<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422</id><updated>2024-11-08T22:39:54.788+07:00</updated><category term="pertanian"/><category term="gerakan-sosial"/><category term="ekonomi"/><category term="pertanian alami"/><category term="keberanian"/><category term="pertanian organik"/><category term="bantuan"/><category term="gotong-royong"/><category term="in English"/><category term="sekolah"/><category term="guru"/><category term="kapulaga"/><category term="land"/><category term="perempuan"/><category term="siswa"/><category term="puisi"/><category term="wikimapia"/><category term="gaji guru"/><category term="pembaruan agraria"/><category term="ujian"/><title type='text'>Masa Depan Petani</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>91</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-7430886567234481852</id><published>2012-03-17T18:39:00.001+07:00</published><updated>2012-03-17T18:41:14.743+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pembaruan agraria"/><title type='text'>Apa kata peneliti UGM tentang kegagalan reforma agraria?</title><content type='html'>Ini hasil penelitian seorang peneliti dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, mengapa reforma agraria, kata dia, tak bisa menyelesaikan masalah kemiskinan. Identifikasi masalahnya kelihatannya masih “yang itu-itu juga” ..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;UUPA masih berhenti sebatas kebijakan di atas kertas. Selama ini tidak ada usaha secara konsisten dan signifikan untuk mengimplementasikan undang-undang (UU) tersebut; UUPA kurang diimplementasikan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;tidak ada usaha secara konsisten dan signifikan untuk mengimplementasikan undang-undang (UU) tersebut&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;tidak berjalan sebagaimana mestinya karena reformasi itu hanya dijadikan alat kekuasaan dan kepentingan rezim, kelompok, dan individu.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;regulasi bidang ekonomi dan program yang dicanangkan pemerintah selama ini justru tidak mendukung tercapainya tujuan reformasi agraria, tetapi malah menjauhkan rakyat dari sektor agraris.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;lemahnya kepastian hukum atas tanah&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;adanya kepemilikan sertifikat ganda, terkait hak guna usaha (HGU), sengketa warisan, dan sengketa perdata&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;dualisme sumber hukum pertanahan yakni hukum nasional atau UUPA dan hukum adat yang mengakibatkan tidak ada saling pengertian dalam setiap sengketa pertanahan yang melibatkan tanah adat atau hak ulayat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dualisme hukum tersebut menciptakan batas-batas tanah yang tidak jelas atau berbeda, dan masing-masing mengklaim mereka paling benar&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tawaran solusi yang diusulkannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;pemberian kepastian hukum secara administratif tanpa disangkutkan dengan program pembangunan yang ujung-ujungnya dimanfaatkan pemerintah dan swasta.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penataan kepemilikan tanah yang lebih lengkap, tidak hanya sekadar mengatur ukuran batas dan ukuran luas&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan, coba, siapa sanggup melaksanakannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sumbernya: &lt;a href=&quot;http://www.antaranews.com/berita/1331224350/peneliti-reformasi-agraria-kurang-berhasil-atasi-kemiskinan&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Antara News Agency, 8/3/2012:&amp;nbsp;Peneliti: reformasi agraria kurang berhasil atasi kemiskinan&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/7430886567234481852/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/7430886567234481852?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/7430886567234481852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/7430886567234481852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2012/03/apa-kata-peneliti-ugm-tentang-kegagalan.html' title='Apa kata peneliti UGM tentang kegagalan reforma agraria?'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-4288453529311492167</id><published>2012-03-16T21:58:00.001+07:00</published><updated>2012-03-16T22:04:01.480+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="keberanian"/><title type='text'>Gerakan Petani Dusun Ciècèng di Tasikmalaya</title><content type='html'>&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini pernah kami unggah di blog ini, tapi Google menyebut ada banyak &quot;aktivitas aneh&quot; pada akun kami. Apa lagi kalau bukan spams? Maka tulisan puenting bagi kami ini kami unggah lagi. Apalagi, apalagi .. tulisan ini juga sudah diacu oleh para peneliti internasional dalam bidang studi sosial dan politik pedesaan. Mohon mafhum dan maklum dengan keadaan lama kami tak mampu membula akun ini. Ini link html sebelumnya: &lt;a href=&quot;http://sekolahpetani.blogspot.com/2006/03/gerakan-petani-dusun-cicng-di-ciamis.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Gerakan Petani Dusun Cieceng di Tasikmalaya&lt;/a&gt;.&lt;/i&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Herdi Mismuri dan Prasetyohadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BERIKUT ini adalah catatan urutan peristiwa gerakan petani dari warga dusun Ciècèng, desa Sindang Asih, kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Desember 1999 s.d. April 2003&lt;/span&gt;. Catatan ini merupakan bagian dari sebuah artikel yang diterbitkan oleh Perhimpunan Karsa, Yogyakarta, yang akan segera terbit tahun 2007 ini. Semula catatan ini berasal dari catatan lapangan disusun oleh Herdi Mismuri, seorang pegiat Forum Pemuda dan Mahasiswa untuk Rakyat (FPMR) dari Tasikmalaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;1917&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sebelum tahun ini, areal ini adalah lahan garapan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat desa setempat.&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Warga koloni Belanda, Klasen dan Suminden, datang untuk mengontrak tanah untuk menanam karet.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kedua orang Belanda ini mendekati tokoh masyarakat setempat Ki Madsari, namun ditolak. Kemudian mereka mendekati Ki Madrapi, yang kemudian menyambut baik dan menyetujui rencana kontrak. Sejak itu lahan garapan warga setempat menjadi perkebunan karet milik Belanda.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;1945&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Paska kemerdekaan Indonesia, dan sebelum Belanda meninggalkan Indonesia, tanah itu diserahkan pada Pak Karto.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;
&lt;li&gt;Perkebunan dibabat dan kembali dijadikan lahan garapan masyarakat, tapi dengan syarat harus membayar ongkos sewa dan pajak.&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;1950&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Tuan Regen, seorang Belanda, mengambil kembali tanah itu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;
&lt;li&gt;Namun Indonesia menasionalisasikan lahan tersebut dan dibentuk Perkebunan Pemerintah Nasional (PPN), dan kemudian berganti lagi menjadi Perusahaan Nasional Perkebunan (PNP) dan kemudian sampai sekarang menjadi PTPN VIII Bagjanegara.&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;1984&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Camat Cikatomas yang menjabat waktu itu mengeluarkan pernyataan yang membuat warga petani memiliki harapan untuk menggarap tanah perkebunan yang tak terurus itu: “Kalau tanah Hak Guna Usaha (HGU) diterlantarkan dalam jangka waktu 25 tahun, maka tanah tersebut kembali dikuasai negara. ... Dari keseluruhan tanah yang diklaim oleh PTPN Bagjanegara terdapat sekitar 20 hektar yang diterlantarkan.”&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;1985&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Masyarakat menggarap tanah tersebut dengan persetujuan tak langsung dari Camat. Setelah satu masa panen dan hasil garapan mulai dapat dirasakan, warga petani setempat memohon tanah tersebut menjadi hak milik. Tapi permohonan ini tidak menghasilkan apa-apa. Camat berkata, tidak akan diberikan sama sekali, kapan pun.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;
&lt;li&gt;Masyarakat tani tak merasa putus asa, dan terus menggarap tanah itu dengan tanaman kapuk, kopi, teh, padi, pisang, dll.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pihak perkebunan melalui dua orang satpamnya membabat habis tanaman rakyat sampai terjadi bentrok fisik. Warga petani merasa sakit hati dan timbul semangat untuk berjuang mendapatkan tanah itu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Selama bertahun-tahun setidaknya sejak beroperasinya PTPN VIII Bagjanegara kondisi kehidupan petani sangat tertekan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Masyarakat menghidupi diri mereka secara subsisten dari hasil pertanian. Sering terjadi bencana kelaparan, meskipun tak ada yang sampai meninggal. Sebelum melakukan penguasaan tanah, penghasilan rata-rata para petani sangat minim, per hari Rp2.000; sementara tanggungan keluarga rata-rata empat orang. Warga petani rata-rata lulusan sekolah dasar dan putus sekolah. Sampai saat itu tidak ada sekolah dasar di dusun Cieceng. Lokasi terpencil. Jarak dari dusun ke jalan raya sejauh sembilan km. Keadaan jalan desa buruk. Tidak ada listrik. Sebanyak 98 kepala keluarga warga dusun Ciècèng tidak punya tanah sama sekali baik untuk pertanian maupun rumah. Sisanya umumnya punya tanah bercocok tanam 0,2 ha, dan rumah sederhana. Banyak yang lain memiliki rumah tapi tak layak.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Namun, di sisi lain, praktik kehidupan para karyawan dan mandor perkebunan sangatlah berbalikan, karena dipenuhi praktik manipulasi, penyelewengan, dan korupsi, yang sangat merugikan negara. Beberapa praktik korupsi para karyawan dan mandor perkebunan berikut ini telah membuat perusahaan negara itu menyengsarakan para buruhnya dan sebenarnya perusahaan itu sudah lama bangkrut.&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;memanipulasi luas areal perkebunan; dalam sertifikat HGU dinyatakan seluas 348 hektar, sementara dalam monograf desa tercatat 625 hektar, padahal dalam perkiraan di lapangan luasnya mencapai lebih dari 1.000 hektar,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;
&lt;li&gt;dari tahun ke tahun perusahaan memperluas areal perkebunan ke lahan-lahan milik warga di sekitarnya,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;memanipulasi jenis tanaman yang diwajibkan diproduksi dalam sertifikat HGU; kira-kira 150 hektar lahan ditanami dengan pohon mahoni,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;memanipulasi laporan dan mencuri bahan bakar untuk generator listrik; dilaporkan bahwa listrik hanya dikonsumsi selama 24 jam sehari, padahal setiap harinya hanya dinyalakan selama enam jam,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;memanipulasi laporan jumlah hari kerja para buruh perkebunan. Dilaporkan bahwa para buruh bekerja selama 30 hari, padahal kenyataannya mereka hanya dipekerjakan selama enam hari dalam sebulan,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mengupah para buruh 68% lebih rendah daripada ketentuan upah buruh regional,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;memotong besar upah buruh perempuan sebesar rata-rata 13% jika dibandingkan upah buruh laki-laki,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mempekerjakan buruh anak-anak, dengan hanya mengganti ongkos kerja sebesar seperlima upah buruh normal.&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Januari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kepala dusun Ciècèng bersama tokoh masyarakat lain mendesak Camat Cikatomas untuk memberikan tanah tersebut.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Camat mengantar masyarakat ke Kantor Agraria/BPN untuk mendapatkan kejelasan tentang status tanah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hasil kesepakatan:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;BPN melakukan pengukuran ulang&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Biaya pengukuran ditanggung warga dusun; setiap warga dipungut Rp5,-&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kalau ada kelebihan luasan tanah wilayah HGU, maka tanah akan diserahkan warga dusun.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;BPN hanya berjanji dan tidak melakukan pengukuran.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;1997&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Karena bosan dan jengkel, masyarakat nekad memperluas areal garapan dengan pertama-tama membabat tanaman perkebunan yang sudah tidak produktif lagi, hingga areal jadi 200 ha.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Timbul ketegangan, seorang pegawai PTPN dan seorang aparat pemerintah kecamatan Cikatomas datang dan berdialog dengan warga dusun di madrasah Curug Dèngdèng, dusun Ciècèng, dengan hasil kesepakatan:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Masyarakat boleh menggarap tapi hanya untuk tanaman musiman (tumpang sari)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Lahan tidak boleh untuk menggembalakan ternak.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Warga terpaksa menerima, tapi karena banyak punya hewan piaraan, mereka terpaksa sembunyi-sembunyi menggembalakan ternak di lahan sengketa sampai akhirnya pihak perkebunan mengetahuinya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;1999&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Desember&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Terjadi pemukulan terhadap warga. Seorang aparat keamanan perkebunan memukuli seorang ajengan terhormat di desa. Ajengan ini adalah salah seorang warga dusun yang kesehariannya menggembalakan kerbau di lahan yang diterlantarkan itu. Kerbau dibawa ke bedeng perkebunan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Warga merasa dilecehkan, karena ajengan ini adalah salah seorang tokoh agama setempat, pengajar agama anak-anak, pemuka pengajian. Warga marah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Warga membabat persemaian pohon mahoni milik perkebunan sampai habis.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Warga berkenalan dengan pendamping petani dan seorang koordinator OTL dari SPP dari desa yang bersebelahan. Petani tertarik untuk membentuk organisasi tani. SPP meminta warga dusun untuk datang belajar berorganisasi dari Forum Pemuda Mahasiswa untuk Rakyat (FPMR) di Tasikmalaya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Warga dusun pulang untuk bermusyawarah apakah perlu membentuk organisasi dan bergabung dengan SPP. Tokoh masyarakat ini memutuskan perlu untuk berorganisasi dan bergabung dengan SPP.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tokoh warga tani menyebarkan hasil musyawarah ke seluruh warda desa Sindang Asih (dusun Sinagar Kajar-Kajar, Cibogo, Jogjogan, Tanglar). Masyarakat menyambut antusias. Sebanyak 800 orang mendaftarkan diri menjadi pemohon jadi anggota.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;2000 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Januari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Warga dusun menghadiri acara halal bil halal SPP. Mereka mendapat informasi bahwa HGU PTPN Bagjanegara Blok Gedebong sudah habis 1997. Ini memotivasikan warga desa untuk mendesak BPN.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;FPMR membantu memberikan pengarahan. Sekretaris Jenderal SPP ikut mendorong agar segera membentuk organisasi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pembentukan organisasi. Pemilihan koordinator, sekretaris, bendahara. Pekerjaan: mendata calon pemohon, menyusun kronologi kasus tanah, mengumpulkan KTP, dll. Pembagian kelompok menjadi 13: dusun Ciècèng enam kelompok (Karaminan, Leuwi Roke, Leuwi Roke 2, Curug Dèngdèng, Ciècèng 1 dan Ciècèng 2), dusun Tenjolaya 3 (Sinagar 1, Sinagar 2, Kajar-Kajar), dan satu lagi sejumlah 49 orang penggarap/pemohon yang berada di luar desa, yaitu dari dusun Pesanggrahan di tetangga desa Neglasari.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penerapan sistem demokrasi dan musyawarah dalam mengambil keputusan, melibatkan kalangan uztads dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Pertemuan seminggu sekali, penentuan dana perjuangan berupa iuran wajib rutin Rp500/bulan atau satu cangkir gelas per anggota, di samping pemungutan sejumlah prosentase kecil dari hasil produksi (Rp10/kg singkong dan pisang), yang kemudian 50% diberikan kepada desa. Kadang-kadang menerima hibah. Untuk aksi ke Jakarta yang kadang-kadang dilakukan, anggota ditarik Rp20.000.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Strategi lain yang dikembangkan: aksi demonstrasi, lobby-lobby ke kalangan pemerintahan, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, kalangan masyarakat awam, mengadakan konferensi pers untuk membentuk opini publik lewat media massa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Banyak dari antara mereka yang semula kontra sekarang mendukung.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;February 20&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bertepatan dengan 16 Dzulqa`idah, 250 orang petani bersama dengan para pendamping dari FPMR dan dipimpin oleh Sekjen SPP mendatangi kantor DPRD II Tasikmalaya dengan naik empat buah truk, untuk menyampaikan tuntutan:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;HGU yang sudah habis tidak boleh diperpanjang lagi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hentikan segala bentuk kekerasan terhadap petani&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berikan tanah untuk petani.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Petani diterima oleh Komisi A DPRD Tasikmalaya. Anggota komisi berjanji menyampaikan tuntutan “ke atas”. Aksi ini semakin meyakinkan semangat petani untuk berjuang mendapatkan tanah.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Maret &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;500 orang petani bersepakat untuk bersama-sama menebang pohon-pohon karet dan coklat, target waktu tiga hari, dalam luasan 500 hektar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Petani membabat pohon-pohon karet dan coklat milik perkebunan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Polsek Cikatomas menangkap tujuh orang petani. Mereka dibawa ke kantor Polsek Cikatomas, lalu ke Mapolres Tasikmalaya. Berita penangkapan tersebar luas di desa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;500 orang warga desa berkumpul untuk memusyawarahkan peristiwa itu. Keputusan:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;mengutus beberapa orang tokoh pergi ke FPMR untuk memberitahukan peristiwa penangkapan dan minta bantuan untuk mengeluarkan mereka yang ditahan dari polres,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;membalas penangkapan dengan melanjutkan penebangan pohon karet dan coklat.