<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Manusia Kita</title><description>It's personal!</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</managingEditor><pubDate>Thu, 5 Sep 2024 22:13:37 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">94</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://manusiakita.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>clean</itunes:explicit><itunes:subtitle>Manusia Kita</itunes:subtitle><itunes:author>Harry Makertia</itunes:author><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email><itunes:name>Harry Makertia</itunes:name></itunes:owner><item><title>Abadinya Perubahan</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2008/06/abadinya-perubahan.html</link><pubDate>Mon, 23 Jun 2008 14:23:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-2827564024605203566</guid><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn7cQAqnbsly8crXDWNfEIojlEvDie2HhOa2IWqVqcC27SRD43Tk8kPTRupfX6A17LetZrM7wWtvuQN8HJuFNMoIM25ZmConaPqQIb9-Gj1z7DUFeudgk93I9DvH3C6rlmwwjyXw/s1600-h/Cililin02+-+Foto+Bersama.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214985667852593826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn7cQAqnbsly8crXDWNfEIojlEvDie2HhOa2IWqVqcC27SRD43Tk8kPTRupfX6A17LetZrM7wWtvuQN8HJuFNMoIM25ZmConaPqQIb9-Gj1z7DUFeudgk93I9DvH3C6rlmwwjyXw/s400/Cililin02+-+Foto+Bersama.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Pengalamanku beberapa kali terakhir ini bersama anak-anak HIMATEK ITB membuat aku lebih yakin akan integritas mahasiswa kita yang masih memiliki idealisme yang mungkin merupakan ide maya bagi beberapa pihak. Hasil monumental yang telah mereka perlihatkan kepadaku membuatku dapat bertepuk dada, dan tidak dapat dipungkiri bahwa kerja yang telah mereka lakukan adalah kerja besar.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dimulai sejak setahun lalu, mahasiswa Program Studi Teknik Kimia ITB yang tergabung dalam HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) mulai bergerak. Ide itu datang begitu saja, menyediakan air bersih bagi masyarakat yang membutuhkannya. Dari berbagai riset dan studi yang layak untuk dihargai, dipilihlah masyarakat Kampung Nunukan di Cililin. Kampung ini berada persis dekat danau Saguling, sehingga sebenarnya mereka memiliki persediaan air yang melimpah, namun air yang tersedia tidak dapat digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari. Air waduk Saguling ini keruh berwarna hijau karena lumut yang tersuspensi di dalamnya. Dana yang dikumpulkan dari sana-sini telah tersedia. Negosiasi dengan Dr. I Gede Wenten, seorang pakar membran dari Program Studi Teknik Kimia ITB berhasil mendapatkan sebuah unit penghasil air bersih secara gratis. Dan kerja keraspun dimulai. Persis setahun yang lalu, sebuah pipa air sepanjang 200 m ditarik dari tengah danau. Sebuah pompa air berbahan bakar diesel dipasang di atas dermaga apung, digunakan untuk menarik air dari tengah danau ke Kampung Nunukan. Air tersebut ditampung dalam sebuah bak penampung. Dengan unit permurnian air berbasis teknologi membran, air kotor ini dibersihkan dan air bersih itu ditampung pada menara air berkapasitas 3 m3 untuk didistribusikan ke seluruh warga kampung Nunukan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kerja ini tidak berhenti di sini saja. &lt;em&gt;Tidak!&lt;/em&gt;. Para mahasiswa ini meneruskan kerjanya di daerah lain. Sebuah unit yang identik saat ini telah berdiri di masyarakat Kampung Manteos, masyarakat di tepian sungai Cikapundung yang airnya telah terpolusi. &lt;em&gt;Proficiat!&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Tidak!&lt;/em&gt; Mereka tidak berhenti sampai di sana. Mereka saat ini sedang sibuk mengadakan penyuluhan kepada masyarakat Ciparay tentang bagaimana cara menanam padi dengan metoda &lt;a href="http://ciifad.cornell.edu/sri/"&gt;SRI (&lt;em&gt;System of Rice Intensification&lt;/em&gt;)&lt;/a&gt;. Pada kesempatan itu, mereka juga melakukan penyuluhan bagaimana cara membuat kompos dari sampah organik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ketika mahasiswa lain melakukan demo yang tidak jarang bersifat anarkis (cek: &lt;a href="http://ririaudiya.com/2008/05/22/heran-sama-mahasiswa-indonesia/"&gt;Riri Audiya&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://video.filestube.com/key/MAHASISWA"&gt;Youtube&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://mertanus.wordpress.com/2008/05/27/harga-bbm-naik-vs-demo-mahasiswa-anarkis/"&gt;Mertanus&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.pintunet.com/lihat_opini.php?pg=2008/05/28052008/82771"&gt;Pintunet&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://iputusundika.net/archives/49"&gt;Putu Sundika&lt;/a&gt;, dll), anak-anak Teknik Kimia ITB lebih memilih terjun langsung ke pokok masalah: meningkatkan harkat hidup masyarakat miskin. Cara ini adalah cara yang jauh lebih efektif dalam menyalurkan uneg-uneg sekaligus memberi ruang yang sangat luas pada idealisme yang masih terus bersemi di hati mereka. Siapa bilang mahasiswa ITB memble?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cerita lengkap tentang:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://sampahbandung.blogspot.com/2008/06/pure-water-for-society.html"&gt;Pure water for society&lt;/a&gt; (proyek Kampung Nunukan Cililin).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://sampahbandung.blogspot.com/2008/05/himatek-for-cikapundung.html"&gt;HIMATEK for Cikapundung &lt;/a&gt;(proyek Kampung Manteos).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn7cQAqnbsly8crXDWNfEIojlEvDie2HhOa2IWqVqcC27SRD43Tk8kPTRupfX6A17LetZrM7wWtvuQN8HJuFNMoIM25ZmConaPqQIb9-Gj1z7DUFeudgk93I9DvH3C6rlmwwjyXw/s72-c/Cililin02+-+Foto+Bersama.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Thank God, Harga BBM Akhirnya Naik</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2008/05/thank-god-harga-bbm-akhirnya-naik.html</link><pubDate>Sat, 24 May 2008 09:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-6882797244784015072</guid><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2NGoiI_ykfuT67OOMI7swsRmHF4C13cl5mYVX-x_DyF6FUtkcnhhSeN0GzC0ZolLhhBGDhzGnq3RYNCPfoPO3jxGfb3scQOBFkySdWkX7BQiTpnZrvhqT3EO9MafoUJvExCXrQw/s1600-h/BioDiesel150.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203760074427829474" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2NGoiI_ykfuT67OOMI7swsRmHF4C13cl5mYVX-x_DyF6FUtkcnhhSeN0GzC0ZolLhhBGDhzGnq3RYNCPfoPO3jxGfb3scQOBFkySdWkX7BQiTpnZrvhqT3EO9MafoUJvExCXrQw/s320/BioDiesel150.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM. Harga 3 bahan bakar publik paling penting berubah sebesar 25-30%. Harga premium (&lt;em&gt;gasoline&lt;/em&gt;) naik menjadi Rp 6000,-, solar menjadi Rp 5500,- dan minyak tanah menjadi Rp 2500,-. Aku mungkin salah seorang yang &lt;em&gt;mendukung &lt;/em&gt;keputusan tidak populis ini. Harga BBM &lt;em&gt;harus&lt;/em&gt; naik. Dengan naiknya harga BBM ini, tampaknya kita harus dituntut untuk berpikir secara realistik. &lt;em&gt;Ya benar&lt;/em&gt;, bahwa keadaan sosio-ekonomi masyarakat Indonesia dewasa ini tidak terlalu menggembirakan. Namun kita harus melihat semuanya ini secara menyeluruh, &lt;em&gt;ya menyeluruh&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Dengan naiknya harga BBM, anggaran pendidikan, kesehatan, dan pembangunan fisik relatif tidak akan (semoga) terganggu. Di samping itu, para peneliti kita dari Universitas dan Lembaga Penelitian akan lebih terpacu untuk berusaha mengintensifkan penelitian dalam energi alternatif (misalnya biofuel, atau... &lt;em&gt;energi biru&lt;/em&gt;). Walaupun terdengar &lt;em&gt;klise&lt;/em&gt;, dan sedikit agak terlambat, tidak ada salahnya kalau aku mengatakan bahwa, inilah saatnya para peneliti kita unjuk gigi. Indonesia adalah negara yang sangat berpotensi menjadi &lt;em&gt;raja &lt;/em&gt;biofuel di dunia!&lt;br /&gt;Yang lebih penting lagi, masyarakat akan menjadi tahu bahwa energi itu &lt;em&gt;tidak &lt;/em&gt;murah.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2NGoiI_ykfuT67OOMI7swsRmHF4C13cl5mYVX-x_DyF6FUtkcnhhSeN0GzC0ZolLhhBGDhzGnq3RYNCPfoPO3jxGfb3scQOBFkySdWkX7BQiTpnZrvhqT3EO9MafoUJvExCXrQw/s72-c/BioDiesel150.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Harga BBM yang bermasalah, ataukah..?</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2008/05/harga-bbm-yang-bermasalah-ataukah.html</link><pubDate>Thu, 22 May 2008 08:41:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-4770600903367141868</guid><description>Pagi ini aku berdiskusi dengan 3 orang mahasiswaku, yang sedang menyelesaikan tugas Rancangan Pabriknya. Mereka aku tugaskan untuk merancang sebuah pabrik hidrogen untuk bahan baku energi (untuk &lt;em&gt;sel bahan bakar - fuel-cell&lt;/em&gt;) melalui reaksi reformasi kukus metanol atau etanol.&lt;br /&gt;Setelah melakukan analisa ekonomi, energi listrik dari &lt;em&gt;sel bahan bakar&lt;/em&gt; akan menguntungkan jika listrik dijual dengan harga Rp 1500-2000 per KWH. Dan hal itu tidak ekonomis jika dilakukan saat ini, di saat &lt;a href="http://manusiakita.blogspot.com/2008/05/protes-kenaikan-bbm-lho-kok.html"&gt;subsidi energi &lt;/a&gt;yang dialokasikan oleh pemerintah begitu besarnya, hingga mencapai 20% dari total anggaran belanja negara! "Hah, &lt;em&gt;20% &lt;/em&gt;pak? Yang &lt;em&gt;bener&lt;/em&gt; aja?&lt;em&gt;", &lt;/em&gt;mata mereka melotot tidak percaya menatapku.&lt;br /&gt;Aku yakinkan pada mereka bahwa saat ini Pemerintah diambang kebangkrutan jika subsidi untuk energi dipertahankan sebesar itu. Pada artikel yang kutulis beberapa saat yang lalu (&lt;a href="http://manusiakita.blogspot.com/2008/05/protes-kenaikan-bbm-lho-kok.html"&gt;Protes Kenaikan BBM? Lho Kok?&lt;/a&gt;) aku menyebut beberapa angka &lt;em&gt;fantastis &lt;/em&gt;tentang kenyataan ekonomi makro kita. Subsidi energi sebesar 187,1 triliun rupiah ini &lt;em&gt;pasti &lt;/em&gt;akan membengkak seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Jika hal ini terjadi, yang dirugikan siapa? &lt;em&gt;Yang pasti&lt;/em&gt;, negara ini tidak akan pernah maju dengan subsidi sebesar itu. Anggaran subsidi sebesar itu berkali-kali lipat lebih besar dari anggaran pendidikan nasional yang hanya sebesar 45,3 triliun! Aku awam dalam soal manajemen pengaturan keuangan, apalagi masalah pemerintahan. Tetapi hal yang kasat mata seperti ini mestinya &lt;em&gt;bisa&lt;/em&gt; dilihat oleh orang-orang pintar di negeri ini, entah itu mahasiswa, maupun &lt;em&gt;elite &lt;/em&gt;bangsa.