<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373</atom:id><lastBuildDate>Fri, 08 Nov 2024 14:58:29 +0000</lastBuildDate><category>Islami</category><category>Cerita Islami</category><category>Pribadi</category><category>Makalah</category><category>Tips &amp; Trick</category><title>Artikel Milik.ku</title><description>harietzachmad@lievha.org</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>58</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-7685419797856623751</guid><pubDate>Tue, 10 Sep 2013 06:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-09-09T23:15:36.110-07:00</atom:updated><title>Banjir Nabi Nuh | Artikel Milik.ku</title><description>&lt;a href=&quot;http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/banjir-nabi-nuh_5347.html&quot;&gt;Banjir Nabi Nuh | Artikel Milik.ku&lt;/a&gt;</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/09/banjir-nabi-nuh-artikel-milikku.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-7846613958265370347</guid><pubDate>Mon, 29 Jul 2013 14:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-29T07:10:38.362-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pribadi</category><title>Mata Kuliah ASWAJA (iv) Bagian 4</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsLJbE9hQgWYU0yiF8Bb7Tg8IKuODafa6jilXtiN-jEEhQw9nZX-zjJt22K0NI8UrBK6Fb5IOfHGbrIY-2XdODdjOaxVeTBMF3BZZ3ezZmmR4wT5xNoU9G6S048KvqIF65SLmVhfQH4BY/s1600/islam.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsLJbE9hQgWYU0yiF8Bb7Tg8IKuODafa6jilXtiN-jEEhQw9nZX-zjJt22K0NI8UrBK6Fb5IOfHGbrIY-2XdODdjOaxVeTBMF3BZZ3ezZmmR4wT5xNoU9G6S048KvqIF65SLmVhfQH4BY/s200/islam.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;&quot;&gt;&lt;u&gt;Istilah-Isltilah Beserta Uraian tentang 1. Islam Fundamentalis; 2. Islam Moderat; 3. Islam Liberalis.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Fundamentalisme Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fundamentalisme Islam (Arab: usuliyah, &quot;dasar&quot; atau &quot;asas&quot;) ialah istilah yang digunakan Barat untuk memerikan ideologi keagamaan yang dilihat menyeru pengembalian kepada &quot;dasar&quot; Islam: al-Quran dan Sunnah. Takrifan istilah ini berbeza-beza. Ia dianggap bermasalah bagi mereka yang menganggap kepercayaan Islam menghendaki semua Muslim menjadi fundamentalis,[1] manakala yang lain melihatnya sebagai istilah yang digunakan orang luar untuk memerikan arah aliran yang dilihat dalam Islam.[2] Contoh tokoh fundamentalisme Islam yang juga disebut sebagai Islamis adalah Sayyid Qutb dan Abul Ala Mawdudi.[3] Namun ramai juga yang tidak setuju dengan istilah ini. Ahli ekonomi Eli Berman dan tokoh antarabangsa Joey Kettel berhujah bahawa Islam radikal adalah nama yang lebih tepat bagi banyak gerakan pasca-1920-an bermula daripada Ikhwanul Muslimun, kerana gerakan-gerakan ini dilihat mengamalkan &quot;faham pelampau yang tidak pernah berlaku dahulu&quot;, jadi tidak layak digelar kembali ke asas bersejarah.[4]&lt;br /&gt;Rujukan&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ↑ Bernard, Lewis, Islam and the West, New York : Oxford University Press, 1993.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ↑ &quot; &#39;The Green Peril&#39;: Creating the Islamic Fundamentalist Threat,&quot; Leon T. Hadar, Policy Analysis, Cato Institute, 27 Ogos 1992.&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ↑ Esposito, Voices of Resurgent Islam ISBN: 019503340X&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ↑ Eli Berman, Hamas, Taliban and the Jewish Underground: An Economist’s View of Radical Religious Militias, UC San Diego National Bureau of Economic Research. Ogos 2005, m/s. 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Islam Moderat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Istilah “Islam moderat” akhir-akhir ini kerap kita jumpai dalam banyak tulisan, baik dari kalangan Muslim sendiri atau yang lain. Apa yang dimaksud dengan “Islam moderat”? Esei pendek ini akan mencoba menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab modern, padanan untuk kata moderat atau moderasi adalah wasat atau wasatiyya. Istilah “mutawassit” kadang-kadang juga dipakai. Islam moderat, dalam bahasa Arab modern, disebut sebagai al-Islam al-wasat. Moderasi Islam diungkapkan dengan frasa wasatiyyat al-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “Islam moderat” akhir-akhir ini kerap kita jumpai dalam banyak tulisan, baik dari kalangan Muslim sendiri atau yang lain. Apa yang dimaksud dengan “Islam moderat”? Esei pendek ini akan mencoba menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab modern, padanan untuk kata moderat atau moderasi adalah wasat atau wasatiyya. Istilah “mutawassit” kadang-kadang juga dipakai. Islam moderat, dalam bahasa Arab modern, disebut sebagai al-Islam al-wasat. Moderasi Islam diungkapkan dengan frasa wasatiyyat al-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penggunaan yang umum saat ini, istilah “Islam moderat” diperlawankan dengan istilah lain, yaitu Islam radikal. Islam moderat, dalam pengertian yang lazim kita kenal sekarang, adalah corak pemahaman Islam yang menolak cara-cara kekerasan yang dilakukan oleh kalangan lain yang menganut model Islam radikal. Tawfik Hamid, seorang mantan anggota kelompok Islam radikal dari Mesir, al-Jamaah al-Islamiyyah, mendefinisikan Islam moderat sebagai, “a form of Islam that rejects... violent and discriminatory edicts” – Islam yang menolak secara tegas hukum-hukum agama yang membenarkan kekerasan dan diskriminasi. (Baca artikelnya yang berjudul “Don’t Gloss Over The Violent Texts” di Wall Street Journal, 1/9/2010).Hakim menyebut secara spesifik hukum dalam agama (shariah) yang ia anggap sebagai pembenar tindakan kekerasan, seperti hukuman mati untuk orang yang murtad, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Hakim tentang Islam moderat ini, bagi sebagian kalangan Islam, mungkin dianggap terlalu “liberal”, sebab menganjurkan oto-kritik terhadap hukum-hukum dalam Islam yang ia anggap sudah tak lagi relevan saat ini. Sebagai mantan anggota Jamaah Islamiyyah, Mesir, yang sudah “bertobat”, Tawfik Hamid paham benar bahwa dalam Islam memang ada beberapa hukum yang bisa “disalah-gunakan” untuk membenarkan tindakan terorisme atau kekerasan secara umum. Contoh yang mudah adalah hukum tentang jihad dengan segala pernik-perniknya. Bagi Hakim, Islam moderat sebagai antitesis Islam radikal adalah model Islam yang menolak kekerasan semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi lain diajukan oleh Dr. Moqtedar Khan yang mengelola blog Ijtihad (www.ijtihad.org). Seperti Hakim, Dr. Khan memperlawankan istilah Islam moderat terhadap Islam radikal. Perbedaan antara keduanya, menurut dia, adalah bahwa yang pertama lebih menekankan pentingnya prinsip ijtihad dalam pengertian yang lebih luas, yaitu kebebasan berpendapat (dengan tetap bersandar pada sumber utama dalam Islam, yaitu Quran dan Sunnah), sementara yang kedua lebih menekankan konsep jihad (perang suci). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah usaha banyak kalangan Islam modern untuk mengaitkan konsep “Islam moderat” ini dengan konsep “wasat” yang ada dalam Quran. Dalam Quran, terdapat sebuah ayat yang banyak dikutip oleh intelektual Muslim modern untuk menunjukkan watak dasar Islam sebagai agama yang “tengah-tengah” atau moderat, yaitu al-Baqarah:143. Saya akan terjemahkan secara lengkap ayat itu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demikianlah Aku (Tuhan) jadikan kalian umat yang “wasat” (adil, tengah-tengah, terbaik) agar kalian menjadi saksi (syuhada’) bagi semua manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi (syahid) juga atas kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “wasat” dalam ayat di atas, jika merujuk kepada tafsir klasik seperti al-Tabari atau al-Razi, mempunyai tiga kemungkinan pengertian, yakni: umat yang adil, tengah-tengah, atau terbaik. Ketiga pengertian itu, pada dasarnya, saling berkaitan. Yang menarik, konsep wasat dalam ayat itu dikaitkan dengan konsep lain, yaitu “syahadah”, atau konsep kesaksian. Jika kita ikuti makna harafiah ayat itu, pengertian yang kita peroleh dari sana adalah bahwa umat Islam dijadikan oleh Tuhan sebagai umat yang “wasat” (adil, tengah-tengah, terbaik), karena mereka mendapatkan tugas “sejarah” yang penting, yaitu menjadi saksi (syuhada’) bagi umat-umat yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan tugas “kesaksian” dalam ayat itu? Saksi atas apakah? Tak ada keterangan yang detil mengenai hal ini dalam ayat tersebut. Tetapi, jika kita rujuk beberapa tafsir klasik, apa yang dimaksud dengan kesaksian di sini adalah tugas yang dipikul umat Islam untuk meluruskan sikap-sikap ekstrem yang ada pada dua kelompok agama pada zaman ketika Quran diturunkan kepada Nabi, yaitu golongan Yahudi dan Nasrani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir al-Tabari, misalnya, menyebut bahwa umat Islam dipuji oleh Tuhan sebagai umat yang tengah-tengah karena mereka tidak terjerembab dalam dua titik ekstrim. Yang pertama adalah ekstrimitas umat Kristen yang mengenal tradisi “rahbaniyyah” atau kehidupan kependetaan yang menolak secara ekstrim dimensi jasad dalam kehidupan manusia (seperti dalam praktek selibat). Yang kedua adalah ekstrimitas umat Yahudi yang, dalam keyakinan umat Islam, melakukan distorsi atas Kitab Suci mereka serta melakukan pembunuhan atas sejumlah nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh, melalui muridnya Rashid Rida, mengemukakan pendapat yang sedikit berbeda. Dalam tafsirnya yang masyhur al-Manar, Abduh mengemukakan bahwa apa yang dimaksud dengan wasat ialah sikap tengah-tengah antara dua titik ekstrim. Yang pertama, materialisme yang ekstrim yang dianut oleh kalangan “al-jusmaniyyun”, yakni mereka yang hanya memperhatikan aspek wadag atau badan saja, mengabaikan dimensi rohaniah dan spiritual dalam kehidupan manusia. Yang kedua, spiritualisme yang ekstrim yang hanya memperhatikan dimensi rohaniah belaka, tanpa memberikan perlakuan yang adil terhadap dimensi jasmaniah. Kelompok yang menganut pandangan ini, oleh Abduh, disebut sebagai “al-ruhaniyyun”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam, dalam tafsiran Abduh, adalah umat yang “wasat”, moderat, karena mengambil sikap tengah antara materialisme dan spiritualisme. Dengan kata lain, istilah “wasat” dalam ayat di atas, baik dalam pemahaman penafsir klasik seperti al-Tabari (w. 923) dan al-Razi (w. 1209), atau penafsir modern seperti Muhammad Abduh (w. 1905), dipahami dalam kerangka konsep keunggulan umat Islam atas umat-umat yang lain, terutama Yahudi dan Kristen. Rahasia keunggulan itu terdapat dalam sikap umat Islam yang mengambil jalan tengah antara dua titik ekstrem yang mencirikan baik kalangan Kristen atau Yahudi. Istilah “wasat”, dengan demikian, berkaitan dengan konsep superioritas Islam atas agama-agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita lihat, pengertian kata “wasat” mempunyai pergeseran jauh saat ini. Sekarang, istilah itu bukan lagi dimaknai dalam kerangka superioritas Islam atas agama-agama lain, tetapi justru dipahami sebagai kritik internal dalam diri umat Islam sendiri. Istilah itu, sekarang, diperlawankan terhadap corak Islam lain yang ekstrem dan radikal, yakni corak keagamaan yang membenarkan penggunaan kekerasan dalam dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ini menarik kita cermati karena ciri ekstrimitas yang semula melekat pada golongan lain di luar Islam seperti dimengerti dalam tafsiran klasik di atas, ternyata bisa dijumpai dalam kalangan Islam sendiri. Hal ini juga memperlihatkan bahwa sebuah konsep dalam Quran, seperti kata “wasat” itu, dipahami secara dinamis dari waktu ke waktu. Perubahan konteks sejarah dan tantangan dalam tubuh umat Islam sendiri membuat pemahaman penafsir Quran tentang sejumlah konsep dalam kitab suci itu berubah secara lentur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Islam Liberalis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jaringan Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan beberapa landasan khusus. Jaringan Islam Liberal juga bisa diartikan sebagai forum intelektual terbuka yang mendiskusikan dan menyebarkan liberalisme Islam di Indonesia. Forum ini bersekretariat di Teater Utan Kayu, Jalan Utan Kayu no. 68 H, Jakarta, sebidang tanah milik jurnalis dan intelektual senior Goenawan Mohammad. &lt;br /&gt;Prinsip&lt;br /&gt;Prinsip yang dianut oleh Jaringan Islam Liberal yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. &quot;Liberal&quot; di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Jaringan Islam Liberal percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Jaringan Islam Liberal memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu &quot;liberal&quot;. Untuk mewujudkan Islam Liberal, kami membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL). &lt;br /&gt;Sejarah&lt;br /&gt;Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Quran dan sunnah. Pada saat ini muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan pcnduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syiah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.&lt;br /&gt;Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton. Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia telah menyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh di atas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/mata-kuliah-aswaja-iv-bagian-4.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsLJbE9hQgWYU0yiF8Bb7Tg8IKuODafa6jilXtiN-jEEhQw9nZX-zjJt22K0NI8UrBK6Fb5IOfHGbrIY-2XdODdjOaxVeTBMF3BZZ3ezZmmR4wT5xNoU9G6S048KvqIF65SLmVhfQH4BY/s72-c/islam.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-7473647044092912388</guid><pubDate>Sun, 28 Jul 2013 20:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-29T07:10:38.360-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pribadi</category><title>Mata Kuliah ASWAJA (iv) Bagian 3</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihfyUjeJFHssq0Vaq6L_f_SRUaXt1L39YHh-aT6Qimm6cpOTFqknz0x8v5h05sdEGi0mZ-cUWmlUBAdUE89oRkwwIsmW9ojp6-SaZ9zBcN-livhcMErPy3vxkW00ZMOPrI-QHjpDxJM9Y/s1600/ASWAJA.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihfyUjeJFHssq0Vaq6L_f_SRUaXt1L39YHh-aT6Qimm6cpOTFqknz0x8v5h05sdEGi0mZ-cUWmlUBAdUE89oRkwwIsmW9ojp6-SaZ9zBcN-livhcMErPy3vxkW00ZMOPrI-QHjpDxJM9Y/s200/ASWAJA.png&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;&quot;&gt;Berikut Penjelasan tentang:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;&quot;&gt;A. Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;&quot;&gt;B. Perkembangan Islam pada Dewasa ini (abad ke 20)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah Lahirnya Islam Di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam merupakan salah satu agama&amp;nbsp; besar di dunia saat ini. Agama ini lahir dan berkembang di Tanah Arab. Pendirinya ialah Muhammad . Agama ini lahir salah satunya sebagai reaksi atas rendahnya moral manusia pada saat itu. Manusia pada saat itu hidup dalam keadaan moral yang rendah dan kebodohan (jahiliah). Mereka sudah tidak lagi mengindahkan ajaran-ajaran nabi-nabi sebelumnya. Hal itu menyebabkan manusia berada pada titik terendah. Penyembahan berhala, pembunuhan, perzinahan, dan tindakan rendah lainnya merajalela.&lt;br /&gt;Islam mulai disiarkan sekitar tahun 612 di Mekkah. Karena penyebaran agama baru ini mendapat tantangan dari lingkungannya, Muhammad kemudian pindah (hijrah) ke Madinah pada tahun 622. Dari sinilah Islam berkembang ke seluruh dunia.&lt;br /&gt;Muhammad mendirikan wilayah kekuasaannya di Madinah. Pemerintahannya didasarkan pada pemerintahan Islam. Muhammad kemudian berusaha menyebarluaskan Islam dengan memperluas wilayahnya.&lt;br /&gt;Setelah Muhammad wafat pada tahun 632, proses menyebarluaskan Islam dilanjutkan oleh para kalifah yang ditunjuk Muhammad .&lt;br /&gt;Sampai tahun 750, wilayah Islam telah meliputi Jazirah Arab, Palestina, Afrika Utara, Irak, Suriah, Persia, Mesir, Sisilia, Spanyol, Asia Kecil, Rusia, Afganistan, dan daerah -daerah di Asia Tengah. Pada masa ini yang memerintah ialah Bani Umayyah dengan ibu kota Damaskus.&lt;br /&gt;Pada tahun 750, Bani Umayyah dikalahkan oleh Bani Abbasiyah yang kemudian memerintah sampai tahun 1258 dengan ibu kota di Baghdad. Pada masa ini, tidak banyak dilakukan perluasan wilayah kekuasaan. Konsentrasi lebih pada pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban Islam. Baghdad menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan ilmupengetahuan .&lt;br /&gt;Setelah pemerintahan Bani Abbasiyah, kekuasaan Islam terpecah. Perpecahan ini mengakibatkan banyak wilayah yang memisahkan diri. Akibatnya, penyebaran Islam dilakukan secara perorangan. Agama ini dapat berkembang dengan cepat karena Islam mengatur hubungan manusia dan TUHAN. Islam disebarluaskan tanpa paksaan kepada setiap orang untuk memeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia&lt;br /&gt;Sejarah&amp;nbsp; mencatat&amp;nbsp; bahwa kaum pedagang memegang peranan penting dalam persebaran agama dan kebudayaan Islam. Letak Indonesia yang strategis menyebabkan timbulnya bandarbandar perdagangan yang turut membantu mempercepat persebaran tersebut. Di samping itu, cara lain yang turut berperan ialah melalui dakwah yang dilakukan para mubaligh.&lt;br /&gt;a. Peranan Kaum Pedagang&lt;br /&gt;Seperti halnya penyebaran agama Hindu-Buddha, kaum pedagang memegang&lt;br /&gt;peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam, baik pedagang&amp;nbsp; dari luar Indonesia&lt;br /&gt;maupun para pedagang Indonesia .&lt;br /&gt;Para pedagang itu datang dan berdagang&amp;nbsp; di pusat-pusat perdagangan di daerah pesisir. Malaka merupakan pusat transit para pedagang. Di samping itu, bandar-bandar di sekitar Malaka seperti Perlak dan Samudra Pasai juga didatangi para pedagang.&lt;br /&gt;Mereka tinggal di tempat-tempat tersebut dalam waktu yang lama, untuk menunggu datangnya angin musim. Pada saat menunggu inilah, terjadi pembauran antarpedagang dari berbagai bangsa serta antara pedagang dan penduduk setempat. Terjadilah kegiatan&amp;nbsp; saling memperkenalkan adat-istiadat, budaya bahkan agama. Bukan hanya melakukan perdagangan, bahkan juga terjadi asimilasi melalui perkawinan.&lt;br /&gt;Di antara para pedagang tersebut, terdapat pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang umumnya beragama Islam. Mereka mengenalkan agama&amp;nbsp; dan budaya&amp;nbsp; Islam kepada para pedagang lain maupun kepada penduduk setempat. Maka, mulailah ada penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam. Lama-kelamaan penganut agama Islam makin banyak. Bahkan kemudian berkembang perkampungan para pedagang Islam di daerah&amp;nbsp; pesisir.&lt;br /&gt;Penduduk setempat yang telah memeluk agama Islam kemudian menyebarkan Islam kepada sesama pedagang, juga kepada sanak familinya. Akhirnya, Islam mulai berkembang dimasyarakat&amp;nbsp; Indonesia. Di samping itu para pedagang dan pelayar tersebut juga ada yang menikah dengan penduduk setempat sehingga lahirlah keluarga dan anak-anak yang Islam.&lt;br /&gt;Hal ini berlangsung terus selama bertahun-tahun sehingga akhirnya muncul sebuah komunitas Islam, yang setelah kuat akhirnya membentuk sebuah pemerintahaan Islam. Dari situlah lahir kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.&lt;br /&gt;b. Peranan Bandar-Bandar di Indonesia&lt;br /&gt;Bandar merupakan tempat berlabuh kapal-kapal atau persinggahan kapal-kapal&amp;nbsp; dagang. Bandar juga merupakan pusat perdagangan, bahkan juga digunakan sebagai tempat tinggal para pengusaha&amp;nbsp; perkapalan . Sebagai negara kepulauan yang terletak pada jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki banyak bandar. Bandar-bandar ini memiliki peranan dan arti yang penting dalam proses masuknya Islam ke Indonesia.&lt;br /&gt;Di bandar-bandar inilah para pedagang beragama Islam memperkenalkan Islam kepada para pedagang lain ataupun kepada penduduk setempat. Dengan demikian, bandar menjadi pintu masuk dan pusat penyebaran agama Islam&amp;nbsp; ke Indonesia. Kalau kita lihat letak geografis kota-kota pusat kerajaan yang bercorak Islam pada umunya terletak di pesisir-pesisir dan muara sungai.&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, bandar-bandar tersebut umumnya tumbuh menjadi kota&amp;nbsp; bahkan ada yang menjadi kerajaan, seperti Perlak, Samudra Pasai, Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin, Gowa, Ternate, dan Tidore. Banyak pemimpin bandar yang memeluk agama Islam. Akibatnya, rakyatnya pun kemudian banyak memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;Peranan bandar-bandar sebagai pusat perdagangan dapat kita lihat jejaknya. Para pedagang di dalam kota mempunyai perkampungan sendiri-sendiri yang penempatannya ditentukan atas persetujuan dari penguasa kota tersebut, misalnya di Aceh, terdapat perkampungan orang Portugis, Benggalu Cina, Gujarat, Arab, dan Pegu.&lt;br /&gt;Begitu juga di Banten dan kota-kota pasar kerajaan lainnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kota-kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam memiliki ciri-ciri yang hampir sama antara lain letaknya di pesisir, ada pasar, ada masjid, ada perkampungan, dan ada tempat para penguasa (sultan).&lt;br /&gt;c. Peranan Para Wali dan Ulama&lt;br /&gt;Salah satu cara penyebaran agama Islam&amp;nbsp; ialah dengan cara mendakwah. Di samping sebagai pedagang, para pedagang Islam juga berperan sebagai mubaligh. Ada juga para mubaligh yang datang bersama pedagang dengan misi agamanya. Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat objek dakwah, dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9 wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.&lt;br /&gt;Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut.&lt;br /&gt;(1) Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik . Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.&lt;br /&gt;(2) Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.&lt;br /&gt;(3) Sunan Derajad (Syarifudin). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama&amp;nbsp; di sekitar Surabaya. Seorang sunan yang sangat berjiwa sosial .&lt;br /&gt;(4) Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Sunan yang sangat bijaksana.&lt;br /&gt;(5) Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.&lt;br /&gt;(6) Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.&lt;br /&gt;(7) Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.&lt;br /&gt;(8) Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.&lt;br /&gt;(9) Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar.&lt;br /&gt;3. Kapan dan dari mana Islam Masuk Indonesia&lt;br /&gt;Sejarah mencatat bahwa sejak awal Masehi, pedagang-pedagang dari India dan Cina sudah memiliki hubungan dagang dengan penduduk Indonesia. Namun demikian, kapan tepatnya Islam hadir di Nusantara?&lt;br /&gt;Masuknya Islam ke Indonesia&amp;nbsp; menimbulkan berbagai teori. Meski terdapat beberapa pendapat mengenai kedatangan agama Islam di Indonesia, banyak ahli sejarah cenderung percaya bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 berdasarkan Berita Cina zaman Dinasti Tang. Berita itu mencatat bahwa pada abad ke-7, terdapat permukiman pedagang muslim dari Arab di Desa Baros, daerah pantai barat Sumatra Utara.&lt;br /&gt;Abad ke-13 Masehi lebih menunjuk pada perkembangan Islam bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Pendapat ini berdasarkan catatan&amp;nbsp; perjalanan Marco Polo yang menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 dan berjumpa dengan orang-orang yang telah menganut agama Islam.&lt;br /&gt;Bukti yang turut memperkuat pendapat ini ialah ditemukannya nisan makam Raja Samudra Pasai, Sultan Malik al-Saleh yang berangka tahun 1297.&lt;br /&gt;Jika diurutkan dari barat ke timur, Islam pertama kali masuk di Perlak, bagian utara Sumatra. Hal ini menyangkut strategisnya letak Perlak, yaitu di daerah Selat Malaka, jalur laut perdagangan internasional dari barat ke timur. Berikutnya ialah Kerajaan Samudra Pasai.&lt;br /&gt;Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga ditemukan makam Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada tahun 822 H atau 1419 M. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam ini ialah makam keluarga istana Majapahit.&lt;br /&gt;Di Kalimantan, Islam masuk melalui Pontianak yang disiarkan oleh bangsawan Arab bernama Sultan Syarif Abdurrahman pada abad ke-18. Di hulu Sungai Pawan, di Ketapang, Kalimantan Barat ditemukan pemakaman Islam kuno. Angka tahun yang tertua pada makam-makam tersebut adalah tahun 1340 Saka (1418 M). Jadi, Islam telah ada sebelum abad ke-15 dan diperkirakan berasal dari Majapahit karena bentuk makam bergaya Majapahit dan berangka tahun Jawa kuno. Di Kalimantan Timur, Islam masuk melalui Kerajaan Kutai yang dibawa oleh dua orang penyiaragama&amp;nbsp; dari Minangkabau yang bernama Tuan Haji Bandang dan Tuan Haji Tunggangparangan. Di Kalimantan Selatan, Islam masuk melalui Kerajaan Banjar yang disiarkan oleh Dayyan, seorang khatib (ahli khotbah) dari Demak. Di Kalimantan Tengah, bukti kedatanganIslam&amp;nbsp; ditemukan pada masjid Ki Gede di Kotawaringin yang bertuliskan angka tahun 1434 M.&lt;br /&gt;Di Sulawesi, Islam masuk melalui raja dan masyarakat Gowa-Tallo. Hal masuknya Islam ke Sulawesi ini tercatat pada Lontara Bilang. Menurut catatan tersebut, raja pertama yang memeluk Islam ialah Kanjeng Matoaya, raja keempat dari Tallo yang memeluk Islam pada tahun 1603. Adapun penyiar agama Islam&amp;nbsp; di daerah ini berasal antara lain dari Demak, Tuban, Gresik , Minangkabau, bahkan dari Campa. Di Maluku, Islam masuk melalui bagian utara, yakni Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Diperkirakan Islam di daerah&amp;nbsp; ini disiarkan oleh keempat ulama dari Irak, yaitu Syekh Amin, Syekh Mansyur, Syekh Umar, dan Syekh Yakub pada abad ke-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA MODERN&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; A.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekilas tentang Dunia Islam pada Masa Modern&lt;br /&gt;Masa pembaharuan (modern) bagi dunia Islam adalah masa yang dimulai dan tahun 1800 M sampai sekarang. Masa pembaharuan ditandai dengan adanya kesadaran umat Islam terhadap kelemahan dirinya dan adanya dorongan untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada masa pembaharuan ini, telah muncul tokoh tokoh pembaharu dan pemikir Islam di berbagai negara Islam. Pada awal masa pembaharuan, kondisi dunia Islam, secara politis berada dibawah penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad ke-20 M, dunia Islam bangkit memerdekakan negaranya dan penjajahan bangsa Barat (Eropa). &lt;br /&gt;Di antara negara-negara Islam atau negara-negara berpenduduk mayoritas umat Islam, yang memerdekakan dirinya dari penjajahan, seperti :&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Indonesia, memperoleh kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. &lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pakistan pada tanggal 15 Agustus 1947.&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mesir secara formal memperoleh kemerdekaan dari Inggris tahun 1922 M. Namun, bangsa Mesir baru merasa benar-benar merdeka pada tanggal 23 Juli 1952, yakni setelah Jamal Abdul Nasir menjadi penguasa, karena dapat menggulingkan Raja Faruq yang dalam masa pemerintahannya pengaruh Inggris sangat besar. &lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Irak merdeka secara formal dari penjajah Inggris tahun 1932 M, tetapi sebenarnya baru benar-benar merdeka tahun 1958 M.&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Syria dan Libanon, merdeka dari penjajah Prancis tahun 1946 M.&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beberapa negara di Afrika merdeka dari penjajah Prancis, seperti Lybia tahun 1951 M, Sudan dan Maroko tahun 1956 M, dan Aijazair tahun 1962 M.&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di Asia Tenggara, negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam, yang merdeka dari penjajah Inggris adalah Malaysia tahun 1957 M dan Brunei Darussalam tahun 1984 M.&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di Asia Tengah, negara-negara yang merdeka dari Uni Soviet tahun 1992 M adalah Uzbekistan, Kirghistan, Kazakhtan, Tajikistan, dan Azerbaijan sedangkan Bosnia merdeka dari penjajah Yogoslavia juga tahun 1992 M.&lt;br /&gt;Setelah negara-negara yang berpenduduk mayoritas umat Islam tersebut memperoleh kemerdekaan, maka umat Islam bersama-sama dengan pemerintah negaranya melakukan usaha-usaha pembangunan dalam berbagai bidang, demi terwujudnya masyarakat bangsa yang adil dan makmur di bawah naungan rida Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkembangan Ajaran Islam pada Masa modern&lt;br /&gt;Menjelang dan pada awal-awal masa pembaharuan yaitu sebelum dan sesudah tahun 1800 M, umat Islam di berbagai negara, telah menyimpang dari ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Hadis. Penyimpangan itu terdapat dalam hal :&lt;br /&gt;ü&amp;nbsp; Ajaran Islam tentang ketauhidan telah bercampur dengan kemusyrikan. Hal ini ditandai dengan banyaknya umat Islam yang selain menyembah Allah SWT juga memuja makam yang dianggap keramat dan meminta tolong dalam urusan gaib kepada dukun-dukun dan orang-orang yang dianggap sakti. Selain itu, ada juga kelompok umat Islam yang meng kultuskan dan beranggapan bahwa sultan adalah orang suci yang segala perintahnya harus ditaati.&lt;br /&gt;ü&amp;nbsp; Adanya kelompok umat Islam, yang selama hidup di dunia ini, hanya mementingkan urusan akhirat dan meninggalkan dunia. Mereka beranggapan hahwa memiliki harta benda yang banyak, kedudukan yang tinggi dan ilmu pengetahuan tentang dunia adalah tidak perlu, karena hidup di dunia ini hanya sebentar dan sementara, sedangkan hidup di akhirat bersifat kekal dan abadi. Selain itu, banyak umat Islam yang menganut paham fatalisme, yaitu paham yang mengharuskan berserah diri kepada nasib dan tidak perlu berikhtiar, karena hidup manusia dikuasai dan ditentukan oleh nasib.&lt;br /&gt;Penvimpangan-penyimpangan umat Islam terhadap ajaran agamanya seperti tersebut, mendorong lahirnya para tokoh pembaharu, yang berusaha menyadarkan urnat Islam agar kembali kepada ajaran Islam yang benar, yang bersumber kepada Al-Quran dan As-Sunnah (Hadis). Tokoh-tokoh pembaharu yang dimaksud antara lain:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di Nejd (Arab Saudi) pada tahun 1115 H (1703 M) dan wafat di Daryah tahun 1201 H (1787 M). Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang ulama besar yang produktif, karena buku-buku karangannya tentang Islam, mencapai puluhan judul. Di antara buku bukunya berjudul “Kitab At-Tauhid” yang isinya antara lain tentang pemberantasan syirik, khurafat, takhayul, dan bid’ah yang terdapat di kalangan umat Islam dan mengajak umat Islam agar kembali kepada ajaran tauhid yang murni. Para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, menamakan kelompoknya dengan “A1-Muwahhidun” atau “Al-Muslimun”, yang artinya kelompok yang berusaha mengesakan Allah SWT semurni-murninya. Gerakan pemurnian ajaran Islam yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhah ini, dinamakan juga gerakan “Wahabi”.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rifa’ah Badawi Rafi’ At-Tahtawi, atau At-Tahtawi, lahir di Tahta pada tahun 1801 M dan meninggal di Mesir. Pemikirannya yang berkaitan dengan ajaran Islam, antara lain, beliau menyerukan agar umat Islam dalam hidup di dunia ini tidak hanya mementingkan urusan akhirat, tetapi juga harus mementingkan urusan dunia, agar umat Islam tidak dijajah oleh hangsa lain.&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jamahiddin Al-Afghani, lahir di Asadabad tahun 1838 M dan wafat di Istanbul rahun 1897 M. Di antara pemhaharuan pemikiran yang dimunculkan beliau adalah :&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Agar kejayaan umat Islam dapat diraih kembali dan mampu menghadapi dunia modern, umat Islam harus kembali kepada ajaran agamanya yang murni dan harus memahami Islam dengan rasio dan kebebasan.&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jamaluddin menginginkan agar kaum wanira juga meraih kemajuan dan bekerja sama dengan pria untuk mewujudkan masyarakat Islam yang dinamis dan maju.&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kepemimpinan otokrasi hendaknya diubah menjadi demokrasi Menurut pendapatnya Islam menghendaki pemerintahan republik yang di dalamnya terdapat kebebasan mengemukakan pendapat dan kewajiban negara untuk tunduk kepada undang undang.&lt;br /&gt;o&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ajarannya tentang Pan-Islamisme yakni persatuan dan kerjasama seluruh umat Islam harus diwujudkan. Karena persatuan dan kerja sama seluruh umat Islam sangat penting dan di atas segalanya.&lt;br /&gt;Selain tokoh-tokoh pembaharuan tersebut, masih banyak lagi tokoh-tokoh pembaharuan lainnya, seperti Muhammad Abduh di Mesir (1849-1905 M), Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935 M), Sayid Ahmad Khan di India (1817- 1898 M), dan Muhammad Iqbal di Pakistan (1876-1938 M).&lt;br /&gt;Pada masa pembaharuan jumlah penduduk beragama Islam berkembang terus ke seluruh pelosok dunia. Penduduk Muslim terbanyak terdapat di Benua Asia dan Afrika. Mengacu kepada data penduduk tahun 1991 M, negara-negara yang penduduk Muslimnya lebih dan 90 % adalah Mauritania, Sahara Barat, Maroko, Aijazair, Tunisia, Libia, Mesir, Somalia, Turki, Irak, Yordania, Arab Saudi, Yaman, Oman, Qatar, Bahrain, Iran, Afghanistan, dan Pakistan.&lt;br /&gt;Sedangkan negara-negara yang jum!ah umat Islamnya mencapai 50—90 % adalah Tanzania (Afrika), Turkemenistan, Uzbekistan, Kirghistan, Tajikistan (Rusia), Bangladesh, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei, dan Kepulauan Mindanou di Filipina. Negara-negara yang umat Islamnya 10—50 % antara lain seperti Guinea (Afrika), Albania, Suriah, India, Gina, dan Myanmar.&lt;br /&gt;Untuk mengikat negara-negara Islam di seluruh dunia, pada bulan Zulhijjah tahun 1381 H (Mei 1962), telah didirikan Rabithah Al-Alam Al-Islami (Muslim world League atau Liga Dunia Islam) sebuah organisasi Islam internasional non-pemerintah yang tidak berpihak kepada suatu partai atau golongan dan mewakili umat Islam sedunia. Liga Dunia Islam ini berkantor pusat di Mekah (Saudi Arabia), sedangkan kantor perwakilannya tersebar di seluruh dunia, seperti Indonesia, Amerika, Kanada, Denmark, Malaysia, dan Prancis.&lt;br /&gt;Di Benua Eropa dalam Conference of Islamic Cultural Centre and Organization of Europe (Konferensi Pusat Kebudayaan dan Organisasi Islam Eropa) di London pada bulan Mei 1973, dengan diprakarsai oleh Sekretariat Islam di Jeddah telah didirikan Dewan Islam Eropa, yang bertujuan untuk mengorganisir dan memajukan usaha-usaha dakwah islamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Modern&lt;br /&gt;Pada masa pembaharuan, perkembangan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan. Hal ini dapat dilihat di berbagai negara, seperti Turki, India, dan Mesir.&lt;br /&gt;Sultan Muhammad II (1785-1839 M) dan kesultanan Turki Usmani, melakukan berbagai usaha agar umat Islam di negaranya dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Usaha-usaha tersebut seperti :&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Melakukan modernisasi di bidang pendidikan dan pengajaran, dengan memasukkan kurikulum pengetahuan umum kepada lembaga-lembaga pendidikan Islam (madrasah).&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mendirikan Lembaga Pendidikan “Mektebi Ma’arif’, untuk mencetak tenaga-tenaga ahli di bidang administrasi, juga membangun lembaga “Mektebi Ulumi Edebiyet,” untuk menyediakan tenaga-tenaga ahli di bidang penterjemah.&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mendirikan perguruan-perguruan tinggi di bidang kedokteran, militer, dan teknologi.&lt;br /&gt;Setelah kesultanan Turki dihapuskan pada tanggal 1 November 1923 M, dan Turki diproklamirkan sebagai negara berbentuk Republik dengan Presiden pertamanya Mustafa Kemal At-Turk, pendiri Turki Modern (1881-1938M), maka kemajuan Turki di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi terus meningkat. Di India ketika masih dijajah Inggris, telah bermunculan para cendekiawan Muslim berpikiran modern, yang melakukan usaha-usaha agar umat Islam mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dapat melepaskan diri dari belenggu penjajah. Para cendekiawan Muslim dimaksud, seperti Syah Waliyullah (1703-1762 M), Sayid Ahmad Khan (1817-1898 M), Sayid Amir Ali (1849-1928), Muhammad Iqbal (1873-1938 M), Muhammad Ali Jinnah (1876-1948 M), dan Abdul Kalam Azad (1888-1956 M).&lt;br /&gt;Di antara cendekiawan Muslim tersebut, yang besar jasanya terhadap umat Islam di India adalah Sayid Ahmad Khan.&lt;br /&gt;Setelah India dan Pakistan merdeka dari Inggris pada tahun 1947 M, umat Islam terbagi dua, ada yang masuk ke Republik Islam Pakistan dan ada juga yang tetap di India ± 40 juta jiwa. Umat Islam di kedua negara tersebut terus berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar kualitas hidup mereka meningkat ke arah yang lebih maju.&lt;br /&gt;Pada masa pembaharuan, terutama setelah ekspansi Napoleon ke Mesir (1798 M), umat Islam Mesir, khususnya para penguasa dan kaum cendekiawannya menyadari akan keterbelakangan mereka dalam urusan dunia jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa Eropa. Oleh karena itu, mereka melakukan berbagai usaha agar menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dimiliki oleh bangsa-bangsa Eropa.&lt;br /&gt;Muhammad Ali, penguasa Mesir tahun 1805-1849 M, mengirim para mahasiswa untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi ke Prancis. Setelah kembali ke Mesir, mereka mengajar di berbagai perguruan tinggi, terutama di Universitas A1-Azhar. Karena yang belajar di Universitas A1-Azhar ini bukan hanya para mahasiswa Islam dan Mesir, tetapi para mahasiswa dan berbagai negara dan wilayah Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan di Universitas Al-Azhar ini pun dengan cepat menyebar ke seluruh dunia Islam. Selain Universitas Al-Azhar, di Mesir telah didirikan universitas-universitas, yang di dalamnya terdapat berbagai fakultas seperti: Kedokteran, Farmasi, Teknik, Pertanian, Perdagangan, Hukum, dan Sastra. Universitas-universitas dimaksud adalah Universitas Iskandariyah di kota Iskandariyah, Universitas Ainusyams (1950 M) di kota Kairo, Universitas Hilwan, Universitas Assiut (1957 M), Universitas Suez (1976 M), dan Universitas Amerika yang bernama “The American University in Cairo (AUC)”, yang didirikan bagi orang Mesir dengan tenaga pengajar dari Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi Sayid Ahmad Khan&lt;br /&gt;Sayid Ahmad Khan lahir di Delhi (India), pada tanggal 17 Oktober 1817 M dan wafat juga di Delhi tahun 1898 M. Masa mudanya dipergunakan untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, yaitu ilmu pengetahuan tentang Islam, bahasa Persia, bahasa Arab, Matematika, Mekanika, Sejarah dan berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya. Atas jasa-jasanya kepada lnggris pada tahun 1869 M beliau diberi kesempatan untuk berkunjung ke Inggris. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk mengadakan penelitian tentang sistem pendidikan dan pengajaran serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Inggris. &lt;br /&gt;Jasa-jasa Sayid Ahmad Khan antara lain :&lt;br /&gt;o Sumbangan pemikirannya yang modern, yang menyatakan bahwa umat Islam terbelakang, bodoh, miskin, dan dijajah, karena mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Eropa.&lt;br /&gt;o Untuk merealisasikan idenya tersebut Sayid Ahmad Khan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan, seperti Sekolah Inggris di Mudarabad tahun 1861 M, lembaga penterjemah ilmu pengetahuan modern ke dalam bahasa Urdu yang disebut dengan nama lembaga “The Scientific Society” atau “Translation Society” dan mendirikan sekolah Muhammaden Anglo Oriental College (MAOC) pada tahun 1878 M, yang kemudian berkembang menjadi “Muslim University Of Aligar”. Untuk keseragaman pendidikan bagi umat Islam India, Sayid Ahmad Khan pada tahun 1886 M membentuk Muhammedan Educational Conference. Sumbangan pemikiran Sayid Ahmad Khan yang bersifat politis, beliau menyatakan bahwa umat Islam tidak mungkin bersatu dengan umat Hindu dalam satu negara, karenanya umat Islam India harus mempunyai negara sendiri terpisah dari umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkembangan Kebudayaan Islam pada Masa modern&lt;br /&gt;Kebudayaan umat Islam pada masa pembaharuan berkembang ke arah yang lebih maju. Hal ini dapat dipelajari di berbagai negara Islam atau negara yang berpenduduk mayoritas umat Islam, seperti Saudi Arabia, Mesir, Irak, Iran, Kuwait, Pakistan, Malaysia, Brunei, dan Indonesia.&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Arsitektur&lt;br /&gt;Arsitektur ada yang berfungsi melayani keagamaan, seperti masjid, makam, madrasah dan ada pula yang berfungsi melayani kepentingan sekuler, seperti istana, benteng, pasar, karavan serai (sejenis hotel), jalan-jalan raya, rel-rel kereta api, dan banyak lagi lainnya. &lt;br /&gt;Setelah ditemukannya ladang minyak pada tahun 1933, Saudi Arabia tidak lagi sebagai negara miskin tetapi termasuk salah satu negara kaya. Dengan kekayaannya yang melimpah, Saudi Arabia banyak membangun jalan raya antarkota, jalan kereta api antara Kota Riyad dengan Kota Pelabuhan Ad-Dammam di pantai Teluk Persia. Juga membangun Maskapai Penerbangan Internasional (Saudi Arabia Air Lines) di Jeddah, Zahran, dan Riyad. Di bidang perhotelan telah dibangun hotel-hotel mewah bertaraf internasional, antara lain terdapat di sekitar Masjidil Haram Mekah dan Masjid Nabawi Madinah. &lt;br /&gt;Masjidil Haram artinya masjid yang dihormati atau dimuliakan. Masjid ini berbentuk empat persegi terletak di tengah-tengah kota Mekah, serta merupakan masjid tertua di dunia. Di tengah-tengah masjid itu terdapat Ka’bah, yang juga disebut Baitullah (Rumah Allah) dan Baitul Atiq (Rumah Kemerdekaan), yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai kiblat umat Islam di seluruh dunia dalam mengerjakan salat. Selain itu, terdapat pula Hajar Aswad (batu hitam yang terletak di dinding Kakbah), makam Ibrahim, Hijr Ismail, dan sumur Zamzam yang letaknya tidak jauh dan Kakbah. &lt;br /&gt;Keadaan Masjidil Haram pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, dengan keadaan Masjidil Haram sekarang ini jauh berbeda. Pada masa Nabi SAW masih hidup, keadaan Masjidil Haram tidak begitu luas dan bersifat sederhana. Sekarang ini, keadaan Masjidil Haram sangat luas dan merupakan bangunan yang begitu megah dan indah. Masjidil Haram sekarang ini berlantai empat yang untuk naik dan lantai dasar ke lantai di atasnya sudah disediakan eskalator. &lt;br /&gt;Masjid Nabawi adalah sebuah masjid yang megah dan indah juga sangat luas. Kalau pada masa Nabi Muhammad SAW luas Masjid Nabawi ± 2.500 m2 kini luasnya menjadi ± 165.000 m2 (luas seluruh kota Madinah pada masa Rasulullah SAW). Hal ini mengakibatkan makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar r.a., dan Umar bin Khatthab r.a. yang dulu berada di luar masjid sekarang berada di dalam masjid. Demikian juga tempat pemakaman umum (maqbarah) baqi yang dulu berada di pinggir kota Madinah, sekarang ini berada di samping atau di pinggir halaman masjid. &lt;br /&gt;Masjid Nabawi bertambah indah dan megah dengan adanya sepuluh buah menara yang menjulang tinggi, 95 buah pintu masjid yang lebar dan indah. juga kubah masjid yang dapat terbuka dan tertutup.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Selain itu, pada atap Masjid Nabawi bagian belakang yaitu di atas pintu Al-Majidi dari sebe!ah barat memanjang ke timur, telah dibangun tingkat dua yang dimanfaatkan untuk perkantoran, perpustakaan. gudang, peralatan dan selebihnya digunakan sebagai tempat salat, apabila jamaah di lantai bawah terlalu padat. Perlu pula diketahui bahwa seluruh ruangan dari lantai bawah (dasar) Masjid Nabawi sekarang ini memakai pendingin ruangan (AC). &lt;br /&gt;Arsitektur yang berfungsi untuk melayani kepentingan agama dan kepentingan sekuler, selain terdapat di Saudi Arabia, juga terdapat di negara lain, terutama di negara berpenduduk mayoritas Islam. Misalnya di Turki sekarang ini memiliki tidak kurang dari 62.000 masjid dan pembangunan masjid mencapai 1.500 buah per tahun. Selain itu, telah dibangun lebih dari 2.000 unit sekolah Al-Qur’an. &lt;br /&gt;Di Iran ketika Dinasti Qatar berkuasa (pada tahun 1794-1925) telah dibangun kota Teheran sebagai ibukota Iran (dibangun pada abad ke-18 M). Perkembangan kota ini sangat pesat, terutama pada masa kekuasaan Dinasti Pahlevi (1925-1979). Sekarang ini Teheran merupakan salah satu kota terbesar di Asia. Bangunan arsitektur peninggalan Dinasti Qatar antara lain :&lt;br /&gt;Þ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Istana Niavarand, tempat kediaman Syah Muhammad Reza Pahlevi dan keluarganya. &lt;br /&gt;Þ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pekuburan Behesyti Zahra’ (bahasa Persia yang artinya Taman Zahra, putri Rasulullah SAW). Pekuburan ini tempat dimakamkannya puluhan ribu syuhada (pahlawan) Revolusi Islam. Di pekuburan ini juga dimakamkan pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Khomaeni (wafat 1989 M).&lt;br /&gt;Pada masa pembaharuan di Irak, selain terdapat arsitektur yang berfungsi melayani keagamaan, seperti masjid, madrasah, dan makam, juga terdapat arsitektur yang berfungsi melayani kepentingan sekuler misalnya bangunan-bangunan industri, jalan kereta api yang menghubungkan Basrah dan Bagdad. jalan-jalan yang beraspal antarkota, dua bandara internasional di Basrah dan Bagdad, serta dua pelabuhan internasional di Basra dan Um Al-Qasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sastra &lt;br /&gt;Pada masa pembaharuan telah bermunculan para sastrawan yang karya-karya sastranya bersifat islami di berbagai negara, misalnya :&lt;br /&gt;Þ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Seorang sastrawan dan pemikir besar, menjelang abad ke-20 telah lahir di Pakistan (1877-1938) yang bernama Muhammad Iqbal. Beliau telah mengungkapkan filsafatnya dalam bentuk puisi dengan menggunakan bahasa Urdu dan Persi. Dan karya puisinya, yang penting adalah Asrari Khudi, di samping karya filsafatnya yang berjudul “The Reconstruction of Religious Thoughs in Islam” (kedua buku ini sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia). Beliau juga telah menulis beberapa prosanya dalam Bahasa Inggris dan Arab.&lt;br /&gt;Þ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mustafa Luffi Al-Manfaluti (1876-1926) seorang sastrawan dan ulama Al-Azhar (Mesir) termasuk pengarang cerita pendek bergaya semi klasik dan semi modern.&lt;br /&gt;Þ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dr. Muhammad Husain Haekal (1888-1956) pengarang Mesir terkenal, yang telah menulis Hayatu Muhammad (Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW, telah terbit dalam terjemahan Bahasa Indonesia) adalah juga seorang sastrawan dan dianggap perintis karya sastra modern setelah novelnya yang berjudul Zainab terbit tahun 1914. Beliau juga banyak menulis kritik sastra dan cerita pendek.&lt;br /&gt;Þ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jamil Siqdi Az-Zahawi (1863-1936) di Irak terkenal sebagai perintis sajak modern dan seorang penyair tua yang bernada keras dan dikenal sebagai pembela hak-hak wanita bersama-sama dengan Ma’ruf Ar-Rasafi (1877-1945).&lt;br /&gt;Þ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abdus Salam Al-Ujaili (lahir 1918) adalah seorang sastrawan di Suriah yang juga seorang dokter medis, aktif dalam penulisan novel dan cerita pendek.&lt;br /&gt;Þ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peranan perempuan dalam perkembangan sastra modern ternyata tidak banyak. Dari yang sedikit itu, misalnya Binti Syati’ yang sebenarnya bernama Aisyah Abdurrahman. Beliau meraih gelar doktor dalam sastra klasik, terkenal sebagai sastrawati, wartawati dan editor harian Al-Ahram Mesir. Selain itu, beliau banyak menekuni Al-Qur’an, lalu menulis tafsir Al-Qur’an dari segi sastra. Sastrawati lainnya seperti Fatwa Tawqan dan Nazek Al-Malaikah (Palestina) serta Layla Ba’albaki (Lebanon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kaligrafi&lt;br /&gt;Kata kaligrafi berasal dan Bahasa Yunani : kaligrafia atau kaligraphos. Kallos berarti indah dan grapho berarti tulisan. Jadi, kaligrafi berarti tulisan (aksara) indah yang mempunyai nilai estetis. Dalam Bahasa Arab kaligrafi disebut khatt, yang dalam pengertian sehari-hari berarti tulisan indah yang memiliki nila estetis. &lt;br /&gt;Kaligrafi (khatt) merupakan satu-satunya seni Islam, yang murni dihasilkan oleh orang Islam, berbeda dengan seni Islam lainnya seperti seni lukis dan ragam hias yang terpengaruh unsur non-Islam. &lt;br /&gt;Kaligrafi terdiri dari bermacam-macam gaya antara lain enam macam gaya yang disebut Al-Aqlam As-Sittah (The Six Hands/Styles). &lt;br /&gt;Seni kaligrafI berkembang sangat cepat ke seluruh pelosok dunia, khususnya ke negara-negara yang penduduknya mayoritas umat Islam seperti Indonesia.&lt;br /&gt;Seni kaligrafi dipakai sebagai hiasan di masjid-masjid, penyekat ruang, hiasan dinding rumah, kotak penyimpanan perhiasan, alat-alat rumah tangga dan lain-lain. Media yang digunakannya pun beragam yakni dan kertas, kain, kulit, kaca, emas, perak, tembaga, kayu, dan keramik.&lt;br /&gt;</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/mata-kuliah-aswaja-iv-bagian-3.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihfyUjeJFHssq0Vaq6L_f_SRUaXt1L39YHh-aT6Qimm6cpOTFqknz0x8v5h05sdEGi0mZ-cUWmlUBAdUE89oRkwwIsmW9ojp6-SaZ9zBcN-livhcMErPy3vxkW00ZMOPrI-QHjpDxJM9Y/s72-c/ASWAJA.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-4922140585309528275</guid><pubDate>Sun, 28 Jul 2013 20:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-29T07:10:38.353-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pribadi</category><title>Mata Kuliah ASWAJA (iv) Bagian 2</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihfyUjeJFHssq0Vaq6L_f_SRUaXt1L39YHh-aT6Qimm6cpOTFqknz0x8v5h05sdEGi0mZ-cUWmlUBAdUE89oRkwwIsmW9ojp6-SaZ9zBcN-livhcMErPy3vxkW00ZMOPrI-QHjpDxJM9Y/s1600/ASWAJA.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihfyUjeJFHssq0Vaq6L_f_SRUaXt1L39YHh-aT6Qimm6cpOTFqknz0x8v5h05sdEGi0mZ-cUWmlUBAdUE89oRkwwIsmW9ojp6-SaZ9zBcN-livhcMErPy3vxkW00ZMOPrI-QHjpDxJM9Y/s200/ASWAJA.png&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;&quot;&gt;Pasca perang shiffin muncul beberapa firqah,. Diantaranya adalah: (a). Khawarij; (b). Syi’ah; (c). Mu’tazilah; dan (d). Ahlussunnah Wal Jama’ah. Berikut Penjelasan tentang esensi dan pandangan-pandangan (ajaran) keempat firqah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
I.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Khawarij&lt;br /&gt;Khawarij merupakan satu kelompok yang besar dari kelompok-kelompok sempalan yang menyimpang dari Islam dalam permasalahan aqidah dan mereka tergambarkan sebagai satu gerakan revolusi berdarah dalam sejarah Islam yang cukup banyak menyibukkan negeri-negeri Islam dalam tempo waktu yang lama untuk memadamkannya, kemudian merekapun sempat berhasil menebar kekuasaan politik mereka pada wilayah-wilayah yang luas dari negeri-negeri Islam di timur dan barat, khususnya di Omaan, Hadromaut, Zanzibar (Tanzania) dan sekitarnya dari wilayah Afrika dan Maghrib Arab (Maroko, Aljazair, Tunis dan Libia) dan sampai sekarang mereka masih memiliki tsaqafah yang terwakii oleh sekte Al Ibadhiyah yang tersebar di wilayah-wilayah tersebut, sampai masih memiliki satu kesultanan yaitu kesultanan Omaan.&lt;br /&gt;Kemudian tidak diragukan kembali, bahwa sebagian pemikiran dan aqidah mereka -Khususnya Al Azaariqah yang berhubungan dengan pengkafiran pelaku kemaksiatan- sampai saat ini masih berkembang dan tampak jelas serta mereka masih memiliki pengikut yang menampakkan kekerasan dan kefanatikan mereka,sehingga membuat pembahasan tentang mereka ini menjadi penting dalam rangka menjelaskan pemikiran-pemikiran mereka yang menyimpang kepada umat dan menyelamatkan mereka dari perangkap dan kesesatan kelompok ini, akan tetapi penting untuk diketahui bahwa hampir-hampir hilang semua referensi dari mereka kecuali referensi sekte Al Ibadhiyah, sehingga dalam pembahasan ini saya merujuk kepada tulisan-tulisan para ulama ahli Sunnah wal Jama`ah seputar mereka, dan dibagi dalam pokok-pokok sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Definisi Khawarij. &lt;br /&gt;1.a.Secara Etimologi Bahasa Arab&lt;br /&gt;Khawarij adalah bentuk jama` dari khoorij dan khoorij adalah kata turunan dari khuruj sedangkan khuruj secara etimologi Arab mengandung beberapa makna, diantaranya:&lt;br /&gt;a.Hari Kiamat &lt;br /&gt;Berkata Abu Ubadah dalam menafsirkan firman Allah :&lt;br /&gt;(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur). (QS. 50:42)&lt;br /&gt;khuruj adalah nama dari nama-nama hari qiamat&lt;br /&gt;b. Kebangkitan dari kubur pada hari qiamat &lt;br /&gt;Sebagaimana dalam firman Allah :&lt;br /&gt;Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan (QS. 54:7)&lt;br /&gt;c. Lawan dari masuk, yaitu keluar &lt;br /&gt;d. Jihad di jalan Allah. &lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah :&lt;br /&gt;Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: Tinggallah kamu bersama orang-oang yang tinggal itu. (QS. 9:46) dan:&lt;br /&gt;Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka meminta ijin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah:Kamu tidak boleh keluar bersama-samaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang. (QS. 9:83)&lt;br /&gt;e. Hijroh &lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah :&lt;br /&gt;Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:100)&lt;br /&gt;Akan tetapi para ahli bahasa arab memasukkan makna lain yaitu satu kelompok dari ahlil hawa yang menyempal dari agama atau Imam Ali bin Abi Tholib.&lt;br /&gt;Berkata Al Azhary :dan Al Khawarij adalah satu kaum dari ahlil hawa yang memiliki pemikiran-pemikiran tertentu.&lt;br /&gt;Berkata Az Zubaidy: dan mereka adalah Al Haruriyah, dan Al Kharijah adalah satu dari mereka, jumlah mereka tujuh kelompok. Mereka dinamakan demikian karena mereka menyempal dari manusia atau dari agama atau dari kebenaran atau dari Ali setelah perang shiffin.&lt;br /&gt;1.b.Secara Terminologi &lt;br /&gt;Adapun ditinjau dari istilah para ulama maka didapatkan sebagian ulama mendefinisikannya dengan definisi politik secara umum dan sebagian yang lainnya mendefinisikannya dengan kenyataan yang ada ketika munculnya kelompok ini.&lt;br /&gt;Berkata As Syahrostaany: Setiap orang yang memberontak terhadap Imam yang benar yang telah bersepakat atasnya jamaah [muslimin] dinamai khawarij, baik memberontak di masa-masa shahabat terhadap pemimpin-pemimpin yang baik [imam-imam rasyidin] atatu yang setelah mereka terhadap para Tabiin [yang mengikuti shahabat] dengan baik dan pemimpin-pemimpin [imam-imam] di setiap zaman.&lt;br /&gt;Berkata Abu Hasan Al-Asy`ari: Dan sebab penamaannya dengan khawarij adalah pemberontakan mereka terhadap Ali bin Abi Thalib.&lt;br /&gt;Kemudian Ibnu Hazm menambahkan difinisi ini dengan perkataannya: Dan yang menyepakati khawarij dari pengingkaran [keabsahan] At-tahkim, pengkafiran pelaku dosa besar, pendapat [wajibnya] memberontak terhadap imam yang jahat dan pelaku dosa besar kekal di dalam neraka serta imamah boleh diangkat selain dari Quraisy - maka dia khawarij -.&lt;br /&gt;Dan berkata Abu Ishaq: Al-khawarij adalah beberapa kelompok dari manusia di zaman tabiin dan tabiut-tabiin yang dikepalai oleh Nafi` bin Al-Azrah, Najdah bin Amir, Muhammad bin Ash-Shafaar dan para pendukungnya.&lt;br /&gt;2. Hadits-hadits tentang Khawarij &lt;br /&gt;Dari Abi Said Al-Khudri berkata: Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan pada saat itu beliau sedang membagi beberapa bagian. Datanglah kepada beliau Dzul Khuaishirah, orang dari Bani Tamim, dia berkata: `Wahai Rasulullah, berlaku adil-lah`. Bersabda Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam: `Celakalah engkau, siapakah yang akan berlaku adil jika aku tidak adil, dosalah aku dan merugilah jika aku tidak berbuat adil`. Maka berkata Umar bin Al-Khaththab : `Wahai Rasulullah ijinkanlah aku untuk memenggal lehernya`. Bersabda Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam: `Biarkanlah dia, karena dia mempunyai teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan diremehkan [merasa remah] shalatnya jika dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka. Mereka membaca Alquran tidak melebihi kerongkongan mereka, terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. (H.R. Bukhari VI/617, no. 3610, VII/97 no. 4351; Muslim II/743,744 no. 1064; Ahmad III/4,5,33,224)&lt;br /&gt;Setelah perang Hunain Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memberikan bagian kepada manusia. Beliau memberikan bagian kepada Al-Aqra` bin Habis 100 ekor onta, memberikan kepada Uyainah semisal itu dan memberikan kepada orang-orang pemuka Arab, beliau lebihkan pada hari itu atas mereka bagiannya. Kemudian berkata salah seorang: `Demi Allah, pembagian ini sungguh adil dan tidak dikendaki di sana wajah Allah.` (H.R. Muslim II/739 no. 1062; Ahmad.IV/421)&lt;br /&gt;Sesungguhnya akan keluar dari keturunan laki-laki ini, suatu kaum yang membaca Alquran tidak melebihi kerongkongan mereka. membunuh pemeluk Islam dan membiarkan penyembah berhala. Terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Seandainya aku menemui mereka, sunggguh akan aku bunuh mereka seperti dibunuhnya kaum `Aad (H.R. Bukhari VI/376 no. 3644; Muslim II/742 no. 1064)&lt;br /&gt;Akan keluar padda akhir zaman suatu kaum, umumnya masih muda, rusak akalnya, mereka mengatakan dari sebaik-baik perkataan makhluk. Membaca Alquran tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya (H.R. Bukhari VI/618 no. 3611; Muslim II/746 no 1066)&lt;br /&gt;Akan keluar suatu kaum dari umatku yang membaca Alquran, mereka menyangka bahwasanya untuk mereka padahal atas mereka. Shalat mereka tidak melampuai tenggorokannya. (H.R. Muslim II/748 no. 1066)&lt;br /&gt;Membaguskan perkataan tetapi buruk perbuatannya - mengajak kepada kitab Allah, tetapi tidaklah mereka termasuk di dalamnya sedikitpun. (H.R. Ahmad III/224)&lt;br /&gt;Dari Abi Barzah, ia ditanya: `Apakah engkau mendengar Rasulullah menyebut tentang khawarij? Ia menjawab: `Ya, aku mendengar Rasulullah dengan telingaku dan aku meliatnya dengan mataku.` Rasulullah datang dengan membawa harta, lalu beliau membagikannya. Maka beliau memberi kepada orang-orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya dan tidak memberi kepada orang-orang yang di belakang beliau sedikitpun. Berdirilah seseorang yang berada di belakang beliau seraya berkata: `Wahai Muhammad, engkau tidak adil dalam pembagian.` Dia adalah seorang laki-laki yang berkulit hitam dengan rambut yang dicukur gundul dan memakai dua baju putih. Rasulullah marah dengan kemarahan yang besar, kemudian bersabda: `Demi Allah, kalian tidak mendapati seseorang setelahku yang lebih adil daripada aku.` Kemudian beliau bersabda lagi: `Akan muncul pada akhir zaman suatu kaum, seolah-olah ia dari mereka. Mereka membaca Alquran tidak melebihi tenggorokannya, terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari busurnya, ciri-ciri mereka adalah bercukur gundul, tidak henti-hentinya mereka keluar hingga akan keluar orang-orang terakhir mereka bersama Al-Masih Ad-Dajjal. Jika kalian menemuinya, bunuhlah mereka. mereka seburuk-buruk makhluk dan ciptaan.` (H.R. An-Nasai VII/119-121 no. 4104; Ahmad IV/425)&lt;br /&gt;3. Nama dan Laqob-laqobnya &lt;br /&gt;a. Khawarij &lt;br /&gt;Nama ini adalah nama yang paling masyhur dan yang paling banyak dipakai dan dalam nama ini terkandung pujian dan celaan.&lt;br /&gt;Nama ini - menurut mereka [khawarij] - diambil dari firman Allah,:&lt;br /&gt;Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah.. (QS. 4:100)&lt;br /&gt;Maka penamaan ini adalah pujian, dan mereka menamai diri mereka dengan nama tersebut didasarkan atas makna ini. Sebagaimana perkataan Nuruddin As-Saalimy: Karena banyaknya mereka mengorbankan jiwanya dalam keridhaaan Rabb mereka dan mereka telah keluar berjihad, maka mereka dinamai khawarij, dan ia adalah jamak dari kharijah yaitu kelompok yang keluar [berjihad] di jalan Allah. Dan berkata Muhammad bin Abdullah As-Saalimy: Dan nama khawarij pada zaman permulaan adalah pujian karena dia adalah jamak dari khaarijah yaitu kelompok yang keluar berperang di jalan Allah, Allah berfirman :&lt;br /&gt;Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, &lt;br /&gt;Sedangkan selain mereka dari para ulama dan intelektual Islam berpendapat bahwa nama ini diambil dari makna penyempalan atau pemberontakan dari para pemimpin atau manusia atau agama atau Ali bin Abi Thalib, dan ini tentu saja bermakna celaan terhadap mereka, walaupun pada hakikatnya mereka tidak menolak hal ini karena menurut mereka, pemberontakan terhadap para pemimpin tersebut adalah kebenaran, dan hanyalah mereka menolak makna ini ditinjau dari anggapan bahwa hal itu adalah penyimpang.&lt;br /&gt;II.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Syi’ah&lt;br /&gt;Ajaran Syiah merupakan ajaran yang sangat tua sekali umurnya. Ajaran ini telah muncul di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Namun cukup mengherankan, data-data mengenai ajaran Syiah sangat sulit diperoleh oleh sebagian pihak karena sifatnya yang tertutup. Kita sangat jarang menemui buku-buku induk ajaran Syiah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar dapat ditelaah oleh orang awam sekali pun. Demikian juga tokoh-tokoh Syiah di negeri ini, mereka lebih senang menyebarkan paham Syiah mereka dengan bertamengkan Ahlussunnah wal Jamaah, agar mudah diterima. Bagaimana sebenarnya akidah dari kelompok ini, sampai sebegitu tertutupnya mereka. Berikut ini akidah-akidah Syiah:&lt;br /&gt;1. Orang Syiah Rafidhah mengatakan Alquran yang ada di tangan kaum muslimin (baca: Ahlussunnah) berbeda dengan Alquran versi ahlul bait.&lt;br /&gt;Muhammad bin Murtadha Al-Kasyi –seseorang yang dianggap berilmu dan ahli hadis dari kalangan Syiah- mengatakan,&lt;br /&gt;لم يبق لنا اعتماد على شيء من القران. اذ على هذا يحتمل كل اية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يقب لنا في القران حجة أصلا فتنتفى فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به&lt;br /&gt;“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang pada satu ayat pun dari Alquran. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Alquran satu ayat pun sebagai argumentasi. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengan Alquran ….” (Tafsir Ash-Shaafi, 1:33)&lt;br /&gt;Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini –seorang yang dianggap ahli hadis dari kalangan Syiah– (w. 328/329 H) mengatakan,&lt;br /&gt;عن أبي بصير عن أبي عبد الله عليه السلام قال : وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ&lt;br /&gt;Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah ‘alaihissalam ia berkata, “Sesungguhnya pada kami terdapat Mushhaf Fathimah ‘alaihassalam. Dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushaf Fathimah.” Aku berkata, “Apakah itu Mushhaf Fathimah?” Abu Abdillah menjawab, “Mushhaf Fathimah itu, tiga kali lebih besar daripada Alquran kalian. Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu huruf pun dari Alquran kalian.” Aku berkata, “Demi Allah, ini adalah ilmu.” (Al-Kaafi, 1:239).&lt;br /&gt;عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جَبْرَئِيلُ ( عليه السلام ) إِلَى مُحَمَّدٍ ( صلى الله عليه وآله ) سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ&lt;br /&gt;Dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah ‘alaihissalam ia berkata, “Sesungguhnya Alquran yang diturunkan melalui perantaraan Jibril ‘alaihissalam kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam terdiri dari 17.000 (tujuh belas ribu) ayat.” (Al-Kaafi, 2:634). Maksudnya teks Alquran sekarang banyak ayat-ayat yang dihapus oleh para sahabat, sehingga jumlah ayatnya hanya 6000an.&lt;br /&gt;Muhammad Baqir Taqi bin Maqshud Al-Majlisi (w. 1111 H) ketika mengomentari hadis di atas,&lt;br /&gt;موثق، وفي بعض النسخ عن هشام بن سالم موضع هارون ابن سالم، فالخبر صحيح ولا يخفى أن هذا الخبر وكثير من الأخبار في هذا الباب متواترة معنى، وطرح جميعها يوجب رفع الاعتماد عن الأخبار رأسا، بل ظني أن الأخبار في هذا الباب لا يقصر عن أخبار الامامة فكيف يثبتونها بالخبر ؟&lt;br /&gt;”Shahih. Dalam sebagian naskah tertulis, ”Dari Hisyaam bin Salim” pada tempat rawi yang bernama Harun bin Saalim. Maka kabar/riwayat ini shahih dan tidak tersembunyi lagi bahwasannya riwayat ini dan banyak lagi yang lainnya dalam bab ini telah mencapai derajat mutawatir secara makna. Menolak keseluruhan riwayat ini (yang berbicara tentang perubahan Alquran) berkonsekuensi menolak semua riwayat (yang berasal dari ahlul bait). Aku kira, riwayat-riwayat dalam bab ini tidaklah lebih sedikit dibandingkan riwayat-riwayat tentang imamah. Nah, bagaimana masalah imamah itu bisa ditetapkan melalui riwayat? (Mir’atu Al-‘Uquul fii Syarhi Akhbari Alir-Rasul, 12:525).&lt;br /&gt;Kemudian,…. inilah hal yang membuktikan validitas keyakinan Syiah bahwasanya Alquran sekarang telah berubah:&lt;br /&gt;Perkataan Dr. Al-Qazwini, salah seorang ulama kontemporer Syiah yang cukup terkenal. Menurutnya firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).” (QS. Ali ‘Imran: 33).&lt;br /&gt;Menurutnya, yang benar adalah&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ وَآلَ مُحَمَّدٍ عَلَى الْعَالَمِينَ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, dan keluarga Muhammad melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).”&lt;br /&gt;Tambahan kalimat keluarga Muhammad ini dihilangkan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum –(dan ini adalah kedustaan yang sangat nyata!!). &lt;br /&gt;Lantas mau dikemanakan firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9) ?&lt;br /&gt;2. Orang Syiah Rafidhah telah mengafirkan para sahabat, terutama Abu Bakr Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;Orang Syiah telah mendoakan laknat atas Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma – yang naasnya, doa itu dinisbatkan secara dusta kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu – sebagai berikut,&lt;br /&gt;اللهم صل على محمد، وآل محمد، اللهم العن صنمي قريش، وجبتيهما، وطاغوتيهما، وإفكيهما، وابنتيهما، اللذين خالفا أمرك، وأنكروا وحيك، وجحدوا إنعامك، وعصيا رسولك، وقلبا دينك، وحرّفا كتابك…..&lt;br /&gt;“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, laknat bagi dua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar pen.), Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua. Mereka berdua telah membangkang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, menjungkir-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu…..dst.”&lt;br /&gt;sumber ajaran Syiah dalam kitab mereka yang mengafirkan para sahabat,&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ ( صلى الله عليه وآله ) إِلَّا ثَلَاثَةً فَقُلْتُ وَ مَنِ الثَّلَاثَةُ فَقَالَ الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ وَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ عَلَيْهِمْ&lt;br /&gt;Dari Abu Ja’far ‘alaihis-salam, ia berkata, “Orang-orang (yaitu para shahabat pen.) menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa alihi wa sallam kecuali tiga orang.” Aku (perawi) berkata, “Siapakah tiga orang tersebut?” Abu Ja’far menjawab, “Al-Miqdad, Abu Dzar Al-Ghiffari, dan Salman Al-Farisiy rahimahullah wa barakatuhu ‘alaihim…” (Al-Kaafi, 8:245; Al-Majlisi berkata, “hasan atau muwatstsaq”).&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي عبد الله عليه السلام قال: …….والله هلكوا إلا ثلاثة نفر: سلمان الفارسي، وأبو ذر، والمقداد ولحقهم عمار، وأبو ساسان الانصاري، وحذيفة، وأبو عمرة فصاروا سبعة&lt;br /&gt;Dari Abu Abdillah ‘alaihissalam, ia berkata, “…….Demi Allah, mereka (para sahabat) telah binasa kecuali tiga orang: Salman Al-Farisiy, Abu Dzar, dan Al-Miqdad. Dan kemudian menyusul mereka ‘Ammar, Abu Sasan, Hudzaifah, dan Abu Amarah sehingga jumlah mereka menjadi tujuh orang.” (Al-Ikhtishash oleh Al-Mufiid, Hal.5, lihat: http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/ekhtesas/a1.html).&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلامقَالَ إِنَّ أَهْلَ مَكَّةَ لَيَكْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِينَ ضِعْفاً .&lt;br /&gt;Dari Abu Bashir, dari salah seorang dari dua imam ‘alaihimassalam, ia berkata, “Sesungguhnya penduduk Mekah kafir kepada Allah secara terang-terangan. Dan penduduk Madinah lebih busuk/jelek daripada penduduk Mekah 70 kali.” (Al-Kaafi, 2:410; Al-Majlisi berkata : Muwatstsaq).&lt;br /&gt;Riwayat yang semacam ini banyak tersebar di buku-buku Syiah.&lt;br /&gt;Dimanakah posisi firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ&lt;br /&gt;“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At-Taubah: 100).&lt;br /&gt;مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا&lt;br /&gt;“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)?&lt;br /&gt;III.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mu’tazilah&lt;br /&gt;MU’TAZILAH: ASAL USUL DAN IDE-IDE POKOK&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;Banyak aliran dan mazhab yang timbul sepanjang sejarah umat Islam. Mulai dari timbulnya aliran berlatarbelakang politik, yang kemudian aliran tersebut berevolusi dan memicu kemunculan aliran bercorak akidah (teologi), hingga bermacam mazhab Fikih, Ushul Fikih dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.&lt;br /&gt;Jika dilihat dengan kaca mata positif, maka beragamnya aliran dan mazhab dalam Islam itu menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang kaya dengan corak pemikiran. Ini berarti umat Islam adalah umat yang dinamis, bukan umat yang statis dan bodoh yang tidak pernah mau berfikir.&lt;br /&gt;Namun dari semua aliran yang mewarnai perkembangan umat Islam itu, tidak sedikit juga yang mengundang terjadinya konflik dan membawa kontroversi dalam umat, khususnya aliran yang bercorak atau berkonsentrasi dalam membahas masalah teologi. Satu diantara golongan/aliran itu adalah Mu’tazilah.&lt;br /&gt;Banyak yang mengidentikkan Mu’tazilah dengan nyeleneh, sesat, cenderug merusak tatanan agama Islam, dan dihukum telah keluar dari ajaran Islam. Namun juga tidak sedikit yang menganggap Mu’tazilah sebagai main icon kebangkitan umat Islam di masa keemasannya, sehingga berfikiran bahwa umat Islam mesti menghidupkan kembali ide-ide aliran ini untuk kembali bangkit. Itu adalah sebagian dari sekian banyak fakta lapangan yang menunjukkan bahwa kelompok ini memang tergolong kontroversial.&lt;br /&gt;Agar tidak terjebak dalam kontroversi dan kesalahpahaman tersebut, maka perlu dilakukan usaha-usaha untuk mengkaji kelompok ini secara objektif, dalam artian perlu adanya kajian mendalam di setiap sisinya. Dengan semangat itulah, penulis mencoba menguraikan beberapa hal yang berkaitan tentang Mu’tazilah dalam makalah ini, yang pada intinya penulis ingin sedikit berbagi informasi tentang apa, siapa, dan bagaimana kaum Mu’tazilah itu?.&lt;br /&gt;Untuk memperjelas arah pembahasan maka penulis disini akan membatasi pembahasan kedalam 3 materi pokok: Pertama, Asal Usul Mu’tazilah, di dalamnya terdapat pembahasan tentang sisi latar belakang kemunculan Mu’tazilah, Kedua, Ide-Ide Teologis Mu’tazilah, yang mencakup pembahasan al-Ushul al-Khamsah, yang di dalamnya akan ditemukan bagaimana pandangan umum Mu’tazilah tentang sifat Tuhan, iman dan kufur, perbuatan Tuhan, perbuatan manusia, posisi akal dan wahyu dan metode teologi mereka, Ketiga, Mihnah, karena tidak lengkap rasanya jika dalam pembahasan tentang Mu’tazilah jika tidak dibahas tentang persoalan ini. Dan penulis rasa perlu memisahkannya dari pembahasan bagian kedua, karena mihnah sendiri menurut hemat penulis adalah efek historis terbesar dari ide-ide teologis Mu’tazilah.&lt;br /&gt;2. Asal Usul dan Penamaan Mu’tazilah&lt;br /&gt;Term mu’tazilah merupakan ism fa’il yang berakar dari kata ‘azala-i’tazala, yang berarti memisahkan-menyingkir atau memisahkan diri. Maka secara bahasa Mu’tazilah berarti orang yang memisahkan diri. Sedangkan untuk memahami Mu’tazilah dari sudut pandang terminologi, dalam hal ini Mu’tazilah sebagai sebuah kelompok atau aliran, perlu kiranya ditelusuri kapan, untuk siapa pertama kali istilah ini digunakan dan mengapa?.&lt;br /&gt;Dari literatur yang penulis dapatkan, terdapat dua versi tentang awal penggunaan term ini:&lt;br /&gt;Pertama, Mu’tazilah adalah istilah yang digunakan bagi kelompok pengikut Washil bin ‘Atha’ (80 H-131 H) yang memisahkan diri dari halaqah ta’lim al-Hasan al-Bashri (21 H-110 H). Hal ini dapat ditemukan dalam al-Milal wa al-Nihal, al-Syahrastani berkata :&lt;br /&gt;“…seseorang mendatangi halaqah ta’lim al-Hasan al-Bashri, lalu bertanya: “Wahai Imamuddin (guru besar agama), di zaman kita ini telah muncul suatu jemaah yang mengkafirkan pelaku dosa besar, karena menurut mereka dosa besar itu kufur, mengeluarkan mereka dari agama, mereka itulah golongan Khawarij. Dan ada juga golongan lain yang menangguhkan hukum pelaku dosa besar, dan dosa besar itu sendiri menurut mereka tidaklah merusak keimanan, karena mereka menganggap amal tidak termasuk bagian dari iman, dan perbuatan maksiat tidak akan merusak iman, sebagaimana ketaatan tidak berguna bagi kekufuran, mereka itulah golongan Murji’ah. Maka bagaimanakah Anda memberikan keputusan kepada kami tentang masalah ini dari sisi akidah?”. Lalu al-Hasan berfikir menimbang-nimbang, sebelum sempat beliau menjawab, Washil bin ‘Atha’ berkata: “Saya tidak mengatakan bahwa pelaku dosa besar itu mukmin sepenuhnya (mutlak) dan juga tidak kafir sepenuhnya (mutlak), melainkan dia berada di suatu tempat antara dua tempat (manzilah baina al-manzilatain), tidak mukmin dan tidak juga kafir”, kemudian dia berdiri meninggalkan majelis, pindah ke sisi masjid lainnya, untuk mengajarkan pahamnya kepada segolongan murid (pengikut) al-Hasan, kemudian al-Hasan berkata: “Washil telah memisahkan diri dari kita ( اعتزل عنا واصل )”, maka dinamakanlah dia dan para pengikutnya dengan Mu’tazilah”.&lt;br /&gt;Dari teks tersebut jelas bahwa tindakan Washil yang memisahkan diri dari majelis al-Hasan al-Bashri merupakan sebab penamaan mereka dengan Mu’tazilah, dan yang mengungkapkan istilah itu adalah Imam al-Hasan al-Bashri. Ini adalah versi yang paling banyak dipakai.&lt;br /&gt;Aliran ini muncul di zaman Bani Umayyah. Penulis belum menemukan literatur yang secara pasti menyebutkan tahun berapa terjadinya peristiwa yang disebutkan al-Syahrastani di atas, namun dengan memperhatikan usia tokoh-tokoh yang terlibat dalam kemunculannya, maka bisa diperkirakan bahwa aliran ini muncul di sekitar tahun 100 H-110 H, dan ini sesuai dengan pendapat al-Maqrizi yang mengatakan bahwa mereka muncul setelah abad I Hijriyah.&lt;br /&gt;Kedua , Mu’tazilah adalah kelompok yang tidak ingin terlibat dalam sengketa panjang antara golongan Ali dan Mu’awiyah, khususnya lagi ketika Hasan bin Ali bin Abi Thalib menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah . Mereka lebih memilih untuk meniggalkan urusan-urusan politik dan menghabiskan waktu untuk beribadah dan memperkuat akidah dengan metode pemahaman Ulama Salaf. Maka bisa dikatakan bahwa politik adalah penyebab munculnya kelompok ini.&lt;br /&gt;Penggunaan istilah Mu’tazilah untuk mereka dapat dilihat dalam perkataan beberapa penulis sejarah klasik, seperti yang dikutip Ali Mushthafa al-Gharabi dari ungkapan Abul Fida’ dalam bukunya al-Akhbar: “…dan mereka menamai kelompok tersebut (yang memisahkan diri dari golongan Ali dan Mu’awiyah) dengan Mu’tazilah karena mereka tidak ikut membai’at Ali”. Beliau juga mengutip dari kitab al-Aghani: “..dan ayah Sya’ir, Ayman bin Khuzaim, adalah salah seorang yang memisahkan diri atau tidak ikut terlibat (اعتزل) dalam perang Jamal dan Shiffin, dan dia juga tidak ikut dalam peristiwa-peristiwa setelah kedua perang tersebut”. Demikian juga yang beliau dapatkan dari Tarikh al-Thabari, bahwa Qais bin Sa’ad menulis surat kepada Ali: “Saya menghadapi orang-orang mu’tazilah/yang mengasingkan diri (rijalan mu’tazilin), mereka meminta saya agar membiarkan mereka samapi kondisi umat stabil”.