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Satu truk aparat Dalmas (Pengendali Masyarakat) dan tiga minibus dari Polres Tasikmalaya datang untuk menghentikan aksi penebangan. Para petani menolak, dan hampir terjadi bentrok fisik. Ketegangan dapat dilerai setelah ada dialog di antara petani dan aparat keamanan. Polisi berjanji bersedia melepaskan tujuh orang tahanan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Polisi melepaskan ketujuh orang petani yang ditahan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Beberapa hari kemudian ..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Polres Tasikmalaya melayangkan dua tahap surat panggilan yang ditujukan kepada beberapa orang petani yang semula ditahan ditambah dengan beberapa petani lain. Mereka dijadikan saksi untuk perkara “pengrusakan barang milik orang lain.”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Para petani yang diundang mendatangi kantor Polres untuk memberikan keterangan tentang penebangan pohon-pohon di perkebunan tersebut.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Polisi menetapkan mereka menjadi “tersangka”.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Namun, para petani dan para pengacaranya mengajukan surat permintaan penangguhan penahanan. Permintaan dipenuhi. Petani pulang.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 11&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pimpinan SPP, FPMR bersama dengan beberapa orang delegasi yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh agama, seluruhnya 20 orang, mengadakan dengar pendapat dengan pihak Polres Tasikmalaya. Dengar pendapat dilakukan di markas Polres Tasikmalaya, dihadiri Kapolres Makmun Saleh, pihak BPN, Dinas Perkebunan, DPRD Tasikmalaya. Dari dengar pendapat didapatkan simpulan bahwa (1) pihak perkebunan tidak dapat menunjukkan bukti pemilikan HGU, meskipun pihak perkebunan mengatakan HGU telah diperpanjang. (2) tidak akan dilakukan penangkapan petani, (3) semua aset perkebunan harus diambil keluar, termasuk semua pohon karet dan bangunan-bangunannya, dan (4) bahwa pihak Polres bersedia turun ke lapangan untuk berdialog untuk menegaskan hasil dengar pendapat. Namun para kenyataannya, pihak Polres tidak pernah datang ke area sengketa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dengan simpulan itu, para petani merasa yakin bahwa status tanah perkebunan sudah menjadi “tanah negara bebas” yang dapat digarap masyarakat. Maka para petani bersemangat mulai menggarap tanah tersebut dan membersihkan sisa-sisa aset perkebunan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;2001&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Mei&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 8&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sekretaris Serikat Buruh Perkebunan (SPBun) menyebarkan isyu di kalangan perkebunan, termasuk kepada wakil administrasi perkebunan, bahwa petani Ciècèng hendak membakar emplasmen (bèdèng) perkebunan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sekretaris SPBun membawa sekitar 350 orang preman bayaran dengan menggunakan empat truk dan dua minibus milik PTPN VII Bagjanegara. Mereka datang dari berbagai arah mata angin, antara lain dari arah Nagrog Cipatujah, Gunung Cupu Salopa, PTPN VIII Banjarnegara, Bengkok Salopa. Di antaranya juga terdapat sejumlah 50 orang preman bayaran dari Pataruman Cihideung Tasikmalaya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sejumlah 15 orang polisi (kemudian diketahui dari Polsek Cikatomas, Salopa dan Cikalong) bersama dengan lima orang tentara dari Koramil Cikatomas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sesampainya di lokasi, mereka mengepung rumah milik seorang petani Ciècèng. Sebanyak 20 orang masuk ke rumah dengan mendobrak pintu. Mereka mendapatinya tengah berada di kamarnya. Mereka menyeretnya sambil memukulinya. Bibirnya sobek, mata kiri bengkak, memerah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kabar tentang penganiayaan tersebar di desa-desa pendukung SPP.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sebanyak 300 orang anggota SPP berkumpul (tanpa komando) di jalan Opat (nama jalan yang terletak di perbatasan antara tanah yang diklaim perkebunan dan dusun Ciècèng) untuk berembuk menyikapi peristiwa penganiayaan itu. Di situ terdapat seorang aktivis mahasiswa FPMR. Keputusan: mereka tidak akan melakukan tindakan balasan sebelum berkoordinasi dengan pimpinan SPP. Mereka mengutus petani seorang warga Ciècèng bersama mahasiswa FPMR untuk menemui pimpinan SPP. Hasil rembug:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;merekomendasikan Koordinator FPMR untuk melaporkan peristiwa ini ke Mapolres Tasikmalaya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;merekomendasikan FPMR untuk melakukan konferensi media&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mengutus pegiat FPMR untuk melakukan investigasi sekaligus mengendalikan situasi, menemui korban untuk dibawa ke RSU Tasikmalaya untuk didapatkan fisumnya dan memberikan keterangan kepada Polres Tasikmalaya.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 11&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dua pegiat FPMR berangkat naik sepeda motor. Langsung menuju rumah korban. Kondisinya parah. Korban kemudian dibawa ke RS Tasikmalaya bersama istri dan ibunya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kedua pegiat FPMR menemui tokoh masyarakat Ciècèng, koordinator dan pengurus SPP di rumah salah seorang pemuka masyarakat petani setempat di kompleks pesantren Darul Hikam. Hasil pemahaman:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Akibat peristiwa itu, nama organisasi SPP menjadi bahan pergunjingan masyarakat, terutama mereka yang melawan perjuangan petani. Tak sedikit di antara mereka menuduh SPP sebagai “PKI, DI, anarkhis”, dsb.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Setelah hampir semua warga dusun Ciècèng sudah meninggalkan kampungnya untuk mengamankan diri. Ada yang ke kota-kota, tapi lebih banyak yang bersembunyi di hutan-hutan di sekitar kampung. Situasi dinyatakan “tidak aman”.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Warga petani tetap tidak akan melakukan perlawanan apa pun selama pihak perkebunan belum melakukan tindakan-tindakan yang dianggap sangat merugikan warga petani.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;15 orang preman dan lima orang polisi menyita kayu-kayu bahan bangunan, alat-alat pertanian (cangkul, sabit) serta peralatan dapur (piring, sendok, dlsb.).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dirasakan oleh para pegiat FPMR bahwa tindakan penangkapan membuat warga petani merasa terpukul dan mereka membuat penguatan semangat. Dalam masa-masa sangat sulit yang kurang lebih berlangsung selama tiga bulan, para pegiat FPMR melakukan konsolidasi menemui para petani yang berada ke lokasi-lokasi mengamankan diri. Mereka saling terpisah satu sama lain dan tidak bisa saling berkomunikasi, terutama di hutan-hutan. Para pegiat FPMR bersama dengan para petani berupaya mengatur strategi bagaimana dapat melawan penekanan-penekanan itu, misalnya:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;para pegiat FPMR berusaha mempelajari dan mengkaji medan lokasi sengketa yang berbukit-bukit dan sulit dicapai&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mendatangkan orang-orang dari luar yang memiliki kemampuan menjalankan strategi pertahanan dan menggali kekuatan supranatural untuk mengangkat semangat para petani.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;para petani sendiri berusaha mencari bantuan kekuatan supranatural dari tempat-tempat lain.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 12&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kepala desa Sindang Asih mengundang warga petani untuk membicarakan rencana acara musyawarah yang akan dihadiri oleh Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim. Rapat desa memutuskan warga petani akan memenuhi undangan tersebut.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sementara itu, 30 orang preman dan aparat kepolisian melakukan sweeping dan penangkapan terhadap tujuh orang warga petani SPP/Ciècèng.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Proses sweeping dan penangkapan:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;menghadang di jalan dan menangkap tiga orang tokoh warga petani Ciècèng dan ditahan di mapolsek Cikatomas&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;melakukan sweeping di kampung Karamian dan secara tidak sopan masuk ke dalam kompleks pesantren Darul Hikam.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;menggeledah enam buah rumah; mereka mengobrak-abrik isi rumah,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mendobrak pintu masjid, masuk ke dalam masjid tanpa membuka sepatu, menendang mimbar, tempat al-Qur’an, dan kitab-kitab, sehingga berantakan,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mendobrak asrama putra dan putri,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mengancam menyandera anak usia tujuh tahun, anak dari seorang ajengan, sebagai jaminan. &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 13&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sejumlah 15 orang polisi datang kembali ke lokasi pemukiman warga petani.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mereka menghancurkan 1.400 genting rumah yang siap dipakai milik dari salah seorang warga Ciècèng,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;membabat tanaman pisang, kelapa, dan merusak saung milik tiga orang warga dusun; areal yang dibabat mencapai 2,5 hektar,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;turun ke kampung dan mengobrak-abrik rumah-rumah penduduk.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 14&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;15 orang polisi dan preman beramai-ramai datang lagi ke pemukiman warga&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;membakar saung milik empat orang warga dusun&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menemukan seseorang lain dari warga dusun di tengah jalan, lalu mengejarnya dan menembakkan senjata beberapa kali ke atas, tapi ia berhasil lolos dan masuk ke hutan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sejumlah 20 warga terkemuka di antara para petani dan beberapa pegiat FPMR melakukan gelar musyawarah. Hasil kesepakatan:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Masyarakat tidak lagi akan mengalah, karena tindakan polisi dan preman sudah dinilai keterlaluan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menyatakan seruan jihad melawan segala tindakan biadab dari perkebunan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Warga petani bersiap-siap dengan mengkoordinasikan hasil keputusan kepada seluruh anggota SPP&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bupati Tasikmalaya datang dan dialog diadakan dengan warga petani di bèdèng perkebunan. Pihak lain yang hadir: Kapolres Tasikmalaya, Camat Cikatomas, Kades Sindang Asih dan pejabat perkebunan. Hasil dialog:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;-    Sikap bupati:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
•    tanah sengketa itu masih bagian dari HGU perkebunan. Maka masyarakat tidak bisa memilikinya.&lt;br /&gt;
•    warga petani tak bisa mengambil langsung tanah ini. Harus lewat “prosedur” hukum.&lt;br /&gt;
•    mempersilakan pihak perkebunan membabat tanaman petani, karena tanaman itu dianggapnya “liar”.&lt;br /&gt;
•    tak menyinggung sedikit pun adanya 350 preman perkebunan dan aparat polisi yang melakukan kekerasan terhadap petani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;-    Sikap kapolres:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
•    biang masalah di dusun Ciècèng adalah Sekjen SPP cs. dan empat orang tokoh masyarakat setempat,&lt;br /&gt;
•    akan terus mengejar siapa pun yang telah diadukan oleh pihak perkebunan dalam kasus penebangan,&lt;br /&gt;
•    meminta saksi pihak perkebunan untuk memroses lebih lanjut tersangka yang telah ditangkap,&lt;br /&gt;
•    menghimbau perkebunan untuk menyertakan saksi dan bukti (foto) ketika mengadukan masalah penebangan tanaman perkebunan.&lt;br /&gt;
•    Perkebunan menginstruksikan preman dan polisi untuk:&lt;br /&gt;
-    membabat habis tanaman petani karena sudah ada ijin dari bupati,&lt;br /&gt;
-    membakar semua saung warga petani,&lt;br /&gt;
-    menangkap seorang warga desa Sindang Asih yang ikut dalam gerakan tani dusun Ciècèng, dan menganiayanya; peristiwa terjadi di tetangga dusun Tanglar,&lt;br /&gt;
-    menutup akses keluar-masuk dusun Ciècèng; kegiatan ekonomi lumpuh total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 15&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Polisi dan preman kembali melakukan sweeping kekerasan (pkl16:00). Mereka menangkap dan menggelandang enam orang anggota SPP/warga Ciècèng. Mereka juga dianiaya oleh para polisi dan preman. Dalam proses penangkapan mereka juga melakukan tindak kekerasan di beberapa dusun. Berikut ini detilnya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;-    Dusun Sinagar:&lt;br /&gt;
•    Menganiaya seorang perempuan (38), warga dusun Sinagar, mengakibatkan luka memar di muka dan nyeri di sekitar rahang; ibu ini mengalami shock.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-    RT Karamian:&lt;br /&gt;
•    Melempari batu rumah seorang pemuka petani setempat; akibatnya semua kaca rumah pecah, dinding anyaman bambu disobek-sobek,&lt;br /&gt;
•    Membakar sepeda motor,&lt;br /&gt;
•    Membakar 16 saung huma,&lt;br /&gt;
•    Merusak tanaman kapiol, pisang dan kelapa,&lt;br /&gt;
•    Mengacak-acak dua kolam ikan milik dua orang warga dusun,&lt;br /&gt;
•    Merampok ikan-ikan di dalam kedua kolam,&lt;br /&gt;
•    Merusak pipa-pipa aliran air bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-    RT Curug Dèngdèng:&lt;br /&gt;
•    Mengancam anak bapak kepala dusun (sebagai sasaran utama mereka) hendak memukul, jika tidak memberitahukan tempat persembunyian ayahnya,&lt;br /&gt;
•    Melempar batu rumah kepala dusun, semua kaca pecah, dinding anyaman bambu diacak-acak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-    RT Leuwi Roke:&lt;br /&gt;
•    Mengancam istri tokoh petani setempat dan mengalunginya dengan clurit; mengancam akan memperkosa kalau tak menyebutkan tempat persembunyian suaminya. Ketika terjadi, ada keempat anak keluarga itu dan dua orang tamu.&lt;br /&gt;
•    Preman lain mengacung-acungkan golok, memegang seekor ayam, dan membacoknya, sambil mengujarkan kata-kata ancaman yang kasar.&lt;br /&gt;
•    Melempar rumah dengan batu hingga semua kaca pecah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 17&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Polisi dan preman berusaha menangkap tokoh petani setempat yang sedang mengamankan diri dengan cara mengancam istrinya dengan ujaran hendak membakar rumah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;(intimidasi) Perkebunan menyebarluaskan segel/formulir yang dipaksakan harus diisi dan ditandatangani oleh warga petani anggota SPP bahwa mereka telah keluar dari keanggotaannya dari organisasi petani tersebut.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 18&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Polisi dan preman melanjutkan aksi sweeping kekerasan. Mereka menangkap dua orang warga petani, lalu menyeret mereka ke Mapolres Tasikmalaya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam masa penggeledahan itu tercatat 36 orang petani ditangkap namun sebagian mereka dikeluarkan dengan status tahanan luar, dan 16 orang tetap ditahan sampai ke proses persidangan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penyidangan dan pemenjaraan terhadap 12 orang petani, masing-masing selama 3,5 bulan dan 14 orang di vonis dengan empat bulan penjara.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Para tokoh petani yang masih di luar dan telah pulang ke dusun dari tempat mengamankan diri memutuskan untuk bertekad melawan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 22&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Terjadi bentrok fisik. Sejumlah 200 orang polisi dan preman mengepung dusun dari empat arah. Masing-masing dipimpin oleh dua orang polisi. Warga petani SPP berjumlah hanya 30 orang, di bawah komando dua orang pegiat dari FPMR. Pihak petani memenangkan bentrok itu. Ada 3 orang “musuh” yang terpaksa ditandu: seorang pensiunan tentara, seorang preman, seorang karyawan perkebunan. Preman dan polisi menyerah. Warga petani merampas dan mengamankan semua persenjataan mereka, berupa golok, samurai, peluru, sebuah alat komunikasi. Warga petani juga menahan KTP dari mereka yang tertangkap.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sekjen SPP menyerahkan peluru dan alat komunikasi handy-talky ke Polwil Priangan sebagai barang bukti pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia/petani yang dilakukan oleh aparat keamanan polisi.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt; Selang hari ..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sesama petani dari organisasi petani lain dari desa Nagrog di lingkaran SPP menyatakan rasa solidaritas dengan cara ikut berpatroli selama satu hari satu malam untuk menjaga keamanan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 27&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sementara di lapangan terus terjadi penggeledahan dan penangkapan. Sejumlah 12 orang petani diaspora Ciècèng disertai oleh 24 truk warga petani dari kabupaten lain yaitu Garut, Ciamis dan Taiskmalaya, mendatangi kantor gubernur dan DPRD dan Polda Jawa Barat. Mereka mendesak para pihak pemerintah untuk menghentikan tindakan brutal penggeledah¬an dan penangkapan yang terus dilakukan di dusun Ciècèng. Seperti biasanya, para pihak tersebut berjanji menindaklanjuti tuntutan para petani.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 29&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Namun, kekerasan masih berlanjut. Sejumlah 40 orang preman dan polisi menangkap seorang petani dan anaknya yang telah dewasa dari dusun Tenjolaya, serta seorang lain dari warga RT Curug Dengdeng di dusun Ciècèng. Mereka ditahan dua hari di mapolsek Cikatomas. Seorang kemudian dilepaskan. Tapi, dua orang lain ditahan lebih lanjut di mapolres Tasikmalaya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Taksiran kerugian yang diderita warga petani dari seluruh tindakan sweeping penangkapan dengan kekerasan: Rp200juta.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Selang hari lain ..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Perkebunan menarik pasukan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Warga petani yakin pemerintah/perangkat hukum polisi tidak dapat bersikap adil terhadap masyarakat. Pemerintah justru menjadi pelaku pelanggaran hukum mereka sendiri. Pemerintah justru bersikap pura-pura tidak tahu.