<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284</atom:id><lastBuildDate>Thu, 19 Dec 2024 03:30:17 +0000</lastBuildDate><category>Kisah Para Sahabat Nabi</category><category>Fadilah Sholat</category><category>Kisah Islami</category><category>Fadilah Dzikir</category><category>Fadilah Al-Qur'an</category><category>Fadilah Amal</category><category>Rahasia Langit Dan Bumi</category><title>ALLAHUAKBAR</title><description></description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (amirkhan)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><copyright>semoga bermanfaat</copyright><itunes:keywords>Nabi,Muhammad,Ahmil,Rahasia,langit,dan,bumi</itunes:keywords><itunes:summary>Suatu hari Sayidina Ali, karam Allahu wajhahu, misan dan menantu Nabi Suci SAW bertanya, " Wahai ( Nabi) Muhammad, kedua orang tuaku akan mrnjadi jaminanku, mohon katakan padaku apa yang diciptakan Allah ta'la sebelum makhluk ciptaan? Beliau menjawab : Sesungguhnya, sebelum Rabbmu menciptakan lainnya, Dia menciptakan dari Nur-Nya nur Nabimu." &#13;
Di Hadist yang lain, yang diriwayatkan dari Abdurrazaq ra yang diterimanya dari Jabir ra, bahwa Jabir pernah bertanya kepada Rasulullah saw, " Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, apakah yang mula-mula sekali Allah jadikan? Rasulullah menjawab : " Sesungguhnya Allah ciptakan sebelum adanya sesuatu adalah nur Nabimu dari Nur-Nya." Nur Muhammad itu sudah ada sebelum adanya segala sesuatu di alam ini. Nur Muhammad dianugerahi tujuh lautan : Lautan Ilmu, Lautan Latif, Laut Pikir, Laut Sabar, laut Akal, Laut Rahman, dan laut Cahaya.</itunes:summary><itunes:subtitle>Nur Nabi Muhammad</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:author>Ahmil</itunes:author><itunes:owner><itunes:email>ntongballer@gmail.com</itunes:email><itunes:name>Ahmil</itunes:name></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-706716331757625090</guid><pubDate>Tue, 29 Jun 2010 10:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-29T03:04:17.586-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>ABDULLAH BIN HUDZAFAH</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;ABDULLAH BIN HUDZAFAH Dan Siksaan yang Sangat Pedih&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia menjadi tawanan bangsa Romawi, dimasukkan ke dalam penjara oleh penguasa yang kejam. Di dalam penjara disediakan minuman yang dicampur arak dan daging babi panggang, untuk dimakan saat lapar dan minum khamar, ketiga macam suguhan itu sama sekali tidak disentuhnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu ia dikeluarkan dari penjara saat mereka mengkhawatirkan kematiannya. Dia berkata pada dirinya, "Demi Allah, sesungguhnya ini semua telah menjadi halal bagiku karena aku dalam kondisi terpaksa, hanya saja aku tidak ingin berbahagia di atas bencana yang menimpa kalian dengan sebab berpegang teguh pada Islam." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abu Rafi’ berkata, "Umar mengirim pasukan tentara ke Romawi. Kemudian musuh menangkap Abdullah bin Hudzafah sebagai tawanan perang, lalu dihadapkan kepada raja, mereka berkata, 'Orang ini termasuk sahabat dekat Muhammad.' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Raja bertanya, 'Maukah kamu masuk agama Nasrani dengan imbalan setengah kekuasaanku aku berikan kepadamu?'  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abdullah bin Hudzafah menjawab, 'Sekiranya engkau berikan seluruh kekuasaanmu kepadaku, dan seluruh yang dimiliki bangsa Arab, aku tidak akan pernah meninggalkan agama Muhammad sekejap mata pun.' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Raja berkata, 'Jika demikian berarti kamu mesti dihukum mati!'  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abdullah menjawab, 'Terserah kamu!' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian diperintahkan agar dilaksanakan hukuman mati atasnya, ia diletakkan dalam tiang salib. Raja berkata, 'Bidiklah ia dari dekat!' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Raja berkata demikian sambil menawarkan agama Nasrani kepadanya, namun ia tetap menolak. Lalu ia diturunkan dari tiang salib.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Raja kemudian meminta supaya ajudan merebus air hingga mendidih dan memanggil dua orang tawanan muslim. Salah satu dari mereka dilemparkan ke dalam periuk itu, kemudian raja menawarkan kepada Abdullah untuk pindah agama. Ia tetap menolak tawaran tersebut. Kemudian Abdullah menangis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena tangisan ini, ada seseorang yang menyampaikan kepada raja bahwa Abdullah menangis. Maka Raja pun mengira bahwa Abdullah telah berputus asa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Raja berkata, 'Bawalah kemari!'  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Raja bertanya, 'Apa yang menyebabkan kamu menangis?' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abdullah menjawab, 'Karena aku hanya mempunyai satu nyawa yang apabila dilemparkan ke dalam periuk itu maka langsung akan musnah. Aku membayangkan, alangkah bahagia sekiranya aku mempunyai nyawa sebanyak jumlah rambutku yang merasakan siksaan seperti itu dalam rangka mempertahankan agama Allah.' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Raja berkata, 'Apakah kamu bersedia mencium kepalaku, agar kamu bebas?' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abdullah menjawab, 'Bersama seluruh tawanan Muslim?' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Raja menjawab, 'Ya.'  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka Abdullah mencium kepala raja.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selanjutnya para tawanan Muslim yang telah bebas itu menghadap Umar dan menceritakan semua yang terjadi.  &lt;/div&gt;Umar berkata, 'Adalah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mencium kepala Ibnu Hudzafah, dan akulah orang yang pertama yang akan memulainya.' Lalu Umar mencium kepala Abdullah." (&lt;i&gt;Usudul Ghabah,&lt;/i&gt; 3/212.)&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/abdullah-bin-hudzafah.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-8494642725927809507</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 06:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T23:10:50.244-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fadilah Sholat</category><title>Hukum Meremehkan Shalat</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;Meremehkan shalat termasuk kemungkaran yang besar dan termasuk sifat orang-orang munafik, Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman, &lt;br /&gt;
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa’: 142), dalam ayat lain Allah berfirman, &lt;br /&gt;
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melain-kan dengan rasa enggan.” (At-Taubah: 54), Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِيْنَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang-orang munafik daripada shalat Shubuh dan shalat Isya, dan seandainya mereka mengetahui apa yang terkandung pada keduanya, tentulah mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka yang wajib atas setiap Muslim dan Muslimah adalah meme-lihara shalat yang lima pada waktunya, melaksanakannya dengan thuma’-ninah, konsentrasi dan khusyu’ serta menghadirkan hati, karena Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, &lt;br /&gt;
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.” (Al-Mukminun: 1-2). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berdasarkan riwayat dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, bahwa beliau memerin-tahkan kepada orang yang buruk dalam melakukan shalatnya karena tidak thuma’ninah agar mengulangi shalatnya. Dan kepada kaum laki-laki, hendaknya mereka memelihara shalat-shalat tersebut dengan berjama’ah di rumah-rumah Allah, yakni di masjid-masjid, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Barangsiapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas , “Apa yang dimaksud dengan udzur itu?” ia menjawab, “Takut atau sakit.” Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , bahwa beliau didatangi oleh seorang laki-laki buta, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya rukhshah untuk shalat di rumahku?” kemudian beliau bertanya,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ.&lt;/div&gt;“Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat?” ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda,&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً يَؤُمُّ النَّاسَ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُوْنَ الصَّلاَةَ فَأَحْرِقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ بِالنَّارِ.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits-hadits shahih ini menunjukkan bahwa shalat jama’ah termasuk kewajiban kaum laki-laki dan merupakan kewajiban yang paling utama, dan bahwa yang menyelisihinya berhak mendapatkan siksaan yang menyakitkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita memohon kepada Allah, semoga memperbaiki kondisi seluruh kaum Muslimin dan memberi mereka petunjuk kepada jalan yang diridhai-Nya. &lt;br /&gt;
Adapun meninggalkan shalat seluruhnya -ataupun hanya sebagian waktunya- maka ini adalah kekufuran yang besar walaupun tidak meng-ingkari kewajibannya, demikian menurut pendapat yang paling kuat di antara dua pendapat ulama, baik yang meninggalkan shalat itu laki-laki maupun perempuan, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barang-siapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga berdasarkan hadits-hadits lainnya yang berkenaan dengan masalah ini. &lt;br /&gt;
Sedangkan mengenai orang yang mengingkari kewajibannya -baik laki-laki maupun perempuan- maka pengingkarannya itu telah menjadi-kannya kafir dengan kekufuran yang besar berdasarkan kesepakatan ahlul ilmi, bahkan sekalipun ia melaksanakan shalat. Kita memohon kepada Allah untuk kita dan semua kaum Muslimin agar senantiasa dibebaskan dari yang demikian, sesungguhnya Dia sebaik-baik tempat meminta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajib bagi semua kaum Muslimin untuk saling menasehati dan saling berwasiat dengan kebenaran serta saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, di antaranya adalah dengan menasehati orang yang meninggalkan shalat jama’ah atau meremehkannya sehingga terkadang meninggalkannya, juga memperingatkannya akan kemurkaan dan siksaan Allah. Lain dari itu, hendaknya sang ayah, ibu dan saudara-saudaranya yang serumah, agar senantiasa menasehatinya, dan terus menerus mengingatkannya, mudah-mudahan Allah memberinya petunjuk sehingga ia menjadi lurus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian juga perempuan yang meninggal-kannya, mereka harus dinasehati dan diperingatkan akan murka dan siksa Allah, serta terus menerus diperingatkan. Selanjutnya, perlu mengambil tindakan dengan mengasingkan orang yang enggan dan memperlakukan-nya dengan cara yang sesuai dengan kemampuan dalam masalah ini, karena hal ini semua termasuk dalam katagori tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta amar ma’ruf dan nahyi mungkar yang telah diwajibkan Allah kepada para hamba-Nya baik yang laki-laki maupun yang perempuan, berdasarkan firman-Nya, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71). &lt;br /&gt;
Juga berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.&lt;/div&gt;“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak melaksanakannya) saat mereka telah berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari hadits ini dapat disimpulkan, bahwa anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, diperintahkan untuk shalat sejak berusia tujuh tahun, kemudian jika telah mencapai usia sepuluh tahun dan belum juga mau melaksanakannya maka mereka harus dipukul. Maka orang yang sudah baligh tentu lebih wajib lagi untuk diperintah shalat dan dipukul jika tidak melaksanakannya yang disertai dengan nasehat yang terus menerus serta wasiat dengan kebaikan dan kesabaran, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, &lt;br /&gt;
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangsiapa yang meninggalkan shalat setelah usia baligh dan enggan menerima nasehat, maka perkaranya bisa diadukan kepada mah-kamah syar’iyah sehingga ia diminta untuk bertaubat, jika tidak mau bertaubat maka dibunuh. Kita memohon kepada Allah agar memperbaiki kondisi kaum Muslimin dan menganugerahi mereka kefahaman tentang agama serta menunjukkan mereka untuk senantiasa saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, amar ma’ruf dan nahyi mungkar, serta saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, sesungguhnya Dia Maha Baik lagi Maha Mulia. &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/hukum-meremehkan-shalat.html</link><thr:total>7</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-5446955627204243176</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 06:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T23:07:55.178-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fadilah Sholat</category><title>KEWAJIBAN MENYIMAK KHUTBAH</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;Di antara kewajiban hadirin adalah mendengarkan khutbah, tidak boleh berbicara ketika imam sedang berkhutbah, hal ini menunjukkan bahwa khutbah Jum’at merupakan sesuatu yang sangat penting sehingga hadirin tidak patut menyibukkan diri dengan selainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, &lt;br /&gt;
&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;  &lt;br /&gt;
إذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Jika kami berkata kepada teman di dekatmu pada hari Jum’at, ‘Diam’, sementara imam sedang berkhutbah maka kamu telah berbuat sia-sia.&lt;/i&gt;” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna sabda Nabi saw, “&lt;i&gt;Kamu telah berbuat sia-sia.&lt;/i&gt;” Ada yang berkata, “Kamu telah gagal mendapatkan pahala.” Ada yang berkata, “Kamu telah berbicara.” Ada yang berkata, “Kamu telah melakukan kesalahan.” Ada yang berkata, “Shalat Jum’atmu batal.” Ada yang mengatakan, “Shalat Jum’atmu menjadi Zhuhur.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh al-Albani berkata, “Pendapat yang terakhir dan yang sebelumnya yang mirip dengannya adalah pendapat yang kami pegang, tafsir hadits terbaik adalah dengan hadits, dan Nabi saw telah bersabda, ‘Dan barangsiapa berbuat sia-sia dan melangkahi pundak orang-orang maka dia hanya mendapatkan pahala Zhuhur.’ Dan inilah yang dipastikan oleh Ibnu Khuzaemah dalam Shahihnya.” &lt;i&gt;Shahih at-Targhib wa at-Tarhib&lt;/i&gt; no. 716.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits yang disebutkan oleh Syaikh al-Albani di atas –dan beliau menyatakannya hasan shahih dan &lt;i&gt;Shahih at-Targhib wa at-Tarhib&lt;/i&gt; no. 721- diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Khuzaemah dari Abdullah bin Amru bin al-Ash. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika orang yang berkata kepada rekannya, “Diam.” dianggap telah &lt;i&gt;lagha&lt;/i&gt; padahal dia mengajak kepada yang baik, lalu bagaimana dengan ucapan lainnya?  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Termasuk dalam hal ini bermain-main dengan jari atau baju atau lainnya, berdasarkan sabda Nabi saw, “&lt;i&gt;Dan barangsiapa menyentuh kerikil maka dia telah lagha.&lt;/i&gt;” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah. Termasuk dalam hal ini menggerakkan tasbih dengan jari sambil berdzikir. Termasuk dalam hal ini adalah menengok kanan-kiri, memperhatikan orang-orang yang hadir dan sebagainya, karena hal tersebut menyibukkan diri dari khutbah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ada yang mengucapkan salam maka tidak dijawab saat itu, tetapi setelah khatib selesai dari khutbah pertama atau kedua, kembali kepada kapan dia mengucapkan salam. Jika bersin maka yang bersangkutan cukup tahmid dengan pelan dan yang mendengarnya tidak menjawab dengan &lt;i&gt;yarhamukallah&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika mendengar nama Nabi saw disebut, maka cukup mengucapkan shalawat dengan suara pelan agar tidak mengganggu tetangganya. Jika neraka disebut maka memohon perlindungan kepada Allah darinya dengan pelan. Jika surga disebut maka memohonnya kepada Allah dengan suara pelan. Jika khatib berdoa maka mengamini doanya dengan suara pelan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ada yang bertanya tentang sesuatu sekalipun tentang ilmu yang bermanfaat maka tidak perlu menjawabnya, Abu Dzar berkata, “Aku datang ke masjid sementara Nabi saw sedang berkhutbah, aku duduk di samping Ubay bin Kaab, Nabi saw membaca surat at-Taubah, aku bertanya kepada Ubay, ‘Kapan surat ini diturunkan?’ Ubay memandangku dengan muka masam dan tidak menjawabku, hal ini berulang tiga kali, selesai shalat aku menanyakan hal itu kepada Ubay, dia berkata, ‘Kamu tidak mendapatkan apa-apa dari shalatmu kecuali kesia-siaan yang telah kamu lakukan.’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Dzar berkata, “Lalu aku menceritakan hal ini kepada Nabi saw, maka beliau bersabda, ‘&lt;i&gt;Ubay benar&lt;/i&gt;.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaemah dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam &lt;i&gt;Shahih at-Targhib wa at-Tarhib&lt;/i&gt; no. 718. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan berbicara berlaku pada saat khatib berkhutbah, adapun sebelumnya atau sesudahnya atau di antara dua khutbah maka hal tersebut tidak mengapa, namun tidak patut kecuali berbicara dengan baik dan dalam perkara baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan berbicara tidak berlaku bagi siapa yang diajak berbicara oleh khatib, dan khatib boleh berbicara kepada sebagian hadirin begitu pun sebaliknya, sebagian hadirin boleh berbicara kepada khatib jika ada maslahat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits Anas bahwa seorang laki-laki masuk masjid di hari Jum’at sementara Rasulullah saw sedang berdiri berkhutbah, laki-laki itu berkata, “Ya Rasulullah, harta-harta binasa dan jalan-jalan terputus, berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Ini berbicaranya orang yang hadir kepada imam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits laki-laki yang masuk masjid ketika Nabi saw berkhutbah dan Nabi saw bertanya kepadanya, “&lt;i&gt;Apakah kamu sudah shalat wahai fulan?”&lt;/i&gt; Dan dia menjawab, “Belum.” Ini pembicaraan antara khatib dengan sebagian yang hadir. Wallahu a’lam. &lt;br /&gt;
(Izzudin Karimi)   &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/kewajiban-menyimak-khutbah.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-3002979347653049451</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 06:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T23:06:44.515-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fadilah Sholat</category><title>KHUTBAH JUM'AT</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;Khutbah Jum’at termasuk salah satu syarat sah shalat Jum’at, ia terdiri dari dari dua khutbah dan disampaikan sebelum shalat, hal ini berdasarkan perbuatan Nabi saw yang selalu melakukannya. Abdullah bin Umar berkata, “Nabi saw berkhutbah dengan dua khutbah dengan berdiri dan beliau memisahkan keduanya dengan duduk.” Muttafaq alaihi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Termasuk syarat sah khutbah Jum’at adalah: Hamdalah, pujian dan sanjungan kepada Allah Ta'ala, syahadatain, shalawat dan salam kepada Nabi saw, wasiat takwa, membaca al-Qur`an walaupun hanya satu ayat dan nasihat untuk hadirin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh khatib&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1- Berkhutbah di atas mimbar, hal ini berdasarkan perbuatan Nabi saw, di samping itu nasihat yang disampaikan khatib lebih mengena manakala hadirin menyaksikan khatib berbicara di depan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2- Khatib naik mimbar, menghadapkan wajahnya kepada hadirin dan mengucapkan salam kepada mereka lalu duduk menunggu adzan dari muadzin kemudian berkhutbah dengan berdiri. Jabir berkata, “Jika Rasulullah saw naik mimbar, beliau mengucapkan salam.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah saw duduk ketika beliau naik mimbar sampai muadzin selesai adzan, kemudian beliau bangkit dan berkhutbah.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3- Mengawali khutbah dengan &lt;i&gt;Khutbatul Hajah&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
