<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545</atom:id><lastBuildDate>Sat, 18 May 2013 13:20:42 +0000</lastBuildDate><category>Puisi</category><category>Naskah Drama Sunda</category><category>Kumpulan Cerpen</category><category>Cerpen Pengalaman Pribadi</category><category>Naskah Drama Musikalisasi</category><category>Cerpen Uncategories</category><category>Cerpen Horor</category><category>Surat</category><category>Cerpen Pendidikan</category><category>Cerpen Cinta</category><category>Naskah Drama Remaja</category><category>Cerpen Lucu</category><category>Review</category><category>Cerpen Remaja</category><category>Artikel</category><category>Cerpen Sosial</category><category>Puisi Taufik Ismail</category><category>Cerpen Sedih</category><category>Materi Teater</category><category>Kata-Kata Mutiara</category><category>Sastrawan Indonesia</category><category>Pidato</category><category>Cerpen Keluarga</category><category>Profil Teater</category><category>Kesenian</category><category>Kata Kata Cinta</category><category>Seni Artsitektur</category><category>Kebudayaan</category><category>Donatur Naskah</category><category>Contoh Cerpen</category><category>Puisi Emha Ainun Nadjib</category><category>Sinopsis Novel</category><category>Novel Kiriman Sahabat</category><category>Akademik</category><category>Naskah Jawa</category><category>Cerpen Ayah</category><category>Seni Pahat</category><category>Cerpen Dewi Lestari</category><category>Naskah Inggris</category><category>kumpulan Puisi Inggris</category><category>SMS Cinta</category><category>SMS Bulan Ramadhan</category><category>About Me</category><category>Ramalan Zodiak</category><category>Cerita</category><category>Humor</category><category>Cerbung</category><category>Biografi</category><category>Google Search dan Daftar Isi</category><category>Cerpen Sahabat</category><category>Naskah Drama Anak-anak</category><category>Berita</category><category>Posting Ga Penting</category><category>Seniman Indonesia</category><category>Cerpen Fantasi</category><category>Kartu Ucapan</category><category>Sinopsis Naskah Drama</category><category>Cerpen Anak-anak</category><category>Kumpulan Novel</category><category>Cerpen  Motivasi</category><category>Seni Musik</category><category>Naskah Drama Pendek</category><category>Kumpulan Puisi</category><category>Iklan</category><category>Cerpen Bahasa Inggris</category><category>Drama Kontemporer</category><category>Cerpen Persahabatan</category><category>You Tube</category><category>Naskah Adaptasi Cerpen</category><category>Cerpen Tragedi</category><category>Naskah Drama Komedi</category><category>Gambar</category><category>Cerpen Fiksi</category><category>Cerpen Romantis</category><category>Seni Tari</category><category>Cerpen Misteri</category><category>SMS Ucapan Lebaran</category><category>Pantun</category><category>Lomba</category><category>Cerpen Ibu</category><category>Cerpen Perjuangan</category><category>Icon</category><category>Kata Kata Bijak</category><category>Naskah Drama Religi</category><category>Cerpen Islam</category><category>Privacy Policy</category><category>naskah drama</category><category>Kata Kata Lucu</category><category>Cerpen Kehidupan</category><category>Ramalan Bintang</category><category>Naskah Monolog</category><category>Kata kata Motivasi</category><category>Cerpen Moment</category><title>Kumpulan Cerpen Indonesia Terbaru  2013</title><description>Loker Seni Kumpulan Naskah Drama, Naskah Monolog, Novel, Puisi, Cerpen, Ramalan Zodik, Ramalan Bintang dan Kata Mutiara.</description><link>http://www.lokerseni.web.id/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Loker Seni)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1980</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/LokerSeni" /><feedburner:info uri="lokerseni" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:copyright>Loker Seni 2011 - 2012</media:copyright><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-tIyKK5jfYAE/TxhUmc4zAkI/AAAAAAAAAcA/-ieQ0mmeq14/s1600/Loker+Seni+Gambar1.png" /><media:keywords>Cerpen,Naskah,Drama,Puisi,Pidato,Cerita,Rakyat,Cerita,bahasa,Inggris</media:keywords><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Arts/Literature</media:category><itunes:owner><itunes:email>agus.lizam@gmail.com</itunes:email><itunes:name>Loker Seni</itunes:name></itunes:owner><itunes:author>Loker Seni</itunes:author><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:image href="http://2.bp.blogspot.com/-tIyKK5jfYAE/TxhUmc4zAkI/AAAAAAAAAcA/-ieQ0mmeq14/s1600/Loker+Seni+Gambar1.png" /><itunes:keywords>Cerpen,Naskah,Drama,Puisi,Pidato,Cerita,Rakyat,Cerita,bahasa,Inggris</itunes:keywords><itunes:subtitle>Loker Seni</itunes:subtitle><itunes:summary>Kumpulan Cerpen - Naskah Drama - Puisi - Pidato - Cerita Rakyat dan tentang remaja</itunes:summary><itunes:category text="Arts"><itunes:category text="Literature" /></itunes:category><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-5305997718948491613</guid><pubDate>Sat, 18 May 2013 13:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-18T06:20:42.026-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Sedih</category><title> Sahabat Dalam Sunyi - Cerpen Sedih</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SAHABAT DALAM SUNYI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Anggun Ratiwi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Sore itu, aku berjalan di pinggiran kota sehabis pulang dari kuliah. Gerimis masih membasahi jalan raya Rajawali.Tak begitu banyak kendaraan yang melintas, toko-toko besarpun banyak yang sepi dari pengunjung, rumah pinggiran jalan pada tertutup rapat. Maklum hujan deras mengguyur kota itu seharian. Aku berlari menyebrangi jalan raya, langkah ku terhenti di depan sebuah rumah karena sebuah benda empuk mengenai pinggul kiriku. Boneka berwarna merah muda pudar,bentuknya sudah rusak, telinga kanannya robek. Boneka itu terlempar dari dalam rumah sederhana “seperti nya dibuang !”. Ku ambil dan ku bawa dia untuk diperbaiki.&lt;br /&gt;“BONEKA” itu membuatku teringat akan suatu hal saat aku masih tinggal di asrama empat tahun yang lalu.” Melly” nama seorang teman sekelasku ia tampak berbeda dari yang lain. Sering orang-orang menyebutnya gadis idiot. Seluruh penghuni asrama tak ada yang memperdulikannya, sesekali ibu asrama mencoba mendekati nya ia berlaku tak wajar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-F-Cl9IQsw7U/UZd_YpXkgJI/AAAAAAAAGTc/AFITFGazCho/s1600/Cerpen+Sunyi.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="282" src="http://4.bp.blogspot.com/-F-Cl9IQsw7U/UZd_YpXkgJI/AAAAAAAAGTc/AFITFGazCho/s400/Cerpen+Sunyi.jpeg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;Sahabat Dalam Sunyi &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hingga pada suatu hari, shella temanku yang cukup mengerikan diasrama menyiramnya dengan setimba air di wajah nya”He bangun…dasar tikus got !”. Melly terbangun seketika karena kaget, tubuh nya kedinginan hingga menggigil, wajahnya pucat, bibir nya membiru, kedua tangannya mendekap erat pada sepasang kakinya, ia melengkup di sudut ruangan. “Marry…! Kau tidak apa-apa ? badan mu basah” terdengar suara melly dari dalam kamar. Aku tak tau persis siapa merry itu, padahal ia tak pernah berbicara sekecap pun pada orang yang berpenghuni di asrama ini. Mengingat akan kata guru pengasuh asrama bahwa melly mengidap kanker otak stadium empat. Mungkin saja dia mnder pada teman-teman .satu yang ku banggakan darinya semangat tinggi untuk bertahan hidup. Walaupun terkadang orang-orang mengrjainya habis-habisan. Sering ku lihat ia menangis di belakang sekolah, sehingga buatku iba menatapnya, apaadanya teman-teman mencegahku mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu begitu dingi hingga merasuk dalam tulang-tulang. Tak tau kenapa fikiran ku tiba-tiba ingat dengan melly wanita yang dianggap idiot itu. Sesekali kuengar di balik tembok kamarnya ia berbicara dan menyebutkan nama merry.&lt;br /&gt;“ merry! Siapa dia?”&lt;br /&gt;“ mungkinkah temannya? “ Tanya ku dalam hati.&lt;br /&gt;“akan tetapi di asrama ini tak ada yang namanya marry. Ahh.. tak peduli ! sekiranya dia mempunyai teman. Aku bias lega” fikirku.&lt;br /&gt;Kulihat ia dari lubang kecil yang ada di sela pintunya, ia sepertinya sedang bermain bahagia. Tetapi sampai kini aku tak dapat melihat merry yang selama ini menjadi teman baru melly dalam kamar sepi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stadium empat dimana pada saat itu para pengidap kanker mengakhiri hidupnya. Bayanganku melihat melly membuat bulu kuduku berdiri. Kubalikan badan dan melangkah kembali menuju kamarku.&lt;br /&gt;“brakkh” suara keras mengagetkanku seketika.&lt;br /&gt;“astagfirullah suara apa itu?” ternyata suara itu berasal dari dalam kamar melly. Kuberanikan diri untuk memasuki kamar itu. Kudapati melly sekarat menahan rasa sakit dikepalanya, hingga ia mengulet-ngulet dibawah meja. Aku berlari untuk mencari pertolongan, tapi tak seorang pun yang mau. Kuputuskan untuk datang ke rumah pengasuh asrama tetapi dia hanya bilang “mungkin dia lagi kumat seperti biasa&lt;br /&gt;!”tak peduli dia berbicara apa keteganganku membuat seluruh fikiran tak karuan.Kupaksakan ia untuk datang menemui melly akan tetapi waktu begitu singkat, tubuhnya sudah terbujur lemas di lantai. Tuhan telah mengambil nyawanya. Kini melly sudah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis sakit melihat perilaku semua penghuni asrama terhadap melly.Mereka benar-benar kejam tak punya peri kemanusiaan .&lt;br /&gt;“sudahlah kenapa kau menangisinya toh dia tak menguntungkan lebih baik dia mati”. Kata si pengasuh.&lt;br /&gt;“cukup!semua orang benar-benar sudah gila,lebih gila dibanding melly yang sudah dianggap gila!”&lt;br /&gt;Setelah selang dua hari meninggalnya melly aku masih tak bisa memaafkan semua orang bahkan diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja aku teringat pada nama yang biasanya di sebut-sebut melly semasa hidupnya.”marry” yah nama itu membuat rasa penasaranku memuncak. Aku tak tahan ingin tahu siapa marry. Kuberanikan diri untuk memasuki kamar itu kembali. Kamar yang sunyi dan pengap itulah tempat melly,didalamnya kosong tak seorangpun yang kutemui.kupandangi sejenak,mataku mulai tertuju pada sebuah boneka bear yang sudah kusam tergeletak di bawah kursi. Ada lipatan kertas kecil di selipkan pada pita boneka.kucoba membukanya perlahan ternyata sebuah kata sederhana yang dapat mengundang air mata ku seketika.&lt;br /&gt;“marry! Terimah kasih kau sudah menemaniku&lt;br /&gt;Dalam sunyinya hidup ini walaupun kau hanya&lt;br /&gt;Sekedar boneka” .&lt;br /&gt;“berarti yang selama ini menemani melly adala boneka! Bukan manusia yang di fikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama      Anggun&lt;br /&gt;Alamat    Menganti,Gresik&lt;br /&gt;Sekolah   KMI Al Azhar Surabaya&lt;br /&gt;Hobi        cari banyak teman&lt;br /&gt;Cita-cita  mati khusnul khotimah&lt;br /&gt;Fb           Tiwi_Anggun@ymail com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-sedih-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Sedih&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/2z_1r1NPtVk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/2z_1r1NPtVk/sahabat-dalam-sunyi-cerpen-sedih.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-F-Cl9IQsw7U/UZd_YpXkgJI/AAAAAAAAGTc/AFITFGazCho/s72-c/Cerpen+Sunyi.jpeg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/sahabat-dalam-sunyi-cerpen-sedih.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-5468380611563372562</guid><pubDate>Fri, 17 May 2013 12:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-17T05:26:10.671-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Sedih</category><title>Penantian yang Sia-sia - Cerpen Sedih</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PENANTIAN YANG SIA-SIA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Rael Novhita&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namaku Rara, hari ini seseorang yang aku tunggu akhirnya datang juga. Dia Arya , laki-laki yang sedang dekat denganku setelah putus dari Gifta.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Arya adalah mahasiswa di STIMIK AKAKOM di Jogja dan hari ini dia pulang liburan semester. Aku dan Arya menjalin pertemanan lewat Facebook, berawal dari koment-komentan, chatingan hingga tukeran nomor hape, membuat kami lebih akrab dan sering berkomunikasi lewat telpon dan kami belum pernah bertemu secara langsung. Semenjak dari situ, jujur aku memiliki rasa suka pada Arya, karna dia orangnya asik, nyambung, humoris. Aku senang sekali dia pulang untuk berlibur, itu artinya aku bisa bertemu dengannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-kr6d49Z2FFw/UZYgsIyJa7I/AAAAAAAAGTM/dInGpbkZr4A/s1600/Cerpen+Cinta+Romantis.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="275" src="http://3.bp.blogspot.com/-kr6d49Z2FFw/UZYgsIyJa7I/AAAAAAAAGTM/dInGpbkZr4A/s400/Cerpen+Cinta+Romantis.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Penantian yang Sia-sia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arya mengajak ku untuk ketemuan malam ini, tanpa basa-basi aku menerima ajakkan itu dengan senang hati. Aku pun berusaha berdandan semaksimal mungkin agar kesan pertama dia tertarik denganku. Sambil menunggu jarum jam berputar, entah mengapa aku merasa deg-degan.. tanganku mendadak dingin, sedikit grogi dan ah, aku nervous sekali. Tiba-tiba handphone ku berbunyi,&lt;br /&gt;
“aku sudah di jalan Ra, beberapa menit lagi aku tiba. Kamu sudah siap kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sms dari Arya&lt;br /&gt;
“iya aku sudah siap dari tadi kok”&lt;br /&gt;
balasku dengan perasaan gugup.&lt;br /&gt;
15 menit kemudian ada message masuk&lt;br /&gt;
“aku sudah tiba di depan Ra, kamu mana?”&lt;br /&gt;
Setelah membaca pesan tersebut, jantungku semakin berdegub kencang. Kaki ku pun serasa lemas sekali untuk melangkah ! ah, apa-apaan sih aku ini, biasanya juga kalau mau ketemuan sama cowok, aku biasa-biasa aja kok. Sekarang kenapa aku grogi begini sih?” dengan kesal aku berusaha menenangkan diriku dan menghilangkan rasa grogi itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampai di depan jalan, aku menoleh kanan-kiri mencari orang yang akan ku temui.&lt;br /&gt;
“coba kamu berbalik ke kanan”&lt;br /&gt;
kata Arya yang menelponku lalu tersenyum dan melambaikan tangannya ketika aku berbalik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menghampirinya dan karna perasaanku yang masih grogi, membuatku jadi salah tingkah didepan Arya.&lt;br /&gt;
“Hey, akhirnya kita ketemu juga”&lt;br /&gt;
Arya menjabat tanganku sambil tersenyum manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya tersenyum malu di tambah dengan tingkahku yang tidak karuan&lt;br /&gt;
“eh..ngghh, iya.. senang bertemu denganmu, Ya !”.&lt;br /&gt;
“sekarang kemana kita?” tanyaku&lt;br /&gt;
“gimana kalau kita cari tempat makan sambil ngobrol-ngobrol??” jawabnya&lt;br /&gt;
“okk, aku terserah kamu saja”.&lt;br /&gt;
Sesampainya di tempat makan, kami asik mengobrol sambil bercanda dan tidak terasa waktu sudah kemalaman. Rasanya belum puas bersama dia tapi aku harus pulang secepatnya sebelum mama menelponku lebih dulu untuk menanyakan keberadaanku. Ah, sangat menyebalkan jika hal itu terjadi. Karna aku harus terburu-buru untuk pulang !!&lt;br /&gt;
*Pukul 00.32 aku masih belum bisa memejamkan mata, Arya membuatku sulit untuk tidur. Dia benar-benar telah mencuri hatiku dan aku sangat berharap dia menelponku malam ini lalu menanyakan apakah aku mau menjadi pacarnya. Rasanya kayak mimpi, kata-kata ku barusan sepertinya terdengar sampai di langit ketujuh. Arya menelponku dan seperti yang ku harapkan tadi, dia mengungkapkan perasaannya untukku dan meminta ku untuk menjadi pacarnya.. ARRGGHHH , aku senangnya bukan kepalang karna malam ini aku resmi melepas predikat jomblo yang ada pada diriku.&lt;br /&gt;
✽✽✽&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari semakin berlalu, dan perasaan suka ke Arya menjadi rasa yang sangat besar. Bagaimana tidak, hampir di setiap saat aku menghabiskan hari bersama Arya. Kebersamaan yang di setiap saat itu membuat rasaku semakin bertumbuh. Arya membuat hari-hariku menjadi lebih indah, sehari saja tak bertemu sudah membuatku rindu. Tanpa terasa waktu sudah berjalan 2 bulan dengan cepatnya dan sisa liburan Arya tinggal seminggu lagi.&lt;br /&gt;
Beberapa hari sebelum Arya akan balik, aku mendapat undangan pernikahan dari teman SMA ku. Kebetulan Arya masih disini, aku ingin mengajaknya menemani ku ke pesta itu.&lt;br /&gt;
“halo sayang” kataku lewat telpon.&lt;br /&gt;
“iya sayang, ada apa?? Balasnya.&lt;br /&gt;
”kamu ada waktu gak ? sebentar aku ada undangan resepsi pernikahan keluarganya temanku, kamu mau gak temanin aku??”&lt;br /&gt;
“Aku sih mau sayang, tapi gimana? Semua pakaian ku gak ada yang kering, sudah di cuci semua buat di bawa nanti balik. Kamu pergi sama teman-teman kamu saja yah ? nanti pulangnya aku jemput sayang” kata Arya.&lt;br /&gt;
“Hm, ok lah kalau begitu. Janji yah, kamu jemput aku sebentar”&lt;br /&gt;
jawabku dengan perasaan yang loyo dan sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“iya sayang, kamu jaga mata yah?? Jangan lirik cowok kiri-kanan, ntar km sms aja mau jemput dimana !!” kata Arya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Di sela lagi asik ngobrol sama teman-teman, aku teringat janji Arya mau menjemput lalu aku mengirim sms ke dia “sayang, km dimana ? 15 menit lagi aku pulang, km jemput aku dirumah Fira yah?” lalu beberapa menit kemudian temanku Fira dan Windy mengajak pulang, ku lihat handphoneku belum ada balasan sms dari Arya.&lt;br /&gt;
“ah, mungkin dia lagi mandi atau makan”&lt;br /&gt;
kata ku dalam hati sambil tetap berpikir positif. Jam sudah menunjukkan pukul 20.29, aku mulai merasa lain karna Arya belum membalas smsku. Ku coba menelponnya tapi tidak ada jawaban dan ku ulangi terus berkali-kali. Aku pun menghubungi beberapa temannya tapi gak satu pun dari mereka yang sedang bersama Arya, aku pun semakin gelisah karna waktu sudah pukul 21.07 di tambah lagi dengan telpon dari mama yang berkali-kali memanggil. Antara marah, kesal, sedih, gelisah , dan pikiran negative bercampur jadi satu. Berkali-kali aku sms dan telpon, tapi tdk ada respon dari dia.&lt;br /&gt;
Akhirnya dengan perasaan yang kecewa aku meminta jemput dengan temanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Saat hampir dekat rumah, Arya pun menelponku, dengan kesalnya aku langsung mereject telponnya ! beberapa kali dia memanggil akhirnya ku angkat telponnya dengan nada jutek.&lt;br /&gt;
“sayang maaf ya, tadi aku temanin mama belanja terus hape.nya ketinggalan di kamar, makanya baru lihat sms kamu sayang. Km dimana sekarang??” Tanya Arya.&lt;br /&gt;
“sudah, gak usah jemput. Aku sudah ada yang anterin pulang”&lt;br /&gt;
kataku sambil berusaha menahan marah dan air mataku lantaran kecewanya.&lt;br /&gt;
“sudah km berhenti sekarang, aku jemput disitu !!”&lt;br /&gt;
katanya dengan memaksa.&lt;br /&gt;
“sudah gak usah, aku sudah depan rumah. Aku kesal sama km, tadi janjinya mau jemput tapi mana?? Telpon sama sms aja gak di gubris. Kamu pasti jalan sama cewek lain kan? Udah ngaku aja !?”&lt;br /&gt;
kataku sambil marah.&lt;br /&gt;
“bukan gitu sayang, km kok malah nuduh aku yang nggak-nggak ? kan sudah di bilang hape.ku ketinggalan, km kok gak ngerti-ngerti sih ?” jawabnya dengan kesal.&lt;br /&gt;
“km tuh, sudah tau mau jemput aku tapi pake acara ketinggalan hape. Aku nungguin km lama sekali, makan hati aku sama kamu. Kamu gak benar-benar sayang sama aku kan?”&lt;br /&gt;
“Makanya km bisa begitu” Arrghh !!”&lt;br /&gt;
dengan nadaku yang semakin tinggi.&lt;br /&gt;
“mama juga tadi buru-buru sayang, makanya aku jadi gak sempat ambil hape. Sudah, kamu berhenti marahnya, km gak usah begini sama aku. Aku sayang bangeet sama kamu, aku gak suka kamu bilang kalau aku gak benar-benar sayang sama kamu. Aku minta maaf karna tak menjemputmu !”&lt;br /&gt;
kata Arya sambil terus membujuk ku dan lagi-lagi aku luluh.&lt;br /&gt;
Aku sebenarnya kecewa bukan karna dia gak bisa menjemputku, tapi malam ini aku sudah dandan secantik mungkin, memakai gaun dan high-heels. Aku sengaja tampil feminim agar aku terlihat anggun dan cantik di mata Arya. Aku hanya ingin Arya memuji penampilanku malam ini. Tapi aku berusaha untuk tetap sabar dan berpikir positif tentang Arya.&lt;br /&gt;
Aku pun memaafkannya !&lt;br /&gt;
✽✽✽&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebersamaanku dengannya sudah sampai di ujung perpisahan, bukan akhir dari hubungan kami tapi perpisahan dengan jarak. Besok Arya akan kembali ke Jogja, karena masa liburannya sudah habis dan kembali mengikuti perkuliahannya disana.&lt;br /&gt;
Malam ini kami habiskan waktu berdua, seperti kebiasaan yang jika kami bersama. Makan, ngobrol, bercandaan, tapi malam ini serasa malam yang paling berharga bagi aku. Karena malam ini terkhir aku bisa senang-senang bersama Arya, aku sedih dan takut jika ini benar-benar yang terakhir kalinya aku merasa bahagia bersama Arya.&lt;br /&gt;
Aku takut jika suatu saat nanti Arya kembali, dia bukan lagi menjadi orang yang ku miliki. Ah, berpikir apa aku ini ?? jangan pesimis dong Ra, harus yakin bahwa hubungan ini akan terus terjaga sampai Arya kembali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ketika Arya mengantar ku pulang, aku semakin tidak bisa menahan kesedihanku dan tanpa disadari air mataku pun terjatuh.&lt;br /&gt;
“Hey sayang, kamu kenapa? Kamu sedih yah?”&lt;br /&gt;
“ Jangan sedih ah, aku kan pergi cuma sementara. Lagian kita masih bisa telponan kan?”&lt;br /&gt;
“Sudah jangan sedih sayang”&lt;br /&gt;
kata Arya yang berusaha menghiburku dengan senyumnya.&lt;br /&gt;
*Sesampai depan rumah, aku seperti berat keluar dari dalam mobil. Ku pandangi terus wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca, ingin sekali aku memeluknya erat dan berkata jangan pergi jauh dariku.&lt;br /&gt;
✽✽✽&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu terus berputar, silih berganti hari demi hari yang bergulir tanpa terhenti. Seiring dengan berjalannya waktu membuatku mulai terbiasa tanpa Arya disini. Meski dia jauh tapi kasih sayang dan perhatiannya tak pernah hilang untuk ku, dan hal ini semakin membuat ku yakin kalau aku mampu bersabar menunggu dia kembali lagi. Aku bahkan menutup pintu hatiku untuk cinta yang lain, meski banyak cowok-cowok ganteng yang mendekatiku disini tapi aku tetap menjaga komitmenku bersama Arya. Saling percaya, jaga mata, jaga hati, jangan macam-macam dan jangan bosan ! hal ini selalu ku ingat setiap saat, bahkan aku menulisnya besar-besar di buku catatan kuliah ku.&lt;br /&gt;
Namun, disuatu malam yang tidak pernah ku duga ini bisa terjadi. Aku menerima pesan singkat dari Arya yang membuat jantungku serasa mau berhenti.&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf sebelumnya sama kamu, aku tidak mau waktumu terbuang percuma untukku. Mungkin kalau lebih baik kalau kita jalan sendiri-sendiri saja”.&lt;br /&gt;
*Dengan rasa tidak percaya, kucubit tangan ku dan berharap ini semua hanyalah mimpi. Jika ini benar-benar mimpi, aku ingin terbangunkan secepatnya. Otak ku seperti berhenti untuk berpikir, aku terdiam beberapa saat lalu membalas sms dari Arya.&lt;br /&gt;
“Maksud dari sms kamu ini apaan? Kamu bercanda kan sayang??&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balasku dengan rasa cemas dan takut.&lt;br /&gt;
“aku serius dan aku sedang tidak bercanda” balas Arya tegas.&lt;br /&gt;
“Dengan alasan apa kamu mau mengakhiri hubungan kita ? apa kamu sudah bosan denganku ? atau kamu sudah dapat cewek baru disana?”&lt;br /&gt;
“Gak ada sayang !! aku hanya gak enak sama kamu, aku juga mau serius kuliah dulu.”&lt;br /&gt;
“Kamu kuliah yang baik yah? Aku bukan tipe peselingkuh sayang dan sekarang aku ingin sendiri dulu” jelas Arya.&lt;br /&gt;
Kata-kata Arya sangat membuatku drop, dan penuh rasa tak percaya dengan apa yang terjadi malam ini. Sambil menangis aku membalas lagi sms Arya.&lt;br /&gt;
“kamu bohong kan? Gak mungkin kamu menjadikan kuliah sebagai alasan, apalagi ingin sendiri. Itu sangat tidak mungkin, !!”&lt;br /&gt;
kemarin-kemarin komunikasi kita baik-baik saja kan?? Kamu juga pernah bilang takut kehilangan aku dan sekarang kamu bilang ingin sendiri ? itu tidak masuk di akal ku.”&lt;br /&gt;
“Aku yakin, ini pasti karna ada cewek lain yang mendekatimu. Kamu tidak mungkin begini” jelasku.&lt;br /&gt;
“Sayang, kamu pacaran saja disana, tapi kamu jangan lupain aku yah? Bukan karna cewek lain aku minta keputusan begini. Kita masih muda, masih bisa pacar-pacaran dulu. Aku tidak enak melihat waktumu terbuang-buang untuk menungguku yang gak pasti”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku semakin takut, tak bisa ku bayangkan bagaimana sedihnya aku jika hubungan ini benar-benar berakhir.&lt;br /&gt;
“Aku sayang sekali sama kamu Ya !! bagaimana mungkin aku bisa mencari cinta yang lain sementara hatiku tlah ku berikan semua untukmu. Tidak mudah bagiku untuk menemukan laki-laki lain, seperti yang kau katakan. Aku tidak mau kita putus, aku masih kuat kok nunggu kamu, aku masih bisa sabar. Tolong jangan ragukan kesetiaanku sayang, percaya sama aku ! aku bisa nunggu kamu meski itu seribu tahun lamanya.”&lt;br /&gt;
balasku dengan harapan yang penuh supaya Arya bisa menarik kembali keputusannya dan tetap mempertahankan hubungan ini.&lt;br /&gt;
“ya sudah kalau itu mau kamu. Kita masih tetap berjalan bersama seperti biasanya. Mudah-mudahan kamu masih kuat, sayang yang sabar yah?”&lt;br /&gt;
balasan dari Arya yang membuatku lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untunglah Dewi Fortuna masih melindungiku malam ini.&lt;br /&gt;
“makasih Arya sayang, aku janji akan terus bersabar dengan jarak ini. Tapi kamu juga janji, kamu harus percaya sama aku dan jangan pernah raguin aku lagi. Ingat komitmen yang pernah kita buat.”&lt;br /&gt;
kataku dengan perasaan yang lega dan mulai tenang karna aku berhasil membuat Arya menarik kembali keputusannya.&lt;br /&gt;
“iya sayang, aku ingat terus kok. Hm, ini sudah jauh malam. Sebaiknya kamu tidur sekarang, besok kan kamu harus kuliah.”&lt;br /&gt;
“iya, kamu juga tidur yah sayang? Nanti susah bangunnya. Aku bangunin kamu besok jam 8 yah?”&lt;br /&gt;
“iya sayang. Mimpi yang indah yah? Selamat tidur.”&lt;br /&gt;
✽✽✽&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semenjak kejadian itu , entah kenapa sikap Arya lama-kelamaan serasa berubah ! seperti ada yang beda dari hari-hari sebelumnya. Dia jadi yang kurang perhatian, sudah jarang nanyain kabar aku, aku sedang apa, sms dan telpon dari dia pun sudah mulai jarang. Aku sih sempat berpikir yang aneh-aneh, mungkin gak yah Arya memang sudah benar-benar bosan denganku atau dia lagi dekat sama cewek lain?? Tapi aku tetap berpikir positif, mungkin saja dia lagi sibuk dengan tugas-tugas kampusnya. Yang kebetulan MID semester tidak lama lagi, pasti dia mendapat banyak tugas dari dosen-dosennya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Ya Tuhan, Sebenarnya aku rindu sekali sama Arya, aku ingin dia menenangkan ku dan meringankan rinduku yang sudah terlalu berat, aku butuh hadirnya agar aku bisa menjadi kekasih yang lebih kuat. Tapi aku berusaha sabar menunggu kabar dari dia, aku akan membiarkan dia untuk sementara sampai dia benar-benar ada waktu untuk ku. Tapi lama-kelamaan aku merasa seperti ada yang aneh. Kok Arya bisa tahan beberapa hari ini gak menghubungi aku? Aku pun mencoba untuk menghubungi dia, tapi message dan telponku gak ada yang di respon olehnya.&lt;br /&gt;
*Malam ini aku lagi free dari tugas kampus, ku ambil modem dan membuka akun facebook ku untuk mencari hiburan. Aku tiba-tiba teringat dengan akun milik Arya, aku iseng-iseng membukanya untuk melihat inboxnya dia.&lt;br /&gt;
Sekejap mataku kaget, ketika password Arya sudah diganti dan dia sama sekali tidak memberitahuku tentang hal ini.&lt;br /&gt;
Ku buka kembali akun FB ku dan melihat di kronologi, akun milikku ku sudah tidak berpacaran lagi dengan Arya. Rasa kaget ini lebih dari ketika Arya mengirimkan message kata putus, rasa seperti terkontak saat mencuk colokan kulkas.&lt;br /&gt;
Tanpa ada pemberitahuan dari Arya, dia tiba-tiba saja mengubah statusnya menjadi lajang. Secepatnya ku ambil handphone ku dan menelpon Arya.&lt;br /&gt;
“halo sayang”&lt;br /&gt;
“iya, ada apa?” jawabnya dengan nada datar.&lt;br /&gt;
“2 mingu terakhir ini kamu tidak menghubungiku. Sekedar sms menanyakan kabarku pun tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu sibuk sekali yah? Tanya ku pelan.&lt;br /&gt;
“iya, aku lagi sibuk dengan tugas-tugas kampus yang menyita waktu ku.”&lt;br /&gt;
“oh gitu. Aku lagi On FB nih, aku coba buka akun km tapi passwordnya udah diganti. Boleh aku tahu password kamu yg baru?”&lt;br /&gt;
“ehm, kalau kamu gak perlu tau, gak apa-apakan?”&lt;br /&gt;
“kok jawabnya gitu syg ? ada yang km sembunyiin dari aku yah? Makanya aku gak boleh tau.”&lt;br /&gt;
“gak sembunyiin apa-apa kok !”&lt;br /&gt;
“ok lah kalau km gak mau ngasih. Tapi boleh aku tau kenapa status kamu jadi lajang tanpa memberitahuku sebelumnya ?” tanyaku sambil menahan air mataku.&lt;br /&gt;
“pacaran gak mesti harus terpajang di FB juga kan ? yang penting kan kita masih ada status pacaran, Fb itu hanya media hiburan aja.”&lt;br /&gt;
“baiklah, semoga saja gak ada apa-apa dengan kamu.”&lt;br /&gt;
Tanpa ada basa-basi lagi, telpon pun terputuskan. Aku sudah tidak tau mau berkata apa lagi. Sikap Arya sudah benar-benar berubah, aku semakin tak tenang dibuat olehnya. Pikiran-pikiran negative pun mulai bermunculan seperti tembok putih yang mulai di tumbuhi oleh lumut. Semakin lama aku merasa Arya semakin menjauh dari ku, aku merasa sudah seperti berjalan sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Hingga suatu hari ada teman dekat Arya mengirim pesan di inbox.ku, namanya Randy !!&lt;br /&gt;
“hay, kamu mantan pacarnya Arya kan.?”&lt;br /&gt;
Ah sial, kata-kata Randy bikin perasaanku gak enak.&lt;br /&gt;
“hah? Mantan? Aku sama Arya belum ada kata putus, emang Arya ngomong ke kamu kalau kami sudah putus?”&lt;br /&gt;
“iya, katanya sih gitu.”&lt;br /&gt;
Aku bingung dan benar-benar gak nyangka Arya bisa ngomong seperti itu. Dia anggap apa aku ini ? apa Arya sudah sejahat itu sekarang ?&lt;br /&gt;
Dia sudah tdk menganggap ku ada.&lt;br /&gt;
Karna kesal aku tak membalas chat itu lagi, tapi beberapa menit kemudian Randy mengirimkan ku pesan lagi.&lt;br /&gt;
“kamu mau aku bantuin gak ?”&lt;br /&gt;
ini kalau kamu mau yah, aku gak maksa kok !&lt;br /&gt;
Cuma nawarin aja”.Kata Randy&lt;br /&gt;
“km mau bantuin apa ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* kami bertukaran nomor hape dan saling berkomunikasi. Randy membuatku terkejut setelah menceritakan semua tentang Arya !!&lt;br /&gt;
Dia orang yang baru aku kenal, aku tak mungkin percaya sepenuhnya atas apa yang dia ceritakan tentang Arya disana. Aku tak mau terlalu menanggapi omongan Randy, tapi Randy gak pernah berhenti memberi informasi tentang apa kegiatan Arya disana. Sudah 2 bulan lebih hubunganku dengan Arya semakin merenggang, kami seperti mempunyai dunianya masing-masing ! Arya sudah seperti orang asing bagiku, aku pacarnya tapi aku merasa seperti bukan siapa-siapanya dia. Aku suka nangis kalau ingat saat Arya masih ada di dekatku, aku juga suka nangis karna terlalu rindunya sama dia. Sedih hatiku disaat sendiri, saat kamu tak ada resah aku sendiri tanpa kamu. Aku sangat kesepian Ya !&lt;br /&gt;
Malam ini Randy lagi main di kost-an Arya, dia memberitahu ku lewat message kalau Arya sedang bersama cewek lain disana, namanya Putri. Aku gak percaya dengan kata Randy, sampai aku menyuruhnya untuk memfoto Arya dengan cewek itu lalu mengirimkannya padaku untuk sebagai bukti atas omongan Randy selama ini. Bersamaan dengan itu, aku sms Arya menanyakan kabarnya dan Arya membalasnya.&lt;br /&gt;
Tiba-tiba foto dari Randy pun masuk di inbox FB.ku yang hanya selang berapa menit setelah balasan message dari Arya. Dan benar, Arya sedang duduk mesra dengan cewek itu. Wajahnya seperti senang sekali bersama cewek itu dan terlihat dalam foto Arya mundur sedikit ke belakang yang sepertinya sedang bersms-an, dan aku yakin itu Arya sedang membalas message ku yang beberapa menit lalu. Dan di foto kedua terlihat cewek itu memeluk erat Arya !&lt;br /&gt;
Aku ingin marah melampiaskan rasa dihatiku tapi aku tak bisa, aku cemburu kenapa bukan aku yang ada di foto itu. Kenapa harus perempuan lain? Hatiku hancur sayang. Aku menangis tanpa suara sambil mengepal kuat kedua tanganku di dada ! sedih, kecewa dan sakit.&lt;br /&gt;
Rasanya sangat menusuk. ARYA.. laki-laki yang sangat aku sayang, yang selalu kuingat di setiap langkahku, tak percaya dia seburuk itu. Kamu gak tau gimana sulitnya aku bertahan sendiri disini, aku tetap percaya sama km saat orang lain bercerita gak baik tentang kmAku berusaha sekeras mungkin untuk bersabar, dengan air mata yang bercucuran aku menutup mata dan berdoa….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
** “Tuhan, aku tau semua yang terjadi dalam hidupku adalah rancangan-Mu. Jika Tuhan menghendaki untuk aku melihat semua ini, perlihatkanlah semuanya Tuhan. Namun beri aku kekuatan untuk mampu melihat semua itu, sangat sakit rasanya Tuhan saat aku harus melihat orang yang sangat aku sayangi di dekapan perempuan lain dan aku tidak tau harus berbuat apa. Tapi beri aku kesabaran atas apa yang telah ku ketahui. Beri aku hati yang sabar dan penuh kasih, aku sudah memaafkan Arya. Ubah dan bentuk dia menjadi orang yg baik. Amin.” **&lt;br /&gt;
Terlalu sakit semuanya ! saat aku percaya sama kamu, aku rela menghabiskan waktu ku untuk menunggumu, aku berusaha menenangkan diriku saat km mulai menghilang, aku meyakinkan diriku kalau km masih setia untukku, tapi ternyata km bersenang-senang sama cewek lain, ARGHH.. km tidak tau gimana rasanya saat mereka mengucilkan ku, mengatai aku BODOH dengan LDR ini. Katamu aku harus bersabar karna semua akan indah pada waktunya. Tapi nyatanya? SEMUA SAKIT PADA WAKTUNYA..! Aku bodoh sudah menganggapmu yang terbaik untukku dan rasa pahitnya ku telan sendiri. Km sudah menghancurkan semuanya ! Kamu tidak sebaik yang aku kira, kamu menghilang begitu saja dan aku tak tahu. Kamu berikan aku mimpi terburuk dalam hidupku, penantian yang sia-sia. Kamu sudah terlalu jahat ARYA ! KAMU JAHAT !&lt;br /&gt;
*Aku pun menangis sekuat-kuatnya sampai aku tertidur.&lt;br /&gt;
✽✽✽&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayang-bayang tentang foto itu seperti berusaha ingin merusak pikiranku, tapi aku tidak boleh lemah, aku sudah menyerah dengan semuanya dan aku mulai mencoba untuk melupakan Arya perlahan-lahan. Aku mencoba lari dengan menyibukkan diriku, kebetulan ini adalah minggu-minggu final. Sangat membantuku sekali karna tugas final dari dosen-dosen sudah mengantri. Hal ini membuatku benar-benar sibuk sekali. Jangankan untuk mengingat Arya, waktu untuk tidur pun hampir gak ada.&lt;br /&gt;
*Di sela sedang mengerjakan tugas, aku ON di FB. Dan tanpa disangka aku bertemu kembali dengan Allan di dunia maya itu.&lt;br /&gt;
Allan adalah cowok ganteng dan keren yang ku kenal di awal tahun ini, waktu itu aku pernah dekat dengannya. Namun tiba-tiba kami lose contact setelah dia menembak ku, tapi aku tolak karna saat itu aku sudah memiliki pacar yang bernama Rivan. jadi bernostalgia dengan masa lalu nih !&lt;br /&gt;
*Iseng-iseng aku koment status dia dan dia pun membalasnya sampai akhirnya berujung lewat inbox. Semenjak pertemuan kembali itu, aku dan Allan jadi sering berkomunikasi. Sehinggga aku menjadi benar-benar lupa akan Arya dan sedikit demi sedikit aku melupakan perasaanku untuknya.&lt;br /&gt;
Allan datang disaat yang sempurna, diluar kesadaranku dia telah menyita semua pikiranku, mengalihkan duniaku untuknya. Dan saat itu juga aku seperti menemukan dunia yang baru, aku seperti habis bebas dalam penjara yang kupikir takkan bisa untuk ku keluar.&lt;br /&gt;
✽✽✽&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2 bulan kemudian)&lt;br /&gt;
Setelah 2012 sudah berlalu, aku mulai membuka lembaran baru. Melupakan segala kenangan pahitku bersama Arya, meski tidak ada kata putus untuk mengakhiri hubungan kami tapi aku menganggap semua sudah selesai semenjak Arya merubah statusnya secara tiba-tiba dan semenjak aku melihat foto itu. Sungguh kesetian dan kesabaran yang sia-sia, Arya orang yang selalu ku banggakan di depan teman-temanku, ternyata seorang pendusta ! mungkin dia sudah lebih bahagia bersama pilihannya yang lain. Sekarang aku tlah menemukan dunia ku dan kisah yang baru bersama Allan, aku dan dia kini saling memiliki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Saat sedang tidur, handphone ku berdering dan terkejut melihat yang menelpon ku ARYA ! Dilema untuk mengangkatnya apa tidak, beberapa kali dia menelpon tapi aku mengabaikannya.&lt;br /&gt;
Karna merasa terganggu akhirnya aku mengangkatnya juga !&lt;br /&gt;
“halloo”. Sapa Arya lewat telpon&lt;br /&gt;
“hm, ada apa menelponku tengah malam begini ? mengganggu tidurku saja !” jawabku dengan jutek.&lt;br /&gt;
“Hmp, maaf sudah mengganggu tidurmu. Aku cuma pengen nelpon km saja, boleh kan?”&lt;br /&gt;
“Hmm, yaa..yaa”.&lt;br /&gt;
“km sekarang sudah punya pacar baru yah? Cepat banget?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya Arya tanpa basa-basi.&lt;br /&gt;
“oh iya dong !”&lt;br /&gt;
“ masa ? cepetan mana? aku atau kamu sama putri “&lt;br /&gt;
* Arya hanya tertawa malu karna ternyata aku mengetahui perselingkuhan dia sama Putri dan selama itu aku hanya berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sudah dia perbuat.&lt;br /&gt;
“Baguslah, sekarang km sudah bisa mendapatkan penggantiku. Kamu baik-baik yah pacaran sama dia, jangan kecewain dia. Aku minta maaf karna dulu sudah buat kamu sakit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Arya saat suasana mulai hening.&lt;br /&gt;
“iya, aku selalu baik-baik kok dalam menjalani sebuah hubungan dan aku tidak pernah ngecewain orang yang menyayangiku seperti yang kamu lakukan sama aku.”&lt;br /&gt;
“Kamu juga yah? Jangan suka kecewain orang, belajarlah menghargai perasaan perempuan yang sayang sama kamu dan jangan kamu sia-siakan lagi.”&lt;br /&gt;
Aku sudah maafkan km dari dulu kok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Kata ku sambil berusaha menahan sedih karna mengingat kesakitan yang dibuat Arya.&lt;br /&gt;
“iya Ra, makasih ya. Besok km ada waktu gak ? aku mau ngajak km jalan sebagai tanda permintaan maaf dan pertemanan baru kita.”&lt;br /&gt;
“hm, gimana ya? Ok deh ! bay the way, kayaknya ngantuk nih.”&lt;br /&gt;
Kata ku sambil menguap.&lt;br /&gt;
“hhhh.. thanks ya kamu sdh nerima ajakanku. Ya sudah kalo gitu, selamat tidur Ra. Malam !”&lt;br /&gt;
kata Arya lagi lalu menutup telpon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Setelah telpon tertutup air mata yang ku tahan tadi tiba-tiba menumpah seperti hujan turun.&lt;br /&gt;
Aku menangis mengapa Arya baru menyadari kesalahannya setelah aku sudah bersama orang lain? Kenapa dia baru meminta maaf saat aku sudah mengobati perihku sendiri. Tapi aku juga ingat satu hal, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.&lt;br /&gt;
Apa yang aku rasakan memang teramat sakit, tapi aku berusaha untuk tidak memberikan ruang untuk benci dihatiku. Karna menyimpan kebencian hanya akan membuatku buta untuk melihat orang yang benar-benar tulus mencintaiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Dari sini aku belajar melatih hatiku untuk lebih sabar, kuat, dan menjadi orang yang baik. Karna sebenarnya Arya telah mengajariku untuk tidak berprilaku seperti dia, membersihkan hati dan jiwa. Itu semua diperlukan agar kelak DIRIKU MENJADI INDAH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku memiliki dunia yang baru bersama Allan, orang aku sayangi saat ini. Aku tidak mau bayang-bayang masa lalu bersama Arya membuat cintaku yang sekarang menjadi tak bahagia. Biarlah masa lalu itu aku jadikan pelajaran berharga agar aku bisamenjadi kekasih yang baik untuk Allan dan aku akan membuat dia bahagia karna bersamaku. SELAMAT TINGGAL ARYA !!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Cerpen ini saya buat berdasarkan pengalaman saya sendiri, Cuma mengubah nama-namanya saja. Semoga dapat diterima dengan baik dan bermanfaat bagi yang sudah membaca.&lt;br /&gt;
Pesan : Cintai dan hargailah apa yang kamu miliki, setia dan jangan sakiti dia. Karna hidup seperti roda yang berputar, kadang di atas dan di bawah. Jadilah yang terbaik dan buat dunia ini menjadi indah. Thanks  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Name : Rael Novhita, female 19th&lt;br /&gt;
Add facebook : Rael Novhitasari Siagian &amp;amp; Maafkan Saya&lt;br /&gt;
Follow twitter : @Elraquell&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
No. Urut : 631&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanggal Kirim : 23/02/2013 23:36:24&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-sedih-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Sedih&lt;/a&gt; yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/MdBhTNT5xFU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/MdBhTNT5xFU/penantian-yang-sia-sia-cerpen-sedih.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-kr6d49Z2FFw/UZYgsIyJa7I/AAAAAAAAGTM/dInGpbkZr4A/s72-c/Cerpen+Cinta+Romantis.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/penantian-yang-sia-sia-cerpen-sedih.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-3954272601193971349</guid><pubDate>Fri, 17 May 2013 12:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-17T05:15:14.923-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen  Motivasi</category><title>Sujud Terakhir - Cerpen Motivasi</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SUJUD TERAKHIR&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Igbiana Pertiwi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;        Cahaya redup remang-remang menatap sebuah 
tangisan berhujanan. Dinginnya menusuk sukmaku yang teriris perih 
walaupun air mata berhasil aku kengkang. Doa-doa eraaiklas semuanya. Kau
 tampak berseri mesti kain kain putih suci yang kau pakai terbelut 
didirimu bahagianya “PULANG KAMPUNG” tempat dirimu asal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Duka
 terselimuti dengan isak tangisan orang  dekatmu,kerabat dekatmu. Bau 
anyir yang semakin tersamar-samar akan kepergianmu. Sejak saat itukah 
kau menyadarkan sebuah sajadah biru kepadaku,disaat aku mengambil air 
untuk siciku. Kau tersenyum mengatakan  “jangan pernah menangis sebuah 
musibah, karena tangis lelaki adalah lemah. Kuatkan tangismu hanya 
kepada tuhanmu”. Sejak itu akankah terakhir dirimu kau katakan sajak 
sejuk dihatiku. Tersamar akan kenangmu. Seiring tak terasa kau terkubur 
dan malaikat munkar dan nakir mungkin menunggu akan kedatanganmu. Ya 
Allah meski diriku tak sedarah akankah aku mengiklaskan dan 
mengenangnya?. Serasa  iklasdan pedih tercampur dibenakku         &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-nkjeT_QUYi4/UZYfKmJQZ2I/AAAAAAAAGS8/EC5derIwtrQ/s1600/Cerpen+Sujud.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://4.bp.blogspot.com/-nkjeT_QUYi4/UZYfKmJQZ2I/AAAAAAAAGS8/EC5derIwtrQ/s400/Cerpen+Sujud.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sujud Terakhir&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Entah mengapa sejak kroergianmu ku menatap lama pada mushola itu. 