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Selang beberapa saat (1½ bulan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Juli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dua orang karyawan perkebunan disiksa oleh warga petani, karena tertangkap ketika mereka masuk ke wilayah sengketa tanpa meminta izin terlebih dahulu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sementara itu, warga petani melanjutkan penebangan dan telah mencapai sekitar 80 persen dari seluruh luas perkebunan, walaupun baru 40 persen saja yang telah digarap secara produktif.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Agustus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 15&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pihak perkebunan, atas usul dari LSM Forum Lintas Pelaku, mengajukan perjanjian damai yang disebut dengan “islah” dengan SPP. Islah difasilitasi oleh Pemda Tasikmalaya dan dilakukan di ruang rapat bupati Tasikmalaya. Pihak SPP bersedia menerima tawaran islah ini, karena SPP menghargai niat baik atau tawaran perdamaian dari pihak perkebunan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Isi islah di antaranya adalah:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;pihak warga petani “berjanji tidak akan mengadakan tindakan yang pada dasarnya merupakan perbuatan untuk menambah luas penguasaan tanah garapan ...”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;“sementara menunggu kepastian status kepemilikan tanah dari BPN, masing-masing pihak tetap melakukan kegiatan-kegiatan masing-masing sehari-hari ... tanpa mengganggu satu terhadap yang lain ...”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;persetujuan nota kesepakatan pelaksanaan pengamanan bersama lokasi sengketa.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Perjanjian damai ditandatangani oleh Sekjen SPP dan pihak tokoh petani diwakili oleh empat orang petani. Pihak PTPN VIII Bagjanegara diwakili oleh Nono Sutaksono. Saksi yang ikut menandatangani adalah Rahmat Kurnia mewakili bupati Tasikmalaya, Ketua DPRD Tasikmalaya Heri Hendriana, Ketua Pengadilan Negeri Tasikmalaya Sopyan Yahya, Kapolres Tasikmalaya diwakili Saepul Hidyata, Ketua Serikat Buruh Perkebunan (SPBun) M. Effendi, Kades Sindang Asih Nana, Tim Pembela para terdakwa Agus Rajasa Sidari SH, dan Ketua Forum Lintas Pelaku Sukapura Eri.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Setelah islah disepakati, petani semakin bersemangat (dalam proses waktu selama sekitar delapan bulan). Mereka kembali aktif.&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;menggarap dan menduduki lahan,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mendirikan rumah-rumah hingga terbentuk perkampungan baru yang menempati beberapa blok. Antara lain: Jalan Lima, Datar, Cipaku, Jogjogan, Gunung Batu, Sinagar. Sebanyak 20 rumah sudah dibangun.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Semua pihak (petani, perkebunan, muspika kecamatan (polsek, MUI, koramil), LSM pendukung PTPN VIII Bagjanegara Forum Lintas Pelaku (FLP) mengadakan “syukuran” atas tercapainya “nota kesepatan” (islah); saling memaafkan, acara makan bersama. Yang paling penting dari acara ini adalah bahwa telah dilakukan sosialisasi dari nota kesepakatan untuk pihak-pihak berkonflik yang tinggal di sekitar lokasi konflik.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Perkembangan ini rupanya memancing kemarahan pihak perkebunan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;2002&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Maret&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;(13:00) Pihak perkebunan dengan membonceng satgas PDI-P mengintimidasi warga petani dengan menggunakan satu unit mobile HiLine. Mereka mendatangi warga petani yang sedang menggarap lahan. Warga petani menghadang balik mereka, hingga hampir terjadi bentrok fisik. Tokoh-tokoh masyarakat berusaha melerai. Satgas PDI-P tidak melakukan perlawanan dan pergi meninggalkan lokasi. Warga petani sempat mengidentifikasi tujuh orang di antara mereka.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;April&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tgl 30&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Massa sejumlah 900 orang, yang diangkut oleh pihak perkebunan dengan tujuh buah truk dan tiga mobil mini. Aksi yang dilakukan:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;masuk ke lahan sengketa,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;membabat tanaman milik warga petani di blok Sunubana,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;membakar rumah-rumah yang berada di sekitar blok tersebut.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sejumlah 70 orang warga petani menghadang gerombolan tersebut di ujung Blok Lima di mana telah dibangun pemukiman baru.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bentrok fisik terjadi,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Warga petani membakar mobil yang dipakai oleh gerombolan perkebunan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Gerombolan massa kocar-kacir. Tidak ada korban jiwa. Korban luka-luka dari antara gerombolan perkebunan mencapai puluhan orang.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Segera diberitakan di antara jaringan SPP di Garut, Tasikmalaya, Ciamis. Bantuan solidaritas untuk memperkuat keamanan lokasi reklaiming datang dari warga petani Cikupa, Cikaso, Bangun Karya, dsb.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Polres Tasikmalaya menahan empat orang warga petani. Tapi status mereka adalah tahanan luar sebagai tersangka perusakan dan pembakaran mobil.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Proses pembuatan berita acara pidana di polres Tasikmalaya, pelimpahan ke kejaksaan Tasikmalaya, sampai persidangan di PN Tasikmalaya berlangsung selama kira-kira satu tahun. Persidangan di pengadilan dilakukan sampai 18 kali. Setiap kali diselenggarakan persidangan tersebut, warga petani Ciècèng melakukan aksi solidaritas dengan menghadiri proses penyidangan di pengadilan, terutama untuk sidang penuntutan para petani dari pihak kejaksaan dan sidang pemeriksaan saksi yang memberatkan para petani serta saat penjatuhan vonis. Aksi besar yang dihadiri oleh sebanyak 3.600 orang dengan menumpang 60 truk digelar pada setiap momen proses hukum tersebut. Para peserta aksi berasal dari tiga kabupaten di Priangan Timur, yaitu Tasikmalaya, Garut dan Ciamis.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Semua petani yang disidangkan divonis bebas oleh majelis hakim. Warga petani memandang peristiwa ini sebagai kemenangan dan kemudian mereka diarak sebagai “pemenang telak” dalam proses pencarian kebenaran hukum.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sejak saat itu situasi di areal sengketa aman.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;2003&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Bulan-bulan awal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Warga petani terus melanjutkan penggarapan dan pengelolaan lahan pertanian. Pada masa ini persoalan penataan lahan menjadi prioritas yang harus segera dibereskan. Dalam musyawarah warga petani membahas dan mengambil kesepakatan dalam (1) tata guna lahan, (2) distribusi lahan untuk para anggota, (3) pengaturan produksi pertanian, terutama persoalan prosentase yang hendak diserahkan kepada pemerintah desa dan untuk organisasi petani. Untuk tanaman ketela pohon dan pisang, dua tanaman yang umumnya ditanam di area Ciècèng, petani harus menyerahkan Rp 10/kg. Untuk kayu yang ditebang, petani harus membayar Rp 5.000. Sementara itu, untuk retribusi tanah harus dibayar Rp10.000 per hektar kepada pemerintah desa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk tata guna lahan, disepakati bersama bahwa areal tanah dimanfaatkan untuk (1) konservasi, (2) lahan kolektif, (3) sarana-sarana umum, di antaranya untuk sekolah, lapangan olahraga, jalan, makam, dsb., (4) lahan pertanian produktif, (5) pemukiman.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pada akhir tahun 2003, setidak-tidaknya tanah garapan telah menghasilkan panen, terutama pisang dan singkong. Dari hasil panen, lebih dari Rp 6 juta telah disumbangkan oleh warga petani kepada pemerintahan desa. Warga desa berharap dengan sumbangan tersebut pemerintah desa bersedia menetapkan “peraturan desa” untuk memberikan legitimasi awal terhadap tanah garapan warga petani.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dalam upaya memperjuangkan pembaruan agraria warga petani Ciècèng memasuki arena politik desa dengan ikut serta dalam pesta demokrasi pilkades pasca berakhirnya masa jabatan kepala desa yang lama. Mereka mengajukan tokoh organisasi SPP Ciècèng sekaligus kepala dusun Ciècèng menjadi kepala desa yang akhirnya walaupun dengan selisih suara tipis pak tatang dapat duduk menjadi kepala desa Sindang Asih. Setelah sebelumnya SPP merebut lembaga legislatif desa (BPD).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Semenjak lembaga politik desa berhasil direbut, kondisi baik sosial politik ekonomi maupun pendidikan di desa Sindang Asih mengalami peningkatan walaupun tidak sedikit pula tantangan dan hambatan-hambatan yang dihadapi, misalnya lahirnya dua OTL baru yaitu dari desa tetangga Neglasari dan dusun Kajar-kajar (di dalam desa Sindang Asih).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kemudian masyarakat di wilayah lain di dalam maupun di luar desa desa Sindang Asih, misalnya desa tetangga Neglasari mulai menaruh simpati terhadap perjuangan petani Ciècèng.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;-    Untuk desa tetangga Neglasari, warga desa tersebut tertarik untuk membentuk OTL karena melihat relatif pesatnya perkembangan ekonomi dari warga desa Sindang Asih, terutama Ciècèng.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;-    Di dalam desa Sindang Asih sendiri sebenarnya masih ada beberapa dusun lain yang semula malah ikut menyerang warga Ciècèng. Tetapi karena tindakan pelayanan dan usaha-usaha sosialisasi yang dilakukan kepala desa baru baik dalam sambutan-sambutannya ketika berkunjung dan menghadiri berbagai acara desa, warga dusun lain mulai berubah sikap. Sebagai contoh selama ini program pemerintah untuk menjual beras murah (raskin) tidak pernah sampai mencapai sasaran orang miskin di pedesaan. Namun, dengan sepengetahuan warga dusun Ciècèng, beras murah didistribusikan kepada dusun-dusun tersebut. Dalam sambutan-sambutannya kepala desa terpilih dirasakan memiliki kepribadian yang tegas, adil, ulet. Hal ini sangat berpengaruh positif warga desa seluruhnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk menghilangkan stigma negatif terhadap warga petani SPP, ditegaskan kepada warga tetangga dusun dan desa bahwa dusun Ciècèng tetap terbuka untuk kegiatan ekonomi.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kepala desa baru menetapkan “peraturan desa” yang menegaskan bahwa tanah garapan dari eks-perkebunan dikelola oleh warga Ciècèng.&lt;span class=&quot;&quot; id=&quot;formatbar_InsertUnorderedList&quot; style=&quot;display: block;&quot; title=&quot;Bulleted List&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hal lain yang sifatnya memperkuat komunitas warga desa adalah pendirian sekolah formal yaitu madrasah ibtidaiyah dan madrasah tsanawiyah Darul Hikmah.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Juni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pendidikan anak-anak dirasakan sangat diperlukan oleh para warga petani di Ciècèng. Sekolah dan proses belajar-mengajar mulai diselenggarakan. Ada beberapa alasan mengapa sekolah untuk anak-anak haruslah segera diselenggarakan, apa pun bentuknya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dibutuhkan suatu usaha pendidikan yang baik yang dapat mempersiapkan kader-kader petani yang nantinya mampu memperkuat organisasi tani di dusun ini; agar anak-anak lebih mencintai dan membangun desanya dan tidak pergi ke kota karena terseret arus urbanisasi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;SD Negeri Gunungsugih yang terletak di dalam dusun ini sudah bangkrut sejak 2000.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Lokasi sekolah dasar lain yang terdekat berada Madrasah Ibtidaiyah Cikarees, kabupaten Ciamis dan SD Negeri di desa tetangga Harum Mandala, kecamatan Cigugur, kabupaten Ciamis. Untuk anak-anak usia SD jarak kedua sekolah tersebut sangat jauh, mencapai 4 km, dan hanya bisa dicapai dengan jalan kaki. Di musim hujan anak-anak tak bisa sekolah, karena harus menyeberang sungai Ciharuman yang biasanya meluap.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Namun penyelenggaraan sekolah ini dipersulit oleh pemerintah. Pemerintah tidak memberikan pengakuan legal untuk sekolah ini, karena (1) mereka mengetahui para pendiri sekolah ini adalah anggota-anggota SPP, (2) letak sekolah tersebut berada di dalam areal sengketa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Guru-guru diambil dari antara para petani dewasa, ulama, dan beberapa mahasiswa yang selama ini menjadi penggiat FPMR. Mereka bekerja sebagai relawan yang sebelumnya mengikuti pendidikan lewat seminar dan lokakarya-lokakarya serta studi banding ke sekolah-sekolah lain.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pendirian sekolah ini direncanakan dan dimusyawarahkan bersama dengan para warga petani. Salah satu peran serta yang sangat menentukan adalah bahwa sekolah ini dibangun dengan biaya dari iuran swadaya warga organisasi tani Ciècèng.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Banyak terjadi peningkatan dibandingkan dengan keadaan sebelum reklaiming. Memang belum ada sensus ekonomi di desa, tetapi daya beli warga desa meningkat. Sebelum reklaiming setiap dusun hanya memiliki sekitar 15 ekor kerbau, 25 ekor kambing. Sekarang mereka telah memiliki 200 kerbau atau sapi, sekitar 1.000 ekor kambing. Sebelum reklaiming hanya terdapat sekitar puluhan sepeda motor, tapi sekarang ratusan. Sekarang di antara warga Ciècèng telah memiliki dua unit truk, satu buah jeep Toyota bekas. Beberapa warga petani telah mampu membangun instalasi generator listrik bertenaga sampai 3.000 watt untuk penerangan dan kepentingan hidup sehari-hari lainnya; beberapa orang telah mampu membeli mesin giling gabah; pembangunan pabrik pembuatan tepung tapioka, memperbesar omset pembuatan kripik pisang dan selai pisang, banyak ibu rumah tangga membuka warung kelontong kecil.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Namun, pihak perkebunan rupanya masih terus melakukan usaha-usaha untuk merebut kembali lahan garapan petani itu. Di antaranya:&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menunggangi pemerintah kecamatan (muspika) dan para kepala desa lain di kecamatan untuk menekan kepala desa Sindang Asih agar para petani SPP penggarap menyerahkan lahannya ke perkebunan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meneror kepala desa dengan cara mengirimkan surat pernyataan bahwa HGU perkebunan telah diperpanjang dan mendesak kepala desa untuk membuktikan pernyataannya bahwa perpanjangan HGU tersebut cacat hukum.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengancam seluruh warga desa lewat kepala desa bahwa perkebunan akan nekad menanam bibit pohon karet.*** &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/4288453529311492167/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/4288453529311492167?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/4288453529311492167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/4288453529311492167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2012/03/gerakan-petani-dusun-cieceng-di.html' title='Gerakan Petani Dusun Ciècèng di Tasikmalaya'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-8174588547139383468</id><published>2010-12-16T00:56:00.000+07:00</published><updated>2010-12-16T00:56:02.985+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian alami"/><title type='text'>Bertani alami sangat mungkin diterapkan di Indonesia, tapi ..</title><content type='html'>&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=8185987009&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=FFFFFF&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;align: left; height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Begitulah kata &quot;tapi&quot; ini ternyata justru menjadi yang paling penting .. Maksudnya, jika tanah yang dikelola itu bukan &quot;milik&quot; sendiri atau aman dikerjakan dalam jangka waktu yang lama, maka sia-sia saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman ini nyata diderita oleh sebuah lembaga bermartabat pembela para petani. Waktu itu mereka hanya menyewa tanah yang bersangkutan. Dan metode alami sukses diterapkan. Lahan jadi subur. Tenaga kerja sangat minim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi si empunya tanah, setelah menyadari tanahnya jadi jauh lebih bagus daripada ketika disewa, dia tidak lagi memberi kesempatan para penyewa untuk melanjutkan .. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanah itu sudah pindah tangan lagi .. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ini tidak sia-sia?&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/8174588547139383468/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/8174588547139383468?isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8174588547139383468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8174588547139383468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/12/bertani-alami-sangat-mungkin-diterapkan.html' title='Bertani alami sangat mungkin diterapkan di Indonesia, tapi ..'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-6533814764978022303</id><published>2010-06-10T09:09:00.001+07:00</published><updated>2010-06-10T09:09:00.257+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ekonomi"/><title type='text'>Ada kelaparan di Ciamis</title><content type='html'>&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=0198284632&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=FFFFFF&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Kita bisa tak percaya bahwa di Ciamis sebagai salah satu kabupaten berbasis pertanian yang maju ternyata masih ada keluarga-keluarga yang tak bisa memberikan makanan cukup dan sehat kepada anak-anak mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita di bawah ini mungkin bisa kita anggap biasa-biasa saja. Tapi pada hemat kami, laporan insiden gizi terhadap anak-anak tergolong langka di Ciamis. Tapi kasus kedua anak ini toh terjadi dan wajib menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kemiskinan tetap mengancam keadaan pedesaan di Ciamis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2010/06/02/brk,20100602-252313,id.html&quot;&gt;Dua Bayi di Ciamis Derita Gizi Buruk&lt;br /&gt;
