<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>MANDAR LUYO</title><description>Berbagi Tanpa Batas </description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 03:40:58 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">876</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://luyokita.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Berbagi Tanpa Batas </itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Si Rempe Api Ri Pongka - Asmat Riady Lamamllongeng</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/si-rempe-api-ri-pongka-asmat-riady.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 20 Aug 2014 17:58:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-5377612508459204667</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;SI REMPE API RI PONGKA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Oleh ; Drs. Asmat Riady Lamallongeng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEio5vZ_8DH62RS-tuykv5I7Wa8xfw7N4hiwrHNmydoGdn_rpHIhEGRXZtl2EOf0wrbiUy-5iBkvPnay6HLX8Ad4x5nUQSKymsc8fCiOYHG1XhqMi0QqpON3VOAl0wa8Sn4KgWXDGBxTSMso/s1600/catss.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEio5vZ_8DH62RS-tuykv5I7Wa8xfw7N4hiwrHNmydoGdn_rpHIhEGRXZtl2EOf0wrbiUy-5iBkvPnay6HLX8Ad4x5nUQSKymsc8fCiOYHG1XhqMi0QqpON3VOAl0wa8Sn4KgWXDGBxTSMso/s1600/catss.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;I - PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menggali nilai-nilai luhur masa lalu sebagai upaya menemukan kearifaan-kearifan lokal yang berorientasi pada kemanusiaan, adalah merupakan tuntutan bagi kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Sebagai konsep kultural yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, nilai-nilai luhur berfungsi sebagai implementsi jatidiri yang bersifat pragmatis bagi komunitas pendukungnya. Oleh karena itu, menjadi salah satu kewajiban bagi generasi masa kini untuk mengaktualisasikan kembali dalam kehidupan kekinian dan keakanan sebagai nilai budaya yang tetap dijunjung tinggi dan terus terpelihara.&lt;br /&gt;Setiap kelompok masyarakat (komunitas) memiliki konsep kultural tersendiri yang merupakan rangkaian pemikiran yang bersifat abstrak yang lahir dari warga terbanyak komunitas tersebut. Konsep kultural yang tampak lewat tingkah laku individual&amp;nbsp; yang berpola, terutama dalam sistem sosial atau tata cara pergaulan yang lebih tepat dikatakan adat kebiasaan. Disini akan nampak bagaimana warga masyarakat terbanyak komunitas tersebut membuat dan melakukan upacara-upacara dalam menyambut suatu peristiwa, seperti ; kematian, pernikahan, kelahiran, pesta panen, naik rumah baru dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dilihat dari sudut perspektif antropologi kebudayaan, pranata-pranata sosial dalam bentuk tradisi, upacara-upacara atau adat kebiasaaan, peranan dan fungsinya menjadi pedoman dalam setiap denyut nafas kehidupan manusia dalam menghadapi berbagai persoalannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hampir seluruh warga masyarakat tidak dapat melepaskan diri dari keterikatannya dengan tradisi-tradisi lokal yang dimilikinya. &lt;br /&gt;Tradisi atau adat kebiasaan yang tetap terpelihara dalam masyarakat, adalah bahagian dari kebudayaan dengan ciri-cirinya yang khas. Kekhasan itulah yang akan menjadi identitas sosial bagi masyarakat pendukungnya sekaligus menjadi gambaran kemajemukan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam hubungan kekhasan ini, Koentjaraningrat mengatakan bahwa dalam kebudayaan itu sedikitnya terdapat tiga wujud, yaitu ; wujud ideal seperti adat dan tata kelakuan, wujud sosial yang timbul karena manusia beraktivitas sosial dan wujud konkret/fisik sebagai hasil karyanya berupa gedung dan lain sebagainya (Koentjaraningrat, 1972). Dengan demikian untuk lebih mengenal suatu masyarakat dalam rangka upaya pelestarian nilai budayanya, tentu&amp;nbsp; dapat ditelusuri melalui tiga wujud sebagaimana digambarkan oleh Koentjaraningrat diatas.&lt;br /&gt;Tentang hubungannya dengan adat kebiasaan yang telah menjadi pedoman dan mengatur tata kehidupan manusia dalam berbagai komunitas yang intinya terdapat pada masa lalu, tercermin pada nilai-nilai luhur yang tetap dipertahankan dan dijunjung tinggi oleh masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai luhur yang berlaku abadi seperti dalam pribahasa “tak lekan karena panas dan tak lapuk karena hujan”, ini berarti nilai-nilai kebudayaan tersebut akan tetap tumbuh subur di bumi tempatnya berakar. &lt;br /&gt;Namun dalam perkembangannya, sejalan dengan sejarah kehidupan manusia yang memperlihatkan timbulnya kedinamisan sesuai dengan perkembangan cara berpikir yang semakin rasional, nilai-nilai luhur tersebut ikut terpengaruh.&lt;br /&gt;Sutan&amp;nbsp; Takir&amp;nbsp; Alisyahbana&amp;nbsp; dalam bukunya ; “Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia”, mengatakan adat itu bukan saja lebih luas, tetapi teristimewa lebih dalam, segala yang kita namakan hukum sekarang termasuk didalamnya, malahan lebih daripada hukum ia mengatur keperluan dan perbuatan individu, maupun masyarakat. Seperti upacara pekawinan, lahir dan mati, waktu membuat rumah, bagaimana meminta hujan dan banyak lagi (Sutan Takdir Alisyahbana, 1988).&lt;br /&gt;Kerangka konsep yang digunakan mengacu kepada tradisi atau adat istiadat berbagai kelompok masyarakat di Sulawesi Selatan, berkaitan dengan aspek ekonomi, sosial, politik dan keagamaan. Dijelaskan oleh M. Yamin Sani dalam bukunya ; “Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan di Sulawesi Selatan” menyebutkan sedikitnya ada empat kelakuan (mores) yang mengatur berbagai perilaku untuk mengejar nilai dalam masyarakat. Keempat tata kelakuan (mores) tersebut, adalah ; 1). kejujuran, 2). ketegasan, 3). kewajaran atau kepantasan, dan 4). kerja keras. Agar lebih efektif, selanjutnya perlu ditambahkan tata kelakuan lagi, yaiu ; 5). sirik, 6). keterbukaan dan 7). keikhlasan. Dengan demikian, seluruhnya ada tujuh tata kelakuan yang harus beroperasi mengatur berbagai perilaku dalam upaya mengejar nilai-nilai yang dianut, dipertahankan dan dikembangkan suatu masyarakat secara lokal maupun nasional. (M. Yamin Sani, 2005)&lt;br /&gt;Pada hakekatnya tata kelakuan yang digambarkan oleh M. Yamin Sani diatas, adalah nilai-nilai luhur yang telah menjadi ciri khas dan jatidiri masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan dan juga masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Seperti diketahui bahwa dalam masyarakat Sulawesi Selatan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sulawesi&amp;nbsp; Barat&amp;nbsp; senantiasa&amp;nbsp; mengedepankan prinsip-prinsip tersebut, bahkan masih tetap dijunjung tinggi dan tetap menjadi wujud-wujud kebudayaan dalam komunitas etnis yang mendiami jazirah selatan pulau Sulawesi tersebut.&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan zaman, tentu saja nilai-nilai luhur tersebut memerlukan pemikiran, interpretasi dan reinterpretasi tentang sejauh mana relevansinya untuk menunjang konteks kehidupan masyarakat masa kini. Dalam kerangka itu, tugas yang dihadapi oleh generasi kini dan generasi mendatang adalah merevitalisasi secara substansial fungsi-fungsi konsep tradisional sedemikian rupa, sehingga tidak sampai bertentangan dengan adat kebiasaan yang telah mendapatkan legitimasi dari masyarakat pendukungnya.&lt;br /&gt;Kehidupan manusia selalu berinteraksi tidak saja terhadap dengan warga kelompoknya, tetapi juga terhadap warga kelompok lain dalam artian masyarakat yang lebih luas dan lebih kompleks. Sementara kemajuan dibidang informasi sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia yang pada gilirannya akan membuat tata kelakuannya berubah. Semua itu dikhawatirkan akan mengakibatkan terjadinya pergeseran tatanan&amp;nbsp; yang berlaku dalam segenap aspek kehidupan masyarakat, termasuk tradisi dan adat kebiasaan yang telah berlangsung secara turun temurun.&lt;br /&gt;Salah satu bentuk tradisi dan adat kebiasaan yang selalu dilakukan oleh warga masyarakat pendukungnya adalah “sire’mpek api” (saling melempar api) di Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone. Tradisi tersebut telah berlangsung bagi masyarakat Desa Pongka&amp;nbsp; secara&amp;nbsp; turun&amp;nbsp; temurun dan dilakukan satu kali dalam tiga tahun.&lt;br /&gt;Menurut&amp;nbsp; keterangan Jannabe, S.Ag. Kepala Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge bahwa pada mulanya tradisi tersebut dilaksanakan setiap tahun, yaitu setiap selesai panen tahunan. Tetapi dengan pertimbangan masalah biaya dan faktor kesempatan, maka kesepakatan masyarakat hanya dilakukan satu kali dalam tiga tahun. &lt;br /&gt;Bila ditelusuri lebih jauh, tradisi yang sakral tersebut bukan saja merupakan ajang permainan dengan maksud untuk mempertontonkan ketangkasan saling melempar api, atau menguji kekebalan tubuh dari jilatan api, akan tetapi dari sejarah awal dilakukannya tradisi yang penuh resiko luka bakar tersebut, ternyata memiliki latar belakang yang sangat prinsipil dan makna yang sangat dalam. &lt;br /&gt;Latar belakang yang dimaksud adalah merupakan bentuk pemulihan harga diri yang dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah “sirik na pesse’”. Tradisi yang telah menjadi kebiasaan bagi warga masyarakat Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone tersebut, pada awalnya merupakan ungkapan rasa syukur bagi serombongan pengungsi dari Baringeng Soppeng, atas keselamatannya sampai di tempat tersebut. Wilayah baru yang subur dan memberinya hasil panen yang berlimpah yang membuatnya dapat hidup lebih baik bersama sanak keluarga. &lt;br /&gt;Ungkapan dari rasa syukur itulah yang kemudian diwujudkan dalam berbagai permainan rakyat, seperti ; masse’mpek (olahraga dengan tendangan kaki), mappe’re’k (berayun-ayun) dan yang menjadi intinya adalah sire’mpek api atau saling melempar api yang terbuat dari suluh daun kelapa yang kering. &lt;br /&gt;Tradisi ini dilakukan oleh mereka dalam rangka memperingati suatu kejadian&amp;nbsp; yang pernah dialami&amp;nbsp; pengungsi&amp;nbsp;&amp;nbsp; tersebut,&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; sebelum&amp;nbsp;&amp;nbsp; meninggalkan Baringeng yang sekarang berada dalam wilayah hukum Kecamatan Lili Rilau Kabupaten Soppeng, maupun dalam perjalanannya menuju ketempat yang diberinya nama Pongka, salah satu desa dalam wilayah hukum Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;Menurut kisahnya, adalah Petta Makkuli Lajengnge bersama dengan Petta Pabbaranie dan seorang saudara perempuannya yang bernama Puang Moncong, memimpin pengungsian tersebut sebagai wujud rasa ketidak senangan melihat tindakan sewenang-wenang Datu Baringeng yang tidak lagi mengenal adek “sipakatau – sipakalebbi”, sehingga rakyatnya hidup dalam kesengsaraan. Menurut berbagai sumber, antara Datu Baringeng dengan Petta Makkuli Lajengnge masih bersaudara kandung, yaitu Datu Baringeng merupakan adik dari Petta Makkuli Lajengnge. Cuma saja Petta Makkuli Lajengnge memiliki sifat “sipakatau – sipakalebbi” dan sangat menghargai yang namanya adek pangadereng.&lt;br /&gt;Setelah berupaya melakukan berbagai pendekatan kekeluargaan dengan memberi peringatan kepada Datu Baringeng agar tidak melakukan tindakan sewenang-wenang yang membuat rakyat Baringeng menderita dan ternyata peringatan tersebut tidak ditanggapi, maka dipilihlah jalan lain yaitu “malle’kkek dapureng” (meninggalkan kampung halaman) bersama keluarga. Petta Makkuli Lajengnge bersama Petta Pabbaranie dan seluruh rakyat pengikutnya, memilih meninggalkan Baringeng Soppeng, menuju kearah timur yang tidak ditekahui wilayah mana tempat tujuannya.&lt;br /&gt;Sebelum meninggalkan Baringeng, Petta Makkuli Lajengnge dan Petta Pabbaranie menggerakkan massa pengikutnya melempari istana Datu Baringeng dengan api yang terbuat dari suluh daun kelapa yang kering. Tindakan ini dilakukan agar Datu Baringeng menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini tidak diterima baik oleh sebagian besar rakyatnya.&lt;br /&gt;Suluh yang menyala dilemparkan oleh massa pengikut Petta Makkuli Lajengnge, dikembalikan pula oleh pengawal istana Datu Baringeng, sehingga terjadilah peristiwa sire’mpek api pada malam itu. Suatu pemandangan yang langka bagi rakyat Baringeng, sekaligus membuat perasaan tegang yang luar biasa.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Konon dari peristiwa itulah sehingga para pengungsi yang telah menempati suatu wilayah yang kini bernama Pongka setiap selesai panen tahunan, memperingatinya dengan cara saling melempar api yang kemudian lebih populer dengan istilah “sire’mpek api”. Penduduk setempat menamakannya “sijukjuk sulo” (saling menyulut dengan suluh), yaitu alat penerang yang terbuat dari daun kelapa yang kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;Bertolak dari uraian latar belakang diatas, maka penulisan buku “Menelusuri Sejarah Tradisi Sirempek Api di Pongka” berupaya untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang timbul, seperti berikut ini;&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejauh mana pengaruh nilai-nilai siri’ (harga diri) dan pesse’ (kepedihan) yang melekat pada diri orang Bugis, Makassar di Sulawesi Selatan dan Mandar di Sulawesi Barat, sehingga dapat menjadi pemicu bagi pribadi atau kelompok masyarakat untuk melakukan pembelaan dan pertahanan dengan berbagai bentuk serta akibatnya ?&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejauh mana tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh penguasa (Datu Baringeng)&amp;nbsp; Soppeng dimasa yang lampau, sehingga menimbulkan siri’ dan psse’ bagi sebahagian rakyatnya yang kemudian diwujudkan dalam bentuk perlawanan dan pengungsian yang dipimpin oleh Petta Makkuli Lajenge dan Petta Pabbaranie yang tidak lain adalah saudara kandungnya sendiri ?&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Benarkan tradisi “Sirempek Api di Pongka” yang dilakukan satukali dalam tiga tahun di Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone, pada awalnya&amp;nbsp; merupakan peringatan bagi pengungsi dari kerajaan Baringeng Soppeng bersama keluarganya sebagai bentuk protes dari tindakan kesewenang-wenangan oleh penguasa (Datu Baringeng) pada waktu itu yang cenderung meninggalkan adat “sipakatau dan sipakalebbi”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;Penulisan buku “Menelusuri Sejarah Tradisi Sire’mpek Api ri Pongka” bertujuan ;&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menggali, menyelamatkan dan memelihara unsur-unsur tradisi lokal sebagai unsur kebudayaan daerah yang merupakan upaya transformasi dari generasi ke generasi berikutnya dalam rangka melestarikan dan memperkaya kebudayaan nasional.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menginventarisasi dan mendokumentasikan tradisi “sire’mpek api” yang telah menjadi kebiasaan bagi penduduk Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone sebagai konsep kebudayaan daerah yang pada gilirannya dapat memperkaya kebudayaan nasional.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meransang dan membangkitkan minat generasi muda utamanya pelajar dan mahasiswa unuk lebih giat menggali nilai-nilai budaya lokal sebagai warisan leluhur yang bernilai tinggi. &lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengangkat tradisi “sire’mpek api ri Pongka” yang selalu dilakukan oleh masyarakat Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone sebagai sebuah permainan rakyat yang langka dan jarang ditemukan di daerah lain. Artinya tradisi tersebut dapat lebih dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.&lt;br /&gt;e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Agar buku ini dapat menambah perbendaharaan bacaan tentang tradisi lokal sebagai aset daerah dibidang kebudayaan dan kepariwisataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kegunaan Penulisan&lt;br /&gt;Tradisi&amp;nbsp;&amp;nbsp; “sire’mpek api”&amp;nbsp;&amp;nbsp; di Desa Pongka&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang telah berlangsung secara turun temurun sebagai warisan kebudayaan yang bernilai tinggi, diharapkan dapat menjadi perekat sosial ekonomi dan ekologis masyarakat secara mendasar.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Oleh&amp;nbsp;&amp;nbsp; karena&amp;nbsp;&amp;nbsp; itu,&amp;nbsp;&amp;nbsp; buku&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Menelusuri&amp;nbsp; Sejarah Tradisi Sire’mpek Api ri Pongka” dapat memiliki kegunaan sebagai berikut; &lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menambah bahan bacaan tentang tradisi atau kebudayaan lokal yang dewasa ini terasa masih sangat kurang.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai bahan dan sumber penelitian pada bidang-bidang lain, seperti ; sejarah, antropologi, soiologi, linguistik dan lain-lain.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai bahan pembanding muatan lokal diberbagai lembaga pendidikan terutama dalam kaitannya dengan adat kebiasaan dan tradisi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Metode Pengumpulan Data &lt;br /&gt;Pengumpulan data dalam penulisan buku ini digunakan metode kualitatif yang bersifat eksploitasi diskriptif yang berusaha menggambarkan serta mengungkapkan sebuah realitas dalam kehidupan sosial masyarakat. Mengingat sumber-sumber tertulis baik berupa lontarak maupun manuskrip lainnya tidak ditemukan, maka pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut ;&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Observasi, yaitu pengamatan langsung di lapangan agar dapat melihat bagaimana tradisi “sire’mpek api” itu dilakukan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; penduduk&amp;nbsp; Desa&amp;nbsp; Pongka&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone, termasuk alat-alat yang menjadi pendukungnya.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wawancara/intervieu, yaitu untuk memperoleh data atau informasi sebagai pelengkap data yang diperoleh dari observasi.&amp;nbsp; Wawancara dilakukan secara&amp;nbsp; mendalam kepada sejumlah informan yang ditentukan keriterianya, seperti ; pemuka masyarakat, unsur pemerintah, pendidik (guru) dan tokoh agama.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Data sekunder yang digunakan adalah gambaran umum atau selayang pandang Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone, seperti ; asal muasal nama Pongka, letak geografis, penduduk, sosial ekonomi, keagamaan dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;II. DESA PONGKA SELAYANG PANDANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari Kata “Pong Engka” (Permulaan Ada)&lt;br /&gt;Asal muasal penamaan Pongka yang pada mulanya merupakan sebuah kampung menurut sejumlah informan, adalah dari kata “pong engka” artinya permulaan ada, yaitu permulaan adanya penghuni pada tempat tersebut. Kemudian kata “pong engka” mengalami evolusi kata sehingga pada akhirnya menjadi “pongka” seperti yang kita dikenal sekarang. Hal mana mengingatkan kita tentang asal muasal penamaan Sengkang ibu kota Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan yang menurut lontarak (catatan yang tertulis diatas daun lontar) bahwa nama Sengkang ibukota Kabupaten Wajo berasal dari kata “siengkang” artinya bersamaan datang di tempat itu. &lt;br /&gt;Cerita lisan yang banyak dituturkan oleh penduduk Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone, mengatakan bahwa asal usul penamaan “pong engka” yang kemudian berubah menjadi Pongka untuk tempat tersebut, bersamaan datangnya rombongan pengungsi dari Kerajaan Baringeng Soppeng yang meninggalkan kampung halamannya lantaran tidak puas dengan sistem pemerintahan&amp;nbsp; Datu Baringeng yang tidak lagi mengikuti apa yang disebut adat istiadat.&lt;br /&gt;Hal tersebut oleh sejumlah informan diakui kalau tidak diketahui tahun kejadiaannya, termasuk nama datu (raja) yang memerintah di Kerajaan Baringeng saat itu. Cuma ada yang memperkirakan bahwa peristiwa pengungsian besar-besaran dari Kerajaan Baringeng Soppeng terjadi setelah berlangsungnya “Lamumpatue’ ri Timurung” yaitu perjanjian tiga kerajaan bertetangga (Bone, Wajo dan Soppeng) untuk saling mempersaudarakan kerajaannya dalam tahun 1582. &lt;br /&gt;Dalam lontarak diketahui bahwa Lamumpatue’ ri Timurung yang juga dikenal dengan “mattellumpoccoe’” dilakukan oleh tiga kerajaan bertetangga Bone, Wajo dan Soppeng dalam rangka mengantisivasi serangan dari luar, antara lain Gowa dan Luwu. Setelah ketiga kerajaan tersebut mempersaudarakan diri, maka ketiganya berdiri sama tegak, Bone menjadi saudara tertua, Wajo anak tengah dan Soppeng sebagai anak bungsu.&lt;br /&gt;Sebelum Lamumpatue’ ri Timurung, diketahui bahwa Baringeng berada dalam kekuasaan Wajo. Tetapi saat itu La Paleppe Patolae’ sebagai Datu Soppeng keberatan dan merasa tidak layak untuk mempersaudarakan kerajaannya karena wilayahnya kecil. Oleh karena itu, atas inisiatif Arung Matowa Wajo La&amp;nbsp; Mungkace To Uddamang memberinya tambahan wilayah yaitu Lompulle dan Baringeng. Begitu pula Arumpone (raja Bone) La Tenri Rawe Bongkange’&amp;nbsp; memberinya tambahan wilayah kepada Soppeng yaitu Gowagowa dan Citta.&lt;br /&gt;Setelah kedua kerajaan tetangga Soppeng (Bone dan Wajo) memberinya tambahan wilayah, barulah perjanjian “mattellumpoccoe” dilangsungkan di Kampung Bunne dalam Wanuwa Timurung. Perjanjian tersebut merupakan terbentuknya&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp; aliansi&amp;nbsp; tiga kerajaan untuk saling&amp;nbsp; bahu membahu dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk mengantisivasi ancaman musuh dari luar antara lain Gowa dan Luwu. Perjanjian yang ditandai dengan upacara menenggelamkan batu (mallamumpatu) dipimpin oleh cendekiawan Kerajaan Bone yang bernama Kajao Laliddong dipersaksikan kepada Dewata Seuwae’ (Tuhan Yang Maha Esa).&lt;br /&gt;Menurut cerita lisan yang banyak diuturkan warga masyarakat di Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge’ Kabupaten Bone, rombongan pengungsi dari Baringeng memilih tempat tersebut sebagai pertahanan terakhir, lalu mereka membuat perkampungan, membuka tanah untuk persawahan dan perkebunan. Dengan demikian mereka dianggap sebagai penghuni awal dan dikatakan “pong engka” artinya permulaan adanya penduduk ditempat tersebut. Pengungsi dari Baringeng itulah yang memulai adanya penduduk dan sistem perkauman (anang) di tempat tersebut. &lt;br /&gt;Masih menurut cerita lisan di Desa Pongka, sebelum kedatangan rombongan pengungsi dari Baringeng tempat itu masih merupakan sebuah wilayah yang berhutan lebat tanpa dihuni oleh siapa-siapa. Kecuali binatang liar seperti babi hutan, rusa, ayam hutan dan sebagainya. Hal mana&amp;nbsp; membuat tempat tersebut menjadi sangat angker dan menyeramkan. Tidak ada yang berani memasuki wilayah tersebut, kecuali dengan rombongan besar seperti pada saat diadakan perburuan babi hutan dan rusa. Itupun orang tidak berani tinggal berlama-lama dan mereka pada pulang sbelum matahari terbenam.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;2. Beberapa Nama Tempat Terbentuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah informan penduduk Desa Pongka dan sekitarnya mengisahkan bahwa bukan hanya nama Pongka yang terbentuk dari peristiwa pengungsian dari Baringeng tersebut. Tetapi sejumlah tempat yang dilewati mereka, terbentuk namanya dan melekat sampai sekarang.&lt;br /&gt;Konon nama tersebut terbentuk berdasarkan bunyi gendang ajaib yang selalu ditabuhnya sepanjang perjalanan mereka dari Baringeng. Mungkin berdasarkan keadaan cuaca sehingga bunyi gendangnya selalu berubah-ubah yang menjadi inspirasi bagi penduduk setempat dalam pemberian nama tempat itu.&lt;br /&gt;Menurut informan penulis, ada beberapa tempat antara Baringeng yang sekarang telah menjadi sebuah desa dalam wilayah Kecamatan Lili Rilau Kabupaten Soppeng dengan Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone yang berhubungan dengan peristiwa pengungsian tersebut. Tempat-tempat tersebut masih melekat sampai sekarang, ada yang berstatus sebagai dusun atau kampung dan ada pula yang berstatus sebagai sebuah desa.&lt;br /&gt;Seperti diceritakan oleh warga Desa Pongka bahwa tempat yang pertama terbentuk dari peristiwa pengungsian dari Baringeng, adalah Leppangeng. Dalam bahasa Bugis “leppangeng” artinya persinggahan. Ketika rombongan pengungsi singgah sejenak disuatu tempat untuk melepas lelah dan juga untuk makan. Sejak itu melekatlah nama Leppangeng yang sekarang merupakan sebuah kampung dalam wilayah Kecamatan Dua Boccoe’ Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;Tempat berikutnya adalah Panynyilik yang sekarang merupakan sebuah&amp;nbsp; desa&amp;nbsp; yaitu&amp;nbsp; Desa&amp;nbsp; Panynyilik Kecamatan Dua Boccoe’ Kabupaten Bone. Dikisahkan oleh informan penulis bahwa ketika rombongan pengungsi dari Baringeng melewati tempat tersebut, penduduk setempat tidak ada yang berani keluar. Mereka hanya mengintip (Bugis ; manynyilik) dari balik jendela atau tempat yang tersembunyi dari pandangan rombongan tersebut.&lt;br /&gt;Pada saat suruhan Datu Baringeng yang mengejar rombongan tersebut tiba ditempat itu dan menanyakan kepada penduduk tentang rombongan pengungsi, mereka hanya menjawab ; “Kami semua disini hanya mengintip (manynyilik) dari tempat tersembunyi”. Sejak itu, tempat tersebut dinamakan Kampung Panynyilik, kemudian pada saat pembentukan desa-desa di Sulawesi Selatan, Kampung Panynyilik berubah status menjadi sebuah desa yaitu Desa Panynyilik Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;Kemudian rombongan pengungsi tersebut berjalan ke arah selatan dan tiba pada suatu tempat. Ditempat tersebut mereka singgah untuk beristirahat melepas lelah dan menghibur diri dengan menabuh gendang. Seperti halnya di kampung Panynyilik, penduduk setempat tidak berani untuk mendekat. tapi dari tempat persembunyiannya hanya mendengarkan bunyi gendang yang nyaring (Bugis ; macennok). Tidak lama kemudian suruhan Datu Baringeng tiba lagi ditempat tersebut dan menanyakan tentang rombongan pengungsi yang lewat. Penduduk setempat hanya menjawab dengan kalimat terbata-bata ; “Baru beberapa saat mereka meninggalkan tempat ini, kami semua hanya mendengarkan dari jauh bunyi gendangnya yang nyaring (macennok)”&amp;nbsp; Sejak itu, dinamakanlah termpat tersebut Kampung Lacennok yang sekarang&amp;nbsp; telah menjadi sebuah&amp;nbsp; dusun dalam wilayah Desa Mario Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;Selanjutnya tempat yang disinggahi oleh rombongan pengungsi dari Baringeng adalah Mario. Menurut kisahnya ketika mereka tiba ditempat tersebut, baik pengungsi maupun penduduk setempat larut dalam suasana suka cita. Penduduk setempat mengelu-elukan dengan sambutan yang penuh kegembiraan (Bugis ; Mario). Maka sejak itu, tempat tersebut dinamakan Mario yang sekarang merupakan sebuah desa dalam wilayah Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone. &lt;br /&gt;Dari tempat yang bernama Mario rombomgan tersebut melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Seperti biasa, setiap singgah disuatu tempat mereka selalu menabuh gendang yang dibawanya. Pada saat itu bunyi gendangnya kedengaran serak atau kurang nyaring yang dalam bahasa Bugis disebut “mapenre’ng”. Maka sejak itu, tempat yang sekarang berada antara Desa Mario dengan Desa Pongka dinamakan Kampung Lapenre’ng. &lt;br /&gt;Akhirnya rombongan pengungsi dari Baringeng tiba pada suatu tempat yang sejuk dan nyaman, dipenuhi oleh tumbuhan yang rimbun. Tempat tersebut tanpak subur yang terdiri dari pembukitan, tanah datar serta dialiri oleh sebuah sungai. Merekapun sepakat untuk menjadikan tempat tersebut sebagai pertahanan terakhir apabila orang-orang suruhan Datu Baringeng menyusulnya. &lt;br /&gt;Karena malam telah tiba, maka mereka membuat suluh dari daun kelapa yang kering sebagai alat penerang. Hal ini dilakukan untuk menjaga barang-barang bawaannya, termasuk ternak-ternaknya seperti kerbau, kuda, kambing dan ayam.&lt;br /&gt;Ternyata setelah beberapa saat beristirahat ditempat itu, orang-orang Datu Baringeng betul-betul datang menyusul mereka. Perangpun tidak terhindarkan, masing-masing menyerang dengan penuh keberanian. Kedua belah pihak melemparkan api yang terbuat dari suluh daun kelapa kering, sehingga terjadilah semacam perang api pada malam itu.&lt;br /&gt;Tetapi karena orang-orang Datu Baringeng kewalahan menerima gempuran api dari rombongan pengungsi dibawah pimpinan Petta Makkuli Lajengnge’ bersama Petta Pabbaranie’, akhirnya mereka kembali ke Baringeng dengan tangan hampa. &lt;br /&gt;Konon dari sinilah awalnya sehingga warga masyarakat Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone melakukan tradisi sire’mpek api (saling melempar api) yang pada mulanya diadakan setiap tahun, kemudian berubah menjadi satu kali dalam tiga tahun.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Tradisi yang termasuk langka dan menegangkan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati suatu peristiwa yang pernah dialami oleh leluhur mereka. Tradisi yang sampai sekarang tetap dipertahankan oleh penduduk setempat, merupakan bukti kekayaan budaya yang bernilai tinggi, sekaligus merupakan kebanggan orang Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Letak Geografis dan Penduduk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Desa Pongka adalah salah satu dari 15 desa dan dua kelurahan dalam wilayah Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone. Desa ini merupakan pemekaran dari Desa Ulo sejak tahun 1992, Desa Pongka memiliki tiga buah dusun, yaitu ; Dusun Ajangkalung, Dusun Alaugalung dan Dusun Tengngatengnga.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Desa Pongka terletak&amp;nbsp; pada ujung&amp;nbsp; sebelah&amp;nbsp; barat daya Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone dengan batas-batas sebagai berikut ;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebelah utara ; Desa Mario Kecamatan Dua Boccoe&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebelah timur ; Desa Ulo Kecamatan Tellu Siattinge,&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebelah selatan ; Desa Palongki Kecamatan Tellu Siattinge&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebelah barat ; Desa Paramaju dan Desa Wellulang Kecamatan Amali.&lt;br /&gt;Keadaan alamnya terdiri dari tanah bergelombang dengan bukit-bukit kecil yang tingginya bervariasi. Dengan demikian Desa Pongka merupakan wilayah yang cocok untuk persawahan dan perkbunan. &lt;br /&gt;Jenis tanaman jangka pendek yang menjadi andalan bagi penduduknya adalah ; padi, jagung, kedelai, kapas dan jenis palawija lainnya. Sedangkan untuk tanaman jangka panjang adalah ; kelapa, coklat, sukun dan mangga dalam jumlah kecil. Kesemua jenis tanaman tersebut merupakan hasil pertanin yang membuat penduduknya hidup sejahtra.&lt;br /&gt;Menurut sejumlah penduduk Desa Pongka, ketika pasaran tembakau masih baik, wilayah ini pernah menjadi penghasil tembakau terbesar di kabupaten Bone. Tetapi karena pasaran tembakau kini lesu, sehingga penduduk lebih banyak beralih kejenis tanaman lain seperti coklat, kapas, jagung dan lain-lain.&lt;br /&gt;Brdasarkan data statistik tahun 2008, jumlah penduduk Desa Pongka adalah 1.619 jiwa, yang terdiri dari 770 lki-laki dan 849 perempuan. Penduduk Desa Pongka 90 % hidup sebagai petani, 7 % pedagang, dan 3 % sebagai pegawai dan sector jasa lainnya. Dari 5.00 Km2 luas wilayah Desa Pongka, terdapat 50 % merupakan lahan perkebunan, 40 % persawahan. Selebihnya adalah hutan termauk hutan produktif yang juga berfungsi sebagai penahan debit air tanah yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam pemanfaatannya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;4. Sarana dan Prasarana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sarana transportasi yang menghubungkan Desa Pongka dengan Tokaseng ibukota Kecamatan Tellu Siattinge dengan jarak 16 Km. boleh dikata sudah cukup memadai. Dari Tokaseng melalui Desa Lanca, Desa Lappae hingga Dusun Mattirowalie Desa Ulo dengan status jalan kabupaten sepanjang 11 Km. telah beraspal, membuat kendaraan roda dua dan roda empat berjalan lancar. Hanya saja dari Dusun Mattirowalie Desa Ulo belok kearah barat sampai Desa Pongka denan status jalan desa sepanjang 5 Km. masih bergelombang karena baru tahap pengerasan. Dua buah jembatan semi permanen dibangun dengan swadaya murni masyarakat Desa Pongka dengan masyarakat Desa Ulo, merupakan faktor utama bagi kelancaran sarana transportasi menuju ke Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge’ Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk sarana transportasi yang dapat menghubungkan kota Watampone ibukota Kabupaten Bone, disamping melewati Tokaseng juga dapat melewati Taccipi ibukota Kecamatan Ulaweng dari arah selatan. Jarak Desa Pongka dengan Watampone lewat Taccipi yakni 39 Km., sedangkan lewat Tokaseng 36 Km. dengan kecepatan kendaraan sedang (60 Km. /jam) dengan waktu sekitar setengah jam.&lt;br /&gt;Untuk sektor pendidikan, termasuk&amp;nbsp; keagamaan Desa Pongka memiliki 2 buah Sekolah Dasar (SD), 1 buah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Di Desa Pongka telah ada sekolah lanjutan sederajat SMP yaitu Madrasah Tsanawiyah (M.Ts.) dibawah naungan Yayasan As’adiyah Sengkang. Sedangkan sekolah lanjutan sederajat SMA yaitu Madrasah Aliyah (MA) yang berada dibawah naungan Yayasan Nurul Akbar. Dengan demikian anak-anak yang tamat SMP/M.Ts. tidak perlu lagi melanjutkan pendidikannya ke daerah lain, misalnya ke Tokaseng atau ke Taccipi ibukota Kecamatan Ulaweng.&lt;br /&gt;Tentang sarana peribadatan, Desa Pongka memiliki satu buah masjid dan dua buah mushollah. Mengingat penduduk Desa Pongka yang terdiri dari 100% beragama Islam, maka sarana peribadatan lainnya seperti gereja tidak ditemukan di desa ini.&lt;br /&gt;Menurut H. Muh. Nawir seorang pensiunan Kepala SD di Desa Pongka, masyarakat Desa Pongka adalah masyarakat yang taat dalam melaksanakan ibadah. Hal ini disebabkan tersedianya sarana peribadatan yang cukup memadai, ditambah lagi sarana pendidikan bagi anak-anak lebih dominan pendidikan keagamaan. Selain itu, penduduk Desa Pongka telah banyak pula yang menunaikan ibadah haji di Mekah. Ini semua merupakan indikasi makmurnya kehidupan masyarakat Desa Pongka kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;Untuk sarana perekonomian rakyat, Desa Pongka belum memiliki pasar rakyat. Oleh karena itu, penduduk Desa Pongka memasarkan hasil-hasil pertaniannya ke Pasar Mattirowalie Desa Ulo, Pasar Lakukang di Kecamatan Amali, Pasar Taccipi di Kecamatan Ulaweng, Pasar Tajong dan Pasar Tokaseng di Kec. Tellu Siattinge.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, tidak berarti bahwa penduduk Desa Pongka memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif rendah. Ditunjang dengan sarana transportasi yang cukup memadai, membuat penduduk Desa Pongka dapat memasarkan hasil-hasil pertaniannya yang melimpah itu dengan mudah. Dengan hasil pertanian berupa coklat, padi dan jagung, membuat sebahagian besar penduduk Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone hidup sejahtera. Banyak diantaranya yang telah berhasil membuka usaha di kota-kota seperti Ujung Pandang dan Watampone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;III. TRADISI DENGAN SEMANGAT INTERNAL&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Legitimasi yang Kuat dari Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tradisi yang diartikan sebagai adat istiadat, upacara-upacara sakral, sistem kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan dalam komunitas masyarakat tertentu, merupakan unsur budaya yang bepola dan memiliki nilai yang tinggi. Dalam pengertian yang universal, unsur budaya tersebut memiliki prinsip-prinsip yang mengikat dalam makna yang esensial bagi suatu kelompok masyarakat pendukungnya, dalam upaya mengimplementasikan kebenaran dari individu-individu yang berakar pada realitas. &lt;br /&gt;Sebagai konsep kebudayaan, tradisi dalam bentuk upacara-upacara yang disakralkan, akan mendominasi keseimbangan eksistensi secara personal maupun secara kelompok masyarakat yag lebih besar untuk menjaga kesinambungan kekerabatan. Dalam hubungan&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; menurut&amp;nbsp; Colletta (1987) bahwa pranata lokal menjadi media yang memungkinkan pembangunan dapat berlangsung dengan sukses, paling tidak ada tiga alasan ; 1) menjadi sasaran pembangunan, 2) unsur-unsur budaya secara simbolis merupakan bentuk komunikasi paling berharga bagi penduduk lokal, 3) unsur-unsur budaya memiliki aneka ragam fungsi dalam menata dan mengembangkan kehidupan masyarakat. &lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan yang sangat pesat dibidang teknologi dan informasi, memang muncul nada-nada miring yang menganggap bahwa unsur-unsur budaya yang bersifat mitis dan statis yang masih tetap didukung oleh sebahagian kelompok masyarakat termasuk pranata-pranata sosial, tidak lagi relevan dengan tuntutan kehidupan kekinian dan keakanan masyarakat kita. Anggapan seperti ini jelas akan menggiring masyarakat tradisional kepada kerangka berpikir yang cenderung realistis, individualistis dan materialis. Pada gilirannya tradisi dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat sebagai akar kearifan-kearifan lokal yang bernilai tinggi, semakin tergusur ke posisi yang semakin terpinggirkan dan kelam.&lt;br /&gt;Sesungguhnya pranata budaya dalam bentuk tradisi lokal bukanlah sesuatu yang bersifat statis, melainkan sangat dinamis dan tetap sesuai dengan perkembangan zaman. Tradisi lokal tersebut merupakan mobolisasi semangat manusia secara internal dan mendapat legitimasi yang kuat dari masyarakat pendukungnya sebagai suatu bentuk pertahanan dan eksistensi jatidiri dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Anhar Gonggong seorang sejarahwan terkemuka memberi&amp;nbsp; makna&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; kandungan&amp;nbsp; nilai-nilai tradisi bagi masyarakat Bugis – Makassar sebagai “sumangek ininnawa” yang dapat diartikan sebagai dorongan batin yang dapat diyakini kebenarannya. Menurut Anhar Gonggong sumangek ininnawa tanpaknya merupakan “dua daya” yang menjadi kekuatan utama manusia untuk memanusiakan dirinya dan juga sekalugus merupakan “dua pengikat” utnuk mempertahankan hidup bersama orang Bugis (baca; Sulawesi Selatan) sekaum, baik yang menetap di dalam negeri kelahirannya maupun yang hidup di negeri rantauannya. Kedua hal itu “sumangek ininnawa” yang dilapisi “sirik” dan “pesse” telah menjadi kekuatan secara individual maupun bersama (Anhar Gonggong, 2003).&lt;br /&gt;Dalam upacara tradisional secara terpadu terkandung dua wujud, wujud sosial dan wujud konkret (material) suatu kebudayaan. Keterpaduan tersebut dapat dilihat dari tampilan simbol-simbol yang sarat dengan makna kultural, sekaligus makna moral yang dapat memberi rangsangan (sugesti) sumangek ininnawa baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain untuk selalu berada pada jalur yang sakral. Bila ada pelanggaran, resikonya adalah sanksi berupa bencana atau hal-hal lain yang merugikan baik pribadi maupun masyarakat yang lebih besar.&lt;br /&gt;Sistem upacara tradisonal selalu menampilkan berbagai simbol berupa ; 1. materi (benda), 2. ungkapan (bahasa) baik berbentuk lisan maupun berbentuk isyarat atau gerakan. Dr. H. Ajiep Padindang, SE, MM dalam bukunya “Tradisi Masyarakat Islam di Sulawesi Selatan” mengatakan bahwa ; Pada suatu sisi simbol merupakan cara mengungkapkan sesuatu yang sulit dinyatakan secara langsung. Namun dilain sisi simbol dapat pula menunjukkan suatu obyek, kejadian maupun sifat yang perupakan formulasi nyata dari pengalaman-pengalaman yang tetap dalam bentuk yang dapat ditangkap. Dengan demikian simbol mempunyai makna kultural atau sesuatu yang mengandung unsur-unsur atau pola-pola budaya. (Ajiep Padindang, 2001). Menurut Ajiep, sebuah tradisi yang dilakukan dalam benuk upacara yang ditandai dengan berbagai ritual, senantiasa didominasi oleh simbol-simbol yang sarat berbagai makna.&lt;br /&gt;Tradisi “sire’mpek api” (saling melempar api) di Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone yang dilakukan satu kali dalam tiga tahun, adalah sebuah warisan kebudayaan yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang khas. &lt;br /&gt;Jannabe, S.Ag. Kepala Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone mengatakan bahwa dalam pelaksanaan tradisi sire’mpek api, dirinya selaku pemerintah hanya berfungsi sebagai penasehat dan pelindung yang bertanggungjawab tentang ketertiban dan keamanan saja. Segala sesuatu yang berhubungan dengan permainan rakyat, ditangani oleh suatu panitia yang pembentukannya berdasarkan dengan sistem pemilihan yang demokratis. Menurut Jannabe, S.Ag, dalam pelaksanaan tradisi ini belum pernah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti perkelahian dan bentuk kekacauan lainnya.&lt;br /&gt;Walaupun tradisi sire’mpek api (sijukjuk sulo) kelihatannya sangat rentang dengan resiko, seperti luka bakar bagi pelakunya, namun hal tersebut belum pernah terjadi, seperti yang dituturkan oleh sejumlah penduduk Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kab. Bone.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;2. Bunyi Gendang Ajaib Sebagai Peringatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menurut berbagai sumber, bentuk permainan rakyat tersebut telah berlangsung secara turun temurun dan tetap dipertahankan sebagai sebuah tradisi yang mengandung nilai-nilai kultural yang sakral. Penduduk Desa Pongka yang pada umumnya adalah masyarakat petani meyakini bahwa apabila tradisi “sire’mpek api” itu tidak dilakukan atau terlambat dilakukan, maka akan ada bencana yang menimpa masyarakat berupa ; gagalnya panen tahunan, datangnya wabah penyakit, musibah kebakaran dan bencana lainnya. &lt;br /&gt;Dengan demikian, tradisi sire’mpek api telah merupakan penjelmaan semangat internal (individu) yang mendapat legitimasi yang kuat dari masyarakat luas.&amp;nbsp; Oleh karena itu, apabila waktunya telah tiba, maka warga masyarakat sendiri yang mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara yang sakral tersebut. Mulai dari penyediaan bahan-bahan yang diperlukan seperti ; pembuatan suluh dari daun kelapa yang kering, penyediaan hewan-hewan ternak seperti ayam, kambing, kuda dan sejenisnya. Termasuk padi yang terikat (Bugis ; ase’ mabbesse’), jagung, ubikayu, dan lain-lain hasil bumi untuk diarak keliling kampung pada saat akan dimulainya acara tradisi sire’mpek api.