<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 09:40:43 +0000</lastBuildDate><category>Doa</category><category>Hakikat</category><category>AZIMAT</category><category>Fitnah</category><category>Gigi</category><category>Ihsan</category><category>Iman</category><category>Islam</category><category>Jari</category><category>Jin</category><category>Kisah</category><category>MENULIS</category><category>Mukmin</category><category>Muksin</category><category>Muslim</category><category>Nikmat</category><category>Pemalu</category><category>Qorin</category><category>Sakit</category><category>Sholawat</category><category>Silsilah</category><category>Syariat</category><category>Tasyahud awal</category><category>Toriqot</category><category>ahli</category><category>berterusan</category><category>dekat</category><category>dosa</category><category>hamil</category><category>ibadah</category><category>ihksan</category><category>imam</category><category>istri</category><category>khusairyah</category><category>makna</category><category>maksiat</category><category>seorang</category><category>tasyawuf</category><category>telunjuk</category><category>thasawuf</category><category>thoriqot</category><category>torikot</category><title>MARI BELAJAR &amp;amp; MEMBACA</title><description>BACAAN DI WAKTU SENGGANG UNTUK
MENJADI HAMBA YANG TERBAIK
</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>98</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:summary>BACAAN DI WAKTU SENGGANG UNTUK MENJADI HAMBA YANG TERBAIK </itunes:summary><itunes:subtitle>BACAAN DI WAKTU SENGGANG UNTUK MENJADI HAMBA YANG TERBAIK </itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-9050706053696436702</guid><pubDate>Wed, 02 May 2018 15:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-05-02T23:27:53.684+08:00</atom:updated><title>Dalil mendengarkan Musik</title><description>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/05/dalil-mendengarkan-musik.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-6600423245663030202</guid><pubDate>Tue, 01 May 2018 11:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-05-01T19:35:14.690+08:00</atom:updated><title>Apa Beda Talqin dan Bai'at</title><description>TALQIN DAN BAI'AT


Talqin itu peringatan guru kepada murid, sedang bai’at yang juga dinamakan ahad adalah sanggup dan setia murid di hadapan gurunya untuk mengamalkan dan mengerjakan segala kebajikan yang diperintahkannya.
Banyak hadist yang menerangkan kejadian Nabi mengambil ahad pada waktu membai’atkan sahabat-sahabatnya.
Diriwayatkan oleh Ahmad r.a. dan Tabrani r.a. bahwa Rosululloh SAW, pernah mentalqinkan sahabat-sahabatnya secara berombongan atau perseorangan.
Talqin berombongan pernah diceritakan oleh syaddad bin Aus r.a. :
“ Pada suatu ketika kami berada dekat Nabi SAW, Nabi SAW berkata “
“ Apakah ada diantaramu orang asing ? maka jawab saya : “ Tidak ada ”
Lalu Rosululloh menyuruh menutup pintu dan berkata :
“ Angkat tanganmu dan ucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH “.
Seterusnya berliau berkata :
“ Segala puji bagi Alloh wahai Tuhanku, Engkau telah mengutus aku dengan kalimah ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya kurnia syurga kepadaku dan engkau tidak sekali-sekali menyalahi janji “.
Kemudian beliau berkata pula :
“ Belumkah aku memberikan kabar gembira kepadamu bahwa Alloh telah mengampuni bagimu semua ? “
Maka bersabdalah Rasululloh SAW :
“ Tidak ada segolongan manusia pun yang berkumpul dan melakukan dzikrulloh dengan tidak ada niat lain melainkan untuk Tuhan semata-mata, kecuali nanti akan datang suara dari langit. Bangkitlah kamu semua, kamu sudah diampuni dosamu dan sudah ditukar kejahatannya yang lampau dengan kebajikan ”.
Oleh karena itu Tuhan berfirman :
فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِى بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوزُ الْعَظِيْمُ
“ Maka bergembiralah kamu dengan bai’atmu, yang telah kamu lakukan itu adalah kejayaan yang agung ( QS.At-Taubah : 111 )”.
Tentang bai’at perseorangan pernah diceritakan oleh Yusup Al Kurani r.a. dan teman-temannya dengan sannad yang syah : “ Bahwa Sayyidina Ali k.w. bertanya kepada Nabi : “ Ya Rosululloh tunjukilah aku jalan yang sependek-pendeknya kepada Alloh dan yang semudah-mudahnya dan paling utama dapat ditempuh oleh hambanya pada sisi Alloh ? “.
Maka bersabdalah Rosululloh :
“ Hendaknya kamu lakukan dzikrulloh yang kekal ( dzikir dawam ) dan ucapan yang paling utama pernah kulakukan dan dilakukan oleh Nabi-nabi sebelum aku yaitu LAA ILAAHA ILLALLOH. Jika di timbang tujuh petala langit dan bumi dalam satu timbangan dan kalimat  LAA ILAAHA ILLALLOH dalam satu timbangan lainnya maka akan berat kalimat LAA ILAAHA ILLALLOH dalam daun timbangan yang lain”.
Kemudian ia berkata ; Wahai ‘Ali, tidak akan datang kiamat di atas muka bumi  ini masih ada orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH.
Sayyidina ‘Ali berkata :
“Bagaimana carannya aku berdzikir itu ya Rosululloh ?”.
Nabi menjawab :
” Pejamkan kedua matamu dan dengar aku mengucapkan tiga kali, kemudian engkau mengucapkan tiga kali pula sedangkan aku mendengarkan. Maka berkatalah Rosululloh LAA ILAAHA ILLALLOH tiga kali, sedangkan kedua matanya dipejamkan dan suaranya dikeraskan, serta ‘Ali mendengarkannya. Kemudian Ali mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH tiga kali dan Nabi mendengarkannya”.
Demikian cara talqin dzikir yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib k.w. yang kemudian diterangkan bahwa talqin dzikir hati yang bersifat bathiniyah dilakukan dengan isbat tidak dengan nafi, yaitu dengan lafadz isim zat seperti yang difirmankan oleh Alloh dalam Al Quran :
قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُم فِى خَوْضِهِمْ يًلْعَبُونَ
Katakanlah “Alloh “ kemudian tinggalkan sifat mereka bermain-main didalam kesesatan ( QS.Al-An’aam ; 91 ).
Nabi memperingatkan Sayyidina Ali k.w. :
“ Wahai Ali pejamkan kedua matamu katupkan bibirmu dan lipatkan lidahmu lalu sebutkan ; Alloh, Alloh “.
Inilah cara yang pernah dipelajari dan diambil oleh Sayyidina Abu Bakar r.a. secara rahasia ( mengisi perasaan ) daripada Nabi dan inilah dzikir yang boleh terhujam teguh sampai kedalam hati.
Karena inilah Nabi memuji Sayyidina Abu Bakar r.a bukan karena banyak puasa dan sholat, tetapi karena sesuatu yang terhujam dalam hatinya.

Firman Alloh dala Al Quran “
الَّذِيْنَ ءاَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُو بُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ اَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ القُلُوبُ
“ Dan mereka yang mempunyai iman yang teguh serta tetap tenang hatinya dengan dzikrulloh, bukankah dzikrulloh itu menenangkan dan menentramkan hati ? ( QS Ar-Ra’du : 28 )”.
Jalan atau thoriqot yang kedua macam ini tentang dzikir jahar dan khofi adalah pokok daripada seluruh THORIQOT, kemudian tersiarlah dalam perinciannya dengan kurnia Tuhan Yang Maha Murah.
Sesungguhnya dzikir itu adalah sebab wusulnya manusia kepada Alloh SWT dan menjadi sebab pula manusia dapat mahabbah kepada-Nya.
Oleh karena itu, manusia tidak akan dapat menghindari apa yang menjadi kesalahan dan apa yang menjadi kekerasan hati dan begitu pula apa yang menimbulkan segala amarah, melaikan manusia yang mengharapkan Rahmat Alloh dengan mengamalkan dzikir. Dan apabila telah berhasil mereka akan kembali menjadi manusia yang baik sebagaimana Alloh berfirman dalam Hadist Qudsi :
“ Aku dekat sekali kepada orang yang hatinya dapat menyingkirkan kesalahan”.
Selanjutnya di perjelas bahwa :
Kemudian dzikirnya tetap dengan latifah “ Qolbi ” ( kehalusan jantung), yang tempatnya di bawah susu kiri kira-kira dua jari dari susu kiri. Maka setelah terasa dzikir di dalamnya, keluarlah cahaya yang menyinari ke bawah bahunya menuju ke atas atau didalamnya itu terasa getaran kuat.
Lalu ditalqinkan oleh gurunya dengan latifah “ Ruhi ” yang tempatnya dibawah susu kanan, kira-kira dua jari dari susu kanan. Dan setelah melakukan dzikir bersama-sama, dzikir di dalam hati seperti orang melihat kedua jurusan (kanan-kiri), di satukan pandangan bathinnya menjadi satu jurusan. Setelah terasa didalamnnya gerak dan teguhnya dzikir.
Lalu ditalqinkan lagi oleh gurunya dengan latifah “ Sirri ”. Latifah Siiri ini, tempatnya diatas susu kiri , kira kira dua jari. Dan dzikirnya harus merasa tetap.
Kemudian ditalqinkan lagi oleh gurunya dengan latifah “ Khofi” yang tempatnya diatas susu kanan kira-kira dua jari.
Kemudian di talqinkan lagi oleh gurunya dengan latifah “ Akhfa “ yang tempatnya di tengah-tengah dada, dan terus diteguhkan dzikir seperti latifah-latifah lainnya.
Setelah itu ditalqinkan lagi dengan latifah “ Nafsi “ yang tempatnya diantara mata dan keningnya. Disini diisi dengan teguh hatinya penuh dzikir di seluruh latifahnya.
Kemudian sampai ke latifah “ Jasad “ ( latifatul Qolab ) yang berarti kehalusan seluruh badan yang penuh dengan dzikir, setelah menyeluruh dzikirnya di tiap-tiap bahagian anggotanya, sehingga menembus keseluruhan akar-akar bulunya iman dengan getaran rasa yang lemas dan atau merasa menyelup-kan dzikir nampak diseluruh badan.
Maka dari itu keadaan seperti gerakan dzikir dalam hati itu dari bawah sampai keatas diberi nama oleh ahli Tashowwuf “ Sulthonud dzikir “ ( rajanya dzikir ).
Tuhan telah berfirman :
“ Dan sesungguhnya dzikir kepada Alloh sangat berfaedah “
Seterusnya Tuhan berfirman pula :
وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيْفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَولِ بِالْغُدُوِّ وَ الْأَصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِّنَ الْغَفِلِيْنَ
“Ingatlah kepada Tuhanmu dengan segala kerendahan diri dan takut, tidak dengan suara keras, senantiasa pagi dan petang dan janganlah kamu menjadi orang yang lupa kepada Tuhan ( QS.Al-A’raf : 205 )”.
Disinilah letaknya keistimewaan Khalifah Pertama Abubakar r.a. , Nabi SAW bersabda tentang pendidikannya :
“ Tidak ada sesuatupun yang dicurahkan Alloh kedalam dadaku, melainkan aku curahkan kembali kedalam dada Abubakar”.
Dan Nabi SAW berkata seterusnya :
“ Alloh tidak melihat pada wajahmu, tetapi Ia melihat kepada isi bathinmu ”.
Dan Nabi berkata selanjutnya :
“ Tiap-tiap sesuatu ada wadahnya dan wadah taqwa itu adalah hati orang Arifin ”.
Nabi SAW bersabda :
“ Barang siapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH tetapi tidak diamalkan sebagaimana yang diperintahkan maka Tuhan mengecamnya : Wahai hambaku, engkau itu dusta, engkau ucapkan apa yang tidak engkau kerjakan “.
Banyak firman-firman Tuhan memperingatkan mereka yang lupa kepada Tuhan itu, antara lain firmannya :
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكَا وَنَحْشُرُوهُ يَوْمَ الْقِيَمَةِ أَعْمَى
“ Barang siapa yang tidak senang memperhatikan peringatan-Ku, bagi orang itu akan disebabkan penghidupan yang sempit, kemudian kami hinpunkan dia pada hari kiamat dengan keadaan buta ( QS.Thoha :124 )”.
Pada firman yang lainnya, Alloh SWT berfirman :
وَ مَنْ كَانَ فِى هَذِهِ اَعْمَى فَهُوَ فِى الْاَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلاَ
“ Barang siapa didunia ini sudah buta, maka di akhiratnya akan lebih buta dan tersesat dari jalan kebenaran(Q.S Al-Isro’ : 72)
Dalam Al Quran, Alloh SWT memperingatkan pula :
فَإِنَّهَا لاَ تَعْمَى الْأَبْصَرُ وَلَكِنْ تَعْمَ الْقُلُوبُ الَّتِى فِى الصُّدُورِ
“ Jika disebut buta, bukanlah buta matanya, tetapi buta hatinya, yang terletak didalam dada ( QS.Al-Haj : 46 ) ”.
Maka dari itu marilah kita perhatikan sabda Penghulu kita Syekh Abdul Qodir al Jaelani q.s.a :
“ Sebab-sebab yang membutakan hati itu adalah diantaranya jahil, atau tidak sefaham tentang hakikat perintah ketuhanan. Sebab jahil itu ialah bahwa jika jiwa kita sudah dikuasi oleh sifat jiwa dzolim, seperti : takabur, iri dengki, kikir, melihat diri lebih utama, suka membuka rahasia orang lain, suka membawa berita adu domba, bohong, dusta dan semacam dari itu pada sifat-sifat tercela, yang acap kali menjatuhkan manusia kedalam lembah kehancuran dan kehinaan ”.
Bagaimana membuang sifat-sifat yang buruk ini ?
Caranya untuk membuang sifat-sifat yang tercela itu adalah jalan membersihkan cermin hati itu dengan membersihkan tauhid, ilmu, amal dan mujahadah yang sungguh-sungguh lahir bathin, sehingga hati yang mati itu hidup kembali dengan Nur-Tauhid.
Telah bersabda Nabi SAW :
“ Bagi tiap-tiap sesuatu ada alat pembersih, dan alat pembersih hati yaitu “ DZIKRULLOH ”. Ketahuilah bahwa membersihkan jiwa dan menolak kehendak nafsu yang keji itu hukumnya fadhu’ain, membutuhkan perjuangan yang besar dan daya usaha yang amat sangat “.
Alloh SWT berfirman dalam Al Quran :
“ Barang siapa yang berjuang atau mujahadah, sebernarnya berjuang untuk dirinya”.
Firman Alloh pula dalam Al Quran :
 “ Adapun orang yang takut kepada Tuhan dan mencegah dirinya daripada hawa nafsu yang keji, balasan dan tempatnya itu adalah syurga “.
Maka firman Tuhan dalam sejarah Nabis Yusuf a.s. :
وَمَا اُبَرِّئُ  نَفْسِى إِنَّ النَّفْسِ لَأَ مَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَ رَحِمَ رَبِّى إِنَّ رَبِّى غّفُورٌ رَّحِيْمٌ
“ Tidak dapat saya melepaskan hawa nafsu saya, karena hawa nafsu saya itu selalu menyuruh saya berbuat kejahatan, kecuali di sayangi oleh Tuhan akan saya ini “ ( QS Yusuf : 53 ).
Dan berkata pula Rosululloh SAW :
“ Yang saya takuti daripada segala ketakutan umat saya, ialah mengikuti hawa nafsu dan berpanjang-panjang cita dan angan-angan kosong. Adapun mengikuti hawa nafsu itu akirnya mencegah manusia sampai kepada yang hak, sedangkan berpanjang cita dan angan-angan kosong, akan merupakan dia ke akhirat “.
Rosululloh SAW bersabda pula :
“ Jihad yang terutama, ialah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya “ ( HR.Bukhori Muslim ) .
Sabda Nabi SAW selanjutnya :
اَعْدَ عَدُوِّكْ نَفْسُكَ لَّتِ بَيْنَ يَمْبَيْك
“ Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang terletak diantara dua lambungmu “.
Firman Alloh SWT dalam Al Quran :
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكَّهَا # وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَا
Pasti jaya orang yang membersihkan dirinya , dan pasti celaka orang yang mensia-siakan dirinya ( QS.Asy-Syamsi : 9-10 ).
Yang disebut diatas itulah jiwa yang tercela yang selalu terdapat pada tiap pribadi, pada setiap masa dan zaman.
Semua Agama dan aliran sepakat menanamkan dia jiwa tercela dan menyatakan cemas untuk membencinya, untuk menjaga jangan tertipu dan untuk mencegah jangan sampai pribadi kita condong kepada tipu daya nafsu. Oleh karena itu pekerjaan ulama-ulama Thoriqot yang pertama dan utama mendidik murid untuk dapat menguasai dirinya, ialah melakukan riyadhoh dan latihan-latihan, sanggup menentang hawa nafsunya, sedia mengubah kebiasaan-kebiasaan dan syahwatnya.
Guru-guru Thoriqot itu memperingatkan agar murid-murid meninggalkan sifat-sifat tersebut dan tidak menyukai membiasakan mereka membuat perhitungan laba rugi.
Nabi SAW Berkata :
حَسِبُوْ قَبْلَ اَنْتُ حَسِبْكُم
“ Perhitungkanlah dirimu sebelum engkau menghadapi perhitungan Tuhan “.
Ulama-ulama ‘Arifin (Tashowwuf) setengahnya berkata :
“ Tidak mengapa mengikuti syahwat yang diperkenankan untuk diri kita, apabila teryata dapat menguatkan ibadah, seperti : tidak mengapa memakai pakaian yang megah untuk melahirkan nikmat Tuhan.  Tidak mengapa makan dan minum yang sedap-sedap untuk kepentingan kesehatan anggota badan bersyukur dan menjadi kuat pada indera, sebagaimana yang pernah diperkenankan oleh ulama-ulama sufi dan Thoriqot Syaziliyyah “.
Ahli ma’rifat Syekh Syazili r.a pernah berkata kepada teman-temannya :
“ Makan dan minumlah kamu daripada makanan yang baik-baik, minumlah minuman yang sedap, tidurlah diatas tempat yang empuk, berpakaianlah dengan pakaian yang halus, tetapi perbanyaklah dzikir kepada Tuhanmu “.
Firman Alloh :
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءاَمَنُوا لاَتُلْهِكُمْ اَمْوَلُكُمْ وَلاَ أَوْلَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِـكَ هُمُ الْخَسِرُونَ
“ Wahai orang-orang yang beriman, jagalah agar pengaruh harta bendamu dan anak pinakmu tidak merusak kamu untuk dzikrulloh. Barang siapa berbuat demikian, pasti mereka akan rugi “ ( QS.Al-Munafiqun : 9 ).
Firman Tuhan pula :
كُلُوْا واشْرَبُوا مِنْ رِّزْقِ اللهِ وَلاَ تَعْثَوافِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ
“ Makan dan minumlah kamu daripada rizki yang dikaruniakan Alloh, dan Janganlah kamu berlomba-lomba berbuat kerusakan diatas bumi ini “ ( QS.Al-Baqoroh : 60 ).
Apabila hamba Alloh merasakan yang demikian itu berkata “ Alhamdulillah ”, maka tiap-tiap anggota badannya bersyukur pula kepada Alloh. Sebaliknya, bilamana manusia itu tidak demikian, ia hanya mengucapkan syukur , padahal dalam hatinya tidak, bahkan mengingkari takdir Tuhan.
Syekh Ali Al-Qodir r.a. berkata :
“ Hendaklah berbangga-bangga di dunia orang sufi, tidur diatas tikar yang tenang, Tuhan memasukannya kedalam syurga yang tinggi “.
Keterangan yang diatas ini menjadi dalil, banyak raja-raja dan pangeran-pangeran ahli dunia, yang kebesaran dan kemewahannya tidak mencegah mereka daripada dzikrulloh. Maka di beri pahala dan ganjaran, dan Tuhan memasukan mereka itu dengan rahmat-Nya dalam syurga yang tinggi.
Contoh ini ditiru oleh ulama-ulama Sufi dalam Thoriqot Naqsyabandiyyah, Syaziliyyah dan Kubrawiyyah.
Dalam kitab “ Ar-Rasyikhat ” telah berkata Tuan Syekh Bahaudin Naqsyabandi r.a. :
“ Tiap macam makanan harus baik, beribadat pun harus baik pula ”.
