<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DEUNQX85fip7ImA9WhRaE0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752</id><updated>2012-02-16T19:44:50.126+07:00</updated><title>Mei Days</title><subtitle type="html" /><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.meisia.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>370</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/MeiDaysIsBack" /><feedburner:info uri="meidaysisback" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;CEcCQ3g6fCp7ImA9WhRXFk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-1833792546890646720</id><published>2011-12-23T16:19:00.002+07:00</published><updated>2011-12-23T16:21:02.614+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-23T16:21:02.614+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Real Salesperson&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman mengeluh tentang sulitnya mencari tenaga sales. Katanya, lulusan-lulusan perguruan tinggi keren saat ini tidak ada yang mau menjadi sales. Sales dianggap sebagai pekerjaan “kotor” yang harus mengejar target, mengetuk-ketuk pintu calon klien, menelepon orang-orang, menawar-tawarkan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mengusik saya, dan terutama ketika saya bertemu dengan seorang CEO sebuah perusahaan otomotif besar di Indonesia hari ini. Entah mengapa sehabis bertemu seorang CEO selalu bagaikan terinspirasi. Ada saja yang bisa kita petik dari seorang leader. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang CEO tersebut adalah mantan orang sales. Kemudian saya jadi teringat juga dengan beberapa orang yang saya kenal yang telah menjadi pucuk pimpinan, yang tadinya adalah orang sales.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuat saya merenung, mengapa banyak yang tidak mau menjadi sales? Jangan-jangan karena menjadi sales memang tidak mudah. Tetapi seorang sales yang berhasil berpotensi menjadi CEO/pucuk pimpinan. Kalau dipikir-pikir memang kualitas seorang sales banyak yang sama dengan kualitas yang diperlukan untuk menjadi CEO, misalnya saja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Customer oriented&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sales yang baik harus menempatkan pelanggan dan pelayanan  sebagai prioritasnya. Hal ini juga harus dilakukan seorang CEO. Sang CEO yang tadi saya ceritakan di atas bahkan memberian nomor HP nya kepada saya (kebetulan saya pemakai produk yang dia jual) untuk dapat menghubungi dia langsung apabila ada masalah dengan produk. Sales sejati, demikian pula CEO, tahu bahwa customer adalah segalanya yang membuat bisnis bertumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Ulet&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sales sejati pantang menyerah, ulet mencari celah bagaimana mendapatkan sales/closing. Bagaimana membuka pintu untuk bertemu dengan potential customer, mempunyai berbagai trik untuk mendapatkan contact person, dan tak pernah menyerah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Kemampuan berkomunikasi&lt;/span&gt;, seperti mempengaruhi orang lain, meyakinkan orang lain.&lt;br /&gt;Salah satu kepuasan seorang sales adalah ketika berhasil membuat audience yang mendengarkan yakin pada apa yang kita sampaikan. Berhasil mempengaruhi audience agar percaya pada apa yang kita percaya adalah langkah awal untuk mendapatkan persetujuan penjualan. Ini adalah kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki seorang CEO juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya itu adalah 3 kualitas yang bisa saya point out, barangkali masih ada lagi. Kualitas di atas malah seharusnya dimiliki oleh semua divisi, tidak hanya sales. Semua divisi harus punya kualitas seorang sales, dan terlebih adalah pucuk pimpinan. Apalagi di era yang amat kompetitif saat ini, seorang CEO semakin dituntut untuk bisa jualan. Mereka harus bisa menangkap sales / prospek di mana saja mereka berada, dengan siapa pun mereka bertemu. “Kalau enggak jualan, kita enggak idup,” mengutip seorang CEO muda perusahaan digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apakah masih merasa Sales pekerjaan yang tidak keren? Pikirkan ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-1833792546890646720?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/1833792546890646720/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/12/real-salesperson-seorang-teman-mengeluh.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1833792546890646720?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1833792546890646720?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/SAO4EdbPrRQ/real-salesperson-seorang-teman-mengeluh.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/12/real-salesperson-seorang-teman-mengeluh.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE8AQ3k4eSp7ImA9WhRRF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-8607806902887451264</id><published>2011-12-01T16:44:00.002+07:00</published><updated>2011-12-01T16:47:22.731+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-01T16:47:22.731+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3 Model Bisnis Linkedin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-lVQjsoGqG-M/TtdM5YorKPI/AAAAAAAAA2M/r1jXWSevTUE/s1600/cliffordRosenberg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lVQjsoGqG-M/TtdM5YorKPI/AAAAAAAAA2M/r1jXWSevTUE/s320/cliffordRosenberg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681094003700476146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda, seperti juga saya, sudah menggunakan fasilitas gratis dari situs jejaring profesional Linkedin.com dan banyak merasakan manfaatnya. Namun pernahkah Anda bertanya-tanya, dari mana Linkedin memperoleh penghasilan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;income&lt;/span&gt;) apabila semua jasanya gratis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah 3 model bisnis (business model) Linkedin seperti dijelaskan langsung oleh Clifford Rosenberg, Managing Director Linkedin S.E. Asia &amp; Australia NZ. Hari ini saya berkesempatan bertemu dengan orang yang sangat spesial tersebut dalam kapasitas saya sebagai Editor in Chief &lt;a href="http://www.portalhr.com"&gt;PortalHR.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang belum mengerti apa itu model bisnis, model bisnis menjawab pertanyaan di atas tadi, yaitu dari mana datangnya uang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yaitu, dari 3 hal berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para rekruter&lt;/span&gt; dapat menggunakan jasa Linkedin untuk mengakses talent yang mereka minati secara global. Dengan menggunakan Linkedin, perusahaan bisa memperoleh passive candidate, yaitu orang-orang yang tidak sedang aktif mencari pekerjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Marketing Solution&lt;/span&gt;, yaitu beriklan kepada target yang tepat (Linkedin mempunyai audience yang sangat spesifik. Profesional, sebagian besar high level, dan rata-rata usia secara global adalah 40 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Premium user&lt;/span&gt;. Linkedin mempunyai fitur premium (berbayar) dengan fasilitas-fasilitas yang tidak dimiliki user biasa (gratis). Salah satu fasilitas adalah dapat mengirim in- mail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosenberg hadir di Jakarta dalam rangka peluncuran Linkedin versi Bahasa Indonesia. Ketika ditanya mengenai rencana bisnis di Indonesia, Rosenberg hanya menjawab bahwa peluncuran versi Bahasa Indonesia ini adalah langkah awal Linkedin untuk mengenal pasar Indonesia. Setelah mendengarkan (listen) dan mendapatkan insight pasar, barulah mereka akan meluncurkan strategi-strategi bisnis yang cocok dengan pasar Indonesia. Waw... kita tunggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-8607806902887451264?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/8607806902887451264/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/12/3-model-bisnis-linkedin-mungkin-anda.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8607806902887451264?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8607806902887451264?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/Dfu8CND1RSs/3-model-bisnis-linkedin-mungkin-anda.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-lVQjsoGqG-M/TtdM5YorKPI/AAAAAAAAA2M/r1jXWSevTUE/s72-c/cliffordRosenberg.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/12/3-model-bisnis-linkedin-mungkin-anda.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUYHQnw4eyp7ImA9WhRSGUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-8351621405466235212</id><published>2011-11-22T14:26:00.003+07:00</published><updated>2011-11-22T14:32:13.233+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-22T14:32:13.233+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika Josef Bataona Mulai Ngeblog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-m9fUtofFooA/TstPGc3jAbI/AAAAAAAAA2A/rwqJvglGotM/s1600/josefbataonatwitter.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-m9fUtofFooA/TstPGc3jAbI/AAAAAAAAA2A/rwqJvglGotM/s320/josefbataonatwitter.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677718727477625266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal pak Josef Bataona sudah lama, atau lebih tepatnya: mendengar namanya dan beberapa kali bertemu dengannya pada event-event HR. Jika Anda orang HR, besar kemungkinan setidaknya Anda pernah mendengar namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang lembut tutur katanya ini adalah salah satu tokoh HR yang penting di Indonesia. Namanya saja sudah cukup “menjual” untuk dipasang sebagai promosi event-event HR, entah itu sebagai keynote speaker ataupun pembawa materi utama seminar. Berbagai penghargaan di bidang HR telah diraihnya. (simak profil singkatnya di &lt;a href="http://www.portalhr.com/blog/josefbataona/profile/"&gt;Josefbataona.com&lt;/a&gt;). Berbagai hal positif sudah banyak saya dengar tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika berkesempatan bertemu dan mengenal lebih dekat dengan pak Josef saya pun sangat bersemangat. Setelah dua kali pertemuan kami pun sepakat untuk membuat blog pak Josef di Portalhr.com. Ide untuk sharing cerita dan wisdom dari pak Josef Bataona kami sambut dengan sangat antusias hingga pada pertemuan kedua kami sudah langsung datang membawa konsep blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu saya dibuat amat sangat terkejut karena pak Josef mengatakan ingin belajar menulis dari saya! Hah, siapakah saya ini, sehingga seorang tokoh besar HR ingin belajar dari saya? Ilmu apa yang bisa saya bagikan? Mendadak panik menyerang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pulang dari pertemuan itu saya mulai membuat dan menyusun beberapa materi untuk saya sharing-kan kepada pak Josef. Meskipun saya bukan pakarnya, tetapi mungkin ada hal-hal yang saya lebih tahu dan belajar duluan dibanding pak Josef sehingga saya bisa berbagi padanya. Terlepas dari hal itu, saya melihat adalah sesuatu yang luar biasa seorang selevel pak Josef begitu ingin belajar, dari siapa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah suatu hal yang saya catat dan ingin saya pelajari dari beliau. Ternyata ini sesuai dengan motto dirinya “Be yourself, but better everyday” yang dijelaskannya dalam beberapa posting di &lt;a href="http://www.josefbataona.com"&gt;blognya&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami di PortalHR.com sangat gembira melihat semangat dan antusiasme pak Josef yang sangat tinggi dalam meng-update blog-nya. Setiap jam makan siang serta pada akhir pekan disisihkannya waktu untuk membuat postingan baru, atau sekadar memberi masukan pada design, ataupun membalas komentar di blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang penting bahwa bahkan untuk postingan blog, pak Josef Bataona cukup rendah hati untuk meminta saya mengedit. Tulisan-tulisan beliau sebagian besar ditulisnya dengan ipad, mungkin sambil dalam perjalanan ataupun melakukan aktivitas yang lain, sehingga beliau merasa perlu untuk diperiksa sebelum di-upload. Dari seorang yang mengaku tidak bisa menulis, ternyata sebagian besar “corat-coret” pak Josef di ipad ini sudah siap untuk dipublish di blog, sebagian besar hanya saya edit sangat sedikit, mostly hanya untuk merapikan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru satu minggu blog Josefbataona.com diluncurkan, sudah banyak sambutan positif berupa kunjungan ke blog, komentar di blog maupun di Facebook, Twitter, dan lain-lain. Isi blog ini menyegarkan karena menyampaikan wisdom tanpa menggurui. Kita bisa terinspirasi melalui cerita-cerita yang merupakan pengalaman pak Josef sendiri. Semuanya juga disampaikan dengan gaya bertutur yang khas pak Josef, mengingatkan kita pada pak Josef sendiri yang bercerita langsung kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa postingan dan ide postingan saat ini sudah disiapkan pak Josef dengan penuh semangat. Secara rutin kami bertemu dengan beliau dan ini merupakan salah satu hal yang paling saya sukai dalam pekerjaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sedikit cerita di balik mulai ngeblog-nya pak Josef Bataona. Awal mula inisiatif blog pernah saya tulis &lt;a href="http://www.portalhr.com/berita/blog-josef-bataona-diluncurkan-hari-ini/"&gt;di sini&lt;/a&gt;. Tidak hanya blog, pak Josef juga akan aktif di social media lainnya. Akun Twitter dibuatnya pada hari yang sama kami meluncurkan blog (11-11-2011). Semangatnya untuk belajar hal baru memang luar biasa, setelah sebelumnya sudah aktif di Facebook dan Linkedin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Josef Bataona mulai ngeblog, saya sangat yakin ini hanyalah langkah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Kita tunggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-8351621405466235212?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/8351621405466235212/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/11/ketika-josef-bataona-mulai-ngeblog-saya.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8351621405466235212?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8351621405466235212?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/uxRcN5w36ac/ketika-josef-bataona-mulai-ngeblog-saya.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-m9fUtofFooA/TstPGc3jAbI/AAAAAAAAA2A/rwqJvglGotM/s72-c/josefbataonatwitter.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/11/ketika-josef-bataona-mulai-ngeblog-saya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D08FRHY7fCp7ImA9WhdbEEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-5577841141211464943</id><published>2011-10-08T10:43:00.002+07:00</published><updated>2011-10-08T10:50:15.804+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-08T10:50:15.804+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Social Media&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Social Media adalah jembatan yang menghubungkan digital dengan mainstream, eskalator yang menurunkan digital dari langit. Digital telah menjadi mainstream berkat social media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya social media bukanlah hal baru. Social media adalah jargon marketing belaka, istilah yang dibuat untuk membungkus fenomena situs-situs jejaring sosial yang semakin besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya social media membuat sebagian kalangan (awam) melihat digital hanya sebagai social media. Hanya social media yang kemudian asyik untuk dipercakapkan, seksi untuk dijual. Orang-orang keren, orang-orang asyik ada di social media. Orang-orang iklan, orang-orang PR menguasai social media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemudian, agency digital pun di-hire, almost merely about social media. Padahal yang namanya digital tidak sama dengan social media. Social media adalah sebagian saja dari media digital. Social media kemudian lebih banyak dikawinkan dengan kegiatan offline daripada dengan kegiatan online lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But that’s OK karena cepat atau lambat batas antara online dan offline akan semakin tipis. Social media dan digital bukan such a big deal lagi, bukan hal yang perlu digembar-gemborkan karena sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjadi cara baru kita berkomunikasi, cara baru kita berkolaborasi, cara baru kita berkomunitas, cara baru bagi kita untuk menampilkan diri. Suatu hari dia akan menjadi sangat biasa sehingga kita lupa telah pernah terjadi sebuah revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah begitu, masih akan ada orang yang setia dengan cara lama. Seperti dulu waktu saya masih kecil, ketika softlens hadir untuk pertama kalinya, saya sempat mengira kaca mata akan punah. Semua orang akan ganti menggunakan softlens. Ternyata, hingga kini masih banyak juga yang mengenakan kaca mata. Begitu juga halnya dengan social media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang akan menggunakannya sesuai kebutuhan. Orang-orang akan menemukan cara mereka sendiri dalam bersosial media, sama seperti dengan tools-tools lain dalam hidup ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Social media adalah salah satu tools juga untuk membantu kita melihat dunia. Meski pada awalnya ketika masih baru semua ingin mencoba, tetapi kemudian akan terlihat pola yang berbeda-beda pada setiap orang dalam penggunaan tools-tools social media. Seperti halnya ada yang memilih pindah total ke softlens, ada yang tetap setia pada kaca mata, ada juga yang menggunakan dua-duanya. Semua itu oke-oke saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Social media bukan dibuat untuk merumitkan hidup kita, tapi sebaliknya. So, enjoy aja...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-5577841141211464943?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/5577841141211464943/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/10/social-media-social-media-adalah.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5577841141211464943?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5577841141211464943?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/lVmTUzVt_LE/social-media-social-media-adalah.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/10/social-media-social-media-adalah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YAQXg6eSp7ImA9WhZWEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-8637621895225383442</id><published>2011-05-10T16:04:00.002+07:00</published><updated>2011-05-10T16:19:00.611+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-10T16:19:00.611+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Merayakan Paskah di Manado (3)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi Jalan Salib di Tataaran, Tondano, Sulut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi coba slideshow dari Tripadvisor, hope you like it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="width:680px;padding:0;margin:0;border:none;background:#000 url(http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-017b-0f58-cbe6/e/74dc8ff154/bg)0 0 no-repeat"&gt;&lt;embed width="680" height="425" src="http://images.travelpod.com/bin/tripwow/flash/tripwow.swf" flashvars="xmlPath=http%3A%2F%2Ftripwow.tripadvisor.com%2Ftripwow%2Fta-017b-0f58-cbe6%2Fapxml%3Fed%3D74dc8ff154%26ref%3D" base="http://images.travelpod.com/bin/tripwow/flash/" type="application/x-shockwave-flash" quality="high" bgcolor="#000000" name="TripWow" wmode="opaque" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;!