&lt;br /&gt;Menurut keyakinan sebahagian besar warga masyarakat Desa Pongka, apabila tradisi sire’mpek api (ada juga yang mengatakan sijukjuk sulo) tidak diadakan atau terlambat diadakan, akan mendatangkan bencana besar bagi penduduk. Bencana yang dimaksud menurut pengalaman yang lalu, adalah kekeringan atau musim kemarau yang panjang, sehingga panen tahunan gagal yang juga sangat rentang terjadinya kebakaran. Disamping itu, biasa juga terjadi mewabahnya penyakit (Bugis ; saik) baik terhadap hewan maupun terhadap manusia.&lt;br /&gt;Tanda-tanda yang masih dipercayai oleh penduduk tentang waktu pelaksanaan acara tradisi tersebut telah tiba, adalah bunyi gendang ajaib sebagai suatu peringatan. Bunyi gendang ajaib yang biasanya terdengar pada malam hari dengan tempat yang berpindah-pindah. &lt;br /&gt;Sebahagian besar penduduk Desa Pongka mengaku pernah mendengar bunyi gendang ajaib bukan hanya dimalam hari tetapi juga pada siang hari. Bunyi gendang ajaib itu terdengar di berbagai tempat secara misterius, karena tempatnya sangat sulit sekali ditemukan. Misalnya, sering didengarkan di sebelah barat, tetapi setelah dikunjungi, berubah tempat disebelah timur atau arah lain. Sebenarnya agak sulit untuk dipercaya, namun itulah pengakuan dari sebahagian besar penduduk Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;Oleh tokoh-tokoh masyarakat Desa Pongka dikatakan bahwa apabila telah ada penduduk yang mendengarkan bunyi gendang ajaib tersebut, maka warga masyarakat lainnya telah bersiap-siap untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pelaksanaannya yang ditetapkan oleh panitia yang dibentuk berdasarkan pemilihan secara demokratis.&lt;br /&gt;Masih menurut tokoh masyarakat Desa Pongka, orang-orang yang ditempatkan dalam kepanitiaan adalah tokoh-tokoh masyarakat baik dari kalangan tokoh pendidik, tokoh agama, termasuk sanro wanuwa (dukun kampung). Dengan demikian, tugas-tugas yang dibebankan kepadanya terlaksana dengan baik dan berjalan sesuai dengan ketentuan adat istiadat di desa ini. Panitia yang telah dibenuk berdasarkan musyawarah dan mufakat tersebut masing-masing bekerja sesuai bidangnya, sehingga pelaksanaan acara tradisi “sirempe’ api” berjalan dengan lancer dan tertib.&lt;br /&gt;3. Tontonan Mengasyikkan dan Menegangkan&lt;br /&gt;Pada umumnya informan di Desa Pongka dan Desa Ulo Kecamatan Tellu Siattinge menuturkan bahwa pada mulanya upacara sire’mpek api dilakukan setiap tahun, yaitu setiap selesai panen padi. Tetapi melihat perkembangan yang semakin diminati oleh bukan saja warga masyarakat Desa Pongka dan Desa Ulo, maka dilakukan satu kali dalam tiga tahun. Pertimbangannya adalah masalah pendanaan dan efesiensi waktu. &lt;br /&gt;Tentang hubungannya dengan bunyi gendang ajaib tadi, menurut sumber memang pada awalnya terdengar setiap tahun, yaitu setiap orang selesasai panen padi. Tetapi setelah diantisipasi dengan ritual-ritual dari sanro wanuwa (dukun kampung), maka bunyi gendang ajaib tersebut ikut pula berubah yang hanya terdengar setiap tiga tahun setelah waktunya sudah akan dimulai.&lt;br /&gt;H. Muh. Nawir sorang pensiunan kepala SD di Desa Pongka mengatakan, bahwa sejarah awal dari tradisi sire’pek api itu hanya dilakukan oleh rombongan pengungsi dari Baringeng setiap selesai panen padi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan tanaman padi mereka, sekaligus memperingati suatu peristiwa yang dialaminya tentang pengungsiannya dari Baringeng.&lt;br /&gt;Masih menurut H. Muh. Nawir, setelah beberapa tahun bediam ditempat itu, hasil pertanian mereka baik sawah maupun kebun berlimpah, ternak-ternaknyapun berkembang biak. Mereka sudah merasakan suatu kehidupan yang aman, damai dan sejahtera. Sistem kekerabatan dibawah pimpinan Petta Makkuli Lajengnge’ bersama Petta Pabbaranie’ terbentuk dalam pola kekeluargaan yang harmonis. Oleh karena itu, ketika selesai musim panen tahunan (pattaungeng), mereka sepakat untuk memperingati sejarah perjalanan mereka yang berliku-liku dan penuh suka duka, sampai akhirnya terdampat ditempat yang subur dan sejuk, aman dan damai yang sekarang telah bernama Pongka. &lt;br /&gt;Dilakukanlah berbagai aktraksi seperti ; mappe’re’ (berayun), masse’mpek (olahraga tendangan kaki), termasuk sire’mpek api sebagai intinya. Hal itu dilakukan oleh mereka sebagai wujud dari rasa syukur atas keselamatan dan keberhasilan yang diraihnya bersama segenap sanak keluarganya di tempat yang baru tersebut. &lt;br /&gt;Demikianlah sekelumit sejarah tradisi sire’mpek api di Pongka yang pada awalnya hanya dilakukan oleh rombongan pengungsi dan keluarganya dari Baringeng Soppeng, setiap selesai panen tahunan. Tetapi karena tradisi ini merupakan pertunjukan yang menarik bagi orang-orang luar, maka akhirnya menjadi suatu yang menarik untuk dilakukan oleh penduduk setempat setiap waktunya. &lt;br /&gt;Bahkan beberapa tahun terakhir ini, tamu-tamu yang datang bukan hanya dari desa-desa tetangga Desa Pongka, tetapi juga dari beberapa kecamatan dalam Kabupaten Bone, termasuk dari Soppeng, Wajo dan lain-lain. Orang-orang Pongka yang berada diperantauan, banyak yang kembali untuk menyaksikan permainan rakyat yang mengasyikkan dan sekalus menegangkan tersebut. Disamping itu, mereka juga menggunakan kesempatan untuk bersilatur rahmi dengan keluarga yang sudah lama ditinggalkannya.&lt;br /&gt;Oleh karena tradisi sire’mpek api nanpaknya semakin diminati bukan saja warga masyarakat Desa Pongka, tetapi juga masyarakat dari luar, maka dalam pelaksanaannya dibentuk suatu panitia yang dipilih oleh warga masyarakat sendiri. Peranan Sanro Wanuwa hanyalah menyangkut upacara-upacara ritual sebagai doa keselamatan bagi pelaku dan penontonnya. &lt;br /&gt;Karena atraksi ini kelihatannya berbahaya baik bagi pelaku maupun bagi penonton, maka Sanro Wanuwa membuat ramuan berupa minyak kelapa yang telah diberi mantera-mantera tertentu. Ramuan tersebut disapukan kepada para pelaku termasuk para penonton yang akan menyaksikan permainan tersebut dari jarak dekat.&lt;br /&gt;Mlihat bentuk pertunjukannya, maka tradisi sire’mpek api yang dilakukan oleh masyarakat Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge’ Kabupaten Bone sekali dalam tiga tahun, dapat digolongkan sebagai permainan rakyat yang penuh dengan resiko. Betapa tidak, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya saling melempar api yang menyala yang terbuat dari daun kelapa kering dengan jarak 10 meter. &lt;br /&gt;Dari pengamatan penulis setelah beberapa kali menyaksikan langsung dari lokasi permainan, para pemain seperti tidak merasakan panasnya api yang mengenai tubuhnya yang rata-rata tidak memakai baju. Mereka membiarkan api yang menjilat tubuhnya sampai padam sendiri. Menurut informan penulis, mereka yang bukan turunan orang Pongka dilarang untuk ikut bermain, karena bisa mengalami resiko terbakar, cidera dan sebagainya.&lt;br /&gt;Setelah tiba waku yang ditetapkan oleh panitia dengan persetujuan Sanro Wanuwa dan tokoh-tokoh masyarakat, maka bahan-bahan yang merupakan kebutuhan acara tersebut dikumpul pada suatu tempat yaitu di depan rumah Ketua Panitia atau rumah Sanro Wanuwa. Pada pukul 19.30 (selesai shalat Isya) warga masyarakat baik anak-anak maupun orang tua berarak keliling kampung dengan membawa bahan-bahan tersebut berupa hasil-hasil pertanian, ternak-ternak seperti ayam, itik, kambing, bahkan ada juga yang membawa kerbau dan kuda. Arak-arakan yang pesertanya terdiri dari laki-laki dan perempuan mengelilingi kampung-kampung dalam Desa Pongka diikuti oleh tabuhan gendang. Penabuh gendang yang terdiri dari tiga orang yang memang sudah terlatih sebagai penabuh gendang untuk acara tradisi sire’mep api tersebut.&lt;br /&gt;Informan penulis di Desa Pongka menuturkan bahwa pada masa lampau gendang yang ditabuh dalam arak-arakan tersebut adalah gendang yang dibawah oleh rombongan pengungsi dari Baringeng. Tetapi gendang yng dianggap ajaib tersebut, sekarang tidak lagi diketahui keberadaannya. Hanya saja menurut sejumlah penduduk Desa Pongka, bunyi gendang ajaib tersebut masih sering terdengar terutama pada saat menjelang pelaksanaan tradisi sire’mpek api. Secara logika memang sulit untuk dipercaya, tetapi hal tersebut adalah suatu kenyataan yang selalu dialami oleh penduduk setempat. Pada umumnya penduduk Desa Pongka mengakui kalau bunyi gendang ajaib tersebut pernah mereka dengar. Anehnya, tempat asal bunyi gendang tersebut dikunjungi, tidak seorangpun yang mampu menemukannya.&lt;br /&gt;Pertama arak-arakan berjalan menuju ke Dusun Ajangkalung sebuah dusun yang terletak pada bagian bara Desa Pongka. Di Dusun Ajangkalung mereka melakukan atraksi sire’mpek api beberapa saat, sebagai awal dari pada permainan rakyat yang menegangkan itu. Selanjutnya arak-arakan menuju ke Dusun Alauggalung sebuah dusun yang berada di bagian timur Desa Pongka. Seperti halnya di Dusun Ajangkalung, disinipun mereka melakukan atraksi sire’mpek api beberapa saat. Akhirnya arak-arakan berjalan menuju ke Dusun Tengngatengnga sebuah dusun yang terletak ditengah-tengah Desa Pongka yang juga merupakan pusat dari pemerintahan desa tersebut.&lt;br /&gt;Di Dusun Tengngatengnga itulah yang merupakan acara puncak tradisi sire’mpek api. Di tempat itu telah menunggu ribuan penonton termasuk undangan-undangan penting untuk menyaksikan jalannya permainan rakyat yang mengasyikkan sekaligus menegangkan itu. &lt;br /&gt;Ditengah lapangan, panitia membuat garis pembatas antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain yang akan melakukan permainan lengkap dengan suluh daun kelapa kering yang menyala. Disamping itu, dibuat pula garis pembatas bagi penonton yang memenuhi lapangan untuk menyaksikan permainan sire’mpek api. Menurut aturan yang diteapkan oleh panitia, tidak ada yang bisa melewati pembatas tersebut. Begitu pula penonton tidak dibenarkan untuk mengambil tempat yang terlalu dekat, karena dikhawatirkan terkena api.&lt;br /&gt;Pertunjukan sire’mpek api dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut yang dimulai pukul 19.30 sampai pukul 11.00 termasuk prosesi arak-arakan mengelilingi dusun-dusun dalam wilayah Desa Pongka. Informan penulis mengatakan, dimasa lampau acara sire’mpek api dirangkaikan dengan permainan tradisional yang lain, seperti ; masse’mpek (olahraga dengan tendangan kaki), mappe’re’k (berayun-ayun) dan lain-lain. Namun beberapa tahun terakhir ini hal itu tidak lagi dilakukan dan digantikan dengan pertandingan sepak bola.&lt;br /&gt;Kepala Desa Pongka Jannabe, S.Ag. menjelaskan bahwa pelaksanaan atraksi sire’mpek api sekarang ini hanya dirangkaikan dengan pertandingan sepak bola antara klub-klub sepak bola baik dalam wilayah Kecamatan Tellu Siattinge, maupun dari luar&amp;nbsp; yang berminat. Oleh karena itu, jauh-jauh hari sebelum permainan rakyat sire’mpek api dimulai, telah dilaksanakan pertandingan sepak bola. Menurutnya, pertandingan sepak bola biasanya memakan waktu selama setengah bulan. Jadi selama itu, keadaan Desa Pongka nanpak ramai dari tamu-tamu yang datang untuk menonton.&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan tradisi sire’mpek api tersebut, partisipasi masyarakat Desa Pongka memang patut dibanggakan. Mengapa tidak, pasalnya disamping keramahtamahannya menerima tamu-tamu dari daerah lain, juga kerelaannya menyiapkan berbagai makanan. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi setiap pemilik rumah untuk menyiapkan makanan kepada tamu yang lewat ataupun singgah. Tak ubahnya dengan perayaan hari Idul Fitri atau Idul Adha bagi umat Islam.&lt;br /&gt;Menurut sejumlah informan, hal demikian telah berlangsung secara turun temurun. Tidak ada penekanan, apalagi yang namanya paksaan untuk menyiapkan semua itu. Semata-mata merupakan kesadaran warga masyarakat yang menganggapnya sesuatu yang bernilai pahala apabila rumah mereka disinggahi oleh tamu-tamu dari luar. &lt;br /&gt;Pada saat berlangsungnya acara sire’mpek api, biasanya warga masyarakat Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone dengan kesadaran sendiri memotong hewan ternak berupa ; ayam, kambing, sapi dan kuda. Biasanya setiap tiga buah rumah tangga sepakat untuk menyiapkan satu ekor kuda untuk disembelih sebagai persiapan untuk menyuguhkan kepada tamu-tamu yang datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;IV – WUJUD PENEGAKAN “SIRIK NA PESSE’ “&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Bila Harga Diri Terinjak-injak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tradisi sire’mpek api yang selalu dilakukan oleh penduduk Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone satu kali dalam tiga tahun, ternyata bukanlah sekedar pertunjukan biasa. Bila ditelusuri lebih jauh tentang asal muasal kejadiannya, maka akan ditemukan persoalan-persoalan lebih mendasar yang merupakan latar belakang tradisi tersebut. &lt;br /&gt;Tradisi sire’mpek api yang dilakukan secara turun temurun oleh penduduk Desa Pongka tersebut, bukan semata-mata sebagai ajang ketangkasan untuk saling melempar api dan mempertontonkan kekebalan para pemainnya dari jilatan api. Tetapi ada hakekat dasar yang sangat dominan yang melatar belakanginya yaitu sebagai upaya penegakan harga diri yang dalam bahasa Bugis disebut “sirik na pesse’”. Penegakan harga diri (martabat) yang terinjak-injak oleh suatu kekuasaan yang telah jauh meninggalkan nilai-nilai kultural (pangadereng) yang telah menjadi ciri khas dan watak asli orang Bugis, Makassar di Sulawesi Selatan dan juga orang Mandar di Sulawesi Barat.&lt;br /&gt;Tidak diketahui secara pasti tentang kapan seungguhnya tradisi sire’mpek api itu mulai dilakukan. Pasalnya, upacara yang sakral dan telah menjadi kebiasaan penduduk di Desa Pongka tersebut, tidak ditunjang oleh bukti-bukti tertulis seperti lontarak (catatan yang tertulis pada daun lontar) dan manuskrip-manuskrip lainnya. Namun menurut sejumlah informan baik yang ada dalam wilayah Desa Pongka maupun yang ada diluar wilayah tersebut menjelaskan bahwa tradisi sire’mpek api diperkirakan dimulai sejak kedatangan pengungsi dari Baringeng Soppeng.&lt;br /&gt;Dalam lontarak Bone (Matthes, Boeg. Chrestomathie I) hanya menyebutkan bahwa sebelum “lamumpatue ri Timurung” yaitu perjanjian tiga kerajaan (Bone, Wajo dan Soppeng) dalam tahun 1582, untuk mempersaudarakan wilayah kerajaannya, Baringeng masih berada dibawah kerajaan Wajo. Menurut lontarak tersebut, pada saat Lamumpatue ri Timurung akan dilakukan, La Paleppek Patolae selaku Pollipue ri Soppeng merasa sangat keberatan untuk bergabung mempersaudarakan daerahnya dengan Bone dan Wajo. Alasannya bahwa wilayah Soppeng sangat kecil dibanding kedua kerajaan tetangganya itu.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, La Tenri Rawe Bongkange selaku Mangkauk (raja) Bone berkenan memberikan tambahan wilayah, yaitu Gowagowa dan Citta. Sedangkan La Mungkace To Uddamang selaku Arung Matowa Wajo berkenan pula memberikan tambahan wilayah yaitu Lompulle dan Baringeng.&lt;br /&gt;Catatan dalam lontarak Akkarungeng Bone ini sedikitnya telah dapat memberi sedikit&amp;nbsp; gambaran bahwa pengungsian besar-bsaran dari Baringeng terjadi setelah Lamumpatue ri Timurung. Alasan yang paling mendasar adalah sesuai cerita lisan masyarakat Desa Pongka yang mengatakan bahwa rombongan pengungsi tersebut berasal dari Baringeng Soppeng. &lt;br /&gt;Dapat diperkirakan bahwa terjadinya peristiwa pengungsian dari Baringeng terjadi setelah tahun 1582 atau bisa jadi pada akhir masa pemerintahan La Tenri Rawe Bongkangnge Raja Bone - VII dalam tahun 1584. Atau mungkin pula pada masa pemerintahan Raja Bone ke – VIII La Iccang Matinroe ri Addenenna (1584 – 1595). &lt;br /&gt;Tokoh-tokoh masyarakat di Desa Pongka memperkirakan bahwa atraksi saling melempar api atau sire’pek api pada mulanya dilakukan antara rombongan pengungsi dari Baringeng dibawah pimpinan Petta Makkulim Lajengnge bersama Petta Pabbaranie dengan orang-orang Datu Baringeng yang selalu mengikutinya untuk melakukan pengejaran.&lt;br /&gt;Rombongan pengungsi yang terdiri dari sanak keluarga meninggalkan Baringeng sebagai bentuk perlawanan dan protes atas tindakan Datu Baringeng yang cenderung menganut politik kekuasaan yang absolut dan kesewenang-wenangan tanpa batas. Tidak menghargai hak-hak kepemilikan warga masyarakat, semua harus tunduk dibawah perintahnya.&lt;br /&gt;Tindakan kesewenang-wenangan tersebut yang sepertinya sudah terlalu jauh meninggalkan “adek pangadereng” (sistem hukum) di Tana Bugis yang dilakukan oleh Datu Baringeng dan pengusa-penguasa bawahannya menimbulkan penderitaan lahir batin dikalangan rakyat kecil. Hal yang demikian itulah yang membuat sekelompok rakyat Baringeng dibawah pimpinan Petta Makkuli Lajengnge yang konon adalah kakak kandung Datu Baringeng sendiri bersama Petta Pabbaranie mencoba untuk melakukan langkah pencegahan.&lt;br /&gt;Langkah yang pertama dilakukannya adalah memperingati Datu Baringeng untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan rakyat banyak, atau tindakan yang bertentangan dengan “adek pangadereng” Tana Ugi. Peringatan tersebut dilakukannya berulang-ulang dengan maksud agar penguasa Baringeng tersebut mau merubah sikapnya dan kembali menghargai makna&amp;nbsp; “adek pangadereng” yang telah dijunjung tinggi oleh orang Bugis, Nakassar dan Mandar. &lt;br /&gt;Tetapi karena Datu Baringeng yang memang masih berusia muda, tidak mengindahkan peringatan dari kakanya, bahkan semakin menjadi-jadi, maka Petta makkuli Lajengnge bersama Petta Pabbaranie melakukan perlawanan. Bersama rakyat pendukungnya, Petta Makkuli Lajengnge dan Petta Pabbaranie mengepung istana Datu Baringeng dan melemparinya dengan api yang terbuat dari suluh daun kelapa kering.&lt;br /&gt;Tindakan Petta Makkuli Lajengnge bersama Petta Pabbaranie dan rakyat pendukungnya mendapat perlawanan sengit dari pengawal istana Datu Baringeng yang bertahan mati-matian. Dengan demikian, para demonstran dibawah pimpinan Petta Makkuli Lajengnge gagal untuk melengserkan penguasa tersebut dari kedudukannya yang disalah gunakan selama ini.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Petta Makkuli Lajengnge kakak kandung dari Datu Baringeng sendiri bersama Petta Pabbaranie memilih perlawanan dalam bentuk pengungsian (Bugis ; malle’kkek dapureng). Pada saat yang telah disepakati, seluruh rakyat yang setuju dengannya diikutkan untuk meninggalkan Kerajaan Baringeng. Dikisahkan bahwa di Kerajaan Baringeng saat itu tidak ada lagi norma-norma adat, budaya “sipakatau” (pengakuan terhadap hak azasi manusia) diabaikan, kekuasaan raja mendominasi seluruh tatanan kehidupan dan pemerintahan.&lt;br /&gt;Tradisi lisan yang selalu dituturkan oleh tokoh-tokoh masyarakat Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone menyebutkan bahwa datu (raja) yang memerintah di Kerajaan Baringeng waktu itu, tidak diketahui tentang namanya. Dia hanya dikenal dengan gelar “Datu Lolo” (Datu yang muda). Datu Lolo tersebut adalah seorang penguasa yang sangat kejam dan tidak pernah mengakui tentang hak-hak dasar kemanusiaan. Anak-anak gadis orang dijadikan pemuas napsu, suka meniduri isteri orang&amp;nbsp; lain dan masih banyak lagi tindakannya yang bertentangan dengan adat istiadat yang dijunjung tinggi oleh orang Bugis, Makassar di Sulawesi Selatan dan orang Mandar di Sulawesi Barat.&lt;br /&gt;Dengan demikian, sebagian besar rakyat Kerajaan Baringeng memilih untuk hijrah ke daerah lain, dalam artian mencari tempat yang tenang dan aman bersama sanak keluarganya. Perinsip “polo papa polo pannik nare’kko e’lok ajjoareng” (tidak ada kekuatan dan kekuasaan yang melebihi kekuatan dan kekuasaan raja) tidak lagi befungsi sebagai alat legitimasi bagi Datu Baringeng untuk bertahan dari kedudukannya pada saat itu. Pernyataan kesetiaan rakyat “angikko ki raukkaju – riyako miring riyakkeng mutappalireng” (anginla engkau dan kami semua daun kayu- kemana engkau berhembus kesana pula kami terbawa), memang hanya berlaku selama sang penguasa (raja) dapat memegang teguh nilai-nilai pangadereng. Nilai-nilai sipakatau yang dapat melindungi rakyatnya agar tidak kepanasan, menyelimuti agar tidak kedinginan, menjaganya agar merasa aman dari segala gangguan.&lt;br /&gt;Pengakuan rakyat yang dikenal berbunyi ; “makkedako mutenri bali – mette’kko mutenri sumpala” (berkatalah engkau dan kami tidak akan membantah – memanggillah dan kami akan datang) memang hanya berlaku sepanjang raja (penguasa) mampu berlaku adil terhadap rakyatnya. Terjadinya kesepakatan (Bugis ; assamaturuseng) bagi sekelompok masyarakat di Baringeng untuk meninggalkan kampung halamannya menuju ke suatu tempat yang dianggap aman dan bisa memberinya ketenangan merupakan bentuk protes dan perlawanan terhadap perlakuan kesewenang-wenangan.&lt;br /&gt;Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan berliku-liku, naik dan turun gunung, menyeberangi sungai serta menyusuri hutan belantara, akhirnya rombongan pengungsi terebut sampailah pada suatu tempat yang sejuk dan nyaman. Mereka tidak mengetahui nama tempat itu, namun menurutnya tempat tersebut subur dan menjanjikan untuk dikelola sebagai lahan persawahan dan perkebunan. Keadaan alamnya nanpak sangat asri, dialiri sebuah sungai yang jernih. &lt;br /&gt;Ditempat itulah mereka membuat perkampungan baru, membuka lahan perkebunan dan persawahan, serta memelihara ternak-ternaknya. Dibawah pimpinan Petta Makkuli Lajengnge, mereka sepakat untuk memberi nama tempat barunya tersebut “pong engka” (mulai ada). Dari kata “pong engka” kemudian mengalami evolusi kata sehingga menjadi Pongka seperti yang kita kenal sekarang. &lt;br /&gt;Oleh karena wilayah tersebut berada dibawah kekuasaan Datu Ulo di Kerajaan Bone, maka Petta Makkuli Lajengnge bersama Petta Pabbaranie mengutus orangnya untuk menemui Datu Ulo. Harapannya adalah agar Datu Ulo berkenan menyampaikan kepada Arumpone tentang kedatangannya serombongan untuk meminta perlindungan dan diperkenankan menempati tempat tersebut.&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa setelah Datu Ulo menerima utusan Petta Makkuli Lajengnge dan Petta Pabbaranie selaku pimpinan rombongan pengungsi dari Baringeng, iapun segera menyampaikan kepada Arumpone. Lalu Arumpone menyetujui dan memberi pengakuan kepada rombongan pengungsi tersebut untuk berdiam di wilayah itu. Pengakuan Arumpone yang disampaikan oleh Datu Ulo diterima oleh Petta Makkuli Lajengnge dan Petta Pabbaranie dengan sebuah “akkulu adang” (perjanjian) yang berbunyi sebagai berikut ;&lt;br /&gt;Petta Makkuli Lajengnge ;&lt;br /&gt;“ata me’suk puanna – mallak mailik – makkatenni marunrung – mareppak pinceng – tennacokkongi jorikjorik paccappurenna”&lt;br /&gt;(hamba yang melampaui rajanya – yang diinjak akan runtuh – yang dipegang akan terlepas – pecah bagaika beling – tidak akan ada kebaikan bagi turunannya) &lt;br /&gt;Datu Ulo atas nama Arumpone ;&lt;br /&gt;“puang me’suk atanna – mallak mailik – makkatenni marunrung – mareppak pinceng – tennacokkongi jorikjorik paccappurenna”&lt;br /&gt;(raja melampaui hambanya – yang diinjak akan runtuh – yang dipegang akan terlepas – pecah bagaikan beling – tidak akan ada kebaikan bagi turunannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari “akkulu adang” (perjanjian) itulah yang membuat rombongan pengungsi dari Baringeng dibawah pimpinan Petta Makkuli Lajengnge bersama Petta Pabbaranie mulai diakui sebagai “lisek Bone” (warga Kerajaan Bone). Sejak itu pula mereka menyatakan diri keluar dari kekuasaan Baringeng yang dianggapnya sebagai pemerintahan sewenang-wenang.&lt;br /&gt;Sebagai bukti peninggalan sejarah tentang peristiwa tersebut, di Desa Pongka masih dapat disaksikan makam Petta Makkuli Lajengnge, Petta Pabbaranie dan seorang saudara perempuannya yang bernama Puang Moncong. Konon ketiga tokoh inilah yang merupakan pimpinan rombongan pengungsi tersebut. Ketiga tokoh itu pulalah mendatangi Datu Baringeng dan seluruh jajarannya agar tidak melakukan tindakan yang melanggar adat istiadat orang Bugis. Ketiga tokoh ini pulalah yang merupakan cikal bakal turunan orang-orang Pongka yang telah beranak pinak sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Sirik dan Pesse’ Menurut Pandangan Orang Bugis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam lontarak menggambarkan bahwa falsafah hidup orang Bugis, Makassar dan Mandar dapat dilihat sebagai suatu prinsip yang berlaku secara tegas , seperti dibawah ini ;&lt;br /&gt;“ajak mupakasiriki – mate’itu. (jangan dipermalukan sebab dia lebih memilih mati)&lt;br /&gt;“ajak mualebbaiwi – nabokoriotu” (jangan dikecewakan sebab dia akan meninggalkanmu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Shelly Errington, seorang antropolog berkebangsaan Amerika berdasarkan penelitian yang dilakukan di Luwu (1977), mengemukakan bahwa bagi orang Bugis tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi atau lebih penting dari pada menjaga sirik dan kalau mereka merasa tersinggung (ripakasirik) dipermalukan, maka mereka lebih senang memilih mati dengan perkelahian guna memulihkan sirik mereka dari pada hidup tanpa sirik (H.M. Laica Marzuki, dalam Sirik Bahagian Kesadaran Hukum rakyat Bugis-Makassar, 1995)&lt;br /&gt;Pandangan Errington tentang “sirik” bagi orang Bugis adalah sesuatu yang paling dihargai dan dipertahankan. Orang Bugis, Makassar dan Mandar lebih mempertahankan “sirik” (harga diri) dari pada segala-galanya. Bagaimanapun tingginya nilai kekayaan yang dimilikinya, namun tidak akan mungkin dipertukarkan dengan harga dirinya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Leonard Y. Andaya dalam tulisannya yang berjudul ; A Village Perception of Arung Palakka and the Macassar War of 1666 – 69 (1979 ; 366) serta bukunya ; Heritage of Arung Palakka (1981 ; 6) mengemukakan ; “Kata sirik seakan-akan mengandung dua makna yang berlawanan, yakni sirik bermakna “malu” juga mengandung makna sebagai “harga diri”. Menutut pengamatan Leonard Y. Andaya, konsepsi sirik harus difahami secara tidak terlepas dari konsep budaya Bugis-Makassar lainnya yang lazim disebut “pacce’” (Makassar) “pesse’ “ (Bugis). &lt;br /&gt;Pacce’/pesse’ bermakna mengenai kepedihan atau keperaihatinan&amp;nbsp; sebagai ungkapan perasaan sedih, iba hati yang sangat mendalam (Bugis ; esse’ babuwa) baik pada saat melihat atau merasakan sendiri suatu penderitaan dalam lingkungan masyarakat. Dengan pacce’ / pesse’ membuat hati nurani terpanggil guna melibatkan diri dengan sikap dan perbuatan dalam menegakkan kebenaran.&lt;br /&gt;Salah satu konsep sirik yang diamati oleh Andaya sebagai sebuah refleksi pemulihan harga diri, adalah sejarah perlawanan La Tenri Tatta To Unru Arung Palakka beserta pengikut-pengikutnya yang menentang tindakan kesewenang-wenangan Sultan Hasanuddin selaku Raja Gowa kepada orang Bone dan Soppeng.&lt;br /&gt;Dalam lontarak disebutkan bahwa La Tenri Tatta To Unru Arung Palakka Raja Bone ke – 15 (1672 – 1669) dengan langkah berani membebaskan kurang lebih 10.000 orang Bone dan Soppeng yang bekerja paksa menggali parit dan membuat benteng untuk kepentingan pertahanan Gowa. Pada saat itu, La Tenri Tatta To Unru anak bangsawan tinggi Bone dan Soppeng menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana orang-orang Bone dan Soppeng mengalami penderitaan luar biasa akibat perlakuan kasar dan sewenang-wenang dari mandor-mandor kerajaan Gowa.&lt;br /&gt;Peristiwa yang memilukan hati tersebut, terjadi ketika proyek pembuatan parit dan benteng di Tallo dan Somba Opu dikerjakan. Dikisahkan bahwa orang Bone dan orang Soppeng yang dipekerjakan di tempat tersebut, diperlakukan bagai hewan, banyak yang meninggal dunia lantaran sakit dan kelaparan. Bahkan La Potto Bune Arung Tanatengnga yang tidak lain adalah ayah kandung La Tenri Tatta To Unru juga mengalami nasib yang sangat memilukan. Dia dibunuh dengan cara yang sangat keji, yaitu ditumbuk dengan alu di atas lesung oleh lascar-laskar kerajaan Gowa. Konon, tindakan itu dilakukan oleh lakar-laskar kerajaan Gowa karena La Potto Bune memiliki ilmu kebal tingkat tinggi, tahan dengan senjata tajam.&lt;br /&gt;Peristiwa-peristiwa itulah yang membuat hati nurani La Tenri Tatta To Unru Arung Palakka bersama pengikut-pengikutnya memutuskan untuk melakukan perlawanan dan membebaskan orang-orang Bone dan Soppeng dari tindakan sewenang-wenang laskar-laskar kerajaan Gowa dibawah komando Karaeng Karunrung. &lt;br /&gt;Walaupun harus dibayar mahal dengan gugurnya sejumlah orang Bone dan Soppeng, termasuk Tobala Arung Tanete Riawang yang pada saat itu menjadi Jennang Bone atas penunjukan Raja Gowa Sultan Hasanuddin. Tekad La Tenri Tatta To Unru bersama pengikutnya, seperti Aung Belo, Arung Bila, dan Arung Appanang telah “mabbulo sipeppak” untuk melakukan perlawanan sebagai bentuk pemulihan sirik dan pesse’ (harga diri). Perinsip ; “lebbik mate’ maddarae’ na mate’ sirik e’” (lebih baik mati berdarah dari pada mati sirik) merupakan denyut nadi yang menjadi irama langkahnya mengantar perjalanannya kembali ke kampung halamannya (Bone dan Soppeng).&lt;br /&gt;Dalam diri orang Bugis, Makassar dan Mandar melekat sangat kuat, tertancap sangat dalam suatu nilai esensial yang bernama kehormatan (martabat). Apabila nilai-nilai tersebut diinjak-injak atau dilecehkan oleh orang lain, misalnya dihina atau dipermalukan, termasuk dalam hal anggota keluarga perempuannya diperkosa atau dilarikan, maka dapat dikatakan sirik (ripakasirik). &lt;br /&gt;Pada saat terjadinya sirik (ripakasirik) senantiasa diikuti oleh suatu gejala batin yang namanya pesse’ (kepedihan). Apabila sirik dan pesse’ sudah menyatu dalam suatu kesenyawaan, maka disinilah timbulnya luapan perasaan (emosi) untuk melakukan langkah pemulihan dalam bentuk perlawanan.&lt;br /&gt;Dalam sastera klassik Bugis La Galigo terdapat sebuah mitos bahwa sirik merupakan bawaan dari langit (botillangik). Menurut pengertin ini, sirik merupakan konsepsi kultur warisan leluhur orang Bugis, Makassar dan Mandar yang mengarah kepada tujuan yang baik. Jadi pada hakekatnya sirik adalah suatu kehormatan, nilai harga diri yang dijunjung tinggi dan dikeramatkan oleh pemiliknya. Hal ini tercermin dalam ungkapan bijak yang berbunyi ; “sirik e’mmi rilolangeng ri linoe’ “ (hanya kerana sirik kita hidup di dunia). Bahkan ada pandangan yang lebih ekstrim tentang sirik bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (baca ; Bugis, Makassar dan Mandar) bahwa orang yang tidak memiliki sirik (de’k sirikna), maka tak ubahnya dengan seekor binatang.&lt;br /&gt;Tentang pemulihan harga diri (sirik) dalam bentuk perlawanan, adalah gambaran bahwa sirik itu telah menimbulkan gejala batin yang bernama “pesse’ “ kemudian menyatu dan membentuk luapan perasaan (emosi). Seperti dilukiskan oleh Mattulada dalam bukunya “Latoa ; Suatu Lukisan Analisis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis” dengan jelas diungkapkan tentang itu. Menurut Mattulada, sirik berdasarkan “paseng” (pesan leluhur) berbunyi ; “utettong ri adek e’ – ujagaimi sirikku” (Saya taat kepada adat, hanya karena melindungi sirikku)&lt;br /&gt;Mattulada berpendapat bahwa untuk mendekati batasan sirik, tak mungkin orang hanya memandang satu aspeknya saja atau hanya memperhatikan perwujudannya saja. Hal itu mudah dimengerti, karena sirik adalah sesuatu yang sifatnya abstrak dan hanya akibat konkretnya saja yang dapat diamati dan diobservasi. Dalam kenyataan sosial, kita dapat mngobservasi orang-orang Bugis, Makassar dan Mandar yang memiliki sifat cepat tersinggung perasaannya, lekas mempergunakan kekerasan dan membalas dendam dengan pembunuhan (Mattulada, 1995). &lt;br /&gt;Sejumlah ungkapan tradisional dalam lontarak attoriolonge’ (catatan-catatan dalam lontarak) yang memiliki makna penting tentang prinsip hidup orang Bugis, diantaranya ; “panre’i pe’neddinna padammu rupatau nasabak pasiturue’ngngi pappujinna” (berilah makan perasaan sesamamu dengan mengikuti keinginan hatinya). Ungkapan tradisional orang Bugis, termasuk orang Makassar dan orang Mandar yang berhubungan dengan pemulihan sirik dan pesse’ sebagai mana yang dialami oleh sekelompok masyarakat yang melakukan pengungsian dari Baringeng Soppeng yang kemudian terdampar pada sebuah tempat yang diberinya nama “pong engka” (pongka), adalah sebagai berikut ; “pauno sirik e’ – mappale’le ri pammassareng esse’ babuwae’ “ (sirik itu bisa mematikan – kepedihan hati bisa membawa ke liang lahad).&lt;br /&gt;Begitu perlunya pemahaman mengenai srti sirik dalam kehidupan kekinian dan keakanan masyarakat Bugis, Makassar di Sulawesi Selatan dan masyarakat Mandar di Sulawesi Barat, Komando Daerah Kepolisian (KODAK) XVIII Sulselra bekerja sama Universitas Hasanuddin telah mengadakan seminar masalah sirik (11-13 Juli 1977) di Makassar. Hasil dari seminar tersebut melahirkan definisi mengenai sirik sebagai berikut ; “Sirik adalah suatu sistem nilai sosio-kultural dan kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Beberapa contoh kasus ;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Perlawanan Petani Unra &lt;br /&gt;Peristiwa perlawanan petani Kampung Unra dalam Onder Distrik Jaling Afdeling Bone pada tahun 1943 terhadap kebijakan Pemerintah Jepang, dapat dikatakan sebagai bentuk perlawanan yang berlatar belakang pemulihan sirik dan pesse’. Seperti diketahui bahwa untuk membiayai perangnya di Asia Timur Raya, pemerintah Jepang di Indonesia mengeluarkan kebiajakan yang mewajibkan petani untuk mengeluarkan 300 liter beras dalam satu keluarga/rumah tangga. Beras tersebut harus diserahkan kepada Pemerintah Jepang melalui aparat bawahannya yang terdiri dari orang-orang Indonesia sendiri.&lt;br /&gt;Kebijakkan ini dinilai sangat mmberatkan petani, apalagi situasi ekonomi masyarakat Indonesia saat itu sangat memperihatinkan. Pada saat itu banyak rakyat yang mati kelaparan, kurang sandang dan terserang penyakit.&amp;nbsp; Oleh karena itu, sebahagian besar petani menolak kebijakan Pemerintah Jepang tersebut, termasuk petani Kampung Unra dalam Onder Distrik Jaling Afdeling Bone. &lt;br /&gt;Pada mulanya petugas-petugas dari Pemerintah Jepang yang terdiri dari orang-orang Bone sendiri berlaku lemah lembut terhadap petani agar bersedia&amp;nbsp; menyerahkan 300 liter berasnya untuk satu keluarga/ rumah tangga. Tetapi karena para petani di Kampung Unra menolak dengan alasan bahwa untuk diri dan keluarganya saja tidak cukup dimakan bersama sampai datangnya panen berikutnya. &lt;br /&gt;Oleh karena merasa tidak diikuti perintahnya, petugas-petugas Jepang mulai berlaku kasar. Mereka menaiki loteng-loteng rumah rakyat dan menendang padi-padi itu turun ke tanah. Perlakuan yang demikian itu, menimbulkan esse’ babuwa (kepedihan hati) bagi petani Kampung Unra dan merasa harga dirinya teraniaya. Apalagi saat itu masih sangat kuat kepercayaan masyarakat bahwa padi adalah penjelmaan “sangiang seri” (dewi padi) yang harus disakralkan dan dihormati. Padi adalah benda yang menjadi simbol dari khidupan manusia yang apabila diperlakukan tidak wajar, seperti ditendang dari loteng rumah, akan mendatangkan malapetaka yaitu bakal gagal panen pada tahun berikutnya.&lt;br /&gt;Oleh karena iu, dengan dijiwai oleh semangat “masseddi sirik – masseddi peddik” para petani di Kampung Unra baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak dan orang tua, bangkit menggalang kekuatan untuk melakukan perlawanan. Dengan perinsip “lebbi mate’ maddarae’ – namate’ makkapopangnge’ (lebih baik mati berlumuran darah dari pada mati kelaparan), mereka mengangkat senjata dan melakukan perlawanan.&lt;br /&gt;Dalam catatan sejarah diketahui bahwa Andi Mannuhung Kepala Onder Distrik Jaling bersama putranya Andi Dambu tewas akibat amukan petani yang sudah kalap dan tidak terkendali. Disamping Andi Mannuhung dan putranya Andi Dambu, tewas pula Andi Ukkase (polisi), Tune Daeng Pawawo (polisi), Andi Abdullah Arung Ponceng dan beberapa yang lain mengalami luka-luka. &lt;br /&gt;Sementara dari pihak petani Kampung Unra, para tokohnya seperti ; H. Temmale’, I Pagga, I Tepu, Mante, Beddu Kepo dan lain-lain ditangkapi oleh serdadu Jepang kemudian dipenjara di Watampone. Mereka disiksa sampai banyak diantaranya meninggal dunia dan tidak diketahui kuburannya. Salah satunya adalah H. Temmale’ seorang tokoh masyarakat Kampung Unra yang dikenal sebagai guru silat dan memiliki ilmu kebal. Konon, untuk mengakhiri hidup H. Temmale’ terpaksa dimasukkan dalam drum kemudian dibakar.&lt;br /&gt;Sebenarnya tragedi kejadian di Kampung Unra saat itu, mungkin tidak akan demikian tragisnya seandainya para petugas Jepang memperlakukan para petani sesuai sesuai dengan prinsip “pangadereng” yaitu mematuhi “adek sipakatau – sipakalebbi”. Sebab dari berbagi informasi bahwa yang membuat petani-petani Kampung Unra kalap dan bertindak tanpa pertimbangan, adalah karena tindakan petugas-petugas Jepang yang tidak lain adalah orang-orang yang boleh dikata masih sekampung dan bahkan masih memiliki hubungan darah, menendang padi-padi dari atas loteng rumah turun ke tanah. &lt;br /&gt;Sementara petani-petani Kampung Unra masih mempercayai bahwa padi adalah penjelmaan “sangiang seri” yang harus dihormati dan disakralkan. Dengan melihat padi-padi mereka diperlakukan demikian, maka mereka tidak mampu lagi membendung “esse’ babuwa” (kepedihan hatinya), akhirnya terjadilah tindakan yang membabi buta terhadap petugas-petugas Jepang yang datang di tempat tersebut.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarah Tana Bone, memang pendudukan tentara Jepang dianggap sebagai masa yang paling kelam bagi kehidupan masyarakat. Banyak yang membandingkan dengan masa kekuasaan Gowa dalam abad ke – 17 yang dikenal dengan istilah “ripoatani Bone pole’ ri Gowa” (terjajahlah Bone dari Gowa) selama kurang lebih 17 tahun. Namun pendudukan tentara Jepang yang hanya berlangsung selama tiga setengah tahun, penderitaan rakyat masih lebih besar dibanding dengan masa kekuasaan Gowa tersebut. Dimasa pendudukan Jepang, rakyat disamping kekurangan makanan, juga sandang sangat sulit didapatkan. Hal ini menyebabkan banyak rakyat yang terpaksa menggunakan “karoro” atau karung sebagai pengganti busana. Anak-anak kecil terserang penyakit busung lapar lantaran kekurangan gizi dan obat-obatan.&lt;br /&gt;Bahaya kelaparan yang menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup rakyat, tidak ditanggapi oleh Pemerintah Jepang. Namanya saja penjajah, dalam pikirannya hanya ada niat pemerasan, penindasan dan pemerkosaan. Kesemuanya itu menjadi penyebab timbulnya dendam yang membara di hati rakyat.&lt;br /&gt;Andi Mappanyukki yang oleh Pemerintah Jepang tetap diakui sebagai Mangkauk (Raja Bone), namun fungsi dan wewenangnya hanya sebagai simbol belaka. Beliau ditempatkan sebagai lambang dalam kekuasaan dan pemerintahan Jepang dengan maksud menarik simpati rakyat Bone. Oleh karena iu, secara administratif hirarki kekuasaan Andi Mappanyukki selaku raja dengan rakyat Bone menjadi terputus dan beku. Demikian pula aparat pemerintah ditingkat bawah, seperti ; Kepala Distrik, Kepala Onder Distrik dan pembantu-pembantu lainnya harus tunduk untuk kepentingan politik Jepang.&lt;br /&gt;Tragedi kjadian di Kampung Unra dalam Onder Distrik Jaling Afdeling Bone pada tanggal 16 April 1943, telah menjadi catatan hitam bagi perjalanan sejarah Tana Bone. Banyak kalangan yang memandang peristiwa tersebut sebagai malaptaka yang menelan banyak korban. Sementara bagi petani-petani Unra menganggapnya sebagai benuk pemulihan harga diri atau penegakan sirik dan pesse’. &lt;br /&gt;Tentang bagaimana sesungguhnya kedudukan peristiwa tersebut dilihat dari sudut pandang kemanusiaan, sejarahlah yang akan mencatatnya. Suatu bukti bahwa petani-petani Kampung Unra telah menorehkan lukisan yang sekaligus membuktikan bahwa orang Bugis lebih memilih mati berlumuran darah dari pada harga dirinya terinjak-injak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sepak Terjang La Iccang Matinroe ri Addenenna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan konsep sirik dan pesse’ terhadap tindakan kesewenang-wenangan, termasuk tindakan penguasa yang tidak memikirkan kepentingan rakyatnya, kelihatan sekali dalam berbagai kasus yang pernah terjadi pada masa kerajaan-kerajaan Bugis dimasa lampau. Kesemuanya itu telah menunjukkan bahwa kedaulatan konsep sirik dan pesse’ lebih dominan dibanding dengan yang kita kenal “adek mappura onro” (norma-norma yang telah ditetapkan bersama).&lt;br /&gt;Walaupun kedudukan raja memiliki legitimasi yang kuat dalam bentuk “adek mappura onro” atau hukum dasar yang berlaku abadi, tetapi disatu sisi konsep sirik dan pesse’ masih lebih kuat pengaruhnya dalam kelanjutan kekerabatan. Implementasinya tercermin dalam ungkapan “paseng” (pesan leluhur) seperti yang berbunyi ; “sirikkumi ki poata” (hanya karena aku menjaga sirik, sehingga aku tunduk). Bahkan yang lebih ekstrim lagi, berbunyi begini ; “timukkumi makke’ puang – gajakku tenna isseng makke’ puang” (hanya mulutku yang menghamba, tetapi ujung kerisku tidak dapat menghamba). Ini artinya, orang Bugis dapat berlaku sopan dan santun selama perasaannya atau harga dirinya tidak diinjak-injak (dipermalukan).&lt;br /&gt;La Iccang Matinroe ri Addenenna Raja Bone – VIII (1548 – 1595) yang dibunuh oleh rakyatnya, salah satu contoh betapa konsep sirik dan pesse’ itu dapat membatalkan yang namanya “adek mappura onro dan menjadi suatu keputusan yang tak terbantahkan. Seperti yang dikenal dalam falsafah Bugis yang berbunyi ; “rusak taro arung tenrusak taro adek – rusak taro adek tenrusak taro assituruseng” (batal kehendak raja, tapi tak batal kehendak adat – batal kehendak adat, tapi tak batal kehendak orang banyak).&lt;br /&gt;La Iccang dikenal sebagai seorang raja (mangkauk) yang memiliki sifat-sifat yang tidak terpuji. Disamping kejam, juga sering melakukan tindakan asusila yaitu meniduri isteri orang lain, bahkan sering melakukan perampasan harta milik orang dengan dalih tidak pantas memilikinya. Oleh karena orang banyak menganggap tindakannya itu sebagai perbuatan sewenang-wenang dan malaweng (perzinahan), maka mulailah mengatur siasat untuk melengserkan dari kedudukannya sebagai Mangkauk (raja) di Bone. &lt;br /&gt;Bagi orang Bugis sangat meyakini bahwa perbuatan “malaweng” merupakan pantangan berat yang dapat menimbulkan malapetaka yang luar biasa bagi negeri berupa ; “sapak tana – tula pattaungeng – tepparanruk tanettaneng – teppapole’ wise’sa” (pantangan bagi negeri – gagal panen tahunan – segala tanaman akan kering – tidak akan ada hasil).