&lt;br /&gt;Mu’tazilah versi ini diperkirakan muncul sekitar tahun 35 H atau 36 H, karena Ali Mushthafa al-Gharabi mengutip perkataan Abul Fida’ tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 35 H, dan mengutip dari Tarikh al-Thabari tentang peristiwa tahun 36 H.&lt;br /&gt;Dari dua versi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan:&lt;br /&gt;1. Mu’tazilah versi pertama dan kedua berbeda dari sisi latar belakang munculnya. Versi pertama muncul dilatarbelakangi oleh masalah akidah (teologi), yaitu tentang nasib pelaku dosa besar, sedangkan versi kedua muncul dilatarbelakangi oleh masalah politik, yaitu konflik politik antara golongan Ali dan Mu’awiyah yang berujung pada penyerahan kekuasaan oleh Hasan bin Ali kepada Mu’awiyah.&lt;br /&gt;2. Mu’tazilah versi kedua lebih dahulu muncul dari Mu’tazilah versi pertama.&lt;br /&gt;3. Yang menjadi objek pembahasan makalah ini tentunya versi yang berkaitan dengan teologi, yaitu Mu’tazilah versi pertama yang memang Mu’tazilah inilah yang dimaksudkan oleh orang-orang yang membicarakan term Mu’tazilah di sepanjang zaman sejak munculnya.&lt;br /&gt;Meskipun kedua versi ini berbeda, namun C.A. Nallino, seorang orientalis Italia, berpendapat bahwa golongan Mu’tazilah yang muncul belakangan mempunyai hubungan yang erat dengan golongan Mu’tazilah yang muncul pertama kali, dan Mu’tazilah kedua adalah lanjutan dari golongan Mu’tazilah pertama. Pendapat ini berdasarkan kepada pendapat al-Mas’udi yang lebih cenderung mengatakan bahwa Mu’tazilah adalah golongan yang berdiri netral di antara Khawarij, yang memandang Utsman, Ali, dan Mu’awiyah dan pelaku dosa besar lainnya kafir, dan Murji’ah, yang memandang mereka tetap mukmin. Barangkali Nallino melihat ada titik temu antara kedua kelompok ini dari sisi politik, bahwa Mu’tazilah pertama murni terbentuk karena faktor politis, sedangkan yang kedua walaupun pada dasarnya terbentuk karena faktor teologis, namun faktor teologis itupun berakar pada faktor politis yang tidak jauh beda dengan faktor politis yang membentuk Mu’tazilah versi pertama. Namun meskipun ada pertalian antara keduanya, kita agak sedikit kesulitan menganalisa sisi lain yang cukup berbeda dari kedua kelompok ini, bahwa Mu’tazilah pertama cenderung meninggalkan masalah politik dan berkosentrasi pada urusan ibadah serta berakidah seperti paham Ulama Salaf yang tidak merasionalkan masalah-masalah keimanan dan hal-hal ghaib secara mendalam, sementara Mu’tazilah generasi kedua justru dengan pembahasan masalah dosa besar itu, mereka secara tidak langsung terlibat dalam masalah politik, dan mulai lari dari paham akidah Ulama Salaf. Maka, penulis melihat pendapat Nallino tersebut tidak bisa diterima secara utuh, dan juga tidak bisa ditolak secara utuh, karena sesuatu yang tidak bisa diterima secara utuh, juga tidak bisa ditolak secara utuh (ma la yuqbalu kulluh la yutraku kulluh), artinya masih bisa diperdebatkan secara bebas (qabil lin niqasy).&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan penjelasan diatas, maka istilah Mu’tazilah yang penulis maksud dalam makalah ini adalah: aliran yang secara garis besar sepakat dan mengikuti cara pandang Washil bin ‘Atha’ dan temannya ‘ Amru bin Ubaid dalam masalah-masalah teologi, atau aliran teologi yang akar pemikirannya berkaitan dengan pemikiran Washil bin ‘Atha’ dan temannya ‘ Amru bin Ubaid.&lt;br /&gt;Walaupun Mu’tazilah yang dibangun Washil bin ‘Atha’ baru muncul pada akhir abad I H atau awal abad II H, akan tetapi di dalam literatur mereka, Mu’tazilah justru mengatakan bahwa mazhab mereka sudah ada, jauh sebelum perinstiwa antara Washil dan al-Hasan al-Bashri. Mereka memasukkan banyak Ahlul Bait ke dalam barisan mereka, demikian juga dengan al-Hasan al-Bashri, karena ia memiliki ide yang tidak jauh beda dengan mereka dalam masalah takdir dan pelaku dosa besar. Bahkan Ibnu al- Murtadha dalam kitab al-Munyah wa al-Amal menyebutkan ranji silsilah mazhab mereka sampai kepada Rasulullah SAW .&lt;br /&gt;Penulis sendiri melihat bahwa aliran ini sebagai sebuah ide (fikrah dan madrasah) sudah ada sebelum keberadaan Washil bin ‘Atha’, sedangkan yang terjadi pada masa Washil adalah munculnya aliran ini sebagai sebuah kelompok (firqah). Sama seperti ideologi-ideologi lain yang ada di dunia, penulis juga meyakini bahwa Mu’tazilah sebagai sebuah ideologi tidak bisa dikikis habis dari muka bumi, paling kurang semangatnya akan terus ada.&lt;br /&gt;Para pakar memiliki beragam alasan tentang penamaan aliran ini dengan Mu’tazilah, namun semua pada intinya semua alasan berkisar sekitar arti kata-kata í’tazala (memisahkan diri, menjauhkan diri, atau menyalahi pendapat orang lain). Diantara alasan-alasan tersebut sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Disebut Mu’tazilah, karena Washil bin ‘Atha’ dan ‘Amru bin ‘Ubaid menjauhkan diri (i’tazala) dari pengajian al-Hasan al-Basri di mesjid Basrah, kemudian membentuk pengajian sendiri, sebagai kelanjutan pendapatnya bahwa orang yang mengerjakan dosa besar tidak mukmin secara mutlak, juga tidak kafir secara mutlak, melainkan berada di suatu tempat di antara dua tempat (tingkatan) tersebut. Karena sikap ini, maka mereka disebut “orang Mu’tazilah” (orang yang menjahakn diri/memisahkan diri).&lt;br /&gt;2. Menurut riwayat lain, disebut Mu’tazilah karena mereka menjauhkan (menyalahi) semua pendapat yang telah ada tentang orang yang mengerjakan dosa besar. Golongan Murji’ah mengatakan bahwa pelaku dosa besar masih termasuk orang mukmin. Menurut golongan Khawarij Azariqah, ia menjadi kafir. Datanglah Washil bin ‘Atha’ untuk mengatakan bahwa pelaku dosa besar bukan mukmin, bukan pula kafir, melainkan menjadi fasik. Menurut riwayat ini, sebab penamaan ini lebih bersifat ma’nawiyah, yaitu menyalahi pendapat orang lain, sedangkan sebab penamaan yang pertama bersifat lahiriyah, yaitu pemisahan secara fisik (menjauhkan diri dari tempat duduk orang lain).&lt;br /&gt;3. Disebut Mu’tazilah karena pendapat mereka yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar berarti menjauhkan diri dari golongan orang-orang mukmin dan juga golongan orang-orang kafir. Perbedaan riwayat ini dengan yang sebelumnya (kedua) adalah: menurut riwayat kedua, kemu’tazilahan (i’tizal) menjadi nama (sifat) golongan itu sendiri karena mereka mencetuskan pendapat baru yang menyalahi orang-orang sebelumnya, sedang menurut riwayat ketiga, kemu’tazilahan (i’tizal) pada awalnya menjadi sifat si pelaku dosa besar itu sendiri, kemudian menjadi sifat/nama golongan yang berpendapat demikian (yaitu pelaku dosa besar memisahkan diri dari orang-orang mukmin dan orang-orang kafir).&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, tentang penamaan aliran ini dengan Mu’tazilah, jelas bahwa penamaan ini bukanlah berasal dari kalangan Mu’tazilah sendiri, namun dari pihak lain, dalam hal ini secara kongkritnya adalah al-Hasan al-Bashri yang mengungkapkan: “Washil telah mengasingkan diri dari kita” (اعتزل عنا واصل). Kalangan Mu’tazilah sendiri pada awalnya tidak senang dengan sebutan ini, sebab sebutan ini bisa disalahartikan oleh lawan-lawannya dengan konotasi negatif untuk menyudutkan mereka. Karena tidak ada jalan untuk menghindarinya, sehingga merekapun mengemukakan alasan kebaikan penggunaan nama Mu’tazilah bagi mereka, seperti yang dilakukan Ibnu al-Murtadha dalam kitab al-Munyah wa al-Amal, dia mengatakan bahwa mereka sendiri yang memberikan nama itu atas diri mereka, bukan kelompok lain, dan mereka tidak menyalahi Ijmak, akan tetapi sebaliknya justru mereka menggunakan Ijmak yang ada di masa-masa awal Islam. Bahkan Ibnu al-Murtadha juga menggunakan al-Qur’an dan Hadits untuk mendukung penamaan ini, seperti:&lt;br /&gt;1. QS. Al-Muzammil: 10&lt;br /&gt;“..dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”&lt;br /&gt;Menjauhi mereka adalah dengan i’tizal (memisahkan diri) dari mereka.&lt;br /&gt;2. Hadits:&lt;br /&gt;من اعتزل الشر سقط في الخير&lt;br /&gt;“Siapa yang menjauhi keburukan, akan jatuh dalam kebaikan”&lt;br /&gt;Sesungghnya yang dilakukan Ibnu al-Murtadha ini hanyalah usaha untuk menutupi kelemahan dan membantah tudingan-tudingan negatif dari lawan-lawan mereka.&lt;br /&gt;Disamping Mu’tazilah, banyak nama lain yang mereka sandang, seperti Ahlu al-’Adli wa al-Tauhid, Ahlu al-Haq, al-Qadariyah, al-Jahmiyah, al-Khawarij, al-Wa’idiyah, dan al-Mu’aththilah. Namun mereka lebih menyukai istilah Ahlu al-’Adli wa al-Tauhid (golongan keadilan dan tauhid) sebagai nama bagi golongan mereka. Istilah ini diambil dari dua prinsip dari lima prinsip yang menjadi dasar seluruh ajaran mereka (al-ushul al-khamsah).&lt;br /&gt;Meskipun banyak kalangan yang mengkonotasikan nama Mu’tazilah dengan makna negatif, tapi pada dasarnya istilah ini adalah istilah biasa yang netral, tidak berkonotasi positif ataupun negatif, hanya saja pada masa-masa berikutnya dalam perkembangan aliran ini, mereka mulai memunculkan paham-paham yang dianggap aneh dan berbahaya oleh jumhur, sehingga lambat laun istilah ini menjadi berkonotasi negatif.&lt;br /&gt;3. Ide-Ide Pokok Mu’tazilah&lt;br /&gt;3.1. Al-Ushul Al-Khamsah&lt;br /&gt;Dalam perkembangan pemikirannya, para penganut aliran Mu’tazilah tidaklah selalu berada dalam satu garis yang sama, juga sering terjadi perbedaan pendapat di antara mereka, perbedaan ini misalnya bisa dilihat pada buku Maqalat al-Islamiyin karangan Abu al-Hasan al-Asy’ari, dimana terdapat silang pendapat panjang antara tokoh-tokoh Mu’tazilah tentang sifat Allah SWT al-’Alim. Namun perbedaan-perbedan itu semua bagi mereka masih dalam ruang lingkup masalah furu’. Perbedaan itu mungkin disebabkan oleh sikap mereka yang banyak lebih berpegang pada akal daripada naql atau nash, dan faktor pendorong mereka membahasa masalah-masalah tersebut adalah karena masalah-masalah tersebut tidak dibicarakan oleh nash al-Qur’an maupun Hadits, sedangkan masalah-masalah yang dibicarakan secara qath’i di dalam al-Qur’an dan Hadits tidak ada perbedaan diantara mereka, dari nash-nash qath’i itu mereka membuat dasar atau pokok (ushul) pemikiran yang mereka sepakati, sedang yang di luar ushul itu mereka berikan kebebasan bagi akal untuk membahasnya.&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang disepakati Mu’tazilah dalam ide-ide teologinya , namun semuanya akan bermuara pada 5 hal pokok yang disebut al-Ushul al-Khamsah, yaitu:&lt;br /&gt;1. Al-Tauhid (Tauhid)&lt;br /&gt;2. Al-’Adl (Keadilan)&lt;br /&gt;3. Al-Wa’d wa al-Wa’id (Janji dan Ancaman)&lt;br /&gt;4. Al-Manzilah baina al-Manzilatain (Tempat di Antara Dua Tempat)&lt;br /&gt;5. Al-Amru bi al-Ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al-Munkar (Menyuruh Kebaikan dan Melarang Keburukan)&lt;br /&gt;Lima hal pokok itu merupakan standar bagi kemu’tazilahan seseorang, dengan artian seseorang baru dikatakan Mu’tazilah jika dia menganut dan mengakui kelima hal tersebut, namun jika dia tidak mengakui salah satunya atau menambahkan padanya satu hal saja, maka orang ini tidak pantas menyandang nama Mu’tazilah .&lt;br /&gt;Terbentuknya al-Ushul al-Khamsah terjadi setelah melalui sebuah proses. Pada masa Washil baru terbentuk 4 dasar:&lt;br /&gt;1. Al-Tauhid wa al-Tanzih (Tauhid dan Pensucian)&lt;br /&gt;2. Manusia mampu berbuat dan menciptakan perbuatannya sendiri (al-Qadr)&lt;br /&gt;3. Al-Manzilah baina al-Manzilatain (Tempat di Antara Dua Tempat)&lt;br /&gt;4. Meyakini bahwa pasti ada salah satu pihak yang salah dalam pertikaian antara Utsman r.a dan lawan-lawannya, dan Ali r.a dan lawan-lawannya, namun tidak bisa dijelaskan pihak mana yang salah itu.&lt;br /&gt;Kemudian empat hal ini pada gilirannya berkembang sesuai dengan perkembangan pemikiran di kalangan Mu’tazilah, sehingga menjadi lima, sebagaimana di atas, ketika kepemimpinan Mu’tazilah beralih ke tangan Abu al-Hudzail al-’Allaf (w. 235 H) dan Ibrahim bin Sayyar al-Nazhzham (w. 231 H).&lt;br /&gt;Sebagian kalangan mengatakan al-Ushul al-Khamsah ini adalah rukun iman mereka, atau mereka mengatakan bahwa Mu’tazilah menambah atau merubah rukun iman dengan lima hal ini. Penulis menilai pandangan ini terlalu berlebihan, dan penulis lebih cenderung mengatakan lima hal ini adalah sebuah usaha Mu’tazilah untuk menjelaskan konsep ushul (hal prinsipil) dalam teologi Islam dalam pandangan mereka. Sehingga dengan mengetahui hal ushul ini dapat dilihat perbedaannya dengan hal furu’ (hal cabang/teknis), yang pada gilirannya memperjelas hal apa saja yang tidak boleh diperdebatkan dan yang boleh diperdebatkan. Barangkali sama halnya dengan konsep para ulama tentang hal-hal qath’i dalam Islam yang kemudian disebut dengan al-Ma’lum min al-Din bi al-Dharurah.&lt;br /&gt;3.1.1. Al-Tauhid (Tauhid/Keesaan)&lt;br /&gt;Mu’tazilah adalah kelompok yang banyak melakukan pembelaan terhadap penyelewengan yang terjadi terhadap Keesaan Allah SWT, seperti yang dilakukan oleh Syi’ah Rafidhah yang menggambarkan Tuhan dalam bentuk jism (tubuh) seperti halnya manusia, atau agama-agama lain di luar Islam yang tidak mengakui Keesaan Tuhan. Hal itu tidak lain mereka lakukan adalah untuk memantapkan Tauhid, bahwa Allah SWT Maha Esa, tidak ada yang bisa menandingi-Nya dan serupa dengan-Nya.&lt;br /&gt;Pembelaan mereka terhadap Keesaan Allah itu melahirkan pokok pikiran yang selanjutnya dikenal juga dengan konsep al-Tanzih (pensucian) . Sehingga bisa dikatakan inti konsep Tauhid mereka adalah Tanzih.&lt;br /&gt;Imam al-Asy’ari dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin menggambarkan konsep Tauhid yang diberikan oleh aliran Mu’tazilah sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Allah, Yang Maha Esa (wahid ahad), tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya (laysa kamitslihi syai’), bukan jism (bentuk tubuh/benda), syabah, shurah (bentuk gambaran), daging atau darah, bukan syakhsh (pribadi), jauhar, atau ‘aradh. Tidak berwarna (dzi laun), berasa (tha’m), berbau (ra’ihah) dan tidak bisa diraba (mujassah), tidak memiliki sifat panas (dzi hararah), dingin (burudah), lembab (ruthubah) atau kering (yabusah). Bukan sesuatu yang memiliki ukuran panjang, lebar, dan dalam (‘umq). Bukan juga sesuatu yang bisa berkumpul (ijtima’) dan tercerai berai (iftiraq). Bukan sesuatu yang bergerak (yataharrak), diam (yaskun) atau terbagi-bagi (yataba’adh). Bukan sesuatu yang memiliki bagian-bagian (ab’adh wa ajza’) atau anggota tubuh (jawarih wa a’dha’). Bukan yang memiliki batasan (dzi jihat) kanan, kiri, depan, belakang, atas maupun belakang. Tidak dibatasi oleh tempat. Tidak berlaku bagi-Nya zaman. Mustahil bagi-Nya mumasah (sifat bersentuhan), ‘uzlah (sifat mengasingkan diri), hulul (sifat menjelma/menyatu) pada sesuatu. Tidak memiliki sifat-sifat makhluk. Tidak berakhir (mutanahin). Tidak bisa diukur, tidak juga berpindah-pindah (dzahab fi jihat), tidak bisa dibatasi. Tidak beranak (ayah/ibu), dan tidak dilahirkan (anak). Tidak dibatasi oleh takdir/kekuasaan apapun (la yuhithu bihi al-aqdar), tidak juga bisa dihalangi oleh astar/sitrah (pembatas apapun). Tidak bisa dicapai indera (hawas), tidak bisa dibandingkan sedikitpun dengan manusia, tidak sama dengan makhluk dari sisi apapun., tidak berlaku bagi-Nya waktu, tidak bisa ditimpa gangguan/musibah (‘ahat), tidak sama dengan sesuatu apapun yang terlintas dipikiran dan hayalan (mustahil dipikir dan diterka), Dia Maha Awal (awwal) dan Terdahulu (sabiq), sudah ada sebelum semua yang baru (muhdatsat) dan semua makhluk ada, Dia Tahu, Berkuasa dan Hidup, akan tetapi tidak seperti orang yang tahu, orang yang berkuasa dan orang yang hidup. Tidak bisa dilihat mata, tidak pernah bisa terlintas dipikiran manapun (tidak bisa dijangakau indera). Sesuatu yang tidak seperti segala sesuatu. Dia sendiri yang Qadim (Terdahulu), tidak ada yang Qadim selain-Nya, tidak ada Tuhan (Ilah) selain-Nya, tidak ada sekutu (syarik) dan pembantu (wazir) dalam kekuasaan-Nya. Tidak ada yang membantu-Nya ketika Dia menjadikan dan menciptakan sesuatupun, tidak menciptakan sesuatu dengan cara mencontoh yang sudah pernah ada (lam yakhluq al-khalq ‘ala mitsal sabiq), tidak ada yang sulit bagi-Nya dalam meenciptakan sesuatu (laysa khalqu syai’in bi ahwan ‘alaihi min khalqi syai’in akhar, wa la bi ash’ab ‘alaihi minhu), mustahil bagi-Nya merasakan manfaat (ijtirar al-manafi’), mustahil bagi-Nya terkena mudharat. Tidak merasakan rasa senang dan kenikmatan (la yanaluhu al-surur wa al-ladzdzat). Tidak bisa terkena rasa sakit dan penyakit apapun. Dia tidak memiliki batas sehingga mengharuskan-Nya berakhir, mustahil bagi-Nya sifat fana. Tidak memiliki sedikitpun sifat lemah (‘ajz) dan kurang (naqsh), Maha Suci dari sentuhan wanita, beristri dan beranak.&lt;br /&gt;Dari kutipan tersebut di atas, A. Hanafi M.A berkesimpulan:&lt;br /&gt;1. Aliran Mu’tazilah mengenal pikiran-pikiran filsafat yang ada pada masanya, serta memakai beberapa istilahnya, seperti Syakhsh, Jauhar, ‘Aradh, Hulul, Qadim dan sebagainya.&lt;br /&gt;2. Dengan perkataan “Laysa Kamitslihi Syai’ (Tidak ada yang menyamai-Nya)” mereka menolak pikiran-pikiran golongan Mujassimah (Anthromorpis) dan membuka luas pintu takwil terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang menyifati Tuhan dengan sifat-sifat manusia dengan takwil majazi.&lt;br /&gt;3. Dengan Tauhid yang mutlak, aliran Mu’tazilah menolak konsepsi agama dualisme dan trinitas tentang Tuhan.&lt;br /&gt;4. Dengan perkataan “Tidak beranak (ayah/ibu), dan tidak dilahirkan (anak)”, mereka menolak kepercayaan orang Nasrani, bahwa al-Masih anak Tuhan yang dilahirkan dari Tuhan Bapa sebelum masa dan jauharnya juga sama.&lt;br /&gt;5. Dengan perkataan “Tidak ada yang membantu-Nya ketika Dia menjadikan dan menciptakan sesuatupun, tidak menciptakan sesuatu dengan cara mencontoh yang sudah pernah ada (lam yakhluq al-khalq ‘ala mitsal sabiq)”, mereka menolak teori Idea (contoh) dari Plato dan Demiurge, juga teori Emanasi (limpahan) atau Triads yang dianggap menguasai alam semesta ini oleh aliran Neo-Platonisme, yaitu Tuhan (Yang Pertama), Logos, dan Jiwa Dunia (Worldsouls) .&lt;br /&gt;Disamping kesimpulan tersebut, penulis juga ingin menegaskan sebuah kesimpulah bahwa pada intinya Mu’tazilah ingin mengatakan bahwa Allah SWT itu Qadim dan yang selain-Nya hadits (baru), Dia Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Sempurna yang tidak ada tandingan-Nya serta tidak pantas disamakan dengan sesuatu apapun, itu saja – bagi mereka – cukup untuk menerangkan tentang Allah itu. Sehingga dengan inti ajaran Tauhid seperti ini dan dibarengi dengan kemampuan logika mereka , melahirkan ide-ide berikut :&lt;br /&gt;1. Tidak mengakui sifat-sifat Allah SWT.&lt;br /&gt;Mu’tazilah mengakui bahwa Allah SWT memiliki sifat seperti al-’Alim, al-Qadim, al-Qahir, al-Qadir, al-Qawi, al-’Adl, al-Murid dan sebagainya yang terkandung dalam al-asma’ al-husna, karena al-Qur’an mengakui hal tersebut. Selanjutnya mereka membagi sifat-sifat itu ke dalam dua kategori: Pertama, sifat yang berkenaan dengan esensi Tuhan, disebut Shifah dzatiyah, dan Kedua, sifat yang berkenaan dengan tindakan Allah dan berkaitan dengan makhluk, dikategorikan Shifat fi’liyah. Hanya saja Mu’tazilah tidak mengakui eksistensi sifat-sifat tersebut sebagai suatu tambahan terhadap Dzat Allah (za’idah ‘ala al-dzat) atau berada di luar Dzat (wara’ al-dzat) sebagaimana pandangan Asya’irah. Mereka berpendapat bahwa sifat-sifat itu adalah Dzat itu sendiri (‘ain al-dzat) . Karena jika sifat itu za’idah ‘ala al-dzat, berarti dia berada diluar Dzat, dan akan menyebabkan banyaknya jumlah yang Qadim (ta’addud al-qudama’), yaitu: Dzat Allah, Ilmu Allah, Kekuasaan Allah, Kehidupan Allah, Kehendak Allah dan seterusnya. Hal ini bertentangan dengan Tauhid, karena seharusnya yang Qadim itu hanya Dzat Allah. Oleh sebab itulah sebagian besar mereka mengatakan:&lt;br /&gt;الله عالم بذاته لا بعلمه, و قادر بذاته لا بقدرته و مريد بذاته لا بارادته&lt;br /&gt;“Allah Mengetahui dengan Dzat-Nya, bukan dengan Ilmu-Nya, Berkuasa dengan Dzat-Nya bukan dengan Kuasa-Nya, dan Berkehendak dengan Dzat-Nya bukan dengan Kehendak-Nya”.&lt;br /&gt;Berbeda dengan jumhur Mu’tazilah, al-’Allaf berpendapat agak berbeda, dia mengatakan: “Allah Mengetahui dengan Ilmu, Ilmu itu adalah Dzat-Nya, Allah Berkuasa dengan Kuasa, Kuasa itu adalah Dzat-Nya, dan Berkehendak dengan Kehendak (iradah), Kehendak itu adalah Dzat-Nya”. Pendapat ini tidak berbeda dengan jumhur Mu’tazilah dari sisi bahwa sifat-sifat itu pada dasarnya adalah ‘ain dzat, namun pendapat ini dikritik, karena memiliki arti, bahwa Ilmu Allah adalah Allah, sementara menurut logika “orang yang mengetahui” bukanlah “ilmu/pengetahuan” itu sendiri.&lt;br /&gt;Itu diantara sedikit perbedaan dikalangan Mu’tazilah tentang sifat Allah, namun pada intinya mereka semua bersepakat menolak pendapat Asya’irah yang mengatakan bahwa Sifat Allah itu suatu tambahan terhadap Dzat (za’idah ‘ala al-dzat). Dari sisi ini Zuhdi Jarullah, mengutip al-Ghazali dari bukunya al-Iqtishad fi al-I’tiqad, mengatakan Mu’tazilah berada pada posisi yang tepat, dan Asya’irah juga benar sampai batasan pendapat mereka bahwa Sifat Allah Qadim dan menyatu dengan Dzat (qa’imah bi al-dzat), namun ketika mereka menjelaskan konsep ini dengan bahwa Sifat-Sifat itu bukan ‘ain dzat (Dzat itu sendiri) melainkan za’idah ‘ala dzat, mereka telah melakukan sebuah kekeliruan.&lt;br /&gt;2. Mengatakan al-Qur’an makhluk.&lt;br /&gt;Di atas dijelaskan bahwa Mu’tazilah tidak mengingkari Sifat yang Qadim jika yang dimaksudkan adalah ‘ain dzat, yang mereka ingkari adalah bahwa jika Sifat itu membawa kepada banyaknya yang Qadim, yaitu jika Sifat itu za’idah ‘ala dzat (tambahan terhadap Dzat) atau wara’ dzat (dibelakang/luar Dzat).&lt;br /&gt;Tapi ketika berbicara tentang Kalam (Firman Allah), mereka seolah-olah tidak lagi berpegang pada kesimpulan di atas. Mereka mengatakan bahwa Kalam tidak mungkin disamakan dengan sifat Ilmu dan Qudrah (Kuasa), sebab hakikat Kalam menurut Mu’tazilah adalah huruf-huruf yang teratur dan bunyi-bunyi yang jelas dan pasti, baik nyata maupun ghaib . Kalam bukanlah sesuatu yang memiliki hakikat logis, namun dia hanyalah sebuah istilah, yang tidak mungkin ada/terwujud kecuali melalui lidah. Dan Allah SWT sebagai Mutakallim (Yang Berfirman) menciptakan Kalam itu. Hakikat-hakikat yang mereka simpulkan inilah yang menyebabkan mereka mengatakan bahwa kalam itu adalah sesuatu yang bersifat baru (hadits), tidak bersifat qadim, sehingga pada gilirannya al-Qur’an sebagai Kalamullah adalah sesuatu yang hadits, dan sesuatu yang hadits itu adalah makhluk.&lt;br /&gt;Namun timbul banyak kerancuan dan kekacauan ketika mereka mencoba menjawab “bagaimana Allah menciptakan Kalam itu?”. Inti kekacauan itu dapat dilihat ketika mereka berhadapan dengan firman Allah QS Al-Nisa’ ayat 164:&lt;br /&gt;“dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”&lt;br /&gt;Mu’tazilah mencoba mentakwil ayat ini dengan mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan Kalam pada sebatang pohon yang kemudian kalam itu keluar dari pohon tersebut, lalu Musa as. mendengarnya, atau dengan bahasa lain Allah menciptakan kemampuan bagi pohon untuk mengeluarkan kalam yang akan disampaikan-Nya kepada Musa, lalu Musa as. mendengar Kalamullah melalui perantaraan pohon itu.&lt;br /&gt;Jadi Mu’tazilah mengatakan al-Qur’an makhluk adalah sebagai hasil nalar mereka bahwa perkataan (kalam) bukanlah salah satu sifat Allah yang Qadim seperti ilmu dan sebagainya, tapi kalam itu berupa kumpulan huruf yang teratur dan suara yang jelas, baik nyata atau ghaib.&lt;br /&gt;3. Mengingkai bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan mata telanjang.&lt;br /&gt;Mu’tazilah memandang bahwa pendapat yang mengatakan Allah dapat dilihat dengan mata telanjang di akhirat (baca: di sorga), membawa pada ide yang sangat bertentangan dengan Tauhid yaitu tasybih, menyamakan Allah SWT dengan makhluk. Karena menurut mereka, ru’yah (pandangan) adalah kontak sinar (ittishal syu’a&#39;) antara “yang melihat” dengan “yang dilihat”, dan mereka memberikan satu syarat agar ru’yah itu bisa terjadi yaitu binyah (tempat/media), dan ru’yah tersebut mesti berhubungan dengan benda nyata (maujud), dan Allah SWT bukanlah yang demikian, oleh karena itulah mereka mengatakan hal itu mustahil terjadi pada Allah SWT.&lt;br /&gt;Dengan pendapat yang demikian, mereka melakukan takwilan terhadap ayat yang menggambarkan kemungkinan terjadinya ru’yah tersebut, seperti ayat:&lt;br /&gt;“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. al-Qiyamah: 22-23)&lt;br /&gt;Mereka mengatakan bahwa kata (ناظرة) di sana tidak berarti melihat (رؤية) malainkan menunggu (انتظر) dan kata (إلى) bukanlah huruf jar melainkan musytaq (pecahan kata) dari kata (الآلاء) yang berarti nikmat, sehingga maksud ayat adalah: “Wajah-wajah itu menanti nikmat dari Tuhannya”.&lt;br /&gt;Mereka juga mentakwil ayat:&lt;br /&gt;“Allah cahaya langit dan bumi” (QS. Al-Nur: 35)&lt;br /&gt;Dengan mengatakan bahwa bukan berarti Allah itu adalah cahaya yang bisa dilihat, melainkan Allah memberikan cahaya kepada langit dan bumi.&lt;br /&gt;Sedangkan terhadap hadits yang menyatakan orang mukmin di sorga bisa melihat Allah bahkan kondisinya sama dengan kondisi ketika kita melihat bulan purnama, hadits ini tidak diterima oleh Mu’tazilah dan mengatakan terdapat cacat pada Sanad-nya.&lt;br /&gt;4. Mengingkari jihah (arah) bagi Allah.&lt;br /&gt;Ini sejalan dengan penjelasan mereka tentang kesempurnaan Allah SWT, yaitu: “Bukan yang memiliki batasan (dzi jihat) kanan, kiri, depan, belakang, atas maupun belakang dan tidak dibatasi oleh tempat”. Karena dengan menetapkan atau membatasi jihah bagi-Nya berarti menetapkan atau membatasi Allah pada suatu tempat dan tubuh (jism).&lt;br /&gt;Ide seperti ini membawa mereka kepada pentakwilan kata-kata di dalam al-Qur’an yang menunjukkan tempat Allah SWT, seperti mentakwil kursi dengan ilmu-Nya, dan mentakwil istiwa’ (semayam) dengan berkuasa penuh (istila’) dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;5. Mentakwilkan ayat-ayat yang memberikan kesan adanya persamaan Tuhan dengan manusia.&lt;br /&gt;Demikian juga halnya dengan semua ayat yang mengesankan bahwa Allah juga memiliki anggota tubuh seperti anggota tubuh manusia. Mereka mentakwil Wajah Allah dengan Dzat Allah itu sendiri, Tangan Allah dengan Kekuasaan, Kekuatan dan Nikmat Allah dan lain sebagainya. Tujuannya tetap satu, yaitu Tanzih.&lt;br /&gt;3.1.2. Al-’Adl (Keadilan)&lt;br /&gt;Secara etimologi, al-’adl (العدل) merupakan bentuk mashdar dari ‘adala (عدل) – ya’dilu (يعدل) yang berarti berbuat adil, bisa digunakan dengan makna perbuatan (baca: berbuat adil), bisa juga digunakan dengan makna pelaku (baca: orang yang adil).&lt;br /&gt;Sedangkan dari sisi terminologi, jika Mu’tazilah mengatakan bahwa Allah SWT adil (innahu Ta’ala ‘adl) maka maksudnya adalah bahwa seluruh perbuatan-Nya baik (hasan), Dia tidak melakukan suatu yang buruk (qabih), dan Dia tidak pernah melalaikan kewajiban-Nya .&lt;br /&gt;Konsep keadilan Tuhan versi Mu’tazilah masih berkaitan erat dengan konsep Tanzih mereka, yaitu bahwa sangat tidak sesuai sekali dengan konsep Tanzih jika Allah SWT menghukum manusia atas dosa yang tidak pernah diinginkannya, karena yang seperti adalah zalim, dan zalim merupakan sifat makhluk, bukan sifat Khaliq (Tuhan), dimana Tuhan itu tidak sama dengan makhluk ciptaan-Nya. Konsep keadilan Tuhan ini juga berlandaskan pada konsep mereka tentang prinsip kebebasan (hurriyah), usaha (ikhtiyar), dan pengingkaran mereka terhadap prinsip paksaan (jabr), dengan arti kata semua ini berlandarkan pada konsep teologis tentang Qadar.&lt;br /&gt;Abu Zahrah mengutip al-Mas’udi yang menjelaskan tentang konsep keadilan ini menurut versi Mu’tazilah :&lt;br /&gt;“Keadilan Tuhan maksudnya adalah bahwa Allah SWT tidak menyukai kerusakan, tidak menciptakan perbuatan manusia (af’al al-’ibad), melainkan mereka bebas memilih untuk melaksanakan perintah-Nya atau melanggarnya dengan qudrah (kemampuan/potensi) yang telah diberikan Allah kepada mereka. Allah SWT hanya memerintahkan sesuatu yang Dia ingini (sukai), dan hanya melarang sesuatu yang Dia benci. Dia menguasai atas setiap kebaikan yang diperintahkan-Nya (wala kulla hasanah amara biha), dan Dia terbebas dari semua keburukan yang dilarang-Nya (bari’ min sayyi’ah naha ‘anha) . Dia tidak membebani mereka (manusia) dengan sesuatu yang tidak sanggup mereka pikul, dan tidak menginginkan bagi mereka sesuatu yang tidak sanggup mereka lakukan. Dan siapapun tidak akan mampu menahan dan melepas (melakukan) sesuatu kecuali dengan kemampuan (qudrah) yang diberikan Allah padanya, Dia pemilik qudrah tersebut, bukan mereka, Dia bisa menghilangkannya jika Dia berkehendak. Jika Dia berkehendak maka Dia akan memaksa seluruh makhluk untuk taat pada-Nya, dan memaksa mereka untuk tidak berbuat maksiat pada-Nya, akan tetapi Dia tidak melakukan hal itu, karena itu akan menghilangkan makna mihnah (ujian) dan balwa (musibah).”&lt;br /&gt;Kelanjutan dari prinsip-prinsip di atas melahirkan beberapa ide-ide khas Mu’tazilah :&lt;br /&gt;1. Allah menciptakan makhluk atas dasar tujuan dan hikmat kebijksanaan, ini selanjutnya merupakan salah satu inti sari dari pendapat Mu’tazilah bahwa semua perbuatan Allah ada sebab dan tujuannya (af’alullah mu’allalah).&lt;br /&gt;2. Allah tidak menghendaki keburukan dan tidak pula memerintahkannya, ini merupakan salah satu isi konsep al-Shalih wa al-Ashlah (yang baik dan yang terbaik) dalam teologis Mu’tazilah.&lt;br /&gt;3. Manusia mempunyai kemampuan (qudrah) untuk mewujudkan/menciptakan perbuatannya, sebab dengan cara demikian, dapat dipahami adanya perintah-perintah Allah, janji dan ancaman-Nya, dosa dan pahala, sorga dan neraka, ujian dan musibah yang diberikan-Nya, pengutusan Rasul-Rasul, dan tidak ada kezaliman pada Allah. Ini adalah konsep yang mereka sepakati dalam masalah Qadha (ketetapan) dan Qadar (takdir) Allah, serta kaitannya dengan masalah perbuatan manusia yang sebelumnya telah diperdebatkan Qadariyah dan Jabariyah, oleh sebab konsep ini pula mereka terkadang disebut Qadariyah.&lt;br /&gt;4. Allah harus (mesti) mengerjakan yang baik dan yang terbaik. Karena itu, menjadi kewajiban Allah untuk menciptakan manusia, memerintahkan manusia dan membangkitkannya kembali, ini juga bagian dari konsep al-Shalih wa al-Ashlah, dan juga berkaitan dengan konsep Luthf (rahmat Allah), dimana Allah menciptakan Luthf sebagai potensi bagi manusia untuk mengikuti rahmat dan hidayah Allah, tetapi meskipun demikian manusia tetap saja pilihan-pilihan manusia yang tampak dalam tindakan dan perbuatannya adalah ciptaan manusia bukan ciptaan Allah .&lt;br /&gt;5. Sebagai salah satu bukti keadilan Allah dan kebebasan manusia dalam mewujudkan perbuatannya, Allah SWT menciptakan akal bagi manusia, yang bisa membedakan baik dan buruk. Dari sisi ini kemudian lahirlah konsep Mu’tazilah yang berkaitan dengan posisi dan fungsi akal bagi manusia, yaitu bahwa manusia yang berakal dengan akalnya mampu membedakan antara sesuatu yang baik dan yang buruk, sebelum datangnya Syari’at, bahkan lebih dari itu mampu untuk mengenal Allah SWT (ma’rifatullah), jika dia tidak menggunakan akalnya untuk mengenal Allah maka dia berhak dihukum selama-lamanya . Imam al-Ghazali di dalam bukunya al-Mustashfa, sebagaimana dikutip oleh Zuhdi Jarullah, menjelaskan bahwa Mu’tazilah membagi perbuatan kepada dua jenis: baik dan buruk, dan mereka berpandangan bahwa manusia mampu membedakan perbuatan baik dan buruk dengan akalnya, sebelum datangnya Syari’at (wahyu). Hal itu boleh jadi melalui hukum dharurah al-’aql (yang pasti langsung diterima akal tanpa perenungan), seperti baiknya tindakan menyelamatkan orang yang tenggelam, baiknya kejujuran, buruknya berdusta, atau boleh jadi juga melalui hukum nazhar al-’aql (yang bisa diterima akal setelah melalui perenungan), seperti mengetahi baiknya kejujuran meskipun mengandung bahaya dan mengetahui buruknya berdusta meskipun mengandung manfaat. Baik-buruknya semua perbuatan itu dapat diketahui akal kecuali perbuatan-perbuatan Ibadah, karena yang seperti ini media untuk mengetahuinya adalah pendengaran bukan akal.&lt;br /&gt;Dari penjelasan tersebut tidak dikatakan bahwa Mu’tazilah lebih mendahulukan wahyu dari akal, yang ada justru akal “bisa/mampu” mengetahui baik dan buruk meskipun wahyu tidak diturunkan, dan ini khusus bagi perbuatan-perbuatan non-Ibadah, sedangkan perbuatan ibadah harus melalui pendengaran (perantaraan rasul dan wahyu). Dan kata “bisa” atau “mampu” bukan berarti Mu’tazilah mengingkari keterbatasan akal dan meninggalkan wahyu. Dr. Yahya Jaya membantah hal itu dalam bukunya Teologi Agama Islam Klasik dengan menyatakan bahwa sifat kerasionalan Mu’tazilah tetap terikat kepada al-Qur’an dan Hadits Mutawatir (nash qath’i), dan jika tidak ada al-Qur’an atau Hadits yang mengikat (qath’i), baru mereka bebas brfikir dalam masalah agama. Dengan kata lain mereka juga memerlukan wahyu, karena akal manusia terbatas untuk mengetahui mana yang sebenarnya baik dan buruk serta bagaimana caranya beribadat kepada Allah. Antara akal dan wahyu terdapat penyesuaian dan apa yang dibawa wahyu pasti benar sesuai pemikiran rasional. Fungsi wahyu adalah untuk memperkuat yang telah diketahui akal.&lt;br /&gt;Sejalan dengan itu maka yang terjadi sebenarnya adalah Mu’tazilah bukannya mendahulukan akal dari wahyu melainkan memberikan porsi yang lebih banyak kepada akal dalam memahami teks-teks wahyu dan masalah-masalah agama.&lt;br /&gt;3.1.3. Al-Wa’d wa al-Wa’id (Janji dan Ancaman)&lt;br /&gt;Mu’tazilah meyakini bahwa janji dan ancaman Allah benar-benar ada dan terjadi, maka janji-Nya akan memberikan pahala dan ganjaran baik kepada orang yang berbuat baik pasti terjadi, demikian juga ancaman-Nya dalam bentuk hukuman dan siksaan bagi orang yang melakukan kesalahan dan keburukan juga pasti terjadi. Sehingga tidak ada pengampunan bagi seorang pelaku dosa besar kecuali taubat, sebagaimana tidak ada halangan bagi siapapun yang melakukan kebaikan untuk mendapatkan ganjaran baik.&lt;br /&gt;Ini pada hakikatnya adalah bantahan terhadap pandangan Murji’ah dalam masalah perbuatan manusia (khususnya dosa besar) bahwa kemaksiatan tidak berpengaruh sedikitpun kepada keimanan, sebagaimana ketaatan tidak berpengaruh pada kekufuran seseorang. Dalam pandangan Mu’tazilah pendapat Murji’ah ini telah menganggap ancaman Allah sebagai sebuah permainan belaka, tidak serius.&lt;br /&gt;3.1.4. Al-Manzilah baina al-Manzilatain (Tempat di Antara Dua Tempat)&lt;br /&gt;Seperti yang telah terdahulu, asas ini merupakan ide Washil bin ‘Atha’ ketika menanggapi masalah pelaku dosa besar, dengan menyatakan bahwa pelaku dosa besar tidak mukmin dan tidak juga kafir melainkan fasik. Konsep iman, kafir dan fasik Washil ini dijelaskan oleh Abu Zahrah melalui kutipan dari al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal bahwa Iman menurut Washil adalah sekumpulan kebaikan, jika seseorang melakukannya maka dia berhak disebut Mukmin, dan ini adalah sebuah pujian. Sedangkan pada diri orang fasik sekumpulan kebaikan itu tidak sempurna, sehingga dia tidak berhak mendapat pujian, sehingga tidak disebut Mukmin, akan tetapi dia tidak juga Kafir, karena syahadah dan serangkaian kebaikan-kebaikan masih ada pada dirinya, dan itu tidak bisa diingkari. Namun jika dia meninggal dalam kondisi belum bertaubat atas dosa besar yang dilakukannya, maka dia kekal di neraka, sebab di akhirat hanya ada dua golongan: golongan yang masuk sorga, dan golongan yang masuk neraka, hanya saja si pelaku dosa besar tadi mendapat keringanan azab di neraka (berada di neraka yang paling ringan azabnya). Dan Mu’tazilah memandang orang fasik pelaku dosa besar semasa hidupnya tetap bisa disebut Muslim, tanpa bermaksud untuk memuliakan dan memujinya, karena mereka masih dianggap Ahlul Qiblah, dan masih bberpeluang bertaubat, paling kurang untuk membedakannya dengan orang Dzimmi.&lt;br /&gt;Ali Mushtafa al-Gharabi memparkan bahwa iman dalam pandangan Mu’tazilah memiliki tiga rukun: qaul, ma’rifah, dan ‘amal. Qaul (ucapan) harus benar-benar bisa menjelaskan apa yang ada di hati, dan tidak mungkin bisa membedakan antara mukmin dan yang tidak mukmin kecuali dengan ucapan lisan. Dan Ma’rifah (pengetahuan) mereka anggap sebagai bagian dari iman, sehingga mereka menolak taklid dalam beriman, hal ini menyebabkan mereka sangat memperhatikan bahasan-bahasan logika. Sedangkan ‘Amal (amal perbuatan) juga menjadi rukun penting bagi keimanan dalam konsep Mu’tazilah, hanya saja meninggalkan amal tidak menjadikan seseorang kafir secara mutlak, melainkan akan menjadikannya fasik, karena pada dirinya terdapat dua bagian iman lainnya, yaitu qaul dan ma’rifah. Inilah sebenarnya dasar pendapat mereka tentang al-Manzilah baina al-Manzilatain.&lt;br /&gt;Jadi bagi Mu’tazilah patokan iman seseorang adalah tiga hal di atas (qaul, ma’rifah, dan ‘amal), jika ketiga hal itu tidak ada pada diri seseorang baru bisa dikatakan seseorang itu kafir, sedangkan jika pada diri seseorang hanya terdapat sebagiannya saja, maka dia disebut fasik, tidak kafir.&lt;br /&gt;3.1.5. Al-Amru bil Ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al-Munkar (Menyuruh Kepada Kebaikan dan Melarang Keburukan)&lt;br /&gt;Prinsip ini merupakan prinsip yang diakui dan menjadi kewajiban seluruh umat Islam, karena perintahnya jelas di dalam al-Qur’an dan Hadits. Dan yang ingin diwujudkan dengan adanya prinsip ini adalah untuk mewujudkan secara praktis prinsip-prinsip keadilan dan kebebasan dalam tingkah laku sosial.&lt;br /&gt;Ajaran dasar tentang amar ma’ruf nahi munkar sebenarnya sangat erat kaitannya dengan usaha pembinaan akhlak, karena hal itu berarti mendidik orang untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat. Ajaran ini dapat pula menjadi bukti bahwa Mu’tazilah amat menekankan pentingnya pendidikan akhlak, sebagai bukti konsep Iman dalam pandangan Mu’tazilah tidak cukup hanya dengan tashdiq (pembenaran) di hati, melainkan harus diikuti dengan amalan, dan iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan melakukan maksiat.&lt;br /&gt;Bagi Mu’tazilah, prinsip ini harus dilaksanakan oleh semua orang mukmin dengan seluruh daya upaya, baik berupa lisan, tangan maupun dengan pedang sekalipun, sebagaimana yang telah diajarkan Nabi SAW dalam sabdanya. Dan prinsip ini jugalah yang menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya Mihnah di zaman Abbasiyah.&lt;br /&gt;3.2. Mihnah&lt;br /&gt;Mihnah dari sisi kebahasaan berakar dari kata mahana (محن), yamhanu (يمحن), mahnan (محنا), yang berarti mencoba dan menguji, sedangkan mihnah sendiri juga bisa berarti cobaan atau bencana. Jadi bisa saja dibaca mahnah atau mihnah, karena makna dasarnya sama, hanya saja yang kedua lebih sering dikonotasikan dengan musibah dan bencana.&lt;br /&gt;Adapun mihnah yang dimaksudkan di sini adalah ujian keimanan yang dilakukan Mu’tazilah terhadap masyarakat, khususnya para ulama dan cendikiawan, dengan memanfaatkan pengaruh mereka pada diri tiga orang khalifah Abbasiyah: al-Makmun, al-Mu’tashim dan al-Watsiq.&lt;br /&gt;Mihnah ini terjadi sekitar tahun 198 H-232 H, dimana Mu’tazilah mendapatkan posisi penting di hati khalifah. Dengan berlandaskan prinsip amar ma’ruf nahi munkar mereka mencoba memaksakan ide-ide teologis mereka kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Adalah Ahmad bin Abu Du’ad yang menjadi tokoh sentral peristiwa minhah ini. Beliau memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Khalifah al-Makmun. Dengan kedekatan hubugnan itu, dia berusaha mempengaruhi Khalifah terutama soal ide “al-Qur’an Makhluk” dan menelurkan ide untuk melaksanakan ujian (mihnah).&lt;br /&gt;Usahanya itu berhasil, dan pada tahun 212 H mulailah al-Makmun menganut paham “al-Qur’an Makhluk’-nya Mu’tazilah. dan baru pada tahun 218, ketika mengunjungi Damaskus, dia melakukan mihnah terhadap penduduk Damaskus seputar masalah al-Adl (Keadilan) dan Tauhid, dua prinsip pokok Mu’tazilah. Setelah itu baru dilaksanakan ujian tentang permasalahan al-Qur’an terhadap seluruh Qadhi, para saksi, dan Ulama Hadits di Baghdad dengan mengirimkan surat perintah kepada Kepala Syurthah, Ishaq bin Ibrahim, untuk melakukannya.&lt;br /&gt;Lalu mulailah mihnah itu dilaksanakan oleh Ishaq terhadap para Ulama, dan termasuklah di dalamnya Imam Ahmad bin Hanbal. Semua mereka mengatakan al-Qur’an Kalamullah, tapi mereka tidak mau mengatakan al-Qur’an Makhluk, karena demikianlah pandangan Salaf, yaitu tawaqquf (berhenti membahas) hakikat kalamullah itu.&lt;br /&gt;Jawaban tiap orang itu dikirim ke al-Makmun, dan al-Makmun menjawab dengan mengatakan bahwa mengatakan al-Qur’an qadim adalah bentuk kekufuran yang nyata dan syirik, sehingga dia memerintahkan mereka semua untuk bertaubat, siapa yang bertaubat, maka akan diangkat namanya dan diberikan keamanan, namun siapa yang tidak mau bertaubat maka akan ditahan dan dikirim menghadap Khalifah agar beliau langsung yang menanyai mereka, jika masih tetap dengan pendiriannya maka dilakukanlah eksekusi mati. Pada titik ini, penulis melihat Mu’tazilah bukan hanya menghukum mereka yang mengatakan “al-Qur’an bukan makhluk”, tapi juga menyiksa mereka yang sekedar tidak sepakat dan berhenti pada pernyataan “al-Qur’an Kalamullah”, artinya Mu’tazilah mulai menghitamputihkan manusia ketika itu, siapa yang setuju selamat, yang tidak setuju -termasuk juga mereka yang diam- disiksa dan dieksekusi.&lt;br /&gt;Demikianlah mihnah itu terjadi sampai masa al-Watsiq, namun eksekusi tidaklah secepat yang dibayangkan. Selama para ulama itu tidak mengungkapkan secara pasti jawabannya, apakah al-Qur’an makhluk atau tidak, yang terjadi adalah penyiksaan-penyiksaan sampai mereka memilih salah satu jawaban secara jelas. Ketika jawaban itu jelas “bukan makhluk” barulah eksekusi dilaksanakan. Oleh karena itulah banyak juga dikalangan ulama itu yang wafat karena beratnya siksaan.&lt;br /&gt;Mihnah berakhir seiring naiknya al-Mutawakil sebagai Khalifah tahun 232 H, yang juga sebagai titik balik kemunduran pengaruh Mu’tazilah, khususnya di kalangan pejabat pemerintahan.&lt;br /&gt;Dari sisi inilah penulis di awal mengatakan bahwa mihnah merupakan efek historis terbesar dari pengaruh paham Mu’tazilah, atau yang disebut juga dengan al-fitnah al-kubra, dan itu terjadi ketika mereka memaksakan pemahaman mereka secara ekstrim kepada orang lain. Dan memang ektrimitas dimanapun dan kapanpun tetap ada dan hampir bisa dipastikan akan membawa pada fitnah, oleh karena itulah Islam sangat menentang segala bentuk ekstrimisme, dan mengarahkan umatnya kepada jalan washathiyah (moderat, objektif, dan berakhlak).&lt;br /&gt;“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS. Al-Baqarah: 143)&lt;br /&gt;IV. Kesimpulan&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan akhir dari pembahasan ini:&lt;br /&gt;1. Mu’tazilah adalah: aliran yang secara garis besar sepakat dan mengikuti cara pandang Washil bin ‘Atha’ dan ‘ Amru bin Ubaid dalam masalah-masalah teologi, atau aliran teologi yang akar pemikirannya berkaitan dengan pemikiran Washil bin ‘Atha’ dan ‘ Amru bin Ubaid.&lt;br /&gt;2. Mu’tazilah merupakan aliran teologis dalam Islam yang bercorak rasional, dan berpandangan bahwa nash (wahyu) sejalan dengan rasio akal manusia. Namun dalam perjalanan sejarahnya, mereka banyak terpengaruh dengan metode-metode filsafat asing, sehingga hampir saja membawa mereka kepada sikap “ekstrim” dalam menggunakan logika. Sikap “nyaris ekstrim” ini yang berpengaruh dan tampak dalam ide-ide teologis mereka, dan sampai pada titik klimaksnya menimbulkan fitnah besar di dalam perjalanan sejarah umat Islam, yang diistilahkan Mihnah.&lt;br /&gt;3. Mu’tazilah muncul dengan latar belakang kasus hukum pelaku dosa besar yang telah mulai diperdebatkan oleh Khawarij dan Murji’ah. Mereka tidak mengatakan pelaku dosa besar itu kafir dan tidak juga mukmin, melainkan fasik. Dan jika dia meninggal dalam kondisi belum bertaubat maka dia berada di sebuah tempat antara posisi orang mukmin dan orang kafir, yang diistilahkan dengan al-manzilah baina al-manzilatain. Pada sisi lain dalam perkembangannya mereka juga masuk ke ladang kasus yang diperdebatkan Qadariyah dan Jabariyah tentang hakikat perbuatan manusia dan kaitannya dengan takdir Tuhan.&lt;br /&gt;4. Penghargaan yang tinggi terhadap akal dan logika menyebabkan timbul banyak perbedaan pendapat di kalangan Mu’tazilah sendiri, namun ide-ide teologis mereka disatukan dalam beberapa hal pokok, yang dikenal dengan al-Ushul al-Khamsah:&lt;br /&gt;4.1. Tauhid (Keesaan)&lt;br /&gt;4.2. Al-’Adl (Keadilan)&lt;br /&gt;4.3. Al-Wa’du wa al-Wa’id (Janji dan Ancaman)&lt;br /&gt;4.4. Al-Manzilah Baina al-Manzilatain (Satu Tempat diantara Dua Tempat)&lt;br /&gt;4.5. Al-Amru bi al-Ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al-Munkar (Menegakkan yang Makruf dan Melarang Kemunkaran)&lt;br /&gt;5. Dengan memahami lima hal pokok tersebut, penulis nilai kita tidak bisa menghukum kafir kaum Mu’tazilah. Dan memang kita tidak bisa menggeneralisasi hukum terhadap Mu’tazilah, tapi harus dilihat di setiap permasalahan yang diangkatkannya, sehingga kita pun tidak terjebak ke dalam sikap “nyaris ekstrim” ketika menghukum sebuah kelompok, yang penulis yakini akan membawa dampak negatif.&lt;br /&gt;6. Dengan kekayaan pembahasan logikanya, Mu’tazilah telah memberikan banyak masukan terhadap kekayaan khazanah keislaman. Artinya kita tidak bisa menutup mata rapat-rapat terhadap kontribusi mereka itu, tapi juga bukan berarti menghilangkan nalar kritis terhadap ide-ide pemikirannya. Sebagaimana yang dilakukan Imam Syatibi dalam metode Maqashid Syari’ah, atau Muhammad Abduh dalam ide-ide pembaharuannya, dan tokoh-tokoh lainnya.&lt;br /&gt;IV.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aswaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sekarang ternyata masih ada orang yang belum faham apa itu ahlus sunnah wal jama&#39;ah (ASWAJA) dan bagaimana ahlus sunnah wal jama&#39;ah (ASWAJA).&lt;br /&gt;Kalau membahas secara mendetail apa dan bagaimana itu Ahlus Sunnah Wal Jama&#39;ah (ASWAJA) memang sangat panjang dan untuk menulisnya membutuhkan banyak waktu,karna itu saya mencoba mencari tulisan mengenai Ahlus Sunnah Wal Jama&#39;ah di beberapa Situs Blogger Ahlus Sunnah Wal Jama&#39;ah dan akhirnya saya menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama&#39;ah (ASWAJA)&lt;br /&gt;Bisa difahami bahwa definisi Ahlussunnah wa Al jamaah ada dua bagian yaitu: definisi secara umum dan definisi secara khusus .&lt;br /&gt;* Definisi Aswaja Secara umum adalah : satu kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW. Dan Thoriqoh para shabatnya dalam hal aqidah, amaliyah fisik ( fiqih) dan hakikat ( Tasawwuf dan Akhlaq ) .&lt;br /&gt;* Sedangkan definisi Aswaja secara khusus adalah : Golongan yang mempunyai I’tikad / keyakinan yang searah dengan keyakinan jamaah Asya’iroh dan Maturidiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya definisi Aswaja yang secara khusus bukan lain adalah merupakan juz dari definisi yang secara umum, karena pengertian Asya’iroh dan Ahlussunnah adalah golongan yang komitmen berpegang teguh pada ajaran Rasul dan para sahabat dalam hal aqidah. namun penamaan golongan Asya’iroh dengan nama Ahli sunnah Wa Al Jamaah hanyalah skedar memberikan nama juz dengan menggunakan namanya kulli.&lt;br /&gt;Syaih Al Baghdadi dalam kitabnya Al Farqu bainal Firoq mengatakan : pada zaman sekarang kita tidak menemukan satu golongan yang komitmen terhadap ajaran Nabi dan sahabat kecuali golongan Ahlussunnah wal jamaah. Bukan dari golongan Rafidah, khowarij, jahmiyah, najariyah, musbihah,ghulat,khululiyah, Wahabiyah dan yang lainnya. Beliau juga meyebutkan; bahwa elemen Alussunnah waljamaah terdiri dari para Imam ahli fiqih, Ulama’ Hadits, Tafsir, para zuhud sufiyah, ulama’ lughat dan ulama’-ulama’ lain yang berpegang teguh paa aqidah Ahli sunnah wal jamaah.&lt;br /&gt;secara ringkas bisa disimpulkan bahwa Ahlu sunnah wal jamaah adalah semua orang yang berjalan dan selalu menetapkan ajaran Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai pijakan hukum baik dalam masalah aqidah, syari’ah dan tasawwuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Pengertian Sunnah dan ajaran-ajarannya&lt;br /&gt;Kalimat Sunnah secara etimologi adalah Thoriqoh ( jalan ) meskipun tidak mendapatkan ridlo. Sedangan pengertian Sunnah secara terminlogi yaitu nama suatu jalan yang mendapakan ridlo yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW, para khulafa’ al Rosyidin dan Salaf Al Sholihin. Seperti yang telah disabdakan oleh Nabi :&lt;br /&gt;عَلَيكُمْ بِسُنَّتيِ وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي&lt;br /&gt;Ikutilah tindakanku dan tindakan para khlafaurrosyidin setelah wafatku.&lt;br /&gt;Sedangkan pengertian kalimat Jamaah adalah golongan dari orang-orang yang mempunyai keagungan dalam Islam dari kalangan para Sahabat, Tabi’in dan Atba’ Attabi’in dan segenap ulama’ salaf As solihin.&lt;br /&gt;Setiap ajaran yang berdasarkan pada Usul Al syari’ah dan Fur’nya dan pernah dikerjakan oleh para nabi dan Sahabat sudah barang tentu merupakan ajaran yang sesuai dengan aqidah ahli sunnah wa aal jamaah seperti : Shalat Tarawih, witir, baca shalawat, ziarah kubur, mendo’akan orang yang sudah mati dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Definisi Bid’ah&lt;br /&gt;Bid’ah dalam ma’na terminologi ( Syara’) menurut syaih Zaruq dalam kitabnya Iddah Al Marid yaitu semua perkara baru dalam agama yang menyerupai salah satu dari bentuk ajaran agama namun sebenarnya bukan termasuk dari bagian agama, baik dilihat dari sisi bentuknya maupun dari sisi hakikatnya. Dan pekara tersebut berkesan seolah-olah bagian dari jaran Islam seperti : membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan Shalat dengan diiringi alat-alat musik yang diharamkan, keyakinan kaum mu’tazilah, Qodariyah, Syi’ah, termasuk pula paham-paham liberal yang marak akhir-akhir ini. Karena berdasarkan pada Ayat Al-Qur’an :&lt;br /&gt;&quot; وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِنْدَ البَيْتِ الاَّ مُكاَءً وَتَصْدِيَةً &quot; الانفال 35&lt;br /&gt;Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. QS: Al Anfal 35&lt;br /&gt;Dan Hadits Nabi yang berbunyi:&lt;br /&gt;عن أم المؤمنين أم عبد الله عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :&quot; مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ&quot;.&lt;br /&gt;Dari A’isyah RA. Rasulullah bersabda : barang siapa menciptakan hal baru dalam urusanku yang bukan termasuk dari golongan urusanku maka akan tertolak.&lt;br /&gt;HR. Bukhari dan Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat أحدث dalam Hadits diatas mengandung pengertian menciptakan dan membuat-buat suatu perkara yang didasari dari hawa nafsu. Sedangkan kalimat أمرنا mengandung suatu pengertian agama dan Syari’at yang telah di Ridlohi oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;Rasulullah juga bersabda dalam sebuah Hadits :&lt;br /&gt;وروى مسلم في صحيحه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول في خُطبَتِهِ : &quot; خَيرُ الحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ, وَخَيرُ الهَدىِ هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم, وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلُّ مُحْدَثةٍ بِدعَةٌ, وَكُلُّ بِدعَةٍ ضَلَالَةٌ&quot; ورواه البيهقي وفيه زيادة &quot; وكل ضلالة في النار&quot;&lt;br /&gt;Rosululloh bersabda: “ paling bagusnya Hadits adalah Kitabnya Allah, dan paling bagusnya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW, dan paling jeleknya perkara adalah semua perkara yang baru, dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat”. HR. Muslim dan juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dengan tambahan kalimat “ setiap perkara sesat menempat dineraka” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari adanya dua Hadits diatas para ulama’ menjelaskan bahwa secara prinsip, bid’ah adalah berubahnya Suatu hukum yang disebabkan karena meyakini suatu perkara yang bukan merupakan bagian dari agama sebagai salah satu bagian dari agama, bukan berarti setiap perkara baru lantas dikategorikan bid’ah, karena banyak hal baru yang sesuai dengan Usul Al Syar’ah dan tidak dikategorikan bid’ah, atau hal-hal baru yang sesuai dengan Furu’ Al Syari’ah yang masih mungkin di tempuh dengan jalan Analogi atau qiyas sehingga tidak termasuk kategori Bid’ah . berarti tidak semua ritual yang baru serta-merta dikategorikan sebagai perbuatan bid’ah seperti ritual tahlil tujuh hari,40 hari dan seratus hari dari kematian mayat, ziarah kubur, tawassul, mendoakan orang mati dll.&lt;br /&gt;Imam Muhmmad Waliyuddin As Syabsiri dalam Syarah Arba’n Nawawi mengupas pengertian Hadits Nabi yang berbunyai :&lt;br /&gt;مَنْ أَحدَثَ حَدَثًا اَوْ آوَى مُحدثًا فَعَليهِ لَعْنَةُ اللهِ&lt;br /&gt;Barang siapa menciptakan perkara baru atau melindungi pencipta perkara baru mak dia berhak mendapatkan laknat Allah.&lt;br /&gt;Hadits tersebut diatas memasukkan berbagai bentuk bentuk bid’ah seper Aqad fasid, memberi hukum tanpa Ilmu, penyelewengan dan semua hal yang tidak sesuai dengan syari’at. Namun apabila perkara baru itu masih sesuai dengan qonun syari’at maka tidak termasuk kategori bid’ah seperti menulis mushaf, meluruskan madzhab, menulis ilmu nahwu ,Khisab dll.&lt;br /&gt;Syaih Izzuddin ibni Abdis Salam menggolongkan perkara baru ( Bid’ah ) menjadi lima hukum yaitu :&lt;br /&gt;1. Bid’ah wajib seperti : mempelajari ilmu nawu, dan lafad-lafad yang ghorib dalam Al-Qur’an dn Hadits dan semua disiplin ilmu yang menjadi perantara untuk memahami syari’at.&lt;br /&gt;2. Bid’ah Haram seperti : Faham Madzhab Qodariah, Jabariah dan Mujassimah.&lt;br /&gt;3. Bid’ah Sunnah Seperti : Mendirikan Pondok, Madrasah dan semua perbuatan baik yang tidak pernah ditemukan pada masa dahulu.&lt;br /&gt;4. Bid’ah Makruh Seperti : Menghias MAsjid dan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;5. Bid’ah Mubah seperti : Mushofahah (Jabat tangan) setelah Shalat Subuh dan Ashar dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Kriteria penggolongan Bid’ah&lt;br /&gt;Dalam menggolongkan perkara baru yang menimbulkan konsekwensi hukum yang berbeda-beda, Ulama’ telah membuat tiga kriteria dalam persoalan ini .&lt;br /&gt;1. Jika perbuatan itu mempunyai dasar yang kuat berupa dalil-dalil syar’i, baik parsial ( juz’i ) atau umum, maka bukan tergolong bid’ah, dan jika tidak ada dalil yang dibuat sandaran, maka itulah bid’ah yang dilarang.&lt;br /&gt;2. Memperhatikan apa yang menjadi ajaran ulama’ salaf ( Ulama’ pada abad I,II dan III H , jika sudah diajarkan oleh mereka, atau memiliki landasan yang kuat dari ajaran kaidah yang mereka buat, maka perbuatan itu bukan tergolong Bid’ah.&lt;br /&gt;3. Dengan jalan Qiyas. Yakni mengukur perbuatan tersebut dengan beberapa amaliah yang telah ada hukumnya dari Nash Al-Qur’an dan Hadits. Apabila identik dengan perbuatan haram, maka perbuatan baru itu tergolong Bid’ah yang diharamkan. Apabila memiliki kemiripan dengan yang wajib, maka tergolong perbuatan baru yang wajib. Dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Hal-hal baru yang tidak tergolong Bid’ah&lt;br /&gt;Dari pengertian Bid’ah diatas, memberikan suatu natijah atau kesimpulan bahwa ada sebagian amal Bid’ah yang sesuai dengan syari’at dan justru ada yang hukumnya sunnat dan fardlu kifayah. Oleh sebab itu Imam Syafi’i berkata :&lt;br /&gt;&quot; ما أَحْدَثَ وَخَالَفَ كِتَابًا اَو سُنَّةً او إِجمَاعًا او أثرًا فهو البِدْعَةُ الضَّالَّةُ, وَمَا أحْدَثَ مِنَ الخَيرِ وَلَمْ يُخَالِفْ شَيئًا من ذلك فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُودَةُ &quot;&lt;br /&gt;“ Perkara baru yang tidak sesuai dengan Kitab Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Atsar sahabat termasuk bid’ah yang sesat, dan perkara baru yang bagus dan tidak bertentangan dengan pedoman-pedoman tersebut maka termasuk Bid’ah yang terpuji “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ziarah kubur.&lt;br /&gt;Tidak diragukan sama sekali, bahwa hukum berziarah ke makam kerabat atau auliya’ adalah sunnah, dan hal ini telah disepakati oleh semua ulama’. Terdapat banyak Hadits yang menjelaskan kesunnahan ziarah kubur, diantaranya adalah :&lt;br /&gt;عن بريدة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم &quot; قَدْ كُنْتُ نَهَيتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمدٍ فيِ زِيَارةِ قَبرِ أُمِّهِ فَزُورُهَا فإنَّهَا تُذَكِّرُ الآخرةَ. رواه الترمذي&lt;br /&gt;“ dari Buraidah. Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda “ saya pernah melarang kamu berziarah kubur, tetapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah kemakam ibunya. Maka sekarang berziarahlah ! karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat. (HR. Al Thirmidzi)&lt;br /&gt;Ziarah kubur juga sunnah mu&#39;akkad dilakukan di makam Rasulullah SAW dan juga makam para nabi yang lain, bahkan ada sebagian ulama&#39; yang mewajibkan ziarah kubur kemakam Rasulullah SAW bagi orang yang mendatangi kota madinah. Namun sebaiknya ketika seseorang hendak melakukan ziarah ke makam Rosul hendaklah niat ziarah ke masjid Nabawi dan setelah itu baru melaksanakan ziarah ke makam Rosul dengan cara mengucapakan kalimat &quot; السَّلاَمُ عَلَيكَ يَا رَسُولَ الله &quot; dengan sura pelan dan penuh tata karma. Tersebut dalam sebuah Hadits:&lt;br /&gt;مَنْ زَارَنِي بَعْدَ مَمَاتِي فَكَأَنَّمَا زَارَنِي فِي حَيَاتِي } رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ ، وَابْنُ مَاجَهْ ،}&lt;br /&gt;Barang siapa berziarah padaku setelah wafatku, maka seakan akan dia berziarah padaku pada masa hidupku&lt;br /&gt;مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لهُ شَفَاعَتِي عن ابن عمر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :&quot;Dari Ibnu Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah bersabda : barang siapa berziarah kemakamku, maka pasti akan mendapatkan Syafa&#39;at ( pertolongan ) ku&quot; HR. Al Thobroni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Tawassul.&lt;br /&gt;Kalimat Tawassul secara bahasa adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wasilah artinya adalah sesuatu yang dijadikan Allah SWT. Sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan pintu menuju kebutuhan yang diinginkan. Allah SWT berfirman :&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.&lt;br /&gt;QS: Al Maidah : 35&lt;br /&gt;Dengan demikian, tawassul tidak lebih dari sekedar upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, sedangkan wasilah adalah sebagai media dalam usaha tersebut. Tujuan utamanya tidak lain adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, tidak ada sedikitpun keyakinan menyekutukan Allah SWT.( Syirik ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebolehan Tawassul juga telah disebutkan oleh Nabi dalam Haditsnya :&lt;br /&gt;قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ,&quot; تَوَسَّلُوا بِي وَبِأَهْلِ بَيتيِ الىَ اللهِ فإنَّهُ لَا يُرَدُّ مُتَوَسِّلٌ بِنَا&quot;&lt;br /&gt;&quot; Rasulullah SAW bersabda : Bertawassullah kalian dengan aku dan dengan para keluargaku, sesungguhnya orang yang bertawassul dengan aku tidak akan ditolak&quot;( HR.Ibnu Hibban )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tabarruk ( Mencari Berkah )&lt;br /&gt;Secara Etimologi kata berkah berarti tambah, berkembang. Selanjutnya kata barokah digunakan dalam pengertian bertambahnya kebaikan dan kenuliyaan. Jadi Barokah adalah rahasia dan pemberian Allah SWT yang dengannya akan bertambah amal- amal kebaikan., mengabulkan keinginan, menolak kejahatan dan membuka pintu menuju kebaikan dengan anugrah Allah SWT. Dari pengertian ini barokah adalah bagian dari rahmat dan anugerah Allah SWT. Allah SWT berfirman :&lt;br /&gt;وَجَعَلَنيِ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ. مريم 31&lt;br /&gt;&quot; Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada &quot; QS : maryam 31&lt;br /&gt;&quot;رَحَمْةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيكُم أَهلَ البَيتِ &quot;هود 73&lt;br /&gt;&quot; Rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait !&lt;br /&gt;Para ulama&#39; telah banyak membicarakan hukum mengambil barokah, dan berkesimpulan bahwa mengambil barokah dari orang , tempat atau benda hukumnya adalah boleh dengan syarat tidak dilakukan dengan cara-cara yang menyimpang syari&#39;at Allah SWT.&lt;br /&gt;Berikut adalah dalil-dalil kebolehan mengambil berkah :&lt;br /&gt;وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آَيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آَلُ مُوسَى وَآَلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. البقرة 248&lt;br /&gt;Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: &quot;Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.QS: Al-Baqarah 248&lt;br /&gt;عن ابن جدعان: قال ثابت لأنس رضي الله عنه : أَمَسَسْتَ النبيَ صلى الله عليه وسلم قال نَعَمْ فَقَبَّلَهَا . رواه البخاري&lt;br /&gt;&quot; Dari Ibnu Jad&#39;an, berkata Tsabit kepada Anas ra : Apakah tanganmu pernah menyentuh Nabi SAW ? Anas menjawab : ya, maka Tsabit menciumnya &quot;. HR. Bukhori&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al Khotib dari Ali dari Maimun, berkata : aku mendengar Imam Syafi&#39;I berkata : &quot; sesungguhnya aku mengambil barokah dari Abu Khanifah dan aku mendatangi makamnya setiap hari, maka jika aku mempunyai hajat, aku shalat dua rakaat dan mendatangi makam Abu Hanifah lalu berdo&#39;a meminta kepada Allah SWT. Tidak lama kemudian hajatku terpenuhi&quot;.&lt;br /&gt;Kesimpulannya, mengambil barokah dari orang-orang yang shaleh adalah perbuatan yang terpuji. Apa yang dilakukan oleh para sahabat Nabi serta pengukuhan dari Rasulullah SAW cukup untuk dijadikan sebagai dalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Selamatan &amp;amp; Berdo&#39;a untuk orang mati&lt;br /&gt;Ritual mendoakan orang mati sudah biasa dilakukan bahkan sudah menjadi adat orang jawa setiap kali ada salah satu keluarga yang meninggal mereka mengadakan selamatan dihari ke-7 atau ke-40 dari kematian keluarganya dengan mengundang tetangga setempat dan dimintai bantuan untuk membaca surat Yasin, Tahlil dan berdo&#39;a untuk mayat.&lt;br /&gt;Hal tersebut diatas diperbolehkan menurut Syari&#39;at, bahkan bagian dari amal ibadah yang pahalanya bisa sampai kepada yang meninggal. Bukankah bacaan Al-Qur&#39;an, Tahlil dan bersedekah, menyajikan suguhan untuk para tamu adalah bagian dari amal Ibadah. Dalam sebuah Hadits dinyatakan :&lt;br /&gt;عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه, أَنَّ النَبِيَّ صلى عليه وسلم سُئِلَ فقال السَائِلُ يا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَتَصَدَّقُ عَنْ مَوتَانَا وَنَحُجُّ عَنهُمْ وَنَدْعُو لَهُمْ هَلْ يَصِلُ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ ؟ قَالَ : نَعَمْ إنَّهُ لَيَصِلُ إِلَيْهِمْ وَإِنَّهُمْ لَيَفْرَحُونَ بِهِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بالطَّبْقِ إذاَ أُهْدِيَ إِلَيْهِمْ. رواه ابو حفص العكبري&lt;br /&gt;Dari Anas ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya seseorang: &quot; wahai Rasulullah SAW, kami bersedekah dan berhaji yang pahalanya kami peruntukkan orang-orang kami yang telah meninggal dunia dan kami berdoa untuk merek, apakah pahalanya sampai pada mereka ? Rasulullah SAW menjawab : Iya, pahalanya betul-betul sampai kepada mereka dan mereka sangat merasa gembira sebagaimana kalian gembira apabila menerima hadiah. HR. Abu Khafs Al Akbari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Sekilas Pembaharuan Agama&lt;br /&gt;Ketika keintelektualan lebih mengedepankan nafsu serta semangat yang menggebu-gebu dengan dalih memurnikan agama tanpa disertai dengan pemahaman agama secara benar, maka yang terjadi justru pembaharuan- pembaharuan yang menyimpang dari ajaran yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. pada pembahasan ini akan mengetengahkan pembaharu-pembaharu ( Mujaddid) Islam yang telah melakukan banyak penyimpangan dari ajaran Islam yang murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Faham Ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;Di akhir masa 600 H, muncullah seorang laki-laki yang jenius yang telah banyak menguasai berbagai jenis disiplin ilmu, dialah Taqiyuddin ahmad bin Abdul Hakim yang dikenal dengan nama Ibnu Taimiyah. Ia dilahirkan di desa Heran, sebuah desa kecil di Palestina. Ia hidup sezaman dengan Imam Nawawi salah satu ulama; terbesar madzhab Syafi&#39;i.&lt;br /&gt;Ia merupakan sosok pribadi yang memiliki karakter pemberani, yang selalu mencurahkan segala sesuatu untuk madzhabnya, dengan keberanian yang ia miliki, ia telah menemukan hal baru yang sangat tabu dan jauh dari kebenaran, karena yang menjadi dasar pendiriannya ialah mengartikan ayat-ayat dan hadits-hadits nabi Muhammad yang berkaitan dengan sifat-sifat tuhan menurut arti lafadznya yang dlohir, yakni hanya secara harfiyah saja, oleh sebab itu menurut Ibnu Taimiyah &quot; Tuhan itu memiliki muka, tangan, rusuk dan mata, duduk bersila, dating dan pergi, tuhan adalah cahaya langit dan bumi karena katanya semua itu disebut dalam Al Qur&#39;an&quot;.&lt;br /&gt;Kontroversi yang ia ucapkan tidak hanya terbatas pada permasalahan ilmu kalam, melainkan juga menyinggung beberapa permasalahan ilmu fiqih :&lt;br /&gt;* Bepergian dengan tujuan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW setelah beliau wafat hukumnya maksiat&lt;br /&gt;* Talak tiga tidak terjadi ketika diucapkan dengan sekaligus ( hanya jatuh satu )&lt;br /&gt;* Seorang yang bersumpah akan mencerai istrinya , lalu ia melanggar sumpahnya, maka perceraian itu tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Faham Wahabi&lt;br /&gt;Pada pertengahan kurun ke 12 muncul seorang yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab yang berdomisili di Najd yang termasuk kawasan Hijaz, ia dilahirkan pada tahun 1111 H, dan meninggal pada tahun 1207 H. pada mulanya ia memperdalam ilmu agama dari ulama&#39;-ulama; ahli sunnah di makkah dan madinah termasuk diantaranya adalah syaih Muhammad Sulaiman Al Kurdi dan syaih Muhammad Hayyan Assindi, diantara guru yang pernah mengajarkan ilmu kepadanya, jauh sebelum ia membuat pergerakan telah berfirasat kalau disuatu hari nanti ia tergolong orang yang sesat dan menyesatkan, itupun akhirnya menjadi kenyataan, firasat ini juga dirasakan oleh ayah dan saudaranya ( Syeh Sulaiman ).&lt;br /&gt;Muhammad bin Abdul Wahab pada masa mudanya banyak membaca buku-buku karangan Ibnu Taimiyah dan pemuka-pemuka lain yang sesat, sehingga ahirnya membangun faham Wahabiyah yang terpusat ditanah Hijaz sebagai penerus tongkat estafet dari ajaran Ibnu Taimiyah, bahkan lebih extrim dan radikal daripada Ibnu Taimiyah sendiri, sebab ia sangat mudah memberikan label kafir kepada setiap orang yang tidak mau mengikuti fahamnya. Langkah yang ia tempuh dalam mengembangkan fahamnya ialah dengan memberikan tambahan- tambahan baru dari ajaran Ibnu Taimiyah yang semula dianutnya.&lt;br /&gt;* Poin-poin dasar faham wahabiyah&lt;br /&gt;1. Allah adalah suatu jisim yang memiliki wajah, tangan dan menempat sebagaimana mahluq juga sesekali naik dan turun ke bumi.&lt;br /&gt;2. Mengedapankan dalil Naqli daripada dalil aqli serta tidak memberikan ruang sedikitpun pada akal dalam hal-hal yang berkenaan dengan agama ( keyakinan)&lt;br /&gt;3. Mengingkari Ijma&#39; ( Konsensus )&lt;br /&gt;4. Menolak Qiyas ( Analogi )&lt;br /&gt;5. Tidak memperbolehkan Taqlid kepada Ulama&#39; Mujtahidin dan mengkufurkan kepada siapapun yang taqlid kepada mereka&lt;br /&gt;6. Mengkufurkan kepada ummat Islam yang tidak sefaham dengan ajarannya&lt;br /&gt;7. Melarang keras bertawassul kepada Allah melalui perantara para Naabi, Auliya&#39; dan orang- orang sholeh&lt;br /&gt;8. Memvonis kafir kepada orang yang bersumpah dengan menyebut nama selain Allah&lt;br /&gt;9. menghukumi kafir kepada siapa saja yang bernadzar untuk selain Allah.&lt;br /&gt;10. Menghukumi kafir kepada secara muthlak kepada siapapun yang menyembelih disisi makam para nabi atau orang-orang Sholeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ajaran Wahabiyah yang disinyalir melalui cendekiawan-cendekiawan pada akhirnya juga sampai di tanah air kita Indonesia, hal ini diawali dengan maraknya pergerakan-pergerakan diawal abad ke-20 yang bertopeng keagamaan.&lt;br /&gt;Diawali dengan terbentuknya organisasi Wathoniyah pada tahun 1908 M. kemudian disusul organisasi Serikat Islam pada tahun yang sama, hanya saja berkecimpung dalam masalah perdagangan. Dan puncaknya dibentuklah sebuah ormas pada tanggal 18 Desember 1912 oleh seorang cendekiawan yang berfaham Wahabi, kendati organisasi ini lebih berorientasi pada masalah social keagamaan, namun kelahirannya dibumi pertiwi ini menyebabkan keretakan diantara Muslim Indonesia yang pada umumnya berhaluan faham Ahli Sunnah Wal jamaah,&lt;br /&gt;Propaganda yang dilakukan oleh cendekiawan wahabi ialah dengan melakukan pendekatan pada masyarakat awam, setelah terpedaya kemudian mereka mengeluarkan trik-trik baru yang justru lebih berbahaya dampaknya, yaitu dengan menanamkan benih-benih permusuhan dan rasa sentiment pada para ulama&#39; salaf dan golongan yang tidak sefaham dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Faham Ahmadiyah&lt;br /&gt;Pendiri golongan ini bernama Mirza Ghulam Ahmad, ia dilahirkan didesa Qodliyan Punjab Pakistan pada tahun 1836 M. dia tidak hanya mengaku sebagai imam Mahdi yang ditunggu, Mujaddid dan juru selamat,tetapi stelah ia berumur 54 tahun ia memproklamirkan diri sebagai nabi yang paling akhir sesudah nabi Muhammad SAW dan benar-benar mendapatkan wahyu dari Allah SWT.&lt;br /&gt;Poin-Poin faham Ahmadiyah yang menyimpang dari Syari&#39;at&lt;br /&gt;1. Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi terahir&lt;br /&gt;2. Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa yang dijanjikan.&lt;br /&gt;3. Syari&#39;at Islam belum sempurna, tetapi disempurnakan oleh Syari&#39;at Mirza Ghulam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jaringan Islam Liberal&lt;br /&gt;Belakangan ini gegap gempita pemikiran dan aliran yang muncul dikalangan Islam di Indonesia begitu deras, sehingga berimplikasi pada sebuah kebebasan yang seakan tak terbatas. Disana-sini bermunculan aliran dan sekte-sekte, termasuk salah satunya adalah Jaringan Islam Liberal ( JIL ).&lt;br /&gt;Sebagai komunitas yang berslogan &quot; Menuju Islam yang ramah, toleran dan membebaskan &quot; JIL hadir layaknya sebuah alternatif yang begitu intelektual dan cerdas. Mereka begitu Ofensif sehingga berhasil menciptakan jaringan dengan tidak kurang dari 51 koran dan membuat radio 68 Hyang beberapa acaranya dipancarluaskan oleh jaringan KBR 68 H diseluruh Indonesia. Maka tak heran apabila pemikiran-pemikirannya begitu kuat mempengaruhi ummat.&lt;br /&gt;Madzhab liberal merupakan aliran pemikiran Islam Indonesia yang menekankan pada kebebasan berfikir dan tidak lagi terikat dengan madzhab-madzhab pemikiran keagamaan ( terutama Islam ) pada umumnya, melampaui batas-batas cara berpikir sectarian organisasi dan politik. Bagi Madzhab liberal, yang paling penting adalah perlunya tradisi kritis dan perlunya Dekonstruksi atas pemahaman lama yang telah berkembang ratusan tahun. Islam seharusnya difahami secara modern dan rasional, karena Islam merupakan agama yang rasional dan mengutamakan rasionalitas yang dalam bentuk konkritnya berupa Ijtihad. Islam harus dipahami secara kontekstual, progressif dan emansipatoris. Dengan pemahaman seperti ini maka Islam akan mengalami kemajuan, bukannya kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. Metode Pembentengan Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah&lt;br /&gt;Dalam membentengi aqidah Ahlus Sunnah wal jamaah agar tetap eksis dan menjadi panutan masyarakat, tentunya perlu diterapkan metode yang jitu dan tidak terkesan radikal. Upaya penyampaian tentang pentingnya mempertahankan aqidah ahli sunnah wal jamaah bisa ditempuh dengan berbagai macam cara, seperti memberikan pemahaman yang mendalam tentang hakikat aswaja dan bahayanya mengikuti faham- faham sesat yang banyak bermunculan melalui pertemuan- pertemuan khusus atau melalui majelis Dzikir, ketika Masyarakat berkumpul di Masjid untuk melaksanakan Shalat atau pengajian dan berbagai moment keagamaan lainnya.&lt;br /&gt;Islam mengajarkan pada penganutnya untuk berda&#39;wah dan mengajak sesama menuju kejalan yang benar dengan cara-cara yang terpuji, hal itu telah diuraikan dalam Al-Qur&#39;an dan Hadits. Seperti halnya ajaran tentang mengajak masuk Islam dengan hikmah atau dalil dan hujjah juga dengan mau&#39;idlah yang ada dalam ayat Al-Qur&#39;an, dan hal itu tentu harus dengan menggunakan adab dan tata karma yang baik. Karena agama Islam identik dengan nasihat yang halus dan jauh dari kekerasan.&lt;br /&gt;Banyak media yang bisa kita gunakan untuk menyampaikan nilai-nilai Aswaja kepada masyarakat luas yang selama ini masih minim dipraktekkan sebab kurangnya rasa peduli dari para nahdliyin.&lt;br /&gt;Pengoptimalan Fungsi Masjid&lt;br /&gt;Sebenarnya fungsi asal dibangunnya masjid selain untuk shalat seperti yang telah dijelaskan oleh Imam Samarqondi adalah sebagai tempat untuk Dzikir, Takbir, Tahlil, Menyiarkan Islam dan menjauhkan dari perbuatan syirik. Oleh sebab itu sudah saatnya para Ta&#39;mir masjid dan pemuka agama mengaplikasikan fungsi- fungsi tersebut dengan mengadakan Khalaqah diwaktu-waktu tertentu untuk menyampaikan nilai-nilai faham Aswaja dengan tujuan menyelamatkan masyarakat dari pengaruh faham yang sesat dan menyesatkan.&lt;br /&gt;Oleh karenanya pengoptimalan fungsi masjid dengan cara digunakan sebagai media penyampaian aqidah yang tegak sangat mutlaq diperlukan dizaman sekarang, mengingat bahayanya faham-faham baru yang berkedok Islam namun jauh melenceng dari nilai-nilai Islam secara sempurna.&lt;br /&gt;Apabila upaya pengoptimalan tersebut telah kita lakukan, sedikit banyak masyarakat akan faham tentang Aswaja dan bahaya akiran-aliran sesat. Dan masjid yang kita miliki semakin tampak manfaat dan fungsi-fungsinya. Jangan sampai Masjid yang kita rawat dan kita tempati sehari-hari diambil alih oleh golongan- golongan yang tidak bertanggung jawab seperti yang telah diberitakan dalam sebuah situs NU Online yaitu :&lt;br /&gt;Kehidupan beragama di Indonesia semakin tidak aman. Sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam telah serampangan mengambil alih masjid-masjid milik warga (Nahdlatul Ulama) NU dengan alasan bid’ah dan beraliran sesat.&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman dalam Al Qur&#39;an :&lt;br /&gt;ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ. النحل 125&lt;br /&gt;Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. &quot;QS: An Nahl 125&lt;br /&gt;فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى طه : 44 &lt;br /&gt;maka berbicaralah kamu berdua ( Musa dan Harun ) kepadanya( Fir&#39;aun ) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.&quot; QS : Thaha 44&lt;br /&gt;وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسْنًا البقرة 83&lt;br /&gt;serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.&quot; QS : Al Baqarah 83&lt;br /&gt;Ayat-ayat diatas menjelaskan pada Ummat Islam bahwa ajakan menuju jalan Allah yang oleh ulama&#39; ditafsiri dengan Agama Islam harus dengan menggunakan Hikmah, dan hikmah yang dimaksud dalam ayat tersebut diatas oleh ulama ditafsiri dengan burhan (dalil) atau hujjah, Allah juga memerintahkan untuk mengajak dengan Mau&#39;idlah atau peringatan yang bagus.&lt;br /&gt;Dalam surat Thaha diatas Allah memerintahkan pada nabi Musa dan Harus AS. Untuk bertutur kata yang halus kepada Fir&#39;aun, agar Fir&#39;aun bisa sadar atau takut kepada Allah. Sampai selentur itu ajaran Allah untuk berda&#39;wah, padahal kita ketahui bersama bagaimana kekejaman dan kerasnya fir&#39;aun dalam menentang agama Allah SWT.</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/mata-kuliah-aswaja-iv-bagian-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihfyUjeJFHssq0Vaq6L_f_SRUaXt1L39YHh-aT6Qimm6cpOTFqknz0x8v5h05sdEGi0mZ-cUWmlUBAdUE89oRkwwIsmW9ojp6-SaZ9zBcN-livhcMErPy3vxkW00ZMOPrI-QHjpDxJM9Y/s72-c/ASWAJA.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-6172357720102622583</guid><pubDate>Sun, 28 Jul 2013 19:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-29T07:10:38.358-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pribadi</category><title>Mata Kuliah ASWAJA (iv) Bagian 1</title><description>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNPQxkG8QsZz5QLlMDw7kpwoSMs15yg2990CYJP_DI74_JxHtKStsc9HDKsLlBPvldGB2u07AVIOconmvL_biS55wkTn6RfKwDMPp3T2LNtrylFXX3A6zHfp2dfkub_FaIcxqAXTe8Y1E/s1600/ASWAJA.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNPQxkG8QsZz5QLlMDw7kpwoSMs15yg2990CYJP_DI74_JxHtKStsc9HDKsLlBPvldGB2u07AVIOconmvL_biS55wkTn6RfKwDMPp3T2LNtrylFXX3A6zHfp2dfkub_FaIcxqAXTe8Y1E/s200/ASWAJA.png&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;&quot;&gt;&lt;u&gt;Di dalam Agama terdapat Tiga Dimensi Nilai Utama,. Yaitu: 1. Spiritual Value (Nilai Spiritual), 2. Credial Value (Nilai Peribadatan), 3. Morality/Ethica Value (Nilai Moral/Etika). Berikut penjelasan makna dan hakikat ketiga istilah tersebut dengan menghubungkannya dengan nilai ajaran agama Islam.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Pengertian Agama&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Agama adalah salah satu bentuk upacara dari suatu kepercayaan dengan menggunakan cara dan bahasa yang bahasa yang tidak sama.namun demikian,apa yang dijabarkan oleh para ahli sejarah tersebut masih dapat ditinjau dari segi etimologi dan termiologinya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Secara etimologis agama berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri atas dua kata:’a’ berati tidak dan ‘gama’ berarti kacau,kocar-kacir atau berantakan.Agama adalah suatu yang tidak kacau.Dengan kata lain bahwa agama itu membawa hidup yang teratur dan terarah.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Secara terminologis agama didefinisikan oleh para ahli dengan bervariasi,tergantung dari latar belakang mereka masing-masing. Para ahli agama akan berbeda dalam mendefinisikannya para filosof atau ahli filsafat.Begitu juga para penganut agama yang berbeda akan mendefisinikan agama dengan berbeda-beda terkait dengan agama yang dipeluknya.Selanjutnya din dalam bahasa sempit berarti undang-undang atau hukum.dalam bahasa arab kata ini mengandung arti menguasai,menundukkan,patuh,utang,batasan,dan kebiasaan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selanjutnya karena demikian banyaknya devinisi tentang agama yang ditemukan para ahli,Harun Nasution mengatakan dapat diberi definisi sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kepecayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari kekuatan gaib&lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib.&lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.&lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ajaran yang diwahyukan kepada manusia melalui seorang rosul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agama memiliki peraturan yang mutlak berlaku bagi segenap manusia dan bangsa,dalam semua tempat dan waktu yang dibuat oleh sang pencipta alam semesta sehingga peraturan yang di buatnya itu betul-betul adil.Secara terperinci,agama memiliki peranan yang bisa dilihat dari aspek keagamaan (religius),kejiwaan (psikologis),kemasyarakatan (sosiologis).Hakekat kemanusiaan (human nature) dan asal-usulnya (antropologis),dan moral (ethics).&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Agama sebagai lembaga kebenaran hanya dapat didekati dengan iman,yaitu sikap jiwa yang mempercayai dan menerima sesuatu sebagai kebenaran sikap jiwa ( ya tuhan,kami dengar dan kami mena’ati ).Agama hanya memberi jawaban atas berbagai persoalan asasi manusia yang beriman.Iman adalah yang paling pertama dan utama dalam agama.Iman dalam arti percaya sepenuh hati bahwa agama adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah terhadap Rosul-Nya untuk umat manusia.Allah maha ada,maha benar,mutlak dan sempurna.Demikian wahyu yang diturunkan-Nya pun mengandung nilai kebenaran yang mutlak dan sempurna pula.Namun islam yang mengakui eksistensi kebenaran relatif yang merupakan hasil usaha pencapaian budaya manusia.baik kebenaran positif ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Ruang Lingkup Agama&lt;br /&gt;