&lt;br /&gt;"Maaf Pak, jadi demo menentang kenaikan harga BBM itu salah, &lt;em&gt;toh?&lt;/em&gt;", mereka berceletuk. Dari sudut pandang ini, ya salah, kataku. Program pembangunan dalam bidang infrastruktur, kesehatan, pendidikan kita yang sudah sangat buruk, akan semakin hancur lebur berantakan jika harga BBM tidak naik. &lt;em&gt;OK&lt;/em&gt;, yang penting aku sudah memberikan cara pandang yang lain pada para mahasiswa, yang &lt;em&gt;sumpah mati&lt;/em&gt;, baru tahu bahwa keadaannya seperti itu.&lt;br /&gt;Jadi, aku sebenarnya heran membaca komentar Kwik Kian Gie yang seolah-olah tidak mengerti masalah ini. Apalagi &lt;em&gt;statement&lt;/em&gt;nya yang entah dirujuk dari mana, tentang biaya produksi bensin per liter yang (katanya) hanya Rp. 650,-. Kita hitung-hitungan seperti orang bodoh ajalah.&lt;br /&gt;Harga minyak mentah dunia saat ini $127 per barel (160 liter). Itu berarti Rp 7900 per liternya. &lt;em&gt;Lha &lt;/em&gt;harga bahan bakunya saja sudah Rp 7900,- per liter, lantas bagaimana Kwik mau menjual bensin dengan harga seperti sekarang ini, Rp 4800,-? Apalagi dengan hanya Rp 650,-.&lt;br /&gt;Rizal Ramli pada berbagai kesempatan menengarai bahwa kondisi masyarakat yang sudah miskin ini akan semakin diperparah dengan kenaikan harga BBM. &lt;em&gt;Statement&lt;/em&gt; itu ada benarnya. Tetapi bukan berarti bahwa harga BBM tidak boleh naik. Menurutku, harga BBM &lt;em&gt;harus&lt;/em&gt; naik. Jika tidak, negara ini akan bangkrut. Yang perlu dilakukan adalah, naikkan pendapatan rakyat miskin. Pemerintah harus memikirkan bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan baru.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;, pro-kontra kenaikan harga BBM tidak akan pernah berhenti. Tetapi, berpikir realistik akan jauh lebih baik dan, percayalah, menyejukkan hati.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Alasan untuk Berbahagia</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2008/05/alasan-untuk-berbahagia.html</link><pubDate>Wed, 21 May 2008 19:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-1754683025387078971</guid><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglOAbmvVzcTlv8oDbOBufuuAT2Kxi65_qDegTcPbK2-C6HB68g1xymvVAU3NxH1PaL4zR-AFfMMM3OdJt4MnuDFOLo-D_V7GA8dvwiD8Q2AD9LmFYMI2lgkmFPj8J8_LFQUD4x2Q/s1600-h/Wine.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202809624343747826" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglOAbmvVzcTlv8oDbOBufuuAT2Kxi65_qDegTcPbK2-C6HB68g1xymvVAU3NxH1PaL4zR-AFfMMM3OdJt4MnuDFOLo-D_V7GA8dvwiD8Q2AD9LmFYMI2lgkmFPj8J8_LFQUD4x2Q/s320/Wine.jpg" width="200" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada &lt;em&gt;banyak &lt;/em&gt;alasan untuk berbahagia. Salah satunya baru saja menjadi hak kami. &lt;em&gt;Yes&lt;/em&gt;, kami baru saja berhasil menjual rumah kami di Antabaru, Bandung Timur. Terima kasih, Tuhan. Jadi, kami memiliki cukup alasan untuk membuka botol &lt;em&gt;wine&lt;/em&gt; yang kami peroleh 3 tahun yang lalu, dari Prof. Leon Janssen, &lt;a href="http://www.rug.nl/"&gt;&lt;em&gt;Rijksuniversiteit Groningen&lt;/em&gt; &lt;/a&gt;ketika beliau datang berkunjung ke Indonesia. &lt;em&gt;Henkel Trocken&lt;/em&gt; kami nikmati, dan berharap agar semua tetek-bengek persoalan jual-beli ini dapat beres secepatnya.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglOAbmvVzcTlv8oDbOBufuuAT2Kxi65_qDegTcPbK2-C6HB68g1xymvVAU3NxH1PaL4zR-AFfMMM3OdJt4MnuDFOLo-D_V7GA8dvwiD8Q2AD9LmFYMI2lgkmFPj8J8_LFQUD4x2Q/s72-c/Wine.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Rileks!</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2008/05/rileks.html</link><pubDate>Wed, 21 May 2008 18:38:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-7176336189815199143</guid><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilNnciE7HzSw9OaeT492zNhi1YHxGEzlOzCi9xszvny-tflXF9TJhedBLUFwLCnTgB91DMPcuWV3tKpPywu2TX9UL7t2Wh0WBS7obu9WhSpM-VkeP_lG-Q3Sz_KH9cgmWd5OcdSw/s1600-h/RedHibiscus.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202795369347292386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilNnciE7HzSw9OaeT492zNhi1YHxGEzlOzCi9xszvny-tflXF9TJhedBLUFwLCnTgB91DMPcuWV3tKpPywu2TX9UL7t2Wh0WBS7obu9WhSpM-VkeP_lG-Q3Sz_KH9cgmWd5OcdSw/s320/RedHibiscus.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kadang kala, jika aku merasa lelah, aku memilih tidur untuk menyegarkan kembali pikiranku. Tapi akhir-akhir ini, jika aku merasa bahwa aku menginginkan sedikit &lt;em&gt;refresher, &lt;/em&gt;aku sering kali lari ke kebunku, menyibukkan diriku di sana hingga perasaan tegangku hilang. Aku merasa nyaman ketika aku mulai memotong rumput, atau mengaduk-aduk reaktor &lt;a href="http://sampahbandung.blogspot.com/"&gt;kompos &lt;/a&gt;yang sengaja aku bangun untuk menampung sampah organik hasil dapurku.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, kegiatan berkebunku bertambah dengan semakin cepatnya rumput di kebunku tumbuh akibat musim hujan. Berkebun adalah salah satu kegiatanku yang tidak pernah aku lewatkan. Kegiatan ini memberikan energi di saat-saat dibutuhkan. Menyenangkan. Tetapi terkadang aku menjadi heran sendiri, karena dahulu aku tidak pernah berpikir bahwa berkebun akan menjadi salah satu kegiatan favoritku :-). &lt;em&gt;Wondering?&lt;/em&gt; Ini ada beberapa konsep tentang kegiatan berkebun:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://tomclothier.hort.net/page20.html"&gt;&lt;em&gt;Gardening Philosphy&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.gardendigest.com/"&gt;&lt;em&gt;The Spirit of Gardening&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.darrelltrout.com/dtartphilo.asp"&gt;&lt;em&gt;Darell's Gardening Philosphy&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilNnciE7HzSw9OaeT492zNhi1YHxGEzlOzCi9xszvny-tflXF9TJhedBLUFwLCnTgB91DMPcuWV3tKpPywu2TX9UL7t2Wh0WBS7obu9WhSpM-VkeP_lG-Q3Sz_KH9cgmWd5OcdSw/s72-c/RedHibiscus.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>All in Green</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2008/05/all-in-green.html</link><pubDate>Tue, 20 May 2008 22:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-7817556530007789120</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZZGRndVt8aswx3p91-REnVXVUQ9Zr8ajIKAKXLUq0ajhfvNh7HTPEH4iGP7JwgpKw2GU5gSbxS5313bCGc8TRAsHWsMPqaVXfRIZuE48x9YEc1CJ96jGbGcYiJEAc6aRTCQ_3eA/s1600-h/pines01.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202490461029014738" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: left" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZZGRndVt8aswx3p91-REnVXVUQ9Zr8ajIKAKXLUq0ajhfvNh7HTPEH4iGP7JwgpKw2GU5gSbxS5313bCGc8TRAsHWsMPqaVXfRIZuE48x9YEc1CJ96jGbGcYiJEAc6aRTCQ_3eA/s320/pines01.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;All in green went my love riding&lt;br /&gt;on a great horse of gold&lt;br /&gt;into the silver dawn.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Four lean hounds crouched low and smiling&lt;br /&gt;the merry deer ran before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Fleeter be they than dappled dreams&lt;br /&gt;the swift red deer&lt;br /&gt;the red rare deer.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Four red roebuck at a white water&lt;br /&gt;the cruel bugle sang before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Horn at hip went my love riding&lt;br /&gt;riding the echo down&lt;br /&gt;into the silver dawn.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Four lean hounds crouched low and smiling&lt;br /&gt;the level meadows ran before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Softer be they than slippered sleep&lt;br /&gt;the lean lithe deer&lt;br /&gt;the fleet flown deer.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Four fleet does at a gold valley&lt;br /&gt;the famished arrow sang before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Bow at belt went my love riding&lt;br /&gt;riding the mountain down&lt;br /&gt;into the silver dawn.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Four lean hounds crouched low and smiling&lt;br /&gt;the sheer peaks ran before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Paler be they than daunting death&lt;br /&gt;the sleek slim deer&lt;br /&gt;the tall tense deer.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Four tall stags at the green mountain&lt;br /&gt;the lucky hunter sang before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;All in green went my love riding&lt;br /&gt;on a great horse of gold&lt;br /&gt;into the silver dawn.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Four lean hounds crouched low and smiling&lt;br /&gt;my heart fell dead before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ee cummings &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;diambil dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.poemhunter.com/poem/all-in-green/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;all in green&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;tanpa permisi.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZZGRndVt8aswx3p91-REnVXVUQ9Zr8ajIKAKXLUq0ajhfvNh7HTPEH4iGP7JwgpKw2GU5gSbxS5313bCGc8TRAsHWsMPqaVXfRIZuE48x9YEc1CJ96jGbGcYiJEAc6aRTCQ_3eA/s72-c/pines01.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Memperkaya Orang Kaya</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2008/05/memperkaya-orang-kaya.html</link><pubDate>Tue, 20 May 2008 00:42:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-7194880946607583863</guid><description>Pada &lt;em&gt;pembicaraan &lt;/em&gt;Rancangan Pabrik siang kemarin, aku bilang kepada 3 orang mahasiswa bimbinganku bahwa para mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut agar Pemerintah tidak menaikkan harga BBM, pada dasarnya mereka sedang &lt;em&gt;memperkaya orang yang sudah kaya.&lt;/em&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Protes Kenaikan BBM? Lho kok?</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2008/05/protes-kenaikan-bbm-lho-kok.html</link><pubDate>Sun, 18 May 2008 11:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-8321830678371663312</guid><description>Maraknya protes tentang rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM membuat suasana politik negeri ini semakin memanas. Tapi &lt;em&gt;tunggu dulu&lt;/em&gt;, mungkin aku adalah salah satu dari sedikit sekali kelompok yang sangat setuju dengan rencana itu. Harga BBM &lt;strong&gt;harus naik!