<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;A0cNSHs6fip7ImA9WhRUFUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296</id><updated>2012-01-27T00:31:39.516+07:00</updated><title>Luluk Widyawan's Page</title><subtitle type="html" /><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>57</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/LulukWidyawansPage" /><feedburner:info uri="lulukwidyawanspage" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;A0cNSHs5cCp7ImA9WhRUFUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-7385426258475304389</id><published>2012-01-26T15:21:00.006+07:00</published><updated>2012-01-27T00:31:39.528+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-27T00:31:39.528+07:00</app:edited><title>Bonum Commune Di Persimpangan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kasus mencontek massal saat Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Nasional (UASBN) 2011 yang terjadi di SD Gadel II,&amp;nbsp;Tandes, Surabaya menyita perhatian banyak pihak. Seorang guru memberikan tugas kepada A dengan pesan setelah mengerjakan jawaban soal ujian, harus mendistribusikan kepada rekan-rekannya. Bahkan sekolah sempat mengadakan gladi resik mencontek massal itu. Menurut pengakuan A, “Guru saya&amp;nbsp;yang menyuruh&amp;nbsp;memberi contekan, dengan alasan&amp;nbsp;kasihan kalau teman saya tidak lulus”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian ini diinformasikan A kepada ibunya. Ibu&amp;nbsp;menyampaikan kejadian ini kepada pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Karena tidak mendapatkan tanggapan, ia&amp;nbsp;menginformasikan kepada media masa. Ketika media masa memberitakan kasus tersebut, reaksi muncul dari berbagai pihak. &lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang sangat memprihatinkan ialah&amp;nbsp;&amp;nbsp;orangtua A justru dihakimi, sebagai pihak yang harus disalahkan. Mereka harus menerima caci maki karena mempertahankan kejujuran. Imbasnya, mereka&amp;nbsp;dipaksa meninggalkan rumah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan memberikan tanggapan. "Tindakan rakyat memusuhi pelapor adalah tindakan pengecut. Yang bermasalah adalah lingkungannya. Masyarakat yang memberikan tekanan kepada orang-orang jujur harus dihukum," ujarnya. Anies mendesak, agar tokoh-tokoh yang mendesak pengusiran&amp;nbsp;&amp;nbsp;diungkap&amp;nbsp;dan dimintai pertanggungjawaban. "Pelapor harus dibela dan diberi label positif. Profil-profil yang terlibat memberi tekanan harus&amp;nbsp;merasa ini sesuatu yang salah," tuturnya. Ia menambahkan, tindakan warga kepada anak yang melaporkan, akan memberi tekanan&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;efek jangka panjang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Romo Mudji Sutrisno mengatakan, perilaku pengusiran tersebut menjadi sumber yang menyebabkan bangsa Indonesia tidak maju-maju. "Ini krisis edukasi dan pendidikan. Kasus di Surabaya&amp;nbsp;puncak gunung es. Banyak masalah yang lebih ngeri dari itu," ujarnya. Ia mengaku prihatin, ketika anak-anak SD sudah diajari untuk tidak bisa dipercaya. Padahal, kepercayaan menjadi hal yang paling penting bagi pendidikan. "Kasus ini menunjukkan bagaimana anak-anak dari kecil sudah dirusak". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebaikan bersama atau kebaikan umum (&lt;em&gt;bonum commune&lt;/em&gt;) yang dimaksud oleh guru amat meragukan.&amp;nbsp;Kebaikan umum yang digagas, tidak menempatkan hidup bersama sebagai kerja&amp;nbsp;perjuangan hidup bersama. Tetapi kerja perjuangan A saja. Ini&amp;nbsp;bukan merupakan cita-cita kolektif yang benar dan demi kualitas individu yang lebih baik. Sebaliknya hal itu merupakan cita-cita yang salah, karena membiarkan mencontek dan&amp;nbsp;membenarkan murid sekelas bertindak tidak jujur. Ketidakjujuran itu&amp;nbsp;menjerumuskan kualitas para murid. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebaikan bersama yang digagas oleh guru bertentangan dengan kesalehan yang harus diwujudkan di dalam dunia. Padahal kesalehan tindakan jujur sangat efektif untuk menentang kebobrokan moral dan kecurangan yang nyata dalam masyarakat. Anjuran&amp;nbsp;memberikan contekan kepada para murid, membuat A menjadi goyah dan memadamkan suara hati. Ia tidak mampu melawan suasana yang kini meliputi dunia. Guru telah menjerumuskan A pada kondisi dibuang dan diinjak orang, sekaligus&amp;nbsp;dihancurkan oleh cara hidup yang bertentangan dengan nilai luhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan ibu&amp;nbsp;yang berani melapor, meskipun mendapat pertentangan, justru memberitakan kabar gembira. Ibu tersebut&amp;nbsp;hendak mengatakan bahwa ketidakjujuran adalah salah dan tidak boleh disembunyikan. Sikap itu menegaskan bahwa seseorang yang benar patut mendapat dukungan dan&amp;nbsp;yang salah patut mendapat teguran. Pilihan itu merupakan sikap tegas dalam kesetiaan kepada Tuhan. Ketegasan itu mencerminkan keyakinan iman dan kesetiaan yang kuat untuk menegakkan nilai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan menentang mencontek ialah&amp;nbsp;tindakan melawan dosa, Karena mencontek&amp;nbsp;melawan keadilan yang selayaknya terjadi dalam relasi antar individu. Tindakan tersebut juga melawan pembatasan kebebasan hak-hak pribadi manusia. Karena memberi&amp;nbsp;contekan berarti&amp;nbsp;menghalangi setiap orang dan kelompok untuk secara lebih penuh dan lebih lancar, dalam&amp;nbsp;mencapai kesempurnaan pribadi. Kebebasan seseorang untuk tidak setuju dengan mencontek, merupakan kemampuan menolak apa yang negatif secara moral dan kemampuan untuk menjauhkan diri sendiri secara efektif, dari segala sesuatu yang bisa menghalangi pertumbuhan pribadi, keluarga atau masyarakat. Jadi,&amp;nbsp;tindakan moral seseorang perlu dicapai dengan melakukan apa yang baik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang kebaikan umum&amp;nbsp;mengandung makna, setiap orang diminta memberikan yang terbaik dari hidup dan karyanya untuk kebaikan bersama. Tetapi perjuangan mewujudkan kebaikan bersama perlu diwujudkan setiap orang, secara bersama-sama. Perwujudan kebaikan bersama tidak boleh melawan nilai luhur kejujuran dan merendahkan kualitas pribadi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka syarat penting dari kebaikan umum ialah pertama, kebaikan umum perlu melihat hidup bersama sebagai tanggung jawab bersama. Kedua, hidup bersama merupakan praksis produktif dan kontributif terhadap lingkungan&amp;nbsp;sosial. Ketiga, kebaikan umum&amp;nbsp;selalu berupaya membereskan institusi sosial, dengan menegakkan nilai tanggung jawab dan nilai moral. Keempat, kebaikan umum&amp;nbsp;membongkar pembatasan sosial yang telanjur menjadi kebiasaan,&amp;nbsp;padahal&amp;nbsp;sesungguhnya menghancurkan nilai-nilai moral.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kejadian tersebut ialah, betapa penting mengubah &lt;em&gt;mindset &lt;/em&gt;atau&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;memiliki kesadaran&amp;nbsp;bahwa kebaikan umum&amp;nbsp;menuntut setiap orang mengusahakan&amp;nbsp;perwujudannya, secara bersama-sama, bukan orang tertentu saja. Upaya&amp;nbsp;menegakkan nilai luhur kejujuran dan memberi teladan kejujuran dalam hidup bersama dan demi kebaikan bersama, perlu dilakukan terus-menerus.&amp;nbsp;Pendidikan, baik di&amp;nbsp;dalam keluarga, di sekolah dan di dalam masyarakat,&amp;nbsp;perlu diarahkan pada&amp;nbsp;menanamkan nilai dan&amp;nbsp;moral,&amp;nbsp;terutama kepada&amp;nbsp;anak-anak. Pada akhirnya, perlu ada&amp;nbsp;kesaksian atau&amp;nbsp;pembelaan&amp;nbsp;yang tegas bahwa yang jujur, meskipun sedikit, adalah tindakan benar. Sedangkan&amp;nbsp;yang tidak jujur, meskipun banyak, adalah tindakan salah.&amp;nbsp;Hanya dengan cara itu,&amp;nbsp;ungkapan &lt;em&gt;sing jujur mujur&lt;/em&gt; dan bukan &lt;em&gt;sing&amp;nbsp;jujur ajur,&lt;/em&gt; dapat&amp;nbsp;dipahami, dihidupi dan&amp;nbsp;dipraktekkan oleh semakin banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-7385426258475304389?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Fcb03VujFjuZ7fuI30ZNeGg14DU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Fcb03VujFjuZ7fuI30ZNeGg14DU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Fcb03VujFjuZ7fuI30ZNeGg14DU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Fcb03VujFjuZ7fuI30ZNeGg14DU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/kBXytuamHuY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/7385426258475304389?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/7385426258475304389?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/kBXytuamHuY/bonum-commune-di-persimpangan.html" title="Bonum Commune Di Persimpangan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/01/bonum-commune-di-persimpangan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck8HR3Yyeip7ImA9WhRUE08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-8160286078320766362</id><published>2012-01-23T18:44:00.003+07:00</published><updated>2012-01-23T19:13:56.892+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-23T19:13:56.892+07:00</app:edited><title>Perjuangan Menegakkan Hak Asasi Manusia</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjuangan menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) masih tampak buram. Kasus pelanggaran HAM yang terjadi masih relatif tinggi dan beragam. Pelanggaran tersebut berupa&amp;nbsp;tindakan kekerasan yang berlatar belakang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum atau aspek lain. Pelanggaran HAM bukan hanya menimbulkan trauma bagi korban, tetapi berdampak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ironisnya, banyak pelanggaran HAM tak tersentuh penyelesaian secara hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komnas HAM per Januari sampai Oktober 2011 mencatat ada 3.780 kasus pelanggaran HAM. Tren ini meningkat 14,37% dibanding tahun lalu. Adapun kasus pelanggaran HAM yang cukup serius misalnya, kasus kekerasan di Papua dan di tempat lain,&amp;nbsp;konflik perburuhan, SARA, mafia peradilan, rendahnya keberpihakan kebijakan negara terhadap masyarakat sipil, buruknya layanan publik maupun praktek diskriminasi terhadap kelompok rentan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan menegakkan HAM masih panjang. Namun, urusan penegakkan HAM bukan hanya tugas negara. Gereja perlu mewartakan keselamatan kepada manusia. Karena dalam Gereja, harkat pribadi manusia mendapat peran yang sentral dan menentukan. Paus Yohanes XXIII pernah&amp;nbsp;menegaskan bahwa prinsip pokok keterlibatan sosial Gereja adalah bahwa manusia sebagai pribadi, merupakan dasar, sebab dan tujuan yang utama. Martabat manusia harus diakui dan dipertahankan. (Mater et Magistra, 219).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbicara tentang manusia, Kitab Suci menyebutkan&amp;nbsp;bahwa manusia itu diciptakan Tuhan seturut citra Tuhan sendiri. Manusia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya. Oleh Tuhan, manusia ditetapkan sebagai tuan atas segala mahluk di dunia ini, untuk menguasai dan mengelola, sambil meluhurkan Tuhan sendiri. (Gaudium Et Spes, 12). Setiap pribadi manusia itu berbeda-beda bakat dan kemampuannya, namun Tuhan menganugerahkan martabat yang sama kepada setiap orang. (Rerum Novarum, 24, 28).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia terdiri atas jiwa dan raga itu. Unsur-unsur&amp;nbsp;jasmaniah itu mencapai taraf yang tertinggi, ketika manusia&amp;nbsp;mampu&amp;nbsp;secara&amp;nbsp;bebas memuliakan Tuhan. Atas dasar itu manusia tidak boleh meremehkan tubuh jasmaninya. Aspek kemanusiaan yang juga menjadi perhatian ialah aspek hati nurani. Hati nurani merupakan suara yang menyerukan apa yang baik dan untuk menghindari apa yang jahat. Atas kesetiaan terhadap hati nurani ini, umat kristiani bersama dengan sesama manusia mencari kebenaran dan berupaya untuk memecahkan pelbagai permasalahan. (Gaudium Et Spes, 14-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, perjuangan Gereja menegakkan HAM terasa kuat dalam dimensi kerja.&amp;nbsp;Hidup manusia terbangun setiap hari melalui kerja. Dari kerja, manusia menemukan harga dirinya. Namun, pada saat yang sama, kerja mengandung&amp;nbsp;perjuangan, kepedihan, penderitaan serta ketidakadilan bagi manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di masa kini, ancaman terhadap martabat luhur manusia disebabkan oleh berbagai&amp;nbsp;jenis ateisme. Akibat peradaban yang sarat dengan materialisme, manusia kesulitan mengalami dekat dengan Tuhan. Ateisme sistematis mendorong hasrat manusia untuk otonom dari campur tangan Tuhan dan bebas,&amp;nbsp;yang berarti manusia menjadi tujuan bagi dirinya sendiri. Selain itu, materialisme tidak menghormati hidup, kebebasan dan martabat manusia. Manusia diperlakukan lebih sebagai alat produksi daripada subyek kerja. Konsumerisme lebih menekankan selera sendiri, sedangkan kenyataan manusia sebagai pribadi yang berakal budi dan bersifat bebas tidak dihiraukan. Padahal tidak dapat dibenarkan, cara hidup yang sasarannya hanya&amp;nbsp;supaya manusia&amp;nbsp;memiliki sesuatu, melalui konsumsi yang bersifat artifisial. Ketika manusia berlomba mememiliki dengan mengeruk keuntungan, sebagian lain harus menanggung kerugian berupa&amp;nbsp;penderitaan martabat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ancaman baru terhadap kehidupan dan kemanusiaan bukan hanya kemiskinan, kelaparan, kekerasan dan&amp;nbsp;wabah penyakit. Namun juga segala hal yang berlawanan dengan kehidupan itu sendiri, seperti pembunuhan, penumpasan suku, pengguguran, euthanasia, bunuh diri, penyiksaan mental, paksaan psikologis, pemenggalan anggota badan, pengasingan, perbudakan, pelacuran, perdagangan manusia, perempuan, anak dan kondisi kerja yang merendahkan martabat manusia. Hasil akhirnya adalah kaburnya nilai-nilai moralitas dan buramnya hati nurani. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam situasi sedemikian ini, Gereja amat tegas mengecam ajaran-ajaran maupun tindakan yang bertentangan dengan akal budi dan tindakan&amp;nbsp;yang meruntuhkan martabat manusia. Gereja mengundang semua pihak, untuk menyadari sepenuhnya bahwa permasalahan sosial tidak sekedar urusan produksi ekonomis atau organisasi sosial dan yuridis semata, tetapi juga meliputi urusan nilai etika dan religius serta perubahan mentalitas, kebiasaan hidup maupun struktur sosial. Maka, semua pihak hendaknya berpartisipasi penuh dalam memberikan sumbangan kepada perbaikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konkretnya, HAM harus dibela tidak hanya secara individual, tetapi sebagai keseluruhan. Karena HAM sepadan dengan martabat manusia dan mencakup pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hakiki pribadi secara jasmani dan rohani. Penegakan HAM adalah jaminan sejati terhadap penghormatan setiap hak individual. Yang sangat diperlukan ialah HAM perlu diakarkan dalam setiap kebudayaan dan profil yuridisnya diperkokoh. Sehingga HAM terjamin. (Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial Gereja, 154). Masyarakat adil menjadi kenyataan hanya apabila didasarkan pada penghormatan terhadap martabat pribadi manusia. Pribadi mewakili tujuan akhir masyarakat dan masyarakat diarahkan kepada setiap pribadi. (Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial Gereja, 132). &lt;em&gt;(Surabaya Post, 13 Januari 2012).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-8160286078320766362?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zZgdSiFN7-q_x-PN3v6anlOcoAA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zZgdSiFN7-q_x-PN3v6anlOcoAA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zZgdSiFN7-q_x-PN3v6anlOcoAA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zZgdSiFN7-q_x-PN3v6anlOcoAA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/nn85205D9Yk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8160286078320766362?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8160286078320766362?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/nn85205D9Yk/perjuangan-menegakkan-hak-asasi-manusia.html" title="Perjuangan Menegakkan Hak Asasi Manusia" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2012/01/perjuangan-menegakkan-hak-asasi-manusia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUDQXY_eSp7ImA9WhRQFEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-6377928222102952175</id><published>2011-12-10T04:31:00.000+07:00</published><updated>2011-12-10T04:31:10.841+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-10T04:31:10.841+07:00</app:edited><title>Meminta Maaf, Mengakui Kesalahan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejadian di SD Don Bosco, Kelapa Gading, Jakarta, beberapa waktu lalu mengundang perhatian publik. Sekolah tidak menerima murid bernama Im, dengan alasan bahwa ayahnya mengidap HIV positif. Penolakan itu sempat memicu keluarga murid untuk melakukan somasi kepada pihak sekolah, atas perlakuan diskriminatif terhadap anaknya. Akan tetapi, pihak sekolah, usai melakukan mediasi dengan keluarga, mengatakan hal itu karena ketidaktahuan dan penyampaian yang tidak tepat. Pihak sekolah mengaku bersalah, meminta maaf atas perlakuan diskriminatif dan akan menerima Im kembali untuk mengikuti seleksi penerimaan siswa baru di sekolah tersebut. Keluarga murid tersebut menerima isyarat yang dinyatakan oleh pihak sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Permintaan maaf, pernah dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II. Atas nama Gereja Katolik, pemimpin umat itu meminta maaf pada semua orang yang menderita karena perbuatan Gereja Katolik di masa lalu. Paus Yohanes Paulus II yang dikenal sebagai pendukung inisiatif rekonsiliasi, pernah membuat pernyataan maaf yang dipublikasikan untuk lebih dari 100 kesalahan, termasuk prosedur hukum pada ilmuwan Galileo Galilei, keterlibatan dalam perdagangan budak Afrika, peran hirarki pada penghukuman mati dan perang agama, ketidakadilan terhadap perempuan, pelanggaran hak asasi dan perendahan martabat perempuan serta ketidakpedulian umat Katolik selama holocaust pada masa Perang Dunia II. Sementara berkenaan dengan skandal, Paus Benediktus XVI mengatakan di Irlandia, "Saya juga mengakui sama dengan anda, rasa malu dan penghinaan, bahwa kita semua menderita karena dosa-dosa ini".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dosa adalah satu pelanggaran terhadap akal budi, kebenaran dan hati nurani yang baik. Dosa adalah satu kesalahan terhadap kasih yang benar terhadap Tuhan dan sesama. Dosa melukai kodrat manusia dan solidaritas manusiawi. Dosa didefinisikan sebagai kata, perbuatan atau keinginan yang bertentangan dengan hukum abadi. Dosa adalah penghinaan terhadap Tuhan. Dosa memberontak terhadap kasih Tuhan kepada manusia dan membalikkan hati manusia dari Tuhan. Seperti dosa pertama, dosa adalah ketidaktaatan, pemberontakan terhadap Tuhan oleh kehendak menjadi seperti Tuhan dan oleh dosa mengetahui dan menentukan apa yang baik dan apa yang jahat (Kej 3:5). Dengan demikian dosa adalah cinta diri yang meningkat menjadi penghinaan kepada Tuhan. Karena keangkuhan ini, maka dosa bertentangan penuh dengan ketaatan Yesus yang melaksanakan keselamatan. (Katekismus Gereja Katolik, 1849-1850).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dosa menghancurkan relasi manusia dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip kehidupan manusia, ialah kasih. Sebagaimana dalam 10 perintah Allah yang mengajak manusia melakukan kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama, maka dosa juga mempunyai dua dampak, vertikal dan horisontal. Dampak vertikal, dosa mempengaruhi hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan dampak horisontal, mempengaruhi hubungan manusia dengan sesama. Dengan demikian, tidak ada dosa yang bersifat pribadi. Setiap dosa memiliki dimensi sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dosa manusia pertama yang menghasilkan dosa asal, telah menyebabkan putusnya hubungan antara manusia dengan Tuhan dan pada saat yang sama, membawa dosa bagi seluruh umat manusia. Akibatnya, manusia kehilangan rahmat kekudusan, berkat keabadian, pengetahuan akan Tuhan dan berkat keutuhan. Karena kehilangan berkat tersebut, maka manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa. Manusia harus menundukkan kecenderungan untuk berbuat dosa, yang menurut St. Paulus, ialah mengalahkan nafsu yang berlawanan dengan kehendak Roh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terhadap dosa yang membuat manusia menderita, Yesus dalam pengajaranNya mencontohkan pertobatan anak bungsu, yang tidak malu pergi kepada bapa dan berkata kepada bapa, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa”. Ketika Yohanes menyerukan “ Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!", Yesus pun menerima baptisan sebagai teladan pertobatan dan percaya. Semangat pertobatan ini selaras dengan perintah keempat dari lima Perintah Gereja, mengaku dosa sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Umat yang mengaku dosa, menerima Sakramen tobat, karena ia melaksanakan secara sakramental panggilan Yesus untuk bertobat, bangkit dan kembali kepada Bapa. Ia menyatakan langkah pribadi dan gerejani demi pertobatan, penyesalan dan pemulihan selalu warga Gereja yang berdosa. Pengakuan dosa di depan imam adalah unsur hakiki sakramen ini. Sakramen pengakuan merupakan penghargaan dan pujian akan kekudusan Tuhan dan kerahimanNya terhadap orang yang berdosa. Sakramen pengampunan, melalui absolusi imam, Yesus menganugerahkan secara sakramental kepada orang yang mengakui dosa, pengampunan dan kedamaian. Sakramen perdamaian memberi kepada pendosa, cinta Allah yang mendamaikan. Seseorang memberikan diri didamaikan dengan Tuhan, sehingga mereka yang hidup dari cinta Tuhan yang berbelaskasihan, siap berdamai dengan sesama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertobatan, penyesalan, pemulihan, merupakan pengakuan kepada kerahiman Tuhan yang membawa pengampunan, perdamaian dan belaskasih. Sebagaimana sapaan Yesus pada waktu datang berdiri di tengah-tengah para murid, Ia mengatakan “Damai sejahtera bagi kamu. Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata: Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada”. Sapaan ini memotivasi manusia untuk dengan rendah hati, meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paus Yohanes Paulus II, pernah mengatakan bahwa permintaan maaf itu lebih sulit dibanding berbohong, untuk sebuah maaf, kebohongan telah dipenjarakan. Hal ini tampak dari banyaknya kesalahan dan dosa yang ditutup-tutupi atau direkayasa. Meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa memang terkait dengan harga diri dan menunjukkan kelemahan. Padahal manusia pasti pernah melakukan kesalahan, sekecil apa pun. Meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa merupakan bentuk penyembuhan harga diri, memberikan kesempatan orang lain untuk memaafkan dan memperbaiki relasi. Meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa bukan menjadi alasan untuk melakukan kesalahan yang sama secara sengaja, toh nanti bisa meminta maaf. Hal yang terpenting adalah meminta maaf didasari ketulusan, kesungguhan serta mengakui kesalahan dan dosa, diikuti niat tidak mengulang dan tidak sekadar mengucapkan kata tanpa makna. Semoga kita semakin rendah hati, meminta maaf, mengakui kesalahan dan dosa di hadapan Tuhan dan sesama, sehingga mengalami damai dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 9 Desember 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-6377928222102952175?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/frog-xw75d7soJPTiwPrYq73n_E/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/frog-xw75d7soJPTiwPrYq73n_E/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/frog-xw75d7soJPTiwPrYq73n_E/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/frog-xw75d7soJPTiwPrYq73n_E/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/sv1JtWgrWJU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6377928222102952175?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6377928222102952175?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/sv1JtWgrWJU/meminta-maaf-mengakui-kesalahan.html" title="Meminta Maaf, Mengakui Kesalahan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/12/meminta-maaf-mengakui-kesalahan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck8ESHc_fyp7ImA9WhRSEE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-8251287348419239559</id><published>2011-11-11T15:40:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T15:40:09.947+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-11T15:40:09.947+07:00</app:edited><title>Mengendalikan Keinginan, Mencegah Ketamakan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bulan Oktober lalu terjadi protes global di beberapa kota di Amerika yang kemudian menyebar ke berbagai kota di beberapa negara. Protes itu merupakan gerakan Anti Wall Street yang mengecam ketamakan dan keserakahan kapitalisme dan korporasi global. Gerakan ini bermula dari protes atas penyitaan rumah-rumah dari kredit pinjaman rumah di Amerika yang dikenal sebagai &lt;em&gt;subprime mortgage&lt;/em&gt;. Para penghuni tidak sanggup membayar karena mahalnya biaya kredit per bulan. Di Spanyol, ratusan rumah tangga terpaksa kehilangan tempat tinggal, karena penghuni tak sanggup membayar cicilan kredit. Namun pengembang tetap menaikkan cicilan per bulan, demi mengambil keuntungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam seminar bertema meluruskan jalan reformasi, Ahmad Syafii Maarif pernah mengritik dengan keras maraknya politik uang yang benar-benar riil dan merata dalam kehidupan. Uang begitu berkuasa hingga dapat meluluhlantakkan tatanan konstitusi, undang-undang dan segala peraturan. Akibatnya, pemerintahan yang baik dan bersih tidak terwujud. Ia sampai pada kesimpulan dengan mengatakan bahwa kerusakan ini telah hampir sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini merupakan trend sekarang ialah perburuan rente (&lt;em&gt;rent-seeking&lt;/em&gt;) atau perburuan bunga uang / riba. Perburuan rente ekonomi pada kenyataannya tumbuh subur tidak hanya di ranah ekonomi, bahkan ranah politik. Perburuan rente merupakan usaha untuk mendapatkan rente dengan memanipulasi lingkungan ekonomi, sosial atau politik di mana kegiatan ekonomi terjadi, tidak dengan menambahkan nilai. Hal ini merupakan ketamakan dan keserakahan yang menyebabkan kemiskinan. Ada prediksi trend tersebut mengakibatkan suatu fenomena sosial yang dikenal dengan masyarakat 20:80. Di mana 20 persen dari penduduk bumi mengendalikan roda perekonomian, sementara sisa 80 persen adalah mereka yang miskin, tanpa pekerjaan. Bentuknya berupa jutaan penganggur, ketidakpastian kerja dan jurang yang makin lebar antara yang miskin dan yang kaya. Globalisasi telah membuat dunia lepas kendali, ambruk dan bahkan meretakkan hubungan harmonis dalam komunitas dan keluarga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepuluh Perintah Allah telah menyerukan, “Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini isterinya atau hambanya laki-laki atau hambanya perempuan atau lembunya atau keledainya atau apapun yang dipunyai sesamamu.” (Kel 20:17). Kata-kata jangan mengingini, berbeda dengan perintah lain yang berfokus pada tindakan lahiriah. Perintah ini berfokus pada keinginan hati manusia. Hal ini merupakan tuntutan untuk menentang keinginan terhadap hal-hal yang dilarang. Perintah ini melarang keinginan untuk memiliki barang-barang milik orang lain secara tidak adil, melarang perzinahan dan melarang mencuri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kitab Ulangan mengungkapkan peringatan dan konsekuensi negatif dari mengingini, nafsu atau iri hati. Tuhan memerintahkan umat supaya tidak mengingini perak atau emas dari berhala, karena dapat mengakibatkan kekejian di dalam rumah tangga. Kitab Amsal memperingatkan tentang bahaya mengingini, termasuk mengingini dalam bentuk nafsu seksual. Nabi Mikha mengutuk mendambakan rumah milik orang lain, sebagai peringatan terhadap nafsu, setelah seseorang memutuskan untuk mengingini harta fisik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yesus menafsirkan isi perintah tersebut sebagai isu untuk lebih mengendalikan keinginan hati yang bukan sekedar melarang tindakan lahiriah. Perintah untuk tidak mengingini, dipandang sebagai konsekuensi dari perintah untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Larangan untuk tidak menginginkan hal yang dilarang itu merupakan kewajiban moral bagi individu untuk melakukan kontrol atas pikiran dan keinginan hati. Yesus memperingatkan untuk mengendalikan keinginan hati dari ketamakan dan keserakahan. Karena kehidupan seseorang tidak diukur dari kelimpahan harta. Yesus menggambarkan dosa, sebagai sesuatu yang berasal dari luar keinginan hati yang sejati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah yang ditekankan, bahwa syukur dan kecukupan merupakan sikap hati yang tepat, dibandingkan ketamakan dan keserakahan. Yohanes menyerukan agar seseorang mau berbagi dengan yang tidak punya, tidak menagih lebih banyak dari yang telah ditentukan dan tidak merampas dan memeras, namun mencukupkan diri dengan gaji. Paulus mengingatkan tentang ibadah yang disertai rasa syukur, akan memberi keuntungan besar. Tetapi mereka yang ingin kaya akan jatuh dalam pencobaan, dalam jerat dan nafsu yang hampa, yang mencelakakan dan yang menenggelamkan manusia dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketamakan dan keserakahan hanya dapat diatasi dengan mengendalikan keinginan hati. Keinginan yang tamak dan serakah begitu merusak, karena selalu ingin memuaskan kebutuhan dasar secara terus-menerus, bahkan melampaui batas akal budi dan mendorong untuk mengingini, secara tidak adil. Yesus mengajar para murid lebih memilih mengikutiNya dengan meninggalkan semua harta dan membagikan kepada orang yang miskin. Yesus memberi teladan iman yang setia bahkan rela menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya, dengan menyerahkan diri dipimpin oleh Roh Kudus dan mengikuti keinginan Roh Kudus. Yesus memberikan contoh janda miskin yang memberi dari kemiskinannya. Karena sesungguhnya, keinginan untuk mendapatkan kepuasan, kecukupan, kepenuhan atau kebahagiaan sejati, hanya ditemukan jika seseorang mencari, menemukan, menyerahkan diri dan dekat pada Tuhan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 11 November 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-8251287348419239559?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BSF2AdKlWDFP5RKHhVNkMSz8AZI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BSF2AdKlWDFP5RKHhVNkMSz8AZI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BSF2AdKlWDFP5RKHhVNkMSz8AZI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BSF2AdKlWDFP5RKHhVNkMSz8AZI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/w1V-JQnD8JA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8251287348419239559?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/8251287348419239559?