<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Luqman  Sastra .Com</title><link>http://www.luqmansastra.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/LuqmanSastraBlog" /><description>Berbagi atas keindahan karya sastra</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</managingEditor><lastBuildDate>Sun, 26 Feb 2012 23:24:17 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">480</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="luqmansastrablog" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Berbagi atas keindahan karya sastra</itunes:subtitle><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">LuqmanSastraBlog</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><title>Puisi Acep Zamzam Noor - Di Malioboro</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-acep-zamzam-noor-di-malioboro.html</link><category>Puisi Acep Zamzam Noor</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Sun, 26 Feb 2012 17:04:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-6003353472895388853</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-fkJ7hkNLZNQ/TBkexBGpWHI/AAAAAAAAAb0/bxy2b76-Quk/s1600/puisi+new.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-fkJ7hkNLZNQ/TBkexBGpWHI/AAAAAAAAAb0/bxy2b76-Quk/s200/puisi+new.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di antara kereta yang beranjak ke timur&lt;br /&gt;
Serta jerit peluit yang masih tersisa di telinga&lt;br /&gt;
Udara seperti bergetar meski hujan telah lama reda&lt;br /&gt;
Kita berjalan ke luar meninggalkan deretan bangku itu&lt;br /&gt;
Dan segera nampak aspal yang mengkilat, trotoar yang bersih&lt;br /&gt;
Juga bentangan rel yang ujungnya menghilang ditelan gelap&lt;br /&gt;
Kau sedikit sempoyongan menghirup candu kata-kataku&lt;br /&gt;
Sedang wajahku membiru oleh kalimat-kalimat tanggung&lt;br /&gt;
Dari cerita pendek yang tak kunjung kauselesaikan&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebuah warung segalanya menjadi lebih terbuka&lt;br /&gt;
Seperti majalah lama. Aku mengingat kembali namamu&lt;br /&gt;
Mencatat alamatmu, menghitung tahi lalatmu dan membaca&lt;br /&gt;
Isyaratmu. Gambar kupu-kupu hijau di atas payudaramu&lt;br /&gt;
Membuatku paham bahwa kau memang keturunan peri&lt;br /&gt;
Bahwa parasmu cantik sekali. Mungkin pelipismu tak serata&lt;br /&gt;
Jembatan yang menyatukan patahan garis di lengkung alis mata&lt;br /&gt;
Namun rambutmu yang segimbal musim hujan, serimbun ucapan&lt;br /&gt;
Telah membuat napasku menjadi begitu tidak keruan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau menciumku seperti gempa bumi yang pelan dan sopan&lt;br /&gt;
Lalu aku membalas ciumanmu layaknya tanah kerontang&lt;br /&gt;
Yang diberkati hujan. Rasa tembaga kucecap dari bibirmu&lt;br /&gt;
Seperti asin darah yang bercampur dengan buih-buih ludah&lt;br /&gt;
Aku menelan semuanya bagaikan menelan setiap peristiwa&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan. Tapi di sebuah warung yang terbuka&lt;br /&gt;
Di majalah lama yang mulai sobek halaman-halamannya&lt;br /&gt;
Ceritamu menjadi terlampau pendek untuk sebuah kisah cinta&lt;br /&gt;
Yang panjang. Untuk sebuah kota yang selalu digenangi kesedihan&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-6003353472895388853?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-27T08:04:00.355+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-fkJ7hkNLZNQ/TBkexBGpWHI/AAAAAAAAAb0/bxy2b76-Quk/s72-c/puisi+new.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Biografi Afrizal Malna</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/biografi-afrizal-malna.html</link><category>Tokoh Sastra</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Sun, 26 Feb 2012 04:51:55 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-4246511719575981134</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-PmphYdwLhr8/T0oqY6aU8LI/AAAAAAAAApk/ron_iMFWCGI/s1600/index.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-PmphYdwLhr8/T0oqY6aU8LI/AAAAAAAAApk/ron_iMFWCGI/s1600/index.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Afrizal Malna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Afrizal Malna merumuskan dan memperlakukan puisinya sebagai instalasi kata-kata dan mozaik gambar-gambar yang tak selalu saling punya hubungan linier ataupun ikatan antarkata dan antarfrasa yang tertib dan masuk akal, sehingga struktur bangunan dan logika puisinya cenderung fragmentaris dan sering absurd, cenderung tak hendak menyerupai suatu bangunan bahasa yang integral dan cocok dengan segala hukum &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;representasi. Sehingga, membaca puisi Afrizal harus selalu ekstra waspada dan siap-siap untuk melompat ke sana dan ke sini dan terasa ”kacau, agar bisa tetap mengikuti arah bahasa dan tebaran imajinasi dalam arus lalu lintas penulisan puisinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Afrizal Malna, puisi tak selalu harus diperlakukan dengan cara mempraktikkan keketatan disiplin berbahasa dan berpuisi yang harus koheren, sinkron, mematuhi prinsip-prinsip sintaksis maupun semantik konvensional. Sebab, menurut penyair ini, kata adalah lembaga komunikasi yang paling susah dipegang, bobrok dan busyet. Bahasa mungkin merupakan ciptaan manusia yang paling punya banyak masalah. Bahasa pada dasarnya medan komunikasi sehingga setiap hal yang menyimpan atau menyampaikan pesan kemungkinan besar menjadi bahasa atau sudah menjadi bahasa dalam keseluruhan dirinya Konsekuensi dari itu semua adalah puisi mestinya memiliki pendaman ”misteri, memiliki kekuatan untuk menghubungkan berbagai ingatan pembaca ke dalam bentukan semantik tertentu. Pembaca bisa membuat permainan baru dari korespondensi antar ingatan-ingatannya sendiri. Sebab puisi tak hidup dalam dirinya sendiri, puisi hidup dalam diri pembaca yang terbuka terhadap ingatannya atau berbagai pengalaman pribadi dan sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata, bagi penyair ini, selalu memiliki ruang luar dan ruang dalam. ”Ruang luar kata” adalah konvensi komunikasi yang berlangsung dalam wilayah publik. Berbagai pernik-pernik komunikasi saling berhubungan dalam ruang ini. Sifatnya sangat umum dan pragmatis. Mitos dan berbagai pandangan stereotip, wacana, dan ideologi, dibawa ke ruang ini lebih sebagai pengukuhan dan stabilitas publik dalam menjalankan berbagai mekanisme hubungan yang telah dilembagakan. Kediktatoran bahasa mungkin terjadi di ruang ini yang mereduksi kualitas kehidupan publik. Sedangkan ruang dalam kata” sifatnya pribadi dan subjektif. Sebuah kebebasan yang bekerja dan bertindak dalam ruang yang terbatas. Karena itu pengejaran dalam pelaksanaan kebebasan tersebut cenderung bergerak ke dimensi kualitasnya dan bukan kuantitasnya. Puisi menjadi menarik karena ia sesungguhnya merupakan produk dari ruang dalam kata, lalu mencoba keluar menemui publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehadiran puisi di antara mitos, berbagai pandangan stereotip, wacana atau ideologi mungkin seperti orang asing yang tak mau tunduk ke dalam konvensi hubungan-hubungan publik yang berlangsung di ruang luar itu. Puisi sesungguhnya mencoba merajut kembali hubungan antara ruang luar dan ruang dalam sebagai representasi pembagian kerja kebudayaan dan peradaban yang dilakukan manusia. Citraan benda-benda dan kosmos urbanjuga menjadi salah satu karakter yang menonjol dalam puisi-puisi Afrizal Malna. Selain sebagai instalasi kata-kata, puisi Afrizal Malna juga menggambarkan suatu instalasi benda-benda urban. Benda-benda urban itu menjadi sosok atau subjek yang ”hidup, memiliki ”biografi” tersendiri sebagaimana makhluk hidup pada umumnya dan membangun personifikasi dalam puisi-puisi Afrizal Malna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benda-benda telah menjadi lingkungan semiotik yang sangat sensitif, membangun bahasa imajinasi tersendiri yang khas, menyusun rangkaian-rangkaian pengucapan yang membawa asosiasi pembaca ke sebuah wilayah yang bernama urban. Afrizal Malna tentu kurang fasih bicara lewat bahasa dari lingkungan khazanah alam-agraris, misal kabut, batu, langit, daun, angin, atau bulan, yang biasa dipakai penyair kita kebanyakan selama ini. Ia menulis puisi lewat lingkungan bahasanya dan kosmosnya sendiri, yang dia kenali dan akrabi secara alami, yaitu lingkungan urban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak 1983 hingga 1993, ia banyak menulis teks pertunjukan untuk Teater SAE. Tahun 1995 membuat pertunjukan Seni Instalasi bersama Beeri Berhard Batscholat dan Joseph Praba di Solo. Dan tahun 1996 kolaborasi pertunjukan seni instalasi Kesibukan Mengamati Batu-batu, dengan seniman dari berbagai disiplin di TIM Jakarta. Afrizal &lt;br /&gt;
pernah mengunjungi beberapa kota di Swiss dan Hambrug, memberikan diskusi teater dan sastra di beberapa universitas dalam rangka pertunjukan Teater SAE 1993 yang mementaskan naskahnya. &lt;br /&gt;
Nama :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Afrizal Malna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lahir :&lt;br /&gt;
Jakarta, 7 Juni 1957&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan :&lt;br /&gt;
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Profesi :&lt;br /&gt;
Penulis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya Tulis :&lt;br /&gt;
Abad Yang Berlari (1984),&lt;br /&gt;
Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990),&lt;br /&gt;
Arsitektur Hujan (1995),&lt;br /&gt;
Biography of Reading, (1995),&lt;br /&gt;
Kalung dari Teman,&lt;br /&gt;
Perdebatan Sastra Kontekstual (1986),&lt;br /&gt;
Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987),&lt;br /&gt;
Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991),&lt;br /&gt;
Dinamika Budaya dan Politik (1991),&lt;br /&gt;
Traum der Freiheit Indonesien 50 jahre nach der Unabhangigkeit (1995),&lt;br /&gt;
Ketika Warna Ketika Kata (19950,&lt;br /&gt;
Pistol Perdamaian Cerpen Pilihan Kompas (1996),&lt;br /&gt;