-- Use of this widget is subject to the terms stated here: http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/widget_terms.html --&gt;&lt;div style="width:680px;padding:0;margin:0;border:none;background:#fff;font-family:verdana,sans-serif;color:#999;text-align:justify;font-size:9px"&gt;&lt;a href="http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-017b-0f58-cbe6" style="color:#c60"&gt;Prosesi Jalan Salib Tondano, Sulut Slideshow&lt;/a&gt;: Meisia&amp;rsquo;s trip from &lt;a href="http://www.tripadvisor.co.id/Tourism-g294229-Jakarta_Java-Vacations.html" style="color:#c60"&gt;Jakarta&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.tripadvisor.co.id/Tourism-g294228-Java-Vacations.html" style="color:#c60"&gt;Java&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.tripadvisor.co.id/Tourism-g294225-Indonesia-Vacations.html" style="color:#c60"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; to &lt;a href="http://www.tripadvisor.co.id/Tourism-g297721-Manado_Sulawesi-Vacations.html" style="color:#c60"&gt;Manado&lt;/a&gt; was created by &lt;a href="http://www.tripadvisor.co.id" style="color:#c60"&gt;TripAdvisor&lt;/a&gt;. See another &lt;a href="http://tripwow.tripadvisor.com/slideshow/indonesia/manado.html" style="color:#c60"&gt;Manado slideshow&lt;/a&gt;. Create your own stunning &lt;a href="http://tripwow.tripadvisor.com/" style="color:#c60"&gt;free slideshow&lt;/a&gt; from your travel photos.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ke sini biar lebih jelas:&lt;a href="http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-017b-0f58-cbe6?lb"&gt; Prosesi Jalan Salib Tondano, Sulut&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-8637621895225383442?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/8637621895225383442/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/05/merayakan-paskah-di-manado-3-prosesi.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8637621895225383442?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8637621895225383442?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/PI9o1XXHqWA/merayakan-paskah-di-manado-3-prosesi.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/05/merayakan-paskah-di-manado-3-prosesi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUUERHcyfip7ImA9WhZWEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-6165106950787485481</id><published>2011-05-10T14:37:00.002+07:00</published><updated>2011-05-10T14:40:05.996+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-10T14:40:05.996+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Merayakan Paskah di Manado (2) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salib di mana-mana... ini yang gw maksud... Silakan dilihat dalam slideshow berikut.&lt;br /&gt;Beberapa foto diambil dari mobil sambil jalan, jadi kurang fokus. Beberapa foto pada waktu malam juga kurang fokus... Anyway, enjoy...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe src="https://docs.google.com/present/embed?id=ah5rf6nknn3h_2gqdkjkz9" frameborder="0" width="410" height="342"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-6165106950787485481?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/6165106950787485481/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/05/merayakan-paskah-di-manado-2-salib-di.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6165106950787485481?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6165106950787485481?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/XWYgnTgWNfg/merayakan-paskah-di-manado-2-salib-di.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/05/merayakan-paskah-di-manado-2-salib-di.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUEER3Y5cCp7ImA9WhZXFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-4312090708195395747</id><published>2011-05-04T10:43:00.003+07:00</published><updated>2011-05-06T14:40:06.828+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-06T14:40:06.828+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Merayakan Paskah di Manado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ItlzafNk2ig/TcDMEeiGYfI/AAAAAAAAA10/Gz5ifwSQzMg/s1600/manado.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 86px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ItlzafNk2ig/TcDMEeiGYfI/AAAAAAAAA10/Gz5ifwSQzMg/s320/manado.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602702313736528370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung bisa berkunjung ke kota Manado pada saat Paskah. Barangkali dapat juga dikatakan, inilah saat terbaik untuk mengunjungi ibukota Sulawesi Utara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mendarat di bandara internasional Sam Ratulangi hari Rabu (20/4/2011) siang, empat hari sebelum hari raya Paskah (Minggu). Saya bersama rombongan tour ziarah dari gereja. Setelah dipikir kemudian, mungkin tidak ada cara yang lebih baik untuk merasakan suasana perayaan Paskah dengan lebih mendalam selain mengikuti rombongan tour ziarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Manado (dan beberapa kota lain yang kami kunjungi di Sulut) menampilkan wajah yang berbeda untuk menyambut Paskah. Suasana seperti ini tidak pernah saya jumpai di kota mana pun di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meriahnya perayaan Paskah bagaikan perayaan tujuhbelasan, di mana setiap gang menghias dirinya. Di gerbang setiap gang terdapat papan ucapan besar-besar bertuliskan “Selamat Paskah.” Partai-partai politik berlomba memasang reklame berisi foto dirinya mengucapkan selamat Paskah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa menemukan salib hampir di mana-mana, di depan gereja, di depan rumah orang, di pinggir jalan. Ukuran dan tampilan salib berbeda-beda, ada yang besar berwarna putih, ada yang berwarna merah. Ada yang simple saja dari kayu kecil berwarna hitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling unik dan menyentuh adalah di depan rumah-rumah penduduk dipasang lampion berbentuk salib berwarna merah yang dirangkai dari botol air mineral bekas yang dicat warna merah. Pada malam hari lampion-lampion ini akan dinyalakan sehingga memberi nuansa yang sangat indah dan meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan di setiap gang yang kita lewati di kota ini, ada deretan lampion salib berwarna merah, ada juga yang berwarna kuning, dan biasanya dalam satu gang itu kompak warnanya. Sungguh meriah bagaikan perayaan Tahun Baru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa Kawatak, sebuah desa yang kami singgahi antara Tomohon dengan Manado, pemandangan yang langsung mencolok mata adalah banyaknya gereja yang kami lewati di sepanjang jalan. Baru sekitar 15 meter, ada sebuah gereja lagi, dan gerejanya bukanlah kecil-kecil, tetapi cukup besar. Tidak heran, ternyata di sana masyarakatnya 98% beragama Katolik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pinggir jalan di desa ini (begitu pula beberapa tempat lain yang mayoritas Kristen/Katolik), penduduk memasang tanda salib dari kayu hitam yang sederhana dan melingkarkan sebuah selendang ungu di tangan salib tersebut. Selendang ungu adalah lambang masa prapaskah di gereja Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa Kawatak inilah kami mengadakan misa Kamis Putih bersama penduduk setempat. Gerejanya sangat unik, eksotik, berada di tengah sawah, dan ditopang kayu-kayu besar sebagai tiang di sisi kanan dan kiri. Gereja itu hanya tertutup di bagian atas/atapnya saja, sisi kanan kirinya terbuka, hanya ditopang dinding dari kayu-kayu besar yang langsung dari pohon itu (tidak dipoles atau diolah terlebih dahulu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami mengadakan misa, hujan turun, lalu disusul mati lampu ketika misa hampir selesai, wah benar-benar menambah suasana dramatis, tak terlupakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Jumat Agung tak kalah istimewa. Kami mengadakan misa Jumat Agung di Paroki St Antonius Padua, di Tataaran, Tondano. Di gereja ini perayaan Jumat Agung sangat special dimana terdapat prosesi jalan salib Yesus yang benar-benar dipentaskan. Dimulai dari sebuah panggung dekat gereja, prosesi itu kemudian berkeliling kota sepanjang kira-kira 3 km yang diikuti oleh hampir seluruh masyarakat kota tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai pukul 12 siang, saat matahari sedang terik-teriknya, sekelompok orang memerankan drama penyaliban Yesus, dimulai dari pengadilan Pilatus. Dari sana sang pemeran Yesus memanggul salibnya, benar-benar berjalan selama 3 jam dalam prosesi jalan salib (14 perhentian). Prosesi ini diikuti hampir satu kampung, sambil berdoa dan bernyanyi sesuai alur jalan salib. Perhentian-perhentian dibuat di rumah penduduk. Tentu saja kami sebagai turis dan peziarah ikut serta dalam prosesi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi diakhiri dengan misa Jumat Agung pukul 15.00 di gereja yang penuh sesak. Belum pernah aku melihat gereja yang begitu penuh, berdesak-desakan, suasana menjadi tambah panas karena hampir semua mengenakan pakaian hitam-hitam dan ungu (mewakili perasaan duka karena mengenang wafatnya Yesus Kristus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, koran Manado Post menurunkan berita utama dengan foto yang sangat besar, foto seorang pemeran Yesus yang benar-benar dipaku tangan dan kakinya, di Manila, Filipina. Di Tataaran kemarin dalam prosesi, Yesus benar-benar dicambuk dan berdarah-darah, namun bukan dengan cambuk dan darah sungguhan. Meskipun begitu, tidak mengurangi emosi yang ditimbulkan pada penonton dan peserta prosesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misa Malam Paskah berlangsung di Katedral Manado, sebuah katedral yang megah di tengah kota Manado. Misa ini berlangsung Sabtu malam pukul 23.00 hingga pukul 02 pagi hari Minggunya. Kami semua kelelahan dan mengantuk saat misa ini gara-gara rekreasi pagi harinya di Bunaken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berbeda dalam misa Malam Paskah ini---setidaknya dibanding di Jakarta---setelah selesai misa, umat berbaris mengantri untuk mengucapkan Selamat Paskah kepada pastor satu per satu. Setelah itu masing-masing mendapatkan satu botol air mineral dan sebuah lilin yang telah diberkati. Barulah kami tahu pada saat itu mengapa ada banyak kotak-kotak air mineral di setiap gereja yang kami datangi sejak beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kegiatan rohani yang kami lakukan, selain satu sesi lagi---terdiri dari doa pagi dan jalan salib---di rumah retret JSSM Tomohon yang sangat keren. Sisanya, jalan-jalan ke tempat wisata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sudah telat, sudah lewat moment-nya, karena itu saya tulis buru-buru. Well, better late than never, saya sempatkan nulis di tengah kesibukan dan ketegangan mempersiapkan&lt;a href="http://www.virtual.co.id/how-to-measure-and-optimize-your-social-media-marketing-strategy/"&gt; seminar besok&lt;/a&gt;. Moga-moga dalam postingan berikutnya bisa bercerita lebih banyak melalui foto-foto. Tunggu ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-4312090708195395747?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/4312090708195395747/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/05/merayakan-paskah-di-manado-sungguh.html#comment-form" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4312090708195395747?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4312090708195395747?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/MXywrkHSLms/merayakan-paskah-di-manado-sungguh.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-ItlzafNk2ig/TcDMEeiGYfI/AAAAAAAAA10/Gz5ifwSQzMg/s72-c/manado.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/05/merayakan-paskah-di-manado-sungguh.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEYHSX0ycCp7ImA9WhZRFUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-3818371047116307789</id><published>2011-04-12T11:13:00.003+07:00</published><updated>2011-04-12T11:22:18.398+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-12T11:22:18.398+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Around Taiwan in 9 Days&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(1) The First Time Flying with Phillipines Airlines&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Jp2343u3Mds/TaPSI1r9aTI/AAAAAAAAA1k/JXqsvm-T08g/s1600/taiwan%2Bmap.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Jp2343u3Mds/TaPSI1r9aTI/AAAAAAAAA1k/JXqsvm-T08g/s200/taiwan%2Bmap.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594546211416533298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari undangan pernikahan seorang teman, trip ini kemudian berubah menjadi backpacking keliling pulau Taiwan. Kali ini melibatkan kedua orangtuaku tercinta. Seru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itenerary-nya adalah seperti berikut: Taipei, Hualien, Kaoshiung, Sun Moon Lake, Taichung, Taipei. Kalau dilihat di peta, akan terlihat rute kami benar-benar mengelilingi pulau kecil berbentuk seperti kacang di pinggir lautan Pasifik itu. Apa saja yang dilakukan di kota-kota/daerah tersebut? Mohon ditunggu dalam postingan-postingan selanjutnya, karena tidak mungkin semua diceritakan dalam 1 postingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam trip kali ini untuk pertama kalinya saya menggunakan Phillipines Airlines, dengan transit di Manila. Biasanya direct dari Jakarta ke Taipei (5 jam) naik Eva Air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu saya akan memulai cerita ini dengan penerbangan bersama Phillipines Airlines (PR). Awalnya kami sempat worry, seperti apa sih Phillipines Airlines, karena bahkan teman-teman yang sering travel tidak pernah naik pesawat itu, bahkan mendengar namanya pun jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memilih PR karena harganya yang lebih murah dibanding Eva Air (BR). Jakarta-Taipei dengan Eva Air waktu itu 535-550 USD, harga yang cukup mahal, karena spring (musim semi) ternyata banyak yang ke Taiwan. Tiket PR Jakarta-Taipei (via Manila) 430 USD, beda 100 USD, dengan kondisi berangkatnya tengah malam dan pake transit di Manila sekitar 2 jam. Yah, sesuai dengan semangat backpacker, maka kita harus memilih alternatif yang paling murah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang keberangkatan, saya mulai search tentang PR. Hal ini karena teman saya ragu, apakah kita akan dikasih makanan di PR, mengingat harganya yang murah. Kalau tidak dapat makanan, kita perlu mempersiapkan setidaknya roti buat sarapan karena kita akan berangkat tengah malam. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya pun mencoba melakukan pencarian gambar (google image).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik sekali ketika saya coba google image dengan keyword "Phillipines Airlines," yang keluar gambar-gambar yang mengerikan, pesawat jatuh dll. Beda sekali dengan ketika google image dengan keyword "Eva Air" gambarnya interior pesawat yang bagus dengan pramugari yang ramah yang sedang melayani penumpang. Hasil search ini bikin deg-degan juga tapi saya yakin ini hanya karena manajemen PR belum menyadari dan tidak pernah melakukan audit keberadaan mereka di hasil search. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-MopxivbUc2Y/TaPSc1GEkiI/AAAAAAAAA1s/Has0UMPLSFs/s1600/hasilsearchPR.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 161px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-MopxivbUc2Y/TaPSc1GEkiI/AAAAAAAAA1s/Has0UMPLSFs/s320/hasilsearchPR.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594546554855002658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah naik PR, ternyata pengalaman kami naik PR cukup memuaskan kok. Pesawat kami berangkat pukul 01.00 waktu Jakarta, tiba di Manila sekitar pukul 05.30 waktu Manila (lebih cepat satu jam dibanding Jakarta). Sampai di bandara Manila kami langsung diantar ke gate berikutnya untuk boarding ke Taipei. Hebatnya, untuk transit ini ada escort-nya! Biasanya kita harus mencari-cari sendiri gate kita di bandara yang asing ketika kita transit dan ganti pesawat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jaraknya pendek-pendek, kita tidak naik pesawat besar. Pesawat Jakarta-Manila maupun Manila-Taipei adalah pesawat kecil. Maaf, karena tidak paham jenis-jenis pesawat, maka saya menggunakan istilah awam pesawat kecil untuk menggambarkan pesawat yang biasa digunakan untuk jarak pendek (biasanya dalam negeri), yaitu yang tempat duduknya 3-3 (tiga di kiri dan tiga di kanan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang saya maksud pesawat besar adalah pesawat yang biasa digunakan untuk penerbangan jarak jauh, yang tempat duduknya biasanya 2-4-2, atau ada yang lebih besar lagi 3-5-3. Dalam pesawat besar juga tersedia layar monitor untuk setiap tempat duduk sehingga kita bisa menonton banyak film sepanjang perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di Phillipines Airlines karena jaraknya pendek-pendek, kita tidak mendapat fasilitas entertainment on board. Meskipun begitu, penerbangan tetap menyenangkan, dan tidak seperti yang dikhawatirkan oleh teman saya, dalam penerbangan ini kita mendapatkan hidangan makanan on board yang enak. Pada penerbangan pertama mendapatkan menu late supper dan penerbangan kedua mendapatkan menu breakfast. Cukup menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di Taoyuan International Airport keesokan paginya sekitar pukul 09.00 pagi dan disambut udara yang cukup ramah. Sejuk, tidak begitu dingin. Suhu udara sekitar 17-18 derajat Celcius. Beberapa hari sebelumnya di Taipei dan Taoyuan sempat sangat dingin, suhu mencapai 10-12 derajat Celcius disertai angin yang dingin. Cuaca ternyata menjadi satu hal yang amat penting selama perjalanan kami di Taiwan, perubahan temperatur bisa sangat drastis antara pagi dan malam, antara hari ini dan besok. Tidak heran acara favorit di televisi setiap hari adalah prakiraan cuaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba di Taipei kami langsung check-in ke hotel kami di daerah Ximending. Setelah itu mulailah menjalankan itenerary kami yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(FYI, itenerary kami ini telah mengalami revisi beberapa kali, untunglah dalam perjalanan hanya sedikit yang meleset dari rencana. So this is the actual itenerary)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 1: National Palace Museum, Shilin Night Market, Taipei&lt;br /&gt;Day 2: Wulai, Taipei 101&lt;br /&gt;Day 3: Taipei Flora Expo, Taipei-Hualien&lt;br /&gt;Day 4: Hualien-Taroko Gorge Park&lt;br /&gt;Day 5: Hualien-Kaoshiung, Kaoshiung City Tour (Central Park, Love River, Liuhe Night Market)&lt;br /&gt;Day 6: Kaoshiung-Taichung, Sun Moon Lake&lt;br /&gt;Day 7: Sun Moon Lake-Taipei, Shida Night Market&lt;br /&gt;Day 8: Yang Ming Shan, Beitou (Hot Spring)&lt;br /&gt;Day 9: Di xia jie, Taipei Main Station, Taipei-Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-3818371047116307789?