<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>Media Siber</title><link>http://mediasiber.com</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/MediaSiber" /><description>Coretan Alam Maya</description><language>en-US</language><lastBuildDate>Tue, 04 Sep 2012 23:34:57 PDT</lastBuildDate><generator>http://wordpress.org/?v=3.4.1</generator><sy:updatePeriod xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">hourly</sy:updatePeriod><sy:updateFrequency xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">1</sy:updateFrequency><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/MediaSiber" /><feedburner:info uri="mediasiber" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/</creativeCommons:license><image><link>http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/</link><url>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</url><title>Some Rights Reserved</title></image><feedburner:emailServiceId>MediaSiber</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><title>Ya Allah perlihatkanlah kekuatanMu kepadanya!</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/jjgWpUFb_uQ/</link><category>Umum</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Tue, 04 Sep 2012 08:02:44 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1760</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-1764 aligncenter" src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2012/09/la-ilaha-illallah.jpg" alt="" width="500" height="269" /></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu pagi, seorang lelaki pergi memburu mencari rezeki yang halal. Namun, sudah hampir malam, ia belum mendapatkan satu pun binatang buruan. Ia lalu berdoa sepenuh hati, &#8220;Ya Allah, anak-anakku menunggu dengan kelaparan di rumah, berilah aku seekor binatang buruan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak lama setelah berdoa, Allah memberikannya rezeki, jala yang dibawa pemburu itu mengenai seekor ikan yang sangat besar. la pun bersyukur kepada Allah dan pulang ke rumah dengan penuh bahagia dan gembira.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah perjalanan pulang, ia bertemu dengan kelompok raja yang hendak berburu juga. Raja hairan dan takjub luar biasa apabila melihat ikan sebegitu besar yang dibawa pemburu itu. Lalu, ia menyuruh pengawal untuk mengambil ikan itu secara paksa dari tangan sang pemburu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibawanya ikan itu pulang dengan bahagia. Ketika sampai di istana, ia keluarkan ikan itu sambil ketawa ria, tiba-tiba, ikan itu mengigit jarinya dan mengakibatkan badannya jadi panas dingin sehinggakan malam itu Raja tidak dapat tidur.</p>
<p><span id="more-1760"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dikumpulkan seluruh doktor untuk mengubati sakitnya. Semua doktor menyarankan agar jarinya itu dipotong untuk mengelakkan tersebarnya racun ke anggota badan lainnya. Raja pun bersetuju nasihat mereka. Namun, setelah jarinya dipotong, ia tetap tidak dapat rehat kerana racun itu semakin menular ke bahagian tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Para doktor pun menyarankan agar pergelangan tangan raja dipotong dan Raja pun menyetujuinya. Namun, setelah pergelangan tangannya dipotong, Raja masih lagi tidak dapat memejamkan matanya, bahkan rasa sakitnya makin bertambah. Ia berteriak dan menangis dengan kuat kerana racun itu telah merasuk dan menyebar ke anggota tubuh lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh doktor akhirnya menyarankan agar tangan Raja sampai siku dipotong, Raja pun menyetujuinya. Setelah lengannya dipotong, sakit jasmaninya kini telah hilang, tetapi diri dan jiwanya tetap belum tenang. Semua doktor akhirnya menyarankan, agar Raja dibawa ke seorang doktor jiwa (ahli hikmah).</p>
<p style="text-align: justify;">Dibawalah sang Raja menemui seorang dokter jiwa dan diceritakan seluruh kejadian mengenai ikan yang dirampas dari pemburu itu. Mendengar itu, ahli hikmah berkata, &#8220;Jiwa Tuan tetap tidak akan tenang selamanya sehinggalah pemburu itu memaafkan dosa dan kesalahan yang telah Tuan lakukan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dicarinya pemburu itu dan setelah didapatkan, Raja menceritakan kejadian yang dialaminya dan Raja memohon agar si pemburu itu memaafkan semua kesalahannya. Si Pemburu pun memaafkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Raja sangat ingin mengetahui apa yang dikatakan si Pemburu ketika Raja merampas ikannya dahulu. Ia bertanya, &#8220;Wahai pemburu, apa yang kau katakan ketika panglimaku merampas ikanmu itu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemburu itu menjawab, &#8220;Tidak ada lain kecuali aku hanya mengatakan, &#8216;Ya Allah, sesungguhnya dia telah menampakkan kekuatannya kepadaku, maka perlihatkanlah kekuatanMu kepadanya!&#8217;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Moral:</strong><br />
Sungguh, doa orang teraniaya sangat mustajab maka berhati-hatilah dalam bertindak.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jika ada yang mengancammu dengan kebinasaan, balas kembali ancamannya dengan nasihat dan doa. (Ja&#8217;far Ash Shadiq)</em></p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li>Tiada artikel yang berkaitan</li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=jjgWpUFb_uQ:bAC6mdMotOw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=jjgWpUFb_uQ:bAC6mdMotOw:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=jjgWpUFb_uQ:bAC6mdMotOw:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=jjgWpUFb_uQ:bAC6mdMotOw:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=jjgWpUFb_uQ:bAC6mdMotOw:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=jjgWpUFb_uQ:bAC6mdMotOw:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=jjgWpUFb_uQ:bAC6mdMotOw:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=jjgWpUFb_uQ:bAC6mdMotOw:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/jjgWpUFb_uQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Suatu pagi, seorang lelaki pergi memburu mencari rezeki yang halal. Namun, sudah hampir malam, ia belum mendapatkan satu pun binatang buruan. Ia lalu berdoa sepenuh hati, &amp;#8220;Ya Allah, anak-anakku menunggu dengan kelaparan di rumah, berilah aku seekor binatang buruan.&amp;#8221; Tidak &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/ya-allah-perlihatkanlah-kekuatanmu-kepadanya/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/ya-allah-perlihatkanlah-kekuatanmu-kepadanya/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/ya-allah-perlihatkanlah-kekuatanmu-kepadanya/</feedburner:origLink></item><item><title>Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/4B-5XdM2C20/</link><category>Umum</category><category>as-sajdah</category><category>ayat sajadah</category><category>dalil</category><category>hadith</category><category>islam</category><category>masalah</category><category>sajdah</category><category>sujud sajadah</category><category>sujud sajdah</category><category>sujud tilawah</category><category>Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Thu, 15 Dec 2011 17:38:59 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1751</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-1754" title="" src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/12/sujud3.jpg" alt="" width="230" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hukum Sujud Tilawah Ditujukan pada Siapa Saja?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Sujud tilawah ditujukan untuk orang yang membaca Al Qur’an dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama&#8217;, baik ayat sajadah dibaca di dalam solat ataupun di luar solat.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Bagaimana untuk orang yang mendengar bacaan Qur’an dan di sana terdapat ayat sajadah? Apakah dia juga dianjurkan sujud tilawah?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kedua pemasalahan ini terdapat perselisihan di antara para ulama&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat pertama mengatakan bahawa orang yang mendengar bacaan ayat sajadah dianjurkan untuk sujud tilawah, walaupun orang yang membacanya tidak melakukan sujud. Pendapat pertama ini dipilih oleh Imam Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i, dan salah satu pendapat Imam Malik.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat kedua mengatakan bahawa orang yang mendengar bacaan ayat sajadah ikut bersujud jika dia menyemak bacaan dan jika orang yang membaca ayat sajadah tersebut ikut bersujud. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Ahmad dan salah satu pendapat Imam Malik. Inilah pendapat yang lebih kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalil dari pendapat kedua ini adalah dua hadith sahih berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Hadith Ibnu Umar: “Nabi s.a.w pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sehingga ada salah seorang di antara kami tidak mendapat tempat untuk menjadikan tempat bersujud.” (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><span id="more-1751"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud pernah mengatakan pada Tamim bin Hadzlam yang saat itu adalah seorang pemuda (ghulam), -tatkala itu dia membacakan pada Ibnu Mas’ud ayat sajadah-,</p>
<p style="text-align: justify;">اسْجُدْ فَإِنَّكَ إِمَامُنَا فِيهَا</p>
<p style="text-align: justify;">“Bersujudlah kerana engkau adalah imam kami dalam sujud tersebut.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari secara mu’allaq). Al Bukhari membawakan hadith Ibnu Umar di atas dan riwayat Ibnu Mas’ud ini pada Bab “Siapa yang sujud kerana sujud orang yang membaca Al Qur’an (ayat sajadah).”</p>
<p style="text-align: justify;">Perhatian: Disyariatkan bagi orang yang mendengar bacaan ayat sajadah kemudian dia ikut bersujud adalah apabila orang yang diikuti termasuk orang yang layak jadi imam. Jadi, apabila orang yang diikuti tadi adalah anak kecil (shobiy) atau wanita, maka orang yang mendengar bacaan ayat sajadah tadi tidak perlu ikut bersujud. Inilah pendapat Qotadah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Ishaq. (Lihat Al Mughni, 3/98)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bolehkah Melakukan Sujud Tilawah di Waktu Dilarang untuk Solat?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sujud tilawah boleh dilakukan di waktu terlarang untuk solat. Alasannya, karena sujud tilawah bukanlah solat. Sedangkan larangan solat di waktu terlarang adalah larangan khusus untuk shalat. Inilah pendapat yang lebih kuat di antara pendapat para ulama. Inilah pendapat Imam Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Hazm. (Lihat Sahih Fiqih Sunnah, 1/452)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sujud Tilawah Ketika Solat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dianjurkan bagi orang yang membaca ayat sajadah dalam solat baik solat wajib mahupun solat sunat agar melakukan sujud tilawah. Inilah pendapat jumhur ulama&#8217;. Hal ini dianjurkan pada solat jemaah atau sendirian dan solat siriyah (solat dengan suara perlahan seperti pada solat zohor dan asar) atau solat jariyah (solat dengan suara kuat seperti pada solat maghrib dan isyak).</p>
<p style="text-align: justify;">عَنْ أَبِى رَافِعٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَبِى هُرَيْرَةَ الْعَتَمَةَ فَقَرَأَ ( إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ ) فَسَجَدَ فَقُلْتُ مَا هَذِهِ قَالَ سَجَدْتُ بِهَا خَلْفَ أَبِى الْقَاسِمِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فَلاَ أَزَالُ أَسْجُدُ بِهَا حَتَّى أَلْقَاهُ</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Rofi’, dia berkata bahwa dia solat Isyak (solat ‘atamah) bersama Abu Hurairah, lalu beliau membaca “idzas samaa’unsyaqqot”, kemudian beliau sujud. Lalu Abu Rofi’ bertanya pada Abu Hurairah, “Apa ini?” Abu Hurairah pun menjawab, “Aku bersujud di belakang Abu Qasim (Rasulullah s.a.w) ketika sampai pada ayat sajadah dalam surat tersebut.” Abu Rofi’ mengatakan, “Aku tidaklah pernah bersujud ketika membaca surah tersebut sampai aku menemukannya saat ini.” (H.R. Bukhari no. 768 dan Muslim no. 578)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun bagaimana jika shalatnya adalah shalat siriyah semacam shalat zhuhur dan shalat ashar? Pada shalat tersebut, makmum tidak mendengar kalau imam membaca ayat sajadah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebahagian ulama&#8217; Hanabilah mengatakan bahwa imam terlarang untuk membaca ayat sajadah dalam solat yang tidak dizahirkan suaranya (dikeraskan suaranya). Jika imam tersebut tetap membaca ayat sajadah dalam solat itu, maka tidak perlu ada sujud. Pendapat ini juga adalah pendapat Imam Abu Hanifah. Alasan dari pendapat ini adalah agar tidak membuat kecelaruan pada makmum.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ulama Syafi’iyah tidaklah melarang hal ini. Kerana tugas makmum hanyalah mengikuti imam. Jadi jika imam melakukan sujud tilawah, maka makmum hanya perlu ikut saja dan dia ikut sujud. Alasannya adalah sabda Nabi s.a.w,</p>
