<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;Dk8AQX89eip7ImA9WxNbF0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752</id><updated>2009-11-21T16:14:00.162+07:00</updated><title>Mei Days</title><subtitle type="html">Facts, Fictions, and somewhere in between</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://meidays.blogspot.com/" /><link rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>320</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><link rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/MeiDaysIsBack" type="application/atom+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><entry gd:etag="W/&quot;DUMEQn87cSp7ImA9WxNUFEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-7000426415910843873</id><published>2009-11-04T19:24:00.004+07:00</published><updated>2009-11-05T17:36:43.109+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-05T17:36:43.109+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Black Swan dalam Lonely Planet Story&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SvFzRJBAc9I/AAAAAAAAApc/XcyMXOQ60gw/s1600-h/lonelyplanetstory.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 190px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SvFzRJBAc9I/AAAAAAAAApc/XcyMXOQ60gw/s320/lonelyplanetstory.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400224166509048786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Once while traveling across the sky, this lonely planet caught my eye&lt;/span&gt;,” demikian Tony Wheeler bernyanyi pada suatu hari. Tanpa disadarinya, dia telah salah menyanyikan lirik lagu Space Captain (Joe Cocker) yang kemudian dikoreksi oleh Maureen, istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan begitu liriknya,” kata Maureen, “Yang benar adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lovely planet&lt;/span&gt;.” Namun, meskipun mengakui kekeliruannya, Tony tetap merasa lonely planet kedengarannya lebih bagus. Dan begitulah cara nama Lonely Planet ditemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun terdengar tidak serius dan jauh dari kesan bisnis, nama itu jelas adalah nama yang sulit dilupakan. Kini nama itu sudah menjadi sangat familiar di kalangan pelancong, khususnya para pelancong mandiri yang tidak butuh tour guide atau tour agent. Sebagai brand, Lonely Planet termasuk salah satu brand yang dicintai, sebuah brand yang memiliki engagement yang baik dengan pemakainya. Pada tahun 2004 terpilih menjadi salah satu dari 10 brand terbaik di Asia Pacific dalam Interbrand Readers’ Choice Brand of the Year, dikalahkan oleh Sony, Samsung, Toyota, LG, dan Singapore Airlines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kesuksesan Lonely Planet, sama seperti banyak kisah sukses lainnya, bisa dikatakan sebuah Black Swan (suatu kejadian yang tidak pernah diduga sebelumnya) juga. Sama seperti penemuan namanya yang terjadi secara tidak sengaja, bisnis penerbitan buku panduan juga bukanlah sesuatu yang direncanakan Tony dan Maureen Wheeler ketika muda. Mereka adalah fresh graduate dari London, pada waktu itu Tony sudah mendapatkan pekerjaan dari Chrysler, namun dia memutuskan untuk melakukan perjalanan terlebih dahulu sebelum mulai bekerja. Surat panggilan dari Chrysler itu hingga kini masih disimpan oleh Tony.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berawal dari sebuah perjalanan fenomenal yang mereka lakukan dari Eropa menuju Australia. Lewat darat. Perjalanan itu melewati tempat-tempat eksotis di Asia, seperti Afghanistan, India, Nepal dan Asia Tenggara, termasuk tentu saja, tanah air kita tercinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa Anda bayangkan, pada saat itu masih tahun 1971-1972, masih sangat jarang orang Eropa yang melakukan perjalanan ke tempat-tempat eksotis itu. Thailand baru mulai membuka dirinya untuk pelancong, dan Pantai Kuta---seperti dilukiskan dalam buku ini---hanya memiliki satu jalan setapak berpasir menuju pantai dan akomodasi hanya ada Hotel Kuta Beach dan dua lusin losmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka berhasil melakukan perjalanan itu, tentu saja banyak sekali pertanyaan, bagaimana kalian melakukannya? Bagaimana kalian, misalnya, menyeberangi Afghanistan menuju India? Dan berbagai pertanyaan lain, serta pada saat yang sama mereka sempat kehabisan uang di Australia, yang membuat  Maureen berpikir, mengapa mereka tidak membuat buku panduan perjalanan? Maka lahirlah buku pertama mereka, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Across Asia on the Cheap&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini mendapat sambutan yang sangat baik di Australia, yang tentu saja kemudian mendorong lahirnya buku-buku selanjutnya. Sementara pertanyaan tentang perjalanan mengilhami lahirnya Lonely Planet, buku Lonely Planet Story ini juga ditulis dengan alasan yang sama---karena orang-orang terus bertanya, “Bagaimana ceritanya dua orang backpacker dengan 27 sen akhirnya bisa mengelola perusahaan multinasional?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban pertanyaan itu diurai dalam 565 halaman buku ini. Banyak cerita yang menarik, selain cerita petualangan dalam perjalanan ke negara-negara eksotis (yang sekarang sudah menjadi tidak terlalu eksotis lagi), buku ini juga memuat banyak kisah jatuh bangun sebuah perusahaan, tentang membangun sebuah perusahaan start-up dari nol, dan liku-liku bisnis penerbitan buku panduan. Kita bisa menemukan black swan-black swan kecil di dalam sebuah black swan besar kesuksesan Lonely Planet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti misalnya, cerita bagaimana Steve Hibbard diangkat menjadi CEO Lonely Planet. Pada 1993, Lonely Planet telah mencapai tahap menjadi perusahaan yang dijadikan objek studi kasus mahasiswa sekolah bisnis. Suatu hari sebuah kelompok mahasiswa dari Melbourne Business School meminta data seperti “diagram alir” dan “struktur hirarki” perusahaan, sebuah permintaan yang menurut Tony dan Maureen cukup menghibur, karena mereka tidak memilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu mereka pun mendatangi presentasi kelompok mahasiswa tersebut dan menyimak pada waktu mahasiswa menjelaskan apa yang telah membuat mereka sukses dan memaparkan tantangan yang akan mereka hadapi di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama setelah itu, Steve Hibbard, salah satu dari kelompok mahasiswa itu, mengusulkan agar dia bekerja untuk Lonely Planet selama enam bulan untuk mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan untuk membawa perusahaan ke depan. Tony dan Maureen berpikir, mereka selama ini menjalankan perusahaan dengan cara mereka sendiri, kurang memberi perhatian pada sisi “bisnis,” keputusan dibuat dari hari ke hari dan kurang perencanaan serta analisa secara keseluruhan serta pengawasan terhadap pembelanjaan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di situlah Steve mulai bekerja.  Alih-alih hanya enam bulan, dia telah bersama Lonely Planet selama sepuluh tahun. Mulai dari jabatannya sebagai general manager, dia telah memasukkan kedisiplinan dalam perencanaan bisnis Lonely Planet, hingga dia pun diangkat menjadi CEO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab-bab terakhir Tony juga menjawab suatu hal yang menjadi pertanyaan kita semua, bagaimana Lonely Planet menjawab tantangan perkembangan internet, dimana banyak informasi panduan wisata begitu mudah diakses secara gratis? Lonely Planet jelas tidak ketinggalan dalam era “information superhighway” ini. Di buku ini juga dipaparkan pandangan Tony tentang perkembangan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian terakhir terdapat tulisan Maureen yang menganalogikan Lonely Planet sebagai anak mereka sendiri. Saya kutip dari buku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Saat anak-anakmu masih sangat kecil, mustahil untuk membayangkan kehidupan ketika mereka takkan tinggal bersamamu, ketika kau takkan melihat mereka setiap hari atau mengetahui apa yang mereka lakukan. Saat mereka tumbuh dewasa kau pelan-pelan melepaskan dirimu dari diri mereka sampai tiba harinya ketika kau memandang anakmu dan melihat orang dewasa yang terpisah, dan menyadari bahwa peran yang kaumainkan dalam hidup mereka tak lagi sentral. Sulit mengakui bahwa anakmu sudah mandiri, tetapi hal tersebut juga teramat membebaskan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini adalah resensi saya yang kedua untuk buku Lonely Planet Story tulisan Tony dan Maureen Wheeler yang versi Indonesianya diterbitkan oleh Mizan. Resensi yang pertama untuk &lt;a href="http://www.portalhr.com/resensibuku/5id49.html"&gt;PortalHR&lt;/a&gt; menyorot sisi HR dari kisah ini sementara resensi yang ini berfokus pada hal-hal yang mempunyai relevansi personal untuk saya. Thanks for reading!)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-7000426415910843873?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/7000426415910843873/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=7000426415910843873&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/7000426415910843873?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/7000426415910843873?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/JghG58IXCgY/black-swan-dalam-lonely-planet-story.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SvFzRJBAc9I/AAAAAAAAApc/XcyMXOQ60gw/s72-c/lonelyplanetstory.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/11/black-swan-dalam-lonely-planet-story.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcMR3Y-eip7ImA9WxNUE04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-8720589429076904861</id><published>2009-10-13T14:13:00.013+07:00</published><updated>2009-11-04T19:34:46.852+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-04T19:34:46.852+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mui Ne, a little city full of resorts which sales sand dunes as main tourism object&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang sempit dan godaan melihat kota antah berantah yang masih jarang dilihat orang membuat kami akhirnya memilih Mui Ne dari sekian banyaknya pilihan tujuan wisata di Vietnam. Dari "terminal pariwisata" Vietnam di Pham Ngu Lau, banyak kota tujuan wisata yang bisa Anda pilih. Dari selatan ke utara: Mui Ne, Da Lat, Nha Trang, Hoi An, Da Nang, Hue, Ha Noi, Halong Bay, dan Sapa. Semuanya mempunyai daya tarik sendiri-sendiri. Ke arah barat Anda bisa memilih kota-kota di Cambodia, tapi di tulisan ini mari kita fokuskan pada Vietnam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena semua kota di atas terletak dalam satu daratan yang sama, jadi semuanya bisa ditempuh lewat perjalanan darat, dengan kereta atau bis. Menariknya di Vietnam, Anda bisa membeli tiket bis yang disebut open bus ticket. Artinya, Anda bisa beli dari Ho Chi Minh City sampai paling ujung (Ha Noi) dan bisa berhenti di kota-kota yang dilewati tanpa batas waktu. Informasi jadwal bus ke kota-kota tersebut sangat mudah diperoleh di agen-agen tour, bahkan bisa disearch di Google. Dengan mengetahui jadwal bus ini sangat memudahkan dalam penyusunan itenerary (rencana perjalanan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mui Ne, 4-5 jam dari Ho Chi Minh City, adalah yang paling dekat. Mui Ne menawarkan wisata antara lain: pantai kampung nelayan (Fishing Village), White Sand Dunes, Lotus Lake, dan Yellow Sand Dunes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da Lat, sekitar 6-7 jam dari Ho Chi Minh City menjual wisata pemandangan alam nan hijau dan air terjun seperti Datania Waterfalls, Prenn waterfalls, Bao Dai Summer Palace, Valley of Love dan Buddhist meditation monastery. Semuanya dapat di-google untuk melihat foto-fotonya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nha Trang adalah kota pantai. Tahun 2008 tempat ini pernah menjadi host Miss Universe 2008 dan rencananya akan menjadi host (tuan rumah) Miss World 2010. Tour Nha Trang biasanya berarti mengunjungi pulau-pulau di dekatnya, Mun Island dan Mot Island, snorkeling, serta mengunjungi fishing village. Nha Trang dapat dicapai dengan 8 jam naik bus dari Ho Chi Minh City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata Hoi An biasanya disatukan dengan Da Nang dan Hue, karena sudah dekat. Jarak Ho Chi Minh City sampai Hue kira-kira 22 jam perjalanan dengan bus. Kota-kota ini sudah kami eliminir dari awal karena jaraknya tidak memungkinkan mengingat waktu kami di Vietnam hanya 4 hari. Untuk perjalanan darat tidak memungkinkan waktunya, kecuali naik pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://meidays.blogspot.com/2007/09/hari-kereta-nasional-nah-ini-baru.html"&gt;Ho Chi Minh City - Ha Noi pernah saya tempuh dengan kereta selama 32 jam&lt;/a&gt;. Dengan bus kurang lebih sama waktunya. Itu sudah tidak menjadi option untuk kali ini. Satu-satunya cara ke Ha Noi adalah naik pesawat, namun karena budget tidak mencukupi, maka akhirnya kami memilih yang dekat-dekat saja. Dengan berbagai pertimbangan (karena masih mau explore Saigon juga), akhirnya pilihan kami jatuh pada Mui Ne. Sebuah kota di pinggir pantai juga, yang ternyata, penuh dengan resort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan karena jaraknya yang tidak jauh dari Ho Chi Minh City, membuat kota kecil ini dapat berkembang menjadi sebuah tujuan wisata. Bila dilihat gambar Vietnam di peta, negara ini panjang dan sempit, kalau kita berjalan terus ke arah timur, pastilah bertemu dengan pantai. Itu berarti, pantai di Vietnam banyak sekali. Coba saja google "beaches in Vietnam" bila Anda menyukai wisata pantai, maka tinggal dipilih saja dengan melihat foto-foto di hasil search. Sebenarnya Vung Tau adalah kota pantai terdekat dengan Ho Chi Minh City, tapi sayang kami tidak sempat ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memilih Mui Ne karena dari hasil google, terlihat foto-foto gurun pasir yang eksotis. Tidak perlu jauh-jauh ke Sahara, kita bisa melihat "Sahara Kecil" di sini. Di Indonesia katanya juga ada gurun pasir Parangkusumo di Jawa Tengah, tetapi ketika saya search tidak banyak informasinya, bahkan tidak ada fotonya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tanggal 24 September malam 20.30 kami pun berangkat ke Mui Ne. Tidak mau repot, kami membeli tour di Sinh Cafe (yang berganti nama menjadi Sinh Tourist) yang sudah termasuk bus pp, menginap di Mui Ne resort milik Sinh Cafe (2 malam), makan, dan tour di Mui Ne. Tour setengah hari meliputi Fishing Village, White Sand Dunes, Lotus Lake dan Yellow Sand Dunes. Total biaya sekitar 700 ribu rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di Mui Ne resort tengah malam. Sebenarnya agak sayang juga sih boros biaya hotel satu hari, tapi tak apalah, toh kami juga harus mencari hotel bila malam itu menginap di Saigon dan baru berangkat besoknya. Karena berangkat malam, kami ternyata mendapat sleeping bus. Inilah pertama kalinya saya mencoba sleeping bus Vietnam yang spektakuler itu. Bis ini tidak ada yang duduk, semua penumpang harus berbaring, karena langit-langitnya rendah, tidak memungkinkan untuk duduk apalagi berdiri. Bila pegel bisa berdiri di lorong tempat duduk. Sebelumnya, pada waktu browsing sudah pernah menemukan video tentang bis seperti ini di youtube, dan berharap saya tidak perlu naik bis ini, ternyataaa... nasib akhirnya mempertemukan juga saya dengan bis ini. (Coba saja search "Sleeping bus in Vietnam" di youtube, banyak sekali hasil videonya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika naik ke bus, kita harus melepaskan alas kaki, seperti masuk mesjid saja. Lalu sopir memberikan kita sebuah kantong plastik untuk menyimpan sepatu kita dan kita pun dapat meletakkannya di tempat duduk (tidur) kita. Setelah memberikan plastik, sang sopir mencatat tujuan kita untuk nanti dibangunkan ketika sudah sampai. Hebat kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dasar tidak biasa, sepanjang perjalanan 4 jam lebih itu saya tidak bisa tidur. Sebelah-sebelah kami sudah tertidur dan mengorok, kami masih mengobrol dan ketawa-ketiwi. Padahal sudah kurang tidur dari semalam, tidak jatuh-jatuh tidur juga saking tidak biasa dengan busnya. Saya terheran-heran, bus seperti ini produksi atau hasil kreasi negara mana ya? Kayaknya kecil kemungkinan bikinan Vietnam sendiri. Ketika saya cerita ke seorang teman, katanya China juga punya bus seperti itu. Mungkin saja produksi China kali ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang dilakukan di Mui Ne? Ternyata, selain tour ke tempat yang saya sebutkan tadi, memang tidak ada apa-apa lagi tentang Mui Ne. Pantainya lumayan, tidak begitu bagus. Ombaknya besar. Kita bisa "berenang" alias main ombak di sini. Setelah itu lanjut berenang di kolam renang resort. Cukup menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sebuah kota yang sangat bising, hiruk-pikuk, dengan tingkat bahaya yang tinggi di lalu-lintas, tiba di Mui Ne bagaikan mendarat di surga. Tiada lagi bunyi klakson. Hanya ada debur ombak yang membuai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, untuk tour-nya, lumayan. Pantai Fishing Village cukup bagus. White Sand dunes dan Yellow Sand Dunes juga cukup indah, eksotis. Sayangnya waktu kami datang cuaca mendung. Sempat hujan pula di White Sand Dunes, sehingga waktu habis hanya menunggu hujan. Untunglah masih sempat menikmati sebentar setelah hujan berhenti. Ya, selama kami di Vietnam hujan terus. Setelah pulang, terdengar berita ada badai besar yang memakan korban cukup banyak di Vietnam tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, mengenai tempat-tempat tadi, mudah-mudahan foto-foto di bawah ini cukup untuk bercerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQp2iYRS5I/AAAAAAAAAoU/iRpv7I3gCaY/s1600-h/fishingvillage.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQp2iYRS5I/AAAAAAAAAoU/iRpv7I3gCaY/s320/fishingvillage.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391980670787603346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQqB8D5uZI/AAAAAAAAAoc/63_rD775N-A/s1600-h/fishingvillage2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQqB8D5uZI/AAAAAAAAAoc/63_rD775N-A/s320/fishingvillage2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391980866660055442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQqyyQM41I/AAAAAAAAAos/DKRIhbWHOFA/s1600-h/pantaifishingvillage.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQqyyQM41I/AAAAAAAAAos/DKRIhbWHOFA/s320/pantaifishingvillage.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391981705840878418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQqLrzuybI/AAAAAAAAAok/C0BLjn_dW94/s1600-h/muinebeach.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQqLrzuybI/AAAAAAAAAok/C0BLjn_dW94/s320/muinebeach.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391981034095954354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQrLGGecaI/AAAAAAAAAo0/v7P3TL-2Hd0/s1600-h/whitesanddunes1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQrLGGecaI/AAAAAAAAAo0/v7P3TL-2Hd0/s320/whitesanddunes1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391982123485655458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQrd9M2EKI/AAAAAAAAAo8/0qymlO8FmUM/s1600-h/whitesanddunes2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQrd9M2EKI/AAAAAAAAAo8/0qymlO8FmUM/s320/whitesanddunes2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391982447513964706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQsRdGmDPI/AAAAAAAAApE/EAykAUAYXUc/s1600-h/whitesanddunes3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQsRdGmDPI/AAAAAAAAApE/EAykAUAYXUc/s320/whitesanddunes3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391983332251012338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQtC7H75AI/AAAAAAAAApM/5J7kOPCesmY/s1600-h/whitesanddunes4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQtC7H75AI/AAAAAAAAApM/5J7kOPCesmY/s320/whitesanddunes4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391984182123291650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQtNEF8UEI/AAAAAAAAApU/39Ac7MFcsBM/s1600-h/yellowsanddunes.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQtNEF8UEI/AAAAAAAAApU/39Ac7MFcsBM/s320/yellowsanddunes.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391984356329541698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-8720589429076904861?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/8720589429076904861/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=8720589429076904861&amp;isPopup=true" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8720589429076904861?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8720589429076904861?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/qyJht0s4I6g/mui-ne-little-city-full-of-resorts.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/StQp2iYRS5I/AAAAAAAAAoU/iRpv7I3gCaY/s72-c/fishingvillage.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/10/mui-ne-little-city-full-of-resorts.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcBQXwzfCp7ImA9WxNXGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-5161849825219231161</id><published>2009-10-07T13:22:00.017+07:00</published><updated>2009-10-07T13:47:30.284+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-10-07T13:47:30.284+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Some Pictures from Ho Chi Minh City&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw0CpeDnzI/AAAAAAAAAmk/BIhUKYWuruQ/s1600-h/jam5jalananpenuhmotor.