Sejak pertama kali diriku menginjak di mushola itu. Saat itulah mengenal
 akan artinya islam itu. Entah mengapa duduk smp ku menggebu-nggibu 
meraih impianku tapi saying, impian hanya mimpi yang tak dapat aku capai
 lagi. Ibu dan ayah berseteru akan kemiskinan keluargaku.hingga adikk 
kecilku dan aku seolah anak belantara yang tak ada saying dan cinta yang
 semestinya aku rasakan. Hingga ayah pergi entah kemana. Akan berbuat 
aku tidak tahu. Tapi entah apa yang terjadi hingga aku keliling 
menjajakan hasil kue buatan ibuku, ada gerombolan orang-orang itu. Dan 
sejenak sedetak jantung detak cepat, tangisan apa yang aku rasakan. Tapi
 aku melihat itu adalah ayah terbujur tak bernyawa. Dihiasi  darah 
disekitarnya, sejrnak aku histeris. Ayah telah meningalkan aku bersama 
ibuku dan adik kecilku. Segera aku lari meninggalkan ayahku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk 
mengabarkan ibuku. Berlar dengan telanjang kaki, tak peduli bajuku lusuh
 kusam. Tak peduli aku dianggap pelari atau lari marathon. Yang penting 
ibu tau hal ini. Jalan aspal yamg penuh lubang. Panas pun menyengat 
kulitku yang hitam ini. Asap yang mengelilingi jalan raya tak aku 
pedulikan . aku tetap berlari meski kerikil-kerikil tajam yang aku injak
 ini. Seolah tak akan bias aku rasakan sakit di telapaku. Nafas 
tersenggal senggal setiap langkahku. Langkah dan langkah cepatku seolah 
rumahku semakin mendekat. Sejenak tertegun aku tak sabar akan kabar ini.
 Tibi-tiba kaki ini diam dengan mendadak, orang-orang lalu lalang kesana
 kemari. Aku bingung kenapa ada asap hitam dari kejauhan. Sempat tak aku
  hiraukan taoi kenapa itu menuju rumahku. Jalanku mepelan  sempat saja 
tak terpikirkan dengan keadaan ayah. Karena orang-orang berkari 
sepertiku. Semakin bingung seolah aku tak mengerti dengan keadaan. 
Hingga aku menemukan asap itu, yang asalnya dari rumah reyot itu.berkayu
 dekat halaman yang selalu aku bermain bola di situ, disana juga tempat 
pohon yabg sering tertidur diranting itu tepat paa depan pintu 
rumahku,dan kebakaran itu adalah RUMAHKU!!!!!!!!!!!! . aku segera 
menanykan orang yang tepat pada di depanku . bagaimana dengan ibu dan 
adikku. Orang itu menjawab seolah tidak terhiraukan pertanyaanku. Api 
semakin marah dan melahap rumahku. Bagaikan layunya daun di pucuk karena
 patahnya batang yang menyeret diriku dalam sebuah isak tangisan. 
TUHAN!!!!!!!!, cukupkah kau beri aku cobaan ini? Cita-citaku !!!!, 
harapanku!!!,keluargaku!!!!!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;        “kenapa!!!!!!!”, dengan histerisku layu . layu lutut tertekuk menyetuh tanah. Hancur sudah kepingan hidupku.&lt;br /&gt;
        Berjalan menelusuri jalanan pinggiran aspal. Melihat sekeliling 
kota yang tak punya lelah. Tapi sekarang aku lelah dengan batinku . 
berjalan seolah apa yang terjadi pada diriku yang sebatang kara ini. 
Cuaca sore pun masih terlihat sejuk dengan angin. Tapi hati tetap hati ,
 sesejuk sore ini , luka yang perih ini tak lagi terobati. Sejak aku 
merenung apa yang aku lakukan sekarang. Terbayang akan sekolahku, karena
 sekolah menghiburku setiap aku meratapi keluargaku.  Karena sekolah 
sumberku menumbuhkan semangat ini. Akan tetapi semua hancur dalam 
sekejap mata.akankah hidup di jalan ini teringan aku tidak melahap 
sesuap nasi. Aku mulai merasakan rapar dengan apa yang aku makan. 
Terlihat mobil barjajar antri,terpikir akankah aku meminta mereka. 
Tidak!!!!!!!! Aku tidak mau meminta !!!!!!! tapi tidak mungkin?,perutku 
sudah kosong tak berisi tidak! Aku harus bertahan              &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;     
   Hingga menjelang malam aku terus menahan lapar ini berjalan 
bertatih-tatih.ketika itu aku melihat mushola aku ingin sekali di 
sana.meski tidak beringinan sholat,karena aku tak paham dan saat itu aku
 nyaman dan hatiku seolah menjadi dingin,aku melihat trulisan kaligarfi 
 di setiap sudut jendela dan ruang imam.tak terasa aku tertidur di teras
 hingga laparku tak sempat aku laparkan lagi &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;        Terkaget saat 
kakek yang tidak begitu tua membangunkanku. Di sinilah aku menemukan 
kau,menberikan kata lembutmu membuat hati ini seolah terobati.sejak 
itulah kau menawarkan aku untuk ikut denganmu,dengan syarat mematuhi apa
 yang kau perintahkan.seolah semangat sedikit terbakar.mulailah aku dan 
kau hidup bersama meski kau memberikan berita tentangmu yang d tinggal 
isrti di surga sejak melahirkan anakmu. Kau hidup sendiri dekat mushola 
itu.anakmu telah berumah tangga jahu di sana,hingga kau tak merasakan 
kesepian bagitu tegarnya dirimu,dahulu terlihat wajah 
ramahmu.sebegitukah dirimu menganggap diriku anaknya sendiri dan dirimu 
tak urun hingga diriku berhasil menampak jalan tikungan ingga saatnya 
usiaku menanjak dalam hati terasa di permukaan daratan terjal meningkung
 tajam sangan mengiris hati.hingga saat ini air mataku tumpah pada saat 
sujut terakhirmu waktu diriku bersama menghadap komunikasi terhadap 
allah.teringan kata terakhir yang kau ucapkan saat itu aku. Coba untuk 
bentengi resah dan air mataku untuk tidak terlihat olehmu di alam 
beda.cukupkah diriku berlajar dari hidupmu.sekian lama hidup bersama 
denganmu.semua telah terukir indah di hati dan terpartri di lukisan 
indah di kehidupanku&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;        Dari mushola itu kau telah menatap ramah
 dan hidupmu seolah tidak ada resah di setiap hembusanmu.nasehat-nasehat
 itu aku simpan di buku kehidupanku.saat yang terindah membuat rasa 
kenangku yang aku jadikan pengalaman terindah.kau membenarkan saat 
mensucikan diri sebelum sembayang.waktu itu aku yang lugu tidak mengerti
 apa yang kau lakukan hingga kau menuntun dengan sabar,mengarahkan di 
kehidupan yang sebenarnya.di dirimulah aku terbentuk manusia yang 
sepantasnya.aku menemukan jati diriku semanjak hidup bersamamu indah 
bagiku. hingga kau memberikan ilmu yang terdapat apa yang kau miliki &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
        Saat jam 5 pagi aku berniat memberikan sesuatu hal yang 
membahagiakan,bahwa aku akan menbalas semua apa yang teleh kau berikan 
padaku.waktu itu ada berita yang mengejutkan bagiku menyatakan bahwa aku
 di terima di sebuah angkatan.kelak aku bercita-cita sebagai khalifah 
yang kau berikan cerita padaku.materi kehidupan yang kau ucapkan 
sehingga di dalam anganku terbangun dan mimpiku tarbayang kelak aku 
menjadi khalifah,aku menjalankan apa yang kau berikan meteri padaku&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt; 
       Tapi entah waktu menjadi saksi bisu dengan perjuanganku.untuk 
menyatakan hal yang menbahagiakan ini ,tapi sejalan waktu kau menberikan
 sujut terakhirmu waktu jamaah denganku &lt;br /&gt;        Teringat terus 
pikiran ini mengembang seolah apa yang terjadi tidak bisa terpikirkan 
lagi tapi karena kata terakhir itu menggema dan terus terngiang. Aku 
harus mampu untuk tegar meski kau tak sedarah. Begitupun diriku dahulu 
semua aku keluarkan dan aku harus memikirkan jalan ke depan.ya allah 
terima kasih atas kebesaran kekuasaanmu allah huakbar aku tempuh jalan 
tampamu d sujut terakhirmu. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama : Igbiana Pertiwi&lt;br /&gt;Tanggal Lahir: 12 November 1993&lt;br /&gt;Tampat tinggal : bojonegoro&lt;br /&gt;Add facebook: bianatiwi@yahoo.com&lt;br /&gt;Follow twitter:@igbiana&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-motivasi-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Motivasi&lt;/a&gt; yang lainnya &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/ZNdXGnS1Dxg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/ZNdXGnS1Dxg/sujud-terakhir-cerpen-motivasi.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-nkjeT_QUYi4/UZYfKmJQZ2I/AAAAAAAAGS8/EC5derIwtrQ/s72-c/Cerpen+Sujud.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/sujud-terakhir-cerpen-motivasi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-6943039508927281740</guid><pubDate>Fri, 17 May 2013 12:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-17T05:07:41.070-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Remaja</category><title>Lima Tahun Lalu - Cerpen Remaja</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;LIMA TAHUN LALU&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Agatha Onnasandevi Ratuwangi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat sedang akan mengambil minuman yang tersedia di sini. Prom Night. Ya, prom night ini adalah acara perpisahan sekolah yang benar-benar mengeringakan. Maksudku, mengerikan adalah setelah acara ini selesai aku harus pergi melanjutkan kehidupanku sekolah menengah atas. Kita semua, baru saja merasakan manisnya di SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus meninggalkan dia. Dia yang membuat hidupku selalu tersenyum saat dia ada untukku. Bahkan, saat dia hanya melihatku sebentar di ujung sekolah. Aku sangat bahagia karenya. Aku selalu berpikir, dialah milikku.&lt;br /&gt;“Hai?” aku menoleh kearah suara yang aku kira dia sedang menyapaku. Oh, aku tersedak oleh meinumanku.&lt;br /&gt;“Oh, Hai. Maaf,” sekarang didepan mataku sudah ada dia. Dia, adik kelasku, Desandro Williams. Aku benar-benar sakit jika melihatnya disaat seperti ini.&lt;br /&gt;“Sedang apa kau? Jelek?” ia tersenyum manis. Oh, ayolah jangan panggil jelek.&lt;br /&gt;“Aku nggak jelek tahu,” sebenarnya aku semakin canggung untuk melihatnya. Selama dua tahun dekatn dengannya aku tak pernah banyak bicara seperti kebanyakan oang yang sedang berpacaran. Tapi, kita berdua tahu kita salaing menyukai.&lt;br /&gt;“Em-“ Jangan! Jangan tanya mau sekolah dimana. Jangan!&lt;br /&gt;“Em, aku suka dress-mu malam ini,” oh, untung.&lt;br /&gt;“Oh, bukan apa-apa kok,” aku hanya tersenyum.&lt;br /&gt;“Kesini sama siapa?” tanyanya. Aku mnatap matanya sebentar.&lt;br /&gt;“Aku datang bersama, semua yang ada dalam diriku,” aku sambil tertawa.&lt;br /&gt;“Berarti, bersamaku dong?” hah?&lt;br /&gt;“Apa? Bercanda terus kamu itu,”&lt;br /&gt;“Iya kan? Aku dihatimu kok. Jadi ya berarti kamu sama aku terus, titik,” apaan sih?&lt;br /&gt;“Apaan deh, Sandro,” tiba-tiba dia membisikan sesuatu ditelingaku.&lt;br /&gt;“Kau harus tetap dihatiku. Apapun yang terjadi.” Deg! Apa maksudnya? Lalu sekolahku bagaimana?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xwf2P2Ellz8/UZYda61iDWI/AAAAAAAAGSs/CLXT0VGVKUY/s1600/Cerpen+5+Tahun.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="317" src="http://1.bp.blogspot.com/-xwf2P2Ellz8/UZYda61iDWI/AAAAAAAAGSs/CLXT0VGVKUY/s400/Cerpen+5+Tahun.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Lima Tahun Lalu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tiba-tiba mataku memanas. Aku tak bisa terus seperti ini. Perasaan ini selalu ingin bersamanay. Melihat senyumnya. Aduh, aku tak tahan. Lalu bagaimana sekolahku? Well, ssekarang mataku sukses menetes didepannya. Aku segera menghapus air mataku. Dia menyingkirkan tanagnku dan menghapus air mataku dengan lembut. Lalu ia membawaku di koridor sekolah di tempat yang sepi.&lt;br /&gt;“Apa yang kau pikirkan? Ak-.akuu tak bisa Sandro!!” aku terus menangis. Memukul-mukul dadanya. Aku benar-benar tak bisa melepasnya.&lt;br /&gt;“Sudahlah, kau ini cengeng sekali. Rikasa Lovata? Kau harus sekolah. Lalu-“ kata-katanya kupotong. Aku tak kuat lagi bila aku mendengarnya.&lt;br /&gt;“Tidak! Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu! Sandroo! Aku tak bisa. Aku tak bi-“ Tiba-tia aku merasa ada sesuatu yang menempel dibibirku. Kubuka mataku cepat dan melihat apa yang terjadi. Oh! My God! Dia menciumku.&lt;br /&gt;“Ap- apa yang su- sudah kau lakuk-“&lt;br /&gt;“Aku tahu ini ciuman pertamamu. Itu artinya, kau sudah menjadi milikku, titik,” ia tersenyum dan menghapus lagi air mataku. Aku hanya melongo dan tak bisa berkata- kata lagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengingatnya lagi. Dia, yang mencuri ciuman pertamaku. Sekaang aku ber=kerja di fashion GUCCI yang terkenal. Aku melihat pemandangan pagi di New York. Aku selalu berusaha untuk hidup tanpanya. Tanpa cinta pertamaku, Desandro Williams. Aku menghempaskan nafas panjang dan tersenyum mengingatnya lagi.&lt;br /&gt;Kira-kira, sekarang bagimana wajahnya ya? Batinku.&lt;br /&gt;Aku sedang libur libur. Jadi, aku akan berjalan-jalan sebentar di New York. Degan jaket panjangku, high heels dan topi merah mudaku. Sekitar setengah jam waktuku berlalu kuhabiskan untuk berjalan-jalan saja. Akhirnya, aku duduk di kafe piinggir jalan. Aku mengeluarkan diary usangku yang punya dari Sandro saat setelah pesta prom night lima tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desandro Williams?&lt;br /&gt;Apa kabar? Aku sekarang ada di New York menunggumu. Huu.. kau tahu, aku benar-benar merindukanmu. Aku ingin melihat lagi wajah cubby yang kau imut itu. Kau sekarang ada dimana? Apakah kau punya pacar? Tidak! Kau tak boleh punya pacar sekalipun! Hanya aku! Aku juga, lima tahun penuh ini, aku hanya mengingatmu! Awas saja, kalau aku melihatmu dengan permpuan lain! Akan kubunuh kau Sandro!&lt;br /&gt;Tapi, aku selalu yakin. Kau menepati janjimu sendiri. Oh, Tuhan. Sekarang aku benar-benar membutuhkannya. Aku merindukannya! Aku ingin dulu lagi. Well, aku hanya bisa melihatmu lewat mimpi. Bayang-banyang setiap aku stress kerja.&lt;br /&gt;Oh, iya. Apakah kau tahu? Setip malam kalau ada bintang, aku selalu memohon pada bintang agar menyampaikan rinduku padamu. Apakah kau menyadarinya? Ya, aku sekarang tertawa sendiri mengingat kejadian-kejadian itu setiap malam. Dan membuatku bertanya-tanya, apakah segila itu apa padamu?&lt;br /&gt;Aku berharap. Aku akan menemukanmu. Dan kembali seperti lima tahun yang lalu. Aku selalu mencintaimu~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Februari 13&lt;br /&gt;Risaka Lovata~ ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku menutup diari usang ini. Aku kembali meminum minumanku yang aku pesan sepuluh menit yang lalu. Tiba-tiba ada yang duduk di meja pelanggan. Tepatnya didepanku. Aku membelalakkan mataku dan gelas yang aku pegang masih menempel dibibirku. Aku beranjak akan pergi.&lt;br /&gt;“Bolehkah aku duduk disini? Aku hanya butuh teman,” ia tersenyum padaku. Sepertinya aku tahu siapa gerangan yang datang disini.&lt;br /&gt;“Oh. Baiklah,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terjaga dalam waktu.&lt;br /&gt;“Em, Aku-“ kita berdua tak sengaja berbisa secara bersamaan.&lt;br /&gt;“Kau dulu,”&lt;br /&gt;“Tidak. Kau dulu saja,” kataku.&lt;br /&gt;“Tidak, kau saja,” huuhh..&lt;br /&gt;“Baiklah, namaku Risaka Lovata. Kau?”&lt;br /&gt;“Apakah kau tak mengenali wajahku sekalipun?”&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;“Jelek?” ia tersenyum lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelek? Jelek. Jelek. Jelek. Jelek. Aku mencoba mengingat kata-kata itu. Da, YA!&lt;br /&gt;“Kau? Yung- tunggu! Sandro?” aku menyentuh wajahnya.&lt;br /&gt;“Kau Sandro? Ya Tuhan!” aku menutup mulutku dengan kedua tanyanku. Aku benar-benar bisu sekarang. Dia! Sandro. Aku mulai menangis saking bahagia. Aku langsung memelukknya.&lt;br /&gt;“Hei? Kau ini tetap saja cengeng seperti dulu,” katanya yang menghapus air mataku.&lt;br /&gt;“Kenapa kau diam saja?” katanya lagi. Aku menggelengkan kepalau dan tersenyum.&lt;br /&gt;“Kau tak merindukanku?” aku kembali menggelengkan kepalaku dengan tegas kali ini.&lt;br /&gt;“Sudahlah, sekarang kita jalan-jalan saja. Bagaimana?” kataku.&lt;br /&gt;“Tapi, aku disini hanya lima jam lagi,” apa!&lt;br /&gt;“Apa maksudmu bodoh!”&lt;br /&gt;“Memang benar kok,”&lt;br /&gt;“Ya sudah! Sana pergi dariku!” aku mulai berjalan menjauh darinya. 1... 2... 3..&lt;br /&gt;“Oh, come on. Aku hanya bercanda,” aku berhenti dan tersenyum kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onnasan-&lt;br /&gt;22.02.2013&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Agatha Onnasandevi Ratuwnagi&lt;br /&gt;SMP Kanisius Kudus&lt;br /&gt;IX&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pround For Your Simply..&lt;br /&gt;kembangsekar@gmail.com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-remaja-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Remaja&lt;/a&gt; yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/cxf3DkKDnWw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/cxf3DkKDnWw/lima-tahun-lalu-cerpen-remaja.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-xwf2P2Ellz8/UZYda61iDWI/AAAAAAAAGSs/CLXT0VGVKUY/s72-c/Cerpen+5+Tahun.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/lima-tahun-lalu-cerpen-remaja.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-8738694484814851727</guid><pubDate>Fri, 17 May 2013 12:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-17T05:01:38.107-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Ayah</category><title>Sesejuk Embun Sentuhanmu, Ayah - Cerpen Ayah</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SESEJUK EMBUN SENTUHANMU, AYAH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Sabina Puri Kinanti&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rintikan rinai mulai jatuh dan bergulir membasahi bumi. Aku tengah berdiri meratapi gundukan tanah berhiaskan batu nisan kelabu. Terukir nama kedua orang yang sangat aku cintai. Ya, ayah dan ibuku. Air mata yang tak terbendung pun harus kulepaskan. Kembali ku mengenang masa lalu. Masa lalu yang takkan kulupa dan akan terus menggantung dalam benakku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau Ayah yang lebih baik. Seseorang yang tidak bisu dan tuli. Ayah seperti yang dimiliki orang lain. Seorang Ayah yang bisa mendengarkan harapan dan keluh kesahku. Ayah yang bisa bicara dan mengerti aku”&lt;br /&gt;Pagi itu, waktunya bagiku untuk kembali bersekolah. Seperti biasa aku diantar oleh ayah dengan motor bututnya. Mood ku selalu saja jelek jika ayah menemaniku. Aku malu. Beliau adalah orang yang bisu dan tuli. Namun, beliau tetap berusaha mendidikku sebagaimana ayah yang semestinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ftDzgIM0DSo/UZYb2MWwJqI/AAAAAAAAGSc/h7gARgBpG04/s1600/Cerpen+Menunggu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://3.bp.blogspot.com/-ftDzgIM0DSo/UZYb2MWwJqI/AAAAAAAAGSc/h7gARgBpG04/s400/Cerpen+Menunggu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sesejuk Embun Sentuhanmu, Ayah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan gerakan tangan dan mulut yang membuka tutup, seolah menyampaikan sebuah pesan, aku tahu bahwa ayah sedang menyemangatiku untuk bisa belajar dengan giat di sekolah. Tak mau diperhatikan banyak teman-temanku, aku pun langsung berlalu memunggungi ayah. Ayah pasti sangat kecewa denganku, tapi, rasa malu itu selalu berhasil mengalahkan keinginanku untuk bisa menyayangi ayah.&lt;br /&gt;Lau, salah seorang teman perempuanku. Ia yang selama ini kuanggap bisa menerima aku apa adanya ternyata sama saja seperti yang lainnya. Memang dia bisa menerimaku apa adanya, namun, ia selalu saja mempermasalahkan ayahku yang bisu dan tuli itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya dimulai saat awal aku masuk SMA. Aku dan Lau berkenalan dan menjadi teman akrab semasa itu. Kami sering bepergian kemana-mana bersama dan berbagi suka dan duka bersama. Saat itu, aku bercerita panjang lebar tentang kisah hidupku, dimana aku terlahir dari seorang ibu yang amat cantik dan ayah yang gagah. Dahulu, hidup kami bertiga sangat bahagia dan aku selalu membanggakan memiliki kedua orang tua yang selalu dianggap serasi oleh orang-orang yang menjumpai mereka. Bagaimana tidak, aku adalah darah dan daging mereka. Ayah ku bernama Pan. Ia sangat pandai berbicara di depan umum. Tak heran jika ia dijadikan pembicara besar perusahaannya. Banyak orang yang menyukai ayah, termasuk salah satu wanita bawahannya saat ayah menjabat sebagai bos perusahaan.&lt;br /&gt;Yang-Zao. Begitu tulisan yang memenuhi kartu nama di kemeja wanita itu. Dengan senyumannya yang manis dan sikapnya yang sopan membuat ayah juga tertarik padanya. Semakin hari, mereka semakin sering bertemu karena Yang-Zao dipindah tugaskan menjadi asisten ayahku. Mereka semakin akrab seiring larut dalam kehangatan saat membicarakan pekerjaan. Lambat laun, pembicaraan mereka tidak terbatas hanya pekerjaan saja, tapi sudah merembet kepada hidup berkeluarga. Yang-Zao belum punya kekasih saat itu dan ayah bertekad untuk melamarnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun berlalu..&lt;br /&gt;“Pan Hyung Park, apakah Anda bersedia menerima Yang-Zao sebagai istri Anda dalam suka maupun duka, saat sehat maupun sakit, dan mencintainya seumur hidup?” tanya sang Pastor terhadap mempelai pria.&lt;br /&gt;“Ya, Saya bersedia,” ujar ayah berwibawa.&lt;br /&gt;Begitu akhir kata janji pernikahan yang diucap ayah dan ibu saat itu. Riuh tepuk tangan dan tangis haru para undangan memenuhi gedung hotel mewah nan elok, tempat perlangsungan pernikahan. Kini, wanita pemilik senyum anggun itu telah mengikatkan dirinya pada pria berwibawa dan gagah itu, memutuskan untuk mengarungi hidup bersama selamanya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar rengekan bayi dari ruang persalinan rumah sakit. Aku telah dikirim Tuhan sebagai hadiah untuk sepasang pengantin baru yang serasi ini dan berkesempatan untuk melihat dunia. Mereka menamakan aku Ryu-Hyun. Aku adalah seorang perempuan mungil berbalutkan kain hangat yang tengah berada dalam dekapan wanita yang menjadi ibuku.&lt;br /&gt;Aku tumbuh menjadi remaja berusia 12 tahun yang baik dan selalu menyayangi kedua orangtuaku. Aku hidup damai dan bahagia bersama ayah dan ibu hingga kecelakaan naas yang merenggut kebahagiaan itu dari kami. Sewaktu perjalanan dari Thailand ke tempat wisata yang jauhnya kurang lebih 2 jam. Mobil Ford Focus hitam melaju dengan kecepartan standar, tak terlalu besar badannya tapi nyaman untuk kami bertiga. Semula perjalanan begitu terasa menyenangkan dan aman, namun mungkin ini takdir Tuhan. Truk besar yang membawa muatan barang-barang furniture melaju dari belakang kami, sang supir pun sepertinya telah sibuk menggunakan ponselnya. Ketika jarak kami tak lagi jauh, barulah ia menyadari dan segera mengerem kendaraannya itu, sayang semua terlambat. Kami pun bertabrakan. Serpihan serpihan kaca mobil dan bagian badan mobil ford kami terpental dan hancur seketika. Entah mengapa, kejadian itu tak membuat kami semua kembali kepada Yang Kuasa, melainkan hanya ibu yang pergi...&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun begitu cepat kulalui, meskipun hanya bersama ayah. Naas, keadaan kami tak sebahagia dulu, sebelum direnggut kecelakaan yang takkan terlupa seumur hidupku. Ayah ku, kini membesarkanku dengan keadaannya yang bisu dan tuli. Kenapa bisa? Dari kecil, ayah sebenarnya sudah didiagnosa sebagai calon anak yang bisu dan tuli akibat otak temporalis nya yang lemah. Kedua orangtuanya harap-harap cemas menyaksikan ayah yang tumbuh besar. Namun, syukur yang teramat diucapkan oleh kakek dan nenek, karena ayah tumbuh menjadi seorang normal bahkan sampai jadi pembicara ulung. Sayang, ketika kecelakaan kami waktu itu mengakibatkan otak temporalisnya yang lemah mengalami kerusakan hebat.&lt;br /&gt;Beliau sudah bukan lagi pembicara besar yang gagah dan hebat seperti dulu, malah beliau sudah dipecat karena kondisinya. Penampilannya juga membuat ia menjadi lebih ke arah orang dungu yang tak bisa apapun. Awalnya, aku sangat memperhatikan ayah, aku sangat sayang menyayanginya. Bahkan, aku tidak mau ayah lelah atau merasa sedih sedikit pun. Aku berpikir, bahwa akulah pengganti ibu untuk mengurus ayah. Sempat terlintas dalam otakku, mengapa orang-orang yang memecat ayahku hanya karena kondisi fisiknya amat egois. Aku benci mereka. Kehidupan kami menjadi sederhana, sangat sederhana. Aku dan ayah hanya tinggal di rumah kayu kecil di pinggir jalan. Ayah berdagang keliling kecil-kecilan. Kehidupan kami saat itu masih berjalan lancar-lancar saja hingga aku berusia 16 tahun.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, yang Ayahnya buta dan tuli! Hahaha, kasihan sekali kau!!”&lt;br /&gt;“Bisuuu...Tuli...Bodoh... Ih, malu banget punya Ayah kayak gitu!” begitulah ejekan teman-teman SMA ku. Awalnya, aku merasa biasa saja, karena memaang itulah kondisi sebenarnya, namun lama-kelamaan aku menjadi risih dengan ocehan yang tak henti keluar dari mulut mereka.&lt;br /&gt;“Hei” sapa Lau sambil menepuk pundakku.&lt;br /&gt;Kubalas tatapannya dengan senyum, namun aku merasakan sesuatu yaang ganjil saat dia menepukku tadi. Samar-samar sambil tersenyum aku mendegar suara gesekan kertas menyelingi pendengaranku. Lau pun berlalu. Firasatku merasa tak nyaman. Benar saja, Lau menempelkan secarik kertas di tempat ia mendaratkan tangannya tadi sambil melontarkan tipuan palsunya itu. Secarik kertas yang ia tempelkan di bagian belakang bajuku berisikan ejekan yang sangat menusuk hati. Bagaimana tidak, aku kira ia adalah teman yang baik, aku kira kita adalah sahabat yang bisa saling mengerti kondisi dan keadaan namun apa yang banyak kuperkirakan tak berujung indah...&lt;br /&gt;Tak jarang aku berkelahi di lapangan basket sekolah dengan Lau karena tingkahnya yang sudah mulai keterlaluan dan menjadi provokasi semua teman-temanku untuk mengejek kondisi ayahku. Aku benci Lau. Aku benci semua anaak-anak yang mengejek ayahku. Tapi, aku jadi benci juga dengan kehidupanku sekarang yang tak sebahagia dulu. Tuhan mulai tak adil, batinku. Akhirnya, tak lepas semua amarah batin yang kupendam ini, ku lampiaskan pada ayahku sendiri.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus bergulir tanpa henti, matahari dan bulan bergantian menjaga bumi. Perasaanku semakin tidak menyukai ayah memuncak. Aku hanya berharap memiliki ayah yang seperti dulu, yang bisa mendengarkan keluh kesahku setiap saat dan bisa mendukungku di segala kondisi. Tapi apa yang kudapat? Ayah yang bisu dan tuli serta tingkahnya yang dungu. Sungguh malu aku dibuatnya. Mengapa aku tidak bisa memiliki ayah seperti yang dimiliki orang lain, ayah yang normal.&lt;br /&gt;Malam itu, aku terpaksa sekali makan malam bersama ayah, padahal aku dalam kondisi mood yang kurang baik. Entah mengapa, setiap aku memerhatikan ayah ada seperti ada perasaan benci yang menyeruak dalam hatiku. Ayah menangkap tatapanku. Beliau pun tersenyum dan mulai membahasakan tubuhnya. Sungguh muak sampai tidak nafsu makan akibat ulah ayah yang bodoh. Kali itu pula ejekan teman-teman bergantian mengisi memori otakku. Hentakan di meja makan terjadi. Aku pergi meninggalkan ayah tanpa menoleh lagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara malam yang dingin menusuri kulitku. Pukul 7 malam, dengan seragam sekolah lengkap yang belum sama sekali kuganti dan tas sekolah yang masih kujinjing menemani dalam perbincangan hangat bersama pacarku. Sempat terlintas dalam pikiranku sesosok ayah, apa dia akan khawatir karena aku belum pulang? Peduli apa! Perasaan kesal luar biasa mengaburkan bayangan tentang ayahku. Yang ada malam ini, aku ingin bersama pacarku saja, tak peduli kapan aku akan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki botak plontos memakai kaos hitam tak berlengan, seperti tampilan preman pada umumnya kini tengah melangkahkan kakinya di sampingku. Ryan. Aku menikmati hubunganku dengannya yang sudah berjalan sekitar 5 bulan lalu. Ia pun tau bahwa aku hidup dengan ayah yang berkekurangan, tapi ia tak mempermasalahkannya. Hah...Setidaknya, ia lebih baik dari Lau, orang yang awalnya kuanggap sebagai teman yang baik. Detik demi detik berlalu dengan hembusan angin malam, dingin yang menyeruak semakin terasa. Akhirnya kuputuskan berpamitan dan kami pun berpisah di gang sebelah rumahku. Jam menunjukkan pukul 11.10 malam. Pintu rumah tidak dikunci. Pemandangan yang pertama tertangkap kedua mataku adalah ayah. Ya, dengan kaos merah muda nya yang sudah kumal ia berdiri menatapku dengan gemas. Ayah membahasakan tubuhnya dengan berapi-api, aku tahu ia sedang marah kepadaku karena aku pulang terlalu larut. Karena kondisiku yang lelah dan sudah hampir tengah malam tak bisa lagi kuredam emosiku.&lt;br /&gt;“Apa! Ayah mau apa, ha?! Ayah menyalahkanku karena terlambat pulang?! Apa gunanya juga kalau aku diam di rumah ini bersama orang yang dungu tak bisa bicara dan tuli disampingku! Aku tak mengerti apa yang Ayah maksudkan, gerakan tubuh ayah membuat aku muak melihatnya! Aku tidak suka memiliki Ayah seperti kau, aku mau Ayah normal seperti teman-temanku!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku hentakkan keras kakiku dan beranjak meninggalkan ayah. Seketika aku menyadari perubahan mimik wajah ayah yang tadinya sebal kini penuh dengan rasa kecewa.&lt;br /&gt;“Aarrggh! Masa bodoh! Kalau hanya karena ini Ayah menderita, lalu aku bagaimana?! Dihina dan dijauhi oleh teman-temanku karena kondisi Ayah! Tak bisakah setidaknya bertingkah tidak seperti orang dungu? Aku benar-benar menginginkan Ayah yang gagah seperti dulu, Ayah yang selalu aku banggakan......” batinku penuh dengan pikiran-pikiran itu. Tak terasa gigiku bergemeletuk karenanya. Bahkan, aku mulai mempertanyakan ketidak adilan Tuhan. Lagi-lagi.&lt;br /&gt;“Tak adakah seberkas belas kasih yang Tuhan berikan pada hidupku? Setidaknya, semua orang tidak mempermasalahkan kondisi Ayahku. Aku benci sekali saat mereka seperti itu” kembali batinku mulai beradu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulir-bulir air mata tak henti mengalir dari bendungannya. Kudapati lagi anak-anak bersorak ria mengejekku. Mereka sudah keterlaluan membuatku malu, mereka sudah keterlaluan! Segera kulangkahkan cepat kakiku menuju toilet sekolah. Disana, aku berpatut di cermin. Pipi yang basah dipenuhi air mata, mata sembab yang menghiasi wajahku menggambarkan penderitaan batin yang amat mendalam. Mulai aku menangis lagi mengingat kejadian awal cerita.&lt;br /&gt;“Mengapa harus terjadi kecelakaan itu... Mengapa Ibu harus pergi meninggalkanku...... Mengapa Ayah harus menjadi seperti ini........ Tuhan.. Mengapa!!”&lt;br /&gt;Gontai kukerahkan kekuatanku untuk berjalan. Meski sebenarnya habis sudah kekuatan ini terkuras oleh air mata. Kendaraan berlalu lalang di jalanan, banyak orang berjalan dengan keluarga mereka. Ayah mereka, ibu mereka. Menyelipkan seberkas senyum dan canda tawa yang membuat orang memandang iri. Ada halte di dekat situ, maka aku mengunjunginya. Dengan menyandarkan kepalaku di tiang-tiang penyangga tempat duduk, aku meratapi nasibku, yang memiliki kehidupan tidak sempurna dibandingkan dnegan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari mulai sembunyikan sinarnya. Aku berjalan menuju gang rumahku, masih dalam keadaan lemas. Saat itu, tak sengaja ada Ryan, pacarku. Ia mengendarai mobil sedan hitamnya, menyuruhku masuk ke dalam. Aku pun menurutinya. Saat sudah bersandingan dengannya, kutatap mata Ryan lekat-lekat.&lt;br /&gt;“Ada apa denganmu? Mengapa matamu sembab seperti itu?” tanya Ryan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam membisu. Tak lama, Ryan menghela nafas panjang. Ia pun membuka pembicaraan lagi.&lt;br /&gt;“Aku tau, pasti lagi-lagi kamu disindir oleh teman-temanmu karena kondisi Ayahmu. Sebenarnya, aku mau jujur ini dari awal.. Aku..” nafasnya tertahan.&lt;br /&gt;“Aku juga malu memiliki mertua yang nantinya berkondisi seperti itu. Aku..Tidak mau. Bahkan, kini kita masih pacaran saja aku sudah disindir-sindir oleh teman-teman sepergaulanku. Aku tak berani mengatakan ini sebelumnya, karena aku tidak mau melukai perasaanmu. Tapi, aku rasa saatnya sekaranglah aku harus jujur. Aku sayang padamu, tapi tidak pada Ayahmu. Beliau juga sepertinya tak menyukaiku.. Aku...”&lt;br /&gt;“Aaaaaaaaa” jeritku sambil mengacak-acak rambutku. Kembali ku berurai air mata. Berkhianat! Kamu mengkhianatiku, Ryan! Sergahku dalam hati.&lt;br /&gt;“Aku benci kau! Aku benci hidupku! Aku benci segaalanya di dunia ini! Kau bilang dari awal kau mau menerimaku apa adanya. Tapi kenapa sekarang kau sama saja seperti teman-temanku dan semua orang, ha?! Mengapa tidak sekalian saja kau ucapkan kata-kata yang sebenarnya sudah tertahan dihatimu sejak lama? Buat aku sakit sekalian, Ryan!”&lt;br /&gt;“Brukk!” kututup keras pintu mobil Ryan yang tengah berhenti itu. Sekuat tenaga ku tahan amarahku, tapi tak bisa. Air mata terus berderai membasahi kelopak mata. Dunia dan Tuhan memang tak adil....&lt;br /&gt;Merasa tak ada lagi arti hidup bagiku. Kuputuskan untuk pergi saja. Pergi dari dunia ini ke tempat yang lebih baik mungkin...&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bruuukk!”&lt;br /&gt;“Aku tau kondisiku memang tak seperti yang kau inginkan.. Kini aku memang bisu dan tuli. Tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk bisa menjagamu seperti halnya yang dilakukan Ayah pada anaknya”&lt;br /&gt;“Sayang, makanlah yang banyak. Itu akan membantumu tumbuh besar.. Baik-baiklah di sekolah..” itu yang selalu tidak kau mengerti, Ryu..&lt;br /&gt;“Hari ini adalah hari ulang tahun Putriku” ucapku dengan bahasa tubuh sumringah pada seorang pelangganku”&lt;br /&gt;Kekecewaan yang teramat ayah rasakan hari ini, tepat saat kau berulang tahun, Ryu. Ayah melihatmu yang sudah berlumuran darah. Ayah melihat nadi tanganmu sudah tersayat oleh serpihan silet.&lt;br /&gt;Saat itu juga Ayah menangis tak karuan. Ayah segera membawamu ke rumah sakit agar kau cepat ditangani oleh dokter.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kue tart berwarna hijau dengan hiasan sederhana nan cantik terletak di meja. Aku menunggu kehadiranmu di meja makan ini, tempat biasa kita makan malam bersama.. Sudah kupersiapkan dengan matang segalanya. Ucapku dalam hati sambil menggenggam sebuah surat, berisikan ucapan.&lt;br /&gt;“Selamat Ulang Tahun, Tersenyumlah selalu! Sayang, Ayah” begitu ukiran krim cokelat yang menghiasi kue tart malam itu.&lt;br /&gt;Aku mulai berkata-kata dengan bahasa tubuh seorang diri..&lt;br /&gt;“Maaf untuk segala kondisiku saat ini. Aku memang tak bisa berbicara selayaknya Ayah normal yang lain. Tapi, aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku mencintaimu dengan segenap hatiku...”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku berusaha membuat pemahaman dokter berjalan. Aku berusaha mengeluarkan gaya bahasa tubuh agar dokter mengerti.&lt;br /&gt;“Jangan biarkan apapun terjadi pada Putriku. Dokter, ambillah hartaku! Aku punya rumah, aku punya uang. Ambil semua itu, tapi Putriku, ia tak boleh mati!”&lt;br /&gt;Nafas tersengal mulai mengahmpiriku, keringat dingin dan rasa khawatir, takut, sedih, campur aduk dalam benakku. Bagaimana tidak, putriku dalam kondisi yang tak memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang dokter yang tengah berdiri dihadapanku, melihat wajahnya yang berusaha untuk mengerti aku. Dengan putus asa yang mendalam akhirnya kuulurkan tanganku. Berharap kali ini, dokter mengerti.&lt;br /&gt;“Ambil darahku!”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka mata perlahan. Melihat ruangan yang serba putih di hadapanku terbentang luas. Melihat infus yang menggantung disampingku, aku tau dimana sekarang aku berada. Sinar mentari pagi menyeruak dari balik celah kecil jendela rumah sakit. Aku masih lemah. Aku terbaring dan mengembalikan perlahan memoriku tentang kejadian saat itu. Saat menoleh ke arah kanan, aku melihat seorang pria yang gagah itu terbaring disana. Pria yang selama ini aku anggap adalah seorang yang bisu dan tuli yang berkelakuan bodoh. Pria yang kuanggap tak pernah mengerti aku. Terbaring lemas sama sekali. Ku gapai tangan beliau, ku genggam erat dan betapa kurasakan hangat yang menjalari tubuhku.&lt;br /&gt;“Tidak ada Ayah yang sempurna di dunia ini, tapi Ayah akan selalu bisa mencintaiku dengan sempurna. Terimakasih Ayah, maafkan Ryu...”&lt;br /&gt;Derai air mata tak dapat lagi kubendung. Ketika dokter perlahan melepaskan tanganku dan berbisik pelan. Ia meminta izin, agar tubuh ayah bisa diistirahatkan...&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELESAI&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hai! Aku sekarang kelas 3 smp, aku tinggal di Bontang, Kalimantan Timur.