Beberapa kalimat ini cukup untuk menunjukan buat ‘Arif Budiman, bahwa tidak semua kesenangan didunia disingkirkan oleh orang-orang Sufi.
Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani q.s.a berkata :
“ Harta bendamu itu adalah khodammu dan engkau adalah Khodam Alloh. Maka Hidupmu di dunia ini harus menjadi manusia ‘ tauladan “ dan hidupmu di akhirat kelak menjadi orang yang mulia “.
Nabi SAW berkata :
“ Bukanlah orang yang baik jika engkau tinggalkan dunia dan akhirat atau sebaliknya meninggalkan akhirat untuk dunia, tetapi hendaklah mencapai kedua-duanya, karena dunia itu jalan ke akhirat dan jangan kamu bergantung kepada manusia “. ( Ibn As-Sakir ).
Firman Tuhan dalam al Quran :
وّابْتَغِ فِيْمَا ءاَتَكَ اللهُ الدَّارَ الْاَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَسِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيا وَاَحْسِنْ كَمَ اَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
“ Kejarlah apa yang diberikan Tuhan untuk akhirat, tetapi janganlah engkau lupa akan nasibmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Tuhan berbuat baik kepadamu, janganlah bercita-cita berbuat kerusakan diatas muka bumi ini, karena Alloh tidak menyukai mereka yang berbuat kerusakan “ ( QS.Al- Qosos : 77 )
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/05/apa-beda-talqin-dan-baiat.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-3091922834288805331</guid><pubDate>Tue, 01 May 2018 11:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-05-01T19:26:02.878+08:00</atom:updated><title>Kenapa kita harus Bertasyawuf..?</title><description>Syarat Belajar Ilmu Tasawuf
Telah menyebut Al-Arif  Al-Rabbani Kamil Mukamil Wali Qutub Sheikh Abi Madyan r.a. dalam kitabnya “Kanzul Manan” sebagaimana berikut;Tiada patut mendengar bagi Ilmu ini (Thoriqat / Tasawuf)  melainkan bagi orang yang  bersifat dengan empat sifat ini  iaitu;
1.Zahid dengan meninggalkan segala yang lebih daripada yang halal
2.Ilmu Syariat yang membaikkan zhohirnya,
3.Tawakkal dan
4.Keyakinan kepada  Allah dan Rasul
Inilah syarat-syarat utama yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin mengikut jalan atau thoriqat Ilmu Tasauf ini.  Tegasnya bagi sesiapa yang ingin belajar atau menuntut ilmu ini,  atau mendengar ilmu ini,  membicarakan dan membahas ilmu ini,  mereka hendaklah memperlengkapkan diri mereka dengan empat perkara tersebut.  Tanpa salah satu atau mana-mana dari empat syarat-syarat yang tersebut itu,  maka tidaklah patut bagi seseorang itu mendengar apatah lagi memperkatakan sesuatu mengenai Ilmu Tasawufini.
1.  Zahid.
Adalah makna zahid ialah meninggalkan segala yang berlebih-lebihan daripada yang halal.  Ini adalah kerana seorang yang Salik itu merupakan orang musafir kepada Tuhannya.  Maka manakala jika ada sesuatu yang melebihi dari kadar keperluan dan hajatnya dalam perjalanannya,  nescaya ianya akan menjadi penegah dan penghalang untuknya melangkahkan kaki.  Ini adalah kerana Hadrat Haq Subhanahuwa Taala itu  diharamkan masuk atas orang yang membawa di belakangnya sesuatu tanggungan(sangkutan keduniaan).
Dala arti kata yang lain,  hendaklah disucikan tangannya daripada mengambil sesuatu yang lebih daripada dunia dan disucikan hatinya daripada berhadap kepadaNya  kerana adalah pada Hadrat yang Qudsi itu ditegahkan masuk orang yang penuh hatinya dengan Akdar dunia yang Masyiwallah(sesuatu selain daripada Allah)  seperti kata Sheikh Ibni Athoillah As-Sakandari;
Bagaimana terang bercahaya hatinya sedangkan segala rupa Akuan(cita-cita dunia) termeteri pada muka cerminnya atau;
Bagaimana ia suka berjalan kepada Allah Taala padahal tertambat dengan segala keinginan syahwatnya atau;
Bagaimana ia loba masuk pada Hadrat Allah Taala sedangkan ia tiada bersuci dari segala junub kelalaiannya atau;
Bagaimana ia harap hendak faham akan keindahan Asror atau rahsia-rahsia yang halus(yang dalam) pada hal ia tidak taubat daripada kesalahannya.
Antara alamat orang yang zahid ialah sebagaimana yang disebut dalam Kitab Sira Ssalikin di mana telah berkata  Imam Ghazali;Adapun alamat Zahid itu tiga perkara iaitu;
~1.  Tiada ia suka dengan  suatu  yang ada kepadanya dan tiada dukacita di  atas ketiadaan sesuatu padanya seperti firman Allah  yang bermaksud;  “Supaya tiada dukacita kamu atas sesuatu yang luput dan tiada suka dengan sesuatu yang datang kepada kamu”.
~2.  Bersamaan padanya orang yang memuji dan menghinanya.
2.  Ilmu
Yang dimaksudkan dengan ilmu di sini ialah Ilmu Syariat yang ruang lingkupnya bergantung dengan perkara-perkara yang membaikkan zhohirnya.  Maka manakala tiada mengetahui oleh orang yang Salik ilmu-ilmu atau jalan untuk membaikkan zhohirnya nescaya tiadalah dapat ia mengetahui akan jalan untuk membaikkan batinnya.  Ini adalah kerana orang yang tiada berhenti pada pintunya tiadalah masuk di dalam tempat perhentian ahbabnya(kekasihnya).  Dengan kerana itulah, maka hiasilah olehmu wahai orang Salik dengan pakaian syariat dan berhiaslah dengan adab thoriqat,  nescaya teranglah atasmu beberapa cahaya  hakikat dan jadilah kamu ahli bagi Mukhotobah yakni berkhabar-khabaran dan ahli Musyawarah yakni orang yang berkhabar-khabaran pada malam dan dapatlah kamu akan lazat Mukhotobah.  Ini adalah kerana untuk terbukanya sesuatu yang hakikat yang didapati dari Alam Ghaib,  perlulah ada sesuatu Wirid atau amalan syariat yang sempurna.
Tersebut dalam bicara Kitab Hikam Ibni Athoillah As-Kanddari bahawa tidak akan ada Warid tanpa Wirid.  Yang dimaksudkan dengan wirid ialah apa sahaja amalan zhohir atau batin yang dilakukan secara Istiqamah dan terhasilah Warid Ilahiyyah iaitu pembukaan dan pencampakan Nur Ketuhanan yang membukakan sesuatu yang sebelum ini tertutup atau terhijab.  Dengan terbukanya sesuatu rahsia di Alam Ghaib ini,  maka terserlah bahagian-bahagian hakikat atau makrifat mengikut kadar yang diizinkan.
3.  Tawakkal
Amat perlu bagi seorang Salik itu memakai pakaian tawakkal  kerana Tawakkal  itu ialah memadai dengan pengetahuan Allah pada mu daripada bergantung hati akan yang lain.  Maka apabila engkau ketahui bahawasanya;
Allah itu Tuhan Yang ‘Alim yakni yang mengetahui dengan segala hal kamu;  lagiAllah itu Amat Kuasa atas memadakan(menjamin) akan segala hajatmu;
lagi  Allah itu terlebih kasih sayang bagimu lebih daripada kasih sayang ibu-bapamu malah melebihi akan kasih-sayangmu pada dirimu sendiri,
nescaya  berhimpunlah hatimu itu atas Allah dan tiada berhadap dengan hatimu melainkan kepadaNya(Allah).  Dan tiada engkau jatuhkan pandangan dan ingatan itu melainkan padanya(berhadap kepada Allah).Adalah tawakkal ini terlebih-lebih  sangat dikehendaki oleh orang yang Salik itu pada perjalannnya melebihi sangat berkehendaknya seorang yang dahaga kepada air.
4.  Yakin
Yakin ialah I’tiqad(pegangan) berpegang teguh kepada apa yang dikhabarkan oleh Allah dan RasulNya.  Dengan keyakinan  itulah ia akan berpegang kepada perkara yang sebenarnya dengan tiada ragu pada Allah dan Rasulnya atas jalan yang pernah putus, sekiranya ghoib atas hatinya dan jadilah segala yang ghaib itu seperti dilihatnya.  Maka diketahui dengan perasaannya bahwasanya Allah Taala tiada menjadikan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadat kepadaNya.  Maka tiada dijadikan akan segala pancainderanya melainkan kerana disuruh mengerjakan taat dengannya dan tiadalah dijadikan hati melainkan kerena tempat untuk berzikir(ingat/yakin) akan Dia dan supaya jangan hati itu tidak bimbangkan(cenderung dan kasih) dengan sesuatu yang lain selain daripada Allah.
Maka barangsiapa berhasil baginya yakin yang zauqi(rasa yang melenyapkan isyarat)  atas jalan ini nescaya;
mereka tiada akan memalingkan lidahnya melainkan di dalam zikir akan Dia dan
tiadalah mereka  memalingkan telinganya melainkan dengan mendengar kalam Allah dan kalam RasulNya dan kalam AuliyaNya  dan kepada tiap-tiap sesuatu  yang menyampaikan dia kepada TuhanNya dan
tiada berpaling matanya  melainkan pada barang yang memberi manfaat dan menunjuk akan dia kepada jalan Allah.
Dan demikianlah dikirakan(ditilik) dirinya pada tempat penerimaan segala nikmat yang memberi nikmat dengan dia oleh MaulaNya(Allah) hinggalah tercapailah ia akan Maqam orang yang Syaakirin iaitu orang yang memalingkan pandangannya bahawa sekelian nikmat yang diberikan Allah ke atasnya kepada sesuatu yang dijadikan untuk tujuan kembali kepada jalan Allah.  Maka tatkala itu tercapailah ia akan bertambah pemberianNya seperti maksud  Allah Taala (Walai in syakar tum laiziidannakum).“Dan apabila kamu bersyukur,  pasti Allah menambahnya”Bermula Maqam yakin itu ialah diketahui oleh seseorang bahawa Allah Taala  melihat atas tiap-tiap    waktu dan ketika seperti kata Sheikh Abi Madyan r.a
Bermula Haq Taala itu melihat atas segala rahsia hambaNya  dan zhohirnya pada tiap-tiap nafas dan tiap-tiap hal(kelakuannya).  Maka di mana ada hati melihat akan Dia(Allah) hal keadaannya memberi bekas akan TuhanNya daripada yang lain,  nescaya dipeliharakan akan dia daripada kedatangan percubaan dan daripada fitnah yang menyesatkan dia daripada memandang  yang lain daripada Allah.
Inilah hikmah atau edaran(pusingan) Ahli Sufiah iaitu Maqam Muroqobah dan Maqam Ihsan iaitu mengetahui bahawasnya Allah Taala melihat ia pada sekelian seketika dan mengetahui pula Allah Taala akan barang yang di dalam dirinya .  Maka jadilah ia;
bersamaan pada zhohir dan batinnya dan
bersamaan pada khulwatnya(sendirian) dan jalwahnya (di dalam tengah orang ramai) bersamaan padanya zhohir.
Maka tiada dilihat  dalam segala kelakuannya itu melainkan MaulaNya(Allah)  dan tiada berhadap pada menyampaikan hajatnya melainkan kepadaNya.  Dan hasillah daripada Sheikh Abi Madyan r.a;Bahawasanya pati jalan untuk sampai kepada Allah itu bahawa mengetahui orang yang Salik akan bahawasnya Allah Taala itu Tuhan Yang Melihat atas segala rahsianya dan zhohirnya pada tiap-tiap nafas dan tiap-tiap kelakuannya.
Petikan dari Kitab “Kanzul Manan” ‘ala Hikam Abi Madyan r.a
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/05/kenapa-kita-harus-bertasyawuf.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-1218375792775749032</guid><pubDate>Tue, 01 May 2018 11:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-05-01T19:20:31.797+08:00</atom:updated><title>Yang salah Ustadz Atau Jamaah </title><description>بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

Pertanyaan yang sering dipertanyakan
Yang salah Ustadz atau Jama’ahnya?
Setelah kami kaji permasalahannya adalah pada umumnya ustadz hanya menyampaikan 2 pokok agama dari 3 pokok agama yang harus disampaikan kepada jama’ahnya
3 pokok agama tersebut ada disampaikan dalam hadits seperti,
Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Umarah -yaitu Ibnu al-Qa’qa’- dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah dia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kalian bertanyalah kepadaku‘. Namun mereka takut dan segan untuk bertanya kepada beliau.
Maka seorang laki-laki datang lalu duduk di hadapan kedua lutut beliau, laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘
Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.
Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘
Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya,beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya‘.
Dia berkata, ‘Kamu benar‘. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? 
Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.
Dia berkata, ‘Kamu benar‘. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? 
Beliau menjawab, ‘Tidaklah orang yang ditanya tentangnya lebih mengetahui jawabannya daripada orang yang bertanya, akan tetapi aku akan menceritakan kepadamu tentang tanda-tandanya;
yaitu bila kamu melihat hamba wanita melahirkan tuannya. Itulah salah satu tanda-tandanya.
(Kedua) bila kamu melihat orang yang tanpa alas kaki telanjang, tuli, bisu menjadi pemimpin (manusia) di bumi. Itulah salah satu tanda-tandanya.
(Ketiga) apabila kamu melihat penggembala kambing saling berlomba tinggi-tinggian dalam (mendirikan) bangunan. Itulah salah satu tanda-tandanya dalam lima tanda-tanda dari kegaiban, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, kemudian beliau membaca: 
اِنَّ اللهَ عنْدّهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَافِى الْاَرْحَامِ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَذًا وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ  بِأَيِّ اَرِضٍ تَمُوتُ اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
(Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahuiapa yang ada dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui(dengan pasti) apa yang akan diusahakan-Nya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal) (Qs. Luqman: 34).
Kemudian laki-laki tersebut bangun (mengundurkan diri), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Panggillah dia menghadapku! ‘ Maka dia dicari, namun mereka tidak mendapatkannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Laki-laki ini adalah Jibril yang berkeinginan agar kalian mempelajari (agama) karena kalian tidak bertanya‘. (HR Muslim 11)
Tiga pokok agama yang disimpulkan dari percakapan antara Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam dengan Malaikat Jibril a.s yakni
Apakah Islam
Apakah Iman
Apakah Ihsan
Yang disampaikan oleh para Ustadz umumnya adalah 2 pokok saja yakni
Apakah Islam
Apakah Iman
Para Ustadz pada umumnya tidak menyampaikan “apakah Ihsan”
Dari hadits di atas Rasulullah menjelaskan tentang Ihsan adalah “Kamu takut (khosyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)
Norma, Adab, perilaku, akhlak ada didalam Ihsan. Mereka yang bergunjing, berkeluh kesah , berkata dengan kasar, bahkan masih ada yang berputus asa adalah karena mereka minimal tidak meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla melihat mereka, 
اَللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَتَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ
mereka tidak meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla mengurus ciptaanNya dan Dia tidak tidur. (Al Baqarah [2]:255)
Muslim yang meyakini diawasi/dilihat oleh Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb dengan hati (ain bahiroh) atau muslim yang Ihsan atau muslim yang bermakrifat maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, mencegah dirinya dari perbuatan maksiat, mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Subhanahu wa ta’ala
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
Oleh karenanya seorang ustadz sebaiknya menyampaikan ketiga pokok agama yakni Islam, Iman, Ihsan agar terbentuk muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang ihsan atau muslim yang bermakrifat yakni muslim yang dapat menyaksikan Allah dengan hati mereka (ain bashiroh).
Islam dan Iman dikenal dengan syariat sedangkan Ihsan dikenal dengan tasawuf.
Imam As Syafi’i ~rahimahullah menasehatkan kita untuk menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan
Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]
Begitupula dengan nasehat Imam Malik ~rahimahullah bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik
Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .
Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)
Jika mereka menjalankan perkara syariat tidak diikuti dengan menjalankan tasawuf atau mereka tidak memperhatikan amalan batin mereka maka mereka akan sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah sampaikan sebagai “Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan”  (HR Muslim 1773) maknanya sholat mereka sebatas dzahirnya saja atau amalan lahirnya saja, tidak sampai kepada bathin (qalbu) mereka atau tidak bermanfaat atau mempengaruhi kepada hati atau bathin mereka yang mengatur jasad lahir sehingga sholat mereka tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar, sholat mereka tidak mencegah mereka dari bergunjing, berkeluh kesah , berkata dengan kasar, bahkan masih ada yang berputus asa.
Selengkapnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “akan muncul suatu firqah/sekte/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya” (HR Muslim 1773)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
اِنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS al Ankabut [29]:45).
Sholat mereka tidak menumbuhkan keyakinan akan pengawasan Allah atau pengawasan Allah tidak tertanam dalam jiwanya atau qalbunya.
Segelintir kaum muslim, ibadah sholat mereka sekedar upacara keagamaan (ritual) atau gerakan-gerakan yang bersifat mekanis (amal) yang sesuai syarat dan rukun-rukunnya (ilmu), sebagaimana robot sesuai programnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tetapi Allah melihat kepada hati kalian.” (HR Muslim)
Tidaklah mereka mencapai sholat yang dikatakan oleh Rasulullahshallallahu alaihi wasallam bahwa “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“,“sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.
