<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Luxurious PhD Time in Perth</title>
	<atom:link href="https://dikopertis3.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://dikopertis3.wordpress.com</link>
	<description>Tri AB&#039;s Study and Living Diary in Perth</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Jun 2012 01:48:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9094473</site><cloud domain='dikopertis3.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/4dd239b4a9210eb6ad878e552e4a9769730b05d38ab8367ec21c353aad73e8af?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fwebclip.png</url>
		<title>Luxurious PhD Time in Perth</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://dikopertis3.wordpress.com/osd.xml" title="Luxurious PhD Time in Perth" />
	<atom:link rel='hub' href='https://dikopertis3.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Scientific Method nan naif</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2012/06/26/scientific-method-nan-naif/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2012/06/26/scientific-method-nan-naif/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2012 14:09:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=382</guid>

					<description><![CDATA[Salah satu pertanyaan naif saya sejak dulu adalah mengapa kita (bangsa Indonesia, rakyat di kepulauan Nusantara) belum juga berhasil memberikan kontribusi signifikan dalam upaya global pengembangan sains dan teknologi? Alangkah akan menjadi daya pesona (fascination) yang kuat bagi imajinasi anak-anak jika mereka bisa menjumpai “Koto constant”, “Usep unit”, “Sartono theory”, “Ketut model”, “Baso technique”, “Elias [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu pertanyaan naif saya sejak dulu adalah mengapa kita (bangsa Indonesia, rakyat di kepulauan Nusantara) belum juga berhasil memberikan kontribusi signifikan dalam upaya global pengembangan sains dan teknologi? Alangkah akan menjadi daya pesona (fascination) yang kuat bagi imajinasi anak-anak jika mereka bisa menjumpai “Koto constant”, “Usep unit”, “Sartono theory”, “Ketut model”, “Baso technique”, “Elias algorithm” dsb ketika mereka belajar sains. Pasti mereka akan terinspirasi untuk mengikuti jejak karakter-karakter hebat tersebut!</p>
<p>Sejak di bangku SD kita sudah mengenal apa sih metoda ilmiah atau scientific method itu. Pertanyaan-Hipotesis-Percobaan-Analisis-Pelaporan. Bahkan sampai kita kuliah, rangka dasar metoda ilmiah tidak berbeda dengan yang diberikan di SD. Jika metode ilmiah semudah dan sesederhana itu, mengapa hanya komunitas masyarakat tertentu (di Barat dan Asia Timur) saja yang benar-benar mampu mempraktekkannya dan menghasilkan pengetahuan serta teknologi baru? Apa yang sebenarnya belum kita pahami dari metode “gampang” tersebut sehingga kita masih saja sebatas menjadi konsumen ilmu dan teknologi?</p>
<p>Inisiatif program pengiriman mahasiswa ke luar negeri oleh pemerintah RI telah lama ada. Kita semua tahu bahkan di zaman Bung Karno pun, telah banyak mahasiswa dikirim bersekolah di negara-negara maju. Program OFP Bapenas, Industri Strategis, DIKTI, scholarship asing macam ADS, DAAD, Fullbright, dll; pasti telah menelorkan ribuan saintis dan teknolog asli Indonesia. Banyak dari mereka yang mengalami “first hand experience” pengembangan sains dasar di bawah bimbingan profesor-profesor kelas Nobel Laurette. Mendiang Ahmad Baiquni, misalnya, belajar Fisika Nuklir di US Argonne National Lab/Chicago University dengan pembimbing Edward Teller dan Leo Szilard. Tidak mungkinlah jika mereka-mereka ini tidak faham dengan pengembangan sains dan teknologi. Tapi mengapa sains atau teknologi baru tetap tidak tumbuh di tanah Nusantara ini?</p>
<p>Pasti telah banyak analisis yang mencoba menjawab pertanyaan ini dari berbagai sudut pandang: struktural, infrastruktural, kultural, political will, funding, manajemen, dsb. Karena saya sedang menjalani studi S3 yang notabene adalah riset, saya ingin melihat dari perspektif pengalaman pribadi, yaitu dari segi bagaimana sebenarnya sains bekerja dan bagaimana ia sebenarnya dipraktekkan. Paling tidak, setelah menjadi pelaku sains secara intensif selama 3 tahun ini, saya mulai bisa menangkap (grasp) how science works and how it is actually practiced! Tidak lain, saya ingin melihat kegagalan pengembangan sains di Indonesia dari sudut pandang pemahaman dan praktek nyata atas scientific method itu sendiri!</p>
<p>Saya rasa, metoda ilmiah seperti yang dideskripsikan di SD sampai universitas tidak banyak berarti (meaningful) kecuali dipraktekkan secara intensif, bukan diceritakan, didemokan atau sekedar menjadi formalitas publikasi. Bahkan, saya merasakan bahwa metode ilmiah SD (seperti yang di jelaskan di sekolah dasar!) sangat berbeda dengan metoda ilmiah yang saya (dan mungkin juga rekan-rekan lain) praktekkan pada saat riset S3. Terasa sekali bahwa karena di riset S3, kita mesti menciptakan suatu “novelty”; cara-cara berpikir, bereksperimen, analisis dll. tidak serupa seperti yang digambarkan metode ilmiah SD tersebut. Pada saat kita melakukan riset kita benar-benar dituntut untuk mengeluarkan semua daya cipta murni (ingenuity). Kebetulan riset saya mengenai Algoritma Metaheuristik, jadi saya mesti mengeluarkan jurus-jurus matematika, probabilitas, statistika, induksi, deduksi, abduksi, analogi, metafora, intuisi, kontrol eksperimen, kontemplasi dan semua hal yang mungkin untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan riset dan menemukan “novelty” tersebut. Saya yakin bahwa jika ada seribu saintis, sangat mungkin akan ada seribu metoda ilmiah spesifik milik masing-masing saintis tersebut! Tidak seperti gambaran metoda ilmiah SD yang terlihat sangat gampang (simple), gamblang (clear cut) dan rapi. Pada kenyataannya riset S3 sangatlah “messy”, sering “backtracking”, sering mengulang eksperimen, sering mencoba-coba berbagai cara yang mungkin, hasil tidak sesuai harapan, data ekserimen sering salah, &#8230;.emmmm&#8230;penuh ketidak pastian!</p>
<p>Dengan kenyataan seperti ini, hanya mereka yang punya mindset “persistent” yang bisa bertahan dengan riset yang sering berkepanjangan tanpa hasil. Tentu saja sejak awal kita harus “engaged” dengan topik riset, kalau tidak, cerita frustasi atau ganti-ganti judul sudah sangat sering terjadi!</p>
<p>Terasa bahwa metode ilmiah SD sangat-sangat naif. It’s not a workable method! Saya pikir, mungkin inilah salah satu sumber kegagalan pengembangan sains di Indonesia. Metoda ilmiah diajarkan sebagai “cerita” bukan sebagai “endeavour”! Saya amati anak-anak saya yang bersekolah di Bateman Primary School, suatu ketika si kecil Year 2 belajar sains di lab mengenai pembuatan playdough, dia cerita jika harus mengenakan kacamata lab yang lebar, terus di akhir sesi ada worksheet yang harus dijawab tertulis. Saya lihat pertanyaan sangat sederhana: (i) amati warna awal dan akhir, (ii) tuliskan hal yang paling menarik dari percobaan tersebut. Wow&#8230;! dari kecil mereka telah dibiasakan “mengalami” pengamatan yang akurat dan fenomena yang mereka “engaged”!</p>
<p>Selain scientific method nan naif tersebut, ada hal lain yang saya amati belum established di kultur akademik kita di Indonesia. INTEGRITY! Walaupun semua orang pasti tahu apa arti integritas terutama dalam bidang akademik, riset dan sains, tapi di Indonesia hal tersebut masih menjadi isu besar alias bermasalah. Sedangkan, apa yang saya alami di Murdoch (dan dulu di QUT), integritas tidak lagi perlu dibicarakan, karena telah menjadi asumsi dasar dan bahkan menjadi bagian budaya akademik yang hidup. Di Indonesia, sangat sering kita jumpai fabrikasi data penelitian! Bahkan di tingkat studi S3! Alamaaaaak&#8230;kalau data difabrikasi, kualitas jawaban ilmiah apa yang bisa muncul darinya? Pastilah hasil riset seperti ini akan “disenchanted” dari penelitinya. Suatu hari nanti, si peneliti tersebut pasti “ogah” melihat hasil risetnya! “Engagement” macam apa yang bisa kita harapkan dari situasi semacam itu? Mungkinkah situasi ini yang menjadi salah satu penyebab banyak dosen berhenti melakukan riset dan publikasi paska studi S3?</p>
<p>DESK SCIENCE! Saya yakin bahwa sains dan riset tidak bisa dipisahkan. Sains hidup karena ada riset dan bahkan sains hidup ketika riset sedang berjalan. Living environment dan habitat sains adalah riset itu sendiri. Kenyataannya, sangat banyak doktor-doktor di Indonesia yang labnya pindah ke meja (birokrasi). Apakah mungkin menghidupkan science di atas meja? Mungkinkah situasi ini yang menjadi salah satu penyebab banyak publikasi ilmiah dosen berkualitas skripsi S1?</p>
<p>Refleksi pengalaman riset selama 3 tahun ini mengajarkan saya secara pribadi bahwa scientific method yang telah saya kenal semenjak SD terasa naif! It’s much much more than that. It doesn’t reflect the actual working of science nor the science in practice at all! Jika seorang mahasiswa S3 tidak secara intensif mengalami pahit-getir, stress, dan ketidakpastian melakukan riset berkepanjangan yang diharuskan menghasilkan “novelty”, it’s very unlikely that they’ll be able to grasp the scientific method truly! Apalagi, jika mahasiswa S3 tersebut juga menyelesaikan studi tanpa “engagement” dengan topik risetnya, sangat kecil kemungkinan ia akan terus produktif dan kontributif sekembalinya ke kampus asal. Ditambah dengan budaya ilmiah dan situasi akademik yang belum kondusif, pengembangan sains dan teknologi baru di Indonesia barangkali perlu dituangkan dalam rencana pembangunan 100 tahun! Heheheheh&#8230;senang jika ada yang tergelitik dengan lontaran ini, dan mohon maaf buat yang merasa tersentil.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2012/06/26/scientific-method-nan-naif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">382</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Standing on the Shoulders of Giants</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2012/06/18/standing-on-the-shoulders-of-giants/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2012/06/18/standing-on-the-shoulders-of-giants/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Jun 2012 04:52:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=392</guid>

					<description><![CDATA[“We are dwarfs!” Setelah menyelesaikan S2 di QUT by course pada tahun 2001, tentu saja terlintas angan-angan untuk melanjutkan ke S3 suatu kali nanti. Dan selalu, bayangan saya tentang seorang doktor adalah orang yang sangat hebat! Seseorang yang mumpuni dan bisa menciptakan &#8216;ilmu&#8217;! Apalagi, dengan bekal cuman S2 by course, melihat seorang doktor terasa self-confidence [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“We are dwarfs!”</p>
<p>Setelah menyelesaikan S2 di QUT by course pada tahun 2001, tentu saja terlintas angan-angan untuk melanjutkan ke S3 suatu kali nanti. Dan selalu, bayangan saya tentang seorang doktor adalah orang yang sangat hebat! Seseorang yang mumpuni dan bisa menciptakan &#8216;ilmu&#8217;!</p>
<p>Apalagi, dengan bekal cuman S2 by course, melihat seorang doktor terasa self-confidence melayang seketika. S3 pastilah by research, tetapi sebenarnya bagaimanakah sih riset itu? No matter how hard I tried to get it, I couldn&#8217;t get it! S2 by course, apalagi di bidang teknologi, membuat perspektif saya melulu terpaku di &#8216;development&#8217;. I always thought research is development, and development is research! Ditambah lagi dengan kenyataan yang teramati di kampus di mana riset dan development tak bisa di bedakan. Kayaknya, semua orang melakukan ini deh?!</p>
<p>Meskipun setelah bekerja di Binus saya sempat menerbitkan beberapa paper, tetapi paper-paper tersebut bukanlah genuine hasil karya saya, melainkan hasil jerih payah mahasiswa. Mungkinkah ini tipikal dosen di Indonesia?! Mahasiswa bekerja melakukan penelitian, dosen mempublikasikan?! Meskipun saya berusaha keras untuk mengupgrade research skills  dengan membaca-baca buku riset, tetapi tetap saja saya tak mengerti apa sih sebenarnya riset itu. I couldn&#8217;t grasp it!</p>
<p>Melihat pola kolaborasi mahasiswa dosen dalam publikasi yang sangat umum di anut dosen-dosen lain, muncul pertanyaan-pertanyaan dan rasa tak puas terhadap cara-cara seperti ini. Mengapa banyak karya ilmiah dosen berasal dari hasil kerja mahasiswa? Apakah tidak mungkin seorang dosen menghasilkan karya original dan murni hasil kerja sendiri? Apakah memang mereka tidak punya waktu untuk melakukan penelitian sendiri? Atau apakah tidak ada insentif funding yang menarik sehingga dosen-dosen tergerak untuk melakukan penelitian sendiri? Atau apakah research skills dosen-dosen tidak cukup kuat untuk bisa terus-menerus menghasilkan karya ilmiah paska studi S3 mereka?</p>
<p>Pada saat menjalani studi S3, mestinya produktifitas publikasi paper mahasiwa ybs tinggi, apalagi umumnya publikasi menjadi  syarat kelulusan. Pertanyaan bagi diri saya adalah apakah nantinya setelah selesai studi, saya masih bisa meneruskan produktifitas tersebut? Jawabnya barangkali terletak pada originalitas riset S3 kita! Usulan riset dan hasil-hasil yang orisinil mestinya akan mendorong kita untuk publish. Publikasi bukan lagi masalah “saya harus publish”, tapi “saya ingin publish”. Kalau kita merasa punya kontribusi, pasti kita ingin komunitas riset kita tahu mengenai kontribusi kita. Apalagi secara personal, jika riset kita orisinil, kita pasti merasa “engaged” dengan riset tersebut. Engagement akan menjamin kontinuitas semangat untuk melakukan riset paska studi S3. Jika kita selalu punya bahan riset dan semangat untuk melakukannya, apalagi yang bisa menghalangi produktifitas publikasi kita?</p>
