<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624</id><updated>2024-12-18T19:27:50.586-08:00</updated><category term="informasi"/><category term="candi"/><category term="opini"/><category term="tata-letak"/><title type='text'>Majapahit Prana</title><subtitle type='html'>Seputar kerajaan Majapahit</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-1773305214124132612</id><published>2016-12-02T04:07:00.000-08:00</published><updated>2016-12-16T04:18:18.901-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tata-letak"/><title type='text'>Kanal-kanal Kota Majapahit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Temuan struktur batu bata yang diduga kuat merupakan jaringan kanal-kanal peninggalan zaman kerajaan Majapahit di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tentu saja mematahkan pendapat arkeolog Universitas Indonesia&amp;nbsp; Agus Aris Munandar, yang sebelumnya Agus berpendapat bahwa di kawasan Trowulan tidak ada kanal.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
“Kesimpulan adanya jaringan kanal di daerah Trowulan tidak mantap,” kata Guru Besar Arkeologi Agus Aris Munandar lalu diam sesaat. “Hemat saya.” Pernyataan tersebut disampaikannya dalam pemaparan hasil penelitiannya di Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. “Agaknya tesis lama tentang kemungkinan adanya kanal itu bisa ditinjau kembali.”&lt;br /&gt;Awalnya memang dunia arkeologi Indonesia tidak pernah digegerkan tentang kanal-kanal Majapahit di Trowulan sampai adanya foto udara pada 1973 dan beberapa tahun sesudahnya. Kajian terhadap foto udara itu memperlihatkan jalur-jalur saling berpotongan dan tegak lurus, seluas empat kilometer kali lima kilometer.&lt;br /&gt;Sekitar 30 tahun silam, Karina Arifin meneliti tentang jalur-jalur tersebut untuk skripsinya. Kajian foto udara dan endapan dasar kanal, yang semula diduga sebagai jalan raya oleh Maclaine Pont pada 1924, telah ditafsirkan ulang sebagai kanal-kanal tinggalan Majapahit. Deskripsi tentang kanal-kanal itu juga terekam dalam Rencana Induk Arkeologi Bekas Kota Kerajaan Majapahit Trowulan 1983-85. Anggapan tentang keberadaan kanal itu masih berlaku hingga sekarang.&lt;br /&gt;Menurut Munandar jalur-jalur rendah yang diinterprertasikan sebagai kanal-kanal itu sesungguhnya merupakan lahan permukiman. “Jalur-jalur rendah itu berkaitan dengan bekas jalur permukiman penduduk golongan rakyat jelata Majapahit,” ungkapnya. “Selain sebagai permukiman juga digunakan sebagai jalan dalam kota.”&lt;br /&gt;Jika Majapahit runtuh pada awal abad ke-16, endapan dalam jalur-jalur rendah bekas permukiman jelata itu sudah berlangsung selama lima abad. Dengan demikian, Munandar berpendapat, tidak salah kiranya kalau muncul dugaan kanal-kanal yang berisi air dengan berbagai fungsinya di Kota Majapahit.&lt;br /&gt;Pendapatnya itu berdasarkan tidak adanya deskripsi kanal di sumber-sumber tertulis masa Majapahit seperti Nagarakertagama, Arjunawijaya, Sutasoma, atau karya lain dari kronologi berbeda yang berbicara tentang Majapahit. Selain itu, dirinya juga tidak menemui penggambaran kanal pada relief candi sezaman.&lt;br /&gt;Dia juga menawarkan kemungkinan konsep Triloka (Triangga, dalam masyarakat Bali)—yang diturunkan dari lapisan alam hinduisme—pada bentang alam situs Majapahit. Pertama, lahan permukiman untuk rakyat jelata tergolong pada konsep Bhurloka (nista, paling rendah). Kedua, lahan permukiman untuk kaum bangsawan, pejabat berada pada Bhuarloka (madya). Ketiga, lahan persemayaman raja Majapahit yang diibaratkan dewa yang menjelma ke dunia berada dalam tataran Swarloka (uttama).&lt;br /&gt;Kawasan nista, menurut Munandar, merupakan lahan yang digali memanjang dan lebih rendah dari tanah sekitarnya sebagai permukiman untuk rakyat kebanyakan. Rumah-rumah dibangun dari bahan yang cepat lapuk, sehingga tidak bisa dijumpai pada masa kini. “Lahan permukiman yang memanjang inilah yang salah ditafsirkan sebagai kanal di Kota Majapahit.”&lt;br /&gt;Sementara lahan datar yang letaknya lebih tinggi daripada permukiman memanjang tadi merupakan kawasan madya. dan dihuni oleh penduduk majapahit yang mampu mendirikan permukiman berpagar dinding bata tinggi. “Penggalian bertahun-tahun selama ini hanya dilakukan di tataran madya,” ujarnya.&lt;br /&gt;Munandar melanjutkan, lahan yang membukit kecil di area selatan Trowulan,&amp;nbsp; yang merupakan daerah Kedaton dan situs Sumur Upas, adalah kawasan utama. Sejauh ini berdasarkan temuan ragam hias pada unsur bangunan, sebagian ahli arkeologi menduga di tempat inilah berdiri istana Majapahit.&lt;br /&gt;Guru Besar Mundardjito, ahli arkeologi senior yang selama 30 tahun lebih telah menyelisik hamparan tanah tinggalan Majapahit di Trowulan, menanggapi paparan tersebut. “Itu tadi adalah hipotesis,” ujarnya. “Semuanya harus dibuktikan di lapangan!”&lt;br /&gt;Menurutnya sejauh ini telah dilakukan berbagai penelitian dari berbagai disiplin ilmu—hidrologi, geografi, geomagnetik, geolistrik—lewat pengeboran di jalur-jalur rendah itu. Simpulannya, “Tidak ada lapisan padat,” ungkapnya. “Tidak ada lapisan batu-batuan atau jalan.”&lt;br /&gt;Kanal-kanal itu kini telah menjelma sebagai area persawahan. Mengapa di dalam kanal ditemukan struktur bangunan? Salah satu penjelasan Mundardjito, melebarnya kanal-kanal itu karena kebutuhan warga akan lahan sawah selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt;Tatkala terjadi pelebaran sawah, struktur bangunan di permukaan turut jatuh ke bawah. Penjelasan lainnya, bisa jadi struktur di dalam kanal itu tinggalan periode Majapahit sebelum kanal dibangun.&lt;br /&gt;Berkait tidak adanya informasi kanal-kanal majapahit dalam dokumen kesejarahan sezaman seperti naskah dan relief, Mundardjito berpendapat, “Apa yang ditulis—dalam naskah—pun belum tentu berdasar kenyataan.” Sementara, relief-relief candi memiliki sudut pandang mata kucing berbeda dengan sudut pandang mata burung dalam foto udara.&lt;br /&gt;“Yang belum dilakukan oleh kita adalah ekskavasi kanal,” ungkapnya sembari mengingatkan.“Itulah pekerjaan arkeologi.”&lt;br /&gt;Terlepas dari perbedaan pendapat itu, semua pihak menyadari bahwa kawasan situs Trowulan hingga hari ini rawan penggerusan dan penjarahan.&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjd6-KahrQw7gm0KMW20t1M5RNrGDJs-3ugwOMZaJlHXrH1YXYQIke3k6JEpdOo_RJc8SGxu3DhNeA0kA_2qsHfwSJHCC94bayE8SuK7IqZQAxjvl2n5rCp9C_TTTIHBzyEQmZWPeuu3ZMi/s1600/Kanal+Majapahit3.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjd6-KahrQw7gm0KMW20t1M5RNrGDJs-3ugwOMZaJlHXrH1YXYQIke3k6JEpdOo_RJc8SGxu3DhNeA0kA_2qsHfwSJHCC94bayE8SuK7IqZQAxjvl2n5rCp9C_TTTIHBzyEQmZWPeuu3ZMi/s400/Kanal+Majapahit3.jpg&quot; title=&quot;Kanal Majapahit-1&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;“Temuan ini mematahkan pendapat yang mengatakan di Trowulan enggak ada kanal. Saya termasuk orang yang menentang pendapat itu,” kata Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan Aris Soviyani, Selasa, 2 Juni 2015. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim arkeolog Universitas Indonesia yang dipimpin Agus pernah berpendapat bahwa di Trowulan tidak ada kanal. Jalur-jalur rendah memanjang saling berpotongan yang terlihat berdasarkan foto udara&amp;nbsp; dianggap hanya bekas permukiman kasta sudra. Pendapat itu didasarkan pada data arkeologis di lapangan, data dari sejumlah karya sastra, dan konsepsi keagamaan. Namun tak semua arkeolog setuju dengan pendapat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aris meyakini bahwa masyarakat era Kerajaan Majapahit sudah menerapkan tata ruang dan tata kelola air dengan baik. “Buktinya sudah ditemukan kolam dan saluran air,” kata Aris. Dalam kitab kuno dan sumber literatur lainnya, ujarnya,&amp;nbsp; disebutkan bahwa terdapat petirtaan (kolam raksasa) yang biasa digunakan oleh kaum bangsawan kerajaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanal-kanal yang dibangun di era Majapahit diperkirakan merupakan saluran untuk mengalirkan air dari sumbernya&amp;nbsp; sekaligus sebagai pengendali banjir. “Diperkirakan bukan untuk pengairan sawah, tapi aliran air dari sumber air atau pengendali banjir,” kata arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan Nugroho Harjolukito.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixXkzv145cjQ_jzF0XtwT0NMroancwdhwqDVSQm_Xq4vu4Q95WZXt1wrD-RAv9j-dDzg62cvuQb8zZiqbliFm6Yq1gwl2bZqwPT0R9GYZSveeNcA9AgX2Q7L2q_JS4ynRnGiI9X2oiBf4K/s1600/Kanal+Majapahit4.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;217&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixXkzv145cjQ_jzF0XtwT0NMroancwdhwqDVSQm_Xq4vu4Q95WZXt1wrD-RAv9j-dDzg62cvuQb8zZiqbliFm6Yq1gwl2bZqwPT0R9GYZSveeNcA9AgX2Q7L2q_JS4ynRnGiI9X2oiBf4K/s400/Kanal+Majapahit4.jpg&quot; title=&quot;Kanal Majapahit-2&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Saat ini tim Balai Pelestarian&amp;nbsp; sedang meneliti struktur batu bata diduga sebagai kanal itu. Struktur batu bata tersebut berupa dinding kanal atau selokan yang berbelok. Dua dinding membujur ke utara dan selatan sepanjang 3,57 meter dan 2,7 meter, serta dinding mengarah ke barat daya sepanjang 1,4 meter. Kedalaman atau tinggi dinding kanal ini sekitar 45 sentimeter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim arkeolog juga sedang menggali lokasi lain di kebun tebu yang berdekatan dengan lokasi penemuan kanal. “Diperkirakan kanal ini mengarah ke sini (kebun tebu), makanya digali untuk melihat apakah benar ada bagian kanal di tempat ini,” kata Nugroho.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/1773305214124132612/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/12/kanal-kanal-kota-majapahit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/1773305214124132612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/1773305214124132612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/12/kanal-kanal-kota-majapahit.html' title='Kanal-kanal Kota Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjd6-KahrQw7gm0KMW20t1M5RNrGDJs-3ugwOMZaJlHXrH1YXYQIke3k6JEpdOo_RJc8SGxu3DhNeA0kA_2qsHfwSJHCC94bayE8SuK7IqZQAxjvl2n5rCp9C_TTTIHBzyEQmZWPeuu3ZMi/s72-c/Kanal+Majapahit3.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-6106037802042385199</id><published>2016-11-28T04:55:00.000-08:00</published><updated>2016-11-29T05:00:06.958-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="candi"/><title type='text'>Candi Rimbi Peninggalan Majapahit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Candi Rimbi terletak di kaki Gunung Anjasamoro, tepatnya di tepi jalan raya di sebelah tenggara Kecamatan Mojowarno, Jombang, Jawa Timur. Areal yang ditempati Candi Rimbi relatif sempit, dikelilingi oleh lahan pertanian penduduk. Reruntuhan bangunan candi ditemukan kembali pada akhir abad 19 oleh Alfred Wallace, dalam perjalanannya ke Wonosalam untuk mengumpulkan contoh-contoh tumbuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4PcptQKP5vN5EukinerF9hZt9wJUqWAk9UWWb1C2M4dptqSdSX0Plpo5Zo5y8uE_VQLY0iJrq3FGqLrueWHz5BFvShAsgg-V3kjF6_lAV3otmS4P75NMw_xmHvfqqt9r_IKNf60nTu-mu/s1600/Candi.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4PcptQKP5vN5EukinerF9hZt9wJUqWAk9UWWb1C2M4dptqSdSX0Plpo5Zo5y8uE_VQLY0iJrq3FGqLrueWHz5BFvShAsgg-V3kjF6_lAV3otmS4P75NMw_xmHvfqqt9r_IKNf60nTu-mu/s400/Candi.JPG&quot; title=&quot;Candi Rimbi&quot; width=&quot;300&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Candi Rimbi merupakan candi Syiwa, terlihat dari relief yang berisi ajaran Tantri yang terpahat di kaki candi. Diduga candi ini dibangun pada pertengahan abad ke-14, sebagai penghormatan kepada Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani yang memerintah Majapahit pada tahun 1329-1350. Dugaan ini didasarkan pada ditemukannya dua buah arca Dewi Parwati, yang diperkirakan merupakan pencerminan Dewi Tribhuwana. Kedua arca tersebut saat ini tersimpan di Museum Trowulan dan Museum Nasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIA8vBART-pn0ouMu6lWPTUv-YPLPYq-ZzV3SIzwgFFRzLvk-W66J6WcHHPFJ0XgK29uGQtRBDDRCOURWtNmgnIzMFPi4av_9VZzfPn4KDRVFxizby4U0Kah_d5mJdO2gkktiGYL0bpfnL/s1600/Relief-1.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIA8vBART-pn0ouMu6lWPTUv-YPLPYq-ZzV3SIzwgFFRzLvk-W66J6WcHHPFJ0XgK29uGQtRBDDRCOURWtNmgnIzMFPi4av_9VZzfPn4KDRVFxizby4U0Kah_d5mJdO2gkktiGYL0bpfnL/s400/Relief-1.JPG&quot; title=&quot;Relief-1&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgT2_rl0IYW6jwuKhsQ8lwRBL_KYu0oPocmyq-MFFFH_F4PsWoyonNZCrWKwBkIjO0JFT1GUtLZO_9JfXw33hNecfj8TpO9kG2NbtK6my31CebQul9XjIzuOX28N13Hj9kv2BDBBx9lSzyC/s1600/Candi+Rimbi+Relief.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgT2_rl0IYW6jwuKhsQ8lwRBL_KYu0oPocmyq-MFFFH_F4PsWoyonNZCrWKwBkIjO0JFT1GUtLZO_9JfXw33hNecfj8TpO9kG2NbtK6my31CebQul9XjIzuOX28N13Hj9kv2BDBBx9lSzyC/s400/Candi+Rimbi+Relief.JPG&quot; title=&quot;Relief-2&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Candi yang dibangun menghadap ke timur ini tampaknya belum pernah mengalami pemugaran. Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit. Separuh lebih dari tubuh dan atap candi telah hancur, seolah teriris secara vertikal, namun bagian kaki masih dapat dikatakan utuh. Kaki candi tampak seperti bersusun dua, terbagi oleh pelipit yang menonjol keluar. Bagian kaki yang terletak di atas pelipit agak menjorok ke dalam sehingga ukurannya menjadi kebih kecil dibandingkan dengan kaki bagian bawah. Antara kaki bagian atas dengan tubuh candi juga dibatasi oleh pelipit dengan hiasan yang menonjol keluar di setiap sudutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh candi juga lebih kecil dibandingkan dengan bagian kakinya, sehingga terlihat seperti terdapat selasar yang mengelilinginya. Akan tetapi saat ini, sebagaimana halnya sebagian atap dan tubuh candi, tangga naik ke selasar juga sudah runtuh, sehingga hanya selasar di sisi selatan yang dapat terlihat dari bawah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkc_R-Ibbb-6l6nILVpZqLSWZJI2jyRCzL14lt0j-0iczuqV_kJfOilkyrxmdWozBnzTzYVjvwpxk_NEAAeV1dvwaUpHRLzYSEaXpXYnKu4U7425EP3QHR_GTU7V92Z7Y2-ECX8MXCVuH1/s1600/Batu+Hiasan+Tangga.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkc_R-Ibbb-6l6nILVpZqLSWZJI2jyRCzL14lt0j-0iczuqV_kJfOilkyrxmdWozBnzTzYVjvwpxk_NEAAeV1dvwaUpHRLzYSEaXpXYnKu4U7425EP3QHR_GTU7V92Z7Y2-ECX8MXCVuH1/s400/Batu+Hiasan+Tangga.JPG&quot; title=&quot;Batu Berhias&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada kaki bagian atas maupun dinding luar tubuh candi yang masih tersisa tidak tampak adanya pahatan. Akan tetapi, di seputar kaki candi bagian bawah dipenuhi oleh jajaran panel-panel relief cerita-cerita binatang. Relief yang dipahat dengan teknik datar (wayang style) yang sangat indah dan halus tersebut dapat dikatakan masih utuh. Untuk membacanya digunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), dimulai dari sisi utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi halaman terdapat batu-batu reruntuhan candi yang disusun rapi memagari candi. Di sisi timur, tepat di depan candi berjajar 3 potongan arca yang menarik perhatian karena ukurannya yang sangat besar. Tinggi masing-masing potongan sekitar 125 cm. Yang terletak di tengah jajaran adalah potongan kepala arca raksasa, sedangkan di kiri dan kanannya terdapat potongan arca yang tampak seperti bagian dada sebatas leher.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/6106037802042385199/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-rimbi-peninggalan-majapahit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6106037802042385199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6106037802042385199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-rimbi-peninggalan-majapahit.html' title='Candi Rimbi Peninggalan Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4PcptQKP5vN5EukinerF9hZt9wJUqWAk9UWWb1C2M4dptqSdSX0Plpo5Zo5y8uE_VQLY0iJrq3FGqLrueWHz5BFvShAsgg-V3kjF6_lAV3otmS4P75NMw_xmHvfqqt9r_IKNf60nTu-mu/s72-c/Candi.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-4631121016380653036</id><published>2016-11-27T05:47:00.000-08:00</published><updated>2016-11-29T05:58:33.923-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="candi"/><title type='text'>Candi Situs Batujaya di Jawa Barat</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Candi Situs Batujaya secara administratif terletak di dua wilayah desa, yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Talagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sebaran candi di situs Batujaya ini diperkirakan mencapai 5 km2. Terletak di tengah-tengah areal persawahan dan sebagian candi dekat permukiman penduduk seperti candi Serut atau Batujaya VII dan Candi Sumur atau Batujaya VIII. Situs Batujaya berada pada 6 km dari garis pantai utara Jawa Barat (Ujung Karawang).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, kompleks Candi Batujaya merupakan areal persawahan dan pemukiman penduduk. Sebagian besar bangunan purbakala di lokasi tersebut masih tertimbun dalam &#39;unur&#39; atau &#39;lemah duwur&#39; (tanah darat menyembul diantara pesawahan). Sampai dengan pertengahan tahun 2004 ini, penggalian dan penelitian di kompleks percandian di Batujaya masih terus berlangsung di bawah pengawasan Tim Peneliti Situs Batujaya dari Universitas Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut pak Sunarto, komplek candi Batu Jaya terdapat 46 titik sebaran candi di areal 5 km, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau candi itu akan bertambah, seiring ditemukannya unur unur yang lain. Adapun candi yang sudah dipugar dan sudah memiliki bentuk candi meski belum sempurna ada 4 buah yang dinamakan : 1. Candi Jiwa atau Batujaya I, 2. Candi Blandongan atau BatuJaya V, 3 Candi Serut atau Batujaya VII, dan 4. Candi Sumur atau Batu jaya VIII.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun belum didapatkan data mengenai kapan dan oleh siapa candi-candi di Batujaya dibangun, namun para pakar arkeologi menduga bahwa candi-candi tersebut merupakan yang tertua di Jawa, yang dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara (Abad ke-5 sampai ke-6 M). Sampai tahun 1997 sudah 24 situs candi yang ditemukan di Batujaya dan baru 6 di antaranya, umumnya merupakan hanya sisa bangunan, yang sudah diteliti. Tidak tertutup kemungkinan bahwa masih ada lagi candi-candi lain di Batujaya yang belum ditemukan. Yang menarik, semua bangunan candi menghadap ke arah yang sama, yaitu 50 derajat dari arah utara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Candi Candi di Komplek Batu Jaya ini umumnya terkubur di dalam tanah sedalam antara 1 hingga 3 meter, jadi pelataran candi berada dibawah 1- 3 meter dari permukaan sawah, alhasil candi candi itu rawan tergenang. Tetapi berkat perhatian pemerintah terhadap situs peninggalan sejarah ini sekeliling candi dibuat tembok penahan air dan didalamnya terdapat drainase untuk mengalirkan air menuju ruang pompa yang akan menarik keluar areal candi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Candi Jiwa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Situs candi jiwa merupakan sebuah gundukan tanah seperti bukit kecil yang oleh penduduk disebut unur jiwa berbentuk lonjong,dengan ketinggian 2 m dari permukaan tanah sawah dan sebagian lagi terkubur 2 meter dibawah ppermukaan sawah di sekitarnya dan luas kurang lebih 500 m2.&lt;br /&gt;
Candi jiwa mulai di pugar pada tahun 1996 sampai 2001 oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala,Departemen Pendidikan Nasional (sekarangt menjadi Direktorat Peninggalan Purbakala ,Dep. Kebudayaan dan Pariwisata), melalui Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) BP3 Serang .&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVbSoGnQYhvsKxbDv2YFB16Jn2Nlym5nJkNXHRvZn847KgQ9tEfyLbM7yAs36G8DKRXFVQ8j_hsNSwNxIdk_OfHyl4CcgPKVkj5gY62LYUfj-4mDr4ygkek_-fjrHy3NXNHp2LIdtTISX9/s1600/Jiwa1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;230&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVbSoGnQYhvsKxbDv2YFB16Jn2Nlym5nJkNXHRvZn847KgQ9tEfyLbM7yAs36G8DKRXFVQ8j_hsNSwNxIdk_OfHyl4CcgPKVkj5gY62LYUfj-4mDr4ygkek_-fjrHy3NXNHp2LIdtTISX9/s400/Jiwa1.jpg&quot; title=&quot;Candi Jiwa&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Candi Jiwa terletak pada kedalaman 2 meter ddibawah permukaan sawah, menilik dari bentuknya candi ini relatif lebih mendekati sempurna ketimbang candi yang lain di sekitarnya. Mulai dari penampang alas candi terdapat semacam selasar atau jalan selebar 1,5 meter yang mengelilingi candi, juga terdapat batu yang disusun rapi, menyerupai taman. Candi ini tidak memiliki anak tangga karena memang candi ini dibuat bukan untuk upacara di atasnya melainkan dibersembahyang di sekeliling candi. Jalan menuju candi sudah di beton dari perkampungan menuju posisi candi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Badan candi sempurna hingga tampak atas candi, yang berbentuk bunga padma atau bunga teratai, diduga diatas candi ini terdapat patung budha yang jika dilihat dari bangunan candi yang berukuran 19 X 19 meter, maka patung buda diatasnya seharusnya meiliki tinggi lebih dari 4 meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Candi Blandongan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Pada mulanya candi ini hanya berbentuk gundukan tanah merah yang ditumbuhi pohon pisang dan pohon perdu lainnya. Sekelilingnya adalah pematang sawah yang merupakan tanah produktif.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Situs ini pertama kali di surpei oleh tim arkeologi FSUI pada tahun 1984, antara tahun 1992 dan 2000 situs ini di eskapasi oleh Puslit Arkenas, dan menghasilkan penemuan sebuah reruntuhan candi&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ-9G4jf8fX7zMNTD_sQc3zZytuwTT7EJrxB9NuV6jkDnX4te06pyYg3Kpqz48jU5cIzOwWFyu-xqoz7D-ARK1IEhMv5zwrQR6Z_CMsoZwyekWGJx__OfHWjq2Fh5p_UZ6myf6jGXowEyD/s1600/Blandongan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;162&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ-9G4jf8fX7zMNTD_sQc3zZytuwTT7EJrxB9NuV6jkDnX4te06pyYg3Kpqz48jU5cIzOwWFyu-xqoz7D-ARK1IEhMv5zwrQR6Z_CMsoZwyekWGJx__OfHWjq2Fh5p_UZ6myf6jGXowEyD/s400/Blandongan.jpg&quot; title=&quot;Candi Blandongan&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Candi ini sebagian badannya menjorok kedalam tanah atau permukaan alas candi berada di kedalamanan antara 2-3 meter lebih rendah dari permukaan sawah di sekitarnya. Untuk keperluan penampakan candi secara keseluruhan, petugas candi membuat pelataran sekeliling candi dengan menjorok kedalam tanah sekitar dua meter dari penampang sawah di sekelilingnya, dengan demikian candi ini posisinya lebih rendah 1-3 meter dari penampang sawah sehingga rawan tergenang, beruntung pompa air sudah siap di setiap sudutnya agar pelataran candi ini tetapi kering. Bila ukuran candi berkisar antara 25 X 25 meter, maka pelataran candi dibuat lebih besar yakni sekitar 45 X 45 Meter M2.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Candi Blandongan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 25 x 25 m.di bagian atas kaki pada keempat sisi candi terdapat tangga masuk dan pagar langkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Candi ini seolah bertingkat karena dari 25 x 25 meter persegi di bagian tengah candi masih terdapat sebuah bangunan dengan ukuran 10 x 10 m. Antara badan candi dengan pagar langkan terdapat sebuah lantai bata dengan di lapisi beton stuko setebal 15 cm, bagian atas atau atap badan candi sudah runtuh dan tidak diketahui bentuknya. Bagian atas badan candi ini diduga berbentuk stupa yang massif, berupa susunan bata yang kemudian dilapisi dengan beton stuko, dugaan ini didasarkan atas temuan pecahan beton stuko berbentuk lengkung seperti bulatan stupa dengan ketebalan 20 cm, pecahan beton stuko ini ditemukan tersebar dalam onggokan dilantai selasar dan sudut utara dinding langkan. Pecahan genta stupa tersebut bagian luarnya halus dan bagian dalamnya memperlihatkan bekas-bekas bata menempel.dengan ukuran lebar diperkirakan 6 m, dan tinggi tidak dapat diketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Candi Serut&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Situs ini terletak dikampung gunteng pada kordinat 107008’51’’ BT dan 06003,23’’ LS.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1989 Bakosurtanal bersama Fakultas Geografi UGM dan Ditlinbinjarah mengadakan penelitian Geoarkeologi melalui penjajagan geo-listrik (geoelectric prospecting ), dari penelitian penjajagan ini diperoleh kepastian adanya sisa bangunan candi. Melalui tiga kali eskavasi hampir seluruh kaki candi dapat dinampakan dengan ukuran 13,65 x 10,70 m, dan tinggi yang tersisa pada dinding bangunan sekitar 1,80 cm. Tinggi seluruh bangunan candi sekitar 2,30 m.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheZUM0pPljPAl3bE2m93T8NcCt41KcDeM407TYqUkDCXBlBIX-xS-a4c0s9MyhA2_IcBHRmFgBwlTtq3f30sQyJPvmw63G00TsBmjMwJ06eJ2P6FL7yeX3ZcSH_-Kukng42lxoxQAGly39/s1600/Candi-Serut.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;267&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheZUM0pPljPAl3bE2m93T8NcCt41KcDeM407TYqUkDCXBlBIX-xS-a4c0s9MyhA2_IcBHRmFgBwlTtq3f30sQyJPvmw63G00TsBmjMwJ06eJ2P6FL7yeX3ZcSH_-Kukng42lxoxQAGly39/s400/Candi-Serut.jpg&quot; title=&quot;Candi Serut&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kondisi candi ini cukup menggenaskan karena posisi miring, dari kemiringan ini membuat candi ini diduga roboh, bukti robohnya candi terdapat tumpukan batu bata disebelahnya. Dari kondisi fisik candi terdapat lubang pada dinding candi sebagai bekas balok yang diduga sebagai pilar untuk alas candi. Masih didalam candi ini juga terdapat lubang segi empat ukuran 1 x 1 meter yang kedalamanya belum diketahui, lubang ini sementara diperkirakan sebagai sumur.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dinding sisi timur laut di sudut utara dan sudut timur terdapat tembok memanjang yang membentuk garis lurus dengan arah barat laut-tenggara. Candi Tlj Ia tidak memiliki tangga naik atau pintu masuk di keempat sisinya, kaki candi mempunyai bentuk konstruksi seperti sebuah “Bak” yang berdiri diatas sebuah pondasi. Situs ini mulai di pugar pada tahun 2007 sampai saat ini oleh Bp3 serang, penelitian pun masih berlanjut sampai saat ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Penggalian candi baru sebatas pinggiran dinding candi dan air masih menggenang, sehingga candi masih nampak terkubur sebagian, mungkin karena posisi yang miring inilah sehingga penggalian dihentikan karena khawatir akan semakin rusak oleh beban candi yang miring. Jika Candi sudah dibuatkan pelataran sesuai pada titik pondasi maka akan terlihat utuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari penampang luar candi ini mirip dengan pondasi rumah biasa yang terdapat kamar kamar didalamnya dan lengkap dengan sumur, plus lantai papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Candi Sumur (Segaran IX)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Situs terletk ditengah sawaah disebelah barat kampung sumur pada koordinat 107009’ 04’’ BT 06003’34’’ LS pada tahun 1992 situs ini pertama di ekskavasi olehpuslit arkenas menghasil penemuan berupa bangunan bata empatpersegi panjang berukuran 7,35 x 10,55 m barat daya ketebalan dindingnya sekitar 1,70 m, sedangkan timur laut ketebalan dindingnya lebih dari 4 m.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEib7Z_maKNWxQPhOl3RrthAlE2BsDEkN2At40qNHr9H783n4QHfPEYiHl2CS7gVMqxv6CNx4XOeuULTH1C-xssMgau4U3DNRxBIDocqZeSrl8WJhc6F32d6dl_ZvHHBEWnNpCH56xqOrBIo/s1600/Candi-sumur2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;267&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEib7Z_maKNWxQPhOl3RrthAlE2BsDEkN2At40qNHr9H783n4QHfPEYiHl2CS7gVMqxv6CNx4XOeuULTH1C-xssMgau4U3DNRxBIDocqZeSrl8WJhc6F32d6dl_ZvHHBEWnNpCH56xqOrBIo/s400/Candi-sumur2.jpg&quot; title=&quot;Candi Sumur&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Situs ini telah dibuatkan atap dan pagar keliling agar pengunjung bisa nyaman karena posisi situs berada di tengah sawah dan lebih rendah beberapa meter dar permukaan sawah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/4631121016380653036/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-situs-batujaya-di-jawa-barat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/4631121016380653036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/4631121016380653036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-situs-batujaya-di-jawa-barat.html' title='Candi Situs Batujaya di Jawa Barat'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVbSoGnQYhvsKxbDv2YFB16Jn2Nlym5nJkNXHRvZn847KgQ9tEfyLbM7yAs36G8DKRXFVQ8j_hsNSwNxIdk_OfHyl4CcgPKVkj5gY62LYUfj-4mDr4ygkek_-fjrHy3NXNHp2LIdtTISX9/s72-c/Jiwa1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-4763511665400134205</id><published>2016-11-27T04:07:00.000-08:00</published><updated>2016-11-29T04:48:29.133-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="candi"/><title type='text'>Candi Penataran di Blitar</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Candi Penataran terletak di desa Penataran, kecamatan Nglegok, kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Koordinat GPS : 8° 00’59.06″ S 112° 12’34.90″ E. Lokasinya yang terletak di kaki gunung Kelud, menjadikan area Candi Penataran berhawa sejuk. Candi Penataran adalah kompleks percandian terbesar dan paling terawat di provinsi Jawa Timur, Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4wXn5MIDI-CqVT-FLMHxvwUsJBMiSeZHp9-h2LoHLFxUyvIw2oQ004Mh-oKgTci_pTp_D8LB1iQ5xhJLwU-BX6a9pTeL-W8Dc6fAhNovPxU8z56dqHonRxGQVXz_ZI5ajug658PKqn8_R/s1600/Candi-Penataran.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4wXn5MIDI-CqVT-FLMHxvwUsJBMiSeZHp9-h2LoHLFxUyvIw2oQ004Mh-oKgTci_pTp_D8LB1iQ5xhJLwU-BX6a9pTeL-W8Dc6fAhNovPxU8z56dqHonRxGQVXz_ZI5ajug658PKqn8_R/s400/Candi-Penataran.jpg&quot; title=&quot;Candi Penataran&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Candi Penataran merupakan candi yang kaya dengan berbagai macam corak relief, arca, dan struktur bangunan yang bergaya Hindu. Adanya pahatan Kala (raksasa menyeringai), arca Ganesya (dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), arca Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang), dan juga relief Ramayana adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Candi Penataran adalah candi Hindu.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Prasasti Palah yang terdapat di area Candi Penataran mengabarkan bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 1194, pada masa pemerintahan raja Syrenggra yang memerintah kerajaan Kadiri, dan selesai pada masa kerajaan Majapahit. Dengan demikian candi ini melewati masa tiga kerajaan besar Nusantara yaitu Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Candi Penataran memegang peranan cukup penting bagi kerajaan-kerajaan tersebut, yaitu sebagai tempat pengangkatan para raja dan tempat untuk upacara pemujaan terhadap Sang Pencipta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gugus candi Panataran ditemukan kembali pada tahun 1815 oleh Sir Thomas Stamford Raffles (1781 – 1826), Letnan Gubernur Jenderal pemerintah kolonial Inggris yang berkuasa di Nusantara pada waktu itu. Bersama Dr. Horsfield seorang ahli ilmu alam, Raffles mengadakan kunjungan ke Candi Panataran. Setelah diketemukan kembali oleh Raffles, para peneliti mulai berdatangan untuk melakukan penyelidikan dan pencatatan benda purbakala di kawasan Panataran. Pada tahun 1867, Andre de la Porte bersama J. Knebel juga mengadakan penelitian terhadap kawasan candi Panataran. Hasil penelitiannya diterbitkan pada tahun 1900 dengan judul “De ruines van Panataran”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab Negarakertagama, Candi Penataran disebut dengan nama Candi Palah. Diceritakan bahwa Raja Hayam Wuruk (1350 - 1389 M) dari Majapahit sering mengunjungi Palah untuk memuja Hyang Acalapati, atau yang dikenal sebagai Girindra (berarti raja gunung) dalam kepercayaan Syiwa. Oleh karena itu, jelas bahwa Candi Palah sengaja dibangun di kawasan dengan latar belakang Gunung Kelud, karena memang dimaksudkan sebagai tempat untuk memuja gunung. Pemujaan terhadap Gunung Kelud bertujuan untuk menangkal bahaya dan menghindarkan diri dari petaka yang dapat ditimbulkan oleh gunung tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan tulisan pada sebuah batu yang terletak sisi selatan bangunan utamanya, diduga bahwa Candi Palah dibangun pada awal abad 12 M, atas perintah Raja Srengga dari Kediri. Walaupun demikian, Candi Panataran terus mengalami pengembangan dan perbaikan sampai dengan, bahkan sesudah, masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Dugaan ini didasarkan pada berbagai angka tahun yang tertulis pada berbagai tempat di candi ini yang berkisar antara tahun 1197 sampai tahun 1454 M. Seluruh areal Panataran, kecuali halaman yang berada di bagian tenggara, terbagi oleh dua jalur dinding yang melintang dari utara ke selatan menjadi tiga bagian. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berbagai kajian oleh para sejarawan terhadap teks-teks kuno, kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca, misalnya, dijelaskan bahwa Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja dan petinggi kerajaan besar di JawaTimur. Candi Penataran pernah menyimpan abu dari raja Rajasa (Ken Arok) pendiri kerajaan Singasari, dan juga abu dari raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit. Bahkan konon, menurut legenda rakyat setempat, sumpah sakral Mahapatih Gajah Mada untuk menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”, diucapkan di Candi Penataran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a. Gerbang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerbang masuk ke areal candi terletak sisi barat. Dari pintu masuk terdapat tangga turun ke pelataran seluas sekitar 6 m2. Di pelataran ini terdapat dua buah arca raksasa penjaga pintu (dwarapala), Pada tatakan arca tertera tulisan tahun 1242 Saka (1320 M.) dalam huruf Jawa kuno. Berdasarkan tulisan angka tahun tersebut para pakar menduga bahwa Candi Panataran baru diresmikan sebagai tempat suci milik kerajaan (state temple) pada masa pemerintahan Raja Jayanegara, yang memerintah Majapahit tahun 1309-1328 M.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjWY5dOYVLazVHdY8KaeU9XZVnV1oDjMIN8xrGwl_HcTa_jf8RXipzjHJVVW_YLDx_-vT9L6WIgDqAIHF7C12WWFnQlIow4XEaZ_T-d5X3chUcpqcdgoXKvrjoiAjszC09PR3-7NnOLaVv/s1600/Penjaga+Gerbang.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjWY5dOYVLazVHdY8KaeU9XZVnV1oDjMIN8xrGwl_HcTa_jf8RXipzjHJVVW_YLDx_-vT9L6WIgDqAIHF7C12WWFnQlIow4XEaZ_T-d5X3chUcpqcdgoXKvrjoiAjszC09PR3-7NnOLaVv/s400/Penjaga+Gerbang.jpg&quot; title=&quot;Penjaga Gerbang&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi belakang emperan, di antara kedua arca Dwaraphala tersebut, terdapat tangga naik menuju ke pelataran depan. Di puncak tangga masih terdapat sisa-sisa pintu gerbang dari bahan batu bata merah. Pintu gerbang ini masih disebut-sebut oleh Jonathan Rigg dalam kunjungannya ke Candi Panataran pada tahun 1848.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Susunan Candi Panataran memang menarik karena letak bangunan yang satu dengan yang lainnya berhadap-hadapan, berjajar dari depan ke belakang, sehingga sepintas kelihatan agak membingungkan. Susunan bangunan semacam ini mirip dengan susunan pura di Bali. Dalam susunan seperti ini, bangunan yang paling suci terletak di pelataran paling dalam atau paling belakang, yaitu yang paling dekat dengan gunung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b. Pelataran Depan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bale Agung. Di pelataran depan terdapat sekitar 6 buah bekas bangunan, 2 buah diantaranya tidak dapat dikenali lagi bentuk aslinya. Salah satu bangunan yang penting adalah Bale Agung, yang terletak di sisi barat-laut pelataran depan, agak menjorok ke barat (ke depan).Bale Agung, menurut N.J.Krom, dipergunakan untuk tempat musyawarah para pendeta atau penanda, seperti pura di Bali. Bale Agung merupakan bangunan yang berbentuk seperti panggung persegi panjang berukuran 37 X 18,84 m2 dengan lantai setinggi 1,44 meter. Dinding dan atap bangunan sudah tak bersisa. Hanya lantainya yang masih utuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWkwJK8YrRmRFYaScT98ecK0rRztjUP_UgtXMazDukIfJuMsGbmkvaosQuIZYA2hGvD_K8LK1hiRoGKkl3G0e7PRZitnzCEgz_qAMuo3ayZJIQiqREGci2Z4GJIcVYnywR4u7WfNOQf2W2/s1600/Pelataran+Depan-Bale+Agung.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWkwJK8YrRmRFYaScT98ecK0rRztjUP_UgtXMazDukIfJuMsGbmkvaosQuIZYA2hGvD_K8LK1hiRoGKkl3G0e7PRZitnzCEgz_qAMuo3ayZJIQiqREGci2Z4GJIcVYnywR4u7WfNOQf2W2/s400/Pelataran+Depan-Bale+Agung.jpg&quot; title=&quot;Pelataran Depan-Bale Agung&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Pada lantai terdapat beberapa umpak batu yang diperkirakan fungsinya dahulu adalah sebagai penumpu tiang-tiang kayu penyangga atap. Seluruh lantai terbuat dari batu, dihiasi pahatan naga yang melilit di sekeliling dinding lantai dan kepalanya menyembul di setiap sudut lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pertengahan setiap sisi terdapat tangga diapit dua buah arca Mahakala. Semua arca Mahakala masih berada di tempatnya kecuali yang berada di sisi timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat Tinggal Pendeta. Bangunan yang letaknya di sisi utara, sejajar dengan Bale Agung, ini diperkirakan dahulu digunakan sebagai tempat tinggal pendeta. Seluruh bangunan sudah hancur, sehingga hanya tinggal tatanan umpak yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batur Pendapa. Bangunan ini disebut juga Batur Pendapa. Letaknya di sebelah tenggara Bale Agung, tepat di belakang tempat tinggal para pendeta. Sebagaimana halnya dengan Bale Agung, yang masih tersisa saat ini hanyalah lantai bangunan yang terbuat dari batu, seluas 29,05 X 9,22 m2 dengan tinggi 1,5 m. Sekeliling dinding lantai dihiasi dengan relief cerita-cerita. Diduga bangunan Batur Pendapa ini dahulu berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan sesajian dalam upacara keagamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangga untuk naik ke lantai pendapa hanya terdapat di sisi barat atau bagian depan. Terdapat dua buah tangga, di kiri dan di kanan, yang pada masing-masing diapit oleh sepasang arca raksasa kecil bersayap, bertumpu pada salah satu lututnya dan salah satu tangannya memegang gada. Pipi atau dinding pembatas tangga berbentuk gelung dengan hiasan &#39;tumpal&#39; yang indah pada puncaknya. Pada pelipit atas sisi timur dinding lantai, tersembunyi di antara pahatan hiasan sulur dan dedaunan, terdapat pahatan angka tahun yang menunjukkan bahwa bangunan ini dibangun pada tahun 1297 Saka atau 1375 Masehi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batur Pendapa ini juga dihiasi dengan pahatan naga-naga yang saling membelakangi, melilit di sekililing dinding lantai. Ekor kedua naga yang saling membelakangi tersebut saling membelit, sedangkan kepalanya yang mendongak keatas, memakai kalung dan berjambul menyembul ke atas di antara pilar-pilar bangunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangunan Lain. Kedua bekas bangunan lainnya hanya tinggal fondasinya yang terbuat dari bata merah. Melihat banyaknya umpak batu yang tersisa di pelataran depan, diduga dahulu terdapat bangunan-bangunan yang menggunakan tiang kayu seperti yang dijumpai pada pura-pura di Bali. Banyaknya bangunan yang menggunakan tiang-tiang kayu belum diketahui secara pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c. Pelataran tengah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar 8 m di timur atau belakang Batur Pendapa terdapat bekas dinding batu bata yang melintang dari utara ke selatan, yang membatasi pelataran depan dengan pelataran tengah. Di ujung selatan perbatasan, segaris dengan gerbang depan, terdapat bekas pintu gerbang yang di depannya dijaga oleh sepasang Arca Dwarapala dalam ukuran yang lebih kecil daripada yang terdapat di gerbang depan. Pada tatakan salah satu arca tertera angka tahun 1214 Saka (1319 M). Belum diketahui peristiwa apa yang dikaitkan dengan angka tahun ini. Di pelataran tengah ini masih dapat disaksikan sekitar 7 bekas bangunan, baik yang terbuat dari bahan batu bata merah maupun yang dibuat dari bahan batu andesit. Dari ketujuh bekas bangunan tersebut enam di antaranya sudah tidak dapat dikenali bentuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelataran tengah terbagi dua lagi oleh dinding yang membujur arah timur-barat. Belum dapat diketahui apakah pelataran tengah ini dahulu dikelilingi oleh tembok, karena yang tertinggal hanya fondasi saja. Begitu juga tembok yang mengelilingi seluruh areal Panataran sudah runtuh. Tembok keliling dan dinding penyekat terbuat dari bahan batu bata merah yang tak mampu bertahan dalam perjalanan waktu yang panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6fyLhAtKH-kgOZXenUURfhzq8jIBqaELbouP954Qk0O5Xp1-regBScGC8QSmoax94IpGEBUDBT4B31nFFjxMPoL6NwftAsCAIc_cfXuLAdcgEWgQkKrsryfjFhx2Gru-d4LD9Q-eNGX2t/s1600/Pelataran+Tengah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6fyLhAtKH-kgOZXenUURfhzq8jIBqaELbouP954Qk0O5Xp1-regBScGC8QSmoax94IpGEBUDBT4B31nFFjxMPoL6NwftAsCAIc_cfXuLAdcgEWgQkKrsryfjFhx2Gru-d4LD9Q-eNGX2t/s400/Pelataran+Tengah.jpg&quot; title=&quot;Pelataran Tengah&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Candi Angka Tahun. Bangunan ini berada sekitar 20 m. di sebelah timur Batur Pendapa, seluruhnya terbuat dari batu andesit. Disebut Candi Angka Tahun karena bangunan di atas ambang pintu masuknya jelas terpahat angka tahun 1291 Saka (1369 M). Masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan Candi Brawijaya, karena bangunan ini dipergunakan sebagai lambang Kodam Brawijaya. Sebagian orang menyebutnya Candi Ganesha, karena di dalam bilik candi terdapat sebuah arca Ganesha (dewa berkepala gajah). Bentuk Candi Angka Tahun ini sangat dikenal masyarakat, sehingga seakan-akan mewakili seluruh candi Panataran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Candi Angka tahun menghadap ke barat, karena pintu candi terletak di sisi barat. Di halaman depan, di kiri dan kanan bangunan candi, terdapat sepasang arca. Kaki candi cukup tinggi, sehingga untuk mencapai pintu dibuat tangga batu dengan pipi tangga berbentuk &#39;ukel&#39; (gelung) besar dengan hiasan &#39; tumpal&#39; berupa bunga-bungaan dalam susunan segitiga sama kaki. Dalam tubuh candi terdapat bilik (garba grha), yang di dalamnya terdapat arca Ganesha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana candi lainnya, di atas ambang pintu terdapat hiasan kalamakara. Tepat di bawahnya, tertera angka tahun yang telah dijelaskan di atas. Pada dinding di ketiga sisi lainnya terdapat relung yang menyerupai pintu semu, yang juga dihiasi dengan kalamakara di atasnya. Di Jawa Timur, Kalamakara sering disebut Banaspati yang berarti raja hutan. Kala di atas ambang pintu dan relung candi dimaksudkan untuk menakut-nakuti roh jahat agar tidak berani masuk ke lingkungan candi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atap candi dipenuhi dengan hiasan yang meriah, dengan puncak berbentuk persegi. Di bagian atas bilik candi pada batu penutup sungkup terdapat relief &#39;Surya&#39;, yakni lingkaran yang dikelilingi oleh pancaran sinar berupa garis-garis bersusun vertikal membentuk beberapa buah segitiga sama kaki. Relief &#39;Surya&#39; yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit ini juga ditemukan di beberapa candi lain di Jawa Timur dalam bentuk yang sedikit bervariasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Candi Naga. Bangunan ini di sebut Candi Naga karena sekeliling tubuhnya dililit oleh pahatan berwujud naga. Bangunan candi seluas 4.83 X 6,57 m. dengan tinggi 4,70 m. ini juga terletak di pelataran tengah. Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit. Seperti Candi Angka Tahun, pintu masuk ke bilik candi terletak di sisi barat. Kaki candi cukup tinggi, sehingga untuk mencapai pintu dibuatkan tangga. Pipi tangga berbentuk &#39;ukel&#39; berhiaskan &#39;tumpal&#39;. Di kanan kiri kaki tangga terdapat arca raksasa membawa gada yang saat ini hanya tinggal satu. Bangunan yang ada saat ini merupakan hasil pemugaran tahun 1917-1918. Yang berhasil dikembalikan ke bentuk aslinya hanya bagian kaki dan tubuh candi. Bagian atap yang kemungkinan dibuat dari bahan yang tidak tahan lama telah runtuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCqNk_y0Bn4q4xCQe-8KyEQuDQyNo7wpky_PGfZjAtP6Uu7jwCQJctCVjRNJEKn1RBqvwvLxV4rIm9CiIOHByxBjUXNYy7G66VCmATaVLAtuyznMAqL4kHvbozoVGOg8HhaLSGb3ZfcSGx/s1600/Candi+Angka+Tahun.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCqNk_y0Bn4q4xCQe-8KyEQuDQyNo7wpky_PGfZjAtP6Uu7jwCQJctCVjRNJEKn1RBqvwvLxV4rIm9CiIOHByxBjUXNYy7G66VCmATaVLAtuyznMAqL4kHvbozoVGOg8HhaLSGb3ZfcSGx/s400/Candi+Angka+Tahun.jpg&quot; title=&quot;Candi Naga&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dinding tubuh candi terdapat pahatan sembilan tokoh yang berdiri di kiri dan kanan pintu masuk, di setiap sudut, dan di tengah ketiga dinding lainnya. Kesembilan tokoh ini digambarkan dalam busana kerajaan yang mewah dan dilatarbelakangi oleh &#39;prabha&#39; (tempat bersandar yang dihisasi dengan sinar kedewaan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu tangannya memegang genta, sedang tangan yang lain menyangga tubuh naga yang melingkari bagian atas bangunan. Di antara pahatan tokoh-tokoh tersebut terdapat pahatan bermotif bulatan yang disebut &#39;motif medalion&#39;. Dalam bulatan terdapat kombinasi relief daun-daunan atau bunga-bungaan dan berbagai jenis binatang. Di antara bulatan-bulatan tersebut terdapat relief cerita binatang dalam ukuran yang lebih kecil. Sayang cerita yang digambarkan dalam relief ini belum dapat diungkapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut orang Bali yang pernah mengunjungi Panataran, fungsi Candi Naga sama dengan fungsi Pura Kehen di Bali, yaitu sebagai tempat penyimpanan benda-benda milik para dewa. Barangkali lebih tepat bila Candi Naga dibandingkan dengan Pura Taman Sari yang terletak di Kabupaten Klungkung. Pura yang ditemukan tahun 1975 ini menunjukkan pertalian yang dekat dengan kerajaan Majapahit. Selain berfungsi sebagai tempat pemujaan Kerajaan Klungkung, Pura Taman Sari juga dipergunakan sebagai tempat &#39;pemasupatian&#39; (pemberian kesaktian) terhadap senjata-senjata pusaka yang dibawa dari kerajaan Majapahit. Apabila perbandingan ini dapat dibenarkan, maka fungsi Candi Naga bukan hanya untuk menyimpan benda-benda upacara milik para dewa, tetapi lebih juga sebagai tempat &#39;pemasupatian&#39; pusaka milik kerajaan Majapahit. Dengan demikian, untuk keperluan &#39;pemasupatian&#39;, pusaka-pusaka Majapahit tidak perlu dibawa ke Bali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;d. Pelataran Dalam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Halaman terakhir adalah pelataran dalam yang semula juga dibatasi dengan dinding yang melintang arah utara-selatan. Di selatan juga terdapat bekas pintu gerbang yang dijaga oleh sepasang arca dwarapala. Di pelataran ini terdapat sekurangnya 9 bangunan, 2 buah yang sudah dapat dikenali adalah candi induk dan susunan percobaan bangunan tubuhnya. Ketujuh bangunan lainnya tinggal reruntuhan yang masih belum terungkapkan bentuk dan fungsinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Candi Utama (Induk). Candi Induk merupakan bangunan yang terbesar di antara seluruh bangunan Panataran. Lokasi bangunan terletak di pelataran paling belakang (timur), yang dianggap sebagai bagian yang suci. Bangunan candi terdiri atas tiga teras bersusun dengan tinggi seluruhnya 7,19 m.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-oz3kUKi45iYFF53uYsjuGVOxwUaN2dTRUer0XKTuoRzwUavTk9Nh2Rcb9PCkCvnW6V5QrCIQzblyE1hPJQpFt_KxNThoI1Gu0-kbw3EwWkHC_b_6EtDAKpUG6xwWgbzRdmN_eQY_wCpw/s1600/Candi+Induk.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-oz3kUKi45iYFF53uYsjuGVOxwUaN2dTRUer0XKTuoRzwUavTk9Nh2Rcb9PCkCvnW6V5QrCIQzblyE1hPJQpFt_KxNThoI1Gu0-kbw3EwWkHC_b_6EtDAKpUG6xwWgbzRdmN_eQY_wCpw/s400/Candi+Induk.jpg&quot; title=&quot;Candi Induk&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Teras pertama berbentuk empat persegi dengan diameter 30,06 meter untuk arah timur barat. Di pertengahan keempat sisinya terdapat bagian yang menjorok keluar sekitar 3 m. Untuk naik ke teras pertama, terdapat dua buah tangga di kiri dan kanan sisi barat. Pada masing-masing sisi kedua tangga terdapat arca dwarapala yang pada tatakannya terpahat angka tahun 1269 Saka (1347 M). Sepanjang dinding teras pertama dipenuhi pahatan relief cerita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teras kedua berukuran lebih kecil dibandingkan dengan teras pertama, karena pada bagian yang menjorok keluar di teras pertama justru sedikit menjorok ke dalam di teras kedua. Perbedaan ukuran antara teras pertama dan teras kedua membentuk selasar di lantai teras pertama, yang memungkinkan orang berjalan mengelilingi bangunan sambil menyaksikan adegan-adegan yang digambarkan dalam relief cerita yang terpahat di sepanjang dinding. Pada dinding di teras pertama dan kedua berjajar panil pahatan cerita Ramayana dan dan Krisnayana diselingi dengan hiasan motif medalion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada teras kedua terdapat sebuah tangga naik yang letaknya hampir di pertengahan dinding. Tangga naik ini bersambung dengan tangga yang berada di teras ketiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teras ketiga berbentuk hampir bujur sangkar. Dindingnya berpahatkan naga bersayap dengan kepala yang sedikit mendongak ke depan dan singa bersayap dengan kaki belakang dalam posisi berjongkok sedangkan kaki depannya terangkat ke atas. Pahatan-pahatan pada dinding teras ketiga ini selain untuk mengisi bidang yang kosong juga berfungsi sebagai pilar bangunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada waktu dilakukan pembongkaran lantai teras ketiga, dalam rangka pemugaran, didapati bahwa bagian tengah lantai terbuat dari bata merah. Nampak jelas denah bangunan yang berbentuk persegi empat dengan bagian-bagian yang menjorok kedepan. Berdasarkan temuan tersebut, timbul dugaan bahwa bangunan asli Candi Panataran dibuat dari bata merah. Dalam kurun waktu berikutnya Panataran mengalami perluasan dengan cara menutupi bangunan aslinya menggunakan batu andesit. Perluasan itu diperkirakan terjadi pada zaman Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teras ketiga merupakan emperan kosong. Di tempat itu seharusnya berdiri tubuh candi yang sampai saat ini belum berhasil dikembalikan ke wujud aslinya karena belum semua bagian bangunan berhasil ditemukan. Sebagian dari tubuh candi induk ini telah disusun dalam susunan percobaan di halaman candi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prasasti Palah. Di selatan candi utama masih berdiri tegak sebuah batu prasasti. Menilik besarnya ukuran batu prasasti, para ahli menduga sejak semula batu tersebut memang terletak di tempat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prasasti yang ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno tersebut berangka tahun 1119 Saka (1197 M.), dibuat atas perintah Raja Srengga dari Kerajaan Kediri. Isi prasasti yang, antara lain, menyebutkan tentang peresmian sebuah tanah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Palah, mendasari dugaan bahwa yang dimaksud dengan Palah tidak lain adalah Candi Panataran. Andaikata benar bahwa Palah adalah Candi Panataran, maka usia Candi Panataran sekurangnya telah mencapai 250 tahun dan pembangunan candi ini mengalami perjalanan panjang, yaitu dari tahun 1197, zaman kerajaan Kediri, sampai pada tahun 1454, zaman kerajaan Majapahit. Hampir semua bangunan yang dapat masih dapat disaksikan sekarang berasal dari masa pemerintahan raja-raja Majapahit. Barangkali bangunan-bangunan yang lebih tua (dari zaman Kediri) telah lama runtuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;e. Bangunan lain.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih ada dua buah bangunan lain yang letaknya di luar areal Panataran yang masih ada hubungannya dengan candi Panataran, yaitu sebuah kolam berangka tahun 1337 Saka (1415 M.) yang terletak di sebelah tenggara dan sebuah kolam &#39;petirtaan&#39; (tempat mandi) dalam ukuran yang agak besar, yang terletak kira-kira 200 meter di timur-laut areal candi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwWlCne6Z4rYX3y1XzDcvsIbiyxAgtVOFWa6YeRYLrMuQAttRRknPdvjlQKB2WTO2YjzLuxfruiz9J_9kdGvmh2LoeApvTpLceszmYIv7fndWZVYwEsXXiV_WmPoCZ46SXA-TF-NwYqVhe/s1600/Bangunan+Lain.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwWlCne6Z4rYX3y1XzDcvsIbiyxAgtVOFWa6YeRYLrMuQAttRRknPdvjlQKB2WTO2YjzLuxfruiz9J_9kdGvmh2LoeApvTpLceszmYIv7fndWZVYwEsXXiV_WmPoCZ46SXA-TF-NwYqVhe/s400/Bangunan+Lain.jpg&quot; title=&quot;Bangunan Lain&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;MISTERI YANG TERSIMPAN DI CANDI PENATARAN MENGUAK FAKTA BAHWA INDONESIA MERUPAKAN ASAL PERADABAN DUNIA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran Kec. Nglegok ternyata menyimpan banyak misteri diantaranya bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia. Hal ini terungkap dari gambar relief yang ada di setiap sudut candi. Misteri dibalik Candi Penataran terungkap dari investigasi relief oleh Yayasan Turangga Seta yang dimulai sejak tahun lalu.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam pahatan relief terkuak sejarah jika nenek moyang kita pernah melakukan infasi hingga&amp;nbsp; Benua Amerika dengan mengalahkan bangsa Indian dan sempat berperang dengan prajurit Bangsa Maya. Mereka kemudian menguasai wilayah tersebut hingga diangkat sebagai penguasa. Tidak hanya itu pada salah satu relief juga digambarkan beberapa bangsa lain seperti Bangsa Han (China), Bangsa Campa, Bangsa Maya, Bangsa Yahudi dan Bangsa Mesir tunduk pada leluhur kita. Demikian seperti diungkapkan Ketua Yayasan Turangga Seta, Agung Bimo Sutejo. Ia menambahkan dalam pahatan lain terungkap jika pada waktu itu terdapat 3 species yang sudah mempunyai peradaban yakni ras manusia kera, ras raksasa dan manusia biasa. Mereka pun hidup saling berdampingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioNLPMd-opfk9eQvwYoNahpEvxkDVTG2WGNTneGZNXJ99neOHIGGJUTkfghXhg4_8VmYoOqq0CQxTh-9mzhWZqibY24wgUqXKul99nY96nuDr7obTAWh6YGrFSc5Ly0WN4U4BkhD_lZ589/s1600/7326318_20141104111135.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioNLPMd-opfk9eQvwYoNahpEvxkDVTG2WGNTneGZNXJ99neOHIGGJUTkfghXhg4_8VmYoOqq0CQxTh-9mzhWZqibY24wgUqXKul99nY96nuDr7obTAWh6YGrFSc5Ly0WN4U4BkhD_lZ589/s400/7326318_20141104111135.jpg&quot; title=&quot;Relief-1&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Gambaran pada relief ini sekaligus membantah teori Darwin yang menyatakan manusia berasal dari evolusi kera. Dalam tata cara kematian manusia jaman dulu mereka yang meninggal jasadnya akan diperabukan sehingga fosilnya tidak akan ditemukan. Sedangkan ras manusia kera dan raksasa dengan cara dikubur sehingga fosil yang banyak ditemukan arkreolog tersebut adalah fosil ras manusia kera yang berbeda dengan species kita saat ini dan dimungkinkan ras manusia kera telah punah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3khYNHUQ1pJOrmJ47w3J0yPR37G_poekxZ7i6JJT2jV7FZeBzZMGSI42TSn0cj0nHJ6nhhH5cRYLTSxXo1uFC0xGzcnd41lepIRM_Eq9pUnnfUP3nSeDn4QB5knLK9mjPG3w9AXt1IZ1f/s1600/p8200369.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3khYNHUQ1pJOrmJ47w3J0yPR37G_poekxZ7i6JJT2jV7FZeBzZMGSI42TSn0cj0nHJ6nhhH5cRYLTSxXo1uFC0xGzcnd41lepIRM_Eq9pUnnfUP3nSeDn4QB5knLK9mjPG3w9AXt1IZ1f/s400/p8200369.jpg&quot; title=&quot;Relief-2&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sementara dari penelitian yang dilakukan Yayasan Turangga Seta, juga terkuak misteri jika keberadaan Candi Penataran di Blitar yang merupakan Candi terbesar di Jawa Timur itu terkait dengan berdirinya kerajaan besar di Blitar kala itu yang justru wilayah kekuasaannya lebih besar dari Kerajaan Majapahit. Namun sayang misteri ini belum akan diungkapkan pada publik.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/4763511665400134205/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-penataran-di-blitar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/4763511665400134205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/4763511665400134205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-penataran-di-blitar.html' title='Candi Penataran di Blitar'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4wXn5MIDI-CqVT-FLMHxvwUsJBMiSeZHp9-h2LoHLFxUyvIw2oQ004Mh-oKgTci_pTp_D8LB1iQ5xhJLwU-BX6a9pTeL-W8Dc6fAhNovPxU8z56dqHonRxGQVXz_ZI5ajug658PKqn8_R/s72-c/Candi-Penataran.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-5557318784740733461</id><published>2016-11-26T05:11:00.000-08:00</published><updated>2016-11-29T05:15:30.712-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="candi"/><title type='text'>Candi Surawana Peninggalan Majapahit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Candi Surawana terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, sekitar 25 km arah timur laut dari Kota Kediri. Candi yang nama sesungguhnya adalah Wishnubhawanapura ini diperkirakan dibangun pada abad 14 untuk memuliakan Bhre Wengker, seorang raja dari Kerajaan Wengker yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Raja Wengker ini mangkat pada tahun 1388 M. Dalam Negarakertagama diceritakan bahwa pada tahun 1361 Raja Hayam Wuruk dari Majapahit pernah berkunjung bahkan menginap di Candi Surawana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSmgaz7pB-EFGnl-3de6KJP-bfpHMs3Xpho3QNnY81y-2GPou1yxuK0dFeqlFZif0sBXWD7QHVNjSBirsTo-or76WlwXwXDwHG38ojbPRw0etscVE0LVc9lqODur_-pt9F_CQ8vCgmZpeF/s1600/surawana1_rifa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSmgaz7pB-EFGnl-3de6KJP-bfpHMs3Xpho3QNnY81y-2GPou1yxuK0dFeqlFZif0sBXWD7QHVNjSBirsTo-or76WlwXwXDwHG38ojbPRw0etscVE0LVc9lqODur_-pt9F_CQ8vCgmZpeF/s400/surawana1_rifa.jpg&quot; title=&quot;Candi Surawana&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ukuran Candi Surawana tidak terlalu besar, hanya 8 X 8 m2. Candi yang seluruhnya dibangun menggunakan batu andesit ini merupakan candi Syiwa. Saat ini seluruh tubuh dan atap candi telah hancur tak bersisa. Hanya kaki candi setinggi sekitar 3 m yang masih tegak di tempatnya. Untuk naik ke selasar di atas kaki candi terdapat tangga sempit yang terletak di sisi barat. Menilik letak tangga, dapat disimpulkan bahwa candi ini menghadap ke barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terdapat di Candi Rimbi, kaki Candi Surawana tampak seperti bersusun dua, terbagi oleh pelipit yang menonjol keluar. Bagian kaki yang terletak di atas pelipit agak menjorok ke dalam sehingga ukurannya menjadi kebih kecil dibandingkan dengan kaki bagian bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan yang terdapat di Candi Rimbi, panel-panel relief yang memuat berbagai cerita tidak hanya terjajar rapi di sekeliling kaki candi bagian bawah. Kaki candi bagian atas bahkan dipenuhi oleh panel-panel relief dalam ukuran yang lebih besar dan dengan pahatan yang lebih halus.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9dXhUSgZzdN3DRWvDpxXXF-kMC11jfeSi-gM8uJdNV7R2rjtJryLknNVDJMsmzqP1wK3eIKGAnouC1VPTUJE2RStuEYSyvhkDlwOaU1muGZS2f-3BtPTj05Z_6vu-RmJxArs0MYz5iOm1/s1600/surawana5b_rifa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9dXhUSgZzdN3DRWvDpxXXF-kMC11jfeSi-gM8uJdNV7R2rjtJryLknNVDJMsmzqP1wK3eIKGAnouC1VPTUJE2RStuEYSyvhkDlwOaU1muGZS2f-3BtPTj05Z_6vu-RmJxArs0MYz5iOm1/s400/surawana5b_rifa.jpg&quot; title=&quot;Relief-1&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt84gzEou3_Z6RbmAlz6YVn_PaiebUIQr7J6SUKt7RdDTOCVlVUiqkzVoo5Q_mKoaV5LWCzkID03wAup-n7tiScbe29lfiJXTq6wawxai6-jXxw0ou5-dWHDqKRjFDh4_Wcs4VHvd6i2DK/s1600/surawana5a_rifa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt84gzEou3_Z6RbmAlz6YVn_PaiebUIQr7J6SUKt7RdDTOCVlVUiqkzVoo5Q_mKoaV5LWCzkID03wAup-n7tiScbe29lfiJXTq6wawxai6-jXxw0ou5-dWHDqKRjFDh4_Wcs4VHvd6i2DK/s400/surawana5a_rifa.jpg&quot; title=&quot;Relief-2&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Relief di kaki bagian bawah menceritakan kisah-kisah Tantri, sedangkan yang terdapat pada bagian atas kaki memuat kisah Sri Tanjung, Arjunawiwaha, serta kisah Bubuksah dan Gagak Aking. Kisah-kisah semacam itu terdapat pada candi-candi yang dibangun untuk tujuan peruwatan, seperti Candi Bajangratu di Trowulan dan Candi Tegawangi, yang letaknya juga di Pare.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhacmqR6lOIKu4QWsCbVXIFcEPa9CGqaMcvNanBjBgK1zN1VoeN2L6-EkE2vQe3F9iYnA5LfKu9n57w3AYCzGpHmgCSZJvYQrde_Qd_ANrQpRqcCJm2Z1n9S2eBSOCG6GtHD2bU4ebEZXbB/s1600/surawana4a_rifa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhacmqR6lOIKu4QWsCbVXIFcEPa9CGqaMcvNanBjBgK1zN1VoeN2L6-EkE2vQe3F9iYnA5LfKu9n57w3AYCzGpHmgCSZJvYQrde_Qd_ANrQpRqcCJm2Z1n9S2eBSOCG6GtHD2bU4ebEZXbB/s400/surawana4a_rifa.jpg&quot; title=&quot;Tangga Naik&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Melihat lingkungannya yang telah tertata apik, tampaknya candi Surawana telah pernah mengalami pemugaran. Akan tetapi, hasilnya masih jauh dari sempurna, mengingat bahwa saat ini hanya bagian kaki candi yang tersisa. Di halaman candi masih banyak bebatuan dan arca yang belum berhasil dikembalikan ketempatnya semula. Batu-batu dan arca tersebut ditata rapi di atas lajur-lajur yang terbuat dari semen untuk menghambat proses kerusakan oleh resapan air.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/5557318784740733461/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-surawana-peninggalan-majapahit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/5557318784740733461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/5557318784740733461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-surawana-peninggalan-majapahit.html' title='Candi Surawana Peninggalan Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSmgaz7pB-EFGnl-3de6KJP-bfpHMs3Xpho3QNnY81y-2GPou1yxuK0dFeqlFZif0sBXWD7QHVNjSBirsTo-or76WlwXwXDwHG38ojbPRw0etscVE0LVc9lqODur_-pt9F_CQ8vCgmZpeF/s72-c/surawana1_rifa.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-2646303150201294185</id><published>2016-11-25T06:51:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T07:04:43.374-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="candi"/><title type='text'>Candi Bajang Ratu tinggalan Majapahit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Candi Bajangratu terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sekitar 3,5 km dari Candi Wringinlawang dan sekitar 600 m dari Candi Tikus. Candi ini masih menyimpan misteri, artinya banyak hal yang belum diketahui secara pasti, terutama berkaitan dengan tahun pembuatannya, raja yang memerintahkan pembangunannya, fungsinya secara keseluruhan, maupun segi-segi lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvNPcy7Yn1x1jwnJf1H5Dfi-wu6VvnFkwMkE6Ai_qiiwislNlUBAfHG1hmsXeKtI0rIPUwTN5nZO57wxSw6hjQy4SNXBPZFv7MXPZv3gr-ei8tOVuEOvFEt5SEzhhyphenhyphen0W_bKJS467gJeM6C/s1600/c_bajangratu_2_lia.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvNPcy7Yn1x1jwnJf1H5Dfi-wu6VvnFkwMkE6Ai_qiiwislNlUBAfHG1hmsXeKtI0rIPUwTN5nZO57wxSw6hjQy4SNXBPZFv7MXPZv3gr-ei8tOVuEOvFEt5SEzhhyphenhyphen0W_bKJS467gJeM6C/s400/c_bajangratu_2_lia.jpg&quot; title=&quot;Candi Bajang Ratu Trowulan&quot; width=&quot;300&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Nama Bajangratu pertama kali disebut dalam &lt;i&gt;&lt;b&gt;Oudheidkunding Verslag&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (OV) tahun 1915. Arkeolog Sri Soeyatmi Satari menduga (sebatas dugaan.red) nama Bajangratu ada hubungannya dengan Raja Jayanegara dari Majapahit, karena kata &#39;bajang&#39; berarti kerdil. Menurut Kitab Pararaton dan cerita rakyat, Jayanegara dinobatkan tatkala masih berusia bajang atau masih kecil, sehingga gelar Ratu Bajang atau Bajangratu melekat padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai fungsi candi, diperkirakan bahwa Candi Bajangratu didirikan untuk menghormati Jayanegara. Dasar perkiraan ini adalah adanya relief Sri Tanjung di bagian kaki gapura yang menggambarkan cerita peruwatan. Relief yang memuat cerita peruwatan ditemukan juga, antara lain, di Candi Surawana. Candi Surawana diduga dibangun sehubungan dengan wafatnya Bhre Wengker (akhir abad ke-7).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhx2YfFQzrIb09D8jvxuELGzaLH4QShFXoi94En2Wikk4OjzTsANXPjmT8M3klwAnDNWzunFu4UR9FoVqiHD4f0rdjgN-wHcg271kkhyphenhyphenSSQHQof6olRVnkPrNDj0GcA_q2JuPkP0l9rV4mp/s1600/Relief-Bajang-Ratu3.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhx2YfFQzrIb09D8jvxuELGzaLH4QShFXoi94En2Wikk4OjzTsANXPjmT8M3klwAnDNWzunFu4UR9FoVqiHD4f0rdjgN-wHcg271kkhyphenhyphenSSQHQof6olRVnkPrNDj0GcA_q2JuPkP0l9rV4mp/s400/Relief-Bajang-Ratu3.jpg&quot; title=&quot;Relief Sri Tanjung Bajang Ratu&quot; width=&quot;266&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dalam Kitab Pararaton dijelaskan bahwa Jayanegara wafat tahun 1328 (&lt;i&gt;&#39;sira ta dhinar meng Kapopongan, bhiseka ring csrenggapura pratista ring Antarawulan&#39;&lt;/i&gt;). Disebutkan juga bahwa Raja Jayanegara, yang kembali ke alam Wisnu (wafat) pada tahun 1328, dibuatkan tempat sucinya di dalam kedaton, dibuatkan arcanya dalam bentuk Wisnu di Shila Petak dan Bubat, serta dibuatkan arcanya dalam bentuk Amoghasidhi di Sukalila. Menurut Krom, Csrenggapura dalam Pararaton sama dengan Antarasasi (Antarawulan) dalam Negarakertagama, sehingga dapat disimpulkan bahwa &#39;dharma&#39; (tempat suci) Raja Jayanegara berada di Kapopongan alias Csrenggapura alias Crirangga Pura alias Antarawulan, yang kini disebut Trowulan. Arca perwujudan sang raja dalam bentuk Wisnu juga terdapat di Bubat (Trowulan). Hanya lokasi Shila Petak (Selapethak) yang belum diketahui secara pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping pendapat di atas, ada pendapat lain mengenai fungsi Candi Bajangratu. Mengingat bentuknya yang merupakan gapura paduraksa atau gapura beratap dengan tangga naik dan turun, Bajangratu diduga merupakan salah satu pintu gerbang Keraton Majapahit yang menuju ke suatu tempat tertentu. Perkiraan ini didukung oleh letaknya yang tidak jauh dari lokasi bekas istana Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bajangratu diperkirakan didirikan antara abad ke-13 dan ke-14, mengingat hal-hal berikut : 1) Prakiraan fungsinya sebagai candi peruwatan Prabu Jayanegara yang wafat tahun 1328 M; 2) Bentuk gapura yang mirip dengan candi berangka tahun yang terletak di Panataran Blitar; 3) Relief penghias bingkai pintu yang mirip dengan relief Ramayana di Candi Panataran; 4) Bentuk relief naga yang menunjukkan pengaruh Dinasti Yuan. J.L.A. Brandes memperkirakan bahwa Bajangratu dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan Candi Jago di Tumpang, Malang, ditilik dari adanya relief singa yang mengapit sisi kiri dan kanan kepala Kala, yang juga terdapat di Candi Jago. Candi Jago sendiri diperkirakan dibangun pada abad ke-13.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuyDQZxvrJiE-COfuEMO_UCUvY_HSDO8rHvpMMTroRdZFMO_86aFOsuPHIjfdjObGO_BGBvyy3DeSm9BeEBQ-hBk-mKQX9H55Z-p1B55HeFK55vm3_w7GikGcTy6vXXHX0Dv8o0Z2m9gEH/s1600/Relief-Bajang-Ratu2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;263&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuyDQZxvrJiE-COfuEMO_UCUvY_HSDO8rHvpMMTroRdZFMO_86aFOsuPHIjfdjObGO_BGBvyy3DeSm9BeEBQ-hBk-mKQX9H55Z-p1B55HeFK55vm3_w7GikGcTy6vXXHX0Dv8o0Z2m9gEH/s400/Relief-Bajang-Ratu2.jpg&quot; title=&quot;Relief Candi Bajang Ratu&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Candi Bajangratu sendiri menempati area yang cukup luas. Seluruh bangunan candi dibuat dari bahan batu bata merah, kecuali anak tangga dan bagian dalam atapnya. Sehubungan dengan bentuknya yang merupakan gapura beratap, Candi Bajangratu menghadap ke dua arah, yaitu timur-barat. Ketinggian candi sampai pada puncak atap adalah 16,1 m dan panjangnya 6,74 m. Gapura Bajangratu mempunyai sayap di sisi kanan dan kiri. Pada masing-masing sisi yang mengapit anak tangga terdapat hiasan singa dan binatang bertelinga panjang. Pada dinding kaki candi, mengapit tangga, terdapat relief Sri Tanjung, sedangkan di kiri dan kanan dinding bagian depan, mengapit pintu, terdapat relief Ramayana. Pintu candi dihiasi dengan relief kepala kala yang terletak tepat di atas ambangnya. Di kaki ambang pintu masih terlihat lubang bekas tempat menancapkan kusen. Mungkin dahulu candi ini dilengkapi dengan daun pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dalam candi membentuk lorong yang membujur dari barat ke timur. Anak tangga dan lantai lorong terbuat dari batu. Bagian dalam atap candi juga terbuat dari balok batu yang disusun membujur utara-selatan, membentuk ruang yang menyempit di bagian atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atap candi berbentuk meru (gunung), mirip limas bersusun, dengan puncak persegi. Setiap lapisan dihiasi dengan ukiran dengan pola limas terbalik dan pola tanaman. Pada bagian tengah lapis ke-3 terdapat relief matahari, yang konon merupakan simbol kerajaan Majapahit. Walaupun candi ini menghadap timur-barat, namun bentuk dan hiasan di sisi utara dan selatan dibuat mirip dengan kedua sisi lainnya. Di sisi utara dan selatan dibuat relung yang menyerupai bentuk pintu. Di bagian atas tubuh candi terdapat ukiran kepala garuda dan matahari diapit naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Bajangratu telah mengalami pemugaran pada zaman Belanda, namun tidak didapatkan data mengenai kapan tepatnya pemugaran tersebut dilaksanakan. Perbaikan yang telah dilakukan mencakup penguatan pada bagian sudut dengan cara mengisikan adonan pengeras ke dalam nat-nat yang renggang dan mengganti balok-balok kayu dengan semen cor. Beberapa batu yang hilang dari susunan anak tangga anak tangga juga sudah diganti.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/2646303150201294185/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-bajang-ratu-tinggalan-majapahit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2646303150201294185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2646303150201294185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-bajang-ratu-tinggalan-majapahit.html' title='Candi Bajang Ratu tinggalan Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvNPcy7Yn1x1jwnJf1H5Dfi-wu6VvnFkwMkE6Ai_qiiwislNlUBAfHG1hmsXeKtI0rIPUwTN5nZO57wxSw6hjQy4SNXBPZFv7MXPZv3gr-ei8tOVuEOvFEt5SEzhhyphenhyphen0W_bKJS467gJeM6C/s72-c/c_bajangratu_2_lia.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-5744130999353610512</id><published>2016-11-25T05:21:00.000-08:00</published><updated>2016-11-29T05:26:20.738-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="candi"/><title type='text'>Candi Tegawangi, Peninggalan Majapahit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Candi Tegawangi terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, sekitar 24 Km dari kota Kediri. Letaknya agak tersembunyi di kawasan perumahan penduduk, sekitar 1 km dari jalan raya, namun lingkungan di sekitar candi sudah tertata apik. Candi Hindu ini diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-14 atas perintah Raja Hayam Wuruk. Tujuan pembangunannya adalah untuk meruwat (menghilangkan keburukan) Bhre Matahun, sepupu Raja Hayam Wuruk. Nama Tegawangi tercantum dalam Kitab Pararaton, yang meyebutkan bahwa Bre Matahun yang meninggal pada tahun 1310 Saka (1388 M) didarmakan di Tigawangi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXD4ZqxpBTFwmOa8YiA6jdCDCUeKJzvq6d_w78aWEUOng90z8Gz4OlC0XzHfGTzAz44zLLfxqq4aQS12aJkZHJB55CCfYAy7uCRji8fbkUugIRr1sJEZdguCRSFF-3VXFWupRLxWgnkwfI/s1600/tegawangi1_rifa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXD4ZqxpBTFwmOa8YiA6jdCDCUeKJzvq6d_w78aWEUOng90z8Gz4OlC0XzHfGTzAz44zLLfxqq4aQS12aJkZHJB55CCfYAy7uCRji8fbkUugIRr1sJEZdguCRSFF-3VXFWupRLxWgnkwfI/s400/tegawangi1_rifa.jpg&quot; title=&quot;Candi Tegawangi&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Candi Tegawangi menghadap ke barat, berdenah dasar bujur sangkar seluas 11,20 m dengan tinggi yang diperkirakan mencapai 4,29 m. Dengan demikian, candi yang dibangun dari batu andesit ini lebih besar ukurannya dibandingkan dengan Candi Surawana yang juga terdapat di Kediri. Kerusakan yang dialami candi ini lebih parah dibandingkan dengan yang dialami Candi Surawana, karena saat ini yang masih utuh hanya batur dan sebagian kecil tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pipi tangga terdapat pahatan yang menggambarkan pemain genderang. Bagian bawah kaki candi dihiasi panil pahatan dengan motif sulur-suluran, bunga dan gana yang dipasang berselang-seling. Dinding kaki candi dihiasi relief yang sangat halus pahatannya, yang memuat cerita dari Kidung Sudamala. Relief dengan cerita Sudamala ini menguatkan dugaan bahwa Candi Tegawangi dibangun untuk tujuan pengruwatan. Relief yang memuat kisah Sudamala terdapat juga di Candi Sukuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNzY4Zjd0v7_oTVFFD-k5n9a7Ey23po-8_3ZEcjrxIMo5sIcbYLB6RAnWRb0l9wy8fX5tAqHKDL3RrPrcMSaNWVo1vrAl63WVHjTjePzP39s3fJeFMxlZL1nVeiFmYTDTvT7jySJn9hT8o/s1600/tegawangi3b_rifa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;287&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNzY4Zjd0v7_oTVFFD-k5n9a7Ey23po-8_3ZEcjrxIMo5sIcbYLB6RAnWRb0l9wy8fX5tAqHKDL3RrPrcMSaNWVo1vrAl63WVHjTjePzP39s3fJeFMxlZL1nVeiFmYTDTvT7jySJn9hT8o/s400/tegawangi3b_rifa.jpg&quot; title=&quot;Relief Candi&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Di sudut tenggara halaman candi terdapat jajaran batu reruntuhan candi yang masih belum berhasil dikembalikan ke tempatnya semula. Di antaranya terdapat juga beberapa arca, termasuk Arca Parwati.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTx47JRyHZFupC7oQLv2gzvkrX5CKdlyXwQabB9b8o5vYaAP6QSHts4C5JRuh0-TXVmAgLiGacmZHKG137i8X3EaRp99HNSPYzyme-wnSpIsGEJkoSJWCWfwnZ5KdlWJbGmLwAfEDXSxzP/s1600/tegawangi4_rifa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTx47JRyHZFupC7oQLv2gzvkrX5CKdlyXwQabB9b8o5vYaAP6QSHts4C5JRuh0-TXVmAgLiGacmZHKG137i8X3EaRp99HNSPYzyme-wnSpIsGEJkoSJWCWfwnZ5KdlWJbGmLwAfEDXSxzP/s400/tegawangi4_rifa.jpg&quot; title=&quot;Reruntuhan Batu Candi&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/5744130999353610512/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-tegawangi-peninggalan-majapahit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/5744130999353610512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/5744130999353610512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-tegawangi-peninggalan-majapahit.html' title='Candi Tegawangi, Peninggalan Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXD4ZqxpBTFwmOa8YiA6jdCDCUeKJzvq6d_w78aWEUOng90z8Gz4OlC0XzHfGTzAz44zLLfxqq4aQS12aJkZHJB55CCfYAy7uCRji8fbkUugIRr1sJEZdguCRSFF-3VXFWupRLxWgnkwfI/s72-c/tegawangi1_rifa.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-9107512034559397017</id><published>2016-11-24T06:19:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T06:27:45.154-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tata-letak"/><title type='text'>Pintu Gerbang Kaputren Majapahit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Pintu Gerbang Kaputren Majapahit ini, terletak di Desa Rendole Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang merupakan salah satu situs cagar alam yang berupa Pintu Gerbang yang terbuat dari kayu jati. Pintu gerbang ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtZF5baF_D1HdOMXvqZsp0vAJ3M1_9rAhg8OlfRj0ZQ6Z0XiiSJc6GH_xg0xqVf-e37_wgFJcm6L3VqJIzwB3XGcyQVFx8N7fjsqq1Z-dJGh9T2cXemnGAkY50a1CCeREndd5NYVBR5N_M/s1600/Gerbang-Majapahit.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtZF5baF_D1HdOMXvqZsp0vAJ3M1_9rAhg8OlfRj0ZQ6Z0XiiSJc6GH_xg0xqVf-e37_wgFJcm6L3VqJIzwB3XGcyQVFx8N7fjsqq1Z-dJGh9T2cXemnGAkY50a1CCeREndd5NYVBR5N_M/s400/Gerbang-Majapahit.jpg&quot; title=&quot;Gerbang Keputren Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Sejarah asal usul legenda pintu gerbang Majapahit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara singkat, sejarah asal usul legenda pintu gerbang Majapahit ada di Pati bermula dari sebuah peristiwa di mana Sunan Muria tidak mengakui putranya sendiri yang bernama Raden Bambang Kebo Nyabrang, anak dari perkawinannya dengan Dewi Sapsari, seorang putri yang berjasa menyeberangkan Sunan Muria saat hendak mengunjungi lereng gunung muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pintu gerbang Majapahit berlanjut, Sunan Muria (Raden Umar Said) yang merupakan putra dari Kanjeng Sunan Kalijaga ini meminta Raden Bambang Kebo Nyabrang untuk membawakan pintu gerbang Majapahit untuknya apabila Kebo Nyabrang mau diakui sebagai anak Sunan Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Sunan Muria tidak mengakui Kebo Nyabrang sebagai anaknya? Sebab setelah menikahi Dewi Sapsari dan kemudian hamil, Sunan Muria menyebarkan agama Islam, mendirikan dan mengembangkan padepokan atau pesantren di daerah Muria. Kesibukan menjalankan syiar agama Islam itulah yang membuat Sunan Muria lama tidak mengunjungi Dewi Sapsari dan putranya hingga putranya beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dewasa, Raden Bambang Kebo Nyabrang diminta ibunya untuk menyusul ayahnya di daerah Muria. Dari sini, terlibat obrolan yang agak serius di mana Sunan Muria tidak mau mengakui Kebo Nyabrang sebagai anaknya jika tidak dibawakan pintu gerbang Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, misteri sejarah asal usul legenda pintu gerbang Majapahit terkuak, yakni Kebo Nyabrang berangkat ke daerah Trowulan (ibukota Majapahit pada waktu itu) dan berhasil membawa pintu gerbang Majapahit menuju arah Muria. Namun, perjalanan Kebo Nyabrang dalam membawa pintu gerbang Majapahit tidak semulus yang diperkirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terpisah, Raden Ronggo yang merupakan murid Sunan Ngerang (Sunan Muria juga merupakan murid Sunan Ngerang) ingin mempersunting putri Sunan Ngerang, yaitu Roro Pujiwat. Ada yang menulis Roro Pujiwat dan juga ada yang menyebut Roro Pujiwati. Namun, Roro Pujiwat mau dipersunting dengan syarat membawakan pintu gerbang Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah prahara pintu gerbang Majapahit yang saat ini ada di Pati, yaitu perebutan pintu gerbang Majapahit antara Raden Bambang Kebo Nyabrang (putra Sunan Muria) dan Raden Ronggo (murid Sunan Ngerang). Perebutan pintu gerbang Majapahit yang disertai dengan pertempuran selama kurang lebih 35 hari ini kemudian dilerai oleh Sunan Muria sendiri karena keduanya sama-sama sakti dan tidak ada yang kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran terjadi di Desa Rendole di mana sejarah asal usul Desa Rendole diambil dari bahasa Jawa, yaitu &quot;Sak kloron padha bandhole&quot; di mana artinya keduanya sama-sama sakti mandraguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari peristiwa ini, Kebo Nyabrang akhirnya diakui sebagai anak Sunan Muria dan diminta untuk menjaga pintu gerbang Majapahit. Masyarakat sekitar yakin bahwa sampai saat ini pintu gerbang Majapahit di Pati ini masih bersemayam Raden Bambang Kebo Nyabrang yang tak lain adalah Sunan Muria atau cucu Kanjeng Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sejarah asal usul legenda pintu gerbang Majapahit di mana pintu gerbang ini merupakan pintu kerajaan paling besar dan berjaya di Nusantara ini sehingga harus dirawat karena menjadi bagian dari warisan budaya Nusantara yang tidak ternilai harganya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdwBR0BfCKiXdZiQnIxkw1lYY6wE6mhbDCWuJeXTNIHNh-74xAhEYkrs_7A9LnANkuyqbul_zlhGvMbJLfwLJp4QSmbP7UfeZQrd_RMqboqaZglqLwYj6HRZ_7Kt3bX-Sk6fk7oWxPZqnX/s1600/Pintu+Keputren.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdwBR0BfCKiXdZiQnIxkw1lYY6wE6mhbDCWuJeXTNIHNh-74xAhEYkrs_7A9LnANkuyqbul_zlhGvMbJLfwLJp4QSmbP7UfeZQrd_RMqboqaZglqLwYj6HRZ_7Kt3bX-Sk6fk7oWxPZqnX/s400/Pintu+Keputren.jpg&quot; title=&quot;Detil Ukiran Gerbang Majapahit&quot; width=&quot;378&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tak salah lagi, pintu gerbang Majapahit menjadi wisata sejarah yang paling direkomendasikan di Pati. Berbicara soal pintu gerbang Majapahit, kita akan disuguhkan sebuah seni peradaban yang tinggi, sejarah Nusantara yang kisahnya perlu menjadi teladan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di depan pintu gerbang Majapahit ada bendera merah putih yang menjadi simbol dan lambang bahwa pintu gerbang Majapahit adalah warisan budaya Nusantara yang perlu dijaga. Pintu kerajaan yang pernah menjadi pusat peradaban Nusantara mulai dari Raden Wijaya hingga Prabu Brawijaya 5. Majapahit sendiri mengalami kejatuhan setelah kerajaan Islam berdiri di Demak yang didirikan oleh Raden Pati dengan dukungan para walisongo.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/9107512034559397017/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/pintu-gerbang-kaputren-majapahit.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/9107512034559397017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/9107512034559397017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/pintu-gerbang-kaputren-majapahit.html' title='Pintu Gerbang Kaputren Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtZF5baF_D1HdOMXvqZsp0vAJ3M1_9rAhg8OlfRj0ZQ6Z0XiiSJc6GH_xg0xqVf-e37_wgFJcm6L3VqJIzwB3XGcyQVFx8N7fjsqq1Z-dJGh9T2cXemnGAkY50a1CCeREndd5NYVBR5N_M/s72-c/Gerbang-Majapahit.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-6816034432041310522</id><published>2016-11-23T04:30:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T04:56:22.476-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tata-letak"/><title type='text'>Situasi Ibukota Majapahit (pertama)</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Berbicara tentang situasi kota Majapahit, adalah merupakan suatu hal yang menarik, namun membutuhkan suatu pengetahuan yang mendalam tentang kerajaan Majapahit itu sendiri. Pengetahuan mana tidak hanya melulu dari sisi pembacaan teks (prasasti ataupun kakawin), melainkan juga membutuhkan tinjauan lapangan (situs-situs peninggalan yang tersisa) secara langsung. Satu hal yang tidak dapat dilupakan adalah, perlunya pengetahuan tentang situasi kebatinan masyarakat Majapahit kala itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Demikianlah raden wijaya berangkat ke Tarik bersama para pengikutnya pada hari Mertamasa. TUJUH HARI KEMUDIAN, IA SAMPAI DI TEMPAT YANG DITUJU. Untuk sementara waktu ia tinggal di pesanggrahan. Bangunanya dibuat dari bambu. Pagarnyapun dari bambu. Pesanggrahan itu dikelilingi kolam. Panji Wijayakrama memberikan uraian yang sangat jelas tentang keadaan dan letak Majapahit. Demikianlah uraiannya. Kota yang sedang dibangun itu menghadap ke sungai besar yang mengalir dari sebelah barat dan bertemu dengan kali yang mengalir dari sebelah selatan. Sudah pasti yang dimaksud dengan kali agung ialah sungaiBbrantas yang mengalir dari Kadiri menuju pantai laut [Datar]. Sungai kecil yang mengalir dari selatan ialah Kali Mas pada jaman itu disebut Kali Kancana. Tidak ada hentinya perahu dagang hilir mudik datang pergi dikemudikan oleh orang Madura. Orang orang Madura mengalir tak putus putusnya ke Majapahit. Mereka menetap di bagian kota sebelah utara bernama Wirasabha. Di sebelah tenggara kota adalah jembatan. Daerah yang sudah dibuka sebagian berupa sawah yang telah ditanami. Tanamannya telah agak tinggi, daunnya masih muda. kebun kebun ditanami segala macam bunga, pucang, pinang, kelapa, dan pisang. Telah tersedia tahta dari batu putih semata mata untuk tempat duduk Raden Wijaya. Tempat tahta batu putih itu disebut Wijil Pindho, pintu kedua.............&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Tatanan ibu-kota Majapahit&amp;nbsp; menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit pada saat itu telah berpikir modern, walaupun dengan tehnologi yang sederhana., namun hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan selalu dicarikan konsep penyelesaian secara praktis-mekanis. Tradisi pembuatan candi dengan bahan batu andesit yang diwarisi dari kerajaan Singosari, telah diubah sedemikian rupa dengan berbahan dasar batu-bata-merah yang pembuatan serta pencariannya lebih mudah dan praktis. Ukiran realis dengan pahatan yang dalam dan halus telah diperbaiki dengan sistem ekspresionis hampir datar. Manusia Majapahit pada saat itu berusaha untuk selalu berpikir kritis mencari kemudahan untuk hidup dan selalu berusaha untuk tidak mengesampingkan tradisi dari para leluhurnya pula. Sebuah kebijaksanaan hidup yang perlu ditiru generasi saat ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1r0WhD_mc3BNwDK3SX9pntCr_wn0qG6tnNjT-MTNsRKYjzHyK09giXVhg_OBeN-S0cOXjGhvvX1S2cgUqR-P3CtfvEBhk6Vbioq8rjWkRUAtgi0JB8Soj6XFDzR5NnX4Da-Z_u-Sv4TJI/s1600/foto-repihan-majapahit-diabaikan-terlalu-lama-dan-kini-menderita.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;284&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1r0WhD_mc3BNwDK3SX9pntCr_wn0qG6tnNjT-MTNsRKYjzHyK09giXVhg_OBeN-S0cOXjGhvvX1S2cgUqR-P3CtfvEBhk6Vbioq8rjWkRUAtgi0JB8Soj6XFDzR5NnX4Da-Z_u-Sv4TJI/s400/foto-repihan-majapahit-diabaikan-terlalu-lama-dan-kini-menderita.jpg&quot; title=&quot;Relief Paseban jaman Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYmwUM2nyYRBCuxTmQWnh34b3oYQl4Cu6p3ng8w_gKvN4GCowj1i88hYNivs4SdFcqvcgbBJGfZFHNOgGLPJ8-vfqhT7NzvX3DynFCSp7BVXXn7yOHF31cEQbFeYIHHTMrbWpJA6-9mYIX/s1600/rumah-majapahit.