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw0CpeDnzI/AAAAAAAAAmk/BIhUKYWuruQ/s320/jam5jalananpenuhmotor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389740074151943986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pukul 17.00 adalah saat lalu lintas paling ramai. Motor jauh lebih dominan dibanding mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw0gA693wI/AAAAAAAAAms/d7rmKegzs3g/s1600-h/lalulintasdarisegalaarah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw0gA693wI/AAAAAAAAAms/d7rmKegzs3g/s320/lalulintasdarisegalaarah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389740578663423746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Datangnya kendaraan dari segala arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw0xSYSLyI/AAAAAAAAAm0/oola_rJ6SAQ/s1600-h/lampumerahbesarkecil.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw0xSYSLyI/AAAAAAAAAm0/oola_rJ6SAQ/s320/lampumerahbesarkecil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389740875407568674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lampu merahnya ada yang besar dan ada yang kecil. Maksudnya apa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw1IdUliII/AAAAAAAAAm8/tXLZsnZmYK0/s1600-h/saigon.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw1IdUliII/AAAAAAAAAm8/tXLZsnZmYK0/s320/saigon.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389741273481840770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mendung di Saigon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw1hkCGtYI/AAAAAAAAAnE/TfXkzij9mtM/s1600-h/katedralnotredamesaigon2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw1hkCGtYI/AAAAAAAAAnE/TfXkzij9mtM/s320/katedralnotredamesaigon2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389741704780100994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gereja Katedral Notre Dame Saigon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw1wpmCD8I/AAAAAAAAAnM/GLssXMGLQSc/s1600-h/altarnotredame.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw1wpmCD8I/AAAAAAAAAnM/GLssXMGLQSc/s320/altarnotredame.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389741963971006402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Altar gereja Notre Dame Saigon yang megah, langit-langit sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw17r9WwbI/AAAAAAAAAnU/28UFG4DD-eQ/s1600-h/lilinnotredame.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw17r9WwbI/AAAAAAAAAnU/28UFG4DD-eQ/s320/lilinnotredame.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389742153584263602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu meletakkan lilin sehabis berdoa di gereja Notre Dame Saigon (Ho Chi Minh City).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw2NTXY9GI/AAAAAAAAAnc/B0-pFsg52bA/s1600-h/LVoperaviewsaigon.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw2NTXY9GI/AAAAAAAAAnc/B0-pFsg52bA/s320/LVoperaviewsaigon.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389742456220218466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Louis Vuitton Opera View Saigon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw2gdMCnZI/AAAAAAAAAnk/FDH--70opkE/s1600-h/malamdidethamstreet.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw2gdMCnZI/AAAAAAAAAnk/FDH--70opkE/s320/malamdidethamstreet.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389742785274486162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malam di De Tham Street, masih daerah Pham Ngu Lau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw26vWje9I/AAAAAAAAAns/GhoJZ1JR4e8/s1600-h/operahousesaigon.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw26vWje9I/AAAAAAAAAns/GhoJZ1JR4e8/s320/operahousesaigon.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389743236827020242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Opera House Saigon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw3HScXx7I/AAAAAAAAAn0/yPsSXOXUx-o/s1600-h/pho2000saigon.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw3HScXx7I/AAAAAAAAAn0/yPsSXOXUx-o/s320/pho2000saigon.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389743452405090226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pho 2000 Saigon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw3YpyCYeI/AAAAAAAAAn8/VRk6l7NgAxA/s1600-h/jajananpinggirjalanyangaduhai.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw3YpyCYeI/AAAAAAAAAn8/VRk6l7NgAxA/s320/jajananpinggirjalanyangaduhai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389743750727754210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jajanan pinggir jalan yang aduhai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw3qQRSydI/AAAAAAAAAoE/8pqBqO1_53U/s1600-h/bumbukhasvietnam.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw3qQRSydI/AAAAAAAAAoE/8pqBqO1_53U/s320/bumbukhasvietnam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389744053117176274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bumbu khas Vietnam, di restoran Quan An Ngon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw394ed0SI/AAAAAAAAAoM/Nv4Eu1nYgu0/s1600-h/colokanvietnam.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw394ed0SI/AAAAAAAAAoM/Nv4Eu1nYgu0/s320/colokanvietnam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389744390327357730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Colokan listrik di Vietnam yang bersahabat. Bisa dua model, yang kurus dua atau yang bulet seperti di Indonesia. Jadi aman ketika kita travel ke sana, tidak perlu mengganti ujung colokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulasan tentang Ho Chi Minh City:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://meidays.blogspot.com/2009/10/ho-chi-minh-city-motorcycle-republic.html"&gt;Ho Chi Minh City, the motorcycle republic who only good for transit (and for business, maybe)&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-5161849825219231161?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/5161849825219231161/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=5161849825219231161&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5161849825219231161?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5161849825219231161?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/teulm6vzmWw/some-pictures-from-ho-chi-minh-city.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Ssw0CpeDnzI/AAAAAAAAAmk/BIhUKYWuruQ/s72-c/jam5jalananpenuhmotor.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/10/some-pictures-from-ho-chi-minh-city.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkADQHczfCp7ImA9WxNXGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-3199248727020270503</id><published>2009-10-06T23:09:00.003+07:00</published><updated>2009-10-07T13:59:31.984+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-10-07T13:59:31.984+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ho Chi Minh City, the motorcycle republic who only good for transit (and for business, maybe)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang penuh dengan motor dan bunyi klakson yang tiada henti, adalah dua hal yang paling dominan tentang Ho Chi Minh City, sebuah kota yang dulu bernama Saigon. Sampai saat ini nama Saigon masih banyak digunakan untuk menyebut kota terbesar di Vietnam ini, terutama untuk merujuk pada daerah pusat kotanya yaitu di district 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;District 1 adalah tempat yang dulu bernama Saigon itu, yang setelah bergabung dengan beberapa daerah di sekitarnya maka berganti nama menjadi Ho Chi Minh City. Lebih jelas tentang sejarahnya mungkin dapat dibaca saja di Wikipedia, yang jelas, hal ini menjelaskan mengapa District 1 menjadi pusat kota HCMC, serta menjadi tempat berkumpulnya objek-objek wisata kota Ho Chi Minh City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah tinggal di District 1, mau ke mana-mana saja dekat. Pusat bisnisnya di sana, pusat wisata juga di sana. Katedral Notre Dame peninggalan Perancis, kantor pos tua (yang mirip Stasiun kereta Beos), Opera House yang bergaya Perancis (tiang depannya yang melengkung dari jauh mirip Arch de Triomph), Reunification Palace, War Remnants Museum, dan Ben Thanh Market. Semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari pusat kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di district 1 ini ada sebuah backpacker area yang sangat terkenal yaitu jalan Pham Ngu Lao. Meski Anda bukan backpacker, rasanya saya akan tetap menyarankan untuk mencari penginapan di sini saja. Karena daerahnya enak, khas backpacker area, selalu hidup 24 jam, full music, full bar, banyak tourist dari berbagai negara, daerah yang selalu ramai, dan yang penting, harga penginapannya sangat terjangkau. Cobalah menyusuri gang-gang di jalan itu, dengan mudahnya dapat ditemukan tulisan Room for Rent. Dengan harga 5 US Dollar (kipas angin) dan 10 US Dollar (AC) per malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dapat kamar yang 10 USD, lumayan lho kamarnya, bisa bertiga pula. Pada malam pertama tiba di Ho Chi Minh City, demi kenyamanan dan keamanan kami telah memesan satu kamar lewat internet. Kebetulan juga pingin mencoba layanan Agoda.com yang sangat terkenal itu. Setelah melihat-lihat gambarnya di internet, kami memesan sebuah kamar seharga 25 USD di District 1, tapi bukan di Pham Ngu Lau. Tidak jauh dari Pham Ngu Lau sih, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki, untuk ke daerah Pham Ngu Lau maupun ke tempat-tempat wisata yang saya sebutkan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, masalah dengan memesan online adalah, kita tidak dapat mengetahui apakah hotelnya baru atau tidak. Gambar-gambar di website tentu saja bagus. Hal ini pernah saya alami juga dengan Yogyes.com, di mana aslinya tidak seindah gambarnya. Kamarnya agak tua dan agak berbau apek. Tapi tidak apa-apa. Cukuplah untuk memberi kami perlindungan pada malam itu. Setelah itu malam kedua dan ketiga kami menginap di kota lain, dan pada malam terakhir ketika menginap di Saigon kami pun menemukan sebuah kamar yang bahkan lebih baik (karena baru) dengan harga 10 USD saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;So, apa yang bisa dilihat di Ho Chi Minh City?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah aku tuliskan dua tahun yang lalu, ternyata memang benar tidak ada yang menarik untuk dikunjungi di kota ini. Pada waktu itu kami hanya transit di kota ini untuk melanjutkan perjalanan ke Kamboja (Cambodia), yaitu ke Phnom Penh dan Siam Reap (tempat Angkor Wat berada). (baca: &lt;a href="http://meidays.blogspot.com/2007/09/petualangan-bhramp-moi-wrapped-up.html"&gt;Petualangan Bhramp-moi : Penang – Bangkok – Hanoi – Saigon – Phnom Penh - Siem Reap – Singapore&lt;/a&gt;) Tidak sedikit orang yang seperti kami (orang yang datang ke kota ini hanya untuk transit ke tempat lain). Tetapi mungkin orang-orang masih punya waktu minimal satu hari untuk explore kota ini. Waktu itu kami hanya punya waktu dua jam kalau gak salah (sambil menunggu bis), karena itu sama sekali tidak ke mana-mana. Dalam trip kali inilah saya berkesempatan mendatangi tempat-tempat wisata di Ho Chi Minh City, yang berakhir dengan kesimpulan: biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Dengan kata lain, bila Anda tidak punya waktu, skip saja. Lanjut ke tempat wisata yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ambil contoh. Misalkan, katedral Notre Dame-nya. Jauh lebih bagus katedral Jakarta. Gedung-gedung tua peninggalan Eropa masa lalu, juga banyak di daerah Cikini, seperti Gedung Juang dan sekitarnya. Ben Thanh market, ternyata sangat kecil, masih lebih besar pasar Bringharjo di Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit catatan untuk katedral Notre Dame Saigon, ada yang istimewa dalam gereja ini. Di dalamnya terdapat tempat-tempat berdoa khusus buat santo dan santa tertentu, dan di setiap tempat itu banyak bata yang bertuliskan ucapan terima kasih dari masa lampau (mulai dari tahun 1920). Dugaan saya itu adalah ucapan terima kasih dan bentuk donor kepada gereja dari orang-orang yang doanya telah dikabulkan santo/santa itu. Bila Anda Katolik, bolehlah menyempatkan diri menghadiri misa di gereja ini. Ada misa khusus foreigner setiap hari minggu jam 09.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Pham Ngu Lau, di sini berserakan travel agent. Mau ke mana pun gampang. Tidak sulit sebenarnya untuk bepergian/menjelajah kota-kota di Vietnam dan negara-negara di sekitarnya (Indochina). Semua dapat ditempuh dengan bis (yang nyaman) dan dapat dibeli di daerah Pham Ngu Lau ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami tiba di Ho Chi Minh City sudah hampir pukul 9 malam, otomatis hari pertama tidak ke mana-mana. Malam keluar mencari makan tetapi hujan deras. Hujan turun setiap hari dalam trip kami kali ini. Keesokan harinya kami berkeliling beberapa object wisata di District 1 tadi, dan mencari tour. Mengenai tempat-tempat yang saya sebutkan di atas, silakan di-Google saja, bahkan di Google image, sudah banyak sekali fotonya. Vietnam sudah sangat advanced dalam hal ini, mungkin dari indicator jumlah hasil pencarian ini bisa dibilang tourism mereka cukup maju. Karena ini berarti sudah banyak sekali orang yang berkunjung dan memasangkan foto-foto serta video mereka, dan juga cerita mereka, kepada dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho Chi Minh City Tour biasanya berarti mengunjungi tempat-tempat yang saya sebutkan tadi, ditambah ada museum lain, dan juga yang paling terkenal adalah Chu Chi Tunnel. Nah untuk yang ini, tidak sempat kami kunjungi, karena tournya berangkat pagi, kami lebih memilih untuk mengikuti misa di gereja katedral. Daripada memasuki terowongan yang sering disebut lubang tikus itu. Tempat ini adalah persembunyian tentara Vietnam pada perang Vietnam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bicara soal perang Vietnam yang terkenal itu. Perang ini baru berakhir tahun 1976, berarti belum lama Vietnam masuk masa damai. Dan mereka juga belum lama membuka diri dalam perdagangan internasional (terinspirasi oleh China). Menyaksikan kecepatan mereka maju, rasanya mengerikan juga. Bisa-bisa Indonesia segera disalib. Saat ini mereka sudah punya semacam Silicon Valley di Ho Chi Minh City, pendidikan IT diperhatikan dengan baik dan sudah menjadi salah satu pilihan outsourcing IT di Asia. Beberapa pengusaha Indonesia juga membuka pabrik di Vietnam, seorang konglomerat Indonesia juga membangun real estate. Barangkali cukup prospektif untuk bisnis? Entahlah. Perlu dieksplore lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi pariwisata mereka yang kelihatannya maju pesat. Meski orang-orangnya belum siap, kecepatan kemajuan mereka cukup menakutkan. Mereka menaruh perhatian serius pada internet, para travel agent sadar benar pentingnya internet untuk bisnis mereka. Salah satu travel agent yang banyak direkomendasikan di dunia maya adalah Sinh Café. Saat ini Sinh Café sangat besar, kantornya diperluas, cabangnya ada di banyak kota dan mereka juga memiliki sendiri resort di kota-kota tujuan wisata utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Getting Around Ho Chi Minh City&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa moda transportasi di kota yang penuh motor ini, yaitu taksi, bis kota, ojek motor, dan becak. Transportasi yang paling aman dan disarankan di brosur-brosur pariwisata adalah taksi. Bis kota tidak disarankan kepada orang asing, entah kenapa. Disebutkan di brosur bahwa bis kota hanya cocok untuk orang lokal saja. Dugaan kami karena masalah keamanan. Demikian pula bila naik moda transportasi yang lain, di kota ini, harus selalu waspada. Untuk ojek motor dan becak, hati-hati, pastikan harganya dengan baik sebelum naik. Kalau perlu ditulis, karena lafal bahasa Inggris orang Vietnam yang merancukan, bisa menjadi modus operandi sebuah penipuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding naik motor atau becak, taksi juga jauh lebih aman, karena tingkat kecelakaan di kota ini sangat tinggi. Seorang tour operator bercerita, terjadi 20 kecelakaan lalu lintas per hari di Ho Chi Minh City. Masih kalah dengan Delhi, India, yang katanya mencapai 60 per hari. (Di Jakarta sih, kalau dilihat data kecelakaan di salah satu tol dalam kota sekitar 167 kecelakan per bulan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ho Chi Minh City tidak semua perempatan ada lampu merahnya, selain itu banyak sekali bundaran di tengah perempatan, sehingga kendaraan bisa datang dari segala penjuru. Motor dan mobil tidak ada belas kasihan terhadap pejalan kaki, mereka sering tidak memperlambat laju kendaraannya. Itulah sebabnya, suara klakson selalu terdengar. Tanpa klakson kayaknya sebuah kendaraan tidak akan survive di kota ini. Saya saja sudah menyaksikan dua kali tabrakan, yang satu cukup mengenaskan. Orangnya terbaring kaku di jalan, sementara bis kami mengerem mendadak hingga sandal saya terlempar jauh ke baris depan. Cukup mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya berkomentar, pergi ke Vietnam rasanya seperti pulang kampung. Ya, Jakarta jauh lebih besar dan metropolis. Apalagi di Vietnam banyak yang mengenakan topi caping hahaha, semakin menambah suasana pedesaan kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kopi Vietnam, Pho, Roti Perancis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ho Chi Minh City jangan lupa mencoba kopi Vietnam yang strong itu. Bisa dicoba dalam berbagai versi, versi kaki lima (6.000-7.000 VND per gelas), atau versi café (35.000 VND per gelas). VND = Vietnam Dong, mata uang Vietnam. O ya, beli apa pun di sana, mintalah dengan Vietnam Dong, karena akan lebih murah bila dikurs ke USD. Di sana hampir semua penjual menerima US Dollar. Sampai penjual kaki lima sekali pun. Saat ini nilai tukar 1 USD = 18.000 VND, sepertinya nilai tukar mereka terus menurun. Dua tahun lalu sekitar 15.000, ketika sebelum pergi aku browsing, masih 17.000. Lah gimana enggak turun terus, wong masyarakatnya semua prefer dibayar dengan US Dollar? Nah di sinilah saya merasa bangga dengan rupiah, apalagi belakangan ini rupiah makin perkasa saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kopi Vietnam, yang perlu dicoba tentu saja adalah pho (mie Vietnam itu). Gerai yang terkenal adalah Pho2000, yang katanya pernah dikunjungi Bill Clinton. Kami datang ke sana, tempatnya biasa-biasa saja, tidak seperti gerai Pho2000 di Senayan City yang glamor. Harganya pun lebih terjangkau. Beef Noodle 33.000 VND. Sekitar 20.000 rupiah gitu lah. Selain pho “branded” tentu saja harus dicoba juga pho warung yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan dan menjadi makanan sehari-hari orang sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roti Perancis (baguette) yang panjang dan keras (kayak pentungan itu) juga menjadi makanan sehari-hari mereka. Sama seperti yang lain, yang ini juga ada versi kaki lima dan versi café-nya. Keduanya layak untuk dicoba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain makanan, kalau ada waktu bisa juga mampir ke Saigon Square, di sini terkenal sebagai tempat belanja tas murah. Tempatnya tidak jauh dari Ben Thanh market. Mintalah peta di bandara atau pun di hotel. Peta seperti itulah yang menjadi modal kami dalam perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakhiri tulisan yang panjang ini---sorry kalau bahasanya berantakan---mungkin dapat diambil kesimpulan, dan inilah yang saya katakan apabila ditanya “Gimana Ho Chi Minh City?” bahwa, Ho Chi Minh City sebagai kota pusat perekonomian di Vietnam (ibukota Vietnam adalah Hanoi, tapi kota terbesar adalah Ho Chi Minh City) hanya layak dikunjungi sebagai kota transit atau mungkin dapat di-explore untuk kemungkinan bisnis. Silakan bagi Anda yang berminat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-3199248727020270503?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/3199248727020270503/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=3199248727020270503&amp;isPopup=true" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3199248727020270503?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3199248727020270503?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/3VYdYF4T1OI/ho-chi-minh-city-motorcycle-republic.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/10/ho-chi-minh-city-motorcycle-republic.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D08GRX8yfip7ImA9WxNXE00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-4654125924871447234</id><published>2009-09-30T17:13:00.001+07:00</published><updated>2009-09-30T17:17:04.196+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-09-30T17:17:04.196+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jakarta – Ho Chi Minh City with Air Asia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbangan Jakarta – Ho Chi Minh City adalah rute yang baru dibuka Air Asia Indonesia tanggal 18 September 2009. Saya termasuk yang cukup awal mencobanya, pada tanggal 23 September. Saya dapat tiket pp seharga Rp 700.000. Cukup murah ya, mengingat tanggalnya, 23-27 September, masih bertepatan dengan libur Lebaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trip saya kali ini adalah trip yang sama sekali tidak direncanakan. Ini adalah salah satu trip yang saya sebut dengan Air Asia-driven. Gara-gara mendapat informasi promo Air Asia Rp 199.000 tiket sekali jalan, tak kuat saya menahan godaan. Tangan pun langsung beraksi klak klik airasia.com. Awalnya saya memilih tanggal 23-27 karena mendapat harga yang sangat murah, Rp 500.000. Namun, karena tidak langsung dibeli, masih ajak teman sana-sini dulu, harganya naik menjadi Rp 700.