<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544</atom:id><lastBuildDate>Sat, 28 Jun 2025 16:20:36 +0000</lastBuildDate><category>Artikel</category><category>Tugas Kuliah</category><category>Home</category><category>Pembelajaran</category><category>Kurikulum 2013</category><category>Aplikasi Olah Nilai</category><category>Download</category><category>MS Excell</category><category>Ontologi</category><category>Pengolahan Nilai</category><category>filsafat ilmu</category><title>WANG SE NAEK</title><description>belajar berkreasi dan berbagi</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>belajar berkreasi dan berbagi</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-2216217312095728387</guid><pubDate>Sat, 12 Apr 2014 05:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-04-12T12:09:54.732+07:00</atom:updated><title>PEMBELAJARAN MATEMATIKA SAINTIFIK</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit.  Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini (Depdiknas, 2006)&lt;br /&gt;
Penguasaan matematika melalui pembelajaran matematika  sekolah menengah pertama menurut Depdiknas (dalam Wardhani, 2008) memiliki tujuan (1) memahami konsep matematika, (2) mengembangkan penalaran matematis, (3) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, (4) mengembangkan kemampuan komnikasi matematis dan (5) mengembangkan sikap menghargai matematika. Tujuan pembelajaran matematika ini dalam Kurikulum 2013 terangkum dalam 4 (empat) Kompetensi Inti yaitu Kompetensi Sikap Spritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan. Kompetensi sikap spritual dalam pembelajaran matematika dikembangkan melalui kompetensi dasar menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya. Kompetensi sikap sosial dikembangkan melalui kompetensi dasar:&lt;br /&gt;
2.1 Menunjukkan sikap logis, kritis, analitik, konsisten dan teliti, bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah. &lt;br /&gt;
2.2 Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika serta memiliki rasa percaya pada daya dan kegunaan matematika, yang terbentuk melalui pengalaman belajar. &lt;br /&gt;
2.3 Memiliki sikap terbuka, santun, objektif, menghargai pendapat dan karya teman dalam interaksi kelompok maupun aktivitas sehari-hari. &lt;br /&gt;
Selanjutnya kompetensi pengetahuan matematika yang minimal harus dikuasai peserta didik tingkat SMP meliputi dasar-dasar bilangan, aljabar, geometri, statistika dan peluang. Sedangkan kompetensi keterampilan matematika meliputi antara lain keterampilan menggunakan konsep matematika dalam pemecahan masalah, mengumpulkan, mengolah, menginterpretasi dan menyajikan data hasil pengamatan dan melakukan percobaan menemukan peluang empirik&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan tujuan pembelajaran matematika dan kompetensi-kompetensi yang harus dikembangkan di atas, maka diperlukan strategi pembelajaran matematika yang dapat menumbuh-kembangkan semua potensi peserta didik baik dari aspek sikap, aspek pengetahuan maupun aspek keterampilan. Untuk itu pemerintah menawarkan pendekatan pembelajaran dalam implementasi Kurikulum 2013, yaitu pendekatan pembelajaran saintifik (scientifics approach). &lt;br /&gt;
Pola bilangan dan barisan merupakan satu di antara materi yang diajarkan Kurikulum 2013 pada Sekolah Menengah Pertama mulai dari kelas VII sampai kelas IX,dengan rincian. Pada makalah ini dibahas pembelajaran Pola Bilangan dan Barisan Bilangan menggunakan pendekatan saintifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. TEORI BELAJAR-MENGAJAR MATEMATIKA YANG RELEVAN &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik menurut Kemendikbud (2013) adalah pembelajaran yang dirancang agar peserta didik aktif  mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalaui kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi dan menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan kesimpulan bahkan sampai pada tahap mencipta. Penerapan metode saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. &lt;br /&gt;
Pendekatan pembelajaran saintifik memiliki karakteristik (1) berpusat kepada siswa, (2) melibatkan keteampilan proses sains dan mengkontruksi konsep, hukum atau prinsip dan (3) melibatkan proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa (Kemdikbud, 2013). Karakteristik tersebut memungkinkan siswa secara aktif membangun pengetahuannya melalui keterampilan proses sains dan mengembangkan potensi kognitif yang dimilikinya. Sehubungan dengan ini pembelajaran saintifik menurut Kemdikbud (2013) bertujuan (1) meningkatkan kemampuan intelektual, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa; (2) membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik; (3) memperoleh hasil belajar yang tinggi; (4) melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis karya ilmiah dan (5) mengembangkan karakter siswa.&lt;br /&gt;
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik ini menurut Kemdikbud (2013) sangat relevan dengan teori-teori pembelajaran matematika yaitu teori penemuan dari Bruner, teori perkembangan kognitif dari Piaget dan teori belajar dari Vigotsky. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Teori Belajar Penemuan dari Bruner&lt;br /&gt;
Teori Bruner (dalam Bruner (dalam Carin &amp; Sund, 1975) yang dikutip oleh Kemendikbud (2013) meliputi empat hal, (1) individu hanya belajar dan mengembangkan pikirannya apabila ia menggunakan pikirannya, (2) dengan melakukan proses kognitif dalam proses penemuan, siswa akan memperoleh sensasi dan kepuasan intelektual yang merupakan suatu penghargaan intrinsik, (3) satu-satunya cara agar seseorang dapat mempelajari teknik-teknik dalam melakukan penemuan adalah ia memiliki kesempatan untuk melakukan penemuan dan (4) dengan melakukan penemuan, retensi ingatan siswa akan menguat. Keempat hal ini menjadi landasan pengembangan aspek kognitif peserta didik dalam pendekatan saintifik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Piaget (dalam Bell, 1981:100) perkembangan intelektual sebagai proses asimilasi dan akomodasi dari informasi yang memasuki struktur mental. Asimilasi merupakan proses terus-menerus dimana informasi dan pengalaman baru bergabung membentuk struktur mental dan akomodasi merupakan hasil dari membangun kembali struktur mental akibat informasi dan pengalaman baru tersebut.  Proses asimilasi dan akomodasi sebagai proses kognitif selalu digunakan dalam kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi dan mengkomunikasian gagasan yang merupakan proses pembelajaran saintifik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Teori Belajar Vigotsky&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Vygotsky menyatakan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta didik bekerja  atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, tetapi tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuan, atau tugas itu berada dalam zone of proximal development, yaitu daerah yang terletak antara tingkat perkembangan anak saat ini, yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu, seperti dikutip Kemdikbud (2013) dari (Nur dan Wikandari, 2000:4). Kemampuan pemecahan masalah tergambar dalam langkah-langkah pembelajaran saintifik yakni mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi dan mengkomunikasikan gagasan. Oleh karena itu teori Vigotsky berkaitan erat dengan pendekatan pembelajaran saintifik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. RENCANA PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan pendekatan pembelajaran saintifik disusun sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 81A lampiran 4 dengan langkah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a. Mengkaji silabus, meliputi kegiatan merumuskan indikator dan rincian kegiatan pembelajaran&lt;br /&gt;
b. Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar. Pada makalah ini penulis mengambil materi pokok Pola Bilangan, Barisan dan Deret Aritmetika.&lt;br /&gt;
c. Menentukan Tujuan Pembelajaran dengan mengacu kepada indikator dan sedikitnya mengandung dua aspek: (1) peserta didik (audience) dan (2) kemampuan (behaviour).&lt;br /&gt;
d. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran, yang terdiri dari Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti dan Kegiatan Penutup. Kegiatan Pendahuluan meliputi kegiatan penyiapan psikis dan fisik peserta didik, mengajukan pertanyaan tentang materi yang sudah dipelajari terkait dengan materi yang akan dipelajari, menyampaikan tujuan pembelajaran dan menyampaikan informasi kegiatan belajar. Sedangkan kegiatan inti meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi/mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Terakhir kegiatan penutup meliputi kegiatan merangkum, refleksi, penguatan dan pemberian tugas serta informasi pembelajaran berikutnya.&lt;br /&gt;
e. Penjabaran Jenis Penilaian, meliputi teknik penilaian, bentuk penilaian, kisi-kisi instrumen penilaian, instrumen penilaian pedoman penskoran.&lt;br /&gt;
f. Menentukan Alokasi Waktu dengan mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan dan tingkat kepentingan KD&lt;br /&gt;
g. Menentukan Sumber Belajar berupa media cetak, narasumber, dan lingkungan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk materi pokok Barisan dan Deret Aritmetika secara lengkap terlampir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. BAHAN  PEMBELAJARAN &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pola bilangan banyak ditemukan pada benda-benda sekitar. Satu di antaranya adalah pola bilangan yang dapat ditemukan pada pola anyaman, seperti gambar berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Barisan dan Deret Aritmetika  &lt;br /&gt;
 Barisan aritmetika adalah susunan bilangan dimana selisih dua suku berurutan tetap&lt;br /&gt;
 Deret aritmetika adalah jumlah suku-suku pada barisan aritmetika&lt;br /&gt;
 Suku ke-n barisan aritmetika ditulis: Un = a + (n-1)b;  dimana a = suku pertama dan b = beda atau selisih dua suku berurutan serta n = banyak suku&lt;br /&gt;
 Jumlah sampai n suku pertama deret aritmetika ditulis:  Sn =  (2a + (n-1)b)&lt;br /&gt;
3. Bahan ajar secara rinci tercantum dalam Lembar Aktivitas Siswa (LAS) sebagaimana terlampir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bell, Frederick H.1981. Teaching and Learning Mathematics (In Secondary Scholl). Iowa,USA: Wm C. Brown Company&lt;br /&gt;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2013. Panduan Penguatan Proses Pembelajaran Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 81A tahun 2013 Lampiran IV tentang Pedoman Umum Pembelajaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardhani, Sri. 2008. Analisis SI dan SKL untuk Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika. Jogyakarta: PPPPTK Matematika&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silahkan download  1. RPP materi terkait    2. Slide Presentasi materi terkait&lt;br /&gt;
</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2014/04/pembelajaran-matematika-saintifik.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-6255973495421431294</guid><pubDate>Wed, 01 Jan 2014 15:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-10-29T15:00:18.571+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pembelajaran</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tugas Kuliah</category><title>MENANAMKAN KARAKTER LEWAT LAGU</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Sebuah Video Pembelajaran Karakter)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Email:&amp;nbsp; marion70@mail.go.id&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pendidikan Karakter sangat mendesak untuk dilakukan dalam proses pembelajaran. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk itu.  &lt;/span&gt;Satu di antaranya adalah menanamkan karakter melalui lagu. Sehubungan dengan ini penulis sebagai praktisi pendidikan di Sekolah Menengah Pertama mencoba berkreasi menanamkan karakter pada siswa yang diasuh dengan menggubah sebuah lagu mars kelas. Dalam hal ini adalah mars kelas IX.3 SMP Negeri 1 Tanjung Raja, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagu ini diadaptasi dari&amp;nbsp; lagu anak-anak yang sudah melegenda, yaitu lagu Menanam Jagung. Maksud adaptasi di sini adalah mengubah syairnya, disesuaikan dengan kebutuhan. Sementara lirik lagu tidak diubah sama sekali. Syair lagu ini berisi ajakan kepada semua warga kelas&amp;nbsp; untuk membiasakan kebiasaan-kebiasaan atau karakter positif dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karakter yang hendak ditanamkan dari lagu ini adalah &lt;b&gt;S&lt;/b&gt;antun, Menjaga &lt;b&gt;M&lt;/b&gt;artabat, &lt;b&gt;A&lt;/b&gt;manah, &lt;b&gt;R&lt;/b&gt;espek (Peduli) dan &lt;b&gt;T&lt;/b&gt;akwa. Karakter-karakter ini merupakan kepanjangan dari akronim "SMART". Smart merupakan motto siswa kelas IX.3 yang penulis asuh. Kelima karakter ini diupayakan senantiasa mewarnai kehidupan siswa kelas IX.3 yang salah satunya ditanamkan lewat lagu mars ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syair lagu Mars IX.3 ini selengkapnya adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayo kawan kita bersama&lt;br /&gt;Jaga martabat di kelas kita&lt;br /&gt;
Sembilan Tiga SMART siswanya&lt;br /&gt;
Sembilan Tiga Kebanggaan kita semua&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Santun, Takwa, Bermartabat&lt;br /&gt;
Menjaga Amanah, dan peduli &lt;br /&gt;
Santun, Takwa, Bermartabat&lt;br /&gt;
Menjaga Amanah, dan peduli&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembilan Tigaa....SMART, Yess !! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="270" src="//www.youtube.com/embed/8ItOXLIE7rw" width="480"&gt;&lt;/iframe&gt;&amp;nbsp; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagu Mars ini silahkan &lt;a href="http://youtu.be/8ItOXLIE7rw"&gt;didownload&lt;/a&gt; digunakan sesuai kebutuhan namun mohon tetap dituliskan sumber aslinya demi memelihara hak cipta untuk berkreatifitas. Semoga bermanfaat. (Marion-2013)</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2014/01/menanamkan-karakter-lewat-lagu.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-8605473035705428540</guid><pubDate>Fri, 20 Dec 2013 19:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-12-26T09:36:42.042+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kurikulum 2013</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tugas Kuliah</category><title> IDENTIFIKASI MASALAH IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 PADA MATERI HIMPUNAN DI SMP NEGERI1 TANJUNG RAJA OGAN ILIR</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;              Oleh  &lt;br /&gt;
Marion (marion.rebai@gmail.com)&lt;br /&gt;
Dewi Pramitha (dewipramitha2013@yahoo.com), &lt;br /&gt;
Emilda Sri Anggun (emilda_srianggun@yahoo.com), &lt;br /&gt;
Hiriza (ichahiriza@yahoo.co.id),  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ABSTRAK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengidentifikasi masalah-masalah implementasi Kurikulum 2013 pada materi Himpunan di SMP Negeri 1 Tanjung Raja Ogan Ilir. Tulisan ini diharapkan bermanfaat bagi siswa, dapat mempersiapkan diri secara mandiri belajar dalam susasana baru yang berbeda dengan suasana belajar di Sekolah Dasar. Sedangkan bagi guru diharapkan dapat menjadi bahan meningkatkan kemampuan melakukan pembelajaran sesuai Kurikulum 2013. Terakhir bagi pembuat kebijakan diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 lebih lanjut. &lt;/span&gt; Hasil identifikasi ditemukan permasalahan-permasalahan sebagai berikut: (1) Kompetensi guru yang belum siap karena belum mengikuti pelatihan sosialisasi Kurikulum 2013; (2) Kesiapan belajar siswa yang memerlukan waktu cukup lama untuk penyesuaian dari kebiasaan mencatat dan menghafal kepada kebiasaan berfikir ilmiah, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar dan membuat jejaring; (3) adanya kesalahan ketik dan adanya hirarki materi yang tidak runtut, untuk itu perlunya revisi sumber belajar dalam hal ini buku pegangan siswa dan guru; (4) belum siapnya guru dan siswa melaksanakan proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah seperti yang diamanatkan Kurikulum 2013 dan (5) penilaian belum dilakukan secara komprehensif seperti yang diharapkan pada penilaian otentik. &lt;br /&gt;
Kata Kunci: &lt;i&gt;Kurikulum 2013, Masalah Implementasi &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
Pada tahun ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan terbaru yaitu perubahan kurikulum. Menurut Wahyono (dalam Koran Metropolis,2013) Indonesia telah mengalami pergantian kurikulum sebanyak 11 kali. Mulai dari tahun 1947, 1964, 1968, 1974, 1975, 1984, 1994, 1997, 2004, 2006, dan saat ini 2013. Kemdikbud (2012) menyatakan ada 4 (empat) yang hal yang menjadi alasan perlunya perubahan kurikulum, yaitu (1) adanya fenomena negatif yang mengemuka di Indonesia saat ini, (2) adanya persepsi negatif masyarakat terhadap kurikulum saat ini, (3) tantangan abad 21, dan (4) kompetensi yang harus dimiliki di masa depan. Fenomena negatif yang dimaksud adalah sering terjadinya perkelahian (tawuran) pelajar, semakin meluasnya penyalagunaan narkoba, semakin meratanya korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam ujian dan gejolak masyakat. Sedangkan persepsi negatif masyarakat terhadap kurikulum adalah bahwa kurikulum saat ini terlalu menitikberatkan kepada kemampuan kognitif, beban belajar siswa terlalu berat yang terlihat dari adanya materi yang melamapui kemampuan usia kognitifnya  dan yang sangat penting yaitu kurang bermuatan karakter. Sementara itu tantangan abad 21 berupa globalisasi, masalah lingkungan hidup dimana populasi penduduk dunia sangat besar, pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, Konvergensi ilmu dan teknologi, ekonomi berbasis pengetahuan, kebangkitan industri kreatif dan budaya, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains, mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan  dan posisi Indonesia pada hasil TIMSS dan PISA.  Satu diantara kesimpulan yang diambil pemerintah Indonesia dari alasan-alasan tersebut di atas adalah bahwa Kurikulum yang berlaku saat ini, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tidak dapat mengatasi masalah ada dan tidak dapat diharapkan menjawab tantangan masa depan tersebut di atas. Sehubungan dangan itu, maka Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa memandang perlu melakukan perubahan kurikulum. Kurikulum yang diharapkan tersebut adalah Kurikulum 2013.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia (Kemendikbud, 2013)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 54 tahun 2013, menyatakan Standar Kompetensi Lulusan yang harus dicapai siswa, untuk SMP/MTs yaitu (1) memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya (sikap); (2) memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian (pengetahuan); (3) Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri; (4) mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 64 tahun 2013 tentang Standar Isi, menyatakan bahwa dalam usaha mencapai Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana telah ditetapkan untuk setiap satuan dan jenjang pendidikan, penguasaan kompetensi lulusan dikelompokkan menjadi beberapa Tingkat Kompetensi. Tingkat kompetensi menunjukkan tahapan yang harus dilalui untuk mencapai kompetensi lulusan yang telah ditetapkan dalam Standar Kompetensi Lulusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingkat kompetensi yang harus dicapai oleh siswa kelas VII dan Kelas VIII SMP adalah Tingkat IV.  Tingkat kompetensi yang menyangkut sikap  menunjukkan sikap logis, kritis,analitis, cermat dan teliti, bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah, memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika, memiliki rasa percaya pada daya dan kegunaan matematika, yang terbentuk melalui pengalaman belajar, memiliki sikap terbuka, santun, objektif dalam interaksi kelompok maupun aktivitas sehari-hari, dan  memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan matematika dengan jelas.  Selanjutnya satu di antara Tingkat Kompetensi yang menyangkut muatan materi adalah memahami konsep himpunan dan operasinya serta fungsi dan menyajikan (diagram, tabel, grafik) diajarkan pada kesempatan pertama semester ganjil.  Materi Himpunan ini dalam buku siswa Kurikulum 2013 meliputi (1) Menemukan konsep Himpunan (2). Penyajian Himpunan (3). Menemukan Konsep Himpunan Semesta dan Diagram Venn (4). Kardinalitas Himpunan (5). Menemukan Konsep Himpunan Kosong (6). Relasi himpunan: Himpunan Bagian, Himpunan Kuasa dan Kesamaan Dua Himpunan. Selanjutnya pada bagian kedua meliputi (1). Operasi Himpunan (2). Irisan (intersection), (3) Gabungan (Union), (4) Komplemen (Complement) (5). Selisih (Difference) (6). Sifat-sifat Operasi Himpunan dan (7) Penyederhanaan Operasi Himpunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar siswa memahami konsep himpunan dengan benar dan baik, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 65 tentang Standar Proses sangat menyarankan kepada guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan  menggunakan pendekatan  scientifics, yang meliputi kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 66 tahun 2013, penilaian hasil belajar dilakukan dalam bentuk penilaian otentik, penilaian diri, penilaian projek, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian sekolah, dan ujian nasional. Penilaian otentik dilakukan guru secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SMP Negeri 1 Tanjung Raja merupakan satu di antara 6500 sekolah sasaran implementasi Kurikulum 2013. Implementasi Kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Tanjung Raja ditandai dengan dipanggilnya guru-guru yang mengajar kelas VII untuk mengikuti Diklat sosialisasi Kurikulum 2013 yang dimulai pada tanggal 10 sampai dengan 14 Juli 2013. Selanjutnya pada tanggal 15 Juli 2013, Kurikulum 2013 resmi diberlakukan pada sekolah sasaran di seluruh Indonesia khusus kelas VII untuk SMP. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SMP Negeri 1 Tanjung Raja yang terletak di ibukota Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir memiliki rombongan belajar 19 Kelas dengan rincian 7 rombongan kelas VII, 6 rombongan kelas VIII dan 6 rombongan kelas IX dengan jumlah siswa seluruhnya 702 orang. Terdiri dari 42 orang guru, dan 5 orang pegawai, di antaranya 5 orang guru mengajar matematika. Untuk Kelas VII diajar oleh 2 orang guru, yaitu kelas VII.1 sampai dengan VII.5 diajar oleh guru yang belum ikut Diklat Implementasi Kurikulum 2013 dan kelas VII.6 sampai kelas VII.7 diajar oleh guru yang  sudah mengikuti Diklat Implementasi Kurikulum 2013. Siswa kelas VII hampir seluruhnya berasal dari Sekolah Dasar di Tanjung Raja dan sekitarnya dan diterima melalui tes. Dari uraian di atas tersirat bahwa pemerintah terkesan tergesa-gesa memberlakukan Kurikulum 2013. Ini terlihat dari langsung diterapkannya kurikulum 2013 pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 ini,  padahal sebelum dilakukan pergantian kurikulum semestinya perlu dilakukan persiapan–persiapan yang matang  agar pada saat implementasi kurikulum 2013 disekolah dapat membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Tanpa persiapan yang optimal peluangnya kecil untuk memperoleh hasil yang maksimal terutama dalam hal mengubah paradikma guru, sikap, prilaku dan karakter para guru menjadi yang menjadi ujung tombak mewujudkan tujuan pendidikan nasional seperti tersebut di atas yang di antaranya membentuk karakter siswa dan mendorong siswa supaya mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomonikasikan apa yang telah mereka peroleh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERMASALAHAN&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan uraian tersebut di atas, penulis mencoba mengidentifikasi permasalahan-permasalahan apa yang muncul akibat implementasi Kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Tanjung Raja, khususnya pada pembelajaran Matematika materi Himpunan. Dengan demikian masalah yang akan dicari solusinya dari makalah ini adalah: “Apa masalah-masalah implementasi Kurikulum 2013 pada materi Himpunan di SMP Negeri 1 Tanjung Raja Ogan Ilir? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan penulisan makalah ini adalah mengidentifikasi masalah-masalah implementasi Kurikulum 2013 pada materi Himpunan di SMP Negeri 1 Tanjung Raja Ogan Ilir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi siswa, guru maupun bagi pembuat kebijakan. Bagi siswa diharapkan dapat mempersiapkan diri secara mandiri belajar dalam susasana baru yang berbeda dengan suasana belajar di Sekolah Dasar. Sedangkan bagi guru diharapkan dapat menjadi bahan meningkatkan kemampuan melakukan pembelajaran sesuai Kurikulum 2013. Terakhir bagi pembuat kebijakan diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 lebih lanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEMBAHASAN&lt;br /&gt;
