<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>The Leipzic Way</title>
	
	<link>http://blog.leipzic.com</link>
	<description>Quality &amp; Creativity, Life Paradigm, Indonesia, God's Kingdom</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Jan 2012 18:54:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/LeipzicWorld" /><feedburner:info uri="leipzicworld" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Nyanyian Malaikat Saat Natal</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/4V-MZGCBEQY/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/12/25/nyanyian-malaikat-saat-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 10:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2158</guid>
		<description><![CDATA[Selamat Natal 2011 dan Tahun Baru 2012! Momen natal selalu menjadi sesuatu yang indah, menarik, agung dan khidmat. Sama seperti waktu Natal pertama kali datang ke dunia. Waktu itu, di padang Efrata malaikat menyanyikan suatu lagu, &#8220;Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.&#8221; Suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/01/merry_christmas.jpg"><img class="alignleft  wp-image-2159" title="merry_christmas" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/01/merry_christmas-300x230.jpg" alt="" width="240" height="184" /></a>Selamat Natal 2011 dan Tahun Baru 2012! Momen natal selalu menjadi sesuatu yang indah, menarik, agung dan khidmat. Sama seperti waktu Natal pertama kali datang ke dunia. Waktu itu, di padang Efrata malaikat menyanyikan suatu lagu,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Suatu bait yang dicatat dalam Lukas 2:14. Mungkin kita jarang memperhatikan hal ini. Namun, buat saya, jika para malaikat menyanyikan hal itu, maka setidaknya itu pastilah hal yang penting, atau bahkan itu adalah suatu kebiasaan di Sorga dan suatu kebenaran yang hendak Allah nyatakan.<span id="more-2158"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada lagu tersebut, ada 2 pihak yang disebut, yaitu Allah dan manusia. Bagi Allah kemuliaan di tempat yang mahatinggi adalah suatu ganjaran. Suatu hal yang layak Ia dapatkan karena setiap keagungan dan kebesaranNya. Dia layak menerima kemuliaan. Kemuliaan dalam bahasa Yunani disebut &#8216;Doxa &#8216;sedangkan pada bahasa Ibrani &#8216;Kaboth&#8217;. Doxa sering dihubungkan dengan kepercayaan umum. Artinya, Ia layak untuk mendapatkan kepercayaan kita sepenuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan untuk pihak kedua, yaitu manusia (yang berkenan kepadaNya) maka kata damai sejahtera lah yang dihubungkan. Jika kita berpikir lebih mendalam, maka hal tersebut adalah sesuatu yang menarik. Mengapa kata damai sejahtera yang muncul? Lagu tersebut setidaknya menjadi suatu panduan bagi kita bahwa &#8220;sama seperti kemuliaan adalah bagian Allah, maka damai sejahtera adalah bagian manusia&#8221;. Manusia diciptakan untuk menikmati dan menyebarkan damai sejahtera. Dalam bahasa Ibrani, damai sejahtera menggunakan kata &#8216;Shalom&#8217; yang sering kita dengar tentunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata ini memiliki tiga arti yaitu peace, completeness dan welfare. Anehnya, Tuhan Yesus memerintahkan manusia untuk <a title="Kesempurnaan Manusia" href="http://blog.leipzic.com/2011/10/08/kesempurnaan-manusia/" target="_blank">menjadi sempurna</a> (Matius 5:48). Kata sempurna di situ menggunakan kata Yunani &#8216;Teleios&#8217; yang juga berarti completeness. Maka tentulah kita tahu, bahwa sempurna yang diinginkan oleh Allah adalah kesempurnaan (lengkap) di dalam damai sejahtera. Hanya dengan hidup dalam damai sejahtera saja kesempurnaan itu akan muncul.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata welfare atau kelimpahan juga sebenarnya adalah kehendak Tuhan untuk manusia nikmati. Bahkan meskipun Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Allah tidak menghapus tujuanNya untuk membuat manusia menjadi berkelimpahan. Ia hanya membiarkan manusia &#8216;lebih bersusah payah&#8217; untuk mendapatkannya. Saat Allah menciptakan manusia, Ia ingin agar manusia berkuasa (Kejadian 1:28). Saat Yesus datang, Ia ingin agar damai sejahtera ada. Maka kita tahu bahwa Allah ingin menghadirkan damai sejahtera yang telah lama hilang dalam hidup manusia. Yesus ada untuk menyelesaikan pekerjaan Adam yang gagal ia kerjakan, yaitu menguasai dunia dengan damai sejahtera.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelimpahan, kesempurnaan, sama seperti damai sejahtera dan menjadi lengkap adalah hadiah yang manusia bisa dapatkan. Namun, ada satu hal yang harus kita ingat yang merupakan kata kunci. Damai sejahtera hanya diberikan bagi manusia yang berkenan kepadaNya. Tentunya berkenan membuat kita menjadi manusia yang dikhususkan Allah, menjadi milikNya yang berharga. Alkitab telah menyimpan kunci untuk membuat diri kita berkenan kepada Allah. Yaitu dengan hidup berdamai. <a title="Lika-liku Si Garam" href="http://blog.leipzic.com/2011/12/08/lika-liku-si-garam/">Blog sebelumnya pun telah membahas hal ini</a>. Jika hal ini diulang-ulang terus oleh Allah, tentunya ini adalah hal yang sangat penting. Pertanyaannya, maukah kita melakukannya?</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/4V-MZGCBEQY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/12/25/nyanyian-malaikat-saat-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/12/25/nyanyian-malaikat-saat-natal/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Lika-liku Si Garam</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/AP93e6TgOs0/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/12/08/lika-liku-si-garam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 18:05:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Change The World]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Community]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2166</guid>
		<description><![CDATA[Tentunya kita sudah sangat sering mendengar kata-kata, &#8220;Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?  Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.&#8221; (Matius 5:13) Kita bukan sedang belajar menjadi garam. Tetapi kita memang sudah menjadi garam. Namun pertanyaannya, atas dasar apa Tuhan Yesus menyatakan hal itu? Apakah menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/12/salt-garam.jpg"><img class="alignleft  wp-image-2168" style="margin: 5px;" title="salt-garam" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/12/salt-garam.jpg" alt="" width="240" height="240" /></a>Tentunya kita sudah sangat sering mendengar kata-kata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?  Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.&#8221; (Matius 5:13)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kita bukan sedang belajar menjadi garam. Tetapi kita memang sudah menjadi garam. Namun pertanyaannya, atas dasar apa Tuhan Yesus menyatakan hal itu? Apakah menjadi garam memang begitu mudahnya? Agaknya yang Yesus ingin tekankan di sini ialah, terlepas dari apapun yang kita lakukan, maka hidup kita akan selalu &#8216;mengasini&#8217; kehidupan orang lain, entah dengan benar atau salah. Itulah mengapa Ia juga berkata, &#8220;Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?&#8221;.</p>