<p>Tetapi, bagaimanakah kita bisa mempunyai topik riset yang orisinil dan engaged dengan topik tersebut? TIDAK MUDAH! Itulah yang saya alami dalam memulai dan menjalani studi S3 selama 3 tahun terakhir ini. Semua mahasiswa S3 biasanya memulai studi dengan riset literatur. Dan kebanyakan pengalaman kita hampir sama, yaitu seolah-olah semua hal yang ingin kita kerjakan, sudah dikerjakan orang lain! Adakah ruang tersisa bagi kita untuk mengusulkan topik riset yang baru dan orisinil? Atau, apakah kita mampu berpikir sangat revolusioner sehingga kita bisa mengusulkan topik riset yang benar-benar tidak pernah dilihat orang lain sama sekali?</p>
<p>Melihat apa yang telah saya alami dalam menjalani S3, kecil kemungkinan untuk mengerjakan sesuatu yang sama sekali baru. Saya rasa, topik riset baru dalam arti teori atau paradigma baru hanyalah milik para “giants”. Kita seperti seorang “dwarf” yang mencoba melihat agak jauh dengan cara duduk di atas pundak para “giants” itu. Dari segi philosophy of science, saya rasa pengalaman riset student S3 lebih menyerupai “normal science”  Thomas Kuhn, daripada “falsification” Karl Popper. Kebanyakan riset mahasiswa S3 merupakan “incremental improvement” dari theory, approach, method, technique yang sudah ada. Sangat jarang bahwa riset student S3 berupa “falsification” dari teori yang sudah mapan sehingga bisa menimbulkan “crack” pada teori tersebut dan bahkan menghasilkan &#8220;breakthrough&#8221; atau paradigma baru.</p>
<p>Demikian pula topik riset S3 saya, berupa “incremental improvement” dari algoritma-algoritma yang sudah ada (untuk menyelesaikan masalah-masalah kombinatorial). But, it doesn’t really matter! In reality, jika kita melihat sejarah science dan teknologi, big research topics only happen once in a while anyway! Bagi saya pribadi, “real virtue” dari riset S3 adalah untuk membangun ketrampilan riset (research skills), berusaha memperkuat “engagement” dengan topik riset yang kita pilih, dan membentuk “self-confidence” untuk berani berdiri di barisan terdepan dalam problem-solving di kalangan komunitas teknis riset kita. Saya akan merasa “fulfilled” jika tiga hal ini bisa saya capai di akhir studi S3 saya, dan saya yakin tiga hal inilah yang bisa menjamin kontinuitas produktitifas riset dan publikasi ilmiah saya paska studi S3 nantinya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2012/06/18/standing-on-the-shoulders-of-giants/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">392</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RAC member memang happy</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2012/03/25/rac-member-memang-happy/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2012/03/25/rac-member-memang-happy/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 08:49:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Living]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=364</guid>

					<description><![CDATA[Bagaimanakah bila kita berkendara dan mengalami breakdown alias mogok atau masalah lain yang nggak bisa kita atasi? Pasti senewen lah, apalagi kalo sedang bawa keluarga, apalagi kalau kejadiannya di tempat lalulintas ramai. Kalau terjadi mogok di Jakarta, nggak masalah, nggak sampai lima menit pasti ada yang berkerumun datang  untuk mendorong menepikan mobil + 5000 Rp [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimanakah bila kita berkendara dan mengalami breakdown alias mogok atau masalah lain yang nggak bisa kita atasi? Pasti senewen lah, apalagi kalo sedang bawa keluarga, apalagi kalau kejadiannya di tempat lalulintas ramai. Kalau terjadi mogok di Jakarta, nggak masalah, nggak sampai lima menit pasti ada yang berkerumun datang  untuk mendorong menepikan mobil + 5000 Rp per orang. Tapi, kalau kejadiannya di negeri orang, harus bagaimana? Minta tolong temen, pastilah&#8230;</p>
<p>Rekan-rekan pelajar di Perth pasti sudah tahu apa tuh RAC road assistance. Bagi rekan-rekan yang sedang belajar di Perth, mempunyai mobil adalah keharusan, apalagi bagi kita yang memboyong keluarga ke sini. Meskipun public transport lumayan bagus, tapi tidak mungkinlah kita berlima, bawa anak-anak kecil, naik turun bus sambil bawa belanjaan seabreg. Dan bagi pelajar berkocek tipis seperti student DIKTI, memilih mobil berharga murah pastilah jadi opsi paling menarik. Sayangnya, mobil murah kemungkinan besar akan sering bermasalah. Ehmmm&#8230;RAC bisa menjadi jawaban! Dengan membayar sekitar 90 AUD membership fee per tahun, kita bisa bebas dari rasa was-was ketika berkendara, terutama jika perjalanan lumayan jauh. Mogok? tinggal telpon RAC saja, dalam waktu 1/2 jam mereka akan datang dengan mobil khas warna kuning orange, dan sigap coba kasih solusi. Kalau nggak berhasil, towing akan segara datang untuk mengendong mobil kita ke bengkel langganan.</p>
<p>Nah, apakah memang berlangganan RAC road assistance cukup worth it? Sudah dua tahun ini mobil &#8220;kesayangan&#8221; registered di road assistance. Dan&#8230;whoa&#8230;sudah tiga kali pula mobil pernah ngambeg. Gimana nggak akan ngambeg jika pak tua terus-terusan di pakai 7&#215;24 + 5 orang. Jangankan berhangat-hangat spa and pedicure manicure, mampir ngopi di cafe aja nggak pernah. Cukup kasih standard maintenance, bro! ganti oli+cek radiator, itupun sering telat&#8230;heheh..kasihan deh. Tapi, ..ehmm..back to the laptop, ternyata memang nggak salah jadi member road assistance RAC, bahkan kalau di itung-itung bisa untung.</p>
<p>Kejadian pertama, sekitar bulan November tahun 2010, setahun setelah mobil di pakai terus-menerus. Lagi enak-enak tunggu lampu hijau di perempatan Murdoch Dr+ South Street, eh&#8230;tiba-tiba mobil mati. Posisi paling depan pula&#8230;wedew&#8230;piye iki? Lampu hijau, dan mobil di belakang kasih klakson&#8230;tambah panik lah&#8230;Tapi, untunglah, begitu lampu emergency saya nyalakan, ada pengendara lain di belakang yang baik hati, dan tahu situasinya. Dia bantu dorong mobil di di pinggirkan (pastinya di ketengahkan di atas pembatas jalan yang lumayan lebar). Langsung aja kontak 13 11 11, dan nggak sampai 1/2 jam mobil kuning datang. Teknisinya cukup jago, karena nggak sampai 1/2 jam dia sudah tahu masalahnya, dan komponen yang rusak langsung pula digantinya di tempat. So, bisa langsung ngacir lagi&#8230;cukup bilang thanks mate + AUD 70 untuk membeli spare part yang rusak tersebut. Nggak kebayang jika nggak punya road assistance, wheleh2&#8230;pasti harus towing (15AUD/km), bisa-bisa abis15x12=200an dollar untuk sampai ke bengkel Pak Herman di Cannington!</p>
<p>Kejadian yang barusan minggu ini, bikin jengkel tapi cukup menggelikan, tapi juga made a real sense untuk mobil tua. Jadi, abis ngebut 100 kph di Kwinana, berhenti di garasi, mesin di matikan. Anak kunci di tarik, hiks&#8230;.tinggal separo! Yang setengahnya lagi patah nyangkut didalam lubang kunci ignition! Wadhuh..gimana nih, setir terkunci, mobil nggak bisa di hidupkan lagi. Kunci cadangan nggak bisa bantu, something stuck inside. OK, gpp, masih ada RAC. Telpon lah mereka, coming in half an hour seperti biasanya. tapi kali ini, mereka datang, lihat &#8230;tapi&#8230; menyerah. It&#8217;s not their expertise! Bukan mekanik, bukan electrik, tapi kunci patah nyangkut di dalam. But, whoa&#8230;.mereka punya rekanan spesialis car locksmith. Sudah kebat-kebit nih, bakalan bayar berapa, locksmith kan terkenal mahal, pas weekend pula. Hebatnya nih, RAC bilang jika mereka akan bayar AUD 165 untuk service locksmith, sisanya ditanggung member dan mereka bilang jika biasanya nambah sekitar 130-an. This is great! RAC nih bener-bener &#8220;sesuatu&#8221; banget. Si locksmith datang dan selesailah semua masalah + dapat anak kunci baru. Si locksmith bilang &#8220;your key looks brass already, looks thining and you shouldn&#8217;t have used it&#8221;. Yang jelas, masalah selesai smoothly + tambahan AUD 165. Gila mahal bener tuh locksmith, 330 hanya untuk service setengah jam-an. Untung beruntung RAC tanggung separuhnya, amat sangat lumayan! Ini kejadian ke-3&#8230;dan kalau di lihat dari satu kejadian ini saja, keuntungan menjadi member RAC udah jelas. Membership fee cuman 139 dollar (classical membership, untuk standard cuman 90 an dollar), tapi udah di bayarin 165 dollar utk kejadian locksmith kemarin. Asyik&#8230;!</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/rac_happy.png"><img data-attachment-id="366" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2012/03/25/rac-member-memang-happy/rac_happy/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/rac_happy.png" data-orig-size="678,477" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="RAC_Happy" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/rac_happy.png?w=460" class="alignnone size-medium wp-image-366" title="RAC_Happy" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/rac_happy.png?w=300&#038;h=211" alt="" width="300" height="211" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/rac_happy.png?w=300 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/rac_happy.png?w=600 600w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/rac_happy.png?w=150 150w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2012/03/25/rac-member-memang-happy/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">364</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/rac_happy.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">RAC_Happy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studi S3, Fishing dan Driving, lebih asyik mana?</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2011/03/20/studi-s3-fishing-dan-driving-lebih-asyik-mana/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2011/03/20/studi-s3-fishing-dan-driving-lebih-asyik-mana/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2011 06:55:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=352</guid>

					<description><![CDATA[Sudah lama rasanya saya tidak mengupdate blog ini. Wow, it&#8217;s almost 1 year since I posted my last thought. Biasa&#8230;namanya juga student, kadang-kadang terlalu suntuk (alias asyiiik dengan studi). Just for a short reflection, ketika bertemu my PhD Supervisor 1.5 years ago, ia bilang bahwa studi S3 itu bisa diibaratkan dengan fishing (memancing). Tahap pertama [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama rasanya saya tidak mengupdate blog ini. Wow, it&#8217;s almost 1 year since I posted my last thought. Biasa&#8230;namanya juga student, kadang-kadang terlalu suntuk (alias asyiiik dengan studi).</p>
<p>Just for a short reflection, ketika bertemu my PhD Supervisor 1.5 years ago, ia bilang bahwa studi S3 itu bisa diibaratkan dengan fishing (memancing). Tahap pertama dimulai dengan menentukan lokasi fishing, dan jelas bahwa saat itu kita belum yakin dimana letaknya dan akan memperoleh ikan macam apa. Setelah mendapatkan lokasi yang kira-kira pas, mulailah kita tebar pancing. Kalau langsung dapat ikan besar dan bagus, bolehlah kita pulang dan lansgung kita masak, dan sajikan untuk our dinner&#8230;emmmm&#8230;slurp..slurp. Ini persis dengan proses studi S3 yang lancar: dapat topik, penelitian, dapat hasil, dan writing, lulus!</p>
<p>Tapi sangat sering terjadi bahwa karena kita cuma mengandalkan coba-coba, tempat pemancingan yang kita pilih tidak memberikan ikan sama sekali, atau ikannya kecil-kecil. Terpaksalah kita harus pindah lokasi, dan ini bisa berulang beberpa kali kalau kita tidak cukup beruntung. Hahaha&#8230;persis sama dengan student S3 yang karena kurang pengalaman riset, tidak tahu persis bagaimana memulai fishing, sehingga gagal mendapatkan lokasi yang ikannya banyak dan gemuk-gemuk. Nasiblah&#8230;terpaksa ganti-ganti judul penelitian sampai perpanjang studi segala. But, it&#8217;s normal&#8230;namanya juag research alias re-search, mencari berulang-ulang, kadang dapat kadang nggak. And that&#8217;s the nature of studi S3, self studi, self research, self exploration!</p>
<p>Yang saya alami tepat seperti yang analagi fishing tersebut. Berbekal S2 by course, dan ketrampilan serta insight riset nan minimalis, waktu memulai S3 bekal saya cuman ketrampilan meraba-raba (ssstt&#8230;bukan  uh..oh). Meraba-raba topik riset dan bidang apa yang kira-kira bisa memberikan hasil riset yang bisa dianggap signifikan dan contributing unuk level S3? So, I didn&#8217;t know exactly where to go and how to start the fishing!</p>
