<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" version="2.0">

<channel>
	<title>melek syiah</title>
	<atom:link href="https://meleksyiah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml"/>
	<link>https://meleksyiah.wordpress.com</link>
	<description>Melihat Syiah Lebih Dekat</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Jul 2012 04:32:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">34887722</site><cloud domain="meleksyiah.wordpress.com" path="/?rsscloud=notify" port="80" protocol="http-post" registerProcedure=""/>
<image>
		<url>https://s0.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>melek syiah</title>
		<link>https://meleksyiah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link href="https://meleksyiah.wordpress.com/osd.xml" rel="search" title="melek syiah" type="application/opensearchdescription+xml"/>
	<atom:link href="https://meleksyiah.wordpress.com/?pushpress=hub" rel="hub"/>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Melihat Syiah Lebih Dekat</itunes:subtitle><item>
		<title>Pendapat Para Ulama Senior Al-Azhar tentang Syi’ah</title>
		<link>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/07/02/pendapat-para-ulama-senior-al-azhar-tentang-syiah/</link>
					<comments>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/07/02/pendapat-para-ulama-senior-al-azhar-tentang-syiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[leftshia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2012 04:28:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[fatwa ulama dan syiah]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa&syiah]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://meleksyiah.wordpress.com/?p=311</guid>

					<description><![CDATA[oleh:  Syaikh Prof. Yusuf Al-Qardhawi Pendapat Para Ulama Senior Al-Azhar tentang Syi’ah                 Pada kesempatan kali ini saya ingin mengatakan bahwa semua penjelasan saya tentang Syi’ah ini bukan semata-mata pendapat saya sendiri. Akan tetapi merupakan pendapat para ulama senior Al-Azhar terhadap Syi’ah. Seperti Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf (mantan Mufti Mesir), Syaikh Muhammad ‘Arfah (anggota Lembaga Ulama [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;"><strong><strong>oleh: </strong></strong></p>
<h3>Syaikh Prof. Yusuf Al-Qardhawi</h3>
<p>Pendapat Para Ulama Senior Al-Azhar tentang Syi’ah</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">                Pada kesempatan kali ini saya ingin mengatakan bahwa semua penjelasan saya tentang Syi’ah ini bukan semata-mata pendapat saya sendiri. Akan tetapi merupakan pendapat para ulama senior Al-Azhar terhadap Syi’ah. Seperti Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf (mantan Mufti Mesir), Syaikh Muhammad ‘Arfah (anggota Lembaga Ulama Senior dan mantan ketua Divisi Bimbingan dan Penerangan Al-Azhar), Syaikh Jadul Haq Ali Jadul Haq (mantan Mufti Mesir dan Grand Syaikh Al-Azhar), Syaikh Athiyah Shaqr (ketua Komisi Fatwa Al-Azhar), Syaikh Dr. Abdul Mun’im An-Namir (Wakil Syaikh Al-Azhar dan mantan Menteri Waqaf Mesir).</div>
<div style="text-align:justify;">                Akan tetapi karena keterbatasan tempat, tidak memungkinkan bagi saya untuk menyebutkan seluruh perkataan para ulama senior tersebut yang berkompeten di dalam masalah ilmu dan memiliki peranan di dalam melakukan perbaikan di dalam hidup mereka. Tidak pernah ada tuduhan yang diarahkan kepada mereka, baik tuduhan fanatisme maupun tuduhan konservatif (tertutup).</div>
<div style="text-align:justify;">                Syaikh Makhluf telah menyebutkan macam-macam Syi’ah. Di antaranya: Syi’ah Imamiyah Itsna ’Asyariyyah yang berkeyakinan bahwa Rasulullah SAW telah membuat wasiat bahwa Ali harus menjadi khalifah setelah beliau wafat. Karena Ali adalah ahli waris beliau. Kelompok Syi’ah ini berani mencela para sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar. Bahkan mereka juga berani mengafirkan para sahabat. Mereka juga berkeyakinan bahwa imamah itu hanya terbatas kepada imam mereka yang berjumlah dua belas orang yang mereka yakini kemaksumannya dan mereka meyakini Imam Mahdi akan muncul ke dunia ini, dsb.</div>
<div style="text-align:justify;">                Syaikh Makhluf berkata,<em> ”Ajaran Islam tidak pernah mengajarkan keyakinan seperti ini, baik secara global maupun secara terperinci. <span id="more-311"></span>Tidak ada orang yang maksum selain para nabi dan rasul. Juga tidak ada </em><em>ajaran</em><em>yang menyatakan bahwa imamah itu hanya terbatas di Ahlul Bait atau hanya terbatas dua belas imam saja. Juga Rasulullah SAW tidak pernah memberikan wasiat kepada Ali, baik dengan </em><em>nash yang </em><em>terang maupun</em><em>samar</em><em>. Islam juga tidak mengenal istilah Al-Mahdi yang ditunggu-tunggu yang diyakini oleh Syi’ah sedang bersembunyi dan masih hidup di bumi sampai sekarang yang akan muncul di akhir zaman. Juga tidak boleh</em><em>mengkultuskan</em><em> orang lain selain para rasul. Juga tidak ada keterangan yang memerintahkan untuk pergi berziarah ke Karbala dan Najaf, </em><em>dan</em><em>memuliakan kedua kota tersebut. Juga tidak ada perintahnya untuk menjadikan hari Asyuro sebagai hari berkabung. Justru yang ada adalah perintah untuk </em><em>berpuasa</em><em> di hari Asyuro.”</em></div>
<div style="text-align:justify;">                Inilah perkataan Syaikh Makhluf yang didukung oleh perkataan para ulama senior yang lainnya. Hal ini seperti yang telah dinukil oleh Dr. Muhammad Yusri di dalam bukunya yang berisi kumpulan fatwa-fatwa ini dengan judul, “Fatawa Kibar ‘Ulama Al-Azhar fi As-Syi’ah” <em>-Himpunan</em><em>Fatwa Ulama Senior Al-Azhar tentang Syi’ah-.</em> Buku ini diedit oleh dua orang profesor Al-Azhar yaitu Al-Khasyu’I Muhammad Al-Khasyu’i dan ‘Umar bin ‘Abdul Aziz Quraisyi. Buku ini adalah kumpulan fatwa ilmiyah yang lengkap dengan kutipan dari referensi kitab-kitab Syi’ah dan bukan dari kitab musuh-musuh Syi’ah. Pesan saya kepada saudara saya sesama muslim jika Anda ingin mencari kebenaran, saya persilahkan untuk membaca buku himpunan fatwa ulama tersebut.</div>
<div style="text-align:justify;">                Akan tetapi dari buku ini, saya hanya akan mengutipkan perkataan Syaikh Dr. Abdul Mun’im An-Namir. Beliau adalah seorang tokoh yang sudah terkenal akan keterbukaan beliau terhadap dunia ini. Beliau telah banyak melakukan kunjungan ke berbagai negara Islam di seluruh dunia. Beliau juga pernah menjadi perwakilan (utusan) Al-Azhar di India. Di sana, beliau menulis buku tentang sejarah Islam di India. Beliau juga merupakan Pimpinan Redaksi Majalah <em>“</em><em>Al-Wa’ie Al-Islami</em><em>”</em> di Kuwait. Beliau juga mengeluarkan pandangan-pandangan dan tulisan-tulisannya yang terbaru (<em>up to date</em>), sehingga beliau tidak pernah dituduh sebagai ulama jumud atau fanatik.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Pendapat D</strong><strong>r.</strong><strong> Abdul Mun’im An-Namir, mantan Menteri </strong><strong>W</strong><strong>aqaf Mesir tentang Syi’ah <em> </em>  </strong></div>
<div style="text-align:justify;">                Beliau telah mencantumkan di dalam bukunya yang berjudul,<em>Syi’ah dan Al-Mahdi</em> yang berisi dialog beliau dengan Syaikh Muhammad Ali Taskhiri, seorang ulama penyebar ide pendekatan antara Sunni dan Syi’ah. Beliau berkata,</div>
<div style="text-align:justify;">”Bismillaahir rahmaanir rahiim, semoga selawat dan salam tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat beliau, <em>amma ba’du</em>: Saya telah menjadikan dialog yang terjadi antara saya dengan Syaikh Muhammad Ali Taskhiri sebagai muqaddimah cetakan keempat ini. Beliau adalah salah seorang ulama Iran yang sering menjadi utusan Pemerintah Iran untuk menghadiri berbagai macam muktamar (konferensi) dan seminar tentang Islam. Beliau adalah ulama yang fasih dan luas ilmunya. Jika beliau berbicara dengan bahasa Arab, seolah-olah beliau adalah orang Arab asli. Ternyata, sejak masih muda, beliau telah ber<em>talaqqi</em> di beberapa kota suci Syi’ah di Irak.</div>
<div style="text-align:justify;">Pertemuan ini terjadi di kota Moscat, ibukota Kesultanan Oman. Tepatnya terjadi di areal Universitas Sultan Qobus yang baru, luas dan megah yang terletak kurang lebih sekitar 40 km dari ibukota Moscat. Di sana berlangsung Seminar Fiqih Islam yang disponsori Pemerintah setempat dari tanggal 22-26 Sya’ban 1408 H atau bertepatan dengan tanggal 9-13 April 1988 M.  Seminar ini dihadiri banyak para ulama senior, para ahli fiqih Islam dan tokoh pergerakan Islam, misalnya Grand Syaikh Al-Azhar Jadul Haqq Ali Jadul Haqq (w.1996 M)</div>
<div style="text-align:justify;">Di sana, ketika acara dimulai, saya bertemu dengan Syaikh Muhammad Ali Taskhiri. Kami pun bersalaman dan berbincang-bincang. Beliau mengingatkan saya bahwa pertemuan yang pertama adalah terjadi di acara Forum Pemikiran yang diadakan di kota Kosantin di Aljazair pada awal tahun 1980-an.</div>
<div style="text-align:justify;">Di hari keduanya saat <em>break</em> seminar tersebut, kami keluar bersama beliau dan terjadilah dialog yang dimulai oleh beliau. Beliau berkata kepada saya, <em>”Anda telah menzhalimi kami ketika Anda menuduh kami bahwa kami telah berkata bahwa telah terjadi perubahan terhadap Al-Qur`an dan para sahabat yang telah mengumpulkannya telah membuang (menghilangkan) beberapa surat atau beberapa ayat, yaitu ayat tentang hak Ali sebagai pemimpim setelah Rasulullah SAW wafat.”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Saya jawab pertanyaan beliau ini, <em>“Ya, memang saya telah men</em><em>ulis </em><em>hal itu berdasarkan kepada kitab-kitab kalian. Saya pun menyebutkan nama-nama kitab-kitab mereka tersebut, salah satunya kitab Fashlul Khithaab fii Itsbaati Tahriifi Kitaabi Rabbil Arbaab. Kitab ini ditulis oleh ulama besar Syi’ah, Syaikh Husein An-Nuuri Ath-Thabrasi pada abad ke-13 H. Kitab ini dicetak di Iran pada tahun 1298 H. Saya hanya menukil apa yang tercantum di dalam kitab ini. Bagaimana mungkin saya dianggap telah menzhalimi kalian, karena semua yang saya sebutkan di dalam masalah ini adalah bersumber dari kitab-kitab kalian yang telah diakui oleh para ulama kalian. Dan kalian pun memberikan penghormatan yang tinggi kepada penulis kitab ini pada saat dia meninggal dunia pada tahun 1</em><em>2</em><em>32 H. Beliau ini dikuburkan di Najaf, sebuah tempat agung menurut orang-orang Syi’ah, di dekat kuburan Imam </em><em>Ali </em><em>Al-Murtadha.”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Beliau berkata, <em>”Kitab ini tidak ada apa-apanya. Saya sendiri meletakkan kitab ini di bawah kaki saya (beliau menghentakkan kakinya ke tanah) sambil marah.”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Saya berkata kepada beliau, <em>”Mengapa kalian diam saja pada saat kitab ini menceritakan tentang kalian jika memang seperti itu? Mengapa pula kalian tidak mengumumkan jika kalian tidak mengakui isi kitab tersebut? Dan mengapa kalian mendistribusikan kitab ini ke seluruh penjuru dunia, sehingga saya dan ulama yang lain pun tahu bahwa kitab ini tidak mewakili ajaran madzhab kalian. Apakah ada sebuah keterangan yang dirilis oleh pemimpin tertinggi Syi’ah pada saat ini (Ayatullah Khumaini) bahwa isi kitab-kitab Syi’ah adalah tidak benar, seperti kitab An-Nuur Ath-Thabrasi ini. Contoh lainnya tentang kebiasaan mencela para sahabat yang telah mengumpulkan Al-Qur`an bahwa mereka itu telah merubahnya. Sebaiknya seluruh tuduhan ini dihapus dari kitab kalian itu pada saat akan dicetak ulang. Apakah kalian berat melaksanakan ini semua?” </em></div>
<div style="text-align:justify;">Kalian tidak melaksanakan satu dari tuntutan kami ini. Karena saya tahu jika sebagian dari para ulama kalian telah berlepas diri di dalam pengajian-pengajian mereka dari tuduhan bahwa telah Al-Qur`an telah dirubah. Akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang telah menuduh bahwa para sahabat telah merubah-rubah Al-Qur`an. Mengapa pula kalian tidak membuat pernyataan untuk seluruh rakyat yang membaca kitab ini yang berisi penolakan kalian atas tuduhan ini?</div>
<div style="text-align:justify;">Beliau berkata kepada saya, <em>”</em><em>Anda</em><em> telah membicarakan mengenai ucapan yang mengatakan bahwa kami mempunyai mushaf Fathimah. Padahal kami tidak pernah mengatakan seperti ini.”  </em></div>
<div style="text-align:justify;">Saya pun berkata kepada beliau,<em> ”Ya, rujukan utama kalian telah mengatakan bahwa wahyu Allah SWT juga turun kepada Fathimah setelah wafat orang tuanya (Rasulullah SAW). Adalah Ali RA sebagai pencatat wahyu tersebut sampai terkumpul </em><em>dan </em><em>di kemudian hari disebut dengan Mushaf Fathimah.”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Saya baru tahu akan masalah ini setelah saya memperhatikan khutbah Imam Khumaini yang disiarkan oleh radio Teheran. Beliau telah berkata di dalam khutbah tersebut yang mana khutbah tersebut diadakan pada perkumpulan para wanita pembesar Iran pada acara peringatan lahirnya Fathimah. Imam Khumaini berkata, <em>”Sesungguhnya saya tidak kuasa untuk bercerita tentang Siti Fahimah. Akan tetapi cukuplah dengan sebuah riwayat yang tercantum di dalam kitab Al-Kaafiy.” </em>Beliau pun menceritakan riwayat ini di depan para isteri pembesar Iran.</div>
<div style="text-align:justify;">Kitab <em>Al-Kaafiy</em> yang ditulis oleh Imam Al-Kulaini adalah kitab Syi’ah yang sepadan dengan Kitab Al-Bukhari di kalangan Ahlu Sunnah. Hal ini lah yang memaksa saya pergi ke kota Najaf untuk bertemu dengan salah seorang ulama besar Syi’ah. Di sana saya bisa melihat-lihat isi kitab tersebut yang merupakan cetakan Iran yang terdapat di perpustakaan pribadi miliknya.</div>
<div style="text-align:justify;">Saya telah mencantumkan di dalam buku saya tentang juz dan bab yang menerangkan tentang turunnya wahyu kepada Fathimah dan mushafnya secara jelas. Apakah dengan ini saya dianggap telah melukai dan menzhalimi kalian gara-gara saya melampirkan seluruh isi buku saya dari sumber rujukan yang paling valid menurut kalian berikut teksnya?</div>
<div style="text-align:justify;">Beliau berkata, <em>”Kitab</em><em>-kitab itu </em><em>adalah kitab murahan dan tidak valid!”  </em></div>
<div style="text-align:justify;">Saya bertanya kepada beliau, <em>”Tapi, mengapa kalian mendistribusikan kitab ini (kitab Al-Kaafiy) ke seluruh penjuru dunia, sampai ke Amerika. Bahkan kalian telah menerjemahkanya ke dalam bahasa Inggris agar mudah dibaca oleh semua orang yang faham bahasa Inggris di Barat dan di Timur! Saya sendiri mempunyai cetakan terbaru yang sudah diterjemahkan. Apakah dengan ini semua bisa dikatakan jika kitab Al-Kaafiy ini adalah kitab hebat menurut kalian? Sebab kalian telah berupaya keras dan menggelontorkan dana yang cukup besar untuk mencetak dan menerjemahkannya sampai mencapai ratusan ribu eksemplar untuk disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia sebagai sarana propaganda madzhab kalian. Apakah kalian merasakan hal ini?”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Beliau berkata, <em>”Di dalam kitab-kitab tafsir kalian </em><em>terdapat</em><em>banyak kisah-kisah Israiliyat. Apakah hal ini bermakna bahwa kalian (Ahlu Sunnah) juga </em><em>mengakui keabsahan</em><em>nya?”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Saya jawab, <em>”Memang benar, di dalam kitab-kitab tafsir kami banyak riwayat Israiliyat dan hadits-hadits yang tidak shahih. Akan tetapi sebagian para ahli tafsir mengingatkan hal ini dan mereka juga mengakui jika riwayat-riwayat tersebut adalah riwayat dusta. Kami sekarang ini sedang memberantas riwayat-riwayat Israiliyat tersebut. Kami sedang menulis beberapa kitab yang menjelaskan hal tersebut dan memperingatkan orang yang membacanya agar jangan mempercayai riwayat-riwayat dusta tersebut. Sebagian para ulama ada yang berusaha untuk mengoreksi dan membuang riwayat-riwayat Israiliyat, hadits-hadits palsu dan hadits-hadits yang tidak shahih. Dibandingkan dengan kalian</em><em>,</em><em> kami lihat kalian terus memperbaharui cetakannya dan kemudian kalian mengatakan jika kitab tersebut tidak ada apa-apanya? Bahkan kalian juga menerjemahkannya dan mengirimkannya ke berbagai negara! Mana yang dapat kami percayai? Apakah ucapan yang tidak memiliki dalil apa pun ataukah kenyataan yang merupakan dalil yang sangat kuat?”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Di hari kedua dari pertemuan di pagi hari, ada seorang dari saudara saya dari kalangan para ulama yang memberitahu saya bahwa Syaikh Taskhiri terserang serangan jantung dan telah dibawa ke RS Sulthan. Saya menyesal, mungkin saja saya yang menyebabkan serangan jantung ini. Akhirnya, saya buru-buru pergi ke RS untuk melihat kondisinya. Di RS, saya melihat beliau telah sadar dan sedang berbaring di atas ranjangnya. Saya pun merasa tenang setelah saya tahu bahwa penyebab ini semua adalah luka di usus dua belas jarinya yang semakin parah. Beliau pun telah minum obat. Pada saat kami sedang berbincang-bincang dengan beliau, datanglah Menteri Luar Negeri Iran, yaitu Ali Akbar Wilayati menjenguk beliau. Pak Menteri bersalaman dengan kami. Di RS saya duduk sebentar dan kemudian saya berpamitan agar keduanya (Pak Menteri dan Syaikh) leluasa bercengkrama.</div>
<div style="text-align:justify;">Pada hari kedua Dr. Muhammad Al-Ahmadiy Abu An-Nur mengajak saya untuk menjenguk Syaikh di RS. Pada saat tiba di RS, kami melihat kamar Syaikh telah kosong dari para penjenguk. Teman saya ini mengajak saya untuk melanjutkan dialog. Saya berkata kepadanya, <em>”Sekarang tema tentang tempat suci. Bagaimana yang kalian lakukan di dalam tempat suci yang perbuatan tersebut tidak pernah diterima oleh kaum muslimin?”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Beliau menjawab, <em>”Sesungguhnya Imam Khumaini membutuhkan sebuah fatwa syariah Islam dari para ulama Ahlu Sunnah. Dan beliau pasti akan menyambutnya!”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Saya katakan kepada beliau, <em>”Apakah tema tentang keamanan kota suci (Mekah) perlu fatwa, padahal sudah ada nash yang jelas yang menguatkan akan keamanan kota suci. Misalnya firman Allah SWT, ”Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia,”</em>(QS Ali Imran [03]: 97)<em>. Setelah Allah SWT memberikan rasa aman kepada seluruh makhluk yang berada di tanah suci sampai kepada burung-burung dan pepohonan, dan juga dilarang beradu pendapat (adu mulut) di areal tersebut, apakah setelah ini semua kita memerlukan fatwa dari seseorang? Apakah usaha mendatangkan orang-orang yang siap meledakkan dirinya bersama jemaah haji Iran, kemudian mereka melakukan demontrasi meneriakkan yel-yel nama Khumaini, mereka memblokir jalan-jalan dan mengganggu pengguna jalan. Mereka bergerak menuju tanah suci yang pada saat itu sedang </em><em>di</em><em>padat</em><em>i</em><em>oleh jemaah haji. Jumlah mereka mencapai sepuluh ribu orang yang terlihat beringas. Hasil dari ini semua sudah bisa diketahui. Apakah perilaku ini sesuai dengan jaminan keamanan yang Allah SWT minta dari kita, yaitu kita harus menjaga keamanan kota suci (Mekah)?”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Wahai saudaraku&#8230; sengaja saya menyebutkan kejadian ini kepadamu agar pengetahuanmu terhadap buku saya ini bertambah. Juga agar kita semua tahu akan tabiat dan tingkah laku orang-orang yang kita sering bermuamalah dengan mereka. Kami semua adalah kaum muslimin dari kalangan bangsa Arab. Hanya Allah SWT yang mampu memberikan petunjuk-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Kitab <em>“Kasyful Asrar”</em> karya Imam Khumaini dan Tuduhan Keji terhadap Abu Bakar dan Umar bin Khaththab</strong></div>
<div style="text-align:justify;">Di hadapan saya ada kitab yang berisi dialog antara Ruhullah Khumaini dengan penentangnya dari kalangan Ahlu Sunnah. Imam Syi’ah ini berdalil bahwa keyakinan imamah adalah benar dan wajib diimani oleh setiap muslim. Beliau melanjutkan dengan perkataannya di bawah ini:</div>
<div style="text-align:justify;"><em> ”Keyakinan harus menolak Abu Bakar adalah perintah Al-Qur`an. Beliau mulai berbicara dengan ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur`an tentang mewariskan tahta kekuasaan. Di antaranya, ”Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud,” </em>(QS An-Naml [27]: 16)<em>, ”</em><em>Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku  seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya‘qub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai,” </em>(QS Maryam [19]: 5-6)<em> dan ayat-ayat lainnya. Dari sini beliau berdalih bahwa ajaran mereka adalah benar bahwa Ali RA akan menerima warisan kekuasaan dari Rasulullah SAW.”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Kemudian beliau juga mengutip dalil-dalil bahwa Abu Bakar telah melanggar nash Al-Qur`an, kemudian dia sesuaikan dengan hawa nafsunya dan berupaya untuk menjauhkan Ahlul Bait dari pemerintahan. Abu Bakar juga telah menzhalimi Ahlul Bait di dalam kehidupan ini ketika dia membuat sebuah hadits yang berbunyi, <em>”Kami sekalian para nabi tidak mewariskan apa-apa. Yang kami tinggalkan hanya </em><em>sedekah</em><em>.”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Kemudian beliau di halaman 114 menjelaskan penyimpangan Umar bin Khaththab dari Al-Qur`an. Ia (Khumaini) telah menyebutkan beberapa kejadian lalu menafsirkannya sesuai dengan keinginannya. Misalnya kejadian pada saat Rasulullah SAW menyuruh Umar agar menulis sebuah surat dan lain-lainnya. Penulis juga mencantumkan ucapan Umar dalam kisah ini. Setelah penulis mencantumkan sumber rujukannya, dia berkata, <em>”Kisah ini menguatkan </em><em>bahwa </em><em>kebohongan </em><em>itu berasal dari </em><em>Umar bin Khaththab</em><em> sang penipu</em><em>!”</em></div>
<div style="text-align:justify;">Kemudian di paragraf berikutnya penulis mengatakan beberapa ucapan Umar bin Khaththab dalam masalah ini, ”<em>Sesungguhnya ucapan-ucapan itu berdiri di atas dasar kebohongan dan berasal dari perbuatan kufur dan zindiq!”</em> (hal. 116). Masih di halaman yang sama dari buku tersebut, penulis membuat sub judul, <em>”Kesimpulan Kami tentang Masalah Ini,”</em> kemudian dia menulis di bawahnya, <em>”Dari semua bahasan yang telah lalu, jelaslah bahwa penyimpangan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab terhadap Al-Qur`an menurut kaum muslimin bukan masalah penting.” </em>Penulis berdalil tentang masalah ini bahwa Abu Bakar dan Umar bin Khaththab tidak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain. Keduanya juga tidak mau lengser dari jabatannya, juga Ahlu Sunnah tidak siap untuk melengserkan keduanya, walaupun Umar bin Khaththab berkata, <em>”Sesungguhnya Allah SWT, malaikat Jibril dan nabi telah salah menurunkan ayat ini.”</em> Hal ini sama sebagaimana kaum muslimin juga berusaha untuk mendukung inovasi dan perubahan yang terjadi (disebabkan Umar) di dalam agama Islam.<em> </em>(hal. 117).</div>
<div style="text-align:justify;">Sampai seperti ini Imam Khumaini menulis tentang Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Dia menuliskan semua ini pertama-tama untuk para pengikutnya untuk menanamkan keyakinan seperti ini terhadap Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Sudah jelas, keyakinan ini kita tolak dan kami berlindung kepada Allah SWT dari orang yang mempercayainya. Oleh karena itu, jangan heran apa yang dikutip dari ucapan Imam Khumaini dalam karya-karyanya bahwasanya dia menyebut Abu Bakar dan Umar bin Khaththab dengan sebutan <em>Al-Jibt</em> dan <em>Thaghut</em>. Dia juga menamai keduanya dengan sebutan <em>“</em><em>Dua Berhala Quraisy</em><em>”</em>. Dia dan jemaahnya berkeyakinan bahwa melaknat Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Aisyah dan Hafshah akan mendatangkan pahala dari Allah SWT. Demikianlah, tuduhan ini juga mereka alamatkan kepada Utsman bin Affan. <a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8842247656659303668#_ftn1">[1]</a></div>
<div style="text-align:justify;">Jangan heran, inilah pendapat Imam Khumaini tentang Abu Bakar dan Umar bin Khaththab dan para sahabat yang lainnya, sampai dia membuat sebuah doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT secara berjamaah yang dinamai dengan <em>“Doa Dua Berhala Quraisy”</em>. Mereka selalu membaca doa ini,</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;" dir="RTL">بسم الله الرحمن الرحيم، اللهم صل على محمد و آل محمد..اللهم العن صنمي قريش و طاغوطيهما و إفكيها وابنيهما الذين خالفا أمرك و أنكرا وحيك و جحدا إنعامك و عصيا  رسولك و قلبا دينك و حرفا كتابك و أحبا أعداءك و جحدا آلاءك و عطلا أحكامك و أبطلا فرائضك و ألحدا في آياتك و عاديا أولياءك و واليا أعداءك و خربا بلادك و أفسدا عبادك، اللهم العنهما و أتباعهما و أولياءهما و أشياعهما و محبيهما فقد خربا بيت النبوة  و ردما بابه و نقضا سقفه و ألحقا سماءه بأرضه و عالية بسافله و ظاهره بباطنه واستأصلا أهله و أبادا أنصاره و قتلا أطفاله و أخليا منبره من وصيه و وارث عمله، و جحدا إمامته و أشركا بربهما فعظم ذنبهما و خلدهما في سقر و ما أدلراك ما سقر لا تبقي و لا تذر، اللهم اللهم العنهم بعدد كل منكر أتوه و حق أخذوه و منبر علوه و منافق ولوه و ولي آذوه و طريد آووه و صادق طردوه و كافر نصروه و إمام قهروه و فرض غيروه و أثر أنكروه و شر آثروه و دم أراقوه و خير بدلوه و كفر نصبوه و كذب دلسوه و إرث غصبوه و فيء اقتطعوه و سحت أكلوه و خمس استحلوه و باطل أسسوه و جور بسطوه.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><em>“Dengan nama Allah yang Maha Penyayang, Maha Pemurah. Ya Allah, semoga selawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.. Ya Allah, kutuklah dua orang Berhala Quraisy dan Thagutnya, juga kedua anaknya, yang mereka berdua itu telah melanggar perintah-Mu, menolak wahyu-Mu, mengingkari nikmat-Mu, bermaksiat kepada Rasul-Mu, merubah agama-Mu, merubah wahyu-Mu, mencintai musuh-musuh-Mu, menolak karunia-Mu, mencabut hukum-hukum-Mu, menolak perintah-perintah-Mu, melencengkan ayat-ayat-Mu, memusuhi wali-wali-Mu, bersikap loyal kepada musuh-musuh-Mu, menghancurkan negeri-Mu, menghancurkan hamba-hamba-Mu. Wahai Allah, laknatlah keduanya dan juga para pengikutnya, para pemimpinya, para pendukungnya dan para pecintanya. Keduanya telah menghancurkan rumah kenabian, merobohkan pintunya, mencabut atapnya, tanahnya dilekatkan ke atasnya, yang atas ke bawah dan yang bawah ke atas. Mereka mengusir penghuninya, menganiaya para pendukungnya, membunuh anak-anaknya dan membiarkan mimbar beliau kosong dari pewarisnya (yaitu Ali), mereka menyangkal imamah Ali, keduanya telah menyekutukan Rabbnya. Oleh karena itu, perbesarlah dosa mereka, kekalkanlah mereka berdua di neraka Saqar. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Wahai Allah laknatlah mereka karena sejumlah kejahatan yang telah mereka lakukan, hak yang telah mereka rampas, mimbar yang telah mereka hinakan, munafik yang telah mereka dukung, menolong orang-orang yang menyakitinya (Ali), dan orang jujur yang telah mereka usir, orang kafir yang telah mereka bantu, imam yang telah mereka hinakan, hukum yang telah mereka rubah, utang nyawa yang telah mereka tolak, kejahatan yang telah mereka sebarkan, darah yang telah mereka tumpahkan, kebaikan yang telah mereka rubah, dan kekufuran yang telah mereka dirikan, kedustaan yang telah mereka lakukan, hak waris yang telah mereka rampas, harta fa’i yang telah mereka potong, harta riba yang telah mereka makan, zakat seperlima yang telah mereka halalkan, kebatilan yang telah mereka dirikan dan keburukan yang telah mereka bentangkan.”</em></div>
<div style="text-align:justify;">                Tidak cukup sampai di sini, mereka juga meneruskan doa ini dengan membaca,</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;" dir="RTL">اللهم العنهما بعدد كل آية حرفوها و فريضة تركوها و سنة غيروها&#8230;اللهم العنهما في مكنون السر و ظاهر العلانية لعنا كبيرا&#8230;دائما دائبا سرمدا لا انقطاع لأمده و لا نفاد لعدده لعنا يعود أوله و لا ينقطع آخره&#8230;اللهم العنهم و محبيهم و مواليهم و المسلمين لهم و المائلين إليهم&#8230;و الناهقين باحتجاجهم و المقتدين بكلامهم و المصدقين بأحكامهم.  [قل أربع مرات] : اللهم عذبهم عذابا يستغيث منه أهل النار&#8230;آمين يا رب العالمين.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><em>“Wahai Allah, laknatlah mereka dengan seluruh ayat yang telah mereka rubah, hukum yang telah mereka tinggalkan dan sunnah yang telah mereka rubah…Wahai Allah, laknatlah mereka berdua di tempat tersembunyi dan tempat terbuka dengan laknat yang besar…selama-lamanya, terus-menerus yang tidak bisa terputus waktunya dan tidak akan habis hitungannya dengan laknat yang akan berbalik laknat yang pertamanya dan tidak akan terputus laknat yang terakhirnya…(terus bersambung). Wahai Allah, laknatlah mereka dan juga  para pecintanya, kaum muslimin dan orang-orang yang pro kepada mereka…Juga orang-orang yang menyambung lidah argumen mereka dan orang-orang yang meniru ucapan mereka, orang-orang yang membenarkan hukum mereka.” (Ucapkanlah sebanyak 4X, “Wahai Allah, adzablah mereka dengan adzab yang penduduk neraka saja berlindung dari adzab tersebut…Aamiin wahai Rabb seluruh alam semesta).</em></div>
<div style="text-align:justify;">                Doa ini semua diarahkan kepada Abu Bakar dan Umar bin Khaththab dan para sahabat yang mengikuti keduanya.</div>
<div style="text-align:justify;">                Saya berlindung kepada Allah dari kebencian seperti ini. Doa apa yang mereka sisakan bagi orang-orang yang senyatanya ingkar terhadap Allah dan Rasul-Nya!? Wahai Allah yang Maha Menjaga. Mereka telah bersikap tidak senonoh, sampai-sampai mereka berdoa kepada Allah SWT dengan doa penuh hujatan seperti ini.</div>
<div style="text-align:justify;">                Ketahuilah bahwa Ali telah menikahkan putrinya (Ummu Kultsum binti Ali dari Fathimah, saudara perempuannya Al-Hasan dan Al-Husein) kepada Umar bin Khaththab. Apakah Imam Ali menilai Umar seperti yang mereka (orang-orang Syi’ah) nilai? Lantas mengapa justru Ali menikahkan Umar bin Khaththab dengan putrinya?</div>
<div style="text-align:justify;">Saya yakin jika pendapat Imam Khumaini terhadap kami yang sangat menghormati Khulafaur Rasyidun dan para sahabat lainnya, pada saat ini pendapatnya masih jelas, yaitu dia menganggap kita adalah orang-orang kafir yang layak mendapatkan laknat dari Allah SWT.</div>
<div style="text-align:justify;">Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada masa kekuasaannya dia ingin mengekspor revolusinya ke negara-negara Arab. Yang dia inginkan bukan hanya revolusi dalam bidang hukum saja, akan tetapi ingin sesuai dengan madzhabnya. Dia ingin mengubah kita dari kekufuran (Ahlus Sunnah menurut dia) kepada Islam cara dia dan madzhabnya (Syi’ah). Kemudian kita semua berdoa bersama-sama melaknat dua berhala Quraisy: Abu Bakar dan Umar bin Khaththab agar kita mendapatkan pahala dari Allah SWT!</div>
<div style="text-align:justify;">Inilah yang akan dipaksakan kepada kita, jika Iran menang dalam perangnya melawan Irak. Kemudian dia dan pasukan tentaranya ingin menguasai negara-negara Arab -semoga Allah SWT tidak mentaqdirkan hal ini-. Insya Allah, akan ada penjelasan lengkapnya tentang topik ini.</div>
<div style="text-align:justify;">Profesor Ahmad Amin telah menulis beberapa sifat khusus Imam Syi’ah yang beliau nukil dari kitab <em>Al-Kaafiy</em>, karya Al-Kulaini yang merupakan kitab utama madzhab Syi’ah Imamiyah Itsna ’Asyariyyah.<a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8842247656659303668#_ftn2">[2]</a>Beliau menyebutkannya sebagai berikut :</div>
<ol style="text-align:justify;" start="1">
<li>Mereka berkeyakinan bahwa imam mereka menerima wahyu, meski cara pewahyuannya berbeda dengan nabi dan rasul.</li>
<li>Barangsiapa yang tidak mempunyai imam, maka dia akan menjadi orang sesat dan barangsiapa mati dalam keadaan tanpa imam, maka matinya dalam keadaan kafir dan munafiq. Telah berkata Imam Ridha, <em>”Manusia itu </em><em>adalah hamba sahaya </em><em>kami dalam hal ketaatan.”</em></li>
<li>Para imam adalah cahaya Allah, yang Allah SWT telah berfirman tentang mereka, <em>”Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur&#8217;an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan,”</em> (QS At-Taghabun [64]: 8). Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan cahaya di ayat ini bukan Al-Qur`an, tetapi para imam Syi’ah.</li>
<li>Para Imam Syi’ah adalah tiangnya bumi agar bumi tidak bergoyang.</li>
<li>Para Imam adalah suci dari dosa-dosa, tidak mempunyai cela dan banyak ilmunya.</li>
<li>Seluruh perbuatan umat manusia akan diperlihatkan kepada Nabi dan kepada para Imam Syi’ah.</li>
<li>Para Imam Syi’ah adalah tempat berpijaknya Risalah Allah SWT; tempat Allah SWT menyimpan rahasia-Nya di bumi dan titipan-Nya di antara hamba-hamba-Nya.</li>
<li>Para Imam memiliki seluruh kitab Allah SWT yang diturunkan kepada para rasul dan mereka memahaminya dengan bahasa kitabnya masing-masing.</li>
<li>Tidak ada yang bisa menguasai ilmu Al-Qur`an, kecuali para Imam Syi’ah. Yaitu dengan cara mendapatkan warisan dari Imam Ali RA.</li>
<li>Para Imam mengetahui perkara yang telah lalu dan yang akan terjadi. Tidak ada yang tersembunyi bagi mereka sedikit pun. Sesungguhnya Allah SWT tidak mengajarkan kepada Nabi-Nya sedikit pun ilmu, kecuali setelah Allah SWT menyuruh Ali agar mengajarinya. Kemudian ilmu ini diwariskan kepada seluruh Imam Syi’ah.</li>
<li>Rasulullah SAW didampingi oleh sebuah ruh yang sangat besarmelebihi malaikat Jibril dan Mikail. Ruh ini sekarang menemani para Imam Syi’ah.</li>
<li>Para malaikat akan memasuki rumah para Imam Syi’ah. Para malaikat akan menginjakkan kakinya di karpet para imam dan mereka memberitahukan sesuatu kepada para Imam.</li>
<li>Bumi ini semuanya adalah untuk para Imam. Dan Ahlul Bait adalah orang-orang yang akan mewarisi bumi ini. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT, <em>“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah  (tertulis) di dalam Adz-Dzikir (Lauh Mahafuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh,”</em> (QS Al-Anbiya [21]: 105). Adapun yang dimaksud dengan hamba-hamba-Ku yang saleh adalah  para Imam Syi’ah.</li>
</ol>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Inilah ajaran yang diyakini oleh Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah di dalam kitab-kitab mereka. Kecuali Syi’ah Ismailiyyah mempunyai perbedaan sedikit dengan Syi’ah Imamiyah. Akan tetapi, bisa saja di dalam ajaran Syi’ah Ismailiyyah ada ajaran-ajaran yang lebih jauh penyimpangannya, sehingga tidak diakui oleh ajaran Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">*Fatwa ini diterjemahkan dari Kitab Fatawa Mu&#8217;ashirah vol.IV, tahun 2009</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align:justify;">
<div><a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8842247656659303668#_ftnref1">[1]</a> Lihat kitab <em>Kasyful Asraar</em> hal. 107. Juga lihat kitab <em>Syahadat Khumaini fii Ashaabi Rasuulillaah</em> karya Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, mantan khatib Masjidil Aqsha yang dicetak oleh Penerbit Daar Ummar Yordania.</div>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<div><a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8842247656659303668#_ftnref2">[2]</a> Silahkan merujuk ke kitab <em>Dhuha Islam</em> (Cahaya Islam), hal. 3 cetakan pertama.</div>
</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">sumber:</div>
<div style="text-align:justify;"><a href="http://fahmi-salim.blogspot.com/2012/06/fatwa-syaikh-prof-yusuf-al-qardhawi_4286.html#more" rel="nofollow">http://fahmi-salim.blogspot.com/2012/06/fatwa-syaikh-prof-yusuf-al-qardhawi_4286.html#more</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/07/02/pendapat-para-ulama-senior-al-azhar-tentang-syiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">311</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/c3f904b1bbca2eeb6254eb640c92a038cdbe738e1630e67ce3ed3441cd9bfe4e?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">leftshia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Tentang Sesatnya Syi’ah Dari Ulama Mu’tabar</title>
		<link>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/21/fatwa-tentang-sesatnya-syiah-dari-ulama-mutabar/</link>
					<comments>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/21/fatwa-tentang-sesatnya-syiah-dari-ulama-mutabar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[leftshia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Jun 2012 07:02:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[fatwa ulama dan syiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://meleksyiah.wordpress.com/?p=309</guid>