<p style="text-align: justify;">إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya imam itu untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jika imam sujud, maka bersujudlah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula apabila seorang makmum tatkala dia berada jauh dari imam sehingga tidak boleh mendengar bacaannya atau makmum tersebut adalah seorang yang pekak, maka dia harus tetap sujud kerana mengikuti imam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat kedua inilah yang lebih tepat. Inilah pendapat yang juga dipilih oleh Ibnu Qudamah. (Lihat Al Mughni, 3/104)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dilarang Melangkah Ayat Sajdah Atas Alasan Supaya Tidak Sujud</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Qudamah mengatakan, “Dimakruhkan melakukan ikhtishorus sujud iaitu melangkah ayat sajadah agar tidak bersujud. Yang berpendapat seperti ini adalah Asy Sya’bi, An Nakho’i, Al Hasan, Ishaq. Sedangkan An Nu’man, sahabatnya Muhammad dan Abu Tsaur memberi keringanan dalam hal ini.” Ibnu Qudamah lalu mengatakan,</p>
<p style="text-align: justify;">وَلَنَا أَنَّهُ لَيْسَ بِمَرْوِيٍّ عَنْ السَّلَفِ فِعْلُهُ ، بَلْ كَرَاهَتُهُ</p>
<p style="text-align: justify;">“Menurut kami, tidak ada diriwayatkan dari seorang salaf pun yang melakukan semacam ini (iaitu melompati ayat sajadah agar tidak melakukan sujud tilawah), bahkan mereka (para salaf) memakruhkan hal ini.” (Lihat Al Mughni, 3/103)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana Jika Ayat Sajadah Berada Di Akhir Surah?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Surah yang terdapat ayat sajadah di akhir adalah seperti surat An Najm ayat 62 dan surat Al ‘Alaq ayat 19. Maka ada tiga pilihan dalam permasalahan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Ketika membaca ayat sajadah lalu melakukan sujud tilawah kemudian setelah itu berdiri kembali dan membaca surah lain kemudian rukuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab. Ketika solat subuh, beliau membaca surah Yusuf pada rakaat pertama. Kemudian pada rakaat kedua, beliau membaca surat An Najm (dalam surat An Najm terdapat ayat sajadah), lalu beliau sujud (iaitu sujud tilawah). Setelah itu, beliau bangkit lagi dari sujud kemudian berdiri dan membaca surat “Idzas samaa-un syaqqot” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Rozaq dan Ath Thohawiy dengan sanad yang sahih)</p>
<p style="text-align: justify;">2. Jika ayat sajadah di ayat terakhir dari surah, maka cukup dengan rukuk dan itu sudah menggantikan sujud.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud pernah ditanyakan mengenai surah yang di akhirnya terdapat ayat sajadah, “Apakah ketika itu perlu sujud ataukah cukup dengan rukuk?” Ibnu Mas’ud mengatakan, “Jika antara kamu dan ayat sajadah hanya perlu rukuk, maka itu lebih mendekati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih)</p>
<p style="text-align: justify;">3. Jika ayat sajadah di ayat terakhir di suatu surah, ketika membaca ayat tersebut, lalu sujud tilawah, kemudian bertakbir dan berdiri kembali, lalu dilanjutkan dengan rukuk tanpa ada penambahan bacaan surah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari tiga pilihan di atas, cara pertama adalah yang lebih utama. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 453-454)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana Jika Membaca Ayat Sajadah Di Atas Mimbar?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika ayat sajadah dibaca di atas mimbar, maka dianjurkan pula untuk melakukan sujud tilawah dan para jemaah juga dianjurkan untuk sujud. Namun apabila sujud itu ditinggalkan, maka ini juga tidak mengapa. Hal ini telah ada riwayatnya sebagaimana terdapat pada riwayat Ibnu Umar yang telah diberitahu tadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Di Mana Ayat Sajadah?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat sajadah di dalam Al Qur’an terdapat pada 15 tempat. Sepuluh tempat disepakati. Empat tempat masih dipersilisihkan, namun terdapat hadith sahih yang menjelaskan hal ini. Satu tempat adalah berdasarkan hadith, namun tidak sampai pada Nabi s.a.w, akan tetapi sebahagian melakukan sujud tatkala bertemu dengan ayat tersebut. (Lihat pembahasan ini di Sahih Fiqih Sunnah, 1/454-458)</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah:</p>
<p style="text-align: justify;">Surah Al A’raf ayat 206<br />
Surah Ar Ro’du ayat 15<br />
Surah An Nahl ayat 49-50<br />
Surah Al Isra’ ayat 107-109<br />
Surah Maryam ayat 58<br />
Surah Al Hajj ayat 18<br />
Surah Al Furqan ayat 60<br />
Surah An Naml ayat 25-26<br />
Surah As Sajdah ayat 15<br />
Surah Fushilat ayat 38 (menurut jumhur ulama&#8217;), Surah Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)</p>
<p style="text-align: justify;">Empat ayat yang termasuk ayat sajadah namun diperselisihkan, akan tetapi ada dalil sahih yang menjelaskannya:</p>
<p style="text-align: justify;">Surah Shaad ayat 24<br />
Surah An Najm ayat 62 (ayat terakhir)<br />
Surah Al Insyiqaq ayat 20-21<br />
Surah Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)</p>
<p style="text-align: justify;">Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadith marfu’ (hadith yang sampai pada Nabi) yang menjelaskannya, iaitu surat Al Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Qudamah mengatakan,</p>
<p style="text-align: justify;">لَمْ نَعْرِفْ لَهُمْ مُخَالِفًا فِي عَصْرِهِمْ ، فَيَكُونُ إجْمَاعًا</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami tidaklah mengetahui adanya perselisihan di masa sahabat mengenai ayat ini sebagai ayat sajadah. Maka ini menunjukkan bahawa para sahabat telah berijmak (bersepakat) dalam masalah ini.” (Al Mughni, 3/88)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bacaan Ketika Sujud Tilawah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">سجد وجهي للذي خلقه وشق سمعه وبصره بحوله وقوته فتبارك الله أحسن الخالقين<br />
&#8220;Sajjada wajhialillazhi, kholaqohu,wshaqqossam&#8217;ahu, wabasthorohu bihaulihi fatabarokallahu ahsanul kholiqeen.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ertinya: &#8220;Aku bersujud dengan wajahku kepada Zat yang telah merupakan dan menciptakannya, dan menciptakan pendengaran dan penglihatannya dengan kekuatanNya. Maha memberkati Allah, sebaik-baik Pencipta.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jika tak dapat menghafal ayat ni, cukuplah sekadar kita baca: &#8220;Sajjada wajhialillah.&#8221; Jika tak dapat membacanya juga oleh kerana terlupa, maka cukuplah sekadar membaca tasbih seperti biasa ketika sujud.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pembahasan mengenai sujud tilawah. Semoga artikel ini dapat menjadi ilmu bermanfaat bagi kita sekalian.</p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li><a href="http://mediasiber.com/syukur-apakah-ia-ada-dalam-diri-kamu/" title="Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?">Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/firman-allah-dan-hadith-mengenai-aurat-dan-couple/" title="Firman Allah dan Hadith mengenai Aurat dan Couple">Firman Allah dan Hadith mengenai Aurat dan Couple</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/hadith-sesiapa-menyerupai-sesuatu-kaum/" title="Hadith: Sesiapa menyerupai sesuatu kaum..">Hadith: Sesiapa menyerupai sesuatu kaum..</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/bersediakah-kamu-menjadi-suami/" title="Bersediakah kamu menjadi suami?">Bersediakah kamu menjadi suami?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/muflis-di-akhirat/" title="Muflis di akhirat">Muflis di akhirat</a></li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=4B-5XdM2C20:iDFvIjU5o_M:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=4B-5XdM2C20:iDFvIjU5o_M:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=4B-5XdM2C20:iDFvIjU5o_M:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=4B-5XdM2C20:iDFvIjU5o_M:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=4B-5XdM2C20:iDFvIjU5o_M:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=4B-5XdM2C20:iDFvIjU5o_M:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=4B-5XdM2C20:iDFvIjU5o_M:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=4B-5XdM2C20:iDFvIjU5o_M:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/4B-5XdM2C20" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Hukum Sujud Tilawah Ditujukan pada Siapa Saja? 1. Sujud tilawah ditujukan untuk orang yang membaca Al Qur’an dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama&amp;#8217;, baik ayat sajadah dibaca di dalam solat ataupun di luar solat. 2. Bagaimana untuk orang yang mendengar &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/sujud-tilawah-dan-ayat-ayat-sajadah/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/sujud-tilawah-dan-ayat-ayat-sajadah/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">1</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/sujud-tilawah-dan-ayat-ayat-sajadah/</feedburner:origLink></item><item><title>Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/VZOKHZkITKY/</link><category>Umum</category><category>alhamdulillah</category><category>Apakah ia ada dalam diri kamu?</category><category>belajarlah erti bersyukur</category><category>hadith</category><category>islam</category><category>nikmat Allah</category><category>quran</category><category>Syukur</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Sat, 15 Oct 2011 20:40:31 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1740</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-1742" title="" src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/10/syukur-allah.jpg" alt="" width="221" height="176" /></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabKu amatlah pedih&#8221; (Surah Ibrahim:7)</p>
<p style="text-align: justify;">Tafsiran ringkas: Setiap detik kita menggunakan nikmat kurniaan Allah, amat sedikit yang menyedarinya, apa lagi untuk mengsyukuri akan kurniaan itu. Kurniaan Allah tidak terhitung., “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, nescaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.&#8221;(Surah An-Nahl:18)</p>
<p style="text-align: justify;">Adakah kita tergolong dari golongan yang bersyukur? Allah menjelaskan &#8220;Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur&#8221; (Surah Yusuf:38). Ingatlah, Allah mengurniakan nikmat kepada seluruh makhlukNya semata-mata untuk disyukuri, bukan untuk dikhianati. Sesungguhnya Allah pemberi nikmat sebenar yang menjanjikan tambahan nikmat kepada mereka yang bersyukur dan azab seksa amat pedih bagi mereka yang kufur. Mungkin sahaja selama ini kita menjalani kehidupan tanpa ada rasa syukur, atau rasa syukur yang amat sedikit. Manusia sering merasakan bahawa apa yang dimiliki adalah hasil usaha dan menjadi hak mutlak mereka. Kerana itu apabila sesuatu keinginan tidak dapat dicapai atau diperolehi kita mudah berasa kesal. Malah mungkin juga kecewa, lalu menyalahkan takdir dan mencari-cari kesalahan orang lain. Itu adalah akibat gersang rasa syukur dalam diri manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Syukur, inilah satu perasaan yang jarang melekat di hati kita. Malah kita kerap kali lupa dan alpa. Mulai sekarang, ketahuilah bahawa sebenarnya kita adalah orang yang sangat bertuah, baik dalam pelajaran, keluarga, ekonomi, politik mahupun dalam kehidupan sehari-hari. Maka sewajarnyalah untuk kita syukuri. Masih ragu?</p>
<p><span id="more-1740"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita masih ada makanan untuk dikunyah dan tidur kekenyangan, pakaian cantik menutupi badan, tilam empuk untuk tidur, rumah untuk berlindung dari panas dan hujan, maka kita masih bertuah berbanding sebahagian penduduk dunia yang lain. Sebahagian mereka kebuluran dan tidak cukup makanan, pakaian yang koyak dan lusuh, tidur bertilam tanah, dan berlindung di mana sahaja kaki terhenti sama ada di bawah jambatan atau di bawah rimbunan pokok-pokok. Masih lagi kita enggan bersyukur?</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita tidak pernah mengalami kesengsaraan kerana peperangan, masih dapat mengunjungi masjid dan mengamalkan amal ibadah tanpa rasa takut diancam, dicederakan atau dibunuh. Jika kita masih dapat hadir ke sekolah, kolej atau universiti, dapat membaca akhbar, majalah dan melayari internet. Maka kita masih bertuah dari sebahagian penduduk dunia yang lain. Sebahagian mereka hidup dalam ketakutan dan kesengsaraan. Sejuk dan kelaparan. Sukar beribadah secara terang-terangan. Anak-anak kecil tidak pernah kenal erti sekolah jauh sekali untuk membaca atau memegang komputer. Masih lagi kita enggan bersyukur?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Hadith Riwayat Imam Tirmidzi menyatakan: &#8220;Dua perkara apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohinya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah lalu bersyukur kepada Allah bahawa dia masih diberi kelebihan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syukur boleh diertikan sebagai rasa terima kasih atas sesuatu anugerah atau kurnian dengan rasa senang dihati, ucapan puji-pujian dan melakukan yang terbaik sebagai tanda menghargai suatu anugerah atau kurnian itu. Pemberi anugerah dan kurnian itu ialah Allah, Tuhan yang maha agung dan tiada sekutu bagiNya. Pemilik segala yang di langit dan dibumi dan isi di antara kedua-duanya. Syukur itu bukan hanya dengan kata-kata tetapi juga dengan perbuatan. Maka para ulama memaknakan syukur itu &#8220;perbuatan yang menuju kepada pengagungan yang memberi nikmat iaitu Allah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersyukurlah hari ini:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Sebelum kita berkata yang tidak baik, fikirkan tentang seseorang yang tidak boleh berkata-kata sama sekali.</li>
<li>Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan, fikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.</li>
<li>Sebelum kita mengeluh tidak punya apa-apa, fikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.</li>
<li>Sebelum kita mengeluh bahawa kita buruk, fikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.</li>