Berdasarkan hasil pantauan penulis di SMP Negeri 1 Tanjung Raja diperoleh beberapa permasalahan dalam rangka implementasi Kurikulum 2013, khususnya pada pembelajaran materi Himpunan di Kelas VII. Baik itu dari sudut pandang kompetensi guru, kesiapan siswa, sumber belajar, proses pembelajaran dan penilaian, maupun dari sudut pandang muatan materi ajarnya, yaitu Himpunan.  Permasalahan pertama, Kompetensi guru yang mengajar di Kelas VII. Terdapat satu guru yang mengajar di kelas VII.1 sampai kelas VII.5 belum pernah mengikuti Pelatihan atau sosialisasi Kurikulum 2013. Akibatnya pembelajaran yang dilakukan yang bersangkutan cenderung kepada pembelajaran pola lama, yaitu ceramah, tanya jawab dan latihan.  Padahal seharusnya menurut Kurikulum 2013, pembelajaran di kelas sangat disarankan menggunakan pendekatan ilmiah (scientifics). Menurut hasil wawancara penulis dengan yang bersangkutan, beliau sudah membaca dan bertanya kepada guru-guru yang mengikuti Pelatihan Sosialisasi Kurikulum 2013, namunn beliau mengakui belum memahami sepenuhnya pendekatan yang bagaimana seharusnya yang dimaksudkan dengan pendekatan ilmiah tersebut. Bukan karena tidak menerima penerapan Kurikulum 2013. Pada awal pertemuan sudah diusahakan menggunakan pendekatan ilmiah yang disarankan Kurikulum 2013, namun siswa terlihat kebingungan. Oleh karena itu, sebagai guru senior yang sudah berpengalaman,  pengalaman yang bersangkutan mengajarkan bahwa bila anak terlihat bingung dengan pendekatan yang digunakan, maka tidak ada salahnya  menggunakan  pendekatan lain yang lebih sesuai sehingga siswa dapat memahami apa yang diajarkan. Bila dengan cara lama siswa sudah cukup mengerti, mengapa tidak digunakan. Sementara itu, guru yang mengajar di Kelas VII.6 dan VII.7 merupakan guru honor, namun sudah mengikuti pelatihan sosialisasi Kurikulum 2013 pada bulan Juli 2013 yang lalu. Sesuai dengan amanat hasil pelatihan, yang bersangkutan berupaya menerapkan pendekatan ilmiah dalam proses pembelajaran. Hasil wawancara dengan yang bersangkutan diperoleh informasi bahwa pendekatan yang digunakan terlalu banyak waktu yang dihabiskan karena siswa masih kebingungan terutama diminta menyimpulkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, Kesiapan Siswa Belajar. Siswa kelas VII adalah siswa yang baru saja meninggalkan bangku Sekolah Dasar. Di Sekolah Dasar, sebagian besar guru menekankan pada siswa untuk mencatat dan menghafal dengan alasan menurut taksonomi Bloom siswa usia Sekolah Dasar baru mampu ke tingkat kognitif mengetahui dan memahami saja. Ketika di SMP, kebiasaan mencatat dan menghafal masih melekat pada siswa. Siswa tidak terbiasa dengan soal-soal yang membutuhkan penalaran. Sebagai gambaran ketika penulis meminta kesulitan apa yang dialami dalam belajar himpunan, hampir separuh siswa menulis bahwa siswa kesulitan menyelesaikan soal cerita, seperti gambar 1 berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_g9t3cpUThTMUd2L2xutDW_3vJy1hTHH1dnBSBLNvz1wPcVip88xzYqE1UXyJwiNsIIicLlsZ59SRllcOy8mvj-yUaxcFCQakBQIhW7oox6hBCSnbaHZIy4pw_eu4OGHAI5gkv8mSCgVg/s1600/Slide1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_g9t3cpUThTMUd2L2xutDW_3vJy1hTHH1dnBSBLNvz1wPcVip88xzYqE1UXyJwiNsIIicLlsZ59SRllcOy8mvj-yUaxcFCQakBQIhW7oox6hBCSnbaHZIy4pw_eu4OGHAI5gkv8mSCgVg/s320/Slide1.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Gambar 1. Siswa kesulitan memahami soal cerita&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah menghendaki siswa agar terbiasa mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membuat jejaring semua mata pelajaran. Dengan demikian ada kesenjangan mendasar antara kesiapan siswa dengan pendekatan ilmiah pada Kurikulum 2013. Artinya penerapan Kurikulum 2013 membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membuahkan hasil. Mengubah kebiasaan, adalah hal yang tidak mudah dan membutuhkan kesabaran dan waktu yang cukup. Dengan demikian kesiapan belajar siswa, dalam hal ini pola fikir dan kebiasaan siswa, perlu dicermati dan difahami terlebih dahulu sebelum menerapkan pendekatan ilmiah yang diamanatkan Kurikulum 2013. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, permasalahan Sumber Belajar. Sumber belajar di sini dibatasi pada buku pegangan siswa dan guru. Pemerintah telah menyediakan buku untuk pegangan siswa dan buku pegangan guru sebagai buku Babon Kurikulum 2013. Penyediaan satu-satunya buku pegangan siswa dalam pembelajaran menjadi sorotan serius para ahli betapa Kurikulum 2013 sangat bagus untuk membangun produktifitas siswa, kreatifitas siswa, inovatif dan afektif siswa, namun pada implementasinya justru kreatifitas dan inovatifitas siswa dipasung dengan disediakannya buku wajib bagi siswa dan guru ini. Artinya bila guru dan siswa benar-benar diwajibkan menggunakan buku pegangan ini dalam pembelajaran, maka bagaimana guru dapat menumbuhkan kreatifitas siswa misalnya. Berbeda halnya bila hal itu tidak wajib, maka guru leluasa berkreasi membelajarkan siswa menggunakan berbagai buku sumber. Guru yang kreatif biasanya menginspirasi siswa menjadi kreatif. kreativitas guru dalam pembelajaran dapat memberikan pengaruh positif terhadap prestasi belajar demikian kesimpulan Astutiningsih (2012). Permasalahan lain adalah konten buku pegangan ini. Hasil wawancara dengan guru kelas VII SMP Negeri 1 Tanjung Raja diperoleh informasi bahwa isi buku membingungkan siswa dan guru. Hirarki pengetahuan yang terdapat di dalamnya tidak runtut. Misalnya pada halaman 6 buku siswa, ketika menyimpulkan masalah 1.1, penulis buku menyebutkan ‘himpunan semesta’, padahal arah pembicaraan seharusnya mengarah ke definisi himpunan. Himpunan semesta baru dibahas pada sub judul berikutnya. Lihat gambar 2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjymYsBa6tlQMOaGvwwUvz7KoB4PeoHyjoF_2glk2ZXC4GMueu177MQCwRYCrqlSAzooSfoGBnnf7yJC6avtsmx5xmISCG3P6Ey5XZb2E0RuT8ZGmJMEGCc-ImAgxKOk-UjgFdWYI5hLmsE/s1600/Slide2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjymYsBa6tlQMOaGvwwUvz7KoB4PeoHyjoF_2glk2ZXC4GMueu177MQCwRYCrqlSAzooSfoGBnnf7yJC6avtsmx5xmISCG3P6Ey5XZb2E0RuT8ZGmJMEGCc-ImAgxKOk-UjgFdWYI5hLmsE/s320/Slide2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Gambar 2. Kesimpulan yang membingungkan siswa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah kecil lain namun cukup mengganggu bagi siswa adalah kesalahan pengetikan, seperti pada halaman 15 tertulis ‘5. Menemukan Konsep Himpunan Semesta’, seharusnya ditulis ‘5.Menemukan Konsep Himpunan Kosong’, karena di bawah sub judul tersebut dibahas konsep himpunan kosong. Lihat gambar 3.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghPM7gmjhtEV7rAsgTXrkPEkvhlJndeYln275Y-CADJgj-7j8viklDz0SdUvKfOQX5b5SBHKEcvMfo9CvSh160v-NQvtiQuw3d00N5eokoBcp5KDucHttlOVNKWxDO8HKD2LaSL1tMniMn/s1600/Slide3.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghPM7gmjhtEV7rAsgTXrkPEkvhlJndeYln275Y-CADJgj-7j8viklDz0SdUvKfOQX5b5SBHKEcvMfo9CvSh160v-NQvtiQuw3d00N5eokoBcp5KDucHttlOVNKWxDO8HKD2LaSL1tMniMn/s320/Slide3.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Gambar 3. Kesalahan subjudul yang cukup mengganggu pemahaman siswa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat, proses pembelajaran. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses, proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 sangat menyarankan proses pemelajaran yang menyentuh ketiga ranah kompetensi siswa, yaitu ranah pengetahuan (kognitif), ranah sikap (afektif) dan ranah keterampilan (psikomotor). Ranah kognitif (Pengetahuan) diperoleh melalui aktivitas“ mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta. Ranah Sikap diperoleh melalui aktivitas“ menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Sedangkan ranah Keterampilan diperoleh melalui aktivitas“ mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Pendekatan pembelajaran untuk itu adalah pendekatan ilmiah (scientifics), pembelajaran berbasis penelitian (inquiry learning) dan pembelajaran berbasis masalah (project based learning). Sesuai dengan uraian terdahulu, proses pembelajaran di kelas VII SMP Negeri 1 Tanjung Raja belum sepenuhnya menerapkan proses pembelajaran sesuai Kurikulum 2013. Hasil wawancara dengan guru kelas VII diperoleh informasi bahwa materi yang harus diajarkan terlalu banyak. Jika menerapkan seluruhnya proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah maka dikhawatirkan materi tidak dapat disampaikan seluruhnya. Hal ini disebabkan karena siswa dan guru belum siap secara mental menerapakan Kurikulum 2013, walaupun sudah mengikuti pelatihan sosialisasi kurikulum. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelima, penilaian. Penilaian di kelas VII SMP Negeri 1 Tanjung Raja secara tertulis belum dilakukan komprehensif sebagaimana yang disarankan dalam penilaian otentik pada Kurikulum 2013. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian menyebutkan penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah. Penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran.  Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sedangkan penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya pada sikap/perilaku dan keterampilan. Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik. Ujian Tingkat Kompetensi yang selanjutnya disebut UTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengetahui pencapaian tingkat  kompetensi. Cakupan UTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut. Sebenarnya penilaian yang dilakukan guru kelas VII di SMP Negeri 1 Tanjung Raja tersirat sudah komprehensif, hanya saja secara administratif belum ada bukti tertulis adanya penilaian ranah afektif misalnya, karena memang tidak diminta dan lagi pula sangat rumit seperti yang pernah diterapkan pada awal penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.  Permasalahan-permasalahan di atas tidak seharusnya muncul bila penerapan Kurikulum 2013 dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang. Jauh dari kesan tergesa-gesa atau hanya mengejar target proyek. Tidak ada perubahan yang permanen yang dapat dilakukan secara cepat. Namun begitu kita tetap mencoba memperbaikinya secara bertahap, sebab tidak ada kata surut untuk nasib generasi bangsa di masa depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENUTUP&lt;br /&gt;
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa permasalahan yang muncul pada implementasi Kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Tanjung Raja khususnya pada pembelajaran materi himpunan, yaitu di antaranya: (1) Kompetensi guru yang belum siap karena belum mengikuti pelatihan sosialisasi Kurikulum 2013; (2) Kesiapan belajar siswa yang memerlukan waktu cukup lama untuk penyesuaian dari kebiasaan mencatat dan menghafal kepada kebiasaan berfikir ilmiah, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar dan membuat jejaring; (3) adanya kesalahan ketik dan adanya hirarki materi yang tidak runtut, untuk itu perlunya revisi sumber belajar dalam hal ini buku pegangan siswa dan guru; (4) belum siapnya guru dan siswa melaksanakan proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah seperti yang diamanatkan Kurikulum 2013 dan (5) penilaian belum dilakukan secara komprehensif seperti yang diharapkan pada penilaian otentik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai saran kepada siswa untuk terus-menerus dianjurkan membaca sumber belajar lain selain buku pegangan siswa dan bagi guru untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kemapuannya dalam melaksanakan pembelajaran sesuai tuntutan Kurikulum 2013. Terakhir bagi pembuat kebijakan kiranya temuan-temuan yang diuraikan di atas dapat menjadi bahan pertimbangan untuk perbaikan dan penyempurnaan Kurikulum 2013 di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
Astutiningsih, Widia. 2012. Pengaruh Kreativitas Guru dalam PembelajaranTerhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri 2 Ngulakan Karangsari Pengasih Kulon Progo TahunAjaran 2011/2012. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta&lt;br /&gt;
Kemdikbud RI. 2013. Matematika SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Politeknik Negeri Media Kreatif.&lt;br /&gt;
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 64 tahun 2013 tentang Standar Isi&lt;br /&gt;
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses&lt;br /&gt;
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian&lt;br /&gt;
</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2013/12/identifikasi-masalah-implementasi.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_g9t3cpUThTMUd2L2xutDW_3vJy1hTHH1dnBSBLNvz1wPcVip88xzYqE1UXyJwiNsIIicLlsZ59SRllcOy8mvj-yUaxcFCQakBQIhW7oox6hBCSnbaHZIy4pw_eu4OGHAI5gkv8mSCgVg/s72-c/Slide1.JPG" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-5095408706981863756</guid><pubDate>Fri, 20 Dec 2013 15:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-12-21T07:31:51.942+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Download</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kurikulum 2013</category><title>SEPUTAR KURIKULUM 2013</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru yang diimplementasikan pemerintah sebagai pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dianggap tidak cukup untuk menjawab tuntutan kemajuan zaman.&lt;/span&gt; Kurikulum 2013 yang baru diujicobakan pada beberapa sekolah dengan jumlah terbatas ini rencananya akan diberlakukan secara penuh pada tahun 2015 mendatang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan itu, untuk menyambut pemberlakukan Kurikulum 2013 tersebut, kita sebagai guru tidaklah salah untuk bersiap-siap. Setidak-tidaknya tahu walau sepintas 'makhluk' apakah Kurikulum 2013 itu? Bagi rekan-rekan guru khususnya guru SMP yang membutuhkan informasi seputas Kurikulum 2013, silahkan download link-link berikut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Regulasi tentang Kurikulum 2013&lt;br /&gt;
1. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/hniUgqBc/PP_NO_32_2013.html"&gt;Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/oQAw8ZOb/01_A_Salinan_Permendikbud_No_5.html"&gt;Peraturan mendikbud nomor 54 tahun 2013 tentang Stnadar Kompetensi Lulusan&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.4shared.com/office/Rz1TIPoB/01_B_Salinan_Lampiran_Permendi.html"&gt;Lampiran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
3. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/BXJbYGdp/03_A_Salinan_Permendikbud_No_6.html"&gt;Permendikbud nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.4shared.com/office/0YibibWs/03_B_Salinan_Lampiran_Permendi.html"&gt;Lampiran.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
4. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/qPMLLijk/04_A_Salinan_Permendikbud_No_6.html"&gt;Permendikbud nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.4shared.com/office/wCT0r6mL/04_B_Salinan_Lampiran_Permendi.html"&gt;Lampiran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
5. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/qUHFuR31/05_A_Salinan_Permendikbud_No_6.html"&gt;Permendikbud nomor 67 tahun 2013 tentang Struktur Kurikulum SD/MI&lt;/a&gt; dan Lampiran&lt;br /&gt;
6. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/diYiy_X2/06_A_Salinan_Permendikbud_No_6.html"&gt;Permendikbud nomor 68 tahun 2013 tentang Struktur Kurikulum SMP/MMTs&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.4shared.com/office/bWSSb6kH/06_B_Salinan_Lampiran_Permendi.html"&gt;Lampiran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
7. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/4pftcGub/07_A_Salinan_Permendikbud_No_6.html"&gt;Permendikbud nomor 69 tahun 2013 tentang Struktur Kurikulum SMA/MA&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.4shared.com/office/jGd8MZE6/07_B_Salinan_Lampiran_Permendi.html"&gt;Lampiran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
8. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/Q9SDNjNA/08-Permendikbud-Nomor-70-ttg-K.html"&gt;Permendikbud nomor 70 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Strukutur Kurikulum SMK/MAK&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
9. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/YJN5ai-a/09_Permendikbud_Nomor_71_tahun.html"&gt;Permendikbud nomor 71 tahun 2013 tentang Buku Teks Layak&lt;/a&gt; dan Lampiran&lt;br /&gt;
10. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/8lTqIntz/permendikbud-nomor-81a-tahun-2.html"&gt;Permendikbud nomor 81a tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/tVDsVPJC/lampiran_permen_81a.html"&gt;Lampiran&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;
11. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/Wf_EX76-/02_B_Salinan_Lampiran_Permendi.html"&gt;Permendikbud nomor 64 tahun 2013 tentang Standar Isi&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.4shared.com/office/Wf_EX76-02_B_Salinan_Lampiran_Permendi.html"&gt;Lampiran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
12. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/uG_LKMGe/UUSisdiknas_no_20_tahun_2003.html"&gt;Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku Siswa dan Guru&lt;br /&gt;
1. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/zENAV5zE/7_MATEMATIKA_BUKU_SISWA.html"&gt;Buku Matematika Siswa Kelas 7&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. Buku Matematika Siswa Kelas 10&lt;br /&gt;
3. Buku Matematika Pegangan Guru Kelas 7&lt;br /&gt;
4. Buku Matematika Pegangan Guru Kelas 10&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RPP dan Silabus untuk SMP&lt;br /&gt;
1. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/k8--49uF/RPP_2013.html"&gt;Contoh RPP untuk SMP semua mapel&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. Silbaus Matematika SMP kelas 7&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi Penunjang:&lt;br /&gt;
1.&lt;a href="http://www.4shared.com/office/k-b7M-ZQ/PANDUAN_PEMBELAJARAN.html"&gt;Panduan Pembelajaran SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2.&lt;a href="http://www.4shared.com/office/hiUrxNj3/BOOK_Model_Penilaian.html"&gt;Model Penilaian SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Materi Pelatihan:&lt;br /&gt;
1. &lt;a href="http://www.4shared.com/file/IKdWL_M9/Isi_Mat_SMP22_JUNIRevs_28_Juni.html"&gt;Matematika SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2.&lt;a href="http://www.4shared.com/office/E2YUfqlc/1_Isi_SMP_BHS_IND_21062013docx.html"&gt; Bahasa Indonesia SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
3. &lt;a href="http://www.4shared.com/file/VGa2ig9I/SMP_B_INGGRIS.html"&gt;Bahasa Inggris SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
4. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/OEKO3SPo/SMP_IPA.html"&gt;IPA SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
5. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/5BRelSGd/SMP_IPS.html"&gt;IPS SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
6. Prakarya SMP&lt;br /&gt;
7. &lt;a href="http://www.4shared.com/office/ghf7cwEH/SMP_PENJASKES.html"&gt;Penjaskes SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
8. Seni Budaya SMP&lt;br /&gt;
9. &lt;a href="http://www.4shared.com/file/Uz1eq1Wu/SMA_MA_MATEMATIKA.html"&gt;Matematika SMA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
10.&lt;a href="http://www.4shared.com/file/2lpt-Bua/SMA_SEJARAH_INDONESIA.html"&gt;Sejarah SMA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
11.&lt;a href="http://www.4shared.com/office/tJzX2_B-/MATERI_PELATIHAN_KUR_2013_BHS_.html"&gt;Bahasa Indonesia SMA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
12.&lt;a href="http://www.4shared.com/file/ZI4pHLdz/SMK_MATEMATIKA.html"&gt;Matematika SMK&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Materi Presentasi Kurikulum 2013&lt;br /&gt;
1. &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/5yc3o5Cu/smp_matematika.html"&gt;Matematika SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/Qq97heUc/smp_bahasa_indonesia.html"&gt;Bahasa Indonesia SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
3. &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/ZsDqgmtc/smp_bahasa_inggris.html"&gt;Bahasa Inggris SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
4. &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/-JARv_j2/smp_IPA.html"&gt;IPA SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
5. &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/S5Kq3rJE/smp_IPS.html"&gt;IPS SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
6. &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/dM1o_1IG/smp_prakarya.html"&gt;Prakarya SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
7. &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/9pNvBIKN/smp_penjasorkes.html"&gt;Penjaskes SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
8.&lt;a href="http://www.4shared.com/zip/pPwRp-PK/smp_seni_budaya.html"&gt; Seni Budaya SMP&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
9. &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/9tCm8pY_/sma_matematika.html"&gt;Matematika SMA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
10.&lt;a href="http://www.4shared.com/zip/aMD-pSUe/sma_sejarah.html"&gt;Sejarah SMA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
11.&lt;a href="http://www.4shared.com/zip/0b455MnV/sma_bahasa_indonesia.html"&gt;Bahasa Indonesia SMA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
12. &lt;a href="http://www.4shared.com/zip/ff6pDhd4/sd_tematik.html"&gt;Tematik SD&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2013/12/seputar-kurikulum-2013.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-6680519475958358005</guid><pubDate>Sat, 14 Dec 2013 08:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-10-29T14:57:22.171+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">filsafat ilmu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ontologi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tugas Kuliah</category><title>ONTOLOGI</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="false"