<p>Saya jalan saja dengan topik yang sembarang saya pilih, bukan karena suka dan engaged dengan  topik tersebut, tapi semata-mata supaya mendapat calon supervisor saja! Heheheh&#8230;udahlah, pokoknya yang penting berani memulai aza. Dan dengan topik tersebut (Games Technology for Education) saya bisa beruntung mendapatkan calon supervisor. Tapi, setelah enroll di Univ dan memulai studi, saya cepat-cepat putuskan untuk ganti topik. I thought, even though it may give the fish, but I wouldn&#8217;t have any appetite with that fish! Dan kebetulan supervisor saya mempunyai research interest yang cukup lebar. Saya ajukanlah topik baru, mengenai Genetic Algorithm for Game Caching. It&#8217;s a new pond for fishing right?  Tapi setelah mencari-cari hampir selama 6 bulan kemudian, ikannya tidak muncul juga, it might be the pond has no fish at all??? That question was lingering in my mind all the time, made me a bit depressed and lost an orientation! So, akhirnya saya putuskan ganti topik lagi. Kali ini mengenai Memetic Algorithm for Timetabling. Setelah berjalan 6 bulan, wow&#8230;I think this the right fishing spot! I feel like already caught a big big fish, and it&#8217;s a alot! Wow&#8230;emmm&#8230;I&#8217;m sure I made a quite impresive progress.</p>
<p>Pengibaratan riset S3 dengan fishing bagus juga, dari segi proses cukup tepat. Tapi, jika ingin menggambarkan dinamika resercher-nya, nampaknya mesti dilengkapi dengan analogi lain! Yang saya rasakan, setelah mendapatkan lokasi pemancingan yang pasti menghasilkan ikan, faktor penentu kita akan mendapat ikan atau tidak terletak pada diri di pemancingnya, apakah ia cukup sabar menuggu kailnya terkait ikan, atau cukup tahan mengahadapi hujan atau panas ketika menungguinya pancingnya? Well, nggak ada kan kita tinggal pancing dan berharap mendapatkan banyak ikan?</p>
<p>Dinamika pribadi student S3 (waktu, semangat dll) ketika on the way to their results mungkin dapat diibaratkan dengan driving. Karena sudah pasti tempat tujuannya, seberapa lama kita sampai ke tempat tersebut, benar-benar bergantung kepada kesediaan kita untuk mencurahkan waktu buat driving, dan ketahanan kita dalam perjalanan tersebut. Well, it sounds like accurately illustrating the research progress when everything looks allright. Jadi, untuk tahap sekarang ini, I feel like being a driver, harus benar-benar memusatkan waktu untuk menyopir ke tempat tujuan dan bertahan untuk tidak sering berhenti. If I do this consistently, I will see the destination very very soon.</p>
<p>Saya berharap semoga teman-teman dan pembaca blog ini yang sedang menempuh studi S3, tidak mengalami hal seperti saya. It&#8217;s painful and depressing. And I&#8217;ll always raise my hand and ask &#8220;Oh Lord, give me a determination, guidance and blessing in my enterprise&#8230;amiiin&#8230;&#8221;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2011/03/20/studi-s3-fishing-dan-driving-lebih-asyik-mana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">352</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Belajar Membaca&#8230;Phonics vs IQRA, memang luar biasa!</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2010/05/11/anak-belajar-membaca-phonics-vs-iqra-memang-luar-biasa/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2010/05/11/anak-belajar-membaca-phonics-vs-iqra-memang-luar-biasa/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 04:51:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Schooling]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=344</guid>

					<description><![CDATA[Meskipun dana beasiswa mepet, tidak sedikit pelajar Indonesia yang memboyong keluarganya ke Perth. Bagi saya, kesempatan memperoleh pendidikan di luar negeri pada usia dini sama pentingnya dengan studi S3. Masa depan anak-anak tetaplah hal yang terpenting dalam keluarga, dan banyak teman-teman pelajar yang memaksa diri untuk belajar sekaligus bekerja supaya hal ini terwujud. It&#8217;s worth [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun dana beasiswa mepet, tidak sedikit pelajar Indonesia yang memboyong keluarganya ke Perth. Bagi saya, kesempatan memperoleh pendidikan di luar negeri pada usia dini sama pentingnya dengan studi S3. Masa depan anak-anak tetaplah hal yang terpenting dalam keluarga, dan banyak teman-teman pelajar yang memaksa diri untuk belajar sekaligus bekerja supaya hal ini terwujud. It&#8217;s worth it, InsyaAllah!</p>
<p>Jika anak memulai sekolah di Perth dalam usia yang &#8216;nanggung, yaitu usia-usia 5-6 tahun, akan muncul sedikit tantangan bagi ortu dalam upaya belajar mereka. Anak-anak dalam usia seperti ini pastilah sudah pernah mengenal huruf ABC dan mengejanya dalam bahasa Indonesia, tetapi belum benar-benar bisa membaca. Dengan cara pengucapan yang sangat berbeda, wah&#8230;anak-anak pasti mengalami kebingungan. Setahu dia, What You See is What You Say! heheheheh&#8230;in English, of course you cannot just say what you see! Jika mempunyai anak-anak yang Verbal Geeks, wow&#8230;alhamdulillah deh, nggak perlu dibantu juga langsung &#8216;nangkep. Tetapi, saya yakin rata-rata anak akan mengalami learning curve shock!</p>
<p>&#8220;Mah&#8230;ini gimana sih, koq heel di baca hi..il, must dibaca mast, carrot dibaca karet&#8221;, dsb dsb. Bisa-bisa anak menjadi mogok belajar! Dalam hal seperti ini, ortu mesti ambil inisiatif! Kita bayangkan sajalah, kita yang sudah gede dan bisa berbahasa bule saja masih merasa stress jika diajak bicara berlama-lama sama orang bule, apalagi anak-anak yang zero English harus seharian di kelas mendengar mengucap dalam bahasa Inggris. Untungnya, suasana belajar di Primary School tidak stressful, sama sekali tak ada paksaan bagi anak-anak untuk bisa ini dan itu. This helps the kids to survive!</p>
<p>Bagi saya sendiri, keadaan ini juga menimbulkan kebingungan, gimana yah cara mengajari anak membaca dalam bahasa Inggris? Jika diterusin cara belajar ABC seperti di Indonesia, anak pasti protes, karena di sekolah nggak seperti itu koq. Tapi jika di ajarin langsung dalam bahasa Inggris, dia masih berpegang dengan pengertian sebelumnya. Dan yang lebih membingungkan lagi, bahan apa untuk mengajarinya dan bagaimana caranya? Kadang-kadang, dengan studi kita yang telah menelan seluruh waktu kita, hal-hal seperti ini bukan menjadi prioritas. &#8220;Let&#8217;s buy a book, and just give it to the kids..!&#8221; Masalahnya, membeli buku yang tepat di sini bukan perkara gampang. Saya benar-benar buta dengan kurikulum, bahan ajar, penerbit dan buku-buku untuk Primary School di Perth! Masalahnya juga, buku tidak akan bisa berbicara sendiri, dan jika kita melakukan hal itu, berarti kita setengah memaksa anak kita untuk meta-learning! Jangankan bisa memahami teori untuk belajar membaca, hahaha..membaca saja belum bisa koq!</p>
<p>So, I decided to figure this things out! Saya mulai baca-baca sana sini dan browsing-browsing ini itu. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan cara dan bahan yang menurut saya cukup ideal untuk dibelajarkan kepada anak-anak. Kuncinya adalah PHONICS! Inilah metoda belajar membaca bagi English Speaking children. Dengan Phonics, anak-anak diajarkan mengucapkan alfabet menurut bunyinya, misalnya &#8216;C&#8217; bukan diucapkan &#8216;si&#8217; tetapi &#8216;keh..&#8217;, &#8216;G&#8217; bukan dibunyikan &#8216;ji&#8217; tetapi &#8216;geh&#8217;. Setelah mengenal bunyi huruf, anak-anak akan dikenalkan dengan bentuk-bentuk kata yang berpola, semisal &#8220;short vowel&#8221;, &#8220;long vowel&#8221;, &#8220;r control&#8221;, dsb dsb. Tentu saja teorinya tidak perlu di baca oleh anak-anak, mereka tinggal mengikuti contoh-contoh yang sudah di susun sistematis. Mirip metoda IQRA! Luar biasa, tiba-tiba saja anak sudah bisa mengenali pola bunyi dan &#8230;bisa membaca! Persis seperti anak-anak yang belajar membaca huruf Arab dengan metoda Iqra!</p>
<p>Silahkan, jika rekan-rekan mendapatkan masalah yang sama, bisa mencoba cara berikut ini:</p>
<ol>
<li>Temani dan tuntun anak untuk belajar di web site <a href="http://www.starfall.com">http://www.starfall.com</a>. This is a really amazing educational site, and it&#8217;s free! Semua bahan pelajaran bisa di download gratis. Web site ini sangat menyenangkan bagi anak-anak, karena masing-masing runtunan belajar diakhiri dengan game yang asyik-asyik. Tanpa sadar anak-anak akan belajar dan terus bertahan belajar. Juga, karena berupa mulitmedia interaktif, kita hanya perlu menemani dan memastikan anak mengikuti sequence belajar yang telah di sarankan, anak-anak tinggal melihat, menirukan, mengulangi bahan pelajaran multimedia tersebut. Spelling dan Pronounciation dijamin benar dong&#8230;nggak seperti kita jika mengajarinya sendiri. Selain itu, download saja bahan-bahan yang bisa dicetak sehingga anak tidak harus membuka komputer+internet untuk belajar. Mereka juga bisa melakukan aktifitas asyik dengan worksheet yang tersedia. Dan&#8230;tanpa menyadarinya mereka juga belajar MENULIS!</li>
<li>Jika anak-anak sudah mulai bersemangat, kita bisa menyediakan tambahan buku-buku dan lembar kerja yang bagus, menarik tapi murah. Buku-buku terbitan School Zone atau Hinklers Books, menurut saya, sangat luar bisa berguna. Harganya cuman 4-5 dollar per buku, dan bisa didapatkan di Target, KMart, Big W dan superstore lainnya. Penerbit ini sangat pintar memasarkan buku-bukunya dengan memasang rak khusus di hampir semua supermarket di Perth! Anak-anak pasti suka dengan buku-buku ini, karena menarik dan menantang untuk dikerjakan.</li>
</ol>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg"><img data-attachment-id="346" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2010/05/11/anak-belajar-membaca-phonics-vs-iqra-memang-luar-biasa/starfall/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg" data-orig-size="869,438" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="StarFall" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-346" title="StarFall" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg?w=460&#038;h=231" alt="" width="460" height="231" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg?w=460&amp;h=232 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg?w=150&amp;h=76 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg?w=300&amp;h=151 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg?w=768&amp;h=387 768w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg 869w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Web site <a href="http://www.starfall.com">www.starfall.com</a>, sangat membantu upaya belajar membaca anak. Please, visit them, it&#8217;s really great!</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg"><img data-attachment-id="347" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2010/05/11/anak-belajar-membaca-phonics-vs-iqra-memang-luar-biasa/school_zone/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg" data-orig-size="1017,746" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="School_Zone" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-347" title="School_Zone" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg?w=460&#038;h=337" alt="" width="460" height="337" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg?w=460&amp;h=337 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg?w=920&amp;h=675 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg?w=150&amp;h=110 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg?w=300&amp;h=220 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg?w=768&amp;h=563 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Buku-buku terbitan Hinkler, grab them as a give away to your kids. It&#8217;s really valuable learning kit!</p>
<p>Begitulah kira-kira apa yang saya alami selama 6 bulan ini ketika saya membimbing anak saya untuk bisa membaca dalam bahasa Inggris. Alhamdulillah, Affan yang berusia 6 tahun dan duduk di Year 1 sudah mulai bisa membaca. Ehmmm&#8230;tentu saja dengan pronounciation, spelling, ritme dan aksen orang Inggris (Aussie..heh), nggak seperti papa-mamanya yang suka ngomong Inggris Jawa. Untuk kakaknya, si Afkar yang duduk di Year 6, dia tidak perlu di bimbing karena sudah bisa men-judge perbedaan bahasa Indonesia dan English. Sedangkan bagi si Algy, karena baru berumur 3 tahun dan belum mengenal huruf, insyaallah akan belajar sendiri, karena belum ada background yang menghambat.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2010/05/11/anak-belajar-membaca-phonics-vs-iqra-memang-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">344</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/starfall.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">StarFall</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/school_zone.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">School_Zone</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Me’nyruput’ Western Education untuk anak-anak</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/28/me%e2%80%99nyruput%e2%80%99-western-education-untuk-anak-anak/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/28/me%e2%80%99nyruput%e2%80%99-western-education-untuk-anak-anak/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 04:53:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Schooling]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=332</guid>