Ada 3 persoalan pokok dalam sebuah agama,diantaranya :&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keyakinan (credial),yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini mengatur dan mencipta alam.&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peribadatan (ritual),yaitu tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi atau pengakuan dan ketundukannya.&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinannya tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah agama diantaranya :&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adanya keyakinan pada yang gaib&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adanya kitab suci sebagai pedoman&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adanya Rasul pembawanya&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adanya ajaran yang bisa dipatuhi&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adanya upacara ibadah yang standar&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Agama sebagai fitrah manusia melahirkan keyakinan bahwa agama adalah satu-satunya cara pemenuhan kebutuhan.Posisi ini tidak dapat digantikan dengan yang lain. Beberapa hal diataslah yang menjadi ruang lingkup agama.&lt;br /&gt;
Faktor yang melatar belakangi manusia memerlukan agama adalah karena disamping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan.Hal ini antara lain diungkapkan oleh kata al-nafs.Menurut Quraish Shihab,bahwa dalam pandangan al-qur’an nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna dan berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan,dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh al-qur’an dianjurkan untuk diberi prhatian lebih besar.&lt;br /&gt;
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan,baik yang datang dari dalam maupun dari luar.Tantangan dari luar dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan.Sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dari Tuhan.Mereka dengan rela mengeluarkan biaya,tenaga,dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang didalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan.&lt;br /&gt;
Orang-orang kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka gunakan agar orang mengikuti keinginannya.Berbagai bentuk budaya,hiburan,obat-obat terlarang dan lain sebagainya dibuat dengan sengaja.Untuk itu upaya untuk mengatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajarkan mereka agar taat menjalankan agama.Godaan dan tantangan hidup demikian itu,saat ini semakin meningkat,sehingga upaya mengamankan masyarakat menjadi penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Fungsi Agama&lt;br /&gt;
1. Sebagai Pembimbing Dalam Hidup &lt;br /&gt;
pengendali utama kehidupan manusia adalah kepribadiannya yang mencakup segala unsur pangalaman pendidikan dan keyakinan yang didapatnya sejak kecil.Apabila dalam pertumbuhan seseorang terbentuk suatu kepribadiaan yang harmonis,dimana segala unsur&amp;nbsp; pokoknya terdiri dari pengalaman yang menentramkan jiwa maka dalam menghadapi dorongan baik yang bersifat biologis ataupun rohani dan sosial akan mampu menghadapi dengan tenang.&lt;br /&gt;
2. Penolong Dalam Kesukaran&lt;br /&gt;
Orang yang kurang yakin akan agamanya (lemah imanya)akan menghadapi cobaan/kesulitan dalam hidup dengan pesimis,bahkan cenderung menyesali hidup dengan berlebihan dan menyalahkan semua orang.Beda halnya dengan orang yang beragama dan teguh imannya,orang yang seperti ini akan menerima setiap cobaan dengan lapang dada.Dengan keyakinan bahwa setiap cobaan yang menimpa dirinya merupakan ujian dari tuhan (Allah) yang harus dihadapi dengan kesabaran karena Allah memberikan cobaan kepada hambanya sesuai dengan kemampuannya.Selain itu,barang siapa yang mampu menghadapi ujian dengan sabar akan ditingkatkan kualitas manusia itu.&lt;br /&gt;
3. Penentram Batin&lt;br /&gt;
Jika orang yang tidak percaya akan kebesaran tuhan tak peduli orang itu kaya apalagi miskin pasti akan selalu merasa gelisah.Orang yang kaya takut akan kehilangan harta kekayaannyayang akan habis atau dicuri orang lain,orang yang miskin apalagi,selalu merasa kurang bahkan cenderung tidak mensyukuri hidup.&lt;br /&gt;
Lain halnya dengan orang yang beriman,orang kaya yang beriman tebal tidak akan gelisah memikirkan harta kekayaannya.Dalam ajaran islam harta kekayaan itu merupakan titipan Allah yang didalamnya terdapat hak orang-orang miskin dan anak yatim piatu.Bahkan sewaktu-waktu bisa diambil oleh yang maha berkehendak,tidak mungkin gelisah.Begitu juga dengan orang yang miskin yang beriman,batinnya akan selalu tentram karena setiap yang terjadi dalam hidupnya merupakan ketetapan Allah dan yang membedakan derajat manusia dimata Allah bukanlah hartanya melainkan keimanan dan ketakwaannya.&lt;br /&gt;
4. Pengendali Moral&lt;br /&gt;
Setiap manusia yang beragama yang beriman akan menjalankan setiap ajaran agamanya.Terlebih dalam ajaran Islam,akhlak amat sangat diperhatikan dan di junjung tinggi dalam Islam.Pelajaran moral dalam Islam sangatlah tinggi,dalam Islam diajarkan untuk menghormati orang lain,akan tetapi sama sekali tidak diperintah untuk meminta dihormati.&lt;br /&gt;
Islam mengatur hubungan orang tua dan anak dengan begitu indah.Dalam Al-Qur’an ada ayat yang berbunyi:”dan jangan kau ucapkan kepada kedua (orang tuamu) !!”Tidak ada ayat yang memerintahkan kepada manusia (orang tua) untuk minta dihormati kepada anak.&lt;br /&gt;
Selain itu Islam juga mengatur semua hal yang berkaitkan dengan moral,mulai dari berpakaian,berperilaku,bertutur kata hubungan manusia dengan manusia lain (hablumminannas/hubungan sosial).Termasuk di dalamnya harus jujur,jika seorang berkata bohong maka dia akan disiksa oleh api neraka.Ini hanya contoh kecil peraturan Islam yang berkaitkan dengan moral.Masih banyak lagi aturan Islam yang berkaitkan dengan tatanan perilaku moral yang baik,namun tidak dapat sepenuhnya dituliskan disini.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih,manusia merasa mampu hidup mandiri dan menolak pengaruh,kontrol yang berasal dari agama.Agama tidak lagi mempunyai peran dan fungsi sebagai pengaruh dan pengendali terhadap perkembangan kehidupan sosial-budaya manusia.Akibatnya berkembanglah kehidupan sosial-budaya sekuler secara bebas,di bawah pengaruh dan rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi canggih,menjadi sistem budaya dan peradaban modern.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Melalui agama itu “mungkin” dapat ditemukan nilai-nilai universal yang dapat berfungsi memberikan jawaban tentang tujuan hidup hakiki umat manusia di dunia ini,dan dapat menjadi pengendali,pengarah,serta kontrol terhadap perkembangan sistem budaya dan peradaban modern,atau sekurang-kurangnya mempunyai efek pengereman kecenderungan dan sifat dasar masyarakat modern yang bebas tanpa kendali tersebut.Dikatakan mungkin,karena memang sering timbul keraguan akan peranan agama tersebut.Timbulnya keraguan itu disebabkan karena sering terjadi kesenjangan,lebar,dan sempit,antara ajaran agama dan kenyataannya,maka yang dimaksud dengan agama disini ialah dalam bentuk yang mendalam dan universal (ajaran agama murni),bukan yang ada secara sosiologis.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KESIMPULAN&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa,kata agama dari segi bahasa dapat kita ikuti dari uraian yang diberikan oleh Harun Nasution.Menurutnya agama berasal dari kata Sanskrit yang tersusun dari dua kata,a=tidak ada,dan gam=pergi,jadi agama artinya tidak pergi,tetap ditempat,diwarisi secara turun temurun.Sedangkan menurut istilah agama adalah suatu ajaran yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia melalui seorang utusan atau rosul.Dan iman adalah yang paling pertama dan utama dalam agama.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada 3 persoalan pokok dalam sebuah agama,yaitu:Keyakinan(credial),peribadatan(ritual),dan sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinan tersebut. Dan unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah agama diantaranya:Adanya keyakinan pada yang gaib,adanya kitab suci sebagai pedoman,adanya Rasul pembawanya,adanya ajaran yang bisa dipatuhi,adanya upacara ibadah yang standar.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Agama juga mempunyai 4 fungsi agama yaitu diantaranya:Sebagai pembimbing dalam hidup, penolong dalam kesukaran, penentram batin, dan pengendali moral. Dan agama juga mempunyai nilai-nilai universal yang berfungsi memberikan jawaban tujuan hidup umat manusia di dunia, dan dapat menjadi pengendali, pengarah, serta kontrol terhadap perkembangan sistem budaya dan peradaban modern.Maka,yang dimaksud dengan agama disini ialah dalam bentuk yang mendalam dan universal,bukan yang ada secara sosiologis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/mata-kuliah-aswaja-iv.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNPQxkG8QsZz5QLlMDw7kpwoSMs15yg2990CYJP_DI74_JxHtKStsc9HDKsLlBPvldGB2u07AVIOconmvL_biS55wkTn6RfKwDMPp3T2LNtrylFXX3A6zHfp2dfkub_FaIcxqAXTe8Y1E/s72-c/ASWAJA.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-1942196190351569777</guid><pubDate>Sun, 28 Jul 2013 16:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-29T07:10:38.351-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pribadi</category><title>Semangat Pengkajian Kaum Orientalis terhadap ISLAM (MSI II)</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmFEyEa4wOiTV5dh9-4yChZb2WiAjjqWQNiiN6qTB_vfUkIr-zprQSqPIl-Je0ysrCPS54mzKFx7zk1PP2BmizIbJhCoxLP-bdjFwz79uSU70cihZgytXLmn65aZuWQOEdvG74kS1zJSo/s1600/UIJ+Hitam+copy.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmFEyEa4wOiTV5dh9-4yChZb2WiAjjqWQNiiN6qTB_vfUkIr-zprQSqPIl-Je0ysrCPS54mzKFx7zk1PP2BmizIbJhCoxLP-bdjFwz79uSU70cihZgytXLmn65aZuWQOEdvG74kS1zJSo/s200/UIJ+Hitam+copy.png&quot; width=&quot;196&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2 class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pendekatan dalam Studi Islam&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;h2 class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;(Studi atas Pemikiran Charles J. Adams) &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h2&gt;
A.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendahuluan&lt;br /&gt;Islam telah menjadi kajian yang menarik banyak minat belakangan ini. Studi Islam pun makin berkembang. Islam tidak lagi dipahami dalam pengertian historis dan doktriner, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks. Islam tidak hanya terdiri dari rangkaian petunjuk formal tentang bagaimana seseorang memaknai kehidupannya. Islam telah menjadi sebuah sistem budaya, peradaban, komunitas politik, ekonomi dan bagian dari perkembangan dunia. Mengkaji dan mendekati Islam, tidak lagi mungkin hanya dari satu aspek, tetapi dibutuhkan metode dan pendekatan interdisipliner. Studi agama, termasuk Islam, seperti disebutkan di atas dilakukan oleh sarjana Barat dengan menggunakan ilmu-ilmu sosial humanities, sehingga muncul sejarah agama, psikologi agama, sosiologi agama, antropologi agama, dan lain-lain. Dalam perkembangannya, sarjana Barat bukan hanya menjadikan masyarakat Barat sebagai lapangan penelitiannya, namun juga masyarakat di negara-negara berkembang, yang kemudian memunculkan orientalisme. Bahkan oleh Muhammad Abdul Rouf, Islamic Studies disebut juga dengan oriental studies. Sarjana barat sebenarnya telah lebih dulu dan lebih lama melakukan kajian terhadap fenomena Islam dari berbagai aspek : sosiologis, kultural, perilaku politik, doktrin, ekonomi, perkembangan tingkat pendidikan, jaminan keamanan, perawatan kesehatan, perkembangan minat dan kajian intelektual, dan seterusnya. Di dunia Islam sendiri pendekatan-pendekatan ilmu-ilmu modern untuk mengkaji Islam mulai digemari, Islam tidak lagi dipahami hanya dengan instrumen kajian tradisional, yakni mengkaji Islam dari sudut doktrinalnya.&lt;br /&gt;Salah satu sarjana Barat yang mencurahkan perhatian intelektualnya untuk mengkaji Islam dengan menggunakan diversifikasi pendekatan adalah Charles Joseph Adams.&amp;nbsp; Pendekatan studi Islam yang ditawarkan oleh Adams terdapat dalam buku The Study of The Middle East : Research and Scholarship in Humanities and the Social Sciences terutama pada bab dua berjudul Islamic Religious Tradition yang dijadikan sumber utama penulisan paper ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kegelisahan Akademik&lt;br /&gt;Kegelisahan akademik yang mengganggu Charles J. Adams adalah kegagalan ahli sejarah agama dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahaman tentang Islam sebagai agama, juga kegagalan Islamists dalam menjelaskan secara cermat tentang fenomena ke-Islaman.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Hal yang biasa dilakukan untuk menemukan jalan keluar dari kegelisahan akademik di atas adalah dengan menggunakan dua disiplin, yaitu sejarah agama dan studi Islam sebagai kerangka teoritis atau tool conceptual guna mempertajam analisi terhadap tradisi Islam untuk memperoleh pemahaman yang lebih tepat mengenai hubungan antara unsur-unsur yang bermacam-macam termasuk hubungan struktural dengan tradisi lainnya. Ada dua hal yang mendasar yang penting untuk dipahami dalam studi Islam adalah definisi tentang Islam dan agama. Menurut Adams sangat sulit untuk bisa merumuskan definisi tentang Islam. Islam harus dilihat dari perspektif sejarah sebagai sesuatu yang selalu berubah, berkembang, dan selalu terus berkembang dari generasi ke generasi dalam merespon realitas dan makna kehidupan ini. Islam adalah ”an on going process of experience and its expression, which in historical continuity with the message and influence of the prophet. Sedangkan konsep agama meliputi dua aspek, yaitu pengalaman dalam dan perilaku luar manusia (man’s inward experience and of his outward behavior).&amp;nbsp; Pengalaman dalam dan perilaku luar manusia itu saling terkait. Perilaku luar manusia secara umum merupakan manifestasi dari pengalaman dalamnya, walaupun hal ini tidak berlaku mutlak.&lt;br /&gt;Wilfred Cantwell Smith, sebagaimana dikutip Adams dalam mendefinisikan agama Islam, berpendapat bahwa dalam agama terdapat dua aspek, yaitu aspek faith, yaitu, aspek internal, tak terkatakan, transenden, dan dimensi pribadi kehidupan beragama, dan aspek tradition, yaitu aspek eksternal keagamaan, sosial dan historis agama yang dapat diobservasi dalam masyarakat. Dengan pemahaman konseptual seperti ini, tujuan studi agama adalah untuk memahami pengalaman pribadi dan perilaku nyata seseorang. Dengan demikian, aspek yang tersembunyi dan yang nyata dari fenomena keberagaman harus dieksplorasi secara komprehensif oleh studi Islam.&amp;nbsp; Diantara dua aspek tersebut tidak ada yang berdiri sendiri, melainkan antar satu dengan yang lain saling terkait. Kaitannya dengan studi Islam, menurut Adams tidak ada metode yang paling tepat untuk mendekati aspek kehidupan dalam atau faith seseorang dan masyarakat beragama. Tetapi pengkaji harus menggunakan tradition atau aspek luar sebagai keberagamaan sebagai pijakan dalam memahami dan melakukan studi agama. Dalam mengkaji Islam sebagai sebuah agama, pengkaji harus melampaui dimensi tradition agar mampu menjelaskan dimensi faith seseorang. Menurut Adams, pengkaji Islam dalam melakukan studinya bisa menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan normatif dan pendekatan deskriptif. Pendekatan normatif meliputi tiga pendekatan, yaitu pendekatan misionaris tradisional, pendekatan apologetik, dan pendekatan simpatik (irenic). Sedangkan pendekatam deskriptif meliputi pendekatan filologis dan sejarah, pendekatan sosial dan pendekatan fenomenologis.&lt;br /&gt;C.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendekatan Normatif dan Keagamaan&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendekatan Misionaris Tradisional&lt;br /&gt;Pada abad 19 terjadi letusan aktivitas misionaris di berbagai gereja, sekte, dan ajaran kristen yang berkaitan dengan pertumbuhan politik , ekonomi, dan militer Eropa yang mempengaruhi banyak tempat di Asia dan Afrika. Dorongan aktivitas misionaris tidaklah muncul karena semakin bagusnya kesadaran pada peradaban non Barat dan para pengikut kolonialisme, tetapi lebih disebabkan oleh ajaran Kristen sendiri. Akibatnya, banyak individu menempuh perjalanan ke Asia dan Afrika bersamaan dengan para opsir kolonial untuk mengkristenkan orang-orang di wilayah twrsebut dan menawarkan budaya Barat pada mereka. Para misionaris dan opsir kolonial bertekad bulat untuk bisa mendekatkan diri dengan penduduk di wilayah tersebut, karena itu mereka merasa perlu untuk belajar bahasa masyarakat setempat dan turut serta dalam kehidupan dan kebudayaan mereka. Akhirnya, banyak misionaris yang fasih dalam bahasa kaum muslimin dan terus mempelajari aspek kebudayaan. Dua kelompok inilah, misionaris dan kolonialis, yang menjadi pengembangan keilmuan Islam di Barat&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendekatan Apologetik&lt;br /&gt;Di awal abad XX, gerakan umat Islam ditandai dengan sikap apologetik terhadap agama. Sikap Apologetik ini sangat kuat untuk membangkitkan diri dari kesadaran palsu menuju kesadaran beragama yang utuh dan sekaligus sebagai respon atas peradaban Barat yang terus mengikis peradaban Islam sebagai akibat dari kolonoalisasi (westernisasi). Salah satu bentuk sikap apologetik muslim adalah dengan berusaha membangun nilai-nilai Islam dan membangkitkan kembali warisan-warisan Islam yang mulai ditinggalkan, meningkatkan pelayanan terhadap muslim dengan berbagai cara, membentuk sense of identity of Islam di setiap generasi muda. Usaha ini telah menghasilkan sesuatu yang sangat berarti dalam hal meningkatkan kesadaran beragama yang sebelumnya mulai terlupakan oleh komunitas muslim. Agaknya, gerakan apologetik ini cukup berhasil. Mereka mengumandangkan Islam sebagai ”favorable manner” dan peradaban modern yang civilize. Salah satu karya yang bisa memberikan gambaran tentang hal ini adalah Spirit of Islam, karya Sayyid Amir Ali (1922).&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendekatan Simpatik (irenic)&lt;br /&gt;Di tengah-tengah Petang Dunia II, muncul gerakan distinktif yang bertujuan untuk memberikan apresiasi terhadap Islam. Gerakan ini diwakili oleh lingkungan agama dan universitas. Karena ternyata gerakan kolonialisme yang sekaligus misionarisme banyak meninbulkan masalah di dunia Islam (khususnya dalan hal pencitraan negative melalui tulisan-tulisan sarjana Barat), maka ada usaha untuk memecahkan masalah-masalah yang prejudiced, antagonistic, dan sikap-sikap orang Kristen Barat yang (selalu) merendahkan Islam. Pada saat bersamaan digagas ”dialog” dengan muslim untuk membangun jembatan mutual sympathy antara tradisi agama dan persoalan kebangsaan. Salah satu contoh pendekatan irenic dalam studi Islam adalah karya Kenneth Cragg. Melalui beberapa karya yang ditulis, Cragg menunjukkan kepada Kristen Barat beberapa unsur keindahan dan nilai keberagamaan yang menjiwai tradisi Islam, dan kewajiban orang Kristen adalah terbuka atau menerima hal tersebut. Cragg mampu menggambarkan bahwa Islam memperhatikan banyak problem dan isu yang juga fundamental menurut umat Kristen. Inti pesan Cragg adalah makna Iman Islam adalah trealisasi dalam pengalaman Kristiani. Namun, dalam analisis akhirnya, Cragg tetap terpengaruh keyakinan Kristennya, bahkan dikatakan bahwa orang Islam harus menjadi Kristen agar Islam menjadi Islam Kaffah. Kontribusi Cragg melalui karyanya adalah bermanfaat untuk memberantas pandangan negatif terhadap Islam yang berkembang luas dikalangan Barat. Contoh lain pendekatan irenic diterapkan oleh W.C. Smith, terutama dalam karyanya The Faith of Other Men (1962) dan artikelnya berjudul ”Comporative Religion, Whither and Why?” (1959). Hal utama yang ditampilkan dalam tulisan Smith adalah memahami keyakinan orang lain dan bukan untuk mentransformasikan keyakinan itu, atau dengan mitif penyebaran agama. Dengan memilih Cragg dan Smith sebagai contoh penggunaan pendekatan irenic dalam studi Islam, Adam tidak bermaksud mengabaikan akademisi lain yang dapat dikategorikan dengan mereka berdua seperti Montgomery Watt, dan Geoffrey Parrinder. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendekatan Deskriptif&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendekatan Filologis dan Historis &lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa pendekatan ini paling produktif dalam studi Islam. 100 tahun yang lalu para sarjana yang dibekali bahasa kaum muslimin dan dilatih dalam metode filologis (kajian naskah) telah mengabdikan diri mereka untuk menekuni teks-teks tentang Islam. Hasil kerja filologis ini bukanlah merupakan hasil langsung ketertarikan mereka pada Islam, tetapi merupakan hasil sampingan dari tujuan yang lain, seperti comparative simetik atau studi Injil. Karena status bahasa Arab merupakan perkembangan lebih jauh bahasa semetik dan paling terkenal dan senantiasa dipakai dengan warisa tulisan yang sangat banyak, maka bahasa Arab sangat gampang diakses pengkaji semetik bahkan dalam kajian yang lain. Bahasa arab merupakan kunci untuk memahami bahasa non Arab dalam tradisi kebahasaan semetik.&lt;br /&gt;Pendekatan filologi dapat digunakan hampir dalam semua aspek kehidupan umat Islam, tidak hanya untuk kepentingan orang Barat tetapi juga berperan penting dalam dunia orang Islam sendiri seperti yang dilakukan ole pembaharu, intelektual, politisi dan sebagainya. Melalui pendekatan filologi dan sejarah, sarjana Barat telah menemukan kembali masa kejayaan budaya Islam yang terlupakan di kalangan muslim padahal ia menjadi salah satu faktor pada masa sekarang ini untuk revitalisasi Islam. Menurut Adams, filologi memiliki peran vital dan harus tetap dipertahankan dalam studi Islam, karena Islam memiliki banyak dokumen masa lampau dalam bidang sejarah teknologi, hukum, tasawuf dan lain sebagainya. Literatur tersebut belum banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, sehingga pendekatan filologi sekali lagi memainkan peran vital dalam hal ini. Metode filologis dan historis masih sangat relevan untuk studi Islam masa sekarang. Ke depan, diharapkan muncul upaya kombinasi antara philological and historical inquiry dengan behavior approach. Sehingga nantinya akan terbangun pendekatan interdisipliner. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca gagasan Adams mengenai pentingnya filologi agaknya bisa dilacak pada pendapat Max Muller salah seorang dari tiga pendiri the study of religion&amp;nbsp; yang juga sangat menekan soal perbekalan bahasa pengkaji agama. Sampai-sampai ia mengutip paradoks Goethe yang mengatakan : ” He who knows one language knows none ”.&amp;nbsp; Penguasaan bahasa dapat membantu memahami sendiri secara langsung suatu agama, dibanding jika melalui terjemahan yang kemungkinan besar akan menagndung kesalahan-kesalahan dalam pemahaman. &lt;br /&gt;Bagi Joachim Wach, penguasaan bahasa bagi para pengkaji agama akan memungkinkan untuk memperoleh the most extensive information, yaitu informasi yang luas berkaitan denagn subject matter-nya sehingga akan memungkinkan pemahaman terhadap fenomena agama. &lt;br /&gt;Dengan penguasaan bahasa akan diperoleh kebenaran deskripsi agama secara akademik dan juga kebenaran dalam perspektif pemeluknya.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendekatan Sosial&lt;br /&gt;Munculnya kajian sosial dan cabang-cabangnya adalah hal yang tak terbantahkan dalam kehidupan intelektual dan di organisasi keilmuan di universitas saat ini. Untuk berbagi alasan, banyak hal sosial yang tertarik pada kajian Timur Tengah merasa perlu untuk mengkaitkan kajian sosial dengan Islam. Di amerika Utara, jika seseorang berpikir tentang banyaknya karya berkaitan dengan tradisi ke-Islaman khususnya pada jaman modern, maka sebagaian besarnya dihasilkan oleh para ahli ilmu sosial, bukan orang-orang yang berorientasi humanistic dan bukan oleh individu-individu yang dididik dalam kajian keagamaan. Sebagian besar karya ini bernilai tinggi karena dapat meningkatkan informasi bagi para pengkaji dibidang kajian Timur Tengah, dan metode-metodenya dapat digunakan untuk menganalisis dan memperluas pemahaman. &lt;br /&gt;Untuk menemukan ciri-ciri ”pendekatan ilmu-ilmu sosial” dalam studi Islam sangat sulit. Hal ini disebabkan beragamnya pendapat dikalangan ilmuan sosial sendiri tentang validitas kajian yang mereka lakukan. Salah satu ciri utama pendekatan sosial adalah pembarian definisi yang tepat tentang objek telaah mereka. Adams berpendapat bahwa studi sejarah bukanlah ilmu sosial, sebagaimana sosiologi. Perbedaan mendasar terletak pada sosiolog membatasi secara pasti bagian dari aktivitas manusia, yang dijadikan fokus studi dan kemudian mencari metode khusus yang sesuai dengan objek tersebut, sedangkan sejarawan memiliki tujuan lebih luas lagi dan menggunakan metode yang bervariasi. Studi agama dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial berusaha memahami agama sebagai ”objective term”&amp;nbsp; yang ditunjukan dalam perilaku manusia. Dalam wilayah ini yang dikaji adalah agama sebagai nilai-nilai sosial, sebagai mekanisme integrasi sosial, dan sebagainya. Persoalan sosial keagamaan yang terjadi di masyarakat dilihat dengan menggunakan teori-teori sosial. Seperti teori ”Struktural” untuk menjelaskan religiositas sebagai respon atas perkembangan masyarakat Secara jujur diakui oleh Adams, bahwa pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam studi agama mengandung kelemahan karena dapat mereduksi pandangan keagamaan manusia. Padahal, sejarah pemikiran tentang sifat agama penuh dengan teori-teori yang menerangkan bahwa agama merupakan perluasan&amp;nbsp; nilai-nilai sosial, mekanisme integrasi sosial dan sarana yang menghubungkan dengan yang tidak dapat diketahui atau dikontrol. Dari sini dapat diketahui bahwa timbulnya reaksi keagamaan terhadap pendekatan ilmu-ilmu sosial dikarenakan tercerabutnya beberapa referensi transendental dan diturunkan ke dunia material. Beberapa ilmuan dibidang sosial seperti ilmu politik, sosiologi, dan anthropologi banyak menggunakan teori-teori sosial untuk melihat hubungan agama dan masyarakat, khusunya di negara-negara Islam. Pertanyaan kemudian melebar kearah sejauh mana pengaruh Islam terhadap politik, ekonomi, dan perubahan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendekatan Fenomenologi &lt;br /&gt;&amp;nbsp;Di samping melalui pendekatan di atas, studi Islam dilakukan dengan pendekatan yang dikenal dengan sebutan Religionswissenschaft.&amp;nbsp; Mereka yang menggunakan pendekatan ini yang muncul sekitar seperempat akhir abad ke-19 ini berjuang menggunakan pendekatan ilmiah terhadap agama sebagai sebuah fenomena sejarah yang universal dan penting. Di Amerika Utara pendekatan studi seperti ini dikenal dengan sebutan sejarah agama atau perbandingan agama. Adams tidak mempedulikan perubahan konsepsi Religionswissenschaft seperti pada awal munculnya kemudian menjadi fenomenologi sebagai salah satu ciri pendekatan dalam studi agama. Diakui Adams sangat sulit mendefinisikan fenomenologi agama, karena memang mereka sendiri yang menyebut fenomenologi agama. &lt;br /&gt;Ada dua hal yang menjadi karakteristik pendekatan fenomenologi. Pertama adalah bahwa fenomenologi merupakan metode untuk memahami agama orang lain yang mengharuskan peneliti mengenyampingkan keimanannya sendiri sebagai upaya untuk mencoba merekonstruksi pikirannya untuk memahami agama tersebut. Aktivitas seperti ini disebut epoche. Dia berusaha untuk membayangkan pengalaman orang lain di benaknya. Ini mengimplementasikan kesatuan di dalam aspek personal kemanusiaan pada pengalaman keagamaan dan kesamaan mendasar pada semua orang sekali pun berbeda waktu, ruang, dan budaya. Aspek fenomenologi pertama ini-epoche- sangatlah fundamental dalam studi Islam. Ia merupakan kunci untuk menghilangkan sikap tidak simpatik, marah dan benci atau pendekatan yang penuh kepentingan (interested approaches) dan fenomenologi telah membuka pintu penetrasi dari pengalaman keberagamaan Islam baik dalam skala yang lebih luas atau yang lebih baik. Kontribusi terbesar dari fenomenologi adalah adanya norma yang digunakan dalam studi agama menurut pengalaman dari pemeluk agama itu sendiri. Fenomenologi bersumpah meninggalkan selama-lamanya semua bentuk penjelasan yang reduksionis mengenai agama dalam terminologi lain atau segala pemberlakuan kategori yang dilukiskan dari sumber di luar pengalaman seseorang yang dikaji. Hal yang terpenting dari pendekatan fenomenologi agama adalah apa yang dialami oleh pemeluk agama, apa yang dirasakan, dikatakan dan dikerjakan serta bagaimana pula pengalaman tersebut bermakna baginya. Kebenaran studi fenomenologi adalah penjelasan tentang makna upacara, ritual, seremonial, doktrin, atau relasi sosial bagi dan dalam keberagamaan pelaku. &lt;br /&gt;Kedua adalah membuat skema taksonomi untuk mengklasifikasi fenomena dalam skop agama dan budaya. Dengan mengumpulkan materi sebanyak mungkin, para fenominologis mengelompokkan berbagai fenomena ke dalam kategori-kategori. Aktivitas dasarnya adalah mencari struktur pengalaman keagamaan agar sampai pada prinsip yang lebih luas yang termanifestasi dalam aspek keagamaan. &lt;br /&gt;E.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Objek Kajian Studi Islam&lt;br /&gt;Dalam mengkaji Islam, ada beberapa bidang kajian yang ditawarkan Adams, yaitu, Arab pra-Islam, studi tentang Nabi Muhammad, al-Qur’an, hadis, kalam, hukum Islam, filsafat, tasawuf, aliran Islam khususnya Shiah, ibadah, dan populer religion.&amp;nbsp; Adams berkeyakinan bahwa tidak mudah untuk menemukan kesepakatan tentang definisi Islam, mengingat Islam tidak hanya terdiri dari satu hal, melainkan terdiri dari banyak hal yang selalu berubah dan berkembang sesuai dengan kondisi sejarah. Kaitannya dengan historisitas inilah, Islam dapat menjadi objek kajian.&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Arab pra-Islam&lt;br /&gt;Arab pra-Islam, adalah kondisi sosial Arab sebelum Islam dan interaksi awal Islam dengan kebudayaan jahiliyah.Ada kesinambungan antara Islam dengan agama bangsa Semit. Adams membatasi pengertian tentang Arab pra-Islam adalah Arab menjelang munculnya Islam. Yang penting untuk digaris bawahi, menurut Adams, adalah kesinambungan pengalaman agama Islam dengan tradisi besar agama Timur Dekat, mempunyai hubungan erat antara keduanya.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Muhammad&lt;br /&gt;Studi tentang kehidupan Muhammad banyak bermunculan dalam beberapa tahun sejak Perang Dunia II. Adams memberikan contoh beberapa penulisan dan pengkaji dalam bidang ini. Satu di antaranya adalah Montgomery Watt yang menampilkan dimensi sosial dan ekonomi serta latar belakang aktivitas kenabian Muhammad. Karya Watt lebih menekankan aspek moral dari Nabi Muhammad dan belum menjelaskan bagaimana makna agama dari perspektif umat Islam pada masa Muhammad. Satu bidang kajian yang masih perlu mendapat perhatian dan dikembangkan menurut Adams adalah eksplorasi tentang kehidupan keberagamaan muslim pada masa Muhammad. Menurut Adams kita bisa merujuk pada peran Muhammad dalam keshalehan Islam, fungsi keberagamaan bagi masyarakat dan posisi kenabian dalam pemahaman Islam. Karya terakhir dalam bidang ini barulah tulisan Tor Andrae yang berjudul Die Person Muhammads. Bagi adams,sebenarnya posisi Muhammad dalam perspektif dan pemikiran orang Islam lebih penting dari pada biografi dan perkembangan kepribadian Muhammad. Mestinya, kajian historis dan kritis tidak hanya berhenti pada persepsi keagamaan tentang Muhammad sebagai Nabi, melainkan di arahkan pada eksplorasi empiris bagaimana orang Islam berfikir mengenai Muhammad.&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Al-Qur’an&lt;br /&gt;Kajian kritis tentang al-Qur’an yang dilakukan sarjana Barat banyak berkisar tentang bentuk teks al-Qur’an, kronologi turunnya al-Qur’an, sejarah teks, variasi bacaan, hubungan al-Qur’an dengan kitab sebelumnya, dan beberapa isu penting lainnya. Toshihiko Izutsu melakukan studi al-Qur’an dengan menggunakan metode dan analisis sematik yang canggih dan mengembangkan makna kata-kata kunci yang mendalam dan menunjukkan hubungan struktural di antara konsep-konsep tersebut dalam al-Qur’an sebagai satu kesatuan.&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadis&lt;br /&gt;Penelitian kritis terhadap hadis oleh ilmuwan Barat tidak bisa dilepaskan dari nama-nama berikut ini: Ignaz Goldziher (1910), Joseph Schacht (1945), Nabia Abbot (1967). Disamping juga Fazlur Rahman dalam Islamic Methodology and History (1965).&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kalam&lt;br /&gt;Dalam studi Kalam ada empat elemen penting yang perlu diperhatikan sebagai fokus kajia: pertama, model pembaharuan studi Kalam yang dilakukan oleh para sarjana Barat, khususnya Montgomery Watt. Dalam hal ini Adams memberikan catatan bahwa Watt sangat subyektif dan bias dalam mengkaji Kalam pada masa-masa awal. Kedua, upaya memperbaharui teologi konservatif yang generasi kedua seperti al-Juwaini, af-Ghazali, al-Baqillani, Abu Hudhayl al-Allaf, dll. Ketiga, studi tentang pemikiran awal teologi khususnya. Asy’ari dan al- Maturidi. Keempat, fokus studi pada gerakan teologi Mu’tazilah.&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sufisme&lt;br /&gt;Menurut Adams fokus studi tasawwuf yang masih relevan hingga sekarangbmeliputi: pertama, sejarah sufisme yang hingga kini terus menjadi pedebatan dan menjadi elemen penting dalam studi tentang sufisme. Kedua, studi tentang karya-karya penulis muslim khususnya dalam bentuk puisi dan prosa sebagai ungkapan simbolik kepatuhan dan kedekatan pada Allah. Ketiga, studi tentang mystical brotherhood (organisasi sufi/tarekat) yang merupakan manifestasi dari ajaran-ajaran sufi. &lt;br /&gt;7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Shi’ah&lt;br /&gt;Wilayah kajian shi’ah (terutama) difokuskan pada tiga hal ; pertama, sejarah shi’ah dan hubungannya dengan sunni. Kedua, sejarah munculnya shi’ah sab’iyyah (shi’ah ketujuh). Ketiga, sejarah dan aliran-aliran dalam shi’ah ithna’ashariyah.&lt;br /&gt;8.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keberagamaan Populer&lt;br /&gt;Masalah Ibadah, ketaatan dan keberagamaan populer merupakan area yang mendapat sambutan tersendiri di kalangan ummat Islam. Banyak penelitian yang menggambarkan masalah ini. Antara lain paper Padwick, Muslim Devitions dan The Religious Life and Attitude in Islam tulisan Mac Donald pada tahun 1909.&lt;br /&gt;F.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kontribusi Adams Terhadap Studi Islam&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Amin Abdullah menyebut Adams sebagai salah satu Sarjana Barat yang berpendapat bahwa metodologi ilmu-ilmu sosial dapat diterapkan pada ilmu-ilmu keIslaman, dan merasakan pentingnya menerapkan kaidah-kaidah ilmiah, metode dan cara pandang yang bisa digunakan dalam studi agama (religionwissenchaft) pada wilayah studi keIslaman. &lt;br /&gt;Secara konseptual, pendekatan yang ditawarkan dalam studi Islam sebenarnya merupakan penguatan terhadap pendekatan yang ditawarkan oleh Joseph M. Kitagawa yang menyatakan bahwa disiplin religionwissenchaft terletak di antara disiplin normatif di satu sisi dan disiplin deskriptif di sisi lain. Mengkaji agama dapat dilakukan dengan menggunakan disiplin-disiplin normatif maupun deskriptif. Aspek deskriptif studi agama harus bergantung kepada disiplin-disiplin yang berhubungan dengan perkembangan historis masing-masing agama psikolog, sosiologi, antropologi, filsafat, filologi, dan hermeneutik. Kontribusi konkrit Adams, adalah ketika memberikan eksplanasi dan pemetaan yang jelas dari pendekatan normatif dan deskriptif dalam studi Islam dengan diikuti uraian yang detail untuk masing-masing pendekatan. Kemudian masing-masing pendekatan tersebut coba digunakan dalam mengkaji bidang telaah studi Islam yang terdiri dari sebelas bidang kajian. Bagi pengkaji Islam sekarang, pemikiran Adams yang tertuang dalam artikel tersebut , sangat membantu karena Adams begitu banyak melaporkan hasil penelusuran literatur (prior research and concept on the topic) mengenai pendekatan tersebut.&lt;br /&gt;Hasil bacaan yang sangat banyak tersebut tidak sekedar dilaporkan secara detail, tetapi Adams memberikan kritikan sekaligus menyuguhkan kegelisahan akademik untuk masing-masing wilayah telaah dalam studi Islam yang dapat ditindaklanjuti dengan penelitian oleh para pengkaji Islam sekarang. Tidak mengherankan kalau banyak sarjana Barat pun yang menjadikan pemikiran Adams sebagai referensi dalam pembahasan studi agama dan Islam. &lt;br /&gt;Ricard C. Martin pun menempatkan Adams sebagai rujukan utama untuk menguatkan beberapa pendapatnya. Misalnya ketika menulis buku Appoarches to Islamic in Religious Studies, Richard Martin meminta Adams memberikan prakatanya. Bahkan Ricard Martin sempat memuja Adams sebagai orang yang terdidik untuk menjadi Islamis, yang mempelajari sejarah agama bersama Joachim Wach di Universitas Chicago. Adams berusaha mengejar dua disiplin–sejarah agama dan studi Islam – dengan tujuan untuk mendapatkan alat konseptual guna mempertajam analisis terhadap tradisi Islam dan pemahaman yang lebih tepat tentang hubungan antara unsure-unsur berbeda sekaligus hubungan strukturalnya dengan tradisi lain. Makalah Carl W. Ernst berjudul The Study of Religion and the Study of Islam&amp;nbsp;&amp;nbsp; banyak juga mengutip pemikiran Adams, meskipun juga memberikan kritik tajam terhadap beberapa item yang menjadi kelemahan pemikiran Adams.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di Indonesia, selain M. Amin Abdullah adalah Qodri Aziz yang melihat bahwa Charles J. Adams menampilkan uraian tersendiri dalam penjelasan tentang pendekatan yang ia lakukan dalam studi Islam.</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/semangat-pengkajian-kaum-orientalis.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmFEyEa4wOiTV5dh9-4yChZb2WiAjjqWQNiiN6qTB_vfUkIr-zprQSqPIl-Je0ysrCPS54mzKFx7zk1PP2BmizIbJhCoxLP-bdjFwz79uSU70cihZgytXLmn65aZuWQOEdvG74kS1zJSo/s72-c/UIJ+Hitam+copy.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-888512467573696154</guid><pubDate>Sun, 28 Jul 2013 14:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-29T07:10:38.366-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pribadi</category><title>Ulumul Hadits II</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYhXnvH6YX4vf4rcfNGIZD1K_hoBickOyznax-QW-ZfHjo5PWq3hl8UTh0VWagJ8_daJEjrgsEn-FeocxK1fEY1_uWV8mY7wFaiHLi1CX9o4Xwd_y_TDxkx2JJUCGqDQNqWkdog4OhOT8/s1600/UIJ+Warna.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYhXnvH6YX4vf4rcfNGIZD1K_hoBickOyznax-QW-ZfHjo5PWq3hl8UTh0VWagJ8_daJEjrgsEn-FeocxK1fEY1_uWV8mY7wFaiHLi1CX9o4Xwd_y_TDxkx2JJUCGqDQNqWkdog4OhOT8/s320/UIJ+Warna.jpg&quot; width=&quot;314&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
A.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengertian hadits dhoif&lt;br /&gt;Hadits dhoif secara bahasa berarti lemah artinya bahasa berarti hadits yang lemah atau hadits yang tidak kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan secara istilah para ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinisikan hadits dhoif ini akan tetapi pada dasarnya,isi, dan maksudnya tidak berbeda. Beberapa definisi,diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shohih dan syarat-syarat hadits hasan.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadits maqbul(hadits shohih atau yang hasan)&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada definisi yang ketiga ini disebutkan secara tegas,bahwa Hadits dhoif adalah&amp;nbsp; hadits yang jika satu syaratnya hilang.&lt;br /&gt;B.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kriteria hadits dhoif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kriteria hadits dhoif adalah dimana ada salah satu syarat dari hadits shohih dan hadits hasan yang tidak terdaoat padanya,yaitu sebagai berikut sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sanadnya tidak bersambung&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kurang adilnya perawi&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kurang dhobithnya perawi&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada syadz atau masih menyelisihi dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang yang lebih tsiqah dibandingkan dengan dirinya&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada illat atau ada penyebab samar dan tersenbunyi yang menyebabkan tercemarnya suatu hadits shohih meski secara zohir terlihat bebas dari cacat.&lt;br /&gt;C.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Macam-macam hadits dhoif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dlaif&amp;nbsp; sangat banyak macamnya, masing-masing memiliki derajat yang berbeda satu sama lain. Hadits dlaif yang memiliki kekurangan 1 syarat dari syarat-syarat hadits shahih dan hasan lebih baik daripada Hadits dlaif yang memiliki kekurangan 2 syarat dari syarat-syarat hadits shahih dan hasan dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sebab-sebab di atas maka macam-macam hadits dhoif ini digolongkan menjadi beberapa kelompok di antaranya:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dhoif pada segi sanad,yaitu terbagi lagi menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dhoif karena tidak bersambung sanadnya,misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits munqathi’ &lt;br /&gt;Hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur sanadnya di satu tempat atau lebih atau pada sanadnyan disebutkan nama seseorang yang tidak dikenal namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ii)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits muallaq&lt;br /&gt;Hadits muallaq adalah hadits yangg rawinya digugurkan seorang atau lebih di awal sanadnya secara berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iii)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits mursal&lt;br /&gt;Hadits mursal adalah hadits yang gugur sanadnya setelah tabi’in. Yang dimaksud dengan gugur disisn adalah nama sanad terakhirnya tidak disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iv)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits mu’dhal&lt;br /&gt;Hadits mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang sanadnya atau lebih secara berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits mudallas&lt;br /&gt;Hadits mudallas adalah hadits yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan bahwa hadits tersebut tidak bernoda.&lt;br /&gt;Orang yang melakukan tadlis(perbuatannya) disebut mudallis dan haditsnya disebut hadits mudallas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dhoif karena tidak ada syarat adil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits maudhu’&lt;br /&gt;Hadits maudhu’ adalah hadits yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang ciptaan ini dinisbatkan kepada Rasulullah secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits matruk dan hadits munkar&lt;br /&gt;Hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta(terhadap hadits-hadits yang diriwayatkannya) atau tampak kefasikannya baik pada perbuatan atau pada perkataanya,atau orang yang banyak lupa atau banyak ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang lemah (perawi yang dhoif) yang bertentangan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dhoif karena tidak ada dhobit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits mudraj&lt;br /&gt;Hadits mudraj adalah hadits yang menampilkan (redaksi) tambahan,padahal bukan (bagian dari) hadits.&lt;br /&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits maqlub&lt;br /&gt;Hadits maqlub yaitu hadits yang lafaz matannya tertukar pada salah seorang perawi pada salah seorang perawi atau seseorang pada sanasnya. Kemudian didahulukan dalam penyebutannya,yang seharusnya disebut belakangan atau mengakhirkann penyebutannya,yang seharusnya di dahulukan atau dengan diletakkannya sesuatu pada tempat yang lain.&lt;br /&gt;3)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits mudhtharib&lt;br /&gt;Hadits mudhtharib adalah hadits yang diriwayatkan dengan periwayatannya yang berbeda-beda padahal berasal dari satu perawi(yang meriwayatkan),dua atau lebih atau dari dua perawi atau lebih yang berdekatan(dan tidak bisa ditarjih).&lt;br /&gt;4)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits mushahhaf dan hadits muharraf&lt;br /&gt;Hadits mushahhaf adalah hadits yang perbedaannya(dengan hadits riwayat lain) terjadi karena perubahan titik kata, sedangkan bentuk tulisannya tidak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hadits muharraf adalah hadits yang perbedaannya terjadi disebabkan karena perubahan syakal kata dengan masih tetapnya bentuk tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dhoif karena kejanggalan dan kecacatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits syaz&lt;br /&gt;Hadits syaz adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang maqbul,aka tetapi bertentangan (matannya) dengan periwayatannya dari orang yang kualitasnya lebih utama.&lt;br /&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits mu’allal&lt;br /&gt;Hadits mu’allal adalah hadits yang diketahui ‘illatnya setelah dilakukan penelitian dan penyelidikan meskipun pada lahirnya telah tamoak selamat(dari cacat) coontoh hadits mu’allal:&lt;br /&gt;‘’si penjual dan si pembeli boleh memilih selama belum berpisahan’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dhoif pada segi matan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli hadits memasukkan ke dalam kelompok hadits dhoif dari sudut penyandarannya ini adalah hadits mauquf dan hadits maqhthu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits mauquf&lt;br /&gt;Hadits mauquf adalah hadits yang diriwayatkan dari para sahabat baik berupa perkataan,perbuatan,atau taqrirnya. Periwayatannya baik bersambung atau tidak.&lt;br /&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits maqthu’&lt;br /&gt;Hadits maqthu’ adalah hadits yang diriwayatkan dari tabi’in dan disandarkan kepadanya,baik perkataan maupun perbuatannya. Dengan kata lain bahwa hadits maqthu’ adalah perkataan atau perbuatan tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kehujjahan hadits dhoif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dhoif ada kalanya tidak bisa ditolerir kedhoiffannya misalnya karena kemaudhu’annya, ada juga yang bisa tertutupi kedhoiffannya(karena ada faktor yang lainnya). Untuk yang pertama tersebut, berdasarkan kesepakatan para ulama hadits, tidak diperbolehkan mengamalkannya baik dalam penetapan hukum-hukum,akidah maupun fadhail al ‘amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk jenis yang kedua dalam hal kehujjahannya hadits dhoif tersebut ,ada yang berpendapat menolak secara mutlak baik unuk penetapan hukum-hukum,akidah maupun fadhail al ‘amal&amp;nbsp; dengan alasan karena hadits dhoif ini tidak dapat dipastikan datang dari Rosulullah SAW. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah imam al Bukhari,imam muslim, dan Abu bakr abnu Al ‘Araby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bagi kelompok yang membolehkan beramal dengan hadits dhoif ini secara mutlak adalah imam Abu Hanifah, An-Nasa’i dan juga Abu dawud. Mereka berpendapat bahwa megamalkan hadits dhoif ini lebih disukai dibandingkan mendasrkan pendapatnya kepada akal pikiran atau qiyas. Imam ibnu Hambal,Abd Al-Rahman ibn Al-Mahdy dan Abdullah ibn Al mubarak menerima pengalaman hadits dhoif sebatas fadhail al ‘amal saja,tidak termasuk urusan penetapan hukum seperti halal dan haram atau masalah akidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qasiny memaparkan pendapat-pendpat ulama hadits yang lain tentang penerimaan terhadap hadits dhoif ini, yang juga tidak jauh berbeda dengan pemaparan di atas. Misalnya, ia mengutip pendapat ibnu Sholeah bahwa ia sendiri dalam kitabnya yang biasa dikenal ‘’Muqaddimah Ibnu Al-Sholah’’ tidak banyak mengulas tentang hal ini, selain kata ‘’hendaknya tentang fadhail dan semisalnya’’. Sementara Ibnu Hajar mengemukakan tiga syarat yang harus ada pada hadits dhoif yang bisa diterima dan diamalkan,yaitu: &lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pertama, tingkat kelemahannya tidak parah: orang yang meriwayatkan bukan termasuk pembohong atau tertuduh berbohong atau kesalahannya abanyak.&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kedua, tercakup dalam dasar hadits yang masih dibenarkan atau tidak bertentangan dengan hadits yang shohih(yang bisa diamalkan), ketiga, ketika mengamalkannya tidak seratus persen meyakini bahwa hadits tersebut benar-benar datang dari Nabi SAW,tetapi maksud mengamalkannya semata-mata untuk ikhtiyath&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara As-Suyuti sendiri cendrung membolehkan beramal dengan hadits dhoif termasuk dalam masalah hukum dengan maksud ikhtiyath. Ia mendasarkan pada pendapat Abu Daud, Iama ibn Hambal yang berpendapat bahwa itu lebih baik dibanding menggunakan akal atau rasio atau pendapat seseorang.&lt;br /&gt;E.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kitab-kitab yang memuat hadits dhoif&lt;br /&gt;Kitab-kitab yang memuat dan membahas hadits dhoif diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kitab ad-dlu’afa karya ibnu hibban,kitab ini memaparkan hadits yang menjadi dhoif karena perawinya yang dhoif.&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kitab Mizan-al-i’tidal karya adz-Zahabi,karya ini juga memaparkan hadits yang menjadi dhoif karena perawinya yang dhoif&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kitab al-Marasil karya Abu Daud yang khusus memuat hadits-hadits dhoif.&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kitab al-‘ilal karya ad-Daruquthni,juga secara khusus memaparkan hadits yang menjadi dhoif karena perawinya yang dhoif.&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits dhoif merupakan hadits yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shohih dan syarat-syarat hadits hasan. Hadits dhoif ini memilki penyebeb mengapa bisa tertolak di antaranya dengan sebab-sebab dari segi sanad dan juga dari segi matan.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kriteria hadits dhoif adalah karena sanadnya ada yang tidak bersambung,kurang adilnya perawi,kurang dhobiyhnya perawi dan Ada syadz dalam hadits tersebut.&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits dhoif terbagi menjadi beberapa kelompok baik itu yang didasarkan pada pembagian berdasarkan sanad hadits atau juga matan hadits.&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam menyikapi penerimaan dan pengamalan hadits dhoif ini terhadi khilafiah di kalangan ulama,ada yang membolehkannya dan ada juga yang secara mutlak tidak membolehkan beramal dengan hadits dhoif tersebut.&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kitab yang memuat hadits dhoif adalah&amp;nbsp; Mizan-al-i’tidal karya adz-Zahabi,Kitab ad-dlu’afa karya ibnu hibban, Kitab al-Marasil karya Abu Daud, Kitab al-‘ilal karya ad-Daruquthni.&lt;br /&gt;SYARAT-SARAT SEORANG RAWI&lt;br /&gt;Rarawi adalah orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa-appa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ta’rif muhadditsin bahwa suatu hadist dapat dinilai shahih apabila perawinya memenuhi lima syarat berikut:&lt;br /&gt;1. Sanadnya bersambung (tidak terputus)&lt;br /&gt;2. Rawinya bersifat adil&lt;br /&gt;3. Rawinya bersifat dabit&lt;br /&gt;4. Rawinya bersifat syuzuz&lt;br /&gt;5. Terhindar dari ‘illat&lt;br /&gt;a.1 Sanadnya bersambung (tidak terputus)&lt;br /&gt;ialah; sanad yang selamat dari keguguran. Dengan kata lain, bahwa tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari guru yang memberinya.&lt;br /&gt;a.2 Rawinya bersifat adil&lt;br /&gt;Butir-butir syarat yang dapat ditetapkan sebagai unsur-unsur kaidah periwayat yang adl adalah:&lt;br /&gt;a. beragama islam&lt;br /&gt;b. mukallat&lt;br /&gt;c. melaksanakan ketentuan agama&lt;br /&gt;d. memelihara muru’ah&lt;br /&gt;a.3 Rawinya bersifat dabit&lt;br /&gt;yang dimaksud dengan dabit adalah orang yang kuat hafalannya tentang apa yang telah didengarnya dan mampu menyampaikan hafalannya kapan saja dia menghendakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butir-butir sifat dabit yang telah disebutkan adalah:&lt;br /&gt;a. tidak pelupa&lt;br /&gt;b. periwayat itu memahami dengan baik riwayat yang telah didengarnya (diterimanya)&lt;br /&gt;c. periwayat itu hafal dengan baik riwayat yang telah didengarnya (diterimanya)&lt;br /&gt;d. periwayat itu mampu menyampaikan riwayat yang telah dihafalkannya itu, baik: (1) kapan saja dia mengendakinya (2) sampai saat dia menyampaikan riwayat itu kepda orang lain.&lt;br /&gt;a.4 Terhindar dari syuzuz (ke-syah-syahan)/Rancu&lt;br /&gt;Kejanggalan suatu hadist itu, terletak kepada adanya perlawanan antara suatu hadist yang diriwayatkan oleh rawi yang antara suatu hadist yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul (yang diterima periwayatnya) dengan hadist yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajih (kuat) daripadanya, disebabkan dengan adanya kelebihan jumlah sanad atau kelebihan dalam kedhabitan rawinya atau adanya segi-segi tarjih yang lain.&lt;br /&gt;a.5 Terhindar dari ‘illat&lt;br /&gt;Ialah: suatu penyakit yang samar-samar, yang dapat menodai keshahihan suatu hadist. Keberadaannya menyebabkan hadist yang pada ahirnya tampak berkualitas sakhih menjadi tidak sah.&lt;br /&gt;METODOLOGI PERIWAYATAN HADIS&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Hadis Nabi Saw. merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an yang dihadirkan sebagai salah satu petunjuk bagi umat Islam dalam menjalankan tuntunan agamanya. Keberadaan hadis dalam kehidupan masyarakat menjadi penting tatkala dalam al-Qur’an tidak didapatkan penjelasan yang rinci dalam suatu persoalan.&lt;br /&gt;Namun, kehadiran hadis sebagai sumber pokok ajaran Islam, memang banyak dipersoalkan, hal ini berkaitan dengan matan, perawi, sanad dan lainnya, yang kesemuanya menjadi penentu boleh atau tidaknya suatu hadis untuk dijadikan hujjah. Hal ini yang menyebabkan ijtihad para ulama hadis bisa melahirkan dua komponen ilmu dalam mempelajari, memahami, menganalisa dan mengamalkan hadis Nabi saw, yaitu yang dikenal dengan ilmu riwayah dan ilmu dirayah hadis . Keduanya tidak dapat dipisahkan sebagai dasar untuk mengetahui otentisitas hadis.&lt;br /&gt;Di awal masa Islam sudah timbul perbedaan pemahaman dalam penyampaian redaksi hadis yang dilakukan para sahabat antara tekstual dengan kontekstual sehingga melahirkan apa yang disebut dengan periwayatan hadis bi al-lafẓi wa al-ma’na. Pada tingkat selanjutnya ada permasalahan dalam tata cara penerimaan dan penyampaian hadis yang dikenal dengan istilah taḥammul al-ḥadīth wa adā’uhū, yang bisa menentukan kualitas sebuah hadis karena terkait dengan orang yang meriwayatkannya.&lt;br /&gt;Dalam makalah ini kami akan mendeskripsikan dan menganalisa lebih jauh tentang taḥammul al-ḥadīth wa adā’uhū dan periwayatan hadis bi al- lafẓi wa al-ma’na, sebagai salah satu bidang cakupan penentu kevalidan sebuah hadis.&lt;br /&gt;B. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Lafẓiy dan bi al-Ma’na&lt;br /&gt;Ada dua tata cara dalam proses transmisi redaksi hadis, yakni periwayatan yang dilakukan secara lafal dan periwayatan secara makna.&lt;br /&gt;1. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Lafẓiy&lt;br /&gt;Periwayatan hadis dengan lafal adalah cara periwayatan hadis yang disampaikan sesuai dengan lafal yang disabdakan oleh Nabi saw. secara persis tanpa ada perubahan sedikitpun pada tatanan kalimatnya. Atau dengan kata lain, meriwayatkan hadis dengan lafal yang masih asli dari Nabi saw. Riwayat hadis dengan lafal ini sebenarnya tidak ada persoalan, karena sahabat menerima langsung dari Nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan pada saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya.&lt;br /&gt;Sahabat yang terkenal ketat dalam menjaga otentisitas redaksi hadis adalah Abdullah bin Umar. Ia tidak memperkenankan adanya pengurangan atau penambahan satu huruf pun dari redaksi hadis. Dalam sebuah kasus, ia pernah menegur ‘Ubaid bin Amir ketika meletakkan puasa dalam lima prinsip Islam pada urutan nomor tiga yang seharusnya ada pada urutan nomor empat sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw.&lt;br /&gt;Dikisahkan pula bahwa Barrā’ ibn ‘Āzib pernah diajari oleh rasulullah saw. sebuah do’a sebelum tidur yang didalamnya ada kata “bi nabiyyika” dan ketika itu al-Barra’ menyakan apakah kata itu bisa diganti dengan “bi rasūlika” beliau menolak, dan tetap meneruskan dengan kata “bi nabiyyika”. Untuk lebih jelasnya penulis bisa menyajikan bentuk doa yang diajarkan oleh Nabi saw kepada al-Barra’ bin ‘Azib, sebagai berikut;&lt;br /&gt;إذا أويت الى فراشك طاهرا فتوسد يمينك ثم قل: اللهم أسلمت وجهي اليك وفوضت أمري اليك وألجأت ظهري اليك لا ملجأ ولا منجى الا اليك. أمنت بكتابك الذي أنزلت ونبيك الذي أرسلت.&lt;br /&gt;“Apabila kamu berbaring di tempat tidurmu dalam keadaan suci lalu meletakkakan tangan kananmu (pada kepalamu sebagai bantal) maka berdoalah; Ya Allah aku sejahterakan wajahku di hadapan-Mu, aku pasrahkan urusanku pada-Mu, dan aku lindungkan harapanku pada-Mu, tiada pelindung dan tempat berharap selain kepada Engkau. Aku beriman pada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.”&lt;br /&gt;Tingkat kepedulian para sahabat dalam menjaga otentisitas hadis ini tergambar jelas ketika mereka tidak gegabah dalam meriwayatkan hadis sebelum mereka yakin betul kebenaran lafal dan ketepatan huruf serta memahami maknanya. Jika mereka menemukan keraguan untuk meriwayatkan sebuah hadis, mereka memilih diam. Hal demikian dilakukan karena mengingat peringatan keras Nabi saw yang akan memasukkan mereka pada golongan pendusta hadis.&lt;br /&gt;Sikap demikian tidak hanya terjadi di tingkatan pada sahabat tetapi dapat ditemui pula dari pendapat segolongan ulama fiqh, ulama ushul dan ulama hadis yang tidak memberikan ruang sedikitpun pada periwayatan hadis secara makna. Mereka mewajibkan periwayatan hadis dengan lafal, dan tidak memperbolehkan periwayatan dengan makna sama sekali.&lt;br /&gt;Akan tetapi dalam kenyataannya periwayatan hadis dengan lafal ini sangat sedikit jumlahnya. Ciri-ciri hadis yang memang harus diriwayatkan dengan lafal ini hanya terbatas pada antara lain:&lt;br /&gt;a. Hadis yang merupakan lafal-lafal ibadah (ta’abbudiyyah), seperti tentang bacaan azan, zikir, doa, syahadat, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Hadis yang bisa dijadikan contoh untuk lafal ibadah ini seperti bacaan dzikir yang diriwayatkan dari Shaddad bin Aus ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;سيد الاستغفار: اللهم أنت ربي، لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أبوء لك بنعمتكّ عليّ، وأبوء لك بذنبي فاغفر لي، فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، أعوذ بك من شر ما صنعت. إذا قال حين يمسي فمات دخل الجنة، أو كان من أهل الجنة، وإذا قال حين يصبح فمات من يومه مثله.&lt;br /&gt;“Paling tingginya ucapan istighfar adalah: ‘Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau menciptakanku maka aku adalah hamba-Mu. Dan atas janji dan ancaman-Mu aku lakukan semampuku. Aku akui segala nikmat-Mu bagiku, dan ku akui segala dosa ini pada-Mu maka ampunilah aku karena tiada yang bisa mengampuni segala dosaku selain Engkau. Aku berlindung pada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan’. Jika ini dibaca pada waktu sore kemudian ia mati maka ia langsung masuk surga atau ia termasuk dari penduduk surga, demikian juga jika dibaca pada waktu pagi. ”&lt;br /&gt;b. Jawāmi’ al-kalimah (ungkapan-ungkapan Nabi saw yang sarat makna) karena Nabi saw memiliki faṣaḥaḥ dalam perkataan yang tidak dimiliki yang lainnya.&lt;br /&gt;Bisa diambil contoh seperti sabda Nabi saw tentang umat Islam. Dari Abū Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده . والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه&lt;br /&gt;“Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.”&lt;br /&gt;c. Hadis yang berkaitan dengan masalah aqidah seperti tentang dzat dan sifat Allah, rukun Islam, rukun iman, dan sebagainya. Untuk kategori ini penulis mengambil contoh hadis tentang sifat Allah swt, seperti;&lt;br /&gt;يقبض الله الأرض يوم القيامة، ويطوي السماء بيمينه، ثم يقول: أنا الملك، أين ملوك الأرض؟&lt;br /&gt;“Pada hari kiamat Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Dia berfirman; ‘Akulah yang Raja Diraja, dimanakah para raja dunia itu?’”&lt;br /&gt;Namun ketika dihadapkan pada persoalan bahwa hadis bukan hanya berbentuk perkataan saja tetapi juga dengan perbuatan dan ketetapan Nabi saw, para ulama yang bersikeras mempertahankan riwayat hadis secara lafal, seperti Abu Bakar al-Arabi, Muhammad bin Sirin, Raja’ bin Haywah, Qasim bin Muhammad, dan Sa’lab bin Nahwiy, mereka berpendapat bahwa periwayatan redaksi hadisnya secara makna sepenuhnya hanya diperbolehkan pada tingkatan sahabat, mengingat karena para sahabat memiliki pengetahuan bahasa Arab yang tinggi (faṣaḥaḥ), meskipun tidak setingkat dengan susunan kalimat Nabi saw. dan mereka telah menyaksikan secara langsung keadaan dan perbuatan Nabi saw.&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis, periwayatan secara lafal tidak mungkin seluruh hadis bisa dilaksanakan mengingat pengertian hadis itu sendiri merupakan segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi saw, baik perkataan, perbuatan, penetapan, tekad dan cita-cita Nabi saw, yang tidak semua dalam bentuk perkataan sehingga keharusan periwayatan hadis harus dengan lafal itu tidak bisa terjadi. Tentunya hal ini tetap dalam batasan-batasan yang telah diungkapkan oleh para ulama di atas, yaitu tidak boleh masuk pada ranah hadis yang berbau aqidah, ibadah dan yang mengandung kalimat-kalimat yang sarat makna dari Nabi saw.&lt;br /&gt;2. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Ma’na&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjalanan hadis diketahui bahwa sepeninggal Rasulullah saw. periwayatan hadis itu diperketat agar tidak terjadi periwayatan yang bukan dari Nabi saw. tetapi mereka menyandarkannya pada Nabi saw demi kepentingan diri atau kelompok mereka. Yaitu, dengan mengharuskan para perawi menyampaikan hadis apa adanya, tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikitpun, sehingga redaksi hadis tidak mengalami perubahan sama sekali.&lt;br /&gt;Tetapi dalam kenyataannya, banyak dijumpai hadis yang memiliki makna sama tapi diungkapkan dengan redaksi yang berbeda-beda. Karena itu, kita bisa menjumpai komentar hadis “muttafaq ‘alayh, wa al-lafẓ li Muslīm, atau wa al-lafẓ li al-Bukhārīy”. Dengan demikian, tampak sangat jelas bahwa periwayatan hadis secara makna itu ada dan diperbolehkan.&lt;br /&gt;Bisa didefinisikan bahwa periwayatan hadis dengan makna adalah periwayatan hadis dengan maknanya saja sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan. Atau dengan kata lain, apa yang diungkapkan oleh Rasulullah saw hanya dipahami maksudnya saja, lalu disampaikan oleh para sahabat dengan lafal atau susunan redaksi mereka sendiri. Hal ini dikarenakan para sahabat memiliki kualitas daya ingatan yang beragam, ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Di samping itu, kemungkinan masanya sudah lama sehingga yang masih diingat hanya maksudnya sementara apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya lagi.&lt;br /&gt;Menukil atau meriwayatkan hadis secara makna ini hanya diperbolehkan ketika hadis-hadis belum terkodifikasi. Adapun hadis-hadis yang sudah terhimpun dan dibukukan dalam kitab-kitab tertentu (seperti sekarang), tidak diperbolehkan merubahnya dengan lafal/matan yang lain meskipun maknanya tetap tanpa ada perubahan.&lt;br /&gt;Untuk memperjelas adanya hadis yang diriwayatkan secara makna penulis akan memberikan gambaran contoh sebagai berikut;&lt;br /&gt;لا يجد احد حلاوة الايمان حتى يحب المرء لا يحبه الا لله و حتى ان يقذف فى النار احب اليه من ان يرجع الى الكفر بعد إن انقذه الله وحتى يكون الله ورسوله احب اليه مما سواهما.&lt;br /&gt;“Tidaklah seseorang akan mendapatkan manisnya iman sampai ia mencintai seseorang hanya karena Allah, lebih senang dilempar ke dalam neraka daripada kembali pada kekufuran sesudah ia diselamatkan oleh Allah, dan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada lainnya”.&lt;br /&gt;ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار.&lt;br /&gt;“Tiga hal yang membuat seseorang akan merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari lainnya, ia mencintai seseorang karena Allah dan membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dicampakkan ke dalam neraka”.&lt;br /&gt;Hadis di atas sama-sama menerangkan tema tentang iman, namun keduanya diungkapkan dengan redaksi yang berbeda, baik dalam penggunaan lafal maupun susunannya.&lt;br /&gt;3. Sikap Para Sahabat dan Jumhur Ulama terhadap Periwayatan Hadis bi al-Ma’na&lt;br /&gt;Para sahabat yang banyak menerima hadis dengan redaksi yang beragam, antara lain, adalah ‘Alī bin Abī Ṭālib, Ibnu Abbās, Anas bin Mālik, Abū Hurairah, ‘Amr bin ‘Ash, ‘Ikrāmah, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung mereka memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna.&lt;br /&gt;Jumhur ulama pun sebenarnya telah sepakat memperbolehkan seseorang mendatangkan atau meriwayatkan hadis dengan maknanya saja tidak harus dengan lafal aslinya, tetapi dengan syarat ia termasuk orang yang berilmu sangat dalam mengenai Bahasa Arab, mengetahui sistem penyampaian dan penyusunan kalimatnya, dan berpandangan luas tentang fiqh beserta istilah-istilah hukum di dalamnya sehingga akan tetap terjaga dari pemahaman yang berlainan dan hilangnya kandungan hukum dari hadis tersebut. Kalau tidak demikian maka tidak diperbolehkan meriwayatkan hadis hanya dengan maknanya saja dan wajib menyampaikan dengan lafal yang ia dengan dari gurunya.&lt;br /&gt;Imam Shāfi’iy menerangkan tentang sifat-sifat perawi;&lt;br /&gt;“Hendaknya orang yang menyampaikan hadis itu seorang yang kepercayaan tentang agamanya lagi terkenal bersifat benar dalam pembicaraannya, memahami apa yang diriwayatkan, mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal dan hendaklah dia dari orang yang menyampaikan hadis persis sebagaimana yang didengar, bukan diriwayatkan dengan makna, karena apabila diriwayatkan dengan makna sedang dia seorang yang tidak mengetahui hal-hal yang memalingkan makna niscaya tidaklah dapat kita mengetahui boleh jadi ia memalingkan yang halal kepada yang haram. Tetapi apabila ia menyampaikan hadis secara yang didengarnya, tidak lagi kita khawatir bahwa dia memalingkan hadis kepada yang bukan maknanya. Dan hendaklah ia benar-benar memelihara kitabnya jika dia meriwayatan dengan hadis itu dari kitabnya.”&lt;br /&gt;Dari penjelasan ini nyatalah bahwa orang yang mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal, boleh meriwayatkan dengan makna apabila dia tidak ingat lagi lafal yang asli, karena dia telah menerima hadis, lafal dan maknanya.&lt;br /&gt;Bahkan, Imam Mawardi mewajibkan menyampaikan hadis dengan maknanya jika susunan lafalnya tidak bisa diingat lagi, sebab jika hadis tersebut tidak tersampaikan meski dengan maknanya, maka ia termasuk orang yang menyembunyikan sumber hukum Islam, yaitu hadis itu sendiri.&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain Al-Māwardiy juga berpendapat; “Jika seseorang tidak lupa kepada lafal hadis niscaya tidak boleh dia menyebutkan hadis itu dengan bukan lafalnya, karena di dalam ucapan-ucapan nabi sendiri terdapat faṣaḥaḥ yang tidak terdapat pada perawinya.”&lt;br /&gt;Pendapat lain diungkapkan oleh Ibnu Sirin , “Aku telah mendengarkan hadis dari sepuluh perawi yang mengandung makna sama tapi diungkapkan berbeda-beda.”&lt;br /&gt;Dengan pengakuan di atas menunjukkan bahwa periwayatan hadis dengan makna sudah tidak asing lagi di kalangan umat Islam. Gambaran kondisi ini juga yang memperkuat pendapat jumhur ulama tentang pembolehan meriwayatkan hadis dengan makna, termasuk di dalamnya imam mazhab yang empat.&lt;br /&gt;Hadis Rasulullah saw menjadi landasan untuk memperkuat pendapat para ulama yang memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna. Hadis riwayat al-Baihaqiy dari Abdullah bin al-Ukaymah al-Laith, Nabi saw bersabda;&lt;br /&gt;إذا لم تحلوا حراما ولا تحرموا حلالا فلا بأس&lt;br /&gt;“Jika kalian tidak merubah yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal maka itu tidak apa-apa”&lt;br /&gt;Untuk menjaga sikap kehati-hatiannya dalam setiap meriwayatkan hadis para sahabat, tabi’in dan para ahli hadis setelah mereka sudah mentradisikan ungkapan khusus sebagai tanda bahwa hadis yang diriwayatkannya dilakukan secara makna, terutama mengenai keadaan peperangan atau peristiwa tertentu, setelah meriwayatkan hadis mereka mengatakan “aw kamā qāla” (atau seperti yang disabdakan Nabi saw), “aw qarīban minhu” (atau yang mendekati), “aw nahwa hādha” (atau riwayat sejenis ini), atau “aw shibhahu” (atau riwayat yang serupa). Praktek seperti ini sering dilakukan oleh Abdullah Ibnu Mas’ūd, Abu Darda’, Anas bin Malik, dan lain-lain. Maka sepatutnya kiranya kita mengikuti jejak mereka dalam setiap selesai mengutarakan sebuah hadis sebagai sikap kehati-hatian kita atau memang ada keraguan dalam membacakan susunan kalimatnya.&lt;br /&gt;Selajutnya, ulama hadis mempersoalkan tentang boleh tidaknya perawi hadis meringkas atau memenggal matan hadis. Ada yang melarangnya, ada yang membolehkannya tanpa syarat dan ada yang membolehkannya dengan syarat-syarat tertentu. Pendapat yang terakhir ini banyak diikuti oleh ulama hadis, syarat yang dimaksud adalah:&lt;br /&gt;a. yang melakukan ringkasan bukanlah periwayat hadis yang bersangkutan.&lt;br /&gt;b. apabila peringkasan dilakukan oleh periwayat hadis, maka harus ada hadis yang dikemukakan secara sempurna.&lt;br /&gt;c. tidak terpenggal kalimat yang mengandung kata pengecualian (al-istithnā’), syarat, penghinggaan (al-ghāyah) dan yang semacamnya.&lt;br /&gt;d. peringkasan tidak merusak petunjuk dan penjelasan yang terkandung dalam hadis yang bersangkutan.&lt;br /&gt;e. yang melakukan peringkasan haruslah orang yang benar-benar telah mengetahui kandungan hadis yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Menurut penulis, ulama berbeda pendapat tentang periwayatan hadis dengan cara meringkas atau memenggal matan tersebut. Sesungguhnya berpangkal dari perbedaan tentang boleh-tidaknya periwayatan secara makna. Pendapat yang cukup realistik dan hati-hati adalah pendapat yang membolehkannya dengan catatan harus dipenuhi syarat-syarat tertentu.&lt;br /&gt;C. Metodologi al-Taḥammul wa al-Adāʻ Hadis&lt;br /&gt;Dalam ilmu hadis istilah yang digunakan oleh ulama ahli hadis tentang proses penerimaan dan periwayatan hadis (al-Taḥammul wa al-Adāʻ).&lt;br /&gt;1. Definisi al-Taḥammul al-Hadith dan al-Adāʻ al-Hadīth&lt;br /&gt;Pengertian al-taḥammul menurut bahasa yaitu bentuk maṣdar dari : تَحَمَّلَ – يَتَحَمَّلُ تَحَمُّلاً. Dikatakan حَمَّلَهُ الأمْرُ maknanya adalah “membebankan suatu urusan kepadanya”, sedangkan menurut istilah adalah mengambil sebuah hadis dari seorang guru dengan cara atau metode tertentu (sebagaimana yang akan dibahas selanjutnya). Dan sebaliknya kegiatan menyampaikan atau meriwayatkan hadis dari seorang perawi kepada orang lain disebut dengan istilah al-adā’.&lt;br /&gt;2. Syarat Kelayakan Penerima dan Penyampai Hadis&lt;br /&gt;Dalam kelayakan si penerima hadis para ulama memfokuskan diri pada pengambil hadis dari kalangan anak-anak. Karena tidak tertutup kemungkinan ada seorang perawi hadis yang ketika menerima hadis ia masih kecil sehingga dimungkinkan juga periwayatan hadisnya tidak sesuai dengan apa yang diterima dari gurunya. Contoh dari kalangan sahabat pada saat mereka masih belia sudah menerima hadis adalah seperti Ḥasan Ḥusain, Abdullah bin Zubayr, Anās bin Mālik, Abdullah bin Abbās, Abū Sa’id al-Khuḍriy, Mahmūd bin Rabī’, dan sebagainya. Namun demikian para sahabat, tabi’in dan ulama fiqh tetap saja menerima hadis mereka tanpa ada pemilihan antara hadis yang mereka terima di waktu para sahabat tadi belum baligh dan sesudah baligh.