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYmwUM2nyYRBCuxTmQWnh34b3oYQl4Cu6p3ng8w_gKvN4GCowj1i88hYNivs4SdFcqvcgbBJGfZFHNOgGLPJ8-vfqhT7NzvX3DynFCSp7BVXXn7yOHF31cEQbFeYIHHTMrbWpJA6-9mYIX/s400/rumah-majapahit.jpg&quot; title=&quot;Replika Rumah Tinggal Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh temuan yang ada saat ini dapat dihubungkan menjadi satu kesatuan tatanan kota yang cukup mapan. Bahkan Museum Trowulan sekarang yang berada di dekat situs segaran&amp;nbsp; berdiri di atas situs yang bernama Lapangan Bubat. Beberapa benda temuan kerajaan seperti patung, perhiasan, gerabah, umpak, bagian-bagian candi dan lain-lain telah dipamerkan walau tidak disebutkan di daerah mana benda purbakala tersebut ditemukan. Namun demikian tetap dapat dipahami bahwa Ibukota majapahit adalah wilayah yang sudah tertata rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanal-kanal yang saling berhubungan memiliki dimensi selebar 12 meter sampai 30 meter dengan kedalaman sekitar 4 meter. Penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa kanal ini dibatasi oleh pasangan batu bata yang cukup tebal. Posisi kanal sesuai dengan arah kemiringan situs Kolam Segaran yang berupa kolam besar dengan panjang 375 meter dan lebar 175 meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dekat dengan kolam ini terdapat kolam alami lain yang berbentuk memanjang dan disebut balong dowo, serta kolam lingkaran yang disebut balong bunder. Penemuan berupa saluran air tertutup yang dihubungkan pipa terakota dapat menjelaskan bahwa sistem pengairan pada saat itu telah dibentuk dengan baik, bahkan dapat dikatakan bahwa ibukota Kerajaan Majapahit pada masa lampau adalah kota air. Sistem transporatasi air telah terbentuk yang berhubungan dengan Sungai Brantas, masyarakat mendapat aliran air bening yang disalurkan secara terorganisir, taman-taman tirta yang indah juga terdapat pada beberapa tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaringan jalan Ibukota Majapahit yang dikelilingi kanal besar juga berpola grid. Pemukiman tertata dengan rapi dikelilingi pagar bata dengan halaman berbentuk segi empat. Pepohonan diatur berderet dengan jenis sama secara berkelompok. Terdapat ruang-ruang luar yang difungsikan sebagai taman lapangan terbuka yang diteduhi pohon rindang, taman sari geometris dan taman yang ditengahnya terdapat balai besar. Bangunan umum berupa balai dan gazebo dibuat terbuka tanpa dinding, sedang rumah tinggal berdinding rapat dari bahan kayu atau bambu. Bahan atap dari permukiman Majapahit adalah genteng, di mana pada beberapa bagiannya diberi hiasan berukir. Atap lebih banyak yang berbentuk limasan/perisai dan sebagian lagi berbentuk kampung/pelana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1981 keberadaan kanal-kanal dan waduk-waduk di situs Trowulan (peninggalan Majapahit) semakin pasti diketahui melalui studi foto udara yang ditunjang oleh pengamatan di lapangan dengan pendugaan geoelektrik dan geomagnetik. Hasil penelitian kerja sama Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dengan Ditlinbinjarah, UGM, ITB, dan Lapan itu diketahui bahwa Situs Trowulan berada di ujung kipas aluvial vulkanik yang sangat luas, memiliki permukaan tanah yang landai dan baik sekali bagi tata guna tanah (Karina Arifin, 1983). Waduk-waduk Baureno, Kumitir, Domas, Kraton, Kedungwulan, Temon, dan kolam-kolam buatan seperti Segaran, Balong Dowo, dan Balong Bunder, yang semuanya terdapat di Situs Trowulan, letaknya dekat dengan pangkal kipas aluvial Jatirejo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui pengamatan foto udara inframerah, ternyata di Situs Trowulan dan sekitarnya terlihat adanya jalur-jalur yang berpotongan tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan timur-barat. Jalur-jalur yang membujur timur-barat terdiri atas 8 jalur, sedangkan jalur-jalur yang melintang utara-selatan terdiri atas 6 jalur. Selain jalur-jalur yang bersilangan tegak lurus, ditemukan pula dua jalur yang agak menyerong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Berdasarkan uji lapangan pada jalur-jalur dari foto udara, ternyata jalur-jalur tersebut adalah kanal-kanal, sebagian masih ditemukan tembok penguat tepi kanal dari susunan bata,&quot; ujar Karina Arifin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebar kanal-kanal berkisar 35-45 meter. Kanal yang terpendek panjangnya 146 meter, yaitu jalur yang melintang utara-selatan yang terletak di daerah Pesantren, sedangkan kanal yang terpanjang adalah kanal yang berhulu di sebelah timur di daerah Candi Tikus dan berakhir di Kali Gunting (di Dukuh Pandean) di daerah baratnya. Kanal ini panjangnya sekitar 5 kilometer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang menarik, sebagian besar situs-situs di Trowulan dikelilingi oleh kanal-kanal yang saling berpotongan, membentuk sebuah denah segi empat yang luas, dibagi lagi oleh beberapa bidang segi empat yang lebih kecil.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lanjutkan ke &lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/situasi-ibukota-majapahit-kedua.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;bagian berikutnya&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/6816034432041310522/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/situasi-ibukota-majapahit-pertama.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6816034432041310522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6816034432041310522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/situasi-ibukota-majapahit-pertama.html' title='Situasi Ibukota Majapahit (pertama)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1r0WhD_mc3BNwDK3SX9pntCr_wn0qG6tnNjT-MTNsRKYjzHyK09giXVhg_OBeN-S0cOXjGhvvX1S2cgUqR-P3CtfvEBhk6Vbioq8rjWkRUAtgi0JB8Soj6XFDzR5NnX4Da-Z_u-Sv4TJI/s72-c/foto-repihan-majapahit-diabaikan-terlalu-lama-dan-kini-menderita.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-2734491033704655377</id><published>2016-11-21T08:07:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T08:10:51.084-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="candi"/><title type='text'>Candi Wringin Lawang di Trowulan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Candi Wringinlawang terletak di Dukuh Wringinlawang, Desa Jati Pasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tepatnya 11 km dari Mojokerto ke arah Jombang. Konon dahulu di dekat candi terdapat pohon beringin yang besar sehingga candi ini dinamakan Candi Wringinlawang (dalam bahasa Jawa, wringin berarti beringin, lawang berarti pintu).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs50bbu0-x0FW9lMmsMTe6eh8GzCVWIM67RDWhVLLmU6M2UKgKRs8nDatDvBp13SpYV4QfxSvLi_XjN4D5QOhQN6r28ggSe_p391tpD-BYeHZpJvsPpoh4FAEVKag9PamGeWUyareMLe1e/s1600/74071-0_663_382.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;230&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs50bbu0-x0FW9lMmsMTe6eh8GzCVWIM67RDWhVLLmU6M2UKgKRs8nDatDvBp13SpYV4QfxSvLi_XjN4D5QOhQN6r28ggSe_p391tpD-BYeHZpJvsPpoh4FAEVKag9PamGeWUyareMLe1e/s400/74071-0_663_382.jpg&quot; title=&quot;Candi Wringinlawang di Trowulan&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tidak banyak yang diketahui tentang masa pembangunan maupun fungsi candi ini. Dalam tulisan Raffles tahun 1815, bangunan kuno ini disebut dengan nama Gapura Jati Paser. Sebutan itu kemungkinan berkaitan dengan nama desa tempat candi itu berada. Dalam tulisan Knebel tahun 1907, gapura ini disebut sebagai &#39;Gapura Wringinlawang.&#39;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wringinlawang merupakan candi bentar, yaitu gapura tanpa atap. Candi bentar biasanya berfungsi sebagai gerbang terluar dari suatu kompleks bangunan. Menilik bentuknya, Gapura Wringinlawang diduga merupakan gapura menuju salah satu kompleks bangunan yang berada di kota Majapahit. Penulis dalam hal ini beranggapan bahwa Candi Wringinlawang ini merupakan pintu gerbang memasuki rumah tinggal Mahapatih Gajah Mada (hal ini akan dibahas dalam artikel tersendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gapura Wringinlawang telah mengalami pemugaran yang dilaksanakan sejak tahun 1991 sampai dengan tahun 1995. Keseluruhan bangunan yang menghadap timur-barat ini terbuat dari bata merah. Fondasi gapura berbentuk segi empat dengan ukuran 13 x 11,50 m. Sebelum dipugar belahan sebelah selatan gapura masih utuh, berdiri tegak dengan ketinggian 15,50 m, sementara belahan utara hanya tersisa 9 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi kiri dan kanan tangga naik menuju celah di antara kedua belahan gapura terdapat dinding penghalang setinggi sekitar 2 m. Celah di antara kedua belahan gapura cukup lebar. Tidak tampak ukiran atau relief di dinding candi. Atap candi berbentuk piramida bersusun dengan puncak persegi. Bentuk atap maupun hiasan pola piramida terbalik pada atap candi mirip dengan yang terdapat di Candi Bajangratu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/2734491033704655377/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-wringin-lawang-di-trowulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2734491033704655377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2734491033704655377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/candi-wringin-lawang-di-trowulan.html' title='Candi Wringin Lawang di Trowulan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs50bbu0-x0FW9lMmsMTe6eh8GzCVWIM67RDWhVLLmU6M2UKgKRs8nDatDvBp13SpYV4QfxSvLi_XjN4D5QOhQN6r28ggSe_p391tpD-BYeHZpJvsPpoh4FAEVKag9PamGeWUyareMLe1e/s72-c/74071-0_663_382.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-5983161217721866814</id><published>2016-11-21T03:41:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T03:48:36.842-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="opini"/><title type='text'>Dahsyatnya Cet-Bang Majapahit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Selama ini kita selalu diberi tahu bahwa di masa lalu bangsa Indonesia hanya menggunakan bambu runcing untuk bertarung. Mereka tidak bisa membuat senjata sendiri sehingga selalu kalah dengan penjajah seperti Belanda dan juga Jepang yang memiliki kemajuan senjata yang sangat tinggi. Bangsa ini mulai bisa melawan setelah mendapatkan senjata dari musuh yang berhasil dikalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, jauh sebelum para penjajah dari Eropa datang, para pendahulu kita dari Kerajaan Majapahit sudah memiliki senjata yang sangat mematikan. Mereka berhasil menciptakan sebuah senapan api mirip bazooka yang mampu meledak setelah diisi dengan bubuk mesiu ciptaan para ahli senjata kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, untuk lebih mengenal senjata mematikan bernama Cetbang ini, silakan simak pejelasannya di bawah ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5MZs9xVv1FQJmOAAC1BA9wYNLrFQio44G-Nnmgz6LxR-29-zI7s2ECsnEB9tpTjK-XA3Ps6c2f2qKdlRPpohjQblmLtqdnhisPxCtIiayNrQWTr10B-FJwACLSlXiNRagIbSWQZS4dKhR/s1600/Cet-Bang2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;210&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5MZs9xVv1FQJmOAAC1BA9wYNLrFQio44G-Nnmgz6LxR-29-zI7s2ECsnEB9tpTjK-XA3Ps6c2f2qKdlRPpohjQblmLtqdnhisPxCtIiayNrQWTr10B-FJwACLSlXiNRagIbSWQZS4dKhR/s400/Cet-Bang2.jpg&quot; title=&quot;Meriam Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Latar Belakang Dibuatnya Senjata&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kita hanya mengenal Gajah Mada sebagai orang yang sangat hebat dalam perang. Dia adalah orang yang memiliki Sumpah Palapa dan terobsesi menyatukan Nusantara. Selain masalah sumpah dan kemampuan dalam perang, ternyata Gajah Mada juga sangat ahli dalam bidang persenjataan. Dia menguasai banyak teknik pembuatan senjata sehingga Cetbang akhirnya diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu, Gajah Mada suka sekali mempelajari banyak teknologi dari banyak kawasan. Berbekal dari kepandaiannya ini, Gajah Mada akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah senjata hebat selain keris yang sakti. Dia merancang sebuah senapan atau mungkin juga bazooka yang akan meledak jika disulut dengan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dukungan Pemimpin Majapahit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya apa yang dilakukan oleh Gajah Mada tidak begitu diminati oleh raja ke-2 Majapahit. Meski demikian dia tetap berusaha melakukannya dengan sebaik-baiknya. Saat Tribuana Tunggaldewi menjadi raja ketiga Majapahit, keinginan dari Gajah Mada itu menjadi kenyataan. Terlebih dia diangkat menjadi mahapatih sehingga keinginan membuat senjata didukung dengan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena cetbang sangat berguna dalam perang serta terkesan sangat hebat, Gajah Mada diberi mandat untuk membuatnya dalam jumlah banyak. Selain itu, ukuran dari cetbang juga dibuat dalam aneka jenis mulai dari panjang 1 meter hingga panjang 3 meter. Semua disesuaikan apakah senjata akan dibawa oleh beberapa orang atau diletakkan pada armada kapal laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTu7VP1hdGBhFZRbdiZjY3PIbLjBxRgbTeDSi-pcnNFTiUyzE1mmpO6C3p6GWGzOS_C9LLs5brLE8Z1TF3I4MDAcWsOB1SlJmFi6oXPyAeTGzzce0lRnFDQRnhotxGxjFDz_uEqSmiG-bC/s1600/Cet-Bang4.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;160&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTu7VP1hdGBhFZRbdiZjY3PIbLjBxRgbTeDSi-pcnNFTiUyzE1mmpO6C3p6GWGzOS_C9LLs5brLE8Z1TF3I4MDAcWsOB1SlJmFi6oXPyAeTGzzce0lRnFDQRnhotxGxjFDz_uEqSmiG-bC/s400/Cet-Bang4.jpg&quot; title=&quot;Senjata Api jaman Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ditakuti oleh Orang Eropa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan cetbang sangatlah mengagumkan. Untuk yang ukuran tiga meter, Gajah Mada memasangnya untuk armada laut. Alat ini akan digunakan untuk perang di lautan dengan kapal yang sengaja datang ke Majapahit untuk menyerang. Saingan berat dari Cetbang adalah meriam yang berasal dari Tiongkok. Dua senjata api yang menggunakan serbuk sejenis mesiu ini membuat banyak sekali bangsa Eropa agak ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya mereka merasa insecure dengan keberadaan dari Cetbang. Para tentara dan saudagar Portugis bahkan terus berusaha memperbarui persenjataannya agar mampu melawan cetbang. Dari kejadian ini sudah jelas bahwa cetbang sangatlah hebat, bahkan jika terus dikembangkan bisa untuk melawan Belanda yang melakukan kolonialiasi selama ratusan tahun lamanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrHqUijmAOXACHLAc53EV4HVGh-qjZbCX213_MkadKeNzUYvsJAa2h0gn8OU7py8fbsVktgPvjkwgDp0JUDqVhzd0I35hjYebuwRkUqR5EQTx3bd5c5w1F_N6uK5eIqZLQkWhy3kMxxjvK/s1600/Penemuan-Cetbang-di-luar-negeri.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;227&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrHqUijmAOXACHLAc53EV4HVGh-qjZbCX213_MkadKeNzUYvsJAa2h0gn8OU7py8fbsVktgPvjkwgDp0JUDqVhzd0I35hjYebuwRkUqR5EQTx3bd5c5w1F_N6uK5eIqZLQkWhy3kMxxjvK/s400/Penemuan-Cetbang-di-luar-negeri.jpg&quot; title=&quot;Penemuan Cet-Bang di luar negeri&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keberadaan Cetbang di Era Modern&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat disayangkan dari keberadaan cetbang adalah tidak adanya generasi yang mau mengembangkannya. Usai Majapahit akhirnya runtuh dan berubah menjadi Kerajaan Demak, cetbang dibiarkan begitu saja. Perang saudara di kerajaan ini membuat teknologi hebat ini semakin ditinggalkan dan kalah dengan senjata dari Eropa yang sangat maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja cetbang dikembangkan terus oleh generasi sesudah Gajah Mada, bukan tidak mungkin bangsa ini mampu melawan penjahat. Sayangnya, impian itu hanyalah angan biasa karena bangsa ini akhirnya dijajah dengan sangat lama di masa lalu. Oh ya, sisa-sisa cetbang saat ini disimpan di The Metropolitan Museum of Art, Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ulasan singkat tentang cetbang yang merupakan senjata api canggih dari jaman kerajaan Majapahit. Dari contoh senjata ini kita bisa membuat kesimpulan bahwa sebenarnya bangsa ini sangatlah cerdas. Sayangnya seiring berjalannya waktu, orang cerdas justru dibiarkan sehingga lebih mengabdi di negeri lain. Benar-benar miris!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #6fa8dc;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;http://www.boombastis.com/cetbang-majapahit/78784&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/5983161217721866814/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/dahsyatnya-cet-bang-majapahit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/5983161217721866814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/5983161217721866814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/dahsyatnya-cet-bang-majapahit.html' title='Dahsyatnya Cet-Bang Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5MZs9xVv1FQJmOAAC1BA9wYNLrFQio44G-Nnmgz6LxR-29-zI7s2ECsnEB9tpTjK-XA3Ps6c2f2qKdlRPpohjQblmLtqdnhisPxCtIiayNrQWTr10B-FJwACLSlXiNRagIbSWQZS4dKhR/s72-c/Cet-Bang2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-2314417539666893401</id><published>2016-11-21T03:07:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T03:20:30.904-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="opini"/><title type='text'>Kisah Rahasia dibalik runtuhnya Majapahit</title><content type='html'>&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Sabdo Palon dan Naya Genggong memberikan gambaran apa yang bakal terjadi kelak di Nusantara : Semenjak hari kehancuran Majapahit, ‘kesadaran’ masyarakat Nusantara akan jatuh ketitik yang paling rendah. ‘Kulit’ lebih diagung-agungkan dari pada ‘Isi’. ‘Kebenaran Yang Mutlak’ dianggap sebagai milik golongan tertentu. Dharma diputarbalikkan. Sampah-sampah seperti ini akan terus tertumpuk sampai lima ratus tahun kedepan ! Dan bila sudah saatnya, Alam akan memuntahkannya. Alam akan membersihkannya.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Saat ini saya sedang membaca serial Sabdo Palon karya Damar Shashangka. Yang masih menunggu antre saya baca adalah Darmogandhul, karya penulis yang sama. Seingat saya buku Darmogandhul ini pada era Soeharto sempat dilarang karena berisi masalah yang sensitif.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTvtSMeVX_02FwkmYhW4TQpMdvBk_1caK5mShnzoNSZJ4ETq84GcHEDk7ktlka5kJNplIAvuJORbtiS_fkg_qyIw6CitE9AxV_jDx-iIoyq1VBi2lJhF-pAdKqXNPc9X8zSHxaATbxx3jV/s1600/Ronggolawe-Orang-Penting-di-Kerajaan-Majapahit-yang-Dibunuh-dengan-Kejam-Cover.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;227&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTvtSMeVX_02FwkmYhW4TQpMdvBk_1caK5mShnzoNSZJ4ETq84GcHEDk7ktlka5kJNplIAvuJORbtiS_fkg_qyIw6CitE9AxV_jDx-iIoyq1VBi2lJhF-pAdKqXNPc9X8zSHxaATbxx3jV/s400/Ronggolawe-Orang-Penting-di-Kerajaan-Majapahit-yang-Dibunuh-dengan-Kejam-Cover.jpg&quot; title=&quot;Perang Pasukan Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Saya harus katakan serial Sabdo Palon ini sangat menarik. Selain dikemas dalam bentuk cerita yang mengalir apik, tampaknya penulis juga melakukan eksplorasi mendalam mengenai sejarah Kerajaan Majapahit. Terus terang saya tidak tahu bagaimana penulis bisa mendapatkan sumber otentik. Tapi uraiannya sangat detil, dan yang luar biasa, banyak sekali kisah tersembunyi yang tidak pernah diekspos. Bahkan sama sekali tidak pernah saya jumpai di buku pelajaran sejarah selama karir pendidikan saya di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmogandhul dan Sabdo Palon merupakan karya sastra yang isinya saling mendukung, yang mengungkap sejarah yang tak pernah diungkap tentang pencapaian masa keemasan Kerajaan Majapahit hingga kehancurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda, bahwa sejarah penyebab kehancuran Majapahit ternyata masih bisa dirasakan hingga kini. Hingga selama lebih dari 500 tahun kemudian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada indikasi bahwa sejarah kehancuran Majapahit-lah yang membuat bangsa Indonesia hingga kini masih menjadi bangsa tempe !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majapahit adalah sebuah Kerajaan besar. Sebuah Emperor. Yang wilayahnya membentang dari ujung utara pulau Sumatera, sampai Papua. Bahkan, Malaka yang sekarang dikenal dengan nama Malaysia, termasuk wilayah kerajaan Majapahit. Majapahit berdiri pada tahun 1293 Masehi. Didirikan oleh Raden Wijaya yang lantas setelah dikukuhkan sebagai Raja beliau bergelar Shrii Kertarajasha Jayawardhana. Eksistensi Majapahit sangat disegani diseluruh dunia. Diwilayah Asia, hanya Majapahit yang ditakuti oleh Kekaisaran Tiongkok China. Di Asia ini, pada abad XIII, hanya ada dua Kerajaan besar, Tiongkok dan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambang Negara Majapahit adalah Surya. Benderanya berwarna Merah dan Putih. Melambangkan darah putih dari ayah dan darah merah dari ibu. Lambang nasionalisme sejati. Lambang kecintaan pada bhumi pertiwi. Karma Bhumi. Dan pada jamannya, bangsa kita pernah menjadi Negara adikuasa, superpower, layaknya Amerika dan Inggris sekarang. Pusat pemerintahan ada di Trowulan, sekarang didaerah Mojokerto, Jawa Timur. Pelabuhan internasional-nya waktu itu adalah Gresik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama resmi Negara adalah Hindhu aliran Shiwa dan Buddha. Dua agama besar ini dikukuhkan sebagai agama resmi Negara. Sehingga kemudian muncul istilah agama Shiva Buddha. Nama Majapahit sendiri diambil dari nama pohon kesayangan Deva Shiva, Avatara Brahman, yaitu pohon Bilva atau Vilva. Di Jawa pohon ini terkenal dengan nama pohon Maja, dan rasanya memang pahit. Maja yang pahit ini adalah pohon suci bagi penganut agama Shiva, dan nama dari pohon suci ini dijadikan nama kebesaran dari sebuah Emperor di Jawa. Dalam bahasa sanskerta, Majapahit juga dikenal dengan nama Vilvatikta (Wilwatikta. Vilva: Pohon Maja, Tikta : Pahit ). Sehingga, selain Majapahit ( baca : Mojopait) orang Jawa juga mengenal Kerajaan besar ini dengan nama Wilwatikta (Wilwotikto).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebesaran Majapahit mencapai puncaknya pada jaman pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani (1328-1350 M). Dan mencapai jaman keemasan pada masa pemerintahan Prabhu Hayam Wuruk (1350-1389 M) dengan Mahapatih Gajah Mada-nya yang kesohor dipelosok Nusantara itu. Pada masa itu kemakmuran benar-benar dirasakan seluruh rakyat Nusantara. Benar-benar jaman yang gilang gemilang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stabilitas Majapahit sempat koyak akibat perang saudara selama lima tahun yang terkenal dengan nama Perang Paregreg (1401-1406 M). Peperangan ini terjadi karena Kadipaten Blambangan hendak melepaskan diri dari pusat Pemerintahan. Blambangan yang diperintah oleh Bhre Wirabhumi berhasil ditaklukkan oleh seorang ksatria berdarah Blambangan sendiri yang membelot ke Majapahit, yaitu Raden Gajah. ( Kisah ini terkenal didalam masyarakat Jawa dalam cerita rakyat pemberontakan Adipati Blambangan Kebo Marcuet. Kebo = Bangsawan, Marcuet = Kecewa. Kebo Marcuet berhasil ditaklukkan oleh Jaka Umbaran. Jaka = Perjaka, Umbaran = Pengembara. Dan Jaka Umbaran setelah berhasil menaklukkan Adipati Kebo Marcuet, dikukuhkan sebagai Adipati Blambangan dengan nama Minak Jingga. Minak = Bangsawan, Jingga = Penuh Keinginan. Adipati Kebo Marcuet inilah Bhre Wirabhumi, dan Minak Jingga tak lain adalah Raden Gajah, keponakan Bhre Wirabhumi sendiri.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sepeninggal Prabhu Wikramawardhana, ketika tahta Majapahit dilimpahkan kepada Ratu Suhita, Malahan Raden Gajah yang kini hendak melepaskan diri dari pusat pemerintahan karena merasa diingkari janjinya. Dan tampillah Raden Paramesywara, yang berhasil memadamkan pemberontakan Raden Gajah. Pada akhirnya, Raden Paramesywara diangkat sebagai suami oleh Ratu Suhita. (Dalam cerita rakyat, inilah kisah Damar Wulan. Ratu Suhita tak lain adalah Kencana Wungu. Kencana = Mutiara, Wungu = Pucat pasi, ketakutan. Dan Raden Paramesywara adalah Damar Wulan. Damar = Pelita, Wulan = Sang Rembulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Majapahit stabil lagi. Hingga pada tahun 1453 Masehi, tahta Majapahit dipegang oleh Raden Kertabhumi yang lantas terkenal dengan gelar Prabhu Brawijaya ( Bhre Wijaya). Pada jaman pemerintahan beliau inilah, Islamisasi mulai merambah wilayah kekuasaan Majapahit, dimulai dari Malaka. Dan kemudian, mulai masuk menuju ke pusat kerajaan, ke pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Inilah alur kisah kehancuran Kerajaan Majapahit :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Kamboja selatan, dulu terdapat Kerajaan kecil yang masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Kerajaan Champa namanya. ( Sekarang hanya menjadi perkampungan Champa ). Kerajaan ini berubah menjadi Kerajaan Islam semenjak Raja Champa memeluk agama baru itu. Keputusan ini diambil setelah seorang ulama Islam datang dari Samarqand, Bukhara. ( Sekarang didaerah Rusia Selatan). Ulama ini bernama Syeh Ibrahim As-Samarqand. Selain berpindah agama, Raja Champa bahkan mengambil Syeh Ibrahim As-Samarqand sebagai menantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Champa memiliki dua orang putri. Yang sulung bernama Dewi Candrawulan dan yang bungsu bernama Dewi Anarawati. Syeh Ibrahim As-Samarqand dinikahkan dengan Dewi Candrawati. Dari hasil pernikahan ini, lahirlah dua orang putra, yang sulung bernama Sayyid ‘Ali Murtadlo, dan yang bungsu bernama Sayyid ‘Ali Rahmad. Karena berkebangsaan Champa ( Indo-china ), Sayyid ‘Ali Rahmad juga dikenal dengan nama Bong Swie Hoo. (Nama Champa dari Sayyid ‘Ali Murtadlo, Raja Champa, Dewi Candrawulan dan Dewi Anarawati, saya belum mengetahuinya : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Champa dibawah kekuasaan Kerajaan Besar Majapahit yang berpusat di Jawa. Pada waktu itu Majapahit diperintah oleh Raden Kertabhumi atau Prabhu Brawijaya semenjak tahun 1453 Masehi. Beliau didampingi oleh adiknya Raden Purwawisesha sebagai Mahapatih. Pada tahun 1466, Raden Purwawisesha mengundurkan diri dari jabatannya, dan sebagai penggantinya diangkatlah Bhre Pandhansalas. Namun dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1468 Masehi, Bhre Pandhansalas juga mengundurkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis semenjak tahun 1468 Masehi, Prabhu Brawijaya memerintah Majapahit tanpa didampingi oleh seorang Mahapatih. Apakah gerangan dalam masa pemerintahan Prabhu Brawijaya terjadi dua kali pengunduran diri dari seorang Mahapatih? Sebabnya tak lain dan tak bukan karena Prabhu Brawijaya terlalu lunak dengan etnis China dan orang-orang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, begitu Prabhu Brawijaya naik tahta, Kekaisaran Tiongkok mengirimkan seorang putri China yang sangat cantik sebagai persembahan kepada Prabhu Brawijaya untuk dinikahi. Ini dimaksudkan sebagai tali penyambung kekerabatan dengan Kekaisaran Tiongkok. Putri ini bernama Tan Eng Kian. Sangat cantik. Tiada bercacat. Karena kecantikannya, setelah Prabhu Brawijaya menikahi putri ini, praktis beliau hampi-hampir melupakan istri-istrinya yang lain. (Prabhu Brawijaya banyak memiliki istri, dari berbagai istri beliau, lahirlah tokoh-tokoh besar. Pada kesempatan lain, saya akan menceritakannya : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika putri Tan Eng Kian tengah hamil tua, rombongan dari Kerajaan Champa datang menghadap. Raja Champa sendiri yang datang. Diiringi oleh para pembesar Kerajaan dan ikut juga dalam rombongan, Dewi Anarawati. Raja Champa banyak membawa upeti sebagai tanda takluk. Dan salah satu upeti yang sangat berharga adalah, Dewi Anarawati sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kecantikan putri berdarah indo-china ini, Prabhu Brawijaya terpikat. Dan begitu Dewi Anarawati telah beliau peristri, Tan Eng Kian, putri China yang tengah hamil tua itu, seakan-akan sudah tidak ada lagi di istana. Perhatian Prabhu Brawijaya kini beralih kepada Dewi Anarawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking tergila-gilanya, manakala Dewi Anarawati meminta agar Tan Eng Kian disingkirkan dari istana, Prabhu Brawijaya menurutinya. Tan Eng Kian diceraikan. Lantas putri China yang malang ini diserahkan kepada Adipati Palembang Arya Damar untuk diperistri. Adipati Arya Damar sesungguhnya juga peranakan China. Dia adalah putra selir Prabhu Wikramawardhana, Raja Majapahit yang sudah wafat yang memerintah pada tahun 1389-1429 Masehi, dengan seorang putri China pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama China Adipati Arya Damar adalah Swan Liong. Menerima pemberian seorang janda dari Raja adalah suatu kehormatan besar. Perlu dicatat, Swan Liong adalah China muslim. Dia masuk Islam setelah berinteraksi dengan etnis China di Palembang, keturunan pengikut Laksamana Cheng Ho yang sudah tinggal lebih dahulu di Palembang. Oleh karena itulah, Palembang waktu itu adalah sebuah Kadipaten dibawah kekuasaan Majapahit yang bercorak Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arya Damar menunggu kelahiran putra yang dikandung Tan Eng Kian sebelum ia menikahinya. Begitu putri China ini selesai melahirkan, dinikahilah dia oleh Arya Damar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang lahir dari rahim Tan Eng Kian, hasil dari pernikahannya dengan Prabhu Brawijaya, adalah seorang anak lelaki. Diberi nama Tan Eng Hwat. Karena ayah tirinya muslim, dia juga diberi nama Hassan. Kelak di Jawa, dia terkenal dengan nama Raden Patah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil perkawinan Arya Damar dengan Tan Eng Kian, lahirlah juga seorang putra. Diberinama Kin Shan. Nama muslimnya adalah Hussein. Kelak di Jawa, dia terkenal dengan nama Adipati Pecattandha, atau Adipati Terung yang terkenal itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Jawa. Dewi Anarawati yang muslim itu telah berhasil merebut hati Prabhu Brawijaya. Dia lantas menggulirkan rencana selanjutnya setelah berhasil menyingkirkan pesaingnya, Tan Eng Kian. Dewi Anarawati meminta kepada Prabhu Brawijaya agar saudara-saudaranya yang muslim, yang banyak tinggal dipesisir utara Jawa, dibangunkan sebuah Ashrama, sebuah Peshantian, sebuah Padepokan, seperti halnya Padepokan para Pandhita Shiva dan para Wiku Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar permintaan istri tercintanya ini, Prabhu Brawijaya tak bisa menolak. Namun yang menjadi masalah, siapakah yang akan mengisi jabatan sebagai seorang Guru layaknya padepokan Shiva atau Mahawiku layaknya padepokan Buddha? Pucuk dicinta ulam tiba, Dewi Anarawati segera mengusulkan, agar diperkenankan memanggil kakak iparnya, Syeh Ibrahim As-Samarqand yang kini ada di Champa untuk tinggal sebagai Guru di Ashrama Islam yang hendak dibangun. Dan lagi-lagi, Prabhu Brawijaya menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Pembesar Majapahit, Para Pandhita Shiva dan Para Wiku Buddha, sudah melihat gelagat yang tidak baik. Mereka dengan halus memperingatkan Prabhu Brawijaya, agar selalu berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kurang-kurang, Sabdo Palon dan Nayagenggong, punakawan terdekat Prabhu Brawijaya juga sudah memperingatkan agar momongan mereka ini berhati-hati, tidak gegabah. Namun, Prabhu Brawijaya, bagaikan orang mabuk, tak satupun nasehat orang-orang terdekatnya beliau dengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian Majapahit sudah hamper didominasi oleh etnis China semenjak putri Tan Eng Kian di peristri oleh Prabhu Brawijaya, dan memang itulah misi dari Kekaisaran Tiongkok. Kini, dengan masuknya Dewi Anarawati, orang-orang muslim-pun mendepat kesempatan besar. Apalagi, pada waktu itu, banyak juga orang China yang muslim. Semua masukan bagi Prabhu Brawijaya tersebut, tidak satupun yang diperhatikan secara sungguh-sungguh. Para Pejabat daerah mengirimkan surat khusus kepada Sang Prabhu yang isinya mengeluhkan tingkah laku para pendatang baru ini. Namun, tetap saja, ditanggapi acuh tak acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu ketika, manakala ada acara rutin tahunan dimana para pejabat daerah harus menghadap ke ibukota Majapahit sebagai tanda kesetiaan, Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker ( Ponorogo sekarang), mempersembahkan tarian khusus buat Sang Prabhu. Tarian ini masih baru. Belum pernah ditampilkan dimanapun. Tarian ini dimainkan dengan menggunakan piranti tari bernama Dhadhak Merak. Yaitu sebuah piranti tari yang berupa duplikat kepala harimau dengan banyak hiasan bulu-bulu burung merak diatasnya. Dhadhak Merak ini dimainkan oleh satu orang pemain, dengan diiringi oleh para prajurid yang bertingkah polah seperti banci. ( Sekarang dimainkan oleh wanita tulen). Ditambah satu tokoh yang bernama Pujangganom dan satu orang Jathilan. Sang Pujangganom tampak menari-nari acuh tak acuh, sedangkan Jathilan, melompat-lompat seperti orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Prabhu takjub melihat tarian baru ini. Manakala beliau menanyakan makna dari suguhan tarian tersebut, Ki Ageng Kutu, Adipati dari Wengker yang terkenal berani itu, tanpa sungkan-sungkan lagi menjelaskan, bahwa Dhadhak Merak adalah symbol dari Kerajaan Majapahit sendiri. Kepala Harimau adalah symbol dari Sang Prabhu. Bulu-bulu merak yang indah adalah symbol permaisuri sang Prabhu yang terkenal sangat cantik, yaitu Dewi Anarawati. Pasukan banci adalah pasukan Majapahit. Pujangganom adalah symbol dari Pejabat teras, dan Jathilan adalah symbol dari Pejabat daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti sesungguhnya adalah, Kerajaan Majapahit, kini diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung Merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya dibawah selangkangan sang burung Merak. Para Prajurid Majapahit sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, sangat memalukan! Para pejabat teras acuh tak acuh dan pejabat daerah dibuat kebingungan menghadapi invasi halus, imperialisasi halus yang kini tengah terjadi. Dan terang-terangan Ki Ageng Kutu memperingatkan agar Prabhu Brawijaya berhati-hati dengan orang-orang Islam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian sindiran ini kemudian hari dikenal dengan nama REOG PONOROGO!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kelancangan Ki Ageng Kutu, Prabhu Brawijaya murka! Dan Ki Ageng Kutu, bersama para pengikutnya segera meninggalkan Majapahit. Sesampainya di Wengker, beliau mamaklumatkan perang dengan Majapahit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya mengutus putra selirnya, Raden Bathara Katong untuk memimpin pasukan Majapahit, menggempur Kadipaten Wengker! (Akan saya ceritakan pada bagian kedua : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya, menjanjikan daerah ‘perdikan’. Daerah perdikan adalah daerah otonom. Beliau menjanjikannya kepada Dewi Anarawati. Dan Dewi Anarawati meminta daerah Ampeldhenta ( didaerah Surabaya sekarang ) agar dijadikan daerah otonom bagi orang-orang Islam. Dan disana, rencananya akan dibangun sebuah Ashrama besar, pusat pendidikan bagi kaum muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Prabhu Brawijaya menyetujui hal ini, maka Dewi Anarawati, atas nama Negara, mengirim utusan ke Champa. Meminta kesediaan Syeh Ibrahim As-Samarqand untuk tinggal di Majapahit dan menjadi Guru dari Padepokan yang hendak dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan permintaan ini adalah sebuah kabar keberhasilan luar biasa bagi Raja Champa. Misi peng-Islam-an Majapahit sudah diambang mata. Maka berangkatlah Syeh Ibrahim As-Samarqand ke Jawa. Diiringi oleh kedua putranya, Sayyid ‘Ali Murtadlo dan Sayyid ‘Ali Rahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Gresik, pelabuhan Internasional pada waktu itu, mereka disambut oleh masyarakat muslim pesisir yang sudah ada disana sejak jaman Prabhu Hayam Wuruk berkuasa. Masyarakat muslim ini mulai mendiami pesisir utara Jawa semenjak kedatangan Syeh Maulana Malik Ibrahim, yang pada waktu itu memohon menghadap kehadapan Prabhu Hayam Wuruk hanya untuk sekedar meminta beliau agar ‘pasrah’ memeluk Islam. Tentu saja, permintaan ini ditolak oleh Sang Prabhu Hayam Wuruk pada waktu itu karena dianggap lancang. Namun, beliau sama sekali tidak menjatuhkan hukuman. Beliau dengan hormat mempersilakan rombongan Syeh Maulana Malik Ibrahim agar kembali pulang. Namun sayang, di Gresik, banyak para pengikut Syeh Maulana Malik Ibrahim terkena wabah penyakit yang datang tiba-tiba. Banyak yang meninggal. Dan Syeh Maulana Malik Ibrahim akhirnya wafat juga di Gresik, dan lantas dikenal oleh orang-orang Jawa muslim dengan nama Sunan Gresik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik telah datang jauh-jauh hari sebelum ada yang dinamakan Dewan Wali Sangha (Sangha = Perkumpulan orang-orang suci. Sangha diambil dari bahasa Sansekerta. Bandingkan dengan doktrin Buddhis mengenai Buddha, Dharma dan Sangha. Kata-kata Wali Sangha lama-lama berubah menjadi Wali Songo yang artinya Wali Sembilan.: Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan dari Champa ini sementara waktu beristirahat di Gresik sebelum meneruskan perjalanan menuju ibukota Negara Majapahit. Sayang, setibanya di Gresik, Syeh Ibrahim As-Samarqand jatuh sakit dan meninggal dunia. Orang Jawa muslim mengenalnya dengan nama Syeh Ibrahim Smorokondi. Makamnya masih ada di Gresik sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar meninggalnya Syeh Ibrahim As-Samarqand sampai juga di istana. Dewi Anarawati bersedih. Lantas, kedua putra Syeh Ibrahim As-Samarqand dipanggil menghadap. Atas usul Dewi Anarawati, Sayyid ‘Ali Rahmad diangkat sebagai pengganti ayahnya sebagai Guru dari sebuah Padepokan Islam yang hendak didirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Sayyid ‘Ali Rahmad dan Sayyid ‘Ali Murtadlo mendapat gelar kebangsawanan Majapahit, yaitu Rahadyan atau Raden. Jadilah mereka dikenal dengan nama Raden Rahmad dan Raden Murtolo ( Orang Jawa tidak bisa mengucapkan huruf ‘dlo’. Huruf ‘dlo’ berubah menjadi ‘lo’. Seperti Ridlo, jadi Rilo, Ramadlan jadi Ramelan, Riyadloh jadi Riyalat, dll). Namun lama kelamaan, Raden Murtolo dikenal dengan nama Raden Santri, makamnya juga ada di Gresik sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Rahmad, disokong pendanaan dari Majapahit, membangun pusat pendidikan Islam pertama di Jawa. Para muslim pesisir datang membantu. Tak berapa lama, berdirilah Padepokan Ampeldhenta. Istilah Padepokan lama-lama berubah menjadi Pesantren untuk membedakannya dengan Ashrama pendidikan Agama Shiva dan Agama Buddha. Lantas dikemudian hari, Raden Rahmad dikenal dengan nama Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Santri, mengembara ke Bima, menyebarkan Islam disana, hingga ketika sudah tua, ia kembali ke Jawa dan meniggal di Gresik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembesar Majapahit, Para Pandhita Shiva dan Para Wiku Buddha, sudah memperingatkan Prabhu Brawijaya. Sebab sudah terdengar kabar dimana-mana, kaum baru ini adalah kaum missioner. Kaum yang punya misi tertentu. Malaka sudah berubah menjadi Kadipaten Islam, Pasai juga, Palembang juga, dan kini gerakan itu sudah semakin dekat dengan pusat kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua telah memperingatkan Sang Prabhu. Tak ketinggalan pula Sabdo Palon dan Naya Genggong. Namun, bagaikan berlalunya angin, Prabhu Brawijaya tetap tidak mendengarkannya. Raja Majapahit yang ditakuti ini, kini bagaikan harimau yang takluk dibawah kangkangan burung Merak, Dewi Anarawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Kutu dari Wengker dulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Berdirinya Giri Kedhaton&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blambangan ( Banyuwangi sekarang ), sekitar tahun 1450 Masehi terkena wabah penyakit. Hal ini dikarenakan ketidaksadaran masyarakatnya yang kurang mampu menjaga kebersihan lingkungan. Blambangan diperintah oleh Adipati Menak Sembuyu, didampingi Patih Bajul Sengara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabah penyakit itu masuk juga ke istana Kadipaten. Putri Sang Adipati, Dewi Sekardhadhu, jatuh sakit. Ditengah wabah yang melanda, datanglah seorang ulama dari Samudera Pasai ( Aceh sekarang ), yang masih berkerabat dekat dengan Syeh Ibrahim As-Samarqand, bernama Syeh Maulana Ishaq. Dia ahli pengobatan. Mendengar Sang Adipati mengadakan sayembara, dia serta merta mengikutinya. Dan berkat keahlian pengobatan yang dia dapat dari Champa, sang putri berangsur-angsur sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adipati Menak Sembuyu menepati janji. Sesuai isi sayembara, barangsiapa yang mampu menyembuhkan sang putri, jika lelaki akan dinikahkan jika perempuan akan diangkat sebagai saudara, maka, Syeh Maulana Ishaq dinikahkan dengan Dewi Sekardhadhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada perjalanan waktu selanjutnya, ketegangan mulai timbul. Ini disebabkan, Syeh Maulana Ishaq, mengajak Adipati beserta seluruh keluarga untuk memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan ini lama-lama berbuntut pengusiran Syeh Maulana Ishaq dari Blambangan. Perceraian terjadi. Dan waktu itu, Dewi Sekardhadhu tengah hamil tua. Keputusan untuk menceraikan Dewi Sekardhadhu dengan Syeh Maulana Ishaq ini diambil oleh Sang Adipati karena melihat stabilitas Kadipaten Blambangan yang semula tenang, lama-lama terpecah menjadi dua kubu. Kubu yang mengidolakan Syeh Maulana Ishaq dan kubu yang tetap menolak infiltrasi asing ke wilayah mereka. Kubu pertama tertarik pada ajaran Islam, sedangkan kubu kedua tetap tidak menyetujui masuknya Islam karena terlalu diskriminatif menurut mereka. Antar kerabat jadi terpecah belah, saling curiga dan tegang. Ini yang tidak mereka sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Syeh Maulana Ishaq, ternyata masalah belum usai. Kubu yang pro ulama Pasai ini, kini menantikan kelahiran putra sang Syeh yang tengah dikandung Dewi Sekardhadhu. Sosok Syeh Maulana Ishaq, kini menjadi laten bagi stabilitas Blambangan. Mendapati situasi ketegangan belum juga bisa diredakan, maka mau tak mau, Adipati Blambangan, dengan sangat terpaksa, memberikan anak Syeh Maulana Ishaq, cucunya sendiri kepada saudagar muslim dari Gresik. Anak itu terlahir laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita rakyat dari sumber Islam, konon dikisahkan anak itu dilarung ketengah laut (meniru cerita Nabi Musa) dengan menggunakan peti. Konon ada saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar. Kapal dagangnya tiba-tiba tidak bisa bergerak karena menabrak peti itu. Dan peti itu akhirnya dibawa naik ke geladak oleh anak buah sang saudagar. Isinya ternyata seorang bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya itu hanya cerita kiasan. Yang terjadi, saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar di Blambangan diperintahkan untuk menghadap ke Kadipaten menjelang mereka hendak balik ke Gresik. Inilah maksudnya kapal tidak bisa bergerak. Para saudagar bertanya-tanya, ada kesalahan apa yang mereka buat sehingga mereka disuruh menghadap ke Kadipaten? Ternyata, di Kadipaten, Adipati Menak Sembuyu, dengan diam-diam telah mengatur pertemuan itu. Sang Adipati memberikan seorang anak bayi, cucunya sendiri, yang lahir dari ayah seorang muslim. Anak itu dititipkan kepada para saudagar anak buah saudagar kaya di Gresik yang bernama Nyi Ageng Pinatih, yang seorang muslim. Adipati Menak Sembuyu tahu telah menitipkan cucunya kepada siapa. Beliau yakin, cucunya akan aman bersama Nyi Ageng Pinatih. Hanya dengan jalan inilah, Blambangan dapat kembali tenang.