إِنَّ الحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِيْنُهُ ونَسْتَغْفِـرُهُ وَنَعُوذُ باِللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُـسِـنَا وَسَـيِّئاتِ أَعْـمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، وأشهد أن لاإله إلا لله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عـبده ورسوله . &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan kepadaNya dan memohon ampunan kepadaNYa, kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.&lt;/i&gt;” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Baihaqi. Lalu membaca tiga ayat, 102 surat al Imran, 1 surat an-Nisa` dan 70 surat al-Ahzab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4- Mempersingkat khutbah dengan tetap memperhatikan sasaran dan tujuannya, berdasarkan sabda Nabi saw, &lt;br /&gt;
&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
إنَّ طُوْلَ صَلاةِ الرَجُلِ وَقِصَرِ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Lamanya shalat seseorang dan pendeknya khutbah adalah salah tanda pemahamannya.&lt;/i&gt;” Diriwayatkan oleh Muslim dari Ammar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5- Hendaknya khatib berdoa untuk kaum muslimin, doa yang mengandung kebaikan dan kemaslahatan untuk mereka, juga berdoa untuk pemimpin dan ulil amri kaum muslimin, semoga Allah membimbing mereka kepada kebaikan, karena kebaikan pemimpin adalah kebaikan masyarakat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6- Di antara yang dilakukan oleh Nabi saw di saat beliau berkhutbah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnul Qayyim dalam &lt;i&gt;Zadul Ma’ad&lt;/i&gt; 1/415 menyebutkan bahwa Nabi saw berhutbah dengan bersandar kepada tongkat atau busur sebelum beliau membuat mimbar, setelah mimbar ada maka beliau meninggalkannya, setelah hamdalah dan tasyahud beliau mengucapkan, “Amma ba’du.” Jika beliau berkhutbah maka kedua mata beliau memerah, suara beliau tinggi, seolah-olah beliau sedang memberi peringatan tentang serangan musuh, “Musuh akan menyerang kalian di pagi atau sore hari.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau memerintahkan orang yang masuk masjid untuk shalat dua rakaat, beliau memerintahkan orang yang melangkahi pundak untuk meninggalkan perbuatannya lalu duduk, beliau pernah turun dari mimbar untuk mengambil dua orang cucunya, al-Hasan dan al-Husain, lalu beliau membawa keduanya naik mimbar, beliau meminta hujan di atas mimbar ketika seorang laki-laki mengadukan kekeringan, beliau menunjuk dengan jari telunjuknya dalam khutbah pada saat menyebutkan nama Allah Ta'ala dan pada saat berdoa. Rasulullah saw mengajarkan dalam khutbahnya dasar-dasar Islam dan syariat-syariatnya kepada sahabat-sahabatnya, beliau memerintahkan dan melarang mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnul Qayyim berkata, “Barangsiapa memperhatikan khutbah-khutbah Nabi saw dan para sahabatnya niscaya dia melihatnya berisi penjelasan tentang hidayah dan tauhid, menyebutkan sifat-sifat Allah Ta'ala, dasar-dasar iman yang menyeluruh, dakwah kepada Allah, mengingatkan nikmat-nikmatNya yang menjadikanNya dicintai oleh makhlukNya, memperingatkan mereka terhadap hari perjumpaan denganNya yang membuat mereka takut terhadap siksaNya, memerintahkan mereka untuk mengingatNya dan bersyukur kepadaNya yang membuat mereka dicintai olehNya, maka mereka mengingat kebesaran Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya sehingga mereka pun menyintainya, sehingga hadirin bubar dalam keadaan menyintai Allah dan Dia menyintai mereka.” (&lt;i&gt;Zadul Ma’ad 1/409&lt;/i&gt;).  &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/khutbah-jumat.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-2011775946933654618</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 06:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T23:05:08.562-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fadilah Sholat</category><title>SHALAT JUM'AT</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;Shalat Jum’at dua raka’at ba’da khutbah, imam disunnahkan membaca surat al-A’la di raka’at pertama dan surat al-Ghasyiyah di raka’at kedua, atau surat al-Jumu’ ah dengan surat al-Munafiqun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumhur Ulama termasuk tiga imam, Malik, asy-Syafi'i dan Ahmad berpendapat bahwa makmum masbuq mendapatkan shalat Jum’at manakala dia mendapatkan satu raka’at, jika tidak maka dia shalat Zhuhur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, makmum masuk ketika imam sedang membaca surat al-Ghasyiyah, maka setelah imam salam, dia bangkit untuk shalat satu raka’at karena dia mendapatkan Jum’at, seandainya dia masuk pada saat imam ‘Sami’allahu liman hamidah’ di raka’at kedua, maka setelah imam salam dia bangkit shalat Zhuhur empat raka’at. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalil pendapat ini adalah sabda Nabi saw,   &lt;br /&gt;
&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَة . &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat itu&lt;/i&gt;.” Muttafaq alaihi dari Abu Hurairah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa makmum masbuq mendapatkan Jum’at jika dia mendapatkan tasyahud imam, maka dia cukup shalat dua rakaat setelah salam imam dan shalatnya sempurna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Waktu Shalat Jum’at&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumhur ulama berpendapat bahwa waktu shalat Jum’at adalah waktu shalat Zhuhur berdasarkan hadits Anas bahwa Nabi saw shalat Jum’at manakala matahari telah condong ke barat. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salamah bin al-Akwa’ berkata, “Kami shalat Jum’at bersama Rasulullah saw apabila matahari tergelincir, kemudian kami pulang menelusuri bayangan.” Diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ahmad berpendapat, boleh shalat Jum’at sebelum waktu Zhuhur karena waktunya mulai dari waktu shalat Id sampai akhir waktu Zhuhur, pendapat ini berdalil kepada hadits Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah saw shalat Jum’at, kemudian kami menengok unta-unta kami dan kami mengistirahatkannya manakala matahari tergelincir.” Diriwayatkan oleh Muslim, an-Nasa`i dan Ahmad. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumhur menjawab hadits Jabir bahwa ia menunjukkan kesegeraan dalam pelaksanaannya &lt;i&gt;ba’da zawal&lt;/i&gt; tanda menunggu turunnya panas matahari. Wallahu a’lam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jumlah Hadirin dalam Shalat Jum’at&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalat Jum’at dilaksanakan di suatu tempat di mana penduduknya adalah orang-orang yang tinggal permanen, bukan orang-orang yang nomaden yang hidup berpindah-pindah dan tidak menetap di suatu tempat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun tentang jumlah minimal hadirin dalam shalat Jum’at, maka banyak pendapat, Imam Abu Hanifah berpendapat empat orang termasuk imam, Imam Malik berpendapat tidak ada ketentuan jumlah, yang penting berjamaah, Imam asy-Syafi'i berpendapat empat puluh termasuk imam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pihak yang tidak menetapkan syarat jumlah tertentu berdalil kepada hadits Thariq bin Syihab bahwa Nabi saw bersabda, &lt;br /&gt;
&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;  &lt;br /&gt;
الجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إلا أَرْبَعَة عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ وَامْرَأةٌ وَصَبِيٌّ وَمَرِيْضٌ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Shalat Jum’at adalah hak wajib atas setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat: hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang sakit.&lt;/i&gt;” Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Imam an-Nawawi berkata, “Sanadnya shahih di atas syarat al-Bukhari dan Muslim.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan pihak yang mensyaratkan empat puluh, maka mereka berdalil kepada hadits Abdurrahman bin Ka’ab dari bapaknya berkata, “Orang pertama yang mendirikan shalat Jum’at untuk kami di Madinah sebelum Rasulullah saw tiba adalah As’ad bin Zurarah di Naqi’ al-Khadhamat.” Aku bertanya, “Berapa jumlah kalian saat itu?” Dia menjawab, “Empat puluh.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Baihaqi. An-Nawawi berkata, “Hadits hasan.” Wallahu a’lam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hari Raya di hari Jum’at&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka gugur kewajiban shalat Jum’at bagi siapa yang hadir di shalat Id, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Iyas bin Abu Ramlah asy-Syami berkata, aku melihat Mu'awiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah kamu pernah menyaksikan dua hari Raya dalam satu hari bersama Rasulullah saw?” Zaid menjawab, “Ya.” Mu'awiyah bertanya, “Lalu apa yang beliau lakukan?” Zaid menjawab, “Beliau shalat Id kemudian memberikan keringanan untuk Jum’at, beliau bersabda, ‘&lt;i&gt;Barangsiapa berkenan untuk shalat maka hendaknya dia shalat.&lt;/i&gt;’ Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Wallahu a’lam.    &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/shalat-jumat.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-1731730033215562248</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 06:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T23:02:12.847-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Ummul Mukminin ‘AISYAH BINTI ABU BAKAR (Wafat 57 H) -1</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah yang telah banyak dikenal. Aisyah laksana lautan luas dalam kedalaman ilmu dan takwa. Di kalangan wanita, dialah sosok yang banyak menghafal hadits-hadits Nabi, dan di antara istri-istri Nabi, dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki istri Nabi yang lain. Ayahnya adalah sahabat dekat Rasulullah yang menemani beliau hijrah. Berbeda dengan istri Nabi yang lain, kedua orang tua Aisyah melakukan hijrah bersama Rasulullah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika wahyu datang kepada Rasulullah, Jibril membawa kabar bahwa Aisyah adalah istrinya di dunia dan akhirat, sebagaimana diterangkan di dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah : &lt;i&gt;‘Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutera hijau kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam., lalu berkata, ini adalah istrimu di dunia dan akhirat.” &lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Allah yang menerangkan kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Nasab dan Masa KeciI Aisyab &lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah adalah putri Abdullah bin Quhafah bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Marrah bin Ka’ab bin Luay, yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq dan berasal dari suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah. Ayahnya adalah ash-Shiddiq dan orang pertama yang mempercayai Rasulullah ketika terjadi Isra’ Mi’raj, saat orang-orang tidak mempercayainya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut riwayat, ibunya bernama Ummu Ruman. Akan tetapi, riwayat-riwayat lain mengatakan bahwa ibunya adalah Zainab atau Wa’id binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams. Aisyah pun digolongkan sebagai wanita pertama yang masuk Islam, sebagaimana perkataannya, “Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah menganut Islam.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ummu Ruman memberikan dua orang anak kepada Abu Bakar, yaitu Abdurrahman dan Aisyah. Anak Iainnya, yaitu Abdullah dan Asma, berasal dan Qatlah binti Abdul Uzza, istri pertama yang dia nikahi pada masa jahiliyah. Ketika masuk Islam, Abu Bakar menikahi Asma binti Umais yang kemudian melahirkan Muhammad, juga menikahi Habibah binti Kharijah yang melahirkan Ummu Kultsum. Aisyah dilabirkan empat tahun sesudah Nabi diutus menjadi Rasulullah. Ketika dakwah Islam dihambat oleh orang-orang musyrik, Aisyah melihat bahwa ayahnya menanggung beban yang sangat besar. Semasa kecil dia bermain- main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah usianya belum genap sepuluh tahun. Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwâ Rasulullah membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Pernikahan yang Penuh Berkah&lt;/b&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dua tahun setelah wafatnya Khadijah radhiallahu ‘anha, datang wahyu kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. untuk menikahi Aisyah radhiallahu ‘anha. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah itu Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutera seraya berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Ketika aku membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya, ‘Jika ini benar dari Allah, niscaya akan terlaksana.” Mendengar kabar itu, Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah setuju menikahi putri mereka, Aisyah. Beliau mendatangi rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. hijrah ke Madinah bersama para sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di Mekah. Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk menjemput mereka, termasuk di dalamnya Aisyah . Karena cuaca buruk yang melanda Madinah, Aisyah sakit keras dan badannya menyusut seperti juga dialami orang-orang Muhajirin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menyaksikan hal itu, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah karni sebagai orang yang mencintai Madinah sebagaimana cinta kami kepada Mekah, atau bahkan lebih lagi. Sembuhkanlah penghuninya dan penyakit. Berikanlah keberkahan kepada kami dalam timbangan dan takarannya. Lindungilah kami dan penyakit, dan alihkanlah penyakit itu ke Juhfah.” Allah mengabulkan doa Rasulullah, dan cuaca berangsur membaik, sehingga hilanglah penyakit yang melanda kaum muhajirin. Aisyah pun sembuh dan bersiap-siap menghadapi hari pernikahan dengan Rasuhillah Shallallahu alaihi wassalam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan izin Allah menikahlah Aisyah dengan maskawin lima ratus dirham. Ketika ditanya oleh Abu Salamah bin Abdurrahman tentang jumlah mahar yang diberikan Rasulullah: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Aisyab menjawab, Mahar Rasulullah kepada istri-irstrinya adalah dua belas uqiyah dan satu nasy. Tahukah kamu satu nasy itu? Dijawab, Tidak. Kemudian lanjut Aisyah. Satu nasy itu sama dengan setengah uqiyah, yaitu lima ratus dirham. Maka inilah mahar Rasulullah terhadap istri-istri beliau.“ &lt;/i&gt;(HR. Muslim)  &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Istri Kecintaan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. &lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah tinggal di kamar yang berdampingan dengan Masjid Nabawi. Di kamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu. Di hati Rasulullah, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan itu tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan, “Cinta pertama yang terjadi di dalam Islam adalah cintanya Rasulullah kepada Aisyah.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di dalam riwayat Tirmidzi dikisahkan, “Bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah di hadapan Ammar bin Yasir sehingga Ammar berseru kepadanya, ‘Sungguh celaka kamu. Kamu telab menyakiti istri kecintaan Rasulullah’.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain itu ada juga kisah lain yang menunjukkan besarnya cinta Nabi kepada Aisyah, dan itu sudah diketahui oleh kaurn muslimin saat itu. Oleh karena itu, kaum muslimin senantiasa menanti-nanti datangnya hari giliran Rasulullah pada Aisyah sebagai hari untuk menghadiahkan sesuatu kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Keadaan seperti itu menimbulkan kecemburuan di kalangan istri Rasulullah lainnya. Tentang hal itu Aisyah pernah berkata : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Orang-orang berbondong-bondong memberi hadiah pada hari giliran Rasulullah padaku. Karena itu, teman-temanku (istri Nabi yang lainnya) berkumpul di tempat Ummu Salamah. Mereka berkata, ‘Hai Ummu Salamah, demi Allah, orang-orang berbondong-bondong mernberikan hadiah pada hari giliran Rasulullah di rumah Aisyah, sedangkan kita juga ingin rnemperoleh kebaikan sebagaimana yang diinginkan oleh Aisyah.’ Melihat reaksi seperti itu, Rasulullah meminta kaum muslimin untuk memberikan hadiah kepada beliau pada hari giliran istri Rasulullah yang mana saja. Ummu Salamah pun telah menyatakan keberatan kepada Rasulullah. Dia berkata, “Rasulullah berpaling dariiku. Ketika beliau mendatangi aku, akupun kembali mernperingatkan hal itu, tetapi beliau berbuat hal yang serupa. Ketika aku rnenginatkan beliau untuk yang ketiga kalinya, beliau tetap berpaling dariku, sehingga akhirnya beliau bersabda, ‘Demi Allah, wahyu tidak turun kepadaku selama aku berada di dekat kalian, kecuali ketika aku dalam satu selimut bersama Aisyah.” (HR. Muslim) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah terhadap Aisyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan Aisyah yang sangat terhormat. Bahkan ketika Aisyah wafat, Ummu Salamah berkata, ”Demi Allah, dia adalah manusia yang paling beliau cintai setelah ayahnya (Abu Bakar).” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu waktu, Rasulullah ditanya oleh Amru bin ‘Aash, &lt;i&gt;“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah!” Amru bertanya lagi, “Dan dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya!”&lt;/i&gt; (Hadits muttafaqirn ‘alaihi) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di antar istri-istri Rasulullah, Saudah binti Zum’ah sangat memahami keutamaan- keutamaan Aisyah, sehingga dia merelakan seluruh malam bagiannya untuk Aisyah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu hari Shafiyah bin Huyay meminta kerelaan Rasulullah melalui Aisyah, yaitu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Aisyah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Suatu ketika Rasulullah enggan mendekati Shafiyah binti Huyay bin Ahthab. Karena itu Shafyyah berkata kepada Aisyah, ‘Hai Aisyah, apakah engkau dapat merelakan Rasulullah kepadaku? Dan engkau akan mendapatkan hari bagianku. ‘Aisyab menjawab, ‘Ya!’ Kernudian Aisyah mengambil kerudung yang ditetesi za’faran dan disiram dengan air agar lebih harum. Setelah itu dia duduk di sebelah Rasulullah, narnun beliau bersabda, ‘Ya Aisyah, menjauhlah engkau dariku. Hari ini bukan hari bagianmu. ‘Aisyah berkata, ‘Ini adalah keutamaan yang diberiikan Allah kepada dia yang dikehendaki-Nya.’ Aisyah kemudian menceritakan duduk permasalahannya dan Rasulullah pun rela kepada Shafyyah.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang menjadikan Rasulullah rela. Dia menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk Rasulullah. Menjelang wafat, Rasulullah meminta izin kepada istri-istrinya untuk beristirahat di rumah Aisyah selama sakitnya hingga wafatnya. Dalam hal ini Aisyah berkata, &lt;i&gt;“Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di pangkuanku.”&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Fitnah Terhadapnya &lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah pernah mengalami fitnah yang mengotori lembaran sejarah kehidupan sucinya, hingga turun ayat Al-Q ur’an yang menerangkan kesucian dirinya. Kisahnya bermula dari sini. Seperti biasanya, sebelum berangkat perang, Rasulullah mengundi istrinya yang akan menyertainya berperang. Ternyata undian jatuh kepada Aisyah, sehingga Aisyah yang menyertai beliau dalam Perang Bani al-Musthaliq. Saat itu bertepatan dengan turunnya perintah memakai hijab. Setelah perang selesai dan kaum muslimin memetik kemenangan, Rasulullah kembali ke Madinah. Ketika tentara Islam tengah beristirahat di sebuah pelataran, Aisyah masih berada di dalam sekedup untanya. Pada malam harinya, Rasulullah mengizinkan rombongan berangkat pulang. Ketika itu Aisyah pergi untuk hajatnya, dan kembali. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ternyata, kalung di lehernya jatuh dan hilang, sehingga dia keluar dan sekedup dan mencari-cari kalungnya yang hilang. Ketika pasukan siap berangkat, sekedup yang mereka angkat ternyata kosong. Mereka mengira Aisyah berada di dalam sekedup. Setelah kalungnya ditemukan, Aisyah kembali ke pasukan, namun alangkah kagetnya karena tidak ada seorang pun yang dia temukan. Aisyah tidak meninggalkan tempat itu, dan mengira bahwa penuntun unta akan tahu bahwa dirinya tidak berada di dalamnya, sehingga mereka pun akan kembali ke tempat semula. Ketika Aisyah tertidur, lewatlah Shafwan bin Mu’thil yang terheran-heran melihat Aisyah tidur. Dia pun mempersilakan Aisyah menunggangi untanya dan dia menuntun di depannya. Berawal dari kejadian itulah fitnah tersebar, yang disulut oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika tuduhan itu sarnpai ke telinga Nabi, beliau mengumpulkan para sahabat dan meminta pendapat mereka. Usamah bin Zaid berkata, “Ya Rasulullah, dia adalah keluargamu … yang kau ketahui hanyalah kebaikan semata.“ Ali juga berpendapat, “Ya Rasulullah, Allah tidak pernah mempersulit engkau. Banyak wanita selain dia.” Dari perkataan Ali, ada pihak yang memperuncing masalah sehingga terjadilah pertentangan berkelanjutan antara Aisyah dan Ali. Mendengar pendapat-pendapat dari para sahabat Nabi, bentambah sedihlah Aisyah, terlebih setelah dia melihat adanya perubahan sikap pada diri Nabi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika Aisyah sedang duduk-duduk bersarna orang tuanya, Rasulullah menghampirinya dan bersabda: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Wahai Aisyah aku mendengar berita bahwa kau telah begini dan begitu. Jika engkau benar-benar suci, niscaya Allah akan menyucikanmu. Akan tetapi, jika engkau telah berbuat dosa, bertobatlah dengan penuh penyesalan, niscaya Allah akan mengampuni dosamu.” Aisyah menjawab, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau telah mendengar kabar inmi, dan ternyata engkau mempercayainya. Seandainya aku katakan bahwa aku tetap suci pun, niscaya hanya Allahlah yang mengetahui kesucianku, dan tentunya engkau tak akan mempercayaiku. Akan tetapi, jika aku mengakui perbuatan itu, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tetap suci, maka kau akan mempercayai perkataanku. Aku hanya dapat mengatakan apa yang dikatakan Nabi Yusuf, ‘Maka bersabar itu lebih baik’. Dan Allah pula yang akan menolong atas apa yang engkau gambarkan.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah sangat mengharapkan Allah menurunkan wahyu berkaitan dengan masalahnya, namun wahyu itu tidak kunjung turun. Baru setelah beberapa saat, sebelum seorang pun meninggalkan rumah Rasulullah, wahyu yang menerangkan kesucian Aisyah pun turun kepada beliau. Rasulullah segera menemui Aisyah dan berkata, “Hai Aisyah, Allah telah menyucikanmu dengan firman-Nya : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”&lt;/i&gt; (QS. An-Nuur : 11)  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah kemulian yang disandang Aisyah, sehingga bertambahlah kemuliaan dan keagungannya di hati Rasulullah. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Perjalanan Hidup yang Mulia &lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada hakikatnya, setiap manusia memiliki kelemahan, begitu juga halnya dengan Aisyah, yang selain memiliki kehormatan dan martabat juga memiliki kekurangan. Dalam hal ini dia pernah berkata, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Aku tidak pernah melihat pembuat makanan seperti Shafiyyah. Dia selalu menghadiahi makanan kepada Rasulullah. Tanpa sadar aku pernah memecahkan tempat makanan yang dibawa Shafiyyah. Aku bertanya kepada Rasulullah apa yang dapat dijadikan sebagai tempat yang pecah itu. Rasulullab menjawab, ‘Tempat diganti dengan tempat dan makanan diganti dengan makanan.“ (HR. Bukhari) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah pernah berkata : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, meminta izin kepada Rasulullah. Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. merasa bahwa cara Halah meminta izin sama dengan cara Khadijah meminta izin, dan beliau merasa senang atas semua itu. Lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, inilah Halah binti Khuwailid.’ Aku berkata, ‘Apa yang engkau sebut itu adalab seorang nenek dari nenek-nenek kaum Quraisy, yang kedua sudut mulutnya merah. Dia telah tua renta ditelan masa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga Allah memberi untukmu pengganti yang lebih baik daripada dia.‘ Mendengar itu Rasulullah menjawab, ‘Allah tidak akan memberikan pengganti yang lebib baik darpada Khadijah. Dia telah beriman kepadaku ketika orang lain mengingkariku. Dia telah mempercayaiku ketika orang lain mendustakanku. Dia telah mendermakan harta bendanya untuk perjuanganku ketika orang lain menolak memberikan harta mereka. Allah telah memberkahiku dengan putra-putri lewat Khadijah ketika yang lain tidak memberiku anak.” (HR. Ahmad dan Muslim) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terdapat beberapa pendirian yang tegas dan pemecahan problema hukum yang penting, baik khusus yang berkaitan dengan wanita maupun secara umum yang berkaitan dengan kehidupan kaum muslimin secara umum. Diriwayatkan bahwa pada zaman dahulu seorang laki-laki dapat menceraikan istrinya dengan sekehendak hati. Wanita itu akan kembali menjadi istrinya jika suaminya membujuk kembali dalam keadaan iddah, sekalipun dia telah menceraikannya seratus kali. Bahkan suami itu berkata kepada istrinya, “Demi Allah, aku akan menceraikanmu sehingga engkau menjadi jelas, dan aku tidak akan memberimu nafkah selamanya”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Istrinya menemui Aisyah dan menceritakan. Dia menjawab, Aku menceraikanmu jika iddahmu hampir berakhir, dan jika engkau telah suci kembali, aku akan merujukmu kembali. Istrinya menemui Aisyah dan menceritakan masalah yang dihadapinya. Aisyah terdiarn hingga Rasulullah datang. Beliau pun diam tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut hingga turunlah ayat : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma‘ruf atau menceraikannya dengan cara yang baik….” &lt;/i&gt;(al-Baqarah : 229)  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam penetapan hukum pun, Aisyah kerap langsung menemui wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Suatu ketika dia mendengar bahwa kaum wanita dari Hamash di Syam mandi di tempat pemandian umum. Aisyah mendatangi mereka dan berkata, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda, ‘Perempuan yang menanggalkan pakaiannya di rumah selain rumah suaminya maka dia telah membuka tabir penutup antara dia dengan Tuhannya.“ &lt;/i&gt;(HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah)  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah pun pernah menyaksikan adanya perubahan pada pakaian yang dikenakan wanita-wanita Islam setelah Rasulullah wafat. Aisyah menentang perubahan tersebut seraya berkata, “Seandainya Rasulullah melihat apa yang terjadi pada wanita (masa kini), niscaya beliau akan melarang mereka memasuki masjid sebagaimana wanita Israel dilarang memasuki tempat ibadah mereka.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di dalam Thabaqat Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman menemui Ummul-Mukminin Aisyah . Ketika itu Hafsyah mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang tebal. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt;  Buku &lt;i&gt;Dzaujatur-Rasulullah&lt;/i&gt;, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dinukil oleh :&lt;/b&gt; Abu Thalhah Andri Abdul Halim &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/ummul-mukminin-aisyah-binti-abu-bakar_05.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-4163295624938132790</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 06:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T23:00:30.255-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Ummul Mukminin ‘AISYAH BINTI ABU BAKAR (Wafat 57 H) -2</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Hadist yang Diriwayatkan Aisyah &lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai masalah-masalah keagamaan, baik yang dikaji dari Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi, maupun ilmi fikih. Tentang masalah ilmu-ilmu yang dimiliki Aisyah ini, di dalam Al-Mustadrak, al-Hakim mengatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan Aisyah. Abu Musa al-Asya’ari berkata, “Setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada Aisyah.” Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Aisyah pun sering mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan untuk kemudian dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya. Salah satu contoh adalah perkataan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika itu Abu Hurairah merujuk hadits yang diriwayatkan oleh Fadhi ibnu Abbas bahwa barang siapa yang masih dalam keadaan junub pada terbit fajar, maka dia dilarang berpuasa. Ketika Abu Hurairah bertanya kepada Aisyah, Aisyah menjawab, “Rasulullah pernah junub (pada waktu fajar) bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan puasanya.” Setelah mengetahui hal itu, Abu Hurairah berkata, “Dia lebih mengetahui tentang keluarnya hadits tersebut.” Kamar Aisyah lebih banyak berfungsi scbagai sekolah, yang murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru untuk menuntut ilmu. Bagi murid yang bukan mahramnya, Aisyah senantiasa membentangkan kain hijab di antara mereka. Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari A1-Qur’an dan Sunnah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau, sebagairnana perkataannya ini : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.“&lt;/i&gt; (HR. Bukhari)  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dia memperoleh ilmu langsung dan Rasulullah sebagaimana ungkapannya ini : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut….’ (QS. Al-Mu’minun: 60). Apakah yang dimaksud dengan ayat di atas adalah para peminum khamar dan pencuri?” Beliau menjawab, ‘Bukan, putri ash-Shiddiq! Mereka adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi takut (amal mereka tidak diterima). Mereka menyegerakan diri dalam kebaikan, tetapi mendahului (menentukan sendiri) kebaikan tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah berkata lagi: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang firman Allah: ‘Yauma tabdalul-ardhu ghairal-ardha was-samawati. Di manakah manusia berada, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Manusia berada di atas shirath.“ (HR. Muslim) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wassalam, sehingga para ahli hadits menernpatkan dia pada urutan kelima dari para penghafal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas. Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun, yaitu meriwayatkan hadits yang langsung dia peroleh dan Rasulullah dan menghafalkannya di rumah. Karena itu, sering dia meriwayatkan hadits yang tidak pernah diriwayatkan oleh perawi hadits lain. Para sahabat penghafal hadits sering mengunjungi rurnah Aisyah untuk langsung memperoleh hadits Rasulullah karena kualitas kebenarannya sangat terjamin. Jika berselisih pendapat tentang suatu masalah, tidak segan-segan mereka meminta penyelesaian dari Aisyah. Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, anak saudara laki-laki Aisyah, mengatakan bahwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Aisyah rnenjadi penasihat pemerintah hingga wafat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah dikenal sebagai perawi hadits yang mengistinbath hukum sendiri ketika kejelasan hukumnya tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan hadits lain. Dalam hal ini, Abu Salamah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih mengetahui Sunnah Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika dia berpendapat, lebih mengetahui bagaimana Al-Qur’an turun, serta lebih mengenal kewajibannya selain Aisyah.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu ketika Saad bin Hisyam menemui Aisyah, dan berkata, “Aku ingin bertanya tentang bagaimana pendapatmu jika aku tetap membujang selamanya.” Aisyah menjawab, “Janganlah kau lakukan hal itu, karena aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda tentang firman Allah: ‘Telah kami utus rasul-rasul sebelummu, dan Kami telah ciptakan bagi mereka istri-istri dan keturunan.’ Oleh karena itu, janganlah kamu membujang.” Urwah bin Zubeir, salah seorang murid Aisyah, sangat mengagumi keluarbiasaan penguasaan ilmu Aisyah. Dia berkata, &lt;i&gt;“Aku berpikir tentang urusanmu. Sungguh aku mengagumimu. Menurutku engkau adalah manusia yang paling banyak mengetahui sesuatu.” &lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah berkata, “Apa yang menyebabkanmu berpendapat seperti itu?” Dia menjawab, “Engkau adalah istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan putri Abu Bakar. Engkau mengetahui hari-hari, nasab, dan syair orang-orang Arab.” Dia berkata lagi, “Apa yang menyebabkan engkau dan ayahmu menjadi orang yang paling pandai dariipada seluruh orang Quraisy? Aku sangat mengagumi kepandaianmu tentang ilmu medis. Dari manakah engkau mendapatkan ilmu itu?” Aisyah menjawab, “Wahai Urwah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sering sakit, sehingga dokter-dokter Arab dan bukan Arab datang mengobati beliau. Dari merekalah aku belajar.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tentang penguasaan bahasa dan sastranya, kembali Urwah berkomentar, “Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih fasih dariipada Aisyah selain Rasulullah sendiri.” Al-Ahnaf bin Qais berkata, “Aku telah mendengar khutbah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Alii bin Abi Thalib. Hingga saat ini aku belum pernah mendengar satu perkataan pun dari makhluk Tuhan yang lebih berisi dan baik daripada perkataan Aisyah.” Salah satu contoh kefasihannya dapat kita lihat dari kata-katanya pada kuburan ayahnya, Abu Bakar : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Allah telah mengilaukan wajahmu, dan bersyukur atas kebaikan yang telah engkau perbuat. Engkau merendahkan dunia karena engkau berpaling darinya. Akan tetapi, untuk engkau adalah mulia, karena engkau selalu menghadap untuknya. Kalau peristiwa terbesar setelah Rasulullah wafat dan musibah terbesar adalah kematianmu, Kitab Allah rnenghibur dengan kesabaran dan menggantikan yang baik selainmu. Aku merasakan janji Allah yang telah ditetapkan bagirnu dan ikhlas atas kepergianmu. Dengan memohon dari-Nya gantimu dan aku berdoa untukmu. Kami hanyalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Bagimu salam sejahtera dan rahmat Allah.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari Aisyah pun sering keluar kata-kata hikmah yang terkenal, seperti : &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Bagi Allah mutiara takwa. Takkan ada kesembuhan bagi orang yang di dalarn hatinya terbersit kemarahan. Pernikahan adalah perbudakan, maka seseorang hendaklah melihat kepada siapa dia mengabdikan putri kemuliaannya.”&lt;/i&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Rasulullah Wafat dan Dikuburkan di Kamarnya &lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi Aisyah, menetapnya Rasulullah selama sakit di kamarnya merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat beliau hingga akhir hayat. Di bawah ini dia melukiskan detik-detik terakhir beliau menjelang wafat : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sungguh merupakan nikmat Allah bagiku, Rasulullab wafat di rurnahku pada hariku dan dalam dekapanku. Allah telah menyatukan ludahku dan ludah beliau menjelang wafat. Abdurrahman menemuiku, di tangannya tergenggam siwak, sementara aku menyandarkan beliau. Aku melihat beliau menoleh ke arah Abdurrahman, aku segera memahami bahwa beliau menyukai siwak. Aku berbisik kepada beliau, ‘Bolehkah aku haluskan siwak untukmu?’ beliau memberi isyarat dengan kepala, sepertinya mengisyaratkan ‘ya’. Kemudian beliau menyuruhku menghentikan menghaluskan siwak, sernentara di tangan beliau ada bejana berisi air. Beliau mernasukkan kedua belab tangan dan mengusapkannya ke wajah seraya berkata, ‘Laa ilaaha illahu… setiap kematian mengalami sekarat (beliau mengangkat tangannya)… pada Allah Yang Maha Tinggi. ‘Beliau menggenggam tangan dan perlahan-lahan tangan beliau jatuh ke bawab.“ (HR. Muttafaq Alaih) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dikuburkan di kamar Aisyah, tepat di tempat beliau meninggal. Sementara itu, dalam tidurnya, Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya. Ketika dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, Abu Bakar berkata, “Jika yang engkau lihat itu benar, maka di rumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling mulia di muka bumi.” Ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar berkata, “Beliau adalah orang yang paling mulia di antara ketiga bulanmu.” Ternyata Abu Bakar dan Umar dikubur di rumah Aisyah. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Setelah Rasulullah Wafat &lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah Rasulullah wafat, Aisyah senantiasa dihadapkan pada cobaan yang sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati yang sabar, penuh kerelaan terhadap takdir Allah, dan selalu berdiam diri di dalam rumah semata-mata untuk taat kepada Allah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah berrnaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul-bait, dan membersihkan kamu sebersih- bersihnya.”&lt;/i&gt; (QS. Al-Ahzab:33)  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rumah Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru untuk menimba ilmu atau untuk berziarah ke makam Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Ketika istri-istri Nabi hendak mengutus Utsman menghadap Khalifàh Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi yang merupakan bagian mereka, Aisyah justru berkata, “Bukankah Rasulullah telah berkata, ‘Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semasa kekhalifahan Abu Bakar, kadar keilmuan Aisyah tidak begitu tampak di kalangan kaum muslimin, karena dengan jarak waktu wafatnya Rasulullah sangat dekat, juga karena kaum muslimin sedang disibukkan oleh perang Riddah (perang melawan kaum murtad). Setelah dua tahun tiga bulan dan sepuluh malam, khalifah pertama, Abu Bakar, meninggal dunia. Sebelum meninggal, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya agar menguburkannya di sisi Rasulullah. Aisyah melaksanakan perintah ayahnya, dan ketika Abu Bakar rneninggal, Aisyah menguburkan jenazahnya di sisi Nabi, kepalanya diletakkan pada sisi pundak Nabi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilmu Aisyah mulai tampak pada masa kekhalifahan Umar, sehingga para sahabat besar senantiasa merujuk pendapat Aisyah jika mereka dihadapkan pada permasalahan- permasalahan yang berkenaan dengan kaum muslimin. Di dalam Thabaqat, dari Mahmud bin Luhaid, lbnu Saad berkata, “Para istri Nabi banyak rnenghafal hadits Nabi, namun hafalan Aisyah dan Ummu Salamah tidak ada yang dapat menandingi. Aisyah adalah penasihat kekhalifahan Umar dan Utsman hingga dia meninggal. Pada waktu itu, Umar sangat memperhatikan keadaan istri-istri Nabi. Tentang hal itu Aisyah berkata, ‘Umar bin Khaththab selalu memperhatikan keadaan kami dari ujung kepala sampai ujung kaki. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia memiliki tempat kurma besar yang selalu diisi buah-buahan dan kemudian dikirimkan kepada istri-istrii Nabi Shallallahu alaihi wassalam.’ Begitu juga dengan Utsman bin Affan. Aisyah sangat menghormati Utsman karena kedudukannya sangat terhormat di hati Rasulullah. Utsman bin Affan memiliki kedermawanan dan rasa malu yang besar, sehingga Aisyah pernah berkata, ‘Nabi Shallallahu alaihi wassalam. sangat malu jika bertemu dengan Utsman. Jika Nabi bertemu dengannya, beliau akan duduk di sampingnya dan merapikan bajunya.’ Ketika Aisyah menanyakan hal itu, beliau menjawab, ‘Aku merasa malu kepada seseorang yang kepadanya malaikat sangat malu.