<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296</id><updated>2026-07-24T12:58:31.046+07:00</updated><title type='text'>Luluk Widyawan&#39;s Page</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>72</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-8829917124131888285</id><published>2015-07-09T19:59:00.001+07:00</published><updated>2015-07-09T20:06:36.615+07:00</updated><title type='text'>Karya Sosial Untuk Kaum Miskin</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ada
beragam bentuk karya sosial yang dilakukan Gereja, antara lain: pemberian paket
sembako gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan saat tanggap darurat
bencana, bantuan dana pendidikan, bantuan perbaikan rumah, pelayanan kepada
orang jompo serta kunjungan ke lembaga pemasyarakatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Jika menilik dari subyek sasaran karya sosial ialah mereka yang kecil, lemah, miskin secara sosial atau material. Beberapa lembaga memiliki kriteria tertentu untuk mengkategorikan mereka. Mereka yang sungguh tak berdaya, cocok untuk mendapatkan bantuan sosial. Namun ada pula dari antara mereka yang termasuk kategori tersebut, tetapi masih mau dan mampu untuk&amp;nbsp;memberdayakan diri, jika mendapat bantuan modal sebagai stimulus, pelatihan, pendampingan, penguatan jejaring, studi banding (&lt;em&gt;benchmarking&lt;/em&gt;)&amp;nbsp;dan aneka dukungan lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Jika menilik dari model karya sosial, ada model
karitatif. Model ini&amp;nbsp;merupakan&amp;nbsp;karya sosial yang&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;menempatkan umat&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;atau masyarakat
sekitar Gereja sebagai penerima bantuan. Dalam model ini umat atau masyarakat
penerima program tidak sepenuhnya dilibatkan dalam proses kegiatan karya
sosial.&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Bentuk-bentuk karya sosial yang
dominan masih bersifat karitatif (bantuan cuma-cuma) diberikan kepada umat atau
masyarakat yang membutuhkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ada
pula model pemberdayaan ialah model karya sosial yang menempatkan warga
masyarakat sekitar Gereja bukan hanya sebagai obyek / penerima bantuan semata,
tetapi sebagai subyek yang ikut terlibat, mau dan mampu memberdayakan diri, dalam
program sosial yang dilaksanakan. Beberapa contoh kegiatan tersebut ialah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Warung Sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Bentuk
kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan sosial, berupa memberikan makan sehat
dan membagikan sembako. Kegiatan itu didukung oleh sukarelawan secara bergilir
per kelompok, mengikuti kelompok lingkungan. Masing-masing kelompok mendapat
dana untuk membeli nasi, lauk pauk dan sembako. Setelah sekian lama, semangat
awal untuk menyediakan bantuan karitatif dirasa kurang cocok. Ternyata, para
penerima manfaat hanya bisa tergantung. Sementara mereka yang menjadi relawan
berkurang dan dana yang dikeluarkan pun terbatas. Dalam kesempatan rekoleksi,
ada usulan agar bantuan sosial tidak lagi sekedar memberi. Maka, diputuskan
bahwa makan sehat dijual seharga Rp. 5.000,- dan sembako dijual Rp. 10.000,-.
Uang hasil penjualan dikelola kembali oleh panitia sosial untuk membeli bahan
baku. Namun separuh dari uang pembelian itu ditabung, sehingga mereka yang
membeli makan dan sembako bisa memiliki tabungan. Hal ini dikomunikasikan
kepada siapapun yang membeli di warung sosial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setelah
berjalan beberapa lama, para penarik becak, tukang parkir, pemilik kios
majalah, penjual koran, tukang tambal ban, penyapu jalan, pedagang asongan,
penjual jamu, penjual sayur, pemilik warung kecil dan warga pra sejahtera yang
selama ini membeli makan sehat dan sembako murah, memiliki tabungan. Pada
periode tahun 2012-2013, ada sebanyak 150 konsumen aktif (membeli makan,
sembako dan menabung), sebanyak 16 orang tidak aktif dan 5 orang telah
meninggal dunia. Mereka tak mengira bisa menyisihkan sebagian uang sebagai
tabungan. Jika ada keperluan tertentu dan mendadak, mereka bisa menghubungi
Panitia sosial. Berdasarkan data selama 1 tahun, telah tercatat 7.062 kali
transaksi keuangan, dengan rincian 6.214 kali menabung dan 848 kali mengambil tabungan.
Total jumlah tabungan yang tersimpan sejumlah Rp. 270.854.000,-, sedangkan
jumlah pengambilan sejumlah Rp. 178.541.000,-.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Beberapa
data penabung periode 2012-2013 yang memiliki jumlah tabungan 5 besar
terbanyak, dari berbagai kalangan: seorang penarik becak memiliki tabungan
mencapai Rp. 17.913.000,-, seorang ibu rumah tangga memiliki tabungan Rp.
10.709.000,-. Berikutnya memiliki tabungan Rp. 7.022.000,-, memiliki tabungan
Rp. 6.027.000,- dan seorang bapak memiliki tabungan Rp. 5.153.000,-. Biasanya
menjelang Lebaran, 5 penabung terbanyak menerima bingkisan sebagai apresiasi
karena ketekunan menabung. Hadiah itu juga dimaksud agar mereka semua memiliki
semangat menabung sebagai kebiasaan yang baik daripada kebiasaan konsumtif. Di
antara mereka menarik dana menjelang Lebaran. Ada yang mengambil seluruh
tabungannya, ada pula yang menarik sebagian. Ada yang memakai dana untuk
keperluan produktif, namun disarankan tidak untuk keperluan konsumtif. Meskipun
setelah lebaran, mereka pasti menabung lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pengalaman
di warung sosial memberi bukti, jika mereka yang dianggap wong cilik
dimotivasi, difasilitasi dan didampingi, bisa tekun menabung. Dengan demikian,
karya sosial yang dilakukan ialah karya sosial yang memberdayakan
(transformatif), bukan karitatif. Karya sosial pemberdayaan, tidak menempatkan
mereka sebagai penerima bantuan saja. Tetapi mengajak mereka menjadi subyek
yang terlibat menabung. Karya sosial transformatif, benar-benar mengandalkan
modal swadaya yang dihimpun bersama, bukan modal dari donatur, hibah yang
mengikat, yang justru tidak memberdayakan atau bahkan pinjaman dengan riba yang
mencekik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pinjaman Modal Usaha
Kecil (Mikro)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Program
ini bertujuan mengembangkan kesadaran dan partisipasi umat untuk memberdayakan kegiatan
usaha kecil. Subyek sasaran kegiatan ini umat atau masyarakat yang bermodal
kecil, penggarap atau buruh tani serta mereka yang masuk dalam kategori miskin
yang perlu diberdayakan. Kegiatan ini bersifat inisiatif dari bawah. Setelah
menerima sosialisasi, umat atau masyarakat yang berkeinginan menggunakan
fasilitas pinjaman kredit mikro maupun umat yang direkomendasi oleh perangkat
pastoral, mengajukan proposal. Setelah semua syarat terpenuhi, mereka yang
mengajukan permohonan mendapatkan pinjaman dana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dana
yang sudah disetujui akan dikirimkan melalui perangkat pastoral selanjutnya
disampaikan ke pengusul disertai perjanjian pinjaman. Disebut pinjaman, karena
memang dana yang disalurkan bukan hibah atau diberikan cuma-cuma (karitatif)
sebagaimana bantuan dari pemerintah, tetapi dana pinjaman yang harus
dikembalikan, dengan syarat yang sangat lunak. Penyaluran dana dengan pola
hibah, tanpa pelatihan, pendampingan dan pengembangan usaha, sesuai pengalaman,
terbukti tidak efektif bagi penerima karena dana yang disalurkan kemungkinan
besar akan terpakai untuk kegiatan lain dan tidak tepat sasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sebagai
bentuk kebersamaan, mereka yang menerima pinjaman bergabung dalam kelompok dan
mengikuti pendampingan secara rutin dalam mekanisme monitoring dan evaluasi. Di
dalam kelompok mereka yang menerima pinjaman bersatu menyepakati beberapa hal
yang baik bagi kebersamaan. Misalnya kesepakatan mengenai penentuan jadwal
pengembalian pinjaman. Untuk jenis usaha warung atau toko kecil, dengan
perputaran dana kurang dari 1 bulan, angsuran dilakukan setiap bulan mulai
bulan kedua sebanyak 10 kali angsuran. Untuk jenis usaha ternak, dengan
perputaran dana 1-4 bulan, angsuran dilakukan dilakukan dua kali pada bulan
kelima dan kesepuluh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dari
pengalaman yang terjadi, kebersamaan dalam kelompok memotivasi para penerima
untuk bertanggung jawab atas pinjaman yang disalurkan Penerima pinjaman melaporkan
kemajuan, kesulitan serta kegagalan usaha dalam &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;sharing&lt;/i&gt;. Selain itu ada kegiatan saling mengadakan kunjungan antar penerima
pinjaman. Kunjungan seperti ini menjadi bentuk penemanan kepada mereka yang
mengalami masalah, baik masalah usaha dan atau masalah lain. Kunjungan lebih
bersifat penggembalaan, bukan menagih atau menghakimi mereka yang mengalami
masalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Credit Union / Koperasi
Kredit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Credit
Union (CU) yang dibentuk di salah satu Paroki, sejak tahun 2001, digagas oleh
35 orang. Mereka ialah para Ketua Lingkungan, Ketua Stasi yang didukung oleh
Dewan Pastoral Paroki dan Pastor Paroki. Sebelum memulai, mereka terlebih dulu
belajar ke CU lain yang pengelolaannya sudah baik. Mereka mengumpulkan modal
awal sebesar Rp. 1.750.000,-. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setelah
sekian lama, anggota CU berkembang menjadi 755 orang dengan penerimaan anggota
yang diawali dengan pendidikan anggota mengenai apa itu CU. Pada tahun 2010, CU
memiliki aset Rp. 1,7 M. Pada akhir tahun 2012 aset mencapai Rp. 3,3 M.
Meskipun demikian, sebanyak 70 % anggota justru dari kalangan umum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;CU
ini telah melewati beragam dinamika, ada anggota yang mengalami kredit macet,
ada kalangan umat yang mengira CU sebagai tempat untuk meminjam uang dan
pengalaman lainnya. Meskipun demikian, CU tak henti melakukan pendidikan
anggota, promosi kepada umat dan membangun kepercayaan. Sejak tahun 2003, CU
mendapatkan Badan Hukum, menerapkan Pola kebijakan dan memberikan SHU kepada
anggota. Para pengurus tetap berupaya agar CU dibangun dalam kebersaman dan
bermanfaat bagi kesejahteraan anggota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Salah
seorang pemilik warung makan yang menjadi anggota sejak 21 April 2003, mengaku
merasakan manfaat menjadi anggota CU. Karena pendidikan atau tepatnya
penjelasan tentang menjadi anggota CU, ia merencanakan hidup keluarga, mulai
melaksanakan kebiasaan menabung. Yang menarik, jika ia menabung di CU berapapun
jumlahnya tidak ditolak. Menurutnya, menabung tidak dikenai pungutan, tidak ada
biaya administrasi dan pengambilannya sangat mudah, karena tidak perlu antri
berlama-lama. Dari usahanya di salah satu kompleks perumahan, ia mendapat
pinjaman modal sebesar&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Rp 3.000.000,-. Sebelum
menjadi anggota CU, beliau mengaku susah menyisihkan uang untuk menabung.
Tetapi dengan menjadi anggota CU ia sadar untuk menabung&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sedikit demi sedikit dan rasanya enak. Sampai
suatu kali ketika beliau hendak merenovasi rumah dari hasil tabungan CU ia
mengambil dana Rp. 20.000.000. Selama menjadi anggota CU, selain tekun
menabung, ia telah 3 kali merasakan mendapat pinjaman dari CU. Bahkan pinjaman
terakhirnya sebesar Rp. 10.000.000. Ia memegang prinsip menabung teratur,
meminjam terukur dan mengangsur jangan pernah ditegur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Organisasi Masyarakat di
Kawasan Rawan Bencana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Momen
bencana, menjadi pintu masuk kepedulian dari berbagai pihak. Beberapa hari
setelah kejadian bencana, bantuan dari pihak lain berupa bantuan karitatif
seperti makanan, minuman serta tempat berlindung yang sifatnya tanggap darurat
dan karitatif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pengalaman
itu terjadi dalam bencana longsor di salah satu Dusun di Ponorogo Selatan.
Setelah hujan deras selama beberapa hari, tanpa diduga, sore itu tanah dan
rumah yang sekian lama ditempati warga mendadak bergerak. Sekejap atap rumah
berjatuhan, dinding rumah dari kayu patah, pondasi yang menopang rumah amblas
di bagian belakang dan perabot rumah tangga berjatuhan. Saat itu seorang ibu,
segera menyelamatkan diri ke rumah tetangga untuk sementara. Di sekitar
rumahnya, jalan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;makadam&lt;/i&gt; (berbatu)
yang menghubungkan rumah ke lokasi aman di bawah, telah bergeser 2-5 meter.
Jalan tak bisa dilewati. Hujan memperburuk jalan menjadi sangat becek dan liat.
Tidak hanya itu, berbagai tanaman di sekitar jalan, seperti pohon kelapa, bambu
dan berbagai jenis tanaman, turut bergeser seiring pergerakan tanah ke arah
bawah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam
program pendampingan pasca bantuan tanggap darurat, selama 1 tahun, warga tidak
lagi menerima bantuan karitatif. Warga mendapatkan pendampingan dari Karina (Caritas).
Karina yang dalam kegiatan melibatkan perangkat pastoral paroki didukung
jejaring Caritas, memfasilitasi warga membentuk komunitas siaga bencana bernama
Karya Mandiri. Pemimpin kelompok itu salah seorang sesepuh warga. Mereka mengikuti
serangkaian pendampingan seperti, pelatihan pertolongan pertama gawat darurat,
kajian tanggap darurat, penggunaan peralatan tanggap darurat, peringatan dini,
pengaturan logistik dan lokasi pengungsian. Juga pengenalan mitigasi bencana,
seperti peta rawan bencana, pemahaman jalur evakuasi serta sistem peringatan
dini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Selain
itu ada upaya inisiasi kewirausahaan dan keuangan mikro sebagai penyiapan dana
cadangan bencana. Hal ini beralasan, karena ketika bencana menghancurkan rumah,
perabot rumah tangga, bahkan sawah dan ladang, mereka tidak memiliki dana
cadangan. Dengan inisiasi kewirausahaan dan keuangan mikro, melalui penjelasan,
animasi dan motivasi, mereka sepakat untuk menyisihkan dana dari hasil kegiatan
produktif untuk dana cadangan bencana. Berbagai penguatan kapasitas dan
perbaikan sarana, diharapkan memantapkan komunitas agar memiliki ketahanan
hidup di lokasi rawan bencana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Akhir Kata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Aneka
bentuk karya sosial untuk kaum miskin selaras dengan ajaran kasih Yesus,
mengutamakan kaum miksin. Paus Benediktus XVI dalam &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Ensiklik Deus Caritas Est&lt;/i&gt; art. 25 menegaskan bahwa pelayanan kasih
untuk mereka yang miskin adalah bagian penting dalam Gereja, sebagaimana
pelayanan Sakramen dan pewartaan Injil. Penderitaan kaum miskin hanya dapat
ditanggapi dengan solidaritas kepada kaum miskin, dengan cara memberi bantuan,
yang memungkinkan mereka mengalami kesejahteraan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam
&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Surat Apostolik tentang Pelayanan Kasih&lt;/i&gt;
art. 31, Paus Benediktus XVI kembali mengingatkan dalam melaksanakan kegiatan
amal, kelompok sosial tidak membatasi diri hanya untuk mengumpulkan dan
mendistribusikan dana, tetapi harus menunjukkan perhatian khusus kepada
individu yang membutuhkan dan melakukan fungsi animasi / pembinaan bagi
komunitas Kristiani, menyadarkan orang untuk menghargai pentingnya berbagi,
menghormati dan mengasihi selaras dalam semangat Injil Kristus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Untuk
itu perlu diupayakan dan didukung model pemberdayaan (transformatif). Inilah
model karya sosial yang menempatkan kaum miskin dalam persekutuan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;(communion)&lt;/i&gt;, memanusiakan mereka bukan sekedar
sebagai obyek / penerima bantuan semata, tetapi sebagai subyek bermartabat yang
ikut terlibat, mau dan mampu untuk menjadi lebih baik, melalui bantuan modal sebagai stimulus, pelatihan, pendampingan, penguatan jejaring, studi banding dan lain-lain,&amp;nbsp;sehingga kaum miskin sungguh berdaya &lt;em&gt;(Inspirasi, Juni 2015).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8829917124131888285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8829917124131888285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2015/07/karya-sosial-untuk-kaum-miskin.html' title='Karya Sosial Untuk Kaum Miskin'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-2232697324699397219</id><published>2013-07-26T22:39:00.001+07:00</published><updated>2014-05-12T02:41:36.489+07:00</updated><title type='text'>St. Thomas More, Teladan Negarawan dan Politisi</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgL9O5m3DpCsoue2h01ZG-nI81uOiFF6ok20No2n9dB47HCqFiE30PJS2WrNv91BbCWJuE_8CpKT1zMbnDdq3b55TyZpaqzjAwuTHHmgOt2U7vcNvXNRBorfNCYBzr0GlZSbLWy/s1600/moreposter2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgL9O5m3DpCsoue2h01ZG-nI81uOiFF6ok20No2n9dB47HCqFiE30PJS2WrNv91BbCWJuE_8CpKT1zMbnDdq3b55TyZpaqzjAwuTHHmgOt2U7vcNvXNRBorfNCYBzr0GlZSbLWy/s1600/moreposter2.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kehidupan
dan kemartiran St.&amp;nbsp;Thomas More telah menjadi sumber inspirasi selama
berabad-abad dan memberi pesan kepada banyak orang di manapun, bahwa martabat
luhur manusia tak bisa dipisahkan dengan hati nurani. Sebagaimana
dikatakan dalam Konsili Vatikan II &quot;pusat paling intim dan&amp;nbsp;perlindungan
 seseorang, ketika ia sendirian bersama Tuhan, ialah suara yang mengema dalam
diri&quot; (&lt;em&gt;Gaudium et Spes&lt;/em&gt;, art. 16). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setiap
orang yang mengindahkan panggilan kebenaran, dituntun hati nurani&amp;nbsp;kepada
tindakan luhur, menuju kebaikan. Justru karena kesaksian yang ditampilkan,
bahkan pada kualitas&amp;nbsp;hidupnya, dengan&amp;nbsp;kebenaran kekuasaan, St. Thomas
More dihormati sebagai contoh&amp;nbsp;integritas moral abadi. Bahkan di luar
Gereja, terutama di antara mereka yang bertanggung jawab atas nasib masyarakat,
ia diakui sebagai sumber inspirasi bagi&amp;nbsp;sistem politik yang memiliki
tujuan tertinggi,&amp;nbsp;pelayanan&amp;nbsp;manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Baru-baru
ini, pemimpin&amp;nbsp;beberapa negara dan pemerintahan, tokoh politik dan beberapa
Konferensi Uskup dan Uskup telah meminta untuk memberitakan St.
Thomas More, pelindung negarawan dan politisi. Mereka mendukung petisi ini,
termasuk orang-orang&amp;nbsp;berlatar belakang&amp;nbsp;politik, budaya dan agama yang berbeda. Hal&amp;nbsp;ini&amp;nbsp;merupakan tanda&amp;nbsp;minat yang mendalam&amp;nbsp;terhadap&amp;nbsp;pemikiran dan sosok aktivitas
negarawan ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Pribadi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Thomas
More memiliki karir politik yang luar biasa di tanah kelahirannya. Lahir di
London pada tahun 1478 dari keluarga terhormat, sebagai seorang anak muda ia
ditempatkan dalam pelayanan Uskup Agung Canterbury, John Morton. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dia
kemudian belajar hukum di Oxford dan London, sambil&amp;nbsp;memperluas
keahlian&amp;nbsp;di bidang budaya, teologi dan sastra klasik. Dia menguasai
bahasa Yunani dan menikmati pekerjaan dan persahabatan dengan&amp;nbsp;tokoh penting dari budaya
Renaissance, termasuk Desiderius Erasmus Rotterdam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sentimen
keagamaan yang tulus&amp;nbsp;mendorongnya&amp;nbsp;mengejar kebajikan melalui praktik asketisme yang tekun.&amp;nbsp;Ia menjalin persahabatan dengan Fransiskan dari Biara di &lt;em&gt;Greenwich&lt;/em&gt;
dan untuk sementara waktu ia tinggal di Biara&amp;nbsp;&lt;em&gt;Charter House&amp;nbsp;London&lt;/em&gt;, ini merupakan&amp;nbsp; dua
pusat agama yang tumbuh&amp;nbsp;dalam&amp;nbsp;Kerajaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Merasa
dirinya dipanggil dalam hidup&amp;nbsp;berkeluarga dan mendedikasikan sebagai
orang awam, pada tahun 1505 ia menikahi Jane Colt, yang memberi&amp;nbsp;empat
anak. Jane meninggal pada tahun 1511 dan kemudian ia menikahi Thomas Alice
Middleton, seorang janda dengan satu anak perempuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sepanjang
hidupnya, ia adalah seorang suami yang sayang dan setia serta&amp;nbsp;ayah yang&amp;nbsp;sangat terlibat
dalam pendidikan agama, moral dan intelektual kepada anak-anaknya.&amp;nbsp;Rumahnya terbuka&amp;nbsp;untuk teman&amp;nbsp;anak-anak dan cucu-cucunya, dan selalu terbuka
untuk teman-teman muda mencari kebenaran atau panggilan mereka sendiri.&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kehidupan
keluarga&amp;nbsp;memberinya banyak kesempatan untuk berdoa&amp;nbsp;dan &lt;em&gt;lectio
divina&lt;/em&gt;, serta untuk relaksasi secara bahagia dan sehat. Thomas menghadiri misa harian
di gereja paroki, sebagai sebuah perbuatan silih yang keras, hal ini hanya diketahui
keluarga dekatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Karir Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ia
terpilih menjadi anggota Parlemen untuk pertama kali&amp;nbsp;pada 1504 di bawah Raja
Henry VII. Penerus yang terakhir Henry VIII membaharui&amp;nbsp;mandatnya tahun 1510,
dan bahkan ia menjadi wakil kepala ibukota. Ini&amp;nbsp;memiliki karir menonjol dalam
administrasi publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Selama
dekade berikutnya Raja mengirimnya dalam&amp;nbsp;misi diplomatik dan komersial ke
beberapa wilayah, kini Perancis. Karena menjadi anggota dari Dewan Raja, hakim
ketua dari pengadilan yang penting, bendahara dan wakil ksatria, di tahun 1523
ia diangkat menjadi Ketua Dewan Rakyat&amp;nbsp;&lt;em&gt;(House of Commons)&lt;/em&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ia
dihargai oleh semua orang, karena integritas moralnya, ketajaman pikiran,
karakter terbuka dan lucu, serta&amp;nbsp;pembelajar&amp;nbsp;yang luar biasa. Pada tahun 1529
pada saat krisis politik dan ekonomi,&amp;nbsp;ia ditunjuk oleh Raja untuk
menjabat sebagai&amp;nbsp;Tuan Kanselir . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sebagai orang
awam pertama yang menempati posisi ini, Thomas menghadapi periode yang sangat
sulit, saat ia berusaha untuk melayani Raja dan negara. Dalam kesetiaan kepada
prinsip, ia berkonsentrasi menjunjung tinggi&amp;nbsp;keadilan dan menahan pengaruh
bahaya&amp;nbsp;orang-orang&amp;nbsp;yang selalu ingin mengorbankan kaum&amp;nbsp;lemah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada
1532, ia tidak&amp;nbsp;mendukung niat Henry VIII untuk menguasai Gereja di Inggris,
ia mundur dari posisinya. Ia menarik diri dari kehidupan publik, mengundurkan diri,
keluarga menjadi&amp;nbsp;miskin dan ditinggalkan oleh banyak orang
yang,&amp;nbsp;saat sidang, terbukti sebagai teman palsu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kerena
ketegasan dalam menolak kompromi dengan apa yang bertentangan dengan hati nurani,&amp;nbsp;pada tahun 1534
Raja dipenjarakan karena&amp;nbsp;keputusannya di &lt;em&gt;Tower of London&lt;/em&gt;. Ia menjadi sasaran
berbagai macam tekanan psikologis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Thomas
More tidak membiarkan dirinya goyah, dan ia menolak untuk mengambil sumpah
yang diminta, karena ini akan membuatnya menerima pengaturan
politik dan gerejawi yang mempersiapkan jalan bagi despotisme yang tidak terkendali&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Times New Roman;&quot;&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;bentuk pemerintahan dengan satu penguasa, baik individual maupuun oligarki&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;, yang berkuasa dengan kekuatan politik absolut, juga&amp;nbsp;dapat berarti tiran (dominasi melalui ancaman hukuman dan kekerasan).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada
persidangan, ia membuat pembelaan berapi-api tentang keyakinannya berkenaan dengan pernikahan tak terceraikan, rasa hormat karena warisan yuridis&amp;nbsp;peradaban
Kristiani&amp;nbsp;dan otronomi&amp;nbsp;Gereja dalam hubungan dengan Negara. Sampai akhirnya
ia dikutuk oleh pengadilan, hingga ia dipenggal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Refleksi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setelah
kematiannya, diskriminasi terhadap Gereja berkurang. Pada tahun 1850 Hirarki
Katolik Inggris dibentuk kembali. Hal ini memungkinkan untuk mengusulkan
kemartirannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Thomas
More, bersama dengan 53 martir lainnya, termasuk Uskup John Fisher,
dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII pada tahun 1886. Ia bersama Uskup John Fisher
dikanonisasi oleh Pius XI pada tahun 1935.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ada
banyak alasan untuk menyatakan&amp;nbsp;Thomas More sebagai patron&amp;nbsp;negarawan dan aktivis&amp;nbsp;publik. Di antaranya adalah kebutuhan yang dirasakan oleh dunia
politik dan administrasi publik terhadap&amp;nbsp;pemberi teladan&amp;nbsp;yang kredibel, yang mampu
menunjukkan jalan kebenaran dalam sejarah, ketika tantangan&amp;nbsp;dan tanggung
jawab begitu sulit.&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di
masa kini, kekuatan ekonomi sangat inovatif membentuk&amp;nbsp;struktur sosial,
di sisi lain, prestasi ilmiah di bidang bioteknologi menggarisbawahi kebutuhan
untuk membela kehidupan manusia. Sedangkan
janji-janji&amp;nbsp;masyarakat baru mendesak ada&amp;nbsp;keputusan politik
yang jelas dalam mendukung keluarga, anak muda, orang tua dan orang yang
terpinggirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam
konteks ini, teladan St&amp;nbsp;Thomas More, memiliki
kesetiaan&amp;nbsp;konstan kepada otoritas yang sah dan lembaga tempatnya&amp;nbsp;untuk melayani, bukan demi kekuasaan, &amp;nbsp;tetapi melayani cita-cita tertinggi, keadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Hidupnya
mengajarkan&amp;nbsp;bahwa pemerintah berada di atas semua&amp;nbsp;kebajikan dan&amp;nbsp;berpegang kuat pada&amp;nbsp;sikap moral.&amp;nbsp;Negarawan Inggris harus menempatkan
aktivitas publik pada pelayanan demi manusia,&amp;nbsp;terutama orang yang lemah atau miskin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ia
mengalami&amp;nbsp;kontroversi sosial demi memenangkan keadilan. Ia sangat bersemangat dan
berkomitmen untuk membela keluarga, ia mendukung pendidikan anak
muda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kerendahan
hatinya tenang dan menyenangkan, pengetahuan&amp;nbsp;mengenai sifat
manusia seimbang dan&amp;nbsp;keyakinannya berakar dalam iman. Ini semua memberinya rasa percaya diri
dalam menghadapi kesulitan dan&amp;nbsp;saat menghadapi kematian. Kesuciannya
bersinar dalam kemartiran, semua&amp;nbsp;itu telah disiapkan dalam&amp;nbsp;hidup dan 
pekerjaannya, yang ditujukan kepada Tuhan dan sesama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Mengacu
pada&amp;nbsp;harmoni yang sempurna antara iman dan tindakan, pada&amp;nbsp;Pasca-Sinode, Paus Yohanes Paulus II dalam&amp;nbsp;Anjuran Apostolik &lt;em&gt;Christifideles Laici&lt;/em&gt;&amp;nbsp;menulis: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&quot;Kesatuan
hidupan umat awam yang terpenting ialah: mereka harus dikuduskan dalam kehidupan
profesional dan sosial sehari-hari. Oleh karena itu, untuk menanggapi panggilan
mereka, umat awam harus melihat kegiatan sehari-hari mereka, sebagai kesempatan
untuk menyatukan&amp;nbsp;diri dengan&amp;nbsp;Tuhan, memenuhi kehendakNya, melayani orang
lain dan memimpin mereka ke dalam persekutuan dengan Allah dalam Kristus
&quot; (art.&amp;nbsp;17).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Inilah
harmoni alam dan supranatural, sebagai elemen yang lebih dalam&amp;nbsp;pribadi
negarawan besar Inggris itu. Ia hidup dengan kerendahan hati yang sederhana,
ditandai dengan humor yang baik, bahkan pada saat eksekusi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ini
adalah keunggulan&amp;nbsp;yang dilandasi&amp;nbsp;semangat&amp;nbsp;kebenaran. Nurani manusia tidak
dapat terlepas dari Allah,&amp;nbsp;politik tidak bisa lepas dari moralitas. Seperti yang diakatakan Paus Yohanes Paulus II,&amp;nbsp;&quot;manusia diciptakan oleh Tuhan, dan karena itu hak asasi
manusia memiliki asal dalam Tuhan, didasarkan pada&amp;nbsp;penciptaan dan
merupakan bagian dari rencana penebusan. Bahwa hak-hak manusia itu&amp;nbsp;juga hak-hak
Allah &quot; (Pidato, 7 April 1998).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dan
justru karena membela hak-hak hati nurani, Thomas More bersinar cerah. Ia&amp;nbsp;menunjukkan nilai&amp;nbsp;kesadaran moral yang
merupakan “kesaksian Allah sendiri, yang suara dan penilaiannya, menembus kedalaman jiwa
manusia&quot; (&lt;em&gt;Ensiklik Veritatis&amp;nbsp;Splendor&lt;/em&gt;, art. 58), bahkan jika, dalam
tindakan melawan bidah, ia mencerminkan batas-batas budaya zamannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam
Konstitusi &lt;em&gt;Gaudium et Spes&lt;/em&gt;, Konsili Vatikan II mencatat bagaimana&amp;nbsp;dunia saat
ini ada &quot;kesadaran martabat&amp;nbsp;manusia&amp;nbsp;lebih unggul dari segala sesuatu&amp;nbsp;dan hak serta&amp;nbsp;kewajiban&amp;nbsp;bersifat universal dan
tidak bisa diganggu&quot; (art. 26)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kehidupan
St&amp;nbsp;Thomas menggambarkan suatu kebenaran dasar etika politik. Mempertahankan otonomi&amp;nbsp;Gereja dari campur tangan Negara,&amp;nbsp;kebebasan individu &lt;em&gt;vis-à-vis&lt;/em&gt; kekuasaan politik (memaksa dengan kekerasan) dibela atas dasar hati nurani. Di sini kita menemukan
prinsip dasar&amp;nbsp;setiap elemen&amp;nbsp;tertib sipil, dengan sifat manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Paus Yohanes Paulus yakin deklarasi&amp;nbsp;sosok, St.&amp;nbsp;Thomas More sebagai pelindung
negarawan dan politisi akan menyumbang&amp;nbsp;kebaikan bagi masyarakat. Ini merupakan isyarat&amp;nbsp;yang sesuai dengan semangat Jubileum Agung, yang membawa kita
memasuki&amp;nbsp;Milenium&amp;nbsp;Ketiga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Oleh
karena itu, setelah pertimbangan&amp;nbsp;layak dan memperhatikan&amp;nbsp;petisi yang
ditujukan,&amp;nbsp;Paus Yohanes Paulus II&amp;nbsp;menyatakan St.&amp;nbsp;Thomas More sebagai pelindung surgawi
negarawan dan politisi. Paus&amp;nbsp;memutuskan bahwa, sesuai hukum, ia dianggap memiliki kehormatan dan hak istimewa&amp;nbsp;liturgis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2232697324699397219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2232697324699397219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2013/07/kehidupandan-kemartiran-st.html' title='St. Thomas More, Teladan Negarawan dan Politisi'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgL9O5m3DpCsoue2h01ZG-nI81uOiFF6ok20No2n9dB47HCqFiE30PJS2WrNv91BbCWJuE_8CpKT1zMbnDdq3b55TyZpaqzjAwuTHHmgOt2U7vcNvXNRBorfNCYBzr0GlZSbLWy/s72-c/moreposter2.jpg" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-7262843822534879398</id><published>2013-06-09T20:57:00.000+07:00</published><updated>2013-06-28T21:01:45.480+07:00</updated><title type='text'>Barnabas, Orang Baik, Penuh Roh Kudus dan Iman  </title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pesta
St. Barnabas, Rasul dirayakan pada 11 Juni. Barnabas, seroang rasul pada
awalnya hidup di Yerusalem, bahkan sebelum penyaliban Yesus. Ia disebut oleh
Klemens dan Eusebius sebagai salah satu dari tujuh puluh murid. Kisah Para
Rasul (4:36-37) menuliskan bahwa, ia bertobat menjadi Kristen lama setelah
Pentakosta atau sekitar tahun 29 atau 30. Ia bahkan menjual harta miliknya lalu
memberikan dana untuk karya kerasulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Barnabas
hidup dan bekerja sebagai seorang Rasul pada tahun 56 atau 57, ketika Paulus
menulis I Korintus. Ia sebagaimana Paulus, mengusahakan penghasilan sendiri
untuk menghidupi karya pewartaan. Persabahabatan antara Paulus dan Bernabas
sangat utuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ketika
Saulus atau Rasul Paulus, melakukan kunjungan pertama ke Yerusalem setelah
pertobatan Bernabas, Bernabas memberikan dukungan untuk karya Paulus dan ia
diterima oleh Para Rasul lain. Paulus tinggal di Tarsus, sementara Barnabas
menetap di Yerusalem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Barnabas sendiri terkesan oleh Paulus, ia
bersemangat untuk segera mewartakan kabar gembira ke Tarsus dan membujuk Paulus
agar bisa pergi ke Antiokhia dan mulai mengajar di sana. Mereka menjadi Rasul
yang mewartakan kabara gembira kepada orang-orang bukan Yahudi. Mereka bekerja