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Putra Syeh Maulana Ishaq ini, lahir pada tahun 1452 Masehi.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya dari Blambangan, para saudagar ini menghadap kepada majikan mereka, Nyi Ageng Pinatih sembari memberikan oleh-oleh yang sangat berharga. Seorang anak bayi keturunan bangsawan Blambangan. Bahkan dia adalah putra Syeh Maulana Ishaq, sosok yang disegani oleh orang-orang muslim. Nyi Ageng Pinatih tidak berani menolak sebuah anugerah itu. Diambillah bayi itu, dianggap anak sendiri. Karena bayi itu hadir seiring kapal selesai berlayar dari samudera, maka bayi itu dinamakan Jaka Samudera oleh Nyi Ageng Pinatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaka Samudera dibawa menghadap ke Ampeldhenta menjelang usia tujuh tahun. Dia tinggal disana. Belajar agama dari Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Ampel yang tahu siapa Jaka Samudera yang sebenarnya dari Nyi Ageng Pinatih, maka sosok anak ini sangat dia perhatikan dan diistimewakan. Sunan Ampel menganggapnya anak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Ampel, dari hasil perkawinannya dengan kakak kandung Adipati Tuban Arya Teja, memiliki delapan putra dan putri. Yang penting untuk diketahui adalah Makdum Ibrahim ( Nama Champa-nya : Bong- Ang : kelak terkenal dengan sebutan Sunan Benang. Lama-lama pengucapannya berubah menjadi Sunan Bonang). Yang kedua Abdul Qasim, terkenal kemudian dengan nama Sunan Derajat. Yang ketiga Maulana Ahmad, yang terkenal dengan nama Sunan Lamongan, yang keempat bernama Siti Murtasi’ah, kelak dijodohkan dengan Jaka Samudera, yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton (Sunan Giri), yang kelima putri bernama Siti Asyiqah, kelak dijodohkan dengan Raden Patah ( Tan Eng Hwat ), putra Tan Eng Kian, janda Prabhu Brawijaya yang ada di Palembang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Islam dibangun melalui tali pernikahan. Jaka Samudera, diberi nama lain oleh Sunan Ampel, yaitu Raden Paku. Kelak dia dikenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton. Dia adalah santri senior. Sunan Ampel bahkan telah mencalonkan, mengkaderkan dia sebagai penggantinya kelak bila sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Giri sangat radikal dalam pemahaman keagamannya. Setamat berguru dari Ampeldhenta, dia pulang ke Gresik. Di Gresik, dia menyatukan komunitas muslim disana. Dia mendirikan Pesantren. Terkenal dengan nama Pesantren Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam perkembangannya, Pesantren Giri memaklumatkan lepas dari kekuasaan Majapahit yang dia pandang Negara kafir. Pesantren Giri berubah menjadi pusat pemerintahan. Maka dikenal dengan nama Giri Kedhaton ( Kerajaan Giri ). Sunan Giri, mengangkat dirinya sebagi khalifah Islam dengan gelar Prabhu Satmata ( Penguasa Bermata Enam. Gelar sindiran kepada Deva Shiva yang cuma bermata tiga ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar Gresik melepaskan diri dari pusat kekuasan, Prabhu Brawijaya, sebagai Raja Diraja Nusantara yang sah, segera mengirimkan pasukan tempur untuk menjebol Giri Kedhaton. Darah tertumpah. Darah mengalir. Dan akhirnya, Giri Kedhaton bisa ditaklukkan. Kekhalifahan Islam bertama itu tidak berumur lama. Namun kelak, setelah Majapahit hancur oleh serangan Demak Bintara, Giri Kedhaton eksis lagi mulai tahun 1487 Masehi. (Sembilan tahun setelah Majapahit hancur pada tahun 1478 Masehi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sumber Islam, banyak cerita yang memojokkan pasukan Majapahit. Konon Sunan Giri berhasil mengusir pasukan Majapahit hanya dengan melemparkan sebuah kalam atau penanya. Kalam miliknya ini katanya berubah menjadi lebah-lebah yang menyengat. Sehingga membuat puyeng atau munyeng para prajurid Majapahit. Maka dikatakan, ‘kalam’ yang bisa membuat ‘munyeng’ inilah senjata andalan Sunan Giri. Maka dikenal dengan nama ‘Kalamunyeng’. Sesungguhnya, ini hanya kiasan belaka. Sunan Giri, melalui tulisan-tulisannya yang mengobarkan semangat ke-Islam-an, mampu mengadakan pemberontakan yang sempat ‘memusingkan’ Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena Sunan Ampel meminta pengampunan kepada Prabhu Brawijaya, Sunan Giri tidak mendapat hukuman. Tapi gerak-geriknya, selalu diawasi oleh Pasukan Telik Sandhibaya ( Intelejen ) Majapahit. Inilah kelemahan Prabhu Brawijaya. Terlalu meremehkan bara api kecil yang sebenarnya bisa membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabdo Palon dan Naya Genggong sudah mengingatkan agar seorang yang bersalah harus mendapatkan sangsi hukuman. Karena itulah kewajiban yang merupakan sebuah janji seorang Raja. Salah satu kewajiban menjalankan janji suci sebagai AGNI atau API, yang harus mengadili siapa saja yang bersalah. Janji ini adalah satu bagian integral dari tujuh janji yang lain, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;ul style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;li&gt;ANGKASHA (Ruang), Raja harus memberikan ruang untuk mendengarkan suara rakyatnya,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;VAYU (Angin), Raja harus mampu mewujudkan pemerataan kesejahteraan kepada rakyatnya bagai angin,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;AGNI (Api), Raja harus memberikan hukuman yang seadil-adilnya kepada yang bersalah tanpa pandang bulu bagai api yang membakar,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;TIRTA (Air), Raja harus mampu menumbuhkan kesejahteraan perekonomian bagi rakyatnya bagaikan air yang mampu menumbuhkan biji-bijian,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;PRTIVI (Tanah), Raja harus mampu memberikan tempat yang aman bagi rakyatnya, menampung semuanya, tanpa ada diskriminasi, bagaikan tanah yang mau menampung semua manusia,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;SURYA (Matahari), Raja harus mampu memberikan jaminan keamanan kepada seluruh rakyat tanpa pandang bulu seperti Matahari yang memberikan kehidupan kepada mayapada,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;CHANDRA (Bulan ), Raja harus mampu mengangkat rakyatnya dari keterbelakangan, dari kebodohan, dari kegelapan, bagaikan sang rembulan yang menyinari kegelapan dimalam hari, dan yang terakhir adalah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;KARTIKA (Bintang), Raja harus mampu memberikan aturan-aturan hukum yang jelas, kepastian hukum bagi rakyat demi kesejahteraan, kemanusiaan, keadilan, bagaikan bintang gemintang yang mampu menunjukkan arah mata angin dengan pasti dikala malam menjalang.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Inilah DELAPAN JANJI RAJA yang disebut ASTHAVRATA (Astobroto ; Jawa ). Dan menurut Sabdo Palon dan Naya Genggong, Prabhu Brawijaya telah lalai menjalankan janji sucinya sebagai AGNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati kondisi memanas seperti itu, Sunan Ampel mengeluarkan sebuah fatwa, Haram hukumnya menyerang Majapahit, karena bagaimanapun juga Prabhu Brawijaya adalah Imam yang wajib dipatuhi. Setelah keluar fatwa dari pemimpin Islam se-Jawa, konflik mulai mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagaimanapun juga, dikalangan orang-orang Islam diam-diam terbagi menjadi dua kubu. Yaitu kubu yang mencita-citakan berdirinya Kekhalifahan Islam Jawa, dan kubu yang tidak menginginkan berdirinya Kekhalifahan itu. Kubu kedua ini berpendapat, dalam naungan Kerajaan Majapahit, yang notabene Shiva Buddha, ummat Islam diberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadah agamanya. Bahkan, syari’at Islam pun boleh dijalankan didaerah-daerah tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubu pertama dipelopori oleh Sunan Giri, sedangkan kubu kedua dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Adipati Tuban Arya Teja, keponakan Sunan Ampel. Kubu Sunan Giri mengklaim, bahwa golongan mereka memeluk Islam secara kaffah, secara bulat-bulat, maka pantas disebut PUTIHAN (Kaum Putih). Dan mereka menyebut kubu yang dipimpin Sunan Kalijaga sebagai ABANGAN (Kaum Merah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit perpecahan didalam orang-orang Islam sendiri mulai muncul. Hal ini hanya bagaikan api dalam sekam ketika Sunan Ampel masih hidup. Kelak, ketika Majapahit berhasil dijebol oleh para militan Islam dan ketika Sunan Ampel sudah wafat, kedua kubu ini terlibat pertikaian frontal yang berdarah-darah ( Yang paling parah dan memakan banyak korban, sampai-sampai para investor dari Portugis melarikan diri ke Malaka dan menceritakan di Jawa tengah terjadi situasi chaos dan anarkhis yang mengerikan, adalah pertikaian antara Arya Penangsang, santri Sunan Kudus, penguasa Jipang Panolan dari kubu Putihan dengan Jaka Tingkir atau Mas Karebet, santri dari Sunan Kalijaga, penguasa Pajang dari kubu Abangan. Nanti akan saya ceritakan : Damar Shashangka ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berdirinya Ponorogo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker, sebenarnya masih keturunan bangsawan Majapahit. Beliau masih keturunan Raden Kudha Merta, ksatria dari Pajajaran yang melarikan diri bersama Raden Cakradhara. Raden Kudha Merta berhasil menikah dengan Shri Gitarja, putri Raden Wijaya, Raja Pertama Majapahit. Sedangkan Raden Cakradhara berhasil menikahi Tribhuwanatunggadewi, kakak kandung Shri Gitarja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkawinan antara Raden Cakradhara dengan Tribhuwanatunggadewi inilah lahir Prabhu Hayam Wuruk yang terkenal itu. Sedangkan Raden Kudha Merta, menjadi penguasa daerah Wengker, yang sekarang dikenal dengan nama Ponorogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Kutu adalah keturunan dari Raden Kudha Merta dan Shri Gitarja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Majapahit, dibawah pemerintahan Prabhu Brawijaya bagaikan harimau yang kehilangan taringnya, Ki Ageng Kutu, memaklumatkan perang dengan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya atau Prabhu Kertabhumi menjawab tantangan Ki Ageng Kutu dengan mengirimkan sejumlah pasukan tempur Majapahit dibawah pimpinan Raden Bathara Katong, putra selir beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peperangan terjadi. Pasukan Majapahit terpukul mundur. Hal ini disebabkan, banyak para prajurid Majapahit yang membelot dari kesatuannya dan memperkuat barisan Wengker. Pasukan yang dipimpin Raden Bathara Katong kocar-kacir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Bathara Katong yang merasa malu karena telah gagal menjalankan tugas Negara, konon tidak mau pulang ke Majapahit. Dia bertekad, bagaimanapun juga, Wengker harus ditundukkan. Inilah sikap seorang Ksatria sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang ulama Islam yang tinggal di Wengker yang mengamati gejolak politik itu. Dia bernama Ki Ageng Mirah. Situasi yang tak menentu seperti itu, dimanfaatkan olehnya. Dia mendengar Raden Bathara Katong tidak pulang ke Majapahit, dia berusaha mencari kebenaran berita itu. Dan usahanya menuai hasil. Dia berhasil menemukan tempat persembunyian Raden Bathara Katong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menawarkan diri bisa memberikan solusi untuk menundukkan Wengker karena dia sudah lama tinggal disana. Raden Bathara Katong tertarik. Namun diam-diam, Ki Ageng Mirah, menanamkan doktrin ke-Islam-an dibenak Raden Bathara Katong. Jika ini berhasil, setidaknya peng-Islam-an Wengker akan semakin mudah, karena Raden Bathara Katong mempunyai akses langsung dengan militer Majapahit. Jika-pun tidak berhasil membuat Raden Bathara Katong memeluk Islam, setidaknya, kelak dia tidak akan melupakan jasanya telah membantu memberitahukan titik kelemahan Wengker. Dan bila itu terjadi, Ki Ageng Mirah pasti akan menduduki kedudukan yang mempunyai akses luas menyebarkan Islam di Wengker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata, Raden Bathara Katong tertarik dengan agama baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Ki Ageng Mirah mengatur rencana. Raden Bathara Katong harus pura-pura meminta suaka politik di Wengker. Raden Bathara Katong harus mengatakan untuk memohon perlindungan kepada Ki Ageng Kutu. Dia harus pura-pura membelot dari pihak Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Kutu pasti akan menerima pengabdian Raden Bathara Katong. Ki Ageng Kutu pasti akan senang melihat Raden Bathara Katong telah membelot dan kini berada di fihaknya. Manakala rencana itu sudah berhasil, Raden Bathara Katong harus mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, putri sulung Ki Ageng Kutu sebagai istri. Mengingat status Raden Bathara Katong sebagai seorang putra Raja Majapahit, lamaran itu pasti akan disambut gembira oleh Ki Ageng Kutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila semua rencana berjalan mulus, Raden Bathara Katong harus mampu menebarkan pengaruhnya kepada kerabat Wengker. Dia harus jeli dan teliti mengamati titik kelemahan Wengker. Ni Ken Gendhini, putri Ki Ageng Kutu bisa dimanfaatkan untuk tujuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila semua sudah mulus berjalan, dan bila waktunya sudah tepat, maka Raden Bathara Katong harus sesegera mungkin mengirimkan utusan ke Majapahit untuk meminta pasukan tempur tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila semua berjalan lancar, Wengker pasti jatuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Bathara Katong melaksanakan semua rencana yang disusun Ki Ageng Mirah. Dan atas kelihaian Raden Bathara Katong, semua berjalan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Kutu, yang merasa masih mempunyai hubungan kekerabatan jauh dengan Raden Bathara Katong, dengan suka rela berkenan memberikan suaka politik kepadanya. Ditambah, ketika Raden Bathara Katong mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, Ki Ageng Kutu serta merta menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana bergulir. Umpan sudah dimakan. Tinggal menunggu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni Ken Gendhini mempunyai dua orang adik laki-laki, Sura Menggala dan Sura Handaka. (Sura Menggala = baca Suromenggolo, sampai sekarang menjadi tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo. Dikenal dengan nama Warok Suromenggolo : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni Ken Gendhini dan Sura Menggala berhasil masuk pengaruh Raden Bathara Katong, sedangkan Sura Handaka tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Bathara Katong berhasil mengungkap segala seluk-beluk kelemahan Wengker dari Ni Ken Gendhini. Inilah yang diceritakan secara simbolik dengan dicurinya Keris Pusaka Ki Ageng Kutu, yang bernama Keris Kyai Condhong Rawe oleh Ni Ken Gendhini dan kemudian diserahkan kepada Raden Bathara Katong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Condhong Rawe hanya metafora. Condhong berarti Melintang (Vertikal) dan Rawe berarti Tegak (Horisontal). Arti sesungguhnya adalah, kekuatan yang tegak dan melintang dari seluruh pasukan Wengker, telah berhasil diketahui secara cermat oleh Raden Bathara Katong atas bantuan Ni Ken Gendhini. Struktur kekuatan militer ini sudah bisa dibaca dan diketahui semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan manakala waktu sudah dirasa tepat, dengan diam-diam, dikirimkannya utusan kepada Ki Ageng Mirah. Utusan ini menyuruh Ki Ageng Mirah, atas nama Raden Bathara Katong, memohon tambahan pasukan tempur ke Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati kabar Raden Bathara Katong masih hidup, Prabhu Brawijaya segera memenuhi permintaan pengiriman pasukan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majapahit dan Wengker diadu! Majapahit dan Wengker tidak menyadari, ada pihak ketiga bermain disana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peperangan kembali pecah. Ki Ageng Kutu yang benar-benar merasa kecolongan, dengan marah mengamuk di medan laga bagai bantheng ketaton, bagai banteng yang terluka. Demi Dharma, dia rela menumpahkan darahnya diatas bumi pertiwi. Walau harus lebur menjadi abu, Ki Ageng Kutu, beserta segenap pasukan Wengker, maju terus pantang mundur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagaimanapun, seluruh struktur kekuatan Wengker telah diketahui oleh Raden Bathara Katong. Pasukan Wengker, yang terkenal dengan nama Pasukan Warok itu terdesak hebat! Namun, Ki Ageng Kutu beserta seluruh pasukannya telah siap untuk mati. Siap mati habis-habisan! Siap menumpahkan darahnya diatas hamparan pangkuan ibu pertiwi! Dengan gagah berani, pasukan ksatria ini terus merangsak maju, melawan pasukan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kepala pasukan Majapahit yang menangis melihat mereka harus bertempur dengan saudara sendiri. Banyak yang meneteskan air mata, melihat mayat-mayat prajurid Wengker bergelimpangan bermandikan darah. Dan pada akhirnya, Wengker berhasil dijebol. Wengker berhasil dihancurkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah menetes! Darah membasahi ibu pertiwi. Darah harum para ksatria sejati yang benar-benar tulus menegakkan Dharma! Alam telah mencatatnya! Alam telah merekamnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar kemenangan itu sampai di Majapahit. Namun, Prabhu Brawijaya berkabung mendengar kegagahan pasukan Wengker. Mendengar kegagahan Ki Ageng Kutu. Seluruh Pejabat Majapahit berkabung. Sabdo Palon dan Naya Genggong berkabung. Kabar kemenangan itu membuat Majapahit bersedih, bukannya bersuka cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat Majapahit menagis sedih melihat sesama saudara harus saling menumpahkan darah karena campur tangan pihak ketiga, karena disebabkan adanya pihak ketiga. Ki Ageng Kutu adalah seorang Ksatria yang gagah berani. Ki Ageng Kutu adalah salah satu sendi kekuatan militer Majapahit. Kini, Ki Ageng Kutu harus gugur ditangan pasukan Majapahit sendiri. Betapa tidak memilukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadipaten Wengker kini dikuasai oleh Raden Bathara Katong. Surat pengukuhan telah diterima dari pusat. Dan Wengker lantas dirubah namanya menjadi Kadipaten Ponorogo. Wengker yang Shiva Buddha, kini telah berhasil menjadi Kadipaten Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kubu Abangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama berdarah Majapahit, yang lahir di Kadipaten Tuban, yang sangat dikenal dikalangan masyarakat Jawa yaitu Sunan Kalijaga, mati-matian membendung gerakan militansi Islam. Beliau seringkali mengingatkan, bahwasanya membangun akhlaq lebih penting daripada mendirikan sebuah Negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga adalah putra Adipati Tuban, Arya Teja. Adipati Arya Teja adalah keturunan Senopati Agung Majapahit masa lampau, Adipati Arya Ranggalawe yang berhasil memimpin pasukan Majapahit mengalahkan pasukan Tiongkok Mongolia yang hendak menguasai Jawa ( Adipati Arya Ranggalawe adalah salah satu tangan kanan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adipati Arya Teja berhasil di Islamkan oleh Sunan Ampel. Bahkan kakak kandung beliau dinikahi Sunan Ampel. Dari pernikahan Sunan Ampel dengan kakak kandung Adipati Arya Teja, lahirlah Sunan Bonang, Sunan Derajat, Sunan Lamongan, dan lima putri yang lain (seperti yang telah saya tulis pada bagian pertama : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengikut Sunan Giri yang tidak sepaham dengan para pengikut Sunan Kalijaga, sering terlibat konflik-konflik terselubung. Di pihak Sunan Giri, banyak ulama yang bergabung, seperti Sunan Derajat, Sunan Lamongan, Sunan Majagung ( sekarang dikenal dengan Sunan Bejagung), Sunan Ngundung dan putranya Sunan Kudus, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipihak Sunan Kalijaga, ada Sunan Murya (sekarang dikenal dengan nama Sunan Muria), Syeh Jangkung, Syeh Siti Jenar, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus mengenai Syeh Siti Jenar atau juga disebut Sunan Kajenar, beliau adalah ulama murni yang menekuni spiritualitas. Beliau sangat-sangat tidak menyetujui gerakan kaum Putih yang merencanakan berdirinya Negara Islam Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertikaian ini mencapai puncaknya ketika Syeh Siti Jenar, menyatakan keluar dari Dewan Wali Sangha. Syeh Siti Jenar menyatakan terpisah dari Majelis Ulama Jawa itu. Beliau tidak mengakui lagi Sunan Ampel sebagai seorang Mufti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Didaerah Cirebon, Syeh Siti Jenar banyak memiliki pengikut.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala menjelang awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat dan kedudukan Mufti digantikan oleh Sunan Giri, keberadaan Syeh Siti Jenar dianggap sangat membahayakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua dinamika ini, terus diamati oleh intelejen Majapahit. Gerakan-gerakan militansi Islam mulai merebak dipesisir utara Jawa. Mulai Gresik, Tuban, Demak, Cirebon dan Banten. Para pejabat daerah telah mengirimkan laporan kepada Prabhu Brawijaya. Tapi Prabhu Brawijaya tetap yakin, semua masih dibawah kontrol beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keturunan di Pengging&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan Dewi Anarawati dengan Prabhu Brawijaya semakin dikukuhkan dengan diangkatnya putri Champa ini sebagai permaisuri. Keputusan yang sangat luar biasa ini menuai protes. Kesuksesan besar bagi Dewi Anarawati membuat para pejabat Majapahit resah. Bisa dilihat jelas disini, bila kelak Prabhu Brawijaya wafat, maka yang akan menggantikannya sudah pasti putra dari seorang permaisuri. Dan sang permaisuri beragama Islam. Dapat dipastikan, Majapahit akan berubah menjadi Negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luar Istana, Sunan Giri menyusun strategi memperkuat barisan militansi Islam. Dari dalam Istana, Dewi Anarawati mempersiapkan rencana yang brilian. Jika Sunan Giri gagal merebut Majapahit dengan cara pemberontakan, dari dalam istana, Majapahit sudah pasti bisa dikuasai oleh Dewi Anarawati. Bila rencana pertama gagal, rencana kedua masih bisa berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata, apa yang diharapkan Dewi Anarawati menuai hambatan. Dari hasil perkawinannya dengan Prabhu Brawijaya, lahirlah tiga orang anak. Yang sulung seorang putri, dinikahkan dengan Adipati Handayaningrat IV, penguasa Kadipaten Pengging ( sekitar daerah Solo, Jawa Tengah sekarang), putra kedua bernama Raden Lembu Peteng, berkuasa di Madura, dan yang ketiga Raden Gugur, masih kecil dan tinggal di Istana. (Kelak, Raden Gugur inilah yang terkenal dengan julukan Sunan Lawu, dipercaya sebagai penguasa mistik Gunung Lawu, yang terletak didaerah Magetan, hingga sekarang : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan yang dihadapi Dewi Anarawati adalah, putri sulungnya tidak tertarik memeluk Islam, begitu juga dengan Raden Gugur. Hanya Raden Lembu Peteng yang mau memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pernikahan putri sulung Dewi Anarawati dengan Adipati Handayaningrat IV, lahirlah dua orang putra, Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga. Keduanya juga tidak tertarik memeluk Islam. Si sulung bahkan pergi meninggalkan kemewahan Kadipaten dan menjadi seorang pertapa di Gunung Merapi ( didaerah Jogjakarta sekarang). Sampai sekarang, petilasan bekas pertapaan beliau masih ada dan berubah menjadi sebuah makam yang seringkali diziarahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otomatis, yang kelak menggantikan Adipati Handayaningrat IV sebagai Adipati Pengging, bahkan juga jika Prabhu Brawijaya mangkat, tak lain adalah adik Kebo Kanigara, yaitu Kebo Kenanga. Kelak, dia akan mendapat limpahan tahta Pengging maupun Majapahit! Inilah pewaris sah tahta Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebo Kenanga lantas dikenal dengan nama Ki Ageng Pengging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Ageng Pengging sangat akrab dengan Syeh Siti Jenar. Keduanya, yang satu beragama Shiva Buddha dan yang satu beragama Islam, sama-sama tertarik mendalami spiritual murni. Mereka berdua seringkali berdiskusi tentang ‘Kebenaran Sejati’. Dan hasilnya, tidak ada perbedaan diantara Shiva Buddha dan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kedekatan mereka ini disalah artikan oleh ulama-ulama radikal yang masih melihat kulit, masih melihat perbedaan. Syeh Siti Jenar dituduh mendekati Ki Ageng Pengging untuk mencari dukungan kekuatan. Dan konyolnya, Ki Ageng Pengging dikatakan sebagai murid Syeh Siti Jenar yang hendak melakukan pemberontakan ke Demak Bintara. Padahal Ki Ageng Pengging tidak tertarik dengan tahta. Walaupun sesungguhnya, memang benar bahwa beliau lah yang lebih berhak menjadi Raja Majapahit kelak ketika Majapahit berhasil dihancurkan oleh Raden Patah Dan juga, Ki Ageng Pengging bukanlah seorang muslim. Beliau dengan Syeh Siti Jenar hanyalah seorang ‘sahabat spiritual’. Hubungan seperti ini, tidak akan bisa dimengerti oleh mereka yang berpandangan dangkal. Ki Ageng Pengging dan Syeh Siti Jenar adalah seorang spiritualis sejati. Kelak, setelah Majapahit berhasil dihancurkan para militan Islam, dua orang sahabat ini menjadi target utama untuk dimusnahkan. Baik Syeh Siti Jenar maupun Ki Ageng Pengging gugur karena korban kepicikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Ki Ageng Pengging dan Syeh Siti Jenar dibuat hitam. Sampai sekarang, nama keduanya masih terus dihakimi sebagai dua orang yang sesat dikalangan Islam. Namun bagaimanapun juga, keharuman nama keduanya tetap terjaga dikisi-kisi hati tersembunyi masyarakat Jawa, walaupun tidak ada yang berani menyatakan kekagumannya secara terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ki Ageng Pengging inilah, lahir seorang tokoh terkenal di Jawa. Yaitu Mas Karebat atau Jaka Tngkir. Dan kelak menjadi Sultan Pajang setelah Demak hancur dengan gelar Sultan Adiwijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keturunan di Tarub&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan secara vulgar, suatu ketika Prabhu Brawijaya terserang penyakit Rajasinga atau syphilis. Para Tabib Istana sudah bekerja keras berusaha menyembuhkan beliau, tapi penyakit beliau tetap membandel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas inisiatif beliau sendiri, setiap malam beliau tidur di area Pura Keraton. Memohon kepada Mahadewa agar diberi kesembuhan. Dan konon, setelah beberapa malam beliau memohon, suatu malam, beliau mendapat petunjuk sangat jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keheningan meditasinya, lamat-lamat beliau ‘mendengar’ suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika engkau ingin sembuh, nikahilah seorang pelayan wanita berdarah Wandhan. Dan, inilah kali terakhir engkau boleh menikah lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat ‘wisik’ yang sangat jelas seperti itu, Prabhu Brawijaya termangu-mangu. Dan beliau teringat, di Istana ada beberapa pelayan Istana yang berasal dari daerah Wandhan (Bandha Niera, didaerah Sulawesi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, beliau memanggil para pelayan istana dari daerah Wandhan. Beliau memilih yang paling cantik. Ada seorang pelayan dari Wandhan, bernama Dewi Bondrit Cemara, sangat cantik. Diambillah dia sebagai istri selir. Dikemudian hari, Dewi Bondrit Cemara dikenal dengan nama Dewi Wandhan Kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menikahi Dewi Wandhan Kuning, dan setelah melakukan senggama beberapa kali, penyakit Sang Prabhu berangsur-angsur sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Sang Prabhu merasa perkawinannya dengan Dewi Wandhan Kuning harus dirahasiakan. Karena apabila kabar ini terdengar sampai ke daerah Wandhan, pasti para bangsawan Sulawesi merasa terhina oleh sebab Sang Prabhu bukannya mengambil salah seorang putri bangsawan Wandhan, tapi malah mengambil seorang pelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Wandhan Kuning mengandung, hingga akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki, putra ini lantas dititipkan kepada Kepala Urusan Sawah Istana, Ki Juru Tani. ( Waktu itu, Istana memiliki areal pesawahan khusus yang hasilnya untuk dikonsumsi oleh seluruh kerabat Istana.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ini diberi nama Raden Bondhan Kejawen (Bondhan perubahan dari kata Wandhan. Kejawen berarti yang telah berdarah Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Bondhan Kejawen dibesarkan oleh Ki Juru Tani. Dan manakala sudah berangsur dewasa, atas perintah Sang Prabhu, Raden Bondhan Kejawen dikirimkan kepada Ki Ageng Tarub, seorang Pandhita Shiva yang memiliki Ashrama di daerah Tarub ( sekitar Purwodadi, Jawa Tengah sekarang.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda pernah mendengar legenda Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan, maka inilah dia. Jaka Tarub yang konon mencuri selendang bidadari Dewi Nawangwulan dan lantas ditinggal oleh sang bidadari setelah sekian lama menjadi istri beliau karena ketahuan bahwa yang menyembunyikan selendang itu adalah Jaka Tarub sendiri. ( Saya tidak akan membedah simbolisasi legenda ini disini, karena tidak sesuai dengan topic yang saya bahas : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaka Tarub inilah yang lantas dikenal dengan nama Ki Ageng Tarub. Menginjak dewasa, Raden Bondhan Kejawen dinikahkan dengan Dewi Nawangsih, putri tunggal Ki Ageng Tarub. Dan kelak Raden Bondhan Kejawen bergelar Ki Ageng Tarub II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil perkawinan Raden Bondhan Kejawen dengan Dewi Nawangsih, lahirlah Raden Getas Pandhawa. Dari Raden Getas Pandhawa, lahirlah Ki Ageng Sela yang hidup sejaman dengan Sultan Trenggana, Sultan Demak ketiga. Ki Ageng Sela inilah tokoh yang konon bisa memegang petir sehingga menggegerkan seluruh Kesultanan Demak (simbolisasi lagi, kapan-kapan saya ulas : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang nama Ki Ageng Sela terkenal di tengah masyarakat Jawa. Ki Ageng Sela inilah keturunan Tarub yang mulai beralih memeluk Islam. Beliau berguru kepada Sunan Kalijaga. Perpindahan agama ini berjalan dengan damai. Nama Islam beliau adalah Ki Ageng Abdul Rahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ki Ageng Sela, lahirlah Ki Ageng Mangenis Sela. Dari Ki Ageng Mangenis Sela, lahirlah Ki Ageng Pamanahan. Dan dari Ki Ageng Pamanahan lahirlah Panembahan Senopati Ing Ngalaga, tokoh terkenal pendiri dinasti Mataram Islam dikemudian hari. [Panembahan Senopati Ing Ngalaga Mataram inilah leluhur Para Sultan Kasultanan Jogjakarta, Para Sunan Kasunanan Surakarta (Solo), Pakualaman dan Mangkunegaran sekarang].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peng-Islam-an keturunan Raden Bondhan Kejawen, berlangsung dengan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Raden Patah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat putri China Tan Eng Kian yang dinikahi Adipati Arya Damar di Palembang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pernikahan dengan Prabhu Brawijaya, Tan Eng Kian memiliki seorang putra bernama Tan Eng Hwat. Dikenal juga dengan nama muslim Raden Hassan. Dari perkawinan Tan Eng Kian dengan Arya Damar sendiri, lahirlah seorang putra bernama Kin Shan, dikenal dengan nama muslim Raden Hussein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, Raden Hassan dan Raden Hussein dididik secara Islam oleh ayahnya Arya Damar. Menjelang dewasa, Raden Hassan memohon ijin kepada ibunya untuk pergi ke Jawa. Dia berkeinginan untuk bertemu dengan ayah kandungnya, Prabhu Brawijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Eng Kian tidak bisa menghalangi keinginan putranya. Dari Palembang, Raden Hassan bertolak ke Jawa. Sampailah ia di pelabuhan Gresik yang ramai. Melihat keadaan Gresik yang hiruk-pikuk, Raden Hassan kagum. Dia bisa membayangkan bagaimana besarnya kekuasaan Majapahit. Menilik di Gresik banyak orang muslim, Raden Hassan tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengar-dengar, ada Pesantren besar disana. Pesantren Giri. Raden Hassan memutuskan untuk bertandang ke Giri. Bertemulah dia dengan Sunan Giri. Sunan Giri senang melihat kedatangan Raden Hassan setelah mengetahui dia adalah putra Prabhu Brawijaya yang lahir di Palembang. Sunan Giri seketika melihat sebuah peluang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Giri, Raden Hassan memperdalam ke-Islaman-nya. Disana, Raden Hassan mulai tertarik dengan ide-ide ke-Khalifah-an Islam. Dan militansi Raden Hassan mulai terbentuk. Ada kesepakatan pemahaman antara Raden Hassan dengan Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sunan Giri, Raden Hassan memperoleh ide untuk meminta daerah otonomi khusus kepada ayahnya, Prabhu Brawijaya. Bila disetujui, hendaknya Raden Patah memilih daerah di pesisir Jawa bagian tengah. Jika itu terwujud, keberadaan daerah otonomi didaerah pesisir utara Jawa bagian tengah, akan menjadi penghubung pergerakan militant Islam dari Jawa Timur dan Jawa Barat di Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirebon, kini tumbuh pesat sebagai pusat kegiatan Islam dibawah pimpinan Pangeran Cakrabhuwana, putra kandung Prabhu Siliwangi, Raja Pajajaran. (Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah belum datang dari Mesir ke Cirebon. Dia datang pada tahun 1475 Masehi. Pada bagian selanjutnya akan saya ceritakan : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup, Raden Hassan melanjutkan perjalanan ke Pesantren Ampel dengan diiringi beberapa santri Sunan Giri. Disana dia disambut suka cita oleh Sunan Ampel. Disana, dia diberi nama baru oleh Sunan Ampel, yaitu Raden Abdul Fattah yang lantas dikenal masyarakat Jawa dengan nama Raden Patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai bertandang di Ampel, Raden Hassan yang kini dikenal dengan nama Raden Patah melanjutkan perjalanan ke ibu kota Negara Majapahit. Dia yang semula hanya berniat untuk bertemu dengan ayahnya, sekarang dia telah membawa misi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa suka cita Prabhu Brawijaya mendapati putra kandungnya telah tumbuh dewasa. Dan manakala, Raden Patah memohon anugerah untuk diberikan daerah otonom, Prabhu Brawijaya mengabulkannya. Raden Patah meminta daerah pesisir utara Jawa bagian tengah. Dia memilih daerah yang dikenal dengan nama Glagah Wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya menyetujui permintaan Raden Patah. Dia mendanai segala keperluan untuk membangun daerah baru. Raden Patah, dengan disokong tenaga dan dana dari Majapahit, berangkat ke Jawa Tengah. Di daerah pesisir utara, didaerah yang dipenuhi tumbuhan pohon Glagah, dia membentuk pusat pemerintahan Kadipaten baru. Begitu pusat Kadipaten dibentuk, dinamailah tempat itu Demak Bintara. Dan Raden Patah, dikukuhkan oleh Sang Prabhu Brawijaya sebagai penguasa wilayah otonom Islam baru disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demak Bintara berkembang pesat. Selain menjadi pusat kegiatan politik, Demak Bintara juga menjadi pusat kegiatan keagamaan. Demak Bintara menjadi jembatan penghubung antara barat dan timur pesisir utara Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipesisir utara Jawa, gerakan-gerakan militan Islam mulai menguat. Sayang, fenomena itu tetap dipandang sepele oleh Prabhu Brawijaya. Beliau tetap yakin, dominasi Majapahit masih mampu mengontrol semuanya. Padahal para pejabat daerah yang dekat dengan pesisir utara sudah melaporkan adanya kegiatan-kegiatan yang mencurigakan. Pasukan Telik Sandhibaya telah memberikan laporan serius tentang adanya kegiatan yang patut dicurigai akan mengancam kedaulatan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, Raden Hussein, putra Tan Eng Kian dengan Arya Damar, menyusul ke Majapahit. Dia mengabdikan diri sebagai tentara di Majapahit. Raden Hussein tidak terpengaruh ide-ide pendirian ke-Khalifah-an Islam. Dia diangkat sebagai Adipati didaerah Terung ( Sidoarjo, sekarang ) dengan gelar, Adipati Pecattandha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kebaikan hati Prabhu Brawijaya sangat besar kepadanya. Tapi kebaikan yang tidak disertai kebijaksanaan bukanlah kebaikan. Dan hal ini pasti akan menuai masalah dikemudian hari. Bibit-bibit itu mulai muncul, tinggal menunggu waktu untuk pecah kepermukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Prabhu Brawijaya tidak pernah menyangka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;DETIK-DETIK PEMBERONTAKAN&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demak Bintara berkembang pesat. Tempat ini dirasa strategis untuk pengembangan militansi Islam karena letaknya agak jauh dari pusat kekuasaan. Di Demak Bintara, para ulama-ulama Putihan sering mengadakan pertemuan. Jadilah Demak Bintara dikenal sebagai Kota Seribu Wali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1475 Masehi, seorang ulama berdarah Mesir-Sunda datang dari Mesir. Dia adalah Syarif Hidayatullah. Dia datang bersama ibunya Syarifah Muda’im. Syarifah Muda’im adalah putri Pajajaran. Putri dari Prabhu Silihwangi penguasa Kerajaan Pejajaran. (Hanya Kerajaan ini yang tidak masuk wilayah Majapahit. Walau kecil, Pajajaran terkenal kuat. Anda bisa membayangkan adanya Timor Leste sekarang. Seperti itulah keadaan Majapahit dan Pajajaran. : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama asli Syarifah Muda’im adalah Dewi Rara Santang. Dia bersama kakaknya Pangeran Walangsungsang, tertarik mempelajari Islam. Ketika berada di Makkah, Dewi Rara Santang dipinang oleh bangsawan Mesir, Syarif Abdullah. Menikahlah Dewi Rara Santang dengan bangsawan ini. Dan namanya berganti Syarifah Muda’im. Dari pernikahan ini, lahirlah Syarif Hidayatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Walang Sungsang, mendirikan daerah hunian baru di pesisir utara Jawa barat. Dikenal kemudian dengan nama Tegal Alang-Alang. Lantas berubah menjadi Caruban. Berubah lagi menjadi Caruban Larang. Pada akhirnya, dikenal dengan nama Cirebon sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Walang Sungsang, dikenal kemudian dengan nama Pangeran Cakrabhuwana. Oleh ayahandanya, Prabhu Silihwangi diberikan gelar kehormatan Shri Manggana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarif Hidayatullah, keponakan Pangeran Cakrabhuwana lantas dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat. Sunan Giri terpilih sebagai penggantinya. Pusat Majelis Ulama Jawa kini berpindah ke Giri Kedhaton. Dan, pada waktu inilah tragedi Syeh Siti Jenar terjadi. Syeh Siti Jenar dipanggil ke Giri Kedhaton dan disidang oleh Dewan Wali Sangha dibawah pimpinan Sunan Giri. Walau tidak mengakui keberadaan Majelis Ulama Jawa, beliau tetap hadir. Beliau dituduh telah menyebarkan aliran sesat. Adapula yang menuduh sebagai antek-antek Syi’ah. Ada juga yang mengatakan beliau ahli sihir, dan lain sebagainya. (Akan saya buat catatan tersendiri tentang beliau : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sidang pertama para ulama yang tergabung dalam Dewan Wali Sangha tidak bisa menemukan kesalahan Syeh Siti Jenar. Sehingga, beliau lantas dibebaskan dari segala tuduhan. Namun bagaimanapun juga, Syeh Siti Jenar adalah duri didalam daging bagi mereka. Maka sejak saat itu, kesalahan-kesalahan beliau senantiasa dicari-cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsentrasi Dewan Wali Sangha terpecah pada rencana perebutan kekuasaan. Melalui serangkaian musyawarah yang pelik, maka disimpulkan, kekuatan militansi Islam sudah cukup siap untuk mengadakan perebutan kekuasaan. Raden Patah, Adipati Demak Bintara, terpilih secara mutlak sebagai pemimpin gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubu Abangan, tidak menghadiri musyawarah ini. Apalagi semenjak Dewan Wali Sangha atau Majelis Ulama Jawa dipegang Sunan Giri, hubungan kubu Putihan dan kubu Abangan kian meruncing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga dan para pengikutnya hanya mau membantu Dewan Wali Sangha merampungkan pembangunan Masjid Demak. Selebihnya, mereka tidak ikut campur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan sudah matang. Tinggal memilih hari yang ditentukan. Pasukan Telik Sandhibaya ( Intelejen ) Majapahit mengendus rencana ini. Prabhu Brawijaya mendapat laporan para pasukan Intelejen yang ada disekitar Demak Bintara. Sayangnya, beliau tidak begitu mempercayainya. Beliau berkeyakinan, tidak mungkin Raden Patah, putra kandungnya sendiri akan nekad berbuat seperti itu. Prabhu Brawijaya tidak memahami betapa besar milatansi orang yang sudah terdoktrin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan manakala pergerakan pasukan besar-besaran terdengar, yaitu pasukan orang-orang Islam Putihan, gabungan dari seluruh lasykar yang ada di wilayah pesisir utara Jawa timur sampai Jawa barat mulai bergerak. Keadaan menjadi gempar! Para Pejabat daerah kalang kabut. Mereka tidak menyangka orang-orang Islam sedemikian banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap daerah yang dilalui pasukan ini, tidak ada yang bisa membendung. Kekuatan mereka cukup besar. Persiapan mereka cukup tertata. Sedangkan daerah-daerah yang dilalui, tidak mempunyai persiapan sama sekali. Daerah perdaerah yang dilewati, harus melawan sendiri-sendiri. Tidak ada penyatuan pasukan dari daerah satu dengan daerah lain. Semua serba mendadak. Dan tak ada pilihan lain kecuali melawan atau mundur teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan pasukan ini cukup kuat. Para Adipati yang berhasil mundur segera melarikan diri ke ibu kota Negara. Mereka melaporkan agresi mendadak pasukan pesisir yang terdiri dari orang-orang Islam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari mereka, Prabhu Brawijaya mendapat laporan yang mencengangkan, yaitu telah terjadi pergerakan pasukan dari Demak Bintara. Pasukan berpakaian putih-putih. Berbendera tulisan asing! Berteriak-teriak dengan bahasa yang tidak dimengerti! Pasukan ini dapat dipastikan adalah pasukan orang-orang Islam. Dan kini, tengah bergerak menuju ibu kota Negara Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya tidak percaya Prabhu Brawijaya mendengarnya. Laporan pasukan Telik Sandhibaya selama ini telah menjadi kenyataan.. Namun, Prabhu Brawijaya tetap tidak bisa mengerti, mana mungkin Raden Patah berbuat seperti itu. Mana mungkin orang-orang Islam berani dan tega mengadalan pemberontakan. Selama ini, Majapahit telah memberikan bantuan material yang tidak sedikit bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada Prabhu Brawijaya seketika serasa sesak bagai dihantam palu! Bergemuruh mendidih! Beliau menyebut Nama Mahadeva berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh pembesar Majapahit tegang. Mereka menantikan komando Sang Prabhu. Waktu berjalan cepat. Sang Prabhu masih belum mengeluarkan titah apapun. Pergerakan pasukan sudah memasuki Madiun, sebentar lagi mencapai wilayah Kadhiri, sudah teramat dekat dengan ibu kota Negara. Pertempuran-pertempuran penghadangan telah terjadi secara otomatis. Dan semua telah masuk menjadi laporan bagi Sang Prabhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada laporan yang menyatakan, beberapa daerah yang terpengaruh Islam, malah ikut bergabung dengan pasukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adipati Kertosono ( wilayah Kediri sekarang ) mengirimkan utusan khusus kepada Sang Prabhu untuk segera mengeluarkan perintah perang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Prabhu masih termangu-mangu. Dan manakala terdengar Adipati Kertosono melakukan perlawanan mati-matian tanpa menunggu komando beliau, barulah Sang Prabhu tersadar! Segera beliau memerintahkan seluruh pasukan Majapahit untuk mempersiapkan sebuah perang besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Panglima yang telah menanti-nantikan perintah ini menyambut dengan suka cita! Inilah yang mereka nanti-nantikan! Tanpa menunggu waktu lama, seluruh kekuatan Majapahit segera dipersiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Majapahit telah siap sedia menyambut kedatangan pasukan Demak Bintara. Dan sekali lagi, mereka tinggal menunggu perintah untuk MENYERANG!