					<description><![CDATA[(1) Fatwa Imam Malik (93-179 H) guru Imam Syafi’i, Imam Darul-Hijrah, 1 dari 4 Imam Utama Ahlus-Sunnah: Imam al-Khalal (w.311 H) meriwayatkan dari Imam Abu Bakar al-Marwadzi, ia berkata: aku pernah mendengardari Imam Malik rahimahullah:  روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول : قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">(1) Fatwa Imam Malik (93-179 H) guru Imam Syafi’i, Imam Darul-Hijrah, 1 dari 4 Imam Utama Ahlus-Sunnah:</p>
<p style="text-align:justify;">Imam al-Khalal (w.311 H) meriwayatkan dari Imam Abu Bakar al-Marwadzi, ia berkata: aku pernah mendengardari Imam Malik rahimahullah:</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول : قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم</strong><strong> ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام.( الخلال / السنة: </strong><strong>۲،٥٥٧ )</strong></p>
<p style="text-align:justify;"> “Siapa saja yang kalian saksikan mencaci maki sahabat Nabi yang mulia, maka saksikanlah bahwa mereka itu tidak termasuk golongan Islam.” <em>(Kitabus Sunnah Imam Al-Khalal, Juz 2:557)</em></p>
<p style="text-align:justify;">(2) Fatwa Imam as-Syafi’i Rahimahullah (150-204 H)</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>عن يونس بن عبد الأعلى يقول: سمعتُ الشافعي إذا ذُكر الرّافضةُ عَابَهُمْ أَشَدَّ الْعَيْبِ فَيَقُوْل شَرَّ عِصَابَةِ</strong></p>
<p style="text-align:justify;"> Dari Yunus bin Abdil A’la, beliau berkata: &#8220;Saya telah mendengar Imam Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Syiah itu Kelompok terjelek<em>.” Manaqib Imam as-Syafii oleh Imam Baihaqi, Juz 2:486</em></p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>لمَ ْأَرَ أَحَدًا أَشْهَدُ بِالزُّوْرِ مِنَ الرَّافِضَةِ</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="center">
<p style="text-align:justify;">&#8220;Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi palsu dari Syi’ah Rafidhah&#8221;. (Adâbus Syâfi’i, hlm. 187, al Manaqib as Syafi’i oleh Imam Baihaqi, Juz 1: 468, Sunan al Kubrâ, Juz 10:208</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>قاَلَ الشَّافِعِيُّ فِى الرَّافضَةِ يَحْضُرُ اْلوَقِعَةِ: لاَيُعْطَى مِنَ اْلفَيْئِ شَيْئًا ِلأَنَّ اللهَ تَعَالَى ذَكَرَ أَيَة اْلفَيْئِ ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ ﴿الحشر:10﴾ فَمَنْ لَمْ يَقُلْ بِهَا لَمْ يَسْتَحِقَّ</strong></p>
<p style="text-align:justify;"> Imam as-Syafi’i berkata tentang seorang Syiah Rafidhah yang ikut berperang:</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, karena Allâh Ta&#8217;ala menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: “Danorang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, …”. (Qs. al-Hasyr/59 : 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bagian fa’i).” at Thabaqât, Juz 2:117<span id="more-309"></span></p>
<p style="text-align:justify;">(3) Fatwa Imam Ahmad (164-241 H), murid Imam as-Syafi’i, tokoh utama Imam 4 dalam bidang hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari sahabat Nabi Muhammad s.a.w dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya, kecuali hanya empat orang saja yang tidak mereka kafirkan, yaitu Ali, Ammar, Migdad dan Salman. Golongan Rofidhoh (Syiah) ini sama sekali bukan Islam.” (Kitabus-Sunnah Imam Ahmad, hal.82)</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ahmad dalam Musnadnya, Juz 4: 148 no. hadits: 1265 menurunkan riwayat:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ قَالَ: قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ إِنَّ الشِّيعَةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَرْجِعُ قَالَ كَذَبَ أُولَئِكَ الْكَذَّابُونَ لَوْ عَلِمْنَا ذَاكَ مَا تَزَوَّجَ نِسَاؤُهُ وَلَا قَسَمْنَا مِيرَاثَهُ</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku &#8216;Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari &#8216;Ashim bin Dhamrah berkata; aku berkata kepada Hasan bin Ali; &#8220;Sesungguhnya orang-orang Syi&#8217;ah menyangka bahwa Ali Radhiallah &#8216;anhu hidup kembali.&#8221; Hasan menjawab; &#8220;orang-orang pendusta itu telah berdusta. Seandainya kami tahu hal itu (sebelumnya) niscaya kami tidak akan menikahi wanita-wanita mereka dan tidak akan kami bagi harta waris mereka.&#8221; <em>(Musnad Ahmad no.:1265 berkata Syeikh Syuaib Ornouth, riwayat ini hasan)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah(Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”. <em>(Kitabus-Sunnah Imam al-Khalal, Juz 2:557)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam al-Khalal berkata: Imam Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, “Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari.” <em>(Kitabus-Sunnah Imam al-Khalal, Juz 2:558)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam al-Khalal mengatakan: “Abdullah bin Ahmad bin Hambal (anaknya Imam Ahmad) bercerita pada kami, katanya: “Saya bertanya kepada ayahku (Imam Ahmad) perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi s.a.w. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam.” <em>(Kitabus-Sunnah Imam al-Khalal, Juz 2:558)</em></p>
<p style="text-align:justify;">(4) Fatwa Imam Bukhari rahimahullah (194-256 H), Pemilik Kitab Hadits al-Jami’us-Shahih</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>الامام البخارى</strong><strong> رحمه الله قال: ماأبالى صليت خلف الجهمى والرافضى</strong><strong> أم صليت خلف اليهود والنصارى</strong><strong> ولا يسلم عليه ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم</strong> (خلق أفعال العباد :١٢٥)</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari rahimahullah berkata : “Bagi saya sama saja, aku sholat di belakang imam beraliran Jahmiyah atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang imam Yahudi atau Nasrani, bagiku mereka ini beda tipis. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.” <em>(Kitab Khalqu ‘Af’alil-‘Ibad oleh Imam Bukhari, hal.125)</em></p>
<p style="text-align:justify;">(5) Fatwa Imam Ibnu Hazm (384-456 H) Faqih, Ushuli dan hafidz dari Andalusia</p>
<p style="text-align:justify;">“Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah, bahwa Al-Qur&#8217;an sesungguhnya sudah diubah”. Kemudian beliau berkata : ”Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur&#8217;an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah s.a.w.” (Kitab al-Fashlu Fil-Milal wal-Ahwa’ wa an-Nihal, Juz 5:40)</p>
<p style="text-align:justify;">(6) Fatwa Imam Al-Qadhi Iyadh (476-544 H), ahli hadits dari Malikiyah asal Andalusia.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi”.<br />
Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al-Qur&#8217;an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan Syiah Ismailiyah.” (Kitab ar-Risalah, hal. 325)</p>
<p style="text-align:justify;">(7) Fatwa Imam al-Ghazali (450-505 H), pemilik kitab Ihya’ Ulumuddin yang terkenal itu.</p>
<p style="text-align:justify;"> “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan ijma’ kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan syurga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah s.a.w. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir.” <em>(Kitab Fadha’ihul-Bayyinat, hal. 149)</em></p>
<p style="text-align:justify;"> (8) Fatwa Imam Fakhruddin ar-Razi (544-606 H), seorang Faqih, Ushuli, Mufassir dari Syafi’iyah:</p>
<p style="text-align:justify;"> “Sahabat-sahabat kami dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan Rofidhoh (Syiah), karena tiga alasan :</p>
<p style="text-align:justify;">(a) Karena mengkafirkan para pemuka kaum Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang artinya : “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang kafir”.<br />
Dengan demikian mereka (golongan Syiah) otomatis menjadi kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">(b) Mereka telah mengkafirkan satu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para sahabat Nabi).”</p>
<p style="text-align:justify;">(c) Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan sahabat.</p>
<p style="text-align:justify;">(Kitab Nihayatul-‘Uqul, hal.212)</p>
<p style="text-align:justify;">(9) Fatwa Syeikhul Islam Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (661-728 H), Syeikhnya Para Syeikh dan imamnya para Imam.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Siapa saja yang berasumsi bahwa kitab suci al-Qur’an telah mengalami pengurangan dan menganggap ada hal yang disembunyikan dari ayat-ayatnya. Atau menafsirkan al-Qur’an dengan ta’wil yang bathil hingga menafikan amal-amal syar’i yang nyata-nyata disebutkan dalam al-Qur’an. Maka, orang atau kelompok seperti ini tidak diragukan lagi kekafirannya.</li>
<li>Siapa saja yang memiliki aqidah yang menyimpang terhadap sahabat Nabi yang mulia Rasulullah s.a.w, seperti menistai Sahabat Nabi s.a.w atau menuduh bahwa hanya beberapa gelintir saja dari sahabat Nabi yang setia kepada Rasulullah, karena kebanyakan dari sahabat setelah Rasulullah wafat pindah agama alias murtad. Orang seperti ini, jangan ragukan lagi kekafirannya. Karena mereka telah merobohkan sendi-sendi agama dan menistai generasi terbaik ummat ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"> <em>Dari kitab</em>;</p>
<p style="text-align:justify;">(a) Majmu’ Fatawa Imam Ibnu Taimiyah, Juz 28:482</p>
<p style="text-align:justify;">(b) as-Sharimul Maslul oleh Imam Ibnu Taimiyah, hal. 586-587</p>
<p style="text-align:justify;">(10) Imam Qurthubi (w. 671 H), dari Kibar Mufassirin/Mufassir Senior dalam kaitannya dengan Fatwa Imam Malik di atas mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;"> “Sesungguhnya benarlah ucapan Imam Malik dan penafsirannya juga benar, bahwa siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Rabb seru sekalian alam dan membatalkan syariat yang menjadi keyakinan kaum Muslimin.”</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Tafsir al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an oleh Imam Qurthubi, Juz 16:297).</em></p>
<p style="text-align:justify;">(11) Imam Ibnu Katsir (789-803 H), ahli tafsir, muhaddits dan ahli Sirah dalam kitab monumental Tafsir al-Qur’anul ‘Adzim pada surah al-Fath:29:</p>
<p style="text-align:justify;"> “Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik Rahimahullah, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi SAW, adalah Kafir. Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama. (<em>TafsirImam Ibnu Katsir,Juz 4:219</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">(12) Fatwa Imam Syaukani (1173-1250), Kibar Ulama Yaman, Hakim Agung selama 21th dimasanya hingga wafat (1229-1250), pemilik Kitab Nailul-Authar</p>
<p style="text-align:justify;"> Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan mencakup empat dosa besar, masing-masing dari dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-terangan. <em>Pertama</em>: Menentang Allah. <em>Kedua</em>: Menentang Rasulullah. <em>Ketiga</em>: Menentang Syariat Islam yang suci dan upaya mereka untuk melenyapkannya. <em>Keempat</em>: Mengkafirkan para sahabat yang diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur&#8217;an telah dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan disamping telah menjadi ketetapan hukum didalam syariat Islam yang suci, bahwa barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lain-lainnya.” <em>(kitab Natsrul-Jauhar ‘alaa Haditsi Abi Dzar, hal 15-16)</em></p>
<p style="text-align:justify;"> (13) Imam Al-Alusi (1217-1270 H) Mufassir, Faqih, ahli bahasa dari Baghdad</p>
<p style="text-align:justify;"> “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini (yakni Sungai Jaihun) menyatakan kekafiran golongan Syiah Itsna Asyariyah dan menetapkan halalnya darah mereka, harta mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi s.a.w, terutama Abu Bakar dan Umar RA, yang menjadi telinga dan mata Rasulullah s.a.w, mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh ‘Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal Allah sendiri menyatakan kesuciannya, melebihkan Ali RA dari rasul-rasul Ulul Azmi. Sebagian mereka melebihkan Ali bin Abu Thalib dari Rasulullah s.a.w sendiri. Mereka juga mengingkari terpeliharanya Al-Qur&#8217;an dari kekurangan dan tambahan.” (kitab Nahju as-Salamah, hal.29-30)</p>
<p style="text-align:justify;"> (14) Syeikh Ad-Dahlawi (1110-1176 H), seorang faqih, ushuli, muhaddits, mufassir kelahiran India, sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab Syiah Itsna Asyariyah langsung dari sumber-sumber rujukan kaum syiah, beliau berkata:</p>
<p style="text-align:justify;"> “Seseorang yang menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa yang terkandung di dalamnya, niscaya ia tahu bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya kekafiran mereka”. (Kitab <em>Mukhtashor At-Tuhfah Al Itsna Asyariyah, hal. 300</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Ust Syamsul Bahri, Sekretaris Majlis Fatwa DDII Pusat, dari berbagai sumber</p>
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/21/fatwa-tentang-sesatnya-syiah-dari-ulama-mutabar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">309</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/c3f904b1bbca2eeb6254eb640c92a038cdbe738e1630e67ce3ed3441cd9bfe4e?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">leftshia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadits Ghadir Khum (perspektif Sunni)</title>
		<link>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/20/hadits-ghadir-khum-perspektif-sunni/</link>
					<comments>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/20/hadits-ghadir-khum-perspektif-sunni/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[leftshia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Jun 2012 06:29:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[syubhat dan bantahannya]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[syubhat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://meleksyiah.wordpress.com/?p=307</guid>