<p><span id="more-2166"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jika mempelajari tentang fungsi garam, maka setidaknya terdapat dua fungsi terpenting garam, yaitu untuk memberi rasa dan mengawetkan. Dengan adanya garam, sesuatu tidak menjadi hambar, tetapi memiliki suatu rasa yang khas, yaitu asin. Dengan adanya kadar &#8216;asin&#8217; yang tinggi menyebabkan ketidakmampuan mikroba pengurai untuk hidup, sehingga barang yang diasinkan pasti lebih awet. Maka kedua hal yang unik tersebut harus terpancar dalam kehidupan kita. Yang unik adalah, Tuhan Yesus ternyata membahas tentang kehidupan kita yang dikaitkan dengan garam pula di Markus 9:49,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Karena setiap orang akan digarami dengan api. Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.&#8221; (Terjemahan Baru)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Everyone&#8217;s going through a refining fire sooner or later, but you&#8217;ll be well preserved, protected from the eternal flames. Be preservatives yourselves. Preserve the peace.&#8221; (The Message, Eugene H. Peterson)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;For everyone will be salted with fire, and every sacrifice will be seasoned with salt. Salt is good, but if the salt has lost its saltiness, with what will you season it? Have salt in yourselves, and be at peace with one another.&#8221; (World English Bible)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Mengapa Tuhan Yesus tiba-tiba berbicara tentang hal ini? Rupanya hanya versi WEB yang mencatat bahwa ternyata Yesus sedang berbicara tentang bahwa hidup kita sama seperti korban bakaran yang harus digarami. Hal yang unik lainnya ialah bahwa saat Tuhan Yesus membicarakan tentang garam, Ia selalu juga mengatakan bahwa garam tidak boleh menjadi tawar, karena tidak ada suatu hal pun yang dapat mengasinkan garam. Artinya, jika kita adalah garam, maka tidak ada suatu hal apapun yang sebenarnya dapat menggerakan kita untuk &#8216;mengasini&#8217; (baca: menjadi dampak) bagi orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Garam yang menjadi tawar berarti tidak lagi memberikan rasa yang benar (tidak ada rasa asin yang dikeluarkan). Saat kita tidak lagi memberikan dampak yang seharusnya (baca: yang telah didefinisikan/dirancang oleh Tuhan) maka kita sudah menjadi tawar. Menjadi tawar tidak berarti kehilangan dampak. Mungkin kita tetap mempengaruhi hidup orang lain. Tetapi bukan dengan cara yang seharusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka kata-kata &#8220;dengan apakah kamu diasinkan&#8221; berarti tidak ada suatu hal lain yang mampu membuat kita kembali memberikan dampak yang benar. Tapi kemudian Tuhan Yesus menjelaskan sebuah cara yang sangat unik bahwa tiap orang akan &#8216;digarami dengan api&#8217;. Jika kita &#8216;menggarami&#8217; berarti kita sedang memberikan &#8216;rasa kita&#8217; (baca: dampak/pengaruh kita) kepada orang lain. Nah, ternyata kita bisa kembali memiliki &#8216;rasa asin&#8217; (baca: dampak/pengaruh yang benar) dengan cara &#8216;digarami dengan api&#8217;.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/AP93e6TgOs0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/12/08/lika-liku-si-garam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/12/08/lika-liku-si-garam/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kasih Adalah Pondasinya</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/OSA90pmBE4c/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/11/15/kasih-adalah-pondasinya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 18:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Community]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>
		<category><![CDATA[Love-Sex-Dating]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2149</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita bertanya, &#8220;Hubungan apa yang paling kuat, hebat, dekat, tak terkalahkan dengan Tuhan?&#8221;. Maka jawabannya ialah saat kita mengalami FirmanNya. Firman Allah ialah janji sekaligus kebenaran. Artinya, jika kita melakukan sesuatu, maka ada akibat tertentu yang sesuai dengan Firman tersebut. Ada satu kata kunci yang akan membuat kita mengalami Firman tersebut. Yaitu saat kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/10/love-wallpaper.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2120" style="margin: 5px;" title="love-wallpaper" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/10/love-wallpaper-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Jika kita bertanya, &#8220;Hubungan apa yang paling kuat, hebat, dekat, tak terkalahkan dengan Tuhan?&#8221;. Maka jawabannya ialah saat kita mengalami FirmanNya. Firman Allah ialah janji sekaligus kebenaran. Artinya, jika kita melakukan sesuatu, maka ada akibat tertentu yang sesuai dengan Firman tersebut. Ada satu kata kunci yang akan membuat kita mengalami Firman tersebut. Yaitu saat kita melakukannya. Saat kita melakukan suatu hal yang sesuai dengan Firman tersebut, maka hal tersebut akan memicu janji Allah terjadi dalam hidup kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Pondasi Kekristenan" href="http://blog.leipzic.com/2011/11/01/pondasi-kekristenan/">Pada blog sebelumnya</a> dibahas tentang kasih sebagai pondasi kehidupan kita. Maka sebenarnya jika kita telaah kehidupan kita lebih jauh secara jernih, maka kita akan mendapati bahwa segala hal yang kita lakukan yang akan memicu Firman Allah terjadi dalam hidup kita memiliki satu kaitan yang sama dengan kasih. <span id="more-2149"></span>Saat kita mengerti esensi kasih, yaitu &#8216;<strong>menghadirkan segala yang terbaik dalam hidup orang lain</strong>&#8216; maka dapat dipastikan sebenarnya kita sudah memicu segala janji Allah terjadi dalam hidup kita. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus kita mengerti tentang kasih.</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Kasih memiliki fokus yang tepat, yaitu Tuhan dan orang lain. Kasih kita kepada Tuhan akan melandasi kita untuk mengasihi orang lain, dan sebaliknya, saat kita mengasihi orang lain, sebenarnya kita sudah mengasihi Tuhan, sebab apa yang Tuhan inginkan hanya satu, yaitu saat kita mengasihi orang lain.</li>