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di dalam hadits Nabi, Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah berwasiat kepada Utsman agar jangan turun dari kekhalifahan jika belum terlaksana dengan sempurna. Beliau bersabda, “Wahai Utsman, sesungguhnya pada suatu hari nanti Allah akan mengangkatmu dalam urusan ini. Jika orang-orang munafik menginginkan agar engkau meninggalkan baju kebesaran yang Allah pakaikan kepadamu, janganlah engkau melepaskannya.” Beliau mengulang perkataan tersebut tiga kali. Ketika Utsman meninggal di tangan pemberontak, Aisyahlah yang pertama menuntut balas atas kematiannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berkaitan dengan masalah permusuhan Aisyah dan Ali, terdapat hadits dari Aisyah sendiri yang menetralkan isu tersebut. Aisyah dan Ali memiliki kedudukan yang mulia dan terhormat, dan tentunya Aisyah tidak akan melupakan bahwa Ali adalah anak paman Rasulullah sekaligus sebagai suami dari putri Rasulullah. Aisyah pun tentu tidak akan melupakan kegigihan Ali dalam berjihad di jalan Allah dan menjadi orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak. Isu pertentangan Ali dan Aisyah tentu saja tidak beralasan karena Aisyah sangat meyakini kualitas ilmu dan sifat amanah Ali. Ketika Suraih bin Hani menanyakan kepada Aisyah tentang mengusap khuffain (penutup kepala) ketika berwudhu, maka Aisyah menjawab, “Datanglah kepada Ali, karena dia selalu bepergian (safar) bersama Rasulullah.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah Ali wafat, Aisyah senantiasa berada di rumah dan memberikan pelajaran hadits dan tafsir ayat Al-Qur’an. Aisyah tidak pernah rela membiarkan sepak terjang Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang banyak bertentangan dengan syariat Islam walaupun Mu’awiyah senantiasa berusaha menarik simpatik dan kerelaan Aisyah. Suatu saat, Mu’awiyah mengutus seseorang untuk meminta fatwa kepada Aisyah yang isinya, “Tuliskan untukku, dan jangan terlalu banyak!” Aisyah menjawab, “Salam sejahtera buatmu. Aku mendengar Rasululiah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda, ‘Barang siapa yang mencari keridhaan Allah sementara manusia marah, niscaya Allah cukupkan baginya pemaafan manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, niscaya Allah wakilkan masalah tersebut kepada manusia. Salam sejahtera untukmu.” &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Wafatnya Aisyah &lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 tahun, bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun ke-58 hijriah, dan dikuburkan di Baqi’. Kehidupan Aisyah penuh kernuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada Rasulullah, selalu beribadah, serta senantiasa melaksanakan shalat malam. Bahkan dia sering memberikan anjuran untuk shalat malam kepada kaum muslimin. Dari Abdullah bin Qais, Imam Ahmad menceritakan, “Aisyah berkata, ‘Janganlah engkau tinggalkan shalat malam, karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau sedang malas, beliau melakukannya sambil duduk.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aisyah memiliki kebiasaan untuk memperpanjang shalat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Abdullah bin Abu Musa, “Mudrik atau Ibnu Mudrik mengutusku kepada Aisyah untuk menanyakan segala urusan. Aku tiba ketika dia sedang shalat dhuha, lalu aku duduk sampai dia selesai melaksanakan shalat. Mereka berkata, ‘Sabar-sabarlah kau menunggunya.” Aisyah pun senantiasa memperbanyak doa, sangat takut kepada Allah, dan banyak berpuasa sekalipun cuaca sedang sangat panas. Di dalam Musnadnya, Ahmad berkata, “Abdurrahman bin Abu Bakar menemui Aisyah pada hari Arafah yang ketika itu sedang berpuasa sehingga air yang dia bawa disiramkan kepada Aisyah. Abdurrahman berkata, ‘Berbukalah.’ Aisyah menjawab, ‘Bagaimana aku akan berbuka sementara aku mendengar Rasulullah telah bersabda, ‘Sesungguhnya puasa pada hari Arafah akan menebus dosa-dosa tahun sebelumnya.” &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga di dalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Nabi Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda, “Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di dalam riwayat lain dikatakan, &lt;i&gt;“Aku didatangi oleh seorang ibu yang membawa dua orang putrinya. Dia meminta sesuatu dariku sedangkan aku tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada mereka selain satu biji kurma. Aku memberikan kurma itu kepadanya, dan ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Dia berdiri kern udian pergi. Setelab itu Rasulullab masuk dan bersabda, ‘Barang siapa mengasuh anak-anak itu dan berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan rnenjadi penghalang baginya dari api neraka.“ &lt;/i&gt;(HR. Muttafaq Alaihi). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada juga riwayat lain yang membuktikan kedermawanan Aisyah. Urwah berkata, “Mu’awiyah memberikan uang sebanyak seratus ribu dirham kepada Aisyah. Demi Allah, sebelum matahari terbenam, Aisyah sudah membagi-bagikan sernuanya. Budaknya berkata, ‘Seandainya engkau belikan daging untuk kami dengan uang satu dirham.’ Aisyah menjawab, ‘Seandainya engkau katakan hal itu sebelum aku membagikan seluruh uang itu, niscaya akan aku lakukan hal itu untukmu.” &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Aisyah  dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt;  Buku &lt;i&gt;Dzaujatur-Rasulullah&lt;/i&gt;, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dinukil oleh :&lt;/b&gt; Abu Thalhah Andri Abdul Halim &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/ummul-mukminin-aisyah-binti-abu-bakar.html</link><thr:total>2</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-6492241615863876202</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 05:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T22:57:38.723-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Islami</category><title>PENGHAPUS-PENGHAPUS DOSA</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Termasuk bentuk kemurahan Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; kepada kita adalah, Dia mensyari’atkan kepada kita sebagian amalam-amalan yang dapat menhapuskan dosa dan kesalahan. Dan sebagiannya telah datang dalam Al-Quran dan yang lainnya dalam as-Sunnahm Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; telah menulis sbuah kitab dengan judul “Ma’rifatul Khishaal Mukaffiratu adz-Dzunub al-Muqaddamah Wa al-Muakhkharah” yang artinya “Mengetahui Penghapus-Penghapus Dosa Yang Lalu dan Yang Akan Datang” dan kami telah meringkas perkara-perkara tersebut dari kitab ini dan selainnya yang membahas tema yang sama yaiut tentang hal-hal yang bisa menhapuskan dosa. Kami meminta kepada Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; dengan Asmaul Husna dan Sifatnya yang tinggi agar memberikan manfaat kepada kami dan kepada seluruh kaum muslimin dengan apa-apa yang ada di dalamnya. Dan berikut ini sebagian amalan yang dapaat menhapuskan dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt; 1.Menyempurnakan wudhu dan berjalan menuju masjid&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt;, bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات قالوا بلى يا رسول الله قال إسباغ الوضوء على المكاره وكثرة الخطا إلى المساجد وانتظار الصلاة بعد الصلاة فذلكم الرباط فذلكم الرباط فذلكم الرباط &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
رواه مالك ومسلم والترمذي والنسائي وابن ماجه بمعناه&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu dengannya Allah menghapuskan dosa dan ,meningkatkan derajat?” mereka berkata:’Tentu wahai Rasulullah ‘. Beliau menjawab:”Sempurnakanlah wudhu walaupun dalam kondisi tidak menyenangkan, memperbanyak langkah menuju masjid dan menunggu shalat setelah shalat, maka itu adalah &lt;i&gt;ribath&lt;/i&gt;, itu adalah &lt;i&gt;ribath&lt;/i&gt;, itu adalah &lt;i&gt;ribath&lt;/i&gt; (berjaga-jaga di daerah perbatasan musuh)” (Dtrtwayatkan oleh Imam Malik, Muslim, at-Tirmidzi dll. Lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhiib 185) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt; 2.Puasa hari ‘Arafah dan ‘Asyuraa’&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;صيام يوم عرفة إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله و السنة التي بعده و صيام يوم عاشوراء إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله .&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:”Puasa hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; hal itu menghapuskan satu tahun sebelumnya dan sesudahnya, dan puasa ‘Asyuraa’ aku berharap kepada Allah hal itu menghapuskan satu tahun sebelumnya” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Lihat Shahih al-Jaami’) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt; 3. Shalat malam di bulan Ramadhan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه رواه البخاري ومسلم وأبو داود والترمذي والنسائي&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:”Barang siapa yang, ,menghidupkan ramadhan (shalat di malamnya), diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasaai) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Haji mabrur&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع من ذنوبه كيوم ولدته أمه رواه البخاري وغيره &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:”Barang siapa yang berhaji dan dia tidak berbuat rafats (hubungan suami istri) dan tidak berbuat kefasikan maka kembali dari dosanya seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya”.(HR.al-Bukhari dan lainnya) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan Rasulullah &lt;i&gt;shallahu 'alaihi wasalam&lt;/i&gt; juga bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة رواه أحمد والطبراني في الأوسط صحيح الجامع (3170) &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga”.(HR. Imam Ahmad dan ath-Thabrani. Shahihul Jami; (3170)) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Memaafkan (menghapus atau memberi tempo) orang yang berhutang dan bangkrut&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah berkata:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( كان تاجر يداين الناس فإذا رأى معسرا قال لفتيانه تجاوزوا عنه لعل الله يتجاوز عنا فتجاوز الله عنه ) رواه البخاري فتح الباري(4/309)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Dari Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bahwa beliau bersabda:”Dahulu ada seorang pedagang yang memberikan hutang kepada manusia (para pembeli), apabila dia melihat mereka kesusahan dalam membayarnya dia berkata kepada pembantunya:’Maafkanlah dia (hapuskam atau tangguhkan hutangnya), semoga Allah kelak akan memaafkan kita. Maka Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; memaafkannya”.(HR Imam al-Bukhari. Fathul Bari 4/309) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Mengikuti/menyusul keburukan dengan kebaikan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman (artinya): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;”Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan”.&lt;/i&gt; (QS.Huud: 114)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;7 - اتق الله حيثما كنت و أتبع السيئة الحسنة تمحها و خالق الناس بخلق حسن . ( حسن ) انظر حديث رقم : 97 في صحيح الجامع . &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan ikutilah/susullah perbuatan buruj dengan kebaikanm, nisscaya dia (kebaikan) akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang terpuji”.(hadits hasan. Lihat hadits ke 97 dalam Shahihul Jami’) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7.Menybarkan salam dan mempebagus ucapan&lt;/b&gt;,Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;" إن من موجبات المغفرة بذل السلام و حسن الكلام " .رواه الخرائطي في " مكارم الأخلاق وصححه الألباني في " السلسلة الصحيحة " 1935 &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Sesungguhnya yang termasuk sebab pengampunan adalah menyebarkan salam dan baik dalam perkataan”.(HR.al-Kharaaithy dalam Makarimul Akhlaq. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah 1935) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;8. Sabar ketika mendapatkan ujian&lt;/b&gt;,Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;" إن الله تعالى يقول : إذا ابتليت عبدا من عبادي مؤمنا ، فحمدني و صبر على ما ابتليته به ، فإنه يقوم من مضجعه ذلك كيوم ولدته أمه من الخطايا ، و يقول الرب للحفظة : إني أنا قيدت عبدي هذا و ابتليته ، فأجروا له من الأجر ماكنتم تجرون له قبل ذلك و هو صحيح " . أخرجه أحمد ( 4 / 123 ) وحسنه الألباني في " السلسلة الصحيحة "144&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Sesungguhnnya Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman:”Apabila Aku menguji salah seorang hambaku dari hamba-hamba-Ku yang beriman, lalu dia memuji-Ku dan bersabar terhadap ujian yang menimpanya, maka dia bangkit dari pembaringannya seperti ketika dia baru dilahirkan oleh ibunya (bersih) dari dosa. Dan Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman kepada para Malaikat penjaga:”Aku telah mengikat hamba-Ku ini dan telah mengujinya, maka tulislah baginya pahala sebagaimana kalian menulisnya sebelum itu ketika dia sehat”.(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/123 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah 144) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;9.Menjaga Shalat lima waktu, sholat Jum’at dan puasa Ramadhan&lt;/b&gt;,Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Shalat lima waktu, (dari) shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa besar dijauhi”.(HR. Imam Muslim) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;10. Menyempurnakan wudhu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ – أَوِ الْمُؤْمِنُ – فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ ».&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt;, bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:”Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, maka ketika membasuh wajahnya keluar dari wajahnya dosa yang dia lihat dengan matanya bersama air wudhu atau tetesan air terakhir. Apabila membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari setiap tangannya dosa yang dia lakukan dengan tangannya bersama air atau air tetesan terakhir. Apabila membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari tiap-tiap kakinya dosa yang dia tempuh dengan kakinya bersama air atau air tetesan terakhir”.(Syarah Shahih Musllim oleh Imam Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;11.Membaca dzikir-dzikir penhapus dosa&lt;/b&gt;,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;a.Imam Muslim &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Sa’d bin Abi Waqqash &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; dari Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; , beliau bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
« مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ ». &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Barang siapa yang ketika mendengar adzan membaca:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;maka akan diampuni dosanya.(Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 4/331) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan barang siapa yang membaca:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;dalam sehari 100 kali, dihapuskan kesalahannya walaupun seperti buih di lautan. (HR. al-Bukhari dan Muslim. Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 17/20) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dalam Shahih Muslim juga dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; dari Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;« مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ». &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Barang siapa yang bertasbih selesai shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali maka itu 99 kali dan menggenapkannya seratus dengan kalimat:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ&lt;/div&gt;diampunilah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di laut.”(Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 5/99) &lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Dari Mu’adz bin Anas (dari bapaknya) &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:”Barang siapa yang makan lalu membaca:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;الحمد لله الذي أطعمني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan aku dan memberi rizki tanpa daya dan kekuatanku), diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR.at-Tirmidzi, dihasankan oleh al-Albani &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan barang siapa yang memakai pakaian lalu membaca:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;لحمد لله الذي كساني هذا و رزقنيه من غير حول مني و لا قوة&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Segala puji bagi Allah yang telah memberi pakaian kepadaaku dan memberi rizki tanpa daya dan kekuatanku), diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR.Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;12.Adzan&lt;/b&gt;, Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إن المؤذن يغفر له مدى صوته &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Sesungguhnya muadzin diampuni dosanya sejauh mana suaranya”.(hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahamad di dalam musnadnya. Lihat Shahihul Jami’) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;13.Shalat&lt;/b&gt;, dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt;, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أرأيتم لو أن نهرا بباب أحدكم يغتسل منه كل يوم خمس مرات هل يبقى من درنه شيء ؟ قالوا لا يبقى من درنه شيء قال فذلك مثل الصلوات الخمس يمحو الله بهن الخطايا&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Apa pendapat kalian sekiranya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, dia mandi setiap hari 5 kali, apakah tersisa kotorannya?Mereka (para Sahabat) berkata:”Tidak tersisa dari kotorannya sedikit pun.”Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:”itu seperti shalat lima waktu, Allah menghapuskan dosa-dosa dengannya.”(HR.al-Bukihari dan Muslim. Lihat Fathul Bari 2/11) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;14.Berjalan untuk shalat ke masjid&lt;/b&gt;, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;( صلاة الرجل في الجماعة تضعف على صلاته في بيته وفي سوقه خمسة وعشرين ضعفا وذلك أنه إذا توضأ فأحسن الوضوء ثم خرج إلى المسجد لا يخرجه إلا الصلاة لم يخط خطوة إلا رفعت له بها درجة وحط عنه بها خطيئة فإذا صلى لم تزل الملائكة تصلي عليه ما دام في مصلاه اللهم صل عليه اللهم ارحمه ولا يزال أحدكم في صلاة ما انتظر الصلاة )&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Shalatnya seorang laki-laki bersama jama’ah (di masjid). Dilipat gandakan dari shalatnya di rumahnya, di pasarnya 25 kali lipat, hal itu apabila dia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu keluar menuju masjid, tidaklah dia keluar kecuali untuk shalat, maka tidaklah dia melangkahkan kakinya satu langkah kecuali dinaikkan untuknya satu derajat, dan dihapuskan darinya satu kesalahan. Apabila selsai shalat maka para Malaikat terus-menerus mendoakannya selama dia berad di tempat shalatnya dengan doa: اللهم صل عليه اللهم ارحمهdan salah seorang di antara kalian berada dalam shala tselama menunggu shalat.(HR.al-Bukhari dan Muslim) &lt;br /&gt;
[&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;b]Bertepatan ucapan “Aamiin” nya dengan amiin malaikat, Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;: ( إذا قال الإمام { غير المغضوب عليهم ولا الضالين } . فقولوا آمين فإنه من وافق قوله قول الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه &lt;/div&gt;p[]“Apabila imam menucapkan { غير المغضوب عليهم ولا الضالين }, maka ucapkanlah aamiin, karena barang siapa yan amiinya bertepatan dengan aamiinnya Malaikat maka diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR. al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari 2/266) &lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Dan masih banyak lagi penghapus-penghapus dosa yang lain, seperti ahalat malam. Jihad di jalan Allah, sedekah, telah mendapatkan hukuman had di dunia dan lain-lain.&lt;i&gt;Wallahu A’lam&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(&lt;b&gt;Sumber:”Ath-Thariq ilaa al-Janah”&lt;/b&gt;diterjemahkan dengan sedikit perubahan oleh Abu Yusuf Sujono) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/penghapus-penghapus-dosa.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-323216070806085806</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 05:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T22:53:21.948-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Islami</category><title>HAK “ASASI” BINATANG DALAM ISLAM</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Telah kita ketahui bersama, bahwa setiap makhluk memiliki haknya masing-masing dan Islam talah memerintahkan kita untuk memberikan setiap mereka haknya masing-masing. Dan tema kita pada kesempatan kali ini adalah tentang &lt;b&gt;hak binatang dalam islam&lt;/b&gt;. Dan di antara hak-hak binatang adalah:  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;1.Hak penjagaan dan perlindungan&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Imam Bukhari &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; meriwayatkan dalam Kitab Shahihnya:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;  &lt;br /&gt;