					<description><![CDATA[PENDAHULUAN Tidak mungkin untuk membahas hadis Ghadir Khum tanpa memahami pertama kali konteks tertentu di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan apa yang dia katakan. Ini adalah pedoman umum yang berkaitan dengan kanon Islam secara keseluruhan: penting untuk mengetahui latar belakang di mana suatu ayat Alquran diturunkan atau suatu hadis tertentu dikatakan. Misalnya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Tidak mungkin untuk membahas hadis Ghadir Khum tanpa memahami pertama kali konteks tertentu di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan apa yang dia katakan. Ini adalah pedoman umum yang berkaitan dengan kanon Islam secara keseluruhan: penting untuk mengetahui latar belakang di mana suatu ayat Alquran diturunkan atau suatu hadis tertentu dikatakan.</p>
<p>Misalnya, ayat Quran <em>“bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka”</em> sering digunakan oleh orientalis untuk menyalahgunakan dan menjadikannya tampak seolah-olah Islam menganjurkan pembunuhan orang di mana saja dan kapan saja anda menjumpai mereka. Tentu saja, jika kita melihat ketika ayat ini diturunkan, kita menemukan bahwa ayat itu adalah khusus diwahyukan pada pertempuran antara Muslim dan Mushriks Quraisy, hal ini membuat kita menyadari bahwa hal itu bukanlah hukum umum untuk membunuh orang tetapi ayat tersebut diwahyukan pada situasi tertentu.</p>
<p>Demikian juga, Hadis Ghadir Khum hanya dapat dipahami dalam konteks pada peristiwa apa ia diucapkan:</p>
<p>Sekelompok tentara sangat keras mengkritik Ali bin Abi Thalib (رضى الله عنه) pada masalah tertentu, dan berita ini sampai kepada Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), yang kemudian Beliau berkata apa yang Beliau katakan dalam hadis Ghadir Khum. Seperti orientalis, para propagandis Syiah berupaya untuk menghapus latar belakang konteks di mana Hadis tersebut dikatakan untuk memberikan gambaran yang sama sekali berbeda (dan menyesatkan).<span id="more-307"></span></p>
<p>Tujuannya Nabi mengatakan kembali apa yang dikatakan di Ghadir Khum sama sekali tidak untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai khalifah tetapi itu hanyalah untuk membela Ali (رضى الله عنه) terhadap fitnah yang dikatakan terhadap dia. Hanya dengan membuang konteks latar belakang suatu hadits adalah mungkin untuk menciptakan pemahaman Syiah terhadap teks tersebut sesuai keinginan mereka. Untuk alasan inilah kita harus selalu mengingatkan saudara kita Syiah konteks latar belakang di mana Hadis Ghadir Khum dikatakan.</p>
<p><strong>PENTINGNYA GHADIR KHUM UNTUK SYIAH</strong></p>
<p>Syiah mengklaim bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menetapkan Ali (رضى الله عنه) secara ilahiah untuk menjadi penggantinya di suatu tempat yang disebut Ghadir Khum. Sebelum kita membahas peristiwa Ghadir Khum dengan saudara-saudara kita Syiah, pertama-tama kita harus mendefinisikan parameter debat. Dengan kata lain, kita harus “mengatur taruhannya”:</p>
<p>(1) Jika Syiah dapat membuktikan versi mereka tentang Ghadir Khum, maka pasti Ali (رضى الله عنه) telah ditunjuk oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) secara ilaiyah dan akidah Syiah adalah benar.</p>
<p>(2) Jika, kaum Sunni menyangkal gagasan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum, maka saudara kita Syiah harus bersedia menerima kenyataan bahwa Ali (رضى الله عنه ) tidak pernah ditunjuk sama sekali oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan karena itu seluruh keyakinan Syiah tidak valid.</p>
<p>Alasan kita membuat “taruhan” ini sangat jelas bahwa sejak awal propagandis Syiah memiliki kemampuan luar biasa untuk memindahkan “tiang gawang” setiap kali mereka kalah debat. Mereka akan melompat dari satu topik ke yang lain, jika mereka kehilangan perdebatan Ghadir Khum, maka mereka akan membawa pada Insiden Pintu Rumah Fatimah, atau Saqifah, atau Fadak, atau siapa tahu apa lagi.</p>
<p>Seluruh pondasi Syi’ah bertumpu pada peristiwa Ghadir Khum ini, karena di sini Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), dianggap mencalonkan Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi penggantinya. Jika kejadian ini tidak sebagaimana klaim Syiah, maka Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak pernah mengangkat Ali (رضى الله عنه) dan Syiah harus meninggalkan semua klaim mereka, seperti ide bahwa Abu Bakar (رضى الله عنه) merebut kekhalifahan yang ditunjuk oleh Allah untuk Ali (رضى الله عنه).</p>
<p>Memang, peristiwa Ghadir Khum sangat penting bagi paradigma Syiah -dan begitu pentingnya bagi teologi Syiah-maka massa Syiah memiliki perayaan tahunan yang dikenal sebagai “Eid Al-Ghadir”.</p>
<blockquote><p> <strong>Amaana.org </strong>says</p>
<p>Eid-e Gadhir is celebrated with great rejoicing by Shia Muslims where they remember Prophet Muhammad’s last instructions to the believers. Eid-e-Ghadir is one of the most important days of rejoicing for Shia Muslims around the world as that was the day our beloved Prophet Muhammad (s.a.s.) declared Hazrat Ali’s vicegerency at Ghadir e Khumm on his return from his last pilgrimage…</p>
<p>source: <a href="http://www.amaana.org/gadhir/gadhir1.htm" rel="nofollow" target="_blank">http://www.amaana.org/gadhir/gadhir1.htm</a> ”</p></blockquote>
<p>Berdasarkan apa yang seharusnya terjadi di Ghadir Khum, Syiah menolak kekhalifahan Abu Bakar (رضى الله عنه), berpisah dari Muslim mainstream, dan menyatakan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah yang pertama dari imam yang ditetapkan secara ilahiah. Situs Syiah, Al-Islam.org, merujuk pada Ghadir Khum sebagai “peristiwa penting” dan pondasi bagi Imamah Ali (رضى الله عنه).</p>
<p>Alasan perlunya sangat menekankan pentingnya Ghadir Khum bagi Syiah adalah bahwa kita akan menunjukkan bagaimana ‘senjata’ yang diduga kuat di gudang propaganda Syiah tersebut sebenarnya sangat lemah. Jika hal ini adalah sangat mendasar bagi Syi’ah, maka sesungguhnya doktrin Syi’ah adalah sangat lemah. Syiah mengatakan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum tapi logika sederhana menentukan sebaliknya.</p>
<p><strong>BAGAIMANA TERJADINYA KLAIM SYIAH TERSEBUT?</strong></p>
<blockquote><p> <strong>Al-Islam.org </strong>says</p>
<p>“After completing his last pilgrimage (Hajjatul-Wada’), Prophet [s] was leaving Makkah toward Madinah, where he and the crowd of people reached a place called Ghadir Khumm (which is close to today’s al-Juhfah). It was a place where people from different provinces used to greet each other before taking different routes for their homes.</p>
<p>In this place, the following verse of the Qur’an was revealed:</p>
<p>“O Apostle! Deliver what has been sent down to you from your Lord; and if you don’t do it, you have not delivered His message (at all); and Allah will protect you from the people …” (Qur’an 5:67)</p>
<p>The last sentence in the above verse indicates that the Prophet [s] was mindful of the reaction of his people in delivering that message but Allah informs him not to worry, for He will protect His Messenger from people.</p>
<p>Then followed the key sentence denoting the clear designation of ‘Ali as the leader of the Muslim ummah. The Prophet [s] held up the hand of ‘Ali and said:</p>
<p>“For whoever I am his Leader (mawla), ‘Ali is his Leader (mawla).”</p>
<p>Immediately after the Prophet [s] finished his speech, the following verse of the Qur’an was revealed:</p>
<p>“Today I have perfected your religion and completed my favour upon you, and I was satisfied that Islam be your religion.” (Qur’an 5:3)</p>
<p>The above verse clearly indicates that Islam without clearing up matter of leadership after Prophet [s] was not complete, and completion of religion was due to announcement of the Prophet’s immediate successor.</p>
<p>source: <a href="http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm" rel="nofollow" target="_blank">http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm</a>”</p></blockquote>
<p><strong>MENGAPA TIDAK MASUK AKAL?</strong></p>
<p>Syiah mengklaim bahwa ketika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyelesaikan haji terakhir, mengatakan Kotbah Perpisahannya di puncak Gunung Arafah di Mekkah, dan kemudian setelah itu menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum.</p>
<p>Mari kita analisa klaim ini: Ghadir Khum terletak antara Mekah dan Madinah, di dekat kota Al-Juhfah, seperti yang disebutkan oleh situs Al-Islam.org. Ini adalah lubang air di tengah padang pasir. Pukulan telak kepada argumen Syiah adalah bahwa pada kenyataannya Ghadir Khum itu terletak sekitar 250 km dari Mekah. Fakta sederhana ini cukup untuk menghancurkan seluruh premis Syi’ah.</p>
<p>Seperti kita semua tahu, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyampaikan Khotbah Perpisahannya di Mekah pada haji terakhir. Ini terjadi di depan sebagian besar kaum muslimin, yang datang dari berbagai kota untuk melakukan haji. Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin menunjuk Ali (رضى الله عنه) sebagai penggantinya, maka sama sekali tidak ada penjelasan yg rasional mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak melakukan hal ini selama Khotbah Perpisahan kepada semua kaum muslimin. Seluruh umat yang berkumpul di sana untuk mendengar kata-kata perpisahan, sehingga pasti merupakan saat dan kesempatan yang paling tepat untuk menunjuk penggantinya.</p>
<p>Nabi (صلى عليه الله وآله وسلم) dan Muslim menyelesaikan haji mereka dan setelah itu semua orang kembali ke kota masing-masing. Penduduk Madinah kembali ke Madinah, masyarakat Taif kembali ke Taif, orang-orang Yaman kembali ke Yaman, orang-orang Kufah kembali ke Kufah, masyarakat Suriah kembali ke Suriah, dan orang-orang Mekkah tetap tinggal di Mekah.</p>
<p>Hanya kelompok orang-orang yang hidup di kota-kota di sebelah Utara Semenanjung Arab yang melalui Ghadir Khum. Dan ini hanya akan terdiri dari orang-orang yang menuju Madinah dan minoritas Muslim yang tinggal di tempat seperti Suriah. Oleh karena itu, ketika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berhenti di Ghadir Khum dan ketika insiden yang dianggap terjadi, justru sejumlah besar kaum muslim tidak hadir, yaitu mereka yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll. Setelah Haji, orang Mekah tetap tinggal di Mekah, orang-orang Taif kembali ke Taif, orang-orang Kufah kembali ke Kufah, orang-orang Yaman kembali ke Yaman, dll. Hanya sekelompok orang yang pergi ke Madinah (atau lewat melalui / dekat) yang menyertai Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menuju Ghadir Khum.</p>
<p>Oleh karena itu, bertentangan dengan klaim Syiah, justru Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak menunjuk Ali (رضى الله عنه) di depan seluruh kaum muslimin, melainkan yang terjadi di Ghadir Khum hanya di depan sebagian Muslim yang sedang pulang menuju ke Madinah (atau lewat melalui / dekat). Mari kita lihat apa yang diklaim oleh situs Syiah:</p>
<blockquote><p> <strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<p>“On the 18th of Dhul-Hajjah, after completing his “farewell pilgrimage” (Hajjatul- Wida’a), the Messenger of Allah (peace be upon him and his progeny) had departed Makkah en route to Madinah. He and the entire Muslim caravan, numbering over 100,000, were stopped at Ghadeer Khumm, a deserted-yet-strategically situated area that lies between Makkah and Madinah (near today’s Juhfah). In those days, Ghadeer Khumm served as a point of departure, where the various Muslims who had come to perform the pilgrimage from neighbouring lands would disperse and embark upon their own routes back home.</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p>Situs Syiah mengklaim bahwa “Ghadeer Khum merupakan tempat kedatangan, di mana berbagai Muslim yang datang untuk melakukan haji dari daerah di sekitarnya akan menyebar dan memulai rute mereka sendiri untuk pulang.” Apa yang terlihat pada peta akan menunjukkan bagaimana hal tersebut benar-benar tidak masuk akal. Peta berikut datang dari Al-Islam.org:</p>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/164357_132018690191530_100001501998631_209477_1185882_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>Dari peta di atas adalah jelas bahwa orang-orang yang melewati Ghadir Kum adalah hanya mereka yang menuju ke Madinah atau kota-kota di sebelah utara Ghadir Kum. Oleh karena itu, merupakan hal yang sangat tidak bijaksana bagi Nabi menyampaikan pidato penting tentang penggantinya di tempat itu, karena tidak seluruh muslim hadir di tempat itu. Akan lebih tepat jika pidato penting tersebut disampaikan di Mekah tempat di mana seluruh muslim berkumpul.</p>
<p>Ilustrasi detilnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Ketika umat Islam akan beribadah haji, mari kita asumsikan bahwa ini adalah rute normal yang mereka ambil:</p>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/163655_133251886734877_100001501998631_215719_6557962_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>Sekarang kaum Muslim dari seluruh penjuru kota telah berkumpul di Mekah, bukankah ini merupakan waktu yang paling tepat untuk menyatakan siapa pengganti Nabi?</p>
<p>Namun para propagandis Syiah ingin agar kita percaya bahwa Muslim yang akan pulang ke Taif dan Yaman setelah haji akan melakukan perjalanan tambahan sekitar 500 km, perjalanan bolak-balik dari Mekah ke Ghadir Khum dan kemudian baru melakukan perjalanan dari Makah ke arah kota asalnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Syiah sendiri, Ghadir Khum adalah sebuah lubang air dan tempat beristirahat bagi mereka yang bepergian … sesuatu hal yang mereka gagal untuk menyebutkan bahwa Ghadir Kum adalah tempat istirahat sepulang haji yang hanya cocok bagi mereka melewatinya, yaitu mereka yang pulang dari Mekah ke arah utara bukan bagi mereka yang pulang dari Mekah ke arah selatan!</p>
<p>Syiah ingin kita percaya bahwa perjalanan kembalinya Muslim setelah haji akan terlihat seperti ini:</p>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/39432_133252233401509_100001501998631_215720_7089791_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>Rute seperti di atas tentu saja tidak wajar dan aneh bahkan sulit diterima akal sehat. Semestinya setelah haji, semua orang kembali ke kota-kota atau rumah mereka masing-masing dan orang Mekah akan tetap tinggal di sana. Mengapa mereka setelah haji harus melalui rute melewati Ghodir Kum, mengingat fakta bahwa Muslim pada waktu itu kebanyakan berjalan kaki di gurun pasir yang berat. Perjalanan ekstra menuju Ghadir Khum sekitar 250 km dan kembali lagi akan menambahkan waktu beberapa minggu perjalanan. Apakah hal ini tidak aneh dan merendahkan akal sehat?</p>
<p>Semestinya, gambaran rute perjalanan pulang kaum muslimin setelah haji pada waktu itu adalah sebagai berikut:</p>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/33793_133252590068140_100001501998631_215721_2809101_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>Oleh karena itu, kesimpulan kami adalah bahwa klaim Syiah bahwa Nabi menunjuk Ali di depan seluruh Muslim sangatlah tidak mungkin karena pada kenyataannya Nabi sama sekali tidak menyampaikan hal tersebut pada Khotbah Perpisahannya di Arafah. Adapun peristiwa Ghadir Khum, kita telah melihat bagaimana mungkin tempat ini akan menjadi tempat yang tepat yang digunakan Nabi untuk menunjuk Ali sebagai khalifah berikutnya, karena hal sepenting itu semestinya disampaikan oleh Nabi kepada seluruh muslimin sewaktu mereka masih berkumpul pada saat haji, bukan hanya kepada sebagian muslimin yang sedang melakukan perjalanan pulang ke arah sebelah utara kota Mekah.</p>
<div>
<div>
<p><strong>APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI GHADIR KHUM ?</strong></p>
<p>Tidak ada yang menyangkal adanya peristiwa Ghadir Khum, namun, apa yang kami sangkal adalah berlebihan-lebihannya Syiah berkaitan dengan cara yang mereka lakukan dalam mengungkapkan peristiwa tersebut.</p>
<p>Pertama, Syiah melebih-lebihkan tentang berapa banyak sebenarnya orang yang hadir di Ghadir Khum, mereka sering memberikan gambaran bahwa jumlahnya ratusan ribu. Seperti yang telah kami ilustrasikan di atas, bahwa hanya kaum Muslimin yang menuju ke Madinah saja yang hadir di Ghadir Khum, ini berarti bahwa orang-orang Mekah tidak hadir, demikian juga orang-orang  Taif, Yaman, dll. Bahkan Syiah sering menyatakan bahwa 100.000 orang hadir di Ghadir Khum, suatu angka yang lebih tepat tentang jumlah orang yang hadir di Mekah untuk melaksanakan haji dari seluruh kota, bukan jumlah orang-orang yang kembali ke Madinah (yang hanya sebagian kecil dari jumlah tersebut). Berapapun jumlahnya, yang jelas hanya sebagian dari Muslim yang tidak termasuk Muslim yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll</p>
<p><em>Selain dari itu, konteks Ghadir Khum harus juga dipertimbangkan.</em></p>
<p>Apa yang terjadi di Ghadir Khum adalah bahwa Nabi menanggapi individu tertentu yang mengkritik Ali bin Abi Thalib. Latar belakang di balik peristiwa ini adalah bahwa beberapa bulan sebelumnya, Nabi telah mengirim Ali bersama 300 orang pasukan ke Yaman dalam sebuah ekspedisi. Hal ini disebutkan di website Syiah,<a href="http://www.najaf.org/" rel="nofollow" target="_blank">www.najaf.org</a>: “Ali diangkat sebagai pemimpin ekspedisi ke Yaman.”</p>
<p>(<a href="http://www.najaf.org/english/book/20/4.htm" rel="nofollow">http://www.najaf.org/english/book/20/4.htm</a>)</p>
<p>Tentara yang dipimpin oleh Ali sangat sukses di Yaman dan mereka mendapatkan banyak jarahan perang. Perihal jarahan perang inilah terjadi perselisihan antara Ali di satu sisi dan tentaranya di sisi lain. Hal ini diceritakan dalam buku Ibn Kathir “Al-Bidayah Wan-Nihayah”:</p>
<blockquote><p>Di antara seperlima dari harta rampasan tersebut terdapat cukup pakaian linen untuk seluruh tentara, tetapi Ali telah memutuskan bahwa hal itu harus diserahkan kepada Nabi dan tidak disentuh.</p></blockquote>
<p>Setelah kemenangan di Yaman, Ali menempatkan wakil komandannya yang bertanggung jawab atas pasukan yang ditempatkan di Yaman, sementara ia sendiri menuju ke Mekah untuk  menemui Nabi  untuk berhaji. Kami membaca:</p>
<blockquote><p>Dalam kondisi tidak ada dia (Ali), bagaimanapun, orang yang ia tinggalkan sebagai petugas telah dibujuk untuk meminjamkan kepada setiap orang suatu perubahan baru pakaian selain dari linen tersebut. Perubahan tersebut sangat diperlukan karena mereka telah jauh dari rumah selama hampir tiga bulan.</p></blockquote>
<p>Pasukan yang ditempatkan di Yaman kemudian berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dengan Nabi:</p>
<blockquote><p>Ketika mereka (para prajurit yang dikirim ke Yaman) belum jauh dari memasuki kota (Mekah), Ali berkuda keluar untuk menemui mereka dan heran melihat perubahan yang telah terjadi (dalam hal pakaian mereka).</p>
<p>“Aku memberi mereka pakaian,” kata wakil komandan, “bahwa penampilan mereka mungkin akan lebih pantas ketika mereka berada di kalangan masyarakat.” Orang-orang semua tahu bahwa setiap orang di Mekah sekarang mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menghormati hari raya tersebut, dan mereka ingin terlihat yang terbaik. Tetapi Ali merasa ia tidak setuju kebebasan seperti itu dan ia memerintahkan mereka untuk mengenakan lagi pakaian lama mereka dan mengembalikan yang baru ke harta rampasan. Kebencian yang sangat dirasakan oleh seluruh tentara terhadap masalah ini, dan ketika Nabi mendengar hal itu, ia (Nabi) berkata: “Wahai manusia, jangan menyalahkan Ali, karena dia terlalu berhati-hati di jalan Allah untuk disalahkan.” Tetapi kata-kata ini belum cukup, atau mungkin hanya didengar oleh beberapa orang, dan kebencian masih berlanjut.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang menuju Medina salah seorang pasukan mengeluhkan Ali kepada Nabi, yang membuat wajah Beliau berubah: “Bukankah aku tidak lebih dekat kepada orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri?” katanya, dan ketika orang itu mengiyakan, ia menambahkan: “Barangsiapa yang menjadikan saya sahabat tercintanya, maka Ali adalah (juga) sahabat tercintanya.” Kemudian dalam perjalanan tersebut, ketika mereka berhenti di Ghadir Khum, Ia (Nabi) mengumpulkan semua orang, dan mengambil tangan Ali sambil mengulangi kata-kata tersebut [yaitu siapapun yang mencintai saya, maka Ali ini adalah (juga) sahabat tercintanya]”, yang ia menambahkan doa: “Ya Allah, jadikanlah teman orang yang menjadikan dia temannya, dan musuhilah orang yang memusuhinya”, dan pengerutuan terhadap Ali tersebut menjadi tidak terdengar.</p></blockquote>
<p>Para prajurit di bawah komando Ali tidak hanya terganggu perihal perubahan pakaian tersebut tetapi juga atas pembagian harta rampasan perang pada umumnya. Kaum muslimin, berkat kepemimpinan besar Ali, telah mendapatkan banyak unta, tetapi Ali melarang mereka dari mengambil kepemilikan unta tersebut. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Said bahwa Ali mencegah mereka dari mengendarai unta-unta dari harta rampasan perang yang telah mereka peroleh. Tetapi ketika Ali telah pergi ke Mekah, wakil komandannya menyerah pada permintaan pasukannya dan memungkinkan mereka menaiki unta tersebut. Ketika Ali melihat hal itu, ia menjadi marah dan ia menyalahkan wakil komandannya. Abu Sa’id berkata: “Ketika kami berada di perjalanan pulang ke Madinah, kami menyebutkan kepada Nabi sifat keras yang tidak mengenakkan yang kami lihat dari Ali , Nabi berkata: “Hentikan… demi Allah, aku telah mengetahui bahwa dia (Ali) telah melakukan hal baik karena Allah.”</p>
<p>Kejadian serupa ini telah dijelaskan dalam Sirah RasulAllah Ibnu Ishaq, kami membaca:</p>
<blockquote><p>Ketika Ali datang (kembali) dari Yaman untuk memenuhi Rasul di Mekah, ia bergegas kepadanya dan meninggalkan orang yang bertanggung jawab atas pasukannya kepada salah seorang sahabatnya yang pergi dan memakaikan kepada setiap orang dalam pasukannya dengan pakaian dari linen yang dipunyai Ali. Ketika tentara mendekati, dia (Ali) pergi menemui mereka dan menemukan mereka mengenakan pakaian tersebut. Ketika ia bertanya apa gerangan yang telah terjadi, orang itu (wakilnya) mengatakan bahwa ia telah memakaikan orang-orang sehingga mereka kelihatan pantas ketika mereka berbaur dengan masyarakat. Dia (Ali) mengatakan kepada dia untuk melepas pakaian tersebut sebelum mereka menemui Rasul dan mereka melakukannya dan mengembalikan pakaian tersebut di antara harta rampasan perang. Tentara tersebut menunjukkan kebencian terhadap perlakuan yang merekaterima … ketika orang-orang mengeluhkan perihal Ali, Rasul muncul untuk mengatasi mereka dan dia (perawi) mendengar dia (Nabi) mengatakan: “Jangan salahkan Ali, karena dia terlalu teliti dalam hal-hal berkaitan dengan Allah, atau di jalan Allah, untuk disalahkan.”</p>
<p>(Ibnu Ishaq, Sirah Rasool-Allah, hal. 650)</p></blockquote>
<p>Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa orang-orang di pasukan tersebut (yaitu kontingen yang dikirim ke Yaman) mulai mengkritik Ali karena ia mencegah mereka dari menunggang unta dan mengambil kembali pakaian baru yang telah mereka peroleh. Yaitu orang-orang yang menyertai Nabi ke Madinah melalui Ghadir Khum, dan merekalah yang sedang dibahas dalam Hadis terkenal Ghadir Khum.</p>
<p>Bahkan, dalam “Tarikh al-Islam”, peristiwa Ghadir Khum berada di bawah judul “Penghiburan bagi Ali”. Kami membaca:</p>
<blockquote><p><strong>Penghiburan bagi Ali</strong></p>
<p>Selama haji, beberapa pengikut Ali yang telah bersama dia ke Yaman mengeluh kepada Nabi tentang Ali. Beberapa kesalahpahaman orang Yaman telah menimbulkan keraguan. Ditujukan kepada para sahabat di Ghadir Khum, Nabi saw bersabda memuji Ali: “Seseorang yang dia teman saya adalah teman Ali …” Mengikuti ucapan Nabi tersebut, Umar mengucapkan selamat kepada Ali berkata: “Mulai hari ini Anda adalah teman special saya”. Nabi kemudian tiba kembali di Al-Madinah dan anaknya Ibrahim meninggal dunia.</p>
<p>(Tarikh al-Islam, Vol.1, hal. 241)</p></blockquote>
<div>
<div>
<p><strong>KANDUNGAN HADITS GHADIR KHUM</strong></p>
<p><strong></strong>Rangkuman Hadits Ghadir Khum: Para prajurit tentara Ali sangat marah kepada Ali karena menolak mereka perihal linen dan unta dari rampasan perang, dan mereka tidak senang dengan fakta bahwa Ali sendiri mendapatkan bagian khusus dari Khums (yaitu seperlima dari harta rampasan perang). Tentu saja, Ali tidak dapat disalahkan untuk hak istimewa mengambil bagian ekstra dari Khums, yang merupakan hak yang diberikan kepada keluarga Nabi menurut Al-Quran. Meskipun demikian, orang-orang telah marah, sehingga mereka mengambil tindakkan khusus membela diri ketika Ali mengambil seorang budak wanita untuk dirinya dari Khums; para prajurit tersebut secara salah menuduh Ali sebagai seorang munafik karena menolak pakaian dan unta untuk para apasukan tetapi untuk dirinya sendiri mengambil seorang budak wanita. Adalah karena kritik yang keliru kepada Ali inilah maka Nabi membela Ali dalam hadits Ghadir Khum.</p>
<blockquote><p><strong>ShiaChat Member </strong>says</p>
<p>You sick Saudi perverts can believe whatever filth you want about anyone at your own personal leisure but don’t dare bring this up here…</p>
<p>That accusation [that Imam Ali slept with a slave girl] is blatantly ummayyad propaganda to make our Mawla (A.S.) look bad…</p></blockquote>
<p>Pertama-tama, Hadits Ghadir Khum sebagaimana yang tercatat dalam kitab Sahih Bukhari tidak dimaksudkan untuk menjadikan Ali terlihat jahat sama sekali. Bahkan, Nabi membela tindakan Ali. Perlu dicatat bahwa bahkan Nabi sendiri mengambil seorang budak wanita dan ini telah diriwayatkan baik dalam Hadits Sunni dan Syiah. Perbudakan adalah norma budaya pada zaman itu dan Nabi mendesak umat Islam untuk memperlakukan budak wanita mereka sebagai istri mereka. Pada kesempatan lain, Nabi akan mendorong penyetaraan budak dan menikahi mereka. Dalam setiap kasus, ada banyak artikel panjang yang mempertahankan posisi Islam tentang hal ini, dan pembaca bebas untuk mencari di internet bagi mereka.</p>
<p>Kedua, juga harus dicatat bahwa Buraida tidak mengkritik Ali karena dia pikir memiliki seorang budak wanita itu tidak bermoral. Sebaliknya, Buraida hanya mengkritik Ali karena mengambil bagian dari Khums sementara melarang kepada anak buahnya, bagi Buraida, merupakan hal yang tidak relevan terkait dengan apa yang Ali ambil dari Khums apakah itu berupa budakwanita, linen, atau unta.</p>