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin adalah strategi Air Asia, dengan pemesanan online, dia bisa mengetahui demand, setiap kali demand meningkat, harga akan naik.  Permainan ini menjadi seperti lomba, siapa cepat, siapa dapat. Ketika di bandara, saya bertemu teman. Ada yang mendapat tiket 2 jutaan, ada yang bahkan 3 juta. Jadi dalam satu kali penerbangan, ada yang mendapat harga paling minimal, dalam hal ini 500.000, ada yang medium, ada juga yang max, misalnya 3 juta tadi. Dengan cara subsidi silang ini, menurut perkiraan saya, Air Asia bisa mendapatkan harga yang normal apabila semua penumpang dirata-ratain. Harga normalnya mungkin sekitar Rp 1,7 juta. Ditambah dengan keuntungan semua kursi akan terisi, karena mereka yang tergoda dengan harga murah (seperti saya) biasanya tidak punya plan sebelumnya untuk melakukan perjalanan. Setelah beli tiket baru planning. Orang yang memang punya kebutuhan akan membeli tiket dengan harga yang normal, kadang mahal. Sementara yang tadinya tidak berencana ini biasanya terpancing promo, dan membeli tiketnya lebih awal dari yang lain. Terkadang sebelum sempat berpikir terlalu banyak, langsung beli. Dengan resiko tiket dibuang saja apabila tidak jadi berangkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan promo-promo gila ini, Air Asia menjadi pembicaraan banyak orang. Teman-teman kantor saya sudah banyak yang mengantongi rencana trip untuk tahun depan. Semua menyebut biaya trip yang sangat murah. Saya sendiri, untuk trip Vietnam saya 5 hari tersebut, saya hanya menghabiskan uang Rp 2 juta, sudah termasuk semua. Sebuah jumlah yang dulu (sebelum ada penerbangan murah) bahkan tidak cukup untuk membeli tiket pesawat terbangnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan semua bayangan tentang naik pesawat ke luar negeri yang serba mewah dan nyaman. Lupakan tentang kursi yang lega dan nyaman, serta ada TV di depan kursi kita, maupun TV yang besar di tengah-tengah lorong pesawat. Apalagi pramugari cantik yang mondar-mandir membawa red wine di kiri dan white wine di kanan, bertanya dengan manis, apa yang ingin kita minum. Kopi bisa nambah kapan saja, apalagi air putih, kita tidak perlu kehausan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seat pesawat Airbus yang digunakan Air Asia dalam penerbangan Jakarta-Ho Chi Minh City adalah tiga-tiga, tiga kursi di kiri dan tiga kursi di kanan (pesawat yang biasa digunakan untuk domestic flight). Cukup sempit menurutku, untung penerbangan hanya 3 jam. Di depan kursi tidak ada TV, naik pesawat ini juga tidak mendapatkan apa-apa. Semuanya harus beli. Aqua seharga Rp 12.000. Pop Mie Rp 18.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa membawa jaket, karena AC di dalam pesawat sangat dingin, sementara di sini tidak akan ada pramugari yang membawakan selimut. Apalagi merapikan selimut apabila kita tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan kursi penumpang, kalau dalam pesawat mahal selalu ada kantong untuk muntah. Di Air Asia ini saya perhatikan, tidak ada. Padahal kalau turbulence goyangnya aduhai, terasa banget. Jangan juga berharap ada majalah, atau koran-koran internasional. Jangan lupa membawa bacaan sendiri, kalau tidak akan sangat membosankan. Tidur pun sulit, karena tempat duduk cukup sempit.  Safety information pun tidak setiap seat ada. Sepertinya, setiap habis landing, dibersihkan dan dicek sejenak, pesawat tinggal landas lagi untuk destinasi sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri enggak complain. Maksudnya, ya wajarlah dengan harga segitu. Kalau mau nyaman ya, naiklah pesawat mahal. Air Asia selain mendapatkan keuntungan dari subsidi silang tadi, tentu saja juga dari penjualan makanan dan merchandise.  (merchandise mungkin gak seberapa kali ya). Kalau makanan cukup laku. Apalagi penerbangan yang lumayan jauh, seperti Jakarta – Ho Chi Minh City, perlu waktu 3 jam 5 menit, tentu saja penumpang akan merasa lapar atau setidaknya ingin ngemil. Dalam perjalanan pulang dari Ho Chi Minh City (20.30 – 23.35), saya belum pernah melihat dagangan Air Asia begitu lakunya. Pada kehabisan, banyak yang tidak mendapatkan pesanannya, hampir  terjadi perebutan. Siapa cepat siapa dapat. Haha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang cukup menarik. Mungkin ini berlebihan, tapi saya rasa perlu bagi Anda juga untuk mencoba penerbangan seperti ini dan menjadi saksi sejarah tentang awal sebuah era baru dalam dunia perjalanan. Meski masih ada beberapa teman saya yang enggan naik Air Asia karena dianggap seperti naik bis sekolah, kenyataannya toh Air Asia berkembang pesat. Bisnisnya menggurita dengan cepat. Rekrutmen mengalir deras. Rute-rute baru dibuka. Bahkan rute-rute yang jauh. Tahun depan Air Asia akan meluncurkan rute Kuala Lumpur – Nice. Beberapa tahun lagi akan memasuki rute Amerika Serikat. Wow…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah ini tentu saja akan diikuti oleh maskapai-maskapai yang lain, apalagi setelah terbukti menuai sukses. (Sebenarnya tidak hanya Air Asia, di dunia international sudah banyak budget airlines, namun yang paling dekat dari Indonesia adalah Air Asia, kita bisa melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur). Ini berarti, di masa depan, terbang akan semakin murah. Akan semakin banyak orang bepergian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu backpacker berarti naik angkutan darat dan menghabiskan waktu yang lama. Kini, mungkin saja tren itu akan berubah. Backpacker tidak perlu lewat darat lagi, tetapi bisa island hopping dengan pesawat, jauh lebih menghemat waktu. Dengan biaya yang relative sama, atau bahkan bisa lebih murah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di milis backpacker pun ramai dibicarakan rute-rute yang dilalui Air Asia. Seperti: Thailand, Kuala Lumpur, Ho Chi Minh City, Abu Dhabi, Tianjin, London, dan Taipei. Tidak hanya orang-orang gila travel itu, “wabah Air Asia” ini juga turun ke orang-orang awam---orang-orang yang tidak (baca: belum) biasa travelling. Pembicaraan tentang Air Asia mendadak sering terdengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah… wah… Beginilah Air Asia mengganggu hidup saya. Setelah ini sudah ada satu tiket lagi yang sudah saya beli jauh-jauh hari juga, entah akan dipakai atau tidak. Setelah itu, semoga saya bisa menahan godaan sebisa mungkin untuk tidak membuka web Air Asia lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-4654125924871447234?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/4654125924871447234/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=4654125924871447234&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4654125924871447234?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4654125924871447234?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/mdrdIw3wc1w/jakarta-ho-chi-minh-city-with-air-asia.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/09/jakarta-ho-chi-minh-city-with-air-asia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkUDRns9eSp7ImA9WxNQEEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-6740333908556272803</id><published>2009-09-16T13:53:00.002+07:00</published><updated>2009-09-16T13:57:57.561+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-09-16T13:57:57.561+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di mana tempat terbaik di dunia untuk melihat musim gugur?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim gugur telah tiba. Kalau kita jeli, bahkan di Jakarta pun kita bisa melihat daun-daun berguguran dari beberapa jenis pohon tertentu. Selain berjatuhan, dedaunan itu juga menguning dan mencoklat. Sementara pada saat yang sama daun-daun jatuh itu hanya menambah pekerjaan para penyapu jalan, di belahan dunia yang lain orang-orang pergi ke gunung-gunung pada akhir pekan hanya untuk mengagumi dedaunan yang berubah warna itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan ini Trip Advisor membuat daftar Top 10 Foliage Destination, yang kira-kira bisa didefinisikan tujuan-tujuan wisata untuk melihat dedaunan. Waw... di mana sajakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. White Mountains, New Hampshire, USA&lt;br /&gt;2. Transylvania, Romania&lt;br /&gt;3. Kyoto, Japan&lt;br /&gt;4. Perugia, Italy&lt;br /&gt;5. Bamberg, Germany&lt;br /&gt;6. Ticino, Switzerland&lt;br /&gt;7. Bergen, Norway&lt;br /&gt;8. Beijing, China&lt;br /&gt;9. Nikko, Japan&lt;br /&gt;10.Dunedin, New Zealand&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan dicari sendiri deh gambar-gambarnya di Google, soalnya aku belum pernah mengunjungi satu pun tempat-tempat di atas, jadi tidak punya foto. Posting ini disimpan buat nanti aku butuhkan kalau punya waktu dan biaya untuk berlibur menikmati musim gugur. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SrCMFhFUiNI/AAAAAAAAAmc/ZtCi2QwW3wI/s1600-h/autumn.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 281px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SrCMFhFUiNI/AAAAAAAAAmc/ZtCi2QwW3wI/s320/autumn.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381955581115664594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber gambar: TripAdvisor.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-6740333908556272803?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/6740333908556272803/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=6740333908556272803&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6740333908556272803?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6740333908556272803?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/9SmOMom3eLk/di-mana-tempat-terbaik-di-dunia-untuk.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SrCMFhFUiNI/AAAAAAAAAmc/ZtCi2QwW3wI/s72-c/autumn.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/09/di-mana-tempat-terbaik-di-dunia-untuk.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkIGQ3gycSp7ImA9WxNRFkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-3912608350176421252</id><published>2009-09-11T15:33:00.001+07:00</published><updated>2009-09-11T15:42:02.699+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-09-11T15:42:02.699+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teman-teman, Ayo Manfaatkan Youtube untuk Promosikan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari search yang saya lakukan untuk mencari tahu tentang transportasi dari Ho Chi Minh City ke Nha Trang (Vietnam), saya terpesona dan terkagum-kagum dengan apa yang saya temukan. Terutama di Youtube.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para traveller independen (tanpa travel agent) pasti tahu betapa exciting mencari-cari informasi untuk menyusun rencana perjalanan. Bahkan seringkali kegiatan itu sendiri melebihi excitement ketika sudah berada di tempat aslinya. Nah, dengan perkembangan internet, dengan semakin banyaknya content yang bisa kita dapatkan ketika membuka jendela dunia maya, kegiatan itu semakin hari menjadi semakin menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di depan layar komputer sambil menonton youtube selama dua jam saja, saya sudah tahu apa yang akan saya dapatkan atau what to expect dalam trip saya nanti. Hal ini bisa menjadi semacam spoiler (jadi enggak seru lagi ketika di sana) tetapi juga bisa digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya. Dalam rencana trip saya itu saya akan menumpang bus malam dari Ho Chi Minh City ke Nha Trang. Perjalanan itu memakan waktu sekitar 10 jam. Saya sedikit was was, apakah aman, menaiki bus malam di Vietnam? Seperti apakah bus malamnya itu? Semua kemudian terjawab di Youtube. Saya terpesona, betapa banyaknya content video yang di-upload yang menjawab kekhawatiran saya itu. Saya pun tahu busnya seperti apa, nyaman/tidak, aman/tidak, apa yang akan saya dapatkan dalam perjalanan, sopir bus-nya menyetir seperti apa, kondisi lalu lintasnya seperti apa, dll. Luar biasa sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal itu sangat membantu bagi seorang traveller. Saya pun terpikir, bagaimana keadaannya apabila seorang turis mancanegara mencari informasi tentang Indonesia? Iseng-iseng, saya pun melakukan pencarian di Youtube atas beberapa negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci "Indonesia" menghasilkan 133.000 video. Hasil tertingginya adalah tentang Ambon Religious Bloodbath. Tentu saja bukan hasil yang menguntungkan untuk pariwisata, bukan? Indonesia sebagai Pedophile Paradise juga adalah salah satu yang duduk di peringkat teratas, lebih tinggi dari Festival Bunaken dan Pandji (Indonesia Unite).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci "Malaysia" menghasilkan 199.000 video. Beberapa hasil teratasnya seperti sepak takraw dan polis diraja Malaysia, dan ada Malaysia Truly Asia TVC, video promosi pariwisata mereka. Sepertinya mereka sedikit lebih maju ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci "Vietnam" ternyata menghasilkan hasil search paling banyak, 232.000 video. Di luar dugaan saya, hasil search Vietnam melebihi "Thailand" yang menghasilkan 185.000 hasil search. Hasil pencarian Vietnam cukup baik, selain video tentang perang Vietnam ada beberapa video tentang pariwisata. Demikian pula hasil pencarian Thailand, selain tentang tsunami juga ada beberapa video yang berhubungan dengan pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya mencoba beberapa keyword lagi, seperti "Bali", "Yogyakarta," dan "Jakarta", ternyata hasil pencarian tidak terlalu banyak. Paling banyak adalah "Bali" yang menghasilkan 44.100 hasil search saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibandingkan dengan hasil search di Google, kata kunci "Indonesia" sudah cukup baik, yaitu menghasilkan situs-situs resmi pemerintah, wikipedia, dan situs tourism Indonesia di halaman pertama. Namun, dengan meningkatnya penggunaan youtube sebagai search engine, terutama di negara-negara maju, sudah saatnya kita lebih serius memandang youtube. Terlebih lagi di bidang pariwisata, youtube adalah suatu tools yang dapat kita pergunakan dengan lebih maksimal lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ribut-ribut tentang Malaysia mengklaim tari Pendet, di milis-milis orang mulai membicarakan bahwa Indonesia juga harus membuat film dokumenter tentang budaya Indonesia. Saya berpikir, kalau bikin film dokumenter yang serius gitu kan lama, dan juga berbiaya tinggi. Untuk masuk Discovery Channel seperti Malaysia mungkin mahal sekali sehingga pemerintah Indonesia perlu memikirkan cara lain yang lebih murah sekaligus efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak mengoptimalkan youtube? Saat ini youtube disebut-sebut telah menjadi search engine nomor dua setelah Google. Khususnya di negara maju yang tidak memiliki masalah dengan bandwidth lagi, orang-orang lebih suka melakukan pencarian di youtube untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Misalnya, ketika mencari informasi yang diperlukan untuk pembelian sebuah produk, mulai dari mobil, review film, hingga tujuan wisata. Nah yang terakhir ini kayaknya yang paling asyik bila sudah menggunakan youtube.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan itulah, ingin rasanya saya mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat semacam kontes meng-upload video bertema pariwisata Indonesia di youtube. Dengan menawarkan hadiah menarik bagi pemenang, pasti kita akan mendapatkan banyak video yang bagus-bagus. Dengan mengadakan kontes kita dapat mendorong produksi content-content yang lebih bermutu. Soal kreativitas bangsa Indonesia sepertinya tidak perlu kita ragukan lagi, hanya sayang tidak cukup ter-ekspose kepada dunia luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa perlu menunggu pemerintah, saya mengajak teman-teman yang sering bepergian di kota-kota di Indonesia untuk sebanyak-banyaknya meng-upload content-content yang mendukung pariwisata serta budaya Indonesia. Di Youtube kita bisa mengupload video apa saja, tidak perlu video profesional yang berbiaya tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jumlah penduduk dan jumlah pengguna internet yang jauh lebih besar dibanding beberapa negara yang saya jadikan perbandingan tadi, tentu saja content tentang Indonesia harus bisa lebih banyak, dan juga yang paling penting adalah, lebih positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila belum punya content video, foto-foto pariwisata pun dapat dijadikan sebuah video klip yang disusun dari slideshow dengan ditambahkan background lagu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dilakukan Vietnam, saya menemukan beberapa video yang isinya foto-foto pemandangan dengan latar sebuah lagu Perancis tentang Vietnam "Bonjour Vietnam." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SqoNHhoHscI/AAAAAAAAAmU/EgwtPG9REZw/s1600-h/youtubevietnam.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SqoNHhoHscI/AAAAAAAAAmU/EgwtPG9REZw/s320/youtubevietnam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380127127784370626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan mau kalah dong... bisa dimulai dari teman-teman yang mudik buat berlebaran ini. Ayo, teman-teman, mari kita posting sebanyak-banyaknya video tentang Indonesia di youtube.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-3912608350176421252?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/3912608350176421252/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=3912608350176421252&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3912608350176421252?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3912608350176421252?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/KnfSsO7k7Sc/teman-teman-ayo-manfaatkan-youtube.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SqoNHhoHscI/AAAAAAAAAmU/EgwtPG9REZw/s72-c/youtubevietnam.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/09/teman-teman-ayo-manfaatkan-youtube.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkUDRng8cCp7ImA9WxJaFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-2415420291400143212</id><published>2009-08-07T22:41:00.003+07:00</published><updated>2009-08-07T22:51:17.678+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-08-07T22:51:17.678+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pencak Silat Plus Jacky Chan dalam Merantau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SnxNCJETy9I/AAAAAAAAAmE/qHoGroABGeo/s1600-h/merantau.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 181px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SnxNCJETy9I/AAAAAAAAAmE/qHoGroABGeo/s320/merantau.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367249555107859410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seno Gumira Ajidarma pernah menulis sebuah artikel yang sangat mengesankan di majalah National Geographic Indonesia tahun lalu tentang pencak silat. Dalam artikel berjudul Bertahan dalam Peradaban itu, Seno menceritakan bagaimana sulitnya pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia bertahan dalam gerusan gelombang globalisasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membaca artikel itu membuat saya terkagum-kagum, betapa Indonesia memiliki warisan budaya yang demikian hebat. Ilmu silat ini bila ditelusuri telah diajarkan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita sejak ratusan tahun silam. Meski ada kemiripan dengan ilmu silat Tiongkok, ilmu silat tradisional yang tumbuh di Indonesia telah mengalami banyak perkembangan dan telah digubah kembali oleh para guru pencak silat tradisional sehingga telah menjadi milik bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan-gerakan pencak silat sangat khas: cara memposisikan tangan, posisi kuda-kuda, cara melompat dan menendang, sebagian digambarkan dalam artikel itu. Namun lebih dari itu, pencak silat bukanlah semata tentang gerakan-gerakan untuk membela diri saja, di balik itu pencak silat mengajarkan banyak falsafah kehidupan dan sangat spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa amat disayangkan apabila warisan budaya yang begitu luar biasa itu perlahan-lahan tergerus oleh perubahan zaman. Zaman yang berbeda memang menuntut perilaku yang berbeda. Definisi yang secara total berbeda tentang apa yang hebat dan apa yang tidak, apa yang keren dan apa yang tidak. Semakin hari semakin sedikit murid yang mempelajari pencak silat, perguruan-perguruan silat yang dulu pernah berjaya sulit bertahan karena masalah dana. Pemerintah pun tidak berbuat banyak untuk melestarikan kekayaan budaya yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika menonton Merantau, terlepas dari segala kekurangannya, saya katakan, film ini bagus! Gerakan-gerakan pencak silat yang diperagakan oleh Iko Uwais (sebagai Yuda) kelihatannya bagus dan sangat menghibur. Adegan-adegan perkelahian tidak membosankan, bahkan keren. Tidak ada kesan dibuat-buat, malahan sangat kreatif dan smart. Dalam beberapa adegan penonton memberikan applause, termasuk saya, misalnya ketika adegan kejar-kejaran dengan motor, serta melumpuhkan beberapa penjahat di atas container. Koreografer adegan perkelahiannya mungkin sudah belajar dari Jacky Chan untuk membuat adegan perkelahian yang menyenangkan untuk ditonton, sehingga bisa saya katakan, mutu adegan-adegan ini tidak kalah dari film Hongkong maupun Barat. Tidak lebay ala Matrix, tapi tampak sangat powerful dan real, dengan segala sound effect yang mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SnxNPelbBQI/AAAAAAAAAmM/5xkvpqLw4ng/s1600-h/merantau2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 184px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SnxNPelbBQI/AAAAAAAAAmM/5xkvpqLw4ng/s320/merantau2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367249784222188802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini bercerita tentang petualangan Yuda, seorang pemuda Sumatera Barat, yang harus berhadapan dengan sindikat penjualan manusia dalam “perantauannya” (yang singkat) di Jakarta. Sejak dari persiapan berangkat merantau hingga hari-hari Yuda di Jakarta dan juga setelahnya, semua adegan (kecuali adegan berantem) berjalan dengan terlalu lambat dan telalu banyak yang lebay ala sinetron. Itulah kekurangan film ini dan juga yang menyebabkan durasi film ini terlalu panjang (135 menit). Dengan mengurangi banyak adegan yang bertele-tele itu---seperti misalnya pandang-pandangan yang terlalu lama---film ini akan menjadi jauh lebih baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-2415420291400143212?