Rabu, 02 Juni 2010&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TEMPO Interaktif, Ciamis&lt;/a&gt; - Dua anak kecil masing-masing Hasanah, 10 tahun, warga Cijeungjing, serta Asep, 32 hari, warga Mekarjaya Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terdeteksi menderita gizi buruk. Hingga kini keduanya masih di rumah sakit dalam pengawasan tim kesehatan rumah sakit daerah Kabupaten Ciamis.&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeyen Maskamah, 42 tahun, ibu kandung Hasanah, Rabu (2/6), mengatakan anaknya sejak lama telah memiliki masalah gizi buruk. Kondisi dirinya yang seorang diri usai ditinggalkan suaminya 10 tahun lalu dengan ekonomi yang pas-pasan menjadi beban tersendiri bagi Hasanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga kini Hasanah baru dua kali dibawa ke rumah sakit untuk diberi perawatan. Sebagai kuli serabutan dengan penghasilan Rp 15 rupiah per hari, Yeyen mengaku sulit memberi asupan yang cukup untuk Hasanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang sejak lama anak saya sudah terkena,” ujarnya. “Namun bagaimana lagi saya hanya seorang diri tidak memiliki dana untuk mengobatinya,”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini di usia yang menginjak 10 tahun, Hasanah hanya memiliki berat badan 7 kilogram dengan tinggi hanya 85 sentimeter. Bahkan berat tubuhnya nyaris tanpa daging saat pertama kali dibawa ke rumah sakit 13 hari yang lalu yang hanya 3 kilogram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beratnya Alhamdulillah terus bertambah,” ujar Yeyen. “Pihak rumah sakit terus memberinya dengan susu berkualitas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia berharap anak bungsu dari dua bersaudara ini bisa hidup normal layaknya teman seangkatannya yang kini telah menginjak sekolah dasar. Sehingga ia berupaya dengan kartu jaminan kesehatan masyarakat miskin yang dimilikinya bisa lebih lama tinggal di rumah sakit hingga anaknya benar-benar tumbuh sehat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kania, salah seorang petugas jaga, saat dimintai penjelasannya mengatakan kedua anak itu memang memiliki kendala gizi buruk. Kondisi ekonomi yang kurang serta minimnya perawatan kesehatan menjadi sebab terjangkitnya gizi buruk bagi kedua balita tersebut. “Secara ekonomi memang kurang mampu,” ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menutupi kebutuhan asupan gizi bagi Hanasah, ujar Kania, lembaganya terus memberikan perawatan khusus dengan memberikan makanan yang bergizi termasuk pemberian susu fifty junior yang harganya bisa mencapai Rp 500 ribu per kalengnya. Harapannya agar kondisi Hasanah kembali pulih sesuai dengan potensi tubunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita pacu terus dengan pemberian susu fifty junior,” ujarnya. “Satu hari kita bisa berikan lima kali untu Hasanah,”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Asep, 32 hari, balita gizi buruk lainnya hingga kini masih dalam perwatan tabung inkubator karena kondisi tubuhnya yang lemah. Tidak ada penjelasan yang bisa dimuat sebab pihak keluarga pada saat Tempo ke lokasi tidak ada ditempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
JAYADI SUPRIADIN&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/6533814764978022303/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/6533814764978022303?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6533814764978022303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6533814764978022303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/06/ada-kelaparan-di-ciamis.html' title='Ada kelaparan di Ciamis'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-7560450190717589874</id><published>2010-04-07T08:36:00.012+07:00</published><updated>2010-04-07T15:38:25.372+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="siswa"/><title type='text'>Hidup di Desa Akan Berarti sepanjang Masa</title><content type='html'>Oleh Rani Anggraeni&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=0520089316&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di sebuah desa yang bernama desa Sukajaya. Desa ini tanahnya subur dan indah dan mayoritas masyarakatnya sebagai petani penggarap lahan. Pada suatu hari seorang ibu petani mencari kayu bakar. &lt;br /&gt;
Tapi tiba-tiba ia melihat dua orang polisi yang sedang melakukan pemeriksaan lahan tanah. Di atas tanah tersebut akan dibangun sebuah gedung. Dan dalam areal lahan yang sangat luas akan ditanam kelapa sawit.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saat itu pula ibu itu langsung lari ketakutan sambil membawa kayu bakar yang telah dikumpulkannya. Tapi polisi itu melihatnya dan berkata,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ”Hei, jangan lari!”&lt;br /&gt;
Dan ibu itu pun berhenti dengan rasa takut dan badannya gemetar.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Bu, jangan mengambil kayu bakar di sini. Ini hutan milik negara!” katanya dengan nada keras.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ”Ta.. tap…tapi say…ya..anu Pak..anu Pak!’’ kata ibu itu penuh ketakutan sambil bersimpuh di hadapan petugas tersebut.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tidak ada tapi-tapian, apa kamu tidak baca tulisan di tepi hutan itu hah?” Bentaknya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Maaf pak, saya anu.., saya buta hurup pak!” jawab ibu itu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Lagi pula sejak kapan ada aturan itu?” tanya si ibu sambil mencoba mengusir ketakutannya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ”Sejak dulu pun kami selalu selalu mengambil kayu bakar di sini. Lagi pula kami sudah lama menggarap lahan ini,“ lanjutnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sudah saya bilang dari tadi, ini hutan milik negara!” jawabnya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tapi pak, sejak dulu kata leluhur saya tanah ini…”&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ”Jangan melawan!” bentak polisi itu. “Kalau kamu melawan, kamu akan dihukum! Sekarang silahkan cepat pergi dari sini!”&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan penuh ketakutan ia pun pulang dengan tergesa-gesa.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sampai di rumah ia menceritakan pengalamannya kepada tetangganya. Dan kejadian itu tersebar menjadi perbincangan warga di sekitar hutan itu. Sebenarnya warga sekitar pun sudah resah dengan adanya kejadian–kejadian yang dialami oleh warga, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Di rumah Pak Sarya, suami ibu yang beberapa hari yang lalu mengalami kejadian di hutan itu, terlihat perbincangan serius dengan beberapa warga sekitar. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kita jadi heran, mengapa petugas polisi itu melarang menggarap dan mengambil kayu bakar di hutan itu,” kata Pak Sarya keheranan. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Yang kita tahu lahan yang kita garap itu merupakan hak kita warisan dari para leluhur kita. Tapi sekarang jadi berubah!” lanjut Pak Sarya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Betul pak, sekarang kita dilarang cari kayu bakar bahkan untuk nyabit rumput saja kita dilarang,” tambah Pak Karim. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Iya Pak, kemarin saja si Paimin hampir saja ditembak oleh petugas,” timpal si Bejo sambil mengambil ubi rebus. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Ah kamu jangan &lt;i&gt;ngarang&lt;/i&gt; Bejo!” tukas Pak Sarya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Alaah kamu mah &lt;i&gt;sok&lt;/i&gt; bikin gosip baru, Bejo, jangan &lt;i&gt;ngabodor atuh&lt;/i&gt;! Teu lucu deuleu…” sambung Ki Barna ikut &lt;i&gt;nimbrung&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “&lt;i&gt;Weuleuh-weuleuh&lt;/i&gt;, kapan saya &lt;i&gt;teh&lt;/i&gt; &lt;i&gt;ngabohong&lt;/i&gt; Ki ?” jawabnya meyakinkan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Mana mungkin Bejo bohong, &lt;i&gt;sanajan can pake kopeh&lt;/i&gt; haji, saya &lt;i&gt;mah tara ngabohong kakapeungan&lt;/i&gt;, sumpah &lt;i&gt;tah daek burut salelembur&lt;/i&gt;!” tambahnya sembari menepuk dadanya dan di mulutnya masih penuh dengan ubi rebus Bu Sarya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Makanya kalau jadi orang &lt;i&gt;kudu&lt;/i&gt; jujur, Bejo, jangan suka bikin cerita yang &lt;i&gt;enggak-enggak&lt;/i&gt;. Jadinya orang lain &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; percaya sama omongan kita!” kata Bu Sarya dari dapur sambil menyiapkan kopi.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Iya, bener, Bu, Si Bejo mah suka ngarang,“ tambah Sarju yang baru saja datang.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Udah..udah! Banyak omong tidak bakal menyelesaikan persoalan,“ sela Pak Sarya. “Yang kita harapkan adalah bagaimana kita bisa keluar dari kemelut ini tanpa ada korban,“ lanjutnya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kita laporkan saja kejadian ini sama pemerintah!” usul Pak Karim. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Itu sama saja bohong. Polisi itu adalah petugas negara. Kalau mereka sudah melarang kita itu berarti pemerintah pun sudah  mengetahui, atau mungkin mereka sudah menyetujuinya,“ tegas Pak Sarya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Posisi kita dalam posisi yang sulit. Secara hukum kita tidak mungkin menang,&quot; lanjutnya kebingungan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Lho kok jadi bingung? Kita kan masih punya harga diri, keyakinan dan hak. Apalagi yang kita harapkan? Lalu apa artinya persaudaraan dan persatuan kita? Kalau kita bersatu kita bisa melakukan banyak hal!” tegas Bu Sarya bersemangat. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Setuju-&lt;i&gt;lah&lt;/i&gt;, pokoknya kita harus melakukan sesuatu!” sambut yang lainnya. &lt;br /&gt;
Malam itu semua orang desa Sukajaya terlarut dalam mimpi yang mencekam tentang hutan mereka yang terancam tidak bisa digarap lagi oleh warga masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=B000C1Z2VE&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selang dua hari berikutnya pohon pun mulai ditebang dengan menggunakan alat-alat berat. Beberapa ruas jalan masuk ke wilayah itu dijaga ketat oleh aparat keamanan. Warga sekitar hanya bisa melihat dari kejauhan. Di sudut desa terlihat banyak warga berkumpul. Di sana ada Pak Sarya yang sedang berdiri di antara kerumunan warga yang berkumpul.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sekarang pemerintah telah menebang semua pohon dengan menggunakan alat-alat berat. Dan sekarang kita dilarang untuk mengambil kayu bakar dan menggarap lahan di hutan itu. Lantas apakah kita akan diam saja melihat tontonan konyol ini?” tegas Pak Sarya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apakah kalian keberatan dengan tindakan pemerintah itu?” tanyanya lagi. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kami semua merasa keberatan, Pak! Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa!” jawab mereka.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Siapa bilang kita tidak bisa berbuat apa-apa?’ tukas Bu Sarya sambil berdiri menatap satu persatu warga yang berkumpul. “Kita punya kawan, kita bersaudara. Dan sekarang kita sedang ditindas oleh pemerintah. Kita sudah dirampas hak kita. Hutan ini bukan milik mereka. Merekalah yang telah merampas hak kita. Betul tidak?” tanyanya. Warga pun menjawab dengan serempak, “Betul, lebih baik kita lawan mereka! Ayoo kita lawan!” teriak mereka sambil mengacungkan kepalan tangannya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tapi kita jangan gegabah, karena pemerintah itu licik. Mereka mempunyai banyak anak buah. Jadi kita harus waspada. Kita harus terus menggarap lahan tersebut walaupun polisi ada di mana-mana. Karena kalau kita tidak menggarap lahan itu, kita mau makan darimana?” tegas Pak Sarya disambut dengan teriakan setuju warga sekitar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=0198542577&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada hari berikutnya, pohon-pohon sudah banyak yang ditebang. Tanaman warga yang hampir tiba masa panen pun banyak yang dibabat oleh petugas. Sementara di lain pihak sebagian warga banyak yang melakukan kegiatan bekerja di ladang dan di sawah mereka, walaupun mereka tahu hal itu dilarang.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di sebidang ladang dekat sungai, petani beserta keluarganya sedang menggarap padi huma mereka yang sudah hampir menguning. Mungkin beberapa minggu lagi ia akan memanennya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tapi secara tiba-tiba, datang lima orang polisi dengan senjata lengkap ke gubuk petani yang sudah merupakan rumah tinggalnya. Dua orang polisi datang menghampiri petani itu dan yang lainnya menodongkan senjata ke arah petani seraya mengepung gubuk tersebut. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal itu tentu saja membuat petani dan keluarganya ketakutan. Dua anaknya menangis dan mendekap erat dipangkuan ibunya. Ia berkata sambil marah marah,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Saya kan sudah kasih peringatan. Jangan menggarap di sini! Apa kalian tuli?” tanyanya dengan kasar. Dengan penuh ketakutan petani itu mencoba menepis rasa takutnya dan menjawab dengan tenang.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Saya tahu pak, tapi…”&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tapi apa?” tukas polisi. Petani itu pun mengambil napas dalam-dalam lalu ia menjawab, “Sebenarnya hutan ini adalah hutan kami, Pak, bertahun-tahun kami hidup di sini. Ini adalah nyawa kami, tumpuan hidup istri dan anak-anak kami, Pak. Kalau kami tidak menggarap di sini, kami mau makan dari mana, Pak ..” jawabnya memelas.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Heh, saya tidak perlu omong kosong apa lagi. Sudah jelas kamu adalah para penjarah hutan, perusak hutan! Masih saja kamu ngaku-ngaku hak kamu. Sekarang  jawab, mau pergi atau tidak? Kalau tidak, maka kamu akan berhadapan dengan hukum. Kamu akan dipenjara!” jawabnya dengan lantang. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tidak, kami tidak akan pergi! Ini hak kami dan bukan milik siapa pun termasuk pemerintah!” kata petani itu dengan penuh keberanian. Kali ini dia tak ada rasa takut lagi.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kamu melawan saya?” Dan plak … dug. Dua buah tinju polisi tepat di dada petani itu. Ia terhuyung ke belakang. Dia jatuh tepat di depan polisi yang memegang senjata, lalu… Dak! Tendangan sepatu bot mengenai kepala. Darah keluar dari kepala dan hidungnya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Bapaa…!” Istri dan anaknya menjerit. Tapi tak membuat polisi itu menghentikan aksinya. Lalu dengan nada mengancam ia menodongkan pistol ke kepala petani itu sambil berkata,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sudah saya bilang, jangan melawan saya!” ancamnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sekarang katakan mau pergi atau tidak?” tambahnya sambil tetap mengarahkan ujung pistolnya di atas keningnya. Dan dengan nada bergetar penuh keberanian petanipun menjawab dengan tegas,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Saya tidak akan pergi!! Kalau bapak mau tembak saya, ayo! Ayo tembak! Dan saya bersumpah bahwa saya tidak takut sedikit pun atas ancaman bapak!!” jawabnya lantang. &lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.amazon.com/Merampas-tanah-rakyat-Kasus-Cimacan/dp/9799023440?ie=UTF8&amp;amp;tag=ecosocrights&amp;amp;link_code=btl&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=0195692543&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&amp;nbsp; “Apa? Kamu melawan saya?” Lalu… Dor..! Sebuah tembakan  meletus membuat pak petani terkulai lemas bersimbah darah dan tewas seketika diiringi oleh jeritan istri dan anaknya …&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Baapaaaa…..! Jangan tinggalkan kami, Pa…” jerit istri petani begitu memilukan. Sambil berurai air mata ibu petani itu bangkit dan menatap wajah para polisi itu dengan penuh amarah.&lt;br /&gt;
Lalu ia berkata dengan geramnya, “Kalian polisi busuk! Biadab! Beraninya sama orang lemah seperti kami! Kalian harus mampus!” &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perempuan itu menggeram. Tangan kanannya mengambil cangkul yang tergeletak di dekatnya. Lalu setengah berlari ia memegang cangkul itu seraya mengayunkannya ke arah polisi itu, dan .. dor .. Tembakan polisi tepat di dadanya dan seketika itu juga ia rebah bersimbah darah tidak jauh dari suaminya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tidaaaak ..! Ibuu ..!!”   jerit kedua anak petani. Melihat kondisi itu ke lima polisi itu pun pergi meninggalkan dua nyawa melayang dan duka bagi dua anak petani yang ditinggalkan oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=B002S7GHNW&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menyadari hal yang telah terjadi, kedua anak petani itu pun berlari menyusuri jalan kebun menuju perkampungan penduduk desa. Lalu dengan tersedu ia melaporkan kejadian itu kepada Pak Sarya dan warga yang lainnya yang sudah berkumpul. Kini warga sudah semuanya menyadari petaka yang terjadi. Dan mereka telah sadar akan resiko yang dihadapinya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kini kita harus berhati-hati, tapi kita harus menghentikan mereka!” geram Pak Sarya dan juga diikuti oleh yang lainnya. “Polisi telah mengetahui apa yang kita lakukan. Jadi lebih baik kita datang bersama-sama untuk menghentikan semua ini !” seru yang lainnya. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kita akan berjihad melawan ketidakadilan pemerintah. Kita akan berjuang demi hak dan kebenaran yang hakiki dengan mempertaruhkan jiwa raga kita. Siapa pun yang ikut, harus mengikuti perintah pemuka lapangan kita. Kita tunjuk Pak Sarya yang menjadi pimpinan kita. Setuju?” kata Pak Kyai Abdul Majid. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Setuju!” sambut yang lainnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sore hari ini, kita harus berangkat ke lokasi. Tapi ingat! Tidak ada satu orang pun yang membawa senjata tajam. Kita ke sana bukan untuk berperang, tapi kita akan melawan ketidakadilan. Dan kita tidak akan kembali sebelum tanah ini kita kuasai kembali!” tegas Pak Sarya, diikuti oleh gelegar gema takbir jihad warga masyarakat. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada sore itu pun mereka berangkat berduyun-duyun ke lokasi tersebut. Tentu saja hal itu membuat petugas keamanan berusaha memblokir jalan masuk yang menuju ke sana.  Mereka tidak membawa senjata, tapi semuanya membawa tekad baja. Semuanya berbaris rapat sambil terus mengumandangkan takbir.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Allahu Akbar….Allohu Akbar…..Allohu Akbar..! Hidup petani! Usir para penjajah!” &lt;br /&gt;
Sore itu walaupun mereka dihadang dengan senjata lengkap namun mereka tidak bergeming sedikit pun.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Usir perusak hutan! Usir polisi pembunuh petani tak berdosa..!” teriak mereka penuh semangat.&lt;br /&gt;