<p>Ketiga, fakta bahwa Ali mengambil seorang budak wanita dikisahkan dalam Hadits Syiah, lalu mengapa Syiah harus bereaksi begitu hebat ketika narasi yang sama ada dalam Hadits Sunni? Bukankah hal ini merupakan kemunafikan? Sesungguhnya, Buraida yang marah kepada Ali karena mengambil seorang budak wanita di Hadits Sunni, sama saja dengan Fatima yang marah kepada Ali karena mengambil seorang budak wanita di Hadits Syiah. Hadits Shia ini diriwayatkan oleh salah seorang tetua teologi Syiah, yaitu Ibnu Babaveh Al-Qummi, dan tersedia di YaZahra.com, sebuah situs Syiah terkemuka:</p>
<blockquote><p><strong>YaZahra.org </strong>says</p>
<p><strong>Majlisi “Biharul anwar” 43/147</strong></p>
<p><strong>عن أبي ذر رحمة الله عليه قال : كنت أنا وجعفر بن أبي طالب مهاجرين إلى بلاد الحبشة ( 1 ) فاهديت لجعفر جارية قيمتها أربعة آلاف درهم ، فلما قدمنا المدينة أهداها لعلي عليه السلام تخدمه ، فجعلها علي في منزل فاطمة .</strong></p>
<p><strong>فدخلت فاطمة عليها السلام يوما فنظرت إلى رأس علي عليه السلام في حجر الجارية فقالت : يا أبا الحسن فعلتها ، فقال : لا والله يا بنت محمد ما فعلت شيئا فما الذي تريدين ؟ قالت تأذن لي في المصير إلى منزل أبي رسول الله صلى الله عليه واله فقال لها : قد أذنت لك .</strong></p>
<p><strong>فتجللت بجلالها ، وتبرقعت ببرقعها</strong></p>
<p>[Terjemahan: Al-Qummi dan Al-Majlisi meriwayatkan berdasarkan otoritas Abu Thar: Saya berhijrah dengan Jafar bin Abi Thalib ke Abyssynia. Seorang gadis wanita senilai 4.000 dirham diberikan kepada Jafar sebagai hadiah. Ketika kami tiba di Madinah dia memberikannya kepada Ali sebagai hadiah untuk melayani dia. Ali menempatkannya di rumah Fathimah. Suatu hari Fatima masuk dan melihat kepala Ali ada di pangkuan gadis itu. Dia berkata: &#8220;Wahai Abu Al-Hasan! ?! Apakah Anda telah melakukannya &#8220;Dia berkata:&#8221;Wahai puteri Muhammad! Saya tidak melakukan apa-apa, apa itu yang kamu inginkan &#8220;Dia berkata: &#8220;Apakah kamu mengizinkan saya untuk pergi ke rumah ayahku? &#8220;Dia berkata:&#8221;Aku akan mengijinkan kamu&#8221;. Lalu, dia memakai Jilbabnya dan pergi menemui Nabi.</p>
<p>(sumber: Ibnu Babaveh Al-Qummi&#8217;s &#8220;Elal Al-Sharae &#8216;&#8221;, hal.163, juga diriwayatkan di Bihar Al-Anwar, hal. 43-44, Bab tentang &#8220;Bagaimana dia hidup dengan Ali &#8220;)]</p>
<p>sumber: <a href="http://www.yazahra.net/ara/html/4/behar43/a15.html" rel="nofollow" target="_blank">http://www.yazahra.net/ara/html/4/behar43/a15.html</a></p></blockquote>
<p>Keempat- adalah kenyataan bahwa insiden ini disebutkan dalam sumber-sumber Syiah juga. Syaikh Mufid, sarjana klasik Syiah, menulis:</p>
<blockquote><p>(Sebelumnya) Amirul mukminin telah memilih seorang budak wanita dari antara para tawanan. Sekarang Khalid mengirim Buraida kepada Nabi. Dia berkata: “Temui (Nabi) sebelum keduluan para pasukan. Katakan padanya apa yang telah Ali lakukan dalam memilih seorang budak-wanita untuk dirinya dari Khums dan membawa dirinya dalam aib … “</p>
<p>Buraida pergi kepada Nabi. Dia (Buraida) telah membawa surat dari Khalid yang dengannya ia diutus. Dia mulai membacanya. Wajah Nabi mulai berubah.</p>
<p>“Rasul Allah,” kata Buraida, “jika Anda mengijinkan orang (bertindak) seperti ini, maka barang rampasan mereka akan hilang.”</p>
<p>“Celakalah atasmu, Buraida,” kata Nabi kepadanya. “Kamu telah melakukan suatu tindakan kemunafikan. Ali bin Abi Thalib diperbolehkan untuk memiliki apa yang diperbolehkan untuk saya dari rampasan perang mereka … Buraida, saya memperingatkan kamu bahwa jika kamu membenci Ali, maka Allah akan membencimu. “</p>
<p>Buraida melaporkan: “Saya ingin bumi terbelah untuk aku agar saya bisa tertelan ke dalamnya. Lalu aku berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kemarahan Allah dan kemarahan Rasul Allah. Rasul Allah, ampunilah aku. Aku tidak akan pernah membenci Ali dan aku hanya akan berbicara yang baik tentang dia. “</p>
<p>Nabi memaafkan dia.</p>
<p>Kitab al-Irshad, oleh Syaikh Mufid, hal. 111-112)</p></blockquote>
<p>Hadits Ghadir Khum diceritakan dalam kitab Sahih Bukhari (Volume 5, Buku 59 Nomor 637):</p>
<blockquote><p>Dikisahkan oleh Buraida:</p>
<p>Nabi mengirim Ali kepada Khalid untuk membawa Khumus (barang jarahan) dan aku membenci Ali, dan Ali habis mandi (setelah tindakan seksual dengan seorang budak wanita dari Khumus). Aku berkata kepada Khalid, “Tidakkah kamu melihat ini (yaitu Ali)?” Ketika kami berjumpa Nabi, aku sebutkan hal itu kepadanya. Dia (Nabi) berkata, “Wahai Buraida! Apakah kamu membenci Ali? “Aku berkata,” Ya “Dia berkata,” Apakah kamu membenci dia, karena dia pantas menerima lebih dari itu dari Khumlus.. “</p></blockquote>
<p>Ini adalah versi Ghadir Khum sebagaimana yang dikisahkan dalam Sahihayn (yaitu Bukhari dan Muslim), dengan tidak menyebutkan semua kata “mawla.” Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sebagaimana yang ia katakan ‘Jika saya “mawla” seseorang maka maka Ali adalah “mawla”-nya juga’, kalimat ini tidak ada dalam buku-buku Sahih (Bukhari dan Muslim), tetapi itu adalah salah satu laporan yang diriwayatkan oleh para ulama dan tentang keasliannya orang-orang berbeda pendapat. “</p>
<p>Oleh karena itu, kami melihat bahwa Syiah telah banyak mempermasalahkan sesuatu yang tidak ada relevansinya dengan imamah. Kandungan dan konteks Hadits Ghadir Khum jauh dari penunjukan dan pencalonan kekhalifahan. Ulama Syiah, SHM Jafri, menulis:</p>
<blockquote><p>Sunni menjelaskan keadaan yang mengharuskan munculnya nasihat Nabi [di Ghadir Khum] bahwa beberapa orang menggerutu perihal Ali karena perlakuan kasar dan acuh tak acuh dalam distribusi dari harta rampasan dari ekspedisi Al-Yaman, yang baru saja terjadi di bawah Kepemimpinan Ali, dan dari sana ia, bersama dengan dia mereka yang berpartisipasi dalam ekspedisi tersebut, langsung pergi ke Mekah untuk bergabung dengan Nabi pada upacara haji. Untuk menghilangkan perasaan sakit terhadap sepupunya, Nabi berbicara dengan cara ini.</p>
<p>(Asal Usul dan Perkembangan Awal Islam Syiah, oleh SHM Jafri, hal. 21-22)</p></blockquote>
<div>
<div>
<p><strong>SYIAH BERUSAHA UNTUK MENAFIKAN KONTEKS TERSEBUT:</strong></p>
<p><strong></strong>Kaum Sunni mengatakan bahwa Nabi (<strong>صلّى</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>عليه</strong><strong> </strong><strong>وآله</strong><strong> </strong><strong>وسلّم</strong>) terpaksa membuat pernyataannya di Ghadir Khum adalah karena apa terjadi antara Ali (<strong>رضّى</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>عنه</strong>) dan tentaranya di Yaman. Syiah menanggapinya dalam salah satu dari dua cara. Respon pertama adalah menolak sama sekali kejadian Yaman, sambil mengklaim bahwa hanyalah “propaganda Umayyah” bahwa Ali (<strong>رضّى</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>عنه</strong>) pernah mengambil budak wanita seperti itu. Tentu saja, respons seperti ini langsung dapat disangkal dengan menunjukkan bahwa riwayat ini juga tersedia dalam sumber-sumber Syiah juga, termasuk buku Syaikh Mufid Kitab Al-Irshad. Oleh karena itu, propagandis Syiah harus kembali pada penjelasan lain, yang ditawarkan oleh “Taair-al-Quds” di bawah ini, yang mengakui bahwa peristiwa Yaman memang terjadi tetapi hal itu tidak ada hubungannya dengan Ghadir Khum.</p>
<blockquote><p><strong>Taair-al-Quds, Admin of ShiaOfAhlAlBayt </strong>says</p>
<p>“The Hadiths mentioning this incident [of Ali’s soldiers getting angry at him]…have nothing to do with the incident of Ghadeer Khumm.</p>
<p>The entire episode [of Ali’s soldiers getting angry at him] took place in Madinah in the Mosque around the Hujrah of the Prophet (s) and finished there and thus has nothing to do with the incident of Ghadir Khumm! The prophet (s) had already clarified this matter/issue which the Wahabi/ Nawaasib aim to present as the context in the incident of Ghadir, which took place at a latter time in history.</p>
<p>…The incident of Ghadeer took place on 18th DhilHajj while the incident of Yemen took place in Rabbi ul Aakhir (Thaani) or Jamaadi ul Ulaa according to historians. There is no compatibility or possibility of mixing both these incidents as one of them took place on return from Meccah after Hajj while the other took place in Yemen earlier on and got resolved earlier as well in Masjid e Nabavi, Medinah, before the Prophet (s) even left for Hajj! . ”</p></blockquote>
<p>Pada kenyataanya, kedua peristiwa (apa yang terjadi di Yaman dan Ghadir Khum) terjadi pada tahun terakhir kehidupan Nabi. Menurut ulama Syiah klasik, Syekh Mufid, ekspedisi di Yaman mulai berakhir pada lima hari terakhir bulan Dhu al-Qa’dah (bulan Islam ke-11) dan peristiwa Ghadir Khum terjadi tepat setelah itu pada bulan Dhu al- Hijjah (bulan Islam ke-12). “Taair-al-Quds” telah melakukan penipuan dengan mengklaim bahwa ekspedisi Yaman terjadi pada bulan Rabi’ al-Thani (bulan Islam ke-4) atau Jumada al-Awwal (Bulan Islam ke-5), sedangkan Ghadir Khum terjadi di  bulan ke-12, ini adalah setengah kebenaran yang mengerikan. Operasi militer Yaman berlangsung berbulan-bulan dan hingga bulan ke-11! Jadi ekspedisi Yaman mungkin sudah dimulai sejak beberapa bulan sebelumnya, pasti tidak berakhir sebelum lima hari terakhir bulan ke-11, yang setelahnya Ali dan tentaranya segera bergabung dengan Nabi di Mekkah untuk melakukan haji.</p>
<p>Adapun klaim “Taair-al-Quds” bahwa insiden Yaman itu diselesaikan di Madinah, maka ini adalah kejanggalan di pihaknya. Setelah apa yang terjadi di Yaman (yaitu dalam menyikapi Khums), Ali pergi berkuda untuk menemui Nabi di Mekah, bukan di Madinah. Ali dan anak buahnya melakukan haji dengan Nabi dan pada waktu itulah tentaranya menggerutu tentang Ali, yang memicu munculnya pernyataan di Ghadir Khum.</p>
<p>“Taair-al-Quds” menyebutnya sebagai propaganda “Wahabi/ Nawaasib” untuk mengklaim bahwa sengketa antara Ali dan tentaranya terjadi tepat sebelum Ghadir Khum. Kami ingin bertanya kepada “Taair-al-Quds”, apakah ia menganggap bahwa Syaikh Mufid adalah salah satu dari “Nawaasib”? Syaikh Mufid, dalam buku epiknya “Kitab al-Irshad” menyebutkan sengketa di Yaman (antara Ali dan tentaranya) pada bagian yang sama dengan bagian yang berjudul “Haji perpisahan Nabi dan Deklarasi di Ghadir Khum”! Kami membaca:</p>
<blockquote><p><strong> Haji perpisahan Nabi dan Deklarasi di Ghadir Khum:</strong></p>
<p>… Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, telah mengirim dia (Ali), kedamaian atasnya, ke Yaman untuk mengumpulkan bagian sperlima (khums) dari emas dan perak mereka dan mengumpulkan perisai dada dan hal-hal lain … Lalu Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, memutuskan untuk pergi haji dan untuk melaksanakan tugas yang Allah Ta’ala, telah putuskan …</p>
<p>Dia, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, berangkat dengan mereka selama lima hari yang tersisa pada (bulan) Dhu al-Qa’da. Dia telah menulis kepada Amirul mukminin (Ali), kedamaian atasnya, tentang pergi menunaikan ibadah haji dari Yaman …</p>
<p>Sementara itu, Amirul mukminin, kedamaian atasnya, berangkat dengan para prajurit yang menemaninya ke Yaman. Dia telah membawa perisai dada yang telah dikumpulkan dari orang-orang Najran. Ketika Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, sudah mendekati Mekah dalam perjalanannya dari Madinah, Amirul Mukminin (Ali), kedamaian atasnya, sudah mendekatinya dalam perjalanannya dari Yaman. Dia (Ali) mendahului tentaranya untuk bertemu Nabi, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, dan ia meninggalkan salah seorang dari mereka untuk bertanggung jawab terhadap mereka (pasukan). Ia datang kepada Nabi sebagai yang berikutnya melihat Mekah. Dia (Ali) menyambutnya (Nabi) dan menginformasikan kepadanya (Nabi) dari apa yang dia (Ali) telah lakukan dan apa yang dia (Ali) telah kumpulkan [dari Khums] dan bahwa ia telah bergegas mendahului tentaranya untuk bertemu dengannya. Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, senang pada hal itu dan senang bertemu dengannya…</p>
<p>Amirul mukminin, kedamaian atasnya, mengucapkan selamat jalan kepadanya (Nabi) dan kembali ke pasukannya. Dia (Ali) bertemu mereka mendekatinya dan menemukan bahwa mereka telah mengenakan perisai dada yang mereka punya. Dia (Ali) mencela mereka untuk itu.</p>
<p>“Memalukan kamu!” Katanya (Ali) kepada orang yang sudah ditunjuk sebagai wakilnya atas mereka. “Apa yang membuat kamu memberikan mereka perisai dada sebelum kita menyerahkannya kepada Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya? Saya tidak memberi kamu izin untuk melakukan hal itu. “</p>
<p>“Mereka meminta saya untuk membiarkan deck diri mereka keluar dan memasuki keadaan pensucian dengannya, dan kemudian mereka akan mengembalikan padaku,” jawabnya.</p>
<p>Amirul mukminin, kedamaian atasnya, mengambilnya dari orang-orang dan menempatkannya kembali di karung. Mereka tidak puas dengan dia karena hal itu. Ketika mereka tiba di Mekah, keluhan mereka terhadap Amirul Mukminin, kedamaian atasnya, menjadi tambah banyak. Rasul Allah memerintahkan panggilan yang akan diberikan antara orang-orang: “Hentikan lidah anda (membicarakan) Ali bin Abi Thalib, kedamaian atasnya. Dia adalah orang yang keras untuk kepentingan Allah, Yang Maha Kuasa dan maha Tinggi, bukan orang yang sesat dalam agama-Nya … “</p>
<p>Ketika Rasul Allah melakukan ritual ibadah haji, ia menjadikan Ali sebagai pasangannya dalam pengorbanan hewan. Kemudian dia memulai perjalanannya kembali ke Madinah. (Ali) dan Muslim pergi dengan dia. Dia tiba di tempat yang dikenal sebagai Ghadir Khum …</p>
<p>(Kitab al-Irshad, oleh Syaikh Mufid, hal. 119-123)</p></blockquote>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/164380_133800853346647_100001501998631_219965_5096694_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/164394_133801046679961_100001501998631_219966_5631884_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/148262_133801140013285_100001501998631_219968_4566876_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/35624_133801213346611_100001501998631_219969_4523693_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/162868_133801286679937_100001501998631_219970_3599565_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<div>
<div><img src="https://i0.wp.com/a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/167434_133801323346600_100001501998631_219972_4442539_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>(Note: Meskipun pada rangkaian kalimat di atas Syaikh Mufid menceritakan adanya perbedaan pendapat antara Ali dengan pasukannya yang semakin kuat di Mekah, namun sesuai keyakinan Syiah beliau tidak mengaitkan sama sekali kejadian di Ghadir Kum dengan adanya perbedaan pendapat dan adanya kebencian pasukan Ali terhadap Ali, namun justru mengaitkannya dengan asbabun nuzul ayat 5:67, yang akan kami bahas pada bagian selanjutnya)</p>
<div>
<div>
<p><strong>SIAPA SAJA YANG MARAH KEPADA ALI ?</strong></p>
<p><strong></strong>Para propagandis Syiah kemudian mengklaim bahwa hanya Khalid dan Buraida yang marah kepada Ali.</p>
<blockquote><p> <strong>Taair-al-Quds, Admin of ShiaOfAhlAlBayt </strong>says</p>
<p>“None of the hadiths mention any third individual besides Khalid bin Walid and Burayda (or Bara as in Tirmidhi) to be the complainers or the ones who initiated this BUGHZ (hatred) campaign towards Imam Ali (a.s) as reported through this incident.</p>
<p>”</p></blockquote>
<p>Ini adalah satu lagi kebohongan terang-terangan oleh “Taair -al-Quds”. Bahkan, semua (atau setidaknya sebagian besar) tentara Ali yang kecewa dengan dia, bukan hanya satu atau dua tentara. Syaikh Mufid menulis:</p>
<blockquote><p>Amirul mukminin, damai atasnya, mengambilnya (perisai dada) dari orang-orang dan mengembalikan ke karung. Mereka tidak puas dengan dia karena hal itu. Ketika mereka tiba di Mekah, keluhan mereka terhadap Amirul Mukminin, damai atasnya, menjadi bertambah banyak. Rasul Allah memerintahkan panggilan yang akan diberikan antara orang-orang: “Hentikan lidah kamu semua (berbicara) tentang Ali bin Abi Thalib, damai atasnya. Dia adalah seorang yang keras untuk kepentingan Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi, bukan seorang yang sesat dalam agama-Nya … “</p>
<p>(Kitab al-Irshad, oleh Syaikh Mufid, hal. 121-122)</p></blockquote>
<p>Keluhan terhadap Ali adalah “banyak” dan hal dilakukan oleh “orang-orang” yang tidak puas (tidak satu atau dua orang), dan Nabi memerintahkan panggilan kepada orang-orang secara umum. Hal ini jelas bahwa sebagian besar tentara Ali yang tidak puas dengannya karena ia menolak untuk membolehkan mereka memakai perisai dada dari Khums. Oleh karena itu, tidaklah pantas untuk menyalahkan kepada satu atau dua individu, karena kebenaran dari masalah ini adalah bahwa Ali telah membuat marah semua tentara-Nya, dan kami mencari perlindungan Allah dari menyalahkan siapa pun, terutama karena Nabi sendiri telah memaafkan Buraida dan yang lainnya.</p>
<p>Intinya, bagaimanapun, adalah bahwa banyak orang yang marah kepada Ali dan ini adalah alasan mengapa Nabi harus membuat deklarasi di Ghadir Khum, untuk melepaskan Ali dari tuduhan – tidak untuk mencalonkan Ali sebagai penggantinya.</p>
<p><strong>TAMBAHAN KALIMAT PALSU</strong></p>
<p>Taktik Syiah umum untuk menipu orang awam Sunni adalah menyatakan bahwa Hadits Ghadir Khum ada di Bukhari dan di buku-buku yang paling terpercaya di kalangan Sunni (seringkali memberi kesan kepada Sunni dengan daftar referensi yang banyak), dan kemudian mereka mengutip berbagai versi dari sumber yang kabur dan tidak bias dipercaya, yang menggambarkan Ghadir Khum dengan cara yang sangat berbeda dari yang dinyatakan sebenarnya dalam buku otentik tersebut. Taktik mengelabui orang seperti ini disebut “menerima dengan mengaitkan.”</p>
<p>Pada kenyataannya, hanya ada dua penambahan pada Hadits yang dianggap otentik dan itu pun hanya oleh beberapa ulama. Untuk tujuan debat, bagaimanapun, kita akan menerimanya sebagai otentik. Sekali lagi, dua tambahan ini tidak ada di Sahihayn tetapi mereka ada dalam berbagai variasi narasi dalam buku-buku lain. Sebagai murid Hadits tahu, bahwa Hadits memiliki berbagai tingkatan, seperti Hadits Ghadir Khum, yang paling otentik adalah apa yang ada di Sahih Bukhari seperti yang dikutip di atas. Namun, ada versi lain yang memiliki dua tambahan:</p>
<ol>
<li>Penambahan pertama adalah: “Man Kuntu mawla fa` Ali mawla”. (Siapa yang menjadikan saya Mawla, maka Ali ini juga mawla-nya).</li>
<li>Penambahan kedua adalah: “Allahummu wali man walaah wa `adi man `adaah.” (Ya Allah, bertemanlah dengan siapa saja yang berteman dengan dia dan jadilah musuh siapa saja yang memusuhi dia).</li>
</ol>
<p>Penambahan pertama umumnya diterima, sedangkan yang kedua adalah lemah, namun beberapa ulama menganggapnya otentik. Sedangkan penambahan lainnya, sejauh ini tidak terdapat dalam buku otentik dan “mawdoo” atau dipalsukan. Secara umum, Syiah puas dalam mendasarkan argumen mereka pada dua tambahan pertama, tetapi tak diragukan lagi setelah mereka membantah, mereka kemudian seringkali akan meminta tolong untuk menggunakan sumber palsu untuk menghasilkan dukungan tambahan, seperti Nabi mengatakan Ali adalah Wasi-nya, Khalifah-nya, Imam, dll. Ini semua adalah palsu, dan secara historis Syiah telah memproduksi banyak Hadits palsu. Syiah mampu menghasilkan daftar panjang referensi palsu tentang Ghadir Khum karena mereka sendiri telah bertanggung jawab atas banyaknya pemalsuan berkaitan dengan Ghadir Khum.</p>
<p>Kami telah melihat versi Ghadir Khum dalam kitab Sahih Bukhari, dan bagaimana hal itu tidak mengandung penambahan “mawla”. Namun, penambahan “mawla” dapat ditemukan dalam variasi dari Hadits:</p>
<blockquote><p>Buraida meriwayatkan: “Saya menyerbu Yaman dengan Ali dan aku melihat kedinginan dari bagian dia, maka ketika saya datang (kembali) kepada Rasul Allah dan menyebutkan Ali dan mengkritiknya, aku melihat wajah Rasulullah perubahan dan ia berkata: ‘Wahai Buraida, bukankah saya tidak lebih dekat dengan orang-orang yang beriman daripada mereka terhadap diri mereka sendiri?” kataku: “Ya, Wahai Rasulullah. ” Dia (lalu) berkata: ‘Siapa saja yang saya adalah mawlanya, maka Ali ini juga mawla nya. “</p>
<p>(Musnad Ahmad [v5 / p347 / # 22995] dengan rantai transmisi yang sahih dan semua perawinya dapat dipercaya [thiqa] yang diandalkan oleh al-Bukhari dan Muslim, al-Nisa’i dalam Sunan al-Kubra [v5 / P45 / # 8145 ], al-Hakim dalam al-Mustadrak [v3 / p119 / # 4578]; Abu Nu`aym, Ibnu Jarir dan lainnya)</p></blockquote>
<p>Dalam versi yang sedikit berbeda:</p>
<blockquote><p>Buraida meriwayatkan: “Nabi mengutus saya ke Yaman dengan Ali dan aku melihat kedinginan dari bagian dia, ketika aku kembali dan mengeluh tentang dirinya kepada Rasulullah, dia (Rasulullah) mengangkat kepalanya ke arah (dia) dan berkata: ‘Wahai Buraida! ‘Siapa saja yang saya adalah mawlanya, maka Ali ini juga mawla nya. “</p>
<p>(Sunan al-Kubra, v5, p130, # 8466, sebuah laporan serupa dapat ditemukan di Musannaf Ibnu Abi Shayba [v6, hal. 374])</p></blockquote>
<p>Dalam riwayat lain, Nabi berkata: “allahummu wali man walaah wa `adi man `adaah”, yang diterjemahkan menjadi: “Ya Allah, menjadilah teman siapa saja yang berteman dengan dia dan menjadilah musuh siapa saja memusuhi dia”. Beberapa ulama telah meragukan keaslian pernyataan ini, tetapi kami akan menerima tambahan kedua ini sebagai otentik.</p>
<p>Ini adalah dua penambahan pada Hadits Ghadir Khum yang bisa dianggap otentik, dan oleh karena itu terhadap dua tambahan ini saja kami akan membahasnya lebih lanjut.</p>
<p>Para propagandis Syiah akan sering menambahkan berbagai macam riwayat dari sumber yang lemah dan tidak jelas, tetapi ini bukan suatu metodologi yang valid dalam berdebat. Sering kali, referensi tersebut tidak mungkin untuk dipakai memverifikasi dan sering kali mereka tidak ada sama sekali atau secara dramatis keluar dari konteks. Apa yang aneh dan sedikit lucu adalah bahwa Sunni seringkali mengutip dari Al-Kafi, buku yang paling otentik dari Hadits Syiah, dan Syiah langsung menolak Hadits ini sebagai dasar argumentasi. Jika seperti ini sikap Syiah terhadap buku Hadits mereka yang paling otentik, lalu kenapa Syiah mengharapkan kita untuk menerima riwayat dari sumber yang tidak jelas dan tidak dapat diandalkan? Dalam kasus apapun, untuk menjadi adil, hanya dua tambahan tersebut yang akan kita membahas, yaitu: (1) … ini adalah Ali juga mawla-nya …, dan (2) … jadilah teman barang siapa yang berteman dengan dia.<strong></strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>DEFINISI KATA “MAWLA”</strong></p>
<p>Klaim Syiah bahwa kata “mawla” di sini berarti “pemimpin”/ “tuan”. Hal ini didasarkan pada terjemahan yang keliru dari kata tersebut yang mereka klaim bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai penggantinya. Bahkan, kata “mawla” – sebagaimana banyak kata Arab lainnya – memiliki beberapa kemungkinan terjemahan.</p>
<p>Syiah awam mungkin akan terkejut jika mengetahui bahwa sesungguhnya definisi yang paling umum dari kata “mawla” sebenarnya adalah “hamba” dan bukan “tuan“. Seorang bekas budak yang menjadi seorang pembantu dan tidak memiliki hubungan suku disebut sebagai seorang Mawla. Seperti Salim yang dipanggil Salim mawla Abi Hudzaifah karena dia adalah pembantu Abu Hudzaifah.</p>
<p>Kita hanya perlu membuka sebuah kamus bahasa Arab untuk melihat berbagai definisi kata “mawla.” Ibnu Al-Atheer berkata bahwa kata “mawla” dapat digunakan untuk maksud, antara lain, sebagai berikut: tuan, pemilik, dermawan, pembebas, pembantu, kekasih, sekutu, budak, hamba, kakak ipar, sepupu, teman, dll</p>
<p>Sekarang mari kita periksa lagi hadis tersebut:</p>
<blockquote><p> ”Barangsiapa saya mawlanya, maka Ali ini juga mawlanya. Ya Allah, jadilah teman siapa saja yang berteman dengan dia dan musuhilah siapa saja yang memusuhi dia. “</p></blockquote>
<p>Kata “mawla” di sini tidak dapat merujuk pada arti “pemimpin”, tetapi terjemahan terbaik dari kata “mawla” tersebut adalah “seorang teman tercinta”. Jelas bahwa “mawla” di sini bermakna mencintai/ menyayangi dan hubungan dekat, bukan Khilafah dan Imamah. Muwalat (cinta) adalah lawan dari kata Mu`adat (permusuhan). Definisi dari kata “mawla” yang ini paling masuk akal berkaitan dengan konteks kalimat karena Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) segera mengatakan Ya Allah, jadilah teman siapa saja yang berteman dengan dia dan musuhilah siapa saja yang memusuhi dia“. Lebih dari itu, makna tersebut juga sesuai dengan peristiwa yang melatarbelakanginya.</p>
<p>Syiah dapat saja menolak untuk percaya bahwa mawla di sini berarti “sahabat tercinta”, tetapi kenyataannya adalah bahwa kata itu tidak dapat diterjemahkan dalam makna lain ketika kita mempertimbangkan bahwa tambahan kalimat yang mengikutinya adalah tentang berteman dengan dia, bukan tentang diperintah oleh dia atau yang seperti itu. Sebenarnya sulit dipercaya bahwa Syiah bisa menerjemahkan kata itu dengan arti Khalifah dan Imam ketika konteksnya tidak ada hubungannya dengan hal itu.</p>
<p>Al-Jazari mengatakan dalam al-Nihaayah:</p>
<blockquote><p> ”Kata mawla sering disebutkan dalam hadits, dan ini adalah isim yang diterapkan pada banyak hal. Kata ini mungkin merujuk kepada seorang penguasa, seorang pemilik, seorang yang menguasai, seorang dermawan, orang yang membebaskan budak, seorang pendukung, orang yang mengasihi yang lain, seorang pengikut, seorang tetangga, seorang sepupu (anak paman dari pihak ayah), seorang sekutu, seorang budak, seorang budak  yang sudah dibebaskan, seseorang yang kepadanya seseorang telah melakukan bantuan. Kebanyakan dari makna-makna ini disebut dalam berbagai Hadis, sehingga harus dipahami dengan cara yang disiratkan oleh konteks hadits yang didalamnya kata tersbut digunakan.“</p></blockquote>
<p>Imam Syafi’i berkata berkaitan dengan mawla khusus dalam hadits Ghadir Khum ini:</p>
<blockquote><p> ”Yang dimaksud dengan itu adalah ikatan (persahabatan, persaudaraan, dan cinta) dalam Islam.”</p></blockquote>
<p>Allah berfirman dalam Al-Quran:</p>
<blockquote><p> Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu (teman setiamu). Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (Quran, 57:15)</p></blockquote>