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال صلى الله عليه وسلم: نزل نبي من الأنبياء تحت شجرة فلدغته نملة فأخرج متاعه من تحتها ثم أمر ببيتها فأحرق بالنار فأوحى الله إليه فهلا نملة واحدة. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; berkata, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:”Salah seorang Nabi berteduh di bawah pohon, lalu digigit semut, maka dia mengeluarkan barang bawaannya dari bawah pohon. Kemudian diperintahkan untuk membakar sarang semutnya. Maka Allah mewahyukan kepada Nabi tersebut:”Kenapa tidak satu semut saja (yang engkau bunuh) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam hadits di atas ada penjagaan dan perlindungan terhadap sarang semut dari kerusakan, seandainya Nabi tersebut membunuh satu semut yang menggigitnya saja, Allah tidak akan mencelanya. Termasuk penjagaan terhadap binatang adalah, bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; telah melarang untuk menjadikan bintang sebagai sasaran dalam melempar (lempar lembing, memanah, menembak dll). Ibnu Umar &lt;i&gt;radhiyallahu'anhuma&lt;/i&gt; pernah melewati beberapa pemuda dari kalangan suku Quraisy yang menjadikan seekor burung atau ayam sebagai sasaran tembak dan mereka membayar untuk setiap kali panahan yang meleset dari sasaran kepada pemilik burung tersebut. Maka ketika mereka melihat Ibnu Umar &lt;i&gt;radhiyallahu'anhuma&lt;/i&gt;, mereka bercerai-berai meninggalkannya, lalu Ibnu Umar &lt;i&gt;radhiyallahu'anhuma&lt;/i&gt; berkata:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;          &lt;br /&gt;
لعن الله من فعل هذا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن من اتخذ شيئاً فيه الروح غرضا &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; melaknat siapa saja yang menjadikan makluk yang bernyawa sebagai sasaran. (memanah, menembak dan lain-lain)” &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan dalam hadits ini dan hadits-hadits yang lainnya ada penjealasan tentang hak binatang dalm penjagaanya.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;2.Hak Pemeliharaan&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang wanita masuk ke dalam Neraka karena dia mengurung seekor kucing sampai mati, karena dia tidak memberi makan dan juga tidak memberinya meminum. Dan juga dia tidak melepaskannya supaya dia memakan serangga (HR. al-Bukhari) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; pernah melewati seekor onta yang punggungnya menempel dengan perutnya (menunjukkan kurusnya), maka Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
اتقوا الله في هذه البهائم المعجمة, فاركبوها صالحة, وكلوها صالحة ) رواه أبو داوود وابن خزيمه في صحيحة, وقال: قد لحق ظهره ببطنه. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bertaqwalah (takutlah) kepada Allah terhadap binatang yang kurus ini, kemudian naikilah secara baik dan makanlah dagingnya secara baik.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Shahihnya, dia berkata:”Punggungnya telah jauh dari perutnya (gemuk)) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anha&lt;/i&gt; meriwayatkan bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; dahulu menjulurkan tempat minuman untuk kucing, maka kucing itupun meminumnya. Hadits-hadits seperti ini dan yang semisalnya menunjukkan tentang pemeliharaan Islam terhadap binatang. &lt;b&gt;Berangkat dari perhatian terhadap hak binatang dalam masalah pemeliharaan, sebagian kaum Muslimin telah mewakafkan sebuah tempat yang dinamakan ”Wakaf Kucing” yang mana mereka mempersiapkan makanan untuk kucing-kucing tersebut, setiap pagi dan sore.&lt;/b&gt;    &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;3.Hak Kasih Sayang&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Islam telah menyayangi binatang, di dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu'anhuma&lt;/i&gt;, bahwa ada seorang laki-laki membaringkan seekor kambing untuk disembelih, dan dia mengasah/menajamkan pisaunya di dekatnya, maka Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
:" أتريد أن تميتها موتتين ؟ هلا أحددت شفرتك قبل أن تضيعها " رواه الطبري واللفظ له. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Apakah engkau ingin membunhnya dua kali? Kenapa tidak engkau tajamkan pisaumu menyembelihnya (Riwayat Imam ath-Thabari)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر فانطلق لحاجته فرأينا حمرة (طائر) معها فرخان فأخذنا فرخيها فجاءت الحمرة فجعلت تعرش فجاء النبي صلى الله عليه وسلم فقال: من فجع هذه بولديها ردوا ولديها إليها. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan dari Ibnu Mas’ud &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; dia berkata:”Kami dahulu bersama Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; dalam sebuah safar (perjalanan), lalu beliau pergi untuk menunaikan hajatnya. Kemudian kami melihat Hamroh (burung) bersama dengan kedua anaknya yang masih kecil, lalu kami mengambil kedua anaknya. Maka datanglah burung itu dan dia kebingungan mencari anaknya. Lalu datanglah Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;, dan beliau bersabda:”Siapakah yang membuat bingung burung ini terhadap anak-anaknya? Kembalikanlah kedua anaknya kepadanya.”  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;4.Hak Makan dan Minum&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap binatang memiliki hak dalam masalah makan dan minum, dan kita telah mengetahui bahwa ada seorang wanita yang disiksa di Neraka karena seekor kucing yang dikurungnya dan tidak diberi makan. Dan dari Abu Huraiorah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; berkata, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
(بينما رجل يمشي فأشتد عليه العطش فنزل بئراً فشرب منها ثم خرج فإذا هو بكلب يلهث، يأكل الثرى من شدة العطش قال: لقد بلغ هذا الكلب مثل الذي بلغ بي، فملأ خفه ثم أمسكه بفيه ثم رقى فسقى الكلب فشكر الله له فغفر له قالوا: يا رسول الله، وإن لنا في البهائم أجراً، قال: في كل كبد رطبة أجرا. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan yang merasa sangat kehausan, lalu dia turun ke dalam sumur dan meminum air dari sumur itu. Kemudian dia keluar, tiba-tiba dia melihat anjing yang sedang menjulurkan lidahnya dan menjilati tanah yang basah, karena sangat kehausan. Dia berkata:”Anjing ini telah kehausan sebagaimana kehausan yang aku rasakan” Maka dia memenuhi khuff nya (sepatu kulit), lalu mengigitnya dengan mulutnya dan dia naik keluar dari sumur, lalu memberi minum anjing tersebut. Maka Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; memuji laki-laki itu dan mengampuninya. Mereka (para Sahabat &lt;i&gt;radhiyallahu'anhum&lt;/i&gt;) berkata:”Wahai Rasulullah, (apakah) kami mendapatkan pahala ktika berbuat baik terhadap binatang? Beliau menjawab:”Pada setiap jiwa yang bernyawa ada pahalanya”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;5.Hak untuk tidak Dizhalimi&lt;/b&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Termasuk hak binatang adalah untuk tidak menzhaliminya, Imam Malik berkata:”Sesungguhnya Umar bin Khaththab &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; pernah melewati seekor keledai yang membawa batu bata mentah (tanah liat yang belum dibakar) di atas pungungnya punggungnya, maka beliau &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; mengangkat dua batu bata tersebut dari punggung keledai itu. Lalu datanglah kepadanya perempuan pemilik keledai, dan berkata:”Wahai Umar apa urusanmu dengan keledaiku? Apakah engkau memiliki wawanang terhadapnya? Umar menjawab:”Tidak ada yang menghalangiku untuk ikut campur dalam masalah ini” Dan beliau juga berkata:&lt;b&gt;”Sungguh, seandainya ada seekor keledai yang terpeleset di Iraq, pasti Umar akan ditanya tentangnya:”Kenapa tidak engkau baguskan (ratakan) jalan untuknya wahai Umar?&lt;/b&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan Umar &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; pernah melihat seorang laki-laki membebankan kepada ontanya dengan beban yang tidak mampu untuk dibawanya, maka beliau &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; memukulnya dan berkata:”Kenapa engkau membebani ontamu dengan beban yang dia tidak mampu membawanya?    &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;6. Hak Penjagaan dari Sakit&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Islam telah menetapkan bagi binatang hak penjagaan dari terjangkiti penyakit-penyakit yang menular. Yang termasuk petunjuk Islami dalam hal ini adalah sabda Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;    &lt;br /&gt;
(لا يوردن ممرض مصح) &lt;/div&gt;“Jangan dicampurkan mumridh dengan yang sehat.” &lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;“mumridh”adalah onta sakit yang menularkan penyakitnya kepada onta yang lain, maka petunjuk Nabi untuk tidak mencanpurkan onta yang sakit dengan onta-onta yang sehat adalah supaya penyakit tersebut tidak menular ke onta yang sehat –dengan Izin Allah-. Dan ini adalah hak binatang untuk dijaga dari penularan penyakit. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;7. Hak Menadapatkan Lingkungan Bersih&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; telah mengharamkan berbuat kerusakan di muka Bumi, Dia &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
(ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka Bumi setelah Allah memperbaikinya.”&lt;/i&gt;(al-A’raaf:56) &lt;br /&gt;
Merupakan bentuk perusakan di muka Bumi adalah pencemaran air, tumbuhan, udara dan tanah. Ketika Islam melarang perbuatan tersebut, maka itu adalah untuk menjaga binatang dari pencemaran air, udara dan tumbuhan. Ini adalah hak setiap makhluk. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;8.Hak untuk tidak dirubah Fisiknya&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Islam telah mengharamkan memberi tanda binatang (dengan ditato) di wajahnya, karena Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; melaknat orang yang memukul atau mentato wajah binatangnya. Para ahli fikif telah menyebutkan bahwa memotong ekor bianatang (yang masih hidup) adalah salah satu sebab yang membolehkan adanya Ta’zir (hukuman ). Sebagaimana tidak diperbolehkan memutus urat nadi, memotong atau kay (pengobatan dengan menempelkan besi panas) terhadap binatang tanpa alas an, karena perbuatan tersebut memperburuk fisik binatang, dan barang siapa yang berbuat demikian maka wajib membayar jaminan. &lt;/div&gt;Itulah perhatian Islam dalam memberikan hak kepada setiap pemiliknya masing-masing. Jangankan manusia binatang pun Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memberikan hak kepada binatang. Kalau terhadap binatang saja Isalm memperhatikan hak-hak mereka, maka bagaiman kiranya dengan manusia? Tentunya Islam sangat memperhatikan hak-hak mereka. Adapun sikap dan tingkah laku sebagian kaum Muslimin yang tidak memberikan hak-hak kepada para pemiliknya, bukanlah alas an untuk mnuduh Islam sebagai agama kekerasan dan ketidak adilan, karena &lt;b&gt;kesalahan sebagian kaum Muslimin tidak menunjukkan kesalahan ajarannya,akan tetapi kesalahan terletak pada jauhnya kaum Muslimin dari ajaran agamnya yang benar.&lt;/b&gt; Dan ini sekaligus bukti dan bantahan kepada orang-orang yang menuduh Islam sebagai agama kekerasan dan mengajarkan teorisme.&lt;i&gt;&lt;b&gt; Wallahu A’lam.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(&lt;b&gt;Sumber: من حقوق الحيوان في الإسلام &lt;/b&gt;oleh:Dr. Nazhami Kholil Abu al-‘Athaa. Diterjemahkan dengan perubahan oleh Abu Yusuf Sujono) &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/hak-asasi-binatang-dalam-islam.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-2267140091903366105</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 05:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T22:49:18.270-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fadilah Dzikir</category><title>RAHASIA SYAHADAT</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="konten"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;b&gt;KHUTBAH PERTAMA :&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. &lt;br /&gt;
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ &lt;br /&gt;
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا &lt;br /&gt;
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا &lt;br /&gt;
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Membangun sebuah bangunan dimulai dengan meletakkan pondasinya, pondasi ini harus baik dan kokoh karena ia penopang bagi apa yang diletakkan di atasnya. Jika pondasinya kokoh, maka bangunannya akan tegak dengan kokoh pula, sebaliknya jika pondasinya rapuh maka tidak perlu menunggu lama bangunan terse-but akan roboh. Islam bisa diibaratkan sebuah bangunan. Jika tegak-nya bangunan mesti ditopang dengan pondasi yang kokoh, maka tegaknya dinul Islam pun mesti didasari dengan pondasi yang kuat. Jika bangunan roboh dengan cepat tanpa pondasi yang kokoh maka dinul Islam pun demikian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tahukah kita apakah pondasi Islam? Ia adalah syahadat. Di atas syahadat inilah bangunan Islam ditegakkan. Oleh karena itu ketika Nabi menjelaskan pilar-pilar Islam, beliau mengawalinya dengan syahadat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إلهَ إِلاَّ الله ُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan." &lt;/i&gt;(HR. al-Bukhari dan Muslim, &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih al-Bukhari,&lt;/i&gt; no. 8 dan &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih Muslim,&lt;/i&gt; no. 62, dari Ibnu Umar).  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Disebutkannya syahadat dalam urutan pertama berarti apa yang sesudahnya berpijak kepadanya, lebih tegasnya apa yang sesudahnya yaitu mendirikan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa tidak sah dan tidak diterima tanpa pijakan syahadat. Maka di dalam al-Qur`an di dalam banyak ayat, Allah selalu mengindukkan amal shalih kepada iman. Benar sekali Imam Muslim rahimahullah yang menulis sebuah bab dalam Shahihnya: Bab barangsiapa tidak beriman, maka amal shalih tidak berguna baginya. Selanjutnya dia menurunkan hadits Aisyah yang bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, Ibnu Jud'an semasa jahiliyah bersilaturahim dan memberi makan orang miskin. Apakah itu berguna baginya?" Nabi menjawab,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
لَا يَنْفَـعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُـلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِـرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Tidak berguna baginya, karena dia tidak pernah suatu hari pun berkata, 'Ya Rabbi, ampunilah kesalahanku pada Hari Pembalasan'."&lt;/i&gt; (HR. Muslim. &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih Muslim,&lt;/i&gt; no. 41). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tidak hanya hadits tersebut yang mensyaratkan syahadat agar amal shalih diterima, sebelumnya ayat-ayat al-Qur`an telah menetapkan hal yang sama. Salah satunya adalah Firman Allah,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
وَمَامَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلآَّ أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللهِ وَبِرَسُولِهِ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya."&lt;/i&gt; (At-Taubah: 54).  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya terhadap ayat ini, "Amal shalih hanya sah dengan iman." (&lt;i&gt;Tafsir Ibnu Katsir&lt;/i&gt; 4/162). Oleh karena itu, ketika Nabi mengutus Mu'adz bin Jabal sebagai hakim dan da'i ke kota Yaman, beliau berpesan kepadanya agar memulai berdakwah dengan syahadat. Sabda beliau,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
اُدْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله، وَأَنِّيْ رَسُوْلُ الله، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لذلك فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ الله َ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لذلك فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ الله افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Ajaklah mereka kepada syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah, jika mereka telah mematuhimu dalam hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam, jika mereka telah mematuhimu dalam hal itu maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat pada harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya dari mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin dari mereka."&lt;/i&gt; (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas. &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih al-Bukhari,&lt;/i&gt; no. 666 dan &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih Muslim,&lt;/i&gt; no. 501). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dari sini kaum Muslimin mengetahui dan memahami untuk selanjutnya bahwa mengikrarkan dan memegang syahadat dengan teguh dalam kehidupan adalah perkara yang tidak bisa ditawar lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Apa itu syahadat? Syahadat adalah persaksian dengan dasar keyakinan yang kuat di dalam hati. Syahadat ini terbagi menjadi dua: Syahadat tauhid yaitu ucapan&lt;b&gt; لَا إله إِلَّا اللهُ &lt;/b&gt;dan syahadat risalah yaitu ucapan&lt;b&gt; مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله. &lt;/b&gt;Yang pertama berarti tidak ada apa pun atau siapa pun yang berhak disembah kecuali Allah semata. &lt;i&gt;La ilaha&lt;/i&gt; meniadakan hak penyembahan dari selain Allah dan &lt;i&gt;illallah&lt;/i&gt; menetapkannya untuk Allah semata. Dua perkara inilah yang dikenal dengan rukun syahadat. Syahadat ini menuntut pemurnian ibadah semata-mata untuk Allah, dan membuang syirik yang berarti menduakan Allah dalam beribadah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Firman Allah Subhanahu Wata'ala :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
لآَإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat."&lt;/i&gt; (Al-Baqarah: 256). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Adapun syahadat yang kedua, maka akan khatib jelaskan pada khutbah kedua. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;AKIBAT HUKUM DARI SYAHADAT&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di dunia, barangsiapa bersyahadat, maka dia adalah seorang Muslim, baginya hak yang sederajat dengan kaum Muslimin dan atasnya kewajiban yang sederajat dengan kaum Muslimin, terlindungi darah, harta, dan keluarganya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Firman Allah Subhanahu Wata'ala :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلاَيُحَرِّمُونَ مَاحَرَّمَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَلاَيَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada Hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk."&lt;/i&gt; (At-Taubah: 29). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sabda Nabi :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إلهَ إِلاَّ الله ُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذلك عَصَمُوْا مِنِّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى الله. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan itu, mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam dan hisabnya atas Allah."&lt;/i&gt; (Muttafaq 'alaihi, dari Ibnu Umar. &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih al-Bukhari,&lt;/i&gt; no. 24 dan&lt;i&gt; Mukhtashar Shahih Muslim,&lt;/i&gt; no. 5). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dari sini, maka Nabi sangat mengingkari pelanggaran terhadap darah orang yang mengucapkan &lt;i&gt;'La ilaha illallah'&lt;/i&gt;. Usamah bin Zaid berkata, "Rasulullah mengutus kami dalam sebuah pasukan, maka kami menyerang beberapa kelompok orang dari suku Juhainah. Aku sendiri berhadapan dengan seorang laki-laki, dia mengucapkan &lt;i&gt;'la ilaha illallah&lt;/i&gt;', maka aku menusuknya. Karena hal itu mengganjal di dalam hatiku, maka aku pun menyampaikannya kepada Rasulullah. Rasulullah bersabda, "Dia mengucapkan &lt;i&gt;'la ilaha illallah'&lt;/i&gt; dan kamu membunuhnya?" Aku membela diri, "Ya Rasulullah, dia mengucapkannya karena takut senjata." Rasulullah bersabda, "Mengapa kamu tidak membelah hatinya agar kamu mengetahui apakah dia demikian atau tidak?" Usamah berkata, "Nabi terus mengulangulang perkataannya kepadaku sehingga aku berharap baru masuk Islam pada hari ini." (HR. Muslim, &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih Muslim,&lt;/i&gt; no. 7). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Adapun akibat dari syahadat di akhirat, maka khatib katakan bahwa kunci bagi gerbang Akhirat adalah &lt;i&gt;'la ilaha illallah'&lt;/i&gt; di mana Rasulullah memerintahkan mentalqin orang yang menghadapi ajal dengan kalimat &lt;i&gt;'la ilaha illallah'&lt;/i&gt;. Sabda beliau,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