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/3818371047116307789/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/04/around-taiwan-in-9-days-1-first-time.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3818371047116307789?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3818371047116307789?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/-Vt9ofmjPVs/around-taiwan-in-9-days-1-first-time.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-Jp2343u3Mds/TaPSI1r9aTI/AAAAAAAAA1k/JXqsvm-T08g/s72-c/taiwan%2Bmap.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/04/around-taiwan-in-9-days-1-first-time.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0EHQX47cCp7ImA9Wx9bFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-4876969568041014065</id><published>2011-02-24T13:39:00.002+07:00</published><updated>2011-02-24T13:40:30.008+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-02-24T13:40:30.008+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Black Swan: Melihat Dunia dalam Kepala Seorang Balerina Neurotik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Eedo25yRTec/TWX9TMp6O9I/AAAAAAAAA1c/rqIsYHRkzbs/s1600/black-swan_poster.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 135px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Eedo25yRTec/TWX9TMp6O9I/AAAAAAAAA1c/rqIsYHRkzbs/s200/black-swan_poster.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577142219824577490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia dalam kepala Nina---seorang balerina di New York City yang diperankan dengan sangat baik oleh Natalie Portman---adalah tentang mencari kesempurnaan. Baginya, semua harus dilakukan dengan baik dan benar. Semua harus mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri untuk mencapai tujuan. Demi mencapai tujuan itu dia rela mengorbankan dirinya sendiri, seringkali mengesampingkan naluri dan insting-insting pribadinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat-hasrat primitif dan naluriah yang terkurung sejak lama---sejak kecil dalam kungkungan seorang ibu yang terlalu mengontrol---akhirnya bermetamorfosis menjadi sesuatu yang mengganggu kestabilan jiwa gadis muda yang sedang mengejar puncak karier itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan dan keanggunan, serta disiplin keras, mengantar Nina terpilih menjadi pemeran utama yang menarikan White Swan sekaligus Black Swan, peran yang katanya diincar semua balerina di seluruh dunia. Pelatihnya (Thomas) sebelumnya agak ragu memilih Nina karena kepribadiannya yang kaku dan tampak kurang menampilkan gairah dan greget dalam tariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia dalam kepala Nina berwarna kelam. Sejak awal suasana film muram dan mencekam. Didukung dengan musik dan cara penggambaran adegan, seolah penonton pelan-pelan digiring masuk ke dunia dalam kepala Nina, dunia yang gelap, penuh tuntutan, tekanan, tujuan, ambisi, dimana tak tersisa lagi ruang untuk bersantai dan bersenang-senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak lorong gelap dalam adegan film: lorong-lorong rumah Nina, lorong-lorong stasiun MRT, lorong-lorong di tempat latihan ballet Nina, seolah menggambarkan secara puitis lorong-lorong hati Nina yang gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Relax," kata Lily, rekan sesama penari kepada Nina, menggambarkan apa yang rasanya ingin kita katakan ketika melihat Nina yang perfectionist. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jangan khawatir. Jangan dulu mematikan DVD Anda dan menyalakan Cityville yang menawarkan kesenangan dan kesantaian sehabis Anda bekerja seharian di kantor. Sabar sedikit, Anda juga akan menikmati film ini seperti halnya saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia dalam kepala Nina dilukiskan dengan indah. Bagaimana tidak, sepanjang film dihiasi musik kelas tinggi, penari-penari cantik berbadan bagus, tarian-tarian indah, dan bahkan dunia halusinasi Nina pun dilukiskan dengan puitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas antara mana yang nyata dan mana yang khayal menjadi tipis. (Apakah Nina benar-benar tidur dengan temannya, Lily? Apakah Nina benar-benar menikam Lily pada hari pertunjukan? Apakah Beth, si penari senior, benar-benar menusuk wajahnya sendiri dengan sadis, dan masih banyak lagi). Semua itu kemudian menjadi tidak penting. Dunia nyata dan metafora menjadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua melebur dalam puncak adegan yang klimaks. Pada malam pertunjukan yang ditunggu-tunggu dimana semua impian Nina menjadi kenyataan. Dan tujuan hidupnya pun tercapai sudah. Sebuah film yang, indeed, indah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-4876969568041014065?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/4876969568041014065/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/02/black-swan-melihat-dunia-dalam-kepala.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4876969568041014065?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4876969568041014065?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/zHE4I9QDYY4/black-swan-melihat-dunia-dalam-kepala.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-Eedo25yRTec/TWX9TMp6O9I/AAAAAAAAA1c/rqIsYHRkzbs/s72-c/black-swan_poster.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/02/black-swan-melihat-dunia-dalam-kepala.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQFRXo9cCp7ImA9Wx9bEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-2588295426381302733</id><published>2011-02-18T18:02:00.003+07:00</published><updated>2011-02-18T18:08:34.468+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-02-18T18:08:34.468+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;From train to train&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-b1VqtK7bZA8/TV5SzS3qq5I/AAAAAAAAA1M/k6A4WR6J58Y/s1600/cirebonexpress.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 274px; height: 207px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-b1VqtK7bZA8/TV5SzS3qq5I/AAAAAAAAA1M/k6A4WR6J58Y/s320/cirebonexpress.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574984429923380114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isn't it wonderful to be on the train ride again? Betapa menyenangkan, naik kereta lagi. Menikmati buaian angin yang terus-menerus diterjang badan kereta secara konstan. Mendengar suara desingan roda kereta yang berpacu keras pada rel. Suara deru nan abadi itu... suara yang begitu akrab dengan kita dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kaca jendela (yang kadang sudah tidak berkaca lagi itu) biasan kehidupan kota yang kita lalui bergerak cepat tertinggal di belakang kita. Dari stasiun ke stasiun kita dapat melihat orang-orang menawarkan jajanan khas perjalanan. Pop Mie, kopi, dan termos air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyangan dan getaran yang akrab itu seharusnya membuat aku mengantuk dan tertidur. Tetapi aku tidak bisa tidur dalam perjalanan kereta 3 jam dari Cirebon ke Jakarta malam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asap rokok dan kipas angin yang persis di atasku membuat aku tidak bisa terlelap sama sekali padahal sudah lelah jalan-jalan seharian. Aku dikepung dari segala arah, 5 pria sekaligus yang bersebelahan dan yang duduk persis di depan dan belakangku, semua merokok tanpa belas kasihan. Aku sudah menutup hidung dan mulutku dengan sapu tangan, namun tak ada yang peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berkutik. Tidak ada tanda dilarang merokok. Kereta pun tidak tertutup, kaca-kaca terbuka, mungkin itu adalah tanda yang dibaca sebagai "silakan merokok." Semua lelah dalam perjalanan ini, hidup semua orang berat. Tidak ada yang peduli pada seorang perempuan yang terganggu dengan asap rokok yang tiada henti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, di sebelahku, temanku tertidur dengan pulasnya. Dia sudah sangat lelah dalam perjalanan ini, dan tempat duduknya di kereta membuatnya relatif lebih terlindungi dari kedua musuh terdekatku: asap rokok dan kipas angin. Karena temanku tertidur pulas, aku tidak mungkin pindah tempat duduk dan meninggalkannya sendiri. Jadilah aku stuck dengan penderitaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayanglah olehku gerbong sebelah, gerbong yang tadi kita lewati ketika naik ke kereta ini. Gerbong itu adalah gerbong kelas eksekutif. Aku baru tahu saat itu bahwa antara kelas eksekutif dan kelas bisnis kereta Cirebon Ekspress yang selisih harganya Rp 15.000 itu terdapat perbedaan yang bagaikan bumi dan langit. (Eksekutif 75.000 Bisnis Rp 60.000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mencatat setidaknya lima perbedaan berikut ini: 1. AC vs kipas angin. 2. tempat duduk yang jauh bedanya, lebih empuk dan bersih, juga lebih luas dan bisa direbahkan. 3. ada bantal. 4. ada colokan listrik! (buat yang mau charge HP atau notebook) dan 5. ada ruang tunggu khusus buat penumpang eksekutif di stasiun kereta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa jauh bedanya ya? Kalau tahu begini sudah pasti memilih merogoh kocek dan menambahkan selisih 15.000. Tetapi kalau sedang beruntung sebenarnya kelas bisnis tidak begitu buruk. Seperti pada saat pagi harinya ketika kami berangkat dari Jakarta ke Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah perjalanan 3 jam itu sangat menyenangkan. Di pagi hari tidak ada yang merokok. Kami bisa mengobrol santai sambil ngopi dan menikmati pemandangan desa dari jendela, saling meng-update kabar masing-masing selama ini. Tidak terasa, kita pun sampai di Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, dalam perjalanan pulang, terasa sangat lama. Di tengah penderitaanku itulah aku teringat pada perjalanan-perjalanan dengan kereta yang pernah aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling heroik dan tidak terlupakan tentu saja adalah perjalanan kereta 32 jam dari Hanoi ke Ho Chi Minh City. Karena jarak tempuh yang panjang, tempat duduk dalam kereta ini berbentuk kompartemen berisi enam tempat tidur yang disusun tiga tingkat-tiga tingkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2003 pertama kalinya aku naik kereta sleeper (kereta dengan tempat tidur), yaitu kereta dari Bangkok ke Chiang Mai (sekitar 12 jam). Selama di tanah air tidak pernah melihat tempat "duduk" di kereta seperti itu. Maka ketika naik kereta kami sangat terpesona dan merasa lucu. Untuk yang posisi upper tidak ada pilihan untuk melipat tempat tidur menjadi tempat duduk/kursi. Jadi selama perjalanan kita stuck aja dalam posisi berbaring, atau paling-paling duduk tetapi langit-langitnya sangat rendah, pas di kepala kalau kita duduk. Bisa dilihat gambar lengkapnya &lt;a href="http://www.seat61.com/Thailand.htm#Bangkok to Chiang Mai"&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ARmqGW5ca6o/TV5TBeYoyvI/AAAAAAAAA1U/npPzK9kzl54/s1600/Thailand-2nd-sleeper-beds.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 307px; height: 230px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ARmqGW5ca6o/TV5TBeYoyvI/AAAAAAAAA1U/npPzK9kzl54/s320/Thailand-2nd-sleeper-beds.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574984673532627698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya waktu itu kami kehabisan tiket lower. Kami juga heran kenapa semua orang membeli tiket lower dan lebih jarang yang mau upper. Setelah naik kereta barulah paham alasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lower bisa diatur menurut kehendak kita, kalau mau duduk, tempat duduknya bisa menjadi kursi, kalau mau tidur, tinggal diubah menjadi kasur. Seorang mbak yang gesit akan membantu kita mengubah kursi menjadi kasur dalam waktu singkat, begitu pula sebaliknya. Namun, untuk tiket upper tidak ada pilihan itu. Begitu naik, mbak yang baik itu akan mempersiapkan kasur kita seolah begitu naik kereta kita sudah cuci kaki dan sikat gigi dan siap tidur. Pengalaman yang lucu juga bila dikenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta paling cantik tentu saja adalah kereta panoramic Golden Pass yang membawaku dari Montreaux ke Lucern (Switzerland). Karena ini adalah kereta panoramic atau kereta yang memang dirancang untuk menikmati pemandangan, maka jendelanya besar-besar. Tempat duduknya nyaman dan jalannya lebih perlahan. Mantapp dah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung aku juga sudah pernah mencoba kereta supercepat waktu di Korea dan di Taiwan. Kereta dengan kecepatan hampir 300 km/jam ini luar biasa. Duduk di atasnya tidak terasa apa-apa namun begitu melihat ke jendela barulah terasa kecepatannya. Wonderful...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikirkan kereta-kereta ini membantuku tidak fokus pada penderitaan kecil yang sedang aku alami. Asap rokok dan semuanya pun terlupakan ketika pikiranku melayang ke mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini mari kita ke Italia. Kereta Tren Italia sebenarnya hampir sama dengan kereta-kereta Argo kita. Mungkin karena perawatannya jadi terlihat lebih mewah &lt;br /&gt;dan bersih. Prosedurnya pun hampir sama. Kita membeli tiket, tiket diperiksa di depan, lalu kita masuk dan mencari kereta kita di peron yang mana, kita naik kereta, lalu di tengah perjalanan kemudian baru ada pemeriksaan tiket di dalam kereta. Tiket tidak diperiksa pada saat naik ke kereta tertentu. Sepertinya hal ini berlaku di mana-mana, sehingga penumpang seringkali ragu-ragu apakah benar kereta yang dinaikinya karena pada saat naik kereta tidak ada petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bapak-bapak yang mengenakan setelan jas rapi dan bertopi datang meminta tiket aku pun teringat ketika naik Tren Italia dan dibangunkan oleh petugas tampan pemeriksa tiket. Setelannya hampir sama, hanya berbeda dalam level ketampanannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku melanglang buana lagi. Kembali ke KRL Jabotabek tercinta. Mirip dengan kereta commuter yang dulu sering aku naiki dari Taipei ke Taoyuan. Apabila sedang sepi dan melesat di atas daerah perkotaan, naik KRL Jabotabek itu serasa naik MRT di negara-negara maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, tidak terasa, pemandangan dari jendela menampakkan sebuah stasiun yang sangat familiar, yang dulu setiap hari kulewati. Stasiun Manggarai pukul 23.00 menampilkan wajah yang berbeda. Tidak pernah aku melihat wajah seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun sudah gelap dan tenda-tenda jualan telah dibereskan. Tidak terlihat adanya calon penumpang lagi. Namun yang sangat mencolok mata adalah adanya bungkusan-bungkusan berjejeran di lantai. Tampak jelas bahwa itu adalah orang-orang yang tidur di sana dan membungkus dirinya rapat-rapat bagaikan mumi. Udara malam pastilah dingin sekali di "hotel" alam terbuka itu. Ternyata beginilah wajah stasiun Manggarai di atas pukul 23.00. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perjalanan Cirebon Ekspress dari Cirebon ke Jakarta yang membawaku dari kereta ke kereta di berbagai tempat di dunia, hingga mendarat lagi di stasiun Gambir, Jakarta. Betapa menyenangkan, naik kereta lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-2588295426381302733?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/2588295426381302733/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/02/from-train-to-train-isnt-it-wonderful.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2588295426381302733?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/2588295426381302733?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/BCmfG2FaJ1A/from-train-to-train-isnt-it-wonderful.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-b1VqtK7bZA8/TV5SzS3qq5I/AAAAAAAAA1M/k6A4WR6J58Y/s72-c/cirebonexpress.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/02/from-train-to-train-isnt-it-wonderful.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0ACQHc-fip7ImA9Wx9VFk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-5792415101773980033</id><published>2011-02-02T14:25:00.003+07:00</published><updated>2011-02-02T14:29:21.956+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-02-02T14:29:21.956+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wisata Cirebon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan perjalanan saya dan sahabat saya di suatu hari Sabtu di bulan Januari 2011 ke Cirebon, Jawa Barat. Agak panjang, jadi saya pecah menjadi 4 postingan. Bacanya biar urut, ini urutannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-1-ini-salah-satu-hal.html"&gt;Wisata Cirebon (1)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-2-karena-kami-tidak.html"&gt;Wisata Cirebon (2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-3-dari-keraton-kasepuhan.html"&gt;Wisata Cirebon (3)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-4-gua-sunyaragi-luasnya.html"&gt;Wisata Cirebon (4)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, saya akan bercerita tentang perjalanan kereta. Ditunggu yaaaa...&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-5792415101773980033?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/5792415101773980033/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-catatan-perjalanan-saya.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5792415101773980033?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5792415101773980033?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/Cw9UnXlBFLM/wisata-cirebon-catatan-perjalanan-saya.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-catatan-perjalanan-saya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0QMRnk4eSp7ImA9Wx9VFk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-3119323414872854145</id><published>2011-02-02T14:17:00.002+07:00</published><updated>2011-02-02T14:23:07.731+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-02-02T14:23:07.731+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wisata Cirebon (4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TUkGJawJ9uI/AAAAAAAAA1E/Ft0MGuT77ik/s1600/Guasunyaragi_lukisan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TUkGJawJ9uI/AAAAAAAAA1E/Ft0MGuT77ik/s320/Guasunyaragi_lukisan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568989173090219746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua Sunyaragi luasnya kurang lebih 1,5 hektar. Di sini banyak spot yang bisa digunakan untuk foto-foto. Dari desainnya terlihat banyak ruang kecil yang hanya cukup untuk seorang duduk bersila, sepertinya itu adalah ruangan untuk bermeditasi. Mengenai keindahan dan sejarah gua Sunyaragi dapat dibaca langsung &lt;a href="http://www.navigasi.net/goart.php?a=busnyrgi"&gt;di sini&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://fotodedi.wordpress.com/2009/07/10/gua-sunyaragi-cirebon/"&gt;di sini&lt;/a&gt;, atau di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunyaragi"&gt;Wikipedia.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini cukuplah saya menceritakan pengalaman kami, kunjungan kami yang singkat di tempat yang luar biasa namun kurang terurus ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masuk gua Sunyaragi dan sukses menolak tawaran guide. Di dalam gua, sambil mengeksplore sisa-sisa peninggalan sejarah tersebut, sempat kami ditawari seorang guide yang selesai mengantar tamu yang lain. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang pengunjung lain selain kami. Biasanya yang datang adalah rombongan dari sekolah-sekolah, demikian menurut informasi ibu penjual teh botol dan kerupuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Jepang ya?” tanya bapak guide kepada teman saya sambil menunjuk saya. Tuh kan, disangkain lagi. Hehehe. Kami menjawab kami dari Jakarta dan terima kasih, kami tidak memerlukan guide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami pun tenggelam dalam keasikan foto-foto di gua. Melihat sebuah pohon besar yang berusia lebih dari 300 tahun. Duduk-duduk di atas rumput sambil mengobrol.&lt;br /&gt;Hingga tiba waktunya kami untuk meninggalkan tempat itu. Panggilan alam pun membuat kami mencari toilet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat pintu keluar terdapat sebuah bangunan kecil yang cukup buruk sehingga dapat disebut gubuk, berpintu dua, yang membuat kami mencurigai itu adalah sebuah toilet. Melihat kami ragu-ragu, si bapak guide tadi memberi informasi “Yang kanan aja, lebih banyak airnya,” katanya sambil menunjuk toilet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubuk itu tidak berpintu. Tepatnya pintunya terlepas dan disandarkan pada dindingnya. Untunglah toiletnya terletak di dalam, karena itu tidak langsung terlihat dari luar. Kami memilih salah satu toilet yang lebih terang (karena ada celah untuk sinar matahari). Toilet tidak ada lampu. Panggilan alam yang tidak tertahankan pun (sejak pagi belum ke toilet) membuat kami menyerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keluar dari toilet kami berpapasan dengan bapak tadi. “Empat ribu,” katanya. Hah???? Hampir pingsan aku mendengar perkataan itu. Toilet reot yang gelap dan meragukan itu pun ternyata di-charge. Dan kami menyangka bapak itu dengan baik hati menawarkan bantuan/informasi, ternyata ujung-ujungnya minta bayaran. Kami membayar, meninggalkan tempat itu, dan tertawa terpingkal-pingkal setelah jauh dari bapaknya. “Surpriseeee... hahahaha...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana kami naik becak menuju PGC. Sesampai di sana aku melihat Dunkin Donut dan langsung merasa seperti home sweet home. Ayo kita ngupi-ngupi dulu, kataku. Di sini suasana terasa lebih seperti tempat kita berasal. Orang-orang berbelanja di toko, supermarket, angkot-angkot yang lalu lalang, kehidupan berjalan seperti halnya di Jakarta. Kuharap tidak ada lagi kejutan yang aneh-aneh. Hihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memesan kopi dan donat. Tugas kami sudah selesai, tinggal membeli oleh-oleh. Oleh-oleh khas Cirebon banyak, seperti produk olahan dari seafood, asinan dan manisan, serta sirop tjampolay. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, masih banyak yang belum kami lakukan di Cirebon. Masih banyak tempat yang bisa dikunjungi, dijelajahi, dan masih banyak makanan yang belum dicicipi. Namun, dalam kunjungan singkat dan kurang persiapan ini, rasanya cukuplah sampai di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat-tempat yang kami kunjungi cukup menarik, meskipun kurang terawat. Dan dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, kami sempat berkeliling kota Cirebon sambil naik becak. Sambil dibuai hembusan angin hangat dari pantai, kami menikmati pemandangan, melewati pasar Kanoman, toko oleh-oleh Sinta, stasiun kereta, dan keraton Kanoman. Sempat juga melewati Kelenteng kuno dan beberapa bangunan kuno lainnya seperti lembaga pemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab pertanyaan yang timbul di benak saya sebelum berangkat, sepertinya Cirebon sangat potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata alternatif bagi orang Jakarta. Kekayaan peninggalan budaya membuatnya dapat dijadikan tujuan wisata tematik seperti wisata sejarah Islam di Indonesia. Dipadukan dengan wisata kuliner dan wisata belanja yang disukai orang Jakarta. Salah satu produk yang potensial menjadi hits misalnya batik Cirebon. Saat ini sudah mulai ada sentra-sentra batik, tinggal dikembangkan dan dipromosikan lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta-Cirebon hanya 3 jam jaraknya. Segelas kopi di pagi hari sambil mengobrol bersama sahabat membuat perjalanan itu sama sekali tidak terasa, tahu-tahu sudah sampai. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;You can say Jakarta-Cirebon is just a cup of coffee away&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta-Cirebon memang segelas kopi saja jauhnya, namun agar Cirebon dapat menjadi kota tujuan akhir pekan orang Jakarta seperti Bandung, masih banyak yang perlu dilakukan dan dibenahi. Untuk hal ini biarlah kita serahkan kepada para pakar untuk memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghabiskan waktu di Dunkin Donut hingga tiba waktu untuk naik becak ke stasiun kereta Kejaksan Cirebon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(the end)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar: Gua Sunyaragi dalam lukisan, diambil dari Wikipedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-3119323414872854145?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/3119323414872854145/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-4-gua-sunyaragi-luasnya.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3119323414872854145?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/3119323414872854145?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/wXkP0r559_4/wisata-cirebon-4-gua-sunyaragi-luasnya.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TUkGJawJ9uI/AAAAAAAAA1E/Ft0MGuT77ik/s72-c/Guasunyaragi_lukisan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-4-gua-sunyaragi-luasnya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cHQn0-eSp7ImA9Wx9VFk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-6609599500842117981</id><published>2011-02-02T14:13:00.002+07:00</published><updated>2011-02-02T14:17:13.351+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-02-02T14:17:13.351+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wisata Cirebon (3) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Keraton Kasepuhan kami berjalan ke Mesjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak persis di depannya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Cirebon yang dibangun sekitar tahun 1480 M atau pada masa Wali Songo. Di dalam mesjid ini ada sembilan tiang yang masih asli peninggalan dari jaman Wali Songo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era Walisongo (yang merupakan simbol penyebaran Islam di Indonesia) adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Karena itulah dalam arsitektur keraton maupun benda-benda peninggalan sejarah, kita dapat melihat sisa-sisa kebudayaan Hindu-Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat suasana kurang nyaman karena “ditodong” bapak guide dan juga peminta-minta di dalam museum keraton Kasepuhan, kami agak was-was ketika memasuki mesjid. Aku tidak masuk karena tidak tahu tata cara masuk mesjid. Teman saya masuk sendiri tetapi sebentar kemudian keluar lagi karena sudah waktunya shalat Lohor, pengunjung yang tidak berkepentingan pun harus meninggalkan mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa bahasa Indonesia?” tanya seorang bapak-bapak ketika melihat saya. Bukan pertama kalinya saya disangka turis Jepang. Apakah jarang turis Indonesia sendiri datang ke obyek wisata seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahu saya bisa bahasa Indonesia, si bapak menambahkan, “Kenapa tidak masuk? Masuk saja, gak papa kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, sih pak, males aja, kataku dalam hati. Soalnya sebentar lagi juga sudah harus keluar, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak yang ramah itu menceritakan tentang Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang menikah dengan putri dari Tionghoa, sehingga masih ada arsitektur keraton yang bergaya Tionghoa. Serta hingga kini masyarakat Tionghoa dengan suku-suku lain hidup berdampingan dengan damai di Cirebon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu sahabat saya sudah keluar dari dalam mesjid. Karena sudah waktunya shalat Lohor maka kami pun harus meninggalkan mesjid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya bercerita, karena penasaran dengan tiang-tiang mesjid yang katanya masih asli dari jaman Wali Songo, maka dia masuk hingga ke dalam dan memotret. Ketika selesai, orang-orang yang berada di sana meminta sumbangan, dengan cara yang sama, yaitu menunjuk ke kotak sumbangan. Wah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana kami melanjutkan dengan mencari makan siang. Kami mendarat di nasi jamblang dekat pelabuhan Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kemudian kami lanjutkan ke gua Sunyaragi. Dari pelabuhan naik becak Rp 15.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua Sunyaragi sebuah cagar budaya yang unik. Dari jauh terlihat seperti candi, dengan halaman rumputnya yang luas memberi kontras yang cantik pada warna sisa gua yang kelam. Sekilas tempat ini mengingatkan saya pada Angkor Wat di Kamboja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua Sunyaragi dibangun sebagai tempat beristirahat dan meditasi para sultan Cirebon dan keluarganya. Saat ini dibuka sebagai tempat wisata budaya, yang, maaf, tidak terlalu terawat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif masuk gua Sunyaragi per orang Rp 3.000. Di depan pintu masuk terdapat sebuah spanduk yang menghimbau para pengunjung menggunakan jasa guide agar mendapatkan informasi sejarah yang lebih detil. Well, sekali lagi, kami tidak merasa perlu guide, karena informasi dapat dicari di Google. Selain itu, kalau jalan diikuti guide rasanya kurang bebas kalau mau sesi foto-fotoan yang lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memutuskan untuk duduk dulu di depan pintu masuk gua sambil bersantai minum teh botol. Duduk di atas tikar yang disediakan ibu penjual kami memesan salah satu makanan khas Cirebon yaitu kerupuk melarat, sambil memandang gua dari jauh dan berkhayal kami sedang berada di Kamboja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ibu-ibu penjual itu kami menggali informasi bagaimana cara ke makam Sunan Gunung Jati maupun ke gedung perundingan Linggarjati. Ternyata agak repot, karena harus pergi ke terminal, naik bus, dan cukup jauh. Karena kami berdua sangat tidak berpengalaman di kota yang tampaknya kurang ramah terhadap turis bodoh ini, selain waktu kami juga mepet, kami memutuskan untuk menyisakan kedua tempat bersejarah itu untuk kunjungan berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masih punya banyak waktu, maka kami pun leyeh-leyeh di atas tikar itu. Sambil mencari informasi, selanjutnya yang dapat dilakukan adalah berbelanja, mencari oleh-oleh khas Cirebon. Sms sana sini ke teman yang orang Cirebon, kami memperoleh informasi bahwa oleh-oleh Cirebon dapat dibeli di dekat PGC (Pusat Grosir Cirebon). Oke, berarti destinasi selanjutnya adalah PGC setelah menjelajah gua Sunyaragi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-6609599500842117981?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/6609599500842117981/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-3-dari-keraton-kasepuhan.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6609599500842117981?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6609599500842117981?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/J0AqEg8pRFk/wisata-cirebon-3-dari-keraton-kasepuhan.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-3-dari-keraton-kasepuhan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkABSXYycCp7ImA9Wx9VFk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-7162893395625530126</id><published>2011-02-02T13:35:00.003+07:00</published><updated>2011-02-02T13:39:18.898+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-02-02T13:39:18.898+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wisata Cirebon (2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TUj78YqYc6I/AAAAAAAAA08/eC1DOerJJ94/s1600/cirebon2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TUj78YqYc6I/AAAAAAAAA08/eC1DOerJJ94/s320/cirebon2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568977954074555298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami tidak menginap, maka kami hanya tertarik menjelajah tempat-tempat wisata yang jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun kereta, tepatnya yang bisa ditempuh dengan naik becak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sempat kami kunjungi dalam waktu yang singkat dengan informasi yang minim adalah Keraton Kasepuhan dan Gua Sunyaragi. Sisa waktu digunakan untuk berbelanja oleh-oleh di sekitar PGC (Pusat Grosir Cirebon) yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Kejaksan Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di Cirebon pukul 09.00 pagi di sebuah Sabtu bulan Januari. (Mengenai perjalanan di kereta akan aku ceritakan dalam tulisan yang lain). Begitu tiba di Cirebon, barulah saya dan sahabat saya sadar bahwa kita sama-sama tidak punya plan dan tidak tahu tentang Cirebon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ini terjadi sangat mendadak, dan kami ternyata saling mengandalkan untuk mencari informasi. Begitu tiba di Cirebon barulah sadar kita belum tahu mau ke mana. Bahkan ketika keluar dari stasiun dan ditawari becak-becak, kita belum tahu mau ke mana!!! (keterlaluan sekali, jangan dicontoh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada terlihat bodoh (awas, kalau ketahuan turis tidak berpengalaman kita bisa dimahalin) maka dengan cepat aku menyebut “keraton Kasepuhan” kepada si tukang becak yang mengikuti kami terus dari stasiun. Hati-hati, di sini tukang becak rada-rada maksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah sebelum keluar ke dunia praktik, kami sempat mencari sedikit informasi, seperti itenerary wisata Cirebon, tarif becak, dan keterangan bahwa di antara keempat keraton itu yang paling besar dan paling bagus adalah keraton Kasepuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari stasiun kami menuju keraton Kasepuhan dengan becak sekitar 15 menit (Rp 15.000). Satu becak bisa berdua, meski agak sempit-sempitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wikipedia, keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Keraton ini juga memiliki museum benda-benda kuno yang cukup lengkap. Salah satu koleksi yang terkenal adalah Kereta Singa Barong. Kereta keramat ini saat ini tidak lagi dipergunakan tetapi hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal saja untuk dimandikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba di sana, kami tidak langsung masuk karena kebetulan saya belum sarapan. Maka kami pun mencari warung di sekitar keraton dan menemukan sebuah warung lesehan yang cukup eksotis yang menjual sega (nasi) Lengko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warung inilah kami memanfaatkan kesempatan untuk membuat itenerary (jadwal perjalanan) sambil mencari informasi dari ibu pemilik warung. Setelah puas bersantai dan ngupi-ngupi, barulah kami masuk ke keraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket masuk keraton per orang Rp 4.000. Kami terkejut ketika selesai membayar tiket masuk dan mengisi buku tamu, kami dipersilakan untuk diantar oleh seorang guide berpakaian abdi keraton oleh petugas tiket seolah itu adalah sebuah keharusan. Meski tidak merasa perlu, kami membiarkan saja sambil berpikir paling-paling nanti dikasih tips sekedarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata setelah selesai berkeliling keraton, bapak guide mengenakan tarif untuk jasanya, yaitu Rp 30.000 sampai 60.000. Katanya memang di sini begitu, alias harus pakai guide dan minimal segitu. Akhirnya kami memberi yang paling minimal, karena merasa tidak memesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski keterangan bapak guide lebih sering tidak aku dengarkan---karena selain sibuk memotret juga karena dia berbicara dengan pronounciation yang tidak jelas bagaikan pembaca pengumuman yang tidak niat menjalankan tugasnya---keterangan itu ada gunanya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimal dia mengarahkan kami melihat hal-hal yang kalau tidak tidak akan kami perhatikan. Ketika memasuki keraton terlihat ornamen-ornamen arsitektur bergaya Islam, Cina, maupun Belanda. Dia juga menunjukkan benda-benda kuno peninggalan yang menarik seperti keramik-keramik Cina, baju perang dari besi, dan sisa-sisa senjata perang jaman dahulu, seperti meriam Portugis, Meriam Cina, tombak, badik, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan apa yang tertulis di Wikipedia, memang cukup lengkap koleksi museum. Namun apabila seperti ini disebut paling terawat, bisa dibayangkan seperti apa di keraton-keraton yang lain di Cirebon karena yang paling terawat saja seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi-koleksi museum sangat berdebu. Dan yang paling mengganggu mata adalah adanya uang-uang kertas dan koin yang berserakan di sisi-sisi depan tempat display koleksi. Kami sempat bingung apa yang dimaksud dengan uang-uang tersebut, lalu ada orang-orang (sepertinya cacat) yang berdiri-berdiri dekat koleksi dan menunjuk-nunjuk ke arah uang tersebut. Maksudnya: minta sumbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di keraton dan museum ada orang-orang yang dipekerjakan di sana (sepertinya orang-orang yang mempunyai cacat fisik atau kekurangan lain) yang tidak digaji dan karena itu mengandalkan sumbangan dari pengunjung keraton dan museum. Keberadaan orang-orang ini dan uang-uang yang “menghiasi” koleksi-koleksi museum menurut saya cukup mengganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi setelah melihat koleksi museum yang berdebu amat tebal, rasa tidak simpati pun muncul. Mungkin pemerintah setempat hendak membantu orang-orang yang kurang beruntung ini, tetapi apakah tidak ada cara lain? Kehadiran mereka tentu menimbulkan ketidaknyamanan pengunjung, apalagi ada yang dengan agak memaksa meminta sumbangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-7162893395625530126?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/7162893395625530126/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-2-karena-kami-tidak.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/7162893395625530126?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/7162893395625530126?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/GTct6a1MhAU/wisata-cirebon-2-karena-kami-tidak.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TUj78YqYc6I/AAAAAAAAA08/eC1DOerJJ94/s72-c/cirebon2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-2-karena-kami-tidak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkQHQ3szeip7ImA9Wx9VFk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-8319972410556334313</id><published>2011-02-02T13:29:00.001+07:00</published><updated>2011-02-02T13:32:12.582+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-02-02T13:32:12.582+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wisata Cirebon (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TUj6VPCTJnI/AAAAAAAAA0s/2OhgBI4flhQ/s1600/cirebon1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TUj6VPCTJnI/AAAAAAAAA0s/2OhgBI4flhQ/s320/cirebon1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568976181963990642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini salah satu hal yang bisa kamu lakukan ketika kamu sudah bosan menghadapi kemacetan di jalur Puncak atau Bandung pada akhir pekan. Yup, bagaimana kalau kita coba Cirebon?