Langit mendung, warga masih bertahan sampai hari esoknya. Bahkan semakin lama warga yang bergabung semakin bertambah. Hampir semua penduduk desa bergerak menuju lokasi penebangan dari berbagai penjuru. Tua, muda, laki-laki perempuan datang ke lokasi tesebut.&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=1561483907&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mereka bergerak maju sedikit demi sedikit. Tidak ada yang membawa senjata ataupun membalas perlawanan para petugas. Walaupun terkadang mereka meletupkan tembakan-tembakan peringatan, tapi mereka balas dengan takbir.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keadaan ini lama-kelamaan membuat para petugas keamanan sakit kepala. Sampai akhirnya datang tim lobby dari pihak perusahaan untuk melakukan perundingan dari berbagai pihak. Ada dari pemerintah kabupaten, anggota dewan, kepolisian dan dari kantor dinas tertentu. Mereka datang ke lokasi tersebut.&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian satu orang yang mengaku anggota dewan rakya itu angkat bicara di hadapan para petani yang semua geram itu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Hasilnya untuk sementara kegiatan penebangan tersebut dapat dihentikan sampai masa yang belum ditentukan,” katanya dengan nada dingin. Dikatakan bahwa polisi yang menembak warga “akan ditindaklanjuti di pengadilan”. Ditambahkannya, warga masyarakat diperbolehkan melakukan kegiatan seperti biasanya lagi. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal ini disambut suka cita warga desa Sukajaya dengan penuh harapan mereka dapat lagi memperbaiki taraf perekonomian. Tetapi mereka telah kehilangan dua warga desa jadi tumbal keserakahan para pejabat perusahaan dan kongkalikong mereka.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Petani suami dan istri itu adalah para pejuang. Mereka adalah pahlawan. Mereka adalah syahid.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sore itu langit masih mendung, semendung duka derita warga yang kehilangan pahlawan mereka. (30 Januari 2005)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/7560450190717589874/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/7560450190717589874?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/7560450190717589874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/7560450190717589874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/04/hidup-di-desa-akan-berarti-sepanjang.html' title='Hidup di Desa Akan Berarti sepanjang Masa'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-4988625945961681044</id><published>2010-03-29T09:10:00.004+07:00</published><updated>2010-04-07T15:36:38.421+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="keberanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian alami"/><title type='text'>Berapa sesungguhnya hasil panen padi cara alami ala Fukuoka?</title><content type='html'>&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=1590173139&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Banyak orang meragukan metode bertanam padi secara alami seperti dipraktikkan oleh Masanobu Fukuoka, seperti telah kami angkat dalam posting kami sebelumnya atas pertanyaan dari seorang pembaca blog ini, yang pada hemat kami mewakili banyak pendapat masyarakat seumumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa &lt;i&gt;sih &lt;/i&gt;&quot;tanpa bekerja apa-apa&quot;, dapat dihasilkan panen padi yang diharapkan? Ya itulah memang pokok utama metode dari Fukuoka. Pertama, tidak membajak. Kedua, tidak membuat kompos. Ketiga, tidak menyiangi. Dan keempat, tentunya, tidak menggunakan pestisida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini adalah kata-kata jujur dari Fukuoka sendiri seperti dapat teman-teman baca dari buku terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia &quot;&lt;i&gt;Revolusi Sebatang Jerami&lt;/i&gt;&quot; (1991, Obor) halaman 46-47.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&quot;Pada tahun-tahun terakhir ini saya telah mencoba sebuah varietas lama padi lulut dari daerah selatan. Setiap benih, ditabur pada musim gugur, menghasilkan rata-rata 12 batang dengan kira-kira 250 bulir tiap malai. Dengan varietas ini saya kira pada suatu hari saya akan dapat memperoleh suatu panenan yang mendekati yang paling tinggi yang dapat diperoleh secara teoretis dari energi matahari yang mencapai ladang. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: #cc0000;&quot;&gt;&lt;i&gt;Di beberapa areal ladang-ladang saya, panenan 27,5 gantang (1.650 pon [atau: 748,42 kilogram]) tiap seperempat acre-nya [~1011,5 meter persegi] telah dapat dicapai dengan varietas ini&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;. ... [Dan] saya telah menanam padi dengan cara ini lebih dari dua puluh tahun. Hasilnya terus meningkat dan tanahnya menjadi lebih subur setiap tahunnya.&quot;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=1601730071&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Jika dikonversi dalam satuan hektar, capaian yang diperoleh oleh Fukuoka adalah &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: #cc0000;&quot;&gt;7,3 ton gabah per hektar&lt;/span&gt; .. Target nasional kita &quot;bangsa&quot; Indonesia seingat kami baru sampai 5,5 ton per hektar. Seorang petani yang giat dengan menyiapkan kompos di Indonesia dapat mencapai lebih dari 10 ton per hektar ..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hemat hitungan kami, dengan capaian tujuh ton per hektar, apalagi jika tanpa banyak menghabiskan tenaga kerja dan biayanya karena dikelola secara alami, seperti halnya Tuhan menciptakan .., maka perencanaan usaha tani sudah dapat sampai mendukung jatah makan teman-teman kita yang tinggal di kota .. Sementara itu di desa, para petani sudah dapat menjamin kedaulatan pangan, sudah dapat mendidik anak-anak desa, sudah merdeka ..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi semua ini memerlukan perjuangan pada awalnya .. Dan perjuangan ini menurut almarhum Fukuoka tidaklah memakan waktu yang lama .. Tak sebanding dengan dampak dan kerusakan lingkungan dan anti-kesuburan tanah yang ditimbulkan oleh karena keinginan manusia yang berlebihan untuk mendapatkan keuntungan dan keuntungan dan keuntungan, tapi pada akhirnya malah kerugian yang diterima ..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk konversi satuan berat, luas, dll. mohon klik berikut ini: &lt;a href=&quot;http://onlineconversion.com/&quot;&gt;onlineconversion.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Lihat juga: &lt;a href=&quot;http://www.onestrawrevolution.net/index.htm&quot;&gt;One Straw Revolution&lt;/a&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/4988625945961681044/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/4988625945961681044?isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/4988625945961681044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/4988625945961681044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/03/berapa-sesungguhnya-hasil-panen-padi.html' title='Berapa sesungguhnya hasil panen padi cara alami ala Fukuoka?'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-5592537072354270338</id><published>2010-03-27T12:03:00.005+07:00</published><updated>2010-04-06T05:26:11.706+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="land"/><title type='text'>&quot;Masalah Tanah&quot; menurut Kepala BPN Joyo Winoto</title><content type='html'>&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=1853395277&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Teman-teman, barangkali lebih baik terlambat daripada tidak menyadari sama sekali apa sesungguhnya pemahaman pemerintah kita tentang ketakadilan kepemilikan tanah dan bagaimana caranya menyelesaikan. Dapat kita timbang-timbang ke mana bobotnya dan tanggapan pemerintah sendiri. Menurut hemat kami, justru masalah hambatan birokrasi pertanahan tidak disasar sebagai masalah inti dalam pendekatan strategis yang diangkat oleh Kepala BPN Joyo Winoto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cobalah teman-teman baca sendiri dari teks yang kami sajikan berikut ini, tapi ini baru sebagian dari keseluruhan tulisannya. Khusus kami kutipkan pada identifikasi masalah yang ditengarakan. Inilah pusat dan putar masalahnya. Jika pemahaman masalah saja tak tepat, maka konsekuensinya juga tak bisa diharapkan tepat pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, baru-baru ini kami temukan tulisan menarik dari Kepala Badan Pertanahan Negara Joyo Winoto. Jika diindonesiakan barangkali judulnya adalah &quot;Mengangkat Kebijakan Pertanahan dan Administrasinya di Indonesia ke Tahap Berikutnya dalam Rencana Strategis dari Badan Pertanahan Negara&quot;. Tulisan sepanjang 24 halaman A4 ini dipresentasikan di suatu konferensi yang diselenggarakan antara Bank Dunia dan Federasi Internasional dari Para Surveyor, bertemakan: &quot;Kepemerintahan Tanah untuk Mendukung Millenium Development Goals: Menanggapi Tantangan-tantangan Baru&quot;, Maret 2009.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel ini dapat diunduh dengan &lt;a href=&quot;http://siteresources.worldbank.org/INTIE/Resources/Winoto.doc&quot;&gt;klik di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Masalah-masalah kritis dalam ekonomi politik Indonesia adalah kemiskinan, pengangguran, ketidakmerataan distribusi pendapatan, dan sengketa atau konflik tanah. Sekitar 34,9 juta warga (atau 14,4%) hidup di bawah garis kemiskinan. Dari antara mereka ini, sebanyak 66 persen tinggal di daerah perdesaan. Sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebanyak 56 persen dari seluruh penduduk desa. Mereka yang hanya memiliki sebidang tanah sangat sempit atau tidak memiliki tanah sama sekali sungguh-sungguh hidup dalam kemiskinan dan mereka ini bekerja sebagai buruh tani atau petani gurem yaitu bekerja di atau mengerjakan tanah orang lain atau mereka ini mengerjakan sebidang tanah yang sangat-sangat sempit. Sensus Pertanian 2003 memperlihatkan bahwa hampir separuh dari seluruh keluarga yang hidup atas usaha tani (hanya) menggarap tanah yang luasnya kurang dari setengah hektar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;Rasio pengangguran adalah 10,01 persen atau 23,1 juta orang. Angka pengangguran terselubung jauh lebih tinggi, mencapai 30,36 juta orang atau 27,60 persen dari seluruh angkatan kerja. Sektor industry tidak dapat cukup menyediakan pekerjaan untuk angkatan-angkatan baru yang masuk ke dalam pasar tenaga kerja. Banyak penganggur ditarik masuk ke pekerjaan-pekerjaan di perdesaan, sehingga menggeser rasio luas lahan pertanian dan jumah penduduk. Tanpa peningkatan teknologi yang berarti, perubahan rasio yang kecil saja antara luas tanah dan jumlah warga mengisyaratkan pengurangan pendapatan perorangan dari para petani. Maka, kebanyakan warga miskin bekerja di sektor pertanian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam distribusi pendapatan, koefisien Gini terus meningkat dari 0,31 pada 1999 menjadi 0,33 pada 2002 dan 0,36 pada 2005. Hal ini mengisyaratkan suatu pelebaran senjang di antara tingkatan pendapatan dari warga miskin dan warga tak-miskin. Dalam konteks distribusi kepemilikian lahan pertanian, angkanya lebih buruk lagi, yaitu sekitar 0,6. Hal ini sebagian disebabkan oleh fragmentasi lahan pertanian keluarga yang terus-menerus terjadi, dan terus disahkannya hak-hak penggunaan tanah bagi perusahaan-perusahaan besar yang sudah memiliki sepersepuluh atau bahkan ratusan ribu hektar luasan tanah. Dari 25 juta keluarga petani, sebanyak 56,5 persen sekarang hanya memiliki setengah hektar. Ketimpangan dalam distribusi kepemilikan tanah menyebabkan munculnya masalah-masalah serius yang lain, terutama munculnya tanah-tanah yang pemanfaatannya sangat rendah (&lt;i&gt;under-utilized&lt;/i&gt;), lahan tidur (&lt;i&gt;idle&lt;/i&gt;) atau diterlantarkan; mungkin juga dipengaruhi oleh praktik-praktik “penimbunan tanah” atau alasan-alasan yang lain. Namun secara mengejutkan, lahan-lahan tidur atau terlantar itu diperkirakan mencapai 7,3 juta hektar. Ini adalah suatu masalah yang terlalu besar untuk diabaikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;Semakin bertambahnya kemiskinan dan pengangguran dalam masa setelah krisis mengisyaratkan adanya suatu masalah yang mendasar. Perekonomian telah terus berkembang dari waktu ke waktu, tetapi kemakmuran gagal menetes di antara warga miskin dan para penganggur di tingkat akar rumput, terutama di kawasan perdesaan. Masalah utama tampaknya adalah rapuhnya struktur agraria yang mempersulit kebanyakan petani (petani gurem dan petani tak bertanah) untuk mengakses suatu areal tanah yang secukupnya dan untuk mengakses input-input produktif lainnya, termasuk pelayanan publik. Suatu pembaruan agraria yang serius diperlukan. Dari perspektif Badan Pertanahan Negara RI, suatu pembaruan agraria yang efektif harus direncanakan, dilaksanakan dan pemberian pelayanan-pelayanan publik yang terkait dengan masalah-masalah agraria haruslah ditingkatkan. Pembaruan ini membutuhkan informasi yang akurat dan bersifat kelembagaan serta suatu peningkatan kapasitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/5592537072354270338/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/5592537072354270338?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/5592537072354270338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/5592537072354270338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/03/masalah-tanah-menurut-kepala-bpn-joyo.html' title='&quot;Masalah Tanah&quot; menurut Kepala BPN Joyo Winoto'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-2846324955438180817</id><published>2010-03-26T10:02:00.001+07:00</published><updated>2010-04-06T05:39:08.592+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="keberanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian alami"/><title type='text'>Mungkinkah gaya pertanian alami dari Fukuoka dapat diterapkan di Indonesia?</title><content type='html'>Pertanyaan di atas yang menjadi judul posting ini berasal dari seseorang yang memberi tanggapan pada posting kami sebelumnya yang berjudul &#39;&lt;a href=&quot;http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/02/mengenang-masanobu-fukuoka-6.html&quot;&gt;Mengenang Masanobu Fukuoka&lt;/a&gt;&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=B000FI91TS&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Siapa dari antara teman-teman sekalian berminat untuk menawarkan jawaban? Dalam forum ini teman-teman sangat dipersilakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaannya begitu singkat sehingga tampaknya juga sangat jelas mengisyaratkan keraguan yang mudah-mudahan tak sampai mencapai penolakan. Suatu sikap skeptis tentunya sangat berguna untuk mendorong kita mencari jawab atau bahkan mencobanya sendiri terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menolaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika latarbelakang dari pertanyaan ini adalah dorongan orang untuk mencari keuntungan besar dari kegiatan bertani, tentunya si empunya pertanyaan akan kecewa. Dewasa ini kita sudah sangat dikuasai oleh nafsu mencari keuntungan. Baahkan jika sampai hati atau tumpul hati, maka jika kegiatan produksi pertanian kita sampai merusak struktur tanah pun tetap akan terus dilakukan.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/2846324955438180817/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/2846324955438180817?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2846324955438180817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2846324955438180817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/03/mungkinkah-gaya-pertanian-alami-dari.html' title='Mungkinkah gaya pertanian alami dari Fukuoka dapat diterapkan di Indonesia?'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-7712630333035629279</id><published>2010-03-25T11:13:00.004+07:00</published><updated>2010-04-06T05:28:46.344+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bantuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="in English"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="keberanian"/><title type='text'>Dianto gets research grant fellowship to &#39;fuel the world&#39;</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaD3Wx1cIvfgP-afKFcgZATIgwmsLdoDru53lkGOr_utyuuScltb4Bz58Q3FqzpjwQu-Haob5ZrcjrgCIJRVIw7Ho7RE5iqzmynV8BqEbxtA8-BqtCuzlLltML0aUJ2c48hBNRCw/s1600-h/Foto+Dianto+Bachriadi.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5451851416017670050&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaD3Wx1cIvfgP-afKFcgZATIgwmsLdoDru53lkGOr_utyuuScltb4Bz58Q3FqzpjwQu-Haob5ZrcjrgCIJRVIw7Ho7RE5iqzmynV8BqEbxtA8-BqtCuzlLltML0aUJ2c48hBNRCw/s400/Foto+Dianto+Bachriadi.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; float: left; height: 170px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 170px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;We are very happy to hear that our beloved teacher of our teachers, named Dianto Bachriadi --who do not know him yet? please &lt;a href=&quot;http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;amp;source=hp&amp;amp;q=dianto+bachriadi&amp;amp;meta=&amp;amp;aq=0&amp;amp;aqi=g1&amp;amp;aql=&amp;amp;oq=dIANTO+&amp;amp;gs_rfai=&quot;&gt;google him out&lt;/a&gt;-- is announced this month to be the recipient of a generous grant for his new, on-going, important academic research, entitled &quot;Fuelling the World with Alternative Progress and Impacts of the Development of Agrofuel Industries of the Rural Communities in SE Asia&quot; from &lt;a href=&quot;http://www.api-fellowships.org/body/home2.php#api_benefits&quot;&gt;the Asian Public Intelectuals program funded by the Nippon Foundation&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marvelous, is not it?&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;You can also see in the &lt;a href=&quot;http://id.voi.co.id/berita-indonesia/kesejahteraan-sosial/2369-lima-intelektual-raih-beasiswa-api.html&quot;&gt;state radio RRI website&lt;/a&gt; that along with Dianto there are other five fellows awarded.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=1844670864&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Dianto has been &#39;ordained&#39; by an international organization for rural poor of Brothers of the Human Being (Frères des Hommes) as the founder of the Rolling Stones political party in Indonesia. &lt;a href=&quot;http://www.fdh.org/Indonesia-Dianto-Bachriadi-from.html&quot;&gt;Read the story here&lt;/a&gt;. And now he is &#39;ordained&#39; by senior researcher Taufik Abdullah as &#39;public intellectual&#39;. Are you not happy, &lt;i&gt;kang Gèpèng&lt;/i&gt;? The latest is his nickname.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;He wrote different books, useful for you to realise the continuing injustice in Indonesia, like Land Grabbing in Tapos and Cimacan cases in W. Java, in which former president Soeharto unilaterally took over farmers&#39; land for his own political interests ..&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;See &lt;a href=&quot;http://www.goodreads.com/author/show/1047026.Dianto_Bachriadi&quot;&gt;here list of titles of Dianto&#39;s books&lt;/a&gt; ..&lt;/div&gt;&lt;div&gt;And his image is taken from &lt;a href=&quot;http://www.fdh.org/Indonesia-Dianto-Bachriadi-from.html&quot;&gt;Frères des Homme&#39; website&lt;/a&gt; ..&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/7712630333035629279/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/7712630333035629279?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/7712630333035629279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/7712630333035629279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/03/dianto-gets-research-grant-fellowship.html' title='Dianto gets research grant fellowship to &#39;fuel the world&#39;'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaD3Wx1cIvfgP-afKFcgZATIgwmsLdoDru53lkGOr_utyuuScltb4Bz58Q3FqzpjwQu-Haob5ZrcjrgCIJRVIw7Ho7RE5iqzmynV8BqEbxtA8-BqtCuzlLltML0aUJ2c48hBNRCw/s72-c/Foto+Dianto+Bachriadi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-5505146513490711092</id><published>2010-03-24T10:00:00.001+07:00</published><updated>2010-04-06T05:30:14.967+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="in English"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="keberanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian alami"/><title type='text'>Could natural farming Fukuoka style be applied in Indonesia?</title><content type='html'>Such question on the title of this post comes from someone who responded to our previous post titled &#39;&lt;a href=&quot;http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/02/mengenang-masanobu-fukuoka-6.html&quot;&gt;Mengenang Masanobu Fukuoka&lt;/a&gt;&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Who among you all would offer an answer? In this forum you are very welcome.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=1601730071&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;The question is so brief that also seems very clear signal of doubt that hopefully does not suggest rejection of natural farming. A skeptical attitude of course is very useful to encourage us to find the true answer or even try it yourself first before deciding to reject it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
