<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095</id><updated>2026-05-25T23:29:08.345-07:00</updated><category term="Mahrus Ali"/><category term="Sarkub"/><category term="NU"/><category term="Video"/><title type='text'>Mahrus Ali Mengaku-ngaku Mantan Kyai NU</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-2415064328096745763</id><published>2013-09-05T16:34:00.003-07:00</published><updated>2013-09-05T16:35:22.736-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><title type='text'>Bolehnya Bertawassul Dengan Orang Saleh Yang Hidup atau Meninggal</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6bj3744FRGa7I7QEDgk77tlRDMYN8h9xQUDfkcDQv9tVQIeIs8tLpOJoJhq9gZwNPtsD3Zu2WeE-3woNzCxDgLrYwMV_neaBjPs_0Nucjm2ShCW-NzSG8zMj0byZrKcWqXqOKnzyrR4-n/s1600/mahrus+ali.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;299&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6bj3744FRGa7I7QEDgk77tlRDMYN8h9xQUDfkcDQv9tVQIeIs8tLpOJoJhq9gZwNPtsD3Zu2WeE-3woNzCxDgLrYwMV_neaBjPs_0Nucjm2ShCW-NzSG8zMj0byZrKcWqXqOKnzyrR4-n/s400/mahrus+ali.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;Dari Abu Sa&#39;id al-Khudri, berkata: &quot;Rasulullah bersabda: &quot;Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat di masjid kemudian ia berdoa: &quot;Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan derajat orang-orang yang berdoa kepada-Mu (baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal) dan dengan derajat langkah-langkahku ketika berjalan ini, sesungguhnya aku keluar rumah bukan untuk menunjukkan sikap angkuh dan sombong, juga bukan karena riya&#39; dan sum&#39;ah, aku keluar rumah untuk menjauhi murka-Mu dan mencari ridha-Mu, maka aku memohon kepada-Mu, selamatkanlah aku dari api neraka dan ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau,&quot; maka Allah akan meridhainya dan tujuh puluh Malaikat memohonkan ampun baginya.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (10729), Ibn Majah (770), Ibn al-Sunni dalam &#39;Amal al-Yaum wa al-Laylah, al-Thabarani dalan alDu&#39;a&#39;, al-Baihaqi dalam al-Da&#39;awat al-Kabir dan lainnya. Sanad hadits ini dinilai hasan oleh al-Hafizh al-Dimyathi dalam al-Matjar al-Rabih, &amp;nbsp;al-Hafizh al-Maqdisi sebagaimana dikemukakan oleh muridnya nl-Hafizh al-Mundziri dalam al-Targhib wa al-Tarhib, al-Hafizh al-&#39;Iraqi (725-806 H/1325-1403 M) dalam al-Mughni, al-Hafizh Ibn Hajar dalam Nataij al-Afkar dan lain-lain. Bahkan al-Hafizh al-Bushiri berkata dalam Mishbah al-Zujajah (1/99) bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al- Imam Ibn Khuzaimah dalam Shohih-nya sehingga dapat disimpulkan bahwa hadits ini bernilai shahih menurut Ibn Khuzaimah. Hadits ini menunjukkan dibolehkannya ber-tawassul dengan orang saleh, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Karena kata السائلين dalam hadits tersebut bersifat umum, mencakup mereka yang masih hidup ataupun sudah meninggal. Dalam hadits ini pula Nabi SAW mengajarkan untuk menggabungkan antara tawassul dengan al-dzawat al-fadhilah (seorang nabi atau wali dan orang saleh) dan tawassul dengan amal saleh. Beliau tidak membedakan antara keduanya, tawassul jenis pertama hukumnya boleh dan yang kedua juga boleh. Dalam hadits ini, tawassul dengan al-dzawat al-fadhilah ada pada redaksi بحق السائلين عليك &amp;nbsp;dan tawassul dengan amal saleh ada pada redaksi بحق ممشاي إليك&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hadits di atas dinilai hasan oleh para hafizh (gelar kesarjanaan tertinggi dalam disiplin ilmu hadits) seperti al-Hafizh al-Dimyathi, al-Maqdisi, al-&#39;Iraqi, al-Hafizh Ibn Hajar dan lain-lain, bahkan al-Imam Ibn Khuzaimah menilainya shahih. Akan tetapi Mahrus Ali dalam bukunya, Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat &amp;amp; Dzikir Syirik, menilai dha&#39;if jiddan hadits tersebut berdasarkan alasan, bahwa dalam sanad hadits tersebut terdapat perawi yang lemah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam hal ini &lt;b&gt;Mahrus Ali &lt;/b&gt;berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&quot;Hadits tersebut sangat lemah (dha&#39;if jiddan) karena terdapat seorang perawi bernama Fadhl bin Muwaffaq yang lemah dan Fudhail bin Marzuq, seorang perawi yang selalu berkata benar, tertuduh syi&#39;ah, suka melamun, dan menyampaikan hadits yang tidak tepat.&quot; (Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat &amp;amp; Dzikir Syirik, Cet ke-4, 2007, hal 30).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tentu saja kritikan Mahrus Ali terhadap hadits di atas berangkat dari ketidakjujuran dan ketidaktahuan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertama, kalau Mahrus Ali mau jujur, sebenarnya perawi yang bernama Fadhl bin Muwafiaq hanya terdapat dalam sanad Ibn Majah. Sementara dalam sanad Ahmad bin Hanbal, melalui jalur lain yaitu Yazid bin Harun, perawi tsujah dan mutqin (dipercaya dan sempurna dalam keilmuannya).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kedua, perawi Fudhail bin Marzuq dinilai oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Tcujrib al-Tahdzib (1/448), sebagai perawi yang selalu berkata benar, mengalami kekeliruan menyampaikan hadits, dan tertuduh syi&#39;ah. Komentar al-Hafizh Ibn Hajar terhadap Fudhail bin Marzuq seperti di atas dalam ilmu musthalah. Al-hadits dikategorikan sebagai pernyataan ta&#39;dil dan tautsiq (penilaian positif dan dipercaya terhadap perawi) yang haditsnya dapat dinilai hasan. Oleh karena itu, menurut para hafizh, hadits tersebut bernilai hasan. Agaknya Mahrus Ali tidak memahami terhadap istilah ini sehingga menilai hadits di atas dha&#39;if jiddan dan berlebih-lebihan menilai Fudhail bin Marzuq dengan pernyataan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan tentu pula, Mahrus Ali yang mendhaif jiddan-kan hadits tersebut dengan cara yang tidak jujur, tidak ada apaapanya jika kita bandingkan dengan al-Hafizh al-Dimyathi, al-Maqdisi, al-Iraqi dan al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani yang menilai hadits tersebut hasan.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/2415064328096745763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2013/09/bolehnya-bertawassul-dengan-orang-saleh.html#comment-form' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/2415064328096745763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/2415064328096745763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2013/09/bolehnya-bertawassul-dengan-orang-saleh.html' title='Bolehnya Bertawassul Dengan Orang Saleh Yang Hidup atau Meninggal'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6bj3744FRGa7I7QEDgk77tlRDMYN8h9xQUDfkcDQv9tVQIeIs8tLpOJoJhq9gZwNPtsD3Zu2WeE-3woNzCxDgLrYwMV_neaBjPs_0Nucjm2ShCW-NzSG8zMj0byZrKcWqXqOKnzyrR4-n/s72-c/mahrus+ali.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-779542698597916520</id><published>2013-05-19T04:14:00.001-07:00</published><updated>2013-05-19T04:14:34.795-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Video"/><title type='text'>Video Debat Terbuka NU vs Wahabi, Mahrus Ali Tidak Berani Datang</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyXapbEuB8gBWPldkX6HElHpOFZSOZFiIckrbD1_o1L0WZARwesVX5pRD2gR4SDHZyEC-qdJh28e2-j6715btdIUgyDA1K0YIgWvIcUuLUXhrruyAbQWnHpPIxBezqr8qL3tw06CnY-dYy/s1600/debat+nu+wahabi.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyXapbEuB8gBWPldkX6HElHpOFZSOZFiIckrbD1_o1L0WZARwesVX5pRD2gR4SDHZyEC-qdJh28e2-j6715btdIUgyDA1K0YIgWvIcUuLUXhrruyAbQWnHpPIxBezqr8qL3tw06CnY-dYy/s320/debat+nu+wahabi.png&quot; /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Debat Terbuka Wahabi versus NU di IAIN Sunan Ampel Surabaya bedah buku 
&quot;Mantan Kiai NU menggugat Sholawat &amp;amp; Dzikir Syirik&quot; karangan Mahrus Ali, seorang kakek-kakek yang mengaku-ngaku sebagai mantan Kiai NU padahal sama sekali &lt;b&gt;Bukan.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebenarnya Mahrus Ali diundang untuk hadir langsung untuk mempertanggungjawabkan tulisannya di forum debat terbuka ini, namun karena memang Mahrus Ali penakut jadi tidak datang. Maklumlah adanya buku tersebut dia bikin juga hasil copy paste dari internet saja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Simak videonya dibawah ini :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;http://www.youtube.com/embed/WqleWrKVgcU&quot; width=&quot;480&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/779542698597916520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2013/05/video-debat-terbuka-nu-vs-wahabi-mahrus.html#comment-form' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/779542698597916520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/779542698597916520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2013/05/video-debat-terbuka-nu-vs-wahabi-mahrus.html' title='Video Debat Terbuka NU vs Wahabi, Mahrus Ali Tidak Berani Datang'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyXapbEuB8gBWPldkX6HElHpOFZSOZFiIckrbD1_o1L0WZARwesVX5pRD2gR4SDHZyEC-qdJh28e2-j6715btdIUgyDA1K0YIgWvIcUuLUXhrruyAbQWnHpPIxBezqr8qL3tw06CnY-dYy/s72-c/debat+nu+wahabi.png" height="72" width="72"/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-4704840048906579003</id><published>2013-05-19T04:07:00.003-07:00</published><updated>2013-05-19T04:07:58.271-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Video"/><title type='text'>Video Membongkar Kebohongan Buku &quot;Mantan Kyai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik&quot;</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-dSzOwkqXLDNUldOo7bKTXh7zJ5Eu5s5wuLBFYAOsmocB1VgdH1tT-xlAWDLH3Kl2zfIvYLOuIX9ovPkEGvxQdJ6_FYMKSeG-WayxjBMybDKGqfPs4FOLwkLu8iowVsQSpQ4m7gbMGFvb/s1600/kebohongan+MKB.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-dSzOwkqXLDNUldOo7bKTXh7zJ5Eu5s5wuLBFYAOsmocB1VgdH1tT-xlAWDLH3Kl2zfIvYLOuIX9ovPkEGvxQdJ6_FYMKSeG-WayxjBMybDKGqfPs4FOLwkLu8iowVsQSpQ4m7gbMGFvb/s320/kebohongan+MKB.png&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Video ini berisi tentang acara Bedah Buku karya Seorang Wahabi yang mengaku-ngaku Kyai NU yaitu MAHRUS ALI.