<p>Sesuai konteks kalimatnya, tidak ada penerjemah di dunia ini – bahkan Syiah yang setia – pernah menerjemahkan kata „mawla“ tersebut dengan arti “Imam” atau “khalifah”, karena akan menjadikan kalimat tersebut tidak bermakna. Api neraka pada ayat di atas disebut sebagai „mawla“ bagi orang-orang kafir karena kedekatan yang sangat mereka kepadanya, dan inilah definisi mawla yang sedang dimaksud dalam Hadis Ghadir Khum (kedekatan yang sangat yaitu kepada Nabi, Ali, dan orang yang beriman). Memang, kata “mawla” berasal dari “Wilayah” dan bukan “Walayah”. Wilayah mengacu pada cinta dan Nusrah (pertolongan dan bantuan), dan tidak boleh dikaburkan dengan kata Walayah, yang mengacu pada kepemimpinan.</p>
<p>Allah berfirman dalam Al-Quran:</p>
<blockquote><p> ”Itu karena Allah adalah mawla (yaitu melindungi teman, pelindung, dll) dari orang-orang yang beriman, dan karena orang-orang kafir tidak mempunyai mawla bagi mereka.” (Quran, 47:11)</p></blockquote>
<p>Ayat ini tidak merujuk kepada Khilafah atau Imamah, tetapi lebih mengacu pada teman yang melindungi secara dekat. Jika tidak demikian, maka makna ayat itu akan menjadi tidak masuk akal. Para komentator Syiah tampaknya mengabaikan bagian kedua dari ayat ini dimana Allah berfirman: “orang-orang kafir tidak mempunyai mawla bagi mereka”. Apakah ini berarti bahwa orang-orang kafir tidak akan memiliki pemimpin? Tentu saja orang-orang kafir memiliki pemimpin, sebagaimana hari ini orang-orang kafir Amerika memiliki George Bush sebagai pemimpin mereka. Fakta ini disebutkan dalam Al-Quran sendiri:</p>
<blockquote><p> ”Perangi/ bunuh para pemimpin (A-IMMAH) orang-orang kafir.” (Quran, 09:12)</p>
<p>” Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin (A-IMMAH) yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (Quran, 28:41)</p></blockquote>
<p>Jadi ketika Allah mengatakan “orang-orang kafir tidak mempunyai mawla bagi mereka”, maka hal ini merujuk kepada pelindung yang sangat dekat, bukan karena mereka tidak memiliki pemimpin. Ayat 47:11 sama sekali tidak menggunakan kata mawla yang berarti Imam atau Khalifah, tetapi lebih mengacu ke teman melindungi dekat. Untuk makna pemimpin secara tegas Allah menggunakan kata IMAM yang jamaknya A-IMMAH sebagaimana yang digunakan pada ayat 9:12 dan 28:41.</p>
<p>Hadis Ghadir Khum dimaksudkan untuk ditafsirkan dengan cara yang sama. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memberikan nasihat kepada orang-orang untuk mencintai Ali (رضى الله عنه) dan dekat dengan dia. Dan ini persis seperti apa yang Abu Bakar (رضى الله عنه), Umar (رضى الله عنه), dan Usman (رضى الله عنه) lakukan (yaitu mereka menjadi sahabat tercinta Ali). Bahkan, Umar (رضى الله عنه) begitu dicintai Ali (رضى الله عنه) bahwa ia (Ali) mengawinkan putrinya kepadanya (Umar). Ali (رضى الله عنه) menjabat sebagai wazir dan kepercayaan dekat bagi ketiga khalifah, sedemikian rupa terjadi rasa saling mengasihi dan hormat antara ketiga khalifah dan Ali (رضى الله عنه). Dengan kata lain, Hadis Ghadir Khum tidak ada hubungannya dengan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi penggantinya, tetapi hanyalah dimaksudkan agar orang-orang berhenti mengkritik Ali (رضى الله عنه ) dan mencintainya.</p>
<p>Allah berfirman dalam Al-Quran:</p>
<blockquote><p> ”Tentu mawla (teman-teman tercinta) kamu adalah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang percaya – orang-orang yang menegakkan shalat dan melaksanakan zakat, dan mereka sujud dengan rendah hati. Adapun orang-orang yang berpaling (dari persahabatan) kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, (biarkan mereka tahu bahwa) itu adalah partai Allah yang akan menang “(Qur’an, 5:55-56).</p></blockquote>
<p>Dalam ayat di atas, Allah merujuk kepada semua orang yang percaya sebagai mawla. Bagaimana bisa, klaim Syiah bahwa kata mawla mengacu pada kekhalifahan atau Imamah, kecuali kalau semua orang beriman itu tiba-tiba menjadi khalifah atau imam bagi Nabi? (Mengenai ini, justru Syiah akan membuat klaim keterlaluan bahwa ayat ini merujuk kepada Ali sendiri, meskipun ada fakta nyata bahwa pada ayat tersebut menyebut kepada orang-orang yang percaya dalam bentuk jamak. Memang tidak diragukan lagi, bahwa Ali – seperti kebanyakan orang-orang yang percaya lainnya – termasuk dalam ayat ini, tetapi tidak bisa disimpulkan hanya mengacu secara eksklusif baginya karena jelas dalam bentuk jamak). Memang, kata “mawla” di sini bermakna cinta, kedekatan yang ekstrim, dan membantu. Bahkan, tidak ada satu contoh dalam Quran di mana kata “mawla” digunakan untuk merujuk pada arti Imamah atau Khilafah.</p>
<p>Dalam ayat lain di Al- Quran, Allah berfirman:</p>
<blockquote><p> ”Tidak ada mawla akan menguntungkan Malwa dia di Hari Pembalasan.” (44:41)</p></blockquote>
<p>Apakah ini berarti bahwa “pemimpin tidak akan menguntungkan pemimpin dia pada hari kiamat”? Tentunya ini tidak masuk akal. Sebaliknya, kami melihat dalam ayat tersebut bahwa Allah merujuk kepada dua orang dan panggilan keduanya harus mawla, jika mawla itu berarti pemimpin, maka hanya satu dari mereka yang bisa menjadi pemimpin yang lain. Tetapi jika mawla berarti teman tercinta, maka sesungguhnya mereka bisa mawla satu sama lain dan secara bahasa akan tepat untuk merujuk kepada mereka berdua sebagai mawla sebagaimana yang Allah lakukan dalam al-Quran.</p>
<p>Kata “mawla” yang digunakan dalam Hadis juga berarti sahabat tercinta, marilah kita periksa Sahih al-Bukhari (Volume 4, Buku 56, Nomor 715). Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan:</p>
<blockquote><p> ”Suku-suku Quraisy, Al-Ansar, Juhaina, Muzaina, Aslam, Ghifar dan Ashja ‘adalah penolong tercinta saya (Mawali), dan mereka tidak memiliki pelindung kecuali Allah dan Rasul-Nya.”</p></blockquote>
<p>Apakah kata “mawla” di sini merujuk kepada Khilafah atau Imamah? Apakah suku-suku tersebut adalah Khalifah atau Imam atas Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم)? Tentu saja tidak. Akan lebih logis bahwa mereka dekat sekali dan cinta kepada Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan dengan demikian disebut sebagai Mawali (jamak dari mawla).</p>
<p>Juga penting untuk ditunjukkan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak mengatakan “setelah saya” di hadis Ghadir Khum. Dia hanya mengatakan “siapapun yang saya mawlanya, Ali juga mawla-nya” tanpa memberikan kerangka waktu. Ini berarti bahwa keadaan yang diharapkan ini (mencintai Nabi dan Ali) adalah seterusnya.</p>
<p>Jika ucapan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermakna “siapapun yang saya pemimpinnya, Ali juga pemimpinnya”, sebagai makna yang dipahami oleh saudara-saudara kita Syiah, maka akan ada masalah yang sangat besar bagi umat Islam. Tidak akan pernah ada dua khalifah atau Imam di daerah yang sama pada saat yang sama, dan ada banyak hadis di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memperingatkan tentang memiliki dua khalifah. Tanpa adanya kalimat “setelah saya”, ucapan di Ghadir Kum akan menjadi kalimat yang sangat membingungkan yang akan menimbulkan banyak fitnah.</p>
<p>Tentu saja, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak bermaksud seperti itu dan tidak ada para sahabat yang memahaminya seperti itu. Di sisi lain, sangatlah mungkin untuk memiliki lebih dari satu mawla (teman tercinta) pada waktu yang sama. Seseorang dapat mencintai Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan dekat dengan beliau, dan pada saat yang sama mencintai dan dekat dengan Ali (رضى الله عنه).</p>
<p>Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermaksud untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه), maka mengapa Nabi menggunakan kalimat yang ambigu seperti itu? Alih-alih mengatakan sesuatu yang jelas, seperti “siapa yang saya mawlanya, maka Ali juga mawlanya”, mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak mengatakan sesuatu yang lebih jelas seperti “Saya mencalonkan Ali untuk menjadi khalifah setelah saya mati” atau “Ali adalah pengganti saya dan khalifah pertama kaum muslimin setelah saya”. Tentunya, ini akan membereskan masalah ini. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) diperintahkan agar jelas dalam menyampaikan Pesan, dan tidak ada sahabat menafsirkan pernyataannya di Ghadir Khum bahwa Ali (رضى الله عنه) dinominasikan sebagai khalifah.</p>
<p>Untuk ini, propagandis Syiah akan membuat pernyataan bertentangan, sebagai berikut:</p>
<blockquote><p> <strong>ShiaChat Member </strong>says</p>
<p>“The prophet (SAW) did in fact say clearly that IMAM ALI (A.S.) was his successor and the next Caliph and many other clearer things but these hadeeth were not transmitted by the sahaba and the sunnis because they wished to deny the imamate of IMAM ALI (A.S.). The sahaba and sunnis didnt remove the mawla hadeeth because it could be misinterpreted to deny the imamate of IMAM ALI (A.S.).</p>
<p>Some even say that the prophet (SAW) used intentionally vague wording otherwise people would have tampered his words. Had he used a more direct and clear term, then the sahaba would know that the people would think that it is about the IMAMATE of IMAM ALI (A.S.) and they would then take it out. In fact, in other SHIA hadeeths, the prophet (SAW) did in fact say it clearly that IMAM ALI (A.S.) is the successor and the next Caliph but the Sunnis reject those. ”</p></blockquote>
<p>Argumen di atas sebenarnya mengakui seluruh perdebatan. Di sini, Syiah mengatakan:</p>
<blockquote><p>1)     Perkataan yang jelas dari Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) telah dihapus oleh Sunni.</p>
<p>2)     Hadis Ghadir Khum tentang Ali (رضى الله عنه) menjadi mawla tidak dihapus karena tidak langsung dan jelas tentang masalah Imamah atau Khilafah.</p></blockquote>
<p>Kalau begitu, bukankah seluruh perdebatan selesai? Bukankah Syiah yang selalu bergumentasi bahwa hadis Ghadir Khum adalah bukti jelas dan pasti peruhal Imamah dan Kekhalifahan Ali (رضى الله عنه)? Dan memang, argumen Syiah tersebut mengakui kenyataan bahwa hadis tentang Ghadir Khum tidak berbicara jelas tentang Imamah/ Khilafah, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah mawla orang-orang yang percaya, yang dengan cara apapun tidak membuktikan bahwa Ali (رضى الله عنه) menjadi khalifah.</p>
<p>Bahkan, kalaulah seandainya jelas, maka tentu para sahabat tidak akan menyampaikan hadits tersebut, bukan? Karena itu, kami melihat bahwa – berdasarkan pada garis pemikiran ini – bahwa hadits Ghadir Khum tidaklah jelas tentang Imamah Ali (رضى الله عنه), jika tidak demikian maka hadits ini tidak akan pernah diriwayatkan oleh para sahabat yang sama-sama berusaha untuk merebut Khilafah Ali.</p>
<p>Sesungguhnya, hadis Ghadir Khum tidak pernah ditafsirkan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah khalifah, namun hanya untuk menunjukkan kebajikan Ali (رضى الله عنه). Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memuji seseorang, ini tidak otomatis membuat orang itu menjadi Khalifah umat. Adapun tentang adanya Hadis Syiah tentang masalah ini, maka tidak relevan dengan kami karena Syiah sangat dikenal sebagai pembohong dan banyak memalsukan hadits.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Bertentangan dengan klaim Syiah, hadis Ghadir Khum tidak ada hubungannya dengan Khilafah atau Imamah. Sebaliknya, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) hanyalah menyangkal sekelompok orang di bawah komando Ali (رضى الله عنه) yang mengkritik Ali (رضى الله عنه) dengan kata-kata yang sangat kasar. Berdasarkan ini, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mendesak orang-orang bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah mawla (teman tercinta) dari semua kaum muslimin, seperti halnya Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم). Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai khalifah, maka ia (صلى الله عليه وآله وسلم) akan melakukannya dalam Khotbah Perpisahan di Mekah bukan dalam perjalanan kembali ke Madinah di tengah gurun 250 km dari Mekah kepada sebagian muslimin.</p>
<div>
<div>
<p><strong>MULLAH SYIAH MEMPERLAKUKAN AL-QURAN SEBAGAI MAINAN.</strong></p>
<p><strong>Al-Islam.org </strong>says</p>
<blockquote><p>“In this place (of Ghadir Khumm), the following verse of the Qur’an was revealed:</p>
<p>“O Apostle! Deliver what has been sent down to you from your Lord; and if you don’t do it, you have not delivered His message (at all); and Allah will protect you from the people …” (Qur’an 5:67)</p>
<p>The last sentence in the above verse indicates that the Prophet [s] was mindful of the reaction of his people in delivering that message but Allah informs him not to worry, for He will protect His Messenger from people. source: <a href="http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm" rel="nofollow" target="_blank">http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm</a>”</p></blockquote>
<p>Ini adalah klaim yang sering diulang-ulang olehSyiah, yaitu bahwa ayat (5:67) ini diturunkan sehubungan dengan pencalonan Khalifah Ali. Dengan kata lain, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak perlu khawatir mengenai reaksi yang mengerikan dari para sahabat terhadap deklarasi Imamah dan Khilafah Ali.</p>
<p>Seperti yang biasanya terjadi, propagandis Syiah tidak ragu-ragu untuk mempermainkan Al-Quran dan menggunakan Al-Quran sebagai dalil pelengkap doktrin mereka . Kenyataanya, ayat 5:67 tidaklah mungkin telah diwahyukan dalam kaitannya dengan nominasi Ali, karena ayat itu diarahkan terhadap Ahli Kitab (yaitu Yahudi dan Kristen).  Syiah menggunakan ayat di luar konteks, tanpa mempertimbangkan ayat sebelum dan sesudahnya. Mari kita lihat:</p>
<blockquote><p> [5:66] Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.</p>
<p>[5:67] Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.</p>
<p>[5:68] Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.</p></blockquote>
<p>Jadi kami melihat bahwa ayat sebelum dan setelahnya berbicara tentang Ahli Kitab, dan dalam konteks ini bahwa ayat 5:67 diturunkan, untuk meyakinkan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bahwa dia tidak boleh takut kepada orang-orang Yahudi atau orang Kristen dan bahwa ia (صلى الله عليه وآله وسلم) harus secara jelas menyampaikan pesan Islam yang akan lebih tinggi mengatasi Yahudi dan Kristen. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) diceritakan dalam ayat 5:67 bahwa ia tidak boleh takut kepada orang-orang yang bermaksud jahat, dan pada ayat yang berikutnya (5:68) Allah mengatakan bahwa pesan Islam hanya akan “menambah kedurhakaan dan kekafiran mereka”. Adalah sangat jelas bahwa ayat tersebut sedang berbicara tentang kelompok orang yang sama, yaitu orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab yang bermaksud membuat kerusakan dan kekafiran.</p>
<p>Pada kenyataannya, hampir keseluruhan ayat sedang membicarakan Ahlul Kitab dan kami melihat ayat 5:59 hingga 5:86 adalah mengacu pada Ahli Kitab. Mari kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini:</p>
<blockquote><p>5:59. Katakanlah, “Wahai ahli Kitab, adakah kamu mendendami kami kerana kami percaya kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan sebelumnya, dan bahwa kebanyakan kamu adalah orang-orang fasiq?”</p>
<p>5:60. Katakanlah, “Bolehkah aku memberitahu kamu, sebagai ganjaran di sisi Allah, yang lebih buruk daripada itu? Sesiapa yang Allah melaknatkan, dan padanya Dia murka, dan menjadikan antara mereka beruk dan babi, dan penyembah-penyembah Thagut – mereka itu lebih buruk tempatnya, dan lebih jauh sesat daripada jalan yang betul.”</p>
<p>5:61. Apabila mereka datang kepada kamu, mereka berkata, “Kami percaya”; tetapi mereka masuk dengan ketidakpercayaan, dan mereka keluar dengannya; Allah sangat mengetahui apa yang mereka menyembunyikan.</p>
<p>5:62. Kamu melihat kebanyakan antara mereka bersegera dalam dosa dan permusuhan, dan bagaimana mereka memakan yang haram; buruknya apa yang mereka buat!</p>
<p>5:63. Mengapakah rabani-rabani (orang-orang yang menguasai), dan habr (ulama agama) tidak melarang mereka daripada ucapan dosa, dan memakan yang haram? Buruknya apa yang mereka mengerjakan!</p>
<p>5:64. Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Yang terbelenggu ialah tangan-tangan mereka, dan mereka dilaknati kerana apa yang mereka mengatakan. Tidak, tetapi tangan-Nya terjulur; Dia menafkahkan sebagaimana yang Dia mengkehendaki. Dan apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu akan menambah kepada kebanyakan antara mereka, dalam kelampauan batas, dan ketidakpercayaan; dan Kami melemparkan di kalangan mereka, permusuhan dan kebencian, sampai Hari Kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api untuk perang, Allah memadamnya. Mereka berusaha di bumi untuk membuat kerosakan padanya; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerosakan.</p>
<p>5:65. Tetapi sekiranya ahli Kitab percaya dan bertakwa, tentu Kami melepaskan mereka daripada kejahatan-kejahatan mereka, dan tentu Kami memasukkan mereka ke Taman Kebahagiaan.</p>
<p>5:66. Sekiranya mereka melakukan Taurat dan Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka daripada Pemelihara mereka, tentu mereka akan makan apa yang di atas mereka, dan apa yang di bawah kaki mereka. Antara mereka adalah umat yang adil, tetapi kebanyakan antara mereka, adalah jahat apa yang mereka buat.</p>
<p>5:67. Wahai rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu kerana, jika kamu tidak lakukan, tidaklah kamu menyampaikan Mesej-Nya. Allah melindungi kamu daripada manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang tidak percaya.</p>
<p>5:68. Katakanlah, “Wahai ahli Kitab, kamu tiada di atas sesuatu, sehingga kamu melakukan Taurat dan Injil, dan apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu.” Dan apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu akan menambah kepada kebanyakan daripada mereka dalam kelampauan batas, dan ketidakpercayaan; maka janganlah berdukacita terhadap kaum yang tidak percaya.</p>
<p>5:69. Sesungguhnya orang-orang yang percaya, dan orang-orang Yahudi, dan Sabiin, dan orang-orang Kristian, sesiapa yang percaya kepada Allah, dan Hari Akhir, dan membuat kerja-kerja kebaikan, maka tiadalah ketakutan pada mereka, dan tidaklah mereka bersedih.</p>
<p>5:70. Dan Kami telah mengambil perjanjian Bani Israil, dan Kami mengutus rasul-rasul kepada mereka. Setiap kali datang kepada mereka seorang rasul, dengan apa yang jiwa mereka tidak menginginkan, segolongan mereka mendustakan, dan segolongan lain mereka bunuh.</p>
<p>5:71. Dan mereka menyangka bahwa tidak akan menjadi cubaan; mereka menjadi buta, dan menjadi pekak. Kemudian Allah menerima taubat mereka; kemudian mereka menjadi buta lagi, kebanyakan daripada mereka, menjadi pekak; dan Allah melihat apa yang mereka buat.</p>
<p>5:72. Merekalah orang-orang yang tidak percaya, yang berkata, “Allah, Dia ialah al-Masih putera Mariam.” Berkata al-Masih, “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Pemeliharaku dan Pemeliharamu. Sesungguhnya sesiapa menyekutukan Allah, Allah akan mengharamkannya Taman, dan tempat menginapnya ialah Api; orang-orang yang zalim tidak ada penolong-penolong.”</p>
<p>5:73. Orang-orang yang tidak percayalah yang berkata, “Allah ialah yang ketiga daripada yang Tiga.” Tidak ada tuhan selain Tuhan Yang Satu. Jika mereka tidak berhenti daripada apa yang mereka mengatakan, tentu akan menyentuh orang-orang antara mereka yang tidak percaya, azab yang pedih.</p>
<p>5:74. Tidakkah mereka bertaubat kepada Allah, dan meminta ampunan-Nya? Allah Pengampun, Pengasih.</p>
<p>5:75. Al-Masih, putera Mariam, hanyalah seorang rasul; rasul-rasul sebelum dia telah berlalu. Ibunya seorang wanita yang benar; mereka berdua makan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami memperjelaskan ayat-ayat kepada mereka, kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling.</p>
<p>5:76. Katakanlah, “Adakah kamu sembah, selain daripada Allah, apa yang tidak boleh memudaratkan, atau memanfaatkan kamu? Dan Allah, Dia Yang Mendengar, Yang Mengetahui.”</p>
<p>5:77. Katakanlah, “Wahai ahli Kitab, janganlah berlebih-lebihan dalam agama kamu, selain daripada yang benar, dan janganlah mengikuti keinginan kaum yang telah sesat sebelumnya, dan menyesatkan ramai, dan sesat lagi daripada jalan yang betul.”</p>
<p>5:78. Telah dilaknati orang-orang yang tidak percaya daripada Bani Israil oleh lidah Daud, dan Isa putera Mariam; itu adalah kerana keingkaran mereka, dan pencabulan mereka.</p>
<p>5:79. Mereka tidak saling melarang daripada sebarang kemungkaran yang mereka melakukan; sungguh buruknya apa yang mereka buat!</p>
<p>5:80. Kamu melihat kebanyakan antara mereka menjadikan orang-orang yang tidak percaya sebagai sahabat-sahabat mereka. Buruknya apa yang mereka mendahulukan untuk diri-diri mereka sendiri, kerana kemurkaan Allah kepada mereka, dan dalam azab mereka tinggal selama-lamanya.</p>
<p>5:81. Sekiranya mereka mempercayai Allah, dan Nabi, dan apa yang diturunkan kepada mereka, tentu mereka tidak mengambil mereka sebagai wali-wali (sahabat-sahabat); tetapi kebanyakan antara mereka adalah orang-orang fasiq.</p>
<p>5:82. Sungguh, kamu mendapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang percaya ialah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang mempersekutukan; dan sungguh kamu mendapati yang paling dekat dengan mereka dalam kasih sayang terhadap orang-orang yang percaya ialah orang-orang yang berkata, “Kami adalah orang-orang Kristian”; itu adalah kerana sebahagian mereka adalah paderi-paderi dan rahib-rahib, dan mereka tidak menyombongkan diri.</p>
<p>5:83. Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada rasul, kamu melihat mata-mata mereka mencucurkan air mata kerana mereka mengenali yang benar. Mereka berkata, “Wahai Pemelihara kami, kami percaya, maka tuliskanlah kami antara para saksi.</p>
<p>5:84. Tidakkah kami patut mempercayai Allah, dan yang benar yang datang kepada kami, dan menginginkan supaya Pemelihara kami memasukkan kami berserta kaum yang salih?”</p>
<p>5:85. Dan Allah mengganjari mereka kerana apa yang mereka mengatakan, dengan taman-taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalamnya tinggal selama-lamanya; itulah balasan ke atas orang-orang yang berbuat baik.</p>
<p>5:86. Tetapi orang-orang yang tidak percaya, dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang Jahim.</p>
<p>Adalah sangat jelas bahwa semua ayat-ayat di atas adalah tentang orang Yahudi dan Kristen, dan anehnya Syiah memotong dan menyisipkan ayat Al-Quran sesuai dengan keinginan mereka. Ini adalah memanipulasi Firman Allah dan dosa yang sangat besar yang mengarah ke jalur kufur. Namun, Anda akan menemukan bahwa Syiah secara umum membuat klaim bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan Ghadir Khum dan pencalonan Ali (رضى الله عنه). Jadi ini adalah perjalanan panjang propagandis Syiah dalam rangka membelokkan/ mengeluarkan Al-Quran dan hadis dari konteksnya dalam rangka menciptakan kisah imajiner bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Ali (رضى الله عنه) menjadi khalifah.</p></blockquote>
<p><strong>APAKAH KEJADIAN GHADIR KHUM MERUPAKAN ASBANUN NUZUL AYAT 5:67 ?</strong></p>
<p><strong>Al-Islam.org </strong>says</p>
<blockquote><p>“In this place, the following verse was revealed:</p>
<p>“O Apostle! Deliver what has been sent down to you from your Lord; and if you don’t do it, you have not delivered His message (at all); and Allah will protect you from the people …” (Quran 5:67).</p>
<p>Some of Sunni references confirming that the revelation of the above verse of Al-Quran was right before the speech of Prophet in Ghadir Khum:</p>
<p>(1) <strong>Tafsir al-Kabir</strong>, by Fakhr <strong>al-Razi</strong>, under commentary of verse 5:67, v12, pp 49-50, narrated on the authorities of Ibn Abbas, al-Bara Ibn Azib, and Muhammad Ibn Ali.</p>
<p>(2) Asbab al-Nuzool, by al-Wahidi, p50, narrated on the authorities of Atiyyah and Abu Sa’id al Khudri.</p>
<p>(3) Nuzul al-Quran, by al-Hafiz Abu Nu’aym narrated on the authorities Abu Sa’id Khudri and Abu Rafi.</p>
<p>(4) al-Fusool al Muhimmah, by Ibn Sabbagh al-Maliki al-Makki, p24</p>
<p>(5) Durr al-Manthur, by al-Hafiz al-Suyuti, under commentary of verse 5:67</p>
<p>(6) Fathul Qadir, by al-Shawkani, under commentary of verse 5:67</p>
<p>(7) Fathul Bayan, by Hasan Khan, under commentary of verse 5:67</p>
<p>(8) Shaykh Muhi al-Din al-Nawawi, under commentary of verse 5:67</p>
<p>(9) al-Sirah al-Halabiyah, by Noor al-Din al-Halabi, v3, p301</p>
<p>(10) Umdatul Qari fi Sharh Sahih al-Bukhari, by al-Ayni</p>
<p>(11) Tafsir al-Nisaboori, v6, p194</p>
<p>(12) and many more such as Ibn Mardawayh, etc…</p>
<p>source: <a href="http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm" rel="nofollow" target="_blank">http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm</a>”</p></blockquote>
<p>Para propagandis Syiah telah berbohong, karena tidak ada cara lain untuk menjelaskan masalah ini. Selain mengeluarkan dari konteksnya, mereka juga telah terkenal dalam mengutip referensi sepotong-sepotong.</p>
<p>Dalam masalah ini Syiah memberikan dua belas sumber/ refensi, marilah kita lihat satu per satu. Yang pertama adalah at-Tafsir al-Kabir oleh Imam Razi. Syiah berusaha untuk menipu Sunni dengan membuat seolah-olah Imam ar-Razi percaya bahwa ayat 5:67 ini diturunkan di Ghadir Khum. Padahal, dalam bukunya Imam Razi mengatakan yang sebaliknya!</p>
<p>Imam Razi menyebutkan bahwa orang-orang telah mengklaim bahwa ayat ini diturunkan pada kejadian yang berbeda-beda. Dia mendaftar sepuluh kemungkinan ketika ayat itu diwahyukan. Sudah dikenal bahwa gaya para ulama adalah mendaftar terlebih dahulu pandangan yang paling penting dan kemudian menampilkan yang paling penting. Seharusnya Syiah yang licik mengetahui bahwa Imam ar-Razi tidak menyebutkan Ghadir Khum sebagai yang paling mungkin, yang berarti di matanya peristiwa Ghadir Khum adalah pendapat mungkin paling lemah.</p>
<p>Sekarang kita akan membaca komentar kata demi kata dari Imam Razi:</p>
<blockquote><p> Ulama tafsir telah menyebutkan banyak penyebab turunnya wahyu:</p>
<p>(1)  Yang pertama adalah bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan perajaman dan pembalasan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya dalam kisah orang Yahudi.</p>
<p>(2)  Penyebab kedua adalah bahwa ayat itu telah diwahyukan karena kritik dan mengolok-olok agama yang dilakukan oleh orang Yahudi, dan Nabi tetap diam tentang mereka, sehingga ayat ini diturunkan.</p>