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/w1V-JQnD8JA/mengendalikan-keinginan-mencegah.html" title="Mengendalikan Keinginan, Mencegah Ketamakan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/11/mengendalikan-keinginan-mencegah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk4EQn4zeip7ImA9WhdbF0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-213970620012206644</id><published>2011-10-16T04:41:00.000+07:00</published><updated>2011-10-16T04:41:43.082+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-16T04:41:43.082+07:00</app:edited><title>Cinta Itu Memberi, Zinah Itu Menjerumuskan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awal bulan September, seorang perempuan mengalami pelecehan di sebuah angkutan umum. Perempuan itu sedang mengendarai kendaraan umum di malam hari. Memang, sebagaimana data dari komisi nasional untuk urusan wanita, telah ada lebih dari 100.000 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun. Sebanyak hampir 4 persen adalah kasus pelecehan. Saat itu, mendadak muncul komentar dari pejabat publik, agar perempuan tidak memakai pakaian terbuka, untuk menghindari pelecehan dan tidak menjadi korban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Himbauan tersebut segera menuai protes dari kaum perempuan. Mereka geram dengan komentar bahwa perempuan yang berpakaian provokatif harus disalahkan. Para aktivis perempuan itu meminta, sebagaimana tulisan yang mereka bawa saat protes, supaya, &lt;em&gt;“Jangan mengatakan kepada kita bagaimana berpakaian, tetapi memberitahu mereka agar tidak memperkosa"&lt;/em&gt;. Juga tulisan lain yang mengatakan bahwa &lt;em&gt;"Tubuh kami bukan sesuatu yang porno”.&lt;/em&gt; Kaum perempuan mendesak agar aparat penegak hukum dan pemerintah lebih melindungi kaum perempuan dan membantu para korban. Pemerintah seharusnya tidak menghakimi melainkan menemukan solusi untuk menekan kekerasan terhadap perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aturan hukum dan norma agama dengan tegas menuntut siapapun agar tidak melakukan perzinahan. Larangan zinah diserukan oleh Tuhan melalui Musa dalam 10 Perintah Allah yang berbunyi, &lt;em&gt;"Jangan berzinah"&lt;/em&gt;. Sabda ini melarang perzinahan meliputi semua tindakan percabulan dan dosa seksual. Perzinahan demikian keji di hadapan Allah, sehingga pelakunya harus dihukum. Perzinahan merupakan tanda pelampiasan nafsu yang tidak terkendali, pemuasan keinginan yang hanya merusak perasaan dan akhirnya menghancurkan kehidupan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yesus mengutip hukum Taurat, memberikan pengajaran bahwa mengingini seseorang secara seksual walaupun belum melakukan secara fisik, berarti sudah melakukan zinah. Sebagaimana perkataannNya, &lt;em&gt;“Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah di dalam hatinya".&lt;/em&gt; Kata &lt;em&gt;“hati”&lt;/em&gt; di sini bukan hanya mempersoalkan perasaan, tetapi mencakup pikiran, perasaan dan kehendak. Kata-kata &lt;em&gt;"setiap orang yang memandang"&lt;/em&gt; dalam bahasa asli, Yunani, menggunakan bentuk maskulin, dengan penekanan terhadap kaum laki-laki. Karena pada umumnya laki-laki dapat menginginkan zinah, hanya karena melihat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yesus&amp;nbsp;menekankan bahwa keinginan terhadap perempuan lain adalah perzinahan. Hukum Taurat melarang perzinahan secara lahiriah. Yesus melengkapi, dengan melarang perzinahan di dalam hati. Hal ini menandakan Tuhan sudah memperhitungkan sebagai dosa, ketika manusia memikirkan zinah di dalam hati. Ajaran ini bersifat mendasar dan mencegah tindakan fisik. Karena saat itu, pelanggaran terhadap perintah jangan berzinah, baru dianggap terjadi, jika terjadi perzinahan secara fisik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perintah jangan berzinah yang disempurnakan Yesus, hendak mengatakan bahwa Tuhan meminta mengontrol segala keinginan, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu jahat, yang sama dengan penyembahan berhala. Tindakan zinah merupakan lambang ketidaksetiaan. Ini berlawanan dengan sifat Allah yang setia. Allah menginginkan manusia hanya menyembah kepadaNya, bukan yang lain. Manusia seharusnya taat kepada Tuhan dengan setia kepada pasangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keinginan dalam hati hendaknya dikontrol sehingga tidak menjadi tindakan dosa. Tindakan mengontrol berarti menahan keinginan agar tidak sedikitpun mengadakan kompromi dengan nafsu jahat. Tindakan menahan diri berarti mencegah dengan cara memikirkan semua yang benar, yang mulia, yang suci, yang manis, yang sedap didengar dan semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tubuh dengan segala kelengkapannya, menyangkut seluruh keberadaan manusia. Tubuh diciptakan Tuhan baik adanya. Tubuh dengan seksualitas merupakan energi yang indah, baik, sangat kuat dan suci, yang diberikan Tuhan. Inilah energi untuk mencintai, membangun relasi dan memberikan hidup kepada sesama dan kepada Tuhan. Tubuh dengan segala kelengkapannya dapat terjerumus ke dalam dosa, melalui perzinahan di dalam hati, keinginan melecehkan, tindakan percabulan, pelampiasan nafsu tak terkendali atau ketidaksetiaan terhadap pasangan. Karena itu benar, cinta itu memberi dan zinah itu menjerumuskan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 14 Oktober 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-213970620012206644?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5aqDVUFgqITUA1Jq-iC3akpHASU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5aqDVUFgqITUA1Jq-iC3akpHASU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5aqDVUFgqITUA1Jq-iC3akpHASU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5aqDVUFgqITUA1Jq-iC3akpHASU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/6tPogua2pg8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/213970620012206644?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/213970620012206644?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/6tPogua2pg8/cinta-itu-memberi-zinah-itu.html" title="Cinta Itu Memberi, Zinah Itu Menjerumuskan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/10/cinta-itu-memberi-zinah-itu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkAARHszcCp7ImA9WhdVEUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-6860470010492458647</id><published>2011-09-16T22:59:00.000+07:00</published><updated>2011-09-16T22:59:05.588+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-16T22:59:05.588+07:00</app:edited><title>Menghormati Nama Tuhan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang kawan pernah menceritakan bagaimana ia merasa kecewa kepada Tuhan. Sejak usaha kedua orang tuanya bangkrut, kemudian membuat mereka berpisah. Ia yang saat itu masih kanak-kanak terpaksa dititipkan kepada kakek dan neneknya. Kepergiaan ayah meninggalkan ibunya, sungguh membuat ibu tak berdaya. Masih terkenang sepintas, bagaimana setiap hari, orang datang menagih hutang kepada ibunya. Keputusan ibu menyerahkan ia dan kedua adiknya ke rumah kakek membuatnya tidak bisa lagi merasakan kasih sayang kedua orang tua, yang masih sangat didambakannya. Sampai sekarang, ia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia masih bertanya dalam kecewa, mengapa semua harus terjadi ? Mengapa Tuhan tidak memberikan pertolongan kepada ayah dan ibunya ? Itulah alasan yang membuatnya selalu menjelek-jelekkan Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perintah kedua dalam 10 Perintah Allah mengatakan, “Jangan menyebut Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan” (Kel 20:7). Perintah tersebut menetapkan supaya manusia menghormati nama Tuhan. Seperti perintah pertama, hal itu merupakan keutamaan agar manusia menaruh hormat terhadap perkara-perkara yang dianggap suci, kudus atau sakral.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kitab Wahyu menyebutkan bahwa nama Tuhan&amp;nbsp;diwahyukan. Tuhan mengakukan namaNya kepada mereka yang percaya kepadaNya. Ia menyatakan diri&amp;nbsp;dalam misteri. Maka, apabila seseorang menyebut nama Tuhan, hal itu merupakan karunia dan tanda kedekatan.&amp;nbsp;Karena itu siapapun tidak boleh menyalahgunakan nama Tuhan. Seseorang harus menyimpan dan memahaminya dalam pikiran, dalam diam dan keheningan. Seseorang hendaknya&amp;nbsp;menyebut nama Tuhan demi tujuan untuk memberkati, memuji dan memuliakan Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seseorang yang menghormati nama Tuhan merupakan ungkapan rasa hormat kepada misteri Allah dan kepada seluruh realitas sakral yang ditimbulkannya. Perasaan tentang kekudusan itu sendiri merupakan bagian dari keutamaan agama. Seakan seperti perasaan takut sekaligus kagum di hadapan Tuhan. Inilah perasaan yang identik dengan melihat Tuhan atau&amp;nbsp;sungguh-sungguh menyadari kehadiranNya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wujud dari seseorang mengimani keberadaan Tuhan ialah memberi kesaksian tentang nama Tuhan. Karena percaya kepada Tuhan tampak pula dalam pewartaan. Katekese&amp;nbsp;merupakan penanaman agar para pendengar menghormati nama Tuhan. Memang, perintah kedua seakan membatasi bahwa larangan itu hanya untuk penyalahgunaan nama Tuhan. Namun setiap orang diajak menghormati semua orang kudus yang suci dan saleh, termasuk Yesus Kristus, Perawan Maria dan semua orang kudus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menghormati nama Tuhan, berlaku pula dalam pengungkapan janji dalam nama Tuhan. Janji yang dibuat untuk diri sendiri maupun dengan orang lain dalam nama Tuhan, mengundang mereka yang mengucapkan janji itu terlibat dalam kehormatan Ilahi, untuk memupuk kesetiaan, menjunjung tinggi kebenaran dan kuasa Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya, tindakan menghujat Tuhan secara langsung, bertentangan dengan perintah kedua. Hal ini misalnya, mengucapkan janji yang melawan Allah, baik yang terucap dalam kata-kata, maupun yang tidak terungkap. Misalnya, kata-kata kebencian, celaan, pembangkangan atau berbicara buruk tentang Tuhan. Larangan untuk menghujat Tuhan, meluas kepada larangan menghujat nama Yesus, orang kudus dan hal-hal yang dianggap sakral. Hal ini juga berarti larangan menggunakan nama Allah demi menutupi praktek-praktek kriminal, untuk membenarkan perbudakan, penyiksaan atau untuk menghukum mati. Penyalahgunaan nama Tuhan&amp;nbsp;untuk melakukan kejahatan dapat memprovokasi orang untuk&amp;nbsp;menolak agama. Karena agama ada, bukan untuk membenarkan tindakan kejahatan, namun untuk membawa manusia mengalami keselamatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konsekuensi perintah kedua dalam 10 Perintah Allah ialah melarang sumpah palsu. Tindakan mengambil sumpah berarti memohon Allah sebagai saksi atas tindakan yang&amp;nbsp;dilakukan. Ini berarti memohon kebenaran Ilahi sebagai jaminan kebenaran. Sumpah yang melibatkan nama Tuhan merupakan tanda bahwa seseorang takut akan Tuhan, kesediaan untuk memenuhi perintahNya dengan&amp;nbsp;bersumpah demi namaNya. Jika ternyata sumpah tersebut adalah sumpah palsu, maka harus ditolak. Sebagai Pencipta, Tuhan adalah norma semua kebenaran. Ucapan manusia disebut baik, jika sesuai dengan kehendak Tuhan, yang adalah Kebenaran itu sendiri. Kata-kata manusia disebut benar dan sah, jika hal itu selaras dengan kebenaran Tuhan. Seseorang yang melakukan sumpah palsu sebenarnya tidak memiliki&amp;nbsp;niat untuk menjaga, memenuhi dan mewujudkan janji tersebut. Sumpah palsu menandakan, seseorang tidak sungguh-sungguh&amp;nbsp;menghormati Tuhan. Seseorang yang berjanji, bahkan dengan sumpah untuk melakukan&amp;nbsp;perbuatan jahat, menentang&amp;nbsp;kekudusan nama Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Kotbah di Bukit, Yesus menjelaskan perintah kedua “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyangmu: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah.” Selanjutnya Yesus mengatakan, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Yesus mengajarkan bahwa setiap sumpah melibatkan Tuhan dan bahwa kehadiran Tuhan dan kebenaranNya&amp;nbsp;dalam setiap perkataan harus dipegang dengan penuh hormat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kekudusan nama Tuhan mengundang seseorang tidak memakai nama Tuhan dengan sembarangan. Juga jika seseorang mengalami kecewa, putus asa atau menderita. Pengalaman tersebut&amp;nbsp;sebaiknya mengarahkan seseorang&amp;nbsp;untuk memahami&amp;nbsp;rancangan Tuhan, dalam diam dan keheningan. Karena nama Tuhan adalah suci, kudus atau sakral. Nama Tuhan hendaknya selalu dipuji dan dimuliakan. Memuji dan memuliakan Tuhan tidak hanya dengan kata-kata, namun juga dengan tindakan nyata. Tindakan nyata itu adalah tindakan yang menghormati martabat manusia dan tidak melawan&amp;nbsp;kekudusan nama Tuhan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 16 September 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-6860470010492458647?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UTdHY15rD6b3hl-6-GHV4w1N8tc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UTdHY15rD6b3hl-6-GHV4w1N8tc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UTdHY15rD6b3hl-6-GHV4w1N8tc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UTdHY15rD6b3hl-6-GHV4w1N8tc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/1Q-mmYldbrk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6860470010492458647?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6860470010492458647?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/1Q-mmYldbrk/menghormati-nama-tuhan.html" title="Menghormati Nama Tuhan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/09/menghormati-nama-tuhan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck4NRXgzfyp7ImA9WhdWGEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-1218364378967049584</id><published>2011-09-13T03:55:00.001+07:00</published><updated>2011-09-13T03:56:34.687+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-13T03:56:34.687+07:00</app:edited><title>Ketulusan Berpartisipasi dalam Masyarakat</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketulusan berpartisipasi dalam masyarakat bisa membawa kedamaian, hal tersebut terungkap dalam&amp;nbsp;Pertemuan Pleno Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan, Keuskupan Se-Indonesia di Bandung, Juli lalu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gereja Katolik mengajarkan dalam&amp;nbsp;agama-agama yang ada&amp;nbsp;serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri. Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka. (Nostra Aetate, art. 2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketulusan ditekankan oleh Paus Benediktus XVI. Ketulusan itu berarti bahwa karya kasih dan partisipasi dalam masyarakat harus bebas dari kepentingan partai dan ideologis, serta tidak boleh memaksakan iman pada orang lain. Kegiatan amal kasih bukan sarana untuk mengubah dunia secara ideologis, juga bukan demi kepentingan yang bersifat duniawi, tetapi suatu cara menghadirkan kasih yang diperlukan manusia. (Deus Caritas Est, art. 31). Amal kasih jangan dijadikan alat melakukan apa yang disebut proselitisme. Kasih itu cuma-cuma, jangan dijadikan cara untuk mencapai tujuan-tujuan lain (Pedoman Pelayanan Pastoral Uskup Apostolorum Successores, art. 196). Pelaksanaan amal kasih tidak boleh memaksakan iman pada orang lain. (Deus Caritas Est, art. 31)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Dr. Rumadi S.Ag, Dosen UIN Syarif Hidayatullah dan Peneliti di Wahid Institut. Beliau mengakui dahulu takut jika bergaul dengan agama lain, karena khawatir kualitas imannya akan terkurangi. Sampai akhirnya beliau sadar bahwa itu tidak benar. Menyinggung perihal permusuhan antaragama, itu bisa dimaklumi karena berdasarkan sejarah, hubungan antar agama kerap kali dikotori oleh kekerasan. Namun hendaknya lembaran hitam itu ditutup dan mulai menatap kehidupan ini bersama dengan yang lain. Beliau mengajak untuk berani berdialog dengan agama lain. Dalam dialog maka mata akan terbuka, melihat banyak jendela untuk memandang keluar dan memahami yang lain. Dialog diawali dengan proses perjumpaan. Kecurigaan terhadap agama lain biasanya berawal dari ketidaktahuan. Dalam dialog harus ada ketulusan. Dialog tidak mesti mencari kesamaan tapi untuk mengetahui perbedaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Partisipasi umat beragama dalam masyarakat sangat diperlukan. Umat beragama tidak boleh pasif. Saat ini, tantangan demikian besar, maka umat hendaknya memiliki kesadaran partisipasi untuk memajukan kehidupan bersama. Lagipula, kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dalam aneka persoalan hidup. Karena itu, diperlukan ketulusan partisipasi umat beragama di dalam masyarakat. Tanpa ketulusan, yang ada hanya kecurigaan, konflik kepentingan dan bahkan dapat mengakibatkan konflik dengan kekerasan. Sinergi ketulusan dan partisipasi aktif dari para pemeluk agama dalam dialog karya, akan menampilkan agama yang ramah, yang tidak hanya membawa damai tetapi mencari solusi atas aneka persoalan. Dengan demikian, agama hadir untuk karya nyata demi kehidupan masyarakat yang sejahtera. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 5 Agustus 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-1218364378967049584?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OU2sRpdhV66JdO9k-SAgcA_yGhc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OU2sRpdhV66JdO9k-SAgcA_yGhc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OU2sRpdhV66JdO9k-SAgcA_yGhc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OU2sRpdhV66JdO9k-SAgcA_yGhc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/a0O5KRFcuFM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/1218364378967049584?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/1218364378967049584?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/a0O5KRFcuFM/ketulusan-berpartisipasi-dalam.html" title="Ketulusan Berpartisipasi dalam Masyarakat" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/09/ketulusan-berpartisipasi-dalam.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUDQHc8eip7ImA9WhZaFUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-9166250928369314908</id><published>2011-06-19T22:16:00.001+07:00</published><updated>2011-07-02T10:27:51.972+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-02T10:27:51.972+07:00</app:edited><title>Kesadaran Dan Partisipasi Bermedia</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang yang pernah bekerja di bagian penjualan, di departemen iklan sebuah surat kabar menuliskan pengalamannya. Bahwa selama di posisi itu ia menyimpulkan bahwa jenis berita yang menjual adalah berita buruk. Jika surat kabar membuat berita hanya untuk menerbitkan kabar baik, maka surat kabar itu akan cepat bangkrut. Tampaknya masyarakat pada umumnya, memiliki daya tarik terhadap masalah orang lain dan berita jenis tragedi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika itu ia baru awal bekerja di usia 30 tahun. Ketika mengetahui bahwa kenyataannya demikian, maka ia memutuskan tidak pernah menyukai berita buruk. Ia menunjukkan bukti bahwa jika para pembaca surat kabar mencermati isi dari arus gencarnya berita yang membombardir pikiran pembaca setiap hari, setidaknya 90% dari berita itu adalah berita buruk, bisa dibayangkan dampak dari berita buruk terhadap kondisi kejiwaan masyarakat dari waktu ke waktu. Tidak mengherankan jika di seluruh dunia terjadi peningkatan depresi, kecemasan dan stres. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah kesadaran baru yang perlu, bahwa media juga memberi dampak negatif. Karena, surat kabar dalam dunia bisnis tak lepas untuk menjual berita dan media didorong oleh peringkat. Berita buruk tentu saja lebih memiliki nilai jual atau menjual lima kali lebih cepat, daripada berita atau kabar baik. Sehingga tak pernah ada penerbitan surat kabar yang melulu mengabarkan berita baik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Media massa turut mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat. Media memang menghubungkan individu dan mereproduksi citra diri masyarakat. Pada awal abad pertengahan media dikritik telah melemahkan atau membatasi kemampuan individu untuk bertindak secara otonom. Meskipun kritikus lain mengatakan bahwa pengaruh media pada perilaku orang ini tidak selalu terjadi. Titik kritik teori efek media mengatakan bahwa banyak peniru pembunuhan, bunuh diri dan tindakan kekerasan lain yang hampir selalu terjadi, sebagai semata-mata sifat kejiwaan yang tidak normal. Faktor kekerasan, lingkungan emosional, lalai atau sifat agresif turut mempengaruhi perilaku. Hal ini lebih dari sekedar karena membaca media, menonton film atau mendengarkan musik tertentu. Kebanyakan orang yang melakukan tindakan ini sebenarnya memiliki mental yang tidak stabil. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di masa kini, dampak buruk perkembangan teknologi media komunikasi tidak bisa dihindari. Suka tidak suka, teknologi sudah di depan mata. Yang paling penting ialah memperlakukannya sesuai dengan kegunaan dan fungsi dengan penuh tanggung jawab. Apalagi mendapatkan atau mengakses informasi merupakan hak asasi setiap orang yang dilindungi negara. Perkembangan teknologi sedikit banyak membawa perubahan perilaku manusia dalam cara berpikir, bersikap dan bertindak. Misalnya, para pengguna bersikap terbuka saat berhubungan satu dengan lainnya. Hal ini perlu didukung dengan kasadaran untuk tetap waspada terhadap pihak-pihak yang mempunyai motivasi dan tujuan negatif serta ingin mengambil keuntungan dari fenomena keterbukaan dan relasi tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paus Benedictus XVI menaruh perhatian pada perkembangan teknologi media. Media memiliki kemampuan luar biasa yang serempak, membawa berbagai pertanyaan dan persoalan baru. Meskipun media juga memberikan sumbangan dalam hal penyiaran berita, pengetahuan tentang peristiwa dan penyebaran informasi. Tanpa sumbangan media akan amat sulit mengembangkan dan memperkokoh saling pengertian di antara bangsa-bangsa, memungkin terwujudnya dialog perdamaian, memberikan jaminan akses ke informasi sekaligus menjamin sirkulasi gagasan secara leluasa. Terutama bagi mereka yang menggalakkan gagasan-gagasan kesetiakawanan dan keadilan sosial. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Media bukanlah semata-mata sarana penyebaran gagasan. Media dapat dan harus juga menjadi sarana pelayanan demi terciptanya rasa setia kawan dan keadilan. Sayangnya, media pun sedang berubah menjadi sistem yang bertujuan mendorong manusia untuk menyerah kepada agenda yang didikte oleh kepentingan-kepentingan digdaya masa sekarang. Begitulah kalau komunikasi digunakan untuk maksud-maksud ideologis atau demi reklame agresif produk-produk. Dengan dalih untuk menghadirkan realitas, media dapat mengukuhkan atau memaksakan model-model pribadi, keluarga atau kehidupan sosial yang menyimpang. Bahkan, demi menarik perhatian para pendengar dan meningkatkan jumlah khalayak, ia tidak ragu-ragu menampilkan berbagai pelanggaran, hal-hal yang tidak sopan dan kekerasan. Media juga dapat memperkenalkan dan mendukung model-model pembangunan yang bukannya memperkecil, namun justru memperbesar jurang teknologi antara negara-negara kaya dan miskin&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan media, hendaknya diikuti kesadaran dan partisipasi bermedia. Pertama, media untuk memperkuat persekutuan, membuat saling terhubung antar anggota dalam komunitas, maupun antar komunitas umat secara luas, bahkan nasional dan internasional. Media internet merupakan kesempatan besar untuk saling menjalin dan meningkatkan komunikasi tentang aneka kehidupan beriman. Komunikasi media di dunia maya memberi kesempatan setiap komunitas terbuka dengan yang lain. Hal ini juga mempromosikan dialog yang dapat berlanjut menjadi apa yang disebut sebagai persekutuan kehidupan iman masa kini. Setiap komunitas dapat bekerjasama dengan komunitas lain untuk dapat membuat sebuah situs web atau jejaring informasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus diakui, media internet tetaplah dunia maya-sibernetika, yang tidak dapat mengganti relasi interpersonal sebagaimana terjadi dalam persekutuan komunitas nyata. Komunikasi media dunia maya hendaknya berlaku komplementer, tetap dapat dapat membuat orang mengalami pengalaman hidup iman dan meningkatkan semangat religius para pengguna serta menyediakan kesempatan komunikasi anggota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, media sebagai sarana memperluas pelayanan dan keprihatinan. Media dapat meningkatkan dan memperluas jangkuan pelayanan, memberi semangat, dukungan dan menjadi ladang yang subur bagi perkembangan komunitas. Media komunikasi memberi kesempatan untuk membagikan buah kehidupan rohani, doa, kesaksian iman maupun kebersamaan hidup dengan membagikan kisah-kisah inspiratif yang tak terceritakan dari setiap anggota komunitas. Media membantu para pengguna mendapatkan konsultasi iman, menampilkan cuplikan kitab suci, tulisan-tulisan inspiratif, kutipan religius, menyajikan spiritualitas kehidupan iman, informasi rohani, pengetahuan iman dan bahkan akses kepada pengunjung yang memberikan respon secara pribadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dimensi lain, media menjadi sarana saling mendukung bagi mereka yang kurang beruntung. Sehingga karya pelayanan melalui media berguna pula bagi mereka yang kurang beruntung, misalnya informasi atau menggalang beasiswa pendidikan, lowongan pekerjaan dan bantuan dana sosial. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesadaran dan partisipasi bermedia tidak lain merupakan ajakan untuk memanfaatkan media terutama untuk memperteguh persekutuan dan memperluas pelayanan dan keprihatinan. Inilah yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak buruk media. Dengan tetap mewaspadai bahwa media dapat menyebabkan kecanduan, tanpa pendampingan, dapat menyebabkan penyimpangan atau bahkan menghilangkan komunikasi &lt;em&gt;face to face. (Surabaya Post, 17 Juni 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-9166250928369314908?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jgdgtRUZ-YeOsqu3L9miOvXfBA4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jgdgtRUZ-YeOsqu3L9miOvXfBA4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jgdgtRUZ-YeOsqu3L9miOvXfBA4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jgdgtRUZ-YeOsqu3L9miOvXfBA4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/fATME-Q9eOc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/9166250928369314908?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/9166250928369314908?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/fATME-Q9eOc/kesadaran-dan-partisipasi-bermedia.html" title="Kesadaran Dan Partisipasi Bermedia" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/06/kesadaran-dan-partisipasi-bermedia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkMDRngzeip7ImA9WhZWEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-4486344246398108510</id><published>2011-04-30T00:24:00.003+07:00</published><updated>2011-05-11T18:47:57.682+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-11T18:47:57.682+07:00</app:edited><title>Menghayati Liturgi, Mengamalkan Kasih</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;, Courier, monospace;"&gt;Umat Katolik baru saja merayakan Hari Raya Paskah. Hari Raya Paskah dikenal sebagai perayaan terpenting dalam tahun liturgi Gereja. Bagi umat Katolik, Paskah identik dengan Yesus, yang dipercaya telah disalib, wafat dan dimakamkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rangkaian upacara sejak masa Pra Paskah hingga Pekan Suci, Tri Hari Suci dan Hari Raya Paskah merupakan satu perayaan berkelanjutan dari satu misteri Paskah. Perayaan liturgi itu dirayakan dan dijalin dengan tanda-tanda, simbol-simbol, kata-kata ritus serta lagu-lagu dan musik yang beberapa bersifat normatif dan tak berubah. Tidak mengherankan ada orang-orang yang mengatakan liturgi di Gereja Katolik itu panjang, melelahkan atau membosankan. Di antara mereka ada yang mengatakan mengantuk saat mengikuti upacara, melamun, tidak mempunyai perhatian, kurang bersemangat dan kurang berkesan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Liturgi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam liturgi, Yesus yang bertindak sebagai, Kepala dan Tubuh. Sebagai Imam Agung kita, Ia merayakan dengan tubuhNya, yaitu Gereja, baik di surga maupun di bumi. Gereja di dunia merayakan liturgi sebagai umat imami, setiap orang bertindak menurut fungsinya masing-masing dalam kesatuan dengan Roh Kudus. Orang-orang yang dibaptis menyerahkan diri mereka dalam korban rohani, para pelayan yang ditahbiskan merayakan sesuai dengan tugas yang mereka terima bagi pelayanan seluruh anggota Gereja, para Uskup dan Imam bertindak atas nama Pribadi Kristus, sang Kepala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perayaan liturgi dirayakan dan dijalin dengan tanda-tanda dan simbol-simbol yang artinya berakar dalam penciptaan dan budaya manusia, ditentukan dalam peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama dan diungkapkan secara penuh dalam Pribadi dan karya Kristus. Tanda-tanda Sakramental itu berasal dari ciptaan (cahaya, air, api, roti, anggur, minyak), yang lainnya berasal dari kehidupan sosial (mencuci, membasuh kaki, mengurapi dengan minyak, memecah roti), beberapa yang lainnya lagi berasal dari sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama (ritus Paskah, korban, penumpangan tangan, pengudusan). Tanda-tanda ini, yang beberapa bersifat normatif dan tak berubah, diambil oleh Kristus dan dipakai untuk tindakan penyelamatan dan pengudusan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan dan kata-kata sangat erat berhubungan dalam perayaan Sakramen. Bahkan walaupun tindakan simbolis itu sendiri sudah menjadi bahasa pada dirinya sendiri, masih perlulah kata-kata ritus menyertainya karena menghidupkan tindakan tersebut. Kata-kata liturgis dan tindakan itu tidak terpisahkan sebab keduanya merupakan tanda-tanda yang bermakna dan melaksanakan apa yang ditandakan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula lagu-lagu, lagu-lagu dan musik sangat erat berhubungan dengan perayaan liturgi, perlulah memperhatikan beberapa kriteria: syairnya harus sesuai dengan ajaran Katolik, lebih baik kalau diambil dari Kitab Suci dan sumber-sumber liturgi, harus merupakan ungkapan doa yang indah. Lagu dan musik harus mendorong partisipasi aktif orang-orang yang hadir dalam perayaan liturgi, harus mengungkapkan kekayaan budaya Umat Allah dan ciri khas perayaan yang sakral dan agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ritus dan Kasih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam liturgi Yesus bertindak sebagai, Kepala dan Tubuh, Ia merayakan dengan tubuhNya. Maka umat sebagai tubuhNya ikut mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya, terutama dalam Misteri Paskah-Nya yang dihadirkan kembali di dalam liturgi. Karena kuasa kasih dan kebangkitan-Nya, Yesus memberikan kesempatan kepada umat untuk ikut mengambil bagian dalam peristiwa yang mendatangkan keselamatan. Misteri Paskah ini nyata dalam Perayaan Ekaristi, yang menghadirkan korban Yesus yang satu dan sama, oleh kuasa Roh Kudus. Maka, umat yang merayakan liturgi, yang ikut mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya sebaiknya tidak mengantuk, melamun, tidak mempunyai perhatian, atau kurang bersemangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umat yang mengeluhkan liturgi justru perlu mendapatkan bantuan untuk lebih memahami seluk beluk liturgi atau katekese liturgi dari Komisi Liturgi, seksi liturgi di Paroki / Stasi atau kelompok kecil umat. Memang banyak pengalaman bermunculan dari praktek liturgi. Ada pengalaman bagus, ada juga yang buruk. Katekese liturgi dapat diberikan dalam rupa telaah telogis dan telaah praktek liturgis. Lewat suatu pendidikan liturgi, umat dapat memahami pendasaran liturgiologis, biblis, teologis, data historis dan tentunya pendekatan pastoral. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umat perlu mendapatkan pemahaman bahwa dalam liturgi Yesus hadir dan membagikan rahmat-Nya, yang menjadi sumber kehidupan rohani. Maka liturgi didahului oleh pewartaan Injil, iman dan pertobatan yang mengantar agar umat menghayati perayaan liturgi. (Katekismus Gereja Katolik, 1071, 1072). Apabila umat mengetahui makna liturgi, menerimanya dengan iman dan menanggapinya dengan pertobatan, maka akan menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari. Liturgi bersumber pada Allah, menjadi sumber dan puncak kegiatan Gereja. Melalui liturgi, Gereja menimba kekuatan untuk melaksanakan pembaharuan di dalam Roh, misi perutusan dan menjaga persatuan umat. (Konstitusi tentang Liturgi Suci, 12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katekese liturgi hendaknya menjelaskan bahwa Yesus telah memberikan amanat dalam Perjamuan Malam terakhir, “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”. Ia memberi amanat untuk melaksanakan suatu perayaan liturgis sebagaimana dilakukanNya pada Perjamuan Malam terakhir. Ia juga memberi amanat untuk melakukan karya cinta kasih bagi sesama, sebagaimana diteladankanNya dengan cara simbolis membasuh kaki para murid. Ada keterkaitan utuh di antara, &lt;em&gt;cultus&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;caritas&lt;/em&gt; dari amanat Yesus. Ritus atau &lt;em&gt;cultus&lt;/em&gt; yang dipahami dan dihayati dengan baik, menjadi sumber yang mengantar umat beriman mengamalkan kasih atau &lt;em&gt;caritas&lt;/em&gt;, kepada sesama. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 29 April 2011)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-4486344246398108510?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OTc5S_clTViQLK1EccRAjPwnA3c/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OTc5S_clTViQLK1EccRAjPwnA3c/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OTc5S_clTViQLK1EccRAjPwnA3c/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OTc5S_clTViQLK1EccRAjPwnA3c/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/tfrKDSbPqcc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4486344246398108510?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4486344246398108510?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/tfrKDSbPqcc/menghayati-liturgi-mengamalkan-kasih.html" title="Menghayati Liturgi, Mengamalkan Kasih" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/04/menghayati-liturgi-mengamalkan-kasih.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkANRX85eip7ImA9WhZSE0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-2489810544410043855</id><published>2011-03-27T00:41:00.007+07:00</published><updated>2011-03-28T19:19:54.122+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-28T19:19:54.122+07:00</app:edited><title>Menghadirkan Wajah Gereja Di Dunia</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;Karitas merupakan lembaga di dalam Gereja yang bekerja untuk menghadirkan wajah sosial Gereja di dunia. Dengan kata lain, aktualisasi iman Kristiani mendapatkan bentuk rupanya pada kegiatan Karitas. Karena itu, dengan sendirinya Karitas memiliki konsekuensi bahwa semua karyanya tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai ajaran sosial Gereja (ASG).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, kompendium ajaran sosial gereja menyebutkan bahwa ia merupakan roh, spiritualitas dan menjadi jiwa bagi karya kasih kemanusiaan. Itulah sebabnya Gereja didorong untuk memberikan kesempatan pembelajaran dan pekan-pekan khusus kepada umat agar semangat ajaran sosial Gereja menjadi dasar bagi semua aktivitas sosial mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari titik tolak ini, menarik untuk mengetahui, seberapa mesra bentuk hubungan antara Karitas India dengan ajaran sosial Gereja? Apakah Karitas India menganggap, setiap aktivitas mereka bertujuan utama untuk menyebarluaskan ajaran sosial Gereja? Atau, justru pemikiran karena di dalam karya merupakan perwujudan ajaran sosial Gereja sehingga tidak perlu membawa nama ASG secara tersurat? Dan yang tak kalah menarik, karena penyebarluasan ASG itu identik dengan kekatolikan, kitab suci dan dokumen-dokumen Gereja, bagaimana strategi sosialisasinya untuk masyarakat yang non-Katolik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Metamorfosis Peran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, belum ada aktivitas berarti di kantor Karitas Nasional yang terletak di kompleks kantor Konferensi Waligereja India, di bilangan &lt;em&gt;Ashok Place (Gole Dakhana)&lt;/em&gt;, New Delhi, India. Semua pegawai sudah berdatangan, namun mereka belum memulai bekerja. Tepat pukul 09.00, tanpa dikomando, semua penghuni kantor itu bersiap-siap untuk berdoa bersama. Renungan singkat dan kutipan Kitab Suci juga tak ketinggalan dibacakan. Suasananya sungguh khusyuk. Padahal, tak semua pegawai di kantor itu beragama Katolik. Mereka berjajar satu deret, berkeliling membentuk lingkaran besar memenuhi ruangan. Salah satu di antara mereka memulai dengan mengajak menyanyikan lagu penuh khidmat, &lt;em&gt;”Give me Oil for my Lamp, Keep me burning. Give me Oil for my lamp I pray…”&lt;/em&gt;. Seusai lagu disambung dengan doa pembukaan, kembali menyanyikan pujian dan mendengarkan bacaan Kitab Suci. Semua hening mendengarkan renungan singkat yang diberikan oleh salah satu peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Doa pagi adalah tradisi untuk mengawali hari. Mungkin kesannya sepele, namun lewat kegiatan yang sederhana inilah Karitas India seperti meneguhkan, bahwa pendalaman spiritualitas tidak pernah mereka tinggalkan. Kegiatan spiritualitas tidak diletakkan dalam menara gading, melainkan melebur dalam praksis sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, usia 40 tahun telah memungkinkan Karitas India menemukan bentuk geraknya. Harus juga diakui, sejarah perjalanan yang panjang telah mengubah mereka sehingga mendapatkan bentuknya seperti sekarang. Karitas India pada awalnya lebih mengutamakan karya. Penyebarluasan ajaran sosial Gereja bukan tugas utama mereka. Karitas justru sebagai institusi yang bergerak ke luar, masuk ke dalam dunia yang profan seraya menghadirkan wajah kasih Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tampak berjarak dengan ASG, sebetulnya nilai-nilai ajaran sosial Gereja, khususnya kasih dan solidaritas, diwujudnyatakan dalam praktik sehari-hari Karitas India. Selain berdoa bersama, orang-orang yang terlibat dalam kegiatan Karitas yang telah mendapatkan beragam pembekalan ilmu-ilmu profan, tetap mendapatkan pendalaman spiritualitas ASG. Sosialisasi nilai-nilai ASG diberikan pertama-tama kepada seluruh unsur pegawai Karitas, sejak dari dari posisi tertinggi hingga tingkat &lt;em&gt;state officer&lt;/em&gt; (perpanjangan tangan Karitas India di tingkat regional). Tanpa pandang bulu, mereka semua mendapatkan pembinaan spiritualitas dalam rupa pembekalan rohani maupun retret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkunjung ke kantor mereka seperti di kantor Karitas Nasional dan di kantor Komunitas Sosial Keuskupan Madurai, Tamilnadu, aura kesederhaan dengan mudah terasa. Penampilan para pegawai tidak berlebihan. Begitupun suasana kantornya yang dihiasi berbagai ornamen khas Katolik yang tidak mencolok. Namun, dalam soal penguasaan bidang kerja, jangan dipertanyakan. Para pegawai sangat menguasai bidang kerja mereka. Mereka bisa dengan lancar menjelaskan setiap pertanyaan mengenai apa saja yang mereka lakukan dan sistem apa yang mereka pakai dalam kagiatan harian. Dan yang tak kalah penting, Karitas India juga menerapkan pelaksanaan prosedur kerja yang teratur, transparan dan dapat ditanggung gugat. Mereka juga melibatkan orang yang termarginalisir secara kasta, agama dan gender, baik dalam struktur organisasi maupun dalam pendampingan untuk kelompok dampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal pendampingan, perjuangan atau isu yang ditampilkan identik dengan perjuangan untuk menciptakan kesejahteraan umum. Dan hal itu tidak terbatas untuk warga seiman. Salah satu perjuangan mereka adalah mendorong keterlibatan kaum perempuan yang tertindas secara kasta agar bisa hidup lebih baik. Caranya, tim pendamping Karitas menganimasi supaya salah seorang dari mereka berani memimpin. Tentu saja membuat kaum wanita yang terbiasa di belakang itu berani tampil di depan bukan pekerjaan mudah. Ada proses panjang yang harus dijalani sebelumnya. Biasanya, setiap kali hadir dalam pertemuan kelompok target dampingan, tim Karitas akan mengawali dengan pengorganisasian warga. Lalu, kelompok tersebut diajak untuk menabung. Menabung merupakan contoh nyata bahwa bila kaum perempuan ingin hidupnya lebih sejahtera, mereka harus memberdayakan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, sistem menabung yang dikembangkan itu ’berbuah’ lebih banyak. Menabung bukan hanya menjadi sarana pemersatu warga, juga menjadi bentuk nyata swadaya warga untuk mendukung sebuah kegiatan. Terbukti sudah, bahwa suatu awal yang sederhana itu kemudian menjadi tabungan yang lebih tertata yang dijalankan dengan disiplin. Dari tabungan ini para anggota dapat mengakses dana, baik untuk kebutuhan mendesak maupun kebutuhan produktif, untuk modal usaha misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengorganisasian kelompok dampingan, keterlibatan warga yang didampingi mendapat tempat penting. Dengan berpegang pada prinsip subsidiaritas, pengambilan keputusan dilakukan oleh warga. Pegawai Karitas bertindak sebagai animator saja. Peran ini juga merupakan hasil metamorfosis. Bila ditelusuri kembali, pada tahun-tahun pertama Karitas India, pegawai Karitas berfungsi sebagai pekerja sosial. Di masa lalu, pegawai Karitas India menjadi pekerja sosial. Mereka menjadi pedamping yang datang ke tengah komunitas (&lt;em&gt;go to the people&lt;/em&gt;), berperan untuk melakukan intervensi dalam komunitas, mengelola dinamika komunitas, mendampingi komunitas dengan tidak mengenal waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak peran yang disandang, tak mengherankan bila akhirnya masyarakat memandang sosok pendamping sebagai “orang serba tahu”. Mereka menjadi guru sekaligus memberi contoh, memberikan pelatihan secara formal dan informal sesuai kebutuhan, menganalisa dan membuat keputusan, mengatur administrasi keuangan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa tahun, pegawai Karitas India menjalankan peran sebagai fasilitator, yaitu pendamping yang berperan mengorganisir komunitas sekaligus agen pembawa perubahan, menganimasi (meleburkan diri ke komunitas), mediasi, negoisasi, mengembangkan kesepakatan bersama, memfasilitasi kelompok, mendayagunakan ketrampilan dan sumber daya serta mengorganisir kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, kini pegawai Karitas India berperan sebagai animator, artinya ’hanya’ menjadi pendamping yang memberikan inspirasi, menumbuhkan minat, mengaktivasi dan memotivasi kelompok untuk melakukan tindakan nyata, misalnya: pertemuan kelompok, menumbuhkan usaha bersama secara partisipatif dan menumbuhkan lembaga lokal di tengah komunitas. Pendamping mendampingi komunitas secara bertahap agar komunitas semakin partisipatif, mandiri dan berkelanjutan sehingga komunitas menjadi lebih berdaya (&lt;em&gt;self-reliance&lt;/em&gt;) menuju ke arah perubahan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan peran pegawai Karitas India berlangsung secara bertahap, melewati kurun waktu 4 dekade bersamaan dengan perubahan strategis organisasi. Pada awal berdirinya periode 1962-1976, Karitas India menjadi organisasi yang belajar seraya memperkuat kelembagaan. Pada periode transisi, 1977-1982, Karitas India mengambil langkah-langkah definitif menuju perubahan visi, menciptakan kesadaran dan mempersiapkan perubahan Karitas Keuskupan dari karya amal dan bantuan karitatif menuju karya pembangunan (&lt;em&gt;project development&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode 1983-1994, Karitas India menegaskan menjadi organisasi animasi. Kesadaran ini muncul karena karya pembangunan bertitik tolak dari manusia dan manusia merupakan sumber daya. Maka, Karitas India meneruskan program pelatihan di berbagai tingkatan dan menyiapkan bahan pembelajaran yang terfokus pada animasi. Badan Pengurus Karitas India, yang tak lain adalah para Uskup dari Konferensi Waligereja India, menghargai upaya ini setelah melewati serangkaian refleksi dan konsultasi, sampai akhirnya menetapkan animasi sebagai kekuatan utama Karitas India dalam karya untuk transformasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Melintas Perbedaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak adanya pendampingan Karitas, nilai partisipasi dan demokrasi masyarakat dan kaum awam perlahan tumbuh. Paling nyata terlihat bagaimana kesungguhan warga kelompok dampingan untuk memahami persoalan, menjelaskan situasi awal kehidupan mereka, kehidupan mereka sekarang dan yang akan datang. Setidaknya, mereka kini berani bersuara dan berani bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu dari komunitas sekitar daerah wisata di Kodaikanal bisa dijadikan contoh. Wanita bertubuh subur dan berpenampilan sederhana itu merupakan pemimpin komunitas dampingan menabung kaum ibu. Sekedar informasi, untuk meyakinkan ibu itu untuk menjadi pemimpin bukan kerja mudah. &lt;em&gt;”Awalnya, saya tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa. Apalagi, pekerjaan rumah tangga pun tidak kalah penting. Namun karena semangat maju, semangat belajar serta didukung oleh peran pendamping akhirnya saya memberanikan diri dan mau memimpin,” &lt;/em&gt;tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, ibu tersebut bercerita bagaimana situasi awal mereka sebelum didampingi Karitas sejak tahun 2005. Mereka menghadapi kehidupan sekitar daerah wisata yang identik dengan hura-hura, menghamburkan uang dan pesta. Uang mudah didapatkan, tetapi mudah dikeluarkan untuk aneka kesenangan, sehingga kebutuhan sehari-hari, untuk sekolah dan masa depan anak tidak terpikirkan. Bahkan di antara mereka ada yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, saat menjumpai suami pulang malam dalam keadaan mabuk dan memukul atau saat dimintai uang untuk biaya hidup harian atau biaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak bagaimana ibu itu mengungkapkan semua kesulitan yang dihadapi, pemecahan masalah yang dilakukan serta aneka istilah yang keluar dari bibirnya (bayangkan, istilah canggih seperti ’peningkatan kapasitas’ dan ’pemberdayaan’ keluar dari bibir seorang ibu sederhana) menunjukkan, ibu itu memahami persoalan dan benar-benar menginternalisasikan pembelajaran yang diperolehnya melalui pengembangan komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini menunjukkan bahwa kaum perempuan yang terpinggirkan pun sesungguhnya memiliki kesadaran untuk mau menjadi pemimpin. Tidak hanya itu, kaum perempuan telah berdaya untuk menyadarkan dan mengorganisir kaum perempuan lain sehingga memiliki kesadaran yang sama untuk memperbaiki kehidupan mereka dalam situasi budaya patriaki India yang menempatkan perempuan sebagai ”nomer dua”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam struktur Karitas sendiri juga menunjukkan wajah yang plural. Bahkan di tingkat nasional pun ada pegawai dan para imam yang berasal dari kalangan kasta terbawah. Tak hanya itu, kaum perempuan dan warga non-Katolik juga mendapat tempat dalam jenjang kepangkatan dan kepengurusan organisasi. Dari sini ingin disampaikan bahwa Karitas India itu berada dalam satu perjuangan bersama untuk mengusahakan kesejahteraan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat solidaritas juga menjadi tiang utama Karitas India. Berkenaan dengan nilai solidaritas, jelas sekali bahwa yang ditampilkan Karitas India dalam karya adalah solidaritas kepada mereka yang terpinggirkan, baik secara sistem kasta, agama, gender dan sosial-ekonomi. Solidaritas tersebut juga tampak dalam kerja sama dengan beberapa unsur dalam Gereja. Misalnya di tingkat nasional, regional dan keuskupan, ada isu dan gerak bersama yang sangat dirasakan. Pertemuan-pertemuan rutin di beberapa tingkat tersebut menjadi forum penentuan bersama prioritas pastoral. Dengan prioritas tersebut, maka dukungan solidaritas di beberapa tingkatan Gereja bahkan hingga tingkat antar komisi dapat semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solidaritas terlihat jelas dalam kegiatan pengumpulan dana masa Pra-Paskah, penentuan isu bersama, gerakan bersama di semua tingkat Gereja. Meski gaji mereka tidak besar, beberapa orang yang bekerja di Karitas juga memberikan sepuluh persen dari pendapatannya untuk mendukung karya yang sedang dijalankan. Dengan solidaritas itu, proyek-proyek mikro dapat didukung secara finansial oleh kelompok regional atau Keuskupan setempat dan tidak perlu mengajukan sampai ke Karitas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu semua, penyebaran nilai-nilai sosial Gereja dengan cara yang sangat cair juga dilakukan. Antara lain melalui penerbitan bahan penuntun kerja, poster untuk internal Gereja, atau kerjasama dengan Komisi Komunikasi Sosial lewat &lt;em&gt;red nose theatre&lt;/em&gt; (model teater yang menggelar pertunjukan di komunitas dengan membawa misi penyadaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni teater menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai yang relevan dengan keadaan masyarakat. Cara ini menjadi alat komunikasi yang efektif dengan warga kelompok target untuk menyebarluaskan isu secara lebih halus namun mengena. Seperti kisah yang ditampilkan &lt;em&gt;red nose theater&lt;/em&gt; kelompok dampingan lain di Kodaikanal siang hari itu. Mereka bercerita mengenai realita masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi masyarakat yang semakin hedonis digambarkan dengan kaum pria suka menghambur-hamburkan uang, minum-minuman keras dan berpesta. Mereka tidak peduli dengan kehidupan rumah tangga. Sementara, istri mengeluh karena uang untuk kebutuhan rumah tangga sangat minim dan anak terlambat membayar uang sekolah. Dalam keadaan terjepit, pemeran suami bertanya secara interaktif kepada para penonton tentang apa yang harus dilakukan. Penonton pun memberi masukan berupa nasehat, gurauan bahkan cemoohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeran lain kemudian masuk untuk menawarkan solusi yaitu ajakan untuk bergabung dalam koperasi. Tak hanya itu, nasehat-nasehat yang selaras dengan nilai-nilai sosial gereja seperti perlunya mengusahakan kesejahteraan bersama, solidaritas dan keluhuran martabat manusia juga diberikan sambil meminta konfirmasi penonton secara interaktif. Ada memang keragu-raguan yang muncul, namun kebimbangan itu justru menjadi kesempatan untuk memberi penjelasan dan peneguhan. Akhir dari drama tersebut adalah sikap setuju terhadap ajakan bergabung dalam koperasi, yang berarti sepakat dengan nilai-nilai luhur khas ASG. Seruan para penonton pun memberi dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, teater memiliki aneka fungsi. Menjadi media yang menampilkan realita masyarakat, memberi penjelasan alternatif solusi, sekaligus menyemaikan nilai-nilai ASG. Jelas terlihat di sini bagaimana kejelian Karitas India dalam memanfaatkan media komunikasi rakyat yang populer menjadi sarana menanamkan nilai-nilai sosial Gereja yang melewati aneka batasan dan perbedaan, dengan jangkauan yang lebih luas, bagi masyarakat non Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bisa Belajar Apa ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kiprahnya selama ini, Karitas India telah berusaha menebarkan wajah sosial Gereja secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung melalui pendalaman spiritualitas ASG, sosialisasi nilai-nilai ASG kepada seluruh unsur pegawai Karitas, dari posisi tertinggi hingga tingkat &lt;em&gt;state officer &lt;/em&gt;(perpanjangan tangan Karitas India di tingkat regional), termasuk pada kesempatan doa bersama harian atau retret. Ajaran sosial Gereja mesti menjadi pijakan dari sebuah karya pembinaan yang intensif lagi berkanjang, khususnya dari kaum awam beriman. Sesuai kompendium Ajaran Sosial Gereja, pembinaan semacam itu hendaknya mengindahkan kewajiban-kewajiban mereka di tengah masyarakat sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, dalam kegiatan pendampingan, isu yang di kedepankan tak lain demi menciptakan kesejahteraan umum. Karena gagasan kesejahteraan umum mencakup semua anggota masyarakat, tak ada satu pun yang dikecualikan dari kerja sama, seturut kemampuan masing-masing orang, dalam menggapai dan mengembangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karyanya, Karitas India melibatkan orang-orang dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan yang tidak seiman dan yang terpinggirkan. Hal ini merupakan sebuah pengakuan bahwa jalan cinta kasih terbuka bagi semua orang dan bahwa usaha untuk membangun persaudaraan universal tidak akan percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karitas India mendorong keterlibatan warga yang didampingi, menumbuhkan partisipasi dan demokrasi, selaras dengan prinsip subsidiaritas. Hal ini berarti warga masyarakat pada setiap tingkatan diberi tahu, didengarkan dan dilibatkan dalam pelaksanaan fungsi-fungsi yang dikerjakan. Kekuatan Karitas India yang lain mengedepankan nilai solidaritas yang tampak dalam diri para pegawai yang merupakan kesediaan yang lebih besar bahwa mereka adalah orang-orang yang berutang pada masyarakat di mana mereka menjadi bagiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karitas India pada awalnya mencanangkan karya amal dan bantuan karitatif, lalu berubah melaksanakan karya pembangunan hingga akhirnya menetapkan animasi sebagai kekuatan karya untuk transformasi masyarakat. Perubahan ini penting karena melenyapkan ketidakadilan berarti memajukan kebebasan dan martabat manusia, namun hal pertama yang mesti dilakukan ialah bersandar pada kemampuan spiritual dan kemampuan moral individu dan pada kebutuhan permanen akan pertobatan batin. Beberapa hal itu penting agar kehadiran Karitas dapat menggapai perubahan-perubahan ekonomi dan sosial yang benar-benar akan melayani manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karitas India pun terus menyemaikan nilai-nilai sosial gereja melalui media alternatif yang melampaui aneka batasan dan perbedaan demi menjunjung harkat dan martabat manusia. Dengan demikian, ASG ditempatkan dalam wawasan pastoral evangelisasi baru yang dewasa ini sangat dibutuhkan oleh dunia, termasuk pewartaan ajaran sosial Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perjalanan hidup Karitas India selama ini, tentu ada poin-poin penting yang bisa dipetik sebagai pelajaran bagi Karitas Indonesia (Karina). Berikut ini di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Materi ASG yang relevan selalu dijadikan salah satu bahan dalam kegiatan &lt;em&gt;capacity building&lt;/em&gt;, baik di tingkat nasional secara internal/ keuskupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Unsur Karitas Keuskupan yang langsung kontak dengan kelompok target binaan yang plural, dalam rangka &lt;em&gt;community building&lt;/em&gt;, hendaknya menanamkan nilai-nilai universal khas ASG, kesejahteraan umum, solidaritas dan subsidiaritas dalam kemasan yang kontekstual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Karina dapat mulai menyegarkan kembali ingatan terhadap pokok-pokok ASG melalui terbitan bahan penuntun, &lt;em&gt;guidelines&lt;/em&gt; yang menyertakan penanaman nilai-nilai universal yang disarikan dari ASG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Karina di tingkat nasional ataupun keuskupan, dapat bekerjasama dengan komisi-komisi lain (misalnya Komisi Katekese) untuk menerbitkan buku yang mengeksplorasi ASG atau bekerjasama dengan Komisi Komunikasi Sosial untuk merilis video CD dalam kemasan populer, berisi refleksi atas situasi (&lt;em&gt;see&lt;/em&gt;), animasi dan sosialisasi ASG (&lt;em&gt;judge&lt;/em&gt;) dan panggilan untuk bertindak (&lt;em&gt;act&lt;/em&gt;). Misalnya, film tentang situasi kelompok dampingan sejak dari situasi terpuruk mereka hingga berhasil berdaya dan mandiri. Diharapkan pembuatan dan penyebaran kisah sukses semacam ini menggerakkan sebanyak mungkin orang agar terinspirasi untuk berdaya atau memberikan dukungan. &lt;em&gt;(Catatan Exposure Visit &lt;/em&gt;Karina&lt;em&gt; ke Caritas India, September 2009)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-2489810544410043855?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Nv576--eLaF8ihbmlJqy3FRNguE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Nv576--eLaF8ihbmlJqy3FRNguE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Nv576--eLaF8ihbmlJqy3FRNguE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Nv576--eLaF8ihbmlJqy3FRNguE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/TekZzjiNiDs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2489810544410043855?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2489810544410043855?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/TekZzjiNiDs/menghadirkan-wajah-gereja-di-dunia.html" title="Menghadirkan Wajah Gereja Di Dunia" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/03/menghadirkan-wajah-gereja-di-dunia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUEEQHs8fSp7ImA9WhZTGUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-6275636420649462504</id><published>2011-03-24T14:56:00.002+07:00</published><updated>2011-03-24T15:00:01.575+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-24T15:00:01.575+07:00</app:edited><title>Kematian Jalan Keselamatan</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Mrk 15:33-39; 16:1-6&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;16:6 Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang meninggalnya ayah, bagi Melisa sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Sejak stroke menyerang ayah dan membuatnya terbaring lemah, saat itu kehidupan keluarga Melisa berubah. Sang sumber penghasilan dan satu-satunya tulang punggung kehidupan keluarga tak bisa lagi diandalkan. Ibunya tak lagi bisa mencari penghasilan tambahan. Meksipun demikian ibu merawat dan menjaga ayah, mulai dari mandi, menyiapkan makan, menyuapi, menemani dan memberikan kasih perhatian. Sementara ia dan kedua adiknya yang membutuhkan biaya untuk sekolah terpaksa menjual sepeda motor hadiah ulang tahun dari ayah. Melisa rela karena semua demi biaya pengobatan dan kesembuhan sang ayah. Kedua adiknya tak lagi seenaknya minta ini dan itu. Dalam situasi itu, keluarga Melisa tidak menyerah, ada satu kekuatan yang membuat mereka tabah. Setiap malam mereka berkumpul bersama untuk berdoa. Mereka memohon pertolongan Tuhan untuk kesembuhan ayah. Semua usaha dan doa akhirnya berujung pada sikap pasrah, saat ayah dipanggil Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah mengalami peristiwa ditinggalkan. Terlebih ditinggalkan selamanya oleh orang terkasih. Kenangan akan kasih sayang, perhatian, sapaan dan dukungan yang masih sangat dibutuhkan, harus dilepaskan. Belum lagi sempat membalas segala kebaikan, namun harus direlakan. Rela melepaskan, itulah sikap iman yang diperlukan. Karena iman akan kebangkitan badan, maka kematian bukan kesiasiaan. Karena percaya akan kehidupan kekal, kematian itulah jalan keselamatan. Maka, tak perlu berlama-lama larut dalam kepedihan. Tak ada guna merasa kecewa dan kehilangan. Hanya bersandar pada kepercayaan akan Yesus, mereka yang telah berpulang pasti mengalami kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Hanya melalui doa dengan perantaraan Yesus, segala kasih dan perhatian diberikan kepada mereka yang telah berpulang. Semoga mereka yang telah meninggal mendapatkan pengampunan dosa dan kedamaian abadi bersama Bapa di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yesus, kami berdoa untuk sanak saudara dan semua orang yang telah meninggal agar mereka mendapatkan kebahagiaan kekal. Amin. &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-6275636420649462504?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_p5dI5sxlUgzrf9cK6Q5sunnzGU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_p5dI5sxlUgzrf9cK6Q5sunnzGU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_p5dI5sxlUgzrf9cK6Q5sunnzGU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_p5dI5sxlUgzrf9cK6Q5sunnzGU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/ZcUS98Y9nvk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6275636420649462504?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6275636420649462504?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/ZcUS98Y9nvk/kematian-jalan-keselamatan.html" title="Kematian Jalan Keselamatan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/03/kematian-jalan-keselamatan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkQFRn8yeyp7ImA9WhZTGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-2114468016399625555</id><published>2011-03-23T23:30:00.002+07:00</published><updated>2011-03-23T23:38:37.193+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-23T23:38:37.193+07:00</app:edited><title>Rindu Kebenaran</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Mat 5:1-12a&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan kaum muda di perumahan telah berakhir. Kini saatnya seluruh seksi dalam kepanitiaan mengumpulkan laporan. Sebagai koordinator bidang administrasi dan keuangan, Debi harus memeriksa seluruh laporan. Namun, laporan pengeluaran dari beberapa seksi kepanitiaan menurutnya aneh. Tertulis di situ ada pengeluaran untuk transportasi, sewa gedung dan honor petugas kebersihan. Setahu Debi, transportasi untuk penjemputan tidak mengeluarkan biaya, karena ada warga yang meminjamkan kendaraan. Sewa gedung pun mendapat diskon hingga separuh harga. Lagipula honor petugas kebersihan sudah termasuk dalam biaya sewa. Dengan keberanian, Debi mengkomunikasikan temuannya kepada seksi yang mengerjakan laporan. Ia mencoba menghubungi melalui telepon, namun menurut mereka sudah jelas karena ada nota dan tanda tangan. Sampai akhirnya Debi mengecek ke orang yang mengeluarkan nota, ternyata semua nota dan tanda tangan itu palsu dan tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran pada seringkali menjadi sesuatu yang mahal. Kebenaran cenderung diputarbalikkan demi keuntungan. Namun bukan berarti kebenaran terus-menerus dilemahkan. Kebenaran harus ditegakkan walau seringkali tidak mudah dilakukan. Demi menegakkan kebenaran memang orang akan dianggap sok suci atau pahlawan kesiangan. Padahal orang yang mengatakan kebenaran dengan jujur seharusnya yang disebut mujur. Justru yang tidak jujur berpotensi hancur, entah hancur nama baik dan reputasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah situasi dunia yang carut marut, diperlukan orang-orang yang selalu lapar dan haus akan kebenaran. Ialah mereka yang gelisah jika melihat kepalsuan, yang terganggu dengan ketidakberesan, yang selalu mengingatkan mana yang benar dan senantiasa melakukan kebenaran. Karena kepalsuan, ketidakberesan hanya merugikan banyak orang. Sedangkan kebenaran membuat hati orang puas, karena tindakan dan suara hatinya selaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yesus, Sang Jalan Kebenaran, tuntunlah kami untuk mewartakan kebenaran dan melakukan yang benar. Amin.