<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>The Leipzic Way</title>
	
	<link>http://blog.leipzic.com</link>
	<description>Quality &amp; Creativity, Life Paradigm, Indonesia, God's Kingdom</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 May 2012 09:45:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/LeipzicWorld" /><feedburner:info uri="leipzicworld" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Para Pahlawan Kasih Karunia</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/Dun-T_GCLso/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/05/07/para-pahlawan-kasih-karunia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 08:52:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Change The World]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2250</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Kisah Para Rasul adalah kitab yang menceritakan tentang kisah &#8216;kepahlawanan&#8217; rasul-rasul abad pertama. Mereka awalnya adalah para pecundang, orang yang penakut, gagal, tidak dianggap oleh masyarakat. Namun sejak Kisah Para Rasul 2, Roh Kudus dicurahkan dan tiba-tiba semuanya berubah. Petrus yang 3 kali menyangkal Yesus demi menyelamatkan nyawanya menjadi bukti pertama dengan berkotbah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/Grace_wordle.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-2251" title="Grace_wordle" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/Grace_wordle-300x137.jpg" alt="" width="300" height="137" /></a>Kitab Kisah Para Rasul adalah kitab yang menceritakan tentang kisah &#8216;kepahlawanan&#8217; rasul-rasul abad pertama. Mereka awalnya adalah para pecundang, orang yang penakut, gagal, tidak dianggap oleh masyarakat. Namun sejak Kisah Para Rasul 2, Roh Kudus dicurahkan dan tiba-tiba semuanya berubah. Petrus yang 3 kali menyangkal Yesus demi menyelamatkan nyawanya menjadi bukti pertama dengan berkotbah di hadapan ribuan orang Yahudi yang fanatik. Resikonya tetap sama, tetapi perbedaannya kemenangan berada di tangan Petrus dengan 3000 orang bertobat. Mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi?<span id="more-2250"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah Para Rasul 2 adalah peristiwa Baptisan Roh Kudus pertama, yaitu kondisi dimana pertama kalinya Roh Kudus menguasai hidup seorang manusia. Sejak awal, Roh Kudus bukan tidak ada dalam hidup manusia, tetapi Roh Kudus adalah pribadi yang lembut, yang tidak akan bertindak tanpa diijinkan. Namun, saat kita ijinkan Roh Kudus berkuasa, pekerjaanNya akan termanifestasi dalam hidup kita. 1 Korintus 2:8-11 berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk <span style="text-decoration: underline;">berkata-kata dengan hikmat</span>, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia <span style="text-decoration: underline;">berkata-kata dengan pengetahuan</span>. Kepada yang seorang Roh yang sama <span style="text-decoration: underline;">memberikan iman</span>, dan kepada yang lain Ia memberikan <span style="text-decoration: underline;">karunia untuk menyembuhkan</span>. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk <span style="text-decoration: underline;">mengadakan mujizat</span>, dan kepada yang lain Ia memberikan<span style="text-decoration: underline;"> karunia untuk bernubuat</span>, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk <span style="text-decoration: underline;">membedakan bermacam-macam roh</span>. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk <span style="text-decoration: underline;">berkata-kata dengan bahasa roh</span>, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk <span style="text-decoration: underline;">menafsirkan bahasa roh</span> itu. Tetapi semuanya ini <strong>dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama</strong>, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, <strong>seperti yang dikehendaki-Nya</strong>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Syukurlah Roh Kudus yang sama juga ada dalam diri kita. Sehingga kita pun dapat dan sebenarnya memiliki karunia yang sama seperti rasul-rasul tersebut. Karunia tersebut adalah senjata bagi kita. Namun Rasul Paulus memperingatkan dalam 1 Timotius 3:14-16,</p>
<blockquote><p><strong>Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu</strong>, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya<strong> supaya kemajuanmu nyata</strong> kepada semua orang. <strong>Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu</strong>. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Rasul Paulus memperingatkan agar kita memiliki cara pandang yang benar terhadap karunia yang Allah berikan, sebab karunia tersebut tidak diberikan untuk kita nikmati saja. Saat kita mampu untuk memiliki cara pandang yang benar, kita akan mampu memiliki kehidupan yang berkualitas. Permasalahannya, ada banyak di antara kita yang memiliki permasalahan yang terasa berat dan lupa akan semua karunia tersebut. Padahal karunia yang Allah berikan adalah semua senjata bagi kita untuk mampu mengalahkan setiap situasi dan berdampak bagi orang di sekeliling kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Seharusnya saat seseorang bergumul, ia bukan bergumul dengan masalahnya sendiri. Dalam Kolose 1:28-29, Rasul Paulus berkata bahwa apa yang ia pergumulkan adalah untuk menuntun tiap-tiap orang kepada kesempurnaan di dalam Kristus. Setiap permasalahan kita telah ikut dikalahkan dalam penebusan Yesus di atas kayu salib. Oleh karena itu, yang seharusnya menjadi pergumulan kita bukanlah diri sendiri, tetapi orang lain. Dalam bahasa aslinya, bergumul selalu diibaratkan seperti berkompetisi, sedangkan memimpin diibaratkan seperti mengantarkan seseorang kepada Mempelai. Kita memiliki tugas (kompetisi) untuk membuat orang lain menjadi sempurna (dalam bahasa aslinya Teleios yang berarti kesempurnaan yang utuh dalam segala hal). Karena hanya dengan kesempurnaan (kedewasaan) maka seseorang layak menjadi mempelai Kristus. Efesus 4:11 berkata,</p>
<blockquote><p>Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sebuah bentuk karunia lain (Karunia Jawatan) juga diberikan kepada kita. Karunia adalah kemampuan (keunggulan) yang Allah berikan. Tujuannya adalah untuk membangun tubuh Kristus. Dan sekali lagi dijelaskan bahwa karunia tersebut untuk membuat semua orang mencapai kedewasaan (sempurna). Namun bedanya, pengejaran seseorang akan kesempurnaan tidak dicapai dengan &#8216;mencari ilmu&#8217; (seperti murid perguruan silat yang mencari ilmu dengan berlatih dan bertapa untuk kepentingan/keahliannya sendiri), tetapi proses menuju kesempurnaan ini didapatkan dari apa yang ia lakukan terhadap orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama seseorang tidak keluar dari pemahamannya yang egois bahwa dirinya adalah yang terutama, orang tersebut tidak dapat menjadi sempurna (dewasa). Sebab kesempurnaan yang Allah inginkan justru akan terjadi saat seseorang memakai seluruh karunia yang diberikan kepadanya untuk kepentingan orang lain. Dan karunia yang diberikan oleh Allah tidak hanya berbicara tentang keahlian saja (seperti yang dijabarkan di atas), tetapi juga seluruh berkat Allah, mulai dari materi, keuangan, kesehatan, waktu, tenaga, dan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan secara tidak sadar, saat seseorang terus berdampak bagi kehidupan orang lain sebenarnya ia sedang menggenapi perintah Allah yang pertama. Dalam Kejadian 1:26, Allah memerintahkan manusia untuk berkuasa. Berkuasa bukan berbicara tentang mendapatkan kekuasaan seperti yang selama ini kita bayangkan. Tetapi justru Tuhan Yesus berkata di Matius 20:25-26,</p>
<blockquote><p>Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kita berkuasa dengan melayani orang lain. Melayani berarti memberikan segala daya guna kehidupan kita (uang, kesehatan, waktu, tenaga, kepandaian, keterampilan, dan lainnya) untuk orang lain. Hanya dengan itu seseorang akan mendapatkan dan merasakan arti hidupnya (kepenuhan hidup / fullness of life). Namun permasalahannya saat ini justru banyak orang Kristen yang mendapatkan dan merasakan kasih karunia itu tidak melakukan apapun dan membuat sia-sia karunia yang Allah berikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasih karunia akan termanifestasi dalam hidup kita waktu kita percaya. Kepercayaan kita kepada Tuhan menjadi pemicu semuanya. Namun kita juga harus memiliki kepercayaan bahwa karunia itu telah ada dalam hidup kita. Seluruh karunia yang Allah berikan bertujuan untuk membuat kita berfungsi. Kita memiliki suatu fungsi yang spesifik bagi orang di sekeliling kita. Ada orang yang mahir menasehati, ada yang mahir mengajar, dan sebagainya. Temukanlah fungsimu karena itu yang Allah inginkan. Jangan menyia-nyiakan karunia yang Allah telah berikan (2 Korintus 6:1). Tapi pergunakanlah itu untuk kepentingan orang lain. Dengan itu kita sendiri menjadi dewasa (sempurna) dan layak menjadi mempelai Kristus. Menjadi pahlawan kasih karunia berarti tidak menyia-nyiakan karunia yang Allah berikan itu dan mempergunakannya sesuai apa yang Allah inginkan. Dan yang Allah inginkan adalah agar hidup kita memberkati orang lain, bukan digunakan untuk kepentingan diri kita sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">(Gambar dari wordpress.com)</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/Dun-T_GCLso" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/05/07/para-pahlawan-kasih-karunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/05/07/para-pahlawan-kasih-karunia/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>10 Ciri Visi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/NP5f3H4X5N4/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/04/25/10-ciri-visi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 04:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2239</guid>