di Antiokhia selama satu tahun dan &quot;mengajarkan banyak hal besar&quot;.
Ketika terjadi bencana kelaparan, di mana di Yerusalem banyak menderita,
persembahan para murid di Antiokhia diberikan kepada banyak orang (Kis 11).
Ketika misi mereka berakhir, mereka kembali ke Antiokhia membawa sepupu atau
keponakan Barnabas bernama Yohanes Markus, penginjil masa depan (Kis 12:25).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Gereja
Antiokhia menjadi terkenal sebagai gereja yang diilhami oleh Roh Kudus yang
mampu merintis&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pengiriman misionaris ke
dunia non-Yahudi, karena karya Barnabas dan Paulus. Dari Siprus, tanah asli
Barnabas, mereka mewartakan Injil ke Asia Kecil. Di Perge, Pamfilia merupakan
tempat pemberhentian pertama, ketika Yohanes Markus meninggalkan mereka, untuk
alasan yang tidak jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kedua
Rasul, Barnabas dan Paulus, terkenal sebagai pewarta yang berani, memasuki
wilayah yang belum dikenal, berkhotbah di Antiokhia, di Pisidia, Ikonium,
Listra, Derbe dan kota-kota lainnya. Pada setiap kesempatan mereka menghadapi
pertentangan dan penganiayaan dengan kekerasan dari orang-orang Yahudi, yang
menghasut bangsa-bangsa lain untuk memerangi mereka berdua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Insiden
yang paling mencolok saat perjalanan di Listra. Paulus yang baru saja
menyembuhkan seorang lumpuh, dianggap oleh rakyat yang mempercayai tahyul
sebagai Dewa Hermes. Sementara Barnabas dianggap sebagai Dewa Jupiter. Rakyat
yang dihasut oleh orang Yahudi hendak berbalik menyerang para Rasul dan Paulus
hampir saja terluka parah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Meskipun
menghadapi aneka pertentangan dan penganiayaan, Paulus dan Barnabas membuat
banyak orang bertobat. Seusai mewartakan saat perjalanan kembali melalui Perge,
mereka memperbaiki pengorganisasian gereja, menahbiskan penatua dan menempatkan
mereka sebagai pemimpin di antara umat beriman. Dengan cara seperti ini, jemaat
merasa diteguhkan dan Paulus dan Barnabas merasa&amp;nbsp;semangat melihat
perkembangan jemaat , sebagimana tertulis, Allah telah &quot;membuka pintu iman
bagi bangsa-bangsa lain&quot; (Kis 13:13-14:27).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Barnabas
dan Paulus menghadapi masalah di Antiokhia. Saat itu mereka menghadapi ancaman
kehancuran dan perpecahan jemaat yang telah mereka rintis. Seorang pengkhotbah
yang datang dari Yerusalem menyatakan bahwa bahwa sunat diperlukan untuk
keselamatan, bahkan untuk bangsa-bangsa lain. Para Rasul bangsa-bangsa lain,
memahami, namun sadar bahwa doktrin ini akan berakibat fatal bagi karya-karya
jemaat yang telah mereka rintis. Barnabas dan Paulus pergi ke Yerusalem untuk
merundingkan hal itu, para Rasul menerima mereka dengan baik dan menyepakati
apa yang kemudian disebut Konsili Yerusalem (AD 47-51). Keputusan Konsili
mengembirakan hati mereka, bahwa yang utama bukan sunat atau tidak sunat,
melainkan percaya kepada Tuhan. (Kis 14:27-15:30).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ketika
mereka kembali ke Antiokhia, mereka melanjutkan pewartaan. St Petrus hadir,
saling berkomunikasi bersama bangsa-bangsa lain dan makan bersama mereka.
Tindakan ini memicu ketidaksenangan murid Yakobus, menurut mereka, tindakan
Petrus melanggar hukum. Petrus rupanya takut tidak menyenangkan mereka, sehingga
menolak makan dengan bangsa-bangsa lain. Barnabas mengikuti teladan Petrus.
Sebaliknya Paulus menganggap bahwa mereka tidak berjalan tegak sesuai dengan
kebenaran injil dan mencela mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Karena
peristiwa itu, Barnabas dan Paulus memutuskan untuk meninjau kembali misi mereka.
Barnabas ingin membawa Yohanes Markus bersama sekali lagi, tetapi karena
pembelotan sebelumnya, Paulus keberatan. Sebuah pertentangan tajam terjadi, para
Rasul sepakat berpisah. Paulus agak dipengaruhi oleh sikap yang&amp;nbsp;diambil oleh
Barnabas. Barnabas berlayar dengan Yohanes Markus ke Siprus, sedangkan Paulus
mengajak Silas, mengadakan kunjungan kembali ke gereja-gereja di Asia Kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Berbagai
tradisi mencatat, Barnabas sebagai Uskup pertama Milan, karena pernah berkhotbah di
Alexandria dan di Roma. Barnabas telah menjadi orang yang paling terhormat dari
generasi Kristen pertama. St Lukas mengisahkan tentang ia sebagai orang baik,
penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sebutan itu muncul bukan hanya dari kebaikan
hatinya, kesucian pribadi dan pekerjaan misionarisnya, tetapi juga dari
kesiapannya untuk mengesampingkan prasangka Yahudi, tentang sunat dan pewartaan
kepada bangsa-bangsa lain. Gereja berhutang atas pengabdian seorang Rasul
besar. KelembutanNya terhadap Yohanes Markus yang membelot dalam pewartaan,
tampaknya telah mengundang penghargaan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 7 Juni 2013)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/7262843822534879398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/7262843822534879398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2013/06/barnabas-orang-baik-penuh-roh-kudus-dan.html' title='Barnabas, Orang Baik, Penuh Roh Kudus dan Iman  '/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-837117659456966274</id><published>2013-02-18T11:28:00.001+07:00</published><updated>2013-02-18T11:30:25.771+07:00</updated><title type='text'>Menerima Abu, Menyesali Dosa</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Hari
Rabu Abu, adalah hari pertama Masa Pra Paskah. Masa Pra Paskah merupakan masa
pertobatan, masa pantang dan puasa sebagai persiapan merayakan puncak iman,
ialah Hari Raya Paskah. Hari Rabu Abu, jatuh pada tanggal yang berbeda setiap
tahun, sekitar 40 hari sebelum Hari Raya Paskah. Menurut Injil, Yesus selama 40
hari berpuasa di padang gurun sebelum menang atas godaan setan. Umat mempersiapkan
diri, menjalankan pantang dan puasa selama 40 hari, sebelum merayakan KebangkitanNya.
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada
Hari Rabu Abu, seluruh Umat Allah menerima abu sebagai tanda pertobatan di
hadapan Tuhan. Seluruh umat, anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia, termasuk
para imam, biarawan dan biarawati, diberi tanda abu di dahi masing-masing. Imam
atau pembantu imam saat mengoleskan abu mengucapkan kata-kata, “Ingat bahwa engkau
berasal dari debu dan engkau akan kembali menjadi debu (bdk Kejadian 3:19) atau
“Bertobatlah dari dosa dan percayalah kepada Injil” (bdk Markus 1:15). Mereka
yang menerima abu pada Hari Rabu Abu menyadari dirinya berdosa dan berniat bertobat.
Abu merupakan ungkapan ketidakabadian sekaligus ajakan keselamatan dengan bertobat
di hadapan Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sikap
menerima abu sebagai sikap pertobatan, dikisahkan dalam Kitab Suci. Abu digunakan
di masa lampau sebagai sarana membersihkan diri bagi pendosa untuk
mengungkapkan penyesalan atas dosa. Ayub mengungkapkan penyesalan atas dosa
dengan mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau,
tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut
perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu&quot;. (bdk., Ayub
42: 5-6). Yesus sendiri mengatakan &quot;Celakalah engkau Khorazim! Celakalah
engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang
telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung
(berpakaian kain kabung dan abu) (bdk., Matius 11: 21).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Bersamaan
dengan penerimaan abu, umat memasuki masa pantang dan puasa. Mereka yang wajib
berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun
ke-60. Mereka yang wajib berpantang ialah semua yang berusia genap 14 tahun ke
atas. Puasa yang dimaksud berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang
berarti memilih pantang makanan atau merokok. Bila dikehendaki masih bisa
menambah sendiri secara pribadi. Misalnya, dengan menghindari dosa atau menghilangkan
kebiasaan buruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam
rangka persiapan Paskah, masa pertobatan menjadi kesempatan pembaharuan kehidupan
rohani umat. Maka umat menyelenggarakan pendalaman iman di tingkat komunitas
teritorial dan kelompok kategorial, mengadakan rekoleksi atau retret, ibadat
Jalan Salib dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Salah
satu ungkapan pertobatan ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP). APP memotivasi
umat untuk melakukan karya nyata yang mempunyai nilai pembaharuan pribadi dan
nilai solidaritas. Umat diajak melakukan kegiatan sosial konkret kepada sesama,
misalnya meringankan penderitaan orang-orang di lingkungan terdekat, memberikan
bantuan karitatif atau memberikan bantuan transformatif kepada mereka yang
perlu diberdayakan agar menjadi mandiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dengan menerima abu,
seseorang menyadari dan menyesali dosa. Dan karena itu bertobat dengan
melakukan pantang, puasa, doa dan amal kasih. Pantang dan puasa, mengajak
mengendalikan diri dari kecenderungan dosa. Doa, ibadat, pendalaman iman merupakan
kesempatan terbuka mendengarkan kehendak Tuhan dan menjauhi laranganNya. Amal
kasih kepada sesama merupakan wujud silih atas dosa. Pantang, puasa, doa dan
amal kasih bukan dilakukan dengan munafik supaya dilihat orang. Tetapi dilakukan
dengan tulus sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan dan sesama &lt;em&gt;(Surabaya Post, 15 Februari 2013)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/837117659456966274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/837117659456966274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2013/02/menerima-abu-menyesali-dosa.html' title='Menerima Abu, Menyesali Dosa'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-4441090284567464740</id><published>2013-01-28T21:41:00.002+07:00</published><updated>2013-01-29T11:47:17.146+07:00</updated><title type='text'>Natal, Mengasihi Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sebelum
Natal saya ditemui oleh seorang perempuan muda. Ia seorang mahasiswi salah satu
perguruan tinggi. Ia menceritakan kisah pedih yang dialami. Sambil menangis, ia
mengatakan bahwa merasa sangat berdosa. Singkat kata, ia telah mengandung ketika
belum siap. Ketika mendapat kepastian kabar tersebut dari dokter, seketika ia
merasa masa depannya hancur. Saat itu ia menangis, memikirkan bagaimana menyampaikan kabar
itu kepada orang-orang dekat. Sempat ia mengutarakan pada kekasihnya, tetapi
apa daya. Kekasihnya marah besar, mengatakan bodoh dan tidak mau bertanggung
jawab. Lebih parah lagi, kekasihnya menyarankan menggugurkan saja bayi dalam
kandungan. Bagai tersambar petir di siang bolong. Sungguh serasa teriris
hatinya. Ketika orang tua mengetahui hal itu, murkalah mereka. Marah, malu dan
sedih. Namun dalam lubuk hati terdalam, ia tetap ingin melahirkan anak itu. Ia
tidak mau terbeban dosa lagi dan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam
kepedihan, ia tetap mau melahirkan anak yang dikandungnya. Meskipun tanpa
seorang suami yang mendampingi. Hanya orang tua yang menemani dengan berat hati.
Memang semua harus terjadi. Tak ada yang tahu, peristiwa&amp;nbsp;itu menjadi rahasia.
Sampai akhirnya demi menjaga nama baik diri dan keluarga, anak itu harus
dititipkan ke sebuah panti asuhan. Orang tuanya mengatakan ia harus
mengiklaskan. Semua demi kebaikan, agar ia tetap bisa meneruskan kuliah tanpa harus
direpotkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setahun
sudah peristiwa itu berjalan. Setiap hari dijalani dengan berusaha tegar. Ia
selalu terkenang buah hati yang seharusnya mendapatkan kasih sayang. Tetapi terpaksa
jauh dari pelukan. Ia kerap terjaga dalam malam, mengingat anak yang sebenarnya
sangat dirindukan. Namun harus terpisahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Tak
mudah mengalami kejadian demikian. Betapa pahit ditinggalkan, ditolak tanpa
dihargai sebagai manusia juga oleh orang-orang dekatnya. Betapa tersayat
perasaan, ketika mendengar agar ia harus melakukan pengguguran. Betapa pedih,
mendengar orang tua marah, malu dan harus menanggung beban.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Bukankah
ini yang diam-diam dialami perempuan sederhana bernama Maria. Ketika mendengar
kabar malaikat ia harus mengandung. Tentu perasaannya tidak karuan. Bingung,
gelap dan tak berdaya. Membayangkan sanksi sosial jika orang lain mengetahui
kabar itu, padahal ia belum bersuami. Ketika mendengar kabar pemerintahan kaisar
Agustus mengadakan sensus, Maria harus menempuh perjalanan jauh dari Nazareth &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;ke Betlehem sekitar 80 atau 90 mil atau
sekitar 130 km. Perjalanan iman yang melelahkan, sarat beban perasaan dan
tantangan. Pula ketika hendak melahirkan, tidak ada tempat yang pantas. Sungguh
pengalaman yang pedih, melahirkan di sebuah kandang domba sederhana. Belum lagi
ancaman dari Raja Herodes, bahwa anak-anak yang lahir akan dibunuh. Namun Maria
menjalani semua itu dengan penuh iman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Diam-diam
saya salut kepada keberanian perempuan muda itu, sebagaimana kagum kepada Maria. Mereka adalah
perempuan-perempuan hebat. Perempuan yang penuh kasih sayang. Perempuan yang
sungguh membela kehidupan. Tak rela anugerah hidup dari Tuhan berupa jabang
bayi ditolak dari diri mereka. Tetap memutuskan melahirkan, ketika ada ajakan
untuk menggugurkan. Memilih menanggung beban berat dengan penuh kepasrahan,
sekalipun banyak tantangan&amp;nbsp;yang menghadang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Inilah
pilihan membela kehidupan, ketika hidup kerap kali justru dihancurkan. Martabat
manusia dilecehkan dan direndahkan. Mereka tetap memilih mengutamakan kasih
sekalipun dunia anti kasih, tak peduli, meninggalkan, marah atau malu. Mereka
mengambil pilihan menanggung beban sekalipun berat. Dalam kehidupan mereka, iman
tampak begitu luar biasa. Di tengah pengalaman yang sangat pahit, mereka
mewartakan kabar keselamatan. Keselamatan bayi yang mereka kandung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Inilah
pesan Natal, mari kita menghargai hidup dan kehidupan. Kita bersyukur atas
anugerah hidup yang diberikan Tuhan. Kita boleh mengalami kasih sayang dari
Tuhan melalui orang tua, melalui siapa saja yang berbuat baik kepada kita.
Karena mereka, kita bisa hidup, mendapat kasih sayang dan kecukupan. Karena itu
mari kita menghargai hidup manusia, siapapun mereka. Bahkan sekalipun mereka
miskin atau berbeda dengan kita. Natal mengajarkan untuk mengasihi sesama dalam
tindakan nyata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam
diri perempuan itu, dalam diri Maria, kita menyaksikan kasih Allah itu nyata.
Mereka memberikan kesaksian tentang kasih yang membawa keselamatan. Allah mengasihi
manusia. Allah juga mengasihi orang benar maupun orang jahat. Siapapun tidak
lepas dari kasihNya. Jika kita mengutamakan kasih, bahkan&amp;nbsp;ketika menghadapi
tantangan,&amp;nbsp;kesulitan, ditinggalkan, ditolak atau dibenci,&amp;nbsp;berarti kita mewartakan kabar keselamatan. Selamat
Natal 2012 dan Tahun Baru 2013. &lt;em&gt;(dimuat di Majalah mahasiswa Katolik, Bandung)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4441090284567464740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4441090284567464740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2013/01/natal-mengasihi-kehidupan.html' title='Natal, Mengasihi Kehidupan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-8337572172097324790</id><published>2012-12-30T00:33:00.000+07:00</published><updated>2012-12-30T00:36:35.510+07:00</updated><title type='text'>Natal, Mengasihi Itu Memanusiakan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertengahan Desember lalu, salah satu majalah telah memilih dan memuat sosok 
Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Beliau, satu-satunya perempuan, bersama 6 
kepala daerah lain menjadi ‘Kepala Daerah Pilihan 2012’. Tidak 
tanggung-tanggung, majalah tersebut memberi judul tentang apa yang dilakukan 
oleh Wali Kota Surabaya itu sebagai sosok yang memanusiakan warga.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa hal menarik dari Tri Rismaharini sehingga disebut memanusiakan warga 
ialah tentang aktivitasnya keluar-masuk lokalisasi untuk membujuk para pekerja 
seks komersial untuk berganti profesi. Ia datang pada siang hari, sore atau 
malam. Tekadnya, ia ingin mengurangi lokalisasi di kota Surabaya, tetapi tidak 
memilih cara menggusur. Ia turun langsung, mengajari para pekerja seks itu 
dengan aneka keterampilan. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia memberikan program persiapan dan modal  ketika para pekerja seks akan 
kembali ke daerah asal. Tidak hanya itu, Walikota juga memberikan program 
penciptaan lapangan kerja bagi warga yang akan kehilangan rejeki. Ia akan 
menyulap lokalisasi menjadi bermacam fasilitas publik seperti taman kota, taman 
kanak-kanak serta taman baca.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Inilah salah satu bagian dari cara Wali Kota Surabaya membangun kota dengan 
manusiawi. Selain membangun taman kota sehingga hijau dan sejuk, membatasi 
pertumbuhan industri agar kota tidak semakin ruwet, menolak pembangunan tol 
tengah kota, membatasi reklame sekaligus mempromosikan usaha kecil serta membuka 
komunikasi warga sehingga Surabaya menjadi kota dengan partisipasi publik 
terbaik di Asia Pasifik.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Memanusiakan manusia, memiliki makna membuat seorang manusia menjadi manusia 
yang sewajarnya. Memanusiakan manusia dalam konteks program Wali Kota Surabaya 
ialah, agar mereka menjadi pekerja yang bermartabat, dengan mengembangkan potensi yang dimiliki, sesuai dengan kehendakNya, 
demi kesejahteraan. Memanusiakan itu 
juga agar manusia mengalami keselarasan dengan alam, bertumbuh dan berkembang 
dalam keteraturan, keadilan dan bukan dengan penggusuran. Karena manusia disapa, 
didengarkan dan dijunjung tinggi martabatnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tuhan mengasihi manusia dengan memanusiakan manusia. Ia tidak hanya menyapa, 
mendengarkan dan memulihkan martabat manusia. Tuhan bahkan mengosongkan diriNya 
sendiri, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Tuhan 
tidak acuh tak acuh terhadap situasi manusia, sekalipun manusia tegar tengkuk 
dan penuh dosa. Tuhan mendengarkan harapan manusia yang merindukan keselamatan. 
Tuhan yang begitu agung, bersedia datang untuk menyelamatkan manusia.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bayi Yesus sebagai Tuhan yang berinkarnasi, lahir di kandang domba sederhana. 
KelahiranNya  menunjukkan bahwa Tuhan mengalami menjadi manusia dalam keadaaan 
serba sederhana. Di dalam diri Yesus, Tuhan tidak hanya lahir, tetapi mengalami 
solidaritas dengan manusia, dengan mengambil tempat di antara manusia yang 
sederhana. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Solidaritas kasih itu tampak dalam penyembuhan Yesus kepada para penderita. 
Saat itu para penderita dijauhi  masyarakat dan dianggap berdosa. Mereka dipaksa 
tinggal jauh dari daerah berpenduduk karena dianggap rendah. Yesus datang, 
memberikan kesembuhan dan menerima mereka sebagai sesama manusia. Ia tidak hanya 
menerima atau menyembuhkan seacara fisik, tetapi mengubah agar mereka diterima 
masyarakat kembali. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Natal mengajak kita kita untuk mengasihi seperti Tuhan telah mengasihi. Sabda 
menjadi manusia menjadi teladan kita dalam mengasihi. Tuhan menyatakan kasihNya 
dalam diri Yesus dengan memanusiakan manusia lain. Kita pun diingatkan untuk 
menjadi manusia yang semakin manusiawi. Kita pun perlu memanusiakan manusia 
lain. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa menjadi manusia berarti menjadi 
semakin paham akan tugas kemanusiaannya dan berguna bagi manusia lainnya. KH. 
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengungkapkan bahwa menjadi manusia berarti 
mendahulukan kepentingan manusia di atas kepentingan duniawi sesaat, dengan 
berpegang pada nilai keadilan, kesetaraan dan persaudaraan. Sementara Romo 
Mangunwijaya menekankan pentingnya pertumbuhan dan perkembangan manusia menjadi 
pribadi yang harmonis, berpikir bebas dan berani.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pesan Natal Bersama PGI dan KWI 2012 yang bertema Allah telah Mengasihi Kita, 
mengajak kita mengasihi dengan memanusiakan sesama dalam rupa: memelihara alam 
semesta dengan melestarikan dan menjaga ciptaanNya, mengatasi 
persoalan-persoalan kemanusiaan, memberdayakan sesama yang miskin. Tak 
ketinggalan ialah menghormati proses hukum dan menegakkan hukum, demi keadilan 
dan kebaikan seluruh manusia di negeri ini. Semoga di masa yang akan datang 
kita, seluruh rakyat dan bangsa ini, semakin manusiawi dan memanusiakan sesama. 
Selamat Natal.   &lt;em&gt;(Surabaya Post, 21 Desember 2012)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8337572172097324790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8337572172097324790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/12/natal-mengasihi-itu-memanusiakan.html' title='Natal, Mengasihi Itu Memanusiakan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-3354591496370087718</id><published>2012-11-05T06:12:00.001+07:00</published><updated>2012-11-05T06:14:25.128+07:00</updated><title type='text'>Iman di Tahun Iman</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Iman
dapat dimengerti sebagai jawaban manusia kepada Tuhan yang mewahyukan diriNya.
Dengan bantuan rahmat Illahi, manusia menjawab Tuhan dengan ketaatan iman, yang
berarti penyerahan diri manusia kepada Tuhan secara penuh dan menerima
kebenaran-kebenaran sebagaimana dijamin oleh sang Kebenaran sejati. (bdk., &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Katekismus Gereja Katolik, 25)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Iman
adalah keutamaan adikodrati yang mutlak perlu bagi keselamatan. Iman adalah
anugerah cuma-cuma dari Tuhan dan tersedia bagi semua orang yang dengan rendah
hati mencarinya. Tindakan iman adalah tindakan manusiawi, yaitu tindakan dari
intelek manusia, terdorong oleh kehendak yang digerakkan oleh Tuhan, dengan
mengamini kebenaran ilahi (bdk., KGK, 27-28)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Beriman
kepada Tuhan berarti, setia kepada Tuhan, mempercayakan hidup kepadaNya dan
mengamini semua kebenaran yang diwahyukan Tuhan, karena Tuhan adalah Kebenaran.
Ini berarti percaya kepada satu Tuhan dalam tiga Pribadi, yaitu Bapa, Putra,
dan Roh Kudus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Melalui
wahyuNya, Tuhan yang tidak kelihatan dengan cinta kasihNya, menyapa manusia
sebagai sahabat-sahabatNya dan bergaul dengan mereka. Tuhan mengundang manusia dalam
persekutuan dengan diriNya dan menyambut mereka di dalamNya (Dei Verbum &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;2). Jawaban untuk undangan itu ialah iman. Melalui
iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan kehendaknya kepada Tuhan. Dengan
segenap pribadinya, manusia menyetujui Tuhan yang mewahyakan diri (bdk., DV 5) Kitab
Suci menamakan jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu
sebagai ketaatan iman &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(bdk., Rm 1:5;
16:26)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Iman
adalah anugerah adikodrati dari Tuhan. Supaya percaya, manusia membutuhkan
pertolongan batin dari Roh Kudus. Beriman adalah kegiatan manusia yang sadar
dan bebas, yang sesuai dengan martabat pribadi manusiawi. Beriman adalah satu
kegiatan gerejani. Iman Gereja mendahului iman kita, memberi kesaksian,
menopang dan memupuknya. Kita mengimani segala sesuatu dalam Sabda Tuhan yang
diwariskan oleh Gereja sebagai kebenaran yang diwahyukan Tuhan. Iman itu perlu
untuk keselamatan. Tuhan sendiri berkata, &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;“Siapa yang percaya dan dibaptis akan
diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum&quot; (Mrk 16:16).
(bdk., KGK &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;180-184)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Hanya
dengan rahmat Roh Kudus, manusia mampu percaya. Walaupun demikian, iman adalah
satu kegiatan manusiawi. Percaya kepada Tuhan dan menerima kebenaran-kebenaran
yang diwahyukan olehNya, tidak bertentangan dengan kebebasan dan pikiran
manusia. Dalam iman, manusia memberikan tanggapan kepada Tuhan yang mewahyukan,
berupa ketaatan pikiran, kehendak yang utuh dan dengan demikian masuk ke dalam
persekutuan yang mesra denganNya. (KGK 154-155)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Menghidupkan Iman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Paus
Benediktus XVI melalui Surat Apostolik &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Porta
Fidei&lt;/i&gt; (Pintu Kepada Iman) telah mengumumkan Tahun Iman. Tahun Iman telah dimulai
pada tanggal 11 Oktober 2012 dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus
Kristus Raja Semesta Alam pada tanggal 24 November 2013. Tahun lalu, dalam
perbicangan dengan salah seorang kepala Program Radio Vatikan, Paus telah menjelaskan
mengapa perlu merayakan Tahun Iman. Paus menggunakan serangkaian kata kerja
aktif, seperti memberi, melakukan, menguatkan, menyumbangkan dan tentu saja, mengumumkan.
Dalam pembicaraan tersebut, Paus ingin memberikan dorongan baru bagi Gereja. Hal
ini diungkapkannya sekali lagi dalam kotbah Angelus ketika Paus menekankan
tujuan Tahun Iman sebagai sesuatu yang bersifat aktif atau membuat&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;iman lebih baik lagi. Hal itu yang dimaksud
dengan menghidupkan kembali iman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Gagasan
menghidupkan iman itu tampak jelas dalam Surat Apostolik &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Porta Fidei&lt;/i&gt;, berupa ajakan Paus untuk menemukan kembali iman yang
benar, melalui pertobatan, membaharui iman lewat pewartaan, renungan,
pernyataan iman yang sadar dan tak ketinggalan mewujudkannya dalam tindakan
iman. Paus menyebutkan bahwa menemukan iman yang benar itu melalui aneka sarana
seperti Katekismus Gereja Katolik, memupuk iman dengan liturgi, sakramen,
ajaran iman serta mengenal kesaksian para Kudus, Yesus dan Bunda Maria. Tidak
hanya itu, Tahun Iman menjadi kesempatan yang baik untuk menguatkan kesaksian
amal kasih, sebagai tindakan iman. Karena sebagaimana kata-kata Santo Yakobus.
“Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah
mati” (bdk., Yak 2: 17). &lt;em&gt;(Surabaya Post, 2 November 2012)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3354591496370087718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3354591496370087718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/11/iman-di-tahun-iman.html' title='Iman di Tahun Iman'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-284027178386340537</id><published>2012-10-11T09:54:00.003+07:00</published><updated>2012-10-11T19:52:03.442+07:00</updated><title type='text'>Bekerja Menurut Ajaran Sosial Gereja</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Bekerja
berasal dari kata dasar &quot;kerja&quot;, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya&amp;nbsp;kegiatan melakukan sesuatu. Sedangkan sebagai kata benda, kerja
memiliki arti melakukan sesuatu untuk mencari nafkah. Pada masa sekarang, makna
dan nilai bekerja telah bergeser. Bekerja dipahami secara sempit sebagai hal duniawi
belaka. Kebanyakan orang tanpa sadar melihat makna bekerja&amp;nbsp;sekadar
mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di jaman yang semakin kompleks,&amp;nbsp;makna dan nilai&amp;nbsp;bekerja telah&amp;nbsp;menyempit menjadi&amp;nbsp;mengejar nilai ekonomis. Kepuasan dalam bekerja
identik dengan kepuasan materialis. Manusia bekerja&amp;nbsp;tidak lagi&amp;nbsp;untuk
memenuhi kebutuhan hidup masing-masing, namun untuk mengumpulkan modal. Modal dan
uang dikejar demi uang itu sendiri dan tidak&amp;nbsp;lagi&amp;nbsp;mempertimbangkan&amp;nbsp;kesejahteraan bersama (&lt;em&gt;bonum commune&lt;/em&gt;). Kerja pun
bukan lagi demi pemenuhan kebutuhan hari ini, tetapi melampaui kebutuhan dan&amp;nbsp;memiliki orientasi mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Bahkan demi mendapatkan hasil ekonomis, seseorang mengabaikan nilai
moral dalam bekerja, dengan melakukan praktek ketidakjujuran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pergeseran
kerja pun tampak dalam&amp;nbsp;pilihan bekerja. Bekerja yang meningkatkan
gengsi sekaligus meningkatkan&amp;nbsp;hasil ekonomis yang banyak diburu. Demi
mendapatkan pekerjaan itu,&amp;nbsp;seseorang menghalalkan segala cara. Di
dalam masyarakat pun tercipta pembedaan, mana pekerjaan yang kelas satu dan mana
pekerjaan yang kelas dua. Masyarakat terjebak kurang menghargai pekerjaan
domestik atau pekerjaan biasa, seperti ibu rumah tangga, buruh dan petani, meskipun pekerjaan itu
dijalani dengan penuh ketekunan dan pengorbanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pemahaman
yang keliru tentang bekerja, berdampak pada&amp;nbsp;ketimpangan dalam&amp;nbsp;dunia kerja. Relasi
majikan dan pekerja kerap kali tidak setara. Kehendak majikan tidak sama
kedudukan dengan kemampuan buruh. Fenomena demonstrasi kaum pekerja yang menuntut
kenaikan upah demi perbaikan hidup, penghapusan sistem alih daya&amp;nbsp;atau&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;outsourcing &lt;/i&gt;merupakan bukti
nyata ketegangan itu. Penindasan hanya&amp;nbsp; melahirkan penderitaan dan kemiskinan, karena membuat kehidupan 
masyarakat semakin sulit. Ketidakadilan dalam bekerja bahkan mengakibatkan
konflik sosial. &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di
kalangan kaum muda terdapat fenomena lain. Mereka terdampak dengan pergeseran
makna dan nilai bekerja. Situasi itu melahirkan persaingan&amp;nbsp;untuk mendapatkan pekerjaan yang berjalan seiring dengan&amp;nbsp;merebaknya&amp;nbsp;mentalitas instan. Mereka
yang terdampak buruknya dunia kerja, terpaksa menjadi penganggur. Mereka
kesulitan mencari pekerjaan atau bahkan&amp;nbsp;pesimis&amp;nbsp;ketika lulus akan bekerja di mana.
Memang harus diakui lapangan pekerjaan lebih sedikit dibandingkan dengan
angkatan kerja. Lagipula, tidak mudah mengubah mentalitas mereka yang memiliki
orientasi sebagai pekerja, berubah menjadi pencipta lapangan kerja, dengan
menjadi wirausahawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sementara
itu, kaum usia produktif sibuk dengan bekerja. Mereka menomersatukan bekerja
dan menomerduakan&amp;nbsp;relasi antar manusia dan&amp;nbsp;persekutuan dalam masyarakat.&amp;nbsp;Mereka lelah bekerja sehingga tidak hadir dalam
pertemuan-pertemuan sosial. Tidak jarang, pergeseran nilai dan makna bekerja,
mengendorkan semangat pelayanan.
Pelayanan yang menjunjung tinggi semangat gotong-royong dan saling menolong
perlahan-lahan dapat tergusur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Krisis makna dan nilai inilah yang menjadi perhatian. Tulisan ini hendak merefleksikan makna kerja dalam terang Ajaran Sosial Gereja. Sebagai orang beriman kita diajak melihat kembali makna bekerja dengan semangat atau berdasarkan iman. Dan demikian, kita dapat memahami makna bekerja secara otentik.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Bekerja&amp;nbsp;sebenarnya merupakan&amp;nbsp;perwujudan iman kepada
Tuhan.&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; Namun&amp;nbsp;karena&amp;nbsp;&lt;/span&gt;sibuk
bekerja, kita&amp;nbsp;justru jauh dari kehendak Tuhan. Atau sebaliknya, kita hanya 
sibuk beribadah&amp;nbsp;akan tetapi&amp;nbsp;semangat itu&amp;nbsp;tidak memberi terang&amp;nbsp;dalam&amp;nbsp;bekerja.&amp;nbsp;Pendek kata, kita telah memisahkan dan tidak&amp;nbsp;melihat kaitan erat antara bekerja
dan iman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Pandangan Ajaran Sosial Gereja&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Makna
Kerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Manusia
diciptakan menurut gambar Tuhan dan diberi mandat untuk mengubah bumi. Dengan ini,
manusia hendaknya menyadari,&amp;nbsp;ketika ia melakukan pekerjaan, ia berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan. Dengan
tenaganya, manusia memberikan sumbangan merealisasikan rencana Tuhan di bumi. Manusia
diharapkan tidak berhenti untuk membangun dunia menjadi lebih baik atau
mengabaikan sesama. Manusia memiliki tanggung jawab&amp;nbsp;lebih 