 Mungkin kalian ada yang pernah mengunjunginya?:D Ini yaa, aku kirim 
cerpen karyaku baru baru ini. Semoga terhibur, dan maaf jika ada salah 
kata dalam ceritanya, itu tidak disengaja. Terimakasih untuk para 
participant dan Loker Seni! Semoga Budaya Indonesia dalam menciptakan 
karya tak pernah luntur!&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/AAO-HRL9X3o" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/AAO-HRL9X3o/sesejuk-embun-sentuhanmu-ayah-cerpen.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-ftDzgIM0DSo/UZYb2MWwJqI/AAAAAAAAGSc/h7gARgBpG04/s72-c/Cerpen+Menunggu.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/sesejuk-embun-sentuhanmu-ayah-cerpen.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-7215694965816887420</guid><pubDate>Fri, 17 May 2013 11:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-17T04:56:56.846-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Remaja</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Persahabatan</category><title>Janji - Cerpen Persahabatan Remaja</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;JANJI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Ridho Amanatullah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“....,Janji yahh”. “ia aku pasti akan menepati janjiku..”. (dalam mimpi haru)&lt;br /&gt;“Haru..Haruu…Haru, Heii haru bangun. Sampai kapan kau mau tidur”, Ucap ibu membangunkan ku yang tertidur di dalam mobil. Perlahan-lahan mata ini terbuka dan dengan kondisi mata yang masih mengantuk aku melihat pemandangan lewat jendela mobil. “Haaaaahh.. Indahnya.. Desa memang tempat yang luar biasa” ucapku di dalam hati saat melihat pemandangan desa yang di baluti langit biru dengan awan putih serta sungai yang mebatasi wilayah perdesaan dan wilayah hutan di kaki gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku mengunjungi desa nenek bersama dengan ayah, ibu dan juga adikku. Kami berencana untuk menginap satu minggu disana. Sudah sekitar 5 tahun aku tidak mengunjungi desa ini. Saat itu aku adalah tipe anak pemalu yang tidak pandai bersosialisasi dengan anak-anak di desa. Tapi saat itu aku bertemu seorang anak laki-laki yang kira-kira sebaya denganku. Saito namanya. Aku bertemu denganya saat keluargaku sedang mengunjungi sungai, Saito sebenarnya juga sudah mengenal nenek dan kakek karena Saito adalah salah satu anak yang cukup aktif di desa itu. Entah mengapa aku merasa cukup cocok dengan saito, aku merasa tidak canggung saat di dekatnya, bermain, memancing bahkan menelusuri hutan bersama-sama. Dalam waktu sekejab saja aku sudah bisa akrab dengan saito.&lt;br /&gt;“Nenek..!!” teriak adik ku ketika melihat nenek yang sedang menyapu halaman di rumah yang sederhana tetapi masih terawat itu. “Owh Haru, Hani, lama tidak bertemu, bagaimana kabar kalian” Tanya nenek ketika melihat kami. “Baik nek.” Jawab adik ku dengan logat kekanak-kanakannya. Setelah ngobrol dan istirahat sejenak, aku beserta keluargaku berencana untuk mengunjungi sungai. Di sungai kami bermain-main air dan mata ku sempat melihat sosok yang tidak asing sedang menintip dari belakang pohon.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-s1gJgXUiWA0/UZYarLfwskI/AAAAAAAAGSM/f9Bw6xvhgCQ/s1600/Cerpen+Berbeda.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="262" src="http://1.bp.blogspot.com/-s1gJgXUiWA0/UZYarLfwskI/AAAAAAAAGSM/f9Bw6xvhgCQ/s400/Cerpen+Berbeda.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Janji&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanpa berpikir panjang aku langsung kearah pohon itu dan setelah berjalan agak jauh ke dalam hutan, seseorang memangilku dari arah belakang. Dengan perasaan was-was aku melihat ke belakang dan yang kulihat adalah sesosok anak laki-laki yang lebih pendek dari ku lengkap dengan sandal jepit khas di wilayah desa sini. “Lama tak bertemu, Haru..” ucap anak itu kepadaku. “Saito.. Saito kan?” tanyaku dengan sedikit bingung. “Iyalah, kamu kira siapa lagi, Haru.” Jawab saito dengan wajah yang terlihat kesal bercampur candaan. “Saitooo…!!!!” teriak ku sambil berlari ke arahnya. Tetapi Saito langsung menghindar dan alhasil aku menabrak pohon yang kala itu berada di belakang Saito. “Hahaha.. kamu ngak pernah berubah ya Haru, selalu ceroboh dan langsung betindak tanpa berpikir panjang dulu” Ledek Saito sambil tertawa terbahak-bahak. “Aduh..duh.. kau kejam Saito, kita kan udah lama ngak ketemu, seengak- seengaknya jangan meledeku donk..”. “Hahaha.. maaf, maaf aku Cuma bercanda tadi, maafkan aku yahh..”. “ia ia aku maafkan, tapi saito sudah beberapa lama rasanya tinggi kamu ngak bertambah-tambah yah. Padahal dulu kau lebih pendek dari ku, kan?” Tanyaku kepada saito. Tapi Saito segera berkelit dari pertanyaan itu dan mengantinya dengan pembicaraan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bercakap-cakap dengan Saito, aku baru ingat kalau aku tadi pergi tanpa berpamitan dengan orang tuaku di tepi sungai. Terpaksa aku harus kembali dan sebelum kembali, saito mengatakan kepadaku untuk datang besok siang ke tepi sungai untuk menepati janji yang dulu dia buat denganku. Aku mengatakan kalau aku pasti akan dating. Tetapi jujur, aku sendiri sudah lupa tentang janji yang aku buat denganya 5 tahun yang lalu. Tapi ya sudahlah pikir ku, karena besok pasti Saito akaan mengatakanya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok siangnya saat aku bersama keluargaku sedang menyantap makan siang, tak sengaja aku menyingung tentang pertemuanku dengan Saito. Sejenak ayah, ibu, kakek, dan nenek ku terdiam melihat aku yang menceritakan tentang Saito. “Dimana kau bertemu dengan Saito itu” Tanya ibu kepada ku. “Di sungai, bu, saat kita kesana kemarin” jawabku. “Sebaiknya kau jangan dekati anak yang bernama Saito itu!” bentak ibu tiba-tiba pada ku. “Ibu apa-apaan sih? Kenapa tidak boleh?” tanyaku dengan nada bicara yang cukup keras. “Sudah! Pokonya kau jangan dekati dia lagi, itu saja pesan ibu.” Bentak ibu dengan nada bicara yang semakin keras. “Ibu aneh!” Teriak ku kepada ibu sambil berlari menuju hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup jauh berlari ke dalam hutan, aku baru sadar kalau ini sudah sangat jauh dari sungai. Aku mencoba berjalan kembali tetapi tidak kunjung mencapai sungai, aku mulai putus asa. Langkah kaki ini terasa tidak sanggup lagi berjalan ditambah lagi dengan heningnya hutan yang seakan menelan jiwa ku yang tadinya berani memasuki hutan ini. Samar-samar dari balik hutan aku melihat sesosok bayangan berjalan menghampiriku, “Hewan buaskah?” pikirku. Jantung sudah berdegup kencang dan kaki ini terasa lemas membayangkan bayangan apa yang mendekat itu sebenarnya. Melewati pohon-pohon bayangan itupun berubah menjadi semakin jelas. Saito, wujud asli dari bayangan itu seakan melegakan perasaan takut yang kubayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;“Saito, mengapa kau bisa mengetahui aku ada disini..” tanyaku pada Saito. “Ah..yaa.. hutan ini sudah seperti rumah bagiku, jadi aku tahu letak-letak di hutan ini” jawab Saito dengan sedikit gugup. Ada kejanggalan yang kurasakan dari Saito, walau bagaimanapun, tidak mungkin Saito secara tidak sengaja menemuiku yang teresat ini. Tapi semua pikiran negatif itu aku singkirkan, bagiku yang telah diselamatkan Saito saja ini sudah cukup, tidak peduli alasan apa yang ia katakan ketika menemukan keberadaanku. “Oh ya, Haru.. Hari ini aku akan menepati janji kita, kau masih ingatkan.” Tanya Saito. “Ohw itu, ya tentu, tentu aku masih ingat.” Jawabku kedpadanya. Aku masih belum mengingat janji apa yang aku buat saat itu, tetapi aku akan mencoba mengikuti kemana Saito akan mebawaku dengan harapan aku akan mengingatnya di perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sebuah sisi gunung yang cukup datar , saito menyuruhku melihat kearah desa yang bisa dilihat dari sisi gunung itu. “Lihatlah Haru.. Inilah tempat yang aku janjikan waktu itu.” Ucap Saito kepadaku. Setelah aku melihat ke arah desa, terlihat jelas pemandangan yang sangat indah dari atas sini, beberapa desa yang berbatasan dengan desa nenek, padang bunga yang indah, pola sawah yang sangat teratur terlihat sangat indah dipandang. Setelah terasa cukup memanjakan mata dengan pemandangan itu kami langsung turun gunung yang kala itu waktunya sudah cukup sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi sungai kulihat penduduk desa beserta orang tuaku berkumpul dan ketika melihatku mereka langsung berlari menghampiriku, mereka menanyakan kemana aku pergi tadi dan aku pun menceritakan semuanya. Semua orang seperti tidak percaya akan cerita ku. Karena yang mereka tau Saito telah hilang di hutan 5 tahun yang lalu, dan saat dilakukan pencaharian, yang ditemukan hayalah potongan pakaian Saito yang penuh darah dan bekas gigitan harimau di dalam hutan dan sampai saat in mayatnya belum ditemukan. Aku merasa tidak percaya dengan semua itu mengingat Saito adalah orang yang baru saja aku temui barusan. Lalu di saat aku terbingung, aku melihat bayangan saito di belakang pohon sedang tersenyum dan kemudian menhilang bagaikan roh yang biasa muncul di film-film horor. Esoknya, tersebar kabar kalau tulang belulang saito telah ditemukan penduduk saat sedang mencari ku yang berlari di hutan kemarin. Dengan bukti forensik dan tes DNA dari keluarga Saito membuktikan kalau tulang belulang itu adalah milik Saito.&lt;br /&gt;“Haru besok aku akan membawamu ke sisi gunung, dari sana kau bisa melihat pemandangan desa yang sangat indah.” (Saito)&lt;br /&gt;“Benarkah? Kalau begitu besok kau harus membawaku kesana, Janji yah..”. (Haru)&lt;br /&gt;“Ia aku berjanji” (Saito)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 tahun lalu aku pernah membuat janji itu dengan Saito. Tetapi esoknya aku terkena demam dan langsung dibawa oleh orang tuakku ke rumah sakit di kota. Sejak saat itu Saito terus menungguku di dalam hutan yang sepi dan hening hingga akhirnya.. ia diterkam hewan buas di hutan. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun sampai saat ini. Ia terus menunggu ku walau wujudnya bukan lagi sebagai manusia, menunggu untuk menepati janjinya yang ia buat denganku 5 tahun yang lalu. Aku berkata dalam hati, “Maaf telah membuatmu menunggu selama ini, Saito. Dan juga.. terima kasih karena telah menungguku selama ini. Kau akan selalu terkenang di hati ini sebagai sahabat yang paling berharga untuk ku. Saito… Sekarang kau sudah bisa tenang, janjimu sudah kau tepati dan jalanmu ke dunia sana juga telah terhubung. Kembalilah ke tempat dimana kau seharusnya. Sekali lagi, maaf dan terima Kasih, Saito”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-END-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cerpen 'Janji' ini karya ketiga saya di LokerSeni.web.id&lt;br /&gt;yang pertama judulnya 'Diari untuk Rin'&lt;br /&gt;yang kedua judulnya 'Di Bawah Langit, Kala Itu..'&lt;br /&gt;Pokoknya selamat ngebaca cerita saya ya ^^)v&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Add me (fb) Scorunder@gmail.com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-persahabatan-terbaru.html" target="_blank"&gt;Cerpen Persahabatan&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-remaja-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Remaja&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/FwV7OB3l9jc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/FwV7OB3l9jc/janji-cerpen-persahabatan-remaja.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-s1gJgXUiWA0/UZYarLfwskI/AAAAAAAAGSM/f9Bw6xvhgCQ/s72-c/Cerpen+Berbeda.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/janji-cerpen-persahabatan-remaja.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-1793284588997716027</guid><pubDate>Fri, 17 May 2013 11:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-17T04:50:10.392-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Remaja</category><title>2013 End - Cerpen Remaja</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;2013 END&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Agatha Onnasandevi Ratuwangi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pandangan mata ini. Pandangan yang terus mengambang membayangkan dirinya bersamaku. Aku selalu mengharapkan apapun darinya. Setiap malam tak pernah absen untuk menangis. Yang sebetulnya, alasanku menangis hanya karna aku merasa rindu padanya. Karna aku iangin dia melihatku sebagai perempuan. Kalian boleh mengatakan aku sangat konyol dan lemah. Tapi, mau bagaimana lagi kalau itu yang ada dalam perasaanku saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, aku pun melakukan hal yang sama. Herannya, aku tak pernah merasa bosan dengan semakin lebamnya lingkaran mataku. Aku sedang terduduk di depan jendela. Oh, gerimis sudah datang. Apakah dia merasakan hal yang sama sepertiku? Gumamku memandang jauh gerimis malam ini. Sebenarnya, aku menjajikan pada diriku sendiri. Jika, ada gerimis datang, aku yakin pada diriku, bahwa ia merindukanku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PkJiLMFkdFU/UZYZK9kmO5I/AAAAAAAAGR8/sT36EQ_3bTw/s1600/Cerpen+2013.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="246" src="http://4.bp.blogspot.com/-PkJiLMFkdFU/UZYZK9kmO5I/AAAAAAAAGR8/sT36EQ_3bTw/s400/Cerpen+2013.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;2013 End&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yap! Kalian boleh tertawa sekali lagi mendengar ceritaku tentangnya kali ini. Aku gila. Ya, aku gila padanya.&lt;br /&gt;“Princessia Alba?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun dari lamunanku dan mendapati seseorang memanggilku. Oh, ku harap itu kau disini, batinku. Tak lama, aku membuka mataku dan..&lt;br /&gt;“Alba?? Waktunya tidur!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti yang aku harapkan lagi. Dia adalah Mom-ku, aku memang dimanja, tetapi aku tak pernah merasa aku manja. Aku ingin jadi mandiri dan diriku sendiri.&lt;br /&gt;“Okay, Mom,” balasku dengan melas dan beranjak ke ranjang tempat tidurku. Oh iya, panggil saja aku, Alba. Aku menyukainya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang apa kau ?” kataku pada Fata. Fairy Ta. Sahabatku. Aku sedang ada di kantin saat ini.&lt;br /&gt;“Mau apa kau? Aku merasa malas sekali hari ini,” jawabnya acuh padaku. Ada masalah nih.&lt;br /&gt;“Okay,” balasku lagi padanya dengan nada judes andalanku sembari aku makan Cornetto-ku. 1.. 2... 3...!&lt;br /&gt;“Eh, Ba ?” katanya tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku tersenyum remeh dan hanya melirik Fata. Kena lagi! Hahaha.&lt;br /&gt;“Dori-“ ia berkata dan kata-katanya menggantung. Haa? Aku mengerutkan alis padanya.&lt;br /&gt;“Dori? Dori siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih menyelehkan kepalanya pada meja dan menjawab. Wait! Look at her eyes!!&lt;br /&gt;”Ya Ampun Alba.. Dori pacar aku lah. Kamu itu sahabat aku apa enggak sih? Jangan Dominic Damon terus yang kamu pikir dong,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg! Ya, Dominic Damon, kelas XII. Idola semua perepuan, bahkan ada fansclub buat Dominic anak ketua Yayasan sekolah ini. Aku termasuk penggemar beratnya tetapi aku tak bernah berbicara padanya. Menyapa saja enggan. Huuhh.. aku tak termasuk golongan club fanatiknya. Dan lagi, aku bingung pada diriku sendiri bahwa aku menangis setiap mengingatnya. Dia tak pernah mengenalku. Titik.&lt;br /&gt;“Hey?” kata tanya itu sukses membuatku kaget setengah mati tepat ditelingaku. Aku menemukan diriku ada di ruang kesehatan. Ada apa ini? Apa yang telah terjadi padaku? Hey, someone else, please tell me what’s going on here?&lt;br /&gt;“Kau sudah baikan? Aku sudah menunggumu selama tiga jam penuh disini. Itu waktu yang lama untukku. Aku kaget saat kau memanggil-manggil namaku,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa! Memanggil namamu? Oh, Tuhan. Jangan biarkan ini adalah mimpi. Aku mohon. Aku baru sadar, aku dari tadi hanya menundukkan kepalaku. Akhirnya, aku memberanikan diriku unutk menegakkan kepalaku dan menatap seseorang di samping ranjangku. Tuhan, aku mohon jangan siksa aku. Kau tau, aku benar-benar gugup saat ini.&lt;br /&gt;“Em- ..mm.. emm,” Tuhan, aku mohon. Jangan buat diriku seperti ini.&lt;br /&gt;“Emm.. apa?” katanya. Astaga! Apakah dia tak tahu aku benar-benar gugup bersamanya? Semoga ia tak mendengar degub-an jantungku yang keras ini.&lt;br /&gt;“Em.. sebenarnya apa yang telah terjadi padaku?” Akhirnya.&lt;br /&gt;”Oh, kau tidak sadar ya? Tadi saat kau dan temanmu akan berjalan dari kantin menuju ke kelas. Kau di kagetkan oleh karet laba-laba oleh kakak kelas. Lalu, kau lari dan tak menyadari didepanmu ada pintu yang akan ditutup oleh Bu. Roline. Kau tetap saja berlari dan akhirnya ka-“&lt;br /&gt;”Cukup,” aku memotong ceritanya. Aku malu. Itu yang rasakan saat ini.&lt;br /&gt;“Apakah kau malu? Kau ini lucu sekali Alba,” haa? Lucu?&lt;br /&gt;“Lalu? Untuk apa kau menemaniku disini? Bukankah ada pelajaran kelas XII?&lt;br /&gt;“Karna saat kau jatuh, yang kau panggil-panggil minta tolong bukan temanmu atau Mom-mu. Yang kau panggil malah namaku. Jadi, aku merasa tanggungjawab saja karna dirimu,” jelasnya. Tuhan? Kau ingin membunuh jantung ini?&lt;br /&gt;“Benarkah? Aku benar-benar minta maaf,” kataku gugup sembari membungkukkan badanku.&lt;br /&gt;“Sudahlah, tak usah kau pikir,”&lt;br /&gt;“Oh,”&lt;br /&gt;“Tapi-“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendongkakkan kepalaku ke arahnya.&lt;br /&gt;“Apakah aku sekeren itu? Hingga yang kau panggil adalah namaku? Aku tak bisa membayangkan bagaimana ricauanmu tentangku saat kau tidur. Aku juga saat ingin tertawa melihat ekspresimu,” ia tersenyum manis padaku. Apa yang ia pikir?! Tuhan? Aku gila saat ini juga.&lt;br /&gt;“Em- ya sudah kalau begitu,” mau pergi ya?&lt;br /&gt;“Aku akan ke kelasku. Kulihat, kau sudah agak mendingan daripada yang tadi. Tetaplah istirahat disini, kalau kau masih tak kuat berjalan,” katanya sambil menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ada sesuatu dimata dan kata-katanya. Aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;“Oh, baiklah kalau begitu. Sekali lagi aku sangat berterimaksih kepada kakak. Aku mohon maaf juga atas kecerobohanku,” aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;“Tak apa-apa,” ia berdiri dan mendekat kepadaku. Ada apa lagi ini?&lt;br /&gt;Ia semakin mendekat padaku dan mencium keningku. Kemudian, Kak Damon membisikan sesuatu ditelingaku.&lt;br /&gt;“Cepat sembuh. Princessia Alba, Princess-ku,”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hallo?”&lt;br /&gt;“Hallo. ada apa Alba? Oh iya, bagaimana keadaanmu sekarang?” kata Fata saat aku menelephone-nya.&lt;br /&gt;“Tak usah kau pikirkan itu.. oh! My God! Fata!!!” aku benar-benar senang hri ini. Cepat atau lambat, pasti akan jadi Hot News di sekolah.&lt;br /&gt;“Yak! Ada apa kau ini? Jangan berteriak seenaknya. Telingaku masih berfungsi Alba,” katanya.&lt;br /&gt;“Ini adalah hari yang terindah sejagad raya Fata! You’ll never think about this.”&lt;br /&gt;“What’s wrong girl?” tanyanya penasaran.&lt;br /&gt;Hhhh.. aku menghembuskan nafas panjang ke gagang telephone. Aku tersenyum dangan deretan gigi-gigi putihku. Sadar bahwa tak ada Fata didepanku, aku segera melanjutkan rahasiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang berjalan riang di koridor sekolah. Aku baru sadar, aku berangkat sekolah terlalu pagi hari ini. Padahal, setiap hari aku datang ke sekolah selalu kurang lima menit sebelum pelajaran dimulai. Hari ini, aku merasa, diriku semakin konyol.&lt;br /&gt;“Albaaa!!!!” aku mencari arah suara yang memanggilku. Oh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyunggingkan senyum kepada orang yang sudah ada di depanku. Hihi.&lt;br /&gt;“Kau sangat menjijikan tersenyum seperti itu,”&lt;br /&gt;“Baiklah. Gimana menurutmu Fata?”&lt;br /&gt;“Cukup.” Katanya.&lt;br /&gt;“Cukup?” aku balik bertanya.&lt;br /&gt;“Cukup? Ya, cukup,” balasnya.&lt;br /&gt;“Oh. Ayolah Ta,”&lt;br /&gt;“Cukup menjijikan,” what!&lt;br /&gt;“Makasih banget lho ya,” kataku pasrah.&lt;br /&gt;“Jadi?”&lt;br /&gt;“Jadi?” balasku.&lt;br /&gt;“Jadian?”&lt;br /&gt;“Jadian? Sama siapa? Sama Kak Damon?”&lt;br /&gt;Ia menganggukan kepalanya.&lt;br /&gt;“That’s never happpen, girl.”&lt;br /&gt;“Okay. Kita lihat saja,” aku menoleh kearahnya dan melongo padanya. Apa artinya itu?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tuhan. Apa yang telah kulakukan padanya? Aku benar-benar sudah gila! Tuhan? Apa yang harus kulakukan? Aku kehilangan akal. Aku gila. Aku gila. Aku gila. Aku gila. Aku gila!!!&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi padamu? Kau benar-benar berantakan tahu,” Oh, Mom? Tolong aku. Aku menoleh ke arah pintu. Diujung mataku terdapat Momku sedang melihatku dengan pandangan menjijikan.&lt;br /&gt;“Mom? Aku mencium adik kelasku,” aku pasrah.&lt;br /&gt;“Apa? Apa yang pikirkan Dominc?!!” satu bentakan keras.&lt;br /&gt;“Ya.. aku tak tahu. Aku hanya terbawa suasan-“&lt;br /&gt;“Apa!!! Ulangi sekali lagi??” aku benar-benar putus asa.&lt;br /&gt;“A..kuu.. ter..baw...wa su..uuaa..sana.” akhirnya.&lt;br /&gt;“Astaga. Dominic kau ini benar-benar sudah gila. Asal mulanya seperti apa hingga kau harus terbawa suasana? Huh?”&lt;br /&gt;“Oh. Come on Mom..” aku memelas padanya.&lt;br /&gt;“Aku tetap aku mendengarkan, kau tahu!”&lt;br /&gt;“Aku hanya tak sengaja melihatnya tertabrak pintu ruang kelas dan ia pingsan dengan memanggil-manggil namaku. Jadi, aku hanya merasa tanggungjawab saja. Kemudian-“&lt;br /&gt;“Kemudian apa?”&lt;br /&gt;“Kemudian aku terbawa suasana dong,” kataku santai.&lt;br /&gt;“Kau harus menjadikannya pacarmu!”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di persimpangan jalan. Tiba-tiba- Boughhh! Aku buru-buru berdiri dan meminta maaf atas apa yang kulalukan. Dan, oh.&lt;br /&gt;“Kau?” ia sedang membersihkan sikutnya dari tanah aspal dan perlahan ia menoleh ke arahkku setelah aku mengenalnya.&lt;br /&gt;“Huh? Kak ? kak Doman?” ia kaget, aku kira.&lt;br /&gt;Aku tiba disebuah kafe dekat taman kota. Dan didepanku sudah ada gadis ini. Gadis yang sudah membuatku kaku selama sebulan dan kau tahu? Aku sebenarnya sudah tidak masuk selama ini.&lt;br /&gt;“Kau tahu Alba? Aku hanya gugup,”&lt;br /&gt;“Kakak gugup? Gugup karna?”&lt;br /&gt;“Karenamu,” huuhh, aku benar-benar gila.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah acara nge-dateku dengan Princessku ini. Oh iya, kira-kira aku sudah berpacaran dengannya selama delapan bulan. Aku yakin kalian banyak bertanya. kenapa? Karna aku mencintainya. Banyak yang kulalui setelah kejadian itu. Ia sangat dengan orangtuaku. Ak sangat menyukai kehadiran Alba yang mengubah segalanya. Dan sekali lagi, aku bukan lagi seorang laki-laki yang dianggap brandalan oleh laki-laki seangkatanku. Aku tak bisa menjelaskan kisahku pada kalian semuanya. Aku terlalu bahagia untuk hal sekecil ini. Dan.. terlalu mengerikan untuk memadamkannya. Aku janji, akan kutitipkan salam kalian pada pacarku. Aku yakin, ia pasti sangat menyukainya. Sampai jumpa.&lt;br /&gt;Dominic Doman – Princessia Alba&lt;br /&gt;2013 – End&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Agatha Onnasandevi Ratuwangi&lt;br /&gt;Smp Keluarga Kudus&lt;br /&gt;15 years old&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pround For Your Simply!&lt;br /&gt;kembangsekar@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-remaja-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Remaja&lt;/a&gt; yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/7j6Pe2kqXFY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/7j6Pe2kqXFY/2013-end-cerpen-remaja.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-PkJiLMFkdFU/UZYZK9kmO5I/AAAAAAAAGR8/sT36EQ_3bTw/s72-c/Cerpen+2013.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/2013-end-cerpen-remaja.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-6955785821469507097</guid><pubDate>Thu, 16 May 2013 12:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-16T05:51:46.635-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Cinta</category><title>Pertemuan Termanis - Cerpen Cinta</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PERTEMUAN TERMANIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Gustiati Suwandi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Halaman sekolah belum begitu penuh, karena sebagian tamu undangan belum tampak hadir. Berulang kali Akbar melayangkan pandangannya ke arah sudut sana, “Pokoknya gadis itu punya pesona tersendiri yang selalu mengajak mataku untuk menatapnya”, gerutu Akbar dalam hati. Sebenarnya penampilan gadis itu sederhana, tapi entah mengapa di mata Akbar Ia tampak sangat memukau dengan seragam putih abu dan balutan kerudung putihnya. Namun terkadang pandangan Akbar terhalang oleh beberapa tamu yang tengah mencari tempat untuk duduk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Dalam rangka menyambut hari ulang tahun sekolah yang ke-9 ini, Akbar dapat kepercayaan untuk menjadi salah satu panitia perayaan dengan sahabat-sahabatnya, “Bar, kamu laper gak??” tanya Semy setengah berbisik. “Emang kalau aku lapar kamu mau nraktir??”Akbar kembali bertanya. Sem tertawa, karena memang begitulah Dia, selalu hadir dengan guyonan-guyonan khasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6QS5kzxkjeU/UZTV5ZusZ3I/AAAAAAAAGRs/fJvzZf5xQ6c/s1600/Cerpen+Love.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://2.bp.blogspot.com/-6QS5kzxkjeU/UZTV5ZusZ3I/AAAAAAAAGRs/fJvzZf5xQ6c/s400/Cerpen+Love.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pertemuan Termanis&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akbar sedikit mengalihkan pembicaraan, “Sem, coba kamu lihat gadis itu?!” perintah Akbar sambil menunjukan ke arah gadis itu duduk. Tapi tampaknya pandangan Semy masih terhalang beberapa tamu. “Yang mana Bar??” sambil clingak-clinguk mencari. Belum sempat Akbar menunjukan mana yang Dia maksud, tiba-tiba Yudi muncul sehingga pembicaraan mereka terhanti sejenak. Ketika Samy dan Yudi sedang asyik berbincang, tiba-tiba terlintas dalam benak Akbar untuk memanfaatkan Samy agar mencari tahu siapa nama gadis itu, karena biasanya Samy tak pernah malu untuk melakukan sesuatu sekalipun itu perbuatan yang sangat memalukan, apalagi ini hanya sekedar masalah perempuan.”Sem, sini bentar..!!” panggil Akbar. “Apaan sih??” Semy penasaran. “Kamu lihat kan gadis yang di sudut sana??” tunjuk Akbar ke arah sudut sebelah utara. “Iya aku lihat, kenapa? Naksir ya??” ledek Semy pada Akbar. “Iya nih, tolong bantu aku ya Sem, cari tau namanya, sekolahnya dan kelasnya!!” pinta Akbar pada Semy. “Ciiiiiippppllaaaahhhh, apa sih yang nggak buat kamu sob, heeehee” kata Semy sambil mengedipkan sebelah mata dan mengacungkan jempolnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Dengan langkah berani Semy berjalan mendekat ke arah gadis itu duduk, padahal jantungnya berdetak tak karuan, karena biarpun dia sering merayu perempuan tapi baru kali ini dia merayu perempuan berjilbab. “Permisi mba, boleh ikut gabung di sampingnya gk??” sapa Semy dengan sikap SKSD-nya, sementara gadis itu hanya menoleh dan tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun. “Eemmm....maaf mba, kalau boleh tau undangan dari sekolah mana yaa??” tanya Semy so’ akrab. “SMA 06..” jawab gadis itu singkat. “Ternyata gadis ini sangat sulit untuk dapat di dekati, tak semudah yang ku bayangkan” gerutu Semy dalam hati, tapi dia tak mau menyerah, dia tetap kekeh bertanya ini itu pada sang gadis. Terakhir dia bertanya nama, tapi alhasil sia-sia saja. Semy kembali pada teman-temannya, dan menceritakan semua yang dia ketahui tentang gadis itu, dan satu yang dia tidak dapatkan, yaitu nama, nama gadis itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Sedang asyik mereka mengobrol, secara tidak sengaja gadis itu melintas di hadapan mereka, dan dengan sepontan mereka menyapa, “Haaii...???” sapa mereka dengan harapan akan mendapat balasan, tapi sayang gadis itu hanya menoleh dengan sedikit senyuman dari bibir manisnya. Belum selesai mereka menikmati pemandangan yang istimewa itu, tiba-tiba Pak Dedi pembina osis yang baru itu menyuruh agar Akbar dan Semy menambah kursi untuk para tamu undangan. Keduanya tak bisa menolak dan saling pandang sambil berjalan lunglay menuju tempat penyimpanan kursi. Sementara Yudi yang bebas dari tugas memanfaatkan moment ini untuk mencari tahu lebih lanjut siapa gadis yang membuat sahabatnya begitu penasaran itu, karena Yudi tahu sebelumnya Akbar tak pernah seperti sekarang ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Setelah lama berbincang, akhirnya Yudi tau nama gadis itu dan memberitahukan berita bagus ini kepada Akbar. “Ternyata nama gadis itu cukup singkat, Rianti, sungguh nama yang anggun” bisik Akbar dalam hati. Tiba-tiba Semy datang mengagetkan. “Woooyyy, lagi pada ngomongin apa sih?? Serius banget??” tanya Semy penasaran sambil menepuk bahu kedua temannya itu. “Kamu tahu gak Sem, ternyata nama gadis itu Ranti..”Akbar memcoba memberitahu Semy. “Lhhaa....kamu tahu dari mana Bar??” Semy kembali bertanya. “Tuuhh dari Dia!” tunjuk Akbar pada Yudi. “Haaahh...jadi kamu Yud, kenapa kamu gak ngasih tahu Aku???” kata Semy sedikit kecewa. “heehee....sorry deehh, abis tadi kamu gk da sih..” kata Yudi tersenyum. Sementara Semy dan Yudi tengah sibuk membicarakan Ranti, Akbar tersenyum-senyum sendiri. “Ternyata gadis itu memang luar biasa, tak bisa di anggap enteng, dia punya pesona dan keistimewaan tersendiri, dan tak banyak yang tahu akan hal itu” ujar Akbar dalam hati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Tak terasa acara telah selesai dan matahari mulai tergelincir ke arah ia tinggal. Perlahan para tamu undangan mulai meninggalkan kursi mereka dan menuju kendaraan masing-masing bergegas untuk kembali ke tempat peraduan. Terlihat Rianti berjalan di depan Akbar dengan beberapa temannya. “Inilah gadisku..” ujar Akbar dalam hati. “Heeiii....tunggu sebentar..!!” teriak Akbar pada Rianti. Langkah Rianti terhenti dan dia melihat seorang pria mendekat ke arahnya, Akbar, dialah pria itu. “Rianti, kita duluan yaa..” kata teman-teman Rianti. “Ooh iyaa..” jawab Rianti. Dengan agak gugup Akbar berkata, ”Tak ku sangka ada gadis seistimewa dirimu, Rianti..”. “Haahh, kamu tahu namaku dari siapa??” tanya Rianti kaget sekaligus tersipu oleh ucapan Akbar. “Itu tak penting, yang terpenting sekarang adalah dirimu..” sanjung Akbar. Rianti semakin tersipu sehingga tak mampu berkata apa-apa lagi, Dia hanya membentuk sebuah senyuman manis yang tersungging dari bibirnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Rianti dan Akbar tak menyadari lamanya waktu yang telah mereka lalui. Semy, Yudi, dan yang lainnya sudah tak tampak, dan hanya tinggal mereka berdua di temani dengan belaian angin senja yang mesra. Tak lama setelah itu, Akbar mengajak Rianti untuk pulang bersamanya. Akbar tak menyadari bahwa dia telah menghabiskan waktu bersamanya, bersama gadis yang ia kagumi. Entah mengapa, semua ini seakan terjadi secara tiba-tiba. Bagai sudah ada perintah dari hati masing-masing. Akbar mengutarakan perasaannya pada Rianti, karena Akbar merasa ini kesempatan yang sangat istimewa dan sama sekali belum pernah tercipta sebelumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Hingga hari usai, pasangan yang telah mengikat hati itu tetap merasa hari masih berjalan seperti biasanya, melintasi sang waktu dalam meniti kehidupan mereka bersama. “Semoga cinta kita abadi”, itulah sebaris doa yang selalu mereka panjatkan kepada yang Agung...&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama: Gustiati Suwandi&lt;br /&gt;Alamat: Subang, Jawa Barat&lt;br /&gt;Ttl: Subang, 15 Agustus 1993&lt;br /&gt;Fb: Gustiati Suwandi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
No. Urut : 624&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanggal Kirim : 21/02/2013 14:52:45&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-cinta-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Cinta&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/xd8WPkLLDpU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/xd8WPkLLDpU/pertemuan-termanis-cerpen-cinta.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-6QS5kzxkjeU/UZTV5ZusZ3I/AAAAAAAAGRs/fJvzZf5xQ6c/s72-c/Cerpen+Love.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/pertemuan-termanis-cerpen-cinta.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-5605508428055155485</guid><pubDate>Thu, 16 May 2013 12:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-16T05:45:44.215-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Cinta</category><title>Cinta Kilat - Cerpen Cinta</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;CINTA KILAT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Emil Nuraini Samtana&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Yah, mungkin ini yang pas uutuk judul cerpen ini.&lt;br /&gt;Aku seorang siswi kelas 2 sma di sebuah sma negeri di tempat tinggalku. Panggil saja aku Amel.&lt;br /&gt;Malem itu saat aku sedang belajar tiba” hp ku berbunyi pertanda ada sms, setelah aku buka ternyata dari saudaraku yang gak lain juga kakak kelas ku di sma . “Ndel, mau aku kenalin sama temen ku gak “ itu is isms dari dari mbak Rahmi. Dan aku pun membalas, “kenalan, temen, sapa mbak” . “Namanya Denis, mau gak,, dia cakep kok . “ya udah mbak suruh sms aku ajah dia” . nah setelah itu selang beberapa menit Denis pun sms aku.&lt;br /&gt;“Amel ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun membalas “iya, ini siapa”&lt;br /&gt;“aku Denis, temennya Rahmi, salam kenal ya”&lt;br /&gt;“owh, kak Denis toh, iya sama” kak . salam kenal juga .&lt;br /&gt;Akhirnya kita pun sering sms’an, dan telfonan . sampai beberapa hari kita pun belum saling tahu meskipun kita satu sekolah . sampai akhirnya pas hari jum’at malam Denis sms ngajak ketemuan besok sepulang sekolah di dekat lapangan basket . akupun mengiyakan ajakan dia .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-YO4NEfRmFQM/UZTU1cAV7mI/AAAAAAAAGRg/9djb5cBiU1g/s1600/Cerpen+Cinta3.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="275" src="http://4.bp.blogspot.com/-YO4NEfRmFQM/UZTU1cAV7mI/AAAAAAAAGRg/9djb5cBiU1g/s400/Cerpen+Cinta3.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Cinta Kilat&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keesokan harinya sepulang sekolah, kita bertemu . awal yang baik dari pertemuan itu, kita sama” jatuh cinta pada pandangan pertama . setelah agak lama berbincang” akhirnya dia ngantar aku pulang, karena saat itu motorku di bawa temenku yang biasa bareng sama aku .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Bahagianya aku saat itu, malem hari Denis sms aku dia ngajak aku keluar. Pas lagi dia latihan futsal, dia minta aku buat nemenin dia main futsall dan dinner . Tanpa pikir” aku mau ajakan dia, bahagia nya aku . malam itu . dia nyatain perasaannya pas lagi dinner, dia bilang ini cinta pada pandangan pertama . tapi aku gak langsung jawab, baru keesokan harinya pas hari minggu kita resmi pacaran pada tanggal “26 September 2010.”&lt;br /&gt;Hari’’ ku disekolah sangat menyenangkan sekali. dan kita pun sepakat kalo tiap hari sabtu kita pulang sekolah selalu belakangan, gak ngapa”in lohh. Soalnya dihari sabtu itu kan hari yang bersejarah lah buat kita, hehe. Biasanya sih kita duduk di depan lab sambil WIFI an gitu, sama liat” temen” yang lain ekstrakulikuler, jadi gak cuma berdua aja disekolah. setiap hari aku selalu dianter pulang sama dia walaupun rumah kita gak searah, dan agak jauh dari rumahnya . teman” ku juga pada bilang kalo kita itu dua sejoli yang cocok, kemana” selalu bersama. Meskipun kita sering berantem karena beda pendapat tapi kita gak pernah nunjukkin sama teman” kalo lagi berantem, kita tetep bareng”an. Yaahh bisa di bilang, jaim gitu . . hehehe&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Banyak sekali masalah yang kita hadapi waktu itu, mulai dari mantan dia yang masih sayang sama dia dan gak rela kalo kita pacaran, sampai” dia sering neror” aku trus pake acara ngancem” gitu . hii, ngeri deh .&lt;br /&gt;Tapi syukurlah, akhirnya dia juga berhenti dengan sendirinya. Hubungan kita berjalan sudah 5 bulanan.&lt;br /&gt;Oiya, aku punya mantan juga, aku pacaran sama dia tuh pas SMP , hehe masih kecil udah pacaran yaaa . tapi kita tetap berhubungan baik kok, hmm sebelum pacaran sama Denis ini aku sama dia juga sempat balikan tapi Cuma semingguan ajah kok, ehehe  . dia namanya Yoga . dan sudah banyak yang tau kalo aku sama dia pernah pacaran walaupun kita sembunyiin kayak apa aja deh , dan Denis pun juga mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah awal dari masalah besar yang berakibat berakhirnya hubungan ku sama Denis . Hari sabtu, biasa emang kita selalu nongkrong dulu sebelum pulang . nah, hari itu juga Yoga berulang tahun.&lt;br /&gt;“Happy birthaday ya Yog, moga panjang umur. Dapet cewek yang bener, hehee. “ gurauku waktu aku ngucapin sama Yoga sambil nyalami tangannya.&lt;br /&gt;“Yeee, cewek yang bener udah di embat sama si kakak kelas tuh” kata yogik sambil tersenyum dan nuju kearah Denis yang lagi merhatiin kita. Kita pun ketawa bareng”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gag menyadari kalau Denis cemburu waktu itu. Tiba” soulmate ku si Nina yang biasa bareng aku nyamperin aku&lt;br /&gt;“Mel, pulangnya barengan yaa. Aku gag enak badan ne, aku gak berani bawa motor kamu sendiri “&lt;br /&gt;“aduh gimana ya Nin, hari ini aku ada janji sama Denis nungguin dia latihan basket trus kerumah temennya”&lt;br /&gt;“ ayolahh Mell, kamu kok tega sih ngebiarin aku bawa motor sendirian ”&lt;br /&gt;“hmm, ya udah deh aku ijin dulu sama Denis yaa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun menghampiri Denis di depan kelasnya .&lt;br /&gt;“Kak, kayaknya kita gak bisa bareng . si Nina lagi sakit dia gak berani bawa motor sendiri . maaf ya kak, aku gag bisa nemenin kakak latihan”&lt;br /&gt;“hmm, ya udah gpp kok , aku juga males latihan kalo gak ditemenin kamu. hehe” kata Denis senyum sama nunjukin sifat manjanya .&lt;br /&gt;“trus kakak gak jadi latihan”&lt;br /&gt;“egk deh, langsung pulang aja bentar lagi tapi masih nunggu hasil ulangan Fisika keamrin “&lt;br /&gt;“ya udah aku pulang dulu ya kak, kakak kalo udah langsung pulang ya . gak boleh kemana” loh nanti sampe rumah sms aku yaa”&lt;br /&gt;“ iyaa sayanngg, kamu hati “ dijalan ya. Gak boleh ngebut” kalo nyetir . katanya sambil ngelus” rambutku&lt;br /&gt;“oke kakak sayang, assalamu’alaikum.&lt;br /&gt;“walaikumsalam sayang” . .&lt;br /&gt;Akupun pulang sama Nina di hari sabtu itu. “eh Nin kita mampir ke POM bensin dulu ya, motorku haus nih”. “oke deh” kata Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak sengaja di POM kita ketemu sama Yoga dan temennya yang lagi ditaksir sama si Nina.&lt;br /&gt;“eh, Mel ngapain disini” sapa Yoga yang juga lagi ngantri&lt;br /&gt;“lagi antri sembako, udah tau pake nanya lagi” jawab ku sambil senyum&lt;br /&gt;“kan basa basi Mel, eh tumben gag bareng sama si pujaan hati kamu”&lt;br /&gt;“iya lagi absen, tuh si Nina lagi sakit dia gag berani nyetir sendiri katanya”&lt;br /&gt;“Nina sakit, kasian ya, udah biar dia di bonceng sama Edo aja, kasian kan kalian cewek” naik motor apalagi yang satunya lagi sakit, entar kalo ada apa” gmn ??&lt;br /&gt;“halahh, gak usah deh Yog, lagian udah biasa kok, doain gak ada apa” deh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nina yang denger percakapan ku sama Yoga tiba” nyahut, “ehh iya aku mau sama usulan Yoga, kasian kamu Mel kalo boncengin aku, aku juga gag bisa meluk entar kalo aku jatuh gmn ?? emang kamu mau aku bonceng sambil meluk??”.&lt;br /&gt;“eehh ,iya egk deh ilfill aku kalo kamu meluk”. Entar apa kata orang coba” hehe&lt;br /&gt;Akhirnya kami pulang, aku boncengan sama Yoga, Nina sama Edo.&lt;br /&gt;Ya allah, mimpi apa aku semalem . . pas kita lagi dijalan salipan sama Denis yang baru pulang dari sekolah, emang rumah kita gag searah . Pom bensin juga letakknya diarah kerumah Deniss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin Denis pasti mikir yang egak” tentang semua ini . ternyata dugaan ku benar . dia marahh, sangatt marah sama aku . setelah sampai dirumah aku langsung ambil hape, ku pencet nomor Denis lalu aku telpon. 30x aku telfon gak diangkat juga. Sampai ku beranikan telfon kerumahnya.&lt;br /&gt;“hallo selamat siang” sapa ibu Denis&lt;br /&gt;“selamat siang tante, ini Amel kak Denis nya udah sampai apa belum ya, soalnya Amel telfon ke hapenya gak diangkat”&lt;br /&gt;“oh Amel, Denis udah pulang kok nak , tapi dia langsung masuk kamarnya belum keluar” kayak’e dia juga belum makan kok”&lt;br /&gt;“ohh iya udah tante makasih yaa, assalamu’alaikum”&lt;br /&gt;“iya sama” Amel walaikumsalam”&lt;br /&gt;Lama benget aku nungguin bls’an dari sms, gak ada stu pun sms ku yang di bls. Telfon pun gak diangkat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama ada pesan masuk dari Denis.&lt;br /&gt;“Jujur hancur banget hatiku tadi liat kamu boncengen berdua sama Yoga yang gak lain itu mantan kamu, kamu mbatalin janji kita degan alasan Nina sakit, tapi apa. Kalian berdua sekongkol kan. Yah mungkin kalian mau nge date bareng”, maaf tadi aku gak bermaksud buat kamu bingung sampai” kamu telfon ke ibuku, aku Cuma ngeredam amarahku. Aku gak bisa ngelanjutin hubungan ini, aku kecewa sama kamu. Aku sayang banget sama kamu, tapi kamu tega bohongi aku, makasih atas waktu yang indah brsama kamu selama ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya allahh, gak bisa aku nahan air mataku saat baca sms itu . aku pun kembali telfon Denis, dan untuk yang sekarang dia nerima telfon ku.