					<description><![CDATA[Bateman, 17 Desember 2009 Alhamdulillah, anak-anak, Afkar Naufal dan Affan Fahreza, telah selesai menjalani masa sekolah singkat selama 2 bulan terakhir di Bateman Primary School. Mereka otomatis naik ke kelas berikutnya, Afkar ke Year 6 dan Affan ke Year 1. Positifnya, bagi ortu seperti saya, menjelang kenaikan kelas, tidak ada perasaan khawatir mengenai nilai, peringkat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bateman, 17 Desember 2009</em></p>
<p>Alhamdulillah, anak-anak, Afkar Naufal dan Affan Fahreza, telah selesai menjalani masa sekolah singkat selama 2 bulan terakhir di Bateman Primary School. Mereka otomatis naik ke kelas berikutnya, Afkar ke Year 6 dan Affan ke Year 1.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="336" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/28/me%e2%80%99nyruput%e2%80%99-western-education-untuk-anak-anak/affan-dan-akar-di-bateman-ps/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg" data-orig-size="1677,839" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Affan dan Akar di Bateman PS" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-336" title="Affan dan Akar di Bateman PS" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg?w=460&#038;h=230" alt="" width="460" height="230" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg?w=460&amp;h=230 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg?w=920&amp;h=460 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg?w=150&amp;h=75 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg?w=300&amp;h=150 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg?w=768&amp;h=384 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Positifnya, bagi ortu seperti saya, menjelang kenaikan kelas, tidak ada perasaan khawatir mengenai nilai, peringkat di kelas ataupun naik kelas. Semua student otomatis akan naik kelas! Sangat membanggakan juga bahwa anak-anak juga sudah mulai pick-up the language! Mereka sudah mulai sedikit-sedikit bisa berbahasa Inggris, dari tadinya nol besar! Disamping itu, masa dua bulan belajar dan bersosialiasi telah mencukupi bagi mereka untuk settled down dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Bagus kan! Jika anak-anak merasa senang dan betah di sini, mamanya pasti ikutan kerasan, dan papanya bisa lebih konsentrasi belajar!</p>
<p>Bagi anak-anak, sekolah menjadi aktifitas yang menyenangkan karena beban belajar tidak menggunung, suasana belajar sangat fun dan santai, teman-teman baru telah di dapat, dan guru-guru sangat perhatian serta apresiatif. Dan yang lebih penting lagi adalah tidak adanya ujian-ujian!  Inilah yang membuat belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan dan rileks. Selain itu, ada mata pelajaran-mata pelajaran yang baru dikenal anak-anak di sini, yaitu Dance, Arts, Music dan LOTE (Language Other Than English). Dan ternyata semuanya memberikan pengalaman yang menyenangkan. Afkar dan Affan menjadi lebih bisa mengekspresikan diri serta lebih percaya diri secara nalar dan fisik!</p>
<p>Negatifnya, untuk sementara tidak ada! Tapi, sudah terbayang 3-4 tahun lagi setelah pulang di Jakarta, wah…pasti akan menjadi masalah besar! Dengan beban pelajaran tidak sampai 60% dari beban studi sekolah di Indo, anak-anak pasti akan mengalami kesulitan dalam mengejar kekurangannya. Ditambah dengan sistem pendidikan yang lebih mengutamakan isi buku pelajaran alias banyak hafalan dan ujian-ujian, pastilah anak-anak akan bertambah stress! Jika situasinya seperti itu, ortunya pasti lebih nervous lagi!</p>
<p>Tapi biarlah, toh problem itu akan datang 3-4 tahun lagi! Untuk sekarang ke depan ini biar anak-anak menikmati kesenangan bersekolah! Sesuatu yang sangat-sangat-sangat sulit di dapatkan di Indonesia!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pengamatan Sekilas</strong></p>
<p>Dari semula sebelum berangkat ke Perth, saya sudah mendengar sana-sini betapa berbedanya sistem pendidikan Indonesia dan Australia. Dan sekarang setelah melihat anak-anak mengalami sendiri masa 2 bulan bersekolah, perbedaan itu sangat terasa.</p>
<p>Yang saya amati dari masa sekolah anak-anak 2 bulan ini adalah:</p>
<ol>
<li>Ortu di tuntut aktif dalam menjalankan pendidikan bersama sekolah. Misalnya, untuk anak saya Affan, jadwal Pre-primary dibuat supaya ortu berpartisipasi dan berinteraksi dalam proses pendidikan, bahkan di dalam sekolah. Jadi, meskipun student Pre-primary masuk jam 9 am, ortu disarankan untuk datang bersama anaknya jam 8.30, untuk kemudian menemani anak-anaknya selama 30 menit dengan aktifitas belajar seperti membacakan buku atau ikut bermain puzzle. Demikian pula dengan Afkar yang duduk di Year 5. Setiap hari ortu harus menandatangani buku komunikasi dan pada hari Jumat disarankan untuk menghadiri acara assembly (pementasan).</li>
<li>Setiap anak diberikan perhatian dan penghargaan berdasarkan bakat dan prestasinya, meskipun prestasi itu tidak berarti apa-apa bagi student lain ataupun bagi sekolah. Sebagai contoh, dalam dua bulan masa sekolah saja, Afkar telah diberikan sertifikat penghargaan dua kali, yaitu atas semangatnya dalam belajar di lingkungan baru dan dalam mengikuti pelajaran edu-dance.</li>
<li>Jumlah mata pelajaran tidak banyak, tapi holistik (mencakup semua aspek perkembangan manusia). Contohnya, di Year 5 Afkar hanya belajar Math, Science, Music, Art, English( Spelling, Reading dan Writing), Phyical Education (PE) dan LOTE (Language Other Than English).</li>
<li>Tugas-tugas dan homework tidak membebani anak. Selama dua bulan ini, jumlah PR yang diberikan untuk Afkar dapat dihitung dengan jari. Itupun dengan masa pengerjaan yang cukup lama untuk ukuran student Indo. Berlainan dengan tugas-tugas dan PR di sekolah Indonesia yang selalu menggunung dengan waktu pengerjaan super singkat tidak masuk akal.</li>
<li>Suasana belajar di kelas yang menyenangkan dan rileks. Saya amati sendiri, di ruangan kelas, guru tidaklah duduk mematung di meja depan, dan murid-murid sering duduk dengan setting berkelompok. Tidak sama dengan suasana di ruang kelas sekolah di Indo dimana semua murid duduk menghadap ke depan. Bahkan, sangat sering saya lihat Year 5 dan 6 di gabung untuk mata pelajaran tertentu.</li>
<li>Pengajaran tidak terpaku pada buku pegangan. Untuk pelajaran Reading misalnya, student selalu dibawa ke library untuk meminjam dan membaca buku apa saja yang mereka sukai.</li>
<li>Tidak ada ujian-ujian harian, catur wulan atau bahkan untuk kenaikan kelas saja juga tidak ada final exam. Berlainan dengan sekolah di Indo, dimana anak-anak selalu dihadapkan dengan uji blok, testing mingguan, testing bulanan, ujian tengah semester, ujian akhir dll dll dll.</li>
<li>Bahan pengajaran, misalnya Math, secara konseptual kira-kira sama dengan sekolah di Indonesia tetapi dari segi persoalan yang dicakup dan cara mengajarkannya sangat berbeda. Misalnya, untuk aritmetika dasar yang di sini dinamakan Number Sense, terlihat bahwa yang penting anak-anak memahami bilangan, hubungan antar bilangan, representasi bilangan, dan operasi-operasi bilangan. Bukan pada berapa dan serumit apa soal-soal yang berhasil dikerjakan. Jadi, soal-soal yang berikan untuk masing-masing konsep adalah soal-soal yang sederhana, bilangannya kecil-kecil dan bersifat terapan. Jika ada bilangan besar pasti berupa bilangan berpola yang sebelumnya sudah didahului dengan bilangan serupa tapi kecil. Misalnya, 60:9, 6000:90, 60000:900 dst dst. Pastilah anak Indonesia akan bilang, ‘mah…matematika di sini gampang!’. Ini berbeda dengan betapa beratnya bahan pelajaran matematika di sekolah Indonesia, dan seringkali soal-soal yang diberikan sangat rumit, dengan melibatkan bilangan yang kelewat besar dan tujuan soalnya juga tidak jelas. Kayak-kayak cuman drill doang!</li>
<li>Selain intelektual anak yang ditumbuhkan, fisik dalam arti kebugaran dan ekspresi benar-benar dikembangkan pula. Dan tentu saja, kreatifitas dan imajinasi anak terus di rangsang. Pelajaran seperti dance dan sport menjadi menu mingguan, dan selalu di pentaskan di akhir minggu. Hasilnya, Afkar dan Affan dalam dua bulan ini terlihat lebih bisa mengekspresikan dirinya secara fisik, alias tidak malu-malu di hadapan orang lain dan percaya diri. Pelajaran Music dan Art juga benar-benar terasa berguna, anak menjadi senang berimajinasi, berekspresi dan bernyanyi.</li>
<li>Kemampuan mengorganisasi diri juga di latih terus-menerus. Misalnya, sekolah mewajibkan semua student untuk membawa alat tulis-menulis dan perlengkapan sekolah yang komplit dan sama untuk semua anak. Semua pensil dan pulpen harus ditaruh di dalam pencil case, buku-buku pinjaman library harus dimasukkan tas khusus, semua anak harus membawa lunch-box, setiap anak mempunyai tempat penyimpanan disekolah dsb dsb. Meskipun kelihatannya hal sepele, tetapi terlihat bahwa anak diajari untuk mengorganisasikan dan membuat dirinya teratur serta rapi. Hehehe…saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana situasi kelas di SD Raudhah, tempat anak saya bersekolah terakhir, wah…yang namanya pensil, penghapus dan buku-buku berserakan kemana-mana. Dan karena tidak semua murid membawa perlengkapan sekolah yang sama, ada yang pinjem ini, pinjem itu…jalan-jalan dikelas dan akhirnya hilang…</li>
<li>Kemampuan bersosialiasi anak terus-menerus dikembangkan. Sebagai contoh, setiap istirahat lunch, semua student harus berkumpul di hall, menurut kelasnya masing-masing dan duduk dengan rapi untuk kemudian makan bersama. Selain itu, seringkali ada kunjungan-kunjungan dan ekskursi keluar sekolah, misalnya untuk first aid (P3K). Bahkan, murid-murid sendiri diajarkan membuat acara charity, dengan menjual kue-kue disekolah misalnya. Juga, di sekolah anak-anak dilatih berdisiplin dalam menghargai hak temannya. Misalnya, untuk ke toilet harus antri, untuk membeli makanan di kantin harus antri untuk masuk keruangan assembly harus antri dsb dsb.</li>
</ol>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="338" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/28/me%e2%80%99nyruput%e2%80%99-western-education-untuk-anak-anak/afkar-year-5-merit-certificate-2009/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg" data-orig-size="799,619" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Afkar Year 5 Merit Certificate 2009" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-338" title="Afkar Year 5 Merit Certificate 2009" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg?w=460&#038;h=356" alt="" width="460" height="356" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg?w=460&amp;h=356 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg?w=150&amp;h=116 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg?w=300&amp;h=232 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg?w=768&amp;h=595 768w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg 799w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p><strong>Refleksi Singkat</strong></p>
<p>Meskipun Bateman Primary School adalah sekolah dasar negeri, tetapi dari segi kualitas pendidikan dan fasilitas pengajaran tidaklah berbeda jauh dengan public school lainnya di Western Australia. Baik pemerintah maupun badan swasta menerbitkan School League Table secara berkala bagi masyarakat untuk melihat perbandingan sekolah-sekolah negeri. Sebagai contoh website  <a href="http://www.thisreview.com.au/Item/Education/Public-Primary-Schools/Western-Australia/List">http://www.thisreview.com.au/Item/Education/Public-Primary-Schools/Western-Australia/List</a>.</p>
<p>Sangat mengherankan bahwa dengan bobot bahan pengajaran yang saya kira sekitar 50-70% dari tingkat kesulitan sekolah di Indonesia, Australia masih termasuk berada di jajaran depan dalam pendidikan diantara negara-negara maju. Belajarnya santai…eeeee…hasilnya koq masih bagus-bagus juga…! Piye tho..?</p>
<p>Terbukti dari laporan ranking TIMSS (Trends in Mathematics and Science Study) tahun 2007, atau laporan rangking PISA (Programme for International Student Assessment) tiga tahun berturut-turut.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oecd-education-pisa-rank.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="333" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/28/me%e2%80%99nyruput%e2%80%99-western-education-untuk-anak-anak/oecd-education-pisa-rank/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oecd-education-pisa-rank.jpg" data-orig-size="606,761" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="OECD Education PISA Rank" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oecd-education-pisa-rank.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-333" title="OECD Education PISA Rank" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oecd-education-pisa-rank.jpg?w=460&#038;h=577" alt="" width="460" height="577" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oecd-education-pisa-rank.jpg?w=460&amp;h=578 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oecd-education-pisa-rank.jpg?w=119&amp;h=150 119w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oecd-education-pisa-rank.jpg?w=239&amp;h=300 239w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oecd-education-pisa-rank.jpg 606w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/timss-2007-year-8-science.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="335" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/28/me%e2%80%99nyruput%e2%80%99-western-education-untuk-anak-anak/timss-2007-year-8-science/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/timss-2007-year-8-science.jpg" data-orig-size="465,631" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="TIMSS 2007 Year 8 Science" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/timss-2007-year-8-science.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-335" title="TIMSS 2007 Year 8 Science" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/timss-2007-year-8-science.jpg?w=460&#038;h=624" alt="" width="460" height="624" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/timss-2007-year-8-science.jpg?w=460&amp;h=624 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/timss-2007-year-8-science.jpg?w=111&amp;h=150 111w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/timss-2007-year-8-science.jpg?w=221&amp;h=300 221w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/timss-2007-year-8-science.jpg 465w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Atau, indikasi-indikasi lain seperti nama-nama artis terkenal, ilmuwan, olahragawan dari Australia yang sudah mendunia dan terus-menerus eksis, seperti <strong>Nicole Kidman</strong>, <strong>Russell Crowe</strong>, <strong>Elizabeth Blackburn</strong>, <strong>Barry Marshall, Ian Thorpe, Leyton Hewitt </strong>dsb dsb. Saya yakin ini merupakan buah dari sistem pendidikan yang benar dan tepat.</p>