Dalam Frontiers of World Literature (1997),&lt;br /&gt;
Dalam bahasa Jepang; jurnal Cornell University (1996),&lt;br /&gt;
Dan Anjing-anjing Memburu Kuburan, Cerpen Pilihan Kompas (1997)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghargaan :&lt;br /&gt;
Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Neder-land Wereldomroep (1981),&lt;br /&gt;
Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika harian Republika, (1994),&lt;br /&gt;
Dan esei majalah Sastra Horison, (1997),&lt;br /&gt;
Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta, (1984).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-4246511719575981134?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-26T19:51:55.567+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-PmphYdwLhr8/T0oqY6aU8LI/AAAAAAAAApk/ron_iMFWCGI/s72-c/index.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi WS Rendra - Sajak Pesan Pencopet Kepada Pacarnya –</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-ws-rendra-sajak-pesan-pencopet.html</link><category>PUISI WS RENDRA</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Thu, 23 Feb 2012 04:39:45 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-6813465502021545978</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sitti,&lt;br /&gt;
kini aku makin ngerti keadaanmu&lt;br /&gt;
Tak ‘kan lagi aku membujukmu&lt;br /&gt;
untuk nikah padaku&lt;br /&gt;
dan lari dari lelaki yang miaramu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasibmu sudah lumayan&lt;br /&gt;
Dari babu dari selir kepala jawatan&lt;br /&gt;
Apalagi?&lt;br /&gt;
Nikah padaku merusak keberuntungan&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Masa depanku terang repot&lt;br /&gt;
Sebagai copet nasibku untung-untungan&lt;br /&gt;
Ini bukan ngesah&lt;br /&gt;
Tapi aku memang bukan bapak yang baik&lt;br /&gt;
untuk bayi yang lagi kau kandung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintamu padaku tak pernah kusangsikan&lt;br /&gt;
Tapi cinta cuma nomor dua&lt;br /&gt;
Nomor satu carilah keslametan&lt;br /&gt;
Hati kita mesti ikhlas&lt;br /&gt;
berjuang untuk masa depan anakmu&lt;br /&gt;
Janganlah tangguh-tangguh menipu lelakimu&lt;br /&gt;
Kuraslah hartanya&lt;br /&gt;
Supaya hidupmu nanti sentosa&lt;br /&gt;
Sebagai kepala jawatan lelakimu normal&lt;br /&gt;
suka disogok dan suka korupsi&lt;br /&gt;
Bila ia ganti kau tipu&lt;br /&gt;
itu sudah jamaknya&lt;br /&gt;
Maling menipu maling itu biasa&lt;br /&gt;
Lagi pula&lt;br /&gt;
di masyarakat maling kehormatan cuma gincu&lt;br /&gt;
Yang utama kelicinan&lt;br /&gt;
Nomor dua keberanian&lt;br /&gt;
Nomor tiga keuletan&lt;br /&gt;
Nomor empat ketegasan, biarpun dalam berdusta&lt;br /&gt;
Inilah ilmu hidup masyarakat maling&lt;br /&gt;
Jadi janganlah ragu-ragu&lt;br /&gt;
Rakyat kecil tak bisa ngalah melulu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usahakan selalu menanjak kedudukanmu&lt;br /&gt;
Usahakan kenal satu menteri&lt;br /&gt;
dan usahakan jadi selirnya&lt;br /&gt;
Sambil jadi selir menteri&lt;br /&gt;
tetaplah jadi selir lelaki yang lama&lt;br /&gt;
Kalau ia menolak kau rangkap&lt;br /&gt;
sebagaimana ia telah merangkapmu dengan isterinya&lt;br /&gt;
itu berarti ia tak tahu diri&lt;br /&gt;
Lalu depak saja dia&lt;br /&gt;
Jangan kecil hati lantaran kurang pendidikan&lt;br /&gt;
asal kau bernafsu dan susumu tetap baik bentuknya&lt;br /&gt;
Ini selalu menarik seorang menteri&lt;br /&gt;
Ngomongmu ngawur tak jadi apa&lt;br /&gt;
asal bersemangat, tegas, dan penuh keyakinan&lt;br /&gt;
Kerna begitulah cermin seorang menteri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya aku berharap untuk anakmu nanti&lt;br /&gt;
Siang malam jagalah ia&lt;br /&gt;
Kemungkinan besar dia lelaki&lt;br /&gt;
Ajarlah berkelahi&lt;br /&gt;
dan jangan boleh ragu-ragu memukul dari belakang&lt;br /&gt;
Jangan boleh menilai orang dari wataknya&lt;br /&gt;
Sebab hanya ada dua nilai: kawan atau lawan&lt;br /&gt;
Kawan bisa baik sementara&lt;br /&gt;
Sedang lawan selamanya jahat nilainya&lt;br /&gt;
Ia harus diganyang sampai sirna&lt;br /&gt;
Inilah hakikat ilmu selamat&lt;br /&gt;
Ajarlah anakmu mencapai kedudukan tinggi&lt;br /&gt;
Jangan boleh ia nanti jadi propesor atau guru&lt;br /&gt;
itu celaka, uangnya tak ada&lt;br /&gt;
Kalau bisa ia nanti jadi polisi atau tentara&lt;br /&gt;
supaya tak usah beli beras&lt;br /&gt;
kerna dapat dari negara&lt;br /&gt;
Dan dengan pakaian seragam&lt;br /&gt;
dinas atau tak dinas&lt;br /&gt;
haknya selalu utama&lt;br /&gt;
Bila ia nanti fasih merayu seperti kamu&lt;br /&gt;
dan wataknya licik seperti saya–nah!&lt;br /&gt;
Ini kombinasi sempurna&lt;br /&gt;
Artinya ia berbakat masuk politik&lt;br /&gt;
Siapa tahu ia bakal jadi anggota parlemen&lt;br /&gt;
Atau bahkan jadi menteri&lt;br /&gt;
Paling tidak hidupnya bakal sukses di Jakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rendra&lt;br /&gt;
Dari buku Sajak-Sajak Sepatu Tua, Pustaka Jaya, Jakarta, 1972.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-6813465502021545978?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-23T19:39:45.016+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sajak D. Zamawi Imron - Refrein di Sudut Dam</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/sajak-d-zamawi-imron-refrein-di-sudut.html</link><category>Puisi D. Zawawi Imron</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Wed, 22 Feb 2012 04:18:45 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-5588625184004768072</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Refrein di Sudut Dam&lt;br /&gt;
sajak D. Zamawi Imron&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amsterdam bagiku&lt;br /&gt;
memang sebuah terminal&lt;br /&gt;
dengan detik-detik yang terasa mahal&lt;br /&gt;
Masa silam dan masa depan&lt;br /&gt;
di sini bergumpal&lt;br /&gt;
menyesali titik-titik gagal&lt;br /&gt;
Matahari yang juga mata waktu&lt;br /&gt;
mendesakku menjadi kaca manggala&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
untuk menerjemahkan cahayanya&lt;br /&gt;
menjadi api dan nyala&lt;br /&gt;
Di udara menari kapak, senapan, sapu&lt;br /&gt;
biola, gendang dan sejenis debu&lt;br /&gt;
Menyanyi buku-buku, kertas arsip&lt;br /&gt;
hendak turut memutar tasbihku&lt;br /&gt;
Jangan dulu! Di sini Amsterdam&lt;br /&gt;
Akan kukubur dendam sejarah&lt;br /&gt;
Sia-sia memberhalakan derita&lt;br /&gt;
Ibu dan kampungku selaksa kilometer jauhnya&lt;br /&gt;
tapi terasa berbatas tabir saja&lt;br /&gt;
Segenap keasingan akan lebur&lt;br /&gt;
dengan menyemai cintake hati salju&lt;br /&gt;
Terbayang pohon pinang dekat sumur dulu tempatku mandi&lt;br /&gt;
menyuruhku jangan sembunyi&lt;br /&gt;
Olle ollang&lt;br /&gt;
darahku makin bergelombang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-5588625184004768072?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-22T19:18:45.288+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ALENIA - Aku Rindu</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/alenia-aku-rindu.html</link><category>Puisiku</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Tue, 21 Feb 2012 06:09:22 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-2550593468213204606</guid><description>&lt;div class="clearfix"&gt;
&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;January 3, 2012 at 3:05am&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;
&lt;span class="timelineUnitContainer"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="uiSelector inlineBlock audienceSelector timelineAudienceSelector audienceSelectorNoTruncate dynamicIconSelector uiSelectorNormal uiSelectorDynamicTooltip"&gt;
&lt;div class="wrap"&gt;
&lt;span class="timelineUnitContainer"&gt;&lt;span class="uiButtonText"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span class="timelineUnitContainer"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;
&lt;div&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
Masihkah kau bersembunyi&lt;br /&gt;
di denting-denting keraguan hati&lt;br /&gt;
di rikuh masa depan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
Andai kau tahu betapa aku ingin&lt;br /&gt;
bercakap tanpa batas waktu&lt;br /&gt;
berdansa kaya cerita canda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
sebentar saja buang ragu&lt;br /&gt;
percayakan padaku&lt;br /&gt;
karena semua akan lebih baik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
Aku ingin segera memiliki&lt;br /&gt;
menimang seorang anak nanti&lt;br /&gt;
memandanginya tanpa jeda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
Sedamai kehidupan surga&lt;br /&gt;
jika memang kau di sini&lt;br /&gt;
tersenyum memelukku pada pagi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
segeralah berbenah&lt;br /&gt;
siapkan rajutan-rajutan indah&lt;br /&gt;
karena di sana damai akan kita tanam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
jangan biarkan semua tertunda&lt;br /&gt;
jadikan nyanyian doa ini nyata&lt;br /&gt;
kemarilah...alenia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
wujud rasa takkan terlihat&lt;br /&gt;
aku bergerak pada janji&lt;br /&gt;
aku menunggumu tanpa terlepas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
terkadang aku terlelap indahmu&lt;br /&gt;
tenggelam aku menyelami rindu&lt;br /&gt;
berharap dan menantimu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alenia&lt;br /&gt;
diperbatasan pagi aku rindu&lt;br /&gt;
setengah hati terbawa haru&lt;br /&gt;
keyakinanku bagaimana kaupun menunggu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alenia ...akupun masih menunggu&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;20&amp;quot;}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tentang sesorang yg hendak aku nikahi &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-2550593468213204606?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-21T21:09:22.060+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Hamka - Di Atas Runtuhan Kota Melaka</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-hamka-di-atas-runtuhan-kota.html</link><category>Kumpulan Puisi  Sastrawan Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Sun, 19 Feb 2012 16:30:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-4119756137341168108</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di atas runtuhan Melaka lama&lt;br /&gt;