Mahrus Ali mengarang buku yang berjudul &quot;Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik&quot;, dan buku tersebut telah dibantah oleh NU. Silahkan simak video ini:
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;Bagian 1&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;http://www.youtube.com/embed/--EDLJSKHMA&quot; width=&quot;480&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;Bagian 2&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;http://www.youtube.com/embed/mGA8pKjzutE&quot; width=&quot;480&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/4704840048906579003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2013/05/video-membongkar-kebohongan-buku-mantan.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/4704840048906579003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/4704840048906579003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2013/05/video-membongkar-kebohongan-buku-mantan.html' title='Video Membongkar Kebohongan Buku &quot;Mantan Kyai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik&quot;'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-dSzOwkqXLDNUldOo7bKTXh7zJ5Eu5s5wuLBFYAOsmocB1VgdH1tT-xlAWDLH3Kl2zfIvYLOuIX9ovPkEGvxQdJ6_FYMKSeG-WayxjBMybDKGqfPs4FOLwkLu8iowVsQSpQ4m7gbMGFvb/s72-c/kebohongan+MKB.png" height="72" width="72"/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-8131717811510369961</id><published>2012-10-02T19:44:00.002-07:00</published><updated>2012-10-02T19:53:57.558-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="NU"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sarkub"/><title type='text'>Fatwa Jenaka Mahrus Ali Wahabi Yang Mengharamkan Daging Ayam</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Sebelum saya memposting artikel ini, ijinkan saya untuk ketawa terlebih dahulu samfe terfingkal-fingkal kohh,, wkwkwkwk :D =D =)) =))&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Mahrus Ali berkata:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Saya tidak makan daging ayam sampai sekarang
karena&amp;nbsp; saya menjumpai hadis ini: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoBodyText2&quot; dir=&quot;RTL&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;نَهَى رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ
كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoBodyText2&quot; style=&quot;direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Rasulullah SAW melarang &amp;nbsp;setiapbinatang buas bertaring dan setiap
burung yang punya cakar &lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5513680535408079839#_ftn1&quot; name=&quot;_ftnref1&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Sayangnya
cakar di situ di artikan cengkerem. Ini penyimpangan dan menyalahi arti
sebenarnya. Lihat seluruh kamus arti Mikhlab adalah cakar bukan cengkerem.
Sudah tentu&amp;nbsp; saya tidak makan daging
burung, Ayam, Bebek dll. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border: medium none; overflow: hidden; text-align: justify; text-decoration: none;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border: medium none; overflow: hidden; text-align: justify; text-decoration: none;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Anda
menyatakan lagi: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;An-Nawawi
rahimahulah berkata: “Para pengikut madzhab kami sepakat bahwa halal untuk
makan burung unta, ayam, … itik, burung al-qatha, ‘ushfur (seperti burung
pipit), burung qumburah (yang berjambul), burung durraj, dan merpati (dara).”
(Syarh al-Muhadzdzab 7/22)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Komentarku
( Mahrus ali ) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Arabnya&amp;nbsp; sedemikian: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;المجموع شرح المهذب - (ج 9 / ص 21)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;اتفق أصحابنا على أنه يحل أكل النعامة
والدجاج والكركي والحباري والحجل والبط والقطا والعصافير والقنابر والدراج والحمام&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Pengikut
madzhab Syafii telah sepakat untuk menghalalkan burung unta, Ayam, &lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;Karaki&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;shorttext&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;shorttext&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;puyuh&lt;/span&gt;, &lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;Dan&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;bebek&lt;/span&gt;, &lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;dan burung-burung&lt;/span&gt; kecil (
Greja&amp;nbsp; dll ) &amp;nbsp;&lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;Alqta&lt;/span&gt; &lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;dan&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;bom&lt;/span&gt;, &lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;ayam hutan&lt;/span&gt;, &lt;span class=&quot;hps&quot;&gt;merpati&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Komentarku
( Mahrus ali ) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Nawawi bukan lainnya &amp;nbsp;menyatakan sedemikian&amp;nbsp; tanpa dalil yang pas, tapi sekedar taklid buta
kepada pengikut – pengikut madzhab Syafii bukan madzhab lainnya yang
menghalalkan hewan tsb tanpa dalil . &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border: medium none; overflow: hidden; text-decoration: none;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border: medium none; overflow: hidden; text-decoration: none;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border: medium none; overflow: hidden; text-decoration: none;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Untuk
pernyataan anda: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Ibnu
Qudamah rahimahullah berkata: “Hal itu (dibolehkannya burung merpati, red) ditetapkan
sebagai hukum oleh ‘Umar, ‘Utsman, Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas, serta Nafi’ bin
‘Abdul Harits.” (Al-Mughni 3/274)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Sungguh
keliru sekali bukan agak benar bila anda menyatakan seperti itu. Saya sebutkan
arabnya sbb: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;المغني - (ج 7 / ص 343)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;وَفِي الْحَمَامِ شَاةٌ .&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;حَكَمَ بِهِ عُمَرُ ، وَعُثْمَانُ ،
وَابْنُ عُمَرَ ، وَابْنُ عَبَّاسٍ ، وَنَافِعُ بْنُ عَبْدِ الْحَارِثِ ، فِي
حَمَامِ الْحَرَمِ ، وَبِهِ قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ ، وَعَطَاءٌ ،
وَعُرْوَةُ ، وَقَتَادَةُ ، وَالشَّافِعِيُّ ، وَإِسْحَاقُ .&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;ِArtinya :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk membunuh merpati ( di tanah haram )
di wajibkan membayar daam yaitu menyembelih kambing. Sed emikian ini di hukumi
oleh Umar, Utsman, Ibn Umar, Ibn Abbas, Nafi` bin Abd Harits ketika membunuh
merpati tanah haram. Ia juga pendapat Sa`id bin Al Musayyib, Atha`, Urwah,
Qatadah, Syafi`I &amp;nbsp;dan Ishak. &amp;nbsp;&amp;nbsp;Al Mughni&amp;nbsp;
343/7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Komentarku
( Mahrus ali ) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;direction: ltr; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Jadi
mereka bukan menghalalkan merpati sebagaimana yang anda duga. Tapi bagi orang
yang ketepatan membunuh merpati tanah haram, maka harus bayar dam menyembelih
kambing.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;maksud tajam adalah yg digunakan utk membunuh mangsanya contoh burung garuda, elang dan sejenisnya) .jd ayam tdk termasuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;maksud dari unggas yang berkuku tajam adalah seperti burung elang. kuku 
elang dapat melukai kulit manusia meskipun tanpa gesekan yang keras, hal
 tersebut tidak terjadi pada kuku ayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuku tajam lainnya adalah : harimau, singa, beruang, dan pemakan daging pada umumnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Saya tidak tahu, apakah Mahrus Ali sudah pernah melihat hadits riwayat Tirmidzi ini apa belum:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Hadits Tirmidzi 1749&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;
 &lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; margin-bottom: 10px;&quot;&gt;حَدَّثَنَا
 زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ الطَّائِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو قُتَيْبَةَ عَنْ أَبِي
 الْعَوَّامِ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زَهْدَمٍ الْجَرْمِيِّ قَالَ
دَخَلْتُ عَلَى أَبِي مُوسَى وَهُوَ يَأْكُلُ دَجَاجَةً فَقَالَ ادْنُ 
فَكُلْ فَإِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 
وَسَلَّمَ يَأْكُلُهُ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ 
مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ زَهْدَمٍ وَلَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ 
زَهْدَمٍ وَأَبُو الْعَوَّامِ هُوَ عِمْرَانُ الْقَطَّانُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Aku
 pernah menemui Abu Musa, &amp;amp; ternyata saat itu ia sedang makan daging
 ayam. Maka ia berkata, Mendekatlah, karena sungguh, aku telah melihat 
Rasulullah  memakannya. Abu Isa berkata; Ini adl hadits Hasan. Dan 
hadits ini juga telah diriwayatkan lebih dari satu dari Zahdam, namun 
kami tak mengetahuinya kecuali dari haditsnya Zahdam. Abu Al Awwam adl 
Imran Al Qaththan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Hadits Tirmidzi 1750&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;
 &lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; margin-bottom: 10px;&quot;&gt;حَدَّثَنَا
 هَنَّادٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي 
قِلَابَةَ عَنْ زَهْدَمٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ 
لَحْمَ دَجَاجٍ
قَالَ وَفِي الْحَدِيثِ كَلَامٌ أَكْثَرُ مِنْ هَذَا وَهَذَا حَدِيثٌ 
حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَى أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ 
أَيْضًا عَنْ الْقَاسِمِ التَّمِيمِيِّ وَعَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ 