		<description><![CDATA[Memiliki visi berarti memiliki tujuan hidup. Orang yang tidak memiliki visi tidak akan merasakan arti hidupnya. Itulah mengapa, bagi seorang manusia, visi begitu penting. Namun, saat kita merenungkan apa visi hidup kita, ada sebuah pertanyaan yang timbul, &#8220;Apa beda visi dan target?&#8221; Keduanya sama-sama butuh pencapaian. Namun, jika kita berkata, &#8220;Saya punya target tahun depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/vision.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2243" title="vision" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/vision-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Memiliki visi berarti memiliki tujuan hidup. Orang yang tidak memiliki visi tidak akan merasakan arti hidupnya. Itulah mengapa, bagi seorang manusia, visi begitu penting. Namun, saat kita merenungkan apa visi hidup kita, ada sebuah pertanyaan yang timbul, &#8220;Apa beda visi dan target?&#8221; Keduanya sama-sama butuh pencapaian. Namun, jika kita berkata, &#8220;Saya punya target tahun depan menikah&#8221; atau &#8220;Saya ingin punya rumah dengan spesifikasi bla.. bla.. bla..&#8221; Apakah itu berarti kita sudah memiliki visi? Visi adalah sesuatu yang besar dan penting. Sesuatu yang membuatnya layak dihidupi dan dikejar oleh manusia seumur hidupnya. Berikut ini adalah daftar ciri sebuah visi yang dapat kita renungkan dan menjadi evaluasi bagi kita mengenai apakah kita sudah memiliki visi dalam hidup kita?<span id="more-2239"></span></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><strong>Visi kita melibatkan <em>divine intervention</em> atau keterlibatan Tuhan</strong>. Faktor pembeda pertama dan merupakan yang paling penting (mendasar) adalah visi kita bukan berasal, ditentukan ataupun diraih oleh diri kita. Kejadian 1:26 merupakan perintah pertama Tuhan atas manusia sekaligus merupakan tujuan hidup yang Allah berikan. Bahkan seluruh Alkitab sebenarnya merupakan penjabaran visi hidup kita. Dalam blog saya sebelumnya, <a href="http://blog.leipzic.com/2012/03/26/buah-pengetahuan-yang-baik-dan-jahat/">Buah Pengetahuan Yang Baik dan Jahat </a>dijelaskan mengapa Allah tidak ingin agar manusia memakan buah tersebut, yaitu karena begitu manusia memakannya, manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan &#8216;visi pribadi&#8217; versi mereka sendiri. Kelihatan egois? Tidak! Di blog tersebut dijelaskan bahwa mengikuti rencana agung dari Tuhan adalah hal terbaik yang manusia bisa lakukan, bukan menciptakan tujuan sendiri. Sebelumnya, kita harus memiliki pengertian yang sama tentang poin ini untuk dapat memahami poin-poin selanjutnya.</li>
<li><strong>Visi membuat kita dekat dengan Tuhan, bukan menjauh</strong>. Mengapa? Jika kita percaya bahwa yang merancang visi kita adalah Tuhan, maka untuk mengetahui segala detailnya, kita butuh untuk berbicara panjang lebar dengan Tuhan. Saat menciptakan manusia, Ia menciptakan kita secara detail, mulai dari peletakan segala organ tubuh sampai bagaimana masing-masing organ berfungsi. Dari situ kita tahu bahwa Allah merupakan perancang yang detail. Begitu juga saat Ia merancang tujuan hidup kita, visi kita pastilah sesuatu yang detail dan spesifik. Apakah sesuatu yang kita kejar saat ini membuat kita menjauh dari Tuhan? Saya tidak sedang berbicara tentang porsi saat teduh atau berapa lama waktu yang kita gunakan untuk berdoa, karena kedekatan dengan Tuhan tidak dapat diukur hanya dengan hal tersebut.</li>
<li><strong>Visi tidak membuat kita lelah ataupun takut</strong>. Yesaya 40:31 berkata bahwa orang yang menanti-nantikan Tuhan akan selalu mendapatkan kekuatan baru. Jika kita mengerti poin ke-2, maka pengejaran visi kita tidak akan membuat kita lelah. Bahkan dalam Yoel 2:7 dikatakan bahwa umat pilihanNya seperti sebuah pasukan yang tidak gentar akan apapun, menerjang dan menerobos apa yang ada di depannya (saya membayangkannya sama seperti pasukan Sparta dalam film &#8217;300&#8242;). Apakah sesuatu yang kita kejar saat ini membuat kita lelah dalam menjalani hidup kita? Ataukah kita sering takut akan masa depan kita?</li>
<li><strong>Visi membuat kita konsisten</strong>. Visi adalah gaya hidup. Ia adalah pencapaian dari seluruh hidup kita. Visi bukanlah sesuatu yang dapat dicapai lebih cepat jika kita bekerja lebih banyak, namun orang yang mengerti akan visinya tidak akan menyia-nyiakan waktu-waktu hidupnya, karena ia sadar visi adalah mengenai menanggapi seluruh karunia yang telah Allah berikan. Mengapa kita tidak dapat konsisten? Karena kita tidak yakin bahwa hal tersebut layak untuk kita hidupi. Mencapai visi tidak berarti kita mendorong diri kita habis-habisan untuk melakukannya. Konsistensi lebih berarti bahwa kita tahu seberapa kecepatan yang optimal untuk mencapai tujuan. Sebuah kendaraan yang dipacu habis-habisan dalam waktu yang lama pasti mesinnya akan meledak. Sedangkan visi kita adalah pencapaian yang lama, bukan hanya 10-20 tahun. Bahkan dapat lebih lama dari seluruh umur kehidupan kita (contoh: visi Abraham baru dapat diselesaikan di generasi ke 4, yaitu terbentuknya bangsa Israel). Jika kita menghabiskan seluruh daya guna hidup kita untuk bekerja dan mencapai target, sedangkan kita masih memiliki aspek-aspek lain dalam kehidupan yang menuntut perhatian yang sama, maka kita akan seperti mobil yang meledak mesinnya di tengah jalan.</li>
<li><strong>Visi membuat kita fokus</strong>. Yoel 2:7-8 juga menceritakan bahwa pasukan tersebut berlari di jalannya masing-masing, tidak berbelok ke kanan atau ke kiri. Ibrani 12:2 berkata bahwa kita harus menanggalkan segala beban kita dan mengarahkan pandangan kita kepada Yesus. Filipi 3:14 berkata bahwa kita berlari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah. Mengapa kita harus mengerjakan hidup kita dengan sempurna? Dalam Kristus, hal ini bukan lagi karena kita takut berbuat dosa, tetapi karena ada hadiah yang telah Allah sediakan.</li>
</ul>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/NP5f3H4X5N4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/04/25/10-ciri-visi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/04/25/10-ciri-visi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Menghidupkan Firman</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/6De763vK6WM/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/04/14/menghidupkan-firman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 16:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Community]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2232</guid>
		<description><![CDATA[Tuhan Yesus pernah memberikan perumpamaan tentang benih di Lukas 8. Dari cerita tersebut kita mengetahui bahwa ada empat jenis tanah, yang merupakan perumpamaan hati kita. Tiga kondisi membuat benih tersebut tidak tumbuh atau tumbuh sebentar lalu mati. Pertanyaannya, jika secara sederhana dibagi dalam prosentase, maka peluang agar benih firman dapat tumbuh hanya 25% atau seperempat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/seed.jpg"><img class="alignleft  wp-image-2233" title="seed" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/seed-300x240.jpg" alt="" width="240" height="192" /></a>Tuhan Yesus pernah memberikan perumpamaan tentang benih di Lukas 8. Dari cerita tersebut kita mengetahui bahwa ada empat jenis tanah, yang merupakan perumpamaan hati kita. Tiga kondisi membuat benih tersebut tidak tumbuh atau tumbuh sebentar lalu mati. Pertanyaannya, jika secara sederhana dibagi dalam prosentase, maka peluang agar benih firman dapat tumbuh hanya 25% atau seperempat. Apakah memang sesusah itu? Kedua, bagaimana memiliki kondisi hati yang benar, sehingga firman tersebut tumbuh di tanah yang subur?<span id="more-2232"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kita semua setuju bahwa apapun kondisinya, tanah tersebut berbicara tentang kondisi hati kita, atau dengan kata lain bagaimana cara kita menerima firman tersebut. Tetapi satu hal yang unik adalah ternyata faktornya tidak hanya berbicara masalah hati kita saja. Mari kita baca ayat tersebut.</p>