Dalam sebuah hadist Rasulullahshallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajatdengan Tuhan”
Allah berfirman yang artinya,
وَاسْتَعِيْنُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَوةِ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَشِــعِيْنَ
 “Sesungguhnya sembahyang (Sholat) itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/05/yang-salah-ustadz-atau-jamaah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-8135116628507402352</guid><pubDate>Tue, 10 Apr 2018 14:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-10T22:13:21.833+08:00</atom:updated><title>MP3 DALAILUL KHOIROT</title><description>&lt;iframe src='https://www.4shared.com/web/embed/audio/file/wwROvhd4ei?type=MINI&amp;widgetWidth=530&amp;showArtwork=true&amp;playlistHeight=0&amp;widgetRid=338261722307' style='overflow:hidden;height:60px;width:530px;border: 0;margin:0;'&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;iframe src='https://www.4shared.com/web/embed/audio/file/yrzlmY7Lca?type=MINI&amp;widgetWidth=530&amp;showArtwork=true&amp;playlistHeight=0&amp;widgetRid=425016092437' style='overflow:hidden;height:60px;width:530px;border: 0;margin:0;'&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;iframe src='https://www.4shared.com/web/embed/audio/file/EcIXRsLTei?type=MINI&amp;widgetWidth=530&amp;showArtwork=true&amp;playlistHeight=0&amp;widgetRid=1081486748906' style='overflow:hidden;height:60px;width:530px;border: 0;margin:0;'&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;iframe src='https://www.4shared.com/web/embed/audio/file/sU_t809rei?type=MINI&amp;widgetWidth=530&amp;showArtwork=true&amp;playlistHeight=0&amp;widgetRid=187130085342' style='overflow:hidden;height:60px;width:530px;border: 0;margin:0;'&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;iframe src='https://www.4shared.com/web/embed/audio/file/8xLh2SAqei?type=MINI&amp;widgetWidth=530&amp;showArtwork=true&amp;playlistHeight=0&amp;widgetRid=442267777341' style='overflow:hidden;height:60px;width:530px;border: 0;margin:0;'&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;iframe src='https://www.4shared.com/web/embed/audio/file/fvWCh8Veca?type=MINI&amp;widgetWidth=530&amp;showArtwork=true&amp;playlistHeight=0&amp;widgetRid=813189584452' style='overflow:hidden;height:60px;width:530px;border: 0;margin:0;'&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;iframe src='https://www.4shared.com/web/embed/audio/file/cUKvleUfca?type=MINI&amp;widgetWidth=530&amp;showArtwork=true&amp;playlistHeight=0&amp;widgetRid=957428132381' style='overflow:hidden;height:60px;width:530px;border: 0;margin:0;'&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;iframe src='https://www.4shared.com/web/embed/audio/file/eG9RgPtuei?type=MINI&amp;widgetWidth=530&amp;showArtwork=true&amp;playlistHeight=0&amp;widgetRid=408288636644' style='overflow:hidden;height:60px;width:530px;border: 0;margin:0;'&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/mp3-dalailul-khoirot.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-7869925612301678065</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 13:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T21:42:05.301+08:00</atom:updated><title>SAGAH TV</title><description>&lt;span style="font-family: Courier New, Courier, monospace;"&gt;Sagah tv merupakan aplikasi yang menayangkan siaran sepak bola secara online&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.sagahtv.net/"&gt;SAGAH TV&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/sagah-tv.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-4716075155275171469</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 12:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T20:37:36.842+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hakikat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jari</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">telunjuk</category><title>ARTI MENGANGKAT JARI TELUNJUK</title><description>&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
HAKIKAT MENGANGAT JARI TELUNJUK DALAM SHOLAT&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Diangkatny&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;a jari telunjuk saat shalat agar terkumpul isyarat TAUHID dalam dirinya baik secara keyakinan,&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;ucapan dan perbuatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: roboto, arial, sans-serif; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;( ووضع يديه في ) قعود ( تشهديه على طرف ركبتيه ) بحيث تسامته رؤوس الأصابع ( ناشرا أصابع يسراه ) مع ضم لها ( وقابضا ) أصابع ( يمناه إلا المسبحة )&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: roboto, arial, sans-serif; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;( قوله إلا المسبحة ) إنما سميت مسبحة لأنها يشار بها للتوحيد والتنزيه عن الشريك وخصصت بذلك لاتصالها بنياط القلب أي العرق الذي فيه فكأنها سبب لحضور&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15.4px;"&gt;ه&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;
Dan meletakkan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;kedua tangannya dalam duduknya pada dua tasyahhudn&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;ya dipinggir kedua lututnya sekira sejajar dengan pucuk-pucu&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;k jemarinya,&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;dengan membeber dan mengumpulk&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;an jemari-jem&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;ari tangan kirinya serta menggengga&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;m jemari-jem&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;ari tangan kanannya kecuali jari penunjuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
(Keteranga&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n kecuali jari penunjuk) dinamakan musabbihah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;karena dia adalah jemari yang digunakan untuk memberikan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;isyarat pada tauhid dan penyucian Allah dari segala kesyirikan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;, dan dalam tasyahhud (tahiiyat)&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;jari yang dipakai hanya jari penunjuk karena pertautann&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;ya dengan hati dalam arti didalamnya&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;terdapat otot yang bertautan dengan hati, dengan demikian diharapkan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;dapat berakibat khusyu’nya&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;seseorang dalam shalat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
I’aanah at-Thoolib&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;iin I/174&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Dalam keterangan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;kitab lain dijelaskan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;jari tengah bertautan dengan alat vital.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: roboto, arial, sans-serif; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَيُدِيمُ رَفْعَهَا وَيَقْصِدُ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;مِنْ ابْتِدَائِ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;هِ بِهَمْزَةِ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;إلَّا اللَّهُ أَنَّ الْمَعْبُو&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;دَ وَاحِدٌ ، فَيَجْمَعُ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;فِي تَوْحِيدِه&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ِ بَيْنَ اعْتِقَادِ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;هِ وَقَوْلِهِ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;وَفِعْلِهِ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;
Dan langgengka&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n mengangkat&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;jari, berkehenda&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;klah saat mulai mengangkat&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;nya ketika hamzahnya lafadz ILLA ALLAAH bahwa Dzat Yang Disembah adalah Esa, dengan demikian terkumpula&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;h segala tauhid dalam dirinya baik antara keyakinan,&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;ucapan dan perbuatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Hasyiyah al-Bujairo&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;mi ala al-Khothii&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;b IV/394&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Wallaahu A’lamu Bis Showaab&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2016/11/arti-mengangkat-jari-telunjuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-8487633834066021429</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 12:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T20:36:39.450+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Doa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Gigi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sakit</category><title>DOA SAKIT GIGI</title><description>&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
DOA KETIKA SAKIT GIGI&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Baca doa ini tiga kali dengan menaruh tangan pada gigi yang sakit&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: roboto, arial, sans-serif; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;بسم الله اللهم أذهب عني شر ما أجد بدعوة نبيك الطيب المبارك المكين عندك&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&amp;nbsp;BISMILLAA&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;HI ALLAAHUMMA&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;ADZHIB ‘ANNII SYARRO MAA AJIDU BI DA’WATI NABIYYIKA ATTHOYYIBI&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;ALMUBAAROK&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;I ALMAKIINI ‘INDAKA &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Ya Allah hilangkanl&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;ah dariku keburukan dari apa yang ku rasakan dengan permintaan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;NabiMu yang mempunyai pengaruh dan diberkati disisiMu..&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Berdasarka&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n hadits ini&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: roboto, arial, sans-serif; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِي&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;مَ الدَّوْرَق&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ِيُّ ، حَدَّثَنَا&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;عَبْدُ الرَّحْمَن&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ِ بْنُ عُمَرَ بْنِ جَبَلَةَ ، حَدَّثَنَا&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;عَمْرُو بْنُ النُّعْمَا&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;نِ ، عَنْ كَثِيرٍ أَبِي الْفَضْلِ ، قَالَ : أَخْبَرَنِ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ي أَبُو صَفْوَانَ ، شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ ، قَالَتْ : خَرَجَ عَلَيَّ خُرَّاجٌ فِي عُنُقِي ، فَتَخَوَّف&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ْتُ مِنْهُ ، فَأَخْبَرْ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;تُ بِهِ عَائِشَةَ ، فَقَالَتْ : سَلِي النَّبِيَّ&lt;/span&gt;&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَتْ : فَسَأَلْتُ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;هُ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15.4px;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;، فَقَالَ : ” ضَعِي يَدَكِ عَلَيْهِ ، ثُمَّ قُولِي ثَلاثَ مَرَّاتٍ : بِسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;أَذْهِبْ عَنِّي شَرَّ مَا أَجِدُ بِدَعْوَةِ&lt;/span&gt;&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15.4px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;نَبِيِّكَ الطَّيِّبِ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;الْمُبَارَ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;كِ الْمَكِينِ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;عِنْدَكَ بِسْمِ اللَّهِ ، قَالَتْ : فَفَعَلْتُ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;، فَانْحَمَص&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;َ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Semoga bermanfaat Amin3x Ya rabbul aalamin&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2016/11/doa-sakit-gigi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Malaysia</georss:featurename><georss:point>4.210484 101.97576600000002</georss:point><georss:box>-11.796052499999998 81.321469000000022 20.2170205 122.63006300000002</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-1424762690634331824</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 12:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T20:34:21.965+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">maksiat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Nikmat</category><title>TERJERAT NIKMAT KEMAKSIATAN</title><description>&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
KENIKMATAN SEBUAH KEMAKSIATAN&lt;br /&gt;
Ada saatnya orang yang sering melakukan maksiat akan kehilangan kenikmatan dalam kemaksiatan itu sendiri. Namun di saat yang sama ia merasa sulit keluar dari jerat-jerat kemaksiatan itu karena telah menjadi kebiasaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Semua itu disebabkan oleh kenikmatan fisik manusia di dunia ini yang memiliki batas maksimal. Apabila batas maksimal itu telah tercapai maka manusia akan mengalami titik jenuh. Pada titik jenuh itulah banyak orang dilanda kegelisahan yang amat dahsyat. Ia merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya. Ada yang kemudian menyesal lalu kembali, namun tak jarang yang kemudian tersesat sampai mati. Wal ‘iyadzu billah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Sebaliknya, orang-orang yang tenggelam dalam lautan ibadah telah mendapatkan surga sebelum surga yang hakiki. Jasad-jasad mereka tersiksa di dunia tapi hati-hati mereka terbang melayang menikmati alam yang penuh keindahan dan kenikmatan. Jiwa mereka tak sadarkan diri dengan segala beban dan siksaan yang mendera jasad. Salah seorang di antara mereka membocorkan rahasia itu, “Seandainya para raja merasakan apa yang kami rasakan, pasti mereka akan merebutnya meskipun harus dengan pertempuran.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Sungguh indah nasehat ulama:&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: roboto, arial, sans-serif; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;أخي الكريم: إن جنة المؤمن في الدنيا في صدره، وإن عاش فقيراً سجيناً، وفي الآخرة جنته في روحه وبدنه. وإن نار الكافر في الدنيا في قلبه، وإن عاش في نعيم المال والسلطان، وسائر متع الدنيا، وفي الآخرة ناره في روحه وبدنه. أخي الكريم: لذة الدنيا وشهواتها فانية، يسبقها تعب وجهد في تحصيلها، ويعقبها ألم وحسرة وضيق بعد المتعة به&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15.4px;"&gt;ا.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
“Wahai saudaraku yang mulia, sungguh surga seorang mukmin di dunia ini terletak di dalam dadanya, meskipun ia hidup miskin dalam penjara. Di akhirat nanti, surganya berada di dalam jiwa dan raganya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Dan sungguh neraka orang kafir di dunia ini terletak di dalam hatinya, sekalipun ia hidup dalam kenikmatan harta dan tahta serta seluruh kenikmatan dunia. Di akhirat nanti, nerakanya berada di dalam jiwa dan raganya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Wahai saudaraku yang mulia, kenikmatan dan kelezatan dunia ini hanyalah sebentar saja dan fana. Sulit dan melelahkan untuk meraihnya tapi sakit dan menyiksa di akhirnya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Tapi sayang seribu sayang, penyesalan selalu datang di akhir waktu. Di saat segalanya sudah tidak berlaku. Ia selalu hadir saat segalanya telah berakhir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Amatlah bodoh orang yang tidak mengetahui hakikat ini. Lebih bodoh lagi orang yang tahu tapi tidak lantas bangkit, bergerak dan mengambil sikap yang tepat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin-bottom: 10px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Semoga Allah membimbing kita untuk tetap di jalan-Nya sampai ajal menjemput kita. Amiin.&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2016/11/terjerat-nikmat-kemaksiatan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Malaysia</georss:featurename><georss:point>4.210484 101.97576600000002</georss:point><georss:box>-11.796052499999998 81.321469000000022 20.2170205 122.63006300000002</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-1132225206632756430</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 12:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T20:33:37.115+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">imam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pemalu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">seorang</category><title>PEMALU DAN KECERDASAN SEORANG IMAM</title><description>&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
KISAH SEORANG PEREMPUAN YANG PEMALU&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Suatu ketika, tatkala al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man radliyalla&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;hu’anh sedang duduk-dudu&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;k untuk memberikan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;pelajaran dan nashehat kepada para murid-muri&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;dnya, tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang kemudian duduk lalu dengan penuh tatakrama,&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;bergerak mendekati tempat sang Imam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Setelah cukup dekat, tiba-tiba perempuan tersebut mengeluark&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;an dari kantong bajunya sebuah apel yang dikedua sisi buah apel tersebut sebagian berwana merah dan sebagian lagi berwarna kuning lalu meletakkan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;apel tersebut di depan sang Imam tanpa mengeluark&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;an sepatah kata pun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Kemudian dengan tenang sang Imam mengambil buah apel tersebut lalu membelahny&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;a menjadi dua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Setelah sang Imam melakukan hal tersebut, tiba-tiba perempuan itu bangun lalu beranjak pergi meninggalk&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;an majelis sang Imam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Murid-muri&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;d sang Imam yang menyaksika&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n kejadian itu tak habis pikir, apa gerangan yang dikehendak&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;i oleh perempuan tersebut sehingga berperilak&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;u demikian di hadapan mereka dan sang Imam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Tak tahan dengan tanda besar yang menghingga&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;pi kepala para murid-muri&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;d tersebut, salah seorang diantara mereka memberanik&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;an diri untuk ambil suara menanyakan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;apa gerangan yang dikehendak&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;i oleh si perempuan sehingga berbuat demikian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Kemudian dengan bijak dan penuh wibawa sang Imam menjelaska&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
“Sesungguh&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;nya perempuan yang kalian saksikan tadi sedang mengalami haidl yang kadang-kad&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;ang darah haidlnya berwarna merah seperti sebagian sisi dari apel ini dan terkadang berwarna kuning seperti sebagian sisi yang lain.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
“Dia ingin menanyakan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;padaku, mana diantara kedua warna darah tersebut yang masuk kategori haidl dan mana yang masuk kategori suci?!”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
“Tetapi karena sifat malunya yang besar, dan didorong oleh kesadarann&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;ya bahwa menuntut ilmu tidak boleh dikalahkan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;oleh sekedar rasa malu…maka dia gunakanlah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;apel tersebut sebagai sarana bertanya padaku.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
“Kemudian aku membelah apel yang dibawanya untuk aku perlihatka&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n kepadanya bagian dalam dari apel&amp;nbsp; tersbut.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
“Hal itu aku lakukan, karena aku bermaksud mengajarka&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n kepadanya,&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;bahwasanya&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;kamu belum suci dari haidl sebelum kamu melihat cairan yang berwarna putih sebagaimna&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;warna dari bagian dalam apel tersebut.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
“Setelah aku lakukan itu, dia langsung memahaminy&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;a, kemudian perempuan tersebut beranjak pergi.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