&lt;br /&gt;Ada syarat ukuran usia dari perawi yang masih anak-anak untuk bisa mendengarkan riwayat hadis, yaitu ukuran tamyiz. Namun permasalahan yang muncul kemudian adalah mengenai ukuran tamyiz itu sendiri bagi bisa dipandang berbeda-beda. Untuk itulah para ulama juga berbeda dalam menentukan boleh dan tidaknya anak yang belum baligh menerimakan hadis. Perbedaan tersebut tergambar sebagai berikut;&lt;br /&gt;a. Umur minimalnya lima tahun. Ini dilandaskan pada riwayat Imam al-Bukhārīy dalam ṣaḥīḥ-nya dari hadis Muḥammad bin Rabī’ ra. berkata; “aku masih ingat siraman Nabi saw dari timba ke mukaku, dan aku ketika itu berusia lima tahun.”&lt;br /&gt;b. Kegiatan mendengar oleh anak-anak itu bisa absah jika ia sudah bisa membedakan antara sapi dan himar. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Hafīẓ Musa bin Hārūn al-Hammāl.&lt;br /&gt;c. Keabsahan mendengarkan hadis bagi anak-anak jika ia telah memahami isi pembicaraan dan mampu memberikan jawaban, maka ia sudah masuk usia tamyiz. Pendapat ini dirumuskan oleh ulama hadis mutaqaddimīn.&lt;br /&gt;Sebenarnya kegiatan mengumpulkan dan meriwayatkan hadis pada anak-anak sudah biasa terjadi di kalangan ulama, baik mutaqaddimīn maupun muta’akhkhirīn. Terbukti bahwa beberapa ahli hadis seperti al-A’mash aktif menyebarkan hadis pada anak-anak. Ini menunjukkan secara jelas tentang keabsahan anak yang belum baligh mendengarkan hadis.&lt;br /&gt;Adapun orang yang menyampaikan (adā’ al-hadīth) hadis harus memenuhi syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Islam. Hadis yang diriwayatkan oleh non Islam tidak dapat diterima.&lt;br /&gt;b. Baligh dan berakal sehat. Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tidak mukallaf tidak dapat diterima.&lt;br /&gt;c. Al-’adalah. Yang dimaksud dengan persyaratan ini adala sifat yang melekat pada seorang periwayat hadis sehingga ia selalu setia terhadap Islam. Orang ini tidak mau melakukan dosa besar, dan selalu menjaga diri sedapat mungkin tidak melakukan dosa kecil.&lt;br /&gt;d. Al-dhabtu. Dimaksudkan di sini adalah teliti dan cermat, bak ketika menerima pelajaran hadits maupun menyampaikannya. Sudah barang tentu, orang seperti ini mempunyai hafalan yang kuat, pintar, dan tidak pelupa.&lt;br /&gt;Menurut analisa penulis, kriteria di atas merupakan penentu diterima tidaknya riwayat hadis yang mereka sampaikan. Salah satu syarat tidak terpenuhi maka gugurlah ia sebagai perawi hadis. Meskipun kegiatan menerima hadis di kalangan anak-anak masih diperbolehkan tetapi dalam menyampaikan atau meriwayatkan hadis mereka belum bisa diterima. Dengan kata lain, boleh menerima hadis di waktu belum baligh dan diriwayatkannya pada waktu sudah baligh dan riwayat hadisnya bisa diterima. Hal ini memiliki relevansi dengan periwatan hadis yang dilakukan oleh seseorang yang di waktu menerima atau mendengar hadis ia belum masuk Islam dan menyampaikannya ketika sudah masuk Islam, maka hadisnya pun juga bisa diterima.&lt;br /&gt;3. Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth dan Sighat-Sighat al-Adā’&lt;br /&gt;Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth adalah tata cara penerimaan hadis dari seorang guru kepada muridnya, sedangkan sighat-sighat al-adā’ adalah ungkapan-ungkapan yang dipergunakan ketika meriwayatkan atau menyampaikan hadis kepada muridnya sebagai sarana untuk menunjukkan cara pengambilan hadis yang diambil dari gurunya.&lt;br /&gt;Metode penerimaan hadis ada 8, yaitu:&lt;br /&gt;a. Al-samā’, yaitu suatu metode penyampaian langsung antara guru dengan murid. Guru membacakan hadis, bentuknya bisa membaca hafalan, membacakan kitab, tanya-jawab atau dikte. Dalam proses penyampaian hadis, metode inilah yang paling kuat. Ungkapan yang dipakai adalah: Sami’tu, ḥaddathanī,&lt;br /&gt;b. Al-’ardhu atau al-qirā’ah, yaitu seorang murid membacakan hadis dihadapan guru. Dalam metode ini seorang guru dapat mengoreksi hadis yang dibacakan murid. Istilah yang dipakai adalah: Akhbaranā, atau ḥaddathanā qirā’atan ‘alayh.&lt;br /&gt;c. Al-ijāzah, yaitu pemberian ijin seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis tanpa membacakan hadis satu per satu. Istilah yang dipakai adalah: Anba’anā, akhbaranā ijāzatan atau ḥaddathanā ijāzatan.&lt;br /&gt;Mengenai pembagian ijazah dalam meriwayatkan hadis para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan dibagi menjadi delapan , ada juga yang membaginya menjadi sembilan , dan sebagainya. Namun di sini penulis hanya menyajikannya dalam lima kategori saja, yaitu;&lt;br /&gt;1. Guru memberi izin kepada orang tertentu untuk riwayat yang tertentu seperti dia mengatakan; “Saya memberi ijazah kepadamu meriwayatkan Sahih al-Bukhari”. Kategori ini adalah bagian ijazah tanpa munawalah yang paling tinggi.&lt;br /&gt;2. Guru memberi ijazah kepada orang tertentu untuk menerima riwayat yang tidak tertentu seperti dia mengatakan; “Saya memberi ijazah kepada anda untuk meriwayatkan hadis-hadis yang saya dengar”.&lt;br /&gt;3. Memberi ijazah kepada orang yang tidak tertentu dengan riwayat yang tidak tertentu seperti saya memberi ijazah kepada orang-orang di zaman saya untuk meriwayatkan hadis-hadis yang saya dengar.&lt;br /&gt;4. Memberi ijazah kepada orang yang tidak diketahui atau riwayat yang tidak diketahui seperti, “saya memberi ijazah kepada anda untuk meriwayatkan kitab sunan”, sedangkan dia meriwayatkan beberapa kitab sunan, atau “saya memberi ijazah kepada Muḥammad bin Khālid al-Dimashqiy, padahal banyak orang yang mempunyai nama ini.&lt;br /&gt;5. Memberi ijazah kepada orang yang tidak ada, contohnya; “saya memberi ijazah kepada si fulan dan anak yang akan dilahirkan”.&lt;br /&gt;Hukum untuk bagian pertama di atas adalah ṣaḥīḥ menurut pendapat mayoritas ulama dan dipakai secara berterusan serta harus meriwayatkan dengan cara ini dan beramal dengannya. Beberapa kumpulan ulama pula menganggap cara ini tidak tepat dan ini salah satu dari dua pendapat yang dinukilkan dari Imam al-Shāfi’iy.&lt;br /&gt;Sementara bagian-bagian ijazah yang lain, khilaf tentang keharusan pemakaiannya. Bagaimanapun, penerimaan dan periwayatan hadis dengan cara ini (ijazah) merupakan penerimaan lemah dan belum pantas untuk langsung menerimanya.&lt;br /&gt;Lafadz-lafadz Penyampaian, yaitu: 1) Yang paling baik dengan mengatakan: أجاز لي فلان (si fulan telah mengijazahkan kepada saya); 2) Diharuskan dengan lafadz sama’ yang mempunyai ketenntuan seperti حدّثنا إجازة (dia telah menceritakan kepada kami secara ijazah) atau أخبرنا إجازة (dia telah mengabarkan kepada kami secara ijazah); 3) Istilah ulama muta`akhkhirīn: Lafadz أنبأنا(menyampaikan kepada kami) dan ini dipilih oleh pengarang kitab al-Wijādah.&lt;br /&gt;d. Al-Munāwalah, yaitu seseorang memberitahukan satu atau beberapa buah hadis atau kitab hadis kepada orang lain. Para ulama membagi al-munawalah dalam dua bentuk; [1] al-munawalah yang disertai ijazah seperti seseorang mengatakan, “ini kumpulan riwayat hadisku yang aku dengar dari si Fulan, maka riwayatkanlah dariku,” dan ulama hadis menghukuminya boleh. Ungkapan al-ada’ yang dipergunakan adalah nawalanī, nawalanī ijāzatan, atau akhbaranā munāwalatan wa ijāzatan. [2] Kedua yang tanpa adanya ijazah seperti perkataan, “ini riwayat hadisku dari si Fulan,” dan dihukumi tidak boleh untuk meriwayatkannya pada orang lain.&lt;br /&gt;e. Al-Mukātabah, yaitu seseorang memberi catatan hadis kepada orang lain. Ulama hadis membaginya dua macam; [1] al-mukatabah yang disertai ijazah seperti perkataan, “aku ijazahkan hadis yang aku tulis ini”. Ini dihukumi ṣaḥīḥ dan sighat al-adā’ yang dipergunakan adalah kataba ilayya fulān, akhbaranī fulān kitābatan atau ḥaddathanī fulān kitābatan.[2] al-munāwalah tanpa ada ijazah seperti guru menulis surat yang berisi hadis Nabi saw tapi tanpa ada ijazah untuk meriwayatkannya dari penulisnya. Ulama hadis berbeda pendapat mengenai hukum bagian yang kedua ini, namun kebanyakan memperbolehkan meriwayatkannya.&lt;br /&gt;f. I’lām al-shaykh, yaitu guru menginformasikan kepada muridnya, bahwa hadis ini atau kitab hadis ini adalah hasil periwayatannya dari seseorang tanpa menyebut namanya dan tanpa ada izin untuk meriwayatkannya. Hukumnya kontroversial, tapi kebanyakan ulama hadis tidak memperbolehkan meriwayatkannya. Sighat yang dipakai seperti “a’lamanī shaykhīy bi kadhā”.&lt;br /&gt;g. Al-waṣiyyah, yaitu guru mewasiatkan buku catatan hadis kepada muridnya sebelum meninggal dunia. Hukumnya boleh karena guru mewasiatkan kitab miliknya bukan riwayatnya, namun juga ada yang tidak membolehkannya. Sighat yang digunakan seperti “awṣā ilayya fulān bi kadhā atau akhbaranī fulān bi kadhā waṣiyyatan”.&lt;br /&gt;h. Al-wijādah, yaitu seseorang menemukan catatan hadis seseorang tanpa ada rekomendasi untuk meriwayatkan hadis tersebut. Sighat yang digunakan seperti “wajadtu bi khatti fulānin kadzā”.&lt;br /&gt;Banyak pendapat berkenaan dengan metode al-wijādah. Ulama dari Mālikiyyah menolak metode ini, sedangkan ulama Shāfi’iyyah menerimanya.&lt;br /&gt;Ulama Malikiyah berpendapat, bahwa metode al-wijādah tidak bisa diterima riwayatnya, karena metode ini masuk kategori maqthū’, terputus jalan periwayatannya karena tidak adanya pertemuan langsung antara guru dengan murid. Syekh al-Albany dalam kitabnya “Al-Ḍa’īfah”, cenderung memasukkan pada kumpulan hadis ḍa’īf-nya.&lt;br /&gt;Lain halnya dengan golongan ulama Shāfi’iyyah, mereka membolehkan mengamalkan hadis dengan cara periwayatan al-wijādah. Pendapat ini didukung oleh Imam Nawawi dan Ibnu Ṣālaḥ. Ibnu Ṣālaḥ mengatakan,&lt;br /&gt;“Inilah yang mesti dilakukan pada masa-masa akhir ini. Karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan hadis maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadis yang dinukil (dari Nabi saw) karena tidak mungkin terpenuhi syarat periwayatan padanya.”&lt;br /&gt;Tentu saja pembolehan ini ada batasannya. Sebagaimana diisyaratkan oleh al-Budaihi, bahwa orang yang menulis kitab kumpulan hadis yang ditemukan itu adalah orang yang terpercaya dan sanad hadisnya ṣaḥīḥ, sehingga jika sudah terpenuhi semua syarat tersebut maka wajib mengamalkannya.&lt;br /&gt;Al-Sayūṭiy dan al-Baiquni kemudian dijadikan argumen oleh al-‘Imād bin Kathīr, menyatakan bahwa para ulama yang memperbolehkan mengamalkan hadis dengan metode al-wijādah ini menyandarkan pada sabda Rasulullah saw:&lt;br /&gt;أي الخلق أعجب إليكم إيماناً؟ قالوا: الملائكة، قال وكيف لا يؤمنون وهم عند ربهم؟ وذكروا الأنبياء، فقال: وكيف لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم؟ قالوا: فنحن، قال: وكيف لا تؤمنون وأنا بين أظهركم؟ قالوا: فمن يا رسول الله؟ قال: قوم يأتون من بعدكم، يجدون صحفاً يؤمنون بما فيها ” ، (رواه احمد و الدارمى والحاكم من حديث ابي جمعة الانصارى)&lt;br /&gt;“Makhluk mana yang menurut kalian (para sahabat) paling menakjubkan keimanannya?” Mereka berkata: “Para malaikat.” Nabi saw bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman, sedang mereka di sisi Tuhan mereka.” Mereka (para sahabat) menyebut: “Para nabi.”Nabi saw menjawab: “Bagaimana mereka tidak beriman, sedang wahyu turun kepada mereka.” Mereka mengatakan: “Kalau begitu kami.” Beliau menjawab: “Bagaimana kalian tidak beriman, sedang aku ada di tengah-tengah kalian.” Mereka mengatakan: “Lalu siapakah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya.” (HR. Ahmad bin Hanbal, al-Darimi dan al-Hakim dari Abi Juma’ah al-Anshari).”&lt;br /&gt;PENGERTIAN tentang HADITS MUKHTALIF&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengertian Ilmu Mukhtalif Hadis&lt;br /&gt;Sebelum memaparkan pengertian dari ilmu mukhtalif hadis, perlu diketahui bahwa kata mukhtalif merupakan bentuk kalimat isim fa’il dari asal kata ikhtalafa-yakhtalifu-ikhtilaf, yang berarti berselisih atau bertentangan. Kemudian, yang dikatakan mukhtalif hadis secara bahasa adalah hadis-hadis yang bertentangan antara yang satu dengan yang lain.&amp;nbsp; Sedangkan secara istilah, Dr. Mahmud al-Thahan menjelaskan secara sederhana, bahwa mukhtalif hadis adalah :&lt;br /&gt;هُوَ الْحَدِيْثُ الْمَقْبُوْلُ الْمُعَارِضُ بِمِثْلِهِ مَعَ أِمْكَانٍ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا.&lt;br /&gt;“Hadis makbul kontradiksi dengan sesamanya serta memungkinkan dikompromikan antara keduanya.” &lt;br /&gt;Para ulama ahli hadis mendefinisikan bahwa hadis mukhtalif adalah hadis-hadis yang tampak saling bertentangan satu sama lain. Namun, tidak selamanya hadis-hadis yang tampak bertentangan itu memang kontradiktif, sehingga perlu diselesaikan dengan metode-metode yang ditempuh oleh para ulama hadis, seperti metode al jam’u wa al-taufiq. Mukhtalif hadis bisa juga dikatakan dengan ta’wil al-hadis, karena hadis mukhtalif diartikan dengan hadis-hadis yang sulit dipahami karena ada kata-kata janggal atau kata-kata asing (gharib).&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa hadis-hadis yang dianggap bertentangan itu adalah hadis yang secara sanad dan matan shahih. Maka dari itu, hadis yang benar-benar lemah sanadnya tidak perlu dikompromikan dengan hadis yang jelas shahih. Hadis yang tampak mukhtalif tidak hanya terjadi antara hadis dengan hadis, bisa juga bertentangan dengan al-Qur’an, rasio, maupun ilmu pengetahuan dan sains modern. Akan tetapi, pertentangan hadis dengan itu semua bisa jadi hanya pada penginterpretasian atau pemahaman hadis tersebut.&lt;br /&gt;Dalam buku Ushul Al-Hadis karya DR. Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib, Ilmu mukhtalif hadis didefinisikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;الْعِلْمُ الّذِيْ يَبْحَثُ فِي الأَحَادِيْثِ الَّتِيْ ظَاهِرُهَا مُتَعَارِضٌ فَيُزيْلُ تَعَا رُضَهَا أَوْ يُوَفِّقُ بَيْنَهَا كَمَا يَبْحَثُ فِيْ الأَحَادِيْثِ الَّتِيْ يَشْكُلُ فَهْمُهَا أَوْتَصَوُّرُهَا فَيَدْفَعُ أَشْكَالَهَا وَيُوَضِّحُ حَقِيْقَتَهَا.&lt;br /&gt;Ilmu yang membahas hadis-hadis yang tampaknya saling bertentangan, lalu menghilangkan pertentangan itu atau mengkompromikannya, disamping membahas hadis yang sulit dipahami atau dimengerti, lalu menghilangkan kesulitan itu dan menjelaskan hakikatnya.&amp;nbsp; Dari definisi pengertian hadis mukhtalif sebelumnya, dapat disimpulkan juga bahwa kriteria ilmu mukhtalif hadis adalah : hadis kontradiktif secara lahiriyah, hadis yang kontradiktif tersebut terjadi pada hadis yang shahih dan hasan, dan ada metode penyelesaiannya.&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Obyek Kajian Ilmu Mukhtalif Hadis&lt;br /&gt;Dalam ilmu ini, sudah barang tentu yang dikaji adalah hadis-hadis nabi yang tampak saling bertentangan, baik dengan hadis, al-Qur’an, rasio, ataupun ilmu pengetahuan dan sains modern. Hadis tersebut dipandang dari berbagai metode yang ditempuh oleh para ulama, dari segi memadukan kedua hadis, mengkompromikannya, dan memahami perbedaan faktor yang melatarbelakanginya.&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Urgensi Ilmu Mukhtalif Hadis&lt;br /&gt;Membaca sepintas perkataan dari as-sakhawiy menjadikan ilmu mukhtalif ini sebagai ilmu yang terpenting disamping ilmu hadis yang lain. Mengapa demikian?, karena jika seseorang yang membaca atau memahami hadis tanpa adanya bantuan ilmu ini, seseorang dapat mengatakan suatu hadis yang shahih menjadi dha’if dan sebaliknya, jika menemukan hadis yang tampaknya bertentangan. Berikut adalah perkataan as-sakhawiy : ”Ilmu ini termasuk jenis yang terpenting yang sangat dibutuhkan oleh ulama’ di berbagai disiplin. Yang bisa menekuninya secara tuntas adalah mereka yang berstatus sebagai imam yang memadukan antara hadis dan fiqh dan yang memiliki pemahaman yang sangat mendalam.” &lt;br /&gt;Tidak cukup bagi seseorang jika hanya menghafal suatu hadis, menghimpun sanad-sanadnya dan menandai kata-kata penting tanpa adanya pemahaman dan mengetahui kandungan hukumnya. Oleh sebab itu,&amp;nbsp; mempelajari ilmu mukhtalif hadis dituntut untuk memahami hadis secara mendalam, pengetahuan tentang ‘am dan khas, muthlaq dan muqayyad, dan hal lain yang mendukung jalannya pembelajaran ilmu ini. Ilmu ini lebih spesifik bertujuan untuk metode mencari klarifikasi dari hadis-hadis yang tampak saling bertentangan dengan dibantu ilmu asbab al-wurud al-hadis dan ilmu tarikh al-mutun.&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode-metode penyelesaian&lt;br /&gt;Setiap perbedaan pastilah membawa hikmah. Begitupun dalam hal hadis Nabi Muhammad saw, dengan adanya anggapan bahwa hadis-hadis Nabi saling bertentangan sehingga dikatakan perkataan Nabi tersebut tidak konsisten, maka para ulama hadis termotivasi untuk merumuskan teori-teori yang dapat menyelesaikan anggapan keliru tersebut. Istilah-istilah yang banyak dijumpai dalam metode atau teori tersebut antara lain,: &lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode al-Jam’u wa al-Taufiq&lt;br /&gt;Metode ini yaitu dilakukan dengan cara menggabungkan dan mengkompromikan dua hadis yang tampak saling bertentangan, dan kedua hadis tersebut harus sama-sama shahih. Para ulama berpendapat metode ini lebih baik daripada dengan menggunakan metode tarjih (mengunggulkan salah satu hadis yang tampak bertentangan). Dalam salah satu kaedah fiqh dikatakan bahwa “i’mal al-qaul khairun min ihmalihi (mengamalkan suatu ucapan atau sabda itu lebih baik daripada membiarkannya untuk tidak diamalkan).” &lt;br /&gt;Contoh hadis yang penyelesaiannya dengan metode ini adalah hadis tentang cara wudlu Rasulullah saw. Berikut contoh hadis yang pertama :&lt;br /&gt;حدثنا الربيع, قال : أخبرنا الشافعي, قال : أخبرنا عبد العزيز بن محمد, عن زيد بن أسلم, عن عطاء بن يسار, عن ابن عباس, أن رسول الله ص.م وضأ وجهه ويديه, ومسح برأسه مرة مرة.&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Rabi’ telah bercerita kepada kami, dia berkata: Imam al-Syafi’i memberi kabar kepada kami, dia berkata: Abdul Aziz Ibn Muhammad telah memberi kabar kepada kami, dari Zaid Ibn Aslam dari Atha’ ibn Yasar dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah saw berwudlu membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali. (HR.al-Syafi’i).&lt;br /&gt;Sedangkan dalam riwayat lain dinyatakan bahwa Nabi Muhammad saw berwudlu dengan membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala tiga kali. Seperti hadis berikut :&lt;br /&gt;اخبرنا الشافعي, قال : أخبرنا سفيان بن عيينة, عن هشام بن عروة, عن ابيه, عن حمران مولى عثمان بن عفان, ان النبي ص.م توضأ ثللاثا ثلاثا.&lt;br /&gt;Kedua hadis tadi secara lahiriyah memang seperti bertentangan, akan tetapi pada hakekatnya tidak. Menurut pendapat Imam Syafi’i, berwudlu dengan membasuh muka, kaki, dan mengusap kepala sudah mencukupi dengan satu kali saja, akan tetapi dengan mengulang sebanyak tiga kali lebih sempurna. Jadi, kedua hadis tersebut dapat diamalkan sesuai dengan konteks. Jika keadaan kita (terutama jumlah air) memang memungkinkan kita untuk mengulangi basuhan anggota wudlu sebanyak tiga kali, maka lebih utama mengulang basuhan sebanyak tiga kali. Kalaupun keadaan sudah terpenuhi, tetapi kita memilih mengulang satu kali, itu sudah mencukupi.&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode Tarjih&lt;br /&gt;Setelah metode pertama tidak memungkinkan untuk memutuskan hadis yang bertentangan, maka diambillah metode yang ke dua ini, yaitu dengan memilih mana yang lebih unggul diantara salah satu dari kedua hadis yang bertentangan. Walaupun sebenarnya kedua hadis tersebut sama-sama shahih, akan tetapi harus dipilih hadis yang lebih berkualitas, mungkin itu dilihat dari jalur sanadnya.&lt;br /&gt;Ada salah satu hadis yang benar-benar bertentangan dengan al-Qur’an, yaitu hadis tentang nasib bayi yang dikubur hidup-hidup akan masuk neraka. &lt;br /&gt;الوائدة والموؤودة في النار&lt;br /&gt;Artinya: perempuan yang mengubur bayi hidup-hidup dan bayinya akan masuk neraka. (HR. Abu Dawud).&lt;br /&gt;Melihat konteks turunnya hadis tersebut yaitu ketika Salamah Ibn Yazid al-Ju’fi pergi bersama saudaranya untuk menghadap Rasulullah saw. Dan bertanya kepada Rasulullah saw mengenai bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Rasulullah saw menjawab dengan tegas bahwa nasib bayi perempuan tersebut akan masuk neraka, kecuali jika perempuan yang mengubur bayi itu kemudian masuk islam, maka Allah swt akan memaafkannya. Hadis tersebut dinilai sebagai hadis hasan dari segi sanad menurut imam Ibn Katsir, dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Nasa’i.&lt;br /&gt;Akan tetapi jika diamati lebih telisik lagi, matan hadis tersebut bertentangan dengan ayat al-Qur’an surah at-takwir :8-9&lt;br /&gt;وَأِذَ الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ. بِأَىِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ.&lt;br /&gt;Artinya : Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah ia dibunuh. (QS.at-takwir:8-9).&lt;br /&gt;Secara logis, orang yang mengubur bayi memang sangat berdosa dan ditempatkan di neraka, akan tetapi bagaimana dengan bayi yang dikubur, apakah harus ikut mengemban dosa dari orang yang dikubur sehingga masuk neraka, padahal setiap bayi yang lahir adalah dalam keadaan suci tak berdosa. Maka jelaslah bahwa hadis tersebut harus kita tolak, karena telah bertentangan dengan al-Qur’an dan secara logis juga tidak mendukung.&lt;br /&gt;Ada riwayat lain yang menjelaskan tentang kasus tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Rasulullah saw ditanya oleh anak perempuan Mu’awiyyah al-Shamiriyyah tentang orang-orang yang akan masuk surga. Kemudian Rasulullah saw menjawab: Nabi saw akan masuk surga, orang yang mati syahid akan masuk surga, anak kecil juga akan masuk surga, anak perempuan yang dikubur hidup-hidup juga akan masuk surga. (HR.Ahmad).&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode Nasikh-Mansukh&lt;br /&gt;Metode ini dilakukan apabila kedua metode sebelumnya tidak memungkinkan adanya penyelesaian antara hadis yang bertentangan. Sebelum melakukan metode ini, seseorang harus tahu betul akan tarikh al-mutun hadis yang tampak bertentangan, sehingga dapat diketahui mana hadis yang datang lebih awal dan mana yang akhir. Dengan begitu, sudah pasti hadis yang datang akhir menghapus hadis sebelumnya.&lt;br /&gt;Proses nasakh-mansukh dalam hadis hanya terjadi ketika Nabi Muhammad saw masih hidup. Sebab pada masa Nabi masih hidup, proses penetapan atau pembentukan syari’at sedang berlangsung pada masa itu, sehingga ada hadis yang temanya sama akan tetapi hukumnya berbeda, dan mungkin hadis yang terakhir datang setelah turunnya ayat al-Qur’an yang terkait dengan masalah di masyarakat. Para ulama hadis hanya memberikan kemudahan kepada peneliti atau orang yang belajar studi hadis dengan menamakan hal tersebut dengan nasakh-mansukh hadis.&lt;br /&gt;Contoh hadis dengan metode penyelesaian ini yaitu hadis tentang wajib dan tidak wajibnya seseorang untuk mandi jinabah karena melakukan senggama akan tetapi tidak mengeluarkan sperma. Hadis pertama berbunyi :&lt;br /&gt;عن أبي سعيد الخدريّ عن النبي ص.م أنه قال : أِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ. (رواه مسلم وأبو داود والترمذي وغيرهم واللفظ لمسلم)&lt;br /&gt;Artinya: dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah saw bahwa beliau telah bersabda, “Sesungguhnya air (yakni mandi janabah menjadi wajib karena) dari air (yakni keluarnya sperma tatkala bersengama)”. (HR. Muslim, Abu Daud, al-Turmudzi, dan lain-lain dengan lafal riwayat Muslim).&lt;br /&gt;Berbeda dengan hadis yang kedua yaitu,:&lt;br /&gt;عن عائشة قالت ……. قال رسول الله ص.م : أِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ. (رواه البخاري ومسلم وغيرهما واللفظ لمسلم).&lt;br /&gt;Artinya: dari Aisyah, dia berkata:… Nabi saw telah bersabda,” Apabila (seseorang) telah duduk di atas empat anggota tubuh (isterinya) dan alat kelamin telah menyentuh (masuk) ke alat kelamin, maka sungguh telah wajib mandi janabah.” (HR.al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain dengan lafal riwayat Muslim).&lt;br /&gt;Hadis yang pertama menyatakan bahwa mandi jinabah harus dilakukan oleh seseorang ketika telah melakukan senggama dan mengeluarkan sperma. Artinya jika tidak sampai mengeluarkan sperma, maka tidak wajiblah untuk mandi jinabah. Sedangkan keterangan hadis kedua, mandi jinabah harus dilakukan oleh seseorang ketika telah melakukan senggama, baik itu sampai orgasme maupun tidak. Dilihat secara tekstual kedua hadis di atas tampak saling bertentangan.&lt;br /&gt;Menurut Imam Syafi’i, kata junub dalam al-Qur’an, surah an-nisa’ jika dilihat dari makna bahasa arabnya tidak membedakan antara senggama yang sampai orgasme maupun tidak. Jadi, dapat dikatakan bahwa hadis yang pertama telah dinasakh oleh hadis yang kedua setelah turunnya ayat al-Qur’an. Sehingga hadis yang dipakai adalah hadis yang kedua. Contoh lain yaitu hadis tentang nikah mut’ah.&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode Tawaqquf&lt;br /&gt;Tawaqquf secara bahasa berarti mendiamkan atau menghentikan. Maksudnya adalah kita tidak mengamalkan kedua hadis yang tampak bertentangan sampai ditemukan adanya keterangan yang rasional hadis mana yang dapat diamalkan. Akan tetapi metode ini kurang efektif, karena dengan mendiamkan hadis-hadis yang kontradiktif tidak akan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;Tawaqquf tidak bisa dilakukan lagi jika telah datang adanya keterangan melalui penelitian ilmu pengetahuan dan sains atau yang lain. Contoh dari metode ini adalah hadis mengenai lalat yang masuk dalam minuman. Nabi memerintahkan agar lalat yang masuk ke dalam minuman, supaya sekalian ditenggelamkan, karena pada sayap kanan lalat terdapat penawar penyakit yang dibawa pada sayap lalat bagian kiri. Berikut adalah bunyi hadis tersebut,:&lt;br /&gt;حدّثنا خالد بن مخلد حدّثنا سليمان بن بلال قال حدّثني عتبة بن مسلم قال أخبرني عبيد بن حنين قال سمعت أبا هريرة رضي الله عنه يقول قال النّبيّ ص.م أِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَأِنَّ فِيْ أِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً (صحيح البخاري ).&lt;br /&gt;Secara nalar dan teori pengetahuan kesehatan, hadis tersebut agak bertentangan karena kurang valid. Akan tetapi, sekarang telah ditemukan penelitian yang justru menguatkan dan mendukung hadis tersebut baik dari segi sanad maupun hadis. Penelitian tersebut dilakukan oleh sejumlah peneliti muslim di Mesir dan Arab Saudi dengan membuat minuman dari campuran air, madu dan juice dan dimasukkan sejumlah lalat dalam dua bejana. Ternyata hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa lalat yang kedua sayapnya ditenggelamkan tidak terdapat kuman atau mikroba dibanding dengan lalat yang hanya salah satu syapnya yang tenggelam.&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tokoh-Tokoh Kajian Ilmu Mukhtalif al-Hadis dan Karyanya&lt;br /&gt;Berikut adalah para tokoh kajian ilmu mukhtalif al-hadis beserta karya populernya, antara lain:&lt;br /&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp; . Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i (150-204H) dengan karya terbesarnya Ikhtilaf al-Hadis.&lt;br /&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp; . Abdullah Ibnu Qutaibah al-Dainuri (213-276H) dengan karyanya Ta’wil Mukhtalif al-Hadis.&lt;br /&gt;3)&amp;nbsp;&amp;nbsp; . Imam Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad al-Thahawi (239-321H) karyanya “Musykil al-Atsar”.&lt;br /&gt;4)&amp;nbsp;&amp;nbsp; . Abu Bakar Muhammad Ibn Hasan al-Anshari (w.406H) karyanya Musykil al-“Hadis wa Bayanuh”.&lt;br /&gt;Serta karya-karya lain yang berkembang pada masa berikutnya meskipun tidak spesifik menjelaskan tentang hadis mukhtalif.&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Dari sedikit penjelasan tadi, Kami mencoba untuk menyimpulkan beberapa poin penting, diantaranya yaitu,:&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadis mukhtalif adalah hadis-hadis yang secara lahiriyah atau konteks tampak bertentangan, baik dengan hadis lain, al-Qur’an, rasio, maupun ilmu pengetahuan dan sains modern. Selain itu bisa juga hadis yang tidak bertentangan akan tetapi terdapat kata-kata janggal atau kata asing (gharib) sehingga suatu hadis sulit untuk dipahami. Sehingga diperlukan adanya penta’wilan hadis.&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kriteria ilmu mukhtalif hadis meliputi,: hadis kontradiktif secara lahiriyah atau tekstual, hadis yang kontradiktif tersebut terjadi pada hadis yang shahih dan hasan, dan ada metode penyelesaiannya.&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadis tidak bisa dipahami secara tekstual saja, tetapi harus melihat kontekstualnya dengan dibantu ilmu-ilmu lain seperti asbab al-wurud hadis, tarikh al-mutun, dan ilmu lain yang dapat mendukung penyelesaian terhadap hadis yang tampak kontradiktif.&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sedikitnya ada 4 metode yang digunakan oleh para ulama hadis dalam menyelesaikan hadis yang kontradiktif, meliputi: metode al-jam’u wa al-taufiq, metode tarjih, metode nasikh-mansukh, dan metode tawaqquf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/ulumul-hadits-ii.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYhXnvH6YX4vf4rcfNGIZD1K_hoBickOyznax-QW-ZfHjo5PWq3hl8UTh0VWagJ8_daJEjrgsEn-FeocxK1fEY1_uWV8mY7wFaiHLi1CX9o4Xwd_y_TDxkx2JJUCGqDQNqWkdog4OhOT8/s72-c/UIJ+Warna.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-5836139338303967444</guid><pubDate>Sun, 28 Jul 2013 13:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-29T07:10:38.355-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pribadi</category><title>(MSI) Metodologi Studi Islam II</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUttPWLEO-r0hyphenhyphenv6QnEAUX8pR7LsRmbI59JWaC9aY0olkD03ewJ45BF44KGCQ8vzMMG4nOEPUIdA52SzzPf_QhzHGLxw8OO6hYuWwDYU93FbJkQtZuRs7K78ZZ6N4QPgWdH0TE3s-Er0c/s1600/Download-Makalah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUttPWLEO-r0hyphenhyphenv6QnEAUX8pR7LsRmbI59JWaC9aY0olkD03ewJ45BF44KGCQ8vzMMG4nOEPUIdA52SzzPf_QhzHGLxw8OO6hYuWwDYU93FbJkQtZuRs7K78ZZ6N4QPgWdH0TE3s-Er0c/s1600/Download-Makalah.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;b&gt;Pengantar Islamic Studies (Kajian Islam)&lt;/b&gt;&lt;/h2&gt;
“Ketika umat Islam berada dalam problem ketidakberdayaan dan keterbelakangan yang total, hanya satu yang bisa dibanggakan, yaitu teks suci itu. Pilihannya adalah apakah teks suci itu harus ditinggalkan atau bagaimana? Bukankah orang lain bisa bangkit tanpa teks, walaupun sebenarnya modernisme barat pun sebetulnya merujuk pada teks-teks Yunani kuno sebagai acuan pengembangan dan penyesuaiannya.” (Masdar F.Mas’udi)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Islam sebagai ajaran menjadi topik yang menarik dikaji, baik oleh kalangan intelektual muslim sendiri maupun sarjana-sarjana barat, mulai tradisi orientalis sampai dengan Islamolog (ahli pengkaji keislaman).&lt;br /&gt;Pendekatan yang dikaji di sini merupakan pendekatan yang telah digunakan oleh para orientalis sebagai outsider (pengkaji dari luar penganut Islam) dan insider (pengkaji dari kalangan muslim sendiri). Pada tahap awal, kajian keislaman dikalangan intelektual muslim lebih mengutamakan pola transmisi, sementara kajian keislaman orientalis lebih mengedepankan kajian kritis atas ajaran, masyarakat, dan institusi yang ada di dunia Islam.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kajian keislaman lebih merupakan usaha kritis terhadap teks, sejarah, doktrin, pemikiran dan institusi keislaman dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu yang secara popular di kalangan akademik dianggap ilmiah. Menurut Jacques Waardenburg dalam bukunya yang berjudul Islamic Studies dikatakan bahwa Studi Islam adalah kajian tentang agama Islam dan aspek-aspek dari kebudayaan dan masyarakat muslim. Berbeda dengan kajian yang biasa dilakukan dalam perspektif pemeluk Islam pada umumnya, Islamic Studies menurutnya tidak bersifat normatif. Dalam hal ini, Islam dipandang sebagai ajaran suatu agama yang sudah membentuk komunitas dan budaya, dilepaskan dari keimanan dan kepercayaan. Dengan demikian, Islamic Studies menjadi kajian kritis dan menggunakan analisis yang bebas sebagaimana berlaku dalam tradisi ilmiah tanpa beban teologis atas ajaran dan fenomena keagamaan yang dikajinya.&lt;br /&gt;Sayyed Hossen Nasr mengatakan dalam bukunya yang berjudul Islamic Studies: Essays on Law and Society, the Sciences, and Philosophy and Sufism :&lt;br /&gt;“Islam bukan hanya sekedar sebuah agama dalam pengertian yang biasa, tetapi juga sebuah kerangka sosial politik, pandangan keduniaan, dan pandangan hidup, yang mencakup semua aspek fisik, mental, dan spiritual manusia. Islam lebih jauh lagi merupakan sebuah tradisi yang walaupun esensinya bersifat tunggal, meliputi berbagai pengertian dan derajat pelaksanaan.”&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan di atas, pada dasarnya Islamic studies adalah tradisi kajian Islam yang dikembangkan atas dasar kecenderungan ilmiah modern ala barat, khususnya dalam lapangan ilmu sosial dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;
&lt;b&gt;Sejarah Tradisi Kajian Islam&lt;/b&gt;&lt;/h2&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan Islam pada zaman permulaan Islam dilaksanakan di masjid-masjid. Mahmud Yunus menjelaskan bahwa pusat-pusat studi Islam klasik adalah Mekkah dan Madinah (Hijaz), Basrah dan Kufah (Irak), Damaskus dan Palestina (Syam), dan Fistat (Mesir). Madrasah Mekkah dipelopori oleh Muadz bin Jabal; madrasah Madinah dipelopori oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman; madrasah Basrah dipelopori oleh Abu Musa al Asy’ari dan Anas bin Malik; madrasah Kufah dipelopori oleh Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud; madrasah Damaskus dipelopori oleh Ubadah dan Abu Darda; sedangkan madrasah Fistat dipelopori oleh Abdullah bin Amr bin ‘Ash. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tradisi kajian keislaman ala barat berakar pada sejarah yang sangat panjang, paling tidak sejauh hubungan Kristen dengan Islam. Tidak bisa dielakan bahwa sebab utama dari pertumbuhan kajian keislaman itu adalah alasan teologis untuk menunjukan dan mempertahankan keabsahan ajaran Kristen, dibanding dengan Islam. Islamic studies (kajian Islam) mulai berkembang pada abad ke-19 sebagai bagian dari kajian masalah ketimuran. Berdasarkan perkembangan kajian keislaman ala barat dapat diidentifikasikan ke dalam 3 tahap : (1) tahap teologis, (2) tahap politis, (3) tahap scientific).&lt;br /&gt;Kemunculan kajian keislaman dalam tradisi barat dimulai dari kalangan gereja. Kajian keislaman oleh St.John memperlihatkan sikap teologisnya sebagai seorang Kristen yang menganggap Islam sebagai&amp;nbsp; ajaran murtad (Christian heresy),seperti tertulis dalam karyanya yang berjudul The Fount of Knowledge.&lt;br /&gt;Tokoh Kristen lainnya yang mendalami kajian keislaman adalah&amp;nbsp; Peter the Venerable dan Robert of Ketton yang menerjemahkan teks-teks al-Qur’an, hadis, sejarah nabi dan manuskrip arab lainnya. Tokoh penting lainnya adalah St.Thomas Aquinas yang mengklasifikasikan dalam ajaran kafir (unbelief).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Memasuki abad ke 12 telah terjadi sedikit perubahan dalam memperkenalkan kajian keislaman yang tidak lagi didominasi pandangan teologis namun pandangan atau dimensi lain. Pada abad ke-13 karya-karya pemikir Islam seperti filsuf Ibnu Sina telah banyak diterjemahkan dan menjadi rujukan dunia barat. Begitu pula pada abad berikutnya komentar-komentar Ibnu Rusyd tentang pemikiran Aristoteles telah dijadikan rujukan kaum orientalis, bahka Ibnu Rusyd mendapat julukan “The commentator” atau sang komentator, berkaitan dengan analisa tajamnya terhadap pemikiran Aristoteles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;b&gt;TIGA TAHAPAN KAJIAN ISLAM ALA BARAT&lt;/b&gt;&lt;/h2&gt;
Kajian islam merupakan di siplin moderen yang sudah berusia sangat tua.&lt;br /&gt;Kajian islam berasal dari teradisi panjang kaum muslimin untuk membangun kesarjanaan guna memahami&amp;nbsp; agama mereka sendiri. Perubahan tahapan pendekatan di latarbelakangi oleh semangat kejadian yang memfungsikan hasil kajian ini sebagai sebuah landasan kebijakan, baik secara teologi, politis maupun saintifik, pertumbuhan dan pertumbuhan kajian islam ala barat dapat di isenfikasi kedalam tiga tahap : pertama tahap teologis, kedua tahap teologis, kedua tahap politis, ketiga tahap saintifik.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; TAHAP TEOLOGIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara teori, pendekatan teologis dalam studi agama akan mengkaji&amp;nbsp; teologi agama-agama yaitu Teologi tertentu yang muncul dalam tradisi keagamaan particular yangg di adopsi dari luar agama, Teologi agama yaitu upaya membangun suatu teologi agama yang lebih universal yang dalam hal ini mengonsentrasi kan pada kategori-kategori transenden dan teologi agama-agama global dalam seluruh kompleksitas moral, manusia dan natural, dari sana segera muncul upaya mengkonseptualisaikan kembali kategori-kategori teologis yang muncul dari tradisi keagamaan tertentu yang dapat mengarah kan perkembangan&amp;nbsp; kondisi dan situasi global yang mempengaruhi setiap orang pendekatan&amp;nbsp; teologi ini menjadi bagian&amp;nbsp; yang mendapat kan perhatian yang cukup luas di kalangan sarjana barat.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; TAHAP POLITIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang di laku kan oleh kaum orientalis ini lebih mengedepan kan upaya memberikan sokongan terhadap kekuasaan dan sikap hegemini barat atas dan bangsa-bangsa Timur yang sebagian besar penduduk nya&amp;nbsp; beragama islam.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; TAHAP SAINTIFIK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Memasuki abad ke- 19, sikap kalangan keristen terhadap islam mulai di hubung kan dengan kesesuaian agama itu untuk menjawab kecendrungan rasional yang berekat repormasi telah menandai msyarakat barat modern.&lt;br /&gt;Berdasarkan imformasi data di atas,walaupun telah menerap kan cara dan pendekatan ilmiah (scientific approach) kaum orientalis periode ini masih menoreh kan keyakinan dan kerangka berfikirnya dalam melakukan kajian keislaman sehingga hasil-hasil meninggalkan luka hati umat Muslim. &lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;b&gt;Ruang Lingkup Kajian Islam&lt;/b&gt;&lt;/h2&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembahasan kajian keislaman mengikuti wawasan dan keahlian para pengkajinya, sehingga terkesan ada nuansa kajian mengikuti selera pengkajinya. Secara material, ruang lingkup kajian keislaman dalam tradisi barat meliputi pembahasan mengenai ajaran, doktrin, pemikiran,teks, sejarah dan institusi keislaman. Pada awalnya ketertarikan sarjana barat terhadap pemikiran Islam lebih karena kebutuhan akan penguasaan daerah koloni. Mengingat daerah koloni pada umumnya adalah negara-negara yang banyak didiami warga muslim, sehingga mau tidak mau mereka harus memahami tentang budaya local. Contoh kasus dapat dilihat pada perang Aceh, dimana Snouck Hurgronje telah mempelajari Islam terlebih dahulu sebelum diterjunkan di lokasi dengan asumsi ia telah memahami budaya dan peradaban masyarakat Aceh yang mayoritas beragama Islam. Islam dipelajari oleh Hurgronje dari sisi landasan normatif maupun praktik bagi para pemeluknya, kemudian dibuatlah rekomendasi kepada para penguasa colonial untuk membuat kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan umat Islam.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Setelah mengalami keterpurukan, dunia Islam mulai bangkit melalui para pembaru yang telah tercerahkan. Dari kelompok ini munculah gagasan agar umat Islam mengejar ketertinggalannya dari dunia barat. Muhammad Abduh (1849-1905) pemikir dari Mesir, menghembuskan ide-ide pembaharuan di dunia Islam. Pemikiran Abduh diilhami oleh pemikiran gurunya, Jamaludin al-Afghani (1838-1897) seorang pemikir di bidang politik. Namun dalam skala global sebenarnya pemikiran para pembaharu Mesir diawali oleh pemikir besar sebelumnya, yaitu Rifa’ah al-Thathawi (1801-1873).&lt;br /&gt;</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/msi-metodologi-studi-islam-ii.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUttPWLEO-r0hyphenhyphenv6QnEAUX8pR7LsRmbI59JWaC9aY0olkD03ewJ45BF44KGCQ8vzMMG4nOEPUIdA52SzzPf_QhzHGLxw8OO6hYuWwDYU93FbJkQtZuRs7K78ZZ6N4QPgWdH0TE3s-Er0c/s72-c/Download-Makalah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-1460524892585258470</guid><pubDate>Thu, 25 Jul 2013 17:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-29T07:10:38.349-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pribadi</category><title>Soal UTS (Tafsir Tarbawi)</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuXzWace5trhfuztgDww4pGUr5owww51x5PgXpoHsss-fHK53j1fm894Ve_8WRfsJ-Nk-NZFGcUDByq8GILiMPUfTiQZ-Gp4LXiskuqZ0JNQHMQyHPDbPBncZ5OdBwigKKVgUFXqhu1Pc/s1600/Download-Makalah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuXzWace5trhfuztgDww4pGUr5owww51x5PgXpoHsss-fHK53j1fm894Ve_8WRfsJ-Nk-NZFGcUDByq8GILiMPUfTiQZ-Gp4LXiskuqZ0JNQHMQyHPDbPBncZ5OdBwigKKVgUFXqhu1Pc/s1600/Download-Makalah.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;DEFINISI TAFSIR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan atau keterangan, seperti yang bisa dipahami dari Quran S. Al-Furqan: 33. ucapan yang telah ditafsirkan berarti ucapan yang tegas dan jelas.&lt;br /&gt;Menurut istilah, pengertian tafsir adalah ilmu yang mempelajari kandungan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW., berikut penjelasan maknanya serta hikmah-hikmahnya. Sebagian ahli tafsir mengemukakan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas tentang al-Quran al-Karim dari segi pengertiannya terhadap maksud Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Secara lebih sederhana, tafsir dinyatakan sebagai penjelasan sesuatu yang diinginkan oleh kata.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PEMBAGIAN TAFSIR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tafsir dapat dibagi menjadi tiga jenis:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir riwayat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tafsir riwayat sering juga disebut dengan istilah tafsir naql atau tafsir ma&#39;tsur. Cara penafsiran jenis ini bisa dengan menafsirkan ayat al-Quran dengan ayat al-Quran lain yang sesuai, maupun menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan nash dari as-Sunnah. Karena salah satu fungsi as-Sunnah adalah menafsirkan al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir dirayah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tafsir dirayah disebut juga tafsir bi ra&#39;yi. Tafsir dirayah adalah dengan cara ijtihad yang didasarkan pada dalil-dalil yang shahih, kaidah yang murni dan tepat.&lt;br /&gt;Tafsir dirayah bukanlah menafsirkan al-Quran berdasarkan kata hati atau kehendak semata, karena hal itu dilarang berdasarkan sabda Nabi:&lt;br /&gt;&quot;Siapa saja yang berdusta atas namaku secara sengaja niscaya ia harus bersedia menempatkan dirinya di neraka. Dan siapa saja yang menafsirkn al-Quran dengan ra&#39;yunya maka hedaknya ia bersedia menempatkan diri di neraka.&quot; (HR. Turmudzi dari Ibnu Abbas)&lt;br /&gt;&quot;Siapa yang menafsirkan al-Quran dengan ra&#39;yunya kebetulan tepat, niscaya ia telah melakukan kesalahan&quot; (HR. Abi Dawud dari Jundab).&lt;br /&gt;Ra&#39;yu yang dimaksudkan oleh dua hadits di atas adalah hawa nafsu.&lt;br /&gt;Hadits-hadits di atas melarang seseorang menafsirkan al-Quran tanpa ilmu atau sekehendak hatinya tanpa mengetahui dasar-dasar bahasa dan syariat seperti nahwu, sharaf, balaghah, ushul fikih, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, tafsir dirayah ialah tafsir yang sesuai dengan tujuan syara&#39;, jauh dari kejahilan dan kesesatan, sejalan dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta berpegang pada uslub-uslubnya dalam memahami teks al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mufassir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang mufassir adalah seorang yang mengartikan seuah ayat dalam arti yang lain/arti yang mirip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;METODEDOLOGI PENTAFSIRAN AL-QUR’AN &lt;br /&gt;A.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an merupakan salah satu wahyu yang berupa kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an yang berupa kalam Allah ini merupakan kitab atau wahyu yang istimewa dibandingkan dengan wahyu-wahyu yang lainnya. Bahkan salah satu keistimewaannya adalah tidak ada satu bacaan-pun sejak peradaban baca tulis dikenal lima ribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya, maupun oleh orang yang tidak mengerti artinya.&lt;br /&gt;Sebagai sumber ajaran Islam yang utama al-Qur’an diyakini berasal dari Allah dan mutlak benar. Keberadaan al-Qur’an sangat dibutuhkan oleh manusia. Di dalam al-Qur’an terdapat petunjuk hidup yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Petunjuk yang ada dalam al-Qur’an memang terkesan masih bersifat umum dan global, maka dari itu perlu penjabaran dari hadits. Di samping itu, akal manusia juga harus mengolah petunjuk dan hukum yang ada dalam al-Qur’an, karena al-Qur’an diturunkan dan diperuntukkan bagi orang yang berakal. Sejalan dengan hal tersebut, Quraish Shihab menjelaskan, al-Qur’an sebagai wahyu, merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, tetapi fungsi utamanya adalah sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;Al-Qur’an tidak dapat dipahami hanya dengan membaca atau menerjemahkannya saja. Untuk memahami al-Qur’an diperlukan ilmu penafsiran atau pena’wilan al-Qur’an tersebut. Karena biasanya terdapat kata-kata atau ayat-ayat yang sulit dipahami jika hanya dengan membacanya. Penafsiran terhadap al-Qur’an dilakukan sejak zaman Nabi masih hidup sampai masa kontemporer ini. Dan itupun tidak berhenti sampai di sini. Al-Qur’an walaupun dikaji sepanjang masa, tetaplah tidak didapat pemahaman secara sempurna. Karena itulah kemu’jizatan al-Qur’an yang hal itu menunjukkan bahwa al-Qur’an tersebut bukan buatan manusia.&lt;br /&gt;Berbagai metode tafsir berkembang mulai dari zaman dahulu hingga sekarang, mulai dari yang sederhana sampai yang khusus pada disiplin ilmu tertentu. Perkembangan metode penafsiran tersebut sejalan dengan penafsiran yang dilakukan oleh manusia. Sehingga muncullah empat metode dasar penafsiran, yaitu ijmali, muqarin, tahlili, dan maudhu’i. Keempat metode tersebut mempunyai karakteristik dan langkah-langkah yang berbeda dalam penerapannya. Maka dari itu, Kami akan membahas secara terperinci mengenai metode-metode tersebut dalam karya yang berjudul “Metodologi Penafsiran al-Qur’an”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengertian Metodologi Tafsir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Metodologi tafsir adalah ilmu tentang metode penafsiran al-Qur’an. Dapat dibedakan antara metode tafsir dan metodologi tafsir. Metode tafsir adalah cara-cara menafsirkan al-Qur’an. Sedangkan metodologi tafsir adalah ilmu tentang cara penafsiran al-Qur’an. Pembahasan secara teoritis dan ilmiah mengenai metode muqarin (perbandingan), upamanya disebut analisis metodologis. Namun jika pembahasan itu&amp;nbsp; berkaitan dengan cara penerapan metode itu terhadap ayat-ayat al-Qur’an, hal itu disebut pembahasan metode. Adapun cara penyajian atau memformulasikan tafsir-tafsir tersebut disebut teknik atau seni menafsirkan. Jadi, metode tafsir merupakan kerangka atau kaidah yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Sedangkan seni atau tekniknya adalah cara yang dipakai ketika menerapkan kaidah yang tertuang di dalam metode. Adapun metodologi tafsir adalah pembahasan tentang metode-metode penafsiran.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;C.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkembangan Metodologi Tafsir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, penafsiran al-Qur’an telah tumbuh dan berkembang sejak masa-masa awal pertumbuhan dan perkembangan Islam. Hal ini didukung oleh adanya fakta sejarah yang menyebutkan bahwa Nabi pernah melakukannya. Pada saat sahabat beliau tidak memahami maksud dan kandungan salah satu isi kitab suci al-Qur’an, mereka menanyakan kepada Nabi. Dalam konteks ini, Nabi memang berposisi sebagai mubayyin (penjelas terhadap segala persoalan umat). Penafsiran-penafsiran yang dilakukan Nabi ini memiliki sifat-sifat dan karakteristik tertentu, diantaranya penegasan makna (bayan al-ta’kid); perincian makna (bayan tafshil), perluasan dan penyempitan makna; kualifikasi makna, serta pemberian contoh. Sedangkan dari segi motifnya, penafsiran Nabi SAW terhadap ayat-ayat al-Qur’an mempunyai tujuan-tujuan: pengarahan (bayan Irsyad), peragaan (tathbiq), pembetulan (bayan tashhih) atau koreksi.&lt;br /&gt;Sepeninggal Nabi, kegiatan penafsiran al-Qur’an tidak berhenti, malah boleh jadi semakin meningkat. Munculnya persoalan-persoalan baru seiring dengan dinamika masyarakat yang progresif mendorong uimat Islam generasi awal mencurahkan perhatian yang besar dalam menjawab problematika umat. Perhatian utama mereka tertuju kepada al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam, maka upaya-upaya penafsiran terus dilakukan. Dalam penafsiran pada masa itu, pegangan mereka adalah riwayat-riwayat yang dinukilkan dari Nabi.&lt;br /&gt;Penafsiran-penafsiran yang dilakukan para sahabat di atas, pada pembahasan selanjutnya nanti dikenal dengan tafsir bi al-ma’tsur. Tafsir yang disebut terakhir ini mendasarkan pembahasan dan sumbernya pada riwayat. Cara ini kemudian dikenal sebagai sebuah metode penafsiran al-Qur’an yang disebut dengan metode riwayah. Sebagai perimbangana dari metode ini timbullah metode lainnya, yaitu tafsir bi al-ra’yi yang mendasarkan sumbernya pada penalaran ijtihadi. Dari dua metode ini, nantinya lahir metode-metode lain yang menyebabkan metodologi penfsiran al-Qur’an berkembang. Metode-metode yang dimaksud adalah metode tahlili, metode ijmali, metode muqaran, dan metode maudhu’i. Hal yang perlu dicatat ialah pada masa Nabi dan sahabat, tafsir al-Qur’an masih menggunakan metode ijmali (global). Hal tersebut menunjukkan bahwa metode yang paling awal digunakan adalah metode ijmali, sebab pada waktu itu, Nabi dan Sahabat belum memberikan tentang ayat secara rinci dan mendetail.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode Tahlili (Analisis)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Metode tahlili adalah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam al-Qur’an yang ditafsirkan itu, serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya, sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat tersebut. Tafsir tahlili ialah mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dari segala segi dan maknanya, ayat demi ayat, dan surat demi surat sesuai dengan urutan dalam mushaf Utsmani. Untuk itu, pengkajian metode ini, kosa kata dan lafadz, menjelaskan arti yang dikehendaki. Sasaran yang dituju dan kandungan ayat menjelaskan apa yang dapat diistinbatkan dan serta mengemukakan kaitan ayat-ayat dan relevansinya, dengan surat sebelum dan sesudahnya. Untuk itu, ia merujuk kepada sebab-sebab turun ayat, hadits-hadits Rasulullah saw dan riwayat dari para sahabat dan tabi’in. Tujuan utama ulama menafsirkan Al-Qur’an dengan metode ini adalah untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukzizatan Al-Qur’an, sesuatu yang dirasa bukan menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari segi bentuknya, tafsir tahlili bisa dibagi ke dalam dua pembagian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir bi al-Ma’tsur,&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tafsir bi al-Ma’tsur yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan sunnah, al-Qu’an dengan pendapat sahabat Nabi SAW, dan al-Qur’an dengan perkataan tabi’in.&lt;br /&gt;Contoh kitab-kitab tafsir yang tergolong tafsir jenis ini adalah:&lt;br /&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (30 juz ) karya Ibn Jarir al-Thabari (w.310 H).&lt;br /&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bahr al-Ulum (3 Jilid) Karya Abu Lais al-Samarkandi (w.373/378 H).&lt;br /&gt;3)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Al-Kasyaf wa al-Bayan ‘an Tafsir al-Qur’an (hanya ditemukan 4 jilid dari surah al-Fatihah sampai al-Furqan), karya Abu Ishaq al-Tsa’labi (w.427H).&lt;br /&gt;4)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ma’alim al-Tanzil karya al-Baghawi (w.516H).&lt;br /&gt;5)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tafsir al-Qur’an al-’Adzim (4 Jilid) karya Abu al-Fida’ al Hafidz Ibn Katsir (w.774 H).&lt;br /&gt;6)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Al-Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Qur’an karya Abdurrahman al-Sa’labi. (w. 876H)&lt;br /&gt;7)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Al-Dur al-Mantsur fi Tafsir bi al-Matsur (4 jilid) karya Jalal al-din al-Suyuthi. (w.991H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir bi al-Ra’yi,&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tafsir bi al-Ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan ijtihad terutama setelah seorang mufasir itu betul-betul mengetahui perihal bahasa Arab, asbab al-nuzul, nasikh mansukh dan hal-hal yang lain yang lazim diperlukan oleh seorang mufasir. Ulama salaf berkeberatan menerima status penafsiran model ini, kalau tidak ada dasar yang shahih.&lt;br /&gt;Tafsir bi al-Ra’yi dapat diterima apabila:&lt;br /&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menjauhi sikap yang terlalu berani menduga-duga kehendak Allah di dalam kalam-Nya tanpa memiliki persyaratan sebagai seorang mufassir.&lt;br /&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Memaksakan diri memahami sesuatu yang hanya wewenang Allah&lt;br /&gt;3)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menghindari dorongan dan kepentingan hawa nafsu&lt;br /&gt;4)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menghindari tafsir yang ditulis untuk kepentingan madzhab semata.&lt;br /&gt;5)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menghindari penafsiran pasti (qath’i) di mana seorang mufasir tanpa alasan mengklaim bahwa itulah yang dimaksudkan Allah.&lt;br /&gt;Diantara kitab-kitab tafsir bi al-Ra’yi ini adalah:&lt;br /&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mafatih al-Ghaib karya Fakhr al-Razi (w.606 H).&lt;br /&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Anwar al-Tanzil wa asrari al-Ta’wil karya al-Baidhawi (w.691 H)&lt;br /&gt;3)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil karya al-Nasafi (w.701 H).&lt;br /&gt;4)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nadm al-Durar fi Tanasub al-ayat wa al-Suwar karya al-Biqa’i&lt;br /&gt;Dari segi coraknya, tafsir tahlili dapat dibagi menjadi 5 sedikitnya, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir Shufi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran yang dilakukan oleh kaum sufi pada umumnya dikuasai oleh ungkapan mistik. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang sufi dan orang yang melatih diri untuk menghayati ajaran tasawuf. Diantara kitab tafsir sufi ini adalah kitab tafsir al-Qur’an al-’Adzim karangan imam al-Tusturi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir Fiqih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran al-Qur’an yang dilakukan (tokoh) suatu madzhab untuk dapat dijadikan sebagai dalil atas kebenaran madzhabnya. Tafsir fiqih ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab fiqih karangan imam-imam dari berbagai madzhab yang berbeda, sebagaimana kita temukan sebagian ulama yang mengarang kitab tafsir fiqih adalah kitab ahkam al-Qur’an karangan al-Jasshash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir Falsafi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan teori-teori filsafat. Contoh kitab ini adalah kitab mafatih al-Ghaib yang dikarang oleh Fakhr al-Razi. Dalam kitab tersebut ia menempuh cara ahli filsafat dalam mengemukakan dalil-dalil yang didasarkan pada ilmu-ilmu kalam dan semantik (logika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir Ilmi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam al-Qur’an dengan mengaitkan dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern yang timbul pada masa sekarang. Diantara kitab tafsir ini adalah kitab al-Islam Yata’adda, karangan al-’Alamah Wahid al-Din Khan&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir Adabi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dengan mengungkapkan segi balaghah al-Qur’an dan kemu’jizatannya, menjelaskan makna-makna dan sasaran-sasaran yang dituju al-Qur’an, mengungkapkan hukum-hukum alam dan tatanan-tatanan kemasyarakatan yang dikandungnya. Tafsir adabi merupakan corak baru yang menarik pembaca dan menumbuhkan kecintaan kepada al-Qur’an serta memotivasi untuk menggali makna-makna dan rahasia-rahasia al-Qur’an. Diantara kitab tafsir adabi adalah kitab tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode Ijmali (Global)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Metode ijmali adalah metode tafsir yang menafsirkan ayat al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna global. Metode ijmali (Global) menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an secara ringkas tapi mencakup, dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti dan enak dibaca. Sistematika penulisannya mengikuti susunan ayat-ayat di dalam mushaf. Penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa al-Qur’an. Dengan demikian ciri dan jenis tafsir ijmali ini mengikuti urutan ayat menurut tertib mushaf seperti halnya tafsir tahlili. Perbedaannya dengan tafsir tahlili adalah dalam tafsir ijmali makna ayatnya diungkapkan secara ringkas dan global tetapi cukup jelas, sedangkan tafsir tahlili, makna ayatnya diuraikan secara terperinci dengan tinjauan dari berbagai segi dan aspek yang diulas secara panjang lebar.&lt;br /&gt;Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan kaum muslimin secara merata. Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.&lt;br /&gt;Sebagai contoh adalah penafsiran yang dilakukan oleh Jalalain dalam tafsirnya terhadap 5 ayat pertama surat al-Baqarah, tampak tafsirnya sangat ringkas dan global hingga tidak diberi rincian atau penjelasan yang memadai.&lt;br /&gt;Penafsiran alif lam mim misalnya hanya ditafsiri dengan Allah Maha Tahu maksudnya. Demikian pula kata al-kitab hanya ditafsiri dengan yang dibacakan oleh Muhammad. Dan begitu seterusnya, tanpa ada rincian sehingga penafsiran 5 ayat selesai hanya dalam beberapa baris saja. Sedangkan tafsir tahlili untuk menjelaskan 5 ayat membutuhkan 7 halaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp; 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode Muqaran (Perbandingan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Metode tafsir ini menekankan kajiannya pada aspek perbandingan (komparasi) tafsir al-Qur’an. Tafsir al-Muqaran adalah suatu metode tafsir al-Qur’an yang membandingkan ayat al-Qur’an satu dengan yang lainnya, serta membandngkan segi-segi dan kecenderungan masing-masing yang berbeda dalam menafsirkan al-Qur’an. Kemudian ia menjelaskan bahwa diantara mereka ada yang corak penafsirannya ditentukan oleh disiplin ilmu yang dikuasainya, ada diantara mereka yang menitikberatkan pada bidang nahwu yakni, segi-segi i’rab seperti imam al-Zarkasyi. Ada corak penafsirannya ditentukan oleh kecenderungan pada bidang balaghah, seperti Abd al-Qahhar al-Jurjani dalam kitab tafsirnya I’jaz al-Qur’an, dan Ubaidah Ma’mur ibn al-Mutsanna dalam kitab tafsirnya al-Majaz, dimana ia memberi perhatian pada penjelasan ilmu ma’ani, bayan, badi’ , haqiqat, dan majaz, dimana ia memberi perhatian pada penjelasan ilmu ma’ani, bayan, badi’, haqiqat dan majaz.&lt;br /&gt;Seorang mufassir dengan metode muqaran dituntut harus mampu menganalisis pendapat-pendapat para ulama tafsir yang ia kemukakan, lalu ia harus mengambil sikap menerima penafsiran yang dinilai benar dan menolak penafsiran yang tidak dapat diterima oleh rasionya, serta menjelaskan kepada pembaca alasan dari sikap yang diambilnya, sehingga pembaca merasa puas. Selain rumusan yang dikemukakan di atas, metode tafsir muqaran juga mempunyai pengertian dan lapangan yang luas, yaitu membandingkan ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang satu masalah (kasus) atau ayat-ayat al-Qur’an dengan hadits Nabi yang tampaknya (lahiriyahnya) berbeda serta mengkompromikan dan menghilangkan dugaan adanya pertentangan antara hadits-hadits Nabi tersebut dan kajian-kajian ilmu yang sangat berharga yang dengan itu akan tampak jelas kelebihan dan profesionalisme seorang mufassir pada bidangnya dengan kemampuan menggali makna-makna al-Qur’an yang belum berhasil diungkapkan penafsir lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp; 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode Maudhu’i (Tematik)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di samping tafsir dengan pola umum, tafsir yang mengkaji masalah-masalah khusus secara tematik juga berjalan. Ibn al-Qayyim menulis kitab al-Tibyan fi aqsam al-Qur’an , Abu Ubaidah menulis kitab tentang majaz al-Qur’an, al-Raghib al-Asfahani melahirkan Mufradat al-Qur’an, Abu Ja’far al-Nahas menulis kitab al-Nasikh wa al-Mansukh, Abu Hasan al-Wahidi menulis asbab al-Nuzul dan Abu al-Jashash menulis Ahkam al-Qur’an. Dalam konteks modern, studi al-Qur’an semakin meluas dan kompleks, sehingga tidak satupun ayat-ayat al-Qur’an yang terlepas dari penafsiran dengan pola tematiknya.&lt;br /&gt;Metode tematik ialah metode yang membahas ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan dihimpun, kemudian dikaji secara tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya, seperti Asbab al-Nuzul, kosa kata dan sebagainya. Semua dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik argumen yang berasal dari al-Qur’an, hadits maupun pemikiran rasional.&lt;br /&gt;Jadi dalam metode ini, tafsir al-Qur’an tidak dilakukan ayat demi ayat. Ia mencoba mengkaji al-Qur’an dengan mengambil sebuah tema khusus dari berbagai macam tema doktrinal, sosial, dan kosmologis yang dibahas dalam al-Qur’an, misalnya ia mengkaji dan membahas doktrin tauhid di dalam al-Qur’an, pendekatan al-Qur’an terhadap ekonomi, ayat-ayat pendidikan, manajemen dan kepemimpinan dalam al-Qur’an bahkan spirit culture kepemimpinan yang ada dalam al-Qur’an yang itu semua bisa menjadi bahan tesis atau bahkan disertasi.&lt;br /&gt;Quraish Shihab mengatakan bahwa metode maudhu’i mempunyai dua pengertian, pertama, penafsiran menyangkut satu surat dalam al-Qur’an dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan yang merupakan tema ragam dalam surat tersebut antara satu dengan yang lainnya dan juga dengan tema tersebut. Sehingga satu surat tersebut dengan berbagai masalahnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kedua, penafsiran yang bermula dari menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang dibahas satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau surat dalam al-Qur’an dan sedapat mungkin diurut sesuai dengan urutan turunnya, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh ayat-ayat tersebut, guna menarik petunjuk al-Qur’an secara utuh tentang masalah yang dibahas itu. Lebih lanjut, Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam perkembangan metode maudhu’i ada dua bentuk penyajian. Pertama, menyajikan kotak berisi pesan-pesan al-Qur’an yang terdapat dalam ayat-ayat yang terangkum dalam satu surat saja. Biasanya kandungan pesan tersebut diisyaratkan oleh nama surat yang dirangkum padanya selama nama tersebut bersumber dari informasi rasul. Kedua, metode maudhu’i mulai berkembang tahun 60-an. Bentuk kedua ini menghimpun pesan-pesan al-Qur’an yang terdapat tidak hanya dalam satu surat saja.&lt;br /&gt;Ciri metode ini ialah menonjolkan tema, judul atau topik pembahasan, sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa metode ini juga disebut metode topikal. Jadi mufassir mencari tema-tema atau topik-topik yang ada di tengah masyarakat atau berasal dari al-Qur’an itu sendiri, atau lain-lain. Kemudian tema-tema yang sudah dipilih itu dikaji secara tuntas dan menyeluruh dari berbagai aspeknya sesuai dengan kapasitas atau petunjuk yang termuat dalam ayat yang ditafsirkan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;--&quot;/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val=&quot;off&quot;/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:defJc m:val=&quot;centerGroup&quot;/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val=&quot;1440&quot;/&gt;
   &lt;m:intLim m:val=&quot;subSup&quot;/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val=&quot;undOvr&quot;/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState=&quot;false&quot; DefUnhideWhenUsed=&quot;true&quot;
  DefSemiHidden=&quot;true&quot; DefQFormat=&quot;false&quot; DefPriority=&quot;99&quot;
  LatentStyleCount=&quot;267&quot;&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;0&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Normal&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 7&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 8&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 9&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 7&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 8&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 9&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;35&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;caption&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;10&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Title&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; Name=&quot;Default Paragraph Font&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;11&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtitle&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;22&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Strong&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;20&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;59&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Table Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Placeholder Text&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;No Spacing&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Revision&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;34&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;List Paragraph&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;29&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Quote&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;30&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Quote&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;19&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;21&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;31&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Reference&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;32&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Reference&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;33&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Book Title&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;37&quot; Name=&quot;Bibliography&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;TOC Heading&quot;/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:&quot;&quot;;
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0cm;
 mso-para-margin-right:0cm;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:Arial;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Sosok
Tiga Kitab Tafsir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;1&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;MsoNormalTable&quot; style=&quot;mso-cellspacing: 0cm; mso-padding-alt: 0cm 0cm 0cm 0cm; mso-yfti-tbllook: 1184; width: 566px;&quot;&gt;
 &lt;tbody&gt;
&lt;tr style=&quot;mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-irow: 0;&quot;&gt;
  &lt;td rowspan=&quot;2&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 32.25pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;43&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td rowspan=&quot;2&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Pengarang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td rowspan=&quot;2&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 72.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;96&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Nama
  Kitab&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td colspan=&quot;3&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 212.25pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;283&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Penafsiran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;mso-yfti-irow: 1;&quot;&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Bentuk&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Metode&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Corak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;mso-yfti-irow: 2; mso-yfti-lastrow: yes;&quot;&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 32.25pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;43&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ibn
  Katsir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Alusi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Jalalain&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 72.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;96&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot; style=&quot;direction: rtl; line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;AR-SA&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;تفسير
  القرأن العظيم&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot; style=&quot;direction: rtl; line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;AR-SA&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;تفسير
  الالوسي&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot; style=&quot;direction: rtl; line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;AR-SA&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;تفسير
  الجلالين&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Analisis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Analisis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Global&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Umum&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Umum&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Umum&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Sosok
Delapan Kitab Dengan Corak Khusus&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;1&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;MsoNormalTable&quot; style=&quot;mso-cellspacing: 0cm; mso-padding-alt: 0cm 0cm 0cm 0cm; mso-yfti-tbllook: 1184; width: 566px;&quot;&gt;
 &lt;tbody&gt;
&lt;tr style=&quot;mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-irow: 0;&quot;&gt;
  &lt;td rowspan=&quot;2&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 32.25pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;43&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td rowspan=&quot;2&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Pengarang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td rowspan=&quot;2&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 72.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;96&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Nama
  Kitab&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td colspan=&quot;3&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 212.25pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;283&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Penafsiran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;mso-yfti-irow: 1;&quot;&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Bentuk&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Metode&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Corak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;mso-yfti-irow: 2; mso-yfti-lastrow: yes;&quot;&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 32.25pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;43&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Zamakhsyari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Thabat-Thaba’i&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Qurtubi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Jashshah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Mirgani&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;M.Rasyid
  Ridha&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Maraghi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;A.Yusuf
  Ali&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 72.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;96&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Kasysyaf&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Mizan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Jami’
  li al-ahkam al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ahkam
  al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Taj
  al-Tafasir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Manar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Maraghi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;The
  Holy Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Tahlili&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Tahlili&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Tahlili&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Tahlili&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ijmali&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Tahlili&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Tahlili&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Tahlili&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Falsafi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Falsafi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Fiqih&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Fiqih&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Sufi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Adabi
  ijtima’i&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Adabi
  ijtima’i&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Adabi
  ijtima’i&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Sosok
Tafsir al-Azhar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;1&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;MsoNormalTable&quot; style=&quot;mso-cellspacing: 0cm; mso-padding-alt: 0cm 0cm 0cm 0cm; mso-yfti-tbllook: 1184; width: 566px;&quot;&gt;
 &lt;tbody&gt;
&lt;tr style=&quot;mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-irow: 0;&quot;&gt;
  &lt;td rowspan=&quot;2&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 32.25pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;43&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td rowspan=&quot;2&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Pengarang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td rowspan=&quot;2&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 72.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;96&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Nama
  Kitab&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td colspan=&quot;3&quot; style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 212.25pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;283&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Penafsiran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;mso-yfti-irow: 1;&quot;&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Bentuk&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Metode&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Corak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;mso-yfti-irow: 2; mso-yfti-lastrow: yes;&quot;&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 32.25pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;43&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Prof.