<blockquote><p>Lukas 8:5-15 Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.&#8221; Setelah berkata demikian Yesus berseru: &#8220;Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!&#8221; Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: &#8220;Kepadamu diberi <strong>karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah</strong>, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam <strong>perumpamaan</strong>, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tidak semua orang diberikan benih yang sama. Ada yang diberikan benih yang sempurna, berupa rahasia Kerajaan Allah, dan ada yang diberikan dalam bentuk perumpamaan. Rahasia Kerajaan Allah hanya diberikan kepada murid-muridNya, orang-oranag yang menerima warisan kasih karunia Allah. Amsal 25:2 berkata, &#8220;Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu.&#8221; Jika kepada murid-muridNya diberikan rahasia Kerajaan Allah, tentulah mereka setara dengan raja-raja. Kita percaya bahwa kita adalah murid-murid Kristus berdasarkan kasih karuniaNya. Sedangkan dalam bahasa aslinya, perumpamaan juga diartikan sebagai <em>proverbs</em>, yang kita kenal dalam bahasa Inggris juga berarti Amsal. Dan tentunya kita juga sudah tahu bahwa Amsal termasuk dalam produk Perjanjian Lama yang tidak ada seorangpun yang berhasil melakukannya (Kisah Para Rasul 15:10).</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, kita beroleh kasih karunia dalam suatu perjanjian baru untuk dapat mengenalNya dalam keintiman, sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh manusia yang hidup dalam perjanjian yang lama itu. Ibrani 8:11 berkata, &#8220;Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku.&#8221; Kata &#8216;akan mengenal aku&#8217; di sini berasal dari kata <em>eido</em> yang berarti pengenalan secara penuh (tanpa ditutup-tutupi) dan intuitif. Jika dahulu bangsa Israel harus mengajarkan Taurat secara turun temurun, tidak dengan Perjanjian Baru, karena Allah sendiri ada dalam hati mereka (ay 10). Kita adalah produk perjanjian baru tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika demikian, bagaimana kita sebagai raja dapat mengerti rahasia-rahasia Kerajaan Allah? Kondisi pertama adalah yang jatuh di jalan raya. Kondisi hati tersebut dalam bahasa aslinya dijelaskan bukan hanya sebagai suatu kata benda yaitu &#8216;jalanan&#8217;, tetapi juga berbicara tentang orang-orang yang sedang melakukan sesuatu atau sedang dalam perjalanan. Artinya, jika kita waktu menerima firman tetapi masih memiliki kesibukan tertentu, akan sangat mudah bagi Iblis untuk mencurinya. Bangsa Yahudi sendiri merenungkan firman dalam bahasa aslinya, <em>higgayown</em>, yang berarti menyanyikan berulang-ulang dalam suatu meditasi yang khusyuk. Mereka mengerti benar harga sebuah firman. Padahal mereka adalah bangsa yang hanya diberikan firman dalam bentuk perumpamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi kedua adalah yang jatuh di tanah berbatu, dimana benih tidak dapat berakar. Kita semua tahu bahwa akar adalah landasan utama bagi tumbuhan, sama seperti pondasi bagi sebuah bangunan. Pondasi yang kuat dibutuhkan dalam masa pencobaan. Kita sering menyebut masa ini sebagai proses. Tiap manusia akan diproses, terlepas dari apapun yang dia miliki. Dan proses inilah yang akan membuktikan kekuatan bahan pembentuk dari sebuah bangunan. Sebuah proses hanya akan menghasilkan dua hal, antara terbukti kuat atau hancur dan harus dirombak total. Yesus sendiri mengajar kita untuk berdoa supaya kita diluputkan dari pencobaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/saving-seeds-21395643.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-2234" title="saving-seeds-21395643" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/saving-seeds-21395643-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Kondisi ketiga adalah yang jatuh di semak duri. Jika kita cermati, kondisi-kondisi ini melambangkan tingkatan kekristenan. Awalnya adalah firman yang jatuh di hati orang yang masih mencari-cari dasar kebenaran yaitu orang yang belum bertobat. Kemudian ada yang jatuh di hati orang yang sudah menemukan dasar tersebut tetapi tidak kuat. Kemudian yang ketiga adalah kondisi yang kebanyakan orang Kristen miliki. Yaitu firman yang terhimpit oleh <strong>kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup</strong>. Mereka adalah orang-orang yang masih memilih untuk mengutamakan kepentingan pribadinya dan menjadikan Tuhan sebagai alat pemuas kebutuhannya, bukan tujuan utama. Orang Kristen model ini bukannya tidak bertumbuh, tetapi tidak menghasilkan buah yang matang. Buah tidak pernah dinikmati oleh pohon tersebut. Buah pasti dinikmati pihak lain. Tetapi jika buah tersebut tidak matang, maka entah jika dimakan oleh orang lain maka akan terasa kecut atau jika jatuh ke tanah tidak akan menghasilkan pohon yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun yang dapat berbuah adalah orang yang menyimpan firman tersebut dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan. Ada dua hal yang dilakukan yaitu menyimpan dan mengeluarkan buah dalam ketekunan. Menyimpan dalam bahasa aslinya <em>katecho</em> berarti memiliki, memegang secara erat, mengingat-ingat, mempertahankan. Buah dapat dihasilkan dari pohon yang menyimpan sari-sari makanannya. Selanjutnya, ternyata tidak cukup hanya menghasilkan buah, tetapi harus dalam ketekunan yang dalam bahasa aslinya berarti melakukan sesuatu secara konstan.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Tuhan Yesus berkata pada ayat ke-18, &#8220;Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya&#8221;. Seberapa banyak kita diberi tergantung dari penerimaan kita. Jika kita mengaku sebagai umat yang sudah ditebus, seharusnya benih yang kita terima adalah benih yang terbaik. Jangan sampai kita tidak dapat menerima firman Allah dan menghidupkannya dalam kehidupan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya bicarakan bukanlah bahwa kita harus sudah mampu melakukannya secara sempurna. Namun, kita harus memiliki hati untuk terus ingin diproses. Sama seperti keinginan Tuhan untuk kita terus bertumbuh. Dari seluruh perintah Allah yang tercantum dalam Perjanjian Baru sebagian besar ditujukan kepada orang dengan tingkat kerohanian yang sudah dewasa, terutama kepada orang-orang yang sudah memiliki kualitas sebagai bapa rohani.</p>
<p style="text-align: justify;">Yesus sangat serius dengan hal ini. Ppada ayat ke-21, Yesus berkata bahwa ibu dan saudaraNya adalah orang yang mendengar dan melakukan firman Allah. Karena Allah tidak pernah menginginkan kita berhenti hanya menerima firman tersebut untuk kita manfaatkan bagi diri kita sendiri. Firman tersebut harus menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. Sama seperti pohon yang berbuah hanya demi keuntungan orang lain. Jika kita ingin menghidupkan firman Allah, kita harus mampu melakukannya demi kepentingan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Gambar dari family-gardens.com dan markevanstech.com</em>)</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/6De763vK6WM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/04/14/menghidupkan-firman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/04/14/menghidupkan-firman/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Keutamaan Pasangan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/Y5Hwxl3fjU8/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/04/03/keutamaan-pasangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 06:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>
		<category><![CDATA[Love-Sex-Dating]]></category>
		<category><![CDATA[Marketplace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2227</guid>
		<description><![CDATA[*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi April 2012 Menikah merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup manusia. Ada yang merencanakan untuk menikah setelah mapan. Namun tidak sedikit yang memutuskan di usia muda. Semua memiliki alasan yang kuat untuk bersatu dengan belahan jiwanya. Dengan menikah, seseorang berharap untuk menjadi utuh secara pribadi. Kita tentu sudah mengerti bahwa pernikahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2228" title="wedding-icon1" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/wedding-icon1.jpg" alt="" width="184" height="196" /></p>
<p style="text-align: justify;"><em>*) Dipublikasikan pada <a href="http://www.smcc.or.id/">Progress News SMCC</a> Edisi April 2012</em></p>
<p style="text-align: justify;">Menikah merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup manusia. Ada yang merencanakan untuk menikah setelah mapan. Namun tidak sedikit yang memutuskan di usia muda. Semua memiliki alasan yang kuat untuk bersatu dengan belahan jiwanya. Dengan menikah, seseorang berharap untuk menjadi utuh secara pribadi.<span id="more-2227"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kita tentu sudah mengerti bahwa pernikahan adalah rancangan Tuhan (Kej 2:18). Namun, di balik segala keindahan yang dibayangkan, ada beberapa hal yang harus kita mengerti tentang rancangan Tuhan di balik bersatunya laki-laki dan perempuan (Kej 2:24). Mari kita baca baik-baik kronologis bagaimana Tuhan merancangkan momen persatuan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, sebelum semuanya terjadi, Allah telah mempersiapkan semuanya. Sebelum Ia membentuk Adam dan memberi nafas hidup, Ia menciptakan terlebih dahulu sistem pendukung kehidupan baginya (Kej 1:1-2a, Kej 2:4-7). Artinya, Allah tidak sedang main-main dengan manusia. BagiNya, manusia adalah proyek terbesar yang Ia yakini secara penuh. Buktinya, Ia tidak menyerah setelah manusia berdosa (Kej 3:6-7, Rom 3:23), tetapi Ia sendiri yang menjadi solusi atas dosa (Yoh 3:16).</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, wanita diciptakan sebagai penolong yang sepadan. Bahasa aslinya adalah <em>ezer</em> yang berarti <em>aid, helper</em> yaitu penolong. Terjemahan <em>Amplified Bible</em> menggunakan kata <em>suitable </em>(cocok, pantas)<em>, adapted </em>(sesuai)<em>, complementary </em>(saling mengisi, saling mengimbangi, saling melengkapi) sebagai kata sifatnya. Ketiga sifat tersebut harus ada dalam diri sebuah pasangan. Hal ini berarti mereka berkedudukan sejajar, sama kuat, saling melengkapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang unik adalah, penggunaan kata <em>companion</em> di beberapa terjemahan seperti <em>The Message</em>. Seperti kita tahu, <em>companion</em> berarti rekan. <em>Companion</em> memiliki kata dasar yang sama dengan kata <em>company</em> yang berarti perusahaan. Artinya, rekanan akan muncul dan baru dibutuhkan jika ada suatu pekerjaan yang dilakukan. Itulah mengapa gambaran mempelai selalu digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Kristus dengan jemaat. Sehingga jika seseorang ingin menikah, maka pertanyaan pertama yang harus ditanyakan adalah “Pekerjaan apa yang aku ingin lakukan dengan pasanganku?”