Penyair termenung seorang diri&lt;br /&gt;
Ingat Melayu kala jayanya&lt;br /&gt;
Pusat kebesaran nenek bahari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas munggu yang ketinggian&lt;br /&gt;
Penyair duduk termenung seorang&lt;br /&gt;
Jauh pandangku ke pantai sana&lt;br /&gt;
Ombak memecah di atas karang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awan berarak mentilau bernyanyi&lt;br /&gt;
Murai berkicau bayu merayu&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kenang melayang ke alam sunyi&lt;br /&gt;
Teringat zaman yang lama lalu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunyi dan sepi, hening dan lingau&lt;br /&gt;
Melambai sukma melenyai tulang&lt;br /&gt;
Arwah Hang Tuah rasa menghimbau&lt;br /&gt;
Menyeru umat tunduk ke Tuhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sini dahulu alat kebesaran&lt;br /&gt;
Adapt resam teguh berdiri&lt;br /&gt;
Duduk semayam Yang Dipertuan&lt;br /&gt;
Melimpahkan hukum segenap negeri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sini dahulu Laksamana Hang Tuah&lt;br /&gt;
Satria moyang Melayu jati&lt;br /&gt;
Jaya perkasa, gagah dan mewah&lt;br /&gt;
‘Tidak Melayu hilang di bumi’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sini dahulu paying terkembang&lt;br /&gt;
Megah Bendahara Seri Maharaja&lt;br /&gt;
Bendahara yang cerdik tumpuan dagang&lt;br /&gt;
Lubuk budi laut bicara&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyair menghadap ke laut lepas&lt;br /&gt;
Selat Melaka tenang terbentang&lt;br /&gt;
Awan berarak riak menghempas&lt;br /&gt;
Mentari turun rembanglah petang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai tuan Selat Melaka&lt;br /&gt;
Mengapa tuan berdiam diri?&lt;br /&gt;
Tidakkah tahu untung hamba&lt;br /&gt;
Hamba musafir datang ke mari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mana Daulat Yang Dipertuan&lt;br /&gt;
Mana Hang Tuah, mana Hang Jebat&lt;br /&gt;
Mana Bendahara johan pahlawan&lt;br /&gt;
Bukankah jelas di dalam babad&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namanya tetap jadi sebutan&lt;br /&gt;
Bekasnya hilang payah mencari&lt;br /&gt;
Sedikit penyair bertemu kesan&lt;br /&gt;
Musnah dalam gulungan hari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa ini bekas yang tinggal&lt;br /&gt;
Umat yang lemah terkatung-katung&lt;br /&gt;
Hidup menumpang tanah terjual&lt;br /&gt;
Larat wahai larat dipukul untung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakah ini bekas peninggalan&lt;br /&gt;
Belahan diriku umat Melayu&lt;br /&gt;
Lemah dan lungai tiada karuan&lt;br /&gt;
Laksana bunga terkulai layu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di darat penyair melihat&lt;br /&gt;
Gunung Ledang duduk termangu&lt;br /&gt;
Tinggi menjulang hijau dan dahsyat&lt;br /&gt;
Hiasan hikayat nenekku dahulu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam kuasyik merenung gunung&lt;br /&gt;
Di dalam kemilau panas kan petang&lt;br /&gt;
Tengah khayal dirundung menung&lt;br /&gt;
Rasanya ada orang yang datang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyair hanya duduk sendiri&lt;br /&gt;
Tapi keliling rasanya ramai&lt;br /&gt;
Bulu romaku rasa berdiri&lt;br /&gt;
Berubah warna alam yang permai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada rasanya bisikan sayu&lt;br /&gt;
Hembusan angina di Gunung Ledang&lt;br /&gt;
Entah puteri datang merayu&lt;br /&gt;
Padahal beta bukan meminang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukanlah hamba Sultan Melaka&lt;br /&gt;
Jambatan emas tak ada padaku&lt;br /&gt;
Kekayaanku hanya syair seloka&lt;br /&gt;
Hanya nyanyian untuk bangsaku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Justeru terdengar puteri berkata&lt;br /&gt;
Suaranya halus masuk ke sukma&lt;br /&gt;
Maksudmu tuan sudahlah nyata&lt;br /&gt;
Hendak mengenang riwayat yang lama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan kuminta jambatan emas&lt;br /&gt;
Tapi nasihat hendak kuberi&lt;br /&gt;
Kenang-kenangan zaman yang lepas&lt;br /&gt;
Iktibar cucu kemudian hari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum engkau mengambil simpulan&lt;br /&gt;
Sebelum Portugis engkau kutuki&lt;br /&gt;
Inggeris Belanda engkau cemarkan&lt;br /&gt;
Ketahui dahulu salah sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan Mahmud Shah mula pertama&lt;br /&gt;
Meminang diriku ke Gunung Ledang&lt;br /&gt;
Segala pintaku baginda terima&lt;br /&gt;
Darah semangkuk takut menuang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakan cita akan tercapai&lt;br /&gt;
Adakan hasil yang diingini&lt;br /&gt;
Jika berbalik sebelum sampai&lt;br /&gt;
Mengorbankan darah tiada berani&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalah daya Datuk Bendahara&lt;br /&gt;
Jikalau Sultan hanya tualang&lt;br /&gt;
Memikir diri seorang sahaja&lt;br /&gt;
Tidak mengingat rakyat yang malang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan Ahmad Shah apalah akalnya&lt;br /&gt;
Walaupun baginda inginkan syahid&lt;br /&gt;
Mualim Makhdum lemah imannya&lt;br /&gt;
‘Di sini bukan tempat Tauhid’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bendahara Tua Paduka Raja&lt;br /&gt;
Walaupun ingin mati berjuang&lt;br /&gt;
Bersama hilang dengan Melaka&lt;br /&gt;
Anak cucunya hendak lari pulang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berapa pula penjual negeri&lt;br /&gt;
Mengharap emas perak bertimba&lt;br /&gt;
Untuk keuntungan diri sendiri&lt;br /&gt;
Biarlah bangsa menjadi hamba&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sebabnya umat akan jatuh&lt;br /&gt;
Baik dahulu atau sekarang&lt;br /&gt;
Inilah sebab kakinya lumpuh&lt;br /&gt;
Menjadi budak belian orang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sakitnya bangsa bukan di luar&lt;br /&gt;
Tetapi terhunjam di dalam nyawa&lt;br /&gt;
Walau diubat walau ditawar&lt;br /&gt;
Semangat hancur apalah daya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Janjian Tuhan sudah tajalli&lt;br /&gt;
Mulialah umat yang teguh iman&lt;br /&gt;
Allah tak pernah mungkirkan janji&lt;br /&gt;
Tarikh riwayat jadi pedoman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah Allah mengubah untung&lt;br /&gt;
Suatu kaum dalam dunia&lt;br /&gt;
Jika hanya duduk terkatung&lt;br /&gt;
Berpeluk lutut berputus asa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malang dan mujur nasibnya bangsa&lt;br /&gt;
Turun dan naik silih berganti&lt;br /&gt;
Terhenyak lemah naik perkasa&lt;br /&gt;
Bergantung atas usaha sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat yang lama tutuplah sudah&lt;br /&gt;
Apalah guna lama terharu&lt;br /&gt;
Baik berhenti bermenung gundah&lt;br /&gt;
Sekarang dibuka lembaran baru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Habis sudah madahnya puteri&lt;br /&gt;
Ia pun ghaib capal pun hilang&lt;br /&gt;
Tinggal penyair seorang diri&lt;br /&gt;
Di hadapan cahaya jelas membentang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pantai Melaka kulihat riang&lt;br /&gt;
Nampaklah ombak kejar-mengejar&lt;br /&gt;
Bangunlah Tuan belahanku saying&lt;br /&gt;
Seluruh Timur sudahlah besar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bercermin pada sejarah moyang&lt;br /&gt;
Kita sekarang mengubah nasib&lt;br /&gt;
Di zaman susah atau pun riang&lt;br /&gt;
Tolong tetap dari Yang Ghaib&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangunlah kasih, umat Melayu&lt;br /&gt;
Belahan asal satu turunan&lt;br /&gt;
Bercampur darah dari dahulu&lt;br /&gt;
Persamaan nasib jadi kenangan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semangat yang lemah dibuang jauh&lt;br /&gt;
Jiwa yang kecil kita besarkan&lt;br /&gt;
Yakin percaya, iman pun teguh&lt;br /&gt;
Zaman hadapan, penuh harapan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukanlah kecil golongan tuan&lt;br /&gt;
Tujuh puluh juta Indonesia&lt;br /&gt;
Bukan sedikit kita berteman&lt;br /&gt;
Sudahlah bangun bumi Asia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutarik nafas, kukumpul ingatan&lt;br /&gt;
Aku pun tegak dari renungku&lt;br /&gt;
Jalan yang jauh aku teruskan&lt;br /&gt;
Melukis riwayat sifat hidupku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kota Melaka tinggallah sayang&lt;br /&gt;
Beta nak balik ke Pulau Percha&lt;br /&gt;
Walau terpisah engkau sekarang&lt;br /&gt;
Lambat launnya kembali pula&lt;br /&gt;
Walaupun luas watan terbentang&lt;br /&gt;
Danau Maninjau terkenang jua&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~ Hamka&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-4119756137341168108?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-20T07:30:00.144+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Acep Zamzam Noor - Kepada Seorang Penyanyi Dangdut</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-acep-zamzam-noor-kepada-seorang.html</link><category>Puisi Acep Zamzam Noor</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Sun, 19 Feb 2012 02:01:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-6668315545787846857</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
KEPADA SEORANG PENYANYI DANGDUT&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah melambungnya harga-harga&lt;br /&gt;
Suaramu semakin merdu saja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah membengkaknya hutang negara&lt;br /&gt;
Wajahmu semakin cantik saja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruwetnya masalah sosial, politik dan agama&lt;br /&gt;
Tubuhmu semakin sintal saja&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah merebaknya teror dan berbagai bencana&lt;br /&gt;