<li style="text-align: justify;">Kasih membuat kita proaktif. Hal ini berarti tidak ada kata pasif dalam hidup kita. Kasih membuat kita bertindak. Saat kita mengatakan bahwa kita mengasihi, maka seharusnya kita bertindak untuk menghadirkan segala yang terbaik dalam kehidupan pribadi yang kita kasihi.</li>
<li style="text-align: justify;">Kasih membuat kita memiliki inisiatif. Seharusnya, saat kita mengasihi, pihak pertama yang menyuruh kita bertindak ialah diri kita sendiri.</li>
<li style="text-align: justify;">Kasih membuat kita berkomitmen. Tidak ada kasih yang tidak diuji. Justru inilah yang membuat Kasih bertahan lebih lama daripada Iman dan Pengharapan. Karena kasih yang sempurna telah melewati ujian yang sempurna.</li>
<li style="text-align: justify;">Kasih membuat kita rendah hati. Kasih akan menggerakkan kita untuk mengorbankan segala yang kita miliki, termasuk ego kita untuk melakukan sesuatu bagi pribadi yang kita kasihi.</li>
<li style="text-align: justify;">Kasih adalah satu &#8216;rasa&#8217; yang ada pada buah roh. Tapi sebenarnya, saat kita mengasihi, maka kita menghadirkan &#8216;rasa-rasa&#8217; yang lain juga. Sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Bahkan kata lemah lembut dan rendah hati memiliki akar yang sama, yaitu &#8216;meek&#8217;.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Tuhan Yesus berkata dalam Matius 11:29-30,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kadang kita merasa hidup kita begitu berat, padahal jika kita sedang melakukan hal yang tepat (memikul kuk yang Tuhan Yesus pasang), maka kita akan menemukan ketenangan. Di ayat sebelumnya, Tuhan Yesus berkata &#8220;Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.&#8221; Dan jika kita mempelajari tentang kuk yang Tuhan Yesus ingin kita tanggung, maka yang Ia inginkan ialah untuk kita mengasihi. Pada pasal 11 ini, Tuhan Yesus sedang mengutus murid-muridNya untuk pergi melakukan segala sesuatu yang telah Ia ajarkan. Bahkan Ia mengecam beberapa kota yang sebenarnya telah melakukan suatu hal yang sama, yaitu tidak melakukan apapun untuk sesamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasih adalah pondasi bagi segala hal yang kita lakukan. Karena kasih (dari Allah, orang tua, dan semua orang di sekeliling kita) maka kita bisa hidup. Maka jika kita tidak bisa hidup dengan cara yang sama yang telah Allah tetapkan, maka sebenarnya kita telah melanggar dan membuang unsur terpenting dalam hidup kita.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/OSA90pmBE4c" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/11/15/kasih-adalah-pondasinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/11/15/kasih-adalah-pondasinya/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pondasi Kekristenan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/ltZL3wC9bt8/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/11/01/pondasi-kekristenan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 18:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Experiences]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2141</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian besar kita lupa bahwa setelah kita diselamatkan, ada sesuatu yang harus dilakukan. Hal ini membuat perjalanan kehidupan kita serasa tidak terlalu berarti. Setelah kita diselamatkan, ada perjuangan yang harus dilakukan! Itulah mengapa kita tetap ditempatkan di bumi, karena ada sesuatu yang harus kita kerjakan. Untuk itu, kita harus memiliki dasar dalam kehidupan. Yesus berkata, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/11/St._Thomas_NV_Building_Foundation.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2151" style="margin: 5px;" title="St._Thomas,_NV_Building_Foundation" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/11/St._Thomas_NV_Building_Foundation-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Sebagian besar kita lupa bahwa setelah kita diselamatkan, ada sesuatu yang harus dilakukan. Hal ini membuat perjalanan kehidupan kita serasa tidak terlalu berarti. Setelah kita diselamatkan, ada perjuangan yang harus dilakukan! Itulah mengapa kita tetap ditempatkan di bumi, karena ada sesuatu yang harus kita kerjakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu, kita harus memiliki dasar dalam kehidupan. Yesus berkata, bahwa hanya orang yang memiliki dasar yang kuat yang mampu tetap bertahan dari badai. Dan dasar kita hanyalah Kristus! Setiap hal yang kita lakukan harus didorong oleh Kristus. Setiap hal yang kita lakukan harus didasari oleh keinginan untuk melaksanakan keinginanNya, sebab kita telah ditebus dan kita sekarang adalah hambaNya. Itulah mengapa Kristus disebut &#8216;batu penjuru&#8217;.<span id="more-2141"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">1 Petrus 2:6, Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: &#8220;Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kristus juga disebut sebagai &#8216;pokok anggur&#8217;. Tanpa melekat dan memiliki pondasi kepada Kristus maka kehidupan kita akan seperti zombie, sepertinya hidup padahal tidak. Sepertinya kita ada, tetapi tidak ada sesuatu hal yang kita kerjakan. Pantaslah &#8216;pengkhotbah&#8217; mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan di bawah matahari adalah sia-sia. Tanpa melekat pada Sumber hidup kita, maka kita tidak akan memiliki kehidupan yang benar. <strong>Tanpa memiliki pondasi yang kuat, maka kita hidup kita tidak akan kokoh, bertumbuh dan produktif (membuahkan hasil)</strong>. Pantaslah kekeringan melanda kehidupan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Yohanes 15 berkata waktu kita tinggal di dalam Allah, kita akan berbuah, tidak kering, tidak dibuang, akan tetap menjadi kuat (tanpa Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa), berhasil (minta apapun pasti diberi) serta mempermuliakan Tuhan. Bagaimana supaya kita bisa melekat? Hanya satu caranya, yaitu menuruti perintahNya! Perintah yang mana? Yohanes 15:12 berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. &#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kasih adalah Allah sendiri (1 Yohanes 4:8). Dan inti dari seluruh hukum Taurat pun berbicara tentang kasih (Mat 22:37-40). Hanya dengan menjalankan satu hukum ini saja maka kita akan secara otomatis menjalankan seluruh FirmanNya. <a title="Kasih Adalah Pondasinya" href=" http://blog.leipzic.com/2011/11/15/kasih-adalah-pondasinya/">Blog selanjutnya</a> akan membahas hal ini. Akhirnya, orang yang bertemu dan mengalami pribadi Tuhan akan tidak sabar untuk menceritakan apa yang telah Tuhan perbuat dalam hidupnya (Yoh 15:27). Tiap orang punya daerah kekuasaan (baca: kehidupan pribadi dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya) yang harus mereka taklukkan. Tidak ada cara untuk melakukannya selain dengan mengasihi.