.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga bagaimana Allah bereaksi dan bekerja. Mari kita baca runtutan Kejadian 2:18-22. Awalnya Allah sendiri yang tahu dan merencanakan bahwa laki-laki harus memiliki penolong (ay 18). Kemudian, hal yang unik yang terjadi adalah ternyata Ia tidak langsung memberikan penolong tersebut. Tetapi Adam disuruh bekerja dengan menamai segala ciptaan Allah tersebut. Hal yang lebih unik lagi, ternyata Adam juga memiliki kerinduan dan kebutuhan yang sama dengan yang Allah rancangkan, dan Ia mencoba untuk mencari pemenuhan kebutuhan tersebut dari hasil pekerjaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ketiga yang harus kita sadari adalah, kadang Allah tidak langsung memberikan apa yang kita butuhkan, tetapi Ia tahu. Yang Ia lakukan adalah memberikan segala macam tanggung jawab bagi kita. Yang kita harus lakukan adalah bertanggung jawab dengan memberikan kinerja yang terbaik. Baru setelah kita berada pada puncak kinerja dan tidak dapat dikembangkan lagi kecuali jika ada penolong, maka Ia memberikan penolong tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal keempat yang kita harus tahu, kadang kita lupa dan terlalu berfokus kepada pekerjaan itu, padahal pekerjaan kita tidak dapat menjadi penolong bagi diri kita. Hanya dengan bersatu dengan penolongnya saja seseorang dapat merasa lengkap.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal keenam yang tidak boleh kita lupa, tulang rusuk dalam bahasa aslinya (<em>tsalaw</em>) dapat diartikan sebagai ruangan atau sisi. Dengan ini, Allah ingin agar kita tahu bahwa posisi wanita adalah di sisi kita, dan sebenarnya ia adalah salah satu ruangan dari pribadi kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria adalah pemegang mandat dari Allah. Mengerjakan tanggung jawab tersebut dengan segenap hati adalah sesuatu yang harus kita hidupi dengan konsisten. Tetapi Ia tidak pernah membiarkan kita sendiri. Pria dan wanita bukan hanya pemegang tampuk pemerintahan terkecil yang Tuhan percayai, tetapi juga adalah bentuk perusahaan terkecil yang ada. Saat kita dapat dipercaya terhadap hal-hal kecil, maka Ia akan mempercayakan kepada kita hal-hal yang lebih besar (Mat 25:21).</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;" align="center">&#8220;<em>Menjadi laki-laki adalah masalah kelahiran, tetapi menjadi pria sejati adalah masalah pilihan</em>&#8220; &#8211; Edwin Louis Cole (Bapak Kegerakan Kepriaan)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;" align="center">(<em>Gambar dari blogspot.com</em>)</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/Y5Hwxl3fjU8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/04/03/keutamaan-pasangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/04/03/keutamaan-pasangan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Buah Pengetahuan Yang Baik dan Jahat</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/JkHNhSqOdho/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/03/26/buah-pengetahuan-yang-baik-dan-jahat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 05:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Quality & Creativity]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Community]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2217</guid>
		<description><![CDATA[Apakah kita termasuk orang yang pernah bertanya-tanya, &#8220;Mengapa manusia tidak boleh memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat?&#8221; Memang dengan memakan buah tersebut akhirnya manusia jatuh dalam dosa. Tapi pertanyaan lebih lanjutnya adalah &#8220;Ada apa dengan buah itu sehingga manusia tidak boleh memakannya?&#8221; Atau mungkin kita pernah bertanya, &#8220;Jikalau buah itu dilarang dimakan, mengapa Tuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/POHON-TERLARANG.jpg"><img class="alignleft  wp-image-2219" title="POHON TERLARANG" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/POHON-TERLARANG-224x300.jpg" alt="" width="157" height="210" /></a>Apakah kita termasuk orang yang pernah bertanya-tanya, &#8220;Mengapa manusia tidak boleh memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat?&#8221; Memang dengan memakan buah tersebut akhirnya manusia jatuh dalam dosa. Tapi pertanyaan lebih lanjutnya adalah &#8220;Ada apa dengan buah itu sehingga manusia tidak boleh memakannya?&#8221; Atau mungkin kita pernah bertanya, &#8220;Jikalau buah itu dilarang dimakan, mengapa Tuhan buat pohon itu tumbuh di taman Eden?&#8221;<span id="more-2217"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan itu sudah lama muncul di benak saya, dan sempat saya simpan sebagai suatu rahasia alam atau kewenangan Allah yang tidak perlu dipertanyakan. Namun beberapa saat lalu, saat saya merenungkannya lagi, saya kira-kira menemukan jawaban mengenai pertanyaan yang cukup besar ini. Bukan mutlak memang, namun hal ini cukup menjawab dan memuaskan dahaga akan kebenaran tersebut. Berikut adalah beberapa ayat yang terkait dengan kejadian tersebut.</p>
<blockquote><p>Kejadian 2:9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.</p>
<p>Kejadian 2:17 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: &#8220;Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.&#8221;</p>
<p>Kejadian 3:4-5 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: &#8220;Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja kita tahu bahwa kematian di sini bukan berbicara tentang kematian tubuh, karena Adam dan Hawa memang tidak mati. Namun mari kita lihat arti dari buah pengetahuan yang baik dan jahat. Kata baik dalam bahasa Ibraninya adalah <em>tob</em> yang berarti hal yang baik, berkenan, indah, menyenangkan, membawa kebahagiaan, kenikmatan, dan kemakmuran. Sedangkan kata jahat dalam bahasa Ibraninya adalah <em>rah</em>, yang berarti kejahatan, bencana, ketidaknyamanan, tekanan, kesedihan, penderitaan, kesakitan dan kesalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengertian pertama yang saya dapatkan adalah justru dengan tidak mengetahui apa yang baik dan yang jahat sebenarnya manusia hanya mengetahui apa yang baik saja. Pengetahuan akan yang baik itu tidak didapatkan dari akal budinya sendiri (berasal dari manusia), tetapi berasal dari Tuhan. Semua yang dilakukan manusia bukan karena inisiatif sendiri, tetapi melalui Firman dan perintah Allah. Maka kita tahu bahwa memang perintah Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat ini adalah demi kebaikan manusia. Karena sebenarnya manusia tidak hanya tidak mengetahui apa yang baik, ia juga tidak mengetahui apa yang jahat. Dalam versi Amplified Bible dijelaskan bahwa pohon pengetahuan yang baik dan jahat adalah <em>tree of the knowledge of [the difference between] good and evil and blessing and calamity</em>. Bayangkan, kejahatan pertama dilakukan oleh keturunan langsung dari Adam, yaitu Kain dengan membunuh adiknya. Artinya, manusia juga bisa memberkati, tetapi juga bisa mengutuk atau membawa bencana. Tak heran dunia saat ini dipenuhi kesedihan, sakit penyakit dan segala apa yang jahat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kerinduan Allah adalah agar suasana surgawi terjadi dalam kehidupan manusia. Itulah mengapa di Kitab Wahyu 21, Ia akan memperbaharui segalanya, akan ada langit baru, bumi baru, Yerusalem baru dan tujuanNya agar manusia berkuasa terjadi. Bahkan Ia memberikan kepada kita tubuh sorgawi yang penuh kemuliaan (1 Korintus 15:40). Tetapi waktu manusia mengetahui apa yang jahat, maka semua kejahatan, bencana, ketidaknyamanan, tekanan, kesedihan, penderitaan, kesakitan dan kemampuan untuk berbuat salah itu terjadi dalam hidupnya. Dengan kata lain, ketidaksempurnaan ada dalam hidup manusia. Tetapi sebenarnya, jika manusia tidak mengetahui apa yang baik pun, ia tetap dapat melakukan apa yang baik, karena itulah yang Allah perintahkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/The_Forbidden_Fruit.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-2220" title="The_Forbidden_Fruit" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/The_Forbidden_Fruit-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a>Pengertian kedua yang saya dapatkan adalah mengenai apa yang baik tersebut. Kata <em>tob</em> yang digunakan untuk mendefinisikan kata baik tersebut juga digunakan untuk mendefinisikan hasil ciptaan Allah pada Kejadian 1. Semua hasil ciptaanNya Ia nilai sebagai <em>tob</em> (baik). Maka, sebenarnya kata-kata Iblis waktu membujuk Hawa (Kejadian 3:4-5) tidak benar-benar salah. Kita akan memiliki kemampuan untuk &#8216;menyaingi&#8217; Allah, karena kita memiliki kemampuan untuk menciptakan apa yang baik. Masalahnya, kita juga jadi memiliki kemampuan untuk menciptakan apa yang jahat.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, ada perbedaan antara apa yang baik dalam versi Allah dan versi manusia. Ya! Sebenarnya dengan mengetahui apa yang baik, manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan visi, tujuan hidupnya. Itulah mengapa, sebenarnya iblis tidak berbohong sewaktu mengatakan kepada Hawa bahwa saat ia memakan buah tersebut ia dapat menjadi seperti Allah. Tetapi bukan itu yang Allah hendaki. Bagi kita manusia yang mengenal siapa Allah kita, tentu kita tahu bahwa pencapaian terbaik adalah jika kita mencapai tujuan yang Allah berikan dalam hidup kita. Bukan mencapai tujuan yang kita ciptakan sendiri. Jadi dengan mengetahui hal ini, apakah kita masih berpikir bahwa mengetahui apa yang baik itu adalah hal yang baik?</p>