<li>Sebelum kita mengeluh tentang suami atau isteri, fikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Allah untuk diberikan teman hidup</li>
<li>Hari ini sebelum kita mengeluh tentang hidup, fikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.</li>
<li>Sebelum kita mengeluh tentang anak-anak, fikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.</li>
<li>Sebelum kita mengeluh tentang rumah yang kotor karena pembantu tidak mengerjakan tugasnya, fikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.</li>
<li>Sebelum kita mengeluh tentang jauh perjalanan dengan memandu kereta, fikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.</li>
<li>Dan disaat kita penat dan mengeluh tentang pekerjaan, fikirkan tentang orang yang menganggur atau orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.</li>
<li>Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahawa tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan kesilapan dan kesalahan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Kufur adalah sifat yang berlawanan dengan syukur. Kufur pada bahasa ialah menutupi manakala pada istilah kufur bemaksud tidak beriman dengan Allah dan Rasul-Nya dengan mendustakannya (contoh: mengatakan solat itu tidak wajib) atau tidak mendustakan (contoh: tahu solat itu wajib tetapi tidak menunaikan tuntutan solat itu). Manakala kufur nikmat ialah tidak mengunakan nikmat yang dikurnia oleh Allah ke jalan kemaksiatan yang tidak diredhai olehNya. Mata digunakan untuk melihat perkara-perkara maksiat, lidah digunakan untuk mengata dan mengumpat, tangan digunakan untuk mencuri. Maka segala cara mempergunakan nikmat anugerah dan kurnian Allah ke jalan yang salah dan batil itu dinamakan kufur.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang yang kufur dibenci oleh Allah. Orang yang dibenci Allah, maka Allah menjanjikan balasan azab yang amat pedih. Kejayaan dan kebahagian sangat erat dengan orang yang bersyukur. Kerana Allah menjanjikan penambahan nikmat apabila kita bersyukur. Ayat ini menganjurkan kita supaya sentiasa bersyukur dengan memperbanyakkan memuji-muji Allah atau atau berkata &#8220;alhamdulilah&#8221; sebanyak-banyaknya, bahkan sampai ribuan atau jutaan kali sehari. Bukan hanya untuk memperoleh ganjaran pahala. Tetapi mengingatkan kita akan kasih sayang Allah kepada kita, dan tidak berbuat sesuatu yang dimurkai dan dibenci oleh Allah. Ingatlah bahawa Allah telah menjanjikan penambahan nikmatNya jika kita bersyukur. Tentunya ia sebagai modal untuk berjaya, tenang dan bahagia.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada tiga manfaat besar dari bersyukur. Kedua manfaat ini akan mengubah hidup kita jika kita mendapatkannya.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pahala dari Allah. Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas.</li>
<li>Menciptakan rasa tenang, bahagia dan gembira. Dengan bersyukur akan membuatkan kita lebih bahagia. Lebih tenang. Lebih gembira. Perasaan kita menjadi lebih tenteram dan segar dengan bersyukur. Fikiran kita akan berfokus pada berbagai kebaikan yang kita terima dan nikmati.</li>
<li>Kekayaan akan bertambah kerana itu janji Allah, Allah akan akan tambah nikmatNya kepada sesiapa yang bersyukur.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Bersyukurlah sebelum terlambat, sebelum apa yang kita miliki hilang lenyap. Sebelum apa yang kita ada meninggalkan kita. Sebelum kita tidak punya apa-apa. Peka terhadap nikmat yang kita kecapi. Merasakan kehadirannya. Mengagungkan pemberi nikmat itu iaitu Allah. Tuhan sekalian alam. Yang Maha Pengasih dan Maha Mengasihani.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bersyukur nikmat akan bertambah, rezeki akan melimpah, hidup penuh barokah. Kaya dan bahagia dengan bersyukur. Sudahkah kita bersyukur hari ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Artikel oleh: <a href="http://roslan2u.blogspot.com/2010/10/kaya-dan-bahagia-dengan-bersyukur.html" target="_blank">Roslan</a></p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li><a href="http://mediasiber.com/sujud-tilawah-dan-ayat-ayat-sajadah/" title="Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah">Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/si-kaya-dan-si-miskin/" title="Si kaya &#038; Si miskin">Si kaya &#038; Si miskin</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/firman-allah-dan-hadith-mengenai-aurat-dan-couple/" title="Firman Allah dan Hadith mengenai Aurat dan Couple">Firman Allah dan Hadith mengenai Aurat dan Couple</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/hadith-sesiapa-menyerupai-sesuatu-kaum/" title="Hadith: Sesiapa menyerupai sesuatu kaum..">Hadith: Sesiapa menyerupai sesuatu kaum..</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/bersediakah-kamu-menjadi-suami/" title="Bersediakah kamu menjadi suami?">Bersediakah kamu menjadi suami?</a></li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=VZOKHZkITKY:Qbd_6z08pic:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=VZOKHZkITKY:Qbd_6z08pic:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=VZOKHZkITKY:Qbd_6z08pic:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=VZOKHZkITKY:Qbd_6z08pic:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=VZOKHZkITKY:Qbd_6z08pic:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=VZOKHZkITKY:Qbd_6z08pic:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=VZOKHZkITKY:Qbd_6z08pic:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=VZOKHZkITKY:Qbd_6z08pic:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/VZOKHZkITKY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>&amp;#8220;Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabKu amatlah pedih&amp;#8221; (Surah Ibrahim:7) Tafsiran ringkas: Setiap detik kita menggunakan nikmat kurniaan Allah, &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/syukur-apakah-ia-ada-dalam-diri-kamu/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/syukur-apakah-ia-ada-dalam-diri-kamu/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">1</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/syukur-apakah-ia-ada-dalam-diri-kamu/</feedburner:origLink></item><item><title>Bersediakah kamu menjadi suami?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/Q1RwaEyEc-0/</link><category>Umum</category><category>Bersediakah kamu menjadi suami</category><category>islam</category><category>isteri</category><category>menjadi suami</category><category>suami</category><category>suami baik</category><category>suami dayus</category><category>suami yang dibenci</category><category>suami yang dipuji</category><category>tanggungjawab suami</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Thu, 29 Sep 2011 08:58:25 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1733</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><img src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/09/suami-isteri.jpg" alt="" title="" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1734" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kebiasaan masyarakat kita apabila disebut persediaan menjadi suami, mereka menyangka ia adalah memiliki sijil pengajian tinggi, paling kurang diploma. Telah memiliki kerjaya dengan gaji bulanan minima RM2500, diikuti dengan sebuah rumah dan kereta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ketinggalan, wang tunai berjumlah RM30,000 untuk urusan perkahwinan seperti duit hantaran, dulang-dulang hantaran, cincin dan belanja kenduri kahwin. Jika seorang lelaki belum memiliki semua ini, dia belum layak untuk bergelar suami.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun dalam Islam, ukuran persediaan untuk menjadi suami bukanlah seperti di atas. Persediaan untuk menjadi suami lebih tertumpu kepada kualiti lelaki tersebut dan inilah yang akan diperincikan di sini.</p>
<p><span id="more-1733"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. KEPIMPINAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Persediaan terpenting ialah bakal suami perlu mengetahui bahawa dia memiliki tanggungjawab sebagai pemimpin ke atas keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman: &#8220;Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah telah melebihkan orang-orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas orang-orang perempuan.&#8221; [al-Nisa' 4:34]</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai pemimpin, bakal suami hendaklah memiliki ilmu rumahtangga, akhlak yang menterjemah teori kepada praktikal, disiplin yang tinggi serta wawasan yang luas. Jika sebelum ini pernah menjadi pemimpin, seperti pemimpin kelab, persatuan, rombongan atau jabatan, maka ia adalah pengalaman yang boleh dikembangkan dalam kepimpinan rumahtangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi yang belum pernah, maka alam rumahtangga adalah suasana yang baik untuk mula melatih diri menjadi pemimpin. Terasa sukar? Jangan bimbang. Lantiklah isteri anda menjadi timbalan pemimpin untuk bersama-sama saling membantu mengemudi bahtera rumahtangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini perlu diingatkan bahawa kepimpinan anda sentiasa dicatit markahnya oleh malaikat di bahu kanan dan kiri. Oleh itu berwaspadalah, jangan menjadi pemimpin yang ego dan zalim. Setiap langkah dan ciri kepimpinan anda akan dipersoalkan semula oleh Allah pada Hari Akhirat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. KETEGASAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lanjutan dari ciri seorang pemimpin, bakal suami hendaklah tegas dalam membimbing isteri. Kelak apabila dianugerahkan cahaya mata, suami juga hendaklah tegas dalam membimbing anak-anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah mengingatkan: &#8220;Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya ada di antara isteri-isteri kamu dan anak-anak kamu yang menjadi musuh bagi kamu; oleh itu awaslah serta berjaga-jagalah kamu terhadap mereka. Dan kalau kamu memaafkan dan tidak marahkan (mereka) serta mengampunkan kesalahan mereka (maka Allah akan berbuat demikian kepada kamu), kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.&#8221; [al-Taghabun 64:14]</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh itu dalam institusi perkahwinan, suami adalah pemimpin dan bukan yang dipimpin, penjaga dan bukannya dijaga serta pengawal dan bukannya dikawal. Namun ketegasan bukanlah bererti bengis dan menakutkan, sebaliknya hendaklah bersikap memaafkan dan tidak marahkan mereka serta mengampunkan kesalahan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. PEMELIHARA DARI API NERAKA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Suami merupakan pemelihara agar ahli keluarga tidak masuk ke dalam api neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah: &#8220;Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya: Manusia dan batu (berhala); Neraka itu dijaga dan dikawal oleh malaikat-malaikat yang keras kasar (layanannya); mereka tidak menderhaka kepada Allah dalam segala yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan mereka pula tetap melakukan segala yang diperintahkan.&#8221; [al-Tahrim 66:06]</p>
<p style="text-align: justify;">Justeru anda perlu melengkapkan diri dengan ilmu-ilmu agama dan seterusnya mendidik ahli keluarga serta memastikan mereka mempraktikannya. Lebih penting, anda hendaklah paling kehadapan dalam mempraktikkan ilmu-ilmu agama tersebut. Jangan sekadar menyuruh ahli keluarga mendirikan solat tetapi anda tidak solat, jangan sekadar menyuruh ahli keluarga menutup aurat tetapi anda mendedahkan aurat.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah memberi amaran: &#8220;Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu memperkatakan apa yang kamu tidak melakukannya! Amat besar kebenciannya di sisi Allah kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya.&#8221; [al-Saff 61:2-3]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. MEMBERI NAFKAH</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Termasuk persediaan menjadi suami ialah kesedaran bahawa anda merupakan sumber kewangan rumahtangga. Justeru anda bertanggungjawab menyediakan nafkah tempat tinggal, keperluan asas dalam tempat tinggal, pakaian, makanan dan minuman kepada ahli keluarganya. Anda juga bertanggungjawab ke atas kesihatan dan perubatan ahli keluarga seandainya mereka jatuh sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun nafkah rumahtangga berada di atas bahu suami, ini tidaklah bererti suami mesti memiliki pendapat minima yang tertentu jumlahnya. Setiap suami memiliki kemampuan kewangan yang berbeza dan setiap suami berbelanja untuk ahli keluarganya pada kadar kemampuannya. Tidak ada nilai minimum atau maksimum untuk kadar nafkah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman: &#8220;Hendaklah orang (suami) yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya dan sesiapa yang di sempitkan rezekinya, maka hendaklah dia memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya (sekadar yang mampu).&#8221; [al-Thalaq 65:07]</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah beberapa kualiti yang perlu ada pada seorang lelaki untuk dia menjadi seorang suami. Perhatikan bahawa kualiti-kualiti ini tidak ada ukuran minimum dan maksimum atau batasan tertentu bagi menentukan layak atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia adalah kualiti yang nilainya relatif, ia akan bertambah apabila anda berusaha untuk memperbaikinya dan akan berkurang apabila anda mengabaikannya. Justeru, lelaki yang sudah bersedia menjadi suami ialah lelaki yang mengetahui kualiti-kualiti ini, memilikinya dan berazam untuk terus memperbaikinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Artikel oleh:</strong> <a href="http://hafizfirdaus.com" target="_blank">Hafiz Firdaus</a></p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li><a href="http://mediasiber.com/siapa-suamimu-di-syurga-nanti/" title="Siapa suamimu di syurga nanti?">Siapa suamimu di syurga nanti?