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/ltZL3wC9bt8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/11/01/pondasi-kekristenan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/11/01/pondasi-kekristenan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rencana Tuhan Atas Manusia</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/Z83A-yyezvk/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/10/18/rencana-tuhan-atas-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 17:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Feelings]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2133</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anda termasuk orang yang bertanya &#8220;Mengapa kehidupanku begitu sulit?&#8221; Tidak ada yang aneh pada diri anda. Anda bukanlah satu-satunya orang yang berkata demikian. Namun bukan berarti juga tidak ada yang salah dengan kehidupan kita jika hal itu terjadi. Bagi orang yang dikasihi Allah, Ia ingin untuk selalu turut campur tangan dalam segala hal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/03/a-place2wrshp.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-288" style="margin: 5px;" title="Where Are You God?" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/03/a-place2wrshp-300x180.jpg" alt="" width="300" height="180" /></a>Apakah anda termasuk orang yang bertanya &#8220;Mengapa kehidupanku begitu sulit?&#8221; Tidak ada yang aneh pada diri anda. Anda bukanlah satu-satunya orang yang berkata demikian. Namun bukan berarti juga tidak ada yang salah dengan kehidupan kita jika hal itu terjadi. Bagi orang yang dikasihi Allah, Ia ingin untuk selalu turut campur tangan dalam segala hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Jika kita percaya bahwa kita termasuk dalam kumpulan orang tersebut, maka kita percaya bahwa campur tangan Allah pasti akan membawa kebaikan bagi hidup kita. Roma 8:28 berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.&#8221;<span id="more-2133"></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Mungkin ada di antara kita yang berkata, &#8220;Bukankah aku telah diberi kehendak bebas? Mengapa Ia masih campur tangan?&#8221; Maka sebenarnya orang tersebut tidak mengerti tujuan Allah memberikan kehendak bebas dan bahkan mungkin ia bukanlah termasuk dalam orang yang disebut dalam Roma 8:28 tersebut, yaitu orang yang mengasihi Allah. Karena tanpa kehendak bebas, maka kasih manusia tidak akan nyata. Bayangkan jika manusia seperti sebuah robot yang harus mengikuti perintah Allah. Maka tidak ada unsur kasih yang bekerja. Tetapi dengan adanya kehendak bebas, maka manusia dengan kebebasannya akan mengikuti kehendak Allah. Bukan karena terpaksa, tapi karena ia mengasihi Allah. Tentu saja tidak ada kasih yang bertumbuh karena paksaan. Tetapi kasihlah yang membuat manusia bisa melakukan sebuah ketaatan dan pengorbanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Roma 8:28 juga berkata bahwa Allah hanya akan turut campur tangan terhadap orang yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Pertanyaannya ialah, apa rencana Allah atas hidup manusia? Matius 5:16 berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ia ingin agar kita menjadi terang! Dan terang harus ditaruh di tempat gelap, bukan dalam kumpulan terang, karena tidak akan ada artinya. Bayangkan jika kita memasang lilin di sebuah ruangan yang diterangi lampu ribuan watt. Artinya, jika kita menjaga kehidupan kita untuk tetap benar di hadapan Allah, itu agar orang lain melihat bahwa ada kehidupan Allah yang terjadi dalam kehidupan kita. Selanjutnya, Matius 5:20 berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah standar yang sangat tinggi yang telah Allah tetapkan dalam hidup manusia. Pertanyaannya, mungkinkah manusia melakukannya? Bayangkan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi orang-orang yang sangat rajin dan taat melakukan kehidupan keagamaannya. <a title="kesempurnaan manusia" href="http://blog.leipzic.com/2011/10/08/kesempurnaan-manusia/">Jawabannya adalah mungkin</a>. Selanjutnya mungkin kita bertanya, &#8220;Bukankah ada begitu banyak perintah di Alkitab? Bagaimana melakukan semuanya?&#8221; Amsal 25:2 dan Mazmur 25:14 berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka. &#8220;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kita perlu tahu bahwa Tuhan tidak membiarkan kita sendirian saat melakukan perintahNya. Ia akan menolong kita. Rahasia dari segala sesuatu ialah hubungan dengan Tuhan. Jika kita kehilangan hubungan dengan Tuhan, maka kita akan kehilangan segalanya: makna hidup, visi, damai sejahtera, semangat, kasih, dan sebagainya. Jika seseorang sedang mengalami suatu kondisi yang membuat dirinya menjadi &#8216;down&#8217;, mungkin salah satu akibatnya ialah karena ia tidak sedang dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan ialah kunci atas segala aspek kehidupan kita!</p>
<p style="text-align: justify;">
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/Z83A-yyezvk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/10/18/rencana-tuhan-atas-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/10/18/rencana-tuhan-atas-manusia/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kesempurnaan Manusia</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/x7BtCabl884/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/10/08/kesempurnaan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 17:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Quality & Creativity]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2127</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang berkata bahwa kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Hal ini sepertinya menjadi sebuah tembok tebal yang aman yang seringkali dijadikan tempat perlindungan bagi beberapa orang. Namun pertanyaannya, benarkah manusia tidak dapat berlaku sempurna? Matius 5:48 berkata, &#8220;Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.