<p style="text-align: justify;">Dan yang terakhir, dengan memakan buah itu, manusia resmi diusir dari taman eden. Dan itu juga berarti mereka tidak memiliki kesempatan untuk memakan buah dari pohon kehidupan (<em>the tree of life</em>). Kata kehidupan di sini menggunakan kata <em>chay</em>, yang berarti kehidupan, kesegaran, kekuatan,  kumpulan, kemampuan untuk menghasilkan keturunan. Bukankah itu juga yang seringkali manusia alami sekarang? Sering kita merasa lemah, putus asa, dan cenderung merasa sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang Allah rindukan adalah agar manusia memperoleh hidup yang sejati. Yohanes 3:16 berkata bahwa Yesus datang ke dunia agar manusia yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal. Kata hidup di sini berasal dari kata <em>zoe</em>, yang tidak hanya berarti hidup, tetapi hidup yang berasal dari roh (<em>pseuche</em>), yaitu hidup yang sukses, berkualitas, berkemenangan sesuai definisi Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada yang baik dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Saat kita mengetahui yang jahat, kita akan menjadi pribadi yang merusak. Saat mengetahui apa yang baik, kita akan secara otomatis, lambat laun terpisah dari Allah. Karena dengan mengetahui apa yang baik, kesuksesan yang ingin kita capai bukanlah kesuksesan versi Allah, tetapi versi kita. Jelas bukan itu yang Allah inginkan. Kata penyembahan memiliki akar kata &#8216;<strong>untuk menyerahkan diri (bergantung) kepada</strong>&#8216;. Saat kita memiliki kesuksesan versi sendiri, maka tidak ada penyembahan kepada Allah dalam hidup kita. Karena itu, hanya ada satu cara untuk mengembalikan seluruh kondisi kita dalam kesuksesan versi Allah, yaitu menghilangkan semua visi dan tujuan ciptaan sendiri dan mulai bertanya dan mencapai apa yang Allah inginkan dalam hidup kita.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/JkHNhSqOdho" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/03/26/buah-pengetahuan-yang-baik-dan-jahat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/03/26/buah-pengetahuan-yang-baik-dan-jahat/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Definisi Baru Integritas</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/b5-jnsimKsU/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/03/13/definisi-baru-integritas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Mar 2012 05:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Marketplace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2212</guid>
		<description><![CDATA[Jika ditanya, &#8220;Apa sih integritas itu?&#8221; atau &#8220;Bagaimana membedakan antara orang yang berintegritas atau tidak?&#8221;, maka kita sering menjawab bahwa secara mudah, jika seseorang melakukan sesuatu yang berbeda dengan kata hatinya, maka ia tidak berintegritas. Hal itulah yang seringkali kita yakini bukan? Mari kita bandingkan dengan definisi yang sangat komprehensif dari wikipedia, Integrity is a [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/04/intergrity.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-2213" title="intergrity" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/04/intergrity-300x219.jpg" alt="" width="300" height="219" /></a>Jika ditanya, &#8220;Apa sih integritas itu?&#8221; atau &#8220;Bagaimana membedakan antara orang yang berintegritas atau tidak?&#8221;, maka <a title="My Integrity" href="http://blog.leipzic.com/2007/02/10/my-integrity/" target="_blank">kita sering menjawab </a>bahwa secara mudah, jika seseorang melakukan sesuatu yang berbeda dengan kata hatinya, maka ia tidak berintegritas. Hal itulah yang seringkali kita yakini bukan?<span id="more-2212"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita bandingkan dengan definisi yang sangat komprehensif dari <a title="Integrity" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Integrity" target="_blank">wikipedia</a>,</p>
<blockquote><p>Integrity is a concept of <strong>consistency</strong> of actions, values, methods, measures, principles, expectations, and outcomes. In ethics, integrity is regarded as the honesty and truthfulness or accuracy of one&#8217;s actions. Integrity can be regarded as the opposite of hypocrisy, in that it regards internal consistency as a virtue, and suggests that parties holding apparently conflicting values should account for the discrepancy or alter their beliefs. The word &#8220;integrity&#8221; stems from the Latin adjective <strong>integer (whole, complete)</strong>. In this context, integrity is the inner sense of &#8220;wholeness&#8221; deriving from qualities such as honesty and consistency of character. As such, one may judge that others &#8220;have integrity&#8221; to the extent that they act according to the values, beliefs and principles they claim to hold.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Jika kita membandingkan jawaban kita dengan definisi dari wikipedia, kita tahu bahwa ternyata untuk menilai dan melakukan perbuatan integritas tidak semudah yang kita kira. Padahal jika kita dapat melakukannya, menurut buku &#8216;<em>Keunggulan Integritas</em>&#8216; oleh Adrian Gostick dan Dana Telford, integritas membuat kita mampu tetap bertahan di puncak. Artinya tanpa integritas, kesuksesan kita akan hancur. Hampir seluruh CEO perusahaan terbesar di dunia menaruh integritas sebagai nilai terpenting dari seorang karyawan yang mereka cari.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, ternyata melakukan integritas tidak semudah definisi yang kita sebutkan itu. Contohnya, jika dalam hati seseorang memiliki keinginan untuk mencuri dan kemudian dia melakukan perbuatan mencuri, maka menurut definisi kita, hal tersebut adalah perbuatan integritas. Padahal menurut hati nurani kita hal tersebut tentulah bukan integritas. Tapi, jika kita mencoba untuk mengikuti definisi integritas dari wikipedia, maka batasannya akan lebih jelas. Dua hal yang ingin ditekankan adalah prinsip konsistensi dan <em>wholeness</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya kalau kita melakukan sesuatu, tetapi tidak konsisten, meskipun itu sesuai dengan apa yang ada di hati kita, maka itu tidak berintegritas. Contoh dari perbuatan mencuri. Mengapa itu dikatakan tidak berintegritas? Karena kita tidak mungkin mencuri dari, misalnya dari orang yang kita sayangi. Jika berbicara tentang wholeness atau keutuhan (kebulatan), maka apa yang kita lakukan tidak boleh menimbulkan pertentangan dari hati nurani kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan adanya definisi baru ini, maka kita akan lebih jelas tentang arti integritas. Namun, ada hal lain yang ingin saya sampaikan. Yaitu suara yang ada di dalam (pikiran/hati) kita seringkali bukanlah satu suara. Contohnya dalam hal mencuri. Meskipun mungkin itu adalah memang keinginan kita, tetapi seharusnya muncul suara lain yang biasanya lebih lambat dan lebih kecil dari suara yang menginginkan kita untuk mencuri.</p>
<p style="text-align: justify;">Suara yang kita sebut sebagai hati nurani itu, akan makin kecil jika kita melatih diri kita untuk tidak mentaatinya. Itulah yang menyebabkan definisi integritas di awal menjadi tidak sesuai. Namun, jika kita melatih diri kita untuk terus mentaatinya, maka sebenarnya definisi tersebut masih relevan. Jadi persoalannya adalah masalah bagaimana kita melatih diri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam <a title="Blink: Kehebatan Pikiran Tanpa Berpikir" href="http://blog.leipzic.com/2012/03/01/blink-kehebatan-pikiran-tanpa-berpikir/" target="_blank">posting saya sebelumnya</a>,  dijelaskan bahwa manusia berpikir sebelum ia berpikir. Artinya, sebelum pikiran alam sadar kita berpikir, seringkali kita sudah memiliki refleks terhadap suatu masalah. Padahal, seringkali pikiran alam sadar inilah yang memuat nilai-nilai yang benar. Pikiran yang lebih lambat ini seringkali membuat kita menyesali suatu peristiwa. Oleh karena itu, hanya ada satu cara untuk membuat kita berintegritas, sehingga membuat kita makin jarang untuk menyesali perbuatan kita. Yaitu melatih diri kita untuk mentaati pikiran yang dimuati oleh nilai-nilai yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelatihan akan membuat suatu nilai memasuki alam bawah sadar kita, sehingga secara refleks itulah yang kita lakukan. Sebenarnya itulah inti dari suatu beladiri. Refleks! Artinya, jika kita bisa memiliki refleks (reaksi) yang benar terhadap suatu hal, maka kita akan menjadi mahir untuk melakukan hal yang benar. Maka untuk mengejar integritas, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah terus melatih dan melatih hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/b5-jnsimKsU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/03/13/definisi-baru-integritas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/03/13/definisi-baru-integritas/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Blink: Kehebatan Pikiran Tanpa Berpikir</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/m_i1r9P6CYU/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/03/01/blink-kehebatan-pikiran-tanpa-berpikir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 06:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Community]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Marketplace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2205</guid>