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan komando terakhir inipun tidak segera keluar. Pasukan Majapahit resah. Para Panglima cemas. Para kepala pasukan tempur digaris depan terus mendesak kepada Para Panglima masing-masing agar segera mengeluarkan perintah penyerangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Panglima juga mendesak Sang Senopati Agung, meminta kepada Prabhu Brawijaya untuk segera memberikan komando terakhir. Perlu dicatat, salah satu panglima yang memperkuat barisan Majapahit adalah Adipati Terung, adik tiri Raden Patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hatinya bertanya-tanya, ada apakah dengan kakak tirinya sehingga mengadakan gerakan makar sedemikian rupa? Selama ini, dia tidak melihat ada yang salah dengan pemerintahan Prabhu Brawijaya. Tidak ada diskriminasi dalam hal keagamaan. Dirinya yang muslim-pun, bisa bebas menjalankan ibadah agamanya. Bahkan, bisa dipercaya menjabat sebagai seorang Adipati, yang notabene bukan jabatan main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adipati Terung tidak bisa memahami pola pikir kakak tirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perintah penyerangan tidak juga segera turun. Seluruh pasukan yang sudah bersiap sedia dibarak masing-masing, dilanda ketegangan yang luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Istana, Para Mantri resah. Melihat situasi ini, Sabdo Palon dan Naya Genggong meminta Sang Prabhu untuk segera mengeluarkan perintah. Namun apa jawaban Sang Prabhu? Beliau masih tidak yakin pasukan Demak akan tega menyerang ibu kota Negara Majapahit. Sabdo Palon dan Naga Genggong menandaskan, cara berfikir Raden Patah dan para pasukan ini sudah lain. Sang Prabhu tidak akan bisa memahaminya. Jalan satu-satunya sekarang adalah, menghadapi mereka secara frontal. Pada saat ini, tidak ada cara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan manakala kabar terdengar pasukan Demak telah merangsak maju dan memasuki pinggiran ibu kota Majapahit, dan disana mereka mengadakan perusakan hebat. Dengan sangat terpaksa, Sang Prabhu mengeluarkan perintah penyerangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, perintah itu telah terlambat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu keluar perintah penyerangan, ada hal yang tidak terduga. Pasukan Ponorogo dan beberapa daerah yang lain membelot! Diketahui kemudian ternyata mereka adalah pasukan dari daerah-daerah yang sudah muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, peperangan terjadi !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peperangan yang besar. Darah tertumpah ! Senopati Demak dipimpin oleh Sunan Ngundung. Dan dipihak Majapahit, Senopati dipegang oleh Arya Lembu Pangarsa. Prajurid Majapahit mengamuk di medan laga. Para prajurid yang sudah berpengalaman tempur ini dan disegani diseluruh Nusantara, sekarang tidak main-main lagi! Adipati Sengguruh, Raden Bondhan Kejawen yang masih belia, Adipati Terung, Adipati Singosari dan yang lain ikut mengamuk dimedan laga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, banyak kesatuan-kesatuan Majapahit yang berasal dari daerah muslim, membelot. Namun, pada hari pertama, pasukan Demak Bintara terpukul mundur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kedua, pasukan Demak terpukul lebih telak. Senopati Demak, Sunan Ngundung tewas! (Makamnya masih ada di Trowulan, Mojokerto sampai sekarang.) Pasukan Demak mengundurkan diri. Pasukan cadangan masuk dipimpin oleh putra Sunan Ngundung, Sunan Kudus. Pertempuran kembali pecah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagaimanapun juga, pasukan Demak harus mengakui kekuatan pasukan Majapahit. Mereka terpukul mundur keluar dari ibu kota Negara. Kehebatan pasukan Majapahit yang terkenal itu, ternyata terbukti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Demak bertahan. Beberapa minggu kemudian, datang pasukan dari Palembang bergabung dengan pasukan Majapahit. Pasukan Majapahit seolah mendapat suntikan darah segar. Namun ternyata, bergabungnya pasukan Palembang ini hanyalah bagian dari siasat dari orang-orang Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Palembang, diam-diam memusnahkan seluruh persediaan bahan makanan tentara Majapahit. Lumbung-lumbung besar dibakar! Semua persediaan bahan pangan ludes! ( Inilah simbolisasi dari didatangkannya peti ajaib milik Adipati Arya Damar dari Palembang yang apabila dibuka, mampu mengeluarkan beribu-ribu tikus dan memakan seluruh beras dan bahan pangan tentara Majapahit. : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majapahit kebobolan luar dalam. Majapahit benar-benar tidak pernah menyangka akan hal itu. Begitu persediaan bahan pangan menipis, dari hari kehari, pelan namun pasti, pasukan Majapahit terpukul mundur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pasukan Majapahit terdesak, Kepala Pasukan Bhayangkara, yaitu Pasukan Khusus Pengawal Raja, segera mengamankan Prabhu Brawijaya. Keadaan sudah sedemikian genting dan Sang Prabhu, mau tidak mau, harus segera meloloskan diri. Ini harus dilakukan secepatnya, karena untuk menyatukan kembali kekuatan tentara Majapahit kelak, sosok Prabhu Brawijaya, masih dibutuhkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dikawal Pasukan Bhayangkara, Prabhu Brawijaya segera keluar dari Istana. Pasukan Bhayangkara memutuskan agar Sang Prabhu menyelamatkan diri ke Pulau Bali. Pulau yang kondusif untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kekacauan itu, Dewi Anarawati, diam-diam dibawa oleh pasukan Islam ke Gresik. Putra bungsu Dewi Anarawati, Raden Gugur yang masih kecil, diselamatkan oleh pasukan Ponorogo dan dibawa ke Kadipaten Ponorogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya, Majapahit bisa dijebol. Seluruh Istana dirusak dan dibakar!. Perusakan terjadi dimana-mana. (Maka jangan heran, sampai sekarang bekas Istana Majapahit yang terkenal di Nusantara itu, musnah tak berbekas. : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya, terjadilah tragedi kemanusiaan yang sampai sekarang ‘ditutupi’. Perang yang semula melibatkan dua kekuatan militer Majapahit dan Demak, kini merembet menjadi perang sipil. Mereka yang merasa diatas angin, kini menjadi sosok malaikat maut. Pertumpahan darah terjadi. Masyarakat Majapahit yang masih memegang keyakinan lama, berhadapan secara frontal dengan mereka yang telah berpindah keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana-mana, situasi anarkhis terjadi. Dimana-mana dua kubu ini bentrok. Dimana-mana kekacauan merajalela. Jawa dalam situasi chaos! Ibu pertiwi menangis. Ibu pertiwi terluka. Putra-putranya kini tengah saling menumpahkan darah hanya karena di salah satu pihak tengah dilanda ‘ketidaksadaran’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat tragedi yang mencerabut segala sendi-sendi masyarakat Majapahit ini, bangunan-bangunan indah dari Kerajaan Agung Majapahit, musnah tak berbekas! Majapahit yang terkenal sebagai Macan Asia, ludes dibabat habis. Di Jawa Timur, Majapahit seolah-olah hanya sebuah mitos belaka, karena banyak peninggalan dari jaman keemasan Nusantara ini, hancur karena kepicikan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sedikit yang tersisa. Dan yang sedikit itulah yang masih bisa kita saksikan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksodus besar-besaran terjadi. Para Agamawan, Para Bangsawan dan rakyat yang tetap memegang teguh keyakinannya, menyingkir ketempat-tempat yang dirasa aman. Kebanyakan menyeberang ke Bali, Kalimantan dan Lombok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang putri selir Prabhu Brawijaya yang melarikan diri bersama sisa-sisa prajurit Majapahit dan beberapa penduduk. Dia bernama Dewi Rara Anteng. Bersama suaminya Raden Jaka Seger, dia menyingkir ke pegunungan Bromo. Sampai sekarang keturunan mereka masih ada disana, dikenal dengan nama suku Tengger. Diambil dari nama Dewi Rara An-TENG dan Raden Jaka Se-GER.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah pegunungan Bromo, pasukan Demak memang tidak bisa menjangkau. Medannya cukup sulit dan terisolir. (Suku Tengger baru membuka diri pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno. Ketika disensus dan ditanyakan apa agama mereka, mereka menyatakan beragama Budo. Padahal ritual yang mereka jalankan lebih dekat ke agama Hindhu dari pada agama Buddha. Para petugas sensus tidak tahu, istilah Hindhu memang tidak dikenal pada jaman Majapahit. Yang terkenal adalah agomo Siwo Budo atau hanya disebut wong Budo saja. : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dikawal oleh Pasukan Bhayangkara dan beberapa kesatuan pasukan yang tersisa, Prabhu Brawijaya menyingkir ke arah timur. Dan untuk sementara, beliau tinggal di Blambangan. Adipati Blambangan, memperkuat barisan pasukan ini. Dan tak hanya itu, para penduduk Blambangan-pun dengan suka rela ikut menggabungkan diri. Mereka benar-benar melindungi Prabhu Brawijaya ekstra ketat. Mereka siap tempur di Blambangan. Keadaan darurat diberlakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ada di Blambangan, Prabhu Brawijaya terus terusik batinnya. Raden Patah, yang biasa beliau banggil dengan nama Patah itu, ternyata telah tega melakukan ini semua. Kebaikan beliau selama ini dibalas dengan racun. Sabdo Palon dan Naya Genggong menabahkan hati Sang Prabhu. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak patut disesali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saatnya untuk menata kembali yang tersisa. Dan untuk tujuan itu, Prabhu Brawijaya harus menyeberang ke Pulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sirna Ilang Kerthaning Bhumi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perintah Raden Patah, Senopati Demak Bintara Sunan Kudus menemui Adipati Terung, adik kandung Raden Patah dengan membawa pasukan Demak Bintara. Adipati Terung di ultimatum agar menyerah, atau dihancurkan. Adipati Terung dalam dilema. Pada akhirnya, dia menyatakan ‘menyerah’ kepada Demak Bintara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian, Raden Patah datang dari Demak untuk melihat langsung kemenangan pasukannya. Raden Patah meminta semua laporan dari kepala pasukan Demak. Diketahui kemudian, Prabhu Brawijaya berhasil meloloskan diri. Pasukan Bhayangkara Majapahit atau Pasukan Khusus Pengawal Raja, memang terkenal lihai melindungi junjungan mereka. Tak ada satupun kepala pasukan Demak yang mengetahui bagaimana Pasukan Bhayangkara bisa menerobos kepungan rapat Pasukan Islam dan kearah mana mereka membawa Sang Prabhu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Patah segera menyebar pasukan mata-mata untuk melacak keberadaan Sang Prabhu. Dan Raden Patah sendiri segera melanjutkan perjalanan untuk bertandang ke Pesantren Ampel di Surabaya. Dia hendak mengabarkan kemenangan besar ini kepada janda Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surabaya situasi anarkhis-pun merajalela. Nyi Ageng Ampel, begitu mendengar laporan Raden Patah, marah! Dengan tegas beliau menyatakan, apa yang dilakukan Raden Patah adalah sebuah kesalahan besar. Dia telah berani melanggar wasiat gurunya sendiri, Sunan Ampel, yang mewasiatkan sebelum beliau wafat, melarang orang-orang Islam merebut tahta Majapahit. Dan juga, Raden Patah telah berani melawan seorang Imam yang sah, seorang Umaro’ tidak seharusnya dilawan tanpa ada alasan yang jelas. Dan yang ketiga, Raden Patah telah berani durhaka kepada ayah kandungnya sendiri yang telah melimpahkan segala kebaikan bagi dirinya serta orang-orang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyi Ageng Ampel menangis. Raden Patah terketuk hati nuraninya, dia ikut mencucurkan air mata. Didepan Nyi Ageng Ampel, Raden Patah mencium kaki beliau, menangis, menyesali perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berurai air mata, Raden Patah meminta solusi kepada Nyi Ageng Ampel. Dan Nyi Ageng Ampel memerintahkan kepadanya untuk segera mencari keberadaan Prabhu Brawijaya. Dan apabila sudah diketemukan, seyogyanya, Prabhu Brawijaya dikukuhkan kembali sebagai seorang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perintah itu, secara emosional Raden Patah berniat mencari ayahandanya sendiri bersama beberapa orang prajurid Demak. Tapi Nyi Ageng Ampel mencegahnya. Dalam situasi anarkhis seperti ini, tidak memungkinkan bagi dia untuk mencari beliau sendiri. Dikhawatirkan, akan terjadi kesalah pahaman. Dan sekarang, di mata Prabhu Brawijaya, dirinya dan seluruh umat Islam yang menyokong pergerakan pasukan Demak, tidak mungkin dipercaya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keluar yang terbaik adalah, meminta bantuan Sunan Kalijaga atau Syeh Siti Jenar untuk mewakili dirinya, mencari Prabhu Brawijaya dan apabila sudah bisa ditemukan, memohon kepada Prabhu Brawijaya agar kembali ke Majapahit. Sudah bukan rahasia lagi dikalangan Istana, dua ulama besar ini tidak terlibat dalam penyerangan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Syeh Siti Jenar, baru saja disidang oleh Dewan Wali Sangha yang mengakibatkan hubungan beliau dengan Para Wali sekaligus dengan Raden Patah dalam situasi yang tidak mengenakkan, maka Raden Patah memutuskan untuk mengirim pasukan khusus menemui Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga, dimohon menghadap ke Pesantren Ampel atas permintaan Nyi Ageng Ampel dan Raden Patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Sunan Kalijaga datang ke Surabaya. Beliau waktu itu berada di Demak Bintara, memfokuskan diri memimpin pembangunan Masjid Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga, Nyi Ageng Ampel dan Raden Patah, terlibat perundingan yang serius. Dan pada akhirnya, Sunan Kalijaga menyetujui untuk mengemban tugas mulia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, laporan dari pasukan mata-mata Demak Bintara diterima Raden Patah. Diketahui, ada konsentrasi besar pasukan Majapahit diwilayah Blambangan. Diketahui pula, Prabhu Brawijaya ada disana. Ada kabar terpetik, Prabhu Brawijaya hendak menyeberang ke pulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati informasi yang dapat dipercaya seperti itu, Sunan Kalijaga, diiringi beberapa santrinya, segera berangkat ke Blambangan. Dia siap mengambil segala resiko yang bakal terjadi. Dengan memakai pakaian rakyat sipil yang tidak mencolok mata, demi untuk menghindari kesalah pahaman, dia berangkat. Disetiap daerah yang dilalui, Sunan Kalijaga beserta rombongan melihat pemandangan yang memilukan. Kekacauaan ada dimana-mana. Penduduk yang masih memegang keyakinan lama, bentrok dengan penduduk yang sudah mengganti keyakinannya. Korban berjatuhan. Nyawa melayang karena kepicikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan ini harus pandai-pandai memilih jalan. Kadangkala memutar kalau dirasa perlu. Mereka sengaja menghindari tempat keramaian. Mereka lebih memilih menerobos hutan belantara demi menjaga keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, manakala mereka sudah tiba di Blambangan, Sunan Kalijaga, menunjukkan statusnya. Dengan mengibarkan bendera putih tanda gencatan senjata, dia memasuki kota Blambangan yang mencekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para prajurit Majapahit terkejut melihat ada serombongan kecil orang-orang muslim memasuki kota Blambangan. Mereka mengibarkan bendera putih. Mereka bukan tentara. Mereka tidak bersenjata. Serta merta, kedatangan mereka dihadang oleh pasukan Majapahit. Dan mereka tidak diperkenankan memasuki kota. Prajurit Majapahit, siap tempur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Sunan Kalijaga menunjukkan siapa dirinya. Dia meminta kepada kepala prajurit agar menyampaikan pesan kepada Prabhu Brawijaya, bahwasanya dia, Raden Sahid atau Sunan Kalijaga, datang sebagai duta dan memohon menghadap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan terjadi. Rombongan kecil ini diujung tanduk. Nyawa mereka terancam. Namun mereka yakin, prajurit Majapahit bisa membedakan, mana musuh dalam medan laga dan mana musuh dalam status duta. Mereka tidak akan berani mencelakai seorang duta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan sedikit mencair manakala ada pesan dari Sang Prabhu yang mengabulkan permohonan Sunan Kalijaga untuk menghadap kepada beliau. Prabhu Brawijaya tahu bagaimana menghormati seorang duta. Prabhu Brawijaya-pun tahu dari laporan para pasukan Sandhi (Intelejen) bahwa Sunan Kalijaga bersama para pengikutnya, tidak ikut melakukan penyerangan ke Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga beserta rombongan bisa bernafas lega. Mereka segera menghadap Prabhu Brawijaya dengan pengawalan yang sangat ketat sekali. Sembari memegang persenjataan lengkap dan siap digunakan, para prajurid Bhayangkara menyambut kedatangan Sunan Kalijaga. Mereka mengapitnya. Sunan Kalijaga diperkenankan masuk. Beberapa santrinya disuruh menunggu diluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya, didampingi para penasehat beliau yang terdiri dari para Pandhita Shiva dan Wiku Buddha, juga Sabdo Palon dan Naya Genggong, nampak telah menunggu kedatangan Sunan Kalijaga. Begitu ada di hadapan Sang Prabhu, Sunan Kalijaga menghaturkan hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya menanyakan maksud kedatangan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mengatakan bahwa dia adalah duta Raden Patah sekaligus Nyi Ageng Ampel. Sunan Kalijaga menceritakan segalanya dari awal hingga akhir. Bahkan dia menceritakan pula kondisi Majapahit. Prabhu Brawijaya meneteskan air mata mendengar banyak penduduk yang harus meregang nyawa karena kepicikan, mendengar Keraton megah kebanggaan Nusantara dibumi hanguskan, mendengar tempat-tempat suci hancur rata dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh yang hadir merasa sedih, marah, geram, semua bercampur aduk menjadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan manakala Sunan Kalijaga mengahturkan tujuan sebenarnya dia menjadi duta, yaitu agar Prabhu Brawijaya berkenan kembali memegang tampuk pemerintahan di Majapahit, seketika semua yang hadir memincingkan mata. Seolah mendengarkan kalimat yang tidak bisa dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya tercenung. Beliau meminta nasehat. Beberapa penasehat mengusulkan agar hal itu tidak dilakukan, karena sama saja menerima suatu penghinaan. Dinasti Majapahit, bisa kembali berkuasa hanya karena kebaikan hati orang-orang Islam. Tidak hanya itu saja, wibawa Sang Prabhu akan jatuh dimata para pendukungnya. Tidak ada artinya tahta yang diperoleh dari belas kasihan musuh. Masyarakat Majapahit akan memandang rendah pemimpin mereka yang mau menerima tahta seperti itu. Selama ini, Raja-Raja Majapahit, tidak pernah melakukan itu. Bila wibawa Sang Prabhu telah jatuh, dengan sendirinya, para pengikut Sang Prabhu akan berani juga bermain-main dengan Sang Prabhu kelak. Hukum tidak akan dipatuhi. Para pembangkang akan muncul dimana-mana bak jamur tumbuh dimusim penghujan. Dan lagi, apakah Sang Prabhu tidak malu menerima tahta dari anaknya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya Sang Prabhu tidak menerima tawaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Prabhu menghela nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga mohon bicara. Apabila memang Sang Prabhu tidak mau menerima tahta Majapahit dari tangan Raden Patah, maka seyogyanya Sang Prabhu mempertimbangkan kembali jika hendak mendapatkannya dengan jalan merebut. Sebab, bila hal itu sampai terjadi, tidak bisa dibayangkan, tanah Jawa akan banjir darah. Dukungan kekuatan militer bagi Sang Prabhu akan datang dari segenap pelosok Nusantara, tidak bakalan tanggung-tanggung lagi. Jawa akan semakin membara bila seluruh Nusantara akan bangkit. Pembunuhan yang lebih besar dan mengerikan akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Prabhu Brawijaya bagaikan disodori buah simalakama, dimakan mati tidak dimakan pun mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak, Sang Prabhu berunding dengan para penasehat beliau yang terdiri dari para ahli hukum dan agamawan. Sejurus kemudian, beliau menyatakan kepada Sunan Kalijaga hendak merundingkan hal ini dengan para penasehat lebih dalam lagi. Dan Sunan Kalijaga diperbolehkan menghadap esok hari lagi. Sunan Kalijaga dan seluruh rombongannya diberikan tempat bermalam, dengan pengawalan ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Sunan Kalijaga dipanggil menghadap. Prabhu Brawijaya memutuskan, untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar lagi, beliau tidak akan mengadakan gerakan perebutan tahta kembali. Lega Sunan Kalijaga mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang akan dilakukan Sang Prabhu agar seluruh putra-putra beliau mau merelakan tahta diduduki Raden Patah? Begitu Sunan Kalijaga meminta kejelasan langkah selanjutnya. Sang Prabhu mengatakan, beliau akan mengeluarkan maklumat kepada seluruh putra-putra beliau untuk bersikap sama seperti dirinya. Untuk berjiwa besar memberikan kesempatan bagi Raden Patah memegang tampuk kekuasaan. Terutama kepada keturunan beliau di Pengging, maklumat ini benar-benar harus dipatuhi. Semua sudah paham, yang berhak mewarisi tahta Majapahit sebenarnya adalah keturunan di Pengging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Sang Prabhu yang mempertanyakan jaminan kebebasan beragama kepada Sunan Kalijaga, apakah Demak Bintara bisa memberikan wilayah-wilayah otonomi khusus bagi para penguasa daerah yang mayoritas masyarakatnya tidak beragama Islam? Bisakah Demak Bintara sebijak Majapahit dulu? Bukankah keyakinan yang dianut Raden Patah menganggap semua yang diluar keyakinan mereka adalah musuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga terdiam. Dan setelah berfikir barang sejenak, Sunan Kalijaga berjanji akan ikut andil menentukan arah kebijakan pemerintahan Demak Bintara. Dan itu berarti, mulai saat ini, dia harus ikut terjun kedunia politik. Dunia yang dihindarinya selama ini ( Tahta Kadipaten Tuban yang diserahkan kepadanya, dia berikan kepada Raden Jaka Supa, suami adiknya Dewi Rasa Wulan : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya bernafas lega. Dia percaya pada sosok Raden Sahid atau Sunan Kalijaga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga menambahkan, Sang Prabhu seyogyanya kembali ke Trowulan. Tidak usah meneruskan menyeberang ke pulau Bali. Sebab dengan adanya Sang Prabhu di Trowulan, para putra dan masyarakat tahu kondisi beliau. Tahu bahwasanya beliau baik-baik saja. Sehingga seluruh pendukung beliau akan merasa tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Sang Prabhu berunding dengan para penasehat sejenak Kemudian beliau memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beliau di Trowulan ataupun tidak, stabilitas negara sepeninggal beliau tergulingkan dari tahta, mau tidak mau, tetap akan terganggu. Karena para pendukung beliau pasti juga banyak yang belum bisa menerima pemberontakan Raden Patah ini. Namun, jika tidak ada komando khusus dari beliau, hal itu tidak akan menjadi sebuah kekacauan yang besar. Pembangkangan daerah per daerah pasti terjadi. Tapi, Sang Prabhu menjamin, tanpa komando beliau, penyatuan kekuatan Majapahit dari daerah per daerah tidak bakalan terjadi. Dan, beliau tidak perlu pulang ke Trowulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga resah. Bila Sang Prabhu ke Bali, Sunan Kalijaga takut beliau akan berubah pikiran begitu melihat betapa militan-nya para pendukung beliau disana. Mau tidak mau, Prabhu Brawijaya harus bisa diusahakan pulang ke Trowulan. Sunan Kalijaga memutar otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga tahu, hati Prabhu Brawijaya sangat lembut. Dan kini, Sunan Kalijaga akan berusaha mengetuk kelembutan hati beliau. Sunan Kalijaga memberikan gambaran betapa mengerikannya jika para pendukung beliau benar-benar siap melakukan gerakan besar. Tidak ada jaminan bagi Sang Prabhu sendiri bahwa beliau tidak akan berubah pikiran bila tetap meneruskan perjalanan ke Bali. Sunan Kalijaga memohon, Prabhu Brawijaya harus mengambil jarak dengan para pendukung beliau. Nasib rakyat kecil dalam hal ini dipertaruhkan. Mereka harus lebih diutamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga memberikan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi jika Sang Prabhu tetap hendak ke Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam, Prabhu Brawijaya berfikir. Diam-diam hati beliau terketuk. Kata-kata Sunan Kalijaga memang ada benarnya. Prabhu Brawijaya tercenung. Beliau memutuskan pertemuan untuk sementara disudahi. Sunan Kalijaga diminta kembali ketempatnya untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Prabhu Brawijaya ingin menyendiri. Ingin merenung tanpa mau diganggu oleh siapapun. Ketika malam menjelang, Sang Prabhu memanggil Sabdo Palon dan Naya Genggong. Bertiga bersama-sama membahas langkah selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika malam menjelang puncak, Sabdo Palon dan Naya Genggong berterus terang, Mereka berdua menunjukkan siapa sebenarnya jati dirinya. Diiringi semburat cahaya lembut, Sabdo Palon dan Naya Genggong ‘menampakkan wujudnya yang asli’ kepada Prabhu Brawijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya terperanjat. Serta merta beliau menghaturkan hormat, bersembah. Kini, malam ini, untuk pertama kalinya, Sang Prabhu Brawijaya bersimpuh. ( Siapa mereka? Masih rahasia : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabdo Palon dan Naya Genggong memberikan gambaran apa yang bakal terjadi kelak di Nusantara : Semenjak hari kehancuran Majapahit, ‘kesadaran’ masyarakat Nusantara akan jatuh ketitik yang paling rendah. ‘Kulit’ lebih diagung-agungkan dari pada ‘Isi’. ‘Kebenaran Yang Mutlak’ dianggap sebagai milik golongan tertentu. Dharma diputarbalikkan. Sampah-sampah seperti ini akan terus tertumpuk sampai lima ratus tahun kedepan ! Dan bila sudah saatnya, Alam akan memuntahkannya. Alam akan membersihkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nusantara akan terguncang. Gempa Bumi, banjir bandang, angin puting beliung, ombak samudera naik ke daratan, gunung berapi memuntahkan laharnya berganti-gantian, musibah silih berganti, datang dan pergi. Bila waktu itu tiba, Alam telah melakukan penyeleksian. Alam akan memilih mereka-mereka yang ‘berkesadaran tinggi’. Yang ‘kesadarannya masih rendah’, untuk sementara waktu disisihkan dahulu atau akan dilahirkan ditempat lain di luar Nusantara. Bila saat itu sudah terjadi, Sabdo Palon dan Naya Genggong akan muncul lagi, kembali ke Nusantara. Sabdo Palon dan Naya Genggong akan ‘merawat tumbuhan kesadaran’ dari mereka-mereka yang terpilih. Sabdo Palon dan Naya Genggong akan menjaga ‘tumbuhan Buddhi’ yang mulai bersemi itu. Itulah saatnya, agama Buddhi, agama Kesadaran akan berkembang biak di Nusantara. Dan Nusantara, pelan tapi pasti, akan dapat meraih kejayaannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah menjadi garis karma, kehendak Hyang Widdhi Wasa, mereka-mereka saat ini berkuasa di Nusantara. Prabhu Brawijaya tidak ada gunanya mempertahankan Shiva Buddha. Prabhu Brawijaya lebih baik menuruti kehendak mereka-mereka yang tengah berkuasa. Kelak, Prabhu Brawijaya juga akan lahir lagi, lima ratus tahun kemudian, untuk ikut menyaksikan berseminya agama Buddhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangislah Prabhu Brawijaya. Semalaman beliau menangis. Semua rahasia masa depan Nusantara, dijabarkan oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, beliau memanggil Sunan Kalijaga. Dihadapan seluruh yang hadir, beliau menyatakan hendak kembali ke Trowulan. Dan yang lebih mengagetkan, beliau menyatakan masuk Islam demi menjaga stabilitas negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga dan seluruh yang hadir terperangah mendengar keputusan Sang Prabhu. Beberapa penasehat, pejabat dan kepala pasukan Bhayangkara, bersujud sambil menangis haru. Mereka memohon agar Sang Prabhu mencabut kembali sabda yang telah beliau keluarkan. Situasi tegang, sedih, bingung…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabdo Palon dan Naya Genggong angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan Prabhu Brawijaya, Sunan Kalijaga dan seluruh yang hadir, mereka mengucapkan sebuah sumpah, bahwasanya lima ratus tahun kemudian, mereka berdua akan kembali. ( Inilah yang lantas dikenal dengan JANGKA SABDO PALON NAYA GENGGONG oleh masyarakat Jawa sampai sekarang. Baca catatan saya tentang SERAT SABDO PALON. : Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mengucapkan sumpah mereka, Sabdo Palon dan Naya Genggong mencium tangan Sang Prabhu Brawijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabdo Palon berbisik : “Lima ratus tahun lagi, Ananda akan bertemu dengan kami kembali. Sekarang sudah saatnya kita berpisah. Selamat tinggal Ananda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabdo Palon dan Naya Genggong menyembah hormat, lalu bergegas keluar dari ruang pertemuan. Semua yang hadir masih bingung melihat peristiwa ini. Diantara mereka, ada beberapa yang ikut menyembah, melepas lencana mereka dan memohon maaf kepada Sang Prabhu untuk undur diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan tugu dari batu, Sang Prabhu Brawijaya diam tak bergerak. Tinggal beberapa orang yang ada di depan beliau. Beberapa pasukan Bhayangkara yang memutuskan untuk setia mengiringi Sang Prabhu. Juga ada Sunan Kalijaga, yang masih pula ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kediaman beliau yang lama, Sunan Kalijaga memberanikan diri menanyakan keputusan Sang Prabhu tersebut. Sang Prabhu menjawab, semua memang harus terjadi. Mendengar sabda Sang Prabhu, Sunan Kalijaga segera mendekat kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga memohon dengan segala hormat, apabila Sang Prabhu benar-benar ikhlas menyerahkan tahta kepada Raden Patah, maka beliau harus rela melepaskan mahkota beserta pakaian kebesaran beliau sebagai Raja Diraja. Sejenak Sang Prabhu masih ragu, namun ketika sekali lagi Sunan Kalijaga memohon keikhlasan beliau, maka Sang Prabhu menyetujuinya. ( Inilah simbolisasi rambut beliau dipotong oleh Sunan Kalijaga. Pada kali pertama, rambut beliau tidak bisa putus. Dan pada kali kedua, barulah bisa putus : Damar Shashangka.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menunggu waktu lama, berangkatlah rombongan Prabhu Brawijaya yang terdiri dari sedikit pasukan Bhayangkara dan Sunan Kalijaga beserta para santri menuju Trowulan. Sesampainya di Trowulan, masyarakat Majapahit menyambut dengan penuh suka cita. Keadaan mulai berangsur membaik ketika Sang Prabhu Brawijaya mengeluarkan maklumat agar semua pertikaian dihentikan. Disusul kemudian, keluar maklumat serupa dari Demak Bintara yang memfatwakan, peperangan sudah berhenti, diharamkan membunuh mereka yang telah kalah perang. Kondisi anarkhisme, berangsur-angsur menjadi kondusif. Stabilitas untuk sementara waktu kembali normal. Stabilitas yang dibawa dari Blambangan ini, membuat Sunan Kalijaga, sebagai suatu kenangan keberhasilan mendamaikan kedua belah pihak, memberikan nama baru kepada Blambangan, yaitu Banyuwangi. ( Disimbolkan, Sunan Kalijaga membawa sepotong bambu kemudian dia mengisinya dengan air kotor waktu masih di Blambangan. Begitu sesampainya di Trowulan, air dalam bambu itu berubah menjadi jernih dan wangi. Bambu adalah lambang dari sebuah negara, air kotor yang diambil Sunan Kalijaga adalah masalah yang dibuat oleh orang-orang yang sekeyakinan dengan Sunan Kalijaga sendiri. Air yang berubah jernih setibanya di Trowulan melambangkan kembalinya stabilitas negara.: Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergiliran, para putra Prabhu Brawijaya datang ke Trowulan. Adipati Handayaningrat dari Pengging beserta Ki Ageng Pengging putranya. Raden Bondhan Kejawen dari Tarub. Raden Bathara Katong dari Ponorogo. Raden Lembu Peteng dari Madura, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan Raden Patah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadapan seluruh putra-putra beliau, Sunan Kalijaga menyampaikan amanat Sang Prabhu agar pertikaian dihentikan. Dan agar Raden Patah, diikhlaskan menduduki tahta Demak Bintara. Seluruh putra-putra beliau, wajib menerima dan mentaati keputusan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Sunan Kalijaga, Sang Prabhu Brawijaya memberikan amanat untuk mendampingi keturunan beliau yang ada di Tarub yaitu Raden Bondhan Kejawen dan keturunan beliau yang ada di Pengging. Terutama kepada Raden Bondhan Kejawen, Prabhu Brawijaya telah mengetahuinya dari Sabdo Palon dan Naya Genggong, bahwa kelak, dari keturunannya, akan lahir Raja-Raja besar di Jawa. Dinasti Raden Patah dan dinasti dari Pengging, tidak akan bertahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Brawijaya bahkan membisikkan kepada Sunan Kalijaga, bahwa Demak hanya akan dipimpin oleh tiga orang Raja. Setelah itu akan digantikan oleh keturunan dari Pengging, cuma satu orang Raja. Lantas digantikan oleh keturunan dari Tarub. Banyak Raja akan terlahir dari keturunan dari Tarub. (Ramalan ini terbukti, Demak hanya diperintah oleh tiga orang Sultan. Yaitu Raden Patah, Sultan Yunus, lalu Sultan Trenggana. Setelah itu terjadi pertumpahan darah antara Kubu Abangan dengan Kubu Putihan. Dan Jaka Tingkir tampil kemuka. Jaka Tingkir adalah keturunan dari Pengging. Tapi tidak lama, keturunan dari Tarub, yaitu Danang Sutawijaya, yang kelak dikenal dengan gelar Panembahan Senopati Ing Ngalaga Mentaram, akan tampil kemuka menggantikan keturunan Pengging. Panembahan Senopati inilah pendiri Kesultanan Mataram Islam, yang sekarang terpecah menjadi Jogjakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman :Damar Shashangka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian, Prabhu Brawijaya jatuh sakit. Dalam kondisi akhir hidupnya, Sunan Kalijaga dengan setia mendampingi beliau. Kepada Sunan Kalijaga, Prabhu Brawijaya berwasiat agar dipusara makam beliau kelak apabila beliau wafat, jangan dituliskan nama beliau atau gelar beliau sebagai Raja terakhir Majapahit. Melainkan beliau meminta agar dituliskan nama Putri Champa saja. Ini sebagai penanda kisah akhir hidup beliau, juga kisah akhir Kerajaan Majapahit yang terkenal dipelosok Nusantara. Bahwasanya, beliau telah ditikam dari belakang oleh permaisurinya sendiri Dewi Anarawati atau Putri Champa dan beliau diperlakukan dan tidak dihargai lagi sebagai seorang laki-laki oleh Raden Patah, putranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga sedih mendapat wasiat seperti itu. Namun begitu beliau wafat, wasiat itu-pun dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh masyarakat berkabung. Seluruh putra dan putri beliau berkabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kehancuran Majapahit. Kehancuran Kerajaan Besar ini dikenang oleh masyarakat Jawa dengan kalimat sandhi yang menyiratkan angka-angka tahun sebuah kejadian (Surya Sengkala), yaitu SIRNA ILANG KERTANING BHUMI. SIRNA berarti angka ‘0’. ILANG berarti angka ‘0’. KERTA berarti angka ‘4’ dan BHUMI berarti angka ‘1’. Dan apabila dibalik, akan terbaca 1400 Saka atau 1478 Masehi. Kalimat KERTAning BHUMI diambil dari nama asli Prabhu Brawijaya, yaitu Raden Kertabhumi. Inilah kebiasaan masyarakat Jawa yang sangat indah dalam mengenang sebuah kejadian penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Raden Patah, memindahkan pusat pemerintahan ke Demak Bintara. Dia dikukuhkan oleh Dewan Wali Sangha sebagai Sultan dengan gelar Sultan Syah ‘Alam Akbar Jim-Bun-ningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan orang-orang Islam terwujud. Demak Bintara menjadi ke-Khalifah-an Islam pertama di Jawa. Tapi, pemberontakan dari berbagai daerah, tidak bisa diatasi oleh Pemerintahan Demak. Wilayah Majapahit yang dulu luas, kini terkikis habis. Praktis, wilayah Demak Bintara hanya sebatas Jawa Tengah saja. Kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian seolah menjauh dari Demak Bintara. Darah terus tertumpah tiada habisnya. Perebutan kekuasaan silih berganti. Nusantara semakin terpuruk. Semakin tenggelam dipeta perpolitikan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul kemudian, pada tahun 1596 Masehi, Belanda datang ke Jawa. Nusantara semakin menjadi bangsa tempe! Semenjak Majapahit hancur, hingga sekarang, kemakmuran hanya menjadi mimpi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan Majapahit bangkit lagi? Kapan Nusantara akan disegani sebagai Macan lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;b&gt;Menangislah membaca sejarah bangsa kita. Menangislah kalian, karena kalian sendiri yang telah lalai karena terlalu bangga membawa masuk ideologi bangsa lain yang tidak sesuai dengan tanah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, tertawalah kalian. Tertawalah untuk mentertawai diri kalian sendiri yang telah hingga sekarang masih menjadi bangsa tempe !&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: #3d85c6;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;http://biologimediacentre.com/kisah-tersembunyi-di-balik-runtuhnya-kerajaan-majapahit-penyebab-mengapa-indonesia-menjadi-bangsa-tempe/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/2314417539666893401/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kisah-rahasia-dibalik-runtuhnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2314417539666893401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2314417539666893401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kisah-rahasia-dibalik-runtuhnya.html' title='Kisah Rahasia dibalik runtuhnya Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTvtSMeVX_02FwkmYhW4TQpMdvBk_1caK5mShnzoNSZJ4ETq84GcHEDk7ktlka5kJNplIAvuJORbtiS_fkg_qyIw6CitE9AxV_jDx-iIoyq1VBi2lJhF-pAdKqXNPc9X8zSHxaATbxx3jV/s72-c/Ronggolawe-Orang-Penting-di-Kerajaan-Majapahit-yang-Dibunuh-dengan-Kejam-Cover.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-8982534406140945430</id><published>2016-11-20T23:10:00.000-08:00</published><updated>2016-11-26T23:22:44.839-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="opini"/><title type='text'>Kemunduran Kerajaan Majapahit (pertama)</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.co.id/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Kejayaan kerajaan Majapahit berlangsung cukup singkat, yakni hanya terjadi pada periode pemerintahan raja Hayam Wuruk dengan Mahapatihnya yang terkenal yaitu Gajah Mada. Sepeninggal raja Hayam Wuruk, tepatnya pada tahun 1389 M, ia digantikan oleh menantunya (yang juga keponakannya sendiri) yakni Wikramawarddhana (Bhra Hyang Wisesa). Seharusnya yang menggantikan Hayam Wuruk sebagai raja adalah puteri mahkota yang lahir dari permaisuri Paduka Sori, yakni Kusumawarddhani.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxcGrR7SbG0nKpnEXmJ3dYMuToN-jZsS-n1-MSwOy92QWhLrV_xmW99CVeSfttj7h9SSiXG4bVW-c47CVN_ceZ3H7-acT4h6o3yeGujhsAHDiu7s6fK51N4vnw_biFeWK8CllVLGqgp8CW/s1600/Dewa_Surya.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;308&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxcGrR7SbG0nKpnEXmJ3dYMuToN-jZsS-n1-MSwOy92QWhLrV_xmW99CVeSfttj7h9SSiXG4bVW-c47CVN_ceZ3H7-acT4h6o3yeGujhsAHDiu7s6fK51N4vnw_biFeWK8CllVLGqgp8CW/s320/Dewa_Surya.png&quot; title=&quot;Surya Majapahit&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wikramawarddhana memerintah Majapahit mulai dari tahun 1389 M hingga tahun 1400 M, dan kemudian mengundurkan diri untuk menjadi seorang pendeta (bhagawan) serta mengangkat anak keduanya (seorang puteri) yaitu Suhita untuk menggantikan kedudukannya sebagai raja. Pengangkatan Suhita sebagai raja di Majapahit ini ternyata menjadi awal mula timbulnya pertentangan atau kericuhan di dalam keluarga kerajaan, yang pada akhirnya tentu saja melemahkan kedudukan Majapahit sebagai sebuah kerajaan adikuasa pada waktu itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Pertentangan tersebut terjadi antara Bhre Wirabhumi (penguasa Blambangan, anak Hayam Wuruk dari selir) melawan Wikramawarddhana (menantu Hayam Wuruk). Pertentangan ini dimulai dari tahun 1401 M yang mencapai puncaknya setelah tiga tahun kemudian, dengan terjadinya huru-hara yang dikenal dengan perang paregreg (perang habis-habisan).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam peperangan tersebut, mula-mula Wikramawarddhana (kedathon kulon) mengalami kekalahan telak, namun kemudian ia mendapat bantuan dari Bhre Tumapel (Bhra Hyang Parameswara) dan dapat mengalahkan Bhre Wirabhumi (kedathon wetan). Bhre Wirabhumi kemudian melarikan diri naik perahu, namun ia dikejar oleh Raden Gajah (Bhra Narapati) yang waktu itu berkedudukan sebagai Ratu Angabhaya (wakil raja). Pada tahun 1406 M Bhre Wirabhumi tertangkap dan dipenggal kepalanya oleh Raden Gajah. Peristiwa peperangan antara Wikramawarddhana dengan Wirabhumi ini disebutkan pula di dalam berita Cina yang berasal dari jaman Dinasti Ming (1368 M – 1643 M).