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/sujud-tilawah-dan-ayat-ayat-sajadah/" title="Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah">Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/syukur-apakah-ia-ada-dalam-diri-kamu/" title="Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?">Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/muflis-di-akhirat/" title="Muflis di akhirat">Muflis di akhirat</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/apabila-zina-lebih-mudah-daripada-kahwin/" title="Apabila zina lebih mudah daripada kahwin">Apabila zina lebih mudah daripada kahwin</a></li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=Q1RwaEyEc-0:DpDGKaPiPpY:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=Q1RwaEyEc-0:DpDGKaPiPpY:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=Q1RwaEyEc-0:DpDGKaPiPpY:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=Q1RwaEyEc-0:DpDGKaPiPpY:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=Q1RwaEyEc-0:DpDGKaPiPpY:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=Q1RwaEyEc-0:DpDGKaPiPpY:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=Q1RwaEyEc-0:DpDGKaPiPpY:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=Q1RwaEyEc-0:DpDGKaPiPpY:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/Q1RwaEyEc-0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Kebiasaan masyarakat kita apabila disebut persediaan menjadi suami, mereka menyangka ia adalah memiliki sijil pengajian tinggi, paling kurang diploma. Telah memiliki kerjaya dengan gaji bulanan minima RM2500, diikuti dengan sebuah rumah dan kereta. Tidak ketinggalan, wang tunai berjumlah RM30,000 untuk &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/bersediakah-kamu-menjadi-suami/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/bersediakah-kamu-menjadi-suami/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">5</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/bersediakah-kamu-menjadi-suami/</feedburner:origLink></item><item><title>Muflis di akhirat</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/dpAWB38pGBM/</link><category>Umum</category><category>bankrupt</category><category>bankrupt di akhirat</category><category>islam</category><category>muflis</category><category>Muflis di akhirat</category><category>rugi di akhirat</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Tue, 20 Sep 2011 07:41:54 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1723</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Daripada Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu, siapakah gerangan orang yang muflis itu?” Lalu jawab sahabat: “Pada pandangan kami, orang yang muflis itu ialah mereka yang tidak mempunyai wang dan harta.” Lantas Baginda s.a.w bersabda: “Sesungguhnya orang yang muflis di kalangan umatku ialah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sembahyang, puasa dan zakat. Dia juga (dalam masa yang sama) datang dengan membawa dosa menghina, menyakiti orang, memakan harta orang lain, menumpahkan darah (membunuh), dan memukul orang. Lalu diberi segala kebajikan itu kepadanya dan ini adalah kebajikan-kebajikannya. Maka jika telah habis pahala kebajikannya sebelum dapat dibayar kepada orang yang menuntutnya (orang yang dihina, disakiti dan dizaliminya ketika di dunia dulu), maka dosa-dosanya itu akan dilemparkan kepadanya, lalu dia kemudiannya dicampakkan ke dalam api neraka.” (Hadith Riwayat Muslim)</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1724" title="" src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/09/muflis.jpg" alt="" width="500" height="348" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan hadith itu, dapat kita fahami bahawa golongan yang menjadi muflis pada akhirat adalah berasal daripada orang yang memiliki pahala yang banyak. Bagaimanapun, semua pahala ibadat mereka itu habis kerana digunakan sebagai bayaran ganti rugi kepada insan yang pernah disakiti, dikhianati, dihina, dibunuh atau dizaliminya. Alangkah ruginya golongan muflis ini. Ganjaran pahala yang mereka kumpul dengan mengerjakan bermacam ibadat, akhirnya menjadi barang tukaran kerana denda yang perlu mereka bayar disebabkan kesalahan mereka terhadap orang lain.</p>
<p><span id="more-1723"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun kita malu jika isytiharkan muflis di dunia ini, namun kita masih lagi beruntung kalau dibandingkan dengan situasi muflis di akhirat. Jika muflis di dunia, masih ada lagi orang yang bersimpati dan dapat membantu kita. Tetapi bagaimana pula hal keadaan kita apabila muflis di akhirat? Siapakah yang akan bersimpati? Siapakah yang bakal menolong kita dan siapakah pula yang akan menyelamatkan kita dari azab seksaan neraka Allah? Kuat beribadah dan memiliki pahala yang banyak tidak menjamin terpeliharanya seseorang itu daripada azab Allah jika pada masa sama dia masih melakukan penganiayaan, penindasan dan kezaliman kepada insan lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah bermaksud: “Pada hari itu Kami akan tutup mulut mereka dan memberi peluang tangan mereka memberitahu Kami (mengenai kesalahan masing-masing), dan kaki mereka pula menjadi saksi terhadap apa yang sudah mereka perbuatkan (ketika hidup di dunia).” (Surah Yaasin, ayat 65)</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, kita juga diingatkan agar bertanggungjawab terhadap amanah keluarga iaitu isteri dan anak-anak. Dibimbangi di akhirat kelak, mereka akan menuntut segala pertanggungjawaban yang tidak kita tunaikan kepada mereka. Tanggungjawab memberi mereka ilmu, pendidikan, perlindungan, makanan, kesihatan dan sebagainya akan dipersoalkan kepada kita sama ada terlaksana atau terabai. Jika kita perhatikan realiti hari ini, berapa ramai ibu bapa yang selalu solat berjemaah di masjid, mendengar ceramah, menghadiri kelas pengajian agama dan melakukan pelbagai amal kebajikan, sedangkan anak mereka terbiar tanpa mendapat pendidikan agama sempurna, terbabit dengan jenayah, gejala sosial, maksiat dan kegiatan kemungkaran?</p>
<p style="text-align: justify;">Golongan ibu bapa seperti ini mengerjakan amal ibadat dengan penuh kesungguhan, tetapi mereka beribadah dalam situasi yang kurang bijak. Mereka lupa bahawa tanggungjawab memberikan pendidikan agama terhadap anak-anak juga ibadat besar dan mulia. Jika amanah dan tanggungjawab ini sengaja dibiarkan terabai, dikhuatiri ia akan menjadi penghalang untuk seseorang hamba itu memasuki syurga Allah, walaupun memiliki banyak pahala hasil daripada amal ibadatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh itu marilah kita memohon kemaafan kepada orang yang kita sakiti, aniayai, hina dan pelbagai perbuatan buruk yang telah dilakukan  dengan menghayati satu hadith dari Rasulullah s.a.w yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesiapa yang ada sebarang kesalahan dengan saudaranya maka hendaklah diselesaikan sekarang, kerana sesungguhnya di sana (di akhirat) tiada lagi wang ringgit untuk dibuat bayaran, (yang ada hanyalah) diambil hasanah (kebaikan) yang ada padanya, kalau dia tidak mempunyai kebaikan, diambil keburukan orang itu lalu diletakkan ke atasnya.” (Hadith Riwayat Bukhari)</p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li><a href="http://mediasiber.com/sujud-tilawah-dan-ayat-ayat-sajadah/" title="Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah">Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/syukur-apakah-ia-ada-dalam-diri-kamu/" title="Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?">Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/bersediakah-kamu-menjadi-suami/" title="Bersediakah kamu menjadi suami?">Bersediakah kamu menjadi suami?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/apabila-zina-lebih-mudah-daripada-kahwin/" title="Apabila zina lebih mudah daripada kahwin">Apabila zina lebih mudah daripada kahwin</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/uban-adalah-cahaya-bagi-seorang-mukmin/" title="Uban adalah cahaya bagi seorang Mukmin">Uban adalah cahaya bagi seorang Mukmin</a></li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=dpAWB38pGBM:iIp3F92xugo:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=dpAWB38pGBM:iIp3F92xugo:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=dpAWB38pGBM:iIp3F92xugo:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=dpAWB38pGBM:iIp3F92xugo:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=dpAWB38pGBM:iIp3F92xugo:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=dpAWB38pGBM:iIp3F92xugo:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=dpAWB38pGBM:iIp3F92xugo:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=dpAWB38pGBM:iIp3F92xugo:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/dpAWB38pGBM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Daripada Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu, siapakah gerangan orang yang muflis itu?” Lalu jawab sahabat: “Pada pandangan kami, orang yang muflis itu ialah mereka yang tidak mempunyai wang dan harta.” Lantas Baginda s.a.w bersabda: “Sesungguhnya &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/muflis-di-akhirat/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/muflis-di-akhirat/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">1</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/muflis-di-akhirat/</feedburner:origLink></item><item><title>Mengapa perlu suami berkahwin lagi?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/UsS68hxXWuA/</link><category>Umum</category><category>kenapa perlu poligami</category><category>mengapa lelaki ingin poligami</category><category>Mengapa perlu suami berkahwin lagi</category><category>mengapa wanita sukar menerima poligami</category><category>poligami</category><category>poligami dalam islam</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Sun, 18 Sep 2011 17:13:33 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1718</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><img src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/09/poligami.jpg" alt="" title="" width="500" height="332" class="aligncenter size-full wp-image-1719" /></p>
<p style="text-align: justify;">Isteri fobia mendengar perbincangan atau berita mengenai poligami, biarpun tidak membabitkan suami sendiri. Mereka sepakat membantah sebarang maksud berkaitan poligami. Sebenarnya, isu poligami tidak menjadi kecoh jika kedua-dua pihak, suami dan isteri, termasuk juga ahli keluarga dan masyarakat melihat dari sudut positif. Isu poligami perlu diperjelaskan bagi mengelak salah faham dan tidak ada pihak mengambil kesempatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Islam membenarkan lelaki beristeri lebih daripada seorang, sehingga empat pada satu masa bukan bersifat menguntungkan kaum lelaki semata-mata. Poligami juga bertujuan mendatangkan kebaikan kepada wanita mendapat perlindungan, kasih sayang dan nafkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebenaran lelaki berpoligami terkandung dalam ayat 3 surah an-Nisa bermaksud: “Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim apabila kamu mengahwininya, maka kahwin perempuan lain yang kamu senangi, dua, tiga atau empat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Asbabul-nuzul atau sebab turun ayat itu ialah menyekat amalan tidak baik di kalangan lelaki Arab (yang dibawa daripada amalan Jahiliah) sebagai penjaga (wali) kepada wanita yatim, apabila perkahwinan itu sering menyebabkan penganiayaan kepada anak yatim.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejarah lelaki berpoligami bukan bermula daripada syariat Islam dibawakan Nabi Muhammad seperti tohmahan dilakukan oleh orientalis Barat. Amalan poligami berlaku sejak beribu-ribu tahun lalu, sesuai dengan tabii manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Umat Nabi terdahulu mengamalkan poligami, termasuk juga di kalangan penganut agama lain. Masyarakat Barat juga pernah menerima amalan berpoligami, sebelum diharamkan oleh undang-undang gereja dan kemudian diikuti undang-undang negara.</p>
<p><span id="more-1718"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Amalan poligami paling hina diamalkan masyarakat Arab Jahiliah yang sesuka hati berpoligami dan melakukan amalan pernikahan yang meletakkan taraf wanita seperti barang dagangan. Lelaki Arab Jahiliah mengamalkan perkahwinan bertukar-tukar isteri sesama sendiri yang dipanggil al-badal. Seorang isteri juga boleh digadai kepada orang kaya jika suami ingin mendapat wang atau berdepan dengan masalah hutang.</p>
<p style="text-align: justify;">Nasib wanita sebelum kedatangan Islam amat malang yang dianggap sebagai bahan pemuas nafsu lelaki semata-mata. Lantas, dengan kehadiran Islam, syariat yang syumul meletakkan wanita pada kedudukan yang terbaik dalam sejarah kehidupan manusia. Sesungguhnya, selepas memeluk Islam, lelaki Arab Jahiliah sanggup meninggalkan amalan bertuhankan kepada nafsu yang selama itu dibanggakan oleh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Contohnya, Ghailan Salamah ketika sebelum memeluk Islam mempunyai 11 isteri. Bagaimanapun, selepas dijelaskan oleh Rasulullah bahawa lelaki Islam hanya dibenarkan memiliki empat isteri, maka dia memilih empat yang terbaik baginya dan menceraikan yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda Rasulullah bermaksud: “Pilih daripada kalangan empat orang saja.” (Hadith riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizi).</p>