&lt;br /&gt;Dalam lontarak Attoriolonge’ ri Bone ditemukan catatan tentang tindakan berutal La Inca yang benar-benar diluar kewajaran. Suatu ketika La Iccang murka besar kepada salah seorang raja bawahannya yang bernama La Patiwongi To Pawawoi. Karena sangat murkanya, raja bawahannya tersebut diasingkan ke Sidenreng. Ketika La Patiwongi kembali ke Bone dengan maksud meminta pengampunan, namun apa yang terjadi hukumannya malah ditambah. La Patiwongi disuruh meninggalkan Tana Bone untuk pergi ke Bukie’. Rupanya La Iccang belum juga puas, lalu dengan kemurkaannya menyusul La Patiwongi ke Bukie’ dan membunuhnya disana. &lt;br /&gt;Bukan cuma itu, sejumlah raja bawahannya yang lain, seperti Arung Paccing, Arung Awampone, Maddanreng Palakka yang bernama To Saliwu Riwawo mengalami nasib yang sama dengan La Patiwongi yaitu dibunuh tanpa alasan yang jelas. Tindakan yang sewenang-wenang tersebut tanpaknya tidak ada seorangpun yang berani untuk mencegahnya, termasuk anggota Dewan Hadat Tujuh yang memang tidak difungsikannya. Hal yang demikian karena apabila ada orang yang berani memperingatinya, maka dia juga akan mendapat perlakuan yang sama. Oleh karena itu, semua orang Bone lebih memilih diam dan membiarkan Raja Bone itu bertindak semena-mena.&lt;br /&gt;La Iccang dikenal pula sebagai seorang raja yang suka merampas harta orang yang dinilainya tidak pantas untuk memilikinya. Disamping itu, La Iccang tidak lagi memfungsikan Dewan Hadat Tujuh sebagai partner dalam pelaksanaan pemerintahan. Dengan demikian, ia bebas saja mengangkat dan memberi kedudukan kepada orang yang tidak memiliki kemampuan dalam tugas yang diembannya. Salah satu contohnya, salah seorang hamba pribadinya diangkat sebagai pejabat penting dalam pemerintahan. Sementara orang yang memiliki kelayakan diabaikan dan bahkan dibencinya.&lt;br /&gt;Tetapi kekuatan dan kekuasaan manusia tetap ada batasnya. Suatu saat La Inca Raja Bone yang lalim tersebut didapati sedang meniduri isteri orang yang membuat orang banyak marah. Kemarahan rakyat yang selama ini bagaikan api dalam sekam, saat itu meluap tak tertahankan. Perlawanan dari rakyat yang tidak terduga tersebut serentak berkobar bagaikan api ditiup angin ditengah padang rumput kering.&lt;br /&gt;Karena merasa dirinya tertantang, La Inca mengamuk bagaikan serigala kelaparan dan memburu orang-orang yang ada didepannya. Rumah-rumah penduduk dibakarnya mulai dari Matajang sampai ke Macege. Tindakan La Inca tersebut benar-benar keterlaluan dan telah jauh meninggalkan adek sipakatau dan sipakalebbi yang selama ini menjadi pola dasar dalam masyarakat Bugis.&lt;br /&gt;Lalu orang banyak ramai-ramai melaporkan kepada Arung Majang yang tidak lain adalah kakek La Iccang sendiri. Menerima laporan tersebut, Arung Majang menyuruh salah seorang untuk memanggil I Dammalaka kemanakannya di Mampu. Setelah I Dammalaka datang, Arung Majang berkata ; “Bawalah saya ke Bone, saya akan melawan cucuku hingga mati. Dia bukan lagi mangkauk (raja), jadi saya harus melawannya”. &lt;br /&gt;I Dammalaka bersama orang banyak menemani Arung Majang menuju Saoraja (istana) Raja Bone di Watampone. Didapatinya La Iccang seorang diri di depan Saoraja dalam keadaan kelelahan. Rupanya tidak seorangpun yang berani mendekatinya, sebab apabila ada orang yang dilihatnya pasti akan diburunya untuk dibunuh.&lt;br /&gt;Pada saat La Iccang melihat Arung Majang datang bersama I Dammalaka serta orang banyak, emosinya kembali terbakar. Lalu La Iccang menyerang secara berutal dan memburu siapa saja yang ada di depannya. Melihat keadaan semakin genting dan sangat berbahaya, Arung Majang memerintahkan orang banyak untuk melakukan taktik menyerang dan menghindar. Artinya sekelompok orang yang melakukan serangan, sementara sekelompok lagi yang menghindar. Hal ini betul-betul membuat La Inca semakin kehabisan tenaga.&lt;br /&gt;Akhirnya La Iccang naik di tangga Saoraja sambil menyandarkan kepalanya dengan napas terengap-engap tanda kelelahan. Dalam kesempatan itulah Arung Majang mendekat dan mencekik leher cucunya hingga tak bernyawa. Hal ini dilakukan karena “adek pura onro” di Bone mengatakan bahwa bangsawan tinggi dan keturunannya tidak bisa diberi hukuman dengan cara mengeluarkan darahnya.&amp;nbsp; Karena La Inca Raja Bone – VIII meninggal di tangga istananya, maka ia digelar Matinroe’ ri Addenenna, artinya yang wafat di tangga istananya.&lt;br /&gt;Kematian La Iccang yang demikian, membuktikan bahwa kekuasaan raja tidaklah berlaku mutlak, tetapi tetap dibatasi oleh sistem norma yang bernama adek (pangadereng). Pangadereng sebagai konsep kultural orng Bugis, Makassar dan Mandar, memberi peluang yang sangat luas terhadap eksistensi jatidiri masyarakat baik secara individual maupun secara kelompok masyarakat. &lt;br /&gt;Kasus I Tepukaraeng Daeng Parabbung&lt;br /&gt;Kasus lain dapat dilihat pada I Tepukaraeng Daeng Parabbung Raja Gowa – XIII yang memerintah antara tahun 1590 – 1593. I Tepukaraeng Daeng Parabbung diangkat menjadi Raja Gowa menggantikan ayahnya I Manggorai Daeng Mameta yng meninggal dunia lantaran dibunuh di atas perahunya oleh I Lallo Tamakanang yang tidak lain adalah saudara sesusunya sendiri, pada saat ada pesta panen di Lipukasi Marusu. Dalam lontarak Pattoriolong ri Gowa diketahui bahwa Raja Gowa ini hanya memerintah kurang lebih dua tahun, karena dimakzulkan oleh Dewan Kerajaan Gowa (Bate’ Salapang). Adapun sebabnya sehingga raja ini dimakzulkan, karena berbagai tindakannya yang dianggap kejam dan merugikan orang banyak.&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa I Tepukaraeng Daeng Parabbung dalam era pemerintahannya senantiasa bertindak sewenang-wenang. Walaupun orang tidak bersalah tetap dihukum bunuh atau diperlakukan tidak wajar. Disamping itu, Dewan Kerajaan Gowa (Bate’ Salapang) diubah menjadi separuh bate’ (sipue’ bate’) tanpa melalui musyawarah dengan anggota Bate’ Salapang. Pemecatan terhadap I Daeng Tamacinna sebagai Tumailalang Gowa dan mengalihkan jabatan penting di Kerajaan Gowa kepada salah seorang hamba pribadinya, merupakan tindakan yang bertentangan dengan adat kebiasaan di Gowa.&lt;br /&gt;Ia memerangi orang-orang Bone yang ada di Meru, mnaklukkan Daeng Marewa di Kaluku dan menaklukkan Bulu Lowe. Karena kekejamannya, orang-orang Jawa, Sumatera dan Melayuyang ada dalam wilayah Kerajaan Gowa diusir untuk kembali ke negerinya masing-masing.&lt;br /&gt;Stelah dimakzulkan oleh Bate’ Salapang Gowa atas nama orang banyak, I Tepukaraeng Daeng Parabbung meninggalkan Kerajaan Gowa dan menetap di Luwu. Kemudian pindah ke Buton dan disanalah ia meninggal dunia pada tanggal 5 Juli 1617. Ia digelar Tunipassuluk artinya orang yang dimakzulkan dari jabatannya.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;V. P E N U T U P &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan pokok-pokok masalah dalam penulisan buku ini, akhirnya disimpulkan beberapa hal sebagai berikut ;&lt;br /&gt;1. Nilai-nilai tradisional berupa sirik (harga diri) dan pesse’ (kepedihan hati) yang dimiliki oleh orang Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan, begitu pula&amp;nbsp; orang Mandar di Sulawesi Barat (bahkan pada kenyataannya termasuk orang Toraja), pada dasarnya sama. &lt;br /&gt;Demikian suku-suku bangsa besar tersebut memandang sirik dan pesse’ sebagai satu-satunya milik yang harus dipertahankan dan dijunjung tinggi. Beberapa contoh kasus yang diangkat sebagai substansi pembahasan buku ini, merupakan bukti bahwa sirik dan pesse’ adalah sistem sosial dan sistem kepribadian bagi masyarakat yang mendiami jazirah selatan pulau Sulawesi tersebut. Dalam wujudnya yang konkret, terlihat pada akal budi orang-orang Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran dan harga diri.&lt;br /&gt;2. Pengungsian besar-besaran yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat dari Baringeng Soppeng yang dipimpin oleh Petta Makkuli Lajengnge’ bersama Petta Pabbaranie dan seorang wanita yang bernama Puang Moncong, adalah bukti bahwa pemulihan sirik dan pesse (harga diri) adalah pilihan terakhir yang tidak dapat dihindari. Pengakuan “angikko kiraukkaju” (engkau angin dan kami semua daun kayu) tidak lagi dipatuhi dan menjadi legitimasi bagi penguasa untuk menjalankan pemerintahannya. &lt;br /&gt;Sirik adalah nilai utama bagi orang Bugis yang secara umum selalu diterima oleh anggota masyarakat yang bersifat moral dan sakral. Fungsi nilai sebagai milik bersama, diungkapkan secara verbal dan juga non verbal yang ditandai dengan adanya konsistensi dan sanksi bagi pendukungnya.&lt;br /&gt;3. Atraksi “sire’mpek api” (saling melempar api) yang telah menjadi sebuah tradisi bagi warga Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone, adalah implementasi dari semangat yang konstruktif didalam konsep sirik untuk mendapatkan rasa aman dan rasa tenteram dalam kehidupan baik secara pribadi maupun secara kelompok masyarakat yang lebih besar.&lt;br /&gt;Memang tidak terlalu banyak orang yang mengetahui tentang latar belakang lahirnya tradisi sire’mpek api bagi masyarakat Desa Pongka tersebut. Termasuk mereka yang masih merupakan penduduk asli dan memiliki hubungan langsung dengan rombongan pengungsi dari Baringeng Soppeng berabad-abad yang lampau. Mereka rata-rata memahami bahwa tradisi tersebut hanyalah sebagai ajang ketangkasan dan uji kekebalan dari jilatan nyala api. &lt;br /&gt;Oleh karena itu, penulisan buku ini sedikitnya dapat memberi gambaran tentang asal muasal terjadinya tradisi yang boleh dikata sangat langka dan sakral. Artinya, tradisi sire’mpek api tidak hanya difahami sebagai bentuk permainan rakyat belaka, tetapi dapat lebih dimaknai sebagai sebuah perwujudan konsep sirik dan pesse’ dalam wilayah kebudayaan daerah.&lt;br /&gt;4. Selain itu, atraksi sire’mpek api yang secara turun temurun telah menjadi tradisi bagi masyarakat Desa Ponka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone, merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi lokal yang masih tetap dipertahankan oleh warga masyarakat pendukungnya. &lt;br /&gt;Tradisi sire’mpek api sebagai bentuk permainan rakyat yang langka, dapat menjadi asset pemerintah daerah dalam rangka pengembangan kepariwisataan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Saran-saran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seiring semakin berkembangnya cara berpikir oleh sebahagian masyarakat, ditambah lagi semakin pesatnya kemajuan teknologi dibidang informasi, maka timbul suatu kekhawatiran akan tergesernya tatanan sosial secara menyeluruh. Termasuk tradisi-tradisi lokal dan adat istiadat yang merupakan konsep kebudayaan daerah. Oleh karena itu, perlu adanya upaya berupa langkah-langkah penyelamatan, sebagai berikut ;&lt;br /&gt;1. Melestarikan dan mendokumentasikan kembali adat leluhur berupa tradisi-tradisi lokal seperti sire’mpek api yang sampai sekarang masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone. Selanjutnya dengan upaya refitalisasi dalam kehidupan kekinian dan keakanan sebagai bentuk kepedulian terhadap unsur-unsur budaya daerah yang pada gilirannya memperkaya khasanah kebudayaan nasional.&lt;br /&gt;2. Menggali nilai-nilai positif yang terkandung dalam adat istiadat dan menselaraskan dengan pola kehidupan sekarang yang semakin berkembang sejalan dengan arus teknologi informasi. Menanamkan nilai-nilai adat terutama kepada generasi muda agar lebih kenal akan dirinya, sehingga timbul rasa kebanggaan dan kecintaan terhadap budaya nenek moyangnya.&lt;br /&gt;3. Tradisi sire’mpek api di Desa Pongka Kec. Tellu Siattinge Kab. Bone merupakan kekayaan budaya yang perlu dipertahankan. Oleh karena itu, diharapkan adanya upaya publikasi yang jelas, seperti penulisan-penulisan diberbagai media baik elektronik maupun media cetak. Disamping itu, diharapkan para generasi muda utamanya pelajar dan mahasiswa mengangkat tradisi tersebut dalam bentuk paparan yang bersifat ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TENTANG PENULIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Asmat Riady Lamallongeng, mulai menulis puisi dalam tahun 1965 ketika masih duduk dibangku SMEA. Puisi pertamanya berjudul ; “Kata Hati Buat Aisyah” dimuat di majalah Mimbar Indonesia yang dipimpin H.B. Yassin seorang kritikus sastera saat itu.&lt;br /&gt;Selanjutnya puisi-puisinya banyak yang mengisi ruangan Seni &amp;amp; Budaya surat-surat kabar dan majalah baik yang terbit di Makassar maupun di Jakarta.&lt;br /&gt;Disamping menulis puisi, mantan wartawan dan pendidik ini juga banyak menulis essay, ulasan seni budaya dan naskah drama. “Polo Malelae ri Unra” adalah naskah dramanya yang pernah ditayangkan TVRI Pusat dalam programa Cakrawala Budaya Nusantara yang dimainkan sendiri bersama teman-temannya.&lt;br /&gt;Bukunya yang telah diterbitkan ; Lamellong Kajao Laliddong – Pemikir Besar dari Tana Bugis, Catatan Harian La Temmassonge Raja Bone – XXII (terjemahan), Dinamika Perkawinan Adat Bugis, Kugeluti Dalam Mimpi (kumpulan puisi), Sejarah Bone (dalam Tim bersama Prof. DR Abu Hamid, DR. A. Suryadi Mappangara dan Anwar Ibrahim).&lt;br /&gt;Asmat Riady Lamallongeng adalah salah seorang Pembina Dewan Kesenian Bone (DKB), Pembina Sekolah Bugis, sebuah&amp;nbsp; lembaga pengkajian dan pelestarian budaya Bugis yang didirikan bersama DR. H. Ajiep Padindang, SE,MM. di Watampone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TENTANG EDITOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;A.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Muhammad Khadafi, SE, lahir di Watampone pada tanggal 02 Juni 1987. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Andi Nirwan dengan Hj. Naharia, beralamat di BTN Ananda Coppoleang Jalan Gunng Kinibalu Watanpone Kabupaten Bone &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenjang pendidikan dimulai dari SD Negeri 10 Watampne tahun 1999, SMP Neger 4 Watampone tahun 2002 dan SMA Negeri 4 Watampone tahun 2005. Selanjutnya S1 diselesaikan pada Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) LPI Makassar tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aktif sebagai Ketua Yayasan Sulapak Eppa Cabang Watampone, sebuah Lembaga Pendidikan yang mengkaji tentang Budaya Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;♦ ♦ ♦&lt;br /&gt;Andi Dahliana, S.Pd, lahir di Bone pada tanggal 06 April 1990. Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Andi Bakhri Petta Lolo dengan……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan mulai dari SD di Amali tahun ……., SMP juga di Amali tahun ………… dan SMA Amali tahun ………. Selanjutnya S1 diselesaikan pada STKIP Muhammadiyah Bone tahun 2013.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aktif sebagai Pengurus Yayasan Sulapak Eppa Cabang Watampone, sebuah Lembaga Pendidikan yang mengkaji tentang Budaya Bugis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Anda ingin memiliki dan bertanya seputar Buku "Si Rempe Api Ri Pongka"&amp;nbsp; Anda boleh menghubungi Penulis Buku ini di No. 081342460047&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEio5vZ_8DH62RS-tuykv5I7Wa8xfw7N4hiwrHNmydoGdn_rpHIhEGRXZtl2EOf0wrbiUy-5iBkvPnay6HLX8Ad4x5nUQSKymsc8fCiOYHG1XhqMi0QqpON3VOAl0wa8Sn4KgWXDGBxTSMso/s72-c/catss.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Undang - undang di Kerajaan Bone</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/undang-undang-di-kerajaan-bone.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 19 Aug 2014 03:09:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-548175363789701373</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;UNDANG-UNDANG KERAJAAN BONE&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
(Mulai ManurungE ri Matajang – La Patau Matanna Tikka)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Dikutip dari Lontara’ Attoriolong&amp;nbsp; milik Andi Liwang Petta Ngatta-Sinjai.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam&amp;nbsp; undang-undang&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; dijelaskan&amp;nbsp; bahwa ada&amp;nbsp; empat unsur&lt;br /&gt;
yang paling mendasar dalam memutuskan suatu perkara ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Pembicaraan kedua belah pihak.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Perbuatan kedua belah pihak.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Alamat kedua belah pihak.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Saksi kedua belah pihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menurut&amp;nbsp; keyakinan&amp;nbsp; pada masa itu, apabila suatu perkara diputuskan &lt;br /&gt;
dengan&amp;nbsp; memenuhi&amp;nbsp; keempat hal tersebut&amp;nbsp; yang dalam bahasa Bugis disebut &lt;br /&gt;
- marette eppai ure’na bicaraE – maka akan membawa dampak yang sangat positif bagi kehidupan masyarakat dalam&amp;nbsp; negeri, antara lain;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Padi dan tanaman lainnya akan tumbuh subur.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Penduduk akan berkembang dan sejahtera.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Binatang ternak berkembang biak&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Begitu&amp;nbsp; pula&amp;nbsp; sebaliknya,&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; suatu perkara diputuskan dan salah&lt;br /&gt;
satu&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; unsur&amp;nbsp; diatas&amp;nbsp; tidak dipenuhi, maka akan membawa dampak yang sangat negatif&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; kehidupan masyarakat dalam negeri, antara lain;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Padi dan tanaman lainnya akan menjadi kering (gagal panen).&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Dalam negeri akan ada wabah penyakit (Bugis = sai’).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Binatang ternak banyak yang mati, tidak berkembang biak.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sama&amp;nbsp; halnya&amp;nbsp; apabila orang yang memutuskan perkara sengaja untuk menyalahkan atau&amp;nbsp; membenarkan salah satu diantara yang berperkara (tidak adil), maka musim kemarau akan berkepanjangan yang menyebabkan buah, bunga&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; daun tumbuh-tumbuhan yang dimakan berguguran. Begitu pula kalau suatu perkara yang sudah diputuskan dan dibicarakan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SUMPAH ;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; memutuskan perkara, terlebih dahulu harus menge- tahui sumpah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; - Mengetahui&amp;nbsp;&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dewata&amp;nbsp; SeuwaE&amp;nbsp; yang hidup&amp;nbsp; kekal dan tidah pernah mati.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; - Sahnya&amp;nbsp; sebuah&amp;nbsp; sumpah&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; meletakkan tangan tiga kali diatas Al Qur’an&amp;nbsp; (sesudah&amp;nbsp; masuknya Islam)&amp;nbsp; lantas menyebut nama Allah SWT. Setelah itu baru mengucapkan sumpah pada diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ATURAN YANG DIBERLAKUKAN BAGI BANGSAWAN;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada lima aturan yang diberlakukan bagi bangsawan atau keluarganya&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; melakukan pelanggaran.&amp;nbsp; Kelima&amp;nbsp; aturan&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; menurut&amp;nbsp; tingkat kebangsawanan seseorang, sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Bagi&amp;nbsp; bangsawan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dekat&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; Kerajaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; didenda&amp;nbsp; dua tai’&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; setengah.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Bagi&amp;nbsp; bangsawan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; jauh&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Kerajaan didenda satu&amp;nbsp; tai’ sete- &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ngah.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Bagi&amp;nbsp; Gellareng&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; memegang&amp;nbsp; satu&amp;nbsp; wanuwa&amp;nbsp; didenda&amp;nbsp; satu&amp;nbsp; tai &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; setengah.&amp;nbsp; Sedangkan&amp;nbsp; Gellareng&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; memegang dua&amp;nbsp; wanuwa&amp;nbsp; didenda&amp;nbsp; satu tai’.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Bagi&amp;nbsp; Suro&amp;nbsp; (pesuruh)&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; terpercaya&amp;nbsp; didenda satu tai’ setengah.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sedangkan bagi anak-anaknya satu tai’ dendanya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5. Bagi orang yang terpercaya didenda setengah tai’, bagi perempuan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; satu tai’ dendanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4JL8JpC7qWS1-DlWbWqtcEe9dkp8v46EWX4qLAsNv1JRsziLHjPMEk1t1ci1pYC-mtwzR5vV1_tdICP8SN6CaqrGENxcKO6SrbtM1jUNrwgtVP2hA7bzvJs53OpyVrrJIolKk0it2UqTp/s1600/DSCF9500.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4JL8JpC7qWS1-DlWbWqtcEe9dkp8v46EWX4qLAsNv1JRsziLHjPMEk1t1ci1pYC-mtwzR5vV1_tdICP8SN6CaqrGENxcKO6SrbtM1jUNrwgtVP2hA7bzvJs53OpyVrrJIolKk0it2UqTp/s1600/DSCF9500.JPG" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
ATURAN YANG BERLAKU UMUM;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang yang mengamuk (membentak-bentak) dan orang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dibentak&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; diam&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; membalas, maka&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengamuk itu didenda dua real.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Kalau dua&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; saling mengamuk dan kemudian ada orang yang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ikut&amp;nbsp; membantu&amp;nbsp; salah&amp;nbsp; satunya, maka orang yang membantu itu di-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; denda dua real.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; bertengkar dan salah satunya benar, maka&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang salah didenda dua real.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berkelahi&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; salah satu&amp;nbsp; berdarah, maka&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; membuat&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; berdarah&amp;nbsp; didenda&amp;nbsp; setengah&amp;nbsp; dari denda&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5. Kalau ada hamba yang&amp;nbsp; mencuri dan&amp;nbsp; ditangkap,&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; melibatkan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tuannya untuk membayar barang yang dicuri. Kecuali&amp;nbsp; kalau&amp;nbsp; tuan-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; nya&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; membuang&amp;nbsp; hambanya tersebut, bolehlah dibayar-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kan sesuai nilai barang yang dicuri.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 6. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; hamba&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; merdeka&amp;nbsp; mencuri&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; ditangkap, &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; dibawakan orang yang menjaganya. Kalau orang yang men-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; jaganya&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; mau&amp;nbsp; membayarkan&amp;nbsp; barang&amp;nbsp; yang dicurinya itu, &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang menjaganya itu dianggap membuang hambanya&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; itu termasuk anak dan isterinya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 7. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mencuri di dua tempat dan hanya satu kali&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan ditangkap,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; mempunya&amp;nbsp; keluarga&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; bisa&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membayarkan&amp;nbsp; barang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dicuri&amp;nbsp; itu,&amp;nbsp; maka orang yang mencuri&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dijual dan harganya dibayarkan kepada kedua orang dicuri barang-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; nya itu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 8. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mencuri&amp;nbsp; di siang hari, sama dendanya de-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ngan mencuri di malam hari.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 9. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; kerbau&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dicuri dan disembelih dipinggir wanuwa,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; dalam wanuwa tersebut menanggungnya apa-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bila&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; melaporkan&amp;nbsp; pencurinya. Adapun kerbau yang disembe-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; lih dipinggir&amp;nbsp; wanuwa&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; ada melihat bahwa daging kerbau terse-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; but&amp;nbsp; dibawa&amp;nbsp; ke salah&amp;nbsp; satu rumah, maka pemilik rumah itulah&amp;nbsp; yang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dianggap sebagai pencurinya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 10. Kalau&amp;nbsp; kerbau&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; membunuh orang (hamba), maka yang punya &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kerbau&amp;nbsp; membayar&amp;nbsp; 20&amp;nbsp; real&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; hamba&amp;nbsp; laki-laki&amp;nbsp; dan 30 real bagi&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hamba perempuan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 11. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berkelahi&amp;nbsp; dan sama-sama orang merdeka,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kemudian salah satu diantaranya meninggal dan didapat orang yang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membunuh&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; keluarga&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dibunuh, boleh melakukan &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pembalasan. Tetapi&amp;nbsp; kalau&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang membunuh itu telah menye-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; nyerahkan diri pada pemerintah, hanya didenda 30 real.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 12. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; anak&amp;nbsp; bangsawan yang bersalah dan dibunuh oleh orang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; biasa dan didapati, maka orang&amp;nbsp; biasa&amp;nbsp; yang membunuh itu dbuinuh&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; juga. Kalau ia lari dan menyerahkan diri&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; pemerintah, maka&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; didenda&amp;nbsp; satu&amp;nbsp; kati&amp;nbsp; satu tai’. Kalau ia tidak mampu untuk&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membayar keluarga orang yang dibunuhnya, maka semua anak dan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; isterinya ikut menanggungnya, karena membunuh orang diatasnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 14. Kalau ada bangsawan atau anak bangsawan yang membunuh ham-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ba&amp;nbsp; didenda 20 real. Walaupun dia didapati, tetapi tidak boleh dibu-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; nuh.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 15.Kalau ada bangsawan atau anak bangsawan yang membunuh orang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; bersalah,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; membunuh itu didenda setengah &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari denda&amp;nbsp; orang yang membunuh (sesuai aturan), kemudian mem-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bayar denda sesuai denda orang yang dibunuhnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 16. Kalau ada orang yang membunuh sesamanya orang biasa, kemudi-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; an&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang membunuh itu lari ke wanuwa lain, diburuh dan di-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dapat&amp;nbsp; oleh keluarga orang yang dibunuh, boleh juga dibunuh sebe-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; lum melaporkan&amp;nbsp; kesalahannya&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; pemerintah. Tetapi apabila&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sudah ditangani oleh pemerintah dan&amp;nbsp; pihak keluarga&amp;nbsp; yang dibunuh&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; masih mel;akukan pembalasan (membunuh), maka ia didenda.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 17. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang meminta bantuan karena katanya ada orang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang mengamuk, kemudian&amp;nbsp; dibantu&amp;nbsp; dan dibunuh orang yang dika-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; takan&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengamuk&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; ternyata&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp;&amp;nbsp; kesalahannya,&amp;nbsp; maka&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; orang yang&amp;nbsp; membunuh itu tidak dipersalahkan. Orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; minta &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bantuan itulah yang membayar denda.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 18. Yang&amp;nbsp; diamksud&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; kesalahan bisa dinilai dengan uang, harta,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; seperti kerbau dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 19. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang berkelahi dan dibantu keduanya, kemudian &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; meninggal satu orang dipihak&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; satu dan&amp;nbsp; meninggal dua orang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dipihak yang lain, tidak ada denda bagi keduanya. Tetapi keduanya&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dipersalahkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp;&amp;nbsp; pemerintah.&amp;nbsp; Kalau&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; sebelah&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; meninggal, maka pihak yang sebelah yang membayar dendanya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 20. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menyampaikan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; lain bahwa&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; isterinya berselingkuh dan orang itu dipercaya, belum&amp;nbsp; jelas bahwa &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; perbuatan itu benar karena hanya berita. Kecuali&amp;nbsp; kalau&amp;nbsp; sudah&amp;nbsp; ter-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tangkap&amp;nbsp; basah&amp;nbsp; barulah&amp;nbsp; boleh&amp;nbsp; dibunuh.&amp;nbsp; Kemudian&amp;nbsp; kalau lari dan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menyerahkan&amp;nbsp; diri&amp;nbsp; kepada pemerintah, maka tidak boleh lagi dibu-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; nuh.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 21. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dituduh berselingkuh tetapi belum tinggal&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersama disuatu tempat, baru saling jatuh hati, setengah dari denda &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; perempuan diberikan kepada laki-laki. Begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 22. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; berselingkuh&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; lari menyerahkan diri kepada&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pemerintah, kemudian&amp;nbsp; keduanya diperiksa dan ternyata benar, ma-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ka keduanya didenda. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang mengaku bahwa dia&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; disuruh membunuh suaminya,&amp;nbsp; maka tidak bisa lagi dimaafkan dan &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; harus dibunuh.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 23. Kalau&amp;nbsp; ada dua orang perempuan yang bertengkar dan saling mem-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; beberkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; perselingkuhan&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp; ditangani&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp;&amp;nbsp; pemerintah,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka yang dipersalahkan adalah yang memulai pertengkaran itu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 24. Kalau&amp;nbsp;&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mengganggu&amp;nbsp; isteri&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; lain&amp;nbsp; dan isteri &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; orang tersebut&amp;nbsp; melaporkan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; pemerintah, maka&amp;nbsp; orang yang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengganggu tersebut didenda empat real.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 25. Kalau ada orang yang membawa lari isteri orang&amp;nbsp; pergi ke wanuwa&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (negeri) lain, kemudian ditempatnya itu melahirkan anak baru dite-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mukan, kemudian&amp;nbsp; diputuskan oleh pemerintah yaitu anak yang di- &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; lahirkan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bukan&amp;nbsp;&amp;nbsp; milik&amp;nbsp;&amp;nbsp; laki-laki.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keduanya&amp;nbsp; dipersalahkan&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; didenda&amp;nbsp; untuk diberikan kepada suami yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 26. Kalau dua orang suami-isteri yang bercerai, masing-masing memi-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sahkan barang miliknya. Barang yang menjadi milik bersama diba-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gi dua termasuk anak-anaknya. Kalau ada&amp;nbsp; diantara keduanya yang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; meninggal dunia, maka anak yang mewarisinya itulah yang berhak&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; atas harta bendanya. Begitu&amp;nbsp; pula&amp;nbsp; tentang utang-utang yang diting-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; galkan&amp;nbsp; menjadi&amp;nbsp; tanggungan&amp;nbsp; anak&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mewarisinya. Kalau&amp;nbsp; ada &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; anaknya yang buta atau lumpuh, maka&amp;nbsp; ia tidak boleh menanggung&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; utang orang tuanya. Kecuali&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; anak&amp;nbsp; yang buta atau lumpuh &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; itu kelak melahirkan anak, maka itulah yang menanggungnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 27. Kalau&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; suami isteri dan&amp;nbsp; salah satunya meninggal dunia&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan memiliki utang, maka harta milik orang yang meninggal itulah&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang dibayarkan utangnya. Kecuali&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; memiliki&amp;nbsp; anak selaku &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ahli warisnya, anaknya itulah yang menanggung utangnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 28. Kalau orang yang menagih utang dan ternyata salah menagih yaitu&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bukan orang yang berutang yang ditagih, kemudian orang yang di-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tagih&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; melaporkan&amp;nbsp; kepada pemerintah, maka yang salah mena-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gih itu didenda sesuai nilai tagihannya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 29. Kalau ada orang yang membeli barang curian dan didapati oleh pe-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; miliknya, barang tersebut dapat diambil oleh pemiliknya. Kemudi-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; an&amp;nbsp; si pembeli mencari siapa yang menjual barang tersebut. Apabi-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; la didapatkan, maka sipenjual itu mengembalikan harga barang ter-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebut dan&amp;nbsp; barang yang telah dijualnya dikembalikan kepada pemi-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; liknya. Tetapi apabila tidak didapatkan sipenjual, maka orang yang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membeli itulah yang dianggap mencuri.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 30. Kalau&amp;nbsp;&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang yang memungut barang di suatu tempat dan ter-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; nyata&amp;nbsp; barang&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; adalah barang curian yang tidak diperlihat-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; pemerintah,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; dialah yang dianggap pencurinya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tetapi&amp;nbsp;&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp;&amp;nbsp; dilaporkan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; disaksikan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; pemerintah dan &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya, maka barang tersebut&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dicukai dan cukainya itu diserahkan kepada orang memungutnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 31. Kalau ada orang yang diganti dalam suatu perkara, apakah ia kalah&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; menang,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; kalah&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; menang&amp;nbsp; bukan orang yang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengganti, tetapi tetap orang yang diganti.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 32. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang membeli orang pada orang Mangkasar dan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp; diakui&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; orang Mangkasar juga, maka tidak bisa di-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ambil, apalagi kalau diketahui dimana ia membelinya. Tetapi kalau&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; diketahui&amp;nbsp;&amp;nbsp; dimana&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; membeli,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; dibelinya itu&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; diambil dan batal pembeliannya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 33. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang yang membeli kerbau atau kuda harus tahu betul&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; siapa penjualnya. Harus dipersaksikan kepada&amp;nbsp; pemerintah baru di-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; beli. Sebab apabila tidak dipersaksikan kepada pemerintah dan ke-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mudian ada yang mengaku&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebagai pemiliknya, maka kerbau atau&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kuda&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; diambil&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; sipembelinya&amp;nbsp; dipersalahkan mencuri.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tetapi&amp;nbsp; kalau&amp;nbsp; dipersaksikan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; pemerintah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; ternyata ada&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mengakui&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; pemiliknya,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; harus berhadapan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan pemerintah.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 34. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang yang akan menikah dan mendatangi Guru Syara’&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk dinikahkan, maka Guru Syara’ harus&amp;nbsp; memeriksa betul-betul &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; apakah tidak ada yang akan&amp;nbsp; menuntut&amp;nbsp; sebagai hambanya. Apabila&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sudah dinikahkan dan telah melahirkan anak baru ada yang&amp;nbsp; datang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengakui sebagai hambanya, maka&amp;nbsp; anak-anak yang dilahirkannya&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; harus&amp;nbsp; ditebus&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; cara;&amp;nbsp; bagi anak laki-laki yang baru me-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; rangkak&amp;nbsp; satu&amp;nbsp; real,&amp;nbsp;&amp;nbsp; kalau&amp;nbsp; sudah&amp;nbsp; berjalan&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; real,&amp;nbsp; kalau&amp;nbsp; sudah&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bisa mencapai daun&amp;nbsp; telinganya&amp;nbsp; tiga real. Sedangkan bagi anak pe-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; rempuan yang baru merangkak&amp;nbsp; satu real, kalau sudah berjalan dua&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; real, kalau sudah pintar bicara tiga real, kalau sudah bisa mencapai&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; daun telinganya empat real.