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirebon, sebuah kota di pesisir pantai utara Jawa, masih termasuk propinsi Jawa Barat, sama halnya dengan Puncak atau Bandung.  Jaraknya 216 km dari Jakarta (bandingkan dengan Bandung sekitar 135 km). Jarak itu apabila ditempuh dengan mobil/bus kurang lebih 4-5 jam, tetapi dengan kereta hanya 3 jam saja. Mulai terdengar seperti sebuah alternatif yang menarik, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kereta paling pagi dari Jakarta (berangkat 06.00 dari Gambir) dan kereta paling malam dari Cirebon (berangkat pukul 18.00 dari Cirebon) kita bahkan tidak perlu menginap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirebon, sebuah kota pertemuan berbagai budaya (Islam, Cina, Hindu), suku Sunda dan Jawa, sebuah kota wisata religi (Wali Songo) dan juga belakangan banyak yang datang untuk alasan wisata kuliner ataupun mencari batik khas Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirebon termasuk cukup termasyur. Hampir semua orang pernah mendengar namanya. Coba saja, siapa yang tidak tahu kota ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, berapa banyak yang pernah berjalan di atas jalan-jalan lebar dan sempitnya? Berapa banyak yang pernah menghirup udara panas dari arah pantai sambil duduk di atas becak-becak kecilnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari survey kecil-kecilan yang aku lakukan, sebagian besar teman-temanku belum pernah ke Cirebon. Kecuali orang Cirebon sendiri, atau orang-orang yang punya saudara/teman dekat di Cirebon, sebagian besar menjawab “belum pernah” atau “hanya lewat doang” dalam rangka menuju ke kota yang lebih jauh, misalnya di Jawa Tengah atau Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti, Cirebon belumlah menjadi sebuah kota tujuan wisata yang populer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pun semakin memancing rasa penasaranku, ingin mengetahui seperti apa rupa kota pesisir ini. Satu pertanyaan yang hendak kutemukan jawabannya, mengapa kota ini tidak menjadi alternatif wisata yang populer untuk orang Jakarta, seperti halnya Bandung misalnya? Dengan jarak hanya 3 jam dan tiket kereta hanya Rp 60.000 sekali jalan (sama dengan biaya ke Bandung, bukan?), seharusnya cukup convenience untuk pergi ke kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang marilah kita explore apa yang bisa dilihat di Cirebon. Apa saja obyek/tujuan wisata Cirebon?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirebon kota yang kaya peninggalan budaya. Dalam satu kota saja ada peninggalan empat keraton sekaligus. Keempat keraton itu adalah keraton Kasepuhan, keraton Kanoman, keraton Kacirebonan, dan keraton Keprabon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancangan keempat keraton ini merupakan gabungan elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Ciri bangunan keraton di Cirebon adalah selalu menghadap ke utara dan ada sebuah mesjid di dekatnya. Pada setiap keraton juga selalu ada alun-alun sebagai tempat berkumpul. Yang khas pada keraton-keraton di Cirebon adalah adanya patung macan di halaman depan sebagai salah satu simbol dari Prabu Siliwangi, tokoh sentral terbentuknya kerajaan Cirebon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keempat keraton tersebut, obyek wisata lain di kota Cirebon adalah Mesjid Agung Sang Cipta Rasa, Kelenteng Kuno, Gua Sunyaragi, Makam Sunan Gunung Jati dan gedung perundingan Linggarjati. Dua yang terakhir agak jauh jaraknya dari pusat kota ataupun stasiun kereta api Kejaksan Cirebon. Berjarak satu jam jauhnya (dengan mobil/bus) kita juga bisa mengunjungi kota Kuningan yang lebih tinggi dan sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-8319972410556334313?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/8319972410556334313/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-1-ini-salah-satu-hal.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8319972410556334313?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8319972410556334313?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/Fh9InSRymb4/wisata-cirebon-1-ini-salah-satu-hal.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TUj6VPCTJnI/AAAAAAAAA0s/2OhgBI4flhQ/s72-c/cirebon1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/02/wisata-cirebon-1-ini-salah-satu-hal.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CU8GQnwzfCp7ImA9Wx9VFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-8466620593654606189</id><published>2011-01-31T11:33:00.002+07:00</published><updated>2011-01-31T13:03:43.284+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-31T13:03:43.284+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Orang Dewasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dewasa tidak punya pilihan menghadapi penuaan. &lt;br /&gt;Pengalaman membuatnya tidak bisa lagi polos, naif, bahkan positif.&lt;br /&gt;Semakin hari semakin jauh dari ketulusan. Kesederhanaan. Ke-apaadanya-an.&lt;br /&gt;Hidupnya semakin pelik karena banyak kepentingan yang perlu dipertimbangkan.&lt;br /&gt;Dia akan disebut bijak karena mampu menekan kemauan-kemauan primitifnya. &lt;br /&gt;Dia disebut bijak karena memilih dari hal-hal yang tidak disukainya demi kepentingan yang lebih besar. &lt;br /&gt;Dia disebut bijak ketika dapat menerima bahwa hidup ini tidak sempurna; kamu tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dewasa harus selalu memilih dan mengambil keputusan. Bahkan seringkali mereka harus memilih mana yang cocok sebagai teman. Karena di dalam dunia dewasa yang sarat kepentingan, hanya sebagian kecil yang dapat dijadikan teman sejati. Sisanya hanya orang-orang yang pernah bersama-sama kita dalam suatu tempat/aktivitas yang sama. Tidak jarang kesalahan dan luka di masa lalu pun dapat dimaafkan demi kepentingan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aneh orang dewasa. Mereka sibuk membuat keputusan-keputusan, padahal sesungguhnya mereka tidak punya banyak pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-8466620593654606189?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/8466620593654606189/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2011/01/orang-dewasa-orang-dewasa-tidak-punya.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8466620593654606189?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8466620593654606189?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/7vGPSdefvXo/orang-dewasa-orang-dewasa-tidak-punya.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2011/01/orang-dewasa-orang-dewasa-tidak-punya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQDSX4ycSp7ImA9Wx9RGU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-1030545832719387920</id><published>2010-12-21T11:40:00.004+07:00</published><updated>2010-12-21T11:56:18.099+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-12-21T11:56:18.099+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;West Europe Trip 2010: The Complete Stories&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, selesai juga menceritakan trip backpacking kami ke Eropa Barat bulan Mei yang lalu. This is the complete list. Enjoy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/06/west-europe-trip-2010-day-1-amsterdam.html"&gt;Amsterdam &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/06/west-europe-trip-2010-2-keukenhof.html"&gt;Keukenhof&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/06/west-europe-trip-2010-3-volendam-edam.html"&gt;(3): Volendam, Edam, Den Haag&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/06/west-europe-trip-2010-4-zaanse-schans.html"&gt;Zaanse Schans, Amsterdam-Paris via Brussels &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5):&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/06/west-europe-trip-2010-5-paris-first_26.html"&gt; Paris, the First Sight &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/06/west-europe-trip-6-paris-in-3-days-apa.html"&gt;Paris in 3 days &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/07/sun-is-shining-bright-above.html"&gt;Barcelona &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8):&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/07/west-europe-trip-8-montserrathttp://www.blogger.com/img/blank.gif-la.html"&gt; Montserrat, La Sagrada Familia, Flamenco show at Barcelona, Parc Guell &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/08/west-europe-trip-9-switzerland-trains.html"&gt;Switzerland &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/08/traveler-ini-para-traveler-sejati-yang.html"&gt;The Traveler &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(10): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/09/west-europe-trip-10-milan-cinque-terre.html"&gt;Milan, Cinque Terre, Italia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(11)&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/09/west-europe-trip-11-via-dell-amore-di.html"&gt; Via dell Amore &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(12): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/11/west-europe-trip-12-this-is-our-team.html"&gt;This is Our Team&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(13): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/11/west-europe-trip-13-cinque-terre-pisa.html"&gt;Cinque Terre - Pisa - Florence, Italia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(14): &lt;a href="http://www.meisia.com/2010/12/west-europe-trip-14-rome-eternal-city.html"&gt;Rome, The Eternal City &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(15):&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/12/west-europe-trip-15-venezia-italia.html"&gt; Venezia, Italia &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-1030545832719387920?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/1030545832719387920/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2010/12/west-europe-trip-2010-complete-stories.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1030545832719387920?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1030545832719387920?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/hU11mxH9jQY/west-europe-trip-2010-complete-stories.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2010/12/west-europe-trip-2010-complete-stories.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkIFQHo-fSp7ImA9Wx9RGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-5479326186329129179</id><published>2010-12-20T13:53:00.005+07:00</published><updated>2010-12-20T14:01:51.455+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-12-20T14:01:51.455+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;West Europe Trip (15): Venezia, Italia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQ7-mlddBPI/AAAAAAAAAz8/FkCKnZuyzwY/s1600/venice1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQ7-mlddBPI/AAAAAAAAAz8/FkCKnZuyzwY/s320/venice1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552655329438532850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQ7-v7xrSPI/AAAAAAAAA0E/RiVQM_YWYDw/s1600/venice2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQ7-v7xrSPI/AAAAAAAAA0E/RiVQM_YWYDw/s320/venice2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552655490047756530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya perlu enggak mengunjungi Venice (Venezia) dalam trip ke Eropa, tentu saja aku akan menjawab perlu! Sambil menambahkan, "mumpung masih ada, pergilah. Sebelum tenggelam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Venezia adalah kota yang sangat unik. Sejak kecil saya sudah mendengar cerita tentang kota yang dibangun di atas air ini. Kota ini menjadi salah satu "jualan" utama negara Italia yang mengandalkan sebagian besar pemasukan dari pariwisata. Kota ini adalah kota turis. Semakin hari semakin sulit bertemu dengan penduduk di kota ini. Semua yang kita temui di sana adalah turis, turis, turis, dari seluruh dunia, selain orang-orang yang mencari nafkah dari turisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Venezia yang bagaikan negeri dongeng itu ternyata menyimpan pelbagai masalah pelik. Selain banjir yang datang secara rutin karena gelombang pasang dan juga fondasi kota yang terus menurun, kota ini juga menghadapi masalah banjir pengunjung setiap tahun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah National Geographic mencatat jumlah pengunjung kota ini tahun 2007 saja sudah mencapai 21 juta. Sementara itu, karena tidak tahan dengan biaya hidup yang terus meningkat, banyak penduduk yang meninggalkan kota ini. Pada tahun 2007 tercatat penduduk Venezia hanya tinggal 60.000 orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata biaya untuk maintenance kota ini sangatlah mahal. Saya kutip dari National Geographic: The cost of maintaining Venice: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"There is not enough money from the state to cover it all—the cleaning of canals, restoration of buildings, raising of foundations. Very expensive.'' The cost of living: "It's three times as costly to live here as in Mogliano, 20 kilometers away. It's affordable only for the rich or elderly who already own houses because they have been passed down. The young? They can't afford it." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota mahal ini kebetulan adalah kota terakhir dalam daftar itenerary kami. Hari terakhir di Eropa, saat dimana kami tidak perlu memikirkan batas bawaan di koper karena budget flight, saat kami sudah boleh belanja oleh-oleh, eh, malah berada di kota yang paling mahal ini. Semuanya serba mahal di Venice. Untuk mengantisipasi hal itu, bahkan kami tidak menginap di Venice. Kami juga mendengar bahwa selain mahal, penginapan-penginapan di Venice semua tidak ada lift. Harus naik tangga-tangga sempit dengan koper-koper kami, kebayang deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kami menginap di seberang Venice, yaitu di Fusina. Di sana terdapat sebuah camping ground yang asik, namanya &lt;a href="http://www.camping-fusina.com/en/"&gt;Camping Fusina&lt;/a&gt;. Tempat ini asyik banget, hanya 20 menit dari hingar-bingar Venezia kita bisa menemukan kedamaian dengan suasana hutan di tepi pantai. Seperti halnya camping, kita tidur di kamar-kamar yang didesain seperti camp (kemah). Fasilitasnya lengkap, ada tempat untuk barbeque, ada restoran, supermarket, kamar mandi untuk umum, tempat mencuci, dll. I really love this place and would love to go back there someday. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQ7-_I17RrI/AAAAAAAAA0M/5UVXF0vSHI0/s1600/venice3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQ7-_I17RrI/AAAAAAAAA0M/5UVXF0vSHI0/s320/venice3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552655751253280434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQ7_IVdt-uI/AAAAAAAAA0U/a4exCDoZpPk/s1600/venice4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQ7_IVdt-uI/AAAAAAAAA0U/a4exCDoZpPk/s320/venice4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552655909260229346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara kami mencapai Venice? Dari Rome, tanggal 28 Mei (wah, udah lama sekali ya) kembali lagi kami harus bangun di jam yang aneh, yaitu pukul 04.00&lt;br /&gt;pagi. Flight kami dari Roma berangkat 07.00. Pukul 05.00 kami sudah tiba di Fiumacio Airport, ditempuh dengan taksi dari hotel kami di Roma. Kami naik Easy Jet dengan batas bagasi hanya 15 kg dan untuk hand carry hanya boleh membawa 1 tas saja dengan ukuran dimensi yang sudah ditentukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di Marco Polo Airport Venice pukul 08.00 pagi. Setelah itu menumpang bus ke Mestre. Di sini menunggu bus nomor 11 untuk menuju Fusina. Ternyata bus nomor 11 tidak semua sampai ke Fusina (paling ujung), hanya bus jam-jam tertentu yang sampai Fusina. Jadinya kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk menunggu bus di terminal Mestre ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 10.30 kami tiba di Fusina. Setelah check in tidak sabar kami hendak melihat Venezia yang terkenal itu. Kami naik boat pukul 12.00 ke Venice, tiba di pelabuhan Zatere. Boat trip sekitar 15 menit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Venice jalan-jalan di San Marco, Rialto, semua dipadati tourist. Pemandangannya cukup indah, namun dari sisi arsitektur bangunannya tidak berbeda dengan kota-kota Italia yang lain. Yang membedakan adalah kanal-kanalnya, karena itu ketika di Venice seharusnya kita berkeliling naik gondola. Beberapa gondola bahkan dilengkapi live music, wah suasananya jadi romantis banget. Sayangnya, kami tidak sedang dalam honeymoon trip. Dan naik gondola ternyata sangat mahal, 100 Euro untuk keliling sekitar 40 menit. (1 gondola 6 orang) Paling murah setelah kami keliling menawar banyak gondola, sambil memilih-milih mana tukang gondola yang paling ganteng, hanya dapat 80 Euro untuk 30 menit. Wahh... masih mahal kan? Sementara, kami semua sudah kehabisan uang ketika di Venice. Sisa uang yang ada, sebaiknya dibelanjakan buat oleh-oleh, daripada tidak membawa apa-apa pulang ke tanah air. Akhirnya, this is our little secret, we didn't take the gondola ride. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instead, kami berjalan saja, keliling kota Venice, yang tidak begitu besar, menyusuri lorong-lorong dan jembatan-jembatan, dimana banyak toko dan cafe-cafe yang asyik, sambil melihat gondola-gondola yang lewat dari gang-gang dan di bawah jembatan-jembatan itu. Tidak lupa juga bersantai di salah satu cafe Venezia. Bersantap pasta dan minum bir Italy sambil melihat pemandangan turis yang warna-warni. That's our little Venezia experience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 18.00 kami sudah kembali ke Fusina, padahal kalau tidak salah kapal terakhir dari Venice pukul 20.00. Sepertinya kami lebih prefer suasana tenang di Camping daripada hingar-bingar Venice. Makan di resto Camping Fusina lebih murah pula, jadi kami memutuskan untuk dinner bersama di malam terakhir kami di Eropa di resto Camping Fusina. Setelah makan dan mandi rencananya kami hendak minum-minum di depan kamar, di arena camping ground, untuk merayakan malam terakhir kami, tetapi ternyata setelah mandi semua ketiduran karena lelah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, we had a wonderful breakfast. Suasana Camping Fusina sangat asik. Sebuah croissant, secangkir kopi Itali yang sedap, harus menutup hari-hari yang menyenangkan di Eropa. We had a nice chat with our friends, most of them baru kenal dalam trip ini. Di pagi yang santai itu, dekat dengan pohon-pohon cemara dan pantai, we talk about our job, our lives, tempat kita sebentar lagi akan kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mandi, siap-siap, kami check out dari Camping Fusina pukul 10.00. Pukul 11.00 datanglah bus menuju Mestre. Dari Mestre naik bus ke airport (AGTV) kurang lebih 30 menit. Jangan lupa menyediakan waktu untuk menunggu bus, karena kami menunggu bus ke bandara ini cukup lama. Sampai-sampai sempat makan dulu kebab Turki di seberang terminal. Tiba di bandara pukul 12.30 sudah terjadi antrian sangat panjang untuk check in pesawat Emirates. Ini satu lagi tips kalau naik Emirates, biasanya pesawatnya sangat penuh, dan kapasitasnya cukup besar, sehingga butuh waktu cukup lama untuk check in. Tanggal 29 kami terbang dari Venice melalui transit beberapa jam di Dubai, dan tiba di Jakarta tanggal 30 Mei 2010. That's the end of our grand voyage, Thank God for let it happen to us.