زَهْدَمٍ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;makan daging ayam. Di dalam hadits ini terdapat ungkapan yg lebih panjang daripada ini. Dan hadits ini adl hadits hasan shahih.&lt;br /&gt; Ayyub As Sakhtiyani juga telah meriwayatkan hadits ini dari Al Qasim At Tamimi &amp;amp; dari Abu Qilabah dari Zahdam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border: medium none; overflow: hidden; text-decoration: none;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/8131717811510369961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/10/fatwa-jenaka-mahrus-ali-wahabi-yang.html#comment-form' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/8131717811510369961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/8131717811510369961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/10/fatwa-jenaka-mahrus-ali-wahabi-yang.html' title='Fatwa Jenaka Mahrus Ali Wahabi Yang Mengharamkan Daging Ayam'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-7183579556460819094</id><published>2012-07-28T00:26:00.000-07:00</published><updated>2012-07-28T00:26:28.006-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><title type='text'>Mahrus Ali Melarang Mengkhususkan Ziarah di Waktu Tertentu</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;postmeta-primary&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;                  &lt;span class=&quot;meta_date&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;meta_edit&quot;&gt;&lt;a class=&quot;post-edit-link&quot; href=&quot;http://www.sarkub.com/wp-admin/post.php?post=4146&amp;amp;action=edit&quot; title=&quot;Edit Post&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;          &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2012/01/Ziarah-Kubur-300x252.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;167&quot; src=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2012/01/Ziarah-Kubur-300x252.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam buku&amp;nbsp; “Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan Istighatsah dan Ziarah Para Wali” (hal. 556), Mahrus Ali berkata:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; “Beberapa kekeliruan seputar ziarah kubur:&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;em&gt;1. Mengkhususkan waktu-waktu tertentu  dalam melakukan ziarah kubur, seperti pada hari Jum’at legi, bulan  Sya’ban ataupun pada hari Idul Fitri, atau dengan kata lain menjadikan  kuburan sebagai Ied dan tempat berkumpul-kumpul untuk menyelenggarakan  acara Ibadah di sana, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah jadikan  kuburanku sebagai Ied (perayaan).(HR. Abu Daud).”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Tanggapan kami:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Berikut ini kami paparkan dalil-dalil diperbolehkannya melakukan ritual ibadah pada hari-hari tertentu :&lt;span id=&quot;more-4146&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Umar:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ  قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ  عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ&lt;br /&gt;
(صحيح البخاري)&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Nabi SAW selalu mendatangi masjid Quba setiap hari sabtu baik  dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai kendaraan, sedangkan  Abdullah selalu melakukannya.”&lt;/em&gt; (HR. Imam al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari I/398 hadits 1174)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam mengomentari hadits ini al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:&lt;br /&gt;
الحديث&amp;nbsp; على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال  الصالحة والمداومة على ذلك ، وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد  الثلاثة ليس على التحريم&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Hadits ini dengan sekian jalur yang berbeda menunjukkan akan  diperbolehkannya menjadikan hari-hari tertentu untuk sebuah ritual yang  baik dan istiqamah. Hadits ini juga menerangkan bahwa larangan bepergian  ke selain tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, dan Masjid  Nabawi tidak haram).&lt;/em&gt; (al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari III/69, Dar al-Fikr Beirut)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hadits yang diriwayatkan oleh Suhail bin Abi Shalih al-Taimi:&lt;br /&gt;
كان النبي صلی الله علیه و آله يأتي قبور الشهداء عند رأس الحول فيقول: السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار و&lt;br /&gt;
وكان ابو بكر و عمر وعثمان يفعلُون ذلك&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Nabi SAW mendatangi kuburan orang-orang yang mati syahid ketika  awal tahun, beliau bersabda: “Keselamatan semoga terlimpah atas kamu  sekalian, karena kesabaranmu dan sebaik-baiknya tempat kembali ke surga.  “Shahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman juga melakukan hal yang sama  seperti Nabi SAW.”&lt;/em&gt; (diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf, III/537 dan al-Waqidi dalam al-Maghazi).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hadits di atas menerangkan kebolehan melakukan amaliah pada waktu  tertentu, sedangkan hadits yang dijadikan landasan oleh Mahrus untuk  melarang ziarah kubur dalam waktu tertentu terlihat kurang tepat. Dalam  konteks ini Ali bin Abi Thalib mengatakan:&lt;br /&gt;
منالسّنّة زيارة جبانة المسلمين يوم العيد وليلته&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Diantara sunnah Nabi SAW adalah berziarah ke kuburan kaum Muslimin di siang hari raya dan malamnya.”&lt;/em&gt; (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Catatan penting bagi Mahrus, bahwa polemik yang terjadi antara  penganut aliran Wahabi dan Ahlussunnah wal Jama’ah sudah lama terjadi  sejak abad ketujuh yang diprakarsai oleh Ibnu Taimiyah, akan tetapi  dalil-dalil yang ia gunakan tidak mengena sama sekali. Apakah kira-kira  hadits di atas absen dari ingatan Mahrus Ali dan Wahabi lainnya? ^_^&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;(Buku Kiai NU atau Wahabi Yang Sesat Tanpa Sadar Jawaban Terhadap Buku-Buku Mahrus Ali)&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;wp-caption aligncenter&quot; style=&quot;text-align: justify; width: 258px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;331&quot; src=&quot;http://orgawam.files.wordpress.com/2010/12/mahrus03.jpg&quot; width=&quot;248&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;wp-caption-text&quot;&gt;Mahrus Ali&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/7183579556460819094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-melarang-mengkhususkan.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/7183579556460819094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/7183579556460819094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-melarang-mengkhususkan.html' title='Mahrus Ali Melarang Mengkhususkan Ziarah di Waktu Tertentu'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-7866131369652843678</id><published>2012-07-28T00:13:00.000-07:00</published><updated>2012-07-28T00:13:55.497-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><title type='text'>Mahrus Ali Shalat Memakai Sandal</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di zaman modern seperti sekarang ini ternyata masih ada juga yang  shalat dengan memakai alas kaki. Mereka memakainya dengan sengaja tanpa  alasan-alasan mendesak. Lihatlah contoh seorang Mantan Kyai dari Jawa  Timur, Mahrus Ali bersama komplotannya (lihat gambar dibawah).  Orang-orang semacam ini merasa paling mengamalkan sunnah padahal ia  tidak memahaminya dan tidak paham tentang maksud nash-nash dan hukum  yang di-istinbathkan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;عن عبد الله بن السائب قال حضرت رسول الله صلى الله عليه و سلم يوم الفتح وصلى في قبل الكعبة فجلع نعليه فوضعهما عن يساره&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;more-4278&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Dari Abdullah bin Saib RA katanya: “Pada hari Fathu Mekkah saya ikut  hadir bersama Rasulullah Saw. Beliau shalat di dalam Ka’bah dengan  melepas alas kaki. Alas kaki itu diletakkan di sebelah kiri beliau ……..”  (HR. Ahmad dalam Musnadnya [3:411], Abu Dawud [1:75], An-Nasa’i [2:74],  Ibnu Majah [1:460], Ibnu Khuzaimah [2:106], Ibnu Hibban [5:564],  Al-Hakim [1:259], Al-Baihaqi [2:432] dan yang lainnya. Hadits ini  shahih)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;وعن سعيد بن يزيد الازدي قال: سألت أنس بن مالك: أكان النبي صلى الله عليه وسلميصلّي في نعليه؟ قال: نعم&lt;br /&gt;
Dari Sa’id bin Zaid Al-Azdiy, tuturnya, saya bertanya kepada Anas bin  Malik, “Apakah Nabi Saw itu shalat dengan mengenakan alas kaki?” Anas RA  menjawab, “Ya.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya [1:494], dan lainnya.)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam Fathul Bari [1:494], Ibnu hajar berkata, “Ibnu Baththal  berkomentar, “Hadits ini dipahami bahwa alas kaki dipakai jika tidak ada  najisnya, selain itu ia merupakan rukhsah / dispensasi bukan termasuk  hal yang disunnahkan, demikian dinyatakan oleh Ibnu Daqieq Al-’ld.  Karena ia tidak termasuk ke cakupan makna yang dituntut dari shalat.  Alas kaki itu sekalipun pakaian perhiasan, namun bersentuhannya dengan  tanah yang banyak mengandung najis telah membuatnya tidak masuk ke  tingkatan itu”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekarang ini memakai alas kaki dalam shalat tidak punya makna selain  bersilat lidah bagi orang yang mengklaim mengamalkan sunnah padahal ia  tidak memahaminya dan tidak paham tentang maksud nash-nash dan hukum  yang di-istinbath (dikeluarkan) darinya!.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Masjid sayid kita Rasulullah Saw itu lantainya tanah, belum ada  karpet seperti sekarang. Sebagai bukti, ketika sujud di musim hujan,  nampak pada hidung Rasulullah Saw tanah yang melekat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Abu Sa’id Al-Khudri RA menceritakan, “Atap masjid Rasulullah Saw itu  dari pelepah daun korma dan yang kami lihat dari langit. Kemudian  datanglah gumpalan awan menghujani kami. Maka kami shalat bersama  Rasulullah Saw sampai aku melihat bekas tanah bercampur air pada kening  dan ujung hidung Rasulullah Saw”. (HR. Al-Bukhari [2:298] dalam Fathul  Bari).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hadits ini menegaskan bahwa lantai masjid Nabi itu berdebu sehingga  tidak mengapa shalat mengenakan alas kaki atau sandal. Berbeda dengan  masjid sekarang. Masjid sekarang lantainya keramik dan diberi beraneka  ragam karpet, selain itu ada rak-rak sepatu dan sandal yang disediakan  di tempat khusus. Maka tidak patut orang masuk dengan memakai alas kaki.  Selain merusak lantai juga mengotorinya padahal Islam menganjurkan  kebersihan. Kami kira setiap yang berakal pasti setuju dengan apa yang  kami katakan ini!.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika di tanah lapang atau tempat terbuka tanpa ada alas, boleh  seseorang melakukan shalat dengan mengenakan alas kaki asalkan alas  kakinya suci dan lentur bisa mengikuti gerakan kaki seperti saat sujud.  Kalau keras dan kaku seperti sepatu bot yang dikenakan tentara tidak  lentur, susah untuk sujud, maka shalat dengannya tidak sah karena  shalatnya menjadi tidak sempurna. Kecuali ketika sedang perang dan  berhadapan dengan musuh yang tidak mungkin alas kaki dilepas, maka sah  shalat dengannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika itu berlakulah hadits Syaddad bin Aus yang marfu’, “Hendaklah  kamu berbeda dengan Yahudi dan Nasrani. Sesungguhnya mereka tidak shalat  dengan menggunakan khuf (stewel) dan sandal”. HR. Ibnu Hibban dalam  Shahihnya [5:561] dengan lafazh ini. Juga diriwayatkan Abu Dawud  [1:176], Al-Hakim [1:260], Al-Baihaqi [2:432] dan yang lainnya tanpa  kata-kata “dan nasrani”. Sekarang ini kita saksikan orang Yahudi dan  Nasrani memasuki gereja dan kuilnya dan sembahyang dengan mengenakan  sepatu. Dalam sunnah yang shahih disebutkan bahwa Nabi Saw pernah  melepas sandalnya dalam shalat. Ini menunjukkan dianjurkannya melepas  alas kaki dan makruh mengenakannya dengan alasan menyelisihi orang-orang  musyrik. Kami sangat heran kepada orang yang menyuruh orang lain dewasa  agar shalat dengan memakai sandal supaya beda dengan Yahudi dan Nasrani  dan membiarkan kaum muslimin tenggelam dalam pikiran dan perbuatannya  mengikuti Yahudi dan Nasrani, tidak menyelamatkannya. Mereka menyerukan  dipakainya alas kaki saat shalat dengan alasan supaya beda dengan  yahudi. Kami tidak tahu apakah mereka menipu diri sendiri atau menipu  orang lain? Allah Maha meliputi di balik semua itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Wallahu al-Muwaffiq.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Referensi:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;- &lt;a href=&quot;http://www.mediafire.com/?wn0cwhhxcre9zam&quot;&gt;صحيح صفة صلاة النبي: من التكبير إلى التسليم كأنك تنظر إليها – حسن بن علي سقاف&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;► Boleh dicopas!&lt;br /&gt;