&#8221; Tuhan Yesus sendiri yang memerintahkan kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/11/nobody-is-perfect.jpg"><img class="alignleft" style="margin: 5px;" title="nobody-is-perfect" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/11/nobody-is-perfect-216x300.jpg" alt="" width="173" height="240" /></a>Banyak orang berkata bahwa kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Hal ini sepertinya menjadi sebuah tembok tebal yang aman yang seringkali dijadikan tempat perlindungan bagi beberapa orang. Namun pertanyaannya, benarkah manusia tidak dapat berlaku sempurna? Matius 5:48 berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tuhan Yesus sendiri yang memerintahkan kita untuk menjadi sempurna. Jadi jika Allah sendiri yang berkata demikian, maka seharusnya hal itu tidak mustahil untuk dilakukan. Bahkan sebenarnya Allah sendiri telah menciptakan kita segambar dan serupa denganNya. Jika kita renungkan lebih dalam, maka kita akan mengerti bahwa sebenaranya ini adalah wujud kerendahan hati Allah. Karena Ia yang Illahi bersedia untuk &#8216;disaingi&#8217; kesempurnaanNya. Pertanyaannya adalah &#8220;Bagaimana caranya?&#8221;<span id="more-2127"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menjawab hal ini ada beberapa sisi yang harus kita renungkan. Pertama, Ia sendiri telah mendesain kita untuk menjadi makhluk yang sempurna. Hal ini bukan berarti kita memang sudah sempurna. Namun, kita diciptakan memiliki potensi untuk menjadi sempurna. Artinya, awalnya kita masih berada pada tingkat atau level dasar. Kita butuh melakukan sesuatu agar mencapai tingkatan sempurna. Namun, untuk menjadi sempurna, tidak ada cara lain selain kita melihat gambaran tersebut dan mencontohnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, kita harus memiliki hubungan yang baik dengan Sumber Kesempurnaan itu. Permasalahannya tentu karena dosa. Dosa menghalangi kita untuk memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Kabar baiknya ialah Tuhan Yesus sendiri yang memerintahkan agar kita menjadi sempurna, Ia sendiri yang telah menebus dan menghapus dosa kita. Selain dosa, Ia juga telah menghapus setiap kelemahan kita, mulai dari sakit penyakit, trauma dan sebagainya. Dan seharusnya sejak itu, kita sudah dilahirkan kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini membuat kita menjadi ciptaan yang baru. Artinya ada pemulihan dalam segala hal. Permasalahannya, sering kali kita sendiri yang masih tidak mau melepaskan beberapa sisi yang merupakan bagian dari manusia lama kita. Mungkin kita masih memiliki rasa takut, atau mungkin masih ada dosa-dosa yang kita simpan. Akhirnya, hal ini membuat proses menjadi sempurna itu menjadi seperti sebuah &#8216;mission impossible&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, kita perlu tahu bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Proses penebusan sebenarnya telah membuat roh kita menjadi kudus dan memiliki kehidupan yang kekal. Dan kita tahu bahwa tubuh manusia akan menuju kepada kebinasaan. Permasalahannya terdapat pada jiwa manusia. Pada area inilah peperangan terjadi, antara mengikuti kehendak tubuh (daging) yang ingin agar kita melakukan perbuatan yang sia-sia, atau kehendak roh yang selaras dengan keinginan Tuhan. Maleakhi 4:6 berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Hati dalam bahasa aslinya adalah &#8216;tselem&#8217;, yang berarti emosi, fokus, kasih. Sebenarnya dalam ilmiah, kita akan mengerti bahwa hati adalah jiwa manusia. Karena jiwa terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak. Dan di sinilah peperangan terjadi. Itulah mengapa Amsal 4:23 berkata &#8220;Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kata sempurna yang dipakai dalam Matius 5:48 tersebut berasal dari kata &#8216;teleios&#8217; yang berarti lengkap. Sedangkan nubuatan Maleakhi 4:6 adalah nubuatan tentang Yohanes Pembaptis yang memiliki tugas untuk mempersiapkan jalan bagi Kristus. Dengan kata lain, saat hati kita dipulihkan maka kita sedang menggenapi rencana Allah atas hidup kita. Lengkap harus berbicara tentang keseluruhan hidup kita. Artinya tidak boleh ada yang lobang. Tidak boleh ada unsur yang tidak maksimal. Contohnya, mungkin kita berhasil dalam karir, tetapi jika keluarga kita tidak bahagia, maka kita belum lengkap.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pemulihan ada berkat Allah. Mazmur 133 berkata bahwa ada berkat yang dijanjikan saat pemulihan terjadi. Bukan berkat yang jadi faktor utama, tetapi orang yang dipulihkan pasti menjadi berbahagia, karena hidupnya terasa lengkap. Artinya, yang satu harus dilakukan dan yang lain tidak boleh dilupakan. Kesempurnaan yang Yesus maksud tentu bukan berarti menjadi Allah seperti paham yang diajarkan oleh orang-orang pada &#8216;Gerakan Jaman Baru&#8217;. Tetapi berarti kita menjadi dewasa sedemikian rupa sehingga kita bisa bertanggung jawab terhadap setiap aspek kehidupan kita, karena hanya orang dewasa yang mampu menjawab sebuah tanggung jawab.<a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/11/nobody-is-perfect.jpg"><br />
</a></p>
<p style="text-align: justify;">
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/x7BtCabl884" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/10/08/kesempurnaan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/10/08/kesempurnaan-manusia/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Balada Kasih</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/sHUBiH0MFlc/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/09/26/balada-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 04:22:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2119</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak lagu yang kita nyanyikan berkata bahwa kita ingin menjadi seperti Yesus. Atau banyak di antara kita yang mengaku mengasihi Yesus. Namun, apa kata Yesus bagi orang yang ingin menjadi seperti diriNya dan mengasihiNya? Yohanes 14:15 berkata, &#8220;Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.&#8221; Bagi Yesus, kasih harus ditunjukkan melalui tindakan. Ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/10/love-wallpaper.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2120" title="love-wallpaper" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/10/love-wallpaper-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Ada banyak lagu yang kita nyanyikan berkata bahwa kita ingin menjadi seperti Yesus. Atau banyak di antara kita yang mengaku mengasihi Yesus. Namun, apa kata Yesus bagi orang yang ingin menjadi seperti diriNya dan mengasihiNya? Yohanes 14:15 berkata, &#8220;Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.&#8221; Bagi Yesus, kasih harus ditunjukkan melalui tindakan. Ia telah memberikan contoh akan hal tersebut selama pelayananNya di muka bumi. Bahkan Yohanes 14:12 berkata, &#8220;Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;&#8221; Perkataan ini diucapkan beberapa saat sebelum Yesus menjalankan tugas utamaNya, yaitu untuk menebus dosa manusia. Artinya, ini adalah salah satu pesan terakhirNya kepada murid-muridNya. Ia seperti ingin berkata bahwa &#8220;Aku telah menunjukkan kepadamu, bagaimana seharusnya engkau hidup. Lakukanlah segala yang telah Kuperbuat kepadamu kepada orang lain&#8221;.</p>