If the background of this question is to urge people to seek mere profits from agricultural activities, of course, the one who pose such question would be disappointed. Today we are so overwhelmed by the lust for profit. Even if they have the heart or even they have that blunt heart, let&#39;s say, even if we are aware that  agricultural production activities will damage soil structure and fertility they will keep going against our mother nature.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
We do not know where this world will end ..&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/5505146513490711092/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/5505146513490711092?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/5505146513490711092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/5505146513490711092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/03/could-natural-farming-fukuoka-style-be.html' title='Could natural farming Fukuoka style be applied in Indonesia?'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-1214591169574847853</id><published>2010-03-23T08:51:00.000+07:00</published><updated>2010-03-23T22:41:50.566+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ekonomi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gotong-royong"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="in English"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="keberanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="perempuan"/><title type='text'>Rope pump and children</title><content type='html'>&lt;object width=&quot;320&quot; height=&quot;265&quot;&gt;&lt;param name=&quot;movie&quot; value=&quot;http://www.youtube.com/v/mhW45IiIZJ4&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowFullScreen&quot; value=&quot;true&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowscriptaccess&quot; value=&quot;always&quot;&gt;&lt;embed src=&quot;http://www.youtube.com/v/mhW45IiIZJ4&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; allowscriptaccess=&quot;always&quot; allowfullscreen=&quot;true&quot; width=&quot;320&quot; height=&quot;265&quot;&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear friends, continuing our previous post, here are two video clips from youtube that depict how children can also move rope pumps by rotating the wheel towing strap pedals ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This kind of rope pump is really relieving our homework and our garden work .. enough even when children would begin to show a desire to move his hands and feet. Maybe even the children younger than 10 years old ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second video clip comes from Senegal, South Africa, showing a girl playing with a tight rope pump to get water ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first video clip is from the Netherlands in which you see a smaller children, seems to age less than 10 years, was playing rope pump as she or he wanted to see the flowers next to the pump was blooming .. It&#39;s funny .. The pump maker is said to work for Akvo, an institution that encourages people to solve water problems ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who would dare to try to make this kind of pump that is indeed very useful ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Video from the Netherlands&lt;br /&gt;&lt;object width=&quot;320&quot; height=&quot;265&quot;&gt;&lt;param name=&quot;movie&quot; value=&quot;http://www.youtube.com/v/4LScmlMwVuk&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowFullScreen&quot; value=&quot;true&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowscriptaccess&quot; value=&quot;always&quot;&gt;&lt;embed src=&quot;http://www.youtube.com/v/4LScmlMwVuk&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; allowscriptaccess=&quot;always&quot; allowfullscreen=&quot;true&quot; width=&quot;320&quot; height=&quot;265&quot;&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link to &lt;a href=&quot;http://www.akvo.org/blog/?p=1183&quot;&gt;Akvo &lt;/a&gt;..&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/1214591169574847853/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/1214591169574847853?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/1214591169574847853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/1214591169574847853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/03/rope-pump-and-children.html' title='Rope pump and children'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-5688296886858120460</id><published>2010-03-20T05:33:00.000+07:00</published><updated>2010-04-06T05:36:18.529+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ekonomi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sekolah"/><title type='text'>Pompa Tali Ringan Juga untuk Anak-anak</title><content type='html'>&lt;object height=&quot;364&quot; width=&quot;445&quot;&gt;&lt;param name=&quot;movie&quot; value=&quot;http://www.youtube.com/v/uJ6sYeGvGIk&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;border=1&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowFullScreen&quot; value=&quot;true&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowscriptaccess&quot; value=&quot;always&quot;&gt;&lt;embed src=&quot;http://www.youtube.com/v/uJ6sYeGvGIk&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;border=1&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; allowscriptaccess=&quot;always&quot; allowfullscreen=&quot;true&quot; height=&quot;364&quot; width=&quot;445&quot;&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman-teman sekalian, dalam pertemuan petani di Garut tentang tata produksi baru-baru ini kami mendengar kabar dari kang Dedi Wiharja dari desa Pasawahan, Banjarsari, Ciamis bahwa ternyata di desanya dapat dibuat sumur gali. Dia sendiri ternyata juga sudah memiliki sumur gali dengan diameter lubang mendekati satu meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wah ini kabar baru yang menarik. Mengapa? Karena selama ini di sekolah kami belum ada sumur gali sehingga pada musim kemarau kami kesulitan mendapatkan air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih menarik lagi adalah bahwa kang Dedi mengatakan sumurnya itu tetap mengandung air di dasar selama musim kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini kesempatan baru agar nanti kami dapat mengelola budidaya tanaman selama musim kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=0470496371&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Kang Dedi sendiri begitu antusias ketika mencari tahu tentang cara-cara membuat pompa tali yang sangat meringan beban menaikkan air. Karena selama ini air sumur hanya untuk keperluan rumah tangga. Dan cara menaikkan airnya pun masih dengan cara tradisional dengan menggunakan kèrèkan dengan tali bekas ban mobil ..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebetulan teman kami dari Yogyakarta sudah berhasil membuat pompa tali dengan bahan-bahan setempat. Kalau rusak bisa diperbaiki sendiri. Sangat efisien karena sembari memutar roda, air sumur terus mengalir. Ringan diputar, juga untuk anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa mau mencoba ...&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/5688296886858120460/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/5688296886858120460?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/5688296886858120460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/5688296886858120460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/03/pompa-tali-ringan-juga-untuk-anak-anak.html' title='Pompa Tali Ringan Juga untuk Anak-anak'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-284731978168746512</id><published>2010-03-17T13:38:00.003+07:00</published><updated>2010-03-23T04:00:46.764+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="perempuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="siswa"/><title type='text'>Anak-anak dan pompa tali</title><content type='html'>&lt;object width=&quot;320&quot; height=&quot;265&quot;&gt;&lt;param name=&quot;movie&quot; value=&quot;http://www.youtube.com/v/mhW45IiIZJ4&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowFullScreen&quot; value=&quot;true&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowscriptaccess&quot; value=&quot;always&quot;&gt;&lt;embed src=&quot;http://www.youtube.com/v/mhW45IiIZJ4&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; allowscriptaccess=&quot;always&quot; allowfullscreen=&quot;true&quot; width=&quot;320&quot; height=&quot;265&quot;&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman, menyambung &lt;i&gt;posting &lt;/i&gt;sebelumnya, berikut ini ada dua video clips dari youtube yang melukiskan anak-anak kecil pun dapat dan kuat menggerakkan pompa tali dengan memutar pedal roda penarik tali ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pompa tali ini benar-benar meringankan pekerjaan rumah kita dan pekerjaan kebun kita .. Tak peduli siapa pun sampai asal kiranya anak-anak mulai menunjukkan keinginan untuk menggerakkan tangan dan kaki. Mungkin sampai ke anak-anak berusia 10 tahun ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Video clip kedua berasal dari Senegal, Afrika Selatan, seorang anak perempuan sedang memutar dengan kencang pompa tali untuk menimba air ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Video clip yang pertama dari Belanda melukiskan anak-anak kecil, kelihatannya usianya kurang dari 10 tahun, sedang memutar pompa tali karena dia ingin melihat bunga yang ada di samping pompa itu berkembang .. Lucu juga kan .. Pembuat pompa itu dikatakan bekerja untuk &lt;a href=&quot;http://www.akvo.org/blog/?p=1183&quot;&gt;Akvo&lt;/a&gt;, sebuah lembaga masyarakat yang banyak mendorong masyarakat untuk menyelesaikan masalah-masalah air ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang berani untuk mencoba membuat pompa yang sangat bermanfaat ini ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Video dari Belanda&lt;br /&gt;&lt;object width=&quot;320&quot; height=&quot;265&quot;&gt;&lt;param name=&quot;movie&quot; value=&quot;http://www.youtube.com/v/4LScmlMwVuk&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowFullScreen&quot; value=&quot;true&quot;&gt;&lt;param name=&quot;allowscriptaccess&quot; value=&quot;always&quot;&gt;&lt;embed src=&quot;http://www.youtube.com/v/4LScmlMwVuk&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; allowscriptaccess=&quot;always&quot; allowfullscreen=&quot;true&quot; width=&quot;320&quot; height=&quot;265&quot;&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link mengunjungi &lt;a href=&quot;http://www.akvo.org/blog/?p=1183&quot;&gt;Akvo &lt;/a&gt;..&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/284731978168746512/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/284731978168746512?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/284731978168746512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/284731978168746512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/03/anak-anak-dan-pompa-tali.html' title='Anak-anak dan pompa tali'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-6575530481037290687</id><published>2010-03-04T05:52:00.004+07:00</published><updated>2010-03-04T06:22:42.213+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="keberanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian"/><title type='text'>Selamat untuk Pak Akom dari Karawang ..</title><content type='html'>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipdrf5vq2zEqcXQhxDDsi6wbNHonbw0U-aM0D0J8ssL9nqSJThgn7LrhdphYp_Yqh-YeM9xebKJCbWdIM6K3aQeitXwt0P6QmeeJw1gPYl2y7_7uxog1PhsIYX2yi5KZZr_DYUkg/s320/Akom.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;264&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Lihat &lt;i&gt;kan &lt;/i&gt;di belakang kang Akom pada foto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;di atas kelihatan sebagian sawah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;dan tanaman padinya ..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: right;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipdrf5vq2zEqcXQhxDDsi6wbNHonbw0U-aM0D0J8ssL9nqSJThgn7LrhdphYp_Yqh-YeM9xebKJCbWdIM6K3aQeitXwt0P6QmeeJw1gPYl2y7_7uxog1PhsIYX2yi5KZZr_DYUkg/s1600-h/Akom.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: left;&quot;&gt;Wah kita senang sekali mendengar kabar tentang kang Akom yang begitu giat dan rajin terus mencari dan menemukan cara-cara meningkatkan hasil produksi pertaniannya. Tidak hanya padi tapi juga misalnya jambu seperti tampak dalam foto di atas ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Teman-teman bisa baca dari ceritera rubrik Sosok Kompas 4 Maret 2010. &lt;a href=&quot;http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/03/05094970/akom.inspirasi.petani.otodidak&quot;&gt;Ini link internetnya&lt;/a&gt;. Dari link yang sama juga asal dari foto yang kita pasang di sini ..&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Yang menarik adalah bahwa kang Akom ini belajar sendiri. Dia tak ikut kursus mana pun yang harganya bisa sangat mahal. Banyak petani tak bisa membiayai tawaran pelatihan yang mahal biayanya .. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Tapi apa rahasianya sehingga kang Akom mampu belajar sendiri? Apakah karena sekolahnya? Rasanya kok kagak ya .. Siapa tak tahu sih keadaan pendidikan di sekolah-sekolah kita .. Pasti kemampuannya belajar sendiri itu datang dari dalam dirinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Tapi kalau semua datang dari dalam diri sendiri, akan jadi terlalu lama perubahan dan peningkatan mutu hidup kita tercapai bukan ..&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/6575530481037290687/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/6575530481037290687?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6575530481037290687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6575530481037290687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2010/03/selamat-untuk-pak-akom-dari-karawang.html' title='Selamat untuk Pak Akom dari Karawang ..'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipdrf5vq2zEqcXQhxDDsi6wbNHonbw0U-aM0D0J8ssL9nqSJThgn7LrhdphYp_Yqh-YeM9xebKJCbWdIM6K3aQeitXwt0P6QmeeJw1gPYl2y7_7uxog1PhsIYX2yi5KZZr_DYUkg/s72-c/Akom.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Karawang, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.257053 107.322855</georss:point><georss:box>-6.3423725 107.2061255 -6.1717335 107.43958450000001</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-3374982134281002972</id><published>2009-09-15T17:50:00.004+07:00</published><updated>2010-04-07T01:29:54.423+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bantuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gotong-royong"/><title type='text'>Bantuan Anda Masih Sangat Diperlukan</title><content type='html'>&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=B000DENUI2&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Kunkun Herawanto, pendamping petani dari desa dan kecamatan Langkap Lancar, Ciamis, menyatakan masih sangat membutuhkan bantuan Anda sekalian untuk meringankan beban dampak dari bencana alam gempa bumi yang menimpa kawasan Jawa Barat, terutama di kabupaten Ciamis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejauh ini mereka baru mendapatkan sedikit bantuan tenda untuk bernaung terutama dari hujan yang juga turun di kawasan Ciamis. Masih terdapat sejumlah sampai lebih dari 200  keluarga yang sementara ini tak menentu keadaan tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah mereka pada umumnya rusak berat karena gempa itu. Akibatnya mereka sama sekali tidak bisa tinggal sampai saat ini. Untuk memperbaiki terlebih dahulu sampai dapat tinggal kembali di dalam rumah diperlukan sangat banyak biaya yang sampai sekarang mereka tak memilikinya. Karenanya, bantuan Anda sangat diperlukan dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai persoalan bahan makanan, mereka masih memiliki sedikit persediaan. Sudah ada, meskipun terlalu sedikit, bantuan berupa beberapa bungkus kardus mi instan. Tetapi jika nanti musim tanam tiba, mereka tak siap juga untuk menanam, maka kelaparan sudah mengancam di depan nasib mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghubungi Kunkun Herawanto, mohon dilihat nomor HP-nya pada posting sebelumnya.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/3374982134281002972/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/3374982134281002972?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/3374982134281002972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/3374982134281002972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/09/bantuan-anda-masih-sangat-diperlukan.html' title='Bantuan Anda Masih Sangat Diperlukan'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-6008272522733651699</id><published>2009-09-06T17:25:00.005+07:00</published><updated>2010-04-07T15:42:30.244+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bantuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gotong-royong"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="in English"/><title type='text'>Urgent aids requested for earthquake victims in W. Java</title><content type='html'>&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=1853392030&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Please contact, if you want to deliver your aids, helps, relieves, to &lt;span style=&quot;color: #cc0000; font-weight: bold;&quot;&gt;Mr. Kunkun Herawanto&lt;/span&gt;, from Langkaplancar sub-district in Ciamis district. His mobile: &lt;span style=&quot;color: #cc0000; font-weight: bold;&quot;&gt;0813-2394 5610&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The impact of that major earthquake in West Java has caused many members of farmer families to forcefully stay out of their houses. Many houses are in ruin, nearly fully damaged, many only half standing. As a result, the dwellers can no longer stay at home. They stay at large in the neighborhood and in dire needs of external supports from you, such as plastic tents, food stuffs, and medicines. These things are in urgent needs now.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Who would help us among you? We are waiting for your helps. Again, this is very urgent.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One among those coordinators who is ready and reliable to accept your help is Mr. Kunkun Herawanto from Langkaplancar sub-district in Ciamis district of W. Java. Please refer your aids to him at his mobile phone number of 0813-2394 5610.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkaplancar sub-district consists of more than 10 villages. Based on data and observation gathered officially, four villages are severely hit by the strong earthquake. As many as 15 houses are completely damaged. Their dwellers can no longer stay at their houses. Those who are affected reach about over 1,000 persons, now wandering in the neighborhood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The four villages of Langkaplancar subdistrict are Karangkamiri, Cimanggu, Jadikarya and Bojong villages.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