<p style="text-align: justify;">Jelas sekali kebenaran lelaki berkahwin sehingga empat orang pada satu-satu masa bukan bersifat memenuhi hawa nafsu semata-mata. Apabila lelaki berpoligami, sebenarnya ada lebih daripada seorang wanita menjadi isteri.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita yang dimadukan jangan memikirkan nasibnya dimadukan, tetapi fikirkan apakah nasib wanita yang terus hidup tanpa suami. Berkongsi suami lebih baik daripada tidak bersuami. Apakah nasib isteri jika Islam tidak membenarkan poligami, sedangkan suami ‘hendak’ sesuatu yang tidak mampu dipenuhi oleh isteri. Antara kehendak itu ialah kecantikan, ingin zuriat, status, isteri tidak mampu menjalankan tanggungjawab dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suami terpaksa membuat pilihan sama ada terus bersama isteri yang tidak mampu memenuhi keperluan atau menceraikan isteri dan kemudian mencari wanita lain. Dengan ada kebenaran poligami, suami tidak perlu menceraikan isteri bagi memenuhi keperluan itu. Dengan kata lain, amalan poligami dapat mengelak isteri mengalami nasib terpaksa diceraikan suami.</p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah bermaksud: “Dan sesungguhnya kamu bersekedudukan berumahtangga (dengan penuh mesra dan kasih sayang) dengan perempuan (yang kamu kahwini) itu dengan demikian kamu mengambil satu perjanjian yang amat berat.”(Surah an-Nisa, ayat 21).</p>
<p style="text-align: justify;">Perkara utama syarat untuk suami berpoligami ialah dapat berlaku adil meliputi aspek nafkah zahir dan batin, kasih sayang, agihan masa, perhatian dan aspek lain yang sepatutnya menjadi hak bahagian setiap isteri dan anak-anak. Biarpun nafkah zahir atau wang ringgit boleh dikira, hakikatnya keadilan itu juga masih sukar untuk diterjemahkan sepenuhnya. Membahagikan sama banyak peruntukan bulanan belum menentukan adil sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika perkara yang boleh dihitung tidak boleh lagi ditentukan sama adil, inikan pula kasih sayang dan nafkah batin. Jadi, bagi suami ingin berpoligami jangan mudah mengaku dapat berlaku adil.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah mengingatkan betapa sukarnya berlaku adil. Firman Allah bermaksud: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri (mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (Surah an-Nisa, ayat 129).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya keadilan yang dimaksudkan di dalam ayat itu ialah keadilan yang hakiki atau tidak sedikitpun berat sebelah. Dalam keadaan apa sekalipun, manusia tidak dapat berlaku adil sepenuhnya. Keadilan dalam berpoligami bermakna suami melihat isteri dalam satu dimensi yang sama. Suami tidak membezakan kecantikan, umur dan perkara lain berkaitan kelebihan dan kekurangan seseorang isteri.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah memberi peringatan kepada suami agar tidak membiarkan isteri tanpa mendapat hak sewajarnya. Namun, jika suami berusaha berlaku adil, kekurangan yang dilakukan akan Allah ampunkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambungan daripada surah an-Nisa, ayat 129 bermaksud: “Kerana itu jangan kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkontang-kanting. Dan jika kamu mengadakan kebaikan dan memelihara diri (daripada kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</p>
<p style="text-align: justify;">Suami berpoligami jujur menunaikan hak setiap isterinya mengikut kemampuan. Suami bertanggungjawab di hadapan Allah di atas amanah dan tanggungjawabnya. Setiap isteri berhak mendapat pembiayaan daripada suami, walaupun dia mempunyai sumber kewangan sendiri yang cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Islam mengharuskan berpoligami bertujuan kebaikan. Suami ditegah berpoligami jika dirasakan akan mendatangkan keburukan, terutamanya menyebabkan berlaku zalim terhadap isteri. Pun begitu, terdapat beberapa perkara yang menarik tentang perkahwinan antaranya Allah akan memberikan kekayaan kepada pasangan yang berkahwin, firman Allah SWT:</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kahwinkanlah orang-orang bujang (lelaki dan perempuan) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang soleh dari hamba-hamba kamu, lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari limpah kurniaNya kerana Allah Maha Luas (rahmatNya dan limpah kurniaNya), lagi Maha Mengetahui. (An-Nuur 24:32)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kalau kahwin lebih daripada satu itu, maka bertambah kayalah pasangan itu. Sebab itulah, jarang-jarang kita tengok orang yang MISKIN kahwin lebih dari satu, kadang-kadang orang yg MAMPU kahwin lebih dari dua, dan banyak-banyak orang yg KAYA kahwin lebih dari tiga.</p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li>Tiada artikel yang berkaitan</li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=UsS68hxXWuA:2xVXohLqWH0:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=UsS68hxXWuA:2xVXohLqWH0:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=UsS68hxXWuA:2xVXohLqWH0:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=UsS68hxXWuA:2xVXohLqWH0:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=UsS68hxXWuA:2xVXohLqWH0:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=UsS68hxXWuA:2xVXohLqWH0:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=UsS68hxXWuA:2xVXohLqWH0:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=UsS68hxXWuA:2xVXohLqWH0:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/UsS68hxXWuA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Isteri fobia mendengar perbincangan atau berita mengenai poligami, biarpun tidak membabitkan suami sendiri. Mereka sepakat membantah sebarang maksud berkaitan poligami. Sebenarnya, isu poligami tidak menjadi kecoh jika kedua-dua pihak, suami dan isteri, termasuk juga ahli keluarga dan masyarakat melihat dari &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/mengapa-perlu-suami-berkahwin-lagi/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/mengapa-perlu-suami-berkahwin-lagi/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">3</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/mengapa-perlu-suami-berkahwin-lagi/</feedburner:origLink></item><item><title>Israiliyyat: Izrail adalah nama Malaikat Maut</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/bW9UPy-GmMc/</link><category>Umum</category><category>Israiliyyat</category><category>izrail</category><category>Izrail adalah nama Malaikat Maut</category><category>malaikat maut</category><category>nama malaikat maut</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Sun, 18 Sep 2011 06:09:39 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1712</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><img src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/09/maut.jpg" alt="" title="" width="259" height="194" class="alignright size-full wp-image-1713" /></p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama’ telah membahagikan Israiliyyat kepada tiga iaitu :</p>
<p style="text-align: justify;">1. Bahagian yang selari dengan syariat dan Al-Quran ; seperti kisah Al-Jassasah yang diceritakan oleh Tamim Ad-Dariy dan diperakui oleh Nabi S.A.W. (hadith dalam Sahih Muslim, kitab Fitnah, bab Kisah Al-Jassasah). Antara lain ialah kisah Nabi Musa a.s. bersama Nabi Khidir, kisah Juraij seorang ‘abid dan sebagainya yang turut diceritakan di dalam Al-Quran dan hadith Nabi S.A.W. Maka kisah-kisah sebegini berfungsi sebagai sokongan kepada apa yang telah disebutkan oleh keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Bahagian yang bertentangan dengan syariat dan Al-Quran : seperti mencemar maruah kenabian dalam kisah Nabi Yusuf a.s. apabila menyebutkan bahawa baginda yang berkeinginan kepada isteri pembesar Al-Aziz, kisah Nabi Daud dan sebagainya yang mengaitkan para nabi dengan dosa syirik, zina dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Bahagian yang tidak terdapat dalam syariat dan Al-Quran samada selari atau bertentangan: Bahagian ini paling banyak kedapatan pada zaman sekarang namun tiada larangan padanya dan tidak juga mendustakannya. Hadith Nabi S.A.W. ada menyebutkan:</p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Usman bin Umar telah mengabarkan kepada kami Ali bin Al Mubarak dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata, ‘Ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa arab untuk pemeluk Islam! Spontan Rasulullah s.a.w bersabda: “Jangan kalian benarkan ahli kitab, dan jangan pula kalian mendustakannya, dan katakan saja (Kami beriman kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu).” (Hadith Riwayat Imam Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify;">Nama Izrail tergolong dalam bahagian ke-3 ini. Soalan yang mengatakan bahawa adakah boleh kita gunakan nama Izrail ini. Maka, jawapannya ialah kita tidak diperbolehkan untuk menafikannya dan begitu juga mengiakannya secara pasti.</p>
<p><span id="more-1712"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kita tidak boleh menetapkan dan meyakini dengan pasti bahawa nama malaikat maut adalah Izrail kerana ia tiada dalam Al-Quran dan hadith. Kita juga tidak boleh menidakannya (atau mengingkarinya) dengan penuh kepastian kerana mungkin barangkali riwayat-riwayat Israliyyat itu benar. Tapi kaedah yang paling terbaik, kita serahkan hakikatnya kepada Allah Ta’ala, lalu kita menamakannya dengan nama yang telah Allah sandangkan untuknya, iaitu “Malakul Maut.”</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Al-Sajdah: 11)</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ibnu katsir rahimahullaah berkata dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (1/49), “Adapun malaikat maut, tidak didapatkan keterangan jelas tentang namanya di dalam Al-Quran, tidak pula dalam hadith sahih. Penamaannya terdapat dalam sebahagian atsar yang disebut dengan Izrail, wallahu a’lam.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam al-sindi berkata, “Tidak ada hadith marfu’ yang menyebutkan namanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Munawi dalam al-Faidh al-Qadir (3/32) setelah menyebutkan bahwa malaikat maut yang namanya masyhur dengan Izrail berkata, “Aku tidak mendapatkan penamaan itu dalam khabar (hadith).”</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh al-Albani dalam ta’liqnya terhadap perkataan Imam al-Thahawi, “Dan kita mengimani malaikat maut yang ditugaskan untuk mencabut nyawa alam semesta,” beliau rahimahullah, “Aku katakan: Ini adalah namanya (yang disebutkan) dalam Al-Quran. Sedangkan menamakannya dengan Izrail, sebagaimana yang tersebut di tengah-tengah manusia, tidak memiliki landasan (dasar). Sesungguhnya penamaan tersebut berasal dari riwayat-riwayat Israiliyyat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Malakul maut (malaikat pencabut nyawa) telah masyhur namanya dangan Izrail, tapi itu tidak benar. Sesungguhnya nama ini disebutkan dalam riwayat-riwayat israiliyyat yang tidak mengharuskan kita untuk mengimani nama ini. karenanya kita menamakan malaikat yang ditugaskan mencabut nyawa dengan “malakul maut”, sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla telah menamakannya dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Fatawa Ibnu al-Utsaimin: 3/161) wallahu a’lam.</p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li>Tiada artikel yang berkaitan</li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=bW9UPy-GmMc:wZ5Gn0qjoHw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=bW9UPy-GmMc:wZ5Gn0qjoHw:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=bW9UPy-GmMc:wZ5Gn0qjoHw:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=bW9UPy-GmMc:wZ5Gn0qjoHw:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=bW9UPy-GmMc:wZ5Gn0qjoHw:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=bW9UPy-GmMc:wZ5Gn0qjoHw:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=bW9UPy-GmMc:wZ5Gn0qjoHw:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=bW9UPy-GmMc:wZ5Gn0qjoHw:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/bW9UPy-GmMc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Para ulama’ telah membahagikan Israiliyyat kepada tiga iaitu : 1. Bahagian yang selari dengan syariat dan Al-Quran ; seperti kisah Al-Jassasah yang diceritakan oleh Tamim Ad-Dariy dan diperakui oleh Nabi S.A.W. (hadith dalam Sahih Muslim, kitab Fitnah, bab Kisah Al-Jassasah). &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/israiliyyat-izrail-adalah-nama-malaikat-maut/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/israiliyyat-izrail-adalah-nama-malaikat-maut/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">2</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/israiliyyat-izrail-adalah-nama-malaikat-maut/</feedburner:origLink></item><item><title>Apabila zina lebih mudah daripada kahwin</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/L0ZnUgjRupk/</link><category>Umum</category><category>Apabila zina lebih mudah daripada kahwin</category><category>islam</category><category>kahwin</category><category>nikah</category><category>perkahwinan dalam islam</category><category>permudahkan perkahwinan</category><category>zina</category><category>zina berleluasa</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Wed, 07 Sep 2011 23:40:53 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1699</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><a href="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/09/akad.jpg"><img src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/09/akad-300x202.jpg" alt="" title="" width="300" height="202" class="alignright size-medium wp-image-1702" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Antara peruntuh nilai-nilai baik dalam kehidupan manusia hari ini adalah apabila dimudahkan yang haram dan disukarkan yang halal. Sedangkan Islam menyuruh kita membentuk suasana atau iklim kehidupan yang menyukarkan yang haram dan memudah yang halal. Itulah tanggungjawab pemerintah dan umat iaitu menegak yang makruf dan mencegah yang munkar.</p>