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/2415420291400143212/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=2415420291400143212&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2415420291400143212?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2415420291400143212?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/lScUvrlBrHs/pencak-silat-plus-jacky-chan-dalam.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SnxNCJETy9I/AAAAAAAAAmE/qHoGroABGeo/s72-c/merantau.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/08/pencak-silat-plus-jacky-chan-dalam.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQMSH4-fyp7ImA9WxJbGU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-4120118205964457029</id><published>2009-07-30T13:59:00.000+07:00</published><updated>2009-07-30T14:03:09.057+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-30T14:03:09.057+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Online Crisis Management di Indonesia: Belajar dari Beberapa Kasus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, seorang praktisi PR (public relations) terbangun dari mimpi buruk yang membuat seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Dia bermimpi bahwa dia adalah PR sebuah rumah sakit internasional. Suatu hari seorang konsumen/pasien menulis keluhan tentang pelayanan rumah sakitnya ke dalam email kepada teman-temannya, dan kemudian juga mengirimkan email tersebut ke sebuah media online yang sangat besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen rumah sakit kemudian menuntut pasien yang adalah seorang ibu muda dengan dua anak (yang masih kecil-kecil dan salah satunya adalah bayi yang masih menyusui) itu dengan tuduhan pencemaran nama baik rumah sakit dan berhasil menjebloskan ibu muda itu ke dalam penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar mengenai ibu muda yang dipenjara karena email keluhan yang dikirimnya itu lalu menyebar secepat badai. Dengan teknologi internet, melalui media-media yang mempunyai pengaruh besar seperti Facebook, blog, dan juga media besar seperti Detik.com, dengan segera kasus itu mendapatkan simpati banyak orang. Gaung yang tumbuh di online ini semakin diperbesar ketika mulai dilirik oleh media-media tradisional. Televisi, radio, media cetak semua mulai tertarik dengan kasus ini. Tentu saja kasus ini menarik karena memancing emosi banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua media itu berbahasa satu: menokohkan sang ibu muda sebagai pahlawan, pejuang internet yang dikorbankan karena menyuarakan suara konsumen. Sebaliknya, semua media membuat rumah sakit tampak seperti penjahat. Emosi yang ditimbulkan kepada masyarakat sangatlah besar. Sampai-sampai ada orang yang lewat di depan rumah sakit itu dan langsung timbul rasa marah. Di media online semua memasang bendera dukungan kepada si ibu, serentak semua pengguna internet menunjukkan solidaritas yang sangat besar kepada si ibu, dan sebaliknya gerakan “say No” pada rumah sakit itu tidak kalah besarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang PR pasti paham bahwa ini adalah mimpi buruk dunia PR. Harian Jakarta Post menulis kasus ini sebagai PR Suicide. Dan sayangnya, kasus ini bukan hanya sebuah mimpi. Ini benar-benar terjadi, di Indonesia, tanah air kita tercinta, dan siapa pun pengguna Internet pastilah sudah tahu siapa yang saya maksud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan, ketika terjadi kasus Prita Mulyasari vs RS OMNI, banyak praktisi PR yang merinding, membayangkan apabila hal itu terjadi pada mereka. Serentak terlepas doa yang sama dari batin mereka: Ya Tuhan, jangan sampai hal itu terjadi pada saya… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Prita Mulyasari adalah pembelajaran online yang sangat menarik. Karena itulah, dalam seminar bertajuk “Strategi Menghadapi Krisis Manajemen di Internet” tanggal 29 Juli 2009 yang berlangsung di hotel Intercontinental Jakarta, Midplaza, Nukman Luthfie menguraikan kronologi kasus itu. Bagaimana sebuah surat elektronik yang dikirim ke teman-teman akhirnya bergulir menjadi sebuah mimpi buruk dunia PR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nukman menjelaskan, baik RS OMNI maupun Prita bukanlah siapa-siapa. Sebelumnya, tidak ada yang membicarakan tentang mereka di Internet. Search di Google pun tidak ada. Tiba-tiba saja, dalam periode Mei dan Juni 2009, kedua nama itu menjadi nama yang paling banyak dibicarakan orang. Hal ini ditandai dengan trend search di Google. Prita mengalahkan Manohara, bahkan mengalahkan hits sepanjang masa di Indonesia yaitu Rahma Azhari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan detil Nukman menjelaskan bagaimana kasus itu membesar, mulai dari blog, facebook, dan juga media-media online besar. Dalam dua bulan, ada 27.842 posting di blog mengenai kasus itu, tak satu pun yang membela RS OMNI. Semuanya negatif. Tidak butuh waktu yang lama, dalam waktu lima hari saja, dukungan bagi ibu Prita Mulyasari di Facebook mendapatkan lebih dari 180.000 anggota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal ini bisa terjadi? Nukman menjelaskan dengan menghadirkan juga beberapa tokoh di dunia internet. Menurut Nukman, di setiap media yang berpengaruh besar itu selalu ada tokoh yang menjadi influencer. Ndoro Kakung, Enda Nasution, Ari Julianto Gema, Hanifah dari Fashionese Daily, Niam Masykuri dari mailing list Parents Guide dan Budiman Hakim dari mailing list CCI (Creative Circle Indonesia) adalah beberapa tokoh yang tampil dalam seminar tersebut mewakili tokoh-tokoh di dunia online yang memiliki basis massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para blogger sudah seperti kiai,” kata Nukman. Mereka mempunyai pengikut yang sangat radikal. Begitu Ndoro Kakung berkata begini, semua pengikutnya akan berkata begini juga. Karena itu, kata Nukman, para PR, dekatilah mereka-mereka ini, karena mereka adalah orang-orang yang mempunyai pengaruh besar di dunia online. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turut hadir sebagai pembicara dalam seminar itu adalah Budiono Darsono, pemimpin redaksi dan pendiri Detik.com. Budiono menjelaskan bagaimana kekuatan people power melalui media. Bahkan media besar seperti Detik.com yang selalu menjadi trendsetter media-media lain, seringkali mendapatkan sumber berita dari masyarakat umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada kasus bom JW Mariott dan Ritz Carlton baru-baru ini, Detik mendapatkan informasi dari seorang pembacanya bernama Amelia melalui email. Informasi itu tidak serta-merta dipublish oleh Detik. Sebagai media Detik harus mengecek kebenaran berita tersebut, di antaranya dengan menghubungi sumber-sumber berita, misalnya Polda. Karena itulah, kata Budiono, berita akan lebih cepat menyebar lewat jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik mendapatkan sumber berita dari mana-mana. Dari Blog, Facebook, Twitter, email dari pembaca, dengan kata lain, dari user, selain dari sumber-sumber berita konvensional. Press Release adalah hal terakhir yang ditengok redaksi Detik menurut Budiono. Setiap hari redaksi Detik menerima lebih dari 1.000 email dari pembacanya. Era web 2.0 membuat media harus berkolaborasi dengan user-nya. Posisi media dan pembaca (user)-nya seperti dijelaskan Budiono tidak lagi Production &amp; Consumption, tetapi Consumption, Production, &amp; Collaboration. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik kemudian adalah apa yang terjadi pada Teh Botol Sosro. Mungkin Anda masih ingat, beberapa saat yang lalu tersebar email-email Hoax bahwa Teh Botol Sosro mengandung racun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronny Jatnika, Marketing Head Sosro yang juga salah satu pembicara seminar menjelaskan betapa kasus tersebut berpotensi menjadi krisis. Dalam bahasa lain, Nukman mengatakan kasus Teh Botol Sosro berpotensi untuk meng-OMNI, seandainya saja pihak Sosro tidak bertindak cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian, karena konten email yang disebarkan mempunyai komponen emosional yang sangat kuat. Isi email itu adalah seorang anak miskin, menunjukkan gejala kecanduan, ibunya bernama Martini, menemukan berita mengenai kandungan berlebihan hidroxylic acid (atau nama resminya dalam format IUPAC adalah dihidrogen monoksida) di dalam Teh Botol Sosro dari internet. Ia langsung ingat, anaknya tadi siang baru saja menghabiskan tiga botol teh yang dibungkus dalam berbagai kemasan dan merk. Bahan baku utama teh Sosro bukan teh alami, tapi hidroxylic acid sehingga rasanya lebih enak daripada yang lain. Hidroxylic acid adalah zat berbahaya kalau berlebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala kecanduan, anak-anak, dan ibu miskin, adalah tiga komponen yang menurut Ronny, sangatlah emosional. Ditambah penguatan konfirmasi dari seorang dokter bernama Priyadi Handoko (yang kalau di-search tidak ditemukan itu), maka email itu sangat berpotensi membuat masyarakat ketakutan, dan tidak berani minum teh Botol Sosro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Sosro memperoleh informasi hoax ini dari seorang penjualnya melalui email. Kasus ini melibatkan puluhan ribu retailer yang adalah penjaja minuman di jalanan, hal inilah yang membuat Sosro merasa harus bertindak cepat, sebelum hoax ini semakin menyebar luas dan menyebabkan dampak negatif bagi pedagang-pedagang kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan cepat Sosro dimulai dari internal. Yang paling penting karyawan harus tahu, dan karyawan perlu tahu bahwa manajemen sudah tahu mengenai issue tersebut. Menurut Ronny, CEO sendiri yang turun memberikan pengarahan kepada karyawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, komunikasi eksternal pun dilakukan, melalui mitra bisnis (agen, retailer), media (situs perusahaan, blogger, milis), dan konsumen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci dari upaya penanganan itu, menurut Ronny, adalah kecepatan, diikuti dengan kebenaran dan kelengkapan informasi. Karena ini merupakan manajemen krisis, maka tidak perlu lagi mempergunakan SOP manajemen regular. Pihak Sosro juga memutuskan untuk tidak membawa kasus ini ke ranah hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemungkas dari seminar itu, Nukman menyimpulkan bahwa respon awal terhadap krisis kuncinya harus cepat, akurat, dan konsisten. Setelah itu libatkan publik online untuk memperbaiki reputasi. Usahakan perusak reputasi online untuk terlibat dalam perbaikan reputasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar mimpi buruk OMNI tidak terjadi pada Anda, sebaiknya sekarang mulai waspada mengidentifikasi potensi krisis. Dalam hal ini, memiliki situs web perusahaan sangat penting, karena apabila terjadi kebingungan informasi, user akan mencarinya ke sumber yang terpercaya, yaitu situs web perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nukman juga menasihatkan agar para PR mencegah sedini mungkin agar tidak muncul krisis dengan memantau pergerakan isu di social media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para PR yang belum mempunyai akun Twitter, pulang dari seminar ini, segeralah bertobat,” demikian kata Nukman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-4120118205964457029?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/4120118205964457029/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=4120118205964457029&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4120118205964457029?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4120118205964457029?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/0ixgkblfFc8/online-crisis-management-di-indonesia.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/07/online-crisis-management-di-indonesia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0INQHw5fip7ImA9WxJbFEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-5354671920505983612</id><published>2009-07-24T13:56:00.011+07:00</published><updated>2009-07-24T14:13:11.226+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-24T14:13:11.226+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Photos from Pangandaran &amp; Green Canyon Trip 17-19 July 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photos taken July 18, one day after the bomb at JW Mariott and Ritz Carlton Hotel, the crowds at Pangandaran beach over the weekend shows that life in Indonesia goes on normally despite the bomb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Smlc0K_URcI/AAAAAAAAAic/QWC2YOtf_EQ/s1600-h/pangandaran.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Smlc0K_URcI/AAAAAAAAAic/QWC2YOtf_EQ/s200/pangandaran.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361918882734163394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldBz4jr7I/AAAAAAAAAik/PpDbmHrrW1U/s1600-h/pangandaran2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldBz4jr7I/AAAAAAAAAik/PpDbmHrrW1U/s200/pangandaran2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361919117049966514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldLn6QG1I/AAAAAAAAAis/tEfKjH1salc/s1600-h/pangandaran3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldLn6QG1I/AAAAAAAAAis/tEfKjH1salc/s200/pangandaran3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361919285634538322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldWlfvr0I/AAAAAAAAAi0/gOzlp2ktrlQ/s1600-h/pangandaran4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldWlfvr0I/AAAAAAAAAi0/gOzlp2ktrlQ/s200/pangandaran4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361919473965051714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldgUiwD7I/AAAAAAAAAi8/HOfjeOgDQ3Q/s1600-h/pangandaran5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldgUiwD7I/AAAAAAAAAi8/HOfjeOgDQ3Q/s200/pangandaran5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361919641212948402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldwjlLqMI/AAAAAAAAAjE/5DoH4XwDqiQ/s1600-h/pangandaran6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmldwjlLqMI/AAAAAAAAAjE/5DoH4XwDqiQ/s200/pangandaran6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361919920127584450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Smld7wZSJfI/AAAAAAAAAjM/DGhyRIJbLJs/s1600-h/pangandaran7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Smld7wZSJfI/AAAAAAAAAjM/DGhyRIJbLJs/s200/pangandaran7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361920112545900018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmleEazOuBI/AAAAAAAAAjU/TqAYljnUd6U/s1600-h/pangandaran8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmleEazOuBI/AAAAAAAAAjU/TqAYljnUd6U/s200/pangandaran8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361920261367969810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmleQ-oTlSI/AAAAAAAAAjc/8aRf_0IOH90/s1600-h/pangandaran9.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmleQ-oTlSI/AAAAAAAAAjc/8aRf_0IOH90/s200/pangandaran9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361920477144257826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmleccI4ZnI/AAAAAAAAAjk/gensRLXYAmY/s1600-h/greencanyon1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmleccI4ZnI/AAAAAAAAAjk/gensRLXYAmY/s200/greencanyon1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361920674044077682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmleqFZDChI/AAAAAAAAAjs/tDFsPx5jNwI/s1600-h/greencanyon2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SmleqFZDChI/AAAAAAAAAjs/tDFsPx5jNwI/s200/greencanyon2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361920908456036882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Smle2thPXiI/AAAAAAAAAj0/cRzTQLHa5LM/s1600-h/greencanyon.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Smle2thPXiI/AAAAAAAAAj0/cRzTQLHa5LM/s320/greencanyon.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361921125386247714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-5354671920505983612?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/5354671920505983612/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=5354671920505983612&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5354671920505983612?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5354671920505983612?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/P7qMFtGDprM/photos-from-pangandaran-green-canyon.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Smlc0K_URcI/AAAAAAAAAic/QWC2YOtf_EQ/s72-c/pangandaran.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/07/photos-from-pangandaran-green-canyon.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUMCQnw6fCp7ImA9WxJbE04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-2797248472915137786</id><published>2009-07-23T15:18:00.002+07:00</published><updated>2009-07-23T15:24:23.214+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-23T15:24:23.214+07:00</app:edited><title /><content type="html">Beberapa tulisanku di blog corporate &lt;a href="http://www.virtual.co.id/blog"&gt;Virtual Consulting&lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.virtual.co.id/blog/dotcom/free-economy-ekonomi-memperebutkan-perhatian/"&gt;Free Economy, Ekonomi Memperebutkan Perhatian&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.virtual.co.id/blog/web-site-development/lahirnya-sebuah-bisnis-online/"&gt;Lahirnya Sebuah Bisnis Online&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.virtual.co.id/blog/online-advertising/bentuk-bentuk-iklan-online/"&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk Iklan Online&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.virtual.co.id/blog/web-site-development/membuat-model-bisnis-online-1-dari-mana-datangnya-uang/"&gt;&lt;br /&gt;Membuat Model Bisnis Online (1): Dari Mana Datangnya Uang?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.virtual.co.id/blog/online-advertising/membuat-model-bisnis-online-2-bagaimana-cara-mendapatkan-uang/"&gt;&lt;br /&gt;Membuat Model Bisnis Online (2): Bagaimana Cara Mendapatkan Uang?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-2797248472915137786?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/2797248472915137786/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=2797248472915137786&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2797248472915137786?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2797248472915137786?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/4kbn5ouvjSM/beberapa-tulisanku-di-blog-corporate.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/07/beberapa-tulisanku-di-blog-corporate.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUIBRXo8cCp7ImA9WxJVFUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-6741596186658773534</id><published>2009-07-03T10:47:00.002+07:00</published><updated>2009-07-03T10:59:14.478+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-03T10:59:14.478+07:00</app:edited><title /><content type="html">Yes, Internet changes the world, but when it's gonna happen here?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr. Nakka, bukan nama sebenarnya, baru saja datang dari Tokyo ke sebuah kota yang not-so-remote di Indonesia. One of the things he first learned about Indonesia, among other things, sayangnya adalah, koneksi internetnya yang, very, damn, slow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Could you help me check this page," kata Mr. Nakka suatu hari di telepon kepada saya, "Coz my internet connection is terribly slow here." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah... sama dong, dalam hati saya. Bedanya, saya yang sudah lama tinggal di daerah yang supposed to be not so remote itu, sudah terlatih, dengan speed internet seperti itu. Kami biasa melakukan seperti ini: Klik, lalu tunggu... beberapa detik, atau kadang beberapa menit. Lalu, in order to stay productive (karena kami tidak dibayar untuk duduk dan menunggu hingga page-page itu terbuka), maka kami pun melakukan pekerjaan lain. Membuka page yang lain, atau membuka beberapa task yang lain, yang saking banyaknya, hingga kami sering lupa apa yang sedang kami kerjakan atau page apa yang kami buka tadi. Tidak jarang hingga mendekati jam pulang, ketika kita mulai menutup jendela-jendela itu, barulah kita sadar, oh iya, gue lagi ngerjain ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu gambaran survival mode yang kami lakukan untuk mengatasi internet di daerah yang not-so-remote ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kembali ke Mr. Nakka, aku pun meng-klik page yang diminta si ganteng, yang menurut teman-teman mirip bintang film porno Jepang tapi kami biasa menyebutnya sebagai Takeshi Kaneshiro biar lebih gampang aja dalam sebuah percakapan. Setelah klik, aku pun menunggu. Bagi seorang yang sudah terlatih seperti aku, menunggu seperti ini bukan suatu hal yang aneh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang olehku, Mr. Nakka pasti terus mengumpat menghadapi kecepatan internet seperti ini. Kami tahu bagaimana rasanya. Kami pernah tinggal di suatu tempat dengan koneksi internet yang lebih manusiawi. Koneksi internet yang wajar karena kita bisa membuka gmail, facebook, youtube, dan penyedot-penyedot bandwidth lain yang datang dari luar negeri itu, tanpa mendapatkan pesan "Network Timeout" berulang-ulang. Apabila kecepatan internet seperti ini adalah kondisi mainstream di Indonesia, maka aku merasa seperti seorang raja yang turun melihat kondisi kehidupan rakyat jelata ketika pindah dari koneksi cepat (baca: wajar) ke dalam koneksi internet yang seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dapat membayangkan apa kata Mr. Nakka meski dia terlalu sopan untuk mengatakannya. "Is this what you called internet??????" I think this is more like a training machine (for patience). I think I would have to go to yoga class or anger management training if everyday I have to confront this "speed" of Internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah. Dengan sopan Mr. Nakka hanya bilang, ya, koneksi, itulah masalah dengan perkembangan internet di Indonesia. Dari tempat dia datang, misalnya, membeli barang di Internet sudah menjadi hal yang sangat biasa. Hampir sama dengan nonton TV di sini. Situs-situs e-commerce bertebaran dan memberikan persaingan yang layak untuk membuat sebuah ekonomi berputar. Nilai transaksi sudah tinggi, sehingga mereka pun mampu membayar iklan, yang juga nilainya sudah tinggi ketika yang kita maksud adalah iklan online. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ke point seperti inilah, kurasa baru bisa disebut bahwa internet telah mengubah dunia. Karena secara total perilaku konsumen, perilaku masyarakat, budaya, telah berubah. Di sini, meskipun telah terjadi banyak perubahaan/kemajuan, sudah banyak orang yang online setiap hari, minimal satu jam misalnya, tapi perubahannya belum cukup fundamental untuk menjangkau hingga ke akar-akar masyarakat. Maksud saya, dengan kecepatan rata-rata download 0,46 mbps dan upload 0,61 mbps, bagaimana kamu mengharapkan internet dapat mengubah dunia???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kita secara umum, budaya kita, sayangnya, masih didominasi oleh televisi. Televisi, yang penuh drama, masihlah influencer terbesar. Internet belum bisa menggeser kedigdayaan televisi. Itulah sebabnya, as much as I hate it, I have to watch television. Karena pekerjaanku yang berhubungan dengan marketing, aku tidak bisa menyuekin televisi. Sebab dari situlah kita bisa belajar tentang perilaku market secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada perubahan infrastruktur internet kita, saya rasa "internet changes the world" hanyalah term yang terlalu berlebihan untuk kita. I think we're gonna have to stuck with TV for a while. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-6741596186658773534?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/6741596186658773534/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=6741596186658773534&amp;isPopup=true" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6741596186658773534?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6741596186658773534?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/EMSEqGJ_gFw/yes-internet-changes-world-but-when-its.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/07/yes-internet-changes-world-but-when-its.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEcFRng4fCp7ImA9WxJXEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-2471506609091221787</id><published>2009-06-04T17:31:00.001+07:00</published><updated>2009-06-04T17:40:17.634+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-04T17:40:17.634+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Taiwan, "Move Forward" to Become Global Player&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Move Forward adalah tema/slogan Computex---pameran komputer dan ICT tahunan di Taipei, Taiwan---tahun ini. Pameran yang diikuti lebih dari 1,700 exhibitor dan 4,600 booth ini semakin banyak mendapat perhatian internasional seiring dengan perkembangan peran Taiwan dalam industri ICT (Information and communication Technology) dunia akhir-akhir ini. Slogan Move Forward seolah mengukuhkan cita-cita Taiwan untuk menjadi pemain global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SiekXF_NSeI/AAAAAAAAAiU/uSZWuRbaXO8/s1600-h/computex_front.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 128px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SiekXF_NSeI/AAAAAAAAAiU/uSZWuRbaXO8/s200/computex_front.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343420199549618658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama Taiwan dikenal sebagai salah satu manufaktur produk-produk komputer dan ICT untuk brand-brand global seperti Apple, Hewlett-Packard, dan Motorola. Perusahaan-perusahaan Taiwan menyuplai komponen untuk perangkat-perangkat tersebut, bahkan tak jarang juga merakit/membangun sebuah produk jadi, contohnya laptop, dengan spesifikasi yang persis seperti permintaan para brand-brand besar itu. Produk itu lalu dipasarkan di bawah nama brand besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun belakangan ini, Taiwan tidak lagi hanya dikenal sebagai pemain background, tetapi berkat beberapa brand yang penjualannya melesat pada masa krisis ini, nama-nama Taiwan mulai masuk dalam jajaran brand ICT dunia. Sebut saja Acer contohnya. Saat ini Acer telah mengancam kedudukan Dell sebagai pembuat PC kedua terbesar di dunia setelah Hewlett-Packard. Perusahaan Taiwan yang lain, Asustek, telah menggemparkan dunia dengan netbook kecil dan ringannya yang fenomenal, Eee PC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kedua nama tersebut, HTC juga nama Taiwan lain yang sudah melenggang di panggung global. HTC membangun smartphone pertama yang menggunakan operating system (OS) Android dari Google. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ketiga perusahaan ini, pemerintah Taiwan terus mendorong perusahaan lain untuk "move forward" dari pemain di belakang layar untuk berani tampil sebagai brand yang bersaing dengan brand-brand dunia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal ini terlihat pada pameran Computex tahun ini. Biasanya, event ini lebih banyak menunjukkan komponen-komponen manufaktur kepada calon partner, seperti power supply atau kipas untuk mendinginkan komputer. Namun beberapa tahun belakangan ini, pameran telah didominasi oleh produk yang langsung dapat digunakan oleh konsumen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun yang lalu, Asustek memperkenalkan Eee PC pada pameran ini. Sekarang, hampir semua pembuat komputer membuat produk yang serupa. Pada Computex tahun ini, perusahaan-perusahaan komputer berlompa memamerkan laptop super tipis yang berharga&lt;br /&gt;kurang dari 600 USD. Sementara perusahaan seperti Intel dan Microsoft memamerkan chip dan software yang cocok untuk laptop murah dan sangat tipis, ataupun komputer dengan teknologi layar sentuh yang canggih. Tahun depan, diharapkan Computex akan memamerkan smartphone baru yang menggemparkan, sebuah telepon yang mendekati kemampuan PC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waw... sampai di sini, kita hanya bisa merasa salut untuk Taiwan, sambil mengajukan pertanyaan yang membosankan itu lagi---kapan ya kita bisa begini? :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-2471506609091221787?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/2471506609091221787/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=2471506609091221787&amp;isPopup=true" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2471506609091221787?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2471506609091221787?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/Rq1m3914aVY/taiwan-move-forward-to-become-global.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SiekXF_NSeI/AAAAAAAAAiU/uSZWuRbaXO8/s72-c/computex_front.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/06/taiwan-move-forward-to-become-global.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYFRX0-fSp7ImA9WxJXEEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-1336606797814341187</id><published>2009-06-04T09:27:00.002+07:00</published><updated>2009-06-04T09:38:34.355+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-04T09:38:34.355+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Have You Tweet?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SiczhPPu6zI/AAAAAAAAAiM/T8xaFxvBbrc/s1600-h/twitter.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 195px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SiczhPPu6zI/AAAAAAAAAiM/T8xaFxvBbrc/s200/twitter.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343296129019603762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih enggan menggunakan twitter.com hingga akhir-akhir ini. Sebenarnya sih sudah lama mendaftar di twitter, tetapi tidak pernah di-update. Pengguna Twitter di Indonesia pun belum banyak, data bulan lalu dari Google Ad Planner menunjukkan, Twitter tidak masuk dalam 100 top sites yang diakses orang Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru akhir-akhir ini kita mulai sering mendengar Twitter dibicarakan, contohnya di radio. Beberapa seleb kita sudah menggunakan Twitter. Mereka juga sibuk mengikuti (follow) beberapa seleb luar negeri. Twitter sepertinya akan hot sebentar lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twitter menawarkan sesuatu yang berbeda, dia hadir di antara social media yang sedang marak dengan bentuk yang khas. Twitter adalah sebuah layanan jaringan sosial gratis berbentuk micro-blogging yang memungkinkan seseorang mengirim dan membaca update dari user lain. Posting dari user yang disebut tweet berupa teks 140 karakter, ditampilkan dalam halaman profil user dan akan dibaca oleh orang-orang yang mendaftar pada mereka (disebut sebagai follower). Pengirim pesan dapat membatasi pesan mereka dibaca hanya oleh teman-teman saja atau siapa saja yang membuka halaman mereka. User dapat menerima dan mengirim tweet melalui website Twitter, SMS, dan juga aplikasi lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola seperti ini membuat Twitter berkembang menjadi tidak hanya sebuah alat mencurahkan perasaan atau komunikasi antar teman saja, tetapi telah digunakan menjadi alat marketing. Sejak diluncurkan tahun 2006, perkembangan Twitter amat pesat. Dia tercatat sebagai salah satu situs web dengan perkembangan tercepat di dunia. Bulan Februari 2009 Compete.com menampilkan Twitter sebagai situs jaringan sosial ketiga terbesar setelah Facebook dan MySpace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan itu, menarik mencermati penemuan terbaru dari Harvard Business School. Hasil riset ini dipublikasikan dua hari yang lalu (1 Juni), berisi beberapa fakta demografis yang mengejutkan tentang pengguna Twitter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Twitter is male-centric. Pria cenderung mengikuti update (follow) pria lain sementara Wanita juga lebih cenderung follow pria. Padahal mayoritas pengguna Twitter adalah wanita (55%). Pria juga memiliki 15% lebih banyak follower dibanding wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bertentangan dengan situs jaringan sosial yang lain, di mana baik pria dan wanita lebih cenderung mengikuti update dari wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berlaku hukum 90:10. 90% tweet ditulis oleh hanya 10% twitterer yang aktif. Hampir separuh pengguna Twitter hanya menggunakan Twitter sekali dalam 74 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kebanyakan situs jaringan sosial, 10% pengupdate teraktif hanya menyumbang 30% dari seluruh content yang ada. Ini menunjukkan, Twitter lebih seperti Wikipedia (daripada Facebook), di mana 15% kontributor teraktif memproduksi 90% dari seluruh konten. Fakta ini membuat peneliti Bill Heil dan Mikolaj Piskorski menyimpulkan, komunikasi yang terjadi di Twitter adalah one-to-many atau one way communication dan bukan two way communication atau peer-to-peer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila benar begitu, berarti benar dugaan saya dan yang menjadi alasan banyak orang menggunakan Twitter, bahwa keasikan menggunakan Twitter adalah seperti berlangganan sms berisi update dari sang idola, dan ini ditulis oleh idola itu sendiri. Kebanyakan seleb mengaku menulis sendiri Twitter-nya. Tidak hanya seleb, banyak tokoh lain (CEO dll) juga termasuk dalam 10% kontributor utama Twitter itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sebagai pemilik brand juga bisa. Sebenarnya, pintar-pintarnya kita menggunakan Twitter sehingga terjadi percakapan (tidak hanya one-way communication). Kita bisa merangsang follower kita untuk berkomentar dan memberi masukan yang dapat berguna untuk produk/brand kita misalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, penemuan terbaru menunjukkan begitulah pola penggunaan Twitter. Untuk saat ini. Kita belum tahu bagaimana perkembangannya selanjutnya. Jadi sudahkah Anda menggunakan Twitter?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-1336606797814341187?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/1336606797814341187/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=1336606797814341187&amp;isPopup=true" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1336606797814341187?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1336606797814341187?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/tToMS9spA-M/have-you-tweet-saya-masih-enggan.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SiczhPPu6zI/AAAAAAAAAiM/T8xaFxvBbrc/s72-c/twitter.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">5</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/06/have-you-tweet-saya-masih-enggan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0IFRH0yeSp7ImA9WxJSEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-3094427038125167725</id><published>2009-04-29T21:24:00.002+07:00</published><updated>2009-04-29T21:31:55.391+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-29T21:31:55.391+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hati-hati Pake Axis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara promosi dari teman saya (sudah dua orang teman yang memakai data card Axis) saya pun tergoda untuk mencobanya. Biar bisa koneksi internet di mana saja menggunakan 3G Modem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket yang ditawarkan Axis cukup menggiurkan, Rp 1,388 juta sudah termasuk modem dan koneksi internet selama 12 bulan dengan batas pemakaian per bulan 500 MB. Untuk provider lain, membeli modemnya saja sudah 1 juta lebih. Well, namanya juga promosi bundling begini memang seharusnya lebih murah. Dan saya pikir 500 MB cukup banyak, cukup lah untuk pemakaian email dan browsing sehari-hari. Hal ini juga sudah saya tanyakan kepada teman yang sudah memakai sebelumnya, dia bilang segitu cukup banget untuk pemakaian dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata... Saya mulai pakai sejak tanggal 20 April. Hari ini, tanggal 29 April, sudah tidak bisa konek. Saya cek di statistik-nya (gambar di bawah ini) pemakaian saya per bulan hanya 69,35 MB. Dari pemakaian saya selama ini juga tidak berat, paling download beberapa file yang dikirimkan teman. Tidak mungkin pulsa saya habis. Saya hubungi customer service-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Customer Service yang bernama Boy yang menjawab telepon saya. Setelah menunggu agak lama (biasa, kalau telepon customer service selalu harus menunggu dan dikasih musik), dia mengecek nomor saya dan ternyata kata dia pulsa saya sudah habis. "Lho, kok bisa?" kata saya. Kalau memang sudah habis, mengapa tidak ada informasinya kepada konsumen? Lah saya tahu dari mana bahwa pulsa saya akan habis, padahal yang tertera di statistiknya hanya segitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Boy yang entah belum makan atau bete sama pacarnya sehingga menjawab dengan tidak sabar, dengan kekeh dia mengatakan "menurut data di kami pemakaian ibu sudah 500-sekian MB, karena itu batas pemakaian ibu untuk bulan ini sudah habis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah? Saya sih tidak mempermasalahkan kalau memang benar-benar habis, tetapi apakah konsumen tidak diberi hak untuk tahu pemakaiannya? Mengapa yang tertera di tempat saya hanya 69,35 MB? Saya malah pikir sisa pulsa saya masih banyak, masih mau download file-file lain, karena kalau tidak dipakai dalam waktu satu bulan akan hangus. Lah tiba-tiba dikasih tahu pulsa saya sudah habis? Trus, apakah saya harus sering-sering telepon ke Axis dan menanyakan pulsa saya? Kata Boy data yang di saya belum direfresh, data di sistem Axis mengatakan sudah 500-an. Buset... Kekeh dia. Customer service yang sangat tidak helpful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana saya gak kesel? Saya rasa sebagai konsumen saya berhak marah kalau begini caranya. Siapa yang menyedot pulsa saya? Atau kalau memang sudah habis, gimana saya mengeceknya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boy yang sangat tidak helpful hanya bisa menyarankan saya untuk isi pulsa lagi. Yah nenek-nenek juga tahu kali... Bukan itu masalahnya... sekali lagi... gimana saya tahu pemakaian saya kalau begini caranya...???? Katanya GSM yang baik??? Kok kayak gini ya???????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya, tanya, kapan saya bisa konek lagi (kan per bulan itungannya 500 MB itu), kata dia "silakan dicoba tanggal 1." Yang bener nih, saya gak yakin karena saya mulai aktifnya tanggal 20, bukan dari tanggal 1. Iya, silakan dicoba saja, jawab Boy dengan nada enggak sabar. Saya tanya "Maksudnya silakan dicoba? Memangnya belum pasti tanggal satu bisa konek?" Dia ngulang lagi "Silakan dicoba aja." Ggggggrrrrrrrrrrrrrr... Akhirnya saya paksa lagi hingga dia mengaku, "iya udah pasti tanggal 1 bisa konek lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas ya kalau tanggal 1 gak bisa konek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfhkiMfHiUI/AAAAAAAAAiE/BrNt898c19g/s1600-h/axis.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 292px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfhkiMfHiUI/AAAAAAAAAiE/BrNt898c19g/s400/axis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330120697623054658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-3094427038125167725?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/3094427038125167725/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=3094427038125167725&amp;isPopup=true" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3094427038125167725?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3094427038125167725?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/HNbLO6X3PnY/hati-hati-pake-axis-gara-gara-promosi.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfhkiMfHiUI/AAAAAAAAAiE/BrNt898c19g/s72-c/axis.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/hati-hati-pake-axis-gara-gara-promosi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEMGQXw9eSp7ImA9WxJTGUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-2746285984326544653</id><published>2009-04-29T10:17:00.003+07:00</published><updated>2009-04-29T10:40:20.261+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-29T10:40:20.261+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KL (Kuala Lumpur) Photos&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SffIAJ-Jt6I/AAAAAAAAAhs/_UfJszwdpiA/s1600-h/KL1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SffIAJ-Jt6I/AAAAAAAAAhs/_UfJszwdpiA/s400/KL1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329948589018429346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SffItVo5oFI/AAAAAAAAAh0/JjgTFdiJePE/s1600-h/KL2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SffItVo5oFI/AAAAAAAAAh0/JjgTFdiJePE/s400/KL2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329949365244633170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SffL_EynYfI/AAAAAAAAAh8/PZGh8JnepKM/s1600-h/KL3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SffL_EynYfI/AAAAAAAAAh8/PZGh8JnepKM/s400/KL3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329952968494506482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-2746285984326544653?