  HAMKA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 72.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;96&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Al-Azhar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ra’y&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;tahlili&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;padding: 0cm 0cm 0cm 0cm; width: 70.5pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;94&quot;&gt;
  &lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Kombinasi
  sufi, adabi dan ijtima’i&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;D.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari pembahasan yang dilakukan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metodologi tafsir adalah ilmu tentang metode penafsiran al-Qur’an.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metodologi tafsir akhirnya berkembang menjadi 4, yaitu Ijmali, Tahlili, Muqarin dan Maudhu’i, yang masing-masing mempunyai corak sendiri-sendiri yang tergantung pada mufassirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;ITNTERPRETASI SURAH Al-Mukminun Ayat 12-14 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Al Mukminun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita memikirkan dari mana kita diciptakan dan bagaimana tahap-tahap penciptaannya? Pernahkah terpikir di benak kita bahwa tadinya kita berasal dari tanah dan dari setetes mani yang hina?&lt;br /&gt;
Pembahasan berikut ini mengajak kita untuk melihat asal kejadian manusia agar hilang kesombongan di hati dengan kesempurnaan jasmani yang dimiliki dan agar kita bertasbih memuji Allah ‘Azza wa Jalla dengan kemahasempurnaan kekuasaan-Nya.&lt;br /&gt;
Dalam suatu ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan orang-orang musyrikin yang ingkar dan sombong tentang dari apa mereka diciptakan. Ayat-ayat Al Qur’an lainnya menunjukkan bahwasanya asal kejadian manusia dari tanah. Barangsiapa yang mengingkari hal ini, sungguh ia telah kufur terhadap pengkabaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal di atas, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan tahapan tahapan penciptaan itu dan begitu pula Rasul-Nya Shallallahu ‘AlaihiWaSallam telah memberikan kabar kepada kita akan hal tersebut dalam hadits-haditsnya.&lt;br /&gt;
Di dalam suart Al mukminun yang akan dijelaskan kali ini menerangkan tahap-tahap penciptaan manusia dari suatu keadaan kepada keadaan lain, yang menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan-Nya sehingga Dia Jalla wa ‘Alaa saja yang berhak untuk diibadahi. Begitu pula penggambaran penciptaan Adam ‘Alaihis Salam yang Dia ciptakan dari suatu saripati yang berasal dari tanah berwarna hitam yang berbau busuk dan diberi bentuk.&lt;br /&gt;Isi dari surat Al-Mukminun ayat 12-14 adalah:&lt;br /&gt;وَلَقَدْخَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةًفَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَاالْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.2 Terjemah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan dari ayat tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).&lt;br /&gt;Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. [QS. al-Mukminun (23):12-14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.3 Tafsir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas menerangkan tahap-tahap penciptaan manusia dari suatu keadaan kepada keadaan lain, yang menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan-Nya sehingga Dia Jalla wa ‘Alaa saja yang berhak untuk diibadahi.Begitu pula penggambaran penciptaan Adam ‘Alaihis Salam yang Dia ciptakan dari suatu saripati yang berasal dari tanah berwarna hitam yang berbau busuk dan diberi bentuk. Tanah tersebut diambil dari seluruh bagiannya, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘AlaihiWaSallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam (sepenuh telapak tangan) tanah yang diambil dari seluruh bagiannya. Maka datanglah anak Adam (memenuhi penjuru bumi dengan beragam warna kulit dan tabiat). Di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan di antara yang demikian. Di antara mereka ada yang bertabiat lembut, dan ada pula yang keras, ada yang berperangai buruk (kafir) dan ada yang baik (Mukmin). (HR.Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi, berkata Tirmidzi : ‘Hasan shahih’. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi juz 3 hadits 2355 dan Shahih Sunan Abu Daud juz 3 hadits 3925)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah merahmati orang yang berkata dalam bait syi’irnya :&lt;br /&gt;
Diciptakan manusia dari saripati yang berbau busuk. Dan ke saripati itulah semua manusia akan kembali. Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam ‘Alaihis Salam dari tanah. Dia ciptakan pula Hawa ‘Alaihas Salam dari Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Adam dan Hawa ‘Alaihimas Salam inilah terlahir anak-anak manusia di muka bumi dan berketurunan dari air mani yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan hingga hari kiamat nanti. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 457)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Thabari rahimahullah dan selainnya mengatakan bahwa diciptakan anak Adam dari mani Adam dan Adam sendiri diciptakan dari tanah. (Lihat Tafsir Ath Thabari juz 9 halaman 202)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan nuthfah (yakni air mani yang terpancar dari laki-laki dan perempuan dan bertemu ketika terjadi jima’) dalam rahim seorang ibu sampai waktu tertentu. Dia Yang Maha Kuasa menjadikan rahim itu sebagai tempat yang aman dan kokoh untuk menyimpan&lt;br /&gt;calon manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nuthfah, Allah jadikan ‘alaqah yakni segumpal darah beku yang bergantung di dinding rahim. Dari ‘alaqah menjadi mudhghah yakni sepotong daging kecil yang belum memiliki bentuk. Setelah itu dari sepotong daging bakal anak manusia tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian membentuknya memiliki kepala, dua tangan, dua kaki dengan tulang-tulang dan urat-uratnya. Lalu Dia menciptakan daging untuk menyelubungi tulang-tulang tersebut agar menjadi kokoh dan kuat. Ditiupkanlah ruh, lalu bergeraklah makhluk tersebut menjadi makhluk baru yang dapat melihat,&lt;br /&gt;mendengar, dan meraba. (Bisa dilihat keterangan tentang hal ini dalam kitab-kitab tafsir, antara lain dalam Tafsir Ath Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, dan lain-lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kemahakuasaan Rabb Pencipta segala sesuatu, sungguh dapat mengundang kekaguman dan ketakjuban manusia yang mau menggunakan akal sehatnya. Semoga Allah meridhai ‘Umar Ibnul Khaththab, ketika turun awal ayat di atas (tentang penciptaan manusia) terucap dari lisannya pujian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fatabarakallahu ahsanul khaliqin” Maha Suci Allah, Pencipa Yang Paling Baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Allah turunkan firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fatabarakallahu ahsanul khaliqin” untuk melengkapi ayat di atas. (Lihat Asbabun Nuzul oleh Imam Suyuthi, Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 241, dan Aysarut Tafasir Abu Bakar Jabir Al Jazairi juz 3 halaman 507-508)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Kuasa Allah Tabaraka wa Ta’ala, Dia memindahkan calon manusia dari nuthfah menjadi ‘alaqah. Dari ‘alaqah menjadi mudhghah dan seterusnya tanpa membelah perut sang ibu bahkan&lt;br /&gt;calon manusia tersebut tersembunyi dalam tiga kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud “tiga kegelapan” dalam ayat di atas adalah kegelapan dalam selaput yang menutup bayi dalam rahim, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam perut. Demikian yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Abu Malik, Adh Dhahhak, Qatadah, As Sudy, dan Ibnu Zaid. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 46 dan keterangan dalam Adlwaul Bayan juz 5 halaman 778)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita lihat keterangan tentang kejadian manusia dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘AlaihiWaSallam. Abi ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan beliau adalah yang selalu benar (jujur) dan dibenarkan. Beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu pula. Kemudian diutus kepadanya seorang Malaikat maka ia meniupkan ruh kepadanya dan ditetapkan empat perkara, ditentukan rezkinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada illah selain Dia, sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli Surga sehingga tidak ada di antara dia dan Surga melainkan&lt;br /&gt;hanya tinggal sehasta, maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga ia memasukinya. Dan sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada antara dia dan neraka melainkan hanya tinggal sehasta. Maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli Surga sehingga ia memasukinya. (HR. Bukhari 6/303 -Fathul Bari dan Muslim 2643, shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita Nubuwwah di atas mengabarkan bahwa proses perubahan janin anak manusia berlangsung selama 120 hari dalam tiga bentuk yang tiap-tiap bentuk berlangsung selama 40 hari. Yakni 40 hari pertama sebagai nuthfah, 40 hari kedua dalam bentuk segumpal darah, dan 40 hari ketiga dalam bentuk segumpal daging. Setelah berlalu 120 hari, Allah perintahkan seorang Malaikat untuk meniupkan ruh dan menuliskan untuknya 4 perkara di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat masuk menuju nuthfah setelah nuthfah itu menetap dalam rahim selama 40 atau 45 malam, maka Malaikat itu berkata : Wahai Rabbku! Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia? Lalu ia menulisnya. Kemudian berkata lagi : Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan?” Lalu ia menulisnya dan ditulis (pula) amalnya, atsarnya[1], ajalnya, dan rezkinya, kemudian digulung lembaran catatan tidak ditambah padanya dan tidak dikurangi. (HR. Muslim dan Hudzaifah bin Usaid radhiallahu ‘anhu, shahih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Ash Shahihain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mewakilkan seorang Malaikat untuk menjaga rahim. Malaikat itu berkata : Wahai Rabbku! Nuthfah, Wahai Rabbku! Segumpal darah, wahai Rabbku! Segumpal daging. Maka apabila Allah menghendaki untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia? Bagaimana dengan rezkinya? Bagaimana ajalnya? Maka ditulis yang demikian dalam perut ibunya. (HR. Bukhari `11/477 -Fathul Bari dan Muslim 2646 riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa riwayat di atas, ulama menggabungkannya sehingga dipahami bahwasanya Malaikat yang ditugasi menjaga rahim terus memperhatikan keadaan nuthfah dan ia berkata : Wahai Rabbku! Ini ‘alaqah, ini mudhghah pada waktu-waktu tertentu saat terjadinya perubahan dengan perintah Allah dan Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha Tahu. Adapun Malaikat yang ditugasi, ia baru mengetahui setelah terjadinya perubahan tersebut karena tidaklah semua nuthfah akan menjadi anak. Perubahan nuthfah itu terjadi pada waktu 40 hari yang pertama dan saat itulah ditulis rezki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya. Kemudian pada waktu yang lain, Malaikat tersebut menjalankan tugas yang lain yakni membentuk calon manusia tersebut dan membentuk pendengaran, penglihatan, kulit, daging, dan tulang, apakah calon manusia itu laki-laki ataukah perempuan. Yang demikian itu terjadi pada waktu 40 hari yang ketiga saat janin berbentuk mudhghah dan sebelum ditiupkannya ruh karena ruh baru ditiup setelah sempurna bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila telah melewati nuthfah waktu 42 malam, Allah mengutus padanya seorang Malaikat, maka dia membentuknya dan membentuk pendengarannya, panglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya. Kemudian Malaikat itu berkata : Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qadhi ‘Iyadl dan selainnya mengatakan bahwasanya sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di atas tidak menunjukkan dhahirnya dan tidak benar pendapat yang membawakan hadits ini pada makna dhahirnya. Akan tetapi yang dimaksudkan maka dia membentuknya dan membentuk pendengarannya, penglihatannya … dan seterusnya adalah bahwasanya Malaikat itu menulis yang demikian, kemudian pelaksanaannya pada waktu yang lain (pada waktu 40 hari yang ketiga) dan tidak mungkin pada waktu 40 hari yang pertama. Urutan perubahan tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala dalamsurat Al Mukminun ayat 12 sampai 14. (Lihat keterangan hal ini dalam Shahih Muslim Syarah Imam An-Nawawi, halaman 189-191)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (II/484) membawakan secara ringkas perkataan Ibnu Ash Shalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sabda beliau Shallallahu ‘AlaihiWaSallam dalam hadits Hudzaifah bahwasanya pembentukan terjadi pada awal waktu 40 hari yang kedua. Sedangkan dalam dhahir hadits Ibnu Mas’ud dikatakan bahwa pembentukan baru terjadi setelah calon anak manusia menjadi mudhghah (segumpal daging). Maka hadits yang pertama (hadits Hudzaifah) dibawa pengertiannya kepada pembentukan secara lafadh dan secara penulisan saja belum ada perbuatan, yakni pada masa itu disebutkan bagaimana pembentukan calon anak manusia dan Malaikat yang ditugasi menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ta’liq kitab Tuhfatul Wadud halaman 203-204 disebutkan bahwasanya hadits yang menyatakan Malaikat membentuk nuthfah setelah berada di rahim selama 40 malam, tidaklah bertentangan dengan hadits-hadits yang lain. Karena pembentukan Malaikat atas nuthfah terjadi setelah nuthfah tersebut bergantung di dinding rahim selama 40 hari yakni ketika telah berubah menjadi mudhghah. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan janin dari nuthfah menjadi ‘alaqah dan seterusnya itu berlangsung setahap demi setahap (tidak sekaligus). Pada waktu 40 hari yang pertama, darah masih bercampur dengan nuthfah, terus bercampur sedikit demi sedikit hingga sempurna menjadi ‘alaqah pada 40 hari yang kedua, dan sebelum itu tidaklah ia dinamakan ‘alaqah. Kemudian ‘alaqah bercampur dengan daging, sedikit demi sedikit hingga berubah menjadi mudhghah. (Lihat Fathul Bari)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala telah sempurna waktu 4 bulan, ditiupkanlah ruh dan hal ini telah disepakati oleh ulama. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah membangun madzhabnya yang masyhur berdasarkan dhahir hadits Ibnu Mas’ud bahwasanya anak ditiupkan ruh padanya setelah berlalu waktu 4 bulan. Karena itu bila janin seorang wanita gugur setelah sempurna 4 bulan, janin tersebut dishalatkan (telah memiliki ruh kemudian meninggal). Diriwayatkan yang demikian juga dari Sa’id Ibnul Musayyib dan merupakan salah satu dari pendapatnya Imam Syafi’i dan Ishaq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinukilkan dari Imam Ahmad bahwasanya ia berkata : Apabila janin telah mencapai umur 4 bulan 10 hari, maka pada waktu yang 10 hari itu ditiupkan padanya ruh dan dishalatkan atasnya (bila janin tersebut gugur). (Lihat Iqadzul Himam Al Muntaqa min Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam halaman 88-89 oleh Abi Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat dalam hadits Ibnu Mas’ud di atas bahwasanya penulisan Malaikat terjadi setelah berlalu waktu 40 hari yang ketiga. Sedangkan pada riwayat-riwayat di atas, penulisan Malaikat terjadi setelah waktu 40 hari yang pertama. Riwayat-riwayat tersebut tidaklah bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An Nawawi rahimahullah menerangkan dalam Syarah Muslim (juz 5 halaman 191) setelah membawakan lafadh hadits dari Imam Bukhari berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sesungguhnya penciptaan setiap kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40 hari (sebagai nuthfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga. Kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga. Kemudian Allah mengutus seorang Malaikat dan diperintah (untuk menuliskan) empat perkara, rezkinya dan ajalnya, sengsara atau bahagianya. Kemudian ditiupkan ruh padanya.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas penulisan takdir untuk janin di perut ibunya bukanlah penulisan takdir yang ditetapkan untuk semua makhluk sebelum makhluk itu dicipta. Karena takdir yang demikian telah ditetapkan 50.000 tahun sebelumnya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah menetapkan takdir-takdir makhluknya lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi. (HR. Muslim 2653, shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ‘Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘AlaihiWaSallam, beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena (Al Qalam). Lalu Dia berfirman kepadanya : Tulislah! Maka pena menuliskan segala apa yang akan terjadi hingga hari kiamat. (HR. Abu Daud 4700, Tirmidzi 2100, dan selain keduanya. Dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Iqadzul Himam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak nash yang menyebutkan bahwa penetapan takdir seseorang apakah ia termasuk orang yang bahagia atau sengsara telah ditulis terdahulu. Antara lain dalam Shahihain dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘AlaihiWaSallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satu jiwa melainkan Allah telah menulis tempatnya di Surga atau di neraka dan telah ditulis sengsara atau bahagia. Maka seorang laki-laki berkata : Wahai Rasulullah! Mengapa kita tidak mengikuti (saja) ketentuan kita (yang telah ditulis) dan kita tinggalkan amal? Maka beliau bersabda : Beramal-lah, maka setiap orang akan dimudahkan terhadap apa yang ditetapkan baginya. Adapun orang yang bahagia akan dimudahkan baginya untuk beramal dengan amalan orang yang bahagia. Adapun orang yang sengsara akan dimudahkan baginya untuk beramal dengan amalan orang yang sengsara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian beliau membaca : Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (QS. Al Lail : 5-7) [HR. Bukhari 3/225 -Fathul Bari dan Muslim 2647]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia atau sengsara seseorang ditentukan oleh akhir amalnya, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Ibnu Mas’ud di atas. Demikian pula dalam hadits berikut, dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hanyalah amal-amal ditentukan pada akhirnya (penutupnya). (HR. Bukhari 11/330 -Fathul Bari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Artinya : Jejak kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Ma’thuf : Merupakan istilah dalam ilmu nahwu yang bermakna kurang lebih lafadh yang mengikuti lafadh tertentu yang terletak sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Ma’thuf ‘alaih bermakna lafadh yang diikuti oleh lafadh tertentu yang terletak sesudahnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.4 Asbabun Nuzul&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu riwayat dikemukaan bahwa pandangan Umar sejalan dengan kehendak dalam empat hal, antara lain mengenai turunnya ayat, Wa la qad khlaqal insane min sulalatim main thin (Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah) (Q.S 23 Al-Mu’minun:12) sampai,&amp;nbsp; Khalqan Akhar&amp;nbsp; ( mahluk berbentuk lain) (Q.S 23 Al-Mu’minun: 14). Pada waktu mendengar ayat tersebut, Umar berkata:Fatabarakallahu ahsanul khaliqin (Maka Maha Sucilah Allah Pencipta yang Paling Baik). Maka turunlah akhir ayat tersebut (Q.S Al-Mu’minun: 14) yang sejalan dengan ucapan umar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;--&quot;/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val=&quot;off&quot;/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:defJc m:val=&quot;centerGroup&quot;/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val=&quot;1440&quot;/&gt;
   &lt;m:intLim m:val=&quot;subSup&quot;/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val=&quot;undOvr&quot;/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState=&quot;false&quot; DefUnhideWhenUsed=&quot;true&quot;
  DefSemiHidden=&quot;true&quot; DefQFormat=&quot;false&quot; DefPriority=&quot;99&quot;
  LatentStyleCount=&quot;267&quot;&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;0&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Normal&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 7&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 8&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 9&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 7&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 8&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 9&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;35&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;caption&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;10&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Title&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; Name=&quot;Default Paragraph Font&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;11&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtitle&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;22&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Strong&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;20&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;59&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Table Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Placeholder Text&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;No Spacing&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Revision&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;34&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;List Paragraph&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;29&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Quote&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;30&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Quote&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;19&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;21&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;31&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Reference&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;32&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Reference&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;33&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Book Title&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;37&quot; Name=&quot;Bibliography&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;TOC Heading&quot;/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:&quot;&quot;;
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0cm;
 mso-para-margin-right:0cm;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:Arial;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; line-height: 115%;&quot;&gt;2.5 Pengkajian
Berdasarkan keilmuan masing-masing&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Allah menjadikan manusia dari khulasah (sari) tanah, artinya asal mulanya
manusia itu dijadikan Allah dari tanah. Menurut pendapat ahli pengetahuan bahwa
bumi ini sebagian dari matahari, sebab ia pada mula-mulanya sangat panas dan bermyala-nyala,
sebagaimana matahari itu. Tetapi lama kelamaan menjadi dinginlah kulitnya yang
terbelah keluar, sedang isinya yang didalam masih panas juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertimbangan yang terkenal dan dihormati ilmuwan embriologi ini dinyatakan atas
pembelajaran ayat al-Quran sesuai dengan disiplinnya. Dan kesimpulannya bahwa
Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata alaqah dalam bahasa Arab memiliki tiga arti. Pertama, berarti pacet atau
lintah; kedua, berarti sesuatu yang tertutup; dan ketiga, berarti segumpal
darah. Dalam perbandingan lintah air tawar dengan em-brio pada tingkat alaqah,
Profesor Moore menemukan persamaan yang besar di antara keduanya. Dia menyimpulkan
bahwa embrio selama tingkatan alaqah kenampakannya mirip dengan lintah itu.
Profesor Moore menempatkan gambar sisi embrio dengan sisi gambar seekor lintah.
Dia memperlihatkan gambar gambar ini kepada para ilmuwan di beberapa konferensi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Gambar Embrio Manusia&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Arti kedua dari kata alaqah adalah sesuatu yang tergantung. Hal ini dapat kita
lihat dalam penggabungan embrio dengan uterus dalam rahim ibu selarna masa
alaqah. Arti ketiga kata alaqah adalah segumpal darah. Hal ini berarti,
sebagaimana yang diungkapkan Profesor Moore, bahwa embrio selama selama fase
alaqah melalui kejadian di dalam, seperti formasi darah di dalam pembuluh darah
tertutup, sampai putaran metabolisme yang dilengkapi dengan plasenta. Selama
fase alaqah, darah ditarik di dalam pembuluh darah tertutup dan itulah mengapa
embrio tampak seperti segumpal darah, tampak juga seperti lintah. Kedua
deskripsi itu dijelaskan secara menakjubkan dengan kata alaqah di dalam
al-Quran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Nabi Muhammad SAW kemungkinan telah mengetahui dirinya. Profesor Moore
juga mempelajari embrio saat fase mudghah (gumpalan seperti zat/ substansi).
Dia mengambil lempengan tanah liat yang kasar dan mengunyahnya ke dalam mulut.
Kemudian membandingkan lempengan itu dengan sebuah gambar embrio saat fase
mudghah. Profesor Moore menyimpullkan bahwa embrio saat fase mudghah tampak
jelas seperti gumpalan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;zat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perkembangan embrio manusia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;acara TV di mana dia menyoroti kesesuaian ilmu pengetahuan modern dengan apa yang tersebut di dalam al-Quran selama 1400 tahun. Akibatnya, Profesor Moore ditanya dengan pertanyaan seperti berikut: &quot;Apakah hal ini berarti kamu percaya bahwa al-Quran itu firman Allah?&quot; Kemudian beliau menjawab: &quot;Saya tidak menemukan kesulitan dalam penemuan hal ini.&quot; Profesor Moore juga ditanya:&lt;br /&gt;&quot;Bagaimana Anda percaya dengan Nabi Muhammad SAW jika Anda masih percaya dengan Yesus&lt;br /&gt;Kristus?&quot; Dia menjawab: &quot;Saya percaya keduanya, karena keduanya dari sekolah yang sama.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, semua ilmuwan modern yang ada di dunia sekarang ini datang untuk mengetahui bahwa al-Quran itu adalah pengetahuan yang diturunkan dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MAKNA ALLAH MENJADIKAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman kepada para malaikat ketika akan menciptakan Adam, &#39;&#39;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi&#39;&#39;. (Al-Baqarah:30). Banyak kaum muslimin yang keliru dalam memahami ayat ini, yakni sebagai wakil/pengganti Allah dalam mengurus bumi. Makna khalifah yang benar adalah kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, demikian penjelasan dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsier&lt;br /&gt;&#39;&#39;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: &#39;&#39;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.&#39;&#39; Mereka berkata: &#39;&#39;Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?&#39;&#39;. Tuhan berfirman: &#39;&#39;Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui&#39;&#39;(Al-Baqarah:30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta&#39;ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala&#39;ul Ala, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman, &#39;&#39;Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat&#39;&#39;. Maksudnya, Hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu&#39;&#39;, &#39;&#39;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi&#39;&#39;, yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta&#39;ala berfirman, &#39;&#39;Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi&#39;&#39; (Fathir: 39). Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, &#39;&#39;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.&#39;&#39;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah, &#39;&#39;Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya&#39;&#39;, Seolah-olah malaikat memberitahukan kepada Allah bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, &#39;&#39;Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu oranig yang akan membuat kerusakan padanya?&#39;&#39;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jarir berkata, &#39;&#39;Sebagian ulama mengatakan, &#39;Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah dibentahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam. Mereka berkata, &#39;&#39;Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?&#39;&#39; Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, Allah berkata, &#39;&#39;Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,&#39;&#39; yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan di antara mereka para nabi, rasul, orang-prang saleh, dan para wali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa�i berkata dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsiernya :&lt;br /&gt;Saya berpendapat bahwa konsep khalifah mengharuskan secara pasti tiadanya pihak yang digantikan, baik tiadanya itu secara total atau hanya sebagian, baik tiadanya itu karena kematian, perpindahan, dicopot, mengundurkan diri, atau karena sebab lain yang membuat pihak yang digantikan tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. Misalnya Anda berkata: &#39;&#39;Abu Bakar merupakan khalifah Rasulullah shalallahu wa�alaihi wa sallam&#39;&#39; yakni setelah Rasul meninggal. Atau Anda berkata: &#39;&#39;Rasulullah menjadikan Ali sebagai khalifah di Madinah,&#39;&#39; yaitu ketika Nabi shalallahu wa�alaihi wa sallam pergi dari Madinah untuk melakukan salah satu perang. Bila konsep ini telah jelas dan melahirkan kepuasan, maka orang yang merasa puas tadi akan menemukan kekeliruan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam dijadikan Allah sebagai khalifah-Nya di bumi. Kekeliruan itu disebabkan oleh hal-hal berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adalah mustahil tiadanya Allah dari kerajaan-Nya, baik secara total maupun sebagian. Dia senantiasa mengurus langit dan bumi dan tidak ada suatu perkara seberat Dzarrah pun yang ada di langit dan di bumi yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Jadi, Dia tidak membutuhkan khalifah, wakil, pengganti, dan tidak pula butuh kepada pihak yang ada di dekat-Nya. Dia Mahakaya dari semesta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jika keberadaan Adam atau jenis manusia itu layak untuk menggantikan Allah, maka dia harus memiliki sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah Ta&#39;ala, dan Mahasuci Allah dari sifat-sifat yang dapat diserupai manusia. Jika manusia, sebagaimana seluruh makhluk lainnya, tidak menyandang sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah, bahkan makhluk tidak memilikinya, sedangkan Allah Maha Sempurna pada seluruh sifat-Nya, maka terjadilah ketidaksamaan secara total. Maka bagaimana mungkin orang yang berkekurangan menggantikan pihak Yang Mahas Sempurna? Maha Suci Allah dari adanya pihak yang menandingi dan menyerupai. &#39;&#39;Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.&#39;&#39; (asy-Syuura: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Adalah sudah pasti bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah atau wakil Allah, bahkan hal sebaliknyalah yang benar, yaitu Allah sebagai khalifah dan wakil. Simaklah beberapa firman berikut ini. &#39;&#39;Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung&#39;&#39;(Ali Imran: 173). &#39;&#39;Dan Allah Maha Mewakili segala sesuatu.&#39;&#39;(Hud: 12). &#39;&#39;Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.&#39;&#39;(At-Thalaq: 3). &#39;&#39;Dan cukuplah Allah sebagai Wakil&#39;&#39;(An-Nisa&#39;: 81) Dalam hadits mengenai doa bepergian, Nabi shalallahu wa�alaihi wa sallam bersabda, &#39;&#39;Ya Allah, Engkaulah yang menyertai perjalanan dan yang menggantikan dalam mengurus keluarga (yang ditinggalkan)&#39;&#39;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tidak ada satu dalil pun, baik yang eksplisit, implisit, maupun hasil inferensi, baik di dalam Al-Qur&#39;an maupun Sunnah yang menyatakan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di burni, karena Dia berfirman, &#39;&#39;Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi&#39;&#39;. Ayat ini jangan dipahami bahwa Adam �alaihis salam adalah khalifah Allah di bumi, sebab Dia bertirman, &#39;&#39;Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.&#39;&#39; Allah mengatakannya demikian, dan tidak mengatakan, &#39;&#39;Sesungguhnya Aku akan menjadikan, untuk-Ku, seorang khalifah di bumi&#39;&#39;, atau Dia mengatakan, &#39;&#39;Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah bagi-Ku di bumi&#39;&#39;, atau &#39;&#39;menjadikan khalifah-Ku&#39;&#39;. Dari mana kita menyimpulkan bahwa Adam atau spesies manusia sebagai khalifah Allah di bumi? Ketahuilah, sesungguhnya urusan Allah itu lebih mulia dan lebih agung daripada itu, dan Maha Tinggi Allah dari perbuatan itu. Namun, mayoritas mufasirin mengatakan, &#39;&#39;Yakni, suatu kaum menggantikan kaum yang lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi.&#39;&#39;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama lain menafsirkan ayat di atas dengan &#39;&#39;menjadikan sebagai khalifah bagi makhluk sebelumnya yang terdiri atas jin atau makhluk lain yang mungkin berada di muka bumi yang ada sebelum spesies manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran yang pertama adalah lebih jelas karena dikuatkan dengan AlQur&#39;an dan Sunnah. Adapun orang yang berpandangan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ialah khilafah dalam penetapan hukum semata, maka pandangan ini tidak dapat diterima. Karena hukum yang valid ialah yang bersumber dari wahyu yang telah ditetapkan Allah, bukan hukum si khalifah, namun hukum Allah, dan hukum itu merupakan sarana penghambaan kepada Allah. Alangkah jauhnya jarak antara ibadah dengan perwakilan dan kekhilafahan. Jadi, jelaslah bahwa orang yang menghukumi itu tiada lain hanyalah menetapkan hukum Allah, bukan inenggantikan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber Referensi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan Tafsir Ibnu Katsier, Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa&#39;i.</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/soal-uts-tafsir-tarbawi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuXzWace5trhfuztgDww4pGUr5owww51x5PgXpoHsss-fHK53j1fm894Ve_8WRfsJ-Nk-NZFGcUDByq8GILiMPUfTiQZ-Gp4LXiskuqZ0JNQHMQyHPDbPBncZ5OdBwigKKVgUFXqhu1Pc/s72-c/Download-Makalah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-498637670876912862</guid><pubDate>Thu, 25 Jul 2013 13:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-25T06:05:49.275-07:00</atom:updated><title>Tafsir Al Quran Al Karim: Tafsir Al Mu’minun Ayat 12-22</title><description>&lt;a href=&quot;http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-muminun-ayat-12-22.html&quot;&gt;Tafsir Al Quran Al Karim: Tafsir Al Mu’minun Ayat 12-22&lt;/a&gt;</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/tafsir-al-quran-al-karim-tafsir-al.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-8416812726439576940</guid><pubDate>Wed, 24 Jul 2013 17:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-29T07:10:38.364-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pribadi</category><title>Sejarah Peradaban Islam</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;--&quot;/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val=&quot;off&quot;/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:defJc m:val=&quot;centerGroup&quot;/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val=&quot;1440&quot;/&gt;
   &lt;m:intLim m:val=&quot;subSup&quot;/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val=&quot;undOvr&quot;/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;I. PENGERTIAN SEJARAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Sejarah dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Arab “syajarah” artinya&amp;nbsp; “pohon kehidupan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Ada beberapa nama lain: histore (Prancis), geschicte (Jerman), historie atau&amp;nbsp; geschiederis (Belanda) dan History (Inggris) dan tarikh (bhs.arab) yang berarti ketentuan masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata history sendiri lebih popular untuk menyebut sejarah, berasal dari bahasa Yunani (Istoria) yang berarti pengetahuan tentang&amp;nbsp; gejala-gejala alam, khususnya manusia yang bersifat kronologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makna sejarah mempunyai dua konsep:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;konsep sejarah yang memberikan pemahaman akan arti objektif tentang masa lampau.&lt;br /&gt;sejarah menunjukan maknanya yang subjektif, sebab masa lampau tersebut telah menjadi sebuah kisah atau cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sejarah menurut istilah berarti “Keterangan yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada. Oleh karena itu sejarah adalah sebagai catatan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian masa silam yang di abadikan dalam laporan-laporan tertulis dan dalam ruang lingkup yang luas, dan pokok dari persoalan sejarah senantiasa akan sarat dengan pengalaman-pengalaman penting yang menyangkut perkembangan keseluruhan keadaan masyarakat.&lt;br /&gt;Sayid Quthub mengatakan: “Sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa saja, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa itu, dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak nyata, yang menjalin seluruh bagian serta memberinya dinamisme waktu dan tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;A.&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Karakteristik sejarah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul type=&quot;disc&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Pertama&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;: sejarah merupakan pengetahuan mengenai
     kejadian kejadian, peristiwa peristiwa dan keadaan manusia dalam masa
     lampau dalam kaitannya dengan keadaan masa kini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Kedua&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;: sejarah merupakan pengetahuan tentang
     hukum-hukum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau, yang di peroleh
     melalui penyelidikan dan analisis atau peristiwa-peristiwa masa lampau.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt; : sejarah sebagai falsafah yang di
     dasarkan kepada pengetahuan tentang perubahan-perubahan masyarakat, dengan
     kata lain sejarah seperti ini merupakan ilmu tentang proses suatu
     masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;B. Kegunaan sejarah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%; text-indent: 18pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Sejarah mempunyai arti penting dalam kehidupan,
begitu juga sejarah mempunyai beberapa kegunaan, antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Untuk
     kelestarian identitas kelompok dan memperkuat daya tahan kelompok itu bagi
     kelangsungan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;sejarah
     berguna sebagi pengambilan pelajaran dan tauladan dari contoh-contoh di
     masa lampau, sehingga sejarah memberikan azas manfaat secara lebih khusus
     demi kelangsungan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;sejarah
     berfungsi sebagai sarana pemahaman mengenai hidup dan mati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;II. PENGERTIAN PERADABAN DAN KEBUDAYAAN.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Dalam bahasa Inggris terdapat&amp;nbsp;
      perbedaan pengertian antara kedua istilah tersebut, yakni istilah&amp;nbsp;
      civilization untuk peradaban dan culture untuk kebudayaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Dalam bahasa Arab, dibedakan antara kata
      tsaqafah (kebudayaan),&amp;nbsp; kata hadlarah (Peradaban).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Dalam bahasa Indonesia, kata peradaban
      sering diartikan sama dengan kebudayaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;* &lt;b&gt;Kebudayaan&lt;/b&gt; adalah bentuk ungkapan
tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi
kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau
kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi dan moral,
maka peradaban terrefleksi dalam politik, ekonomi, dan teknologi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;*&lt;b&gt; Peradaban&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt; memiliki berbgai arti dan &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari
istilah &quot;budaya&quot; yang populer dalam kalangan akademis. Dimana setiap
manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai
&quot;seni, adat istiadat, kebiasaan ... kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan
kebiasaan dalam &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Tradisi&quot; title=&quot;Tradisi&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: windowtext; text-decoration: none;&quot;&gt;tradisi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat&quot;. Namun, dalam definisi yang
paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan
kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Peradaban dapat dibedakan dari budaya
lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial dan beragam kegiatan ekonomi dan
budaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%; text-indent: 18pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Dalam sebuah pemahaman
lama tetapi masih sering dipergunakan adalah istilah &quot;peradaban&quot;
dapat digunakan dalam cara sebagai normatif baik dalam konteks sosial di mana
rumit dan budaya kota yang dianggap unggul lain &quot;ganas&quot; atau
&quot;biadab&quot; budaya, konsep dari &quot;peradaban&quot; digunakan sebagai
sinonim untuk &quot;budaya (dan sering moral) Keunggulan dari kelompok
tertentu.&quot; Dalam artian yang sama, peradaban dapat berarti &quot;perbaikan
pemikiran, tata krama, atau rasa&quot;. &amp;nbsp;masyarakat yang mempraktikkan &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pertanian_secara_intensif&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;Pertanian secara intensif (halaman belum tersedia)&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: windowtext; text-decoration: none;&quot;&gt;pertanian
secara intensif&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;; memiliki &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembagian_kerja&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;Pembagian kerja (halaman belum tersedia)&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: windowtext; text-decoration: none;&quot;&gt;pembagian kerja&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;; dan &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Kepadatan_penduduk&quot; title=&quot;Kepadatan penduduk&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: windowtext; text-decoration: none;&quot;&gt;kepadatan penduduk&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang mencukupi untuk
membentuk &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Kota&quot; title=&quot;Kota&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: windowtext; text-decoration: none;&quot;&gt;kota-kota&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.
&quot;Peradaban&quot; dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk
pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya (peradaban
manusia atau &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Peradaban_global&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;Peradaban global (halaman belum tersedia)&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: windowtext; text-decoration: none;&quot;&gt;peradaban global&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;). Istilah
peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk
memakmurkan dirinya dan kehidupannya. Maka, dalam sebuah peradaban pasti tidak
akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah
peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi,
dan IPTEK&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Peradaban &lt;/b&gt;juga dapat diartikan menjadi dua cara :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Proses
     menjadi&amp;nbsp; ber-keadaban.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Suatu
     masyarakat manusia yang sudah&amp;nbsp; berkembang atau maju.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan paling
tidak mempunyai tiga wujud.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Wujud
     Ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan,
     nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Wujud
     Kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan
     berpola dari manusia dalam masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Wujud
     Benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya. Sedangkan
     istilah peradaban biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur
     dari kebudayaan yang halus dan indah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%; text-indent: 18pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Sejarah peradaban islam dapat diartikan sebagai
perkembangan atau&amp;nbsp; kemajuan kebudayaan islam dalam perspektif sejarahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Selain itu, pengertian Sejarah Peradaban Islam
dapat dikemukakan dalam 3 hal (bentuk) :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Kemajuan
     dan tingkat kecerdasan akal yang dihasilkan dalam suatu suatu periode
     kekuasaan islam, mulai dari&amp;nbsp; periode Nabi Muhammad saw., sampai
     perkembangan kekuasaan&amp;nbsp; islam sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Hasil-hasil
     yang dicapai oleh umat islam dalam&amp;nbsp; lapangan kesusastraan, ilmu
     pengetahuan, dan kesenian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Kemajuan
     politik atau kekuasaan islam yang berperan melindungi pandangan hidup
     islam terutama dalam hubungannya dengan wadah- wadah penggunaan bahasa dan
     kebiasaan hidup bermasyarakat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Obyek
     peradaban yang di maksud disini yakni peradaban Islam yang diwahyukan
     kepada Nabi Muhammad saw., yang telah membawa bangsa Arab yang semula
     terbelakang, bodoh, tidak terkenal, dan diabaikan oleh bangsa-bangsa lain,
     menjadi bangsa yang maju, dan cepat mengembangkan dunia, membina satu
     kebudayaan dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia
     hingga sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;kedatangan
     Islam mempunyai makna kemanusiaan yang tinggi, cita-cita dan semangat
     Islam adalah peneguhan kemanusiaan, memperteguh kesetiaan manusia terhadap
     tugas dan kewajibannya sebagai wakil Allah di muka bumi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Menurut
     H.A.R. Gibb, bahwa Islam sesungguhnya lebih dari sekedar agama, Ia adalah
     peradaban yang sempurna. Karena yang menjadi pokok kekuatan dan sebab
     timbulnya kebudayaan adalah agama Islam, kebudayaan yang ditimbulkannya
     dinamakan kebudayaan atau peradaban Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;III. TUJUAN DAN MANFAAT MEMPELAJARI (SKI) &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;A. Tujuan mempelajari Sejarah Kebudayaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt; Islam
diantaranya adalah:&lt;br /&gt;
1. Untuk mendapatkan informasi dan pemahaman mengenai asal-usul khazanah budaya
dan kekayaan di bidang lainnya yang pernah diraih oleh umat islam di masa
lampau dan mengambil ‘ibrah (pelajaran) dari kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
2. Untuk membentuk watak dan kepribadian umat. Sebab, dengan mempelajari
Sejarah Kebudayaan Islam generasi muda akan mendapatkan pelajaran yang sangat
berharga dari perjalanan suatu tokoh atau generasi terdahulu.&lt;br /&gt;
3. Agar siswa dapat memilah dan memilih mana aspek sejarah yang perlu
dikembangkan dan mana yang tidak perlu. Mengambil pelajaran yang baik dari
suatu umat dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik.&lt;br /&gt;
4. Agar siswa mampu berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang
masa lalu yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan perkembangan,
perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya Islam di masa yang akan
datang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;B. Manfaat mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt; diantaranya
adalah:&lt;br /&gt;
1. Merasa bangga dan mencintai kebudayaan Islam yang merupakan buah karya kaum
Muslimin masa lalu.&lt;br /&gt;
2. Berpartisipasi memelihara peninggalan-penbinggalan masa lalu dengan cara
mempelajari dan mengambil manfaat dari peninggalan-peninggalan tersebut.&lt;br /&gt;
3. Meneladani perilaku yang baik dari tokoh-tokoh terdahulu.&lt;br /&gt;
4. Mengambil pelajaran dari berbagai keberhasilan dan kegagalan masa lalu.&lt;br /&gt;
5. Memupuk semangat dan motivasi untuk meningkatkan prestasi yang telah diraih
umat terdahilu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;IV. PERIODISASI
SEJARAH PERADABAN ISLAM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Pengertian &amp;amp; Fungsi Periodisasi Sejarah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ciri-ciri Babakan Sejarah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Pembagian Periodisasi Sejarah Peradaban Islam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Periodisasi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt; adalah Pembabakan waktu yang dipergunakan
untuk berbagai peristiwa. Kompleksnya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan
manusia pada setiap masa memerlukan suatu pengklasifikasian berdasarkan bentuk
serta jenis peristiwa tersebut. Peristiwa-peristiwa yang telah diklasifikasikan
itu disusun secara kronologis berdasarkan urutan waktu kejadiannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Periodisasi
digunakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;
untuk mempermudah pemahaman dan pembahasan sejarah kehidupan manusia.
Periodisasi yang dibuat oleh banyak peneliti berakibat adanya perbedaan-perbedaan
pandangan sehingga periodisasi sejarah bersifat subjektif yang dipengaruhi
subjek permasalahan serta pribadi penelitinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;V. PERIODISASI
SEJARAH PERADABAN ISLAM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;1. KLASIK ( 600
– 1258 M)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;2. PERTENGAHAN
(smp akhir Abad 17 M)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;3. MODERN (
Abad 18 M s/d Sekarang)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;1. Periode
Klasik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul type=&quot;circle&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Berlangsung sejak Abad ke – 7
     s/d 12 M)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;3 Fase : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;1.
Penciptaan Komunitas Islami di Arabia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;2.
Penaklukan Timur Tengah olh Muslimin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;3.
Nilai Islam merubah Mayoritas timurTengah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul type=&quot;circle&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ciri : Perpaduan Peradaban
     Islam dg TimurTengah, pola ekonomi dan monoteistik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;2. Periode
Pertengahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ø &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Berlangsung dari Abad 13 – 19 M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ø &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ciri : Era Penyebaran Global Masyarakat Islam, Islam
menjadi agama masyarakat Asia Tengah, Cina, India, Asia Tenggara, Afrika dan
Balkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ø &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Interaksi Nilai-nilai Islam dg Nilai-nilai
Masyarakat setempat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Periode
Modern&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Berlansung dari
abad ke – 18 s/d 20 M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;Ciri :
Modernisasi &amp;amp; Transformasi Masy. Muslim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;Kehancuran
Imperium Islam, Kemunduran ekonomi, konflik internal keagamaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;Kebangkitan
Peradaban dan Ekonomi Eropa serta dominasi culturnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;VI. KONDISI
MASYARAKAT ARAB SEBELUM KEDATANGAN ISLAM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;A.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Masyarakat Mekkah Sebelum Islam
Datang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Bangsa Arab pada umumnya berwatak
berani, keras, dan bebas. Mereka telah lama mengenal agama. Nenek moyang mereka
pada mulanya memeluk agama Nabi Ibrahim. Akan tetapi, akhirnya ajaran itu
pudar. Untuk menampilkan keberadaan Tuhan mereka membuat patung berhala dari
batu, yang menurut perasaan mereka patung itu dapat dijadikan sarana untuk
berhubungan dengan Tuhan. Kebudayaan mereka yang paling menonjol adalahbidang
sastra bahasa Arab, khususnya syair Arab. Perekonomian penduduk negeri Mekah
umumnya baik karena mereka menguasai jalur darat di seluruh Jazirah Arab.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;B.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Keberagaman
Masyarakat Mekah sebelum Islam Datang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Sebelum Islam datang, bangsa Arab telah menganut berbagai
macam agama, adat istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan hidup. Ketika agama
Islam datang, agama baru ini pun membawa pembaruan di bidang akhlak, hukum, dan
peraturan-peraturan tentang hidup. Dengan demikian, bertemulah agama Islam
dengan agama-agama jahiliah atau peraturan-peraturan Islam dengan peraturan-peraturan
bangsa Arab sebelum Islam. Kemudian, kedua paham dan kepercayaan itu saling
berbenturan dan bertarung dalam waktu yang lama.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Faktor alam merupakan satu hal yang dapat mempengaruhi
kehidupan beragama pada suatu bangsa. Hal itu dapat dibuktikan oleh penyelidik-penyelidik
ilmiah yang menunjukkan bahwa Jazirah Arab dahulunya subur dan rnakmur. Karena
faktor alam itu pula boleh jadi rasa keagamaan telah timbul pada bangsa Arab
semenjak lama. Semangat keagamaan yang amat kuat pada bangsa Arab itulah yang menjadi
dorongan mereka untuk melawan dan memerangi agama Islam di saat Islam datang.
Mereka memerangi agama Islam karena mereka amat kuat berpegang dengan agama
mereka yang lama yaitu kepercayaan yang telah mendarah daging pada jiwa mereka.
Andaikata mereka acuh tak acuh dengan agama, tentu mereka membiarkan agama
Islam berkembang, tetapi kenyataannya tidak demikian. Agama Islam mereka
perangi mati-matian sampai mereka kalah.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Sampai saat ini pun bangsa Arab, baik dia seorang ulama
atau tidak, terhadap agamanya mereka sangat bersemangat. Agama itu disiarkan
serta dibela dengan sekuat tenaganya. Semangat beragama mereka umumnya bersifat
kulitnya saja. Adapun ibadah dan praktik-praktik keagamaan jeering ditinggalkan
oleh Arab Badui. Watak mereka yang amat mencintai hidup bebas dari keterikatan
menjadi sebab mereka Kingin bebas dari aturan agama. Mereka sudah lama merasa
bosan dan kesal terhadap agamanya karena dianggap sebagai pengikat
kemerdekaannya sehingga selalu menyelewengkan agama mereka sendiri. Ada di antara
mereka yang menyembah pohon-pohon kayu. Ada yang menyembah bintang-bintang,
batu-batuan, binatang-binatang, bahkan menyembah raja-raja. Cara ini mereka
lakukan karena mereka merasa sukar mempercayai Tuhan yang abstrak, sehingga
akhirnya mereka menjadikan sesuatu benda yang dianggapnya sebagai Tuhan
bayangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Mengenai kepercayaan keaga-maan, bangsa Arab merupakan
salah satu dari bangsa-bangsa yang telah mendapat petunjuk. Mereka dahulu telah
mengikuti agama Nabi Ibrahim. Karena terputus dengan nabi sebagai juru
penerang, meraka lantas kembali lagi menyembah berhala. Berhala-berhala mereka
terbuat dari batu dan ditegakkan di Kakbah. Dengan demikian agama Nabi Ibrahim
bercampur aduk dengan kepercayaan keberhalaan. Kemudian keyakinan terhadap Nabi
Ibrahim itu telah benar-benar kalah dengan kepercayaan keberhalaan.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ibnu Kalbi menyatakan bahwa yang menye-babkan bangsa Arab
menyembah batu atau berhala adalah karena siapa saja yang meninggalkan kota
Mekah selalu membawa sebuah batu. Diambilnya dari batu-batu yang ada di tanah
haram Kakbah. Jika telah berbuat demikian, mereka telah merasa dirinya
terhormat dan cinta terhadap kota Mekah. Selanjutnya, di mana-mana mereka
berhenti atau menetap, diletakkannya batu itu, dan mereka tawaf (mengelilingi)
batu itu, seolah-olah mereka telah mengelilingi Kakbah. Sesungguhnya mereka
masih tetap memuliakan Kakbah dan kota Mekah, serta masih mengerjakan haji dan
umrah, tetapi mereka tetap saja menyembah apa yang mereka sukai.
Berhala-berhala yang ada di negeri mereka dahulunya adalah batu yang dibawa
dari Kakbah ; (Mekah), yang kemudian mereka muliakan. Mereka juga mendirikan
rumah-rumah untuk smenempatkan batu berhalanya, sementara itu Kakbah masih
tetap mempunyai kedudukan lyang tinggi dan mulia. Di antara berhala-berhala itu
ada yang mereka pindahkan ke Kakbah, fyang akhirnya Kakbah dipenuhi dengan
berhala-berhala. Mereka tidak lupa akan kedudukan I Kakbah yang mulia sehingga
mereka tidak mau meletakkan batu-batu berhala itu di tempat yang lain, kecuali
dekat dengan Kakbah. Mereka juga tidak mau naik haji, kecuali hanya ke Mekah.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Nama-nama berhala yang mereka sembah antara lain Hubal
yakni berhala yang terbuat dari batu akik berwarna merah dan berbentuk manusia.
Hubal, dewa mereka yang terbesar I diletakkan di Kakbah, kemudian Al Lata,
berhala yang paling tua, berhala Al Uzza, serta Manah. Mereka mengakui berhala
tersebut sebagai Tuhan mereka dan memujanya karena dianggapnya hebat. Mereka
menyembah berhala-berhala itu sebagai perantara kepada Tuhan. Jadi pad
hakikatnya, bukanlah berhala-berhala itu yang mereka sembah, tetapi sesuatu
yang hebat di balik berhala-berhala itu. Untuk mendekatkan diri kepada dewa
atau Tuhan-Tuhan itu, merek rela berkorban dengan menyajikan binatang ternak.
Bahkan pernah pada suatu ketika mereka mempersembahkan manusia sebagai korban
kepada dewa-dewa dan Tuhan mereka. Kepadal berhala-berhala itu, mereka
mengadukan nasibnya, persoalan, atau problem hidupnya serta] meminta pendapat
atau memohon restunya jika akan mengerjakan sesuatu yang penting.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;C.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Kebudayaan Masyarakat Mekah sebelum Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt; Datang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Negeri Yaman adalah tempat tumbuh kebudayaan yang amat penting yang pernah
berkembang di Jazirah Arab sebelum Islam datang. Bangsa Arab termasuk bangsa
yang memilikij rasa seni yang tinggi. Salah satu buktinya ialah bahwa seni
bahasa Arab (syair) merupakan suatul seni yang paling indah yang amat dihargai
dan dimuliakan oleh bangsa tersebut. Mereka amat gemar berkumpul mengelilingi
penyair-penyair untuk mendengarkan syair-syairnya. Ada bebe-rapa pasar tempat
penyair-penyair berkumpul yaitu pasar Ukaz, Majinnah, dan Zul Majaz. Di;
pasar-pasar itulah penyair-penyair memperdengarkan syairnya yang sudah
disiapkan untuk itu. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Seorang penyair mempunyai kedudukan yang amat tinggi dalam masyarakat Arab.
Bila pada suatu suku/kabilah muncul seorang penyair, maka berdatanganlah utusan
dari kabilah-kabilah lain untuk mengucapkan selamat kepada kabilah itu. Untuk
itu, kabilah tersebu&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt; mengadakan
perhelatan-perhelatan dan jamuan besar-besaran dengan menyembelih binata&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;ng&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt; ternak. Untuk
upacara ini, wanita-wanita cantik dari kabilah tersebut keluar untuk menari,
menyanyi, dan bermain menghibur para tamu. Upacara yang diadakan adalah untuk
menghormati sang penyair. Dengan demikian penyair dianggap mampu menegakkan
martabat suku atau kabilahnya. Salah satu dari pengaruh syair pada bangsa Arab
ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat orang yang tadinya hina, atau
sebaliknya, dapat menghinakan orang yang tadinya mulia. Bilamana penyair memuji
orang yang tadinya hina, maka dengan mendadak orang hina itu menjadi mulia,
demikian pula sebaliknya. Jika penyair mencelal seseorang yang tadinya mulia,
orang tersebut mendadak menjadi orang yang hina. Sebagai contoh, ada seorang
yang bernama Abdul Uzza ibnu Amir. Dia adalah seorang yang mulanya hidupnya
melarat. Putri-putrinya banyak, akan tetapi tidak ada pemuda-pemuda yang mau
memperistrikan mereka. Kemudian dipuji-puji oleh Al Asya seorang penyair ulung.
Syair yangl berisi pujian itu tersiar ke mana-mana. Dengari demikian, menjadi masyhurlah
Abdul Uzza itu, dan akhirnya kehidupannya menjadi baik, dan berebutlah
pemuda-pemuda meminang putri-putrinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Mereka mengadakan perlombaan bersyair dan syair-syair yang terbagus
biasanya mereka gantungkan di dinding Kakbah tidak jauh dari patung-patung
pujaan mereka agar dinikmati banyak orang, Jika syairnya itu telah digantungkan
di dinding Kakbah, sudah pasti suku/kabilah tersebut naik pula martabat dan
kemuliaannya. Dengan demikian, potret seluruh kebudayaan bangsa Arab telah
tertuang dan tergambar di dalam karya syair-syair mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;D.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Kondisi bangsa Arab sebelum Islam dalam Aspek: Sosial
Budaya, Agama, dan Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;a).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Aspek Sosial-Budaya bangsa Arab
Pra-&amp;nbsp; Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Sebagian besar daerah Arab adalah
daerah gersang dan tandus, kecuali daerah Yaman yang terkenal subur. Sebagai
imbasnya, mereka yang hidup di daerah itu menjalani hidup dengan cara pindah
dari suatu tempat ke tempat lain. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu
tempat. Mereka tidak mengenal hidup cara lain selain pengembaraan itu. Seperti
juga di tempat-tempat lain, di sini pun [Tihama, Hijaz, Najd, dan sepanjang
dataran luas yang meliputi negeri-negeri Arab] dasar hidup pengembaraan itu
ialah kabilah. Kabilah-kabilah yang selalu pindah dan pengembara itu tidak
mengenal suatu peraturan atau tata-cara seperti yang kita kenal. Mereka hanya
mengenal kebebasan pribadi, kebebasan keluarga, dan kebebasan kabilah yang
penuh. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Keadaan itu menjadikan loyalitas mereka
terhadap kabilah di atas segalanya. Ciri-ciri ini merupakan fenomena universal
yang berlaku di setiap tempat dan waktu. Bila sesama kabilah mereka loyal
karena masih kerabat sendiri, maka berbeda dengan antar kabilah. Interaksi
antar kabilah tidak menganut konsep kesetaraan; yang kuat di atas dan yang
lemah di bawah. Ini tercermin, misalnya, dari tatanan rumah di Mekah kala itu.
Rumah-rumah Quraysh sebagai suku penguasa dan terhormat paling dekat dengan
Ka’bah lalu di belakang mereka menyusul pula rumah-rumah kabilah yang agak
kurang penting kedudukannya dan diikuti oleh yang lebih rendah lagi, sampai
kepada tempat-tempat tinggal kaum budak dan sebangsa kaum gelandangan. Semua
itu bukan berarti mereka tidak mempunyai kebudayaan sama-sekali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Fakta di atas menunjukkan bahwa
pengertian Jahiliah yang tersebar luas di antara kita perlu diluruskan agar
tidak terulang kembali salah pengertian. Pengertian yang tepat untuk masa
Jahiliah bukanlah masa kebodohan dan kemunduran, tetapi masa yang tidak
mengenal agama tauhid yang menyebabkan minimnya moralitas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;b)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Agama bangsa Arab Pra-Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Paganisme, Yahudi, dan Kristen
adalah agama orang Arab pra-Islam. Pagan adalah agama mayoritas mereka. Ratusan
berhala dengan bermacam-macam bentuk ada di sekitar Ka’bah. Agama pagan sudah
ada sejak masa sebelum Ibrahim. Setidaknya ada empat sebutan bagi berhala-hala
itu: &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;ṣ&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;anam, wathan, nu&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;ṣ&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;ub, dan &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;ḥ&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;ubal. Orang-orang dari semua penjuru
jazirah datang berziarah ke tempat itu. Beberapa kabilah melakukan cara-cara
ibadahnya sendiri-sendiri. Ini membuktikan bahwa paganisme sudah berumur ribuan
tahun. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Yahudi dan Kristen dianut oleh para
imigran yang bermukim di Yathrib dan Yaman. Tidak banyak data sejarah tentang
pemeluk dan kejadian penting agama ini di Jazirah Arab, kecuali di Yaman..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Salah satu corak beragama yang ada
sebelum Islam datang selain tiga agama di atas adalah &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ḥ&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;anīfīyah, yaitu sekelompok orang
yang mencari agama Ibrahim yang murni yang tidak terkontaminasi oleh nafsu
penyembahan berhala-berhalam, juga tidak menganut agama Yahudi ataupun Kristen,
tetapi mengakui keesaan Allah. Mereka berpandangan bahwa agama yang benar di
sisi Allah adalah &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ḥ&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;anīfīyah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;c)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;.
&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Ekonomi bangsa Arab Pra-Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Sebagian
besar daerah Arab adalah daerah gersang dan tandus, kecuali daerah Yaman yang
terkenal subur dan bahwa ia terletak di daerah strategis sebagai lalu lintas
perdagangan. Ia terletak di tengah-tengah dunia dan jalur-jalur perdagangan
dunia, terutama jalur-jalur yang menghubungkan Timur Jauh dan India dengan
Timur Tengah melalui jalur darat yaitu dengan jalur melalui Asia Tengah ke
Iran, Irak lalu ke laut tengah, sedangkan melalui jalur laut yaitu dengan jalur
Melayu dan sekitar India ke teluk Arab atau sekitar Jazirah ke laut merah atau
Yaman yang berakhir di Syam atau Mesir. Oleh karena itu, perdagangan merupakan
andalan bagi kehidupan perekonomian bagi mayoritas negara-negara di
daerah-daerah ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Perekonomian orang Arab pra-Islam
yang sangat bergantung pada perdagangan daripada peternakan apalagi pertanian.
Mereka dikenal sebagai pengembara dan pedagang tangguh. Mereka juga sudah
mengetahui jalan-jalan yang bisa dilalui untuk bepergian jauh ke negeri-negeri
tetangga. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Dalam
penulisan makalah ini, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Masa sebelum kedatangan Islam dikenal
dengan zaman jahiliyah. Dalam Islam, periode jahiliyah dianggap sebagai suatu
kemunduran dalam kehidupan beragama.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Sebelum Islam datang, bangsa Arab telah
menganut berbagai macam agama, adat istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan
hidup.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Negeri Yaman adalah tempat tumbuh
kebudayaan yang amat penting yang pernah berkembang di Jazirah Arab sebelum
Islam datang.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Perekonomian orang Arab pra-Islam
yang sangat bergantung pada perdagangan daripada peternakan apalagi pertanian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Saran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 1cm;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Mempelajari Sejarah-sejarah Islam amatlah penting, terutama
bagi pelajar-pelajar agama islam dan pemimpin-pemimpin islam. Dengan
mempelajari Sejarah-sejarah Islam kita dapat mengetahui sebab kemajuan dan
kemunduran islam. Sebagai umat islam, hendaknya kita mengetahui sejarah
tersebut guna menumbuhkembangkan wawasan generasi mendatang di dalam pengetahuan
sejarah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;VII. SEJARAH
DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;1. Masyarakat
Arab Jahiliyah Periode Mekah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian
adalah masyarakat Arab Jahiliyah, atau masyarakat yang masih berada dalam
kebodohan. Dalam bidang agama, umumnya masyarakat Arab waktu itu sudah
menyimpang jauh dari ajaran agama tauhid, yang telah diajarkan oleh para rasul
terdahulu, seperti Nabi Adam A.S. Mereka umumnya beragama &lt;i&gt;watsani&lt;/i&gt; atau
agama penyembah berhala. Berhala-berhala yang mereka puja itu mereka letakkan
di Ka’bah (&lt;i&gt;Baitullah&lt;/i&gt; = rumah Allah SWT). Di antara berhala-berhala yang
termahsyur bernama: Ma’abi, Hubai, Khuza’ah, Lata, Uzza dan Manar. Selain itu
ada pula sebagian masyarakat Arab Jahiliyah yang menyembah malaikat dan bintang
yang dilakukan kaum &lt;i&gt;Sabi’in&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;2. Pengangkatan
Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Pengangkatan Muhammad sebagai nabi atau rasul
Allah SWT, terjadi pada tanggal 17 Ramadan, 13 tahun sebelum hijrah (610 M)
tatkala beliau sedang bertahannus di Gua Hira, waktu itu beliau genap berusia
40 tahun. Gua Hira terletak di Jabal Nur, beberapa kilo meter sebelah utara
kota Mekah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Muhamad diangkat Allah SWT, sebagai nabi atau
rasul-Nya ditandai dengan turunnya Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu
yang pertama kali yakni Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq, 96: 1-5. Turunnya ayat
Al-Qur’an pertama tersebut, dalam sejarah Islam dinamakan Nuzul Al-Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Menurut sebagian ulama, setelah turun wahyu
pertama (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5) turun pula Surah Al-Mudassir: 1-7, yang berisi
perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad berdakwah menyiarkan ajaran Islam kepada
umat manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Setelah itu, tatkala Nabi Muhammad SAW berada
di Mekah (periode Mekah) selama 13 tahun (610-622 M), secara berangsur-angsur
telah diturunkan kepada beliau, wahyu berupa Al-Qur’an sebanyak 4726 ayat, yang
meliputi 89 surah. Surah-surah yang diturunkan pada periode Mekah dinamakan
Surah Makkiyyah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;3. Ajaran Islam
Periode Mekah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Ajaran Islam
periode Mekah, yang harus didakwahkan Rasulullah SAW di awal kenabiannya adalah
sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;a. Keesaan
Allah SWT&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;b. Hari Kiamat sebagai hari pembalasan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;c. Kesucian jiwa&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;d. Persaudaraan dan Persatuan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;VIII. STRATEGI
DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah
adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliyahannya di bidang agama,
moral dan hokum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan nabi
Muhammad SAW dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Strategi dakwah
Rasulullah SAW dalam berusaha mencapai tujuan yang luhur tersebut sebagai
berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;1. Dakwah
secara Sembunyi-sembunyi Selama 3-4 Tahun&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini,
Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam, orang-orang yang berada di lingkungan
rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai
orang-orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW tersebut adalah:
Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW, wafat tahun ke-10 dari
kenabian), Ali bin Abu Thalib (saudara sepupu Rasulullah SAW yang tinggal
serumah dengannya), Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah SAW), Abu Bakar
Ash-Shiddiq (sahabat dekat Rasulullah SAW) dan Ummu Aiman (pengasuh Rasulullah
SAW pada waktu kecil).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Abu Bakar
Ash-Shiddiq juga berdakwah ajaran Islam sehingga ternyata beberapa orang kawan
dekatnya menyatakan diri masuk Islam, mereka adalah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abdul
Amar dari Bani Zuhrah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abu
Ubaidah bin Jarrah dari Bani Haris&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Utsman
bin Affan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Zubair
bin Awam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sa’ad
bin Abu Waqqas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Thalhah
bin Ubaidillah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Orang-orang
yang masuk Islam, pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang namanya sudah
disebutkan d atas disebut &lt;i&gt;Assabiqunal Awwalun&lt;/i&gt; (pemeluk Islam generasi
awal).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;2. Dakwah
secara terang-terangan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Dakwah secara terang-terangan ini dimulai sejak
tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang berisi perintah
Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut
berupa ayat Al-Qur’an Surah 26: 214-216.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Tahap-tahap
dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan ini antara lain sebaga berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Mengundang kaum kerabat
     keturunan dari Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak
     agar masuk Islam. Walau banyak yang belum menerima agama Islam, ada 3
     orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi
     merahasiakannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib,
     dan Zaid bin Haritsah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Rasulullah SAW mengumpulkan
     para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di
     sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Pada periode dakwah secara terang-terangan ini
juga telah menyatakan diri masuk Islam dari kalangan kaum kafir Quraisy, yaitu:
Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi SAW) dan Umar bin Khattab. Hamzah bin
Abdul Muthalib masuk Islam pada tahun ke-6 dari kenabian, sedangkan Umar bin
Khattab (581-644 M).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Rasulullah SAW
menyampaikan seruan dakwahnya kepada para penduduk di luar kota Mekah. Sejarah
mencatat bahwa penduduk di luar kota Mekah yang masuk Islam antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abu Zar
Al-Giffari, seorang tokoh dari kaum Giffar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tufail
bin Amr Ad-Dausi, seorang penyair terpandang dari kaum Daus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dakwah
Rasulullah SAW terhadap penduduk Yastrib (Madinah). Gelombang pertama tahun 620
M, telah masuk Islam dari suku Aus dan Khazraj sebanyak 6 orang. Gelombang
kedua tahun 621 M, sebanyak 13 orang, dan pada gelombang ketiga tahun
berikutnya lebih banyak lagi. Diantaranya Abu Jabir Abdullah bin Amr, pimpinan
kaum Salamah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Pertemuan umat Islam Yatsrib dengan Rasulullah
SAW pada gelombang ketiga ini, terjadi pada tahun ke-13 dari kenabian dan
menghasilkan &lt;i&gt;Bai’atul Aqabah&lt;/i&gt;. Isi &lt;i&gt;Bai’atul Aqabah&lt;/i&gt; tersebut
merupakan pernyataan umat Islam Yatsrib bahwa mereka akan melindungi dan
membela Rasulullah SAW. Selain itu, mereka memohon kepada Rasulullah SAW dan
para pengikutnya agar berhijrah ke Yatsrib.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;3. Reaksi Kaum
Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah SAW&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Prof. Dr. A.