<p style="text-align: justify;">Menegak yang makruf itu adalah dengan cara menyuruh, memudah dan membantu ke arah tersebut. Sementara mencegah yang munkar adalah dengan cara menghalang, melarang dan menyukarkan jalan untuk sampai kepadanya. Namun, jika masyarakat hari ini menyusahkan yang halal dan menyenangkan yang haram, tanda kita begitu menjauhi ruh syariat islam yang hakiki yang diturunkan oleh Allah s.w.t.</p>
<p style="text-align: justify;">Antara perkara yang selalu disusahkan adalah urusan perkahwinan. Kesusahan membina rumahtangga itu kadang-kala bermula dari keluarga sehingga ‘ketidak fahaman’ tok kadi dan seterusnya pengurusan pejabat agama dan mahkamah syariah. Kerenah-keranah yang berbagai telah memangsakan hasrat pasangan untuk mendapat ‘nikmat seks’ secara halal. Lebih menyedihkan apabila kerenah-keranah itu wujud disebabkan kepentingan-kepentingan luar yang bukan kepentingan pasangan secara langsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Umpamanya, urusan kenduri kahwin atau walimah telah dijadikan jambatan kesombongan ibubapa atau keluarga sehingga ditangguh perkahwinan bagi memboleh kenduri besar-besaran dibuat demi menjaga taraf ‘jenama keluarga’. Sehingga ada pasangan yang terpaksa menunggu bertahun kerananya.</p>
<p><span id="more-1699"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Apatah jika keluarga membebankan semua belanja kepada bakal pengantin. Maka bakal pengantin terpaksa mengikat ‘nafsu seks’ hanya kerana hendak menjaga nafsu menunjuk-nunjuk keluarga. Walaupun kenduri kahwin itu disuruh, namun memadailah dengan kadar yang termampu. Tidak semestinya ‘ditumbangkan’ seekor lembu, atau dipanggil orang sekampung atau sebandar, atau dijemput semua rakan taulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang mengadakannya dengan kadar kemampuannya, seperti sabda Nabi s.a.w:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Buatlah walimah walaupun sekadar seekor kambing” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dalam ertikata lain, jika hanya mampu kenduri laksa, atau bihun atau mee pun tidak mengapa, asalkan diadakan walimah. Apa yang penting perkahwinan yang halal telah dilunaskan. Janganlah macam orang dulu apabila anaknya sebut ingin berkahwin, bapanya akan bertanya; “kau dah ada lembu ke nak buat kenduri?”. Maka bertangguhlah hasrat si anak. Padahal bukan anaknya ingin berkahwin dengan lembu, dia ingin berkahwin dengan kekasihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepatutnya si bapa bertanya: “kau dah ada pasangan ke?”. Itulah soalan yang betul. Lembu tidak termasuk dalam rukun nikah. Apa yang lebih buruk apabila ada pihak yang menjadikan medan walimah sebagai pentas menunjuk-nunjuk kekayaan harta lalu hanya dijemput orang yang ‘berjenama’ dan ditinggalkan saudara-mara, kawan-rakan, jiran-tetangga yang tidak setaraf.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Nabi s.a.w. bersabda: “Seburuk makanan adalah makanan walimah yang dijemput orang kaya dan ditinggalkan orang miskin..” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Maka, menderitakan bakal suami-isteri disebabkan keangkuhan keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bukan anti kursus kahwin. Amat baik kursus tersebut jika diuruskan dengan mantap dan betul. Dalam kursus tersebut boleh disampaikan maklumat hukum-hakam nikah yang disyariatkan Allah sehingga generasi muda dapat melihat betapa cantik dan indahnya Islam. Syariat Islam yang mudah dan penuh hikmat dapat diserap dalam pemikiran bakal pasangan, kursusnya mereka yang masih muda. Agar mereka dapat menyelami kehebatan ajaran Islam ini. Maka kursus itu menjadi saluran dakwah penuh professional, mantap, berkesan dalam jiwa dan penghayatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Malangnya, kursus kahwin hari ini seakan projek lumayan untuk mengaut yuran peserta. Bukan sedikit saya terima laporan seluruh negara penceramah kursus kahwin yang berunsur lucah, lawak bodoh serta menggambarkan Islam begitu menakut dan susah untuk difahami dan dihayati. Hukum-hakam diterangkan secara berbelit-belit dan menyerabutkan peserta. Maka, kita lihat walaupun yuran kursus nampaknya makin tinggi dan peserta semuanya diwajibkan berkursus, masalah keretakan rumah tangga bagi generasi baru makin meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga amat tidak selesa melihat tok kadi yang selalu mendera pengantin agar mengulang-ulang lafaz terima (ijab) ketika akad nikah kononnya belum sah. Akad itu digambarkan begitu sulit dan susah sehingga seseorang menjadi terketar-ketar untuk menyebutnya. Diatur ayat lafaz akad itu dengan begitu skima sehingga pengantin kesejukan untuk menghafalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal akad nikah hanyalah bagi menggambar persetujuan kedua belah pihak menjadi suami isteri yang sah. Apa-apa sahaja lafaz yang membawa maksud kepada tujuan tersebut maka ia sah. Jika bapa bakal isteri menyebut “saya nikahkan saudara dengan anak saya Fatimah”, lalu bakal suami menjawab: “saya terima, atau saya bersetuju” atau mungkin ditambah “saya terima nikahnya” atau “saya bersetuju bernikah dengannya” seperti yang diminta oleh sesetengah sarjana dalam Mazhab al-Syafi’i, maka sahlah ijab dan qabul tersebut. Tidak disyaratkan mesti satu nafas atau dua nafas atau berjabat tangan atau menyusun ayat dalam bahasa sanskrit lama atau ayat tok kadi yang digunakan sebelum merdeka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehinggakan sarjana fekah semasa Dr Abd al-Karim Zaidan dalam karya al-Mufassal fi Ahkam al-Marah wa al-Bait al-Muslim menyebut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Jika seseorang lelaki berkata kepada lelaki yang lain: “Nikahkan saya dengan anak perempuan awak”, lalu si bapa itu menjawab: “Aku nikahkan engkau”. Atau si bapa berkata kepada bakal suami: “bernikahlah dengan anak perempuanku”. Lalu bakal suami menjawab: “aku nikahinya”. Kedua contoh di atas adalah sah nikah berdasarkan apa yang disebutkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim: Sesungguhnya seorang arab badawi telah meminang wanita yang telah mempelawa dirinya untuk Nabi s.a.w (ingin berkahwin dengan Nabi s.a.w), arab badawi itu berkata:”Nikahilah dia denganku”. Jawab Nabi s.a.w.: “Aku nikahkan engkau dengannya bermaharkan al-Quran yang ada bersamamu”. (al-Mufassal, 6/87, Beirut: Muassasah al-Risalah).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Bahkan dalam Sahih al-Bukhari ada bab yang al-Imam al-Bukhari letakkan ia berbunyi: Bab Iza Qala al-Khatib li al-Wali Zawwijni Fulanah, faqala qad Zauwajtuka bi Kaza wa Kaza, Jaza al-Nikah Wa In Lam Yaqul li al-Zauj Aradita au Qabilta, maksudnya: Bab Apabila Lelaki Yang Meminang Berkata Kepada Wali Perempuan: “Kahwinilah aku dengan wanita berkenaan”, lalu dia menjawab: “Aku nikahkan engkau dengannya bermaharkan sekian dan sekian, maka sah nikahnya walaupun tidak ditanya si suami apakah engkau setuju, atau terima”.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah kesimpulan yang dibuat oleh al-Imam al-Bukhari berdasarkan hadis-hadis dalam bab nikah yang diteliti olehnya. Apa yang penting proses ijab dan qabul amatlah mudah. Ia adalah lafaz yang difahami oleh kedua belah pihak serta dua saksi yang menjelaskan kehendak dan persetujuan untuk berkahwin atau menjadi suami dan isteri. Apabila proses itu berlaku maka ia sah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak pernah ada dalil yang menyatakan mestilah satu nafas, atau tidak terputus nafas seperti diada-adakan oleh sesetengah pihak. Paling tinggi yang boleh kita kata adalah tidak boleh ada ruang yang menyebabkan salah satu pihak mengelirukan atau dikelirukan dalam menyatakan persetujuan nikah. Justeru itu Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah r.h (meninggal 728H) menyebut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Nikah itu terlaksana (sah) dengan apa sahaja yang dihitung oleh orang ramai sebagai nikah; dalam apa bahasa, atau lafaz atau perbuatan”. (petikan Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, 2/355).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Apa yang ingin saya jelaskan betapa proses ijab qabul itu begitu mudah dan senang. Memadai jika bakal suami menjawab: “aku terima nikahnya”. Tidak timbul terpaksa berulang kali seperti yang dibuat oleh sesetengah pihak membuli pengantin. Jika jawapan yang diperlukan begitu ringkas dan jelas, dan pengantin pun telah melakukannya, mengapa pula ada tok kadi yang sengaja bertanya hadirin: perlu ulang ke? Lalu mereka pun dengan sukanya menyebut beramai-ramai ‘sekali lagi!, sekali lagi! Ini adalah permainan buli yang cuba dicampur aduk dengan hukum syarak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berkahwin, rumahtangga yang dibina seperti yang diajar oleh Islam hendaklah menjadi syurga, bukan neraka. Jika perkahwinan tidak dapat membawa kebahgiaan, insan tidak disuruh memperjudikan hidup keseluruhan kerana isteri atau suaminya. Walaupun talak itu bukan perbuatan yang baik, namun ia dibenarkan jika terpaksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Insan mempunyai matlamat hidup, bukan sekadar untuk bertungkus lumus kerana masalah seorang lelaki atau wanita. Maka Islam mengajar cara-cara yang berbagai demi menyelamatkan rumah tangga dari talak. Jika gagal, Islam juga mengajar talak untuk mengelakkan kezaliman berlaku antara salah satu pihak; suami atau isteri. Firman Allah: (maksudnya)</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu) kemudian mereka (hampir) habis tempoh idahnya maka bolehlah kamu pegang mereka (rujuk) dengan cara yang baik atau lepaskan mereka dengan cara yang baik. dan janganlah kamu pegang mereka (rujuk semula) dengan tujuan memberi mudarat, kerana kamu hendak melakukan kezaliman (terhadap mereka); dan sesiapa yang melakukan demikian maka sesungguhnya dia menzalimi dirinya sendiri. dan janganlah kamu menjadikan ayat-ayat hukum Allah itu sebagai ejek-ejekan (dan permainan). dan kenanglah nikmat Allah yang diberikan kepada kamu, (dan kenanglah) apa yang diturunkan kepada kamu Iaitu Kitab (Al-Quran) dan hikmat, untuk memberi pengajaran kepada kamu dengannya. dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah: sesungguhnya Allah Maha mengetahui akan tiap-tiap sesuatu” (Surah al-Baqarah, ayat 231).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Jika penerusan perkahwinan hanya memberi mudarat kepada pasangan, maka talak itu disuruh oleh al-Quran. Malanglah kaum wanita yang sepatutnya telah dikeluarkan oleh al-Quran dari kezaliman atau kemudaratan si suami, tiba-tiba terjatuh dalam kezaliman batin akibat proses birokrasi mahkamah yang bernama syariah.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, wanita hari ini ada yang terseksa batinnya kerana menunggu proses mahkamah yang kadang-kala memakan masa bertahun-tahun. Bagaimana mungkin isteri yang sudah tujuh lapan tahun suaminya tidak mengambil tahu soal nafkah zahir dan batin tetap disahkan oleh mahkamah bahawa dia masih suami sekalipun isteri berulang meminta dipisahkan. Kata Dr Karim ‘Abd al-Karim Zaidan menyebut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Jika suami gagal menunaikan nafkah untuk isteri, kadi memisah antara mereka jika isteri memilih untuk berpisah…Hal ini diriwayatkan dari sejumlah para sahabat dan tabi’in” (al-Mufassal, 7/217).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga memetik apa yang disebut oleh al-Dardir dalam al-Syarh al-Kabir: “Bagi isteri boleh menuntut dipisahkan dari suami disebabkan mudarat yang dilakukannya; iaitu apa yang tidak diizinkan oleh syarak untuk dia buat seperti meninggalkan isteri atau memukulnya tanpa sebab dibenarkan syarak. Atau memaki dia atau bapanya seperti menyebut: Wahai anak anjing, atau wahai anak kafir! Atau wahai anak orang yang dilaknat”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dr Zaidan seterusnya memetik apa yang disebut oleh al-Imam Ibn Taimiyyah:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Maka dianggap memberi mudarat kepada isteri yang boleh dipisah (dipasakh) apabila suami meninggalkan persetubuhan dalam apa keadaan sekalipun. Samada suami sengaja atau tidak sengaja”. (ibid 8/439).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Semua perbahasan yang begitu banyak boleh didapati dalam khazanah Islam itu menggambarkan rumahtangga untuk kebahagiaan hidup insan bukan untuk kedukaan mereka. Jika rumahtangga itu mengundang kedukaan, insan diberi peluang keluar oleh syarak untuk keluar dari daerah itu dengan segera. Malanglah, jika pintu keluar itu dihalang oleh kerenah biorokrasi mahkamah. Hakim barang kali ringan lidahnya menyebut: “kita tangguhkan perbicaraan kerana suami tidak hadir” sedangkan kesan jiwa begitu besar dan berat ditanggung oleh isteri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya dalam Islam, jalan kepada halal dan kebahagian dibuka dengan begitu luas dan mudah. Dukacita, jika atas nama agama kita menyusahkan jalan yang halal dan dalam masa yang sama ada pula pihak-pihak lain yang memudahkan jalan yang haram. Perlaksanaan agama hendaklah bukan sahaja mendakwa adil, tetapi hendaklah juga kelihatan adil.