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/2746285984326544653/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=2746285984326544653&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2746285984326544653?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2746285984326544653?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/zqO0HaBxhCw/kl-kuala-lumpur-photos.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SffIAJ-Jt6I/AAAAAAAAAhs/_UfJszwdpiA/s72-c/KL1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/kl-kuala-lumpur-photos.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQCSX0_eSp7ImA9WxJTGU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-6761852629586180712</id><published>2009-04-28T22:13:00.007+07:00</published><updated>2009-04-28T22:26:08.341+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-28T22:26:08.341+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Langkawi Photos (2): Pantai Cenang dan Tanjung Rhu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcdkXcpLuI/AAAAAAAAAgc/SmPz5InKPWE/s1600-h/cenangrhu1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcdkXcpLuI/AAAAAAAAAgc/SmPz5InKPWE/s400/cenangrhu1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329761194622922466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfceU9BuebI/AAAAAAAAAgk/lVlBazeS9fE/s1600-h/cenangrhu2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfceU9BuebI/AAAAAAAAAgk/lVlBazeS9fE/s400/cenangrhu2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329762029344291250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfceicyQNYI/AAAAAAAAAgs/ig_MCxuBgaY/s1600-h/cenangrhu3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfceicyQNYI/AAAAAAAAAgs/ig_MCxuBgaY/s400/cenangrhu3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329762261207627138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sfce36rgnnI/AAAAAAAAAg0/ZLOybOkTRn8/s1600-h/cenangrhu4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sfce36rgnnI/AAAAAAAAAg0/ZLOybOkTRn8/s400/cenangrhu4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329762630009658994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcfEb_tPUI/AAAAAAAAAg8/7hksega9VJg/s1600-h/cenangrhu5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcfEb_tPUI/AAAAAAAAAg8/7hksega9VJg/s400/cenangrhu5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329762845111172418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcfQBs0IRI/AAAAAAAAAhE/3jsTpsi27uI/s1600-h/cenangrhu6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcfQBs0IRI/AAAAAAAAAhE/3jsTpsi27uI/s400/cenangrhu6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329763044211040530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcfbPvK16I/AAAAAAAAAhM/vIuhNvPUNW4/s1600-h/cenangrhu7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcfbPvK16I/AAAAAAAAAhM/vIuhNvPUNW4/s400/cenangrhu7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329763236957575074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sfcfmo2AMFI/AAAAAAAAAhU/KkbMKp8c8wI/s1600-h/cenangrhu8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sfcfmo2AMFI/AAAAAAAAAhU/KkbMKp8c8wI/s400/cenangrhu8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329763432675684434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcfySfN17I/AAAAAAAAAhc/T08twamly1E/s1600-h/cenangrhu9.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcfySfN17I/AAAAAAAAAhc/T08twamly1E/s400/cenangrhu9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329763632832960434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sfcf9DbUv0I/AAAAAAAAAhk/hHQTvcgsD7s/s1600-h/cenangrhu10.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sfcf9DbUv0I/AAAAAAAAAhk/hHQTvcgsD7s/s400/cenangrhu10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329763817768664898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-6761852629586180712?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/6761852629586180712/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=6761852629586180712&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6761852629586180712?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6761852629586180712?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/qZ8ChM59qUI/langkawi-photos-2-pantai-cenang-dan.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcdkXcpLuI/AAAAAAAAAgc/SmPz5InKPWE/s72-c/cenangrhu1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/langkawi-photos-2-pantai-cenang-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0UCSHk8eCp7ImA9WxJTGU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-1569889612809824031</id><published>2009-04-28T21:52:00.009+07:00</published><updated>2009-04-28T22:07:49.770+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-28T22:07:49.770+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Langkawi Photos (1) : Cable Car Makcincang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcYz_PftrI/AAAAAAAAAfM/YTVZgttEp88/s1600-h/langkawiCC1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcYz_PftrI/AAAAAAAAAfM/YTVZgttEp88/s400/langkawiCC1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329755965445093042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZBE-_ynI/AAAAAAAAAfU/4_hvY35Gzi8/s1600-h/langkawiCC2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZBE-_ynI/AAAAAAAAAfU/4_hvY35Gzi8/s400/langkawiCC2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329756190324804210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZPp89wPI/AAAAAAAAAfc/leNBdWZ7B_I/s1600-h/langkawiCC3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZPp89wPI/AAAAAAAAAfc/leNBdWZ7B_I/s400/langkawiCC3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329756440766562546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZeUCsaAI/AAAAAAAAAfk/S1E9X_z68WM/s1600-h/langkawiCC4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZeUCsaAI/AAAAAAAAAfk/S1E9X_z68WM/s400/langkawiCC4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329756692583049218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZtyktdpI/AAAAAAAAAfs/JFpPnPAiDtE/s1600-h/langkawiCC5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZtyktdpI/AAAAAAAAAfs/JFpPnPAiDtE/s400/langkawiCC5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329756958476826258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZ6ckKuXI/AAAAAAAAAf0/A49viPFgSrE/s1600-h/langkawiCC6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcZ6ckKuXI/AAAAAAAAAf0/A49viPFgSrE/s400/langkawiCC6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329757175907268978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcaX_aBJ7I/AAAAAAAAAf8/XdFmB2yfkr0/s1600-h/langkawiCC7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcaX_aBJ7I/AAAAAAAAAf8/XdFmB2yfkr0/s400/langkawiCC7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329757683476146098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcaxLMio_I/AAAAAAAAAgE/XMszP2-jVjg/s1600-h/langkawiCC8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcaxLMio_I/AAAAAAAAAgE/XMszP2-jVjg/s400/langkawiCC8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329758116137575410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcbTghtVVI/AAAAAAAAAgM/FXLqIB2h8sw/s1600-h/langkawiCC9.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcbTghtVVI/AAAAAAAAAgM/FXLqIB2h8sw/s400/langkawiCC9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329758705979053394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcbgPM5O2I/AAAAAAAAAgU/AASF_bAS7jU/s1600-h/langkawiCC10.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcbgPM5O2I/AAAAAAAAAgU/AASF_bAS7jU/s400/langkawiCC10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329758924666649442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-1569889612809824031?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/1569889612809824031/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=1569889612809824031&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1569889612809824031?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1569889612809824031?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/JnKdgmBOzOM/langkawi-photos-1-cable-car-makcincang.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfcYz_PftrI/AAAAAAAAAfM/YTVZgttEp88/s72-c/langkawiCC1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/langkawi-photos-1-cable-car-makcincang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0IESXc5eCp7ImA9WxJTGUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-4847832509597536187</id><published>2009-04-28T15:42:00.004+07:00</published><updated>2009-04-28T16:38:28.920+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-28T16:38:28.920+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Melaka Photos&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbC4fefgMI/AAAAAAAAAd0/Jp90EIhVmxk/s1600-h/melaka1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbC4fefgMI/AAAAAAAAAd0/Jp90EIhVmxk/s400/melaka1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329661484817416386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbDtvStABI/AAAAAAAAAd8/FubjdGDYS3g/s1600-h/melaka2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbDtvStABI/AAAAAAAAAd8/FubjdGDYS3g/s400/melaka2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329662399596003346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbJiFsl2eI/AAAAAAAAAeE/tI6o2giPmHU/s1600-h/melaka3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbJiFsl2eI/AAAAAAAAAeE/tI6o2giPmHU/s400/melaka3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329668796521503202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbKPV6QByI/AAAAAAAAAeM/ZrO9A4yPlBU/s1600-h/melaka4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbKPV6QByI/AAAAAAAAAeM/ZrO9A4yPlBU/s400/melaka4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329669573967873826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbK8xe0QpI/AAAAAAAAAeU/Lx0EwGU--ok/s1600-h/melaka5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbK8xe0QpI/AAAAAAAAAeU/Lx0EwGU--ok/s400/melaka5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329670354463113874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbLNj4komI/AAAAAAAAAec/0kr9ytLT1dE/s1600-h/melaka6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbLNj4komI/AAAAAAAAAec/0kr9ytLT1dE/s400/melaka6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329670642870821474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbLicmBCWI/AAAAAAAAAek/TFD9zByfDRk/s1600-h/melaka7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbLicmBCWI/AAAAAAAAAek/TFD9zByfDRk/s400/melaka7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329671001691195746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbMG3gYYsI/AAAAAAAAAes/B1CXobhdm5g/s1600-h/melaka8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbMG3gYYsI/AAAAAAAAAes/B1CXobhdm5g/s400/melaka8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329671627390608066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbNBlfblOI/AAAAAAAAAe0/tQ317Kgkeiw/s1600-h/melaka9.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbNBlfblOI/AAAAAAAAAe0/tQ317Kgkeiw/s400/melaka9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329672636167066850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbNy9-IqDI/AAAAAAAAAe8/PrkuMo89jDM/s1600-h/melaka10.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbNy9-IqDI/AAAAAAAAAe8/PrkuMo89jDM/s400/melaka10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329673484551890994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbONOGWfwI/AAAAAAAAAfE/NFucMqFoAio/s1600-h/melaka11.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbONOGWfwI/AAAAAAAAAfE/NFucMqFoAio/s400/melaka11.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329673935557918466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-4847832509597536187?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/4847832509597536187/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=4847832509597536187&amp;isPopup=true" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4847832509597536187?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4847832509597536187?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/4M2_upvw_5I/melaka-photos.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/SfbC4fefgMI/AAAAAAAAAd0/Jp90EIhVmxk/s72-c/melaka1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/melaka-photos.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0EBRnk_eCp7ImA9WxJTFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-1261088855031853096</id><published>2009-04-24T12:01:00.003+07:00</published><updated>2009-04-24T12:07:37.740+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-24T12:07:37.740+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari keempat dan kelima: KL-Genting-KL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di KL, tugas pertama adalah mencari hotel. Jangan ditiru ya, kalau mau travel nanti sebaiknya booking hotel terlebih dahulu. Terutama di KL pada akhir pekan, ternyata cukup sulit mencari hotel. Singkat cerita, akhirnya kami memilih sebuah hotel yang agak jauh dari keramaian---karena semua hotel di daerah Bukit Bintang penuh---tetapi dekat LRT (MRT-nya Malaysia). Hotel Maluri namanya, salah seorang teman telah membaca tentang hotel ini di internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beres-beres di hotel, kami pun keluar. Cari makan, cari info. Pada saat ini masih belum tahu bagaimana cara menuju Genting Highland. Sudah baca sih mengenai harus naik bus menuju Skyway lalu naik cable car untuk naik ke atas, tapi naik busnya di mana? Akhirnya, setelah tanya-tanya, ternyata kita harus kembali lagi kita ke Puduraya. Di sini memang pusat segalanya. Maka, kalau cari hotel disarankan dekat-dekat sini saja, terutama buat yang mau travel lagi ke kota-kota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket bus ke Genting Highlands 8,5 RM sekali jalan, sudah termasuk biaya cable car (5 RM). Jarak antara KL-Genting sekitar 1 jam, pada saat kami pergi agak macet karena wiken. Ini seperti Puncak-nya Jakarta deh, daerah pegunungan yang dingin yang&lt;br /&gt;disulap menjadi pusat entertainment dan perjudian. Pada jam 11 ketika kami membeli tiket bus, bus selanjutnya yang available adalah jam 14.30. Karena itu, biar lebih aman kami pun langsung membeli tiket kembali ke KL, yaitu bus terakhir pukul 20.00. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat ke Genting ada waktu jalan-jalan di sekitar Puduraya, kami memilih mengunjungi Bukit Bintang lagi, daerah pusat perbelanjaan dan Chinatown. Di sini bisa mall-hopping, ada Pavillion, KL Plaza, Sungei Wang, dll. Bisa nyari Vincci di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Genting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngapain sih ke Genting? Itu kan tempat judi. Yah, gitulah. Udah tahu begitu kami tetap mau datang, ya namanya juga belum pernah. Penasaran kan pengen tahu seperti apa, apalagi banyak orang Indonesia yang datnag ke sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah pertama kali aku merasa sangat bosan dalam trip ini. Khususnya ketika berada di dalam Kasino-kasino yang gemerlapan. Alat-alat permainan beraneka ragam yang membuatku merasa asing karena tak satu pun kukenali. Roulette, jackpot, angka-angka besar dan kecil, angka-angka warna-warni, kartu, dadu berbagai bentuk, dan orang-orang Cina mengadu nasibnya. Di sinilah tak satu pun kulihat wanita berjilbab (ya iyalah kaliii), tidak seperti di tempat-tempat lain di Malaysia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk sampai ke sini, selain apabila Anda naik mobil pribadi, maka harus nyambung pake cable car (setelah naik bus). Cable car-nya cukup jauh, sekitar 20 menit. Yang ini lebih slow dibanding cable car yang di Langkawi dan malah membuat aku lebih gugup. Kalau yang Langkawi aku santai-santai saja, bahkan sibuk motret ketika teman-teman pada ketakutan. Kalau cable car yang ini aku agak merasa khawatir dengan bunyi nget ngot nget ngot seperti besi tua ketika cable car digeret ke atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah pesan bus pukul 20.00, maka waktu yang kita miliki cukup banyak. Sampai bingung mau ngapain lagi, liat kasino sudah, liat entertainment park sudah, keliling-keliling naik trem wisata untuk merasakan udara yang sejuk dan berkabut, sudah. Akhirnya, shopping lagi deh. Di sini ada toko yang menjual cemilan yang sangat lengkap, dan juga ada sebuah toko menjual teh Cina yang antik. Kami mencoba guilin kau yang enak banget. Harganya juga mahal, 8 RM satu mangkok bow. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu berakhir di Petaling Street, sebuah jalan yang ramai sekali dengan pedagang kaki lima dan toko-toko. Mirip seperti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar Baru. Ini daerah Chinatown deh, banyak makanan Chinese yang enak. Ini bukan pertama kalinya kami mampir ke Petaling. Karena dekat dengan Puduraya, kadang sambil menunggu jadwal bus bisa mencuri waktu untuk jalan-jalan ke sini. Malam ini kami mencoba nasi claypot ayam, semacam nasi campur atau nasi hainam ayam yang dimasak langsung dan dihidangkan dengan claypot yang masih berasap-asap. Enak banget deh apalagi sehabis hujan, ditambah dengan semangkok sayur asin (ham choi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuala Lumpur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, masih banyak waktu untuk jalan-jalan di KL sebelum say goodbye to Malaysia. Pukul 20.50 pesawat kami, itu berarti pukul 18.00 sudah harus berangkat ke airport. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kami jalan di Suria KLCC, mal di bawah twin tower (menara Petronas) yang terkenal itu. Tempatnya menyenangkan, malnya bagus. Terutama yang membuat aku paling senang adalah Kinokuniya-nya. Boleh dibilang adalah tempat kedua dimana aku merasa sudah mati dan masuk surga hehehe (setelah toko minuman di Langkawi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas di sini kami pindah ke Jusco, sebuah dept store yang dekat dengan hotel kami. Kenapa ke sini? Karena di sini ada Vincci, dan dari kemarin udah masuk beberapa Vincci belum juga ketemu yang cocok.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masih ada waktu, kami pun duduk di Old Town White Coffee, outlet ngopi milik Malaysia sendiri. Keren euy, tempatnya bagus, layak untuk jadi tempat kongkow, selevel Starbucks. Tapi guess what, harganya murah. 1 cangkir kopi 2,5 RM (kira-kira&lt;br /&gt;8 ribu rupiah deh). Dan rasanya enak. Orang-orang Malaysia senang nongkrong di sini. Ngopi dengan roti bakar isi kaya yang terkenal sambil ngerokok. Buat apa ke Starbucks kalau ada beginian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cafe seperti ini bisa dibikin di ruko, di pinggir-pinggir jalan di Bukit Bintang yang ramai pun banyak cafe yang menaruh kursi-kursinya di pinggir jalan. Bisa gak dibayangin kalau itu di Jakarta? Agak sulit ya? Semua cafe di Jakarta di dalam mal, &lt;br /&gt;tidak dalam mal pun, misalnya di ruko-ruko, pasti di indoor. Yah, kalau di outdoor banyak pengemis kali ya... banyak debu pula, tukang parkir yang teriak-teriak, dll.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahh itulah negara kita tercinta. Meskipun banyak pengemis, banyak pula Alphard dan Jaguarnya. Di Malaysia selama lima hari saja, aku baru beruntung melihat 1 Jaguar saja. Mereka suka menggunakan mobil-mobil kecil yang irit bensin dan irit space parkir. Mobil-mobil seperti Kancil atau Ceria yang tidak begitu diminati di Indonesia, banyak terlihat di sana. Fashion yang dikenakan orang Malaysia pun biasa-biasa saja. Tidak terlalu wah. Blackberry tidak sebanjir di Jakarta. Tetapi, dengan penghasilan rata-rata 3000 RM (sekitar 9 jutaan rupiah), dan harga transportasi serta makanan yang terjangkau, dugaan saya rakyat Malaysia bisa menabung lebih banyak dibanding kita. Untuk membeli rumah, membeli mobil, dan jalan-jalan ke luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, surprisingly, Malaysia cukup menyenangkan. Negara yang identitasnya dibangun oleh 3 etnis dominan dengan budayanya masing-masing. Melayu, China, dan India. Di beberapa tempat kamu akan lupa sedang berada di Malaysia, karena orang-orang Cinanya berteriak dengan bahasa Kanton, dengan kekasaran khas Hongkong ketika menghidangkan makanan. Dan di tempat-tempat lain, bau bawang bombay menguasai udara, dan kamu dikelilingi orang-orang berkulit sangat gelap, sehingga kamu mengira sedang berada di India. Biar gimana pun, salah satu faktor yang membuat Malaysia menyenangkan, adalah makanannya. Chinese food-nya cocok dengan lidah aku, roti canai, teh terik, bakut teh, semuanya enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(the end)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-1261088855031853096?