&lt;br /&gt;“kakak maafin aku, dengerin penjelasan ku dulu” kataku sambil terisak”&lt;br /&gt;“udah gag ada yang perlu dijelasin dek, semua udah jelas. Kamu gak usah nangis, selama ini aku berusaha nutup telinga ku dari cerita teman” tentang kedekatan kamu sama Yoga, aku percaya kamu gak akan hianatin aku. Tapi ternyata apa, dengan mata kepala ku sendiri kamu boncengan bareng sama Yoga, aku sayangg bangett sama kamu dek” kata Denis sambil nahan tangisnya yang terlihat dari nada suaranya.&lt;br /&gt;“kalo kakak sayang sama aku, dengerin dulu pen…..”&lt;br /&gt;“udah dek, aku gak mau terus”an nahan semua ini, kalo Yoga yang terbaik buat kamu, akku rela kamu kembali sama dia” langsung nutup telfonnya.&lt;br /&gt;aku sayang sama kakak, sayang banget, aku gak ada hubungan apa sama Yoga kak. Kenapa kakak gak mau dengerin aku duluu . . &lt;br /&gt;Ya allah, buka pintu hati kak Denis, aku mau dia mau dengerin penjelasan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua sia-sia, Denis udah gak mau dengerin penjelasan ku. Hubungan kita berakhir karena kesalah pahaman .&lt;br /&gt;“Aku pernah menyesali pertemuan itu. Tapi aku menyadari betapa berartinya kakak di hidupku. Canda tawa yang tinggal kenangan itu masih terlihat jelas di benakku dan selalu akan ku kenang menjadi bumbu yang manis dalam kisah hidupku sama kamu. I’ll never stop loving you Deniss”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Lengkap : Emil Nuraini Samtana&lt;br /&gt;alamat Web : http://emilnuraini.blogspot.com/ , http://twitter.com/emilnuraini , http://www.facebook.com/emil.nuraini&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-cinta-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Cinta&lt;/a&gt; yang Lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/BeSKaalhy2E" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/BeSKaalhy2E/cinta-kilat-cerpen-cinta.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-YO4NEfRmFQM/UZTU1cAV7mI/AAAAAAAAGRg/9djb5cBiU1g/s72-c/Cerpen+Cinta3.png" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/cinta-kilat-cerpen-cinta.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-7830100186348572621</guid><pubDate>Thu, 16 May 2013 12:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-16T05:40:09.818-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Remaja</category><title>Tali Sepatu - Cerpen Remaja</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;TALI SEPATU&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Dewi Hartami Putri&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Siang ini aku dibuat kesal lagi oleh teman sekelasku, Andre namanya. Dia selalu melakukan hal yang sama sejak kami sama-sama duduk di bangku kelas 8. Mengikat kedua tali sepatuku. Itu selalu dilakukan Andre ketika aku lengah dan ngantuk. Maka dari itu aku harus siap siaga jika ada Andre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya dia iseng mengikat kedua tali sepatuku jika aku ketiduran di kelas saat jam kosong. Lama kelamaan, mengikat tali sepatuku menjadi rutinitas Andre. Tapi anehnya, aku suka merasa rindu akan hal itu jika saja Andre tak melakukannya walau hanya sehari.&lt;br /&gt;“Andreee.. Jangan bikin aku kesel dong”, teriakku pada Andre yang memamerkan wajah kemenangan padaku. Ya, dia berhasil mengikat kedua tali sepatuku dengan meja. Hampir saja aku jatuh dibuatnya.&lt;br /&gt;“Biarin. Masalah buat lo??” balasnya sambil melet. Andre memang menang, tapi entah mengapa aku tidak pernah berniat untuk membalas kejailannya itu. Sampai suatu saat, Nina teman dekatku, menanyakan apakah aku suka sama Andre karena aku tidak pernah membalas perbuatan dia. Tapi pertanyaan Nina aku elak sebisa mungkin, walaupun hatiku memiliki jawaban yang berbeda dengan bibirku.&lt;br /&gt;“Ndre, kapan kamu berhenti menggangguku?” tanyaku dengan nada yang jengkel. Aku sedang mencatat materi yang ditulis oleh Sekretaris kelasku di papan tulis. Sedangkan Andre sibuk mengikat kedua tali sepatuku tanpa memperdulikan aku yang ada diatasnya.&lt;br /&gt;“Ndreee....” ujarku sekali lagi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-In1StVdP5SQ/UZTTMH9GXkI/AAAAAAAAGRQ/GPX4lmAGtB8/s1600/Cerpen+Tali+Sepatu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="243" src="http://4.bp.blogspot.com/-In1StVdP5SQ/UZTTMH9GXkI/AAAAAAAAGRQ/GPX4lmAGtB8/s400/Cerpen+Tali+Sepatu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tali Sepatu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia tetap diam. Lalu aku meliriknya. Aku melihat dia jatuh tersungkur di bawah kakiku. Aku panik. Wajahnya pucat. Apa aku menendangnya ? Aihh, aku yakin aku tidak menendangnya. Dan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brukkkk...&lt;br /&gt;Aku jatuh dari meja, dan tubuhku hampir menindihi tubuh Andre yang bisa dibilang kekar. Aku lupa satu hal, tali sepatuku masih terikat ke meja. Segera aku melepas ikatan tali sepatuku di meja dan melihat keadaan Andre. Teman-teman segera mengangkat Andre dan membawanya ke UKS.&lt;br /&gt;“Vi, kamu tadi ngapain ? Kok Andre sampe bisa pingsan gitu”, tanya Reza, ketua kelasku.&lt;br /&gt;“Aku gak ngapa-ngapain Za, beneran. Tanya aja sama Nina, aku daritadi cuma nyatet materi yang ada di papan. Ya kan Nin?” ujarku sambil melirik Nina. Berharap dia akan membelaku, karna memang aku tak bersalah, aku yakin itu.&lt;br /&gt;“Iya Za, tadi Vivi cuma nyatet materi”, terang Nina membelaku.&lt;br /&gt;Kemudian Reza berlalu dari ruang UKS. Di ruang ini hanya ada aku, Nina, dan Bu Titi. Bu Titi terus menerus membangunkan Andre dengan cara mengolesi pelipisnya dengan minyak kayu putih. Aku terus menatap Andre yang kelihatan pucat. Ini anak, kalo lagi usil ngeselin, tapi kalo sakit kasian juga, ujarku dalam hati.&lt;br /&gt;Bel pulang sekolah berbunyi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung, memilih untuk tetap menunggu Andre bangun, dan itu artinya aku harus telat sampai di rumah, atau aku meninggalkannya. Ahh, dasar Andre, bisanya nyusahin orang doang, umpatku dalam hati.&lt;br /&gt;“Kamu gak mau pulang Vi ?” tanya Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. Bu Titi juga sudah mengemasi barangnya dan bersiap untuk pulang. Ahh, aku harus benar-benar memilih dan aku harus tetap menunggu Andre sampai bangun. Bagaimanapun, aku harus bertanggungjawab karna Andre pingsan setelah mengikat tali sepatuku.&lt;br /&gt;“Bu Titi, saya mau nungguin Andre saja Bu. Kalau Ibu mau pulang silahkan, saya minta kunci ruang UKS saja biar nanti saya yang mengunci Bu”, ujarku pada Bu Titi.&lt;br /&gt;“Kamu nggak papa kalau Ibu tinggal pulang?” tanya Bu Titi padaku.&lt;br /&gt;“Nggak papa kok Bu”, balasku sambil tersenyum meyakinkan Bu Titi.&lt;br /&gt;“Iya udah, ini kuncinya. Kamu hati-hati ya Vi”, ujar Bu Titi sambil menyerahkan kunci kemudian berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 menit berlalu. Andre tak kunjung bangun dari pingsannya. Aku semakin panik. Tinggal aku dan Andre di sekolah ini. Tiba-tiba terasa ada getaran dari kasur yang kududuki. Aku lihat Andre mulai terbangun dari tidur lelapnya.&lt;br /&gt;“Vi.. Ngapain disini? Ini jam berapa?” tanyanya sambil bangkit dari kasur. Wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi tak separah tadi.&lt;br /&gt;“Ngapain disini? Menurut kamu?” aku balas tanya. Dengan nada yang agak jutek dan kesal pastinya.&lt;br /&gt;“Lah, ya mana aku tau. Aku kenapa di UKS? Aku pingsan?” tanya Andre polos. Dasar Andre, kamu nyusahin aku tau, umpatku.&lt;br /&gt;“Kamu tadi pingsan. Ya udah ayo pulang, udah hampir jam setengah tiga”, ajakku. Lalu aku mengemasi barang-barangku dan bersiap pulang. Aku ingat, aku tadi gak bawa sepeda. Dan aku yakin Andre bawa motor, nebeng ahh, pikirku seketika.&lt;br /&gt;“Ndre, nebeng ya? Aku tadi gak bawa sepeda. Kan tadi aku dianter Ayah”, ucapku sambil nyengar-nyengir. Perlu sedikit rayuan untuk membuat Andre menggangguk.&lt;br /&gt;“Iya”, jawabnya singkat.&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan aku ngobrol banyak sama Andre. Mulai dari alasan kenapa dia bisa pingsan. Ternyata dia punya penyakit anemia. Pantesan Andre keliatan lemes banget. Topik pembicaraan kita tidak berhenti. Aku menanyakan kenapa Andre bawa motor kalau sekolah, padahal jelas-jelas, sekolah melarang siswanya untuk membawa motor ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak terasa 15 menit ngobrol sama Andre di perjalanan. Ternyata dia asyik juga kalau diajak ngobrol. Rasa ketertarikanku sama Andre makin dalam. Tapi hebatnya, gak ada yang tau kalau aku suka sama Andre.&lt;br /&gt;“Aku pulang dulu ya Ndre. Makasih”, ujarku padanya sambil tersenyum. Andre hanya membalas dengan anggukan kepalanya. Dia pun berlalu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya di sekolah...&lt;br /&gt;“Vi, kamu ikut lomba ya mewakili sekolah kita?” ujar Pak Nanang padaku.&lt;br /&gt;“Hah?? Lomba apa Pak?” tanyaku tak mengerti.&lt;br /&gt;“Lomba SIC. Seperti tahun lalu. Kamu ikut mapel Bahasa Inggris ya?” tutur Pak Nanang lagi.&lt;br /&gt;“Ohh, baik Pak”, balasku dengan riang. Aku sudah berpengalaman ikut lomba ini, jadi aku yaaaa...lebih santai lah. Pak Nanang hanya manggut-manggut.&lt;br /&gt;“Partner saya siapa Pak?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Andre”, jawab Pak Nanang singkat. Mataku sempat terbelalak. Andre musuhku itu kah yang beliau maksud?? Ahh, kuharap jangan.&lt;br /&gt;“Andre siapa Pak?” tanyaku lagi. Kali ini aku benar-benar merasa seperti orang yang kehilangan arah.&lt;br /&gt;“Andre teman sekelas kamu”, tegas Pak Nanang.&lt;br /&gt;Apa?? Andre. Ya Tuhan, umpatku dalam hati.&lt;br /&gt;“Kenapa sama Andre sih Pak ? Sama Putri aja ya Pak”, mohon ku pada Pak Nanang.&lt;br /&gt;“Saya sudah terlanjur daftarin nama kamu sama Andre, Vi”, terang Pak Nanang.&lt;br /&gt;Jleebb, mampus, gerutuku dalam hati. Aku menghela nafas panjang, Pak Nanang pun berlalu tanpa berkata apapun.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya.....&lt;br /&gt;“Ndre, sorry aku telat”, ujarku pada Andre saat aku melihat dia menungguku di depan gerbang. Lomba akan dimulai 10 menit lagi.&lt;br /&gt;“Iya gapapa. Ya udah ayo kita cari ruangannya. Temen-temen yang lain udah pada masuk ruangan”, ajak Andre kemudian menggandeng tanganku.&lt;br /&gt;Aku sempat tercengang. Ini mimpi atau apa banget?? Ujarku dalam hati saking gak percayanya. Aku sama Andre udah setahun musuhan dan iniiiiiiii...apa iniii?? Oke aku tau ini lebay, dan ini gila. Yeah, ini GILA. Ah Vivi, lebay banget jadi orang. Dia cuma ngajak kamu nyari ruangan, udah itu aja. Aku mulai tersadar dari bayangan gilaku.&lt;br /&gt;Got it!! Ruangnya ketemu. Aku langsung mencari tempat dudukku dan Andre. Bel masuk berbunyi. Aku dan Andre mulai mengerjakan soal yang yaaa lumayan susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 jam berlalu.....&lt;br /&gt;Aku, Andre, Nita, dan teman-teman yang lain berkumpul di aula untuk menunggu hasil pengumuman lomba. Sementara menunggu, SMAN 1 Sooko mengadakan games kecil-kecilan. Ada hiburan juga.&lt;br /&gt;“Siapa yang mau nyumbang nyanyi?” tanya salah satu panitia lomba.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Andre menarik tanganku dan mengajakku maju ke depan. Dia mulai mengambil gitar yang disediakan panitia, sementara microphone diberikan kepadaku. Andre memberikan kode ‘Westlife’ padaku. Ohh, More Than Words, ujarku dalam hati. Lalu aku mengangguk.&lt;br /&gt;Saying ‘I Love You’ is not the words&lt;br /&gt;I want to hear from you&lt;br /&gt;It’s not that I want you&lt;br /&gt;Not to say but if you only knew&lt;br /&gt;How easy it would be&lt;br /&gt;To show me how you feel&lt;br /&gt;More than words&lt;br /&gt;.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 lagu pun berhasil aku dan Andre bawakan dengan baik. Seluruh penonton pun bertepuk tangan. Lalu aku dan Andre segera kembali ke bangku penonton.&lt;br /&gt;Saat aku duduk di dekat Andre, tiba-tiba Andre berbisik ke telingaku. Dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah terlintas di otakku. ‘aku sayang kamu’, itulah yang diucapkan Andre padaku. Mataku sempat melongo beberapa waktu, tak percaya hal itu terjadi.&lt;br /&gt;Tiba-tiba HP ku bergetar. 1 pesan masuk........&lt;br /&gt;From : Andre&lt;br /&gt;Would you be my girlfriend ??&lt;br /&gt;Aku benar-benar tak menyangka hal ini terjadi. Dia duduk di sebelahku, tapi dia mengirim SMS untuk menyatakan perasaannya. Malu kali ya, haha. Aku pun tersenyum padanya, lalu aku mengangguk tanda aku meng’iya’kan pertanyaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cerpen keduaku di LokerSeni :)&lt;br /&gt;Hope you enjoy it :)&lt;br /&gt;Add Dewi Hartami Putri, follow @dewi_hape97&lt;br /&gt;Thanks:)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-remaja-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Remaja&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/8FaODWxG040" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/8FaODWxG040/tali-sepatu-cerpen-remaja.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-In1StVdP5SQ/UZTTMH9GXkI/AAAAAAAAGRQ/GPX4lmAGtB8/s72-c/Cerpen+Tali+Sepatu.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/tali-sepatu-cerpen-remaja.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-2961457205673716305</guid><pubDate>Thu, 16 May 2013 12:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-16T05:31:08.205-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Cinta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Sedih</category><title>Cerpen Cinta Sedih - Hujan Terakhir Bersamamu</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;HUJAN TERAKHIR BERSAMAMU&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh S. A. Balqis&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gadis ini mencengkram erat kepalanya. Di tengah hujan, dia masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otaknya. Dinda, begitu gadis ini disapa. Menangis di tengah hujan yang sangat deras memang efektif karena tetesan air matapun takkan terlihat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Dinda berjalan di koridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak, fikirannya benar-benar sedang kacau. Apalagi kalau bukan karna cinta. Tepatnya karna Denis, si pangeran berkuda putih itu. Sebenarnya Denis hanyalah pria biasa, hanya saja cinta membuat Denis terlihat tak biasa di mata Dinda. Mungkin Dinda melihat menggunakan mata hati. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang buruk dari mengenal Denis. Hanya saja Denis terlalu untuk Dinda. Terlalu baik, terlalu tampan, terlalu pintar.. Nyaris sempurna. Dulu, Dinda tidak suka pada Denis, bahkan Dinda membencinya. Tapi sekarang? Ia menyukainya. Atau mencintainya. Mungkin.&lt;br /&gt;“Din, kamu baik-baik saja?” Suara itu. Suara itu sudah tak asing lagi di telinga Dinda. Dan benar saja, ketika Dinda melihat siapa orang itu. Ternyata Denis.&lt;br /&gt;“Aku? Aku baik-baik saja.” Jawab Dinda. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi. Perempuan. Bukankah itu salah satu keahliannya untuk menutupi perasaan mereka yang sebenarnya?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-nakfEan4ndg/UZTQoM0giEI/AAAAAAAAGRA/PpmIENBoXVs/s1600/Cerpen+Hujan.gif" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="http://4.bp.blogspot.com/-nakfEan4ndg/UZTQoM0giEI/AAAAAAAAGRA/PpmIENBoXVs/s400/Cerpen+Hujan.gif" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Hujan Terakhir Bersamamu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti biasa, Dinda duduk di samping Gisha. Gisha dulunya adalah gadis yang Denis sukai. Gisha itu perempuan yang cantik, pintar, dan pandai bergaul, hampir tak ada celah pada dirinya. Tapi itu dulu, sampai Denis berkata kalau ia menyukai Dinda. Dinda mendengus geli ketika otaknya memutar memori antara Dia, Gisha dan Denis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, hujan sangat lebat. Dinda dan Gisha menunggu hujan itu berhenti. Gisha sibuk mengamati hujan yang deras itu, tetapi Dinda justru menikmatinya. Aroma hujan, Dinda selalu menyukai itu. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik di telinganya. Dinda menikmati itu sampai dia tahu bahwa Denis memberikan jaketnya untuk Gisha. Dinda benarbenar cemburu hingga dia lepas kendali.&lt;br /&gt;“Din maaf.. Aku nggak mau semua berakhir sampai di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinda sempat bingung dengan isi pesan singkat Denis. Kata-katanya sedikit sulit untuk dicerna oleh otaknya. Bahkan butuh waktu yang lama untuk memikirkan kata-kata Denis. Tetapi akhirnya Dinda menjawab&lt;br /&gt;“Apa yang berakhir? Nggak ada yang berakhir. Semuanya akan sama seperti dulu. Maaf, tadi aku memang lagi emosi. Jangan berlebihan menanggapinya. Nothing gonna change Denis, trust me.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba Dinda tersadar dari lamunannya karena guru sudah memasuki kelas. Lagi-lagi matanya kembali menangkap sosok Denis. Denis sibuk dengan perempuan itu. Target baru mungkin. Dinda pura-pura tidak memperdulikannya. Dinda harus fokus. Ini demi mimpinya juga kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam tambahanpun berakhir. Semua anak-anak sibuk mengobrol sana-sini, membicarakan rencana mereka sepulang jam tambahan. Dinda sedang fokus membereskan buku-bukunya. Memastikan bahwa tak ada satupun barangnya yang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusiknya, lagi.&lt;br /&gt;“Tidak. Hanya ingin melihat kamu. Dinda yang fokus benar-benar lain ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinda mengangkat sudut bibirnya ketika mendengar kata-kata Denis.&lt;br /&gt;“Eh? Dinda tersenyum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarnya, Dinda segera merubah raut wajahnya. Dinda menyesali senyumannya tadi. Harusnya ia tidak memberikan senyuman berharganya itu kepada Denis. Si pemberi harapan palsu.&lt;br /&gt;“Dinda, ada yang mau aku bicarakan. Kita keluar sebentar ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinda segera keluar bersama Denis sebelum teman-temannya melihat. Ketika Denis mengajak Dinda untuk mengobrol di tempat teduh, Dinda menolaknya. Dinda beralasan kalau saat ini hanya hujan. Hujan air, dan lagipula Dinda suka hujan.&lt;br /&gt;“Mau bicara apa?” tanya Dinda.&lt;br /&gt;“Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu menjauhiku. Kamu nggak pernah mengirimiku pesan singkat. Bahkan seperti kamu membenciku. Aku salah apa sama kamu?” jawab Denis yang kembali bertanya.&lt;br /&gt;“Semuanya sudah berakhir”&lt;br /&gt;“Berakhir? Maksudmu? Apa yang berakhir?”&lt;br /&gt;“Kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian Dinda meralat kata-katanya&lt;br /&gt;“Maksudku bukan kita. Tapi aku dan kamu. Bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita?”&lt;br /&gt;“Kamu ini bicara apa Dinda. Siapa yang bilang kalau kamu dan aku tidak akan pernah menjadi kita?”&lt;br /&gt;“Takdir. Takdir memang tak pernah berkata tentang hal itu. Tapi, takdir menunjukkannya.”&lt;br /&gt;“Takdir tak pernah menunjukkan itu Din” jawab Denis tegas.&lt;br /&gt;“Tak pernah? Bagaimana dengan kebudayaan kita? Bukankah itu cukup menunjukkan kalau kita tidak bisa bersama? Kamu keras sedangkan aku lembut. Kamu api sedangkan aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita bersama maka kita akan menghancurkan satu sama lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan semakin deras. Sebanyak air hujan itulah air mata Dinda yang ditahannya. Mungkin untuk terakhir kalinya, Dinda ingin Denis mengingat senyumnya, bukan tangisnya.&lt;br /&gt;“Kenapa kamu menginginkan ini berakhir? Bukankah terlalu awal untuk mengakhirinya?”&lt;br /&gt;“Kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang mengakhirinya. Bukan aku.”&lt;br /&gt;“Aku? Aku tak pernah mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”&lt;br /&gt;“Sekali lagi, mungkin lidahmu terlalu kelu untuk mengatakan bahwa semua ini telah berakhir. Tetapi kamu berhasil menunjukkan. Kamu menunjukkan tanda-tanda bahwa kamu ingin mengakhirinya.”&lt;br /&gt;“Din.. Dulu aku kan pernah bilang kalau aku nggak mau —” ucapan Denis terpotong karna Dinda segera menjawab&lt;br /&gt;“Itu dulu Sekarang, tanda-tandanya sudah jelas bahwa kamu ingin mengakhirinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening. Denis tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tak pernah terfikirkan oleh Denis kalau Dinda akan mengatakan hal-hal seperti ini. Denis tak tahu apa yang membuat Dinda berubah seperti ini.&lt;br /&gt;“Lagipula, kamu sekarang sudah punya pacar, kan?” kata Dinda yang sepertinya ingin menyindir Denis.&lt;br /&gt;“Pasti kamu bingung aku tahu dari mana kalau kamu sudah punya pacar.” sambung Dinda sambil memaksakan senyum pada wajahnya.&lt;br /&gt;“Pastinya. Kamu ini jangan-jangan penguntit aku ya.” Denis benar-benar tertawa lepas dengan jawabannya tadi. Bahkan Dinda ikut terkekeh dengan jawaban Denis.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Dinda berhenti tertawa. Dia memperhatikan Denis yang masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya Dinda melihat Denis tertawa karnanya dan bersamanya. Dinda menatap wajah Denis lekat-lekat. Ia mencoba mengingat setiap lekuk wajah Denis. Jika Tuhan tak mengizinkannya untuk memiliki Denis, maka biarkanlah Dinda memiliki kenangan tentang Denis. Tetapi Dinda tak ingin mengingat kenangan ini setiap saat. Biarkanlah hujan menyimpan kenangan antara Dinda dan Denis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Tanpa sadar Dinda menitihkan setetes air matanya. Dia berbalik membelakangi Denis. Pundaknya bergetar hebat. Tangisannya benar-benar tak bisa ditahan lagi. Suara tangisnya pecah diantara lebatnya hujan. Denis segera menghentikan tawanya. Dia menatap punggung itu. Punggung gadis yang dulu sempat menjadi tempat pertama saat sedih maupun senang. Denis tahu betapa rapuhnya gadis ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Dinda segera menghapus air matanya. Mengatur suaranya agar tak bergetar saat berbicara dengan Denis nantinya. Dinda membalikkan tubuhnya dan tersenyum kaku saat melihat Denis. Denis membalas senyuman Dinda dengan tulus. Dinda tak tahu harus bagaimana atas sesuatu yang telah berakhir. Yang terbesit di benaknya adalah betapa bodohnya dia. Dinda juga tahu bahwa hujan akan membawanya pada kenangan antara dia dan Denis, tetapi pada saat hujan berhenti kenangan itu sedikit demi sedikit akan menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinda beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Denis.&lt;br /&gt;“Sepertinya aku harus pulang. Hujannya semakin deras. Dan kamu juga harus pulang.” kata Dinda.&lt;br /&gt;“Aku harap setelah hujan ini akan ada pelangi. Pelangi yang menghubungkan aku dengan pasanganku, dan kamu dengan pasanganmu.” sambungnya.&lt;br /&gt;Dinda pergi meninggalkan Denis lebih dahulu. Dinda kini sadar bahwa tak selamanya pangeran baik untuknya. Dan hujan? Terimakasih untuk hujan karena bersedia menjadi pengingat kenangan yang Dinda miliki.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-cinta-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Cinta&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-sedih-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Sedih&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/onpUt8yM8HQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/onpUt8yM8HQ/cerpen-cinta-sedih-hujan-terakhir.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-nakfEan4ndg/UZTQoM0giEI/AAAAAAAAGRA/PpmIENBoXVs/s72-c/Cerpen+Hujan.gif" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/cerpen-cinta-sedih-hujan-terakhir.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-8422536817206291328</guid><pubDate>Thu, 16 May 2013 12:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-16T05:17:53.273-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Sedih</category><title>Kutuang Perjalanan Hidupku Dalam Sebuah Lukisan - Cerpen Sedih</title><description>&lt;b&gt;KUTUANG PERJALANAN HIDUPKU DALAM SEBUAH LUKISAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Rezky Aprilliantini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, Seorang gadis sedang duduk dikursi rodanya sambil menatap langit. Gadis itu bernama Felicia. Ia mengalami kecelakaan 3 tahun yang lalu pada saat usianya 13 tahun sekarang usianya sudah 16 tahun, Felicia sering berpikir mengapa harus dia yang tertimpa kecelakaan tersebut hingga harus kehilangan kedua kakinya. Ia ,mulai meneteskan air matanya , Bunda Felicia sering sedih melihat keadaan putrinya seperti itu namun, itu sudah menjadi takdir putrinya.Bunda Felicia sering menasehati putrinya agar jangan terlalu sedih, memang hidup itu bagaikan sebuah perjalanan yang harus kita jalani dan apapun cobaan yang datang kepada kita harus kita hadapi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Meskipun keadaan Felicia seperti itu namun, prestasi-prestasi yang pernah diraihnya sangat luar biasa terutama di bidang seni lukis. Ia pernah meraih Juara 1 dalam perlombaan melukis tingkat internasional disekolahnya, Juara 2 lomba lukis award record dunia, ia pernah juga mewakilkan negara indonesia dalam perlombaan tingkat go internasional dan masih banyak lainnya. Saat inipun ia masih aktif dibidang seni lukis dalam keadaannya seperti itu. Ia bercita-cita menjadi seniman lukis profesional yang bisa dikenali sedunia dan bisa dibanggakan kedua orang tuanya maupun Negara Indonesia yaitu tanah kelahirannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Qw6beA36Ug8/UZTOUObslOI/AAAAAAAAGQw/yMU2hIWjX6Q/s1600/Cerpen+Kehidupan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="262" src="http://1.bp.blogspot.com/-Qw6beA36Ug8/UZTOUObslOI/AAAAAAAAGQw/yMU2hIWjX6Q/s400/Cerpen+Kehidupan.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kutuang Perjalanan Hidupku Dalam Sebuah Lukisan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Felicia tidak pernah menyerah untuk meraih cita-citanya, ia tetap berjuang dalam keadaan apapun itu merupakan 1 hal yang membuat semangat hidupnya masih ada. Namun, Felicia tidak pernah tahu bahwa ia mengidam penyakit kanker otak sejak usianya 5 tahun hal itu disembunyikan oleh bundanya. Bundanya tidak ingin putrinya tahu hal itu, karna agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Pada pagi hari seperti biasanya Felicia berangkat sekolah. Saat ini Felicia duduk dikelas 2 SMA, dengan semangatnya dan kerdasannya ia sering meraih Juara 1 dikelasnya. Felicia pernah diejek sama teman sekelasnya karna tidak mempunyai kaki namun, hal itu tidak membuat Felicia menjadi lemah dan sedih malah itu dijadikannya sebuah motivasi arti sebuah kehidupan sebenarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Bunda felicia sering berdoa kepada tuhan untuk putrinya, bundanya tidak ingin melihat Felicia hidup hanya sebentar saja karna perjalanan hidupnya masih sangat panjang.. menurut dokter Felicia hanya mampu bertahan hidup selama 12 tahun namun sekarang umur Felicia sudah 16 tahun berarti sisa kehidupannya tinggal 1 tahun lagi.. Bunda Felicia sudah mengeluarkan berbagai cara agar masa hidup putrinya panjang namun apa daya kata dokter kanker otak yang di idamkannya sudah terlalu parah dan tidak bisa disembuhkan kita hanya bisa menunggu keajaiban datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada minggu sore seperti biasanya Felicia mengikuti kegiatan melukis disebuah komunitas seni, diantara semua pelukis Felicia lah yang terbaik hasil lukisan nya selalu bisa membuat orang orang yang melihatnya merasa terkagum dan kadang orang merasa sedih karna akhir akhir ini sejak mengalami kecelakaan tersebut Felicia selalu melukiskan kisah hidupnya dalam sebuah lukisannya.Dirumahnya Felicia juga melukis, ia juga melukiskan kisah hidupnya Bunda Felicia mengetahui hal itu Bundanya slalu sedih karna pada saat Felicia melukis kisah hidupnya itu slalu disertai tetesan air mata. Namun tetesan air mata itu tidak akan bisa membuat kakinya kembali utuh. Bunda Felicia sering sekali mengingatkan sebuah kata kata yang penting kepada Felicia yaitu...&lt;br /&gt;“kita hidup didunia ini hanya bersifat sementara, cobaan apapun yang tertimpa kekita harus kita hadapi dengan iklash ... jadi selagi kita masih hidup didunia ini lakukan lah hal hal yang berbuat baik dan bermanfaat..dan nikmatilah hidup ini selagi tuhan memberikan kesempatan hidup kepada kita....”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Hari demi hari bulan demi bulan telah terlewati... sekarang Felicia telah berumur 17 tahun, sebentar lagi Felicia lulus SMA .. namun bundanya sangat khawatir tentang penyakitnya kanker otak keajaiban yang dimaksud dokter belum terjadi...namun akhir akhir ini Felicia sering merasakan pusing kepala, sering pingsan dan mimisan... Felicia sering menanyakan hal tersebut kepada bundanya namun bundanya hanya berkata “aahhh... mungkin kamu kurang istirahat.”, padahal bundanya tidak ingin Felicia tahu penyakit apa sebenarnya yang diidamnya selama ini. Bunda Felicia sangat sedih karna Felicia slalu mendapatkan penderitaan yang ia rasakan selama hidup didunia ini, namun bundanya hanya bisa pasrah kepada tuhan nasib putrinya ini. Seminggu kemudian setelah Felicia selesai ujian nasional SMA.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia masuk kerumah sakit karena penyakitnya kambuh dan sanagat parah... bundanya sangat sedih memikirkan hal itu setiap hari bundanya menemani Felicia di rumah sakit, Bundanya tak henti hentinya berdoa kepada tuhan agar memberikan pertolongan hidup kepada putrinya untuk kali ini saja. Namun setelah selesai pengumuman kelulusan SMA ternyata Felicia menjadi salah satu putri berprestasi tinggi disekolahnya mendengar hal itu bunda Felicia sangat bangga sekaligus terharu, Namun apa daya kebahagiaan itu tiba tiba menjadi sebuah gumpalan tetes air mata karna pada tanggal 12-12-2012 Felicia dinyatakan telah meninggal dunia.. Bundanya sangat terpukul akan hal itu bundanya berkata “mengapa harus Felicia yang meninggalkan dunia???!!!! Seharus aku saja yang meninggalkan dunia demi kebahagiaan putri ku!!!!” ...... semua sahabat dan teman teman Felicia sangat terpukul juga mendengar hal itu..karna dimata mereka Felicia adalah sesosok manusia yang sempurna karna masudnya meskipun keadaan fisik Felicia tidak sempurna namun, hati nya itu sempurna seperti hasil karya lukisan yang ia lukis tentang hidupnya sebelum ia meninggal kan bundanya dan teman teman maupun sahabat nya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Felicia sempat melukiskan kisah hidupnya kedalam sebuah lukisan yang telah banyak ia buat, Bundanya berkata “Sebelum Felicia meninggal ia banyak menghabiskan sisa sisa hidupnya untuk melukis tentang hidupnya.. dan hal terakhir yang ia katakan kepada bundanya adalah untuk slalu menjaga hasil karya lukisan lukisan yang ia buat sebelum ia meninggal “ ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah hasil karyaku... Rezky Aprilliantini.&lt;br /&gt;“ingatlah kawan kita hidup didunia ini hanya bersifat sementara.. maka gunakanlah waktu hidupmu itu untuk hal yang baik dan lebih bermanfaat”...........&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama ku Rezky Aprilliantini aku lahir 15 April Tahun 2000 cita cita ku 
ingin menjadi seorang pelukis profesional alamat facebook ku email nya 
rezkyaprillifanis@yahoo.com nama facebooknya Rezky aprill &lt;br /&gt;Aku minta respon nya yahh dari kalian..! &lt;br /&gt;Add aku juga..&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-sedih-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Sedih&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/TeVM7QhghxY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/TeVM7QhghxY/kutuang-perjalanan-hidupku-dalam-sebuah.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-Qw6beA36Ug8/UZTOUObslOI/AAAAAAAAGQw/yMU2hIWjX6Q/s72-c/Cerpen+Kehidupan.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/kutuang-perjalanan-hidupku-dalam-sebuah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-6677885875839504599</guid><pubDate>Thu, 16 May 2013 12:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-16T05:10:18.543-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Islam</category><title>Senandung Kerinduan - Cerpen Islam</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SENANDUNG KERINDUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Karya Silvi Yurisa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Angin berhembus kencang diluar sana, menyelinap masuk ke celah-celah jendela kamarku malam ini. Aku masih memandang jauh keluar jendela, dan sesekali meneguk secangkir teh hangat.&lt;br /&gt;Saat ku hela nafas panjang, seseorang datang mencium ubun-ubun kepalaku. Aku tersenyum bahagia.&lt;br /&gt;Kini pria itu sempurna berada dihadapanku, dia yang selalu mengulas senyum terindahnya walau aku tau lelah dan sakit itu pasti sangat dia rasakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Dia suamiku, Allah menciptakannya untuk melengkapi kekuranganku. Ku balas senyumanya, ku sentuh pipinya untuk menghilangkan letih yang begitu nampak di raut wajahnya yang selalu saja membuatku tak hentinya bersyukur karena memilikinya. Perlahan dia mengecup keningku, menguatkanku dalam keadaan apapun.&lt;br /&gt;Saat itu aku tak pernah tau kemana jalan hidupku akan berujung, kepada siapa cinta suci itu akan berlabuh. tapi dia yang mampu menjadi pelengkap jiwaku. Selamanya bersama, bersenandung indah mengucap lafadz sang maha cinta.&lt;br /&gt;#&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JTM3SNqaSb4/UZTMfYnHfxI/AAAAAAAAGQg/9wiyQSZgohU/s1600/Cerpen+Islam.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://3.bp.blogspot.com/-JTM3SNqaSb4/UZTMfYnHfxI/AAAAAAAAGQg/9wiyQSZgohU/s400/Cerpen+Islam.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Senandung Kerinduan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Koridor panjang dengan deretan ruangan dikanan kiri , tampak samar dalam pengelihatanku, membuat kepalaku sedikit pusing. Aku tau ini efek dari alcohol yang aku minum tadi malam.&lt;br /&gt;Aku coba berdiri dan kembali berjalan memasuki ruang kerjaku. Aku tidak butuh pertolongan siapapun. Aku wanita yang kuat dan sukses, aku tak perlu kasihani siapapun. Dan aku pantas mendapatkan segala sesuatu yang ku inginkan. aku sudah memiliki segalanya yang membuatku bahagia.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di sebuah sofa berwarna merah yang dibingkai cantik dengan tanaman hias disetiap sisinya. Aku menunggu Lili diruangan ini. Untukku lili bukan sekedar partner kerja, tapi juga seseorang yang selalu ada untukku. Tapi aku tak pernah ingin terlihat lemah dihadapannya. Aku wanita yang mandiri dan tegar. Aku tak pernah percaya dengan apa yang Lili katakan tentang ketulusan cinta. Untukku tak ada pria yang dengan tulus mencintai seorang wanita. Lili pernah bertanya mengapa hingga saat ini aku belum juga menikah, itu karena tak pernah ada pria yang mencintaiku karena Allah seperti yang Lili katakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Memang hanya Lili yang selalu memberi nasehat dengan benar. Dari sekian banyak teman-temanku di luar sana, tak pernah ada yang memberiku nasehat untuk dekat dengan sang pencipta jika hati sedang kalut. Mereka lebih senang mengajakku untuk keluar malam. mereka lebih kuat memperdayaiku.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku buka jendela kamar, terlihat abah yang tengah membaca Al-Quran di teras belakang rumah. Kemudian ku alihkan pandanganku pada jam besar yang berada di pojok kamarku. Malam sudah larut. Biasanya jika sangat lelah, sepulang dari kantor tadi aku sudah terlelap hingga fajar yang membangunkanku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Sesaat kemudian Lili menelfonku dan mengatakan besok akan ada seseorang yang datang untuk membantuku diperusahaan. Entahlah, Lili bilang namanya Zafran Bayu, dia di perintahkan langsung dari salah satu Universitas di Cairo untuk membantu perusahaan.&lt;br /&gt;Ku lihat kembali sosok yang sangat ku sayangi itu masih bersenandung dibawah terangnya bulan malam ini. Sosok yang semakin menua, tapi pembawaannya masih tetap tegas.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk ke ruang rapat, hanya ada beberapa orang disana. Aku duduk bersebelahan dengan Lili. Abah bangun dari duduknya dan memulai rapat.&lt;br /&gt;ku lihat pria yang kutebak-tebak bahwa dia adalah pria yang Lili katakan semalam. Hanya sekilas lalu, biasa saja tanpa kesan apapun.&lt;br /&gt;Waktu seakan bergulir sangat lambat, aku mulai bosan dengan rapat ini. Kulirik Lili yang sangat serius memperhatikan abah, lalu beberapa orang disebelahnya semua mengeluarkan ekspresi yang sama seperti Lili. Kini pandanganku tepat berada pada Zafran. sesaat pria berkulit sawo matang itu mengulas senyum ke arah abah.&lt;br /&gt;Dalam hitungan detik dia sempurna membekukan pandanganku padanya.&lt;br /&gt;Dan hanya beberapa detik pula suara tepuk tangan keras dari karyawan rapat membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam berlalu, tubuhku terasa pegal duduk dengan dihadapkan oleh deretan kata-kata pada laptop ini. kulihat jam dipergelangan tanganku, ternyata hari semakin sore.&lt;br /&gt;Aku berjalan menuju pantry untuk sekedar membuat minuman. Tepat didepan pintu pantry sayup-sayup terdengar suara seseorang dari mushola kecil disamping pantry. Lalu aku masuk kedalam pantry hanya untuk sekedar meneguk segelas air mineral. Sesaat aku teringat kembali akan Zafran, jika diperhatikan mahasiswa lulusan universitas di Cairo itu terlihat tampan.&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak, membayangkannya membuatku tersenyum penuh arti.&lt;br /&gt;Apa aku jatuh cinta padanya?&lt;br /&gt;Aku menggeleng, entahlah rasanya aku sudah mulai berfikir terlalu jauh tentang pria itu.&lt;br /&gt;Sesaat terdengar lagi suara seseorang dari mushola, suara seseorang yang tengah mengaji, bersenandung membaca lafadz illahi. Entah mengapa membuatku penasaran melihat sosok didalam sana.&lt;br /&gt;Aku sedikit ragu untuk mengintip siapa yang tengah bersenandung itu. tapi rasa penasaran itu lebih kuat. Ku sikap sedikit tirai berwarna hijau itu. Hanya ada dia disana. Aku masih belum bisa menerka wajahnya.&lt;br /&gt;Pria itu mengakhiri senandungnya, aku masih terpaku di balik tirai itu. pria itu memalingkan wajahnya, hatiku ketar-ketir sedikit terkejut. Angin sahara seperti mendesau-desau keras. Suasana hati ini perlahan terasa berbeda. Hingga pria itu berlalu pergi.&lt;br /&gt;Zafran…&lt;br /&gt;Kataku lirih, Hatiku gemetar.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini abah pergi ke luar kota, entahlah beliau sama sekali tak mengatakan alasannya pergi kesana. Mungkin urusan pekerjaan fikirku. Aku mengantar keberangkatan abah hingga bandara.&lt;br /&gt;Abah menghela nafas. Kemudian memegang pundakku.&lt;br /&gt;Abah kembali melontarkan pertanyaan itu untuk kesekian kalinya.&lt;br /&gt;“jadi kapan kamu akan menikah? Umurmu sudah sangat matang untuk berkeluarga tanisya.”&lt;br /&gt;Aku diam.&lt;br /&gt;“abah mau kamu menikah dengan orang yang abah pilih sepulang abah nanti. Kebahagiaanmu tak akan sempurna hanya dengan harta dan tahta. Tapi tanpa cinta yang Allah ridhoi.”&lt;br /&gt;Aku sedikit kaget, rasanya hatiku berontak. Mau di taruh dimana mukaku jika teman dan karyawanku tau aku dijodohkan. Tapi aku tak mau mengecewakan abah, aku sangat menyayanginya.&lt;br /&gt;Abah berlalu tanpa mendengarkan penolakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari berlalu. Kini hati dan fikiranku bergelut tak karuan. Ku pandangi wajahku yang semakin terlihat redup dimakan usia. Abah benar, sudah seharusnya aku mulai memikirkan seorang pendamping. Tapi aku benar-benar tak setuju dengan perjodohan itu. sesaat aku teringat perkataan Lili tentang cinta yang tulus, ya aku mau menikah jika ku rasakan ketulusan cinta yang Allah ridhoi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Ku rebahkan tubuhku sejenak di kasur. Sesaat aku teringat kajadian di mushola tempo hari. Sosok Zafran begitu mendebarkan jantungku. Sosoknya yang baik dan rendah hati membuatku kagum, dan saat-saat dimana dia mulai mengajariku tentang Islam. Dia bilang seorang wanita akan terlihat sangat cantik jika dia menutup auratnya. Juga dalam Islam tak mengenal kata pacaran tapi ta’aruf atau perkenalan. Dan aku memintanya mengajariku bersenandung sepertinya, bersenandung indah pada sang Khalik.&lt;br /&gt;Kini hatiku merasakan cinta yang Allah ridhoi, ya cintaku pada Zafran.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini abah akan memperkenalkanku dengan pria yang akan abah jodohkan denganku.&lt;br /&gt;Aku duduk disamping abah. Aku benar-benar tak ingin mengecewakan abah. Ku coba ikhlas, menerima siapapun jodohku. Meskipun aku tau aku telah membohongi hatiku, kalau aku hanya mencintai Zafran.&lt;br /&gt;Tapi tak ada sosok lain selain aku dan abah disana. Abah tau keherananku. Dan akhirnya beliau mulai bicara.&lt;br /&gt;Pria itu tak bisa datang karena suatu hal. Dan abah berkali-kali bertanya, apakah aku ikhlas dengan perjodohan ini? Aku hanya mengangguk tak berani mengatakan bahwa aku malu dengan perjodohan ini, tapi aku takut melukai hati abah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Abah menghela nafasnya kemudian kembali berbicara. Abah menceritakan bagaimana sosok calon suamiku itu, rasanya hatiku sakit tersayat dengan berita yang abah sampaikan. Sehina itukah aku sehingga calon suamiku tak sempurna rupa? Air mataku berderai dihadapan abah, tapi abah kembali bertanya, apa aku bisa menerimanya? Hatiku bertanya-tanya mengapa abah menjodohkanku dengan seorang yang cacat? Dan abah bilang dia adalah anak dari sahabat lamanya, mereka pernah berjanji menjadi satu keluarga dengan menyatukan aku dan anaknya. Hanya itu alasan yang abah katakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Malam ini hatiku benar-benar kalut, aku butuh tempat untuk mengadu. Sosok Zafran mengingatkanku pada satu hal, Allah. Ya kepadaNya lah aku mengadu.