  DefSemiHidden="false" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="371"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Normal Indent"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="footnote text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="annotation text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="header"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="footer"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="index heading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="table of figures"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="envelope address"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="envelope return"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="footnote reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="annotation reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="line number"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="page number"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="endnote reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="endnote text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="table of authorities"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="macro"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="toa heading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Bullet"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Number"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Bullet 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Bullet 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Bullet 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Bullet 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Number 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Number 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Number 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Number 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Closing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Signature"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Body Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Body Text Indent"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Continue"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Continue 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Continue 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Continue 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="List Continue 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Message Header"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Salutation"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Date"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Body Text First Indent"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Body Text First Indent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Note Heading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Body Text 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Body Text 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Body Text Indent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Body Text Indent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Block Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Hyperlink"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="FollowedHyperlink"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Document Map"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Plain Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="E-mail Signature"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Top of Form"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Bottom of Form"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Normal (Web)"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Acronym"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Address"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Cite"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Code"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Definition"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Keyboard"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Preformatted"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Sample"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Typewriter"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="HTML Variable"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Normal Table"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="annotation subject"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="No List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Outline List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Outline List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Outline List 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Simple 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Simple 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Simple 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Classic 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Classic 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Classic 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Classic 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Colorful 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Colorful 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Colorful 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Columns 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Columns 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Columns 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Columns 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Columns 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Grid 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Grid 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Grid 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Grid 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Grid 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table List 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table List 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table List 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table List 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table List 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table List 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table 3D effects 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table 3D effects 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table 3D effects 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Contemporary"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Elegant"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Professional"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Subtle 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Subtle 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Web 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Web 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Web 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Balloon Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" UnhideWhenUsed="true"
   Name="Table Theme"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" SemiHidden="true" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" QFormat="true"
   Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" QFormat="true"
   Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" QFormat="true"
   Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" QFormat="true"
   Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" QFormat="true"
   Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" QFormat="true"
   Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" SemiHidden="true"
   UnhideWhenUsed="true" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="41" Name="Plain Table 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="42" Name="Plain Table 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="43" Name="Plain Table 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="44" Name="Plain Table 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="45" Name="Plain Table 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="40" Name="Grid Table Light"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46" Name="Grid Table 1 Light"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="Grid Table 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="Grid Table 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="Grid Table 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="Grid Table 5 Dark"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51" Name="Grid Table 6 Colorful"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52" Name="Grid Table 7 Colorful"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="Grid Table 1 Light Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="Grid Table 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="Grid Table 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="Grid Table 4 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="Grid Table 5 Dark Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="Grid Table 6 Colorful Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="Grid Table 7 Colorful Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="Grid Table 1 Light Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="Grid Table 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="Grid Table 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="Grid Table 4 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="Grid Table 5 Dark Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="Grid Table 6 Colorful Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="Grid Table 7 Colorful Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="Grid Table 1 Light Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="Grid Table 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="Grid Table 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="Grid Table 4 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="Grid Table 5 Dark Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="Grid Table 6 Colorful Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="Grid Table 7 Colorful Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="Grid Table 1 Light Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="Grid Table 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="Grid Table 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="Grid Table 4 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="Grid Table 5 Dark Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="Grid Table 6 Colorful Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="Grid Table 7 Colorful Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="Grid Table 1 Light Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="Grid Table 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="Grid Table 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="Grid Table 4 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="Grid Table 5 Dark Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="Grid Table 6 Colorful Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="Grid Table 7 Colorful Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="Grid Table 1 Light Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="Grid Table 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="Grid Table 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="Grid Table 4 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="Grid Table 5 Dark Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="Grid Table 6 Colorful Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="Grid Table 7 Colorful Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46" Name="List Table 1 Light"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="List Table 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="List Table 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="List Table 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="List Table 5 Dark"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51" Name="List Table 6 Colorful"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52" Name="List Table 7 Colorful"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="List Table 1 Light Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="List Table 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="List Table 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="List Table 4 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="List Table 5 Dark Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="List Table 6 Colorful Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="List Table 7 Colorful Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="List Table 1 Light Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="List Table 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="List Table 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="List Table 4 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="List Table 5 Dark Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="List Table 6 Colorful Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="List Table 7 Colorful Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="List Table 1 Light Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="List Table 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="List Table 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="List Table 4 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="List Table 5 Dark Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="List Table 6 Colorful Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="List Table 7 Colorful Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="List Table 1 Light Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="List Table 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="List Table 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="List Table 4 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="List Table 5 Dark Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="List Table 6 Colorful Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="List Table 7 Colorful Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="List Table 1 Light Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="List Table 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="List Table 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="List Table 4 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="List Table 5 Dark Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="List Table 6 Colorful Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="List Table 7 Colorful Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="46"
   Name="List Table 1 Light Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="47" Name="List Table 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="48" Name="List Table 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="49" Name="List Table 4 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="50" Name="List Table 5 Dark Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="51"
   Name="List Table 6 Colorful Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="52"
   Name="List Table 7 Colorful Accent 6"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0cm;
 mso-para-margin-right:0cm;
 mso-para-margin-bottom:8.0pt;
 mso-para-margin-left:0cm;
 line-height:107%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-fareast-language:EN-US;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Marion, S.Pd., &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Email: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;marion70@mail.go.id&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Filsafat secara etimilogi berasal dari bahasa Arab yaitu “Falsafah”. Kata ini berpadanan dengan kata “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;philos&lt;/i&gt;” berarti cinta dan “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;logos&lt;/i&gt;” berarti kebijaksanaan dalam bahasa &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Yunani.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dengan demikian Filsafat dapat diartikan mencintai kebijaksanaan. Filsuf adalah sebutan untuk orang yang ahli filsafat. S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;eorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sedangkan secara terminologi memiliki arti beragam sesuai kecenderungan pemikiran filsuf yang mengungkapkannya. Dari banyak terminologi pengertian filsafat yang diungkapkan para ahli dapat dijelaskan bahwa filsafat hakikatnya adalah upaya pemikiran manusia untuk mengetahui hakikat atau kebenaran segala sesuatu yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ada tiga cabang utama kajian filsafat, yaitu (1) logika, mengkaji apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah; (2) etika, mengkaji apa yang baik dan apa yang buruk; (3) estetika, mengkaji apa yang indah dan apa yang jelek. Ketiga cabang utama ini selanjutnya berkembang menjadi banyak cabang filsafat, satu di antaranya adalah filsafat ilmu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Filsafat ilmu, menurut Suriasumantri(2007, 33-34) merupakan telaah filsafat yang ingin menjawab tiga kelompok pertanyaan mengenai hakikat ilmu: (1) Kelompok pertanyaan yang sering disebut landasan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ontologis&lt;/i&gt; ilmu pengetahuan, yaitu pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang dikaji oleh ilmu pengetahuan, &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(2) Kelompok pertanyaan yang disebut landasan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;epistemologis&lt;/i&gt; ilmu pengetahuan, yaitu pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana cara mendapatkan ilmu pengetahuan, dan (3) Kelompok pertanyaan yang disebut landasan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;axiologis&lt;/i&gt; pengetahuan, yaitu pertanyaan-pertanyaan seputar untuk apa ilmu pengetahuan tersebut dipergunakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Selanjutnya dalam kajian ini, penulis akan membahas khusus seputar landasan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ontologis&lt;/i&gt; ilmu pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Definisi Ontologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Ontologi merupakan kajian utama filsafat, di samping epistemologi dan axiologi. Istilah ontologi berasal dari bahasa yunani yaitu &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;On/Ontos &lt;/i&gt;= ada, dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Logos &lt;/i&gt;= ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Sedangkan menurut istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ultimate reality &lt;/i&gt;baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak (Bakhtiar, 2004). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Suriasumantri (2007), menulis ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan (a) apakah obyek ilmu yang akan ditelaah? (b) bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan (c) bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Pendapat lain diungkapkan oleh Soetriono dan Hanafie (2007), bahwa ontologi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Dari beberapa pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa ontologi dapat didefinisikan sebagai kajian filsafat tentang hakikat segala sesuatu yang ada, baik kongkrit maupun abstrak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Objek Kajian Ontologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Objek telaahan ontologi secara umum adalah “yang ada”. Yang ada ini dapat diartikan sebagai ada &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika dan ada sesudah kematian maupun sumber segala yang ada, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta dan Pengatur serta Penentu alam semesta. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Hakikat kenyataan atau realitas bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang, yaitu (1) kuantitatif, dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?; dan (2) kualitatif, dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Konsep ontologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Ada lima konsep yang dikembangkan dalam ontologi, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Umum dan tertentu; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Umum (universal) adalah sesuatu yang pada umumnya dimiliki oleh sesuatu sedangkan tertentu (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;particular&lt;/i&gt;) adalah entitas nyata yang terdapat pada ruang dan waktu; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Kesengajaan (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;substance&lt;/i&gt;) dan ketidaksengajaan (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;accident&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Kesengajaan adalah petunjuk yang dapat menggambarkan sebuah obyek sedangkan ketidaksengajaan dalam filsafat adalah atribut yang mungkin atau tidak mungkin dimiliki oleh sebuah obyek&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Abstrak dan kongkrit. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Abstrak adalah obyek yang ”tidak ada” dalam ruang dan waktu tertentu, tetapi ”ada” pada sesuatu yang tertentu, contohnya: ide. Sedangkan kongkrit adalah obyek yang ”ada” pada ruang tertentu dan mempunyai orientasi untuk waktu tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Esensi dan eksistensi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Esensi adalah atribut atau beberapa atribut yang menjadi dasar keberadaan sebuah obyek sedangkan eksistensi adalah kenyataan akan adanya suatu obyek yang dapat dirasakan oleh indera. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Determinisme dan indeterminisme. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Determinisme adalah pandangan bahwa setiap kejadian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian kejadian-kejadian sebelumnya sedangkan indeterminisme merupakan kebalikan determinisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Aspek Ontologis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Aspek ontologis pengembangan ilmu pengetahuan hendaknya diuraikan secara (1) m&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;etodis, yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;enggunakan cara ilmiah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;; (2) s&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;istematis,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;aling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;; (3) k&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;oheren, yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;nsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian yang bertentangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;; (4) r&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;asional, yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;arus berdasar pada kaidah berfikir yang benar (logis)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;; (5) k&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;omprehensif, yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;elihat obyek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang, melainkan secara multidimensional – atau secara keseluruhan (holistik)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;; (6) r&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;adikal, yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;iuraikan sampai akar persoalannya, atau esensinya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;; dan (7) u&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;niversal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;, yaitu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;uatan kebenarannya sampai tingkat umum yang berlaku di mana saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Metode&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; dalam Ontologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Menurut Lorens Bagus (dalam Muhajir, 2001) dalam ontologi terdapat tiga tingkatan abstraksi, yaitu abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metafisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek, sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri semua sesuatu yang sejenis. Terakhir abstraksi metafisik mengetengahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Selanjuntnya Laurens Bagus membedakan ada dua metode pembuktian dalam ontologi, yaitu : pembuktian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a priori&lt;/i&gt; dan pembuktian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a posteriori&lt;/i&gt;. Pembuktian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a priori&lt;/i&gt; disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Contoh : &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(Tt-P)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Badan itu sesuatu yang lahiri &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(S-Tt)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Jadi, badan itu fana’ &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;(S-P)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Sedangkan pembuktian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a posteriori&lt;/i&gt; secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan. Pembuktian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a posterioris&lt;/i&gt; disusun dengan tata silogistik sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Contoh : &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;(Tt-S)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Tt-P)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;(S-P)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Perbedaan tata silogistik pembuktian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a priori&lt;/i&gt; dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a posteriori&lt;/i&gt; terletak pada hubungan term tengah (Tt) dengan predikat dan subyek. Pembuktian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a priori&lt;/i&gt; di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan, sedangkan pembuktian&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a posteriori&lt;/i&gt; di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;danterm tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.&lt;a href="http://www.blogger.com/null" name="_ftnref2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://kecoaxus.tripod.com/filsafat/pengfil.htm#_ftn2" title=""&gt;&lt;span style="mso-bookmark: _ftnref2;"&gt;&lt;span color="windowtext" style="text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-bookmark: _ftnref2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Default"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;7.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Aliran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 107%;"&gt;-Aliran Ontologi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Dalam mempelajari ontologi muncul beberapa pertanyaan yang kemudian melahirkan aliran-aliran dalam filsafat. Dari masing-masing pertanyaan menimbulkan beberapa sudut pandang mengenai ontologi. Pertanyaan itu berupa “Apakah yang ada itu? (What is being?)”, “Bagaimanakah yang ada itu? (How is being?)”, dan “Dimanakah yang ada itu? (What is being?)”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, lahirlah 5 (lima) aliran dalam filsafat, yaitu: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Aliran Monoisme. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu hanya satu, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa ruhani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Plato adalah tokoh filsuf yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini, karena ia menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan yang sebenarnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran yaitu aliran materialisme dan aliran idealisme. Aliran materialisme menganggap bahwa yang asal itu materi bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan Naturalisme. Menurut aliran ini zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Seperti dijelaskan Rapar dalam Soetriono &amp;amp; Hanafie (2007), bahwa materialisme menolak hal-hal yang tidak kelihatan. Bagi mereka, yang ada sesungguhnya adalah keberadaan yang semata-mata bersifat material atau sama sekali tergantung pada material. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air, karena pentingnya bagi kehidupan. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Kemudian Anaximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara, dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat dihitung dan amat halus. Atom-atom itulah yang merupakan asal kejadian alam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Sedangkan aliran idealisme menganggap bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Ditegaskan oleh Rapar dalam Soetriono &amp;amp; Hanafie (2007), bahwa bagi aliran ini, segala sesuatu yang tampak dan terwujud nyata dalam alam indrawi hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya, yang berada di dunia idea.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aliran Dualisme &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aliran dualisme adalah aliran yang memadukan antara dua paham yang saling bertentangan antara materialisme dan idealisme. Menurut aliran ini materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Paham yang serba dua aliran ini berpendapat bahwa di dalam dunia ini selalu dihadapkan pada dua pengertian, yaitu ‘yang ada sebagai potensi’ atau disebut juag materi (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;hule&lt;/i&gt;) dan ‘yang ada secara terwujud’ atau disebut juga bentuk (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;eidos&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aliran Pluralisme &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aliran Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles, yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Sedangkan tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M), yang mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, dan lepas dari akal yang mengenal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aliran Nihilisme &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Aliran &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev pada tahun 1862 di Rusia. Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (485-360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas, yaitu: (1) tidak ada sesuatupun yang eksis, (2) bila sesuatu itu ada, maka ia tidak dapat diketahui, dan (3) sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich Nietzche (1844-1900 M). Dalam pandangannya dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Mata manusia tidak lagi diarahkan pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia di mana ia hidup. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aliran Agnostisisme &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aliran ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata agnostisisme berasal dari bahasa Yunani Agnostos. Dalam bahasa Inggris berpadanan dengan kata &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;unknown &lt;/i&gt;artinya tidak diketahui, tidak dikenal. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Tokoh aliran ini adalah Soren Kierkegaar (1813-1855 M) yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme, yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu orang lain. Selanjutnya ada Martin Heidegger (1889-1976 M), yang mengatakan bahwa satu-satunya yang ada itu ialah manusia, karena hanya manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri dan Jean Paul Sartre (1905-1980 M), yang mengatakan bahwa manusia selalu menyangkal. Hakikat beradanya manusia bukan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;entre&lt;/i&gt; (ada), melainkan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a entre&lt;/i&gt; (akan atau sedang). Jadi, agnostisisme adalah paham pengingkaran/penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakikat benda, baik materi maupun ruhani. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;8.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa simpulan, di antaranya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Ontologi merupakan kajian filsafat ilmu yang membahas tentang hakikat segala sesuatu yang ada, baik kongkrit maupun abstrak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Obyek kajian ontologi adalah hakikat seluruh realitas, baik kuantitas maupun kualitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Konsep Ontologi meliputi (1) Umum dan tertentu, (2) Kesengajaan (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;substance&lt;/i&gt;) dan ketidaksengajaan (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;accident&lt;/i&gt;), (3)&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Abstrak dan kongkrit, &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(4) Esensi dan eksistensi dan (5) Determinisme dan indeterminisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Metode pembuktian dalam Ontologi dibagi dua, yaitu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a priori&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;a posteriori&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aspek ontologis pengembangan ilmu pengetahuan hendaknya diuraikan secara (1) m&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;etodis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;, s&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;istematis,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt; k&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;oheren, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;asional, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;omprehensif&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;, r&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;adikal, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;dan u&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;niversal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 140%; margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;6)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Aliran-aliran Ontologi terdiri dari (1) Monoisme, meliputi materialisme dan idealisme, (2) Dualisme, (3) Pluralisme, (4) Nihilisme dan (5) Agnostosisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 1.0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Bakhtiar, Amsal. 2004. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Filsafat Ilmu&lt;/i&gt;. Jakarta:Raja Grafindo Persada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 1.0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1;"&gt;Muhadjir, Noeng.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;2001. &lt;i&gt;Filsafat Ilmu.&lt;/i&gt; Yogjakarta:Rake Sarasin. &lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Rakhmadanti, Suci.&lt;/span&gt; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;O&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;ntologi, Epistemologi dan Aksiologi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;. Online: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://cacink252.blogspot.com/2013/05/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi.html"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;http://cacink252.blogspot.com/2013/05/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;,&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;diakses pada 27 September 2013&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 1.0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 107%;"&gt;Soetriono &amp;amp; Hanafie. 2007. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Andi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; margin-left: 1cm; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Suriasumantri, Jujun.S. 2007. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer&lt;/i&gt;. Jakarta:Pustaka Sinar Harapan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&amp;nbsp;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2013/12/ontologi.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Palembang, Palembang City, South Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-2.990934 104.75655649999999</georss:point><georss:box>-3.2446485000000003 104.43383299999999 -2.7372195 105.07927999999998</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-3075426294884823267</guid><pubDate>Tue, 18 Jun 2013 01:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-12-20T10:55:34.581+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aplikasi Olah Nilai</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">MS Excell</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengolahan Nilai</category><title>ONS.10n: Aplikasi Pengolah Nilai Hasil Belajar Satu Semester</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Pencapaian tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB II Pasal 3 berbunyi “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan Bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab” tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, di antarnya adalah derasnya arus globalisasi di segala bidang kehidupan. Globalisasi sebagai dampak dari revolusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengakibatkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Perubahan yang paling cepat dirasakan adalah perubahan ekonomi dan pengetahuan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjuntnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat tersebut saat ini sudah tidak bisa ditawar lagi, khusunya dalam dunia pendidikan. Sehubungan dengan itu, Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan kompetensi Guru menyatakan bahwa guru sebagai tenaga profesional, harus mampu mengimbangi laju perubahan tersebut. Sikap yang harus direfleksikan oleh guru di antaranya melalui apresiasi, inovasi, dan kreasi untuk memanfaatkan TIK.  
Satu di antara pemanfatan TIK tersebut adalah pengolahan nilai hasil belajar. Peraturan pemerintah No.20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan dinyatakan bahwa penilaian yang harus diberikan oleh guru meliputi penilaian dari hasil ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Pengolahan nilai hasil belajar ini tentu saja akan menyita waktu jika dilakukan dengan cara manual. Misalnya pengolahan nilai hasil ulangan harian, mulai dari mengoreksi jawaban siswa, menghitung skor sampai kepada analisis hasil belajar untuk bahan remedial dan pengayaan atau analisis butir soal untuk keperluan bank soal. Belum mengolah hasil ulangan-ulangan lainnya, bahkan belum untuk hasil belajar siswa untuk kelas-kelas lainnya. Selanjutnya pada akhir semester, guru kembali disibukkan untuk mengolah nilai hasil belajar untuk keperluan pengisian buku Rapor. Mengingat banyaknya tugas guru ini akhirnya banyak guru mengambil jalan pintas dalam pengolahan nilai hasil belajar, di antaranya pemberian nilai “tembak”, yakni pemberian nilai dengan cara asal tanpa memperhatiakn hasil belajar siswa. Tentu saja akan sangat merugikan siswa. 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, pemanfaatan TIK khususnya aplikasi Microsoft Office Excell dapat dijadikan salah satu jalan keluarnya. Penulis mencoba berinovasi memanfaatkan aplikasi ini dalam mengolah nilai hasil belajar selama satu semester. Dengan aplikasi ini tugas guru menghitung, menganalisis bahkan mengoreksi hasil ulangan dapat digantikan oleh komputer tanpa harus membeli scanner misalnya. Tugas guru hanya memasukkan data jawaban siswa, selanjutnya daftar nilai yang kita inginkan siap dicetak. 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak aplikasi serupa hasil karya guru tersebar di internet, namun kadang-kadang kurang sesuai kebutuhan kita. Misalnya format tabelnya tidak sesuai ketentuan yang diminta atau kita perlu menambah atau mengurangi jumlah siswa namun tak dapat dilakukan. Untuk ini penulis mencoba membuat aplikasi sederhana yang dapat diubah oleh guru sesuai keperluan. Sederhana, karena sesuai dengan keterbatasan pengetahuan dan pemahaman penulis dalam dunia TIK. Aplikasi ini penulis beri nama “ONS.10n”, yaitu singkatan dari Pengolahan Nilai Satu Semester. Tambahan “10n”, hanya sekedar inisial yang merupakan nama panggilan penulis yang dibaca “ion”. Tujuan penambahan “10n” adalah untuk membedakan dengan karya-karya lain yang serupa.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tujuan Pembuatan Karya Inovasi&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membantu guru dalam mengolah nilai hasil belajar selama satu semester, yang pada akhirnya akan membantu tugas administrasi sekolah khususnya dalam pengolahan nilai selama satu semester.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Manfaat pembuatan karya inovasi&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaya inovatif berupa aplikasi pengolahan nilai ini diharapkan bermanfaat:
Bagi siswa,  memotivasi untuk lebih giat belajar karena hasil ulangannya lebih cepat diketahui hasilnya karena sang guru memanfaatkan TIK dalam mengolah nilai, sedangkan bagi Guru, untuk  menambah wawasasan  dan pengalaman guru dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya dalam memanfaatkan MS Excell dalam pengolahan nilai dan bagi sekolah, sebagai sumbangan yang bermanfaat dan berguna  dalam rangka menata administrasi sekolah khususnya dalam pengolahan nilai hasil belajar di SMP Negeri 1 Tanjung Raja.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aplikasi ONS.10n, adalah aplikasi MS Excell untuk mengolah nilai hasil belajar selama masa satu semester yang disetting secara terpadu. Masing-masing jenis blangko penilaian terhubung secara terpadu ke dalam blangko Daftar Nilai. Artinya saat guru mengisi daftar nilai tugas, PR, Analisis Hasil Belajar Ulangan Harian berserta Program Perbaikan dan Pengayaannya, Ulangan Tengah Semester dan Ulangan Semester maka hasil pengolahan nilai-nilai tersebut langsung masuk Daftar Nilai dan diproses menjadi Nilai Rapor. Dengan demikian guru tidak lagi direpotkan dengan koreksian hasil ulangan (khusus Pilihan Ganda) dan pengolahan nilainya seperti menghitung jumlah, rata-rata, jumlah siswa tuntas bahkan menganalisis butir soalnya. Tugas ini sudah digantikan oleh Komputer, sehingga pada akhir semester guru siap mencetak Daftar Nilainya dan dapat mengerjakan pekerjaan lainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aplikasi ini hanya digunakan untuk satu kelas satu mata pelajaran selama satu semester. Untuk kelas lain diperoleh dengan meng-copy aplikasi dan kemudian mengisi kembali sesuai data kelas masing-masing. Jadi ada aplikasi untuk kelas IX.1, aplikasi untuk kelas IX.2, aplikasi kelas IX.3, dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelebihan Aplikasi ONS.10n adalah mudah digunakan, karena menggunakan aplikasi MS Excell yang sudah dikenal umum, mudah difahami, karena menggunakan fungsi-fungsi dasar MS Excell, tidak menggunakan fungsi-fungsi yang rumit seperti macro atau visual basic, terpadu, artinya setiap pekerjaan yang dilakukan seperti mengoreksi hasil ulangan harian, langsung terhubung ke Daftar Nilai tanpa perlu memindahkan data atau menghitung rata-rata dan sebagainya, tidak diproteksi sehingga rumus-rumus fungsi MS Excell yang digunakan dapat dipelajari, diperbaiki dan terbuka untuk dikembangkan sendiri oleh guru pengguna sesuai kebutuhan, gratis, tidak dikomersilkan, artinya setiap guru atau pengguna bebas memilikinya tanpa perlu membayar sepeserpun, Sedangkan kelemahan aplikasi ONS.10n ini di antaranya adalah Tidak diproteksi, sehingga berpotensi terhapus, berubah fungsinya atau tidak berfungsi sama sekali jika digunakan oleh pemula dan belum lengkap dan tidak canggih, karena masih dalam tahap pengembangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi teman-teman guru yang berminat, silahkan &lt;a href="http://www.4shared.com/file/iySR3zjN/ONS10n-FINAL-13.html"&gt;download disini&lt;/a&gt;. Bila sudah mencoba, mohon kritik dan sarannya untuk perbaikan ke depan. Salam sejahtera untuk kita semua...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Marion,2013)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2013/06/ons10n-aplikasi-pengolah-nilai-hasil.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-2936880860118624386</guid><pubDate>Wed, 17 Apr 2013 10:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-06-08T15:06:35.991+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>UN Datang Lagi, Stres Lagi</title><description>Ujian Nasional atau yang disingkat UN untuk tingkat SMA/MA/SMK telah dimulai senin,15/4 yang lalu. Setelah tiga hari berjalan, sungguh mengejutkan berita-berita di media massa betapa pelaksanaan UN masih carut-marut. Beberapa daerah di 11 propinsi masih tertunda pelaksanaannya, karena belum datangnya naskah soal. Tentu saja kejadian ini menambah beban mental bagi siswa yang sudah setahun terakhir stres dan cemas menghadapi UN. Guru-guru, terutama Kepala Sekolah lebih pusing lagi. Melihat hasil Uji Coba sungguh mengkhawatirkan. Hanya 10 siswa dari 200 siswa yang memenuhi standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah. Tak ketinggalan Kepala Dinas Pendidikan, bahkan Kepala Daerah baik tingkat Kabupaten maupun&lt;span class="fullpost"&gt; tingkat Provinsi jauh-jauh hari sudah berpesan kepada para Kepala Sekolah agar berupaya sekuat tenaga jangan sampai banyak siswa di daerahnya tidak lulus.  &lt;/span&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2013/04/un-datang-lagi-stres-lagi.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-801089476855961483</guid><pubDate>Tue, 16 Oct 2012 07:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-10-16T14:28:23.132+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Home</category><title>LOMBA BLOG GURU</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGNXgMmBuYbRuN9ycaDFpGR6eEbNxvyQkHw6jh84lFXq66h5tQsT7tT9byZPOLQ-WhPHgJHLR1r_C7PisoaNmcomGlxgRiLArAcfdpeBfJV7BN9SlgRZ9hNhVaXrL57DEIxdk-LPo9GsqF/s1600/CIMG2560.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGNXgMmBuYbRuN9ycaDFpGR6eEbNxvyQkHw6jh84lFXq66h5tQsT7tT9byZPOLQ-WhPHgJHLR1r_C7PisoaNmcomGlxgRiLArAcfdpeBfJV7BN9SlgRZ9hNhVaXrL57DEIxdk-LPo9GsqF/s320/CIMG2560.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pada hari Selasa, 17 Oktober 2012 diselenggarakan Lomba Blog bagi Guru-guru se- Sumatera Selatan di Balai Tekkom Palembang. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 20 orang guru baik SD, SMP maupun SMA dan SMK berasal dari Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan. Kegiatan dilaksanakan lebih cepat dari yang direncanakan, yaitu dimulai pada hari Senin, 15 Oktober 2012 pukul 19.30 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB. Hal ini mengingat hampir semua peserta sudah hadir sejak pukul 14.00, untuk itu panitia mengambil kebijakan dimajukan dengan pertimbangan kegiatan dapat diselesaikan sebelum pukul 15.00 Selasa. 