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya-biaya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Transport to Roma Fiumacio airport by taxi : 11 Euro.&lt;br /&gt;- Naik bus dari Marco Polo airport ke Mestre : 3 Euro.&lt;br /&gt;- Camping Fusina per orang per malam : 15 Euro.&lt;br /&gt;- Boat Fusina - Venezia (pp) : 12 Euro.&lt;br /&gt;- o ya, pipis di sini sangat mahal, ada yang mencapai 4 Euro ! Cobalah cari yang lebih murah, ada kok.&lt;br /&gt;- Pasta 8,5 Euro.&lt;br /&gt;- Heineken 2,5 Euro.&lt;br /&gt;- Pizza + bir Italy 8 Euro.&lt;br /&gt;- Dinner Pasta + Salad di Fusina 7 Euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bus dari Fusina ke Terminal Mestre : 1 Euro.&lt;br /&gt;- Bus dari Mestre ke Marco Polo airport : 3 Euro.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-5479326186329129179?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/5479326186329129179/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2010/12/west-europe-trip-15-venezia-italia.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5479326186329129179?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/5479326186329129179?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/PG7W1tZj4zw/west-europe-trip-15-venezia-italia.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQ7-mlddBPI/AAAAAAAAAz8/FkCKnZuyzwY/s72-c/venice1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2010/12/west-europe-trip-15-venezia-italia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQDQns8eCp7ImA9Wx9REkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-1547642009086836172</id><published>2010-12-13T11:55:00.002+07:00</published><updated>2010-12-13T11:59:33.570+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-12-13T11:59:33.570+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;West Europe Trip (14): Rome, The Eternal City&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQWoCFd1M3I/AAAAAAAAAz0/h5qSiKbDPWI/s1600/315px-Collage_Rome.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 315px; height: 252px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQWoCFd1M3I/AAAAAAAAAz0/h5qSiKbDPWI/s320/315px-Collage_Rome.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550026869584507762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roma (Rome), ibukota negara Italia yang cantik. Pernah disebut sebagai caput mundi (capital of the world), salah satu kota tertua di dunia, yang sudah berdiri lebih dari 2700 tahun yang lalu, salah satu tempat sejarah dunia dimulai, kota para ksatria dan gladiator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak jalan menuju Roma... dan kini kami telah berada di sana dengan jalan kami sendiri. Di tempat yang sama para gladiator pernah berdiri, kami berdiri di sini, di jantung kota tua Roma, sang kota abadi yang tiada duanya di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta kami berangkat dari Florence pukul 8.10. Tidak sampai satu setengah jam, pukul 09.30 kami sudah tiba di Roma. Langsung menuju hotel yang sudah kami booking sebelumnya, Alessandro Downtown. Hotel ini letaknya cukup strategis, kalau mau ke Colosseum cukup jalan kaki saja. Ini juga hotel backpacker, kalau pernah nonton Eat, Pray, Love, pintu depan hotel ini mirip di film Julia Robert itu. Kita masuk melalui sebuah lift sempit, yang karena koper kami cukup besar, 1 lift hanya bisa muat 2 orang, sehingga 10 orang harus 5 kali bolak-balik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif satu malam di Alessandro Downtown 23 Euro per orang. Satu kamar seperti biasa, langsung 10 orang, dengan bunk bed. Kamar mandi di luar. Tidak seperti di kota-kota Italia yang lain, di Roma kami menginap 2 malam. Cukup lega rasanya, at least satu hari tidak perlu menggaret koper-koper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beres-beres kami pun jalan ke Colosseum. Sambil jalan Roma menyambut kami dengan pemandangannya yang unik. Kemacetan dan mobil-mobil kecil adalah khas Rome, ditambah udaranya yang panas, melebihi kota-kota Italia lain yang kami kunjungi. Pernah nonton When in Rome? Nah kayak di film itu deh mobilnya. Dengan mobil kecil-kecil begitu mereka bisa parkir paralel di pinggir jalan, dan ini seringkali tidak rapi, ada yang parkirnya lurus, ada yang miring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati pemandangan kota Rome, eh kami malah tertarik untuk mampir di sebuah restoran masakan Cina. Mungkin semua udah pada rindu nasi (Norak ya, baru pergi dua minggu udah kangennnnnnn berat sama nasi) jadi biarpun di Italia, akhirnya nyarinya nasi juga. Udah bosen dengan pasta, pizza, melulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya, di Italia makanan relatif lebih murah, bila dibanding Paris atau Amsterdam. Tetapi tidak jarang restoran di sini memberlakukan surcharge restoran per person. Seperti di restoran Cina tempat kami makan ini. Per person kena 1,6 Euro. Harga makanan kira2 5-8 Euro. Jangan tanya soal rasanya deh, udah pasti aneh, secara di Itali gitu lho, masakan Cina pasti tidak sesuai harapan. Yang menggembirakan adalah ada sambel yang mirip dengan sambel yang biasa kita makan di tanah air. Nyam nyam...sampai minta tambah sambelnya tuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan Colosseum banyak yang berjualan. Ada juga pria-pria berpakaian gladiator mondar-mandir, kita bisa berfoto dengan dia, dengan bayaran beberapa Euro. Tepatnya lupa, karena kami tidak berfoto. Kami bahkan tidak masuk ke dalam Colosseum, karena harus bayar. Masih banyak tempat lain di Roma yang bisa masuk tanpa membayar, jadi &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Colosseum"&gt;Colosseum&lt;/a&gt; cukup dinikmati dari luar saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Colosseum lanjut ke daerah Corso, naik bus nomor 85 (per person 1 Euro). Di sini ada Pantheon, Piazza Navona, dan Spanish Steps, semuanya dekat-dekat. Di Piazza Navona banyak pelukis, banyak juga street performer. Suasananya sangat asyik. Kami juga mengunjungi Trevi Fountain dimana kita bisa melemparkan koin sambil mengucapkan permintaan. Di sini ramainya bukan main. Sebelum makan di restoran Chinese kami juga menyempatkan mampir di sebuah gereja yang cukup megah Basilica di Santa Maria Maggiore. Banyak sekali gereja di Roma, bahkan di dalam stasiun kereta kita dapat menemukan kapel. Dan bila kita lapar sambil jalan-jalan banyak yang menjual pizza-pizza kiloan, tinggal pilih, lalu timbang, bayar deh... Fresh dan enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vatican City&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, bila ke Roma, tidak boleh melewatkan kunjungan ke Vatican City. Ini adalah sebuah negara kecil di dalam kota Roma, yang berada di dalam tembok Vatican seluas kira-kira 44 hektar. Sebagai tourist, yang bisa dilihat di sini adalah Museum Vatican yang luar biasa, dan lapangan St Pieter dimana ada basilica (gereja) tempat Paus (pimpinan tertinggi umat Katolik) biasa memberikan misa. Untuk masuk lapangan St Pieter tidak dikenakan bayaran. Untuk masuk Museum Vatican (Musei Vaticani) tiket 15 Euro, sangat disarankan untuk membeli online. Jadi ketika datang ke sana tidak perlu antri panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengunjungi Vatican City di hari kedua di Roma. Museum Vatican sangat besar, kami memang menyediakan waktu seharian hanya untuk menjelajah Vatican City. Untuk keterangan mengenai tiket dll dapat dilihat di situs web resminya &lt;a href="http://mv.vatican.va/3_EN/pages/MV_Home.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah... tak henti-hentinya kamu akan terkesima bila sudah masuk ke Museum Vatican. Bila di Barcelona kita akan langsung jatuh cinta pada Gaudi, di sini dipastikan kita akan terbengong-bengong dengan karya Michelangelo, Raphael, dll. Karya-karyanya luar biasa, terutama bila kita masuk ke dalam Sistine Chapel (di sini gak boleh motret)... waw... lukisannya di dinding maupun di langit-langit, rasanya bagaikan Tuhan sendiri yang melukis, hanya meminjam tangan pelukis-pelukis besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di museum ini ada insiden kecil. Kami sebenarnya sudah selesai sekitar pukul 14.00, tapi tidak bisa keluar karena harus mengembalikan audioguide. Di museum-museum seperti ini biasanya kita dapat menyewa audioguide (sekitar 5-10 Euro) untuk mendapatkan petunjuk mengenai koleksi-koleksi di museum. Untuk menyewa audioguide kita harus menyerahkan passport, setelah mengembalikan audioguide, passport dapat diambil kembali. Nah, waktu itu kami menyewa dua audioguide dengan satu passport, sementara teman yang membawa audioguide yang satu lagi terpisah. Dia sudah keluar duluan dan ke Basilica St. Pieter. Akhirnya kami harus menunggu dia kembali agar bisa keluar dari museum dan mengambil passport. Museum tutup jam 16.00, Basilica juga. Karena itu, kami langsung lari ke Basilica St Peter setelah berhasil keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di St Peter Square selalu terjadi antrian yang panjang untuk masuk ke gereja. Untunglah, meski menjelang tutup, kami masih sempat ikut mengantri. Tidak lama setelah masuk ke dalam gereja St Peter sudah saatnya gereja tutup. Wah, masih untung kami sudah sempat masuk. Kalau tidak, entah kapan bisa ke sini lagi. sini lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dengan terpaksa keluar karena gereja tutup, kami pun berjalan di sekitar Vatican City. Karena lelah kami sekaligus mampir makan malam di sebuah restoran depan Basilica. Restoran ini seperti sebagian besar restoran di Eropa ada tempat duduk di depan. View dari tempat duduk ini luar biasa, langsung lurus ke jantung Basilica St Peter. Karena lokasinya, bisa diduga resto ini mahal banget. Spagetti 12 Euro yang paling murah, yang paling standar, bolognaise. Yah, gpp deh, beli view aja. Biasanya kita selalu dikasih roti sebagai complimentary. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana kami melanjutkan perjalanan, dekat dengan Vatican City ada Ponte Sant' Angelo, sebuah jembatan kuno yang disebut juga sebagai bridge of Saint Peter karena dulu digunakan para peziarah untuk mencapai Basilica St Peter. Rasanya lelah sekali, pukul 18.00 hari ini kami sudah pulang ke hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(foto dari Wikipedia)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-1547642009086836172?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/1547642009086836172/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2010/12/west-europe-trip-14-rome-eternal-city.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1547642009086836172?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1547642009086836172?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/zpz-npD9D1U/west-europe-trip-14-rome-eternal-city.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TQWoCFd1M3I/AAAAAAAAAz0/h5qSiKbDPWI/s72-c/315px-Collage_Rome.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2010/12/west-europe-trip-14-rome-eternal-city.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkQBSH4yeCp7ImA9Wx5aGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-7373773444754718332</id><published>2010-11-16T16:00:00.003+07:00</published><updated>2010-11-16T16:05:59.090+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-16T16:05:59.090+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;West Europe Trip (13): Cinque Terre - Pisa - Florence, Italia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TOJIzX56BzI/AAAAAAAAAzU/3tTfltQKe-o/s1600/pisa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TOJIzX56BzI/AAAAAAAAAzU/3tTfltQKe-o/s320/pisa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540070539046553394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Italy, a land that doesn't need poetry. Everybody and almost everything is poetry. They spell beauty with their movement, their sound, their color...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Italia adalah negeri yang indah dan romantis. Makanya di Via dell Amore aku gak banyak cerita, soalnya kami semua merasa pergi dengan grup yang salah. Maybe someday, entah kapan, bisa pergi dengan pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengunjungi berbagai tempat-tempat utama di Eropa, rasanya kami agak kekenyangan, dan kebal, terhadap keindahan. Semuanya sangat indah dan cantik, sampai bosan rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi hari ketika kami bangun di hostel kami Cinque Terre Holiday, masih ngantuk-ngantuk, tiba-tiba ada seorang cowok ganteng masuk kamar. Kaget, teman yang pake kerudung pun segera mencari kerudungnya. Si cowok yang bertampang seperti pemain sepak bola Italia ini ternyata adalah penyapu jalan yang diminta tolong oleh mbak Sophie untuk menurunkan kopernya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hostel di Cinque Terre tidak ada lift, tangga di mana-mana, tangga di dalam penginapan, maupun di jalan. Actually, sepanjang di Eropa banyak sekali tangga. Mostly di subway. Alhasil, sudah banyak koper yang menjadi korban. Selama trip ini ada 3 teman yang kopernya rusak karena digaret-garet dengan cepat, naik turun tangga. Ketiga teman itu membeli koper baru selama dalam perjalanan. Memang untuk backpacking akan lebih lincah bila kita membawa tas ransel (backpack), namun karena bawaan kami sangat banyak (18 hari bok), jadi kami memutuskan untuk bawa 1 koper dan 1 ransel. Lagipula, untuk membawa backpack yang besar kami tidak kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah menahan diri sebisa mungkin, koper dan bawaan kami tetap saja beranak-pinak. Padahal kami mostly travel dengan budget flight, untuk antar kota di Eropa. Untuk budget flight bagasinya sangat terbatas. Yang boleh masuk bagasi max 15 kg, kemudian hand carry hanya satu bag. Jadi semua tentengan, kamera dll, kami sumpel dalam satu ransel. Itulah sebabnya kami tidak bisa banyak berbelanja sebelum sampai di Venice, karena masih ada satu budget flight terakhir yang harus dilalui, yaitu Rome-Venice. Seandainya kami tahu, mungkin itenerary tidak berakhir di Venice, karena Venice adalah kota yang sangat mahal. Tour dari Indonesia banyak juga yang naik bus Eurolines untuk antar kota. Nah kalau Eurolines tidak ada batasan bagasi, tampaknya lebih cocok buat tourist Indonesia yang biasanya paling suka berbelanja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini rencananya kami akan melanjutkan perjalanan ke Pisa (sejenak saja untuk menengok menara miring yang pernah menjadi icon Italia itu), lalu bermalam di Florence. Surga yang menyenangkan, beautiful beach and sunlight di Cinque Terre harus segera kami tinggalkan. Hanya satu hari di Cinque Terre, yah, better than not. Tadinya Cinque Terre yang menjadi tujuan yang gw jagokan ini sempat pengen dicoret dari list, karena keterbatasan waktu. Untunglah pada akhirnya bisa disisipkan dalam itenerary. (Thanks mbak Soph!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini (tanggal 25 Mei) kami menyempatkan diri main ke pantai sebentar, foto-foto. Jam 10 kembali lagi ke hostel untuk check out. Garet koper lagi deh naik turun tangga, menuju stasiun kereta Riomagiore. Dari sini naik kereta dengan tujuan Pisa Centrale. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di Pisa Centrale pukul 12.00. Di sini kami menitipkan koper-koper di stasiun karena berencana akan kembali lagi ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Florence. Jadi kami hanya punya waktu sekitar 2 jam di Pisa. Dari stasiun ke menara Pisa harus naik bus sekitar setengah jam. Belum lagi nunggu bus dan waktu yang diperlukan untuk menitipkan koper dan mencari informasi penitipan koper... none of us ever come here, semua serba harus dicari dulu. Akhirnya, ini menyisakan kami waktu hanya 30 menit di Menara Pisa. Kami hanya turun dan foto-foto saja di depan salah satu icon Italia itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari bersinar sangat terik waktu di Pisa, itu satu hal yang aku ingat banget, karena bahkan aku jadi malas berfoto dan malah asyik payungan. Suasana di sekitar menara Pisa sangat ramai, tourist dari berbagai negara, dan banyak sekali toko souvenir, serta orang-orang yang mondar-mandir menawarkan souvenir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Florence&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TOJJO2WTgvI/AAAAAAAAAzs/j2vMEm8ohCM/s1600/david.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TOJJO2WTgvI/AAAAAAAAAzs/j2vMEm8ohCM/s320/david.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540071011075195634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TOJJOKxb35I/AAAAAAAAAzk/uh8by7ZvkmM/s1600/florence2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TOJJOKxb35I/AAAAAAAAAzk/uh8by7ZvkmM/s320/florence2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540070999377829778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TOJJN049WbI/AAAAAAAAAzc/1Cj57tXetgw/s1600/florence.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TOJJN049WbI/AAAAAAAAAzc/1Cj57tXetgw/s320/florence.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540070993503803826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Pisa-Florence dengan kereta (Tren Italia) kira-kira 2 jam. Kami tiba di Florence pukul 16.00-an. Dari stasiun garet koper lagi menuju hostel &lt;a href="http://www.hostelarchirossi.com/"&gt;Archi Rossi &lt;/a&gt;, yang bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hostel ini keren banget. One of the best hotel dalam perjalanan kami ini. Hostel backpacker dengan fasilitas lengkap seperti cafe internet, ruang makan yang besar, makanan yang murah-meriah (spageti 2,5 Euro) untuk melayani backpacker, dan fasilitas standar seperti laundry room, telepon, dll. Hostel ini juga didekorasi dengan lukisan-lukisan dan taman yang indah, dengan patung-patung setengah telanjang khas Italia. Kamarnya sih tetep, khas backpacker hostel, bunk bed bertingkat. Di sini kami satu kamar berenam, tiga bunk bed, atas-bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 18.00 karena sudah lapar kami makan malam di hostel. Spageti 2,5 Euro dengan pilihan cabe kering yang banyak sekali. Ini salah satu hal yang jarang gw temui selama di Eropa. Cabeeeeeee..... betapa menyenangkan. Langsung deh ditaburkan banyak banget di atas spageti gw. Mungkin orang bule heran melihat kita, makan cabenya banyak banget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan baru deh kita melakukan tour di Florence. Beruntunglah karena langit masih terang meski sudah pukul 19.00, maka masih bisa menikmati keindahan kota Florence. Ini beberapa tempat yang kami kunjungi di Florence (dan kebetulan adalah tempat highlight di Florence): Piazza del Duomo (ada katedral Duomo yang amat indah, merupakan salah satu tujuan wisata paling terkenal di Eropa), Palazzo Vecchio dan Piazza della Signoria (berdekatan), dan terakhir jembatan tua Ponte Vecchio, yang jaraknya tidak jauh dari sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak boleh terlewatkan seperti melihat lukisan Monalisa di Louvre, adalah mencari patung David apabila di Florence. Patung ini adalah versi replika yang dibangun di lokasi asli yaitu di depan Piazza della Signoria. Patung aslinya telah disimpan di museum Academia, Florence. Patung laki-laki telanjang setinggi 5,17 meter ini sangat luar biasa. Bahkan wajah dan ekspresi David (Daud) begitu nyata. Salah satu masterpiece Michelangelo ini adalah karya yang sudah sering sekali direplika di mana-mana, termasuk pernah dibuat seorang seniman dengan ukuran yang bahkan lebih besar di Grand Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tempat di atas kami tempuh dengan berjalan kaki saja dari hotel, sambil mampir apabila ada toko souvenir yang menarik. Bila lelah berjalan tinggal duduk saja melepas lelah di piazza (piazza berarti lapangan terbuka yang luas) dan menikmati pemandangan orang Italia yang lalu lalang. Betapa menyenangkan... sayang sekali hanya satu malam di Florence (Firenze). Keesokan harinya kami sudah harus angkat koper lagi menuju destinasi selanjutnya: Roma.