&lt;br /&gt;Zafran memang guru untukku. Semua yang dia ajarkan padaku tentang Islam membuatku berubah sedikit demi sedikit. Aku masih menyimpan rasa terhadapnya, masih terus berharap doaku dapat mengubah takdir yang telah digariskan. Masih terus berharap bahwa dialah yang akan menjadi imamku.&lt;br /&gt;Dan kini hatiku telah mantap untuk menutup auratku. Bismillah, kukenakan pelindung suci itu agar dijauhkan dari segala macam keburukan. Terserah apa yang akan teman-temanku katakan nanti melihatku seperti ini, aku tak peduli.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa hari ini aku tak bertemu Zafran dikantor, Kucoba Tanya Lili tapi dia bilang Zafran memang tak memberi kabar dari beberapa hari yang lalu, dan tak bisa dihubungi. Ya Allah kemana dia, mungkin dia memang bukan jodohku. Karena itu Allah memisahkan aku dengannya, agar aku tak semakin menyayanginya lebih dalam lagi. Allah menyayangiku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Pagi ini kudatangi abah, memberi jawaban tentang perjodohan itu. awalnya aku ingin dan mengatakan pada abah bahwa aku ingin dinikahkan dengan Zafran, tapi apa daya Allah punya rencana lain untukku. Dan aku siap menikah dengan pria pilihan abah. abah bilang lusa aku akan bertemu dengannya.&lt;br /&gt;Aku masih terdiam didepan cermin, air mata menetes perlahan membasahi pipi yang merona. Hatiku berdegup kencang menanti calon suamiku. Aku terus berdoa agar Allah selalu berada bersamaku. Agar aku ikhlas mencintainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Seseorang datang, menyuruhku menemui abah dan calon suamiku di ruang tamu. Ku langkahkan kakiku mantap, Ku ulas senyum terindah, ku lihat sekilas sosok calon suamiku yang tertunduk.&lt;br /&gt;Lagi-lagi hatiku bergetar tak menentu, air mataku menetes perlahan terasa hangat membasahi pipi. Tak hentinya hatiku bertasbih, memuja keagunganNya. Ku lihat abah yang tersenyum haru, dan juga dia yang tak kurang apapun dari dirinya. Yang tak tak sedikit pun lumpuh pada fisik dan hatinya. Pelengkap jiwaku.&lt;br /&gt;Dia adalah imamku, ku gelar sajadah bersamanya berdiri dibelakangnya menjadi makmumnya.&lt;br /&gt;Barrakallah…&lt;br /&gt;Aku rindu bersenandung indah pada Illahi bersamamu suamiku, Zafran..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nama : Silvi Yurisa&lt;br /&gt;Ttl : Bogor, 13 September 1993&lt;br /&gt;Alamat : perum Bumi Cibinong Endah blok C 06 No 31 Cibinong-Bogor&lt;br /&gt;Jurusan : Komunikasi Diploma IPB&lt;br /&gt;E-mail : Yurisa.silvi@yahoo.com&lt;br /&gt;Twitter : @yurisasilvi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://goo.gl/0D1I4" target="_blank"&gt;Cerpen Islam&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/cx6yqW0iYoo" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/cx6yqW0iYoo/senandung-kerinduan-cerpen-islam.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-JTM3SNqaSb4/UZTMfYnHfxI/AAAAAAAAGQg/9wiyQSZgohU/s72-c/Cerpen+Islam.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/senandung-kerinduan-cerpen-islam.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-1062044431306295159</guid><pubDate>Wed, 15 May 2013 05:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-14T22:47:43.258-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Cinta</category><title>Hujan - Cerpen Cinta</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;HUJAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Vera Yunita Kurnia Dewi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dingin,, sangat dingin. Saat air mulai menetesi atap dunia yang maha luas, aku tetap melanjutkan lamunanku di depan jendela bening kamarku. Menatap langit yang warnanya kian sama dengan kabut, mendengar nyanyian butiran air yang memukul-mukul atap rumahku. Aku sangat menikmatinya, sungguh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Semakin jam berputar didepan mataku, semakin aku terhanyut dalam kenangan ku. Iya, kenangan yang menurut pikiranku amat indah, kenangan yang mungkin tak akan pernah dapat ku format seumur hidupku. Kenangan ku, tentang dia. Raffa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GyQeLezXe-E/UZMhNUr26cI/AAAAAAAAGQQ/BfQc_NT2tes/s1600/Cerpen+Hujan.gif" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="http://3.bp.blogspot.com/-GyQeLezXe-E/UZMhNUr26cI/AAAAAAAAGQQ/BfQc_NT2tes/s400/Cerpen+Hujan.gif" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Hujan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dulu, setiap jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 01.00 siang. Aku selalu memutarkan kursi rodaku untuk merangkak di depan jendela. Iya, untuk melihat anak-anak yang pulang sekolah. Karena didepan rumahku berdiri megah SMA Ksatria Bangsa. Sejak kecil, aku ingin sekali bersekolah di sma mewah itu. Namu karena keterbatasan kaki ku untuk bergerak, mama dan papa memilih untuk memberikan ku home schooling. Kedengaran mahal memang, tapi taukah kau betapa kesepiannya seorang siswa home schooling. Tanpa teman, tanpa bangku sekolah dan tentunya tanpa kantin tempat berkumpul semua kakak kelas idolamu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Sangat membosankan. Tapi, aku sebenarnya tidak dilahirkan sebagai seorang gadis penyandang cacat. Hanya karena kecelakaan mobil yang aku alami saat umurku baru 9 tahun, terpaksa aku harus menghabis kan waktu ku diatas alat yang sangat indah ini. Setidaknya itu yang aku katakan untuk menghibur diriku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Hari itu hari kamis tanggal 16 juni, aku sangat ingat dengan tanggal dan harinya. Hari itu hujan menguyur seluruh bagian kota sejak mulai pagi hari. Jalan-jalan tampak sepi tanpa aktifitas masyarakatnya. Hanya titik-titik air hujan yang berlomba ingin segera mencapai aspal dan menggenanginya. Saat aku tengah asik dengan pandanganku terhadap langit, hingga aku dikejutkan oleh suara kursi terasku yang ditabrak orang.&lt;br /&gt;Gubrak!!!&lt;br /&gt;Aku langsung mengalihkan penglihatanku ke arah teras.&lt;br /&gt;Oh rupanya ada orang berteduh. Kataku dalam hati saat aku melihat bagian punggung orang tersebut. Tak ada niatku untuk basa-basi mewarkan handuk pengering atau hanya sekedar mempersilahkannya masuk agar ia menikmati suhu yang lebih hangat.&lt;br /&gt;Gak penting.&lt;br /&gt;Kataku kembali.&lt;br /&gt;Tapi,,&lt;br /&gt;Taukah kau apa lagi keputusanku saat orang itu menolehkan wajahnya kebagian depan jendela kamarku??&lt;br /&gt;Owh My God..........&lt;br /&gt;Keren bangetttt............&lt;br /&gt;Kerlingan sebelah matanya yang menahan air hujan dan tetesan air dari rambut cepaknya membuatnya terlihat sangat eksotis dan mengagumkan.&lt;br /&gt;“ Inikah pangeran hujan yang telah dikirimkan Tuhan untuk menemani hari-hari ku yang Ngebioringin ini..?” ucapku sambil meletakkan kedua belah tanganku diatas bibir. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung meraih handuk yang tertata rapi diatas lemari kayuku, dan dengan sekuat tenaga segera megayuh kursi rodaku kearah pintu depan.&lt;br /&gt;“Maaf,, aku hanya menumpang berteduh sebentar ” katanya sambil menyibakkan lusinan butiran air dari rambutnya.&lt;br /&gt;“Owh, iya. Gak apa-apa kok. Mau pakai handuk??”&lt;br /&gt;“Terima kasih.....” katanya dengan meraih handuk dari genggamanku yang aku sodorkan tadi. Mungkin ia melihatku sebagai sosok aneh yang sangat menggemari kursi roda. Tapi, entahlah. Senyumannya seperti tak akan memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;“Jangan duduk disitu........! ” kataku dengan nada sedikit berteriak karena kaget. “ Kursinya basah, duduk didalam aja.”&lt;br /&gt;“Oh, baiklah. Terima kasih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berjalan memasuki ruang tamuku dan duduk tepat di hadapan kursi rodaku. Yah, hanya jarak satu meja saja.&lt;br /&gt;“ Anak Ksatria bangsa ya??”&lt;br /&gt;“ Heem,, kok tau??”&lt;br /&gt;“ Seragam kamu...”&lt;br /&gt;“ Ow iya. Oh aku Raffa”&lt;br /&gt;“ Weni”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusebutkan namaku dengan menerima jabatan darinya. Oh tak disangka kami cepat sekali akrab, dengan ribuan materi perbincangan yang sebenarnya juga tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Mungkin 2 jam, atau 3 jam sampai hujan benar-benar berhenti menetes kami bicara. Tanpa ingat pula aku untuk membawakannya secangkir teh untuk menghangatkan badan. Raffa, dia seperti keajaiban buatku.&lt;br /&gt;Besoknya, ia berteduh kembali di depan rumahku karena memang bulan ini sedang musim hujan. Dan bahkan ia juga mampir tanpa hujan yang menghantarkannya kerumahku. Dan mulai saat itu aku yakin, dia lah yang nantinya kan menemaniku dikala hujan. Dan keyakinan itu tetap ku pegang sampai papa dan mama mebawaku operasi kaki di Singapura.&lt;br /&gt;Yah, tadinya bekal terkuatku menjalani operasi kaki ini adalah senyumannya. Karena aku bukanlah orang yang bisa menegakkan kepala di hadapan dokter. Namun, aku salah. Ternyata operasi ini tak menolong apa-apa, kecuali membuarku tak bisa melihat Raffa lagi.&lt;br /&gt;1 bulan aku meninggalkan rumah, mungkin dia mengunjungiku. Tapi aku tak tau, karena saat aku kembali kerumahku dan berdiri dengan kakiku. Aku tak pernah melihatnya lagi.&lt;br /&gt;Hujan, mungkin itu yang dapat mengantarkanya kerumahku lagi, tapi aku salah lagi. Dia tak penah kembali. Entah berapa juta kali jam itu berputar menemaniku menunggu kedatangan Raffa, sampai aku sadar telah bertabah 6 digit angka tahun kalenderku sejak terakhir kali aku melihatnya.&lt;br /&gt;“Raffa, masihkah kau mengenangku??” ucapku sampai aku tersadar bahwa sejak keluar dari kantor tadi aku masih berdiri diatas trotoar dan kini air hujan mulai membasahi rambut panjangku. Aku menutupi kepalaku dengan tangan dan segera berlari kearah halte bis disebrang jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking dekatnya tanganku menutupi mataku, aku sampai tidak melihat bahwa ada orang yang juga berlari kearah halte dari arah yang berlawanan denganku. Oh, aku hampir menabraknya.&lt;br /&gt;“ Maaf, tadi aku gag liat kamu”&lt;br /&gt;“ Hhmmm, gag apa-apa ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OMG,, suara itu bukan petir yang mengagetkanku kan??.. Lalu apa, ?? tapi aku sangat mengenal suara itu. Dan buru-buru aku membuang tanganku dari atas kedua mataku dan menoleh kearah pria disampingku. Ini bukan mimpikan..........&lt;br /&gt;“Raffa.........”&lt;br /&gt;Wajah maskulin yang tetap sama saat hujan dulu diteras rumahku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Vera Yunita Kurnia Dewi&lt;br /&gt;FB : ve2sweet@gmail.com&lt;br /&gt;&amp;nbsp;No. Urut : 617&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanggal Kirim : 20/02/2013 15:12:41&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-cinta-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Cinta&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/lKVyia4PzXY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/lKVyia4PzXY/hujan-cerpen-cinta.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-GyQeLezXe-E/UZMhNUr26cI/AAAAAAAAGQQ/BfQc_NT2tes/s72-c/Cerpen+Hujan.gif" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/hujan-cerpen-cinta.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-4993586806921933436</guid><pubDate>Wed, 15 May 2013 05:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-14T22:38:17.485-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Remaja</category><title>Cinta Bukan Untuk Menyakitkan - Cerpen Remaja</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;CINTA BUKAN UNTUK MRNYAKITKAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Asyraf Manurung&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namaku Tia, aku adalah seorang pelajar SMA . Umurku baru saja menginjak usia 16 tahun . Biasanya anak seumuranku, pasti ada yang merasakan perasaan cinta . Ya, aku merasakan rasa itu sekarang . Akan tetapi, perasaan itu kuberikan kepada seorang anak lelaki dari teman SMP ku dulu. Namanya Boy, aku mencintainya sejak SD. Dan yang tahu akan perasaan itu sampai sekarang ini, hanya ALLAH, Aku, Dan sahabatku Dewi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi adalah sahabatku, dia sangat baik padaku . Bahkan sampai sekarang, aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri . Kami selalu menjalani hari hari dengan bersama, canda, tawa, sedih, duka, luka, semua kami hadapi dengan bersama . Rumahku dan rumahnya hanya berjarak 800Meter dari rumahnya, jadi maklum saja jika aku dan Dewi selalu bersama . Sampai sekarang aku belum pernah bisa, jika aku jauh darinya, dia telah menjadi bagian dari hidupku . Ya, begitulah aku dengannya .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1ZAGGAFAb2M/UZMfJ-YT31I/AAAAAAAAGQA/iFu8oWbsMo0/s1600/Cerpen+Cinta2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="311" src="http://1.bp.blogspot.com/-1ZAGGAFAb2M/UZMfJ-YT31I/AAAAAAAAGQA/iFu8oWbsMo0/s400/Cerpen+Cinta2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Cinta Bukan Untuk Menyakitkan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika bercerita tentang Boy, aku sudah tak melihatnya lagi semenjak ia pindah dari perumahan di kota Medan yang dekat dengan rumah Dewi . Sekarang dia sudah pindah Ke Jakarta, tanpa ada meninggalkan sebuah kenang2 an . Karena memang aku sangat gugup jika aku tadi harus berhadapannya, apalagi jika harus mengobrol, rasanya diri ini seperti melayang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku memandang dari jendela kamarku . Melihat mobil truk yang melintas dan membawa banyak barang . Sepertinya mobil itu membawa barang pindahan . yang menjadi pertanyaanku adalah siapa ya, yang mau pindah kemari . Ya sudahlah, sepintas aku menghiraukan hal itu . Aku mengambil wudhu dan kemudian melaksanakan sholat Isya di kamarku. Setelah itu, aku beristirahat dan tidur.&lt;br /&gt;(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya di sekolah, Dewi bercerita tentang tetangga baru yang datang tadi malam didekat rumahnya . “Eh Tia, tadi malam ada yang pindah lho, di tempat Rumahnya Boy dulu”. “Siapa wi?”. “Ada dehh, nanti tau sendiri kok”.”Hemm, ya deh”. Teeeeeeeeet, teeeeeeeeeeeet teeeeeeeeeet(suara bel sekolah) . “Yaudah yuk wi, kita kelas, kan udah bel”. “iya deh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami pun masuk ke kelas dan memulai pelajaran matematika oleh Pak Roy .&lt;br /&gt;“Anak anak, sebelum kita memulai pelajaran, perkenalkan murid baru sekaligus yang akan menjadi teman baru kalian nantinya” . Anak itu pun masuk dan kemudian aku pun terkejut melihat dia . Ternyata dia adalah Boy, teman SMP ku dulu, dan juga orang yang kucintai . Ahh, senangnya hati ini, dia kembali lagi ke kehidupanku . Dia bertambah tinggi dan dia pun semakin tampan saja sekarang . Boy pun mengenalkan dirinya kepada teman2 barunya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai semuanya, Namaku Boy, usiaku 16 tahun, sisanya, nanti kita akan berkenalan lagi ya”. “Boy, duduklah disamping Dika, dia duduk sendirian”. Kata Pak Roy. “Iya pak”. Boy pun duduk di bangku bersebelahan dengan Dika, dan mereka pun berkenalan. Dan kami pun memulai pelajaran .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam istirahat, Dewi pergi ke kantin untuk membeli jajanan, sedangkan aku duduk sendirian di luar kelas menunggu Dewi . Tiba tiba saja Boy mendekatiku dan berbicara padaku . “Hei Tia, apa kabar, lama ya ga jumpa”. Aku gugup dan susah untuk bicara, dan kemudian akupun berkata padanya dengan sedikit latah, “Ba, baik kok Boy”. “Emm, Ti, aku bole ngomong sesuatu ga?”. “A, apaan Boy”?.&lt;br /&gt;“Maaf aku baru bicara sekarang padamu Ti, sebenarnya aku suka padamu Tia, tapi aku malu bilangnya ke kamu, habisnya kamu selalu aja dekat dengan Dewi, aku takut dia nantinya cemburu, karena dulu dia pernah bilang kalau suka sama aku, tapi dia bilang kalau aku lebih baik denganmu karena aku tau kamu suka sama aku, dan juga aku suka sama kamu. Aku takut, suatu saat aku ga bisa bilang ini lagi ke kamu, kondisi di Jakarta yang sering banjir, membuat keluargaku ingin pindah lagi ke Medan. Kepindahanku dari Jakarta adalah suatu keberuntungan, karena aku dan keluargaku sudah pindah ke rumah lamaku . Dan aku bisa dekat lagi sama kamu”.Terus terang boy padaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan itu semua, aku pun mengerti, bahwa dahulu Dewi juga suka pada Boy, tapi dia tak pernah bercerita denganku tentang perasaannya. Aku tak bisa berkata apa2 lagi dengannya . Sudah cukup semua penjelasan ini .&lt;br /&gt;“Aku tahu, Boy, aku senang banget kamu juga suka padaku, aku juga suka sama kamu”. “Makasi ya Tia, oh ya, kamu mau ga jadi pacar aku Tia?”. Aku tahu dan akan menjawab semuanya kepada Boy.”Boy, maaf ya, aku memang suka padamu, tapi jika perasaan ini akan melukai sahabatku, lebih baik aku dan kamu berteman saja, karena jika kita pacaran, pasti akan membuat Dewi sakit hati. Maaf ya boy, aku ga mau melukai perasaan sahabatku karena cinta ini . Tapi ketahuilah Boy, aku tetap cinta padamu”. Boy pun menjawab dengan sedikit kecewa.”Heem, ya sudah aku ngerti akan perasaan kamu dengan Dewi, aku juga ga mau nyakitin dya Ti, makasi ya atas jawaban kamu itu Ti, aku jadi mengeti tentang arti persahabatan”.Dewi pun datang diikuti dengan kepergian Boy.&lt;br /&gt;“Ehm, ngomong apa aja tuh, ama pangerannya?”. Tanya Dewi penasaran.”Ga ada apa2 kok wi, cuma nanyai kabarku, dan kabarnya dia, dan kepindahan dia dari Jakarta.”.aku tersenyum&lt;br /&gt;menjawabnya.”Eem, ya uda yuk, kita makan nih makanan, kan sayang dah dibeli ga dimakan. Kami pun menikmati jajanan yang dibeli Dewi. Selepas bel sekolah masuk, kami pun melanjutkan pelajaran hingga pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamarku aku merenung sendirian dan berkata dalam hatiku. Aku memang cinta padamu Boy, tapi aku ga mau lukai hati sahabatku, maafkan aku Boy. Karena dalam fikiranku, Tak ada guna Cinta jika itu akan menyakitkan orang lain. Tapi apapun itu, aku sayang sama kalian berdua, sahabatku, dan Teman yang kucintai, Dewi dan Boy. Aku kan selalu ada buat kalian. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama : Muhammad Asyraf Manurung&lt;br /&gt;Agama : Islam&lt;br /&gt;Kelas : XI RPL1&lt;br /&gt;Sekolah : SMKN 1 Kutalimbaru&lt;br /&gt;Ttl : Medan/25/09/1996&lt;br /&gt;Alamat : PBTS Sampecita&lt;br /&gt;Email: muhammadasyraf@ymail.com&lt;br /&gt;Facebook: Muhammad Asyraf (Premiere)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-remaja-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Remaja&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/P6Q7hZXK2nc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/P6Q7hZXK2nc/cinta-bukan-untuk-menyakitkan-cerpen.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-1ZAGGAFAb2M/UZMfJ-YT31I/AAAAAAAAGQA/iFu8oWbsMo0/s72-c/Cerpen+Cinta2.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/cinta-bukan-untuk-menyakitkan-cerpen.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-7386225351724596398</guid><pubDate>Wed, 15 May 2013 05:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-14T22:33:55.338-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Islam</category><title>Ikhlas Dalam Penantian - Cerpen Islam</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Karya: Vita NJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu setengah hari, akhirnya surat pengumuman kelulusan sampai juga, dan aku dinyatakan lulus, alkhamdulillah nilainya memuaskan. Begitu pula sahabatku Astrid. Kami sangat bahagia, tidak sia-sia usaha giat dalam belajar akhirnya membuahkan hasil yang maksimum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneruskan jenjang pendidikan ke Perguruan Tinggi adalah rencana kita. Dari berbagai banyak pertimbangan, akhirnya kita memilih UIN Yogyakarta. Setelah dinyatakan diterima, kami pun mencari tempat tinggal. Tiba-tiba teringat akan nasihat Ibu tercinta,&lt;br /&gt;“Nduk, carilah ilmu sebanyak-banyaknya, tidak hanya ilmu duniawi saja, tetapi ilmu akhirat pun harus dicari dan diamalkan. Tujuan hidup kita adalah bahagia dunia akhirat. Jagalah diri kalian masing-masing dan hiduplah dilingkungan orang-orang yang sholeh, ibu hanya bisa mendoakan dari sini. Semoga kalian sukses dunia akhirat.” Di ucapkan dengan suara halusnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1dPx9Laq520/UZMeD9-fYAI/AAAAAAAAGP0/80lNDEE2VJk/s1600/Cerpen+Penyesalan+copy.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="218" src="http://1.bp.blogspot.com/-1dPx9Laq520/UZMeD9-fYAI/AAAAAAAAGP0/80lNDEE2VJk/s400/Cerpen+Penyesalan+copy.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ikhlas Dalam Penantian &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di sebuah pesantren yang letaknya tidak jauh dari kampus kami. Astrid adalah sahabat dekatku, sejak SD,SMP,SMA, bahkan sekarang di PT kami pun bersama. Suka duka kami rasakan bersama. Tetapi ada satu hal yang membedakan kami, yaitu masalah percintaan. Astrid jagonya dalam menggaet cowo manapun yang disukainya. Hampir tidak terhitung berapa banyak cowo yang di deketin. Beda halnya dengan aku, aku belum berani untuk bermain-main dengan hati. Entah aku tidak peduli dengan orang-orang yang menganggap aku tidak butuh seorang pendamping hidup. Yang aku pikirkan saat ini belajar dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama masuk pesantren membuat aku terkejut dengan keadaan di pesantren, aku yang terbiasa hidup dalam keadaan rapi, suasana yang tenang, kini semua itu berbanding terbalik. Sungguh membuat aku ingin pingsan seketika. Barang-barang berserakan tidak jelas dimana tempat aslinya, disetiap sudut-sudut tembok terdapat tumpukan baju yang tidak rapi, entah itu baju bersih atau kotor, keadaan kamar mandi yang begitu menjijikan membuat aku tidak ingin memasukinya. Ya Allah inikah tempat yang di inginkan Ibu untuk aku tempati..?? sejenak aku menganggap Ibuku kejam, tega membiarkan anaknya hidup dalam keadaan seperti ini. Tetapi pikiran buruk itu aku buang jauh-jauh, karena aku yakin Ibuku ingin aku menjadi anak yang terbaik.&lt;br /&gt;“Apa kamu yakin mau tinggal ditempat ini?” tanya Astrid kepada ku..&lt;br /&gt;“Yakin..! kenapa tidak.....?” dengan tegas aku menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawabanku yang meyakinkan, Astrid pun ikut yakin untuk tinggal di pesantren ini. Kami berdua berjalan mencari kamar yang disediakan untuk kami. Tetapi belum ketemu-ketemu, karena tempatnya begitu luas. Tiba-tiba ada seorang santriwati menghampiri kami,&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum ya ukhti..?”&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam.. ukhti..”&lt;br /&gt;“Afwan, ukhti-ukhti ini santri baru ya?”&lt;br /&gt;“Ia benar, perkenalkan saya Keyla dan ini teman saya Astrid, kami sedang mencari kamar yang disediakan untuk kami. Tetapi kami belum menemukannya..”&lt;br /&gt;“Ohh..saya aminah, afwan ukhti ! sebaiknya ukhti soan ke ndalem dahulu.. nanti disana bertemu dengan Abah dan Umi. Nanti baru kami tunjukan kamar yang bisa ukhti tempati..”&lt;br /&gt;“Soan ? Ndalem?” Astrid seketika terkejut.&lt;br /&gt;“Ya ukh, soan itu seperti halnya orang bertamu, sedangkan ndalem itu tempat tinggalnya Kyai. Mari saya antar ke ndalem”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Astrid saling menatap dan tersenyum bersama, dan akhirnya kami ikuti santriwati itu ke ndalem. Letaknya tidak terlalu jauh dari asramanya. Sesampainya di depan ndalem lalu santriwati itu mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Melihat sikap dan tingkah laku santriwati itu sangat sopan. Kami heran, di zaman Agnes Monica ternyata masih ada orang seperti Siti Nurbaya.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum.....??”&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam..” dari arah dalam Umi menjawab salamnya.&lt;br /&gt;“Ngapunten Umi, niki wonten santri enggal bade soan.”&lt;br /&gt;“Ya silahkan masuk, sebentar nunggu Abah ya.”&lt;br /&gt;“Nggihh...” kami serentak menjawabnya.&lt;br /&gt;Aku dan Astrid hanya diam dan tersenyum ketika mendengar percakapan diantara Bu nyai dan santrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abah pun keluar, dan kami duduk di ruang tamu bersama Umi dan Abah. Aku memulai pembicaraannya dengan sedikit deg-degan karena berhadapan dengan seorang Kyai.&lt;br /&gt;“Maaf Abah Umi, kita dari Semarang. Perkenalkan nama saya Keyla Nur Istiqomah, dan ini teman saya Astrid Pangesti. Kami berniat untuk masuk ke pesantren ini”&lt;br /&gt;“Ya kami ucapkan selamat datang. Yang terpenting ketika belajar dipesantren adalah sabar dan istiqomah, insya Allah bisa dan semoga ilmunya bermanfaat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepenggal nasihat dari Abah. Setelah mendengar berbagai nasihat dan cerita dari Abah dan Umi. kami pun pamit dan menuju ke asrama. Tiba-tiba Umi menghentikan langkah kami.&lt;br /&gt;“Sebentar mba Keyla, di ndalem ada kamar kosong, berhubung putri kami sekarang kuliah di Amerika. Ada baiknya jika kamarnya diisi mba Keyla dan mba Astrid. Bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kami berdiam, dan serentak menyetujui tawaran Umi untuk tinggal di ndalem. Karena pertimbangan dari pada kamarnya kosong, sedangkan di asrama sepertinya penuh, jadi untuk sementara kami disuruh untuk menempatinya untuk menggantikan anak bungsunya yang sekarang kuliah di Amerika.&lt;br /&gt;“Ternyata jika hati kita ikhlas menerimanya, maka kita diberikan yang terbaik untuk kita, buktinya kita menempati tempat yang nyaman dan bersih seperti ini.” Astrid hanya tersenyum mendengar ucapanku.&lt;br /&gt;Kami mulai merapikan barang-barang kami. Dan tidak terasa waktu ashar pun tiba, kami siap-siap berangkat jam’ah dan memulai aktivitas mengaji. Diawal pertemuan kami pun memperkenalkan diri kami di depan banyak santri. Ternyata begitu banyak santrinya, ada yang masih kecil ada yang remaja dan ada yang dewasa. Jelas saja karena pesantren ini dibuka untuk umum.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 tahun sudah aku dan Astrid menetap di pesantren. Kuliah pun berjalan dengan lancar. Kini aku semester 7, itu artinya harus lebih giat dan serius untuk menggarap skripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Astrid menepuk punggungku dengan tangannya ketika aku sedang duduk asik sambil baca buku.&lt;br /&gt;“Key, kamu tau tidak, santri-santri sedang asik berbincang-bincang tentang apa?”&lt;br /&gt;“Tidak, memang apa? Awas loh jangan nggosip lagi seperti kemarin-kemarin. Ntar kamu yang terjebak sendiri...!” aku mewanti-wanti sahabatku karena memang kupingnya diman-mana.&lt;br /&gt;“Kata santri, bentar lagi putra Abah yang di kairo pulang.”&lt;br /&gt;“Ah kata siapa kamu? memang Abah punya putra yang di kairo?”&lt;br /&gt;“Yaah sahabatku yang satu ini ketinggalan berita. Abah memang punya putra yang kuliah di kairo, sudah 4 tahun belum pernah pulang. Denger-denger si ganteng. Heheeee..”&lt;br /&gt;“Mulai deh kamu. Cowo mana aja kamu gebet...” Ledek ku pada Astrid.&lt;br /&gt;“Biarin. Awas loh kalo kamu sampai naksir.”&lt;br /&gt;“Astrid senyum-senyum sendiri, sepertinya dalam pikirannya membayangkan yang aneh-aneh.”&lt;br /&gt;“Ketimbang kamu naksir sama orang yang belum jelas, siapa itu namanya? Zulfi ya. Hanya sekedar di dunia maya. Kalau cowo itu gentle, pasti dia sudah menemui kamu. Coba kamu pikir key, sudah 2 tahun lamanya kamu dekat dengan cowo, dan itu pun hanya dalam sebuah jejaring sosial Facebook. Sedangkan kamu belum tau wujud aslinya seperti apa, keluarganya bagaimana. Kapan kamu bertemu? “Dan yang aneh lagi kenapa kamu bisa suka dan mempertahankan dia. Padahal cowo-cowo yang ada di sekitar kita banyak yang ngantri buat ndapetin kamu. Tapi sayang tidak ada yang kamu respon satupun. Kamu sadar gak sih key....???” Dengan panjang lebar Astrid berusaha menyadarkanku.&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu kenapa aku bisa mempunyai keyakinan dengan Zulfi. Meskipun hanya di dunia maya. Aku nyaman, aku tenang, aku baru merasakan perasaan seperti ini. Kamu tahu aku belum pernah berpengalaman dekat sama laki-laki. Mungkin ini kuasa Allah. Belum saatnya untuk bertemu dengannya. Aku terus berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu dengannya.”&lt;br /&gt;“Mau sampai kapan key?? “&lt;br /&gt;“Aku hanya bisa sabar, dan menanti takdir Allah. Sudah lah kamu tidak perlu pusing memikirkan aku ya. Aku punya sahabat sepertimu saja sudah merasa bahagia, dan cukup untuk menjadi teman keluh kesah, canda tawa. Aku sayang kamu Astrid.....”sambil memeluknya aku teteskan air mata dipipiku.&lt;br /&gt;“Aku juga sayang kamu key, kamu sahabat terbaik ku. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Jika memang menanti laki-laki itu membuat kamu bahagia, akupun ikut bahagia. Sudah ya jangan nangis lagi. Ayo dong senyum.” diusaplah airmata dipipiku olehnya. Dan setelah itu kami tersenyum bahagia.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar apa yang dikatakan Astrid 1 minggu yang lalu. Putra Abah pulang.&lt;br /&gt;“Astrid !!! benar apa yang kamu katakan 1 minggu yang lalu, putra Abah pulang, nanti sore insya Allah sampai di rumah. Tadi pagi Umi bilang padaku kalau putranya pulang dan diperkirakan sampai rumah nanti sore. Jadi kita disuruh nyiapin makanan untuk nanti sore.”&lt;br /&gt;“Asiiik, akhirnya aku ketemu cowo ganteng. Hhehe..”Astrid kegirangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara mobil didepan. Seorang laki-laki berpostur tubuh tinggi berkulit putih dengan wajah yang menenangkan jika dipandang, dan senyuman yang sangat manis turun dari mobil, dan mencium tangan Abah dan Umi. Apakah dia putranya yang digemari banyak santriwati.? Aku dan Astrid mengintip dari jendela.&lt;br /&gt;“Waahhh gantengnya,, lihat key.!! Memang benar-benar ganteng ya.,” Astrid memujinya.&lt;br /&gt;Abah Umi dan putranya duduk bersama di ruang tamu, terlihat sangat bahagia karena putranya yang dibanggakan akhirnya pulang dengan selamat. Karena sekitar 4 tahun mereka tidak bertemu, dan akhirnya rasa kangen yang terobati dengan kembali berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Astrid mengantarkan minuman keruang tamu. Aku hanya bisa menundukan kepalaku, karena rasa malu yang luar biasa, dan jantung yang berdetak begitu kencang membuat aku nerves ketika mengantarkan minuman. Astrid ada di depanku membawa makanan ringan.&lt;br /&gt;“Terimakasih, ini santri-santri yang tinggal di sini.” Ucap Umi memperkenalkan kami pada putranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai menyuguhkan makanan dan minuman, kami pun kembali ke kamar. Astrid senyum-senyum terus karena merasa senang bertemu dengan laki-laki ganteng.&lt;br /&gt;“Ganteng banget key, aku benar-benar menyukainya. Aku memimpikan punya pendamping hidup seperti dia key. Bagaimana menurutmu key?”&lt;br /&gt;“Apa dia mau sama kamu,, hehe” nadaku bercanda.&lt;br /&gt;“Ah kamu, sahabat lagi bahagia palah di ledekin, gak asiik ah.,” kesal Astrid padaku.&lt;br /&gt;“Sudah-sudah yuk belajar, besok ujian kan..” ajaku pada Astrid.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku baringkan tubuhku diatas ranjang, tiba-tiba aku ingin membuka Facebook, barangkali ada pesan dari Zulfi, laki-laki yang selama ini ada di hatiku. Dan ternyata benar dia kirim pesan.&lt;br /&gt;“Keyla, aku sekarang sudah di indonesia, 2 hari yang lalu aku sampai dirumah. Bagaimana keadaanmu, baik-baik saja kan? Aku ingin bertemu. Aku tunggu besok ba’da dhuhur di masjid Ar-Rahman dekat pesantren kamu. Aku harap kamu bisa datang. Aku ingin perkenalkan kamu pada orang tuaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget, senang, takut, campur aduk gak jelas. Entah apa yang akan aku lakukan. Sampai malam pun aku tidak bisa tidur karena teringat pesan itu. Dan akhirnya aku ambil air wudhu dan shalat tahajud.&lt;br /&gt;“Ya Allah Dzat yang Maha membolak mbalikan hati,&lt;br /&gt;Aku serahkan semua urusanku padaMU&lt;br /&gt;Berikanlah yang terbaik untukku ya Rabb&lt;br /&gt;Jika memang laki-laki yang aku nanti adalah jodohku&lt;br /&gt;Maka berikanlah kesabaran dalam penantianku&lt;br /&gt;Dan jika laki-laki yang aku nanti bukan untukku&lt;br /&gt;Maka balikanlah hati ini, dan berikanlah rasa ikhlas”&lt;br /&gt;Setelah selesai bermunajat hati dan pikiranku mulai tenang.&lt;br /&gt;Waktu dhuhur telah tiba, kini saatnya aku siap-siap untuk menemui Zulfi ditempat yang di janjikan. Astrid tidak mengetahui pertemuanku dengan Zulfi, karena aku takut dia marah-marah pada zulfi yang telah menggantungkan perasaanku selama 2 tahun. aku datang menemui Zulfi sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku sampai di masjid, aku terkejut seketika. Di dalam masjid ada Abah, Umi, putranya dan ternyata Astrid juga ada dan beberapa santri. Aku bingung kenapa mereka semua berkumpul disini, apa mereka tahu kalau aku mau menemui laki-laki yang aku nanti? Lalu aku berjalan mendekati mereka.&lt;br /&gt;“Keyla, sini mendekat.” Ucap Umi memanggilku untuk mendekat.&lt;br /&gt;“Apa kamu mencari sosok laki-laki yang menjajikan akan menemuimu di masjid ini?”&lt;br /&gt;“Benar Umi..”&lt;br /&gt;“Ini laki-laki yang selama ini kamu nanti, anak Umi, namanya Ahmad Zulfikar. Umi sudah mendengar banyak cerita dari Astrid. Kesetiaanmu menunggu pasangan hidupmu kini sudah terjawab. Umi bangga kepadamu. Kamu begitu sabar menantinya. Ahmad juga sering cerita sama Umi lewat telfon kalau dia mengagumi seorang perempuan. Dan tidak disangka kalau ternyata perempuan itu akan nyantri dipesantren ini. Makanya untuk mengenal lebih dekat kami tempatkan kalian di ndalem” Umi menceritakan kejadian sebenarnya.&lt;br /&gt;Aku semakin bingung dengan keadaan ini semua. Ingin rasanya lari meninggalkan masjid ini, tapi sulit bagiku. Aku pun hanya terdiam dalam wajah kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zulfi pun angkat bicara,&lt;br /&gt;“Aku lah Zulfi Key, mau kah kamu menyempurnakan separuh agamaku??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detak jantungku semakin kencang, mulut tidak bisa berucap sekatapun. Hanya kedua mataku yang langsung mengarah ke Astrid sahabatku. Karena aku tau kalau dia mengharapkan untuk menjadi pendamping Gus Ahmad. Astrid mendekatiku,&lt;br /&gt;“Tenang sayang, aku hanya mengaguminya, dia untukmu. Aku bahagia akhirnya laki-laki yang kamu nanti sudah jelas wujudnya sekarang. Dan dia melamarmu key. Ayo ini saatnya kamu ungkapkan perasaanmu yang sudah lama kamu pendam key”&lt;br /&gt;“Bagaiman key,” tanya Zulfi.,&lt;br /&gt;“a..a...a.kuu terima...” jawabku gemetar.&lt;br /&gt;“Alkhamdulillah...” serentak orang yang ada didalam masjid. Kini aku merasakan suasana yang selalu bahagia mengiringi langkahku untuk melewati hari demi hari.&lt;br /&gt;Seusai wisuda, Zulfi, yang sekarang aku panggil Gus Zulfi, karena dia putra Kyai, datang kerumah dan segera diselenggarakan acara Ijab Qobul.&lt;br /&gt;Mungkin ini yang dinamakan barokahnya berbakti kepada orang tua, yang pada akhirnya aku hidup di pesantren, sehingga aku bisa bertemu dengan cinta sejatiku. Dan keikhlasan dalam menanti akhirnya berbuah manis.&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Purwokerto,15 februari 2013&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biodata Pengarang: &lt;br /&gt;Nama lengkap : Vita Nurjanah&lt;br /&gt;Nama Pena : Vita NJ&lt;br /&gt;Email : vitanurjanah55@yahoo.com&lt;br /&gt;Facebook : vieta tiswiee&lt;br /&gt;Pendidikan: Stain Purwokerto&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://goo.gl/0D1I4" target="_blank"&gt;Cerpen Islam&lt;/a&gt; yang lainnya,.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/gOIDtmhxJK0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/gOIDtmhxJK0/ikhlas-dalam-penantian-cerpen-islam.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-1dPx9Laq520/UZMeD9-fYAI/AAAAAAAAGP0/80lNDEE2VJk/s72-c/Cerpen+Penyesalan+copy.JPG" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/ikhlas-dalam-penantian-cerpen-islam.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-9116939369545395723</guid><pubDate>Wed, 15 May 2013 05:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-14T22:29:17.958-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Sedih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Ayah</category><title>Seandainya - Cerpen Sedih</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SEANDAINYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Karya Aminah Anhar Muallim&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;07.00 am, berpakain rapih dan menata rambut dengan gaya tren remaja jaman skarang sedang ku lakukan dengan terburu-buru. Sambil di iringi ocehan wanita yang baru hadir dalam hidup ku sekitar 3,5 tahun yang lalu dan, harus kah aku sebut ia IBU??kurasa ia, meskipun itu menyiksa ku.&lt;br /&gt;“Tara…cepatlah turun, matahari sudah tinggi..!” teriaknya dari lantai bawah rumah ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huufff..aku terus mendesah dalam hati, mengapa ku dapatkan ibu yang cerewat seperti dia, bergegas ku lari dari atas kamar ku ke lantai bawah tanpa memperdulikan keberadaan ibu baru ku itu di bawah anak tangga yang menatap kearah ku dengan senyuman yang sungguh membuat ku muak, aku hanya terus berlari menuju tempat parkir mobil ayah ku. Rupanya ia telah terlambat untuk mrnghadiri rapat, pantas saja ibu terus mengoceh. Perjalanan yang menempuh waktu cukup lama kesekolah ku membuat ayah semakin gelisah. Aku mencoba menghibur ayah dengan menceritakan pemain-pemain bola idola ku.&lt;br /&gt;“yah, Cesh Fabregas katanya mau berkunjung keIndonesia loh akhir musim ini” ucap ku dengan harapan agar ia mau meresponnya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0t9JbWJBVTw/UZMdDi2Zc5I/AAAAAAAAGPo/n_nYEnfJto0/s1600/Cerpen+Menunggu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://4.bp.blogspot.com/-0t9JbWJBVTw/UZMdDi2Zc5I/AAAAAAAAGPo/n_nYEnfJto0/s400/Cerpen+Menunggu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Seandainya&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun Ayah sama sekali tak menghiraukan ucapan ku itu, Ayah hanya terus menerus menengok ke arah jam tangan yang ia gunakan sambil mengerutkan bibirnya seperti yang biasa aku lakukan saat sedang gelisah, keadan ini semikin membuatku merasa teralienasi semenjak kedatangan ibu. Setiba ku di sekolah, dia sama sekali tak memberiku ucapan semangat untuk mengawali hari ku ini, tak seperti biasanya huufff.&lt;br /&gt;“raa…tunguu…”teriak Dini dari atas ojek langganannya&lt;br /&gt;“kamu kenapa? Kok murung gitu sih?”lanjutnya&lt;br /&gt;“ah’ biasa, ayah gua” jawab ku dengan nada sedikit bergurau&lt;br /&gt;“ooh’ gitu, o yaa…kamu udah tau belum tentang Cesh Fabregas bakal datang ke Indonesia akhir musim ini??!” Tanya Dini dengan wajah yang membuat ku ikut semangat&lt;br /&gt;“ia’lahhh, masa ia sih aku gak tau” sambung ku&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggg……teng..teng….bel tanda masuk telah bergema hingga memecahkan perbincangan hangat ku dengan Dini, kamipun mempercepat langkah kami menuju ruang kelas.&lt;br /&gt;“oooh’ astagahh..!”jerit ku dengan suara yang sedikit mencekik&lt;br /&gt;“kenapa??”ujar Dini sambil menengok dan menghentikan langkahnya&lt;br /&gt;“inikan hari rabu, aduhhhh..mampus..bakal kena omelan lagi deh” ucap ku dengan nada kessal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum cukup 1,5 meter dari kelas ku, ketua kelas yang kejam dan ketus itu sudah meneriaki ku dengan kata-kata yang membuat ku geram.&lt;br /&gt;“eeh’ cepat-cepat dong jalannya, ini bukan istana jadi gak usah so’so anggun jalannya”teriaknya sambil menopangkan kedua tangannya di pinggang seperti penjagal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, membantah hanya akan memperburuk keadaan. Alhasil kejadian ini membuat hari ku semakin sial, membuang sampah akhirnya kembali kulakukan. Setelah sanksi dari ketua kelas jahat itu ku lakukan, aku bergegas masuk ke ruang kelas ku. Rupanya pelajaran matematika telah berjalan 1/4jam dan seperti biasa, siswa yang terlambat 1/4 jam dalam pelajaran matematika tidak diizinkan mengikuti pelajaran itu dan di anggap alfa pada mata pelajaran itu.&lt;br /&gt;“sempurnah…ini hari yang paling indah dalam hidup ku, terimakasih tuhan atas keberuntungan ku hari ini”jerit ku sambil menghancurkan tatanan rambut yang membuatku menghabiskan banyak waktu di depan cermin tadi pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar bahwa ternyata ada siswa laki-laki yang menjadi idaman ku sejak kelas VII sedang memandangiku sambil cengengesan dan menggendong bola basket sambil berjalan kearahku dengan jalannya yang cool dan seperti mengalami slow motion, itu semakin membuatku mengaguminya. Jaraknya yang semakin dekat kearah ku membuatku membisu dan….&lt;br /&gt;“Tara lagi apa di tempat bau seperti ini?lihat rambut hitam mu itu, menjadi berantakan kan”sapanya sambil mengusap-ngusap kepala ku dan menata kembali rambutku&lt;br /&gt;“ah’kaka bias aja, kaka sendiri disini lagi apa?”jawabku malu-malu&lt;br /&gt;“tadi aku melihat mu dikeluarkan dari kelas, jadi aku mengikuti mu hingga kesini dan meninggalkan kelas basket ku”&lt;br /&gt;haaa???wajah ku memerah seraya berkata “kaka datang kesini karena ku???”Tanya ku padanya dengan mata yang berbinar-binar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plak…pukulan ka Raka yang detepatkan di bagian jidat ku, menghancukan khayalan yang setidaknya bisa memberiku kesenangan hari ini,&lt;br /&gt;“aa’aaa aduwhh..kaka..”jerit ku dengan nada manja sedikit kesal&lt;br /&gt;“cch’kau ini masih sempat-sempatnya menatapku seperti itu. Dasarr”ledek kak Raka setelah membenturkan bola basketnya ke kepalaku.&lt;br /&gt;kejadian itu semakin membuatku malu, akupun berlari hingga ke bagian belakang sekolah yang pagarnya telah dibolong anak-anak yang gemar membolos. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan sekolah itu, aku tak mau menambah kesialan ku dengan tetap berada di sekolah, mungkin hang out ke mall bisa menghibur ku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba ku di mall dekat sekolah, aku bertemu dengan kaka-kaka kelas XII diteras bioskop sedang memilih-milih filem, rupanya meraka pun melihat ku dan mengajakku untuk bergabung. Awalnya aku menlolak tapi…&lt;br /&gt;“ayolah…nanti aku traktir deh, mau yah Tara manis”ajak ka Alvin sambil menarik-narik tangan ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01.56 pm. Setelah selesai nonton dan makan kaka-kaka kelasku itu ingin pergi ke tempat karaoke, mereka tentu mengajak ku juga tapi pergi bersama anak laki-laki membuatku khawatir.&lt;br /&gt;“mmh..maaf kak tapi Tara bener-bener gak bissa”tolak ku penuh nada halus&lt;br /&gt;“ya uda dek’ g’papa”jawab kak Alvin sambil memalingkan wajahnya&lt;br /&gt;Sambil FBan, aku masuk ke dalam lift dan bertemu dengan Ibu. Sempat gugup sih, tapi buat apa aku takut sama dia, memangnya dia siapa berani-beraninya marahin aku.&lt;br /&gt;Setiba dirumah, dia terus menerus menceramahi ku dengan kata yang diulang terus menerus. Sungguh dia membatku kesal dan semakin membencinya. Sempat terfikir bahwa dialah penyebab sikap Ayah ku berubah dan gak care lagi sama aku, sungguh kebencian ini membuat ku ingin sekali membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup sebagai yatim sejak kecil, di besarkan oleh nenek dan hanya dikunjungi ayah seminggu 3X membuat ku tumbuh dengan rasa kurang kasihsayang. Ketika aku berumur 10 tahun, ayah baru ingin tinggal bersama ku, ayah membeli sebuah rumah di kota metropolitan ini. Dan ketika aku berumur 13 tahun ayah memperkenalkan ku dengan seorang wanita yang akan menjadi ibu ku??!!&lt;br /&gt;“nak, ini adalah tante Sindi, Kami akan segera melangsungkan pernikahan minggu depan”ucap ayah dengan bibir yang gemetar penuh khawatir&lt;br /&gt;“ah??dia akan menjadi ibu ku??ayah…are you kidding me??”Tanya ku pada ayah dengan mata yang berkaca-kaca&lt;br /&gt;“Tara..tante akan menjadi ibu yang baik buat Tara. Lagian umur kita hanya berbeda 13 tahun, tante yakin bissa menjadi ibu sekaligus kaka bahkan juga teman yang bisa kamu tempati untuk curhat” sela wanita itu penuh keyakinan&lt;br /&gt;Senyumannya yang so’manis itu membuatku ingin menyiramnya dengan jus alvokat kesukaan ku yang sedang ku genggem. Hal itu membuat ku sangat cemburu, baru beberapa tahun aku menikmati hidup dengan ayah ku, merasakan kasihsayang yang tidak terbagi, hanya untuk aku. Dan semua itu harus berakhir???apakah setelah mereka menikah, ayah masi akan membangunkan ku tiap hari?mengusap-usap kepalaku saat aku tertidur di depan tv?menyelimutiku saat aku tertidur?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiliiliitt…tililittt…bunyi telfon rumah ku&lt;br /&gt;“ya, hallo…”jawab ibu&lt;br /&gt;“ah’ ia mas..baiklah akan ku sampaikan padanya”lanjut ibu sambil menengok kearah ku&lt;br /&gt;“ada apa?”Tanya ku dengan nada kesal&lt;br /&gt;“ayah mu akan pergi ke jerman 2 hari untuk perjalanan bisnis. Dia menyuruhku untuk mengantar mu besok pagi”jawab ibu sambil tersenyum&lt;br /&gt;Sejenak ku berfikir wajahnya memang menawan, bibirnya yang mungil dan hidung pesek-pesek hotnya itu hampir mirip dengan hidung ku, ah’ tapi entahlah itu hanya celaan Dini danRiska mana mungkin wanita ini mirip dengan ku. Tanpa sadar aku terus memandang kearahnya dan mungkin itu membuatnya berfikir bahwa aku telah bisa menerimanya dalam hidup ku. Ini sungguh buruk bagi ku, lekas ku tinggalkan ruang tamu dan berlari ke kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tak sampai fikir, bagaimana bisa aku besar tanpa seorang ibu disisiku. Bagaimana bisa ia meninggalkan ku saat aku masih bayi, tidakkah ia kasihan melihat ku dulu. Tanpa tersadar bedak yang baru sajja ku usapkan kewajah luntur mengikuti aliran air mataku. Betapa aku membenci dia, dia yang telah melahirkan ku dan pergi begitu saja meninggalkan ku dan ayah, mungkinkah ia kembali kepada kami?aku sungguh ingin sekali merasakan masakan ibu kandungku, ibu yang telah mengandung dan melahirkan ku. Aku ingin sekali merasakan bahagia bersama keluarga ku yang utuh seperti yang teman-teman sebaya ku rasakan., Tapi itu tidak mungkin terjadi, jangankan menjadikan semuanya nyata, menhayalkannya sajja sudah membuatku tampak bodoh.&lt;br /&gt;“acchhh’ siall…kenapa aku begitu lemah akhir-akhir ini??!!”jeritku dalam hati sambil menggeram dan membanting semua barang-barang yang ada di hadapan ku&lt;br /&gt;“ra…?kamu kenapa nak??!!”teriak ibu dari lantai bawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak menjawab, ibu memaksa masuk ke dalam kamar ku dan mendapatiku sedang terluka karena kepingan botol kaca farfum yang ibu berikan kepadaku kemarin. Kepingannya itu tertinggal di kulit tangan ku dan mengeluarkan banyak darah sehingga menodai seragam ku.&lt;br /&gt;“aduwhh, tara..tangan kamu ko bisa sampai berdarah gini sih?”Tanya ibu dengan nada khawatir sambil mengolesi lukaku dengan liurnya&lt;br /&gt;Icchh’ ini semua membuatku jijik, mungkin dia hanya berusaha terlihat sebagai ibu yang baik bagi ku, dan itu membuat ku muak. Tapii ??sunguuh aku tidak melihat aura negative dari dirinya, dia kelihatan tulus membantuku tanpa cirri-ciri orang sedang berekting. Ah…apa ni?aku kembali memujinya. Mungkin karena sudah hampir 4 tahun kami hidup bersama, haruskah ku terima ia sebagai ibu sungguhan ku???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07.01 pm&lt;br /&gt;“aku lapar, bisakah kao membuatkan ku makan malam”suruhku tanpa sopan santun sedikitpun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu membuatkan ku ayam panggang dengan bumbu khasnya, dan itu sangat lezat. Dengan tangan yang diperban seperti ini, aku kesulitan menggunakan garpu itu. Tanpa basa basi, ibu langsung mengangkat piringku dan menyuapi ku. Ah’tidak, ini kah trik yang ia gunakan untuk menarik simpati ku??dasar wanita licik. Melihat tatapan matanya yang tulus itu, membuat ku merindukan sosok ibu dalam hidupku. Seandainya ia ada disini bersama ku, aku pasti sangat bahagia sama seperti Dini yang selalu dimanja ibunya.hikss..hikss…hikss.tapi justru karena rasa ingin sekali bertemu itulah yang kini membuatku membencinya, tidak..aku tidak akan pernah bissa menerima keadaanku yang menyedihkan ini. Sekalipun nantinya dia akan datang memohon padaku untuk memaafkan kesalahannya, aku mungkin hanya akan menendangnya menjauh dari hidup ku.&lt;br /&gt;“na’kamu kenapa??ayo buka mulutnya”sahut ibu sambil menyuapiku&lt;br /&gt;“cch’kau piker kau siapa, ha’?kau Cuma ibu tiriku. Jangan pernah menganggapku anak kandungmu apalagi berfikir aku akan menerimamu, dasar wanita penggoda”teriakku sambil menghentakkan tangan kanannya yang akan menyuapi ku.&lt;br /&gt;Aku berlari kekamar dan mengunci pintu, kulepaskan pula perban yang ia pakaikan di lukaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya pukul 07-39 am. Pagi ini aku sengaja bergerak lambat, akan kupastikan ia tidak kuat merawatku seorang diri. Keesokan harinya, aku semakin terlambat sajja. Siapa suruh semalam ia menyuruhku untuk bangun cepat karena ingin menghadiri pemakaman temannya pagi ini, hahaha. Mungkin ibu tak tau, menyuruhku bergegas hanya akan membuatku memperlambat langkahku. Dia hanya bisa pasrah melihat tingkahku.&lt;br /&gt;“hay ra..”sapa kak Alvin tersenyum ramah&lt;br /&gt;“hay kak” jawab ku&lt;br /&gt;“ntar sore ad acara gak. Aku mau ngajak kamu nonton lagi nih, biza kan?bisa dong!”paksanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir sejenak, mungkin ini bisa membuat ibu marah padaku?..&lt;br /&gt;“ee’gimana yah??yauda de kak”jawabku dengan yakin&lt;br /&gt;Pip…..pip…klakson ibu dari atas mobil, betapa dia membuatku malu di hadapan ka alfin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, ibu bergegas turun dari mobil dan membukakan ku pintu mobil. Bodoh…dia pikir dengan berprilaku seperti ayah aku akan bisa menerimanya sebagai ibu?? Niatnya itu hanya akan membuatku semakin muak, hanya tatapan sinis yang kuberikan padanya.&lt;br /&gt;“de’ kaka tunggu kamu di depan XXI mall dekat sekolah yah. Jangan telat looo ” pesan singkat kak Alivin&lt;br /&gt;Ku sempatkan untuk shalat duhur terlebih dahulu sebelum pergi ke Mall, walaupun aku kurang ajar tapi shalat ku gak pernah bolong. Sulit untuk meminta izin tanpa alasan yang jelas kepada wanita itu, jadi ku putuskan untuk pergi diam-diam saat dia sedang tertidur lelap.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini lumayan seru, dianterin sampe depan rumah sama ka Alfin rasanya kaya ratu aja. Tapi kok’agak rameyah nih rumah?banyak suara orang menangis dan orang lagi ngaji. Dengan hati yang was-was aku berlari menuju ruang tengah rumah ini, plakkk…ayah menamparku dengan kerasnya hingga wajah ku ini berbalik 180o&lt;br /&gt;“dasar kamu yah, dari mana saja kamu. Ibumu meninggal kamu malah pergi senang-senang”teriak ayah kearah ku&lt;br /&gt;“sudah..man, Tara gak salah apa-apa”ucap nenek menenangkan ayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertamakalinya, ayah memukulku. Ini sunggguh membuatku sedih, apa alasannya?! Saat hendak melangkahkan kaki ke kamar, aku melihat ibu kutelah terkapar kaku dibungkus kain kafan di atas tikar. Ah…sejenak ku ingin sekali tersenyum,melihatnya tapi tiba” seorang wanita yang sebaya dengan ibuku memelukku dari belakang dengan begitu erat. Aku semakin binggung dengan keadaan ini, apa yang terjadi? seseorang tolong beritahu aku.&lt;br /&gt;“tara sayang, sebenarnya wanita yang selama 3 tahun lebih ini kau panggil ibu itu adalah ibu kandung mu, ibu yang mengandung dan melahirkan mu.”ucap wanita itu sambil menangis di punggung ku&lt;br /&gt;“apa maksudmu, kau ingin membodohi ku?kau ingin membuatku merasa bersalah?”kataku sambil melepaskan pelukannya&lt;br /&gt;“Tara, aku mengerti perasaan mu, duduklah dan aku ceritakn semuanya dari awal”ajaknya sambil menopang bahuku&lt;br /&gt;“dulu, saat Sindi ibu mu berumur 15 tahun ia bertemu dengan seorang pria dewasa yang membutnya terpesona, pria itu adalah ayahmu. Dia sungguh jatuh cinta pada lelaki itu, sampai-sampai Sindi rela memberikan keperawanannya kepada lelaki itu. Karena waktu itu dia baru duduk di bangku SMA kelas 2, dia tidak berani untuk membina sebuah keluarga bersama ayah mu yang berkuliah semester akhir itu.”ucap tante yang katanya teman ibu ku itu dengan linangan air mata yang menambah haru malam ini&lt;br /&gt;Sungguh ini seperti pembodohan bagiku, tidak bisa pas dalam fikirkanku tentang apa yang tante ini katakana. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya serasa bualan bagiku, hingga ayah ikut duduk di lantai bersama kami sambil menangis dan mencium tangan ku. Begitu juga dengan nenek yang merawatku dari bayi serta beberapa orang baru yang kujumpai dalam pernikahan ayahku dan ibu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tolong jawab aku!!!mengapa mereka begitu menampakan raut wajah yang seakan ingin mengatakan “sungguh malang nasib mu nak..”dan itu membuat ku buruk, ku coba beranjak dari tempat dudukku dan meninggalkan keharuan yang sedang mereka ciptakan.&lt;br /&gt;“hah’ omong kosong apa ini..!!apakah kalian berusaha mengerjaiku??haa’??”teriaku sambil mengusap air yang mulai mengalir kepipiku&lt;br /&gt;“tara..duduklah nak, kami sungguh mengerti keadaan mu. Tapi kamu harus tahu yang sebenarnya, umurmu sudah dewasa, belajarlah menerima kenyataan hidup ini meskipun pahit”kata paman yang mungkin suami tante yang tadi&lt;br /&gt;Sempat ku pegun sesaat mendengar cerita iu, Yah, dia benar. Aku harus berusaha menjadi dewasa, sambil ku tatap sosok pria yang duduk dilantai sedang menangis itu, entah kenapa hati ku ini sakit sekali. Mungkinkah yang dikatakan orang ini benar adanya, mungkinkah hati kuini sedang ditusuk atao ada bom di dalamnya?? Sakit dan berdetak begitu kencang, kenyataan pahit yang ku terima sangat membebani batin juga fikiran ku.&lt;br /&gt;04.30 am, suara tangisan dan suara orang yang sedang tadarrus membaca yasin membangunkan ku. Belum sempat kubuka seluruh kelopak mata ini, aku mencium bau Ayah yang telah lama kurindukan, ya ini bau ayah yang wangi dan khas itu. Dia memelukku erat seakan aku ini gulingnya, dengan mata yang bengkak dan rambut yang berantakan aku melihatnya begitu menyedihkan. Diakah ayahku?pria dewasa yang telah merusak kehormatan ibuku?haruskah kemarahan ini juga ku utarakan padanya?&lt;br /&gt;Seorang gadis yang hamil diluar nikah dan meninggalakan anaknya bersama pria yang telah menghancurkan hidupnya itu. Membiarkan bayinya dirawat oleh orang tua yang sudah pikun, mengawasiku selama 13 tahun sebelumakhirnya ia masuk dalam hidupku sebagai orang yang membuatku memiliki rasa benci yang besar terhadap sosok IBU. Dialah ibu kandungku, Tante Sindi yang selama ini ku perlakukan dengan kasar tanpa sopan santun sedikitpun bahkan sering kali aku berusaha mebuatnya tampak buruk dimata Ayah agar menendangya dari rumah. Ah’ tidak, apakah aku masih bermimpi??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar ini mimpi, sungguh ini mimpi terburukku. Kehadiran sosok ibu yang telah lama ku nanti kulewatkan begitu saja tanpa kusadari keberadaannya, bahkan dia orang yang selama hamper 4 tahun ini ku panggil ibu, tewas karena ulahku.&lt;br /&gt;“Ibu…seandainya saja kemrin kau tak usah pergi mencariku, seandainya saja aku meminta izin padamu terlebih dahulu sebelum pergi.!ach’ sial…ini semua gara-gara handphone ini, seandainya saja aku tak lupa membawanya. Ibu pasti tidak akan membaca pesan itu dan pergi mencariku, seandainya saja aku membawanya, orang rumah pasti akan segera mengabari ku. Bahkan ayah yang sedang ada di Jerman bisa lebih dulu berada dirumah dari pada aku.” Jeritku dalam hati sambil terus menangis&lt;br /&gt;“ Ahgggk’ seandainya-seandainya…!seandainya saja aku tidak bodoh dan bisa bersikap dewasa sedikit saja, mencoba menerima kehadiran wanita itu menjadi ibu ku. Pasti aku tidak akan menyesal seperti ini”keluhku dalam hati sambil membanting handphone genggam ku.&lt;br /&gt;Pemakaman pertama yang kuhadiri ini, sungguhkah ini pemakaman Ibu kandungku?untuk pertama kalinya, aku melihat ayah ku menangis untuk orang selain aku, melihatnya begitu tidak berdaya sungguh menyiksa batin ku luka yang pernah ku tahan rasa sakitnya demi tak membuat diriku tampak menyedihkan di hadapan ayah, kini tak dapat ku tahan lagi. Aku sungguh menyesali sikap ku. Masih sulit kuterima kenyataan ini, tapi semuanya telah masuk diakal ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang dulu wanita ini tak ingin membesarkan ku karena alasan pendidikan dan pengaruh social yang akan merubah hidupnya seketika, mungkin ia tidak ingin aku tumbuh menjadi anak haram dan mendapat julukan yang memalukan, memberiku kehidupan yang layak dengan menitipkan ku pada seorang wanita tua pikun yang kaya raya yang tak lain adalah nenek ku dan hadir kembali dalam kehidupan ayahku untuk menjadi Ibu bagiku. Ia, dia hanya ingin memberikan yang terbaik untukku, pantas saja selama ini ia bersikap sabar menghadapi tingkahku.hahahah…sungguh akulah pemeran antagonis dalam cerita ini, aku begitu jahat dan bodoh.&lt;br /&gt;“sudahlah, setidaknya kamu telah merasakan kasihsayangnya sebelum ia pergi”suara ayah dari belakangku yang terus memukul-mukul pundak ku&lt;br /&gt;“iah..”kataku sambil menangis dan mengkerutkan bibirku seperti yang biasa kulakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03-07-2012&lt;br /&gt;“tara…ayo sini nak gabung sama ayah…”seru ayah mengajakku bermain bananaboot&lt;br /&gt;Ulangtahun ke 17 ku yang kembali ayah rayakan dipantai kute Bali ini terasa kurang tanpa kehadiran Ibu, dibawah pohon kelapa sanalah biasanya Ibu membentangkan karpetnya untuk kami tempati berjemur. Kini hanya ada aku dan ayah, kehidupan yang selalu ku inginkan dulu ini akhirnya terwujud juga. Namun sungguh ku menyesal pernah menginginkan hal ini&lt;br /&gt;*THE END*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
NAMA:AMINAH ANHAR MUALLIM&lt;br /&gt;TTL:03-07-1996-TORAJA&lt;br /&gt;ALAMAT:MAKASSAR&lt;br /&gt;FB:CHIMNEY ZIBUNZU MOEALLIM'ZGROP&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-sedih-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Sedih&lt;/a&gt; yang lainnnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/lUjd5-jYlT8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/lUjd5-jYlT8/seandainya-cerpen-sedih.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-0t9JbWJBVTw/UZMdDi2Zc5I/AAAAAAAAGPo/n_nYEnfJto0/s72-c/Cerpen+Menunggu.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/seandainya-cerpen-sedih.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-6583996302706090974</guid><pubDate>Wed, 15 May 2013 05:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-14T22:24:43.147-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Cinta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Romantis</category><title>Sunset dan Beach - Cerpen Cinta Romantis</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SUNSET DAN BEACH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Lupita Nilam Mayangsari&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunset dan pantai kedua hal ini selalu mengingatkanku dengan Bali. Aku sekarang tidak sedang di Bali, tapi aku selalu mengingatnya bila aku melihat 2 hal tersebut, terlebih itu yang membuat aku bisa bersama sosok disampingku ini. Dialah Aldi kekasihku........&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mah boleh ya aku ikut temenku ke Bali!!!” rayuku.&lt;br /&gt;“sekali gak ya gak sayang.” Jawab mama. Akupun langsung cemberut dan meninggalkan mama menuju kekamar. Ya aku Tami lebih tepatnya Claudia Pratami, aku kesel sama mama yang gak ngizinin aku buat berlibur di Bali. Aku sedang liburan semester 3 dan aku gak mau liburan semesteranku seperti semester sebelumnya cuma di rumah, sedangkan sahabat-sahabatku pada berlibur entah kemana dan rencana liburan kali ini mereka ke Bali. Aku pengen banget ke Bali pulau yang romantis dan penuh dengan bule-bule ganteng yang mungkin bisa ku gait, tapi dengan mama yang super protektif ini kurang meyakinkan untukku. Aku bisa maklumi larangan mama karna memang aku hanya tinggal sama mama, sudah 5 tahun papa pergi meninggalkan kami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-b-MeL9YmUso/UZMb-khIdQI/AAAAAAAAGPc/rgUao7WVpU8/s1600/Cerpen+Cinta+Romantis.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="275" src="http://4.bp.blogspot.com/-b-MeL9YmUso/UZMb-khIdQI/AAAAAAAAGPc/rgUao7WVpU8/s400/Cerpen+Cinta+Romantis.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunset dan Beach&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Krriiinggg... krrriingg. Segera ku angkat telfon&lt;br /&gt;“Ya halo sapa nih?.”&lt;br /&gt;“Gile ketus amat lo. Ini gue Gita.”&lt;br /&gt;“Eh lo, ada apa? Sorry gue lagi kesel.”&lt;br /&gt;“Kesel kenapa? Gimana boleh sama mamah lo?”&lt;br /&gt;“Usaha gue nol besar, gue gak diizinin.”&lt;br /&gt;“Hmm gimana kalo gue sama Dera aja yang rayuin mamah lo?”&lt;br /&gt;“Ide bagus tuh oke besok lo ke rumah gue ya!”&lt;br /&gt;“Ok ok gampang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Gita dan Dera datang ke rumah untuk merayu mama. Awalnya mama tetep gak ngizinin tapi berkat rayuan maut mereka berdua akhirnya aku diizini.&lt;br /&gt;“Makasih ya mama.”&lt;br /&gt;“Iya sayang tapi kamu jangan macem-macem ya di sana!”&lt;br /&gt;“Siip”&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11.00 WITA di Bandara Ngurah rai Bali.&lt;br /&gt;“Tami cepet dong!” perintah Gita dengan kesal.&lt;br /&gt;“Sabar dong lo gak liat apa barang bawaan gue berat nih.” Jawabku sambil berusaha membawa 2 koper, dan 1 tas jinjing besar.&lt;br /&gt;“Elo sih liburan kayak mau pindahan.” Celoteh Dera.&lt;br /&gt;“Ngikut-ngikut Gita aja lo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Farah sepupu Dera datang, rencananya kita akan tinggal di rumah tantenya Dera dan Farah itu sepupu Dera, dia cantik dan tinggi apalagi dibalut dengan dress putih bermotif bunga ditambah dengan blezer biru. Dia ternyata seumuran dengan kami dan sekarang ini dia kuliah di Universitas Udayana jurusan kedokteran. Setelah sampai rumah Farah kami istirahat sejenak sambil berfikir untuk merencana kemana kita akan pergi hari ini, dengan hebohnya aku langsung ngasih usul mereka ke pantai Kuta. Tapi Gita dan Dera gak setuju, alasan mereka panaslah ntar itemlah.&lt;br /&gt;“Kan biar makin tambah eksotis.” Rayu Gue.&lt;br /&gt;“Bukannya eksotis tapi yang ada jadi kayak areng dodol.” Cletuk Dera sambil nonyol kepala gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku nurut mereka berdua aja, gimana lagi dua lawan satu. Sore ini kita langsung aja ke Kuta dengan dianter Farah, udah kayak guide aja dia.&lt;br /&gt;“Wiihhh.. keren abiss, eh tuh bule ganteng.” Kataku sambil melepas sepatu.&lt;br /&gt;“Dasar lo.” Tonyol Dera&lt;br /&gt;“Eh.. maen tonyol aja lo, sini lo kalo berani.” Kataku sambil mengejar Dera yang berusaha lari menghindar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat gue ngejar Dera dan hampir aja kena tiba-tiba gubraaakkk.....&lt;br /&gt;“Aduuuhhhh maaf mas.” Kataku sambil berusaha membersihkan lenganku. Saat aku berusaha berdiri appphhh.. OMG ganteng banget nih cowo sempurna. Kenapa nafasku jadi sesak begini.&lt;br /&gt;“Tami lo gak papa kan?” kata Dera,Gita,Farah mengganggu lamunanku.&lt;br /&gt;“Gak papa.. eh mas maaf gak sengaja.” Kataku pada cowok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi cowok itu cuma berlalu ninggalin aku gitu aja tanpa jawab permintaan maafku. Ngomong “iya gak papa” atau “kamu baik-baik aja” salah pikiranku tentang cowok itu.&lt;br /&gt;“Wiiihh sok cool banget tuh cowo.” Kataku setelah cowok itu telah berlalu dari pandanganku.&lt;br /&gt;“Lo sih mi pake acara ngejar gue, jadi nabrak kan mending tuh cowok nyautin kata maaf lo.. eh malah kabur gitu aja yang ada lo malu kan.”&lt;br /&gt;“Lo kok jadi nyalahin gue sih Der.. yuk balik.”&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sudah kita berlibur di Bali dan hari ini hari terakhirku berada di Bali tapi entah kenapa aku selalu kepikiran cowok yang aku tabrak itu, apa jangan-jangan aku suka sama cowok itu. Aiissshhh gak-gak aku gak mungkin suka cowok itu. Dia kan udah sombong sok ganteng ihhh amit-amit.&lt;br /&gt;“Woooyyy kenapa lo.” Gita mengagetkanku&lt;br /&gt;“Eh.. apaan sih lo main ngagetin aja.”&lt;br /&gt;“Habis lo ngelamun sih, Ngelamunin siapa hayoo?”&lt;br /&gt;“Ngelamun apaan sih.. gue gak ngelamunin siapa-siapa.”&lt;br /&gt;“Udah jujur sama gue, gue kan sahabat lo masih aja main rahasia.”&lt;br /&gt;“Jujur git gue kepikiran cowok yang gue tabrak di Kuta.”&lt;br /&gt;“Jangan-jangan lo naksir cowok itu?.”&lt;br /&gt;“Ehh gak-gak dia kan udah jutek sok ganteng pula.”&lt;br /&gt;“Udah gak usah nutup-nutupin perasaan.”&lt;br /&gt;“Apaan sihh.” Kataku sambil cemberut lalu tertawa bersama. Tiba-tiba Dera datang menghampiri kami berdua.&lt;br /&gt;“Weeyy udah siap-siap belom kalian jam 4 sore kita dah nyampe bandara loh.”&lt;br /&gt;“Yahhh bakal ninggalin bali dong.” Kata Gita sedih&lt;br /&gt;“Yahh gue kan belom nemuin cowok itu, bakal gak bisa ketemu cowok itu donk.” Kataku tanpa sadar.&lt;br /&gt;“Cowok apa?” tanya Dera&lt;br /&gt;“Eh gak bukan siapa-siapa.”&lt;br /&gt;“Cowok yang dia tabrak di Kuta Der.”kata Gita membocorkan&lt;br /&gt;“Ah lo katanya cowok itu sok cool, sombong tapi kepikiran.”&lt;br /&gt;“Apaan Git, gak kok Der Gita ngawur tuh.”&lt;br /&gt;“Lo gak bisa boong sama gue.”&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 16.00 WITA di Bandara&lt;br /&gt;“Farah maaf ya seminggu ini gue dah repotin elo. Gue sedih bakal ninggalin elo sama Bali pasti bakal kangen deh.” Kataku pada Farah&lt;br /&gt;“Sedih ninggalin bali atau cowok itu.” Celetuk Dera&lt;br /&gt;“Berisik lo.”&lt;br /&gt;“Iya Farah malah seneng ada Tami sama Gita jadi bisa nambah temen, Farah seneng bisa kenal kalian sering-sering ke Bali ya.”&lt;br /&gt;Kamipun berpelukkan, selama di Pesawat aku keinget terus sama cowok itu . Aku berusaha lupain anggep aja itu hanya kejadian biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan semesteran udah berakhir,udah seminggu ini aku kembali ke rutinitas seperti biasa yaitu ngampus.&lt;br /&gt;“Pagi mamah.”&lt;br /&gt;“Pagi Tami, sarapan dulu nak.”&lt;br /&gt;“Tami buru-buru mah udah hampir jam , Tami lupa kalo ada kelas. Udah dulu ya mah emmuach.”&lt;br /&gt;“Eh sayang ati-ati ya.”&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 08.15 di Kampus&lt;br /&gt;Wahh aku telat mampus hari mana dosen killer.&lt;br /&gt;“Tami kenapa lo lari-lari.” Dera dan Gita menyapaku&lt;br /&gt;“Lo gak masuk kelas?”&lt;br /&gt;“Dosennya gak masuk.” Jawab Gita&lt;br /&gt;“Untung hampir gue.”&lt;br /&gt;“Emang lo sekelas sama kita?” tanya Dera&lt;br /&gt;“Wahhh parah gue lupa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku buru-buru lari meninggalkan mereka berdua yang sedang asik tertawain penderitaanku. Setelah berusaha nyampe kelas untung aja dosennya lagi baik hati jadi diizinin masuk maklum tanggal muda. Setelah jam kuliah selesai aku berusaha mencari Dera sama Gita tapi mereka gak ketemu-ketemu.&lt;br /&gt;“Woyy..” tiba-tiba gita muncul di belakangku&lt;br /&gt;“Hobi lo ngagetin gue dari mana sih di cari susah, Dera mana?”&lt;br /&gt;“Gue habis dari perpus, udah pulang dia di jemput si Ferdi.”&lt;br /&gt;“Asiknya yang pacaran, lo kan dah gak ada kelas gue juga dah gak ada kelas mending jalan ke toko buku yuk.”&lt;br /&gt;“Aduh sori mi bukannya gak mau nemenin tapi gue mau ke rumah sakit sama mamah, om gue masuk rumah sakit.”&lt;br /&gt;“Yachh ya udah deh gue ke toko buku sendiri semoga om lo cepet sembuh, titip salam ya buat mamah sama om lo.”&lt;br /&gt;“Oke gue duluan ya mi.”&lt;br /&gt;“Okey.”&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di toko buku aku mencari-cari buku yang aku pengen, waktu udah nemu buku yang aku ingginkan tiba-tiba ada yang gak sengaja jatuhin buku di dekatku, dengan refleks aku ambil buku itu dan si pemilik buku juga hendak mengambil saat muka kita bertatapan ternyata...&lt;br /&gt;“Elo kan cowok sok cool yang nabrak gue di Kuta.”&lt;br /&gt;“Elo yang nabrak gue.”&lt;br /&gt;“Iya gue yang nabrak.”&lt;br /&gt;“Sori waktu itu gue cuekin lo.”&lt;br /&gt;“Hmm..” entah kenapa bukannya gue marah gue malah seperti terhipnotis kata maafnya.&lt;br /&gt;“Eh lo kenapa?”&lt;br /&gt;“Gak papa gue cuma kesel aja waktu itu.”&lt;br /&gt;“Sebagai permintaan maaf gue mau traktir lo makan mumpung kita bisa ketemu.”&lt;br /&gt;“Gak repotin nih?&lt;br /&gt;“Gak kok ayok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyanggupi permintaan cowok itu yang ternyata bernama Aldi, entah kenapa saat bertemu cowok itu aku ngerasa hatiku deg-degan gak jelas gini.&lt;br /&gt;“Lo kok bisa di Jakarta?”&lt;br /&gt;“Emang gue asli tinggal di sini, waktu itu gue lagi liburan di Bali.”&lt;br /&gt;“Gue gak nyangka ternyata lo baik gak sesuai pikiran gue waktu itu, tapi kenapa waktu itu lo cuekin kata maaf gue?”&lt;br /&gt;“Waktu itu gue habis ribut sama cewek gue, eh mantan maksudnya.”&lt;br /&gt;“Kalo boleh tau kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Aldi diam sejenak, gue jadi ngerasa gak enak udah tanya gitu.&lt;br /&gt;“Sori-sori kalo lo gak mau jawab gak papa kok.” Kataku merasa bersalah&lt;br /&gt;“Eh gak kok jadi mantan gue selingkuh sama sahabat gue sendiri, gue gak nyangka kalo dia berbuat gitu ke gue sahabat yang selama ini gue percaya ternyata nusuk gue dari belakang dan cewek yang sangat gue sayangi ternyata tega duain gue dan sampe sekarang sulit buat gue lupain hal itu.”&lt;br /&gt;“Lo yang sabar ya, gue gak tau bilang apa habis gue belom pernah pacaran jadi gak tau rasanya sakit hati.”&lt;br /&gt;“Lo belom pernah pacaran?”&lt;br /&gt;“Iya emang kenapa?”&lt;br /&gt;“Aneh aja lo kan udah kuliah tapi belom pernah pacaran.”&lt;br /&gt;“Emang masalah ya.” Jawabku cemberut&lt;br /&gt;“Jangan cemberut dong.” Kata aldi sambil mencubit pipiku&lt;br /&gt;Sejak pertemuan 3 bulan lalu aku gak nyangka kita bisa seakrab itu dan itu berlanjut sampe sekarang, kita sering jalan bareng seperti sepasang kekasih dan itu buat aku merasakan jatuh cinta sama Aldi tapi entah apa Aldi rasain hal yang sama. Aku juga cerita hal ini ke Dera dan Gita mereka nganggep kita berjodoh soalnya kita bisa bertemu secara gak sengaja 2 kali dan mereka nyuruh aku buat ngungkapin perasaanku ke Aldi, sempet aku kepikiran tapi aku rasa itu gak mungkin aku kan cewek.&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Aldi ngajak aku jalan seperti biasa, entah kenapa aku pengen menghindari Aldi tapi aku gak sanggup aku berfikir mungkin suatu saat Aldi akan menyatakan perasaannya. Tiba-tiba suara klakson motor Aldi mengganggu lamunanku, aku lupa dengan cepat aku langsung siap-siap.&lt;br /&gt;“Mi ayokk jalan lama banget sih.” Sahut Aldi di depan rumah&lt;br /&gt;“Sori-sori Al.”&lt;br /&gt;“Elo kelamaan dandan pasti, udah gak usah pakek acara dandan lo tetep jelek kok.”&lt;br /&gt;“Hina gue terus.”&lt;br /&gt;“Gue bercanda lo cantik kok.”&lt;br /&gt;“Apaan sih.” Jawabku malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 13.00 di Cafe&lt;br /&gt;“Eh Al 2 minggu kedepan gue ujian akhir semester lo jangan ajak gue jalan dulu ya.”&lt;br /&gt;“Siapa juga yang bakal ajak lo jalan.”&lt;br /&gt;“Kebiasaan lo.”&lt;br /&gt;“Habis ini nonton yuk.”&lt;br /&gt;“Ayukk tapi traktir ya.”&lt;br /&gt;“Ah lo maunya geratisan, iya gue traktir.”&lt;br /&gt;“Wahh makasi Aldi Fahreza.”&lt;br /&gt;“Aama-sama Claudia Pratami jelek.”&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 11.00 di Kampus&lt;br /&gt;“Tami jalan yuk refresing otak gue penat gara-gara ujian nih.” Kata Dera tiba-tiba&lt;br /&gt;“Ayuk gue juga nih mana tadi soalnya gak jelas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 minggu sudah kami ujian semesteran dan akhirnya selesai juga kepala berasa penuh dan akhirnya kita jalan-jalan ke puncak.&lt;br /&gt;“Mi gimana kabar Aldi?” tanya Gita&lt;br /&gt;“Gak tau nih dari tadi gue hubungin gak nyambung.”&lt;br /&gt;“Lagi sibuk kali.”sahut Dera&lt;br /&gt;“Iya kali, eh kita kesana yuk.”ajakku&lt;br /&gt;“Ayuk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita jalan ke arah pedagang jagung bakar tiba-tiba aku melihat sosok Aldi tapi dia bersama seorang cewek, awalnya ngobrol serius lalu mereka berpelukan. Hatiku rasanya sakit aku ra aku gak bisa nahan air mata lagi.&lt;br /&gt;“Kita balik sekarang.” Ajakku sambil menahan tangis&lt;br /&gt;“Kenapa mi?.” Tanya Dera namun aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua.&lt;br /&gt;“Der itu kan Aldi.” Kata Gita pada Dera&lt;br /&gt;“Wah tami.” Kata Dera sambil berlari mengejarku.&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mah Tami ke pantai dulu ya mau liat sunset.”&lt;br /&gt;“Iya hati-hati ya sayang.”&lt;br /&gt;“Iya mah.”&lt;br /&gt;Aku menyusuri jalan di bibir pantai, sudah 2 minggu setelah kejadian itu Aldi sering hubunginku tapi aku berusaha menghindar aku gak mau ketemu Aldi dulu, aku ngerasa kalo aku terlalu berharap sama Aldi, aku harusnya sadar dia gak anggep aku siapa-siapa dan aku harusnya gak ketemu dia. Baru pertama kali aku rasain hal ini jatuh cinta dan sakit hati, aku rasa aku belom siap buat rasain sakit seperti ini. Untuk nenangin diri aku pergi ke Bali, kebetulan mamah juga ada kerjaan di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 17.30 bentar lagi matahari tenggelam,aku duduk memandangi pemandangan pantai Bali disore hari. Masih aja ada wajah Aldi yang ada dipikiranku yang membuat hati ini semakin merasakan sakit yang luar biasa. Untuk mengalihkan pikiran aku memainkan kamera DSLR yang aku bawa, memotret apa yang ada di hadapan saat aku akan memotret ke arah kanan tiba-tiba ada sosok Aldi yang sudah duduk disebelahku.&lt;br /&gt;“Elo kok ada di sini?”&lt;br /&gt;“Gue nyariin lo.”&lt;br /&gt;“Nyari gue, kok lo tau gue di sini?.”&lt;br /&gt;“Itu gak penting, Mi kenapa lo menghindar dari gue sih.”&lt;br /&gt;“Siapa juga yang menghindar.” Kataku gugup menutupi kebohonganku&lt;br /&gt;“Mi gak usah bohong lagi, gue udah tau cerita dari Dera dan Gita.”&lt;br /&gt;“Hahhh.. ember banget mereka, itu dulu gue waktu lagi bercanda aja Al.”&lt;br /&gt;“Mi cewek waktu itu mantan gue, dia nyesel udah nyelingkuhin gue dia minta balikan.”&lt;br /&gt;“trus gimana sekarang kalian balikan dong.”&lt;br /&gt;“Gak, gue bilang sama dia kalo ada cewek yang udah buat gue lupain dia dan udah buat gue jatuh cinta itu lo mi.. lo Claudia Pratami.”&lt;br /&gt;“Gue? Bercanda lo.”&lt;br /&gt;“Gue serius.” Tiba-tiba Aldi memegang kedua tanganku dengan erat sambil melanjutkan kata-katanya “Gue cinta sam Lo Mi, eh sori aku cinta sama kamu Mi.”&lt;br /&gt;“Ahh... Aku juga cinta sama kamu Al.” Kataku sambil memeluk Aldi&lt;br /&gt;“Ciyeeee.. pasangan baru.” Tiba-tiba muncul Dera dan Gita mengagetkanku.&lt;br /&gt;“eh lo berdua tukang ember, sini.” Kataku sambil mengejar mereka&lt;br /&gt;Kebahagiaanku dan Cinta pertamaku terwujud di hamparan pantai dan sunset yang indah di pulau Bali.&lt;br /&gt;°°°°&lt;br /&gt;“TAMAT”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama: Lupita Nilam Mayangsari&lt;br /&gt;Panggilan: Lupita&lt;br /&gt;Facebook: Lupita Nilam Mayangsari&lt;br /&gt;Kesibukkan : kuliah UNDIP peternakan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-cinta-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Cinta&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-romantis-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Romantis&lt;/a&gt; yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/gYXxN5ex0g8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/gYXxN5ex0g8/sunset-dan-beach-cerpen-cinta-romantis.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-b-MeL9YmUso/UZMb-khIdQI/AAAAAAAAGPc/rgUao7WVpU8/s72-c/Cerpen+Cinta+Romantis.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/sunset-dan-beach-cerpen-cinta-romantis.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-6656935267085585128</guid><pubDate>Wed, 15 May 2013 05:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-14T22:15:52.137-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Persahabatan</category><title>Cerpen Persahabatan - Senang Menggapai Cita-cita Bersama Sahabat</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SENANG MENGGAPAI CITA-CITA BERSAMA SAHABAT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Dinda Tiara Dewi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Pagi hari begitu cerahnya.Bella Kielastie Ramadhan yang akan berangkat ke sekolah barunya,ditemani oleh sang ayah untuk berangkat ke sekolah barunya itu,di jalan ia bertemu dengan sahabat sejatinya sejak dari TK(Taman Kanak-kanak),ia tak ingin sahabatnya itu berdiri sendiri menunggu kendaraan yang akan membawanya ke sekolah,akhirnya Bella-pun mengajak sahabatnya (Zara) untuk ikut Bella ke sekolah bersama,”Zara,ikut denganku yuk!”Bella meminta,”emmhh..Boleh,sebelumnya makasih ya!”Zara menjawab,”iya gak masalah,ayo cepet naik ,nanti kesiangan”pinta Bella kembali. Dengan menaikki kendaraan ayahnya Bella,merekapun pergi ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sekolah Bella dan Zara berpisah,karena kelas mereka berbeda.Bella ikut bersama Gytra dan Bunga (teman Bella sejak SD),kebetulan kelas mereka sama.Gytra dan Bunga sebangku,sedangkan Bella bingung mau duduk bersama siapa,tak lama dari Bella memasuki ruangan kelas,ada seorang perempuan yang menghampirinya,”hei,bolehkan aku duduk bersamamu,aku gak ada temen nih?”Tanya perempuan tadi,”boleh,kita mau duduk dimana?”jawab dan Tanya Bella,”emmhh..kita duduk di situ aja yukk”pinta perempuan tadi,”boleh”Bella kata.Akhirnya Bella tidak kebingungan lagi.&lt;br /&gt;“nama kamu siapa?”Tanya Bella,”namaku Dita,kalau kamu siapa?”jawab perempuan tadi,&lt;br /&gt;ohh ternyata nama perempuan tadi ,Dita.”aku Bella,senang berkenalan denganmu!”,jawab Bella,&lt;br /&gt;“ohh..Bella senang juga berkenalan denganmu.”Dita berkata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-K3CNKrY6gLE/UZMZ6gQQCqI/AAAAAAAAGPM/AmRNRU_BPs8/s1600/Cerpen+Persahabatan1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="282" src="http://3.bp.blogspot.com/-K3CNKrY6gLE/UZMZ6gQQCqI/AAAAAAAAGPM/AmRNRU_BPs8/s400/Cerpen+Persahabatan1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Senang Menggapai Cita-cita Bersama Sahabat&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keesokan harinya,mereka sudah berada di sekolah sejak pukul 06.30 pagi,mereka begitu bersemangat hari ini,padahal jam pembelajaran pertama masih lama sekitar pukul 07.15 pagi.&lt;br /&gt;Bell masuk berbunyi,waktunya pembelajaran pertama dimulai,tapi bukan pembelajaran pertama yang di mulai hari ini,malah guru kelas yang masuk ke kelas mereka.Guru kelas memberikan beberapa tata cara yang harus dilakukan untuk belajar di sekolah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 BULAN KEMUDIAN….&lt;br /&gt;Tengah bulan penuh keikhlasan dan kesabaran yaitu Bulan Ramadhan,hari ini Dita ulang tahun,dan 4 hari dari ulang tahun Dita adalah hari ulang tahun Bella, tapi Dita bukan mendapat kebahagiaan malah mendapat kesialan,Bella meminta,”Dit,aku pindah duduk ya sama orang itu?”, Dita tak kuasa mendengar permintaan dari Bella,”iya,boleh”jawab Dita, walau hati yang paling dalamnya sangat sakit,Dita memang pempunyai hati yang mulia.Menyambung pembicaraan yang diatas, mereka berjanji akan bertukar kado setelah liburan bulan ini,&lt;br /&gt;1 MINGGU KEMUDIAN SETELAH LIBURAN BULAN RAMADHAN..&lt;br /&gt;Pagi-pagi Dita datang ke sekolah karena ingin menerima kado dari Bella,sedangkan Bella datang siang, ia bangun terlambat hari ini.Dita lupa dengan omongan Bella minggu lalu sebelum liburan bulan Ramadhan,”kok Bella duduk di sana sihh?”Dita kebingungan melihat Bella duduk dibangku yang lain,”Bella kenapa kamu duduk di situ?”Tanya Dita kebingungan,”kita kan udah sepakat dengan perjanjian kemarin”jawab Bella,Dita merasa kesepian,sedangkan Bella terlihat sangat bahagia dengan teman barunya itu,Bella sangat bahagia,dia bercanda,dan tidak sesekali tertawa riang.Dita hanya bisa melihat dan merasakan kesedihan,kecemburuan,dan kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEESOKAN HARINYA….&lt;br /&gt;Bella terlihat bersemangat,karena ia sudah tidak sabar menemui teman barunya itu,sekarang Bella bersama teman barunya yang bernama iffany,Wulan,Rara,dan Annisa bercanda,tertawa,dan bahagia selalu.&lt;br /&gt;Hari-harinya selalu di penuhi dengan kebahagiaan,dan sesekali kesedihan.Bella sekarang sudah lupa dengan sahabat sejati yang lainnya.&lt;br /&gt;2 TAHUN KEMUDIAN…&lt;br /&gt;Dita dimintai oleh Bella untuk kembali duduk bersamanya,Dita tidak menolak dengan pintaan Bella,walau Bella sering menyakiti perasaannya.&lt;br /&gt;Berbeda dengan masa lalu yang Dita anggap tahun yang tersedih dalam hidupnya,sekarang rupanya Bella bisa membahagiakan Dita dengan baik.&lt;br /&gt;LULUS DARI SMP MEREKA MELANJUTKAN KE SMU YANG SAMA DAN DENGAN KEBETULAN MEREKA SE KELAS KEMBALI…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tiba-tiba Bella menanyakan pada Dita,”hey Dit,nanti besar kamu mau jadi apa?”,jawab Dita,”aku mau jadi pahlawan Negara supaya bisa membanggakan nama INDONESIA”,”cita-citamu hebat ya”Bella kata,”iya dong,kalau kamu mau jadi apa?”Tanya Dita,”kalau aku mau jadi pengacara yang hebat”,jawab Bella,”kamu juga hebat cita-citanya.Cita-cita kamu mau nerusin sekolah dimana?”Tanya Dita kembali,”aku pengen kuliah di los angeles,Amerika,kalau kamu?”jawab dan Tanya Bella kembali “ aku pengen kuliah di Bandung aja yang deket”.&lt;br /&gt;SETELAH LULUS DARI SMA MEREKA BERPISAH,KARENA MEREKA MEMPUNYAI CITA-CITA YANG BERBEDA..&lt;br /&gt;“hey Bella kamu dapet nilai tertinggi tahun ini!”&lt;br /&gt;“yang bener kamu Dit!”&lt;br /&gt;“iya bener kalau gak percaya liat aja tuh di papan pengumuman!”&lt;br /&gt;“aku liat yah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bella mencari namanya di papan pengumuman,dan ternyata yang diomongkan Dita itu memang benar Bella langsung teriak bangga.&lt;br /&gt;“Aaaaaaaa….Dit aku dapet nilai tertinggi,aku seneng dehhh,tapi nanti dulu,kamu juga dapet nilai kedua tertinggi”&lt;br /&gt;“yang bener kamu?”&lt;br /&gt;“kamu tadi gak ngeliat di papan pengumuman?”&lt;br /&gt;“engga,aku engga liat”&lt;br /&gt;“tapi,Dit aku pulang sekolah ini mau pergi ke Amerika,aku mau gapai cita-cita aku”&lt;br /&gt;“Aku juga pulang sekolah mau pergi ke Bandung,jadi kita sekarang bebas bebasin dulu berdua,kapan lagi coba kita bertemu kembali”&lt;br /&gt;“jangan gitu dong Dit aku kan jadi sedih,kita harus percaya suatu saat nanti kita pasti bertemu kembali”&lt;br /&gt;“iya Bell,semoga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sangat sedih saat mendengar pembicaraan mereka yang akan berpisah untuk beberapa tahun,dan mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktunya,mereka memanfaatkan waktunya yang terbatas itu.&lt;br /&gt;11 tahun kemudian..&lt;br /&gt;Bella yang hidup senang di Los Angeles bersama keluarga barunya,dan begitu juga dengan Dita yang bahagia di Bandung bersama keluarga barunya.&lt;br /&gt;Bella memutuskan besok lusa untuk pergi ke Indonesia untuk bertemu dengan sabatnya.&lt;br /&gt;Keluarga baru Bella sedang membereskan barang-barang yang akan dibawa untuk pergi ke Indonesia.&lt;br /&gt;Sesampai di Indonesia mereka segera pergi ke Sukabumi,kota dimana Bella dilahirkan.Dan ternyata anak dan suami Bella baru pertama kali pergi ke Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Sukabumi,Bella langsung menelfon Dita untuk bertemu dengannya.&lt;br /&gt;“hallo,Dit aku ada di Sukabumi loh”&lt;br /&gt;“yang bener kamu Bell”&lt;br /&gt;“iya,kita ketemu yukk”&lt;br /&gt;“ayo dimana”&lt;br /&gt;“nanti aku smsin lokasinya”&lt;br /&gt;“oke.