untuk melakukan hal itu. (&lt;em&gt;Laborem Exercens&lt;/em&gt; 25). Karena pekerjaan merupakan kunci
atau solusi dari masalah sosial. Pekerjaan sangat &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;menentukan manusia dalam membuat hidup
menjadi&amp;nbsp;lebih manusiawi. (LE
3).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sebagai
citra Tuhan, peran kerja manusia sangat penting sebagai faktor produktif, untuk
mememuhi kepenuhan material dan non material. Hal ini jelas, karena dalam
melakukan pekerjaan, seseorang secara alami terhubung dengan manusia&amp;nbsp;atau pekerjaan
orang lain. Dengan bekerja, manusia berada dengan manusia lain. Lewat&amp;nbsp;bekerja pula, manusia menghasilkan sesuatu untuk orang lain. Dengan demikian, pekerjaan
membuat manusia menghasilkan sesuatu, menjadi berbuah dan produktif. Karena
sumberdaya manusia yang bekerja, jauh lebih luas daripada sumber daya alam. Dan
karena itu membuat manusia semakin sadar&amp;nbsp;untuk mengolahnya. (&lt;em&gt;Centesimus Annus&lt;/em&gt; 31)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Manusia
mewarisi kerja&amp;nbsp;generasi sebelumnya, yang rela berbagi demi membangun masa depan
semua orang. Hal ini hendaknya diingat, ketika manusia
memperjuangkan&amp;nbsp;hak-hak dalam pekerjaan dan menjadi motivasi dalam&amp;nbsp;bekerja.
Kerja merupakan kewajiban, karena Tuhan menghendaki&amp;nbsp;dan karena untuk&amp;nbsp;mempertahankan dan mengembangkan kemanusiaan manusia.
Dalam&amp;nbsp;bekerja, manusia keluar &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dari
dirinya, memperhatikan sesama, terutama keluarga, masyarakat dan
bahkan demi seluruh umat manusia. (LE 16)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dengan
bekerja, manusia tidak hanya mengubah berbagai hal dan masyarakat, manusia juga
mengembangkan diri. Manusia belajar mengolah sumber daya, meninggalkan diri
sendiri dan menjangkau segala hal di luar dirinya. Hal ini hendaknya dipahami 
sebagai semacam pertumbuhan pribadi, karena ada nilai yang lebih besar daripada
kekayaan eksternal yang diperoleh. &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;Manusia bisa &lt;/span&gt;menyadari bahwa dirinya lebih berharga daripada barang-barang yang mereka
miliki. Demikian pula, melalui bekerja manusia mengusahakan&amp;nbsp;keadilan yang lebih besar, persaudaraan yang lebih luas, kondisi yang lebih
manusiawi dari hubungan sosial dan menyadari bahwa semua itu memiliki nilai yang
lebih besar daripada kemajuan teknologi. Memang kemajuan teknologi&amp;nbsp;membantu
manusia untuk mewujudkan kemajuan, tetapi kemajuan teknis itu tidak
berarti jika&amp;nbsp;manusia tidak mengupayakan. (&lt;em&gt;Gaudium Et Spes&lt;/em&gt; 35)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt 0.75in; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-text-indent-alt: -.25in; text-align: justify; text-indent: -0.75in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Tujuan
Kerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pekerjaan
merupakan sesuatu yang baik, bukan hanya karena berguna dan menyenangkan,
tetapi&amp;nbsp;karena mengungkapkan dan meningkatkan martabat pekerja. Melalui
kerja, manusia tidak hanya mengubah dunia, tetapi mengubah diri sendiri, menjadi
lebih manusiawi. (LE 9). Kewajiban untuk mendapatkan penghasilan
dan penghidupan merupakan alasan atau hak untuk bekerja. Masyarakat yang
menolak hak ini, tidak dapat dibenarkan. Dan jika ada penolakan kerja, maka&amp;nbsp;tidak
ada perdamaian sosial. (CA 43)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Namun
demikian, hak-hak pekerja tidak dapat ditakdirkan semata-mata sebagai hasil
dari sistem ekonomi yang diarahkan hanya untuk mendapatkan keuntungan maksimal.
Hal yang penting bukan keuntungan, tetapi sistem perekonomian yang menghormati
hak-hak para pekerja di manapun mereka bekerja. (LE 17)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Gereja
memandang&amp;nbsp;bahwa&amp;nbsp;subjek dan tujuan semua lembaga sosial&amp;nbsp;harus diarahkan
untuk kebaikan manusia. Semua orang memiliki hak untuk bekerja,&amp;nbsp;kesempatan untuk
mengembangkan kualitas dan kepribadian mereka dalam melaksanakan profesi serta untuk
mendapatkan gaji yang adil. Jika hal itu terpenuhi&amp;nbsp;memungkinkan pekerja&amp;nbsp;dan keluarganya
memperoleh penghasilan dan menjalani hidup secara layak, secara&amp;nbsp;materi,
sosial, budaya dan spiritual. (&lt;em&gt;Octogesima Adveniens&lt;/em&gt; 14). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pengalaman
menunjukkan banyak cara di mana tuntutan keadilan masih harus dipenuhi. Tuntutan itu mengarah supaya&amp;nbsp;para pekerja secara bertahap, dapat berbagi&amp;nbsp;kepemilikan dengan perusahaan. Saat ini, perlu ada upaya terus menerus,&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;agar setidaknya di masa depan, keuntungan&amp;nbsp;produksi tidak selalu menumpuk di tangan orang kaya, melainkan perlu ada batasan&amp;nbsp;atau dibagi&amp;nbsp;secara adil kepada para pekerja.&amp;nbsp;(MEM 77).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt 0.75in; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-text-indent-alt: -.25in; text-align: justify; text-indent: -0.75in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-list: Ignore;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Hak
Dan Keadilan Dalam Kerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pekerja
patut&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mendapatkan keadilan. Mereka perlu menyadari
bahwa bekerja berarti ingin berbagi tanggung jawab dan kreativitas dalam&amp;nbsp;proses
kerja. Mereka seolah ingin meyakinkan bahwa mereka tidak bekerja melulu untuk diri sendiri. Kesadaran ini muncul ketika&amp;nbsp;sistem birokrasi&amp;nbsp;menempatkan mereka
 hanya menjadi semacam&amp;nbsp;&quot;roda&quot; dari sebuah mesin besar yang
bergerak dari atas ke bawah (LE 15). Pada&amp;nbsp;prioritas&amp;nbsp;pertama, pekerja harus mendapatkan
upah yang cukup, untuk mendukung kehidupan diri&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;dan keluarganya. (&lt;em&gt;Quadragesimo Anno&lt;/em&gt; 71).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Rumusan
yang perlu ditekankan ialah, bekerja untuk pekerja dan bukan pekerja untuk
bekerja. Bekerja sendiri memiliki memang nilai obyektif, pekerjaaan&amp;nbsp;besar atau&amp;nbsp;kecil.
Akan tetapi semua pekerjaan harus dinilai dengan indikator&amp;nbsp;menghormati&amp;nbsp;martabat manusia
yang bekerja (LE 6). Karena itu,&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;hak-hak
pekerja tidak dapat ditakdirkan sebagai&amp;nbsp;semata-mata hasil dari sistem ekonomi, yang
ditujukan hanya untuk mendapatkan keuntungan maksimal (LE 17). Sebaliknya yang lebih
penting ialah memperhatikan manusia&amp;nbsp;yang bekerja, daripada apa yang dikerjakan. Perwujudan
diri pribadi manusia adalah ukuran untuk menilai apakah martabat manusia
dihormati dalam bekerja (LE 6)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Berkenaan
dengan kehendak kaum pekerja. Selalu ada kebutuhan untuk menggalang gerakan
solidaritas antar pekerja. Gereja&amp;nbsp;berkomitmen, sebagaimana Kristus
untuk menjadi &quot;Gereja&amp;nbsp;yang memihak kaum miskin.&quot; (LE 8). Pemerintah
harus melakukan upaya efektif dalam&amp;nbsp;melihat sumber daya manusia dan memastikan,
bahwa masyarakat yang memasuki usia kerja,&amp;nbsp;menemukan pekerjaan sesuai
dengan bakat mereka. Lagipula, setiap pekerja hendaknya menerima upah sesuai
dengan hukum keadilan dan kesetaraan. Ini perlu mendapat perhatian dari
otoritas sipil, agar&amp;nbsp;memastikan bahwa pekerja boleh&amp;nbsp;membentuk organisasi di dalam industri dengan bertanggung jawab. Selain itu, perlu ada fasilitasi
pembentukan kelompok-kelompok kelas menengah yang membuat kehidupan sosial semakin baik&amp;nbsp;dan lebih efektif. (&lt;em&gt;Pacem In Terris&lt;/em&gt; 64).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Gereja
memandang&amp;nbsp;bahwa gaji sebaiknya tidak diserahkan kepada hukum pasar atau
menjadi keputusan yang diserahkan hanya kepada kehendak pihak yang lebih kuat. Penentuan
keputusan sebaiknya memperhatikan prinsip&amp;nbsp;keadilan dan kesetaraan. Artinya, pekerja
harus mendapatkan gaji yang memungkinkan mereka untuk hidup semakin manusiawi
dan memenuhi kewajiban keluarga secara&amp;nbsp;layak. Faktor-faktor
lain yang perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan gaji yang adil ialah: kontribusi
efektif setiap individu dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi, memperhatikan
kondisi keuangan tempat kerja, persyaratan upah minimal yang diatur negara dan
 mengacu pada perwujudan kesejahteraan umum (MEM 71).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di atas hal-hal semua itu, kita harus mengingat bahwa pekerja lebih utama daripada
modal, karena tenaga kerja menghasilkan&amp;nbsp;produksi, sedangkan alat produksi
hanyalah alat belaka. (LE 12) Alat produksi bukan barang yang terpisah atau
disebut aset yang bertentangan dengan tenaga kerja. Alat produksi tidak bisa
dipandang lebih tinggi daripada pekerja atau digunakan untuk mengeksploitasi
pekerja. Alat produksi tidak dapat berdiri sendiri. Alat produksi&amp;nbsp;yang dimiliki
oleh swasta, publik atau kolektif pun, hendaknya mengabdi kepada&amp;nbsp;pekerja. (LE 14).
Sedangkan modal sebagai&amp;nbsp;sumber daya, baik dari alam maupun manusia, diciptakan sebagai sarana yang diarahkan&amp;nbsp;untuk&amp;nbsp;mengabdi kepada&amp;nbsp;manusia.
Alat sederhana, sampai yang paling modern, berupa mesin, pabrik,
laboratorium dan komputer adalah&amp;nbsp;ciptaan manusia. Karena itu nilainya
tidak boleh melebihi manusia (LE 12). Inilah yang perlu diperhatikan&amp;nbsp;dalam sistem
ekonomi, yang kerap kali berlaku tidak adil. Karena&amp;nbsp;alat produksi atau modal kerap kali justu merendahkan nilai manusia. (CA 35).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Akhirnya, bekerja memiliki 3 kualitas moral.
&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, bekerja adalah cara manusia melaksanakan kapasitas sebagai manusia,
secara khusus sebagai pengungkapan dan perwujudan dirinya. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, bekerja adalah
cara yang wajar&amp;nbsp;bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan materi. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, bekerja
memungkinkan manusia memberikan sumbangan untuk&amp;nbsp;kesejahteraan masyarakat yang
lebih besar. Setiap hasil pekerjaan tidak hanya untuk pekerja&amp;nbsp;saja,
melainkan untuk keluarga, untuk bangsa dan untuk kepentingan serta
kesejahteraan seluruh umat manusia. (Keadilan Sosial Ekonomi Bagi Semua 97)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Untuk mewujudkan kualitas itu, perlu ada gerakan nyata. Di&amp;nbsp;kelompok teritorial dan kelompok kategorial, sebagai
tanda kehadiran Gereja di tengah masyarakat, dapat diawali dengan melakukan kajian&amp;nbsp;masalah, menentukan solusi&amp;nbsp;dan melakukan tindakan nyata untuk mengatasi
masalah kerja. Misalnya,&amp;nbsp;menyelenggarakan animasi, seminar, lokakarya,
retret dan rekoleksi berdasarkan&amp;nbsp;Ajaran Sosial Gereja tentang:
makna kerja, relasi kerja yang adil dan pelayanan. Selain itu, perlu didorong
penerapan aturan kerja yang telah disepakati bersama.&amp;nbsp;Khusus untuk&amp;nbsp;orang muda,&amp;nbsp;mereka yang tidak terserap dalam dunia kerja perlu didata dan diberikan&amp;nbsp;alternatif&amp;nbsp;solusi. Misalnya melalui&amp;nbsp;pelatihan, &lt;em&gt;workshop&lt;/em&gt; keterampilan&amp;nbsp;atau kewirausahaan dan penyediaan modal kerja yang mendorong penciptaan lapangan kerja mandiri. Selain itu perlu diselenggarakan&amp;nbsp;informasi atau bursa kerja, serta&amp;nbsp;pendampingan pastoral bagi pekerja. .&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Bantuan sosial kewirausahaan tidak cukup hanya dengan memberi modal yang sedikit. Bantuan&amp;nbsp;kewirausahaan&amp;nbsp;perlu dilengkapi&amp;nbsp;dengan peningkatan kapasitas berwirausaha, pengelolaan keuangan, pemasaran, pembelajaran&amp;nbsp;dari proses bisnis yang berhasil (&lt;em&gt;benchmarking&lt;/em&gt;),&amp;nbsp;strategi mengakses pinjaman modal serta pendampingan.&amp;nbsp;Prioritas sasaran sebaiknya untuk&amp;nbsp;mereka yang belum bekerja,&amp;nbsp;mau bekerja&amp;nbsp;dan minim akses.&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Lembaga pendidikan, sebagai karya kerasulan
dalam rangka pewartaan kabar gembira bagi
orang muda, dapat membina dan mengembangkan tenaga kerja yang terampil,
produktif dan berdaya saing, tetapi&amp;nbsp;mengedepankan nilai-nilai luhur
seperti pengorbanan, kesabaran, kejujuran, hati nurani dan tanggung jawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Keluarga, sebagai Gereja kecil, tempat penanaman
nilai dan makna kerja, dapat menjadi tempat pembinaan awal mempraktekkan kerja
dan pelayanan kepada sesama, dengan melibatkan anggota keluarga dalam pekerjaan
rumah tangga. Demikian pula, setiap pribadi perlu memahami dan menyadari makna kerja,
sehingga dapat menghayati kerja dan memberikan kesaksian dalam bekerja, dengan mengamalkan
nilai kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, ketekunan dalam setiap jenis
pekerjaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Melalui bahan Ajaran Sosial Gereja ini, kita seakan
diingatkan&amp;nbsp;pada&amp;nbsp;perkataan Rasul Yakobus “&lt;em&gt;Demikian juga halnya dengan iman:
Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah
mati&lt;/em&gt;”. Iman adalah jawaban kita kepada panggilan Tuhan. Iman itu hendaknya
diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam bekerja. Semoga kita semakin
terbuka terhadap kehendak Tuhan, untuk bekerja dengan semangat iman, demi
kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan manusia, menghargai pekerjaan dan pekerja, peduli
terhadap fenomena pengangguran serta bersemangat dalam karya pelayanan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/284027178386340537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/284027178386340537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/10/bekerja-menurut-ajaran-sosial-gereja.html' title='Bekerja Menurut Ajaran Sosial Gereja'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-3852364718545537693</id><published>2012-09-14T23:26:00.002+07:00</published><updated>2012-09-14T23:30:35.502+07:00</updated><title type='text'>Dosa Bertambah, Kasih Melimpah</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Katekismus Gereja Katolik (KGK)
mendefinisikan bahwa dosa adalah melawan Tuhan (KGK, 1850), namun secara
bersamaan &lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; padding: 0in;&quot;&gt;melawan akal budi&lt;/span&gt;, &lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; padding: 0in;&quot;&gt;kebenaran&lt;/span&gt; dan &lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; padding: 0in;&quot;&gt;hati nurani yang benar&lt;/span&gt;. (KGK,
1849). &lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; padding: 0in;&quot;&gt;Dosa adalah melawan akal budi&lt;/span&gt;,
karena hanya orang yang dapat menggunakan akal budi bertanggung jawab terhadap
dosanya. Itulah sebabnya bahwa Sakramen Pengampunan dosa hanya dapat
diterimakan kepada orang yang telah dibaptis dan mencapai usia yang dapat
berfikir rasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dengan akal budi, seharusnya kita
memilih tujuan yang paling akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan, namun kita
sering dikaburkan dengan oleh pengaruh dunia ini, sehingga akal budi kita lebih
banyak dipengaruhi dan didominasi oleh kedagingan. St. Paulus mengatakan
pemberontakan keinginan daging melawan keinginan roh (lih. Gal 5:16-17,24; Ef
2:3). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; padding: 0in;&quot;&gt;Dosa adalah melawan
kebenaran&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;,
karena kebenaran hanya ada pada Tuhan. Namun sering kita menganggap kejadian di
dunia ini semuanya relatif, atau ibaratnya, tidak putih, tidak hitam, melainkan
abu-abu. Karena kecendungan paham relativitas, maka kita tidak tahu lagi mana
yang benar dan mana yang salah. &lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; padding: 0in;&quot;&gt;Kebenaran
adalah tetap dan tidak berubah, dan kebenaran sejati hanya dapat ditemukan
dalam diri Yesus &lt;/span&gt;(Yoh 14:6).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; padding: 0in;&quot;&gt;Dosa melawan hati
nurani yang benar&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;.
Hati nurani yang benar ditekankan oleh KGK, karena jaman sekarang ini, begitu
sulit untuk membentuk hati nurani yang benar. Kalau kita mau berlaku jujur di
dalam bisnis, kita digoda “jangan sok jujur”. Kalau di sekolah kita tidak nakal
dan menyontek, kita akan dikatakan “sok saleh.” Seolah-olah sesuatu yang
seharusnya benar, tidak boleh dipraktekkan. Dengan mentolelir kesalahan-kesalan
kecil, maka hati nurani kita yang awalnya benar, yang diciptakan menurut
gambaran Tuhan, menjadi tertutup dengan dosa, sehingga tidak murni lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dosa Melawan Kasih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dosa menghancurkan relasi kasih kita
dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip vital kehidupan kita, yaitu
kasih. Seperti 10 perintah Tuhan, dibagi menjadi dua, yaitu kasih kepada Tuhan
dalam perintah 1-3, dan kasih kepada sesama dalam perintah 4-10, maka dosa juga
mempunyai dua efek, yaitu: efek vertikal dan efek horisontal. Efek vertikal
mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sedangkan efek horisontal mempengaruhi
hubungan kita dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa &lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; padding: 0in;&quot;&gt;tidak
ada dosa yang bersifat pribadi&lt;/span&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; padding: 0in;&quot;&gt;Dosa ibarat suatu
penyakit yang begitu berbahaya. Salah satu penyembuhannya adalah dengan menerima
sakramen pengakuan dosa&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;.
Di dalam Sakramen Pembaptisan, dosa asal dan seluruh dosa yang kita lakukan
sebelum kita dibaptis, dihapuskan. Namun sebagai manusia, kita dapat jatuh lagi
ke dalam dosa bahkan kita dapat jatuh ke dalam dosa yang berat. &lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; padding: 0in;&quot;&gt;Dosa berat yang kita lakukan setelah
Pembaptisan hanya dapat diampuni dengan menerima Sakramen Tobat&lt;/span&gt; (KGK,
1423-1424). Di dalam Sakramen inilah, kita juga bertemu dengan penyembuh, yaitu
Yesus sendiri yang hadir di dalam diri imam. Untuk bertemu dengan Yesus di
dalam Sakramen Pengampunan, diperlukan kerendahan hati dan penyesalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kalau dosa berat adalah melawan kasih
secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara
langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin
Tuhan dapat bertahta di dalam hati manusia. Jika dosa tertentu membuat
seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan dan berbelok dari tujuan
akhir, maka itu adalah dosa berat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dosa seseorang disebut berat, ada tiga
syarat yang harus dipenuhi, yaitu: menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, mengetahui
bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan meskipun mengetahui itu salah, secara
sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain &lt;span style=&quot;border: 1pt windowtext; mso-bidi-font-weight: bold; mso-border-alt: none windowtext 0in; padding: 0in;&quot;&gt;seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar
keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Rahmat Kasih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di masa lalu, dengan adanya hukum Taurat, maka dosa bertambah banyak. Kalau ada
hukum yang berkata, &quot;Jangan melihat ke arah sana&quot; maka kita akan
melihat, justru ke arah yang terlarang. Demikianlah hakekat hukum peraturan
tidak mengantar kuasa untuk mentaatinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Tetapi,
Paulus menjelaskan, biarlah dosa bertambah banyak, karena pada saat itu kasih karunia
menjadi berlimpah-limpah (Rom 5: 20-21). Ia&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;mengingatkan bahwa hukum Taurat telah membuat pelanggaran dan dosa
menjadi semakin banyak. Kata pelanggaran dan dosa dipersonifikasikan untuk
menjadikan kejahatan sebagai musuh yang nyata dan bukan sekadar teori. Kasih
karunia menjadi berlimpah-limpah atau ada dalam jumlah yang lebih besar. Kasih
karunia jauh lebih berkuasa daripada dosa. Sekalipun demikian pada saat
orang-orang percaya menyaksikan kekuatan dahsyat dari dosa, mereka melupakan
kebenaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dosa
sebagai keinginan manusia menjadi sama dengan Tuhan telah mengakibatkan manusia
melawan Tuhan. Manusia terseret ke dalam dosa, terancam maut dan kebinasaan
kekal. Akan tetapi kasih dan kemurahan Tuhan tidak membiarkan manusia tetap
dalam dosa dan maut. Yesus yang merendahkan diri, taat sempurna kepada Tuhan.
PengorbananNya di kayu salib menjadi kekuatan yang menganugerahkan hidup bagi
semua yang percaya kepadaNya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Yesus
telah mengalahkan kuasa iblis, dosa dan maut. Tetapi dalam kehidupan sebagai
orang beriman, kita benar-benar mengalami dasyatnya pergumulan, kita harus
menentukan pilihan yang tepat. Kita berada di antara dosa dan rahmat kasih
Tuhan. Dalam pergumulan itu kita merasa tak kuat melawan dosa dan ingin
menyerah saja. Justru dengan mengingat betapa besar korban kasih Kristus dan
betapa kuat dahsyat kuasa anugerahNya, kita berusaha mengalahkan dosa. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 14 Sept 2012)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3852364718545537693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3852364718545537693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/09/dosa-bertambah-kasih-melimpah.html' title='Dosa Bertambah, Kasih Melimpah'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-5457491192989390716</id><published>2012-08-13T17:16:00.000+07:00</published><updated>2012-08-13T17:16:49.733+07:00</updated><title type='text'>Doa Lisan</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Doa
berarti mengangkat hati dan budi terarah kepada Tuhan, atau memohon hal-hal yang
baik kepadaNya sesuai dengan kehendakNya. Doa selalu merupakan rahmat Tuhan
untuk manusia. Doa Kristiani ialah relasi anak-anak Tuhan secara personal dan
hidup dengan Bapa mereka,&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bersama Yesus dan
Roh Kudus yang tinggal dalam hati umat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Doa
lisan (&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;vox&lt;/i&gt;, suara, &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;vocalis&lt;/i&gt;, berbicara, bahasa Latin) adalah
bentuk doa dalam percakapan dengan Tuhan atau dengan para malaikat dan orang
kudus, yang diungkapkan dalam bentuk kata-kata atau simbol sebagai ekspresi. Secara
teknis, doa lisan melibatkan penggunaan beberapa rumus yang ditetapkan, karena
diasumsikan bahwa ketika seseorang berdoa, secara batin ia selalu menggunakan beberapa
kata yang mendalam. Sehingga perbedaan praktek doa batin dan doa lisan lebih
merupakan di mana penekanannya. &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;(&lt;/i&gt;Fr.
John Hardon&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;, Modern Catholic Dictionary)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Doa
lisan adalah doa yang telah dipersiapkan. Doa lisan merupakan bentuk komunikasi
langsung dan spontan kepada Tuhan. Sedangkan doa batin merupakan ungkapan yang
didominasi perasaan spontan tanpa persiapan. Dengan demikian, doa lisan adalah
doa dengan kata-kata yang menggabungkan raga dengan kedalaman doa batin.
Bahkan, doa yang paling dalam pun tidak lepas dari doa dengan kata-kata.
Tetapi, yang terpenting ialah ungkapan yang keluar merupakan penghayatan iman.
(Katekismus Gereja Katolik, 2702)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Regular; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Doa lisan di kalangan umat
berkembang pada masa Perjanjian Lama dalam penyembahan kepada Tuhan yang
bersemayan di Tabut Perjanjian dan kemuIian kenisah. Umat beroda di bawah
bimbingan para gembala umat. Di antara mereka terdapat Daud, gembala yang
berdoa bagi umat. Doanya merupakan model untuk doa umat, karena mengungkapkan kepercayaan
akan janji Illahi. Suatu kepercayaan yang dipenuhi dengan cinta akan Tuhan yang
mahaesa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Regular; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada jaman para nabi, Elia dikenal
sebagai nabi dari semua nabi oleh mereka yang mencari wajah Tuhan. Di Gunung
Karmel, Elia mengajak agar umat kembali kepada iman. Kepada Tuhan, Elia berdoa:
”&lt;em&gt;Jawablah aku, ya Tuhan, jawablah aku!”&lt;/em&gt; (1Raj 18:37).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Regular; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Yesus juga berdoa. Ia
dikisahkan pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa dalam kesendirian, bahkan
pada malam hari. Yesus berdoa sebelum saat-saat pelaksanaan misiNya. &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Seluruh hidupNya merupakan doa karena Ia berada
dalam kesatuan cinta yang terus-menerus dengan Bapa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Regular; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Doa Yesus di Taman
Getsemani dan kata-kataNya yang terakhir di kayu salib mengungkapkan kedalaman
doa. Yesus menggenapi rencana Bapa dan memikul seluruh kecemasan umat manusia
dan semua doa permohonan dalam sejarah keselamatan. Ia mempersembahkan semuanya
kepada Bapa dan memberikan jawaban yang melampaui semua harapan, dengan
membangkitkanNya dari alam maut. (KGK, 2701)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Regular; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;Pada awal &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Italic; mso-bidi-font-style: italic; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;Kisah
Para Rasul&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Regular; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;,&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;persekutuan umat
perdana&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;di Yerusalem, melakukan doa.
Bentuk-bentuk doa yang terungkap dalam tulisan-tulisan Apostolik dan Kanonik
menjadi acuan bagi doa Kristiani.&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Doa &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Italic; mso-bidi-font-style: italic; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;Bapa
Kami disebut Tertullianus sebagai &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Regular; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;ringkasan dari seluruh Injil dan disebut St. Thomas Aquina sebagai
doa yang sempurna. Sedangkan kata-kata saat Kotbah di Bukit, melukiskan inti
seluruh Injil dalam bentuk doa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #231f20; mso-bidi-font-family: ArnoPro-Regular; mso-fareast-font-family: ArnoPro-Regular;&quot;&gt;Doa Bapa Kami yang menandakan
kelahiran baru anak-anak Tuhan ke dalam hidup Illhi, selalu diucapkan dalam Ekaristi.
Karena permohonan yang ada di dalamnya berdasarkan misteri penyelamatan yang
sudah dilaksanakan dan permohonan yang terpenuhi pada saat kedatangan Tuhan. &lt;/span&gt;Dengan demikian doa Bapa Kami, merupakan
pengajaran Yesus yang paling sempurna mengenai doa dengan kata-kata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Selain
itu, &lt;span style=&quot;mso-ascii-font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;&quot;&gt;​​&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;&quot;&gt;Gereja memiliki doa yang dilakukan secara
teratur, ialah &lt;/span&gt;Perayaan
Ekaristi, liturgi dan ibadat harian&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;&quot;&gt;. Inilah ungkapan doa lisan, selain&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;doa medi&lt;/span&gt;tasi
dan doa kontemplatif. Doa lisan, membawa dan mempersatukan jiwa dan raga
manusia mengarah kepada Tuhan untuk mengikuti teladan Yesus yang berdoa kepada
Bapa. Doa lisan diucapkan dengan mulut dengan rumus tertentu. Meskipun dalam
doa lisan itu spontan, siapapun yang mendoakan sebaiknya penuh penghayatan. Di
masa sekarang, umat kristiani sering membaca doa lisan, seperti doa Bapa Kami,
Salam Maria, Pengakuan Iman, doa permohonan atau penyesalan. Gereja mengatur
doa lisan yang sangat ketat bagi para imam dalam Perayaan Ekaristi, liturgi dan
ibadat harian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam
sejarah Perjanjian Lama, Perjanjian Baru sampai sekarang, doa lisan, digunakan
dan diperlukan oleh semua orang. Ketika mengucapkan atau membaca doa lisan,
seseorang hendaknya menghayati kata-kata yang diucapkan dengan penuh
kesungguhan. Doa lisan yang pendek, akan didengar oleh Tuhan, daripada doa
lisan yang panjang, yang diucapkan tanpa penghayatan. (KGK, 2700)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dari
berbagai pengalaman doa yang ada, tampak bermacam ungkapan-ungkapan hidup doa. Tradisi
Kristiani mempunyai tiga bentuk untuk mengungkapkan dan menghayati doa: doa lisan,
doa meditasi dan doa kontemplatif. Satu hal yang menjadi ciri khas dan paling
penting ialah ketenangan hati yang terarah kepada Tuhan. Saat mengucapkan doa
lisan perlu ada jeda sejenak, untuk merenungkan makna doa dan kebenaran yang
terkandung di dalamnya dengan tenang.(KGK 2703)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Hal
yang sama hendaknya dilakukan ketika membacakan doa dari buku, sebaiknya
diucapkan dengan perlahan dan memberi kesempatan untuk merefleksikan sejenak
isi doa, hening meditasi sebentar serta merenungkan kata-kata doa yang menjadi
pengharapan. Jika seseorang membiasakan diri dengan doa lisan&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sedemikian ini, ia memberi kesempatan bagi
dirinya dan peserta doa lain untuk mendoakan doanya sendiri serta mendorong
pengungkapan doa batin yang membuat lebih dekat dengan Tuhan. Sebagaimana kutipan
dalam Kitab Mazmur, Tuhan itu dekat kepada semua orang yang berseru kepadaNya,
yang berseru kepadaNya dalam kebenaran. Ia memenuhi keinginan semua orang yang
takut akan Dia dan mendengar teriakan mereka. (Mzm 144:18-19). (F.X.Lasance, &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;My Prayer Book&lt;/i&gt;) &lt;em&gt;(Surabaya Pos, 27 Juli 2012)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5457491192989390716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5457491192989390716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/08/doa-lisan.html' title='Doa Lisan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-223317672002798645</id><published>2012-07-19T15:04:00.000+07:00</published><updated>2012-07-19T15:06:58.025+07:00</updated><title type='text'>Berbagi, Bukan Menumpuk</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong&gt;
&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Luk 12: 13 - 21&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;em&gt;Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: &quot;Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.&quot; Tetapi Yesus berkata kepadanya: &quot;Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?&quot; Kata-Nya lagi kepada mereka: &quot;Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu. Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: &quot;Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.&quot;&lt;/em&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selama ini, Hendra menyukai makanan enak. Hampir sebulan 3-4 kali ia pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan berupa makanan kaleng dalam kemasan. Memang kemasannya menarik, tetapi kebanyakan  mengandung toksin dan karsinogen, karena ditanam menggunakan pupuk kimia atau pestisida kimia. Buah dan sayuran pun dimodifikasi agar terlihat awet, tetapi tidak ada rasanya dan lebih cepat busuk. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika membawa seorang temannya melihat-lihat makanan yang tersedia di lemari es, Hendra bertanya, &quot;Bagaimana pendapatmu tentang makananku, enak kan ?&quot; Ia berharap akan mendengar pujian yang berlebihan, namun tertegun saat temannya menjawab, &quot;Cukup menarik, tetapi terus terang makanan yang tersedia tidak sehat”