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/1261088855031853096/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=1261088855031853096&amp;isPopup=true" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1261088855031853096?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1261088855031853096?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/ZBgpuO-mTsI/hari-keempat-dan-kelima-kl-genting-kl.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/hari-keempat-dan-kelima-kl-genting-kl.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck4HQXw_fyp7ImA9WxJTFEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-2306308013895347457</id><published>2009-04-23T11:15:00.006+07:00</published><updated>2009-04-23T11:28:50.247+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-23T11:28:50.247+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari ketiga: Langkawi-Kuala Perlis-Arau-Kangar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua di Langkawi, masih ada waktu untuk jalan-jalan sebelum bertolak lagi ke destinasi selanjutnya. Selanjutnya agendanya adalah kembali lagi ke KL untuk jalan-jalan di KL sendiri dan ke Genting. Sesuai dengan rencana, kami ingin mencoba &lt;br /&gt;kereta api di Malaysia. Bila perginya naik bus, pulangnya ingin naik kereta. Biar lengkap semua moda transportasi dicobain. Kereta terdekat dari Kuala Perlis adalah dari stasiun Arau, pukul 17.30 tujuan Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, menurut itung-itungan waktu, paling tidak jam 15.00 kita sudah harus cabut dari Langkawi. Itu berarti, waktu kita tinggal sekitar 4 jam. Karena, biasalah, sehabis breakfast dan beres-beres, tak sadar waktu sudah pukul 11.00. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pilihan naik taksi dan nyewa mobil yang nyetir sendiri itu, ada satu lagi paket kendaraan yang bisa dipilih, yaitu menyewa mobil (dan disetirin) selama 4 jam 100 RM. Karena pas dengan sisa waktu yang kami punya, ya udah kami ambil paket yang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Langkawi banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi. Ada Danau Dayang Bunting, bisa juga mengambil paket-paket yang banyak ditawarin, seperti island hopping (lewatin pulau-pulau kayak di pulau Seribu gitu), paket menyusuri hutan bakau (mangrove), Cable car dan daerah Makcincang dan sekitarnya (ini sudah kemarin), pantai kok, dan Pantai Tanjung Rhu. Dengan waktu yang terbatas, maka kita harus pandai memilih tempat yang akan kita kunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan percaya kalau ada yang bilang enggak perlu ke Tanjung Rhu. Mereka akan bilang alasannya karena sepi. Di sana hanya ada 2 resort, Four Season dan Tanjung Rhu Resort. Dua-duanya sangat high class, di atas bintang lima kali ya. Publik tidak boleh masuk, tetapi untuk Tanjung Rhu resort, kita bisa masuk ke pantainya dari pantai di sebelahnya yang merupakan pantai umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai Tanjung Rhu sangat indah. Inilah pantai yang lebih mirip dengan yang ada di film. Tempatnya sepi. Warnanya biru dan hijau benderang, dilapisi putih berkilauan di bawahnya, semuanya menggaungkan kemalasan dan kedamaian di udara. Hanya ada beberapa tamu hotel yang berenang di pantai, bule-bule kaya dengan bikini. Puas deh menikmati pantai ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kami memilih melihat Air Terjun Temurun, yang menurut rekomendasi orang hotel paling bagus. Air terjun lain Telaga Tujuh bisa dilihat dari atas ketika naik cable car. Di Air terjun Temurun kami hanya sebentar, kira-kira 30 menit, puas berfoto-foto, bernarsis-narsis ria, kami pun bertolak ke obyek selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Pantai Tengkorak, juga rekomendasi orang hotel, pantai ini kecil dan tidak begitu bagus. Hanya sejenak, kami pun lanjut. Bapak sopir kami merekomendasikan melihat Pantai pasir Hitam juga, meskipun tidak bagus-bagus banget, tapi tidak ada salahnya mampir sebentar. Ya, gitulah... gak ada apa-apanya, hanya pantai berpasir hitam (kalau di kita, jadi pantai yang kotor, tetapi di sana bisa dijadikan obyek, hihihi, kreatif). Selanjutnya kami hendak mengunjungi sebuah taman buah (MARDI) tapi ternyata tutup. Padahal itu pun waktu kami tidak banyak lagi, karena setelah itu masih mau mampir ke Billion, sebuah supermarket duty free untuk membeli barang yang belum sempat dibeli kemarin. Wah, empat jam benar-benar singkat, lalu kami kembali ke hotel, ambil barang, dan bertolak ke jetty point, untuk menyeberang kembali ke Kuala Perlis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kuala Perlis naik taksi ke stasiun kereta api Arau 24 RM. Cukup jauh juga ternyata. Sampai di sana reaksi kami semua sama. "Hah? Kecil banget?" Stasiun keretanya hanya seperti sebuah pondok kecil, sebuah pintu masuk yang mengantar kita ke sebuah rel kereta, dimana di sampingnya ada beberapa bangku saja untuk menunggu kereta. Di sisi kanan sebuah pos untuk membeli tiket. Saat itu kira-kira pukul 16.30, kami mau membeli tiket pukul 17.30. Nekad banget ya... (khas gue nih, traveller last minute hehehe) Dan benar. Tiket ke KL habis. Biasanya tidak begini, katanya. Karena wiken, banyak yang 'turun' ke KL. Yang tersisa hanya tempat sleep yang di atas, tinggal tiga, mau diambil enggak? Harus segera, karena di belakang kita sudah ada yang mengantri dan mau mengambil apabila kita tidak mau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku udah pernah naik kereta di bagian upper sleep, waktu dulu dari Bangkok-ChiangMai. Aku gak suka, rasanya sempit, gak bisa duduk, sejak naik kereta hingga tiba harus berbaring terus. Perjalanannya cukup jauh, karena naik kereta lebih slow daripada bus, dan banyak berhentinya. Kami sebenarnya lebih memilih yang duduk, ya sudah akhirnya diputuskan tidak jadi. Kami kembali ngebis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Arau naik bis menuju terminal Kangar. Ada bis umum, tarifnya 1,8 RM. Bisnya keren banget lho, sumpah, kita gak tahu kalau itu bis umum. Kayak bus pariwisata gitu deh, judulnya Mara Liner. Ketika udah naik ke bis, kami dimarahin kondekturnya &lt;br /&gt;karena lama. Abis pake terpesona dulu, ragu-ragu dulu, baru nyetopin busnya sih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diturunkan tidak di terminal bus Kangar. Dari tempat turun harus berjalan sekitar 10 menit. Inilah sebabnya kalau travel begini sebaiknya membawa backpack. Kalau koper ataupun tas garet bayangkan repotnya kalau harus jalan gini. Waktu itu aku sangat buru-buru karena masih belum ada clue mengenai terminal maupun busnya. &lt;br /&gt;Kami seperti terdampar di sebuah kota kecil yang asing. Karena trauma kehabisan tiket kereta, ketika ditawari tiket oleh pemilik warung kecil tempat kami makan di dekat stasiun Arau itu, kami ambil. Dengan harga 45 RM. (harga resmi 42,8 RM) Biar &lt;br /&gt;gak usah buru-buru rush ke terminal, gak apa-apa deh. Tetapi setelah itu aku sempat worry, gimana kalau kita ditipu dll, tapi ternyata segalanya baik-baik saja. Akhirnya kami naik bus yang benar, dan tiba di tujuan dengan selamat keesokan harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-2306308013895347457?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/2306308013895347457/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=2306308013895347457&amp;isPopup=true" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2306308013895347457?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2306308013895347457?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/rhMTFqjJTL4/hari-ketiga-langkawi-kuala-perlis-arau.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/hari-ketiga-langkawi-kuala-perlis-arau.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YBRHc_eyp7ImA9WxJTFEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-4431658553273286501</id><published>2009-04-22T10:44:00.002+07:00</published><updated>2009-04-23T11:32:35.943+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-23T11:32:35.943+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari Kedua: Kuala Perlis-Langkawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara menuju Langkawi, sebuah pulau di sebelah barat peninsula Malaysia, yang sudah tidak jauh dengan perbatasan Thailand. Kami memilih Kuala Perlis karena dari sini jarak penyeberangan dengan ferry paling pendek. Harga tiket bus KL-Kuala Perlis 42,8 RM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari KL menuju Kuala Perlis memakan waktu sekitar 7-10 jam, tergantung supirnya. Kami dijadwalkan tiba di Kuala Perlis keesokan paginya pukul 07.30, tetapi you know what? Pukul 04.30 kami sudah sampai. Dasar sopirnya tukang ngebut. Pantas aja aku gak bisa tidur dalam perjalanan itu, menjelang tiba baru saja mulai terlelap, eh tiba-tiba harus dibangunkan dengan paksa karena sudah tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 04.30 pagi kehidupan di sana belum bermula. Semuanya masih gelap gulita, tidak ada bangunan yang menyala. Untunglah kami diberitahu seorang Malaysia yang baik hati, yang sebenarnya hendak menawarkan penyewaan mobil, bahwa di dekat situ ada kantin yang sudah buka. Yah boleh deh, daripada duduk di terminal yang gelap itu. Ternyata kantin itu adalah di depan jetty point untuk naik ferry. Ketika kami tiba mereka baru bersiap-siap untuk buka. Yah, minimal bisa duduk sejenak menunggu jetty point yang buka pukul 07.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pukul 07.00 baru terlihat ada keramaian di jetty point itu. Ferry pertama berangkat pukul 07.30. Harga tiket ferry 18 RM. Ternyata ferry-nya jauh juga, jaraknya 1 jam perjalanan. Kesempatan deh, buat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Langkawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu (mungkin sekitar 10 tahun yang lalu) ada sebuah film Mandarin yang diperankan Richie Ren yang mengambil lokasi syuting di sebuah pantai di Langkawi. Melihat keindahan pantai di film itu, banyak yang ingin mengunjungi Langkawi. Termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di Langkawi sekitar pukul 08.30. Untunglah di sini kami sudah book hotel sebelumnya, khawatir tidak mendapatkan kamar. Di jetty point kami sarapan dulu, santai-santai dulu sambil membicarakan itenary. Hari ini sudah dua kali makan roti canai, tadi di Kuala Perlis, dan sekarang di Langkawi. Roti canai di sini enak-enak, murah lagi. Rata-rata 1 porsi 1 RM (sekitar Rp 3.200). Demikian pula teh tarik. Enak banget, dan fresh! Harga rata-rata 1 - 2 RM (Ringgit Malaysia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kami pun check in dan segera bersih-bersih. Ternyata, hotel yang kami pesan dari internet ini, tidak terletak di dekat pantai, tetapi deket kota. Nama hotelnya Bayview Hotel. Dekat hotel ini banyak toko duty free yang menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Langkawi, selain pantainya yang indah, di sini juga surga duty free. Jadi, buat yang tujuannya berbelanja, bolehlah menginap di hotel tempat kami menginap itu. Bagi yang lebih suka kamar hotel/motel/penginapannya menghadap pantai, datanglah ke Pantai Cenang. Di sini ada sebuah daerah pantai dengan cafe-cafe seperti typical sebuah pusat keramaian daerah pantai, seperti Kuta, Phuket, Samui, dll. Hanya saja, skalanya tidak sebesar ketiga contoh yang saya sebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini ada cafe-cafe, restoran seafood, toko-toko souvenir, kantor tour, dll. Beberapa cafe menyediakan tempat duduk di pantai, dengan kaki kita menyentuh pasir Langkawi yang sangat putih dan halus. Rasanya terasa sangat lembut, bagaikan emas putih, hehehe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;What to do in Langkawi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berdandan rapi, mulailah kami mengeksplor Langkawi. Transportasi di Langkawi agak merepotkan, tidak ada bus. Disarankan sih menyewa mobil, 50 RM satu hari, tetapi harus nyupir sendiri. Tidak ada yang mau menyetir di antara kami, jadi ya udah, terpaksa deh naik taksi ke tujuan-tujuan kami. Di sini taksinya sudah memiliki harga yang standar, jadi tidak perlu kuatir. Mereka punya list harga dari sini ke sini dengan berapa jumlah penumpang, dll. Daftar harga ini bahkan bisa kita tanyakan di hotel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama kami mengunjungi Langkawi Cable Car, di mana kita bisa naik cable car (30 RM) ke atas puncak gunung untuk menikmati pemandangan yang luar biasa di bawah. Tidak hanya cable car, di atas puncak Makcincang ini dibuat sebuah jembatan yang sangat spektakuler, dan tempat menikmati pemandangan. Semua fasilitas ini belum lama dibangun, merupakan salah satu masterpiece terakhir perdana menteri sebelum Najib Razak yang baru terpilih belum lama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan keseriusan Malaysia di bidang pariwisata. Promosi-promosi mereka di luar negeri juga sangat heboh. Banyak orang Taiwan sangat penasaran ingin datang ke Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas menikmati pemandangan dari ketinggian 7,000-an meter di atas permukaan laut, kami pun nyambung lagi naik taksi ke pantai Cenang. (Dari Makcincang ongkos taksi ke sini 26 RM). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini juga banyak toko duty free. Yang menurut aku sangat mengagumkan adalah koleksi minuman beralkohol serta coklat. Aku sempat merasa bagaikan sudah mati dan masuk surga di salah satu toko minuman. Belum pernah aku melihat minuman yang begitu banyak, begitu lengkap, begitu indah, berkilauan dengan botol yang bentuknya lucu-lucu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harganya pun murah. Jauh lebih murah daripada di Indonesia. Namanya juga duty free, bebas pajak. Kita bisa memperoleh red wine (yang kayaknya cukup baik---maaf aku tidak begitu menguasai dunia wine) dengan harga di bawah Rp 100.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi cokelatnya pun tidak kalah. Cokelat-cokelat impor, mostly. Cokelat dengan liquor pun, begitu lengkap. Sebut saja, Jack Daniel, Remy Martin, Contreou, Southern Comfort, wah, apa lagi ya, maaf sekali lagi, enggak terlalu menguasai, semua ada versi cokelatnya. Bungkusnya pun cantik-cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga semua koleksi minuman beralkohol itu dalam bentuk mini. Botol-botol kecil sekecil botol parfum. Aduh, lucunya... Rasanya pengen dibawa pulang semuanya... tapi mau taruh di mana? Seandainya punya rumah yang bagus dengan bufet yang bagus pasti cantik buat dipajang di sana. Tetapi untuk membawa pulang minuman beralkohol juga ada batasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keluar dari Langkawi, minimal kita harus menginap 2 x 24 jam di Langkawi untuk mendapatkan bebas pajak. Ketika keluar dari Langkawi ada petugas yang memeriksa. Tunjukkan tiket (ferry) ketika datang ke Langkawi atau bon hotel untuk membuktikan Anda tinggal lebih dari 2 hari. Bila tidak, Anda harus membayar pajak minuman. Bila Anda cuma stay 1 hari, mintalah kerjasama orang hotel untuk membuatkan bon 2 hari. Biasanya bisa kok...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keluar dari Malaysia, minuman itu sebaiknya dimasukkan ke dalam bagasi. Untuk hand carry ada batas 1 liter untuk wine, untuk alat-alat kosmetik biasanya 100 ml. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membeli sebotol red wine jenis Merlot dan beberapa cokelat liquor. Setelah capek belanja, kami duduk di salah satu cafe yang menghadap pantai, atau persisnya berada di pantai, menikmati sore yang indah sambil minum bir dan ngemil french fries, menunggu turunnya sang surya (sunset). Adakah yang lebih menyenangkan dari ini? Angin semilir membuai, musik pantai mengalun dari kejauhan, pemandangan yang indah, beberapa orang bermain banana boat dan parasailing. Pantai ini tidak terlalu ramai, tidak seperti Phuket/Kuta/Pattaya, di sini lebih sepi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 20.00 kami pun makan malam di Lucky Seafood yang tidak jauh dari sana. Ini adalah restoran seafood ala Chinese, masakannya enak-enak, cocok dengan seleraku. Kami memesan tim ikan yang cukup mewah. Beginilah cara yang indah mengakhiri hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-4431658553273286501?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/4431658553273286501/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=4431658553273286501&amp;isPopup=true" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4431658553273286501?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4431658553273286501?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/Eqiasx_dwVM/hari-kedua-kuala-perlis-langkawi-banyak.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/hari-kedua-kuala-perlis-langkawi-banyak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkIMSXoyfyp7ImA9WxJTE0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-5191608439291939112</id><published>2009-04-21T17:31:00.003+07:00</published><updated>2009-04-21T17:43:08.497+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-21T17:43:08.497+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Melancong ke Negeri Jiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sama seperti kamu, aku juga tidak pernah kepengen pergi ke Malaysia. Entah kenapa, sepertinya tidak ada yang menarik untuk dikunjungi. Tetapi karena mendapat ajakan dari teman, dengan tiket Airasia pulang pergi ke Kuala Lumpur hanya Rp 500.000, aku pun tidak mampu menolak. Ya, itung-itung refreshing dan tengok-tengok negeri jiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Step selanjutnya adalah menentukan tempat mana saja yang mau dikunjungi dan menghitung perkiraan biayanya. Untuk lima hari empat malam, destinasi yang kami pilih adalah: Melaka, Langkawi, Genting, dan KL tentu saja. Mengapa pilihan tempat-tempat ini? Well, nanti akan aku ceritakan satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil brosing-brosing, diperkirakan biaya sekitar 2 juta rupiah. Dan perkiraan itu ternyata tidak banyak meleset. Ya, bahkan tidak sampai segitu sudah cukup. Thanks to jemaat blogosphere tempat kami mendapatkan informasi tentang biaya-biaya tersebut. Karena itulah, maka aku juga mau share soal trip kami, barangkali bisa berguna buat yang mau trip ke Malaysia juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari pertama: KL-Melaka-KL-Kuala Perlis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal), terminal khusus airline-airline murah seperti Air Asia---bukan KLIA yang super keren---sekitar pukul 10.00 waktu Malaysia. Penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur memakan waktu 2 jam, dan ada beda waktu 1 jam, KL lebih cepat satu jam daripada Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari LCCT banyak bus menuju downtown KL, letak bandaranya sekitar 1 jam perjalanan dari kota. Kami memilih tujuan Puduraya, sebuah terminal di pusat kota KL, tempat kita akan naik bus menuju Melaka. Dari airport ke Puduraya naik bus Star Shuttle 8 RM (Ringgit Malaysia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Puduraya, wahhh suasananya kayak terminal blok M. Gaduh dan penuh calo. Begitu turun bus langsung banyak aja yang nawarin. Tempatnya gak keren deh, jauh dari elit. Cukup membingungkan di mana harus membeli tiket dll, jadi harus banyak menggunakan mulut untuk bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, kami pun telah membeli tiket bus menuju Melaka (yang perlu 2 jam perjalanan dari KL). Harga tiket 12,40 RM. Kami memilih bus Transnasional karena membaca rekomendasi dari internet, bus ini milik pemerintah, dan paling banyak pilihan trayeknya. Karena nanti malam langsung berangkat lagi ke Kuala Perlis (untuk menuju destinasi kedua: Langkawi) maka kami pun langsung membeli tiket pulang ke KL serta membeli tiket menuju Kuala Perlis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di terminal ini kita bisa menitipkan tas, tidak perlu membawa tas pakaian, bawa saja tas kecil seperlunya untuk jalan-jalan di Melaka. Toh nanti malam kembali lagi ke terminal ini untuk berangkat ke Kuala Perlis. Biaya penitipan tas 2 RM untuk satu hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Melaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa memilih Melaka? Melaka adalah salah satu kota tua di Malaysia yang kaya dengan peninggalan bersejarah. Tagline dalam brosur wisata Melaka "Visit Melaka means visit Malaysia" karena di sini masih terpelihara dengan baik bangunan-bangunan kuno. Mirip-mirip daerah kota di Jakarta, tetapi di sini skalanya jauh lebih besar dan rumah-rumahnya terpelihara dengan baik. Tak heran bila dia dinobatkan sebagai salah satu World Heritage City oleh Unesco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat wisata Melaka adalah daerah Chinatown, di sini terdapat gereja merah yang terkenal itu, Christ Church Melaka. Dari terminal bus, kita naik bus lagi nomor 17 tujuan Chinatown. Di sekitar sini banyak yang bisa dilihat, kalau punya waktu bisa jalan-jalan mengeksplore bangunan-bangunan kuno di sekitarnya. Tetapi bila waktu terbatas saja, pastikan mengunjungi Jonker Street. Di jalan ini penuh dengan toko-toko eksotis serta makanan yang enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang enggak boleh dilewatkan adalah restoran Jonker88 yang menamakan dirinya The Museum Cafe. Di dalamnya udah kayak museum, penuh dengan barang-barang antik, foto-foto jaman baheula, dan yang terpenting: makanannya enak banget. Jangan heran kalau pas Anda datang sedang terjadi antrian panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini sistemnya self-service, bukan duduk dan memesan. Anda harus mengantri dan menunggu makanan selesai dibikin, lalu dibawa ke tempat duduk. Makanan yang spesial adalah laksa Baba (laksa dengan kuah kari berisi seafood, kulit tahu, dll, yummy banget) dan cendol (cobain cendol durian). Masih banyak pilihan desert lainnya, tergantung selera masing-masing sih. Yang jelas, enggak rugi deh pergi jauh-jauh hanya untuk nyobain laksa dan cendolnya. Laksa, karinya berasa banget. Dan cendolnya, bahan-bahannya semua terasa sangat asli dan tradisional, gula jawa yang digunakan (namanya adalah gula melaka, dan merupakan salah satu komoditas terkenal juga), kacang merah serta cendolnya, dan esnya menggunakan snow, mantep deh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, waktu kami di Melaka tidak banyak. Mengingat bus ke Kuala Perlis jam 21.30, maka kami harus mengambil bus Melaka-KL yang pukul 18.00. Itu berarti kami hanya punya waktu 2 jam di Melaka, karena tiba di Melaka sudah pukul 16.00. Sayang banget deh, waktunya sangat singkat. Jadinya ya, aku memotret seperti orang gila. Apa aja dijepret, abis pemandangannya tidak sempat dinikmati, ya udah dibawa pulang aja dalam bentuk foto. Hihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-5191608439291939112?