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di lokasi yang direncanakan oleh mereka,mereka pun bertemu,mereka langsung saling memeluk karena sudah 11 tahun tidah bertemu,mereka membawa anaknya masing-masing,mereka berbincang-bincang dengan serius,dan seru.&lt;br /&gt;“hey Dit,kamu sekarang bekerja jadi apa?”&lt;br /&gt;“Aku sudah berhasil mencapai ciita-citaku,yaitu menjadi polwan,kalau kamu jadi apa sekarang?”&lt;br /&gt;“kalau aku sekarang menjadi pengacara terkenal,aku juga sudah mencapai cita-citaku”&lt;br /&gt;“ternyata kamu benar Bell,dengan kita belajar bersungguh-sungguh kita dapat melakukan apa yang kita inginkan.Awalnya aku udah menyerah dengan cita-citaku ini,tapi berkat omongan kamu masa lalu aku jadi semangat lagi mencapai cita-citaku”&lt;br /&gt;“iya Dit,aku juga asalnya sudah menyerah dengan cita-citaku ini tapi aku sudah berjanji padamu dulu, bahwa aku pasti akan mencapai cita-citaku.Aku gak yangka banget akhirnya kita dapat mencapai cita-cita kita,makasih ya”&lt;br /&gt;Perbincangan ini makin hebat dan terharu,mereka sekarang bahagia bersama,begitu pula dengan keluarga mereka.&lt;br /&gt;Saat Bella kembali ke Los Angeles,Bella tidak khawatir lagi dengan sahabatnya karena sekarang sahabatnya ikut bersama Bella pergi ke Los Angeles untuk kehidupan yang baru.&lt;br /&gt;Bella sekarang sangat bahagia dengan keluarganya karena sekarang ayah,dan ibu Bella ikut bersama Bella untul tinggal di Los Angeles.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Dan juga kebahagiaan,sekarang dapat dirasakan oleh Dita dengan keluarganya karena sekarang mereka memulai hidup yang baru di negeri orang yaitu di LOS ANGELES.&lt;br /&gt;Tapi,mereka juga tidak akan pernah melupakan Negeri sendiri yaitu INDONESIA,karena sekarang mereka telah membanggakan INDONESIA di negeri yang terkenal dengan kata HOOLYWOOD ini.&lt;br /&gt;Sekarang mereka,selain bekerja sebagai Polwan/Pengacara,mereka juga mempunyai toko yang menjual “karya anak INDONESIA”,seperti menjual batik,wayang golek,dsb.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengarang       : Dinda Tiara Dewi&lt;br /&gt;Umur               : 12 tahun&lt;br /&gt;Kelas               : VII&lt;br /&gt;Sekolah            : SMPN 15 Kota Sukabumi&lt;br /&gt;E-mail Facebook: dindaloverz42@yahoo.com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-persahabatan-terbaru.html" target="_blank"&gt;Cerpen Persahabatan&lt;/a&gt; yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/C8ylogNGon8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/C8ylogNGon8/cerpen-persahabatan-senang-menggapai.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-K3CNKrY6gLE/UZMZ6gQQCqI/AAAAAAAAGPM/AmRNRU_BPs8/s72-c/Cerpen+Persahabatan1.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/cerpen-persahabatan-senang-menggapai.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-5047159764143648921</guid><pubDate>Mon, 13 May 2013 01:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T18:31:45.624-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Cinta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Sedih</category><title>Cerpen Cinta Sedih - Semua Akan Kembali Keasalnya</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SEMUA AKAN KEMBALI KEASALNYA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Hikari Suri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jenni, kalo kita udah dewasa mau gak jadi istriku?”&lt;br /&gt;Jenni tertawa ketika mengingat kata-kata itu, 15 tahun telah berlalu, hingga kini dirinya berumur 22 tahun, dirinya masih mengingat kata-kata yang diucap Reyhan itu padanya. Bahkan dia dengan bodohnya berharap mungkin Reyhan akan kembali ke Jakarta setelah sekian tahun pergi tanpa kabar, kemudian mewujudkan janjinya dulu padanya. Dengan segera, Jenni menggelengkan kepala mencoba meyakini hal itu gak bakal terwujud, namun dirinya tetap gak bisa menghalangi sebuah harapan masih tersisa dihati kecilnya. Dipandangnya rumah sebelah yang dulu ditempati Reyhan, yang kini hanya ditempati tukang kebun saja. Jenni pun yakin, Reyhan pasti sesekali masih kesana untuk sekedar beristirahat, tapi kenapa dia gak mengunjunginya?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Dengan sedih, Jenni mencoba menutup tirai kamarnya, namun tiba-tiba matanya terbelalak. Dirinya melihat mobil. Tentu dia gak akan seterkejut ini jika itu mobil biasa, tapi mobil ini berhenti didepan rumah Reyhan! Mungkinkah? Jenni segera berlari keluar kamar untuk melihat lebih lanjut. Namun yang terlihat turun dari mobil itu gak ada yang dikenalnya. Orang tua Reyhan juga bukan, dengan kecewa Jenni kembali kedalam rumah. Tak menyadari sepasang mata tengah memperhatikan dirinya. “Jenni, maafin aku,”&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-74gR07Jdekw/UZBCY1wtPEI/AAAAAAAAGO8/45pOnaKYKVo/s1600/Cerpen+Love.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://3.bp.blogspot.com/-74gR07Jdekw/UZBCY1wtPEI/AAAAAAAAGO8/45pOnaKYKVo/s400/Cerpen+Love.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Semua Akan Kembali Keasalnya&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sayang, masak yang ini juga. Ini bagus buat kulit, terus yang ini juga, ini juga,” Jenni memutar bola matanya demi melihat berbagai sayur yang tengah disodorkan ibunya. Mana mungkin dirinya memakan berbagai sayur sekali makan?&lt;br /&gt;“Ah ibu… Kita masak sop saja, dan itu cuma butuh ini kol, kentang, dan wortel. Gak perlu bayam, atau kangkung, apalagi ini ketela buat apa? Satu satu dulu masaknya, ibu tunggu aja, biar Jenni yang masak,” ucap Jenni menyiapkan yang dia inginkan, ibunya hanya pasrah melihat anaknya. Namun tak juga dirinya bergeming, “Ibu mau buat semua sayur itu hari ini, jadi gak usah protes,” ucapan ibunya membuat Jenni menghela napas sambil memperhatikan ibunya bekerja.&lt;br /&gt;“Ibu, siapa yang pindah kerumah sebelah?”&lt;br /&gt;“Pindah? Gak ada yang pindah. Itu Reyhan yang datang, tapi orangtuanya katanya gak mau ikut,” jelas ibu Jenni, membuat Jenni terbelalak sekaligus gak percaya.&lt;br /&gt;“Yang bener Bu?” tak sadar Jenni berteriak kegirangan, begitu sadar, dirinya segera menutup mulutnya, sebelum ibunya heran. Tangannya lincah meracik bumbu-bumbu, begitu pula dengan otaknya, lincah memikirkan cara dia bertemu Reyhan nantinya. Apakah Reyhan masih mengingatnya? Bagaimana tanggapan dia? Apakah dia sesenang dirinya sekarang ketika bertemu? Dengan tak sabar, Jenni segera menyelesaikan pekerjaannya guna bersiap-siap kerumah Reyhan. Senyum cerah tersungging dibibirnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei Rey, emm gimana kabarnya? Lama ya gak ketemu,” Jenni tersenyum masam, kemudian segera menggelengkan kepalanya didepan cermin yang tengah memperlihatkan wajahnya yang tengah bahagia sekaligus gundah, “Ah, mana mungkin aku bilang gitu? Kayaknya sok akrab banget,” dengan menghela napas dirinya kembali memperagakan berbagai gaya yang akan dia pake ketika bertemu Reyhan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dirinya berpikir untuk mengubah kata-kata untuk yang kesekian kali, dia membulatkan tekad untuk menemui Reyhan sekarang juga dengan cara senatural mungkin. Dengan langkah tegap bagai serdadu berangkat perang, Jenni membuka gerbang rumah Reyhan. Kemudian menoleh kesana kemari memperhatikan suasana rumah yang sepi. Satpam pun gak ada ditempatnya, dengan ragu Jenni memperhatikan mangkuk kolak ketela ditangannya. ‘masuk gak ya?’ batinnya ragu. Baru saja dirinya berbalik hendak pulang, sebuah sepeda motor hendak menabraknya. Hampir saja, Jenni mematung saking kagetnya, sedang kolak ditangannya jatuh, bukan karena tertabrak, namun karena dijatuhkan Jenni. Sedang sosok yang hampir menabraknya pun ikut terkejut, kemudian segera berlalu setelah mengucapkan “Bodoh”. Jenni hanya mematung ditempatnya.&lt;br /&gt;“Tampannya…” ternyata, Jenni terkejut bukan cuma karena hampir tertabrak, tapi juga saking terpananya dengan pengendara motor barusan! Namun sedetik kemudian, wajahnya berubah cemberut “Gimana bisa dia ngatain aku bodoh? Dia yang gak liat ada orang disini! Dasar!” ucapnya sewot kemudian mengambil mangkuknya yang terjatuh tadi. Kemudian kembali terbelalak “Hah, jangan-jangan dia Reyhan? Ya ampuuun ganteng bangeet. Kasian banget sih jadi kasar gitu…” ucapnya gak jelas antara memuji dengan penyesalan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana Pak Li? Dah pulang belum anaknya?” tanya Reyhan dari balik pintu dengan muka was-was. Sedang Pak Li, celingak celinguk memperhatikan dari jendela yang tertutup tirai. Kemudian mengacungkan jempolnya tanda Jenni telah pergi.&lt;br /&gt;“Haaahh… Bodoh,” ucap Reyhan lebih menyerupai gumaman, lega, kemudian memerosotkan tubuhnya ke lantai. Pak Li yang khawatir, langsung memanggil satpam.&lt;br /&gt;“Gak usah Pak Li, aku baik-baik saja. Kita kesini kan untuk refreshing, jadi jangan terlalu khawatir,”&lt;br /&gt;“Anak itu, kalau anda ingin menemuinya kita bisa jadwalkan untuk itu,” ucap Pak Li, sedang Reyhan hanya menerawang langit-langit. Kemudian menggelengkan kepalanya lemah, kemudian tertunduk. Pak Li yang mengetahui suasana hati juga pemikiran tuannya, hanya terdiam. Dirinya pun tau sejarah antara Jenni dengan Reyhan, dan orang paling tau perkembangan keduanya selama mereka berjauhan. Maka dari itu, dirinya ikut sedih mengetahui sikap tuannya sekarang.&lt;br /&gt;“Hah, Rey! Darimana saja kau?!” Reyhan maupun Pak Li segera menoleh, Reyhan langsung ketakutan melihat orang yang datang. Dion, kakak sepupunya langsung menyeret tangannya menaiki anak tangga menuju keatas.&lt;br /&gt;“Kakak! Lepas,” tanpa mempedulikan permintaan adiknya, Dion terus menarik tangan Reyhan. Pak Li yang mengikuti dari belakang hanya pasrah ketika Dion mengomelinya, “sudah aku bilang, jangan biarkan anak ini keluar! Apa kerjaanmu Pak Li! Ngurus seperti itu gak becus!” ucap Dion yang segera mendorong Reyhan kekamarnya, kemudian menguncinya. Dirinya menulikan telinga mendengar teriakan Reyhan. Dengan menghela napas, Dion segera beranjak pergi.&lt;br /&gt;“Kakak! Buka Kak!” dengan frustasi, Reyhan menggebrak pintu itu. Namun sekuat apapun dia mendobrak, pintu itu seolah gak bergeming. Tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut dahsyat, dunia seakan berputar. Reyhan mencoba memegang kepalanya, berusaha meredakan rasa sakit itu, tubuhnya jatuh berlutut, sebelum akhirnya pingsan. Pak Li yang ada dibalik pintu masih bisa mendengar suara kesakitan tuannya. Dengan tergesa-gesa dia segera memanggil Dion untuk segera membuka pintu itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reyhan membuka matanya dan mendapati dirinya dirumah sakit dengan alat infuse ditangannya, dan alat bantu pernapasan dihidungnya. Dion serta orangtuanya ada disana, semuanya memandang khawatir kearahnya.&lt;br /&gt;“Sayang…”&lt;br /&gt;“Aku gak apa-apa ma… gak perlu khawatir,” ucap Reyhan sebelum ibunya sempat berbicara. Dia memandang Dion yang kini tengah berseragam putih dokter.&lt;br /&gt;“Kak…”&lt;br /&gt;“Gak usah bicara. Diam, dan jangan kabur kali ini. Aku sudah jadwalkan operasimu minggu ini. Kita adakan pemeriksaan rutin minggu ini,” ucap Dion menghakimi. Sedang Reyhan hanya memandangnya memelas, Dion hanya memalingkan muka sebelum keluar ruangan. Diikuti orangtua Dion. Tak terasa air mata menetes dipipi Reyhan, kemudian dia memandang Pak Li yang memandangnya tak tega dengan pandangan nanar.&lt;br /&gt;“Pak Li, kalo aku ketemu dia sekarang, apa dia akan menyesal telah bertemu aku?”&lt;br /&gt;“Apa? oh… Haha… Apa maksud anda? Tentu saja dia tak bakal menyesal. Anda orang yang sangat tampan, juga punya masa depan yang cerah. Apa lagi yang perlu diragukan?” ucap Pak Li mencoba tertawa dan membesarkan hati tuannya. Reyhan segera bangun dan mengusap air matanya yang menetes sekali. Kemudian membuka alat bantu pernapasan juga alat infuse, membuat Pak Li kebingungan. Namun Reyhan bertekad akan kabur ‘lagi’ kali ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenni kembali mengintip jendela didepannya, namun tetap saja kosong. Dengan sebal, dia hendak kembali kerumahnya. Ya, dirinya sekarang tengah memandang jendela rumah Reyhan. Baru saja beberapa langkah, dirinya dikejutkan kedatangan seseorang yang turun dari taksi. Cowok yang sama yang dilihatnya kemarin malam.&lt;br /&gt;“Sedang apa kamu disana?” tanya cowok itu, dengan pandangan sulit ditebak.&lt;br /&gt;“Eh, aku… o ini, kebetulan tadi aku lewat sini. Jadi mampir, sory deh kalo ganggu,” ucap Jenni dengan perasaan malu, langsung berlari kearah rumahnya, begitu melewati cowok itu, hawa dingin langsung menyelimutinya. Ternyata cowok itu memegang tangannya, dan dia gak tau yang menyebabkan hawa dingin itu apa. Dengan pandangan bertanya, Jenni berbalik memandang cowok itu.&lt;br /&gt;“Lihat, disini dikelilingi pagar, mana bisa kamu bilang kebetulan lewat sini? Bilang aja mau ketemu aku,” ucap Reyhan dengan tingkat PD 100%, Jenni menanggapinya dengan tak percaya kemudian tertawa.&lt;br /&gt;“Hah. Haha… aku bahkan gak kenal kamu, mana bisa kamu bilang gitu?” Jenni kembali tertawa.&lt;br /&gt;“Aku Reyhan, gimana?” Jenni yang tertawa langsung terbatuk seketika mendengar ucapan Reyhan. Kini gantian Reyhan yang tertawa melihat ekspresi Jenni yang menurutnya sangat lucu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu kembali?”&lt;br /&gt;“Kenapa? Apa aku gak bisa pulang kerumah sendiri?” Reyhan balik bertanya sambil memandang danau didepannya. Dulu, mereka sering menghabiskan waktu disini sepanjang hari untuk bermain dengan teman-teman mereka. masing-masing mengingat masa-masa dulu mereka masih kecil.&lt;br /&gt;“Aku kan gak bilang kamu gak boleh pulang. Cuma heran aja, biasanya orang yang pergi terlalu lama gak bakal kembali,”&lt;br /&gt;“Suatu saat aku pasti pergi lagi,”&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanya Jenni sedih mendengar pernyataan Reyhan, dirinya bahkan telah menunggu Reyhan selama ini, walaupun setiap hari dirinya berusaha untuk melupakannya. Mana bisa dia bilang seperti itu seenaknya? Reyhan menatap Jenni yang cemberut, membuatnya tersenyum. Bibir yang sama 15 tahun lalu.&lt;br /&gt;“Apa kamu menyesal bertemu aku, kalau nanti aku pergi lagi?” tanya Reyhan membuat Jenni memandang kearahnya.&lt;br /&gt;“Emm… Gimana ya?? Kalau orangnya ganteng kayak gini sih, kayaknya bakal nyesel kali ya,” ucap Jenni dengan nada bercanda, membuat Reyhan tertawa, juga bangga!&lt;br /&gt;“Ya ya… aku memang ganteng sih, jadi susah deh,” balas Reyhan yang membuat Jenni menyesal telah memujinya. Kemudian mereka sama-sama tertawa. Tak terasa matahari hampir tenggelam, menciptakan bayangan indah diatas danau itu. Jenni menatap takjub pemandangan itu, dirinya gak akan pernah bosan memandangnya walau hampir tiap hari dirinya kesana. Reyhan menatap wajah Jenni dari samping, siluet yang cantik. Kemudian dirinya memandang matahari yang kini hampir semuanya terbenam.&lt;br /&gt;“Semua bakal kembali keasalnya,” gumam Reyhan, tak bermaksud bicara dengan siapapun. Namun Jenni mengiyakannya.&lt;br /&gt;“Hmm… pantatku sakit, tanahnya kasar nih. Pulang yuk?” ajak Jenni menatap Reyhan dikegelapan. Dirinya gak melihat wajah Reyhan yang penuh kesedihan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus gimana biar kamu nurut, hah!” Dion kembali memarahi adiknya yang hanya tertunduk.&lt;br /&gt;“Kakak bilang kesempatanku hidup cuma beberapa persen. Gimana kalo aku…” belum sempat Reyhan meneruskan kata-katanya, Dion telah membekap mulutnya.&lt;br /&gt;“Aku bilang diam. Aku pasti usahakan yang terbaik. Jadi aku minta kamu operasi minggu ini,”&lt;br /&gt;“Aku gak mau, biar kayak gini. Aku masih bisa hidup,”&lt;br /&gt;“Kamu…” Dion geram menghadapi sikap adiknya itu, kemudian kembali menarik tangan Reyhan. Reyhan yang tau maksud kakaknya, mencoba meronta. Namun kakak sepupunya jauh lebih kuat darinya. Selalu seperti itu, kakaknya akan terus mengurungnya sampai dia mau menurut. Kali inipun, Reyhan berusaha mencari cara untuk melepaskan diri. Begitu sampai didepan kamar, Reyhan mencoba menendang Dion. Dion yang terkejut terpelanting kebelakang, begitu melihat Reyhan kabur, Dion segera bangkit dan mengejar Reyhan. Namun adiknya telah jauh, dan dia gak tau kemana adiknya hendak pergi. Pak Li yang melihat dari arah dapur hanya memalingkan muka. Kemudian dilihatnya Dion keluar entah kemana, mungkin khawatir kalau-kalau adiknya kambuh lagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenni tersenyum-senyum semenjak makan malam, membuat orangtuanya heran. Dan kini didalam kamar, dirinya memandang langit-langit, namun pikirannya entah pergi kemana. Setiap kali sebuah bayangan Reyhan muncul, saat itu pula dirinya akan tersenyum. Kemudian dipandangnya jendela, terlihat rumah Reyhan yang berwarna hijau, balkon kamar Reyhan yang terang. Dia membayangkan Reyhan yang tengah menatapnya melalui balkon itu, membuatnya senang. Wajah yang sangat tampan itu tengah tersenyum. Sayup-sayup, Jenni melihat bayangan itu menjadi nyata.&lt;br /&gt;“Reyhan!” Jenni terbelalak mendapati jika bukan bayangan Reyhan yang dia lihat, namun Reyhan! Benar-benar Reyhan dijendelanya!&lt;br /&gt;“Ssssttt,” Reyhan memberi isyarat Jenni untuk diam dengan telunjuknya. Kemudian dia masuk kekamar Jenni yang bernuansa pink. Jenni yang penasaran bagaimana cara Reyhan masuk, segera mengintip ke jendela. Dan disana ada tangga yang biasa digunakan jika akan mengecat dinding.&lt;br /&gt;“Ngapain pake tangga? Kan bisa lewat pintu?” tanya Jenni.&lt;br /&gt;“Ah, gak ada tantangannya,” jawab Reyhan enteng, padahal dirinya gak ingin ditemukan kakaknya, mungkin saja kakaknya menanyakan ke orangtua Jenni, apakah dia disana sekarang.&lt;br /&gt;“Apa ini sopan, seorang cowok masuk kekamar cewek?”&lt;br /&gt;“Kamu gak suka?” tanya Reyhan sambil lalu, kemudian memandang interior didalam kamar Jenni yang ditata apik. Jenni hanya menjawabnya dengan gelengan kepala gak percaya.&lt;br /&gt;“Kamarmu cantik banget,” puji Reyhan sambil duduk diranjang Jenni.&lt;br /&gt;“Aku pengen jadi penata interior professional. Paling gak, aku harus bisa menata kamar juga rumahku sendiri dulu kan?” jawab Jenni tersenyum melihat Reyhan gak henti-henti memandang kamarnya.&lt;br /&gt;“Hmm… Bagus-bagus, jadi kalo aku pulang nanti aku gak bakal bosan ya,” ucap Reyhan mengelus sprei Jenni yang berwarna pink muda.&lt;br /&gt;“Maksudnya?” tanya Jenni gak ngerti yang dimaksud Reyhan.&lt;br /&gt;“Kalo kita nikah nanti kan kamu harus membuatku betah dirumah,” jelas Reyhan enteng, membuat Jenni terkejut, kemudian tertawa. Mana ada orang sePD dirinya! Namun Jenni tak menyanggah perkataan Reyhan itu. Dirinya pun mengharapkan hal yang sama.&lt;br /&gt;“Apa jawabanmu?”&lt;br /&gt;“Kamu gak tanya apa-apa, aku harus jawab apa?” tanya Jenni heran mendapat pertanyaan aneh dari Reyhan.&lt;br /&gt;“Pertanyaanku masih sama, seperti 15 tahun lalu,”&lt;br /&gt;“Apa?” tanya Jenni pura-pura tak tahu, itu berhasil membuat Reyhan cemberut.&lt;br /&gt;“Mana bisa kamu melupakan hal yang begitu penting?” Jenni menahan tawa mendengar Reyhan yang merajuk. “Aku bahkan selalu mengirimimu kado valentine, kado ulang tahun, mana bisa aku dilupakan begitu saja?” Jenni terkesiap, dirinya memang selalu mendapat kado-kado itu, namun tanpa nama. Baru diketahui sekarang siapa yang mengirim semua itu. Karena sibuk memikirkan semua itu, Jenni sampai tak menyadari Reyhan yang telah menuruni tangga.&lt;br /&gt;“Rey,”&lt;br /&gt;“Temui aku kalo kamu udah ingat pertanyaanku,” jawab Reyhan tanpa menghentikan acara turun tangganya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kan belum menemuimu? Kenapa kamu mengajakku keluar? Udah gak marah?” tanya Jenni selama perjalanan kedanau. Reyhan hanya tersenyum, kemudian menuding sesuatu ditepi danau, diantara 2 pohon kelapa.&lt;br /&gt;“Wow! Rey, kamu yang buat ini?” Jenni surprise mendapati sebuah ayunan disana.&lt;br /&gt;“Tentu saja aku yang buat,” jawab Reyhan berbohong, karena yang mempersiapkan itu Pak Li. “Aku tau kamu gak nyaman duduk ditanah, makanya aku buatin ayunan buat kita,” jelas Reyhan. Jenni segera mencoba ayunan itu, walaupun sederhana, namun dibuat dengan kuat. Jenni segera mencari sulur berbunga disekitar sana, dan memasangnya dikedua sisi ayunan. Membuatnya semakin cantik. Reyhan mengacungkan jempolnya atas hasil karya Jenni.&lt;br /&gt;“Duduk sini Rey, kita tunggu matahari sampe tenggelam lagi,” ucap Jenni, Reyhan segera duduk disampingnya, dan menggenggam tangan Jenni.&lt;br /&gt;“Kenapa tanganmu dingin banget Rey?”&lt;br /&gt;“Iya, aku kedinginan,” jawab Reyhan tersenyum, Jenni semakin menggenggam erat tangannya, kemudian bersandar dipundak Reyhan. Reyhan mengeratkan pegangannya pada bahu Jenni, seakan tak ingin melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku bodoh sekali selalu mengingatmu? Jika kamu bersedih nantinya karena kehadiranku, aku orang pertama yang gak bakal bisa maafin diriku sendiri.&lt;br /&gt;“Besok aku jawab pertanyaanmu ya, tunggu aku disini,” Jenni tersenyum membuat Reyhan penuh harapan.&lt;br /&gt;“Apa itu jawaban yang bagus?”&lt;br /&gt;“Tunggu aja besok,” Reyhan gemas dengan sikap Jenni yang membuatnya penasaran.&lt;br /&gt;“REYHAN!!” suara yang menggemparkan dunia mengejutkan dua insan yang tengah berkasih itu hingga Jenni hampir terjatuh karena Reyhan tiba-tiba turun dari ayunan dan mundur ketakutan.&lt;br /&gt;“Kakak,”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, lepas kak! Malu ada Jenni kak!” seru Reyhan sepanjang jalan tangannya diseret Dion. Sedang Jenni yang tak tau harus gimana hanya cemas sambil mengikuti mereka sampai kamar Reyhan. Dia mencoba menjelaskan, namun sepertinya Dion tak mau dipengaruhi kali ini. Sampai kamar Reyhan, Dion gak cuma mendorong Reyhan masuk, tapi Dion masih menyeret Reyhan sampai kamar tidur. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang membuat Reyhan ataupun Jenni terbelalak.&lt;br /&gt;“Kakak, jangan kak,” seruan Reyhan tak menyurutkan tindakan Dion, dia segera menarik tangan kiri Dion dan memborgolnya dengan ranjang. Tangan Reyhan yang satunya tak mampu menahan Dion. Jenni memandang semua itu dengan pandangan miris.&lt;br /&gt;“Kamu harus operasi besok. Kondisimu harus stabil. Jangan kemana-mana,” Dion memberi ancaman kosong, karena Reyhan jelas tak bisa kemana-mana lagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Reyhan kena kanker otak,” ucapan Dion diluar kamar Reyhan mengejutkan Jenni, melihat keterkejutan Jenni, Dion menambahkan, “tapi masih bisa disembuhkan asal segera operasi,” tambah Dion membuat Jenni sedikit tenang.&lt;br /&gt;“Sejak kapan?”&lt;br /&gt;“Aku juga gak tahu, yang pasti baru setahun ini gejalanya muncul. Begitu di cityscan, ternyata ada benjolan diotaknya. Dan untuk operasi itu sangat riskan, tapi melihat kondisinya yang selalu kesakitan, aku gak tega, dan keluarga setuju untuk mengoperasinya,”&lt;br /&gt;“apakah akan berhasil?”&lt;br /&gt;“Aku pun gak bisa memastikan. Sebenarnya kemungkinan untuk hidup lebih kecil, namun yang berhasil selamat juga banyak, aku meyakini operasinya akan sukses, mengingat benjolan itu belum terlalu besar,” jelas Dion, sesekali terdengar teriakan Reyhan dari dalam kamar.&lt;br /&gt;“Yang kakak lakuin sekarang apa gak justru menyakiti Reyhan?”&lt;br /&gt;“Ini demi kebaikannya, jadi kamu gak perlu khawatir. Dan kamu tau? Dia meyakini dirinya akan mati, jadi bersikeras kemari untuk menemui seseorang. Dan aku yakin orang itu kamu,” ucap Dion tersenyum, Jenni pun geli mengingat Reyhan dengan segala polahnya.&lt;br /&gt;“Ya… pasti sulit juga harus jauh dari orangtua,”&lt;br /&gt;“Begitulah, orangtuanya sendiri gak tega melihatnya selalu kesakitan. Mereka memaksaku untuk menyembuhkannya, kamu tau kan gimana sayangnya mereka?” Jenni mengangguk membenarkan ucapan Dion.&lt;br /&gt;“KAKAK! AKU AKAN MEMBUNUHMU NANTI!! LEPASIN AKU SEKARANG JUGA!!” suara Reyhan terdengar sampai kedepan pintu. Jenni memandang pintu itu seolah bisa melihat Reyhan.&lt;br /&gt;“Haha, mana mungkin aku melepaskannya kalo dia akan membunuhku nanti?” canda Dion, membuat Jenni ikut tersenyum, “Jangan khawatir, pulanglah,” Jenni pun mengangguk setelah melihat pintu kamar Reyhan sekali lagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Jenni beserta keluarga Reyhan ada dirumah sakit menemani Reyhan dari pemeriksaan awal hingga keruang operasi. Semuanya berdoa dengan khusyuk meminta keselamatan bagi Reyhan. Jenni menunggu dikoridor bersama Pak Li yang juga sangat cemas. Bagaimanapun Reyhan sudah seperti anaknya sendiri.&lt;br /&gt;“Apa anda mencintainya?” pertanyaan Pak Li yang tiba-tiba mengejutkan Jenni, namun kemudian Jenni mengerti yang dimaksud Pak Li.&lt;br /&gt;“Ya, aku sangat mencintainya. Entah kenapa, hanya keyakinanku yang membuatku belum bisa membuka hati untuk orang lain. Mungkin saja dia gak akan kembali, namun aku meyakini cintanya tulus waktu itu, hingga membuatku selalu teringat sampai sekarang. Bahkan sampai 15 tahun berlalu,” Jenni tertunduk sambil mengenang masa lalunya.&lt;br /&gt;“Begitupula dengannya, dia laki-laki yang sangat pintar. Dan selalu ada tempat untuk sebuah nama, walaupun saya kira ini seperti cerita klise, namun nyatanya benar-benar ada laki-laki seperti Reyhan. Dia selalu membicarakan anda, selalu meminta saya mengirimi anda kado, dan selalu meminta pendapat saya tentang reaksi anda,” ucap Pak Li sambil tersenyum mengingat Reyhan yang selalu meminta foto Jenni.&lt;br /&gt;“Haha, apa Pak Li juga memfotoku diam-diam?” Pak Li ikut tertawa, namun itu memang kenyataannya.&lt;br /&gt;“Kenapa… kenapa dia gak mau menemuiku sebelumnya?” tanya Jenni tiba-tiba menjadi suram.&lt;br /&gt;“Sudah saya bilang Reyhan laki-laki yang pintar, dia mencoba menumbuhkan rasa cinta sedikit demi sedikit dari anda, dengan begitu sekali dia muncul, anda akan mengenalinya. Sebenarnya, setahun yang lalu, dia ingin menemui anda, sekaligus secepatnya melamar anda. Namun ternyata dia didiagnosis terkena kanker otak, itu membuatnya sangat terpukul, dan dia menyuruh saya untuk tidak mengingatkan lagi tentang anda,” Pak Li bercerita dengan suara lirih sambil membayangkan wajah Reyhan tatkala itu, wajah yang sangat putus asa.&lt;br /&gt;“Walaupun dia pintar, tapi dia ternyata juga bodoh ya,” ungkap Jenni terkekeh,”baru sadar kan dia gak bisa melupakan aku begitu saja?” Jenni melanjutkan, “tapi kenapa kado-kadonya selalu tanpa nama?”&lt;br /&gt;“Yang benar? Saya selalu memberi nama untuk setiap kado itu,”&lt;br /&gt;“Dimananya?”&lt;br /&gt;“Ya… memang tersembunyi, tapi saya selalu memberi nama. Kalo anda tak tahu yang memberi kado itu, berarti misi saya untuk membuat anda jatuh cinta gagal?” Pak Li mengerjapkan matanya dan terbelalak. Jenni yang melihat itu menenangkannya sebelum kemudian tertawa.&lt;br /&gt;“Sudahlah Pak Li, gak apa-apa. Nyatanya aku jatuh cinta walaupun tanpa kado itu,”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu gak pulang?” Jenni terkejut mendapati Dion telah ada disebelahnya.&lt;br /&gt;“Reyhan… Pasti dia akan bertahan kan?” tanya Jenni penuh harap, walaupun operasi telah selesai, namun Reyhan masih belum sadar. Dion hanya membalasnya dengan anggukan lemah.&lt;br /&gt;“Dia… Aku yakin walaupun dia nakal, dia pasti gak akan membuat semuanya khawatir. Aku sudah berusaha semampuku. Aku sangat menyayanginya, seumpama…” Dion tertunduk tak mampu meneruskan kata-katanya, tampak raut kesedihan juga kecemasan terpancar dari matanya. Jenni pun tak memaksanya berbicara, namun Dion meneruskan, “Aku orang paling bersalah seandainya ada apa-apa dengannya. Aku selalu memaksanya melakukan sesuatu yang gak disukainya, dan jika dia menolak, aku akan mengurungnya… mungkin… bagiku ini demi kebaikannya, tapi entahlah… apa dia bahagia, aku gak pernah memikirkannya,”&lt;br /&gt;“Bukankah kakak bilang semua akan baik-baik saja?”&lt;br /&gt;“Haha… Ya, pasti, semuanya akan baik-baik saja. Dan aku berjanji, setelah ini aku gak bakal memaksanya lagi. Kamu sebagai saksinya ya,” ucap Dion bersungguh-sungguh, membuat Jenni tersenyum kemudian mengangguk.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua menunggu Reyhan siuman diruangannya. Pengaruh obat bius masih menggelayuti matanya, dengan harap-harap cemas Jenni yang sedari kemarin menunggu hanya bisa berdoa. Ditatapnya wajah Reyhan yang berbalut alat bantu pernapasan, juga kepalanya yang telah botak karena operasi kemarin, seakan wajah itu tanpa ekspresi dan seperti enggan bangun. Tiba-tiba sebuah gerakan membuat semua yang ada diruangan itu siaga. Dan sangat perlahan, mata Reyhan terbuka, dengan terbukanya mata Reyhan, saat itu pula terdengar jerit syukur seisi ruangan. Jennipun hampir saja bersorak kegirangan.&lt;br /&gt;“Rey…” panggil semua yang ada disana, Reyhan mencoba menjawab namun suaranya masih sangat lemah. Dion mendekatkan telinganya kemulut Reyhan.&lt;br /&gt;“Katanya jangan keras-keras, suara kalian membuatnya pusing,” ucap Dion tertawa memberitahukan pesan Reyhan, semuanya gak ada yang bersuara, namun senyum kebahagiaan tetap tersungging dibibir mereka.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian.&lt;br /&gt;“Rey, kamu tau… kakakmu menangis berhari-hari karena menyesal sering mengurungmu dikamar. Lucu ya… Kamu seharusnya tau betapa sayangnya dia padamu,” ucap Jenni sambil berjalan melewati rumah Reyhan. Sesekali diliriknya Reyhan yang berjalan disampingnya dengan tersenyum. Kali ini pun mereka akan ke danau. Selama perjalanan terdengar canda tawa mereka. Sebentar kemudian mereka telah sampai didanau. Reyhan dengan senyumannya berjalan mendahului melewati ayunan mereka yang indah dengan sulur yang baru. Kemudian dia berbalik dan tersenyum kearah Jenni, Jennipun berlinang air mata memandangnya. Dengan perlahan namun pasti, Reyhan semakin jauh menuju tepi danau. Jenni hanya memandangnya sambil duduk diatas ayunan. Makin lama, makin jauh Reyhan berjalan. Matahari hampir tenggelam, saat itu pula sosok Reyhan menghilang.&lt;br /&gt;“Reyhan?” Jenni terkejut segera bangkit, namun sesaat kemudian dia menangis.&lt;br /&gt;Tiga hari telah berlalu, kenanganmu akan aku bawa selalu. Kamu tau? Walaupun kamu belum mendengar jawabanku, aku jawab pertanyaanmu dulu dengan pasti, kalau aku mau jadi istrimu. Selamanya. Tapi kenapa kamu gak bisa nunggu lebih lama lagi? Dan memilih meninggalkanku sekarang?&lt;br /&gt;Jenni menatap danau didepannya dengan pandangan nanar. Seolah wajah Reyhan masih terlukis disana. Tiga hari Reyhan telah meninggalkan semuanya, termasuk dirinya. Operasi yang berhasil tak mampu membawanya untuk tetap hidup, kondisinya semakin memburuk hingga ajal harus membawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin semilir menandakan sebentar lagi matahari akan menghilang.&lt;br /&gt;“Ya Rey, semuanya akan kembali ke asalnya. Dan kamu bodoh jika mengira aku akan menyesal telah bertemu denganmu, karena justru sekarang aku menangis… karena bahagia… pernah mengenal orang sepertimu…” setetes air mata kembali mengalir dipipi Jenni yang telah membentuk aliran sungai. Matanya yang sembab tetap menunggu matahari untuk terbenam, tangannya yang indah tetap menyentuh untaian sulur di ayunan milik mereka. satu yang membedakan, seseorang yang seharusnya bisa digenggamnya disamping ayunan itu yang telah membiarkan tempat itu kosong untuk selamanya.&lt;br /&gt;THE END&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama lengkap : Suri Mawarsari&lt;br /&gt;TTL : Semarang, 28 Oktober 1992&lt;br /&gt;FB; luphu_cweedh@yahoo.co.id&lt;br /&gt;Thank you... ^_^&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
No. Urut : 606&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanggal Kirim : 18/02/2013 19:20:42&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-cinta-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Cinta&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-sedih-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Sedih&lt;/a&gt; yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/O1gDS2teoFY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/O1gDS2teoFY/cerpen-cinta-sedih-semua-akan-kembali.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-74gR07Jdekw/UZBCY1wtPEI/AAAAAAAAGO8/45pOnaKYKVo/s72-c/Cerpen+Love.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/cerpen-cinta-sedih-semua-akan-kembali.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-3985705564965833968</guid><pubDate>Mon, 13 May 2013 01:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T18:23:24.442-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Cinta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Romantis</category><title>Shane I Love You - Cerpen Cinta Romantis</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SHANE I LOVE YOU&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Jessica Febrina&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Britney sayang, liat sini dong” ucap Shane sambil menyorotkan handycam baru kepadaku. “Udahlah Shane, aku sedang malas untuk bermain-main, pergilah !!!” jawabku sambil menepis handycam itu. Aku merasa sangat kesal dengan ulahnya. Aku tau dia begini supaya aku bahagia. Tapi semua itu sia - sia. “Lihatlah wajah pacar kesayanganku ini. Jelek sekali ya. Andai saja dia tertawa, pasti dia sangat cantik”. Aku menoleh ke arahnya dengan ekspresi tak tertarik. Rupanya dia sedang merekam dirinya sendiri. Aku semakin tak berminat dengan apa yang di lakukannya. Lalu tampak ia meyorotkan kembali handycamnya ke arahku. ”Lihat, jelek sekali bukan wajahnya, seperti baju yang belum di setrika.””Sudahlah Shane jangan terus menggangguku !” bentakku seraya beranjak menuju kamarku. Aku melirik ke belakang dan berharap dia mengikutiku. Tapi ternyata dia sama sekali tak mengikutiku. Ku banting pintu keras - keras berharap dia mengerti bahwa aku amat kesal kepadanya.&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LQm5_aW-sLQ/UZBAcP5cHwI/AAAAAAAAGOw/lMQd9vlBzkw/s1600/Cerpen+Cinta3.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="275" src="http://3.bp.blogspot.com/-LQm5_aW-sLQ/UZBAcP5cHwI/AAAAAAAAGOw/lMQd9vlBzkw/s400/Cerpen+Cinta3.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Shane I Love You &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semua kekesalan dan kesedihanku berawal sejak ke - dua orang tua ku meninggal lima bulan yang lalu. Hidupku terasa tiada berarti lagi. Aku ingin sekali ikut mereka pergi. Tapi pada kenyataannya aku tak mampu. Selama lima bulan ini hidupku terasa hampa. Aku harusnya kuliah saat ini, tapi aku pikir dari pada aku tidak fokus terhadap mata pelajaran yang ada di kampusku dan selalu memikirkan kedua orang tuaku, lebih baik aku putuskan untuk berdiam diri di rumah. Shane yang harusnya kuliah, tapi demi aku yang sudah menjadi pacarnya hampir dua tahun pun memilih untuk selalu mendampingiku dan tidak kuliah. Dalam lima bulan terakhir ini dia selalu berusaha membuat aku kembali ceria seperti dulu. Tapi semua itu sia – sia. Aku tetap sedih dengan meninggalnya orang tuaku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu. “Biar aku yang membukakannya sayang …” Aku yang baru selesai keluar dari kamar mandi pun mendengar sedikit perbincangan antara Shane dan tamu yang datang, aku pun menyusul Shane di depan pintu. “Siapa tamunya Shane?”“Maaf apakah Anda yang bernama Britney Huston?” tanya seorang bapak - bapak berjaket kulit hitam dengan kumis yang amat tebal dan raut wajah yang sangar. Aku bergidik ngeri melihatnya. “Ya, saya sendiri. Bapak ini siapa ya?” jawabku. “Kami dari pihak bank ingin memberitahukan bahwa ayah anda, Jack Huston memiliki hutang sebesar 1 milliar rupiah. Waktu untuk membayar tinggal 3 hari lagi dan apabila tidak di lunasi maka rumah beserta isinya akan kami sita. Ini surat bukti – buktinya,” ucap seorang dari mereka. Aku terkejut bukan kepalang. Bagai di sambar petir, tubuhku lemas seketika. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku pun tak mampu untuk berpikir. Aku langsung berlari ke kamar dengan menatap foto ayah dan ibuku sehingga membuatku menangis terus menerus. Aku tak tahu harus marah, sedih atau apa, yang jelas aku tak tahu harus bagaimana untuk mendapatkan uang 1 milliar dalam waktu 3 hari. Tiba - tiba Shane memelukku dan menenangkanku. Aku pun menangis dalam pelukkannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kemana sayang?” cegah Shane saat melihatku yang sudah berpakaian rapid an siap untuk pergi. Ia melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mungkin dia terkejut dengan sackdress mini dan ketat yang aku gunakan. Ya, aku memang memutuskan untuk clubbing di salah satu diskotik bersama Lolly dan teman – temanku yang lain. “Bukan urusanmu!” jawabku singkat. “Ini sudah jam 10 malam Britney. Kamu mau pergi kemana malam – malam dengan pakaian seperti itu?” tanyanya penuh selidik. “Terserah aku dong mau pergi kemana? Hidup juga hidupku, jangan ikut campur deh! Kepo banget sih?” bentakku sambil menatapnya. “Hey Britney, udah siap? Anak – anak udah nungguin kita di Night Club tuh” ujar Lolly yang tiba – tiba muncul di ambang pintu. “Apa? Kamu mau ke club? Sayang jangan pergi. Kamu tidak perlu pergi ke sana!” sergah Shane. “Udah la Shane, ini bukan urusanmu!” “Gak Britney, kamu gak boleh pergi. Aku tau kamu begini akibat hutang itu kan? Tapi kita bisa cari jalan keluarnya. Kamu harus menuruti apa kataku, aku ini pacarmu.” “Jangan sok ngatur deh Shane! Dan jangan sok tahu tentang perasaanku. Kamu pacarku, bukan berarti aku harus menuruti apa katamu dong?!” jawabku kesal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Aku paling gak suka dengan sikap Shaen yang overprotective. Ya, memang dia gak sepenuhnya salah. Aku ke club karena ingin menghibur diriku. “Sayang, selama ini aku rela gak kuliah demi kamu, supaya aku bisa mendampingi kamu. Kenapa kamu tidak pernah menghargai itu semua?””Aku gak pernah meminta kamu untuk menemaniku kan? Terserah kamu lah!” jawabku seraya berjalan menuju Lolly. Dengan berat hati, aku pergi meninggalkan rumah dan Shane yang speechless dengan tingkahku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bipp bipp bipp, handphoneku berbunyi. Sebenarnya aku malas mengangkatnya karena aku masih bersenang – senang dengan teman – temanku. Tapi akhirnya aku tetap mengangkat telepon itu. “Halo, siapa ya? Halo?” jawabku. Tapi aku tidak mampu mendengarnya karena dentuman lagu diskotik yang sangat keras. Aku memutuskan untuk pergi ke toilet. “Halo? Siapa ini?””Halo, apakah ini dengan Britney?” jawab seorang wanita. “Ya benar. Ini siapa?””Saya suster dari rumah sakit Pelita Jaya. Saya ingin memberitahu Anda tentang pasien yang bernama Shane telah mengalami kecelakaan dan sedang dalam keadaan kritis.””Apa?” akau sangat terkejut. Aku pun segera berlari menuju rumah sakit. Tak ku pedulikan Lolly yang bertanya kepadaku mengapa aku pergi. Yang ada di pikiranku hanyalah aku ingin segera menemui Shaen. Air mata mulai menetes dari mataku. Muncul rasa penyesalan mengingat apa yang kulakukan terhadap Shane.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menanyakan keberadaan Shane kepada salah satu suster di sana. Tiba – tiba aku melihat Shane yang terkulai lemah di ranjang rumah sakit dan sedang didorong oleh beberapa suster. Aku segera berlari menghampirinya. Aku menangis melihat wajah dan sekujur tubuh Shane yang masih berlumuran darah. “Shane, ada apa ini? Kenapa kamu bisa seperti ini?””Maaf mbak, pasien harus segera dibawa ke ruang ICU,” ucap salah seorang suster. “Tidak apa – apa suster. Tolong berhenti di sini” jawb Shane seraya menggenggam tanganku. Aku pun ikut menggenggam tanganku. “Britneyku sayang, aku tidak apa – apa. Hanya saja tadi saat aku mengejarmu, aku tertabrak moil. Aku lengah dan tidak memperhatikan sekitar. Sayang, ini ada hadiah terakhir untukmu. Terima kasih karena kamu telah mengisi hatiku selama hidupku ini. Kemarilah …” ujar Shane sembari memberiku sebuah amplop, lau mengisyaratkan aku untuk memeluknya. Aku pun memeluknya dengan erat.&lt;br /&gt;“Shane, maafkan aku. Aku sangat menyesal dengan apa yang selama ini kulakukan untukmu. Shane, i love you. Aku tidak mau kehilangan orang sepertimu.””It’s okay sayang”, jawab Shane seraya melepas pelukanku dan mengecup keningku. Aku pun kembali memeluknya yang dibalas oleh pelukannya. “Kalau memang kamu mencintaiku, hanya satu pintaku. Perbaiki dan lanjutkanlah hidupmu, wala tanpaku. I love you too my Britney.” Seketika pelukan Shane melemah dan tangannya terjatuh. Ia sudah tiada. Aku memeluk Shane dan menangis sejadi – jadinya. “Shane, jangan pergi …”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemakaman Shane, aku kembali ke rumah. Aku pun teringat dengan amplop yang diberikan oleh Shane sesaat sebelum ia tiada. Aku pun mengambil amplop itu dan membukanya. Ada sebuah kertas cek 1 milyar dan sepucuk surat. Aku buka surat itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Britney sayang, saat kamu membaca surat ini, pasti aku sudah tidak lagi berada disisimu. Maafkan aku karena aku sudah tidak bisa menjagamu lagi. Itu ada cek sebesar 1 milyar untuk membayar hutang ayahmu. Itu sebenarnya merupakan tabunganku yang ingin aku gunakan untuk pernikahan kita. Tapi takdir berkata lain, anggap saja itu sebagai hadiah terakhir dariku. Sayang, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu sampai kapanpun. Dan kalau kamu merasakan hal yang sama, aku mohon agar kamu mampu melanjutkan hidupmu. Jangan terlalu lama terpuruk dalam kesedihan. Ingatlah sayang, aku selalu mecintaimu, walau kita berada dalam alam yang berbeda. I love you my Britney.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From&lt;br /&gt;Shane&lt;br /&gt;Air mata kembali membasahi pipiku. Aku baru sadar betapa Shane mencintaiku dengan segenap hatinya. Aku menyesal karena telah menyia – nyiakan cintanya. Shane, aku berjanji aku akan melanjutkan hidupku. Aku berharap, di sana kamu akan tersenyum melihatku. Shane, I love you.