&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Di samping kegiatan lomba Blog Guru ini, juga diselenggarakan lomba-lomba lain dalam kerangka Festival E-Pendidikan dan Anugrah Ki Hajar tahun 2012, yaitu:
1. Lomba Media Presentasi Pembelajaran bagi guru
2. Lomba Website Sekolah
3. Lomba Kuis Ki Hajar bagi siswa SD/SMP/SMA?SMK
4. Seminar Pemandfaatan IT untuk Pendidikan
5. Workshop Pusat Sumber Belajar

&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kegiatan-kegiatan tersebut di atas dilaksankan pada waktu bersamaan, bertempat di Balai Tekkom Propinsi Sumatera Selatan.

&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lomba Blog Guru menampilkan blog karya kreatifitas guru baik itu menggunakan Blogspot, WordPress maupun yang lainnya. Melihat beberapa blog yang ditampilkan para guru mengabarkan kepada kita semua bahwa para guru di Sumatera Selatan sangat antusias memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini, khususnya Blog untuk menunjang kegiatan pembelajaran di kelas. Tentu saja ini menunjukkan perkembangan yang positif bagi kemajuan pendidikan kita dan bagi pencerdasan anak bangsa di masa-masa mendatang.


&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Tentu saja pemenang lomba ini adalah yang terbaik menurut juri, namun terlepas dari siapa pun pemenangnya, lomba Blog bagi guru ini perlu terus digalakkan dan ditingkatkan baik tingkat sekolah, tingkat kecamatan, kabuapaten bahkan tingkat nasional. Penulis tidak begitu berharap menang, karena yang menang sejatinya adalah kemenangan semua guru. Yaitu kemenangan dari ketertinggalan, kemenangan untuk terus maju menggapai masa depan gemilang. (Amir Lahati, 2012)
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;


</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2012/10/lomba-blog-guru.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGNXgMmBuYbRuN9ycaDFpGR6eEbNxvyQkHw6jh84lFXq66h5tQsT7tT9byZPOLQ-WhPHgJHLR1r_C7PisoaNmcomGlxgRiLArAcfdpeBfJV7BN9SlgRZ9hNhVaXrL57DEIxdk-LPo9GsqF/s72-c/CIMG2560.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-5195468727127193590</guid><pubDate>Sun, 14 Oct 2012 15:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-10-14T22:12:04.891+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Home</category><title>Daftar Isi</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="overflow:auto; border: 1px solid #000000; margin: auto; padding: 3px; width: 100%; height: 500px; background-color: none; text-align: left;"&gt; &lt;script src="http://sitemap-kiosbisnis.googlecode.com/files/KiosBisnislabel2.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;script src="http://www.marion-rebai.blogspot.com/feeds/posts/default?max-results=999&amp;amp;alt=json-in-script&amp;amp;callback=loadtoc"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2012/10/blog-post_14.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-7264977049231657893</guid><pubDate>Sun, 14 Oct 2012 08:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-10-14T16:01:30.369+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Home</category><title>Selamat Datang, Saudaraku !</title><description>Terima kasih telah berkunjung.&lt;br /&gt;
Dalam Blog ini ada beberapa Menu yang dapat kutawarkan, dengan harapan bermanfaat&lt;br /&gt;
bagi kita semua.&amp;nbsp; Isi blog ini adalah seputar kegiatan penulis sebagai guru Matematika di sebuah&lt;br /&gt;
SMP di pedalaman Sumatera Selatan, meliputi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Artikel, &lt;/b&gt;berupa tulisan-tulisan hasil &lt;a href="http://marion-rebai.blogspot.com/Artikel"&gt;penelitian tindakan kelas&lt;/a&gt; yang pernah penulis lakukan, dan artikel&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; ilmiah lainnya. Silahkan didownload jika membutuhkan dengan tetap mencantumkan sumber&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; aslinya&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Matematika, &lt;/b&gt;berupa tulisan-tulisan seputar rekreasi matematika baik karya sendiri maupun karya pihak&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; lain yang penulis anggap penting untuk disebarluaskan, materi matematika SMP, bank soal lomba&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; matematika dan olimpiade matematika, bank soal Ujian Nasional dan&amp;nbsp; tokoh matematika, dan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; lain-lain&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Senandung, &lt;/b&gt;berupa kumpulan &lt;a href="http://marion-rebai.blogspot.com/Senandung"&gt;puisi&lt;/a&gt; karya penulis, kumpulan lagu, pantun dan lain-lain&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4.Pembelajaran, &lt;/b&gt;berupa tulisan seputar kegiatan pembelajaran yang penulis alami atau melihat pembelajaran&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; orang lain, berupa kisah-kisah yang patut menjadi pembelajaran hidup, cerita hiburan dan novel&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mohon komentarnya, baik atau buruk, semoga bermanfaat untuk perbaikan bagi penulis ke depan.&lt;br /&gt;
Selamat membaca!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wassalam&lt;br /&gt;
Marion Reba'i&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2012/10/selamat-datang-saudaraku.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-6710258445900375127</guid><pubDate>Sat, 13 Oct 2012 18:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-10-14T16:13:56.903+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR  MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN  PROBLEM POSING </title><description>OLEH&lt;br /&gt;
MARION, S.Pd.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A B S T R A K&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penelitian ini berjudul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II.4 SMP Negeri 1 Tanjung Raja Tahun Pelajaran 2004/2005 Melalui Pendekatan Problem Posing”, dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian dilakukan dalam tiga siklus, menghasilkan rata-rata nilai ulangan harian pada siklus I 6,38 meningkat menjadi 7,14 pada siklus II dan 7,57 pada siklus III. Sebagai pendukung dianalisis 77 soal buatan siswa. Tiga soal diantaranya merupakan soal matematika yang tidak dapat diselesaikan, dengan&amp;nbsp; struktur sintaksis berupa proposisi pengandaian sebanyak 13 soal dan sisanya merupakan proposisi tugas. Sedangkan dipandang dari struktur semantik soal, 61 soal di antaranya memiliki tingkat hubungan-0, 13 soal memiliki tingkat hubungan-1 dan 2 soal merupakan soal yang lebih kompleks memiliki tingkat hubungan-2. Dari hasil analisis soal buatan siswa ini dapat dikatakan pemahaman siswa secara bertahap semakin meningkat, yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajarnya.&amp;nbsp; Secara umum penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing berdampak positif bagi peningkatan&amp;nbsp; prestasi siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;Kata Kunci&lt;/u&gt;: &lt;i&gt;Prestasi Belajar, Problem Posing&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Prestasi belajar matematika di SMP Negeri 1 Tanjung Raja, khususnya kelas II.4 yang penulis asuh, masih jauh dari harapan. Hasil ulangan harian menunjukkan nilai rata-rata hanya 6,43 dengan 19 orang yang saja ( 51,4 %) yang dapat dianggap tuntas secara individual. Berdasarkan teori ketuntasan belajar klasikal angka tersebut masih jauh dari angka 85 % yang merupakan patokan standar nasional (Depdikbud,1989). Sebagai kelas unggulan, tentu saja hasil tersebut&amp;nbsp; mengecewakan.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bila&amp;nbsp; dianalisis lebih jauh, nilai&amp;nbsp; tersebut menghasilkan angka baku (standar deviasi) sebesar 2,44.&amp;nbsp; Angka yang cukup&amp;nbsp; untuk menjelaskan besarnya kesenjangan antara siswa yang mampu dan siswa yang tidak mampu. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dari pengamatan sepintas dan pengalaman penulis satu di antara&amp;nbsp; penyebab kondisi memprihatinkan&amp;nbsp; di atas adalah rendahnya pemahaman siswa terhadap pelajaran matematika yang terlihat dari rendahnya prestasi belajar siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH&lt;br /&gt;Apakah Pendekatan pembelajaran Problem Posing&amp;nbsp; dapat meningkatkan prestasi&amp;nbsp; belajar matematika siswa kelas II.4 SMP Negeri 1 Tanjung Raja Tahun 2004/2005 ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Menurut pengertian bahasa, problem posing merupakanmerupakan istilah dalam bahsa Inggris yang artinya pembentukan soal atau pembentukan masalah yang mencakup dua kegiatan, (1) pembentukan soal baru dari pengalaman siswa dan (2) pembentukan soal dari soal yang ada.&lt;br /&gt;Menurut As’ari (2000), problem posing merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada adanya kegiatan perumusan soal sendiri oleh siswa, menyelesaikan jawaban dan bertukar menyelesaikan soal buatan teman yang lain. Sedangkan NCTM (Asosiasi guru-guru Matematika Amerika Serikat) menyatakan, “Problem posing is the heart of mathematics”.&lt;br /&gt;Hudoyo dan Hashimoto (dalam As’ari, 1999) menegaskan bahwa siswa harus diberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk mengalami membuat soal sendiri (problem posing). Dengan membuat soal sendiri, siswa senantiasa mengkonstruksi pemahaman baru. Pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan seringkali menjadi pemicu terbentuknya pemahaman yang lebih mantap pada diri seseorang dan menimbulkan dampak positif terhadap kemampuan siswa dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Silver dan Cai (dalam As’ari, 1999) mengelompokkan soal yang dibuat siswa menjadi 3 kelompok, yaitu (1) pertanyaan matematika, (2) pertanyaan nonmatematika, (3) pernyataan. Pertanyaan matematika ada yang dapat diselesaikan dan ada yang tidak dapat diselesaikan&lt;br /&gt;Silver dan Cai (dalam As’ari, 1999) mengklasifikasikan strukutur&amp;nbsp; sintaksis&amp;nbsp;&amp;nbsp; soal yang dibuat siswa menjadi&amp;nbsp; 3 kelompok, yaitu proposisi tugas, proposisi hubungan dan proposisi pengandaian. Proposisi tugas adalah pertanyaan yang mengandung tugas untuk diselesaikan. Contoh “berapa luas segitiga samasisi yang panjang sisi-sisinya 25 cm?”. Proposisi hubungan adalah pertanyaannnya mengandung tugas untuk membandingkan. Contoh”Berapa cm2 lebihnya luas segitiga ABC dengan luas segitiga PQR?”. Sedangkan proposisi pengandaian merupakan pertanyaan yang menggunakan informasi tambahan yang tidak terdapat dalam situasi yang diberikan. Contoh “Jika luas segitiga A 12 cm2 dan perbandingan sisi segitiga A dan B adalah 5 banding 4, berapakah luas segitiga B?”&lt;br /&gt;Struktur semantik soal&amp;nbsp;&amp;nbsp; terbagi dalam 5 kategori, yaitu mengubah, mengelompokkan, menyatakan kembali dan memvariasikan. Bila sebuah soal merupakan pertanyaan matematika yang dapat dijawab langsung dari informasi yang ada, maka tingkat kesukaran soal tersebut memiliki hubungan-0. Bila soal merupakan pertanyaan matematika yang tidak dapat dijawab langsung dan mengandung satu unsur semantik, maka tingkat kesukaran soal memiliki hubungan-1 dan bila merupakan pertanyaan matematika tidak dapat dijawab langsung dan mengandung dua unsur semantik, maka tingkat kesukaran soal memiliki hubungan-2, dan seterusnya(Marshal dalam Silver dan Cai seperti dikutip oleh As’ari, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKLUS&amp;nbsp; I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tindakan penelitian pada siklus I dilakukan setelah selesai pokok bahasan Teorema Pythagoras, yaitu dengan meminta siswa secara berkelompok membuat satu buah soal berdasarkan cerita/prakondisi yang diberikan dan selanjutnya menuliskan jawabannya. Tiap kelompok menghasilkan satu buah soal.&amp;nbsp; Selanjutnya soal-soal ditukar untuk dikerjakan oleh kelompok lain. Soal-soal&amp;nbsp; buatan siswa selanjutnya dianalisis oleh guru peneliti. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dari 9 kelompok siswa diperoleh 5 soal&amp;nbsp; yang semuanya merupakan jenis soal matematika yang dapat diselesaikan. Ini menunjukkan siswa cukup memahami materi yang dipelajari, Tidak ada satu pun kelompok membuat soal matematika yang tidak dapat diselesaikan atau yang bukan soal matematika serta pernyataan. Selanjutnya struktur sintaksis soal semuanya merupakan proposisi tugas, yaitu soal yang memanfaatkan&amp;nbsp; informasi yang ada. Tidak ada pengandaian dan perbandingan.&amp;nbsp; Sedangkan struktur semantic soal, 2 soal memiliki tingkat kesukaran hubungan-1 dan sisanya memiliki tingkat kesukaran hubungan-0. Atau 40 % soal memiliki kesukaran yang&amp;nbsp; lebih tinggi dan 60 % sisanya soal-soal yang cukup mudah untuk diselesaikan.&lt;br /&gt;Dari hasil ulangan harian pada siklus pertama ini diperoleh rata-rata kelas 6,38 dengan 62,2 % siswa tuntas. Jika dibanding dengan nilai rata-rata sebelum penelitian,mengalami penurunan sebesar 0,15, yaitu 6,43, namun jumlah siswa tuntas meningkat dari sebelumnya hanya 51,4 %.&amp;nbsp; Berdasarkan hasil pengamatan kolaborator, penurunan nilai tersebut disebabkan beberapa faktor antara lain pendekatan problem posing masih asing bagi siswa, adanya kehadiran guru pengamat, dan disiplin serta manajemen waktu yang sedikit meningkat. Ini mengakibatkan suasana kelas masih terasa kaku.&lt;br /&gt;Dari&amp;nbsp; pengamatan dan hasil penelitian pada siklus I di atas, tujuan pemelitian belum tercapai, karena banyak kelemahan-kelemahan yang harus diperbaiki, di antaranya (1) suasana kelas masih kaku, belum ada&amp;nbsp; siswa yang bertanya atau mengajukan pendapat bila diberi kesempatan,(2) metode penyampaian materi menggunakan pengajaran lansung terasa jenuh bagi siswa,(3) tidak dapat mengukur kemampuan siswa menyusun soal secara individual, karena tugas diberikan secara kelompok. Untuk memperbaiki ini penelitian diteruskan pada siklus kedua.&lt;br /&gt;SIKLUS II &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas penyusunan&amp;nbsp; soal pada siklus ini diberikan perorangan dan proses pembelajaran dilakukan menggunakan metode tidak langsung, yaitu menggunakan metode cooperative learning jenis jigsaw. Maksud penggunaan metode ini guna memberikan variasi pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh.&lt;br /&gt;Dari 37 siswa diperoleh 14 soal&amp;nbsp; jenis soal matematika yang dapat diselesaikan dan 2 soal matematika yang tidak dapat diselesaikan. Struktur sintaksis soal semuanya merupakan proposisi tugas. 13 soal memiliki struktur semantic dengan tingkat hubungan-0 dan 1 soal memiliki tingkat hubungan-1. Hal ini menunjukkan 1 siswa sudah berani mengembangkan informasi yang ada untuk melahirkan soal dengan tingkat kesukaran lebih tinggi.&lt;br /&gt;Nilai rata-rata ulangan harian pada siklus ini mengalami peningkatan menjadi 71,4 dengan 59,5 % siswa tuntas. Terlihat ada penurunan kuantitas ketuntasan. Ini dapat dipahami karena pembelajaran pada siklus ini menggunakan metode pembelajaran cooperative learning jenis jigsaw yang&amp;nbsp; membutuhkan kemampuan dasar untuk memahami&amp;nbsp; informasi yang tersirat pada lembar kerja. Beberapa siswa tidak memenuhi syarat ini. Di samping itu ada juga siswa yang tidak dapat melaksanakan instruksi pada LKS, karena kemampuan dasar untuk itu tidak dimiliki. Misalnya siswa diminta mengukur sudut menggunakan busur derajat, namun siswa tersebut belum mengerti menggunakan bususr derajat. Hal-hal tersebut menyebabkan siswa tidak dapat berpartisipasi secara maksimal dalam kelompoknya. Kelemahan ini mempersulit siswa menyusun soal dalam kegiatan problem posing, sehingga wajar bila terjadi penurunan ketuntasan. &lt;br /&gt;Sebaliknya bagi beberapa siswa justru pembelajaran menggunakan metode ini mencairkan kejenuhan karena monotonnya pembelajaran sebelumnya. Mereka menjadi bersemangat memahami pelajaran dari sumber yang berbeda, yang digali oleh mereka sendiri. Dengan demikian pemahaman siswa lebih mantap sehingga pada akhirnya meningkat prestasi belajar dan mendongkrak nilai rata-rata kelas.