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/5191608439291939112/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=5191608439291939112&amp;isPopup=true" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5191608439291939112?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5191608439291939112?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/0zu0a1rRm2k/melancong-ke-negeri-jiran-mungkin-sama.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/melancong-ke-negeri-jiran-mungkin-sama.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YHQXw6eyp7ImA9WxVaE04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-4465448628257075049</id><published>2009-04-10T11:37:00.003+07:00</published><updated>2009-04-10T11:52:10.213+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-10T11:52:10.213+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kematian Yang Manis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikelilingi teman-teman terdekat, dan melakukan hal-hal gila yang tidak sempat kita lakukan, kira-kira itulah gambaran banyak orang tentang bagaimana menghabiskan saat-saat terakhir hidup di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sd7QJo24u2I/AAAAAAAAAdk/rZcFcBdZ5VA/s1600-h/200px-Barbarian_Oscar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sd7QJo24u2I/AAAAAAAAAdk/rZcFcBdZ5VA/s200/200px-Barbarian_Oscar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322920673603533666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kebetulan, atau mungkin juga tidak, aku menonton dua film ini dalam waktu berdekatan. Bucket List (2007) dan Les Invasions Barbares, sebuah film berbahasa Perancis yang memenangkan Best Foreign Film pada Oscar 2003. Heran kenapa baru sekarang kutonton, padahal DVD itu sudah enam tahun yang lalu aku beli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Bucket List (Jack Nicholson, Morgan Freeman) dua orang penderita kanker yang sisa waktunya di dunia ini tidak sampai setahun, memutuskan untuk melakukan hal-hal yang selalu ingin dilakukan sebelum di-kicked in the bucket (meninggal). Carter (Morgan Freeman) seorang biasa bertemu dengan Edward Cole (Jack Nicholson) seorang milyarder yang kemudian bersedia membiayai seluruh perjalanan dalam list. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Les Invasions Barbares, Remy, seorang dosen, profesor flamboyan yang sangat mencintai hidup, menderita kanker yang sangat parah dan juga tinggal menunggu kematian. Di sini diceritakan bagaimana putranya---seorang agen kapitalis yang sangat sukses yang hubungannya tidak baik dengannya---kemudian memberikan sang ayah saat-saat terindah dalam hidupnya dengan menghadirkan teman-teman terdekatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dalam Bucket List kedua tokoh setelah perawatan cukup segar dan kuat untuk menjalankan hal-hal dalam list, dalam Les Invasions Remy sudah sakit parah, harus terus berbaring ataupun diusung dengan kursi roda. Meskipun begitu, setiap hari teman-teman terdekatnya (yang datang dari berbagai daerah di dunia) datang mengunjunginya, dan mereka pun setiap hari berkelakar, soal seks, soal perempuan, soal hidup, soal perang, filsafat, aliran-aliran isme di dunia ini, dll percakapan kotor kaum terpelajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sd7QVRJjwKI/AAAAAAAAAds/SGxudhYE_bQ/s1600-h/200px-Bucket_list_poster.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sd7QVRJjwKI/AAAAAAAAAds/SGxudhYE_bQ/s200/200px-Bucket_list_poster.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322920873397829794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Remy meninggalkan kelas untuk terakhir kalinya untuk digantikan dengan dosen yang lebih muda, tampak sambutan dari mahasiswanya biasa-biasa saja. Dia juga tak sempat memenangkan penghargaan internasional yang katanya selalu jatuh pada orang Amerika. Pada akhir hidupnya Remy merasa gagal. Namun putranya tidak membiarkan dia meninggal dengan perasaan seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari terakhir Remy dihabiskan di sebuah rumah di pinggir danau yang sangat tenang, dengan dikelilingi teman-teman dekat yang setiap hari membuat dia tertawa, mereka bercanda pada malam-malam dengan api unggun. Betapa manisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dialog yang cerdas dalam film ini, seperti juga halnya dengan Bucket List. Film-film tentang kematian memang selalu sarat pesan tentang kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menonton Bucket List dua kali (soalnya di HBO sih) dan tidak pernah bosan, khususnya dengan Jack Nicholson. Nicholson adalah kekuatan utama film ini, seperti film-film dia yang lain. Gaya bicaranya, bahasanya, kharismanya, never tired of Jack Nicholson. Khas Nicholson, dialog dalam film ini bagus-bagus, lucu-lucu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang ada dalam Bucket List yang dibuat bersama Carter dan Cole?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The "Bucket List"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Witness something truly majestic&lt;br /&gt;   2. Help a complete stranger for a common good&lt;br /&gt;   3. Laugh till I cry&lt;br /&gt;   4. Drive a Shelby Mustang&lt;br /&gt;   5. Kiss the most beautiful girl in the world&lt;br /&gt;   6. Get a tattoo&lt;br /&gt;   7. Skydiving&lt;br /&gt;   8. Visit Stonehenge&lt;br /&gt;   9. Spend a week at the Louvre&lt;br /&gt;  10. See Rome&lt;br /&gt;  11. Dinner at La Cherie d'Or&lt;br /&gt;  12. See the Pyramids&lt;br /&gt;  13. Get back in touch (previously "Hunt the big cat")&lt;br /&gt;  14. Visit Taj Mahal, India&lt;br /&gt;  15. Hong Kong&lt;br /&gt;  16. Victoria Falls&lt;br /&gt;  17. Serengeti&lt;br /&gt;  18. Ride the Great Wall of China&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik kan listnya? Dalam film diceritakan bagaimana mereka mewujudkan list itu satu per satu dalam waktu yang singkat. Dan sambil melakukan itu, mereka berdua telah saling memahami dan saling belajar mengenai hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah menyenangkan dapat mewujudkan semuanya sebelum kita meninggal? Begitu juga dikelilingi teman-teman terdekat dan orang-orang yang kita cintai dan telah mengisi hidup kita dengan keindahan. Kira-kira begitulah gambaranku, dan mungkin juga banyak orang, tentang, kematian yang manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-4465448628257075049?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/4465448628257075049/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=4465448628257075049&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4465448628257075049?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4465448628257075049?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/BJ6ca9U267Q/kematian-yang-manis-dikelilingi-teman.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/Sd7QJo24u2I/AAAAAAAAAdk/rZcFcBdZ5VA/s72-c/200px-Barbarian_Oscar.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/kematian-yang-manis-dikelilingi-teman.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkMFQ306cSp7ImA9WxVaEUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-2772481791327219036</id><published>2009-04-08T11:49:00.003+07:00</published><updated>2009-04-08T13:00:12.319+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-08T13:00:12.319+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;South Korea Trip (3): Mount Seorak, Busan, dst&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di blog ini, kalau kamu perhatian, ada beberapa tulisan yang tidak diselesaikan. Seperti waktu janji mau upload foto ziarah, eh enggak jadi. Trus ada beberapa trip di dalam negeri yang tidak sempat ditulis, hehehehe dasar. Entah kenapa masih pengen &lt;br /&gt;ngelanjutin serial tulisan trip Korea ini. Mungkin demi SEO kali ya, karena tulisan apa pun pasti ada yang baca, dan catatan trip ini mungkin akan ada gunanya buat yang ingin melakukan perjalanan sendiri semi-backpacking ke Korea Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tulisan yang ketiga. Destinasi selanjutnya setelah tulisan pertama dan kedua, adalah Mount Seorak. Setelah sebotol soju dan hangatnya kasur serta ruangan di motel mengantarku tidur sangat nyenyak malam sebelumnya, hari ini rasanya aku udah siap menaklukkan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kita akan naik gunung. Tapi... ohhh makkk, kenapa pas banget, gw dapat mens???? Biasanya dia sering tidak teratur, eh giliran lagi jalan-jalan kenapa dia datang tepat waktu. (Pasti efek soju yang hangat). Ketepatannya kali ini benar-benar&lt;br /&gt;tidak diharapkan. Persediaan pembalut sih ada, tetapi tidak akan cukup. Harus segera beli di convenience store terdekat. Di Korsel, bahkan di gunung-gunung pun ada 7/11. Tidak perlu kuatir, tapi harganya mahal euy. Di sinilah gue membeli pembalut paling mahal yang pernah gue beli seumur hidup, yang isi 20 harganya sekitar Rp 50.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berangkat dari Chuncheon, dari motel kami naik taksi menuju terminal. Dari sana naik express bus (3 jam) sampai ke Sokcho. Di sini menunggu bus nomor 7 yang naik ke Mount Seorak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pengalaman kedinginan sejak kemarin---aku sudah cerita belum ya bahwa pakaian kami kurang memadai? Suhu udara sekitar 10-12 derajat celcius, tapi rasanya dingin banget. Mungkin karena angin. Di atas gunung pasti akan semakin dingin. Di terminal Sokcho itu ada sebuah toko yang menjual peralatan wamil (wajib militer). Di sana setiap pria yang mencapai usia dewasa (18 kali ya? hehehe sorry gak tahu), harus masuk wajib militer. Sehingga toko-toko yang menjual peralatan seperti ini pun bisa dijumpai di terminal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya masing-masing kami membeli sebuah topi yang ada kupingnya itu lho, buat menahan dingin, dengan bahan yang sangat hangat di dalamnya. Topi militer itu secara khusus kami minta dijahitkan bendera Korea, agar ada tanda mata Koreanya. Nah, buat yang sudah melihat foto gw di Facebook, sekarang jadi tahu deh gimana cara gw mendapatkan topi lucu itu hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mount Seorak, ada tiga track yang bisa diambil. Kalau punya banyak waktu, bisa mengambil jalur yang lebih menantang, yaitu 6 jam tracking dan view-nya luar biasa. Kami mengambil jalur-jalur yang lebih pendek. Yang 2,5 jam treking pada hari ini, dan besok paginya kami mengambil jalur yang naik cable car. Di puncak sini, pemandangannya awesome. Dan angin yang kencang membuat dingin sampai ke tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum naik, di lobby Mount Seorak (sebelum kita jalan lebih jauh dan memilih salah satu track, aku menyebutnya lobby aja deh) ada toko-toko yang menjual souvenir dan juga penjaja makanan kaki lima. Gw melihat sebuah gerobak yang mengepul-ngepul asapnya, lalu beberapa orang Korea membeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini adalah musim gugur, waktu terbaik untuk datang ke Seorak. Wisatawan domestik dan mancanegara datang ke sini. Lebih banyak sih orang-orang Korea sendiri, orang-orang tua dan muda mengenakan fashion naik gunung. Pemandangan yang menyenangkan. Bahkan sampai sekarang masih menyenangkan memikirkan pergi ke gunung dan bersantai pada akhir pekan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Seoraksan dan keindahannya bisa dibaca di tempat-tempat lain, di sini aku hanya ingin menambahkan soal makanannya. Sebelum naik ke lobby itu pun, penjaja makanan ada di kiri dan kanan jalan. Banyak juga yang menjual ginseng, namanya juga negeri ginseng. Ada warung makan pinggir jalan dengan tempat duduk menghadap pemandangan gunung-gunung, sangat eksotis. Mereka membakar ikan kecil-kecil yang kurus-kurus berwarna hitam, yang kayaknya makanan khas di Seorak. Tentu saja aku nyobain. Ditambah dengan soju, sambil menahan dingin, wah, nikmat banget deh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke gerobak yang mengepul-ngepul di lobby tadi, gw jadi penasaran dong, apa sih yang dibeli orang. Apalagi gw lagi kedinginan, gw pun mendekat ke arah asap yang hangat itu. Gw liat bentuk makanannya aneh banget, kayak kacang tapi bukan kacang. Kata temen gw kayak kecoa. Asli, kayak kecoa. Ngeliatnya aja teringat Fear Factor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu gw tanya tukang jualannya, ini apa sih? (in english). Tentu saja dia enggak mengerti bahasa Inggris, lalu dia menjawab dengan bahasa Korea, yang tentu saja gw gak mengerti. Akhirnya gw beli juga soalnya dia udah tampak bete dan gak ada waktu melayani tukang nanya-nanya dengan bahasa yang aneh ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 won untuk segelas kecoa hangat yang mengepul-ngepul. Kira-kira 20.000 rupiah. Cemilan penghangat badan yang disukai orang Korea. Kira-kira efeknya buat apa ya? Apakah sehat? Protein? Whatever. Menurut Kavi (temen dari Laos) itu adalah kepompong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bener, berarti gw udah pernah makan kepompong. Gw cobain, rasanya kayak kacang rebus, tapi semakin lama dimakan, rasanya boring juga. Dalam grup gw enggak ada yang berani coba. Lihat bentuknya aja udah pada males. Gw paksa Kavi menghabiskannya, tapi dia juga gak mau. Akhirnya gw buang juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seoraksan is the highest mountain in the Taebaek mountain range (태백산맥) in the Gangwon province in eastern South Korea. It is located in a national park near the city of Sokcho. After the Hallasan volcano on Jeju Island and Jirisan in the south, &lt;br /&gt;Seoraksan is the third highest mountain in South Korea. The Daechongbong Peak (대청봉) of Seoraksan reaches 1,708 metres (5,603 feet). The Taebaek mountain chain is often considered the backbone of the Korean peninsula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The national park attracts many national and international tourists all year round, but the main season for Seoraksan national park is autumn. The autumn colours in the area are considered amongst the most beautiful in Korea. The red and yellow forest is interrupted by rocks and small mountain streams flow amidst this. During the rainy season in summer—especially after a typhoon—these streams can swell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhaps the most visited part of the mountain is the main entrance valley to the National Park, a fifteen minute drive from Seokcho city. The valley runs west to east with a paved road leading up to the park's entrance gate. This valley contains &lt;br /&gt;many beautiful sites and is well worth a day visit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit kutipan dari Wikipedia. Kalau minat bisa baca terusannya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Seoraksan"&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, karena trip ini udah lama juga, gw akan menyelesaikan cerita trip ini di sini. Setelah dari Mount seorak, kami berpisah dengan Bayu, Nurul dan Kavi, pelajar Indonesia dan Laos yang studi di Korea. Teman-teman baru yang sangat baik &lt;br /&gt;dan banyak membantu. Mulai dari sekarang, we are on our own. Perjalanan kita lanjutkan ke Gyeongju, the best place for me, dan sudah pernah kutulis sebelumnya di blog ini meskipun pendek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Gyeongju lanjut ke Busan (naik bus), kota pelabuhan yang garing dan terik, namun di sana ada pantai yang terkenal (Haeundae Beach), yang luar biasa semarak pada musim panas, yang fotonya ada di email-email, dengan payung-payung warna-warni&lt;br /&gt;dan bikini di mana-mana. Sayangnya, tentu saja bukan itu pemandangan yang kami dapatkan. Kami tiba di sana sudah malam, pantai sudah sepi dan kehidupan malam di pinggir pantai tidak ramai lagi. Dan kami pun lelah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling saya ingat mengenai Busan adalah Jagalchi Market. Pasar ikan seperti Muara Karang, tapi tentu saja lebih modern, lebih bersih, dan lebih besar. View kota di ujung jalan dengan rumah yang bertumpuk-tumpuk, pria-pria gagah berani dengan&lt;br /&gt;kaos ketat dan sepatu bot. Wanita-wanita berdiri di depan warung-warung menawarkan mampir untuk makan seafood. Pilihan seafoodnya pun lebih beragam dan banyak seafood-seafood eksotis yang jarang bisa kita jumpai di tanah air, khususnya di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun mampir. Seafood eksotis yang segar, dipanggang di depan kita langsung, dengan bungkusan daun apa gitu (seperti dakgalbi), ditambah soju (tetep)---oya, ada yang belum tahu apa itu soju? Soju adalah bir Korea yang light, rasanya segar---wahhh enak sekali deh. Kenikmatan yang sulit dilukiskan, inilah enaknya liburan. Tiada lagi keraguan menghadang, kami pun mencoba kerang eksotis (entah apa namanya) yang dimakan mentah-mentah. Sumpah, gw hampir muntah. Rasanya enggak enak. Tapi setidaknya gw udah mencoba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Jagalchi marketi dapat di baca &lt;a href="http://www.lifeinkorea.com/travel2/pusan/21/"&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua di Busan kami mengunjungi Daejongdae. Lumayan, pemandangan laut dan karang. Worth it kok. Banyak yang bilang, ngapain ke Busan, kota pelabuhan kan? Busan adalah kota kedua terbesar di Korea Selatan setelah Seoul dan memiliki pemandangan yang khas. Minimal kalau dilihat di peta, rute kami memang nyambung, searah. Dari Busan bertolaklah kami, naik KTX, menuju Seoul. KTX adalah kereta supercepat (seperti JR Shinkansen di Jepang) yang kecepatannya mencapai 300 km per jam. Wawww... menyenangkan, melewati countryside Korea, pemandangan musim gugur yang tak akan kulupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tentang Seoul juga sudah pernah aku ceritakan di blog ini, meskipun sedikit. Catatan trip Korea akan aku sudahi di sini. Bagi yang tidak puas dan penasaran, bisa japri langsung. Itenary lengkap juga ada, silakan diminta, kalau beruntung akan aku berikan. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan lainnya tentang trip Korea Selatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://meidays.blogspot.com/2009/01/back-to-korea-jangan-terkecoh-dengan.html?showComment=1235961840000"&gt;Back to Korea&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://meidays.blogspot.com/2009/01/south-korea-trip-1-incheon-gapyeong.html"&gt;South Korea Trip (1): Incheon - Gapyeong&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://meidays.blogspot.com/2009/01/south-korea-trip-2-pulau-nami-nami-som.html"&gt;South Korea Trip (2): Pulau Nami (Nami som) dan Chuncheon Dakgalbi Street&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://meidays.blogspot.com/2008/11/gyeongju-museum-without-walls-ketika.html"&gt;&lt;br /&gt;Gyeongju, the museum without walls &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://meidays.blogspot.com/2008/11/welcome-to-planet-seoul-all-beautiful.html"&gt;&lt;br /&gt;Welcome to Planet Seoul, All the Beautiful People&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-2772481791327219036?l=meidays.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://meidays.blogspot.com/feeds/2772481791327219036/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3720752&amp;postID=2772481791327219036&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2772481791327219036?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2772481791327219036?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/t6LShLlghyk/south-korea-trip-3-mount-seorak-busan.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="08942238857596726072" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://meidays.blogspot.com/2009/04/south-korea-trip-3-mount-seorak-busan.html</feedburner:origLink></entry></feed>