**Cerita ini diterjemah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;kan secara sangat bebas dari cerita berbahasa arab yang berjudul Hayya’ Imra’ah yang di dapat dari &amp;nbsp;&lt;a href="http://0.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Falharary.com%2F&amp;amp;h=tAQEbVqbV" style="background: transparent; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #3b5998; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;http://&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;alharary.co&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;m&lt;/a&gt;&amp;nbsp;, semoga bermanfaat&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;dan menjadi I’tibar bagi kita semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: sans-serif; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اللهم صل وسلم على حبيبنا و قرة أعيننا سيدنا محمد و على أله وأصحابه أجمعين&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2016/11/pemalu-dan-kecerdasan-seorang-imam.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Malaysia</georss:featurename><georss:point>4.210484 101.97576600000002</georss:point><georss:box>-11.796052499999998 81.321469000000022 20.2170205 122.63006300000002</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-6062693843094975399</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 12:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T20:33:00.539+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">dekat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jin</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Qorin</category><title>JIN YANG PALING DEKAT DENGAN KITA</title><description>&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
MAHLUK YANG PALING DEKAT DENGAN MANUSIA&lt;br /&gt;
Jin Qorin adalah jin yang selalu dekat menyertai orang sejak lahir hingga kematian. Qorin inilah yang paham betul dengan tipikal, kebiasaan dan kepribadia&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n orang yang disertainy&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;a sehingga tidak aneh jika Qorin sanggup menjawab hal-hal yang bersifat intim dan privasi serta bisa meniru gaya, perilaku bahkan menyamar menjadi orang yang disertainy&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;a ketika hidup. Dalam sabdanya Rasulullah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;SAW telah menegaskan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;mengenai eksistensi&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Qorin ini&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Berikut beberapa hadits yang menunjukka&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n keberadaan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Jin Qarin :&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
“Tidaklah seorang pun dari kalian kecuali telah ditetapkan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;JIN yang menyertain&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;ya” (HR. Muslim dan Ahmad).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
Berkata Qataadah “Dari Abu Hurairah, Rasulullah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Saw bersabda: “Setiap keturunan Adam, pasti disentuh oleh syaithan ketika lahirnya kecuali Siti Maryam dan putranya&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
(Nabi Isa)” (HR. Muslim).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: roboto, arial, sans-serif; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;بَاب ذكر القرينمُسل&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;م : حَدثنَا عُثْمَان بن أبي شيبَة وَإِسْحَاق&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;بن إِبْرَاهِي&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;م قَالَ إِسْحَاق : أَنا وَقَالَ عُثْمَان : ثَنَا جرير ، عَن مَنْصُور ، عَن سَالم بن أبي الْجَعْد ، عَن أَبِيه ، عَن عبد الله بن مَسْعُود قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – : ” مَا مِنْكُم من أحد إِلَّا وَقد وكل بِهِ قرينه من الْجِنّ . قَالُوا : وَإِيَّاك يَا رَسُول الله ؟ قَالَ : وإياي إِلَّا أَن الله أعانني عَلَيْهِ فَأسلم فَلَا يَأْمُرنِي&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;إِلَّا بِخَير ” .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;مُسلم : حَدثنَا مُحَمَّد بن مثنى وَابْن بشار قَالَا : ثَنَا عبد الرَّحْمَن&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;– هُوَ ابْن مهْدي – عَن سُفْيَان . وثنا أَبُو بكر بن أبي شيبَة ، ثَنَا يحيى بن آدم ، عَن عمار بن رُزَيْق ، كِلَاهُمَا&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;عَن مَنْصُور بِإِسْنَاد&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;جرير مثل حَدِيثه ، غير أَن فِي حَدِيث سُفْيَان ” وَقد وكل بِهِ قرينه من الْجِنّ وقرينه من الْمَلَائِ&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;كَة ” .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;مُسلم : حَدثنِي هَارُون بن سعيد ، ثَنَا ابْن وهب ، أَخْبرنِي أَبُو صَخْر ، عَن ابْن قسيط ، حَدثهُ أَن عُرْوَة حَدثهُ ، أَن عَائِشَة زوج النَّبِي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – حدثته ” أَن رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – خرج من عِنْدهَا لَيْلًا ، قَالَت : فغرت عَلَيْهِ فجَاء فَرَأى مَا أصنع ، فَقَالَ : مَا لَك يَا عَائِشَة ؟ أغرت ؟ فَقلت : وَمَا لي لَا يغار مثلي على مثلك . فَقَالَ رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – : أقد جَاءَك شَيْطَانك ؟ قَالَت : يَا رَسُول الله ، أَو معي شَيْطَان ؟ قَالَ : نعم . قلت : وَمَعَ كل إِنْسَان ؟ قَالَ : نعم . قلت : ومعك يَا رَسُول الله ؟ قَالَ : نعم ، وَلَكِن رَبِّي أعانني عَلَيْهِ حَتَّى أسلم ” .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;مُسلم : حَدثنَا شَيبَان بن فروخ ، ثَنَا أَبُو عوَانَة ، عَن سُهَيْل ، عَن أَبِيه ، عَن أبي هُرَيْرَة قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – : ” صياح الْمَوْلُو&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;د حِين يَقع نزغة من الشَّيْطَا&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-style: inherit; font-weight: inherit; outline-color: initial; outline-style: initial;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ن ” .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
JIN QARIN&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Rasulullah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;SAW bersabda, “Tidaklah seorang pun dari kalian kecuali telah ditetapkan&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;JIN yang menyertain&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;ya, Para sahabat bertanya: “Apakah termasuk Anda juga wahai Rasulullah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;?” Rasulullah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;menjawab: “Ya termasuk saya, hanya saja Allah menolong saya sehingga jin itu masuk Islam. Ia (jin tadi) tidak pernah menyuruh saya kecuali untuk kebaikan” (HR. Muslim)&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Rasulullah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;SAW bersabda, “Tidak ada seorangpun&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;kecuali ia disertai oleh seorang qarin (penyerta)&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;dari jin dan seorang qarin (penyerta)&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;dari malaikat” (HR. Muslim)&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Rasulullah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;SAW keluar dari rumah pada malam hari, aku cemburu karenanya.&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Tak lama ia kembali dan menyaksika&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;n tingkahku,&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;lalu ia berkata: “Apakah kamu telah didatangi syetanmu?”&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;“Apakah syetan bersamaku?&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;” Jawabku. “Ya, bahkan setiap manusia.” Kata Nabi Muhammad SAW. “Termasuk engkau juga?” Tanyaku lagi. “Betul, tetapi Allah menolongku&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;hingga aku selamat dari godaannya.&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;” Jawab Nabi (HR. Muslim).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 15.4px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Rasulullah&lt;wbr style="box-sizing: border-box;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-size: 15.4px; font-style: inherit; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;SAW bersabda, “Jeritan bayi ketika lahir adalah karena mendapat tusukan setan.” (HR. Muslim).&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2016/11/jin-yang-paling-dekat-dengan-kita.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Malaysia</georss:featurename><georss:point>4.210484 101.97576600000002</georss:point><georss:box>-11.796052499999998 81.321469000000022 20.2170205 122.63006300000002</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-2248642054145849100</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 12:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T20:11:53.647+08:00</atom:updated><title>SHOLAWAT KHUSAIRIYAH</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; بسم الله الر حمن الر حيم .الحمد لله ربالعلمي&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;اللهم صل وسلم عل سيدنا محمد اْلبشرالمبشر لْلمؤمنين بما قال الله العظيم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; َ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;وبشر المؤمنين وان اللهً لاَيُضِيْعُ اَجْرَ اْلمُؤْمنِيْن&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;ِاَللَّهُمَّ صَلٍّ وَسَلِّمْ عـَلَ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;سَـيٍـدِناَ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt; مُحَمًدٍالْـبـَشِـيـْرِ اْلمُبَشِّرِلِلذَاكِرِيْنَ بِمَا قَلَ اللّهُ اَلْعَظِيْم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;فَاذْكُرُوْنِي اَذْكُرْكُمْ اُذْكُرُوْاأللَّه ذِكْرًا كَشِيْرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلأ هُوَاْلَذِى يُصَلِِّيْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;عَلَيْكُمْ وَمَلأئِكَتُهُ لِيُخْرِكُمْ مِّنَ الظُّلُمَاتِ اِلَىَ نُوْرِ &amp;nbsp;وَكَانَ بالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمَا تَحِيَّتُهُمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;يَوْمَ يَلْقَونَهُ سَلأمَ وَأعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيْمَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيىِّدِنَا مُحَمَّدٍ اْلبَشِيْرِ الْمُبَشىِّرِ لِلْعَامِلِيْنَ بِمَاقَلَ الَّلهُ اْلعَظِيْمُ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَنّىِي لاَاُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ أَوْأُنْثَى وَمَنْ عَمِلَ صَالِحَاًمِـنْ ذَكَرٍ اَوْاُنْثَى وَهُوَمُؤْمِنٌ فَأُولَـَــئِـكّ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُوْنَ فِهَا بِغَيْرِ حِسساَبٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَلَّلهُمَّ صَـلِّ وَسَــلّـِمْ عَلَى سَـيّـِدِناَ مُحَمَّدٍ الْبَـشِـيْرِ الْمُبَـشّـِيْرِ لِلأَوَّبِيْنَ بِمَا قـَالَ اللهُ الْعَـظِيْـمُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;فَإِنَهُ كَانَ لِلأَّوَابِيْـنَ غَفُوْرًا &amp;nbsp;لَهُمْ مَيَـشَـاَءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِـنِـيْنَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَلَّلهُمَّ صّلِّ وَسَـلّـِمْ عَلَى سَـيّـِدِنَامُحَمَّدٍ الْـبَشِـيٍـْرِ الْمُبَـشّـِرِ لِـتَّـوَّابِـيْنَ بِمَا قَالَ اللهُ الْعَـظِـيْمُ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;إِنَّ اللهَ يُحِـبُّ التَّـوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَـهِّـرِيْنَ وَهُوَ الَّـذِى يَقْـبَـلُ التَّـوبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوا&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;عَنِ الـسَـــيّــِئَاَتِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَلَّلـهـُّمَّ صّلٍّ وَسَـلّـِمْ عَلـَى سَـيّـِدِنَا مُحَـمَّدٍ الْبَـشِـيْرِ الْـمُـبَـشّـِرِ لِلْـمُـخْـلِـصِـيْنَ بِمّا قَالَ اللهُ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;الْـعَـظِـيْـمِ فَمَنْ كاَنَ يَرْجُوالِقَاءَرَبِّهِ فَلْـيَـعْـمَلْ عَمَلآً صـَالِحّا وَلاَ يُـشْـرِكْ بِعـِبَـادَةِ رَبّـِهِ أَحَدًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;مُـخْــلِـصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَلَّلـهُـمَّ صَلِّ وَسَـلِّمْ عَلىَ سَـيّـِدِنَا مُـحَـمَّدٍ الْبَـشِـيْـرِ الْمُـبَـشّـِرِ لِلْمُـصَلّـِيْنَ بِمَا قَالَ اللهُ الْـعَظِيْمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَاَقِـمِ الـصَّلاَةَ اِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَـحْشَاءِ وَالْمُنْكَرْ اَقِـمِ الصَّلاَةَ وَأْمُرْ بِالـمَعْرُفِ وَانْهَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;عَـنِ الْـمُـنْـكَـرِ وَاصْبِرْ عَلىَ مَاأَصَـابَكَ اِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُوْرِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَللَّهـُمَّ صَلّـِى وَسَـلّـِمْ عَـلَ سَـيّـِـدِنَا مُحَـمَّدٍ البَـشِـيْـرِ الْمُـبَـشّـِرِ لِلْخَاشِعِـيْنَ بِـمَا قَالَ اللهُ الْعَظِيْمُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَاسْـتَعِيْـنُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّـهَـا لَـكَـبِيْرَةٌ اِلاَّ عَلىَ الْـخَـاشِـعِيْنَ اَلَّذِيْنَ يَـظُـنُّونَ اَنَّهُـمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;مُلاَقُوْارَبِّهِمْ وَاَنَّـهُمْ اِلَيْهِ رَاجِعُـوْنَ الَّذِيْنَ يَذْ كُرُوْنَ اللهَ قِـيَـامًا وَقُعُودًاوَّعَلَىَ جُـنُـوبِهـِمْ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَيَـتَـفـَكَّـرُوْنَ فِيْ خَلْـقِ الـسـَّمَـوَاتِ وَاْلاَرْضِ رَبَـنَـامَـا خَلَـقْ هَذَا بَـاطِلاً سُـبْحَانَـكَ فَـقِـنَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;عَـذَابَ الـنَّـارْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَلَّلـهُـمَّ صَـلِّ وَسَـلِـمْ عَـلىَ سَـيّـِدِنَامُـحَـمَّـدٍالْـبَـشِـيْـرِالْـمُـبَـشّـِيْرِلِلـصَّابِـرِيْنَ بِـمَـاقَالَ اللهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اْلـعَـظِيْـمُ اِنَّـمَايُـوَفَّى الـصَّـابِرُوْنَ أَجْـرَهُـمْ بِـغَـيْـرِحِـسَـابِ أُوْلَــئِـكَ اْلـذِيـْنَ هَدَاهُـمُ اللهُ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَأُلَـئِـكَ هُمْ أُوْلُوااْلأَالْـبَـابْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَلَّلـهُـمَّ صَـلِّ وَسَـلِّمْ عَـلىَ سَـيّـِدِنَامُحَـمَّـدٍاْلـبَشِـيْـرِ اْلـمُـبَـشّـِرِلِلْـخَـائِـفِـيْنَ بِـمَـا قَـالَ اللهُ اْلـظِيْـمُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَلِـمَـنْ خَـافَ مَـقَـامَ رَبّـِهِ وَنَـهَـى الـنَّـفْـسَ عَـنِ اْلــهَـوَى فَإِنَّ جَـنَّـةَ هِـيَ اْلـمَـعْـأْوَى&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَلَّلـهُـمَّ صَـلّـِى وَسَـلّـِمْ عَـلىَ سَـيّـِدِنَا مُـحَـمَّـدٍ الْـبَـشِـيـْرِاْلـمُـبَـشّـِرِ لِلْـمُـتْـقِـيْنَ بِـمَاقَالَ اللهُ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اْلـعَـظِـيـمُ وَرَحْـمَـتِى وَسِـعَـتْ كُلَّ شَـىْءٍ فَـسَـأََكْـتُـبُـهَا لِلَّذِيْنََ يَـتَّـقـُوْنََ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكاَةَ وَالَّـذِيْنَ هُـمْ بِئـَايَاتِـنَا يُؤْمِـنُوْنَ اَلّذِيْنَ يَـتَّـعـُـونَ الرَّسُـولَ النَّـبِـيَّ اْلأُمِّـيَّ لَهُمْ جَـزَاءُ الضِّـعْـفِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;بِـمَا عَـمِـلُوا وَ هُـمْ فِى الْـعُـرُفَاتِءاَمِـنُـونَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَللّهـمَّ صـلِّ وَسَـلّـِمْ عَـلـىَ سَـيّـِدِناَ مُـحَـمَّـدٍ الْـبَـشِـيْرِ الْمُـبـشّـِرِ لِلـمُخْـبِـتِـيْـنَ بِـمَا قَالَ اللهُ الْعَظـيـْمُ &amp;nbsp; وَبـشّـِرِ الْـمُـخْـبِـتـِيْنَ الَّـذِيْنَ اِذَاذُكِـرَاللهُ وَجِـلَـتْ قُلُـوبُـهُمْ وَالَّذِيْنَ يُؤْتُونَ &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;مَااَتَـوْاوَقُلُو بُـهُـمْ وَجِـلَـةٌ اَنَّـهُـمْ اِلىَ رَبّـِهِـمْ رَاجِـعُـونَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اَللّهـمَّ صـلِّ وَسَـلّـِمْ عَـلـىَ سَـيّـِدِناَ مُـحَـمَّـدٍ الْـبَـشِـيْرِ الْمُـبـشّـِرِ لِلـصَّـابِرِيْنَ بِـمَا قَالَ اللهُ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;الْـظِيـْمُ وَبَـشّـِرِ الصَّـبِـيْـرِيْنَ الَّذِيْنَ اِذَآَصَـابَـتْـهُـمْ مُـصِيْـبَـةٌ قَالوُا اِنَّالِلهِ وَإِنَّاإِلَـيْهِ رَاجِـعُـونَ آُولَــئِـكَ عَـلَيْـهِـمْ صَـلَـوَاتٌ مِنْ رَّبّـِهـمْ وَرَحْـمَـةٌ وَاآُوْلـَـئِـكَ هُـمُ الْـمُـهْـتَـدُوْنَ اِنّـيْ جَزَيْـتـهُـمُ الْـيَـوْمَ بِـمَاصَـبَـرُوا أَنَّـهُـمْ هُـمُ الْـفَائِـزُونَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2016/11/sholawat-khusairiyah_25.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-742226118195640638</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 12:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T20:09:15.012+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hakikat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ihksan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ihsan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Iman</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Islam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mukmin</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Muksin</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Muslim</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Syariat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Toriqot</category><title>APA MAKOM SYARIAT,THORIQOT ,HAKIKAT</title><description>&lt;h2&gt;
Apakah makom Syariat(islam),makom Toriqot(iman),makom Hakikat(ihsan)&lt;/h2&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: medium;"&gt;Kapan &amp;nbsp;makom syariat di lakukan ....?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: medium;"&gt;Kapan makom Toroqot di amalkan.......?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: medium;"&gt;Kapan makom Hakikat dirasakan.........?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Manusia adalah mahluk yang paling mulia di antara semua mahluk yang di ciptakan oleh ALLAH.
ALLAH S.W.T. menciptakan manusia dengan tujuan tertentu dan di bekali dengan rahmat ALLAH yang maha besar dengan di beri Akal pikiran yang tidak pernah di berikan kepada mahluk lain,manusia di ciptakan oleh ALLAH hanya untuk beribadah kepada ALLAH S.W.T,dan beri bekal yang amat sangat banyak untuk keperluan ibadah dan untuk kebutuhan hidup dalam menjalani kehidupan di atas bumi,akan tetapi setelah manusia di turunkan di atas bumi kebanyakan sibuk dengan bekal/hiasan yang telah di berikan oleh ALLAH dan lupa dengan tujuan ALLAH menciptakan dirinya.
Di dalam pelaksanaan beribadah kepada ALLAH S.W.T membimbing dan menuntun mahkluknya (manusia) bagaimana cara beribadah kepada ALLAH S.W.T melalui tuntunan yang di bawa oleh nabi Muhammad S.A.W dengan mensyariatkan tiga(3) cara/tahapan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: medium;"&gt;1)cara tahap syariat(islam)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: medium;"&gt;2)cara tahap thoriqot(iman)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: medium;"&gt;3)cara tahap hakikat(ihksan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: medium;"&gt;&amp;nbsp;cara islam(syariat) adalah merupakan landasan/langkah awal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;تَـمْـحِـدٌ لاِْاِيْـيـماَنْ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
untuk menuju ke makom iman&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;بـَيْـنَ اْلاِسْـلَـمْ وَلْاِيْـمَانْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;ketiga cara atau tahapan tersebut diambil dari gerak-gerik secara dhohir maupun secara kata2 dan secara bathin/rohani dari kehidupan Rosulullah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Tahapan pertama dalam menghadap/ibadah kepada ALLAH &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;ialah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;اَلْـمُـحَـافَظَهْ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;dengan cara meniru apa yang dilakukan oleh Rosulullah dan menjaga dengan kuat dalam melaksanakan cara2 dhohir/syariat,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="text-align: right;"&gt;setelah kita membaca dua kalimat Syahadah maka laksanakan secara Istiqomah dan thumakninah,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;setelah semua itu dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh secara Istiqomah dan Thumakninah maka semua itu akan berbuah/akan naik ke makom Im&lt;/span&gt;an&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;سَـمْـرَتُلْ اِيْـمَـانْ وَلْإِِسْـلَـمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;jadi iman itu merupakan buah dari hasil perbuatan 2 secara dhohir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Disaat kita sudah duduk di makom Iman dan di landasi dengan perbuatan dhohir secara Istiqomah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;makan disaat itulah akan naik ke makom Yaqin, yang mana yaqin itu merupakan puncak dari keimanan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;اَ&lt;span style="font-size: medium;"&gt;لْيـَقىِ ن&amp;nbsp;ُ هُـوَدِرْوَةُالْإِيْـمَانْ قُلُّـهْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;maka disaat kita sudah duduk di makom Yaqin maka disitulah akan merasakan suatu RASA (ketenangan dan kebahagian dan takut ) dll di dalam beribadah menghadap kepada ALLAH S.W.T (inilah yang di sebut musyahadah)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;disaat kita sudah betul2 masuk/duduk di makom Yaqin dan betul2 meyaqini keberadaan ALLAH dan janji2 ALLAH, maka disitu akan masuk ke makom Ihsan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;الْإِحْـسَـانْ اَعْـلَادَرَجَـةِ اْلإِِسْـلَـمْ وَاْلإِيْـمَانُ وَاْلـيَقِينُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Ihsan adalah buah/hasil dari perbuatan istiqomah yang di lakukan melalui makom islam,makom iman,makom yaqin, dan ihsan itu sendiri merupakan makom tertinggi dari ketiga makom di atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;keberadaan iman yang ada pada diri kita &amp;nbsp;bisa bertambah dan berkurang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: x-large; text-align: right;"&gt;يَـزِيْدُوَيَـغْقُـسْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;* Iman kita bisa bertambah apabila kita melaksanakan apa yang di perintah oleh ALLAH dan di Ridhoi oleh NYA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;*Iman kita bisa berkurang apabila kita tidak melaksanakan apa yang di perintah oleh ALLAH atau dan pandaiyang yidak di Ridhoi oleh NYA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Ukuran bertambah/berkurangnya iman seseorang di lihat seberapa giat melaksanakan perintah ALLAH dan menjauhi apa yang di larang atau sesuatu yang tidak di Ridhoi oleh ALLAH.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;yang mendorong kita untuk melasanakan perintah dan menjauhi larangannya ialah Keyaqinan (seberapa kuat keyaqinan kita kepada ALLAH) disinilah letak ukuran sebenar keimanan seseorang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;عـَلَ قََـدْرِألْـيَـقِـيْـنُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;apabila kita sudah melaksanakan semua yang di perintahkan dan menjauhi semua yang di larang melalui makom yaqin di situlah yang di namakan mendapat taufik dari ALLAH.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;seprti yang di katakan oleh Sayidina Ali R.A wa karromallahu wajhah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;قَـَلِلٌ &amp;nbsp;مِـنَ تّـَـوْفـِـقْ خَــيْــرٌ مِــنْ كَــثِــيْرٍ مِــنَ ألْــعــقْـلِ وَالْـعِــلـْمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;sedikit mendapat taufik dari ALLAH lebih baik dari pada orang yang banyak ilmunya dan pandai tetapi tidak mendapat taufik dari ALLAH.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