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Artikel oleh:</strong> <a href="http://drmaza.com/home/?p=501" target="_blank">Dr. MAZA</a></p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li><a href="http://mediasiber.com/cara-sebenar-operasi-cegah-maksiat-yang-perlu-diikuti/" title="Cara sebenar operasi cegah maksiat yang perlu diikuti">Cara sebenar operasi cegah maksiat yang perlu diikuti</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/mati-kerana-operasi-cegah-maksiat/" title="Mati kerana operasi cegah maksiat">Mati kerana operasi cegah maksiat</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/sujud-tilawah-dan-ayat-ayat-sajadah/" title="Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah">Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/syukur-apakah-ia-ada-dalam-diri-kamu/" title="Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?">Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/bersediakah-kamu-menjadi-suami/" title="Bersediakah kamu menjadi suami?">Bersediakah kamu menjadi suami?</a></li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=L0ZnUgjRupk:CE7LY51_oYw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=L0ZnUgjRupk:CE7LY51_oYw:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=L0ZnUgjRupk:CE7LY51_oYw:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=L0ZnUgjRupk:CE7LY51_oYw:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=L0ZnUgjRupk:CE7LY51_oYw:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=L0ZnUgjRupk:CE7LY51_oYw:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=L0ZnUgjRupk:CE7LY51_oYw:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=L0ZnUgjRupk:CE7LY51_oYw:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/L0ZnUgjRupk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Antara peruntuh nilai-nilai baik dalam kehidupan manusia hari ini adalah apabila dimudahkan yang haram dan disukarkan yang halal. Sedangkan Islam menyuruh kita membentuk suasana atau iklim kehidupan yang menyukarkan yang haram dan memudah yang halal. Itulah tanggungjawab pemerintah dan umat &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/apabila-zina-lebih-mudah-daripada-kahwin/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/apabila-zina-lebih-mudah-daripada-kahwin/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">3</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/apabila-zina-lebih-mudah-daripada-kahwin/</feedburner:origLink></item><item><title>Uban adalah cahaya bagi seorang Mukmin</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/0asa5tTX-h4/</link><category>Umum</category><category>hukum cabut uban</category><category>hukum potong uban</category><category>islam</category><category>uban</category><category>Uban adalah cahaya bagi seorang Mukmin</category><category>uban cahaya di akhirat</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Wed, 24 Aug 2011 10:16:43 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1693</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><img src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/08/uban.jpg" alt="" title="" width="250" height="250" class="alignright size-full wp-image-1695" /></p>
<p style="text-align: justify;">Al Baihaqi membawakan sebuah fasal dengan judul “larangan mencabut uban”. Lalu di dalamnya beliau membawakan hadith dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Rasulullah s.a.w bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">الشيب نور المؤمن لا يشيب رجل شيبة في الإسلام إلا كانت له بكل شيبة حسنة و رفع بها درجة</p>
<p style="text-align: justify;">“Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban (walaupun sehelai) dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan darjatnya.” (H.R. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadith ini hasan).</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad bin Hibban At Tamimi r.hu (yang lebih dikenali dengan Ibnu Hibban) dalam kitab Shahihnya menyebutkan pembahasan “Hadith yang menceritakan bahawa Allah akan mencatat kebaikan dan menghapuskan kesalahan serta akan meninggikan darjat seorang muslim kerana uban yang dia jaga di dunia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Ibnu Hibban membawakan hadith berikut. Dari Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة</p>
<p style="text-align: justify;">“Janganlah mencabut uban kerana uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu darjat.” (H.R. Ibnu Hibban dalam Sahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadith ini hasan)</p>
<p><span id="more-1693"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari datuknya berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p style="text-align: justify;">“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” (H.R. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahawa hadith ini sahih)</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Fudholah bin ‘Ubaid, Nabi s.a.w bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَتْ نُورًا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدَ ذَلِكَ فَإِنَّ رِجَالًا يَنْتِفُونَ الشَّيْبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَنْتِفْ نُورَهُ</p>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa memiliki uban di jalan Allah walaupun hanya sehelai, maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “Orang-orang pada mencabut ubannya.” Rasulullah s.a.w lantas bersabda, “Siapa saja yang ingin, silakan dia memotong cahaya (baginya di hari kiamat).” (H.R. Al Bazzar, At Thabrani dalam Al Kabir dan Al Awsath dari riwayat Ibnu Luhai’ah, namun perawi lainnya tsiqoh (terpercaya). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadith ini hasan)</p>
<p style="text-align: justify;">Perkataan Nabi s.a.w: “Siapa saja yang ingin, maka silakan dia memotong cahaya (baginya di hari kiamat)”; tidak menunjukkan bolehnya mencabut uban, namun bermakna ancaman. Rambut uban mana yang dilarang dicabut? Larangan mencabut uban mencakupi uban yang berada di kumis, janggut, alis, dan kepala. (Al Jami’ Li Ahkami Ash Shalat, Muhammad ‘Abdul Lathif ‘Uwaidah, 1/218, Asy Syamilah)</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah hukum mencabut uban haram atau makhruh? Para ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa mencabut uban adalah makhruh. Abu Dzakaria Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Mencabut ubat dimakhruhkan berdasarkan hadith dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari datuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama Syafi’iyah mengatakan bahawa mencabut uban adalah makhruh dan hal ini ditegaskan oleh Al Ghazali sebagaimana penjelasan yang telah dinyatakan. Al Baghowi dan selainnya mengatakan bahawa seandainya mahu dikatakan haram kerana adanya larangan tegas mengenai hal ini, maka ini juga benar dan tidak mustahil. Dan tidak ada bezanya antara mencabut uban yang ada di janggut dan kepala (iaitu sama-sama terlarang). (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/292-293, Mawqi’ Ya’sub)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun jika uban tersebut terdapat di janggut atau pada rambut yang tumbuh di wajah, maka hukumnya jelas haram karena perbuatan tersebut termasuk An Namsh yang dilaknat. Dari Ibnu Mas’ud r.a, Nabi s.a.w bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">لعن الله الربا و آكله و موكله و كاتبه و شاهده و هم يعلمون و الواصلة و المستوصلة و الواشمة و المستوشمة و النامصة و المتنمصة</p>
<p style="text-align: justify;">“Allah melaknat riba, pemakan riba, orang yang menyerahkannya (nasabah), orang yang mencatatnya dan yang menjadi saksi dalam keadaan mereka mengetahui (bahawa itu riba). Allah juga melaknat orang yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambut, orang yang membuat tatu dan yang meminta ditatu, begitu pula orang yang mencabut rambut pada wajah dan yang meminta dicabut.” (Diriwayatkan dalam Musnad Ar Robi’ bin Habib. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahawa hadith ini sahih)</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin r.hu mengatakan, “Adapun mencabut uban dari janggut atau uban dari rambut yang tumbuh di wajah, maka perbuatan seperti ini diharamkan kerana termasuk an namsh. An Namsh adalah mencabut rambut yang tumbuh di wajah dan jenggot. Padahal terdapat hadith yang menjelaskan bahwa Nabi s.a.w melaknat orang yang melakukan An Namsh.” (Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin, 11/80, Asy Syamilah)</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya majoriti (jumhur) ulama&#8217; mengatakan hukum mencabut uban adalah makhruh. Namun sebagai seorang muslim yang ingin selalu mengikuti petunjuk Nabinya s.a.w dan agar tidak kehilangan cahaya di hari kiamat kelak, maka seharusnya seorang muslim membiarkan ubannya (tidak perlu dicabut).</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan inilah dia akan mendapat tiga keutamaan:<br />
[1] Allah akan mencatatnya kebaikan,<br />
[2] dan menghapuskan kesalahan serta<br />
[3] akan meninggikan derajat seorang muslim karena uban yang dia jaga di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam.</p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li><a href="http://mediasiber.com/sujud-tilawah-dan-ayat-ayat-sajadah/" title="Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah">Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/syukur-apakah-ia-ada-dalam-diri-kamu/" title="Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?">Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/bersediakah-kamu-menjadi-suami/" title="Bersediakah kamu menjadi suami?">Bersediakah kamu menjadi suami?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/muflis-di-akhirat/" title="Muflis di akhirat">Muflis di akhirat</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/apabila-zina-lebih-mudah-daripada-kahwin/" title="Apabila zina lebih mudah daripada kahwin">Apabila zina lebih mudah daripada kahwin</a></li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=0asa5tTX-h4:McihgXKX-y4:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=0asa5tTX-h4:McihgXKX-y4:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=0asa5tTX-h4:McihgXKX-y4:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=0asa5tTX-h4:McihgXKX-y4:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=0asa5tTX-h4:McihgXKX-y4:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=0asa5tTX-h4:McihgXKX-y4:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=0asa5tTX-h4:McihgXKX-y4:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=0asa5tTX-h4:McihgXKX-y4:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/0asa5tTX-h4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Al Baihaqi membawakan sebuah fasal dengan judul “larangan mencabut uban”. Lalu di dalamnya beliau membawakan hadith dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Rasulullah s.a.w bersabda: الشيب نور المؤمن لا يشيب رجل شيبة في الإسلام إلا كانت له بكل شيبة حسنة و رفع &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/uban-adalah-cahaya-bagi-seorang-mukmin/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/uban-adalah-cahaya-bagi-seorang-mukmin/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">14</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/uban-adalah-cahaya-bagi-seorang-mukmin/</feedburner:origLink></item><item><title>Jawapan kepada sembilan persoalan Atheis</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MediaSiber/~3/KBcS_c1BhyU/</link><category>Umum</category><category>al-Imam al-A’dzam Abu Hanifah Nu’man bin Thaabit</category><category>atheis</category><category>golongaan tidak percaya tuhan</category><category>imam abu hanifah</category><category>imam hanafi</category><category>islam</category><category>jawapan kepada persoalan golongan anti tuhan</category><category>Jawapan kepada sembilan persoalan Atheis</category><category>kisah imam hanafi</category><category>persoalan tentang Allah</category><category>persoalan tentang tuhan</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">admin</dc:creator><pubDate>Tue, 16 Aug 2011 18:35:07 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://mediasiber.com/?p=1688</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><img src="http://mediasiber.com/wp-content/uploads/2011/08/atheis-vs-islam.jpg" alt="" title="" width="200" height="150" class="alignright size-full wp-image-1689" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman dahulu, terjadinya suatu perdebatan antara golongan Atheis (tidak percaya kewujudan Tuhan) dengan seorang pemuda yang beragama Islam. Pemuda ini datang bersama gurunya dan gurunya telah diajak berdebat dengan golongan Atheis itu namun tidak dibenarkan pemuda itu, katanya: &#8220;Tak selayaknya seorang ulama besar berdebat di dalam majlis sebegini, cukuplah diserahkan kepada muridnya yang masih muda ini untuk berbincang-bincang dengan mereka-mereka ini.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Semua yang ada di dalam majlis ketika itu terkejut dengan keberanian pemuda ini. Maka bermulalah perdebatan di antara mereka. Bila mana pemuda ini duduk duduk pada tempat yang disediakan maka serentak dengan itu salah seorang Atheis terus mengajukan soalan:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Soalan Pertama</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atheis: &#8220;Pada zaman bilakah Tuhan kamu dilahirkan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda tersebut tersenyum lalu menjawab: &#8220;Allah Taala tidaklah sesuatu yang dilahirkan. Jika Dia dilahirkan sudah tentu Dia punya bapa, Allah juga tidak melahirkan. Jika Dia melahirkan maka sudah tentu Dia punya anak.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Soalan Kedua</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atheis: &#8220;Kalau begitu, bilakah pula Tuhan kamu wujud?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu seraya menjawab: &#8220;Allah Taala itu wujud sebelum adanya zaman, sedangkan zaman itu sendiri adalah ciptaanNya, mana mungkin pencipta wujud selepas makhluk ciptaanNya.&#8221;</p>