<p><span id="more-2119"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di seluruh Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), seringkali Allah memberitahu umatNya untuk melakukan perintahNya. Hal ini bukan untuk kepentingan Allah, namun sebenarnya justru untuk kepentingan manusia. Bacalah Ulangan 28. Di sana terpampang suatu perjanjian antara Allah dan manusia. Ada berkat yang Tuhan janjikan saat manusia melakukan perintahNya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: &#8221; (Ulangan 28:1-2)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Intinya tetap sama. Melakukan perintahNya adalah syarat kesuksesan manusia di muka bumi. Sebab kesuksesan adalah mengenai menggenapi rencana Allah atas kehidupan kita. Untuk itulah kita harus melakukan perintahNya. Karena sebenarnya Ia yang mengetahui arah hidup kita, dan Iapun telah memberikan cara untuk menuju ke sana. Itulah FirmanNya. Namun, ada perbedaan mendasar antara melakukan perintahNya pada PL dan PB. Di PL, orang (baca: Bangsa Israel &#8212; perjanjian hanya secara khusus milik bangsa Israel) akan melakukan perintahNya karena hanya dua alasan saja. Yang pertama karena mereka takut, yang kedua karena mereka ingin diberkati. Namun, tidak dengan PB. Seharusnya, jika kita melakukan perintahNya, kita melakukannya karena kasih. Perbedaannya terletak pada bahwa kita mengenal siapa Allah kita. Hanya sedikit &#8216;aktor&#8217; pada PL yang seperti itu (contohnya Daud). Jika kita mengenal Allah kita, dengan senang hati kita akan melakukan apa yang dikatakanNya.</p>
<p style="text-align: justify;">Matius 5:48 berkata &#8220;Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.&#8221; Mungkinkah kita menjadi sempurna? Jawabannya adalah harus mungkin. Sebab Allah yang memberikan perintah adalah Allah yang Maha Tahu, dan Ia tidak mungkin memberikan suatu perintah yang tidak dapat dilakukan umatNya. Namun pertanyaannya adalah &#8220;Menjadi sempurna dalam hal apa?&#8221; Jawabannya adalah <strong>KASIH</strong>! Matius 5:48 diawali dengan kata &#8216;karena itu&#8217; yang merupakan kata akibat. Jadi pasti ada hal yang menyebabkan perintah itu diberikan. Dua ayat sebelumnya (Matius 5:46-47) menjadi kalimat sebab yang menjelaskan mengapa perintah tersebut diberikan, sekaligus bukti bahwa yang Yesus maksudkan pertama kali tentang kesempurnaan ialah kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentulah Ia tidak sembarangan melakukannya. Karena tidak ada identitas yang lebih kuat yang melekat kepada Allah selain &#8216;Allah adalah Kasih&#8217;. Ia bukan memiliki kasih, Ia sendiri adalah kasih. Dan suat kebenaran harus dilakukan selaras dengan kebenaran lain. Jika kita hanya melakukan perintahNya hanya untuk mencari berkat, maka sebenarnya kita tidak sedang melakukan perintahNya dengan benar. Ada ketimpangan yang terjadi. Tuhan Yesus dengan jelas merangkum seluruh hukum dalam kitab Taurat sebagai &#8216;kasihilah Tuhan Allahmu&#8217; dan &#8216;kasihilah sesamamu manusia&#8217;. Artinya, jika kita mempraktekkan kasih dengan benar dan utuh, maka sebenarnya kita telah secara tidak sadar melakukan segala perintahNya.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/sHUBiH0MFlc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/09/26/balada-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/09/26/balada-kasih/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>The Missing Manhood</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/W3C59QlmDaE/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/09/18/the-missing-manhood/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 04:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>
		<category><![CDATA[Love-Sex-Dating]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2113</guid>
		<description><![CDATA[*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi September 2011 Hampir semua peradaban di dunia memiliki ritual khusus bagi seorang anak laki-laki yang mulai menginjak dewasa. Orang Yahudi memiliki tradisi Bar Mitzvah, banyak suku memiliki tradisi mentatoo tubuh (seperti Indian atau Mentawai yang memiliki budaya tattoo tertua di dunia), sedangkan suku Dayak Ngaju memiliki tradisi untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/03/chimp_appreciate1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-551" title="Missing Secret: The Power of Appreciation" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/03/chimp_appreciate1.jpg" alt="" width="240" height="210" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">*) <em>Dipublikasikan pada <a href="http://www.smcc.or.id">Progress News SMCC</a> Edisi September 2011</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hampir semua peradaban di dunia memiliki ritual khusus bagi seorang anak laki-laki yang mulai menginjak dewasa. Orang Yahudi memiliki tradisi Bar Mitzvah, banyak suku memiliki tradisi mentatoo tubuh (seperti Indian atau Mentawai yang memiliki budaya tattoo tertua di dunia), sedangkan suku Dayak Ngaju memiliki tradisi untuk melukai tubuh menyerupai sisik buaya. Uniknya semua tradisi tersebut disertai dengan adanya wejangan dari orang tua (atau yang dianggap tua) kepada anak-anak tersebut. Wejangan tersebut berisi tentang bagaimana untuk menjadi seorang pria dewasa yang kuat, baik dalam karakter, sikap dan sebagainya. Pada saat Bar Mitzvah bahkan dilakukan pembacaan kitab taurat oleh anak tersebut.<span id="more-2113"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan saat ini? Penelitian-penelitian di berbagai bagian di bumi menyatakan bahwa ritual-ritual tersebut hampir punah. Dengan kata lain, proses kedewasaan secara biologis tidak disertai dengan proses pendewasaan secara pola pikir dan karakter. Hal ini terkait dengan kemajuan teknologi, globalisasi dan dinamika kehidupan yang sangat cepat. Artinya orang tua merasa tidak sempat untuk memberikan wejangan-wejangan tersebut sedangkan anak merasa tidak butuh karena merasa sudah tahu bagaimana bersikap.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasilnya adalah hilangnya ciri-ciri kepriaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang pria. Hal ini disertai dengan gerakan feminisme yang jika diterima secara tidak proporsional mengatakan bahwa pria dan wanita adalah sama. Semua hal tersebut menyebabkan pria setidaknya kehilangan 4 hal yang seharusnya merasuk dalam jiwa mereka.</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Manhood, yaitu sifat atau karakter seorang pria. Pria (seperti dijelaskan pada Progress News sebelumnya), memiliki ihwal yang berbeda dengan wanita. Seluruh perubahan fisik dan karunia lain diberikan untuk membuatnya berkuasa atas lingkungannya.</li>