Goyanganmu semakin heboh saja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah langkanya pemimpin yang bisa dipercaya&lt;br /&gt;
Kehadiranmu semakin berarti saja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah terpuruknya kehormatan bangsa&lt;br /&gt;
Hargamu semakin melambung saja&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-6668315545787846857?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-19T17:01:00.133+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Tanpa akhir</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/tanpa-akhir.html</link><category>Puisiku</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Sat, 18 Feb 2012 01:12:44 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-7374439079324222823</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ada yang hilang dari sajak-sajak&lt;br /&gt;
Ada retak terpampang dalam&lt;br /&gt;
dan diam dibawah ramai&lt;br /&gt;
gerak
berselingkuh pada tatapan kosong&lt;br /&gt;
tanpa akhir ....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-7374439079324222823?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-18T16:12:44.771+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sajak D. Zamawi Imron - Bulan Tertusuk Lalang</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/sajak-d-zamawi-imron-bulan-tertusuk.html</link><category>Puisi Acep Zamzam Noor</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Fri, 17 Feb 2012 16:30:02 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-5960007864828209582</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Bulan Tertusuk Lalang&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--exiW8BHyM0/S_crZ0H4NeI/AAAAAAAAAYg/WEMJW0HtBGI/s1600/d-zawawi-imron-tif.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/--exiW8BHyM0/S_crZ0H4NeI/AAAAAAAAAYg/WEMJW0HtBGI/s200/d-zawawi-imron-tif.jpg" width="163" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
sajak D. Zamawi Imron&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bulan rebah&lt;br /&gt;
angin lelah di atas kandang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cicit-cicit kelelawar&lt;br /&gt;
menghimbau di ubun bukit&lt;br /&gt;
dimana kelak kujemput anak cucuku&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
menuntun sapi berpasang-pasang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
angin termangu di pohon asam&lt;br /&gt;
bulan tetusuk lalang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi malam yang penuh belas kasihan&lt;br /&gt;
menerima semesta bayang-bayang&lt;br /&gt;
dengan mesra menidurkannya&lt;br /&gt;
dalam ranjang-ranjang nyanyian&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-5960007864828209582?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-18T07:30:02.257+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/--exiW8BHyM0/S_crZ0H4NeI/AAAAAAAAAYg/WEMJW0HtBGI/s72-c/d-zawawi-imron-tif.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Puisi WS Rendra-- Pesan Pencopet pada Pacarnya</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-ws-rendra-pesan-pencopet-pada.html</link><category>PUISI WS RENDRA</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Fri, 17 Feb 2012 01:37:59 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-5102363901877137365</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-K-XX-Ga88sM/SlFp_HJe6NI/AAAAAAAAAEE/EdZUNPZ0NB8/s1600/rendra.bmp" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-K-XX-Ga88sM/SlFp_HJe6NI/AAAAAAAAAEE/EdZUNPZ0NB8/s200/rendra.bmp" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sitti,&lt;br /&gt;
kini aku makin ngerti keadaanmu.&lt;br /&gt;
Tak’kan lagi aku membujukmu&lt;br /&gt;
untuk nikah padaku&lt;br /&gt;
dan lari dari lelaki yang melamarmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Lelawa terbang berkejaran&lt;br /&gt;
tandanya hari jadi sore.&lt;br /&gt;
Aku berjanji&lt;br /&gt;
di kamar mandi&lt;br /&gt;
tubuhku yang elok bersih kucuci.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
O, abang, kekasihku&lt;br /&gt;
kutunggu kau di tikungan&lt;br /&gt;
berbaju renda&lt;br /&gt;
berkain biru).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasibmu sudah lumayan.&lt;br /&gt;
Dari babu jadi selir kepala jawatan.&lt;br /&gt;
Apalagi?&lt;br /&gt;
Nikah padaku merusak keberuntungan.&lt;br /&gt;
masa depanku terang repot.&lt;br /&gt;
Sebagai copet nasibku untung-untungan.&lt;br /&gt;
Ini bukan ngesah.&lt;br /&gt;
Tapi aku memang bukan bapak yang baik&lt;br /&gt;
untuk bayi yang lagi kaukandung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Lelawa terbang berkejaran&lt;br /&gt;
tandanya hari jadi sore.&lt;br /&gt;
mentari nggeloyor muntah di laut&lt;br /&gt;
mabuk napas orang Jakarta.&lt;br /&gt;
O, angin.&lt;br /&gt;
O, abang.&lt;br /&gt;
Sarapku sudah gemetar&lt;br /&gt;
menanti lidahmu&lt;br /&gt;
‘njilati tubuhku)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintamu padaku tak pernah kusangsikan.&lt;br /&gt;
tapi cinta Cuma nomor dua.&lt;br /&gt;
nomor satu carilah keselamatan.&lt;br /&gt;
Hati kita mesti iklas&lt;br /&gt;
berjuang untuk masa depan anakmu.&lt;br /&gt;
Janganlah tangguh-tangguh menipu lelakimu.&lt;br /&gt;
Kuraslah hartanya.&lt;br /&gt;
Supaya hidupmu nanti sentosa.&lt;br /&gt;
Sebagai kepala jawatan lelaki normal&lt;br /&gt;
suka disogok dan suka korupsi.&lt;br /&gt;
Bila ia ganti kautipu&lt;br /&gt;
itu sudah jamaknya.&lt;br /&gt;
Maling menipu maling itu biasa.&lt;br /&gt;
Lagipula&lt;br /&gt;
di masyarakat maling kehormatan Cuma gincu.&lt;br /&gt;
Yang utama kelicinan.&lt;br /&gt;
nomor dua keberanian.&lt;br /&gt;
Nomor tiga Keuletan.&lt;br /&gt;
Nomor empat ketegasan, biarpun dalam berdusta.&lt;br /&gt;
Inilah ilmu hidup masyarakat maling.&lt;br /&gt;
Jadi janganlah ragu-ragu.&lt;br /&gt;
Rakyat kecil tak bisa ngalah melulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Lelawa terbang berkejaran&lt;br /&gt;
tandanya hari jadi sore&lt;br /&gt;
Hari ini kamu mesti kulewatkan&lt;br /&gt;
kerna lelakiku telah tiba.&lt;br /&gt;
Malam ini&lt;br /&gt;
badut yang tolol bakal main acrobat&lt;br /&gt;
di dalam ranjangku).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usahakan selalu menanjak kedudukanmu.&lt;br /&gt;
Usahakan kenal satu mentri&lt;br /&gt;
dan usahakan jadi selirnya.&lt;br /&gt;
Sambil jadi selir mentri&lt;br /&gt;
tetaplah jadi selir lelaki yang lama.&lt;br /&gt;
Kalau ia menolak kaurangkap&lt;br /&gt;
sebagaimana ia telah merangkapmu dengan istrinya&lt;br /&gt;
itu berarti ia tak tahu diri.&lt;br /&gt;
Lalu depak saja dia.&lt;br /&gt;
Jangan kecil hati lantaran kurang pendidikan&lt;br /&gt;
asal kau bernafsu dan susumu tetap baik bentuknya&lt;br /&gt;
Ini selalu akan menarik seorang mentri&lt;br /&gt;
Ngomongmu ngawur tak jadi apa&lt;br /&gt;
asal bersemangat, tegas dan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;
Kerna begitulah cermin seorang mentri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Lelawa terbang berkejaran&lt;br /&gt;
tandanya hari jadi sore.&lt;br /&gt;
kenanganku melayang ke saat itu&lt;br /&gt;
di tengah asyik nonton pawai&lt;br /&gt;
kau meremas pantatku&lt;br /&gt;
demikianlah kita lalu berkenalan&lt;br /&gt;
ialah setelah kutendang kakimu.&lt;br /&gt;
Dan sekarang setiap sore&lt;br /&gt;
bagaikan pisang yang ranum&lt;br /&gt;
aku rindu tanganmu&lt;br /&gt;
untuk mengupasku)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya aku berharap untuk anakmu nanti.&lt;br /&gt;
Siang malam jagalah ia.&lt;br /&gt;
Kemungkinan besar ia lelaku.&lt;br /&gt;
Ajarlah berkelahi&lt;br /&gt;
dan jangan boleh ragu-ragu memukul dari belakang.&lt;br /&gt;
Jangan boleh menilai orang dari wataknya.&lt;br /&gt;
Sebab hanya ada dua nilai: kawan atau lawan.&lt;br /&gt;
kawan bias baik sementara&lt;br /&gt;
Sedang lawan selamanya jahat nilainya.&lt;br /&gt;
ia harus diganyang sampai sirna.&lt;br /&gt;
Inilah hakekat ilmu selamat.&lt;br /&gt;
Ajarlah anakmu mencapai kedudukan tinggi.&lt;br /&gt;
Jangan boleh ia nanti jadi professor atau guru.&lt;br /&gt;
Itu celaka, uangnya tak ada.&lt;br /&gt;
Kalau bias ia nanti jadi polisi atau tentara&lt;br /&gt;
suapay tak usah beli beras&lt;br /&gt;
kerna dapat dari Negara.&lt;br /&gt;
Dan dengan pakaian seragam&lt;br /&gt;
dinas atau tak dinas&lt;br /&gt;
haknya selalu utama.&lt;br /&gt;
Bila ia nanti fasih merayu seperti kamu&lt;br /&gt;
dan wataknya licik seperti saya – nah!&lt;br /&gt;
ini kombinasi sempurna.&lt;br /&gt;
Artinya ia berbakat masuk politik.&lt;br /&gt;
Siapa tahu ia bakal jadi anggota parlemen.&lt;br /&gt;
Atau bahkan jadi mentri.&lt;br /&gt;
Paling tidak hidupnya bakal sukses di Jakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Lelawa terbang berkejaran&lt;br /&gt;
tandanya hari jadi sore.&lt;br /&gt;
Oplet-oplet memasang lampu.&lt;br /&gt;
Perempuan-perempuan memasang gincu&lt;br /&gt;
Dan, abang, pesankan padaku&lt;br /&gt;
di mana kita bakal ketemu).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-5102363901877137365?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-17T16:37:59.893+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-K-XX-Ga88sM/SlFp_HJe6NI/AAAAAAAAAEE/EdZUNPZ0NB8/s72-c/rendra.bmp" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sajak-sajak Joko Pinurbo - Celana 2</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/sajak-sajak-joko-pinurbo-celana-2.html</link><category>Kumpulan Puisi  Sastrawan Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Tue, 14 Feb 2012 18:59:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-6624899297791638545</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Celana, 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika sekolah kami sering disuruh menggambar celana&lt;br /&gt;
yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis&lt;br /&gt;
seluk-beluk yang di dalam celana, sehingga kami pun tumbuh&lt;br /&gt;
menjadi anak-anak manis yang penakut dan pengecut,&lt;br /&gt;
bahkan terhadap nasib kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu kami suka usil dan sembunyi-sembunyi&lt;br /&gt;