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Memang, makanan yang diproduksi pabrik seringkali diradiasi. Radiasi dilakukan untuk membunuh bakteri dan mengawetkan makanan. Akan tetapi proses tersebut mengubah struktur molekul dan daya hidup makanan.  Selain itu makanan seperti daging, ikan dan ayam kerap mengandung bahan kimia yang tidak baik untuk kesehatan. Karena kesadaran itu, Hendra sejak setahun lalu menjauhi makanan non organik
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sejak mengenal makanan sehat yang organik, Hendra berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pengonsumsi makanan organik. Hal itu dilakukan demi menjaga kesehatan. Ketika mendengar ada komunitas petani organik di salah satu stasi memohon dukungan untuk penjulanan beras dan sayur organik, Hendra tidak hanya membeli, namun menyediakan diri menjadi penyalur. Dengan menjadi penyalur beras, Hendra membantu petani yang menyediakan sumber pangan sehat bagi banyak orang. Tidak puas dengan itu, Hendra mendatangi para petani dan mengusahakan sertifikat organik bagi beras produksi mereka. Semua dilakukan karena ia ingin para petani maju, tidak hanya menyediakan makanan sehat, namun juga sejahtera hidupnya. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam perumpamaan tentang petani yang kaya, Yesus bercerita tentang seorang laki-laki yang berpikir bahwa kekayaan akan memuaskan jiwanya. Namun, Yesus menyebutnya bodoh. Harta duniawi seringkali mengecoh. Yesus menghendaki orang kaya tidak egois, tamak dan berpikir bahwa dengan menjadi kaya maka semua urusannya pasti beres. Yesus mengingatkan agar kita lebih menghargai hal-hal surgawi. 