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 35. Kalau orang Bone bergaul dengan Kompeni nikah atau tidak nikah&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan kemudian melahirkan anak, - mapuwe bulo – (dibagi dua).&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 36. Kalau ada hamba Kompeni yang lari kepada orang Bone dan mela-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hirkan anak baru diketahui oleh tuannya, juga dibagi dua.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 37. Kalau ada orang yang membawa barang curian, apakah itu kerbau,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; orang,&amp;nbsp; kuda,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; lain-lain,&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp; diburu&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; dibunuh oleh &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; orang banyak, maka barang yang dicuri itu dibagi dua. Satu&amp;nbsp; bagi- &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; an untuk orang yang membunuh, stu bagian untuk pemiliknya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 38. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang –sanra putta-&amp;nbsp; (dibeli&amp;nbsp; dan bisa dibayar kembali)&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan telah melahirkan anak&amp;nbsp; baru&amp;nbsp; ditebus kembali, maka bagi yang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membelinya itu tidak berhak atas anaknya. Kalau meninggal atau &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melarikan diri, maka habislah hak orang yang membeli itu. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 39. Kalau ada orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; memiliki anak kemudian menunjuk &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; seseorang&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; mewarisi&amp;nbsp;&amp;nbsp; harta&amp;nbsp;&amp;nbsp; bendanya,&amp;nbsp; tetapi setelah dia &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; meninggal dunia&amp;nbsp; ada orang yang mengaku sebagai ahli warisnya,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka tetap yang ditunjuk pertama berhak atas segala hartanya itu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tetapi apabila dikemudian&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; muncul anaknya, maka&amp;nbsp; hartanya &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dibagi tiga, dua bagian untuk anaknya dan satu bagian untuk yang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ditunjuk sebagai ahli warisnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 40. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menitipkan hambanya kepada orang lain&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan ternyata melahirkan anak, maka orang yang dititipi tidak ber-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hak atas anak tersebut. Kalau hamba itu meninggal dunia ataukah&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melarikan&amp;nbsp; diri,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; hilanglah&amp;nbsp; hak&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang dititipi. Begitu&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pula barang-barang lain yang&amp;nbsp; dititipkan dan hanya barang yan di-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; titipkan itu yang dicuri, maka yang dititipi membayar kepada&amp;nbsp; pe-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; miliknya. Tetapi&amp;nbsp; kalau&amp;nbsp; dicuri&amp;nbsp; bersama&amp;nbsp; dengan barang miliknya, &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka ia tidak membayar.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 41. Kalau ada orang yang meminjam perahu,&amp;nbsp; mengalami&amp;nbsp; kecelakaan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; atau tenggelam dalam&amp;nbsp; pelayarannya, atau pecah karena terbentur,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; ternyata&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; awaknya&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; meninggal dunia, maka orang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; meminjam perahu&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; tidak dibebani pembayaran. Kalau ti-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dak ada awaknya yang meninggal&amp;nbsp; barulah&amp;nbsp; dia&amp;nbsp; membayar; untuk&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; perahu baru, dibayar sesuai harganya, sedangkan perahu yang tua&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dibayar setengah dari harganya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 42. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; meminjam&amp;nbsp; real (uang)&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; dapat&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menepati&amp;nbsp; janjinya&amp;nbsp; kepada orang tempat ia meminjam, kemudian&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersama-sama&amp;nbsp; menghadap&amp;nbsp; kepada adat&amp;nbsp; (pemerintah), maka bagi&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang meminjam membayar sesuai dengan janjinya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 43. Kalau ada hamba yang&amp;nbsp; melarikan diri dan&amp;nbsp; telah melewati sungai&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tallo atau&amp;nbsp; sungai&amp;nbsp; Garessi&amp;nbsp; dan sungai Barombong, atau di laut di&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; luar - rompong mabbiringE dan didapat, maka yang punya hamba&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; harus menebus dua real baru bisa mengambil hambanya itu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 44. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; hamba&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; melarikan diri dan ada yang menangkap&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; lalu&amp;nbsp; ditahan&amp;nbsp; dirumahnya,&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menangkap itu&amp;nbsp; tidak&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melaporkan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; pemerintah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; diketahui oleh yang&amp;nbsp; punya&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hamba, maka orang yang menangkap hamba&amp;nbsp; tersebut dipersalah- &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kan karena tidak melaporkan kepada pemerintah.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 45. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menumpang&amp;nbsp; di&amp;nbsp;&amp;nbsp; rumah&amp;nbsp;&amp;nbsp; seseorang&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memiliki&amp;nbsp; hamba&amp;nbsp; atau anak yang memperbuat kesalahan, lalu lari&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; minta perlindungan kepada pemilik rumah dan diikuti untuk disa-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kiti, maka&amp;nbsp; dia dipersalahkan. Begitu&amp;nbsp; pula sebaliknya, kalau yang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; punya&amp;nbsp; rumah melakukan hal seperti itu, maka yang punya rumah &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; itulah yang dipersalahkan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 46. Kalau&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; memperkosa&amp;nbsp; isteri&amp;nbsp; orang lain dan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; isteri orang itu berteriak dan didengar oleh orang lain dan didapat&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; walaupun belum melakukannya, dia&amp;nbsp; tetap dipersalahkan. Adapun&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dendanya diserahkan kepada suami perempuan tersebut.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 47. Kalau ada orang yang membeli barang dan ada yang mengaku se-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bagai&amp;nbsp; pemiliknya. Lalu&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mengaku&amp;nbsp; pemilik&amp;nbsp; barang tersebut&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melarang untuk dijual,&amp;nbsp; tetapi&amp;nbsp; pembeli barang tersebut tetap men-&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; jualnya, maka sipembeli&amp;nbsp; barang&amp;nbsp; tersebut membayar sesuai harga&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; barang tersebut.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4JL8JpC7qWS1-DlWbWqtcEe9dkp8v46EWX4qLAsNv1JRsziLHjPMEk1t1ci1pYC-mtwzR5vV1_tdICP8SN6CaqrGENxcKO6SrbtM1jUNrwgtVP2hA7bzvJs53OpyVrrJIolKk0it2UqTp/s72-c/DSCF9500.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Bugis - Telluka Anu Pura - Teppinra Assituruseng</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/puisi-bugis-telluka-anu-pura-teppinra.html</link><category>Asmat Riady Lamallongeng</category><category>Puisi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 19 Aug 2014 02:14:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-443616039958204730</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;TELLUKA ANU PURA – TEPPINRA ASSITURUSENG&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Oleh : Drs. Asmat Riady Lamallongeng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj83fF3tpjWWIBLVEzMGhmLMm6QbxWcJ7Rh7LpVxO81oFPJfYyqOjxSsmEH0Z2HS-WezjrQf6DeNV5eIDdtg7Bu4oydWXpylCAp89VJ1uGnTWCUG7gn4MSpOIX6mKzyGRxJbTSqGmaRrvVW/s1600/3x41DSCF9412+copy.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj83fF3tpjWWIBLVEzMGhmLMm6QbxWcJ7Rh7LpVxO81oFPJfYyqOjxSsmEH0Z2HS-WezjrQf6DeNV5eIDdtg7Bu4oydWXpylCAp89VJ1uGnTWCUG7gn4MSpOIX6mKzyGRxJbTSqGmaRrvVW/s1600/3x41DSCF9412+copy.JPG" height="200" width="148" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Masero lebbik garék ripogauk&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Makkutanaé ri madécéngngé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Pateppai éngngi pangilé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Gauk sitinajaé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tangngai gaukmu naiyya muala anré guru&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Alai madécéngngé mutettangngi majak é&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Nasabak iyya garék nawa nawaé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Sionrong temmassarang toi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Décénna nenniya jakna&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tellu sirik masero décéng ri posirik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Sirik é ri dé’wata séuwwaé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Sirik é ri watakkalé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Nenniya sirik é ripadatta jémma&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Telluto pappésangka watakkalé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Paompok décéng ri linoé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Pésangkai aléta maggauk majak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Makkeda ada teppatuju&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Nenniya mannawa nawa masala&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Paddioloiwi nawa nawa madécéng &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ritemmaddupana – ritemmannessana&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Sininna gauk riangujuiyé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Muabbéréangngi ati macinnommu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Nawalekko décéng padammu jémma&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Makkedai To Ciung Maccaé ri Luwu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Naiyya tanranna gettengngé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tessalai janci – tessorosi ulu ada&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Telluka anu pura – teppinra assituruseng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Patabbakani siya sompek édé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Naritajeng anging masagalaé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Topada maddolangeng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ri tasikna pésonaé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Topada salamak lempuk&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Rattéi soréang ménasaé&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Watampone, 12 Januari 2013&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Dibacakan untuk pertama kalinya oleh Andi Dahliana Bahri, S.Pd pada Debat Kandidat Cabup dan Cawabup Bone&amp;nbsp; pada tanggal 12 Januari 2013 di Gedung Lestari Watampone.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj83fF3tpjWWIBLVEzMGhmLMm6QbxWcJ7Rh7LpVxO81oFPJfYyqOjxSsmEH0Z2HS-WezjrQf6DeNV5eIDdtg7Bu4oydWXpylCAp89VJ1uGnTWCUG7gn4MSpOIX6mKzyGRxJbTSqGmaRrvVW/s72-c/3x41DSCF9412+copy.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Bugis - Pasilasai Gauk - e Na Ada - ada - e</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/puisi-bugis-pasilasai-gauk-e-na-ada-ada.html</link><category>Asmat Riady Lamallongeng</category><category>Puisi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 16 Aug 2014 22:42:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-7676697108399937347</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;PASILASAI GAUK-É NA ADA ADAÉ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: medium;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Oleh : Drs. Asmat Riady Lamallongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuaRr14ZTFDwOFcjq5WCLVC5_18rVcXU61oDafB6ApWRmrghmK8feYyjI6be2u-oVRSFQ5AzG35f006ERwFNA2BMmpKDGIkDUV3_kpKwfYowFsA8R5WpR2uCki-UmhiB4zdZSRN7t79Hdk/s1600/ARL+copy2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuaRr14ZTFDwOFcjq5WCLVC5_18rVcXU61oDafB6ApWRmrghmK8feYyjI6be2u-oVRSFQ5AzG35f006ERwFNA2BMmpKDGIkDUV3_kpKwfYowFsA8R5WpR2uCki-UmhiB4zdZSRN7t79Hdk/s1600/ARL+copy2.JPG" height="200" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Makkedai pappasenna &lt;br /&gt;La Patau Matanna Tikka Matinroé&amp;nbsp; ri Nagauleng&lt;br /&gt;Ajak mucirinnaiwi – ajak muénajaiwi&lt;br /&gt;Tabbollong daramu ri perikna tanaé&lt;br /&gt;Ajakto mupaddibolai ri nawanawammu&lt;br /&gt;Namupassuk i ri timummu&lt;br /&gt;Riyasengngé ada bellé&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teppédécéngi garék tana&lt;br /&gt;Palalloéngngi gauk na tettongenna&lt;br /&gt;Palalloéngngi ampék na sinratanna&lt;br /&gt;Paliwengiengngi ada ada &lt;br /&gt;Enrengngé pangkaukeng&amp;nbsp; na tudangenna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masero lebbik I&amp;nbsp; namadécéng&lt;br /&gt;Ripasilasa&amp;nbsp; gauk é na ada adaé&lt;br /&gt;Masero kessingngi riajeppui &lt;br /&gt;Naiyya kalawing ati madécéngngé&lt;br /&gt;Paompok upek ri lino – upek ri akhérak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapahangngi taesseri toi&lt;br /&gt;Iya garék upekna to malempuk é&lt;br /&gt;Malampék sungek i&lt;br /&gt;Iya upekna to magettengngé&lt;br /&gt;Maéga wijanna nenniya sellaona&lt;br /&gt;Naiyya tosi upekna to maccaé&lt;br /&gt;Maéga asugirenna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanré nawa nawaé paompok gauk patuju&lt;br /&gt;Mapanré tangngak é&amp;nbsp; paompok winru&amp;nbsp; situju tuju&lt;br /&gt;Amaccangengngé paompok&amp;nbsp; ada ada madécéng&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXvCR89ofWNZO1zYtttwxVGvfFau78Jroe9otpdhN3qcu6ucEX6TTpC5YhZ3kf7qDd-6WGajNwZ2bgH57BIkm7jLj-oqJY_Jru89AeWEPOGo_oTHXsT_GSVfNolMaGvbH64mQh_dz-3esi/s1600/mll04.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXvCR89ofWNZO1zYtttwxVGvfFau78Jroe9otpdhN3qcu6ucEX6TTpC5YhZ3kf7qDd-6WGajNwZ2bgH57BIkm7jLj-oqJY_Jru89AeWEPOGo_oTHXsT_GSVfNolMaGvbH64mQh_dz-3esi/s1600/mll04.PNG" height="81" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuaRr14ZTFDwOFcjq5WCLVC5_18rVcXU61oDafB6ApWRmrghmK8feYyjI6be2u-oVRSFQ5AzG35f006ERwFNA2BMmpKDGIkDUV3_kpKwfYowFsA8R5WpR2uCki-UmhiB4zdZSRN7t79Hdk/s72-c/ARL+copy2.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Bugis - Taroi Mannessa Lempuk-e</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/puisi-bugis-taroi-mannessa-lempuk-e.html</link><category>Asmat Riady Lamallongeng</category><category>Puisi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 15 Aug 2014 20:24:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-1330038628795817028</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;TAROI MANNESSA LEMPUK-É&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Oleh : Drs. Asmat Riady Lamallongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1Dpunq2loMJwhiFI2SunFPXLtguONu8cPGq5TuuAqCqkc6dqRL8VGKw6uXK_z6FR38he67zkRVCeNmmgZ0RbHvnVKs_qEMvKOMbhWFDYX0n2w0XN0HArY2BQpRY7bSLGY213Wn5tlUF5P/s1600/Bp-05.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1Dpunq2loMJwhiFI2SunFPXLtguONu8cPGq5TuuAqCqkc6dqRL8VGKw6uXK_z6FR38he67zkRVCeNmmgZ0RbHvnVKs_qEMvKOMbhWFDYX0n2w0XN0HArY2BQpRY7bSLGY213Wn5tlUF5P/s1600/Bp-05.JPG" height="200" width="160" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aga passabareng&lt;br /&gt;Kutéya larak – kutéya sorok sibatélak&lt;br /&gt;Riwettu sioloku Balanda puté mataé&lt;br /&gt;Mappasigala gajang maléla&lt;br /&gt;Ritengnga padang – riappasareng kannaé&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasabak mamménasawak siya&lt;br /&gt;Mappasiduppa barowaro&lt;br /&gt;Sipaccolokeng dara – sipalenynyek sumangek&lt;br /&gt;Rilébokna tana assomméngekku&lt;br /&gt;Wanuwa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rékkuwa palék matti&lt;br /&gt;Tekkuitai amaradékangenna &lt;br /&gt;Tekkurapi saléwangeng pabbanuwana&lt;br /&gt;Mappasengnga ri torimunrikku&lt;br /&gt;Manya manyai abbulo sipeppakmu&lt;br /&gt;Musiatting lima – musiola tonra&lt;br /&gt;Tessibelléang rigauk madécéngngé&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenroi mariyasek&lt;br /&gt;Baté asséddingengngé&lt;br /&gt;Cellak-é nasabak awaraningeng&lt;br /&gt;Putéwé nasabak apaccingeng&lt;br /&gt;Topada maccinaung riawana&lt;br /&gt;Nairing anging assama turuseng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolaiwi gettengngé – pannessai lempuk-é&lt;br /&gt;Manya manyai ada tongengngé&lt;br /&gt;Temmappasialingengngé&lt;br /&gt;Nariaccowéri salompému&lt;br /&gt;Ripadammu jémma&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMjxx6-o5a_nRIdyWOV5tTaZwrL_Pbcd71HEy_FecvPLPDp7XyXZU1wdRjBVz5w_WQwT6JossxWaQjF4RCi09Y79fM8wJwHtZogUiL4-Ofni6WI8n8Kniuo3-ibjc-0rnyKhKOa3k9YnRA/s1600/cooltext1536436364+copy.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMjxx6-o5a_nRIdyWOV5tTaZwrL_Pbcd71HEy_FecvPLPDp7XyXZU1wdRjBVz5w_WQwT6JossxWaQjF4RCi09Y79fM8wJwHtZogUiL4-Ofni6WI8n8Kniuo3-ibjc-0rnyKhKOa3k9YnRA/s1600/cooltext1536436364+copy.png" height="63" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1Dpunq2loMJwhiFI2SunFPXLtguONu8cPGq5TuuAqCqkc6dqRL8VGKw6uXK_z6FR38he67zkRVCeNmmgZ0RbHvnVKs_qEMvKOMbhWFDYX0n2w0XN0HArY2BQpRY7bSLGY213Wn5tlUF5P/s72-c/Bp-05.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Bugis - La Tenri Teppu To Appaliweng</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/puisi-la-tenri-teppu-to-appaliweng.html</link><category>Asmat Riady Lamallongeng</category><category>Puisi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 15 Aug 2014 04:28:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-7100556548108687483</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;LA TENRI TAPPU TO APPALIWENG&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: medium;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Oleh : Drs. Asmat Riady Lamallongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqrjnL7QVGbmDKH12l8-edss4c-IU3jrniEjDM678HbpPGOoyAsmrbr-JBbRZuTUr1ROE23A1lczEyAUOQKjGxuTeJbJWxzYTYQ0vLHoYpUG0dEdzPIu_9e838rWbN-8cLqY443hNxVgo8/s1600/Bp-04.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqrjnL7QVGbmDKH12l8-edss4c-IU3jrniEjDM678HbpPGOoyAsmrbr-JBbRZuTUr1ROE23A1lczEyAUOQKjGxuTeJbJWxzYTYQ0vLHoYpUG0dEdzPIu_9e838rWbN-8cLqY443hNxVgo8/s1600/Bp-04.JPG" height="200" width="141" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Anak mattola – sengngempali ri Tana Bone&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;La Tenri Tappu To Appaliweng&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Sultan Ahmad Saleh Syamsuddin&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Arumponé maduwappuloé tellu&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Matinroé ri Rompégading&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Malamung paddissengenna&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Sulessana – mapahang toi riséséna agamana&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Materrek teppekna ri arajanna&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Nenniya akuasanna Allahu Taala&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Puanna sininna alangé&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Napoadai rilaleng élokkélong nawinruk é&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;“ Iyya teppaja kusappak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Alalonna uwallié&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Ajjalékkanna panritaé&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Atabbutturenna tollarié&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Akkaséyorenna ranggasélaé&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Tellué temmassarang – duwaé temmallaiseng&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Iyyaéngngi nataniya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Mattungka iyya wégangngé&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Ripuwé nataniya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Tenri pauwé tenna risseng&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Riajeppuiyé tenna ripahang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Riengngerangngé tenna rirupa&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Rilolongengngé nari abongngori “&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Naesseri pulanai ilaleng atinna&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;La Tenri Tappu To Appaliweng&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Arumpone maninié&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;“ Tenna duwai sagala&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Duwani pawakkangi alé abongngoreng&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Mau toniro riyaseng&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Duwai masagala – tessarawak tona&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Tellongnga nabanna muwa&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Watanna sagalaé tenrek magguliling&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4VqfCmqSREpnzSHwodS5ZRBqTHsTu4RKmMDbMDdbiRdyDaQ3EBuuAGnwpu9MW1ot9KUh5xqIlsdM8G57NEjO3IYLPZzB-eHXHWHeJQl5XByv7BN6xcnNgQYIkaxa9IxW2pGT9iZRlJHWA/s1600/MANDAR+LUYO+BLOG8.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4VqfCmqSREpnzSHwodS5ZRBqTHsTu4RKmMDbMDdbiRdyDaQ3EBuuAGnwpu9MW1ot9KUh5xqIlsdM8G57NEjO3IYLPZzB-eHXHWHeJQl5XByv7BN6xcnNgQYIkaxa9IxW2pGT9iZRlJHWA/s1600/MANDAR+LUYO+BLOG8.png" height="69" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqrjnL7QVGbmDKH12l8-edss4c-IU3jrniEjDM678HbpPGOoyAsmrbr-JBbRZuTUr1ROE23A1lczEyAUOQKjGxuTeJbJWxzYTYQ0vLHoYpUG0dEdzPIu_9e838rWbN-8cLqY443hNxVgo8/s72-c/Bp-04.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cara Mengatasi Head Buntu Printer Epson R230 </title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/cara-mengatasi-head-buntu-printer-epson.html</link><category>Panduan</category><category>Printer</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 14 Aug 2014 23:35:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-5350290368544469644</guid><description>&lt;b&gt;CARA MENGATASI HEAD BUNTU PADA PRINTER EPSON&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFS_iZp89X8bnNifcGbeYb_t4lR01d2bPDPAJMKZc-dKo9ncK5qrCzxUgqN9DNkzl91Wx3o3T4QDHvV31LRdhLwL18DUkzVbiu8MO5nA-NyFA9IT04Wx76SIfP_OVkvnarv8ZpfjPY1h33/s1600/print_head1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFS_iZp89X8bnNifcGbeYb_t4lR01d2bPDPAJMKZc-dKo9ncK5qrCzxUgqN9DNkzl91Wx3o3T4QDHvV31LRdhLwL18DUkzVbiu8MO5nA-NyFA9IT04Wx76SIfP_OVkvnarv8ZpfjPY1h33/s1600/print_head1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Head buntu atau tulisan tidak keluar saat print adalah masalah yang sering sekali dihadapi oleh pengguna printer termasuk kita semua. Salah satu printer yang sering mengalami masalah head buntu adalah Epson. Dan kali ini Kang Eko akan membahas tentang Cara Mengatasi Head Buntu pada Printer Epson. Mari langsung menuju ke TKP ...&lt;br /&gt;Penyebab Head Buntu pada Printer Epson :&lt;br /&gt;1. Printer epson jarang di gunakan.&lt;br /&gt;2. Printer epson jarang dilakukan perawatan ( misalnya print head cleaning ).&lt;br /&gt;3. Sering berganti ganti jenis dan merk tinta epson&lt;br /&gt;4. Terlambat untuk mengisi ulang tinta, sehingga terjadi overheat / kepanasan di head printer epson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peralatan untuk Mengatasi Head Buntu pada Printer Epson :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;1. Cairan pembersih head (head cleaner), merk terserah anda. Kalau didaerah anda sulit mendapatkan cairan ini, gunakan cairan pembersih kaca dicampur dengan sedikit alkohol dan air.&lt;br /&gt;2. Suntikan dilengkapi dengan selang untuk nozzle head epson &lt;br /&gt;3. Tissue&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini Cara Mengatasi Head Buntu pada Printer Epson :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siapkan suntikan berisi 5ml cairan pembersih head dan tissue yang sudah di lipat, lalu pasang nozzle karet pada suntikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilSeepoa6AnaWPabM-Xo13jj_hDiDT8SRdTM7YH78h8A2v_FcSRFOW43ndiXTn9vaPByZs2ahawVCtg9TvEKeV6SpeuQjKf5GnUuGStv_YGcUd9ge6-Yxoah2CL0yJeiPtVoxnfmInkcQ-/s1600/print_head2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilSeepoa6AnaWPabM-Xo13jj_hDiDT8SRdTM7YH78h8A2v_FcSRFOW43ndiXTn9vaPByZs2ahawVCtg9TvEKeV6SpeuQjKf5GnUuGStv_YGcUd9ge6-Yxoah2CL0yJeiPtVoxnfmInkcQ-/s1600/print_head2.jpg" height="296" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;2. Posisikan head unit ke tengah printer dgn software atau manual, lalu ambil catridge dan cabut kabel power printer.&lt;br /&gt;3. Geser Head ke pinggir, lalu pasang tissue secara merata di depan roll kertas printer.&lt;br /&gt;4. Tancapkan selang pada tiang nozzle printer epson yang headnya buntu, lalu tarik suntikkan hingga 10ml, tekan suntikan perlahan lahan hingga cairan habis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidl6pVj81jxKwmfAMTlSKLYWnKU93eTASqKId7UVBSQoaHzonAOsIQqTQhdqm2FiY11JbjlVSG4eaCVoPglpbSImsHqygpglyT_fkjMtxo1z9rHhTGyBSk4ZEkpPUWtEahYVHJNPi0YTTd/s1600/print_head3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidl6pVj81jxKwmfAMTlSKLYWnKU93eTASqKId7UVBSQoaHzonAOsIQqTQhdqm2FiY11JbjlVSG4eaCVoPglpbSImsHqygpglyT_fkjMtxo1z9rHhTGyBSk4ZEkpPUWtEahYVHJNPi0YTTd/s1600/print_head3.jpg" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;5. Jika tinta beku yang menyumbat yang mengakibatkan head buntu pada nozzle sudah keluar pada tissue, maka proses pembersihan nozzle telah berhasil.&lt;br /&gt;6. Pasang kembali catridge epson yang sudah terisi tinta , Lakukan head cleaning dan print Nozzle check pattern secara software / manual. Dan head buntu pada epson sudah teratasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penjelasan tentang Cara Mengatasi Head Buntu pada Printer Epson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://ekohasan.blogspot.com/2011/02/cara-mengatasi-head-buntu-pada-printer.html&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBScsLLUshyphenhyphenOpj_6EGVx7cUhIHFwWzuqWLcmWxh7MAkqii9-8sS9qYJoZvFB2-2_5agWFUOus0A_hN3723lEbYrZCNqaJNZom9cnA1BZnJG3X7eqfQzLXohvNYwsQ_XA9Z2eWrhs95stPC/s1600/semoga+bermamfaat+copy.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBScsLLUshyphenhyphenOpj_6EGVx7cUhIHFwWzuqWLcmWxh7MAkqii9-8sS9qYJoZvFB2-2_5agWFUOus0A_hN3723lEbYrZCNqaJNZom9cnA1BZnJG3X7eqfQzLXohvNYwsQ_XA9Z2eWrhs95stPC/s1600/semoga+bermamfaat+copy.PNG" height="53" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFS_iZp89X8bnNifcGbeYb_t4lR01d2bPDPAJMKZc-dKo9ncK5qrCzxUgqN9DNkzl91Wx3o3T4QDHvV31LRdhLwL18DUkzVbiu8MO5nA-NyFA9IT04Wx76SIfP_OVkvnarv8ZpfjPY1h33/s72-c/print_head1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Bugis - Purani Kutoddok Puli </title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/puisi-purani-kutoddok-puli-ar.html</link><category>Asmat Riady Lamallongeng</category><category>Puisi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 12 Aug 2014 18:53:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-688983243692948347</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PURANI KUTODDOK PULI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh : Drs. Asmat Riady Lamallongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxScqg_DDEIks97az0aXVA3wyCdKwTxcOhQ2vqQ4Pf01cEb6h45DpRN6dFNS1JsbHOnvW-HAWaEtGW7GXAUJfMq-KIfRFpHFC54AanOiiX1JY9oqWNf9Jj9wbe1eYJFlbSvANefL__trgJ/s1600/Bp+copy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxScqg_DDEIks97az0aXVA3wyCdKwTxcOhQ2vqQ4Pf01cEb6h45DpRN6dFNS1JsbHOnvW-HAWaEtGW7GXAUJfMq-KIfRFpHFC54AanOiiX1JY9oqWNf9Jj9wbe1eYJFlbSvANefL__trgJ/s1600/Bp+copy.jpg" height="200" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Kupari&amp;nbsp; nawanawai&amp;nbsp; de’ce’ngnge’&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Kupaddibolai&amp;nbsp; lempue’&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Gettengnge’ – ada tongengnge’&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Temmappasilaingengnge’&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Ripadakku&amp;nbsp; winruk&amp;nbsp; de’watae’&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Purani&amp;nbsp; siya&amp;nbsp; kutoddok puli&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Makkurek&amp;nbsp; jawi - jawi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Tellarak&amp;nbsp; tennung&amp;nbsp; jarancarang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Mauni&amp;nbsp; totok&amp;nbsp; tellempusu&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Atompongeng&amp;nbsp; paggangkanna&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;ARTINYA DALAM BAHASA INDONESIA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;TELAH KUTETAPKAN DALAM HATI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Kudambakan&amp;nbsp; kebaikan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Kupegang&amp;nbsp; teguh&amp;nbsp; kejujuran&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Keteguhan – perkataan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; benar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Tidak&amp;nbsp; membeda-bedakan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Sesama&amp;nbsp; ciptaan&amp;nbsp; Tuhan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Telah&amp;nbsp; kutetapkan&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; hati&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Berakar bagai jawi - jawi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Tidak&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; renggang&amp;nbsp; bagai&amp;nbsp; tenunan &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Walau&amp;nbsp; nasib&amp;nbsp; tenggelam&amp;nbsp; kedasar&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dalam&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Akan&amp;nbsp; muncul&amp;nbsp; jua&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; akhirnya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL7adAD81Dc_PUqVTRHKs4WU5aMZ2RYYQkoFS9kBlahyphenhyphentfitK6NtEx7gHHGyQNrR3c_2J-VVTJSwcWFeu5CzLfI4qj4gm2lhuCK6Ax_4OXKOFD46BBoh9y_ydjxR_LIJX7ghdwRkLHDf5D/s1600/coollogo_com-112321016.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL7adAD81Dc_PUqVTRHKs4WU5aMZ2RYYQkoFS9kBlahyphenhyphentfitK6NtEx7gHHGyQNrR3c_2J-VVTJSwcWFeu5CzLfI4qj4gm2lhuCK6Ax_4OXKOFD46BBoh9y_ydjxR_LIJX7ghdwRkLHDf5D/s1600/coollogo_com-112321016.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxScqg_DDEIks97az0aXVA3wyCdKwTxcOhQ2vqQ4Pf01cEb6h45DpRN6dFNS1JsbHOnvW-HAWaEtGW7GXAUJfMq-KIfRFpHFC54AanOiiX1JY9oqWNf9Jj9wbe1eYJFlbSvANefL__trgJ/s72-c/Bp+copy.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kalimat - kalimat Kias dalam Bahasa Bugis</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/kalimat-klimat-kias-dalam-bahasa-bugis.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 12 Aug 2014 18:06:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-3351864864786106002</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;KALIMAT-KALIMAT KIASAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;DALAM BAHASA BUGIS &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dikumpulkan oleh : Asmat Riady Lamallongeng&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
1. &lt;b&gt;Madécéng taro ada&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bagus tutur katanya. Dikiaskan kepada orang yang dalam bertutur kata sopan dan santun, membuat orang yang mendengarkannya merasa senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. &lt;b&gt;Madécéng taro jari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bagus buatannya. Dikiaskan kepada orang yang pintar membentuk sesuatu, atau dalam mengerjakan sesuatu selalu apik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. &lt;b&gt;Mmadécéng kalawing ati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bagus pikirannya. Dikiaskan kepada orang yang selalu berpikiran jernih dan tidak berprasangka kepada sesama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. &lt;b&gt;Matareng cawilé&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tajam bagai sembilu. Dikiaskan kepada orang yang tidak bisa menyelesaikan suatu pekerjaan, atau orang yang pada mulanya bersemangat dalam suatu usaha namun kemudian kendor tanpa &lt;br /&gt;
hasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. &lt;b&gt;Mallila pararang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Memiliki lidah seperti biawak. Dikiaskan kepada orang yang tidak tetap dalam perkataannya, gampang mengadu domba antara orang yang satu dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. &lt;b&gt;Mareppak pinceng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pecah bagaikan beling. Dikiaskan kepada orang yang jatuh dalam usahanya (bangkrut) hancur berkeping-keping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. &lt;b&gt;Maté collik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mati pucuknya. Dikiaskan kepada orang merintis sebuah usaha dan sebagainya, tetapi tidak berlanjutalias gagal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. &lt;b&gt;Mapella tai manuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Panas bagai kotoran ayam. Sama maksudnya dengan “maté collik”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. &lt;b&gt;Maruttung taratak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berjatuhan dari tempatnya bertengger. Dikiaskan kepada satu rumpun keluarga yang mengalami musibah berupa wabah penyakit dan sebagainya dan beberapa orang meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. &lt;b&gt;Billak dék bosinna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kilat saja tanpa ada hujannya. Dikiaskan kepada orang yang besar omongannya tapi tidak ada buktinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11.&lt;b&gt; Mabbéré sikkuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Memberi sikut. Dikiaskan kepada orang yang memberi sesuatu kepada orang lain tapi kemudian diambil kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. &lt;b&gt;Macolék golla cellak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Langsing bagai gula merah. Bentuk gula merah dalam masyarakat Bugis yaitu kedua ujungnya lancip, tapi tengahnya besar. Dikiaskan kepada perempuan yang sedang hamil besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. &lt;b&gt;Maté lumpa lumpanna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mati pada usia muda. Dikiaskan kepada anak laki-laki yang meninggal dunia sebelum menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. &lt;b&gt;Mabbulo sipeppak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bagai sebatang bambu. Dikiaskan kepada sekelompok orang yang bersatu padu dalam menyelesaikan masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. &lt;b&gt;Makkaréso alu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bekerja bagaikan alu. Dikiaskan kepada orang yang bekerja keras, tetapi orang lain yang menikmati hasilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
16. &lt;b&gt;Matinro manuk manuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tidur bagaikan burung. Dikiaskan kepada orang yang mengalami banyak masalah sehingga tidak dapat tidur nyenyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
17. &lt;b&gt;Mallékkek daoureng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mengangkat dapur. Dikiaskan kepada sekelompok masyarakat yang meninggalkan kampung halamannya bersama keluarganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18. &lt;b&gt;Maddaucculing sawa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Memiliki telinga ular anaconda. Dikiaskan kepada orang yang tidak mendengarkan apa yang diperintahkan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
19.&lt;b&gt;Mappésona buruk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pasrah tanpa usaha. Dikiaskan kepada orang yang pada saat mengalami musibah, tidak berupaya untuk menyelamatkan diri dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20. &lt;b&gt;Mabburak malik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Hanyut bagaikan batang pisang. Sama maksudnya dengan “mappe’sona buruk”.Artinya kepasrahan yang tidak disertai upaya-upaya penyelamatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
21. &lt;b&gt;Mangasa bangkung puppuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menajamkan parang tumpul. Dikiaskan kepada orang yang menasehati atau memberi pelajaran kepada orang yang lambat dalam berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22.&lt;b&gt; Makkanré bebbuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Makan bagaikan rayap. Dikiaskan kepada orang yang kelihatan berhati baik, tetapi memiliki niat untuk merugikan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
23. &lt;b&gt;Maretto suriang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Patah bagaikan lidi ijuk (suriang). Dikiaskan kepada orang yang dalam mengeluarkan pendapat tidak bisa dibantah atau dipertanyakan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
24. &lt;b&gt;Macacak wali&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Runcing kedua ujungnya. Dikiaskan kepada orang yang dalam pergaulannya suka mengadu domba antara orang yang satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
25.&lt;b&gt; Masumpampali&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Memiliki dua pintu. Sama maksudnya dengan “macacak wali”.Artinya tidak memiliki kepastian dalam menentukan pendapat, atau tidak konsisten dalam pergaulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
26.&lt;b&gt; Malampék pabbekkeng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Panjang ikat pinggangnya. Dikiaskan kepada orang yang dalam merencanakan sesuatu terlalu banyak pertimbangan, sehingga lamban cara kerjanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
27. &lt;b&gt;Maddennek kaluku lupa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jatuh bagai kelapa tak berisi. Dikiaskan kepada orang yang jatuh dalam usahanya dan tidak dapat bangkit kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
28. &lt;b&gt;Malluluk tédomputa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menyeruduk bagaikan kerbau buta. Dikiaskan kepada orang yang kalap dan menerobos kerumunan orang, tanpa memperhatikan akibatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
29. &lt;b&gt;Mappétawu lolo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Membuat pematang baru. Dikiaskan kepada orang yang baru memulai usaha dan belum berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
30. &lt;b&gt;Mammata jonga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Matanya seperti rusa. Dikiaskan kepada orang yang kelihatan ketakutan, sehingga cara memandangnya liar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
31. &lt;b&gt;Maddennuwang asé kapa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mengharapkan padi yang hampa. Dikiaskan kepada orang yang berharap keuntungan, ternyata yang diterima adalah kerugian semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
32. &lt;b&gt;Massadda tinpo reppak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Suaranya bagaikan tabung pecah. Dikiaskan kepada orang yang pada saat bernyanyi suaranya parau.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGn7UcgRCZ7IIPT4peo70EAcowhK2d1BjXIoKXDQnIXb82qTwLTinX_wU8SgRK6g314kbx4n3k-Ss3dDpaturBekVm6jfeaMD9i8Ek4PA6hMTfU-K3SGJov57GpxCtrl0imlmx7tpYe_xd/s1600/DSCF9508.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGn7UcgRCZ7IIPT4peo70EAcowhK2d1BjXIoKXDQnIXb82qTwLTinX_wU8SgRK6g314kbx4n3k-Ss3dDpaturBekVm6jfeaMD9i8Ek4PA6hMTfU-K3SGJov57GpxCtrl0imlmx7tpYe_xd/s1600/DSCF9508.JPG" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
33. &lt;b&gt;Masséddi rumpu api&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menyatukan asap api. Dikiaskan kepada dua orang mempelai yang menyatukan tempat pesta pernikahannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
34. &lt;b&gt;Makkakkang temmakatek&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menggaruk tapi tidak gatal. Dikiaskan kepada orang yang merasakan kekecewaan didepan orang banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
35. &lt;b&gt;Makkanré racung puppuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bagaikan racun berbahaya. Dikiaskan kepada usaha-usaha yang dilakukan seseorang yang membuat orang lain menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