<li>Fatherhood, adalah tanggung jawab seorang pria. Seorang pria yang sudah dewasa memiliki tanggung jawab untuk mewariskan seluruh jati dirinya kepada anaknya. Bahkan seorang anak, terutama anak laki-laki akan mewarisi nama ayahnya.</li>
<li>Brotherhood, berbicara tentang kesetiaan. Di sekolah-sekolah di Amerika, terutama yang berbentuk asrama, terdapat persaudaraan (brotherhood) yang biasanya diwakili dengan huruf-huruf Yunani (misalnya Theta Nu Theta dalam film Stomp The Yard yang dirilis tahun 2007). Persasudaraan tersebut berbicara tentang kesetiaan yang bahkan dibawa sampai mereka lulus. Alumni dari persaudaraan tersebut memiliki tanggung jawab untuk membantu ‘adik-adik’ mereka mulai dari pendanaan sampai jika terjaid suatu masalah.</li>
<li>Priesthood, berbicara tentang hubungan dengan Tuhan. Dalam konsep imamat di bangsa Israel, seorang imam pasti berbicara tentang pria. Imam adalah pihak yang menjadi perantara antara manusia dengan Tuhan. Tugas utamanya adalah mengadakan perdamaian dan melayakkan umat Israel untuk bertemu dengan Tuhan. Seorang pria harus menjadi perantara bagi sekelilingnya.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Beberapa kata kunci tersebut mulai hilang dari pria-pria modern yang mulai mengandalkan penampilan fisiknya. Mereka lebih memilih berdandan yang rapi, enak dipandang serta memiliki aroma yang harum. Namun percayalah bahwa bukan hal itu yang diinginkan oleh Tuhan dan para wanita. Ada ungkapan yang berkata, “Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama.” Untuk memiliki kepenuhan hidup, seorang pria harus memenuhi panggilan-panggilannya. Tuhan Yesus sendiri dikenal memiliki dua sifat yang menyatu dalam satu kepribadian. Ia dikenal sebagai ‘Lamb of God’ dan ‘Heart of Lion’. Progress news selanjutnya akan membahas hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">
<p style="text-align: justify;" align="center">“Hampir semua pria dapat bertahan dalam kesengsaraan. Tapi, jika ingin menguji karakternya, beri dia KEKUASAAN“</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">&#8211; Abraham Lincoln</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/W3C59QlmDaE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/09/18/the-missing-manhood/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/09/18/the-missing-manhood/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jati Diri Seorang Pria</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/inCNow7ZSuY/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/09/07/jati-diri-seorang-pria/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 04:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Love-Sex-Dating]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2111</guid>
		<description><![CDATA[*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi Juli 2011 Jika kita mencari di internet tentang kepriaan atau ‘manhood’, maka ada beberapa artikel yang muncul di ‘top ten result’-nya yang berjudul atau berisi tentang ‘womanizer’. Jika kita mendengar kata ini, mungkin kita akan teringat dengan lagu Britney Spears yang berjudul sama. Lagu ini kira-kira bercerita tentang bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/04/stock-photo-gold-guy-accused-scolding-reprimand-35248552.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2001" style="border-style: initial; border-color: initial;" title="stock-photo-gold-guy-accused-scolding-reprimand-35248552" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/04/stock-photo-gold-guy-accused-scolding-reprimand-35248552-287x300.jpg" alt="scolding" width="230" height="240" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">*) <em>Dipublikasikan pada <a href="http://www.smcc.or.id">Progress News SMCC </a>Edisi Juli 2011</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita mencari di internet tentang kepriaan atau ‘<em>manhood</em>’, maka ada beberapa artikel yang muncul di ‘<em>top ten result</em>’-nya yang berjudul atau berisi tentang ‘<em>womanizer</em>’. Jika kita mendengar kata ini, mungkin kita akan teringat dengan lagu Britney Spears yang berjudul sama. Lagu ini kira-kira bercerita tentang bagaimana citra seorang <em>playboy</em> di mata wanita. Fakta ini merupakan wakil dari banyak fakta lainnya tentang bagaimana subyek ini telah memiliki suatu makna yang sangat negatif.<span id="more-2111"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Padahal jika kita merujuk kepada sumber kata pria, kita akan menemukan suatu hal yang mencengangkan tentang bagaimana seharusnya pria berfungsi. Kata pria atau <em>man</em> berasal dari bahasa Latin dan Sansekerta ‘<em>vir</em>’. Kata ini memiliki relasi kuat dengan kata dalam bahasa Inggris ‘<em>virtue</em>’ yang berarti kebajikan. Kata ini berelasi dan berimplikasi terhadap kekuatan fisik dan terutama moral.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, seharusnya jika kita berbicara tentang pria, maka kita berbicara tentang kemampuannya untuk berbuat sesuatu. Kata <em>virtue</em> sendiri secara mendasar berelasi terhadap keberanian, pengaruh, kualitas, integritas dan kinerja. Berapa banyak di antara kita benar-benar memahami dan mampu melakuan hal-hal di atas?</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin anda termasuk orang yang pernah berkata dalam hati, “Mengapa pria selalu dituntut?”. Ternyata tuntutan itu tidak salah alamat. Sejak awal mulanya, pria dijadikan untuk melakukan hal-hal tersebut di atas. Semua hal di atas merujuk kepada satu kata yang mewakili, yaitu Pemimpin! Ya, pria ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, dan pemimpin akan selalu dituntut untuk menghadirkan teladan. Itulah mengapa, bagi pria yang merasa tuntutan tersebut berat, Tuhan menyediakan wanita sebagai penolong untuk menjalankan tugasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga, jika kita ingin diakui sebagai seorang pria, maka ada konsekuensi yang tidak terelakan bagi kita untuk dilakukan, yaitu mengambil tanggung jawab untuk memimpin. Hal ini berarti karya nyata bagi sekeliling kita. Sebuah karya nyata yang lahir dari kekuatan (baca: potensi atau talenta) yang Tuhan telah tanamkan dalam diri setiap kita untuk melakukan perkara-perkara besar bagi sekeliling kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Karya nyata tersebut telah Tuhan Yesus peragakan, yaitu tentang bagaimana kepriaan seharusnya berfungsi. Ia menyelesaikan tugasNya dengan sangat sempurna. Sebuah tugas yang secara langsung Ia terima dari BapaNya, demikian juga seharusnya seorang pria!