<p>Terlihat sekali bahwa anak-anak Australia sangat asertif (percaya diri dan meyakinkan) serta kreatif, dibandingkan dengan tipikal anak-anak Indonesia yang cenderung konservatif (tidak mau megambil resiko dan menyesuaikan dengan pendapat umum) dan reserved (pendiam, pemalu dan menjaga diri). Ini pastilah juga hasil dari sistem pendidikan yang mereka tempuh!</p>
<p>Saya lihat ada beberapa hal yang membedakan sistem pendidikan Indonesia dan Australia (baca: western), diantaranya approach dalam cara mengajar, konsep bahan pengajaran dan apresiasi terhadap peserta didik.  Dalam hal ‘pendekatan cara mengajar’, Student-as-Object vs Student-as-Subject. Dalam hal ‘konsep bahan ajar’, Lower order (hafalan) vs higher order thinking (penerapan dan analisa). Dalam hal ‘apresiasi peserta didik’, Keseragaman (Conformity) vs Keaslian (Originality).</p>
<p>Untuk mudahnya, perbedaan beserta simptomnya itu saya rangkum dalam tabel di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top" width="206">
<p style="text-align:center;">Perbedaan</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top" width="426">Gejala (simptom) yang teramati</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="213">Indonesia</td>
<td valign="top" width="213">
<p style="text-align:center;">Australia</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="206">Student-as-Object vs Student-as-Subject</td>
<td valign="top" width="213">
<ul>
<li>guru adalah otoritas dikelas yang tidak boleh dipertanyakan atau di challenge kemampuannya oleh murid</li>
<li>kebanyakan pertanyaan yang diajukan guru di kelas bersifat retorikal</li>
<li>murid-murid merasa bosan bahkan tertidur didalam kelas</li>
<li>tugas-tugas lebih banyak tertulis dalam bentuk latihan soal (drill)</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="213">
<ul>
<li>banyak tugas berupa oral presentation yang mengharuskan murid berekspresi secara logika, bahasa dan fisik yang bisa berbeda dari pendapat guru</li>
<li>banyak tugas berupa written report yang memerlukan riset kecil yang tidak tergantung pada pendapat guru</li>
<li>suasana kelas hidup dan rileks</li>
<li>murid-murid duduk dalam kelompok dan bekerja secara kelompok</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="206">Lower order (hafalan) vs higher order thinking (penerapan dan analisa)</td>
<td valign="top" width="213">
<ul>
<li>terpaku pada bahan belajar dari buku pegangan dan ujian-ujian</li>
<li>karena deadline ujian dan testing sering mepet, murid terpaksa menghafal bahan-bahan itu supaya lulus ujian, dan guru tergesa-gesa menyampaikan lembar demi lembar bahan dari buku pegangan dengan sambil lalu supaya bisa memenuhi deadline</li>
<li>tumbuhnya bimbingan-bimbingan belajar, yang bukan hanya menawarkan cara cepat belajar, bahkan bisa mengerjakan PR anak-anak</li>
<li>murid dinilai dan di rangking berdasarkan pencapaian berdasarkan angka-angka hasil ujian dan testing</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="213">
<ul>
<li> kecepatan (pace) belajar yang santai dan tidak stress (tense)</li>
<li>cara belajar berkelompok merangsang anak untuk mengerti lebih mendalam karena harus mengungkapkannya di hadapan kelompoknya</li>
<li>tugas-tugas berupa written report merangsang anak untuk mencapai pengertian terhadap bahan lebih luas dan mendalam</li>
<li>tugas-tugas berupa presentasi di kelas merangsang anak untuk mengerti lebih mendalam</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="206">Keseragaman (Conformity) vs Keaslian (Originality)</td>
<td valign="top" width="213">
<ul>
<li>banyak peraturan-peraturan disiplin seperti: &#8216;sepatu harus hitam dengan kaus kasi putih&#8217;, &#8216;baju harus dimasukkan rapi&#8217; dsb dsb.</li>
<li>prestasi murid diukur dari angka-angka hasil ujian saja</li>
<li>hukuman bagi murid yang berbuat salah, baik secara akademis maupun tingkah-laku</li>
<li>jenis pekerjaan sepeti dokter, insinyur dan pengacara sangat di senangi, sedangkan artis, seniman dan olahragawan sering di anggap remeh</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="213">
<ul>
<li> kesalahan dipandang positif, karena merupakan langkah pertama untuk pemahaman</li>
<li>assessment tools beragam untuk mengukur kemampuan masing-masing murid</li>
<li>karya dan pendapat orisinil sangat dihargai, plagiarism dikenakan hukuman keras</li>
<li>keikutsertaan murid dalam kegiatan ekskul, charity dan voluntary sangat didorong dan dihargai</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Begitulah, senikmat satu ‘sruputan’ kopi nasgithel (kopi manis mantap), demikan pula anak-anak, Afkar dan Affan, telah mencicipi pendidikan yang menyenangkan, dan membuat mereka lebih percaya diri serta bisa berekpresi secara logika, estetika dan fisik! Pastilah masa libur Summer yang panjang ini bukan liburan yang ditunggu-tunggu, tapi sekolah-lah yang terbayang-bayang! Moga-moga dengan mengikuti pendidikan di Australia 3-4 tahun ini, mereka bisa mengikuti jejak nama-nama besar di atas, sesuai dengan bakat dan pilihan hidupnya!</p>
<p>Dan untuk ortu sendiri, selain senang bisa berharap banyak dari perkembangan mereka, ada hal-hal yang perlu diantisipasi juga. Misalnya, selain kemampuan intelektual, seni dan fisik yang berkembang, mereka pasti juga menyerap nilai-nilai yang bisa menentukan pilihan hidup, harapan-harapan dan kepuasan yang ingin diraih dalam hidup ini. Bisa jadi, pilihan-pilihan dan harapan-harapan itu tidak kompatibel dengan situasi umum di Indonesia nantinya! Must be anticipated from now!</p>
<p>***NB: “<strong>nyruput</strong>” dalam bahasa Jawa berarti menikmati minuman panas, misalnya kopi atau teh, dengan cara di minum sedikit-sedikit, sambil mengeluarkan suara “srtpttt…”, sehingga terasa sangat nikmat dan menimbukan perasaan ingin menikmati lebih lama lagi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/28/me%e2%80%99nyruput%e2%80%99-western-education-untuk-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>9</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">332</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/affan-dan-akar-di-bateman-ps.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Affan dan Akar di Bateman PS</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/afkar-year-5-merit-certificate-2009.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Afkar Year 5 Merit Certificate 2009</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oecd-education-pisa-rank.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">OECD Education PISA Rank</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/timss-2007-year-8-science.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">TIMSS 2007 Year 8 Science</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Toyota Corolla – 1991-1994 Review dan Pengalaman Pribadi</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 11:14:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Living]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=298</guid>

					<description><![CDATA[Menyebutkan nama Corolla saja telah menimbulkan image tentang mobil yang well-built, handal dan bagus. Dan tidak ada contoh yang paling mengesankan mengenai Corolla selain model AE92 yang mulai di pasarkan pada tahun 1991 sampai 1994. Kenapa demikian? Dalam posting saya terdahulu mengenai karakter berlalu-lintas di Perth (https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/08/karakter-lalu-lintas-bermobil-di-perth/), concern utama pengemudi adalah kemampuan bermanuver! Bagi teman-teman [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menyebutkan nama Corolla saja telah menimbulkan image tentang mobil yang well-built, handal dan bagus. Dan tidak ada contoh yang paling mengesankan mengenai Corolla selain model AE92 yang mulai di pasarkan pada tahun 1991 sampai 1994.</p>
<p>Kenapa demikian? Dalam posting saya terdahulu mengenai karakter berlalu-lintas di Perth (<a href="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/08/karakter-lalu-lintas-bermobil-di-perth/">https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/08/karakter-lalu-lintas-bermobil-di-perth/</a>), concern utama pengemudi adalah kemampuan bermanuver! Bagi teman-teman yang anggarannya cepak, tapi ingin menyesuaikan dengan situasi berlalu-lintas tersebut, Toyota Corolla 1991-1994 akan menjadi pilihan yang sangat-sangat tepat. Nama besar mesin 4A-F, 4A-FE, dan 4A-GE Twin Cam yang disandang Corolla 91-94 menjadi jaminan kinerja mobil di jalan. Kualitas produksi dan quality assurance Toyota juga menjadi garansi akan kenyamanan membawa mobil ini. Dan karena model ini telah cukup termakan umur, harga dipasaran cukup terjangkau. Apalagi bagi teman-teman yang cuman tinggal 2-4 tahun di sini, resale-value yang tinggi dari Corolla akan memudahkan melegonya.</p>
<p>Toyota Corolla 1991-1994 atau model AE92 merupakan mobil yang terbukti well-enginereed, well-built dan well-equipped. Meskipun sekarang ini sudah hampir mendekati umur pakainya, karakter dan image model tersebut masih menjadi pilihan yang bagus!</p>
<p>Dan saya sendiri merupakan pemakai Corolla! Setelah membawa Hyundai Sonata 1996 selama sebulan, saya tidak tahan dengan kemampuan manuvernya. Segera saya carikan penggantinya yang lebih mampu mengimbangi tuntutan berlalu-lintas di jalan-jalan Perth Metro. Toyota Corolla –lah yang menjadi pilihan saya! I’m very happy to be one of them! Meskipun Corolla saya sudah berumur 18 tahun alias keluaran 1991, tetapi masih sangat enak di bawa, tidak kelihatan jadul-jadul amat, dan … irit BBM. Sangat pas dengan tema student DIKTI, kantong cepak tapi ingin prestasi…heheheheh.</p>
<p><strong>Model yang tersedia di pasar</strong></p>
<p>Bagi para penggemar otomotif, AE92 termasuk mobil yang sangat mengesankan dengan 21 macam model. Nampaknya Toyota ingin menjadikan Corolla mobil sejuta umat, dari mereka yang berkantong tipis dan perlu basic transport sampai kaum berduit yang menginginkan kenyamanan lebih. Dengan empat model body dari Sedan, Hatchback, Liftback dan Wagon, serta empat kelas fitur mulai SE, CS, CSi sampai CS-X, empat macam mesin serta 3 jenis transmisi, pastilah Corolla AE92 akan menjadi mobil untuk semua orang.</p>
<p>Model sedan 4-pintu terlihat menyenangkan meskipun agak konservatif dan lebih ditujukan untuk keluarga serta mereka yang sudah berumur mapan.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="299" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/corolla-ae92-sedan/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg" data-orig-size="1064,777" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Corolla AE92 Sedan" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-299" title="Corolla AE92 Sedan" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg?w=460&#038;h=335" alt="" width="460" height="335" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg?w=460&amp;h=336 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg?w=920&amp;h=672 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg?w=150&amp;h=110 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg?w=300&amp;h=219 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg?w=768&amp;h=561 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Model hatchback 5-pintu tampak sangat cocok bagi kaum muda, dengan garis-garis manis dan buncit meruncing.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="300" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/corolla-ae92-hatchback/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg" data-orig-size="798,599" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Corolla AE92 Hatchback" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-300" title="Corolla AE92 Hatchback" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg?w=768&amp;h=576 768w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg 798w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Sedangkan Liftback 5-pintu merupakan model yang paling menarik dengan buritan yang lebih memanjang dan melengkung halus.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="301" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/corolla-ae92-liftback/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg" data-orig-size="802,601" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Corolla AE92 Liftback" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-301" title="Corolla AE92 Liftback" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg?w=460&#038;h=344" alt="" width="460" height="344" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg?w=150&amp;h=112 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg?w=768&amp;h=576 768w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg 802w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Model sedan tersedia dalam kelas SE, CS dan CS-X, demikian pula model hatchback, yang juga mempunyai kelas SX Sporty. Sedangkan model Seca Liftback ditawarkan dalam kelas CS, CS-X dan SX.</p>