36. &lt;b&gt;Macenning tebbu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Manisnya bagaikan tebu. Pangkal tebu rasanya manis, tapi ujungnya hambar. Dikiaskan kepada orang yang pada mulanya bersifat manis, tapi akhirnya menaruh kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
37. &lt;b&gt;Mappasitola angkangulung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mengganti bantalnya. Dikiaskan kepada seorang suami yang meninggal isterinya, lalu menikah lagi dengan saudara isterinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
38. &lt;b&gt;Mappasikenna kapang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menyesuaikan dengan dugaan. Dikiaskan kepada orang yang menuduh seseorang berdasarkan dugaannya atau pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
39. &lt;b&gt;Mappasiduppa rapang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mempertemukan pengalaman. Dikiaskan kepada orang-orang yang melakukan pertemuan untuk bertukar pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
40. &lt;b&gt;Mallaleng ribungkae’&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berjalan diatas lumpur. Dikiaskan kepada orang yang melalui suatu perjuangan hidup yang sulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
41. &lt;b&gt;Maté riallémpongenna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mati di kubangannya. Dikiaskan kepada orang yang mendapatkan suatu peristiwa atau masalah dalam pkerjaan yang sedang dilakukan. Contoh, seseorang yang meninggal dunia karena minuman keras dsb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
42. &lt;b&gt;Simalireng tessibétta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sama-sama hanyut dan tidak saling mendahului. Dikiaskan kepada dua orang yang memiliki sifat atau wajah yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
43. &lt;b&gt;Sianréang laiyya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saling memakan jahe. Dikiaskan kepada dua orang yang bermusuhan dan sulit untuk didamaikan atau dipertemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
44. &lt;b&gt;Sinok sitéreng&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sama-sama turun dan sama-sama naik. Dikiaskan kepada dua orang yang bersahabat dan tidak pernah berpisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
45. &lt;b&gt;Siotok siléwureng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sama-sama bangun dan sama-sama baring. Dikiaskan kepada dua orang suami isteri yang rukun dan damai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
46. &lt;b&gt;Sanréri aju tabuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bersandar pada kayu lapuk. Dikiaskan kepada orang yang mengandalkan seseorang unuk menolongnya, ternyata harapannya salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
47. &lt;b&gt;Silallo tessirapik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saling mendahului dan tidak saling mencapai. Dikiaskan kepada keadaan orang perorang, masing-masing punya keunggulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
48. &lt;b&gt;Liseri baka sebbok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mengisi keranjang bocor. Dikiaskan kepada orang yang menyimpan barang atau menitip sesuatu kepada orang lain yang ternyata disalah gunakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
49. &lt;b&gt;Katulu tulu temmatinro&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bermimpi tapi tidak tidur. Dikiaskan kepada orang yang menginginkan sesuatu yang sulit untuk dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
50. &lt;b&gt;Reppak pennéna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pecah piring nasinya. Dikiaskan kepada orang yang diberhentikan dari sauatu pekerjaan yang telah merupakan sumber kehidupannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
41. &lt;b&gt;Sianré balé&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saling memakan bagai ikan. Dikiaskan kepada keadaan suatu masyarakat yang saling bermusuhan dan tidak mengenal adat istiadat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
42. &lt;b&gt;Tenrisseng rumpu apinna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tidak dikenal asap apinya. Dikiaskan kepada orang yang tidak diketahui asal usulnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
43. &lt;b&gt;Rikabbetti tanruk tédong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dicubit seperti tanduk kerbau. Dikiaskan kepada orang yang memiliki sifat pelit dan sulit untuk memberi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
44. &lt;b&gt;Cora uleng teppatappari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Cahaya bulan yang tidak menyinari. Dikiaskan kepada seseorang yang memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah membantu orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
45. &lt;b&gt;Ribatireng anak tencaji&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dipesankan kepada anak yang belum lahir. Dikiaskan kepada orang yang pada masa hidupnya tidak pernah atau jarang berbuat baik terhadap sesamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
46. &lt;b&gt;Ripitték katana barek&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dipilih bagaikan antah beras. Dikiaskan kepada orang yang memiliki berbagai keahlian dan sulit ditemukan samanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
47. &lt;b&gt;Mabbowong cumpak urina&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berkudung kelihatan pantatnya. Dikiaskan kepada orang yang selalu menutupi kesalahannya yang kecil, tapi kesalahan yang besar malah lebih terungkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
48. &lt;b&gt;Naéppoi miccu puténa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menduduki ludahnya. Dikiaskan kepada orang yang mencelah sesuatu, tetapi pada suatu waktu dia menyukainya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
49. &lt;b&gt;Manré dongik tai tédong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Makan seperti burung pipit, buang kotoran seperti kerbau. Dikiaskan kepada suatu usaha yang lebih banyak ongkosnya dari pada hasilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
50. &lt;b&gt;Sicalakeng tangek&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saling menutup pintu rumah. Dikiaskan kepada dua orang yang bermusuhan dan tidak akan saling mengunjungi lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
51. &lt;b&gt;Sitongkokeng lowa tana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saling menutup periuk nasi. Dikiaskan kepada dua orang yang bermusuhan dan tidak akan saling &lt;br /&gt;
memberi/membantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
52. &lt;b&gt;Mau molé bukkuk toni&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Walau sehat tapi tetap bungkuk. Dikiaskan kepada dua orang yang pernah bermusuhan dan berusaha untuk berbaikan kembali. Walaupun sudah berbaikan, tapi tetap ada dendam lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
53. &lt;b&gt;Kaliki tasak maputé batunna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pepaya masak putih batunya. Dikiaskan kepada seorang perempuan yang belum menikah, tapi diketahui pernah keguguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
54. &lt;b&gt;Anynyarang puppuk galang nakédo balakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kuda yang sudah sangat tua, tapi masih seperti kuda remaja. Dikiaskan kepada orang yang sudah berkeluarga, tapi masih seperti anak muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
55. &lt;b&gt;Mau marakko laiyyaé mapesséto&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Walau sudah kering, jahe itu tetap pedas. Dikiaskan kepada orang yang sekeluarga, meskipun kelihatan berjauhan atau kurang harmonis, tapi bila salah satunya yang kena musibah, pasti yang lainnya ikut merasakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
56. &lt;b&gt;Aju maluruémmi riala pare’wa bola&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Hanya kayu yang lurus dapat dijadikan ramuan rumah. Dikiaskan kepada orang yang akan mengangkat seorang pemimpin, agar pilihannya dijatuhkan pada tokoh yang memiliki sifat-sifat ; jujur, cerdas, adil dsb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
57. &lt;b&gt;Masengngisengngik téména&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dikiaskan kepada seseorang laki-laki yang memiliki keberanian dan disegani dalam kelompok masyarakat tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
58 &lt;b&gt;Sapu ripalek paggangkanna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dikiaskan kepada seseorang yang memiliki keinginan yang terlalu banyak (serakah), tetapi pada akhirnya tida ada yang berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
59.&lt;b&gt; Lolok léngeng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Merayap dengan punggungnya. Dikiaskan kepada orang yang melakukan pekerjaan yang sia-sia, karena tidak sesuai dengan keahliannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
60. &lt;b&gt;Ada anak-anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Artinya suatu berita atau persoalan yang tidak layak dipercaya, karena diucapkan oleh anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
61. &lt;b&gt;Lalo lakkang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lakkang adalah sejenis tumbuhan yang tidak berbuah, jadi lalo lakkang dikiaskan kepada perempuan yang tidak pernah menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
62. &lt;b&gt;Mappauk tenri tanai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menjawab sebelum ditanya, dikiaskan kepada orang yang berbicara tanpa dipikirkan akibatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
63. &lt;b&gt;Ripatudang gajang ritappik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Didudukkan sebagai keris dipinggang. Artinya dijadikan pembantu utama dalam menghadapi kesulitan. Misalnya menjadi pembantu utama dalam perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
64. &lt;b&gt;Ripatudang riyasek&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Diberi kedudukan di atas, artinya dihargai sebagai seorang yang memiliki keahlian dsb.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGn7UcgRCZ7IIPT4peo70EAcowhK2d1BjXIoKXDQnIXb82qTwLTinX_wU8SgRK6g314kbx4n3k-Ss3dDpaturBekVm6jfeaMD9i8Ek4PA6hMTfU-K3SGJov57GpxCtrl0imlmx7tpYe_xd/s72-c/DSCF9508.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Prosesi Perkawinan Ala Adat Bugis</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/prosesi-perkawinan-ala-adat-bugis.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 12 Aug 2014 04:55:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-2103689511207208529</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PROSESI PERKAWINAN ADAT BUGIS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;(Sebuah Kajian Budaya dan Sejarah)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Oleh Drs. Asmat Riady Lamallongeng&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjz4BqsWNfjCrajfKTtZY3GbfmsS6_XS-XqSU7PwcirPLZvzkToIXA43bXE3SRemTsUFEgmh3NeBxV2P4v9gnWel45cl3Idu5pDoTitDWrT-M3z9d71f27Kq4hET_8TrFw3nX5ZitCSCkfR/s1600/Bp+copy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjz4BqsWNfjCrajfKTtZY3GbfmsS6_XS-XqSU7PwcirPLZvzkToIXA43bXE3SRemTsUFEgmh3NeBxV2P4v9gnWel45cl3Idu5pDoTitDWrT-M3z9d71f27Kq4hET_8TrFw3nX5ZitCSCkfR/s1600/Bp+copy.jpg" height="200" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB&amp;nbsp; I&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pengkajian upacara adat yang bersifat tradisional bagi suku bangsa yang memiliki kebudayaan sendiri yang dan sebagai wujud informasi sejarah dan budaya guna diketahui oleh generasi berikutnya, merupakan masalah yang perlu dilakukan. Karena disamping sebagai upaya pelestarian sistem kebudayaan bagi suku bangsa yang berbeda-beda, juga menjadi suatu bentuk penonjolan identitas atau jatidiri suku bangsa yang bersangkutan.&amp;nbsp; Oleh karena itu, setiap orang yang ingin mengetahui tentang bentuk dan corak kebudayaan dari satu kelompok etnis atau suku bangsa, perlu memahami sejauh mana keberadaan kebudayaan tersebut dalam masyarakat pendukungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebudayaan adalah warisan sosial yang hanya akan dimiliki oleh warga masyarakat pendukungnya dengan cara melestarikannya. Untuk melestarikan kebudayaan yang didalamnya terkandung norma-norma serta nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam tata pergaulan masyarakat bersangkutan. Parsudi Suparlan (1981) mengemukakan ada tiga cara mempelajari kebudayaan, adalah ; (1). Melalui pengalaman hidup dalam lingkungannya sehingga dari pengalamannya itu manusia dapat memilih sesuatu tindakan yang setepat-tepatnya sesuai dengan lingkungan yang dihadapi dan keinginan yang akan dicapai. (2). Melalui pengalaman dalam kehidupan sosial. (3). Melalui petunjuk-petunjuk simbolis atau melalui komunikasi simbolik. Dengan melalui ketiga cara tersebut diatas atau salah satu diantaranya, manusia akan banyak memahami atau mengetahui pesan-pesan atau simbol-simbol budayanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam lontarak (catatan pada daun lontar) diketahui bahwa masyarakat Bugis pada awalnya hanya mengenal kepercayaan yang bersifat animisme yang kita kenal sebagai bentuk kebudayaan asli. Kemudian setelah masuknya kebudayaan&amp;nbsp; India (Hindu), barulah masyarakat Bugis menjadi penganut agama monoisme. Selanjutnya Islam masuk sekitar awal abad – 14 yang menyebabkan terjadinya assimilasi antara ajaran Islam dengan ajaran Hindu, bahkan tidak terlepas dari kepercayaan leluhur tradisional yang bersifat animisme sebagai kebudayaan asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses Islamisasi berlangsung secara intensif dengan pendekatan persuasif terhadap kepercayaan dan ajaran Hindu termasuk kepercayaan animisme. Oleh karena itu, penerimaan ajaran Islam oleh penganut kepercayaan animisme dan ajaran Hindu berlangsung dengan cepat dan cukup mudah. Hal ini terlihat dengan jelas pada berbagai acara tradisional diantaranya prosesi perkawinan adat Bugis, Makassar di Sulawesi Selatan dan juga masyarakat Mandar di Sulawesi Barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan (suami-isteri) yang berlaku secara universal bagi seluruh umat manusia dimuka bumi. Bahkan dapat dikatakan bahwa perkawinan antara laki-laki dan perempuan telah berlangsung sejak adanya manusia yang menghuni bumi ini, dalam arti bahwa sejak manusia ada dan melanjutkan keturunannya melalui perkawinan. &lt;br /&gt;
Dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, sebagaimana masyarakat lain di Nusantara ini, upacara perkawinan menandai dimulainya jalinan hubungan berdasarkan cinta kasih yang sah menurut adat (aturan-aturan duniawi) dan agama (aturan-aturan ukhrawi). Berawal dari pristiwa perkawinan itulah suami isteri dapat menapaki masa depannya, membina suatu rumah tangga dan melanjutkan keturunannya dengan aman penuh kebahagiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pentingnya masalah perkawinan itu, sehingga dikalangan masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar dikenal beberapa ungkapan yang dialamatkan kepada orang yang tidak atau terlambat mendapatkan jodoh atau terlambat melangsungkan perkawinan. Misalnya, bagi anak yang mulai menanjak dewasa baik laki-laki maupun perempuan yang belum menikah, dikatakan ; “déppa nabbatang tau” (belum seutuhnya sebagai manusia). Sedangkan bagi laki-laki atau perempuan yang telah berusia lanjut dan tidak pernah kawin (menikah), dikatakan ; “lajo” (pohon atau tanaman yang tidak berbuah). Oleh karena itu, perkawinan dianggap bukan hanya bersifat duniawi, tetapi juga bersifat ukhrawi dan sakral.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkawinan adalah sesuatu yang sangat penting bagi seseorang, karena merupakan babak baru dalam menempuh kehidupannya untuk membentuk keluarga sebagai unit terkecil dari suatu masyarakat. Dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, orang tua yang telah berhasil mengawinkan anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan, selalu mengatakan ; “mabbatang tauni anakku” (anakku telah menjadi manusia sempurna). Berdasarkan ungkapan tersebut, sehingga timbul suatu kesan bahwa bagi anak yang mulai dewasa dan belum menikah dianggap belum menjadi manusia sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya prosesi perkawinan adat dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, pada dasarnya memiliki persamaan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Hanya saja dalam segi-segi kecil sering ditemukan perbedaan yang tidak terlalu prinsipil. Misalnya, acara “ripaddupai” yang masih sering ditemukan di daerah Sidenreng Rappang, Soppeng dan daerah-daerah sekitarnya, merupakan hal yang tidak ditemukan di daerah lain. Acara “ripaddupai” ini dilaksanakan di rumah mempelai perempun yang dipandu oleh seorang indok botting (juru rias pengantin), yaitu pada saat mempelai laki-laki selesai membuka pakaian pengantin, disiapkan sembilan lembar sarung untuk dipakai. Kesembilan lembar sarung tersebut dipasangkan kepada mempelai laki-laki oleh indok botting&amp;nbsp; yang dimulai dari kepala hingga kaki. Satu lembar yang terakhir diikatkan dipinggangnya untuk dipakai tidur, sedangkan yang lainnya dilepas kembali untuk disimpan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut berbagai sumber, makna dari pada acara “ripaddupai’ tersebut adalah agar mempelai laki-laki kelak dapat mengetahui bahwa diantara banyak sarung yang ada dalam rumah isterinya, hanyalah sarung isterinya yang bisa dipakainya. Artinya, banyak perempuan lain yang merupakan&amp;nbsp; keluarga dan kerabat isterinya, tetapi hanyalah isterinya yang telah dinikahinya sebagai miliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh lain adalah acara “jaik kamma” yang sampai sekarang masih sering dijumpai di daerah Wajo dan sekitarnya. Acara ini juga dilaksanakan di rumah mempelai perempuan setelah selesai acara “mappasikarawa” (saling menjamah) atau acara “mappasiéwa ada” (saling bertegur sapa). Acara “jaik kamma” ini adalah selembar kain putih yang dililitkan kepada kedua mempelai, kemudian kedua ujungnya dijahit. Hal ini mengandung makna bahwa keduanya diharapkan untuk sehidup semati, menjalani kehidupan rumah tangga sampai tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Acara “jaik kamma” yang mengandung makna simbolik tentang kerukunan dan kedamaian bagi masa depan kedua mempelai, walaupun masih sering ditemukan di daerah Wajo, namun menurut berbagai sumber di Bone terutama bagian utara pernah juga dilakukan seperti itu. Mungkin karena sebagian orang ingin mempersingkat prosesi acaranya sehingga hal tersebut ditinggalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB&amp;nbsp; II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;JENIS-JENIS PERKAWINAN &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat dari proses pelaksanaan perkawinan dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, maka dapat dibedakan jenis-jenis perkawinan, antara lain ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan peminangan.&lt;br /&gt;
Jenis perkawinan seperti ini dalam bahasa Bugis disebut “massuro/madduta”, telah berlaku secara turun temurun dan bersifat umum dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, baik golongan bangsawan maupun golongan masyarakat biasa. Perbedaannya hanya dari tata cara pelaksanaannya, yaitu bagi golongan bangsawan atau orang yang mampu, melalui proses yang panjang dengan upacara adat tertentu. Sedangkan bagi masyarakat biasa dilaksanakan secara sederhana sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;
Untuk menuju kepada suatu perkawinan bagi masyakat Bugis, Makassr dan Mandar, tidak segampang membeli barang di pasar. Tetapi melalui beberapa tahap dengan rentang waktu yang agak panjang serta melibatkan orang tua, keluarga dan kerabat. Perkawinan dianggap ideal apabila tahapan-tahapan yang telah menjadi ketentuan adat dan agama telah dilalui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuai dengan watak dan sifat pada etnis yang mendiami jazirah selatan pulau Sulawesi yang religius dan mengutamakan kekeluargaan, maka untuk merintis suatu perkawinan sangat diperlukan partisipasi pihak keluarga, kerabat, untuk merestui rencana perkawinan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar perkawinan berjalan lancar, aman dan tetap mengikuti ketentuan adat dan agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pentingnya perkawinan dalam kehidupan seseorang, maka bagi orang tua yang memiliki anak laki-laki yang sudah dewasa, merasa terbebani oleh suatu kewajiban untuk mengawinkannya. Oleh karena itu, berbagai upaya harus dilakukan, mulai dari masalah pendanaan sampai kepada masalah siapa nantinya yang bakal menjadi jodoh dari anak tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal cari mencari jodoh (pasangan) yang kelak akan berlanjut ke jenjang perkawinan dikalangan orang Bugis, Makassar dan Mandar, pada umumnya lebih banyak dilakukan oleh pihak kerabat atau keluarga laki-laki. Sementara pihak wanita hanya menunggu datangnya lamaran dari seorang laki-laki yang bakal menjadi jodoh anaknya dan akan berlanjut ke jenjang perkawinan. Namun beban psykologis berupa kekhawatiran tentang ada tidaknya jodoh bagi seorang anak, dirasakan bukan hanya orang tua anak laki-laki, tetapi juga orang anak perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menjadi adat kebiasaan dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar bahwa seorang anak laki-laki barulah bisa memasuki jenjang perkawinan apabila telah mampu ; “mengelilingi dapur tujuh kali” dalam bahasa Bugis ; “naullépi mattuliliwi dapurengngé wékka pitu”. Kalimat ini mengandung makna simbolis yang penekanannya pada “dapur” artinya segala yang menyangkut kebutuhan dalam rumah tangga, mulai dari pakaian (sandang), makanan (pangan) dan rumah sebagai tempat bernaung (papan). Jadi mengelilingi dapur tujuh kali mengandung arti “memiliki kemampuan untuk melengkapi kebutuhan rumah tangganya” setelah menjadi nakhoda dalam melayarkan bakhtera rumah kehidupannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menuju ke jenjang perkawinan bagi masyarakat Bugis, Makassar di Sulawesi Selatan dan masyarakat Mandar di Sulawesi Barat, ternyata bukanlah suatu hal yang boleh dianggap remeh. Tetapi harus melalui beberapa fase dengan rentang waktu yang cukup panjang. Disamping itu, harus melibatkan orang tua, kerabat dan keluarga lainnya. Perkawinan dianggap ideal apabila fase-fase yang telah menjadi ketentuan adat dan agama dan telah berlaku secara turun temurun tersebut dilalui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkawinan dianggap memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, karena merupakan babak baru dalam membentuk keluarga sebagai unit terkecil dari suatu masyarakat. Bagi orang tua yang mempunyai anak laki-laki yang sudah mulai dewasa, merasa terbebani oleh suatu kewajiban untuk mengawinkannya. Oleh karena itu pihak orang tua atau keluarga, nantilah merasa lepas dari tanggungjawabnya setelah mampu mengawinkan anak laki-lakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa lampau, masalah pemilihan jodoh (pasangan hidup) bagi masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar selalu dilakukan oleh orang tua atau keluarga. Jadi biasanya kedua mempelai nanti saling mengenal setelah duduk di pelaminan atau setelah masing-masing membuka pakaian pengantin yang ditandai dengan suatu upacara yang disebut “ripasiéwa ada” (disuruh saling menyapa). Upacara ini dipandu oleh seorang “indok botting” (inang penganting) yang disaksikan oleh sanak keluarga kedua belah pihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa lampau setelah kedua belah pihak (mempelai laki-laki dan mempelai perempuan) membuka pakaian pengantinnya dan menggantinya dengan pakaian biasa di rumah mempelai perempuan, indok botting menyiapkan bahan berupa makanan ringan berupa kue-kue tradisional. Bahan tersebut disajikan pada suatu tempat kemudian memanggil kedua mempelai untuk menghadapi hidangan tersebut. Kalimat pertama harus diucapkan oleh mempelai perempuan yang dijawab oleh mempelai laki-laki. Contoh ; “anréki daéng !(perempuan), “Iyyék ndik” (laki-laki). Begitu pula sebaliknya dimulai oleh laki-laki dan dijawab oleh perempuan. Setelah doalog seperti itu berlangsung, maka keduanya dianggap telah bertegur sapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sekarang upacara “mappasiéwa ada” sudah dianggap tidak lagi penting dengan alasan bahwa pada umumnya pasangan pengantin telah saling mengenal sebelum mereka melangkah ke jenjang perkawinan. Bahkan menjadi salah satu syarat untuk melangsungkan perkawinan harus didasari rasa cinta kasih, minimal saling mengenal antara keduanya. Namun karena hal ini telah menjadi salah satu adat kebiasaan, maka upacara “ripasiéwa ada” tetap harus dilaksanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal memilih jodoh (pasangan hidup) bagi masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, biasanya memperhatikan fakor-faktor sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Faktor obyektif, yaitu adanya kesiapan bagi kedua calon mempelai untuk berumah tangga baik bagi perempuan maupun bagi laki-laki. Faktor ini dititik beratkan pada kedewasaan, masalah ekonomi, mental, kecerdasan dan lain-lain sebagainya. Faktor tersebut tercermin dalam sebuah “élong” (syair) Bugis yang berbunyi ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tau loloni La Baso&lt;br /&gt;
Tappikni gajang&lt;br /&gt;
Mola toni pallawangeng&lt;br /&gt;
Anak darani Wé Bessé&lt;br /&gt;
Pasanni waju&lt;br /&gt;
Taro toni leppek lipak&lt;br /&gt;
Artinya ; &lt;br /&gt;
(Telah dewasa La Baso&lt;br /&gt;
Telah menjepit keris&lt;br /&gt;
Juga telah menempuh kembara&lt;br /&gt;
Telah gadis Wé Bessé&lt;br /&gt;
Telah memakai baju&lt;br /&gt;
Dan telah menyimpan sarung)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari syair Bugis diatas, menggambarkan bahwa kedewasaan seorang laki-laki ditandai pada dua hal ; Pertama, apabila sudah menjepit keris yang artinya dia sudah sanggup membela dirinya dan keluarganya dari segala ancaman. Kedua apabila telah sanggup menempuh kembara (merantau) untuk mencari rezeki dalam rangka&amp;nbsp; memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Artinya, ia sudah memiliki pekerjaan tetap, apakah petani, nelayan, pegawai atau pedagang dan lain-lain yang dianggap halal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula kedewasaan seorang perempuan ditandai pada dua hal ; Pertama, apabila telah memakai baju yang artinya telah dapat membenahi dirinya sebagai mana mestinya. Kedua, telah menyimpan sarung artinya telah mampu menenun kain sarung yang arti konotatifnya telah mampu mengatur rumah tangganya, yaitu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menjahit dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Faktor subyektif, yaitu adanya dasar saling mencintai antara laki-laki dan perempuan termasuk antara keluarga keduanya. Pada masa lampau, faktor ini lahir setelah terlaksananya perkawinan, karena pada umumnya kedua mempelai dijodohkan oleh orang tua atau keluarganya dan tidak saling mengenal. &lt;br /&gt;
Faktor subyektif yang berdasarkan usia perkawinan yang sekarang ini diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, yaitu usia miniml 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki. Hal ini dimaksudkan agar kedua calon mempelai tersebut memiliki kematangan dalam berumah tangga, pada gilirannya dapat memenuhi tujuan luhur suatu perkawinan yaitu mendapatkan keturunan yang baik dan sehat. &lt;br /&gt;
Disamping itu, dalam hal cari mencari jodoh (pasangan) berdasarkan pula pertimbangan kewajaran yang dalam bahasa Bugis disebut “siputattongkok” artinya cocok untuk jadi pasangan. Perkawinan yang berdasarkan pertimbangan kewajaran, merupakan perkawinan ideal yang menurut pandangan orang Bugis adalah perkawinan dalam lingkungan kekerabatan, seperti ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkawinan antara sepupu satukali (sappo siseng) yaitu perkawinan antara dua orang yang salah satu dari orang tuanya (ayah atau ibu) bersaudara kandung. Perkawinan seperti ini oleh masyarakat Bugis disebut “siala madécéng” merupakan perkawinan yang paling baik.&lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkawinan antara sepupu duakali (sappo wékkadua) yaitu perkawinan antara dua orang yang salah satu dari orang tuanya (ayah atau ibu) masih bersepupu satukali. Perkawinan seperti ini, dalam masyarakat Bugis disebut “siakkalureng”.&lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkawinan antara sepupu tigakali (sappo wékkatellu) yaitu perkawinan antara dua orang yang salah satu dari orang tuanya (ayah atau ibu) masih bersepupu duakali. Perkawinan seperti ini, dalam masyarakat Bugis disebut “siparéwekenna” artinya mengembalikan hubungan keluarga yang sudah mulai jauh.&lt;br /&gt;
Perkawinan berdasarkan kewajaran “sipupattongkok” bukan hanya dalam hubungan vertikal seperti diatas, melainkan juga ditemukan perkawinan antara paman yang bukan saudara kandung dari salah satu orang tua (ayah atau ibu) dengan kemanakan, atau antara bibi yang bukan saudara kandung dari salah saatu orang tua (ayah atau ibu) dengan kemanakan.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa lampau terutama sebelum masuknya agama Islam di Sulawei Selatan, usia perkawinan tidak ada pembatasan. Oleh karena itu, sering terjadi anak dibawah umur sudah dikawinkan oleh orang tuanya. Perkawinan seperi itu disebut “botting anak anak” (kawin anak-anak). Perkawinan semacam ini dalam masyarakat Bugis disebut “kawing sorok”, yaitu keduanya telah dianggap sebagai “suami isteri” tetapi belum diperkenankan untuk hidup bersama. Nanti setelah mereka berdua memcapai usia dewasa (balig) barulah dipertemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya pada saat dipertemukan, melalui lagi suatu upacara sederhana yang disaksikan oleh keluarga kedua belah pihak. Upacara-upacara yang dilakukan dalam mempertemukan kedua pengantin nak-anak yang telah dianggap dewasa tersebut, adalah hal-hal yang belum dilakukan pada saat keduanya dinikahkan, antara lain adalah ; a) mappasikarawa, yaitu laki-laki dengan dibimbing oleh “ambok botting” menyentuh bagian-bagian tubuh perempuan yang dianggap memiliki makna, b) ripasiéwa ada, c) sumkan kepada kedua orang tua dan keluarga masing-masing. d) dan lain-lain yang dianggap perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tahapan-tahapan perkawinan berdasarkan peminangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Untuk menuju ke jenjang perkawinan berdasarkan peminangan ada beberapa tahap yang harus dilalui, sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
a)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mammanuk manuk&lt;br /&gt;
“Mammanuk manuk” adalah merupakan langkah awal yang dilakukan oleh orang tua atau keluarga laki-laki yang bermaksud mencarikan jodoh (pasangan) anaknya yang akan berlanjut ke jenjang perkawinan. “Mammanuk manuk” artinya melakukan kegiatan seperti burung yang terbang kesana kemari dengan tujuan mencari dan menemukan seorang anak perempuan yang dianggap cocok sebagai pasangan anak laki-lakinya. Mammanuk manuk yang pada masa lampau merupakan faktor yang sangat penting, karena dari kgiatan tersebut sehingga dapat ditemukan seorang perempuan yang akan dijodohkan dengan anak laki-laki yang sementara dicarikan jodoh (pasangan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam penelusurannya, setelah menemukan seorang anak perempuan yang dianggap bisa menjadi pasangan anaknya, maka orang yang bertugas sebagai manuk manuk (penelusur), melanjutkan dengan menyampaikan kepada segenap keluarga untuk mendapatkan persetujuan. Kegiatan ini biasanya masih dilakukan dalam keadaan rahasia, artinya belum bisa diketahui oleh banyak orang, kecuali keluarga dekatnya. Hal ini dimaksudkan siapa tahu rencana tersebut tidak jadi atau ada diantara keluarga yang tidak merestui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Mabbalwo cicik atau meppések pések&lt;br /&gt;
Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh data tentang berbagai hal mengenai gadis atau perempuan yang telah ditemukan dan akan dilamar tersebut. Hal ini dilakukan oleh pihak laki-laki agar setelah dilanjutkan ke jenjang berikutnya (massuro atau madduta), tidak sampai menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, adanya salah satu pihak yang tidak merestuinya dengan berbagai alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya orang yang melakukan kegiatan “mabbalawo cicik” atau mappések pések, adalah orang yang memiliki kedekatan dengan keluarga perempuan yang akan dilamar. Dalam kegiatan “mappések pések” ini, yang menjadi fokusnya adalah ; Pertama, bagaimana asal usul keturunan perempuan tersebut. Karena dalam masyarakat Bugis dikenal adanya stratifikasi sosial, seperti ; golongan bangsawan tinggi, bangsawan menengah, golongan to décéng (orang biasa) dan golongan hamba (ata). Kedua, bagaimana tingkah lakunya dalam rumah tangganya. Ketiga, apakah tidak mengidap penyakit berbahaya, seperti lepra, TBC dan lain-lain. Keempat, apakah salah satu dari orang tuanya tidak memiliki ilmu hitam yang oleh orang Bugis dikenal dengan istilah ; parakang (pallipak puté), poppok dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah persyaratan tersebut dimiliki oleh perempuan tersebut, maka dibuatlah suatu pertemuan keluarga dari pihak laki-laki untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu meminang yang dalam bahasa Bugis disebut “massuro” atau “madduta”. Dewasa ini, kgiatan “mabbalawo cicik/ mappések pések” jarang lagi dilakukan, karena pada umumnya orang yang akan dinikahkan telah menjalin hubungan atau sudah saling kenal jauh sebelum rencana pernikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Meminang (massuro/madduta)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Untuk melakukan peminangan (massuro/madduta), sebelumnya diutus satu atau dua orang untuk merintis jalan (Bugis ; mabbaja laleng). Mereka datang ke rumah perempuan yang akan dilamar dan menyampaikan kepada orang tua atau keluarga dekatnya tentang maksud peminangan tersebut. &lt;br /&gt;
Dalam kegiatan “mabbaja laleng” biasanya utusan yang dipercayakan melakukan hal itu, membicarakan tentang ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apakah anak perempuannya yang akan dilamar tersebut belum dijodohkan dengan orang lain, dalam bahasa Bugis disebut “tessappo teeppabbatang” artinya belum ada pagar dan belum memiliki penghalang.&lt;br /&gt;
b)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apakah rencana pelamaran yang akan dilakukan oleh pihak laki-laki terhadap anak perempuannya dapat diterima. &lt;br /&gt;
c)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kapan kesediaan pihak orang tua atau keluarga perempuan untuk menerima pelamaran tersebut.&lt;br /&gt;
d)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dimana akan diterima, apakah dirumahnya sendiri atau di rumah keluarganya.&lt;br /&gt;
e)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan lain-lain yang dianggap perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari orang tua atau keluarga pihak perempuan yang akan dilamar, tidak serta merta menerima dan membuat keputusan tentang maksud peminangan tersebut. Tetapi terlebih dahulu ia harus pula membicarakan dengan segenap keluarga dekatnya. Biasanya yang akan dipertimbangkan bersama keluarga, adalah penelusuran tentang siapa laki-laki yang akan melamar anaknya tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, pihak keluarga perempuan harus pula melakukan kegiatan seperti yang dilakukan oleh pihak laki-laki pada saat “mappések pések”. Kegiatan yang dinamakan “mattuttung lampek” atau “mattuttumpélareng” (menelusuri akar), yang menjadi obyek penelusuran dalam kegiatan ini, antara lain ; Pertama, keturunan laki-laki yang akan melamar itu apakah bukan dari keturunan yang berpenyakit berbahaya, seperti lepra (pallipak cellak), Kedua, apa pekerjaan tetapnya,. Ketiga, bagaimana tingkah lakunya, Keempat, apakah belum memiliki isteri, Kelima, apakah dia berasal dari keturunan yang baik-baik, dan lain-lain yang menjadi pertimbangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminang yang dalam bahasa Bugis disebut “massuro/madduta” yaitu mengutus beberapa orang ke rumah perempuan yang akan dilamar. Biasanya orang-orang yang diutus tersebut, ditetapkan salah seorang diantaranya yang mengetahui tentang seluk beluk dan tata cara meminang. Pertama, ia harus menyampaikan maksudnya dengan penuh sopan santun agar orang tua dan keluarga perempuan yang akan dilamarnya tidak akan merasa tersinggung perasaannya. Kedua, ia tidak menonjolkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh keluarga laki-laki, karena hal itu bisa membuat orang tua dan keluarga perempuan merasa tersinggung.&lt;br /&gt;
Salah seorang dari rombongan to madduta mengemukakan maksud kedatangannya dengan kalimat-kalimat yang halus dan bersifat ungkapan-ungkapan yang bermakna simbolis. Sementara keluarga perempuan yang menerimanya tentu akan menjawabnya dengan kalimat-kalimat yang halus pula dan penuh dengan makna-makna simbolis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini adalah salah satu contoh dialog antara “to madduta” (orang yang membawa lamaran) dengan “to riaddutai” (orang menerima lamaran) yang dilakukan pada masa lampau. Dialog dalam bentuk sastera bertutur dibawakan oleh wakil dari “to madduta” (orang yang melamar) dan dijawab oleh yang mewakili keluarga “to riaddutai” (yang dilamar).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- to riaddutai ; to ménrék laoki tatudang&lt;br /&gt;
tejjalik tettappéré&lt;br /&gt;
sangadinna masémasé&lt;br /&gt;
(wahai tetamu silahkan duduk&lt;br /&gt;
tampa alas duduk tampa tikar&lt;br /&gt;
kecuali kesederhanaan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- to madduta ; masémasé mémemmi&lt;br /&gt;
lolangeng tekkéwiring&lt;br /&gt;
sipuppureng lino&lt;br /&gt;
(memang hanya kesederhanaan&lt;br /&gt;
hubungan yang tak berujung&lt;br /&gt;
untuk selama-lamanya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- to riaddutai ; makkutanawak sagala&lt;br /&gt;
agangngarék mai biritta&lt;br /&gt;
tapucora cora lolang&lt;br /&gt;
(aku bertanya wahai keluargaku&lt;br /&gt;
mungkin ada berita penting&lt;br /&gt;
sehingga kita datang)&lt;br /&gt;
- to madduta ; kupucora cora lolang&lt;br /&gt;
uni mattengnga benni&lt;br /&gt;
manuk manuk parukkuseng&lt;br /&gt;
(kami semua datang &lt;br /&gt;
membawa bunyi tengah malam&lt;br /&gt;
burung “parukkuseng”)&lt;br /&gt;
- to riaddutai ; manuk pékkugi onimmu&lt;br /&gt;
moni malalempenni&lt;br /&gt;
paréwek sumangek&lt;br /&gt;
(burung, bagaimana bunyimu&lt;br /&gt;
berbunyi tengah malam&lt;br /&gt;
mengembalikan semangat)&lt;br /&gt;
- to madduta ; éngkalingani onikku&lt;br /&gt;
tulingngi ménasakku &lt;br /&gt;
ri masagalaé&lt;br /&gt;
(dengarkan bunyiku&lt;br /&gt;
simak keinginanku&lt;br /&gt;
yang sangat suci)&lt;br /&gt;
- to riaddutai ; décéng laleng nakutokkong&lt;br /&gt;
décéng topa kijokkang&lt;br /&gt;
mattuppu sapana&lt;br /&gt;
(kebaikan sehingga kami bangun&lt;br /&gt;
kebaikan pula kita bawa&lt;br /&gt;
menaiki tangga)&lt;br /&gt;
- to madduta ; engkakak taniya suro&lt;br /&gt;
polékak taniya paseng&lt;br /&gt;
watang majjajareng&lt;br /&gt;
(kami datang bukan suruhan&lt;br /&gt;
tidak pula membawa pesan &lt;br /&gt;
tapi kami semua datang bertamu)&lt;br /&gt;
- to riaddutai ; engkata tudang majjajareng&lt;br /&gt;
polisek riyo rennu&lt;br /&gt;
ri masagalaé&lt;br /&gt;
(kita yang duduk berjajar&lt;br /&gt;
berisi kegembiraan&lt;br /&gt;
dan kebahagiaan)&lt;br /&gt;
- to madduta ; makkutawak sagala&lt;br /&gt;
bunga sellek renritta&lt;br /&gt;
engkaga sappona&lt;br /&gt;
(aku bertanya wahai keluargaku&lt;br /&gt;
bunga dibalik dindingnya&lt;br /&gt;
sudah adakah pagarnya)&lt;br /&gt;
- to riaddutai ; bunga sellek renrikku&lt;br /&gt;
tessappo teppallawa&lt;br /&gt;
lappa maneng muwa&lt;br /&gt;
(bunga dibalik dindingku&lt;br /&gt;
tidak berpagar dan tidak ada pembatas&lt;br /&gt;
semuanya rata)&lt;br /&gt;
- to madduta ; mamménasawak sagala&lt;br /&gt;
ménasa iya muwa&lt;br /&gt;
pasisompung wélareng&lt;br /&gt;
(kami bermaksud baik&lt;br /&gt;
yaitu kami ingin &lt;br /&gt;
menyambung akar)&lt;br /&gt;
- to riaddutai ; ménasa tatiwik é&lt;br /&gt;
kibali riyo rennu&lt;br /&gt;
mattunrung mattakké&lt;br /&gt;
(maksud yang kita bawa&lt;br /&gt;
dibalas dengan gembira&lt;br /&gt;
bertandan bertangkai)&lt;br /&gt;
- to madduta ; La …………. riéllaungeng&lt;br /&gt;
tudangeng massibali&lt;br /&gt;
paddaik tengkennek&lt;br /&gt;
(La ……….. dimintakan&lt;br /&gt;
tempat bersanding&lt;br /&gt;
penambah kekurangan)&lt;br /&gt;
- to riaddutai ; dékga pasa rilipummu&lt;br /&gt;
balanca ri kampommu&lt;br /&gt;
mulincok mabéla&lt;br /&gt;
(apakah tidak ada pasar di negerimu&lt;br /&gt;
belanja di kampummu&lt;br /&gt;
sehingga pergi jauh-jauh)&lt;br /&gt;
- to madduta ; engka pasa ri lipukku&lt;br /&gt;
balanca ri kampokku&lt;br /&gt;
nyawami kusappak&lt;br /&gt;
(ada pasar di negeriku&lt;br /&gt;
belanja di kampungku&lt;br /&gt;
kami hanya mencari jiwa)&lt;br /&gt;
- to riaddutai ; rékkuwa nyawa tasappak&lt;br /&gt;
engkani talolongeng&lt;br /&gt;
mattunrung mattakké&lt;br /&gt;
(kalau anda mencari jiwa&lt;br /&gt;
anda sudah dapatkan&lt;br /&gt;
bertandan dan bertangkai)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pihak perempuan (to riaddutai) mendengar bahwa pihak laki-laki (to madduta) benar-benar punya niat yang suci untuk menyambung kekeluargaan (mappasisompung wélareng), maka dengan segala kerendahan hati ia berkata ; “marékko makkoitu adatta – sorokni ta tangngakak – nakubali tangngak tokki” (kalau begitu maksud anda, maka kembalilah mempelajari keluarga kami dan kami juga akan mempelajari keluarga anda”. Maksud dari pada kalimat itu adalah agar keduanya mempelajari keadaan masing-masing yang dalam bahasa Bugis disebut “mattuttung pésaluk” yaitu semacam penelusuran tentang asal muasal laki-laki yang melamar.&lt;br /&gt;
Dari kata-kata terakhir to riaddutai (yang menerima lamaran) menandakan bahwa lamaran diterima dengan senang hati. Oleh karena itu, to madduta (orang yang melamar) kembali untuk selanjutnya merundingkan dengan keluarganya tentang tahap selanjutnya yang disebut “mappasiarekeng”.&lt;br /&gt;