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun Wirabhumi telah terbunuh, pertentangan antar keluarga kerajaan Majapahit belumlah sepenuhnya menjadi reda. Terbunuhnya Wirabhumi ini menjadi benih balas dendam dan persengketaan keluarga kerajaan itu menjadi berlarut-larut dan pada akhirnya pada tahun 1433 M Raden Gajah dibunuh karena dipersalahkan telah membunuh Bhre Wirabhumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu masa pemerintahan Suhita sendiri berakhir dengan meninggalnya beliau pada tahun 1447 M (di dharmakan di Singhajaya). Tidak banyak referensi yang dapat digali tentang kondisi Majapahit di bawah pemerintahan Suhita ini. Mengingat, pada masa awal pemerintahannya telah terjadi perang besar, yaitu perang paregreg, yang tentu saja peristiwa ini menghabiskan lebih dari separo kekuatan kerajaan Majapahit, baik dari sisi finansial maupun kekuatan angkatan perangnya. Perang paregreg inilah yang tentu saja dapat kita klasifikasikan sebagai salah satu penyebab utama kemunduran kerajaan Majapahit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeninggal Suhita, pemerintahan Majapahit dilanjutkan oleh adiknya Bhre Tumapel (Dyah Kertawijaya) yang pada awal masa pemerintahannya (1447 M) telah mengeluarkan prasasti Waringin Pitu (ditulis pada 14 lempeng tembaga) yang berkenaan dengan pengukuhan perdikan dharma (dharma sima) Rajasakusumapura di Waringin Pitu yang telah ditetapkan sebelumnya oleh neneknya Sri Rajasaduhiteswari Dyah Nrttaja (adik Hayam Wuruk) untuk memuliakan Sri Paduka Parameswara Sang mokta ring Sunyalaya. Dalam prasasti tersebut beliau disebutkan bergelar Wijayaparakramawarddhana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1451 M ia meninggal dunia (di dharmakan di Kertawijayapura), dan digantikan oleh Bhre Pamotan (Sri Rajasawarddhana/Bhatara ring Kahuripan). Pada saat menjadi raja, ia tidak berkedudukan di ibu kota kerajaan, namun telah memindahkan pusat pemerintahan Majapahit di Keling-Kahuripan. Hal ini mungkin pula disebabkan karena keadaan politik di Majapahit telah memburuk kembali akibat pertentangan keluarga kerajaan pasca perang paregreg belum juga mereda. Bhre Pamotan ini memerintah Majapahit tidak lama, pada tahun 1453 M ia meninggal dan di dharmakan di Sepang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut penuturan Pararaton, Majapahit mengalami masa interregnum (kekosongan tanpa raja) selama tiga tahun, yaitu pada tahun 1453 M hingga 1456 M. Sebab-sebab terjadinya peristiwa ini tidak dapat diketahui secara pasti, namun kuat dugaan terjadinya karena sebab perebutan kekuasaan diantara keluarga raja-raja Majapahit yang tidak juga mereda. Hal ini akan terbukti pada tahun-tahun sesudahnya. Pertentangan keluarga kerajaan yang berlangsung secara berlarut-larut tersebut rupa-rupanya telah melemahkan kedudukan raja-raja Majapahit baik di pusat maupun di daerah. Sehingga sepeninggal Bhre Pamotan (Sri Rajasawarddhana) tidak ada seorang pun di antara keluarga raja-raja Majapahit yang sanggup tampil untuk segera memegang tampuk pemerintahan di Majapahit. Peristiwa interregnum ini tentu saja menjadi penyebab kemunduran kerajaan Majapahit secara menyeluruh. Tidak dapat dipungkiri lagi, kemungkinan besar banyak negara-negara bawahan yang telah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit pada masa tersebut, hal ini tentu saja berakibat cakupan wilayah kerajaan Majapahit menjadi susut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Silahkan melanjutkan ke &lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.co.id/2016/11/kemunduran-kerajaan-majapahit-kedua.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;bagian kedua&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/8982534406140945430/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kemunduran-kerajaan-majapahit-pertama.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/8982534406140945430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/8982534406140945430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kemunduran-kerajaan-majapahit-pertama.html' title='Kemunduran Kerajaan Majapahit (pertama)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxcGrR7SbG0nKpnEXmJ3dYMuToN-jZsS-n1-MSwOy92QWhLrV_xmW99CVeSfttj7h9SSiXG4bVW-c47CVN_ceZ3H7-acT4h6o3yeGujhsAHDiu7s6fK51N4vnw_biFeWK8CllVLGqgp8CW/s72-c/Dewa_Surya.png" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-8304288528757370967</id><published>2016-11-20T04:46:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T05:12:56.238-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tata-letak"/><title type='text'>Situasi Ibukota Majapahit (kedua)</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Kepahaman manusia Majapahit terhadap tradisi dan aturan kasat mata yang dapat memperbaiki nilai kehidupannya membuat kerajaan ini semakin maju dan mencapai puncaknya saat kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara). Dengan didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Kerajaan Majapahit dapat menyatukan Nusantara dengan aliansi kerajaan-kerajaan yang tersebar jauh di luar pulau Jawa. Sepeninggal Prabu Hayamwuruk, ketamakan telah menyebabkan raja-raja selanjutnya menyurutkan binar Kerajaan Majapahit. Kerajaan ini kemudian mengalami perpecahan mulai tahun&amp;nbsp; 1400 M saat pemerintahan Raja Wikramawardhana, hingga menjelang datangnya penjajah Portugis dan Belanda ke Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kepada bentuk-bentuk bangunan masa kerajaan Majapahit, sebenarnya ada beberapa bentuk bangunan yang memiliki ciri khas berbeda. Rumah hunian untuk masyarakat biasa, kebanyakan berdinding kayu dan bambu, sedangkan yang memiliki strata agak tinggi dapat memiliki rumah yang berdinding batu-bata merah.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOckduSkpe8KlqhUZcnIJXPdMU8A-93NDDbQZs6IJJKr6pohg0raPKNx0hYGMmCyspLBULUVg_piBeBvFBub0We4agGiGKO58u5kFkNUI5CERjdqEKznWIUYfVGVozULpoutEurEbhhCMb/s1600/rumah-2%2528penataran%2529.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOckduSkpe8KlqhUZcnIJXPdMU8A-93NDDbQZs6IJJKr6pohg0raPKNx0hYGMmCyspLBULUVg_piBeBvFBub0We4agGiGKO58u5kFkNUI5CERjdqEKznWIUYfVGVozULpoutEurEbhhCMb/s400/rumah-2%2528penataran%2529.jpg&quot; title=&quot;Relief Puri jaman Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berbeda dengan model rumah penduduk di atas, untuk strata masyarakat yang lebih tinggi, dapat memiliki rumah yang lebih permanen berbahan dasar batu bata dengan lantai yang lebih bagus, terbuat dari bahan terakota berbentuk segi-enam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan bangunan permanen (berdinding batu-bata) ini, kakawin Negarakertagama menuturkannya di dalam pupuh VIII/5 sebagai berikut : &quot; &lt;b&gt;&lt;i&gt;...wesmarj(j) ajajar anhapit hawan anulwan i t(e)ngah ika tanjung anjrah as(e)kar ...&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&quot;&amp;nbsp; yang artinya : &quot; &lt;i&gt;...rumah bagus berjajar mengapit jalan ke Barat, disela tanjung berbunga lebat ....&lt;/i&gt;&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuk-bentuk bangunan lainnya adalah berupa paseban yang didirikan di atas umpak-umpak batu, hal mana peninggalan umpak-umpak tersebut masih dapat kita temukan di beberapa tempat dengan lokasi yang terpisah cukup jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai balai atau paseban ini kakawin Negarakertagama dalam pupuh VIII/6 menuturkan sebagai berikut : &quot; &lt;i&gt;&lt;b&gt;...kapwa wwesma subaddha watwan ika len balabag usuknya tan pacacadan ...&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&quot; yang artinya : &quot; &lt;i&gt;... semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela ...&lt;/i&gt;&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGIskn5KBH8w_q4ebpdQLKMJ-isVcqbZC4evVMG-c5qj75oGBdUrf6DchVqzAjuAOTROjiGmC8kQzLOXFrhkLVwQee2xQGT18IG0i7TGS3Mfa0igcOFQCL1h2kgRE9JU39iTJdLWDZasYi/s1600/Pilar-pilar+Majapahit.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;261&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGIskn5KBH8w_q4ebpdQLKMJ-isVcqbZC4evVMG-c5qj75oGBdUrf6DchVqzAjuAOTROjiGmC8kQzLOXFrhkLVwQee2xQGT18IG0i7TGS3Mfa0igcOFQCL1h2kgRE9JU39iTJdLWDZasYi/s400/Pilar-pilar+Majapahit.JPG&quot; title=&quot;Contoh Pilar-pilar jaman Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di samping bentuk-bentuk bangunan di atas, dalam kakawin Negarakertagama juga disebutkan bangunan berupa panggung-tinggi/panggung-luhur yang lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat (pupuh VIII/2), tempat tinggal wipra-utama tinggi bertingkat, menghadap panggung korban (pupuh VIII/4), panggung tempat berkeliaran para perwira (pupuh VIII/5).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Baca &lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/situasi-ibukota-majapahit-ketiga.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;lanjutannya&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/8304288528757370967/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/situasi-ibukota-majapahit-kedua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/8304288528757370967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/8304288528757370967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/situasi-ibukota-majapahit-kedua.html' title='Situasi Ibukota Majapahit (kedua)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOckduSkpe8KlqhUZcnIJXPdMU8A-93NDDbQZs6IJJKr6pohg0raPKNx0hYGMmCyspLBULUVg_piBeBvFBub0We4agGiGKO58u5kFkNUI5CERjdqEKznWIUYfVGVozULpoutEurEbhhCMb/s72-c/rumah-2%2528penataran%2529.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-8040023231791137702</id><published>2016-11-19T05:09:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T05:12:04.006-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tata-letak"/><title type='text'>Situasi Ibukota Majapahit (ketiga)</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. &lt;b&gt;BANGUNAN TINGGI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakawin Negarakertagama di dalam pupuh VII setidaknya menuturkan 3 (tiga) buah bangunan tinggi yang berada di kawasan kota raja Majapahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama disebutkan dalam pupuh VIII/2 yang berbunyi : &quot;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ...wetan sanding ikarj[j]a panggung aruhur patiga nika binajralepa maputih ...&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&quot; yang artinya : &quot;Di sebelah Timur : panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat ...&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua disebutkan dalam pupuh VIII/4 yang berbunyi : &quot; &lt;i&gt;&lt;b&gt;..nggwan sang wipra kidul padhottama susun barat i natar ika batur patawuran ..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&quot; yang artinya : &quot;Di Selatan tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat, menghadap panggung korban ..&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga disebutkan di dalam pupuh VIII/5 yang berbunyi :&quot; &lt;i&gt;&lt;b&gt;..ndah kulwan mah[e]let &amp;lt;muwah&amp;gt; kidul i panggung ika baly aneka medran i t[e]pi ...&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&quot; yang artinya : &quot;Agak jauh di sebelah Barat Daya : panggung tempat berkeliaran para perwira ... &quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pada masa keemasannya,&amp;nbsp; kerajaan Majapahit telah mengenal bentuk-bentuk bangunan tinggi (bertingkat), yang sepertinya (selain sebagai tempat tinggal) juga berfungsi sebagai &#39;menara jaga&#39; para prajurit kerajaan. Hal ini dapat dipahami, dengan berdasarkan fakta, bahwa ibukota kerajaan Majapahit dalam kurun waktu yang sekian lama (sejak pemerintahan Tribhuwanatunggadewi hingga pemerintahan Dyah Suprabhawa) dapat bertahan dari serangan musuh dan tidak pernah diduduki oleh musuh-musuh kerajaan. Kenyataan ini membuktikan bahwa pusat kota Majapahit memiliki benteng pertahanan yang cukup kuat, salah-satunya adalah dengan memiliki menara-menara tinggi untuk mengintai datangnya musuh, disamping adanya kanal-kanal yang mengelilingi pusat kota-raja tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi bentuk bangunan tinggi yang sepertinya mendekati model bangunan-tinggi jaman kerajaan Majapahit, hingga saat ini masih dapat kita temukan di kawasan Masjid Agung kota Kudus, yang terkenal dengan Menara Masjid Agung Kudus.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghAmGkRHvescIuUT5igLrBru_i1ej18Eg0e1cOFE4iREMKTjt5RCBOLTdz2lQ9AozA1E5PREmFIygzkzB9ivnNOLoOMmLy-lLW-Iymoj8LGMxVSBI3xIRxniRDM29xu_XDM-isZPtON3BU/s1600/Identifikasi_Waktra.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;268&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghAmGkRHvescIuUT5igLrBru_i1ej18Eg0e1cOFE4iREMKTjt5RCBOLTdz2lQ9AozA1E5PREmFIygzkzB9ivnNOLoOMmLy-lLW-Iymoj8LGMxVSBI3xIRxniRDM29xu_XDM-isZPtON3BU/s400/Identifikasi_Waktra.jpg&quot; title=&quot;Bangunan Tinggi jaman Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah uraian mengenai bangunan-bangunan tinggi pada jaman kerajaan &lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/8040023231791137702/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/situasi-ibukota-majapahit-ketiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/8040023231791137702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/8040023231791137702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/situasi-ibukota-majapahit-ketiga.html' title='Situasi Ibukota Majapahit (ketiga)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghAmGkRHvescIuUT5igLrBru_i1ej18Eg0e1cOFE4iREMKTjt5RCBOLTdz2lQ9AozA1E5PREmFIygzkzB9ivnNOLoOMmLy-lLW-Iymoj8LGMxVSBI3xIRxniRDM29xu_XDM-isZPtON3BU/s72-c/Identifikasi_Waktra.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-1850267786703060564</id><published>2016-11-19T03:56:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T04:07:31.083-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="informasi"/><title type='text'>Lokasi Awal Ibukota Majapahit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Awalnya karya tulis ini merupakan salah satu makalah tugas perkuliahan yang&amp;nbsp;diampu&amp;nbsp;Dr. H. Abd.&amp;nbsp;Latif Bustami, M.Si,&amp;nbsp;tahun 2009 pada Prodi Ilmu Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (sebelum 2010 pindah ke FIS) di Universitas Negeri Malang. kemudian&amp;nbsp;karya tulis ini disempurnakan lagi sebagai Micro Sub-BAB Skripsi penulis pada BAB V, Sub Bab Dampak Geopolitik Penguasaan nagara Daha oleh Raja Jayakatyəng. Sedangkan artikel yang digunakan pada Weblog ini menggunakan kutipan dari makalah tahun 2009. Semoga karya tulis ini bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZy-7ZUnvzchf2S57enDFPGLq3i3qvPS5aFhMm-mAR4m8-Q1MDx9ZwfGpiwYRnWE4wgkV3BkjwLEBXPHOOOki82BW4zQiKSmsXmF7XP87i8oPz-JPI2dziFCRybhyTAaicuyR0qWo4huZH/s1600/Awal-Ibukota.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZy-7ZUnvzchf2S57enDFPGLq3i3qvPS5aFhMm-mAR4m8-Q1MDx9ZwfGpiwYRnWE4wgkV3BkjwLEBXPHOOOki82BW4zQiKSmsXmF7XP87i8oPz-JPI2dziFCRybhyTAaicuyR0qWo4huZH/s400/Awal-Ibukota.jpg&quot; title=&quot;Peta Ibukota Majapahit Awal&quot; width=&quot;375&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;LATAR BELAKANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majapahit merupakan salah satu kerajaan besar yang ada di Indonesia, dan di Jawa Timur khususnya. Lokasi ibu kota kerajaannya dalam kitab Pararaton di sebutkan berada di daerah Trik. Namun dari penemuan arkeologis ditemukan kompleks situs yang diduga besar sebagai keraton Majapahit, berada di daerah Trowulan, Kabupaten Mojokerto sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya daerah yang memiliki kemiripan nama dengan Trik,&amp;nbsp;lokasi ibukota awal masa pendirian Majapahit, yaitu Kecamatan Tarik, yang terletak di Kabupaten Sidoarjo, membuat penulis tergerak untuk mencari kebenaran tentang adanya Keraton Majapahit disana. Ada banyak hal yang menghubungkan sejarah daerah Kecamatan Tarik dan sekitarnya dengan daerah Trowulan masa lalu. Selain itu sejarah panjang sejak masa pemerintahan Mataram Hindu sampai pasca peristiwa runtuhnya Kerajaan Singhasari, telah meninggalkan jejak-jejak sejarah mengukir perkembangan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu penulis memberikan judul makalah ini adalah “LOKASI AWAL PUSAT IBUKOTA KERAJAAN MAJAPAHIT“&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;b&gt;AKAR PENDIRIAN KERAJAAN MAJAPAHIT&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Dalam kitab Pararaton dan Negarakretagama diceritakan mengenai keruntuhan Kerajaan Singhasari pada masa Raja Kertanegara karena serangan Raja Jayakatwang dari Daha/Kadiri. Hal ini dikritisi oleh Prof. Dr. Slamet Muljana karena dalam lempeng VII a baris 3-6 prasasti Mula-Malurung (1177 C/1255 M) yang di keluarkan pada masa Raja Sminingrat (Wisnuwardhana) disebutkan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;3. …... sira nararyya murddhaja. atmaja nira muwang.. sira sri krta­nagara nama niran inabhiseka. pi- &lt;br /&gt;4. nasahaken ing ngkaneng mwang ikanakasihhasana. ring nagara daha. sinewita ning bhumi kadiri. sira turuk bali. putri &lt;br /&gt;5. nira nararyya smi ning rat. pinaka paramecwari nira sri jayakatyeng. saksat kap­wanakanira nararyya smi ningrat &lt;br /&gt;6. sira pinratista ngkaneng mwang I kanakasinghasana. maka nagare glang glang, sinewita dai nikang sakala bhumi wurawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya yang berjudul Tafsir Sejarah Negara Kretagama halaman 116-117 disebutkan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Versi Negarakretagama dan Pararaton yang mengatakan bahwa Jayakatwang adalah raja Kediri perlu dibetulkan karena menurut prasasti Mula-Malurung, Jayakatwang adalah raja Gelang-Gelang berkat perkawinanya dengan Nararya Turukbali, puteri Sang Prabu Seminingrat. Yang menjadi raja Kediri sejak tahun 1254 sampai 1292 ialah raja Kertanegara. Jadi, serangan Jayakatwang terhadap Singasari pada tahun 1292 dilancarkan dari Gelang-Gelang; bukan dari Kediri seperti diuraikan dalam pararaton dan Negarakretagama serta beberapa kidung. Prasasti Mula-Malurung mengatakan dengan jelas bahwa Jayakatwang adalah kemenakan Raja Seminingrat, jadi saudara sepupu dengan Kertanegara, menurut Prasasti Penanggungan, 1296, Jayakatwang menduduki ibu kota Daha dan memerintah Singasari sebagai Negara bawahan. Kidung Harsawijaya berulang kali menyebut Jayakatwang Raja Kediri, sehingga utusan Bupati Wiraraja dari Sumenep datang ke Kediri untuk memberi tahu sang prabu supaya serangan terhadap&amp;nbsp; Singasari segera dilancarkan, kesempatan yang baik jangan dibiarkan lewat. Mahisa Mundarang memberikan nasihat yang serupa dan menyebut Jayakatwang keturunan Raja Kertajaya. Berdasarkan Prasasti Mula-Malurung, utusan Wiraraja itu dikirim ke Gelang-Gelang, tidak ke Kediri. Kidung Harsawijaya mengatakan bahwa Sri Kertanegara tidak khawatir tentang akan adanya kemungkinan serangan dari Kediri, karena ia percaya bahwa Raja Jayakatwang tidak akan menyalah-gunakan kebaikan sang prabu, yang telah sudi mengangkatnya sebagai raja Kediri. Uraian di atas tidak tepat, karena yang mengangkat Jayakatwang sebagai raja ialah Nararya Seminingrat menurut prasasti Mula-Malurun g, bukan Raja Kertanegara. Lagi pula, Jayakatwang tidak diangkat sebagai raja Kediri, melainkan sebagai raja Gelang-Gelang. Seperti ditunjukkan di atas, baru pada tahun 1292, Jayakatwang menjadi raja Kediri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Dari uraian di atas sekilas alasan yang dikemukakan Prof. Dr. Slamet Muljana sangatlah kuat karena berlandaskan sumber data utama yaitu Prasasti Mula-Malurung yang berangka tahun 1177 C/1255 M, masa Raja Seminingrat, Maharaja Singhasari dan Prasasti Penanggungan berangka tahun 1218 C/1296 M pada masa Raja Sangramawijaya, raja pertama Majapahit. Namun bila dianalisa lebih lanjut ada beberapa hal dalam peryataan di atas yang janggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Slamet Muljana menolak angka tahun 1193 C/1271M sebagai tahun bertahtanya Jayakatwang sebagai raja di Kadiri, padahal informasi tersebut diberitakan dalam Negarakretagama pupuh 44/2 karya Prapanca seorang penulis keraton. Beliau yakin bahwa Jayakatwang sebelum runtuhnya kerajaan Singhasari tidak pernah menjadi raja di Kadiri, karena dalam Prasasti Mula-Malurung disebutkan bahwa yang bertahta di Daha wilayah bumi Kadiri adalah Nararya Murdhaja atau Kertanegara sebagai Yuwaraja (Putra Mahkota/Raja Muda), sedangkan Jayakatwang sebagai raja bawahan di Gelang-Gelang wilayah Wurawan (Ngurawan). Menurutnya Kertanegara bertahta di Kadiri dari tahun 1254 M/1176 C sampai 1292 M/1214 C. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Perlu diingat Prasasti Mula-malurung berangka tahun 1177 C/1255 M dan raja yang berkuasa adalah Raja Sminingrat ayah dari Kertanegara. Sedangkan Kertanegara juga sebagai raja namun masih sebagai Yuwaraja. Hal ini sesuai pemberitaan dalam Negarakretagama Pupuh 41/3 bahwa pada tahun 1176 C/1254 M&amp;nbsp;Raja Wisnu (Sminingrat) menobatkan putranya (Nararya Murdhaja, sebagai Yuwaraja bertahta di Daha/Kediri) dan nama abishekanya adalah Raja Kertanegara. Jadi, pengeluaran Prasasti Mula-Malurung berjarak kurang lebihnya satu tahun setelah Kertanegara dinobatkan sebagai Yuwaraja yang bertahta di Daha bumi Kadiri. Kemudian pada bait ke-4 diberitakan pada tahun 1192 C/1270 M raja Wisnu berpulang (meninggal dunia). Nah! Dari sinilah muncul pertanyaan, jika menurut Prof. Dr. Slamet Muljana antara tahun&amp;nbsp; 1176 C/1254 M sampai 1214 C/1292 M Kertanegara masih menjadi Raja di Kadiri, lalu siapakah pengganti Raja Sminingrat yang telah meninggal pada tahun 1192 C/1270 M dan bertahta di Singhasari yang menguasai seluruh wilayah Panjalu-Jenggala? Kalau kurun waktu kekuasaan Kertanegara di Kadiri benar seperti itu berarti Keraton Singhasari harus dilokasikan di daerah Kediri sekarang, karena pada tahun 1292 M Jayakatwang menyerang Kertanegara di dalam ibukota kerajaannya dari dua arah, sampai akhirnya runtuh?.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran bahwa Kertanegara bertahta di Kadiri sampai tahun 1214C/1292 M, seperti di atas tidak perlu terjadi bila analisanya sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;1. Pada tahun 1176 C/1254 M Raja Wisnu (Sminingrat) menobatkan Putranya sebagai Raja bergelar Sri Kertanegara. Pada waktu ini Kertanegara tidaklah dinobatkan sebagai raja Utama dalam kerajaan Singhasari, melainkan hanya sebagai Yuwaraja yang bertahta di Daha bumi Kadiri, sebagai persiapan untuk menjadi raja utama. Hal ini dapat digali dari Sumber sejarah Kitab Negarakertagama pupuh 41/3 dan dalam prasasti Mula-malurung lempeng VII a baris 3-6 tentang penempatan Kertanegara di Kadiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;2. Pada tahun 1177 C/1255 M Seluruh raja-raja yang diangkat oleh Sminingrat dan dikepalai oleh Sri Kertanegara mengeluarkan Prasasti Mula-Malurung. Dari sumber sejarah primer ini kita dapati informasi tentang kedudukan Kertanegara sebagai Raja di Kadiri sedang Jayakatwang bertahta di Gelang-gelang daerah Wurawan. Semua raja di jawa terutama di eks-Panjalu-Jenggala, tunduk kepada raja yang berkuasa pada waktu itu, yaitu Raja Sminingrat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;3. Pada tahun 1192 C/1270 M Raja Seminingrat meninggal, sebagai putra mahkota maka Sri Kertanegara harus meletakkan jabatannya di Kadiri dan naik ke singgasana utama yaitu menjadi Raja Utama kerajaan Singhasari di ibu kota Singhasari (daerah Malang sekarang) menggantikan ayahnya Prabu Sminingrat. Bila Kertanegara bertahta di Singhasari otomatis tahta di Kediri Kosong, maka perlu dilimpahkan kepada salah satu orang dekat raja. Siapakah dia? apabila dikorelasikan dengan berita dalam Negarakertagama pupuh 44/2 yang menyatakan bahwa tahun 1193 C/1271M (satu tahun setelah mangkatnya Raja Sminingrat) Raja Jayakatwang menjadi Raja di Kediri, maka jelaslah bahwa orang tersebut adalah raja Jayakatwang. Jadi Jayakatwang adalah raja bawahan Singhasari di Gelang-Gelang (sesuai prasasti Mula-Malurung 1177C/1255 M) namun pada tahun 1193C/1271 M oleh Sri Kertanegara dibantu untuk menjadi raja di Kadiri, tanah leluhur Jayakatwang, daerah istimewa nomer dua setelah ibu kota Singhasari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;4. Mengenai Prasasti Kudadu 1216 C/1294 M yang menyebutkan bahwa Jayakatwang yang telah menyerang Singhasari adalah raja dari Gelang-Gelang tanpa menyinggung daerah Kediri ini tidaklah perlu diambil pusing. Bila kita analisa cerita-cerita panji dan beberapa Kakawin, maka peristiwa pembelahan kerajaan pada masa Airlangga tidaklah hanya menjadi dua bagian, namun lebih dari itu. Dalam cerita panji ada empat negeri utama yaitu Panjalu (Kadiri), Jenggala, Kahuripan, dan Ngurawan. Dari empat kerajaan utama tersebut terjadi koalisi yaitu Panjalu (Kadiri) dengan Ngurawan dan Jenggala dengan Kahuripan. Penyebutan Jayakatwang sebagai raja Gelang-Gelang merupakan bukti bahwa setelah dinobatkan sebagai Raja di Kadiri oleh Sri Kertanegara beliau tetap menguasai kerajaan Gelang-Gelang di negeri Ngurawan. Bahkan dalam Prasasti Penanggungan 1218 C/1296 M disebutkan bahwa Jayakatwang telah menduduki ibukota Daha dan memerintah Singhasari sebagai negeri bawahan setelah penyerangan ke Singhasari tahun 1292 M.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;5. Mengenai Kidung Harsawijaya yang mengatakan bahwa Sri Kertanegara tidak khawatir tentang akan adanya kemungkinan serangan dari Kediri, karena ia percaya bahwa Raja Jayakatwang tidak akan menyalah-gunakan kebaikan sang prabu, yang telah sudi mengangkatnya sebagai raja Kediri. Uraian tersebut janganlah dilihat sebagai kesalahan, namun seharusnya Prof. Dr. Slamet Muljana melihatnya sebagai penguat bahwa Jayakatwang yang leluhurnya penguasa Kediri diberikan kepercayaan besar oleh Maharaja Kertanegara memerintah di tanah leluhurnya di bumi Kadiri (eks-Panjalu). Raja Sminingrat memang mengangkat Jayakatwang sebagai raja, tapi itu di negeri Wurawan yang beribu kota di Gelang-Gelang, bukan di Kadiri yang beribu kota di Dahanapura sebagai tanah suci para leluhur. Setelah diberi kehormatan bertahta di tanah leluhurnya di Kadiri, membuat Jayakatwang berhutang besar kepada raja Kertanegara, oleh karena itu Sri Kertanegara tidak menaruh curiga terhadap raja Jayakatwang akan pemberontakan yang dilakukan iparnya tersebut, apalagi Ardharaja anak Jayakatwang dijadikan menantu Sri Kertanegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah mengapa Sri Kertanegara mempercayakan tahta nomer dua kepada Jayakatwang? Apakah ada hubungannya dengan Ardharaja sebagai menantu sekaligus calon pengganti Raja Kertanegara? Kalau Ardharaja disiapkan untuk menjadi pengganti Sri Kertanegara, untuk apa Jayakatwang menyerang Singhasari? toh pasti menjadi hak Ardharaja sebagai wakil istrinya menjabat sebagai Raja. Lalu bagaimana posisi Raden Wijaya sebagai keturunan Narasinghamurti yang sangat berjasa dan dekat dengan Raja Sminingrat? Bahkan kalau dirunut Raden Wijaya juga punya hak yang lebih besar sebagai Mantu raja dibanding Ardharaja? hal-hal tersebut masih perlu diselidiki.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa sejak Raja pertama Tumapel yaitu Sri Ranggah Rajasa berkuasa, Kadiri dijadikan ibu kota kerajaan kedua, dengan diberikan kepada putra mahkotanaya, yaitu Bhathara Paramecwara (dalam prasasti Mula-Malurung) yang disamakan dengan tokoh Mahisa Wongateleng dalam Pararaton sebagai anak Sri Ranggah Rajasa tertua (hasil analisa Prof. Dr. Slamet Muljana). Ternyata kebiasaan ini berlaku sampai Raja Sminingrat yang meletakkan Putra mahkotanya, yaitu Sri Kertanegara sebelum menjadi Maharaja di Tumapel (Singhasari) bertahta dahulu di Daha bumi Kadiri. Hal ini ternyata menimbulkan polemik baru tentang teori dua keraton yang saling bersaing dari berita yang tersirat dalam prasasti Mula-Malurung (meneruskan tradisi Panjalu dan Jenggala) dan satu keraton yang penuh intrik perebutan kekuasaan dalam Pararaton, juga Negarakretagama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Baiklah saatnya kembali ke pembahasan utama yaitu Akar pendirian Kerajaan Majapahit oleh Raden Wijaya. Setelah Singhasari diruntuhkan Raja Jayakatwang maka Raden Wijaya yang lolos dari penyerangan ke puri Singhasari mencari perlindungan ke Madura yaitu adipati Wiraraja di Sumenep, hal ini sesuai dengan berita dalam Kidung Panji Wijayakrama, kitab Pararaton dan Sumber primer Prasasti Kudadu yang di keluarkan oleh Sangrama Wijaya berangka tahun 1216 C/1294 M mengenai proses pelariannya menuju Sumenep.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Wiraraja bukanlah tokoh asing lagi, pada masa Singhasari dia adalah tokoh yang dalam Pararaton berhasil menghasut Jayakatwang untuk segera menyerang Singhasari. Dalam dunia Politik dia ahli dalam bidang strategi. Hal ini terbukti dengan usulan agar Raden Wijaya berpura pura Menghamba kepada Raja Jayakatwang. Setelah mendapat kepercayaan, Wiraraja menyuruh agar Raden Wijaya meminta hutan orang Trik. Kemudian Wiraraja mengirim orang-orang Madura dan raden Wijaya mengerahkan orang Tumapel untuk membuka hutan tersebut untuk dijadikan desa. Saat pembukaan hutan ada salah satu prajurit yang lapar lalu memakan buah Maja namun terasa pahit sekali. Dari kejadian tersebut dinamakanlah desa tersebut Maja-Pahit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;LOKASI AWAL IBU KOTA KERAJAAN MAJAPAHIT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sesuai sumber Kitab Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama, lokasi daerah yang diminta Raden Wijaya adalah hutan belantara yang masuk wilayah orang Trik. Persoalannya dimanakah lokasi Trik ini? Sampai sekarang daerah yang memiliki bukti-bukti besar bekas keraton agung Majapahit adalah Trowulan, daerah yang terletak di ujung Selatan Kab. Mojokerto. Namun apakah hutan Trik yang dibuka menjadi Desa Majapahit oleh raden Wijaya adalah di Trowulan ini? Baiklah mari kita analisa bersama-sama dengan melihat sumber-sumber sejarah&amp;nbsp; yang ada dan Fakta-fakta yang berada di Lapangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;1. Majapahit didirikan di atas Tanah yang dahulunya adalah Hutan belantara milik orang Trik, berarti di daerah yang minimal agak jauh dengan pemukiman penduduk kampung. Lalu bagaimanakah Trowulan? Bila syaratnya adalah tanah hutan yang agak jauh dari pemukiman penduduk pada masa itu, jelas di daerah Trowulan tidak cocok bila memposisikan Majapahit awal di sana. Hal ini berdasarkan di daerah sekitar penemuan situs bekas Keraton di Trowulan adalah bekas pemukiman Kuno. Bukti tentang hal tersebut sangatlah jelas yaitu ditemukannya “Prasasti Alasanta” yang dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok pada tahun 861 C/939 M. Prasasti tersebut memberikan informasi tentang pemberian tanah sima Alasanta kepada Rakryan Kabayan, dan dihadiri oleh para rama dari desa desa sekitar sebagai saksi pada peresmiannya. Dari nama-nama desa yang tertera pada isi prasasti tidak ada yang menyebutkan daerah Trik. Kemudian Prasasti Kamban yang di keluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa pada tahun 893 C, ditemukan di Dukuh Pelem, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupatan Mojokerta.&lt;br /&gt;Prasasti Alasanta ditemukan sekitar 45 m barat daya Candi Brahu di wilayah desa Bejijong, sebelah utara desa Trowulan. Pada lempengan III.9-12 prasasti ini disebutkan para rama dari desa-desa di sekitar Alasanta yang hadir sebagai saksi pada peresmiannya menjadi sima. Berturut-turut disebutkan: rama ryy alasantan, rama ri lmah tulis, rama i skarbila, rama i lbuh runting, rama i Padanga, rama i tirim panda, rama ing lapan rupa dan rama i wulu taj (Wibowo, A.S.1979: 15). Penyebutan desa Lmah tulis setelah desa Alasanta itu mengindikasikan daerah tersebut saling berdekatan, faktanya Desa Kedungwulan yang (dahulu bernama Lmah tulis) terletak di desa Bejijong, tempat penemuan Prasasti Alasanta. Kemudian nama wanua i Tangunan (III.3) masih bisa kita temukan di sebelah tenggara trowulan sekarang. Nama wahuta i pageruyung (III.8-9) sekarang ada di desa pagerluyung sebelah utara trowulan. Nama rama i padangan masih terdapat pada desa padangan sebelah timur laut Trowulan. Dari data-data di atas jelaslah bahwa daerah Trowulan pada masa awal Majapahit adalah daerah yang cukup ramai di kelilingi pemukiman penduduk sejak masa Mpu Sendok sampai sekarang. Jadi identifikasi Trik di sekitar Trowulan kurang tepat, apalagi tidak adanya informasi tentang istilah Trik dalam prasasti Alasanta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Trowulan yang dahulu masuk daerah Alasanta dan juga daerah lmah tulis pastinya ramai dikunjungi para tokoh-tokoh dari Daha. Apalagi daerah lmah tulis (lmah Citra) bila dihubungkan dengan Tokoh Mpu Barada yang beragama Budha tentulah daerah ini sangat terkenal atas jasa-jasa sang Mpu yang dahulu pernah membelah Kerajaan raja Airlangga menjadi Panjalu dan Jenggala. Candi Brahu, dan Candi Gentong di daerah Bejijong yang bercorak agama Budha, menimbulkan penafsiran bahwa daerah tersebut sejak masa Airlangga sampai Majapahit merupakan daerah ke Budhaan, maka pantaslah pertapa Baradha tinggal di sana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;2. Sekilas Trowulan secara geografis cukup menguntungkan bila dijadikan pusat ibu kota kerajaan Majapahit yang menguasai Negara-negara di lima penjuru mata angin. Lokasinya yang di tengah-tengah jawa bagian timur menjadikannya lebih mudah untuk mengontrol Negara-negara bawahan utamanya, seperti Daha, Tumapel, Canggu-Ujunggaluh, Madura dan Tuban. Sebagai tempat pertahanan dari serangan luar jawa memang pantas karena sebelum menuju ibu kota di Trowulan musuh dari luar pasti mendarat di kota-kota pelabuhan yang telah dikuasainya. Selanjutnya menuju benteng-benteng pertahanan yang berlapis di daerah-daerah panca ring Wilwatikta sebelum akhirnya kepusat keraton Majapahit di Trowulan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Namun bila Wiraraja seorang yang ahli dalam strategi politik dan perang, maka penempatan Ibu kota kerajaan pada awal pendiriaanya di Trowulan tidak begitu menguntungkan. Selain dekat dengan musuh utamanya di Kadiri daerah Trowulan juga cukup jauh dengan kota pelabuhan yang dapat menghubungkan dengan daerah sekutunya di Madura. Kecuali daerah Canggu, Terung, dan Kambang sri dikuasai terlebih dahulu oleh Raden Wijaya, namun sesuai informasi dari Prasasti Kudadu daerah-daerah tersebut telah di kuasai prajurit Daha saat pelariannya ke Madura. Hal ini menjadikan Trowulan sangat rawan bila dijadikan basis pertahanan untuk pemberontakan terhadap Jayakatwang di Kadiri. Selain itu jalur Kadiri-Penanggungan melewati Trowulan, dimana pusat sakral, terutama dinasti Isana ada di gunung leluhur raja-raja Panjalu-Jenggala tersebut. Bila Jayakatwang meruntuhkan Singhasari karena salah satu sebabnya ingin balas dendam ataupun bercita-cita luhur mengembalikan kehormatan keluarga raja-raja Kadiri (Panjalu) yang berakar dari dinasti Isana, maka jelas daerah seperti Daha dan Penanggungan adalah daerah Sakral leluhur Jayakatwang yang tidak luput dari pengawasan pasukannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kalau Trowulan bukan Trik, lalu dimana sesungguhnya Trik berada? Bila kita buka peta Kab. Sidoarjo sekarang maka pada ujung Baratnya terdapat Kecamatan Tarik. Kecamatan ini berada antara perpecahan Sungai Mas yang menuju Canggu lalu Ujunggaluh dan Sungai Porong. Toponimi nama Trik sekarang menjadi Tarik. Namun cukup sulit untuk menemukan Lokasi ibukota kerajaan Majapahit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Ingrit H.E Pojoh yang berjudul Medowo Sebagai Kota Majapahi, dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus halaman 216-217 (1994) dapat menguak misteri tersebut, disebutkan bahwa :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Medowo adalah nama sebuah dukuh yang terletak di delta sungai Brantas, kurang lebih 5 kilometer sebelah timur percabangan sungai Brantas menjadi Sungai Mas(Surabaya) dan sungai Porong. Mayoritas wilayah dukuh ini secara administratif termasuk dalam wilayah desa Gampingrowo, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Penelitian di Medowo dilakukan Balai Arkeo­logi Yogyakarta pada tahun 1986 memperlihatkan bahwa pada permukaan tanah banyak ditemukan indikator desa sekaligus merupakan situs arkeo­logi. Tinggalan arkeologis tersebut antara lain tembikar, keramik, bata, genteng, sumur kuno, lumpang batu, dan batu calon prasasti (Kusumo­hartono 1990:48). Secara sederhana, situs ini memperlihatkan ciri situs permukiman dari perio­de Hindu-Buda. Pengujian lebih lanjut atas hasil penelitian pada situs Medowo yang luasnya sekitar 400 meter ini menunjukkan bahwa (1) tembikar dari situs Medowo memperlihatkan ciri Majapahit seperti halnya tembikar Trowulan; (2) keramik-ke­ramik Cina berasal dari masa yang berasal an­tara abad ke-13 hingga 14 Masehi; dan (3) anaisis karbon (C14) menunjukkan masa antara 1202-1440 M (Siswanto dkk., 1992). Selain itu, te­muan penggalian berupa struktur bata juga mem­perlihatkan kesamaan ukuran bata, pola ikat ba­ta, dan kemiringan orientasi dengan struktur bata yang dijumpai di situs Trowulan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, dapatlah situs Medowo ini di tempatkan pada masa yang sama dengan Majapahit. Dengan melihat persamaan artefak dan fitumya, maka sangatlah jelas bahwa baik Medowo maupun Trowulan adalah bekas sebuah permukiman kuno. Persoalan baru muncul apabi­la dipertanyakan apakah ada hubungan antara Medowo dengan Trowulan? Tentu saja ada, Medowo adalah pemukiman kuno yang memiliki struktur hampir sama dengan situs di trowulan. Bedanya situs Medowo di wilayah Trik sedang Trowulan jauh di pedalaman di daerah Alasanta dan Lmah Tulis. Jadi bila dikorelasikan dengan sumber sejarah Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama maka penulis lebih condong melokasikan ibukota Kerajaan Majapahit yang di bangun Raden Wijaya ada di daerah yang sekarang berada di Desa Gampingrowo Kec. Tarik Kab. Sidoarjo tersebut.&amp;nbsp; Ada beberapa alasan identifikasi daerah Tarik sebagai Trik ibu kota Majapahit awal :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Toponimi nama Tarik dengan Trik, dari istilah tersebut jelas memiliki kemiripan, hanya saja istilah sekarang ditambahi sisipan vokal ”a” menjadi”Tarik” . Jadi nama desa dan Kecamatan Tarik adalah nama daerah yang dahulu di sebut Trik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lokasi desa Gampingrowo dengan desa Tarik sekarang berjarak sekitar 4 km. Sekitar 6 km ke timur laut terdapat Waringin pitu (lokasi bendungan Waringin Sapta masa Airlangga), sekitar 7,5 km kearah timur lokasi dukuh Kelagen desa Watutulis tempat penemuan prasasti Kamalagyan (Masa Airlangga) dan bila 4 km ke arah utara terdapat desa Canggu di seberang sungai Brantas, sekarang masuk kecamatan Jetis, Kab. Mojokerto. &amp;nbsp;Hal ini berbeda dengan situs Trowulan di mana jarak situs Keraton Majapahit dengan situs masa sebelumnya sangat dekat bahkan satu lokasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kembali pada tokoh Wiraraja sebagai ahli strategi. Dilihat dari letak Geografisnya jelas sekali desa Gampingrowo sangatlah strategis sebagai tempat konsolidasi. Selain dahulu hutan belantara, namun tidak jauh pula dengan urat nadi perekonomian kerajaan-kerajaan pedalaman terdahulunya, seperti Singhasari, Panjalu-Jenggala dan Dinasti Isana, yaitu dekat dengan Pelabuhan Canggu, bendungan Waringin Sapta dan Muara sungai Brantas Ujunggaluh-Rembang juga Sungai Porong. Selain jauh dari pusat ibukota Dahanapura, dan tersembunyi di sekitar hutan orang Trik, dengan leluasa pasukan baru Majapahit mengembangkan kekuatannya yang berasal dari Madura dan Tumapel. Terlebih dahulu mereka bisa menguasai daerah sekitar Trik seperti Ujunggaluh, Canggu dan semua delta Brantas, maka hal ini akan melumpuhkan sendi perekonomian kerajaan Jayakatwang di Daha. Dari sinilah kita dapat melihat kecemerlangan strategi tokoh Wiraraja, khususnya dalam melumpuhkan kerajaan Jayakatwang di Daha.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagian pasukan Singhasari yang mengadakan ekspedisi Pamalayu belumlah pulang. Jadi lokasi di Tarik lebih tepat karena bila pasukan dari Melayu kembali mereka bisa langsung bergabung di Trik. Hal yang paling menguntungkan adalah saat bala tentara dari dinasti Yuan datang, oleh pihak raden Wijaya di jadikan sekutu, dan kemudian mereka menghancurkan kekuatan Jayakatwang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelabuhan Canggu berada di sebelah utara daerah Trik, hal ini sangat menguntungkan, karena pendiri pelabuhan dan sekaligus benteng Canggu adalah Raja Sminingrat atau Wisnuwardhana ayah dari raja Kertanegara raja besar Singhasari. Walau bagaimanapun pejabat-pejabat benteng sekaligus pelabuhan Canggu memiliki hutang budi terhadap keturunan dan keluarga Raja Wisnuwardhana. Dalam Prasarsti Kudadu pun dijelaskan pada waktu Raden Wijaya dalam pelarian dari kejaran pasukan Jayakatwang, beliau berniat mencari suaka ke desa Terung dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan akuwu Rakriyan Wuru Agraja, yang diangkat sebagai akuwu oleh mendiang Sri Kertanegara, dengan harapan memperoleh bantuan darinya untuk mengerahkan penduduk daerah timur dan timur laut Terung (Muljana, 2007:120-121) Dari sini kita ketahui bahwa di daerah delta Brantas masih banyak kepala-kepala daerah yang memiliki hutang budi dengan keluarga Singhasari. Hal ini pula yang menjadi alasan penempatan ibukota di Trik yang berada di antara percabangan sungai Brantas (S. Mas dan S. Porong).