<p>Semua model beserta kelasnya mengusung dapur pacu berupa mesin Twin Cam dengan 4 silinder segaris. Kelas mesin entry-level berupa 1.4-liter twin cam berdaya 60 kW, dengan karburator hanya tersedia di pasar Australia. Mesin ini dipasangkan ke kelas SE sedan dan CS hatchback, dengan transmisi manual 5-speed.</p>
<p>Untuk semua model dengan kelas CS dan CS-X, serta hatchback SE, Toyota memasangkan mesin 1.6-liter twin cam berkarburator, dengan transmisi manual 5-speed. Pada kelas CS juga disediakan piliha transmisi otomatis 3-speed. Sedangkan pada kelas CS-X, Toyota menawarkan transmisi otomatis 5-speed. Model Wagon memiliki kelas mesin paling tinggi berupa 1.6-liter twin cam, dengan fuel-injection yang bisa menyemburkan tenaga sampai 76 kW.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="302" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/corolla-ae92-wagon/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg" data-orig-size="802,435" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Corolla AE92 Wagon" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-302" title="Corolla AE92 Wagon" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg?w=460&#038;h=249" alt="" width="460" height="249" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg?w=460&amp;h=250 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg?w=150&amp;h=81 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg?w=300&amp;h=163 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg?w=768&amp;h=417 768w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg 802w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Sistem suspensi untuk semua model dan kelas adalah MacPherson Strut front and strut rear. Steering berupa rack and pinion tanpa power assistance, tetapi power steering juga tersedia sebagai pilihan untuk model dan kelas tertentu seperti Seca Liftback CS. Rem depan mengadopsi piringan cakram, sedangkan rem belakang berupa drum.</p>
<p>Interior Corolla cukup memberikan kenyamanan, dengan panel instrumen cukup lengkap. Sayangnya, material interior berupa plastik keras meskipun cukup awet tapi terkesan agak murahan. Demikian pula, seat dibungkus dengan bahan fabric yang gampang kotor.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-interior.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="303" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/corolla-ae92-interior/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-interior.jpg" data-orig-size="596,373" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Corolla AE92 Interior" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-interior.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-303" title="Corolla AE92 Interior" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-interior.jpg?w=460&#038;h=287" alt="" width="460" height="287" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-interior.jpg?w=460&amp;h=288 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-interior.jpg?w=150&amp;h=94 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-interior.jpg?w=300&amp;h=188 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-interior.jpg 596w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Harga untuk menebusnya</strong></p>
<p>Corolla keluaran 91-94 mestinya telah menempuh jarak 160 ribu – 200 ribu km di odometernya, tetapi di pasar mobil bekas masih terasa kuat, apalagi jika kondisinya masih mulus dan kinclong.</p>
<p>Tingkat harga yang dipasang dealer masih menunjukkan AUD 2500-an untuk Corolla SE 1991, dan bisa lebih mahal AUD 300-an untuk model hatchback. Demikian pula untuk model sedan dan hatchback CS , bisa mencapai AUD 2900-an dan model Seca Liftback bisa lebih tinggi 500-an lagi. Sedan dan hatchback SE keluaran tahun 1994 bisa berharga AUD 4000-5000-an, yang menguatkan bukti resale-value dari Corolla. Bahkan model Seca liftback CSi limited bisa mencapai AUD 5000-6000-an!</p>
<p>Harga lebih rendah bisa diperoleh dari penjual privat, seperti yang sering memasang iklan car-for-sale di situs Gumtree atau Quokka. Selisih harga dengan dealer bisa mencapai 500-2000 –an dollar!</p>
<p><strong>Teliti sebelum membeli</strong></p>
<p>Tak ada yang meragukan kualitas pembuatan Corolla. Namun, karena sudah berusia 18-15 tahun dan ratusan ribu km yang telah ditempuhnya, pastilah mobil ini juga mempunyai penyakit-penyakit yang diderita mobil-mobil lain seumuran. Kuncinya adalah teliti sebelum membeli!</p>
<p>Sangatlah penting untuk memeriksa dengan teliti hal-hal penting seperti service record, mesin, timing belt, gearbox, transmisi serta rem. Luangkan waktu seperlunya dan mintalah nasihat kepada mekanik yang mengerti Corolla.</p>
<p>Dengan usia seumuran anak kuliahan, pastilah jarang ada Corolla yang mempunyai service record lengkap. Tetapi, tanyakan kepada owner atau dealer mengenai bagaimana maintenance terhadap mobil sebelum-sebelumnya.</p>
<p>Mesin 4A-twin cam sangat kuat dan durable asalkan dirawat dengan benar dan teratur. Lihat kondisi knalpot waktu mesin dihidupkan. Knalpot yang basah berminyak, mengeluarkan asap dan meneteskan air merupakan tanda ketidakberesan mesin. Dan dengan jarak tempuh 200-an ribu km, penggantian timing belt untuk kedua kalinya mesti dipastikan.</p>
<p>Gearbox dan transmisi Corolla umumnya bebas masalah, tetapi untuk gearbox 5-speed, masalah umum terletak di gigi kelima. Jalankan mobil pada kecepatan mencukupi dan coba pindahkan ke gigi lima, pastikan gigi tidak meloncat.</p>
<p>Steering umumnya juga bebas masalah, tetapi cobalah amati boot karet pelindung drive shaft joints (tie rod), lihat jika telah robek yang bisa berakibat kemudi terasa loose alias “oglak”.</p>
<p>Bodi dan kualitas pengecatan Corolla sangat bagus sehingga mestinya bertahan lama, tetapi pemilik yang sembrono dan cuaca Perth yang cukup ganas bisa berakibat bodi penyok, lecet dan warna yang memburam. Interior Corolla juga cukup kuat dan awet, tetapi pastikan lihat “tear and wear” pada semua jok.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pengalaman pribadi</strong></p>
<p>Saya mendapatkan Corolla Sedan CS tahun 1991 dengan harga AUD 1100, ditambah biaya ownership transfer sebesar 45 dollar.</p>
<p>Waktu saya beli, kondisi fisik sekilas dalam keadaan kacau! Kotor, berantakan, berdebu, berpasir, cat buram! Tetapi pada saat saya tes mesin, wah…ini dia kayaknya pilihan saya datang. Mesin sangat halus, responsive dan bertenaga. Jadi, saya nggak perlu berpikir dua kali, langsung saya tawar dan putuskan beli! Masalah penampilan fisik,..emmm…tunggu 2-3 minggu setelah ditangan pasti jadi halus, mulus dan bersih!</p>
<p>Inilah gambar-gambar My Beloved Corolla CS 1991 setelah saya tangani:</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="304" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/1_bonet_plate_number/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1260351027&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.004&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="1_Bonet_Plate_Number" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-304" title="1_Bonet_Plate_Number" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="306" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/3_full_body_right/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1260350906&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.005&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="3_Full_Body_Right" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-306" title="3_Full_Body_Right" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="307" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/4_body_rear_right/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1260350934&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.0025&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="4_Body_Rear_Right" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-307" title="4_Body_Rear_Right" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="308" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/5_body_rear_center/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1260350947&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.002&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="5_Body_Rear_Center" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-308" title="5_Body_Rear_Center" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="312" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/9_4a-f_1-6l_twincam_engine/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1260349988&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.016666666666667&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="9_4A-F_1.6L_TwinCam_Engine" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-312" title="9_4A-F_1.6L_TwinCam_Engine" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="315" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/12_steer_dashboard/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1260349885&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.016666666666667&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="12_Steer_Dashboard" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-315" title="12_Steer_Dashboard" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="317" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/14_back_seats/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1260349843&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.016666666666667&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="14_Back_Seats" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-317" title="14_Back_Seats" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Dan, setelah membawa mobil ini selama 3 minggu, terasa benar bedanya dengan mobil Hyundai Sonata sebelumnya. Bagaimanapun manuver pengemudi lain, Corolla saya sanggup melayaninya. Mesin 4A-F memang terasa kencang dan responsive. Handling sangat solid dan steering cukup presisi. Penampilan fisiknya sendiri sekarang terlihat ‘pristine’ alias kinclong, bersih and rapi karena sudah saya elus-elus layaknya istri kesayangan…heheheh! Pokoknya, dinaikin …enak betul! Satu-satunya yang nggak enak cuman kalau mau parkir di tempat sempit, karena Steering assisted by ‘otot’, nggak pakai Power Steering!</p>
<p>Tampaknya mobil ini akan lama saya pakai, kecuali kalau saya ketiban rezeki sehingga bisa membeli Corolla Ascent…wuih! Rencana saya dalam tiga bulan, timing belt mesti diganti, semua belt-belt mesti di ganti, pasang central lock dan remote, AC mesti di re-gas, dan rem belakang harus dibenerin karena sudah terlihat agak bocor.</p>
<p>Secara keseluruhan, I’m a happy buyer…senang benar bisa mendapat mobil ini! And of course, now I’m a happy driver too! Tunggu tanggal mainnya deh,…Margareth River….here I come!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Nilai Plus</strong></p>
<ul>
<li>Mesin kuat dan awet<strong> </strong></li>
<li>Hemat bahan bakar<strong> </strong></li>
<li>Perawatan mudah dan murah<strong> </strong></li>
<li>Bodi kokoh dan chasis yang responsive dengan handling solid<strong> </strong></li>
<li>Brand image Toyota menjamin resale-value<strong> </strong></li>
</ul>
<p><strong>Nilai Minus</strong></p>
<ul>
<li>Fitur-fitur seperti Power Steering, Power Window hanya tersedia di kelas atas<strong> </strong></li>
<li>Kualitas material interior<strong> </strong></li>
<li>Suara bising terdengar di kabin<strong></strong></li>