Dewasa ini dialog seperti diatas sudah jarang ditemukan, karena pada umumnya baik wakil dari “to madduta” (yang melamar) maupun wakil dari “to riaddutai (yang dilamar) melakukannya dengan bahasa bebas, yang penting tetap pada perinsip “sipakatau” dan “sipakalebbik” sesuai adat istiadat orang Bugis, Makassar dan Mandar di jazirah selatan pulau Sulawesi.&lt;br /&gt;
Berikut ini salah satu contoh dialog antara “to madduta” dengan “to riaddutai” yang dibawakan dengan bahasa bebas ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;d)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Mappasiarekeng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mappasiarekeng artinya mengukuhkan kembali apa yang telah disepakati oleh kedua belah pihak pada saat madduta (melamar). Dalam pelaksanaan mappasiarekeng, belum melibatkan banyak orang. Walaupun sekarang acara mappasiarekeng sudah dianggap tidak terlalu penting, tapi sebagian besar masyarakat Bugis masih melakukannya.&lt;br /&gt;
Pada masa lampau, mappasiarekeng yang juga diistilahkan “sianré inanré” (saling makan bersama), yaitu beberapa orang dari pihak keluarga laki-laki mengunjungi rumah perempuan dengan membawa kue-kue tradisional untuk dimakan bersama. Pada saat itu pulalah ditentukan hari pelaksanaan “mappettu ada” yaitu untuk memutuskan segala sesuatunya yang akan dilakukan termasuk kelengkapan-kelengkapan pesta pernikahan nantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewasa ini pada saat mappasirekeng dirangkaikan pula dengan suatu acara yang disebut “mappaénrék lékok caddi” yaitu bentuk persembahan pihak laki-laki kepada mempelai perempuan. Mappaénrék lékok biasanya diadakan dua kali yaitu ; pertama pada acara mappasiarekeng, kedua pada acara mappaénré botting (mengantar mempelai laki-laki ke rumah mempelai perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lékok (bahasa Makassar) artinya daun sirih yang pada zaman dahulu sangat dibutuhkan oleh orang-orang Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan. Mengunyah daun sirih yang dicampur dengan buah pinang, gambir, kapur serta gulungan tembakau sebagai penyeka, merupakan kebiasaan dan kebutuhan bagi masyarakat di jazirah selatan pulau Sulawesi sebelum adanya rokok. Kebiasaan seperti itu berlangsung hingga pertengahan abad ke – 20, bahkan hingga kini masih sering dijumpai orang-orang tua yang mengunyah daun sirih, terutama didaerah pedalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, pada zaman dahulu daun sirih dengan segala kelengkapannya tadi, merupakan seperangkat bahan yang sangat istimewa dan bernilai tinggi. Menyuguhkan daun sirih yang dalam bahasa Bugis disebut “mappaota” kepada seseorang, adalah bentuk penghargaan yang bernilai budaya “sipakatau – sipakalebbik” yang merupakan ciri khas sifat-sifat orang Bugis, Makassar dan Mandar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perkembangannya, menyuguhkan atau mmpersembahkan sesuatu kepada seseorang, dianggap tidak memiliki nilai “sipakatau sipakalebbik” tanpa diikuti dengan daun sirih beserta kelengkapannya yang disebut sirih-pinang. Begitu pula persembahan calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan yang diantarkan sebelum acara pelaksanaan akad nikah yang kemudian dikenal dengan istilah “mappaénré lékok”. Dahulu, dalam masyarakat Bugis persembahan yang diantar oleh keluarga calon mempelai laki-laki ke rumah calon mempelai perempuan sebelum pelaksanaan acara pernikahan (tudabbotting), disebut “mappaénré ota” atau “mappaota” Tetapi seiring&amp;nbsp; dengan perkembangan dimana antara masyarakat Bugis dengan masyarakat Makassar semakin tidak ada batas, maka ada kecenderungan masyarakat Bugis ikut-ikutan memakai istilah “mappaénré lékok” (sirih pinang).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi orang yang mampu mappaénré lékok biasanya dilakukan dua kali, yaitu pertama pada acara mappasiarekeng (pengukuhan kesepakatan) disebut lékok caddi, kedua pada acara “mappaénré botting” disebut lékok lompo. Perbedaannya hanya dari segi jumlah atau kelengkapan barang yang dibawa. Misalnya, kalau calon mempelai perempuan adalah dari keturunan bangsawan tinggi, maka jumlah bosara yang berisi kue-kue tradisional sebanyak 14 buah. Sedangkan bagi calon mempelai perempuan dari orang biasa, jumlahnya hanya 10 atau 12 buah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun kelengkapan yang diantar ke rumah calon mempelai perempuan, adalah benda yang menurut pandangan orang Bugis, Makassar dan Mandar memiliki makna simbolis (sennusennuangeng) yang disesuikan dengan perjalanan hidup kedua calon mempelai,&amp;nbsp; antara lain ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Daun sirih beberapa ikat,&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buah pinang satu tandan,&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tembakau beberapa gulung,&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gambir beberapa biji,&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kapur secukupnya,&lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gula merah beberapa biji,&lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kelapa muda satu tandan,&lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pisang satu tandan,&lt;br /&gt;
9.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tebu satu batang,&lt;br /&gt;
10.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buah srikya,&lt;br /&gt;
11.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buah nenas,&lt;br /&gt;
12.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buah jeruk,&lt;br /&gt;
13.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ayam satu pasang (jantan dan betina)&lt;br /&gt;
14.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan beberapa jenis buah-buahan lainnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping itu, bosarak yang berisi kue-kue tradisional seperti ; onde-onde, cucuruk tékné, dodorok, bajék, dokokdokok utti, dan sebagainya. Selanjutnya alat-alat kecantikan, kelengkapan untuk mandi, pakaian dan perhiasan sesuai dengan kemampuan pihak laki-laki.&lt;br /&gt;
Para pembawa lékok terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan pakaian adat lengkap, diiringi bunyi-bunyian seperti ; gong, puikpuik, gendang dan lain-lain yang dapat memeriahkan acara mappaénré lékok tersebut. Setelah sampai di rumah calon mempelai perempuan, semua bawaan tersebut diserahkan kepada keluarga calon mempelai perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
e)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Mappettu ada (membuat kesepakatan)&lt;br /&gt;
Setelah terjadinya kesepakatan bahwa lamaran pihak laki-laki diterima oleh pihak perempuan, maka tahap selanjutnya adalah acara “mappettu ada” yaitu memutuskan segala sesuatu yang diperlukan dalam acara puncak yang disebut “tudang botting” (duduk pengantin). &lt;br /&gt;
Berikut ini adalah salah satu contoh dialog antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan dalam acara “mappettu ada” yang dibawakan secara bebas ;&lt;br /&gt;
Punna Bola (pihak perempuan) ;&lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bismillahir Rahmanir Rahiem. &lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.&lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Alhamdu lillahi rabbil alamin, Upari palek limai alebbiretta maneng pada siujuk rupa ri bola tudangenna to malebbikkeng ………. silisek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang menjadi kesepakatan dalam acara mappettu ada tersebut, adalah antara lain ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tanra esso (hari pernikahan).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Penentuan hari pernikahan baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan selalu mempertimbangkan tentang waktu-waktu yang luang bagi keluarga. Misalnya, kalau keluarga kebanyakan dari petani, maka biasanya disepakati waktu selesai panen tahunan. Tetapi kalau waktu tersebut dianggap terlalu lama, maka dipilihlah waktu yang tidak terlalu banyak kesibukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, waktu-waktu pernikahan biasanya mengikuti “kutika bilangeng duwappulo” yaitu suatu penanggalan tradisional yang diyakini memiliki makna (sennusennuang) dalam melakukan hajatan yang ditentukan oleh orang pintar di kampung itu. &lt;br /&gt;
Kutika Bilangeng Duappulo memiliki jumlah hari sebanyak 20 dan akan berulang kembali setelah sampai pada hitungan duapuluh. Dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, kutika bilangeng duappulo merupakan pedoman dalam menentukan hari pernikahan yang diyakini memiliki maksa (sennusennuangeng) bagi kelangsungan hidup rumah tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutika Bilangeng Duappulo (kalender hitungan 20 hari), nama-namanya adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
1.Pong 2. Pang 3. Gumawa (Lumawa) 4. Wajing 5. Wunga wunga 6. Tellettuk 7. Angnga 8. Webbok (Bebbok) 9. Wage 10. Cempa (Ceppa) 11. Tullé 12. Ariyéng 13. Béruku 14 Pnirong 15. Mauwa 16. Dettiya 17. Soma 18. Langkarak (Lakkarak) 19 Jempati 20. Tumpakalé (Polébola).&lt;br /&gt;
Kepercayaan orang Bugis, Makassar dan Mandar tentang “kutika bilangeng duappulo” bila dihubungkan dengan hari pernikahan, antara lain, adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila hari pernikahan jatuh pada Gumawa (Lumawa), maka pasangan ini selalu berbahagia dan sehidup semati.&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila hari pernikahan jatuh pada Webbok (Bebbok), maka isteri tidak bisa bertahan dan menunggu bila ditinggalkan. Tidak pandai mengurus rumah tangga dan memelihara anak-anaknya.&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila hari pernikahan jatuh pada Wage, pasangan ini cepat memiliki keturunan, banyak rezeki dan hidup berbahagia.&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila hari pernikahan jatuh pada Cempa (Ceppa), pasangan ini cepat meningkat satu sama lain, gelora cinta selalu terasa oleh keduanya.&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila hari pernikahan jatuh pada Tullé, maka pasangan ini selalu memiliki kepastian hidup, tidak mudah berputus asa.&lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila hari pernikahan jatuh pada Ariyéng, maka pasangan ini banyak mendapat kebahagiaan, rezekinya selalu meningkat.&lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila pernikahan jatuh pada Béruku, maka pasangan ini cepat mendapat keturunan, selalu berbahagia.&lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila pernikahan jatuh pada Panirong, maka pasangan ini selalu diliputi kebahagiaan dan keberuntungan. Isteri pandai bergaul dengan tetangga.&lt;br /&gt;
9.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila pernikahan jatuh pada Mauwa, maka pasangan ini selalu saling mengasihi, cepat memiliki keturunan, isteri pandai dalam hidup bertetangga.&lt;br /&gt;
10.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila pernikahan jatuh pada Dettiya, maka pasangan ini selalu diliputi oleh suasana yang kurang baik dan selalu mengalami permasalahan dalam rumah tangga, karakter keduanya panas.&lt;br /&gt;
11.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila pernikahan jatuh pada Soma, maka pasangan ini saling mencintai, sakinah, penuh gelora asmara, seperti yang jatuh pada Tullé&lt;br /&gt;
12.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila penikahan jatuh pada Jémpati, maka pasangan ini cepat memiliki keturunan dan selalu diliputi rasa bahagia. &lt;br /&gt;
(Wallahu a’lam bissawab)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya yang paling banyak menentukan hari pernikahan (tudang botting) adalah dari pihak perempuan, sementara pihak laki-laki hanya mengikuti saja. Oleh karena itu, pada saat mappettu ada selalu diadakan dirumah perempuan dan yang hadir kebanyakan adalah dari keluarga pihak perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sompa (mahar)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sompa atau mahar adalah bentuk pemberian pihak laki-laki kepada perempuan yang akan dinikahinya. Pemberian tersebut bisa berupa uang, tanah, atau benda lain, sebagai salah satu syarat sahnya suatu pernikahan dalam masyarakat Bugis. Pada masa lampau sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan, sompa itu diberikan kepada perempuan pada saat “marola” yaitu ketika selesai acara tudang botting di rumah mempelai perempuan, ia mengikuti pengantin laki-laki ke rumahnya. Pemberian ini dinyatakan oleh orang tua laki-laki pada saat memanggil mempelai perempuan naik ke rumah. Pada saat memanggil mempelai perempuan naik ke rumah, biasanya menggunakan kalimat-kalimat seperti ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- kalau pemberian itu berupa sebidang tanah, maka orang tua laki-laki mengucapkan kalimat ; “O, anu (menyebut namanya) énréko mai ribola tudangemmu – laloko ri lompok anu (nama sebidang tanah)”.&lt;br /&gt;
- kalau pemberian itu berupa benda, maka orang tua laki-laki mengucapkan kalimat ; “O, anu (menyebut namanya) énréko mai ribola tudangemmu – akkatenniko ri (nama benda yang diserahkan)&lt;br /&gt;
- kalau pemberian itu berupa hewan ternak, maka orang tua laki-laki menucapkan kalimat ; “O, anu (menyebut namanya) énréko mai ri bola tudangemmu mutonangiwi …………….. (menyebut jenis hewan yang diserahkan). Misalnya, kerbau, kuda dan sebagainya.&lt;br /&gt;
Sompa yang berlaku dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, dinilai dengan mata uang lama (Portugal) yang disebut real (orang Bugis menyebutnya “rellak”). Bagi bangsawan tinggi sompa atau maharnya dinyatakan dengan “kati” senilai 88 real, ditambah orang (ata) senilai 40 real dan satu ekor kerbau senilai 25 real.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sompa dikalangan perempuan bangsawan tinggi disebut “sompa bocco” (sompa puncak) yang bisa mencapai 14 kati. Sedangkan perempuan dari kalangan bangsawan menengah kebawah, hanya satu kati, bagi orang baik-baik (to décéng) setengah kati, kalangan orang biasa seperempat kati.&lt;br /&gt;
Adapun tingkatan-tingkatan sompa menurut adat Bugis, adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Bangsawan tinggi&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; = 88 real&lt;br /&gt;
- Bangsawan menengah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; = 44 real&lt;br /&gt;
- Arung Palili&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; = 40 real&lt;br /&gt;
- To décéng&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; = 28 real&lt;br /&gt;
- To maradéka&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; = 20 real&lt;br /&gt;
- Hamba (ata)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; = 10 real&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c). Doik Ménrék atau Uang Belanja &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setelah menetapkan hari pernikahan (tanra esso), maka hal yang juga paling penting untuk disepakati bersama, adalah besarnya uang yang akan diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Pada masa lampau doik ménrék atau uang belanja itu dibebankan kepada laki-laki yang harus membeli darah, yaitu apabila pihak laki-laki lebih rendah derajat kebangsawanannya dari pada perempuan. Misalnya pihak perempuan berasal dari bangsawan tinggi, sementara pihak laki-laki hanya dari golongan bangsawan menengah, maka pihak laki-laki dibebani “pangelli dara” yang besarnya bervariasi.&lt;br /&gt;
Akan tetapi dewasa ini, istilah doik ménrék atau uang belanja dibebankan secara umum kepada laki-laki tanpa melihat derajat kebangsawanan. Dengan demikian istilah doik ménrék diartikan sebagai uang belanja semata-mata dari pihak laki-laki. Dalam menetaokan besarnya uang belanja, biasanya pihak keluarga perempuan selalu melihat harga yang berlaku di pasaran. Kalau pihak perempuan menghndaki pesta pernikahannya ramai, maka biasanya juga minta uang belanja yang tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pakaian pengantin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dewasa ini selain ketiga faktor tanra esso, mahar/sompa dan doik ménrék, sering juga menjadi perdebatan tentang pakaian pengantin yang akan dipakai,&amp;nbsp; sebab pada umumnya pengantin itu menggunakan pakaian yang harus seragam, baik bagi pengantin maupun bagi anak bottingnya. Oleh karena itu, kedua belah pihak biasanya membuat kesepakatan bahwa sewa pakaian tersebut ditanggung bersama.&lt;br /&gt;
Pada masa lampau masalah pakaian pengantin tidak pernah dipermasalahkan, sehingga sering terjadi pakaian mempelai laki-laki termasuk anak bottingnya berbeda dengan pakaian mempelai perempuan termasuk anak botiingnya. Namun dewasa ini, keseragaman pakaian mempelai laki-laki dengan mempelai perempuan sepertinya merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, pada saat mappettu ada, masalah ini juga menjadi bahan pembicaraan antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pakaian bagi mempelai laki-laki dan mempelai perempuan, adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk mempelai laki-laki terdiri atas ;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Baju bella dada&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Topé yaitu sejenis sarung yang modelnya sama dengan rok wanita yang pinggirnya dihiasi dengan emas atau perak.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sigarak yaitu hiasan penutup kepala.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Passapu dengan ambarak yaitu sapu tangan dengan hiasannya.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keris pasattimpo/Tattarapeng, yaitu senjata tradisional orang Bugis yang hulu dan sarungnya terbuat dari emas atau perak.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Potto naga, yaitu gelang tangan yang berbentuk naga.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sémbang atau selempang.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saluarak (celana)&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Talibennang (pengikat keris)&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maili yaitu sejenis mainan yang digantung pada keris.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sedangkan untuk mempelai perempuan terdiri atas ;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Waju poncok (baju bodo) yang dihiasi dengan ranté patimbang dan toboro.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Topé dengan ranténya.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Passapu ; selendang dengan mainannya.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sularak (celana).&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Salépé (ikat pinggang).&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bossak atau kalaruk ; gelang bersusun atau getangan panjang.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lola ; gelang tangan yang dipasang pada bagian bawah atau atas bossak atau kalaru.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Géno mabbulék yaitu kalung berantai.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ranté koték yaitu kalung panjang yang diikatkan bila dipakai.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Géno sibatu yaitu kalung yang mainannya hanya satu.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Simak taiyyak ; pengikat lengan baju.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bangkarak ; anting-anting panjang.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saloko ; makhkota.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pinang goyang ; hiasan sanggul berup kembang yang goyang.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bunga éja ; sunting rambut.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bunga simpolong ; hiasan sanggul.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Poddo simpolong ; pembungkus sanggul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Perkawinan Silariang (kawin lari)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jenis perkawinan ini dilaksanakan tidak berdasarkan peminangan, tetapi dilakukan karena kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) sepakat untuk lari ke rumah penghulu untuk minta perlindungan dan selanjutnya dinikahkan. Sebenarnya dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, peristiwa “silariang” (melarikan diri untuk dinikahkan) adalah suatu perbuatan yang mengakibatkan terjadinya “sirik” bagi keluarga perempuan (to masirik).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa lampau apabila terjadi peristiwa seperti itu, maka pihak keluarga dekat perempuan (to masirik) selalu berusaha untuk menegakkan “sirik” dengan cara membunuh laki-laki yang melarikan keluarganya tersebut. Namun menurut ketentuan adat (norma hukum), apabila keduanya telah berada di rumah penghulu (pemerintah), atau sekurang-kurangnya telah dapat melemparkan pakaiannya di pekarangan anggota adat, maka keduanya tidak bisa lagi diganggu, karena dianggap telah dilindungi oleh adat (hukum).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu tabunya peristiwa silariang bagi masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar, maka sering terjadi pihak keluarga perempuan bertegas tidak akan memberikan restu (persetujuan) untuk dinikahkan. Bahkan sering terjadi orang tua yang ripakasirik (dipermalukan) itu menganggap anaknya yang melarikan diri itu, sudah meninggal dunia dalam bahasa Bugis disebut “ripaoppangi tana” dan tidak lagi mengakuinya sebagai anaknya. Sebagai bukti bahwa pihak orang tua tidak lagi mengakui anaknya, maka diadakanlah upacara kematian yang disebut “mattampung” yaitu upacara bagaimana layaknya orang yang telah meninggal dunia dan dibuatkan tanda, seperti dipancangkan batu nisannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang pelaksanaan perkawinan kedua orang yang silariang tersebut, diurus oleh penghulu dengan cara minta persetujuan dari pihak keluarga perempuan, seperti orang tua, saudara kandung dan lain-lain yang dianggap sebagai to masiri&amp;nbsp; (orang yang merasa dipermalukan). Namun apabila pihak orang tua atau keluarga perempuan tidak memberi restu atau tidak mau menerimanya, maka pihak pemangku adat (penghulu) dapat menikahkannya dengan istilah “wali hakim”&lt;br /&gt;
Tetapi walaupun keduanya telah dinikahkan, namun hubungan antara orang tua dan keluarga perempuan dengan laki-laki yang melarikan tersebut tetap berbahaya dan tidak aman. Oleh karena itu, selama keduanya belum diterima kembali untuk rujuk yang dalam bahasa Bugis disebut “ maddécéng” (minta maaf), kedua orang silariang tersebut harus selalu menghindarkan diri untuk bertemu dengan pihak tomasirik (orang yang dipermalukan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiap orang yang melakukan pelanggaran adat yang dinamakan silariang (kawin lari) selalu berusaha untuk berdamai dengan pihak keluarga (to masirik) perempuan. Oleh sebab itu, apabila sudah punya kesempatan untuk “maddécéng”, maka keduanya minta bantuan kepada penghulu atau pemerintah untuk memediasi rencananya tersebut. Dalam hal ini, oleh penghulu atau pemerintah mengutus seseorang untuk menyampaikan kepada pihak orang tua atau keluarga perempuan agar dimintakan “addécéngeng” (permintaan damai).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjz4BqsWNfjCrajfKTtZY3GbfmsS6_XS-XqSU7PwcirPLZvzkToIXA43bXE3SRemTsUFEgmh3NeBxV2P4v9gnWel45cl3Idu5pDoTitDWrT-M3z9d71f27Kq4hET_8TrFw3nX5ZitCSCkfR/s72-c/Bp+copy.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menelusuri Sejarah Mattelumpoccoe</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/menelusuri-sejarah-mattelumpoccoe.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 9 Aug 2014 08:40:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-730655522285978627</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;MENELUSURI SEJARAH MATTELUMPOCCOE&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
(Aliansi tiga kerajaan ; Bone, Wajo dan Soppeng)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Oleh Drs. Asmat Riady Lamalallongeng&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifbPBGzyP3OlRJUG6wyF9YBpurgXADt57nnrullCc785K0znvScMTy5Y0JdXtttLf2qf9yf2saWMqwwwf5Yjv1GAY1x-447kGdDMBwCvgcps6SFJvf09-sYQ7VHLq4COOEaKId2AElpgb9/s1600/Bp+copy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifbPBGzyP3OlRJUG6wyF9YBpurgXADt57nnrullCc785K0znvScMTy5Y0JdXtttLf2qf9yf2saWMqwwwf5Yjv1GAY1x-447kGdDMBwCvgcps6SFJvf09-sYQ7VHLq4COOEaKId2AElpgb9/s1600/Bp+copy.jpg" height="200" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Pengantar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jazirah selatan pulau Sulawesi yang didiami oleh empat etnis besar, yaitu ; Bugis, Makassar, Tator dan Mandar, mencatat banyak sejarah sebagai karya historiografi daerah yang perlu dan menarik untuk diteliti. Upaya penelitian dan pengkajian terhadap sumber-sumber sejarah daerah tersebut, seyogianya terus dilakukan dan ditingkatkan, mengingat masih banyaknya yang belum digali dan diteliti. Sumber-sumber sejarah lokal tersebut, termasuk perjanjian “Mattellumpoccoe” yang merupakan aliansi tiga kerajaan Bugis, yaitu ; Bone, Wajo dan Soppeng dalam tahun 1582.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti diketahui bahwa penulisan sejarah (histriografi) lokal tentang kerajaan-kerajaan di jazirah selatan pulau Sulawesi, terutama sebelum datangnya bangsa-bangsa asing dengan nafsu penjajahannya, memang belum banyak dilakukan. Namun kesadaran tentang betapa pentingnya pengungkapan fakta-fakta sejarah lokal bagi eksistensi masyarakat dalam rangka memperkaya khasanah sejarah nasional, telah dirasakan oleh pemerhati sejarah daerah sejak lama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Sumber-sumber sejarah yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan di jazirah selatan pulau Sulawesi cukup banyak yang walaupun belum sepenuhnya didukung oleh bukti-bukti arkeologi berupa bekas yang telah ditinggalkan oleh kejadian, perubahan dan peristiwa masa lalu. Tetapi apa yang telah ditemukan selama ini, sedikitnya dapat memperkaya fakta sejarah di wilayah ini, yang pada gilirannya akan memperkaya kepustakaan sejarah nasional. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipenghujung abad ke – 16, pada masa sebelum mencuatnya peran kerajaan-kerajaan besar di jazirah selatan pulau Sulawesi seperti Gowa, Bone dan Luwu, dapat dikatakan bahwa wilayah ini mengalami keadaan yang tidak tenang. Masing-masing kerajaan besar tersebut berupaya untuk merebut hegemoni kekuasaan terhadap kerajaan lain. Dengan demikian, terjadilah peperangan antara kerajaan yang satu dengan kerajaan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam episode sejarahnya yang panjang, disamping ketiga kerajaan besar tersebut, di jazirah selatan pulau Sulawesi terdapat puluhan kerajaan yang menonjol ketika itu, seperti ; Wajo, Soppeng, Bantaeng, Bulobulo, Persekutuan Limae Ajattappareng, Balannipa (Mandar) dan lain-lain. Kerajaan-kerajaan tersebut telah merupakan suatu unit politik yang berdaulat dan merdeka. dalam arti telah memiliki wilayah, pemerintahan dan rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kronologi Mattelumpoccoe&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam Lontarak Akkarungeng Bone (Matthes, Boeg. Chretomathie) sebagai salah satu sumber sejarah lokal, diketahui bahwa latar belakang terjadinya perjanjian “mattelumpoccoé “ merupakan bentuk kekhawatiran dari tiga kerajaan bertetangga (Bone, Wajo dan Soppeng) tentang akan terjadinya serangan dari luar, terutama dari dua kerajaan besar yaitu Gowa dan Luwu. Oleh karena itu, La Tenri Rawe Bongkangé Raja Bone ke – 7 (1568 – 1584) meminta kepada penasihatnya yang bernama Kajao Laliddong untuk menghubungi kedua kerajaan tetangganya (Wajo dan Soppeng) agar menyampaikan maksud untuk mempersaudarakan ketiga kerajaan (Bone, Wajo dan Soppeng).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti diketahui bahwa pada zaman pemerintahan Raja Bone ke – 7 La Tenri Rawé Bongkangé, kerajaan Bone serta kerajaan tetangganya (Wajo dan Soppeng) mengalami peperangan silih berganti. Walaupun kerajaan Bone dibawah pemerintahan La Tenri Rawé Bongkangé senantiasa keluar sebagai pemenang, namun Baginda tetap berpikir untuk membentengi kerajaannya dengan jalan ; menjalin persahabatan dengan kerajaan-kerajaan terdekat, terutama kerajaan yang senantiasa mendapat tekanan dari kerajaan Gowa, seperti Wajo dan Soppeng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aliansi tiga kerajaan bertetangga yang dicetuskan di Kampung Bunne dalam wilayah Wanuwa Timurung yang sekarang berada dalam wilayah Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone,&amp;nbsp; lazim disebut Mattelumpoccoé. Ikrar bersama ketiga raja, yaitu ; La Tenri Rawé Bongkangé (Mangkauk Bone), La Mungkace To Uddamang (Arung Matowa Wajo) dan La Mappaleppe Patolaé (Datu Soppeng) ditandai dengan menenggelamkan tiga buah batu, sehingga kemudian lebih dikenal dengan nama “Lamumpatué ri Timurung”.&lt;br /&gt;
Diriwayatkan bahwa sebelum perjanjian “mattelumpoccoé” berlangsung, Kajao Laliddong selaku Duta Keliling kerajaan Bone melakukan serangkaian pertemuan dengan utusan-utusan dari kedua kerajaan tetangga yaitu Wajo dan Soppeng. Pertemuan pertama yang diadakan di Baruga Maccoppok Tellué&amp;nbsp; ri Cenrana, dihadiri oleh ; (1) Utusan dari Soppeng yaitu Arung Belo bersama dengan La Waniaga Arung Bila, (2) La Mungkace To Uddamang Arung Matowa Wajo dan (3) To Salu Arung Kaju dari Bone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil dari pertemuan di Baruga Maccoppok Tellué ri Cenrana adalah bahwa pertemuan puncak akan diadakan di Kampung Bunne dalam wilayah Wanuwa Timurung. Pemilihan tempat tersebut adalah dengan dasar pertimbangan bahwa&amp;nbsp; wilayah Timurung merupakan tempat yang mudah untuk dikunjungi oleh utusan ketiga kerajaan yang akan melakukan pertemuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Lontarak Akkarungeng Bone, sebelum perjanjian dilakukan, Datu Soppeng La Mappaleppe Patolaé merasa keberatan untuk menjalin persaudaraan dengan alasan wilayah Soppeng sangat kecil. Oleh karena itu, Arung Matowa Wajo La Mungkace To Uddamang menyerahkan tambahan wilayah yaitu Baringeng dan Lompulle. Sedangkan Mangkauk Bone La Tenri Rawé Bongkangé memberinya tambahan wilayah yaitu Citta dan Gowagowa. Tentang Gowagowa yang sepertinya hilang dari peta pemerintahan sekarang, menurut berbagai sumber adalah Lamuru dan sekitarnya yang sekarang telah menjadi sebuah kecamatan dalam Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang disepakati dalam perjanjian “mattelumpoccoé” adalah mepersaudarakan ketiga negeri (Bone, Wajo dan Soppeng) dalam bentuk aliansi. Ketiganya duduk sama rendah, berdiri sama tegak, tak ada melebihi yang lain. Bagaikan orang bersaudara, Bonelah yang tertua, Wajo anak tengah dan Soppeng sebagai anak bungsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Teks Perjanjian Lamumpatue’ ri Timurung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tanata mattulu parajo – teppettu siranrengi – sanrék tessibelléang – tessi luppek macékoangngi.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Makkeda siatepperengngi – malilu sipakaingek – siala pakaingeki – tessiajeng alilungngi.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tessiredduk taneng-taneng – tessi attaneng tanengi – tessi saringeng roppok roppok – tessi akkalekkalengi – tessi tangeng tollariwi – tessi tangeng to pasalai.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sirekkokeng to matojoi – silasekeng tedong laiwi.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tessi tonrong atai – tessi rebbang adeki – tessi lawa bicarai – tessi peddéng arajangngi.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada makkadawang risaliwengngi – temmakkadawang rilaleng.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tessi bicara musuki – temmappasisalai to bongngok – tenna pangkagaki to kanna – tenna bicara to risaliweng.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tessi polo tajengngi – tessi bola waramparangngi – riwéréngngi anu mallaletta.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tessi pakkéane tawangngi – tessi wawai ritéyata – tessi elli atai – tessi ateppekengngi rékko engka akkeda atangetta nataniya suro ribateng mpawai – tomateppek tomate nallai tedong mauni anak arung muna.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Siatuwo bakké manukki – nnangé siampaéki – malemmek siéwangngi.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Padai madécng padai majak – padai maté padai tuwo.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tennanr api tennanré jak tana – tennatiwik to maté asséyajingenna – mauni maruttung langik é mawottong peretiwié temmalukato asséyajingenna tanata.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Niginigi mpélai ulu ada – mareppak pinceng – maressak ittellok – tana tudangenna – nasabbiwi déwata séuwwaé.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tanah kita bagaikan tulu parajo (tali bajak kerbau) – tidak akan putus selembar – tak akan saling mengecewakan – tak akan saling menipu.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berkata saling percaya mempercayai – khilaf saling mengingatkan – saling memperhatikan peringatan – tidak saling mencari kekhilapan.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Takkan saling merusak usaha – takkan saling melanggar hak – takkan saling melemparkan kejelekan satu sama yang lain – takkan saling merahasiakan – takkan saling melindungi pelarian – takkan saling menahan orang bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saling membantu menunjukkan anak buah yang kepala batu dan saling membantu memberantas pemberontak atau yang menentang diantara kita.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Takkan menghukum rakyat dari salah satu negeri kita – takkan saling melanggar adat kebesaran antara kita – takkan saling menolak bicara (keputusan peradilan) – takkan saling menghina satu sama lain.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saling berusaha memperluas negeri keluar dan bukan dalam negeri kita masing-masing.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tak ada persoalan perang antara negeri kita bertiga.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kita tidak akan dipertengkarkan orang yang bodoh – kita tidak akan dipertikaikan orang bermusuhan – takkan diadili oleh orang luar.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tak akan saling menghalangi antara kita terhadap penundaan sesuatu yang diperlukan – takkan saling menyembunyikan harta benda – takkan saling merintangi hak milik seseorang.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Takkan ada pembahagian hamba sahaya – takka ada paksaan antara kita bila salah satu dari kita keberatan – takkan ada jual-beli hamba sahaya – tak akan segera mempercayai sesuatu berita kalau bukan utusan resmi yang datang menyampaikan dan orang yang mempercayai akan mati sia-sia walaupun ia anak bangsawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kita akan saling menyelamatkan hidup walaupun negeri kita hancur, kita saling mengulurkan tangan jika kita dalam kesusahan – kita bersedia saling berkorban bila ada diantara kita terancam bahaya maut.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Antara kita senasib sepenanggungan – takkan ada diantara kita yang membiarkan kematian seseorang tanpa pembelaan dari kita bertiga.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Takkan hangus oleh api – takkan rusak oleh tanah – takkan terbawa serta oleh kematian seseorang akan perjanjian luhur negeri kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Walaupun langit akan runtuh – dan bumi akan terbelah – namun takkan memutuskan persaudaraan kita.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Barang siapa yang ingkar dari janji – maka hancur bagaikan beling – dan pecah bagaikan telur negeri kediamannya – ikrar ini disaksikan oleh Dewata Yang Tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perjanjian “mattelumpoccoé” yang lebih dikenal dengan nama “lamumpatué ri Timurung” berlangsung di Kampung Bunne dalam wilayah Wanuwa Timurung, maka suatu perubahan nanpak pada ketiga kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng). Kerajaan Gowa yang pada masa itu senantiasa berusaha untuk melakukan ekspansi ke daerah-daerah Bugis, maka setelah perjanjian “mattellumpoccoé” Gowa memandang ketiga kerajaan Bugis tersebut sebagai suatu kekuatan baru yang membuat Gowa harus berpikir panjang untuk melakukan penyerangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberhasilan tiga kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) menjalin kerja sama dalam bentuk aliansi, membuat Raja Gowa sangat marah. Ikrar dan sumpah setia Lamumpatué ri Timurung yang pada intinya bermakna ; siapa yang diserang, yang lain ikut membantu, membuat Gowa harus merubah strategi. Bahkan Raja Gowa melihat ketiga kerajaan Bugis tersebut sebagai sebuah ancaman yang sangat berbahayya dimasa yang akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Perjanjian&amp;nbsp; Mattellumpoccoé sebagai suatu hasil pemikiran dari pemimpin tiga kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) adalah merupakan wujud dari sifat dan karakter orang Bugis yang dikenal dengan “penegakan harga diri” atau lebih lazim disebut “sirik dan pessé”. Sikap mental orang Bugis seperti yang tergambar dalam lontarak yang berbunyi ; akkai padammu rupa tau natanréréko (hormatilah sesamamu manusia supaya ia menghormatimu pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya lahirnya perjanjian Mattellumpoccoé bukan berarti ketiga pemimpin kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) sengaja untuk menciptakan permusuhan, tetapi merupakan upaya untuk tetap mempertahankan negerinya dari serangan musuhnya. Karena penyerangan terhadap negerinya dianggapnya sebagai bentuk penindasan yang berarti harga dirinya terinjak-injak. Selain itu, perjanjian Mattellumpoccoé merupakan upaya menciptakan kekuatan yang bertujuan mempertahankan kedaulatan negerinya. &lt;br /&gt;
Hal ini tergambar dalam dialog antara Arumpone La Tenri Rawé Bongkangngé dengan Kajao Laliddong sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Arumpone ; Aga kaminang mawatang Kajao – engkaga sauk watangngi éwangengng (Apa yang paling kuat Kajao, adakah yang paling kuat dari pada senjata ?&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kajao Laliddong ; Madodong lanrek iyatu muasengngé Arumpone. (Terlalu lemah yang engkau maksud itu. Arumpone !&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Arumpone ; Pauni Kajao muasengngé mawatang (Katakanlah Kajao yang dimaksud paling kuat)&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kajao Laliddong : Dék gaga sauk watangngi asséddingengngé (Tidak ada yang paling kuat selain persatuan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk meyakinkan Arumpone tentang maksud Kajao Laliddong, maka ia mengambil sebatang lidi lalu dipatahkan didepan Arumpone. Begitu enteng dan mudahnya Kajao Laliddong mematahkannya. Tetapi setelah lidi tersebut terkumpul dalam satu ikatan, maka tidak seorangpun yang&amp;nbsp; dapat mematahkannya dengan menggunakan tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah salah satu illustrasi mengapa perjanjian Mattellumpoccoé dilakukan oleh tiga kerajaan Bugis yang senantiasa menerima serangan dari kerajaan lainnya utamanya Gowa. Tentang apakah substansi perjanjian tersebut masih terus dijunjung tinggi oleh generasi masa kini, tentu saja arahnya bukan lagi terhadap kerajaan-kerajaan masa lalu yang sekarang ini telah menjadi milik kita bersama. Tetapi tentu terhadap faktor lain yang sifatnya menghambat pembangunan kita di Sulawesi Selatan yang sedang kita galakkan.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Dibawakan pada Seminar Mattellumpoccoé&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Provinsi Sulawesi Selatan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;pada tanggal 28 Oktober 2013 di Sengkang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Kabupaten Wajo.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifbPBGzyP3OlRJUG6wyF9YBpurgXADt57nnrullCc785K0znvScMTy5Y0JdXtttLf2qf9yf2saWMqwwwf5Yjv1GAY1x-447kGdDMBwCvgcps6SFJvf09-sYQ7VHLq4COOEaKId2AElpgb9/s72-c/Bp+copy.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Abjad Aksara Lontarak</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/abjad-aksara-lontarak.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 9 Aug 2014 01:02:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-7444525274645666282</guid><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="footer"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="page number"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;Sedikit tentang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;ABJAD AKSARA LONTARAK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;Oleh : Asmat Riady Lamallongeng&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtg6Nu8Ay-h6i9uL_q3vMC2ikL4cmPD8ov4ge8vSBjKWpc9WoRh84rjHZBUqJpcy-iCflphyphenhyphenmBNpcA8767FfiPL5gZESTTtKf9cFlCtZEDjdq2i2BNzUTE4KuQmIKNUBVRLcl1MJtV43hI/s1600/3x41DSCF9412+copy.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtg6Nu8Ay-h6i9uL_q3vMC2ikL4cmPD8ov4ge8vSBjKWpc9WoRh84rjHZBUqJpcy-iCflphyphenhyphenmBNpcA8767FfiPL5gZESTTtKf9cFlCtZEDjdq2i2BNzUTE4KuQmIKNUBVRLcl1MJtV43hI/s1600/3x41DSCF9412+copy.JPG" height="200" width="148" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Bahasa-bahasa daerah di Sulawesi
Selatan termasuk bahasa daerah Mandar di Sulawesi Barat menurut sejumlah ahli,
adalah termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia. Bahasa-bahasa daerah
tersebut (Bugis, Makassar dan Mandar) memiliki lambang bunyi atau aksara yang
disebut aksara kontarak. Disebut aksara lontarak karena pada awalnya sebelum
ditemukannya alat tulis berupa pena dan kertas, aksara tersebut ditulis diatas
daun lontar dengan pisau kecil (tobok) sebagai alat untuk menuliskannya. Tentang
kapan aksara lontarak tersebut diciptakan dan siapa penciptanya, sampai
sekarang masih merupakan hal yang perlu dikaji lebih jauh. Kabarnya aksara
lontarak adalah lambang bunyi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(huruf)
yang disederhanakan oleh&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;salah seorang
Syahbandar Gowa&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang bernama Daeng
Pamatte’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Menurut Prof. DR. Mattulada
bahwa aksara lontarak itu telah dimulai sekitar abad –XVI yaitu sebelum agama
Islam dianut secara umum oleh penduduk Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat).