		<description><![CDATA[Buku ke-2 karangan Malcolm Gladwell ini bercerita tentang bagaimana kesan pertama, atau pikiran pertama yang muncul dalam benak kita di segala hal ternyata sangat penting. Malcolm Gladwell sendiri merupakan salah satu penulis favorit saya. Yang membuat buku ini menarik adalah, sama seperti &#8216;Tipping Point&#8216;, berisi tentang banyak penelitian yang berbau psikologis, bahkan yang merupakan hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/04/blink.jpg"><img class="size-full wp-image-2206 alignleft" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="blink" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/04/blink.jpg" alt="" width="70" height="120" /></a>Buku ke-2 karangan <a title="Malcolm Gladwell" href="http://www.gladwell.com" target="_blank">Malcolm Gladwell </a>ini bercerita tentang bagaimana kesan pertama, atau pikiran pertama yang muncul dalam benak kita di segala hal ternyata sangat penting. Malcolm Gladwell sendiri merupakan salah satu penulis favorit saya. Yang membuat buku ini menarik adalah, sama seperti &#8216;<em>Tipping Point</em>&#8216;, berisi tentang banyak penelitian yang berbau psikologis, bahkan yang merupakan hal baru di bidang ini. Namun bagi saya, dua hal yang menarik adalah penjabaran khas Malcolm Gladwell yang begitu teratur dan detil serta kesimpulan yang dapat diambil dari buku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku ini bercerita tentang bagaimana kesan pertama seseorang dapat menentukan keseluruhan proses yang terjadi selanjutnya. Setiap manusia, disadari atau tidak akan selalu memiliki dan melakukan hal ini. Masalahnya, jika kita menyadari tentang pentingnya serta kekuatan kesan pertama ini, maka kita dapat menjadikannya senjata, namun jika sebaliknya bisa jadi hal ini justru akan balik menyerang dan merugikan kita.<span id="more-2205"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ada banyak kisah yang diberikan, misalnya tentang bagaimana para ahli pecinta karya seni dapat membedakan mana patung yang asli dan tidak hanya dari 2 detik kesan pertama, sedangkan bahkan patung yang palsu tersebut dapat mengecoh sebuah prosedur yang dibuat untuk mendeteksi umur suatu benda. Para ahli tersebut tidak dapat menyebutkan alasan mengapa mereka yakin, namun mereka cuma yakin saja. Contoh lain adalah kepahlawanan Jendral Van Allen yang merupakan purnawirawan perang Vietnam yang diajak untuk menguji sistem peperangan baru yang diciptakan Amerika. Sistem tersebut menganalisa seluruh kemungkinan yang dapat muncul berdasarkan informasi yang ada. Dan ternyata, pemenangnya ialah Van Allen yang merupakan tipe orang yang tidak terlalu banyak berpikir, namun cenderung langsung mengambil suatu tindakan berdasarkan &#8216;intuisi&#8217; yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa kata intuisi diberi tanda petik? Karena Gladwell sendiripun tidak pernah menggunakan kata ini dalam bukunya. Ia sendiri memberikan perbedaan antara intuisi dan kemampuan berpikir <em>blink</em> ini. <em>Blink</em> merupakan kemampuan berpikir berdasarkan bank data yang tersimpan dalam alam bawah sadar kita. Jadi sebenarnya jika kita mampu untuk menggunakannya dengan baik, maka <em>blink</em> adalah suatu pemikiran yang sangat beralasan, sama seperti hasil pemikiran kita pada umumnya, hanya saja ini terjadi dalam waktu singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa saya mengatakan &#8216;jika kita mampu untuk menggunakannya dengan baik&#8217;? Karena memang tidak semua orang dapat menggunakannya dengan baik. Ada banyak contoh kegagalan orang yang mengikuti intuisinya. Namun, ada banyak faedah yang bisa didapatkan waktu kita mengikuti sebuah blink. Contohnya adalah bagaimana para dokter di Cook County Hospital di Chicago mengembangkan sistem diagnosis serangan jantung sehingga dapat menyelamatkan pasien, karena serangan jantung harus ditangani secara cepat dan tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Idenya muncul akibat sebuah ketidaksengajaan. Yaitu waktu masih remaja, Gladwell yang berdarah campuran Amerika-Latin, sengaja memanjangkan rambutnya. Dan setelah itu, ia langsung mengalami beberapa kasus salah tangkap oleh polisi. Ia berpikir bahwa tiap orang selalu memiliki pemikiran kognitif yang akan menghubungkan dua hal. Misalnya, dalam penelitian ditemukan bahwa kejahatan lebih terhubung dengan kulit hitam dibanding kulit putih dan sebaliknya, kesuksesan lebih disukai untuk orang kulit putih dibanding kulit hitam.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya, blink adalah suatu alat yang sangat hebat yang jika kita mampu untuk menggunakannya akan sangat bermanfaat dalam kehidupan kita. Sebab sama seperti berperang, seseorang seringkali dituntut untuk mampu berpikir cepat atau akan terlambat. Bagi orang seperti saya yang memiliki kecenderungan untuk berpikir dari segala macam sisi terlebih dahulu baru memutuskan, hal ini bisa menjadi solusi. Namun, harus dilatih. Itulah yang dikatakan Gladwell. Filipi 4:8-9 berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Iblis adalah penipu dan pendakwa yang seringkali membuat pikiran kita menjadi tidak jernih. Jika kita tidak dapat berpikir jernih, maka kita akan terjebak pada jurang keambiguan yang membuat kita salah memutuskan. Rasul Paulus berkata, kia kita memikirkan apa yang dari Allah, maka Allah sumber damai sejahtera itu akan menyertai kita, artinya menguasai pikiran kita, sehingga kita dapat memutuskan segala sesuatu dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Gambar dari gladwell.com</em>)</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/m_i1r9P6CYU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/03/01/blink-kehebatan-pikiran-tanpa-berpikir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/03/01/blink-kehebatan-pikiran-tanpa-berpikir/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kekristenan Adalah Kesempurnaan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/o3D_0fbzrxg/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/02/20/kekristenan-adalah-kesempurnaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 06:28:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2200</guid>
		<description><![CDATA[Secara tidak sadar, saat ini Kekristenan telah memasuki sebuah masa kemerosotan. Apa yang menjadi fokus dan dianggap penting oleh Yesus justru saat ini tidak terlalu diperhatikan oleh jemaat. Sebagai contoh, semasa hidupnya, dari awal pelayananNya (Matius 4:17) sampai detik-detik terakhir menjelang kenaikanNya (Kisah Para Rasul 1:3), Ia terus memberitakan tentang Kerajaan Allah. Tapi bagaimana dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/04/sorry_i_can__t_be_perfect_by_dropxdeadxmodyx-d3d290q.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2202" title="sorry_i_can__t_be_perfect_by_dropxdeadxmodyx-d3d290q" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/04/sorry_i_can__t_be_perfect_by_dropxdeadxmodyx-d3d290q-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Secara tidak sadar, saat ini Kekristenan telah memasuki sebuah masa kemerosotan. Apa yang menjadi fokus dan dianggap penting oleh Yesus justru saat ini tidak terlalu diperhatikan oleh jemaat. Sebagai contoh, semasa hidupnya, dari awal pelayananNya (Matius 4:17) sampai detik-detik terakhir menjelang kenaikanNya (Kisah Para Rasul 1:3), Ia terus memberitakan tentang Kerajaan Allah. Tapi bagaimana dengan sekarang? Masihkah Kerajaan Allah menjadi fokus utama pemberitaan (injil)?<span id="more-2200"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah kekristenan lebih sibuk untuk berfokus pada gereja sebagai ekspresi tentang Kerajaan Allah itu sendiri? Fokus kepada ekspresi akan fokus kita terhadap esensi itu hilang. Namun, jika ada yang ingin bertanya, apa bedanya kerajaan Allah dan gereja? Maka saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas, karena ada hal lain yang ingin saya bahas. Yang pasti, seharusnya gereja adalah sarana untuk mewujudkan kerajaan Allah itu. Namun, jika hanya berfokus pada gereja saja, maka bisa-bisa fokus terhadap kerajaan Allah itu sendiri teralihkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita semua setuju bahwa inti ajaran Yesus ada di Matius 5-7 yang merupakan rangkaian ajaran Kotbah di Bukit. Namun, ajaran itu jelas meningkatkan kualitas Hukum Taurat yang menjadi rujukan orang Israel waktu itu. Ajaran tersebut antara lain berkata, &#8220;Jika kita membenci sesama, maka sebenarnya hal itu sama dengan membunuh&#8221;, &#8220;Jika kita berahi kepada wanita yang tidak seharusnya, maka hal itu sama dengna berzinah&#8221;, selain itu ada ajaran tentang berdoa, berpuasa, dan lainnya yang menuntut kita untuk tidak berlaku munafik.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu pertanyaan yang muncul adalah, &#8220;Mungkinkah kita melakukan hal itu?&#8221;. Saat saya lontarkan pertanyaan ini dalam sebuah diskusi, maka semua menjawab, &#8220;Tidak mungkin kalau tidak ada kasih karunia Allah&#8221;. Artinya, semua setuju bahwa standar Yesus sangat berat sekali. Matius 5:48 berkata bahwa kita harus sempurna, sama seperti Bapa di Surga sempurna. Sungguh luar biasa, karena Allah membandingkan diriNya dengan kita. Suatu perbandingan yang tidak sepadan tentunya. Namun, kalimat itu ialah kalimat perintah, bukan himbauan seperti yang kebanyakan orang Kristen yakini. Selain itu, kalimat itu diberikan dalam bentuk masa kini, Yesus tidak berkata &#8220;&#8230;akan sempurna&#8230;&#8221; Kata sempurna di Matius 5:48 berasal dari kata Yunani &#8216;<em>teleios</em>&#8216; yang berarti utuh. Sebuah kata yang sama yang digunakan untuk menggambarkan &#8216;integritas&#8217;. Utuh berbicara tentang semua aspek. Jika ada 1 aspek saja dari keseluruhan 10.000 aspek dalam kehidupan kita yang terkorupsi, maka keutuhan itu belum terjadi. Namun, kasih karunia menimbulkan pengharapan bahwa apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hebatnya, Tuhan adalah pribadi yang mengasihi kita</strong>. Di dalam kasih, tidak mengandung tuntutan. Sebab &#8220;Kasih itu sabar; &#8230; Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu&#8230;&#8221; (1 Korintus 13:4-8). Ia sabar menunggu kita untuk mampu mencapai standar kesempurnaanNya. Bahkan waktu kita mungkin berbuat dosa lagi, Ia menutupi pelanggaran kita dengan pengorbananNya di salib, sambil tetap percaya dan berharap bahwa kita terus berusaha untuk mencapai standarNya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di masa-masa terakhir Yesus di bumi, Ia berbicara dengan Petrus (Yohanes 21:15-17). Ia tiga kali bertanya hal yang sama, &#8220;Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?