&lt;/strong&gt;. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah data yang aku peroleh dari Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja, pakar energi dari Program Studi Teknik Kimia ITB. Pada berbagai kesempatan, beliau sering kali membeberkan data berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari APBN 2008:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;total pendapatan negara adalah 895 triliun rupiah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;total belanja negara 989,5 triliun rupiah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Apa artinya ini? Kita masih harus ngutang! Lantas, perhatikan data berikut:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dari seluruh anggaran belanja itu, jumlah yang akan digunakan untuk mensubsidi energi adalah 187,1 triliun rupiah! Ini berarti &lt;em&gt;hampir &lt;/em&gt;20% dari total belanja negara! Masih enggak kebayang juga?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Padahal, anggaran untuk pendidikan &lt;em&gt;hanya&lt;/em&gt; 45,3 triliun rupiah. Jumlah ini &lt;em&gt;cuman &lt;/em&gt;4,5% dari anggaran belanja!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang menyedihkan, anggaran RISTEK &lt;em&gt;hanya &lt;/em&gt;0,47 triliun rupiah, alias 0,05% dari angaran belanja.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Padahal data di atas disusun ketika harga minyak mentah dunia masih sekitar $100/barrel. Dan sudah jelas, &lt;em&gt;jelas sekali, &lt;/em&gt;jika subsidi sebesar ini terus dipertahankan negara ini tidak lama lagi akan bangkrut! Apalagi ketika harga minyak mentah saat ini telah menembus $127/barrel!. Jika sebagian besar anggaran belanja negara disalurkan untuk mensubsidi energi, negara ini akan menjadi semakin miskin! Dan yang paling penting, ketidak-adilan akan menjadi semakin nyata, karena sebagian (&lt;em&gt;sangat)&lt;/em&gt; besar subsidi itu akan dinikmati oleh orang kaya. Jadi aku khawatir, bahwa demo dan protes menentang kenaikkan BBM itu hanya didasari hal yang tidak tulus; &lt;em&gt;ignoransi&lt;/em&gt;, politik, atau kepentingan ekonomi yang sangat besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ini, yang harus dipikirkan adalah, bagaimana cara menaikkan pendapatan rakyat miskin. &lt;em&gt;That's all! &lt;/em&gt;Hanya itu.&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Marah</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2007/06/marah.html</link><pubDate>Mon, 25 Jun 2007 21:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-1503830091633771208</guid><description>&lt;a href="http://www.angerasart.com/"&gt;&lt;img hspace="5" src="http://www.angerasart.com/images/New_Anger.jpg" width="200" align="left" vspace="5" /&gt;&lt;/a&gt;Sejak 2 bulan yang lalu, saya memang sedang super sibuk. Proposal yang harus dimasukkan pada tanggal 29 bulan yang akan datang, masih terus digodok. Pertarungan antar ego dan tanggung-jawab merupaka menu tim sehari-hari. Tekanan dari kiri-kanan sudah tak tertahankan lagi. Padahal, masih banyak tugas rutin yang harus saya perhatikan, termasuk tugas-tugas dari pimpinan departemen saya, atau sebagai anggota satgas dari berbagai platform. Tekanan besard atang secara tiba-tiba ketika komitmen beberapa unit dipertanyakan, padahal &lt;em&gt;deadline&lt;/em&gt; semakin dekat. Sodokan-sodokan tak ber-perikemanusiaan terus muncul dan menghantui tidur, ketika saya tiba-tiba harus mengurusi ujian sertifikasi di unit saya. Kepala ini mau meledak, ketika Pak Taruban datang kepada saya, dan komplain bahwa dia tidak punya waktu untuk mengurusi tugas-tugas yangs aya berikan. "Lha, apakahs aya punya waktu??", saya berteriak dalam hati. Saya telah mencoba untuk melakukan pendekatan persuasif dan mencoba untuk menerangkan kondisi yang sama-sama kita hadapi. "Satu gagas, semua gagal!", itu selalu kata-kata yang saya lontarkan, sambil berharap agar Pak Taruban dapat mengerti. Mengerti, bahwa bukan hanya beliau yang harus berkorban, tetapi kita semua.&lt;br /&gt;Muka saya merah padam, ketika beliau berkata kepada saya, "Dedikasi, sih dedikasi Pak, tapi saya kan perlu makan, dan saya sudah punya banyak komitmen. Masak, saya harus meninggalkan komitmen saya yang telah saya buat sejak beberapa waktu yang lalu? Yang bener aja, Pak!", celotehnya suatu saat. Saya mencoba untuk menahan diri, dan mengusap dada, "Lha kalau banyak komitmen, kenapa dulu bersedia untuk mengusulkan program pengembangan di proyek ini?", saya &lt;em&gt;ngedumel &lt;/em&gt;dalam hati. Menahan marah, tentu.&lt;br /&gt;Kemarin, saya capek sekali. Ketika saya pulang ke rumah, tiba-tiba istri saya marah-marah kepada saya hanya mungkin karena kesalah-pahaman. Saya meledak. Kepala saya pusing, dan urat leher saya menegang. Tangan saya melayang ke arah pintu di dekat saya, dan sekuat tenaga saya memukulkan tinju saya ke pintu. "Dhuuaarrr!!!", pintu meledak. Di ujung mata saya, air mata keluar memercik. Nafas memburu, dan dalam hati saya menangis. Saya merasa sangat sedih, sekaligus malu kepda diri sendiri.&lt;br /&gt;Mungkin saya salah, telah membawa masalah di kantor ke rumah. Tetapi apa yang bisa saya lakukan ketika saya telah berada pada kondisi yang sangat tertekan? Saya hanya bisa menyesal, karena semua energi yang telahs aya kerahkan akhir-akhir ini untuk menahan marah, akhirnya sia-sia. Saya merasa kerdil, bersalah.&lt;br /&gt;Setelah setelah itu, saya mencoba untuk meminta maaf kepada istri saya bahwa saya telah marah seperti itu, sambil menerangkan kepadanya bahwa akhir-akhir ini saya benar-benar merasa tertekan. Saya mohon kepadanya untuk membantu saya sedapat mungkin dengan memberikan dukungannya, pengertiannya.&lt;br /&gt;Moga-moga ia mengerti.-</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Keras Kepala</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2007/06/keras-kepala.html</link><pubDate>Sat, 23 Jun 2007 18:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-6645808236915555811</guid><description>Bu Indri terpaksa turun tangan menyelaraskan beberapa program yang tak kunjung selesai. Mas Andhar yang sudah sering stress, kembali bisa tersenyum ketika melihat pokok-pokok pikiran yang telah mulai tersusun, setelah Bu Indri mengambil alih beberapa penyusunan latar belakang dan rasionalisasi pengembangan program. Aku mendapat tugas untuk melakukan &lt;em&gt;nurturing&lt;/em&gt; pengembangan program pemberdayaan institusi.&lt;br /&gt;Setelah membaca ringkasan permasalahan yang telah dikembangkan oleh Bu Indri, mestinya &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; program-program yang telah dikemas secara apik itu bisa &lt;em&gt;come-up&lt;/em&gt; dengan mekanisme dan rancangan yang apik. Namun, &lt;em&gt;tidak!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dik Endang yang bertanggung jawab untuk mengembangkan program itu masih saja terus &lt;em&gt;percaya&lt;/em&gt; dengan apa yang dalam kepalanya itu, walaupun secara sporadis dan kolektif, beberapa pendamping pengembang telah menyatakan bahwa apa yang ditulisnya itu salah. Jadi, tadi, sekitar jam 18:00, edisi ke-sekian dari pengembangan program pemberdayaan institusi masuk ke mejaku. Dan, &lt;em&gt;duh!&lt;/em&gt;, masih tidak berubah. Jadi, sia-sialah apa yang telah dilakukan oleh Bu Indri yang aku tahu tadi malam tidak tidur sekejappun. Apa yang ada di kepala Dik Endang? Tidak ada yang tahu. &lt;em&gt;Keras kepala.&lt;/em&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Teamwork</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2007/06/teamwork.html</link><category>EQ</category><category>komitmen</category><pubDate>Thu, 21 Jun 2007 21:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-1446461004147318239</guid><description>&lt;img hspace="5" src="http://re3.mm-a8.yimg.com/image/4114725063" width="150" align="left" vspace="5" /&gt;Sebuah kerja tengah dilakukan. Kerja besar. Untuk itu, proposal besar tengah dipersiapkan. Setiap personil yang terlibat, berusaha untuk memberikan yang terbaik dari dirinya. Tidak ada pertanyaan lagi, sebuah komitmen merupakan sebuah keniscayaan.&lt;br /&gt;Tim penulis proposal telah dibentuk. Program besar dalam ranah komunikasi telah disepakati. Beres!&lt;br /&gt;Sosialisasi ke seluruh jajaran eksekutif telah dilakukan. Tim malah telah berhasil menarik WB untuk turun gunung dan memimpin proses penulisan proposal secara formal. Beres!&lt;br /&gt;Namun tidak disangka-sangka, aku melihat potensi destruksi dari sisi yang sama sekali tidak kuduga, teman sendiri. Sebuah tanggung jawab moral lantas dipertanyakan. Pak Maman secara sporadis mengusulkan agar proses pembuatan proposal di-drop saja. Sebaliknya, Bu Indri yang selalu berbicara lembut, masih optimis. Sebuah unit, unit Trans-Light, yang diidentifikasi sebagai penyebab demotivasi anggota penyusun proposal, menjadi bulan-bulanan. Tidak bisa disangkal, memang, bahwa komoditas etika yang satu ini, komitmen, selalu menjadi primadona dalam proses yang melibatkan aktivitas lintas-unit.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;teamwork &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;definition: work done by several associates with each doing a part but all subordinating personal prominence to the efficiency of the whole :: &lt;a href="http://www.m-w.com/dictionary/teamwork"&gt;Mirriam-WebsterOn-line&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Lebih Baik Enggak Ngerti!