&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Baik tanda-tanda bunyi atau aksara
lontarak maupun hasil-hasil kesusasteraan Bugis (klasik) erat hubungannya
dengan masalah kehidupan yang tersimpul dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pangngadereng. &lt;/i&gt;Terdapat semacam kepercayaan dikalangan orang Bugis
bahwa penciptaan aksara dan pelahiran kesusasteraan bersumber dari satu latar
belakang kefilsafatan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pangngadereng&lt;/i&gt;
sebagai satu keseluruhan. Jadi pada mulanya kesusasteraan orang Bugis yang
dituliskan dalam lontarak-lontarak adalah kesusasteraan suci, berupa
mantera-mantera dan kepercayaan mitologis. Lambat laun hasil-hasil
kesusasteraan yang bersifat keduniaan berkembang juga,&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sesuai dengan perkembangan lontarak dan sikap
hidup masyarakat serta kebudayaannya (Mattulada. 1995 ;8)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Terdapat anggapan dikalangan
masyarakat Bugis-Makassar bahwa penciptaan lambang-lambang bunyi yang kemudian
disebut aksara lontarak, bersumber dari kepercayaan dan pandangan mitologis
yang melihat alam semesta ini sebagai “sulapak eppak walasuji” (segi empat
belah ketupat). Menurut pandangan tersebut, alam secara keseluruhan adalah satu
kesatuan yang dinyatakan dalam simbol “ &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;” (sa) yang diartikan sebagai ; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;esauw&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; (tunggal
atau esa).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dalam menggambarkan mikrokosmos
(sulapak eppak) bagi manusia dengan simbol “&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;” (sa),
adalah sebagai berikut ; - dipuncak terletak kepala, - disisi kiri dan kanan
adalah tangan, pada ujung bawah adalah kaki. Dari simbol “&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;” (sa)
seakan-akan diri manusia dilihat secara konkrit yang dimulai dari bagian kepala
terdapat mulut yang disebut&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;sauw&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;” &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;(sauwang) artinya tempat
keluar. Menurut pandangan ini, dari mulutlah segala sesuatu dinayatakan
dengan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;sd&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;” (sadda)
atau bunyi. Bunyi-bunyi inilah yang tersusun sehingga melahirkan makna yang
disebut&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ad&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;” (ada)
yang kemudian membentuk kata atau sadda. Dari “&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ad&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; (kata) inilah seluruh tertib kosmos diatur dan dari sini
pulalah berpangkalnya “&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;adE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;(adek)
yang kemudian dekenal dengan istilah “pangngadereng” yaitu aturan-aturan hukum
yang mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Akasara lontarak tidak bersifat
fonemis, melainkan bersifat silabis (berdasarkan suku kata) yang terdiri dari
23 buah yang disebut&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ain surE &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;(ina
surek) yang artinya induk huruf. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;Adapun
urutan abjadnya tersusun sebagai berikut ;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ka&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ga&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;G&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
nga&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ngka&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;p&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – pa&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ba&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ma&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – mpa &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ta&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – da&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – na&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;R&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nra&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;c&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ca&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;j&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ja &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
nya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;C&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nca&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ra&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – la&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – wa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – sa&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – a&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ha&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Selain ina surek (induk huruf)
tersebut, ada lima macam “anak surek” (anak huruf) yang berfungsi sebagai tanda
pembeda (diakritik). Anak surek ini terdiri dari 2 macam bentuk, yaitu ; bentuk
(.) tettik atau titik dan bentuk keccek (&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;e &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;–&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt; o &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;–&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt; E&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;). Setiap anak surek&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;(anak huruf) dapat mengubah bunyi vokal&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;“a”&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang telah ada pada setiap
ina surek, yaitu sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;- tettik riyase’ (titik diatas)
mengubah bunyi vokal “a” menjadi bunyi vokal “i”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;- tettik riyawa (titik dibawah)
mengubah bunyi vokal “a” menjadi bunyi vokal “u&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;- keccek riyolo (keccek didepan)
mengubah bunyi vokal “a” menjadi vokal&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;“e’ “ (e taling)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;- keccek rimunri (keccek
dibelakang) mengubah bunyi vokal “a” menjadi vokal “o”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;- keccek riyase’ (keccek diatas)
mengubah bunyi vokal “a” menjadi vokal “e” (e pepet)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Berbeda dengan bahasa Indonesia
yang bila dituliskan dalam bentuk kalimat, memiliki banyak tanda-tanda baca,
seperti ; (.) titik, (,) koma, (;) titik koma, (!) tanda seru, (?) tanda tanya
dan seterusnya. Tetapi dalam bahasa Bugis bila dituliskan dalam bentuk kalimat
yang disebut “&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;lorosE ad&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;(loroseng
ada), maka hanya akan ditemukan satu-satunya tanda baca yaitu; (&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;) tettik
tellu (titik tiga). Tettil tellu (&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;) ini bersusun tiga dari atas kebawah dan agak miring &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yang &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;berfungsi sebagai mana (.) titik dan (,) koma
dalam bahasa Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Untuk lebih lengkapnya, dibawah
ini dituliskan “ina surek-ina surek” yang telah diimbuhi dengan “anak surek-
anak surek” tersebut :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-
Yang diimbuhi dengan (.) tettik riyase’ atau titik diatas ;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ki&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ki&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;gi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – gi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Gi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
ngi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Ki&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ngki&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;pi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – pi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;bi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – bi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;mi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – mi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Pi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
mpi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ti&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ti&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – di&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ni&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ni&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Ri&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ci&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ci&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ji&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ji&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Ni&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
nyi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Ci&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nci&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;yi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – yi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ri&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ri&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;li&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
li&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;wi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – wi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;si&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – si&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – i&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;hi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – hi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-
Yang diimbuhi dengan (.) tettik riyawa atau titik dibawah ;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ku&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ku&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;gu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – gu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Gu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
ngu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Ku&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ngku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;pu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – pu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;bu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – bu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;mu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – mu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Pu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – mpu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;tu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – tu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;du&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – du&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;nu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Ru&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nru &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;cu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – cu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ju&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ju&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Nu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
nyu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Cu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ncu &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;yu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – yu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ru&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ru&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;lu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – lu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;wu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – wu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;su&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – su&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;au&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – u&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;hu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – hu &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;-
Tang diimbuhi dengan (&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;) keccek riyolo atau keccek didepan (e pepet) ;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ek&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
ke’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;eg&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
ge’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;eG&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
nge’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;eK&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ngke’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ep&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
pe’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;eb&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
be’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;em&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – me’ &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;eP&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – mpe’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;et&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
te’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ed&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
de’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;en&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
ne’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;eR&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nre’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ec&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
ce’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ej&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
je’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;eN&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
nye’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;eC&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nce’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ey&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
ye’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;er&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
re’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;el&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
le’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ew&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – we’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;es&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
se’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ea&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – e’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;eh&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – he’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-
Yang diimbuhi dengan (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;) keccek rimunri atau keccek dibelakang ;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ko&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ko&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;go&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – go&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Go&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
ngo&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ngko &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;po&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – po&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;bo&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – bo&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;mo&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – mo&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Po&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – mpo &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;to&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – to&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;do&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – do&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;no&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – no&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Ro&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nro &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;co&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – co&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;jo&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – jo&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nyo&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;Co&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nco&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;yo&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – yo&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ro&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ro&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;lo&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – lo&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;wo&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – wo&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;so&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – so&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ao&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – o&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;ho&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ho&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-
Yang diimbuhi dengan (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt; - E&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;) keccek riyase’ atau keccek diatas (e taling) ;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;kE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ke&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;gE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ge&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;GE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
nge&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;KE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ngke&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;pE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – pe&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;bE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – be&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;mE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – me&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;PE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
mpe &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;tE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – te&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;dE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – de&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;nE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
ne&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;RE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nre&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;cE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ce&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;jE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – je&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;NE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; –
nye&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;CE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – nce&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;yE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – ye&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;rE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – re&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;lE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – le&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;wE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – we &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;sE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – se&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;aE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; – e&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: BugisA; mso-ansi-language: IN;"&gt;hE&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; - he&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Afiksasi dalam bahasa Bugis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Afiksasi adalah pengimbuhan yang
merupakan salah satu proses morfologis, yaitu penggabungan kata dasar dengan
afiks atau imbuhan. Seperti hal dalam bahasa Indonesia, maka dalam bahasa Bugis
dikenal lima macam afiks, yaitu ; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;1. Prefiks atau
awalan, yaitu imbuhan yang terletak pada posisi awal kata dasar. Prefiks atau
awalan tersebut adalah ;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ma – a – pa – po – ta – te – ri – si – ke –
ka – maka – paka – ba. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;2. Sufiks atau
akhiran, yaitu imbuhan yang terletak pada posisi akhir kata dasar, seperti ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;i – eng&lt;/i&gt; atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ang.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;3. Infiks atau
sisipan, yaitu imbuhan yang terletak atau terselip pada posisi tengah kata
dasar, seperti ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ar – al – am.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;4. Prefiks
rangkap, yang terdiri dari dua suku kata atau lebih, seperti ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mappa &lt;/i&gt;atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;appa&lt;/i&gt; – &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pappa –&lt;/i&gt; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maddi&lt;/i&gt; atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mari&lt;/i&gt; – &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pari – pasi – pappaka
– mappaka – ipa – ripa.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;5. Konfiks atau
afiks apit, yaitu imbuhan yang terletak pada posisi awal dan akhir kata dasar
secara bersamaan, seperti ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ma -------
eng – a ------- eng – pa -------- eng – ka ------- eng – assi -------- eng – pa
-------- i – ri -------- eng – ri -------- i – si -------- eng.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;Prefiks &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“ma”&lt;/i&gt; atau awalan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“ma”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Awalan ini mengalami perubahan
bentuk berdasarkan fonem awal kata yang melekatinya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;seperti contoh dibawah ini ;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;1. Awalan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“ma” beralomorf – &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maN&lt;/i&gt; atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maG&lt;/i&gt; apabila kata
dasar yang melekatinya berfonem awal atau berhuruf awal ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a – i – u – e’ – o – e .&lt;/i&gt; Huruf kapital &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;N &lt;/i&gt;pada &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maN&lt;/i&gt; dan huruf
kapital &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;G&lt;/i&gt; pada &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maG&lt;/i&gt;, masing-masing simbol fonem nazal dan simbol fonem geminasi
(penebalan). Geminasi yang muncul sesuai dengan fonem awal kata dasar, misalnya
; - &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maN + atek &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;= &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mangatek
&lt;/i&gt;artinya mengatapi. Selanjutnya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maG +
utana&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;= &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;makkutana &lt;/i&gt;artinya bertanya dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;2. Awalan “ma”
mengalami persandian bila kata dasar yang melekatinya berfonem awal&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;vokal ;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;a – i – u – e’ – o – e. Misalnya ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ma
+ ala = mala&lt;/i&gt; artinya mengambil, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ma +
inung = minung&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;artinya minum, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ma + urung = murung &lt;/i&gt;artinya mengurung&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;, ma + e’le’ = me’le’ &lt;/i&gt;artinya pagi-pagi,
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ma + oni = moni &lt;/i&gt;artinya berbunyi, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ma + elli = melli &lt;/i&gt;artinya membeli dan
seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;3. Awalan “ma”
beralomorf &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mar &lt;/i&gt;bila kata dasar yang
melekatinya berfonem awal ; a – i – u – e’ – o – e. Misalnya ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mar + akkak = marakkak&lt;/i&gt; artinya
mengangkat, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;4. Awalan “ma”
beralomorf &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maG&lt;/i&gt; bila kata dasar yang
melekatinya berfonem awal konsonan ; b – c – d – g – j – k – l – m – n – p – s
– t. Misalnya ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;- maG + baca = mabbaca &lt;/i&gt;artinya
membaca, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;5. Awalan “ma”
beralomorf ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ma – maN&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maG&lt;/i&gt; bila kata dasar yang melekatinya
berfonem awal konsonan “ r “. Misalnya ; - &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ma
+ reppak = mareppak &lt;/i&gt;artinya pecah, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maN
+ rasa = manrasa&lt;/i&gt; artinya susah, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;- maG
+ re’ke’ng = madde’ke’ng &lt;/i&gt;dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;6. Awalan “ma”
beralomorf &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maG&lt;/i&gt; bila kata dasar yang
melekatinya berfonem awal semi vokal (w) dan berubah menjadi fonem (b),
misalnya ; - &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maG + wenni = mabbenni&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;artinya bermalam dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;CATATAN :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .75in; text-align: justify; text-indent: -.75in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-
Ada suatu kelainan pada kata dasar &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;– jaji
– jaik – jujung &lt;/i&gt;bila diberi prefiks “ma” akan beralomorf &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maN&lt;/i&gt; dan fonem awal – &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;( j ) &lt;/i&gt;berubah menjadi fonem ( c ),
misalnua ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maN+ jaji = mancaji&lt;/i&gt;
artinya menjadi, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;- maN + jaik = mancaik &lt;/i&gt;artinya
menjahit, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;- maN + jujung&lt;/i&gt; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;= mancujung&lt;/i&gt; artinya menjunjung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .75in; text-align: justify; text-indent: -.75in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-
Fonem ( r ) berubah menjadi fonem ( d ) ketika mendapat prefiks &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maG.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .75in; text-align: justify; text-indent: -.75in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-
Geminasi atau penebalan untuk fonem konsonan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;bersuara (b – d – j – g) ialah fonem konsonan ( q ) glotal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .75in; text-align: justify; text-indent: -.75in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-
Kobsonan ( q ) glotal digunakan pada akhir kata sebagai variasi atau alofon
fonem konsonan ( k ) velar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Arti yang terkandung dalam
awalan “ma” dengan kata dasar yang melekatinya adalah sebagai berikut ;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;1. Menyatakan
pekerjaan sesuai kata dasarnya, misalnya ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;massappa
&lt;/i&gt;= mencari, - &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;majjama&lt;/i&gt; = bekerja
dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;2. Melakukan
pekerjaan dengan menggunakan alat sesuai kata dasarnya, misalnya ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;massaring =&lt;/i&gt; menyapu, - &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;massape’da&lt;/i&gt; = bersepeda dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;3. Menyatakan
perbuatan berbalasan, misalnya ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mabbitte’&lt;/i&gt;
= berlaga, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;- maggolok&lt;/i&gt; = bermain bola
dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;4. Menyatakan
keadaan intensitas, misalnya ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;marukka&lt;/i&gt;
= berteriak, - &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;manynyilik&lt;/i&gt; = mengamati
dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;5. Memakai sesuatu
sesuai dasarnya, misalnya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;; mappotto&lt;/i&gt;
= memakai gelang, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;- mabbaju&lt;/i&gt; = memakai
baju dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;6. Menyatakan
dalam keadaan sesuai kata dasarnya, misalnya ; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;marennu &lt;/i&gt;= dalam keadaan gembira, - &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;masussa&lt;/i&gt; = dalam keadaan susah dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;7. Membuat sesuatu
sesuai kata dasarnya, misalnya ;- &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mabbe’ppa&lt;/i&gt;
= membuat kue, - &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mabbola&lt;/i&gt; = membuat
rumah dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtg6Nu8Ay-h6i9uL_q3vMC2ikL4cmPD8ov4ge8vSBjKWpc9WoRh84rjHZBUqJpcy-iCflphyphenhyphenmBNpcA8767FfiPL5gZESTTtKf9cFlCtZEDjdq2i2BNzUTE4KuQmIKNUBVRLcl1MJtV43hI/s72-c/3x41DSCF9412+copy.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pemali Dalam Masyarakat Bugis</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/pemali-dalam-masyarakat-bugis.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 8 Aug 2014 18:07:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-7258838130725539266</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PEMALI (PANTANGAN)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DALAM MASYARAKAT BUGIS&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&amp;nbsp;Oleh : Asmat Riady Lamallongeng &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxzhIpT48Opiljn4t2sMAnaIwzuxQo3EeChNSoY40s_bLssyLG4Jb4B1maaWhdeePdSE14Oza5e3wPseowhHFbilCkufG6stQDePdFOhtI-mHyFbMoAXonnW14Bg87wqGZxxsTxlkvhC6S/s1600/ARL-0222+copy.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxzhIpT48Opiljn4t2sMAnaIwzuxQo3EeChNSoY40s_bLssyLG4Jb4B1maaWhdeePdSE14Oza5e3wPseowhHFbilCkufG6stQDePdFOhtI-mHyFbMoAXonnW14Bg87wqGZxxsTxlkvhC6S/s1600/ARL-0222+copy.jpg" height="200" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan memanjat pohon atau apa saja pada hari Jumat, terutama sebelum shalat. Alasannya, kalau terjatuh bisa meninggal dunia atau cacat seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan tinggalkan makanan atau minuman yang telah disajikan (usahakan mencicipi sedikit), baru berangkat. Alasannya, rentang dapat bahaya dalam perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi perempuan yang masih gadis jangan bernyanyi sambil memasak di dapur. Alasannya, kalau dapat jodoh, usianya jauh lebih tua dari padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada saat salah seorang anggota keluarga mau keluar membawa dagangan atau mau membuka pinta toko, jangan ada yang mengeluarkan kata “de’k gaga” (tidak ada). Alasannya, kurang atau tidak ada pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan menebang pohon pisang untuk mengambil buahnya pada pagi hari. Alasannya, yang menebang bisa mati muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi perempuan yang masih gadis, jangan suka duduk di tangga rumah. Alasannya, lambat mendapatkan jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan biasakan diri baring terlentang sambil menyusun kedua kaki. Alasannya, kalau sakit susah diobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kalau sementara berjalan kaki dan matahari tepat berada diatas ubun-ubun kepala, usahakan singgah sejenak. Alasannya, rentang kena penyakit “atikkengeng” atau mati mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi anak-anak kecil, jangan dibiarkan bermain-main diluar rumah pada saat magrib. Alasannya, bisa bersentuhan makhluk halus yang menyebabkan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan melangkahi lesung yang selalu dipakai menumbuk padi. Alasannya, bisa mati terbunuh atau ditikam tanpa mlakukan perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan mandi pada saat ada keluarga dekat yang meninggal dunia (sebelum dikuburkan). Alasannya, bisa kena penyakit yang juga menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan menduduki bantal yang biasa dipakai tidur. Alasannya, rentang kena penyakit bisul attau bengkak-bengkak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan melangkahi benda tajam seperti pisau, parang atau keris. Alasannya, bisa mati berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Anak kecil yang masih berusia dibawah 10 tahun, jangan ditinggalkan sendirian (dirumah atau ditempat lain) terutama pada jam-jam 11.00 s/d 12.00. Alasannya, Biasa disembunyikan “donggak” (makhluk halus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi anak-anak kecil jangan makan tebu pada malam hari. Alasannya, bisa mati ayah atau ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan menanam pisang sore hari, terutama pada saat awan diupuk barat mulai memerah. Alasannya, tanaman pisang tersebut rentang kena hama “dadarang” (kuning pucuknya) yang menyebabkan tidak bisa berbuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada saat sedang makan dan tiba-tiba ada orang mengamuk atau terjadi pertengkaran di luar rumah, jangan gegabah keluar untuk membantu, sebelum minum, cuci tangan dan duduk sebentar menenangkan pikiran. Alasannya bisa anda yang jadi korban salah sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan menyeberangi sungai yang diketahui berisi buaya ganas pada saat magrib atau subuh hari. Alasannya, pada umumnya buaya sungai menunggu mangsa pada waktu-waktu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi laki-laki yang sudah beristeri, jangan membunuh binatang apa saja pada saat isterinya dalam keadaan hamil, terutama pada saat ngidam. Alasannya, anak yang dikandung tersebut bisa lahir dalam keadaan cacat atau meninggal sebelum lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan menjatuhkan buah kelapa ke tanah dari atas rumah panggung . Alasannya, bakal ada anggota keluarga yang mengalami musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan makan “amporo” (telur ayam atau itik yang tidak jadi menetas). Alasannya, segala usaha atau pekerjaan yang dirintis akan mengalami kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan makan pisang yang diketahui “marekkok” (batangnya patah sebelum ditebang). Alasannya, bisa mati muda atau kena petir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi perempuan muda, jangan makan pisang atau buah apa saja yang kembar berdempetan. Alasannya, kalau hamil bisa melahirkan anak yang kmbar berdempet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kalau mengasah benda tajam seperti pisau, parang dan sebagainya, sisinya yang tajam jangan dihadapkan kepada dirinya. Alasannya, dikhawatirkan suatu saat terkena senjata makan tuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi keluarga petani, jangan membuang air panas di tanah pada saat padi di sawah mulai berbuah. Alasannya, buah padi bisa gagal panen karena datangnya musim kemarau sebelum padi berisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan melangkahi benda tajam seperti pisau, parang dan sebagainya. Alasannya, rentang mati berdarah atau mengalami musibah seperti ditikam atau diparangi dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketika sedang makan, jangan biasakan diri berpindah-pindah tempat duduk. Alasannya, bisa kawin beberapa kali selama hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi keluarga nelayan/pelaut, selama perahu dalam pelayaran berpantang membuang abu dapur ke tanah atau keluar rumah. Alasannya, rezeki dalam pelayaran akan terbuang yang mengakibatkan kerugian bagi sawi dan pemilik perahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxzhIpT48Opiljn4t2sMAnaIwzuxQo3EeChNSoY40s_bLssyLG4Jb4B1maaWhdeePdSE14Oza5e3wPseowhHFbilCkufG6stQDePdFOhtI-mHyFbMoAXonnW14Bg87wqGZxxsTxlkvhC6S/s72-c/ARL-0222+copy.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kutika Bilangeng Duappulo</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/kutika-bilangeng-duappulo.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 8 Aug 2014 04:39:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-1752489178115963348</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWH9ZymLOoyP714g9Wautapv2PWAbjm1CiXaxCwqUe6Rg0xDh5Cr0a8r5TGluTtc65m8BJURv8SlJxOZeO-mx-DEdPy_AvRGsDvj83DIlf1DpDBW6EFGmH5RMEAL_a9ddu2dA-OqQX0QkR/s1600/ARL-04+copy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWH9ZymLOoyP714g9Wautapv2PWAbjm1CiXaxCwqUe6Rg0xDh5Cr0a8r5TGluTtc65m8BJURv8SlJxOZeO-mx-DEdPy_AvRGsDvj83DIlf1DpDBW6EFGmH5RMEAL_a9ddu2dA-OqQX0QkR/s1600/ARL-04+copy.jpg" height="200" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;KUTIKA BILANGENG DUAPPULO&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
(Kalender Hitungan 20 Hari)&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh : Asmat Riady Lamallongeng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pong, 2. Pang, 3. Gumawa, 4. Wajing, 5. Wungawunga, 6. Tellettuk, 7. Angnga, 8. Webbok (Bebbok), 9. Wage, 10. Cempa (Ceppa), 11. Tullé, 12. Ariyéng, 13. Beruku, 14. Panirong, 15. Mauwa, 16. Dettiya, 17. Soma, 18. Langkarak (Lakkarak), 19. Jempati, 20. Tumpakalé (Polébola).&lt;br /&gt;
Dalam masyarakat Bugis Kutika Bilangeng Duappulo dijadikan pedoman untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti ; acara pernikahan, memulai menanam padi atau jagung, naik rumah baru, dan lain-lain yang dianggap penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun hari yang dianggap baik untuk melaksanakan pernikahan, adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
1. Apabila pernikahan jatuh pada hari Gumawa (Lumawa), pasangan ini akan selalu berbahagia dan sehidup semati.&lt;br /&gt;
2. Apabila pernikahan jatuh pada hari Webbok (Bebbok), isteri tidak pandai bertahan dan menunggu apabila ditinggalkan. Juga tidak pandai mengurus rumah tangga termasuk memelihara anak-anak.&lt;br /&gt;
3. Apabila hari pernikahan jatuh pada hari Wage, pasangan ini cepat memiliki keturunan dan cepat mendapatkan rezeki dan hidup bahagia.&lt;br /&gt;
4. Apabila pernikahan jatuh pada hari Cempa (Ceppa), pasangan ini akan meningkat satu sama lain, gelora cinta senantiasa terasa oleh keduanya.&lt;br /&gt;
5. Apabila pernikahan jatuh pada hari Tulé, pasangan ini selalu memiliki kepastian, tidak mudah putus asa.&lt;br /&gt;
6. Apabila hari pernikahan jatuh pada hari Ariyéng, pasangan ini banyak kebahagiaan dan rezeki selalu meningkat.&lt;br /&gt;
7. Apabila hari pernikahan jatuh pada hari Beruku, pasangan ini dengan cepat mendapatkan keturunan dan selalu dalam keadaan bahagia.&lt;br /&gt;
8. Apabila pernikahan jatuh pada hari Panirong, pasangan ini diliputi kebahagiaan, selalu menemukan keberuntungan dan isteri pandai dalam hidup bertetangga.&lt;br /&gt;
9. Apabila pernikahan jatuh pada hari Mauwa, pasangan ini akan selalu saling mengasihi dan cepat memiliki keturunan, isteri pandai dalam hidup bertetangga.&lt;br /&gt;
10. Apabila pernikahan jatuh pada hari Dettiya, pasangan ini akan diliputi suasana yang kurang baik dan selalu mengalami permasalahan dalam rumah tangga, karena karakter keduanya panas.&lt;br /&gt;
11. Apabila hari pernikahan jatuh pada hari Soma, pasangan ini akan saling mencintai, sakinah penuh gelora asmara. Seperti yang jatuh pada hari Tullé.&lt;br /&gt;
12. Apabila pernikahan jatuh pada hari Jémpati, cepat memiliki keturunan keduanya senantiasa diliputi oleh rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi masyarakat Bugis pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan merupakan pengukuhan dua orang yakni pria dan wanita yang diikat dalan kesatuan utuh dan hidup bersama, melanjutkan keturunan serta bahagia hingga akhir hayatnya. Pernikahan juga membutuhkan perencanaan yang matang karena merupakan kelanjutan masa depan keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal yang selalu menjadi perhatian bagi masyarakat Bugis dalam proses pernikahan, yakni penentuan hari pernikahan. Bagi masyarakat Bugis menentukan hari pernikahan itu sangat penting, karena dari peristiwa tersebut kedua pasangan (suami – isteri) dapat memperoleh kebahagiaan. Kutika Bilangeng Duappulo, adalah pedoman dalam menentukan pernikahan yang diyakini memiliki makna bagi kelangsungan rumah tangga.&amp;nbsp; </description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWH9ZymLOoyP714g9Wautapv2PWAbjm1CiXaxCwqUe6Rg0xDh5Cr0a8r5TGluTtc65m8BJURv8SlJxOZeO-mx-DEdPy_AvRGsDvj83DIlf1DpDBW6EFGmH5RMEAL_a9ddu2dA-OqQX0QkR/s72-c/ARL-04+copy.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bone dalam Lintasan Sejarah dan Budaya</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/bone-dalam-lintasan-sejarah-dan-budaya.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 8 Aug 2014 03:51:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-426678303018949460</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;BONE DALAM LINTASAN SEJARAH DAN BUDAYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Oleh Drs. Asmat Riady Lamallongeng&lt;br /&gt;
Dibawakan pada Sosialisasi temuan arkeologi oleh Tim Arkeologi Nasional&lt;br /&gt;
di Hotel Wisata Watampone&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIHyJpvpEU0GJZNWGsk_Gewh4J0rxgYLU2e5UAtkopcKpUJyCcKVBe7uqO8bF-7D0kM3CSTGvMcqt1a5eHblzr9RPfKJ09oDW9N6etwBq30J359p4fVXEVS7VzbjWrzuzS89Gr0HSV0R8l/s1600/ARL-0222+copy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIHyJpvpEU0GJZNWGsk_Gewh4J0rxgYLU2e5UAtkopcKpUJyCcKVBe7uqO8bF-7D0kM3CSTGvMcqt1a5eHblzr9RPfKJ09oDW9N6etwBq30J359p4fVXEVS7VzbjWrzuzS89Gr0HSV0R8l/s1600/ARL-0222+copy.jpg" height="200" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Catatan lokal Sulawesi Selatan yang dikenal dengan sebutan lontarak cukup banyak menggambarkan keadaan dan pengalaman masyarakat masa lampau. Catatan yang banyak tersebut pada umumnya bercorak kronik ataupun surek bilang (catatan harian) seorang raja. Tradisi menulis kronik dan catatan harian ini tanpaknya terhenti setelah memasuki abad – XVII dan informasi kesejarahan pada priode selanjutnya dapat diketahui dari karya pejabat kolonial Belanda, dalam bentuk laporan perjalanan dan arsip dokumen pemerintahan.&amp;nbsp; Tentang apa yang menyebabkan tradisi menulis kronik dan catatan harian tersebut tidak berlanjut, sampai kini masih merupakan pertanyaan yang belum menemukan jawaban yang memadai.&lt;br /&gt;
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengungkapkan betapa tak ternilainya makna dan nilai budaya Bugis ditengah konfigurasi budaya bangsa yang meliputi segenap aspek kehidupan, kenegaraan termasuk kepemimpinan. Namun masih harus digali, dikaji melalui pendokumentasian, pengumpulan bukti-bukti arkeologi hingga penerbitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khusus mengenai kerajaan Bone yang oleh banyak kalangan menganggap mulai terbentuk pada awal abad – XIV yang ditandai dengan munculnya sosok To Manurung tahun 1330, dapat dikatakan bahwa kerajaan ini banyak menyimpan tinggalan masa lalu yang patut untuk diteliti. Interpretasi kesejarahan tentang kerajaan Bone memang telah dilakukan oleh banyak pihak, berupa rekaman masa silam melalui berbagai tulisan dan pemaparan. Namun perolehan data lapangan melalui penggalian arkeologi untuk mendapatkan data faktual sebagai pendukung dalam mengungkap segala aspek dari aktivitas manusia di wilayah ini dimasa lampau, boleh dikata masih kurang dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun&amp;nbsp; kronik dan catatan harian penulisannya tanpak masih diliputi oleh rasa kritis dan ragu-ragu yang tergambar pada pernyataan awal ketika naskah kronik dan catatan harian itu ditulis. Seperti dijumpai pada awal naskah terdapat kalimat ; ajak kumabusung – ajak kumatula – rampe’ rampe’ aseng to le’ba (jangan kiranya aku menjadi busung – jangan kiranya aku mendapat laknat – menyebut dan menghitung nama raja terdahulu). Penulisan seperti ini tentunya dilakukan karena dikhawatirkan akan dilupakan oleh generasi kemudian tentang keadaan pendahulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan seperti ini menunjukkan bahwa penulis lontarak sejarah memiliki kesadaran kritis tentang catatan kelampauan yang obyektif. Pertanyaan yang dapat kita ketengahkan sekarang adalah sejauh mana kesadaran kritis dari masyarakat masa lampau (khusus Bone) masih tercermin dalam kehidupan masa kini, seperti apa yang dinyatakan oleh Edward Hallet Carr, bahwa sejarah adalah percakapan yang tiada berakhir antara masa kini dengan masa lampau, suatu dialog yang tiada berkesudahan antara sejarahwan dengan dengan sumber-sumber sejarahnya. Oleh karena itu, kita berharap semoga usaha penelitian dan penulisan sejarah dan menempatkan diri terlibat dan turut bertanggung jawab dalam penelusuran sejarah.&lt;br /&gt;
Dari sudut geografi budaya, Bone yang merupakan bekas kerajaan besar di jazirah selatan pulau Sulawesi memiliki tempat khusus dalam perjalanan sejarah daerah di Sulawesi Selatan. Walaupun masih indikatif, Bone dapat dikatakan telah menyediakan data-data sejarah dan kebudayaan yang patut untuk dikaji.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kebutuhan yang Mendesak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pengkajian tinggalan kebudayaan dan sejarah masa lampau merupakan kebutuhan yang mendesak bagi generasi kini dan sekaligus merupakan&amp;nbsp; konfigurasi sumber prilaku masyarakat sebagai nilai-nilai yang mengakar pada komunitas pendukungnya. Namun nilai-nilai yang merupakan akar budaya masyarakat Bugis (khususnya Bone), belum sepenuhnya digali dan diinventarisir dalam rangka pelestariannya. Nilai-nilai budaya yang terpendam sebagai tinggalan masa lalu, terasa masih belum mendapat perhatian yang memadai dari masyarakat dimana nilai-nilai tersebut pernah tumbuh dan berkembang. Adalah suatu kenyataan bahwa pada umumnya masyarakat Bone utamanya generasi mudanya belum mengetahui tentang sejarah daerahnya, apalagi mengetahui perkembangan kebudayaannya dari masa ke masa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara turun temurun, Bone dipandang sebagai salah satu kerajaan Bugis yang dapat disejajarkan dengan Luwu dan Gowa yang masa keemasannya diperkirakan pada kisaran abad ke - 14 hingga abad 18. Dasar pandangan ini bersumber dari catatan “lontarak” sebagai salah satu sumber kajian sejarah di Sulawesi Selatan. Pertanyaan-pertanyaan tentang kronologis terbentuknya kerajaan Bone, tidak terlepas dari suatu asumsi bahwa Bone sejak terbentuknya pada awal abad – XIV (1330), merupakan kerajaan besar dan memegang hegemoni politik hingga akhir abad 18.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini, kita berharap bahwa penelitian arkeologi dapat memberi banyak data bagi rekonstruksi sejarah Bone, terutama kajian tentang bukti-bukti kehidupan dimasa lampau. Dari hasil penelitian arkeologi kita berharap dapat memberikan suatu indikasi tentang bagaimana tinggi dan kayanya nilai-nilai kepurbakalan kerajaan Bone dimasa lampau dan dapat mengungkapkan rahasia yang terkandung yang selama ini menjadi sesuatu misteri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penelitian mengenai kehidupan masa lalu tentunya akan membuka peluang yang lebih luas untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan manusia beserta hasil-hasil budayanya. Hasil budaya yang merupakan peninggalan masa lalu, tidak dapat dipisahkan dengan pola pikir manusia pendukungnya. Oleh karena itu, kesaksian-kesaksian arkeologi Bone semoga dapat memperlihatkan daya tarik dalam arti tidak hanya mengandalkan sejarah budaya, tetapi juga merupakan sebuah paradigma yang mencoba memahami masyarakat melalui perubahan-perubahan sosial, ekonomi, politik, agama dan aspek-aspek kemanusiaan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut catatan lontarak dan sumber-sumber lisan, diketahui bahwa sebelum terbentuknya kerajaan Bone pada awal abad – XIV dengan raja pertamanya Manurunge ri Matajang Mata Silompoe, di wilayah ini telah ada kerajaan-kerajaan tua yang telah memiliki tatanan kehidupan yang memadai. Kerajaan-kerajaan tersebut, antara lain ; Kerajaan Mampu, Kerajaan Palakka, Kerajaan Awampone, Kerajaan Cina dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Data ini memberi gambaran bahwa Bone mempunyai sejarah dan budaya yang tetap bertahan dari masa ke masa. Pola tingkah laku masyarakatnya terbentuk secara akumulatif pada zamannya, sementara generasi berikutnya memperolehnya sebagai warisan sosial yang dipandangnya sebagai ide-ide tradisional yang mengandung sejumlah nilai yang mempengaruhinya ketika menghadapi situasi tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lontarak Sebagai Referensi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lontarak sebagai referensi utama yang dapat digunakan untuk menelusuri segenap aspek kehidupan masyarakat Bone dari masa ke masa, dimana lontarak menjadi saluran resmi penyampaian nilai kebudayaan Bugis. Selain itu, saluran lain bersifat non manuskrip berupa prilaku individual dan kolektif. Hal ini biasa terefleksi dalam bentuk ritual adat atau kebiasaan adat yang hidup sebagai implementasi sebuah kepercayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam catatan lontarak diketahui bahwa pada awal terbentuknya kerajaan Bone disebutkan setelah keturunan Sawerigading tidak ada, terjadilah kekacauan yang luar biasa yang dalam bahasa Bugis disebut “sianre’ bale’”. Situasi sianre’ bale’ menggambarkan bahwa tidak ada lagi aturan hukum, yang kuat menguasai yang lemah, atau lebih tepat dikatakan hukum rimba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keadaan yang demikian tersebut berakhir setelah munculnya seorang yang tidak diketahui asal usulnya, sehingga orang banyak menyebutnya “to manurung” artinya manusia yang turun dari kayangan. Pandangan tentang “to manurung” tentu saja sesuai dengan stadia berpikir masyarakat pada waktu itu yang masih banyak dipengaruhi oleh paham animisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tidak diketahui asal usulnya, maka orang banyak menamakannya Manurunge’ ri Matajang dan itulah yang kemudian dianggap sebagai Raja Bone – I yang diperkirakan memerintah dari tahun 1330 – 1358.&amp;nbsp; Manurunge ri Matajang inilah yang menjadi juru selamat bagi masyarakat Bone yang wilayahnya terdiri dari Wanuwa Ujung, Wanuwa Tibojong, Wanuwa Ta’, Wanuwa Tanete Riattang, Wanuwa Tanete Riawang, Wanuwa Ponceng dan Wanuwa Macege.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat letak geografi ketujuh wanuwa yang membentuk kerajaan Bone tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pada mulanya kerajaan Bone tidak seluas apa yang kita saksikan sekarang. Menurut lontarak pada mulanya ketujuh wanuwa tersebut mendiami wilayah yang disebut “laleng bata” (dalam benteng) yang apabila diukur, maka luasnya tidak lebih dari 4 (empat) kilo meter persegi. Bekas benteng yang mulai dibangun pada masa pemerintahan raja Bone ke – 6 La Uliyo Bote’e’ Matinroe’ ri Itterung (1543 – 1568) dan dilanjutkan oleh raja Bone ke – 7 La Tenri Rawe Bongkange’ (1568 – 1584).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekedar informasi bahwa makam La Uliyo Bote’e’ yang sekarang ini terletak di Desa Itterung Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone, merupakan makam raja Bone yang kurang diperhatikan. Padahal dalam lontarak disebutkan bahwa La Uliyo Bote’e’ memiliki andil dalam menciptakan perjanjian persahabatan dengan raja Gowa yang bernama Daeng Matanre Tu Maparrisik Kalonna. Perjanjian tersebut dikenal dengan nama “Sitettongenna Sudenge’ na La teya Riduni” yang berbunyi sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau ada kesulitan yang menimpa Bone, Gowa akan menaungi lautan untuk datang mmbantu dan kalau ada kesulitan yang menimpa Gowa, Bone akan melintasi pegunungan untuk datan membantu. Saling berniat baik, pantang mengadu prajurit, saling menghormati hak milik masing-masing. Perjanjian ini ditaati kedua kerajaan secara turun temurun. Barang siapa yang tidak mengindahan perjanjian ini, akan mendapat kutukan yang berakibat kehancuran kerajaannya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas upaya dari raja-raja yang memerintah di kerajaan Bone pada masanya, berangsur-angsur kerajaan-kerajaan tersebut menggabungkan diri dan menjadi bagian dari kerajaan Bone. Tentang bagaimana cara raja-raja Bone untuk menarik kerajaan-kerajaan tersebut untuk bergabung, dalam lontarak disebutkan bahwa penggabungan kerajaan-kerajaan lain dalam kerajaan Bone adalah dengan taklukan (Bugis ; riala bessi), dengan suka rela dan dengan melalui hubungan perkawinan. Selanjutnya pada masa pemerintahan raja Bone ke – 5 La Tenri Sukki Mappajunge’ (1516 – 1543) raja-raja dari Sibulue’ datang menggabungkan daerahnya sebagai bagian dari kerajaan Bone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menelusuri Jejak Akkarungeng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menelusuri nilai ajaran budaya Bugis, tentu harus diawali dengan menemukan jejak akkarungeng (kerajaan) dan sebaran pengaruhnya terhadap kepemimpinan di wilayah tersebut. Pengaruh kerajaan-kerajaan di Bone masa lalu termasuk ajaran pangaderengnya dapat kita lihat terutama pada masa pemerintahan La Patau Matanna Tikka Matinroe’ ri Nagauleng raja Bone ke – 16 (1696 – 1714) sebagai pengemban amanah dari Arung Palakka Malampe’e’ Gemmekna Matinroe’ ri Bontoala raja Bone ke – 15. &lt;br /&gt;