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Harta, sebenarnya hanyalah sarana. Karena itu, orang kaya hendaknya menyisihkan sejumlah besar kekayaannya untuk membantu karya sosial pemberdayaan. Mereka yang dianugerahi harta berlimpah, hendaknya tidak mengumpulkan kekayaan hanya untuk diri sendiri, tetapi mau berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Dengan membantu membeli hasil pertanian organik, menjadi penyalur beras organik dan mendukung pemberdayaan petani, mereka menjadikan harta sebagai berkat bagi sesama yang membutuhkan. Itu akan jauh lebih berarti. Sebab nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan, tetapi oleh seberapa besar hidupnya menjadi berkat bagi sesama. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong&gt;Refleksi&lt;/strong&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apa yang menarik dari cerita itu ? Apa bentuk kepedulianku kepada sesama dalam rangka HPS tahun ini ? 

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong&gt;Doa&lt;/strong&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Allah yang Mahamurah,&amp;nbsp;kami bersyukur atas segala anugerahMu. Kami memiliki tanah air yang subur makmur. Kami mendapatkan rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Ingatkanlah kami agar tidak mengumpulkan kekayaan hanya untuk diri sendiri, tetapi mau berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Semoga kami sanggup meneladan Yesus dengan rela berbagi. Sehingga kami semua mengalami kesejahteraan di atas bumi, seperti di dalam surga.
&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/223317672002798645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/223317672002798645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/07/berbagi-bukan-menumpuk-luk-12-13-21.html' title='Berbagi, Bukan Menumpuk'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-6527020804378172704</id><published>2012-07-11T07:26:00.002+07:00</published><updated>2012-07-13T01:18:43.358+07:00</updated><title type='text'>Menghayati Ekaristi</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Orang Katolik menghidupi, mendoakan dan merayakan seluruh rahasia keselamatan llahi dalam Liturgi Suci. Untuk semakin memperdalam pengetahuan dan praktek yang benar dalam berliturgi telah berlangsung katekese tentang Liturgi Ekaristi dan akan diadakan Konggres Ekaristi. Ini semua agar liturgi semakin dipraktekkan dan dihayati secara benar, sehingga rahmat keselamatan Kristus makin berbuah dan berlimpah. Beberapa hal yang penting dalam menghayati liturgi Ekaristi ialah persiapan, pewartaan Sabda, penghayatan akan kehadiran Tuhan dalam Sakramen Mahakudus dan penghayatan Ekaristi dalam keseharian.

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Mempersiapkan&lt;/b&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;

Ekaristi, tidak bisa dilepaskan dengan persiapan. Persiapan membuat mantap merayakan Ekaristi. Persiapan itu antara lain membaca Kitab Suci yang akan dijadikan bacaan pada hari tersebut. Hal ini dapat diketahui dari sabda atau sikap Yesus dalam perikop tersebut. Tentu dengan memperhatikan konteks kisah di mana Yesus menyampaikan sabda atau sikapNya. 

Bacaan Injil selalu dikaitkan dengan masa dalam penanggalan liturgi. Dalam hal ini, konteks Injil dan bagaimanana sabda Yesus dalam konteks tersebut, selalu dikaitkan dengan konteks sekarang berkenaan dengan tema tertentu dan apa pesan yang akan disampaikan dalam konteks sekarang. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Memang pewartaan sabda dalam Ekaristi selalu menjadi bagian yang terpenting, yang bisa direnungkan, dibawa pulang sebagai bekal dalam kehidupan, sebagai refleksi untuk menilai diri dalam menghayati menjadi pengikut Yesus, tawaran sekaligus tantangan untuk diwujudkan. 

Selain persiapan pewartaan sabda, tak kalah penting ialah persiapan fisik dan mental. Persiapan ini lebih berkenaan dengan menata agar seluruh jiwa dan raga pantas untuk mengikuti Ekaristi. Paling tidak ada kesempatan untuk hening sejenak. Kesempatan hening dalam doa yang singkat, menjadi kesempatan  memohon kepada Tuhan agar Ekaristi yang akan dilakukan menjadi tanda kehadiran Tuhan. 

&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Mendengarkan Sabda&lt;/b&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sabda Tuhan adalah sabda kebenaran dan kehidupan. Sabda Tuhan adalah kebenaran, meskipun terkadang tidak mudah dipahami, tidak mudah dijadikan pegangan, tidak mudah diwujudkan. Entah karena suasana hati saat itu, karena konteks ketika sabda itu dibawakan atau karena tawaran jaman yang seringkali bertentangan. 

Namun sabda Tuhan adalah kebenaran yang harus terus dimengerti secara perlahan, dikaitkan dengan suasana hati, konteks atau tawaran jaman sehingga pada akhirnya menjadi tawaran. Tawaran bagi mereka yang mau mengikuti jalan Tuhan. 

Inilah yang kemudian menjadi sabda yang menghidupkan. Tetap meyakini sabdaNya sekalipun tidak mudah memahami, menjadikannya sebagai pegangan dan pelan-pelan mewujudkan meskipun ada semacam banyak halangan. Justru di situ arti menghidupkan menjadi nyata, ketika tidak mudah, ketika ada halangan namun tetap selalu memohon campur tanganNya lewat doa.  

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Memang terkadang sabda Tuhan sungguh menjadi penghiburan yang memberi kekuatan, menjadi semangat untuk melangkah dalam kehidupan. Ada kalanya sabdaNya menjadi teguran, yang mengkritik diri sang pewarta dan pendegarnya kembali ke jalan yang benar dan memperbaiki diri sesuai dengan ajaranNya. 

Karena sabdaNya adalah kabar gembira, maka mewartakan sabdaNya adalah sebuah kesukaan besar. Tetap menaburkan sabda, meskipun terkadang seperti tidak ada hasilnya. Karena ibarat benih, sabda bisa jatuh ke tanah kering, tanah berbatu atau tanah yang subur. Dengan keyakinan, bahwa di antara sabda yang ditabur adalah benih yang niscaya  ada yang jatuh di tanah subur, meskipun mungkin hanya satu, sedikit atau tidak kelihatan. 

&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Mengalami Kehadiran&lt;/b&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kesempatan liturgi ekaristi ialah, kesempatan yang terasa sangat dekat denganNya. Ia dikenangkan, dihadirkan kembali dan dijadikan korban yang memberi hidup. Yesus sendiri telah berpesan, lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku. 

Ritual yang dilakukan Yesus seharusnya memberi inspirasi. Karena pada saat perjamuan terakhir Ia mengungkapkan kesatuan dalam persekutuan bersama para murid. Perjamuan merupakan saat yang sungguh sangat dekat untuk terus dan kembali bersatu dengan Yesus. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam persatuan itu, Yesus mengungkapkan pentingnya saling melayani dengan membasuh kaki. Tidak hanya itu, persekutuan itu juga menekankan pentingnya, rela berkorban, bahkan mengorbankan diri untuk sesama. 

Ketika menghadirkan kembali korban Yesus yang satu dan sama, mengingatkan kembali bahwa demikianlah seharusnya, ialah saling melayani dan mengorbankan diri sebagaimana yang diajarkan Yesus. Yang seharusnya tidak cukup disambut dengan memandang atau menunduk hormat, tetapi setuju dan siap melakukan simbolisasi itu dalam kehidupan nyata sehingga tercipta persekutuan kasih yang sesungguhnya.

Kehadiran Yesus sungguh nyata dalam Ekaristi, tidak terbantahkan dalam imam. Kepercayaan akan daya Roh, yang akan menguduskan persembahan agar menjadi Tubuh dan Darah PuteraMu merupakan campur tangan Tuhan sendiri, melalui tangan seorang imam. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan demikian roti dan anggur menjadi sarana bagi kehadiran Tuhan. 

Yesus yang hadir sungguh luar biasa, yang agung, kudus, yang Illahi hadir. Tetapi sekaligus  memberikan diri, mengorbankan diri kepada manusia yang lemah ini, sungguh memberi semangat dan kekuatan bagi manusia yang merasa diri tak layak. Ia mau hadir untuk menyertai dan menguatkan manusia di tengah dunia.