&#8221;. Hal yang unik adalah ternyata mereka tidak sedang berbicara tentang topik yang sama, bahasa gaulnya, &#8216;tidak nyambung&#8217;. Dua pertanyaan pertama Yesus, Ia menggunakan kata kasih yang dalam bahasa Yunani adalah &#8216;<em>Agape</em>&#8216;. (Dalam bahasa Yunani, ada 4 kata yang digunakan untuk menggambarkan tentang kasih, <em>Agape, Filia, Storge, Eros</em>). Kita semua tahu bahwa kasih ini berarti adalah kasih yang sempurna. Sedangkan yang lucu adalah, Petrus menjawabnya, &#8220;Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (<em>Filia</em>) Engkau.&#8221; Namun yang hebat, pada pertanyaan ketiga, Yesus bertanya, &#8220;Petrus, apakah engkau mengasihi (<em>Filia</em>) aku?&#8221; Yesus secara sengaja menurunkan standarNya. Dan saat itulah hati Petrus sedih, sebab Ia tahu bahwa Yesus mengasihinya secara <em>Agape</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam kasih tidak ada tuntutan. Allah tidak pernah menuntut kita untuk menjadi sempurna, meskipun itu perintahNya. Namun, jika kita berbicara tentang hubungan saling mengasihi, kasihNya seharusnya menginspirasi kita untuk mengasihi pula. Jika kita mengaku bahwa kita mengasihi Dia, pasti secara otomatis kita tidak ingin menyakiti Dia dan ingin memenuhi keinginanNya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">1 Yohanes 2:6-10 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia,<strong> ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup</strong> &#8230; Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.</p>
<p style="text-align: justify;">1 Yohanes 4:10-12 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah<strong>, tetapi Allah yang telah mengasihi kita</strong> dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. <strong>Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1 Yohanes 3:6 <strong>Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi</strong>; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.</p>
<p style="text-align: justify;">1 Yohanes 4:17-18 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan <strong>barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih</strong>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Surat Yohanes yang pertama menggambarkan kasih dengan sangat indah. Bahkan Rasul Yohanes sendiri yang berkata bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Artinya, kalau kita ingin mencapai standar kesempurnaan Allah, maka kita perlu mampu menjadi sempurna di dalam kasih. Tidak kebetulan, kata sempurna dihubungkan dengan kasih. Karena memang waktu kita mengasihi secara sempurna, hidup kita akan sempurna.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Mat 22:37-40 Jawab Yesus kepadanya: &#8220;Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. <strong>Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi</strong>.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dengan kata lain Yesus berkata, &#8220;Kamu boleh lupa semua isi hukum Taurat dan kitab para nabi, tapi jika kamu mengasihi, maka kamu sudah melakukan hukum-hukum tersebut.&#8221; Hanya ada satu cara untuk membuat kita sempurna, yaitu kalau kita dapat mengasihi dengan benar. Bahkan saat ini, kasih yang justru paling populer adalah kasih <em>Eros</em>. Jiwa terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak. Kata kehendak ternyata menggunakan kata <em>Eros</em> (diambil dari Wikipedia), yang kira-kira berarti kehendak daging.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita hanya memiliki kasih dengan standar ini, maka sulitlah kita untuk sempurna. Sebab Eros berbicara apa yang terbaik untuk diri kita sendiri. Sedangkan kasih berarti ketulusan. Yaitu kemampuan kita untuk terus mengusahakan yang terbaik bagi hidup orang lain, yang mungkin berarti hal itu sakit bagi diri kita sendiri. Mana yang kita pilih?</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/o3D_0fbzrxg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/02/20/kekristenan-adalah-kesempurnaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/02/20/kekristenan-adalah-kesempurnaan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Keselamatan Adalah Tentang Hubungan Bukan Surga dan Neraka</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/kJDMimzUzL4/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/02/09/keselamatan-adalah-tentang-hubungan-bukan-surga-dan-neraka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 04:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Community]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2189</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah judul yang kontroversial memang. Tetapi, sebelum dinilai, mari coba kita pahami apa maksud Alkitab tentang hal ini. Alkitab yang berisi Firman Allah tentunya adalah pernyataan Kasih Allah atas manusia. Alkitab berisi asal mula manusia diciptakan, proses kehidupan manusia sampai akhirnya tujuan hidup manusia. Mungkin tidak semua akan dibahas, karena akan memakan waktu yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/02/What-Is-Salvation-560x374.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2196" title="What-Is-Salvation-560x374" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/02/What-Is-Salvation-560x374-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Sebuah judul yang kontroversial memang. Tetapi, sebelum dinilai, mari coba kita pahami apa maksud Alkitab tentang hal ini. Alkitab yang berisi Firman Allah tentunya adalah pernyataan Kasih Allah atas manusia. Alkitab berisi asal mula manusia diciptakan, proses kehidupan manusia sampai akhirnya tujuan hidup manusia. Mungkin tidak semua akan dibahas, karena akan memakan waktu yang sangat panjang, tetapi mari kita coba melihat beberapa di antaranya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2189"></span></p>
<blockquote><p>Kejadian 1:26, Berfirmanlah Allah: &#8220;Baiklah Kita menjadikan manusia <strong>menurut gambar dan rupa Kita</strong>, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Mengapa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya (Mereka)? Setidaknya ada dua hal yang mengarah pada hal yang sama yang dapat kita pelajari dari ayat ini. Pertama, Allah menyebut diriNya sebagai &#8216;Kita&#8217;, sebuah kata panggil jamak. Hal ini mungkin akan jadi perdebatan. Tapi hal yang dapat kita ambil adalah bahwa sebenarnya Allah adalah pribadi yang memiliki kecenderungan untuk berhubungan (berkomunitas). Sebuah ke-kita-an baru bisa terjadi jika ada hubungan antara dua pribadi atau lebih yang sepakat atas suatu hal. Kedua, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Kata Ibrani yang dipakai ialah <em>tselem</em> yang berarti menyerupai atau mengidolakan. (Hati-hati: waktu kita mengidolakan sesuatu, maka kita akan menyerupai pribadi itu!)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Dia menciptakan kita menyerupai diriNya, maka kita juga memiliki sifat-sifat Allah secara terbatas. Ia memberikan kepada kita kehebatan seperti itu agar kita berkuasa. Dan yang paling penting, Ia juga menciptakan kita dengan kehendak bebas. Kehendak bebas bukan ada pada manusia saat manusia memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat sehingga ia berdosa saja. Tetapi sejak awal kehendak bebas itu telah ada. Buktinya, manusia dengan bebas dapat memilih untuk makan buah tersebut atau tidak. Mengapa Allah memberikan sifat kehendak bebas? Agar manusia dapat memilih untuk mengasihi Allah atau tidak. Ada dua sifat dasar dari kasih. Yang pertama ia <strong>berkorban</strong>. Yang kedua ia <strong>tidak menuntut</strong>. Allah tidak pernah menuntut manusia untuk mengasihi diriNya. Tapi Ia berharap!</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Yohanes 3:16 &#8220;Karena <strong>begitu besar kasih Allah</strong> akan dunia ini, sehingga Ia telah <strong>mengaruniakan Anak-Nya</strong> yang tunggal, supaya setiap orang yang <strong>percaya</strong> kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh <strong>hidup yang kekal</strong>.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yohanes 17:3 &#8220;<strong>Inilah hidup yang kekal</strong> itu, yaitu bahwa <strong>mereka mengenal</strong> Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Allah mengasihi manusia. Tanpa ada dosa, maka tidak mungkin ada pernyataan Kasih Allah yang begitu besar itu. Kasih baru dinyatakan jika ada pengorbanan. Kasih identik dengan pengorbanan. Dari dulu konsep penebusan dosa selalu adalah tentang pengorbanan, entah hewan atau yang lainnya. Kemudian, dari dua ayat itu jelas sekali menyatakan bahwa hidup yang kekal (yang diberikan lewat pengorbanan Yesus Kristus) adalah tentang pengenalan manusia akan Allah, dan Yesus adalah Jalan untuk mengenal Allah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Yohanes 14:6, &#8220;Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Perikop itu menjelaskan bahwa sebenarnya Yesus adalah gambaran Allah. Jika kita ingin mengenal Allah, maka kita hanya perlu mempelajari apa saja yang Yesus lakukan, maka kita akan mengenal siapa dan bagaimana Allah itu. Dan yang paling penting, Yesus berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Yohanes 14:21, &#8220;Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kasih ditunjukkan melalui perbuatan. Yaitu perbuatan untuk melakukan sesuatu bagi pribadi yang kita kasihi. Kasih berbicara tentang ketulusan. <strong>Ketulusan berarti menempatkan kepentingan, kesuksesan, kesejahteraan orang lain di atas dirinya sendiri</strong>. Itulah mengapa kasih identik dengan berkorban.