<p>(3)  Ketiga: Ketika ayat pilihan diturunkan, yaitu “Hai Nabi! katakanlah kepada istri-istrimu: ” (yaitu 33:28), Nabi tidak menyampaikan ayat ini kepada mereka karena khawatir mereka memilih dunia, dan dengan demikian ayat itu (5:67) diturunkan.</p>
<p>(4)  Keempat: Ayat ini diwahyukan berkaitan dengan Zayd dan Zaynab Bint Jahsh. Aisyah berkata: Barang siapa mengklaim bahwa Rasulullah menyembunyikan bagian dari apa yang telah diwahyukan kepadanya, maka ia telah melakukan kebohongan besar terhadap Allah, karena Allah telah berkata: “Wahai Rasul (Muhammad)! Beritakan (Pesan tersebut)” dan kalau seandainya Rasulullah menyembunyikan bagian dari apa yang telah diwahyukan kepadanya, maka dia telah menyembunyikan firman-Nya: “Dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya “[33:37]</p>
<p>(5)  Kelima: Ayat ini diungkapkan berkaitan dengan Jihad, karena orang-orang munafik membencinya, maka ia digunakan untuk menahan alasan mereka untuk Jihad.</p>
<p>(6)  Keenam: Ketika firman Allah telah diwahyukan: Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.[6:108], Nabi menahan diri dari memaki Tuhan mereka, jadi ayat ini diwahyukan, dan Dia berkata: “Nyatakan” yaitu kesalahan/ kritik tentang tuhan-tuhan mereka dan jangan menyembunyikannya, dan Allah akan melindungi kamu terhadap gangguan mereka.</p>
<p>(7)  Ketujuh: Ayat ini diungkapkan berkaitan dengan hak-hak Muslim, karena di Haji Terakhir setelah ia menyatakan aturan dan ritual haji, ia berkata: Bukankah saya telah menyatakan (kepada Anda)? Mereka berkata: Ya. Dia berkata: Ya Allah saksikanlah.</p>
<p>(8)  Kedelapan: Telah diriwayatkan bahwa ia sedang beristirahat di bawah pohon pada salah satu perjalanan dan menggantung pedangnya di atasnya, ketika seorang Badui datang saat ia sedang tidur dan menyambar pedang tersebut sambil berkata: “Wahai Muhammad, siapa yang akan melindungi kamu dari saya?”. Dia berkata: “Allah”, lalu tangan si Badui tersebut gemetar, pedang itu jatuh dari tangannya, dan ia memukulkan kepalanya ke pohon sampai pecah otaknya, jadi Allah menurunkan ayat ini dan menjelaskan bahwa Dia akan melindungi dia terhadap orang-orang.</p>
<p>(9)  Kesembilan: Ia biasanya takut kepada Quraish, orang-orang Yahudi dan Kristen, maka Allah menghapuskan ketakutan ini dari hatinya dengan ayat ini.</p>
<p>(10)         Kesepuluh: Ayat ini telah diwahyukan untuk menekankan keunggulan Ali, dan ketika ayat ini diwahyukan, Nabi memegang tangan Ali dan berkata: “Seseorang yang telah memiliki saya sebagai mawla-nya telah memiliki Ali sebagai mawla-nya. Ya Allah, Jadilah temannya yang berteman dengan dia, dan jadilah musuhnya siapa yang memusuhinya”. (Segera) setelah ini, Umar menemui dia (Ali) dan berkata:”. Wahai Ibnu Abi Thalib! Saya mengucapkan selamat kepada Anda, sekarang Anda adalah mawla saya dan mawla setiap mukmin laki-laki dan perempuan”. Ini adalah perkataan yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, Baraa bin Aazib dan Muhammad bin Ali.</p>
<p>Anda harus tahu bahwa, meskipun dengan riwayat yang banyak, adalah lebih cocok untuk menjelaskan bahwa ayat tersebut sebagai Allah sedang meyakinkan dia (Nabi) adanya perlindungan terhadap skema licik orang-orang Yahudi dan Kristen dan memerintahkan dia untuk mengumumkan risalah-Nya tanpa rasa takut terhadap mereka . Hal ini karena konteks sebelum ayat ini dan setelah ayat ini adalah dialamatkan kepada orang-orang Yahudi dan Kristen, adalah tidak akan mungkin untuk meletakkan ayat di tengah (ayat-ayat lain) menjadikannya asing (tidak relevan) dengan ayat sebelum dan sesudahnya.</p>
<p>(Sumber: Tafsir al-Kabir, by Fakhr al-Razi, di bawah komentar dari ayat 5:67, volume 12, hal. 49-50)</p></blockquote>
<p>Dengan kata lain, Imam ar-Razi menyebutkan sepuluh kemungkinan, tetapi ia menyatakan bahwa pendapat yang kuat adalah bahwa ayat ini diturunkan tentang orang Yahudi dan Kristen dan itulah mengapa ia menyebutkan kemungkinan ini yang pertama.</p>
<p>Apa yang mengherankan adalah bahwa Encyclopedia Syiah yang licik tidak menyebutkan bahwa Imam ar-Razi menyebutkan sepuluh kemungkinan dan menyatakan bahwa satu-satunya yang masuk akal adalah yang pertama. Sebaliknya Syiah mengandalkan kutipan sepotong, dan memang wajar karena mereka adalah orang-orang yang mencintai Taqiyyah dan penipuan. Kami memperingatkan Sunni awam untuk tidak terkesima dengan daftar yang panjang referensi mereka, jika Syiah memberikan daftar referensi namun tidak ada kutipan yang lengkap, itu adalah tanda-tanda bahwa mereka memelintir teks sebagaimana mereka memesongkan/ memelintir Al-Quran dan bermain lego dengan itu.</p>
<p>Adapun narasi yang dilaporkan oleh Ibnu Abi Hatim, rantai perawinya adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote><p> <em>Ayah saya mengatakan kepada kami: Utsman Ibnu Khurzad mengatakan kepada kami: Ismail Ibnu Zakaria mengatakan kepada kami: Ali bin Abis mengatakan kepada kami: dari Al-Amash dari Atiya Al-Awfi dari Abu Saeed Al-Khudri.</em></p></blockquote>
<p>Isnad tersebut lemah. Jika kita menganalisis para perawi, maka kita menemukan:</p>
<p>(1) Ismail Ibn Zakaria Al-Kufi</p>
<p>Abu Yahya meriwayatkan dari Ahmad Ibnu Hanbal: “Dia adalah lemah.”</p>
<p>Al-Nasai berkata dalam Jarh wa Tadeel: “Dia tidak kuat.”</p>
<p>(2) Ali Ibn Abis</p>
<p>Yahya Ibnu Maeen berkata: “Dia tida ada apa-apanya.” Dan seperti ini juga kata Ibrahim Ibnu Yaqub Al-Jozqani, Al-Nasai, dan Abu Al-Fath Al-Azdi.</p>
<p>Ibnu Hibban berkata: “kesalahannya berlebihan sehingga dia layak untuk diabaikan.”</p>
<p>(3) Al-Amash</p>
<p>Dia adalah Mudalis.</p>
<p>(4) Atiya Al-Awfi:</p>
<p>Ahmad mengatakan: “Dia adalah lemah.”</p>
<p>Al-Nasai mengatakan: “Dia adalah lemah.”</p>
<p>Ibn Hiban berkata: “Dia mendengar dari Abu Saeed hadits dan ketika dia meninggal, dia biasa duduk dengan Al-Kalbi, sehingga Al-Kalbi berkata: “Rasulullah saw bersabda seperti itu-dan itu,” ia akan mengingatnya dan dia memberinya kunya Abu Saeed dan meriwayatkan darinya. Jadi jika dikatakan kepadanya: “Siapa yang menceritakan ini padamu?” Dia akan berkata: “Abu Saeed meriwayatkan ini kepada saya”. Jadi mereka (yaitu orang-orang yang bertanya) akan berpikir bahwa yang ia maksudkan adalah Abu Saeed Al-Khudri, padahal pada kenyataannya yang dimaksud adalah Al-Kalbi.</p>
<p>Dia menyatakan lebih lanjut: “Tidak diperbolehkan menulis narasinya kecuali karena kagum tentang mereka.”</p>
<p>Dan kemudian dia mengaitkan dari Khalid Al-Ahmar bahwa ia berkata: “Al-Kalbi berkata kepada saya: Atiya berkata kepada saya: Aku telah memberikan kamu kunya Abu Saeed, sehingga aku berkata:. Abu Saeed menceritakan kepada kami”</p>
<p>Oleh karena itu, Abu Saeed dalam narasi ini bisa jadi sebenarnya Al-Kalbi dan bukan sahabat Nabi, yakni Abu Saeed Al-Khudri.</p>
<p>(5) Abu Sa’id: Ibnu Muhammad Al-Sae’b Al-Kalbi</p>
<p>Al-Suyuti berkata dalam Al-Itqan mengenai Tafsir Ibnu Abbas: “Dan rantai terlemahnya adalah jalan Al-Kalbi dari Abu Saleh dari Ibnu Abbas. Dan jika narasi tersebut dari Muhammad Ibn Marwan Al-Sadi, yang masih muda, ditambahkan maka ini adalah rantai kebohongan, dan cukup sering Al-Thalabi dan Al-Wahidi menceritakan melalui jalur itu. “</p>
<p>Yaqut Al-Hamawi mengatakan dalam Mu’jam Al-Udaba tafsir at-Tabari: “Dan dia (Tabari) tidak menjadikan referensi untuk setiap Tafsir yang tidak dipercaya, karena ia tidak memasukkan dalam bukunya apa pun dari buku Muhammad Ibn Al- Sa’eb Al-Kalbi atau Muqatil bin Sulaiman atau Muhammad bin Umar Al-Waqidi karena mereka menciptakan kecurigaan (athina’) dalam pandangannya, dan Allah mengetahui yang terbaik. “</p>
<p>Al-Bukhari menyebutkan dalam bukunya Tareekh Al-Kabir: “Muhammad Ibn Al Sae’b Abu Al-Nadhir Al-Kalbi telah ditinggalkan oleh Yahya Ibnu Saeed.” Ibnu Mahdi dan Ali mengatakan kepada kami: “Yahya Ibnu Saeed mengatakan kepada kami: dari Sufyan: Al-Kalbi mengatakan kepadaku: Abu Shalih mengatakan kepadaku: semua yang saya katakan adalah kebohongan “.</p>
<p>Al-Nasai mengatakan: “Ia tidak dipercaya dan hadisnya  seyogyanya tidak ditulis.”</p>
<p>Ahmad Ibn Haroon berkata: “Aku bertanya kepada Ahmad Ibnu Hanbal tentang Tafsir Al-Kalbi.” Dia berkata: “Kebohongan”. Aku berkata: “? Apakah diperbolehkan bagi saya untuk melihat ke dalamnya” Dia berkata: “Tidak”</p>
<p>KESIMPULAN: Riwayat ini tidak memiliki kredibilitas sama sekali.</p>
<p>Buku-buku lain yang dikutip oleh Syiah berisi rantai perawi yang sama, seperti Asbab Al Nuzul oleh Imam Wahidi al Naysaburi:</p>
<blockquote><p>أخبرنا أبو سعيد محمد بن علي الصفار قال: أخبرنا الحسن بن أحمد المخلدي قال: أخبرنا محمد بن حمدون بن خالد قال: حدثنا محمد بن إبراهيم الخلوتي قال: حدثنا الحسن بن حماد سجادة قال: حدثنا علي بن عابس عن الأعمش وأبي حجاب عن عطية عن أبي سعيد الخدري قال: نزلت هذه الآية (يا أيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك) يوم غدير خم في علي بن أبي طالب رضي الله عنه</p></blockquote>
<p>Dalam Tafsir Dar al-Manthur Imam Suyuti, kita menemukan bahwa rantai yang sama dikutip:</p>
<blockquote><p># 6609 حدثنا ابى ثنا عثمان بن حرزاد, ثنا اسماعيل بن زكريا, ثنا علي بن عابس عن الاعمش ابني الحجاب, عن عطية العوفي عن ابى سعيد الخدري قال: نزلت هذه الاية يا ايها الرسول بلغ ما انزل اليك من ربك في علي بن ابى طالب</p></blockquote>
<p>Dan sama halnya dengan Imam al-Shawkani dalam Fath Al Qadir.</p>
<p>Intinya adalah bahwa tidak ada sumber yang benar-benar membuktikan argumen Syiah. Jika mereka lakukan, maka Anda akan melihat Syiah memberikan kutipan lengkap, tetapi mereka tidak bisa melakukan hal itu karena akan mengungkap kelemahan argumen mereka! Menyimpulkan masalah ini, maka tidak ada sumber terpercaya Sunni yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan di Ghadir Khum.</p>
<p><em>Sebagaimana diketahui, bahwa peristiwa Ghadir Khum terjadi pada waktu yang dekat dengan wafatnya Nabi ketika seluruh Arabia telah ditundukkan oleh kaum Muslim di bawah bimbingan Nabi, termasuk orang-orang Kristen di Najran dan Yahudi di Yaman. Apa yang perlu ditakutkan oleh Nabi untuk memproklamasikan risalahnya ketika pengikut-pengikutnya telah meningkat ratusan kali lipat? Tidak akan masuk akal bahwa ayat ini telah diwahyukan pada saat puncak kekuasaan Nabi. Sebaliknya, ayat ini diturunkan pada tahap awal era kenabian ketika Islam masih berjuang untuk bertahan hidup yang dikelilingi oleh banyak musuh.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>APAKAH KEJADIAN GHADIR KHUM MERUPAKAN ASBABUN NUZUL AYAT 5:3?</strong></p>
<p><strong>Al-Islam.org </strong>says</p>
<blockquote><p>“Revelation of Qur’anic Verse 5:3</p>
<p>Immediately after the Prophet [s] finished his speech, the following verse of the Qur’an was revealed:</p>
<p>“Today I have perfected your religion and completed my favour upon you, and I was satisfied that Islam be your religion.” (Qur’an 5:3)</p>
<p>The above verse clearly indicates that Islam without clearing up matter of leadership after Prophet [s] was not complete, and completion of religion was due to announcement of the Prophet’s immediate successor.</p>
<p>source: <a href="http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm" rel="nofollow" target="_blank">http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm</a>”</p></blockquote>
<p>Ini adalah satu lagi pemalsuan Syiah: Alquran ayat 05:03 (“hari ini aku telah menyempurnakan agamamu …”) diwahyukan pada akhir Khotbah Perpisahan di puncak Gunung Arafat. Fakta ini dilaporkan dalam Hadis yang diriwayatkan dalam kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, al-Sunan, dan lain-lain:</p>
<blockquote><p> ”Ayat ini (yaitu ‘Hari ini aku telah menyempurnakan agamamu …’) diturunkan pada hari Jumat, hari Arafat …”</p></blockquote>
<p>Saat itu, setelah semuanya, Khotbah Perpisahan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan karena itu wajar untuk mengasumsikan bahwa itu adalah tempat yang tepat bagi agama untuk disegel. Bahkan, adalah karena alasan inilah kami menyangkal bahwa Ghadir Khum mungkin dalam kaitannya dengan Imamah Ali (رضى الله عنه). Ayat “Hari ini saya telah menyempurnakan agamamu …” sudah diturunkan dan tidak ada lagi yang bisa ditambahkan untuk diimani setelah ini. Jika Syiah bersikeras bahwa sesuatu yang sepenting Imamah Ali (رضى الله عنه) ditambahkan setelah ini, maka mana ayat dalam Al-Quran tentang hal ini?</p>
<p>Mengapa Al-Quran benar-benar diam dalam hal pencalonan Ali (رضى الله عنه)? Sesungguhnya, Allah akan menyebutkan hal ini dalam Al-Quran jika hal ini sesuatu yang diperintahkan secara ilahiah? Mengapa Allah yang semestinya menurunkan ayat 5:67 dan 5:03 yang semuanya tentang Ali (رضى الله عنه) dan Imamahnya, tetapi Allah tidak memilih untuk mencantumkan nama Ali dalam ayat-ayat dan menjadikannya jelas bagi kaum muslimin bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah pemimpin ilahiah yang ditunjuk berikutnya bagi kaum muslimin? Untuk menambah lebih banyak kebingungan mengenai masalah ini, tidak satu pun dari ayat-ayat ini berbicara tentang Imamah atau Khilafah sama sekali. Hal ini benar-benar menakjubkan bagaimana mungkin Syiah selalu mengatakan bahwa hal ini dan ayat Al-Qur’an ini mengacu pada Imamah Ali (رضى الله عنه), namun Allah  sendiri tidak pernah mengatakan demikian.</p>
<div>
<div>
<p><strong>ShiaChat Member </strong>says</p>
<blockquote><p>“Ghadir Khumm was a central location, a source of water that represented the last place where the people from different locations were together before splitting up on their separate ways to go home. It was the last moment during the hajj when indeed EVERYONE was present.”</p></blockquote>
<p>Ghadir Khum adalah suatu lokasi yang hanya bagi Muslim yang menuju ke arah utara, baik ke Madinah atau yang melewati Madinah ke tempat seperti Suriah. Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, bahwa Ghadir Khum itu terletak di antara Mekkah dan Madinah; Ghadir Khum terletak sekitar 250 km dari Mekah. Memang mungkin merupakan tempat berhenti umum bagi sebagian umat Islam yang ke Utara, tetapi bagaimanapun, bukan lokasi pemberhentian bagi umat Islam yang menuju ke arah lain, seperti ke Selatan Mekah ke Taif atau Yaman.</p>
<p>Apakah masuk akal logis bahwa orang-orang Mekah perlu melewati Ghadir Khum pada “perjalanan kembali” mereka ke Mekkah setelah haji? Apakah mereka belum berada di Mekkah, kota asal mereka? Kaum muslimin Mekah akan mengakhiri haji mereka di Mekkah, dan kaum Muslim Madinah akan pergi ke rumah mereka di Madinah, berhenti di Ghadir Khum tanpa ditemani kaum muslimin Mekah yang mereka tinggalkan di Mekah. Hal yang sama dapat dikatakan bagi orang-orang Yaman, Taif, dll. Sesungguhnya, semua muslim dari semua kota-kota besar tidak termasuk yang mendengar pidato nabi di Ghadir Khum, dan ini sangat aneh: Jika seandainya Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai khalifah, maka semestinya Beliau akan melakukan hal ini di depan seluruh kaum muslimin dari Mekah, Taif, Yaman, dll.</p>
<p>Bahkan, pendebat Syiah telah secara akut menyadari fakta ini dan itulah mengapa mereka bersikeras mengatakan kepada orang-orang bahwa Ghadir Khum adalah tempat dimana seluruh umat Islam menuju tempat tersebut sebelum berpisah untuk kembali ke rumah dan oleh karena itu Ghadir Khum dialamatkan kepada seluruh Muslim. “Fakta” ini hanya dipercaya oleh orang-orang yang tidak tahu yang tidak peduli pada peta dan benar-benar mencari tahu di mana lokasi Ghadir Khum ini. Setelah seseorang mengeluarkan peta, maka menjadi sangat jelas betapa bohongnya klaim Syiah tersebut; pada kenyataannya, hanya sebagian kecil dari kaum muslimin yang hadir di Ghadir Khum (yaitu orang-orang menuju Madinah).</p>
<p>Berdasarkan pada jarak dari Mekah ke Ghadir Khum, maka kami memastikan bahwa jauh lebih bisa diterima akal bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) adalah mengoreksi kelompok tertentu umat Islam (yaitu para prajurit dari Madinah yang telah dikirim ke Yaman) daripada dialamatkan kepada massa umum kaum muslimin. Pidato Ghadir Khum ditujukan terutama untuk kelompok orang yang telah mengecam Ali (رضى الله عنه), dan itulah mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak memasukkan masalah ini dalam pidato Khotbah Perpisahan pada Haji Terakhir di depan massa Muslim yang lebih banyak dan lengkap.</p>
<p><strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<blockquote><p>“An Appeal to Common Sense:</p>
<p>Allah, the All-Knowing, describes the sublime character of the Prophet Muhammad (peace be upon him and his progeny) as follows:</p>
<p>“Certainly a Messenger has come to you from among yourselves; grievous to him is your falling into distress, excessively solicitous respecting you; to the believers (he is) compassionate… ” [9:128]</p>
<p>The Prophet (peace be upon him and his progeny) was an extremely kind-hearted and compassionate. He always took every effort to ensure the well-being and comfort of his followers, and was never known to impose any extra burden or hardship upon others. He was even known to shorten his prayers upon hearing the voice of a baby crying. It is impossible to infer that the Prophet, who was sent as “a mercy unto the worlds” had ordered his followers to sit in the burning heat of the Arabian desert, without any shade, for several hours, only to announce to them that ‘Ali ibn Abi Talib was his “friend.”</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p><strong>ShiaChat Member </strong>says</p>
<blockquote><p>“why do you think Muhammad stopped 60 000 people in the middle of the desert months before he knew he was going to die? To say, “ya know, Ali is my buddy?!”</p></blockquote>
<p>Pada kenyataannya, statement Syiah di atas telah mengangkat masalah yang harus mereka jawab sendiri. Kami ingin mengajukan pertanyaan yang sama persis: mengapa Nabi Muhammad (صلى الله عليه وآله وسلم) secara tidak masuk akal memaksa penduduk Mekah untuk keluar pergi sejauh 250 km ke lubang air Ghadir Khum yang terletak di tengah padang pasir? Mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memaksa Rakyat Taif untuk pergi ke arah berlawanan (Utara) dari rute perjalanan pulang yang sebenarnya (ke arah Selatan)? Syiah yang tinggal Taif sekarang yang melakukan perjalanan ke Mekah, setelah menyelesaikan Haji, kemudian mereka akan kembali ke Taif. Mereka tidak merasa perlu untuk melakukan perjalanan 250 km ke Ghadir Khum dan kemudian berbalik arah melakukan perjalanan 250 km lagi kembali ke Mekah dan baru kemudian ke Taif di sebelah Selatan, sebuah perjalanan tambahan sia-sia yang akan menambah waktu beberapa minggu!</p>
<p>Sebaliknya, apa yang lebih mungkin adalah bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan Muslim yang menuju Madinah berhenti di lubang air Ghadir Khum untuk menyegarkan diri beristirahat. Di sana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) masih mendengar orang mengkritik Ali (رضى الله عنه) lagi walaupun sebelumnya Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) telah memperingatkan mereka. Oleh karena itu, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ditujukan kepada mereka semua yang ada di Ghadir Khum, mendesak mereka untuk menjadikan Ali (رضى الله عنه) sebagai teman tercinta. Perlu dicatat bahwa Muslim yang menuju ke Madinah umumnya akan berhenti di Ghadir Khum karena merupakan sumber mata air, tempat itu adalah pemberhentian sementara dalam perjalanan ke Madinah, di mana umat Islam akan beristirahat untuk sementara dan selama istirahat tersebut Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memperingatkan mereka setelah sekelompok Muslim mengkritik Ali (رضى الله عنه).</p>
<div>
<div>
<p><strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<blockquote><p>“Laudation from the Muslims</p>
<p>After his speech, the Messenger of Allah asked every body to give the oath of allegiance to ‘Ali (<strong>عليه السلام</strong>) and congratulate him. Among the first Muslims to congratulate ‘Ali were ‘Umar and Abu Bakr, who said: “Well done, O son of Abu Talib! Today you have become the leader (Mawla) of all believing men and women.”</p>
<p>[Found in Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Tafsir al-Kabir by Fakhrudeen al-Razi, Kitabul Wilayah by at-Tabari, and many others]</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p>Ini adalah propaganda Syiah yang khas dan klasik, mereka akan mengatakan hal-hal seperti “itu ada di buku kamu sendiri” dan kemudian secara tidak sopan megutip buku-buku kami tetapi sambil menyuntikkan maksud mereka sendiri ke dalamnya. Apa yang ditemukan dalam teks laporan tersebut hanyalah bahwa Umar (رضى الله عنه) mengucapkan selamat kepada Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi mawla (teman tercinta) untuk semua Muslim, tidak berisi laporan bahwa Umar (رضى الله عنه) membai’at Ali (رضى الله عنه). Ali (رضى الله عنه) sedang dikritik keras oleh anak buahnya dan dalam suasana ini Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) membela Ali (رضى الله عنه) dan memberitahu Muslim bahwa mereka tidak boleh membenci Ali (رضى الله عنه) namun mencintainya.</p>
<p>Bahkan, argumen Syiah tersebut lebih tidak masuk akal. Jika Umar (رضى الله عنه) dan kaum Muslim yang ada di situ berjanji setia (baya’ah) kepada Ali (رضى الله عنه) dan berkata “hari ini Anda telah menjadi pemimpin …”, lalu bagaimana dengan kepemimpinan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم)? Kata kunci di sini adalah “hari ini” dan “Anda telah menjadi”, yang berarti bahwa Ali (رضى الله عنه) pada saat itu Mawla. Jika kita mengambil definisi Mawla itu adalah Imam atau Khalifah, maka ini berarti bahwa Ali (رضى الله عنه) pada saat itu Imam/ Khalifah kaum muslimin dan bukanya Nabi Muhammad (صلى الله عليه وآله وسلم). Tentunya, umat Islam tidak boleh memiliki dua penguasa pada saat yang sama, dan ini dinyatakan pada Hadits Sunni dan Syiah.</p>
<p>Semestinya, jika Umar (رضى الله عنه) benar-benar memberi selamat kepada Ali (رضى الله عنه) sebagai calon Khalifah berikutnya, maka ia akan mengatakan seperti ini: “Selamat, wahai Ali bin Abi Thalib! Anda akan segera menjadi khalifah dari seluruh muslimin”. Atau mungkin: “Selamat, wahai Ali bin Abi Thalib! Anda dinominasikan untuk satu hari menjadi (future tense) Khalifah seluruh Muslim”. Dia tentu tidak akan berkata: “Selamat… <strong>hari ini</strong> Anda telah menjadi pemimpin”.</p>
<p>Pemahaman yang lebih tepat perihal ucapan selamat yang diberikan oleh Umar (رضى الله عنه) ini adalah bahwa Umar (رضى الله عنه) mengucapkan selamat kepada Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi teman yang terkasih dari semua muslimin. Suasana yang demikianlah, yaitu dimana orang telah mengkritik dan menyakiti Ali (رضى الله عنه), sehingga Umar bin al-Khattab (رضى الله عنه) pergi untuk menghibur dia dan mengatakan kata-kata yang baik kepadanya. Pembaca yang cerdik akan mencatat bahwa Umar (رضى الله عنه) sangat baik dalam pujiannya kepada Ali (رضى الله عنه), dan ini bertentangan dengan sudut pandang Syiah yang memberikan gambaran adanya konflik antara Umar (رضى الله عنه) dan Ali (رضى الله عنه), yaitu penggambaran Umar (رضى الله عنه) sebagai penindas/ perampas hak Ali (رضى الله عنه). Apakah kata-kata tersebut nampak sebagai ucapan dari seseorang yang membenci Ali (رضى الله عنه) sebagai klaim Syiah?</p>
<p>Jika kita menerjemahkan kata “mawla” di sini berarti “pemimpin”, lalu mengapa Umar (رضى الله عنه) mem-baya’ah kepada Ali dengan begitu penuh kasih dengan mengucapkan selamat kepada Ali (رضى الله عنه)? Syiah sebelumnya mengklaim bahwa Allah telah menurunkan ayat 5:67 untuk mendorong Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه) tanpa rasa takut akan pembalasan dari orang-orang:</p>
<blockquote><p>“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (Al-Quran, 5:67).</p></blockquote>
<p>Syiah mengatakan bahwa “orang-orang (yang mengganggu)” ini adalah para sahabat khususnya Abu Bakar (رضى الله عنه) dan Umar (رضى الله عنه). Jika ayat ini benar-benar diungkapkan tentang Umar (رضى الله عنه)-dan jika Umar (رضى الله عنه) benar-benar berusaha untuk merebut kekhalifahan Ali (رضى الله عنه)-lalu mengapa Umar (رضى الله عنه) mengucapkan selamat kepada Ali (رضى الله عنه) pada pencalonannya? Paling tidak, kita mengharapkan bahwa orang tersebut akan enggan memberikan Baya’ah, atau sama sekali tidak mau. Tapi di sini, kita melihat bahwa Umar (رضى الله عنه) adalah yang pertama memberi selamat kepada Ali (رضى الله عنه) berkaitan dia menjadi mawla. Intinya adalah bahwa jika kata “mawla” berarti pemimpin, maka Umar (رضى الله عنه) tidak akan mengucapkan selamat kepadanya. Pujian yang dikatakan oleh Umar (رضى الله عنه) ini disebarkan secara luas kepada masyarakat, lalu mengapa Umar (رضى الله عنه) harus melakukan hal itu, yaitu mendukung Ali (رضى الله عنه) jika ia benar-benar melawan dia atau jika “mawla” benar-benar berarti “pemimpin”? Umar (رضى الله عنه) menginterpretasikan “mawla” adalah “sahabat tercinta” dan bukan “pemimpin” dan ini adalah makna yang dipahami oleh orang-orang waktu itu.</p>
<div>
<div>
<p><strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<blockquote><p>“The Meaning of Mawla</p>
<p>The schools of thought differ on the interpretation of the word “Mawla.” In Arabic, the world “Mawla” has many meanings. It can mean master, friend, slave, or even client. If a word has more than one meaning, the best way to ascertain its true connotation is to look at the association (qarinah) and the context. There are scores of “associations” in this hadith which clearly show that the only meaning fitting the occasion can be “master”. Some of them are as follows.</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p>Kami pasti setuju dengan penulis Syiah ini, bahwa ada banyak arti yang berbeda untuk kata “mawla” dan kami senang bahwa mereka setidaknya mengakui adanya banyak arti. Dari sinilah harapan kami bahwa Syiah awam setidaknya mengakui kenyataan ini dalam berdebat, bukannya keras kepala sehubungan dengan pandangan bahwa mawla hanya bisa berarti “pemimpin”. Meskipun yang kita kutip di atas dari sebuah artikel propaganda Syiah, setidaknya kami tanpa diragukan lagi setuju dengan statement pendahuluan tersebut, yaitu bahwa:</p>
<p>1)     mawla memiliki banyak arti yang berbeda.</p>
<p>2)     Kita harus melihat konteks dimana kata itu dikatakan/ digunakan untuk memastikan artinya.</p>
<p>Namun, kami tidak setuju dengan pasal yang menyatakan bahwa mawla di sini harus diterjemahkan sebagai „pemimpin“ atau „tuan“. Mari kita lohat artikel ini point demi pint, Insya-Allah:</p>
<p><strong>SalamIran.org </strong>says</p>