membuat coretan dan gambar porno di tembok kamar mandi&lt;br /&gt;
sehingga kami pun terbiasa menjadi orang-orang&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
yang suka cabul terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah loyo dan jompo, kami mulai bisa berfantasi&lt;br /&gt;
tentang hal-ihwal yang di dalam celana:&lt;br /&gt;
ada raja kecil yang galak dan suka memberontak;&lt;br /&gt;
ada filsuf tua yang terkantuk-kantuk merenungi&lt;br /&gt;
rahasia alam semesta;&lt;br /&gt;
ada gunung berapi yang menyimpan sejuta magma;&lt;br /&gt;
ada juga gua garba yang diziarahi para pendosa&lt;br /&gt;
dan pendoa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konon, setelah berlayar mengelilingi bumi, Columbus pun&lt;br /&gt;
akhirnya menemukan sebuah benua baru di dalam celana&lt;br /&gt;
dan Stephen Hawking khusyuk bertapa di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1996)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-6624899297791638545?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-15T09:59:00.078+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Subagio Sastrowardoyo -Pidato Di Kubur Orang</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-subagio-sastrowardoyo-pidato-di.html</link><category>Puisi Subagio Sastrowardoyo</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Tue, 14 Feb 2012 06:58:44 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-6766743486706786756</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ia terlalu baik buat dunia ini.&lt;br /&gt;
Ketika gerombolan mendobrak pintu&lt;br /&gt;
Dan menjarah miliknya&lt;br /&gt;
Ia tinggal diam dan tidak mengadakan perlawanan.&lt;br /&gt;
Ketika gerombolan memukul muka&lt;br /&gt;
Dan mendopak dadanya&lt;br /&gt;
Ia tinggal diam dan tidak menanti pembalasan.&lt;br /&gt;
Ketika gerombolan menculik istri&lt;br /&gt;
Dan memperkosa anak gadisnya&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Ia tinggal diam dan tidak memendam kebencian.&lt;br /&gt;
Ketika gerombolan membakar rumahnya&lt;br /&gt;
Dan menembak kepalanya&lt;br /&gt;
Ia tinggal diam dan tidak menguvapkan penyesalan.&lt;br /&gt;
Ia terlalu baik buat dunia ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-6766743486706786756?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-14T21:58:44.059+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cerpen Wilson Nadeak "Dalam Hening Waktu "</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/cerpen-wilson-nadeak-dalam-hening-waktu.html</link><category>Cerpen dari Surat Kabar</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Mon, 13 Feb 2012 15:11:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-1781687381219486122</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AMT5GiTYKR0/TBkekkZLQqI/AAAAAAAAAbw/aDpSjSQCtxI/s1600/cerpen+new.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-AMT5GiTYKR0/TBkekkZLQqI/AAAAAAAAAbw/aDpSjSQCtxI/s200/cerpen+new.jpg" width="155" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dalam hening waktu aku tidak mau diganggu. Lepas subuh aku mengambil saat teduh dan mencoba merenungkan sesuatu dan membiarkan pikiran, hati, dan kalbuku mengembara. Kurasakan suatu suasana gairah bertemu dengan Sang Tuhan dan berdialog dengan-Nya setelah menjelajah angkasa mahaluas yang biru. Sebuah suasana syahdu menggelegak dalam kalbu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat teduhku terkadang terentak membuat tubuhku seolah-olah terangkat, mengapung tanpa berat, ketika dering telepon pagi itu berdering. Aku mengadakan konsentrasi lagi, tidak mengabaikan dering telepon yang bertalu-talu, ketika pikiranku mengelana ke batas ruang dan waktu, dan &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;tubuhku terhempas ke padang rumput yang hijau. Suasana nyaman tiba-tiba terganggu lagi, juga, oleh bunyi telepon itu. Aku tidak mengangkatnya. Telah kutetapkan dalam hati, setiap pagi lepas subuh, aku tidak mau diganggu oleh siapa dan oleh apa pun! Mengapa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri, bebas dari usikan orang-orang di sekelilingku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk ketujuh kalinya saat teduhku terganggu lagi. Ah, Jakarta! Jakarta lagi! Mengapa aku terhempas ke Jakarta ini? Di luar hiruk pikuk kendaraan yang tidak ada putus-putusnya. Siang malam jalan-jalan raya padat kendaraan berbagai macam. Orang-orang yang mengejar waktu, mengejar kendaraan, dan dikejar waktu yang tidak berkesudahan membuat diriku terpenjara di belantara gedung-gedung pencakar langit ini. Mengapa mereka menarik aku ke kota yang tidak mengenal batas waktu ini? Di jemaatku di pedesaan, orang-orang ramah kepadaku. Mereka datang ke rumahku atau aku mendatangi rumah mereka, tanpa bunyi telepon segala. Saat teduhku sangat tidak terganggu. Aku dapat membuka jendela dan menghirup udara pegunungan yang segar. Aku dapat menatap puncak gunung dan menyaksikan rombongan burung gagak terbang riuh pada senja hari dan kemudian sepi menyentuh kalbu. Air pegunungan yang jernih, dingin, bersih, melebihi kemurnian air aqua yang tersedia di balik bangunan tinggi ini. Udara pegunungan jauh lebih sejuk daripada AC yang terus-menerus merayapi ruangan tinggalku di tingkat tiga ini. Sempurna sudah keterperangkapanku di udara Jakarta yang menyesakkan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dering telepon lagi untuk kedelapan kalinya. Suasana hening kulepaskan dari benakku. Aku turun ke kantor di lantai satu. Barangkali ada anggota jemaatku yang betul-betul memerlukan pertolonganku. Keterlaluan telepon itu. Tetapi, siapa tahu ada anggota jemaat yang meninggal dunia dan memerlukan simpati dan doa-doa yang lebih hidup daripada “saat teduhku” ini? Kuturuni tangga dan kucoba menghalau pikiran buruk dari benakku. Biasanya panggilan telepon pagi hari memang bersuasana duka. Sama seperti dering telepon tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Halo? Saya berbicara dengan siapa? Ada sesuatu yang dapat kutolong?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di seberang sana hening sejenak, lalu kemudian diikuti desah isak yang tertahan. Aku menunggu dengan ragu-ragu. “Siapa? halo?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berlalu hening dalam beberapa detik, kudengar suara perempuan, “Halo? Pak Pendeta?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, ada apa, Bu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah saya mengganggu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tidak apa-apa. Ada yang dapat kubantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Boleh saya datang ke kantor Pendeta?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Tentu. Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudengar isakan dan kemudian disusul suara serak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pak Pendeta, di tangan kananku ada botol Baygon, sudah lama hendak kuminum dalam ragu….”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bu, kedatangan Ibu kutunggu. Datanglah segera. Lepaskan Baygon itu. Datanglah! Saya akan mendengar keluhan Ibu. Sungguh, kutunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah,” jawabnya pelahan. Terdengar bunyi botol diletakkan di atas meja. Lalu, gagang telepon yang ditaruh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gawat! Gawat! kataku kepada diriku sendiri. Di pedalaman, jarang ada anggota jemaatku menggantung diri sekalipun kemarau panjang atau hama wereng menggasak padi mereka, atau tikus yang merajalela dan merusak padi yang sedang membesar. Aku tidak tahu seberapa jauh ia dari tempatku tinggal. Ibu itu tidak menyebut namanya dan itu hal biasa karena setiap anggota jemaat menyangka pendeta pastilah mengenali suara anggota jemaatnya. Tak peduli aku sebagai orang baru di kota ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejam kemudian terdengar bunyi bel pintu. Kubuka pintu dan tampak di depanku seorang ibu berusia kira-kira empat puluhan. Berpakaian rapi. Rupanya manis dan lembut. Pastilah ia seorang ibu yang baik di dalam keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuklah, Bu,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya Dian, Pak Pendeta. Ibu Dian Kesuma.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya! Saya tahu. Saya ingat sekarang,” kataku sambil mengingat-ingat kembali bahwa selang beberapa bulan yang lalu, aku bertemu dengan suaminya di gereja, dan istrinya di sampingnya. Kesan pertama yang kuperoleh, pastilah mereka keluarga bahagia. Dua anak mereka yang masih duduk di bangku SD juga duduk di samping mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Bu Dian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bu Dian mengeluarkan saputangannya dan menutupi wajahnya dengan saputangan itu. Ia menahan isak. Lama suasana hening. Ia menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tangisnya reda, kudengar suaranya mulai normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pak Pendeta. Telah berkali-kali Pak Pendeta kutelepon pagi hari, tetapi tidak ada yang mengangkat. Apakah saya mengganggu?