Shalaby dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab
kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW, yakni:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Kaum kafir Quraisy, terutama
     para bangsawannya sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak dan
     kedudukan antara semua orang. Mereka mempertahankan tradisi hidup
     berkasta-kasta dalam masyarakat. Mereka juga ingin mempertahankan
     perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Kaum kafir Quraisy menolak
     dengan keras ajaran Islam yang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup
     di alam kubur dan alam akhirat, karena mereka merasa ngeri dengan siksa
     kubur dan azab neraka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Kaum kafir Quraisy menilak
     ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi
     hidupa bermasyarakat warisan leluhur mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Dan, kaum kafir Quraisy
     menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW karena
     Islam melarang menyembah berhala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Usaha-usaha
kaum kafir Quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah SAW
bermacam-macam antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Para
budak yang telah masuk Islam, seperti: Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais
an-Nahdiyah, dan anaknya al-Muammil dan Az-Zanirah, disiksa oleh para
pemiliknya (kaum kafir Quraisy) di luar batas perikemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot; lang=&quot;AR-SA&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;۞&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kaum
kafir Quraisy mengusulkan pada Nabi Muhammad SAW agar permusuhan di antara
mereka dihentikan. Caranya suatu saat kaum kafir Quraisy menganut Islam dan
melaksanakan ajarannya. Di saat lain umat Islam menganut agama kamu kafir
Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap berhala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Dalam menghadapi tantangan dari kaum kafir
Quraisy, salah satunya Nabi Muhammad SAW menyuruh 16 orang sahabatnya, termasuk
ke dalamnya Utsman bin Affan dan 4 orang wanita untuk berhijrah ke Habasyah
(Ethiopia), karena Raja Negus di negeri itu memberikan jaminan keamanan.
Peristiwa hijrah yang pertama ke Habasyah terjadi pada tahun 615 M.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Suatu saat keenam belas orang tersebut kembali
ke Mekah, karena menduga keadaan di Mekah sudah normal dengan masuk Islamnya
salah satu kaum kafir Quraisy, yaitu Umar bin Khattab. Namun, dugaan mereka
meleset, karena ternyata Abu Jahal labih kejam lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Akhirnya, Rasulullah SAW menyuruh sahabatnya
kembali ke Habasyah yang kedua kalinya. Saat itu, dipimpin oleh Ja’far bin Abu
Thalib.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Pada tahun ke-10 dari kenabian (619 M) Abu
Thalib, paman Rasulullah SAW dan pelindungnya wafat. Empat hari setelah itu
istri Nabi Muhammad SAW juga telah wafat. Dalam sejarah Islam tahun wafatnya
Abu Thalib dan Khadijah disebut &lt;i&gt;‘amul huzni&lt;/i&gt; (tahun duka cita).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;IX. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;EJARAH &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;DAKWAH RASULULLAH SAW
PERIODE MADINAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;1.&amp;nbsp; Arti Hijrah dan Tujuan Rasulullah SAW dan
Umat Islam Berhijrah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Setidaknya ada dua macam arti hijrah yang harus
diketahui oleh umat Islam. Pertama hijrah berarti meninggalkan semua perbuatan
yang dilarang dan dimurkai Allah SWT untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang
baik, yang disuruh Allah SWT dan diridai-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Arti kedua hijrah ialah berpindah dari suatu negeri
kafir (non-Islam), karena di negeri itu umat Islam selalu mendapat tekanan,
ancaman, dan kekerasan, sehingga tidak memiliki kebebasan dalam berdakwah dan
beribadah. Kemudian umat Islam di negeri kafir itu, berpindah ke negeri Islam
agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam berdakwah dan beribadah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Arti kedua dari hijrah ini pernah dipraktikkan oleh
Rasulullah SAW dan umat Islam, yakni berhijrah dari Mekah ke Yastrib pada
tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijrah, bertepatan dengan tanggal 28 Juni
622 M.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Tujuan hijrahnya Rasulullah SAW dan umat Islam dari
Mekah (negeri kafir) ke Yastrib (negeri Islam) adalah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul type=&quot;disc&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Menyelamatkan diri dan umat Islam dari
     tekanan, ancaman dan kekerasan kaum kafri Quraisy. Bahkan pada waktu
     Rasulullah SAW meninggalkan rumahnya di Mekah untuk berhijrah ke Yastrib
     (Madinah), rumah beliau sudah dikepung oleh kaum Quraisy dengan maksud
     untuk membunuhnya.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam
     berdakwah serta beribadah, sehingga dapat meningkatkan usaha-usahanya
     dalam berjihad di jalan Allah SWT, untuk menegakkan dan meninggikan
     agama-Nya (Islam)&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Artinya: “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya,
pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan
Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,
(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.”
(Q.S. An-Nahl, 16: 41-42)&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;2. Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Dakwah
Rasulullah SAW periode Madinah berlangsung selama sepuluh tahun, yakni dari
semenjak tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijriah sampai dengan wafatnya
Rasulullah SAW, tanggal 13 Rabiul Awal tahun ke-11 hijriah.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Materi
dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW pada periode Madinah, selain ajaran
Islam yang terkandung dalam 89 surat Makiyah dan Hadis periode Mekah, juga
ajaran Islam yang terkandung dalm 25 surat Madaniyah dan hadis periode Madinah.
Adapaun ajaran Islam periode Madinah, umumnya ajaran Islam tentang masalah
sosial kemasyarakatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Mengenai
objek dakwah Rasulullah SAW pada periode Madinah adalah orang-orang yang sudah
masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Ansar. Juga orang-orang yang belum
masuk Islam seperti kaum Yahudi penduduk Madinah, para penduduk di luar kota
Madinah yang termasuk bangsa Arab dan tidak termasuk bangsa Arab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Rasulullah
SAW diutus oleh Allah SWT bukan hanya untuk bangsa Arab, tetapi untuk seluruh
umat manusia di dunia, Allah SWT berfirman:&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Artinya: “Dan Tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat&amp;nbsp;&amp;nbsp; bagi semesta alam.”
(Q.S. Al-Anbiya’, 21: 107)&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -42.5pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Dakwah
Rasulullah SAW yang ditujukan kepada orang-orang yang sudah masuk Islam (umat
Islam) bertujuan agar mereka mengetahui seluruh ajaran Islam baik yang
diturunkan di Mekah ataupun yang diturunkan di Madinah, kemudian mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka betul-betul menjadi umat yang
bertakwa. Selain itu, Rasulullah SAW dibantu oleh para sahabatnya melakukan
usaha-usaha nyata agar terwujud persaudaraan sesama umat Islam dan terbentuk
masyarakat madani di Madinah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Mengenai
dakwah yang ditujukan kepada orang-orang yang belum masuk Islam bertujuan agar
mereka bersedia menerima Islam sebagai agamanya, mempelajari ajaran-ajarannya
dan mengamalkannya, sehingga mereka menjadi umat Islam yang senantiasa beriman
dan beramal saleh, yang berbahagia di dunia serta sejahtera di akhirat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Tujuan
dakwah Rasulullah SAW yang luhur dan cara penyampaiannya yang terpuji,
menyebabkan umat manusia yang belum masuk Islam banyak yang masuk Islam dengan
kemauan dan kesadarn sendiri. namun tidak sedikit pula orang-orang kafir yang
tidak bersedia masuk Islam, bahkan mereka berusaha menghalang-halangi orang
lain masuk Islam dan juga berusaha melenyapkan agama Isla dan umatnya dari muka
bumi. Mereka itu seperti kaum kafir Quraisy penduduk Mekah, kaum Yahudi
Madinah, dan sekutu-sekutu mereka.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Setelah
ada izin dari Allah SWT untuk berperang, sebagaimana firman-Nya dalam surah
Al-Hajj, 22:39 dan Al-Baqarah, 2:190, maka kemudian Rasulullah SAW dan para
sahabatnya menusun kekuatan untuk menghadapi peperangan dengan orang kafir yang
tidak dapat dihindarkan lagi&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Artinya: “Telah diizinkan (berperang) bagi
orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan
Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” (Q.S. Al-Hajj,
22:39)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang
yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S.
Al-Baqarah, 2:190).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Peperangan-peperangan yang dilakukan oleh
Rasulullah SAW dan para pengikutnya itu tidaklah bertujuan untuk melakukan
penjajahan atau meraih harta rampasan pernag, tetapi bertujuan untuk:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul type=&quot;disc&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Membela diri, kehormatan, dan harta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Menjamin kelancaran dakwah, dan memberi
     kesempatan kepada mereka yang hendak menganutnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Untuk memelihara umat Islam agar tidak
     dihancurkan oleh bala tentara Persia dan Romawi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Setelah
Rasulullah SAW dan para pengikutnya mampu membangun suatu negar yang merdeka
dan berdaulat, yang berpusat di Madinah, mereka berusaha menyiarkan dan
memasyhurkan agama Islam, bukan saja terhadap para penduduk Jazirah Arabia,
tetapi juga keluar Jazirah Arabia, maka bangsa Romawi dan Persia menjadi cemas
dan khawatir kekuaan mereka akan tersaingi. Oleh karena itu, bangsa Romawi dan
bangsa Persia bertekad untuk menumpas dan menghancurkan umat Islam dan
agamanya. Untuk menghadapi tekad bangsa Romawi Persia tersebut, Rasulullah SAW
dan para pengikutnya tidak tinggal diam sehingga terjadi peperangan antara umat
Islam dan bangsa Romawi, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Perang
Mut’ah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Peperangan
Mu’tah terjadi sebelah utara lazirah Arab. Pasukan Islam mendapat kesulitan
menghadapi tentara Ghassan yang mendapat bantuan dari Romawi. Beberapa pahlawan
gugur melawan pasukan berkekuatan ratusan ribu orang itu. Melihat kenyataanyang
tidak berimbang ini, Khalid ibn Walid, yang sudah masuk Islam, mengambil alih
komando dan memerintahkan pasukan untuk menarik diri dan kembali ke Madinah.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Selama
dua tahun perjanjian Hudaibiyah berlangsung, dakwah Islam sudah menjangkau
seluruh Jazirah Arab dan mendapat tanggapan yang positif. Hampir seluruh
Jazirah Arab, termasuk suku-suku yang paling selatan, menggabungkan diri dalam
Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Hal
ini membuat orang-orang Mekah merasa terpojok. Perjanjian Hudaibiyah ternyata
menjadi senjata bagi umat Islam untuk memperkuat dirinya. Oleh karena itu,
secara sepihak orang-orang kafir Quraisy membatalkan perjanjian tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Perang
Tabuk&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Melihat
kenyataan ini, Heraklius menyusun pasukan besar di utara Jazirah Arab, Syria,
yang merupakan daerah pendudukan Romawi. Dalam pasukan besar itu bergabung Bani
Ghassan dan Bani Lachmides.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Untuk
menghadapi pasukan Heraklius ini banyak pahlawan Islam yang menyediakan diri
siap berperang bersama Nabi sehingga terhimpun pasukan Islam yang besar pula.
Melihat besarnya pasukaDi sini beliau membuat beberapa perjanjian dengan
penduduk setempat. Dengan demikian, daerah perbatasan itu dapat dirangkul ke
dalam barisan Islam. Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti
Rasulullah SAW.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Peperangan
lainnya yang dilakukan pada masa Rasulullah SAW seperti:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Perang
Badar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Perang
Badar yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin
Quraisy Mekah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini merupakan puncak dari
serangkaian pertikaian yang terjadi antara pihak kaum muslimin Madinah dan kaum
musyrikin Quraisy. Perang ini berkobar setelah berbagai upaya perdamaian yang
dilaksanakan Nabi Muhammad SAW gagal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Tentara
muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan perlengkapan senjata sederhana
yang terdiri dari pedang, tombak, dan panah. Berkat kepemimpinan Nabi Muhammad
SAW dan semangat pasukan yang membaja, kaum muslimin keluar sebagai pemenang.
Abu Jahal, panglima perang pihak pasukan Quraisy dan musuh utama Nabi Muhammad
SAW sejak awal, tewas dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas dari pihak Quraisy,
dan 70 orang lainnya menjadi tawanan. Di pihak kaum muslimin, hanya 14 yang
gugur sebagai syuhada. Kemenangan itu sungguh merupakan pertolongan Allah SWT
(Q.S. 3: 123).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Artinya:
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, Padahal kamu adalah
(ketika itu) orang-orang yang lemah. karena itu bertakwalah kepada Allah,
supaya kamu mensyukuri-Nya.”(Q.S. Ali-Imran: 123).&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Orang-orang
Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum muslimin. Mereka memang
tidak pernah sepenuh hati menerima perjanjian yang dibuat antara mereka dan
Nabi Muhammad SAW dalam Piagam Madinah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Sementara
itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Nabi Muhammad SAW memutuskan
untuk membebaskan para tawanan dengan tebusan sesuai kemampuan masing-masing.
Tawanan yang pandai membaca dan menulis dibebaskan bila bersedia mengajari
orang-orang Islam yang masih buta aksara. Namun tawanan yang tidak memiliki
kekayaan dan kepandaian apa-apa pun tetap dibebaskan juga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Tidak
lama setelah perang Badar, Nabi Muhammad SAW mengadakan perjanjian dengan suku
Badui yang kuat. Mereka ingin menjalin hubungan dengan Nabi SAW karenan melihat
kekuatan Nabi SAW. Tetapi ternyata suku-suku itu hanya memuja kekuatan semata.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Sesudah
perang Badar, Nabi SAW juga menyerang Bani Qainuqa, suku Yahudi Madinah yang
berkomplot dengan orang-orang Mekah. Nabi SAW lalu mengusir kaum Yahudi itu ke
Suriah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;uhud&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Perang
Uhud&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Bagi
kaum Quraisy Mekah, kekalahan mereka dalam perang Badar merupakan pukulan
berat. Mereka bersumpah akan membalas dendam. Pada tahun 3 H, mereka berangkat
menuju Madinah membawa tidak kurang dari 3000 pasukan berkendaraan unta, 200
pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid ibn Walid, 700 orang di antara mereka
memakai baju besi.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Nabi
Muhammad menyongsong kedatangan mereka dengan pasukan sekitar 1000 (seribu)
orang. Namun, baru saja melewati batas kota, Abdullah ibn Ubay, seorang munafik
dengan 300 orang Yahudi membelot dan kembali ke Madinah. Mereka melanggar
perjanjian dan disiplin perang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Meskipun
demikian, dengan 700 pasukan yang tertinggal Nabi melanjutkan perjalanan.
Beberapa kilometer dari kota Madinah, tepatnya di bukit Uhud, kedua pasukan
bertemu. Perang dahsyat pun berkobar. Pertama-tama, prajurit-prajurit Islam
dapat memukul mundur tentaramusuh yang lebih besar itu. Pasukan berkuda yang
dipimpin oleh Khalid ibn Walid gagal menembus benteng pasukan pemanah Islam.
Dengan disiplin yang tinggi dan strategi perang yang jitu, pasukan yang lebih
kecil itu ternyata mampu mengalahkan pasukan yang lebihbesar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kemenangan
yang sudah diambang pintu ini tiba-tiba gagal karena godaan harta peninggalan
musuh. Prajurit Islam mulai memungut harta rampasan perang tanpa menghiraukan
gerakan musuh, termasuk didalamnya anggota pasukan pemanah yang telah
diperingatkan Nabi agar tidak meninggalkan posnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kelengahan
kaum muslimin ini dimanfaatkan dengan baik oleh musuh. Khalid bin Walid
berhasil melumpuhkan pasukan pemanah Islam, dan pasukan Quraisy yang tadinya
sudah kabur berbalik menyerang. Pasukan Islam menjadi porak poranda dan tak
mampu menangkis serangan tersebut. Satu persatu pahlawan Islam gugur, bahkan
Nabi sendiri terkena serangan musuh. Perang ini berakhir dengan70 orang pejuang
Islam syahid di medan laga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pengkhianatan
Abdullah ibn Ubay dan pasukan Yahudi diganjar dengan tindakan tegas. Bani
Nadir, satu dari dua suku Yahudi di Madinah yang berkomplot dengan Abdullah ibn
Ubay, diusir ke luar kota. Kebanyakan mereka mengungsi ke Khaibar. Sedangkan
suku Yahudi lainnya, yaitu Bani Quraizah, Masih tetap di Madinah.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Perang
Khandaq&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Perang
yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara kaum muslimin Madinah
melawan masyarakat Yahudi Madinah yang mengungsi ke Khaibar yang bersekutu
dengan masyarakat Mekah. Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang
Ahzab (sekutu beberapa suku).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pasukan
gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-Farisi, sahabat
Rasulullah SAW, mengusulkan agar kaum muslimin membuat parit pertahanan di
bagian-bagian kota yang terbuka. Karena itulah perang ini disebut sebagai
Perang Khandaq yang berarti parit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Tentara
sekutu yang tertahan oleh parit tersebut mengepung Madinah dengan mendirikan
perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya. Pengepungan ini cukup membuat
masyarakat Madinah menderita karena hubungan mereka dengan dunia luar menjadi
terputus. Suasana kritis itu diperparah pula oleh pengkhianatan orang-orang
Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizah, dibawah pimpinan Ka&#39;ab bin Asad.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Namun
akhirnya pertolongan Allah SWT menyelamatkan kaum muslimin. Setelah sebulan
mengadakan pengepungan, persediaan makanan pihak sekutu berkurang. Sementara
itu pada malam hari angin dan badai turun dengan amat kencang, menghantam dan
menerbangkan kemah-kemah dan seluruh perlengkapan tentara sekutu. Sehingga
mereka terpaksa menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing
tanpa suatu hasil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Para
pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman mati.&lt;br /&gt;
Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur&#39;an surat Al-Ahzâb: 25-26.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt -42.55pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Artinya:
“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang Keadaan mereka penuh
kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh Keuntungan apapun. dan Allah
menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha kuat
lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang ahli kitab (Bani Quraizhah)
yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan
Dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. sebahagian mereka kamu bunuh
dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (Q.S. Al-Ahzâb: 25-26)&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;hudaibiyah&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Perjanjian
Hudaibiyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pada
tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum muslimin untuk
mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi SAW memimpin langsung sekitar 1.400
orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan, bulan yang
dilarang adanya perang. Untuk itu mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa
senjata ala kadarnya untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Sebelum
tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa kilometer
dari Mekah. Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekah
dengan menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Akhirnya
diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya antara
lain:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Selama sepuluh tahun diberlakukan gencatan senjata antara kaum Quraisy penduduk
Mekah dan umat Islam penuduk Madinah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Orang Islam dari kaum Quraisy yang datang kepada umat Islam, tanpa seizin
walinya hendaklah ditolak oleh umat Islam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Kaum Quraisy, tidak akan menolak orang-orang Islam yang kembali dan bergabung
degan mereka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Tiap kabilah yang ingin masuk dalam persekutuan dengan kaum Quraisy, atau
dengan kaum Muslimin dibolehkan dan tidak akan mendapat rintangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Kaum Muslimin tidak jadi mengerjakan umrah saat itu, mereka harus kembali ke
Madinah, dan boleh mengerjakan umrah di tahun berikutnya, dengan persyaratan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul type=&quot;disc&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kaum Muslimin memasuki kota Mekah setelah
     penduduknya untuk sementara keluar dari kota Mekah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kaum Muslimin memasuki kota Mekah, tidak boleh
     membawa senjata&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kaum Muslimin tidak boleh berada di dalm kota
     Mekah lebih dari tiga hari-tiga malam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Tujuan Nabi SAW membuat perjanjian tersebut sebenarnya adalah berusaha merebut
dan menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah
lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Ada 2 faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab,
     sehingga dengan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan
     Islam dapat tersebar ke luar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Apabila suku Quraisy dapat diislamkan, maka
     Islam akan memperoleh dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy
     mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar di kalangan bangsa Arab. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kaum
kafir Quraisy mengetahui, bahwa perjanjian Hudaibiyah itu sangat menguntungkan
kaum Muslimin. Umat Islam semakin kuat, karena hampir seluruh semenanjung Arab,
termasuk suku-suku bagsa Arab yang paling selatan telah menggabungkan diri
kepada Islam. Sejumlah orang dari Bani Khuza’ah yang berada di bawah
perlindungan Islam. Sejumlah orang dari Bani Khuza’ah mereka bunuh dan
selebihnya mereka cerai-beraikan. Bani Khuza’ah segera mengadu kepada
Rasulullah SAW dan mohon keadilan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Mendapat
pengaduan seperti itu kemudian Rasulullah SAW dengan 10.000 bala tentaranya berangkat
menuju kota Mekah untuk membebaskan kota Mekah dari para penguasa kafir yang
zalim, yang telah melakukan pembunuhan secara kejam terhadap umat Islam dari
Bani Khuza’ah.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Rasulullah
SAW sebenarnya tidak menginginkan terjadinya peperanagn, yang sudah tentu akan
menelan banyak korban jiwa. Untuk itu, Rasulullah SAW dan bala tentaranya
berkemah di pinggiran kota Mekah dengan maksud agar kaum kafir Quraisy melihat
sendiri, kekuatan besar dari bala entara kaum Muslimin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Taktik
Rasulullah SAW seperi itu ternyata berhasil, sehingga dua orang pemimpin
Quraisy yaitu Abbas (paman Rasulullah SAW) dan Abu Sufyan (seorang bangsawan
Quraisy yang lahir tahun 567 M dan wafat tahun 652 M) datang menemui Rasulullah
SAW dan menyatakan diri masuk Islam.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Dengan
masuk Islamnya kedua orang pemimpin kaum kafir Quraisy itu, dan bala tentaranya
dapat memasuki kota Mekah dengan aman dan memebebaskan kota itu dari para
penguasa kaum kafir Quraisy yang zalim. Pembebasan kota Mekah ini terjadi pada
tahun 8 H secara damai tanpa adanya pertumpahan darah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Bahkan
setelah itu kaum Quraisy berbondong-bondong menyatakan diri masuk Islam,
menerima ajakan Rasulullah dengan kerelaan hati. Kemudian bersama-sama bala
tentara Islam mereka membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala dan menghancurkan
berhala-berhala itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kaum
Muslimin masih menghadapai kaum musyrikin, yang semula bersekutu dengan kaum
kafir Quraisy yang telah masuk Islam itu, yaitu: Bani Saqif, Bani Hawazin, Bani
Nasr, dan Bani Jusyam. Kaum musyrikin tersebut bersatu di bawah pimpinan Malik
bin Auf (Bani Nasr) berangkat menuju Mekah untuk menyerang kaum Muslimin, yang
telah menghancurkan behala-berhla yang mereka sembah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Perang
Hunain&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Mendengar
berita bahwa kaum musyrikin itu akan menyerang umat Islam, Nabi mengerahkan
kira-kira 12.000 tentara menuju Hunain untuk menghadapi mereka. Pasukan ini
dipimpin langsung oleh beliau sehingga umat Islam memenangkan pertempuran dalam
waktu yang tidak terlalu lama. Dengan ditaklukkannya Bani Tsaqif dan Bani
Hawazin, seluruh Jazirah Arab berada di bawah kepemimpinan Nabi. Rasulullah dan
umat Islam memperoleh kemenangan&amp;nbsp; yang gilang-gemilang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Artinya:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu Lihat manusia
masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji
Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima
taubat.” (Q.S. An-Nasr, 110: 1-3)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;3.&amp;nbsp;Dakwah Islamiah Keluar Jazirah Arabiah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Rasulullah SAW menyeru umat manusia di luar Jazirah
Arab agar memeluk agama Islam, dengan jalan mengirim utusan untuk menyampaikan
surat dakwah Rasulullah SAW kepada para penguasa atau para pembesar mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Para penguasa atau para pembesar negar yang dikirimi
surat dakwah Rasulullah SAW itu seperti:&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Heraclius, Kaisar Romawi Timur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Yang menerima surat dakwah Rasulullah, melalui utusannya Dihijah bin Khalifah.
Heraclius tidak menerima seruan dakwah Rasulullah itu, karena tidak mendapat
persetujuan dari para pembesar negara dan para pendeta. Namun surat dakwah itu
dibalasnya dengan tutur kata sopan, di samping mengirimkan hadiah untuk
Rasulullah SAW.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Muqauqis, Gubernur Romawi di Mesir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Rasulullah SAW mengirim surat dakwah kepada Muqauqis melalui utusannya yang
bernama Hatib. Setelah surat itu dibaca Muqauqis belum bisa menerima seruan
untuk masuk Islam, namun dia menyampaikan surat balasan kepada Rasulullah SAW
dan mengirim hadiah-hadiah berupa seorang budak wanita, kuda, keledai, dan
pakaian-pakaian.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Syahinsyah, Kaisar Persia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Syahinsyah adalah penguasa yang lalim dan sombong.
Karena kesombongannya surat dakwah Rasulullah SAW itu dirobek-robeknya.
Mengetahui surat dakwah itu dirobek-robek, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa
Syahinsyah yang sombong itu akan dibunuh oleh anaknya sendiri pada malam Selasa
tanggal 10 Jumadil Awal tahun ke-7 hijriah. Apa yang diucapkan Rasulullah SAW
ternyata sesuai dengan kenyataan. Syahinsyah dibunuh oleh anaknya sendiri
Asy-Syirwaih karena kelalimannya.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kemudian surat dakwah Rasulullah SAW dikirimkan
pula kepada An-Najasyi (Raja Ethiophi), Al-Munzir bin Sawi (Raja Bahrain),
Hudzah bin Ali (Raja Yamamah), dan Al-Haris (Gubernur Romawi di Syam). Di
antara. Penguasa-penguasa tersebut yang menerima seruan dakwah Rasulullah SAW,
hanyalah Al-Munzir bin Sawi penguasa Bahrain yang menyatakan masuk Islam dan
mengajak para pembesar negara dan rakyatnya agar masuk Islam.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;A. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;S&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;TRATEGI &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;DAKWAH RASULULLAH SAW
PERIODE MADINAH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pokok-pokok pikiran yang dijadikan strategi dakwah
Rasulullah SAW periode Madinah adalah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Berdakwah dimulai dari diri sendiri, maksudnya sebelum mengajak orang lain
meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan ajarannya, maka terlebih dahulu orang
yang berdakwah&amp;nbsp; itu harus meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan
ajarannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Cara (metode) melaksanakan dakwah sesuai dengan petunjuk Allah SWT dalam Surah
An-Nahl, 16: 12&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -49.65pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk.” (Q.S. An-Nahl, 16: 125)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Berdakwah
itu hukumnya wajib bagi Rasulullah SAW dan umatnya sesuai dengan petunjuk Allah
SWT dalam Surah Ali Imran, 3: 104&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma&#39;ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran, 3: 104)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;4.&amp;nbsp;Berdakwah
dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah SWT semata, bukan dengan untuk
memperoleh popularitas dan keuntungan yang bersifat materi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Umat Islam dalam melaksanakan tugas dakwahnya,
selain harus menerapkan pokok-pokok pikiran yang dijadikan sebagai strategi
dakwah Rasulullah SAW, juga hendaknya meneladani strategi Rasulullah SAW dalam
membentuk masyarakat Islam tau masyarakat madani di Madinah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Masyarakat Islam atau masyarakat madani adalah
masyarakat yang menerapkan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupan, sehingga
terwujud kehidupan bermasyarakat yang &lt;i&gt;baldatun
tayyibatun wa rabbun gafur&lt;/i&gt;, yakni masyarakat yang baik, aman, tenteram,
damai, adil, dan makmur di bawah naungan rida Allah SWT dan ampunan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Usaha-usaha Rasulullah SAW dalam mewujudkan
masyarakat Islam seperti tersebut adalah: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;a.&amp;nbsp;Membangun Masjid&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah
SAW di Madinah ialah Masjid Quba, yang berjarak ± 5 km, sebelah barata daya
Madinah. Masjid Quba dibangun pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijrah
(20 September 622 M).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Setelah Rasulullah SAW menetap di Madinah, pada
setiap hari Sabtu, beliau mengunjungi Masjid Quba untuk salat berjamaah dan
menyampaikan dakwah Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah SAW dan
para sahabatnya adalah Masjid Nabawi di Madinah. Masjid ini dibangun secara
gotong-royong oleh kaum Muhajirin dan Ansar, yang peletakan batu pertamanya
dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan peletakan batu kedua, ketiga, keempat dan
kelima dilaksanakan oleh para sahabat terkemuka yakni: Abu Bakar r.a., Umar bin
Khatab r.a., Utsman bin Affan r.a. dan Ali bin Abu Thalib k.w.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Mengenai fungsi atau peranan masjid pada masa
Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Masjid sebagai sarana pembinaan umat Islam di
     bidang akidah, ibadah, dan akhlak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Masjid merupakan saran ibadah, khususnya salat
     lima waktu, salat Jumat, salat Tarawih, salat Idul Fitri, dan Idul Adha.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Masjid merupakan tempat belajar dan mengajar
     tentang agama Islam yang bersumber kepada Al-Qur;an dan Hadis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Masjid sebagai tempat pertemuan untuk menjalin
     hubungan persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah Islamiah) demi terwujudnya
     persatuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Menjadikan masjid sebagai sarana kegiatan
     sosial. Misalnya sebagai tempat penampungan zakat, infak, dan sedekah dan
     menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya, terutama para fakir miskin
     dan anak-anak yatim terlantar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Menjadikan halaman masjid dengan memasang
     tenda, sebagai tmpat pengobatan para penderita sakit, terutama para
     pejuang Islam yang menderita luka akibat perang melawan orang-orang kafir.
     Sejarah mencata adanya seorang perawat wanita terkenal pada masa
     Rasulullah SAW yang bernama
     “Rafidah”&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasulullah SAW
     menjadikan masjid sebagai tempat bermusyawarah dengan para sahabatnya.
     Masalah-masalah yang dimusyawarahkan antara lain: usaha-usaha untuk
     memajukan Islam, dan strategi peperangan melawan musuh-musuh Islam agar
     memperoleh kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;b.&amp;nbsp;Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Ansar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Muhajirin adalah para sahabat Rasulullah SAW penduduk
Mekah yang berhijrah ke Madinah. Ansar adalah para sahabat Rasulullah SAW
penduduk asli Madinah yang memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Rasulullah SAW bermusyawarah dengan Abu Bakar r.a.
dan Umar bin Khatab tentang mempersaudarakan antara Muhajirin dan Ansar,
sehingga terwujud persatuan yang tangguh. Hasil musyawarah memutuskan agar
setiap orang Muhajrin mencari dan mengangkat seorang dari kalangan Ansar
menjadi saudaranya senasab (seketurunan), dengan niat ikhlas karena Allah SWT.
Demikian juga sebaliknya orang Ansar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Rasulullah SAW memberi contoh dengan mengajak Ali
bin Abu Thalib sebagai saudaranya. Apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW
dicontoh oleh seluruh sahabat misalnya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul type=&quot;disc&quot;&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah
     SAW, pahlawan Islam yang pemberani bersaudara dengan Zaid bin Haritsah,
     mantan hamba sahaya, yang kemudian dijadikan anak angkat Rasulullah SAW&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq, bersaudara dengan
     Kharizah bin Zaid&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Umar bin Khattab bersaudara denga Itban bin
     Malik al-Khazraji (Ansar)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Abdurrahman bin Auf bersaudara dengan Sa’ad
     bin Rabi (Ansar)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;Demikianlah seterusnya setiap orang Muhajirin
dan orang Ansar, termasuk Muhajirin setelah hijrahnya Rasulullah SAW,
dipersaudarakan secara sepasang- sepasang, layaknya seperti saudara senasab.&lt;span style=&quot;background: none repeat scroll 0% 0% black; border: 1pt none windowtext; padding: 0cm;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Persaudaraan secara sepasang–sepasang seperti
tersebut, ternyata membuahkan hasil sesama Muhajirin dan Ansar terjalin
hubungan persaudaraan yang lebih baik. Mereka saling mencintai, saling
menyayangi, hormay-menghormati, dan tolong-menolong dalam kebaikan dan
ketakwaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kaum Ansar dengan ikhlas memberikan pertolongan
kepada kaum Muhajirin berupa tempat tinggal, sandang-pangan, dan lain-lain yang
diperlukan. Namun kaum Muhajirin tidak diam berpangku tangan, mereka berusaha
sekuat tenaga untuk mencari nafkah agar dapat hidup mandiri. Misalnya,
Abdurrahman bin Auf menjadi pedagang, Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ali bin
Abu Thalib menjadi petani kurma.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kaum Muhajirin yang belum mempunyai tempat tinggal
dan mata pencaharian oleh Rasulullah SAW ditempatkan di bagian Masjid Nabawi
yang beratap yang disebut &lt;i&gt;Suffa&lt;/i&gt; dan
mereka dinamakan &lt;i&gt;Ahlus Suffa &lt;/i&gt;(penghuni
Suffa). Kebutuhan-kebutuhan mereka dicukupi oleh kaum Muhajirin dan kaum Ansar
secara bergotong-royong. Kegiatan &lt;i&gt;Ahlus
Suffa &lt;/i&gt;itu anatara lain mempelajari dan menghafal Al-Qur’an dan Hadis,
kemudian diajarkannya kepada yang lain. Sedangkan apabila terjadi perang
anatara kaum Muslimin dengan kaum kafir, mereka ikut berperang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;c.&amp;nbsp;Perjanjian Bantu-Membantu antara Umat Islam
dan Umat Non-Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pada waktu Rasulullah SAW menetap di Madinah,
penduduknya terdiri dari tiga golongan, yaitu umat Islam, umat Yahudi (Bani
Qainuqa, Bani Nazir dan Bani Quraizah) dan orang-orang Arab yang belum masuk
Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Piagam
ini mengandungi 32 fasal yang menyentuh segenap aspek kehidupan termasuk
akidah, akhlak, kebajikan, undang-undang, kemasyarakatan, ekonomi dan
lain-lain. Di dalamnya juga terkandung aspek khusus yang mesti dipatuhi oleh
kaum Muslimin seperti tidak mensyirikkan Allah, tolong-menolong sesama mukmin,
bertaqwa dan lain-lain. Selain itu, bagi kaum bukan Islam, mereka mestilah
berkelakuan baik bagi melayakkan mereka dilindungi oleh kerajaan Islam Madinah
serta membayar cukai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Piagam
ini mestilah dipatuhi oleh semua penduduk Madinah sama ada Islam atau bukan
Islam. Strategi ini telah menjadikan Madinah sebagai model Negara Islam yang
adil, membangun serta digeruni oleh musuh-musuh Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Rasulullah SAW membuat perjanjian dengan penduduk
Madinah non-Islam dan tertuang dalam Piagam Madinah. Piagam Madinah itu antara
lain:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Setiap golongan dari ketiga golongan penduduk Madinah memiliki hak pribadi,
keagamaan dan politik. Sehubungan dengan itu setiap golongan penduduk Madinah
berhak menjatuhkan hukuman kepada orang yang membuat kerusakan dan memberi keamanan
kepada orang yang mematuhi peraturan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&amp;nbsp;Setiap individu penduduk Madinah mendapat jaminan kebebasan beragama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;3)&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Veluruh penduduk kota Madinah yang terdiri dari kaum Muslimin, kaum Yahudi dan
orang-orang Arab yang belum masuk Islam sesama mereka hendaknya saling membantu
dalam bidang moril dan materiil. Apabila Madinah diserang musuh, maka seluruh
penduduk Madinah harus bantu-membantu dalam mempertahankan kota Madinah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;4)&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Rasulullah SAW adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah. Segala perkara dan
perselisihan besar yang terjadi di Madinah harus diajukan kepada Rasulullah SAW
untuk diadili sebagaimana mestinya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;d.&amp;nbsp;Meletakkan Dasar-dasar Politik, Ekonomi,
dan Sosial yang Islami demi Terwujudnya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Masyarakat Madani&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Islam tidak hanya mengajarkan bidang akidah dan
ibadah, tetapi mengajarkan juga bidang politik, ekonomi, dan sosial, yang
kesemuanya berumber pada Al-Qur’an dan Hadis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pada masa Rasulullah, penduduk Madinah mayoritas
sudah beragam Islam, sehingga masyarakat Islam sudah terbentuk, maka adanya
pemerintahan Islam merupakan keharusan. Rasulullah SAW selain sebagai seorang
nabi dan rasul, juga tampil sebagai seorang kepala negara (khalifah).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormalCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Sebagai kepala negara, Rasulullah SAW telah
meletakkan dasar bagi setiap sistem politik Islam, yakni musyawarah. Melalui
musyawarah, umat Islam dapat mengangkat wakil-wakil rakyat dan kepala
pemerintahan, serta membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh seluruh
rakyatnya. Dengan syarat, peraturan-peraturan itu tidak menyimpang dari
tuntutan Al-Qur’an dan Hadis&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/sejarah-peradaban-islam.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-5557078259133987359</guid><pubDate>Sat, 20 Jul 2013 13:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-20T06:00:51.556-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Islami</category><title>Kaum Nabi Luth dan Kota yang Dijungkirbalikkan</title><description>&lt;a href=&quot;http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/babedhdhra_lokasi_ditemukannya_reruntuhan_kota_sodom_dan_gomoroh_100815214446.jpg&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/babedhdhra_lokasi_ditemukannya_reruntuhan_kota_sodom_dan_gomoroh_100815214446.jpg&quot; border=&quot;0&quot; class=&quot;decoded&quot; height=&quot;287&quot; src=&quot;http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/babedhdhra_lokasi_ditemukannya_reruntuhan_kota_sodom_dan_gomoroh_100815214446.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman ( Nabinya ). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka ), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu seelum fajar menyingsing. Sebagai ni’mat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia ( Luth ) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancamanancaman itu. (QS Al Qamar 33 – 36 ).&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nabi Luth hidup satu masa dengan Ibrahim. Luth diutus sebagai seorang pembawa risalah kepada salah satu kelompok masyarakat yang hidup berdekatan dengan kaum Nabi Ibrahim. Kaum ini, sebagaimana diriwayatkan dalam Al Qur’an mengerjakan perbuatan yang menyimpang yang kemudian dikenal luas sebagai perilaku sodomi. Dikala Luth menyerukan kepada mereka untuk menghentikan penyimpangan tersebut diserukan kepada mereka peringatan dari Allah, maka mereka mengingkarinya, menolak kenabian Lut dan meneruskan penyimpangan perilaku mereka. Pada akhirnya kaum ini dihancurkan/diluluhlantakkan dengan bencana yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota dimana dahulu Nabi Luth berdiam, dalam Perjanjian Lama dihubungkan dengan kota Sodom, Berada disebelah Utara laut Merah, masyarakat ini diketahui telah dihancurkan sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an. Penelitian arkeologis mengungkapkan bahwa kota tersebut berada diwilayah Laut Mati yang terbentang memanjang diantara perbatasan Israel-Jordania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mencermati sisa-sisa dari bencana ini, marilah kita lihat mengapa kaum Luth dihukum dengan cara seperti ini. Al Qur’an menceritakan bagaimana Luth memperingatkan kaumnya dan apa jawab mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaum Luth telah mendustakan rasul-nya, ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka “ Mengapa kamu tidak bertaqwa?”. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan ( yang diutus ) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki diantara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab “ Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang diusir”. Luth berkata “ Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu “. ( QS Asy-Syu”ara” 160-168 ).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Nabi Lut justeru mengancamnya sebagai jawaban atas ajakannya ke jalan yang benar. Kaumnya membenci Luth karena menunjukkan mereka ke jalan yang benar, dan membuang/menyingkirkkannya dan orang-orang yang beriman kepadanya. Dalam ayat lain, kejadian ini dikisahkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dan ( Kami juga telah mengutus ) Luth ( kepada kaumnya ). (Ingatlah ) tatkala dia berkata kepada mereka :” Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (didunia ini) sebelummu?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu ( kepada mereka), bukanka kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan :” Usirlah merkea ( Lut dan pengikutpengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpurapura mensucikan diri .” (QS Al A’raaf 80-82).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luth menyeru kaumnya kepada sebuah kebenaran yang begitu nyara dan memperingatkan mereka dengan tegas, namun kaumnya sama sekali tidak mengindahkan berbagai peringatan dan bahkan meneruskan penolakannya terhadap Luth dan mengingkari azab yang telah dikatakan kepada mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya :Sesungguhnnyya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang sebelumnya belum pernah dikerjaka oleh seorangpun dari umat-umat seblum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran ditempat-tempat pertemuannmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan : “ Datangkanlah kepada kami azab Allh, jika kamu termasuk orang-oranng yang benar”. ( QS Al Ankabut 28-29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima jawaban seperti tersebut diatas dari kaumnya Luth meminta pertolongan kepada Allah : “ Ia berkata : Ya Tuhanku, tolonglah aku ( dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu “ (QS Al-Ankabut 30)“. “ Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari ( akibat) perbuatan yang mereka kerjakan” ( QS Asy Syu’ara’).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas doa Luth tersebut, Allah mengrimkan dua malaikat yang menjelma dalam wujud manusia. Para malaikat ini mengunjungi Ibrahim sebelum mendatangi Luth, membawa kabar gembira kepada Ibrahim bahwa isterinya akan melahirkan seorang jabang bayi, malaikat pembawa pesan menerangkan alasan pengiriman mereka; bahwa kaum Luth yang angkara akan dihancurkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Ibrahim bertanya; ‘Apakah urusanmu hai para utusan?’. Mereka menjawab;”Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereja batu-batu dari tanah yang (batu belerang), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk ( membinasakan ) orang-orang yang melampaui batas. ( QS Adz -Dzaariyaat: 31-34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecuali Lut beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanyua, kecuali istrinya, Kami telah telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya )”. ( QS Al Hijr 59-60).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meningalkan Ibrahim, para malaikat yang dikirim sebagai utusan pembawa pesan, kemudian mendatangi Luth. Adapun Luth yang belum pernah ditemui sang pembawa pesan, pada waktu pertama kalinya merasa khawatir namun selanjutnya merasa tenang setelah berbicara dengan mereka ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ia berkata:” Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Para utusan menjawab :” Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan “. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang yang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu”. Dan Kami telah wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis diwaktu subuh. ( QS Al Hijr 62-66).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kaum Lut telah mengetahui bahwa Luth kedatangnan tamu. Mereka tidak ragu-ragu untuk menadatangi tamu-tamu tersebut secara menentang sebagaimana mereka sebelumnya telah mendatangi tamu yang lain. Mereka mengepung rumah Luth. Merasa khawatir atas keselamatan tamunya, Luth berbicara kepada kaumnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“ Luth berkata : “ Sesungguhnyua mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu ( kepadaku ), dan bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. ( QS Al Hijr 68-69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Lut menjawab dengan pedas ; Mereka berkata :” Dan bukankah kami telah melarangmu dari ( melindungi) manusia”. Merasa bahwa Ia dan tamunya akan mendapatkan perlakuan yang keji, Lut berkata : “ Seandainya aku ada mempunyai kekuatan ( untuk menolakmu ) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat ( tentu akan aku lakukan ) (QS Al Hud 80 ).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tamunya mengingatkannya bahwa sesungguhnya mereka adalah pembawa pesan dari Alllah dan mereka berkata ;” Para utusan (malaikat ) berkata : “ hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun diantara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatihnya azab kepada mereka ialah diwakti subuh; bukankah subuh itu sudah dekat ?”. ( QS Hud 81).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penentangan warga kota mencapai tingkat kebencian yang memuncak, Allah menyelamatkan Lut dengan perantaraan malaikat. Di pagi hari, kaumnya dihancurleburkan dengan bencana yang sebelumnya telah diberitahukan oleh Luth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“ Dan sesunguhnya mereka telah membujuknya ( agar menyerahkan ) tamunya (kepada mereka ), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal ( QS Al-Qamar 37-38).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang menerangkan pengnhancuran dari kaum ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;“ Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik kebawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras . Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda ( kebesaran Kami ) bagi orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak dijalan yang masih tetap ( dilalui manusia). ( QS Al Hijr 73-76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas ke bawah ( Kami balikkan ), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang ) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS Hud 82-83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kemudian Kami binasakan yang lain, Dan Kami hujani mereka dengan hujan ( batu belerang) maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman, Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. ( QS Asy-Syu’araa: 172-175).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kaum tersebut dihancurkan, hanya Lut dan pengikutnya yang hanya berjumlah tidak lebih dari “sebuah keluarga”. Adapaun istri Luth sendiri yang juga tidak percaya ,ia juga dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“ Dan ( Kami juga yang telah mengutus ) Luth ( kepada kaumnya), (Ingatlah) tatkala dia bnerkata kepada mereka :” Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun ( didunia ini ) sebelumnya?’. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu ( kepada mereka ), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan :” Usirlah mereka ( Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutpengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu belerang), maka perhatikanlahbagaimana kesudahan orang-orang yang memperturutkan dirinya dengan dosa dan kejahaan itu.( QS Al-Araf: 80-84).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah maka, Nabi Luth diselamatkan bersama dengan para pengikut dan keluarganya, namun tidak demikian halnya dengan istrinya. Sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Lama, ia (Luth) berindah dan menetap bersama Ibrahim. Adapun terhadap kaum yang sesat mereka dihancurkan dan tempat tinggal mereka diratakan dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Tanda-tanda yang Jelas “ di Danau Luth Ayat 82 Surat Hud secara jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Lut. “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Lut itu yang atas ke bawah ( Kami balikkan ), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang ) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi,”&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan “ menjungkirbalikkan (kota) “ mengandung makna bahwa kawasan tersebut diluluhlantakkan oleh kedahsyatan gempa bumi. Sesuai dengan keadaan Danau Lut dimana penghancuran terjadi, terkandung bukti “nyata” dari bencana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip apa yang dikatakan oleh ahli arkeologi Jerman bernama Werner Keller, sebagai berikut :Bersamaan dengan dasar dari retakan yang lebar ini yang terjadi secara seksama di daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, terjerumus secara seketika ( dalam waktu satu hari ) ke dalam jurang yang sangat dalam. Kehancuran tersebut terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi hebat yang mungkin disertai dengan letusan, petir dan keluarnya gas alam serta terjadinya lautan api yang dahsyat.i&lt;br /&gt;Sebagai sebuah fakta, Danau Lut atau yang lebih dikenal dengan Laut Mati, letaknya tepat berada diatas suatu kawasan gunung berapi aktif, jadi merupakan daerah gempa bumi :&lt;br /&gt;Dasar dari Laut Mati berada pada pusat kehancuran lempeng bumi, Lembah ini terletak diantara rentangan yang rentan antara Danau Taberiya di Utara dan pertengahan danau Arabia di Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa yang dilukiskan dengan “ menghujani mereka dengan batu belerang keras sebagaimana tanah liat yang terbakar secara bertubi-tubu” pada bagian akhir dari ayat. Ini semua mungkin berarti sebuah letusan gunung api yang terjadi di tepian Danau Lut, dan sebagai cadas dan batuan yang meletus dalam bentuk terbakar” ( kejadian yang sama terjadi sebagaimana dalam ayat 173 Suarat ash Syu’araa’ yang menyebutkan : Kami menghujani mereka ( dengan belerang ) maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dalam kaitannya dengan hal ini, Werner Kelller menulis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Subsidence mengeluarkan/membangkitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur begitu lama di sepanjang patahan yang panjang. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menggelegak dari gunung api yang sudah mati, lava yang melebar dan batuan basal dalam yang telah terkumpul di dalam permukaan baru lapis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lava dan lapisan batu Basalt merupakan bukti terbesar yang ledakan gunung api dan gempa bumi pernah terjadi disini. Bencana alam yang dilukiskan dengan ungkapan “ Ketika Firman Kami telah terbukti, Kami jungkirbalikkan ( kota) “, yang terjadi dalam ayat yang sama, di dalam Al Qur’an kemungkinan besar menunjuk pada gempa bumi yang mengakibatkan letusan gunung api diatas permukaan bumi dengan akibat yang merusak dan terhadap retakan dan reruntuhan yang diakibatkan olehnya, dan Allah yang Maha Mengetahui atas hal tersebut. “ Tanda-tanda yang jelas” yang disampaikan oleh Danau Lut sangatlah menarik, Secara umum, kejadian yang menurut Al Qur’an terjadi di Timur Tengah, Jazirah Arab dan Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya ditengah kawasan ini adalah Danau Lut. Danau Lut dimana kejadian tersebut terjadi dan daerah sekitarnya secara geologis mendapatkan perhatian seksama. Danau tersebut diperkirakan berada 400 meter dibawah permukaan Mediterania. Danau tersebut dalamnya antara 400 meter, sedangkan dasarnya mencapai kedalaman 800 meter dibawah Mediterania.&lt;br /&gt;Ini adalah merupakan titik yang paling rendah di seluruh permukaan bumi, Di daerah lain yang kedalamannya lebih rendah dari permukaan lautan, paling rendah sedalam 100 meter. Sifat lain dari Danau Lut adalah kandungan garammnya yang sangat tinggi, dimana kepekatannya hamper mencapai 30%. Oleh karena itu tidak ada mahluk hidup seperti ikan atau lumur yang dapat bertahan hidup di dalam danau ini. Hal inilah yang menyebabkan Danau Lut dalam literatureliteratur Barat lebih sering disebut dengan “ Laut Mati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang menimpa kaum Lut, yang disebutkan dalam Al Qur’an berdasarkan perkiraan terjadi sekitar 1800 SM. Berdasarkan pada penelitian arkeologi dan geologi, peneliti terkenal Jerman Werner Kelller mencatat bahwa kota Sodom dan Gomorah adalah benar-benar berada di lembah Siddim yang merupakan daerah terjauh dan terendah dari ujung Danau Lut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling menarik adalah susunan karakteristik dari danau Lut adalah bukti yang&lt;br /&gt;menunjukkan kejadian bencana alam sebagaimana yang diceritakan dalam Al Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian Timur pantai Laut Mati adalah semenanjung El Lisan yang berbentuk seperti lidah yang menjulur ke dalam air. El Lisan berarti “ lidah “ dalam bahasa Arab. Dari daratan tidak akan nampak bahwa tanah dibawah permukaan air berguguran pada sudut yang sangat luar biasa, memisahkan air danau menajdi dua bagian. Disebelah kanan semenanjung lereng tanah menghunjam sedalam 1200 kaki. Disebelah kiri semenanjung, secara luar biasa kedalaman air tetap dangkal. Penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kedalamannya hanya berkisar antara 50 – 60 kaki. Bagian dangkal yang luar biasa dari Laut mati ini, mulai dari semenanjung el Lisan sampai ke ujung bagian paling Selatan, adalah merupakan Lembah Siddim. Werner Keller menengarai bahwa bagian yang dangkal ini yang ditemukan belakangan adalah merupakan hasil dari gempa bumi dahsyat sebagaimana yang telah disebutkan diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah dimana Sodom dan Gomorah berada dan disini pulalah kaum Lut pernah hidup. Meskipun memungkinkan untuk melintasi daerah ini dengan berjalan kaki. Namun sekarang Lembah Siddim, dimana Sodom dan Gomorah dahulunya berada, diselimuti oleh permukaan datar bagian bawah Laut Mati. Keruntuhan dari dasar danau sebagai akibat dari bencana alam mengerikan yang terjadi di masa lampau diawal Millenium kedua SM, mengakibatkan air garam dari utara mengalir ke dalam rongga yang belakangan terbentuk dan memenuhi lembah sungai dengan air yang asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak-jejak dari danau Lut akan nampak kentara Jika seseorang bersampan melintasi&lt;br /&gt;Danau Lut ke titik paling Utara dan sang Surya sedang bersinar tepat diarahnya, maka ia akan&lt;br /&gt;melihat sesuatu yang menakjubkan. Dari kejauhan pantai akan nampak secara jelas dibawah&lt;br /&gt;permukaan air segaris bentuk hutan yang secara luarbiasa diawetkan oleh kandungan garam&lt;br /&gt;yang tinggi dari Laut Mati. Batang pepohonan dan akar-akaran didalam kilauan air yang hijau&lt;br /&gt;nampaklah sangat kuno. Lembah Siddim dimana pepohonan ini dahulu daunnya pernah&lt;br /&gt;bermekaran menutupi batang dan rantingnya adalah merupakan salah satu lokasi yang paling&lt;br /&gt;indah didaerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek mekanis dari bencana yang menimpa kaum Lut diungkapkan oleh para peneliti Geologi. Pengungkapan bahwa gempabumi yang menghancurkan Kaum Lut terjadi sebagai akibat rekahan yang sangat panjang didalam kerak bumi (fault line ) sepanjang 190 KM yang memanjang membentuk dasar sungai Sheri’at. Sungai Sheri’at secara total runtuh 180 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara bukit ini dan fakta bahwa danau Lut berada 400 meter dibawah permukaan laut adalah dua potong bukti penting yang menunjukkan bawa peristiwa geologis yang sangar hebat pernah terjadi disini. Susunan yang menarik dari sungai Sheri’at dan Danau Lut hanya tersusun atas rekahan kecil yang memisahkan kawasan ini dari kerak bumi. Keadaan seperti tersebut dan rekahan yang memanjang baru dapat ditemukan pada waktu akhir-akhir ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan dari atas gunung-gunung di sekitar danau Luth Penghancuran kaum Luth telah memberikan banyak ilham bagi banyak pelukis, salah satunya seperti tampak diatas Beberapa reruntuhan dari kota yang terkubur didalam danau, ditemukan di tepian danau. Peninggalan tersebut menunjukkan bahwa kaum Lut telah memiliki standar hidup yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi rekahan ini berasal dari daerah tepian gunung Taurus, memanjang ke pantai selaran danau Lut dan terus berlanjut diatas gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan berlanjut melintasi Laut Merah dan berakhir di Afrika. Di sepanjang jarak tersebut terdapat aktifitas gunung berapi yang sangat kuat. Batuan Basalt hitam dan lava terdapat di gunung Galilea di Israel,daerah dataran tinggi Jordania, Teluk Aqaba dan daerah sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh reruntuhan dan bukti-bukti geografis tersebut menunjukan bahwa bencana&lt;br /&gt;geologis dahsyat pernah terjadi di danau Lut. Werner Kelller menulis:&lt;br /&gt;Bersamaan dengan dasar dari retakan yang lebar ini yang terjadi secara seksama di daerah&lt;br /&gt;ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, terjerumus secara seketika (dalam waktu&lt;br /&gt;satu hari ke dalam jurang yang sangat dalam. Kehancuran tersebut terjadi melalui sebuah&lt;br /&gt;peristiwa gempa bumi hebat yang mungkin disertai dengan letusan, petir dan keluarnya gas&lt;br /&gt;alam serta terjadinya lautan api yang dahsyat. Subsidence mengeluarkan/membangkitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur begitu lama di sepanjang patahan yang panjang. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menggelegak dari gunung api yang sudah mati, lava yang melebar dan batuan basalt dalam yang telah terkumpul di dalam permukaan batu lapis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Geografi nasional Amerika Serikat (National Geographic) pada Desember&lt;br /&gt;1957 menyatakan sebagai berikut: Gunung Sodom, merupakan tanah gersang dan tandus&lt;br /&gt;muncul secara mendadak diatas Laut Mati. Tidak ada seorangpun yang pernah menemukan&lt;br /&gt;kota Sodom dan Gomorah yang dihancurkan, namun para ilmuwan percaya bahwa kota ini&lt;br /&gt;dahulunya berada di lembah Siddim yang terletak melintang di sepanjang tepian tebing jurang&lt;br /&gt;terjal ini. Kemungkinan air bah dari Laut Mati yang menelan mereka yang disertai dengan&lt;br /&gt;gempa bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Werner Keller, Und Die Bibel hat doch recht (The Bible as History: a Confirmation of the Book&lt;br /&gt;of Books), New York: William Morrow, 1964, p.75-76&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Le Monde de la Bible, Archeologie et Historie, July-August 1993.&lt;br /&gt;Werner Keller, Und Die Bibel hat doch recht (The Bible as History: a Confirmation of the&lt;br /&gt;Book of Books), New York: William Morrow, 1964, p.76&lt;br /&gt;Ibid, pp.73-74&lt;br /&gt;Ibid, pp.75-76&lt;br /&gt;G. Ernest Wright,Bringing Old testament Times to Life, national Geographic, Vol.12,&lt;br /&gt;December 1957,p.833</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/kaum-nabi-luth-dan-kota-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-1272506789436873992</guid><pubDate>Sat, 20 Jul 2013 11:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-20T05:52:28.147-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Islami</category><title>Kehidupan Nabi Ibrahim</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHOZge8sDHlYGBeeVWYYitUPKqANUBgGSgFOBvjBqIFOk4iR0owdu6TnF-AORWksUuPJDhkyKdsQTi1u-FqdGWB5Vc2y7yikXoItaZ3DkEDGkV0bNLPNM7ZeK-mrpztdl0rPVmMCMQlH3l/s1600/A-10.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHOZge8sDHlYGBeeVWYYitUPKqANUBgGSgFOBvjBqIFOk4iR0owdu6TnF-AORWksUuPJDhkyKdsQTi1u-FqdGWB5Vc2y7yikXoItaZ3DkEDGkV0bNLPNM7ZeK-mrpztdl0rPVmMCMQlH3l/s1600/A-10.jpg&quot; border=&quot;0&quot; class=&quot;decoded&quot; height=&quot;297&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHOZge8sDHlYGBeeVWYYitUPKqANUBgGSgFOBvjBqIFOk4iR0owdu6TnF-AORWksUuPJDhkyKdsQTi1u-FqdGWB5Vc2y7yikXoItaZ3DkEDGkV0bNLPNM7ZeK-mrpztdl0rPVmMCMQlH3l/s320/A-10.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman. (QS Ali Imran 67-68).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ibrahim (Abraham) sering disebutkan di dalam Al Qur’an dan mendapatkan tempat yang istimewa di sisi Allah sebagai contoh bagi manusia. Dia menyampaikan kebenaran dari Allah kepada umatnya yang menyembah berhala, dan dia mengingatkan mereka agar takut kepada Allah. Umat nabi Ibrahim tidak mematuhi perintah itu, bahkan sebaliknya mereka menentangnya. Ketika penindasan yang semakin meningkat dari kaumnya, nabi Ibrahim pindah ke mana saja bersama istrinya, bersama dengan nabi Lut dan mungkin dengan bebeapa orang lain yang menyertai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ibrahim adalah keturunan dari nabi Nuh. Al qur’an juga mengemukakan bahwa dia juga mengikuti jalan hidup (diin) yang diikuti Nabi Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tengelamkan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (QS Ash- Shafaat: 79-83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Nabi Ibrahim, banyak orang yang menghuni dataran Mesopotamia dan di&lt;br /&gt;bagian Tengah dan Timur dari Anatolia tinggal orang-orang yang menyembah surga-surga dan&lt;br /&gt;bintang-bintang. Tuhan yang mereka anggap paling penting adalah “Sin” yaitu Dewa Rembulan. Tuhan mereka ini dipersonifikasikan sebagai seorng manusia yang berjenggot panjang, memakai pakaian panjang membawa rembulan berbetuk bulan sabit diatasnya. Lagian, orang –orang tersebut membuat hiasan gambar-gambar timbul dan pahatan-pahatan (patung) dari tuhan mereka itu dan itulah yang mereka sembah. Hal ini merupakan system kepercayaan yang tersebar luas ketika itu, yang mendapatkan tempat persemaiannya di Timur Dekat (Near East), dimana keberadaannya terpelihara dalam jangka waktu yang lama. Orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut terus saja menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga sekitar tahun 600 M. Sebagai akibat dari kepercayaan itu, banyak bangunan yang dikenal dengan nama “ziggurat” yang dulu dipakai sebagai observatorium (tempat penelitian bintang-bintang) sekaligus sebagai kuil tempat peribadatan yang dibangun di daerah yang membentang sejak dri Mesopotamia hingga ke kedalaman Anatolia, disinilah beberapa tuhan,terutama dewa(i) Rembulan yang bernama “Sin” disembah oleh orang-orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan yang hanya bisa ditemukan dalam penggalian arkeologis yang dilakuan saat ini, telah disebutkan dalam Al Qur’an. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an, Ibrahim menolak penyembahan tuhan-tuhan tersebut dan berpegang teguh kepada Allah saja, satusatunya Tuhan yang sebenarnya. Dalam Al Qur’an, perjalanan hidup Ibrahim digambarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?. Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdpat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malah telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata : “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata : “Inilah Tuhanku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata : “Sesungguhnya jika Tuhnaku tidak memberikan petunjuk kepadakum pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah tuhanku, ini lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan b umi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(QS. Al-An’an: 74-79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al Qur’an, tempat kelahiran Ibrahim dan tempat di mana dia tinggal tidak dikemukakan dengan terperinci. Tetapi diindikasikan bahwa Ibrahim dan Lut tinggal di tempat yang saling berdekatan satu sama lain dan malaikat yang diutus kepada umat nabi Lut juga mendatangi Ibrahim dan memberitahukan pada istrinya suatu berita gembira tentang bayi lakilaki (yang dikandungnya), sebelum para malaikat itu pergi melanjutkan perjalanan mereka menuju nabi Lut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita penting tentang Nabi Ibrahim dalam al Qur’an yang tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama adalah tentang pembangunan Ka’bah. Dalam Al Qur’an, kita diberitahu bahwa Ka’bah dibangun oleh Ibrahim dan putranya Ismail. Sekarang ini, satu-satunya hal yang diketahui oleh ahli sejarah tentang Ka’bah adala h bahwa Ka’bah merupakan tempat yang suci sejak masa yang sangat tua. Adapun penempatan berhala -berhala pada Ka’bah selama masa jahiliyah berlangsung sampai diutusnya Nabi Muhammmad, dan itu merupakan penyimpangan dan kemunduran atas agama suci Ilahi yang pernah diwahyukan kepada Nabi Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Nabi Ibrahim, agama politheisme menyebar ke seluruh wilayah Mesopotamia. Sang Dewa rembulan “Sin” salah satu berhala yang paling penting. Orang-orang membuat patung-patung dari tuhan-tuhan mereka dan menyembahnya. Disebelah tampak patung sin. Simbul bulan sabit dapat terlihat dengan jelas pada dada patung tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;b&gt;Ibrahim Dalam Perjanjian Lama&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
Perjanjian Lama kemungkinan besar merupakan sumber paling detail dalam hal-hal yang berkenaan dengan Ibrahim, meskipun banyak diantaranya yang mungkin tidak bias dipercaya. Menurut pembahasan dalam perjanjian lama, Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di kota Ur, yang merupakan salah satu kota terpenting saat itu yang berlokasi di Timur Tengah dataran Mesopotamia. Pada saat lahir, Ibrahim tidak (belum) bernama “Ibrahim”, tetapi “Abram”. Namanya kemudian kemudian dirubah oleh Allah (YHWH).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, menurut Perjanjian Lama, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengadakan perjalanan meninggalkan negeri dan masyarakatnya, menuju ke suatu negeri yang tidak pasti dan memulai sebuah masyarakat baru di sana. Abram pada usia 75 tahun mendengarkan seruan/pangilan itu dan melakukan perjalanan bersama istrinya yang mandul yang bernama Sarai – yang kemudian dikenal dengan nama “Sarah” yang berarti puteri raja – dan anak dari saudaranya yang bernama Lut. Dalam perjalanan menuju ke “Tanah yang Terpilih (Chosen Land)” mereka singgah/tingal di Harran untuk sementara waktu dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Ketika mereka sampai di tanah Kanaan yang djanjikan oleh Allah kepada mereka, mereka diberikan wahyu oleh Allah berupa berupa pemberiahuan bahwa tempat tersebut secara khusus dipilihkan oleh Allah buat mereka dan dianugerhkan buat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abram mencapai usia 99 tahun, dia membuat perjanjian dengan Allah dan namanya kemudian dirubah menjadi Ibrahim (Abraham). Dia meninggal pada usia 175 tahun dan dikubur di gua Macpelah yang berdekatan dengan kota Hebron (e l-Kalil) di West Bank (tepi barat)yang hari ini wilayah tersebut di bawah penguasan Israel. Tanah tersebut sebenarnya dibeli oleh Ibrahim dengan sejumlah uang dan itu merupakan kekayaannya dan keluarganya yang pertama di Tanah Yang Dijanjikan itu (Promise Land).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ziggurat yang digunakan baik sebagai kuil dan observatory perbintangan yang dibangun dengan&lt;br /&gt;teknik yang paling maju ada masa itu. Bintang, rembulan dan matahari menjadi objek utama dari&lt;br /&gt;penyembahan dan langi memiliki hal yang sangat penting. Di sebelah kiri dan bawah adalah ziggurat&lt;br /&gt;utama dari bangsa Mesopotamia.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;b&gt;Tempat Kelahiran Ibrahim Menurut Perjanjian Lama&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
Dimanakah tempat dilahirkannya Ibrahim, tetaplah merupakan sebuah isu yang diperdebatkan. Orang Kristen dan Yahudi menyatakan bahwa Ibrahim dilahirkan di sebelah Selatan Mesopotamia, pemikiran yang lazim dalam dunia Islam adalah bahwa tempat kelahiran nya adalah di sekitar Urfa-Harran. Beberapa penemuan baru menunjukkan bahwa thesis dari kaum Yahudi dan Kristen tidaklah menyiratkan kebenaran yang seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Yahudi dan Kristen menyandarkan pendapat mereka pada Perjanjian Lama, karena dalam Perjanjian lama tersebut, Ibrahim dikatakan telah dilahirkan di kota Ur sebelah Selatan Mesopotamia setelah Ibrahim lahir dan dibesarkan di kota ini, dia dcieritakan telah menempuh sebuah perjalanan menuju Mesir, dan dalam perjalanan tersebut mereka melewati suatu tempat yang dikenal dengan nama Harran di wiayah Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demkian, sebuah manuskrip Perjanjian Lama yang ditemukan baru-baru ini,&lt;br /&gt;telah memunculkan keraguan yang serius tentang kesahihan/validitas dari informasi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam manuskrip yang ditulis dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar sekitar abad ketiga SM,&lt;br /&gt;dimana manuskrip tersebut diperhitungkan sebagai salinan yang tertua dari Perjanjian Lama, juga nama tempat “Ur” tidak pernah disebutkan. Hari ini banyak peneliti Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa kata -kata “Ur” tidak akurat atau bahwa Ibahim tidak dilahirkan di kota Ur dan mungkin juga tidak pernah mengunjungi daerah/wilayah Mesopotamia selama hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, nama-nama beberapa lokasi serta daerah yang disebutkan itu, telah berubah karena perkembangan jaman. Pada saat ini dataran Mesopotamia biasanya merujuk kepada tepi sungai sebelah selatan dari daratan Irak, diantara sungai Efrat dan Tigris. Lagipula, dua milinium (2000 tahun) sebelum kita, daerah Mesopotamia digambarkan sebagai sebuah daerah yang letaknya lebih ke Utara, bahkan lebih jauh ke autara sejauh Harran, dan membentang sampai ke daerah yang saat ini merupakan daratan Turki. Karena itulah, bila sekalipun kita menerima pendapat bahwa “Dataran Mesopotamia” yang disebutkan dalam Perjanjian Lama, tetap saja akan terjadi misleading (keliru) untuk berpikir bahwa Mesopotamia dua millennium yang lebih awal dan Mesopotamia hari ini adalah sebuah tempat yang persis sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banhkan seandainya juga ada keraguan serius dan ketidaksepakatan tentang kota Ur sebagai tempat kelahiran Ibrahim, tetapi ada sebuah pandangan umum yang disetujui yaitu tentang fakta bahwa Harran dan daerah yang melingkupinya adalah tempat dimana Nabi Ibrahim hidup. Lebih dari itu, peneliltian singkat yang dilakukan terhadap isi Perjanjian Lama tersebut memunculkan beberapa informasi yang mendukung pandangan bahwa tempat kelahiran Nabi Ibrahim adalah Harran. Sebagai contoh di dalam Perjanjian Lama, daerah Harran ditunjuk sebagai “daerah Artam” (Genesis, 11:31 dan 28:10). Disebutkan bahwa orang yang datrang dari keluarga Ibrahim adalah “anak-anak dari seorang Arami” (Deutoronomi, 26:5). Identifikasi penyebutan Ibrahim dengan sebutan “seorang Arami” menunjukkan bahwa beliau (Ibrahim) melangsungkan kehidupannya di daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai sumber agama Islam, terdapat bukti yang kuat bahwa tempat kelahiran Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Di Urfa yang disebut dengan “kota para Nabi” ada banyak dan legenda tentang Ibrahim.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Mengapa Perjanjian Lama Dirubah?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
Perjanjian Lama dan Al Qur’an dalam mengungkapkan kisah tentang Ibrahim, tampaknya hampir-hampir menggambarkan dua orang sosok Nabi yang berbeda, yang bernama Abraham dan Ibrahim. Dalam Al Qur’an, Ibrahim diutus sebagai rasul bagi sebuah kaum penyembah berhala. Kaum Ibrahim tersebut menyembah surga-surga, bintang-bintang dan rembulan serta berbagai sembahan lain. Dia berjuang melawan kaumnya dan selalu berusaha untuk mencoba agar mereka meninggalkan kepercayaan-kepercayaan tahayul dan secara tidak terhindarkan, hal; itu juga telah membangkitkan nyala api permusuhan dari seluruh masyarakatnya bahkan termasuk ayahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, tidak ada satupun dari hal yang disebutkan diatas diceritakan dalam Perjanjian Lama. Dilemparkannya Ibrahim ke dalam api, bagaimana Ibrahim menghancurkan berhala -berhala yang disembah oleh masyarakatnya, tidaklah disebutkan dalam Perjanjian Lama. Secara umum Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi dalam Perjanjian Lama. Hal ini menjadi bukti bahwa pandangan di dalam Perjanjian Lama ini dibuat oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang mencoba memberikan pijakan di masa mendatang konsep “ras/suku bangsa”. Bangsa Yahudi percaya bahwamereka adalah kaum yang selalu dipilih oleh Tuhan dan merasa lebih unggul dari yang lainya. Mereka dengan sengaja dan penuh keinginan untuk mengubah kitab Suci mereka dan membuat penambahan-penambahan serta berbagai pengurangan berdasarkan keyakinan seperti di atas. Inilah sebabnya mengapa Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi belaka dalam Perjanjian Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penganut Kristen yang percaya terhadap Perjanjian Lama, berpikir bahwa Ibrahim adalah nenek moyang bangsa Yahudi, namun hanya terdapat satu perbedaan; menurut penganut Kristen, Ibrahim bukanlah seorang Yahudi namun ia adalah seorang Kristen. Penganut Kristen yang tidak begitu memperhatikan konsep mengenai ras/suku bangsa sebagaimana dilakukan Yahudi, mengambil pendirian ini dan hal ini menjadi salah satu penyebab perbedaan dan pertentangan diantara kedua agama ini. Allah memberikan keterangan sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai ahli kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?. Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah dalam hal yang tidak kamu ketahui; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman. (QS Ali-Imran 65-68).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al Qur’an sangatlah berbeda dengan apa yang ditulis dalam Perjanjian Lama, Ibrahim adalah seseorang yang memperingatkan kaumnya agar mereka takut kepada Allah, serta bahwa dia adalah seseorang yang berperang/berjuang melawan kaumnya itu pada akhirnya. Dimulai sejak masa mudanya, ia memperingatkan kaumnya yang m,enyembah berhala -berhala untuk menghentikan perbuatan mereka itu. Sebagai reaksi, kaumnya bertindak dengan mencoba untuk membunuh Ibrahim. Untuk menghindar dari kejahatan yang dilakukan oleh kaumnya, maka Ibrahimpun akhirnya berpindah tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Everett C. Blake, Anna G. Edmonds, Biblical Sites in Turkey, Istanbul: Redhouse Press,&lt;br /&gt;1977,.p.13</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/kehidupan-nabi-ibrahim.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHOZge8sDHlYGBeeVWYYitUPKqANUBgGSgFOBvjBqIFOk4iR0owdu6TnF-AORWksUuPJDhkyKdsQTi1u-FqdGWB5Vc2y7yikXoItaZ3DkEDGkV0bNLPNM7ZeK-mrpztdl0rPVmMCMQlH3l/s72-c/A-10.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-1537368928458901744</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 16:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T09:34:34.032-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Islami</category><title>Banjir Nabi Nuh</title><description>&lt;img alt=&quot;http://www.mesammesem.com/serverupload/uploadsberita/3680/noah_flood.jpg&quot; class=&quot;decoded&quot; height=&quot;268&quot; src=&quot;http://www.mesammesem.com/serverupload/uploadsberita/3680/noah_flood.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