</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">&#8220;<em>You seek the heights of manhood when you seek the depths of God.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">&#8211; Edwin Louis Cole</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/inCNow7ZSuY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/09/07/jati-diri-seorang-pria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/09/07/jati-diri-seorang-pria/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>KehendakMu atau Kehendakku?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/DSRcCKNcyBs/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2011/08/26/kehendakmu-atau-kehendakku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 07:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Experiences]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2101</guid>
		<description><![CDATA[Saat sebuah masalah terasa begitu berat, kita mengeluh. Saat perjalanan hidup kita serasa menemui gunung yang tinggi, kita menyerah. Kita bertanya, &#8220;Bagaimana aku dapat melewatinya?&#8221; Saat tiba-tiba gunung tersebut hilang atau mungkin kita telah berhasil melewatinya, kita lega. Namun, mungkinkah bahwa sebenarnya saat sebuah gunung muncul di depan kita, sebenarnya kita harus berhenti dan melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/08/problem.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2106" title="problem" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2011/08/problem.jpg" alt="" width="350" height="261" /></a>Saat sebuah masalah terasa begitu berat, kita mengeluh. Saat perjalanan hidup kita serasa menemui gunung yang tinggi, kita menyerah. Kita bertanya, &#8220;Bagaimana aku dapat melewatinya?&#8221; Saat tiba-tiba gunung tersebut hilang atau mungkin kita telah berhasil melewatinya, kita lega. Namun, mungkinkah bahwa sebenarnya saat sebuah gunung muncul di depan kita, sebenarnya kita harus berhenti dan melihat sekeliling kita? Bahwa telah ribuan langkah kita lewati sebelum menemui gunung tersebut? Bahwa di kiri-kanan kita pohon-pohon hijau ada untuk memberikan kesegaran? Bahwa ada rencana Allah di tiap langkah hidup kita.<span id="more-2101"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya bukan berada pada gunung tersebut. Masalahnya akan selalu berada pada sudut pandang kita. Bagaimana kita melihat masalah yang ada di depan kita. Ataupun bagaimana kita melihat hidup kita. Mungkin kita mengerti bahwa hidup kita ialah milik Allah dan harus dipergunakan untuk kepentinganNya. Tapi apakah kita sudah benar-benar mengerti hal tersebut? Ataukah baru sekedar teori?</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin kita termasuk orang yang sudah sangat mengerti tentang alkitab. Bahkan mungkin kita sudah mengkotbahkannya. Namun bagi Allah tidak ada yang lebih kuat daripada perbuatan kita. Demikian juga orang lain melihat kehidupan kita. Dan bukankah hal yang sulit dari sebuah firman ialah melakukannya? Masalahnya selalu terletak pada seberapa kuat diri kita berbicara dibandingkan dengan Tuhan di dalam hidup kita. Saat diri kita yang berbicara, maka kita akan melihat semua masalah, hambatan dan tantangan sebagai sesuatu yang menyakitkan. Dan pastinya kita enggan untuk mengalaminya. Bahkan mendekatinya pun tidak ingin. Dan saat itu terjadi, berapa banyak kita mengalami frustrasi atau stress?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi seharusnya kita melihat diri kita sebagai bagian dari rencana Allah dan percaya bahwa itu sempurna. Berserah bukan dilakukan di tengah-tengah berlangsungnya suatu proses, namun selalu dilakukan <strong>di awal suatu proses</strong>. Dengan hal tersebut, kita akan memiliki mental yang benar saat menghadapi suatu proses. Mendaki sebuah gunung memang suatu pekerjaan yang sulit dibandingkan jika berjalan di jalan beraspal yang lurus dan landai. Namun apakah hal tersebut yang memang kita harapkan?</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin cepat kita mengerti bahwa hidup kita bukan milik kita, maka semakin cepat kita akan menang terhadap proses tersebut. Semakin kita mengerti bahwa hidup yang kita jalani telah dibeli, ditebus dan dibayar lunas oleh Kristus, maka masalah apapun tidak akan terlalu terasa berat. Bukan berarti masalah yang berat itu adalah sesuatu yang harus dihindari, tetapi terkadang masalah tersebut <strong>terasa lebih berat</strong> dari seharusnya saat kita melihat dari sudut pandang kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan pengertian bukan hanya terjadi di dalam otak dan pemikiran kita saja. Itu hanyalah langkah awalnya saja. Pengertian tersebut harus ditanam sampai seluruh tubuh dan jiwa raga kita mengerti. Sebab dengan pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, maka roh kita telah dikuduskan dan telah disempurnakan. Namun, akan selalu ada peperangan dalam aspek jiwa kita. Sebab tubuh kita adalah hamba dosa dan akan selalu bertarung untuk melakukan dosa. Namun, roh kita yang telah disempurnakan memiliki keinginan untuk taat kepada Allah. Peperangannya terjadi pada jiwa kita. Oleh karena itu, kita harus terus mengusahakan untuk menyempurnakan jiwa kita (Matius 5:48).</p>
<p style="text-align: justify;">Peperangan antara kerajaan kita (bukan kerajaan iblis, sebab iblis telah dikalahkan oleh Yesus Kristus) dan kerajaan Allah akan selalu berlangsung. Bagi setiap orang yang terpanggil sesuai rencanaNya (Roma 8:28), bukan hanya rencana baik saja yang Ia sediakan, tetapi juga proses yang menjadikan kita menjadi makin sempurna juga ia sodorkan. Bagaimana kita melihatnya? Apakah hal tersebut menjadi petaka atau berkat? Tergantung dari seberapa besar kehendak kita bisa kita tundukkan kepada kehendakNya! (Sama seperti Yesus Kristus yang menjadi raja karena ia <strong>menundukkan diri</strong> kepada kehendak BapaNya!)</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/DSRcCKNcyBs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2011/08/26/kehendakmu-atau-kehendakku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2011/08/26/kehendakmu-atau-kehendakku/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss><!-- Served from: blog.leipzic.com @ 2012-02-20 01:27:55 by W3 Total Cache -->