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, Yesus juga bernama Imanuel (Matius 1:23). Yesus (<em>Yeshua</em>) berarti keselamatan dari Allah (sama seperti arti nama Yosua/<em>Hoshea</em> atau Elisa/<em>El-Yeshua</em>). Imanuel berarti Allah menyertai kita. Jika Yesus sama dengan Imanuel, maka &#8216;Keselamatan dari Allah&#8217; juga sama dengan &#8216;Allah menyertai kita&#8217;. Menyertai berbicara tentang hubungan. Tidak mungkin ada penyertaan tanpa hubungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan yang terakhir, mari kita bahas tentang ayat yang cukup kontroversial.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Yohanes 5:29, &#8220;dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk<strong> hidup yang kekal</strong>, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk<strong> dihukum</strong>. &#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Apakah perbuatan baik menyelamatkan manusia? Tentu kita yang percaya pada Tuhan tahu bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan. Hanya melalui kepercayaan kepada Yesus Kristus saja kita dapat selamat. Perbedaan yang mencolok selalu tentang hidup yang kekal dan dihukum. Kata hidup di sini menggunakan kata <em>zoe</em> yang tidak hanya berarti kehidupan, tetapi yang terpenting <em>zoe</em> juga berarti merasakan kepenuhan hidup. Artinya, <a title="Kesempurnaan Manusia" href="http://blog.leipzic.com/2011/10/08/kesempurnaan-manusia/">hidup kita berkualitas, utuh, sempurna</a>. Sedangkan kata dihukum menggunakan kata <em>kreesis</em> yang diterjemahkan sebagai krisis. Artinya, perbuatan baik atau jahat bukan sebenarnya berdampak pada kehidupan kita secara langsung. Jika kita ingin hidup yang bermakna dan sukses, maka berbuat baiklah, dan sebaliknya, jika kita berbuat jahat, maka kita akan tertimpa krisis. Arti lain dari <em>kreesis</em> tersebut adalah <em>condemnation</em> atau <em>separation</em> yang sebenarnya berarti <strong>pemisahan</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Makin jelas kita mengerti bahwa krisis-krisis yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya akibat dari perbuatan kita, bukan kehendak Tuhan dan sebenarnya juga karena kita terpisah dengan Tuhan. Dari seluruh ayat yang kita bahas di atas, kita tahu bahwa keselamatan selalu berbicara tentang hubungan. Tujuan pertama Allah menciptakan manusia adalah agar Ia dapat berhubungan dengan kita. Setelah itu baru membuat kita berkuasa. Namun, kita tidak akan berkuasa atas bumi tanpa kita memiliki hubungan dengan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">(Gambar dari northvalleynews.org)</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/kJDMimzUzL4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/02/09/keselamatan-adalah-tentang-hubungan-bukan-surga-dan-neraka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/02/09/keselamatan-adalah-tentang-hubungan-bukan-surga-dan-neraka/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Hubungan Iman dan Kasih</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/LeipzicWorld/~3/ijHplFUKRks/</link>
		<comments>http://blog.leipzic.com/2012/01/21/hubungan-iman-dan-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 08:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Lipesik</dc:creator>
				<category><![CDATA[God's Kingdom]]></category>
		<category><![CDATA[Life Paradigm]]></category>
		<category><![CDATA[Change The World]]></category>
		<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Community]]></category>
		<category><![CDATA[Daily Living]]></category>
		<category><![CDATA[Intimacy With God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.leipzic.com/?p=2183</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin kita sering bertanya, mengapa iman, pengharapan dan kasih disandingkan dalam sebuah perbandingan oleh Rasul Paulus di 1 Korintus 13:13. Bahkan disebutkan bahwa yang terbesar di antaranya adalah kasih. Bagiku pribadi, hal ini juga sempat menjadi satu pertanyaan. Namun setidaknya, ada jawaban yang dapat menjadi panduan mengenai hal ini. Tuhan Yesus pernah mengatakan pada Lukas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/03/faith-hope-love-set-uf.jpg"><img class="size-medium wp-image-2184 alignleft" title="faith-hope-love-set-uf" src="http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/03/faith-hope-love-set-uf-300x162.jpg" alt="" width="300" height="162" /></a>Mungkin kita sering bertanya, mengapa iman, pengharapan dan kasih disandingkan dalam sebuah perbandingan oleh Rasul Paulus di 1 Korintus 13:13. Bahkan disebutkan bahwa yang terbesar di antaranya adalah kasih. Bagiku pribadi, hal ini juga sempat menjadi satu pertanyaan. Namun setidaknya, ada jawaban yang dapat menjadi panduan mengenai hal ini.<span id="more-2183"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tuhan Yesus pernah mengatakan pada Lukas 7:9,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: &#8220;Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!&#8221;"</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ayat tersebut berbicara tentang Yesus yang menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum. Namun yang unik adalah, sebagai seorang perwira, ia bukanlah seperti yang kebanyakan seorang pembesar lakukan. Ia lebih memilih untuk mendatangi Tuhan Yesus daripada menyuruhNya pergi ke rumahnya. Kata-kata yang unik yang Yesus katakan adalah &#8220;iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel&#8221;. Sedangkan jika kita telusuri baik-baik, sebenarnya kisah ini bercerita tentang bagaimana perwira tersebut benar-benar mengerti arti ketaatan dan tunduk terhadap otoritas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mengerti bahwa Tuhan Yesus adalah otoritas tertinggi yang mampu ia datangi, sehingga ia tidak mau &#8216;merepotkan&#8217; dan lebih memilih untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan. Tapi jika kita pikirkan lagi, bukankah iman memang seharusnya mengandung ketaatan? Tanpa ketaatan, maka tidak ada iman. Dalam Ibrani 11, semua pahlawan iman yang disebutkan oleh Rasul Paulus adalah orang-orang yang akhirnya memilih taat kepada kehendak Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus kedua terjadi pada Lukas 7:50,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: &#8220;Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Hal yang unik adalah bahwa ternyata iman kita dapat menyelamatkan. Hal ini adalah sebuah kalimat substitusi dari kalimat, &#8220;Dosamu telah diampuni&#8221; yang terdapat pada Lukas 7:48, masih pada pasal yang sama dengan kasus pertama. Ia mengubah karena ada orang-orang yang menentang kalimat itu dan mempertanyakan otoritas Yesus untuk mengampuni dosa. Kita tahu bahwa pengampunan dosa dan keselamatan merupakan hal yang sama. Perbedaan dari dua kalimat tersebut hanya pada siapa pihak yang aktif untuk melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, yang unik adalah sebelum Yesus berkata, &#8220;Dosamu telah diampuni&#8221; Ia berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya, apakah hubungan pengampunan dosa dan berbuat kasih? Ternyata bukan kasih (baca: perbuatan baik kita, atau yang lain) yang membawa pengampunan dosa. Tetapi, orang yang diampuni dosanya, ia akan banyak berbuat kasih. Jika kita banyak berbuat kasih, maka itu tanda bahwa kita sudah diampuni.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya adalah, mengapa Yesus mengganti kata tersebut dengan iman yang menyelamatkan? Ternyata iman timbul dari pengenalan akan Tuhan. Perwira Kapernaum tersebut memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan. Pengenalan tersebut menimbulkan iman. Kita bisa mengenal Tuhan karena awalnya Tuhan mengasihi kita. Artinya, kasih adalah yang pertama dan terutama yang Allah telah berikan dalam hidup kita. Karena tanpa kasih, tidak ada pengenalan akan Allah, dan tanpa pengenalan akan Allah tidak ada iman.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang unik adalah pada Lukas 7:30-32,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes. Kata Yesus: &#8220;Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa Yesus memberikan perumpamaan seperti ini tentang orang Farisi, ahli Taurat dan orang Yahudi yang ada pada jaman itu? Meniup seruling tetapi tidak menari, menyanyikan kidung duka tetapi tidak menangis sebenarnya adalah dua hal yang bertentangan. Hal ini menggambarkan bahwa mereka tidak akan pernah mengerti apa yang Yesus ajarkan. Dengan kata lain, mereka tidak &#8216;nyambung&#8217;. Hanya orang yang percaya yang akan nyambung dengan segala ajaran Yesus. Kepercayaan akan menimbulkan kekuatan. Saat kita percaya, anugerah Allah akan turun dan memberikan  kekuatan kepada kita.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LeipzicWorld/~4/ijHplFUKRks" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.leipzic.com/2012/01/21/hubungan-iman-dan-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.leipzic.com/2012/01/21/hubungan-iman-dan-kasih/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>