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-2114468016399625555?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lFnfqNVurnTA3WBGPKtxCZqNf2w/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lFnfqNVurnTA3WBGPKtxCZqNf2w/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lFnfqNVurnTA3WBGPKtxCZqNf2w/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lFnfqNVurnTA3WBGPKtxCZqNf2w/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/4yGxJZbjW80" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2114468016399625555?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2114468016399625555?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/4yGxJZbjW80/rindu-kebenaran.html" title="Rindu Kebenaran" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/03/rindu-kebenaran.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYBQXY5fSp7ImA9WhZTEEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-3538973813060382108</id><published>2011-03-14T02:04:00.000+07:00</published><updated>2011-03-14T02:05:50.825+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-14T02:05:50.825+07:00</app:edited><title>Kehormatan Ada Di Tanggung jawab</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;Ketika kecil, setiap kali makan siang saya selalu makan bersama bapak, ibu dan saudara. Kami mengambil makanan yang terhidang di meja makan sendiri, satu per satu, secara bergiliran. Tiba saatnya saya mengambil nasi, lalu mencedok sayur, mengambil lauk dan menambahkan sambal serta kecap. Suasana makan yang menyenangkan, apalagi diselingi cerita dari antara kami. Namun ketika semua telah selesai dan membalik sendok serta garpu di atas piring, saya masih menyisakan nasi dan potongan lauk. Spontan ibu menegur supaya saya menghabiskan makanan yang masih tersisa. Kalau saya tidak menghabiskan, berarti saya tidak bertanggung jawab atas apa yang saya ambil sendiri, demikian kata ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar, bahwa tadi saya mengambil nasi dan lauk untuk saya makan. Saya sadar bahwa perkataan ibu benar, makanan yang diambil sendiri, harus saya makan sampai habis, bukan hanya kalau ditegur ibu. Itu artinya saya konsekuen dengan apa yang telah saya ambil untuk dimakan. Itu artinya saya bertanggung jawab dengan pilihan saya sebelumnya. Di manapun dan kapanpun, saya harus bertanggung jawab, karena saya terikat dengan keharusan dan kewajiban yang harus saya laksanakan sendiri. Akhirnya, saya mengambil sendok dan memakan habis nasi dan potongan lauk, sehingga piring itu bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti, keadaan wajib menanggung segala sesuatu. Kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan. Tanggung jawab juga berarti, fungsi menerima pembebanan, sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain. Dengan demikian, seseorang disebut sebagai bertanggung jawab berarti berkewajiban menanggung, memikul tanggung jawab atau menanggung segala sesuatu. Jadi tanggung jawab berhubungan dengan kesadaran seseorang akan tindakan atau perbuatannya. Tanggung jawab berhubungan pula dengan kesadaran akan kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, seseorang yang tidak bertanggung jawab adalah mereka yang tidak memenuhi kewajiban memikul tanggung jawab atau menanggung segala sesuatu. Seseorang itu tidak sadar akan tindakan dan perbuatannya serta tidak sadar akan kewajibannya. Sikap ini merupakan sikap yang tidak pantas. Terlebih jika akibat tindakan atau perbuatannya, ternyata merugikan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, seseorang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Karena kecepatan tinggi itu ia tidak bisa mengendalikan mobilnya ketika ada seseorang yang menyeberang. Akibatnya ia menyerempet penyeberang. Pengendara mobil terus melaju kencang tanpa menghiraukan penyeberang yang jatuh terserempet. Pengendara mobil itu tidak bertanggung jawab, karena ia melanggar kewajiban untuk menanggung tindakannya, membuat jatuh penyeberang. Pengendara mobil itu boleh dituntut, dipersalahkan dan bahkan menerima hukuman karena sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bertanggung jawab mengandaikan suatu kesadaran diri yang tidak hanya berfokus pada keenakan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa kita tidak pernah hidup bagi diri kita sendiri. Kita hidup dalam lingkungan sosial yang peka, di mana sikap ceroboh dan seenaknya dapat merusak, sekurang-kuranya dapat membuat hidup orang lain tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut”. Kutipan kalimat tersebut memperingatkan bahwa kita tidak hanya hidup bagi diri kita sendiri. Kita hidup karena orang lain. Maka kita sebaiknya memberi dan menyumbangkan sesuatu bagi orang lain. Hidup kita hanya berhasil, kalau karena kita, hidup orang lain, hidup beberapa orang yang ada di dalam lingkungan kita, dapat menjadi lebih bahagia. Maka, sikap yang harus dihilangkan ialah sikap mencari enak sendiri, seenak sendiri atau seenaknya dalam situasi apapun. Karena tidak ada situasi di mana kita tidak harus bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bertanggung jawab juga dalam arti bahwa kita tidak melemparkan kesalahan yang kita lakukan kepada orang lain. Kita tetap berdiri di belakang sikap yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Kalau kita melakukan kesalahan, kita yang bertanggung jawab atas tindakan dan perbuatan kita. Kalau kita melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, itu merupakan sikap seorang pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap melemparkan kesalahan kepada orang lain, berarti sikap tidak berani bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. Ia menyuruh orang lain dituntut atau dipersalahkan. Ia mengalihkan beban yang seharusnya dipikul, kepada orang lain. Orang seperti ini hanya mau mencari selamat bagi dirinya, sekaligus merugikan orang lain. Terlalu banyak orang yang menghindari tanggung jawab dengan menyalahkan orang lain, daripada menghadapi resiko dengan gagah berani dan ksatria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albert Einstein pernah mengatakan, &lt;em&gt;the price of greatness is responsibility&lt;/em&gt;. Artinya, kehormatan seseorang terletak pada sikap penuh tanggung jawab. Sikap bertanggung jawab adalah sikap yang mulia. Seseorang melakukan tindakan atau perbuatannya dengan penuh kesungguhan dan memenuhi kewajiban dengan segala potensi yang dimiliki. Ia tidak sekedar mencari enak dan seenaknya. Ia sadar bahwa dirinya selalu siap untuk memberi. Bahkan ia siap menghadapi kesulitan dan menanggung segala sesuatu sebagai akibat dari perbuatannya. Ia selalu siap dituntut dan siap menerima beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bertanggung jawab memiliki kesadaran bahwa setiap tindakan dan perbuatan pasti ada resiko, sekaligus ada pelajaran berharga yang membuatnya berani melangkah ke depan. Dengan kemampuan merefleksikan situasi, ia mengantisipasi sehingga tidak takut menghadapi tantangan, melainkan membentuk niat bagaimana seharusnya bertindak, baru kemudian melakukan tindakan. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 11 Maret 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-3538973813060382108?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nZjG71iPB6aNw5cIFHWwqEhMEkc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nZjG71iPB6aNw5cIFHWwqEhMEkc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nZjG71iPB6aNw5cIFHWwqEhMEkc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nZjG71iPB6aNw5cIFHWwqEhMEkc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/hQ1n-zf_Mrg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3538973813060382108?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3538973813060382108?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/hQ1n-zf_Mrg/kehormatan-ada-di-tanggung-jawab.html" title="Kehormatan Ada Di Tanggung jawab" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/03/kehormatan-ada-di-tanggung-jawab.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YNRHw9eCp7ImA9Wx9WFUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-6566054804972422221</id><published>2011-01-21T02:17:00.000+07:00</published><updated>2011-01-21T02:19:55.260+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-21T02:19:55.260+07:00</app:edited><title>Keguyuban Menciptakan Kesejahteraan</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;Ada kisah menarik ketika tahun lalu saya bersama penggurus Dewan Pastoral Paroki berkunjung ke lingkungan-lingkungan (kelompok-kelompok basis umat). Ada lingkungan yang menyambut kedatangan kami dengan hangat, satu sama lain anggotanya kelihatan saling mengenal, canda tawa terdengar menjadi penyegar suasana, apalagi jumlah anggota yang hadir banyak. Aneka masalah, kritik dan saran seakan mudah disampaikan dan diselesaikan dalam kebersamaan dan saling pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada pula lingkungan yang tampak dingin, para anggotanya tampak kurang saling mengenal, entah jarang berkumpul atau jarang bertegur sapa, suasana begitu kaku tanpa canda tawa, jumlah anggota yang hadir pun tak sebanyak jumlah yang sebenarnya. Persoalan atau keluhan yang ada disampaikan dengan nada tinggi dan penuh emosi, lebih tampak kesan saling menyalahkan daripada memahami satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua suasana yang berbeda itu tampak sekali kelompok mana yang ikatan sosialnya didasari oleh ikatan perseorangan yang kuat dan kelompok mana yang tidak. Guyub merupakan kata dasar dari paguyuban. Paguyuban artinya, masyarakat atau kelompok yang ikatan sosialnya didasari oleh ikatan perseorangan yang sangat kuat. Tanda-tandanya antara lain, satu sama lain anggota menampakkan pertemanan atau persahabatan yang rukun, satu sama lain bergaul sebagai teman yang ramah, satu sama lain berhubungan simpatik, tak ada permusuhan, justru ada kecenderungan untuk saling membantu dan mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana yang guyub ada kerukunan atau harmoni. Kerukunan itu berarti suasana damai, tidak ada pertengkaran. Kerukunan itu berarti pula ada perasaan satu hati, ada kesepakatan. Itulah mengapa dalam struktur masyarakat di Indonesia ada istilah rukun tetangga dan rukun warga. Maksudnya tidak lain agar di dalam kelompok masyarakat itu tercipta damai, ada perasaan satu hati, ada kesepakatan bersama dan menghindari pertengkaran. Jika toh ada pertengkaran, maka yang perlu dilakukan oleh seluruh anggota kelompok itu ialah usaha untuk merukunkan, menjadikan rukun dan mendamaikan kembali, sehingga kelompok itu bersatu hati lagi dan menjauhi sikap saling bermusuhan. Kelompok yang rukun ditandai dengan semacam perjanjian dalam perasaan, sikap atau tindakan setiap anggotanya untuk gembira hati membangun kebersamaan sehingga yang terjadi adalah hal-hal yang menyenangkan bagi semua anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kelompok yang guyub akan bisa melakukan apapun. Suatu kelompok yang memiliki jiwa satu hati dan satu tubuh akan mampu mencapai apa yang menjadi tujuan bersama. Seberat apapun rintangan, jika dihadapi oleh kelompok yang guyub, satu hati dan satu tubuh maka akan dapat teratasi dengan baik. Kelompok yang guyub niscaya mengalami proses pembentukan kelompok. Ada proses saling mengenal, ada proses saling belajar, ada trial dan error dalam kebersamaan, ada pengalaman dalam kebersamaan yang dirasakan manfaatnya dan saling memiliki komitmen demi kelompok yang satu. Jadi betapa berharganya keguyuban dalam kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu berharganya keguyuban dalam paguyuban itu hendaknya menjadi perhatian bagi siapapun untuk menghidupi kelompoknya. Kelompok hendaknya dilihat kembali sebagai salah satu cara baru dalam hidup dalam masyarakat. Kelompok sebagai komunitas di mana setiap orang mengalami secara pribadi kebersamaan. Komunitas di mana setiap orang memainkan peranan aktif dan didorong untuk ambil bagian dalam tugas bersama. Komunitas yang didasari nilai-nilai kasih, peduli, pertemanan yang rukun, ramah, simpatik, saling membantu dan mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Gereja Katolik, komunitas basis digambarkan sebagai komunitas yang berdoa, disatukan oleh Sabda Tuhan dan saling mensharingkan Injil, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, saling mendukung dan bekerja sama, serta bersatu sehati dan sepikiran. Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia, mendefinisikan komunitas basis sebagai satuan umat yang relatif kecil dan yang mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan Sabda Allah, berbagi masalah sehari-hari, baik masalah pribadi, kelompok, maupun masalah sosial dan mencari pemecahannya dalam terang Sabda Tuhan. Tidak hanya itu, umat diharapkan juga terbuka untuk membangun komunitas insani dengan saudara-saudari yang beriman lain. Dengan demikian, cara baru hidup menggereja dan memasyarakat melalui komunitas basis ini membantu menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan kebersamaan dengan orang lain, dengan umat beragama lain merupakan kenyataan yang tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi siapapun untuk menggalang keguyuban, kerukunan dan persaudaraan antar umat beragama dan umat kepercayaan yang ada di Indonesia, sebagai model dalam hubungan sosial. Keguyuban, kerukunan dan persaudaraan itu akan menghasilkan kerukunan sebagai prinsip hubungan sosial. Maka dalam kebersamaan perlu diupayakan menjaga moralitas hidup yang baik, yang ditandai dengan kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan luhur dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila sebagai ideologi dan dasar hidup bersama dalam masyarakat. Sebagaimana disebut dalam sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa mengatakan, &lt;em&gt;guyub rukun agawe sentosa&lt;/em&gt;, yang artinya keguyuban, kebersamaan, kerukunan akan membuat atau menciptakan kesejahteraan. Tanpa keguyuban dan kerukunan, mustahil masyarakat Indonesia mampu mewujudkan kesejahteraan bersama (&lt;em&gt;bonum commune&lt;/em&gt;) yang adil makmur dan merata, terutama dalam pilihan mengutamakan mereka yang miskin. Maka, hal terbaik yang perlu dilakukan ialah sadar untuk kembali menghidupi kelompok, komunitas atau paguyuban di dalam struktur masyarakat, di dalam rukun tetangga dan rukun warga masing-masing, dengan kehadiran dalam kebersamaan, saling mengenal, mengusahakan pertemanan atau persahabatan yang rukun. Satu sama lain bergaul sebagai teman yang ramah, berhubungan dengan simpatik, saling membantu dan mendukung, berbagi masalah sehari-hari, baik masalah pribadi, kelompok maupun masalah sosial dan mencari pemecahannya. &lt;em&gt;(Surabaya Post, 21 Januari 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-6566054804972422221?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/o421pWR4JUiiLq47z3D_oPU1Atg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/o421pWR4JUiiLq47z3D_oPU1Atg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/o421pWR4JUiiLq47z3D_oPU1Atg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/o421pWR4JUiiLq47z3D_oPU1Atg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/vgM5HnyPMcE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6566054804972422221?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6566054804972422221?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/vgM5HnyPMcE/keguyuban-menciptakan-kesejahteraan.html" title="Keguyuban Menciptakan Kesejahteraan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2011/01/keguyuban-menciptakan-kesejahteraan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0UBRHo6eSp7ImA9WhZSEEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-6889436088582080135</id><published>2010-04-17T17:28:00.006+07:00</published><updated>2011-03-25T23:40:55.411+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-25T23:40:55.411+07:00</app:edited><title>Internet Dalam Karya Pastoral</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S8mOu3PGg5I/AAAAAAAABSc/eUWCXr-06Uw/s1600/thumbnailCAANZFRJ.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 160px; DISPLAY: block; HEIGHT: 108px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461052958915855250" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S8mOu3PGg5I/AAAAAAAABSc/eUWCXr-06Uw/s320/thumbnailCAANZFRJ.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salah satu perkembangan kontemporer yang tidak dapat dihindari adalah penggunaan alat komunikasi modern untuk mendukung kehidupan Gereja dan karya pelayanannya. Karena kehidupan komunitas umat begitu penting sehingga perlu didukung dengan penggunaan alat-alat komunikasi modern, dengan tetap waspada untuk tidak dikendalikan oleh alat tersebut. Seperti menjadi kecanduan atau memanfaatkannya secara menyimpang. Setiap orang hendaknya menjadi penjaga bagi dirinya untuk tidak menggunakannya justru sebagai alat untuk memecah belah atau membuat diri menjadi ekslusif, memisahkan mereka yang tidak memiliki akses yang sama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gereja memahami dan menggunakan internet sebagai peluang untuk memajukan komunikasi internal. Hal ini menuntut komunikasi dengan karakter khusus, sebagai langsung, segera, interaktif dan media partisipatoris. Cara interaktifitas internet telah mengabaikan cara lama, yaitu di antara mereka yang mengkomunikasikan dengan yang menerima infomasi dan menciptakan sebuah situasi potensial, kini setiap orang dapat mengerjakannya secara bersamaan. Komunikasi baru ini, bukan lagi komunikasi top-down. Sebagaimana semakin banyak orang dapat menjadi semakin akrab dengan gaya baru ini, mereka pun berharap cara ini ditemukan dalam agama dan Gereja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka, melek teknologi dalam dunia kontemporer merupakan hal yang penting dan krusial untuk memiliki pemahaman dasar tentang alat-alat komunikasi dan mengetahui bagaimana mengendalikan jika terjadi penyimpangan. Sehingga akses informasi jaman sekarang, memberdayakan bukan hanya orang yang memiliki kendali dan mampu mengaksesnya, namun juga bagi umat yang dilayani. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Melek Teknologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memperluas melek teknologi kepada anggota komunitas umat merupakan langkah awal. Kenyataannya ditemukan kebuntuan pengetahuan di bidang teknologi sehingga sebagian kalangan umat seolah tertinggal dari komunitasnya. Kenyataan ini sangatlah merugikan. Maka penting untuk menyediakan fasilitas misalnya komputer atau akses internet yang dapat dimanfaatkan oleh anggota komunitas umat yang akan menggunakan dan mengambil untung darinya. Untuk mendukung hal ini perlu memilih relawan atau kader yang mampu mengerjakan administrasi komputer dasar dan memberikan pengajaran, bagaimana menggunakan teknologi secara produktif dan memperhatikan tuntutan etika. Komunitas umat perlu memilih orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengampu media internet ini secara bijaksana dengan cara memperluas melek teknologi kepada anggota komunitas dan melayani dengan menggunakan internet. Dalam tim itu dapat dibagi peran, siapa yang menjadi administrator, siapa yang memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan dan memberikan pengajaran dengan menggunakan jejaring internet. Dengan demikian, setiap anggota komunitas sungguh merasa nyaman menggunakan internet dan mengambil manfaat darinya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Membuat Saling Terhubung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Koneksi antar anggota dalam komunitas, maupun antar komunitas umat secara luas, bahkan nasional dan internasional melalui penggunaan internet merupakan kesempatan besar untuk meningkatkan komunikasi tentang aneka kehidupan beriman yang diinspirasikan oleh setiap komunitas lokal. Komunikasi komunitas umat di dunia maya memberi kesempatan mereka dapat mengikuti konsultasi seputar kehidupan beriman Katolik. Jejaring internet menjadikan setiap komunitas menjadi semakin terbuka dengan yang lain. Hal ini juga mempromosikan dialog yang dapat berlanjut menjadi apa yang disebut sebagai persekutuan kehidupan iman masa kini. Karena itu, setiap komunitas dapat bekerjasama dengan komunitas lain untuk dapat membuat sebuah situs web dan barangkali membuat ruang server di mana suatu komunitas dapat memiliki pilihan-pilihan isi yang terbatas. Dalam koneksi itu dapat pula dibuat jejaring informasi atau perpustakaan on line tentang kasanah pengetahuan iman, dokumen-dokumen Gereja yang amat kaya serta memuat koleksi-koleksi lain yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Pelayanan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan dan memperluas jangkuan pelayanan, termasuk keramah-tamahan, akan memberi semangat dan menjadi ladang bibit yang subur bagi perkembangan komunitas. Internet menyediakan bagi kita kesempatan untuk membagikan buah kehidupan rohani, doa, kesaksian iman maupun kebersamaan hidup dengan komunitas lain, bahkan di seluruh dunia. Sangatlah mungkin untuk membagikan kisah-kisah inspiratif yang tak terceritakan dari setiap anggota komunitas melalui website. Isi dari &lt;em&gt;website&lt;/em&gt; dapat dibuat lebih sederhana, misalnya jadwal daftar pelayanan Gereja atau komunitas, waktu doa atau sharing. &lt;em&gt;Website &lt;/em&gt;dapat juga menyediakan beberapa kontak person untuk konsultasi iman, memberikan umpan balik yang sifatnya rutin kepada pengunjung atau menampilkan cuplikan kitab suci, tulisan-tulisan inspiratif, kutipan religius atau bahkan menyediakan kartu pos ucapan elektronik. Jika mungkin menyajikan spiritualitas kehidupan iman yang mendalam, informasi rohani, pengetahuan iman dan bahkan akses kepada pengunjung yang akan merespon secara pribadi. Pada dimensi lain, dapat diberikan kesempatan untuk membagikan sumber informasi khususnya bagi mereka yang kurang beruntung. Sehingga karya pelayanan melalui internet berguna pula bagi mereka yang kurang beruntung, misalnya beasiswa pendidikan, informasi lowongan pekerjaan dan dana-dana sosial. Termasuk menyajikan jejaring website yang merupakan lembaga non profit lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Perluasan Keprihatinan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Potensi untuk meningkatkan kesadaran global di antara komunitas, khususnya mereka yang membutuhkan bantuan dan berkekurangan dengan menggunakan teknologi merupakan ide besar dan menarik. Namun harus dapat dipertanggujawabkan dan sungguh menjawabi kebutuhan kesulitan di dunia nyata. Terutama bagi mereka yang misalnya menghadapi kesulitan ekonomi, membutuhkan biaya sekolah, memerlukan modal usaha kecil, mengalami bencana atau membutuhkan modal. Mereka inilah yang tidak memiliki akses kepada internet yang karenanya perlu ditampilkan untuk mendapat perhatian. Dalam hal ini internet menjadi fasilitasi untuk mengakses sumberdaya yang mampu menolong mengurangi kesulitan, terutama bagi komunitas-komunitas yang terpinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suatu komunitas bertemu dengan komunitas lain yang mengalami kesulitan, internet dengan akses terbatas dapat menjadi penolong untuk meneruskan informasi tentang mereka dan menyebarkan sumber info. Dengan demikian, terjadi kepedulian dan jejaring sosial yang sungguh berdampak positif dan berdaya guna. Memang yang sebenarnya dibutuhkan adalah pembelajaran tentang meluaskan pengetahuan teknologi dan akses internet bagi mereka di daerah yang membutuhkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Penguatan Komunio&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Internet sangat relevan bagi banyak kegiatan dan program Gereja, untuk pewartaan, termasuk mengulangi pewartaan maupun evangelisasi baru, katekese, pendidikan anak, memperluas berita dan informasi, apologetik, perkembangan tata pemerintahan dan administrasi, pastoral konseling dan bimbingan rohani. Meskipun dunia maya-sibernetika, tidak dapat mengganti relasi interpersonal sebagaimana terjadi dalam persekutuan komunitas nyata, seperti juga pada kesempatan inkarnasi dalam Sakramen atau liturgi, pewartaan, pendalaman, pengarahan maupun pembacaan Kitab Suci yang “hidup”, penuh semangat dan berkobar-kobar. Namun pewartaan dunia maya berlaku komplementer, tetap dapat dapat menarik orang mengalami pengalaman hidup iman dan meningkatkan semangat religius para pengguna. Pula menyediakan kesempatan komunikasi anggota Gereja. Suatu komunikasi yang sangat bermakna, baik antar kelompok tertentu, orang muda dan dewasa, kaum tua dan orang rumahan, orang yang lokasinya berpindah dan anggota komunitas lain, yang sangat sulit untuk dijangkau secara fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan jumlah paroki, Keuskupan, Kongregasi Religious dan relasi lembaga Gereja, acara dan organisasi yang beragam bentuk, kini dapat menjalin persatuan dengan menggunakan internet secara efektif. Demi keperluan tersebut di atas maupun dan keperluan lain. Kenyataannya proyek kreatif seperti ini telah disponsori Gereja dalam beragam bentuk dan cara di beberapa komunitas. Memang setiap komunitas Gereja tidak bisa lepas untuk memasuki dunia maya dan mulai memikirkan untuk berbuat sesuatu yang berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsili Vatikan II, tepatnya &lt;em&gt;Lumen Gentium&lt;/em&gt;, mengatakan bahwa umat Allah sebaiknya semakin dekat dengan gembalanya, memperoleh, terutama bantuan sabda Allah dan sakramen-sakramen, mengemukakan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan mereka kepada para imam, dengan kebebasan dan kepercayaan, seperti layaknya bagi anak-anak Allah dan saudara-saudara dalam Kristus. Sekadar ilmu pengetahuan, kompetensi dan kecakapan mereka, para awam mempunyai kesempatan, bahkan kadang-kadang juga kewajiban, untuk menyatakan pandangan mereka tentang hal-hal yang menyangkut kesejahteraan Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Communio et Progressio&lt;/em&gt; menggarisbawahi hal itu bahwa sebagai tubuh yang hidup, Gereja membutuhkan pendapat publik untuk memelihara semangat saling memberi dan saling menerima di antara para anggotanya. Meskipun kebenaran iman tidak memberi ruang bagi penafsiran yang keliru, instruksi pastoral memberi catatan “suatu ruang luas di mana setiap anggota Gereja dapat mengekspresikan pandangan-pandangannya. Selaras dengan ide, dalam Kitab Hukum Kanonik art. 28, sebagaimana tertuang dalam dokumen Komisi Kepausan untuk Komunikasi Sosial, &lt;em&gt;Aetatis Novae&lt;/em&gt;, yang mengajak cara komunikasi dua arah dan pendapat publik, yang menjadi “salah satu cara mewujudkan secara nyata karakter Gereja, sebagai komunio”. &lt;em&gt;(Komisi Kepausan Untuk Komunikasi Sosial, Gereja dan Internet, art. 6). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tetap harus disadari bahwa menggunakan internat pertama-tama untuk memperluas dan meningkatkan keramatamahan, pertukaran aneka informasi yang membangun, penguatan iman dan komunitas, sharing kehidupan iman serta memperkenalkan panggilan. Dan harus diwaspadai kemungkinan bahwa internet dapat menyebabkan kecanduan, tanpa pendampingan dan pendidikan dapat menyebabkan penyimpangan dan kesalahpahaman atau bahkan menghilangkan komunikasi &lt;em&gt;face to face&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-6889436088582080135?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JSoZx7XMpqE1SkB2anX8TXakAOI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JSoZx7XMpqE1SkB2anX8TXakAOI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JSoZx7XMpqE1SkB2anX8TXakAOI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JSoZx7XMpqE1SkB2anX8TXakAOI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/SgmG5Uv-PCE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6889436088582080135?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/6889436088582080135?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/SgmG5Uv-PCE/internet-dalam-karya-pastoral.html" title="Internet Dalam Karya Pastoral" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S8mOu3PGg5I/AAAAAAAABSc/eUWCXr-06Uw/s72-c/thumbnailCAANZFRJ.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2010/04/internet-dalam-karya-pastoral.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QFQXo5fyp7ImA9WhZTFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-5168645305566546011</id><published>2009-01-14T22:49:00.003+07:00</published><updated>2011-03-19T02:08:30.427+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-19T02:08:30.427+07:00</app:edited><title>Masyarakat Jatim Tahan Bencana</title><content type="html">&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SW4Q09tQYPI/AAAAAAAAA8E/UPT3V7xryCM/s1600-h/Multi_Jatim.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; DISPLAY: block; HEIGHT: 206px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291185114310533362" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SW4Q09tQYPI/AAAAAAAAA8E/UPT3V7xryCM/s320/Multi_Jatim.