</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2007/06/lebih-baik-enggak-ngerti.html</link><category>prejudice</category><pubDate>Fri, 8 Jun 2007 15:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-7111526004918967520</guid><description>Sebuah kerja besar di bidang intensifikasi energi di organisasi ini sedang disusun. Kerja ini akan melibatkan aspek finansial yang tidak besar-besar amat, namun aspek perbaikan organisasi dan pola pikir kolektif yang signifikan akan terjadi. Benar, &lt;em&gt;duit&lt;/em&gt; yang terlibat tidak besar, karena walaupun secara keseluruhan terlihat besar, 8M(!), namun karena jumlah unit yang terlibat banyak, jadi setiap unit hanya mendapatkan jatah yang cukup untuk menjalankan program-program non-reguler seadanya. Sehingga komitmen para pelaku organisasi ini sangat dituntut agar seluruh program yang direncanakan dapat berjalan dengan baik (dan benar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja besar direncanakan. Dan, sejak sekarang, sebuah kesibukan yang luar biasa telah terbayang di setiap kepala personil yang terlibat. Mas Andhar Bumi yang sibuk &lt;em&gt;leading, &lt;/em&gt;selalu kena semprot dari kiri-kanan, oleh orang-orang yang bekerja, karena ritme kerja yang sangat tinggi. Mas Andhar tidak lelah-lelahnya meminta komitmen setiap orang, tidak capeknya menggedor setiap pintu untuk menyerahkan laporan evaluasi diri, yang telah menjadi tanggung jawab setiap unit. Aku, sebagai pelapis kedua personil penyusun proposal, mencoba mendukung semampuku, walaupun sering kedodoran kalau sudah bicara soal filosofi pengembangan program dengan Pak Maman Salim. Bahasa-bahasa surgawi lalu lalang di depan hidungku. Bu Indri B. Adriani dengan luwesnya selalu memiliki jalan bagi setiap konflik yang muncul. Bu Padmi Sastro, dengan &lt;em&gt;sense of humor&lt;/em&gt;nya selalu bisa menghidupkan gairah bekerja setiap personil yang terlibat. Dan beruntung kami memiliki Bu Mien Mandagi yang selalu bisa menengahi, diplomatis, dan membawa suasana damai di antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu semua &lt;strong&gt;&lt;em&gt;tidak cukup&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Kami semuanya sadar bahwa kerja kami ini tidak akan ada gunanya jika sama sekali tidak ada komitment pimpinan. Maka grilya-pun dimulai. Bu Mien telah mencoba untuk menjembatani tim ini dengan Pak Boss. Sebuah pertemuan romantik-pun terlaksana. Beres, karena Pak Boss mengerti; (minimal telah mencoba untuk mengerti); seluruh pengembangan program yang telah kami bicarakan selama ini. Kami juga telah berhasil melakukan audisi di rapim. Pada prinsipnya, &lt;em&gt;message&lt;/em&gt; telah kami sebarkan. Sekarang, terserah bagaimana khalayak menerimanya. Tapi, itu&lt;em&gt;pun&lt;/em&gt; tidak cukup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wakil Boss (WB) bidang Energi hingga sekarang tidak pernah &lt;em&gt;turun gunung &lt;/em&gt;untuk turut bergabung. Sejak awal penggodokan proposal ini, hingga sekarang yang nota bene telah berjalan kira-kira 4 bulan, Pak WB belum pernah bergabung dengan kami mendiskusikan dan mencoba mengerti apa yang sedang kami kerjakan. Pernah &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; beliau kami undang untuk berdiskusi. Tapi kok susah bener &lt;em&gt;nyambungnya&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Namun, akhirnya kami mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan beliau. &lt;em&gt;Treng,&lt;/em&gt; bak prajurit yang tidak takut mati, aku, mas Andhar dan Bu Mien menghadap WB di suatu siang yang terik. Mas Andhar dengan gagah perkasanya mempresentasikan program yang sedang dibuat dan dibangun oleh teman-teman. Bu Mien yang bijak, mengangguk-angguk setiap kali Mas Andhar tiba dalam sebuat point penting. Presentasi beres, dan waktu diskusipun tiba.&lt;br /&gt;Kami, sungguh, ternganga dan sedikit malu, ketika tahu bahwa pak WB ternyata tahu seluruh apa yang sedang kita kerjakan. Jangan ditanya soal komitment. Beliau dengan sigap, mengambil dan saat itu juga menyatakan bahwa Kantor WB akan bertanggung jawab atas segala pelaksanaan program ini. Kami benar-benar terperangah. Seluruh prototipe yang selama ini kami bayangkan, hancur lebur dalam seketika. Pak WB selama ini ternyata memang benar-benar sibuk, sehingga memang tidak bisa mengalokasikan waktu untuk kami. Dan saat itu pula, Pak WB berjanji untuk hadir dalam diskusi &lt;em&gt;intern&lt;/em&gt; yang akan diselenggarakan pada minggu depan ini. Memang, kalau &lt;em&gt;enggak &lt;/em&gt;ngerti, jangan sembangaran mengumbar &lt;em&gt;bacot&lt;/em&gt;. Memang, lebih baik &lt;em&gt;enggak &lt;/em&gt;ngerti sekalian!</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Pekerjaan Rumah</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2007/05/pekerjaan-rumah.html</link><category>pendidikan</category><pubDate>Thu, 31 May 2007 12:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-2405981876026296726</guid><description>&lt;img hspace="5" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGvns1RvxwyNjvAhQ5HWaIUDNosnMISL09xGgjCZHYQlv5nWxaeEmsH_NXiZdbKNhsQChyZPsbw0RQxoQy_in6yWn0TgRioT0r7EFEMZQqCnFmgUKcFrOzTwLxc-l4U4zHmVgFnw/s200/31079.JPG" align="left" /&gt;Seorang temanku bercerita bahwa anaknya saat ini sedang bersekolah di salah satu SMA Swasta di Bandung. Saat ini memang adalah saat-saat anak-anak sekolah mengisi waktunya untuk beraktivitas, sementara guru-guru sibuk memeriksa ujian-ujian. Sebagai seorang guru, aku juga merasakan sebuah dilema, bagaimana membuat para siswa sibuk beraktivitas dengan kegiatan yang menurutku "baik" dan "mendidik". Menurutku, banyak jalan keluar yang bisa diambil, tetapi hanya sedikit yang benar-benar bermanfaat. Celakanya, jalan keluar yang tidak bermanfaat selalu identik dengan jalan keluar termudah dan tidak banyak menyita waktu(ku). Salah satu yang menurutku baik adalah, memberi &lt;strong&gt;Pekerjaan Rumah&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Temanku tadi, dengan suara tinggi, tentu, justru protes bahwa anaknya saat ini punya tugas maha berat dari guru-gurunya, menyelesaikan pekerjaan rumah yang tadi kusebutkan di atas. &lt;em&gt;"Lho kok protes?",&lt;/em&gt; tanyaku.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Lha&lt;/em&gt;, kalau pekerjaan rumah biasa sih &lt;em&gt;enggak apa-apa."&lt;/em&gt;, katanya. "Yang ini luar biasa!", ia melanjutkan. Ia menceritakan bahwa anaknya harus menyelesaikan 700 ratus soal dalam seminggu!&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"What?",&lt;/em&gt; kataku. "&lt;strong&gt;Tujuh ratus soal?",&lt;/strong&gt; aku meyakinkan diriku bahwa telingaku masih normal-normal saja.&lt;br /&gt;"Benar!", temanku meyakinkanku bahwa memang demikianlah adanya.&lt;br /&gt;Aku lantas terdiam. Yang ada saat itu adalah tanda tanya besar dalam kepalaku. Mau dijadikan apa anak-anak kita oleh guru-guru yang cara berpikirnya sangat irasional seperti itu? Menyelesaikan 700 persoalan dalam seminggu tidak akan membuat anak didik menjadi lebih pintar. Justru sebaliknya. Tugas-tugas bodoh seperti itu hanya membuat anak didik berubah menjadi seorang &lt;em&gt;oportunist&lt;/em&gt; murahan yang kelak terdidik menjadi seorang koruptor besar. Gejalanya sudah ada. &lt;em&gt;Lha&lt;/em&gt;, temanku lantas bercerita bahwa untuk menyelesaikan 700 soal seperti itu, anak-anak lantas membagi-bagi keseluruh teman-teman sekelas. Si A mengerjalan soal nomor sekian sampai sekian, si B dari sekian sampai sekian, si C dan si D mendapatkan posi yang lain. Akhirnya, amburadul! Benar-benar amburadul dan membuat perasaanku hari ini sangat nelangsa.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGvns1RvxwyNjvAhQ5HWaIUDNosnMISL09xGgjCZHYQlv5nWxaeEmsH_NXiZdbKNhsQChyZPsbw0RQxoQy_in6yWn0TgRioT0r7EFEMZQqCnFmgUKcFrOzTwLxc-l4U4zHmVgFnw/s72-c/31079.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Tangan yang Menengadah</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2007/04/tangan-yang-menengadah.html</link><pubDate>Mon, 23 Apr 2007 18:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-4126009933253233755</guid><description>&lt;img hspace="5" src="http://www.che.itb.ac.id/makertia/pictures/hand.jpg" width="200" align="left" vspace="5" /&gt; Jalan itu penuh dengan pengemis. Sehingga, aku selalu merasa risih untuk memperlihatkan bagian kota itu kepada tamu-tamuku yang mengunjungiku. Jalan Pasteur, namanya. Sebuah jalan protokol, gerbang kota Bandung, yang selalu menjadi pembicaraan orang ketika datang ke Bandung. Jalan Pasteur telah menjadi &lt;em&gt;pilot project &lt;/em&gt;kota Bandung dalam hal mengimplementasikan UU K3 yang telah diratifikasi sejak beberapa tahun yang lalu. Mestinya, pengemis-pengemis itu tidak dapat dengan leluasa berkeliaran di sana, seakan-akan menyambut tamu kota Bandung, dan berteriak lantang, "Hai, Selamat Datang di Kota Bandung! &lt;em&gt;Cepek &lt;/em&gt;Pak!".&lt;br /&gt;Dilematis memang, memberi atau tidak memberi adalah sebuah pilihan. Ketika tangan menengadah, ada sebuah harapan yang tergambar di sana. Sebuah relik yang tak lekang, karena meminta dan memberi adalah sebuah proses yang sama tuanya dengan sang pertiwi. Masalah kemudian muncul ketika kita dihadapkan pada sebuah tanggung jawab moral untuk melakukan justifikasi pada penegakan pranata sistem dan empati. Sebuah pilihan yang tak henti diperdebatkan, lebih baikkah memberi ataukah tidak.&lt;br /&gt;Namun saya percaya pada ajaran bahwa memberi dengan cuma-cuma hanya akan menciptakan bangsa yang lemah, tidak produktif, dan bermental budak.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Kontemplasi</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2007/03/kontemplasi.html</link><pubDate>Tue, 20 Mar 2007 21:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-338134717505992230</guid><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiU1yQvTtSVIAGvvXciuLCRo-8fa_zfiu6S0JBAbqS3asbHUz58K_fFhNAIfMdFvPS_PzNKeUIHJxyDSYDTKhN61TCp-56cHgHI6J9f5ItWxu3eHHUlARSBbocnsV0axiKoAMns_A/s1600-h/2007+kul-kul.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5044011356353328658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiU1yQvTtSVIAGvvXciuLCRo-8fa_zfiu6S0JBAbqS3asbHUz58K_fFhNAIfMdFvPS_PzNKeUIHJxyDSYDTKhN61TCp-56cHgHI6J9f5ItWxu3eHHUlARSBbocnsV0axiKoAMns_A/s200/2007+kul-kul.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak banyak yang bisa kulihat, ketika tidak ada keinginan untuk itu. Tidak banyak yang dapat kuraih, walau sebenarnya aku telah menetapkan dimensi gerakku. Telunjukku sebenarnya telah dapat menetukan arahnya, kurasakan hal itu. Sering aku mengangguk sendiri, membenarkan isi hatiku. Namun terkadang aku ragu, apakah aku telah berjalan ke arah yang benar, mengikuti arah telunjukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caka yang satu berakhir, yang lain berawal kembali. Saatnya, kurasakan. untuk merenungi itu semua. &lt;em&gt;It's about my determination!&lt;/em&gt;, sering aku berteriak. &lt;em&gt;So what?