&lt;br /&gt;Dari hasil siklus II di atas, peneliti bersama kolaborator masih ada kelemahan yang harus diperbaiki yaitu terlalu sempitnya informasi yang ada pada teks prakondisi/cerita sebagai bahan penyusunan&amp;nbsp; soal (problem posing). Berdasarkan ini peneliti bersama kolaborator memandang perlunya siklus III untuk memperbaiki kelemahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKLUS III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada siklus ini&amp;nbsp; teks prakondisi diperluas cakupan informasinya agar siswa dapat mengembangkan soal yang dibuatnya, sehingga soal yang dihasilkan akan lebih bervariasi. Siswa diminta membuat soal secara individual sebanyak masing-masing 2 soal. Sehingga dihasilkan sebanyak 56 soal-soal buatan siswa, terdiri dari 55 jenis soal matematika yang tidak dapat diselesaikan dan 1 soal yang tidak dapat diselesaikan. Struktur sintaksis soal mulai bervariasi, yaitu 13 soal diantaranya adalah proposisi pengandaian. Selebihnya 42 soal adalah soal berproposisi tugas. Siswa juga mulai berani mengembangkan informasi dengan mengaitkannya dengan informasi yang baru, sehingga soal yang dibuat siswa menjadi lebih bervariasi. Tingkat hubungan struktur semantic soal juga berkecenderungan positif. Dari 55 soal tersebut,&amp;nbsp; ada 46 soal memiliki tingkat hubungan-0, enam soal memiliki tingkat hubungan-1 dan 3 soal memiliki tingkat hubungan-2. Soal yang dibuat siswa semakin kompleks. Pemahaman terhadap pelajaran semakin mantap. Pada akhirnya siswa diharapkan memiliki kemampuan memecahkan masalah.&lt;br /&gt;Didukung oleh hasil di atas,&amp;nbsp; rata-rata nilai ulangan harian semakin meningkat dibanding siklus sebelumnya menjadi 7,14 dengan 75,7 % siswa tuntas. Ini berarti semakin dekat dengan nilai ketuntasan klasikal, 85 % (Depdikbud, 1989), dimana sebelumnya sangat sulit untuk dicapai dalam pembelajaran matematika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini merupakan hasil angket yang digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap proses pembelajaran dalam penelitian ini, sebagai berikut:&lt;br /&gt;Dari jumlah siswa 37 orang, 22 siswa cukup menyukai matematika (59,5%), sisanya sangat menyukai. Sedangkan respon siswa terhadap pemebelajaran menggunakan pendekatan problem posing, sebagian besar (45,9 %) menjawab sangat membantu memahami pelajaran dan sisanya menjawab cukup membantu. Selanjutnya dilaporkan cara siswa menyusun soal dalam kegiatan problem posing bahwa 40,5 % siswa mencontoh soal di buku dengan mencoba memvariasikannya, 43,2 % dengan mencoba membuat sendiri dan sisanya mencontoh di buku dengan mengubah angkanya. Dari sini terlihat bahwa sebagian besar siswa tertantang untuk menyusun soal sendiri. Ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan problem posing memberikan dampak positif bagi pemahaman siswa terhadap pelajaran matematika. Seperti sudah disinggung di atas, soal hasil buatan siswa menunjukkan perkembangan yang semakin komplek, yang pada akhirnya berdampak&amp;nbsp; positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa yang ditunjukkan oleh nilai rata-rata ulangan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing dapat&amp;nbsp; meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya siswa kelas II.4 SMP Negeri 1 Tanjung Raja Tahun Pelajaran 2004/2005.&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut peneliti menyarankan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika, guru dianjurkan menggunakan pendekatan problem posing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As’ari, Abdur Rahman. 1999. Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Problem Posing, Buletin Pelangi Pendidikan Vol. 23 No.2. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jakarta : Depdiknas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wibawa, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdikbud. 1989. Kurikulum SLTP, Petunjuk Pelaksanaan Penilaian.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jakarta : Direktorat &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dikmenum&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2012/10/upaya-meningkatkan-prestasi-belajar_14.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-8500902675977896077</guid><pubDate>Sat, 13 Oct 2012 15:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-12-20T11:11:08.693+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>PENINGKATAN KEBERANIAN BERTANYA SISWA  MENGGUNAKAN KARTU PERTANYAAN</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSeNP19qppeq_8hhqtwTYzrtw0A-rNygQDaqpgr97E8p-SzH0tJiy_5UqB6JgZ3QdN-b3X3eQokQs6Y-iECoWTevQXxh96Nsu8UrBQ0F13kaTnrRasMNIF5MW9eCi7yU6PAGlo6EhaEzBz/s1600/KARTUPERTANYAAN.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu diantara tujuan pembelajaran matematika sekolah adalah mengembangkan&amp;nbsp; keterampilan berpikir kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemauan bekerja sama yang efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan strategi pembelajaran matematika yang mengembangkan daya nalar siswa yang mencakup empat indikator yaitu (1) berpikir kritis, (2) aktif bertanya, mengkombinasikan gagasan menjadi suatu argumen, (3) bertanya tentang mengapa, bagaimana, seberapa penting dan seberapa valid dan (4) penataan bahan menjadi suatu pola baru yang berbeda. Siswa yang berpikir kritis biasanya aktif bertanya sekaligus dapat menyusun argumen yang logis guna mendukung pertanyaan yang dilontarkan. Pertanyaan yang dilontarkan tidak lagi terbatas pada apa, siapa atau dimana, tetapi lebih komplek, mengapa, bagaimana, seberapa penting atau valid yang pada akhirnya tersusun pola baru yang berbeda.&lt;br /&gt;
Dari pengamatan sepintas&amp;nbsp; pengalaman penulis di lapangan, harapan tersebut di atas bagai jauh panggang dari api, sangat bertolak belakang. Khususnya pada kelas VIII.5 SMP Negeri 1 Tanjung Raja Tahun Pembelajaran 2005/2006 yang penulis asauh, sebagian besar siswa fasif dalam kegiatan pembelajaran. Hanya menyalin apa yang tertulis di papan tulis. Bila diberi kesempatan bertanya, hampir tidak ada seorangpun yang bertanya. Walaupun ada itupun hanya siswa tertentu saja. Itupun kadang hanya siswa yang itu-itu saja.Hal ini tentu saja akan mengiring kegiatan pembelajaran matematika terjebak pada rutinitas menyelesaikan target kurikulum saja. Interaksi hanya berlangsung satu arah, monoton. &lt;br /&gt;
Hasil angket pendahuluan yang penulis sebarkan diperoleh fakta bahwa sebenarnya sebagian besar siswa (72,9 %) mempunyai minat atau perhatian kepada pelajaran matematika, bahkan 66,7 % di antaranya menanggap pelajaran matematika bukanlah pelajaran yanbg sulit. 87,5 % siswa menyatakan sangat ingin bertanya, tetapi hanya disimpan di dalam hati. Penyebabnya yaitu karena takut salah sehingga ditertawakan (72,9%) dan sisanya merasa malu. Bila diteruskan, akibat terlalu banyak pertanyaan di kepala tak terjawab, siswa akhirnya cenderung apatis dan frustasi. Kegiatan pembelajaranpun berlalu tanpa makna.Untuk mengatasi hal tersebut, agar siswa lebih berani bertanya, sebagian besar siswa (90,7%) menyetujui agar siswa diperbolehkan bertanya secara tertulis. &lt;br /&gt;
Berdasarkan kenyataan tersebut eksperimen peningkatkan keberanian bertanya siswa melalui penggunaan Kartu Pertanyaan (Quetioning Cards) sangat menarik untuk dilakukan. Setiap siswa yang ingin bertanya dapat bertanya secara tertulis pada&amp;nbsp; kartu pertanyaan masing-masing tanpa harus menanggung malu atau takut andai pertanyaan terasa janggal. Pertanyaan akan dijawab oleh guru baik langsung maupun secara tak langsung. Tergantung spesifikasi pertanyaan. Selanjutnya diharapkan setelah siswa terbiasa bertanya secara tertulis, siswa akan tergugah keberaniannya walau sekali-sekali, untuk bertanya secara langsung. Lebih jauh, dengan aktif bertanya, diharapkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran akan meningkat dan pada akhirnya bermuara kepada meningkatnya prestasi belajar siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERMASALAHAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan itu, masalah penelitian ini adalah apakah penggunaan Kartu Pertanyaan dalam kegiatan pembelajaran matematika dapat meningkatkan keberanian bertanya siswa kelas VIII.5 SMP Negeri 1 Tanjung Raja Tahun Pembelajaran 2005/2006. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah peningkatan keberanian bertanya siswa dan pada gilirannya nanti akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini di antaranya sebagai upaya menumbuhkan keberanian bertanya siswa, sebagai strategi meningkatkan peran serta siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika dan sebagai upaya meningkatkan prestasi siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEMBAHASAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Kartu pertanyaan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kartu yang dapat dibuat sendiri oleh siswa untuk menuliskan pertanyaannya dalam proses pembelajaran matematika. Kartu ini berukuran kurang lebih 15 cm x 20 cm dan bahan kartu berupa kertas tebal sejenis karton.&lt;br /&gt;
Pada bagian muka Kartu Pertanyaan tersebut dibuat tabel&amp;nbsp; berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSeNP19qppeq_8hhqtwTYzrtw0A-rNygQDaqpgr97E8p-SzH0tJiy_5UqB6JgZ3QdN-b3X3eQokQs6Y-iECoWTevQXxh96Nsu8UrBQ0F13kaTnrRasMNIF5MW9eCi7yU6PAGlo6EhaEzBz/s1600/KARTUPERTANYAAN.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSeNP19qppeq_8hhqtwTYzrtw0A-rNygQDaqpgr97E8p-SzH0tJiy_5UqB6JgZ3QdN-b3X3eQokQs6Y-iECoWTevQXxh96Nsu8UrBQ0F13kaTnrRasMNIF5MW9eCi7yU6PAGlo6EhaEzBz/s320/KARTUPERTANYAAN.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJkuPVzdohPxdSQawJiPqk1pvUEwfFDxoNn08IM05n51qicZrvfrkyIhj1QbtU-064MJtbdULu6c76qRpmpMTXMu3ioG60v1MD09HCiKROOsMqMBqHJ8Rg4LO8dAHjsKstFkDlp7o2wMCJ/s1600/TABEL+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pada bagian belakang Kartu Pertanyaan ditulis Nama Siswa, Kelas dan tulisan “KARTU PERTANYAAN ” serta mata pelajaran “Matematika”. ( Contoh Kartu Pertanyaan terlampir )&lt;br /&gt;
Sedangkan Keberanian Bertanya Siswa&amp;nbsp; yang dimaksudkan adalah kemampuan siswa untuk mengungkapkan pertanyaannya sebagai bagian dari proses belajar, baik lisan maupun tertulis. Peningkatan Keberanian Bertanya Siswa pada karya tulis ini diukur berdasarkan frekuensi atau banyaknya pertanyaan yang dapat diungkapkan setiap siswa dan banyaknya siswa bertanya pada setiap pertemuan atau proses kegiatan pembelajaran. Selanjutnya keberanian bertanya ini dibandingkan dengan nilai rata-rata harian yang diperoleh siswa untuk dilihat pengaruhnya terhadap peningkatan prestasi belajarnya.&lt;br /&gt;
Untuk menjawab apakah penggunaan Kartu Pertanyaan dalam kegiatan pembelajaran matematika di kelas VIII.5 SMP Negeri 1 Tanjung Raja&amp;nbsp; tahun pembelajaran 2005/2006 dapat meningkatkan keberanian bertanya siswa, penulis melakukan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 3 (tiga) siklus. Penelitian&amp;nbsp; berlangsung mulai akhir bulan Agustus sampai dengan awal bulan Nopember 2005.&amp;nbsp; Dengan dibantu oleh 3 orang rekan guru sebagai kolaborator, penulis menyarankan kepada siswa untuk memanfaatkan kesempatan bertanya selama atau setelah kegiatan pembelajaran berlangsung dengan cara menuliskan pertanyaannya pada Kartu Pertanyaan. Kartu tersebut diberikan kepada guru untuk dijawab atau dibahas baik secara lisan maupun secara tertulis tergantung pertanyaannya. &lt;br /&gt;
Pada setiap pertemuan guru mengamati dan mencatat peningkatan kuantitas maupun kualitas pertanyaan siswa dan pada setiap akhir&amp;nbsp; materi pembelajaran yang meliputi satu atau dua KD (Kemampuan Dasar), seluruh kartu dikumpulkan untuk dianalisis secara deskriptif oleh penulis bersama kolaborator. Komponen yang dianalisis meliputi banyaknya siswa bertanya, frekuensi bertanya tiap siswa dan tingkat petanyaan siswa, selanjutnya siswa diberi ulangan harian untuk dianalisis tingkat pemahaman atau prestasi yang dicapai siswa.&lt;br /&gt;
Untuk kegiatan pembelajaran materi berikutnya, siswa diminta menuliskan pertanyaannya pada kartu yang baru dan selanjutnya diolah seperti Kartu Pertanyaan sebelumnya sampai penelitian berakhir. Sebelum dilanjutkan pembelajaran untuk KD berikutnya, dilakukan refleksi guna perbaikan pada proses pembelajaran berikutnya, termasuk kemampuan guru dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. Hasil penilaian proses maupun penilai hasil belajar setiap KD dibandingkan untuk diketahui tingkat keberanian bertanya siswa dan prestasi yang dicapai pada setiap Kemampuan Dasar (KD).&lt;br /&gt;
Secara umum hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan keberanian bertanya pada siswa kelas VIII.5 SMP 1 Tanjung Raja Tahun Pembelajaran 2005/2006. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya frekuensi bertanya siswa baik secara individual maupun secara klasikal, seperti terlihat pada tabel berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabel 1&lt;br /&gt;
Frekuensi Bertanya Siswa Tiap Pertemuan (Klasikal)&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJkuPVzdohPxdSQawJiPqk1pvUEwfFDxoNn08IM05n51qicZrvfrkyIhj1QbtU-064MJtbdULu6c76qRpmpMTXMu3ioG60v1MD09HCiKROOsMqMBqHJ8Rg4LO8dAHjsKstFkDlp7o2wMCJ/s1600/TABEL+1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJkuPVzdohPxdSQawJiPqk1pvUEwfFDxoNn08IM05n51qicZrvfrkyIhj1QbtU-064MJtbdULu6c76qRpmpMTXMu3ioG60v1MD09HCiKROOsMqMBqHJ8Rg4LO8dAHjsKstFkDlp7o2wMCJ/s320/TABEL+1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOux-pEca2cloXKTSy2OuD_RKD9mKFgA4V3B9pnYM7fmteCDpvej0izBnrdNwKxwtOYFnUfAdUU4awZMRyCPU52uRue4VhmTUJ_Vi0TBEIWpT7X0QehNhDgcKNzPYMguhlElRNDhxnlH7T/s1600/TABEL+2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dari tabel di atas diperoleh gambaran bahwa persentase frekuensi bertanya siswa tiap pertemuan sebelum dilakukan penelitian tindakan kelas tidak lebih dari 2,9 % atau rata-rata hanya satu orang siswa setiap pertemuan. Pada siklus I dengan materi kemampuan dasar (KD) Menentukan Faktor Bentuk Aljabar , persentase frekuensi bertanya siswa tiap pertemuan terjadi peningkatan yang sangat signifikan, yaitu menjadi 23,5 % atau rata-rata 8 orang siswa per pertemuan.&amp;nbsp; Berdasarkan hasil pengamatan penulis bersama rekan guru kolaborator, hal ini terjadi karena siswa merasakan adanya sesuatu yang baru dalam kegiatan pembelajaran sehingga&amp;nbsp; menggugah keinginan dan keberanian siswa untuk bertanya secara tertulis menggunakan Kartu Pertanyaan. &lt;br /&gt;
Dari hasil analisis terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa tersebut penulis bersama kolaborator menemukan banyak kelemahan pada pertanyaan yang ditulis oleh siswa, terutama ditinjau dari sisi kemampuan berbahasa, dimana sebagian besar siswa kurang terampil merumuskan pertanyaan tertulisnya yang justru menggunakan bahasa lisan, bahkan tidak jarang pertanyaan siswa tidak mengandung kata tanya atau bernada menguji guru atau hanya semacam ungkapan ketidakmengertian. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, penulis sebagai guru peneliti mengadakan perbaikan dengan membimbing siswa merumuskan pertanyaan yang baik khususnya yang diungkapkan secara tertulis.&lt;br /&gt;
Selanjutnya pada siklus II, dengan materi kemampuan dasar (KD) Menyelesaikan Operasi Pecahan Bentuk Aljabar,&amp;nbsp; terjadi penurunan persentase pertanyaan siswa yaitu menjadi hanya 9,7 % atau rata-rata 3 orang siswa yang bertanya tiap pertemuan. Hal ini menjadi bahan diskusi penulis bersama rekan guru kolaborator, termasuk dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung kepada siswa. Kendala yang terungkap di antaranya siswa merasa malu dan takut pertanyaan yang ditulisnya terasa janggal serta tidak sesuai dengan kaidah pertanyaan tertulis yang benar seperti yang pernah guru jelaskan pada akhir siklus I. Untuk mengatasi hal ini, penulis sebagai guru memberikan penjelasan dengan penekanan tidak menjadi tujuan utama pertanyaan harus baik, melainkan lebih penting adalah melatih keberanian mengungkapkan pertanyaan. Untuk merumuskan pertanyaan yang baik tidak sekali jadi, tetapi secara bertahap. Lebih dahulu biasakan untuk berani mengungkapkan pertanyaan yang menggugah rasa keingintahuan, selanjutnya secara berangsur-angsur dengan sendirinya kualitas pertanyaan akan lebih baik.&lt;br /&gt;
Melihat hasil tindakan pada siklus II yang kurang menggembirakan, penulis bersama rekan guru kolaborator merasa perlu melanjutkan penelitian ini pada siklus III.&lt;br /&gt;
Pada tabel di atas terlihat adanya peningkatan frekuensi bertanya siswa pada siklus III, dengan materi kemampuan dasar (KD) Menyatakan Bentuk Fungsi dan Menghitung Nilai Fungsi, yaitu&amp;nbsp; menjadi 12,4 % atau rata-rata 4 orang siswa bertanya setiap pertemuan. Ini menunjukkan penggunaan Kartu Pertanyaan sebagai media pengungkapan rasa ingin tahu siswa untuk lebih memahami materi pembelajaran cukup membantu siswa, terutama bagi siswa yang pemalu dan tidak terbiasa mengungkapkan pertanyaan secara lisan.&lt;br /&gt;