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis Jatim menyebabkan sebagian besar wilayah Jatim rawan bencana. Ada beberapa macam bencana yang berpeluang terjadi di Jatim dan berpotensi menimbulkan gangguan dari fungsi masyarakat yang dapat mengakibatkan kehilangan nyawa, material atau kerusakan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara macam bencana yang patut diwaspadai ialah bencana banjir, letusan gunung berapi, tanah longsor serta angin puting beliung. Kerawanan banjir terjadi di hampir semua kabupaten dan kota di Jatim. Wilayah potensi bencana banjir tinggi ada di daerah aliran sungai Bengawan Solo meliputi kabupaten Ngawi, Madiun, Tuban, Bojonegoro dan Lamongan. Di sekitar aliran sungai Brantas meliputi kabupaten Mojokerto, Lamongan dan Sidoarjo serta di kabupaten Pasuruan, Situbondo dan Jember. Wilayah potensi rawan bencana letusan gunung berapi ada di lokasi seputar Gunung Kelud meliputi kabupaten Kediri, Blitar, Tulungagung dan Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah yang rawan longsor meliputi 21 daerah yang ada di sekitar jalur pegunungan yang membentang dari timur ke barat Jatim, meliputi Gunung Lawu, Wilis, Kelud, Arjuno-Welirang, Bromo, Semeru, Argopuro, dan Ijen-Raung. Sedangkan wilayah potensi rawan serangan agin puting beliung adalah kabupaten Madiun, Kediri, Nganjuk, Jombang, Malang, Sidoarjo, Surabaya, Ngawi dan Bondowoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan sementara kejadian bencana dan rekapitulasi kejadian bencana yang dirilis Posko Satkorlak, Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi Propinsi Jatim hingga awal Desember 2008, tercatat ratusan rumah, fasilitas umum seperti masjid dan mushola, gedung sekolah, jalan, badan jalan, jembatan, saluran air, tanggul sungai, tangkis dam dan saluran irigasi rusak. Tafsiran kerugian materi mencapai miliaran rupiah. Fakta tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga dalam rangka mengurangi angka kerusakan dan kerugian materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prakiraan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengabarkan bahwa pada bulan Januari dan Februari 2009, cuaca Jatim akan memasuki musim hujan yang cukup tinggi. Intensitas hujan yang besar, setelah musim kemarau yang panjang, dapat dipastikan berbagai daerah sangat berpotensi mengalami bencana, seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berbagai Usaha&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka mengurangi angka kerusakan dan kerugian jiwa dan materi yang disebabkan oleh bencana, berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah. Pejabat Gubernur Jatim, Setia Purwaka menghimbau kepada para kepala daerah kabupaten/kota untuk tidak bepergian pada musim hujan saat ini yang dinilai rawan bencana alam. Di beberapa lokasi yang diprediksi rawan bencana gunung berapi seperti di Kediri dan Blitar, rawan banjir bandang di Situbondo serta rawan bencana tsunami di Banyuwangi dan Pacitan telah dipasang peralatan peringatan dini yang menjadi bagian jaringan peringatan dini nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinas Kehutanan Jatim mencatat sebagian dari wilayah hutan di Jatim yang kritis seluas 433.010.87 hektar, telah ditanami. Wilayah yang masih gundul dan berpotensi ditanami kembali hanya tersisa 360.000 hektar. Penghutanan kembali dengan reboisasi tersebut sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, instansi pemerintah telah melakukan penanganan dan pembenahan di sepanjang aliran sungai. Departemen Kimpraswil telah melaksanakan pembangunan berbasis sipil, berupa pembangunan waduk dan pengurungan sungai. Proyek yang mendapat bantuan luar negeri tersebut tersebar sejak bagian hulu sampai hilir, sepanjang aliran sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha kelembagaan lain yang bersifat konsultatif ialah rekomendasi kepada pimpinan daerah di Jatim untuk menjadikan perubahan iklim sebagai prioritas program kerja selama 5 tahun ke depan. Sesuai Undang-Undang, pimpinan daerah harus menyiapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk periode 5 tahun. Pengarusutamaan perubahan iklim, seharusnya menjadi agenda penting dalam RPJMD pimpinan daerah Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah langkah maju, bahwa pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pasal 8 Undang-Undang tersebut menunjuk tanggung-jawab pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana, perlindungan masyarakat dari dampak bencana, pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan serta pengalokasian dana penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu didukung oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Peraturan pemerintah ini memberi petunjuk rinci tentang situasi pra bencana yang meliputi situasi tidak terjadi bencana dan situasi terdapat potensi terjadi bencana serta situasi tanggap darurat dan situasi pasca bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berbasis Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada situasi pra bencana terdapat kata kunci tentang pentingnya perencanaan penanggulangan dan pengurangan resiko bencana. Dua hal ini merupakan unsur penting sekaligus baru dalam konteks manajemen bencana. Perencanaan penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana merupakan usaha mendesak yang dilakukan dalam situasi pra bencana. Kedua hal tersebut masih asing dikenal masyarakat di lokasi rawan bencana, apalagi yang bencananya memiliki karakter berulang dan kurang lebih sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai hal berkenaan dengan bencana yang telah dilakukan di Jatim, selain aneka upaya formal, kelembagaan pemerintah, amat penting untuk melibatkan dan meningkatkan peran serta masyarakat. Inilah yang digarisbawahi dalam protokol Hyogo yang kemudian dikenal dengan paradigma berbasis masyarakat &lt;em&gt;(community-based)&lt;/em&gt; atau dimanajemani oleh masyarakat &lt;em&gt;(community-managed).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa masyarakat? Karena masyarakat, khususnya di lokasi rawan bencana terbiasa dengan ancaman bencana, memiliki pengalaman yang sama dalam menghadapi bahaya dan bencana. Selain itu, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan mengelola usaha-usaha pengurangan resiko bencana secara sistematis dan menjadikan mereka masyarakat yang aman dan memiliki ketahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perencanaan dan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat, masyarakat diajak dan dijadikan sumber pertama secara partisipatif untuk menemukan kajian kapasitas, kajian ancaman dan resiko serta kajian kerentanan dalam kerangka manajemen resiko bencana. Pengenalan kajian tersebut ditujukan untuk mengetahui seberapa besar resiko bencana. Jika ternyata kapasitas masyarakat tinggi sedangkan ancaman, resiko dan kerentanan rendah, maka resiko bencana masyarakat rendah. Namun sebaliknya, jika kapasitas masyarakat rendah sedangkan ancaman dan resiko serta kerentanan tinggi, maka resiko bencana masyarakat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dan pengurangan resiko bencana masih sangat minim. Atau jika dilibatkan, keterlibatan itu sifatnya setengah-setengah. Penekanan oleh masyarakat sangat diperlukan. Masyarakat dilibatkan dalam analisa, kajian kebutuhan dan perencanaan, bahkan dalam pembuatan keputusan yang mendesak. Pola hubungan yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat sebagai fasilitator seharusnya berpola subyek-subyek, di mana masyarakat yang menjalankan dan fasilitator hanya memfasilitasi. Metode yang digunakan sebaiknya pembelajaran berdasarkan pengalaman berkelanjutan yang saling melengkapi, bukan sekedar transfer ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan dan pengurangan resiko bencana berbasis dan oleh masyarakat menempatkan masyarakat sebagai pengambil inisiatif, lepas dari ide, gagasan, proyek pilihan pihak luar. Masyarakat sepenuhnya berkuasa atas seluruh kegiatan. Sehingga perencanaan dan pengurangan resiko bencana melewati tahap demi tahap yang mengerucut menjadi milik masyarakat. Pada akhirnya tercipta kesadaran masyarakat atau yang disebut masyarakat sadar dan tahan bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa melibatkan masyarakat, berbagai usaha yang dilakukan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dalam rangka perencanaan dan pengurangan resiko bencana hanya sebuah proyek jutaan atau bahkan miliaran rupiah yang tidak dimengerti dan tidak didukung masyarakat. Akibatnya masyarakat di lokasi rawan bencana tidak pernah dididik menghadapi bencana, berulang kali mengalami akibat bencana dan menjadi korban paling buruk jika bencana terjadi. Padahal dengan melibatkan masyarakat, masyarakat diajak untuk meningkatkan kapasitas dalam rangka mengurangi resiko bencana. Ancaman, resiko dan kerentanan bencana bisa tinggi dan berubah semakin tinggi, namun jika kapasitas masyarakat ikut ditingkatkan, akan tercipta masyarakat yang sadar dan tahan bencana. &lt;em&gt;(Surya, 14 Januari 2009)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-5168645305566546011?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-nhiKX20rNVJooYoQXgN8YhwB5Q/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-nhiKX20rNVJooYoQXgN8YhwB5Q/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-nhiKX20rNVJooYoQXgN8YhwB5Q/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-nhiKX20rNVJooYoQXgN8YhwB5Q/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/caL8qF4hfRI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5168645305566546011?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5168645305566546011?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/caL8qF4hfRI/masyarakat-jatim-tahan-bencana-dimuat.html" title="Masyarakat Jatim Tahan Bencana" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SW4Q09tQYPI/AAAAAAAAA8E/UPT3V7xryCM/s72-c/Multi_Jatim.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2009/01/masyarakat-jatim-tahan-bencana-dimuat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQAQnY-cSp7ImA9WhZSEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-4606255758191165831</id><published>2008-03-24T22:46:00.005+07:00</published><updated>2011-03-25T21:12:23.859+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-25T21:12:23.859+07:00</app:edited><title>Bangkit Dalam Bencana</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R-fP5Uy_PkI/AAAAAAAAAg4/lLZY-xM_rnQ/s1600-h/situbondob.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 226px; DISPLAY: block; HEIGHT: 167px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181338480055107138" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R-fP5Uy_PkI/AAAAAAAAAg4/lLZY-xM_rnQ/s320/situbondob.jpg" width="289" height="211" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;“Adakah yang berinisiatif membantu kami di sini ?”, “Listrik mati, air mulai naik kami membutuhkan bantuan segera” atau tulisan yang dibawa warga korban lumpur, “Omah kelem, mangan gak oleh. Yok opo iki”.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Demikian ungkapan para korban bencana sejak Desember lalu hingga pertengahan Maret, ketika banjir kembali melanda. Saudara-saudara di lokasi bencana di Ponorogo, Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Cepu, Tuban, Lamongan, Gresik, Kediri, Pasuruan dan Situbondo. Juga warga korban lumpur di seputaran Porong kembali mengetuk keprihatinan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Curah hujan begitu tinggi dan musim hujan ternyata relatif panjang dari prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika yang memperkirakan berakhir pada Februari lalu. Banjir dan tanah longsor menjadi ancaman setiap kali hujan deras terjadi.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ratusan rumah di Situbondo rusak diterjang banjir bandang. Di daerah-daerah lain yang dilanda banjir, ratusan hektar sawah dan tambak terendam, para petani gagal panen, jalan rusak dan jembatan putus menganggu perekonomian. Dalam suasana keprihatinan sedemikian itu, terasa pas seruan Yesus di salib, serupa solider, senasib dengan para korban dan penderita, &lt;em&gt;”AllahKu, Ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”&lt;/em&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Bencana yang mengakibatkan penderitaan dan kerugian tidak dapat dihindari. Namun, bencana, penderitaan dan kerugian mempunyai pengaruh menyempurnakan, mengganti dan mengubah. Aneka kesulitan itu memiliki karakteristik menjernihkan, memiliki sifat menggerakkan, sekaligus menciptakan kewaspadaan serta menghilangkan kelemahan. Itulah hikmah dalam bencana. Itulah kebangkitan, sesudah kematian.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Para korban banjir, pemerintah dan aparaturnya, lembaga swadaya masyarakat, partai politik dan masyarakat dapat belajar dari bencana yang serentak menimpa beberapa daerah. Betapa penting mengkoordinasi bantuan agar bantuan tepat sasaran secara efektif dan efisien tanpa mempedulikan kepentingan pribadi (&lt;em&gt;self interest&lt;/em&gt;). Betapa penting mendahulukan aspek kemanusiaan korban daripada memperdebatkannya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Tak kalah penting ialah deteksi dini demi pengurangan resiko bencana. Juga upaya pencegahan jangka panjang dengan penghijauan dan pemanfaatan tanggul sesuai peruntukan. Habis bencana, penderitaan dan kerugian diharapkan terbitlah kearifan. Orang terkena bencana itu biasa, tetapi orang terkena bencana lalu bangkit lagi itu luar biasa.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Demikianlah, kehidupan lebih kuat dari kematian. Kehidupan yang kuat terpancar dari sikap penuh daya hidup, tidak rapuh dan bahkan tidak memikirkan diri sendiri, merupakan sikap sungguh berharga di dalam dunia ini. Hanya orang yang paling kuat, yang tahan dalam perjuangan mempertahankan hidup (&lt;em&gt;strugle for life&lt;/em&gt;). Sedangkan orang yang tak punya daya hidup, rapuh dan lemah akan rebah dan musnah, sesuai hukum alam yang hanya memungkinkan yang paling kuat yang sanggup bertahan (&lt;em&gt;survival of the fittest&lt;/em&gt;).
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Tak seorang pun ingin menjadi orang malang, melainkan mujur. Tak seorang pun ingin terlalu lama berduka, melainkan bahagia. Serupa pepatah, orang jatuh itu biasa, tetapi orang jatuh lalu bangkit lagi itu luar biasa. Misteri Paskah mengajak untuk menghayati rahasia agung, mati lalu bangkit. Justru dan hanya karena itu manusia dapat hidup dengan sepenuh-penuhnya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Banjir bandang telah merusakkan rumah, menenggelamkan ratusan hektar sawah dan tambak siap panen, meluluhlantakkan jalan dan jembatan, menganggu perekonomian dan membuat kehidupan suram dan sesak. Dalam keadaan tanpa harapan, betapa berharganya sosok pewarta harapan bagi yang mengalami keterpurukan. Pewarta harapan ialah para penyumbang dan sukarelawan yang tergerak hati membantu dengan tulus hati.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Misteri agung, mati lalu bangkit memiliki bentuk yang tak terbilang jumlahnya, seperti perhatian manusiawi yang hangat kepada orang membutuhkan bantuan, tersenyum menyapa dengan sepatah kata yang memberi semangat atau merelakan diri terlibat dalam karya sosial nyata. Semua tanda perhatian yang sederhana ini dapat berarti kehidupan baru yang juga berarti memberi kebangkitan bagi sesama.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Dengan mengambil bagian dalam kebangkitan Yesus yang memberi kehidupan, manusia mengatasi kelemahan, ketakutan akan maut, dosa dan neraka. Partisipasi memberi hidup dengan cara apapun, berarti ikut serta dalam kebangkitan Yesus. Hidup itu lebih kuat dari maut. Cinta kasih, pemberian diri secara radikal telah mengalahkan kematian. Hidup, cinta kasih dan pemberiaan diri itulah yang harus kita wartakan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Inilah pesan paskah, tidak percuma menyerahkan hidupnya sendiri agar orang lain dapat hidup, tidak percuma mengulurkan tangan membantu agar para korban ringan beban hidupnya, tidak percuma mengorbankan waktu, biaya dan tenaga agar para korban kembali memiliki semangat hidup. Selamat Paskah 2008. &lt;em&gt;(Surya, 23 Maret 2008)&lt;/&lt;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-4606255758191165831?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XwBK76vVO2WFBIoQJge0nV26gvs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XwBK76vVO2WFBIoQJge0nV26gvs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XwBK76vVO2WFBIoQJge0nV26gvs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XwBK76vVO2WFBIoQJge0nV26gvs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/A4YCPpy4vfE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4606255758191165831?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/4606255758191165831?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/A4YCPpy4vfE/bangkit-dalam-bencana.html" title="Bangkit Dalam Bencana" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R-fP5Uy_PkI/AAAAAAAAAg4/lLZY-xM_rnQ/s72-c/situbondob.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2008/03/bangkit-dalam-bencana.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck8DSXo7fSp7ImA9WhZSEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-3598956851069424988</id><published>2008-02-17T22:18:00.004+07:00</published><updated>2011-03-25T20:47:58.405+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-25T20:47:58.405+07:00</app:edited><title>Paskah, Korban Dan Pengorbanan</title><content type="html">&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7hSrp5jSYI/AAAAAAAAAdM/x5dcNR9Hmqg/s1600-h/203207485.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; DISPLAY: block; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167971482342738306" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7hSrp5jSYI/AAAAAAAAAdM/x5dcNR9Hmqg/s320/203207485.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Mengapa harus banyak korban ?
&lt;br /&gt;Adilkah ini ?
&lt;br /&gt;Tanpa kita tahu apa salah mereka
&lt;br /&gt;(Puisi: Semenjak 27 Maret 1999)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;Sejak tanggal 28 Januari 2008 lalu, para korban, simpatisan, sanak saudara kekerasan di masa lalu serta beberapa LSM berkumpul di tugu Proklamasi, Jakarta. Mereka bersimpati mengenang korban pembunuhan, pemenjaraan massal 1965, kejahatan terhadap kelompok Islam (peristiwa Tanjung Priok dan Talangsari), pembunuhan misterius 1980-an, operasi militer di Aceh dan Papua, penyerbuan ke Timor Leste, penembakan mahasiswa serta penghilangan dan penculikan aktifis pro demokrasi 1997-1998. Mereka menghendaki penyelesaian aneka kasus kekerasan warisan masa lalu yang tak bisa dilupakan begitu saja. Mereka akan terus mengingat dan menuntut penyelesaian secara bermartabat, yaitu lewat proses hukum dan keadilan yang layak.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Nasib para korban selama ini seolah menggelap karena digelapkan. Negara seakan menggelapkan pelaku, penanggungjawab bahkan negara menjadi pelaku impunitas terhadap kasus tersebut, dengan terus mengabaikan penuntasannya. Bertahun-tahun para korban dan keluarga korban, dengan segala upaya dan daya telah mengartikulasikan segala asa, rasa, dan tuntutan pada setiap mereka yang berkuasa.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ketika para korban memperjuangkan martabat dan keadilan, pada saat yang sama pelangaran dan kekerasan masih terus terjadi. Misalnya, kasus-kasus kekerasan terhadap kebebasan berekspresi, kekerasan terhadap orang atau kelompok yang memiliki keyakinan berbeda. Belum lagi yang terjadi pada kelompok minoritas, pekerja seks komersial di Kediri yang tewas akibat dikejar aparat, diskriminasi terhadap penyandang cacat, kelompok miskin yang jauh dari akses kesehatan, rumah, pekerjaan, serta pendidikan (kelayakan hidup). Tidak terkecuali warga yang menjadi korban pencemaran lingkungan akibat perusahaan melakukan penyimpangan yang merugikan masyarakat. Pendek kata, pembangunan masih mengakibatkan korban baru yang mengabaikan kaum miskin dan marjinal.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Korban&lt;/strong&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ide tentang korban pertama-tama dilakukan oleh suku Andonik, untuk mengenangkan dan lebih memberikan kesan pada generasi penerus. Konsep korban, dosa dan penebusan sangat berkaitan. Korban tidak dapat dilepaskan dari konsep purba tentang dosa dan tabu (larangan).
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Gagasan tentang korban bukanlah perkara yang sederhana. Dorongan untuk menyembah, memunculkan konsep korban. Ada dua jenis korban dalam konsep awal, ialah korban pemberian ucapan syukur (&lt;em&gt;gift&lt;/em&gt;) dan korban hutang. Konsep ini kemudian berkembang menjadi bentuk silih atau penggantian (&lt;em&gt;substitusion&lt;/em&gt;). Selain itu muncul upacara korban pendamaian dan konsep dosa asal. Korban itulah yang diberikan dalam bentuk penyembahan kepada dewa-dewa. Raja Firaun di Mesir pernah mengorbankan ratusan ribu budak, binatang, kapal, patung emas, roti dan uang. Manusia primitif pun masih menganggap hewan adalah kerabat manusia maka korban binatang itu penting. Sesudah itu, kanibalisme berubah menjadi mortifikasi daging. Nilai korban dihitung dari rasa sakit yang diderita, contohnya melukai badan. Konsep korban adalah konsep yang sangat primitif dan tidak beradab.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Kitab Suci mengubah pandangan keliru tentang korban. Firman Tuhan kepada Yesaya mengatakan: &lt;em&gt;"Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak ? Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan, darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda !”&lt;/em&gt; (Yes 1: 11-17).
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Jelas bahwa Tuhan tidak menghendaki korban. Tuhan justru memalingkan wajahNya, meskipun korban bakaran hewan itu jumlahnya banyak. Apalagi korban itu tidak berasal dari hati yang iklas dan hasil kejahatan semata. Tuhan lebih menghendaki perbuatan baik, keadilan, pembelaan terhadap kaum miskin dan marjinal, daripada sekedar korban.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Yesus pun mengatakan, &lt;em&gt;”Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."&lt;/em&gt; (Markus 12:33). Yesus menempatkan korban bukan sebagai bentuk utama persembahan kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan diarahkan dalam bentuk yang bermartabat dan beradab ialah mengasihi Tuhan dan sesama secara nyata.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Yesus menyelamatkan para korban. Banyak kisah Injil yang menunjukkan bagaimana Yesus menyembuhkan mereka yang sakit dan yang buta. Injil Matius menuliskan demikian: &lt;em&gt;“Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan”&lt;/em&gt; (Mat 9:35). Yesus membela seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, yang tak berdaya dan secara sewenang-wenang hendak dijatuhi hukuman yang kejam, tidak berperikemanusiaan dan merendahkan martabat manusia. Yesus membela wanita tersebut karena wanita itu menjadi korban diskriminasi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus yakin manusia berhak mendapatkan perlakuan beradab. Yesus pun memberikan peninggalan baru kebaktian Paskah. Ia memperbaiki inkonsistensi dan kemustahilan teologi sistem kebaktian kepada Tuhan, dari yang semula serba korban bakaran menjadi lebih bermartabat dan beradab.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perbaikan Bukan Penghancuran&lt;/strong&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Konsep tentang korban yang bermartabat dan beradab, bukan lagi mengorbankan suatu obyek. Yesaya membawa konsep baru korban yang lebih bermakna mengorbankan diri atau kerelaan subyek melakukan perbuatan baik, keadilan, pembelaan terhadap kaum miskin dan marjinal. Yesus menghendaki bentuk korban yang nyata ialah mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian, segenap kekuatan dan juga mengasihi sesama manusia. Demikianlah ketika peradaban semakin maju, kesadaran konsep korban itu berkembang, bukan demi penghancuran, tetapi demi perbaikan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Pengorbanan menjadi sangat berarti ketika menjadi ungkapan pemberian diri kepada Allah, yang berarti demi membantu sesama. Korban yang sempurna tak lain ialah pengorbanan Yesus sendiri ketika Ia membawa perbaikan dan keselamatan manusia. Pengorbanan diri Yesus merupakan ungkapan cinta kasih total, mengatasi sekedar pemberian uang derma atau barang material lainya. Pengorbanan diri Yesus membawa perbaikan serupa solidaritas sosial. Yesus menjadi korban yang sama nasibnya dengan para korban kekerasan, ketidakadilan dan ketidakberadaban.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Perendahan diri Yesus, Allah yang menjadi manusia, yang rela menderita, mengekspresikan pemberian (&lt;em&gt;gift&lt;/em&gt;) dan bentuk silih atau penggantian (&lt;em&gt;substitusion&lt;/em&gt;) atas kekerasan, kejahatan, ketidakadilan dan ketidakberadaban. Pengorbanan memang seharusnya lahir dari kerelaan kaum kaya, kuat dan kuasa, bukan sebaliknya. Pengorbanan tidak dapat dituntut secara terus menerus dari pihak korban yang tak berdaya, miskin dan marjinal. Pengorbanan dari mereka yang lemah merupakan, fenomena keliru dan sangat memalukan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Teladan pengorbanan diri Yesus tidak hanya berhenti tataran individual, tapi juga berdampak pada tataran sosial. Dengan kata lain, pengorbanan diri Yesus merupakan pengagungan universalitas nilai-nilai kemanusiaan. Transformasi pengorbanan diri Yesus di kayu salib membuka mata setiap pengikutNya untuk melakukan reorientasi terhadap pola penghayatan keimanannya dengan menafsirkan dan memberi makna baru, arti korban dan pengorbanan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Pada diri Yesus di salib pertama-tama tampilah trauma dan kengerian mendalam untuk tidak mengulang kekerasan, pembunuhan, pemenjaraan, serbaneka kejahatan kemanusiaan, pembunuhan misterius, militerisme, penyerbuan, penembakan, penghilangan serta penculikan. Pengorbanan diri Yesus justru memiliki urgensi makna yang bisa dijadikan legitimasi bagi terwujudnya obsesi-obsesi sosial. Ialah: pentingnya menghormati kehidupan, menghormaati martabat manusia, menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab serta pemerdekaan dari segala bentuk kesewenang-wenangan, kemiskinan, kekerasan, ketidakadilan dan ketidakberadaban
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Maka setiap kali, paskah menampilkan penderitaan dan setiap kali ekaristi mengenangkan penyerahan diri Yesus, itulah kontinuitas yang suci. Agama memang memuat unsur-unsur sakral. Sakralitas, menurut Emile Durkheim, mampu membangkitkan perasaan kagum dan memiliki kekuatan mengatur tingkah laku manusia serta kekuatan untuk mengukuhkan nilai-nilai moral. Demikian pula, paskah mengingatkan para pengikut Yesus untuk tidak setuju terhadap segala bentuk penghancuran martabat hidup manusia secara sadis. Paskah merupakan saat untuk dengan jernih membatinkan pengorbanan diri Yesus yang luhur. Peringatan paskah tidak cukup hanya dengan menangis haru mengingat penderitaan para korban, tetapi solider dengan para korban dan menentang segala cara yang hanya akan melahirkan korban-korban baru. &lt;em&gt;(Inspirasi No. 43 Tahun IV, Maret 2008) &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-3598956851069424988?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tfX9VT9voIN2m_57DgIfdoxGA8c/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tfX9VT9voIN2m_57DgIfdoxGA8c/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tfX9VT9voIN2m_57DgIfdoxGA8c/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tfX9VT9voIN2m_57DgIfdoxGA8c/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/ZjiIww9m-Qo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3598956851069424988?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3598956851069424988?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/ZjiIww9m-Qo/paskah-korban-dan-pengorbanan.html" title="Paskah, Korban Dan Pengorbanan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R7hSrp5jSYI/AAAAAAAAAdM/x5dcNR9Hmqg/s72-c/203207485.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2008/02/paskah-korban-dan-pengorbanan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4ERXgyfCp7ImA9WhZSEE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-3574465297836840131</id><published>2007-07-28T13:51:00.002+07:00</published><updated>2011-03-25T14:08:24.694+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-25T14:08:24.694+07:00</app:edited><title>Mengasihi Ibu (Perempuan), Menolak Ketidakadilan</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RqrnwNtqX2I/AAAAAAAAAFI/OrOBoMBOaQ0/s1600-h/021032.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; DISPLAY: block; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092137144196685666" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RqrnwNtqX2I/AAAAAAAAAFI/OrOBoMBOaQ0/s320/021032.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan saya, ketika masih kecil. Setiap kali majalah anak-anak, Bobo, sampai di rumah, sepulang dari mengajar dan masih berseragam, ibu kami tarik-tarik untuk membacakan dan menceritakan seluruh isi majalah. Maklum kami bertiga belum bisa membaca. Kakak lelaki dan saya di samping kiri dan kanan ibu, sementara adik perempuan kami selalu mengalah, di belakang ibu. Kebiasaan itu kami lakukan sambil berbaring santai di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pelan-pelan membacakan semua tulisan dari &lt;em&gt;cover&lt;/em&gt; sampai halaman belakang, yang biasanya berupa cergam kisah Bobo. Satu persatu, ibu membuka lembar demi lembar majalah, menjelaskan, mengisahkan cerita sehingga kami mengerti, menjawab pertanyaan-pertanyaan, mengelus kepala kami dan mengatakan kata-kata peringatan kalau kami berdebat atau memprotesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, yang kami repotkan. Bukan bapak. Entah mengapa yang kami minta untuk membacakan majalah itu ibu. Saya sendiri juga tidak mengerti. Yang pasti, ibu menjadi tempat pertama masa kanak-kanak kami mendapatkan perhatian. Ibu pula yang lebih memperhatikan kami ketika kami bangun pagi, meyiapkan air hangat untuk mandi, memasak dan menyiapkan sarapan, mengecek persiapan berangkat sekolah, menandatangani ketika nilai tes dapat lima, mengambil rapor, mengingatkan untuk makan, mengingatkan untuk mandi, mengingatkan untuk segera pulang, mengingatkan untuk tidur dan jangan nonton televise terlalu malam dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pun berlaku sampai sekarang ketika kami anak-anaknya sudah berusia 30 tahun. Ibu dengan setuhan khas kasih, perhatian dan empati selalu menyempatkan diri dengan berbagai cara memperhatikan kami. Entah menelpon untuk sekedar mengatakan dan melepas kangen, menngigatkan untuk menjaga kesehatan, intinya supaya anak-anaknya tetap baik. Entah kapan ibu mengurus dirinya, mempersiapkan semuanya dengan cermat dan pas, melakukannya tulus tanpa mengharap kembali, entah kapan ibu mengeluhkan sakit hati maupun fisiknya, tak pernah saya dengar. Justru saya lebih sering menyepelekan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hebatnya ibu. Mengagumkan ! Itulah deretan kata dan masih banyak lagi yang lainnya yang pantas diucapkan mengenai ibu. Ibu seakan berupaya agar anak-anaknya mendapatkan yang terbaik. Tindakan yang ibu lakukan sekecil apapaun, merupakan kombinasi indah kecerdasan intelektual dan terlebih, kecerdasan emosinya, kemampuannya berempati. Entah belajar darimana, sehigga ibu tahu betul bahwa semua proses itu harus dikenalkan sejak dini, agar proses belajar kelak memberikan hasil maksimal. Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya bila anak-anak tidak mendapat kasih sayang, perhatian dan teladan dari seorang ibu. Tentu saja si anak mengalami perkembangan kepribadian yang tak lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu memang memiliki pekerjaan sendiri. Setiap pagi bangun, memasak, menyiapkan makanan di meja maka, lalu berangkat bekerja. Sepulang bekerja, ibu melanjutkan pun tetap mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, ibu tidak seperti kebanyakan aktivis perempuan atau mereka yang sering disebut kaum feminis. Ibu tak pernah sekalipun menyebut dirinya sebagai perempuan yang merasa dirinya menjadi sapi perahan. Ibu tak pernah meratapi bahwa perempuan harus membangun keluarga mulai dari melayani suami dari seks sampai nama baik, pangkat dan karirnya, lalu melahirkan anak-anak yang garis keturunannya ditetapkan sebagai garis keturunan bapak, menyusui, mengasuh anak sampai besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, ibu sebagaimana perempuan lain di banyak negara di dunia hampir tidak memikirkan dirinya sendiri. Namun ibu bukannya tidak mengerti soal hak dan merasa bahwa yang ditanam ke dalam diri mereka adalah tanggung jawab atau kewajiban terhadap orang selain dirinya sendiri. Apalagi menganggap hal itu sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun bagi perempuan-perempuan yang dilahirkan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tak pernah menyesali, peran-peran yang dicanangkan terhadapnya, bahwa perempuan menjadi penjaga hubungan antarmanusia yang diasuhnya dengan sukarela. Ibu tak pernah mengutuki bahwa hidupnya seperti seorang relawan atau seluruh kegiatan domestiknya nyaris tidak dihargai sebagai prestasi. Ibu bukan perempuan bodoh yang sulit mengerti tentang haknya, yang karena ketidakmengertiannya itu, lalu menghindari konflik, demi pertahanan keluarga atau hubungan antar manusia, sebab, hanya hubungan antar manusia itulah yang membuat mereka merasa berharga. Justru ibu menjadi sangat berharga karena ketulusan dan tanggung jawabnya yang sangat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Megawati Soekarnoputri ketika tampil berbicara di forum &lt;em&gt;Federation of Asia-Pasific Women's Association&lt;/em&gt; di Tokyo, Jepang mengatakan, perempuan memiliki peran yang sangat esensial dalam pembangunan. &lt;em&gt;“Tidak ada pembangunan tanpa perempuan dan tanpa perempuan, tidak akan terjadi transfer pengetahuan dan pembelajaran kebudayaan melalui pendidikan”.&lt;/em&gt; Anak perempuan tertua mendiang Bung Karno itu menegaskan, melalui perempuan, generasi baru terus menerus hadir memperjuangkan pembangunan yang dilandasi nilai-nilai etika dan moral.Tiadanya pengasuhan, kasih sayang, perhatian dan teladan dari orang tua, khususnya ibu yang intens, ditambah lagi dengan gencarnya serangan informasi dari luar membuat anak-anak kita semakin lepas kendali. Beberapa fakta menunjukkan kondisi buruk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiadanya kehangatan dekapan serta perhatian orangtua memicu terjerumusnya anak-anak ke tindak kriminal. Narkoba misalnya. Kian hari semakin banyak dan semakin muda usia anak mencoba narkoba. Data Badan Narkotika Nasional 2005 menunjukkan ada 2,2 % dari total pengguna narkoba di Indonesia (sebesar 3,2 juta orang) berusia 10 - 19 tahun. Dan bila sudah mengkonsumsi narkoba, maka seks bebaspun berpeluang terjadi. Apalagi saat ini pornografi sangat marak, ditambah lagi tayangan televisi yang semakin vulgar. Dan ini akan memicu penyebaran penyakit HIV/AIDS, yang saat ini sudah merambah hingga ke ibu-ibu rumah tangga dan bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan keterpurukan ekonomi, semakin tertutupnya kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari, makin terbuka lebar peluang terjadinya pengabaian terhadap kebutuhan dasar anak. Antara lain, kebutuhan akan rasa aman dan bahagia. Banyak anak yang justru menjadi sasaran kekerasan. Para ibu, yang karena sangat letih berperan ganda, selain harus mengurus keluarga juga sibuk mencari uang di luar rumah. Sasaran yang paling tepat, siapa lagi kalau bukan anak-anaknya. Seto Mulyadi, Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, memperkirakan 50-60% orang tua pernah melakukan child abuse dalam berbagai bentuk (Kompas, 9/1/03). Menurutnya, child abuse yang sering diterima anak adalah kata-kata kasar seperti, bodoh, malas dan sebagainya, sampai deraan fisik seperti dicubit atau dipukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kebutuhan akan makanan bergizi. Krisis ekonomi membuat semakin buruk saja kuantitas maupun kualitas makanan bagi anak. Akibatnya sangat banyak anak yang kekurangan gizi. Pada tahun 2000 saja, data Biro Pusat Statistik memperlihatkan bahwa dari 17,9 juta balita, ada 1,35 juta anak (7,54%) yang bergizi buruk, ada 3,07 juta anak (17,15%) yang bergizi kurang. Ironinya buruknya kondisi anak-anak tersebut dimulai sejak ia belum lahir, ketika si ibu sedang hamil. Sedikitnya 51,9% ibu hamil menderita anemia (kekurangan zat besi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kebutuhan akan pendidikan. Kemiskinan juga membuat anak-anak menjadi putus sekolah. Sedikitnya ada 6,6 juta anak (2000) yang tidak bisa sekolah serta ada 7,2 juta siswa SD/SLTP yang terancam putus sekolah. Kondisi akan semakin memprihatinkan bila menyimak jumlah anak yang tidak bisa mengikuti pendidikan dini usia (PADU). Berdasarkan Sensus 2000, dari 26,17 juta anak berusia 0-6 tahun, baru 7,16 juta (27%) yang terlayani pendidikannya melalui berbagai satuan pendidikan dini usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kesibukan orangtua untuk mencari uang membuat mereka tidak sempat lagi mengawasi anak-anaknya di rumah. Mereka tidak lagi sempat memberikan pembelajaran moral maupun spiritual kepada anak-anaknya. Bagi keluarga yang sedikit mampu, mungkin mereka akan menyerahkan pengasuhan anak-anak mereka ke pembantu rumah tangga atau baby sitter, komik, playstation serta televisi atau bahkan membiarkan anaknya. Akibatnya semakin banyak anak yang tak terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa penting dan mendesaknya peran ibu, peran perempuan di tengah situasi serba sulit ini. Sayangnya, selama ini kita terjebak pada pola asuh yang menempatkan laki-laki pada posisi yang lebih tinggi daripada perempuan. Sehingga, saat kita ingin mengubah hal ini, nurani yang telah terbentuk sekian lama ini pun merasa terusik. Layaknya aktivis perempuan atau mereka yang sering disebut kaum feminis yang menyebutkan bahwa perempuan hanya menjadi sapi perahan, mengurus keluarga mulai dari melayani suami dari seks sampai nama baik, pangkat dan karirnya, melahirkan anak-anak yang garis keturunannya ditetapkan sebagai garis keturunan laki-laki, menyusui, mengasuh anak sampai besar, yang merasa perempuan hanya di posisi relawan, karena seluruh kegiatan domestiknya nyaris tidak dihargai sebagai prestasi. Sehingga tak jarang perempuan lalu melepaskan kegiatan domestiknya atau tak mau memberikan air susu ibu kepada bayinya. Padahal, peran ibu atau perempuan sungguh tak tergantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pola hubungan antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan disosialisasikan dari generasi ke generasi perlu disesuaikan. Selama ini, keluarga, sekolah, bacaan dan televisi telah menjadi sumber pengetahuan tentang bagaimana menjadi perempuan atau laki-laki yang ideal, yang sesuai dengan tatanan sosial. Dalam proses internalisasi yang salah kaprah tersebut memang dominasi laki-laki sering ditonjolkan. Hal ini telanjur mengakar kuat dan menjadi dasar pemahaman masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dalam perspektif gender, upaya perbaikan relasi perempuan dan laki-laki bukanlah usaha untuk memerangi laki-laki, melainkan untuk secara perlahan-lahan mengubah struktur dan sistem yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obyek. Karena, pembedaan gender sebenarnya tidak menjadi masalah selama tidak melahirkan berbagai ketidakadilan, berupa subordinasi, marginalisasi, diskriminasi, pelabelan, kekerasan, pelecehan seksual serta beban kerja yang berat sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga, sebagai unit terkecil dari komunitas, memiliki peran penting dalam menginternalisasikan pola relasi yang lebih adil antara perempuan dan laki-laki. Berbagialah bila keluarga memulai dari diri sendiri, dari rumah masing-masing. Dengan paradigma gender, keluarga memberikan contoh kepada anak-anak, bagaimana relasi dalam keluarga harus dibangun atas dasar saling menghargai bukan karena dominasi salah satu pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, perempuan tetap dapat memasak, membangunkan di pagi hari, menyiapkan air hangat untuk mandi, memasak dan menyiapkan sarapan, mengecek persiapan berangkat sekolah anak-anak, mengambil rapor, mengingatkan untuk makan, mengingatkan untuk mandi, mengingatkan untuk segera pulang, mengingatkan untuk tidur dan jangan nonton televisi terlalu malam, menyusui bayinya dan menjalankan peran domestiknya, tanpa harus merasa sedang berada dalam kekuasaan laki-laki. Kasih akan keluarga, suami dan anak-anaklah yang membuat perempuan melakukannya dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Terima kasih perempuan. Terima kasih ibu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-3574465297836840131?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-q-FCQEOuaVT4e5yi14bfD-nQV0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-q-FCQEOuaVT4e5yi14bfD-nQV0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-q-FCQEOuaVT4e5yi14bfD-nQV0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-q-FCQEOuaVT4e5yi14bfD-nQV0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/dO_p6OAoLI0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3574465297836840131?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/3574465297836840131?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/dO_p6OAoLI0/mengasihi-ibu-perempuan-menolak.html" title="Mengasihi Ibu (Perempuan), Menolak Ketidakadilan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RqrnwNtqX2I/AAAAAAAAAFI/OrOBoMBOaQ0/s72-c/021032.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2007/07/mengasihi-ibu-perempuan-menolak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0cCQ389eSp7ImA9WhdRE0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-5597735554628697483</id><published>2007-06-10T23:19:00.003+07:00</published><updated>2011-08-04T01:11:02.161+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-04T01:11:02.161+07:00</app:edited><title>Kelimpahan Itu Pelayanan</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Rm7cEox8jaI/AAAAAAAAAEA/_2-g-7lBHJA/s1600-h/2812990317.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="66" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075235802317622690" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Rm7cEox8jaI/AAAAAAAAAEA/_2-g-7lBHJA/s320/2812990317.jpg" style="cursor: hand; display: block; height: 114px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 170px;" width="202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ego veni ut vitam habeant et abundantius habeant&lt;/em&gt;, inilah motto Uskup Surabaya yang diambil dari Injil Yohanes 10:10. Terjemahannya, &lt;em&gt;“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
Kelimpahan sebuah ide yang diagungkan oleh penganut teologi kelimpahan atau teologi sukses. Mereka beranggapan bahwa Tuhan tidak menghendaki seseorang menjadi miskin dan menganggap orang miskin tidak diberkati Tuhan. Kelimpahan ini pula yang ditentang oleh penganut teologi kemiskinan. Mereka beranggapan bahwa Tuhan mengajak manusia mencari dulu Kerajaan Allah dan menolak materialisme demi mengagungkan asketisme. Kedua teologi itu justru memperlebar jarak antara kaum kaya dan miskin. Padahal Tuhan menghendaki, &lt;em&gt;“orang kaya dan orang miskin bertemu”&lt;/em&gt; (bdk., Amsal 22:2).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teologi pelayanan menawarkan jalan tengah. Teologi pelayanan mempertemukan kaum kaya dan miskin dalam kesatuan, bukan pertentangan. Kelimpahan bukan kutukan, kemiskinan bukan karena tidak diberkati Tuhan. Tuhan memberi manusia masing-masing seturut kesanggupannya. Dalam situasi penuh perbedaan, teologi pelayanan menawarkan keindahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pandangan Kitab Suci Tentang Kelimpahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya materialistik masyarakat jaman ini, telah mempengaruhi cara pandang umat Kristiani tentang harta benda. Padahal harta benda seharusnya menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan. Acara televisi yang sangat populer seperti &lt;em&gt;Deal Or No Deal &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Super Deal 3 Miliar &lt;/em&gt;ikut mempengaruhi umat dalam menghidupi nilai-nilai materialistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, di dalam komunitas Kristiani, orang beriman pun terpengaruh dengan pandangan-pandangan tentang kelimpahan yang bukan diinspirasi dari Kitab Suci. Salah satu bentuk ekstremnya ialah kotbah-kotbah yang amat menekankan kekayaan, sukses dan kelimpahan. Sebaliknya di ekstrem lain, umat Kristiani justru secara radikal menolak gagasan tentang kelimpahan. Bagi mereka, kekayaan justru dianggap sebagai kontradiksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umat perlu memahami apa kata Kitab Suci berkaitan dengan kelimpahan ? Sekilas terlihat bahwa Kitab Suci memandang negatif kekayaan dan kelimpahan. Tidak sedikit orang Kristiani yang menyimpulkan bahwa kekayaan dibenci dalam Kitab Suci. Hal ini disimpulkan dari kotbah Yesus dan para nabi Perjanjian Lama yang melawan materialisme. Seruan Kitab Suci seakan mengajak orang untuk tidak mengejar dan memiliki kekayaan. Jika benar demikian, umat Kristiani yang kebanyakan hidupnya kaya pasti gelisah, karena memiliki kekayaan dianggap bertentangan dengan ajaran Kitab Suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal jika disimak dengan lebih cermat dan komprehensif, ayat-ayat Kitab Suci tentang kekayaan dan kelimpahan maknanya sangat kompleks. Intinya, Kitab Suci mengajarkan tiga prinsip tentang kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, kekayaan tidak dicela. Sebagai contoh, Kitab Kejadian 13:2 mengisahkan Abraham memiliki kekayaan. Kitab Ayub 42:10 mengisahkan Tuhan memberkati Ayub dengan kelimpahan materi. Kitab Ulangan dan Mazmur menuliskan tentang kekayaan sebagai bukti bahwa Tuhan memberkati umatNya (bdk., Ulangan 8:28, Amsal 22:2, Pengkotbah 5:19). Tetapi, meskipun kekayaan dianggap sebagai bukti bahwa Tuhan memberkati, umat beriman tidak begitu saja percaya. Kitab Mazmur, Yeremia dan 1 Timotius menulis dan mengajak umat beriman supaya tidak percaya kepada kekayaan, tetapi percaya kepada Tuhan saja (bdk., Amsal 11:4, 11:28, Yeremia 9:23, 1 Timotius 6:17, Yakobus 1:11, 5:2).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, celaan kepada orang kaya di dalam Kitab Suci lebih diarahkan kepada kualitas kekayaan yang dimiliki, bukan materi kekayaan itu sendiri. Nabi Amos menyerukan perlawanan terhadap ketidakadilan terlebih kepada orang kaya yang memiliki kekayaan melalui penindasan dan pelecehan (bdk., Amos 4:11, 5:11). Nabi Mikha mengkritik adanya ukuran yang tidak adil dan kekayaan yang sangat menyilaukan orang miskin (bdk., Mikha 6:1). Nabi Amos dan Mikha tidak mengkritik kekayaan itu sendiri, melainkan mengecam ketidakdilan yang terjadi, berkaitan dengan cara memperoleh kekayaan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, umat Kristinani sebaiknya memperhatikan efek dari kekayaan yang dimiliki. Kitab Nabi Amsal 30:8-9 dan Hosea 13:6 mengisahkan bahwa kekayaan seringkali mencobai manusia dan mengakibatkan manusia lupa kepada Allah. Orang kaya lebih mudah untuk meninggalkan Allah, justru karena kebutuhan dasarnya telah terpenuhi. Kitab Pengkotbah bab 2 dan 5 menyimpulkan bahwa orang kaya tidak sungguh-sungguh menikmati kekayaannya. Sekalipun memiliki limpah kekayaan, orang kaya sendiri berefleksi bahwa kenyataannya, mereka tidak dapat menikmati kekayaan yang dimiliki. Kitab Nabi Amsal 28:11 dan Yeremia 9:23 menuliskan bahwa kekayaan hanya membuat orang kaya ingin dipuji dan berlaku dengan sewenang-wenang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
Jadi, Kitab Suci sebenarnya tidak mencela kaum kaya. Tetapi mengingatkan kepada siapapun, jika Allah memberkati dengan kekayaan, seseorang tetap memiliki prioritas dalam hidup dan menjaga dirinya supaya tidak jatuh karena godaan kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pandangan Kitab Suci Tentang Kemiskinan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kitab Suci memberi gambaran tentang penyebab kemiskinan dalam beberapa kategori. Penyebab pertama kemiskinan ialah penindasan dan penipuan. Dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama, terbukti bahwa banyak orang menjadi miskin karena ditindas oleh seseorang atau pemerintah (bdk., Amsal 14:31, 22:7, 28:15). Pemerintah dikisahkan sering mempraktekkan hukum yang tidak adil, menurunkan nilai mata uang dan mengubah takaran yang merupakan eksploitasi terhadap kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, kemiskinan dianggap sebagai kesalahan atau hukuman. Kitab Ayub mengajarkan, Tuhan membiarkan setan untuk mencobai Ayub. Dengan kata lain, Tuhan membawa pencobaan kepada Ayub (Ayub 1:12-19). Dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama ditemukan kesalahan manusia dan Tuhan yang menghakimi orang yang tidak setia (bdk., Mazmur 109:16, Yesaya 47:9, Ratapan 5:3). Ketika Israel melanggar hukum Tuhan, Tuhan membiarkan bangsa lain menawan mereka, sebagai hukuman atas ketidaktaatan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, kemiskinan disebabkan oleh kemalasan, keputuasaan dan kerakusan. Amsal menuliskan seseorang menjadi miskin karena kebiasaan buruk dan apatisnya (bdk., Amsal 10:4, 13:4, 19:15, 20:13, 23:21). Penyebab lain kemiskinan ialah budaya miskin. Kitab Amsal 10:15 menuliskan, “kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya, tetapi yang menjadi kebinasaan bagi orang melarat ialah kemiskinan”. Kemiskinan menyebabkan kemiskinan seterusnya dan siklus itu tidak mudah dihentikan. Orang yang bertumbuh dalam budaya statis semacam itu membutuhkan daya juang atau pendidikan sehingga dapat memperbaiki keadaanya dan meraih sukses di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Tiga Perspektif Teologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada tiga perspektif teologi yang mempengaruhi kehidupan manusia jaman ini. Setiap perspektif memiliki pendapat masing-masing yang unik, didukung ayat-ayat Kitab Suci. Tiga perspektif itu adalah: teologi kemiskinan, teologi kelimpahan dan teologi pelayanan. Tidak jarang pertentangan justru muncul dalam memahami kehendak Tuhan dalam Kitab Suci, karena aneka ragam pemahaman mengklaim sebagai yang paling benar. Padahal, untuk dapat menafsirkan kehendak Tuhan, seseorang harus melihat Kitab Suci secara komprehensif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teologi Kemiskinan. Ajaran teologi kemiskinan membuang jauh-jauh segala macam ide duniawi dan segala obsesi terhadap uang. Ajaran ini secara ekstrem menyebutkan bahwa percaya kepada harta benda duniawi dan memilikinya dianggap sebagai kutukan. Teologi kemiskinan menolak materialisme dalam berbagai cara dan bentuk. Hal ini tentu menimbulkan bias terhadap terhadap keberadaan kaum miskin. Anehnya, teologi kemiskinan tidak memberikan jawaban terhadap masalah ini. Orang yang ragu-ragu atau menolak kekayaan sepakat dengan teologi kemiskinan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teologi Kelimpahan. Penganut teologi kelimpahan meyakini bahwa seseorang tidak akan mendapatkan hasil yang baik jika tidak meminta. Penganut teologi ini meyakini betapa berartinya persembahan. Kelimpahan berkat materi akan diperoleh jika seseorang mengikuti prinsip persepuluhan. Kelimpahan materi yang berlipat ganda dan kesuksesan akan didapat karena persepuluhan yang diberikannya. Penganut teologi kelimpahan berpendapat bahwa orang yang tidak kaya tidak mendapatkan, karena tidak memiliki iman. Jadi, tekanan teologi kelimpahan adalah besarnya materi, bukan hubungan dengan Tuhan. Seseorang yang tidak kaya atau tidak menjalankan uangnya dengan baik, dianggap tidak menerima berkat Tuhan. Karena bagi mereka, Tuhan tidak menghendaki seseorang menjadi miskin. Meskipun kebanyakan pengikut teologi kelimpahan justru bergaya hidup konsumtif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teologi Pelayanan. Penganut teologi pelayanan meyakini bahwa Tuhan memiliki dan mengendalikan segalanya. Harta benda materi merupakan kehormatan, bukan sekedar hak. Teologi pelayanan justru tidak manganggap hak milik sebagai yang utama. Penganut teologi pelayanan mengutip ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa harta milik merupakan berkat kepada masing-masing orang seturut ukurannya, kesanggupannya, seturut kodrat seseorang, seturut kemampuan Tuhan memberi serta konsekuensi iman dan ketaatan seseorang mengikuti prinsip-prinsip Kitab Suci. Penganut teologi pelayanan yakin bahwa kekayaan dan kelimpahan merupakan hasil upaya penuh iman mengembangkan talenta yang dimiliki, sesuai berkat Tuhan. Prioritasnya bukan mengumpulkan kekayaan dan meningkatkan kekayaan, tetapi bijaksana dalam mengatur kekayaan. Tujuan penganut teologi pelayanan seperti seseorang yang dikisahkan dalam Mazmur, “Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan” (bdk., Mazmur 112:5, 9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara ketiga prespektif tersebut, mana yang benar ? Justru ketiga deskripsi itu menampilkan kerumitan. Paham teologi sangat tergantung dari latar belakang pendidikan, pengaruh yang mempengaruhi seseorang dan bagaimana seseorang menafsirkan Kitab Suci. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa ketiga perspektif tersebut benar semua. Ada satu pilihan yang menjadi jalan tengah seturut kehendak Tuhan, ialah prespektif pelayanan. Terbukti dengan nyata, bahwa perspektif ekstrem teologi kemiskinan dan kelimpahan justru penuh dengan kekurangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teologi kemiskinan menilai bahwa seorang yang memiliki kelimpahan harta dan uang, pasti telah melakukan ketidakjujuran. Teologi kelimpahan menganggap bahwa orang miskin, pasti tidak diberkati Tuhan, karena tidak mau berusaha. Penganut kedua teologi itu tidak pernah memikirkan seruan Kitab Suci, “orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua adalah Tuhan” (bdk., Amsal 22:2). Karena, Tuhan menghendaki perdamaian seluruh lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Teologi Pelayanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teologi pelayanan mendamaikan teologi kemiskinan dan teologi kelimpahan. Teologi pelayanan merangkum unsur-unsur yang baik dari dua kubu teologi. Karena gagasan pelayanan menawarkan keseimbangan Sabda Tuhan berkaitan dengan uang dan kekayaan. Apalagi, istilah teologi kelimpahan dan teologi kemiskinan telah membentuk sudut pandang yang justru menunjukkan pertentangan di antara keduanya. Teologi pelayanan mencantumkan gagasan indah tentang berkat Tuhan, sekaligus memberikan teguran jika tidak peduli terhadap kaum miskin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak gagasan pelayanan dalam Kitab Suci, semuanya berupa seruan tentang pelayanan dan melayani. Padahal menjadi pelayan, tidak sekedar memiliki sikap hidup atau cara pandang selaku seorang abdi. Pelayan berarti memiliki sikap iman yang peduli terhadap kepentingan orang lain, tidak mementingkan kepentingan diri sendiri. Kelemahan dalam teologi kelimpahan dan teologi kemiskinan ialah tidak adanya analisa pemecahan. Ibarat seseorang menjadi tuan rumah untuk sebuah perjamuan, maka persiapan dan pembersihan sama pentingnya dengan acara jamuan itu sendiri. Maka, dua hal harus diperhatikan, pekerjaan dan hasilnya. Teologi kemiskinan secara ektrem menekankan pekerjaan tanpa pamrih, sedangkan teologi kelimpahan secara ekstrem menekankan hasil materi secara berlebihan. Teologi pelayanan justru menekankan kehidupan yang seimbang, mensyukuri kelimpahan berkat dari Tuhan sekaligus melayani sesama dengan penuh kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlihat adanya kekurangan dalam pandangan kedua teologi tersebut. Padahal jika disimak dengan teliti, terlihat jelas perbedaan yang masuk akal di antara kedua teologi dibandingkan dengan teologi pelayanan. Tidak sedikit umat Kristiani yang gelisah, tidak puas dan tidak bahagia karena tidak memahami makna harta benda duniawi. Kebanyakan umat tidak bisa menggabungkan praktek keuangannya dengan hidup beriman. Bedasarkan tabel di bawah ini, berdasarkan ayat-ayat Kitab Suci yang menjadi acuan, seseorang bisa memutuskan bahwa teologi pelayanan menjadi jalan tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penelitian Kitab Suci yang mendalam menunjukkan orang beriman hidup dalam ragam situasi ekonomi. Sebagai contoh, Daniel bekerja sebagai seorang sekertaris kelompok administrasi kelompok agamanya dan hidup dalam gaya hidup kelas menengah atas. Yehezkiel tinggal di luar kota yang dapat dianggap sebagai kelas menengah. Dan Yeremia tentu hidup dalam gaya hidup kelas bawah. Setiap orang memuji Tuhan dan mengikuti Tuhan seturut kehidupannya masing-masing. Mereka hidup dalam gaya hidup kelas tertentu yang berbeda-beda. Umat Kristiani harus menolak sebuah asumsi sempit yang menomersatukan kelas tertentu. Tidak ada suatu gaya hidup kelas tertentu yang ideal untuk orang Kristiani. Kelas tertentu tidak otomatis dianggap yang terbaik. Sebaliknya, seseorang harus mencari Tuhan dan mengikuti kehendakNya sesuai panggilan hidupnya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Arus Sentrifugal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang rahib perempuan, Santa Theresia Avilla memberikan pencerahan mengatasi perbedaan diametral antara teologi kelimpahan dan teologi kemiskinan. Pertapa Karmelit itu semacam memberi jalan tengah di antara dua esktrem teologi tersebut. Menurut Theresia Avilla dalam diri setiap manusia terdapat dua jenis arus pokok, yaitu dorongan arus sentrifugal yang terus hendak mengalir keluar. Lalu ada juga arus sentripetal yaitu arus yang terus hendak mengalir masuk. Pemuda kaya dalam Injil adalah tipe manusia dengan arus sentripetal. Ia ingin mendapatkan segala sesuatu bagi dirinya, baik harta, nama baik, bahkan keselamatan kekal. Yesus mengatakan bahwa si pemuda harus membalik arus tersebut secara revolusioner, menjadi arus sentrifugal yang mengalir keluar. Maka ia dianjurkan untuk menjual segala hartanya dan membagi-bagikannya dengan orang miskin. Setelah berhasil mengubah arus pokok dirinya dari sentripetal menjadi sentrifugal barulah pemuda siap mengikuti Yesus menjadi muridNya sehingga memperoleh kehidupan kekal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh manusia yang memiliki arus sentrifugal, tidak lain ialah Yesus sendiri. Yesus mengorbankan segalanya untuk umat manusia. Yesus telah mengorbankan statusnya sebagai Allah dengan menjadi manusia. Ia mengorbankan masa muda dan seluruh kehidupannya dengan cara hidup sebagai orang miskin. Ia mengorbankan nama baikNya dengan cara mati terhina di salib. Ia bahkan mengorbankan jubah dan bajunya sewaktu disalibkan. Ia mengorbankan seluruh Tubuh dan DarahNya yang termulia, bahkan nyawaNya untuk menebus dosa umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekeliruan lainnya berasal dari salah penafsiran tentang kelimpahan yang Allah berikan melalui kekayaan alam. Jika menyaksikan betapa banyaknya ikan di laut, maka ikan-ikan itu cukup untuk menghidupi seluruh umat manusia di dunia ini. Jika melihat padi di sawah, maka akan terlihat bagaimana satu biji padi dapat menghasilkan demikian banyak bulir-bulir padi baru. Jadi Allah adalah Allah yang memberi kelimpahan. Dalam diri Allah tidak ada arus masuk, semuanya merupakan arus keluar. Kasih itu memberi. Kodrat kasih adalah kodrat memberi secara total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang melihat Tuhan sebagai Tuhan Yang Mahakuasa sehingga memunculkan teologi kelimpahan. Sebutan yang sempat popular ialah teologi sukses. Padahal Allah tidak menuntut atau memakai apapun bagi diriNya sendiri. Allah mengajar manusia untuk memberi dan bukan untuk meminta atau menuntut. Dengan demikian, teologi kelimpahan harus diluruskan pemahamannya sebagai teologi yang mengajarkan memberi secara murah hati, bukan teologi yang mengejar kelimpahan harta benda duniawi demi kepentingan diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemiskinan yang melanda bangsa Indonesia, sikap glamour yang menolak praktek hidup sederhana dan rela berkorban, membuat bangsa ini menjadi konsumtif sebelum menjadi produktif. Kondisi ini diperparah dengan jebakan formalisasi ajaran (ortodoksi), sehingga agama menjadi mandul dalam praksis sosial (ortopraksis). Padahal, formalitas ritual dan ajaran, betapapun baiknya selalu bersifat parsial. Kepenuhan hidup justru tercapai lewat penghayatan iman yang terfokus pada Allah yang rela mengorbankan diri. Kelimpahan dan kepenuhan hidup niscaya jika umat beriman berpartisipasi dalam pengorbanan. &lt;em&gt;(dimuat dalam buku, Memahami Motto Uskup Surabaya, Ut Vitam Abundantius Habeant, Seri Unio I / 2007)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-5597735554628697483?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kgXoKmVLnLdm8Qxnjqy7BtpFtQs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kgXoKmVLnLdm8Qxnjqy7BtpFtQs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kgXoKmVLnLdm8Qxnjqy7BtpFtQs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kgXoKmVLnLdm8Qxnjqy7BtpFtQs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/b78z_et4Jh0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5597735554628697483?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5597735554628697483?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/b78z_et4Jh0/kelimpahan-itu-pelayanan.html" title="Kelimpahan Itu Pelayanan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Rm7cEox8jaI/AAAAAAAAAEA/_2-g-7lBHJA/s72-c/2812990317.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2007/06/kelimpahan-itu-pelayanan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQNSX0zfip7ImA9WBFbEkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-5518258042785369315</id><published>2007-05-03T23:55:00.000+07:00</published><updated>2007-05-04T00:13:18.386+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-05-04T00:13:18.386+07:00</app:edited><title>van Lith, van Java</title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RjoX_GSUkII/AAAAAAAAADA/1Fbt-BEjyE4/s1600-h/candle.