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali saat teduhku, saat aku tidak mau diganggu. Ketika hening waktu aku bergumul dengan perasaanku sendiri dan mencari keteduhan di bawah sayap Yang Mahakuasa. Pada saat yang bersamaan, di sini ada seorang anak manusia yang memerlukan pertolongan dariku. Tuhan, ampuni aku, kataku kepada diriku sendiri. Betapa egois sikapku. Aku merasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkanlah saya, Bu Dian,” jawabku, “Ibu tidak mengganggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mempunyai masalah, Pak Pendeta. Bolehkah saya menceritakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya akan mendengar,” jawabku. Aku selalu siap untuk mendengar dan memang itulah tugas penting yang diberikan Tuhan kepadaku. Mendengar dan mendengar. Mamahami, menaruh simpati, dan sedikit berkata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pak Pendeta, tadi pagi saya sudah bertekad untuk meminum Baygon kalau telepon kali terakhir itu tidak diangkat. Saya mengatakan kepada Tuhan apabila telepon pendeta ini tidak diangkat sama sekali berarti niatku harus kulaksanakan. Itulah sebuah pertanda bahwa tidak ada lagi gunanya aku hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, ketika dering telepon yang terakhir diangkat, saya meletakkan Baygon di atas meja dan buru-buru datang kemari. Tidak ada lagi tempatku mengadu, tidak ada. Pertama kali saya ketahui bahwa suamiku jatuh cinta lagi kepada seorang sahabatku yang karib, kuberitahukan kepada mertuaku, tetapi mereka mengatakan bahwa itu fitnah. Saya tanyakan gosip itu kepada suamiku, dijawabnya tidak ada apa-apa. Hubunganku dengan pihak keluarga suami menjadi retak. Mereka mengatakan bahwa saya menantu yang tidak tahu diri. Hal ini pun kuberitahukan kepada pihak keluargaku, mereka mengerti keadaanku dan memahami persoalanku, tapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat melakukan sesuatu karena kami menikah atas dasar suka sama suka sekalipun mereka tidak merestuinya. Hari demi hari kulalui dengan perasaan yang campur aduk. Suamiku bersikap biasa-biasa saja. Kalau ia pergi ke luar kota karena dinas, ia memberitahukan sebagaimana adanya. Kecurigaanku tidak mungkin kuceritakan kepada temanku yang paling dekat pun karena mereka pun dekat dengan perempuan yang kucurigai. Tetapi, hati nuraniku mengatakan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerap kali kami bertengkar ketika anak-anak sudah tidur, hanya karena soal-soal kecil saja. Di mata suamiku, saya mendapat kesan, saya seperti penghalang bagi dirinya. Entah mengapa saya beroleh kesan seperti itu, saya tidak tahu. Sering ia marah-marah tanpa alasan. Kucoba mengalah, berdamai dengan diriku sendiri. Semua prasangka burukku kuhalau dari kalbu. Saya berusaha menjadi ibu yang baik kepada anak-anakku. Segala kasih sayangku kucurahkan kepada kedua anakku. Merekalah tumpuan harapanku. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi antara saya dan ayah mereka. Berbulan-bulan saya berusaha mendamaikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, belakangan saya sering mendapat telepon entah dari siapa. Dari seorang perempuan yang selalu bertanya di mana suamiku. Saya merasa risau mengapa ia begitu peduli dengan suamiku. Kukatakan hal ini kepada suamiku, tetapi ia mengatakan supaya hal itu dilupakan saja. ’Sekarang ini banyak perempuan iseng yang sekadar mengganggu keluarga orang.’ Akan tetapi, saya justru bertanya-tanya kepada diri sendiri, mengapa perempuan itu menanyakan suamiku pada jam-jam kantor ke rumah. Pastilah ia tahu bahwa suamiku ada di kantornya. Beberapa waktu belakangan ini, telepon dari perempuan yang sama (walaupun volume suara yang agak berbeda) menanyakan di mana suamiku dan ia ingin meminta pertanggungjawaban. ’Pertanggungjawaban apa?’ tanyaku. ’Atas perbuatannya!’ jawabnya singkat, lalu memutus telepon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam hari kutanyakan hal itu kepada suamiku. Tampaknya ia grogi dan berdiam diri. Kali ini tidak bereaksi dengan kemarahan seperti biasanya. Malah ia berdiam diri, sampai akhirnya saya mendesaknya. Ajaib, kali ini ia minta maaf kepadaku. ’Maafkanlah saya, Dian. Terlalu lama saya bersandiwara denganmu. Maafkanlah saya!’ ’Apa yang harus kumaafkan? Kau terlibat dengan perempuan yang kucurigai itu?’ ’Ya,’ jawabnya perlahan. Saya merasa tanah tempatku berpijak runtuh, menganga, dan saya tenggelam ke dalamnya. Saya menangis sejadi-jadinya. Semalam-malaman air mataku membasahi bantalku. Saya tidak tahu hendak berbuat apa. Suamiku dengan terus terang mengakui kesalahannya kali ini dan memohon kepadaku maaf. Tetapi, maaf apa yang hendak kuberikan kepadanya? Haruskah saya melupakan peristiwa itu, sementara teror telepon datang dari waktu ke waktu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak Pendeta, beberapa waktu yang lalu, ketika bangun pagi, saya menemukan sebuah surat di atas meja. Kubuka surat itu. Isinya? Aduh, dunia sudah kiamat bagiku. Ia meminta maaf dan pergi untuk selamanya dari sampingku dan samping anak-anakku. Ia memberitahukan bahwa kedua rumah yang dibeli dan ditempati atas namaku diserahkan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuhubungi keluarga pihak suamiku di mana keberadaan putra mereka, suamiku, tetapi mereka menjawab ’Tidak tahu.’ Bahkan, mereka balik bertanya mengapa seorang suami meninggalkan istri dan anak-anak, pastilah karena istri yang tidak becus. Saya sakit hati sekali. Berminggu-minggu saya mencarinya ke mana-mana, tetapi tidak berhasil menemukannya. Orang kantornya pun mengatakan bahwa sudah lama ia tidak masuk kantor. Anak-anak menanyakan di mana ayah mereka, kujawab bahwa ia sedang bepergian ke luar kota untuk waktu yang lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam situasi kemelut ini saya dikejutkan lagi berita bahwa kedua anak saya diambil pihak keluarga suamiku dari sekolah. Kiamat yang lain menimpaku lagi. Apa arti hidup ini bagiku, tanpa suami, tanpa anak dan tanpa keluarga? Di mana Tuhan, Pak Pendeta? Mengapa Dia membiarkan ini semua terjadi kepada diriku?…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan aku menjawabnya, “Tuhan selalu mengasihi orang yang teraniaya, Bu Dian. Ia melihat deritamu, Ia memberi kekuatan kepadamu sampai suatu saat jalan terbaik ditunjukkan-Nya kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulihat ia menarik napas dalam-dalam sambil menghapus titik-titik air mata dari pipinya. “Saya mendoakanmu, Bu Dian. Jangan putus asa. Tuhan akan menunjukkan jalan terbaik bagimu. Sabarlah. Jangan ikuti jalan iblis yang menggodamu, yang membawamu ke tempat yang tidak kaukehendaki. Serahkan jalan hidupmu kepada Tuhan, maka Ia akan menyelamatkanmu….”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata itu frase dari Kitab Suci, yang kupetik untuknya. Aku tidak tahu apakah itu dapat menghiburnya dan memberi kelegaan baginya. Aku sendiri pun pada saat teduh lebih memikirkan hening waktu daripada kenyataan yang kuhadapi. Tapi pasti, Tuhan yang ada di seberang sana tetaplah Tuhan yang memerhatikan jalan hidup manusia. Manusia adalah pelakon bagi hidupnya dan perannya yang dipilih sendiri berlangsung di pentas kehidupan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa minggu kemudian dering telepon subuh hari mengentakkanku dari saat teduh yang terganggu. Segera kuangkat telepon. “Halo?” Dari seberang sana ada suara yang mudah kukenali. “Halo, Pak Pendeta. Ini Ibu Dian Kesuma. Perlu Pendeta kukabari bahwa kedua rumahku yang ada di Jakarta telah kujual. Sebagai anggota jemaat Anda, saya pamit. Saya akan pergi ke negeri seberang. Mencoba melupakan segala sesuatu. Kendaraan pun telah saya jual karena di negeri yang baru itu saya akan belajar melupakan sesuatu yang pernah singgah dalam hidupku. Terima kasih atas nasihat Pak Pendeta. Saya akan naik pesawat pertama pagi ini. Maafkan saya yang telah mengganggu saat teduh Pak Pendeta. Semoga di angkasa sana, kalau Tuhan mengizinkan, saya dapat merenungkan ciptaan kemuliaan Tuhan. Dari angkasa kita tahu bahwa manusia tak lebih dari setitik air yang akan lenyap dan menguap di udara. Selamat tinggal….”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun tenggelam dalam hening waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bandung, 8 November 2004&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-1781687381219486122?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-14T06:11:00.050+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-AMT5GiTYKR0/TBkekkZLQqI/AAAAAAAAAbw/aDpSjSQCtxI/s72-c/cerpen+new.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Video Baca Puisi Sutardji Calzoum Bachri__Kerawang Bekasi (2009 )</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/video-baca-puisi-sutardji-calzoum.html</link><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Mon, 13 Feb 2012 02:10:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-7595592970442302792</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span id="goog_580519828"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_580519829"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;object height="385" width="480"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/RboF1DOteZA?fs=1&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;color1=0x234900&amp;amp;color2=0x4e9e00"&gt;
&lt;/param&gt;
&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;
&lt;/param&gt;
&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;
&lt;/param&gt;
&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/RboF1DOteZA?fs=1&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;color1=0x234900&amp;amp;color2=0x4e9e00" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-7595592970442302792?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-13T17:10:00.293+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><enclosure url="http://www.youtube.com/v/RboF1DOteZA?fs=1&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;color1=0x234900&amp;amp;color2=0x4e9e00" length="1183" type="application/x-shockwave-flash" /><media:content url="http://www.youtube.com/v/RboF1DOteZA?fs=1&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;color1=0x234900&amp;amp;color2=0x4e9e00" fileSize="1183" type="application/x-shockwave-flash" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle> </itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</itunes:author><itunes:summary> </itunes:summary></item><item><title>Puisi Subagio Sastrowardoyo -Sayap Patah</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-subagio-sastrowardoyo-sayap-patah.html</link><category>Puisi Subagio Sastrowardoyo</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Sat, 11 Feb 2012 16:51:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-3401911641791855725</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;sejak berdiam di kota&lt;br /&gt;