Secara umum persentase banyaknya siswa bertanya menggunakan media Kartu Pertanyaan masih lebih baik dibanding dengan tidak menggunakan Kartu Pertanyaan. Hal ini dapat dilihat pada keadaan awal sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan. Hanya rata-rata 2,9 % siswa atau rata-rata satu orang siswa tiap pertemuan, bahkan lebih sering tidak ada seorang pun yang memanfaatkan kesempatan bertanya yang diberikan guru.&lt;br /&gt;
Secara individual hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan jumlah siswa yang mulai berani bertanya dari 3 orang siswa pada awal siklus I menjadi 31 siswa atau 88,6 % dari 35 siswa pada akhir siklus I. Sampai&amp;nbsp; akhir siklus II tinggal 2 orang saja yang belum pernah bertanya dan pada akhir siklus III seluruh siswa sudah pernah bertanya. Tabel berikut ini menjelaskan frekuensi bertanya tiap siswa dan pengaruhnya terhadap prestasi belajarnya dengan indikator meningkatnya nilai rata-rata harian yang diperoleh siswa yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabel 2&lt;br /&gt;
Frekuensi Bertanya Setiap Siswa dan Rata-rata Nilai yang Diperoleh&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOux-pEca2cloXKTSy2OuD_RKD9mKFgA4V3B9pnYM7fmteCDpvej0izBnrdNwKxwtOYFnUfAdUU4awZMRyCPU52uRue4VhmTUJ_Vi0TBEIWpT7X0QehNhDgcKNzPYMguhlElRNDhxnlH7T/s1600/TABEL+2.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOux-pEca2cloXKTSy2OuD_RKD9mKFgA4V3B9pnYM7fmteCDpvej0izBnrdNwKxwtOYFnUfAdUU4awZMRyCPU52uRue4VhmTUJ_Vi0TBEIWpT7X0QehNhDgcKNzPYMguhlElRNDhxnlH7T/s320/TABEL+2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Pada kolom nilai rata-rata terbaca nilai rata-rata kelas secara bertahap meningkat Pada siklus I terjadi sedikit penurunan nilai rata-rata kelas dari&amp;nbsp; 47 menjadi 46. Hasil pengamatan penulis hal ini terjadi karena materi yang dipelajari terasa lebih sulit bagi siswa dibanding sebelumnya yaitu materi Menyelesaikan Operasi Bentuk Aljabar. Selanjutnya pada siklus II dan III terus meningkat secara signifikan, dari&amp;nbsp; 45 nilai rata-rata siswa menjadi 52 dan terakhir menjadi 60.Walaupun belum memenuhi kriteria ketuntasan klasikal yang ditetapkan 75 % secara nasional, namun secara rata-rata terlihat pengaruh positif penggunaan Kartu Pertanyaan dalam pembelajaran matematika terhadap peningkatan prestasi siswa.&amp;nbsp; Siswa yang aktif bertanya berkecenderungan lebih berprestasi dibanding yang kurang aktif bertanya. Ini menyiratkan pentingnya bertanya sebagai upaya mengasah rasa ingin tahu siswa, yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan prestasi belajarnya, khususnya matematika. Sebagaimana pernah disinggung di atas bahwa daya nalar siswa akan lebih terasah dengan biasa bertanya, tetapi sebagian besar siswa kurang memanfaatkan kesempatan bertanya yang diberikan guru.&lt;br /&gt;
Hasil angket yang penulis sebarkan kepada siswa diperoleh informasi bahwa penggunaan kartu pertanyaan dalam proses pembelajaran matematika memberi dampak positif, yaitu memotivasi siswa untuk mengungkapkan pertanyaannya (72,9%) dan merasa lebih berani untuk bertanya (50,1%). Alasan mengapa siswa merasa lebih berani bertanya diantaranya kesempatan bertanya yang diperbolehkan secara tertulis mengunakan kartu pertanyaan memanipulasi rasa malu pada teman dan guru (24%) dan takut salah (72,9%) oleh karena itu 90,7% siswa meminta agar cara bertanya tetap diperbolehkan secara tertulis. Pada bagian akhir kuisioner 95,8% siswa lebih menegaskan lagi agar penggunaan kartu pertanyaan dalam proses pembelajaran matematika dapat diteruskan.&lt;br /&gt;
Selanjutnya sebagai penunjang penulis bersama rekan guru kolaborator merasa perlu mengklasifikasikan tingkat pertanyaan siswa. Menurut&amp;nbsp; Tim Pengembang Pelatihan Guru&amp;nbsp; Proyek Peningkatan Mutu SLTP (1998), pertanyaan siswa dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu pertanyaan tingkat rendah dan pertanyaan tingkat tinggi. Pertanyaan tingat rendah merupakan pertanyaan tertutup dengan jawaban yang pasti benar atau salah dan hanya memerlukan jawaban yang bersifat hafalan (ingatan). Pertanyaan ini pada umumnya dimulai dengan kata “ Apa”, “Siapa”, “Dimana”, “Kapan” atau “Sebutkan”. Sedangkan pertanyaantingkat tinggi sifatnya lebih terbuka, memerlukan pemahaman, penalaran, cara berfikir logis dan sistematis untuk menjawabnya. Pertanyaan ini dapat dimulai dengan kata “ Bagaimana”,“Jelaskan”,“terangkan”,“Bandingkan”,”Mengapa”, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
Dengan bersandarkan pada pendapat tersebut, dari semua pertanyaan yang tercatat pada Kartu Pertanyaan siswa, penulis memperoleh informasi pada siklus I terdapat 27 pertanyaan tingkat rendah (64,3 %) dan hanya 35,7 % pertanyaan yang dapat digolongkan pertanyaan tingkat tinggi. Ini cukup menggembirakan bila dibandingkan tingkat pertanyaan pada awal sebelum siklus I dimulai yang rata-rata merupakan pertanyaan tingkat rendah. Sedangkan pada siklus II, terdapat 4 pertanyaan tingkat tinggi (18,2%) dan 18 pertanyaan tingkat rendah (82,8 %) serta terdapat 9 pertanyaan tingkat tinggi (34,6%) pada siklus III. Dari hasil ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa walau sebagian besar siswa belum mampu mengungkapkan pertanyaannya dengan kaidah yang lebih baik, namun sebagian siswa sudah cukup mampu mengungkapkan pertanyaan tingkat tinggi. Ini menunjukkan peningkatan keberanian siswa untuk bertanya lebih banyak, tahu lebih banyak dan mengerti lebih dalam materi yang dipelajari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
P E N U T U P&lt;br /&gt;
Secara umum penggunaan Kartu Pertanyaan oleh siswa dalam proses pembelajaran matematika berdampak positif bagi peningkatan keberanian siswa untuk bertanya agar lebih memahami materi pelajaran. Pada akhirnya juga berdampak positif bagi peningkatan prestasi belajar siswa.&lt;br /&gt;
Untuk memotivasi siswa agar lebih aktif bertanya disarankan agardalam kegiatan pembelajaran khususnya matematika dapat digunakan Kartu Pertanyaan sebagai media mengungkapkan rasa ingin tahunya tanpa harus menanggung malu atau takut salah bila pertanyaan terasa janggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hariwibowo, Herwindo. (1998). Bagaimana Murid Belajar?. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Jakarta : Depdikbud&lt;br /&gt;
Wibawa, Basuki. (2003). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Program Guru Bantu – Direktorat Tenaga Kependidikan Diknas.&lt;br /&gt;
____________.(1998) Teknik Bertanya . Kumpulan Makalah Materi PKG-C Propinsi Sumatera Selatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tim Action Research Gugus SLTPN-4 Semarang. (1999). Keberanian Bertanya Siswa Kelas III dalam Kegiatan Belajar Mengajar Matematika di Duabelas SLTP Negeri Kodya Semarang. Buletin Pelangi Volume I No. 3 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2012/10/peningkatan-keberanian-bertanya-siswa_2019.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSeNP19qppeq_8hhqtwTYzrtw0A-rNygQDaqpgr97E8p-SzH0tJiy_5UqB6JgZ3QdN-b3X3eQokQs6Y-iECoWTevQXxh96Nsu8UrBQ0F13kaTnrRasMNIF5MW9eCi7yU6PAGlo6EhaEzBz/s72-c/KARTUPERTANYAAN.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-5996849036806897915</guid><pubDate>Sat, 13 Oct 2012 15:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-10-14T20:12:28.629+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>PENINGKATAN KESIAPAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI PERMAINAN CEPAT TANGGAP (PCT)</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesiapan siswa memulai belajar pada&amp;nbsp; awal kegiatan maupun&amp;nbsp; pada saat proses pembelajaran matematika berlangsung sangat penting diperhatikan. Bila hal ini diabaikan maka siswa akan kesulitan belajar matematika. Apalagi matematika pada umumnya dianggap pelajaran yang sulit oleh sebagian besar oleh siswa. Jangankan siswa yang kurang cerdas, bahkan siswa yang cerdas pun masing kesulitan mencerna pelajaran matematika bila pembelajaran dimulai pada saat siswa belum begitu siap untuk belajar. Siap belajar di sini berarti pada saat akan membuka pembelajaran siswa sudah siap menerima pelajaran pada saat itu. Ini dapat dilihat pada saat guru mulai mengucapkan salam pembuka, siswa sudah siap dengan buku dan alat tulisnya, perhatiannya tertuju kepada guru dan pada bagian apersepsi siswa dengan cepat menanggapi bila guru melemparkan pertanyaan. Dengan kondisi seperti ini maka pembelajaran akan mudah dilanjutkan sesaui perencanaan yang telah ditentukan guru.&lt;br /&gt;
Pengamatan dan pengalaman penulis menunjukkan bahwa pada awal kegiatan pembelajaran, sebagian besar siswa menunjukkan wajah bingung, tegang, takut, menunggu, bahkan ada yang tidak peduli dengan situasi, sibuk sendiri atau mengobrol dengan siswa lainnya. Pada saat memulai apersepsi&amp;nbsp; terasa sekali seolah siswa belum siap belajar. Selanjutnya pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, bila guru memberikan pertanyaan hanya sebagian kecil siswa dengan cepat memberikan tanggapan,itu pun hanya siswa yang itu-itulah. Sedangkan siswa&amp;nbsp; lainnya hanya mencatat apa yang sudah tertulis di papan tulis, bahkan beberapa siswa sibuk sendiri, mengantuk, mengobrol dan tak peduli dengan pertanyaan guru. &lt;br /&gt;
Melihat kenyataan yang tidak diharapkan ini, penulis tertarik mencoba menerapkan permainan kecil agar perhatian siswa terfokus dan siap belajar serta selalu siap belajar. Permainan ini penulis beri nama Permainan Cepat Tanggap (PCT).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MASALAH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Permainan&amp;nbsp; Cepat Tanggap (PCT) dapat meningkatkan kesiapan belajar matematika siswa kelas VII.2 SMP Negeri 1 Tanjung Raja Tahun Pelajaran 2008/2009?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEMBAHASAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awal kegiatan pembelajaran dapat kita lihat sepintas kesiapan mental masing-masing siswa untuk memulai belajar. Ada yang sudah siap, ada yang agak siap, ada yang kurang siap dan ada yang tidak siap sama sekali. Dengan kata lain fokus konsentrasi siswa masih beragam. Dengan kondisi seperti ini tentu saja bukan saat tepat untuk langsung masuk kegiatan inti pembelajaran. Oleh karena itu ada hal pertama yang harus dilakukan terlebih dahulu, yaitu membuka komunikasi dengan mencuri perhatian siswa. Bila perhatian siswa sudah diperoleh, maka langkah selanjutnya mudah dilakukan. Bila tidak, maka pembelajaran hari itu akan merupakan pembelajaran yang membosankan bagi siswa, pekerjaan yang melelahkan bagi guru. Tentu saja keadaan ini tidak kita harapkan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Mencuri perhatian yang dimaksudkan di atas adalah menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar. Menurut Sutikno (2007:19), motivasi dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern atau kesiapsiagaan. Ini berarti menumbuhkan motivasi adalah menciptakan kondisi siap. Menumbuhkan motivasi berarti menciptkan kondisi psikologis siswa agar siap belajar. Dengan kata lain, bila tidak ada motivasi maka siswa tentu saja tidak siap belajar. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Selanjutnya Sutikno (2007, et al ) membagi motivasi menjadi dua bagian yaitu (1) motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang tanpa ada paksaan dari luar, dan (2) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang timbul akibat pengaruh dari luar individu. Berdasarkan pada pendapat ini, siswa yang memiliki motivasi instrinsik yang kuat maka ia akan belajar dengan kemauannya sendiri. Bila sebagian besar siswa seperti ini, berarti pembelajaran akan berjalan semestinya. Namun bila sebagian besar siswa memiliki motivasi instrinsik yang lemah, maka motivasi ekstrinsik sangat diperlukan. Lebih spesifik kesiapan belajar siswa harus dibantu oleh guru. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Sehubungan dengan hal tersebut, guru harus memiliki keterampilan dasar yang menurut Muhibbin Syah(2004) disebut keterampilan mengelola interaksi belajar mengajar, yaitu membuka dan menutup pelajaran. Untuk ini dalam rangka menumbuhkan motivasi atau kesaipan belajar, penulis mencoba memberikan trik pemainan singkat yang penulis sebut sebagai Permainan Cepat Tanggap (PCT). Hal berlandaskan pada pendapat ………… (……), bahwa permainan dapat meningkatkan semangat belajar anak. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Permainan Cepat Tanggap yang penulis maksudkan adalah permainan yang membutuhkan waktu singkat kurang lebih 5 menit dengan tujuan memfokuskan konsenstrasi siswa agar siswa siap memulai pembelajaran. Permainan ini tidak membutuhkan alat khusus, dan disesuaikan dengan kondisi siswa serta kreatifitas guru. Permainan ini dilakukan setelah salam pembuka sebelum memulai apersepsi. Dapat juga dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung di mana konsentrasi siswa sudah mulai menurun.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Sebagai contoh sederhana PCT adalah permainan berhitung secara bergilir. Katakan kepada siswa bahwa sebelum belajar kita harus tes terlebih dahulu, yaitu tes konsenstrasi. Bila masih ada yang belum konstrasi berarti pembelajaran belum dapat dimulai. Caranya siswa diminta berhitung bergilir mulai dari pojok depan atau belakang dengan ketentuan, bila siswa yang mendapat giliran menyebut angka genap maka tidak boleh disebut angka melainkan harus diganti dengan kata-kata : ”Hai..!”. Jadi akan terdengar siswa berhitung seperti ini : ”Satu, Hai, Tiga, Hai, Lima, Hai.....!” dan seterusnya. Bila siswa tidak konsenstrasi, biasanya salah sebut. Semestinya menyebut angka tetapi menyebut kata, dan sebaliknya. Sebagai motivasi bila ada siswa melakukan kesalahan maka siswa tersebut diberikan hukuman sesuai kesepakatan guru dan siswa. Bila permainan berjalan lancar dalam arti tidak ada siswa yang melakukan kesalahan, maka permainan diakhiri. Itu berarti siswa sudah konsenstrasi dan siap untuk belajar. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Permainan tersebut di atas agar menarik dan tidak bosan bila lain waktu mencoba lagi sebaiknya divariasikan. Misalnya kata-kata diganti dengan kata ”Hore!”, ”Asoy!”, dan sebagainya. Atau angka yang harus diganti bukan genap, melainkan ganjil atau kelipatan bilangan tertentu. Urutan giliran juga sedapatnya divariasikan misalnya giliran menyebut angka bila telunjuk guru tertuju kepada siswa tertentu, maka siswa tersebut harus menyebutkan angka atau kata sesuai ururtan dan ketentuan yang telah disampaikan atau disepakati. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Permainan PCT dapat berupa permainan lain sesuai kreatifitas guru, misalnya menyebut huruf, menyebutkan nama hewan atau bunga, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Penelitian ini dilakukan pada kelas VII.2 yang berjumlah 36 orang terdiri dari 19 siswa perempuan dan 17 siswa laki-laki. Kemampuan siswa kelas VII.2 sangat beragam dengan pekerjaan orang tua 60 persen petani, 27 persen pedagang dan sisanya pegawai atau buruh. Asal sekolah dasar juga sangat beragam. Dengan keberagaman ini, dari pengamatan penulis melahirkan kesiapan belajar yang beragam pula. Untuk itu penulis telah mencoba menerapkan PCT pada kelas ini sebanyak dua siklus. Tiap siklus dilakukan pengamatan dan tes hasil belajar. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pada siklus I penerapan PCT dilakukan sebanyak&amp;nbsp; 6 kali pertemuan dengan materi pembelajaran Garis dan Sudut. Pada setiap kesempatan terutama pada saat membuka pembelajaran, PCT selalu dilakukan dengan bentuk permainan yang bervariasi. Hasil pengamatan penulis, konsentrasi kesiapan belajar siswa terlihat lebih baik dibanding sebelum PCT diterapkan. Pada awal pembelajaran terlihat hampir 100 % siswa terlihat siap belajar dan pada saat pembelajaran berlangsung atau menjelang akhir pembelajaran hanya menyusut 8, 3 % atau 3 orang yang terlihat agak mengantuk atau melamun, mungkin kelelahan atau ada masalah lain. Tetapi hasil tes (Ulangan Harian) diperoleh penurunan dari nilai rata-rata 57,00 menjadi 56,69. Ini menarik, dari sisi kesiapan atau konsentrasi&amp;nbsp; belajar meningkat, tetapi justru prestasi belajar menurun. Dari konfirmasi yang penulis lakukan kepada siswa, ternyata alasannya materi pelajarannya lebih sulit dibanding sebelumnya yaitu tentang Himpunan yang dianggap relatif mudah oleh siswa. Tanggapan siswa terhadap permainan yang dilakukan positif. Beberapa siswa mengaku lebih siap belajar, karena kalau tidak akan malu bila dihukum dalam permainan itu. Sehubungan dengan kenyataan ini, penulis melanjutkan penelitian pada siklus berikutnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pada siklus kedua, penerapan PCT dilakukan sebanyak 5 kali pertemuan dengan materi Segitiga. Pada siklus ini, pada awal pembelajaran siswa sudah mulai menagih agar diadakan permainan konsentrasi terlebih dahulu. PCT pada siklus ini lebih divariasikan dengan tantangan konsentrasi lebih berat serta hukuman bila melakukan kesalahan lebih berat. Dengan perlakuan ini diperoleh hasil pengamatan tidak ada lagi siswa yang tidak siap belajar. Malah mulai pada pertemuan keempat&amp;nbsp; siswa seperti otomatis langsung fokus siap belajar, namun begitu penulis tetap melakukan PCT dengan keyakinan untuk lebih memantapkan lagi konsentrasi siswa. Hasil tes (Ulangan Harian) pada siklus ini menunjukkan peningkatan signifikan, yaitu nilai rata-rata 69, 89. Dengan hasil ini terlihat ada peningkatan yang cukup baik kondisi kesiapan belajar siswa maupun hasil belajar siswa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENUTUP&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari hasil penelitian yang telah diuraikan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Permainan Cepat Tanggap (PCT) dapat meningkatkan kesiapan belajar siswa kelas VII.2 SMP Negeri 1 Tanjung Raja Tahun Pelajaran 2008/2009.&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan itu penulis menyarankan perlunya guru menumbuhkan motivasi belajar siswa terutama di awal pembelajaran menggunakan permainan sederhana penuh tantangan tanpa harus kehilangan banyak waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTKA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sutikno, M.Sobry. Strategi Belajar Mengajar. Refika Aditama . Bandung: 2007&lt;br /&gt;