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060383504090828930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 260px; CURSOR: hand; HEIGHT: 212px; TEXT-ALIGN: center" height="240" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RjoX_GSUkII/AAAAAAAAADA/1Fbt-BEjyE4/s320/candle.jpg" width="260" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;SAV-Puskat, Yogyakarta mengeluarkan film baru berjudul Bethlehem van Java. Film berdurasi 63 menit yang disutradarai Rm. FX. Murtihadiwijayanto, SJ ini mengisahkan sosok Rm. Josephus van Lith, SJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van Lith, nama yang dikenal sebagai nama sekolah bagus di Jalan Kartini no.1, Muntilan, Jawa Tengah. Misionaris Jesuit asal Belanda ini dikenal memiliki perhatian terhadap pendidikan, merintis karya Gereja di tanah Jawa dan dikenal berkaitan dengan Gua Maria Sendangsono tempat di mana beliau pernah membaptis banyak orang. Makamnya di kompleks kerkop Muntilan pun selalu dikunjungi para peziarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bethlehem Van Java, memang hendak mengisahkan ketokohan Romo Fransiskus Gregorius Yosephus van Lith, SJ. Seorang imam kelahiran Belanda, anak seorang juru sita pegadaian yang ditahbiskan tanggal 8 September 1894. Imam yang bermodalkan ketaatan berangkat misi ke Hindia Belanda, tiba di Semarang tahun 1896. Tokoh yang semula tidak berminat untuk bermisi, yang kemudian memulai misinya dengan mempelajari konteks setempat, yang ketika manjalankan misi harus konflik dengan katekis, pimpinan, bahkan dengan teman seserikat dan semisinya. Itu semua karena pengenalan dan praktek pastoralnya yang begitu mendarat. Ia mengetahui uang misi diselewengkan, menemui umat yang sudah dibaptis namun imannya tidak berakar serta mengalami konflik dengan temannya karena perbedaan paradigma bermisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo van Lith berbeda dengan kawannya Romo Hoevenaars, SJ. Ia menterjemakan doa Bapa Kami dengan citarasa Jawa, daripada persis dalam Kitab Suci. Konflik mereka, tertulis dalam sebuah buku yang merupakan perdebatan visi masing-masing. Romo van Lith yang idealisme misinya bukan sekedar menambah jumlah baptisan, sebagaimana dilakukan kawannya di Mendut, justru dianggap gagal. Misi di Muntilah bahkan akan ditutup. Namun, rencana Tuhan sungguh indah ketika Sarikromo dan teman-temannya dari Kalibawang memohon van Lith mengajarkan iman Katolik. Sampai suatu saat van Lith membaptis 171 orang di Sendang Sono yang kemudian dikenal sebagai tempat awal misi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Muntilan tidak berakhir. Justru van Lith kian bersemangat melayani orang Jawa. Ia mendidik, menemani, menyelami, memahami, memberi dan menerima dengan belajar, bermain dan hadir bersama orang Jawa. Kedekatan Romo van Lith membuatnya dianggap bapak bagi mereka. Kedekatan itu pula yang membawanya pada posisi membela orang pribumi. Karena itu van Lith dianggap meresahkan pihak Belanda, terlebih ketika duduk dalam Volksraad (Dewan Rakyat) menyampaikan De Politiek Van Nederland Ten Opzichte Van Nederlandsch-Indie yang antara lain mengatakan: "...Kulit putih tidak dapat lagi bertahan di Asia. Sangatlah berbahaya bermain api, untuk berlagak congkak terhadap bangsa Hindia Belanda. Akuilah hak mereka..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata tajam kritikan van Lith tentu mengundang kontroversi, baik di kalangan misionaris maupun pemerintahan. Ketika kemudian van Lith mengalami sakit, itu dianggap sebagai kutukan atas sikap kritisnya. Atas alasan itu pula ia diijinkan pulang ke Belanda pada tahun 1921. Entah untuk berobat atau untuk meminggirkannya dari Tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun cinta van Lith pada Tanah Jawa belum surut. Dari Belanda, di saat memulihkan sakitnya, van Lith menuliskan kritik keras atas pemerintahannya. Ia pun kembali ke Hindia Belanda tahun 1924 demi cintanya kepada orang pribumi. Romo van Lith perlahan namun pasti terus mengubah tanah Jawa yang kering dan gersang menghasilkan buah. Namun apalah, Romo van Lith hanyalah pekerja dan ia pun harus berpulang ketika Sang Empunya tuaian memanggilnya untuk selama-lamanya pada tahun 1926.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van Lith, ternyata bukan sekedar nama sebuah sekolah bagus. van Lith juga bukan sekedar tokoh misi maupun pendidikan. van Lith adalah perubahan. Ia mengubah dan diubah, mengubah Tanah Jawa yang kering dan gersang menjadi subur sekaligus diubah dari keenganan bermisi ke Hindia Belanda menjadi rindu-cinta Tanah Jawa. Semula misi begitu tak menarik, hanya demi ketaatan belaka, hingga akhirnya ibarat lilin yang harus meleleh tak berguna, van Lith harus menyala bagi Tuhan. Ia menyala bagi Tuhan dalam sosok misionaris dengan visi humanis-teosentris-antroposentris. van Lith tidak sekedar menampilkan wajah Gereja yang agung, megah dan hirarkis. van Lith justru menghadirkan wajah Gereja yang dekat dengan umat, hadir dan ada bersama, merasul-merakyat-merangkul utuh kegelisahan konteksnya, meskipun tanpa jubah, menonton wayang kulit, bermain catur, namun rela melepas jaket tebalnya untuk anak-anak yang ditemuinya tidur kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah dirintis van Lith persis dengan gagasan Romo YB. Mangunwijaya, Pr tentang Gereja yang ajur-ajer. Tentang bagaimana upaya Gereja agar manusia Indonesia diperlakukan secara benar dan manusiawi, khususnya bagi mereka yang paling lemah dan terpinggirkan. Lebih jelasnya seperti yang dikatakan Mangunwijaya berikut ini: “Ajur-ajer sebagai garam dalam masyarakat adalah sesuatu yang baik dan yang dianjurkan dalam kalimat pertama Gaudium Et Spes. Ajur artinya sependeritaan dengan masyarakat. Ajer artinya tidak menjadi semacam getto yang merongkol terisolasi. Tetapi tetap punya identitas sendiri, sadar akan tugas khas Kristiani di tengah dunia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pesan terdalam dari sosok Josephus van Lith, SJ yang tidak mungkin dijawab oleh patung beliau di kompleks SMU van Lith, Muntilan. Namun disajikan dalam film Bethlehem van Java ini. (A. Luluk Widyawan, Pr tinggal di Ponorogo)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-5518258042785369315?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eoC2LWkasJXEoEx-emh8Wd6JmCw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eoC2LWkasJXEoEx-emh8Wd6JmCw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eoC2LWkasJXEoEx-emh8Wd6JmCw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eoC2LWkasJXEoEx-emh8Wd6JmCw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/tNiM1fcQ5G0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5518258042785369315?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/5518258042785369315?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/tNiM1fcQ5G0/van-lith-van-java.html" title="van Lith, van Java" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RjoX_GSUkII/AAAAAAAAADA/1Fbt-BEjyE4/s72-c/candle.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2007/05/van-lith-van-java.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0UFRXw4fip7ImA9WBFVFkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-2422738603480978544</id><published>2007-04-16T00:40:00.000+07:00</published><updated>2007-04-16T00:46:54.236+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-04-16T00:46:54.236+07:00</app:edited><title>Jesus Of Nazareth, Buku Baru Paus Benediktus XVI</title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RiJkidxzQuI/AAAAAAAAACs/6BLZr3ztMrM/s1600-h/JON.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053712275134956258" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 271px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px; TEXT-ALIGN: center" height="240" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RiJkidxzQuI/AAAAAAAAACs/6BLZr3ztMrM/s320/JON.jpg" width="271" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Paus Benediktus XVI mempersembahkan perenungan pribadinya terhadap hidup dan karya Yesus Kristus dalam buku perdananya dalam jabatan Paus. Ia mengkritisi kekejian eksploitasi kapitalisme terhadap kaum miskin, sekaligus mengutuk ketiadaan Tuhan dalam Marxisme.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam buku berjudul Yesus Dari Nazareth yang diluncurkan perdana Jumat 13 April 2007, Paus Benediktus menyentuh tema-tema yang sedang marak dalam dua tahun terakhir masa jabatannya, ialah lemahnya spiritualitas kehidupan materialistik modern, di mana manusia seolah bisa melakukan apapun tanpa Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buku tersebut juga menunjuk beberapa hal yang menjadi perhatian Paus Benediktus sejak beliau menduduki jabatan dalam Kongregrasi untuk Ajaran Dan Iman, saat beliau mengkritisi teologi pembebasan – ialah teologi keselamatan sebagaimana pembebasan dari ketidakadilan yang terkenal di Amerika Latin. Paus Benediktus menekankan bahwa buku tersebut, yang mulai ditulis tahun 2003 saat masih menduduki jabatan sebagai Kardinal Joseph Ratzinger, merupakan ungkapan pribadinya dalam pencarian wajah Tuhan dan memang merupakan bagian dari ajaran Gereja Katolik Roma. “Setiap orang bebas, sekalipun harus bertentangan dengan saya”, kata beliau. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Paus Benediktus, teolog yang produktif sebelum dia menjadi Paus – menjelaskan bahwa Injil yang di dalamnya memuat pelayanan publik Yesus, memberi dasar bagi iman Kristiani bahwa Yesus adalah Tuhan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Paus benediktus menuliskan, Apa yang sungguh-sungguh dibawa oleh Yesus, jika Ia tidak hanya membawa damai bagi dunia, kebaikan untuk semua dan dunia yang lebih baik? Jawabnya sungguh sangat sederhana: Yesus membawa Tuhan. Yesus membawa Tuhan Allah Yang Esa yang secara bertahap mewahyukan diri pertama kali kepada Abraham, lalu kepada Musa dan para nabi, lalu dalam kitab kebijaksanaan – Tuhan yang menampakkan wajahNya hanya di Israel, yang juga dimuliakan di antara kaum penyembah dalam aneka rupa. Inilah Tuhan, Tuhan Allah Abraham, Iskak, Yakob, adalah Tuhan yang sesungguhnya, yang dihadirkan kepada umat manusia di dunia. Yesus menghadirkan Tuhan dan sekarang kita melihat wajahnya, sekarang kita dapat menyapanya. Sekarang kita tahu bagaimana manusia ada di dunia. Yesus telah membawa Tuhan dan dengan Tuhan Allah yang benar kita tahu kemana dan darimana asal kita, tak lain dari iman, harapan dan kasih.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagaimana kutipannya sebagai berikut: &lt;em&gt;The great question that will be with us throughout this entire book: But what has Jesus really brought, then, if he has not brought world peace, universal prosperity, and a better world ? What has he brought ? The answer is very simple: God. He has brought God ! He has brought the God who once gradually unveiled his countenance first to Abraham, then to Moses and the prophets, and then in the wisdom literature—the God who showed his face only in Israel, even though he was also honored among the pagans in various shadowy guises. It is this God, the God of Abraham, of Isaac, and of Jacob, the true God, whom he has brought to the peoples of the earth. He has brought God, and now we know his face, now we can call upon him. Now we know the path that we human beings have to take in this world. Jesus has brought God and with God the truth about where we are going and where we come from: faith, hope, and love.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buku setebal 448 halaman itu akan diedarkan di Jerman, Italia dan Polandia pada 16 April 2006 bertepatan dengan ulang tahun Paus. Versi bahasa Inggrisnya akan terbit tanggal 15 Mei dan akan diterjemahkan dalam 16 bahasa lainnya. Buku tersebut merupakan edisi pertama dari dua jilid yang diterbitkan oleh penerbit Itali Rizzoli, kata Benediktus yang saat ini masih menyelesaikan terbitan kedua tentang kelahiran Yesus, penyaliban dan kebangkitanNya.“Yesus dari Nazareth” membahas hal-hal penting tentang kehidupan dan pelayanan publik Yesus, termasuk seluruh bagian tentang sabda di bukit, saat Yesus memuliakan kaum miskin, yang lemah lembut dan yang kelaparan dengan ungkapan “Bahagia”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Benediktus kemudian merefleksikan bagaimana sabda tersebut tetap relevan bagi dunia jaman sekarang.“Setelah sejarah pengalaman panjang dengan penguasa totaliter, setelah masa-masa penuh dengan cara-cara sadis di mana penguasa menginjak-injak manusia lain, melecehkan, memperbudak dan memangsa kaum yang lemah, kita semua tahu apa yang baru untuk mereka yang kelaparan dan haus akan keadilan’, tulis Benediktus.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dihadapkan dengan pembusukan kekuatan ekonomi, dengan kekejaman kapitalisme yang merendahkan manusia hanya sebagai barang saja, kita harus mulai melihat secara jelas telah terjadi ketidaksejahteraan dan kita tahu, bagaimana Yesus memperingatkan kita mengenai pentingnya kesejahteraan. Benediktus menegaskan pesan tersebut di bab lain, berupa perumpamaan biblis tentang orang Samaria dan pentingnya mengasihi sesama satu sama lain.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada bagian ini, Benediktus mengutuk kaum kaya yang menindas Afrika dan Negara Dunia Ketiga secara material dan spiritual, melalui penjajahan. Paus juga mengkritik gaya hidup orang kaya, yang mengkonsumi narkoba, memperdagangkan manusia, wisata seksual, dan aneka penghancuran harkat hidup manusia, yang hanya mementingkan kepentingan material belaka. Negara-negara kaya yang terus-menerus merugikan negara dunia ketiga dengan memberikan hutang yang seharusnya bantuan semacam itu sudah menjadi kewajiban, “Bantuan semacam itu jauh dari sikap relogius moral dan struktur sosial yang seharusnya dan hanya merupakan mentalitas pemberian yang tidak ada artinya”, tulis Benediktus.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di bab lain, Benediktus mengkritik Marxisme, menganggapnya meniadakan Tuhan dalam kehidupan. “Saat Tuhan dianggap sebagai keillahian yang sekuder, yang dapat sewaktu-waktu atau secara tepat digunakan untuk hal-hal yang lebih penting saja, sungguh sesuatu yang keliru. Pengalaman kaum Marxis telah memperlihatkan hasil yang buruk”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebaliknya Benediktus memuji ajaran sosial Yesus yang adil, sangatlah kurang tepat menyimpulkan bahwa Benediktus menempatkan pandangan Yesus sebagai seorang reformis sosial sebagaimana yang disebut teologi pembebasan” , kata Kardinal Christoph Schoenborn, uskup Vienna dan sahabat baik Paus.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa unsur tentang teologi pembebasan sangatlah berbeda dengan ajaran Gereja karena ajaran tersebut menempatkan Yesus melulu sebagai pembebas sosial. Vatikan menunjuk teologi pembebasan didasarkan pada analisa sosial Marxisme – khususnya gagasan mengenai perjuangan kelas untuk perbaikan hidup sosial, politik dan keadilan ekonomi untuk kaum miskinKardinal Schoenborn mengacu pada pemikiran Benediktus mengenai teologi pembebasan, saat Vatikan mempromosikan buku tersebut dengan mengatakan, “Penggambaran Yesus dalam aneka macam khayalan seperti Yesus sebagai Sang revolusioner, sebagai reformis sosial yang moderat, sebagai kekasih gelap Maria Magdalena dan lain sebagainya…perlahan-lahan akan terkubur dalam peti mati sejarah” Saat ditanya tentang perenungan Benediktus tentang teologi pembebasan, Schoenborn memberi catatan bahwa Paus "akan secara khusus memberi penerangan tentang teologi pembebasan yang benar, saat Paus mengunjungi Brazil 9-14 Mei nanti. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekalipun Yesus dari Nazareth merupakan buku pertamanya sejak menjabat Paus, beliau sebenarnya telah menulis lusinan buku yang mengulas berbagai unsur teologi dan ajaran Gereja. Buku yang diluncurkan Paus dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kelahirannya ke 80 tahun, tepatnya tanggal 16 April 2007 merupakan catatan reflektifnya mengenai hidup Yesus. Koran Italia, Corriere della Sera dan mingguan berbahasa Jerman, Die Zeit menuliskn bahwa buku tersebut merupakan bagian pertama dari dua bagian, berisi 10 bab, berisi tentang Paus yang mengikuti Yesus sejak pembaptisanNya di Sungai Yordan hingga perubahan rupaNya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menarik sekali dalam kata pembukaan, Paus Benediktus mengatakan bahwa isi buku tersebut bukan dokumen ajaran yang dogmatis tetapi merupakan buah tafsiran dan meditasi pribadi, dan memberi kesempatan pembaca untuk: bebas tak sependapat. &lt;em&gt;(A. Luluk Widyawan, Pr, disarikan dari berbagai sumber: Associated Press dan Catholic News Agency)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-2422738603480978544?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1-7bOLArs04DZ91v6eiZIsPaRVg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1-7bOLArs04DZ91v6eiZIsPaRVg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1-7bOLArs04DZ91v6eiZIsPaRVg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1-7bOLArs04DZ91v6eiZIsPaRVg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/qP80MbzNFZ8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2422738603480978544?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/2422738603480978544?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/qP80MbzNFZ8/jesus-of-nazareth-buku-baru-paus.html" title="Jesus Of Nazareth, Buku Baru Paus Benediktus XVI" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RiJkidxzQuI/AAAAAAAAACs/6BLZr3ztMrM/s72-c/JON.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2007/04/jesus-of-nazareth-buku-baru-paus.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0QBQ3wzeip7ImA9WhZSEEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-116920353596035851</id><published>2007-01-19T17:41:00.002+07:00</published><updated>2011-03-25T23:42:32.282+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-25T23:42:32.282+07:00</app:edited><title>Politik Demi Kesejahteraan Rakyat</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4379/1862/1600/220993/2101031634.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 257px; DISPLAY: block; HEIGHT: 95px; CURSOR: hand" border="0" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4379/1862/320/458154/2101031634.jpg" width="257" height="37" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komentar Mayjen TNI (Purn) Basofi Sudirman tentang politik di Indonesia, dalam diskusi di Kantor Redaksi Surya, patut dicermati. Menurutnya, mulai Orla, Orba, sampai sekarang, politik yang dibicarakan hanya politik membangun kekuasaan. Hal ini sudah menjadi watak, bukan watuk (batuk). Watuk bisa diobati, kalau watak tidak. Ia menambahkan, meskipun pemilu sudah selesai, masih saja ingin membangun kekuatan kekuasaan &lt;em&gt;(Surya, 17/1/2007)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, ketika rakyat menjerit menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, para wakil rakyat justru sibuk mengusulkan kenaikan gaji dan menuntut fasilitas yang lebih baik bagi diri sendiri. Ketika keprihatinan bangsa ini terarah pada masalah pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme, orang belajar dari media massa, justru KKN itu sekarang semakin parah dilakukan oleh orang-orang yang dulu berteriak berantas KKN. Ketika bangsa ini sedang prihatin mempertanyakan masa depan anak-anak mereka, para politikus sibuk berebut lahan basah dan menjajaki kemungkinan aliansi atau membentuk kaukus untuk menyiapkan masa depan kemenangan partai masing-masing. Ketika para pencuri ayam, dan para penjahat kelas teri tewas di tangan massa, para koruptor kelas kakap, konglomerat pengemplang uang negara, dan provokator pengadu domba rakyat dibiarkan hidup tenang menikmati hasil kejahatan mereka. Kriminalitas rakyat kecil digunakan untuk menutupi ilegalisme penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, komentar mantan Gubernur Jatim tersebut bisa diartikan sebagai ungkapan kekecewaan sekaligus sebuah peringatan untuk menafsir ulang kembali makna politik. Ungkapan kekecewaan tersebut dilatarbelakangi sebuah pemahaman, bahwa politik sebenarnya bukan pertama-tama untuk membangun kekuasaan, melainkan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Makna politik yang asali harus dikembalikan, yaitu politik seharusnya menjadi sarana untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Realitas Politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini politik menjadi isu yang marak diperbincangkan. Masalah politik lebih mendominasi dan seakan-akan masalah politik sajalah persoalan terpenting dalam hidup berbangsa. Perhatian sebagian besar masyarakat disedot untuk masalah-masalah politik. Bahkan ada penilaian negatif, politik sudah menjadi salah satu mata pencaharian dan sumber nafkah. Makna politik tidak lagi dipahami sebagai persoalan distribusi kekuasaan yang salah satu agendanya menciptakan kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat bisa menilai bahwa para elite politik kita sebenarnya tidak memahami substansi politik. Politik dipahami hanya sebagai ajang meraih tangga kekuasaan dan jabatan belaka. Pendapat yang muncul di kalangan masyarakat pun negative. Politik itu kotor, politik itu penuh kekerasan, politik itu ajang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, tidak lain disebabkan oleh oknum-oknum pelaku politik yang menyalahgunakan dunia politik demi kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas politik justru menjadi realitas yang tidak sehat di masyarakat. Sering praktek yang ada menunjukkan bahwa partai-partai politik yang ada memiliki tingkat keserakahan dan korupsi yang tidak bisa lagi ditoleransi, pula pelaku politik yang memiliki track record yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, negara lebih boros membiayai kepentingan-kepentingan lembaga politik, untuk gaji anggota DPR dan iuran partai politik, tetapi sangat pelit untuk menaikkan gaji guru. Kalau untuk membayar anggota DPR, negara seperti berlimpah uang, tetapi untuk gaji guru selalu mengeluh kekurangan uang. Alokasi anggaran pendidikan 20% dari APBN tidak terwujud. Tampak jelas bahwa, politik anggaran dan politik kesejahteraan tidak saling menunjang. Kesejahteraan selalu dikalahkan politik anggaran. Sementara itu, korupsi dan kebocoran APBN terjadi di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai produk hukum yang tidak berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Sebagai contoh, PP No. 37/2006, tentang tunjangan komunikasi dan dana operasional kepada legislatif yang dinilai banyak kalangan sangat memberatkan anggaran daerah. Selain itu, penolakan peraturan pemerintah tersebut akan mengerogoti belanja untuk rakyat, membuka peluang terjadinya korupsi dan perampasan uang rakyat secara legal oleh para anggota DPRD, merusak distribusi belanja daerah yang diamanatkan dalam UU No. 32/2004, yang hendak meningkatkan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta pengembangan sistem jaminan sosial. Jelaslah bahwa pemberian tunjangan tersebut tidak pantas dengan kondisi masyarakat sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu, reaksi keras kaum buruh berkaitan dengan revisi UU No 13/2003 tentang ketenagakerjaan, mengingatkan wakil rakyat untuk memikirkan kesejahteraan buruh. Protes kalangan pendidikan muncul berkaitan dengan pemberlakuan UU No. 14/2005 yang mengatur masalah penghasilan, karena para guru dan dosen pun belum mendapat penghasilan sebagaimana mestinya. Saat ini nasib guru masih jauh di bawah standar, terutama guru bantu dan guru tidak tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruknya realitas politik, menunjukkan dari kuatnya posisi birokrasi dalam sistem dan proses politik. Hal ini terjadi akibat tumbuhnya persepsi bahwa pembangunan adalah prakarsa pemerintah (&lt;em&gt;state sponsored&lt;/em&gt;). Salah satu wujud dari persepsi itu dalam pembangunan politik adalah munculnya pembinaan hubungan patron-client antara negara dengan masyarakat. Budaya patron-client ini juga tumbuh di kalangan pelaku politik. Mereka lebih memilih mencari sponsor dari atas, daripada menggali dukungan dari basisnya. Akibatnya, kesejahteraan rakyat terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Politik Kesejahteraan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang filsafat politik, berdasarkan realitas politik yang sedemikian memprihatinkan itu maka perlu pengambilan jarak dan kritis terhadap realitas politik. Artinya perlu sebuah perspektif tertentu dan pengujian nilai-nilai, termasuk nilai-nilai moral serta perlu suatu ideal yang melibatkan suatu konsepsi tentang manusia dan kesejahteraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik yang maknanya dipersempit hanya untuk kekuasaan terjadi ketika ruang publik direduksi menjadi pasar. Ketika tekanan adalah hasil, maka ekonomi menjadi perhatian utama. Penyelenggaraan negara direduksi menjadi manajemen kepentingan kelompok-kelompok tertentu atau individu-individu tertentu. Akibatnya, politik menjadi arena untuk mempertaruhkan kepentingan kelompok dan pribadi serta untuk mendapatkan pengakuan. Politik bukan lagi seperti dikatakan Hannah Arendt sebagai seni untuk mengabadikan diri dengan menjamin kebebasan setiap individu dan mengupayakan kesejahteraan bersama serta keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyempitan makna itu terjadi juga dalam lingkup etika politik. Bila pluralitas ditolak dan diskriminasi dipraktekkan maka bertentangan dengan etika politik. Paul Ricoeur mendefinisikan etika politik sebagai hidup baik bersama dan demi orang lain untuk semakin memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusi-institusi yang adil. Pendekatan pragmatisme yang menjadi ideologi teknokrasi cenderung mengabaikan proses partisipasi dan prosedur parlementer yang menjadi tulang punggung demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan pertama politik adalah hidup baik bersama dan untuk orang lain. Pada tingkat ini, politik dipahami sebagai perwujudan sikap dan perilaku politikus atau warganegara demi kesejahteraan dan kebaikan bersama. Politikus yang baik adalah jujur, santun, memiliki integritas, menghargai orang lain, menerima pluralitas, memiliki keprihatinan untuk kesejahteraan umum, dan tidak mementingkan kekuasaanya. Jadi, politikus yang menjalankan etika politik adalah negarawan yang mempunyai keutamaan-keutamaan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eric Weil mengatakan, politik merupakan suatu gerak yang berangkat dari moral dan melampauinya dalam suatu teori tentang negara Tentu saja politik bukan seperti yang dipahami politikus, tetapi bagi orang yang mencoba mencari makna di dalam politik. Maka politik beranjak dari moral. Cara pandang moral ini harus mengakar dalam cara pandang politikus yang diorganisir oleh negara agar bisa diterjemahkan dalam relitas politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, semua gerak yang berangkat dari moral harus membawa kepada pernyataan berikut ini: Negara adalah organisasi suatu komunitas yang menyejarah, dengan diorganisir dalam bentuk negara, komunitas itu mampu mengambil keputusan-keputusannya. Moral sebagai titik tolak politik menjadi penting karena politik akan mengetuk nurani. Orang-orang yang mampu memasuki dimensi moral dalam kehidupannya akan menyesuaikan dengan etika politik dalam praktik-praktik politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, banyak orang pesimis dengan realitas politik yang ada. Teriakan yang muncul seakan-akan: politik yang baik itu omong kosong. Realitas politik adalah pertarungan kekuatan dan kepentingan. Politik dibangun bukan dari yang ideal, tidak tunduk kepada apa yang seharusnya. Dalam politik, kecenderungan umum adalah tujuan menghalalkan segala cara. Dalam konteks ini, politik demi kesejahteraan seolah-olah hanya menjadi mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti bahwa realitas politik yang terjadi di negara ini sangat memprihatinkan. Karena itu perbaikan politik menyangkut tiga tuntutan, ialah upaya hidup baik bersama dan untuk orang lain, upaya memperluas lingkup kebebasan dan membangun membangun institusi-institusi yang adil. Tiga tuntutan itu saling terkait. hidup baik bersama dan untuk orang lain tidak mungkin terwujud kecuali bila menerima pluralitas dan dalam kerangka institusi-institusi yang adil. Hidup baik tidak lain adalah cita-cita kebebasan: kesempurnaan eksistensi atau pencapaian keutamaan. Institusi-institusi yang adil memungkinkan perwujudan kebebasan dengan menghindarkan warganegara atau kelompok-kelompok dari saling merugikan. Sebaliknya, kebebasan warganegara mendorong inisiatif dan sikap kritis terhadap institusi-institusi yang tidak adil. Pengertian kebebasan yang terakhir ini yang dimaksud adalah syarat fisik, sosial, dan politik yang perlu demi pelaksanaan kongkret kebebasan, berupa democratic liberties seperti: kebebasan pers, kebebasan berserikat dan berkumpul dan kebebasan mengeluarkan pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang sangat penting ialah politik, politikus dan produk politik harus ditujukan demi kesejahteraan bersama, utamanya demi mereka yang paling tidak beruntung; Politik perlu dimengerti sebagai kontrol penggunaan kekuatan-kekuatan dalam masyarakat, mobilisasi sumber-sumber daya dan pewujudan berbagai tujuan kolektif. Politik dengan segala distribusi jabatan, pengambilan keputusan, undang-undang, dan partisipasi warga negara dalam pengambilan keputusan perlu diarahkan demi kesejahteraan bersama. &lt;em&gt;(Surya, 19 Januari 2007)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-116920353596035851?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1CSB5kGdSnJ07wtHMk68cg_aLn8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1CSB5kGdSnJ07wtHMk68cg_aLn8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1CSB5kGdSnJ07wtHMk68cg_aLn8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1CSB5kGdSnJ07wtHMk68cg_aLn8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/hdeKuQggeWs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/116920353596035851?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/116920353596035851?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/hdeKuQggeWs/politik-demi-kesejahteraan-rakyat.html" title="Politik Demi Kesejahteraan Rakyat" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2007/01/politik-demi-kesejahteraan-rakyat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkMDQXw_fip7ImA9WBBbEkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-116829047012671147</id><published>2007-01-09T04:03:00.000+07:00</published><updated>2007-01-09T04:07:50.246+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-01-09T04:07:50.246+07:00</app:edited><title>Iman Dan Peduli Lingkungan</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4379/1862/1600/805603/issuesffodandagriculture.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 325px; CURSOR: hand; HEIGHT: 218px; TEXT-ALIGN: center" height="164" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4379/1862/320/929797/issuesffodandagriculture.jpg" width="325" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Krisis lingkungan mengancam bumi kita. Iman memiliki tanggung jawab terhadap dunia dan hak-hak yang luhur  dengan memperhatikan hubungan dengan Pencipta dan dukungan Tuhan demi kelangsungan lingkungan hidup dengan kepedulian cinta. Manusia patut merefleksikan bagaimana keIllahian, keindahan dan kesatuan alam sesungguhnya menampilkan kebijaksanaan Illahi dan kemuliaanNya. Lewat Kitab Suci, manusia mendengarkan panggilan baru untuk menjaga dunia dan menegakkan keadilan terutama bagi kaum miskin dan yang jadi korban kerusakan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban terhadap pertanyaan dasar mengenai keprihatinan religius terhadap lingkungan disajikan dalam pertanyaan-pertanyaan dasar berikut ini.