APAKAH TAUFIK ITU..?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;مَـاهِـيَ الـتّـَوْفِـقْ...؟&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;خَـلْـقُ طَـعـَةْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;taufik adalah melaksanakan ketaatan.. yaitu apabila mampu membuktikan ilmu dan kepandaianya dengan melakukan/melaksanakan perintah ALLAH dan menjauhi larangannya untuk menghadap (mengabdi/ibadah) secara Amaliah Dzohir dan hatinya selalu mersakan dan menyadari kalau dirinya mendapat taufik dari ALLAH dan di kembalikan semua itu kepada ALLAH.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;seperti riwayat kanjeng sulton Auliya asy syaihk Abdul Qodir al-jailani di dalam manaqibnya mengatakan bahwa beliau sebelum melakukan sesuatu apapun, beliau sudah menyandarkan segala sesuatunya/ pasrah kepada ALLAH, dan di dalam pasrah kepada ALLAH harus sesuai dengan konsep-konsep dan tuntunan dari Nabi dan sunnah Nabi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;الَـتَّـفْـوِدُوَألْـمُـوَفَـقـَهْ مَـعَ تـَبَـرِّ مِـنَ الْـحَـوْلِ وَالْـقُـوَّةَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Apabila seseorang sudah merasa pasrah dan amal perbuatannya sudak sesuai/cocok dengan tuntunan nabi dan sunnah nabi dan aturan syariat sudah cukup...?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;semua itu belum cukup/sempurna sebelum dalam dirinya di hilangkan atau membuang rasa mengaku-ngaku (merasa sudah bisa melakukan kebaikan dan merasa bisa sudah taat kepada ALLAH) dan di kembalikan lagi bahwa semua itu semata-mata berkat rahmat pertolongan dari ALLAH.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;اوَّلُ الْـحِْفـدِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;awal pertolongan dari ALLAH yang di berikan kepada para walinya adalah menghilangkan/mengangkat sifat mengaku-ngaku .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
APAKAH SYARIAT/ISLAM ITU ....?&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;مـاَهِـيَ الـشَّـرِ يْعَـهْ.....؟ الَـشََرِيْـعَـة هِـيَ الْـعِـلْـمِ &amp;nbsp;بِـلْ يَـقِيـنُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;jadi syariat itu adalah suatu ilmu yang menjelaskan atau yang mengatur secara Dzohir untuk menuju/mencapai keyaqinan contoh nya;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;1)apa syarat sah nya sholat dan bagaimana syarat rukunya sholat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;2)apa syarat-syarat ihklas dan apa rukun-rukunya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
APAKAH &amp;nbsp;THORIQOH/IMAN ITU...?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;مَـاهِـيَ لـطَّـرِقَـهْ...؟ وَلـطَّـرِيْـقَـه هِـيَ الْـوُقُـعْ فِى عَـيْـنِ الْيَـقِـيْـنُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;jadi iman itu adalah suatu ilmu yang membahas atau yang mengatur masalah keyakinan dan cara-cara melaksanakan keyakinan itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;di dalam melaksanakan keyakinan kepada ALLAH di dalam beribadah menjumpai apa/merasakan apa dalam malaksanakan ibadah di sisi ALLAH. itu di namakan musyahadah( ihksan/hakikat)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;اَلْـحَـقِى قـَهْ هِـيَ سُـوحُـدُمَـنْ يَـتـَـوَ الله بِـرِعَيَـاتِـهِ مِـنْ عِـبـَدِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;kalau di dalam melakukan ibadahnya,sholatnya,dan dzikirnya merasa bisa melihat ALLAH(bukan berarti melihat secara dzohir/bathin)akan tetapi merasakan kekuasaan NYA &amp;nbsp;atau merasa di lihat oleh ALLAH, itu menunjukkan sudah masuk makom hakikot/ihksan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;sabda Nabi Muhammad SAW&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;اَنْ تَـعْـبُـوْدَاللهَ كَأَنّـَكَ تَـرَفـإِِنْ لَـمْ تَـَكُـنْ تَـرَ فَــإِنَّـهُ يَـرَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Artinya: Engkau menyembah ALLAH seakan-akan engkau melihat NYA. jika Engkau tidak melihat NYA, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;وَلَا عَـَيْـنٌ رَعَـةْ وَلَااُذُ نٌ سَـمِـعَـةْ وَلَاخَـطَــرَ عَلَاَ قَـلْـبِ بَـثَـرْ مِـنْ حَـقـَائِـقِ بَـطِـنْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;jadi musyahadah itu adalah berada di dalam hati masing-masing orang yang melakukan ibadah yang sesuai dengan Syariat ALLAH dan Ahklak beserta sunnah Rosulullah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
SYARIAT/ISLAM......?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;مََـاهِـيَ شَّـرِيْـعَـهْ...؟ فـَا شّـَـرِيْـعَـهْ اَنْ تَـعْـبُـدَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Kesimpulan dari Syariat adalah yang penting melaksanakan ibadah yang sesuai dengan syarat rukunya, maka Syariat itu suatu cara pelaksanaan yang menitik beratkan pada disiplin dhohir yang sesuai dengan syarat rukun ibadah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
THORIQOH/IMAN...?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;مَـاهِـيَ الطَّـرِقَـهْ...؟اَطَّـرِقَـهْ اَنْ تَــقْـسِِـدََ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Jadi thoriqoh/iman itu adalah suatu cara yang mana cara tersebut supaya mengerti tujuan dari apa yang di lakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;di dalam Alqur'an Allah &amp;nbsp;telah memberi jaminan kepada manusia. Allah berfirman;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;اِنَّ الـصّـَلَاةَ تَـنْـهَ عَـنِ الْـفَخْشَـاءَ وَالْـمُنْكـَر&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Bahwa sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan mungkar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;kita semua sadar kalau kita sudah melakukan sholat 5 waktu, yang menjadi pertanyaan bagi diri kita... ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;*kenapa perbuatan sholat itu tidak memberi dampak terhadap kehidupan kita...?,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;*dan masih banyak orang yang berbuat maksiat dan kejahatan.....?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;itu semua karena kebanyakan dari kita tidak tau tujuan ibadah itu,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Maka disinilah peran Thoriqoh/keimanan di mulai agar supaya mengerti tujuan ibadah itu dan mengerti apa yang sedang di baca dalm ibadah,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;karena kebanyakan di dalam melaksanakan ibadah hanya sekedar melepas kewajiban dan sekedar bacaan lewat dan tidak pernah risau&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;~ apakah ibadah kita sudah betul...?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;~ apakah ibadah kita diterima...?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;penyakit inilah yang sedang menimpa kebanyakan manusia,ibadah alakadarnya dan merasa yakin ibadah nya sudah pasti diterima.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;dan tidak pernah mengkoreksi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;@&amp;nbsp;bagaimanakah ibadah Rosulullah...?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;@ kenapa Rosulullah dalam melakukan ibadah sampai kaki beliau &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;keluar darah....?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;kalau semua pertanya di atas timbul dalam diri&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;kita baru akan berusaha untuk mengerti tujuan ibadah itu sendiri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;karena tujuan Thiriqoh itu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;لِـيْ اِزَلَـةِ الْـحُـجُـوْبِ الـنّـَفْـسِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;tujuan dzikir Toriqoh itu untuk menghilangkan /menyingkap dinding yang ada di hati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;banyak beredar di masyarakat melarang seseorang untuk masuk Thoriqot seperti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;~ jangan masuk Thoriqot nanti gila&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;~ jangan masuk Thoriqot karena ilmu fiqih mْu belum kuat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;~ jangan masuk Thoriqot, Thoriqot itu ilmunya para wali-wali&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;~ jangan masuk Thoriqot cukup amalkan sholawat saja&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;orang yang berbicara seperti ini karena kurang paham apa yang di katakan Syariat/islam,Thoriqoh/iman, Hakekat/Ihksan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;sekarang banyak orang berbicara tentang Allah, Hari kiamat,Takdir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;semua yang di bahas &amp;nbsp;adalah ilm&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;u Thoriqoh/iman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;sesuai dengan sabda Nabi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;اِذَوُسّـِدَ اَمـرُ لِى غَـيْـرِ اَهْـلِ فَـنـتَادِرِسّـَاعَـهْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;kelak apabila orang bukan ahlinya dalam suatu ilmu ikut berbicara maka akan timbul kerusakan di muka bumi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2016/12/apa-makom-syariatthoriqot-hakikat.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>malaysia</georss:featurename><georss:point>2.9167092603672526 102.65625</georss:point><georss:box>-13.088485739632748 82.001953 18.921904260367253 123.310547</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-1005035123846786728</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:54:41.555+08:00</atom:updated><title>Ziarah Kubur di Bulan Sya'ban</title><description>Ziarah Kubur di Bulan Sya'ban&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan sya'ban telah tiba, sebagian masyarakat kita menamakan bulan sya'ban dengan bulan ruwah. Kata ruwah identik dengan kata arwah, memang keduanya saling berhubungan.&amp;lt;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinamakan bulan ruwah karena bulan ini adalah bulan di mana para arwah leluhur yang telah mendahului kita menengok keluarga yang ditinggalkan di dunia. Dan keluarga yang masih hidup berbondong-bondong mendoakan arwah para leluhur menjelang bulan ramadhan. Baik melalui do'a, sedekah, tahlil dan tahmid maupun langsung berziarah ke kubur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan sya'ban menjadi bulan special, artinya ada beberapa tradisi yang berlaku di bulan ini yang tidak dilaksanakan pada bulan-bulan lain. Diantara tradisi itu adalah menengok makam atau meziarahi kubur orang tua, kakek-nenek, saudara, sanak family, suami atau istri, anak atau bapak yang telah mendahului.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak macam nama untuk tradisi ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan atau di akhir bulan Sya'ban. Sebagian mengatakan dengan istilah arwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah), kosar (sekitar JawaTimur), munggahan (sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi semacam kewajiban yang bila ditinggalkan serasa ada yang kurang dalam melangkahkan kaki menyongsong puasa Ramadhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu perlu kiranya menenegok kembali beberapa hal yang berhubungan dengan masalah ziarah kubur. Karena pada kenyataannya banyaknya ta'bir dan hikmah yang tersimpan di dalamnya, mampu menjadikan ziarah kubur sebagai salah satu tradisi yang bertahan di sekitar kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa awal-awal Islam, Rasulullah saw memang pernah melarang umat Islam berziarah ke kuburan, mengingat kondisi keimanan mereka pada saat itu yang masih lemah. Serta kondisi sosiologis masyarakat arab masa itu yang pola pikirnya masih didominasi dengan kemusyrikan dan kepercayaan kepada para dewa dan sesembahan. Rasulullah saw mengkhawatirkan terjadinya kesalah pahaman ketika mereka mengunjungi kubur baik dalam berperilaku maupun dalam berdo'a.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi bersama berjalannya waktu, alasan ini semakin tidak kontekstual dan Rasulullahpun memperbolehkan berziarah kubur. Demikian keterangan Rasulullah saw dalam Sunan Turmudzi no 973&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;حديث بريدة قال : قال رسول الله صلى الله علية وسلم :"قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزورها فإنها تذكر الآخرة"رواة الترمذي&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Hadits dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda "Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah sebenarnya hukum dasar dibolehkannya ziarah kubur dengan illat (alasan) 'tazdkiratul akhirah' yaitu mengingatkan kita kepada akhirat. Oleh karena itu dibenarkan berziarah ke makam orang tua dan juga ke makam orang shalih dan para wali. Selama ziarah itu dapat mengingatkan kita kepada akhirat. Begitu pula ziarah ke makam para wali dan orang shaleh merupakan sebuah kebaikan yang dianjurkan, sebagaimana pendapat Ibnu Hajar al-Haytami dalam kitab 'Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وسئل رضي الله عنه عن زيارة قبور الأولياء فى زمن معين مع الرحلة اليها هل يجوز مع أنه يجتمع عند تلك القبور مفاسد كاختلاط النساء بالرجال وإسراج السرج الكثيرة وغير ذلك فأجاب بقوله زيارة قبور الأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة اليها.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Beliau ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengn melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula perjalanan ke makam mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun mengenai hikmah ziarah kubur Syaikh Nawawi al-Bantani telah menuliskannya dalam Nihayatuz Zain demikian keterangannya "disunnahkan untuk berziarah kubur, barang siapa yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum'at, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah hikmah di balik ziarah kubur, betapa hal itu menjadi kesempatan bagi siapa saja yang merasa kurang dalam pengabdian kepada orang tua semasa hidupnya. Bahkan dalam keteragan seanjutnya masih dalam kitab Nihayatuz Zain diterangkan "barang siapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap hari jum'at pahalanya seperti ibadah haji".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dikatakan Syaikh Nawawi dalam Nihayuatuz Zain juga terdapat dalam beberapa kitab lain, bahkan lengkap dengan urutan perawinya. Seperti yang terdapat dalam al-Mu'jam al-Kabir lit Tabhrani juz 19&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;.حدثنا محمد بن أحمد أبو النعمان بن شبل البصري, حدثنا أبى, حدثنا عم أبى محمد بن النعمان عن يحي بن العلاء البجلي عن عبد الكريم أبى أمية عن مجاهد عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "من زار قبر أبويه أو احدهما فى كل جمعة غفر له وكتب بر&lt;/span&gt;ا&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah saw bersabda "barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum'at maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang ta'at dan berbakti kepada kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun mengenai pahala haji yang disediakan oleh Allah swt kepada mereka yang menziarahi kubur orang tuanya terdapat dalam kitab Al-maudhu'at berdasar pada hadits Ibn Umar ra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;أنبأنا إسماعيل بن أحمد أنبأنا حمزة أنبأنا أبو أحمد بن عدى حدثنا أحمد بن حفص السعدى حدثنا إبراهيم بن موسى حدثنا خاقان السعدى حدثنا أبو مقاتل السمرقندى عن عبيد الله عن نافع عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " من زار قبر أبيه أو أمه أو عمته أو خالته أو أحد من قراباته كانت له حجة مبرورة, ومن كان زائرا لهم حتى يموت زارت الملائكة قبر&lt;/span&gt;ه&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah saw bersabda "Barang siapa berziarah ke makam bapak atau ibunya, paman atau bibinya, atau berziarah ke salah satu makam keluarganya, maka pahalanya adalah sebesar haji mabrur. Dan barang siapa yang istiqamah berziarah kubur sampai datang ajalnya maka para malaikat akan selalu menziarahi kuburannya"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tidak demikian hukum ziarah kubur bagi seorang muslimah. Mengingat lemahnya perasaan kaum hawa, maka menziarahi kubur keluarga hukumnya adalah makruh. Karena kelemahan itu akan mempermudah perempuan resah, gelisah, susah hingga menangis di kuburan. Itulah yang dikhawatirkan dan dilarang dalam Islam. Seperti yang termaktub dalam kitab I'anatut Thalibin.Sedangkan ziarah seorang muslimah ke makam Rasulullah, para wali dan orang-orang shaleh adalah sunnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;(قوله فتكره) أي الزيارة لأنها مظنة لطلب بكائهن ورفع أصواتهن لما فيهن من رقة القلب وكثرة الجزع&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Dimakruhkan bagi wanita berziarah kubur karena hal tersebut cenderung membantu pada kondisi yang melemahkan hati dan jiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari keterangan panjang ini, maka tradisi berziarah kubur tetaplah perlu dilestarikan karena tidak bertentangan dengan syari'ah Islam. Bahkan malah dapat mengingatkan akan kehidupan di akhirat nanti. Apalagi jika dilakukan di akhir bulan Sya'ban. Hal ini merupakan modal yang sangat bagus untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Ramadhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/ziarah-kubur-di-bulan-syaban.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-8506910940331986124</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:52:56.726+08:00</atom:updated><title>Wirid Imam Ghazali</title><description>Wirid Imam Ghazali&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara kewajiban seorang muslim adalah mengingat dan menempatkan Allah swt&amp;nbsp; sebagai sandaran hidupnya. Manusia dapat mengingat Allah swt di mana saja dan kapan saja selama ia masih berada di atas bumi-Nya. Banyak sekali ekspresi manusia dalam mengingat Allah; menangis, berdiam diri, menyanyi, menari, dan berkata-kata.&amp;lt;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai mana difirmankan dalam al-Baqarah ayat 152: فاذكرونى أذكركم&amp;nbsp; &amp;nbsp;“ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks ini seorang muslimim tidak pernah lepas dari tiga hal yaitu doa (permintaan kepada Allah), zikir yaitu segala gerak gerik dan aktivitas yang berobsesi taqarrub kepada Allah. Termasuk juga zikir adalah me lafadz kan kata-kata tertentu. Dan wirid (bacaan tertentu untuk mendapatkan ‘aliran’ dari Allah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan aliran di sini adalah aliran rahmat Allah swt yang sampai pada seorang muslim dalam berbagai bentuknya. Sehingga rahmat itu akan menuntunnya menghindar dari masalah yang akut. Baik masalah bersifat dunia maupun akhirat. Imam Ghazali pernah berkata bahwa diantara hal yang medorong keberhasilanku meraih kebahagiaan dan terlepas dari kesusahan adalah bacaan wirid sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Hari Banyaknya Bacaan Wirid&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Jum’at&amp;nbsp; 1000 X&amp;nbsp; &lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;يا الله&lt;/span&gt; Ya Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2 Sabtu 1000 X &lt;span style="font-size: large;"&gt;لا اله إلا الله&amp;nbsp;&lt;/span&gt; La ilaha illallah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 Ahad 1000 X &lt;span style="font-size: large;"&gt;يا حي يا قيوم&lt;/span&gt;&amp;nbsp; Ya Hayyu Ya Qayyum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4 Senin 1000 X &lt;span style="font-size: large;"&gt;لاحول ولاقوة إلا بالله العلي العظيم&lt;/span&gt;&amp;nbsp; La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adhim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5 Selasa 1000 X &lt;span style="font-size: large;"&gt;اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله صحبه وسلم&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wa shahbihi wasallim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6 Rabu 1000 X &lt;span style="font-size: large;"&gt;استغفر الله العظيم&lt;/span&gt; Astaghfirullahal adhim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7 Kamis 1000 X &lt;span style="font-size: large;"&gt;سبحان الله العظيم وبحمده&lt;/span&gt; Subhanallahil adhim wa bihamdih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah wirid Imam Ghazali yang dibaca sesuai ketentuan harinya. Masing-masing dibaca sebanyak seribu kali. Hal yang harus diperhatikan di sini adalah penentuan hitungan hari. Misalkan hari jum’at dihitung sedari waktu shalat asar pada hari kamis hingga waktu ashar hari jum’at. Karena itu pada malam jum’at (kamis malam) hingga siang hari Jum’at&amp;nbsp; bacaannya adalah ya Allah 1000x. Dan demikian seterusnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/wirid-imam-ghazali.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-6854959371687595803</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:48:00.807+08:00</atom:updated><title>Waktu dalam Air, Batu, dan Pohon</title><description>Waktu dalam Air, Batu, dan Pohon&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang bijak bilang, waktu itu seperti air yang mengalir. Dia hanya sekali menyentuh dan melewati suatu permukaan, setelah itu dia akan berlalu, berjalan untuk menyentuh permukaan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti air mengalir, waktu hanya datang sekali dalam setiap episode kehidupan, setelah itu akan lewat dan berlalu meninggalkan kekinian menuju masa depan. Tak ada yang bisa menghentikannya, dia akan terus berjalan menuju garis takdir kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebongkah batu tak pernah peduli pada air yang melewati dan menyentuh permukaannya. Air itu dibiarkan berlalu begitu saja, menempel sebentar dan membuat permukaan jadi basah. Ya, hanya di permukaan. Ketika air berlalu maka permukaan batu itu akan&amp;nbsp; kembali kering, tanpa bekas apa pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan batu, pohon tidak pernah membiarkan aliran air yang menyentunya berlalu begitu saja. Air yang mengalir dan menyentuhnya akan dimasukkan dalam pori-pori, diserap oleh akar dialirkan dalam batang, ranting dan daun. Diproses dan dimasak untuk pertumbuhan dirinya, hingga menjadi daun yang rimbun dan buah yang bermanfaat untuk kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah ayat kauniyah yang bisa menjadi cermin kehidupan. Jika waktu ibarat air maka sikap manusia terhadap waktu bisa diibaratkan batu dan pohon. Manusia yang bijak, yang cerdas dan alim tak akan pernah membiarkan waktu berlalu dan menyia-nyiakan begitu saja. Dia akan menyerap setiap waktu yang menghampirinya, memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengembangkan diri agar kehidupannya bisa bermanfaat bagi orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan menusia bebal dan dungu yang menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja. Orang seperti ini tak pernah bisa menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan baik. Waktu yang menghampiri kehidupannya hanya sekadar digunakan untuk membasahi permukaan hidup, penyejuk fisik semata. Tak ada yang masuk dalam hati, jiwa dan ruhaninya, sehingga perjalanan hidup akan berlalu begitu saja, lenyap seiring perjalanan waktu. Mereka ini seperti batu yang membiarkan air mengalir yang menyentuh permukaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana halnya air yang membawa zat-zat yang berguna bagi kehidupan dalam setiap aliran yang menyentuh batu dan pepohonan, waktu yang menghampiri kita bersama kenyataan juga membawa berbagai hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Tapi kemanfaatan itu hanya bisa dicerap dan diambil oleh mereka yang memiliki kepekaan membaca kenyataan yang datang bersama waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas di sini terlihat, waktu yang datang menghampiri setiap episode kehidupan memiliki makna dan nilai yang amat penting dan berharga, sehingga manusia akan merugi jika menyia-nyiakannya. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits Nabi, "Dua kenikmatan kebanyakan manusia tertipu pada keduanya yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR Bukhari). Hadits ini menyiratkan orang yang menyia-nyiakan waktu hingga berlalu begitu saja, sama dengan menyia-nyiakan nikmat Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ulama banyak yang menganggap bahwa waktu merupakan nikmat Allah yang tak dapat dinilai dengan apa pun. Bahkan Imam Hasan Basri pernah menyatakan, "Saya melihat ada segolongan manusia yang memberi perhatian pada waktu melebihi perhatiannya terhadap dinar dan dirham." Inilah orang yang tidak menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja, mereka memanfaatkan dan menggunakan waktu yang menghampirinya seperti pohon menyerap air yang mengalir menyentuh permukaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini tahun 2017 akan berlalu dan tak akan kembali lagi. Seperti air mengalir, 2017 telah menyentuh kehidupan kita dengan berbagai kenyataan yang menyertainya. Dan keberadaannya digantikan oleh tahun 2018 yang segera datang. Datang dan perginya waktu adalah hukum besi kehidupan. Manusia tak dapat meratapi dan menahan kepergiannya, juga tak akan memiliki kemampuan menolak kehadirannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di penghujung pergantian tahun ini saatnya kita merenung, sejauh mana kita bisa menyerap sari pati kehidupan yang datang bersama waktu selama 2017. Seberapa besar bisa memanfaatkan waktu yang telah menghampiri kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kita termasuk orang yang bisa menyerap dan memanfaatkan keberadaan waktu yang telah datang memghampiri, seperti pohon menyerap air mengalir yang menyentuhnya? Atau jangan-jangan kita tergolong orang yang menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja? Seperti seonggok batu yang membiarkan air mengalir menyentuh permukaanya, basah sebentar kemudian kering kembali. Tanpa bekas dan tanpa makna?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/waktu-dalam-air-batu-dan-pohon.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-4607071730095282142</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:46:46.544+08:00</atom:updated><title>Tasawuf Tanpa Thariqah sama dengan Nol</title><description>Tasawuf Tanpa Thariqah sama dengan Nol&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang sering tumpang-tindih dalam memahami tasawuf dan tarekat (thariqah). Kadang, keduanya juga dianggap berdiri sendiri dan terpisah. KH Luqman Hakim yang dikenal sebagai pakar sekaligus pelaku thariqah membeberkan mengenai tasawuf, thariqah, mursyid, mu’tabaroh dan ghoiru mu’tabaroh, dan beberapa hal mengenai thariqah &amp;lt;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut petikan wawancara Abdullah Alawi dari NU Online bersama KH Luqman Hakim beberapa waktu lalu dalam sebuah acara pertemuan para sufi dunia di Jakarta yang diselenggarakan oleh PBNU.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagimana kaitan antara tasawuf dan thariqah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang bertasawuf tapi tidak bertarekat, itu nol. Orang bertoriqoh, tapi tak bertasawuf, juga nol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasannya bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang bertasawuf saja, tapi tidak berthariqah, dia akan sulit mengamalkan ilmunya. Jadi, ibarat begini, untuk masuk ke dalam Masjidil Haram, lho pintunya kok banyak banget ini. Padahal dia kan butuh satu pintu saja untuk masuk. Nah, kalau dia ngawur, malah dia ingin manjat. Masjidil Haram masa dipanjat. Padahal udah ada pintunya. Atau begini, orang banyak sekali memiliki bumbu. Bumbunya sudah lengkap. Ini ilmunya sudah lengkap. Gimana ya, ngulek ini? Oh, dia butuh seorang pemandu. Kalau bikin sayur asem itu, ini bumbunya. Kalau sayur lodeh itu, ini bumbunya. Kalau dia ngawur, wah, saya punya bumbu lengkap. Saya bikin makanan yang lengkap juga. Semua bumbu diulek semua di situ. Begitu dimasak, rasanya jadi heran. Nggak kemakan. Banyak orang mabuk dia, sinting dia, nah, itu syetan masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kalau sebaliknya, thariqah tanpa ilmu tasawuf itu bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya dia, ibaratnya, dia nggak tahu makanan itu beracun apa nggak. Dia nggak tahu porsi maknnya seberapa. Padahal kalau anda misalnya, mas ini satu meja ini berbagai makanan untuk anda. Kalau orang tidak punya tasawuf, ini milik saya semua. Makan semua kalau begitu. Keracunan dia. Padahal yang dibutuhkan satu piring. Ambil saja yang pas. Udah. Walaupun itu milik anda semua. Masak anda makan semua? Kalau nggak ada ilmunya, bisa-bisa begitu, kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau sudah berthariqah, bukannya sudah berguru, dan kalau sudah berguru, bukannya secara otomatis sudah dibimbing?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, kalau gurunya, pasti sudah bertasawuf. Muridnya juga dibimbing bertasawuf. Diajarin ngaji, ini itu, itu sekaligus bertasawuf. Maksudnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di NU ada Jam’iyah Ahlu Thoriqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman). Nah, di Jatman terdiri dari berbagai thariqah. thariqahnya yang mu’tabaroh. Berarti kalau ada mu’tabaroh ada yang ghairu mu’tabaroh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, tarekat itu begini, mu’tabaroh dan ghair mu’tabaroh itu hanya soal silsilah, sanad. Ada yang disebut tidak mu’tabaroh karena ada toriqoh yang sanad tidak jelas sampai ke Rasulullah. Kalau silsilah sanadnya ‘an ini ‘an ini sampai Rasulullah, jelas betul, sohibul musnid ini bener-bener diakui, oh ya, ini memang benar dari Rasulullah. Misalnya orang bikin sanad sendiri, nggak jelas, nggak dikenal semua, ya nggak mu’tabar. Gitu aja. Seperti hadist sohih, daif, hasan dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang berhak mengatakan mu'tabaroh dan ghair mu’tabaroh itu siapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu kesepakatan kaum sufi, seperti kesepakatan ahli hadis. Ahli hadist sendiri menentukan ini sahih, ini daif, itu kan bukan dari Kanjeng Nabi. Itu kan kesepakatan komunitas aja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setuju dengan adanya label ghair mu’tabaroh kepada kalangan sufi tertentu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
NU menolak memasukan sebagai toriqoh mu’tabaroh karena sanadnya ada yang tidak sampai Rasulullah. Jadi seperti itu. Banyak orang, oh saya mau bikin majlis zikir, itu bagus. Tetapi tidak disebut sebagai toriqoh, kan begitu aja. Jadi beginilah, di toriqah itu kan ada amaliyahnya. Amaliyahnya itu memang dari Rasulullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diajarkan langsung?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya. Melalui zikir. Zikirnya begini. Rasulullah dulu mengajarkan kepada para sahabat itu ada yang satu per satu dipanggil. Ada yang lima orang dipanggil. Sepuluh orang dipanggil. Nah, dari masing-masing itu, mengajarkan pula kepada tabi’in ada yang satu per satu. Nah, ini kenapa sehingga toriqoh itu jadi banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kenapa penamaan thariqah, misalnya pas zaman Syeikh Abdul Qodir, sementara dia lahir jauh masa Nabi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya penamaan itu pun tidak mutlak. Suatu ketika, sebenarnya alurnya ini sama dengan Syekh Abdul Qodir, tapi suatu ketika tokoh utamanya, misalnya Tijani, syekh Tijani. Padahal dia sebelumnya, adalah orang Qodiriyah. Itu contohnya. Jadi, ada yang alurnya nanti sanadnya ada yang melalui Abu Bakar, melalui Sayidina Anas, Sayidina Ali. Nah, ini sanadnya itu tadi, sayidina Umar, sayidina Utsman pun ada. Ada yang Uwais al-Qorony, ada. Nabi itu kenapa berbeda-beda ngajarin zikir karena masing-masing harus mengamalkan menurut format sakilah. Sakilah itu menurut kemampuan indiviidual, spiritual masing-masing yang berbeda-beda. Oh, ini yang pas zikirnya Allah saja. Yang ini La Ilaha Illallah. Ini solawatnya begini. Solawatnya kadang berbeda-beda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti kalau&amp;nbsp; begitu, Nabi Muhammad itu sebagai, katakanlah seorang mursyid itu mengetahui watak para sahabat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lha iya. Dan seorang mursyid yang benar harus tahu si murid, calon murid ini bentuknya gelas, apa piring, apa coet. Oh, kalau piring, nasi isinya. Jangan coca cola. Kalau gelas ya, minuman, jangan diisi sambel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada yang harus dibacakan secara umum oleh murid-murid di seluruh thariqah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kalau umum itu, kalau makan itu, ibarat nasinya. Nasinya sama, lauknya yang berbeda-beda. Seorang mursyid harus tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itu sudah ada dalam diri mursyid ya? Nggak bisa dipelajari?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya di Al-Quran, surat Kahfi itu, disebutkan waman yudlil falan tazida lahu, waliyyam mursyida. Siapa yang hidupnya dholalah, tersesat, maka dalam hidupnya tidak akan menemukan waliyyan mursyida. Seorang wali yang mursyid. Syarat seorang mursyid harus wali. Banyak wali, tapi belum tentu mursyid. Banyak mursyid, belum tentu wali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana penjelasannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kan banyak mursyid-mursyid itu. Belum tentu dia itu, memiliki kapasitas waliyyan mursyida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau begitu, tipikal mursyid itu bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin dia masih punya mursyid lagi. Dia hanya diberi lisensi untuk ngajarin thariqah. Tapi posisinya ini bukan mursyid, sebenarnya. Tapi ada yang mengaku mursyid, begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayak khalifah, begitu, ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya. Khalifah ya khalifah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau nggak salah, saya pernah mendengar tipikal mursyid yang kamil mukamil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamil mukamil itu sama dengan waliyyam mursyida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kamil. Ada mukammil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamil mukamil adalah mursyid yang sudah paripurna. Suduh wushul dia sendiri kepada Allah dan diberi opsional, yang memang dari Allah juga untuk membimbing seseorang supaya sampai juga kepada Allah, jiwanya. Sempurna dan juga bisa menyempurnakan orang lain mukammil lighairih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak, kalau melihat sejarah, tasawuf dan kalangan tarekat pernah dituding sebagai penyebab kemunduran umat Islam? Bagaiamana ini, pak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu akibat tekanan sosial, politik, ekonomi, macam-macam, lalu dia lari ke tarekat, dalam kondisi ekslusif. Ada lagi yang dia memang, dia memerankan betul bahwa thariqah itu sebenarnya Islam yang utuh. Jadi, begini, saya sering menggambarkan proses spiritualnya Nabi, di dalam Isra’ Mi’raj. Nabi, ketika mi’raj itu meninggalkan semuanya. Segala hal selain Allah ditinggalkan. Ketika begitu, kelihatannya ekslusif, nih. Begitu ketemu Allah, rupanya belum puncak. Oleh Allah, kamu sekarang dapat tugas, balik ke dunia. Orang sufi yang benar, dia kembali ke dunia. Iya, menjadi biasa lagi. Tidak tampilnya eksklusif. Ini belum selesai nih tasawufnya. Apalagi yang mazdub, wah… belum selesai. Proses.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Justru ketika Nabi ketemu Tuhan itu bukan puncak, ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan. Puncaknya ya ketika kembali ke dunia. Tapi ke dunia bersama Allah sehingga rahmatan lil alamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anggapan penyebab kemunduran umat Islam itu bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu yang diamati sufi-sufi yang belum selesai tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau misalnya seseorang, saya misalnya, dengan cara yang entah, kemudian, tiba-tiba bisa ketemu seorang mursyid itu karena apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya macam-macam. Orang bertemu seorang mursyid itu karena macam-macam. Faktor itu nggak bisa kita duga. Bisa karena kita mencari, baru ketemu. Ada orang yang ngak sengaj, ketemu. Ada orang yang, begini, ibarat berjalan. Ada orang tiba-tiba ketemu di jalan. Ada yang bisa tiba-tiba-tabrakan di jalan. Lho, siapa ini? Mursyid ternyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu udah petunjuk Tuhan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya.&amp;nbsp; Cara Allah saja. Tapi kalau orang yang sedang mencari mursyid, itu biasanya ditaqdirkan berthariqah. Tanda-tandanya begini. Kalau belum ketemu, itu soal lain. Suatu ketika akan berthariqah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak sendiri pengamal thariqah juga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya ada. Sadziliyah, Qodiriyah, Naqsyabandiyah. Tiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa mengikuti tiga thariqah berbarengan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asal mursyidnya satu. Ibarat kapal, ini ada kapal, sekoci-sekoci, tapi nakhodanya satu. Kalau oh ini ada kapal, kapal, nakhodanya sendiri-sendiri, nggak bisa. Naik sebelah mana? Atau satu nih, nakhodanya banyak. Bingung. Nggak bisa. Silakan kita belajar kepada ulama, kiai, macam-macam ilmu pengetahuan. Tapi soal toriqoh, mursyidnya harus satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau belajar itu kan ibarat membuat menu yang bagus. Ibarat mobil, bengkel sana yang bagus, bengkel sini yang bagus. Tapi tujuan mobil ini kemana, ini harus ada satu tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya tujuan setiap thariqah itu sama?&amp;nbsp; Menghadap Gusti Allah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua sama. Ini berkaitan dengan mursyid itu harus satu. Hati kita itu menolak untuk terbelah, sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mursyidnya siapa, Pak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syekh Solahudin Abdul Jalil Mustaqin dari Tulung Agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada tokoh sufi atau buku yang paling dikagumi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sangat mengagumi kitab al-Hikam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu ‘Athoillah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Ibnu ‘Athoillah itu menyederhanakan wacana tasawuf yang universal sekali, disederhanakan beliau. Dari satu hikmah ke hikmah lain itu adalah urutan perjalanan psikografic para penempuh jalan Allah. Mengalami semua. Semua pengamal thariqah mana pun, mengalami seperti yang di al-Hikam itu. Ada lagi satu kitab, yang saya terjemah juga ke Indonesia, yaitu Risalatu Qusyairiyyah. Kitabnya al-Qusyairi itu kitab utama dalam dunia sufi. Ada lagi kitabnya Abu Thalib Al-Makki. Saya juga kagum sama tafsirnya Syekh Abdul Qodir Al-Jilani, yang enam jilid, yang baru ditemukan oleh cucunya itu. Kitab tafsir yang terbaik di dunia, sekarang ini, karena memadukan syariat dan tasawuf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa nama tafsirnya, Pak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tafsir al-Jilani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kok bisa baru ditemukan, Pak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditemukan oleh cucunya selama 30 tahun riset beliau dari berbagai perpustakaan di dunia, dan terbagus, terlengkap di Vatican.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berceceran begitu, ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Sunda, Manaqib Syekh Abdul Qodir Jilani dinamakan Layang Syekh. Itu sudah menyunda sekali. Orang sudah nggak paham, bahwa dulunya ini kegiatan orang thariqah. Itu bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu nggak apa-apa. Ibaratnya begini, kalau toriqoh itu sebuah pohon, Qodiriyah, pohon ini, berbuah. Dia hanya memetik salah satu buahnya saja. Tapi tidak bisa diklaim ini adalah sebuah pohon, daun, bunga, dan buah. Salah satu buah saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau yang semuanya, ya masuk thariqah itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya. Kita berharap sebanrnya, pelajaran tasawuf harus mulai masuk kurikulumnya mulai TK&amp;nbsp; sampai perguruan tinggi Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan Akhlak, Akidah Akhlak yang ada sekarang itu nggak cukup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nggak cukup. Jadi, karena begini, kalau kita lihat buku agama, itu isinya, iman, islam dan taqwa. Ihsannya itu hilang kemana. Hanya saja bagaimana dirumuskan, tasawuf untuk anak TK itu bagaimana. Sebenarnya yang mengajari akhlak juga sebanrnya buah dari tasawuf juga. Tapi harus lebih diperdalam. Misalnya zikir apa yang bisa membimbing anak-anak itu terus-menerus dengan Allah. Kalau saya begini, ngajarin tasawuf itu dari bayi. Contohnya, biasanya ibu-ibu, kalau punya anak, selalu mengajari anak-anak dengan ucapan bayi pertama kali; papa, mama, ibu, bapak, kalau saya nggak. Kalimat yang diajarkan pertama adalah Allah. Entah kedengarannya awoh, awoh, awoh. Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pelajaran, ada iman, ada Islam, dan ihsannya nggak ada. Apakah itu dimungkinkan karena tasawuf itu tidak terukur? Atau memang bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang belum tersistematisir. Seperti ketika dalam munculnya ilmu tasawuf itu muncul baru di abad ketiga hijriyah. Kenapa tidak muncul di zaman sahabat? Karena, kata NABI, sebaik-baik abadku, khoiru quruni, qorni, tsuma qorni, tsuma qorni, tiga abad. Tiga abad ini, umat Islam masih utuh. Setelah itu, nggak karuan akhlaknya. Inilah, para sufi bergerak untuk mensistematisir, menulis buku tasawuf, ini, dan seterusnya. Dulu kenapa nggak ditulis, nggak kayak fiqih? Lha, orang kepribadiannya masih bagus semua, masih utuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/tasawuf-tanpa-thariqah-sama-dengan-nol.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-6656268832710611486</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:45:12.030+08:00</atom:updated><title>Tangisan Rasulullah Menggoncangkan Arasy</title><description>Tangisan Rasulullah Menggoncangkan Arasy&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang dihadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”&amp;lt;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu Ialu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab baduwi? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar kata-kata orang baduwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab baduwi itu pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi dihadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang Arab itu pula berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab baduwi itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah bertanya kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,“ jawab orang itu. “Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah rnengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa sukanya orang Arab baduwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/tangisan-rasulullah-menggoncangkan-arasy.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-6840997142074907465</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:44:31.661+08:00</atom:updated><title>Sisi Lembut dan Kasih Sayang Rasulullah</title><description>Sisi Lembut dan Kasih Sayang Rasulullah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah momen perjalanan bersama Rasulullah, para sahabat pernah menyaksikan seekor humarah (semacam burung emprit) bersama dua anaknya. Entah dengan alasan apa, mereka tiba-tiba mengambil kedua anak burung itu. Tentu saja sang induk berontak dan mengepak-ngepakkan sayapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah yang saat itu sedang membuang hajat tak tahu apa yang dilakukan para sahabatnya. Ketika kembali, beliau pun seperti terkejut lalu berseru, “Siapa yang mengusik burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anak burung itu kepada induknya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lama Nabi berhenti menasihati, beliau melihat lagi peristiwa ganjil: sebuah sarang semut hangus terbakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa yang telah membakar sarang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami,” aku para sahabat Nabi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh, tidak pantas menyiksa dengan api kecuali Tuhan pencipta api,” sabda Rasulullah. Demikian cerita yang termaktub dalam hadits riwayat Abu Dawud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para sahabat memang bukan orang-orang yang maksum atau terbebas dari dosa. Tapi, dari kekeliruan merekalah Rasulullah memberikan sejumlah pelajaran kepada umatnya. Tingkah para sahabat yang mengganggu induk burung dan anak-anaknya, serta menghanguskan kerajaan semut membuat Rasululah merasa perlu untuk menegur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peringatan Rasulullah kepada para sahabatnya adalah bukti betapa Islam sangat menghargai binatang dan kehidupannya. Islam mengizinkan manusia membela diri tatkala diserang binatang yang mengancam keselamatan fisik dan jiwanya. Namun, Islam melarang pemeluknya untuk berbuat semena-mena, baik untuk melampiaskan amarah ataupun keisengan belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Binatang, sebagaimana manusia, adalah makhluk Allah rabbul ‘âlamîn. Bahkan, binatang-binatang dianugerahi kemampuan untuk bertasbih—dengan caranya sendiri. “Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Ash-Shaffat: 1). Jika terhadap binatang saja manusia dilarang keras berlaku lalim, apalagi terhadap sesama manusia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/sisi-lembut-dan-kasih-sayang-rasulullah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-2811841757247582599</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:43:46.018+08:00</atom:updated><title>Sejarah Nabi Muhammad (4):</title><description>Sejarah Nabi Muhammad (4):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa Keistimewaan Dibanding Para Nabi Lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah mengutus para rasul-Nya untuk membimbing umat manusia agar selalu mengikuti petunjuk-Nya. Agama Islam mengajarkan kepada para pemeluknya agar mengikuti langkah-langkah yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul, mentaati dan memuliakan mereka dengan tidak membedakan satu rasul dengan rasul yang lain. Sebagian para rasul itu, Allah memberikan beberapa keistimewaan dan kelebihan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada di antara mereka yang bergelar Ulul Azmi, yaitu para nabi yang tergolong besar dan agung karena perjuangan mereka yang sangat berat dalam mengemban risalah-Nya. Ada di antara mereka yang diberikan al-Kitab, ada yang dikaruniai ketabahan yang luar biasa, ada yang dianugerahi ilmu yang sangat mendalam, dan lain sebagainya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mereka yang bergelar Ulul Azmi itu adalah Nabi Nuh 'alaihissalam, Nabi Ibrahim 'alaihissalam, Nabi Musa 'alaihissalam, Nabi Isa 'alaihissalam, dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari lima rasul yang tergolong Ulul Azmi itu, Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang tentunya juga memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya. Nabi Muhammad adalah seorang rasul yang sangat tawadhu atau rendah hati meskipun beliau memiliki berbagai kelebihan dan keistimewaan dari nabi dan rasul serta manusia lainnya. Beliau tidak pernah menunjukkan sifat-sifat yang tidak terpuji di tengah-tengah umatnya. Rasul-rasul yang lain memperkenalkan dirinya sesuai dengan anugerah yang Allah berikan. Di antara mereka, ada yang digelari Khalilullah (kekasih Allah ) seperti Nabi Ibrahim, ada yang dinyatakan sebagai Kalimullah (orang-orangyang berbicara dengan Allah), seperti Nabi Musa, ada yang digelari Ruhullah (ruh ciptaan Allah), seperti Nabi Isa dan lain sebagainya. Nabi sendiri, ketika ditanya tentang dirinya, beliau menjawab dengan penuh tawadhu dan rendah hati, “Aku adalah seorang yatim yang dipelihara Abu Thalib.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi terakhir yang rendah hati dan berakhlak mulia itu pada hakekatnya memiliki kelebihan-keleihan yang banyak dari para nabi dan rasul yang lain. Sebagian dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki beliau, sedikitnya ada enam macam yang beliau sebutkan dalam sabdanya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;فُضِّلْتُ عَلىَ اْلأَنْبِياَءِ بِسِتٍّ : اُعْطِيْتُ جَوَامِعَ اْلكَلِمَ وَ نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَاُحِّلْتُ لِيَ اْلغَنَائِمُ وَجُعِلْتُ لِيَ الأَرْضُ طَهُوْرًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ اِلَى الْخَلْقِ كآفّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dilebihkan dari para nabi yang lain dengan enam keistimewaan berupa; (1) diberikan kepadaku “jawami’ al-kalim (seseorang yang memiliki kemampuan menyusun kalimat yang ringkas tetapi memiliki jangkauan makna yang luas dan kalimatnya menarik)”, (2) aku diberikan pertolongan dalam peperangan dengan tergetarnya hati musuh, (3) dihalalkan bagiku harta rampasan perang, (4) dijadikan bagiku bumi untuk bersuci dan bersujud, (5) aku diutus bagi semua makhluk, dan (6) aku sebagai Nabi yang terakhir.” (HR. Muslim: 812, al-TirmidzI: 1474, dan Ahmad: 21130) .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Baca: Sejarah Nabi Muhammad (1): Yatim Piatu sejak Usia Enam Tahun)&lt;br /&gt;