<li>Ruang kaki penumpang belakang sempit</li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/09/toyota-corolla-%e2%80%93-1991-1994-review-dan-pengalaman-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>8</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">298</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-sedan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Corolla AE92 Sedan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-hatchback.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Corolla AE92 Hatchback</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-liftback.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Corolla AE92 Liftback</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-wagon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Corolla AE92 Wagon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/corolla-ae92-interior.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Corolla AE92 Interior</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/1_bonet_plate_number.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1_Bonet_Plate_Number</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/3_full_body_right.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">3_Full_Body_Right</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/4_body_rear_right.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">4_Body_Rear_Right</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/5_body_rear_center.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">5_Body_Rear_Center</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/9_4a-f_1-6l_twincam_engine.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9_4A-F_1.6L_TwinCam_Engine</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/12_steer_dashboard.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">12_Steer_Dashboard</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/14_back_seats.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">14_Back_Seats</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karakter Lalu-lintas Bermobil di Perth</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/08/karakter-lalu-lintas-bermobil-di-perth/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/08/karakter-lalu-lintas-bermobil-di-perth/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 05:30:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Living]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=292</guid>

					<description><![CDATA[Setelah membawa mobil kurang lebih dua bulan ini, saya mulai merasakan perbedaan cara berlalu-lintas di jalan-jalan Perth Metro. Yang jelas, kita tidak bisa JJS &#8220;jalan-jalan sore&#8221; keliling-liling kota pakai mobil! Jangankan keliling-liling kota, bahkan mau lihat-lihat perumahan-perumahan dengan santai saja amat susah. Bukan karena lalu-lintasnya padat, tetapi karena kita tidak bisa bawa mobil jalan pelan-pelan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah membawa mobil kurang lebih dua bulan ini, saya mulai merasakan perbedaan cara berlalu-lintas di jalan-jalan Perth Metro. Yang jelas, kita tidak bisa JJS &#8220;jalan-jalan sore&#8221; keliling-liling kota pakai mobil! Jangankan keliling-liling kota, bahkan mau lihat-lihat perumahan-perumahan dengan santai saja amat susah. Bukan karena lalu-lintasnya padat, tetapi karena kita tidak bisa bawa mobil jalan pelan-pelan santai. Ini yang kadang-kadang menjadi kerinduan tersendiri terhadap suasana dan atmosfer kehidupan di tanah air.</p>
<p>Teman-teman pastilah pernah bawa mobil sekeluarga, jalan pelan-pelan sambil ngobrol asik menuju ke tempat jajan atau makan. Asiknya, kita bisa menikmati suasana dan melihat-lihat pemandangan. Pokoknya asik deh! Dan semua pengendara yang di belakang atau di depan kita juga sudah mafhum, sehingga kita tenang-tenang saja. Nggak akan ada yang nge-bel atau sewot! Apalagi kalo bawa mobil baru gress dari showroom, heheheheh&#8230;sekalian bisa dilihat-lihatin ke orang-orang kan.</p>
<p>Tapi kalau berani, coba saja melakukan hal yang sama di sini! Situasinya sungguh lain!</p>
<p>Meskipun secara internasional peraturan lalu-lintas mestinya sama, tetapi rupanya budaya setempat sangat mempengaruhi bagaimana orang menggunakan jalan.  Yang saya rasakan di Indo:</p>
<ol>
<li>Jalan adalah tempat apa saja lewat</li>
<li>Jalan adalah pasar</li>
<li>Jalan adalah arena</li>
<li>Lalu-lintas perlu di atur oleh orang (polisi)</li>
</ol>
<p>Akibat buruknya tentu saja lalu-lintas jadi semrawut. Bayangkan saja di jalan yang sama, kendaraan dengan kecepatan 5 km/jam seperti kereta tarik (songkro) punya jalur yang sama dengan mobil berkecepatan 60-70 km/jam. Pastilah semuanya jadi melambat. Belum lagi orang-orang yang lalu-lalang menyeberang seenaknya. Dan juga, kelambatan dari mereka yang sedang jalan-jalan. Ditambah dengan berbagai kaki-lima dan toko-toko yang halaman dan tempat parkirnya adalah jalan itu sendiri. Tapi, keadaan itu malah menciptakan suasana khas Indonesia yang kadang-kadang enak dinikmati juga! hehehehe&#8230;</p>
<p>Di Perth sini:</p>
<ol>
<li>Jalan adalah tempat transit point to point</li>
<li>Jalan adalah tempat yang mengancam keselamatan</li>
<li>Jalan adalah arus yang konstan dan lancar</li>
<li>Lalu-lintas adalah self-governed!</li>
</ol>
<p>Saya mengamati bahwa cara orang membawa mobil di sini sangat berbeda, sebagai contoh:</p>
<ol>
<li>Orang hanya melihat dirinya sendiri dengan asumsi setiap orang mengerti peraturan lalu-lintas. Beda dengan di Indo dimana semua orang waspada dan mau memperhatikan pengendara lain. Misalnya, kalau membawa mobil jalan lurus, di sini orang tidak akan peduli dengan kendaraan-kendaraan lain yang bukan di arus utama, sedangkan di Indo setiap pengemudi pasti selalu bersiap-siap dengan mobil atau orang membelok tiba-tiba, menyeberang, berhenti dsb dsb.</li>
<li>Orang mengemudi tepat dengan spesikasi dan peraturan yang ada di jalan. Misalnya, di lampu merah, begitu tanda lampu hijau menyala, mobil akan dipacu sekencang-kencangnya untuk segera memenuhi batas maksimal kecepatan di jalan tersebut. Beda dengan di Indo, walaupun lampu sudah hijau, orang tidak segera tancap gas, waspada terhadap keadaan didepannya. Contoh lain, di jalan yang berambu 70 km/hr, mobil-mobil akan dipacu disekitar kecepatan tersebut, tidak perduli di jalur kiri, tengah atau kanan. Di Indo, jalur kiri pasti adalah jalur lambat dan orang bisa menjalankan kendaraan seselara mereka.</li>
<li>Karena ingin sesuai dengan spesikasi dan peraturan jalan, maka cara bermanuver pengemudi di sini juga lain. Yang jelas diperlukan mobil dengan kondisi mesin yang prima supaya bisa mengimbangi cara bermanuver orang sini, atau akan menerima sinyal sewot dan bunyi bel. Misalnya, kita sedang di arus utama, terus kita lihat ada mobil dari arus kecil mau ke arus utama. Tentu saja posisi kita di prioritaskan dan harus jalan terus, tetapi kadang-kadang cara menghentikan mobil mereka tuh kayak tiba-tiba, sehingga bisa bikin kita kaget. Tuh mobil akan berhenti kagak..?</li>
<li>Lalu-lintas di sini hampir semuanya self-governed! Teratur dengan sendirinya! Beda dengan di Indo, dimana lalu-lintas mesti diatur oleh polisi. Bahkan banyak perempatan, pertigaan dan putaran yang diatur oleh &#8216;pak ogah&#8217;. Di sini, jalan-jalan telah di beri marka dan tanda untuk mengatur pengemudi, misalnya roundabout, full stop, give way, dsb dsb. Bahkan jalan yang sebenarnya bisa untuk empat lajur, sering di bikin tanda berjalur dua untuk memastikan bahwa semua mobil berjalan dengan kecepatan yang kira-kira sama.</li>
</ol>
<p>Jika saya amati respon dari teman-teman, kondisi lalu-lintas seperti ini memunculkan dua sikap. Ada yang tadinya berani mengemudi di Indo menjadi tidak berani mengemudi di sini, dan kebalikannya yang tadinya tidak berani membawa mobil malah menjadi senang mengemudi di sini. Mungkin bagi kelompok pertama, cara bermanuver dan tuntutan kesempurnaan ketaatan terhadap peraturan jalan dan lalu-lintas lah yang membuat tingkat stress cukup tinggi sehingga akhirnya malah tidak berani membawa mobil. Sebaliknya bagi kelompok kedua, karena semua peraturan jelas dan tegas, ya..santai aja bawa mobil, insyaallah selamat!</p>
<p>Bagi saya sendiri, situasi di atas sih oke-oke saja dan bahkan sangat reasonable. Tinggal diikuti saja! Tetapi, memang cara bermanuvernya cukup challenging juga alias agak-agak maksa, kadang-kadang sedikit stress juga jika mesti konstan berjalan 100 km/hr di jalan tol antar kota. Wadaw&#8230;! Pertama, karena mobil saya adalah mobil tua Toyota Corolla CS AE92 tahun 1991. Kedua, karena saya sudah biasa bawa mobil dengan &#8216;slow but sure atawa alon-alon asal kelakon&#8217;, karena kemana-mana selalu bawa keluarga berlima!</p>
<p>Begitulah, sedikit kesan saya terhadap cara berlalu-lintas di Perth. Insyaallah supaya selamat, nyaman dan lancar, kita mesti paham dengan semua peraturan jalan dan lalu-lintas dan punya mobil dengan kondisi mekanis yang baik. Bagi yang akan membeli mobil, pastikan kondisi mesin, transmisi dan rem dalam keadaan bagus. Kondisi body taruh saja di nomor ke-n, tidak penting dan tidak ada orang peduli. Pengemudi lain lebih concern dengan cara bermanuver kita! Bagi yang belum pernah menyetir, wah&#8230;ini kesempatan bagus untuk bisa berlalu-lintas membawa mobil dengan mudah dan selamat. Bagi yang sudah biasa menaklukkan lalu-lintas Jakarta-Surabaya, tidak ada tantangan lagi di Perth!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/08/karakter-lalu-lintas-bermobil-di-perth/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">292</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sunday Market Di Perth</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/05/sunday-market-di-perth/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/05/sunday-market-di-perth/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 18:01:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Living]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=282</guid>

					<description><![CDATA[Bangun pagi-pagi, jalan-jalan ke Sunday Market! Itu salah satu kegiatan keluarga kami di akhir pekan pada awal-awal kedatangan di Perth bulan Oktober-November 2009. Lumayan, bisa untuk rekreasi nyenengin anak-anak&#8230;hehehe&#8230;&#8221;&#8216;belila lebih skit utk kita orang nanti!!!&#8217;, kata temen Malaysia&#8221;. Dulu sewaktu tinggal di Brisbane, Sunday Market adalah shopping heaven for us…I guess…. hehehe…somehow, waktu itu anak masih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bangun pagi-pagi, jalan-jalan ke Sunday Market! Itu salah satu kegiatan keluarga kami di akhir pekan pada awal-awal kedatangan di Perth bulan Oktober-November 2009. Lumayan, bisa untuk rekreasi nyenengin anak-anak&#8230;hehehe&#8230;&#8221;&#8216;belila lebih skit utk kita orang nanti!!!&#8217;, kata temen Malaysia&#8221;. Dulu sewaktu tinggal di Brisbane, Sunday Market adalah shopping heaven for us…I guess…. hehehe…somehow, waktu itu anak masih satu, masih kecil pula gampang dibawa kemana-mana&#8230; emmm&#8230;.how I missed Brisbane!</p>
<p>Di Perth ada beberapa Sunday Market…Melville, Canning Vale, Belmont, Selby. Meskipun sebagian besar barang jualan adalah used or 2nd hand items, tapi bagi temporary resident seperti saya, it&#8217;s still worth it. Misalnya, daripada beli sepeda baru seharga 200-an dollar hanya untuk dipakai 3 tahun, mendingan yang second seharga 30-an dollar. Nantinya kalau terpaksa harus membuangnya karena mau pulang, tidak nyesel-nyesel amat. Dan barang-barang yang dijual bisa sangat-sangat murah, bisa sampai 20 cents untuk pakaian winter anak-anak…cukup menggoda kan? </p>
<p>Sebenarnya selain ke empat tempat di atas, masih banyak Sunday Market yang lain di Perth, misalnya di Subiaco, Midland, Waneroo, Scarborough dsb dsb. Cuman, kita pernah aja ke empat tempat tersebut, dan favorit kita adalah Canning Vale Sunday Market! Karena dekat, lengkap dan teduh!</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="283" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/05/sunday-market-di-perth/sunday-market-locations/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg" data-orig-size="1392,983" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Sunday Market Locations" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-283" title="Sunday Market Locations" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg?w=460&#038;h=324" alt="" width="460" height="324" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg?w=460&amp;h=325 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg?w=920&amp;h=650 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg?w=150&amp;h=106 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg?w=300&amp;h=212 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg?w=768&amp;h=542 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Di Melville, Sunday Market terletak di halaman parkir Kardinya Shopping Center (A), sedangkan Belmont Sunday Market berlokasi di Belmont Shopping Center (C).</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="284" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/05/sunday-market-di-perth/belmont_sunday_market/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg" data-orig-size="1280,960" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;3.2&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;6630&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1212911372&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;4.5&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.0020278833967047&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Belmont_Sunday_Market" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-284" title="Belmont_Sunday_Market" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Canning Vale Sunda Market (B) punya tempat khusus di hall yang cukup teduh dan nyaman untuk jalan-jalan, di ujung Banister Rd dan South Street.