لَقِّـنُوْا مَوْتَاكُمْ لَا إلهَ إِلَّا الله. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Talqinlah orang yang hendak meninggal di antara kamu dengan la ilaha illallah."&lt;/i&gt; (HR. Muslim dari Abu Sa'id, &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih Muslim&lt;/i&gt;, no. 453). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di alam akhirat terdapat dua janji utama yang menggembirakan bagi orang yang mengikrarkan diri dengan kalimat syahadat: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;b&gt;Pertama :&lt;/b&gt; Jaminan Surga. Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إله إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka dia masuk Surga."&lt;/i&gt; (HR. Muslim dari Usman, &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih Muslim,&lt;/i&gt; no. 9). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إلهَ إِلَّا الله ُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله حَرَّمَ الله عَلَيْهِ النَّارَ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, maka Allah mengharamkan Neraka atasnya."&lt;/i&gt; (HR. Muslim dari Ubadah bin Shamit, &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih Muslim, &lt;/i&gt;no. 11). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;b&gt;Kedua : &lt;/b&gt;Jaminan tidak kekal di Neraka.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang yang bersaksi&lt;i&gt; 'la ilaha illallah'&lt;/i&gt; meskipun dia masuk dan diazab di Neraka, pasti dia akan dikeluarkan darinya dan dipin-dahkan ke Surga, baik dengan syafa'at atau tanpa syafa'at. &lt;br /&gt;
Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إله إِلاَّ الله ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيْرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إله إِلاَّ الله، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إلهَ إِلاَّ الله، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Akan keluar dari Neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji jewawut. Keluar dari Neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum. Keluar dari Neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji dzarrah."&lt;/i&gt; (HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik. &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih al-Bukhari, &lt;/i&gt;no. 41). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KHUTBAH KEDUA :&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Syahadat yang kedua adalah syahadat risalah, yaitu syahadat Muhammad Rasulullah. Makna dari syahadat ini adalah pengakuan lahir batin bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Syahadat ini dilandasi oleh dua pilar pokok yaitu 'hambaNya' dan 'utusanNya'. Kata pertama berfungsi menutup peluang sikap berlebih-lebihan terhadap Rasulullah yang mungkin menyeret kepada pemberian hak &lt;i&gt;rububiyah &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;uluhiyah&lt;/i&gt; kepadanya, padahal hak tersebut hanyalah milik Allah semata, dan ini berarti mensejajarkan Rasulullah dengan Allah, dan inilah pembatal syahadat itu sendiri. Dalam beberapa ayat, Allah memberi gelar &lt;i&gt;abdun&lt;/i&gt; (hamba) kepada NabiNya, karena inilah gelar termulia bagi manusia. Salah satu ayat tersebut adalah :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجَا &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya al-Kitab (al-Qur`an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya."&lt;/i&gt; (Al-Kahfi: 1).  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dan Rasulullah sendiri telah menyatakan dirinya adalah ab-dullah (hamba Allah). Sabda Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
لَا تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُـوْلُوْا: عَـبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Janganlah kamu memujiku berlebih-lebihan seperti orang-orang Nasrani melakukan itu kepada putra Maryam. Aku hanyalah hamba, maka katakanlah, 'Hamba Allah dan RasulNya'."&lt;/i&gt; (HR. al-Bukhari dari Umar, &lt;i&gt;Mukhtashar Shahih al-Bukhari,&lt;/i&gt; no. 1373). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kata kedua adalah 'RasulNya' yang berarti bahwa beliau ada-lah utusan Allah kepada seluruh alam sebagai penyampai berita gembira dan pemberi peringatan. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
إِنَّآ أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan."&lt;/i&gt; (Al-Baqarah: 119).  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kata ini menutup sikap meremehkan Rasulullah, dengan asumsi bahwa beliau adalah manusia biasa, bisa benar, bisa pula salah. Sikap dan asumsi ini tidak benar, ia menabrak kesaksian bahwa beliau adalah Rasul Allah, benar Rasulullah adalah manusia biasa akan tetapi :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
مَاضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَاغَوَى . وَمَايَنطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."&lt;/i&gt; (An-Najm: 2-4). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Konsekuensi syahadat risalah ini adalah &lt;i&gt;ittiba'&lt;/i&gt;, yaitu mengikuti Rasulullah dengan beriman kepadanya, membenarkan perintahnya, menjauhi larangannya, menomorsatukan sabdanya dan mencukupkan diri dengan mengamalkan Sunnahnya tanpa melakukan penambahan ataupun pengurangan tehadap ajarannya dalam beribadah kepada Allah. Semua itu adalah hak beliau sebagai Rasulullah atas kita, jika kita mengakui beliau sebagai Rasul Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Selanjutnya kita bershalawat kepada Rasulullah dengan dasar perintah dari Allah. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."&lt;/i&gt; (Al-Ahzab: 56). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
إِنَّ الله وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. &lt;br /&gt;
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;
( &lt;b&gt;Dikutip dari buku :&lt;/b&gt; Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul  Haq, Jakarta) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/rahasia-syahadat.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-4437770995084370046</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 05:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T22:44:14.075-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fadilah Sholat</category><title>SHALAWAT KEPADA NABI Sallallahu 'Alaihi Wasallam SETELAH TASYAHUD</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketahuilah bahwa shalawat kepada Nabi setelah &lt;i&gt;tasyahud&lt;/i&gt; akhir menurut asy-Syafi'i adalah wajib. Apabila dia meninggalkannya, maka shalatnya tidak sah. Shalawat kepada keluarga Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam padanya tidak wajib menurut madzhab yang shahih lagi masyhur, ia hanya dianjurkan. Sebagian sahabat-sahabat kami berkata bahwa ia wajib (Dan yang kedua inilah yang benar dengan dukungan dalil-dalil yang banyak). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang paling utama adalah mengucapkan :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad, seorang hamba, RasulMu, seorang Nabi yang ummi, kepada keluarga Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, Nabi yang ummi, kepada keluarga Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, di alam semesta; sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung.”&lt;/i&gt; (Ini menurut madzhab an-Nawawi yang membentuk lafazh shalawat dengan menggabungkan bentuk-bentuk lafazh shalawat yang berbeda-beda yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi dalam hal ini. Ini tidak baik dan tidak diterima. Dan yang benar adalah hendaklah dia mengambil satu bentuk shalawat yang shahih dari Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Apabila dia melakukan yang ini di satu waktu, yang itu di lain waktu, maka itulah yang terbaik dan paling dekat kepada &lt;i&gt;as-Sunnah&lt;/i&gt;. Lihat keteranganku sebelumnya di hal. (...) tentang perbedaan keanekaragaman). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami meriwayatkan cara ini dalam &lt;i&gt;Shahih al-Bukhari&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Muslim&lt;/i&gt;  dari Ka'ab bin Ujrah dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, &lt;i&gt;Kitab al-Anbiya`&lt;/i&gt;, Bab, 6/408, no. 3370; dan Muslim, &lt;i&gt;Kitab ash-Shalah, Bab ash-Shalat ala an-Nabi&lt;/i&gt; Sallallahu 'Alaihi Wasallam ,, 1/305, no. 406; dan lafazhnya :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung."&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Shalawat kepada Nabi juga diriwayatkan oleh al-Bukhari &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, 6/407 no. 3369 dan Muslim &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, 1/306 no. 407 dari hadits Abu Humaid as-Sa'idi dan lafazhnya adalah :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ، وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung."&lt;/i&gt;  Ia diriwayatkan pula oleh Muslim 1/305 no. 405 dari hadits Abu Mas'ud al-Anshari dan lafazhnya :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada keluarga Ibrahim, di alam semesta. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung."&lt;/i&gt;, kecuali sebagian darinya, ia shahih dari riwayat selain Ka'ab. Perinciannya akan datang pada "Kitab Shalawat Atas Rasulullah," insya Allah (Begitulah dia berkata di sini dan begitu sampai di bab shalawat kepada Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam sepertinya dia lupa dan tidak memenuhi apa yang dijanjikan di sini. Oleh karena itu aku memilihkan untuk anda wahai pembaca tiga bentuk shalawat kepada Nabi paling mudah dan aku cantumkan di catatan kaki sebelum ini. Siapa yang menginginkan tambahan-tambahan, silakan merujuk &lt;i&gt;Jala' al-Afham&lt;/i&gt; karya Ibnul Qayyim dan &lt;i&gt;Sifat Shalat Nabi&lt;/i&gt; karya al-Albani) Wallahu a'lam. Yang wajib darinya adalah :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى النَّبِيِّ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi."&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau dia mau, dia boleh mengucapkan :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Semoga shalawat Allah tercurahkan kepada Muhammad." &lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau dia mau dia mengucapkan :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
صَلَّى اللهُ عَلَى رَسُوْلِهِ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Semoga shalawat Allah (tercurahkan) kepada RasulNya."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
صَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Shalawat Allah (semoga tercurahkan) kepada Nabi." &lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami juga mempunyai pendapat lain yaitu bahwa yang boleh hanyalah ucapan :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad. &lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami juga mempunyai pendapat bahwa boleh mengucapkanm :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
صَلَّى اللهُ عَلَى أَحْمَدَ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Semoga shalawat Allah (terlimpah) kepada Ahmad."&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada pendapat lagi yaitu mengucapkan :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt; &lt;br /&gt;
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Shalawat Allah kepadanya."&lt;/i&gt; (Justru yang wajib adalah hendaknya orang yang shalat berpegang kepada bentuk shalawat yang diajarkan oleh Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam kepada sahabat-sahabatnya di mana Nabi dan para sahabat melakukannya di dalam shalat secara rutin dan sebagian darinya telah hadir kepadamu. Adapun membatasi diri hanya pada bentuk tasyahud yang sudah dipangkas sedemikian rupa, maka ia tidak boleh dan tidak pantas. &lt;i&gt;Wallahu a'lam&lt;/i&gt;) &lt;i&gt;Wallahu a'lam&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adapun &lt;i&gt;tasyahud&lt;/i&gt; pertama, maka shalawat kepada Nabi padanya tidak wajib, dan tidak ada perbedaan pendapat tentangnya. Apakah disunnahkan? Terdapat dua pendapat; yang lebih shahih adalah disunnahkan, sedangkan shalawat kepada keluarga tidak disunnahkan menurut pendapat yang shahih. Ada yang berkata, "Disunnahkan." (Yang benar adalah bahwa shalawat kepada Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam pada tasyahud awal juga disyariatkan, lafazhnya sama, perintah kepadanya diriwayatkan secara shahih dan umum, tanpa membedakan antara tasyahud pertama dan kedua. &lt;i&gt;Wallahu a'lam&lt;/i&gt;). &lt;/div&gt;Doa pada &lt;i&gt;tasyahud&lt;/i&gt; awal menurut kami tidak dianjurkan bahkan sahabat-sahabat kami berkata, "Makruh, karena &lt;i&gt;tasyahud&lt;/i&gt; awal didasarkan kepada keringanan, berbeda dengan tasyahud akhir." (Doa setelah shalawat Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam di tasyahud awal tetap disunnahkan juga berdasarkan kepada hadits Ibnu Mas'ud yang hadir pada no.189, ia berlaku umum untuk dua tasyahud. Adapun pendapat bahwa tasyahud pertama didasarkan kepada keringanan, maka di samping ia lemah juga tidak menunjukkan tidak adanya anjuran, hanya keringanan semata. &lt;i&gt;Wallahu a'lam&lt;/i&gt;) &lt;i&gt;Wallahu a'lam&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt; Ensiklopedia Dziikir Dan Do’a, Imam Nawawi,&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/shalawat-kepada-nabi-sallallahu-alaihi.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-1855453832432863644</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 05:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T22:41:57.943-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fadilah Dzikir</category><title>Dzikir Ba'da Shalat</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Para ulama telah berijma' disunnahkannya berdzikir seusai shalat. Dalam masa-lah ini terdapat banyak sekali hadits-hadits shahih yang beraneka ragam, kami sebutkan sebagian darinya. Di antara yang paling penting adalah: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami meriwayatkan dalam &lt;i&gt;Sunan at-Tirmidzi&lt;/i&gt; dari Abu Umamah radiyallahu 'Anhu , dia berkata,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;
قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفَ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam ditanya, 'Doa apakah yang lebih didengar (dikabulkan)?' Nabi menjawab, 'Doa tengah malam yang terakhir dan setelah shalat fardhu'."&lt;/i&gt; (&lt;b&gt;Shahih&lt;/b&gt;, kecuali ucapannya, "setelah shalat fardhu," ia &lt;i&gt;munkar&lt;/i&gt;, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi – &lt;i&gt;Kitab ad-Da'awat&lt;/i&gt;- Bab, 5/526 no. 3499; an-Nasa`i dalam &lt;i&gt;Amal al-Yaumi Wa al-Lailah&lt;/i&gt; no.108: dari jalan Ibnu Juraij, dari Abdurrahman bin Sabith, dari Abu Umamah dengan hadits tersebut. &lt;br /&gt;
At-Tirmidzi berkata, "Ini adalah hadits hasan." Al-Asqalani dalam &lt;i&gt;Amali al-Adzkar &lt;/i&gt;3/30 – &lt;i&gt;Futuhat&lt;/i&gt;, mengkritiknya dan berkata, "Apa yang dikatakan kurang tepat, karena ia mempunyai beberapa &lt;i&gt;illat&lt;/i&gt;, di antaranya adalah terputusnya sanad antara Ibnu Sabith dan Abu Umamah. " Ibnu Ma'in berkata, "Abdurrahman bin Sabith tidak mendengar dari Abu Umamah. &lt;i&gt;Illat&lt;/i&gt; lainnya adalah riwayat Ibnu Juraij dari Ibnu Sabith dengan 'dari'. &lt;i&gt;Illat&lt;/i&gt;nya yang lainnya lagi adalah &lt;i&gt;syudzudz &lt;/i&gt;karena dasar hadits ini hadir dari lima orang kawan Abu Umamah dari riwayat Abu Umamah, sahabat Nabi dari Amru bin Abasah. Semuanya hanya menyebutkan penggalan yang pertama." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku berkata, "Ini adalah penyelisihan pada sanad dan matan sekaligus. Dari sini maka penggalan yang pertama dari hadits adalah shahih sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Hafizh dari riwayat Abu Dawud &lt;i&gt;Kitab ash-Shalah, Bab Man Rakhkhasha Fihima,&lt;/i&gt; 1/409, 1277; at-Tirmidzi, &lt;i&gt;Kitab ad-Da'awat, Bab&lt;/i&gt;, 5/569, no. 3579; an-Nasa`i, &lt;i&gt;Kitab al-Mawaqit, Bab an-Nahy An ash-Shalah Ba'da al-Ashr,&lt;/i&gt; 1/279, no. 571; ath-Thabrani dalam ad-Dua' no. 128 dan 129, al-Baihaqi 2/455 dari beberapa jalan, dari Abu Umamah, dari Amr bin Abasah dengan hadits tersebut. Ia mempunyai &lt;i&gt;syawahid&lt;/i&gt;, di antaranya hadits Ibnu Umar di Abu Ya'la no. 5682 dengan sanad yang terputus. Hadits Ibnu Auf di ath-Thabrani 1/133 no. 279 juga dengan sanad yang terputus dan dari &lt;i&gt;syawahid&lt;/i&gt; tersebut tidak ada yang mendukung penggalan kedua dari hadits di atas. Jadi ia tetap dalam kedhaifannya, oleh karena itu Ibnul Qayyim dalam &lt;i&gt;Zad al-Maad &lt;/i&gt;1/257 berkata, "Adapun doa ba'da salam dari shalat dengan menghadap kiblat atau menghadap makmum, maka hal itu bukan termasuk petunjuk Nabi sama sekali, tidak pula diriwayatkan darinya dengan sanad yang shahih atau hasan." Aku berkata, "Inilah yang benar, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt; karena yang disyariatkan setelah shalat adalah dzikir tertentu bukan doa yang mutlak." ), At-Tirmidzi berkata, "Hadits hasan."  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami meriwayatkan dalam &lt;i&gt;Shahih al-Bukhari&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Shahih Muslim&lt;/i&gt; dari Ibnu Abbas radiyallahu 'Anhuma, dia berkata,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;
كُنْتُ أَعْرِفُ اِنْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِالتَّكْبِيْرِ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam dengan takbir." &lt;/i&gt;(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, &lt;i&gt;Kitab al-Adzan, Bab adz-Dzikr Ba'da ash-Shalah, &lt;/i&gt;2/324, no. 841 dan 842; dan Muslim, &lt;i&gt;Kitab al-Masajid, Bab adz-Dzikr Ba'da ash-Shalah,&lt;/i&gt; 1/410, no. 583). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam riwayat Muslim, &lt;i&gt;"Kami."&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam riwayat lain dalam &lt;i&gt;Shahih &lt;/i&gt;keduanya dari Ibnu Abbas radiyallahu 'Anhu, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;
أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Bahwa mengeraskan dzikir ketika orang-orang selesai dari shalat fardhu sudah terjadi sejak masa Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam." Ibnu Abbas berkata, "Aku mengetahui bahwa mereka selesai (dari shalat), apabila aku mendengarnya."&lt;/i&gt; (An-Nawawi berkata, "Asy-Syafi'i menafsirkan hadits ini bahwa mereka mengeraskannya dalam jangka waktu yang pendek demi mengajarkan sifat dzikir bukan berarti mereka terus menerus mengeraskannya. Dan pendapat yang terpilih adalah bahwa imam dan makmum menyamarkan dzikir, kecuali jika demi tuntutan pengajaran." Ini adalah ucapan an-Nawawi dan disetujui oleh al-Asqalani di &lt;i&gt;al-Fath &lt;/i&gt;2/326 dan inilah yang benar, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt;). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami meriwayatkan dalam &lt;i&gt;Shahih Muslim&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;Kitab al-Masajid, Bab Istihbab adz-Dzikr Ba'da ash-Shalah,&lt;/i&gt; 1/414, no. 591) dari Tsauban radiyallahu 'Anhu, dia berkata, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ، اِسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;"Apabila Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam selesai shalat, beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan, 'Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan dan dariMu keselamatan, Mahasuci Engkau wahai Tuhan yang Mahaagung dan Mahamulia."&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;Al-Auza'i, salah seorang rawi hadits ditanya, "Bagaimana bunyi istighfar?" Dia men-jawab, "Kamu mengucapkan&lt;i&gt; 'Astaghfirullah'." (Kitab al-Masajid, Bab Istihbab adz-Dzikr Ba'da ash-Shalah,&lt;/i&gt; 1/414, no. 591)&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt; Ensiklopedia Dziikir Dan Do’a, Imam Nawawi, &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/para-ulama-telah-berijma-disunnahkannya.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-2912047208014447220</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 05:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T22:37:21.198-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Islami</category><title>Kisah Cinta Putri Pemimpin Para Nabi</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cinta tak cukup untuk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeda, tak kan mungkin mereka saling bersama. Namun cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yang telah terpisahkan sekian lama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tersebutlah kisah tentang putri pemimpin para nabi. Terlahir dari rahim ibundanya, seorang wanita bangan Quraisy, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyyah radhiallahu ‘anhu, saat ayahnya memasuki usia tiga puluh tahun. Dia bernama &lt;b&gt;&lt;i&gt;Zainab radhiallahu ‘anha bintu Muhammad bin ‘Abdillah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Shallallahu ‘alaihi wa sallam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semasa hidup ibunya, sang putri yang menawan ini disunting oleh seorang pemuda, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwailid, saudari perempuan Khadijah. Ketika itu, Khadijah radhiallahu ‘anha menghadiahkan seuntai kalung untuk pengantin putrinya. Dari pernikahan itu, lahir Umamah dan ‘Ali, dua putra-putri Abul ‘Ash. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tatkala cahaya Islam merebak, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka hati Zainab radhiallahu ‘anha untuk menyambutnya. Namun, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan di atas dua jalan yang berbeda… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang-orang musyrik pun mendesak Abul ‘Ash untuk menceraikan Zainab, namun Abul ‘Ash dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Akan tetapi, Zainab radhiallahu ‘anha masih pula tertahan untuk bertolak ke bumi hijrah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ramadhan tahun kedua setelah hijrah, terukir peristiwa Badr. Dalam pertempuran itu, terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penduduk Makkah pun mengirim tebusan untuk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab radhiallahu ‘anha untuk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenang pada Khadijah radhiallahu ‘anha yang telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yang dicintainya. Lalu beliau berkata pada para shahabat, “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yang dia berikan, lakukanlah hal itu.” Para shahabat pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian mereka lepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yang dijadikan harta tebusan itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Abul ‘Ash untuk berjanji agar membiarkan Zainab pergi meninggalkan negeri Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu bersama salah seorang Anshar sembari berkata, “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dengan Zainab, lalu bawalah dia kemari.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berpisahlah Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas jalan Islam, meninggalkan suaminya yang masih berkubang dalam kesyirikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjelang peristiwa Fathu Makkah, Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya, rombongan itu bertemu dengan seratus tujuhpuluh orang pasukan Zaid bin Haritsah yang diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadang rombongan dagang itu. Pasukan muslimin pun berhasil menawan mereka dan mengambil harta yang dibawa oleh rombongan musyrikin itu, namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika gelap malam merambah, Abul ‘Ash dengan diam-diam menemui istrinya, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk meminta perlindungan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Subuh tiba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat berdiri menunaikan Shalat Shubuh. Saat itu, Zainab radhiallahu ‘anha berseru dengan suara lantang, “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Usai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap pada para shahabat sembari bertanya, “Kalian mendengar apa yang aku dengar?” “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui apa pun sampai aku mendengar apa yang baru saja kalian dengar.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui putrinya dan berpesan, “Wahai putriku, muliakanlah dia, namun jangan sekali-kali dia mendekatimu karena dirimu tidak halal baginya.” Zainab radhiallahu ‘anha menjawab, “Sesungguhnya dia datang semata untuk mencari hartanya.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pasukan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu dan berkata pada mereka, “Sesungguhnya Abul ‘Ash termasuk keluarga kami sebagaimana kalian ketahui, dan kalian telah mengambil hartanya sebagai fai’ yang diberikan Allah kepada kalian. Namun aku ingin kalian berbuat kebaikan dan mengembalikan harta itu kepadanya. Akan tetapi kalau kalian enggan, maka kalian lebih berhak atas harta itu.” Para shahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami akan kembalikan harta itu padanya.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seluruh harta yang dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangannya dan tidak berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan setiap harta titipan penduduk Makkah pada pemiliknya. Lalu dia bertanya, “Apakah masih ada di antara kalian yang belum mengambil kembali hartanya?” Mereka menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan yang baik padamu. Engkau benar-benar seorang yang mulia dan memenuhi janji.” Abul ‘Ash pun kemudian menegaskan, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya! Demi Allah, tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam saat itu, kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing, aku masuk Islam.” Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah, hingga bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Islam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Enam tahun bukanlah rentang waktu yang sebentar. Akhir penantian yang sekian lama pun menjelang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan putri tercintanya, Zainab radhiallahu ‘anhu kepada suaminya, Abul ‘Ash bin Ar- Rabi’ radhiallahu ‘anhu, dengan nikahnya yang dulu dan tanpa menunaikan kembali maharnya. Dua insan kini bersama meniti jalan mereka … &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan taqdir-Nya. Tak lama setelah pertemuan itu, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke hadapan Rabb-nya, pada tahun kedelapan setelah hijrah, meninggalkan kekasihnya untuk selamanya. &lt;/div&gt;Di antara para shahabiyyah yang memandikan jenazahnya, ada Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha. Darinya terpapar kisah dimandikannya jenazah Zainab radhiallahu ‘anha, sesuai perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan guyuran air bercampur daun bidara. Seusai itu, rambut Zainab radhiallahu ‘anha dijalin menjadi tiga jalinan. Jenazahnya dibungkus dengan kain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putri pemimpin para nabi itu telah pergi…&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
- Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1701-1704,1853-1854) &lt;br /&gt;
- Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/30-35) &lt;br /&gt;
- Mukhtashar Sirah Ar-Rasul, karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 110-117) &lt;br /&gt;
- Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, karya Ibrahim Al-‘Ali (hal. 192)  &lt;br /&gt;
- Siyar A’lamin Nubala, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/246-250),&amp;nbsp;  &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/header-selesai-info-pendaftaran-mais.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-1567292928437325772</guid><pubDate>Sun, 06 Jun 2010 05:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-05T22:26:12.662-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Islami</category><title>Menjadi Penghuni Surga ( Karena Tidak Hasad)</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, "Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba beliau bersabda, 'Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.' Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi, 'Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.' Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!' Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal . &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, 'Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia menjawab, 'Silahkan!' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang &lt;i&gt;qiyamullail&lt;/i&gt;, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abdullah juga mengatakan, 'Saya tidak mendengar ia berbicara kecuali yang baik.' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, 'Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, 'Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.' Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, 'Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau &lt;i&gt;hasad &lt;/i&gt; terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abdullah bin Amr berkata, 'Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya'." &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt; &lt;i&gt;Az-Zuhdu&lt;/i&gt;, Ibnul Mubarak, hal. 220 &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/06/menjadi-penghuni-surga-karena-tidak.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-4404436084536564145</guid><pubDate>Fri, 21 May 2010 23:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-21T16:04:58.459-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fadilah Amal</category><title>Jilbab Bagi Wanita Muslimah</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;Assalamualaikum....&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Seiring dengan perkembangan jaman jilbab sudah tidak dihiraukan lagi.Kita melihat banyak kaum muslimah yang tidak berjilbab.Ada yang berjilbab bukan dengan tujuan untuk menutup aurat-aurat mereka akan tetapi dengan tujuan mengikuti mode, agar lebih anggun dan cantik. Sehingga walaupun mereka berjilbab tetapi masih memperlihatkan bentuk tubuh mereka,lekuk-lekuk tubuh mereka.Karena apa..? mereka memakai jilbab dengan kondisi pakaian yang ketat.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Rasululloh SAW bersabda: &lt;i&gt;"Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian." (HR. Muslim)&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat. Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang ALLOH SWT perintahkan untuk ditutupi.&amp;nbsp; &lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Syarat ini terdapat dalam Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat An-Nuur ayat 31,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;yang artinya: &lt;i&gt;“Katakanlah kepada wanita yang beriman.Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita...”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Juga Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59, yang&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;artinya:&lt;i&gt; “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin: “Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;hadist lain menjelaskan :&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya: “Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi (yang bukan mahram/halal nikah), kecuali yang tidak mungkin disembunyikan.” Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. “Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qurthubi berkata: Pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah shalallohu 'alahi wa sallam sedangkan ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata kepadanya : “Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat, kecuali ini.” Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya. Semoga Allah memberi Taufik dan tidak ada Rabb selain-Nya.” &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsanya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qibtiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : “Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidak melihatnya sebagai pakaian yang tipis !. Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis,namun ia menggambarkan lekuk tubuh.” (H.R. Al-Baihaqi II/234-235). &lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Usamah bin Zaid pernah berkata: Rasulullah shalallohu 'alahi wa sallam pernah memberiku baju Qibtiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku: “Mengapa kamu tidak mengenakan baju Qibtiyah ?” Aku menjawab : Aku pakaikan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : “Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Qibtiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya.” (Ad-Dhiya Al-Maqdisi : Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Aisyah pernah berkata: ” Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya (Ibnu Sad VIII/71). Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya : Baju, khimar dan milhafah (mantel)” (Ibnu Abi Syaibah: Al-Mushannaf II:26/1).&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;(Dikutip dari: Kitab Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah, Asy-Syaikh Al-Albani) &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;b style="color: orange;"&gt;Sampai disini dulu ..apabila ada kata-kata yang menyinggung perasaan,saya mohon maaf.Yang benarnya datangnya Dari Allah SWT,dan salahnya dari kekhilafan saya...Saya mohon ampun Kepada Allah SWT...Amien &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/jilbab-bagi-wanita-muslimah.html</link><thr:total>1</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-1226918018266285533</guid><pubDate>Sun, 16 May 2010 17:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-16T10:54:48.452-07:00</atom:updated><title>Bersahabat dengan Kematian</title><description>Mendengar kata kematian Tubuh kita bergemetar,bulu kuduk langsung berdiri,takut kalau tiba-tiba nyawa kita diambil oleh Allah SWT dalam kondisi kita belum siap.Suka atau tidak suka,Senang atau tidak senang yang pasti kita akan kembali kehadirat Allah Azza wazalla.Tiap-tiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian.Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 168&lt;br /&gt;
artinya : &lt;i&gt;Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Allah juga berfirman dalam Al-Qur'an Surat An-Nisaa ayat&amp;nbsp; &lt;i&gt;78&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
artinya&lt;i&gt; : Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allahuakbar, ayat di atas menjelaskan bahwa di mana saja kita berada,sekalipun kita bersembunyi dalam benteng yang kokoh,kita bersembunyi di dalam peti emas,bersembunyi di tempat yang manusia tidak bisa mengetahuinya pasti kematian akan menemuinya. Maka ketika seseorang diambil nyawanya oleh Allah,maka putuslah semua amalannya kecuali tiga perkara yakni Ilmu yang bermanfaat, Do'a&amp;nbsp; anak yang Shaleh dan amal jariah. Oleh karena itu marilah kita fikir,kita risau bahwa kematian tidak mengenal, apakah bayi,orangtua,kaum muda,presiden,raja,Ulama dan lain-lainnya pasti akan kembali kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain Ayat di atas terdapat juga firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al-an'am&lt;br /&gt;
artinya : &lt;i&gt;Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak bisa lari dari kematian karena ini adalah kekuasaan Allah SWT yang menghidupkan dan mematikan seluruh makhluk-Nya.&lt;br /&gt;
Katakanlah:&lt;i&gt; "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".(QS. Al-Jumua'ah ayat 8)&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa sich yang tidak pengen mati dalam keadaan Husnulkhotimah..?&lt;br /&gt;
Orang yang setiap kali mengingat kematian termasuk tanda-tanda orang yang beriman.Dalam hidupnya selalu risau dan takut kepada kematian sehingga ia berusaha menjaga setiap amalanya dan menjadi titik tolak untuk melakukan sesuatu perbuatan yang sia-sia(maksiat). Maka marilah kita jadikan kematian sebagai sahabat karena dengan mengingat kematian InsyaAllah kita akan selalu dekat dengan Allah SWT. Nah bagaimana caranya..? Ada beberapa upaya untuk menjadikan kematian sebagai sahabat kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama,Untuk apa kita hidup..? Setiap muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tentu mengetahui hal ini; bahwa mereka hidup adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Namun, banyak orang yang terjerumus dalam kekeliruan dalam memaknai ibadah di dalam kehidupan mereka. Sebagian orang menganggap bahwa ibadah hanya terkait dengan urusan masjid dan ibadah ritual belaka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang lebih penting adalah menjalin hubungan baik dengan sesama manusia tanpa memperdulikan agama mereka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang paling penting saat ini adalah terjun di dalam pertarungan di panggung politik untuk mendapatkan kekuasaan bagi kemenangan kaum muslimin.&lt;br /&gt;
Banyak orang mengira bahwa dengan harta dan jabatan maka seorang akan bisa hidup dengan penuh kenikmatan di alam dunia ini. Oleh sebab itu mereka mengejar-ngejar dunia bahkan lebih mengutamakannya daripada mengejar akhirat. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa dunia ini hanyalah sementara. Hari ini kita masih bernafas, boleh jadi esok atau lusa tubuh kita sudah bermandikan tanah alias mati. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap jiwa pasti merasakan kematian, sesungguhnya pahala atas amal-amal kalian hanya akan disempurnakan pada hari kiamat kelak. Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung, sedangkan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran : 185). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sekedar permainan dan kesia-siaan, dan sungguh negeri akhirat itu pasti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, mengapa kalian tidak mau memikirkan?” (QS. al-An’aam : 32).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, Kemana kita setelah menempuh kematian di dunia?&lt;br /&gt;
Sering kali kita temui keluhan dari bapak kita,ibu kita,teman kita,saudara kita bahkan diri kita sendiri pernah berfikiran "saya harus kaya,harus sukses dan harus mempunyai jabatan supaya dihormati banyak orang" Setiap selesai beribadah berdo'anya selalu meminta kesuksesan,kekayaan serta pangkat dan jabatan.Bahkan kita lupa berdo'a bagaimana kita cara matinya nanti, dan apa bekal kita untuk menghadap Allah SWT&lt;br /&gt;
Ketiga,Berdo'a kepada Allah SWT untuk dimatikan dalam keadaan Husnulkhotimah &lt;i&gt;" Ya Allah matikanlah hambamu dalam keadaan mati sahid,jika tidak matikanlah hambamu dalam keadaan menuntut ilmu,jika tidak ya Allah matikanlah hambamu dalam keadaan Sholat berjama'ah,jika tidak ya Allah matikanlah hambamu dalam keadaan Sholat tahajjud,jika tidak ya allah matikanlah hambamu pada hari Juma'ah."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila kita menghayati do'a di atas maka betapa Iman seseorang akan bertambah kuat.karena apa?&lt;br /&gt;