&lt;/em&gt; Ya, begitulah, waktu terus berjalan, habis, dan tanpa apa-apa. Namun, sering kali cinta membisikkan kata-katanya kepadaku, "Kau tidak punya waktu untukku!". Itu mungkin benar. Aku sadar bahwa aku termasuk orang yang tidak pernah mau menolak tanggung-jawab yang disodorkan kepadaku. Implikasi yang lantas timbul setelah itu seharusnya kusadari sepenuhnya. Namun kadang-kadang aku lupa untuk berandai-andai. Memang, kadang-kadang aku tidak punya imajinasi, begitu kata cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat berpikir, apakah aku memerlukan resolusi ataukah tidak. Karena kembali, telunjukku terus mengarah pada egoku. Kalau berbicara tentang benar atau salah, terkadang aku selalu memandang hal sebagai cinta yang hitam atau putih. Tak ada gradasi warna di sana. Tak ada titi nada sumbang. Yang ada adalah tonggak angkuh yang menunjuk ke arah kepalaku, terang, sempurna. Anehnya, aku selalu menyodorkan gradasi nada pada cinta. Aku tahu hal itu tidak fair. Tapi itulah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku memerlukan resolusi tahun baru? Mungkin tidak perlu. Namun aku mungkin tahu, hal itu muncul dalam ranah kesadaranku karena aku sering kali berubah menjadi defensif ketika keadaan membuatku terpojok. Apakah aku memerlukan resolusi tahun baru? Entah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, aku tahu bahwa aku harus lebih baik di Caka yang akan datang. Pelahan, aku harus mengangkat bintangku dan menempatkannya di tempat yang mudah kulihat, yang pada gilirannya, akan selalu kuingat.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiU1yQvTtSVIAGvvXciuLCRo-8fa_zfiu6S0JBAbqS3asbHUz58K_fFhNAIfMdFvPS_PzNKeUIHJxyDSYDTKhN61TCp-56cHgHI6J9f5ItWxu3eHHUlARSBbocnsV0axiKoAMns_A/s72-c/2007+kul-kul.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Terganggu</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2007/03/terganggu.html</link><pubDate>Mon, 19 Mar 2007 23:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-2853839864128454114</guid><description>Akhir-akhir ini aku sering kali terganggu oleh hal-hal kecil. Tidak mudah memang untuk mengalokasikan berbagai masalah di kepalaku yang sudah penuh dengan berbagai masalah. Entah, mungkin karena tugas yang berjubel datang kepadaku membuatku seakan meledak. Aku mudah tersinggung, dan terkadang marah tak beralasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, Patricia sering menepuk bahuku, berbisik di telingaku, "Har, kau mudah marah!". Kalau sudah begitu, aku lantas terdiam, dan berusaha berkontemplasi. Tapi tidak mudah. Sering kali egoku muncul, dan mendadak memposisikan diriku sebagai &lt;em&gt;orang tertindas.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Asap pembakaran sampah yang sore tadi memenuhi rumahku membuatku &lt;em&gt;mendidih&lt;/em&gt;. Konsentrasiku hilang, padahal aku harus mempersiapkan soal-soal untuk ujian PTK besok. Kugelengkan kepalaku, dan mencoba untuk mengusir rasa amarahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grrrhhh....!</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Mengajar Monyet</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2006/10/mengajar-monyet.html</link><pubDate>Tue, 3 Oct 2006 09:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-115984273470289719</guid><description>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/1600/Monkey.gif"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/320/Monkey.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang kita bisa dapatkan hanya dengan berusaha seadanya dalam mencoba membuka mata seorang yang telah tertutup hatinya. "Seperti mengajar monyet!", temanku pernah berkata kepadaku. Mengapa? Monyet tidak akan pernah pintar, dan kita hanya akan mendapatkan capeknya saja. Syukur-syukur kalau hanya capek. Bagaimana kalau capek itu disertai dengan naiknya tekanan darah dan mendidihnya ubun-ubun? &lt;em&gt;Weleh!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu yang aku dengar beberapa waktu yang lalu. Temanku, katakanlah namanya Doug, memiliki tetangga yang sedang membangun rumah di sebelah rumahnya. Awalnya sih tidak terjadi apa-apa. Tetapi ketika rumah tersebut setengah berdiri, barulah Doug menyadari bahwa rumah itu akan menjadi rumah bertingkat yang akan menutupi matahari yang selama ini dapat dinikmatinya sepanjang hari. Lantas ia mendatangi tetangganya, dan bertanya akan hal itu. Apa yang didapatinya? Tetangganya hanya bilang bahwa, "Ini adalah &lt;em&gt;property &lt;/em&gt;saya, dan saya bebas melakukan hal apa saja dengan &lt;em&gt;property &lt;/em&gt;saya!"&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal lagi, tentu Doug merasa sangat tidak nyaman dengan jawaban yang sangat bersahabat seperti itu. Doug pernah berbicara kepada saya, bahwa ia hanya ingin berdiskusi tentang masalah ini, dan kalau bisa secara bersama-sama melakukan sesuatu sehingga rancangan rumah dapat dimodifikasi sedikit sedemikian rupa sehingga berkah matahari akan diperoleh bersama-sama secara optimal.&lt;br /&gt;kebetulan, istri Doug adalah seorang asing dari Eropa, yang jika hak-haknya dilanggar akan bereaksi dengan keras. Sang istri kemudian berusaha untuk berbicara dengan si tetangga dengan baik-baik. Apa yang diperolehnya? Cacian tak bermalu, "Ini bukan Eropa, ini Indonesia! Pulang kau ke rumahmu!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang prihatin, hanya bisa menyabarkan Doug dengan membeikan jurus "monyet" tadi. Mengajar monyet untuk berdiskusi memang tidak mudah.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Taksi oh Taksi</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2006/04/taksi-oh-taksi_13.html</link><pubDate>Thu, 13 Apr 2006 10:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-114489945130520127</guid><description>Simak sebuah &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2006/042006/12/0206.htm"&gt;artikel &lt;/a&gt;tentang bagaimana pengemudi taksi Bandung menunjukkan betapa &lt;em&gt;tidak profesionalnya&lt;/em&gt; dan sangan kekanak-kanakannya mereka. Aku hanya berpikir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Di mana hakku sebagai pengguna taksi yang menginginkan kenyamanan di Bandung?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masih haruskah aku terus menarik urat leher dengan para pengemudi taksi yang semena-mena menetapkan tarif?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masih haruskah aku terus berdebat dengan para pengemudi taksi agar mereka mau menggunakan argometer?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masih haruskah aku terus was-was apakah taksiku datang menjemputku?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Sebelum Blue Bird datang ke Bandung, sudah bukan rahasia lagi bahwa pelayanan taksi Bandung adalah pelayanan amburadul yang sangat menjengkelkan hati. Hatiku geram ketika melihat sepenggal &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2006/042006/12/0206.htm"&gt;berita&lt;/a&gt;:&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Blue Bird dirusak&lt;br /&gt;Dihubungi secara terpisah, General Manager Blue Bird Bandung, Adjat Sudradjat, mengatakan, dua armada taksi BB yang terjebak dalam aksi demo di Jln. Padjadjaran dan Jln. Asia Afrika, dirusak massa. Akibatnya, taksi dengan nomor unit UD 178 dan UD 150, mengalami kerusakan. “Kaca belakang dan depan pecah, bodinya juga rusak. Tapi sopir kami tidak apa-apa,” katanya. Kejadian tersebut, menurut Adjat, telah dilaporkan ke Polwiltabes Bandung dan saat ini tengah diproses. Kendati demikian, BB masih tetap beroperasi seperti biasa. (A-157/A-159)***&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kapan para pengemudi taksi dan para pengusaha taksi di Bandung bisa lebih profesional? Entah!</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Manusia Pengecut</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2006/01/manusia-pengecut.html</link><pubDate>Sun, 1 Jan 2006 00:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-113605091176771351</guid><description>Tahun 2006 telah datang. Namun keprihatinan menghiasi pergantian tahun kali ini. Masih saja manusia-manusia pengecut mencoba memperlihatkan pada dunia bahwa mereka punya sesuatu. Kenyataannya, rasa muaklah yang dituai. Rasa muak itu bahkan naik ke ubun-ubunku, rasa muak itu bahkan menjelma menjadi kutuk yang keluar dari bibirku, rasa muak itu mengisi seluruh sendi dan sumsum tulangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada manusia beriman yang menaruh jiwa insan Tuhan di ujung teror atas nama Tuhan.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Bom Lagi</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2005/12/bom-lagi.html</link><pubDate>Sat, 31 Dec 2005 08:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-113599513202170408</guid><description>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/1600/300%20time%20bomb.gif"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/200/300%20time%20bomb.jpg" border="1" /&gt;&lt;/a&gt;Pagi ini, sebuah bom berkekuatan cukup tinggi meledak di &lt;a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/31/time/074741/idnews/509767/idkanal/10"&gt;Poso - Palu&lt;/a&gt;. Lebih 40 orang luka berat, dan banyak yang meninggal. Bom ini meledak di sebuah tempat penjualan daging babi dan daging anjing. Sementara itu, beberapa bom tidak meledak di Pematangsiantar dan Lampung (di rumah Ketua DPRD) dan Kendari. Apa artinya ini? BIN dan pihak kepolisian kebobolan lagi? &lt;em&gt;Duh!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para teroris pengecut masih terus mencoba untuk mengacak-acak Indonesia. Yang menyedihkan, masih saja ada orang Indonesia sendiri yang mencoba untuk membunuh saudaranya sendiri hanya karena perbedaan ideologi dan paham primodialisme sempit. Ingin sekali aku melihat muka mereka jika ada salah satu sanak keluarga mereka yang juga menjadi korban. Ingin sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Update:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;lu&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0512/31/000847.htm"&gt;Kapolri: Tahun 2006 masih rawan bom&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeractive.com/hg/nasional/2005/12/31/brk,20051231-71546,id.html"&gt;Palu diguncang bom&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2005/12/051231_palubom.shtml"&gt;Ledakan di Palu tewaskan 8 orang&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/4570912.stm"&gt;Indonesia bomb leaves eight dead&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.antara.co.id/seenws/?id=25412"&gt;Ny. Yoppie tewas seketika&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeractive.com/hg/nasional/2005/10/27/brk,20051027-68637,id.html"&gt;Bus Palu - Poso dibom&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/12/31/brk,20051231-71547,id.html"&gt;Korban bom Palu bertambah!