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="285" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/05/sunday-market-di-perth/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1257672810&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.005&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Pulang yuk dah dapet belanjaan" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-285" title="Pulang yuk dah dapet belanjaan" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Enaknya, di area ini juga terdapat tempat belanja favorit temen-temen Indo, yaitu Market City Gourmet Store alias supermarket bahan-bahan makanan asal Indo, atau oriental groceries.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="286" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/05/sunday-market-di-perth/oriental-groceries/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1257670259&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.00125&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Oriental Groceries" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-286" title="Oriental Groceries" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Selby Sunday Market (D) agak spesial, karena hanya di adakan per tiga bulan dan terletak di Gedung Paraplegic-Quadriplegic Association of WA di Selby Street. Lumayan capek juga karena mesti antri sejak pagi, padahal market dibuka jam 10-an. Tapi kalau nggak mau antri duluan, nggak bakal dapat barang yang di incar, keburu di ambil sama pembeli lain. Waktu pertama ke sana, antrian bisa memanjang sekitar 600-an meter, padahal satu baris bisa 2-3 orang.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="287" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/05/sunday-market-di-perth/ngantri-di-selby-sunday-market/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1259484211&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.00625&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Ngantri di Selby Sunday Market" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-287" title="Ngantri di Selby Sunday Market" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Selby Sunday Market ini sebenarnya lebih mirip pasar amal karena hasil penjualan akan dipakai sebagai dana bantuan untuk mereka yang disable. Barang-barang yang dijual cukup lengkap, mulai dari houseware, electrical, furniture, footwear, sportwear, hobbyist dsb dsb. Tempatnya enak juga, karena di dalam gedung, teduh dan berpendingin.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="288" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/05/sunday-market-di-perth/suasana-selby-sunday-market/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1259485113&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.016666666666667&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Suasana Selby Sunday Market" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-288" title="Suasana Selby Sunday Market" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>So, jika ada waktu luang di hari Minggu, pas sunny day&#8230;emmm&#8230;nggak ada salahnya jalan-jalan di Sunday Market. Kecuali kalo di Perth &#8216;sorangan bae&#8217; alias sendirian saja, nah loh&#8230;.bisa-bisa dianggap orang hilang! Bagi yang membawa keluarga, lumayan asik, bisa lihat-lihat sesuatu yang lain. Dan&#8230;tepat seperti yang orang katakan…there’s something for everyone!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/05/sunday-market-di-perth/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">282</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/sunday-market-locations.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sunday Market Locations</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/belmont_sunday_market.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Belmont_Sunday_Market</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/pulang-yuk-dah-dapet-belanjaan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pulang yuk dah dapet belanjaan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/oriental-groceries.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Oriental Groceries</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/ngantri-di-selby-sunday-market.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ngantri di Selby Sunday Market</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/suasana-selby-sunday-market.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Suasana Selby Sunday Market</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merayakan Idul Adha di Perth</title>
		<link>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/01/merayakan-idul-adha-di-perth/</link>
					<comments>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/01/merayakan-idul-adha-di-perth/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tri AB]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 03:44:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Living]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dikopertis3.wordpress.com/?p=274</guid>

					<description><![CDATA[Jika di Indonesia event Iedul Adha banyak ditunggu orang karena bisa makan daging kambing gratis sepuasnya, demikian pula di Perth. Cuman, yang ditunggu-tunggu bukan kambing gulingnya, tetapi kumpul-kumpul dan silaturahminya. Soalnya, walaupun banyak donasi amal yang terkumpul, tetapi panitia penyelenggara tidak mengadakan penyembelihan hewan qurban. Semua donasi qurban di kirim balik ke kampung Indonesia&#8230;hehehe&#8230;fair enough! [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika di Indonesia event Iedul Adha banyak ditunggu orang karena bisa makan daging kambing gratis sepuasnya, demikian pula di Perth. Cuman, yang ditunggu-tunggu bukan kambing gulingnya, tetapi kumpul-kumpul dan silaturahminya. Soalnya, walaupun banyak donasi amal yang terkumpul, tetapi panitia penyelenggara tidak mengadakan penyembelihan hewan qurban. Semua donasi qurban di kirim balik ke kampung Indonesia&#8230;hehehe&#8230;fair enough! Di sini, siapa yang mau dan pantas menerima daging hewan qurban, &#8230;di sini kan daging jadi menu harian!</p>
<p>Jauh-jauh hari, panitia sudah sebarin pengumuman lewat milis mengenai event sholat ied dan perayaaannya. Hohoho&#8230;pasti seru dan ramai! Kapan lagi komunitas Indo bisa kumpul-kumpul masif kalau bukan dalam event kayak ginian! Selain sholat ied berjamaah hari Jumat tanggal 27 Oktober, ada juga bazaar yang diselenggarakan hari Minggunya. Tempat sholat dan bazaar sudah ditetapkan jauh-jauh hari, di gedung konsulat RI di Perth!</p>
<p>Untung juga ada AIPSSA dan pak ketuanya yang super rajin, Mas Aang! Kita di kasih info lengkap abis, bukan hanya acara-acaranya tetapi bahkan juga situasi di sekitar konsulat, terutama perparkiran. Hari kerja pagi, wah&#8230;kalau nggak hati-hati dan prepared, bisa susah dan puter-puter cari parkir mobil, malah bisa-bisa kena denda karena parkir sembarangan! Makanya, karena baru pertama kali akan bawa mobil ke CBD, saya mending berangkat pagi-pagi, jam 6 kurang 20 an menit sudah cabut dari rumah. Siapa tahu akan rebutan parkir! Siapa tahu saya kebablasan dan mesti puter-puter cari lokasinya! Better safe than sorry&#8230;heheheheh! Wuih, pas abis parkir ada bule baik yang mau jepretin kita, as a memorable dong!</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="275" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/01/merayakan-idul-adha-di-perth/behind-the-city-blocks/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1259298410&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.01&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Behind the City Blocks" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-275" title="Behind the City Blocks" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Kita parkir di Terrace Road, di dekat Langley Park tepi Sungai Swan. Wow, a nice place! Konsulat RI terletak 5 menit by walk dari area parkir. Karena masih pagi, kita abiskan waktu dulu dengan jalan-jalan lihat-lihat kota. Lumayan, Perth kira-kira samalah dengan Brisbane. FYI, Brisbane is our first love! Kebetulan keluarga belum pernah ke Konsulat, jadi ya&#8230;nampang bentar di depannya.</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="276" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/01/merayakan-idul-adha-di-perth/in-front-of-the-ri-consulate/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1259299097&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.00625&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="In front of the RI Consulate" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-276" title="In front of the RI Consulate" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Sholat Ied dimulai jam 07.30 dengan Imam dan Khatib Ustad Mumu Munawaroh dari Mesjid Kenwick. Banyak juga yang datang, sekitar 300 an orang deh memadati aula Konsulat. Kebetulan Acting Consul juga datang dan kasih sambutan, bikin suasana jadi kayak di Indo beneran. Banyak juga dapat kenalan baru atau ketemu setelah kenalan lewat internet. Lumayan tambah teman, asik&#8230;!</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="277" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/01/merayakan-idul-adha-di-perth/early-morning-prayer/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1259301193&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.00625&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Early Morning Prayer" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-277" title="Early Morning Prayer" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Sayang, khotbahnya agak kelamaan sehingga jamaah yang dibelakang banyak yang nggak konsentrasi lagi. Malah, jamaah yang disebelah kiri jauh mulai buka makan-makan ketika khotbah masih berlangsung! Acara ditutup dengan halal bihalal dengan seluruh jamaah dan selesai tepat jam 8.30. Wah..mesti lari-lari dikit nih, soalnya tiket parkir expire jam 8.37. Dan, saya lihat&#8230;banyak mobil yang masih diparkir didepan konsulat persis. Padahal area ini mesti &#8216;CLEAR&#8217; jam 7-8 pagi. Sudah pasti tuh mobil-mobil kena denda 100 an dollar! Hahahaha&#8230;panen-panen! Police metro pasti seneng tuh dapat puluhan mobil kena denda parkir sembarangan!</p>
<p>Malamnya kita bikin gathering keluarga-keluarga yang kita kenal baik untuk celebration! Food and drinks untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan. Ada ketupat lebaran, opor ayam, rendang manis, sambal goreng&#8230;emhhmm..slurp-slurp! Ternyata enak juga lebaran haji di negeri orang!</p>
<p><a href="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="278" data-permalink="https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/01/merayakan-idul-adha-di-perth/img_0902/" data-orig-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg" data-orig-size="3072,2304" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon DIGITAL IXUS 75&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1259347599&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;5.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.016666666666667&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_0902" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg?w=460" class="aligncenter size-full wp-image-278" title="IMG_0902" src="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg?w=460&#038;h=345" alt="" width="460" height="345" srcset="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg?w=460&amp;h=345 460w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg?w=920&amp;h=690 920w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg?w=768&amp;h=576 768w" sizes="(max-width: 460px) 100vw, 460px" /></a></p>
<p>Kesan saya, event-event keagamaan di Perth lebih warm dan enjoyable daripada situasi di Brisbane dulu. Lebih banyak muslim Indo dan lebih kompak terorganisir. Thanks Mas Aang dan tim Konsulat yang telah menyelenggarakan event perayaan lebaran haji dengan sukses!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dikopertis3.wordpress.com/2009/12/01/merayakan-idul-adha-di-perth/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">274</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d01660dc56e1d8e35ffdfe280dd9b54c4aff4d8f1750eece877d4b43f80d927b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikopertis3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/behind-the-city-blocks.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Behind the City Blocks</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/in-front-of-the-ri-consulate.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">In front of the RI Consulate</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/early-morning-prayer.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Early Morning Prayer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dikopertis3.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/img_0902.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0902</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