<blockquote><p>“In addition, there is also what (the Prophet), peace be on him and his family, said on the day of Ghadir Khumm. The community had gathered to listen to the sermon (in which he asked):</p>
<p>“Am I not more appropriate for authority (awla) over you than yourselves?”</p>
<p>“Yes”, they answered.</p>
<p>Then he spoke to them in an ordered manner without any interruption in his speech:</p>
<p>“Whomsoever I am the authority over (mawla), Ali is also the authority over.”</p>
<p>source: <a href="http://www.salamiran.org/Religion/Imam1/index.html" rel="nofollow" target="_blank">http://www.salamiran.org/Religion/Imam1/index.html</a> ”</p></blockquote>
<p><strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<blockquote><p>“First: The question which the Holy Prophet asked just before this declaration: “Do I not have more authority (awla) upon you than you have yourselves?” When they said: “Yes, surely,” then the Prophet proceeded to declare that: “Whoever whose mawla I am. ‘Ali is his mawla.” Without doubt, the word “mawla” in this declaration has the same meaning as “awla” (having more authority upon you).</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p>Justru artinya tidak seperti itu. Awla dan mawla adalah dua kata yang berbeda!</p>
<p>Ketika menjelaskan dirinya, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan:</p>
<p>“Apakah aku tidak lebih sesuai menjadi seorang Awla (otoritas) atas kamu dari pada dirimu sendiri?”</p>
<p>Dan ketika menggambarkan Ali (رضى الله عنه), tiba-tiba Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) beralih mengucapkan:</p>
<p>“Barangsiapa yang saya adalah mawla-nya, maka Ali ini juga mawla-nya.”</p>
<p>Apapun alasannya, dengan adanya perubahan kata tersebut (AULA vs MAWLA) justru sepenuhnya meniadakan klaim Syiah!</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) semestinya hanya cukup mengatakan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah Awla atas orang-orang, tapi dia sebagai gantinya justru mengatakan mawla. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyatakan pertama bahwa Allah memiliki kewenangan atas orang-orang, kemudian ia mengatakan bahwa ia sendiri memiliki kewenangan atas orang-orang, tapi kemudian tiba-tiba ia beralih dan menggunakan kata “mawla” untuk Ali (رضى الله عنه), meskipun dia telah menggunakan kata “Awla” untuk Allah dan dirinya sendiri.</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyebutkan bahwa ia memiliki kewenangan atas orang-orang beriman sehingga mereka akan mendengarkan dia dan melakukan perintahnya untuk mencintai Ali (رضى الله عنه) seperti keinginannya. Kaum Muslimin di bawah komando Ali telah membenci dia, sehingga Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menggunakan pengaruhnya/ kewenangannya untuk membuat mereka mencintai Ali (رضى عنه الله) dan menjadikan dia sebagai teman setianya.</p>
<p>Tampaknya Syiah sedang mencengkeram sedotan sambil mencoba menyuntikkan makna Imamah atau Khilafah ke dalam kata “mawla”. Dalam rangka membangun pernyataan mereka, mereka akan memanfaatkan ayat-ayat Al-quran yang sama sekali tidak ada relevansinya. Bagaimanapun kelihatan bagusnya hasil kerja Syiah, tidak ada kebenaran apapun di dalamnya, karena di sini, Syiah ingin agar kita percaya bahwa Awla sama dengan mawla. Syiah hanya perlu selangkah lagi untuk mengklaim bahwa Ali (رضى الله عنه) haruslah seorang Wali karena kata-kata “Ali” dan “Wali” begitu mirip.</p>
<p><strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<blockquote><p>“Second: The following prayer which the Holy Prophet uttered just after this declaration: “O Allah! Love him who loves ‘Ali, and be the enemy of the enemy of ‘Ali; help him who helps ‘Ali, and forsake him who forsakes ‘Ali.”</p>
<p>This prayer shows that ‘Ali, on that day, was entrusted with a responsibility which, by its very nature, would make some people his enemy; and in carrying out that responsibility he would need helpers and supporters. Are helpers ever needed to carry on a friendship?</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p><strong>Al-Islam.org </strong>says</p>
<blockquote><p>“Glitters of Ahadith Relevant to the Ghadir Incident</p>
<p>“To whomsoever I have been a master, this `Ali is [henceforth] his master; O Lord! Befriend whoever befriends him, and be the enemy to whoever antagonizes him.”</p>
<p>source: <a href="http://al-islam1.org/murajaat/54.htm" rel="nofollow" target="_blank">http://al-islam1.org/murajaat/54.htm</a>”</p></blockquote>
<p>Penulis Syiah dari artikel tersebut telah dengan jelas menyatakan bahwa dalam rangka untuk mencari tahu apa makna dari “mawla”, kita memerlukan petunjuk dari sisi konteks kalimatnya. Dan ia menunjukkan kepada kami kalimat berikutnya di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan: “Ya Allah! Bertemanlah dengan siapa yang berteman dengan dia, dan menjadilah musuh kepada siapapun yang memusuhi dia. “.</p>
<p>Ini adalah hujjah (bukti) kuat terhadap klaim Syiah! Kata yang digunakan adalah “berteman” atau “mencintai” yang berarti bahwa mawla dalam konteks ini sedang digunakan untuk merujuk kepada “sahabat tercinta”. Adalah jelas dari sini bahwa “mawla” di sini menunjuk pada cinta dan kedekatan hubungan, bukan Khilafah dan Imamah. Muwalat (cinta) adalah lawan kata dari Mu`adat (permusuhan). Definisi kata “mawla” inilah yang paling masuk akal sesuai konteksnya, karena Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) segera mengatakan “Ya Allah, menjadilah teman dengan siapa saja yang berteman dengan dia dan menjadilah musuh dengan siapa saja yang memusuhi dia.”</p>
<p>Bagaimana bisa diterjemahkan dengan makna lain ketika kita harus mempertimbangkan bahwa tambahan kalimat berikutnya adalah tentang berteman dengan dia, bukan tentang diperintah oleh dia atau sesuatu yang seperti itu? Hal ini sebenarnya sulit dipercaya bahwa Syiah bisa menerjemahkan kata itu dengan makna Khilafah dan Imamah ketika konteksnya tidak ada hubungannya dengan itu.</p>
<p>Adapun bagian ini:</p>
<p><strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<blockquote><p>“This prayer shows that ‘Ali, on that day, was entrusted with a responsibility which, by its very nature, would make some people his enemy; and in carrying out that responsibility he would need helpers and supporters.</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p>Hal di atas hanyalah semata-mata dugaan dan imajinasi Syiah saja. Imajinasi Syiah telah dikenal tidak mengenal batas dan dia (Syiah) dapat membaca (mereka-reka?) suatu teks sesuatu hal yang menakjubkan. Seolah-olah Syiah memiliki jenis kemampuan khusus atau kacamata super yang hanya dia yang dapat membaca apa yang manusia normal tidak bisa membacanya, dan ini adalah sepasang kacamata yang dia gunakan ketika membaca baik ayat-ayat Al-Quran maupuan Hadits. Mungkin alien dari Mars yang akan menyerang dan mereka membenci Ali (رضى الله عنه), jadi karena inilah Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan ini! Dan lihatlah, tulisan kata “alien” yang memiliki kata “Ali” di dalamnya! Syiah lupa pada fakta sebelumnya bahwa para sahabat yang menjadi pasukannya telah tunduk kepada komnado Ali ketika menyerang Yaman dan berhasil. Jadi tidak ada sama sekali kebencian terhadap kepemimpinannya, tetapi kebencian kepada Ali muncul akibat kebijakannya terhadap harta rampasan perang.</p>
<p>Tidak ada perlunya menanggapi tebakan dan dugaan Syiah tersebut ketika kita sudah tahu mengapa Ali (رضى الله عنه) memiliki banyak musuh. Ada beberapa riwayat tentang bagaimana Ali (رضى الله عنه) telah marahi tentaranya dengan mengambil kembali barang-barang rampasan perang mereka dan orang-orang ini mengeluhkan tentang Ali (رضى الله عنه). Dalam suasana seperti itulah Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin membela Ali (رضى الله عنه) dan mendesak orang-orang untuk mencintai dan berteman dengan Ali (رضى الله عنه) karena Ali (رضى الله عنه) harus dicintai oleh seluruh umat Islam, dan memang semua Ahlus Sunnah mencintai Ali (رضى الله عنه) sampai hari ini.</p>
<p>Sejauh gagasan yang tidak masuk akal yang mengatakan bahwa teman itu bukanlah penolong, maka kami bertanya-tanya, teman seperti apa yang dipunyai oleh penulis Syiah ini? Bagian yang sangat penting dari persahabatan/ pertemanan adalah berkisar sekitar menolong, memberikan dukungan, dll. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan dalam banyak hadits bahwa Muslim harus menolong saudara-saudara, teman, tetangga, mereka dll.</p>
<p><strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<blockquote><p>“Third: The declaration of the Holy Prophet that: “It seems imminent that I will be called away (by Allah) and I will answer that call.” This clearly shows that he was making arrangements for the leadership of the Muslims after his death.</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p>Bagaimana bisa jelas? Hal itu tidak jelas sama sekali. Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermaksud seperti itu, lalu kenapa dia tidak (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan hal itu? Mengapa harus Syiah yang menjadi juru bicara Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) yang selalu mengatakan kepada kita bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermaksud begini dan begitu meskipun Nabi hanya berkata begini dan begitu? Tentunya, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bisa saja mengatakan “Saya akan mati dan karena itu saya khawatir tentang siapa yang akan menjadi penerus saya dan inilah sebabnya mengapa saya mencalonkan Ali untuk menjadi khalifah sesudah aku.” Namun sebaliknya, kita harus menebak dan percaya kepada Syiah bahwa inilah apa yang benar-benar Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) maksudkan, dan kita semua tahu bagaimana kreatifitas imajinasi Syiah ini.</p>
<p>Bantahan terhadap klaim Syiah ini adalah pada kenyataannya bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan sesuatu yang mirip di atas dalam Khotbah Perpisahan di puncak Gunung Arafat, yang memulai pidatonya dengan mengatakan:</p>
<blockquote><p>“Wahai manusia, pinjamkan kepada saya telinga dengan penuh perhatian, karena saya tidak tahu apakah setelah tahun ini, saya masih akan ada di antara kalian lagi.” (Baihaqi)</p></blockquote>
<p>Namun, setelah itu Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) sama sekali tidak menyebutkan kepemimpinan kaum muslimin dalam pidato tersebut. Jadi kami melihat bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) telah mengemukakan kata pendahuluan tersebut karena ia akan meninggal, dan ini tidak berarti bahwa ia sedang berbicara tentang kepemimpinan. Bahkan, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) khawatir tentang keluarganya setelah kematiannya, ini adalah emosi dan kekhawatiran manusia normal. Setiap orang dari kita akan khawatir tentang apa yang akan terjadi pada anak-anak, istri atau kerabat dekat kita setelah kita mati. Ini adalah kekhawatiran umum ketika manusia di ranjang kematian mereka. Dan kekhawatiran dalam kasus Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ini meningkat karena ada Muslim tertentu yang mengkritik dan (secara emosional) menyakiti sepupunya.</p>
<div>
<div>
<p><strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<blockquote><p>“Fourth: The congratulations of the Companions and their expressions of joy do not leave room for doubt concerning the meaning of this declaration.</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p>Kami telah membahas hal ini sebelumnya. Syiah sebelumnya mengklaim bahwa Allah telah menurunkan ayat 5:67 untuk mendorong Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Ali (رضى الله عنه) tanpa rasa takut akan gangguan dari orang-orang:</p>
<blockquote><p> ”Hai Nabi! Wartakan pesan yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak, maka kamu tidak memenuhi dan menyatakan risalah-Nya. Allah akan melindungi kamu dari (gangguan) manusia. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir ” (Quran, 5:67).</p></blockquote>
<p>Dan Syiah mengatakan bahwa para sahabat adalah orang-orang pertama-tama menentang pencalonan Ali (رضى الله عنه). Namun sekarang, artikel tersebut mengklaim bahwa para sahabat telah “mengekspresikan rasa sukacita”. Apakah ini tidak kontradiktif? Jika orang-orang dan para sahabat begitu menentang pencalonan Ali sehingga Allah telah menurunkan sebuah ayat Al-Quran mengenai hal ini, maka mengapa mereka mengucapkan selamat kepada Ali (رضى عنه الله) dan dengan “ekspresi sukacita”? Ini sungguh kontradiksi yang sangat besar, tetapi tak diragukan lagi itu adalah hasil tak terelakkan untuk melanjutkan setiap argumen – tidak peduli seberapa palsunya – dalam rangka memperkuat argumen seseorang. Apa yang terjadi adalah bahwa propagandis Syiah melakukan hal seperti ini begitu sering, ia lupa argumen sebelumnya dan tanpa disengaja terdapat dua klaim yang saling bertentangan.</p>
<p>Sungguh aneh bagaimana Syiah mencoba untuk mengecilkan kebesaran dari pernyataan sebagai “sahabat tercinta”: kami sering melihat Syiah yang mengatakan hal-hal seperti “tentu tidak mungkin berarti ‘hanya sekedar teman’”. Kami tidak mengerti apa yang mereka maksudkan dengan “hanya sekedar“ teman. Pertama-tama, bukan teman lama, tetapi teman tercinta, menunjukkan kasih sayang dan cinta yang mendalam. Nabi Ibrahim (عليه السلام) disebut sebagai “Khaleel-Allah” yang berarti “sahabat Allah” dan julukan ini diberikan kepadanya oleh Allah. Ini adalah julukan istimewa besar, dan tak seorang pun akan berkata “hanya sekedar teman” di sini. Dinyatakan sebagai sahabat Allah bukanlah hal yang kecil, dan juga bukan suatu hal yang kecil/ remeh disebut sebagai “kekasih ummat”.</p>
<p><strong>The Thaqalayn Muslim Association </strong>says</p>
<blockquote><p>“…only to announce to them that ‘Ali ibn Abi Talib was his “friend.”</p>
<p>Such a claim is yet more absurd when one considers the fact that ‘Ali already had an exalted status in comparison with the other Muslims.</p>
<p>source: <a href="http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf</a>”</p></blockquote>
<p>Benar, bahwa Ali (رضى الله عنه) telah memiliki status mulia, tetapi adalah hal yang konyol jika mengatakan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) hanya dapat memuji seseorang sekali atau dua kali.</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) meninggikan status Umar (رضى الله عنه) pada berbagai kesempatan, namun kita tidak akan pernah menemukan salah satu dari Sunni yang meragukan keaslian pujian Nabi hanya karena ia telah memuji sebelumnya. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) sering memuji kepada orang-orang layak menerima pujian, dan Ali (رضى الله عنه) adalah salah satu individu tersebut. Dan meskipun Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) telah meninggikan Ali (رضى الله عنه) dalam berbagai cara dan kesempatan sebelumnya, maka di sini ia memberinya kehormatan menjadi dicintai umat.</p>
<p>Selain dari itu, kejadian ini harus dilihat dalam konteks yang sesuai. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menanggapi kelompok tertentu yang membenci Ali (رضى الله عنه) dan menjadi musuh-musuhnya. Menanggapi kejadian ini, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mendesak umat Islam untuk mencintai Ali (رضى الله عنه). Oleh karena itu, apa yang dikatakan di Ghadir Khum harus diletakkan pada konteksnya: seandainya Sahabi lain telah dihina dan dibenci, maka kemungkinan Nabi akan memberikan pidato seperti itu juga untuk Sahabi tersebut. Hal ini tentu saja tidak dapat ditafsirkan sebagai bukti untuk Imamah atau Khilafah dari Sahabi tersebut.</p>
<p><strong>Al-Islam.org </strong>says</p>
<blockquote><p>“Number of Companions in Ghadir Khumm</p>
<p>Allah ordered His Prophet [s] to inform the people of this designation at a time of crowded populous so that all could become the narrators of the tradition, while they exceeded a hundred thousand.</p>
<p>Narrated by Zayd b. Arqam: Abu al-Tufayl said: “I heard it from the Messenger of Allah [s], and there was no one (there) except that he saw him with his eyes and heard him with his ears.”</p>
<p>source: <a href="http://al-islam1.org/murajaat/54.htm" rel="nofollow" target="_blank">http://al-islam1.org/murajaat/54.htm</a>”</p></blockquote>
<p>Syiah sering membawa narasi ini untuk membuktikan entah bagaimana bahwa semua Muslim seolah-olah hadir di Ghadir Khum. Namun, kami mendesak para pembaca untuk tidak bias ketika melihat teks yang hanya mengatakan: “tidak ada seorangpun (di sana) kecuali bahwa ia melihat dia dengan matanya dan mendengarkan dia dengan telinganya.” Sederhananya adalah bahwa semua yang hadir di Ghadir Khum mendengar Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan apa yang ia katakan tentang Ali (رضى الله عنه). Kami sudah sepakat bahwa orang-orang di Ghadir Khum sedang diberi arahan oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), tetapi masalahnya adalah bahwa hanya sebagian kecil dari kaum muslimin yang melewati Ghadir Khum pada hari itu.</p>
<p><strong>PENDIRIAN CUCU ALI, AL-HASAN BIN HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB (رضى الله عنه)</strong></p>
<p>Diriwayatkan dalam “Al-Tabaqat Al-Kubra” Ibnu Saad :</p>
<p>Seorang Rafidhi (orang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar) berkata kepadanya (Al-Hasan bin Hasan), “Bukankah Rasulullah berkata kepada Ali: ‘Jika saya mawla seseorang, Ali adalah mawla-nya?” “</p>
<p>Dia (Al Hasan) menjawab, “Demi Allah, jika ia bermaksud bahwa hal itu adalah kepemimpinan dan pemerintahan, maka semestinya dia akan lebih eksplisit kepada kamu dalam menyatakan hal itu, sama seperti ketika ia secara eksplisit kepada kamu tentang Salat, zakat dan ibadah haji ke Rumah suci. Ia semestinya akan mengatakan kepada kamu, ‘Wahai manusia! Ini adalah pemimpin kamu setelah saya ‘Rasulullah memberikan nasihat terbaik kepada orang-orang (yaitu dengan arti yang jelas).. “</p>
<p>(Sumber: Al-Tabaqat Al-Kubra, Volume 5)</p>
<p><strong>Pujian serupa untuk sahabat yang lain.</strong></p>
<p>Fakta bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) sebagai “mawla” (teman tercinta) tidak dapat digunakan sebagai bukti pencalonan Ali (رضى الله عنه) oleh Nabi sebagai khalifah. Banyak sahabat lain yang dipuji dengan cara yang serupa, namun tidak seorang pun memahami kalimat tersebut bermakna bahwa sahabat lain ditetapkan secara ilahiah sebagai Imam yang tidak bersalah. Mari kita ambil contoh Hadis mengenai dengan Umar bin Al-Khattab (رضى الله عنه).</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Kebenaran, setelah saya, adalah dengan Umar dimanapun dia berada” (HR. ibn Abbas)</p>
<p>Namun, tidak ada yang menggunakan hadits ini untuk mengatakan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Umar (رضى الله عنه) sebagai penggantinya, bahkan Umar (رضى الله عنه) sendiri tidak menafsirkan seperti itu, dan dia sendiri yang dicalonkan oleh Abu Bakar (رضى الله عنه) untuk menjadi khalifah penggantinya. Dalam hadis lain, kami membaca:</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Jika seorang Nabi menggantikan saya, maka itu adalah Umar ibn al-Khattab.” (Sunan al-Tirmidzi)</p>
<p>Jika seandainya hadis di atas tentang Ali (رضى الله عنه), tentu Syiah akan mengutipnya di kiri, kanan, dan tengah, tetapi pemahaman yang rasional Ahlus Sunnah tetap mempertimbangkan berbagai hadis lain di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memuji banyak sahabat dengan berbagai cara. Ini semua adalah bukti untuk meninggikan sahabat tetapi hadits-hadits tersebut tidak berarti pencalonan Nabi untuk kekhalifahan dan hadits-hadits tersebut tidak bermakna pengangkatan secara ilahiah oleh Allah. Dalam hadis lain, kami membaca:</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Yang pertama yang padanya kebenaran akan berjabat tangan dengan Umar …” (diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’b)</p>
<p>Dan dalam hadis lain, kami membaca:</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Terdapat bangsa-bangsa sebelum kamu yang terinspirasi, dan jika ada satu diantara umatku maka ia adalah Umar.” (Riwayat Abu Hurrairah)</p>
<p>Oleh karena itu, berdasarkan Hadis ini dan banyak Hadis serupa lainnya yang dikatakan kepada sahabat lain, kami melihat bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memanggil Ali (رضى الله عنه) menjadi “mawla” (teman tercinta) bukan merupakan pencalonan Nabi untuk menjadi Khilafah, karena orang lain juga dipuji dengan cara serupa.</p>
<p>Nyatanya, apa yang Syiah lakukan adalah menolak semua Hadis yang terkait dengan orang-orang yang tidak mereka sukai dan hanya menerima hadits-hadits yang terkait dengan Ali (رضى الله عنه). Apa yang agak lucu dan aneh adalah bahwa Syiah tidak peduli untuk memeriksa Isnad, tetapi bagi Shia suatu Hadis akan otentik jika berisi pujian kepada Ali (رضى الله عنه) dan suatu hadits adalah palsu jika memuji sahabat lainnya. Ini adalah “ilmu” Hadits dari Syiah, dan memang tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Syiah akan menerima suatu hadits dengan perawi Mickey Mouse jika memuji Ali (رضى الله عنه), dan mereka akan menolak hadits yang diriwayat melalui Ali (رضى الله عنه) jika hadits itu memuji Abu Bakar (رضى الله عنه), Umar (رضى الله عنه), dll</p>
<p>Sekarang mari kita lihat kalimat selanjutnya pada Hadits tersebut, yaitu sebagai berikut:</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Jadikan teman siapa saja yang berteman dengan dia (yaitu Ali), dan musuhi siapa saja yang berlawanan dengan dia.”</p>
<p>Syiah akan menggunakan hadits ini untuk mengkritik para sahabat yang berbeda berpendapat dengan Ali (رضى الله عنه), namun apakah mereka tidak tahu bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) juga pernah mengatakan hal serupa kepada sahabat lainnya? Sebagai contoh, kami membaca Hadis berikut:</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Siapa pun yang marah dengan Umar berarti marah dengan saya. Barangsiapa mengasihi Umar berarti mencintaiku” (At-Tabrani).</p>
<p>Bahkan, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan hal ini tidak hanya tentang Ali (رضى الله عنه) dan Umar (رضى الله عنه), tetapi tentang semua sahabatnya:</p>
<p>Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Allah, Allah! Takut kepada-Nya sehubungan dengan sahabat saya! Jangan membuat mereka sebagai target setelah aku! Barangsiapa mencintai mereka (berarti) mengasihi mereka dengan cintanya bagi saya, dan barangsiapa membenci mereka (berarti) membenci mereka dengan kebenciannya bagi saya. Barangsiapa membawa permusuhan kepada mereka, (berarti) membawa permusuhan kepada saya, dan barangsiapa membawa permusuhan kepada saya, (berarti) membawa permusuhan kepada Allah. Barangsiapa membawa permusuhan kepada Allah akan binasa!”. (Diriwayatkan dari Abdallah ibn Mughaffal oleh Al-Tirmidzi, oleh Ahmad dengan tiga rantai baik dalam Musnad-nya, al-Bukhari dalam Tarikh-nya, al-Baihaqi dalam Shu`ab al-Iman dan lain-lain. Al-Suyuti menyatakan hadits tersebut hasan di Jami `al-Saghir # 1442).</p>
<p><strong>Kata perpisahan</strong></p>
<p>Syiah telah menjauhkan peristiwa Ghadir Khum dari konteksnya. Hadis Ghadir Khum tidak ada hubungannya sama sekali dengan Imamah atau Khilafah, dan jika tidak demikian, maka tidak ada yang menghalangi Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) untuk menyatakan dengan jelas dari pada menggunakan kata “mawla” yang dikenal oleh semua orang bermakna “sahabat tercinta”.</p>
<p>Lebih-lebih lagi, Ghadir Khum terletak 250 km dari Mekah: jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermaksud untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه) maka semestinya dia akan melakukan hal itu pada pertemuan yang lebih besar di puncak Gunung Arafat selama Khotbah Perpisahan di depan semua kaum muslimin dari setiap penjuru kota.</p>
<p>Paradigma Syiah secara keseluruhan didasarkan pada ide sekilas dan mudah disangkal bahwa Ghadir Khum adalah lokasi sentral di mana semua umat Islam akan berkumpul bersama sebelum berpisah dan pergi ke rumah masing-masing. Padahal, hanya Muslim yang menuju ke Madinah yang akan melewati Ghadir Khum, bukan Muslim yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll.</p>
<p>Ratusan tahun yang lalu, massa Syiah dengan mudah bisa saja disesatkan karena banyak dari mereka tidak mempunyai peta untuk memeriksa di mana Ghadir Khum ini dan mereka hanya akan menerima mitos umum bahwa Ghadir Khum adalah tempat pertemuan bagi umat Islam sebelum mereka berpisah. Namun pada hari ini, di era informasi dan teknologi, peta yang akurat ada kentikan jari kita dan tidak ada orang yang berakal bisa dibodohi oleh mitos Syiah.</p>
<p>Kami telah menunjukkan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak mencalonkan Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum sebagaimana klaim Syiah. Ini adalah pondasi keyakinan Syi’ah, yang tanpanya iman mereka tidak memiliki dasar apapun: jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak mencalonkan Ali (رضى الله عنه) menjadi khalifah, maka Syiah tidak bisa lagi mengklaim bahwa Abu Bakar (رضى الله عنه) atau Sunni merebut penunjukan ilahiah penugasan Ali (رضى الله عنه). Dan dengan itu, seluruh paham Syi’ah runtuh dengan sendirinya, karena jarak 250 km yang tidak diperhitungkan oleh Syiah yang memisahkan Ghadir Khum dari Mekah, telah memisahkan Syi’ah dari kebenaran.</p>
<p><em>Artikel ini saya terjemahan secara bebas dan ada yang diringkas dari artikel aslinya yang ditulis oleh: Ibn al-Hashimi, di <a href="http://www.ahlelbayt.com" rel="nofollow">http://www.ahlelbayt.com</a></em></p>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="ORnqIJaG2y"><p><a href="http://muslimsaja.wordpress.com/2011/05/15/hadits-ghadir-khum/">Hadits Ghadir Khum (perspektif&nbsp;Suni)</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Hadits Ghadir Khum (perspektif&nbsp;Suni)&#8221; &#8212; ISLAM" src="http://muslimsaja.wordpress.com/2011/05/15/hadits-ghadir-khum/embed/#?secret=nZupyS3Au7#?secret=ORnqIJaG2y" data-secret="ORnqIJaG2y" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/20/hadits-ghadir-khum-perspektif-sunni/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">307</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/c3f904b1bbca2eeb6254eb640c92a038cdbe738e1630e67ce3ed3441cd9bfe4e?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">leftshia</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/164357_132018690191530_100001501998631_209477_1185882_n.jpg"/>