We are waiting for further information from other subdistricts like Jadimulya, Sukamulya, Bangunkarya, from which we know many members of our farmer association.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Many of the affected people have made on their own efforts such as small huts (saung) for temporary shelters. Yet recent days, it is also raining. Thing get worse then that they definitely need for additional tents for sheltering from rain and for more people to keep the nights in the open air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Please, consider to lend your aids ..&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/6008272522733651699/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/6008272522733651699?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6008272522733651699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6008272522733651699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/09/urgent-aids-requested-for-earthquake.html' title='Urgent aids requested for earthquake victims in W. Java'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-2284759501057994491</id><published>2009-09-06T16:46:00.003+07:00</published><updated>2009-09-06T16:52:05.050+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bantuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gotong-royong"/><title type='text'>Bantuan mohon disampaikan pada Kang Kunkun, kecamatan Langkaplancar, Ciamis - HP: 0813-2394 5610</title><content type='html'>&lt;span class=&quot;dropcap&quot;&gt;D&lt;/span&gt;ampak dari gempa bumi di Jawa Barat mengakibatkan banyak keluarga petani tidak bisa tinggal lagi di rumah. Banyak rumah rubuh, nyaris rubuh, setengah rubuh, dan akbiatnya tak bisa ditinggali lagi. Pokoknya jadi berbahaya. Mereka tinggal di luar dan membutuhkan dukungan teman-teman sekalian. Mereka terutama membutuhkan barang-barang pendukung seperti tenda, bahan makanan dan obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang  membantu? Kami tunggu uluran tangan teman-teman sekalian. Ini urgen sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan darurat ini, salah satu yang siap menerima bantuan adalah Kang Kunkun Herawanto dari kecamatan Langkaplancar,  Ciamis. Mohon disampaikan kepadanya dengan menghubunginya di nomer handphone ini: 0813-2394 5610.&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecamatan Langkaplancar terdiri dari lebih dari 10 desa. Berdasarkan pendataan dan pengamatan yang dilakukan Kang Kunkun, terdapat empat desa yang paling parah menanggung kerusakan akibat gempa. Sejumlah 156 rumah (tangga) dikategorikannya sebagai rusak total atau rusak berat, sehingga sungguh-sungguh para penghuni semula tak bisa lagi tinggal di rumah yang rusak itu. Mereka tinggal di luar. Jumlah jiwa yang terkena dampak ini mencapai 1.000 orang lebih, baru khusus untuk kecamatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat desa itu adalah desa Karangkamiri, desa Cimanggu, desa Jadikarya dan desa Bojong, semuanya di kecamatan Langkaplancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kita tunggu kabar dari kecamatan-kecamatan lain yang belum selesai mendata dampak gempa, seperti dari Jadimulya, Sukamulya, Bangunkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para korban gempa itu ada yang sudah membuat saung kecil-kecilan, sekedar untuk berteduh. Belakangan hari ini, hujan turun juga di kawasan Ciamis selatan. Akibatnya mereka kerepotan jika hanya berteduh di bawah saung yang tak memadai. Karenanya mereka membutuhkan tenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu tenda-tenda yang biasanya disewakan sudah tak tersedia lagi. Habis terpakai. Karenanya, mereka membutuhkan tenda-tenda darurat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mereka akan harus tinggal tidak sebentar sebelum akhirnya mereka bisa kembali ke rumah (yang nantinya sudah diperbaiki), maka mereka sesungguhnya perlu jaminan kesehatan. Tambahan bahan makanan merupakan bentuk bantuan yang sangat dibutuhkan, kecuali tentu saja obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi mohon bantuan teman-teman sekalian.&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/2284759501057994491/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/2284759501057994491?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2284759501057994491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2284759501057994491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/09/bantuan-mohon-disampaikan-pada-kang.html' title='Bantuan mohon disampaikan pada Kang Kunkun, kecamatan Langkaplancar, Ciamis - HP: 0813-2394 5610'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-2643168237630049112</id><published>2009-09-06T00:11:00.006+07:00</published><updated>2010-04-07T01:37:52.456+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bantuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sekolah"/><title type='text'>Mohon bantuan bagi para korban gempa</title><content type='html'>&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=1857333438&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Gempa kuat itu termasuk merusak banyak rumah kami di kawasan tiga kabupaten Tasikmalaya, Garut dan Ciamis. Sudah kami daftar kerusakan dan korban-korban yang menderita akibat gempa. Ratusan sampai sekitar seribu lebih rumah kami rusak. Banyak yang harus kami perbaiki terlebih dahulu jika kami hendak kembali tinggal di rumah. Desa Cigalontang di Tasikmalaya adalah salah satu desa warga petani Serikat Petani Pasundan yang paling parah mengalami dampak gempa bumi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru kami, Boy Fidro, di Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat adalah salah satu yang sampai sekarang belum dapat tinggal di rumah. Rumahnya rusak berat. Pak Boy sendiri sampai terluka. Gempa terjadi beberapa puluh detik, tetapi pada putar gerakan bumi yang kedua, begitu sejauh dirasakannya, pak Boy buru-buru masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu yang penting. Tetapi pada saat keluar lagi, goyangan bumi terjadi lagi dan menyebabkan salah satu komponen rumahnya runtuh dan sebagian mengenai dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini adalah berita-berita terakhir tentang gempa, dampak dan upaya penanganannya.&lt;br /&gt;
&lt;script src=&quot;http://www.google.com/reader/ui/publisher-en.js&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script src=&quot;http://www.google.com/reader/public/javascript/user/13635544113355442188/state/com.google/starred?n=10&amp;amp;callback=GRC_p%28%7Bc%3A%22khaki%22%2Ct%3A%22Musibah%20Gempa%20di%20Priangan%20Timur%22%2Cs%3A%22false%22%2Cn%3A%22true%22%2Cb%3A%22false%22%7D%29%3Bnew%20GRC&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/2643168237630049112/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/2643168237630049112?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2643168237630049112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2643168237630049112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/09/mohon-bantuan-bagi-para-korban-gempa.html' title='Mohon bantuan bagi para korban gempa'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-8999118314800489231</id><published>2009-08-31T08:58:00.005+07:00</published><updated>2010-04-07T03:38:35.428+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><title type='text'>Arab Saudi Mau Tanam Padi atau Menyikat Tanah Kita?</title><content type='html'>&lt;span class=&quot;dropcap&quot;&gt;&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=0547085974&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;S&lt;/span&gt;ebenarnya berita ini sudah lama, setidaknya sejak April 2009, tapi rasa-rasanya banyak teman kok belum menaruh perhatian. Kamai, anak-anak sekolah, sudah dengar-dengar juga, tapi belum yakin tentang apakah benar atau tidak. Masakan berita seserius yang kami tautkan di bawah ini tidak benar? Siapa mau sumbang pendapat dan ceritera tentang hal ini? Sebab, negeri kita Indonesia termasuk di antara sasarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya sambil kita berkenalan dengan satu blog yang menarik, bertajuk &#39;Krisis Pangan dan Pencaplokan Tanah-tanah di Tingkat Global -- Pemerintah-pemerintah dan kalangan bisnis korpoorasi membeli tanah dan lahan-lahan di negera lain supaya mereka bisa menanam tanaman-tanaman pangan untuk kepentingan kebutuhan mereka sendiri&#39; (&lt;a href=&quot;http://farmlandgrab.org/&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Food crisis and the global land grab&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt; -- Governments and corporations are buying up farmland in other countries to grow their own food - or simply to make money&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba klik dan baca baik-baik yang berikut ini ya ..&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;
&lt;li&gt;&#39;&lt;a href=&quot;http://farmlandgrab.org/2941&quot;&gt;Saudi Arabia looks to foreign farmlands to feed itself&lt;/a&gt;&#39; diterbitkan oleh surat kabar dari Pakistan, namanya &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Dawn&lt;/span&gt;, 26 Apr, 2009.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://farmlandgrab.org/2935&quot;&gt;Saudis renew search for food security&lt;/a&gt;, terbit oleh Oxford Analytica | April 23, 2009&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;Tentunya agak sulit menanam padi di padang gurun. Lama dan sulit sekali kiranya untuk mengubah pasir jadi kompos. Mestinya lebih murah langsung terjun parasut ke negeri-negeri tropis saja seperti Indonesia &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;kan &lt;/span&gt;untuk mendapatkan atau mencetak sawah? Lalu nanti padi yang ditanam, hasil berasnya akan mereka angkut ke &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;sono&lt;/span&gt;. Padahal buruh-buruhnya adalah saudara-saudara kita sendiri yang diupah super murah? Begitukah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, tingkat produksi padi dan beras kita masih belum mapan? Masih terus ada ancaman kelaparan bukan? Data kelaparan tidak ada yang tepat dan di-&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;update &lt;/span&gt;terus-menerus secara independen, sehingga mudah dikatakan tingkat kemiskinan dan kelaparan menurun, soalnya sudah ada program BLT atau raskin atau beras ayam itu .. Biro Pusat Statistik kita katanya (dan ini benar, katanya) sudah dipesan oleh Presiden SBY, bahwa angka kemiskinan &#39;harus segini saja ya .. tak boleh lebih&quot;, supaya &#39;terbukti program partai berkuasa itu tak terbantahkan&#39; (meskipun belum tentu benar?) ..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang kiranya bisa mengonfirmasikan berita berjudul &#39;&lt;a href=&quot;http://kab.merauke.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=153&amp;amp;Itemid=27&quot;&gt;Mengubah Garis Tangan Petani&lt;/a&gt;&#39; —yang diterbitkan oleh &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Desember 2007, dan kemudian diterbitkan ulang oleh &lt;a href=&quot;http://kab.merauke.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=153&amp;amp;Itemid=27&quot;&gt;website pemerintah kabupaten Merauke&lt;/a&gt;,— bahwa sebuah perusahaan tersohor, tentunya bermodal besar itu, tak kaitan dengan siapa pun dari negara Timur Tengah yang dimaksudkan? Di Merauke, dikatakan, sedang digalakkan penanaman padi secara intensif model SRI di atas lahan seluas lebih dari 100.000 hektar .. Gila luas &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;banget yah &lt;/span&gt;.. Apakah seharusnya dan memang perlu bahwa di Papua didahulukan penanaman padi sementara saudara-saudara kita di sana sudah memiliki sumber zat tepung seperti sagu? Mengapa sagu tidak dikembangkan juga? Apa ini yang nama &#39;proyekisme&#39; itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayo, teman-teman, siapa yang mau melengkapi keterangan tentang peningkatan ironi di negeri kita ini?&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/8999118314800489231/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/8999118314800489231?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8999118314800489231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8999118314800489231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/08/arab-saudi-mau-tanam-padi-atau-menyikat.html' title='Arab Saudi Mau Tanam Padi atau Menyikat Tanah Kita?'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-3380671120548881917</id><published>2009-08-30T09:23:00.001+07:00</published><updated>2009-08-31T22:08:57.497+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="land"/><title type='text'>Apa Kabar &quot;PPAN&quot;?</title><content type='html'>Barangkali menarik kita sekedar lihat dulu apa yang telah dikatakan oleh media dan sumber-sumber lain tentang Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN), yang disebut-sebut sebagai salah satu program pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu pada periode yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan periode yang akan datang? Apakah masih akan diteruskan kemacetannya? Ataukah ada revisi, perbaikan, percepatan, dst.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa mau berbagi kabar tentang PPAN ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa links berita tentang PPAN yang sejauh ini dapat dipantau dari berbagai media yang kami langganani. Lewat internet, barangkali sesedikit itu saja pantauan mereka tentang PPAN.&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot; src=&quot;http://www.google.co.id/reader/ui/publisher-en.js&quot;&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot; src=&quot;http://www.google.co.id/reader/public/javascript/user/13635544113355442188/label/PPAN?n=10&amp;callback=GRC_p(%7Bc%3A%22blue%22%2Ct%3A%22Apa%20Kabar%20%5C%22Program%20Pembaruan%20Agraria%20Nasional%5C%22%3F%22%2Cs%3A%22true%22%2Cn%3A%22true%22%2Cb%3A%22false%22%7D)%3Bnew%20GRC&quot;&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/3380671120548881917/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/3380671120548881917?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/3380671120548881917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/3380671120548881917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/08/apa-kabar-ppan.html' title='Apa Kabar &quot;PPAN&quot;?'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-6640784869579476887</id><published>2009-08-29T18:50:00.005+07:00</published><updated>2009-08-30T02:43:26.236+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian alami"/><title type='text'>Pertanyaan dari Ferry Manangkalangi</title><content type='html'>Kami terbitkan email yang dilayangkan kepada kami dari rekan Ferry Manangkalangi.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Selamat sore.. saya mau bertanya bagaimana caranya mengukur ph tanah dengan kertas lakmus? terus apakah kita bisa tahu berapa besar keasaman tanah yang kita ukur secara kuantitas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Terima kasih atas pencerahannya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Salam,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Ferry&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;Terimakasih atas pertanyaannya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jawabnya apa ya? Barangkali perlu kita periksa lagi &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;sih &lt;/span&gt;apakah ada kertas lakmus yang lebih canggih. Tempo hari kami hanya membeli kertas lakmus seharga Rp55ribu di sebuah toko kimia, tapi bisa dipakai oleh dan berguna untuk banyak petani. Kami tukar-menukar, saling bantu &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;gitulah&lt;/span&gt;.&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kertas lakmus sederhana itu memang tak ada keterangan kuantitasinya. Tapi dari perbedaan warna yang timbul setelah kami terapkan kertas lakmus itu pada segenggam tanah dari lahan yang kita periksa, kita bisa mengetahui derajat keasaman dan kebasaannya. Kalau ingin persis sampai ke detil angkanya, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;ya &lt;/span&gt;buat kami para petani, untuk apa kegunaannya? Tanaman kiranya tak serewel seperti para guru kimia kita &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;kok &lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan bereksperimen ..