KehadiranNya dalam komuni suci, sungguh pengalaman yang melegakan, bagi mereka yang letih, lesu dan berbeban. Bagi mereka yang sakit, kehadiranNya menyembuhkan. Bagi mereka yang berdosa, tak pantas, kehadiranNya adalah sapaan yang hangat, tanpa penolakan. Sungguh, Sakramen Mahakudus ialah Allah yang mau bersolider hadir dalam suka duka kecemasan manusia. Allah yang bahkan rela mengorbankan diri, mau dipecah-pecah dan dibagi agar manusia selamat.

&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Menghayati dalam Keseharian&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;


Yesus telah memberikan amanat dalam Perjamuan Malam terakhir, lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku. Ekaristi memang merupakan amanat Yesus untuk melaksanakan suatu perayaan liturgi. Namun tidak hanya itu, Ia juga memberi amanat untuk melakukan karya cinta kasih bagi sesama, sebagaimana diteladankanNya dengan cara simbolis membasuh kaki para murid. Ada keterkaitan utuh di antara, cultus dan caritas dari amanat Yesus. Ritus atau cultus yang dipahami dan dihayati dengan baik, menjadi sumber yang mengantar umat beriman mengamalkan kasih atau caritas, kepada sesama.

Seringkali inilah yang tidak mudah dan sekaligus menjadi suatu tantangan. Perayaan ekaristi  menjadi kesempatan yang indah dan agung tidak terbatas dalam ritual, tetapi perlu diwujudkan dalam hidup sosial. &lt;i&gt;(dimuat pada buku: Ekaristi Sumber Dan Puncak, Iman Dan Imamatku, Konggres Ekaristi 2012 Keuskupan Surabaya)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6527020804378172704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6527020804378172704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/07/orangkatolik-menghidupi-mendoakan-dan.html' title='Menghayati Ekaristi'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-7087638496012060270</id><published>2012-05-20T07:17:00.000+07:00</published><updated>2012-07-13T01:27:08.058+07:00</updated><title type='text'>Keberpihakkan Kepada Kaum Buruh</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada akhir Januari lalu, ribuan buruh melakukan aksi dengan memblokir jalan tol Jakarta - Cikampek. Aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan ribuan buruh atas pengesahan Upah Minimum Kabupaten (UMK) 2012. Putusan hakim yang memenangkan Apindo berarti menggagalkan kenaikan upah buruh. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar  yang menemui demonstran akhirnya memberikan jaminan dari pemerintah untuk menetapkan upah minimum Kabupaten Bekasi sesuai dengan yang ditetapkan Gubernur Jawa Barat.


&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kekhawatiran buruh terhadap penindasan disebabkan antara lain karena berbagai peraturan yang tidak memihak kaum buruh. Misalnya tentang peraturan perjanjian waktu kerja yang dikhawatirkan akan melegalkan pekerjaan waktu tertentu (kontrak). Para buruh mengkhawatirkan pula keberadaan tenaga kerja outsourching karena merupakan bentuk eksploitasi buruh. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu penghapusan pesangon yang mengatur pengupahan selama ini ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan pekerja atau serikat pekerja. 


Ketika isu pelaksanaan ASEAN China Free Trade Area (ACFTA) merebak, muncul tuntutan untuk menolak. Di Mojokerto, sebagian besar perajin sepatu lokal terpaksa harus mengurangi jumlah produksi untuk menyiasati kemungkinan kerugian lebih besar karena membanjirnya produk impor. Kekhawatiran yang sama dialami para karyawan industri alas kaki, garmen, makanan dan minuman, besi baja dan kimia anorganik dasar yang tersebar di kawasan Germakertasusila (Gresik, Madura, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan). &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perdagangan bebas menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan ketika hambatan industri belum seluruhnya baik, membuat produk lokal kalah dalam persaingan. 


Demonstrasi buruh merupakan hak kelompok buruh untuk memperjuangkan kesejahteraan. Demonstrasi buruh merupakan upaya para buruh kembali memperjuangkan hak. Mereka sesungguhnya menampilkan kekhawatiran bahwa mereka akan kembali tertindas. 


&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Situasi Ketidakberpihakkan&lt;/b&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jelaslah bahwa ketidakberpihakkan kepada buruh muncul karena pemilik modal selalu berorientasi menekan biaya tenaga kerja serendah mungkin. Orientasi yang sudah pasti berlawanan arah dengan semangat untuk menyejahterakan kehidupan buruh. Logika pemilik modal memang selalu berciri menguntungkan pemilik modal sebesar-besarnya. 


Pemerintah yang sibuk melayani pemilik modal justru menjajakan negaranya kepada mereka agar berinvestasi dengan tawaran menggiurkan namun menindas buruh. Tampaklah bahwa pemerintahan sedemikian ini tidak lagi mengabdi rakyatnya tetapi menguntungkan dirinya dan pemilik modal global. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebenarnya upaya semacam sudah pernah dilakukan, bentuknya berupa penurunan tarif impor, penjualan aset milik negara dan kenaikan tarif BBM. 


Logika pemilik modal berwujud struktur neoliberalisme yang digerakkan ideologi kapitalisme-liberalisme. Karena kapitalisme-liberalisme menyebabkan kompetisi penuh sebagai satu-satunya cara untuk bertahan, maka logika pemilik modal selalu mengurangi arus dana keluar berganti penumpukan modal. Namun cara semacam ini jelas menindas kedaulatan buruh. Karena itu semua, mereka begitu lemah dengan sekedar menjadi buruh yang tak jelas masa depan dan kehidupannya.
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;


Kecenderungan kolusi pemilik modal dengan pemerintah, menyengsarakan kehidupan buruh. Dengan berdalih program penyesuaian dan pengetatan ikat pinggang untuk tujuan memampukan negara membayar kembali hutang luar negeri sekalipun ekonomi buruk, maka logika pemilik modal berhak mengatur pemerintah. 


Dalam sistem masyarakat kapitalisme sekarang terdapat tiga kelompok berkepentingan, yaitu pemilik modal, negara, dan buruh. Pemenang persaingan ini adalah kelompok pemilik modal, sedangkan buruh hanya sekedar bertahan hidup. Pemerintah yang tertawan pemilik modal membuat mekanisme kebijaksanaan yang sering merugikan para buruh. Banyak kebijaksanaan ekonomi, politik, sosial, dan budaya menjadi sekedar kumpulan legalisasi hak prerogatif privat pemilik modal. 


&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong&gt;Sejarah Keberpihakkan&lt;/strong&gt; 


&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam sejarah Gereja, ketika terjadi krisis sosial mengundang perhatian dari berbagai kalangan untuk ikut mencoba mencari pemecahan. Di masa lalu, reaksi sosial kalangan gerejani berawal dari gerakan-gerakan katolisisme. Gerakan ini adalah suatu gerakan kepedulian sosial yang dipengaruhi iman. Gerakan ini tidak atas perintah atau dibawah pengaruh pimpinan hirarki tertinggi Gereja (Paus), tetapi atas prakarsa dan tanggung jawab orang-orang Katolik sendiri sejauh bertindak dirinya sebagai Gereja yang hidup. Gereja tampil lewat tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok yang peduli terhadap permasalahan sosial. Gerakan ini sebagai usaha untuk memberi sumbangan demi kesejahteraan umum.


&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di Perancis diawali dengan gerakan karitatif yang diprakarasi oleh Frederic Ozanam (1813-1853). Ia mendirikan Konferensi Santo Vincentius, yaitu kelompok awam yang terpanggil untuk meringankan beban penderitaan orang miskin. Di Jerman dipelopori oleh Adolf Kolping (1813-1865) dengan mendirikan rumah-rumah pertemuan untuk para tukang dan buruh di kawasan industri sungai Ruhr. Ia membuka kesadaran para tukang dan buruh industri akan pentinganya perubahan sikap, bukan hanya perubahan struktur masyarakat. Sedangkan di Belanda Wilhelm Emanuel Freiherr van Ketteler (1811-1877) mempengaruhi kalangan Katolik di negaranya dengan animo yang sangat  besar. Ia membangkitkan kesadaran tantang masalah buruh sebagai masalah sosial. Ia menekankan bahwa pembangunan religius tak mungkin tanpa perubahan sosial.
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;


Jauh setelah gerakan tersebut, ketika tahta kepausan dipegang oleh Paus Leo XIII, hirarki Gereja menjawab permasalahan sosial yang terjadi. Leo XIII sadar bahwa Gereja tidak mampu berbuat bila tidak memiliki kontak langsung dengan masyarakat. Sikap Gereja terhadap penindasan kaum buruh nyata dalam Ensiklik Rerum Novarum yang dikeluarkan Paus Leo XIII, 15 Mei 1891. Ensiklik Rerum Novarum merupakan ensiklik yang menanggapi masalah sosial yaitu masalah kaum buruh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;



&lt;strong&gt;Gagasan Keberpihakkan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;



Kemerosotan moralitas telah membuka jalan bagi pemerasan kaum buruh. Ketamakan dalam proses produksi melahirkan suatu situasi di mana kaum buruh sangat rentan mengalami penindasan. Masalah kaum buruh bukan sekedar masalah kemiskinan,  tetapi masalah kebebasan kaum buruh dan penghargaan terhadap pribadi manusia. Ketika kaum sosialis menawarkan penghapusan hak milik pribadi dari tiap orang yang kemudian dijadikan milik bersama dan dikelola oleh negara, Ensiklik Rerum Novarum mengecam keras hal ini. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keberpihakkan Gereja kepada kaum buruh ditegaskan dalam kalimat, “mesti diubah situasi kaum buruh yang tidak pantas, yang disebabkan oleh keserakahan dan kekerasan hati pemilik modal, yang menghisap kaum buruh tanpa batas dan memperlakukan mereka bukan sebagi manusia melainkan sebagi barang” (RN art. 64). Selanjutnya dikatakan bahwa kaum buruh diharapkan berusaha menabung hasil upahnya, sehingga mereka dapat menjadi mandiri. (RN art. 70).


Berkenaan dengan hal itu, tidak bisa dipisahkan peranan Gereja, buruh dan pemilik modal, serta negara. Gereja dengan menggunakan prinsip-prinsip Injil diharapkan membantu memperdamaikan dan mempersatukan kelas-kelas sosial. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Gereja tidak memicu perpecahan antara kaya dan miskin. Justru Gereja perlu mengusahakan pendidikan untuk bertindak adil (RN art. 40-41) dan mengajarkan agar para buruh tidak boleh diperlakukan sebagai budak karena keadilan menuntut penghormatan akan martabat manusia.


Berkenaan dengan pemilik modal dan kaum buruh,  buruh diharapkan dapat bekerja dengan baik dan tidak merusak aset pemilik modal dengan menghindari penggunaan kekerasan, ketika berniat hendak melindungi kepentingan. Pemilik modal tidak boleh memperlakukan buruh sebagai budak. Harkat dan martabat kaum buruh harus dihormati. Pemilik modal hendaknya memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kekuatan, jenis kelamin serta usia. Kaum buruh juga harus diberi keleluasaan untuk dapat menabung. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di balik itu semua, kewajiban pokok pemilik modal memberikan upah yang adil kepada buruh, serta tidak melakukan penindasan (RN art. 31-32). Karena sebenarnya antara pemilik modal dan buruh, saling membutuhkan satu sama lain (RN art. 28).


Berkenaan dengan peran negara, perlu ada Undang-Undang yang melayani kesejahteraan umum. Pemerintah harus melindungi kesejahteraan dan hak-hak buruh serta melindungi semua kelas warga negara. Dalam usaha untuk melindungi hak-hak pribadi, perhatian utama negara terutama ditujukan kepada mereka yang lemah. 


&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Gagasan keberpihakkan Gereja perlu dikonkretkan dengan mendukung terbentuknya lembaga struktural yang memihak kaum lemah, dengan memperjelas visi misi keberpihakkan. Selain itu perlu ada sosialisasi dan animasi bahwa Gereja memiliki keprihatinan sekaligus kepedulian untuk memihak kaum buruh. Karena selama ini, umat tidak banyak memahami, sehingga bentuk dukungan masih perlu ditingkatkan. Bentuk pendampingan kepada kaum buruh hendaknya dapat menjawab langsung kebutuhan. Selain dengan karya sosial karitatif, perlu dikembangkan aneka peningkatan kapasitas kaum buruh dalam hal kemampuan negosiasi, advokasi, kepemimpinan, kewirausahaan atau karya sosial pemberdayaan berbasis komunitas, misalnya dengan pembentukan credit union.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;



Keberpihakkan Gereja dapat diawali dengan menyebarkan dan meresapkan Ajaran Sosial Gereja sebagai pijakan dari sebuah karya pembinaan yang intensif bagi umat beriman. Pembinaan semacam itu hendaknya mengindahkan kewajiban-kewajiban mereka di tengah masyarakat sipil. Umat beriman perlu meresapkan semangat Kristen ke dalam pandangan dan adat kebiasaan umat sehari-hari, ke dalam hukum-hukum dan struktur-struktur masyarakat sipil. (KASG art. 531). Pembinaan Ajaran Sosial Gereja dapat dilakukan di lembaga pendidikan Katolik dan di komunitas basis. Kegiatan seperti itu menjadi kesempatan pertukaran aneka refleksi serta pengalaman, mempelajari masalah-masalah yang timbul dan mengidentifikasi pendekatan-pendekatan operatif yang baru. Pembelajaran ajaran sosial Gereja bertujuan agar ajaran tersebut diketahui secara memadai dan diwujudkan secara sepadan dalam tingkah laku konkret. (KASG art. 528). &lt;i&gt;(Inspirasi, Mei 2012)
&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/7087638496012060270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/7087638496012060270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/07/padaakhir-januari-lalu-ribuan-buruh.html' title='Keberpihakkan Kepada Kaum Buruh'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-5688601654985560518</id><published>2012-04-21T12:09:00.000+07:00</published><updated>2012-07-18T00:45:31.281+07:00</updated><title type='text'>Memihak Orang Miskin, Memihak Keadilan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Kitab Suci memberi gambaran tentang
kemiskinan dalam beberapa kategori. Kemiskinan sebagai bentuk penindasan dan
penipuan. Dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama, dikisahkan orang menjadi miskin karena
ditindas oleh seseorang atau pemerintah (bdk., Amsal 14:31, 22:7, 28:15).
Mereka mempraktekkan hukum yang tidak adil dan mengubah takaran sebagai bentuk
eksploitasi. Kedua, kemiskinan dianggap sebagai kesalahan atau hukuman. Kitab
Ayub mengisahkan, Tuhan membawa pencobaan kepada Ayub (Ayub 1:12-19). Ketiga,
kemiskinan disebabkan oleh kemalasan, keputusasaan dan kerakusan. Amsal menulis
seseorang menjadi miskin karena kebiasaan buruk dan apatisnya (bdk., Amsal
10:4, 13:4, 19:15, 20:13, 23:21). &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;&quot;&gt;