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-7373773444754718332?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/7373773444754718332/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2010/11/west-europe-trip-13-cinque-terre-pisa.html#comment-form" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/7373773444754718332?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/7373773444754718332?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/ObEPUc6yf9c/west-europe-trip-13-cinque-terre-pisa.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TOJIzX56BzI/AAAAAAAAAzU/3tTfltQKe-o/s72-c/pisa.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2010/11/west-europe-trip-13-cinque-terre-pisa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkEGRHs-fyp7ImA9Wx5aGE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-8396221442284187792</id><published>2010-11-15T12:51:00.001+07:00</published><updated>2010-11-15T12:57:05.557+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-15T12:57:05.557+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;West Europe Trip (12): This is Our Team&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah sekian lama terhenti, aku pengen melanjutkan cerita perjalanan ke Eropa Barat yang kami lakukan bulan Mei lalu. Sebelum melanjutkan cerita, ijinkan aku menampilkan team yang berangkat. Ini dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TODLjMXHOcI/AAAAAAAAAzM/kJbT4xOED9Y/s1600/teamEuropeLengkap.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 259px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TODLjMXHOcI/AAAAAAAAAzM/kJbT4xOED9Y/s320/teamEuropeLengkap.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539651347139738050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja mereka? Kami dipertemukan oleh sebuah email di milis Indobackpacker sekitar tahun lalu. Email itu dari seorang wanita bernama Sophie, yang mencari teman untuk bertualang ke Eropa. Dia mengaku perlu teman dalam pesawat. (Belakangan baru diketahui, ternyata mbak Sophie takut terbang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang membuat trip kami semakin menarik. Semua berawal dari seorang yang takut terbang, yang mengumpulkan seluruh impiannya selama bertahun-tahun, untuk pergi ke Eropa. Tujuan utamanya adalah mengunjungi adiknya yang sudah lama pindah dan tinggal di Geneve, Switzerland. Kami telah dikumpulkan dari berbagai background yang berbeda oleh satu tujuan yang sama: Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat dalam perjalanan mbak Sophie menunjukkan kepada saya secarik peta MRT Paris yang telah disimpannya sejak tahun 2005. Wow... dia telah mengumpulkan banyak informasi, majalah, brosur, dll sejak lama, dan semua itu keep her dream alive. Akhirnya, pada tahun ini, terlaksana juga impian yang sudah sejak lama disimpan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah dalam perjalanan kami kali ini yang banyak menggunakan pesawat, bagi seorang yang takut terbang. Untunglah perjalanan antar kota biasanya singkat, paling-paling satu jam. Yang lama adalah perjalanan Jakarta-Amsterdam PP melalui Dubai. Kami bergantian dapat giliran duduk di sebelah mbak Sophie untuk membuatnya tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Team kami berasal dari background berbeda-beda, sangatlah kebetulan bahwa tanpa disengaja group kami begitu diverse. Ada yang umur 20-an, 30-an, dan 40-an. Ada yang Jawa, Batak, Chinese. Ada yang Moslem, Kristen, Budha. Setelah email mbak Sophie tersebut, banyak yang berminat dan kemudian melakukan kopdar untuk membahas detil rencana trip. Aku adalah yang paling terakhir join, karena masih ragu akan bisa cuti selama itu. (total trip 18 hari, total cuti 10 hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah aku masih diterima. Padahal ketika daftar udah ada 10 orang. Dan yang mengherankan adalah kok cewek semua. Nah gak tahu deh kenapa tuh kalau di milis yang menanggapi ajakan jalan biasanya cewek. Mestinya ada satu orang cowok, akhirnya tidak jadi, mungkin langsung mundur begitu tahu cewek semua kali ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua diawali dengan perencanaan. Yang cukup ribet. Bagi yang terbiasa ikut tour, pasti merasa ini ribettt banget. Pertama menentukan itenerary yang diinginkan, dari yang makro dulu, negara dan kota mana yang diinginkan, kemudian membagi tugas masing-masing mencari informasi mengenai tempat wisata yang ingin dikunjungi, informasi harga, reservasi, dll. Setelah mempunyai gambaran itenerary, kita harus mengajukan permohonan visa Schengen. Nah, ini yang cukup ribet. Ini yang bikin deg-degan selama berbulan-bulan juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi meskipun trip hanya 18 hari, mungkin persiapan kami sekitar 3 bulan. Untuk visa Schengen, ini termasuk salah satu visa yang paling sulit didapat. Kita harus mengajukan di negara tempat kita akan mengunjungi paling lama. Hal ini yang waktu itu sempat jadi masalah, karena kami mengira persyaratannya adalah mengajukan di negara tempat pertama tiba di Eropa. Well, untunglah, akhirnyaaaaa, dapat juga. Kabar bahwa visa lolos menjadi salah satu hal paling menggembirakan di tahun ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Team kami berbeda-beda dalam hal memenuhi persyaratan visa, namun akhirnya semua bisa lolos. Ada yang sudah sering travelling, dan ada yang baru pertama kali ke luar negeri. Kedutaan mengecek booking-an hotel, booking-an pesawat, dan kantor tempat kita bekerja. Mungkin ini keuntungan mengajukan dalam group, sehingga bahkan yang belum pernah keluar negeri pun bisa ikutan dapat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu kami telah memesan tiket Emirates, kebetulan ada promo, dapat harga 825 USD (Jakarta-Amsterdam) tapi harus segera di-issued. Saya ingat betul waktu itu bagaimana kami harus mengambil keputusan issue tiket sebelum mendapatkan visa. Pada hari yang sama setelah kami membayar tiket Emirates, ternyata visa semua lolos... Betapa mendebarkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, barulah pusing yang berikutnya, bagaimana mendapatkan cuti dari kantor. Yah, semua pasti ingat itu, masa-masa yang mendebarkan itu. Kini tinggal kenangan yang akan saya lanjutkan ceritanya dalam postingan berikutnya. Enjoy.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-8396221442284187792?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/8396221442284187792/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2010/11/west-europe-trip-12-this-is-our-team.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8396221442284187792?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/8396221442284187792?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/QQPmQhcxGHY/west-europe-trip-12-this-is-our-team.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TODLjMXHOcI/AAAAAAAAAzM/kJbT4xOED9Y/s72-c/teamEuropeLengkap.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2010/11/west-europe-trip-12-this-is-our-team.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUACQH4-eip7ImA9Wx5aEkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-1104572573406253384</id><published>2010-11-09T17:10:00.002+07:00</published><updated>2010-11-09T17:16:01.052+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-09T17:16:01.052+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Belajar dari Film Social Network&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TNkfJUlH6tI/AAAAAAAAAzE/-LVxjxyPKrA/s1600/thesocialnetwork.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 190px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TNkfJUlH6tI/AAAAAAAAAzE/-LVxjxyPKrA/s320/thesocialnetwork.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537491461832436434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film "The Social Network" bagus karena menyisakan perdebatan. Kalau Anda belum nonton, percayalah, keluar dari bioskop, Anda dengan teman akan mendebatkan, terutama tentang orang seperti apakah Mark Zuckenberg, sang founder Facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya asumsikan semua yang membaca tulisan ini sudah menonton film garapan sutradara David Fincher itu. Kalau belum, saat ini juga, segeralah pergi ke bioskop sebelum film ini turun, dan digantikan film lain. Hal ini karena sepertinya sambutan penonton di Indonesia tidak terlalu heboh seperti di Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus buat Anda para startup, dan para startup wanna-be (seperti saya), menonton film ini akan menyisakan lebih dari perdebatan. Terlepas dari kontroversinya dan seberapa dekat film ini dari kenyataan, ada hal-hal yang bisa kita catat dan renungkan, siapa tahu bisa berguna dalam perjalanan bisnis kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mark Zuckenberg memulai Facebook dari kamar asramanya di Harvard tahun 2003. Ide membuat Facebook bukanlah original dari dirinya. Bisa dikatakan, dia mencuri ide itu dari Winklevoss bersaudara (yang kemudian menuntutnya di pengadilan)---maaf bagi yang belum nonton, sulit menulis tulisan ini tanpa memberikan spoiler. Intinya, meski bukan ide Mark, dia telah membuatnya dengan benar. Sangat benar. Winklevoss yang mempunyai ide awal tidak dapat mewujudkan ide mereka sendiri, mereka perlu bantuan Mark, seorang programmer handal dan juga seorang yang sangat cerdas, yang tanpa disangka, kemudian meluncurkan produknya sendiri berdasarkan konsep awal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Mark melakukan banyak penyempurnaan dari konsep awal. Eksekusi konsep awal itu sendiri pun dapat menjadi menjadi berbeda seandainya bukan Mark yang melakukannya. Hal-hal kecil seperti status hubungan di Facebook, cara menempatkan foto dan kemudian penemuan fitur-fitur baru di kemudian hari, adalah hal-hal detil yang menjadikan Facebook sebesar sekarang ini, semua sudah beyond konsep awal atau ide awal yang sebenarnya bukan milik Mark itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilukiskan dalam film bagaimana Mark menemukan ide memasang status hubungan di Facebook dan dia langsung lari pulang ke kamar asramanya begitu menemukan ide itu. Dengan segera langsung dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain soal pencurian ide, hal kedua yang akan menjadi bahan perdebatan hot adalah soal perlakuan Mark kepada sahabatnya. Eduardo Saverin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar penonton di sebelah saya berkata "Ih, teman macam apa itu..." pada saat adegan konflik Eduardo dengan Mark terjadi. Sejak awal film dari sebelah saya sudah terdengar komentar tentang Mark seperti: "orangnya nyebelin banget ya..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook didanai dengan modal awal 1,000 USD dari Eduardo Saverin. Melihat perkembangan Facebook yang sangat cepat, Eduardo pun menambahkan dana hingga total&lt;br /&gt;berjumlah 19,000 USD dari koceknya sendiri. Dengan itu dia berhak mendapatkan saham 30%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masuknya investor, semuanya menjadi tidak sesederhana itu lagi. Facebook menggelembung dengan pesat, investor memasukkan dana 500,000 USD. Mulai masuknya orang-orang lain sebagai thinker dan penentu arah perusahaan. Dalam hal ini, saya melihat, Eduardo agak tertinggal dalam pesatnya kemajuan itu. Dan mungkin karena dia mempunyai visi yang berbeda dengan owner2 yang lain sehingga dia tersingkirkan. Well, secara detil kayaknya harus nonton sendiri deh... gak mungkin saya ceritakan semuanya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal yang bisa saya catat di sini adalah, ketika membuat bisnis online, atau ketika melakukan partnership, pastikanlah bahwa diri Anda tidak tergantikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Mark Zuckenberg, dia bukan hanya programmer. Kalau hanya programmer dia akan mudah digantikan. He is the soul of the product. Dia bukan hanya otaknya, tapi juga jiwanya. Dia memahami betul produk yang dibikinnya, dia punya gambaran mau dibawa ke mana produk ini, dan dia sangat passionate about it. Makanya, dengan pergantian kepemilikan seperti apa pun, saham Mark tetaplah yang paling dominan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjadi otak dan jiwa produk itu, Mark tidak pernah berhenti dengan inovasi baru. Misalnya saja, saya pernah membaca artikel bahwa, button Like di Facebook itu adalah ide Mark. Investor akan melihat bahwa Mark tidak dapat digantikan, sementara, misalnya, Eduardo, tidak dibutuhkan lagi. Perusahaan berkembang terlalu pesat sehingga bisa saja Eduardo tidak cocok lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ini terlepas dari seberapa dekatnya film ini dari kenyataan, kita kesampingkan dulu hal itu. Kalau melihat apa yang terjadi pada Eduardo, di film, ingin rasanya saya menimpali penonton di sebelah saya yang menilai Mark sebagai "teman macam apa itu..." seandainya saya mengenalnya. "It's business," saya akan bilang begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah bisnis. Makanya bila berbisnis bersama teman, ada resiko di dalamnya terhadap hubungan persahabatan kita. Apalagi ini menyangkut bisnis milyaran dollar. Salahnya memang, Mark as a person, seharusnya bisa lebih komunikatif. But, sudahlah, itu hanya film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ketiga yang saya catat. Mark Zuckenberg mempunyai visi besar. Dan karena itulah dia cocok dengan Sean Parker, orang yang membuat Napster pada usia 19 tahun. Dia tidak buru-buru mencari pendapatan untuk Facebook (dari iklan). "Facebook is cool, advertising is not." Seperti halnya orang-orang sedang berpesta, dan pada jam 11 malam kita datang dan mengatakan "party is over," itulah advertising. Demikian saya kutip dari film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihannya, apakah kita mengincar ikan kecil (trout), atau ikan besar (marlin)? It's your choice. Mereka rela menunggu, beberapa tahun, hingga pengguna Facebook mencapai 500 juta di seluruh dunia, lalu ikan marlin pun berdatangan... it's up to you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir. Startup adalah para pekerja keras. Work hard, play hard. Mereka bekerja 24 jam sehari dan juga tak lupa bersenang-senang. Bagian ini juga digambarkan dalam film. Dan masih banyak lagi. Namun, cukuplah sampai di sini catatan saya, sisanya, Anda harus membuat catatan Anda sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-1104572573406253384?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/1104572573406253384/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2010/11/belajar-dari-film-social-network-film.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1104572573406253384?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/1104572573406253384?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/3IWihJkUZ6I/belajar-dari-film-social-network-film.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TNkfJUlH6tI/AAAAAAAAAzE/-LVxjxyPKrA/s72-c/thesocialnetwork.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2010/11/belajar-dari-film-social-network-film.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cGQ30yfCp7ImA9Wx5XF0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-7559055422679932468</id><published>2010-09-16T10:04:00.004+07:00</published><updated>2010-09-17T15:10:22.394+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-17T15:10:22.394+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Susur Pantai Selatan September 2010&lt;br /&gt;(Pelabuhan Ratu - Pemeungpeuk - Cilacap - Nusakambangan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Nissan Grand Livina kami telah menempuh jarak lebih dari 1.000 km, mulai dari Jakarta - Pelabuhan Ratu - Jampangkulon - Sindangbarang - Pameungpeuk - Cilacap dan kembali ke Jakarta lagi. Gimana ceritanya kok bisa ke tempat-tempat itu? Nah begini nih ceritanya... (karena ternyata jadinya cukup panjang, aku bagi-bagi menjadi beberapa postingan. Thanks for reading!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips: Lebih enak bacanya mulai dari nomor 1 kemudian klik Newer Post, dstnya sampai nomor 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010-1.html"&gt;#1 Jakarta - Pelabuhan Ratu - Surade&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010-2.html"&gt;#2 Tegal Beleud - Agra Binta - Sindangbarang &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010-3.html"&gt;#3 Sindang Barang - Pameungpeuk&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010-4.html"&gt;#4 Pameungpeuk - Cipatujah - Karang Tawulan - Pangandaran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010-5.html"&gt;#5 Cilacap - Nusa Kambangan - Jakarta&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-7559055422679932468?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/7559055422679932468/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/7559055422679932468?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/7559055422679932468?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/X2VZdunVw0w/susur-pantai-selatan-september-2010.