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║&lt;br /&gt;
Verified Official by MoLuFir @2012&lt;br /&gt;
—&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;wp-caption aligncenter&quot; id=&quot;attachment_4284&quot; style=&quot;text-align: justify; width: 434px;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/media/set/?set=a.146761712036443.28676.140014749377806&amp;amp;type=1&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;size-full wp-image-4284&quot; height=&quot;324&quot; src=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2012/02/mahrus-jelek-1a.jpg&quot; title=&quot;mahrus jelek 1a&quot; width=&quot;424&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class=&quot;wp-caption-text&quot;&gt;Ini  adlh poto jamaah alcingkrangi, anak buah si markus sholat tanpa alas,  lgsg di atas tanah, katanya niru nabi.. tapi kok pake sandal jepit ya...  ?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;wp-caption aligncenter&quot; id=&quot;attachment_4285&quot; style=&quot;text-align: justify; width: 435px;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/media/set/?set=a.146761712036443.28676.140014749377806&amp;amp;type=1&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;size-full wp-image-4285&quot; height=&quot;514&quot; src=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2012/02/mahrus-jelek-2a.jpg&quot; title=&quot;mahrus jelek 2a&quot; width=&quot;425&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class=&quot;wp-caption-text&quot;&gt;Potret Badui Nejd, Sholat jum&#39;atnya di rumah, gak di mesjid. lihat foto bawah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/7866131369652843678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-shalat-memakai-sandal.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/7866131369652843678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/7866131369652843678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-shalat-memakai-sandal.html' title='Mahrus Ali Shalat Memakai Sandal'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-543203272328528287</id><published>2012-07-27T23:12:00.000-07:00</published><updated>2012-07-27T23:12:39.042-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><title type='text'>Mahrus Ali Meragukan Kitab al-Ruh Karangan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah</title><content type='html'>&lt;div id=&quot;downloadpdf&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/plugins/post2pdf-converter/post2pdf-converter-pdf-maker.php?id=6354&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;clear: left; color: black; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;alignleft size-full wp-image-6355&quot; height=&quot;160&quot; src=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2012/04/mahrusbohong.jpg&quot; style=&quot;margin: 4px;&quot; title=&quot;mahrusbohong&quot; width=&quot;141&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Dalam kitab &lt;em&gt;al-Ruh&lt;/em&gt;  karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (ulama rujukan wahabi) terdapat beberapa  kisah yang mengindikasikan bahwa orang yang sudah &amp;nbsp;meninggal dapat  memberikan manfaat terhadap orang yang masih hidup. Tentunya hal ini  sangat berseberangan dengan keyakinan kaum Wahabi pada umumnya, termasuk  juga Mahrus Ali.&amp;nbsp; Dan ketika argumen-argumen ini disodorkan kepada  Mahrus Ali sering ditanggapi dengan kurang obyektif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Seringkali  Mahrus Ali dengan berani menyalahkan hasil ijtihad guru-guru besar di  kalangan Wahabi, seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Taimiyah, dan  Muhammad bin Abdul Wahhab tentang apa yang mereka sampaikan bertentangan  dengan keyakinan umum ummat Wahabi. Bahkan yang lebih parah lagi Mahrus  Ali mengangggap bahwa &lt;em&gt;al-Ruh&lt;/em&gt; bukan karya Ibnu Qayyim!.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span id=&quot;more-6354&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Dalam buku &lt;strong&gt;Sesat Tanpa Sadar (hal. 95)&lt;/strong&gt;, Mahrus Ali berkata :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;“Tim  LBM NU Jember dalam MKB (hal. 16-17) menyitir pernyataan Ibnu Qayyim  al-Jauziyah&amp;nbsp; ulama besar yang biasanya tidak punya harga di kalangan  mereka, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Nabi  SAW telah menetapkan kepada umatnya, apabila mereka mengucapkan salam  kepada ahli kubur agar mengucapkannya seperti layaknya salam yang  diucapkan kepada orang yang masih hidup yang ada di hadapannya, dan ini  berarti berbicara kepada orang yang mendengar dan berakal, andaikan  tidak demikian, niscaya khitab ini sama dengan berbicara kepada sesuatu  yang tidak ada atau tidak berjiwa. Ulama salaf sepakat tentang hal ini,  dalil-dalil atsar seluruhnya mutawatir dari mereka bahwa mayyit  mengetahui ziarahnya orang yang hidup, dan merasa senang dengannya.  (al-Ruh, hal. 24)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Setelah menyebutkan pernyataan di atas Mahrus Ali berkomentar dalam bukunya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;”Sebagaimana disampaikan oleh Ulama Tahqiq, &lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;sangat meragukan&lt;/span&gt;  jikalau kitab tersebut disandarkan kepada Ibnu Qayyim, bisa saja beliau  mengarangnya tetapi pada waktu dalam permulaan mencari ilmu.”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (Sesat Tanpa Sadar, Mahrus Ali, hal. 95)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Sebenarnya  dengan perkataan itu Mahrus Ali harus mengajukan bukti bahwa kitab  tesebut memang bukan karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Alangkah bagusnya  andaikata Mahrus Ali mau membaca literatur Ibnu Qayyim yang seperti ini  dengan pandangan ingin mengetahui kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Untuk  menjawab komentar Mahrus di atas, kami akan mengutip pernyataan  al-Syaikh Bakar Abdullah Abu Zaid, salah satu ulama senior wahabi,  beliau berkata dalam kitab &lt;em&gt;Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Hayatuhu, Atsaruhu Wa Mawariduhu&lt;/em&gt;&amp;nbsp; tentang keabsahan nisbah kitab al-Ruh terhadap Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;“Sudah  populer di kalangan para penuntut ilmu bahwasannya kitab al-Ruh  dikatakan bukan sebagai karya Ibnu Qayyim, seandainya memang itu adalah  tulisan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, berarti beliau telah menulisnya  sebelum menjadi murid Ibnu Taimiyah. Pernyataan inilah yang sering  dibicarakan para ulama di majelis-majelis ilmu, akan tetapi saya tidak  pernah mendapatkannya terbukukan dalam satu kitab, barangkali memang  ada, akan tetapi belum terbaca oleh kami.” Permasalah yang timbul ini  menggerakkan saya untuk mengkaji kembali serta membaca sekali lagi &lt;em&gt;al-Ruh&lt;/em&gt; dari pertama sampai akhir, yang menghasilkan dua kesimpulan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Kitab al-Ruh murni karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, hal ini didasarkan pada beberapa alasan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, kitab ini banyak dikutip oleh beberapa ulama terkemuka dalam kitab-kitab mereka, seperti al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;,&lt;/strong&gt; Ibnu Qayyim mengisyaratkan akan adanya kitab ini dalam kitabnva yang lain yaitu &lt;em&gt;Jala’ al-Afham&lt;/em&gt;  di bab keenam, tatkala beliau menerangkan satu hadits, beliau berkata: ”  Aku tulis hadits ini secara komprehensif dalam kitabku al-Ruh”. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,  kitab ini mendapat apresiasi tinggi dari al-Imam Burhanuddin al-Biqa’i  salah seorang murid al-Hafizh Ibnu Hajar, dengan menulis intisari kitab  tersebut, dan beliau beri nama &lt;em&gt;Sirr al-Ruh&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, dalam kitab &lt;em&gt;al-Ruh&lt;/em&gt; Ibnu Qayyim menyebut kitab yang lebih besar, yaitu &lt;em&gt;Ma’rifah al-Ruh Wa al-Nafs&lt;/em&gt;, kitab ini juga beliau sebutkan dalam Jala’ al-Afham. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kelima&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,  kalau kita betul-betul pengalaman membaca karya-karya Ibnu Qayyim serta  memahami seluk-beluk bahasa yang digunakan, kita akan tahu bahwa al-Ruh  merupakan tulisan Ibnu Qayyim.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Kitab &lt;em&gt;al-Ruh&lt;/em&gt; ditulis setelah beliau berguru dengan Ibnu Taimiyah, hal ini meninjau dua alasan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,  kutipan beliau akan pernyataan Ibnu Taimiyah dalam kitab tersebut,  malah kitab tersebut beliau tulis setelah gurunya tersebut meninggal. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,  dalam urusan Aqidah beliau mengikuti konsep aqidah Ibnu Taimiyah, yaitu  pembagian tauhid menjadi tiga, uluhiyyah, rububiyyah, dan asma’ wa  al-sifat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Kesimpulan  dari pernyataan Syaikh Bakar Abdullah Abu Zaid sangat jelas, bahwa  kitab al-Ruh adalah karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah, serta ditulis setelah  berguru kepada Ibnu Taimiyah. Bahkan kitab tersebut ia tulis setelah  gurunya meninggal. Yang menjadii pertanyaan, apa yang melandasi pendapat  Mahrus Ali bahwa kitab al-Ruh bukan karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah?  Apakah hanya dikarenakan kitab tersebut banyak menyebutkan hal-hal yang  berseberangan dengan faham Wahabi?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;(Oleh: Ust. M. Idrus Ramli dalam buku “Kiai NU atau Wahabi yang Sesat Tanpa Sadar?”)