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mengapa kaum beragama terlibat dalam isu lingkungan ?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, krisis lingkungan merupakan tantangan moral. Situasi ini memanggil setiap orang untuk menguji bagaimana kita menggunakan kebaikan bagi dunia, apa yang kita akan lakukan untuk generasi mendatang, dan bagaimana kita hidup dalam harmoni dengan ciptaan Tuhan lainnya. Krisis ekologi global saat ini telah mengundang keprihatinan siapapun, ilmuwan, pemimpin politik, urusan bisnis, pekerja, pengacara, petani, wartawan dan warga manusia pada umumnya. Sebagai guru moral, kita patut mengintensikan menyajikan dimensi moral dan etis dari isu lingkungan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa yang Tuhan lakukan terhadap lingkungan ciptaan ?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, sumber dari segala ini, tampak secara aktif dalam semua ciptaan, Tuhan juga peduli terhadap semua ciptaan. Kita harus peduli terhadap dunia tanpa mengabaikan Tuhan yang kita puji. Kita percaya bahwa iman, kebaikan dan cinta Tuhan merupakan sumber yang memotivasi dan menarik bagi semua ciptaan. Tumbuhan dan binatang, gunung dan laut, mengangkat jiwa kita kepada Tuhan, dengan kerapuhan dan kelemahan yang terungkap, “Kami tidak mampu membuat semuanya itu dari diri kami sendiri”. Tuhan menciptakan segala yang hidup untuk ada dan saling memelihara kelestarian keberadaan ciptaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana Katolik memandang alam semesta ?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab Katolik terhadap lingkungan dimulai dengan apresiasi terhadap kebaikan ciptaan Tuhan. Pada awal mula, “Tuhan melihat bahwa segala yang dibuatnya, adalah baik adanya (Kej  1:31). Surga dan bumi, matahari dan bulan, daratan dan lautan, ikan dan burung, binatang dan manusia – adalah baik adanya. Kebijaksanaan dan kekuatan Tuhan ditampakkan dalam setiap aspek ciptaan (Proverbs 8:22-31). Tidak ada keraguan bahwa umat Tuhan yang dipenuhi dengan semangat spiritual, mmereka dipanggil sebagai ciptaan untuk bergabung memuji kebaikan Tuhan (Dan 3:74-81). Bumi, sesuai petunjuk Kitab Suci,  merupakan hadiah kepada seluruh ciptaan untuk “seluruh mahluk hidup yang ada di dunia (Kej 9:16-17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa itu tempat yang layak dan aturan untuk mahluk hidup di dunia ?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Manusia ada bersama di dunia dengan ciptaan yang lain. Tetapi manusia, dibuat seturut citra dan seperti Tuhan, dipanggil dalam bentuk khusus untuk “memelihara dan memperhatikannya” (Kej 2: 15). Laki-laki dan perempuan, karena itu, memiliki tanggung jawab khusus di hadapan Tuhan: untuk menjaga ciptaan di dunia. Pula segala upaya kreatif manusia mestinya mengembangkan dunia. Menjaga ciptaan berarti harus hidup dengan penuh tanggung jawab di dunia. Keluarga dilengkapi dengan keindahan, keIllahian dan kesatuan dengan alam, juga dengan keharusan untuk berproduksi. Bagaimanapun, Tuhan sendiri berkuasa mengatasi bumi. “Tuhan merupakan wujud  bumi dan segala isinya, dunia dan segala yang ada di dalamnya (Mzm 24:1). Sebagaimana di masa Nuh, manusia bertanggung jawab untuk menlanjutkan seluruh ciptaan untuk memenuhi maksud Tuhan. Setelah banjir menerpa, Tuhan membuat janji terakhir dengan Nuh, dengan keturunannya dan setiap mahluk hidup”. Jadi manusia yang hidup di bumi tak bisa seenaknya, karena itu haruslah berbuat apapun di bumi dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mengapa terjadi kerusakan lingkungan ?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Adam dan hawa memberi pelajaran tentang sikap mereka ketika hidup di dunia (Kej 1:28) ialah seharusnya dengan penuh kebijaksanaan dan cinta. Sebaliknya, mereka menghancuran keberadaan harmoni. Dengan kebebasannya mereka justru melawan rencana Tuhan, yaitu dengan memilih berbuat dosa. Hasilnya, tidak hanya keterasingan manusia dengan dirinya sendiri, dalam kematian dan penderitaan, tetapi juga pemberontakan bumi terhadap manusia sendiri (Kej 3:17-19; 4:12). Saat manusia kembali kepada rencana Tuhan, manusia digerakkan oleh kehendak yang baik untuk kembali menata lingkungan. Jika manusia tidak berdamai dengan Allah, maka di bumi sendiri tidak akan ada damai: "Sebab negeri ini akan berkabung, dan seluruh penduduknya akan merana, juga binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, bahkan ikan-ikan di laut akan mati lenyap. " (Hos 4:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Adakah harapan yang baik bagi bumi ?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebuah masyarakat yang adil dan berkelanjutan bukanlah sebuah itensi yang ideal, tetapi sebuah kebutuhan yang mendesak sesuai tuntutan moral dan praktis. Tanpa keadilan, ekonomi yang berkelanjtan tak akan pernah dicapai. Tanpa sebuah tanggung jawab ekologi terhadap dunia ekonomi yang adil tak akan terwujud. Untuk mencapai itu sungguh merupakan pekerjaan yang mutlak, bersama-sama kita akan mengupayakannya. Tetapi segala sesuatu akan mungkin, bagi mereka yang berharap kepada Tuhan (Mrk 10:27). Harapan, merupakan keutamaan hati yang penting dalam etika lingkungan hidup orang Kristiani. Harapan akan memberi keberanian, arah dan kekuatan. Penyelamatan bumi akan menghasilkan komitmen yang kudus. Hal ini termasuk kehendak baik untuk merevisi kembali kebiasaan politik kita, merestrukturisasi lembaga ekonomi, membentuk lagi masyarakat dan merawat komunitas global. Hanya dengan harapan manusia dapat mencapai kebaikan, karena manusia bagian dari ciptaan. Sehingga di masa kini Roh Kudus menghembuskan cara hidup baru kepada seluruh ciptaan di bumi. Hari ini kita berdoa dengan cara baru dan penuh perhatian kepada ciptaan Tuhan: “Utuslah Roh KudusMu dan baharuilah seluruh muka bumi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa yang harus kita lakukan ?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Krisis lingkungan di masa menbawakan panggilan bagi siapapun tak terkecuali untuk bertobat. Sebagai individu, sebagai manusia, kita menginginkan perubahan hati untuk menyelamatkan bumi bagi anak-anak kita dan generasi kelak yang akan lahir. Sangatlah pelik masalah ini, berkaitan dengan ekonomi dan gaya hidup. Tak terkecuali bagi semua hati dan setiap mereka yang menemukan Tuhan, seharusnya mengikuti untuk menebarkan tanggung jawab sebagai bentuk ketaatan ciptaan kepada TuhanNya. Mereka yang percaya dan yang melihat nilai-nilai dalam Kitab Suci, dan secara jujur mengakui keterbatasan dan kesalahannya akan memiliki komitmen dari dirinya sendiri untuk bertindak mengatasi kerusakan bumi dan akan siap untuk berpartisipasi secara penuh, memecahkan masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan, pemecahan yang dilakukan tidak didasarkan dari agenda politik, dari aliran kiri atau kanan, tetapi ajaran paling dasar mengenai Tuhan, kemanusiaan dan seluruh ciptaan. Tradisi religius telah menampilkan beberapa ajaran dan sikap mengenai hal itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bumi sesungguhnya miliki Tuhan sendiri&lt;br /&gt;- Ciptaan adalah baik adanya, berharga,  serta diperhatikan Tuhan&lt;br /&gt;- Manusia seharusnya peduli terhadap bumi dan menggunakan bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia, tanpa merusaknya&lt;br /&gt;- Memperhatiakan manusia berarti mengasihi ciptaan&lt;br /&gt;- Kaum miskin dan kaum penderita, khususnya anak-anak, menderita paling parah karena kerusakan lingkungan&lt;br /&gt;- Komuntias religius memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran, praksis serta pesan agar memperhatikan ciptaan dan mempersatukann pesan itu dengan umat beragama lain. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-116829047012671147?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/z7K_HThAE3Wfh0EAZliX8chhoJs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/z7K_HThAE3Wfh0EAZliX8chhoJs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/z7K_HThAE3Wfh0EAZliX8chhoJs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/z7K_HThAE3Wfh0EAZliX8chhoJs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/64AIO_3aqoU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/116829047012671147?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/116829047012671147?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/64AIO_3aqoU/iman-dan-peduli-lingkungan.html" title="Iman Dan Peduli Lingkungan" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2007/01/iman-dan-peduli-lingkungan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8MRXsyeCp7ImA9WBBbEE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-18933296.post-116803688422508854</id><published>2007-01-06T05:38:00.000+07:00</published><updated>2007-01-06T05:41:24.590+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-01-06T05:41:24.590+07:00</app:edited><title>Ramalan, Antara Persepktif Ilmiah Dan Religius</title><content type="html">&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4379/1862/1600/42528/is.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 253px; CURSOR: hand; HEIGHT: 160px; TEXT-ALIGN: center" height="128" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/4379/1862/320/28505/is.jpg" width="175" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tahun 2006 akan telah kita tinggalkan. Tahun baru 2007, kita masuki. Tentu saja dengan semangat serta harapan baru. Akino W Azzaro, serorang peramal mengatakan, situasi buruk yang terjadi tahun 2005 dan 2006, akan membaik tahun 2007. Seperti diketahui, sesuai penanggalan Cina, tahun 2004 adalah tahun Monyet Kayu, 2005 tahun Ayam Kayu, dan 2006 tahun Anjing Api, sementara tahun 2007 adalah tahun Babi Api. Tahun 2007, tahun babi api, inilah saat kita seperti babi yang merangkak lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya ramalan di awal tahun selalu menjadi perhatian. Entah itu ramalan horoskop maupun shio. Banyak orang yang ingin mendapatkan bocoran mengenai nasib maupun hoki di tahun 2007 ini. Lainlagi bagi peramal, mengatakan ramalan ini sangat menyenangkan, sebab tidak akan ada orang yang ngambek ataupun minta ganti rugi apabila ramalannya meleset. Disamping itu dapat penghasilan tambahan dari orang yang datang untuk diramal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak sumber mengenai ramalan. Antara lain dari horoskop, shio, astrologi atau bahkan feng shui. Kata horoskop diserap dari bahasa Yunani, horoskopos yang berarti melihat jam. Melalui jam waktu kelahiran seseorang bisa ditentukan selainnya lambang zodiac dari orang tersebut juga bisa diramal mengenai sifat kepribadian maupun jalan hidupnya dari orang itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Astrologi atau ilmu perbintangan kata ini juga diserap dari bahasa Yunani, dimana berdasarkan letak posisinya dari berbagai benda langit mereka bisa meramalkan nasibnya seseorang. Astrologi sudah dikenal sejak jaman Babilonia sekitar 4.000 tahun yang lampau. Pada saat sekarang ini ada tiga macam astrologi yang cukup dikenal ialah astrologi barat, astrologi Tionghoa (shio) dan astrologi India (Iyotisha). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Astrologi Tionghoa adalah astrologi yang tertua, walaupun mereka menggunakan hewan sebagai lambang, tetapi ini tetap ada kaitannya dengan ilmu perbintangan. Lima elemen utama dari ramalan ini adalah Venus = metal (emas), Jupiter = kayu, Mercury = air, Mars = api dan Saturn = tanah. Seni ramalan yang sesungguhnya dalam astrologi Tionghoa lebih dikenal dengan sebutan Zi Wei Dou Shu (Ramalan Bintang Ungu).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Soal ramal meramal itu tentu bukan perkara gampang. Orang boleh memprediksikan waktu dan tahun yang sama maupun letak Posisi bintang yang sama, tetapi hasilnya bisa berbeda. Peramal satu memprediksikan bahwa tahun 2007 ini adalah tahun keberuntungan sedangkan yang lain menilai agar kita lebih mawas diri. Jadi sukar bagi kita untuk percaya kepada ramalan si A ataukah si B. Dalam istilah psikologi ini lebih dikenal dengan sebutan Barnum Efect atau Forer Efect kita otomatis bisa menerima dan mempercayai pendapat seseorang, karena dari awal mulanya kita sudah terpengaruhi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Eropa pernah diadakan test untuk menguji para pakar astrologi, untuk mengetahui dimana letak posisinya ke delapan planet-planet besar, ternyata pengetahuan yang sedemikian mudah dan mendasar sekalipun juga lebih dari 70% tidak dapat mengetahuinya. Bagaimana mereka bisa menghitung dan mengartikan nasib orang lain, apabila letaknya saja sudah tidak tahu dimana ?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan test lainnya yang dilakukan oleh majalah Stern dari semua ramalan para astrologi yang paling top di Eropa, ternyata dari hasil keseluruhan ramalannya selama satu tahun hanya tiga persen saja yang mungkin secara kebenaran telah menjadi kenyataan alias jitu ramalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai macam aliran agama menilai, bahwa ramal-meramal itu haram. Tetapi apakah anda tahu bahwa banyak orang masih percaya ramalan. Tidak bisa dipungkiri di berbagai macam majalah dan surat kabar, yang menjadi rubrik tetap dan populer adalah horoskop. Bahkan dalam diri kita, kalau kita tidak percaya akan segala macam bentuk ramalan kenapa dilain pihak kita selalu mencari hari dan waktu yang baik untuk melakukan hajatan, bukankah ini juga bisa disamakan seperti percaya akan ramalan ? Nabi Jusuf menafsirkan ramalan dari suatu impian, begitu juga banyak nabi-nabi lainnya meramal. Hanya mungkin istilah atau sebutannya saja yang berbeda kalau kita pergi ke tukang peramal ini disebut haram dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dinamika Perspektif Ilmiah dan Religius&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Salah satu bentuk ramalan yang pernah ada dan masih dipercayai sekarang adalah Kartu Tarot. Kartu ini berasal dari Italia. Pada awalnya, permainan kartu tersebut bernama Carde da Trionfi, atau Kartu Kejayaan. Setelah mendapat pengaruh dari Prancis, nama Trionfi berubah menjadi Tarocchi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Antoine Court de Gebelin dalam bukunya terbitan tahun 1781 menyatakan kartu Tarot dibuat oleh pendeta-pendeta Mesir kuno. Mereka kemudian membawa gambar-gambar tersebut ke Roma untuk dipersembahkan kepada Paus. Paus kemudian memperkenalkan Tarot ke Avignon, Prancis pada abad ke-14. Gereja Katolik dan pemerintah daerah di Eropa tidaklah selalu melarang permainan Tarot. Beberapa daerah bahkan memperbolehkan warganya memainkan Tarot dimana permainan kartu sejenis lainnya jelas-jelas dilarang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hak eksklusif karena muncul dari pimpinan Gereja tidaklah berlangsung lama. Karena pada akhir abad ke-14 seorang pengkotbah dari dari Swiss, Johannes von Rheinfelden, secara tiba-tiba menyerang perjudian dan permainan kartu. Sebagai akibat dari pernyataan ini, John I dari Castile, menerbitkan larangan bermain kartu. Bahkan tahun 1379, Bernard dari Siena memberi ceramah bahwa kartu bermain adalah hasil ciptaan Setan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang ramal-meramal tidak bisa dilupakan nama besar peramal Prancis bernama Nostradamus. Michel de Nostredamus anak pasangan Reynière de St-Rémy dan saudagar makanan Jaume de Nostredamus, yang kaya. Keluarga itu keturunan Yahudi yang telah memeluk Katolik pada 455.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika berumur lima belas tahun, Nostradamus memasuki Universitas Avignon untuk mendapat sarjana. Ia belajar trivium tatabahasa, percakapan, dan logik, berbanding sukatan kemudian iaitu quadrivium geometri, arithmetik, muzik dan astronomi / astrologi. Pada 1529, beliau memasuki Montpellier untuk mempelajari bidang pengobatan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nostradamus kemudian beralih minat dari pengobatan ke suatu yang diluar jangakauan manusia. Mengikut kebiasaan, beliau menulis sebuah kalender pada tahun 1550, yang untuk kali pertamanya me'latin'kan namanya dari Nostradamus menjadi 'Nostradamus'. Beliau sangat terkenal dengan aneka tulisannya. Jika dikumpulkan semuanya, terdapat 6.338 ramalan (kebanyakannnya ramalan yang gagal), dan tidak kurang juga sebelas kalendar tahunan. Terdapat banyak bangsawan dan orang yang terkenal dari jauh kemudiannya mula berminat untuk menanyakan nasihat dan ramalannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena karangan ramalannya kebanyakan tidak bertarikh, Nostradamus diancam oleh kaum agama. Karangan tersebut diterbitkan sebagai buku yang bertajuk Les Propheties (ramalan), telah mendapat pelbagai reaksi apabila diterbitkan. Sebagian orang menuduh Nostradamus adalah pemuja setan, palsu atau gila. Nostradamus takut dituduh menentang agama, ia pun mengelak bahwa ramalan dan astrologi tidak termasuk dalam kategori agama. Namun ia diancam jika mengamalkan sihir untuk menyokong ramalannya. Karena argument pembelaan dan ketaatannya, Nostradamus berhubungan baik dengan pihak Gereja. Ia hanya ditahan sebentar di Marignane tahun 1561, karena menerbitkan kelender tahun 1262 tanpa ijin Uskup.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada malam 1 Juli, ia memberitahu sahabatnya Jean de Chavigny, "Kamu takkan mendapati saya hidup lagi menjelang matahari terbit." Keesokaan paginya Nostradamus ditemui wafat dan dimakamkan di dekat kapel Fransiskan. (yang sebagiannya kini menjadi restoran La Brocherie). Jasad Nostradamus dipindahkan ketika Revolusi Perancis ke sebuah tempat di Collégiale St-Laurent sehingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jangan Dipertentangkan, Jangan Dikompromikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran berharga perjumpaan antara ramalan, astrologi, horoskop dengan iman di masa lalu memberikan kesimpulan bahwa perspektif ilmiah dan religius tak perlu dipertentangkan. Juga pertentangan antara agama dan sains dalam masalah-masalah seperti teori evolusi, realitas kuantum maupun teori genom. Karena pada dasarnya, sains dan agama merupakan dua perspektif yang berbeda dalam menjelaskan dunia dan kehidupan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Budi Hardiman, dalam seminar The Future of Religion-Science Dialogue di Universitas Paramadina, Jakarta (13/12) mengatakan, perspektif ilmiah melihat alam sebagai dunia obyektif. Fakta-fakta tunduk pada hukum alam. Dengan menggunakan perspektif tersebut dibuat ramalan tentang peristiwa dan manipulasi teknis atas alam. Akan tetapi, manusia tidak melihat alam hanya sebagai fakta-fakta, melainkan juga sebagai dunia yang dihayati. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun perspektif religius melihat alam dalam kaitan dengan kenyataan dan penghayatan eksistensial. Bukan kebenaran faktual, tetapi kebenaran transendental. Masing-masing punya kebenarannya, tetapi pada tahapan tertentu ada hubungan-hubungan. Keduanya sama penting dan bermakna. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia mencontohkan, bencana tsunami dari perspektif ilmiah merupakan peristiwa dalam dunia obyektif yang dapat dikalkulasi secara geologis. Di sisi lain, perspektif religius memaknai tsunami secara eksistensial dan transendental sebagai perjumpaan dengan hal-hal yang melampaui rasionalitas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pembedaan atas dua perspektif tersebut akan memperlihatkan bahwa sains tidak mempersoalkan kebenaran eksistensial dan transendental, seperti juga agama tidak berpretensi untuk menjadi sains yang memberikan penjelasan tentang kebenaran faktual. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Hamid Parsania, Rektor Baghir Al-Ulum University, Teheran, mengatakan bahwa dalam perkembangan ilmu pengetahuan—terutama pada abad ke-19— sains dimaknai sebagai pengetahuan yang tangible (indrawi) dan dapat dibuktikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Makna sains sebagai pengetahuan yang berusaha menjelaskan alam semesta dan dalam perkembangannya dituntut pula mengajarkan nilai-nilai pada masyarakat. Sains kemudian berkembang dan muncul ahli-ahli yang berpendapat bahwa sains tidak bisa lepas dari sumber- sumber lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada tahun 1988, Stephen Hawking menulis dalam bukunya A Brief History Of Time. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr A. Hadyana Pudjaatmaka dan judulnya dirubah menjadi Riwayat Sang Kala terbitan P.T. Pustaka Utama Grafiti. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya itu ia menjawab pernyataan Paus dihalaman 116, sebagai berikut: &lt;em&gt;“I was glad then that he did not know the subject of the talk I had just given at the conference - the possibility that space-time was finite but had no boundary, which means that it had no beginning, no moment of Creation.”&lt;/em&gt; Ia juga menulis di halaman 140: “&lt;em&gt;So long as the universe had a beginning, we could suppose it had a creator. But if the universe is really completely self-contained, having no boundary or edge, it would have neither beginning nor end: it would simply be. What place, then, for a Creator?” &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ilmiah, namun Stephen Hawking tidak menuntut bahwa teorinya harus diterima sebagai mutlak benar. Ia menulis di halaman 11-12 sebagai berikut: Setiap teori fisika selalu bersifat sementara, dalam arti teori itu hanyalah suatu hipotesis; Anda tidak pernah dapat membuktikannya. Tidak peduli berapa kali hasil-hasil eksperimen cocok dengan suatu teori, Anda tidak pernah dapat merasa pasti bahwa lain kali hasil itu tidak akan berlawanan dengan teori itu. Di pihak lain Anda dapat membuktikan bahwa suatu teori itu salah dengan menemukan suatu pengamatan, bahkan satu saja sudah cukup, yang tidak cocok dengan ramalan itu. (&lt;em&gt;Any physical theory is always provisional, in the sense that it is only a hypothesis: you can never prove it. No matter how many times the results of experiments agree with some theory, you can never be sure that the next time the result will not contradict the theory. On the other hand, you can disprove a theory by finding even a single observation that disagrees with the predictions of the theory&lt;/em&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Stephen Hawking setuju dengan filsuf Karl Popper (1902-1994) dan Sir James Jean (1877-1946), bahwa sebuah teori tidak pernah dapat dibuktikan benar. Ini tentu juga berlaku bagi teori-teori ciptaan Stephen Hawking sendiri. Jadi Stephen Hawking tidak pernah mengatakan bahwa teorinya mutlak benar. Ia bahkan berpendapat bahwa teorinya tidak pernah dapat dibuktikan benar. Jadi para teolog tidak harus berkompromi dengan teori Stephen Hawking. Terlebih mengingat Stephen Hawking sendiri adalah seorang ateis dan percaya bahwa alam semesta berasal dari dentuman besar. Meskipun harus diakui bahwa Hawking sangat toleran terhadap teori kreasi atau teori penciptaan. Bagi mereka yang percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta ini di halaman 10-11 sebagai berikut: Orang masih dapat membayangkan bahwa Tuhan menciptakan jagat raya pada saat dentuman besar itu. Atau bahkan sesudahnya, hanya dengan cara sedemikian agar tampak seakan-akan sebelum itu ada dentuman besar. (&lt;em&gt;One could still imagine that God created the universe at the instant of the big bang, or even afterwards in just such a way as to make it look as though there had been a big bang, ......)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, perspektif ilmiah serupa ramalan, astrologi, horoskop dengan hitung-hitungannya dan perspektif religius tak perlu dipertentangkan sekaligus jangan dikompromikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Roh Kudus&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Alkisah, ketika tahun 1958 Paus Pius XII wafat, Kardinal Spellman memang memiliki ambisi untuk menjadi Paus. Ia pun membaca Ramalan St Malachi (&lt;em&gt;Prophecies De la Succession Des Papes&lt;/em&gt;), yang baru diketemukan oleh Abbe Cucherat pada tahun 1590.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ramalan Malachi (1094-1148), Uskup Armagh, Irlandia Utara, pengganti Pius XII ini adalah seorang Paus yang akan dikenal sebagai &lt;em&gt;Pastor et Nauta&lt;/em&gt; (Gembala dan Pelaut). Malachi memang membuat ramalan mengenai 111 calon Paus mendatang, dimulai dari Paus Celestinus II (1143) dengan gelar simbolis.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, menurut buku Peter Bander, The Prophecies of Malachy (1969), menjelang konklaf 1958, Kardinal Spellman kemudian menyewa sebuah kapal, mengisinya dengan domba-domba, dan berlayar mondar-mandir di Sungai Tiber, Roma. Sayang, ambisi Spellman tidak terwujud. Konklaf 1958 memilih Kardinal Roncalli dari Venesia sebagai pengganti Pius XII.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ahli tafsir ramalan Malachi, Pastor et Nauta itu ternyata menunjuk pada laut sekeliling Venesia, tempat di mana Roncalli menjadi gembala (pastor) umat sebelum terpilih menjadi Paus dengan nama Yohanes XXIII. Pada masa kepausannya (1958-1963), Gereja memang kemudian menjadi lebih inklusif, mengakui kebenaran agama-agama lain, dan mampu menggerakkan dunia untuk memperjuangkan perdamaian tanpa batasan negara, bangsa, atau lautan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Waktu ramalan ini ditulis oleh Malachi sekitar tahun 1139, teori Copernicus belum ada. Bumi masih dianggap sebagai pusat semesta dan matahari yang mengelilingi Bumi. Lalu, apa ciri Paus ke-265 mendatang ? Ramalan Malachi menyebutnya sebagai &lt;em&gt;Gloria Olivae&lt;/em&gt; (Kemuliaan Zaitun). Pada umumnya, zaitun, khususnya daun zaitun, merupakan lambang perdamaian. Apakah ini berarti bahwa hasil konklaf akan menghasilkan seorang Paus yang memiliki kemampuan untuk menciptakan perdamaian ? Perdamaian macam apa ? Tidak ada yang tahu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ramalan boleh berbicara, tetapi para kardinal yang mengikuti konklaf meyakini bahwa kerja dan tindakan mereka selama pemilihan Paus merupakan hasil dari karya Roh Kudus. Bahasa orang biasa, semuanya harus dilakukan setelah melalui keheningan doa kepada Yang Ilahi. Oleh karena itu, sudah menjadi tradisi ketika konklaf berlangsung, semua orang Katolik diminta untuk berdoa, melepaskan segala analisis dan hitungan matematika manusia. Lupakan segala primordialisme manusiawi. Berpasrahlah dan biarlah Roh itu mengalir bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kitab Suci Dan Ajaran Gereja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita ingat bahwa perintah Allah yang pertama mengatakan, “Akulah TUHAN, Allahmu. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Ketika ditanya hukum manakah yang terutama, Tuhan kita Yesus Kristus, dengan mengulang perintah yang ada dalam Kitab Ulangan, mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37). Sementara Tuhan, menurut kehendak-Nya, dapat mewahyukan masa depan kepada para nabi atau para kudus, kita sebagai pribadi wajib senantiasa percaya akan penyelenggaraan ilahi-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;St Paulus mengingatkan kita, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28). Mungkin terkadang kita juga memiliki rasa ingin tahu tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang, namun demikian kita mengandalkan hidup kita pada Tuhan, percaya penuh akan kasih sayang dan pemeliharaan-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berusaha mengetahui masa depan dengan membaca tangan, kartu ramal, atau bentuk-bentuk ramalan lainnya, atau berusaha mengendalikan masa depan melalui black magic, ilmu gaib atau sihir, merupakan pelanggaran terhadap perintah Allah yang pertama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kitab Suci banyak mengutuk praktek-praktek ini: dalam Perjanjian Lama kita dapati, “Seorang ahli sihir perempuan janganlah engkau biarkan hidup” (Kel 22:18), “Siapa yang mempersembahkan korban kepada allah kecuali kepada TUHAN sendiri, haruslah ia ditumpas.” (Kel 22:20). “Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri” (Im 20:27), dan “Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN….” (Ul 18:10-12).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian Baru juga membicarakan masalah ini: Dalam Kisah Para Rasul, di Filipi St Paulus bertemu dengan seorang hamba perempuan “yang mempunyai roh tenung” yang mendapatkan penghasilan besar dengan tenungan-tenungannya. St Paulus membebaskannya dari roh jahat itu (Kis 16:16 dst). Dalam ayat-ayat lain, kita dapati kutukan-kutukan terhadap sihir dan praktek-praktek gaib pada umumnya. St Paulus mengutuk seorang tukang sihir (Gal 5:20). Dalam Kisah Para Rasul, St Paulus mencela Elimas, tukang sihir, dan menyebutnya sebagai “anak Iblis, engkau musuh segala kebenaran” (Kis 13:8 dst). St Petrus mengecam Simon, si tukang sihir, yang bermaksud membeli kuasa Roh Kudus guna menjadikan diri lebih berkuasa (Kis 8:9 dst). Dalam Kitab Wahyu, Yesus memaklumkan, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua” (Why 21:8).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Katekismus Gereja Katolik dalam menjelaskan perintah Allah yang pertama, mengulang kutukan terhadap praktek ramalan, “Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat `membuka tabir' masa depan. Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah” (No. 2116). Segala praktek dengan mempergunakan kuasa-kuasa gaib dikutuk karena bertentangan dengan agama yang benar dan biasanya dianggap sebagai dosa berat. Segala bentuk permohonan kepada setan jelas merupakan dosa berat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekedar membaca horoskop di koran karena iseng bukanlah dosa berat. Tetapi menganggapnya serius, meyakini ramalan, lalu melupakan Allah, meninggalkan Allah, tidak percaya lagi kepada Allah, tidak mengandalkan kekuatan dan pertolongan Allah, tidak berdoa, tidak ke Gereja, tidak mendapatkan Sakramen, bukan sikap orang beriman yang baik. &lt;em&gt;(A. Luluk Widyawan, Pr, dari berbagai sumber)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18933296-116803688422508854?l=lulukwidyawanpr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7viePSx6D8FlePIE-ZtSlFmaduE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7viePSx6D8FlePIE-ZtSlFmaduE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7viePSx6D8FlePIE-ZtSlFmaduE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7viePSx6D8FlePIE-ZtSlFmaduE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/LulukWidyawansPage/~4/S32Crz99lEg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/116803688422508854?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/18933296/posts/default/116803688422508854?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/LulukWidyawansPage/~3/S32Crz99lEg/ramalan-antara-persepktif-ilmiah-dan.html" title="Ramalan, Antara Persepktif Ilmiah Dan Religius" /><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2007/01/ramalan-antara-persepktif-ilmiah-dan.html</feedburner:origLink></entry></feed>