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUASX4_eyp7ImA9Wx5XFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-4485785367472302026</id><published>2010-09-16T09:51:00.006+07:00</published><updated>2010-09-16T10:04:08.043+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-16T10:04:08.043+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Susur Pantai Selatan September 2010 #5&lt;br /&gt;(Pelabuhan Ratu - Pemeungpeuk - Cilacap - Nusakambangan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 September 2010 (malam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hari sudah malam, kami tidak membiarkan diri kami berleha-leha terlalu lama di Pangandaran. Empat puluh menit kemudian kami cabut, meneruskan perjalanan ke Cilacap untuk menginap di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menempuh perjalanan dari Pangandaran ke Kalipucang, lalu belok ke kanan di Padaherang, ke arah Sidareja. Jalan ke Sidareja ini kalau di peta berwarna biru, artinya jalan alternatif. Itu berarti bukan jalan besar dan jalannya tidak begitu bagus. Pada saat kami lewat sini hujan membuat tambah deg-degan. Dari Sidareja belok lagi ke kanan menuju Jeruk Legi. Di sinilah rumah teman kami berada. Kami tiba pukul 21.45 pada saat masih hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeruk Legi hanya sekitar 30 menit dari kota Cilacap, merupakan wilayah kabupaten Cilacap. Kami lelah dan lapar, untunglah teman kami sang tuan rumah yang baik hati menawarkan makanan. Thank God kami berkesempatan menyicipi ketupat Lebaran, lengkap dengan ayam opor dan semur daging... nyam nyam nyam... kayaknya sudah sepanjang perjalanan kami mengidamkan makan ketupat, akhirnya kesampaian juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengobrol sebentar menceritakan petualangan kami, kami pun mandi dan tidur dengan pulasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terbangun sekitar pukul 6 pagi karena ada tiga orang teman yang baru tiba dari Jakarta. Mereka inilah yang naik kereta ekonomi Jakarta-Cilacap dari Stasiun Beos. Sambil sarapan kue lupis yang sangat enak kami mendengar cerita penderitaan teman kami dalam perjalanan ke sini. Rasanya petualangan kami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka naik kereta ekonomi yang tarifnya hanya Rp 25.000, tidak dapat tempat duduk. Sepanjang malam duduk berhimpitan dengan orang yang sangat banyak. Sedikit meleng saja, tempat duduk langsung diserobot. Tidak bisa bergerak ke mana-mana, tidak mungkin untuk pipis atau tidur. Bahkan salah satu teman menjadi manusia toilet, alias berdiri di toilet sepanjang perjalanan. Jadi tidak mungkin juga untuk pipis karena toiletnya pun dijejali penumpang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kue lupis dan kopi hitam yang dibuat sendiri oleh ibu teman saya, di dapur juga terhidang pecel. Saya pun tidak bisa menolak melihat sayuran-sayuran segar rebus yang disiram kuah kacang itu. Nyam nyam nyam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini acaranya adalah wisata di pantai Cilacap dan Nusa Kambangan. Di Cilacap kami mengunjungi Benteng Pendem yang merupakan peninggalan Belanda. Dulu tempat ini bekas benteng pertahanan Belanda. Ada terowongan yang bisa dimasuki di sini. Ruang-ruang bawah tanah sudah terendam air, katanya ruang-ruang bawah tanah ini tersambung hingga ke Pulau Nusa Kambangan di seberang. Tempat ini telah disulap menjadi taman wisata rakyat, banyak arena bermain anak kecil, dan tempat ini sangat ramai pada waktu Lebaran. Nilai historisnya menjadi agak sedikit terpendam, seperti namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa benteng ini disebut Benteng Pendem, karena dulu selesai dibangun benteng ini dengan sengaja ditimbun oleh Belanda. Hal ini agar supaya tidak terlihat dari kejauhan. Padahal benteng ini sangat lengkap ruangannya, ada ruangan amunisi, penjara, ruang akomodasi, dan meriam-meriam yang sampai sekarang masih ada sisanya. Semua itu dulu ditimbun agar tidak terlihat oleh musuh dari jauh. Wah canggih juga ya sistem pertahanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJGH5PiwAkI/AAAAAAAAAyU/WKxiah3oH40/s1600/benteng+pendem+cilacap.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJGH5PiwAkI/AAAAAAAAAyU/WKxiah3oH40/s320/benteng+pendem+cilacap.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517340436000145986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJGIEZNrf2I/AAAAAAAAAyc/FEY6MFeFcP8/s1600/dari+pos+penyu+terlihat+p+nusakambangan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJGIEZNrf2I/AAAAAAAAAyc/FEY6MFeFcP8/s320/dari+pos+penyu+terlihat+p+nusakambangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517340627574685538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang di pantai Teluk Penyu, Cilacap kami menyeberang ke Nusa Kambangan. Banyak perahu yang menawarkan jasa penyeberangan di pantai ini, pp Rp &lt;br /&gt;15.000. Tidak jauh, hanya sekitar 15 menit naik boat. Ada juga orang yang mampu berenang Cilacap-Nusa Kambangan, kami melihat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat wisata di sini semuanya harus bayar. Masuk ke Kompleks Taman Hiburan Rakyat pantai Cilacap Rp 5.000 per orang. Masuk Benteng Pendem Rp 5.000 per orang. Masuk objek wisata Nusa Kambangan Rp 3.500. Semua tempat yang saya sebut ini amat sangat ramai, yah maklum, Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Nusa Kambangan kita kenal sebagai tempat lembaga pemasyarakatan atau penjara untuk para penjahat kelas berat. Namun di sini ternyata ada juga obyek wisata yang dapat dikunjungi. Setelah tiba di pinggir sebelah kiri pulau Nusa Kambangan, kita disambut loket pintu gerbang tempat wisata. Dari sini harus berjalan (soft treking) sekitar 45 menit untuk mencapai pantai pasir putih, pantai karang bolong, dan sisa-sisa benteng peninggalan Belanda. Di depan gerbang benteng tua ini terdapat pohon-pohon tinggi besar yang usianya mungkin ribuan tahun. Akarnya yang tinggi mencengkeram salah satu pintu gerbang benteng kuno, mengingatkan kita pada Angkorwat di Cambodia. Ternyata kita juga punya yang kayak gini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pukul 16.00 tiba, kita sudah harus meninggalkan Pulau Nusa Kambangan, karena memang begitu peraturannya. Kami bertemu dua orang petugas dan satu-satunya hal yang kami sampaikan kepada mereka adalah keluh kesah, mengapa pulau yang indah ini dibiarkan begitu kotor? Sepanjang jalan menuju obyek wisata penuh dengan sampah, bekas pop mie, soft drink, rokok, snack, dll. Semua itu sangat merusak pemandangan, sangat mengganggu, bahkan sakit hati rasanya melihat kekayaan alam kita tidak dipelihara oleh kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJGIR3K0ItI/AAAAAAAAAyk/U2bs2qsehuk/s1600/jalan+di+p+nusa+kambangan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJGIR3K0ItI/AAAAAAAAAyk/U2bs2qsehuk/s320/jalan+di+p+nusa+kambangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517340858954031826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJGJCLSij9I/AAAAAAAAAy8/5_Nf6g82AdY/s1600/sisa+benteng+di+nusa+kambangan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJGJCLSij9I/AAAAAAAAAy8/5_Nf6g82AdY/s320/sisa+benteng+di+nusa+kambangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517341688988864466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di rumah sekitar pukul 18.30. Malam ini kami makan ikan bakar lagi. Ikan mas, patin, gurame hasil pancingan sepupu-sepupu teman kami pagi harinya, malam itu kami bakar dan makan ramai-ramai dengan keluarga teman kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan banget keramahan penduduk kota kecil, keramahan orang Jawa dan kesopanan tingkat tinggi. Sewaktu berada di rumah teman saya itu, sering sekali ada tamu yang datang. Saudara-saudara teman kami, semua menyapa kami dengan sangat ramah. Kami pun diterima di rumah teman itu bagaikan di rumah sendiri. Bahkan ketika kami pamit, kami dibekali nasi goreng dan oleh-oleh snack khas lokal. Benar-benar terharu saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menikmati stay di Jeruk Legi ini. Kami selalu dijamu dengan makanan tradisional eksotis yang dibeli di pasar. Hari Senin (tgl 13) sebelum berangkat saya sarapan tiwul. Tiwul yang terbuat dari singkong ini rasanya hambar, enak sekali dimakan dengan kelapa parut. Sekali lagi, nyam nyam nyam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya kami menyudahi liburan yang singkat ini. Hari ini hari terakhir libur Lebaran resmi dari pemerintah (sudah termasuk cuti bersama 2 hari). Kami sudah siap untuk menghadapi kemacetan arus balik yang pastinya cukup heboh. Kami berangkat pukul 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menempuh rute Jeruk Legi-Sidareja-Wanareja. Sesampai di Wanareja kami sudah masuk jalan besar, di kanan kiri penuh dengan spanduk iklan. Memang beda suasananya ketika sudah memasuki jalur mudik yang banyak dilalui orang. Setelah itu Banjar-Ciamis dan seterusnya hingga bertemu dengan kemacetan yang cukup parah menjelang Nagreg. Akhirnya, Cilacap-Jakarta kami tempuh dalam waktu 14 jam (pada waktu normal sekitar 7-8 jam). Yah, sekali-sekali merasakan yang namanya arus mudik/balik Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba di rumah tanggal 14 September pukul 02.00 pagi. Hari itu juga langsung ngantor sambil terkantuk-kantuk. Total perjalanan dari Jakarta-Pelabuhan Ratu-Pameungpeuk-Cilacap-Jakarta lebih dari 1.000 km. Menggunakan Nissan Grand Livina 1.500 cc, dengan perbandingan bensin 1:10, isi beberapa kali, di Jakarta, Pelabuhan Ratu, Cipatujah, dan Ciamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ini telah melengkapi portfolio pantai selatan kami, sewaktu trip ke Sawarna telah menempuh jalur dari Malingping-Bayah-Pelabuhan Ratu. Setidaknya, kami sudah pernah melipir di pinggiran paling selatan tiga propinsi di pulau Jawa: Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. (cieehhh... gaya...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(The End)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. bukan promosi Nissan, kebetulan saja mobil teman saya Livina.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-4485785367472302026?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/4485785367472302026/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010-5.html#comment-form" title="6 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4485785367472302026?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/4485785367472302026?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/aHFzDxn7RmY/susur-pantai-selatan-september-2010-5.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJGH5PiwAkI/AAAAAAAAAyU/WKxiah3oH40/s72-c/benteng+pendem+cilacap.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>6</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010-5.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8DR3g8eyp7ImA9Wx5XFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3720752.post-6593408548846820732</id><published>2010-09-15T20:31:00.007+07:00</published><updated>2010-09-16T10:14:36.673+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-16T10:14:36.673+07:00</app:edited><title /><content type="html">&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Susur Pantai Selatan September 2010 #4&lt;br /&gt;(Pelabuhan Ratu - Pemeungpeuk - Cilacap - Nusakambangan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 sept 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Packing untuk ke Dieng, tapi bisa berakhir di Cilacap. Begitulah... Yah, aku sih asik-asik aja, yang penting jalan. Mengeksplore tempat-tempat baru yang tidak pernah dikunjungi selalu menyenangkan. Tantangan untuk mengetahui apa yang ada setelah ini, suatu ketidakpastian yang terus membuat deg-degan. Dan setelah berhasil dilewati terasa lega dan senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pameungpeuk terus ke arah timur menuju Cipatujah, Pangandaran hingga Cilacap jalan yang dilalui sudah bagus. Inilah yang dimaksud teman kami waktu di Pelabuhan Ratu itu, jalan pantai selatan memang sudah bagus. Ternyata dia tidak pernah sampai ke ujung barat, jalan yang jelek antara Tegal Beleud sampai Agra Binta itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pemeungpeuk hingga Cipatujah jalan yang dilalui adalah jalan pegunungan dan berkelok-kelok, melewati perkebunan karet Miramare milik PTPN. Setelah Cipatujah kita tinggal lurusss saja menyusuri pantai selatan, maka kita akan sampai ke Pangandaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalur pantai selatan Cipatujah-Pangandaran ini ada beberapa pantai, dan setiap pantai yang kami lewati suasananya sangat ramai, penuh dengan masyarakat yang sedang berlibur pada hari Lebaran kedua. Jalanan yang kami lalui ramai, sebagian besar motor-motor. Namun di sini sudah ramai mobil, tidak seperti waktu di Tegal Beleud-Agra Binta di mana kami merasa sendirian, sekarang sudah banyak mobil lain, termasuk yang sama type-nya dengan mobil kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalur pantai ini banyak sekali warung yang menyediakan ikan bakar. Saya sebut warung karena jangan membayangkan restoran-restoran besar seperti di perkotaan. Warung-warung ini kecil, bentuknya sederhana, bukan restoran besar seperti misalnya di jalur mudik yang disinggahi orang Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak kalah serunya adalah banyak sekali yang jual mie baso, saya perhatikan setiap beberapa meter ada warung mie baso. Apakah selalu begini atau hanya pada saat Lebaran saja, dimana mungkin orang-orang bosan makan ketupat di rumah? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga memperhatikan bahwa hampir semua wanita dewasa yang terlihat sepanjang jalan ini mengenakan kerudung. Dalam radius 1 km sulit sekali menemukan satu wanita dewasa yang tidak berkerudung, entah itu yang di rumah, atau yang sedang naik motor. Apakah selalu begini, atau ini hanyalah busana Lebaran? Entahlah juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan seperti ini tidak saya temui setelah memasuki wilayah Jawa Tengah. Apakah karena beda wilayah/beda budaya, atau karena Lebaran sudah berlalu? (memasuki Jawa Tengah hari Lebaran ketiga) Sekali lagi, question mark. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga melalui banyak desa yang namanya lucu-lucu. Kemarin ada desa namanya Simpenan, sekarang ada Desakolot... mudah-mudahan saya tidak salah baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDL44vIG6I/AAAAAAAAAxs/RopEhWpzQn4/s1600/warungCimanuk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDL44vIG6I/AAAAAAAAAxs/RopEhWpzQn4/s320/warungCimanuk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517133721692019618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDMDhvslGI/AAAAAAAAAx0/SIc27sf9BxI/s1600/warungCimanuk2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDMDhvslGI/AAAAAAAAAx0/SIc27sf9BxI/s320/warungCimanuk2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517133904498955362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berhenti makan siang sekitar pukul 13.30 di sebuah warung ikan bakar yang ada saungnya di sebuah desa bernama Cimanuk. Saya tahu nama desanya karena bertanya pada mbaknya. Desa ini tidak ada di peta, letaknya somewhere di antara Kalapagenep dan Legokjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu yang disediakan cuma satu, yaitu: ikan mas bakar. Ketika ditanya "tidak ada ikan laut ya?" si teteh malah menyuruh kami ke warung yang lain. Tampak kesan bahwa warung ini jarang sekali didatangi orang kota, mbaknya pun dengan sungkan dan malu-malu, malah menyuruh ke warung lain. Kami mencoba ke warung yang ditunjuk, ikan laut yang tersedia ternyata cuma tongkol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami memilih di warung yang mbaknya malu-malu itu, karena memang tempatnya lebih menarik. Kami bisa duduk di saung-saung di atas kolam. Ikannya langsung diciduk dari kolam/empang itu untuk disiangi dan dibakar. Nyam-nyam... ternyata enak juga... dan terutama yang menarik adalah sambalnya. Sambalnya terdiri dari cabe, tomat, dan ada rasa jahenya. Enakkkk.... (1 kg ikan mas sudah dibakar Rp 30.000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak disangka, ternyata tidak jauh setelah warung tempat kami makan itu, kami menemukan sebuah pantai yang teramat indah. Di pinggir jalan, di depan pantai itu ada spanduk besar dengan gambar pantai yang indah, nama pantai itu adalah Pantai Karang Tawulan. Kami memutuskan untuk mampir, karena fotonya itu membuat penasaran. Pantai itu terlihat seperti Uluwatu di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket masuk pantai Rp 10.000, tidak termasuk parkir Rp 2000. Dan ternyata... pantai itu memang sangat indah. Yang khas dari pantai ini adalah tebing-tebing dan karangnya serta pepohonan berbentuk mirip seperti pohon zaitun tapi di bawahnya terlihat seperti sapu. Nah loh, apa nama pohon ini? Another question mark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pantai ini sangat ramai, cukup sulit mengambil foto. Bentuknya yang bertebing-tebing pun menyulitkan mengambil angle, ifkarena tidak ada space yang lapang. Pantai ini bisa jadi cukup prospektif untuk dikembangkan menjadi the next Pangandaran atau Pelabuhan Ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDMS0ZnfnI/AAAAAAAAAx8/iGrUJi9C6Yc/s1600/karang+tawulan+1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDMS0ZnfnI/AAAAAAAAAx8/iGrUJi9C6Yc/s320/karang+tawulan+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517134167204658802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDMeymSKXI/AAAAAAAAAyE/FYcX1jb1DJg/s1600/karang+tawulan+2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDMeymSKXI/AAAAAAAAAyE/FYcX1jb1DJg/s320/karang+tawulan+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517134372879346034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDMoV8riCI/AAAAAAAAAyM/hAR51JygjpY/s1600/karang+tawulan+3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDMoV8riCI/AAAAAAAAAyM/hAR51JygjpY/s320/karang+tawulan+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517134536987346978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalur pantai selatan yang kami lalui terlihat ada petunjuk untuk jalur evakuasi. Sepertinya daerah ini memang rawan terjadi gelombang besar, bahkan pernah tsunami. Makanya tidak heran jarang sekali yang berani membuka resort di pinggir pantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 18.00 kami tiba di Pangandaran, masuk melalui Green Canyon dulu bila lewat sini. Memenuhi rasa ingin tahu seorang teman yang belum pernah ke Pangandaran, kami pun mampir. Harga tiket masuk Rp 27.500 untuk 1 mobil. Saat itu sudah gelap, pantai sudah sepi. Kami hanya duduk ngopi sebentar di pinggir pantai yang pada waktu siang tadi pastilah menjadi lautan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/feed-icon32x32.png" alt="" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vPiP" title="Subscribe to my feed" rel="alternate" type="application/rss+xml"&gt;Subscribe in a reader&lt;/a&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3720752-6593408548846820732?l=www.meisia.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.meisia.com/feeds/6593408548846820732/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010-4.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6593408548846820732?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3720752/posts/default/6593408548846820732?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/MeiDaysIsBack/~3/p_d7aqlf8cA/susur-pantai-selatan-september-2010-4.html" title="" /><author><name>mei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08378506586515246792</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://bp0.blogger.com/_polMj02ADAA/R8aXFjBe2hI/AAAAAAAAAMo/gkQqNH80hW4/S220/mei.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_polMj02ADAA/TJDL44vIG6I/AAAAAAAAAxs/RopEhWpzQn4/s72-c/warungCimanuk.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.meisia.com/2010/09/susur-pantai-selatan-september-2010-4.html</feedburner:origLink></entry></feed>