hati yang memberontak&lt;br /&gt;
telah menjadi jinak&lt;br /&gt;
kini pekerjaan tinggal&lt;br /&gt;
membaca di kamar&lt;br /&gt;
barang dua-tiga sajak&lt;br /&gt;
atau memperbaiki pagar di halaman&lt;br /&gt;
(yang sudah mulai rusak)&lt;br /&gt;
atau menyuapi anak&lt;br /&gt;
waktu menangis karena lapar&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
kadang-kadang juga memuji istri&lt;br /&gt;
memakai baju yang baru dibeli&lt;br /&gt;
-- meneropong bintang&lt;br /&gt;
bukan lagi menjadi hobi --&lt;br /&gt;
hanya sesekali di muka kaca&lt;br /&gt;
aku berkata menghibur diri:&lt;br /&gt;
bidadari! sayapmu patah&lt;br /&gt;
sekali waktu akan pulih kembali&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ket: semua sajak Subagio Sastrowardoyo ini berasal dari buku "Dan Kematian Makin Akrab" (Grasindo, 1995)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-3401911641791855725?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-12T07:51:00.074+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sajak-sajak Joko Pinurbo - Celana 3</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/sajak-sajak-joko-pinurbo-celana-3.html</link><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Fri, 10 Feb 2012 16:50:22 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-8455960110939433788</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Celana, 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;Ia telah mendapatkan celana idaman&lt;br /&gt;
yang lama didambakan, meskipun untuk itu&lt;br /&gt;
ia harus berkeliling kota&lt;br /&gt;
dan masuk ke setiap toko busana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memantas-mantas celananya di cermin&lt;br /&gt;
sambil dengan bangga ditepuk-tepuknya&lt;br /&gt;
pantat tepos yang sok perkasa.&lt;br /&gt;
“Ini asli buatan Amerika,” katanya&lt;br /&gt;
kepada si tolol yang berlagak di dalam kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih&lt;br /&gt;
yang menunggunya di pojok kuburan.&lt;br /&gt;
Ia pamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi perempuan itu lebih tertarik&lt;br /&gt;
pada yang bertengger di dalam celana.&lt;br /&gt;
Ia sewot juga: “Buka dan buang celanamu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru,&lt;br /&gt;
yang gagah dan canggih modelnya,&lt;br /&gt;
dan mendapatkan burung&lt;br /&gt;
yang selama ini dikurungnya&lt;br /&gt;
sudah kabur entah ke mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1996)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-8455960110939433788?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-11T07:50:22.340+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Beni Setia - Mengapa Hanya Malaikat</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-beni-setia-mengapa-hanya-malaikat.html</link><category>Puisi Beni Setia</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Thu, 09 Feb 2012 05:56:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-3867004112993020920</guid><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;satu dua antara belantara (rambut&lt;br /&gt;
putih kehilangan hitam), satu dua&lt;br /&gt;
kelokan lengang menjelang malam. di ujung&lt;br /&gt;
menunggu pedang dengan rajam + rajam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"bila mulut banyak mengunyah, bila lambung&lt;br /&gt;
banyak memamah, bila darah hanya berlemak:&lt;br /&gt;
apa tak terbaca plakat orang-orang lapar&lt;br /&gt;
pada setiap kerut lipat kulit perut?"&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
megap-megap bagai ikan, merayap bagai ketam&lt;br /&gt;
: tangan si miskin terkunyah larut di darah&lt;br /&gt;
o, mengapa hanya malaikat yang tahu, senyum&lt;br /&gt;
melihat jantung diremas-gemas dendam si lapar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jalan lengang, jalan panjang, jalan bimbang&lt;br /&gt;
bulan ramadhan; mengapa hanya malaikat yang&lt;br /&gt;
tahu? mengapa&lt;br /&gt;
mengapa hanya malaikat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1979/1983/1987&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-3867004112993020920?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-09T20:56:00.578+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Beni Setia - Nasib Sebuah Percakapan</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-beni-setia-nasib-sebuah.html</link><category>Puisi Beni Setia</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 06:06:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-4249905115654704717</guid><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;ada yang diam-diam menyandar pada dinding&lt;br /&gt;
saat waktu melampaui tengah malam&lt;br /&gt;
dan kanak bimbang di negeri mimpi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ada yang tergelincir ke kedalaman kabut&lt;br /&gt;
saat jalan-jalan mengejang dan kaku&lt;br /&gt;
dan batu-batu memasang butiran embun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
ya! ada pohon tanpa daun, ada bunga tanpa&lt;br /&gt;
kupu, dan ada adaan tanpa ada, kata-kata&lt;br /&gt;
(gunung es di laut): mencair dalam diri -- sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
24/1 - 1984&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-4249905115654704717?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T21:06:00.124+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dongeng Batu Golog</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/dongeng-batu-golog.html</link><category>Dongeng</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 06:00:15 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-7193731073598704577</guid><description>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/TDdKMRNcSFI/AAAAAAAAAck/7692DVab5EY/s200/DONGENG.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/TDdKMRNcSFI/AAAAAAAAAck/7692DVab5EY/s200/DONGENG.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: "Ibu batu ini makin tinggi." Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, "Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya. Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-7193731073598704577?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T21:00:15.531+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/TDdKMRNcSFI/AAAAAAAAAck/7692DVab5EY/s72-c/DONGENG.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dongeng Buaya Ajaib</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/dongeng-buaya-ajaib.html</link><category>Dongeng</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 05:46:22 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-170107861423269971</guid><description>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/TDdKMRNcSFI/AAAAAAAAAck/7692DVab5EY/s200/DONGENG.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/TDdKMRNcSFI/AAAAAAAAAck/7692DVab5EY/s200/DONGENG.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Pada jaman dahulu, hiduplah seorang lelaki bernama Towjatuwa di tepian sungai Tami daerah Irian Jaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki itu sedang gundah, oleh karena isterinya yang hamil tua mengalami kesulitan dalam melahirkan bayinya. Untuk membantu kelahiran anaknya itu, ia membutuhkan operasi yang menggunakan batu tajam dari sungai Tami.&lt;br /&gt;
Ketika sedang sibuk mencari batu tajam tersebut, ia mendengar suara-suara aneh di belakangnya. Alangkah terkejutnya Towjatuwa ketika ia melihat seekor buaya besar di depannya. Ia sangat ketakutan dan hampir pingsan. Buaya besar itu &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;pelan-pelan bergerak ke arah Towjatuwa. Tidak seperti buaya lainnya, binatang ini memiliki bulu-bulu dari burung Kaswari di punggungnya. Sehingga ketika buaya itu bergerak, binatang itu tampak sangat menakutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun saat Towjatuwa hendak melarikan diri, buaya itu menyapanya dengan ramah dan bertanya apa yang sedang ia lakukan. Towjatuwapun menceritakan keadaan isterinya. Buaya ajaib inipun berkata: "Tidak usah khawatir, saya akan datang ke rumahmu nanti malam. Saya akan menolong isterimu melahirkan." Towjatuwa pulang menemui isterinya. Dengan sangat berbahagia, iapun menceritakan perihal pertemuannya dengan seekor buaya ajaib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, seperti yang dijanjikan, buaya ajaib itupun memasuki rumah Towjatuwa. Dengan kekuatan ajaibnya, buaya yang bernama Watuwe itu menolong proses kelahiran seorang bayi laki-laki dengan selamat. Ia diberi nama Narrowra. Watuwe meramalkan bahwa kelak bayi tersebut akan tumbuh menjadi pemburu yang handal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar maka Towjatuwa dan keturunannya akan mati. Sejak saat itu, Towjatuwa dan anak keturunannya berjanji untuk melindungi binatang yang berada disekitar sungai Tami dari para pemburu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-170107861423269971?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T20:46:22.790+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/TDdKMRNcSFI/AAAAAAAAAck/7692DVab5EY/s72-c/DONGENG.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pusii Widji Thukul - Sampai di Luar Batas</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/pusii-widji-thukul-sampai-di-luar-batas.html</link><category>Puisi  Widji Thukul</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Mon, 06 Feb 2012 01:51:16 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-6844133860542769252</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ykvq_OzXIu8/TLdCOIOPiDI/AAAAAAAAAdw/yooWbde5Pns/s1600/wiji.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ykvq_OzXIu8/TLdCOIOPiDI/AAAAAAAAAdw/yooWbde5Pns/s200/wiji.jpg" width="140" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kau lempar aku dalam gelap&lt;br /&gt;
Hingga hidupku menjadi gelap&lt;br /&gt;
Kau siksa aku sangat keras&lt;br /&gt;
Hingga aku makin mengeras&lt;br /&gt;
Kau paksa aku terus menunduk&lt;br /&gt;