&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeractive.com/hg/nusa/sulawesi/2005/11/26/brk,20051126-69728,id.html"&gt;Sejumlah besar bom siap ledak ditemukan di Kendari&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2005/12/31/brk,20051231-71554,id.html"&gt;Bom ditemukan di rumah Ketua DPRD Lampung&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/31/time/085359/idnews/509769/idkanal/10"&gt;SBY menginstruksikan Jajaran Polkam untuk mengusut insiden ini.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/31/time/155452/idnews/509806/idkanal/10"&gt;Pelaku bom Poso bukan kelompok Noordin M. Top?&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/31/time/155452/idnews/509806/idkanal/10"&gt;Mirip bom Tentena&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/31/time/155452/idnews/509806/idkanal/10"&gt;Data lengkap korban bom Palu&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/31/time/153846/idnews/509805/idkanal/10"&gt;Tim forensik olah TKP di Palu&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/31/time/155452/idnews/509806/idkanal/10"&gt;Ingin merusak citra SBY?&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0512/31/095306_.htm"&gt;Polisi tutup semua pintu keluar Palu&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/31/time/174327/idnews/509810/idkanal/10"&gt;Pelaku bom Palu teridentifikasi&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.antara.co.id/seenws/?id=25434"&gt;Kota Palu dalam penjagaan ekstra ketat&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/31/time/194258/idnews/509814/idkanal/10"&gt;Aksi-aksi teror di Indonesia&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0512/31/104421_.htm"&gt;Bom Palu dibawa dengan mobil&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0512/31/181433.htm"&gt;Pola pengamanan Palu perlu perhatian khusus&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.antara.co.id/seenws/?id=25429"&gt;Pemerintah berikan perhatian khusus untuk SulTeng&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bbc.co.uk/indonesian/forum/story/2005/12/051231_pertanda2006.shtml"&gt;Pertanda buruk di tahun 2006?&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0512/31/234336_.htm"&gt;Wapres tak mau spekulasi&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2005/12/31/brk,20051231-71557,id.html"&gt;Sumatera Utara Siaga I&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/12/31/brk,20051231-71559,id.html"&gt;Tiga daerah terteror&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/12/31/brk,20051231-71563,id.html"&gt;Widodo: Perlu gugus tugas untuk bom Palu&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0601/01/200509_.htm"&gt;Kapolri mendadak kunjungi Palu&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/12/31/brk,20051231-71567,id.html"&gt;Polisi Telah Identifikasi Pelaku Bom Palu&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/01/01/brk,20060101-71584,id.html"&gt;BIN dinilai lupakan daerah konflik&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/01/01/brk,20060101-71583,id.html"&gt;Pertokoan di Palu tutup&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0601/01/193051_.htm"&gt;Tim gabungan Polri kumpulkan serpihan bom&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0601/01/000608_.htm"&gt;Seorang ditahan terkait bom Palu&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/01/01/brk,20060101-71588,id.html"&gt;&lt;em&gt;M&lt;/em&gt; ditangkap dan diinterogasi&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sulawesi/2006/01/01/brk,20060101-71594,id.html"&gt;Beberapa korban bom Palu masih dirawat&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/utama/news/0601/01/211645.htm"&gt;Kapolri: segera ungkap pelaku bom Palu&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Negara tidak Berhak Mengatur Agama</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2005/12/negara-tidak-berhak-mengatur-agama.html</link><pubDate>Wed, 21 Dec 2005 11:27:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-113514160712088975</guid><description>&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2005/1205/21/0304.htm"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kebebasan Berkeyakinan tak Bisa Dirampas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Negara tidak Berhak Mengatur Agama &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/1600/20051221%20Religion.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/320/20051221%20Religion.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;BANDUNG, (PR).-Pluralisme adalah satu kenyataan dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan selalu hadir dalam berbagai hal, misalnya dalam hal keyakinan, suku, maupun kebutuhan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut M.M. Billah dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), pluralisme telah menjadi dasar dari kemunculan demokrasi. Ia mengatakan, demokrasi memiliki makna implisit yang sudah mengakui adanya pluralisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pluralisme itu tidak apa-apa sejauh anggota-anggota dalam masyarakat pluralis itu tidak melakukan tindakan yang melanggar hak asasi orang lain,” katanya kepada ”PR” di sela-sela seminar ”Agama dan Negara: Politik Negara dalam Melindungi Kebebasan Beragamadan Berkeyakinan di Indonesia”, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminar yang diselenggarakan di Hotel Santika, Jln. Sumatera, Bandung, Billah mengatakan, negara memang berperan dalam mengatur kehidupan masyarakat yang beragam, termasuk juga dalam hal perbedaan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, katanya, pengaturan itu terbatas pada bagaimana masing-masing orang mengekspresikan keyakinannya supaya tidak merugikan atau melanggar hak orang lain. ”Agama yang dalam arti keyakinan itu adalah wilayah privat. Negara tidak memiliki kewenangan untuk mengatur itu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan, dari segi hak asasi manusia, ada sikap berbeda antara kebebasan berpikir dan berkeyakinan dengan kebebasan bertindak. Menurut dia, kebebasan berpikir dan berkeyakinan adalah hak yang melekat, tidak bisa dibatasi, tidak bisa ditunda, dan tidak bisa dirampas. Namun, kebebasan bertindak memang bisa diatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan kebebasan bertindak, kata Billah, bisa dilakukan dengan mengeluarkan undang-undang atau kesepakatan masyarakat. Berdasarkan yurisprudensi internasional, kebijakan yang berkaitan dengan HAM memang diatur dalam bentuk UU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini tidak boleh diatur dalam bentuk keputusan menteri, tidak boleh pula dengan peraturan daerah,” tuturnya. Menurut dia, menteri tidak memiliki kewenangan mengatur dan membatasi kebebasan HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama memang telah mengeluarkan surat keputusan bersama mengenai pendirian tempat ibadah. “Mendirikan tempat ibadah dan menyiarkan agama adalah termasuk freedom to act bukan freedom to be,” katanya. Dijelaskannya, hal seperti ini memang bisa diatur dalam UU bukan peraturan menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ia mengatakan,pengaturan itu juga bisa dikembalikan ke masyarakat. Bila masyarakat sudah mengatur sendiri, katanya, maka tidak akan terjadi keonaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sekjen Indonesian Conference on Religion and Peace, Siti Musdah Mulia, kebijakan pemerintah yang hanya mengakui lima agama membuat para penganut agama lain tidak mendapatkan hak-hak sipil mereka sebagai warga negara. Misalnya hak untuk dicatatkan perkawinan dan kelahiran mereka. Akhirnya, mereka tidak memiliki akta nikah dan akta kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kondisi itu menjadikan tidak adanya proteksi hukum bagi istri dan anak-anak. Ini memiliki risiko buruk bagi masa depan mereka. (CW-9)***</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Bangsa yang Merendahkan Etos Kerja</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2005/12/bangsa-yang-merendahkan-etos-kerja.html</link><pubDate>Tue, 20 Dec 2005 10:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-113504921656916099</guid><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diculik dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0512/10/Fokus/2272580.htm"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; tanpa ijin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Dedi Muhtadi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/1600/200512%20EtosKerja.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/320/200512%20EtosKerja.jpg" border="1" /&gt;&lt;/a&gt;Perilaku sebuah bangsa tidak tercipta dalam waktu singkat, namun terbentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Bangsa ini kembali terpuruk dalam potret kecil olahraga di arena SEA Games XXIII yang berakhir Senin (5/12) di Manila. Dalam gambaran besar, bangsa ini dijuluki bangsa yang berperilaku tidak menghargai proses, tidak suka kerja keras, tetapi ingin serba instan. Mengapa semua itu bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah kondisi perguruan tinggi yang sudah lama mengalami ”kecelakaan”. Sebanyak 99 persen dari dosennya merupakan lulusan sendiri yang mengambil S2 dan S3 di dalam negeri. Sebagian besar dari mereka kemudian mengajar dan menguji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu daya serap mahasiswa terhadap mata kuliah yang disuapi dosennya hanya 20-30 persen. Situasi ini diperparah oleh perilaku sebagian besar mahasiswa yang tidak senang membaca buku. Padahal buku merupakan jendela dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang panelis yang sebagian besar hidupnya dicurahkan di perguruan tinggi mengamati, baik dosen maupun mahasiswa kini tidak lagi menghargai disiplin. Sebelum tahun 1970-an atau pada zaman Soekarno, sikap ini masih bagus, dalam arti mereka tahu disiplin. Mengapa begitu, karena pelajaran dari bangsa Jepang dan Belanda masih menetes kepada para pemimpin bangsa saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, sejak tahun 1970-an perilaku unggul itu mulai merosot. Mereka mulai malas bekerja dan malas berdisiplin. Baik mahasiswa maupun dosen sering bolos. Menurut penelitiannya, selama 40 tahun mengajar tidak ada satu mahasiswa pun yang mengikuti kuliah tiap minggu dalam satu semester lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Paling banyak kehadiran mahasiswa hanya 10 kali dalam satu semester. Padahal saya sudah melakukan peringatan, sindiran atau marah, dan sebagainya, tidak digubris,” keluhnya. Artinya, dorongan bermalas-malas di kalangan sivitas akademika sangat kuat. Yang paling parah, para dosennya sendiri juga suka bolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala umum ini ternyata tidak hanya di kalangan perguruan tinggi, tapi merembet ke sekolah- sekolah rendah dan menengah. Ada suatu anggapan bahwa setelah SMA dan masuk perguruan tinggi, mereka semua bisa hidup bebas. Mau datang kuliah, mau bolos, tidak apa-apa. Ini amat mengherankan, gejala itu tumbuh subur pada saat negeri ini membangun pada masa Orde Baru.