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;wp-caption aligncenter&quot; id=&quot;attachment_6356&quot; style=&quot;width: 458px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;size-full wp-image-6356&quot; height=&quot;336&quot; src=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2012/04/mahrus9.jpg&quot; title=&quot;mahrus9&quot; width=&quot;448&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;wp-caption-text&quot;&gt;Inikah Ulama Anda? Sholat Jum&#39;at di rumah, di atas tanah, memakai sendal.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/543203272328528287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-meragukan-kitab-al-ruh.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/543203272328528287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/543203272328528287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-meragukan-kitab-al-ruh.html' title='Mahrus Ali Meragukan Kitab al-Ruh Karangan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-8595693502884189979</id><published>2012-07-26T11:49:00.003-07:00</published><updated>2012-07-26T11:50:07.416-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="NU"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sarkub"/><title type='text'>Polemik Mahrus Ali Belum Selesai</title><content type='html'>&lt;h3 class=&quot;post-title entry-title&quot; itemprop=&quot;name&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class=&quot;post-header&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEha-z45zotO426kuNYi2Jja8U_0QGASewFSuWFeGrQlsbX2X4kExAOb1mddxRdlC-ZALEKGOuqdZ6LfJW-4g-c1gE1Ak0bbGba2MoUP8vylBjW_QcPHOwH43rPdyWOUJk0I9HxDim-jdLA/s1600/lipsus-1b.jpg&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5561527660662891378&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEha-z45zotO426kuNYi2Jja8U_0QGASewFSuWFeGrQlsbX2X4kExAOb1mddxRdlC-ZALEKGOuqdZ6LfJW-4g-c1gE1Ak0bbGba2MoUP8vylBjW_QcPHOwH43rPdyWOUJk0I9HxDim-jdLA/s400/lipsus-1b.jpg&quot; style=&quot;cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 400px; margin: 0 10px 10px 0; width: 300px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Kesabaran  hati kaum Nahdliyin kembali digoda. Buku terbaru H Mahrus Ali kembali  terbit. Isinya masih seperti yang dulu, bisa “menggemaskan” hati.  Bedanya, topik yang diangkat kali ini berbeda. Bagaimana kita harus  menyikapi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MASIH ingat nama H Mahrus Ali? Yah, setelah  cukup lama tenggelam dari pemberitaan media, nama itu kembali menjadi  polemik. Hanya saja kalau sebelumnya polemik berlangsung di tengah  masyarakat, polemik kali ini lebih banyak berlangsung di dunia maya,  melalui saluran facebook.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polemik dipicu oleh munculnya buku  terbaru H Mahrus Ali dengan penerbit yang sama, Laa Tasyuk! Press.  Sebagaimana biasa, judul buku itu cukup mudah memancing emosi. Di sampul  depan nama penulis cukup jelas H Mahrus Ali (Mantan Kyai NU), dengan  judul buku Amaliah Sesat di Bulan Ramadhan (kesyirikan ngalap berkah  kubur, ruwahan, megengan dan kesesatan dzikir berjama’ah disela-sela  shalat tarawih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya Aula kurang tertarik lagi menulis  laporan tentang alumni Pondok Pesantren Langitan yang tidak diakui  almamaternya tersebut. Pengalaman sebelumnya sudah cukup menjadi  pelajaran, betapa ia tidak bisa diajak beradu argumentasi secara sehat  dan wajar. Saat ada “tantangan” dialog, ia malah mengajukan syarat yang  terbilang tidak masuk di akal orang waras. Pertama, ia minta agar dialog  diadakan di rumah H Mahrus, dengan catatan dilakukan orang per orang,  tidak boleh secara rombongan. Kalau orangnya banyak harus dilakukan  secara bergiliran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, jika dialog dilakukan di tempat lain,  ia minta dua jaminan: pertama, jaminan uang sebesar Rp 2.000.000.000  (dua miliar), dan kedua, jaminan keamanan. Jaminan keamanan itupun  terbilang cukup unik. Ia minta dijemput ke rumah dengan pengawalan 1  truk polisi bersenjata lengkap dan 1 jip polisi militer. Mereka harus  menjemput ke rumah, menunggui selama dialog dan mengantar kembali ke  rumah. Banyak orang tertawa saat mendengar permintaan yang terbilang  cukup janggal tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioPmbIOaYstHRtQ0YH4Rn0HGFaihvEdd_1Cv1hauMAY8FKg9qAZKMZZYFwhTNQHH5N3fgeC7xDsE1cfjja49kiS_vFpckSjO6-mD2Eb_3fuWaHWPc8fup3AeovAX5v6OCzN2RG7EzBFpY/s1600/lipsus-2.jpg&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5561527672193909122&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioPmbIOaYstHRtQ0YH4Rn0HGFaihvEdd_1Cv1hauMAY8FKg9qAZKMZZYFwhTNQHH5N3fgeC7xDsE1cfjja49kiS_vFpckSjO6-mD2Eb_3fuWaHWPc8fup3AeovAX5v6OCzN2RG7EzBFpY/s400/lipsus-2.jpg&quot; style=&quot;cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 400px; margin: 0 10px 10px 0; width: 320px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak  heran kalau tiga kali undangan debat terbuka tidak pernah ia hadiri.  Pertama di IAIN Sunan Ampel Surabaya, kedua di Malang, dan ketiga di  Masjid Kauman Desa Gedongan, yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer  dari rumahnya. Selain karena faktor syarat awal, alasan yang dimunculkan  makin berfariasi, mulai dari undangan yang terlalu mepet sampai minta  waktu setidaknya 3 bulan untuk muthala’ah. Orang pun tersenyum kala  mendengar adanya syarat tambahan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain faktor mbulet  itu, masih ada lagi penyebab Aula enggan menulis seputar H Mahrus Ali.  Pengalaman yang lalu (edisi Nopember 2006, Maret 2008, April 2008, Juni  2008 dan Agustus 2008), ternyata tulisan yang panjang lebar itu malah  menguntungkan penerbit dan melambungkan nama H Mahrus Ali. Padahal di  kampungnya, Tambaksumur, Waru, Sidoarjo, ia bukanlah siapa-siapa. Bukan  tokoh kampung, apalagi Kiai NU. Sekitar 30 orang pengikutnya, mayoritas  warga pendatang yang tidak berlatar belakang pesantren. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih  dari itu, ternyata H Mahrus hanyalah “korban” kenekatan penerbit. Judul  buku yang bombastis itu (Mantan Kiai NU) adalah rekaan penerbit yang  ingin mengeruk untung sebesar-besarnya dari tulisan ayah dari 14 anak  tersebut. Benar juga. Berkat pemberitaan dan polemik yang luar biasa,  buku itu malah makin laris bak kacang goreng. Bahkan di beberapa toko  buku di luar kota pembeli malah harus berani indent jika ingin kebagian  jatah. Repotnya, H Mahrus Ali malah tidak mendapatkan apa-apa dari  larisnya buku, mengingat ia menjual naskah, tidak menggunakan sistem  royalti. Orang terus marah pada H Mahrus, sementara penerbit dengan  enaknya menghitung untung yang terus melambung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika H Mahrus  mengadukan keberatan pada penerbit atas penggunaan judul “Mantan Kiai  NU” yang dilabelkan pada dirinya, sehingga banyak kiai NU beneran marah  kepadanya, penerbit hanya menjawab dengan enteng: “Supaya bukunya laku.  Kalau sampai tidak laku, apa Sampean mau tanggung jawab?” elak mereka. H  Mahrus pun langsung ciut nyali mendengar gertakan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7bMTFIqbPfpj6-a0i-rNAv4svlBf7b-uqxv9jqnkMzHZ2DjG0V5WxWmzo5Wb2bOKCp31MuRXqerO3KENANtbE5jzA-jzOLJ99CPwmbLiPiYPQZANhkgq8Z8e7HUCOYhDJnDILF7nVEwg/s1600/lipsus-2b.jpg&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5561527673589783298&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7bMTFIqbPfpj6-a0i-rNAv4svlBf7b-uqxv9jqnkMzHZ2DjG0V5WxWmzo5Wb2bOKCp31MuRXqerO3KENANtbE5jzA-jzOLJ99CPwmbLiPiYPQZANhkgq8Z8e7HUCOYhDJnDILF7nVEwg/s400/lipsus-2b.jpg&quot; style=&quot;cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 300px; margin: 0 10px 10px 0; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Dari  banyak pengalaman itu, ditambah saran dari beberapa kiai, dalam waktu  cukup lama Aula tidak lagi memperhatikan sepak terjang H Mahrus Ali dan  penerbit Laa Tasyuk! Press. Namun setelah mendapatkan banyak pengaduan  dari masyarakat di beberapa daerah yang tidak mengetahui kronologi  persoalan buku H Mahrus Ali, ditambah dengan maraknya dialog di internet  pada akhir Oktober lalu, membuat Aula ingin memberikan tambahan  informasi. Apalagi ada rombongan dari Tebuireng yang mengunjungi rumah  lelaki asal Desa Telogorejo, Sidomukti, Kebomas, Gresik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Khawatir Mengganggu Kerukunan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah  KH Thobary Syadzily yang memulai. Salah seorang anggota Komisi Fatwa  dan Hukum MUI Kota Tangerang, Banten itu menulis di akun facebook-nya  tentang terbitnya buku H Mahrus yang harus diwaspadai. Judulnya juga  cukup menyentak: H Mahrus Ali Pembohong dan Pemecah Belah Ummat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Telah  terbit kembali buku karangan Wahhabi, H Mahrus Ali. Awas jangan sampai  terprovokasi atau terpengaruh dengan keberadaan buku ini !!. Buku ini  dan buku-buku lainnya karangan H Mahrus Ali penuh dengan kebohongan dan  hasil rekayasa dari Wahhabi di atasnya saja. Dengan kata lain, buku-buku  itu hanyalah sebagai penyambung lidah Wahhabi (termasuk penerbit “LAA  TASYUK” Jln Pengirian No 82 Surabaya dan oknum-oknum yang berada di  belakangnya) saja yang bertujuan untuk mengadu domba antara NU,  Muhammadiyah, Persis dan ormas-ormas lainnya dan memperdaya ummat Islam  di Indonesia khususnya para warga Nahdhiyyin. Itulah gaya politik  Wahhabi yang murahan dan rendahan (cheap and low political style of  Wahhabi) yang selalu ditampilkan dalam da’wahnya.&lt;/span&gt; Begitu sebagian dari bunyi tulisan Kiai Thobary.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gayung  langsung bersambut. Ternyata tulisan itu mendapatkan tanggapan luar  biasa dari para penggemar chating. Hanya berselang 2 hari, tidak kurang  dari 98 tanggapan masuk. Kebanyakan menghujat penerbit ataupun penulis,  mulai dari sekadar mencela sampai yang mohon izin membunuh. “H Mahrus  Ali ini bisa memecah belah umat Islam. Saya khawatir mereka bertengkar  diakibatkan beredarnya buku-buku yang suka membid’ahkan orang lain itu.  