Sebagaimana Banjir Nuh itu juga dikisahkan dalam hampir seluruh kebudayaan manusia,&lt;br /&gt;banjir Nuh adalah salah satu dari sekian banyak contoh kisah-kisah yang paling banyak&lt;br /&gt;diuraikan dalam al-Qur&#39;an. Kengganan umat Nabi Nuh terhadap nasehat dan peringatan dari&lt;br /&gt;Nabi Nuh, bagaimana reaksi mereka terhadap risalah Nabi Nuh, serta bagaimana peristiwa&lt;br /&gt;banjir selengkapnya terjadi, semuanya diceritakan dengan sangat detail dalam banyak ayat al-&lt;br /&gt;Qur&#39;an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Nuh diutus untuk mengingatkan umatnya yang telah meninggalkan ayat-ayat Allah&lt;br /&gt;dan menyekutukanNya, dan menegaskan kepada mereka untuk hanya menyembah Allah saja&lt;br /&gt;dan berhenti dari sikap pembangkangan mereka. Meskipun Nabi Nuh telah menasehati umatnya&lt;br /&gt;berkali-kali untuk mentaati perintah Allah serta mengingatkan akan murka Allah, mereka masih&lt;br /&gt;saja menolak dan terus menyekutukan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang bagaimana kejadian itu berkembang, dilukiskan dengan jelas dalam ayat-ayat&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata&lt;br /&gt;Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu&lt;br /&gt;selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?. Maka pemuka-pemuka&lt;br /&gt;orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: Orang ini tidak lain hanyalah manusia&lt;br /&gt;seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu .&lt;br /&gt;Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum&lt;br /&gt;pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami&lt;br /&gt;yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang be rpenyakit gila , maka&lt;br /&gt;tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. Nuh berdoa, Ya Tuhanku,&lt;br /&gt;tolonglah aku karena mereka mendustakanku .(Al-Mukminun : 23-26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut, pemuka masyarakat di sekitar Nabi&lt;br /&gt;Nuh berusaha menuduh bahwa Nabi Nuh telah berusaha untuk munjukkan superioritasnya atas&lt;br /&gt;masyarakat lingkungannya, mencari keuntungan pribadi seperti status sosial, kepemimpinan&lt;br /&gt;dan kekayaan...... Karena itulah, Allah menyampaikan pada Rasulullah Nuh bahwa mereka yang menolak kebenaran dan melakukan kesalahan akan dihukum dengan detenggelamkan, dan mereka yang beriman akan diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pada saat hukuman datang, air dan aliran yang sangat deras muncul dan&lt;br /&gt;menyembur dari dalam tanah, yang dibarengi dengan hujan yang sangat lebat, telah&lt;br /&gt;menyebabkan banjir yang dahsyat. Allah memerintahkan kepada Nuh untuk &quot;menaikkan ke atas&lt;br /&gt;berahu pasangan-pasangan dari setiap species, jantan dan betina, serta keluarganya. Seluruh&lt;br /&gt;manusia di daratan tersebut ditenggelamkan ke dalam air, termasuk anak laki-laki Nabi Nuh&lt;br /&gt;yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan mengungsi ke sebuah gunung yang dekat.&lt;br /&gt;Semuanya tenggelam kecuali yang dimuat di dalam perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut&lt;br /&gt;di akhir banjir tersebut, dan &quot;kejadian telah berakhir&quot;, perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah&lt;br /&gt;tempat yang tinggi, sebagaimana yang diinformasikan oleh Qur&#39;an kepada kita.&lt;br /&gt;Studi arkeologis, geologis, dan studi historis menunjukkan bahwa insiden tersebut terjadi&lt;br /&gt;dengan cara yang sangat mirip dan berhubungan dengan informasi al-Qur&#39;an. Banjir tersebut&lt;br /&gt;juga digambarkan secara hampir mirip di dalam beberapa rekaman atas peradaban-pertadaban&lt;br /&gt;masa lalu di dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan nama-nama tempat bervariasi,&lt;br /&gt;dan &quot;seluruh apa yang terjadi pada sebuah asbak manusia&quot; disajikan untuk manusia saat ini&lt;br /&gt;dengan tujuan sebagai peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping dikemukakan dalam Perjanjian Lama, kisah tentang banjir Nuh ini diungkap&lt;br /&gt;dengan cara yang hampir mirip dalam rekaman-rekaman sejarah Sumeria dan Assiria-&lt;br /&gt;Babilonia, dalam legenda-legenda Yunani, dalam Shatapatha, Brahmana serta epik-epik dalam&lt;br /&gt;Mahabarata dari India, dalam beberapa legenda dari Welsh di British Isles, di dalam Nordic&lt;br /&gt;Edda, dalam legenda-leganda Lituania, dan bahkan dalam cerita-cerita yang berasal dari Cina.&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin bisa terjadi, cerita-cerita yang sebegitu detail dan konsisten bisa&lt;br /&gt;didapat dari daratan-daratan yang secara gegografis dan kultural berbeda jauh, yang saling&lt;br /&gt;berjauhan letaknya baik antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, maupun dari tempattempat&lt;br /&gt;tersebut dengan tempat terjadinya banjir?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya sangat jelas: fakta bahwa peristiwa yang sama, yang saling berkaitan dalam&lt;br /&gt;berbagai rekaman sejarah berbagai bangsa tersebut, yang mana sangat kecil kemungkinannya&lt;br /&gt;bahwa mereka bisa saling berkomunikasi (mengingat masih rendahnya peradaban masa itu), itu&lt;br /&gt;semua merupakan bukti yang sangat gamblang bahwa orang-orang dari berbagai bangsa itu&lt;br /&gt;menerima pengetahuan tentang banjir itu dari sebuah sumber Ilahiah. Nampaknya bahwa banjir&lt;br /&gt;Nuh, salah satu dari tragedi yang paling besar dan destruktif sepanjang sejarah itu, telah&lt;br /&gt;diriwayatkan oleh banyak Nabi yang diutus ke berbagai peradaban bangsa-bangsa dengan&lt;br /&gt;tujuan untuk memberikan sebuah contoh atau I’tibar. Dengan demikian bisalah dipahami&lt;br /&gt;dengan mudah bahwa berita tentang banjir Nuh itu tersebar dalam berbagai budaya di dunia.&lt;br /&gt;Namun, di balik diriwayatkannya kejadian itu dalam berbagai budaya dan sumber-sumber&lt;br /&gt;ajaran berbagai agama, cerita banjir dan tragedi yang terjadi pada masa Nabi Nuh itu telah&lt;br /&gt;mengalami perubahan yang cukup banyak dan telah terpendar dari kisah aslinya dikarenakan&lt;br /&gt;kepalsuan berbagai sumber ceritanya, pemindahan cerita dengan cara yang tidak benar, atau&lt;br /&gt;bahkan mungkin dikarenakan memang sengaja dilakukan untuk suatu tujuan-tujuan yang tidak&lt;br /&gt;baik. Riset menunjukkan bahwa, di antara sekian banyak riwayat tentang banjir Nuh yang&lt;br /&gt;secara mendasar masih berkaitan namun dengan berbagai perbedaan, satu-satunya&lt;br /&gt;penggambaran (periwayatan) yang paling konsisten hanya satu, yakni di dalam al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Nuh dan Banjir dalam al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir Nuh disebutkan dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an. Di bawah ini bisa dilihat&lt;br /&gt;ayat-ayat yang disusun berdasarkan urut-urutan peristiwa banjir tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Nuh Menyeru Kaumnya pada Agama Kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnyalalu ia berkata: Wahai&lt;br /&gt;kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainNya. Sesungguhnya&lt;br /&gt;(kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang&lt;br /&gt;besar (kiamat). (Al-A’raf: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,&lt;br /&gt;maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta&lt;br /&gt;upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta&lt;br /&gt;alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. QS. Asy-Syuara’: 107-110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata&lt;br /&gt;Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu&lt;br /&gt;selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?.QS. Al-Mukminun: 23)&lt;br /&gt;Peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya untuk Menghindari Hukuman dari Allah&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan):&lt;br /&gt;Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih(QS.&lt;br /&gt;Nuh: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang&lt;br /&gt;menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. (QS. Hud:39)&lt;br /&gt;Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan&lt;br /&gt;ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. (QS. Hud: 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangkangan kaum Nabi Nuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: Sesungguhnya kami memandang kamu&lt;br /&gt;berada dalam kesesatan yang nyata.(QS. Al-A’raf: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata: Hai Nuh sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan&lt;br /&gt;kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada&lt;br /&gt;kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang&lt;br /&gt;benar. (QS. Hud: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mulailah Nuh membuat bahtera . Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan&lt;br /&gt;melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkata Nuh: Jika kamu mengejek kami, maka&lt;br /&gt;sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).&lt;br /&gt;(QS. Hud: 38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: Orang ini&lt;br /&gt;tidak lain hanyalah manusia seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi seorang&lt;br /&gt;yang lebih tinggi dari kamu . Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia mengutus&lt;br /&gt;beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti)&lt;br /&gt;ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki&lt;br /&gt;yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. (QS.&lt;br /&gt;Al-Mukminun: 24-25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan&lt;br /&gt;hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi&lt;br /&gt;ancaman.(QS. Al-Qamar: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghinaan terhadap para pengikut Nabi Nuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: Kami tidak&lt;br /&gt;melihat kamu , melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak&lt;br /&gt;melihat orang-orang yang mengikuti kamu , melainkan orang-orang yang hina dina di&lt;br /&gt;antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu&lt;br /&gt;kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang&lt;br /&gt;dusta. (QS. Hud: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata: Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti&lt;br /&gt;kamu ialah orang-orang yang hina? Nuh menjawab: Bagaimana aku mengetahui apa&lt;br /&gt;yang telah mereka kerjakan?. Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain&lt;br /&gt;hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari .Dan aku sekali-kali tidka akan&lt;br /&gt;mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi peringatan&lt;br /&gt;yang menjelaskan. (QS. Asy-Syuara’: 111-115).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Allah agar Nabi Nuh tidak Bersedih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diwahyukan kepada Nuh , bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di&lt;br /&gt;antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu&lt;br /&gt;bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Nabi Nuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka , dan&lt;br /&gt;selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku. (QS. Asy-Syuara’: 118).&lt;br /&gt;Maka dia mengadu kepada Tuhannya : bahwasanya aku ini adalah orang yang&lt;br /&gt;dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku). (QS. Al-Qamar: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuh berkata: Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan&lt;br /&gt;siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebe naran). (QS. Nuh:&lt;br /&gt;5-6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuh berdoa : Ya Tuhanku tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.(QS.&lt;br /&gt;Al-Mukminun: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Nuh telah menyeru kami : Maka sesungguhnya sebaik-baik yang&lt;br /&gt;memperkenankan (adalah Kami).(QS. Ash-Shaffat: 75)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan Kapal (Bahtera)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami , dan&lt;br /&gt;janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang zalim itu , sesungguhnya&lt;br /&gt;mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghancuran umat Nabi Nuh dengan cara Ditenggelamkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang&lt;br /&gt;yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang&lt;br /&gt;mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata&lt;br /&gt;hatinya).(QS. Al-A’raf: 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.(QS. Asy-&lt;br /&gt;Syuara: 120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di&lt;br /&gt;antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.Maka mereka ditimpa banjir besar&lt;br /&gt;, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.(QS. Al- Ankabut: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibinasakannya Putera Nabi Nuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an sehubungan dengan dengan dialog yang terjadi antara Nabi Nuh dan&lt;br /&gt;puteranya, pada tahap-tahap awal dari terjadinya banjir mengungkapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan&lt;br /&gt;Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil : Hai anakku,&lt;br /&gt;naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang&lt;br /&gt;kafir. Anaknya menjawab: Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat&lt;br /&gt;memeliharaku dari air bah!. Nuh berkata : Tidak ada yang melindungi hari ini dari&lt;br /&gt;azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi&lt;br /&gt;penghalang antara keduanya ; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang&lt;br /&gt;ditenggelamkan. (QS. Hud: 42-43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselamatkannya Orang-Orang yang Beriman dari Banjir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang&lt;br /&gt;penuh muatan.(QS. Asy-Syuara: 119).&lt;br /&gt;Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami&lt;br /&gt;jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (QS. Al-Ankabut: 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Fisik dari Banjir yang Terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah .&lt;br /&gt;Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu&lt;br /&gt;untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas&lt;br /&gt;(bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. (QS. Al-Qamar: 11-13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga apabila perintah Kami datang dan ‘dapur’(permukaan bumi yang&lt;br /&gt;memancarkan air hingga meneyebabkan timbulnya taufan) telah memancarkan air,&lt;br /&gt;Kami berfirman: Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang&lt;br /&gt;sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu&lt;br /&gt;ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman. Dan tidak&lt;br /&gt;beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: Naiklah kamu&lt;br /&gt;sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.&lt;br /&gt;Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan&lt;br /&gt;bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan Nuh&lt;br /&gt;memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil : Hai anakku,&lt;br /&gt;naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang&lt;br /&gt;kafir.. (QS. Hud: 40-42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Kami wahyukan kepadanya : Buatlah bahtera di bawah penilikan dan&lt;br /&gt;petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan ‘tannur’ telah&lt;br /&gt;memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap&lt;br /&gt;(jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan&lt;br /&gt;ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang&lt;br /&gt;orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.(QS. Al-&lt;br /&gt;Mukminun: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdamparnya Perahu di Tempat yang Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan difirmankan: Hai bumi tahanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,&lt;br /&gt;dan airpun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas&lt;br /&gt;bukit Judi, dan dikatakan: Binasalah orang-orang yang zalim. (QS. Hud: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’tibar yang Diambil dari Peristiwa Banjir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek&lt;br /&gt;moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu&lt;br /&gt;dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (QS. Al-Haqqah: 11-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian Allah terhadap Nabi Nuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Sesungguhnya&lt;br /&gt;demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Ash-&lt;br /&gt;Shaffat: 79-81)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Banjir itu Bencana Lokal Saja ataukah Global ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang menolak realitas terjadinya Banjir masa nabi Nuh, menopang pendirian&lt;br /&gt;mereka dengan menyatakan bahwa banjir global atas seluruh dunia adalah suatu hal yang&lt;br /&gt;mustahil. Bukan hanya itu, penyangkalan mereka atas terjadinya banjir yang bagaimanapun&lt;br /&gt;bentuknya adalah ditujukan untuk menyerang apa yang telah dikemukakan al-Qur’an. Menurut&lt;br /&gt;mereka, semua kitab yang berasal dari wahyu, termasuk al-Qur’an, mempertahankan pendirian&lt;br /&gt;bahwa banjir Nuh adalah banjir yang global, dan karenanya, seluruh berita itu adalah informasi&lt;br /&gt;yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan terhadap pernyataan al-Qur’an ini tidak benar. Al-Qur’an diwahykan oleh&lt;br /&gt;Allah, dan al-Qur’an ini merupakan satu-satunya kitab suci yang tidak terrubah. Al-Qur’an&lt;br /&gt;memandang banjir dengan sudut pandang yang sangat berbeda dibandingkan cara pandang&lt;br /&gt;Pentateuch dan legenda-legenda tentang banjir yang lain yang diriwayatkan dalam berbagai&lt;br /&gt;kebudayaan. Pentateuch, nama bagi lima buku (kitab) pertama dalam Perjanjian Lama,&lt;br /&gt;menyatakan bahwa banjir tersebut bersifal global, menutupi seluruh bumi. Namun, al-Qur’an&lt;br /&gt;tidak memberikan keterangan seperti itu, dan sebaliknya, ayat-ayat yag relevan dengan&lt;br /&gt;peristiwa ini membawa pada suatu kesimpulan bahwa banjir itu hanya bersifat regional&lt;br /&gt;(menutupi wilayah tertentu) dan tidak menutupi seluruh bumi, dan hanya menenggelamkan&lt;br /&gt;umat Nabi Nuh saja yang mereka itu telah diberi peringatan oleh nabi Nuh dan akhirnya&lt;br /&gt;membangkang, sehingga mereka dihukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika riwayat-riwayat tentang banjir dalam Perjanjian Lama dan riwayat-riwayat sejenis&lt;br /&gt;dalam Al-Qur’an diuji, perbedaannya sederhana saja. Perjanjian Lama, yang telah mengalami&lt;br /&gt;banyak perubahan dalam penambahan sepanjang sejarahnya, yang karenya tidak bisa dinilai&lt;br /&gt;sebagai wahyu yang orisinil, menggambarkan bagaimana banjir berawal dalam uraian sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia di bumi adalah besar, dan bahwa&lt;br /&gt;setiap imajinasi dari pikiran-pikiran dalam hatinya hanya selalu perbuatan jahat. Dan ini&lt;br /&gt;menjadikan Allah menyesali bahwa Dia telah menciptakan manusia, dan ini&lt;br /&gt;menyedihkan hatiNya. Dan Tuhan berkata, Saya akan membinasakan manusia yang telah saya ciptakan dari permukaan bumi; kedua jenis yang ada, manusia dan binatang,&lt;br /&gt;dan segala yang merayap, dan unggas-unggas di udara, yang karena telah&lt;br /&gt;mengecewakanKu yang telah mencipatakan mereka. Akan tetapi, (Nabi) Nuh&lt;br /&gt;mendapatkan kasih sayang di mata Tuhan (Genesis, 6: 5-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, dalam al-Qur’an, diperlihatkan dengan jelas bahwa banjir itu tidak&lt;br /&gt;meliputi seluruh dunia (bumi), tetapi hanya umat Nabi Nuh yang dihancurkan. Tidak berbeda&lt;br /&gt;sebagaimana Nabi Hud diutus hanya untuk kaum ‘Ad (QS. Hud: 50), Nabi Shalih diutus untuk&lt;br /&gt;kaum Tsamud (QS. Hud: 61) serta seluruh Nabi kemudian sebelumMuhammad adalah diutus&lt;br /&gt;hanya untuk umat mereka saja, Nabi Nuh hanya diutus untuk umatnya dan banjir tersebut hanya&lt;br /&gt;menyebabkan punahnya umat Nabi Nuh;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata):&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak&lt;br /&gt;menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada)&lt;br /&gt;hari yang sangat menyedihkan. (QS. Hud: 25-26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang dimusnahkan adalah orang-orang yang secara total tidak menghiraukan&lt;br /&gt;Proklamasi Nabi Nuh akan kerasulannya dan senantiasa menentang. Ayat-ayat yang senada&lt;br /&gt;telah menggambarkan dengan cara yang cukup gamblang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang&lt;br /&gt;yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang&lt;br /&gt;mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata&lt;br /&gt;hatinya).(QS. Al-A’raf: 64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, dalam al-Qur’an , Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan&lt;br /&gt;menghancurkan suatu komunitas masyarakat kecuali seorang rasul telah diutus kepada mereka.&lt;br /&gt;Penghancuran terjadi jika seorang pemberi peringatan telah sampai kepada suatu kaum, dan&lt;br /&gt;pemberi peringatan itu didustakan. Allah menyatakan hal itu dalam Surat al-Qashash:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum dia mengutus di&lt;br /&gt;ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak&lt;br /&gt;pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan&lt;br /&gt;melakukan kezaliman. (QS. Al-Qashash: 59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah cara Allah untuk mengancurkan suatu kaum yang kepada mereka belum Dia&lt;br /&gt;turunkan rasul. Sebagai seorang pemberi peringatan, Nuh hanya diutus untuk kaumnya saja.&lt;br /&gt;Karena itu, Allah tidak menghancurkan kaum-kaum yang kepada mereka tidak Dia utus rasul,&lt;br /&gt;akan tetapi Allah hanya menghancurkan umat Nabi Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penyataan-pernyataan dalam al-Qur’an ini, kita bisa memastikan bahwa banjir&lt;br /&gt;tersebut adalah bencana yang bersifat lokal, bukannya global (seluruh dunia). Penggalianpenggalian&lt;br /&gt;yang dilakukan pada daerah-daerah arkeologis yang diperkirakan sebagai lokasi&lt;br /&gt;terjadinya banjir&amp;nbsp; yang nanti akan kita bahas berikutnya menunjukkan bahwa banjir tersebut&lt;br /&gt;bukanlah sebuah peristiwa global yang mempengaruhi seluruh bumi, akan tetapi merupakan&lt;br /&gt;sebuah bencana yang sangat luas yang mempengaruhi bagian tertentu dari wilayah&lt;br /&gt;Mesopotamia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Seluruh Binatang ikut Dinaikkan ke atas Perahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penfasir Bibel yakin bahwa Nabi Nuh memasukkan seluruh species binatang yang&lt;br /&gt;ada di muka bumi ke atas Perahu dan binatang-binatang itu bisa selamat dari kepunahan karena&lt;br /&gt;kebaikan Nabi Nuh itu. Menurut apa yang mereka yakini ini, setiap pasang dari tiap species&lt;br /&gt;yang ada di muka bumi juga dibawa bersama ke atas perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang mempertahankan pernyataan itu dengan tanpa ragu harus menghadapi&lt;br /&gt;kejanggalan-kejanggalan yang serius dalam berbagai hal. Pertanyaan tentang bagaimana&lt;br /&gt;berbagai jenis binatang yang diangkut ke atas perahu itu diberi makan, bagaimana mereka&lt;br /&gt;ditempatkan di dalam perahu itu (kandang-kandang untuk mereka), atau bagaimana mereka&lt;br /&gt;dipisahkan satu dengan lainnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang mustahil bisa terjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, masih ada beberapa pertanyaan yang tersisa: bagaimana binatang-binatang yang&lt;br /&gt;berasal dari berbagai benua (daratan) yang berbeda bisa dibawa bersamaan, berbagai mamalia&lt;br /&gt;yang ada di kutub, kanguru dari Australia, atau bison yang Aneh dari Amerika?. Juga, masih&lt;br /&gt;adalah berbagai pertanyaan lebih banyak lagi, seperti, bagaimana binatang yang sangat&lt;br /&gt;membahayakan yang berbisa seperi berbagai jenis ular, kalajengking dan binatang-binatang&lt;br /&gt;buas itu semua bisa ditangkap, serta bagaimana mereka bisa bertahan padahal dipisahkan dari&lt;br /&gt;habitat alamiahnya untuk suatu waktu hingga banjir itu surut?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah berbagai pertanyaan yang dihadapi oleh Perjanjian Lama. Di dalam al-Qur’an,&lt;br /&gt;tidak ada pernyataan yang mengindikasikan bahwa seluruh species binatang di muka bumi&lt;br /&gt;dinaikkan ke atas perahu. Dan sebagaimana yang telah ditegaskan sebelumnya, banjir tersebut&lt;br /&gt;terjadi dalam sebuah wilayah tertentu saja, sehingga, binatang yang dinaikkan perahu pun&lt;br /&gt;hanyalah yang hidup di wilayah di mana umat Nabi Nuh itu tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, ini adalah bukti bahwa mustahil sekalipun hanya untuk&lt;br /&gt;mengumpulkan seluruh jenis binatang yang hidup di wilayah tersebut. Sulit dipikirkan&lt;br /&gt;Nabi Nuh beserta sejumlah kecil orang-orang yang beriman yang menyertainya (QS.&lt;br /&gt;Hud: 40) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pergi menuju ke segala penjuru untuk mengumpulan masing-masing dua ekor dari&lt;br /&gt;ratusan species binatang di sekitar mereka. Bahkan, lebih mustahil lagi bagi mereka untuk&lt;br /&gt;mengumpulkan berbagai tipe serangga yang hidup di wilayah mereka, serta untuk memisahkan&lt;br /&gt;antara yang jantan dan betina!. Ini alasan mengapa yang lebih memungkinkan adalah bahwa&lt;br /&gt;yang dikumpulkan itu hanya binatang yang bisa dengan mudah ditangkap dan dipelihara, dan&lt;br /&gt;karenanya, binatang tersebut adalah binatang ternak yang secara khusus berguna bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Nuh agaknya memasukkan ke atas perahu binatang binatang sejenis itu, yakni seperti,&lt;br /&gt;sapi, biri-biri, kuda, unggas, unta dan sejenisnya, karena inilah binatang-binatang yang&lt;br /&gt;dibutuhkan untuk penyangga kehidupan baru bagi di wilayah yang telah kehilangan sejumlah&lt;br /&gt;besar prasarana hidup dikarenakan bencana banjir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini masalah penting terletak pada bahwa kebijaksanaan Ilahiah dalam perintah Allah&lt;br /&gt;kepada Nabi Nuh untuk untuk mengumpulkan berbagai binatang terletak pada arahan untuk&lt;br /&gt;menumpulkan binatang-binatang yang dibutuhkan untuk kehidupan baru setelah banjir berakhir&lt;br /&gt;daripada untuk kepentingan mempertahankan genus berbagai binatang. Selama banjir itu&lt;br /&gt;bersifat lokal, maka kepunahan berbagai jenis binatang tidak akan mungkin terjadi. Agaknya&lt;br /&gt;ada kecenderungan bahwa pada masa setelah banjir, berbagai binatang dari wilayah-wilayah&lt;br /&gt;lain bermigrasi ke tempat tersebut dan memadati daerah tersebut dengan cara kehidupan lama&lt;br /&gt;yang pernah ada. Sehingga yang terpenting adalah bahwa kehidupan bisa dirintis kembali&lt;br /&gt;begitu banjir berakhir, dan binatang-binatang yang dikumpulkan (dan diangkut ke atas perahu)&lt;br /&gt;adalah dimaksudkan untuk tujuan perintisan kehidupan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa Tinggikah Air Banjir Tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan lain di seputar masalah banjir itu adalah, apakah banjir itu memancar dan&lt;br /&gt;menggenang sebegitu tingginya sehingga menenggelamkan gunung?. Sebagaimana telah&lt;br /&gt;diberitahukan, al-Qur’an menginformasikan kepada kita bahwa perahu Nabi Nuh itu terdampat&lt;br /&gt;di suati tempat yang bernama al-Judi setelah banjir selesai. Kata-kata judi secara umum&lt;br /&gt;merujuk pada lokasi gunung tertentu, sedangkan kata-kata itu memiliki arti tempat yang tinggi&lt;br /&gt;atau bukit. Karenanya, hendaknya jangan dilupakan bahwa di dalam al-Qur’an , judi bisa&lt;br /&gt;jadi tidak digunakan sebagai nama bagi gunung tertentu, akan tetapi untuk menunjukkan bahwa&lt;br /&gt;perahu telah terdampar dan terhenti pada sebuah tempat yang tinggi. Di samping itu, makna&lt;br /&gt;dari kata-kata judi yang disebutkan di atas mungkin juga memperlihatkan bahwa air bah itu&lt;br /&gt;mencapai ketinggian tertentu, tetapi tidak mencapai ketinggian puncak gunung. Dengan kata&lt;br /&gt;lain bisa dikatakan bahwa yang paling memungkinkan adalah bahwa banjir itu tidak&lt;br /&gt;menenggelamkan seluruh bumi dan seluruh gunung sebagaimana digambarkan dalam&lt;br /&gt;Perjanjian Lama, tetapi hanya menggenangi wilayah tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi Banjir Nuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daratan Mesopotamia diduga kuat sebagai lokasi di mana banjir masa Nabi Nuh terjadi.&lt;br /&gt;Wilayah ini diketahui sebagai tempat bagi peradaban tertua dalam sejarah. Lagi pula, dengan&lt;br /&gt;posisinya yang berada di antara sungai Tigris dan Eufrat, tempat ini sangat memungkinkan&lt;br /&gt;untuk terjadinya sebuah banjir yang besar. Di antara fakor penyebab terjadinya banjir&lt;br /&gt;kemungkinan adalah bahwa kedua sungai ini airnya meluap dan membanjiri wilayah tersebut.&lt;br /&gt;Alasan kedua mengapa daerah tersebut diduga kuat sebagai tempat terjadinya banjir&lt;br /&gt;adalah bukti-bukti historis. Dalam rekamana sejarah berbagai peradaban manusia yang pernah&lt;br /&gt;menempati lokasi tersebut, banyak dokumen yang ditemukan telah merujuk pada pernah&lt;br /&gt;terjadinya sebuah banjir, dan banjir itu dalam dokumen tersebut disebutkan terjadi dalam&lt;br /&gt;sebuah pereode masa yang sama. Setelah menyaksikan pembinasaan kaum Nabi Nuh,&lt;br /&gt;peradaban-peradaban tersebut agaknya merasa perlu untuk merekam dalam sejarah mereka,&lt;br /&gt;bagaimana banjir itu terjadi, serta bagaimana juga akibat-akibat yang ditimbulkan oleh banjir&lt;br /&gt;tersebut. Telah diketahui pula, bahwa mayoritas legenda-legenda yang menceritakan banjir&lt;br /&gt;tersebut berasal dari Mesopotamia juga. Yang juga lebih penting bagi kita adalah temuantemuan&lt;br /&gt;arkeologis. Temuan ini memperlihatkan bahwa sebuah banjir besar pernah terjadi di&lt;br /&gt;wilayah ini. Sebagaimana yang akan kami bahas secara detail pada halaman-halaman&lt;br /&gt;berikutnya, banjir ini telah menyebabkan tertundanya mata rantai perkembangan peradaban&lt;br /&gt;untuk selama jangka waktu tertentu. Dalam penggalian-penggalian yang dilakukan, nampak&lt;br /&gt;jejak-jejak dari bencana dahsyat tersingkap dari timbunan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalian-penggalian yang dilakukan di wilayah Mesopotamia telah mengungkap,&lt;br /&gt;bahwa berkali-kali dalam sejarah, wilayah ini menderita berbagai macam bencana sebagai&lt;br /&gt;akibat dari berkali-kali banjir dan meluapnya Sungai Eufrat dan Tigris. Sebagai misal, pada&lt;br /&gt;millenium kedua Sebelum Masehi (SM), pada masa Ibbi-sin, penguasa dari bangsa Ur yang&lt;br /&gt;besar, yang berlokasi di sebelah selatan Mesopotamia, sebuah tahun tertentu ditandai dengan&lt;br /&gt;sesudah terjadinya sebuah banjir yang telah melenyapkan garis batas antara surga-surga dan&lt;br /&gt;bumi&amp;nbsp; . Di sekitar tahun 1700 Sebelum Masehi (SM), pada masa kekuasaan Hamurabi dari&lt;br /&gt;Babilonia, sebuah tahun dikenang sebagai sebuah masa dimana terjadi di dalamnya insiden&lt;br /&gt;hujan di kota Eshnunna yang disertai dengan banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke 10 SM, pada masa pemerintahan Nabu-mukin-apal, sebuah banjir terjadi di&lt;br /&gt;kota Babilon. Setelah masa kehidupan Isa (Jesus) pada abad ke 7, 8, 10, 11, dan 12, banjirbanjir&lt;br /&gt;yang dinilai bersejarah (penting) terjadi dalam wilayah tersebut. Dalam abad ke 20,&lt;br /&gt;kejadian yang sama terjadi pada tahun 1925, 1930, dan 1954. Jelaslah sudah, bahwa wilayah&lt;br /&gt;ini telah menjadi obyek bagi terjadinya bencana banjir, dan sebagaimana ditunjukkan dalam al-&lt;br /&gt;Qur’an, bahwa rupa-rupanya sebuah banjir yang massif telah menghancurkan dan&lt;br /&gt;membinasakan sebuah komunitas manusia secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Bukti-Bukti Arkeologis tentang Banjir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah suatu hal yang kebetulan bila masa sekarang ini kita sedang mengungkap jejakjejak&lt;br /&gt;dari mayoritas komunitas manusia yang oleh al-Qur’an dikatakan telah dibinasakan.&lt;br /&gt;Bukti-bukti arkeologis menyajikan fakta, bahwa semakin mendadak kehancuran sebuah&lt;br /&gt;komunitas terjadi, semakin memungkinkan bagi kita untuk melacak jejak-jejaknya.&lt;br /&gt;Dalam kasus apabila sebuah peradaban hancur secara tiba-tiba, yang ini bisa saja terjadi&lt;br /&gt;karena bencana alam, perpindahan tempat (migrasi) yang mendadak, atau karena perang, jejakjejak&lt;br /&gt;peradaban sering bisa lebih terpelihara. Rumah-rumah yang mereka huni, peralatanperalatan&lt;br /&gt;yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak lama kemudian akan&lt;br /&gt;terkubur di bawah bumi. Jadi, jejak-jejak peninggalan mereka itu bisa terpelihara dalam waktu&lt;br /&gt;yang lama dan tidak tersentuh oleh manusia, dan itu semua merupakan bukti yang penting&lt;br /&gt;tentang sejarah masa lampau bila diungkapkan pada saat sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah masalah besar sehubungan dengan bukti tentang Banjir masa Nabi Nuh yang telah&lt;br /&gt;diungkap pada saat ini. Walaupun peristiwa penghancuran kaum Bani Nuh itu telah terjadi&lt;br /&gt;sekitar millenium ketiga sebelum Masehi (SM), banjir itu telah mengakhiri seluruh peradaban&lt;br /&gt;untuk jangka waktu tertentu, dan kemudian, menyebabkan lahirnya lagi sebuah peradaban yang&lt;br /&gt;baru di daerah tersebut. Jadi, bukti-bukti yang muncul tentang banjir ini telah terpelihara selama&lt;br /&gt;ribuan tahun agar kita bisa mengambil pelajaran darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha-usaha penggalian telah dilakukan dalam rangka menginvestigasi peristiwa banjir&lt;br /&gt;yang telah menenggelamkan daratan-daratan di wilayah Mesopotamia. Dalam penggalianpenggalian&lt;br /&gt;yang dilakukan di wilayah tersebut, di empat kota utama ditemukan jejak-jejak yang&lt;br /&gt;menunjukkan bahwa telah terjadi sebuah banjir yang besar. Kota-kota tersebut adalah kota-kota&lt;br /&gt;penting di Mesopotamia; Ur, Erech, Kish, dan Shuruppak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalian-penggalian yang dilakukan di kota-kota ini telah mengungkap bahwa semua&lt;br /&gt;dari empat kota ini telah dilanda sebuah banjir pada sekitar millenium ketiga Sebelum Masehi.&lt;br /&gt;Pertama, mari kita lihat penggalian-penggalian yang dilakukan di Kota Ur.&lt;br /&gt;Sisa-sisa tertua dari sebuah peradaban yang tersingkap dari pengga lian di kota Ur, yang&lt;br /&gt;telah diganti namanya menjadi Tell al Muqayyar pada masa sekarang ini, menunjuk pada&lt;br /&gt;suatu masa 7000 tahun SM. Sebagai sebuah situs yang pernah menjadi lokasi bagi peradabanperadaban tertua, kota Ur telah menjadi sebuah wilayah hunian di mana berbagai kebudayaan tampil silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan arkeologis dari kota Ur memperlihatkan bahwa di sinilah peradaban telah pernah&lt;br /&gt;terputus setelah terjadinya sebuah banjir dahsyat, dan kemudian, peradaban-peradaban baru&lt;br /&gt;tampil. R.H. Hall dari British Museum melakukan penggalian yang pertama di tempat ini.&lt;br /&gt;Leonard Woolley yang melakukan penggalian meneruskan setelah Hall, yang juga menjadi&lt;br /&gt;supervisor (pengawas/pembimbing) penggalian yang secara kolektif diorganisir oleh the British&lt;br /&gt;Museum dan University of Pensilvania. Penggalian-penggalian yang dilakukan oleh Woolley,&lt;br /&gt;yang telah memberikan pengaruh besar di seluruh dunia, berlangsung dari 1922 sampai 1934.&lt;br /&gt;Penggalian yang dilakukan Sir Woolley mengambil lokasi di tengah-tengah padang pasir&lt;br /&gt;antara Baghdad dan Teluk Persi. Pendiri pertama kota Ur adalah orang-orang yang datang dari&lt;br /&gt;Mesopotamia Utara dan mereka menyebut diri mereka dengan Ubaidian. Pada awalnya,&lt;br /&gt;penggalian itu dilakukan untuk menghimpun informasi berkenaan dengan orang-orang tersebut.&lt;br /&gt;Penggalian yang dilakukan Woolley digambarkan oleh seorang arkeolog Jerman, Werner&lt;br /&gt;Keller, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuburan Raja-Raja Ur- begitu ungkap Woolley dalam kegembiraan besar tatkala&lt;br /&gt;menemukan, telah membubuhkan lubang kuburan bagi kejayaan Sumeria, yang kehebatan&lt;br /&gt;kekuasaannya telah tersingkap saat skop/cangkul para arkeolog mengenai sebuah tanggul&lt;br /&gt;sepanjang 50 kaki di sebelah selatan candi dan ditemukan sebuah deretan panjang dari&lt;br /&gt;pekuburan yang sangat menarik. Kubah/kolong batu yang ditemukan benar-benar merupakan&lt;br /&gt;peti-peti harta yang berharga, yang dipenuhi dengan piala -piala yang mahal, kendi-kendi dan&lt;br /&gt;vas-vas yang dibentuk secara menakjubkan, barang becah belah terbuat dari perunggu,&lt;br /&gt;kepingan-kepingan mutiara, lapis lazuli, dan perak yang mengelilingi tubuh-tubuh tersebut, yang telah terbentuk menjadi debu/abu. Barang-barang semacam kecapi dan lyre disandarkan di&lt;br /&gt;dinding-dinding. Hampir hanya dalam sekali dia kemudian menulis dalam buku hariannya,&lt;br /&gt;penemuan-penemuan dihasilkan yang telah memberikan ketegasan tentang kecurigaankecurigaan&lt;br /&gt;kami. Tepat di bawah lantai dari salah satu lubang kubur para raja kami menemukan sebuah lapisan abu berbagai tablet tanah liat, yang tertutupi oleh huruf-huruf yang jauh lebih tua dibandingkan dengan prasasti di atas kuburan. Dengan mendasarkan pada sifat dari tulisan yang ada, tablet-tablet tersebut bisa diduga dibuat pada sekitar tahun 3000 SM. Berarti, itu dua atau tiga abad lebih awal dari lubang kuburan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terowongan/lubang itu ternyata masih bisa dirunut lebih dalam. Tingkatan yang baru,&lt;br /&gt;dengan pecahan-pecahan kendi, pot dan mangkuk masih tetap nampak terjaga. Para ahli&lt;br /&gt;(ilmuwan) memperhatikan bahwa barang-barang tembikar itu masih cukup mengejutkan karena&lt;br /&gt;tetap tidak berubah. Benar-benar nampak seperti yang telah ditemukan di pekuburan para raja.&lt;br /&gt;Karena itulah, nampaknya selama beberapa abad peradaban Sumeria tidak mengalami&lt;br /&gt;perubahan yang radikal. Mereka tentulah, menurut kesimpulan yang bisa ditarik, telah&lt;br /&gt;mencapai tingkat perkembangan yang tinggi yang menakjubkan pada awal peradaban mereka.&lt;br /&gt;Setelah beberapa hari penggalian dilakukan, beberapa pekerja Woolley berteriak kepadanya, Kita telah sampai paga lapisan dasar (ground), dia kemudian turun sendiri menuju lantai lubang galian agar bisa puas menyaksikan. Semula, pikiran Woolley adalah bahwa “Ini adalah penggalian yang terakhir. Wujudnya adalah pasir, pasir murni yang hanya bias dikandung oleh air.&lt;br /&gt;Mereka memutuskan untuk menggali lapisan tersebut dan membuat lubang lebih dalam&lt;br /&gt;lagi. Semakin dala m, semakin dalam menuju dasar: tiga kaki, enam kaki -- masih penuh&lt;br /&gt;lumpur. Tiba-tiba, pada kedalaman sepuluh kaki, lapisan lumpur terhenti tiba-tiba. Di bawah&lt;br /&gt;deposit tanah liat ini sekitar sepuluh kaki tebalnya, mereka menemukan bukti-bukti baru dari&lt;br /&gt;hunian manusia. Wujud dan kualitas dari tembikar telah jelas berubah. Di sini, barang-barang&lt;br /&gt;itu adalah bikinan tangan. Besi belum juga ditemukan di sini. Peralatan primitif yang nampak&lt;br /&gt;adalah peralatan yang terbuat dari tebangan batu api. Ini mesti terjadi pada masa Zaman Batu!.&lt;br /&gt;Banjir. Itulah penjelasan yang paling mungkin bagi deposit tanah liat yang besar di&lt;br /&gt;bawah bukit di kota Ur, yang secara cukup jelas telah memisahkan dua zaman kehidupan.&lt;br /&gt;Samudera telah meninggalkan jejak-jejak yang tidak terpungkiri dalam bentuk sisa-sisa&lt;br /&gt;organisme laut yang terlekat/tersimpan dalam lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa dengan mikroskop mengungkapkan bahwa deposit tanah liat di depan bukit di&lt;br /&gt;kota Ur telah terkumpul disebabkan oleh banjir yang begitu besar yang telah meludeskan&lt;br /&gt;peradaban Sumeria kuno. Epik tentang Gilgamesh dan cerita tentang Nuh tersatukan dengan&lt;br /&gt;lubang galian yang dalam di bawah gurun Mesopotamia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Mallowan menghubungkan pikiran-pikiran Leonard Woolley , yang menyatakan&lt;br /&gt;bahwa endapan massif yang besar itu terbentuk dala m satu waktu tertentu yang hanya bisa&lt;br /&gt;terjadi dikarenakan bencana banjir yang sangat besar. Woolley juga menggambarkan tentang&lt;br /&gt;permukaan banjir yang telah memisahkan kota di Sumeria, kota Ur dengan kota Al-Ubaid yang penduduknya biasa bekerja mengecat barang tembikar, sebagaimana yang masih tersisa dari&lt;br /&gt;peristiwa banjir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua menunjukkan bahwa kota Ur adalah salah satu dari berbagai daerah yang&lt;br /&gt;terkena banjir. Werner Keller mengekspressikan arti penting dari penggalian yang telah&lt;br /&gt;disebutkan di atas dengan menyatakan bahwa hasil dari sisa-sisa kota di bawah lapisan tanah&lt;br /&gt;lumpur dalam penggalian arkeologis di Mesopotamia membuktikan bahwa dahulu kala pernah&lt;br /&gt;terjadi banjir di tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota lain yang masih menyimpan jejak-jejak dari banjir Nuh adalah kota Kish di&lt;br /&gt;Sumeria, yang saat ini dikenal dengan nama Tall al-Uhaimer. Menurut sumber-sumber&lt;br /&gt;Sumeria kuno, kota ini merupakan tempat kedudukan tahta dari dinasi ‘postdiluvian’ yang&lt;br /&gt;pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Shurrupak di sebelah selatan Mesopotamia , yang saat ini diberi nama dengan Tall&lt;br /&gt;Far’ah, demikian juga, menyimpan jejak-jejak yang masih terlihat dari peristiwa banjir&lt;br /&gt;tersebut. Studi arkeologis yang dilakukan di kota ini dipimpin oleh Erich Schmidt dari the&lt;br /&gt;University of Pensilvania antara tahun 1922-1930. Penggalian-penggalian yang dilakukan&lt;br /&gt;mengungkapkan adanya tiga lapisan yang pernah dihuni oleh manusia dalam rentang waktu&lt;br /&gt;sejak masa pra sejarah hingga dinasti Ur ketiga (2112-2004 SM). Temuan yang paling istimewa&lt;br /&gt;adalah reruntuhan dari sebuah bangunan rumah-rumah yang bagus sepanjang tablet (belahanbelahan&lt;br /&gt;batu/prasasti) tulisan-tulisan kuno berbentuk baji (cuneiform) dari simpanan administrasi dan daftar-daftar kata, mengindikasikan adanya sebuah masyarakat yang telah berkembang maju hingga akhir millenium keempat Sebelum Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah terpenting adalah bahwa sebuah banjir besar telah bisa dipahami dengan jelas&lt;br /&gt;terjadi di kota ini pada sekitar 2900-3000 SM. Menurut perhitungan yang dilakukan Mallowan,&lt;br /&gt;4-5 meter di bawah tanah, Schmidt telah mencapai lapisan tanah kuning (yang dibentuk oleh&lt;br /&gt;banjir) yang terbentuk dari sebuah campuran antara tanah liat dan pasir. Lapisan ini lebih dekat&lt;br /&gt;ke dataran daripada profil tumulus dan bisa diamati seluruhnya di seputar tumulus. Schmidt&lt;br /&gt;mendefinisikan bahwa lapisan ini terbentuk dari campuran tanah liat dan pasir, yang masih&lt;br /&gt;tersisa sejak masa Kerajaan Kuno Cemdet Nasr, sebagai sebuah pasir yang masih dengan&lt;br /&gt;keasliannya di dalam sungai dan ini diasosiasikan dengan Banjir Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam penggalian yang dilakukan di kota Shuruppak, sisa-sisa sebuah banjir bisa&lt;br /&gt;ditemukan yang masih berhubungan dengan kurang lebih tahun 2900-3000 SM. Mungkin, kota&lt;br /&gt;Shuruppak terkena imbas dari banjir sebebesar imbas yang diderita kota-kota lain.&lt;br /&gt;Tempat (kota) yang terakhir yang terkena banjir adalah kota Erech hingga sebelah selatan&lt;br /&gt;kota Shuruppak yang saat ini dikenal dengan nama Tall al-Warka. Di kota ini, sebagaimana&lt;br /&gt;di kota-kota yang lainnya, lapisan sebuah banjir juga nampak. Lapisan ini merujuk pada masa&lt;br /&gt;2900-3000 SM sebagaimana yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui dengan baik, sungai Eufrat dan Tigris memotong menyeberangi&lt;br /&gt;Mesopotamia dari ujung satu ke ujung yang lain. Nampaknya bahwa selama masa itu, dua&lt;br /&gt;sungai ini dan disertai banyak sumber mata air, besar maupun kecil, meluap, dan, dengan&lt;br /&gt;bersatunya dengan air hujan, telah menyebabkan sebuah banjir yang dahsyat. Peristiwa itu&lt;br /&gt;digambarkan dalam al-Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah&lt;br /&gt;(11). Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air&lt;br /&gt;itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan (12). (QS. Al-Qamar: 11-12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika faktor-faktor yang menyebabkan banjir itu dibahas satu persatu, nampaklah bahwa&lt;br /&gt;kesemuanya itu merupakan fenomena yang sangat alami. Adapun yang menjadikan peristiwa&lt;br /&gt;itu penuh mukjizat adalah karena kejadiannya pada saat yang bersamaan dengan peringatan&lt;br /&gt;Nabi Nuh kepada kaumnya tentang akan datangnya bencana semacam itu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian terhdap bukti yang didapat dari studi yang komplet mengungkapkan bahwa&lt;br /&gt;daerah banjir membentang sekitar 160 km (lebar) dari timur sampai barat, dan 600 km&lt;br /&gt;(panjang) dari utara sampai selatan. Ini menunjukkan bahwa banjir tersebut menutupi seluruh&lt;br /&gt;daratan-daratan di Mesopotamia. Ketika kita membahas urut-urutan kota Ur, Erech, Shuruppak&lt;br /&gt;dan Kish yang menyembulkan jejak-jejak banjir Nuh, kita melihat bahwa kota-kota ini berada&lt;br /&gt;dalam satu garis sepanjang rute tersebut. Karena itulah, banjir tersebut pastilah telah mengenai&lt;br /&gt;keempat kota ini dan daerah-daerah sekitarnya. Di samping itu, harus dicatat bahwa pada sekitar 3000 tahun BC, struktur geografis dari daratan Mesopotamia berbeda dengan kondisi yang ada sekarang. Pasa masa tersebut, posisi sungai Eufrat terletak lebih ke timur dibandingkan dengan posisi sungai tersebut saat ini; garis arus sungai ini ternyata dulunya sama dengan garis yang melewati menembus kota Ur, Erech, Shuruppak dan Kish. Dengan terbukanya “mata air di bumi dan di surga”, agaknya sungai Eufrat meluap dan mengalir tersebar sehingga merusak empat kota yang disebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama dan Kebudayaan yang Menceritakan Banjir Nabi Nuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Banjir Nuh tersebut disebarluaskan ke hampir semua manusia (kaum) lewat&lt;br /&gt;lesan para Nabi yang menyampaikan Agama yang Benar, tetapi akhirnya cerita itu menjadi&lt;br /&gt;legenda-legenda berbagai kaum-kaum itu, dan kisah itu mengalami penambahan-penambahan&lt;br /&gt;dan juga pengurangan-pengurangan dalam periwayatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menyampaikan kisah tentang Banjir Nuh kepada manusia melalui para rasul&lt;br /&gt;dan kitab-kitab yang Dia turunkan kepada berbagai masyarakat agar hal itu menjadi peringatan&lt;br /&gt;atau permisalan. Dalam setiap masa teks atau kitab-kitab tersebut telah dirubah dari aslinya, dan&lt;br /&gt;penuturan tentang banjir Nuh itu juga telah ditambah-tambahai dengan unsur-unsur yang mistis.&lt;br /&gt;Hanyalah al-Qur’an lah sumber yang masih memiliki kesamaan yang mendasar dengan temuantemuan dan observasi empiris. Hal ini hanya tidak lain karena Allah menjaga al-Qur’an dari&lt;br /&gt;perubahan, meski hanya sebuah perubahan kecil sekalipun, dan Dia tidak mengizinkan al-&lt;br /&gt;Qur’an itu terkurangi. Menurut padangan al-Qur’an berikut ini Kami telah dengan tanpa&lt;br /&gt;keraguan menurunkan risalah, dan Kami dengan pasti akan menjaganya (dari pengurangan)(QS.Al-Hijr: 9), al-Qur’an berada di bawah pengawasan khusus Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bagian terakhir dari bab ini yang berkaitan dengan banjir, kita akan melihat,&lt;br /&gt;bagaimana insiden banjir itu diilustrasikan meski telah terjadi manipulasi/pengurangan &lt;br /&gt;dalam berbagai kebudayaan dan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir Nabi Nuh dalam Perjanjian Lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab yang sebenarnya diwahyukan kepada nabi Musa adalah Taurat. Hampir semua sisasisa&lt;br /&gt;wahyu dan buku-buku yang berkaitan dengan Injil Pentateuch (lima buku pertama dari&lt;br /&gt;Kitab perjanjian Lama), seiring dengan berjalannya waktu, telah lama kehilangan&lt;br /&gt;hubungannya dengan wahyu yang asli. Bahkan, kemudian bagian yang paling meragukan&lt;br /&gt;tersebut telah diubah oleh para rabi (pendeta) dari masyarakat Yahudi. Sama halnya dengan&lt;br /&gt;wahyu-wahyu yang dikirimkan kepada nabi-nabi lain yang diutus kepada Bani Israel setelah&lt;br /&gt;nabi Musa, juga mendapat perlakuan yang sama dan mengalami perubahan yang luar biasa.&lt;br /&gt;Inilah sebab yang menjadikan kita untuk menyebut buku-buku itu sebagai Pentateuch yang&lt;br /&gt;telah dirubah (Altered Pentateuch) dikarenakan telah kehilangan hubungannya dengan aslinya,&lt;br /&gt;membawa kita untuk menganggapnya lebih hanya sebagai bikinan manusia semata yang&lt;br /&gt;berupaya untuk mencatat sejarah suku bangsanya daripada menganggapnya sebagai sebuah&lt;br /&gt;kitab suci. Tidaklah mengherankan jika ciri-ciri dari Pentateuch yang telah dirubah itu dan&lt;br /&gt;berbagai kontradiksi yang terkandung didalamnya bisa dengan mudah terungkap dalam&lt;br /&gt;pemaparannya terhadap cerita tentang nabi Nuh meskipun mempunyai berbagai kesaman dalam&lt;br /&gt;sebagian yang diceritakan dengan al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan kepada Nuh bahwa semua orang&lt;br /&gt;kecual para pengikutnya akan dihancurkan karena bumi telah penuh dengan berbagai macam&lt;br /&gt;tindak kekerasan. Dan akhirnya Tuhan memerintahkan mereka untuk membuat sebuah Perahu&lt;br /&gt;dan menyebutkan secara detail bagaimana cara mengerjakannya. Tuhan juga mengatakan&lt;br /&gt;kepadanya (Musa) untuk membawa keluarganya, tiga orang anaknya, istri-istri anaknya, dua&lt;br /&gt;(sepasang) dari setiap mahkluk hidup dan berbagai persedian bahan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh hari kemudian, ketika waktu banjir telah tiba, semua sumber yang ada di dalam&lt;br /&gt;tanah mendadak terbuka lebar, pintu-pintu surga terbuka dan sebuah banjir besar&lt;br /&gt;menenggelamkan semuanya. Hal ini berlangsung selama empat puluh hari dan empat puluh&lt;br /&gt;malam. Kapal yang dtumpangi Nuh beserta pengikutnya berlayar diatas air yang menutupi&lt;br /&gt;semua pegunungan dan dataran tinggi. Mereka yang berada di dalam kapal bersama Nuh&lt;br /&gt;diselamatkan dan mereka yang tidak ikut ke dalam kapal dan terbawa oleh air bah tersebut&lt;br /&gt;ditenggelamkan hingga mati. Hujan berhenti setelah banjir terjadi, yang terjadi selama 40 hari&lt;br /&gt;40 malam, dan airpun mulai surut 150 hari kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berada pada hari ke tujuh belas dari bulan ke tujuh, kapal tersebut berhenti di&lt;br /&gt;gunung Ararat (Agri). Nuh memerintahkan seekor merpati untuk melihat apakah air telah&lt;br /&gt;benar-benar surut atau tidak, dan ketika akhirnya merpati tersebut tidak kembali lagi, ia&lt;br /&gt;menyadari bahwa air telah benar-benar surut. Tuhan memerintahkannya untuk keluar dari kapal&lt;br /&gt;dan menyebar ke seluruh penjuru bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kontradiksi yang terdapat dalam kisah yang terdapat dalam perjanjian Lama&lt;br /&gt;ini adalah; berdasarkan ringkasan ini, dalam versi tulisan yang berbau Yahudi, dikatakan&lt;br /&gt;bahwa Tuhan memerintahkan kepda Nuh untuk membawaa tujuh dari binatang-binatang&lt;br /&gt;tersebut, jantan dan betina, Ia (Tuhan) menyebut-Nya clean(halal) dan hanya pasanganpasangan&lt;br /&gt;binaang-binaang tersebut Ia sebut unclean(haram). Hal ini bertentangan dengan&lt;br /&gt;teks dibawah ini. Disamping itu dalam Perjanjian Lama, jangka waktu terjadinya banjir juga&lt;br /&gt;berbeda. Menurut versi yang berbau Yahudi itu, peristiwa naiknya air akibat banjir terjadi&lt;br /&gt;selama 40 hari, sedangkan berdasarkan pendapat orang-orang awam, dikatakan terjadinya&lt;br /&gt;selama 150.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari Perjanjian Lama yang menceritakan tentang banjir Nuh mengatakan ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Tuhan berkata kepada Nuh, akhir dari semua jasad manusia adalah menghadap kepadaKu;&lt;br /&gt;02_banjir_nabi_nuh Page 22 of 27&lt;br /&gt;dan karena bumi telah penuh dengan kekerasan; maka lihatlah Aku akan menghancurkan&lt;br /&gt;mereka bersama dengan bumi. Maka kamu buatlah perahu dari kayu gopher;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..Dan, lihatlah meskipun Aku memberikan banjir yang membanjiri seluruh bumi untuk&lt;br /&gt;menghancurkan semua manusia, dimana semua yang bernafas, dari bawah surga; (dan)setiap&lt;br /&gt;yang ada dibumi akan mati. Namun bersamamu Aku akan menetapkan janjiKu; dan kamu akan&lt;br /&gt;masuk ke dalam perahu, kau dan anakmu, dan istrimu, dan istri-istri anak-anak mu. Dan semua&lt;br /&gt;mahkluk hidup, dua (sepasang) dari setiap mahkluk kamu bawa ke dalam perahu, untuk tetap&lt;br /&gt;menjaga mereka hidup bersamamu; mereka haruslah jantan dan betina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikianlah yang dilakukan Nuh; berdasarkan semua yang Tuhan perintahkan&lt;br /&gt;kepadanya. (Genesis 6:13-22).&lt;br /&gt;Dan perahupun berhenti pada bulan ke tujuh, pada hari ke tujuhbelas dari bulan&lt;br /&gt;tersebut di atas gunung Ararat. (Genesis 8:4).&lt;br /&gt;Setiap binatang yang halal kamu bawa sebanyak tujuh ke dalam perahu jantan dan&lt;br /&gt;betinanya, dan biatang yang tidak halal kamu bawa sebanyak dua jantan dan betinanya,&lt;br /&gt;unggas juga kamu ambil dari udara sebanyak tujuh, jantan dan betinanya, untuk&lt;br /&gt;menjaga agar bebih tetap hidup diseluuh penjuru bumi (Genesia 7:2-3).&lt;br /&gt;Dan Aku akn menepati janjiKu terhadapmu, dan semua orang-orang yang lain&lt;br /&gt;akan ditenggelamkan oleh air banjir, dan banjir akan lebih banyak lagi yang akan&lt;br /&gt;menghancurkan dunia (Genesis, 9:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kepada Perjanjian Lama, berkenaan dengan keputusan yang menyatakan&lt;br /&gt;bahwa semua mahkluk hidup yang ada di dunia akan mati dalam sebuah banjir yang&lt;br /&gt;menggenagi seluruh permukaan bumi, maka semua orang dihukum, dan yang selamat hanyalah&lt;br /&gt;mereka yang berlayar dengan perahu bersama Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir Nuh dalam Perjanjian Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian Baru yang kita miliki saat ini adalah bukan sebuah Kitab Suci dalam arti kata&lt;br /&gt;yang sebenarnya. Terdiri dari perkataan dan perbuatan dari ‘Isa (jesus), Pernanjian Baru&lt;br /&gt;dimulai dengan empat Gospels (ajaran) yang ditulis satu abad setelah kematian ‘Isa oleh&lt;br /&gt;orang-orang yang belum pernah melihatnya atau berteman dengan Isa; mereka (para penulis) ini&lt;br /&gt;bernama Matius, Markus, Lukas dan Johanes . Terdapat berbagai kontradiksi yang sangat&lt;br /&gt;gamblang diantara keempat gospel (ajaran) ini. Khususnya Gospel of John (Johanes) yang&lt;br /&gt;sangat memiliki banyak perbedaan dengan dari ketiga yang lain (Synoptic Gospel), meski&lt;br /&gt;dalam beberapa tingkat tertentu memiliki kesamaan. Buku-buku lain dari Perjanjian Baru terdiri&lt;br /&gt;dari surat-surat yang ditulis oleh Apostle (utusan/rasul) dan Saul dari Tarsus ( yang kemudian&lt;br /&gt;disebut dengan Saint Paul) menyebutkan perbuataan setelah kematian Isa.&lt;br /&gt;Namun demikian Perjanjian Baru yang terdapat saat ini bukan lagi merupakan sebuah&lt;br /&gt;naskah suci namun lebih merupakan sebuah buku semi-sejarah semata.&lt;br /&gt;Dalam Perjanjian Baru, banjir Nuh disebutkan secara singkat sebagai berikut; Nuh&lt;br /&gt;diutus sebagai seorang pembawa pesan kepada sebuah masyarakat yang tidak patuh dan&lt;br /&gt;tersesat, namun kaumnya tidak mau mengikutinya dn meneruskan penyimpangan mereka,&lt;br /&gt;kemudian Allah menimpakan kepada mereka yang menolak keimanan dengan sebuah peristiwa&lt;br /&gt;banjir dan menyelamatkan Nuh dan para pengikutnya dengan menempatkan mereka ke dalam&lt;br /&gt;perahu. Beberapa bab dri perjanjian Baru yang berkaitan dengan hal ini adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, pada masa Nabi Nuh, dan juga kedatangan seorang anak laki-laki. Dan&lt;br /&gt;pada hari-hari di mana mereka sebelum datangnya banjir, mereka makan dan minum,&lt;br /&gt;mereka menikah dan saling memberi dalam pernikahan itu, hingga datanglah suatu&lt;br /&gt;waktu ketika Nuh masuk ke dalam perahu, dan mengertilah dia tidak lebih hingga&lt;br /&gt;datangnya banjir, dan dia membawa mereka semua menjauh, demikian juga dengan&lt;br /&gt;datangnya seorang anak lelaki itu. (Matius, 24:37-39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terpisah, bukan di bumi yang telah tua, tetapi selamatlah Nuh sebagai orang&lt;br /&gt;yang ke delapan, seorang penyeru kesalehan, membawa dalam banjir ke atas dunia yang&lt;br /&gt;tidak taat pada Tuhan. (Peter kedua,2: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagaimana pada hari-hari masa Nuh, dan seharusnya juga juga pada masa&lt;br /&gt;seorang anak laki-laki. Mereka makan, minum, menikahi isteri, mereka saling diberi&lt;br /&gt;dalam perkawinan, hingga datanglah suatu hari ketika Nuh memasuki perahu, dan&lt;br /&gt;banjir datang, dan menghancurkan mereka semua. (Lukas, 17: 26-27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat mereka itu ingkar (tidak mentaati), ketika suatu masa Tuhan lama&lt;br /&gt;menderita menunggu di masa Nuh, sembari perahu dipersiapkan, dalam jumlah&lt;br /&gt;beberapa, delapan jiwa diselamatkan oleh air. (Peter pertama, 3:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan mereka mengabaikan, bahwa dengan kata Tuhan surga-surga&lt;br /&gt;menjadi tua, dan bumi mempertahankan air dan berada di dalam air: Di mana bumi&lt;br /&gt;kemudian, diluapi dengan banjir, dibinasakan. (Peter kedua,3:5-6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Terjadinya Banjir dalam Kebudayaan Lain&lt;br /&gt;Dalam Kebudayaan Sumeria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan/ Dewa yang bernama Enlil berkata kepada suatu kaum bahwa tuhan yang lain&lt;br /&gt;ingin menghancurkan umat manusia, namun ia sendiri berkenan untuk meyelamatkan mereka.&lt;br /&gt;Pahlawan dalam kisah ini adalah Ziusudra, raja yang taat kepada raja negeri Sippur. Tuhan&lt;br /&gt;Enlil menyuruh Ziusudra apa yang harus dilakukan untuk bisa selamat dari banjir. Naskah yang&lt;br /&gt;berkaitan dengan pembuatan kapal tersebut telah hilang, namun fakta bahwa bagian ini pernah&lt;br /&gt;ada, diungkapkan dalam bagian yang menyebutkan bagaimana Ziusudra diselamatkan.&lt;br /&gt;Berdasarkan versi bangsa Babylonia tentang banjir, bisa disimpulkan bahwa dalam versi bangsa&lt;br /&gt;Sumeria pun, tentulah terdapat perincian yang lebih luas secara utuh tentang kejadian tersebut,&lt;br /&gt;tentang sebab-sebab terjadinya banjir dan bagaimana perahu tersebut dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kebudayaan Babilonia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ut-Napishtim adalah persamaan tokoh bangsa Babilonia terhadap pahlawan dalam&lt;br /&gt;peristiwa banjir dalam kisah bangsa Sumeria yaitu Ziusudra. Tokoh penting yang lain adalah&lt;br /&gt;Gilgamesh. Menurut legenda, Gilgamesh memutuskan untuk mencari dan menemukan para&lt;br /&gt;leluhurnya untuk mengupayakan rahasia kehidupan yang abadi. Ia melakukan sebuah&lt;br /&gt;perjalanan yang menentang bahaya dan pebuh dengan kesulitan. Ia diperintahkan supaya&lt;br /&gt;melakukan sebuah perjalan dimana ia harus melewati Gunung Mashu dan air kematian dan&lt;br /&gt;sebuah perjalanan yang hanya dapat diselesaikan oleh seorang anak tuhan bernama Shamash.&lt;br /&gt;Namun Gilgamesh tetap dengan gagah berani melawan semua bahaya selama perjalanan dan&lt;br /&gt;akhirnya berhasil mencapai Ut-Napishtim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah ini dipotong/selesai pada titik dimana terjadi pertemuan antara Guilgamesh dan&lt;br /&gt;Ut-Napishtim, dan ketika akhirnya menjadi jelas, Ut-Napishtim bekata kepada Gilgamesh&lt;br /&gt;bahwa para tuhan hanya menyimpan rahsia kematiandan kehidupam untuk diri mereka&lt;br /&gt;sendiri (yang mereka tidak akan memberikannya kepada manusia). Atas jawaban ini&lt;br /&gt;Gilgamesh bertanya kepada Ut-Napishtim bagaimana ia dapat memperoleh keabadian; dan Ut-&lt;br /&gt;Napishtim menceritakan kepadanya kisah tentang banjir sebagai jawaban atas pertanyaannya.&lt;br /&gt;Banjir tersebut juga diceritakan dalam kisah duabelas meja (twelve tables) yang terkenal&lt;br /&gt;dalam epik tentang Gilgamesh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ut-Napishtim memulainya dengan mengatakan bahwa kisah yang akan diceritakan&lt;br /&gt;kepada Gilgamesh adalah merupakansesuatu yang rahasia, sebuah rahasia dari tuhan. Ia&lt;br /&gt;berkata bahwa ia dari kora Shuruppak, kota tertua diantara kota-kota di daratan Akkad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ceritanya, tuhan Ea telah menyerukan kepaanya melalui tembok gubuknya dan&lt;br /&gt;mengumumkan bahwa tuhan-tuhan telah memutuskan untuk menghancurkan semua benih&lt;br /&gt;kehidupan dengan perantaraan sebuah banjir; namun alasan tentang keputusan mereka tidaklah&lt;br /&gt;diterangkan dalam cerita banjir bangsa Babylonia sebagaimana telah diterangkan dalam kisah&lt;br /&gt;banjir bangsa Sumeria . Ut-Napishtim berkata bahwa Ea telah menyuruhnya untuk membuat&lt;br /&gt;sebuah perahu dimana ia harus membawa serta dan membwa benih-benih dari semua makhluk&lt;br /&gt;hidup. Ea memberitahukan kepadanya tentang ukuran dan bentuk dari kapal tersebut,berdasarkan hal ini, lebar, panjng dan ketinggian dari kapal sama satu sama dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai besar menjungkirbalikan semuanya dalam waktu enam hari dan enam malam. Pada hari&lt;br /&gt;yang ke tujuh, badai mulai reda. Ut-Napishtim melihat bahwa diluar kapal, telah berubah&lt;br /&gt;menjadi Lumpur yang lengket’. Dan sang kapalpun berhenti di gunung Nisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan bangsa Sumeria dan Babylonia, Xisuthros atau Khasisatra diselamatkan dari banjir oleh sebuah kapal dengan panjang 925 meter, bersama dengan keluarga dan teman-temannya dan bersama burung-burung dan berbagai jenis binatang. Hal ini dikatakan bahwa “air terbentang menuju ke surga, lautan menutupi pantai dan sungai meluap dari dasar sungai”. Dan kapalpun akhirnya berhenti di gunung Corydaean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan bangsa Babilonia -Syria, Ubar Tutu atau Khasisatra diselamatkan bersama dengan keluarga dan pembantunya, umatnya dan binatang-binatang dalam sebuah kapal dengan lebar 600 cubits (ukuran panjang), tinggi dan lebarnya 60 cubit. Banjir tersebut berlangsung selama 6 hari dan 6 mala m. Ketika kapal tersebut menapai gunung Nizar, merpati yang dilepaskan kembali ke kapal sedangkan burung gagak yang sama-sama dilepaskan tidak kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa catatan bangsa Sumeria, Asyiria dan Babylonia, Ut-Napishtim&lt;br /&gt;bersama dengan keluarganya selamat dari banjir yang terjadi selama 6 hari dan 6 malam. Hal&lt;br /&gt;ini dikatakan Pada hari ke tujuh Ut-napishtim melihat keluar. Ternyata sangatlah sepi. Orang&lt;br /&gt;telah berubah menjadi Lumpur. Ketika kapal berhenti di gunung Nizar, Ut-napishtim&lt;br /&gt;menerbangkan seekor burung merpati, seekor ggak dan seekor buurng pipit. Burung gagak&lt;br /&gt;tinggal untuk memakan bangkai, sedangkan dua burung yang lain tidak kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kebudayaan India&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam epic dari India berjudul Shatapata Brahmana dan Mahabharata, seseorang yang disebut dengan Manu diselamatkan dari banjir bersama dengan Rishiz. Menurut legenda , seekor ikan yang ditangkap oleh Manu dan ikan tersebut diselamatkannya, tiba-tiba berubah menjadi besar dan mengatakan kepadanya untuk membuat sebuah perahu dan mengikatkan ke tanduknya. Ikan ini dilambangkan sebagai pengejawantahan dari dewa Wisnu. Ikan tersebut menuntun kapal mengarungi ombak yang besar dan membawanya ke utara ke gunung Hismavat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kebudayaan Wales&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut legenda Welsh (dari Wales, dari Celtic di Inggris), dikatakan bahwa Dwynwen&lt;br /&gt;dan Dwfach selamat dari bencana yang besar dengan sebuah kapal. Ketika banjir yang amat&lt;br /&gt;mengerikan yang terjadi dari meluapnya Llynllion yang disebut dengan Danau Gelombang.&lt;br /&gt;Setelah selamat akhirnya mereka berdua mulai menghuni kembali daratan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kebudayaan Scandinavia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legenda Nordic Edda melaporkan tentang Bergalmir dan istrinya selamat dari banjir&lt;br /&gt;dengan sebuah kapal yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kebudayaan Lithuania&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam legenda Lithuania, diceritakan bahwa beberapa pasang manusia dan binatang&lt;br /&gt;diselamatkan dengan berlindung di puncak permukaan gunung yang tinggi. Ketika angin dan&lt;br /&gt;banjir yang berlangsung sela dua hari dan dua belas malam tersebut mulai mencapai ketinggian&lt;br /&gt;gunung yang hampir akan menenggelamkan yang ada diatas puncak gunung tersebut, sang&lt;br /&gt;Pencipta melemparkan sebuah kulit kacang raksasa kepada mereka. Sehingga mereka yang ada&lt;br /&gt;di gunung tersebut diselamatkan dari bencana dengan berlayar didalam kulit kacang raksasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kebudayaan China&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber di bangsa China menghubungkan cerita ini dengan seseorang yang dipanngil&lt;br /&gt;denangan nama Yao bersama dengan tujuh orang lain atau Fa li bersama dengan istri dan anakanaknya, diselamatkan dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu layar. Disini&lt;br /&gt;dikatakan dunia semuanya berada dalam kehancuran. Air menyembur dan menutupi semua tempat. Akhirnya, airpun surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir Nuh dalam Mitologi Yunani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Zeus memutuskan untuk menghancurkan orang-orang yang telah menjadi semakin&lt;br /&gt;bertindak sesat setiap saat, dengan sebuah banjir. Hanya Deucalion dan istrinya Pyrrha yang&lt;br /&gt;diselamatkan dari banjir, karena ayah Deucalion sebelumnya telah menyarankan anaknya untuk&lt;br /&gt;membuat sebuah kapal. Pasangan ini turun ke gunung Parnassis pada hari ke sembilan setelah&lt;br /&gt;turun dari kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua legenda ini mengindikasikan sebuah realitas sejarah yang konkret. Dalam sejarah&lt;br /&gt;setiap masyarakat/kaum menerima pesan dan risalah, setiap insan menerima wahyu Suci,&lt;br /&gt;sehinga banyak kaum yang telah belajar tentang Banjir. Sayangnya, sebagaimana kaum-kaum&lt;br /&gt;yang berpaling dari inti wahyu Suci, peristiwa banjir besar itupun mengalami banyak perubahan&lt;br /&gt;dan menjadi bermacam legenda dan mitos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya sumber dimana kita dapat menemukan kisah sejati tentang Nuh dan kaum&lt;br /&gt;yang menolaknya adalah di dalam Al Qur’an, yang merupakan satu-satunya sumber yang&lt;br /&gt;belum (dan tidak akan) mengalami perubahan sebahai Wahyu suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur’an menyediakan bagi kita keterangan yang benar tidak hanya tentang banjir Nuh&lt;br /&gt;namun juga tentang kaum dan peristiwa sejarah lainnya, dalam bab-bab berikut kita akan&lt;br /&gt;melihat kembali kisah-kisah sejati ini.&lt;br /&gt;</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/banjir-nabi-nuh_5347.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-6581122607239278718</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 15:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T09:00:23.777-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah</category><title>Makalah tentang Hadits DLOIF, Macam dan Kehujjahannya </title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOw3Oo3Oxl3gP-pu81bwqcgOKd5_Oz9CnKGTXVxzeZ3gM0fLp0weI6g9nhY7ym78PQ8bDbitrxc2AQKhuroxS6PCpBlmJYBiCtpeWWXQEwy5idATR8KlfPjgkeUqvv9IfsorWvwqCbaM4/s1600/Makalah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;296&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOw3Oo3Oxl3gP-pu81bwqcgOKd5_Oz9CnKGTXVxzeZ3gM0fLp0weI6g9nhY7ym78PQ8bDbitrxc2AQKhuroxS6PCpBlmJYBiCtpeWWXQEwy5idATR8KlfPjgkeUqvv9IfsorWvwqCbaM4/s400/Makalah.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah agama yang Rahmatan li al-‘alamiin, Islam mengajak kepada seluruh umat manusia, baik yang beriman ataupun yang belum beriman kepada kebaikan. Karena dengan berbuat kebaikan maka kebahagiaan di dunia dan akhirat akan diperoleh. Untuk mendukung itu semua, Allah telah mengirimkan untuk setiap kaum seorang utusan, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Mu’minuun ayat 44:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul kami berturut-turut. tiap-tiap seorang Rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, Maka kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain dan kami jadikan mereka buah tutur (manusia), Maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimana tugas utama para rasul tersebut adalah mengajak umatnya untuk berbuat kepada Allah, dalam artian selalu bertaqwa kepada-Nya. Dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dan tiap-tiap rasul tersebut juga dibekali dengan kitab maupun shuhuf sebagai pedoman mereka dalam berda’wah, juga sebagai rujukan dalam memecahkan setiap masalah yang muncul ditengah umatnya.&lt;br /&gt;
Demikian pula dengan kita yang merupakan umat dari Nabi Muhammad SAW, yang merupakan nabi penutup zaman. Dalam mengarungi hidup ini, Rasul telah mewariskan al-Qur’an dan al-hadits atau as-sunnah. Sehingga diharapkan dengan 2 warisan dari Rasul ini hidup manusia bisa lebih terarah dan terkontrol. Karena dengan al-Qur’an yang merupakan kalamullah manusia bisa mengetahui rambu-rambu yang telah dibuat oleh Allah, dilengkapi pula dengan al-hadits yang berfungsi sebagai bayyanu taudhih,tafsir (sebagai penjelas) dan sebagai bayyanu tsabit (menambah) yang tidak ada dalam al-qur’an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa hadits dijadikan sumber hukum kedua setelah al-Qur’an? Karena bila dilihat dari pengertiannya saja, hadits secara literal berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan yang dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Namun seringkali kata ini mengalami perluasaan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah, sehingga berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Sehingga Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum di bawah al-Qur’an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi setelah diadakan kajian yang begitu mendalam mengenai hadits-hadits yang jumlahnya ribuan, didapatkan sebuah kesimpulan bahwa tidak semua hadits-hadits tersebut bisa dijadikan pedoman atau dijadikan sebagai hujjah. Ada tingkatan-tingkatan dalam pembagian hadits tersebut. Tingkatan-tingkatan tersebut sangat berpengaruh dalam peluang penggunaan hadits tersebut sebagai hujjah.&lt;br /&gt;
Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yaitu sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga sebuah hadits bisa dijadikan sebagai pedoman bila keutuhan rantai sanadnya terjaga. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur di atasnya. Sebagai sebuah illustrasi sanad : pencatat hadits &amp;gt; penutur 4 &amp;gt; penutur 3 &amp;gt; penutur 2 (tabi’in) &amp;gt;&amp;nbsp; penutur 1 (sahabat) &amp;gt; Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin lama zaman itu semakin jauh dengan zaman Rasulullah, maka banyak sekali hadits yang keshahihannya masih diragukan. Dengan kata lain sekarang banyak sekali bermunculan hadits-hadits yang diklaim oleh si penyampai hadits sebagai hadits yang shahih, sehingga masyarakar awam mengikutinya begitu saja. Akan tetapi setelah diselidiki lebih jauh ternyata hadits itu mardud. Dikarenakan ada persoalan dari sisi sanadnya.&lt;br /&gt;
Berdasarkan tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4, yakni shahih, hasan, da’if dan maudhu’. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan fenomena tersebut, maka penulis merasa perlu melakukan kajian terhadap hadits dloif. Dalam hal ini ada tiga poin pertanyaan yang akan penulis gunakan sebagai pisau analisis dalam membahas hadits dloif, yaitu :&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apa pengertian hadits dloif ?&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagaimana pembagian hadits dloif ?&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagimana status kehujjahan hadits dloif ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Pengertian Hadits Dha’if&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Definisi&lt;br /&gt;مَا لَمْ يَجْمَعْ صِفَاتُ الْقُبُوْلِ بِفَقَدْ شَرْطٍِ مِنْ شُرُوْطِهِ&lt;br /&gt;Apabila tidak terkumpul sifat-sifat (yang menjadikannya dapat) diterima (shahih), karena hilangnya salah satu dari syarat-syarat (hadits shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Definisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terkumpul sifat-sifat yang menjadikannya dapat diterima; syarat diterima suatu hadis, sebaimana yang telah dibahas, antara lain;&lt;br /&gt;1. Memiliki sanad hingga kepada Nabi saw&lt;br /&gt;2. Sanadnya bersambung&lt;br /&gt;3. Rawinya ‘adil dan dlabith&lt;br /&gt;4. Tidak mengandung syadz&lt;br /&gt;5. Tidak ada illah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya salah satu syarat diterimanya hadis; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hilang syarat yang pertama, maka hadis itu tidak bisa dinisbahkan kepada nabi saw, melainkan disandarkan kepada shahabat, tabi’in atau tabi’ tabi’in, sesuai dengan nama yang tercantum di dalam sanad tersebut.&lt;br /&gt;Apabila tidak terpenuhi syarat kedua, maka hadis itu dinamakan mursal.&lt;br /&gt;Apabila tidak terpenuhi bagian pertama dari syarat yang ketiga, yaitu sifat ‘adil, maka hadis itu termasuk matruk atau maudlu’, dan jika tidak ada syarat ketiga bagian yang kedua yaitu dlabth maka hadis tersebut disebut dla’if, matruk, atau bahkan maudlu’ yang disebabkan oleh kelemahan rawi.&lt;br /&gt;Apabila hilang syarat yang keempat, maka hadis itu dinamakan syadz atau matruk.&lt;br /&gt;Dan apabila tidak memenuhi syarat yang kelima, maka hadis itu dinamakan mu’allal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut bahasa dha’if berarti ‘Aziz: yang lemah sebagai lawan dari Qawiyyu yang artinya kuat.&lt;br /&gt;
Sedang menurut istilah, Ibnu Shalah memberikan definisi :&lt;br /&gt;
ما لم يجمع صفات الصحيح ولاصفات الحسن&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
Yang tidak terkumpul sifat-sifat shahih dan sifat-sifat hasan.&lt;br /&gt;
Sedangkan Zinuddin Al-Traqy menanggapi bahwa definisi tersebut kelebihan kalimat yang seharusnya dihindarkan, menurut dia cukup :&lt;br /&gt;
ما لم يجمع صفات الحسن&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
yang tidak terkumpul sifat-sifat hadits hasan&lt;br /&gt;
Karena sesuatu yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits hasan sudah barang tentu tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih.&lt;br /&gt;
Para ulama memberikan batasan bagi hadits dha’if : &lt;br /&gt;
الحديث الضعيف هو الحديث الذي لم يجمع صفات الحديث الصحيح ولا صفات الحديث&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
hadits dha’if adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits shahih dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.&lt;br /&gt;
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian hadits dha’if adalah hadits yang lemah, yakni para ulama masih memiliki dugaan yang lemah, apakah hadits itu berasal dari Rasulullah atau bukan. Hadits dha’if itu juga bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih tetapi juga tidak memenuhi syarat-syarat hadits hasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
iriwayatkan oleh orang-orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa alasan yang menyebabkan tertolaknya hadits dloif, yaitu:&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adanya Kekurangan pada Perawinya&lt;br /&gt;
Baik tentang keadilan maupun hafalannya, misalnya karena:&lt;br /&gt;
•Dusta (hadits maudlu)&lt;br /&gt;
•Tertuduh dusta (hadits matruk)&lt;br /&gt;
•Fasik, yaitu banyak salah lengah dalam menghafal&lt;br /&gt;
•Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal&lt;br /&gt;
•Menyalahi riwayat orang kepercayaan&lt;br /&gt;
•Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham)&lt;br /&gt;
•Penganut Bid’ah (hadits mardud)&lt;br /&gt;
•Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena Sanadnya Tidak Bersambung &lt;br /&gt;
•Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq&lt;br /&gt;
•Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal&lt;br /&gt;
•Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal&lt;br /&gt;
•Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah&lt;br /&gt;
Selain karena dua hal di atas, kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Pembagian Hadits Dha’if&lt;br /&gt;
Hadits dhaif sangat bervariasi, dan pembagiannya tidak sesederhana pembagian hadits shahih maupun hasan. Oleh karena itu ada ulama ahli hadits yang membagi hadits dhoif menjadi 42 macam, 63, 81 bahkan ada yang sampai 129 macam. &lt;br /&gt;
Sebab kedhaifan suatu hadist dapat disebabkan oleh sanad, yaitu terputusnya sanad. Terputusnya sanad dapat terjadi baik pada tingkat Sahabat, Tabi’in, maupun tingkat sesudahnya. Begitu pula baik terputus hanya satu tingkat ataupun lebih.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits Dha’if karna Gugurnya Rawi&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu, dua atau beberapa perawi, yang seharusnya ada dalam satu sanad, baik pada permulaan, pertengahan atau akhir sanadnya.&lt;br /&gt;
a. Hadits Mursal&lt;br /&gt;
Kata Mursal secara etimologi diambil dari kata “irsal” yang berarti “Melepaskan”, adapun pengertian hadits mursal secara terminology ialah hadits yang dimarfu’kan oleh tabi’in kepada Nabi SAW. Artinya, seorang tabi’in secara langsung mengatakan, “bahwasanya Rasulullah Saw bersabda…..”&lt;br /&gt;
Para ulama’ memberikan batasan hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. Yang dimaksud dengan rawi diakhir sanad adalah rawi pada tingkatan sahabat. Jadi mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi, sebagai rawi seharusnya menerima langsung dari Rasulullah.[8]&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Sebagai contoh, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, dari Abdurrahman dari Harmalah dan dari Said bin Mutsayyab. Bahwasnya Rasulullah Saw bersabda:&lt;br /&gt;
قال رسول الله صلى الله وسلم : بيننا وبين المنافقين شهود لعشاء والصبح لا يستطيعون (رواه ماللك)&lt;br /&gt;
Artinya :&lt;br /&gt;
Rasulullah bersabda: antara kita dengan kaum munafik (ada batas) yaitu menghadiri jamaah Isya’ dan subuh, mereka tidak masuk menghadirinya”. (HR. Imam Malik).&lt;br /&gt;
Hadits ini mursal karena, siapa yang sahabat nabi yang yang meriwayatkan hadits ini kepada Said bin Mutsayyab, tidaklah disebutkan dalam sanad di atas. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp; b. Hadits Munqati’&lt;br /&gt;
Menurut bahasa, hadits munqati’ berarti hadits yang terputus. Para ulama’ memberikan batasan hadits munqati’ ialah hadist yang gugur satu atau dua rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila rawi diakhir sanadnya adalah sahabat Nabi, maka rawi menjelang akhir sanadnya adalah tabi’in. artinya hadits munqati’ itu bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur tapi minimal gugur seorang tabi’in.&lt;br /&gt;
Contoh hadits munqati’: &lt;br /&gt;
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم : إ ذا دخل المسحد قال : بسم الله والسلام على رسول الله اللهم غفرلى ذنوبى وافتح لى ابواب رحمتك. (رواه ابن ماجه)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya :&lt;br /&gt;
“Rasulullah SAW, bila masuk ke dalam masjid membaca: dengan nama Allah dan sejahteralah atas Rasulullah: Ya Allah, Ampunilah segala dosaku dan bukanlah bagiku segala pintu rahmat-MU”&lt;br /&gt;
(HR. Ibnu Majah) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Hadits Mudal&lt;br /&gt;
Hadits mudal menurut bahasa, berarti hadits yang sulit dipahami. Para ulama member batasan hadits mudal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya atau lebih secara beriringan dalam sanadnya, contohnya: telah sampai kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;للملوك طعامه وكسوته بالمعروف (رواه مالك)&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
“Budak itu harus diberi makanan dan pakaian secara baik”.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;(HR. Malik)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Hadits Muallaq&lt;br /&gt;
Hadits muallaq menurut bahasa berarti hadits yang tergantung. Dari segi istilah, hadits muallaq adalah hadits yang gugur satu rawi atau lebih diawal sanad. &lt;br /&gt;
Contoh: Bukhari berkata, kata Malik, dari Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: &lt;br /&gt;
لاتقاضلوابين الأنبياء (رواه البخارى) &lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
“Janganlah kamu melebihkan sebagian Nabi dan sebagian yang lain”. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits Dha’if karena Cacat pada Rawi atau Matan&lt;br /&gt;
Hadits yang cacat pada rawi atau matannya, atau kedua-duanya digolongkan hadits dhoif. Ada berbagai macam cacat yang dapat menimpa para rawi atau matannya, diantaranya pendusta, pernah berdusta, fasiq, tidak dikenal dan berbuat bid’ah merupakan cacat-cacat yang dapat menghilangkan sifat dabit para rawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun cacat matan, misalnya terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau lafal hadits itu diputarbalikan sehingga memberikan pengertian yang berbeda dengan maksud hadits yang sebenarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Hadits Maudu’&lt;br /&gt;
Hadits maudu’ ialah hadits yang bukan hadits Rasulullah Saw tapi disandarkan kepada beliau oleh orang secara dusta dan sengaja atau secara keliru tanpa sengaja, contoh:&lt;br /&gt;
لايدخل ولد الزنا الجنة الي سبع ابتاء&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
“Anak zina&amp;nbsp; tidak masuk surga hingga tujuh turunan”.&lt;br /&gt;
Hadits tersebut bertentangan dengan firman Allah, surat al-An’am ayat : 164 :&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;“Katakanlah: &quot;Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak cara untuk bisa mengetahui hadits palsu atau tidak adalah dengan melihat makna hadits tersebut rusak ataukah batil yaitu dengan memastikan bahwa makna hadits tersebut masuk akal ataukah tidak, bertentangan dengan akal sehat, bertentangan dengan kebenaran yang sudah dapat dipastikan secara ilmiah/historis, bertentangan dengan hadits-hadits yang lebih kuat atau bertentangan dengan ayat al-Qur’an. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Hadits Matruk atau Hadits Matruh&lt;br /&gt;
Hadits matruk ialah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi, yang menurut penilaan seluruh ahli hadits terdapat catatang pribadinya sebagai seorang rawi yang dha’if, contoh: hadits riwayat Amr bin Syamr, dari Jabir Al-Ju’fi, dari Haris, dari Ali. Dalam hal ini Amr termasuk orang yang haditsnya ditinggalkan. Atau dengan kata lain hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang suka berdusta, nyata kefasikannya dan pelupa atau ragu dalam periwayatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Hadis Munkar&lt;br /&gt;
Hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dha’if yang berbeda dengan riwayat rawi yang tsigah (terpercaya). Contoh:&lt;br /&gt;
من اقام الصلاة واتي الزكاة وحج وصام وقري الضيق ودخل الجنة &lt;br /&gt;
(رواه بن ابى حاتم)&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
“barang siapa mendirikan shalat, menunaikan zakat, melakukan haji, berpuasa, dan menjamu tamu, maka dia masuk surga”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Hadits Muallal&lt;br /&gt;
adalah hadist yang kelihatannya terbebas dari cacat, akan tetapi sebenarnya memiliki cacat yang tersembunyi baik pada sanad maupun matannya atau juga pada keduanya.&amp;nbsp; Untuk menemukan illat (cacat) hadist ini membutuhkan pengetahuan yang luas, ingatan yang kuat dan pemahaman yang cermat. Sebab ‘ilat itu sendiri tidak tampak, bahkan bagi orang-orang yang menekuni ilmu hadist.&lt;br /&gt;
Contoh:&lt;br /&gt;
قال رسولوالله صلي الله عليه وسلم : البيعان بالخيار مالم يتفرقا&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
“Rasulullah bersabda: penjual dan pembeli boleh berikhtiar, selama mereka masih belum berpisah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
e. Hadits Mudraj&lt;br /&gt;
Hadits mudraj adalah hadits yang dimasuki sisipan, yang sebenarnya bukan bagian hadits itu. Contoh:&lt;br /&gt;
قال رسولوالله صلي الله عليه وسلم: انا زعيم، والزعيم الحميل لمن أمن بي واسلم وجاهدفي سبيل الله يبيت في ريض الجنة&amp;nbsp; (رواه النسائ)&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
“Rasulullah Saw bersabda: saya itu adalah Zaim dan Zaim itu adalah penanggungjawab dari orang yang beriman kepadaku, taat dan berjuang di jalan Allah, dia bertempat tinggal di dalam surga.” (HR. Nasai)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
f. Hadits Maqlub&lt;br /&gt;
Hadist yang terjadi pembalikan baik pada sanad, nama periwayat maupun matannya. Maksudnya perawi mendahulukan apa yang seharusnya diakhirkan dan mengakhirkan apa yang seharusnya didahulukan serta meletakkan sesuatu di tempat yang lain. Contoh maqlub pada matan adalah hadist yang diriwayatkan oleh Thabrani: &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;قال رسول الله ص.م. اذا امرتكم بشئ فأتوهواذا نهيتكم عن شئ فاجتنيبوه ما استطعتم. (رواه الطبرانى)&lt;br /&gt;
“Rasululah bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu maka kerjakanlah dia, apabila aku melarang kamu dari sesuatu, maka jauhilah dia sesuai dengan kesangupanmu”. (HR. Thabrani) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan dalam hadits Buhkari dan Muslim, matan hadist di atas disampaikan dengan redaksi yang berbeda, yaitu :&lt;br /&gt;
عن ابى هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ص.م. يقول: ما بهيتكم عنه فاجتنبوه وما امرتكم به فافعلوه ما استطعتم. (رواه البجارى ومسلم)&lt;br /&gt;
“dari Abu Hurairah r.a. ia berkata : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : apa-apa yang kami cegah dari kamu semua maka jauhilah dan apa-apa yang kami perintahkan kepadamu sekalian perbuatlah menurut kemampuanmu”. (HR. Bukhori-Muslim)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
g. Hadits Syaz&lt;br /&gt;
Hadits syaz adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang terpercaya, yang berbeda dalam matan atau sanadnya dengan riwayat rawi yang relatif lebih terpercaya, serta tidak mungkin dikompromikan antara keduanya. Contoh: hadits syaz dalam matan adalah hadits yang diriwayatkan oleh muslim, dari Nubaisyah Al-Hudzali, dia berkata, Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;
ايام التشريق ايام اكل وشرب (رواه موسى بن على)&lt;br /&gt;
Artinya:&lt;br /&gt;
“hari-hari tasyrik adalah hari-hari makan dan minum”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Status Kehujahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cacat yang terdapat pada hadits dhoif berbeda-beda. Hal ini berimbas pada tingkatan (martabat) hadits-hadits dhoif juga mengalami perbedaan. Dari hadits yang mengandung cacat pada rawi (sanad) atau matannya, yang paling rendah martabatnya adalah hadits maudhu’, kemudian hadits matruk, hadits munkar, hadits muallal, hadits mudraj dan hadits maqlub. Sedangkan untuk hadits yang gugur rawi atau sejumlah rawinya yang paling lemah adalah hadits muallaq, hadits mudal, hadits munqoti’ dan hadits mursal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan hal tersebut maka dalam hal kebolehannya (kehujjahan) hadits dhoif untuk diamalkan terdapat beberapa pendapat: &lt;br /&gt;
Pendapat pertama, hadits dhoif tersebut dapat diamalkan secara mutlak, yakni baik yang berkenaan dengan masalah halal dan haram, maupun yang berkaitan dengan kewajiban dengan syarat tidak ada hadits lain yang menerangkannya. Pendapat ini disampaikan oleh beberapa imam, seperti imam Ahmad bin Hambal, Abu Dawud dan sebagainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat ini tentunya berkenaan dengan hadits yang tidak terlalu dhoif, karena hadits yang dhoif itu ditinggalkan para ulama’. Disamping itu pula hadits dhoif itu tidak boleh bertentangan dengan hadits yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat kedua dipandang baik mengamalkan hadits dhoif dalam fadaitul amal, baik yang berkaitan dengan hal-hal yang dianjurkan maupun dilarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segolongan ulama’ yang dipimpin oleh Syaikh Muhyiddin an-Nawawi menyatakan : sudah menjadi kesepakatan ulama akan diperbolehkannya menggnakan hadits dhoif sebagai dalil untuk fadaitul amal. Ibnu Daqiq al’Id memberikan syarat dibolehkannya penggunaan hadits dhoif dalam fadaitul amal :&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits dhoif itu harus benar-benar ada berdasarkan sumber yang asli. Artinya bukan rekayasa seseorang.&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak menganggapnya sebagai hadits shahih ketika mengamalkannya, tetapi menganggapnya sebagai langkah antisipatif saja.&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Telah disepakati&amp;nbsp; untuk diamalkan, yaitu hadits dhoif yang tidak terlalu dhoif. &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits dhoif yang bersangkutan berada di bawah suatu dalil yang umum, sehingga tidak bisa diamalkan hadits dhoif yang sama sekali tidak memiliki dalil pokok. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Pendapat yang ketiga, hadits dhoif sama sekali tidak dapat diamalkan, baik yang berkaitan dengan fadaitul amal maupun yang berkaitan dengan halal-haram.&lt;br /&gt;
Dalam hal ini penulis lebih condong pada pendapa yang ketiga, dengan sebuah argumen bahwa masih banyak hadits shahih yang lebih kuat dasar hukumnya yang masih bisa kita jadikan sandaran hukum. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Kitab-Kitab Yang Memuat Hadits Dha’if&lt;br /&gt;
1. Al-Maudu’at, karya Al-Imam Al-Hafiz Abul Faraj Abdur Rahman bin Al-Jauzi (579 H)&lt;br /&gt;
2. Al-Laali Al- Masnuah fi Al-Hadits Al-Mauduah, Karya Al-Hafiz Jalaludin Al-Suyuti (911 H)&lt;br /&gt;
3. Tanzih Al-Syariah Al-Marfuah An Al-Ahadits Al-Syaniah Al-Mauduah, karya Alhafizh Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Bun Iraq Al-Kannani (963 H)&lt;br /&gt;
4. Al-Manar Al-Munif fi Shahih wa Al-Dafi, karya Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah ( 751 H )&lt;br /&gt;
5. Al-Masnu fi Al-Hadits Al-Maudu’ karya Ali Al-Qari ( 1014 H )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;BAB III&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan pembahasan masalah yang terurai pada bagian terdahulu, maka dapat disimpulkan:&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menurut bahasa dha’if berarti aziz yang artinya yang lemah, dan menurut istilah adalah yang tidak terkumpul sifat-sifat shahih dan yang tidak terkumpul sifat-sifat hadits hasan.&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembagian hadits dha’if ada dua bagian yaitu: hadits dha’if karena gugurnya rawi dan cacat pada rawi dan matan. &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adanya Kekurangan pada Perawinya :&lt;br /&gt;
•Dusta (hadits maudlu)&lt;br /&gt;
•Tertuduh dusta (hadits matruk)&lt;br /&gt;
•Fasik, yaitu banyak salah lengah dalam menghafal&lt;br /&gt;
•Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal&lt;br /&gt;
•Menyalahi riwayat orang kepercayaan&lt;br /&gt;
•Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham)&lt;br /&gt;
•Penganut Bid’ah (hadits mardud)&lt;br /&gt;
•Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena Sanadnya Tidak Bersambung &lt;br /&gt;
•Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq&lt;br /&gt;
•Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal&lt;br /&gt;
•Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal&lt;br /&gt;
•Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kehujjahan penggunaan hadits dhoif ada tiga :&lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Boleh secara mutlak, baik itu berkaitan dengan halal dan haram dan kewajiban asalkan hadits tersebut tidak terlalu dhoif.&lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Boleh hanya dalam hal yang berkaitan dengan fadaitul amal, itupun disertai dengan beberapa syarat.&lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak boleh diamalkan dengan karena hadits yang dhoif lebih mendekati dengan palsu padahal masih banyak hadits shohih yang masih bisa digunakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;BIBLIOGRAFI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alwi, Muhammad. 2006. Ilmu Ushul Hadits. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. &lt;br /&gt;
As-Shalih, Subhi. 1997. Membahas Ilmu-ilmu Hadits. Jakarta: Pustaka Firdaus.&lt;br /&gt;
Ash-shiddieqy, Hasbi. 1954. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Bulan Bintang.&lt;br /&gt;
Asyraf. 2004. Hukum Mengamalkan Hadits Dhoif. Jakarta: Pustaka Azzam.&lt;br /&gt;
Ismail, Shuhudi. 1993. Hadits Nabi Menurut Pembela dan Pemalsunya. Jakarta: Gema Insani Press.&lt;br /&gt;
Muhammad, Ahmad, dkk. 2000. Ulumul Hadits. Bandung: CV. Pustaka Setia.&lt;br /&gt;
Soetari, Endang. 1997. Ilmu Hadits. Bandung: Amal Bakti Press. Drs. H. Muhammad Ahmad Dr. Subhi Sholih, ulumu al-hadits wa musthalaluhu, hal. 180. &lt;br /&gt;
Muhammad, ulumul hadits. ibid.,hal. 159-160.&lt;br /&gt;
DR. Asyraf bin Sa’id. 2004. Hukum Mengamalkan Hadits Dhoif. Jakarta: Pustaka Azzam. Hal 29-30.</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/makalah-tentang-hadits-dloif-macam-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOw3Oo3Oxl3gP-pu81bwqcgOKd5_Oz9CnKGTXVxzeZ3gM0fLp0weI6g9nhY7ym78PQ8bDbitrxc2AQKhuroxS6PCpBlmJYBiCtpeWWXQEwy5idATR8KlfPjgkeUqvv9IfsorWvwqCbaM4/s72-c/Makalah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-5685179378921033452</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 14:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T07:21:05.148-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Islami</category><title>Para Penghuni Gua</title><description>&lt;h2&gt;
&lt;b&gt;Para Penghuni Gua&lt;/b&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;b&gt;Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai)&lt;br /&gt;prasasti itu mereka, termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan.(QS Al Kahfi 9).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Surat ke 18 Al Qur’an dinamakan dengan “Al-Khaf” yang berarti “gua”, menceritakan tentang&lt;br /&gt;sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua untuk bersembunyi dari penguasa yang mengingkari Allah dan melakukan penindasan dan perbutan tidak adil atas mereka yang beriman. Ayatayat yang menerangkan tentang hal ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunya) prasasti&lt;br /&gt;itu mereka, termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan?. (ingatlah) tatkala pemudapemuda itu encari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami&lt;br /&gt;bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih&lt;br /&gt;tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tingal (di dalam gua itu). Kami menceritakan&lt;br /&gt;kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesunguhnya mereka itu adalah&lt;br /&gt;pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka&lt;br /&gt;petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka&lt;br /&gt;berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan&lt;br /&gt;selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh&lt;br /&gt;dari kebenaran”. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk&lt;br /&gt;disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan&lt;br /&gt;mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orrang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?. Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu . Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka dalam tempat yang yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari anda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan&lt;br /&gt;mereka ke kanan dan kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. Dan demikianlah Kami bangunkan merka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapalamakah kamu berada (disini)?”. Mereka menjawab” “Kita berada (disini) sehari atau etengah hari”. Berkata (yang lain lagi) “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (disini). Maka suruhlah salah satu orang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya jika mereka dapat mengatahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar&lt;br /&gt;kamu dengan batu atau memaksamu kembali kepada agama mereka dan jika demikian nisaya&lt;br /&gt;kamu tidak akan beruntung selama-lamanya:.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dan demikianlah (kami) mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu&lt;br /&gt;mengetahui bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan diatasnya”. Nanti (ada orang yang akan ) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib: dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya” Katakanlah : “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammmad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun diantara mereka.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap seuatu ; “Sesungguhnya aku akan&lt;br /&gt;mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada&lt;br /&gt;Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah; “Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petunjuk&lt;br /&gt;kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Katakanlah: ” Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-&lt;br /&gt;Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan&lt;br /&gt;alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain daripada-Nya’ dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”.&lt;br /&gt;(QS Al Kahfi 9-26).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menurut kepercayaan yang berkembang luas di kalangan pengikut agama Islam dan Kristen,&lt;br /&gt;yang dimaksudkan dengan para Penghuni Gua adalah warga negara dari tiran yang kejam dari&lt;br /&gt;kekaisaran Romawi bernama Decius. Dikarenakan menemui penindasan dan tindakan sewenang1-wenang, sekelompok orang muda ini memperingatkan kaumnya berkali-kali untuk tidak meninggalkan agama Allah. Ketidakacuhan dari kaumnya terhadap pesan-pesan tersebut dijawab dengan peningkatan penindasan oleh pihak kekaisaran dan mereka diancam untuk dibunuh, hal ini mengakibatkan mereka untuk meninggalkan rumah mereka (berlilndung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikabarkan oleh catatan sejarah, pada saat itu, banyak kekaisaran yang&lt;br /&gt;melaksanakan kebijakan teror secara meluas, penindasan dan tindakan sewenang-wenang terhadap&lt;br /&gt;mereka yang percaya kepada agama Kristen dalam bentuk dan asalnya yang murni.&lt;br /&gt;Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Gubernur Romawi Pilinius (69-113 M) yang berada di&lt;br /&gt;Barat Laut Anatolia kepada Kaisar Trayanus, ia menghubungkannya dengan “orang-orang Messiah&lt;br /&gt;(Kristen) yang dihukum karena mereka menolak untuk menyembah patung dari sang kaisar”. Surat ini adalah salah satu dokumen terpenting yang berkaitan dengan penindasan yang menimpa orang-orang Kristen pada masa awalnya. Berada dalam situasi seperti ini, maka orang-orang muda ini yang diperintahkan untuk tunduk kepada system yang non-agama dan untuk menyembah seorang kaisar sebagai tuhan selain Allah, merekapun tidak menerima hal ini dan mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata:&lt;br /&gt;“Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia,&lt;br /&gt;sesungguhnya kami kalu demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?.(QS Al Kahfi 14-15).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan daerah dimana Para Penghuni Gua hidup, terdapat beberapa pandangan&lt;br /&gt;yang berbeda. Yang paling bisa diterima dengan akal daerah ini adalah Ephesus dan Tarsus.&lt;br /&gt;Hampir semua sumber dari agama Kristen menunjukkan Ephesus adalah tempat dari Gua&lt;br /&gt;dimana orang-orang muda yang beriman ini berlindung. Beberapa peneliti Muslim dan pengamat Al&lt;br /&gt;Qur’an setuju dengan pendapat kaum Kristen tentang Ephesus. Beberapa yang lainnya menerangkan&lt;br /&gt;dengan terperinci bahwa tempat tersebut bukanlah Ephesus, dan kemudian berusaha untuk membuktikan bahwa kejadian tersebut terjadi di Tarsus. Dalam penelitian ini, kedua alternatif ini akan dibahas. Lagipula, semua peneliti dan pengamat – termasuk kalangan Kristen – mengatkan bahwa kejadian tersebut terjadi pada masa Kekaisaan Romawi Decius ( yang juga disebut dengan Decianus) sekitar 250 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Decius bersama dengan Nero dikenal sebagai Kaisar Romawi yang sangatlah sering menyiksa&lt;br /&gt;kaum Kristen. Dalam masa pemerintahannya yang singkat, ia mengesahkan sebuah hukum yang&lt;br /&gt;memaksa semua orang yang berada di bawah kekuasaannya untuk melakukan sebuah pengorbanan&lt;br /&gt;terhadap dewa-dewa Roawi. Seiap orang diwajibkan untuk melakukan pengorbanan terhadap dewadewa ini dan mereka harus mampu menunjukkan surat sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah melakukan pengorbanan tersebut yang harus mereka tunjukkan kepada petugas pemerintahan. Bagi mereka yang tidak mematuhinya akan dibunuh. Dalam sumber-sumber Kristen hal ini dikatakan bahwa sebagian besar dari kaum Kristen menolak perilaku musyrik ini dan melarikan diri dari “satu kota ke kota lain” atau bersembunyi di tempat rahasia. Para Penghuni gua kemungkinan besar adalah salah satu kelompok diantara para kaum Kristen awal ini. Namun demikian ada satu hal yang harus ditekankan disini; topik ini telah diceritakan dalam sebuah cerita (perilaku) oleh banyak ahli sejarah dan pengamat Islam dan Kristen, dan akhirnya berubah menjdi sebuah legenda sebagai hasil dari penambahan-penambahan yang penuh dengan kepalsuan dan cerita mulut ke mulut. Namun demikian, kejadian ini adalah benar-benar merupakan kenyataan sejarah yang tidak apat diingkari.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Adakah Para Penghuni Gua berada di Ephesus&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
Sebagaimana diketahui kota dimana orang-orang muda ini hidup dan gua dimana mereka&lt;br /&gt;berlindung, beberapa tempat diindikasikan dalam berbagai sumber yang berbeda. Alasan utama untuk&lt;br /&gt;alasan ini adalah : orang-orang ingin percaya bahwa sebuah keteguhan hati dan keberanian dari orangorag yang hidup dikotanya dan banyaknya kesamaan antara gua-gua yang ada di daerah tersebut. Sebagai contoh, hampir di semua tempat ini terdapat tempat untuk menyembah dikatakan dibangun diatas gua-gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikenal luas, Ephesus diterima sebagai sebuah tempat suci bagi orang Kristen,&lt;br /&gt;karena dikota tersebut terdapat sebuah rumah yang dikatakan menjadi milik Perawan Maria dan yang&lt;br /&gt;kemudian berubah menjadi sebuah gereja. Jadi sangatlah mungkin bahwa Para Penghuni Gua pernah&lt;br /&gt;hidup disalah datu diantara tempat-tempat suci tersebut. Beberapa sumber Kristen bahkan menegaskan bahwa tempatnya adalah disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber tertua yang berkaitan dengan hal ini adalah dari seorang pendeta Syria bernama James&lt;br /&gt;dari Saruc ( lahir 452 M). Ahli sejarah terkemuka Gibbon telah banyak mengutip dari penelitian James dalam bukunya yang berjudul The Decline and Fall of the Roman Empire (Kemunduran dan runtuhnya Kekaisaan Romawi). Berdasarkan buku ini, Kaisar yang melakukan penyiksaan tujuh pemuda pemeluk agama Kristen dan memamksa mereka untuk bersembunyi di dalam gua adalah kaisar Decius. Decius berkuasa di Kekaisaan Romawi antara 249-251 M dan masa pemerinahannya dikenal luas terhadap penyiksaan yang dilakukan terhadap para pengikut Nabi Isa (Jesus). Menurut para pengamat Islam, daerah dimana kejadian tersebut terjadi adalah “Aphesus” atau juga “Aphesos”. Menurut Gibbon nama dari tempat ini adalah Ephesus. Terletak di pantai Barat Anatolia, kota ini adalah salah satu pelabuhan dan kota terbesar dari kekaisaran Romawi. Saat ini reruntuhan dari kota ini dikenal sebagai “Kota Antik Ephesus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama dari kaisar yang memerintah dalam masa ketika para Penghuni Gua dibangunkan dari tidur mereka yang panjang adalah Tezusius menurut para peneliti Muslim, dan menurut Gibon adalah&lt;br /&gt;Theodosius II menurut Gibbons. Kekaisaran ini berkuasa antra 408-450 M, setelah kekaisaran Romawi berubah memeluk agama Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ayat dibawah ini, dalam beberapa komentarnya dikatakan bahwa pintu masuk dari gua&lt;br /&gt;mengarah ke Utara sehingga sinar matahari tidak bisa menembus ke alam gua. Dengan demikian&lt;br /&gt;seseorang yang melewati gua tersebut tidak dapat melihat sama sekali apa yang ada didalamnya. Ayat&lt;br /&gt;Al Qur’an yang berkaian dengan hal ini mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan,&lt;br /&gt;dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka dalam tempat&lt;br /&gt;yang yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari anda-tanda (kebesaran) Allah.&lt;br /&gt;Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.( QS Al Kahfi: 17).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli Arkeologis Dr. Musa Baran menunjuk Ephesus sebagai tempat dimana sekelompok orang muda yang beriman ini hidup, dalam bukunya yang berjudul “Ephesus” dia menambahkan :&lt;br /&gt;Di tahun 250 SM, tujuh orang pemuda yang idup di Ephesus memilih untuk memeluk agama Kristen dan menolak penyembahan terhadap berhala . Mencoba untuk mencari jalan keluar, sekelompok pemuda ini menemukan sebuah gua yang berada di sebelah Timur lereng gunung Pion. Tentara Romawi yang melihat ini dan merekapun membangun dinding di pintu gua tersebuti. Saat ini, telah diketahi bahwa diatas reruntuhan tua dan kuburan ini banyak didirikan bangunan religius. Penggalian yang dilakukan oleh Institut Arkrologi Austria di ahun 1926 mengungkapkan bahwa reruntuhan yang ditemukan di lereng Timur dari gunung Pion merupakan sebuah bangunan yang didirikan untuk kepentingan Para Penghuni Gua di pertengahan abad 7 (selama masa kepemimpinan Theodosius II).&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;b&gt;Apakah Para Penghuni Gua ada di Tarsus ?&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
Tempat kedua yang diajukan sebagai tempat dinama Penghuni Gua pernah hidup adalah Tarsus.&lt;br /&gt;Ternyata memang benar terdapat sebuah gua yang mirip dengan gua yang disebutkan dalam Al Qur’an yang terletak di sebuah gunung dikenal bail sebagai Encilus atau Bencilus yang terletak di Barat Laut Tarsus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang menyatakan bahwa Tarsus adalah tempat yang tepat adalah pandangan dari banyak ilmuwan Islam. Satu dari salah seorang ahli tafsir terkemuka Al Qur’an, at-Tabari menetapkan bahwa nama gunung dimana gua tersebut berada adalah “Bencilus”dalam bukunya yang berjuful “Tarikh al-Umam, dan ditambahkan bahwa gunung ini terletak di Tarsus. Gua di Tarsus yang diduga merupakan gua yang dihuni para Penghuni Gua. Ahli Tafsir Al Qur’an lain bernama Muhammad Emin menyatakan bahwa nama dari gunung tersebut adalah “Pencilus” yang ada di Tarsus, yang kadang-kadang diucapkan sebagai “Encilus”. Menurutnya perbeaan huruf disebabkan perbedaan pengucapan huruf “B” atau oleh hilangnya huruf dari kata aslinya yang hal ini disebut dengan “historical word abrasion/ abrasi kata-kata sejarah)”. Fakhrudin ar-Razi seorang ulama al-Qur’an terkenal yang lain, menerangkan dalam penelitiannya bahwa : Meskipun tempat ini disebut dengan Ephesus, maksud dasarnya untuk mengatakan Tarsus disini, sebab Ephesus hanyalah nama lain dari Tarsus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai tambahan dalam tafsir Qadi al-Baidlawi dan an-Nasafi, dalam tafsir al-Jalalain dan&lt;br /&gt;dalam at-Tibyan, dalam komentar-komentar dari Elmali dan O. Nasuhi Bilmen, dan banyak ilmuwan/&lt;br /&gt;ulama lainnya, tempat ini ditunjuk sebagai “Tarsus”. Disamping itu kesemua ahli tafsir ini menerangkan bahwa kalimat dalam ayat 17, “ matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri” dengan mengatakan bahwa mulut gua di pegunungan terlihat ke arah Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni Gua menjadi subjek perhatian dan juga pada masa kekaisran Turki Usmani dan banyak peneliti yang melakukan penelitian atas hal ini. Mereka mengadakan korespondensi dan pertukaran informasi tentang hal ini dalam arsip perdana Menteri Turki Usmani. Sebagai contoh dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada Penguasa Perbendharaan Negeri Turki Usmani oleh pemerintah local Trasus, terdapat sebuah permintaan resmi dan lampiran yang menyebutkan permintaan mereka untuk memberikan upah kepada orang-orang yang berurusan dengan pembersihan dan pemeliharaan gua Ashab al-Kahfi (Para Penghuni Gua). Dalam jawaban terhadap surat ini menyatakan bahwa agar gaji itu bisa dibayarkan pada para pekerja dengan diambilkan dari perbendaharaan negara, perlu untuk mengatahui apakah tempat ini adalah benar-benar merupakan tempat dimana Para Penghuni Gua pernah berada. Penelitian yang dilakukan untuk tujuan ini sangatlah berguna dalam penentuan letak sebenarnya dari gua tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah laporan yang dipersiapkan setelah melakukan penyelidikan yang dilakukan oleh&lt;br /&gt;Dewan Nasional, dikatakan bahwa : “ Disebelah Utara Tarsus, yaitu propinsi Adana terdapat sebuah gua di gunung, dua jam dari Tarsus dan mulut gua tersebut nampak mengarah ke Utara sebagaimana&lt;br /&gt;dinyatakan dalam Al Qur’an”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan yang berkembang atas siapa para Penghuni Gua, dimana dan kapan mereka hidup,&lt;br /&gt;selalu mengarahkan pihak berwenang untuk mengadakan penelitian terhaap hal ini dan banyak komentar dibuat atas hal ini. Namun belum satupun komentar-komentar ini yang dapat dipertimbangkan kebenarannya, sehingga pertanyataan seperti ; pada masa yang manakah pemuda yang beriman ini hidup dan dimanakah gua yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an, sampai sat ini tetaplah tanpa jawaban yang mendasar.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;b&gt;Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita )oleh orang-orang yang sebelum mereka?. Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak sekali-kali berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS ar Rum 9).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Semua kaum yang telah kita pelajari sampai dengan sekarang, mempunyai beberapa sifat-sifat&lt;br /&gt;yang umum seperti : melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, menyekutukan Allah dengan&lt;br /&gt;yang lain, berlaku sombong di muka bumi, dengan sewenang-wenang menguasai tanah milik orang lain, cenderung terhadap perilaku seksual yang menyimpang dan angkara murka. Kesamaan umum ciri-ciri yang mereka miliki adalah penindasan dan ketidakadilan mereka terhadap kaum Muslim. Mereka mencoba dengan setiap cara untuk menakut-nakuti kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari peringatan-peringatan yang terdapat dalam Al Qur’an tentu saja tidaklah hanya untuk memberikan berbagai pelajaran sejarah. Al Qur’an menyatakan bahwa cerita-cerita tentang para nabi diceritakan hanya untuk memberikan sebuah “permisalan”. Para Nabi yang telah terlebih dahulu meninggal haruslah membawa mereka yang datang setelah mereka ke jalan yang benar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Maka tidaklah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu?. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (QS Thaha 128).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menyadari semua ini merupakan “contoh-contoh/petunjuk” maka kita dapat melihat&lt;br /&gt;bahwa sebagain dari masyarakat kita tidak lebih baik, dalam hal kemerosotan moral dan pelanggaran&lt;br /&gt;dibandingkan dengan kaum-kaum yang dibinasakan dan yang disebutkan dalam kisah-kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, sebagian besar masyarakat saat ini mempunyai jumlah pelaku sodomi dan&lt;br /&gt;homoseksual yang sangat banyak yang mengingatkan kita kepada “kaum Lut”. Homoseksual,&lt;br /&gt;melakukan pesta seks dengan “para pemuka dari suatu masyarakat”,mempertontonkan segala macam&lt;br /&gt;penyimpangan seksual mengalahkan rekan-rekan mereka di Sodom dan Gomorrah. Khususnya&lt;br /&gt;sekelompok orang dari mereka yang hidup dikota-kota besar di dunia yang telah “berkembang lebih&lt;br /&gt;lanjut” dari pada mereka yang ada di Pompeii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kaum yang telah kita pelajari diatas, mereka telah dibinasakan melalui berbagai macam&lt;br /&gt;bencana alam seperti gempa bumi, badai, banjir dan sebagainya. Sama halnya, kaum-kaum yang tersesat dan berani melakukan tindakan pelanggaran seperti halnya orang-orang di masa lalu, juga akan dihukum dengan cara yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya tidak kita lupakan bahwa Allah akan menghukum siapapun orang ataupun bangsa bila Ia berkehendak. Atau Ia akan membiarkan brangsiapa yang Ia ingini untuk tetap hidup biasa di dunia ini (meskipun mereka mengingkari ajaranNya- pen) namun menghukumnya di alam (akhirat) nanti. Al Qur’an menyatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka&lt;br /&gt;ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada ditimpa dengan suara yang keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS Al Ankabut 40).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur’an juga menceritakan tentang seorang penganut yang berasal dari keluarga Fir’aun dan hidup dalam masa nabi Musa, namun yang menyembunyikan keimanannya. Ia berkata kepada kaumnya&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;“Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa&lt;br /&gt;kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) Seperti keadaan kaum Nuh, Aad, Tsamud dan&lt;br /&gt;orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman&lt;br /&gt;terhadap hamba-hambaNya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Hai kaumku , sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggilmemanggil.&lt;br /&gt;(yaitu) Hari ketika kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah , dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. QS . Al-Mukmin: 30-33).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua Nabi dan Rasul memperingatkan kaumnya, menunjukan kepada mereka tentang Hari&lt;br /&gt;Pembalasan/Kiamat dan mencoba membuat mereka takut akan azab dari Allah, sebagaimana yang&lt;br /&gt;dilakukan pengikut yang menyembunyikan kepercayaannya ini. Kehidupan dari semua Nabi dan&lt;br /&gt;pembawa risalah dikirimkan untuk menerangkan hal-hal ini kepada kaum mereka berulang-ulang kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Namun demikian, kebanyakan dari kaum dimana mereka diutus menuduh mereka sebagai penuh dengan kebohongan, memperoleh keuntungan materi atau mencoba untuk memaksakan keunggulannya atas mereka dan merekapun melanjutkan melakukan system mereka sendiri tanpa memikirkan apa yang tekah dikatakan para nabi kepada mereka atau tanpa mempertanyakan perbuatan mereka. Banyak diantara mereka yang telah bertindak terlalu jauh dan mencoba untuk membunuh atau mengusir para pengikut nabi. Jumlah orang-orang yang percaya dan patuh, seringkali sangat sedikit. Namun bagaimanapun juga dalam kasus masyarakat-masyarakat yang pengingkaran, Allah senantiasa hanya menyelamatkan para Nabi dan pengikut-pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ribuan tahun telah berlalu, dan terjadi berbagai perubahan dalam tempat, perilaku, teknologi dan peradaban, namun belum banyak yang telah berubah dalam struktur sosial dan system dari mereka yang tidak percaya yang telah disebutkan di atas. Sebagaimana telah ditekankan diatas, sejumlah tertentu dari suatu masyarakat dimana kita hidup memiliki semua sifat-sifat corrupt dari kaum-kaum yang disebutkan dalam Al Qur’an. Seperti halnya KaumThamud sebagai tolok ukurnya, saat ini juga terdapat sejumlah besar pemalsu dan penipu. Keberadaan “komunitas homoseksual” yang dipertahankan kapan saja bila perbuatan itu muncul, dan para anggotanya yang tidak berkurang sebagaimana kaum Lut dalam perilaku penyimpangan seksual yang telah mencapai puncaknya. Sejumlah besar dari masyarakat berlaku sebagaimana kaum Saba yang tidak bersyukur dan dan ingkar, tidak bersyukur atas kekayan yang dianugerahkan kepada mereka sebagimana halnya kaum Iram, ketidakpatuhan dan penghinaan terhadap para penganut sebagaimana kaum Nuh dan ketidakacuhan terhadap keadilan social sebagaimana halnya kaum ‘Ad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini terdapat tanda-tanda yang sangat jelas ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kita harus selalu mencamkan dalam pikian kira bahwa bagaimanapun perbedaan yang datang dari berbagai masyarakat atau bagaimanapun tinggi tingkat teknologi,hal ini tidak ada artinya sama sekali. Tidak ada satupun dari hal ini yang mampu menyelamatkan seseorang dari hukuman dan azab&lt;br /&gt;Allah. Al Qur’an mengingatkan kita atas semua kenyataan ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan&lt;br /&gt;bagaimana akibat (yang diderita )oleh orang-orang yang sebelum mereka?. Orang-orang itu&lt;br /&gt;adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak sekali-kali berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.(QS ar Rum 9).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS Al Baqoroh 32 ).&lt;/b&gt;</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/para-penghuni-gua.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-6364946903024973397</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 12:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T06:37:39.042-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><title>Penjual Minyak Wangi Dan Seuntai Kalung</title><description>Jum&#39;at, 19 Juli 2013&lt;br /&gt;Seorang pemuda tiba di Baghdad dalam perjalanannya menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ia membawa seuntai kalung senilai seribu dinar. Ia sudah berusaha keras untuk menjualnya, namun tidak seorang pun yang mau membelinya. Akhirnya ia menemui seorang penjual minyak wangi yang terkenal baik, kemudian menitipkan kalungnya. Selanjutnya ia meneruskan perjalanannya. &lt;br /&gt;Selesai menunaikan ibadah haji ia mampir di Baghdad untuk mengambil kembali kalungnya. Sebagai ucapan terima kasih ia membawa hadiah untuk penjual minyak wangi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Saya ingin mengambil kembali kalung yang saya titipkan, dan ini sekedar hadiah buat Anda,&quot; katanya.&lt;br /&gt;&quot;Siapa kamu? Dan hadiah apa ini?,&quot; tanya penjual minyak wangi.&lt;br /&gt;&quot;Aku pemilik kalung yang dititipkan pada Anda,&quot; jawabnya mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Tanpa banyak bicara, penjual minyak wangi menendangnya dengan kasar, sehingga ia hampir jatuh terjerembab dari teras kios, seraya berkata, &quot;Sembarangan saja kamu menuduhku seperti itu.&quot;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian orang-orang berdatangan mengerumuni pemuda yang malang itu. Tanpa tahu persoalan yang sebenarnya, mereka ikut menyalahkannya dan membela penjual minyak wangi. &quot;Baru kali ada yang berani menuduh yang bukan-bukan kepada orang sebaik dia,&quot; kata mereka.&lt;br /&gt;Laki-laki itu bingung. Ia mencoba memberikan penjelasan yang sebenarnya. Tetapi mereka tidak mau mendengar, bahkan mereka mencaci maki dan memukulinya sampai babak belur dan jatuh pingsan. &lt;br /&gt;Begitu siuman, ia melihat seorang berada di dekatnya. &quot;Sebaiknya kamu temui saja Sultan Buwaihi yang adil; ceritakan masalahmu apa adanya. Saya yakin ia akan menolongmu,&quot; kata orang yang baik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dengan langkah tertatih-tatih pemuda malang ini menuju kediaman Sultan Buwaihi. Ia ingin meminta keadilan. Ia menceritakan dengan jujur semua yang telah terjadi.&lt;br /&gt;&quot;Baiklah, besok pagi-pagi sekali pergilah kamu menemui penjual minyak wangi itu di tokonya. Ajak ia bicara baik-baik. Jika ia tidak mau, duduk saja di depan tokonya sepanjang hari dan jangan bicara apa-apa dengannya. Lakukan itu sampai tiga hari. Sesudah itu aku akan menyusulmu. Sambut kedatanganku biasa-biasa saja. Kamu tidak perlu memberi hormat padaku kecuali menjawab salam serta pertanyaan-pertanyaanku,&quot; kata Sultan Buwaihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pagi-pagi buta pemuda itu sudah tiba di toko penjual minyak wangi. Ia minta izin ingin bicara, tetapi ditolak. Maka seperti saran Sultan Buwaihi, ia lalu duduk di depan toko selama tiga hari, dan tutup mulut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pada hari keempat, Sultan datang dengan rombongan pasukan cukup besar. &quot;Assalamu&#39;alaikum,&quot; kata Sultan.&lt;br /&gt;&quot;Wa&#39;alaikum salam,&quot; jawab pemuda acuh tanpa gerak.&lt;br /&gt;&quot;Kawan, rupanya kamu sudah tiba di Baghdad. Kenapa Anda tidak singgah di tempat kami? Kami pasti akan memenuhi semua kebutuhan Anda,&quot; kata Sultan.&lt;br /&gt;&quot;Terima kasih,&quot; jawab pemuda itu acuh, dan tetap tidak bergerak.&lt;br /&gt;Saat Sultan terus menanyai pemuda ini, rombongan pasukan yang berjumlah besar itu maju merangsak. Karena takut dan gemetar melihatnya, si penjual minyak wangi jatuh pingsan. Begitu siuman, keadaan di sekitarnya sudah lengang. Yang ada hanya sang pemuda, yang masih tetap duduk tenang di depan toko. Penjual minyak wangi menghampirinya dan berkata:&lt;br /&gt;&quot;Sialan! Kapan kamu titipkan kalung itu kepadanya? Kamu bungkus dengan apa barang tersebut? Tolong bantu aku mengingatnya.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Si Pemuda tetap diam saja. Ia seolah tidak mendengar semuanya. Penjual minyak wangi sibuk mondar-mandir kesana kemari mencarinya. Sewaktu ia mengangkat dan dan membalikkan sebuah guci, tiba-tiba jatuh seuntai kalung.&lt;br /&gt;&quot;Ini kalungnya. Aku benar-benar lupa. Untung kamu mengingatkan aku,&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sumber: Akhbar Adzkiya, Ibn Al-Jauzi</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/penjual-minyak-wangi-dan-seuntai-kalung.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-8209019444376815252</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 12:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T06:37:39.050-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><title>AL-BALKHI dan Si BURUNG PINCANG</title><description>Jum&#39;at, 19 Juli 2013&lt;br /&gt;Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. &quot;Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Dalam perjalanan&quot;, jawab al-Balkhi, &quot;aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan&quot;.&lt;br /&gt;&quot;Keanehan apa yang kamu maksud?&quot; tanya Ibrahim bin Adham penasaran.&lt;br /&gt;&quot;Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak&quot;, jawab al-Balkhi menceritakan, &quot;aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. &quot;Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa&quot;.&lt;br /&gt;&quot;Tidak lama kemudian&quot;, lanjut al-Balkhi, &quot;ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?&quot; tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.&lt;br /&gt;&quot;Maka aku pun berkesimpulan&quot;, jawab al-Balkhi seraya bergumam, &quot;bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja&quot;. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, &quot;wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, &quot;wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik&quot;. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma&#39;dikarib radhiyallahu &#39;anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: &quot;Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud &#39;alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri&quot; (HR. Bukhari).</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/al-balkhi-dan-si-burung-pincang.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-6844822760925644987</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 12:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T06:37:39.046-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><title>Wanita Pemerah Susu dan Anak Gadisnya</title><description>Jum&#39;at, 19 Juli 2013&lt;br /&gt;
Pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab hiduplah seorang janda miskin bersama seorang anak gadisnya di sebuah gubuk tua di pinggiran kota Mekah. Keduanya sangat rajin beribadah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Setiap pagi, selesai salat subuh, keduanya memerah susu kambing di kandang. Penduduk kota Mekah banyak yang menyukai susu kambing wanita itu karena mutunya yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pada suatu malam, Khalifah Umar ditemani pengawalnya berkeliling negeri untuk melihat dari dekat keadaan hidup dan kesejahteraan rakyatnya. Setelah beberapa saat berkeliling, sampailah khalifah di pinggiran kota Mekah. Beliau tertarik melihat sebuah gubuk kecil dengan cahaya yang masih tampak dari dalamnya yang menandakan bahwa penghuninya belum tidur. Khalifah turun dari kudanya, lalu mendekati gubuk itu. Samar-samar telinganya mendengar percakapan seorang wanita dengan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Anakku, malam ini kambing kita hanya mengeluarkan susu sedikit sekali. Ini tidak cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan kita besok pagi,&quot; keluh wanita itu kepada anaknya.&lt;br /&gt;Dengan tersenyum, anak gadisnya yang beranjak dewasa itu menghibur, &quot;Ibu, tidak usah disesali. Inilah rezeki yang diberikan Allah kepada kita hari ini. Semoga besok kambing kita mengeluarkan susu yang lebih banyak lagi.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Tapi, aku khawatir para pelanggan kita tidak mau membeli susu kepada kita lagi. Bagaimana kalau susu itu kita campur air supaya kelihatan banyak?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Jangan, Bu!&quot; gadis itu melarang. &quot;Bagaimanapun kita tidak boleh berbuat curang. Lebih baik kita katakan dengan jujur pada pelanggan bahwa hasil susu hari ini hanya sedikit. Mereka tentu akan memakluminya. Lagi pula kalau ketahuan, kita akan dihukum oleh Khalifah Umar. Percayalah, ketidakjujuran itu akan menyiksa hati.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari luar gubuk itu, Khalifah Umar semakin penasaran ingin terus mendengar kelanjutan percakapan antara janda dan anak gadisnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Bagaimana mungkin khalifah Umar tahu!&quot; kata janda itu kepada anaknya. &quot;Saat ini beliau sedang tertidur pulas di istananya yang megah tanpa pernah mengalami kesulitan seperti kita ini?&quot;&lt;br /&gt;Melihat ibunya masih tetap bersikeras dengan alasannya, gadis remaja itu tersenyum dengan lembut dan berkata, &quot;Ibu, memang Khalifah tidak melihat apa yang kita lakukan sekarang. Tapi Allah Maha Melihat setiap gerak-gerik makhluknya. Meskipun kita miskin, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang dimurkai Allah.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari luar gubuk, khalifah tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Beliau benar-benar kagum dengan kejujurannya. Ternyata kemiskinan dan himpitan keadaan tidak membuatnya terpengaruh untuk berbuat curang. Setelah itu khalifah mengajak pengawalnya pulang.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Umar memerintahkan beberapa orang untuk menjemput wanita pemerah susu dan anak gadisnya untuk menghadap kepadanya. Beliau ternyata bermaksud menikahkan putranya dengan gadis jujur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sungguh sebuah teladan bagi kita semua, bahwa kejujuran karena takut kepada Allah adalah suatu harta yang tak ternilai harganya. Mungkin ini yang sulit kita dapatkan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/wanita-pemerah-susu-dan-anak-gadisnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-8249903335775718922</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 12:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T06:37:39.052-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><title>ABU NAWAS dan Terompah Ajaibnya</title><description>Jum&#39;at, 19 Juli 2013&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgb6PfES1cr3FtwBIl1HWiKEqryRgREwgD4HHMAMrks4xhOA1LLS9Xr3pn5WFl-C28t0JAzU3hunvoFsdiqzaXTzxNpFhDVAAjtprDL811k8wMTLZx3CiSuSoHi2n5EIvyQkCh7aQ610C4/s1600/ABU+NAWAS.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; id=&quot;irc_mi&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgb6PfES1cr3FtwBIl1HWiKEqryRgREwgD4HHMAMrks4xhOA1LLS9Xr3pn5WFl-C28t0JAzU3hunvoFsdiqzaXTzxNpFhDVAAjtprDL811k8wMTLZx3CiSuSoHi2n5EIvyQkCh7aQ610C4/s200/ABU+NAWAS.jpg&quot; style=&quot;margin-top: 57px;&quot; width=&quot;123&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Seketika itu juga Abu Nawas menyadari apa yang terjadi. Ia lalu menjelaskan kejadian yang sebenarnya dari awal hingga akhir. Orang-orang pun percaya pada penuturan Abu Nawas. Sebab, selama ini Abu Nawas dikenal sebagai orang yang jujur dan berbudi pekerti baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Setelah orang kampung meninggalkan rumahnya, Abu Nawas pun bermaksud untuk mengembalikan terompah ajaib itu kepada pedagangnya di pasar. Setelah berpamitan pada istrinya, ia segera pergi ke pasar untuk menemui si pedagang terompah tersebut. Tak lama kemudian, sampailah ia di pasar dan menemukan pedagang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Assalamu&#39;alaikum!, ucap Abu Nawas memberi salam.&lt;br /&gt;&quot;Wa&#39;alaikumussalam,&quot; jawab si pedagang, &quot;Ternyata Engkau Tuan, bagaimana kabar Anda?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Kabar jelek. Aku selalu ditimpa kemalangan,&quot; jawab Abu Nawas.&lt;br /&gt;&quot;Ditimpa kemalangan bagaimana?&quot; tanya pedagang itu penasaran.&lt;br /&gt;&quot;Gara-gara terompah ini, aku terus-menerus ditimpa kemalangan. Padahal, dulu Engkau mengatakan bahwa terompah ini bisa mendatangkan keberuntungan. Aku bisa menjadi orang terkenal dan kaya, tetapi mana buktinya? Malah aku sering kena marah orang kampung karena terompah ini.&quot;&lt;br /&gt;Kemudian ia menceritakan beberapa kejadian yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Seingat saya, saya tidak pernah mengatakan seperti itu tuan?&quot; sergah si pedagang tua itu. &quot;Saya mengatakan bahwa bila Tuan mulanya orang yang tidak punya, maka dengan membelinya, Tuan akan menjadi orang yang punya. Buktinya sekarang Tuan telah mempunyai terompah ini dan dikenal oleh orang banyak karena memilikinya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mendengar penuturan pedagang itu, Abu Nawas hanya bisa diam saja. Ia menyadari bahwa dirinya telah salah tafsir. &quot;Tapi…tapi…mengapa terompah ini Engkau katakan terompah ajaib?&quot; tanya Abu Nawas kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Oh, itu?&quot; pedagang tersebut menjawab, &quot;Sebab merek terompah itu adalah Ajaib, sebagaimana dinamakan oleh pembuatnya. Jadi, pantaslah bila saya menyebutnya terompah ajaib, sebagaimana kita menyebut ikan ikan mas. Sebab ikan itu berwarna keemasan.&quot;&lt;br /&gt;Sekali lagi Abu Nawas tidak bisa berkata apa-apa mendengar penuturan pedagang itu. Lantas ia mohon diri begitu saja. &quot;Tapi, tunggu tuan!&quot; cegah pedagang itu ketika melihat Abu Nawas bergegas akan pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Saya ingin mengatakan sesuatu kepada tuan.&quot;Tuan ada sedikit pun rasa percaya bahwa sesuatu selain Allah itu bisa mendatangkan kekayaan atau keberuntungan atau yang lainnya. Sebab, percaya pada sesuatu selain Allah itu bisa membuat kita syirik dan mendapatkan kesusahan baik di dunia maupun di akhirat kelak, buktinya sebagaiman tuan alami. Oleh karena itu, segeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala sebelum semuanya terlambat. Sebab, bagaimana pun juga syirik seperti ini jarang sekali bisa kita sadari, kecuali hanya hamba-hamba Allah yang selalu berserah diri kepada-Nya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mendengar penuturan seperti itu, Abu Nawas baru menyadari kesalahannya. Ternyata banyak sekali hal-hal yang bisa membawa kepada perbuatan yang dimurkai Allah. Mulai saat itulah ia sangat berhati-hati kepada hal-hal yang (kadang-kadang tanpa disadari) akan menjerumuskan kita pada perbuatan syirik terhadap Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia &lt;br /&gt;
</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/abu-nawas-dan-terompah-ajaibnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgb6PfES1cr3FtwBIl1HWiKEqryRgREwgD4HHMAMrks4xhOA1LLS9Xr3pn5WFl-C28t0JAzU3hunvoFsdiqzaXTzxNpFhDVAAjtprDL811k8wMTLZx3CiSuSoHi2n5EIvyQkCh7aQ610C4/s72-c/ABU+NAWAS.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-3555460679644228818</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 11:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T07:21:24.603-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Islami</category><title>Nasehat bagi Para Penguasa</title><description>Jum&#39;at, 19 Juli 2013 &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;img height=&quot;276&quot; id=&quot;irc_mi&quot; src=&quot;http://www.hadila.com/images/37nasehat-penguasa.jpg&quot; style=&quot;margin-top: 0px;&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
Mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng memang perlu keberanian yang tinggi, sebab resikonya besar. Bisa-bisa akan kehilangan kebebasan, mendekam dalam penjara, bahkan lebih jauh lagi dari itu, nyawa bisa melayang. Karena itu, tidaklah mengherankan ketika pada suatu saat Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ditanya oleh seorang sahabat perihal perjuangan apa yang paling utama, maka Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pun menjawab, &quot;Mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Demikian sabda Tasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebagaimana yang dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa&#39;i, Abu Daud, dan Tirmidzi, berdasarkan penuturan Abu Sa&#39;id al-Khudry Radhiyallahu &#39;anhu, dan Abu Abdillah Thariq bin Syihab al-Bajily al-Ahnasyi. Oleh sebab itu, sedikit sekali orang yang berani melakukannya, yakni mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Di antara yang sedikit itu (orang yang pemberani) terdapatlah nama Thawus al-Yamani. Ia adalah seorang tabi&#39;in, yakni generasi yang hidup setelah para sahabat Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, bertemu dengan mereka dan belajar dari mereka. Dikisahkan, suatu ketika Hisyam bin Abdul Malik, seorang khalifah dari Bani Umayyah, melakukan perjalanan ke Mekah guna melaksanakan ibadah haji. Di saat itu beliau meminta agar dipertemukan dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang hidup. Namun sayang, ternyata ketika itu tak seorang pun sahabat Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang masih hidup. Semua sudah wafat. Sebagai gantinya, beliau pun meminta agar dipertemukan dengan seorang tabi&#39;in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Datanglah Thawus al-Yamani menghadap sebagai wakil dari para tabi&#39;in. Ketika menghadap, Thawus al-Yamani menanggalkan alas kakinya persis ketika akan menginjak permadani yang dibentangkan di hadapan khalifah. Kemudia ia langsung saja nyelonong masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam perhormatan pada khalifah yang tengah duduk menanti kedatangannya. Thawus al-Yamani hanya mengucapkan salam biasa saja, &quot;Assalamu&#39;alaikum,&quot; langsung duduk di samping khalifah seraya bertanya, &quot;Bagaimanakah keadaanmu, wahai Hisyam?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Melihat perilaku Thawus seperti itu, khalifah merasa tersinggung. Beliau murka bukan main. Hampir saja beliau memerintahkan kepada para pengawalnya untuk membunuh Thawus. Melihat gelagat yang demikian, buru-buru Thawus berkata, &quot;Ingat, Anda berada dalam wilayah haramullah dan haramurasulihi (tanah suci Allah dan tanah suci Rasul-Nya). Karena itu, demi tempat yang mulia ini, Anda tidak diperkenankan melakukan perbuatan buruk seperti itu!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Lalu apa maksudmu melakukakan semua ini?&quot; tanya khalifah.&lt;br /&gt;&quot;Apa yang aku lakukan?&quot; Thawus balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dengan geram khalifah pun berkata, &quot;Kamu tanggalkan alas kaki persis di depan permadaniku. Kamu masuk tanpa mengucapkan salam penghormatan kepadaku sebagai khalifah, dan juga tidak mencium tanganku. Lalu, kamu juga memanggilku hanya dengan nama kecilku, tanpa gelar dan kun-yahku. Dan, sudah begitu, kamu berani pula duduk di sampingku tanpa seizinku. Apakah semua itu bukan penghinaan terhadapku?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Wahai Hisyam!&quot; jawab Thawus, &quot;Kutanggalkan alas kakiku karena aku juga menanggalkannya lima kali sehari ketika aku menghadap Tuhanku, Allah &#39;Azza wa Jalla. Dia tidak marah, apalagi murka kepadaku lantaran itu.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Aku tidak mencium tanganmu lantaran kudengar Amirul Mukminin Ali Radhiyallahu &#39;anhu pernah berkata bahwa seorang tidak boleh mencium tangan orang lain, kecuali tangan istrinya karena syahwat atau tangan anak-anaknya karena kasih sayang.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Aku tidak mengucapkan salam penghormatan dan tidak menyebutmu dengan kata-kata amiirul mukminin lantaran tidak semua rela dengan kepemimpinanmu; karenanya aku enggan untuk berbohong.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Aku tidak memanggilmu dengan sebutan gelar kebesaran dan kun-yah lantaran Allah memanggil para kekasih-Nya di dalam Alquran hanya dengan sebutan nama semata, seperti ya Daud, ya Yahya, ya &#39;Isa; dan memanggil musuh-musuh-Nya dengan sebutan kun-yah seperti Abu Lahab....&quot;&lt;br /&gt;&quot;Aku duduk persis di sampingmu lantaran kudengar Amiirul Mukminin Ali Radhiyallahu &#39;anhu pernah berkata bila kamu ingin melihat calon penghuni neraka, maka lihatlah orang yang duduk sementara orang di sekitarnya tegak berdiri.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mendengar jawaban Thawus yang panjang lebar itu, dan juga kebenaran yang terkandung di dalamnya, khalifah pun tafakkur karenanya. Lalu ia berkata, &quot;Benar sekali apa yang Anda katakan itu. Nah, sekarang berilah aku nasehat sehubungan dengan kedudukan ini!&quot; &quot;Kudengar Amiirul Mukminin Ali Radhiyallahu &#39;anhu berkata dalam sebuah nasehatnya,&quot; jawab Thawus, &quot;Sesungguhnya dalam api neraka itu ada ular-ular berbisa dan kalajengking raksasa yang menyengat setiap pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mendengar jawaban dan nasehat Thawus seperti itu, khalifah hanya terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana serta tidak boleh meninggalkan nilai-nilai keadilan bagi seluruh rakyatnya. Setelah berbincang-bincang beberapa lamanya perihal masalah-masalah yang penting yang ditanyakan oleh khalifah, Thawus al-Yamani pun meminta diri. Khalifah pun memperkenankannya dengan segala hormat dan lega dengan nasehat-nasehatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/nasehat-bagi-para-penguasa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-8277973383752870192</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 11:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T07:21:38.765-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tips &amp; Trick</category><title>Nasehat yang Jitu</title><description>Jum&#39;at, 19 Juli 2013&lt;br /&gt;
&lt;img alt=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2n0V4zuwmqZgie8pXyQE89Hx2KMeXDVcbLN9rxZxvQgBcs4xjxLXtKdTu-rwpxHZF-u508nXH2tFtyzI3M4OGkSOghHnDO49_dzuR4i9dP0rASCDxBt1nnduKgr4eenoQb17KeZzhEUU/s400/url.jpg&quot; class=&quot;decoded&quot; height=&quot;328&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2n0V4zuwmqZgie8pXyQE89Hx2KMeXDVcbLN9rxZxvQgBcs4xjxLXtKdTu-rwpxHZF-u508nXH2tFtyzI3M4OGkSOghHnDO49_dzuR4i9dP0rASCDxBt1nnduKgr4eenoQb17KeZzhEUU/s400/url.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi&#39;ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ia berkata, &quot;Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!&quot;&lt;br /&gt;Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, &quot;Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, &quot;Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah,&quot; ucap Ibrahim.&lt;br /&gt;Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, &quot;Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Benar,&quot; jawab Ibrahim dengan tegas. &quot;Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Baiklah,&quot; jawab Jahdar tampak menyerah. &quot;Kemudian apa syarat yang kedua?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya,&quot; kata Ibrahim lebih tegas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Syarat kedua membuat Jahdar lebih kaget lagi. &quot;Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?&quot; tanya Ibrahim.&lt;br /&gt;&quot;Kau benar Aba Ishak,&quot; ucap Jahdar kemudian. &quot;Lalu apa syarat ketiga?&quot; tanya Jahdar dengan penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempar bersembunyi dari-Nya.&quot;&lt;br /&gt;Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. &quot;Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?&quot; tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi&#39;ah tidak berkutik dan membenarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, &quot;Tidak mungkin... tidak mungkin semua itu aku lakukan.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?&quot;&lt;br /&gt;Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, &quot;Cukup…cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu&#39;.&lt;br /&gt;Ibrahim bin Adham yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Selanjutnya, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi&#39;ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, &quot;Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, &quot;Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ibrahim bin Adham menjawab, &quot;Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana.&quot;&lt;br /&gt;Betapa kagetnya Jahdaar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, &quot;Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku. Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya.&quot;&lt;br /&gt;Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi&#39;ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia </description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/nasehat-yang-jitu.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2n0V4zuwmqZgie8pXyQE89Hx2KMeXDVcbLN9rxZxvQgBcs4xjxLXtKdTu-rwpxHZF-u508nXH2tFtyzI3M4OGkSOghHnDO49_dzuR4i9dP0rASCDxBt1nnduKgr4eenoQb17KeZzhEUU/s72-c/url.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-1204253357952872362</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 11:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T06:37:39.030-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><title>Kalung ANISA</title><description>Kamis, 19 Safar 1723 / 2 mei 2002&lt;br /&gt;&lt;img alt=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWc72Q3XhH9T7_JnBIWvwlkv_Y93UVMfZHlyONTBOuPn8AfYtwJmIzluWodtGDiOIL0H8TGhz7VxzBAtJ09GOfJJNZtRe29QFfmg6Vwsf38MGcV-oClAcNBuAxsLFYBQoqeDQ-ELokl3ic/s1600/Kisah+Anisa+dan+Kalung+Kesayangannya.jpg&quot; class=&quot;decoded&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWc72Q3XhH9T7_JnBIWvwlkv_Y93UVMfZHlyONTBOuPn8AfYtwJmIzluWodtGDiOIL0H8TGhz7VxzBAtJ09GOfJJNZtRe29QFfmg6Vwsf38MGcV-oClAcNBuAxsLFYBQoqeDQ-ELokl3ic/s1600/Kisah+Anisa+dan+Kalung+Kesayangannya.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia&amp;nbsp; Lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... &quot; &lt;br /&gt;Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000.&lt;br /&gt;Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten... &lt;br /&gt;&quot;Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki Kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya. &quot;Terimakasih..., Ibu&quot; &lt;br /&gt;Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab,kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...&lt;br /&gt;Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, &lt;br /&gt;Ayah bertanya &quot;Anisa..., Anisa sayang Enggak sama Ayah ?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !&quot;&lt;br /&gt;&quot;Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu...&lt;br /&gt;&quot;Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil &quot;si Ratu&quot; boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku juga&lt;br /&gt;&quot;Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !&quot;. Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa. &lt;br /&gt;Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, &quot;Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?&quot;.&lt;br /&gt;&quot;Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini..&quot;Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya...&quot;Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?&quot; Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya.&lt;br /&gt;Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya&quot; Kalau Ayah mau...ambillah kalung Anisa&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih...sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa...&quot;Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau&quot;&lt;br /&gt;Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Sumber : Daarut tauhiid</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/kalung-anisa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWc72Q3XhH9T7_JnBIWvwlkv_Y93UVMfZHlyONTBOuPn8AfYtwJmIzluWodtGDiOIL0H8TGhz7VxzBAtJ09GOfJJNZtRe29QFfmg6Vwsf38MGcV-oClAcNBuAxsLFYBQoqeDQ-ELokl3ic/s72-c/Kisah+Anisa+dan+Kalung+Kesayangannya.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-6735022218591663125</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 11:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T06:37:39.044-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><title>TIDUR dan KEMATIAN</title><description>Jum&#39;at, 19 Juli 2013&lt;br /&gt;
&lt;img alt=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6y2MZoW80vnuvRZd4OXhZCp6N-vZwBrWt-8VxqP8vN80T2RVZ8AMnOTAV6YXgQ0AVQLO3RuNG8_mUu1tib1LI41N2L9R134-bCrs945G1RKakFZcyZlmUAJaWnH7NIgPoWO4jBgXDWHE/s1600/Funny_death_sleep.jpeg&quot; class=&quot;decoded&quot; height=&quot;269&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6y2MZoW80vnuvRZd4OXhZCp6N-vZwBrWt-8VxqP8vN80T2RVZ8AMnOTAV6YXgQ0AVQLO3RuNG8_mUu1tib1LI41N2L9R134-bCrs945G1RKakFZcyZlmUAJaWnH7NIgPoWO4jBgXDWHE/s400/Funny_death_sleep.jpeg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
Prof. Arthur Alison: &#39;&#39;Karena Az Zumar 42&#39;&#39;&lt;br /&gt;
Namaku Arthur Alison, seorang profesor yang menjabat Kepala&amp;nbsp; Jurusan Teknik Elektro Universitas London. Sebagai orang eksak, bagiku semua hal bisa dikatakan benar jika masuk akal dan sesuai rasio. Karena itulah, pada awalnya agama bagiku tak lebih dari objek studi. Sampai akhirnya aku menemukan bahwa Al Quran, mampu menjangkau pemikiran manusia. Bahkan lebih dari itu. Maka aku pun memeluk Islam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bermula saat aku diminta tampil untuk berbicara tentang metode kedokteran spiritual. Undangan itu sampai kepadaku karena&amp;nbsp; selama beberapa tahun, aku mengetuai Kelompok Studi Spiritual dan Psikologis Inggris. Saat itu, aku sebenarnya telah mengenal Islam melalui sejumlah studi tentang agama-agama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada September 1985 itulah, aku diundang untuk mengikuti Konferensi Islam Internasional tentang &#39;Keaslian Metode Pengobatan dalam Al Quran&#39;di Kairo. Pada acara itu, aku mempresentasikan makalah tentang &#39;Terapi dengan Metode Spiritual dan Psikologis dalam Al Quran&#39;. &lt;br /&gt;
Makalah itu merupakan pembanding atas makalah lain tentang &#39;Tidur dan Kematian&#39;, yang bisa dibilang tafsir medis atas Quran surat Az Zumar ayat 42 yang disampaikan ilmuwan Mesir, Dr. Mohammed Yahya Sharafi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta-fakta yang dikemukakan Sharafi atas ayat yang artinya, &quot;Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir,&quot; telah membukakan mata hatiku terhadap Islam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara parapsikologis, seperti dijelaskan Al Quran, orang tidur dan orang mati adalah dua fenomena yang sama. Yaitu dimana ruh terpisah dari jasad. Bedanya, pada orang tidur, ruh dengan kekuasaan Allah bisa kembali kepada jasad saat orang itu terjaga. Sedangkan pada orang mati, tidak. &lt;br /&gt;
Ayat itu merupakan penjelasan, mengapa setiap orang yang bermimpi sadar dan ingat bahwa ia telah bermimpi. Ia bisa mengingat mimpinya, padahal saat bermimpi ia sedang tidur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Quran surat Az Zumar ayat 42 ini juga menjadi penjelasan atas orang yang mengalami koma. Secara fisik, orang yang koma tak ada bedanya dengan orang mati. Tapi ia tak dapat dinyatakan mati, karena secara psikis ada suatu kesadaran yang masih hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Bagaimana Al Quran yang diturunkan 15 abad silam, bisa menjelaskan sebuah fenomena yang oleh teori parapsikologis baru bisa dikonsepsikan pada abad ini?&quot; Jawaban atas pertanyaan inilah yang akhirnya meyakinkan aku untuk memeluk Islam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selepas sesi pemaparan kesimpulan dalam konferensi itu, disaksikan oleh Syekh Jad Al-Haq, Dr. Mohammed Ahmady dan Dr. Mohammed Yahya Sharafi, akupun menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah agama yang nyata benarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbukti, isi Al Quran yang merupakan firman Allah pencipta manusia, sesuai dengan fakta-fakta ilmiah. Kemudian dengan yakin, aku melafadzkan dua kalimat syahadat yang sudah sangat fasih kubacakan. Sejak itu aku pun menjadi seorang Muslim dan mengganti namaku menjadi Abdullah Alison. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Ketua Kelompok Studi Spiritual dan Psikologi Inggris, aku telah mengenal banyak agama melalui sejumlah studi yang dilakukan. Aku mempelajari Hindu, Budha dan agama serta kepercayaan lainnya. Entah kenapa, ketika aku mempelajari Islam, aku juga terdorong untuk melakukan studi perbandingan dengan agama lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun baru pada saat konferensi di Mesir, aku yakin benar bahwa&amp;nbsp; Islam sebuah agama besar yang nyata perbedaannya dengan agama lain. Agama yang paling baik diantara agama-agama lain adalah Islam. Ia cocok dengan hukum alam tentang proses kejadian manusia. Maka hanya Islam-lah yang pantas mengarahkan jalan hidup manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasakan benar, ada sesuatu yang mengontrol alam ini.&amp;nbsp; Dia itulah Sang Kreator, Allah Swt. Dari pengalaman bagaimana aku mengenal dan masuk Islam, aku pikir pendekatan ilmiah Al Quran bisa menjadi sarana efektif untuk mendakwahkan Islam di Barat yang sangat rasional itu. &lt;br /&gt;
Sumber : (Pesantren.net)</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/tidur-dan-kematian.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6y2MZoW80vnuvRZd4OXhZCp6N-vZwBrWt-8VxqP8vN80T2RVZ8AMnOTAV6YXgQ0AVQLO3RuNG8_mUu1tib1LI41N2L9R134-bCrs945G1RKakFZcyZlmUAJaWnH7NIgPoWO4jBgXDWHE/s72-c/Funny_death_sleep.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7398344839414259373.post-7014812380604978607</guid><pubDate>Fri, 19 Jul 2013 10:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-19T06:37:39.048-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Islami</category><title>Asal - Usul Kumandang Adzan</title><description>Jum&#39;at, 19 Juli 2013&lt;br /&gt;
(Riwayat : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari)&lt;br /&gt;
&lt;img alt=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStOwpFkIfZCjSVHtdY0trnAy0egZgJF7RREh97suphw_mplKd2IpvyehraiqNHmXo55fx3QIKtToCvAIIBGr4NzRZZthBZK5hB8VuUs9XZaezMrcKM1c_piN5-NkIqsa4mSbaZxJoohI0/s400/adzan+nabawi.jpg&quot; class=&quot;decoded&quot; height=&quot;284&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStOwpFkIfZCjSVHtdY0trnAy0egZgJF7RREh97suphw_mplKd2IpvyehraiqNHmXo55fx3QIKtToCvAIIBGr4NzRZZthBZK5hB8VuUs9XZaezMrcKM1c_piN5-NkIqsa4mSbaZxJoohI0/s400/adzan+nabawi.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat dmusnahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya. Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama` ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisa dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing -masing menurut waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama `ah dimulai. &lt;br /&gt;
Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu cara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuk sholat tepat pada waktunya tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saran-saran diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah untuk mencari cara-cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan ? Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb :&lt;br /&gt;
&quot;Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja. &lt;br /&gt;
Orang tersebut malah bertanya,&quot; Untuk apa ? Aku menjawabnya,&quot;Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat.&quot; Orang itu berkata lagi,&quot;Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?&quot; Dan aku menjawab &quot; Ya !&quot;&lt;br /&gt;
Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , &quot; Allahu Akbar,Allahu Akbar..&quot;&lt;br /&gt;
Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,&quot;Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.&quot; Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal.&quot;&lt;br /&gt;
Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada Rasulullah SAW . Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.</description><link>http://harietzachmad.blogspot.com/2013/07/asal-usul-kumandang-adzan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgStOwpFkIfZCjSVHtdY0trnAy0egZgJF7RREh97suphw_mplKd2IpvyehraiqNHmXo55fx3QIKtToCvAIIBGr4NzRZZthBZK5hB8VuUs9XZaezMrcKM1c_piN5-NkIqsa4mSbaZxJoohI0/s72-c/adzan+nabawi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>