&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Penyebab lain kemiskinan ialah
budaya miskin. Kemiskinan menyebabkan kemiskinan lanjutan dan siklus itu tidak
mudah dihentikan. Orang yang bertumbuh dalam budaya statis semacam itu
membutuhkan daya juang atau pendidikan sehingga dapat memperbaiki keadaannya.
Dalam situasi demikian, “orang kaya dan orang miskin bertemu, yang membuat
mereka semua adalah Tuhan” (bdk., Amsal 22:2). Tuhan menghendaki perjumpaan,
antara orang kaya dan orang miskin. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Pada saat
Revolusi Industri, kemerosotan moralitas mengakibatkan pemerasan terhadap kaum
pekerja yang tidak terlindungi undang-undang dan asosiasi. Ketamakan manusia
dan proses produksi secara keseluruhan melahirkan suatu situasi di mana
segelintir orang kaya memperbudak kaum pekerja yang tidak memiliki sarana produksi.
Paus Leo XIII saat itu mengeluarkan Ensiklik Rerum Novarum yang dengan tegas
mengecam pemecahan sosialis yang mengingkari hak milik pribadi. Kaum sosialis
berpendapat, penghapusan milik pribadi dan pengalihannya kepada negara, sebagai
pemecahan atas masalah kaum pekerja. (art. 3, 7). Paus Leo XIII membela hak-hak
kaum pekerja untuk memiliki barang melalui kerja keras mereka. Negara yang
meniadakan hak, berarti menindas hak. (art. 8, 9, 23)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Ensiklik
Rerum Novarum menjadi titik awal bahwa Gereja berhak berbicara mengenai masalah
sosial. Dengan menggunakan prinsip Injil, Gereja berusaha mendamaikan dan
mempersatukan kelas-kelas sosial (majikan dan buruh, orang kaya dan miskin).
Adalah suatu kesalahan menerima keadaan bahwa suatu kelas masyarakat bertentangan
dengan kelas yang lain, seakan-akan terjadi adu domba antara kaum kaya dan kaum
miskin. (art. 25-27, 33, 41).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Gereja
perlu mendidik umat untuk melakukan tindakan adil. (art. 40-41). Sebagaimana
disebut dalam Ensiklik Rerum Novarum, kaum pekerja tidak boleh diperlakukan
sebagai budak. Karena keadilan menuntut penghormatan akan martabat pribadi
manusia. Tindakan yang sangat tidak manusiawi jika memanfaatkan manusia, pria
atau wanita, demi keuntungan semata, sebagai sesuatu yang tidak lebih dari
sekedar barang. (art. 31).&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Menurut YB
Mangunwijaya, orang miskin adalah mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan
dan mengalami penderitaan. Mereka sungguh berada dalam situasi terjepit, selalu
dikalahkan dan tak punya pilihan. Mereka tak memiliki jalan keluar atas
persoalannya, tidak memiliki koneksi, modal atau informasi. Mereka sebagai kaum
yang sakit, tertindas, terhisap, terjajah, tergusur, tergeser, yang dina,
lemah, miskin, terlupakan, tak terhitung dan dilecehkan. Kemiskinan tak lagi
menunjuk kepada suatu nasib atau keadaan kodrati, tetapi sebagai akibat dari
proses pemiskinan. Maka, proses ini dapat dan harus dihentikan serta diganti
dengan keadaan hidup yang lebih baik, yaitu di mana semua pihak saling memberi
dan menerima atas asas keadilan.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Dalam situasi demikian, Gereja perlu
peka terhadap persoalan kemiskinan, dengan melihat situasi di sekitar,
menganalisa kekuatan internal yang dapat dijadikan modal sosial serta
menawarkan pemikiran, tindakan kreatif serta cara hidup alternatif sebagai pemecahan
(melihat, menilai, melakukan tindakan). Pendek kata, dalam situasi di mana yang
kuat sebagai yang menang, Gereja perlu berpihak kepada yang kecil, lemah,
miskin dan tersingkir. Dalam situasi yang mengagungkan uang, Gereja perlu
mewartakan solidaritas dan kasih. Dalam situasi yang menghalalkan segala cara,
Gereja perlu mengembangkan budaya saling menghormati, bekerjasama dan berdia&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;log.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Inilah pilihan memihak orang miskin,
sebagaimana diteladankan Yesus. G&lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;ereja
perlu terus berupaya memihak, meskipun jatuh bangun dan bahkan kerap mengalami
kegagalan, untuk menjadi sahabat bagi semua kalangan, terutama mendengarkan
mereka yang mengalami penderitaan dan mengupayakan bantuan. Pemihakkan itu
dapat berupa mendukung prakarsa pemberdayaan masyarakat seperti pertanian
organik, pemberdayaan ekonomi melalui credit union, &lt;/span&gt;mengusahakan orang
kaya dan orang miskin bertemu untuk saling membantu. Atau &lt;span style=&quot;mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;mendorong &lt;/span&gt;umat bekerjasama dengan
siapapun yang berkehendak baik demi mewujudkan keadilan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 20 April 2012)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5688601654985560518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5688601654985560518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/04/memihak-orang-miskin-memihak-keadilan.html' title='Memihak Orang Miskin, Memihak Keadilan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-4325606580167182642</id><published>2012-03-02T15:37:00.002+07:00</published><updated>2012-03-02T15:45:22.774+07:00</updated><title type='text'>Menantikan Kerajaan Allah, Mewujudkan Kesejahteraan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kerajaan Allah akan  datang dan akan menjadi kerajaan kasih, kedamaian dan keadilan. Kerajaan Allah  diawali dengan kematian dan kebangkitan Yesus dan menjadi sempurna kelak pada  saat kedatanganNya kembali, pada akhir zaman. Umat beriman  hendaknya&amp;nbsp;hidup sesuai dengan ajaran Yesus, berpikir dengan cara Kristus dan terus  mempromosikan perdamaian dan keadilan. Hal ini terjadi jika umat  mendengarkan kehendak Roh Kudus dan bertindak sesuai situasi konkret. Tak  ketinggalan umat beriman perlu&amp;nbsp;berdoa, memohon kepada Tuhan  sehingga Kerajaan Allah&amp;nbsp;datang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Sebenarnya, Yesus telah mengawali dengan mengumpulkan para murid  agar menjadi benih dan awal Kerajaan Allah di bumi. Yesus mengutus Roh Kudus  untuk membimbing dan&amp;nbsp;memanggil semua orang untuk menyebarkan  Kerajaan Allah di seluruh dunia.&amp;nbsp;Kerajaan Allah yang paripurna  akan terjadi pada kedatangan Kristus pada akhir jaman. Saat itu, Ia akan  menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Tandanya ialah kekalahan&amp;nbsp;kekuatan jahat. Karena itu, umat beriman yang&amp;nbsp;menunggu dengan penuh harapan  kedatangan Kerajaan Allah,&amp;nbsp;berdoa dengan ungkapan  &quot;Datanglah, KerajaanMu”. Kerajaan Allah yang diharapkan ialah&amp;nbsp;situasi keselamatan.&amp;nbsp;Allah   meraja dalam diri setiap orang. Ketika semua orang hidup sebagai saudara,  sebagai anak-anak  Allah serta pikiran dan tindakan manusia selaras dengan kehendakNya. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Yesus tidak mendefinisikan Kerajaan Allah secara&amp;nbsp;tersurat. Ia  menggambarkan Kerajaan Allah dalam perumpamaan. Hal Kerajaan Allah  itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Biji itu paling kecil. Tetapi  apabila ditaburkan, biji dapat tumbuh, menjadi lebih besar  sehingga  burung-burung dapat bersarang dalam naungannya. Kerajaan Allah itu serupa&amp;nbsp;konsep  tentang&amp;nbsp;kehidupan, kemuliaan, kegembiraan dan terang. Paulus menjelaskan  Kerajaan Allah&amp;nbsp;bukanlah soal makanan dan  minuman, tetapi soal kebenaran atau keadilan, damai sejahtera dan sukacita oleh  karena Roh Kudus. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Memang, Kerajaan Allah bernuansa spiritual sekaligus  eskatologis. Namun, Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah&amp;nbsp;menjadi realitas saat ini. Mereka yang kelak duduk di sebelah kanan Raja, yang  diberkati Bapa dan menerima Kerajaan yang telah disediakan sejak dunia dijadikan,  ialah mereka yang melakukan karya sosial&amp;nbsp;kepada sesama. Ialah memberi  makan, memberi minum, memberi tumpangan, memberi pakaian, yang melawat dan  mengunjungi&amp;nbsp;sesama yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit dan  dalam penjara. Sebagaimana perkataan Yesus, “Sesungguhnya segala sesuatu yang  kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah  melakukannya untuk Aku”. Maka  Kerajaan Allah merupakan&amp;nbsp;situasi selamat,&amp;nbsp;yang  berciri keadilan dan damai sejahtera, bukan sebuah keadaan yang melulu ditunggu, melainkan situasi yang harus diwujudkan sekarang. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Situasi dunia yang masih tidak menunjukkan&amp;nbsp;keadilan, kedamaian dan kesejahteraan,  terkait dengan relasi yang benar manusia kepada Tuhan, kepada sesama, baik  secara individual atau sosial dan relasi dengan seluruh ciptaan. Maka  mengharapkan datangnya Kerajaan Allah berarti mengharapkan terwujudnya keadilan, kedamaian dan  kesejahteraan dalam relasi dengan Tuhan, sesama dan seluruh ciptaan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dalam relasi dengan Tuhan, Tuhan menginginkan umat untuk  beribadah. Ibadah merupakan tanda bahwa umat menghormati dan memuliakan Tuhan&amp;nbsp;dalam perayaan.&amp;nbsp;Nabi Amos mengingatkan dengan keras bahwa Tuhan membenci, ibadah bangsa Israel  dan tidak menyukai korban persembahan. Karena di dalam kehidupan mereka tidak  ada keadilan dan kebenaran. Mereka tekun merayakan hari raya, mempersembahkan  korban dan memuliakan Tuhan, tetapi tindakan dan perbuatan mereka setiap hari  tidak mempraktekkan kebenaran dan keadilan. Mereka memisahkan antara ibadah dan tindakan kasih. Ibadah  yang dilakukan di tempat ibadah, terpisah dan tidak serta merta diwujudkan&amp;nbsp;dalam  tindakan kasih kepada sesama. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dalam relasi dengan sesama, Yesus menunjukkan siapakah sesamaku  manusia dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati. Pada jaman&amp;nbsp;itu,  orang Yahudi menganggap bahwa orang kafir dan orang Samaria adalah golongan orang yang  harus dijauhi dan dianggap musuh. Demikian pula para Imam dan ahli Taurat  memperlakukan orang Yahudi dari golongan rakyat biasa, sebagai najis dan harus  dihindari. Yesus mengajarkan bahwa sesama manusia ialah manusia, siapapun  orangnya.&amp;nbsp;Manusia tidak bisa direduksi karena&amp;nbsp;suku, agama, ras, warna kulit  atau golongannya. Sesama manusia adalah&amp;nbsp;orang yang memerlukan pertolongan.  Ia meminta kita untuk saling mengasihi. Karena mengasihi Tuhan,  tetapi membenci sesama, merupakan sesuatu yang bertentangan. Mengasihi Tuhan  berarti mengasihi sesama, memperhatikan mereka yang miskin, yang menjadi korban, tanpa memandang suku, agama, ras, warna kulit atau  golongan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dalam relasi dengan seluruh ciptaan, Tuhan telah menciptakan  langit,&amp;nbsp;bumi dan segala isinya. Seluruh ciptaan itu merupakan tanda  kemuliaanNya. Tuhan memberi mandat kepada manusia untuk&amp;nbsp;menguasai bumi. Tugas ini&amp;nbsp;bukan berarti  untuk mengeksploitasi atau&amp;nbsp;menghancurkan, tetapi untuk mengelola, mengatur dan  mengembangkan&amp;nbsp;sumber daya alam sehingga&amp;nbsp;menunjang kehidupan manusia.  Oleh karena itu, menghormati alam ciptaan Tuhan merupakan usaha untuk mencari  keseimbangan ekologis ciptaanNya.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Keadilan,  kedamaian dan kesejahteraan dengan demikian bukan melulu teori ekonomi atau  politik. Situasi itu perlu diperjuangkan&amp;nbsp;dalam tindakan. Manusia memuliakan  Tuhan dalam tindakan nyata kepada sesama sebagai citraNya dan kepada seluruh  ciptaan yang diciptakan Tuhan, sebagai baik adanya. Manusia hendaknya mengusahakan hidup secara lebih adil, damai dan sejahtera, tidak hanya dengan  Tuhan, tetapi dengan sesama dan seluruh ciptaan. Ukurannya ialah bagaimana  manusia memperlakukan mereka yang paling lemah. Dengan demikian menantikan Kerajaan  Allah tidak berarti berpangku tangan saja, melainkan terus berjuang membangun  hidup yang semakin beriman kepada Allah dan mewujudkan kesejahteraan bagi sesama  dan seluruh ciptaan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 2 Maret 2012).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4325606580167182642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4325606580167182642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/03/menantikan-kerajaan-allah-mewujudkan.html' title='Menantikan Kerajaan Allah, Mewujudkan Kesejahteraan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-7385426258475304389</id><published>2012-01-26T15:21:00.006+07:00</published><updated>2012-07-18T00:40:27.480+07:00</updated><title type='text'>Bonum Commune Di Persimpangan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kasus mencontek massal saat Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Nasional (UASBN) 2011 yang terjadi di SD Gadel II,&amp;nbsp;Tandes, Surabaya menyita perhatian banyak pihak. Seorang guru memberikan tugas kepada A dengan pesan setelah mengerjakan jawaban soal ujian, harus mendistribusikan kepada rekan-rekannya. Bahkan sekolah sempat mengadakan gladi resik mencontek massal itu. Menurut pengakuan A, “Guru saya&amp;nbsp;yang menyuruh&amp;nbsp;memberi contekan, dengan alasan&amp;nbsp;kasihan kalau teman saya tidak lulus”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian ini diinformasikan A kepada ibunya. Ibu&amp;nbsp;menyampaikan kejadian ini kepada pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Karena tidak mendapatkan tanggapan, ia&amp;nbsp;menginformasikan kepada media masa. Ketika media masa memberitakan kasus tersebut, reaksi muncul dari berbagai pihak. Yang sangat memprihatinkan ialah&amp;nbsp;&amp;nbsp;orangtua A justru dihakimi, sebagai pihak yang harus disalahkan. Mereka harus menerima caci maki karena mempertahankan kejujuran. Imbasnya, mereka&amp;nbsp;dipaksa meninggalkan rumah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan memberikan tanggapan. &quot;Tindakan rakyat memusuhi pelapor adalah tindakan pengecut. Yang bermasalah adalah lingkungannya. Masyarakat yang memberikan tekanan kepada orang-orang jujur harus dihukum,&quot; ujarnya. Anies mendesak, agar tokoh-tokoh yang mendesak pengusiran&amp;nbsp;&amp;nbsp;diungkap&amp;nbsp;dan dimintai pertanggungjawaban. &quot;Pelapor harus dibela dan diberi label positif. Profil-profil yang terlibat memberi tekanan harus&amp;nbsp;merasa ini sesuatu yang salah,&quot; tuturnya. Ia menambahkan, tindakan warga kepada anak yang melaporkan, akan memberi tekanan&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;efek jangka panjang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Romo Mudji Sutrisno mengatakan, perilaku pengusiran tersebut menjadi sumber yang menyebabkan bangsa Indonesia tidak maju-maju. &quot;Ini krisis edukasi dan pendidikan. Kasus di Surabaya&amp;nbsp;puncak gunung es. Banyak masalah yang lebih ngeri dari itu,&quot; ujarnya. Ia mengaku prihatin, ketika anak-anak SD sudah diajari untuk tidak bisa dipercaya. Padahal, kepercayaan menjadi hal yang paling penting bagi pendidikan. &quot;Kasus ini menunjukkan bagaimana anak-anak dari kecil sudah dirusak&quot;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebaikan bersama atau kebaikan umum (&lt;em&gt;bonum commune&lt;/em&gt;) yang dimaksud oleh guru amat meragukan.&amp;nbsp;Kebaikan umum yang digagas, tidak menempatkan hidup bersama sebagai kerja&amp;nbsp;perjuangan hidup bersama. Tetapi kerja perjuangan A saja. Ini&amp;nbsp;bukan merupakan cita-cita kolektif yang benar dan demi kualitas individu yang lebih baik. Sebaliknya hal itu merupakan cita-cita yang salah, karena membiarkan mencontek dan&amp;nbsp;membenarkan murid sekelas bertindak tidak jujur. Ketidakjujuran itu&amp;nbsp;menjerumuskan kualitas para murid. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebaikan bersama yang digagas oleh guru bertentangan dengan kesalehan yang harus diwujudkan di dalam dunia. Padahal kesalehan tindakan jujur sangat efektif untuk menentang kebobrokan moral dan kecurangan yang nyata dalam masyarakat. Anjuran&amp;nbsp;memberikan contekan kepada para murid, membuat A menjadi goyah dan memadamkan suara hati. Ia tidak mampu melawan suasana yang kini meliputi dunia. Guru telah menjerumuskan A pada kondisi dibuang dan diinjak orang, sekaligus&amp;nbsp;dihancurkan oleh cara hidup yang bertentangan dengan nilai luhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan ibu&amp;nbsp;yang berani melapor, meskipun mendapat pertentangan, justru memberitakan kabar gembira. Ibu tersebut&amp;nbsp;hendak mengatakan bahwa ketidakjujuran adalah salah dan tidak boleh disembunyikan. Sikap itu menegaskan bahwa seseorang yang benar patut mendapat dukungan dan&amp;nbsp;yang salah patut mendapat teguran. Pilihan itu merupakan sikap tegas dalam kesetiaan kepada Tuhan. Ketegasan itu mencerminkan keyakinan iman dan kesetiaan yang kuat untuk menegakkan nilai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan menentang mencontek ialah&amp;nbsp;tindakan melawan dosa, Karena mencontek&amp;nbsp;melawan keadilan yang selayaknya terjadi dalam relasi antar individu. Tindakan tersebut juga melawan pembatasan kebebasan hak-hak pribadi manusia. Karena memberi&amp;nbsp;contekan berarti&amp;nbsp;menghalangi setiap orang dan kelompok untuk secara lebih penuh dan lebih lancar, dalam&amp;nbsp;mencapai kesempurnaan pribadi. Kebebasan seseorang untuk tidak setuju dengan mencontek, merupakan kemampuan menolak apa yang negatif secara moral dan kemampuan untuk menjauhkan diri sendiri secara efektif, dari segala sesuatu yang bisa menghalangi pertumbuhan pribadi, keluarga atau masyarakat. Jadi,&amp;nbsp;tindakan moral seseorang perlu dicapai dengan melakukan apa yang baik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang kebaikan umum&amp;nbsp;mengandung makna, setiap orang diminta memberikan yang terbaik dari hidup dan karyanya untuk kebaikan bersama. Tetapi perjuangan mewujudkan kebaikan bersama perlu diwujudkan setiap orang, secara bersama-sama. Perwujudan kebaikan bersama tidak boleh melawan nilai luhur kejujuran dan merendahkan kualitas pribadi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka syarat penting dari kebaikan umum ialah pertama, kebaikan umum perlu melihat hidup bersama sebagai tanggung jawab bersama. Kedua, hidup bersama merupakan praksis produktif dan kontributif terhadap lingkungan&amp;nbsp;sosial. Ketiga, kebaikan umum&amp;nbsp;selalu berupaya membereskan institusi sosial, dengan menegakkan nilai tanggung jawab dan nilai moral. Keempat, kebaikan umum&amp;nbsp;membongkar pembatasan sosial yang telanjur menjadi kebiasaan,&amp;nbsp;padahal&amp;nbsp;sesungguhnya menghancurkan nilai-nilai moral.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kejadian tersebut ialah, betapa penting mengubah &lt;em&gt;mindset &lt;/em&gt;atau&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;memiliki kesadaran&amp;nbsp;bahwa kebaikan umum&amp;nbsp;menuntut setiap orang mengusahakan&amp;nbsp;perwujudannya, secara bersama-sama, bukan orang tertentu saja. Upaya&amp;nbsp;menegakkan nilai luhur kejujuran dan memberi teladan kejujuran dalam hidup bersama dan demi kebaikan bersama, perlu dilakukan terus-menerus.&amp;nbsp;Pendidikan, baik di&amp;nbsp;dalam keluarga, di sekolah dan di dalam masyarakat,&amp;nbsp;perlu diarahkan pada&amp;nbsp;menanamkan nilai dan&amp;nbsp;moral,&amp;nbsp;terutama kepada&amp;nbsp;anak-anak. Pada akhirnya, perlu ada&amp;nbsp;kesaksian atau&amp;nbsp;pembelaan&amp;nbsp;yang tegas bahwa yang jujur, meskipun sedikit, adalah tindakan benar. Sedangkan&amp;nbsp;yang tidak jujur, meskipun banyak, adalah tindakan salah.&amp;nbsp;Hanya dengan cara itu,&amp;nbsp;ungkapan &lt;em&gt;sing jujur mujur&lt;/em&gt; dan bukan &lt;em&gt;sing&amp;nbsp;jujur ajur,&lt;/em&gt; dapat&amp;nbsp;dipahami, dihidupi dan&amp;nbsp;dipraktekkan oleh semakin banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/7385426258475304389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/7385426258475304389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/01/bonum-commune-di-persimpangan.html' title='Bonum Commune Di Persimpangan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-8160286078320766362</id><published>2012-01-23T18:44:00.003+07:00</published><updated>2012-01-23T19:13:56.892+07:00</updated><title type='text'>Perjuangan Menegakkan Hak Asasi Manusia</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perjuangan menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) masih tampak buram. Kasus pelanggaran HAM yang terjadi masih relatif tinggi dan beragam. Pelanggaran tersebut berupa&amp;nbsp;tindakan kekerasan yang berlatar belakang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum atau aspek lain. Pelanggaran HAM bukan hanya menimbulkan trauma bagi korban, tetapi berdampak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ironisnya, banyak pelanggaran HAM tak tersentuh penyelesaian secara hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komnas HAM per Januari sampai Oktober 2011 mencatat ada 3.780 kasus pelanggaran HAM. Tren ini meningkat 14,37% dibanding tahun lalu. Adapun kasus pelanggaran HAM yang cukup serius misalnya, kasus kekerasan di Papua dan di tempat lain,&amp;nbsp;konflik perburuhan, SARA, mafia peradilan, rendahnya keberpihakan kebijakan negara terhadap masyarakat sipil, buruknya layanan publik maupun praktek diskriminasi terhadap kelompok rentan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan menegakkan HAM masih panjang. Namun, urusan penegakkan HAM bukan hanya tugas negara. Gereja perlu mewartakan keselamatan kepada manusia. Karena dalam Gereja, harkat pribadi manusia mendapat peran yang sentral dan menentukan. Paus Yohanes XXIII pernah&amp;nbsp;menegaskan bahwa prinsip pokok keterlibatan sosial Gereja adalah bahwa manusia sebagai pribadi, merupakan dasar, sebab dan tujuan yang utama. Martabat manusia harus diakui dan dipertahankan. (Mater et Magistra, 219).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbicara tentang manusia, Kitab Suci menyebutkan&amp;nbsp;bahwa manusia itu diciptakan Tuhan seturut citra Tuhan sendiri. Manusia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya. Oleh Tuhan, manusia ditetapkan sebagai tuan atas segala mahluk di dunia ini, untuk menguasai dan mengelola, sambil meluhurkan Tuhan sendiri. (Gaudium Et Spes, 12). Setiap pribadi manusia itu berbeda-beda bakat dan kemampuannya, namun Tuhan menganugerahkan martabat yang sama kepada setiap orang. (Rerum Novarum, 24, 28).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia terdiri atas jiwa dan raga itu. Unsur-unsur&amp;nbsp;jasmaniah itu mencapai taraf yang tertinggi, ketika manusia&amp;nbsp;mampu&amp;nbsp;secara&amp;nbsp;bebas memuliakan Tuhan. Atas dasar itu manusia tidak boleh meremehkan tubuh jasmaninya. Aspek kemanusiaan yang juga menjadi perhatian ialah aspek hati nurani. Hati nurani merupakan suara yang menyerukan apa yang baik dan untuk menghindari apa yang jahat. Atas kesetiaan terhadap hati nurani ini, umat kristiani bersama dengan sesama manusia mencari kebenaran dan berupaya untuk memecahkan pelbagai permasalahan. (Gaudium Et Spes, 14-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, perjuangan Gereja menegakkan HAM terasa kuat dalam dimensi kerja.&amp;nbsp;Hidup manusia terbangun setiap hari melalui kerja. Dari kerja, manusia menemukan harga dirinya. Namun, pada saat yang sama, kerja mengandung&amp;nbsp;perjuangan, kepedihan, penderitaan serta ketidakadilan bagi manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di masa kini, ancaman terhadap martabat luhur manusia disebabkan oleh berbagai&amp;nbsp;jenis ateisme. Akibat peradaban yang sarat dengan materialisme, manusia kesulitan mengalami dekat dengan Tuhan. Ateisme sistematis mendorong hasrat manusia untuk otonom dari campur tangan Tuhan dan bebas,&amp;nbsp;yang berarti manusia menjadi tujuan bagi dirinya sendiri. Selain itu, materialisme tidak menghormati hidup, kebebasan dan martabat manusia. Manusia diperlakukan lebih sebagai alat produksi daripada subyek kerja. Konsumerisme lebih menekankan selera sendiri, sedangkan kenyataan manusia sebagai pribadi yang berakal budi dan bersifat bebas tidak dihiraukan. Padahal tidak dapat dibenarkan, cara hidup yang sasarannya hanya&amp;nbsp;supaya manusia&amp;nbsp;memiliki sesuatu, melalui konsumsi yang bersifat artifisial. Ketika manusia berlomba mememiliki dengan mengeruk keuntungan, sebagian lain harus menanggung kerugian berupa&amp;nbsp;penderitaan martabat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ancaman baru terhadap kehidupan dan kemanusiaan bukan hanya kemiskinan, kelaparan, kekerasan dan&amp;nbsp;wabah penyakit. Namun juga segala hal yang berlawanan dengan kehidupan itu sendiri, seperti pembunuhan, penumpasan suku, pengguguran, euthanasia, bunuh diri, penyiksaan mental, paksaan psikologis, pemenggalan anggota badan, pengasingan, perbudakan, pelacuran, perdagangan manusia, perempuan, anak dan kondisi kerja yang merendahkan martabat manusia. Hasil akhirnya adalah kaburnya nilai-nilai moralitas dan buramnya hati nurani. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam situasi sedemikian ini, Gereja amat tegas mengecam ajaran-ajaran maupun tindakan yang bertentangan dengan akal budi dan tindakan&amp;nbsp;yang meruntuhkan martabat manusia. Gereja mengundang semua pihak, untuk menyadari sepenuhnya bahwa permasalahan sosial tidak sekedar urusan produksi ekonomis atau organisasi sosial dan yuridis semata, tetapi juga meliputi urusan nilai etika dan religius serta perubahan mentalitas, kebiasaan hidup maupun struktur sosial. Maka, semua pihak hendaknya berpartisipasi penuh dalam memberikan sumbangan kepada perbaikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konkretnya, HAM harus dibela tidak hanya secara individual, tetapi sebagai keseluruhan. Karena HAM sepadan dengan martabat manusia dan mencakup pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hakiki pribadi secara jasmani dan rohani. Penegakan HAM adalah jaminan sejati terhadap penghormatan setiap hak individual. Yang sangat diperlukan ialah HAM perlu diakarkan dalam setiap kebudayaan dan profil yuridisnya diperkokoh. Sehingga HAM terjamin. (Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial Gereja, 154). Masyarakat adil menjadi kenyataan hanya apabila didasarkan pada penghormatan terhadap martabat pribadi manusia. Pribadi mewakili tujuan akhir masyarakat dan masyarakat diarahkan kepada setiap pribadi. (Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial Gereja, 132). &lt;em&gt;(Surabaya Post, 13 Januari 2012).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8160286078320766362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8160286078320766362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/01/perjuangan-menegakkan-hak-asasi-manusia.html' title='Perjuangan Menegakkan Hak Asasi Manusia'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-6377928222102952175</id><published>2011-12-10T04:31:00.000+07:00</published><updated>2011-12-10T04:31:10.841+07:00</updated><title type='text'>Meminta Maaf, Mengakui Kesalahan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kejadian di SD Don Bosco, Kelapa Gading, Jakarta, beberapa waktu lalu mengundang perhatian publik. Sekolah tidak menerima murid bernama Im, dengan alasan bahwa ayahnya mengidap HIV positif. Penolakan itu sempat memicu keluarga murid untuk melakukan somasi kepada pihak sekolah, atas perlakuan diskriminatif terhadap anaknya. Akan tetapi, pihak sekolah, usai melakukan mediasi dengan keluarga, mengatakan hal itu karena ketidaktahuan dan penyampaian yang tidak tepat. Pihak sekolah mengaku bersalah, meminta maaf atas perlakuan diskriminatif dan akan menerima Im kembali untuk mengikuti seleksi penerimaan siswa baru di sekolah tersebut. Keluarga murid tersebut menerima isyarat yang dinyatakan oleh pihak sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Permintaan maaf, pernah dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II. Atas nama Gereja Katolik, pemimpin umat itu meminta maaf pada semua orang yang menderita karena perbuatan Gereja Katolik di masa lalu. Paus Yohanes Paulus II yang dikenal sebagai pendukung inisiatif rekonsiliasi, pernah membuat pernyataan maaf yang dipublikasikan untuk lebih dari 100 kesalahan, termasuk prosedur hukum pada ilmuwan Galileo Galilei, keterlibatan dalam perdagangan budak Afrika, peran hirarki pada penghukuman mati dan perang agama, ketidakadilan terhadap perempuan, pelanggaran hak asasi dan perendahan martabat perempuan serta ketidakpedulian umat Katolik selama holocaust pada masa Perang Dunia II. Sementara berkenaan dengan skandal, Paus Benediktus XVI mengatakan di Irlandia, &quot;Saya juga mengakui sama dengan anda, rasa malu dan penghinaan, bahwa kita semua menderita karena dosa-dosa ini&quot;.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dosa adalah satu pelanggaran terhadap akal budi, kebenaran dan hati nurani yang baik. Dosa adalah satu kesalahan terhadap kasih yang benar terhadap Tuhan dan sesama. Dosa melukai kodrat manusia dan solidaritas manusiawi. Dosa didefinisikan sebagai kata, perbuatan atau keinginan yang bertentangan dengan hukum abadi. Dosa adalah penghinaan terhadap Tuhan. Dosa memberontak terhadap kasih Tuhan kepada manusia dan membalikkan hati manusia dari Tuhan. Seperti dosa pertama, dosa adalah ketidaktaatan, pemberontakan terhadap Tuhan oleh kehendak menjadi seperti Tuhan dan oleh dosa mengetahui dan menentukan apa yang baik dan apa yang jahat (Kej 3:5). Dengan demikian dosa adalah cinta diri yang meningkat menjadi penghinaan kepada Tuhan. Karena keangkuhan ini, maka dosa bertentangan penuh dengan ketaatan Yesus yang melaksanakan keselamatan. (Katekismus Gereja Katolik, 1849-1850).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dosa menghancurkan relasi manusia dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip kehidupan manusia, ialah kasih. Sebagaimana dalam 10 perintah Allah yang mengajak manusia melakukan kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama, maka dosa juga mempunyai dua dampak, vertikal dan horisontal. Dampak vertikal, dosa mempengaruhi hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan dampak horisontal, mempengaruhi hubungan manusia dengan sesama. Dengan demikian, tidak ada dosa yang bersifat pribadi. Setiap dosa memiliki dimensi sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dosa manusia pertama yang menghasilkan dosa asal, telah menyebabkan putusnya hubungan antara manusia dengan Tuhan dan pada saat yang sama, membawa dosa bagi seluruh umat manusia. Akibatnya, manusia kehilangan rahmat kekudusan, berkat keabadian, pengetahuan akan Tuhan dan berkat keutuhan. Karena kehilangan berkat tersebut, maka manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa. Manusia harus menundukkan kecenderungan untuk berbuat dosa, yang menurut St. Paulus, ialah mengalahkan nafsu yang berlawanan dengan kehendak Roh.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terhadap dosa yang membuat manusia menderita, Yesus dalam pengajaranNya mencontohkan pertobatan anak bungsu, yang tidak malu pergi kepada bapa dan berkata kepada bapa, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa”. Ketika Yohanes menyerukan “ Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!&quot;, Yesus pun menerima baptisan sebagai teladan pertobatan dan percaya. Semangat pertobatan ini selaras dengan perintah keempat dari lima Perintah Gereja, mengaku dosa sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Umat yang mengaku dosa, menerima Sakramen tobat, karena ia melaksanakan secara sakramental panggilan Yesus untuk bertobat, bangkit dan kembali kepada Bapa. Ia menyatakan langkah pribadi dan gerejani demi pertobatan, penyesalan dan pemulihan selalu warga Gereja yang berdosa. Pengakuan dosa di depan imam adalah unsur hakiki sakramen ini. Sakramen pengakuan merupakan penghargaan dan pujian akan kekudusan Tuhan dan kerahimanNya terhadap orang yang berdosa. Sakramen pengampunan, melalui absolusi imam, Yesus menganugerahkan secara sakramental kepada orang yang mengakui dosa, pengampunan dan kedamaian. Sakramen perdamaian memberi kepada pendosa, cinta Allah yang mendamaikan. Seseorang memberikan diri didamaikan dengan Tuhan, sehingga mereka yang hidup dari cinta Tuhan yang berbelaskasihan, siap berdamai dengan sesama.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertobatan, penyesalan, pemulihan, merupakan pengakuan kepada kerahiman Tuhan yang membawa pengampunan, perdamaian dan belaskasih. Sebagaimana sapaan Yesus pada waktu datang berdiri di tengah-tengah para murid, Ia mengatakan “Damai sejahtera bagi kamu. Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata: Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada”. Sapaan ini memotivasi manusia untuk dengan rendah hati, meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Paus Yohanes Paulus II, pernah mengatakan bahwa permintaan maaf itu lebih sulit dibanding berbohong, untuk sebuah maaf, kebohongan telah dipenjarakan. Hal ini tampak dari banyaknya kesalahan dan dosa yang ditutup-tutupi atau direkayasa. Meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa memang terkait dengan harga diri dan menunjukkan kelemahan. Padahal manusia pasti pernah melakukan kesalahan, sekecil apa pun. Meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa merupakan bentuk penyembuhan harga diri, memberikan kesempatan orang lain untuk memaafkan dan memperbaiki relasi. Meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa bukan menjadi alasan untuk melakukan kesalahan yang sama secara sengaja, toh nanti bisa meminta maaf. Hal yang terpenting adalah meminta maaf didasari ketulusan, kesungguhan serta mengakui kesalahan dan dosa, diikuti niat tidak mengulang dan tidak sekadar mengucapkan kata tanpa makna. Semoga kita semakin rendah hati, meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa di hadapan Tuhan dan sesama, sehingga mengalami damai dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 9 Desember 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6377928222102952175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6377928222102952175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/12/meminta-maaf-mengakui-kesalahan.html' title='Meminta Maaf, Mengakui Kesalahan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-8251287348419239559</id><published>2011-11-11T15:40:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T15:40:09.947+07:00</updated><title type='text'>Mengendalikan Keinginan, Mencegah Ketamakan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bulan Oktober lalu terjadi protes global di beberapa kota di Amerika yang kemudian menyebar ke berbagai kota di beberapa negara. Protes itu merupakan gerakan Anti Wall Street yang mengecam ketamakan dan keserakahan kapitalisme dan korporasi global. Gerakan ini bermula dari protes atas penyitaan rumah-rumah dari kredit pinjaman rumah di Amerika yang dikenal sebagai &lt;em&gt;subprime mortgage&lt;/em&gt;. Para penghuni tidak sanggup membayar karena mahalnya biaya kredit per bulan. Di Spanyol, ratusan rumah tangga terpaksa kehilangan tempat tinggal, karena penghuni tak sanggup membayar cicilan kredit. Namun pengembang tetap menaikkan cicilan per bulan, demi mengambil keuntungan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam seminar bertema meluruskan jalan reformasi, Ahmad Syafii Maarif pernah mengritik dengan keras maraknya politik uang yang benar-benar riil dan merata dalam kehidupan. Uang begitu berkuasa hingga dapat meluluhlantakkan tatanan konstitusi, undang-undang dan segala peraturan. Akibatnya, pemerintahan yang baik dan bersih tidak terwujud. Ia sampai pada kesimpulan dengan mengatakan bahwa kerusakan ini telah hampir sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hal ini merupakan trend sekarang ialah perburuan rente (&lt;em&gt;rent-seeking&lt;/em&gt;) atau perburuan bunga uang / riba. Perburuan rente ekonomi pada kenyataannya tumbuh subur tidak hanya di ranah ekonomi, bahkan ranah politik. Perburuan rente merupakan usaha untuk mendapatkan rente dengan memanipulasi lingkungan ekonomi, sosial atau politik di mana kegiatan ekonomi terjadi, tidak dengan menambahkan nilai. Hal ini merupakan ketamakan dan keserakahan yang menyebabkan kemiskinan. Ada prediksi trend tersebut mengakibatkan suatu fenomena sosial yang dikenal dengan masyarakat 20:80. Di mana 20 persen dari penduduk bumi mengendalikan roda perekonomian, sementara sisa 80 persen adalah mereka yang miskin, tanpa pekerjaan. Bentuknya berupa jutaan penganggur, ketidakpastian kerja dan jurang yang makin lebar antara yang miskin dan yang kaya. Globalisasi telah membuat dunia lepas kendali, ambruk dan bahkan meretakkan hubungan harmonis dalam komunitas dan keluarga.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sepuluh Perintah Allah telah menyerukan, “Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini isterinya atau hambanya laki-laki atau hambanya perempuan atau lembunya atau keledainya atau apapun yang dipunyai sesamamu.” (Kel 20:17). Kata-kata jangan mengingini, berbeda dengan perintah lain yang berfokus pada tindakan lahiriah. Perintah ini berfokus pada keinginan hati manusia. Hal ini merupakan tuntutan untuk menentang keinginan terhadap hal-hal yang dilarang. Perintah ini melarang keinginan untuk memiliki barang-barang milik orang lain secara tidak adil, melarang perzinahan dan melarang mencuri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kitab Ulangan mengungkapkan peringatan dan konsekuensi negatif dari mengingini, nafsu atau iri hati. Tuhan memerintahkan umat supaya tidak mengingini perak atau emas dari berhala, karena dapat mengakibatkan kekejian di dalam rumah tangga. Kitab Amsal memperingatkan tentang bahaya mengingini, termasuk mengingini dalam bentuk nafsu seksual. Nabi Mikha mengutuk mendambakan rumah milik orang lain, sebagai peringatan terhadap nafsu, setelah seseorang memutuskan untuk mengingini harta fisik.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yesus menafsirkan isi perintah tersebut sebagai isu untuk lebih mengendalikan keinginan hati yang bukan sekedar melarang tindakan lahiriah. Perintah untuk tidak mengingini, dipandang sebagai konsekuensi dari perintah untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Larangan untuk tidak menginginkan hal yang dilarang itu merupakan kewajiban moral bagi individu untuk melakukan kontrol atas pikiran dan keinginan hati. Yesus memperingatkan untuk mengendalikan keinginan hati dari ketamakan dan keserakahan. Karena kehidupan seseorang tidak diukur dari kelimpahan harta. Yesus menggambarkan dosa, sebagai sesuatu yang berasal dari luar keinginan hati yang sejati.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Inilah yang ditekankan, bahwa syukur dan kecukupan merupakan sikap hati yang tepat, dibandingkan ketamakan dan keserakahan. Yohanes menyerukan agar seseorang mau berbagi dengan yang tidak punya, tidak menagih lebih banyak dari yang telah ditentukan dan tidak merampas dan memeras, namun mencukupkan diri dengan gaji. Paulus mengingatkan tentang ibadah yang disertai rasa syukur, akan memberi keuntungan besar. Tetapi mereka yang ingin kaya akan jatuh dalam pencobaan, dalam jerat dan nafsu yang hampa, yang mencelakakan dan yang menenggelamkan manusia dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketamakan dan keserakahan hanya dapat diatasi dengan mengendalikan keinginan hati. Keinginan yang tamak dan serakah begitu merusak, karena selalu ingin memuaskan kebutuhan dasar secara terus-menerus, bahkan melampaui batas akal budi dan mendorong untuk mengingini, secara tidak adil. Yesus mengajar para murid lebih memilih mengikutiNya dengan meninggalkan semua harta dan membagikan kepada orang yang miskin. Yesus memberi teladan iman yang setia bahkan rela menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya, dengan menyerahkan diri dipimpin oleh Roh Kudus dan mengikuti keinginan Roh Kudus. Yesus memberikan contoh janda miskin yang memberi dari kemiskinannya. Karena sesungguhnya, keinginan untuk mendapatkan kepuasan, kecukupan, kepenuhan atau kebahagiaan sejati, hanya ditemukan jika seseorang mencari, menemukan, menyerahkan diri dan dekat pada Tuhan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 11 November 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8251287348419239559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8251287348419239559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/11/mengendalikan-keinginan-mencegah.html' title='Mengendalikan Keinginan, Mencegah Ketamakan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-213970620012206644</id><published>2011-10-16T04:41:00.000+07:00</published><updated>2011-10-16T04:41:43.082+07:00</updated><title type='text'>Cinta Itu Memberi, Zinah Itu Menjerumuskan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Awal bulan September, seorang perempuan mengalami pelecehan di sebuah angkutan umum. Perempuan itu sedang mengendarai kendaraan umum di malam hari. Memang, sebagaimana data dari komisi nasional untuk urusan wanita, telah ada lebih dari 100.000 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun. Sebanyak hampir 4 persen adalah kasus pelecehan. Saat itu, mendadak muncul komentar dari pejabat publik, agar perempuan tidak memakai pakaian terbuka, untuk menghindari pelecehan dan tidak menjadi korban.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Himbauan tersebut segera menuai protes dari kaum perempuan. Mereka geram dengan komentar bahwa perempuan yang berpakaian provokatif harus disalahkan. Para aktivis perempuan itu meminta, sebagaimana tulisan yang mereka bawa saat protes, supaya, &lt;em&gt;“Jangan mengatakan kepada kita bagaimana berpakaian, tetapi memberitahu mereka agar tidak memperkosa&quot;&lt;/em&gt;. Juga tulisan lain yang mengatakan bahwa &lt;em&gt;&quot;Tubuh kami bukan sesuatu yang porno”.&lt;/em&gt; Kaum perempuan mendesak agar aparat penegak hukum dan pemerintah lebih melindungi kaum perempuan dan membantu para korban. Pemerintah seharusnya tidak menghakimi melainkan menemukan solusi untuk menekan kekerasan terhadap perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aturan hukum dan norma agama dengan tegas menuntut siapapun agar tidak melakukan perzinahan. Larangan zinah diserukan oleh Tuhan melalui Musa dalam 10 Perintah Allah yang berbunyi, &lt;em&gt;&quot;Jangan berzinah&quot;&lt;/em&gt;. Sabda ini melarang perzinahan meliputi semua tindakan percabulan dan dosa seksual. Perzinahan demikian keji di hadapan Allah, sehingga pelakunya harus dihukum. Perzinahan merupakan tanda pelampiasan nafsu yang tidak terkendali, pemuasan keinginan yang hanya merusak perasaan dan akhirnya menghancurkan kehidupan. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yesus mengutip hukum Taurat, memberikan pengajaran bahwa mengingini seseorang secara seksual walaupun belum melakukan secara fisik, berarti sudah melakukan zinah. Sebagaimana perkataannNya, &lt;em&gt;“Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah di dalam hatinya&quot;.&lt;/em&gt; Kata &lt;em&gt;“hati”&lt;/em&gt; di sini bukan hanya mempersoalkan perasaan, tetapi mencakup pikiran, perasaan dan kehendak. Kata-kata &lt;em&gt;&quot;setiap orang yang memandang&quot;&lt;/em&gt; dalam bahasa asli, Yunani, menggunakan bentuk maskulin, dengan penekanan terhadap kaum laki-laki. Karena pada umumnya laki-laki dapat menginginkan zinah, hanya karena melihat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yesus&amp;nbsp;menekankan bahwa keinginan terhadap perempuan lain adalah perzinahan. Hukum Taurat melarang perzinahan secara lahiriah. Yesus melengkapi, dengan melarang perzinahan di dalam hati. Hal ini menandakan Tuhan sudah memperhitungkan sebagai dosa, ketika manusia memikirkan zinah di dalam hati. Ajaran ini bersifat mendasar dan mencegah tindakan fisik. Karena saat itu, pelanggaran terhadap perintah jangan berzinah, baru dianggap terjadi, jika terjadi perzinahan secara fisik.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perintah jangan berzinah yang disempurnakan Yesus, hendak mengatakan bahwa Tuhan meminta mengontrol segala keinginan, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu jahat, yang sama dengan penyembahan berhala. Tindakan zinah merupakan lambang ketidaksetiaan. Ini berlawanan dengan sifat Allah yang setia. Allah menginginkan manusia hanya menyembah kepadaNya, bukan yang lain. Manusia seharusnya taat kepada Tuhan dengan setia kepada pasangan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keinginan dalam hati hendaknya dikontrol sehingga tidak menjadi tindakan dosa. Tindakan mengontrol berarti menahan keinginan agar tidak sedikitpun mengadakan kompromi dengan nafsu jahat. Tindakan menahan diri berarti mencegah dengan cara memikirkan semua yang benar, yang mulia, yang suci, yang manis, yang sedap didengar dan semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tubuh dengan segala kelengkapannya, menyangkut seluruh keberadaan manusia. Tubuh diciptakan Tuhan baik adanya. Tubuh dengan seksualitas merupakan energi yang indah, baik, sangat kuat dan suci, yang diberikan Tuhan. Inilah energi untuk mencintai, membangun relasi dan memberikan hidup kepada sesama dan kepada Tuhan. Tubuh dengan segala kelengkapannya dapat terjerumus ke dalam dosa, melalui perzinahan di dalam hati, keinginan melecehkan, tindakan percabulan, pelampiasan nafsu tak terkendali atau ketidaksetiaan terhadap pasangan. Karena itu benar, cinta itu memberi dan zinah itu menjerumuskan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 14 Oktober 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/213970620012206644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/213970620012206644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/10/cinta-itu-memberi-zinah-itu.html' title='Cinta Itu Memberi, Zinah Itu Menjerumuskan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-6860470010492458647</id><published>2011-09-16T22:59:00.000+07:00</published><updated>2011-09-16T22:59:05.588+07:00</updated><title type='text'>Menghormati Nama Tuhan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seorang kawan pernah menceritakan bagaimana ia merasa kecewa kepada Tuhan. Sejak usaha kedua orang tuanya bangkrut, kemudian membuat mereka berpisah. Ia yang saat itu masih kanak-kanak terpaksa dititipkan kepada kakek dan neneknya. Kepergiaan ayah meninggalkan ibunya, sungguh membuat ibu tak berdaya. Masih terkenang sepintas, bagaimana setiap hari, orang datang menagih hutang kepada ibunya. Keputusan ibu menyerahkan ia dan kedua adiknya ke rumah kakek membuatnya tidak bisa lagi merasakan kasih sayang kedua orang tua, yang masih sangat didambakannya. Sampai sekarang, ia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia masih bertanya dalam kecewa, mengapa semua harus terjadi ? Mengapa Tuhan tidak memberikan pertolongan kepada ayah dan ibunya ? Itulah alasan yang membuatnya selalu menjelek-jelekkan Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perintah kedua dalam 10 Perintah Allah mengatakan, “Jangan menyebut Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan” (Kel 20:7). Perintah tersebut menetapkan supaya manusia menghormati nama Tuhan. Seperti perintah pertama, hal itu merupakan keutamaan agar manusia menaruh hormat terhadap perkara-perkara yang dianggap suci, kudus atau sakral.