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya. Bandung: 2004&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2012/10/upaya-meningkatkan-kesiapan-belajar.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-7366450262515201322</guid><pubDate>Mon, 08 Oct 2012 22:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-10-16T14:30:32.427+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>MERAIH SEKOLAH BERPRESTASI DENGAN "SENYUM"</title><description>&lt;br /&gt;
Makalah&lt;br /&gt;
Dipaparkan dalam seleksi Calon Kepala SMP tahun 2007&lt;br /&gt;
Oleh Marion, S.Pd.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
Meraih sekolah berprestasi adalah impian banyak warga sekolah, terutamanya Kepala Sekolah. Adalah kebanggaan tersendiri bagi Kepala Sekolah bila sekolah yang dipimpinnya meraih predikat &lt;span class="fullpost"&gt;tersebut. Artinya peluang hasil ke jenjang yang lebih tinggi akan terbuka lebar.&lt;br /&gt;
 Predikat sekolah berprestasi hakikatnya sulit diukur secara pasti. Secara umum kebanyakan orang memandang sekolah berprestasi adalah sekolah yang banyak menelurkan siswa-siswa berprestasi baik tingkat lokal, nasional maupun Internasional, disamping terkenal dengan kedisiplinan  dan kebersihannya. Tentu saja siswa-siswa berprestasi tersebut tidak lahir begitu saja, perlu kerja keras dan motivasi yang tinggi untuk mewujudkannya, baik dari internal individu siswa yang bersangkutan, semangat pengabdian guru-guru termasuk kepemimpinan Kepala Sekolah serta dukungan masyarakat.&lt;br /&gt;
 Bagi banyak warga sekolah, orang pertama yang menjadi fokus perhatian untuk mewujudkan impian di atas adalah kepemimpinan Kepala Sekolah. Bila kepemimpinan Kepala Sekolah berpengaruh positif pada kinerja sekolah, maka bukan mustahil impian tersebut terwujud. Sebaliknya bila berpengaruh negatif (baca : Kontraproduktif), maka harapan tersebut akan jauh panggang dari api.&lt;br /&gt;
 Dari pengalaman penulis selama menjadi guru di lapangan, kebanyakan Kepala Sekolah gagal dalam memberi pengaruh positif bagi kinerja sekolahnya. Kalau ada yang berhasil, itupun masih dapat dihitung dengan jari. Menurut pengamatan penulis, kegagalan tersebut bukan karena sang Kepala Sekolah tidak menguasai ilmu kepemimpinan, ilmu manajemen atau ilmu-ilmu lain yang menjadi syarat sebagai Kepala Sekolah, melainkan disebabkan hal sepele bahkan bersifat non teknis. Utamanya karena faktor kepribadian Kepala Sekolah itu sendiri. Sebagai contoh beberapa Kepala Sekolah terlalu mengambil jarak terhadap warga sekolah lain baik dalam kedinasan bahkan diluar kedinasan. Akibatnya banyak kebijakan tidak jalan karena sering terjadi kesalahpahaman. Ada Kepala Sekolah yang terlalu terbuka sehingga menghilangkan wibawa yang bersangkutan. Ada yang terlalu cerewet, bahkan ada yang seolah tidak peduli pada beberapa warga sekolah lainnya.&lt;br /&gt;
 Namun sebagai manusia biasa di samping kepribadian yang kontraproduktif tersebut, ada beberapa Kepala Sekolah memiliki sisi menarik yaitu murah senyum. Sehubungan dengan ini penulis tertarik mengkaji lebih lanjut apakah “senyum” dapat menjadi kata kunci dalam membangun kinerja sekolah yang positif yang pada akhirnya nanti dapat meraih predikat sekolah berprestasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERMASALAHAN&lt;br /&gt;
 Apakah dengan senyum sering Kepala Sekolah dapat membangun kinerja sekolah yang positif sehingga dapat menarik sekoah berprestasi ?&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
PEMBAHASAN&lt;br /&gt;
 Menurut ensiklopedia Bebas berbahasa Indonesia, Wikipedia Indonesia (download dari : http://id.wikipedia.org/wiki/senyum), senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan bibir atau kedua ujungnya, atau pula disekitar mata. Kebanyakan orang senyum untuk menampilkan kebahagiaan dan rasa senang. Senyum itu datang dari rasa kebahagiaan atau kesengajaan karena adanya sesuatu yang membuat dia senyum. Seseorang kalau tersenyum umumnya bertambah baik raut wajahnya atau menjadi lebih cantik ketimbang ketika dia biasa saja atau ketika marah.&lt;br /&gt;
 Sedangkan dalam Agama Islam, senyum adalah ibadah. Bahkan hadits Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa senyum adalah sedekah (HR.......?). Ibnu Sina, seorang ilmuwan muslim mengemukakan bahwa salah satu sifat orang Arif adalah selalu senyum gembira (http://kotasantri.com). Jadi senyum merupakan gerak air muka seseorang, utamanya bibir yang kebanyakan timbul dari perasaan hati yang senang dan merupakan perwujudan akhlak yang mulia.&lt;br /&gt;
 Lebih lanjut Camar Mulya dalam http://kotasantri.com membagi senyuman menjadi lima macam yaitu : &lt;br /&gt;
Pertama, senyum egois atau sinis, sebuah senyuman yang tidak bersahabat. Senyuman terbentuk dari perasaan dendam kesumat. Senyum ini dapat menyebabkan orang yang diberi senyum sakit hati melihatnya;&lt;br /&gt;
Kedua, Senyum menggoda, sebuah senyum yang bertujuan untuk menggoda seseorang dan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam maksiat;&lt;br /&gt;
Ketiga, senyum ketabahan, sebuah senyum yang muncul dari orang-orang perkasa dan jantan. Sosok yang mampu menghadapi musibah dengan tabah dan dan senyum ini dirasakan orang yang dekat dengan Allah;&lt;br /&gt;
Keempat, senyum ketegaran, menghiasi bibir orang-orang berwibawa dan mempunyai kekuatan dalam hidupnya. Masalah yang berat sekalipun dapat diatasi oleh orang yang mempunyai senyum ketegasan; dan&lt;br /&gt;
Kelima, senyum ketulusan, sebuah senyum yang datang dari hati yang dalam. Muncul untuk membahagiakan, menghormati dan memuliakan orang lain. Senyum ini menunjukkan kondisi paralel antara bibir (lahiriyah) dengan hati (batiniyah). Senyum ini memang terasa multiguna mampu menambah keakraban dan hubungan dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;
 Berdasarkan penjelasan di atas, seorang Kepala Sekolah sangat membutuhkan senyum senantiasa menghiasi bibirnya, dalam hal ini senyum ketulusan. Senyum yang menghargai bawahannya sehingga bawahannya merasa termotivasi bahwa hasil kerjanya dihargai. Senyum yang memacu warga sekolah bersemangat bahwa  Kepala Sekolahnya ada bersama-sama sebagai warga sekolah dan ada untuk maju bersama. Dengan menebarkan senyum ketulusan kepada seluruh wargta sekolah, Kepala Sekolah bukan saja akan disegani melainkan lebih dari itu, lebih dicintai dan warga sekolah akan dengan senang hati melaksanakan tugasnya. Apalagi tugas tersebut diarahkan kepada kemajuan sekolah yang hasilnya akan dinikmati secara kolektif.&lt;br /&gt;
 Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, bila beliau bertemu seseorang beliau selalu memberi perhatian yang luar biasa kepada lawan bicaranya. Beliau menganggap orang tersebut paling utama dan penting untuk didengarkan sehingga yang bersangkutan sangat merasa puas dan dihargai dan ini memberi pengaruh beasar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara. Tentu saja hal ini akan sulit dilakukan bila seorang Kepala Sekolah bersikap laku sebagai bos, bukan sebagai pemimpin. Kepala Sekolah yang bertindak sebagai penguasa, bukan sebagai manajer.&lt;br /&gt;
 Senyum ketulusan akan  sangat mudah ditebarkan bila sang kepala sekolah bertindak sebagai pemimpin dan manajer. Yaitu kepala sekolah yang memiliki visi jauh ke depan yang senantiasa berusaha mengoptimalkan semua potensi sekolah. Kepala sekolah yang lebih banyak memberi perhatian kepada kepentingan bersama, bukan kepala sekolah yang hanya berusaha menyenangkan atasannya dengan melupakan bawahanya.  Selanjutnya menurut penulis dalam kata senyum terkandung lima hal yang sangat dibutuhkan kepala sekolah di samping pengetahuan kepemimpinan dan manjemen. Kelima hal tersebut akan selalu menemani kepala sekolah bila itu senyum ketulusan. Dengan menghayati kelima hal ini, maka senyum yang ditebarkan kepala sekolah akan berpengaruh positif kepada kinerja sekolah dan pada akhirnya akan menggapai sekolah berprestasi. Kelima hal tersebut sebagai berikut:  pertama, SE= Semangat, tercermin dari air muka yang menunjukkan minat yang besar terhadap orang yang diberi senyum. Akibatnya orang yang diberi senyum akan ikut bersemangat, karena merasa diperhatikan. Bila ini yang terkandung dalam senyum kepala sekolah, siapapun warga sekolahnya akan tumbuh semangatnya. Semua merasa dihargai. Kita semua mahfum bahwa bila seseorang merasa dihargai, maka semangat hidup yang mulanya layu akan kembali menyala. Bagi itu menambah gairah dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Bagi siswa itu akan memacu semangatnya untuk berprestasi lebih tinggi. Termasuk pegawai sekolah akan lebih semangat melaksanakan tugasnya. Singkat kata, semangat yang terkandung dalam senyum yang tulus, ibarat matahari pagi yang memberi kehangatan kepada isi bumi. Kedua, N= Niat yang tulus yang terbit dari seseorang yang memiliki pandangan jauh ke depan ( visioner ). Niat yang bersih dari ambisi sesaat, niat yang hanya memberi dengan mengharapkan ridho Tuhannya. Bagi seorang kepala sekolah, senyum yang dilandasi  niat yang tulus akan memberikan dampak positif  baik bagi dirinya sendiri maupun bagi warga sekolah yang dipimpinnya. Bagi pribadi kepala sekolah niat yang tulus akan menghindarikan dirinya dari penyakit stres bila ditemuinya kegagalan. Justru kegagalan akan menjadi pemacu dirinya untuk lebih hati-hati dan waspada. Bagi warga sekolah, niat yang tulus yang terpancar dari senyum kepala sekolah akan menumbuhkan kepercayaan kepada sang pemimpin. Pada akhirnya tumbuh rasa saling percaya dan kerja sama akan terjalin harmonis mewujudkan cita-cita bersama. Ketiga , Y= Yakin, keyakinan yang teguh yang dilandasi iman yang kuat bahwa segala sesuatu akan terjadi hanya dengan kehendak Allah. Dengan bersandar kepadaNya, keyakinan menumbuhkan sikap tegas dan wibawa. Bagi kepala sekolah, keyakinan yang terpancar dari senyum tulusnya akan menambah wibawanya. Pada akhirnya berdampak pada tumbuhnya keyakinan bagi warga sekolah bahwa prestasi dapat dicapai dengan keyakinan yang kuat. Keempat,U=Ulet, merupakan gambaran sikap tidak mudah putus asa dan semangat pantang mundur. Bila ini terpancar dari senyum tulus sang kepala sekolah, maka akan menumbuhkan motivasi luar biasa bagi peningkatan etos kerja warga sekolah. Kelima, M=Menggerakkan, yaitu dampak dari senyum yang tulus. Warga sekolah dengan sendirinya akan tergerak mengikuti tujuan yang ingin dicapai sang Kepala Sekolah dan dengan rela melaksanakan tugasnya dengan segenap kemampuannya. Dengan demikian bukan mustahil prestasi sebagai sekolah berprestasi akan mudah digapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENUTUP&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa satu di antara banyak faktor yang mendukung tercapainya sekolah berprestasi adalah sikap dan komitmen sang kepala sekolahnya. Kepala sekolah yang senantiasa menebarkan senyum kepada seluruh warga sekolah maka dengan sendirinya akan membangun suasana yang harmonis antar warga sekolah dan selanjutnya dengan bekerja sama antar warga sekolah bersama kepala sekolah akan lebih mudah mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. &lt;br /&gt;
Selanjutnya dari akronim kata “SENYUM” ( SE= Semangat, N = Niat, Y = Yakin , U = Ulet dan M = Menggerakkan ) , tergambar bahwa sang Kepala Sekolah merupakan pemimpin yang memang pantas untuk diikuti dan dibanggakan. Dengan kata lain, Senyum baik secara harfiah maupun secara istilah pada akronim tersebut merupakan amunisi dahsyat bagi keberhasilan Kepala Sekolah  melaksanakan tugas kepemimpinannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kusuma, Pandi. 2004. “Wajah dan Sebuah Senyuman ”.  http://kotasantri.com (di-download  April 2007).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alqarni, Aidh . 2006. “Senyuman” . http://id.wikipedia.org/wiki/Senyum (di-download  April  2007).&lt;/span&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2011/10/makalah-dipaparkan-dalam-seleksi-calon.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-6718230211502772525</guid><pubDate>Fri, 09 Sep 2011 23:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-10-14T13:16:18.130+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pembelajaran</category><title>LINK PANDUAN MEMBUAT BLOG</title><description>&lt;br /&gt;
1. Panduan Membuat Blog by Kang Rohman  &lt;a href="http://kolom-tutorial.blogspot.com/2007/04/bikin-blog.html"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. Panduan Gratis Cara &lt;span class="fullpost"&gt;Membuat Blog atau Website &lt;a href="http://membuat-blog.com/"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
3. Tutorial Membuat Blog untuk Pemula by Oka Mahendra  &lt;a href="http://tutorialgratis.net/2008/03/14/tutorial-membuat-blog-untuk-pemula/"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2011/09/link-panduan-membuat-blog.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-653153317271300544.post-511525665248473272</guid><pubDate>Tue, 06 Sep 2011 08:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-01-01T22:22:18.470+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pembelajaran</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tugas Kuliah</category><title>MEDIA PRESENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMP</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt; Silahkan didownload bila memerlukan. Boleh disebarluaskan dengan tetap mencantumkan sumber asalnya. Terima kasih:&lt;br /&gt;
1. SLIDE PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN BILANGAN BULAT  &lt;a href="http://www.4shared.com/file/BqHKJSWK/1_PENJUMLAHAN__.html"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. SLIDE MEDIA PRESENTASI OPERASI BILANGAN BULAT  &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/16302766 MEDIAPRESENTASIOPERASIBILANGANBULAT.zip.html"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
3. SLIDE MEDIA PRESENTASI PENERAPAN KESEBANGUNAN  &lt;a href="http://www.slideshare.net/Quyoung/penerapan-kesebangunan-kelas-9-smp"&gt;download&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
4. SLIDE MEDIA PRESENTASI PENGURANGAN BILANGAN BULAT &lt;a href="http://www.4shared.com/file/gz95saMG/2_PENGURANGAN.html"&gt;download&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
5. SLIDE MEDIA PRESENTASI PERKALIAN BILANGAN BULAT  &lt;a href="http://www.4shared.com/file/1LaIZaWO/3_PERKALIAN_.html"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
6. SLIDE MEDIA PRESENTASI PEMBAGIAN BILANGAN BULAT &lt;a href="http://www.4shared.com/file/6mJQkcI-/4_PEMBAGIAN__.html"&gt;download&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
7. SLIDE MEDIA PRESENTASI POLA BILANGAN  &lt;a href="http://www.slideshare.net/Quyoung/temukan-pola-bilangan-kelas-9-smp"&gt;download&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
</description><link>http://marion-rebai.blogspot.com/2011/09/media-presentasi-pembelajaran.html</link><author>noreply@blogger.com (MARION REBA'I)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>