Ini harus dihentikan!” Kiai Thobary memberikan alasan sikapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbq7dzhQKaKjY1wI6gFlwgoYQJ3vQx-dod7h3jlLm-unujLEIlbSdg2dSspmq3dYNaKFFMAfDy2UjAd_SvPsPBoRYa2R3D5WeZMdmCMUZV2JlMjUCYZyFin5Pbvs_gfrLydBc8CDhDRMY/s1600/lipsus-3.jpg&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5561527669520762610&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbq7dzhQKaKjY1wI6gFlwgoYQJ3vQx-dod7h3jlLm-unujLEIlbSdg2dSspmq3dYNaKFFMAfDy2UjAd_SvPsPBoRYa2R3D5WeZMdmCMUZV2JlMjUCYZyFin5Pbvs_gfrLydBc8CDhDRMY/s400/lipsus-3.jpg&quot; style=&quot;cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 300px; margin: 0 10px 10px 0; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Tidak  puas hanya lewat dunia maya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Husna Periuk  Jaya Tangerang, Banten itupun “ngeluruk” ke rumah H Mahrus pada 22  November 2010. Bersama Gus Cecep dari Tebuireng, Habib Fikri, kenalan di  dekat rumah H Mahrus Ali dan seorang sopir ia mendatangi rumah H  Mahrus, dengan terlebih dahulu bertamu pada keponakannya, H Mahmud  Ubaid. Gus Cecep adalah cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Semasa  hidup Gus Dur ia paling sering diajak mendampingi sepupunya itu saat ke  makam para shalihin. Tidak heran kalau ia mendapatkan panggilan Sarkub,  alias sarjana kuburan. Dunia gaib seakan menjadi kehidupan sehari-hari  alumnus Pondok Modern Gontor tersebut. Tanpa kesulitan yang berarti,  akhirnya mereka bisa bertemu dengan tuan rumah H Mahrus Ali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;H Mahrus Siap Dialog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk  di lantai beralas tikar, mereka berdialog, dimulai dengan hal-hal yang  ringan. Ketika disinggung mengenai syariat yang berbeda, H Mahrus lebih  banyak menghindar. Namun ketika menyangkut buku karyanya ia dengan  senang hati melayani. Bahkan dengan penuh percaya diri ia meminta untuk  dikoreksi. “Mana yang salah, saya siap mengoreksi, ini demi kebaikan  bersama,” kata H Mahrus, seperti yang ditirukan Gus Cecep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembicaraan  mulai serius saat menyentuh judul buku-bukunya yang dapat dengan mudah  memancing emosi warga NU. “(judul) Itu bukan kemauan saya, saya hanya  buat naskahnya,” elak H Mahrus. Mengapa tidak mengajukan keberatan?  “Sudah. Tapi saya tidak kuasa untuk itu,” balas H Mahrus tak mau kalah.  Akhirnya ia diminta menuliskan pernyataan bahwa judul buku memang bukan  atas kemauan dirinya, melainkan kehendak penerbit. Inilah yang mungkin  akan dipersoalkan lebih serius oleh rombongan dari Tebuireng tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembicaraan  selanjutnya adalah soal hisab-rukyat. Sebab dalam buku karyanya, H  Mahrus menyebutkan bahwa penentuan awal bulan menggunakan ilmu hisab  adalah bid’ah, karena tidak ada ajaran dari Rasulullah, tidak ada  Hadisnya. Dan pada kenyataannya –menurut H Mahrus dalam bukunya itu –  ilmu hisab tersebut tidak menyelesaikan persoalan apabila terjadi  perbedaan pendapat dalam penentuan jatuhnya awal bulan qamariyah,  seperti awal Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah. “Coba kalau dikembalikan  kepada Qur’an dan Sunnah Rasul dengan menggunakan rukyat, maka persoalan  akan selesai,” begitu analogi H Mahrus. Enteng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditanya tentang  cara melakukan rukyat, mengingat posisi hilal belum diketahui (sementara  munculnya kadang hanya dalam hitungan menit atau detik) H Mahrus tampak  kurang memahami persoalan itu. “Kalau soal penentuan hari raya, saya  percaya NU,” jawabnya singkat tanpa perasaan bersalah. Para tamunya  tampak kaget, mengingat NU menggunakan rukyat, namun dipandu dengan  hisab sebelumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, data-data tulisan tentang ilmu hisab  yang ada di buku itu dapat dari mana? “Saya ambil dari internet,”  tuturnya lirih sambil tersipu-sipu. Kiai Thobary hanya tersenyum melihat  keterbatasan penulis yang dalam bukunya dilabeli “Syeikh” itu. Sampai  saat itu H Mahrus belum mengetahui kalau orang yang duduk di hadapannya  adalah Ketua Lajnah Falakiyah PWNU Banten dan salah seorang anggota tim  Badan Hisab Rukyat Kementrian Agama RI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelang akhir  pertemuan, H Mahrus kembali menegaskan kesiapannya melakukan dialog  terbuka. Hanya saja tetap ada syarat yang harus dipenuhi. Kali ini bukan  persoalan uang, tapi hanya masalah tempat. Ia minta tempat yang aman,  bukan di tempat komunitas orang NU. Dan tempat aman yang dimaksud adalah  gedung kepolisian! Para tamu itupun hanya tersenyum menanggapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di  sisi lain, saat dialog berlangsung itu Gus Cecep melihat ada makhluk  lain yang selalu mendampingi H Mahrus. Tidak ikut bicara, namun cukup  untuk memberikan spirit pada penganjur aliran shalat langsung di atas  tanah dan memakai sandal tersebut. “Dia itu gurunya saat di Makkah  dulu,” tutur Gus Cecep, yang biasa diajak Gus Dur keliling ke  makam-makam keramat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang dari rumah H Mahrus, mereka sempat  memotret warkop yang biasa ditempati H Mahrus bercengkrama. Mereka pun  tampak puas dengan kunjungan itu dan memiliki kesimpulan yang sama,  bahwa nama H Mahrus Ali tidaklah sehebat yang digembar-gemborkan. Namun  soal sikap akhir, keduanya belum satu kata. Kiai Thobary ingin agar PWNU  Jawa Timur bersikap lebih tegas lagi pada H Mahrus Ali dan penerbit Laa  Tasyuk! Press, mengingat buku-buku yang diterbitkan sangat membahayakan  kerukunan umat Islam dan mengandung unsur adu domba. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan  Gus Cecep bersikap sebaliknya. Ia ingin orang itu dibiarkan saja, toh  masyarakat  sudah pada tahu siapa sebenarnya dia. “Kalau diurusi serius,  dia malah terkenal,” ujarnya memberikan alasan. Bagaimana dengan kita? &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;(M. Subhan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;*) Dimuat di Majalah AULA Edisi Januari 2011 dalam rubric “Liputan Khusus”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/8595693502884189979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/polemik-h-mahrus-ali-belum-selesai.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/8595693502884189979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/8595693502884189979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/polemik-h-mahrus-ali-belum-selesai.html' title='Polemik Mahrus Ali Belum Selesai'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEha-z45zotO426kuNYi2Jja8U_0QGASewFSuWFeGrQlsbX2X4kExAOb1mddxRdlC-ZALEKGOuqdZ6LfJW-4g-c1gE1Ak0bbGba2MoUP8vylBjW_QcPHOwH43rPdyWOUJk0I9HxDim-jdLA/s72-c/lipsus-1b.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-7242964758738567717</id><published>2012-07-26T11:34:00.000-07:00</published><updated>2012-07-26T11:34:49.706-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sarkub"/><title type='text'>Mahrus Ali Menafikan Hadits Ibnu Umar Tentang Tawassul dan Istighatsah</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;meta_edit&quot;&gt;&lt;/span&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;entry clearfix&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;                                                   &lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Serial Akidah: Jawaban Terhadap Kebohongan Buku-buku Mahrus Ali&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;&lt;strong&gt;عن اِبن عمررضي الله عنه انّه خدرت رجله فقيل له: اُذكر احبّ النّاس اِليك، فقال: يا محمّد، فكانّما نشط من عقال&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA bahwa suatu ketika kaki  beliau terkena mati rasa, maka salah seorang yang hadir mengatakan  kepada beliau: “Sebutkanlah orang yangpaling Anda cintai!”. Lalu Ibnu  Umar berkata: “Ya Muhammad”. Maka seketika itu kaki beliau sembuh.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini dengan tegas menyatakan akan kebolehan tawassul&amp;nbsp; dan  istighatsah dengan dzat Nabi Muhammad SAW setelah beliau wafat. Abdullan  bin Umar melakukan hal tersebut setelah Rasulullah SAW wafat. Sehingga  hadits ini menunjukkan bahwa bertawassul dan ber-istighatsah dengan  Rasulullah SAW setelah beliau wafat bukanlah termasuk perbuatan syirik  meskipun dengan menggunakan redaksi nida’ (memanggil).&lt;span id=&quot;more-2994&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Apa Komentar Mahrus Ali?&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;alignleft&quot; height=&quot;183&quot; src=&quot;http://infobuku.files.wordpress.com/2010/04/sesat-tp-sadar_150.jpg&quot; style=&quot;margin: 5px;&quot; width=&quot;120&quot; /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Dalam bukunya Sesat Tanpa Sadar, Mahrus Ali melakukan kebohongan ilmiah. Dia berkata dalam bukunya :&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;“Syaikh Muhammad  Nashiruddin Al-Albani menyatakan bahwasanya hadits tersebut lemah, dalam  kitabnya Dhaifu al-Adab al-Mufrad 148/964 dari Abdurrahman bin Sa’ad  berkata…dst. ini juga lemah.” (al-Kalim al-Thayyib, 173/1).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Selanjutnya tetap di halaman yang sama Mahrus Ali mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;“Sanad hadits ini menurut  Ibnu Sunni sebagai berikut: “Muhammad bin Ibrahim al-Anmati dan Amr bin  al-Junaid bin Isa menceritakan kepadaku, keduanya berkata Muhammad bin  Khaddasi bercerita kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy bercerita kepada  kami, Abu Ishaq al-Sabi’i bercerita kepada kami dari Abu Syu’bah.”  (Lihat buku “Sesat Tanpa Sadar” karangan Mahrus Ali, halaman 191-192).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Inti dari pernyataan Mahrus di atas adalah bahwa hadits Ibnu Umar  tersebut tidak bisa dijadikan landasan dengan alasan dha’if, itupun  tidak ada kejelasan riwayat. Kami akan tampilkan beberapa riwayat dari  jalur yang berbeda, agar semua bisa menjadi jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Tanggapan Kami&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita mau jujur dengan merujuk pada literatur- literatur hadits  maka kita akan menemukan penjelasan yang berbeda 180 derajat dengan yang  dikatakan Mahrus. Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam  al-Adab al-Mufrad (hal. 324), al-Hafizh Ibrahim al-Harbi dalam  Gharibul-Hadits (II/673-674), al-Hafizh Ibnu al-Sunni dalam ‘Amalul-Yaum  wal- Lailah (hal. 72-73), bahkan Ibnu Taimiyah —ideolog pertama aliran  Wahabi— dalam kitabnya al-Kalim al-Thayyib (hal. 88), menganjurkan untuk  mengamalkan isi hadits ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits di atas juga diriwayatkan melalui empat jalur:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sufyan al-Tsauri dari Abi Ishaq al-Sabi’i dari Abdurrahman bin  Sa’ad, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al  Mufrad.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Zuhair bin Mu’awiyah dari Abu Ishaq dari Abdurrahman bin Sa’ad, yang  meriwayatkan melalui jalur ini diantaranya Ibnu Sa’ad dalam  al-Thabaqat, Ibrahim al-Harbi dalam Gharib al-Hadits, Ibnu Ja’ad dalam  Musnad-nya, Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum Wa al-Lailah, Ibnu Asakir  dalam Tarikh-nya, demikian juga al-Hafizh al-Mizzi dalam Tahdzib  al-Kamal.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Israil dari Abi Ishaq dari al-Haitsam bin Hans, seperti riwayat Ibnu Sunni dalam Amal al- Yaum Wa al-lailah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Abu Bakar bin Ayyasy dari Abi Ishaq dari Abi Syu’bah, diantara yang  meriwayatkan melalui jalur ini adalah Ibnu Taimiyah dalam al-Kalim  al-Thayyib, Ibn-Qayyim Al-Jauziyyah dalam al-Wabil al-Shayyib dan  al-Syaukani dalam Tuhfah al-Dzakirin, dimana ketiganya adalah ulama  rujukan Mahrus Ali, juga meriwatkan dari jalur yang sama.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