&lt;br /&gt;Demikian juga perilaku pegawai di perguruan tinggi yang harusnya datang pukul 07.00, pada umumnya datang pada pukul 09.00. Kalau kita membicara- kan jadwal kuliah, tidak ada dosen yang mau mengajar pada pukul 07.00. Maunya mereka mengajar di atas pukul 09.00 atau pukul 10.00. Ketika panelis ini mengajar pada jadwal pukul 07.00, dari 50-80 mahasiswa yang datang tepat waktu cuma 10 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengalamannya, setelah satu jam, masuklah mereka satu demi satu. Masuknya juga unik, setelah buka pintu langsung duduk. Tidak ada yang minta maaf karena keterlambatan itu. Mereka menganggap, kuliah ini hak kita, jadi bebas mau kuliah atau tidak. Lebih jauh lagi, pada umumnya mereka tidak mau belajar keras serta tidak senang membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pernah sekali waktu saya periksa diktat yang sudah saya bagikan. Benar-benar mengherankan, saya lihat diktat itu bersih sekali. Tidak ada catatan dari dia sehingga waktu ujian banyak yang tidak bisa jawab. Padahal semuanya ada di diktat,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan antikerja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah analisis terhadap perilaku masyarakat di negara maju menyatakan, mayoritas penduduknya sehari-hari mengikuti prinsip-prinsip dasar kehidupan. Misalnya, menghargai etika, kejujuran dan integritas, bertanggung jawab, hormat pada aturan dan hukum masyarakat, hormat pada hak orang/warga lain, cinta pada pekerjaan, berusaha keras menabung dan investasi, bekerja keras hingga tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mahasiswa di negara-negara maju menyebut belajar itu bekerja. Di Amerika Serikat, misalnya, kalau mahasiswa itu berkata, I must to work, itu artinya belajar atau kuliah. Namun, di republik ini para mahasiswa tidak menganggapnya demikian. Pernah seorang menteri pendidikan menyatakan, anak-anak lebih suka sekolah, tapi tidak suka kerja. Celakanya, dalam kurikulum, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, terkesan anti- kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurikulum, program manual work hampir tidak pernah ada. Malah yang ada pun terus dianjurkan agar dihapus. Dulu yang mengadakan kurikulum jenis ini Pemerintah Kolonial Belanda. Oleh negeri bekas jajahannya, mulai tahun 1970-an, kemudian diganti dengan nama resmi keterampilan atau kerajinan seni rupa. Pernah dalam diskusi IKIP seluruh Indonesia, bidang keterampilan kerajinan dipisahkan dari seni rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Ode Baru, semua media koran, televisi, radio dan sebagainya memublikasikan pembedaan itu. Jadi sekolah itu hanya untuk kerja mental, bukan kerja fisikal. Pernah ada pelajaran hasta karya. Tapi kemudian tidak boleh dipakai oleh murid-murid untuk melakukan apa-apa yang menghasilkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengatakan bahwa pelajaran seni dan hasta karya di sekolah-sekolah itu harus bebas berekspresi. Katanya yang penting bukan hasil, tapi proses, seraya tidak peduli hasilnya apa. Proses rasa bebas itu artinya kerja sembarangan dalam pelajaran seni rupa kerajinan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan masyarakat ada hubungan antara harkat manusia dan kerja manual. Makin banyak kerja manual manusia itu makin rendah harkatnya. Makin kurang kerja manual atau sama sekali tidak kerja manual, makin tinggi harkatnya. Kerja intelektual atau kerja mental, misalnya belajar ilmu, teori, filsafat, banyak sekali peminatnya karena makin tinggi harkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang kerja fisikal hanya sedikit saja karena harkatnya rendah. Kerja fisik itu bukan hanya dianggap rendah, tapi juga merupakan kerja orang-orang jelata. Itu kerja orang-orang miskin, sedangkan kerja orang-orang yang tidak begitu harus menjauhkan diri dari yang manual, dari yang fisikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini sama dengan zaman Yunani dan Romawi dulu. Di zaman Yunani kuno tersebut semua kerja yang bersifat fisikal manual dianggap tidak bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bernilai rendah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, dunia pendidikan di republik ini juga ”memusuhi” program yang berorientasi pasar. Sejumlah ahli design pernah mengeluhkan tentang perilaku di kampusnya yang tidak market friendly. Mereka merasa tertekan sebab kalau membuat design berorientasi pasar itu dianggap rendah. Yang bagus dan dihargai kalau design dibuat klasik atau bersifat scientific.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini berbeda dengan di luar negeri. Di negara maju itu hampir semua mahasiswanya bekerja. Yang tidak bekerja hanya mahasiswa Indonesia yang kebetulan dapat beasiswa dari pemerintah. Malah mereka bisa anteng bekerja di perpustakaan seperti menyusun buku yang secara fisik tidak mau dikerjakan mahasiswa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di AS, para mahasiswa S3 biasa mengobrol, pada last summer ia akan bekerja sebagai kontraktor membangun jembatan. Mereka tidak tahu bahwa kita menganggapnya rendah. Dalam hati saya, kok mahasiswa Amerika tingkatan doktor mau kerjaan seperti itu,” panelis ini mengungkapkan pengalamannya. Begitu juga mahasiswa Korea ketika libur, ada yang bekerja sebagai tukang kebun, yang umumnya tidak disukai oleh mahasiswa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini menganggap kerja itu mempunyai nilai rendah. Artinya, kerja itu beban, kerja itu suatu keterpaksaan, kerja itu suatu siksaan. Manusia Indonesia pada umumnya bermimpi hidup senang, hidup enak, tanpa kerja. Lalu siapa yang menghasil- kan makanan dan sebagainya? Seperti pada zaman Yunani kuno, ya orang-orang rendah, rakyat jelata itu. Merekalah yang disuruh kerja, menghasilkan padi, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai paling tinggi itu hidup senang. Hidup senang artinya punya banyak uang. Bagaimana menciptakan harta banyak tanpa kerja, ya korupsi itu....</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Keblinger</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2005/12/keblinger.html</link><pubDate>Sat, 17 Dec 2005 19:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-113482134055371124</guid><description>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/1600/jisupporter_wideweb__430x293.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3208/970/320/jisupporter_wideweb__430x293.jpg" border="1" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Noordin M. Top bilang:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Musuh-musuh kami adalah Amerika, Inggris, Italia, Australia, ..."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;...dan marilah kita bom dan luluh-lantakkan negara Islam terbesar di dunia, Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bah!&lt;/em&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Carut Marut Beras Impor</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2005/12/carut-marut-beras-impor.html</link><pubDate>Thu, 15 Dec 2005 12:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-113471101151926556</guid><description>Diambil tanpa ijin dari &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/free/ekbis.html"&gt;Tempo Interaktif&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu hijau untuk impor beras tahap kedua telah dinyalakan. Tahun depan, pemerintah mungkin meningkatkan stok tanpa impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu impor beras masih akan terbuka lebar. Dalam rapat konsultasi dengan pimpinan MPR, DPR, dan DPD di Istana Negara pekan lalu, pemerintah menyatakan tetap memegang agenda stok beras sebesar satu juta ton. Konsekuensinya? ”Kemungkinan dan kelihatannya impor akan dilanjutkan,” ujar Ketua DPR Agung Laksono setelah bertemu Presiden dan Wakil Presiden.&lt;br /&gt;Isyarat bahwa impor beras tetap berlangsung juga datang dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Setelah mengikuti rapat koordinasi di Departemen Perdagangan pekan lalu, dia menyatakan bahwa stok beras yang ada saat ini kembali menyusut karena pemakaian. Ujung-ujungnya, dia menyebut perlunya penambahan agar stok tetap di kisaran sejuta ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati di tingkat atas lampu hijau untuk impor beras tahap berikutnya telah dinyalakan, para pejabat pelaksana masih enggan memberi komentar. ”Setahu saya belum ada keputusan tentang izin baru untuk impor,” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan, Diah Maulida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keengganan Diah mengomentari impor beras bisa dimaklumi karena kebijakan ini terbilang ”bola liar”. Sejak berupa wacana pun, isu impor beras sudah menuai tentangan dari berbagai penjuru. Suara penolakan semakin ramai pada pertengahan tahun, ketika pemerintah menjajakan gagasan impor beras ke DPR. Pemerintah menilai impor beras perlu karena produksi beras tahun ini diprediksi lebih sedikit ketimbang kebutuhan konsumsi.