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kitab Wahyu menyebutkan bahwa nama Tuhan&amp;nbsp;diwahyukan. Tuhan mengakukan namaNya kepada mereka yang percaya kepadaNya. Ia menyatakan diri&amp;nbsp;dalam misteri. Maka, apabila seseorang menyebut nama Tuhan, hal itu merupakan karunia dan tanda kedekatan.&amp;nbsp;Karena itu siapapun tidak boleh menyalahgunakan nama Tuhan. Seseorang harus menyimpan dan memahaminya dalam pikiran, dalam diam dan keheningan. Seseorang hendaknya&amp;nbsp;menyebut nama Tuhan demi tujuan untuk memberkati, memuji dan memuliakan Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seseorang yang menghormati nama Tuhan merupakan ungkapan rasa hormat kepada misteri Allah dan kepada seluruh realitas sakral yang ditimbulkannya. Perasaan tentang kekudusan itu sendiri merupakan bagian dari keutamaan agama. Seakan seperti perasaan takut sekaligus kagum di hadapan Tuhan. Inilah perasaan yang identik dengan melihat Tuhan atau&amp;nbsp;sungguh-sungguh menyadari kehadiranNya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Wujud dari seseorang mengimani keberadaan Tuhan ialah memberi kesaksian tentang nama Tuhan. Karena percaya kepada Tuhan tampak pula dalam pewartaan. Katekese&amp;nbsp;merupakan penanaman agar para pendengar menghormati nama Tuhan. Memang, perintah kedua seakan membatasi bahwa larangan itu hanya untuk penyalahgunaan nama Tuhan. Namun setiap orang diajak menghormati semua orang kudus yang suci dan saleh, termasuk Yesus Kristus, Perawan Maria dan semua orang kudus.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menghormati nama Tuhan, berlaku pula dalam pengungkapan janji dalam nama Tuhan. Janji yang dibuat untuk diri sendiri maupun dengan orang lain dalam nama Tuhan, mengundang mereka yang mengucapkan janji itu terlibat dalam kehormatan Ilahi, untuk memupuk kesetiaan, menjunjung tinggi kebenaran dan kuasa Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebaliknya, tindakan menghujat Tuhan secara langsung, bertentangan dengan perintah kedua. Hal ini misalnya, mengucapkan janji yang melawan Allah, baik yang terucap dalam kata-kata, maupun yang tidak terungkap. Misalnya, kata-kata kebencian, celaan, pembangkangan atau berbicara buruk tentang Tuhan. Larangan untuk menghujat Tuhan, meluas kepada larangan menghujat nama Yesus, orang kudus dan hal-hal yang dianggap sakral. Hal ini juga berarti larangan menggunakan nama Allah demi menutupi praktek-praktek kriminal, untuk membenarkan perbudakan, penyiksaan atau untuk menghukum mati. Penyalahgunaan nama Tuhan&amp;nbsp;untuk melakukan kejahatan dapat memprovokasi orang untuk&amp;nbsp;menolak agama. Karena agama ada, bukan untuk membenarkan tindakan kejahatan, namun untuk membawa manusia mengalami keselamatan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsekuensi perintah kedua dalam 10 Perintah Allah ialah melarang sumpah palsu. Tindakan mengambil sumpah berarti memohon Allah sebagai saksi atas tindakan yang&amp;nbsp;dilakukan. Ini berarti memohon kebenaran Ilahi sebagai jaminan kebenaran. Sumpah yang melibatkan nama Tuhan merupakan tanda bahwa seseorang takut akan Tuhan, kesediaan untuk memenuhi perintahNya dengan&amp;nbsp;bersumpah demi namaNya. Jika ternyata sumpah tersebut adalah sumpah palsu, maka harus ditolak. Sebagai Pencipta, Tuhan adalah norma semua kebenaran. Ucapan manusia disebut baik, jika sesuai dengan kehendak Tuhan, yang adalah Kebenaran itu sendiri. Kata-kata manusia disebut benar dan sah, jika hal itu selaras dengan kebenaran Tuhan. Seseorang yang melakukan sumpah palsu sebenarnya tidak memiliki&amp;nbsp;niat untuk menjaga, memenuhi dan mewujudkan janji tersebut. Sumpah palsu menandakan, seseorang tidak sungguh-sungguh&amp;nbsp;menghormati Tuhan. Seseorang yang berjanji, bahkan dengan sumpah untuk melakukan&amp;nbsp;perbuatan jahat, menentang&amp;nbsp;kekudusan nama Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam Kotbah di Bukit, Yesus menjelaskan perintah kedua “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyangmu: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah.” Selanjutnya Yesus mengatakan, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Yesus mengajarkan bahwa setiap sumpah melibatkan Tuhan dan bahwa kehadiran Tuhan dan kebenaranNya&amp;nbsp;dalam setiap perkataan harus dipegang dengan penuh hormat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kekudusan nama Tuhan mengundang seseorang tidak memakai nama Tuhan dengan sembarangan. Juga jika seseorang mengalami kecewa, putus asa atau menderita. Pengalaman tersebut&amp;nbsp;sebaiknya mengarahkan seseorang&amp;nbsp;untuk memahami&amp;nbsp;rancangan Tuhan, dalam diam dan keheningan. Karena nama Tuhan adalah suci, kudus atau sakral. Nama Tuhan hendaknya selalu dipuji dan dimuliakan. Memuji dan memuliakan Tuhan tidak hanya dengan kata-kata, namun juga dengan tindakan nyata. Tindakan nyata itu adalah tindakan yang menghormati martabat manusia dan tidak melawan&amp;nbsp;kekudusan nama Tuhan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 16 September 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6860470010492458647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6860470010492458647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/09/menghormati-nama-tuhan.html' title='Menghormati Nama Tuhan'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-1218364378967049584</id><published>2011-09-13T03:55:00.001+07:00</published><updated>2011-09-13T03:56:34.687+07:00</updated><title type='text'>Ketulusan Berpartisipasi dalam Masyarakat</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketulusan berpartisipasi dalam masyarakat bisa membawa kedamaian, hal tersebut terungkap dalam&amp;nbsp;Pertemuan Pleno Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan, Keuskupan Se-Indonesia di Bandung, Juli lalu. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Gereja Katolik mengajarkan dalam&amp;nbsp;agama-agama yang ada&amp;nbsp;serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri. Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka. (Nostra Aetate, art. 2)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketulusan ditekankan oleh Paus Benediktus XVI. Ketulusan itu berarti bahwa karya kasih dan partisipasi dalam masyarakat harus bebas dari kepentingan partai dan ideologis, serta tidak boleh memaksakan iman pada orang lain. Kegiatan amal kasih bukan sarana untuk mengubah dunia secara ideologis, juga bukan demi kepentingan yang bersifat duniawi, tetapi suatu cara menghadirkan kasih yang diperlukan manusia. (Deus Caritas Est, art. 31). Amal kasih jangan dijadikan alat melakukan apa yang disebut proselitisme. Kasih itu cuma-cuma, jangan dijadikan cara untuk mencapai tujuan-tujuan lain (Pedoman Pelayanan Pastoral Uskup Apostolorum Successores, art. 196). Pelaksanaan amal kasih tidak boleh memaksakan iman pada orang lain. (Deus Caritas Est, art. 31)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Dr. Rumadi S.Ag, Dosen UIN Syarif Hidayatullah dan Peneliti di Wahid Institut. Beliau mengakui dahulu takut jika bergaul dengan agama lain, karena khawatir kualitas imannya akan terkurangi. Sampai akhirnya beliau sadar bahwa itu tidak benar. Menyinggung perihal permusuhan antaragama, itu bisa dimaklumi karena berdasarkan sejarah, hubungan antar agama kerap kali dikotori oleh kekerasan. Namun hendaknya lembaran hitam itu ditutup dan mulai menatap kehidupan ini bersama dengan yang lain. Beliau mengajak untuk berani berdialog dengan agama lain. Dalam dialog maka mata akan terbuka, melihat banyak jendela untuk memandang keluar dan memahami yang lain. Dialog diawali dengan proses perjumpaan. Kecurigaan terhadap agama lain biasanya berawal dari ketidaktahuan. Dalam dialog harus ada ketulusan. Dialog tidak mesti mencari kesamaan tapi untuk mengetahui perbedaan. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Partisipasi umat beragama dalam masyarakat sangat diperlukan. Umat beragama tidak boleh pasif. Saat ini, tantangan demikian besar, maka umat hendaknya memiliki kesadaran partisipasi untuk memajukan kehidupan bersama. Lagipula, kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dalam aneka persoalan hidup. Karena itu, diperlukan ketulusan partisipasi umat beragama di dalam masyarakat. Tanpa ketulusan, yang ada hanya kecurigaan, konflik kepentingan dan bahkan dapat mengakibatkan konflik dengan kekerasan. Sinergi ketulusan dan partisipasi aktif dari para pemeluk agama dalam dialog karya, akan menampilkan agama yang ramah, yang tidak hanya membawa damai tetapi mencari solusi atas aneka persoalan. Dengan demikian, agama hadir untuk karya nyata demi kehidupan masyarakat yang sejahtera. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 5 Agustus 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/1218364378967049584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/1218364378967049584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/09/ketulusan-berpartisipasi-dalam.html' title='Ketulusan Berpartisipasi dalam Masyarakat'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-9166250928369314908</id><published>2011-06-19T22:16:00.001+07:00</published><updated>2011-07-02T10:27:51.972+07:00</updated><title type='text'>Kesadaran Dan Partisipasi Bermedia</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seorang yang pernah bekerja di bagian penjualan, di departemen iklan sebuah surat kabar menuliskan pengalamannya. Bahwa selama di posisi itu ia menyimpulkan bahwa jenis berita yang menjual adalah berita buruk. Jika surat kabar membuat berita hanya untuk menerbitkan kabar baik, maka surat kabar itu akan cepat bangkrut. Tampaknya masyarakat pada umumnya, memiliki daya tarik terhadap masalah orang lain dan berita jenis tragedi. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika itu ia baru awal bekerja di usia 30 tahun. Ketika mengetahui bahwa kenyataannya demikian, maka ia memutuskan tidak pernah menyukai berita buruk. Ia menunjukkan bukti bahwa jika para pembaca surat kabar mencermati isi dari arus gencarnya berita yang membombardir pikiran pembaca setiap hari, setidaknya 90% dari berita itu adalah berita buruk, bisa dibayangkan dampak dari berita buruk terhadap kondisi kejiwaan masyarakat dari waktu ke waktu. Tidak mengherankan jika di seluruh dunia terjadi peningkatan depresi, kecemasan dan stres. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Inilah kesadaran baru yang perlu, bahwa media juga memberi dampak negatif. Karena, surat kabar dalam dunia bisnis tak lepas untuk menjual berita dan media didorong oleh peringkat. Berita buruk tentu saja lebih memiliki nilai jual atau menjual lima kali lebih cepat, daripada berita atau kabar baik. Sehingga tak pernah ada penerbitan surat kabar yang melulu mengabarkan berita baik. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Media massa turut mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat. Media memang menghubungkan individu dan mereproduksi citra diri masyarakat. Pada awal abad pertengahan media dikritik telah melemahkan atau membatasi kemampuan individu untuk bertindak secara otonom. Meskipun kritikus lain mengatakan bahwa pengaruh media pada perilaku orang ini tidak selalu terjadi. Titik kritik teori efek media mengatakan bahwa banyak peniru pembunuhan, bunuh diri dan tindakan kekerasan lain yang hampir selalu terjadi, sebagai semata-mata sifat kejiwaan yang tidak normal. Faktor kekerasan, lingkungan emosional, lalai atau sifat agresif turut mempengaruhi perilaku. Hal ini lebih dari sekedar karena membaca media, menonton film atau mendengarkan musik tertentu. Kebanyakan orang yang melakukan tindakan ini sebenarnya memiliki mental yang tidak stabil. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di masa kini, dampak buruk perkembangan teknologi media komunikasi tidak bisa dihindari. Suka tidak suka, teknologi sudah di depan mata. Yang paling penting ialah memperlakukannya sesuai dengan kegunaan dan fungsi dengan penuh tanggung jawab. Apalagi mendapatkan atau mengakses informasi merupakan hak asasi setiap orang yang dilindungi negara. Perkembangan teknologi sedikit banyak membawa perubahan perilaku manusia dalam cara berpikir, bersikap dan bertindak. Misalnya, para pengguna bersikap terbuka saat berhubungan satu dengan lainnya. Hal ini perlu didukung dengan kasadaran untuk tetap waspada terhadap pihak-pihak yang mempunyai motivasi dan tujuan negatif serta ingin mengambil keuntungan dari fenomena keterbukaan dan relasi tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Paus Benedictus XVI menaruh perhatian pada perkembangan teknologi media. Media memiliki kemampuan luar biasa yang serempak, membawa berbagai pertanyaan dan persoalan baru. Meskipun media juga memberikan sumbangan dalam hal penyiaran berita, pengetahuan tentang peristiwa dan penyebaran informasi. Tanpa sumbangan media akan amat sulit mengembangkan dan memperkokoh saling pengertian di antara bangsa-bangsa, memungkin terwujudnya dialog perdamaian, memberikan jaminan akses ke informasi sekaligus menjamin sirkulasi gagasan secara leluasa. Terutama bagi mereka yang menggalakkan gagasan-gagasan kesetiakawanan dan keadilan sosial. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Media bukanlah semata-mata sarana penyebaran gagasan. Media dapat dan harus juga menjadi sarana pelayanan demi terciptanya rasa setia kawan dan keadilan. Sayangnya, media pun sedang berubah menjadi sistem yang bertujuan mendorong manusia untuk menyerah kepada agenda yang didikte oleh kepentingan-kepentingan digdaya masa sekarang. Begitulah kalau komunikasi digunakan untuk maksud-maksud ideologis atau demi reklame agresif produk-produk. Dengan dalih untuk menghadirkan realitas, media dapat mengukuhkan atau memaksakan model-model pribadi, keluarga atau kehidupan sosial yang menyimpang. Bahkan, demi menarik perhatian para pendengar dan meningkatkan jumlah khalayak, ia tidak ragu-ragu menampilkan berbagai pelanggaran, hal-hal yang tidak sopan dan kekerasan. Media juga dapat memperkenalkan dan mendukung model-model pembangunan yang bukannya memperkecil, namun justru memperbesar jurang teknologi antara negara-negara kaya dan miskin&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perkembangan media, hendaknya diikuti kesadaran dan partisipasi bermedia. Pertama, media untuk memperkuat persekutuan, membuat saling terhubung antar anggota dalam komunitas, maupun antar komunitas umat secara luas, bahkan nasional dan internasional. Media internet merupakan kesempatan besar untuk saling menjalin dan meningkatkan komunikasi tentang aneka kehidupan beriman. Komunikasi media di dunia maya memberi kesempatan setiap komunitas terbuka dengan yang lain. Hal ini juga mempromosikan dialog yang dapat berlanjut menjadi apa yang disebut sebagai persekutuan kehidupan iman masa kini. Setiap komunitas dapat bekerjasama dengan komunitas lain untuk dapat membuat sebuah situs web atau jejaring informasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus diakui, media internet tetaplah dunia maya-sibernetika, yang tidak dapat mengganti relasi interpersonal sebagaimana terjadi dalam persekutuan komunitas nyata. Komunikasi media dunia maya hendaknya berlaku komplementer, tetap dapat dapat membuat orang mengalami pengalaman hidup iman dan meningkatkan semangat religius para pengguna serta menyediakan kesempatan komunikasi anggota.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua, media sebagai sarana memperluas pelayanan dan keprihatinan. Media dapat meningkatkan dan memperluas jangkuan pelayanan, memberi semangat, dukungan dan menjadi ladang yang subur bagi perkembangan komunitas. Media komunikasi memberi kesempatan untuk membagikan buah kehidupan rohani, doa, kesaksian iman maupun kebersamaan hidup dengan membagikan kisah-kisah inspiratif yang tak terceritakan dari setiap anggota komunitas. Media membantu para pengguna mendapatkan konsultasi iman, menampilkan cuplikan kitab suci, tulisan-tulisan inspiratif, kutipan religius, menyajikan spiritualitas kehidupan iman, informasi rohani, pengetahuan iman dan bahkan akses kepada pengunjung yang memberikan respon secara pribadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dimensi lain, media menjadi sarana saling mendukung bagi mereka yang kurang beruntung. Sehingga karya pelayanan melalui media berguna pula bagi mereka yang kurang beruntung, misalnya informasi atau menggalang beasiswa pendidikan, lowongan pekerjaan dan bantuan dana sosial. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kesadaran dan partisipasi bermedia tidak lain merupakan ajakan untuk memanfaatkan media terutama untuk memperteguh persekutuan dan memperluas pelayanan dan keprihatinan. Inilah yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak buruk media. Dengan tetap mewaspadai bahwa media dapat menyebabkan kecanduan, tanpa pendampingan, dapat menyebabkan penyimpangan atau bahkan menghilangkan komunikasi &lt;em&gt;face to face. (Surabaya Post, 17 Juni 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/9166250928369314908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/9166250928369314908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/06/kesadaran-dan-partisipasi-bermedia.html' title='Kesadaran Dan Partisipasi Bermedia'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-4486344246398108510</id><published>2011-04-30T00:24:00.003+07:00</published><updated>2011-05-11T18:47:57.682+07:00</updated><title type='text'>Menghayati Liturgi, Mengamalkan Kasih</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;, Courier, monospace;&quot;&gt;Umat Katolik baru saja merayakan Hari Raya Paskah. Hari Raya Paskah dikenal sebagai perayaan terpenting dalam tahun liturgi Gereja. Bagi umat Katolik, Paskah identik dengan Yesus, yang dipercaya telah disalib, wafat dan dimakamkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rangkaian upacara sejak masa Pra Paskah hingga Pekan Suci, Tri Hari Suci dan Hari Raya Paskah merupakan satu perayaan berkelanjutan dari satu misteri Paskah. Perayaan liturgi itu dirayakan dan dijalin dengan tanda-tanda, simbol-simbol, kata-kata ritus serta lagu-lagu dan musik yang beberapa bersifat normatif dan tak berubah. Tidak mengherankan ada orang-orang yang mengatakan liturgi di Gereja Katolik itu panjang, melelahkan atau membosankan. Di antara mereka ada yang mengatakan mengantuk saat mengikuti upacara, melamun, tidak mempunyai perhatian, kurang bersemangat dan kurang berkesan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Liturgi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam liturgi, Yesus yang bertindak sebagai, Kepala dan Tubuh. Sebagai Imam Agung kita, Ia merayakan dengan tubuhNya, yaitu Gereja, baik di surga maupun di bumi. Gereja di dunia merayakan liturgi sebagai umat imami, setiap orang bertindak menurut fungsinya masing-masing dalam kesatuan dengan Roh Kudus. Orang-orang yang dibaptis menyerahkan diri mereka dalam korban rohani, para pelayan yang ditahbiskan merayakan sesuai dengan tugas yang mereka terima bagi pelayanan seluruh anggota Gereja, para Uskup dan Imam bertindak atas nama Pribadi Kristus, sang Kepala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perayaan liturgi dirayakan dan dijalin dengan tanda-tanda dan simbol-simbol yang artinya berakar dalam penciptaan dan budaya manusia, ditentukan dalam peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama dan diungkapkan secara penuh dalam Pribadi dan karya Kristus. Tanda-tanda Sakramental itu berasal dari ciptaan (cahaya, air, api, roti, anggur, minyak), yang lainnya berasal dari kehidupan sosial (mencuci, membasuh kaki, mengurapi dengan minyak, memecah roti), beberapa yang lainnya lagi berasal dari sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama (ritus Paskah, korban, penumpangan tangan, pengudusan). Tanda-tanda ini, yang beberapa bersifat normatif dan tak berubah, diambil oleh Kristus dan dipakai untuk tindakan penyelamatan dan pengudusan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan dan kata-kata sangat erat berhubungan dalam perayaan Sakramen. Bahkan walaupun tindakan simbolis itu sendiri sudah menjadi bahasa pada dirinya sendiri, masih perlulah kata-kata ritus menyertainya karena menghidupkan tindakan tersebut. Kata-kata liturgis dan tindakan itu tidak terpisahkan sebab keduanya merupakan tanda-tanda yang bermakna dan melaksanakan apa yang ditandakan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula lagu-lagu, lagu-lagu dan musik sangat erat berhubungan dengan perayaan liturgi, perlulah memperhatikan beberapa kriteria: syairnya harus sesuai dengan ajaran Katolik, lebih baik kalau diambil dari Kitab Suci dan sumber-sumber liturgi, harus merupakan ungkapan doa yang indah. Lagu dan musik harus mendorong partisipasi aktif orang-orang yang hadir dalam perayaan liturgi, harus mengungkapkan kekayaan budaya Umat Allah dan ciri khas perayaan yang sakral dan agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ritus dan Kasih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam liturgi Yesus bertindak sebagai, Kepala dan Tubuh, Ia merayakan dengan tubuhNya. Maka umat sebagai tubuhNya ikut mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya, terutama dalam Misteri Paskah-Nya yang dihadirkan kembali di dalam liturgi. Karena kuasa kasih dan kebangkitan-Nya, Yesus memberikan kesempatan kepada umat untuk ikut mengambil bagian dalam peristiwa yang mendatangkan keselamatan. Misteri Paskah ini nyata dalam Perayaan Ekaristi, yang menghadirkan korban Yesus yang satu dan sama, oleh kuasa Roh Kudus. Maka, umat yang merayakan liturgi, yang ikut mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya sebaiknya tidak mengantuk, melamun, tidak mempunyai perhatian, atau kurang bersemangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umat yang mengeluhkan liturgi justru perlu mendapatkan bantuan untuk lebih memahami seluk beluk liturgi atau katekese liturgi dari Komisi Liturgi, seksi liturgi di Paroki / Stasi atau kelompok kecil umat. Memang banyak pengalaman bermunculan dari praktek liturgi. Ada pengalaman bagus, ada juga yang buruk. Katekese liturgi dapat diberikan dalam rupa telaah telogis dan telaah praktek liturgis. Lewat suatu pendidikan liturgi, umat dapat memahami pendasaran liturgiologis, biblis, teologis, data historis dan tentunya pendekatan pastoral. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umat perlu mendapatkan pemahaman bahwa dalam liturgi Yesus hadir dan membagikan rahmat-Nya, yang menjadi sumber kehidupan rohani. Maka liturgi didahului oleh pewartaan Injil, iman dan pertobatan yang mengantar agar umat menghayati perayaan liturgi. (Katekismus Gereja Katolik, 1071, 1072). Apabila umat mengetahui makna liturgi, menerimanya dengan iman dan menanggapinya dengan pertobatan, maka akan menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari. Liturgi bersumber pada Allah, menjadi sumber dan puncak kegiatan Gereja. Melalui liturgi, Gereja menimba kekuatan untuk melaksanakan pembaharuan di dalam Roh, misi perutusan dan menjaga persatuan umat. (Konstitusi tentang Liturgi Suci, 12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katekese liturgi hendaknya menjelaskan bahwa Yesus telah memberikan amanat dalam Perjamuan Malam terakhir, “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”. Ia memberi amanat untuk melaksanakan suatu perayaan liturgis sebagaimana dilakukanNya pada Perjamuan Malam terakhir. Ia juga memberi amanat untuk melakukan karya cinta kasih bagi sesama, sebagaimana diteladankanNya dengan cara simbolis membasuh kaki para murid. Ada keterkaitan utuh di antara, &lt;em&gt;cultus&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;caritas&lt;/em&gt; dari amanat Yesus. Ritus atau &lt;em&gt;cultus&lt;/em&gt; yang dipahami dan dihayati dengan baik, menjadi sumber yang mengantar umat beriman mengamalkan kasih atau &lt;em&gt;caritas&lt;/em&gt;, kepada sesama. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 29 April 2011)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4486344246398108510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4486344246398108510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/04/menghayati-liturgi-mengamalkan-kasih.html' title='Menghayati Liturgi, Mengamalkan Kasih'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-2489810544410043855</id><published>2011-03-27T00:41:00.007+07:00</published><updated>2011-03-28T19:19:54.122+07:00</updated><title type='text'>Menghadirkan Wajah Gereja Di Dunia</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Karitas merupakan lembaga di dalam Gereja yang bekerja untuk menghadirkan wajah sosial Gereja di dunia. Dengan kata lain, aktualisasi iman Kristiani mendapatkan bentuk rupanya pada kegiatan Karitas. Karena itu, dengan sendirinya Karitas memiliki konsekuensi bahwa semua karyanya tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai ajaran sosial Gereja (ASG).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, kompendium ajaran sosial gereja menyebutkan bahwa ia merupakan roh, spiritualitas dan menjadi jiwa bagi karya kasih kemanusiaan. Itulah sebabnya Gereja didorong untuk memberikan kesempatan pembelajaran dan pekan-pekan khusus kepada umat agar semangat ajaran sosial Gereja menjadi dasar bagi semua aktivitas sosial mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari titik tolak ini, menarik untuk mengetahui, seberapa mesra bentuk hubungan antara Karitas India dengan ajaran sosial Gereja? Apakah Karitas India menganggap, setiap aktivitas mereka bertujuan utama untuk menyebarluaskan ajaran sosial Gereja? Atau, justru pemikiran karena di dalam karya merupakan perwujudan ajaran sosial Gereja sehingga tidak perlu membawa nama ASG secara tersurat? Dan yang tak kalah menarik, karena penyebarluasan ASG itu identik dengan kekatolikan, kitab suci dan dokumen-dokumen Gereja, bagaimana strategi sosialisasinya untuk masyarakat yang non-Katolik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Metamorfosis Peran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, belum ada aktivitas berarti di kantor Karitas Nasional yang terletak di kompleks kantor Konferensi Waligereja India, di bilangan &lt;em&gt;Ashok Place (Gole Dakhana)&lt;/em&gt;, New Delhi, India. Semua pegawai sudah berdatangan, namun mereka belum memulai bekerja. Tepat pukul 09.00, tanpa dikomando, semua penghuni kantor itu bersiap-siap untuk berdoa bersama. Renungan singkat dan kutipan Kitab Suci juga tak ketinggalan dibacakan. Suasananya sungguh khusyuk. Padahal, tak semua pegawai di kantor itu beragama Katolik. Mereka berjajar satu deret, berkeliling membentuk lingkaran besar memenuhi ruangan. Salah satu di antara mereka memulai dengan mengajak menyanyikan lagu penuh khidmat, &lt;em&gt;”Give me Oil for my Lamp, Keep me burning. Give me Oil for my lamp I pray…”&lt;/em&gt;. Seusai lagu disambung dengan doa pembukaan, kembali menyanyikan pujian dan mendengarkan bacaan Kitab Suci. Semua hening mendengarkan renungan singkat yang diberikan oleh salah satu peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Doa pagi adalah tradisi untuk mengawali hari. Mungkin kesannya sepele, namun lewat kegiatan yang sederhana inilah Karitas India seperti meneguhkan, bahwa pendalaman spiritualitas tidak pernah mereka tinggalkan. Kegiatan spiritualitas tidak diletakkan dalam menara gading, melainkan melebur dalam praksis sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, usia 40 tahun telah memungkinkan Karitas India menemukan bentuk geraknya. Harus juga diakui, sejarah perjalanan yang panjang telah mengubah mereka sehingga mendapatkan bentuknya seperti sekarang. Karitas India pada awalnya lebih mengutamakan karya. Penyebarluasan ajaran sosial Gereja bukan tugas utama mereka. Karitas justru sebagai institusi yang bergerak ke luar, masuk ke dalam dunia yang profan seraya menghadirkan wajah kasih Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tampak berjarak dengan ASG, sebetulnya nilai-nilai ajaran sosial Gereja, khususnya kasih dan solidaritas, diwujudnyatakan dalam praktik sehari-hari Karitas India. Selain berdoa bersama, orang-orang yang terlibat dalam kegiatan Karitas yang telah mendapatkan beragam pembekalan ilmu-ilmu profan, tetap mendapatkan pendalaman spiritualitas ASG. Sosialisasi nilai-nilai ASG diberikan pertama-tama kepada seluruh unsur pegawai Karitas, sejak dari dari posisi tertinggi hingga tingkat &lt;em&gt;state officer&lt;/em&gt; (perpanjangan tangan Karitas India di tingkat regional). Tanpa pandang bulu, mereka semua mendapatkan pembinaan spiritualitas dalam rupa pembekalan rohani maupun retret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkunjung ke kantor mereka seperti di kantor Karitas Nasional dan di kantor Komunitas Sosial Keuskupan Madurai, Tamilnadu, aura kesederhaan dengan mudah terasa. Penampilan para pegawai tidak berlebihan. Begitupun suasana kantornya yang dihiasi berbagai ornamen khas Katolik yang tidak mencolok. Namun, dalam soal penguasaan bidang kerja, jangan dipertanyakan. Para pegawai sangat menguasai bidang kerja mereka. Mereka bisa dengan lancar menjelaskan setiap pertanyaan mengenai apa saja yang mereka lakukan dan sistem apa yang mereka pakai dalam kagiatan harian. Dan yang tak kalah penting, Karitas India juga menerapkan pelaksanaan prosedur kerja yang teratur, transparan dan dapat ditanggung gugat. Mereka juga melibatkan orang yang termarginalisir secara kasta, agama dan gender, baik dalam struktur organisasi maupun dalam pendampingan untuk kelompok dampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal pendampingan, perjuangan atau isu yang ditampilkan identik dengan perjuangan untuk menciptakan kesejahteraan umum. Dan hal itu tidak terbatas untuk warga seiman. Salah satu perjuangan mereka adalah mendorong keterlibatan kaum perempuan yang tertindas secara kasta agar bisa hidup lebih baik. Caranya, tim pendamping Karitas menganimasi supaya salah seorang dari mereka berani memimpin. Tentu saja membuat kaum wanita yang terbiasa di belakang itu berani tampil di depan bukan pekerjaan mudah. Ada proses panjang yang harus dijalani sebelumnya. Biasanya, setiap kali hadir dalam pertemuan kelompok target dampingan, tim Karitas akan mengawali dengan pengorganisasian warga. Lalu, kelompok tersebut diajak untuk menabung. Menabung merupakan contoh nyata bahwa bila kaum perempuan ingin hidupnya lebih sejahtera, mereka harus memberdayakan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, sistem menabung yang dikembangkan itu ’berbuah’ lebih banyak. Menabung bukan hanya menjadi sarana pemersatu warga, juga menjadi bentuk nyata swadaya warga untuk mendukung sebuah kegiatan. Terbukti sudah, bahwa suatu awal yang sederhana itu kemudian menjadi tabungan yang lebih tertata yang dijalankan dengan disiplin. Dari tabungan ini para anggota dapat mengakses dana, baik untuk kebutuhan mendesak maupun kebutuhan produktif, untuk modal usaha misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengorganisasian kelompok dampingan, keterlibatan warga yang didampingi mendapat tempat penting. Dengan berpegang pada prinsip subsidiaritas, pengambilan keputusan dilakukan oleh warga. Pegawai Karitas bertindak sebagai animator saja. Peran ini juga merupakan hasil metamorfosis. Bila ditelusuri kembali, pada tahun-tahun pertama Karitas India, pegawai Karitas berfungsi sebagai pekerja sosial. Di masa lalu, pegawai Karitas India menjadi pekerja sosial. Mereka menjadi pedamping yang datang ke tengah komunitas (&lt;em&gt;go to the people&lt;/em&gt;), berperan untuk melakukan intervensi dalam komunitas, mengelola dinamika komunitas, mendampingi komunitas dengan tidak mengenal waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak peran yang disandang, tak mengherankan bila akhirnya masyarakat memandang sosok pendamping sebagai “orang serba tahu”. Mereka menjadi guru sekaligus memberi contoh, memberikan pelatihan secara formal dan informal sesuai kebutuhan, menganalisa dan membuat keputusan, mengatur administrasi keuangan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa tahun, pegawai Karitas India menjalankan peran sebagai fasilitator, yaitu pendamping yang berperan mengorganisir komunitas sekaligus agen pembawa perubahan, menganimasi (meleburkan diri ke komunitas), mediasi, negoisasi, mengembangkan kesepakatan bersama, memfasilitasi kelompok, mendayagunakan ketrampilan dan sumber daya serta mengorganisir kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, kini pegawai Karitas India berperan sebagai animator, artinya ’hanya’ menjadi pendamping yang memberikan inspirasi, menumbuhkan minat, mengaktivasi dan memotivasi kelompok untuk melakukan tindakan nyata, misalnya: pertemuan kelompok, menumbuhkan usaha bersama secara partisipatif dan menumbuhkan lembaga lokal di tengah komunitas. Pendamping mendampingi komunitas secara bertahap agar komunitas semakin partisipatif, mandiri dan berkelanjutan sehingga komunitas menjadi lebih berdaya (&lt;em&gt;self-reliance&lt;/em&gt;) menuju ke arah perubahan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan peran pegawai Karitas India berlangsung secara bertahap, melewati kurun waktu 4 dekade bersamaan dengan perubahan strategis organisasi. Pada awal berdirinya periode 1962-1976, Karitas India menjadi organisasi yang belajar seraya memperkuat kelembagaan. Pada periode transisi, 1977-1982, Karitas India mengambil langkah-langkah definitif menuju perubahan visi, menciptakan kesadaran dan mempersiapkan perubahan Karitas Keuskupan dari karya amal dan bantuan karitatif menuju karya pembangunan (&lt;em&gt;project development&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode 1983-1994, Karitas India menegaskan menjadi organisasi animasi. Kesadaran ini muncul karena karya pembangunan bertitik tolak dari manusia dan manusia merupakan sumber daya. Maka, Karitas India meneruskan program pelatihan di berbagai tingkatan dan menyiapkan bahan pembelajaran yang terfokus pada animasi. Badan Pengurus Karitas India, yang tak lain adalah para Uskup dari Konferensi Waligereja India, menghargai upaya ini setelah melewati serangkaian refleksi dan konsultasi, sampai akhirnya menetapkan animasi sebagai kekuatan utama Karitas India dalam karya untuk transformasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Melintas Perbedaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak adanya pendampingan Karitas, nilai partisipasi dan demokrasi masyarakat dan kaum awam perlahan tumbuh. Paling nyata terlihat bagaimana kesungguhan warga kelompok dampingan untuk memahami persoalan, menjelaskan situasi awal kehidupan mereka, kehidupan mereka sekarang dan yang akan datang. Setidaknya, mereka kini berani bersuara dan berani bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu dari komunitas sekitar daerah wisata di Kodaikanal bisa dijadikan contoh. Wanita bertubuh subur dan berpenampilan sederhana itu merupakan pemimpin komunitas dampingan menabung kaum ibu. Sekedar informasi, untuk meyakinkan ibu itu untuk menjadi pemimpin bukan kerja mudah. &lt;em&gt;”Awalnya, saya tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa. Apalagi, pekerjaan rumah tangga pun tidak kalah penting. Namun karena semangat maju, semangat belajar serta didukung oleh peran pendamping akhirnya saya memberanikan diri dan mau memimpin,” &lt;/em&gt;tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, ibu tersebut bercerita bagaimana situasi awal mereka sebelum didampingi Karitas sejak tahun 2005. Mereka menghadapi kehidupan sekitar daerah wisata yang identik dengan hura-hura, menghamburkan uang dan pesta. Uang mudah didapatkan, tetapi mudah dikeluarkan untuk aneka kesenangan, sehingga kebutuhan sehari-hari, untuk sekolah dan masa depan anak tidak terpikirkan. Bahkan di antara mereka ada yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, saat menjumpai suami pulang malam dalam keadaan mabuk dan memukul atau saat dimintai uang untuk biaya hidup harian atau biaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak bagaimana ibu itu mengungkapkan semua kesulitan yang dihadapi, pemecahan masalah yang dilakukan serta aneka istilah yang keluar dari bibirnya (bayangkan, istilah canggih seperti ’peningkatan kapasitas’ dan ’pemberdayaan’ keluar dari bibir seorang ibu sederhana) menunjukkan, ibu itu memahami persoalan dan benar-benar menginternalisasikan pembelajaran yang diperolehnya melalui pengembangan komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini menunjukkan bahwa kaum perempuan yang terpinggirkan pun sesungguhnya memiliki kesadaran untuk mau menjadi pemimpin. Tidak hanya itu, kaum perempuan telah berdaya untuk menyadarkan dan mengorganisir kaum perempuan lain sehingga memiliki kesadaran yang sama untuk memperbaiki kehidupan mereka dalam situasi budaya patriaki India yang menempatkan perempuan sebagai ”nomer dua”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam struktur Karitas sendiri juga menunjukkan wajah yang plural. Bahkan di tingkat nasional pun ada pegawai dan para imam yang berasal dari kalangan kasta terbawah. Tak hanya itu, kaum perempuan dan warga non-Katolik juga mendapat tempat dalam jenjang kepangkatan dan kepengurusan organisasi. Dari sini ingin disampaikan bahwa Karitas India itu berada dalam satu perjuangan bersama untuk mengusahakan kesejahteraan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat solidaritas juga menjadi tiang utama Karitas India. Berkenaan dengan nilai solidaritas, jelas sekali bahwa yang ditampilkan Karitas India dalam karya adalah solidaritas kepada mereka yang terpinggirkan, baik secara sistem kasta, agama, gender dan sosial-ekonomi. Solidaritas tersebut juga tampak dalam kerja sama dengan beberapa unsur dalam Gereja. Misalnya di tingkat nasional, regional dan keuskupan, ada isu dan gerak bersama yang sangat dirasakan. Pertemuan-pertemuan rutin di beberapa tingkat tersebut menjadi forum penentuan bersama prioritas pastoral. Dengan prioritas tersebut, maka dukungan solidaritas di beberapa tingkatan Gereja bahkan hingga tingkat antar komisi dapat semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solidaritas terlihat jelas dalam kegiatan pengumpulan dana masa Pra-Paskah, penentuan isu bersama, gerakan bersama di semua tingkat Gereja. Meski gaji mereka tidak besar, beberapa orang yang bekerja di Karitas juga memberikan sepuluh persen dari pendapatannya untuk mendukung karya yang sedang dijalankan. Dengan solidaritas itu, proyek-proyek mikro dapat didukung secara finansial oleh kelompok regional atau Keuskupan setempat dan tidak perlu mengajukan sampai ke Karitas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu semua, penyebaran nilai-nilai sosial Gereja dengan cara yang sangat cair juga dilakukan. Antara lain melalui penerbitan bahan penuntun kerja, poster untuk internal Gereja, atau kerjasama dengan Komisi Komunikasi Sosial lewat &lt;em&gt;red nose theatre&lt;/em&gt; (model teater yang menggelar pertunjukan di komunitas dengan membawa misi penyadaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni teater menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai yang relevan dengan keadaan masyarakat. Cara ini menjadi alat komunikasi yang efektif dengan warga kelompok target untuk menyebarluaskan isu secara lebih halus namun mengena. Seperti kisah yang ditampilkan &lt;em&gt;red nose theater&lt;/em&gt; kelompok dampingan lain di Kodaikanal siang hari itu. Mereka bercerita mengenai realita masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi masyarakat yang semakin hedonis digambarkan dengan kaum pria suka menghambur-hamburkan uang, minum-minuman keras dan berpesta. Mereka tidak peduli dengan kehidupan rumah tangga. Sementara, istri mengeluh karena uang untuk kebutuhan rumah tangga sangat minim dan anak terlambat membayar uang sekolah. Dalam keadaan terjepit, pemeran suami bertanya secara interaktif kepada para penonton tentang apa yang harus dilakukan. Penonton pun memberi masukan berupa nasehat, gurauan bahkan cemoohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeran lain kemudian masuk untuk menawarkan solusi yaitu ajakan untuk bergabung dalam koperasi. Tak hanya itu, nasehat-nasehat yang selaras dengan nilai-nilai sosial gereja seperti perlunya mengusahakan kesejahteraan bersama, solidaritas dan keluhuran martabat manusia juga diberikan sambil meminta konfirmasi penonton secara interaktif. Ada memang keragu-raguan yang muncul, namun kebimbangan itu justru menjadi kesempatan untuk memberi penjelasan dan peneguhan. Akhir dari drama tersebut adalah sikap setuju terhadap ajakan bergabung dalam koperasi, yang berarti sepakat dengan nilai-nilai luhur khas ASG. Seruan para penonton pun memberi dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, teater memiliki aneka fungsi. Menjadi media yang menampilkan realita masyarakat, memberi penjelasan alternatif solusi, sekaligus menyemaikan nilai-nilai ASG. Jelas terlihat di sini bagaimana kejelian Karitas India dalam memanfaatkan media komunikasi rakyat yang populer menjadi sarana menanamkan nilai-nilai sosial Gereja yang melewati aneka batasan dan perbedaan, dengan jangkauan yang lebih luas, bagi masyarakat non Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bisa Belajar Apa ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kiprahnya selama ini, Karitas India telah berusaha menebarkan wajah sosial Gereja secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung melalui pendalaman spiritualitas ASG, sosialisasi nilai-nilai ASG kepada seluruh unsur pegawai Karitas, dari posisi tertinggi hingga tingkat &lt;em&gt;state officer &lt;/em&gt;(perpanjangan tangan Karitas India di tingkat regional), termasuk pada kesempatan doa bersama harian atau retret. Ajaran sosial Gereja mesti menjadi pijakan dari sebuah karya pembinaan yang intensif lagi berkanjang, khususnya dari kaum awam beriman. Sesuai kompendium Ajaran Sosial Gereja, pembinaan semacam itu hendaknya mengindahkan kewajiban-kewajiban mereka di tengah masyarakat sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, dalam kegiatan pendampingan, isu yang di kedepankan tak lain demi menciptakan kesejahteraan umum. Karena gagasan kesejahteraan umum mencakup semua anggota masyarakat, tak ada satu pun yang dikecualikan dari kerja sama, seturut kemampuan masing-masing orang, dalam menggapai dan mengembangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karyanya, Karitas India melibatkan orang-orang dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan yang tidak seiman dan yang terpinggirkan. Hal ini merupakan sebuah pengakuan bahwa jalan cinta kasih terbuka bagi semua orang dan bahwa usaha untuk membangun persaudaraan universal tidak akan percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karitas India mendorong keterlibatan warga yang didampingi, menumbuhkan partisipasi dan demokrasi, selaras dengan prinsip subsidiaritas. Hal ini berarti warga masyarakat pada setiap tingkatan diberi tahu, didengarkan dan dilibatkan dalam pelaksanaan fungsi-fungsi yang dikerjakan. Kekuatan Karitas India yang lain mengedepankan nilai solidaritas yang tampak dalam diri para pegawai yang merupakan kesediaan yang lebih besar bahwa mereka adalah orang-orang yang berutang pada masyarakat di mana mereka menjadi bagiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karitas India pada awalnya mencanangkan karya amal dan bantuan karitatif, lalu berubah melaksanakan karya pembangunan hingga akhirnya menetapkan animasi sebagai kekuatan karya untuk transformasi masyarakat. Perubahan ini penting karena melenyapkan ketidakadilan berarti memajukan kebebasan dan martabat manusia, namun hal pertama yang mesti dilakukan ialah bersandar pada kemampuan spiritual dan kemampuan moral individu dan pada kebutuhan permanen akan pertobatan batin. Beberapa hal itu penting agar kehadiran Karitas dapat menggapai perubahan-perubahan ekonomi dan sosial yang benar-benar akan melayani manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karitas India pun terus menyemaikan nilai-nilai sosial gereja melalui media alternatif yang melampaui aneka batasan dan perbedaan demi menjunjung harkat dan martabat manusia. Dengan demikian, ASG ditempatkan dalam wawasan pastoral evangelisasi baru yang dewasa ini sangat dibutuhkan oleh dunia, termasuk pewartaan ajaran sosial Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perjalanan hidup Karitas India selama ini, tentu ada poin-poin penting yang bisa dipetik sebagai pelajaran bagi Karitas Indonesia (Karina). Berikut ini di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Materi ASG yang relevan selalu dijadikan salah satu bahan dalam kegiatan &lt;em&gt;capacity building&lt;/em&gt;, baik di tingkat nasional secara internal/ keuskupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Unsur Karitas Keuskupan yang langsung kontak dengan kelompok target binaan yang plural, dalam rangka &lt;em&gt;community building&lt;/em&gt;, hendaknya menanamkan nilai-nilai universal khas ASG, kesejahteraan umum, solidaritas dan subsidiaritas dalam kemasan yang kontekstual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Karina dapat mulai menyegarkan kembali ingatan terhadap pokok-pokok ASG melalui terbitan bahan penuntun, &lt;em&gt;guidelines&lt;/em&gt; yang menyertakan penanaman nilai-nilai universal yang disarikan dari ASG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Karina di tingkat nasional ataupun keuskupan, dapat bekerjasama dengan komisi-komisi lain (misalnya Komisi Katekese) untuk menerbitkan buku yang mengeksplorasi ASG atau bekerjasama dengan Komisi Komunikasi Sosial untuk merilis video CD dalam kemasan populer, berisi refleksi atas situasi (&lt;em&gt;see&lt;/em&gt;), animasi dan sosialisasi ASG (&lt;em&gt;judge&lt;/em&gt;) dan panggilan untuk bertindak (&lt;em&gt;act&lt;/em&gt;). Misalnya, film tentang situasi kelompok dampingan sejak dari situasi terpuruk mereka hingga berhasil berdaya dan mandiri. Diharapkan pembuatan dan penyebaran kisah sukses semacam ini menggerakkan sebanyak mungkin orang agar terinspirasi untuk berdaya atau memberikan dukungan. &lt;em&gt;(Catatan Exposure Visit &lt;/em&gt;Karina&lt;em&gt; ke Caritas India, September 2009)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2489810544410043855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2489810544410043855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/03/menghadirkan-wajah-gereja-di-dunia.html' title='Menghadirkan Wajah Gereja Di Dunia'/><author><name>Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhK6z2Y3lbgkMmSA10bfmmY6XA6n2vUn0YvXMcAoZmSy0Ic0LkEMs6P_FJ6z0vKyc9giAhquJDeTJtc-QvwF0AyGllgIFq7g1CvnMwVspBEbLIC6Bw3R-6nnNDabcWIxoUT3lFytowe-gTjNUpko5YVGA7riiO8_gSj1yXBLzPmgv8AoA/s220/3450891.jpg'/></author></entry></feed>