<p><span id="more-1688"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Soalan Ketiga</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atheis: &#8220;Cuba kamu berikan kepada kami sedikit gambaran tentang kewujudan Tuhan kamu yang tiada permulaan ini. Bagaimana mungkin sesuatu itu ada tanpa ada permulaannya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu menjawab: &#8220;Kamu pandai mengira?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok Atheis itu menjawab: &#8220;Tentu sekali kami pandai mengira.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu meneruskan ucapannya: &#8220;Bolehkah kamu beritahu aku apakah nombor sebelum nombor empat (4)?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Atheis: &#8220;Nombor 3&#8243;<br />
Pemuda: &#8220;Nombor sebelum 3?&#8221;<br />
Atheis: &#8220;Nombor 2&#8243;<br />
Pemuda: &#8220;Nombor sebelum 2?&#8221;<br />
Atheis: &#8220;Nombor 1&#8243;<br />
Pemuda: &#8220;Nombor sebelum 1?&#8221;<br />
Atheis: &#8220;Tiada&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu tersenyum lalu memberikan penerangan: &#8220;Nah, kamu sendiri mengakui bahawa nombor 1 sebelumnya tiada mulanya. Nombor yang merupakan ciptaan Allah ini sendiri kamu akui bahawa tiada permulaan baginya. Apatah lagi pencipta kepada nombor itu sendiri?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Terpinga-pinga kelompok Atheis tersebut dengan jawapan yang padat dan bernas daripada pemuda itu. Ternyata mereka silap perkiraan bila mana berhadapan dengan anak muda ini. Pada mulanya mereka merasakan bahawa anak muda ini mudah dikalahkan, namun telahan mereka ternyata menyeleweng. Mereka perlu lebih berhati-hati.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Soalan Keempat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atheis: &#8220;Tahniah anak muda di atas jawapanmu sebentar tadi. Jangan sangka kamu berada di dalam keadaan yang selesa. Baik, tolong kamu terangkan kepada kami, pada bahagian manakah Tuhan kamu mengadap?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu menjawab: &#8220;Jika aku bawa sebuah pelita yang dicucuh dengan api ke sebuah tempat yang gelap, pada arah manakah cahaya pada api tersebut mengadap?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok Atheis menjawab: &#8220;Cahaya itu tentulah akan menerangi keseluruhan arah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu berkata: &#8220;Jika cahaya yang diciptakanNya itu pun kamu semua tidak mampu menerangkan pada arah manakah ia mengadap, inikan pula Sang Pemilik Cahaya langit dan bumi ini sendiri?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kesemua hadirin yang mendengar jawapan daripada pemuda itu bersorak kegembiraan. Kagum mereka dengan kepetahan anak muda itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Soalan Kelima</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atheis: &#8220;Bolehkah kamu terangkan kepada kami, bagaimana zat Tuhan kamu? Adakah ianya keras seperti besi? Atau jenis yang mengalir lembut seperti air? Atau ianya jenis seperti debu dan asap?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu sekali lagi tersenyum. Beliau menarik nafas panjang lalu menghelanya perlahan-lahan. Lucu sekali mendengar persoalan kelompok Atheis ini. Orang ramai tertunggu-tunggu penuh debaran apakah jawapan yang akan diberikan oleh pemuda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu menjawab: &#8220;Kamu semua tentu pernah duduk disebelah orang yang sakit hampir mati bukan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Atheis menjawab: &#8220;Tentu sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu meneruskan: &#8220;Bila mana orang sakit tadi mati, bolehkah kamu bercakap dengannya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Atheis menjawab: &#8220;Bagaimana mungkin kami bercakap dengan seseorang yang telah mati?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu meneruskan: &#8220;Sebelum dia mati kamu boleh bercakap-cakap dengannya, namun selepas dia mati, terus jasadnya tidak bergerak dan tidak boleh bercakap lagi. Apa yang terjadi sebenarnya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok Atheis tertawa lalu memberikan jawapan: &#8220;Adakah soalan seperti ini kamu tanyakan kepada kami wahai anak muda? Tentu sekali seseorang yang mati itu tidak boleh bercakap dan bergerak . Ini kerana rohnya telah terpisah daripada jasadnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu tersenyum mendengar jawapan mereka lalu berkata: &#8220;Baik, kamu mengatakan bahawa rohnya telah terpisah daripada jasadnya bukan? Bolehkah kamu sifatkan kepada aku sekarang, bagaimanakah bentuk roh tersebut. Adakah ianya keras seperti besi, atau ianya mengalir lembut seperti air atau ianya seperti asap dan debu yang berterbangan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tertunduk kesemua Atheis tersebut bila mana mendengar persoalan pemuda bijak tersebut. Ternyata olokan mereka sebentar tadi kembali tertimpa ke atas mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok Atheis menjawab dengan keadaan penuh malu: &#8220;Maaf, tentu sekali kami tidak dapat mengetahui bagaimana bentuknya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu lalu meneruskan bicaranya: &#8220;Jika makhluknya seperti roh itu pun kamu tidak mampu untuk menerangkannya kepada aku, bagaimana mungkin kamu ingin menyuruh aku menerangkan bagaimana bentuk Tuhan Pemilik Roh serta sekalian alam ini?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Soalan Keenam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atheis: &#8220;Di manakah Tuhan kamu duduk sekarang?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu kembali bertanyakan soalan kepada mereka: &#8220;Jika kamu membancuh susu, tentu sekali kamu mengetahui bahawa di dalam susu tersebut ada terdapat lemak bukan? Bolehkah kamu terangkan kepada saya, dimanakah tempatnya lemak tersebut berada?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok Atheis menjawab: &#8220;Kami tidak dapat menerangkan kepadamu dengan tepat kedudukan lemak di dalam susu tersebut. Ini kerana lemak itu mengambil keseluruhan bahagian susu tersebut.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu seraya berkata: &#8220;Kamu sendiri lemah di dalam memberikan jawapan terhadap persoalan aku sebentar tadi. Jika lemak di dalam susu pun tiada tempat yang khusus baginya, masakan pula kamu ingin mengatakan bahawa Tuhan Pemilik Arasy itu ada tempat duduk khusus bagiNya? Sungguh aku pelik dengan persoalan-persoalan kamu ini.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Soalan Ketujuh</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atheis: &#8220;Kami pelik bagaimana jika masuk ke dalam syurga ada permulaannya (iaitu selepas dihisab oleh Allah Taala di padang Mahsyar) namun bila mana sudah berada di dalamnya maka tiada lagi pengakhirannya (maksudnya tiada kesudahannya dan akan selama-lamanya di dalam syurga)?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu tersenyum lagi lalu menjawab: &#8220;Mengapa kamu pelik dengan perkara tersebut. Cuba kamu lihat pada nombor. Ianya bermula dengan nombor satu bukan? Namun bolehkah kamu terangkan kepada aku apakah nombor yang terakhir di dalam senarai nombor?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Terkelu kelompok Atheis ini untuk memberikan jawapan. Tentu sekali nombor tiada kesudahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu tersenyum melihat kelompok Atheis ini terkebil-kebil tidak mampu memberikan jawapan. Kemudian beliau menyambung bicaranya: &#8220;Nah, kamu sendiri tidak mampu untuk menerangkan kepadaku apakah nombor terakhir bukan? Jawapannya sudah tersedia di hadapan mata kepala kamu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Soalan Kelapan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atheis: &#8220;Kami ingin bertanya lagi, bagaimana mungkin seseorang di dalam syurga menurut Nabi kamu tidak akan kencing dan berak. Sedangkan mereka juga makan dan minum? Ini adalah perkara yang tidak masuk akal.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu tenang membetulkan kedudukannya. Lalu beliau menjawab: &#8220;Aku dan kamu sebelumnya pernah berada di dalam perut ibu sebelum dilahirkan bukan? Sembilan bulan di dalam perut ibu, kita juga makan daripada hasil darah ibu kita. Persoalanku, adakah kamu buang air kecil dan besar di dalam perut ibumu? Sedangkan kamu juga makan di dalamnya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi kelompok ini terdiam membisu seribu bahasa. Padat sekali jawapan anak muda ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Soalan Kesembilan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ia soalan terakhir yang ditanyakan oleh kelompok Atheis tersebut kepada pemuda itu bila mana mereka telah mati kutu dan sudah terlampau malu ialah berkenaan: &#8220;Jika kamu terlalu bijak , apakah yang dilakukan oleh Tuhanmu sekarang?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka pemuda itu menjawab dengan tenang: &#8220;Sebelum aku memberikan jawapan kepadamu, eloklah kiranya kita bertukar tempat. Ini kerana kamu berada pada tempat yang tinggi sedang aku berada di bawah. Jawapan hanya boleh diberikan bila mana aku berada di atas mengambil alih tempatmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok Athies itu lalu bersetuju dengan cadangan pemuda tersebut, lalu mereka bertukar tempat. Pemuda itu naik ke atas, manakala sang Atheis turun ke bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila mana pemuda itu sudah berada di atas, terus beliau menjawab: &#8220;Kamu bertanya sebentar tadi apakah yang Tuhanku lakukan sekarang bukan? Jawapannya ialah, Tuhanku sedang meninggikan yang Haq (dengan menaikkan pemuda itu ke atas) dan menurunkan yang Batil (dengan menurunkan kelompok Atheis tersebut ke bawah).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya mereka mengakui bahawa tiada lagi persoalan yang ingin ditanyakan malah kesemuanya telah dipatahkan oleh pemuda itu dengan penuh hikmah.</p>
<p style="text-align: justify;">Walau sudah hampir ribuan tahun pemuda itu meninggalkan kita, namun namanya disebut orang seolah-olah beliau masih hidup di sisi kita. Al-Fatihah buat al-Imam al-A’dzam Abu Hanifah Nu’man bin Thaabit r.a serta kepada seluruh gurunya dan kesemua muslimin dan muslimat sama ada yang amsih hidup atau yang telah wafat.</p>
<h2  class="related_post_title">Artikel berkaitan</h2><ul class="related_post"><li><a href="http://mediasiber.com/sujud-tilawah-dan-ayat-ayat-sajadah/" title="Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah">Sujud Tilawah dan ayat-ayat Sajadah</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/syukur-apakah-ia-ada-dalam-diri-kamu/" title="Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?">Syukur: Apakah ia ada dalam diri kamu?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/bersediakah-kamu-menjadi-suami/" title="Bersediakah kamu menjadi suami?">Bersediakah kamu menjadi suami?</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/muflis-di-akhirat/" title="Muflis di akhirat">Muflis di akhirat</a></li><li><a href="http://mediasiber.com/apabila-zina-lebih-mudah-daripada-kahwin/" title="Apabila zina lebih mudah daripada kahwin">Apabila zina lebih mudah daripada kahwin</a></li></ul><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=KBcS_c1BhyU:LaIdahKKuVg:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=KBcS_c1BhyU:LaIdahKKuVg:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=KBcS_c1BhyU:LaIdahKKuVg:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=KBcS_c1BhyU:LaIdahKKuVg:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=KBcS_c1BhyU:LaIdahKKuVg:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=KBcS_c1BhyU:LaIdahKKuVg:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?a=KBcS_c1BhyU:LaIdahKKuVg:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/MediaSiber?i=KBcS_c1BhyU:LaIdahKKuVg:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MediaSiber/~4/KBcS_c1BhyU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Pada zaman dahulu, terjadinya suatu perdebatan antara golongan Atheis (tidak percaya kewujudan Tuhan) dengan seorang pemuda yang beragama Islam. Pemuda ini datang bersama gurunya dan gurunya telah diajak berdebat dengan golongan Atheis itu namun tidak dibenarkan pemuda itu, katanya: &amp;#8220;Tak &amp;#8230;&lt;p class="read-more"&gt;&lt;a href="http://mediasiber.com/jawapan-kepada-sembilan-persoalan-atheis/"&gt;Read more &amp;#187;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://mediasiber.com/jawapan-kepada-sembilan-persoalan-atheis/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">12</slash:comments><feedburner:origLink>http://mediasiber.com/jawapan-kepada-sembilan-persoalan-atheis/</feedburner:origLink></item></channel></rss>