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku cewek yang suka dengan sastra, aku suka buat cerpen, puisi, drama, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-romantis-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Romantis&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-cinta-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Cinta&lt;/a&gt; yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/RQQvZB8Sk1k" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/RQQvZB8Sk1k/shane-i-love-you-cerpen-cinta-romantis.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-LQm5_aW-sLQ/UZBAcP5cHwI/AAAAAAAAGOw/lMQd9vlBzkw/s72-c/Cerpen+Cinta3.png" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/shane-i-love-you-cerpen-cinta-romantis.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-2072698428528570034</guid><pubDate>Mon, 13 May 2013 01:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T18:18:31.389-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Cinta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Romantis</category><title>Cerpen Cinta Romantis - Siklus Cintaku</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SIKLUS CINTAKU&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Jessica Febrina&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Jo, jangan pergi Jo … Jangan seperti ini, kita bisa selesaikan semuanya dengan kepala dingin kan? Memang apa sih salahku Jo? Kenapa tiba – tiba kamu seperti ini? Kita baru pacaran selama 5 hari dan kamu seperti ini setelah 2 tahun penantianku?” Kini air mata tak dapat lagi terbendung di pelupuk mataku. Ia tumpah dengan sendirinya, mengalir deras bagai air terjun yang tiada hentinya. Aku pun tak mampu menatap matanya. Aku hanya mampu menarik tangannya untuk menahan kepergiannya. Aku berharap ia tak meninggalkanku, tapi pada kenyataannya ia tak sedikit pun melirik ke arahku. Ia melepaskan genggaman tanganku dan pergi menjauh dariku. Aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku terhempas di atas aspal jalan. Aku tak sanggup menahan diriku.&lt;br /&gt;“Rean, Rean … Hei, kamu ngelamunin apa sih? Dan kenapa kamu menangis?” ucap Melly membuyarkan lamunanku. Aku sendiri pun tak sadar setitik air mata telah menetes dari mataku. “Gak, aku gak apa – apa, lupakan aja …” “Pasti kamu inget Jo lagi ya ?? Udah lah Rean, jangan diinget lagi cowok gak tahu perasaan itu. Belum tentu juga dia inget kamu. Lagipula juga udah 2 tahun kamu lewati tanpa ada dia. Kenapa masih kamu inget aja sih dia?” “Iya sih Mel, tapi tetep aja aku gak bisa lupain dia dan kejadian itu. Rasa sakit masih ada sampai sekarang. Ya walaupun itu terjadi waktu aku kelas 3 SMP dan sekarang aku udah kelas 2 SMA, tapi tetep aja, aku belum bisa hapus dia dari benakku.” “Come on Rean, please deh, jangan galau terus, dia juga udah beda sekolah denganmu. Udah deh ya, daripada kamu sedih gak jelas mending sekarang kita ke Shanty dan Netty. Pasti mereka udah nungguin kita di kantin.” “Oke deh …” jawabku seraya beranjak dari tempat dudukku.&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-StTnYP70Ol0/UZA_OTWiPwI/AAAAAAAAGOk/vGfSd72pyHk/s1600/Cerpen+Cinta1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="http://2.bp.blogspot.com/-StTnYP70Ol0/UZA_OTWiPwI/AAAAAAAAGOk/vGfSd72pyHk/s400/Cerpen+Cinta1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Siklus Cintaku&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku, seorang Reany Caroline, cewek gendut yang duduk di kelas 2 SMA YPPI – 2 Surabaya. Kata banyak teman – teman sih aku pintar dalam segala hal. Pendidikan, olahraga, pergaulan, dan kekayaan. Tapi hanya 1 hal yang membuat semua itu hancur berantakan, percintaan. Aku rasa hanya 1 hal inilah yang tak bisa kukuasai. Di saat semua teman di sekelilingku dicintai dan mencintai pasangannya masing – masing, aku seorang diri jomblowati. Cinta pertamaku aku dapat saat aku duduk di SMP YPPI – 3 dengan lelaki bernama Jonny Nugraha. 2 tahun penantianku bersamanya kulalui dengan banyak masalah dengannya. Mulai dari bantuanku untuknya agar dapat berbaikan dengan pacarnya hingga pertengkaranku dengannya yang diakibatkan kesalahpahaman. Itu semua membuahkan hasil yang cukup memuaskan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Di akhir masa sekolah, setelah aku melewati UNAS tahun 2011, tepat tanggal 16 April, dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku menerimanya dan akhirnya kami berpacaran. Tapi hanya 5 hari berselang ia tiba – tiba pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Hatiku hancur seketika. Penantian dan ketabahanku sia – sia. Hingga kini 2 tahun telah berlalu, aku tak pernah sedetikpun melupakan hal itu. Walaupun ke – tiga sahabatku di SMA ini, Melly, Shanty, dan Netty telah membantuku untuk mencari cowok pengganti Jo, tapi itu semua percuma saja. Aku tetap saja teringat dengan kenangan masa laluku dengan Jo.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terik matahari yang menembus jendela kamarku membuatku terbangun dari tidur lelapku. Aku pun langsung mencari hanphoneku dan mengecek pesan masuk. Aku tercengang melihat nama Jo ada di pesan masukku. Hatiku berdebar penasaran dengan apa isi dari pesan itu. Segera kubuka pesan darinya.&lt;br /&gt;Sender : Jo&lt;br /&gt;“Reany Caroline? Kamu masih ingat denganku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To : Jo&lt;br /&gt;“Ya, tentu aja aku ingat kamu. Ada apa Jo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sender : Jo&lt;br /&gt;“Rean, aku mau tanya, apa kamu kenal dengan cewek yang bernama Shanty Rennata?”&lt;br /&gt;Aku bingung, kenapa dia tiba – tiba menanyakan Shanty? Apa dia kenal dengan Shanty? Atau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To : Jo&lt;br /&gt;“Ya, dia sahabatku, kenapa Jo? Kamu kenal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sender : Jo&lt;br /&gt;“Aku cukup menyukainya …”&lt;br /&gt;Seketika itu juga tubuhku terasa lemas tak berdaya. Hati ini hancur bagai kaca yang dilempari palu. Mengapa ini semua bisa terjadi? Di saat aku tersanjung dengan pesan darinya, justru ini yang ia katakan padaku? Tanganku pun tak sanggup untuk menggenggam handphone dan ia pun terlepas dari tanganku. Tubuhku terjatuh, hatiku tenggelam dalam kekelaman yang terdalam. Aku tak mampu melakukan apapun. Bipp bipp bipp … Terdengar suara penanda pesan masuk di hanphoneku dan aku pun membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sender : Jo&lt;br /&gt;“Tahun ini untuk kenaikan menuju kelas 3 aku akan pindah ke sekolahmu. Siapkan dirimu dan aku harap bantuanmu agar aku bisa berpacaran dengannya … Kamu tidak keberatan bukan? ;)”&lt;br /&gt;Aku tak mampu lagi untuk berfikir. Seharusnya aku senang kalau Jonny pindah ke sekolahku. Itu artinya aku bisa berada dekat dengannya, tapi kenapa harus dengan situasi seperti ini? Kenapa Jonny harus menyukai sahabatku sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To : Jo&lt;br /&gt;“Oke.”&lt;br /&gt;Hanya 1 kata itu yang dapat kubalas untuk pesan dari Jo …&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To : Melly, Shanty, Netty&lt;br /&gt;“Guys, kumpul di tempat biasa sekarang ya. Gak usah dibales, langsung kumpul aja, URGENT, thanks.”&lt;br /&gt;Aku pun segera menuju Cafe Rose tempat aku dengan 3 sahabatku berkumpul. Satu persatu dari mereka pun berdatangan. Setelah mereka semua berkumpul aku memberitahukan kejadian yang kualami, mengenai Jo yang menyukai Shanty dan kepindahan Jo ke sekolah kami dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;“Apa sih maksudnya sih Jo itu? Setelah kamu dibuat sakit hati sekarang dia berusaha mendekati sahabatmu sendiri? Apa perlu kita labrak aja?” “Jangan menggunakan cara seperti itu Net, percuma. Jo bukan orang yang mau melawan cewek. Dengan begitu aku pasti dinilai jelek olehnya.” “Tapi Rean, dia gak bisa seperti ini. Lagipula Shanty juga gak mungkin mau dengan Jo kan?” Aku menatap mata Shanty dan aku merasa curiga dengannya. Tingkah lakunya agak aneh dan mencurigakan. Ada sebercak rasa tak nyaman merasukiku. Tapi aku tak ingin berpikiran buruk tentang sahabatku sendiri. Ah, sudahlah …&lt;br /&gt;“Hoi Shan …” ucap Melly seraya meninju kecil lengan Shanty. “Emm, iya iya aku juga gak mungkin mau lah dengan Jo.” “Tuh kan Rean, udah kamu tenang aja.” “Oke oke, thanks ya guys.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat yang kutunggu telah datang. Di hari pertama tahun ajaran baru 2013 – 2014 ini aku memulai pagiku dengan mempersiapkan segala keperluan untuk MOS. “Mel, ayo kita kumpul di lapangan. Sekalian bilang ke anak – anak baru ya supaya berkumpul di lapangan.” “Oke.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap seluruh siswa – siswi yang berbaris dan alangkah terkejutnya aku saat melihat Jo ada di tengah – tengah barisan, lengkap dengan atribut seragam sekolahku. Jantungku berdegup sangat kencang. Ternyata yang dikatakan oleh Jo bahwa ia akan pindah ke sekolahku demi Shanty itu benar adanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku mencoba meredam gejolak hati ini. Aku harus kuat, aku harus bisa!!! Setelah aku memberikan sepatah dua patah kata, aku pun melanjutkan MOS dan memberi pengarahan pada anak – anak baru.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 bulan berselang setelah masuknya Jonny di sekolah ini. Anehnya aku dan Jo layaknya orang yang tidak pernah kenal satu sama lain. Cukup miris bagiku saat aku tahu ternyata Jo sekelas dengan Shanty di XII IPS 1, Melly sekelas dengan Netty di kelas XII IPS 2, sementara aku sendiri memang terpencil sendiri di kelas XII IPA. Dan banyak gosip simpang siur yang mengatakan bahwa Shanty mengkhianatiku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Aku tidak mau begitu saja percaya dengan apa yang orang lain katakan. Aku ingin lebih mempercayai sahabatku sendiri. Tapi bukti – bukti yang ada cenderung menunjukkan bahwa Shanty memang mengkhianatiku, apalagi memang setelah menginjak kelas XII ini aku, Melly, Shanty, dan Netty sibuk dengan aktifitas masing – masing. Jadi aku masih belum bisa memastikan kebenaran gosip itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rean, ke kantin yuk …” ajak Virnie sambil menyeringai. Aku heran, sejak kapan dia dekat denganku, sampai – sampai dia mengajakku ke kantin. Secara dulu aku, Melly, Shanty dan Netty pernah bertengkar hebat di kelas X. Tapi aku juga tak kuasa menolak. Jadi ya aku ikuti saja. “Baiklah.” Sesampainya di kantin yang bersebelahan dengan lapangan, aku lihat kerumunan anak berkumpul di tepi lapangan. Aku heran ada apa. “Rean, kamu mau lihat ke lapangan?” “Iya deh Vir, aku mau lihat.” “Ya udah, aku tinggal ke perpustakaan dulu ya.” “Sip.”&lt;br /&gt;“Shan, ditengah lapangan ini, di depan semua banyak anak, aku mau kamu tahu bahwa aku mencintai kamu. Apa kamu mau menjadi pacarku?” Aku tak mampu lagi menopang tubuhku. Rasanya aku ingin pingsan saat ini juga. Aku melihat Jo menembak Shanty di depan mataku sendiri. Aku sepertinya akan menggila karena ini semua. Aku bahkan tak mampu merasakan kakiku. Lemah, tak berdaya, rapuh.&lt;br /&gt;“Ya, aku mau.” Dan jawaban itulah yang semakin membuatku hancur berkeping – keping. Air mata yang sedari tadi terbendung di pelupuk mataku, kini mengalir perlahan. Sesegera mungkin aku meninggalkan lapangan. Aku berlari sekuat tenaga menuju toilet. Aku tak ingin seorang pun melihat kelemahanku. Tak boleh ada seorang pun yang tahu. Apalagi statusku sebagai Ketua OSIS. Aku keluarkan semua kesedihanku di toilet dan setelah bel berdering aku pun kembali ke ruang kelas. Begitu banyak mata yang menatap ke arahku tapi aku berusaha tenang. Aku harap aku mampu menahan kesedihanku hingga sesampainya aku di rumah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak – anak, sesuai janji Ibu tanggal 28 Oktober nanti kita akan mengadakan kegiatan GHL (Gunung Hutan Laut) yang digabung dengan retreat. Kegiatan ini diadakan selama 3 hari 2 malam di PPLH Seloliman.” Awalnya aku senang sekali karena ada kegiatan ini, tapi setelah mendengar lokasi tempat kegiatan, semuanya berubah. Aku pun teringat kembali dengan kenangan masa SMP yang kulewati dengan Jo. Oh sial, umpatku dalam hati. Teetttttttt. Bel tanda pulang pun berbunyi dan hari ini aku harus pulang sendirian karena papa dinas ke luar kota. Huft, sialnya hari ini …&lt;br /&gt;“Hai cewek.” “Eh Sony, hai juga. Ngapain kamu disini?” “Ya mau pulang dong, ini lagi nunggu bemo. Kamu sendiri?” “Sama dong, hehehe.” “Pulang bareng yuk, rumahku kan sejalan sama rumahmu, nanti aku antar deh, gimana?” “Boleh …” Sejak saat itu aku mulai dekat dengan Sony. Aku tidak menyangka, selama ini aku tidak pernah memperhatikan Sony, ternyata dia baik juga.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku akan berangkat untuk GHL. Aku mulai memasuki bis bersama teman – temanku. 2 jam perjalanan ke PPLH Seloliman dan akhirnya kami sampai. Suasana di sini tidak berubah. Hanya saja situasinya yang berbeda. Tak sengaja aku melihat Shanty bermesraan dengan Jo. Malam harinya ada renungan malam dan aku duduk di tempat dimana dulu aku duduk berdua bersama Jo untuk renungan malam juga, tapi kini aku ditemani Sony. Aku hampir saja meneteskan air mata. Tapi aku menahannya. Jo sempat melirikku, namun aku hanya mampu menatap matanya sebelum ia kembali bermesraan dengan Shanty.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah renungan malam aku berjalan – jalan dengan Sony. Kami berkeliling di tempat yang pernah aku lalui beberapa tahun yang lalu. Di tengah perjalanan aku melihat Jo dan Shanty bermesraan. Tak sengaja tatapanku dan Shanty bertemu. Percakapan mereka terdengar olehku karena jarak kami yang tak terlalu jauh. “Jo, kamu benar – benar mencintaiku?” “Iya dong Shanty ku sayang.” “Aku perlu bukti.” “Bukti apa?” “Cium aku …” Sepertinya Shanty sengaja melakukan ini. Aku terkejut bukan kepalang. Hatiku kembali tersayat. Luka yang belum kering di dalam hatiku ini kini kembali tergores. Seakan membuka luka lama dan bahkan menyakitinya lebih lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Jo terlihat tak begitu terkejut. Aku semakin sakit hati karenanya. Tampak Jo mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Shanty. Dan jarak wajah mereka semakin mendekat. Hingga saat mereka akan berciuman tiba – tiba Sony menarik tanganku hingga aku tak sengaja berciuman dengan Sony. Aku terkejut dan aku segera melepaskan ciuman itu. Namun hatiku sudah terlampau hancur. Air mata kembali tumpah dengan derasnya dari mataku. Kepalaku serasa berputar. Air hujan pun mulai turun dari langit dan semakin lama semakin deras. Yang dapat kulakukan hanya berlari sekuat mungkin. Aku pun tak tahu aku berlari kemana. Hujan yang mengguyur tubuhku tak terasa. Aku hanya merasakan hati yang yang terlampau hancur. Dadaku terasa amat sesak hingga akhirnya aku jatuh terjerembap di akar pepohonan. Sony segera datang membopongku. Tetapi untuk berdiri saja aku tak mampu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Air mataku tak berhenti mengalir. Aku pun jatuh ke dalam pelukan Sony. Hangatnya pelukan ini tak mampu meredam dinginnya lautan es hatiku. “Semuanya akan baik – baik aja Rean, tenanglah. Mulai saat ini aku akan menjagamu dan takkan kubiarkan orang lain menyakitimu lebih dari ini. Walaupun aku tahu hatimu masih terluka karena Jonny, tapi ketahuilah Rean, aku akan selalu berada di belakangmu mulai saat ini sampai kapanpun.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak saat itu aku selalu bersama Sony. Ia menepati janjinya dan selalu menjagaku. Aku sudah mulai bisa melupakan Jo dan tidak memperdulikannya lagi. Aku biarkan Jo menjadi bagian dari kenangan masa laluku dan membiarkan Sony menjadi masa depanku. Aku sadar bahwa masa lalu takkan pernah bisa terulang dan masa lalu itu dapat kugunakan untuk memperbaiki dan menata masa depanku hingga lebih baik dari sebelumnya. Dan akhirnya pacarku jadi sahabatku, sahabatku jadi musushku, musuhku jadi temanku, dan temanku menjadi pacarku. Siklus cinta yang memberi 1 langkah tuk mendewasakan diriku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku cewek yang hobby sama sastra, aku suka buat cerpen, puisi, drama, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-cinta-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Cinta&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-romantis-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Romantis&lt;/a&gt; yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/VMZvH9MwRTw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/VMZvH9MwRTw/cerpen-cinta-romantis-siklus-cintaku.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-StTnYP70Ol0/UZA_OTWiPwI/AAAAAAAAGOk/vGfSd72pyHk/s72-c/Cerpen+Cinta1.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/cerpen-cinta-romantis-siklus-cintaku.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-6698365788007734917</guid><pubDate>Mon, 13 May 2013 01:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T18:07:05.385-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen  Motivasi</category><title>Kerinduan Terdalam - Cerpen Motivasi</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;KERINDUAN TERDALAM&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh Arman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ini adalah kisah nyata dalam hidup ku, kisah seorang cowok yg mencintai cewek dengan tulus hingga akhirnya si cewek pergi dan meninggalkan kerinduan yg teramat dalam untuk si cowok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini berawal saat aku SMP, MTsN Raba KOBI adalah pilihanku. Saat itu sedang di adakan MOS saat itulah aku bertemu dengan Rahma, parasnya tidak begitu cantik tetapi dapat meluluhkan hatiQ. Ia tinggal di Penato’i, dia merupakan sepupu dari salah satu tmanku Udin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOS ( Masa Orientasi Siswa ) telah usai, kini aku resmi menjadi Murid di MTsN Raba, aku masuk kelas VII2 . Tak-ku sangka ternyata Rahma bersebelahan kelas dengan ku, ia masuk kelas VII1 saat itu aku senang sekali. Di kelas VII2, aku mempunyai seorang sahabat, namanya Ahmad kebetulan Ahmad suka sama Nurul ( Sahabatnya Rahma ) akhirnya Ahmad meminta bantuan ku untuk menjodohkannya dengan Nurul, beberapa minggu kemudian usaha-ku pun berhasil Ahmad dan Nurul sekarang berpacaran aku turut senang akan hal itu, sekarang aku menjadi temen curhatnya Nurul, setiap hari ia menceritakan isi hatinya padaku,tentang pacarnya, keluarganya, temen sekolahnya dll. Hingga suatu malam Nurul mengirim SMS kepada-ku saat ku baca aku kaget dan bahagia, ternyata Rahma juga menyimpan perasaan pada-ku, hati-ku berbunga-bunga membaca SMS tersebut, lalu Nurul bertanya pada&lt;br /&gt;Nurul : “ Arman mau gk Nurul comblangin ma Rahma .? ”&lt;br /&gt;Arman : “ gk mau eee. “&lt;br /&gt;Nurul : “ npa..?? “&lt;br /&gt;Arman : “ takut di marahin Mama ( dalam hati-ku berkata, bukanya gk mau tapi udah punya pacar sihh, jadi alasanya itu aja hahahah ) “&lt;br /&gt;Nurul : “ ohhh gtu, yawdah ntar Nurul Sampein ke Rahma”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mBE2hkO02jE/UZA8VggHJmI/AAAAAAAAGOY/gT1CiolttLw/s1600/Cerpen+Cinta2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="311" src="http://3.bp.blogspot.com/-mBE2hkO02jE/UZA8VggHJmI/AAAAAAAAGOY/gT1CiolttLw/s400/Cerpen+Cinta2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kerinduan Terdalam&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Percakapan kami pun berakhir pada malam itu.&lt;br /&gt;Saat itu hari Kamis, aku dan Ahmad sedang bermain kejar-kejaran. HP q pun jatuh, aku tidak merasakannya keluar dan terjatuh dari kantung celana ku. Tiba-tiba seseorang memanggilku dengan suara yg lembut, “Armann…” aku menoleh ke belakang, ternyata itu Rahma, saat itu aku jadi salting karena saat itulah pertama kalinya kami berpapasan dan berbicara. Tiba-tiba dia memberikan HP ku yg jatuh tadi, dengan sebuah senyum yang teruntai indah di wajahnya . kuambil HP tersebut dan berlalu tanpa berkata apa-apa sambil membalas senyumnya itu. Aku lalu berlari ke dalam kelas karena malu melihatnya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu mendekati akhir semester genap, aku mendengar kabar bahwa Rahma akan pindahke Lombok, hati ku bagai di sayat belati mendengar kabar tersebut. 1 minggu sebelum kepergian Rahma ke Lombok sepulang dari sekolah( saat itu sedang ulangan jadi cpet pulangnya), Rahma, Nurul, Dian dan Udin ( sepupunya Rahma ) datang ke rumah ku, hari itu adalah hari yang menyenagkan bagi ku, Rahma si cewek yg aku sukai sekarang ada di rumah-ku, (^_^) kami makan-makan dan bercanda, kemudian saat jam 12 lewat, mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Hingga akhirnnya hari itu datang, Rahma berangkat ke Lombok tak kusangka kemarin ia baru saja ke rumahku, sekarang ia harus pergi meninggalkan ku, (T_T). tak banyak kenangan yg tercipta sebelum ia meninggalkan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian setelah kepergian Rahma. tepatnya saat awal semester ganjil, saat itu aku saha naik kelas dan masuk di kelas VIII2. hubungan cinta Ahmad dan Nurul akhirnya berakhir. Beberapa minggu kemudian aku mengetahui bahwa Nurul menyimpan perasaanya pada ku, tanpa basa-basi aku mengatakanj aku mencintainya. Kami merajut cinta yang tidak pernah ku duga sebelumnya, dari teman curhat menjadi pasangan kekasih. Berbulan-bulan kemudian, tak ada kabar dari Rahma hingga suatu sore aku bertanya kepada Nurul lewat SMS.&lt;br /&gt;Arman : “ Nurul, ada kabar dari rahma gk.? “&lt;br /&gt;Nurul : “ ada, ni Nurul lgi SMSan ma Rahma, dia baru aja SMS “&lt;br /&gt;Arman : “ kirimin donk number Hpnya “&lt;br /&gt;Nurul :” ni numbernya 085 *** *** ***”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam hati ku berkata, kayaknya Nurul cemburu deh . &amp;lt; ( sambil ketawa, hahahah )&lt;br /&gt;Arman :” makasih ya.. “&lt;br /&gt;Nurul : “ hmmm.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;percakapan kami pun usai, aku lalu mengirim SMS ke numbernya Rahma.&lt;br /&gt;Arman : “ ne Rahma ya,??”&lt;br /&gt;Rahma :” ia, spa ni.? “&lt;br /&gt;Arman :” Arman nii,”&lt;br /&gt;Rahma :” ohh,, gmna kabar Man.?”&lt;br /&gt;Arman :” baik2 ja, kmu.?”&lt;br /&gt;Rahma :” ohh, sya juga baikk ni.” DLL, ( Capek nulis semuanya heehhehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak teraasa kami sudah SMSan sampai jam 10 malam, SMS dari Rahma tersebut sedikit mengobati kerinduan ku kepadanya.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah malam dimana kami melepas kerinduan dengan SMSan, Rahma kembali hilang dan tak ada kabar darinya, nomer HPnya yg dulu telah ia ganti. Aku kembali merasakan kepedihan akan kerinduan terhadapnya. Hingga saat ini aku masih merinduka kehadirannya, aku sangat sangat merindukan dirinya, kini aku telah belajar dari kisah ku tersebut.&lt;br /&gt;“Aku tidak boleh menyia”kan orang yg mencintaiQ,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam aku berdo’a kepada Allah, “ Ya Allah, jika memang dia jodohku maka perkenankan lah aku bertemu dengannya( Rahma ) dan satukanlah kami, dan jika memang bukan jodohku maka perkenankan-lah aku melihatnya lagi dan perkenankan aku untuk mengatakan 2 hal kepadanya bahwa aku mencintainya dan aku sangat sangat merindukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_The End_&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arman Half Blooders&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan kisah ini temen” bisa belajar n jgn pernah menyia-nyiakan orang yg benar benar mencintai kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(^_^)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nama : Arman&lt;br /&gt;Umur : 16 Tahun&lt;br /&gt;Status : Pelajar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-motivasi-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Motivasi&lt;/a&gt; yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/6ja8s0b5JFY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/6ja8s0b5JFY/kerinduan-terdalam-cerpen-motivasi.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-mBE2hkO02jE/UZA8VggHJmI/AAAAAAAAGOY/gT1CiolttLw/s72-c/Cerpen+Cinta2.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/kerinduan-terdalam-cerpen-motivasi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-3170848150120606166</guid><pubDate>Mon, 13 May 2013 01:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T18:00:13.910-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Sedih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Persahabatan</category><title>Cerpen Persahabatan Sedih - Cintaku Terbagi</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;CINTA TERBAGI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Lilly Paut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cinta terbagi&lt;br /&gt;Antara aku dan dia&lt;br /&gt;Yang ternyata sahabat ku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama ku Ririn usia ku 16 tahun, aku memiliki seorang sahabat bernama Dea yang sudah ku anggap sebagai saudara ku sendiri karena kebetulan aku juga tidak memiliki saudara. Kita sudah berteman sejak jaman SD dulu. Kemana-mana selalu bersama, apa yang kita lakukan juga selalu berbarengan, namun sayang dalam urusan cinta tidak selalu sama kriteria cowok kamipun berbeda-beda. Dan itulah kami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Ku dengar teriakan dea dari arah belakang untuk menunggunya. Aku pun menoleh kebelakang dan menunggunya yang baru saja keluar dari mobil ayahnya. Setelah itu kami pun segera masuk ke dalam ruangan kelas dan mengikuti pelajaran hingga usai di jam 13.30.&lt;br /&gt;Saat pulang seperti biasa aku mengantar dea dengan mobilku. Lalu aku say goodbye dan melaju keluar dari halaman rumah dea. Kami bagaikan anak kembar yang tak bisa terpisahkan.&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Lco9eLYOPf8/UZA6sVvIaJI/AAAAAAAAGOM/SJqv35AwF9U/s1600/Cerpen+Penyesalan+copy.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="218" src="http://3.bp.blogspot.com/-Lco9eLYOPf8/UZA6sVvIaJI/AAAAAAAAGOM/SJqv35AwF9U/s400/Cerpen+Penyesalan+copy.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Cintaku Terbagi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Waktu bergulir begitu cepat tak ku sadari sekarang aku telah berusia 17 tahun dan aku ingin di usia 17 tahun ini aku bisa mendapat seorang kekasih seperti teman-teman ku yang lain. Namun di usia ini juga aku merasakan hal yang berbeda yaitu minggu lalu dea dan keluarganya memutuskan untuk pindah keluar kota karena alasan pekerjaan. Sedih!! Memang sedih karena sahabat yang aku sayangi akan pergi meninggalkan ku dan tak tahu pasti kapan aku bisa bertemu dengannya lagi. Sebelum jalan dea mengatakan padaku bahwa ‘sekarang kita sudah berusia 17 tahun dan aku ingin kita bisa punya cowok yang seperti kita harapkan dan suatu saat nanti kita bisa bertemu dan menggandeng pasangan kita masina-masing’. Kalimat itu masih terukir jelas diingatanku. Sekarang semua hal yang aku lakukan terasa begitu hampa tanpa dea disini, namun aku berusaha untuk bangkit kembali.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Krriinggg.. krriinggg.. bel tanda pelajaran akan dimulai membangunkanku dari lamunan ku tentang dea. Ku lihat dari jauh wali kelas ku datang dengan ditemani seorang cowok yang tampan dan ku taksir dia adalah murid baru. Dan ternyata taksiranku benar namanya Rian dan dia adalah murid baru pindahan dari luar kota. Informasinya sih katanya dia itu anak yang baik, pintar, kaya dan juga mudah bergaul. Rian duduk berseblahan dengan ku, dia menempati kursi kosong yang dulu ditempati sama dea.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Singkat cerita sekarang aku dan rian semakin akrab dan kadang teman-teman yang lain mengira kalau kami berpacaran, sebenarnya sih aku ingin itu menjadi kenyataan namun rian itu terlalu populer di sekolah sehingga ku pikir pasti dia udah punya pacar yang jelas lebih baik dan lebih cantik dariku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari hubungan ku dan rian semakin dekat kalau boleh dibilang kami layaknya sudah seperti sepasang kekasih. Andaikan sebuah kata cinta terlontar dari mulut rian, tanpa berlama-lama aku pasti langsung menerima cintanya, jangankan kata cinta tanda-tanda menyatakan cinta saja tak pernah terlihat dari gerak gerik rian mungkin dia hanya menganggap ku seorang teman dan tak lebih dari itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Setiap hari rian Selalu mengantar ku pulang, (kebetulan sekarang ayah ku tak mengijinkan aku membawa kendaraan sendiri karena dulu aku hampir saja kecelakaan) mengajak ku jalan-jalan kadang juga dia mengajakku kerumahnya dan mengenalkanku pada orang tuanya. kadang aku bertanya pada hatiku sendiri ‘rian kamu sayang yah sama aku, sampai-sampai kamu ngenalin aku ke orang tua kamu?’ pertanyaan bodoh.&lt;br /&gt;Namun pertanyaan itu akhirnya terkabul juga. Kemarin sore saat rian mengantar ku pulang ke rumah dia berhenti di sebuah taman bunga dan menyatakan perasaannya padaku, aku pun menjawab ya dan akhirnya kami pacaran dan sekarang aku telah memiliki seorang kekasih yang selama ini aku harapkan.&lt;br /&gt;Terasa indah bisa memiliki rian dan terasa nyaman saat bersamanya. Buatku rian lah yang terbaik sebab dia mampu menghapus kesedihanku karena kehilangan dea.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua tahun lebih aku menjalin hubungan dengan rian ternyata cinta pertamaku saat SMA bisa berlanjut hingga sekarang. Aku dan rian kuliah di universitas yang sama di daerahku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Saat pulang kerumah mama memberitahu bahwa dea besok akan kembali kesini aku tidak sabar untuk bisa bertemu dengan dea. Aku langsung menelpon rian agar besok ikut bersamaku, rian pun mengiyakannya.&lt;br /&gt;Keesokan harinya kami sekeluarga beserta rian pergi menjemput dea dan keluarganya di bandara, setelah sampai disana kami harus menunggu dan tak lama kemudian dea pun muncul aku langsung memeluknya dan menangis. Lalu kami mengantarkan dea ke rumanhya. Di tengah perjalanan aku mengusulkan dea agar kuliah di universitas yang sama denganku dan dea pun menyetujuinyanya.&lt;br /&gt;Hari ini saatnya aku dan dea bisa bersama kembali. Dijemput oleh rian kami akhirnya menuju kekampus.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatanku dengan dea terjalin seperti dulu lagi makin akrab namun tidak dengan cintaku, aku merasa rian semakin jauh dan hubungan kami pun makin renggang. Saat aku ingin membahas ini dengannya dia selalu beralasan sedang sibuk. Hingga suatu hari temanku memberitahu bahwa dia melihat rian sedang bersama dengan dea. Namun aku mencoba menepis kalimat itu dan akhirnya aku melihat sendiri bahwa rian sedang bergandengan tangan dengan seorang yang tak lain adalah dea. Hati ku sangat sakit melihat itu. Lalu aku meminta kejelasan dari rian tentang perihal ini. Aku mohon agar rian jujur dengan ku. Rian pun memohon maaf padaku kerena dia telah menghianatiku dan berpacaran dengan dea sahabat terbaikku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Aku tidak mungkin memusuhi dea hanya karena rian berselingkuh dengannya. Dea tak henti-hentinya meminta maaf padaku walau kata maaf telah ku berikan padanya namun jujur relung hatiku belum siap untuk memberikan maaf pada dea dan rian yang telah membagi cinta ku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan sudah aku menjalani hidup yang ku rasa tiada artinya. Tiada senyum, tiada tawa yang ada hanya air mata dan kepedihan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Hari ini hujan turun dengan derasnya seperti banyaknya air mata yang telah ku pendam dalam hatiku. Saat aku akan pulang rian menarik tangan ku dan memohon maaf pada ku, aku tak tahu ini permintaan maaf yang keberapa kalinya. Rian meminta maaf karena telah membagi cintanya dengan dea. Aku memjawabnya dengan santai ‘sekarang aku ingin kamu tahu bahwa bahagiamu adalah bahagiaku dan bahagia dea juga adalah bahagia ku’ aku ingin rian dan dea bisa bersama selamanya dan aku tidak ingin dea merasakan hal yang aku rasakan saat ini. Cairan bening dari mataku turun tanpa tertahankan aku segera melangkahkan kaki ku keluar tanpa ku pedulikan hujan yang deras dan air yang dingin. Aku mendengar rian dan dea memanggilku namun aku tidak mempedulikan mereka. Aku berjalan dengan muka tertunduk dan tak bergairah hidup..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Walau sekarang aku dan rian telah berpisah 6 bulan lamanya namun rasa sakit hati ini tak kunjung terobati meskipun sekarang hatiku sudah di miliki orang lain..&lt;br /&gt;Terasa indah saat bersamamu&lt;br /&gt;Terasa damai saat di sampingmu&lt;br /&gt;Namun kini yang terjadi&lt;br /&gt;Kau membagi cinta dengan sahabat ku..&lt;br /&gt;Kurelakan kau bersamanya&lt;br /&gt;Asalkan engkau bahagia&lt;br /&gt;Biarlah derita ini&lt;br /&gt;Kini ku tanggung sendiri.. :’(&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama : Lilly Paut&lt;br /&gt;Add fb : Lillt ElfSiwonest&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-persahabatan-terbaru.html" target="_blank"&gt;Cerpen Persahabatan&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-sedih-terbaru-update.html" target="_blank"&gt;Cerpen Sedih&lt;/a&gt; yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/PPTVBGiSbek" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/PPTVBGiSbek/cerpen-persahabatan-sedih-cintaku.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-Lco9eLYOPf8/UZA6sVvIaJI/AAAAAAAAGOM/SJqv35AwF9U/s72-c/Cerpen+Penyesalan+copy.JPG" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/cerpen-persahabatan-sedih-cintaku.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7529203369447603545.post-3543253591666629717</guid><pubDate>Mon, 13 May 2013 00:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T17:55:22.299-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen Pendidikan</category><title>Dara yang Hilang - Cerpen Pendidikan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;DARA YANG HILANG&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Dede Idar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Ya itulah yang sedang aku jalani, menuntut ilmu sebagai mahasiswi di kota pendidikan ini, makin lama makin membosankan, entahlah dari sudut mana aku harus menjelaskan bahwa ini begitu membosankan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Mungkin teman – temanku kah? Yang berpautan umur begitu jauh denganku, aku mahasiswi yang berumur 20 tahun, sedangkan teman sekelasku rata – rata sudah berkeluarga dan mempunyai anak, ya aku memasuki kelas karyawan, kebanyakan teman – temanku sudah bekerja sedangkan aku anak baru kemaren yang tidak memiliki pengalaman banyak seperti teman – temanku, memang gak semuanya sudah berkeluarga, contohnya Lara, gadis tercantik dikelasku, dia memiliki postur tubuh yang menarik, berkulit putih merona dengan mata yang sipit, dia terlihat seperti keturunan orang korea, tapi yang membuatku tertawa pas pertama kali berkenalan ternyata dia orang jawa yang berbicara dengan gaya bahasanya yang medok hehe... sungguh tidak disangka kalau dia itu jawa medok jika di lihat dari penampilan fisiknya, tapi itulah ciri khas dari temanku yang satu ini tidak hanya penampilannya yang bisa dibilang perpect tetapi dia juga orangnya ramah dan pandai bersosialisai walau pembicaraannya terkesan tidak terkontrol, asal ceplas ceplos, tapi gak ada dia gak rame itulah kesan yang dia berikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-NGP6B9nEztM/UZA53VZGORI/AAAAAAAAGOA/MKQqy7eAFMg/s1600/Cerpen+Menunggu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://4.bp.blogspot.com/-NGP6B9nEztM/UZA53VZGORI/AAAAAAAAGOA/MKQqy7eAFMg/s400/Cerpen+Menunggu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dara yang Hilang&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kadang aku merasa iri, aku hanyalah sosok gadis lugu pendiam lagi,,, kadang aku berpikir, tuhan menciptakan Lara dengan sosok yang begitu sempurna, sedangkan aku? Tapi sejenak aku sadar gak seharusnya aku berpikiran seperti itu, kalau Lara gak seperti sekarang ini mungkin aku tidak akan berteman baik dengannya dan dapat tumpangan gratis untuk berangkat ke kampus hehe.&lt;br /&gt;Pernah suatu hari dia menyuruh temannya untuk mengantarku pulang (mungkin dia merasa bertanggung jawab, karena dia yang ngajak aku berangkat bareng tadi pagi, padahal kan naik bus juga aku bisa, he) tapi itulah carenya dia. Katanya dia ada janji dengan gebetannya. Sebelum kita pulang aku dan Maya nemenin Lara dulu sampai dijemput sama gebetannya, sekalian pengen tau juga tampangnya seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Lara, dan Maya sama – sama satu kelas hanya saja Maya lebih dekat dengan Lara, dari pada sama aku, kita hanya bertemu dan akrab selama di kampus aja, beberapa saat kemudian gebetan Lara datang dengan mobil merah terangnya, sempat juga aku melihat wajah gebetannya, agak botak juga kayak om om tapi gak tua tua banget sich kira – kira 30 tahunan lah, terbesit pikiran negatif dalam benakku, tapi segera aku tepis dan menanyakan kebenarannya pada maya.&lt;br /&gt;“ May itu cowoknya Lara yach?”&lt;br /&gt;“ bukan, itu mainan dia, cowok Lara di jakarta”&lt;br /&gt;“owh...” aku hanya bengong pengen sich nanya – nanya lebih jauh tapi...&lt;br /&gt;“ udah kamu jangan berpikir terlalu jauh Dis, gak seperti yang kamu bayangkan kok”&lt;br /&gt;Aku hanya ngangguk – ngangguk aja , ternyata dia tahu juga apa yang ada dalam pikiranku.&lt;br /&gt;Kami pun melaju setelah kepergian Lara bersama gebetannya dengan mobil merah terang yang membawa mereka berdua, Maya mengantarkanku tepat depan pintu rumah, tapi dia tidak mau dia ajak masuk untuk mampir sebentar, katanya sich sudah sore dia pengen cepat – cepat merebahkan tubuhnya dan tidur terlelap, akupun melepas kepergian dia.&lt;br /&gt;Sampai larut malam aku gak berhenti – berhenti mikirin Lara tadi siang, banyak pertanyaan dalam benakku, kenapa Lara mau selingkuh? Kenapa Maya bilang bahwa om om itu mainannya Lara? bener gak sich? Kenapa Lara mau? Cewek seperti apakah Lara itu sebenarnya? Apakah dia tidak khawatir dengan dirinya? Semoga dia baik – baik aja, itu doa dalam hatiku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah libur UTS Lara gak pernah masuk lagi, ini hari yang ke dua minggu, pas aku hubungi dia, dia pasti bilang sibuk dengan pekerjaannya.&lt;br /&gt;Pulang kuliah aku bareng sama teh Ida, ya dia teman sekelasku, dia menikah muda dan memiliki satu anak, umurnyapun tidak berpaut terlalu jauh denganku, lima tahun lebih tua dariku.&lt;br /&gt;“ Dis kamu harus hati – hati ya, jaga diri kamu baik – baik, sebagai seorang wanita memang banyak godaannya, kadang wanita akan mendapatkan saat – saat dimana dia begitu di puja dan saat dimana dia direndahkan, harga diri adalah yang utama”&lt;br /&gt;Tumben teh Ida berbicara seperti ini, dalam pikirku, biasanya dia kan suka jail dan bikin aku ketawa terus, aku ngerti maksud teh Ida ke arah mana.&lt;br /&gt;“ iya teh, kenapa emang, tumben teteh seserius ini, gak ketampangan tau, hehe...”&lt;br /&gt;“ engga teteh hanya ngasih saran aja, kamu jangan anggap sepele loh...ini serius, buat masa depan kamu juga”&lt;br /&gt;“ iya teh aku juga ngerti lagian aku juga gak mau layu sebelum berkembang, harga diri itu mahal gak bisa di bayar dengan uang sebanyak apapun”&lt;br /&gt;“ ya betul itu Dis”&lt;br /&gt;Kitapun terus berbincang – bincang mengenai pergaulan anak muda zaman sekarang, akupun dapat begitu banyak masukkan sampai tentang kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya, kitapun terus berbincang – bincang sampai akhirnya harus berpisah diterminal.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknnya aku dapat kabar kalau Lara mau melangsungkan pernikahan, aku kaget dan itu terkesan buru – buru, semua teman sekelasku memperbincangkan tentang hal ini, mulai dari perkataan kenapa? Dengan siapa? Kapan? Sampai pada rencana menghadiri pernikahan Lara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Aku sedih, kecewa dan ikut terluka sebagai seorang teman, bagaimana tidak suatu pernikahan adalah suatu kebahagiaan yang menyatukan dua insan dengan janji suci dan akan sah untuk hidup bersama selamanya dan dikatakan sebagai suami istri. Tapi berbeda dengan Lara, pernikahanya menyesakkan dada dan pernikahannya tidak bisa dikatakan sah jika dipandang dari syari’at agama, karena dia telah berbadan dua....&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PROFIL PENULIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama : Dede Idar &lt;br /&gt;Status : Mahasiswa FKIP Biologi Universitas Galuh&lt;br /&gt;FB : Dede Idar (Debea)&lt;br /&gt;email : shelighter@gmail.com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca juga &lt;a href="http://goo.gl/nymRT" target="_blank"&gt;Cerpen Pendidikan&lt;/a&gt; yang lainnya, &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LokerSeni/~4/SAdgPEyAAAE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/LokerSeni/~3/SAdgPEyAAAE/dara-yang-hilang-cerpen-pendidikan.html</link><author>agus.lizam@gmail.com (Loker Seni)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-NGP6B9nEztM/UZA53VZGORI/AAAAAAAAGOA/MKQqy7eAFMg/s72-c/Cerpen+Menunggu.jpg" height="72" width="72" /><gd:extendedProperty name="commentSource" value="1" /><gd:extendedProperty name="commentModerationMode" value="FILTERED_POSTMOD" /><feedburner:origLink>http://www.lokerseni.web.id/2013/05/dara-yang-hilang-cerpen-pendidikan.html</feedburner:origLink></item><language>en-us</language><copyright>Loker Seni 2011 - 2012</copyright><media:credit role="author">Loker Seni</media:credit><media:rating>nonadult</media:rating><media:description type="plain">Loker Seni</media:description></channel></rss>