		<media:content medium="image" url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/163655_133251886734877_100001501998631_215719_6557962_n.jpg"/>

		<media:content medium="image" url="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/39432_133252233401509_100001501998631_215720_7089791_n.jpg"/>

		<media:content medium="image" url="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/33793_133252590068140_100001501998631_215721_2809101_n.jpg"/>

		<media:content medium="image" url="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/164380_133800853346647_100001501998631_219965_5096694_n.jpg"/>

		<media:content medium="image" url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/164394_133801046679961_100001501998631_219966_5631884_n.jpg"/>

		<media:content medium="image" url="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/148262_133801140013285_100001501998631_219968_4566876_n.jpg"/>

		<media:content medium="image" url="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/35624_133801213346611_100001501998631_219969_4523693_n.jpg"/>

		<media:content medium="image" url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/162868_133801286679937_100001501998631_219970_3599565_n.jpg"/>

		<media:content medium="image" url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/167434_133801323346600_100001501998631_219972_4442539_n.jpg"/>
	</item>
		<item>
		<title>Syiah Meriwayatkan Hadits Dari Enam Ekor Keledai</title>
		<link>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/20/syiah-meriwayatkan-hadits-dari-enam-ekor-keledai/</link>
					<comments>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/20/syiah-meriwayatkan-hadits-dari-enam-ekor-keledai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[leftshia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Jun 2012 03:24:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[syiah dan hadist]]></category>
		<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[keledai]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://meleksyiah.wordpress.com/?p=301</guid>

					<description><![CDATA[روى الكليني في أصول الكافي هذه الرواية عن الحمار وهي أن الرسول صلى الله عليه وسلم مسح على كفل حماره فبكي الحمار، وسأله النبي صلى الله عليه وسلم مايبكيك؟ فرد الحمار قائلا، حدثني أبي عن جدي عن أبيه عن جده عن الحمار الأكبر الذي ركب مع نوح في السفينة أن نبي الله نوح مسح على [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><strong>روى الكليني في أصول الكافي هذه الرواية عن الحمار</strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>وهي أن الرسول صلى الله عليه وسلم مسح على كفل حماره فبكي الحمار، وسأله النبي صلى الله عليه وسلم مايبكيك؟ فرد الحمار قائلا، حدثني أبي عن جدي عن أبيه عن جده عن الحمار الأكبر الذي ركب مع نوح في السفينة أن نبي الله نوح مسح على كفله وقال، يخرج من صلبك حمار يركبه خاتم النبيين. فالحمد لله الذي جعلني ذلك الحمار.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Diriwayatkan dari Al Kulaini dalam Ushulul Kaafiy sebuah riwayat hadits dari keledai, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mengusap pantat seekor keledai, maka keledai itu menangis, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata : &#8221; Apa yang menyebabkanmu menangis ? &#8221; maka berkata keledai tersebut : &#8221; Telah menceritakan kepadaku ayahku dari kakekku dari ayahnya dari kakeknya dari keledai yang paling besar bahwa : &#8221; Dia pernah bersama Nuh di dalam perahu dan Nabi Allah Nuh alaihi sallam mengusap pantatnya dan berkata : &#8221; Akan keluar dari sulbimu seekor keledai yang akan dinaiki oleh penutup para Nabi. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai tersebut.&#8221; </em></p>
<p><strong>Ushulul Kaafiy 1/237</strong>, Baab : Maa ‘indal Aimmah min Silaahi Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wamataa’ihi hadits ke-9</p>
<p>Apakah ada keanehan dan kejanggalan lain yang lebih parah dari riwayat Syi&#8217;ah Rafidhah, lihatlah :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Syi&#8217;ah menolak riwayat ahlussunnah semisal Al Imam Al Bukhari &#8211; Al Imam Muslim dan yang selainnya &#8211; bahkan riwayat shahabat seperti Abu Hurairah radhiallahu anhu ditolak oleh mereka, dan bersamaan dengan itu menerima riwayat dari keledai ke keledai ke keledai dan seterusnya. <span id="more-301"></span></p>
<p style="text-align:justify;">2. Diantara bentuk kejanggalan lain dari Syiah Rafidhah mereka &#8221; meriwayatkan &#8221; <strong>riwayat ini dengan sanad enam ekor keledai, yang pertama bertemu dengan Nabi Nuh alaihi sallam dan yang keenam bertemu dengan Nabi Muhammad alaihi sallam, lalu pertanyaan yang patut ditujukan kepada Syiah Rafidhah adalah berapa ribu tahun jarak antara Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan Nabi Nuh alaihi sallam, lalu kenapa hanya &#8221; enam &#8221; ekor keledai yang meriwayatkannya, apakah seekor keledai umurnya mencapai ratusan bahkan ribuan tahun ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Abu Asma Andre)</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align:justify;">Syi&#8217;ah sangat sulit untuk bertaqiyyah dalam hal ini dikarenakan ulama mereka sendiri yakni Ayatolat Khamenei terang-terangan membenarkan riwayat tersebut sebagaimana disini :</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www2.irib.ir/worldservice/ArabicRADIO/Pages/Eslamiyat/EStefta-inc/Detail.asp?id=434" rel="nofollow nofollow" target="_blank">http://www2.irib.ir/worldservice/ArabicRADIO/Pages/Eslamiyat/EStefta-inc/Detail.asp?id=434</a></p>
<p style="text-align:right;"><strong>السؤال:</strong><br />
<strong>هل تجوز الرواية عن الحمير؟ كما ورد في في بعض الكتب والمراجع ما روي عن أمير المؤمنين:- إن غُفيراً -حمار رسول الله صلى الله عليه وآله- قال له: بأبي أنت وأمي -يا رسول الله- إن أبي حدثني عن أبيه عن جده عن أبيه: (أنه كان مع نوح في السفينة، فقام إليه نوح فمسح على كفله ثم قال: يخرج من صلب هذا الحمار حمار يركبه سيد النبيين وخاتمهم، فالحمد لله الذي جعلني ذلك الحمار) (أصول الكافي 1/237).</strong><br />
<strong>المرجع: سماحة السيد القائد الخامنئي</strong><br />
<strong>الإجابة:</strong><br />
<strong>الغرابة الموجودة في هذه الرواية تنتفي عندما تراجع النصوص القرآنية من كون الحيوانات تتكلم وتتصرف كما في قصة الهدهد والنمل و&#8230;.</strong><br />
<strong>وعلى كل حال لا يوجد في الروايات ما يتنافى مع العقل أو الشرع أو ما يتنافى مع احترام الرسول (صلى الله عليه وآله وسلم) فلماذا ترفضها </strong></p>
<p>Bagi dia (Khamenei) riwayat tersebut tidak bertentangan dengan akal maupun Syari&#8217;at hingga pada akhir kata, dia mengatakan &#8220;Lalu mengapa menolaknya?&#8221; Dan sungguh analoginya sangat berantakan dari setiap sisi ketika ia membenarkannya dengan alasan bahwa di Al-Qur&#8217;an mengisahkan yang tentang An-Naml dan burung Hud-Hud.</p>
<p style="text-align:justify;">(Jaser Leonheart)</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align:left;">Apakah rawi keledai ini mubham ? Diantara kejanggalan syiah memiliki jarh dan tadil kepada perawi keledai &#8211; keledai ini, lihatlah diantaranya :</p>
<p style="text-align:left;"><strong>الراوي الحمار الخامس عشر : يقول طالب العلم أنه ضعيف ليس بجحة كذوب . لكن وثقه بعضهم</strong> .<br />
Rawi<strong> keledai yang kelimabelas</strong> : berkata sebagian penuntut ilmu bahwasanya dia ( keledai ) dhaif dan bukan merupakan hujjah, pendusta, akan tetapi di tsiqah kan oleh sebagian lainnya.</p>
<p><strong>أما الحمار العشرون ، فقد اُتهم بالتدليس</strong><br />
Adapun <strong>keledai yang keduapuluh</strong> sesungguhnya dituduh sebagai mudalis.</p>
<p><strong>الحمار الحادي والعشرون : متهم بالكذب بل عده بعضهم رأس الكذب</strong><br />
<strong>Keledai yang keduapuluh satu dituduh sebagai pendusta</strong> bahkan sebagaiannya mengatakan bahwa dia ( keledai ) adalah penghulunya pendusta&#8230;</p>
<p>sungguh ajaran yang janggal dan lucu, silahkan simak jarh dan tadil syiah terhadap rawi &#8211; rawi keledai ini di forum mereka :</p>
<p><a href="http://www.yahosein.com/vb/showthread.php?t=9654" rel="nofollow nofollow" target="_blank">http://www.yahosein.com/vb/showthread.php?t=9654</a></p>
<p>(Abu Asma Andre )</p>
<p>Sumber: <a href="https://www.facebook.com/notes/abu-asma-andre/syiah-meriwayatkan-hadits-dari-enam-ekor-keledai/386117704779189" target="_blank">Note FB Abu Asma Andre</a> (dengan penyesuaian)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/20/syiah-meriwayatkan-hadits-dari-enam-ekor-keledai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">301</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/c3f904b1bbca2eeb6254eb640c92a038cdbe738e1630e67ce3ed3441cd9bfe4e?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">leftshia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>‘Ulama Syiah Membuka Topeng Taqiyyah ‘Ulama Lainnya</title>
		<link>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/11/ulama-syiah-membuka-topeng-taqiyyah-ulama-lainnya/</link>
					<comments>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/11/ulama-syiah-membuka-topeng-taqiyyah-ulama-lainnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[leftshia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2012 09:29:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[syiah dan dusta]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[dusta]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[syiah&ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[taqiyyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://meleksyiah.wordpress.com/?p=293</guid>

					<description><![CDATA[Tema ini secara khusus diperuntukkan bagi siapapun yang memiliki cara pandang yang kritis mengenai pembagian kelompok syiah di dalam menjalankan dakwahnya. Syiah biasanya terbagi menjadi dua kelompok, yang masing-masing kelompok memiliki tujuan yang sama. Namun, kelompok kedua lebih berbahaya, tokoh yang termasuk ke dalam kelompok ini yaitu Khomenei. Khomenei memiliki keyakinan dan niat yang sangat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tema ini secara khusus diperuntukkan bagi siapapun yang memiliki cara pandang yang kritis mengenai pembagian kelompok syiah di dalam menjalankan dakwahnya. Syiah biasanya terbagi menjadi dua kelompok, yang masing-masing kelompok memiliki tujuan yang sama. Namun, kelompok kedua lebih berbahaya, tokoh yang termasuk ke dalam kelompok ini yaitu Khomenei. Khomenei memiliki keyakinan dan niat yang sangat jahat di dalam hatinya, namun yang nampak keluar sebaliknya. Dia berbicara mengenai “Persatuan” dan “Cinta” antara syiah imamiyah dan Ahlussunnah. Namun terkadang “topeng indah” ini tersingkap oleh tokoh lain dari kalangan syiah sendiri. Seperti yang pembaca ketahui bahwa syiah dalam bentuk aslinya tidak akan mampu menyebar kepada muslim lainnya (Ahlussunnah) dan non muslim. Inilah sebab utama mereka menyembunyikan hakikat asli ajarannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Syiah harus mengelabui manusia hingga sampai ke bawah kulitnya agar memperoleh kepercayaan dan loyalitasnya, kemudian setelah itu barulah memuntahkan racun ajarannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah subhanahu wata’ala berfirman: <em>(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan <strong>mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah</strong>. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.</em> (Al-Ahzab: 39)</p>
<p style="text-align:justify;">Imam syiah terbiasa melakukan dusta dan taqiyyah yang seakan-akan mereka tidak pernah membaca ayat ini,  sepertihalnya yang bisa ditemukan di hadist-hadist dusta dan taqqiyyah yang dinisbatkan oleh syiah kepada para imam dan Demi Allah, mereka (para imam) tidak bersalah sama sekali atas tuduhan ini. Namun agama syiah lah yang memilih untuk mengambil jalan yang penuh kedustaan.<span id="more-293"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa tokoh ‘ulama syiah yang akan kita lihat di contoh berikut, mereka begitu malu untuk terbuka di dalam menyampaikan <em>“Pesan Allah”</em> dan lebih memilih untuk menyembunyikannya.  Yang kita maksud dengan <em>“Pesan Allah”</em> dalam ajaran syiah ini yaitu melaknat dan memfitnah Abu Bakar dan ‘Umar <em>radhiallahu’anhuma</em> dan para pengikut mereka (Ahlussunnah). ‘Ulama dan Muhaddits Syiah, Yusuf al-Bahrani mengomentari apa yang telah ditulis di dalam kitab  ‘ulama dan muhaddist syiah yang lainnya, yaitu Ni’matullah al-Jazaari tentang ‘Ulama besar Syiah Safavid yaitu ‘Ali bin al-Hussein al-Karaki. Berikut ini adalah kutipannya di dalam kitab Lulu al-Bahrain (hal 148)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://meleksyiah.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/06/lulu-bahraini.jpg"><img data-attachment-id="294" data-permalink="https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/11/ulama-syiah-membuka-topeng-taqiyyah-ulama-lainnya/lulu-bahraini/" data-orig-file="https://meleksyiah.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/06/lulu-bahraini.jpg" data-orig-size="376,549" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="lulu-bahraini" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://meleksyiah.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/06/lulu-bahraini.jpg?w=205" data-large-file="https://meleksyiah.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/06/lulu-bahraini.jpg?w=376" class="aligncenter size-full wp-image-294" title="lulu-bahraini" src="https://meleksyiah.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/06/lulu-bahraini.jpg?w=500" alt=""   srcset="https://meleksyiah.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/06/lulu-bahraini.jpg 376w, https://meleksyiah.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/06/lulu-bahraini.jpg?w=103&amp;h=150 103w, https://meleksyiah.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/06/lulu-bahraini.jpg?w=205&amp;h=300 205w" sizes="(max-width: 376px) 100vw, 376px" /></a><br />
<strong>قال مولانا السيد نعمة الله الجزائري في صدر كتابه شرح غوالي الئالي … وكان رحمه الله لا يركب ولا يمضي إلا والباب يمشي في ركابه مجاهراً بلعن الشيخين ومن على طريقتهما</strong><br />
<em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Berkata Maulana al-Sayyid Ni’matullah al-Jazaari di dalam awal kitabnya Syarh ghawaali al-Laalii, “Dan dia (‘Ali bin al-Hussein al-Karaki), tidak pernah mengendarai kudanya atau berjalan kecuali dia menyuruh pembantunya berjalan di depannya untuk melaknat dua orang syaikh (Abu Bakar dan ‘Umar) dan melaknat orang2 yang mengikuti jalan mereka berdua (syaikhain)”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang kita lihat pada saat syiah berada pada posisi yang sangat kuat (era Savafid) dan semestinya mereka mengatakan <em>“Pesan Allah”</em> dengan lantang, namun ‘Ali bin al-Hussein al-Karaki masih menggunakan orang lain untuk meyampaikan “Pesan Allah” yaitu melaknat shahabat rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, Inilah bentuk kebencian yang sangat mendalam. Dan Yusuf al-Bahrani mengkritik al-Jazaari yang telah membuka topeng ‘ulama besar ‘Ali bin al-Hussein al-Karaki karena hal ini dapat membahayakan bagi banyak penganut syiah yang tinggal di Negara Islam. Dia berkata:</p>
<h3 style="text-align:justify;">أقول: إن ما نقله عن الشيخ المزبور من ترك التقية والمجاهرة بسب الشيخين خلاف ما استفاضت به الأخبار عن الأئمة الأخيار الأبرار عليهم السلام ، وهي غفلة من شيخنا المشار إليه إن ثبت النقل المذكور ، وقد نقل السيد المذكور أن علماء الشيعة في مكة المشرفة كتبوا إلى علماء أصفهان من أهل المحاريب والمنابر : أنكم تسبون أئمتهم في أصفهان ونحن في الحرمين نُعذَّب بذلك اللعن والسب ، انتهى ، وهو كذلك</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya apa yang syaikh (al-Jazaari ) katakan kepada kita tentang meninggalkan taqiyyah dan secara terbuka melaknat 2 syaikh bertentangan dengan hadist yang tidak terhitung jumlahnya dari para Imam (as), Ini adalah kesalahan syaikh jika ajaran kita ini terungkap. Dan Sayyid juga menyebutkan bahwa ‘Ulama syiah di Makkah menulis surat kepada ‘Ulama syiah di Isfahan yang isinya: “Kamu melaknat dan menghina Imam mereka di Isfahan dan kami di Makkah dan Madinah harus menghadapi murka mereka”. Dan ini memang akan terjadi”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: Lulu al-Bahrain halaman 147 oleh Yusuf al-Bahrani</p>
<p style="text-align:justify;">Karena banyak dari Hadist Syiah yang isinya melaknat 3 khalifah pertama tidak dengan menyebutkan langsung namanya, melainkan dengan kata ganti <em>“Yang pertama dan yang kedua”</em> atau <em>“Fulan dan Fulan”</em>. Untuk tujuan taqiyyah biasanya nama mereka tidak disebutkan secara terbuka, namun bagi siapapun yang telah familiar dengan ajaran syiah bahkan bagi orang awam akan tahu pasti tentang siapa orang yang sedang dibicarakan. Berikut contoh dari hal ini:</p>
<p style="text-align:justify;">‘Ulama besar syiah Iran yang bernama Muhammad Baqir al-Majlisi yang hidup di wilayah Persia Safavid tidak menggunakan Taqiyyah melainkan menyatakan dengan jelas siapa sebenarnya orang yang disebut sebagai “Yang pertama dan Yang kedua”</p>
<p style="text-align:justify;">al-Qummi menulis dalam tafsirnya 2/107: <em>Dari al-Hassan bin ‘Ali dari Salin bin Sa’ad: Aku mendengar Abu ‘Abdullah (AS) menjelaskan Firman Allah:</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Surah an-Nur ayat 40: (Atau seperti gelap gulita) yaitu Fulan dan Fulan, (di lautan yang dalam yang diliputi oleh ombak) yaitu Na’athal, (yang di atasnya ombak pula), yaitu Talha dan Zubair, (di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih) yaitu Mu’awiyah dan Yazid dan Fitnah Bani Umayyah, (apabila dia mengeluarkan tangannya) di dalam kegelapan Fitnah mereka, (tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun) artinya para Imam dari keturunan Fatimah (as),  dia tidak memperoleh cahaya dari para Imam yang akan membimbingnya pada hari Pembalasan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Majlisi mengomentari hadist di atas yang ditulis pendahulunya di dalam Biharal-Anwar 32/306. Yang dimaksud <em>“Fulan dan Fulan”</em> adalah <strong>Abu Bakar dan ‘Umar</strong>, dan <em>“Na’athal”</em> adalah <strong>‘Utsman</strong>, musuhnya menyebutnya Na’athal yaitu dengan menyerupainya dengan seorang syaikh yang mempunyai jenggot panjang yang ada di Mesir, hal ini digunakan untuk mengatakan seorang itu IDIOT, dan juga dapat diartikan sebagai serigala (Hyena) jantan.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Kulaini meriwayatkan di dalam al-Kafi 8/334: <em>Muhammad bin Ahmad al-Qummi dari pamannya ‘Abdullah bin al-Salt dari Yunus bin ‘Abdurrahman dari ‘Abdullah bin Sinan dari Hussein al-Jammal dari abu ‘Abdullah (As) mengenai Firman Allah di surah Fushshilat ayat 29: &#8220;Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina&#8221;. Dia berkata: Ini adalah Mereka,  kemudian dia berkata: dan Fulan adalah Iblis.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Majlisi berkata di kitabnya Bihal al-Anwar 30-207: Siapa yang disebut <em>“Fulan”</em> adalah<strong> &#8216;Umar</strong> artinya Jin yang disebutkan di dalam surah itu adalah <strong>‘Umar</strong>. Dia menyebutkan ini kepadanya karena dulunya dia (‘umar) adalah iblis, karena dia berasal dari iblis sebagaimana dia adalah Anak hasil zina, atau karena dia (‘Umar) seorang penipu dan pendusta seperti iblis, dan juga memungkinkan yang dimaksud “Fulan” disini adalah Abu Bakar.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak ‘Ulama syiah yang tidak menyukai jika keyakinan mereka terungkap dengan cara ini. Grand Ayatulla Muhammad Asif al-Muhsini mengkritik al-Majlisi tentang ini karena jika dia menyebutkan nama dengan jelas akan membahayakan syiah dan akan membuat ummat Islam (Ahlussunnah) membenci mereka. Al-Muhsini berkata di dalam kita Mashara’at Bihar al-Anwar 1/167:</p>
<h3 style="text-align:justify;">لم يمسك المؤلف رحمه الله قلمه عن السب ، والتفسيق ، والتكفير ، والطعن في جملة من أجزاء بحاره بالنسبة إلى قادة المخالفين ، والله يعلم أنها كم أضرَّت بالطائفة نفساً وعرضاً ومالاً ، على أنه هو الذي نقل الروايات الدالة على وجوب التقية وحرمة إفشاء الأسرار ، وأصرَّ على التصريح بمرجع ضمائر التثنية في الروايات مع أن عوام المؤمنين يعرفونه فضلاً عن خواصهم فأي فائدة في هذا التفسير سوى إشعال نار الغضب والغيض والانتقام ؟ ولا أظنه قادراً على بيان جواب معقول على سلوكه هذا</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>Penulis (Al-Majlisi) tidak menahan penanya dari pencelaan, tafsiq, takfir, dan penghinaan pada kitabnya biharul anwar kepada para pemimpin mukhalifin (orang-orang yang menyelisihi syi&#8217;ah yakni Ahlus Sunnah), dan Allah maha tahu seberapa banyak hal ini akan membahayakan syiah dari banyak jalan, Juga dia telah menyebutkan tentang hadist yang menyatakan bahwa kita harus memegang teguh taqiyyah dan adalah terlarang untuk mengungkap rahasia, <strong>namun dia bersikeras dengan lantang menjelaskan tentang “kata-kata ganti” yang ada di hadist tersebut. Meskipun orang awam pun dari orang-orang yang beriman (Syiah) mengetahui maknanya dan juga demikan para ‘ulama.</strong> Lalu apa untungnya yang kita dapatkan dari penjelasannya selain memicu kemarahan dan balas dendam? Saya tidak percaya ia memiliki alas an yang sah atas apa yang dia lakukan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">sumber:</p>
<p style="text-align:justify;">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="PgpIaTZ2GH"><p><a href="https://devilsdeceptionofshiism.wordpress.com/2012/03/02/shiism-shiite-exposed-creed-hiding-the-ugly-truth-of-the-shia/">Shiism/ Shiite Exposed Creed : Hiding the Ugly Truth of the&nbsp;Shia</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Shiism/ Shiite Exposed Creed : Hiding the Ugly Truth of the&nbsp;Shia&#8221; &#8212; Devils Deception of Shiism" src="https://devilsdeceptionofshiism.wordpress.com/2012/03/02/shiism-shiite-exposed-creed-hiding-the-ugly-truth-of-the-shia/embed/#?secret=EfBFqhLfWs#?secret=PgpIaTZ2GH" data-secret="PgpIaTZ2GH" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://meleksyiah.wordpress.com/2012/06/11/ulama-syiah-membuka-topeng-taqiyyah-ulama-lainnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">293</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/c3f904b1bbca2eeb6254eb640c92a038cdbe738e1630e67ce3ed3441cd9bfe4e?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">leftshia</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://meleksyiah.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/06/lulu-bahraini.jpg">
			<media:title type="html">lulu-bahraini</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>