(Baca: Sejarah Nabi Muhammad (2): Wahyu Pertama yang Menggetarkan)&lt;br /&gt;
(Baca: Sejarah Nabi Muhammad (3): Keteladanan Manusia Paling Luhur)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Nabi memiliki hak memberikan syafaat (pertolongan dengan izin Allah) yang akan bermanfaat bagi umatnya nanti pada hari kiamat. (HR. Muslim). Dengan demikian, paling tidak ada tujuh keistimewaan Rasulullah yang akan dijabarkan dalam pembahasan berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keistimewaan yang pertama adalah jawami’ al-kalim, yaitu kemampuan menyusun kalimat yang sederhana dan pendek namun mempunyai jangkauan makna yang luas dan menarik. Kalau kita memperhatikan hadits Nabi, kita banyak menjumpai kalimat-kalimat yang singkat dan menarik tetapi mempunyai jangkauan makna yang luas, misalnya sabda beliau, “Agama itu nasihat.” Kalimat ini sangat ringkas tetapi maksudnya begitu luas, mencakup berbagai macam makna yang terkandung di dalamnya. Demikian juga sabdanya, “Di antara baiknya pengamalan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” Ketika ada seorang pemuda meminta nasihat kepada Nabi, beliau tidak memberikan nasihat yang panjang lebar, beliau hanya berkata, “Kamu jangan marah!”. Inilah salah satu kelebihan Nabi Muhammad yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, bahkan oleh nabi-nabi yang lain sekalipun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, dalam setiap menghadapi peperangan, dimana Nabi dan para sahabatnya menempuh taktik untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, beliau senantiasa mendapat pertolongan Allah dengan tergetarnya hati musuh. Sehingga meskipun jumlah pengikut beliau sedikit, namun musuh gentar dan merasa ciut untuk menghadapi kaum Muslimin, akhirnya mereka kalah, dan kaum Muslimin meraih kemenangan. Hal itu kita bisa melihat langsung dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, halalnya rampasan perang (ghanimah). Pada masa nabi-nabi terdahulu, harta rampasan perang tidak boleh dimanfaatkan, akan tetapi pada masa Nabi Muhammad, harta-harta tersebut diperintahkan untuk dimanfaatkan oleh beliau dan para sahabatnya. Ketetapan ini disebutkan dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Anfal, 8:69)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat, Nabi Muhammad dan umatnya diperbolehkan bersuci dengan menggunakan tanah (bertayamum) apabila tidak ditemukan air atau karena ada halangan lain. Beliau juga beserta umatnya boleh mengerjakan shalat di mana saja di muka bumi ini, di masjid, mushala, lapangan, ladang, gunung, dan sebagainya. Padahal para Nabi terdahulu dan umatnya hanya diperbolehkan sembahyang di tempat-tempat yang telah ditentukan, yaitu di ma’bad atau tempat ibadah yang resmi secara syariat. Kelima, risalah Nabi bersifat umum dan diperuntukkan bagi seluruh umat jin dan manusia, dari berbagai suku bangsa di seluruh alam. Risalahnya juga berlaku sepanjang masa di semua tempat. Mengenai hal ini, Allah berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Saba`, 34:28).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat lainnya, Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya, 21:107)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keenam, Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi. Sebagaimana telah diketahui, misi para nabi dari masa ke masa adalah membimbing umat manusia agar menapaki jalan yang lurus, yaitu jalan yang diridhai oleh Allah. Ajaran mengenai aqidah, berupa kepercayaan dan keyakinan yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah itu Tuhan Yang Maha Esa, tidak pernah berubah dari masa ke masa. Ajaran ini sama dari satu rasul kepada rasul yang lain, yaitu ajaran yang dirumuskan dalam kalimat tauhid “Lâ Ilâha illa Allâh” (Tiada Tuhan melainkan Allah ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajaran mengenai syariat terus mengalami perubahan dari masa ke masa menuju kesempurnaan yang sesuai dengan zamannya. Oleh karena itu, pada masa Nabi Muhammad, syariat Islam merupakan tatanan syariat hasil penyempurnaan dari syariat-syariat sebelumnya yang tidak berubah lagi untuk selamanya. Mengenai hal ini, Nabi bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perumpamaanku dengan nabi-nabi sebelumku adalah bagaikan seseorang yang membangun suatu bangunan. Orang-orang itu berusaha memperbaiki dan memperindah bangunan tersebut, kecuali pasangan batu bata dari salah satu pojok bangunan itu. Banyak orang yang memperhatikan bangunan tersebut dan mengaguminya. Mereka berkomentar, “Sayang, mengapa pemasangan batu bata itu tidak diselesaikan agar tatanan bangunan tersebut menjadi sempurna?” Rasulullah menjawab, “Akulah batu bata itu, aku yang menyempurnakan bangunan itu dan akulah penutup para nabi.” (HR. al-Bukhari: 3271 dan Muslim: 4239)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketujuh, Nabi Muhammad diberikan hak syafaat yang akan bermanfaat bagi umatnya nanti di hari kiamat. Pada dasarnya, setiap nabi diberi kesempatan yang sama oleh Allah untuk memohonkan sesuatu kepada-Nya. Permohonan mereka itu nantinya akan Allah kabulkan. Maka masing-masing nabi tersebut berdoa agar Allah memberikan ampunan bagi diri mereka sendiri. Maka Allah pun mengabulkan semuanya. Nabi Adam menyesali perbuatan dosanya ketika memakan buah terlarang di surga, ia bertobat kepada Allah agar mengampuninya. Nabi Musa memelas kepada Allah atas kekeliruannya, ketika dengan tidak sengaja membunuh seorang pribumi Mesir, ketika melerai perkelahian dengan seorang Bani Israil. Begitu pula Nabi Yunus dengan ikan Hutnya, dan nabi-nabi lainnya. Sedangkan Rasulullah, menunda satu permohonannya diperuntukkan nanti berupa syafaat bagi umatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/sejarah-nabi-muhammad-4.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-5980484144439861833</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:41:40.828+08:00</atom:updated><title>Sejarah Nabi Muhammad (3):</title><description>Sejarah Nabi Muhammad (3):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keteladanan Manusia Paling Luhur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah sebagai suri teladan yang harus diikuti kaum Muslimin. Beliau memiliki akhlak yang agung dan luhur. Dengan keluhuran akhlak itulah beliau berdakwah, mengajak manusia menuju jalan yang diridhai oleh Allah Dengan akhlak yang mulia pula, dakwah beliau berhasil dengan gilang gemilang. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 23 tahun, beliau berhasil merombak tatanan masyarakat yang dungu dan bodoh menjadi masyarakat yang maju dan berperadaban tinggi. Dalam waktu teramat singkat itu, beliau mengangkat kehidupan suatu bangsa yang tidak dikenal sejarah menjadi umat yang menentukan sejarah dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai keluhuran akhlak Nabi, Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. al-Qalam, 68: 4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian dari akhlak Nabi yang terpuji ialah sikap pemaaf dan kasih sayang terhadap sesama. Meskipun beliau sering dicemooh, dihina, difitnah, dan disakiti orang lain, beliau tetap tabah dan menerima perlakuan mereka dengan lapang dada. Bahkan beliau membalas perlakuan kasar mereka dengan lemah lembut dan kasih sayang serta mendoakan mereka agar segera menerima petunjuk dari Allah Hal ini sebagaimana dilansir dalam ayat suci al-Qur’an:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran, 3:159).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Baca juga: Sejarah Nabi Muhammad (2): Wahyu Pertama yang Menggetarkan)&lt;br /&gt;
(Baca juga: Sejarah Nabi Muhammad (1): Yatim Piatu sejak Usia Enam Tahun)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain bersikap pemaaf, Nabi juga dikenal sebagai orang yang sangat menyayangi sesamanya. Beliau selalu mengasihi fakir miskin, anak-anak yatim, dan wanita-wanita jompo. Dalam berbagai kegiatan dakwahnya, beliau memulai kebaikan dari dirinya sendiri dan keluarganya. Ia senantiasa mengusahakan kebaikan dan memelihara umatnya dari kehancuran dan kenistaan. Dalam hal ini, Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. al-Taubah, 9:128).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam al-Qur’an Surat al-A’raf ayat 199 disebutkan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga macam sikap atau budi pekerti luhur, yaitu pemaaf, memerintahkan kebaikan, dan berpaling dari orang-orang jahil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf, 7: 199).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak riwayat dalam sejarah Islam yang menjelaskan sikap pemaaf Nabi terhadap umatnya. Beliau dengan ikhlas memberi maaf terhadap musuh-musuhnya yang mau bertobat dan mengakui kesalahan yang dilakukannya, meskipun pada awalnya mereka membuat hidup beliau menderita dan teraniaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awal perkembangan Islam di Makkah, ada dua orang bersaudara kakak beradik bernama Ka’ab bin Zuhair dan Bujair bin Zuhair. Bujair telah masuk Islam terlebih dahulu, ia berjuang bersama Nabi dalam membela kebenaran dan ikut berhijrah ke Madinah. Sedangkan saudaranya, Ka’ab, termasuk kelompok radikal yang menolak agama Islam, ia bersama komplotannya dengan gencar melakukan intimidasi terhadap kaum Muslimin ketika itu. Sedemikian kerasnya permusuhan Ka’ab terhadap umat Islam, sehingga setelah Bujair adiknya berhijrah ke Madinah, ia masih tetap mengecam umat Islam dengan surat-suratnya yang dikirimkan kepada saudaranya tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sikap Ka’ab yang membahayakan eksistensi umat Islam, akhirnya Nabi memasukkan namanya ke dalam daftar hitam, yaitu golongan penghianat yang senantiasa berbuat kerusakan dan memusuhi kaum Muslimin secara keseluruhan. Mengetahui hal itu, Bujair segera mengirimkan surat kepada saudaranya tentang pencatuman namanya pada daftar hitam tersebut. Dalam suratnya, ia juga menjelaskan mengenai sikap pemaaf Nabi dan akhlaknya yang luhur terhadap sesamanya. Akhlak beliau tersebut sekaligus menjadi suri teladan bagi umatnya. Bujair juga menceritakan dengan lengkap kehidupan kaum Muslimin di Madinah. Mereka berada dalam ketenangan, kedamaian, dan senantiasa dibimbing oleh Allah dengan perantaraan Rasul-Nya yang mulia. Setelah Ka’ab menerima surat itu di Makkah lalu memperhatikan dengan seksama isinya, tiba-tiba ada dorongan kebenaran dengan kuat yang mengetuk kalbunya. Ia segera bertobat dari kesalahan masa lalunya. Ia berniat untuk pergi meninggalkan Makkah menuju Madinah sesegera mungkin demi menemui Nabi dan menyatakan diri untuk bergabung dengan barisan kaum Muslimin di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setibanya di Madinah, Ka’ab bin Zuhair segera menemui Nabi di masjid dengan diantar oleh Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat setia sekaligus menantu Nabi Sampai di masjid, Ka’ab segera menyatakan diri untuk masuk agama Islam. Nabi pun menerima kehadirannya dengan tulus, bahagia, dan penuh bersyukur. Masuk islamnya Ka’ab sekaligus dicoretnya nama Ka’ab dari daftar hitam. Dengan serta merta, Nabi dan para sahabatnya mengampuni semua kesalahan Ka’ab di masa lalu, tanpa menyisakan perasaan dendam sedikitpun di dada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula ketika Nabi beserta para sahabatnya memasuki Kota Makkah pada tahun ke-8 H. Saat itu, beliau datang sebagai pemenang yang menaklukkan semua penduduk Makkah. Dengan penuh keikhlasan, beliau memaafkan semua kesalahan penduduk Makkah di masa lalu. Nama-nama mereka yang tertulis dalam daftar hitam, pada hari itu semuanya dimaafkan, termasuk Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan, yang pernah mencabik-cabik dada Pamandanya Hamzah bin Abdul Muthalib di perang Uhud dan mengunyah hatinya. Nabi dan para sahabatnya datang ke Kota Makkah, kota kelahirannya dengan membawa pengampunan agung, tidak ada setetes pun, darah balas dendam yang tumpah di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi adalah Rasulullah, pemimpin umat, penghulu para Nabi, bahkan panutan seluruh alam, tetapi beliau tidak mau membanggakan diri dan bersikap sombong. Sebaliknya, beliau bersikap rendah hati. Kepada para sahabatnya, beliau meminta agar tidak dikultuskan dan dipuja seperti halnya orang-orang Nasrani memuja Isa putera Maryam. “Aku adalah hamba Allah Sebut sajalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Beliau adalah seorang yang rendah hati. Suatu ketika, para sahabat menghormati Nabi secara berlebihan begitu melihat Nabi datang. Maka beliau menegurnya agar tidak diperlakukan layaknya orang-orang ajam (non Arab) yang ingin diagungkan. Apabila mengunjungi sahabat-sahabatnya, beliau pun duduk di mana saja ada tempat yang kosong. Beliau bergurau dan bergaul dengan mereka. Anak-anak merekapun diajaknya bermain-main dan didudukkannya mereka di pangkuannya. Dalam memenuhi undangan, beliau tidak melihat faktor ekonomi ataupun status sosial seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ada orang yang sakit, beliau langsung menjenguknya, meskipun tempatnya jauh. Ketika bertemu dengan para sahabatnya, beliau adalah orang pertama yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan mereka. Apabila ada orang yang menunggu beliau sedang shalat, maka beliau mempercepat shalatnya lalu ditanya apa keperluannya. Setelah itu, beliau kembali meneruskan ibadahnya. Kepada siapa saja, beliau selalu baik hati dan murah senyum. Dalam urusan keluarga, beliau ikut memikul beban keluarga, seperti mencuci pakaian, menjahit, mengesol sandal, melayani sendiri dan mengurus unta. Beliau duduk makan bersama dengan pembantunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga mengurus orang yang menderita, lemah, kekurangan. Apabila melihat ada orang atau keluarga yang membutuhkan bantuan, beliau dan keluarganya memberikannya, sekalipun mereka sendiri dalam kekurangan dan tak ada sedikit pun makanan untuk keesokan hari. Hingga tatkala beliau wafat, baju besinya masih tergadai di tangan seorang Yahudi, karena untuk keperluan belanja keluarganya. Beliau selalu menepati janji dan melayani sendiri tamu-tamu yang menghadap kepadanya. (Haekal, 1998: 228-229) Masih banyak lagi sifat-sifat terpuji lainnya yang merupakan pengejewantahan dari nilai-nilai al-Qur’an. Aisyah ra memberikan kabar kepada seorang sahabat yang ingin mengetahui perilaku Nabi Ia mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Budi pekertinya adalah al-Qur’an.” (HR. Ahmad: 24139)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi merupakan manusia berakhlak mulia yang menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang menerjemahkan al-Qur’an dalam kehidupannya. Sejatinya setiap mukmin mencontoh dan menjadikan beliau sebagai suri teladan, sebagaimana Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. al-Ahzab, 33: 21).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/sejarah-nabi-muhammad-3.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-7650150464887377013</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:39:02.786+08:00</atom:updated><title>Sejarah Nabi Muhammad (2):</title><description>Sejarah Nabi Muhammad (2):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahyu Pertama yang Menggetarkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam asuhan pamannya inilah Muhammad kecil tumbuh dewasa, anak yang membawa petunjuk telah menjadi seorang pemuda, berbekal kebenaran dan memancarkan cahaya. Dalam genggaman tangannya terdapat pelita hikmah, lisannya berisi berita gembira, dalam sorotan matanya tampak kesungguhan nyata, wajahnya bersinar menjanjikan kebahagiaan, dalam darahnya mengalir jiwa kepahlawanan sejati, menentang setiap kecongkakan dan keangkuhan. Kaum Quraisy mengenalnya dengan pengenalan yang sangat dalam, dia disebut al-Amin (orang yang jujur), dan semua Kabilah Arab telah rela memilihnya sebagai hakim dalam peletakkan Hajar aswad di Baitullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Baca juga: Sejarah Nabi Muhammad (1): Yatim Piatu sejak Usia Enam Tahun)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beranjak dewasa, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam nikah dengan seorang saudagar wanita kaya raya, bernama Khadijah binti Khuwailid. Dari pernikahan ini beliau dikarunia beberapa anak laki-laki dan perempuan, meskipun anak laki-lakinya wafat di masa kanak-kanak. Sejak sebelum menikah, Muhammad adalah seorang pria yang sering merenung, dan berpikir, kontemplasi (olah spritual), memikirkan fenomena alam dan lingkungan sekitarnya di tempat yang jauh dari keramaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau berdoa kepada Tuhan agar menemukan sesuatu yang mencerahkan dirinya dan kaumnya. Kita mengetahui dari kariernya di belakang hari, bahwa Muhammad sangat prihatin akan keruntuhan moral yang sangat mengkhawatirkan di Makkah. Kebiasaan ini terus berlanjut setelah beliau menikah. Bahkan pada bulan Ramadhan, hal itu lebih ditingkatkannya lagi, disertai dengan membagikan makanan dan sedekah kepada fakir miskin yang membutuhkan. Hingga pada suatu malam di bulan Ramadhan, tahun 610 M, di sudut gua Hira, beliau dikejutkan oleh turunnya wahyu yang pertama dari Allah, sebagaimana hadits berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha, ia berkata: “Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik) dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas laksana cuaca pagi. Kemudian beliau jadi senang menyendiri; lalu menyendiri di gua Hira untuk bertahannuts. Beliau bertahannuts, yaitu beribadah di sana beberapa malam, dan tidak pulang ke rumah isterinya. Dan untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan di bawahnya pula perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq (kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat dan berkata, “Bacalah!” Jawab beliau, “Aku tidak bisa membaca.” Nabi bercerita, “Lalu malaikat itu menarikku dan memelukku erat-erat sehingga aku kepayahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Baca juga: Detik-detik Menegangkan Nabi dan Abu Bakar di Gua Tsur)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!” dan aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, “Bacalah!” Aku kembali menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian untuk ketiga kalinya ia menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq, 96:1-5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Nabi pulang ke rumah istrinya, Khadijah binti Khuwailid dengan hati gemetar ketakutan. Beliau memohon kepadanya, “Selimutilah aku!” Mereka menyelimuti beliau hingga hilanglah ketakutannya. Kemudian beliau bercerita kepada Khadijah, setelah diceritakannya apa yang baru dialaminya,ia berkata: “Sesungguhnya aku mencemaskan diriku.” Khadijah berkata, “Sama sekali tidak. Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan engkau. Sesungguhnya engkaulah orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, selalu menanggung orang yang kesusahan, selalu mengusahakan apa yang diperlukan, selalu menghormati tamu dan membantu derita orang yang membela kebenaran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya Khadijah pergi membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Arab pemeluk agama Nasrani di zaman Jahiliyah. Ia pandai menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia pun menulis Injil dengan bahasa Ibrani. Ia seorang tua yang buta. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini. Waraqah bertanya kepada Nabi, “Wahai anak saudaraku, apakah yang kaulihat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu beliau menceritakan apa yang beliau lihat dan alami di Gua Hira’. Kemudian Waraqah berkata lagi kepada beliau, “Itulah Namus (Jibril) yang pernah diutus Allah kepada Musa. Mudah-mudahan aku masih hidup di saat engkau diusir kaummu!” Maka Rasulullah bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Ia menjawab, “Ya, sebab setiap orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti dimusuhi orang. Jadi kelak engkau mengalami masa-masa seperti itu, dan jika aku masih hidup, aku pasti akan menolongmu sekuat tenagaku.” Tidak lama kemudian, Waraqah meninggal dan wahyu pun putus untuk sementara (fatrah al-wahy).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdirrahman, Jabir bin Abdillah al-Anshari menceritakan tentang terhentinya wahyu tersebut, bahwa Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari atas, maka aku lihat ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira, sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka takutlah aku padanya. Lalu aku pulang seraya berkata, “Selimutilah aku!” Lalu turunlah wahyu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنذِرْ. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah (manusia) peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS. al-Muddatsir, 74 :1-5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah itu, wahyu pun turun terus-menerus.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 232). Pada wahyu yang kedua inilah, di usianya yang keempat puluh tahun, Muhammad diangkat sebagai Rasul, utusan Tuhan untuk membenahi tatanan umat manusia secara keseluruhan. Dalam hadits lainnya, diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin ra., bahwa Harits bin Hisyam r.a. telah bertanya kepada Rasulullah Katanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepada engkau?” Beliau menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