Sanad hadits di atas yang selalu ditampilkan oleh Mahrus Ali untuk  dijadikan sebagai landasan. Tim LBMJember menduga bahwa dengan  memasukkannya Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim akan hadits ini ke dalam  kitabnya, cukup sebagai bantahan untuk membantah pernyataan Mahrus Ali  dan bisa mcmbuat dia sadar akan kesalahan yang telah dia perbuat. Namun  dugaan tersebut ternyata salah total dan kenyataannya berbalik 180  derajat, bukannya sadar dan mengakui kisalahannya, Mahrus Ali malah  menyalahkan Ibnu Taimiyah yang notabene panutan utama kaum Wahabi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya kita berpendapat bahwa hadits di atas dengan kitiga jalur  sanadnya adalah dha’if, hadits tersebut masih tetap bisa dijadikan  pijakan, sebab antara hadits yang satu dengan yang lain bisa saling  menguatkan, sehingga posisinya naik pada peringkat selanjutnya, yaitu  hasan. Bahkan ada seorang ulama bernama Majdi Ghassan yang menulis satu  risalah khusus mengkaji hadits ini, dan ia namakan al- Qaul al-Fashl  al-Musaddad Fi Sihhah Hadits Ya Muhammad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu a’lam&lt;br /&gt;
(Ditulis kembali dan dipublikasikan oleh &lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150512399335135&quot;&gt;Tim Sarkub&lt;/a&gt; dari &lt;a href=&quot;http://www.kiosislami.com/516,kiai-nu-atau-wahabi-yang-sesat-tanpa-sadar-jawaban-terhadap-buku-buku-mahrus-ali.html&quot;&gt;Buku Kiai NU atau Wahabi yang Sesat Tanpa Sadar&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/7242964758738567717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-menafikan-hadits-ibnu-umar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/7242964758738567717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/7242964758738567717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-menafikan-hadits-ibnu-umar.html' title='Mahrus Ali Menafikan Hadits Ibnu Umar Tentang Tawassul dan Istighatsah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-3737818823065529540</id><published>2012-07-26T11:19:00.000-07:00</published><updated>2012-07-26T11:19:25.191-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sarkub"/><title type='text'>Cerita Dusta Atas Nama Habib di Buku Mahrus Ali</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;buku wc markus&quot; class=&quot;alignleft featured_image wp-post-image&quot; height=&quot;215&quot; src=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2011/10/buku-wc-markus.jpg&quot; title=&quot;buku wc markus&quot; width=&quot;150&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Cerita  dusta ini ada di Pengantar buku “YASIN FADHILAH QUR’AN KYAI AHLI  BID’AH, karya H. Mahrus Ali (Mantan Kyai NU-katanya,-)”, berikut petikannya:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;padding-left: 30px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=&quot;color: #993300;&quot;&gt;TOBATNYA SEORANG HABIB&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;padding-left: 30px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=&quot;color: #993300;&quot;&gt; Hidayah telah menyambutnya. Sehingga dia mengkajih ulang akan ajaran-ajaran yang telah diterimanya tempo dulu.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;padding-left: 30px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=&quot;color: #993300;&quot;&gt;………………&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;padding-left: 30px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=&quot;color: #993300;&quot;&gt;Hal ini seakan-akan mengingatkan seputar kisah kehidupan diri saya &lt;strong&gt;(Habib Ahmad bin Thalib)&lt;/strong&gt;  tempo dulu yang masih menjalankan praktek penyembuhan, dan bahkan foto  diri saya sering muncul dicover depan majalah Liberty dengan bangganya  memakai pakaian kebesaran sang habib yang serba tahu tentang hal-hal  ghaib.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;padding-left: 30px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=&quot;color: #993300;&quot;&gt;….dan seterusnya&lt;span id=&quot;more-1087&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasil investigasi &lt;a href=&quot;http://www.sarkub.com/&quot;&gt;Tim Sarkub&lt;/a&gt; di lapangan  bahwa Ahmad bin Thalib bukanlah seorang habib (ahlu bait), yang benar  adalah ia keturunan arab badui berprofesi sebagai Tabib (dukun)&amp;nbsp; tinggal  di Surabaya. Ketika ditanya silsilah nasab ia tidak bisa menjawab.  Terbukti kalau ia memang Habib Gadungan produk wahabi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam menjalankan praktek perdukunan, ia  pernah berurusan dengan pihak berwajib mendekam di tahanan karna  praktek “dukun cabul”. Berita terbaru diperoleh bahwa nasibnya sekarang  makin menderita.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Cerita bohong di atas memang dibuat  untuk mendongkrak omset buku mahrus ali.&amp;nbsp; Dan anehnya orang – orang  wahabi begitu gembira membaca cerita bohong tersebut tanpa mengecek  kebenaran berita. Mereka ramai-ramai sebarkan cerita dusta tersebut  posting di website, blog, facebook dll.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.sarkub.com/densus-99-sarkub/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;em&gt;(Tim Densus 99 Sarkub)&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;http://www.sarkub.com/2011/mahrus-ali-berdusta-atas-nama-habib/ &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/3737818823065529540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/cerita-dusta-atas-nama-habib-di-buku.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/3737818823065529540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/3737818823065529540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/cerita-dusta-atas-nama-habib-di-buku.html' title='Cerita Dusta Atas Nama Habib di Buku Mahrus Ali'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-793031483496240627</id><published>2012-07-26T11:11:00.000-07:00</published><updated>2012-07-26T11:11:32.226-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sarkub"/><title type='text'>Investigasi Tim Densus 99 Sarkub Terhadap Mahrus Ali</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beredarnya buku-buku tulisan H. Mahrus Ali di berbagai tempat di  wilayah Indonesia benar-benar sangat meresahkan ummat Islam. Otomatis  itu menjadikan fitnah besar bagi kaum Nahdhiyyin dan bisa mengancam  persatuan dan kesatuan ummat Islam di Indonesia, bahkan bisa mengancam  eksistensi Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  yang menganut ideologi Pancasila dan berazaskan Undang-undang Dasar  1945. Atas dasar itu,&amp;nbsp; Tim Sarkub bersama kawan-kawan yang tergabung  dalam group “SARKUBIYAH” melakukan silaturrahim ke rumah kediaman H.  Mahrus Ali di Tambakwaru Sidoarjo, Surabaya – Jawa Timur untuk meminta  penjelasan langsung mengenai buku-buku tulisannya yang meresahkan  masyarakat dan menyesatkan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2011/10/markus-1a.jpg&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Senin Wage, 22 November 2010 M/ 15 Dzulhijjah 1431 H menjadi hari  bersejarah bagi Tim Sarkub. Di hari itulah mereka memulai perjalanan  untuk ‘menginvestigasi” H. Mahrus Ali, pengarang buku-buku yang  menyudutkan NU, di kediamannya di Tambaksumur waru Sidoarjo – Jawa  Timur.&amp;nbsp; Sebe lum menuju rumahnya H. Mahrus Ali (yang ngaku2 Mantan Kiai  NU), mereka berlima silaturrahim terlebih dahulu ke rumah keponakannya  yang bernama H. Mahmud alumni pesantren Langitan untuk  berbincang-bincang sebentar sambil mengemukakan maksud dan tujuan  kedatangan baik kami ke sana. Karena, rumahnya H. Mahmud terletak pas  berada di gang yang mau menuju rumahnya H. Mahrus Ali.&amp;nbsp; Tentunya  tidaklahh sopan apabila melewati rumahnya begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam silaturrahim itu mereka mendapat gambaran tentang ajaran yang  dianut oleh Mahrus Ali, bahkan mereka mendapat informasi bahwa Mahrus  Ali itu mengharamkan makan daging ayam dikarenakan ayam mempunyai cakar.  Begitupula, Mahrus Ali mengharamkan makan tahu dengan alasan tahu itu  mengandung cuka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah bersilaturrahim kemudian mereka menuju langsung ke rumahnya  Mahrus Ali untuk bersilaturrahim dan ingin menanyakan langsung tentang  penggunaan istilah “Mantan Kiai NU” dalam setiap karangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Alhamdulillah berkat anugerah Allah swt mereka&amp;nbsp; bisa menemui dia  dengan begitu mudahnya. Padahal menurut informasi yang didapatkan di  masyarakatnya bahwa dia itu sulit sekali ditemuinya terutama dengan  orang yang tidak sepaham dengannya. Bahkan ibu kandungnya sendiri ketika  sakit keras, dia (Mahrus Ali) tidak mau menemuinya dengan alasan tidak  sepaham dengannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam silaturrahim itu Tim Sarkub sempat berdialog langsung dengannya  dan alhamdulillah mereka berhasil membongkar kebohongan dan kebusukan  Mahrus Ali yang menganut paham Wahhabi beserta penerbit buku-buku  karangannya, yang telah menghina dan melecehkan NU. Dengan demikian,  mereka sudah sepantasnya diseret ke pengadilan untuk diadili dan  mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka&amp;nbsp; sempat mengambil foto secara rahasia lewat hp untuk dijadikan  sebagai data dan bukti yang valid. Karena, H. Mahrus Ali tidak mau  difoto dan menghukumi haram masalah foto. Begitupula, mereka sempat  berdialog dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Mahrus Ali termasuk  masalah penggunaan istilah “Mantan Kyai NU” di setiap buku karangannya.  Ternyata dalam jawaban Mahrus Ali penggunaan istilah “Mantan Kiai NU”  itu bukanlah dari kemauan H. Mahrus Ali (Wahhabi tulen) sendiri, tetapi  istilah itu merupakan keinginan dan hasil rekayasa dari penerbit “Laa  Tasyuk” yang menerbitkan buku-buku karangannya dengan tujuan agar  buku-buku tersebut best seller di pasaran. Buku2 tersebut pada  hakikatnya merupakan suatu pelecehan dan penghinaan terhadap eksistensi  NU baik di forum nasional maupun internasional. Dengan demikian, mereka  meminta langsung kepada H Mahrus Ali dengan sejujurnya untuk membuat  pernyataan mengenai istilah Mantan Kyai NU yang merupakan bukan  pilihannya sendiri sebagai suatu klarifikasi agar tidak menjadi fitnah  berkepanjangan di kemudian hari.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2011/10/Foto08301.jpg&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;aligncenter size-medium wp-image-66&quot; height=&quot;225&quot; src=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2011/10/Foto08301-300x225.jpg&quot; title=&quot;Kyai Thobary bersama Mahrus Ali di sampingnya yang sedang menulis Surat Pernyataan.&quot; width=&quot;300&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;em&gt;Kyai Thobary bersama Mahrus Ali di sampingnya yang sedang menulis Surat Pernyataan.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;blockquote&gt;Inilah&amp;nbsp; surat pernyataan Mahrus Ali yang sejujurnya  kepada Kyai Thobary. Mahrus mengatakan bahwa penggunaan istilah “Mantan  Kiai NU” bukan berasal dari dia sendiri. Tetapi itu merupakan pilihan  dari pihak penerbit “Laa Tasyuk” yang terlalu dipaksakan demi untuk  mengeruk keuntungan pribadi lewat buku2 tulisan Mahrus Ali yang  diterbitkannya. Untuk lebih jelasnya lagi kami salin kembali surat  pernyataan Mahrus Ali di bawah ini:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;“MANTAN KYAI NU BUKAN PILIHAN SAYA DAN SAYA SUDAH BILANGKAN KEPADA WARTAWAN AULA, SAYA MINTA AGAR DIGANTI TAPI SAYA TIDAK MAMPU”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;TGL 15 DZULHIJJAH 1431 H&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