&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/6640784869579476887/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/6640784869579476887?isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6640784869579476887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6640784869579476887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/08/pertanyaan-dari-ferry-manangkalangi.html' title='Pertanyaan dari Ferry Manangkalangi'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-743922617304747024</id><published>2009-06-10T08:58:00.002+07:00</published><updated>2009-08-31T22:11:21.754+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian alami"/><title type='text'>Produksi etilen di dalam tanah (2)</title><content type='html'>Pertanyaannya sekarang: Bagaimana oksida besi itu memicu terbentuknya etilen dalam tanah? Bentuk zat besi ini bereaksi dengan suatu ‘prekursor’ dari etilen yang sudah terdapat di dalam tanah. Dalam hal ini terjadi suatu reaksi yang kemudian menghasilkan terlepaskannya etilen. Penelitian kami membuktikan bahwa prekursor ini berasal dari tanaman itu sendiri; dan yang lebih penting adalah bahwa prekursor ini hanya (mampu) berakumulasi sampai ke suatu jumlah yang banyak [melulu] pada daun-daun yang telah jadi tua dari tanaman tersebut. Ketika daun-daun tua ini jatuh ke tanah dan membusuk, jumlah prekursor itu di dalam tanah jadi meningkat. Kemudian, jika keadaannya cocok untuk terjadinya mobilisasi oksida besi, etilen kemudian diproduksi atau dihasilkan.&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga telah membuktikan bahwa berbagai spesies tanaman memiliki kuantitas yang berbeda dalam banyaknya jumlah prekursor yang kemudian terakumulasi ketika daun-daunnya menua. Hal ini penting diketahui supaya kita bisa memilih jenis spesies tanaman yang tepat digunakan sebagai tanaman-tanaman penutup tanah untuk meningkatkan kemampu tanah-tanah pertanian memproduksi etilen. Beberapa spesies tanaman yang menghasilkan konsentrasi tinggi untuk jumlah prekursornya adalah padi, phalaris, bunga krisan, avokat, bullrush, pinus radiata. Yang rendah hasil prekursornya adalah Dolichos, paspalum, lucerne dan bracken fern (pakis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita lihat lagi, tidaklah terlalu mengherankan bahwa prekursor etilen hanya dapat berakumulasi pada daun-daun tua yang mati. Dalam dunia alamiah dari tanaman, daun-daun tua yang mati itu adalah, jika dikumpulkan, berupa gundukan daun kering yang berasal dan jatuh dari pohon ke atas tanah. Begitu pula kita tahu bahwa dalam kebiasaan pertanian kebanyakan daun-daun tua itu dirontokkan dan disingkirkan dari lahan ketika panen atau dengan cara memangkas atau dengan cara membakar sisa-sisa panen. Itulah sebabnya mengapa kemudian tanah-tanah pertanian biasanya jadi miskin dengan prekursor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benang merahnya, sekarang kita bisa mengidenfikasi bagaimana caranya agar keadaan tanah memenuhi persyaratan agar dapat memproduksi etilen, yaitu (1) pertama-tama harus ada kegiatan mikrobial aerobik yang intensif, setidak-tidaknya pada bagian perakaran, untuk mamastikan terbentuknya suatu bentuk mikrositus anaerobik yang tidak ada zat-asamnya; (2) keadaan pada bagian mikrositus haruslah cukup tereduksi [kekurangan zat-asam] agar dapat memobilisir oksida besi yang akan memicu produksi etilen; (3) konsentrasi nitrogen-nitrat dalam tanah harus dijaga agar hanya sejumlah sedikit, agar kandung zat besi ferrous dapat diangkut; (4) harus terdapat suatu cadangan prekursor etilene yang jumlah yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;BERSAMBUNG&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/743922617304747024/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/743922617304747024?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/743922617304747024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/743922617304747024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/06/produksi-etilen-di-dalam-tanah-2.html' title='Produksi etilen di dalam tanah (2)'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-8032360973437256488</id><published>2009-06-06T08:33:00.004+07:00</published><updated>2009-06-07T03:16:13.217+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian alami"/><title type='text'>Diagram Siklus Zat Asam dan Etilen</title><content type='html'>&lt;table style=&quot;width:auto;&quot;&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://picasaweb.google.co.id/lh/photo/jFLIIBtl6MyZ9uGahsQgdw?feat=embedwebsite&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixuax9KxHjLNYcXfp8zoLX_cWUANDVvJ9dSJShvhnpIF4xvtkKM2jCXj2Xh-uhMWO89AdFldGnq6iBhP9gHgTCXEQrSe39xtDfZW5srreADVUcLAcE3R-q9O3SOQ6oY_LNH80kzA/s288/Etilen%20K%20jpg.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;font-family:arial,sans-serif; font-size:11px; text-align:right&quot;&gt;From &lt;a href=&quot;http://picasaweb.google.co.id/masadepanpetani/PertanianAlamiNaturalFarming?feat=embedwebsite&quot;&gt;Pertanian Alami - Natural Farming&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon di-klik gambar di atas ini untuk dapat membaca keterangan-keterangannya secara lebih jelas ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://books.google.com/books?id=9IdNJ1CV8W4C&amp;amp;pg=PA96&amp;amp;lpg=PA96&amp;amp;dq=The+oxigen-ethylene+cycle&amp;amp;source=bl&amp;amp;ots=MdXy0PclFK&amp;amp;sig=B4-60kEkwEy1IET3Ygrzt3JIjJM&amp;amp;hl=en&amp;amp;ei=vRIpSoC8IaTe6AOx_4T0CA&amp;amp;sa=X&amp;amp;oi=book_result&amp;amp;ct=result&amp;amp;resnum=1#PPA99,M1&quot;&gt;Paul W. Syltie, &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;How Soils Work&lt;/span&gt;, hlm.99&lt;/a&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/8032360973437256488/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/8032360973437256488?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8032360973437256488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8032360973437256488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/06/diagram-siklus-zat-asam-dan-etilen.html' title='Diagram Siklus Zat Asam dan Etilen'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixuax9KxHjLNYcXfp8zoLX_cWUANDVvJ9dSJShvhnpIF4xvtkKM2jCXj2Xh-uhMWO89AdFldGnq6iBhP9gHgTCXEQrSe39xtDfZW5srreADVUcLAcE3R-q9O3SOQ6oY_LNH80kzA/s72-c/Etilen%20K%20jpg.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-2411587105953836450</id><published>2009-06-05T08:43:00.004+07:00</published><updated>2010-04-29T03:09:34.922+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian alami"/><title type='text'>Produksi etilen di dalam tanah (1)</title><content type='html'>&lt;iframe align=&quot;left&quot; frameborder=&quot;0&quot; marginheight=&quot;0&quot; marginwidth=&quot;0&quot; scrolling=&quot;no&quot; src=&quot;http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=1900322188&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=FFFFFF&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr&quot; style=&quot;height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;Penelitian kami memperlihatkan bahwa etilen (&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;ethylene&lt;/span&gt;), suatu senyawa sederhana berbentuk gas, dihasilkan di &#39;daerah&#39; mikrositus anaerobik tersebut. Lebih dari itu, etilen ini berfungsi mengatur kegiatan mikro-organisme tanah, dan sedemikian rupa mempengaruhi rasio kecepatan pembusukan bahan-bahan organik, daur nutrisi tanaman dan timbulnya penyakit tanaman. Konsentrasi etilen dalam atmosfer tanah jarang dapat mencapai satu sampai dua bagian per satu juta satuan. Etilen tidak bertindak dengan cara membunuh mikroorganisme tanah, tetapi dengan cara menidakaktifkannya secara sementara – ketika konsentrasi etilen menurun dalam satuan gelungnya. Mikroba-mikroba kemudian mulai aktif bergiat.&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Etilen tanah dihasilkan dalam bentuk yang kita sebut sebagai “SIKLUS ZAT ASAM DAN ETILEN&#39; (&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;oxigen-ethylene cycle&lt;/span&gt;). Pada awalnya, mikroorganisme tanah menjadi banyak dalam bentuk zat-zat yang dikeluarkan dari akar-akar tanaman dan kegiatan itu mengakibatkan berkurangnya kandungan zat asam dari dalam tanah pada bagian-bagian mikrositus. Etilen kemudian diproduksikan dalam mikrositus-mikrositus itu dan dikeluarkan, sambil menonaktifkan kegiatan tanpa membunuh mikroorganisme tanah. Ketika semua ini terjadi keperluan zat asam berkurang sehingga zat asam itu dihembuskan kembali ke bagian mikrositus. Hal ini menghentikan atau sangat menurunkan produksi etilen, yang memampukan mikroorganisme tanah memulai kegiatannya. Adalah sangat baik dan bermanfaat bagi tanaman jika produksi etilen ini dipastikan terjadi sehingga perlu ditemukan cara-cara agar siklus ini bisa terulang secara terus-menerus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keadaan tanah yang tak terganggu —seperti karena pembajakan— selayaknya yang terjadi di tengah hutan dan di kawasan padang rumput, etilen dapat secara terus-menerus dideteksi keberadaannya di dalam atmosfer tanah. Ini adalah suatu tanda bahwa perputaran zatasam-etilen terus terjadi secara efisien. Sebaliknya, pada kebanyakan tanah pertanian, konsentrasi etilen sangat sangat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. &#39;Perputaran zatasam-etilen&#39; ini hanya dapat berlangsung jika etilen memainkan peranan penting dalam mengatur kegiatan mikroba di dalam tanah. Sudah sangat kita fahami dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di dalam suatu ekosistem yang tak terganggu di mana terjadi suatu proses pembusukan secara seimbang dan lambat, daur nutrisi tanaman yang efisien dan penyakit tanaman yang ada di dalam tanah menjadi tidak penting sama sekali untuk diperhatikan. Ketika ekosistem ini terganggu karena penggunaan hutan untuk pertanian, situasinya jadi sangat berubah. Terjadi suatu kemerosotan&amp;nbsp;yang mencemaskan dalam jumlah bahan-bahan organik tanah, sehingga keadaan kurang pangan pada tanaman menjadi sangat biasa dan penyakit tanaman meningkat drastis. Kita kemudian mencoba mengatasi masalah-masalah ini dengan menambahkan pupuk-pupuk tak-organik dan penggunaan pestisida kimiawi, yang ternyata jadi sangat menaikkan biaya produksi. Bukankah pada umumnya yang terjadi dalam kenyataan adalah bahwa semakin lama kita membudayakan tanah, akan semakin banyak input yang diperlukan untuk mempertahankan hasil panen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berpendapat bahwa keadaan ini dapat dibalik atau dikembalikan ke keadaan semula, setidaknya sebagian, jika kita dapat menciptakan keadaan yang sesuai dan diperlukan untuk memproduksi etilen di dalam bentuk keadaan tanah yang tak terganggu. Kita sekarang tahu bahwa salah satu sebab utama mengapa tanah-tanah pertanian yang terus diganggu atau dibajak itu gagal memproduksi etilen adalah karena teknik-teknik yang kita kembangkan ternyata &amp;nbsp;menimbulkan perubahan bentuk nitrogen di dalam tanah. Di dalam tanah-tanah yang tak diganggu, seperti di bawah hutan atau padang rumput, pada umumnya semua nitrogen yang ada berada dalam bentuk ammonium ditambah sedikit unsur mikro nitrogen-nitrat. Jika ekosistem ini diganggu karena kepentingan pertanian, pada akhirnya nitrogen tanah tampil dalam bentuk nitrat. Perubahan ini terjadi karena gangguan yang terkait dengan operasi pertanian itu merangsang kegiatan suatu kelompok tertentu dari bakteri yang mengubah nitrogen ammonium menjadi nitrogen-nitrat. Tanaman dan mikro-organisme dapat menggunakan kedua bentuk nitrogen itu, tetapi penelitian kami jelas membuktikan bahwa produksi etilen di dalam tanah jadi terhambat ketika jumlah bentuk nitrat itu melebihi suatu jumlah satuan mikro (&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;trace amount&lt;/span&gt;). Nitrogen ammonium tidak memiliki suatu efek menghambat terhadap produksi etilen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;BERSAMBUNG&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/2411587105953836450/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/2411587105953836450?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2411587105953836450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2411587105953836450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/06/produksi-etilen-di-dalam-tanah-1.html' title='Produksi etilen di dalam tanah (1)'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-9081490751758351614</id><published>2009-06-03T09:42:00.004+07:00</published><updated>2009-08-31T22:13:26.407+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan-sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pertanian alami"/><title type='text'>Interaksi mikroba dalam tanah dan pertumbuhan tanaman yang sehat</title><content type='html'>Oleh Robyn Francis&lt;br /&gt;Pendiri dari &lt;a href=&quot;http://permaculture.com.au/central/index.php?option=com_content&amp;amp;view=frontpage&amp;amp;Itemid=100001&quot;&gt;Djanbung Garden Permaculture Education&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini kami terbitkan atas ijin penulisnya. &gt; &lt;a href=&quot;http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/05/ijin-dari-robyn-francis.html&quot;&gt;Lihat kutipan surat penulisnya&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Interaksi mikroba dalam tanah memegang peranan kunci dalam mengendalikan penyakit tanaman secara biologis, pembusukan bahan-bahan organik, dan daur bahan-bahan makanan pokok untuk tanaman. Jika kita memahami mekanisme ini dengan baik, maka kita dapat menemukan suatu metode yang lebih efisien untuk menanam tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sebelum kita membahas interaksi ini, pentinglah kita tegaskan kedudukan khas dari tanaman dalam ekosistem mana pun. &lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;Tanaman adalah satu-satu organisme hidup yang mampu secara langsung menggunakan tenaga matahari dan dalam proses ini tanaman mengubah tenaga matahari itu menjadi bentuk-bentuk (tenaga) lain yang bermanfaat untuk makhluk-makhluk hidup. Pigmen hijau atau klorofil yang terdapat pada daun tanaman menangkap tenaga cahaya matahari dan kemudian terjadi suatu interaksi di dalam daun dengan bantuan gas karbon dioksida yang terdapat dalam atmosfer yang menghasilkan senyawa-senyawa karbon yang dapat dimanfaatkan oleh makhluk-makhluk hidup yang lain, termasuk manusia, binatang, serangga dan jutaan mikro-organisme ketika makhluk-makhluk itu memakan tanaman atau sisa-sisa tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tanaman memiliki kemampuan khas menangkap tenaga matahari dan mengubahnya menjadi tenaga kimiawi yang diperlukan untuk tumbuh, untuk bermetabolisme dan menghasilkan bunga serta buah, tanaman juga memerlukan materi-materi lain yang tidak dapat dihasilkan oleh tanaman itu sendiri. Misalnya, tanaman memerlukan berbagai anasir, termasuk nitrogen, fosfor, belerang, kalsium, magnesium, potassium dan anasir mikro lainnya. Tanah adalah ‘tempat penampungan’ dari semua anasir itu, tetapi untuk mendapatkan pasokan yang memadai, tanaman harus mengubah lingkungannya di sekitar perakarannya agar dapat memobilisirnya. Cara yang paling penting yang dilakukan oleh tanaman untuk mencapai kemampuannya ini adalah dengan merangsang kegiatan mikroorganisme di dalam tanah yang berada di sekitar akar-akar dan kemudian mikroba-mikroba itu meningkatkan pengangkutan sari-sari makanan. Tanaman merangsang kegiatan mikroba dalam tanah dengan memberikan tenaga kimiawi dalam bentuk cairan akar dan kotoran-kotoran yang dikeluarkan dari perakaran. Sayangnya, dalam banyak metode konvensional yang diterapkan dalam pertanian, hubungan-hubungan ini dirusak sehingga timbul masalah tak lancarnya pengangkutan sari-sari makanan ke dalam tubuh tanaman dan menimbulkan penyakit tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian muta’akhir  menunjukkan bahwa selama suatu tanaman hidup dan berkembang sebanyak 25 persen tenaga kimia yang dihasilkan dari daun-daun dalam bentuk senyawa-senyawa karbon ternyata hilang masuk ke dalam tanah di sekitar perakaran. Materi ini hilang entah dalam bentuk cairan akar atau sel-sel tanaman yang layu lalu mati. Tanaman telah bersusah payah menangkap tenaga matahari dan mengubahnya menjadi tenaga kimiawi, tetapi kemudian seperempat tenaga itu hilang ke dalam tanah! Apakah bukan suatu kesia-siaan? Bagaimana memahami hal semacam ini? Salah satu pandangan menyatakan bahwa tak ada di dalam alam ini suatu ciptaan yang sepenuhnya sempurna, karenanya dapat dikatakan bahwa akar-akar tanaman itu bocor dan kebocoran itu tak terelakkan. Saya tak setuju dengan pemahaman ini. Sebab, jika suatu sistem makhluk hidup itu ternyata ‘bocor’ sampai memboroskan seperempat tenaga yang dihasilkan, maka masalahnya tentu terletak pada tingkat bagaimana tenaga itu dihasilkan atau diproduksikan. Tentunya ada suatu hal yang salah pada tingkat produksi. Padahal yang sesungguhnya terjadi tidaklah demikian. Konsekuensinya, tak dapat dikatakan lain bahwa tenaga (yang hilang) itu mestinya (telah) dimanfaatkan secara langsung oleh makhluk-makhluk lain yang ada di sekitar perakaran, yaitu mikroorganisme. Jika tidak, mestinya evolusi sudah akan menghasilkan suatu seleksi tanaman menuju ke jenis-jenis tanaman yang lebih mampu bertahan dalam keadaan kekurangan tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana masalah hilangnya tenaga kimiawi tanaman ini dapat difahami? Bagaimana tanaman ternyata masih dapat mendapatkan manfaat dari situasi kehilangan tenaga ini? Yang paling penting dipegang di sini adalah bahwa senyawa-senyawa itu menjadi sumber energi bagi mikroorganisme yang banyak terdapat di sekitar daerah perakaran (&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;rhizosphere&lt;/span&gt;). Mikroorganisme ini berkembang biak secara cepat sehingga menghabiskan banyak zat asam di dalam tanah dalam ukuran yang sangat banyak yang berada di sekitar &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;rhizosphere&lt;/span&gt;. Di situ terbentuklah suatu mikro-situs anaerobik yang tak lagi mengandung zat asam. Terbentuknya mikrositus anaerobik ini memegang peranan penting sehingga tanaman dapat menjadi sehat dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Farmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/9081490751758351614/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24401422/9081490751758351614?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/9081490751758351614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/9081490751758351614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/06/interaksi-mikroba-dalam-tanah-dan.html' title='Interaksi mikroba dalam tanah dan pertumbuhan tanaman yang sehat'/><author><name>Sekolah Petani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='12' height='32' src='http://static.flickr.com/55/129037339_1a76b0f510.jpg?v=0'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>