&lt;br /&gt;Buntut dari ancaman defisit adalah harga bisa tak terkendali di penghujung tahun. Pemerintah menyebut dua kejadian yang dapat memicu harga hingga tak terkendali. Pertama, kenaikan harga bahan bakar minyak di akhir Oktober. Kedua adalah rentetan perayaan hari besar, seperti Lebaran, Natal, dan Tahun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini asal-muasal pemerintah berkeinginan mempertahankan stok beras sebesar satu juta ton. Yang dimaksud dengan stok beras di sini adalah stok milik pemerintah yang dikelola oleh Perum Bulog. Di saat harga normal, pemerintah menggunakan tabungan beras ini untuk semata-mata kebutuhannya sendiri, seperti program pengadaan beras untuk masyarakat miskin, yang biasa disebut beras miskin, kerap disingkat raskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat harga melejit, stok inilah yang diandalkan sebagai peredam. Jika harga beras di sebuah daerah naik hingga 25 persen selama tiga bulan, maka pemerintah akan mengguyurkan stok beras ke daerah tersebut. Istilah yang kerap dipakai adalah operasi pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan impor beras yang dikemukakan pemerintah tak serta-merta ditelan. Banyak pihak meragukan Indonesia akan tekor beras pada tahun ini. ”Saya malah menduga tahun ini akan surplus,” kata Siswono Yudhohusodo, Ketua Badan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan Indonesia. Ia merujuk kepada antengnya tingkat harga beras sepanjang tahun ini.&lt;br /&gt;Keraguan bahwa Indonesia terancam defisit terutama disebabkan oleh selisih data yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian, yang nota bene sama-sama lembaga pelat merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Pertanian menghitung, tahun ini ada surplus, kelebihan produksi padi di atas konsumsi beras, sebesar 1,6 juta ton. Perhitungan Departemen Pertanian berselisih tak tanggung-tanggung, sekitar dua juta ton, dengan kalkulasi BPS, yang menyebutkan bahwa Indonesia dibayangi defisit beras 650 ribu ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kedua lembaga itu menghitung sebenarnya sama, yaitu mengurangi prediksi angka produksi dengan ramalan kebutuhan konsumsi. Hitung-hitungan perkiraan produksi kedua lembaga itu tak berbeda, sekitar 33 juta ton per tahun. Angka produksi lebih mudah direka karena dalam setahun BPS lima kali mengeluarkan data proyeksi produksi beras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang menjadi pemicu perbedaan adalah angka konsumsi,” ujar Anton. Cara Departemen Pertanian maupun BPS menghitung konsumsi sebenarnya tak beda. Mereka menjumlahkan angka konsumsi langsung, yaitu konsumsi rumah tangga dengan konsumsi antara, yang merupakan konsumsi industri seperti restoran atau pabrik. Kalau kemudian hasil yang didapat kedua badan itu berselisih hingga dua juta, itu karena perhitungan angka konsumsi didasarkan atas sejumlah asumsi. ”Soal ini memang bisa diperdebatkan,” ujar Anton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika defisit bukan ancaman, tentu pemerintah tak perlu impor untuk menjaga stok beras di kisaran satu juta ton. Alih-alih mengendalikan harga, impor di saat surplus bisa-bisa malah merugikan petani lokal karena harga beras di dalam negeri bisa amblas. ”Saya setuju stok ditingkatkan. Syaratnya, beras dibeli dari petani lokal,” kata Siswono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan ini ditampik oleh pemerintah. Dalihnya adalah pembelian dalam jumlah besar di pasar lokal bisa mendongkrak harga beras, sesuatu yang justru dihindari. Alasan lain adalah pemerintah terbentur ketentuan harga pembelian maksimal. Saat ini, Bulog hanya diizinkan membeli gabah dari petani dalam negeri harga per kilogram tak lebih dari Rp 1.330. Di saat menjelang dan setelah izin impor terbit, harga gabah petani berada di atas Rp 1.400 per kilo.&lt;br /&gt;Niat pemerintah untuk mengimpor semakin tak terbendung sejak akhir Oktober. Dua syarat pembukaan pintu masuk beras dari luar negeri dinyatakan telah terpenuhi dalam rapat koordinasi di kantor Menteri Koordinator Perekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga beras kelas medium di 26 kota, menurut data BPS, telah mencapai Rp 3,650 per kilo, di atas harga persyaratan, yaitu Rp 3.500 per kilo. Persyaratan untuk impor pun terpenuhi secara paripurna karena stok beras di Bulog diklaim tersisa 950 ribu ton saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Data untuk memuluskan impor ini menggelikan,” ujar Bustanul Arifin tanpa tertawa. Ia mengingat bahwa pemerintah pada pertengahan September pernah mengumumkan bahwa stok masih sebanyak 1,6 juta ton. ”Siapa yang bisa mengaudit penurunan yang luar biasa itu?”&lt;br /&gt;Versi pemerintah menyebut penurunan stok terjadi karena peningkatan pembagian raskin. Selama beberapa bulan terakhir, permintaan untuk beras murah ini naik drastis. Dalam sebulan, Bulog mengaku dua kali menggelontorkan beras untuk orang miskin ini. Total stok beras yang diserap oleh rakyat miskin berkisar dari 150 ribu hingga 200 ribu ton per bulan.&lt;br /&gt;Keputusan untuk mengimpor beras resmi diketuk. Bulog ditunjuk untuk memasukkan 250 ribu ton beras dari Vietnam. Waktu pelaksanaan impor dibagi selama tiga bulan, antara November hingga Januari. Bulog diberi lisensi mengimpor sebanyak 70.050 ton, 130 ribu ton, dan 45 ribu ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izin tahap pertama telah diteken oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, awal bulan lalu. Dengan restu itu, Bulog berbelanja beras sebanyak 68 ribu ton. Harga satu ton beras, termasuk biaya angkut, adalah US$ 280.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan impor tanpa disertai data dan angka yang lebih jelas, menyulut keberangan anggota Dewan. Seratus lebih anggota DPR yang berasal dari empat fraksi, PDIP, PAN, PKS, dan PPP, mengajukan hak angket pekan lalu. ”Kami merasa perlu menyelidiki kenapa kebijakan impor itu keluar,” ujar Cecep Rukmana dari Fraksi PAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecurigaan bahwa ada udang di balik batu soal impor beras ini tak hanya berasal dari persiapan yang semrawut. Saat dieksekusi, impor beras juga terlihat serampangan. Bulog, yang menjadi operator terlihat begitu ”cekatan”. Tanggal kapal tiba dengan saat penerbitan izin impor pun hanya berselang dua hari. Padahal, seorang pejabat pemerintah pernah memperkirakan impor beras dari Vietnam akan memakan waktu satu minggu. ”Sepertinya komitmen sudah dibuat sebelum izin turun,” Siswono menyimpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal bulan ini, kecurigaan Siswono ternyata tak meleset. Surat kabar asing memberitakan adanya dua kapal Vietnam dengan muatan 20 ribu ton tengah bersiap ke Indonesia. Berita itu mengagetkan karena Bulog yang baru mengantongi lisensi impor tahap pertama sudah memasukkan 68 ribu ton beras. Andai ingin menambah pun, jatah Bulog sesuai izin hanya sekitar 2.000 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan lalu, Bulog mengakui bahwa muatan itu memang order mereka, namun telah dibatalkan. ”Semula itu disiapkan untuk pengiriman bulan Desember,” ujar Direktur Operasi Bulog Bambang Budi Prasetyo. Dia berdalih Bulog harus bergerak cepat karena lamanya tenggang waktu antara keputusan impor dan penerbitan izin impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keperluan pemerintah mengimpor beras semakin dipertanyakan setelah beredar data Perdagangan Beras Dunia, semacam organisasi yang mengawasi lalu lintas perdagangan beras. Dalam tabel negara pengimpor, nama Indonesia tercantum dengan beras pesanan sebanyak 900 ribu ton. Angka itu dikompilasi dari data di pelabuhan negara eksportir beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Perdagangan, sebagai pihak yang berwenang mengeluarkan izin impor, mengaku tak tahu-menahu dari mana angka sebesar itu datang. ”Kami tak pernah memberikan izin dalam jumlah sebesar itu,” ujar Diah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain izin impor ke Bulog untuk menjaga stok, Departemen Perdagangan sepanjang tahun ini juga menerbitkan izin impor beras khusus sebanyak 255 ribu ton. Sebenarnya, pemberian izin khusus ini sudah lama. Secara teoretis, izin ini hanya diterbitkan untuk jenis beras yang tak dihasilkan di Indonesia serta jenis beras yang digunakan untuk proses produksi. Lembaga donor semacam World Food Programme juga diperbolehkan melalui jalur impor khusus ini.&lt;br /&gt;Direktur Utama Bulog Widjanarko Puspoyo mensinyalir jalur khusus inilah yang ditumpangi oleh para penyelundup beras. ”Kemungkinan impor tak terdeteksi lebih besar melalui jalur ini daripada impor yang dilakukan oleh Bulog,” kata Widjanarko, awal bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinyalemen ini ibarat bumerang bagi Anton, yang kerap mengambil posisi berseberangan dengan para koleganya ketika membahas izin impor untuk Bulog. ”Belakangan ini, rekomendasi untuk impor sudah saya tolak,” ujar Anton. Departemen Perdagangan sebagai penerbit turut membela diri. ”Realisasi izin impor khusus untuk tahun ini tak sampai separuh,” kata Diah.&lt;br /&gt;Sebelum impor beras tahap kedua diputuskan, sebaiknya pemerintah memperjelas asal-muasal angka 900 ribu ton tersebut. Jika benar ada beras sebanyak itu mengalir ke Indonesia, praktis angka defisit yang dihitung oleh BPS tertutup. Lalu, apa perlunya impor beras?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;THW, Efri Ritonga, Yura Syahrul &lt;/strong&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item><item><title>Budaya Membuang Sampah</title><link>http://manusiakita.blogspot.com/2005/12/budaya-membuang-sampah.html</link><pubDate>Thu, 15 Dec 2005 12:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11818448.post-113462546172442652</guid><description>Ketika aku di sebuah &lt;em&gt;foodcourt &lt;/em&gt;pusat perbelanjaan di Bandung, seorang ibu dengan enaknya dan merasa tidak bersalah, tanpa beban apa-apa, membuang tissu yang baru digunakannya ke lantai. Aku mencoba untuk memberikan isyarat &lt;em&gt;terganggu&lt;/em&gt; akibat ulahnya dengan bahasa tubuhku, tetapi sang ibu tampak cuek dan berlenggang meninggalkanku sendiri yang melongo takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah penerbangan lokal dengan Adam Air, seorang anak kecil tiba-tiba merengek kepada ibunya, "Ma, sudah selesai, kaleng Coca Colanya sudah kosong!". Dengan tenangnya sang Ibu menjawab, "Buang aja!". Astaga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan &lt;em&gt;mind-set &lt;/em&gt;kita berubah untuk lebih mengutamakan kebersihan dengan sedikit pengorbanan untuk tidak membuang &lt;a href="http://sampahbandung.blogspot.com"&gt;sampah&lt;/a&gt; sembarangan?</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>noreply@blogger.com (Harry Makertia)</author></item></channel></rss>