“Kadang-kadang wahyu datang kepadaku seperti suara lonceng, itulah yang paling berat bagiku. Kemudian ia berhenti, dan aku sudah mengerti apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat datang kepadaku sebagai laki-laki, lalu ia berkata, maka aku mengerti apa yang diucapkannya.” Aisyah r.a. berkata: “Sungguh saya melihat wahyu turun kepada Nabi pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu berhenti, dari kening beliau mengalir keringat.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 4304).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan ungkapan “seperti suara lonceng” ialah seperti bunyi lonceng besi yang gemerincing terdengar terus-menerus, bunyi yang bukan perkataan yang tersusun dari huruf-huruf. Wahyu melalui bentuk seperti ini, menunjukkan – menurut pendapat yang paling kuat – hadirnya malaikat. Dan kehadiran malaikat (yang menyampaikan wahyu) semacam inilah yang paling berat dirasakan Nabi dibanding kehadirannya dalam bentuk lain (sebagai seorang pria). Hal ini dapat dimengerti, sebab – sebagaimana dijelaskan oleh Filosof Ibnu Khaldun – pada saat itu terjadi suatu proses di mana kemanusiaan (Nabi) yang bersifat materi (jasmaniyah) lepas terkelupas sama sekali untuk kontak dengan alam malaikat yang bersifat rohani (ruhaniyah).(Rasyid Ridha, 1984: 185). Orang-orang yang pertama kali masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun); Dari kalangan perempuan adalah istri Nabi sendiri yaitu Khadijah binti Khuwailid, dari kalangan pemuda yaitu Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari kalangan pria dewasa adalah Abu Bakar bin Abi Quhafa, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan masih banyak lagi yang lain, dari penduduk Makkah yang memeluk Islam. Mereka memilih Islam sebagai jalan hidup dengan tulus dan ikhlas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari demi hari, dari waktu ke waktu, pengikut Nabi bertambah banyak. Mereka yang sudah Islam itu datang kepada beliau untuk menyatakan keislaman mereka sekaligus siap menerima ajaran-ajarannya. Gerak-gerik mereka itu tercium oleh kaum Quraisy yang ketika itu memegang otoritas penuh sebagai suku yang berkuasa di Makkah. Lebih-lebih setelah diketahui bahwa para pengikut Muhammad itu sangat membenci berhala-berhala dan dewa-dewa yang mereka sembah. Akhirnya, kaum paganisme ini mengobarkan api permusuhan kepada siapa saja yang masuk Islam. Akan tetapi, tumbuhnya agama Islam di perbukitan kota Makkah tidak dapat dibendung. Keimanan yang teguh dan keyakinan yang kuat menjadikan para pengikut Rasulullah rela berkorban demi mempertahankan agamanya. Hal itu membuat kaum musyrik Quraisy semakin membenci Muhammad dan ajarannya. Mereka mengira bahwa kata-kata Muhammad itu tidak lebih dari kata-kata pendeta atau filosof seperti Quss, Umayya, Waraqa, dan yang lain. Mereka sama sekali tidak menghiraukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya, perintah Allah datang supaya Muhammad mengumumkan ajaran Islam yang masih disebarkan secara sembunyi-bunyi itu, bersamaan dengan turunnya wahyu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (214) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (215) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Syu’ara, 26: 214-216)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr, 15: 94)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu faktor yang mendongkrak perkembangan agama Islam secara pesat ini adalah keteledanan dari Nabi sendiri. Beliau sosok yang berbaik hati dan penuh kasih sayang. Beliau sangat rendah hati, berani membela yang benar, dan berperilaku sopan santun kepada sesamanya. Tutur kata beliau lemah lembut, selalu jujur dan berlaku adil kepada setiap orang. Tidak ada hak orang lain yang beliau langgar. Pandangan beliau terhadap orang yang lemah, miskin, papa, dan anak-anak yatim piatu, adalah bagaikan pandangan seorang bapak kepada anaknya sendiri yang penuh kasih sayang, lemah lembut, dan mesra. Itu semua menjadikan grand point untuk beliau dalam menjalankan misinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/sejarah-nabi-muhammad-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-8287804787080977305</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:36:06.878+08:00</atom:updated><title>Sejarah Nabi Muhammad (1)</title><description>Sejarah Nabi Muhammad (1):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yatim Piatu sejak Usia Enam Tahun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenabian dan kerasulan adalah karunia yang agung dari Allah yang diberikan kepada seseorang yang telah dipilihnya, tidak bisa dicapai dengan usaha manusia. Allah yang menentukan kepada siapa anugerah itu diberikan, kapan disampaikannya dan siapapula yang diberi kesanggupan oleh-Nya untuk menerima karunia itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia berkebangsaan Arab yang dipilih oleh Allah untuk menerima anugerah yang agung itu. Ia dijadikan-Nya sebagai penutup segala nabi dan rasul, dengan membawa syariat yang sempurna yang bersifat kekal dan abadi. Ajarannya berlaku untuk semua umat manusia dalam berbagai ras, bangsa dan warna kulit. Ia merupakan risalah agama yang sempurna yang membangun peradaban yang tinggi bagi seluruh umat manusia. Sebelum kelahiran Nabi Muhammad, keadaan bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain diliputi oleh kebodohan dan kejahilan. Mereka adalah bangsa yang menganut paganisme, penyembah patung dan berhala, padahal nenek moyang mereka berasal dari pengikut ajaran tauhid yang disampaikan oleh Nabi Ismail ‘alaihissalam. Suasana keberhalaan dan kemusyrikan sudah menyatu dan mendarah daging pada jiwa mereka. Sehingga Masjidil Haram yang suci itu menjadi ternoda dengan bergelantungnya berhala-berhala dan patung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sekeliling Ka’bah yang berada di tengah-tengah Masjidil Haram ada kurang lebih 360 patung dan berhala yang mereka sembah. Setiap suku memiliki patung tersendiri sebagai sembahan dan perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keadaan seperti itu telah mengotori Masjid dan kesucian Ka’bah dalam menjalani pelaksanaan ibadah yang murni kepada Allah. Kaum musyrikin menjadikan patung-patung itu sebagai Tuhan-tuhan mereka. Untuk patung-patung itu hewan dikurbankan dan nadzar ditunaikan, mereka memberikan ketaatan yang total pada patung-patung itu. Keadaaan seperti itulah yang mereka jalani meskipun apabila mereka ditanya “Siapa Tuhan yang mereka sembah”. Mereka menjawab “Tuhan kami adalah Allah, kami tidak menyembah patung-patung itu kecuali hanya perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan taqarub yang amat dekat” (QS. Al-Zumar, 39: 3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suasana yang sangat kacau penuh kesesatan yang disebut zaman jahiliyyah itu, terjadilah pernikahan agung, antara Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim al-Quraisyi dengan Aminah binti Wahab. Dari pernikahan yang mulia itu, Allah menakdirkan lahirnya manusia yang paling agung dalam sejarah dunia, yaitu Nabi Besar Muhammad pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 570 M. Ketika Nabi masih berada dalam kandungan ibunya. Pada suatu saat ibundanya Siti Aminah, melihat cahaya yang terang benderang dari dirinya dan menerangi istana Kisra di negeri Syam. Ayah Nabi Muhammad Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib meningal dunia ketika beliau masih ada dalam kandungan ibunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Baca juga: Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad SAW Penghuni Neraka?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa bulan setelah itu berbahagialah Sayyidah Aminah ibunda Nabi Muhammad dan Abdul Mutahalib, kakeknya atas kelahirannya yang diberi nama Muhammad, karena ia akan menjadi orang yang sangat terpuji di masa yang akan datang. Inilah manusia yang paling agung dan paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan. Petunjuk telah lahir dan alam pun telah menjadi terang bercahaya. Zaman menyambut kelahirannya dengan senyum ceria. Muhammad kecil dipelihara oleh ibunya dan kemudian disusukan kepada Halimah al-Sa’diyah kaum Bani Sa’ad dari Bani Zuhrah sampai susuannya berakhir, kemudian kembali kepangkuan ibundanya atas tanggungan kakeknya Abdul Muthalib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika umur beliau mencapai usia 6 tahun, ketika ia mulai menanyakan ayahnya kepada ibundanya yang amat dicintainya, sampailah informasi padanya tentang kewafatan ayahnya. Ketika ia masih berada dalam kandungan, maka ia pun sadar bahwa dirinya adalah anak yatim. Pada usia itu beliau diajak ibundanya Aminah untuk berziarah ke Yastrib mengunjungi saudar-saudara kakeknya dari keluarga Najjar. Perjalanan ke Yatsrib ditemani Ummu Aiman seorang pembantu wanita yang disiapkan Abdullah sebelum beliau wafat. Sampai di Madinah, Muhammad kecil diajak berziarah ke suatu rumah tempat ayahnya dahulu meninggal, serta berziarah ke tempat kuburan ayahnya. Suasana itu dirasakan begitu berat dan mengharukan, apalagi bagi Muhammad kecil yng telah menjadi yatim. (Husein Haikal, 1998: 54).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Baca juga: Kisah Masa Kecil Rasulullah dan Ibunya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa lama tinggal di Madinah, Aminah, Muhammad, dan Ummu Aiman bersiap-siap untuk pulang ke Makkah. Dalam perjalanan pulang, ketika mereka sampai di kampung Abwa’, ibunda Aminah merasa sakit, yang kemudian meninggal dunia dan dikuburkan di tempat itu juga. Muhammad kecil kembali menghadapi cobaan yang sangat berat, ibarat luka belum sembuh karena ditinggalkan ayahahandanya, tergores luka baru dengan wafatnya ibunda yang sangat dicintainya. Muhammad kini menjadi seorang yang yatim dan piatu dalam usia 6 tahun. Kemudian Ummu Aiman membawanya pulang ke Makkah. Anak itu pulang sambil menangis dengan hati yang perih, hidup sebatang kara. Baru beberapa hari yang lalu ia menyaksikan rumah tempat ketika ayahnya wafat dan kuburan ayahnya, kini ia melihat sendiri di hadapannya, ibundanya pergi, wafat tidak kembali untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak yang masih amat kecil itu mendapat cobaan yang sangat berat, memikul beban hidup yang memilukan, sebagai seorang anak yang yatim dan piatu. Dua tahun setelah beliau berada dalam asuhan dan bimbingan kakeknya Abdul Muthalib pun wafat. Sebelum meninggal dunia, Abdul Muthalib menyerahkan cucunya kepada anaknya yang sekaligus paman Nabi, yaitu Abu Thalib. Kemudian merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ketika di Makkah Muhammad kecil dipelihara kakeknya Abdul Muthalib. Kakeknya sangat mencintainya, ia memeliharannya dengan penuh kasih sayang, sungguhpun demikian, peristiwa sedih sebagai anak yatim piatu itu bekasnya masih mendalam sekali pada jiwanya, sehingga dalam al-Qur’an disebutkan: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. al-Dhuha, 93: 6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/sejarah-nabi-muhammad-1.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-2880237694013042154</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:35:00.642+08:00</atom:updated><title>Rahasia Bismillah</title><description>Rahasia Bismillah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, segala macam laku rutinitas dikerjakan tanpa pikirpanjang. Misalkan mandi, makan, minum, bersepatu, memakai baju membuka laptop, ketik sms dan lainsebagainya. Rutinitas itu seolah menutupi subtansi pekerjaan itu sendiri.&amp;lt;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir-hampir orang tidak sadar untuk apa ia minum, padahal dia tidak terlalu haus. Bahkan bisa jadi seseorang minum begitu saja tanpa berpikir bagaimana jikalau tenggorokan ini mengalami kemacetan, tidak mau menelan air. Begitu pula dengan bersepatu, asalkan kaki masuk kemudian jalan. Jarang sekali orang berpikir bagaimana nasib kaki jika di dalam sepatu ada kalajengking? Begitulah segalanya terjadi berulang kali dalam kehidupan ini seperti layaknya mesin pabrikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lagi jika rutinitas itu adalah berbelanja yang telah menjadi kelatahan, sehingga begitu seringnya seseorang tidak pernah berpikir panjang untuk apa ia membeli A atau B. Asalkan ia suka, barang itu harus dibelinya. Walaupun ia telah memiliki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian itu seharusnya tidaklah boleh terjadi berlarut-larut. Bagi seorang muslim yang sadar dan beriman kepada Allah swt, hendaknya hati selalu ingat kepada-Nya dalam berbagai tindak-laku keseharian. Karena hidup ini hanya bergantung kepada-Nya. Bukankah jika Dia berkehendak, bisa saja udara di dunia ini dikosongkan untuk beberapa menit saja. Bayangkan apa yang terjadi dengan nasib manusia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itulah Rasulullah saw menghimabu umatnya untuk memulai segala sesuatu dengan bacaan bismillah. Karena sesungguhynya hal itu dapat menyadarkan manusia dari tindakan rutinitasnya dan kembali berpikir dengan penuh kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;كل أمر ذي بال لا يُبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap perkara baik yang tidak didahului dengan bismillahirrahmanirrahim, perkara itu terpotong (percuma atau tidak dianggap ibadah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari keterangan Rasulullah saw di atas, maka secara otomatis bacaan bismillah dapat menggeser posisi tindakan rutinitas menjadi sebuah laku ibadah yang penuh makna. Sebagaimana kita menjalankan berbagai syariatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan tidak hanya itu saja, jiakalau kita mau mendalami beberapa hadits lain bisa jadi laku rutinitas yang telah bergeser menjadi laku ibadah karena didahului dengan bismillah berubah menjadi sumber kebajikan dan kebijakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;مامن عبد يقول بسم الله الرحمن الرحيم إلا أمر الله تعالى الكرام الكاتبين أن يكتبوا فى ديوانه أربعمائة حسنة&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah seorang yang membaca bismillahirrahmanirrahim kecuali Allah akan utus kepadanya seorang (malaikat pencatat) menuliskan 400 kebaikan untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jikalau sudah demikian, maka apa yang keluar dari seorang yang membaca bismillah tidak lain hanyalah berbagai kebaikan yang sekaligus menganulir berbagai tindak keburukan. Bahkan dalam salah satu haditsnya dengan tegas Rasulullah saw berkata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;مامن عبد يقول بسم الله الرحمن الرحيم إلا ذاب الشيطان كما يذوب الرصاص على النار&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah seorang hamba membaca bismillahirrahmanirrahim kecuali ia akan mematri setan-setan seperti halnya tenol yang terpatri oleh soldir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah beberapa alasan pentingnya mengucap bismillah. Sebagaimana Rasulullah saw menggambarkan posisi bismillah dalam rentetan keistimewaan yang lain, Rasulullah saw berkata "Allah menghiasi langit dengn bintang-gemintang, menghiasi malaikat dengan jibril, menghiasi surge dengan bidadari, menghiasi para nabi dengan Muhammad saw, menghiasi hari dengan Jum'at, menghiasi malam dengan laylatul qadar, menghiasi bulan dengan Ramadhan, menghiasi masjid dengan ka'bah, menghisi mushaf dengan al-Qur'an, dan menghiasi al-qur'an dengan bismillah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/rahasia-bismillah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1054828876308972223.post-4191559123289528349</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-04-09T19:33:51.426+08:00</atom:updated><title>Pesan Nabi Isa AS bagi Para Penuntut Ilmu</title><description>Pesan Nabi Isa AS bagi Para Penuntut Ilmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembaca yang budiman, sebagaimana kita ketahui, Nabi Isa AS merupakan utusan Allah yang menempati urutan ke-24 dari 25 Nabi dan Rasul yang wajib diketahui oleh kaum Muslim. Terlahir dari seorang ibu pilihan bernama Maryam, Nabi Isa disebutkan dalam Al-Quran sebagai Rasul yang diperkuat dengan Roh Kudus:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, “Kami telah berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran (mukjizat) serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Quds,” (Al-Baqarah ayat 87).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut jumhur (mayoritas) mufassir, maksud Roh Kudus adalah malaikat Jibril, namun ada yang mengatakan bahwa Roh Kudus adalah keimanan yang dijadikan Allah untuk menguatkan hamba-hamba-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Rasul yang diutus kepada kaum Bani Israil, Nabi Isa dibekali oleh Allah SWT beberapa kemampuan yang relevan dengan zamannya, yakni kemampuan dalam ilmu pengobatan. Tercatat dalam sejarah bahwa Nabi Isa mampu menyembuhkan seseorang berpenyakit kusta, bahkan atas seizin Allah mampu membangkitkan orang yang sudah meninggal meski hanya sementara. Kemampuan-kemampuan semacam itu tidak lepas dari kemampuannya dalam menguasai ilmu atas seizin Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain mementingkan ilmu, Nabi Isa AS juga memberikan perhatian yang lebih terhadap para pencari ilmu. Dikutip oleh Imam Al-Ghazali, berikut ini adalah beberapa pesan Nabi Isa terhadap para pencari ilmu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وقال عيسى صلى الله عليه وسلم من علم وعمل وعلم فذلك يدعى عظيماً في ملكوت السموات&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya: “Berkata Nabi Isa AS: “Barangsiapa yang mempelajari ilmu, mengamalkannya, dan mengajarkannya, maka ia akan mendapatkan undangan yang agung di kerajaan langit,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Beirut, Darul Ma’rifat, 2000, juz I, halalaman 10-57).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pernyataan di atas bisa kita pahami bahwa ada tiga tahapan bagi seorang pencari ilmu, yaitu mempelajarinya hingga paripurna, kemudian mengamalkannya, dan mengajarkannya. Tiga tahapan ini masing-masing dapat berpotensi membuahkan pahala dari Allah SWT, dan ketiganya harus berurutan, dan dilaksanakan secara keseluruhan. Seorang pelajar tidak hanya cukup mengetahui ilmu tanpa pengamalan dan pengajaran. Sebaliknya seseorang juga akan mustahil bisa dengan baik menjadi pengamal dan pengajar tanpa adanya pembelajaran yang paripurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, Nabi Isa AS juga memberikan peringatan bagi para pelajar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وقال عيسى عليه السلام ما أكثر الشجر وليس كلها بمثمر وليس كلها بطيب وما أكثر العلوم وليس كلها بنافع&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, “Nabi Isa AS berkata, ‘Ada banyak pohon, namun tak semua berbuah, dan tak semua berasa nikmat. Demikian pula ilmu, tak semuanya bermanfaat.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan di atas merupakan peringatan dari Nabi Isa AS bahwa tak semua ilmu itu bermanfaat. Ada beberapa ilmu yang sia-sia jika kita pelajari, seperti ilmu nujum, perdukunan, dan santet. Demikian pula pada tahapan selanjutnya, ada kalanya ilmu yang dipelajari sudah benar, namun menjadi sia-sia seperti halnya seorang pakar fikih yang tidak mengamalkan ilmunya dalam ibadah sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketidaksinkronan antara ilmu dan amal disinggung juga oleh Nabi Isa AS sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وقال عيسى عليه السلام لا تضعوا الحكمة عند غير أهلها فتظلموها ولا تمنعوها أهلها فتظلموهم كونوا كالطبيب الرفيق يضع الدواء في موضع الداء&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, “Nabi Isa AS berkata, ‘Jangan letakkan hikmah pada selain ahlinya. Dengan begitu kalian belaku aniaya atas hikmah tersebut. Jangan pula kalian menghalangi hikmah itu dari ahlinya karena dengan begitu kalian menganiaya mereka. Jadilah seperti dokter profesional yang&amp;nbsp; tepat dalam memberikan resep sesuai dengan penyakit pasien.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pernyataan ini, Nabi Isa AS menyayangkan sikap para pencari ilmu yang sebenarnya bisa menjadikan ilmu tersebut sebagai hikmah, namun akibat tak ada pengamalan, maka ilmu tersebut malah menyesatkan mereka. Hal tersebut digambarkan oleh Nabi Isa AS, seumpama seorang dokter yang salah memberikan resep kepada pasien yang tidak berhak menerimanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu besarnya kekhawatiran Nabi Isa AS pada para pencari ilmu namun tak mengamalkannya, hingga ia berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;وقال عيسى عليه السلام لا تعلقوا الجواهر في أعناق الخنازير فإن الحكمة خير من الجوهر ومن كرهها فهو شر من الخنازير&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, “Nabi Isa AS berkata, ‘Jangan kau kalungkan berlian pada leher babi. Hikmah itu lebih baik dari berlian. Siapa saja yang membenci hikmah, maka ia lebih buruk dari babi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://feeds.feedburner.com/ BelajarBerdoa&lt;/div&gt;</description><link>http://permatadoa.blogspot.com/2018/04/pesan-nabi-isa-as-bagi-para-penuntut.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>