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelokasian beberapa tokoh sejarawan bahwa Trowulan dahulu termasuk wilayah Trik kurang dapat diterima. Hal ini berlandaskan antara Trowulan dengan Trik selain cukup jauh juga tanahnya terbelah oleh Sungai besar Brantas. Kebiasan orang dahulu, batas suatu daerah adalah alam, seperti hutan, bukit dan Sungai. Bila Trowulan wilayah Trik maka di manakah nama daerah Alasanta dan Lmah tulis berada? Bila nama daerah sekaliber Alasanta dan Lmah Tulis tidak dikenal, maka sebesar apakah daerah Trik dalam pengukiran sejarah kerajaan-kerajaan sebelum Majapahit? Apakah desa Alasanta tempat prasasti Mpu Sindok dan Lmah Tulis tempat Mpu Barada termasuk wilayah Trik? Hal ini kurang dapat diterima, karena daerah situs trowulan dahulu lebih terkenal nama-nama desa yang tertera dalam prasasti Alasanta dan Negara Kretagama, tanpa adanya nama Trik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa alasan tersebut maka Situs Medowo, desa Gampingrowo, kec Tarik kab. Sidoarjo, dapat diidentifikasi&amp;nbsp; sebagai bukti bekas lokasi ibu kota kerajaan Majapahit yang didirikan oleh raden Wijaya antara tahun 1214-1215 C/1292-1293 M. Kalau ibukota kerajaan di Tarik lalu situs apakah yang ada di Trowulan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;b&gt;PERPINDAHAN IBU KOTA MAJAPAHIT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dari data rekonstruksi para ahli arkeologi yang disesuaikan dengan kitab Negarakretagama maka situs Trowulan, Mojokerto adalah bekas Keraton Majapahit. Hal ini jangan diruetkan, karena ibu kota kerajaan Majapahit sama dengan yang lain pernah mengalami perpindahan ibukota kerajaan. Contoh konkrit perpindahan kerajaan masa Hindu-Budha adalah kerajaan Mataram masa Mpu Sindok dalam prasasti Turyan (851 C/929 M) disebutkan ibu kota kerajaan di Tamwlang namun dalam prasasti lain seperti Prasasti Anjukladang(859 C/937 M) ibu kota kerajaan berpindah di Watu Galuh; lalu pada masa Panjalu/Kadiri yang awalnya di Dahanapura, tiba-tiba dalam prasasti Kamulan (1116 C/1194 M) masa Raja Kretajaya berada di Katang-Katang; dan Masa Kerajaan Tumapel-Singhasari ibukota Kutaraja (Kota Bedah, Kota Malang) di pindah ke Singhasari (daerah kec. Singosari, Kab. Malang). Jadi Kerajaan Majapahit yang awalnya beribukota di daerah Trik di pindahkan ke daerah Trowulan sekarang. Namun muncul lagi pertanyaan, sejak kapan ibu kota kerajaan dipindah ke Trowulan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan untuk memindahkan kerajaan salah satunya yang paling sering dijumpai adalah Konsep kepercayaan bila sebuah keraton telah ternoda maka harus dipindah untuk mensucikannya. Contoh perpindahan ibukota kerajaan Tumapel-Singhasari, yang awalnya beribukota di Kutaraja dipindah ke daerah Singosari. Pemindahan ini berlangsung pada tahun 1176 C/1254 M (Negarakretagama 41/3) atau enam (6) tahun setelah mangkatnya Raja Anusapati yaitu pada tahun 1170 C/1248 M (Negarakretagama 41/1), dan empat (4) tahun setelah penyerangan terhadap Tohjaya pada tahun 1172 C/1250 M sesuai Pararaton. Jadi penggantian nama dari Kutaraja menjadi Singhasari dikarenakan ke tidak seimbangan kosmis akibat penodaan keraton dari pada peperangan antara keluarga Anusapati-Wisnuwardhana Cs Vs Tohjaya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Bila Tohjaya yang dalam Prasasti Mula-Malurung menjadi raja menggantikan adiknya, Raja Guning Bhaya, maka pristiwa pembunuhan Anusapati oleh Tohjaya tahun 1170 C/1248 M (dalam Pararaton) sangatlah kompleks. Hal ini disebabkan kedudukan antara Anusapati dan Tohjaya adalah sama-sama seorang Raja. Bedanya, menurut Prof. Dr. Slamet Muljana, Anusapati Bertahta di Kutaraja (nagara Tumapel), sedang Tohjaya bertahta di nagara Daha, Bumi Kadiri. Hal ini seolah-olah memperpanjang cerita permusuhan keluarga antara Kerajaan Panjalu yang diwakili Tohjaya melawan Jenggala yang diwakili Anusapati. Hal ini menimbulkan perpecahan lagi setelah Sri Ranggah Rajasa berhasil menyatukan Panjalu-Jenggala pada tahun 1222 M, namun perpecahan ini akhirnya di satukan kembali oleh persatuan Raja Wisnuwardhana-Narasinghamurti pada tahun 1172 C/1250 M. Pada tahun 1214 C/1292 M terbukti drama permusuhan antara Panjalu vs Jenggala terulang lagi dengan Keruntuhan Singhasari (Jenggala) oleh Jayakatwang dari darah Panjalu-Kadiri. Akhirnya Raden Wijaya menyatukan lagi pada tahun 1215 C/1293 M dan membangun keraton baru di wilayah Trik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemindahan Keraton Majapahit dari wilayah Trik ke daerah kuna Alasanta atau Lmah Tulis, yang sekarang Trowulan, maka dicari terlebih dahulu peristiwa penodaan keraton di Trik. Pada masa Raden Wijaya bertahta dengan nama Abishekanya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardana di temukan beberapa peristiwa pemberontakan. Menurut pararaton pada tahun 1217 C/1295 M terjadi pemberontakan Rangga Lawe dan 1222 C/1300 M terjadi pasora namun keduanya dapat ditumpas. Sampai akhir masa jabatan Raden Wijaya semua dapat di atasi, jadi sampai beliau wafat ibu kota kerajaan dapat di lindungi dari upaya-upaya penodaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pada masa raja kedua Majapahit, yaitu Raja Jayanegara putra Raden Wijaya yang bertahta pada tahun 1231 C/1309 M, terdapat pula beberapa pemberontakan. Menurut Negarakretagama (48/2) Peristiwa Perang Lumajang berlangsung pada tahun 1238 C/1316 M, namun peristiwa ini tidak menyentuh keraton karena peperangan terjadi di Lumajang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kemudian peristiwa yang dapat menggegerkan keseimbangan kosmologis&amp;nbsp; sekaligus menodai kesucian Keraton Majapahit di Trik adalah Pemberontakan Kuti pada tahun1241 C/1319 M yaitu Sembilan (9) tahun sebelum mangkatnya Raja Jayanegara (Muljana, 2005:236). Peristiwa ini dalam pararaton di jelaskan telah berhasil menguasai keraton, namun Raja Jayanegara berhasil diselamatkan oleh Bekel Gajah Mada menuju desa Bedander. Tidak begitu lama peristiwa ini berlangsung, setelah Gajah Mada berhasil menguasai keraton lagi maka Rajapun pulang ke Kraton. Dari peristiwa ini di ketahui bahwa raja kembali lagi kekeratonnya, yang semestinya masih di daerah Trik. Hal ini bukan berarti Jayanegara tidak memindahkan keratonnya setelah pemberontakan Kuti yang berhasil menduduki ibu kota kerajaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Hal kembalinya seorang raja ke Keratonnya setelah terjadi penyerangan ataupun dikuasainya keraton oleh musuh bukanlah hal baru. Hal ini sering terjadi bahkan di sebutkan dalam sumber-sumber tertulis. Contoh dalam Prasasti Pucangan (963 C/1041 M) dan Prasasti Terep I (954 C/1034 M) mengenai penyerangan keraton Airlangga di Wwatan Mas sehingga Raja mengungsi ke Patakan, namun setelah musuh dapat di usir Rajapun kembali lagi. Pada Masa Panjalu-Kadiri, dalam prasasti Kamulan (1116 C/1194 M) masa raja Kretajaya waktu dapat serangan dari sebelah Timur (mungkin daerah Tumapel) disebutkan“&lt;i&gt;....lagi kilala mwang kalasana&amp;nbsp; decanya padapuran Cri Maharaja tatkala ni…n kentar sangke kadatwan ring Katangkatang deni Nkin malr yatik kaprabhun Cri Maharaja siniwi ring bumi Kadiri..&lt;/i&gt;”( Brandes, 1913:173 )&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Prasasti ini mengenai permohonan para samya haji katandan sapakat, karena telah mengembalikan raja ke atas singasana di bumi Kadiri, setelah sebelumnya terpaksa meningalkan istananya di Katangkatang karena ada serangan musuh dari timur (sebelah Timur Kadiri? jangan-jangan Tumapel).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kemudian peristiwa Pertumpahan darah antara Kerajaan yang di pimpin Tohjaya dengan Kerajaan Anusapati dengan hasil kematian Anusapati di Tumapel pada tahun 1170 C/1248 M, namun penerusnya yaitu Sminingrat tetap bertahta di Kutaraja. Namun pada tahun 1176 C/1254 M ibu kota dipindahkan ke Singhasari. Antara tahun kematian Anusapati dengan pemindahan kerajaan berselang enam (6) tahun, dan empat (4) tahun setelah suasana politik setabil karena ditaklukkannya Raja Tohjaya. Jadi membutuhkan bertahun-tahun untuk memindahkan kerajaan supaya layak dihuni sesuai syarat kosmologi yang berlaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sama juga dengan proses pemindahan ibukota Majapahit dari daerah Tarik ke Trowulan, membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sebuah pemberontakan/ penyerangan biasanya datang secara tiba-tiba, namun untuk menentukan lokasi ibu kota dan proses pemindahan ibu kota baru sangatlah memakan waktu. Jadi Setelah pemberontakan Kuti yang mendadak berhasil ditumpas, maka Raja untuk sementara kembali ke Kraton yang lama untuk menunggu pembangunan Keraton yang baru, yaitu di daerah yang sekarang di sebut Trowulan. Hal ini terbukti dari Negarakretagama 48/3 bahwa pada tahun 1250 C/1328 M Raja Jayanegara meninggal dan salah satu tempat pendharmaannya selain di dalam Pura sebagai Wisnuparama juga disebutkan Bubat ditegakkan arca Wisnu. Apabila Bubat yang dimaksud sama dengan nama lapangan yang dipakai dalam peristiwa Pasundan Bubat pada masa Raja Hayam Wuruk, maka Keraton yang dimaksud adalah Keraton yang sekarang berada di Trowulan. Karena dalam Negarakretagama 86/1 (Muljana, 2007: 399) di sebutkan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut tiga Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dari penyebutan ”bubat” dalam Negarakretagama sebagai salah satu tempat pendharmaan Raja Jayanegara, maka dapat ditafsirkan saat beliau meninggal, bubat telah ada. Lokasi bubat sesuai Negarakretagama pupuh 86/1 di atas, yaitu berada di utara ibu kota Majapahit pada masa Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M). Sedangkan seperti yang telah diketahui Hayam Wuruk adalah raja yang paling berjaya, dan lokasi ibu kota kerajaan sudah ada di Trowulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DAFTAR RUJUKAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Brandes, J.L.A. 1913, Oud Javaancshe Oorkonden, Albrecht &amp;amp; Co, Batavia&lt;br /&gt;Groeneveldt, 1880. Notes on the Malay Archipelago and Malacca Compiled from Chinese Sources. Diterjemahkan Gatot Triwira, 2009. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Jakarta: Komunitas Bambu.&lt;br /&gt;Kaertakusuma, R. 2002. Prasasti Mula-Malurung Koleksi Puslit Arekeologi (C.82): Tinjauan awal Atas Pahatan Prasasti-Prasasti Mula-Malurung. Makalah disajikan dalam seminar Nasional “Sejarah Kediri”. Kediri: FPIPS IKIP PGRI KEDIRI&lt;br /&gt;Muljana, S.2005. Menuju Puncak Kemegahan. Yogyakarta: LKiS &lt;br /&gt;Muljana, S.2007. Tafsir Sejarah Negara Kretagama. Yogyakarta: LKiS &lt;br /&gt;Munib, NB. 2011. Dinamika Kekuasaan Jayakatwang di Kerajaan Glang - Glang Tahun 1170 - 1215 Caka : Tinjauan Geopolitik.&amp;nbsp;(Skripsi) Malang : FIS UM&lt;br /&gt;Pojoh, Ingrit H.E.1994. Medowo Sebagai Kota Majapahit; dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus: 216-217. Jakarta: Lembaga Arkeologi FSUI &lt;br /&gt;Wibowo, A.S.1979. dalam Majalah Arkeologi. Jakarta: Lembaga Arkeologi FSUI&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/1850267786703060564/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/lokasi-awal-ibukota-majapahit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/1850267786703060564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/1850267786703060564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/lokasi-awal-ibukota-majapahit.html' title='Lokasi Awal Ibukota Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZy-7ZUnvzchf2S57enDFPGLq3i3qvPS5aFhMm-mAR4m8-Q1MDx9ZwfGpiwYRnWE4wgkV3BkjwLEBXPHOOOki82BW4zQiKSmsXmF7XP87i8oPz-JPI2dziFCRybhyTAaicuyR0qWo4huZH/s72-c/Awal-Ibukota.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-5190312427047245582</id><published>2016-11-10T09:03:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T01:08:28.295-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="informasi"/><title type='text'>Majapahit menguasai Nusantara itu benar.</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.co.id/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Ada pendapat baru tentang sejarah Majapahit. Pendapat yang menyatakan bahwasanya Majapahit tidak pernah menguasai daerah-daerah lain di Nusantara atau luar Jawa. Majapahit, menurut teori tersebut hanya meliputi wilayah Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Majapahit tidak pernah berkuasa di luar wilayah itu. Daerah-daerah atau negeri-negeri di luar Majapahit atau di luar wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah punya kedudukan sederajat dengan pihak kerajaan Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaC_Ab-htdCkfunf7xrR6rpqUyiAjVjBTwcw_ZABxSPcyK9FOW0sRTMQvpCxuOItjVXKsmUkyse7KkyfRJ7arrN98J7qRCjv1aVeZqGsonaYl4CYfTuS0h-ApLdjyhDVO7bqF7obUlCpUQ/s1600/Bhayangkari-Majapahit.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;232&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaC_Ab-htdCkfunf7xrR6rpqUyiAjVjBTwcw_ZABxSPcyK9FOW0sRTMQvpCxuOItjVXKsmUkyse7KkyfRJ7arrN98J7qRCjv1aVeZqGsonaYl4CYfTuS0h-ApLdjyhDVO7bqF7obUlCpUQ/s320/Bhayangkari-Majapahit.jpg&quot; title=&quot;Bhayangkari Majapahit&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka tidak tunduk pada kekuasaan Majapahit. Mereka adalah MITREKA SATATA Majapahit. Mitreka Satata artinya negeri sahabat yang memiliki kedudukan sejajar tidak menguasai dan tidak dikuasai. Teori atau pendapat itu diluncurkan oleh Prof Hasan Djafar, arkeolog dan epigrafi UI dan penulis buku Masa Akhir Majapahit : GIRINDRAWARDDHANA dan Masalahannya.&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tulisan yang mengulas pendapat Prof Hasan Djafar bahwa Majapahit tidak pernah menguasai nusantara telah lama beredar di dunia maya atau media digital. Beberapa media mainstream digital juga percaya begitu saja pendapat Prof Hasan Djafar. Dapat lihat di&amp;nbsp; http://www.antaranews.com/berita/187050/majapahit-tidak-menguasai-seluruh-usantara dan lainnya ada di http://regional.liputan6.com/read/2485464/baru-diketahui-majapahit tak-pernah-kuasai-nusantara.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Seberapa jitu teori Prof Hasan Djafar yang menyatakan bahwa Majapahit tidak pernah menaklukkan negeri-negeri di luar pulau Jawa atau Nusantara?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kesempatan ini akan kita cek kejituan teori dari Prof Hasan Djafar. Sebagaimana diketahui, beliau selama ini gencar kampanyekan pendapatnya di banyak kesempatan bahwa berita Majapahit pernah menguasai Nusantara adalah omong kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu omong kosong!” ujar Hasan, “tidak ada sumber yang mengatakan seperti itu.” Dia mengingatkan, kalau sejarah harus berdasarkan sumber berarti semuanya harus kembali ke sumber tertulisnya. “Wilayah Majapahit itu ada di Pulau Jawa―itu pun hanya― Jawa Timur dan Jawa Tengah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dikenal sebagai kerajaan Hindu-Buddha yang terbesar, kenyataannya Majapahit tak pernah menguasai Nusantara. Hasan mengungkapkan dalam etimologi &quot;menguasai&quot; ada kesan seolah-olah ada daerah atau wilayah taklukan dan ada upeti yang disetorkan dari penguasa daerah kepada Raja Majapahit. Faktanya, kata Hasan, hubungan Majapahit dengan daerah-daerah sekitarnya bersifat &quot;mitra satata&quot; alias sahabat setara atau mitra dalam kedudukan yang sama tinggi.[Baca: Baru Diketahui, Majapahit Tak Pernah Kuasai Nusantara]. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prof Hasan Djafar berpendapat bahwa negeri-negeri atau kerajaan kerajaan di luar wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah kedudukannya adalah sebagai Mitreka Satata dengan Majapahit atau sebagai negeri sahabat yang tidak punya kewajiban mengirim upeti tiap tahun sebagai tanda takluk negara bawahan Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata Prof Hasan Djafar telah keliru membaca atau memahami negeri-negeri Mitreka Satata Majapahit dalam Kakawin Negarakertagama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan Kakawin Negarakertagama, yang merupakan negeri-negeri Mitreka Satata Majapahit adalah negeri-negeri asing yang berada di luar Indonesia sekarang. Jaman Majapahit, negeri-negeri yang termasuk sebagai Mitreka Satata Majapahit adalah negeri-negeri yang berada di luar zona wilayah Nusantara kekuasaan Majapahit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negeri-negeri Mitreka Satata Majapahit, menurut Kakawin Negarakertagama antaranya negeri-negeri asing seperti Siam, Campa, Kamboja, Yawana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negeri Tiongkok tidak ditulis sebagai salah satu negeri Mitreka Satata Majapahit. Ini menunjukkan pada tahun 1365M, tahun selesainya penulisan kakawin negarakertagama oleh Prapanca, Negeri Tiongkok yang waktu itu masih dalam kekuasaan Dinasti Yuan, tidak dianggap sebagai negeri sahabat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada faktanya memang sekitar tahun itu, pernah terjadi perselisihan di sekitar perairan Malaka antara armada perang Majapahit dengan pihak negeri Tiongkok. Itu terjadi paska wafatnya Adityawarman maharaja Pagaruyung Malayu. Dalam perkembangannya, sekitar jaman Laksamana Cheng Ho, kemungkinan besar negeri Tiongkok Dinasti Ming masuk sebagai salah satu Mitreka Satata Majapahit. Jaman pemerintahan Maharani Sri Suhita, bahkan ada mahaduta Tiongkok yang ditempatkan di kotaraja Majapahit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian sekilas soal Mitreka Satata atau negeri-negeri sahabat Majapahit. Istilah Mitreka Satata yang dipakai Prof Hasan Djafar jelas mengambil dari kakawin Negarakertagama atau Desawarnnana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negarakertagama wirama 13-16, menurut Prof I Ketut Riana, menguraikan wilayah jajahan serta negara sahabat yang berhubungan dengan Majapahit. Jadi ada negara negara sahabat dan ada negara negara jajahan Majapahit. Mitreka Satata adalah negara negara sahabat Majapahit yang punya kedudukan sederajat tidak punya kewajiban kirim upeti rutin tiap tahun sebagai tanda takluk kepada Majapahit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berbeda dengan negara negara jajahan Majapahit yang punya kewajiban kirim upeti rutin tiap tahun dalam pisowanan agung sebagai tanda takluk kepada Majapahit. Negara negara jajahan Majapahit diuraikan lengkap dan terperinci dalam Kakawin Negarakertagama. Demikian pula negara negara asing yang menjadi sahabat atau Mitreka Satata Majapahit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negara negara sahabat atau Mitreka Satata Majapahit diuraikan dalam wirama 15 Kakawin Negarakertagama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
nahan lwirning desantara kacaya de sri narapati, tuhun tang syangkayodhya pura kimutang dharma nagari marutma mwang ring raja pura nguniweh sangha nagari ri campa kambhoja nyati yawana MITREKA SATATA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terjemahan Prof I Ketut Riana dalam buku Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
inilah negara asing yang berhubungan dengan baginda raja ternyata negeri siya [siam] Ayodia pura, begitu pula dharma nagari marutma, dan rajapura terutama sangha nagari campa, kambhoja, dan yawana selalu bersahabat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan berita Kakawin Negarakertagama terdapat 8 negeri yang termasuk Mitreka Satata Majapahit yaitu: Siam/Syangka, Darmanegara, Martaban/Birma/Myanmar, Rajapura, Singanagari, Campa, Kamboja, dan Jawana/Annam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negeri-negeri yang termasuk Mitreka Satata atau sahabat Majapahit jelas tidak punya kewajiban sowan dan kirim upeti rutin tiap tahun ke Majapahit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau soal bertukar hadiah antara Majapahit dengan negeri-negeri sahabat sudah barang tentu kerap dilakukan sebagai tanda persahabatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang pasti, hadiah berbeda dengan upeti. Hadiah sifatnya tidak wajib, sedang upeti sifatnya wajib. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi saya juga heran ketika prof Hasan Djafar menyamakan kedudukan hadiah dengan upeti yang berlaku pada jaman Majapahit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya ada beberapa sumber selain kakawin Negarakertagama yang dapat digunakan untuk menyanggah pendapat Prof. Hasan Djafar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita berita keberadaan Majapahit muncul dalam beberapa naskah lokal nusantara seperti dalam Sajarah Malayu atau Hikayat Banjar. [Sekilas Hikayat Banjar dapat lihat http://www.siwisangnusantara.web.id/2016/02/hikayat-banjar.html] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal kenapa sampai sekarang belum ada kabar penemuan prasasti bertanda lanchana maharaja Majapahit di beberapa daerah Nusantara atau luar Jawa, perlu pembahasan dan kajian lanjut. Saya berpendapat, hal itu, tidak adanya prasasti seperti prasasti yang berisi anugerah sima perdikan, di luar Jawa, lebih karena daerah daerah atau negeri-negeri bawahan Majapahit di Nusantara tetap berhak mengatur urusan rumah tangganya sendiri, masih berhak mengelola tata pemerintahannya sendiri tanpa campur tangan lebih jauh dari pihak Majapahit sebagai kerajaan Induk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir semua prasasti yang dikeluarkan raja Majapahit yang sebagian banyak berupa prasasti anugerah sima perdikan, diberikan kepada daerah daerah di zona keraton yang ditempati seorang Bhre atau di keraton yang dipimpin keluarga Raja Majapahit. Dan itu berada di Jatim dan Jateng. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negeri Palembang pernah dipimpin Arya Damar, seorang anggota keluarga raja Majapahit. Semestinya di sana ada temuan prasasti bertanda lanchana Raja Majapahit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski belum ada temuan prasasti atas nama raja Majapahit di Palembang, keberadaan tokoh bernama Arya Damar atau Aria Abdilah di Palembang, menunjukkan bahwa Majapahit tidak sekadar berkuasa di Jatim dan Jateng. Ketika negeri-negeri lain di pulau Sumatera melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit, Negeri Palembang diriwayatkan masih setia terhadap Majapahit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ADA satu lagi data sejarah yang menunjukkan bahwa Majapahit tidak sekadar berkuasa di Jatim dan Jateng, yaitu prasasti Waringin Pitu yang dikeluarkan maharaja Majapahit Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya tahun 1447M. Dalam prasasti ini menyebutkan satu kerajaan bawahan Majapahit yang ditempati seorang anggota keluarga raja Majapahit bernama Manggalawardhani dyah Suragharini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permaisuri Sang Sinagara Rajasawardhana dyah Wijaya Kumara ini berkuasa di keraton Tanjungpura dan dikenal sebagai ratu Tanjungpura I. Dalam buku GIRINDRA:Pararaja Tumapel-Majapahit, saya mengidentifikasi bahwa Tanjungpura adalah daerah di pulau Kalimantan. Pada jaman kerajaan Singasari, daerah ini bernama Bakulapura. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiranya data data berita yang saya tampilkan ini dapat membuka pemandangan beliau Prof Hasan Djafar tentang kesejarahan Majapahit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaman Majapahit akhir [sekitar tahun 1464M-1527M] wilayah kekuasaan Majapahit memang sudah ciut, hanya di Jatim dan sebagian Jateng. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Majapahit pernah menguasai Nusantara, bukanlah omong kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lanjutkan pada artikel &lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/bukti-kejayaan-majapahit-di-sumatera.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;berikutnya&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/5190312427047245582/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/majapahit-menguasai-nusantara-itu-benar.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/5190312427047245582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/5190312427047245582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/majapahit-menguasai-nusantara-itu-benar.html' title='Majapahit menguasai Nusantara itu benar.'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaC_Ab-htdCkfunf7xrR6rpqUyiAjVjBTwcw_ZABxSPcyK9FOW0sRTMQvpCxuOItjVXKsmUkyse7KkyfRJ7arrN98J7qRCjv1aVeZqGsonaYl4CYfTuS0h-ApLdjyhDVO7bqF7obUlCpUQ/s72-c/Bhayangkari-Majapahit.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-6358432843426124354</id><published>2016-11-09T00:59:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T01:19:32.491-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="informasi"/><title type='text'>Bukti Kejayaan Majapahit di Sumatera</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa yang dikuasai oleh kerajaan Majapahit pada pertengahan abad empatbelas sebagaimana yang diberitakan di dalam Kitab Negarakretagama pupuh XIII dan XIV adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Di &lt;b&gt;Sumatera&lt;/b&gt; : Jambi, Palembang, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Siak, Rokan, Mandailing, Panai, Kampe, Haru, Temiang, Parlak, Samudra, Lamuri, Barus, Batan, Lampung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Di &lt;b&gt;Kalimantan&lt;/b&gt; (Tanjung Pura) : Kapuas, Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Singkawang, Tirem, Landa, Sedu, Barune (Brunei), Sukadana, Seludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung Kutei, Malano.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Di &lt;b&gt;Semenanjung Tanah Melayu&lt;/b&gt; (Hujung Medini) : Pahang, Langkasuka, Kelantan, Saiwang, Nagor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik (Singapura), Kelang, Kedah, Jerai (*).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Di &lt;b&gt;sebelah Timur Pulau Jawa&lt;/b&gt; : Bali, Badahulu, Lo Gajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Dompo, Sapi, Gunung Api, Seram,&amp;nbsp; Hutan Kadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galion, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon atau Maluku, Wanin, Seran, Timor.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin daftar daerah-daerah di atas terasa agak berlebihan, sebaliknya perlu kiranya dipahami bahwa pengertian daerah bawahan pada abad empat belas (jaman Majapahit) berbeda dengan pengertian koloni atau jajahan dalam jaman modern sekarang ini. Persembahan upeti yang tidak terlalu banyak jumlahnya oleh sebuah daerah tertentu kepada Majapahit, sudah dapat dianggap sebagai bukti pengakuan daerah tersebut terhadap kekuasaan Majapahit dan oleh karenanya maka daerah tersebut dianggap sebagai daerah bawahan Majapahit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFHTxu-B90yJhT8qXFFMu5oyTNBfekzTCOF26TeW8eOi3MpVYzG-RCq8_rzyelMU8zap-74dqscQOpq7vGroQ8dU-kNoh_ZGNythDQf19rdFjHSfCyMM6zOmDqcQiRUZJcOfJYzLUhcko5/s1600/Wilayah-Majapahit.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;197&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFHTxu-B90yJhT8qXFFMu5oyTNBfekzTCOF26TeW8eOi3MpVYzG-RCq8_rzyelMU8zap-74dqscQOpq7vGroQ8dU-kNoh_ZGNythDQf19rdFjHSfCyMM6zOmDqcQiRUZJcOfJYzLUhcko5/s400/Wilayah-Majapahit.jpg&quot; title=&quot;Wilayah Kekuasaan Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagai misal ialah daerah Pu-ni (Brunei) yang hanya mempersembahkan upeti tahunan berupa kapur barus sebanyak empat puluh kati kepada Raja Majapahit. Kiranya tidaklah dapat dipungkiri bahwa dalam abad ke empatbelas, kerajaan Majapahit merupakan sebuah kekuasaan besar di kawasan Asia Tenggara, menggantikan kedudukan Mataram Kuno dan Sriwijaya, dua buah kerajaan besar yang berbeda dasarnya. Mataram Kuno berbasis agraris sedangkan Sriwijaya berbasis maritim. Kedua basis tersebut dimiliki oleh kerajaan Majapahit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Penundukkan daerah-daerah di luar Jawa ini baru dilakukan oleh Majapahit setelah seluruh wilayah Jawa Timur dikuasai secara penuh. Pelaksanaannya baru berjalan mulai tahun 1343 M dengan pertama-tama menundukkan Bali, pulau yang paling dekat dengan Jawa. Antara tahun 1343 dan 1347 Pu Adityawarman meninggalkan Jawa untuk mendirikan kerajaan Malayapura di Minangkabau, Sumatera, seperti diberitakan dalam prasasti Sansekerta pada arca Amoghapasa (1347). Pada prasasti itu Adityawarman bergelar &quot;Tuhan Patih&quot;. Gelar Tuhan Patih dalam prasasti tersebut menunjukkan bahwa Adityawarman menjalankan pemerintahan di kerajaan Malayapura atas nama raja Majapahit Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Berita Cina dari Dinasti Ming (W.P. Groeneveldt, &lt;i&gt;&lt;b&gt;Notes on the Malay Archipelago and Malaca, compiled from Chinese sources&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, halaman 69) menyatakan bahwa pada tahun 1377 Suwarnabhumi (Sumatera) diserbu oleh tentara Jawa (Majapahit). Putera mahkota Suwarnabhumi tidak berani naik tahta tanpa bantuan dan persetujuan kaisar Cina, karena takut kepada raja Jawa (Majapahit). Kaisar Cina lalu mengirim utusan ke Suwarnabhumi untuk mengantarkan surat pengangkatan, namun di tengah jalan dicegat oleh tentara Jawa (Majapahit) dan kemudian dibunuh. Meskipun demikian, kaisar Cina tidak berani mengambil tindakan balasan terhadap raja Jawa (Majapahit), karena mengakui bahwa tindakan balasan tidak dapat dibenarkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab utama serbuan tentara Jawa (Majapahit) pada tahun 1377 tersebut adalah pengiriman utusan ke Cina (tahun 1373) yang dilakukan oleh raja Suwarnabhumi tanpa sepengetahuan raja Jawa (Majapahit). Pengiriman utusan tersebut dianggap sebagai sebuah pelanggaran terhadap status kerajaan Suwarnabhumi yang sebenarnya adalah merupakan negara bawahan Majapahit. Tarikh penundukkan kerajaan Suwarnabhumi kiranya terjadi di sekitar tahun 1350. Keruntuhan kerajaan Suwarnabhumi ini mengakibatkan jatuhnya daerah-daerah bawahannya di Sumatera dan di Semenanjung Tanah Melayu ke dalam kekuasaan Majapahit. Duabelas negara bawahan kerajaan Suwarnabhumi tersebut adalah : Pahang, Trengganu, Langkasuka, Kelantan, Woloan, Cerating, Paka, Tembeling, Grahi, Palembang, Muara Kampe dan Lamuri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya daerah Palembang dijadikan batu loncatan bagi tentara Majapahit untuk menundukkan daerah-daerah lainnya di sebelah Barat pulau Jawa. Namun di daerah-daerah tersebut tidak diketemukan piagam atau prasasti sebagai bukti adanya kekuasaan kerajaan Majapahit. Hikayat-hikayat daerah yang ditulis kemudian menyinggung adanya hubungan antara pelbagai daerah tersebut dengan Majapahit dalam bentuk dongengan, tidak sebagai sebuah catatan sejarah khusus. Dongengan-dongengan tersebut menunjukkan sekedar kekaguman terhadap keagungan kerajaan Majapahit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah Melayu (&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sejarah Melayu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, edisi Shellabear, Kisah II) mencatat dongengan tentang kejayaan serbuan Tumasik oleh tentara Majapahit berkat pembelotan seorang pegawai kerajaan yang bernama Rajuna Tapa. Konon sehabis peperangan, Rajuna Tapa kena umpat sebagai balasan khianatnya, berubah menjadi batu di sungai Singapura, rumahnya roboh dan beras simpanannya menjadi tanah. Dongengan itu mengingatkan serbuan Tumasik oleh tentara Majapahit di sekitar tahun 1350, karena Tumasik termasuk salah satu pulau yang harus ditundukkan dalam program politik Gajah Mada, dan tercatat dalam daftar daerah bawahan Majapahit dalam Kitab Negarakretagama pupuh XIII.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Negara Islam Samudra Pasai di Sumatera Utara juga tercatat sebagai bawahan Majapahit. Dongengan romantis tentang serbuan Pasai oleh tentara Majapahit diberitakan dalam &quot;&lt;b&gt;Hikayat Raja-Raja Pasai&lt;/b&gt;&quot;&amp;nbsp; (&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hikayat Raja-Raja Pasai&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, 1819, disalin dengan huruf Romawi oleh J.P.Mead dalam IMBRAS no.66; dibicarakan oleh J.L.A Brandes dalam Pararaton, 1896; dibahas oleh R.O Winstedt dalam karangan &quot;&lt;i&gt;&lt;b&gt;The Chronicles of Pasai&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&quot;, &lt;b&gt;IMBRAS&lt;/b&gt;, vol. XVI, 1938; oleh Dr. R. Roolvink dalam karangan &quot;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hikayat Raja-Raja Pasai&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&quot; di &lt;b&gt;Majalah Bahasa dan Budaya&lt;/b&gt;, vol. II no.3, 1954; oleh Prof. A. Teeuw dalam karangan &quot;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hikayat Raja-Raja Pasai&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&quot; di &lt;b&gt;Malayan and Indonesian Studies&lt;/b&gt;, Oxford, 1964), demikian :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Pada pemerintahan Sultan Ahmad di Pasai, puteri Gemerancang dari Majapahit jatuh cinta kepada Abdul Jalil, putera Raja Ahmad, hanya karena melihat gambarnya. Oleh karena itu ia berangkat ke Pasai dengan membawa banyak kapal. Sebelum mendarat terdengar kabar bahwa Abdul Jalil telah mati dibunuh oleh ayahnya. Karena kecewa dan putus asa, puteri Gemerancang berdoa kepada Dewa agar kapalnya tenggelam. Doa itu dikabulkan. Mendengar akan hal tersebut, Sri Nata Majapahit menjadi murka, lalu mengerahkan bala tentara untuk menyerang Pasai. Ketika tentara Majapahit menyerbu Pasai, Sultan Ahmad berhasil melarikan diri, namun Pasai dapat dikuasai dan diduduki oleh tentara Majapahit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspedisi ke Sumatera ini mungkin sekali dipimpin langsung oleh Gajah Mada sendiri, karena terdapat beberapa nama tempat di Sumatera Utara yang mengingatkan kita akan serbuan ke Pasai oleh tentara Majapahit, dan dongengannya memang ditafsirkan demikian oleh rakyat setempat (H.M Zainuddin, &lt;b&gt;Tarich Acheh dan Nusantara&lt;/b&gt;, Bab XVII, hal. 220-236), misalnya sebuah bukit di dekat kota Langsa bernama &lt;b&gt;Manjak Pahit&lt;/b&gt; (toponim dari Majapahit). Menurut dongengan tersebut tentara Majapahit membuat benteng di atas bukit itu dalam persiapan menyerang daerah Temiang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Daerah rawa antara Perlak dan Peudadawa bernama &lt;b&gt;Paya Gajah&lt;/b&gt; (Gajah Mada), karena menurut dongeng rawa itu dilalui oleh tentara Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada dalam perjalanan menuju Lhokseumawe dan Jambu Air, yang menjadi sasaran utama serangannya. Bukit Gajah yang terletak di pedalaman disebut demikian, karena setelah mendarat Gajah Mada beserta bala tentaranya langsung bergerak menuju bukit tersebut. Daerah di sebelah bukit tersebut bernama &lt;b&gt;Meunta&lt;/b&gt; (sebuah perubahan dari kata Mada), karena di tempat itulah Gajah Mada membuat persiapan untuk menyerang Pasai. Itulah beberapa nama tempat di Sumatera Utara yang agak mirip dengan Gajah Mada dan Majapahit, oleh karena itu mengingatkan peristiwa sejarah di sekitar tahun 1350, yakni serbuan Pasai oleh tentara Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;(*) &lt;b&gt;Kesah Raja Marong Mahawangsa&lt;/b&gt;, Penerbitan Pustaka Antara, Kuala Lumpur, 1965, hal.79. &quot;Akan pulau Serai itu pun juga hampirlah sangat bertemu dengan tanah daratan besar; maka akhirnya itulah yang disebut orang Gunong Jerai karena ia tersangat tinggi&quot;. Lihat juga Paul Wheatley, The Golden Khersonese, hal. 261.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lanjutkan ke &lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/bukti-kejayaan-majapahit-di-kalimantan.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;bagian berikutnya&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/6358432843426124354/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/bukti-kejayaan-majapahit-di-sumatera.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6358432843426124354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6358432843426124354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/bukti-kejayaan-majapahit-di-sumatera.html' title='Bukti Kejayaan Majapahit di Sumatera'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFHTxu-B90yJhT8qXFFMu5oyTNBfekzTCOF26TeW8eOi3MpVYzG-RCq8_rzyelMU8zap-74dqscQOpq7vGroQ8dU-kNoh_ZGNythDQf19rdFjHSfCyMM6zOmDqcQiRUZJcOfJYzLUhcko5/s72-c/Wilayah-Majapahit.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-7581236578477311253</id><published>2016-11-08T23:18:00.000-08:00</published><updated>2016-11-26T23:21:58.098-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="opini"/><title type='text'>Kemunduran Kerajaan Majapahit (kedua)</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.co.id/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Setelah masa interregnum berlangsung, maka pada tahun 1456 M tampillah Dyah Suryawikrama Girisawarddhana (salah seorang anak Dyah Kertawijaya, keponakan Suhita), yang semasa ayahnya menjadi raja Majapahit, ia telah berkedudukan sebagai Bhattara ing Wengker. Di dalam Pararaton ia disebutkan dengan gelarnya Bhra Hyang Purwwiwisesa, memerintah selama sepuluh tahun, meninggal pada tahun 1466 M dan di dharmakan di Puri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kemudian Bhre Pandan Salas (Bhattara ring Tumapel) menggantikan dan duduk sebagai raja Majapahit, nama lainnya yang terkenal adalah Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana. Ia meninggal pada sekitar tahun 1474 M. Pada tahun 1468 M, Dyah Suraprabhawa harus menyingkir dari kratonnya karena mendapat serangan dari Bhre Kertabhumi (anak bungsu Sang Sinagara/Rajasawarddhana/Bhre Pamotan). Bhre Kertabhumi berhasil menduduki istana atau kraton Majapahit hingga tahun 1478 M, sementara itu Dyah Suraprabhawa/Bhre Pandan Salas menyingkir ke Daha dan melanjutkan pemerintahannya hingga tahun 1474 M.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivnsg23mUYiHPyJcfAFFOSA91VbBYmA1co_8359MJkwKxd344rQt_C4fBtHSjt9SrW9RP6n1lsgwgLbnGk9VdxlcdVTdtTJ15fGZzduXopqKjGj_jXzplUBZ0_LveLKijBYqPhen-JG-BS/s1600/Vishnu_Kediri.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivnsg23mUYiHPyJcfAFFOSA91VbBYmA1co_8359MJkwKxd344rQt_C4fBtHSjt9SrW9RP6n1lsgwgLbnGk9VdxlcdVTdtTJ15fGZzduXopqKjGj_jXzplUBZ0_LveLKijBYqPhen-JG-BS/s320/Vishnu_Kediri.jpg&quot; title=&quot;Arca Wisnu Majapahit&quot; width=&quot;192&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan demikian, maka tercatat sejak tahun 1468 M hingga tahun 1474 M terjadi dualisme kepemimpinan di kerajaan Majapahit. Yang pertama adalah Majapahit versi Bhre Pandan Salas yang berpusat di Daha, dan yang kedua adalah Majapahit versi Bhre Kertabhumi yang bisa jadi berpusat di Trowulan. Hal ini tentu saja berdampak buruk terhadap keutuhan kerajaan Majapahit secara menyeluruh. Para raja tidak lagi memikirkan kepentingan rakyat dan keutuhan wilayahnya, namun lebih memperhatikan urusan mempertahankan kekuasaan masing-masing. Hal inilah yang secara otomatis juga menjadi penyebab kemunduran kerajaan Majapahit secara menyeluruh, karena kerajaan Majapahit di pusat telah terpecah belah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sepeninggal Dyah Suraprabhawa (Bhre Pandan Salas) pada tahun 1474 M, maka kedudukannya digantikan oleh anaknya Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya (Bhattara i Kling) dan bergelar Paduka Sri Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri Prabhunatha, bisa jadi ia tidak berkedudukan di Majapahit, melainkan tetap berada di Kling. Dari gelarnya tersebut dapat kita ketahui bahwa ia tidak berkuasa penuh atas seluruh wilayah kerajaan Majapahit, karena yang sebagian masih tetap berada di bawah kekuasaan Bhre Kertabhumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pada masa awal pemerintahannya, Dyah Ranawijaya ini didampingi oleh seorang rakryan apatih Pu Wahan, sedangkan pada masa akhir pemerintahannya ia didampingi oleh rakryan apatih Pu Udara. Dari babad Tanah Jawi diperoleh keterangan bahwa rakryan apatih Udara ini adalah anak rakryan apatih Pu Wahan, dan semula ia berkedudukan sebagai adipati di Kediri. Di dalam Suma Oriental, Tome Pires menyebutnya dengan nama Pate Udra atau Pate Andura (Pate Amdura). Ia memiliki kekuasaan dan peranan yang sedemikian besarnya, mungkin sekali ia memiliki kedudukan sebagai patih hamangkubhumi seperti halnya kedudukan Gajah Mada pada masa pemerintahan Tribhuwanottunggadewi dan Hayam Wuruk.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahannya, Dyah Ranawijaya berusaha pula untuk mempersatukan kembali seluruh wilayah kerajaan Majapahit yang telah terpecah belah akibat pertentangan keluarga memperebutkan kekuasaan. Untuk melaksanakan cita-citanya itu, maka pada tahun 1478 M ia melancarkan serangan terhadap Bhre Kertabhumi yang pada waktu itu berkedudukan di Majapahit. Perang melawan Majapahit ini tercatat pula di dalam prasasti Jiwu I yang dikeluarkan oleh Dyah Ranawijaya pada tahun 1486 M.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Prasasti tersebut dikeluarkan sehubungan dengan pengukuhan anugerah berupa tanah-tanah di Trailokyapuri kepada seorang brahmana terkemuka Sri Brahmaraja Ganggadhara yang telah berjasa kepada raja (Dyah Ranawijaya) pada waktu perang melawan Majapahit. Dalam peperangan ini Ranawijaya berhasil merebut kembali kekuasaan Majapahit dari tangan Bhre Kertabhumi, dan Bhre Kertabhumi gugur di kedaton. Peristiwa gugurnya Bhre Kertabhumi ini diperingati dengan candra sengkala “sirna ilang kertining bhumi” dan terjadi pada tahun 1478 M.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dengan demikian sejak tahun 1478 M, Dyah Ranawijaya telah berhasil menguasai kerajaan Majapahit secara keseluruhan, namun tidak diperoleh keterangan secara jelas tentang kondisi negara-negara bawahan Majapahit yang berada di luar pulau Jawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Di antara tahun 1518 M hingga 1521 M, kerajaan Majapahit telah ditaklukkan dan kemudian dikuasai oleh Adipati Unus dari Demak. Bagaimana proses penaklukkan Majapahit oleh Demak dan bagaimana nasib para penguasa Majapahit setelah penaklukkan tersebut tidak diketahui dengan pasti. Sumber-sumber tradisi seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda maupun Serat Dharmagandul hanya dengan samar-samar memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana berlangsungnya penaklukkan Majapahit oleh Demak.&lt;br /&gt;Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, menyebutkan bahwa raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan Prabu Brawijaya raja Majapahit. Bahkan di dalam kitab Purwaka Caruban Nagari disebutkan dengan jelas bahwa Raden Patah, pendiri dan sultan pertama Demak adalah anak prabu Brawijaya Kertabhumi (dari perkawinannya dengan Puteri Cina). Sedangkan Adipati Unus adalah anak Raden Patah, jadi Adipati Unus adalah cucu Bhre Kertabhumi secara langsung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dengan demikian, apabila benar Demak telah menyerang Majapahit, maka hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari serangkaian perang saudara untuk memperebutkan kekuasaan atas tahta kerajaan Majapahit. Dan serangkaian perang saudara inilah yang pada akhirnya melemahkan eksistensi kerajaan Majapahit sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Akhirnya didapat suatu kesimpulan bahwa penguasaan Majapahit oleh Demak itu tidaklah terjadi pada tahun Saka 1400 (1478 M), dan bukan pula dilakukan oleh Raden Patah terhadap Prabhu Brawijaya Kertabhumi. Penguasaan Majapahit oleh Demak itu dilakukan oleh Adipati Unus, anak Raden Patah, sebagai tindakan balasan terhadap Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya yang telah membunuh kakeknya, dan hal tersebut terjadi di antara tahun 1518 M – 1521 M. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian uraian tentang kemunduran kerajaan Majapahit secara obyektif berdasarkan fakta-fakta yang terjadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/7581236578477311253/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kemunduran-kerajaan-majapahit-kedua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/7581236578477311253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/7581236578477311253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kemunduran-kerajaan-majapahit-kedua.html' title='Kemunduran Kerajaan Majapahit (kedua)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivnsg23mUYiHPyJcfAFFOSA91VbBYmA1co_8359MJkwKxd344rQt_C4fBtHSjt9SrW9RP6n1lsgwgLbnGk9VdxlcdVTdtTJ15fGZzduXopqKjGj_jXzplUBZ0_LveLKijBYqPhen-JG-BS/s72-c/Vishnu_Kediri.