Konsepsi Arung Palakka yang diemban oleh La Patau Matanna Tikka melalui politik perkawinan dengan sejumlah anak raja di Sulawesi Selatan, seperti Luwu, Gowa dan lain-lain, sehingga tidak lagi terjadi peperangan atau perselisihan antara kerajaan-kerajaan besar. Faktor ini pulalah yang membuat kerajaan Bone muncul sebagai kerajaan pemegang hegemoni di jazirah selatan pulau Sulawesi dipenghujung abad – 18.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika pendekatan sompung lolo passeajingeng ini dipertahankan, maka akan bangkit kembali komunitas masyarakat yang menyatu dalam tradisi yang sama (manguruk adek – manguruk sirik). Pendekatan ini sewajarnya diolah dalam satu konsepsi sehingga dapat menumbuhkan jiwa dan semangat sipakatu – sipakalebbi (saling menghormati dan memuliakan sesama manusisa).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya lokal Bone yang juga sering disebut budaya daerah karena terjadinya peleburan identitas menjadi Bone, dibangun dengan konsep “kawerang” (ikatan kekerabatan) tetap menyisakan ciri khas masing-masing&amp;nbsp; di wilayah Bone dengan segala identitas yang sampai sekarang masih perlu dilestarikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai simpulan dari tulisan singkat tentang penelusuran Bone dalam lintasan sejarah dan budaya, maka dapatlah diketengahkan bahwa sesungguhnya kerajaan Bone yang terbentuk pada awal abad ke – 14 (1330) merupakan kerajaan Bugis yang telah memiliki konsepsi “pangadereng” (tatanan adat) yang berfungsi mengatur prilaku masyarakatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menguraikan tentang sejarah kebudayaan Bone, rasanya tidak lengkap tampa ditunjang oleh bukti-bukti non manuskrip seperti penggalian-penggalian tinggalan masa lampau. Oleh karena itu, melalui pertemuan ini, tentunya warga masyarakat Bone berharap agar upaya-upaya pengungkapan sejarah budaya masa lampau tetap dilakukan terutama dalam bentuk penggalian arkeologi.&lt;br /&gt;
Ditengah proses perubahan yang terjadi dan tanpak begitu cepat dengan skala jangkauan yang sangat luas, maka sangatlah bijaksana jika kita kembali menoleh ke warisan luhur kebudayaan kita. Sebab disana tersimpan nilai-nilai yang universal yang sesungguhnya tetap relevan dengan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;
Apabila hal yang demikian kita abaikan, maka akhirnya posisi kita ditengah arus perubahan domestik dan global yang kelihatannya tak lebih dari konsumen belaka, tidak akan mampu kita hindari. Secara sistemik dan sistematis kita akan mengalami interdependensi pada pusat-pusat kebudayaan yang hegemoni itu. Sehingga suatu saat masyarakat Bugis (khususnya Bone) akan tercerabut dari akar kebudayaannya sendiri.&amp;nbsp; Tentunya hal seperti itu, bukan impian kita dan semoga tidak menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIHyJpvpEU0GJZNWGsk_Gewh4J0rxgYLU2e5UAtkopcKpUJyCcKVBe7uqO8bF-7D0kM3CSTGvMcqt1a5eHblzr9RPfKJ09oDW9N6etwBq30J359p4fVXEVS7VzbjWrzuzS89Gr0HSV0R8l/s72-c/ARL-0222+copy.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Acara Mappacci </title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/08/acara-mappacci.html</link><category>Bugis Makassar</category><category>Sejarah dan budaya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 8 Aug 2014 03:01:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-7458138390733076950</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;ACARA MAPPACCI &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAfXCOdCKwOahttwyUJZAUVRwpEopLc9Zmfhbechc49P9ED6vOQX5rNu7fs7ZGFl3NcEQ7Bsvmm7k2dsWXoLQDAYWDA2mSmluK51DHBFDfeGxZSj17VW-YJKL9_v0hr-_9eXiSjPWIXHQs/s1600/ARL-0222+copy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAfXCOdCKwOahttwyUJZAUVRwpEopLc9Zmfhbechc49P9ED6vOQX5rNu7fs7ZGFl3NcEQ7Bsvmm7k2dsWXoLQDAYWDA2mSmluK51DHBFDfeGxZSj17VW-YJKL9_v0hr-_9eXiSjPWIXHQs/s1600/ARL-0222+copy.jpg" height="200" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sebagai rangkaian suatu perkawinan, mappacci memiliki makna simbolik yaitu pembersihan diri atau mensucikan diri dari berbagai hal yang buruk sebelum memasuki acara perkawinan. Oleh karena itu, acara ini dianggap suatu hal yang sangat penting yang harus dilalui oleh baik calon mempelai laki-laki maupun calon mempelai perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mappacci berasal dari kata “pacci” daun pacar atau inai (Latin ; Lowsonia inermis) yaitu semacam tumbuhan yang oleh orang Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan, termasuk orang Mandar di Sulawesi Barat, biasa digunakan sebagai bélo kanuku (pemerah kuku) terutama pada saat memasuki bulan Ramadhan. Kemudian dari kata “pacci” tersebut dikonotasikan dengan kata “paccing” yang artinya bersih atau suci. Dengan demikian, acara mappacci memiliki makna simbolik yaitu kebersihan atau kesucian sebagai suatu unsur yang sangat diperlukan bagi calon mempelai baik laki-laki maupun perempuan sebelum memasuki acara puncak dari prosesi perkawinan, atau sebelum keduanya resmi menjadi suami isteri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Acara mappacci disebut juga tudampenni (duduk malam) karena dilaksanakan pada malam hari di rumah masing-masing calon mempelai. Acara ini dilaksanakan sebelum resepsi pernikahan (tudabbotting) pada malam berikutnya. Biasanya acara mapppacci hanya dihadiri oleh keluarga dekat, kerabat dan tetangga kedua calon mempelai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum acara mappacci atau tudampenni dilaksanakan, pihak keluarga kedua calon mempelai melakukan kegiatan yang disebut mallékkek pacci (pengambilan daun pacci/pacar) pada sore harinya. Kalau calon mempelai tersebut adalah keturunan bangsawan, maka tempat untuk mallékkek pacci dilakukan di rumah pemangku adat dengan cara daun pacci yang dilékkek tersebut setelah diambil dari batangnya, dibawa ke rumah pemangku adat dan disitulah dilékkek. Sedangkan bagi calon mempelai dari orang kebanyakan (masyarakat biasa), maka tempat mallékkek pacci dilakukan di rumah kerabat terdekatnya saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau calon mempelai berasal dari keturunan bangsawan, maka yang melakukan mallékkek pacci adalah keluarganya yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan pakaian adat lengkap. Adapun iring-iringannya adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
1. Pembawa tombak satu orang&lt;br /&gt;
2. Pembawa tempat sirih satu orang&lt;br /&gt;
3. Pembawa bosara yang berisi kue-kue tradisional sekurang-kurangnya 2 orang&lt;br /&gt;
4. Pembawa daun pacci yang dinaungi dengan lelluk satu orang&lt;br /&gt;
5. Pembawa alat bunyi-bunyian seperti gendang, gong, anabbeccing dan lain-lain.&lt;br /&gt;
Sedangkan kalau calon mempelai tersebut berasal dari orang biasa (bukan bangsawan), maka yang melakukan acara mallékkek pacci cukup satu atau dua orang keluarga terdekatnya yang juga berpakaian adat lengkap. Mereka melakukannya di rumah kerabat mempelai atau langsung mengambil daun pacci tersebut pada pohonnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar acara mappacci mengandung makna simbolik yakni suatu upaya pembersihan dan pensucian diri baik bagi calon mempelai laki-laki maupun bagi calon mempelai perempuan. Artinya, setelah melalui prosesi mappacci kedua calon mempelai dianggap telah bersih dan suci baik lahir maupun batin. Oleh karena itu, bagi calon mempelai yang berstatus janda atau duda tidak lagi melalui acara mappacci tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh perlengkapan acara mappacci dianggap memiliki makna simbolik yang diyakini dapat membawa berkah kepada kedua calon mempelai dalam melayarkan bakhtera rumah tangga yang mawaddah wa rakhmah. Misalnya. daun pacci yang mengandung makna kesucian dan kebersihan lahir batin. Begitu bermaknanya daun pacci bagi masyarakat&amp;nbsp; Bugis sehingga dikenal ungkapan yang berbunyi ; “Duwami kuwala sappo – unganna panasaé – bélona kanukué” artinya ; “Hanya dua yang kujadikan pagar diri, bunga nangka dan hiasan kuku”. Bunga nangka dalam bahasa Bugis disebut lempu artinya jujur atau kejujuran, sedangkan hiasan kuku (daun pacci) yang dikonotasikan dengan kata paccing atinya suci atau bersih. Jadi makna ungkapan ini adalah hanya dua yang bisa dilakukan untuk mencapai kehidupan bahagia dan sejahtera yaitu kejujuran dan kesucian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun kelengkapan acara mappacci, adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
1. Daun pacci sebagai unsur utama, bermakna kesucian dan kebersihan diri bagi calon mempelai. Cara meletakkannya yaitu ; a) Cara pertama, daun pacci lengkap dengan tangkainya diletakkan didepan calon mempelai. Para pemberi pacci yang dipanggil memetik sendiri daun pacci dari tangkainya kemudian diberikan kepada calon mempelai. b) Cara kedua, daun pacci yang telah dipetik dari tangkainya ditumbuk halus dan disimpan dalam sebuah mangkuk putih dan para pemberi pacci mengambil sendiri dari mangkuk tersebut.&lt;br /&gt;
2. Bantal, sebagai alas kepala pada saat tidur mengandung makna kesuburan dan kesejahteraan dalam kehidupan. Para keluarga kdua mempelai berharap agar setelah kedua mempelai resmi menjadi suami-isteri, dapat melayarkan bakhtera rumah tangganya dengan penuh ketenangan.&lt;br /&gt;
3. Sarung Bugis (lipak sabbé) sebanyak tujuh lembar diletakkan secara berlapis diatas bantal. Mengandung makna harga diri, karena sarung bagi masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar merupakan penutup aurat.&lt;br /&gt;
Tujuh lembar, mengandung makna kebenaran yaitu “tuju” dalam bahsa Bugis artinya benar, mattujui artinya berguna atau bermanfaat. Dari makna tersebut, para keluarga calon mempelai berharap agar setelah melangsungkan perkawinan, kedua calon mempelai berguna bagi dirinya sendiri ataupun bagi keluarganya.&lt;br /&gt;
4. Pucuk daun pisang diletakkan diatas bantal, bermakna kehidupan yang berkesinambungan, sebagaimana pohon pisang setiap saat terjadi pergantian daun. Disamping itu, pohon pisang tidak mengenal putus asa, artinya setiap ditebang, selalu saja muncul tunas baru.&lt;br /&gt;
5. Daun nangka (Bugis ; daun panasa) yang dihubung-hubungkan satu dengan lainnya sehingga terbentuk seperti tikar bundar. Diletakkan diatas sarung sutra tadi yang bermakna harapan atau cita-cita. Hal ini dihubungkan dengan kata “panasa” yang dikonotasikan dengan&amp;nbsp; kata “ménasa” artinya harapan atau cita-cita. Artinya, kedua mempelai nantinya senantiasa memiliki pengharapan dan cita-cita dalam membina rumah tangganya.&lt;br /&gt;
6. Benno (kembang beras) ditaruh dalam sebuah piring dan diletakkan berdekatan dengan tempat daun pacci. Benno memiliki makna agar kedua mempelai setelah membina rumah tangga yang bahagia, dapat berkembang dan berketurunan yang dilandasi cinta kasih dan kedamaian. &lt;br /&gt;
7. Pessek pelleng (lilin) yang merupakan alat penerang, diletakkan berdekatan tempat benno dan daun pacci. Makna yang dikandung adalah agar kedua mempelai dalam membina rumah tangga senantiasa mendapat petuunjuk dari Allah SWT.&lt;br /&gt;
8. Air yang ditaruh dalam sebuah mangkuk untuk mencuci tangan bagi pemberi pacci baik sebelum melakukan,&amp;nbsp; maupun setelah melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah semua kelengkapan tersebut dipersiapkan, maka calon mempelai yang telah dirias sebagaimana layaknya pengantin, didudukkan diatas lamming (pelaminan). Calon mempelai didampingi oleh seorang “indok botting” bagi perempuan dan “ambok botting” bagi laki-laki menghadap ke bantal dengan segala kelengkapannya tadi. Kedua belah tangannya diletakkan diatas bantal dan menghadap keatas, sebagai tanda siap untuk menerima daun pacci dari para keluarga yang telah ditunjuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama-nama pemberi daun pacci biasanya dipilih dari pihak keluarga dekat mempelai yang dianggap layak. Biasanya mereka melakukan mappacci secara berpasangan (suami isteri) bagi yang sudah berkeluarga. Pada umumnya mereka dipanggil oleh pembawa acara dan dilékkek (dijemput) oleh satu atau dua orang pembawa lilin menuju ke tempat dimana calon mempelai duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutif dari buku ;&lt;br /&gt;
“Dinamika Perkawinan Adat dalam Masyarakat Bugis&amp;nbsp; Bone” &lt;br /&gt;
Karya Drs. Asmat Riady Lamallongeng</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAfXCOdCKwOahttwyUJZAUVRwpEopLc9Zmfhbechc49P9ED6vOQX5rNu7fs7ZGFl3NcEQ7Bsvmm7k2dsWXoLQDAYWDA2mSmluK51DHBFDfeGxZSj17VW-YJKL9_v0hr-_9eXiSjPWIXHQs/s72-c/ARL-0222+copy.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Download - Koleksi Lagu Lawas - Ida Laila</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/05/download-koleksi-lagu-lawas-ida-laila.html</link><category>Download Mp3</category><category>Lagu Dangdut Mp3</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 27 May 2014 16:41:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-7629462132086949315</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQiPhyf-UkiBJK5l4cw3NyAEmXOBrG8LKDbhYhUh5H8W2ID5Z2N4zU6u-5x-1rLOkxTMiT-FQ7EdBf59t51oYsRCS7uic1cyUF2je129awMOcGoZHgadepEOWckHZmaadFlB38BqhzKecA/s1600/ida+laila.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQiPhyf-UkiBJK5l4cw3NyAEmXOBrG8LKDbhYhUh5H8W2ID5Z2N4zU6u-5x-1rLOkxTMiT-FQ7EdBf59t51oYsRCS7uic1cyUF2je129awMOcGoZHgadepEOWckHZmaadFlB38BqhzKecA/s1600/ida+laila.jpg" height="188" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;KOLEKSI LAGU LAWAS - BLOG MANDAR LUYO&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoTableMediumShading2Accent1" style="border-collapse: collapse; border: none;"&gt;
 &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="background: #4F81BD; border-bottom: solid windowtext 2.25pt; border-left: none; border-right: none; border-top: solid windowtext 2.25pt; padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt; width: 6.65in;" valign="top" width="638"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 16.0pt;"&gt;KOLEKSI&amp;nbsp; LAGU DANGDUT LAWAS – IDA
  LAILA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="background: #4F81BD; border-bottom: solid windowtext 2.25pt; border: none; padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt; width: 6.65in;" valign="top" width="638"&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/VqBnM7NY/Ida_Laila_-_Anak_Haram.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Anak Haram&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/A_aqmF2S/IDA_LAILA_-_APA_DAYA.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Apa Daya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/__zzkwjl/Ida_Laila_-_Bertasbihlah.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Bertasbihlah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/dBh2-lu-/Ida_Laila_-_Cinta_Yang_Pertama.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&amp;nbsp; -&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; Cinta Dan Air
  Mata&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/dBh2-lu-/Ida_Laila_-_Cinta_Yang_Pertama.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Cinta Yang
  Pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10pt; line-height: 26.66666603088379px;"&gt;§&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background-color: cyan; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 26.66666603088379px;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/tlxXUazb/Ciuman_Pertama_-_Ida_Laila.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 26.66666603088379px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 26.66666603088379px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 26.66666603088379px;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 26.66666603088379px;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Ciuman Pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/y0x6BKva/6__Ida_Laila_-_Cukup_Sudah.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Cukup Sudah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/YKUQxRDE/Ida_Laila_-_Demi_Cinta.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Demi Cinta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/cEeq7dB4/3__Ida_Laila_-_Dunia.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Dunia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/9P8IjpRR/Ida_Laila_-_06_Hari_Jumat.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Hari Jumat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/qZOCvyEV/ida_laila_-_hukum_karma_-_By_a.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Hukum Karma&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/pXtfF9Oa/04_IBU_TIRI_-_IDA_LAILA.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Ibu Tiri&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/Ewn-snWq/Ida_Laila_-_Ingin_Jumpa.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Ingin Jumpa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/DrD6v5eu/Ida_Laila_-_Kenangan_Abadi.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Keagungan
  Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/DrD6v5eu/Ida_Laila_-_Kenangan_Abadi.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Kenangan Abadi&amp;nbsp;&amp;nbsp;
  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/QMFc6nxD/Ida_Laila_-_Kenangan_Lalu.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/QMFc6nxD/Ida_Laila_-_Kenangan_Lalu.htm"&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Kenangan Lalu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/L2JIq_-Y/Ida_Laila_-_Kunang2.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Kunang –
  Kunang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/monI9I7x/ida_laila-loper_susu.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;-&amp;nbsp; Loper Susu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/3OWNiXO8/ida_laila_-_MABUK_KEPAYANG_-_B.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Mabuk Kepayang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/tZy-hmMa/Ida_Laila_-_Main_Mata.htm"&gt; &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/tZy-hmMa/Ida_Laila_-_Main_Mata.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Main Mata&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/-F7paL6o/Ida_Laila_-_Sabar_Dulu.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/-F7paL6o/Ida_Laila_-_Sabar_Dulu.htm"&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Sabar Dulu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/vnVcjiIU/Suara_Hati__dangdut_ida_laila_.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Suara Hati&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: aqua; color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/KzzQ6Ajz/ida_laila_-_pengaruh_minuman_-.htm"&gt;Gownload mp3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #0070c0; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;Ida Laila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Pengaruh
  Minuman&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;"&gt;SELAMAT MENIKMATI !&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; margin-left: 99.0pt; margin-right: 0in; margin-top: 0in; text-indent: -.25in;"&gt;
&lt;span style="color: white; font-family: Wingdings; font-size: 4.0pt; line-height: 200%;"&gt;§&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: white; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 4.0pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiY_QfqIrRHJDBy-PCUO-JlOY8yg2_DIXBJRCDrI1b-EMHfkYZ6HRlZlvKzfeXgZbjETtf_U0RICxcpzFGstRDhc4BBNmX7ULn1td-zx3hzVv9tjbWi-R8QyxPj9gmSkJP8TO-u-pl__CJf/s1600/a-05.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiY_QfqIrRHJDBy-PCUO-JlOY8yg2_DIXBJRCDrI1b-EMHfkYZ6HRlZlvKzfeXgZbjETtf_U0RICxcpzFGstRDhc4BBNmX7ULn1td-zx3hzVv9tjbWi-R8QyxPj9gmSkJP8TO-u-pl__CJf/s1600/a-05.jpg" height="52" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQiPhyf-UkiBJK5l4cw3NyAEmXOBrG8LKDbhYhUh5H8W2ID5Z2N4zU6u-5x-1rLOkxTMiT-FQ7EdBf59t51oYsRCS7uic1cyUF2je129awMOcGoZHgadepEOWckHZmaadFlB38BqhzKecA/s72-c/ida+laila.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lirik Lagu - Tiga Bencana - Rhoma Irama </title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/05/lirik-lagu-tiga-bencana-rhoma-irama.html</link><category>Lirik Lagu Dangdut</category><category>Rhoma Irama</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 26 May 2014 18:50:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-4621149424118509926</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;TIGA BENCANA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Voc. Rhoma Irama&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiENp1z_70tNq6PemL6o_oOnhUSXO-kItPQhUEClU_aMHZjMw4AGmZxdIcCQEgpJLXv_7D7DLTP1RIG7-hjwUaOp9o3wX7YCjXub-MTrA3IrRDhf5ljvINFpoINVRlewx-p2MTUpeLGd6ua/s1600/rhoma+irama04.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiENp1z_70tNq6PemL6o_oOnhUSXO-kItPQhUEClU_aMHZjMw4AGmZxdIcCQEgpJLXv_7D7DLTP1RIG7-hjwUaOp9o3wX7YCjXub-MTrA3IrRDhf5ljvINFpoINVRlewx-p2MTUpeLGd6ua/s1600/rhoma+irama04.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;‘Pabila umat tinggalkan seruan para ulama&lt;br /&gt;‘Pabila umat acuhkan segala fatwa fuqaha&lt;br /&gt;‘Pabila umat tinggalkan seruan para ulama&lt;br /&gt;‘Pabila umat acuhkan segala fatwa fuqaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Nabi mengatakan alamat tiga bencana&lt;br /&gt;Yang kelak Allah timpakan pada umat manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada keberkahan di dalam kehidupan&lt;br /&gt;(Tiada keberkahan di dalam kehidupan)&lt;br /&gt;Bagai dalam cengkeraman raja yang kehausan&lt;br /&gt;(Bagai dalam cengkeraman raja yang kehausan)&lt;br /&gt;Kala tinggalkan dunia dengan tiada iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama bagai pewaris, pewaris para anbiya&lt;br /&gt;Berdalil Quran dan Hadits, berpegang teguh aqidah&lt;br /&gt;Ulama bagai pewaris, pewaris para anbiya&lt;br /&gt;Berdalil Quran dan Hadits, berpegang teguh aqidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membina umat yang sesat pada jalan selamat&lt;br /&gt;Mengajak insan bertobat, memohon agar rahmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyeru kebajikan, mencegah kemungkaran&lt;br /&gt;(Menyeru kebajikan, mencegah kemungkaran)&lt;br /&gt;Menyeru persatuan, mencegah kemungkaran&lt;br /&gt;(Menyeru persatuan, mencegah kemungkaran)&lt;br /&gt;Mengharap ridla Ilahi, Allah Khaliqul Bari&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqx0DMkYAhqlZ7854jGTJs1OjEjQ_Dkr9754ACqynzRFxYV7DksXH1u6FvYyyoNu8J_2-QddtquKhjF3ivXC1fsFAthAXwSPzsf-zzA6li1LvA0qT3NOXDwqeNHer8z58fKCoTXMi8y9ed/s1600/coollogo_com-266373206(1).png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqx0DMkYAhqlZ7854jGTJs1OjEjQ_Dkr9754ACqynzRFxYV7DksXH1u6FvYyyoNu8J_2-QddtquKhjF3ivXC1fsFAthAXwSPzsf-zzA6li1LvA0qT3NOXDwqeNHer8z58fKCoTXMi8y9ed/s1600/coollogo_com-266373206(1).png" height="35" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiENp1z_70tNq6PemL6o_oOnhUSXO-kItPQhUEClU_aMHZjMw4AGmZxdIcCQEgpJLXv_7D7DLTP1RIG7-hjwUaOp9o3wX7YCjXub-MTrA3IrRDhf5ljvINFpoINVRlewx-p2MTUpeLGd6ua/s72-c/rhoma+irama04.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lirik Lagu - Tina Ka Tina Tana - Rhoma Irama</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/05/lirik-lagu-tina-ka-tina-tana-rhoma-irama.html</link><category>Lirik Lagu Dangdut</category><category>Rhoma Irama</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 26 May 2014 18:47:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-5076793786204539472</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;TINA KA TINA TANA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Voc. Rhoma Irama&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhavj1Z_1KnY8H6OH86nOWC18FlikH2qNPeEKulaBziv8M1pwVL7KmyRD72CwO8rs-6bC2CwVBe1AfYe-1q8W68ugtkuq4sW1NfztPZ_HJulVvhz5Zridr-zo3ix__N1f4x3WGy_ZndfFsI/s1600/rhoma+irama02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhavj1Z_1KnY8H6OH86nOWC18FlikH2qNPeEKulaBziv8M1pwVL7KmyRD72CwO8rs-6bC2CwVBe1AfYe-1q8W68ugtkuq4sW1NfztPZ_HJulVvhz5Zridr-zo3ix__N1f4x3WGy_ZndfFsI/s1600/rhoma+irama02.jpg" height="198" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;tinak tin taanaa voh dhun to bajaa naa&lt;br /&gt;tinak tin naachuu.n mai.n gaaye dil jhuume zamaanaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulaaye run jhun run jhun run jhun kartii paayal&lt;br /&gt;havaa me.n uDataa uDataa aa'e mahakaa aa.nchal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tujhe batalaa'uu.ngii mai.n man kii saarii baate.n&lt;br /&gt;guzaare kaise kaise mai.n ne ye din raate.n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mere naino.n ke darpaN me.n&lt;br /&gt;terii yaado.n ke aa.ngan me.n&lt;br /&gt;merii saa.nso.n me.n jiivan me.n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sirf terii khushbuu hai&lt;br /&gt;sirf teraa chehara hai&lt;br /&gt;sirf tera charcha hai&lt;br /&gt;sirf tera pahara hai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tere bina jiina jiina jiina ab nahii.n jiina&lt;br /&gt;judaa'ii vaala aa.nsuu ab hamko nahii.n piina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tujhe mai.n alako.n palako.n me.n apnii rakh luu.ngii&lt;br /&gt;tujhe mai.n pal pal pal pal sachchii chaahat duu.Ngii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tujhe baaho.n me.n bhar luu.nga&lt;br /&gt;terii zulfo.n se kheluu.nga&lt;br /&gt;tere saare gam le luu.nga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuu hii mera dilbar hai&lt;br /&gt;tuu hii merii dhaDkan hai&lt;br /&gt;tuu hii mera jaanam hai&lt;br /&gt;tuu hii meraa hamdam hai&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/jCm4C027/Rhoma_Irama_-_Tina_Ka_Tina_Tan.htm"&gt;&lt;img alt="http://www.4shared.com/mp3/jCm4C027/Rhoma_Irama_-_Tina_Ka_Tina_Tan.htm" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD8_6X0Ly_V9TrViNm5VZACACJid6zokSpacP4Y01TO0D7PFS6lb7oKBkL7EgaLIgNUK_8dIulBz6oRIpHgjjCtOerV9YEGqbwIgsxpmvnhdpWf579kSPr8IOv12739UTsrnNd-y6bmIQm/s1600/12368355529877211131.png" height="49" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Download mp3&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqx0DMkYAhqlZ7854jGTJs1OjEjQ_Dkr9754ACqynzRFxYV7DksXH1u6FvYyyoNu8J_2-QddtquKhjF3ivXC1fsFAthAXwSPzsf-zzA6li1LvA0qT3NOXDwqeNHer8z58fKCoTXMi8y9ed/s1600/coollogo_com-266373206(1).png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqx0DMkYAhqlZ7854jGTJs1OjEjQ_Dkr9754ACqynzRFxYV7DksXH1u6FvYyyoNu8J_2-QddtquKhjF3ivXC1fsFAthAXwSPzsf-zzA6li1LvA0qT3NOXDwqeNHer8z58fKCoTXMi8y9ed/s1600/coollogo_com-266373206(1).png" height="35" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhavj1Z_1KnY8H6OH86nOWC18FlikH2qNPeEKulaBziv8M1pwVL7KmyRD72CwO8rs-6bC2CwVBe1AfYe-1q8W68ugtkuq4sW1NfztPZ_HJulVvhz5Zridr-zo3ix__N1f4x3WGy_ZndfFsI/s72-c/rhoma+irama02.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lirik Lagu - Tukang Ramal - Rhoma Irama Feat Ellya Khadam</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/05/lirik-lagu-tukang-ramal-rhoma-irama.html</link><category>Lirik Lagu Dangdut</category><category>Rhoma Irama</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 26 May 2014 18:44:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-6353867877826553407</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;TUKANG RAMAL&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Voc. Rhoma Irama Feat Ellya Khadam&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhavj1Z_1KnY8H6OH86nOWC18FlikH2qNPeEKulaBziv8M1pwVL7KmyRD72CwO8rs-6bC2CwVBe1AfYe-1q8W68ugtkuq4sW1NfztPZ_HJulVvhz5Zridr-zo3ix__N1f4x3WGy_ZndfFsI/s1600/rhoma+irama02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhavj1Z_1KnY8H6OH86nOWC18FlikH2qNPeEKulaBziv8M1pwVL7KmyRD72CwO8rs-6bC2CwVBe1AfYe-1q8W68ugtkuq4sW1NfztPZ_HJulVvhz5Zridr-zo3ix__N1f4x3WGy_ZndfFsI/s1600/rhoma+irama02.jpg" height="198" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pria:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Siapa yang mau lihat jodoh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Eh, nasib, boleh mampir ye&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pria:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Silakan Anda coba mampir sebentar saja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aku tukang ramal yang sudah terkenal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baiklah Bung segera tolong ramalkan saya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana nanti nasibku ini&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tolong ramalkan saya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pria:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mm, coba lihat tangannya ya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;E, bagaimana nasib saya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pria:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi kalau dilihat dari uratnya bagus nih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masa, he-he-he...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pria:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di dalam ramalan Anda akan beruntung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tiada lama lagi mendapat jodoh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alangkah bahagia oh hatiku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bolehkah aku tahu siapakah dia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Calon jodohku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pria:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi sayang sekali aku tiada dapat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Untuk mengatakan siapa orangnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;‘Ku takut Anda marah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bilangin dong, siapa sih jodohnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pria:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nanti marah lagi, ah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nggak deh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Walau bagaimana aku ingin tahu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Katakanlah segera aku tak ‘kan marah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pria:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baiklah bila Anda ingin tahu segera&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Akulah orangnya calon jodohmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Akulah orangnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalau memang begitu di dalam ramalanmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Duet:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Marilah bersama kita menikah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kok jumpa di sini ya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pria:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jodoh di tangan Tuhan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5PYESFZwtEYkm9xmNtv5eZwyvECU1GjdyfdHkD-bG7eOG1MpqfL09A-s6On_Kgz5Eeew64OeKrArKWp77DDvqtipabOx7Btju4B57rAQ1qwc1AL_LuBxbiAubR1oUd2MbGQkRZNxc3tp6/s1600/coollogo_com-32883177.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5PYESFZwtEYkm9xmNtv5eZwyvECU1GjdyfdHkD-bG7eOG1MpqfL09A-s6On_Kgz5Eeew64OeKrArKWp77DDvqtipabOx7Btju4B57rAQ1qwc1AL_LuBxbiAubR1oUd2MbGQkRZNxc3tp6/s1600/coollogo_com-32883177.png" height="40" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhavj1Z_1KnY8H6OH86nOWC18FlikH2qNPeEKulaBziv8M1pwVL7KmyRD72CwO8rs-6bC2CwVBe1AfYe-1q8W68ugtkuq4sW1NfztPZ_HJulVvhz5Zridr-zo3ix__N1f4x3WGy_ZndfFsI/s72-c/rhoma+irama02.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lirik Lagu - Tung Keripit - Rhoma Irama</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/05/lirik-lagu-tung-keripit-rhoma-irama.html</link><category>Lirik Lagu Dangdut</category><category>Rhoma Irama</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 26 May 2014 18:13:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-4406517862437847519</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;TUNG KERIPIT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Voc. Rhoma Irama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFGjNfOPrYBZn-sM8oAey5d-8qAKDwMK4OO3uVd0h8R6lEQFRc3ENk2v-Ih7-Y8ys2SpLBLeuwSPwUehyNG2-oCF9tPAUvFbc-pCTEbCP5hCjnw0P3yb1wvg-56ngVh3UvSTGLKn5TZHCq/s1600/rhoma-irama3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFGjNfOPrYBZn-sM8oAey5d-8qAKDwMK4OO3uVd0h8R6lEQFRc3ENk2v-Ih7-Y8ys2SpLBLeuwSPwUehyNG2-oCF9tPAUvFbc-pCTEbCP5hCjnw0P3yb1wvg-56ngVh3UvSTGLKn5TZHCq/s1600/rhoma-irama3.jpg" height="216" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tung keripit ahai tulang bawang&lt;br /&gt;Kalau bibir tergigit sakit bukan kepalang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tung keripit ahai tulang bawang&lt;br /&gt;Kalau isteri yang gigit sakit tak mau bilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sakit tapi tidak dirasa&lt;br /&gt;Karena itu adanya rasa cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bisa menghilangkan rasa sakit&lt;br /&gt;Dan juga bisa menimbulkan penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tung keripit ahai tulang bawang&lt;br /&gt;Kalau bibir tergigit sakit bukan kepalang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tung keripit ahai tulang bawang&lt;br /&gt;Kalau bini yang gigit sakit tak mau bilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bisa menghilangkan rasa sakit&lt;br /&gt;Dan juga bisa menimbulkan penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sakit tapi tidak dirasa&lt;br /&gt;Itu karena adanya rasa cinta&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/wDQMLtBQ/Tungkeripit_-_Rhoma_Irama.htm"&gt;&lt;img alt="http://www.4shared.com/mp3/wDQMLtBQ/Tungkeripit_-_Rhoma_Irama.htm" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF4u8IxTLOUUY_1pgwU1ZEhec5fZ45HzJ6Hmqy6hqy_C3rmWmeKC6bYJhxBsjG-oTC6LxdnGzdZsKZqzXCd-HbrmPiXYjCzwpCYCvaOehyphenhyphenTMB5wD4soHHisWoUcJWdyYP1mHMjjW8PxTiO/s1600/2buttons_live_300x250.png" height="62" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Download mp3&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuLCVlfHlgL1hKIWqOWNtaQDX-gDMjYNRRdGAmWOCPemEQFoxF3RfyKm_RFaeQ7h2GybasxpdsbKcOJKWa8F30t_byAXfhEv2chneuEtnyrfmIY5fVz9V0F5mjnt_PV1OO2nveoFDznUpT/s1600/coollogo_com-319282322.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuLCVlfHlgL1hKIWqOWNtaQDX-gDMjYNRRdGAmWOCPemEQFoxF3RfyKm_RFaeQ7h2GybasxpdsbKcOJKWa8F30t_byAXfhEv2chneuEtnyrfmIY5fVz9V0F5mjnt_PV1OO2nveoFDznUpT/s1600/coollogo_com-319282322.png" height="76" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFGjNfOPrYBZn-sM8oAey5d-8qAKDwMK4OO3uVd0h8R6lEQFRc3ENk2v-Ih7-Y8ys2SpLBLeuwSPwUehyNG2-oCF9tPAUvFbc-pCTEbCP5hCjnw0P3yb1wvg-56ngVh3UvSTGLKn5TZHCq/s72-c/rhoma-irama3.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lirik Lagu - Uang - Rhoma Irama</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/05/lirik-lagu-uang-rhoma-irama.html</link><category>Lirik Lagu Dangdut</category><category>Rhoma Irama</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 26 May 2014 18:08:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-568644655514866248</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;UANG&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Voc. Rhoma Irama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1Kr61qhb4SUoq6vXWyvilm12fFtz8HVcVY5qo9dCDjhfMqL6wrT4wxXo66ysjG49cJRCLV0k0LOTiz_N9ItIntysXoaeZPp0geC2w11VLeF2RRdqdzNer6Y0DjfK37a2Q-c_OUPK3G13p/s1600/rhoma+irama.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1Kr61qhb4SUoq6vXWyvilm12fFtz8HVcVY5qo9dCDjhfMqL6wrT4wxXo66ysjG49cJRCLV0k0LOTiz_N9ItIntysXoaeZPp0geC2w11VLeF2RRdqdzNer6Y0DjfK37a2Q-c_OUPK3G13p/s1600/rhoma+irama.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Di dunia sekarang &lt;br /&gt;uang jadi pedoman&lt;br /&gt;Banyak orang berkata &lt;br /&gt;uang berkuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berlomba &lt;br /&gt;untuk memperolehnya&lt;br /&gt;Tanpa menghiraukan &lt;br /&gt;halal dan haramnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah manusia &lt;br /&gt;di dunia sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana &lt;br /&gt;uang kau dapatkan&lt;br /&gt;Dan ke mana &lt;br /&gt;engkau belanjakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kelak &lt;br /&gt;ditanyakan Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila nyata &lt;br /&gt;dari jalan haram&lt;br /&gt;Adzab yang pedih &lt;br /&gt;pasti mengancam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraka jahanam &lt;br /&gt;itulah tempatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu hai kawan &lt;br /&gt;baik kau pikirkan&lt;br /&gt;Agar tiada sesal &lt;br /&gt;hari kemudian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kau lengah &lt;br /&gt;hanya karena uang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/DoPTgI7K/12_Uang_-_Rhoma_Irama.htm"&gt;&lt;img alt="http://www.4shared.com/mp3/DoPTgI7K/12_Uang_-_Rhoma_Irama.htm" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOfQPDhGu5hL9I4hLYhj0LiIwhM4Y1cgwIPZ7s9T1W9QYqaMtA58pg_6WcURAqF1KGfvKz9ZoDv95iWVRcBVOfndjqzoff2z_pgHsaMmXLDj-2CO2IgPEfIQfnCX28MwSJTmWn6zkFg4IK/s1600/11175789594481218667.png" height="42" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Download mp3&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuJA8dTJp8FfaOWlotmJsd7g7x3HqatnlDILYc-is8aXHWWcXX6SGcghyQcFx9vOeDdo8OYuMsJPBpK1g5FaluarDpleeWI2zp9QvhhKzdKWaCpfvuHHwxhpHUJ4Lozl7nbkHHBqaHmtcP/s1600/coollogo_com-32883177.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuJA8dTJp8FfaOWlotmJsd7g7x3HqatnlDILYc-is8aXHWWcXX6SGcghyQcFx9vOeDdo8OYuMsJPBpK1g5FaluarDpleeWI2zp9QvhhKzdKWaCpfvuHHwxhpHUJ4Lozl7nbkHHBqaHmtcP/s1600/coollogo_com-32883177.png" height="40" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1Kr61qhb4SUoq6vXWyvilm12fFtz8HVcVY5qo9dCDjhfMqL6wrT4wxXo66ysjG49cJRCLV0k0LOTiz_N9ItIntysXoaeZPp0geC2w11VLeF2RRdqdzNer6Y0DjfK37a2Q-c_OUPK3G13p/s72-c/rhoma+irama.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lirik Lagu - Ukhuwah - Rhoma Irama</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/05/lirik-lagu-ukhuwah-rhoma-irama.html</link><category>Lirik Lagu Dangdut</category><category>Rhoma Irama</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 26 May 2014 17:59:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-6457466229632300349</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJvIFO0ccA2SEdjzh6-unMNuWvN0QFBsN4ciQPTOezNXxc3KpV5nc-1u6Imr-FoIY8wkkuwEQiTXiGWHWGE7A5YaU9naoH7FFVPYrmly0RskWgoiRfSOrl2iB_HWt4ngTR6m_1ktsHXY_L/s1600/images+(14).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJvIFO0ccA2SEdjzh6-unMNuWvN0QFBsN4ciQPTOezNXxc3KpV5nc-1u6Imr-FoIY8wkkuwEQiTXiGWHWGE7A5YaU9naoH7FFVPYrmly0RskWgoiRfSOrl2iB_HWt4ngTR6m_1ktsHXY_L/s1600/images+(14).jpg" height="128" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;UKHUWAH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Voc. Rhoma Irama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnAyVmgN0nNx8j9UNKSFpwLrR48B9RFPKJooBLn3e5tXKrPDEDbjiSuGlspQImHkd9tTEdVLxi0PvfQBqsirGzQI9uvF0GOogJkJJcpPXoxxnBlxDYlNAWxG9E6nOaCAl62rOt4ETtutj9/s1600/rhoma+irama04.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnAyVmgN0nNx8j9UNKSFpwLrR48B9RFPKJooBLn3e5tXKrPDEDbjiSuGlspQImHkd9tTEdVLxi0PvfQBqsirGzQI9uvF0GOogJkJJcpPXoxxnBlxDYlNAWxG9E6nOaCAl62rOt4ETtutj9/s1600/rhoma+irama04.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tuhan kita sama&lt;br /&gt;Nabi kita sama&lt;br /&gt;Tuhan kita sama&lt;br /&gt;Kiblat kita sama&lt;br /&gt;Kenapa harus saling mengkafirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat kita sama&lt;br /&gt;Puasa kita sama&lt;br /&gt;Zakat kita sama&lt;br /&gt;Haji kita sama&lt;br /&gt;Kenapa harus saling membid'ahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca qunut dan tidak baca &lt;br /&gt;semuanya benar&lt;br /&gt;( Baca dunut dan tidak baca &lt;br /&gt;semuanya benar )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda rakaat Tarawih &lt;br /&gt;semuanya benar&lt;br /&gt;( Berbeda rakaat Tarawih &lt;br /&gt;semuanya benar )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak benar yang tak sembahyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai umat Islam &lt;br /&gt;yang terlanjur tersesat jalan&lt;br /&gt;( Wahai umat Islam &lt;br /&gt;yang terlanjur tersesat jalan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembalilah pada &lt;br /&gt;jalan yang digariskan Tuhan&lt;br /&gt;( Kembalilah pada &lt;br /&gt;jalan yang digariskan Tuhan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai umat Islam &lt;br /&gt;jangan kita di adu domba&lt;br /&gt;( Wahai umat Islam &lt;br /&gt;jangan kita di adu domba )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai umat Islam &lt;br /&gt;jangan kita di pecah belah&lt;br /&gt;( Wahai umat Islam &lt;br /&gt;jangan kita di pecah belah )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak bisa maju &lt;br /&gt;kalau tidak bersatu&lt;br /&gt;Kita jalan di tempat &lt;br /&gt;karena selalu berdebat&lt;br /&gt;Fikirkanlah..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan kita sama&lt;br /&gt;Nabi kita sama&lt;br /&gt;Tuhan kita sama&lt;br /&gt;Kiblat kita sama&lt;br /&gt;Kenapa harus saling mengkafirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat kita sama&lt;br /&gt;Puasa kita sama&lt;br /&gt;Zakat kita sama&lt;br /&gt;Haji kita sama&lt;br /&gt;Kenapa harus saling membid'ahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang tidak penting &lt;br /&gt;jangan masalahkan&lt;br /&gt;( Perbedaan yang tidak penting &lt;br /&gt;jangan masalahkan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bina rasa persaudaraan &lt;br /&gt;bukan permusuhan&lt;br /&gt;( Bina rasa persaudaraan &lt;br /&gt;bukan permusuhan )&lt;br /&gt;Ukhuwah harus diwujudkaan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0obScvCNLEaE7Z4l4hIzJl5Nxfzp7dzHmQ4DR62UgYeYhIHNVGa7Vllq3fWZUZwO9PnRbp8bL6FihAX9BHKaEbutZoLIji-Kbmn_P1kmFCvhukDB_GB0e1SINvQv9GW5bPOYJcpW9y5q0/s1600/images+(8).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0obScvCNLEaE7Z4l4hIzJl5Nxfzp7dzHmQ4DR62UgYeYhIHNVGa7Vllq3fWZUZwO9PnRbp8bL6FihAX9BHKaEbutZoLIji-Kbmn_P1kmFCvhukDB_GB0e1SINvQv9GW5bPOYJcpW9y5q0/s1600/images+(8).jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJvIFO0ccA2SEdjzh6-unMNuWvN0QFBsN4ciQPTOezNXxc3KpV5nc-1u6Imr-FoIY8wkkuwEQiTXiGWHWGE7A5YaU9naoH7FFVPYrmly0RskWgoiRfSOrl2iB_HWt4ngTR6m_1ktsHXY_L/s72-c/images+(14).jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lirik Lagu - Viva Dangdut - Rhoma Irama</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/05/lirik-lagu-viva-dangdut-rhoma-irama.html</link><category>Lirik Lagu Dangdut</category><category>Rhoma Irama</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 26 May 2014 17:50:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-4725282838559439199</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSY18V8IW6yTUpqxz-pneOEsLJfRgLT6VOMyMiOZKEKjpAwzGwLqXnGOgjUAYdYJuMuERVgs_yBB1KpM0PQ00JhFnMjn6H2q1IUN_3_NMNPvH0TRDrwFAW5VUgB5g6-yjkHYTaO4I6WBE_/s1600/images+%252814%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSY18V8IW6yTUpqxz-pneOEsLJfRgLT6VOMyMiOZKEKjpAwzGwLqXnGOgjUAYdYJuMuERVgs_yBB1KpM0PQ00JhFnMjn6H2q1IUN_3_NMNPvH0TRDrwFAW5VUgB5g6-yjkHYTaO4I6WBE_/s1600/images+%252814%2529.jpg" height="128" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;VIVA DANGDUT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Voc. Rhoma Irama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb9L3xnvCH4hCsciMKpHnZD0Khd6JCY-Dv6E4AjHmtpnl14O2JIa3X9QLhrQtrd2EwtUKOq3l2dXKwHBR02Pdzho70Fz2u-1f9_oJVGPH9MqXBy7j7e7RlaxEkignETWc5wmNCtKLtWzgp/s1600/rhoma+irama03.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb9L3xnvCH4hCsciMKpHnZD0Khd6JCY-Dv6E4AjHmtpnl14O2JIa3X9QLhrQtrd2EwtUKOq3l2dXKwHBR02Pdzho70Fz2u-1f9_oJVGPH9MqXBy7j7e7RlaxEkignETWc5wmNCtKLtWzgp/s1600/rhoma+irama03.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Dut-ta-tang, dang-dut-ta-tang&lt;br /&gt;Dang dut-ta-tang, dang dut-ta-tang&lt;br /&gt;Dang-dang-dang tang-tang-tang&lt;br /&gt;Dang-dang-dang tang-tang-tang&lt;br /&gt;Dang-dut dang-tang-tang-tang&lt;br /&gt;Dang-dut dang-tang-tang-tang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dangdut suara gendang&lt;br /&gt;Ditabuh-ditabuh berulang ulang&lt;br /&gt;Dangdut suara gendang&lt;br /&gt;Sekarang ramai menjadi sebutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini musik Melayu&lt;br /&gt;Berasal dari Deli&lt;br /&gt;lalu kena pengaruh&lt;br /&gt;Dari Barat dan Hindi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dang-dut dang-tang-tang-tang&lt;br /&gt;Dang-dut dang-tang-tang-tang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dangdut suara gendang&lt;br /&gt;Siapa mendengar pasti bergoyang&lt;br /&gt;Dangdut suara gendang&lt;br /&gt;Di mana-mana digemari orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gunung, di dusun, &lt;br /&gt;sampai di kota-kota&lt;br /&gt;Irama Melayu bergema berkumandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, Eropa &lt;br /&gt;bahkan di Amerika&lt;br /&gt;Irama Melayu orang mulai tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dangdut musik Melayu,&lt;br /&gt;ini budaya bangsa&lt;br /&gt;Dari ramu dan padu&lt;br /&gt;berbagai cita rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia berdangdut&lt;br /&gt;(Indonesia berdangdut)&lt;br /&gt;Indonesia bergoyang&lt;br /&gt;(Indonesia bergoyang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pun berdangdut&lt;br /&gt;(Dunia pun berdangdut)&lt;br /&gt;Dunia kita goyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dang-dut dang-tang-tang-tang&lt;br /&gt;Dang-dut dang-tang-tang-tang)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.4shared.com/mp3/8i8jka_1/Rhoma_Irama_-_Viva_Dangdut.htm"&gt;&lt;img alt="http://www.4shared.com/mp3/8i8jka_1/Rhoma_Irama_-_Viva_Dangdut.htm" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOfQPDhGu5hL9I4hLYhj0LiIwhM4Y1cgwIPZ7s9T1W9QYqaMtA58pg_6WcURAqF1KGfvKz9ZoDv95iWVRcBVOfndjqzoff2z_pgHsaMmXLDj-2CO2IgPEfIQfnCX28MwSJTmWn6zkFg4IK/s1600/11175789594481218667.png" height="42" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Download mp3&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiihUv1YddwT2MO1sGDr1ieBQ4qZA_LUK-P4rZ919IgFZc8IVwQsSg26PLwHS6V-ejOPFsiH1M7JPdo9qe_nmcnvXsk8dlrGnxyb3ofSx7f0KxMJ1Mp7ZXObPGWNmc9MT2bmTNMPTHJu8EO/s1600/coollogo_com-132211525.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiihUv1YddwT2MO1sGDr1ieBQ4qZA_LUK-P4rZ919IgFZc8IVwQsSg26PLwHS6V-ejOPFsiH1M7JPdo9qe_nmcnvXsk8dlrGnxyb3ofSx7f0KxMJ1Mp7ZXObPGWNmc9MT2bmTNMPTHJu8EO/s1600/coollogo_com-132211525.png" height="40" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSY18V8IW6yTUpqxz-pneOEsLJfRgLT6VOMyMiOZKEKjpAwzGwLqXnGOgjUAYdYJuMuERVgs_yBB1KpM0PQ00JhFnMjn6H2q1IUN_3_NMNPvH0TRDrwFAW5VUgB5g6-yjkHYTaO4I6WBE_/s72-c/images+%252814%2529.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lirik Lagu - Wahai Pesona - Rhoma Irama</title><link>http://luyokita.blogspot.com/2014/05/lirik-lagu-wahai-pesona-rhoma-irama.html</link><category>Lirik Lagu Dangdut</category><category>Rhoma Irama</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 26 May 2014 17:48:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7066933415246431427.post-7746465094695880688</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;WAHAI PESONA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Voc. Rhoma Irama Feat Lata Mangeshkar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb9L3xnvCH4hCsciMKpHnZD0Khd6JCY-Dv6E4AjHmtpnl14O2JIa3X9QLhrQtrd2EwtUKOq3l2dXKwHBR02Pdzho70Fz2u-1f9_oJVGPH9MqXBy7j7e7RlaxEkignETWc5wmNCtKLtWzgp/s1600/rhoma+irama03.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb9L3xnvCH4hCsciMKpHnZD0Khd6JCY-Dv6E4AjHmtpnl14O2JIa3X9QLhrQtrd2EwtUKOq3l2dXKwHBR02Pdzho70Fz2u-1f9_oJVGPH9MqXBy7j7e7RlaxEkignETWc5wmNCtKLtWzgp/s1600/rhoma+irama03.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria:&lt;br /&gt;Wahai pesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita:&lt;br /&gt;Wahai kekasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria:&lt;br /&gt;‘Ku memanggilmu melalui lagu&lt;br /&gt;Nada cinta merayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita:&lt;br /&gt;Oh wahai pesona, wahai kekasih&lt;br /&gt;Aku mendengar panggilan cintamu&lt;br /&gt;Dalam lagu merayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duet:&lt;br /&gt;Oh wahai pesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria:&lt;br /&gt;Namamu selalu dalam ingatanku, &lt;br /&gt;dalam ingatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahmu selalu di cermin mataku&lt;br /&gt;Tiada hari berlalu tanpa cintamu, &lt;br /&gt;tanpa cintamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita:&lt;br /&gt;O... begitu pula bayang wajahmu&lt;br /&gt;Selalu saja menggoda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita:&lt;br /&gt;‘Ku memanggilmu melalui lagu&lt;br /&gt;Nada cinta merayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duet:&lt;br /&gt;Oh wahai pesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita:&lt;br /&gt;Ho... ho... ho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namamu selalu dalam ingatanku, &lt;br /&gt;dalam ingatan&lt;br /&gt;Wajahmu selalu di cermin mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria:&lt;br /&gt;Tiada hari berlalu tanpa cintamu, &lt;br /&gt;tanpa cintamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita:&lt;br /&gt;Oh begitu pula bayang wajahmu&lt;br /&gt;Selalu saja menggoda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita:&lt;br /&gt;‘Ku memanggilmu melalui lagu&lt;br /&gt;Nada cinta merayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duet:&lt;br /&gt;Oh wahai pesona, wahai kekasih&lt;br /&gt;‘Ku memanggilmu melalui lagu&lt;br /&gt;Nada cinta merayu&lt;br /&gt;Oh wahai pesona&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiihUv1YddwT2MO1sGDr1ieBQ4qZA_LUK-P4rZ919IgFZc8IVwQsSg26PLwHS6V-ejOPFsiH1M7JPdo9qe_nmcnvXsk8dlrGnxyb3ofSx7f0KxMJ1Mp7ZXObPGWNmc9MT2bmTNMPTHJu8EO/s1600/coollogo_com-132211525.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiihUv1YddwT2MO1sGDr1ieBQ4qZA_LUK-P4rZ919IgFZc8IVwQsSg26PLwHS6V-ejOPFsiH1M7JPdo9qe_nmcnvXsk8dlrGnxyb3ofSx7f0KxMJ1Mp7ZXObPGWNmc9MT2bmTNMPTHJu8EO/s1600/coollogo_com-132211525.png" height="40" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb9L3xnvCH4hCsciMKpHnZD0Khd6JCY-Dv6E4AjHmtpnl14O2JIa3X9QLhrQtrd2EwtUKOq3l2dXKwHBR02Pdzho70Fz2u-1f9_oJVGPH9MqXBy7j7e7RlaxEkignETWc5wmNCtKLtWzgp/s72-c/rhoma+irama03.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>