Tapi keputusan tambah tegak&lt;br /&gt;
Darah sudah kau teteskan&lt;br /&gt;
Dari bibirku&lt;br /&gt;
Luka sudah kau bilurkan&lt;br /&gt;
Ke sekujur tubuhku&lt;br /&gt;
Cahaya sudah kau rampas&lt;br /&gt;
Dari biji mataku&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Derita sudah naik seleher&lt;br /&gt;
Kau menindas&lt;br /&gt;
Sampai&lt;br /&gt;
Di luar batas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wiji Thukul,17 November 1996&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-6844133860542769252?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-06T16:51:16.439+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-Ykvq_OzXIu8/TLdCOIOPiDI/AAAAAAAAAdw/yooWbde5Pns/s72-c/wiji.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Ciri-ciri  puisi lama</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/ciri-ciri-puisi-lama.html</link><category>Pengertian Puisi</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Sat, 04 Feb 2012 23:23:52 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-7988210762855304603</guid><description>Ciri-ciri dari jenis puisi lama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a) Mantra&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri-ciri:&lt;br /&gt;
Ø Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.&lt;br /&gt;
Ø Bersifat lisan, sakti atau magis.&lt;br /&gt;
Ø Adanya perulangan.&lt;br /&gt;
Ø Metafora merupakan unsur penting.&lt;br /&gt;
Ø Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Ø Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b) Pantun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri – ciri :&lt;br /&gt;
Ø Setiap bait terdiri 4 baris.&lt;br /&gt;
Ø Baris 1 dan 2 sebagai sampiran.&lt;br /&gt;
Ø Baris 3 dan 4 merupakan isi.&lt;br /&gt;
Ø Bersajak a – b – a – b.&lt;br /&gt;
Ø Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata.&lt;br /&gt;
Ø Berasal dari Melayu (Indonesia).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c) Karmina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri-ciri :&lt;br /&gt;
Ø Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.&lt;br /&gt;
Ø Bersajak aa-aa, aa-bb.&lt;br /&gt;
Ø Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.&lt;br /&gt;
Ø Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.&lt;br /&gt;
Ø Semua baris diawali huruf kapital.&lt;br /&gt;
Ø Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.&lt;br /&gt;
Ø Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d) Seloka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri-ciri :&lt;br /&gt;
Ø Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair. &lt;br /&gt;
Ø Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
e) Gurindam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri-ciri :&lt;br /&gt;
Ø Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian.&lt;br /&gt;
Ø baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
f) Syair&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri-ciri :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ø Terdiri dari 4 baris.&lt;br /&gt;
Ø Berirama aaaa.&lt;br /&gt;
Ø Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
g) Talibun &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri-ciri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ø Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.&lt;br /&gt;
Ø Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.&lt;br /&gt;
Ø Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.&lt;br /&gt;
Ø Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.&lt;br /&gt;
Ø Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-7988210762855304603?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-05T14:23:52.922+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dongeng Asal Usul Danau Lipan</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/dongeng-asal-usul-danau-lipan.html</link><category>Dongeng</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Sat, 04 Feb 2012 03:37:53 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-3135675688771199339</guid><description>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/TDdKMRNcSFI/AAAAAAAAAck/7692DVab5EY/s200/DONGENG.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/TDdKMRNcSFI/AAAAAAAAAck/7692DVab5EY/s200/DONGENG.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu kala kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkenallah pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita. Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera berangkat dengan Jung besar beserta bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri jelita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana. Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti anjing. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, "Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke jungnya untuk kembali dengan segenap bala tentara yang kuat guna menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perang dahsyat pun terjadilah antara bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang dari laut melawan bala tentara Aji Bedarah Putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan bala tentara Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina. Karena itu timbullah kemurkaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putri pun segera makan sirih seraya berucap, "Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta seluruh bala tentaranya." Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu. Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang bala tentara Cina yang sedang mengamuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bala tentara Cina yang berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu, tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah diucap untuk membinasakan Raja dan bala tentara Cina, maka dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani, sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan nama Danau Lipan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-3135675688771199339?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-04T18:37:53.300+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/TDdKMRNcSFI/AAAAAAAAAck/7692DVab5EY/s72-c/DONGENG.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi D. Zamawi Imron - Madura, Akulah Darahmu</title><link>http://www.luqmansastra.com/2012/02/puisi-d-zamawi-imron-madura-akulah.html</link><category>Puisi D. Zawawi Imron</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Fri, 03 Feb 2012 03:58:50 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-7430277571222394340</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--exiW8BHyM0/S_crZ0H4NeI/AAAAAAAAAYg/WEMJW0HtBGI/s1600/d-zawawi-imron-tif.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/--exiW8BHyM0/S_crZ0H4NeI/AAAAAAAAAYg/WEMJW0HtBGI/s200/d-zawawi-imron-tif.jpg" width="163" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;di atasmu, bongkahan batu yang bisu&lt;br /&gt;
tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa&lt;br /&gt;
biar berguling diatas duri hati tak kan luka&lt;br /&gt;
meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu&lt;br /&gt;
dari aku&lt;br /&gt;
anak sulung yang sekaligus anak bungsumu&lt;br /&gt;
kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah&lt;br /&gt;
bahwa aku sapi karapan&lt;br /&gt;
yang lahir dari senyum dan airmatamu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
sebasah madu hinggaplah&lt;br /&gt;
menanggung biru langit moyangku, menanggung karat&lt;br /&gt;
emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
si sini&lt;br /&gt;
perkenankan aku berseru:&lt;br /&gt;
-madura, engkaulah tangisku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bila musim labuh hujan tak turun&lt;br /&gt;
kubasahi kau dengan denyutku&lt;br /&gt;
bila dadamu kerontang&lt;br /&gt;
kubajak kau dengan tanduk logamku&lt;br /&gt;
di atas bukit garam&lt;br /&gt;
kunyalakan otakku&lt;br /&gt;
lantaran aku adalah sapi karapan&lt;br /&gt;
yang menetas dari senyum dan airmatamu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan&lt;br /&gt;
dan memetik bintang-gemintang&lt;br /&gt;
di ranting-ranting roh nenekmoyangku&lt;br /&gt;
di ubun langit kuucapkan sumpah&lt;br /&gt;
-madura, akulah darahmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-7430277571222394340?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-03T18:58:50.124+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/--exiW8BHyM0/S_crZ0H4NeI/AAAAAAAAAYg/WEMJW0HtBGI/s72-c/d-zawawi-imron-tif.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kubuka Pagi</title><link>http://www.luqmansastra.com/2011/12/kusertakan-pagi-dg-selembar-kertas.html</link><category>Puisiku</category><author>noreply@blogger.com (Luqman Sastra Blog)</author><pubDate>Fri, 03 Feb 2012 03:45:19 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-736259937528376685.post-3668443241882869079</guid><description>Kusertakan pagi dg selembar kertas putih&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s1600/PUISI1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s200/PUISI1.jpg" width="152" /&gt;&lt;/a&gt;Kuisikan dengan kata yg lugas dan jelas &lt;br /&gt;
Kulantunkan kata yg tak asing dan meragu&lt;br /&gt;
Kurangkai bersama nafas-nafas yg masih berat...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Jariku menari seperti menikmati&lt;br /&gt;
suasana hening yg terbangun&lt;br /&gt;
Huruf yang terlarut dari kegundahan&lt;br /&gt;
Terangkai seperti makna musik blues&lt;br /&gt;
melodi ini tertuju pada petikan terakhir&lt;br /&gt;
Menyayat dan rumit&lt;br /&gt;
sulit namun terpuaskan&lt;br /&gt;
By Prima Luqman Prasetya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/736259937528376685-3668443241882869079?l=www.luqmansastra.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-03T18:45:19.148+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-S1SZGMxutN8/TLxZ6rs1x1I/AAAAAAAAAes/kKndT8X2C_Y/s72-c/PUISI1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

