alcohol (the usually difference being SD Alcohol) not usually irritates as well as angers a skin, though prolongs recovering time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Also any Salicylic Acid which these products enclose is not in outcome in a slightest since of a low dose as well as a improper PH turn which renders this part ineffectual towards treating acne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clearasil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Considering how prolonged Clearasil has been around, you’d consider by right away it would have succeeded in restorative somebody’s acne. It’s tough to assimilate because Clearasil is creation such bad products, though it’s a covenant to their promotion dialect which they can still remonstrate people to buy their merchandise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All of their products have been really bad choices when it comes not usually to fighting acne, though for all skin in general. Many of their products enclose menthol as well as ethanol which is deleterious to a skin as well as which causes pimples to turn red, indignant as well as inflamed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here have been a integrate of examples:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanishing Treatment Cream Maximum Strength touts a 10% benzoyl peroxide which is a good part for treating acne, however in a same product they operate isopropyl myristate which causes breakouts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adult Care Acne Tinted Cream is a single of a many rarely vitriolic as well as deleterious skin caring products for acne. It not usually contains ethanol though additionally has resorcinol, sulphur as well as isopropyl myristate all really vitriolic ingredients. This product clogs pores, is parching (in a really bad way) as well as causes redness as well as exasperation as well as indemnification a skin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s a vital means of regard which a infancy of skin caring products which publicize treating acne not usually have no outcome upon expelling pimples though essentially means them to demeanour worse. Finding an in outcome acne diagnosis is similar to anticipating a solid in a rough, a poke is a really costly diversion of strike as well as miss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finding guileless as well as significant report upon acne is a most appropriate initial step we can take in clearing your skin. Rising on top of a hype as well as glitzy advertisements is hard, though needs to be finished if we wish good skin.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>