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-6603092887136850422</id><published>2016-11-08T01:11:00.000-08:00</published><updated>2016-11-27T01:18:16.353-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="informasi"/><title type='text'>Bukti Kejayaan Majapahit di Kalimantan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Mengenai penundukkan beberapa tempat di Tanjung Pura atau Kalimantan terdapat pemberitaannya dalam Sejarah Dinasti Ming (W.P. Groeneveldt, &lt;i&gt;&lt;b&gt;Notes on the Malay Archipelago and Malaca, compiled from Chinese sources&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, halaman 112-113), yang kiranya dapat dipercaya sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&quot;Kaisar mengeluarkan pengumuman tentang pengangkatan Hiawang sebagai Raja Pu-ni untuk menggantikan ayahnya. Hiawang dan pamannya konon memberitahukan bahwa kerajaannya setiap tahun mempersembahkan upeti sebanyak 40 kati kapur barus kepada raja Jawa (Majapahit). Mereka mohon agar kaisar suka mengeluarkan pengumuman tentang pembatalan upeti itu, agar upeti itu dapat dikirim ke istana kaisar .......&quot;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5cTWDk6WGJpvF9xWHXhG_ZL0tzx1gwhYSeAlUFBTN_xi4pebcRA4d_3ah4Jsnt2em0KBay5v8kJFMvC_LdabjuZ_4wkFxLQ8OAAPqGpph-7ecir2xq9_ucMGM63v4eWkY2SZtHhUN5q4p/s1600/Majapahit-Gajah-Mada.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5cTWDk6WGJpvF9xWHXhG_ZL0tzx1gwhYSeAlUFBTN_xi4pebcRA4d_3ah4Jsnt2em0KBay5v8kJFMvC_LdabjuZ_4wkFxLQ8OAAPqGpph-7ecir2xq9_ucMGM63v4eWkY2SZtHhUN5q4p/s400/Majapahit-Gajah-Mada.jpg&quot; title=&quot;Ilustrasi Mahapatih Gajah Mada&quot; width=&quot;315&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pu-ni biasa disamakan dengan Brunei, di bagian Barat Kalimantan. Demikianlah Brunei itu menjadi negara bawahan Majapahit pada pertengahan kedua abad empatbelas. Hal itu sesuai dengan pemberitaan Negarakretagama pupuh XIV/1 yang menyebut Barune. Penyebutan Kutei, bagian Timur Kalimantan, terdapat dalam pupuh XIII/1 sebagai Tanjung Kutei. Hubungan antara Kutei dengan Majapahit diberitakan dalam &lt;b&gt;Silsilah Kutei&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;&lt;b&gt;Silsilah Kutei&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; diterbitkan oleh Dr. C.A Mees sebagai thesis Universitas Leiden di bawah judul De Kroniek van Kutei, Santpoort, 1928), seperti berikut ini :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kemudian Maharaja Sultan dan Maharaja Sakti berangkat ke Majapahit untuk mempelajari tatanegara Majapahit. Ikut bersama mereka adalah Maharaja Indra Mulia dari Mataram. Tersebut perkataan Maharaja Sultan dua bersaudara di Majapahit. Mereka diajarkan tata cara di keraton dan adat yang dipakai oleh segala menteri. Tidak beberapa lama mereka pun kembali ke Kutei. Sebuah keraton yang menurut cara Jawa pun didirikan. Sebuah pintu gerbang yang dibawa pulang dari Majapahit dijadikan hiasan keraton ini.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dongengan di atas jelas mengingatkan hubungan antara Kutei dan Majapahit yang mungkin bertarikh dari pertengahan abad empatbelas, masa kejayaan Majapahit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Hubungan Banjar dan Kota Waringin di Kalimantan Selatan dengan Majapahit diberitakan dalam &lt;b&gt;Hikayat Banjar dan Kota Waringin&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hikayat Banjar dan Kota Waringin&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, diterbitkan oleh Dr. A.A Cense sebagai thesis Universitas Leiden di bawah judul &lt;b&gt;De Kroniek van Bandjarmasin&lt;/b&gt;, Santpoort, 1928; dan oleh Dr. J.J Ras dibawah judul &lt;i&gt;&lt;b&gt;Hikayat Banjar&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, The Haque, 1968) dalam bentuk perkawinan antara puteri Junjung Buih, anak pungut Lembu Mangurat dan Raden Suryanata dari Majapahit seperti berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Adapun raja Majapahit itu sesudah beroleh anak yang keluar dari matahari ini, masih beroleh enam anak lainnya dan negeri pun terlalu makmur. Maka pada keesokan harinya Lembu Mangurat pun berangkat ke Majapahit dengan pengiring yang banyak sekali. Sesampainya di Majapahit, Lembu Mangurat diterima dengan baik. Permintaan Lembu Mangurat akan Raden Putra sebagai suami puteri Junjung Buih juga dikabulkan. Maka kembalilah Lembu Mangurat ke negerinya. Pesta besar-besaran diadakan untuk mengawinkan puteri Junjung Buih dengan Raden Putra. Sebelum perkawinan dilangsungkan, suatu suara ghaib meminta Raden Putra menerima mahkota dari langit. Mahkota itu yang akan meresmikan Raden Putra menjadi raja secara turun-temurun. Hanya keturunannya yang diridhai Allah yang boleh memakai mahkota itu. Maka pesta perkawinan pun berlangsunglah. Adapun nama Raden Putra yang sebenarnya adalah Raden Suryanata, yang artinya Raja Matahari.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Makam dari ke tujuh putera raja Majapahit ini bisa jadi masih ada di wilayah Trowulan, Mojokerto, seperti gambar di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wilayah di sebelah Timur Pulau Jawa.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mengenai pulau-pulau di sebelah Timur Jawa, pertama-tama disebut pulau Bali, yang ditundukkan pada tahun 1343, berikut pulau Lombok atau Gurun, yang dihuni oleh suku Sasak. Kedua pulau ini hingga sekarang menunjukkan adanya pengaruh kuat dari Majapahit, sehingga penguasaan Majapahit atas Bali dan Lombok tidak diragukan lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kota Dompo yang terletak di pulau Sumbawa menurut Negarakretagama pupuh LXXII/3 dan Pararaton ditundukkan oleh tentara Majapahit di bawah pimpinan Mpu Nala pada sekitar tahun 1357. Penemuan Piagam (prasasti) Jawa dari abad empatbelas di pulau Sumbawa (G.P Rouffaer, &lt;i&gt;&lt;b&gt;Notulen van de Directie-vergaderingen van het Bataviaasch Genootschap&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, 1910, hal. 110-113; F.H van Naersen &quot;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hindoe-Javaansche oeverblijfselen op Sumbawa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&quot;, &lt;b&gt;T.K.N.A.G&lt;/b&gt;, 1938, hal. 90), memperkuat pemberitaan Kitab Negarakretagama dan Pararaton di atas, sehingga penguasaan Jawa (Majapahit) atas pulau Sumbawa tidak dapat disangsikan lagi. Piagam atau prasasti tersebut adalah satu-satunya yang pernah diketemukan di kepulauan di luar Jawa. Rupanya Dompo dijadikan batu loncatan bagi Majapahit untuk menguasai pulau-pulau kecil lainnya di sebelah Timur Jawa sampai Wanin di pantai Barat Irian. Berbeda dengan di Sumatera dan Kalimantan, di daerah sebelah Timur Jawa, kecuali Bali dan Lombok, tidak terdapat hikayat-hikayat daerah, oleh karenanya juga tidak terdapat dongengan tertulis tentang hubungan Majapahit dengan daerah-daerah tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian uraian &lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; tentang kejayaan Majapahit di wilayah Nusantara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/6603092887136850422/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/bukti-kejayaan-majapahit-di-kalimantan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6603092887136850422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6603092887136850422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/bukti-kejayaan-majapahit-di-kalimantan.html' title='Bukti Kejayaan Majapahit di Kalimantan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5cTWDk6WGJpvF9xWHXhG_ZL0tzx1gwhYSeAlUFBTN_xi4pebcRA4d_3ah4Jsnt2em0KBay5v8kJFMvC_LdabjuZ_4wkFxLQ8OAAPqGpph-7ecir2xq9_ucMGM63v4eWkY2SZtHhUN5q4p/s72-c/Majapahit-Gajah-Mada.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-6344359445743255014</id><published>2016-11-06T10:09:00.000-08:00</published><updated>2016-11-17T10:22:19.229-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="opini"/><title type='text'>Armada Laut Majapahit Penguasa Bahari</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&amp;nbsp; Di zaman keemasan kerajaan Majapahit pada abad XIII masa Prabu Hayam Wuruk ada dua tokoh militer jenius, yakni Mahapatih Gajahmada dan Laksamana Mpu Nala. Laksamana Mpu Nala sebagai Panglima Angkatan Laut Majapahit menempatkan puluhan kapal perang untuk menjaga lima titik penting perairan Nusantara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF1QwC92vXg3Zgsp03ksO_Vmz04NZgokOuZtghsleOaAW-3H3ZMQyQbMs5hTCmzlgOjBMSluH7Xd3oMfZIBz8tDeoXaEaBTEfQXtVkCPVwSlEzKOcbTZmtDtn-XfNey6zDi_0W5PsmIjnd/s1600/Kapal+Majapahit.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;230&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF1QwC92vXg3Zgsp03ksO_Vmz04NZgokOuZtghsleOaAW-3H3ZMQyQbMs5hTCmzlgOjBMSluH7Xd3oMfZIBz8tDeoXaEaBTEfQXtVkCPVwSlEzKOcbTZmtDtn-XfNey6zDi_0W5PsmIjnd/s400/Kapal+Majapahit.jpg&quot; title=&quot;Replika Kapal Laut Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam buku Kisah Para Kesatria Penjaga Samudra karya Agus Soeroso dan Majapahit Peradaban Maritim karya karya Irawan Joko dituliskan kehebatan armada laut Majapahit. Armada gugus pertama bertugas di sebelah barat Sumatera sebagai gugus kapal perang penjaga Samudera Hindia di bawah pimpinan laksamana yang berasal dari Jawa Tengah. Armada gugus kedua kapal perang penjaga Laut Kidul atau sebelah selatan Jawa di bawah pimpinan seorang laksamana putra Bali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Armada gugus ketiga bertugas menjaga perairan Selat Makassar dan wilayah Ternate, Tidore, dan Halmahera di bawah pimpinan seorang laksamana putra Makassar. Armada gugus keempat menjaga Selat Malaka dan Kepulauan Natuna di bawah pimpinan seorang laksamana dari Jawa Barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir adalah armada gugus kelima menjaga Laut Jawa hingga ke arah timur sampai kepulauan rempah-rempah Maluku. Armada Jawa itu mengibarkan bendera Majapahit ditambah lagi bendera emas simbol istana Majapahit biasanya dipimpin seorang laksamana berasal dari Jawa Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap armada gugus kapal perang terdapat kapal bendera tempat kedudukan pimpinan komando tertinggi bagi semua kapal penyerang, kapal perbekalan, dan pelindung kapal bendera. Dari kelima armada Majapahit itu, beban berat ialah menjaga perairan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan yang penuh perompak yang berpangkalan di sekitar wilayah Campa, Vietnam, dan Tiongkok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Armada keempat yang menjaga Selat Malaka itu biasanya dibantu armada pertama penjaga Samudera Hindia jika perompak melarikan diri ke barat laut menyusuri Selat Malaka,” kata Dimas Cokro Pamungkas, budayawan Trowulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula Armada Laut Selatan biasanya membantu Armada Jawa dalam menjaga keamanan kapal-kapal dagang pembawa rempah-rempah yang melalui Selat Sunda yang lebih aman menuju India dan Timur Tengah. Tugas lain armada Laut Kidul adalah menjaga Selat Bali dan perairan selatan Nusa Tenggara, bahkan di sebelah selatan pulau Bali terdapat galangan kapal-kapal Majapahit yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Armada ketiga bertugas menjaga kapal penyusup dari wilayah Mindanao, Filipina, sekaligus menjaga kepulauan rempah-rempah Maluku jika kekuatan armada Jawa sedang dipusatkan di perairan Jawa untuk mengawal Sang Prabu Hayam Wuruk beranjangsana ke wilayah pesisir timur Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Armada Jawa adalah kekuatan terbesar armada gugus kapal perang Majapahit karena tugasnya paling berat menjaga pusat kerajaan istana Majapahit. Armada itu sekaligus menguasai jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah Maluku yang dikuasai langsung pemerintah pusat Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kapal perang Majapahit bersenjatakan meriam Jawa yang disebut cetbang Majapahit. Pandai besi yang mengecor meriam itu berada di Blambangan. Cetbang Majapahit adalah karya penemuan Mahapatih Gajahmada yang konon pernah diasuh tentara Mongol atau Tartar yang menyerang kerajaan Singosari dengan kekuatan 1.000 kapal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua jenis kapal perang Majapahit, mulai kapal perbekalan hingga kapal bendera adalah kreasi jenius dari Mpu Nala yang sekaligus seorang laksamana laut yang andal. Nala menciptakan kapal-kapal dari sejenis kayu raksasa yang hanya tumbuh di sebuah pulau yang dirahasiakan. Pohon raksasa dan cocok untuk dibuat kapal itulah yang membuat kapal-kapal Majapahit cukup besar ukurannya di masa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setelah Gajahmada dan Mpu Nala wafat, kekuatan Majapahit pun berangsur lemah, apalagi tatkala terjadi Perang Paregreg, kapal-kapal Majapahit saling serang satu sama lain dan kehancuran tak terelakkan lagi bagi seluruh armada,” ujar Dimas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Majapahit lemah, hanya tersisa armada Jawa yang menguasai perairan Laut Jawa dan jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah. Kemudian datang bangsa kulit putih yang tujuan utamanya ialah menguasai daerah penghasil rempah-rempah itu dengan modal kapal-kapal gesit dan lincah, tidak terlalu besar ukurannya dibanding kapal Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapal asing itu bersenjata lebih unggul meriam yang bisa memuntahkan bola-bola besi dengan jarak tembak lebih jauh daripada kemampuan jarak tembak cetbang Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Angkatan Laut Majapahit&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
Konon rahasia kekuatan laut Majapahit sejak jaman Gajah Mada yaitu terletaknya pimpinan yang dipegang oleh Mpu Nala sebagai panglima tertinggi. Mpu Nala dalam membangun kekuatan laut yang tersohor kala itu, beliau menemukan sejenis pohon raksasa yang dirahasiakan lokasinya, untuk membangun kapal-kapal Majapahit yang berukuran besar di masa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persenjataan kapal-kapal Majapahit berupa meriam Jawa. Konon Gajah Mada kecil pernah diasuh oleh tentara Mongol yang dikirim Kubilai Khan menyerbu Jawa guna membalas penghinaan yang dilakukan oleh Prabu Kertanegara mencoreng-coreng wajah utusan Tiongkok yang menuntut agar Singosari tunduk di bawah kekuasaan Tiongkok. Gajah Mada diajarkan oleh pengasuhnya orang Mongol itu mengenai prinsip senjata api sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb4OBDP4hPdSPHMqY5yMt-YQb7ttisyvHiyG25bkr_DjVBHEXeVOa-h04D5yv5jsuMDU4UUpKsxgdC3_Y01EoYWELYr68xLT2IOxeGaJkdLPQBp9Xz8QTLltFMVldM5GYIknZywsYpiVpN/s1600/Cet-Bang.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Cet-Bang&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;82&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb4OBDP4hPdSPHMqY5yMt-YQb7ttisyvHiyG25bkr_DjVBHEXeVOa-h04D5yv5jsuMDU4UUpKsxgdC3_Y01EoYWELYr68xLT2IOxeGaJkdLPQBp9Xz8QTLltFMVldM5GYIknZywsYpiVpN/s400/Cet-Bang.jpg&quot; title=&quot;Meriam Angkatan Laut Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya Gajah Mada mengembangkan senjata api itu untuk mempersenjatai kapal-kapal perang Majapahit ciptaan Mpu Nala yang istimewa itu, hingga mampu merajai wilayah di perairan Selatan (Nan Yang). Keturunan Mpu Nala terus melanjutkan kepemimpinan militer Majapahit. Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya apalagi militer laut sudah demikian parah dalam melakukan tindak korupsi di wilayah kekuasaan masing-masing, sehingga rakyat tidak lagi menghormati kekuasaan pemerintahan pusat. Dan menurunkan wibawa Majapahit di kalangan kerajaan taklukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di masa kehancuran itu Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya. Sehingga seperti yang terjadi kemudian, kekuatan laut yang tersohor di Nan Yang itu saling bertempur satu kapal dengan kapal yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Orang Jawa sangat berpengalaman dalam seni navigasi. Mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini. Walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Tionghoa lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka kepada orang Jawa.&quot;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian tulis Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit 1645. Bahkan, pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 itu menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar. Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit cokelat seperti orang Jawa. &quot;Mereka mengaku keturunan Jawa,&quot; kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah rempah yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu Jawa yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu. Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik - belakangan disebut sebagai &quot;Kapal Borobudur&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Konstruksi Kapal Laut&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Konstruksi perahu bercadik sangat unik. Lambung perahu dibentuk sebagai menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat. Kapal Jawa jelas berbeda dengan kapal Tiongkok yang lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku besi. Selain itu kapal Tiongkok memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapal Borobudur telah memainkan peran besar dalam segenap urusan orang Jawa di bidang pelayaran, selama beratus ratus tahun sebelum abad ke-13. Memasuki awal abad ke-8, peran kapal Borobudur digeser oleh kapal kapal Jawa yang berukuran lebih besar, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Pelaut Portugis menyebut juncos, pelaut Italia menyebut zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli, dan Ibn Battuta yang berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14 mereka memuji kehebatan kapal Jawa berukuran raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dengan pengerjaan kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUvh1N4-whBoOjawrcksAzrsl-AQifQytLsl4GpY-zuVlY76FKfiJW8CCPZ2UWpp3XmXdOWNgLg5ZOmWlrgYoF1lYaBIEfTu_Wl1xqvkx7TfPet6t6Cs2XcqciNxUl2gpOyJ2SBEHryGE7/s1600/Kapal+Borobudur.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUvh1N4-whBoOjawrcksAzrsl-AQifQytLsl4GpY-zuVlY76FKfiJW8CCPZ2UWpp3XmXdOWNgLg5ZOmWlrgYoF1lYaBIEfTu_Wl1xqvkx7TfPet6t6Cs2XcqciNxUl2gpOyJ2SBEHryGE7/s400/Kapal+Borobudur.jpg&quot; title=&quot;Relief Kapal Laut di Borobudur&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran tentang jung Jawa secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada 1511. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal usul jung-jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) untuk menyerang armada Portugis.
&lt;br /&gt;
Disebutkan, jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Bisa dikatakan, kapal jung jawa ini disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan dengan Jung Jawa.&quot; tulis pelaut Portugis Tom Pires dalam Summa Orientel (1515). Hanya saja jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak saat bertempur dedengan kapal-kapal portugis yang lebih ramping dan lincah. Dengan begitu, armada Portugis bisa menghalau jung Jawa dari perairan Malaka.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/6344359445743255014/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/armada-laut-majapahit-penguasa-bahari.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6344359445743255014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/6344359445743255014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/armada-laut-majapahit-penguasa-bahari.html' title='Armada Laut Majapahit Penguasa Bahari'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF1QwC92vXg3Zgsp03ksO_Vmz04NZgokOuZtghsleOaAW-3H3ZMQyQbMs5hTCmzlgOjBMSluH7Xd3oMfZIBz8tDeoXaEaBTEfQXtVkCPVwSlEzKOcbTZmtDtn-XfNey6zDi_0W5PsmIjnd/s72-c/Kapal+Majapahit.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-2989919014589238157</id><published>2016-11-05T09:31:00.000-07:00</published><updated>2016-11-17T09:36:40.746-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="informasi"/><title type='text'>Kapal Spirit Majapahit tiba di Jepang</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&amp;nbsp; Replika kapal Majapahit yang berlayar dalam Ekspedisi &quot;Spirit of Majapahit&quot; tiba di Pelabuhan Kagoshima, Jepang, Jumat (24/6/2016) pada pukul 17.00 waktu setempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui siaran pers di Jakarta, Sabtu (25/6/2016), kedatangan kapal Spirit of Majapahit dan kru yang berangkat dari Jakarta 11 Mei lalu itu disambut oleh Sekretaris Deputi IV Kemenko Kemaritiman dan tim beserta staf KBRI Tokyo dan Pimpinan Yayasan Pencinta Majapahit, beberapa media lokal, dan perwakilan dari Takashoku University.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2Mm4N4JhQmGLNJudKtnEqv8sJyVbDTvQEdvNZlroo1p6F8ZmoAyKwu7-3Fop-KRbIcCWEha3SVSGINUtu3Da18w-rrCqspAoaaPgWh-bbqR0e-ltOa4TEpYuZ3KH0ItKy61gmK53vs7n4/s1600/0808083kapal-majapahit780x390.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2Mm4N4JhQmGLNJudKtnEqv8sJyVbDTvQEdvNZlroo1p6F8ZmoAyKwu7-3Fop-KRbIcCWEha3SVSGINUtu3Da18w-rrCqspAoaaPgWh-bbqR0e-ltOa4TEpYuZ3KH0ItKy61gmK53vs7n4/s400/0808083kapal-majapahit780x390.jpg&quot; title=&quot;Kapal Spirit Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kapal kayu berukuran panjang 20 meter dan lebar 4,5 meter itu menempuh perjalanan panjang dari Jakarta, Pontianak, kemudian singgah di Brunei Darussalam dan Manila (Filipina) lalu lanjut ke Kaohsiung (Taiwan). Setelah itu, kapal yang membawa tak lebih dari 10 orang kru itu akhirnya berlabuh di Pelabuhan Naha, Okinawa, Jepang hingga akhirnya tiba di Kagoshima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kagoshima sendiri merupakan persinggahan terakhir sebelum kapal kayu itu mengakhiri pelayaran dan dimuseumkan di Tokyo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama di Kagoshima, beberapa kegiatan akan dilaksanakan antara lain penyambutan secara resmi dari pihak pemerintah daerah Kagoshima disertai upacara penyambutan, kemudian penerimaan para kru oleh Gubernur Kagoshima pada 27 Juni 2016.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekretaris Kemenko Kemaritiman Asep D. Muhammad bersama delegasi kementerian dan tim KBRI Tokyo dijadwalkan hadir dalam acara tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspedisi Spirit of Majapahit merupakan kegiatan yang diinisiasi kementerian di bawah kepemimpinan Rizal Ramli itu dalam mengangkat dan melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya maritim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Napak tilas pelayaran Majapahit ke 13 itu digelar guna mendorong semangat kemaritiman lantaran merupakan ajang pembuktian kekuatan dan budaya maritim Tanah Air yang telah dimulai sejak zaman Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menarik, penyambutan kapal di Kagoshima sarat dengan antusiasme masyarakat yang datang, termasuk perwakilan dari kantor gubernur, pejabat atau anggota parlemen pusat yang juga seorang mantan menteri, serta perwakilan dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kagoshima.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: orange;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2016/06/25/19530641/kapal.spirit.of.majapahit.tiba.di.jepang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/2989919014589238157/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kapal-spirit-majapahit-tiba-di-jepang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2989919014589238157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2989919014589238157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kapal-spirit-majapahit-tiba-di-jepang.html' title='Kapal Spirit Majapahit tiba di Jepang'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2Mm4N4JhQmGLNJudKtnEqv8sJyVbDTvQEdvNZlroo1p6F8ZmoAyKwu7-3Fop-KRbIcCWEha3SVSGINUtu3Da18w-rrCqspAoaaPgWh-bbqR0e-ltOa4TEpYuZ3KH0ItKy61gmK53vs7n4/s72-c/0808083kapal-majapahit780x390.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-8571883186800769628</id><published>2016-11-04T08:49:00.000-07:00</published><updated>2016-11-17T09:02:17.350-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="informasi"/><title type='text'>Sang Getih-Getah Majapahit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Seperti yang anda semua tahu, bendera negara kita adalah Merah Putih (getih-getah). Warna dari bendera tersebut memiliki makna yang cukup dalam untuk akhirnya menjadi bendera yang kita banggakan dan berkibar di seluruh wilayah Indonesia saat ini. Makna yang sering kita dengar, warna Merah artinya berani dan Putih berarti suci. Kedua hal tersbut seakan menjadi sesuatu yang sudah tidak bisa lagi dipisahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6mTsM1Vt8q7JqE03n6KHPAstHNO2t2V36DYXWmTJMEirNrUmEHDv-rlwZMBlCweahxzhcaybusuh_r__iYsLK7RDUvCHL2u2sC9z161BsyQ4DxwVguZkcHxlbjhfhgTS91fIvdqubg3tQ/s1600/Makna+Terdalam+Merah+Putih+Peninggalan+Kerajaan+Majapahit.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;281&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6mTsM1Vt8q7JqE03n6KHPAstHNO2t2V36DYXWmTJMEirNrUmEHDv-rlwZMBlCweahxzhcaybusuh_r__iYsLK7RDUvCHL2u2sC9z161BsyQ4DxwVguZkcHxlbjhfhgTS91fIvdqubg3tQ/s400/Makna+Terdalam+Merah+Putih+Peninggalan+Kerajaan+Majapahit.jpg&quot; title=&quot;Sang Getih-Getah Majapahit &quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu, dalam filosofi jawa warna Merah Putih juga memiliki makna yang berbeda. Kedua warna tersebut sering digunakan saat perkawinan, selamatan kandungan bayi dan kegiatan adat lainnya. Dalam adat Jawa, merah seperti warna gula jawa dan putih seperti warna nasi, dan keduanya merupakan bahan utama masakan yang ada di Indonesia terutama di pulau Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bendera Merah Putih Sebagai Bendera Kerajaan Majapahit.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dapat dipungkiri bahwa kerajaan Majapahit memang menjadi kerajaan yang memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia. Banyak hal yang telah dilakukan oleh kerajaan tersebut yang akhirnya menjadi cikal bakal dari apa yang sudah kita lakukan saat ini sebagai warga negara Indonesia. Salah satu contohnya adalah bendera Merah Putih yang saat ini menjadi bendera kebangsaan kita, ternyata juga merupakan dua warna yang digunakan sebagai bendera kerajaan Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa kejayaannya, kerajaan Majapahit selalu menggunakan bendera atau umbul-umbul yang berwarna Merah Putih. Ada juga masyarakat yang memaknai warna Merah dan Putih sebagai darah dan tulang yang telah menyatu di dalam raga kita. Sehingga kedua warna itu memang memiliki berbagai filosofi yang mendalam sejak jaman kerajaan Majapahit dan bahkan sampai sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jaman dahulu saat bangsa Austronesia yang menjadi bakal bangsa Indonesia, ada kepercayaan mengenai matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan lambang warna putih. Sehingga pada masa itu juga disebut dengan aditya (matahari) candra (bulan). Makna warna merah putih ternyata memang telah mendarah daging bagi bangsa Indonesia sejak jaman dahulu. Untuk bisa mendapatkan bendera dengan warna Merah Putih pun para pahlawan telah mengorbankan nyawanya sedemikian rupa untuk mencapai kemerdekaan yang sekarang bisa anda nikmati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu peninggalan sejarah yaitu candi Borobudur yang telah dibangun sejak tahun 824 masehi ditemukan lukisan dengan tiga orang pengawal yang sedang membawa bendera yang berkibar terdapat pada relief di salah satu dindingnya. Relief tersebut memang menggambarkan tiga orang hulubalang yang sedang membawa umbul-umbul berwarna hitam putih yang diduga merupakan Merah Putih. Mengingat filosofi dalam untuk kedua warna itu yang dimiliki oleh masyarakat jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adanya tiga orang membawa bendera yang sedang berkibar itu, mungkin juga menjadi dasar dari tata cara pengibaran bendera yang dilakukan saat ini di mana ada tiga orang yang bertugas mengibarkan sang saka Merah Putih. Selain warna bendera Merah Putih, kerajaan Majapahit juga meninggalkan persatuan Nusantara dengan Bhinneka Tunggal Ika. Hal tersebut ditegaskan oleh Gajah Mada dalam misinya menyatukan seluruh Nusantara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8M9Yf5Di6Tc-yGDF-dP3zrH_mVW8ZXrNWFVY2M89n7FuJYOXmXkFCbx1AwSfui3YI4_15JmBPHiy8r2l2sNPlCeWCbuLGH6-x9Sfp_K7ZGCjotGIpyMPssCEqwFJ09DD1IbgvGSmTMlwj/s1600/184130_large.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;247&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8M9Yf5Di6Tc-yGDF-dP3zrH_mVW8ZXrNWFVY2M89n7FuJYOXmXkFCbx1AwSfui3YI4_15JmBPHiy8r2l2sNPlCeWCbuLGH6-x9Sfp_K7ZGCjotGIpyMPssCEqwFJ09DD1IbgvGSmTMlwj/s400/184130_large.jpg&quot; title=&quot;Arak-arakan Merah Putih terpanjang&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya dalam melanjutkan misi Gajah Mada dalam menyatukan seluruh wilayah Nusantara tentunya tanggung jawab tersebut akan turun menjadi berada di pundak kita bersama sebagai warga negara Indonesia. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain menjaga persatuan dan kesatuan negara dan berkibarnya bendera Merah Putih di negara kita tercinta. Kondisi tersebut tidak akan tercipta jika tidak ada lagi yang peduli tentang sesuatu yang nasionalisme. Sehingga kita harus bisa melanjutkan perjuangan kerajaan Majapahit ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/8571883186800769628/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/sang-getih-getah-majapahit.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/8571883186800769628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/8571883186800769628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/sang-getih-getah-majapahit.html' title='Sang Getih-Getah Majapahit'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6mTsM1Vt8q7JqE03n6KHPAstHNO2t2V36DYXWmTJMEirNrUmEHDv-rlwZMBlCweahxzhcaybusuh_r__iYsLK7RDUvCHL2u2sC9z161BsyQ4DxwVguZkcHxlbjhfhgTS91fIvdqubg3tQ/s72-c/Makna+Terdalam+Merah+Putih+Peninggalan+Kerajaan+Majapahit.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-2834205169605464679</id><published>2016-11-03T03:30:00.000-07:00</published><updated>2016-11-17T03:51:17.374-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="opini"/><title type='text'>Istana Majapahit sulit diketemukan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blospot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Berbicara tentang kerajaan Majapahit dengan segala kebesarannya, tentu
tak dapat dilepaskan dari pembahasan tentang letak Istana kerajaan Majapahit
dan bagaimana bentuk istana kerajaan tersebut. Hal tersebut lumrah adanya,
karena merupakan suatu hal yang mustahil bilamana sebuah kerajaan sebesar
Majapahit tidak memiliki sebuah istana kerajaan tempat kediaman raja-raja nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4EFCxU1fNX-lWeRvC-eEZxdn9jGSb-8fdz3PNvqVDsD2pP7FKbLhlJBbY4WjQ4CHZwY4IMXLKNhqbtgT45bCZ1kOu_kYlTvBWWCQGLInhPnnvpWit5hWvyPiP1mzhyphenhyphenexEnzYNfg27CY5f/s1600/penyerbuan-majapahit-ke-pulau-bali.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4EFCxU1fNX-lWeRvC-eEZxdn9jGSb-8fdz3PNvqVDsD2pP7FKbLhlJBbY4WjQ4CHZwY4IMXLKNhqbtgT45bCZ1kOu_kYlTvBWWCQGLInhPnnvpWit5hWvyPiP1mzhyphenhyphenexEnzYNfg27CY5f/s400/penyerbuan-majapahit-ke-pulau-bali.jpg&quot; title=&quot;Istana Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sedikit sekali referensi sejarah yang membahas tentang hal ikhwal istana
kerajaan Majapahit ini. Tidak satupun prasasti yang berasal dari jaman
Majapahit pernah membahas atau menjelaskan tentang istana kerajaan Majapahit
ini. Para arkeolog maupun para ahli sejarah juga belum dapat menemukan lokasi
yang tepat maupun membahas bentuk atau model bangunan istana kerajaan Majapahit
ini secara lebih mendalam. Bahkan ada kesan bahwa jejak istana kerajaan
Majapahit ini sulit untuk diketemukan.
Lokasi di sekitar Candi Kedaton.

Arkeolog dan sejarawan meyakini letak pusat kerajaan Majapahit berada
di daerah Trowulan dan sekitarnya. Sebab, di daerah ini banyak ditemukan
artefak, prasasti, dan berbagai konstruksi bangunan, seperti candi-candi,
makam, maupun gapura. Pemerintah telah pula menetapkan desa Trowulan sebagai
situs cagar budaya kerajaan Majapahit. Meski lokasi pasti bangunan Keraton
(istana kerajaan) Majapahit di Trowulan masih belum bisa dipastikan
keberadaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya &#39;Pemugaran Persada Sejarah Leluhur
Majapahit&#39; menggambarkan keindahan keraton Majapahit. Ia menuliskan, keraton
Majapahit menghadap ke arah barat. Di muka benteng terdapat lapangan sangat
luas dikelilingi parit berisi air.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Digambarkan pula beberapa bangunan kenegaraan, seperti balai agung tempat
pertemuan dan balai manguntur atau pendapa agung tempat para pembantu utama
menghadap Sang Prabu. Di tengah Balai Agung Manguntur dilukiskan ada sebuah
rumah kecil dengan takhta tempat duduk raja, itulah yang disebut dengan Balai
Witana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keberadaan keraton Majapahit diduga terletak di Desa Kedaton dan Desa
Sentonorejo. Di Desa Kedaton, mengingat kata dalam bahasa Jawa kedaton juga
berarti istana. Sekitar&amp;nbsp; 200 meter ke barat dari kompleks candi Kedaton
ditemukan umpak-umpak berukuran besar sebanyak dua puluh buah yang tersusun
memanjang sejajar. Selain itu juga pernah ditemukan pasak batu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Pasak batu itu diduga tempat tambatan gajah kendaraan Sang Prabu. Menurut
cerita lesan warga Trowulan, di daerah tersebut juga dipercayai tempat
berkumpulnya para leluhur pada zaman Kerajaan Majapahit. Di lokasi itu sekarang
telah dibangun Pendopo Agung oleh Komando Daerah Militer (Kodam) VIII
Brawijaya,” ujar Dimas Cokro Pamungkas, budayawan Trowulan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Temuan lain yang juga menguatkan adalah adanya situs Candi Kedaton. Candi
tersebut terletak di wilayah administrasi Dukuh Kedaton. Ada beberapa bangunan
di sana. Bangunan pertama berada di timur laut (depan pintu masuk) yang
merupakan bagian kaki sebuah bangunan atau candi tepatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di depan bangunan tersebut ada pula sebuah sumur kuno yang dikenal dengan Sumur
Upas. Tidak ada yang berani membuka tutup sumur tersebut lantaran diduga
mengeluarkan gas racun (upas).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dilihat dari temuan bentuk struktur, diperkirakan candi Kedaton ini merupakan
kompleks bangunan atau tempat tinggal. Artefak yang pernah ditemukan di sana
antara lain fragmen tembikar atau gerabah, arca terakota, arca dari batu
andesit, keramik asing, mata uang kepeng, emas, dan beberapa kerangka manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada pendapat lain tentang letak keraton Majapahit, yaitu di kawasan Desa
Sentonorejo. Nama Sentonorejo diduga perubahan dari kata Santanaraja yang
artinya saudara raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;Berdasarkan kitab Negarakertagama, foto udara, dan ekskavasi ada yang
berpendapat keraton letaknya di kawasan Sentonorejo,” ujar Dimas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hal itu diperkuat dengan temuan situs Sentonorejo. Situs tersebut ditemukan
pada tahun 1982 setelah diadakan penelitian didapati peninggalan berupa lantai
atau ubin berbentuk segi enam sekitar 1,8 meter di bawah permukaan tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lantai segi enam belum pernah ditemukan dalam penggalian sebelumnya, biasanya
hanya kerakal dan batu bata segi empat. Susunan lantai kuno ini merupakan situs
pemukiman atau bangunan rumah pada masa Majapahit. Diduga lokasi itu
adalah&amp;nbsp; ruang dalam keraton.
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah menemukan pusat kota dan kegiatan sakral pada zaman Majapahit,
ternyata keberadaan istana Kerajaan Majapahit masih misteri. &quot;Sulit
menemukan lokasinya,&quot; kata Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala
(BP3) Trowulan, I Made Kusumajaya, Kamis (11/9/2008).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pusat kota imperium terbesar Nusantara kuno ini, kata Made, terletak di Desa
Segaran, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, dengan luas 4 x 5 kilometer.
&quot;Sedangkan pusat kegiatan sakralnya seluas 11 x 9 kilometer,&quot;
katanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu, tim peneliti juga menemukan batu kuno setebal 80 sentimeter, yang
dianggap pagar bangunan zaman Majapahit di bawah kekuasaan Raja Hayam Wuruk.
Para peneliti menduga, istana kerajaan berada di sekitar Segaran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;Kalau kami teliti lebih jauh, ternyata hal itu merupakan strategi Hayam
Wuruk agar tidak mudah diserang musuh. Biasanya pusat kerajaan zaman dulu
berada di kawasan pantai,&quot; kata Made.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tim peneliti berasal dari Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Udayana
Denpasar, Universitas Indonesia Jakarta, dan Universitas Gajah Mada . Fokus
penelitian pada prilaku masyarakat Majapahit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;Kami membandingkan prilaku masyarakat Majapahit dengan prilaku masyarakat
Bali, karena ada kemiripan,&quot; kata Made. &quot;Namun, penelitian baru
mencapai target sekitar 20 persen&quot;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/2834205169605464679/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/istana-majapahit-sulit-diketemukan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2834205169605464679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2834205169605464679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/istana-majapahit-sulit-diketemukan.html' title='Istana Majapahit sulit diketemukan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4EFCxU1fNX-lWeRvC-eEZxdn9jGSb-8fdz3PNvqVDsD2pP7FKbLhlJBbY4WjQ4CHZwY4IMXLKNhqbtgT45bCZ1kOu_kYlTvBWWCQGLInhPnnvpWit5hWvyPiP1mzhyphenhyphenexEnzYNfg27CY5f/s72-c/penyerbuan-majapahit-ke-pulau-bali.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2324644699704988624.post-2198049368032582522</id><published>2016-11-02T03:09:00.000-07:00</published><updated>2016-11-17T03:47:30.450-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="informasi"/><title type='text'>Kampung Majapahit tunjukkan bentuknya</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://majapahitprana.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Majapahit Prana&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Pembangunan
Rumah Budaya Majapahit yang dibangun pada kawasan cagar budaya peringkat
nasional Trowulan akan terus bertambah sampai 296 rumah yang nantinya menjadi
Kampung Majapahit. Rumah-rumah warga di kawasan tesebut dipugar bervariasi
menurut plafon anggaran yang menyesuaikan dengan ukuran bangunan tiap rumah.
Rata-rata setiap rumah dijatah Rp 50 juta untuk dipugar menjadi rumah model
zaman Kerajaan Majapahit. Sejak mulai dibangun November lalu, baru beberapa
rumah yang selesai dipugar. Proses pengerjaan bangunan membutuhkan waktu lama
karena harus benar-benar sesuai desain yang telah ditetapkan. Setidaknya setiap
rumah butuh waktu pengerjaan 1 bulan lebih, namun menurut Drs. Aris Soviyani,
SH, M. Hum., Kepala BPCB Mojokerto wilayah kerja Provinsi Jawa Timur
menyampaikan, pembangunan ini ditargetkan selesai pada akhir tahun 2015.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghc03huENaqBbDihMKbcoiav14eC6mKQZmmc4HqCYTj4MciaWPIn47d1iy0I6EpVioDyZeLiqq2weS5OYO5cazO_JDA1A-gd_IX3otg_aXYGkCji0RGKnMxUQmcXBF1aDrvWbLGq3NiiOG/s1600/ANT-201603-001984.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Majapahit Prana&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;265&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghc03huENaqBbDihMKbcoiav14eC6mKQZmmc4HqCYTj4MciaWPIn47d1iy0I6EpVioDyZeLiqq2weS5OYO5cazO_JDA1A-gd_IX3otg_aXYGkCji0RGKnMxUQmcXBF1aDrvWbLGq3NiiOG/s400/ANT-201603-001984.jpg&quot; title=&quot;Rumah Majapahit&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Kampung
Kerajaan Majapahit semakin menunjukkan bentuknya. Beberapa rumah di Desa
Bejijong Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kemarin berhasil
disulap menjadi rumah rakyat zaman Kerajaan Majapahit.

&quot;Alhamdulillah sudah selesai ini bangunan rumahnya,&quot; kata Gubernur
Jawa Timur Soekarwo dalam rilis yang dikeluarkan pemerintah Provinsi Jawa
Timur, Rabu, 6 Januari 2016.

Pemerintah provinsi sendiri telah membangun rumah warga dengan menggunakan
model bangunan zaman Majapahit sebanyak 194 unit rumah di Desa Bejijong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembangunan itu dilakukan dalam dua tahap, yakni tahap pertama pada 2014
sebanyak 94 unit rumah dengan dana sebesar Rp 4,98 miliar, dan tahap kedua pada
2015 sebanyak 100 unit rumah dengan dana sebesar Rp 5,7 miliar.

Sedangkan tahap
berikutnya, yakni tahap ke-3 pada 2016 ini, rencananya akan dibangun sebanyak
300 unit rumah di tiga tempat, yakni di Segaran, Candi Tikus, dan Candi Bajang
Ratu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pembangunan rumah dengan bangunan zaman Majapahit ini per unitnya
dianggarkan dana Rp 50-60 juta, dengan ukuran 3 x 5 meter atau 4 x 4 meter.

&quot;Dana pembangunan rumah dari APBD Provinsi dan pembangunan pagar dananya
dari APBD Mojokerto,&quot; kata Soekarwo.

Menurut Soekarwo, pembangunan tersebut sebagai bentuk restorasi Majapahit yang
menjadi kekayaan kultural. Selain itu, sebagai sebuah destinasi dan budaya,
kultural Majapahit harus dibangun. &quot;Ini upaya mengelola kekayaan budaya
yang besar dan agung,&quot; katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memperkuat destinasi budaya, harus diadakan acara budaya setiap tahun. &quot;Acara
seperti ruwatan, misalnya, perlu diadakan,&quot; kata Soekarwo.

Selain rumah, pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah kabupaten sudah
melakukan penelitian tentang makanan khas yang ada saat Kerajaan Majapahit
berdiri. Hal ini diperlukan agar nantinya masyarakat dapat menyediakan
makanan-makanan khas Majapahit sebagai pilihan kuliner para pengunjung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Alat transportasi, seperti kuda, dokar, dan cikar, juga akan menjadi
transportasi resmi di sini,&quot; ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitprana.blogspot.com/feeds/2198049368032582522/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kampung-majapahit-tunjukkan-bentuknya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2198049368032582522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2324644699704988624/posts/default/2198049368032582522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitprana.blogspot.com/2016/11/kampung-majapahit-tunjukkan-bentuknya.html' title='Kampung Majapahit tunjukkan bentuknya'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghc03huENaqBbDihMKbcoiav14eC6mKQZmmc4HqCYTj4MciaWPIn47d1iy0I6EpVioDyZeLiqq2weS5OYO5cazO_JDA1A-gd_IX3otg_aXYGkCji0RGKnMxUQmcXBF1aDrvWbLGq3NiiOG/s72-c/ANT-201603-001984.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>