WASSALAM&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt; MAHRUS&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2011/10/75663_155733687804600_100001039095629_256132_12737_n.jpg&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;aligncenter size-medium wp-image-95&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2011/10/75663_155733687804600_100001039095629_256132_12737_n-246x300.jpg&quot; title=&quot;surat pernyataan mahrus ali&quot; width=&quot;246&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Inilah scan surat pernyataan aslinya!!&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.sarkub.com/densus-99-sarkub/densus-mahrus/&quot;&gt;http://www.sarkub.com/densus-99-sarkub/densus-mahrus/ &lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/793031483496240627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/investigasi-tim-densus-99-sarkub.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/793031483496240627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/793031483496240627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/investigasi-tim-densus-99-sarkub.html' title='Investigasi Tim Densus 99 Sarkub Terhadap Mahrus Ali'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-3085720523722797996</id><published>2012-07-26T10:15:00.001-07:00</published><updated>2012-07-26T11:35:21.192-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><title type='text'>Mahrus Ali Itu Memalukan!</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rabu, 05/03/2008 05:35&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Surabaya, &lt;b&gt;&lt;i&gt;NU Online&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Buku Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik  karya H Mahrus Ali, menurut KH Ali Masyhuri (Gus Ali) tidak lebih  sebagai buku yang memalukan. “Itu sangat memalukan,” tuturnya dengan  nada tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Gus Ali, di jaman yang serba susah ini, ketika pendidikan umat  Islam kian mundur menghadapi globalisasi, dan semakin banyak jumlah  orang miskin, seharusnya orang menulis buku yang ada manfaatnya untuk  kaum muslimin. “Mestinya orang menulis buku bagaimana caranya agar  pendidikan dan ekonomi umat Islam ini maju, bukan malah ungkit-ungkit  persoalan yang tidak pernah selesai itu,” tandasnya dengan perasaan  penasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya,” kata Gus Ali, “Mahrus dan pemberi kata pengantarnya itu  tidak paham dengan esensi ajaran Islam, memalukan,” pengasuh Pondok  Pesantren Bumi Shalawat Tulangan itu menegaskan. “Buku itu tidak ada  manfaatnya blas, malah hanya memancing kemarahan dan merusak ukhuwah,”  tandasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jauh Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur itu menghimbau kepada kaum  nahdliyin agar tidak terpancing. Apalagi ketika penulisnya tidak mau  diajak dialog terbuka. “Mestinya penulis itu bersikap dewasa dan berani  bertanggung jawab dengan apa yang ditulisnya,” kata Gus Ali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog yang diinginkan di IAIN itu nantinya, menurut Gus Ali, adalah  ingin menguji sejauh mana validitas data yang dipakai oleh H Mahrus.  Bukan main pukul dan menang-menangan. “Tapi mengedepakan ilmu dan  kebenaran, bukan untuk adu jotosan,” ujarnya dengan gayanya yang khas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk saat ini, menurut Gus Ali, banyak pengurus NU yang dibuat bingung  oleh sikap H Mahrus. Menulis buku yang menyinggung perasaan, tapi diajak  dialog untuk mempertanggungjawabkan malah tidak mau. “Tidak ditanggapi  itu realitas, ditanggapi itu tidak ada manfaatnya,” tuturnya. (sbh)&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/3085720523722797996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-itu-memalukan.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/3085720523722797996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/3085720523722797996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-itu-memalukan.html' title='Mahrus Ali Itu Memalukan!'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-2474178148901466685</id><published>2012-07-26T00:31:00.000-07:00</published><updated>2012-07-26T00:31:23.912-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><title type='text'>Mahrus Ali Bukan Orang NU</title><content type='html'>H. Mahrus Ali (Lahir 28 Desember 1957 di desa Sidomukti Giri, Gresik,  Jawa Timur) mengaku sebagai mantan kiayi NU, menulis buku yang menghujat  amalan sebagian kaum Muslimn. Berikut foto dokumentasi, semoga bermanfaat bagi kita dan tidak  terjebak dengan tipu daya/kebohongan orang ini serta kebodohan  orang-orang yang mengeluh-eluhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibEPl-EWN8lGfLXGE0cxCaKk1LjW3gd2fMSfkxW16lABmzQaIlOFo_8afDghFfg3Jyp_dAOtVooUsMKoZxvng_VoY1SAIMOWqiXByUNnDRrFyTGLqkB9YP9_C8d5RFGEA0OccuE4Aj4C0/s400/Pernyataan+Untuk+Mantan+NU.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibEPl-EWN8lGfLXGE0cxCaKk1LjW3gd2fMSfkxW16lABmzQaIlOFo_8afDghFfg3Jyp_dAOtVooUsMKoZxvng_VoY1SAIMOWqiXByUNnDRrFyTGLqkB9YP9_C8d5RFGEA0OccuE4Aj4C0/s1600/Pernyataan+Untuk+Mantan+NU.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/2474178148901466685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-bukan-orang-nu.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/2474178148901466685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/2474178148901466685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/mahrus-ali-bukan-orang-nu.html' title='Mahrus Ali Bukan Orang NU'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibEPl-EWN8lGfLXGE0cxCaKk1LjW3gd2fMSfkxW16lABmzQaIlOFo_8afDghFfg3Jyp_dAOtVooUsMKoZxvng_VoY1SAIMOWqiXByUNnDRrFyTGLqkB9YP9_C8d5RFGEA0OccuE4Aj4C0/s72-c/Pernyataan+Untuk+Mantan+NU.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8171084801192565095.post-8829588100343168184</id><published>2012-07-25T10:06:00.000-07:00</published><updated>2012-07-25T10:06:46.295-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahrus Ali"/><title type='text'>Siapakah Mahrus Ali yang Mengaku Mantan NU?</title><content type='html'>Mahrus Ali merupakan pengarang buku-buku  yang menyudutkan NU. Beredarnya buku-buku tulisan H. Mahrus Ali di  berbagai tempat di wilayah Indonesia benar-benar sangat meresahkan ummat  Islam. Otomatis itu menjadikan fitnah besar bagi kaum Nahdhiyyin dan  bisa mengancam persatuan dan kesatuan ummat Islam di Indonesia, bahkan  bisa mengancam eksistensi Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik  Indonesia (NKRI) yang menganut ideologi Pancasila dan berazaskan  Undang-undang Dasar 1945.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam buku-bukunya, dia selalu menyebut  dirinya sebagai Mantan Kiai NU. Namun dia sebenarnya bukan mantan kiai  NU, apalagi pernah menjadi anggota atau menjabat di NU, tidak!. Dia itu  orang kampung biasa yang keadaan hidupnya sangat sederhana sekali dan  tidak punya power sedikitpun di masyarakatnya. Olehkarena itu, penerbit  “Laa Tasyuk” memanfa’atkan dia untuk dijadikan sebagai tumbal politik  ekonominya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mahrus Ali saat ini berkediaman di  Tambakwaru Sidoarjo – Jawa Timur. Dia juga suka nongkrong di warung kopi  di depan balai desa di dekat rumahnya di desa Tambak Sumur RT 01 / RW  01 Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Itupun beraninya kalau  keadaannya sedang sepi. Hidupnya pun semakin susah saja bahkan sudah  terasing dari masyarakatnya. Dia itu ibarat cacing tanah kepanasan yang  menjadi cemoohan masyarakat sampai ke anak-anak kecil. Itulah adzab  Allah swt yang selalu menimpa dia dikarenakan atas perbuatannya sendiri.  Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi kita !!.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun mengenai tulisan-tulisan H Mahrus  Ali di setiap buku karangannya, semuanya itu berisikan pengkajian dan  pembahasan yang tidak ilmiah dan mengandung ketidakbenaran, karena tidak  disertai dengan dalil-dalil yang kuat dan penjelasan-penjelasan yang  ilmiah secara keilmuan. Hanya saja dalil-dalil yang diambil olehnya baik  dari Al-Qur’an maupun Hadits Nabi hanyalah merupakan hasil terjemahan  secara tekstual atau letterleg saja sehingga sama sekali tidak mengenai  sasaran yang tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain itu, dia menganggap bahwa ilmu  hisab itu bid’ah dholalah dan yang paling benar hanyalah ilmu rukyat  semata dalam penentuan awal bulan Qamariyah seperti awal Ramadhan,  Syawal dan Dzul-Hijjah. Akan tetapi ketika diwawancarai KH. Thobary dan  ditanya: “Ngomong-ngomong ! Apakah bapak bisa tidak ilmu hisab?.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jawab Mahrus Ali: “Saya tidak bisa sama sekali ilmu hisab.“&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Mengapa bapak menulis ilmu hisab di  buku karangan bapak yang berjudul “Amaliyah Sesat Di Bulan Ramadhan?. ”  tanya KH. Thobary lagi. “Bahkan bapak mencela NU dan Muhammdiyah serta  Kementrian Agama Republik Indonesia. “&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jawab Mahrus Ali: “Oh itu saya ambil dari internet saja. “&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Walhasil H Mahrus Ali itu tidak faham  sama sekali tentang ilmu hisab dan rukyat. Ternyata tulisan dia tentang  hisab itu hanyalah merupakan &lt;b&gt;copy paste dari internet alias googling saja&lt;/b&gt;&lt;b&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan demikian, pemahaman keilmuan H.  Mahrus Ali benar-benar sangat diragukan tentang kebenarannya karena  tidak sesuai denagn fakta-fakta keilmuan yang berlaku di dalam ajaran  agama Islam. Itulah ajaran Wahhabi yang dianut oleh H. Mahrus Ali untuk  menyesatkan ummat Islam di Indonesia. Memang Mahrus Ali itu otaknya  sudah dicuci oleh Wahhabi ketika dia belajar dahulu di Saudi Arabia  selama 8 tahun.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantankiainu.blogspot.com/feeds/8829588100343168184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/siapakah-mahrus-ali-yang-mengaku-mantan.html#comment-form' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/8829588100343168184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8171084801192565095/posts/default/8829588100343168184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantankiainu.blogspot.com/2012/07/siapakah-mahrus-ali-yang-mengaku-mantan.html' title='Siapakah Mahrus Ali yang Mengaku Mantan NU?'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>19</thr:total></entry></feed>