karena bilamana seorang muslim berdoa kemudian meminta kepada Allah mengenai kematiannya maka setiap langkah hidupnya pasti selalu terjaga,pasti merasa dekat dengan Allah SWT karena merasa dilihat.Maka kembali lagi kita Risau dan berfikir marilah dari sekarang kita luruskan kita tetapkan bagaimana kita menghadapi kematian dalam keadaan siap.Oleh karena itu, marilah kita jalankan semua perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA dengan perpedoman pada Al-Qura'n dan As-sunnah.&amp;nbsp; Akhirul qalam.........&lt;br /&gt;
Wassalam......</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/bersahabat-dengan-kematian.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-5725155238001384833</guid><pubDate>Sat, 15 May 2010 04:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T21:25:53.451-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Kisah Bilal  Bin Rabbah</title><description>&amp;nbsp;Bilal lahir di daerah As-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).&lt;br /&gt;
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Beliau adalah sahabat Nabi yang terkenal. Dia adalah seorang mu'adzin (juru adzan) di masjid Nabawi. Sebelumnya, ia seorang hamba sahaya milik seorang kafir Quraisy kemudian memeluk Islam.&lt;br /&gt;
Keislamannya menyebabkan Bilal r.a. mengalami banyak penderitaan dan kesengsaraan akibat perbuatan orang-orang kafir. Umayah bin Khalaf adalah seorang kafir yang paling keras memusuhi Islam, ia pernah membaringkan Bilal r.a. di atas padang pasir yang panas membakar ketika matahari sedang terik sambil menindih batu besar di atas dadanya sehingga Bilal r.a. tidak dapat menggerakan badannya sedikitpun. Umayah berkata "Apakah kamu bersedia mati dalam keadaan seperti ini? Ataukah kamu mau terus hidup, dengan syarat kamu tinggalkan agama Islam?" Walaupun Bilal r.a. disiksa seperti itu namun ia berkata "Ahad!!! Ahad!!!" yang artinya Esa (maksudnya Allah maha Esa)&lt;br /&gt;
Pada malam harinya, Bilal r.a. diikat dengan rantai, kemudian dicambuk terus menerus hingga badannya luka-luka. Pada siang harinya, dia dibaringkan kembali di atas padang pasir yang panas. Dengan cara tersebut tuannya berharap Bilal r.a. akan mati dalam keadaan seperti itu. Orang kafir yang menyiksanya silih berganti, suatu kali Abu Jahal yang menyiksanya, terkadang Umayah bin Khalaf, bahkan orang lain pun turut menyiksanya juga. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyiksa Bilal r.a dengan siksaan yang lebih berat lagi.&lt;br /&gt;
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”&lt;br /&gt;
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras. Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah2 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.&lt;br /&gt;
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.&lt;br /&gt;
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”&lt;br /&gt;
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”&lt;br /&gt;
Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr.&lt;br /&gt;
Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan RasulullahSholallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada saat&amp;nbsp; Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.&lt;br /&gt;
Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Rasulullah saw wafat, Bilal ditugaskan&amp;nbsp; sebagai juru adzan di masjid Nabi. Setelah Rasulullah saw wafat pada mulanya dia tetap tinggal di Manidah Thayyibah. tetapi karena tidak kuat menahan kesedihan setiap kali melewati makam Rasulullah saw (nabi lahir di Mekah dan meninggal di Madinah&amp;nbsp; maka Bilal r.a. meninggalkan Madinah sampai beberapa waktu lamanya.&lt;br /&gt;
Pernah Pada suatu hari, Bilal r.a. bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu Nabi saw bersabda kepadanya "Wahai Bilal, apa yang menghalangimu sehingga engkau tidak pernah berziarah kepadaku". Setelah bangun dari dari tidurnya, Bilal r.a. segera pergi ke Madinah. Setiba di Madinah Hasan dan Husain r.a. meminta Bilal r.a. agar mengumandangkan adzan. Bilal tidak dapat menolak permintaan orang-orang yang dicintainya itu. Ketika Bilal r.a. mulai beradzan, maka terdengarlah suara adzan seperti pada zaman Rasulullah saw. Hal ini sangat menyentuh hati penduduk Madinah, sehingga kaum wanitapun keluar dari rumah masing-masing sambil menangis untk mendengarkan suara adzan Bilal r.a.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa hari lamanya Bilal r.a. tinggal di Madinah, akhirnya dia meninggalkan kota Madinah dan kembali ke Damaskus dan wafat di sana pada tahun kedua puluh Hijriyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://http//id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Sumber Nabi Muhammad&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="goog_2126974862"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_2126974863"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/kisah-bilal-bin-rabbah.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-3888152046295919159</guid><pubDate>Fri, 14 May 2010 22:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T15:35:29.640-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. ke Taif</title><description>&lt;div class="fullpost" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Selama sembilan tahun selepas perlantikan Nabi Muhammad s.a.w sebagai Pesuruh Allah s.w.t., Nabi Muhammad s.a.w telah menjalankan dakwah dikalangan kaumnya sendiri disekitar kota Mekah untuk memimpin dan memperbaiki keadaan hidup mereka.Segelintir manusia sahaja yang telah memeluk agama Islam ataupun yang bersimpati dengan Baginda s.a.w., yang lainnya mencuba dengan sedaya upaya untuk mengganggu dan menghalang Baginda s.a.w dan pengikut-pengikutnya. Diantara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Baginda s.a.w termasuk Abu Talib bapa saudara Baginda s.a.w sendiri. Sungguhpun begitu Abu Talib tidak memeluk agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berikutan dengan kematian Abu Talib, pihak Khuraish berasa bebas untuk memperhebatkan gangguan dan penentangan mereka terhadap Baginda s.a.w. Di Taif, bandar yang kedua terbesar di Hijaz, terdapat Bani Thafiq suatu puak yang sangat kuat dan besar bilangan ahlinya. Nabi Muhammad s.a.w. berlepas keTaif dengan harapan ia dapat mempengaruhi kaum Bani Thafiq untuk menerima Islam dan dengan demikian memperolehi perlindungan bagi pemeluk-pemeluk agama Islam dari gangguan puak Khuraish. Baginda s.a.w juga bercita-cita hendak menjadikan Taif markas kegiatan-kegiatan dakwah Baginda s.a.w. Sebaik-baik sahaja Baginda s.a.w tiba disana, Baginda s.a.w telah mengunjungi tiga orang pemuka Bani Thafiq secara berasingan dan menyampaikan kepada mereka risalah Allah s.w.t. Bukan sahaja mereka tidak mahu menerima ajaran Allah s.w.t. bahkan enggan mendengar apa yang dikemukakan oleh Baginda s.a.w kepada mereka. Baginda s.a.w telah dilayani secara kasar dan sungguh-sungguh biadap. Kekasaran mereka sungguh bertentangan dengan semangat memuliakan dan menghormati yang telah menjadi sebahagian daripada cara hidup bangsa Arab. Dengan terus terang mereka mengatakan yang mereka tidak suka Baginda s.a.w. tinggal ditempat mereka. Baginda s.a.w. berharap yang kedatangan Baginda s.a.w akan disambut dengan sopan santun, diiringi dengan kata-kata yang lemah lembut. Sebaliknya Baginda s.a.w telah dilempari dengan kata-kata yang kasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kata seorang daripada pemuka-pemuka tadi dengan penuh ejekan: "Hoi,benarkah yang Allah s.w.t. telah melantik kamu menjadi PesuruhNya?"Kata seorang lagi sambil ketawa: "Tidak bolehkah Allah memilih manusia selain dari engkau untuk menjadi PesuruhNya?"Yang ketiga pula melempar kata-kata hina yang bunyinya demikian: "Kalau engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin bercakap-cakap dengan engkau kerana perbuatan yang demikian akan mendatangkan bencana kepada diriku.Sebaliknya jika kamu seorang pendusta,tidak guna aku bercakap-cakap dengan engkau."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; Dalam menghadapi penentangan yang sebegini hebat, ketabahan dan kecekalan hati yang merupakan sifat-sifat semulajadi Nabi Muhammad s.a.w. tidak menyebabkan Baginda s.a.w. berasa hampa dan gagal barang sedikit jua pun. Selepas meninggalkan&amp;nbsp; pemuka-pemuka Banu Thafiq tadi, Baginda s.a.w cuba menghampiri rakyat biasa Disini juga Baginda s.a.w menemui kegagalan. Mereka menyuruh Baginda s.a.w keluar dalam Taif. Apabila Baginda s.a.w menyedari yang usahaBaginda s.a.w tidak mendatangkan hasil yang diingini, Baginda s.a.w pun membuat keputusan hendak menginggalkan kota itu. Tetapi mereka tidak membiarkan Baginda s.a.w keluar dari Taif secara aman. Mereka melepaskan kacang-kacang hantu mereka supaya mengusik,mengejek,mengacau dan melemparinya dengan batu. Pelemparan batu yang dilakukan keatas Baginda s.a.w itu sedemikian rupa hingga badan Baginda s.a.w berdarah akibat luka-luka. Apabila Baginda s.a.w berada agak jauh dari kota Taif, Baginda s.a.w pun berdoa kepada Baginda s.a.w. yang bermaksud: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; " Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya uruskanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu. Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah&amp;nbsp; teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Demikianlah sedihnya doa yang dihadapi kepada Allah s.w.t. oleh Baginda s.a.w sehingga Allah s.w.t. mengutuskan Malaikat Jibrail buat menemui Baginda s.a.w. Setibanya dihadapan Nabi Muhammad s.a.w. diapun memberi salam seraya berkata:" Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung ganang disini khas untuk menjalankan sebarang perintah kamu." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat itu dimuka Baginda s.a.w Kata Malaikat ini:"Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung disebelah menyebelah kota ini berlanggaran sehingga penduduk-penduduk dikedua-dua belah mati tertindih. Kalau tidak, Tuan cadangkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mendengar janji-janji Malaikat itu, Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan pun berkata:"Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., yang anak-anak mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sekarang perhatikanlah tauladan mulia dan suci murni yang telah dipertunjukkan oleh Baginda s.a.w. Kita semua mengakui yang kita menjadi pengikut-pengikutNya, tetapi dalam urusan hidup kita sehari-sehari,apabila cadangan kita ditolak atau tidak dipersetujui maka kita dengan lekasnya melemparkan maki hamun dan terkadang-kadang bercita-cita hendak membalas dendam terhadap mereka yang tidak bersetuju dengan kita.Sebagai pengikut-pengikutnya kita hendahlah mencontohi Baginda s.a.w. Selepas menerima penghinaa ditangan penduduk-penduduk Kota Taif, Baginda s.a.w hanya berdoa. Baginda s.a.w. tidak memarahi mereka,tidak mengutuk mereka dan tidak mengambil sebarang tindakan balas walaupun diberi kesempatan sebaik-baiknya untuk membuat demikian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/perjalanan-nabi-muhammad-saw-ke-taif.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-4245458003785838807</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 14:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T15:04:43.626-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Abdul Malik bin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz</title><description>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Dan Putranya, &lt;b&gt;‘Abdul Malik bin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;(Cerminan Keakraban Dan Keharmonisan Antara Ayah Yang Shalih Dan Anak Yang Shalih) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Tahukah anda bahwa setiap kaum mempunyai orang cerdas, dan orang cerdas Bani Umayyah adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz serta bahwa kelak dia dibangkitkan pada Hari Kiamat seorang diri sebagai umat.?” (Muhammad bin Ali bin al-Husain)&lt;span id="more-41"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Belum lagi seorang tabi’i yang agung, Amirul mu’minin, ‘‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz membersihkan kedua tangannya dari debu kuburan pendahulunya (yakni, khalifah sebelumnya), Sulaiman bin ‘Abdul Malik, tiba-tiba beliau mendengar suara gemuruh bumi di sekitarnya, lalu beliau berkata, “Apa ini?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Orang-orang berkata, “Ini adalah kendaraan Khalifah -wahai Amirul mu’minin- telah disiapkan untukmu agar engkau menaikinya.” Lalu Umar melihatnya dengan sebelah mata, kemudian berkata dengan suara gemetar dan terbata-bata karena kelelahan dan kurang tidur, “Apa hubungannya denganku? Jauhkanlah ini dariku, mudah-mudahan Allah memberkati kalian. Dan tolong bawa kemari keledaiku, karena ia sudah cukup bagiku.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemudian belum lagi pas posis duduk beliau di atas punggung keledai hingga datanglah komandan polisi yang berjalan di depannya. Bersamanya sekelompok anak-anak buahnya yang berbaris di sektor kanan dan kirinya. Di tangan-tangan mereka tergenggam tombak yang mengkilat. Lalu beliau menoleh ke arahnya dan berkata, “Aku tidak membutuhkan kamu dan mereka. Aku hanyalah orang biasa dari kalangan kaum muslimin. Aku berjalan pagi hari dan sore hari sama seperti mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selanjutnya, beliau berjalan dan orang-orang berjalan bersamanya hingga memasuki masjid dan orang-orang dipanggil untuk shalat, “ash-Shalâtu Jami’ah…ash-Shalâtu Jami’ah.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Maka berdatanganlah orang-orang ke masjid dari segala penjuru. Ketika jumlah mereka telah sempurna, beliau berdiri sebagai khatib. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya serta bershalawat atas nabi, kemudian berkata, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Wahai manusia, sesungguhnya aku mendapat cobaan dengan urusan ini (khilafah) yang tanpa aku dimintai persetujuan terlebih dahulu, memintanya ataupun dan bermusyawarah dulu dengan kaum muslimin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sesungguhnya, aku telah melepaskan baiat yang ada di pundak kalian untukku, untuk selanjutnya kalian pilihlah dari kalangan kalian sendiri seorang khalifah yang kalian ridlai.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lantas orang-orangpun berteriak dengan satu suara, “Kami telah memilihmu, wahai Amirul mu’minin dan kami ridla terhadapmu. Maka aturlah urusan kami dengan berkat karunia dan barakah Allah.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika suara-suara telah senyap dan hati telah tenang, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya sekali lagi dan bershalawat atas Muhammad, hamba dan utusan Allah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Beliau mulai menganjurkan orang-orang supaya bertakwa, mengajak mereka supaya berzuhud dari kehidupan dunia, mensugesti mereka kepada kehidupan akhirat dan mengingatkan mereka kepada kematian dengan intonasi yang dapat melunakkan hati yang keras, menjadikan air mata durhaka bercucuran dengan deras dan keluar dari lubuk hati pemiliknya sehingga terpatri di dalam lubuk hati para pendengarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemudian beliau meninggikan suaranya yang agak serak supaya semua orang mendengarnya,&lt;br /&gt;
“Wahai manusia barangsiapa yang taat kepada Allah, maka dia wajib ditaati. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah, maka tidak seorangpun yang boleh ta’at kepadanya. Wahai manusia, Taatilah aku selama aku menaati Allah dalam menangani urusan kalian. Jika aku bermaksiat kepada Allah, maka kalian tidak usah taat kepadaku.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemudian beliau turun dari mimbar untuk menuju ke rumahnya dan masuk ke kamarnya. Beliau benar-benar ingin mendapatkan sedikit istirahat, setelah kelelahan yang amat sangat, semenjak wafatnya khalifah sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Akan tetapi, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz baru saja mau meletakkan punggungnya di tempat tidurnya, hingga datanglah putranya, ‘‘Abdul Malik yang waktu itu baru menginjak usia tujuh belas tahun. Lalu sang putra berkata, “Apa yang ingin engkau lakukan, wahai Amirul mu’minin?!!” Ayahnya menjawab,&lt;br /&gt;
“Wahai anakku, aku ingin tidur sejenak, karena sudah tersisa lagi tenagaku ini.”&lt;br /&gt;
“Apakah engkau masih ingin tidur sejenak sebelum mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi, wahai Amirul mukminin?!!” kata putranya lagi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lalu sang ayah menjawab, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Wahai anakku, sesungguhnya aku tadi malam bergadang malam (tidak tidur) karena bersama pamanmu Sulaiman. Nanti kalau sudah datang waktu Dzuhur, aku akan shalat bersama orang-orang dan akan dan aku mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi tersebut, insya Allah.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sang putra berkata lagi, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Siapakah yang menjaminmu, wahai Amirul mukminin kalau usiamu hanya sampai Zhuhur?!” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ucapan ini berhasil membakar semangat Umar dan melenyapkan rasa kantuk dari kedua matanya sehingga membangkitkan kekuatan dan kesegaran badannya yang sebelumnya demikian lelah. Ketik itu berkatalah dia kepada sang putra, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Mendekatlah kemari wahai putraku.!” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sang putrapun mendekat dan Umar langsung memeluk serta menciumi keningnya seraya berkata,&lt;br /&gt;
“Segala puji bagi Allah yang telah melahirkan dari keturunanku orang yang menolongku di dalam menjalankan agama.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemudian beliau berdiri dan menyuruh supaya di umumkan kepada orang-orang, “barangsiapa yang merasa teraniaya, maka hendaklah dia mengajukan perkaranya.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lalu, siapakah ‘&lt;b&gt;Abdul Malik&lt;/b&gt; ini?! Bagaiman cerita anak muda ini sehingga menjadi buah bibir orang-orang? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sungguh, dialah anak yang berhasil mensugesti ayahnya untuk rajin beribadah dan mengarahkannya agar menempuh jalan kezuhudan. Marilah kita telusuri lagi kisah pemuda yang shalih ini dari awalnya.!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mempunyai lima belas orang anak, tiga di antaranya ada tiga perempuan. Anak-anak itu semuanya adalah anak-anak yang memiliki tingkat ketakwaan dan keshalihan yang sangat memadai. Namun ‘Abdul Malik adalah putra paling menonjol di antara saudara-saudaranya dan bintangnya mereka yang bersinar-sinar. Dia seorang anak yang ahli sastra, mahir lagi cerdik sekalipun usia masih muda tetapi cara berpikirnya sudah dewasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di samping itu, dia memang tumbuh sebagai anak yang ta’at kepada Allah sejak mudanya sehingga dialah orang yang tingkah lakunya paling dekat dengan keluarga besar al-Khaththab secara umum serta yang paling mirip dengan ‘Abdulllah bin ‘Umar, khususnya dari sisi ketakwaan kepada Allah, rasa takut berbuat maksiat kepada-Nya serta bertaqarrub kepada-Nya dengan melakukan keta’atan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Keponakannya Ashim (bin Abu Bakar bin Abdul Aziz bin Marwan, dia adalah anak saudara ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz) bercerita, “Suatu waktu, aku bertandang ke Damaskus lantas mampir di rumah anak pamanku (sepupuku), ‘Abdul Malik. saat itu, dia masih bujangan, lalu kami menunaikan shalat isya’ kemudian masing-masing kami beranjak ke tempat tidur. Lalu ‘Abdul Malik mendekati lampu dan mematikannya sementara masing-masing kami mulai tidur. Kemudian aku bangun pada tengah malam, ternyata ‘Abdul Malik sedang berdiri shalat dengan khusyu’nya seraya membaca firman Allah Azza wa Jalla (artinya), &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Q.s.,asy-Syu’arâ`:205-207) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tidak ada yang membuatku begitu terkesan kepadanya kecuali saat dia mengulang-ulang ayat tersebut dan menangis dengan tangisan yang tersedu-sedu dari dalam hati (tidak terdengar). setiap kali dia selesai dari ayat itu, dia mengulanginya kembali, sehingga aku berkata dalam hati, “Anak ini bisa mati oleh tangisannya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika aku melihatnya seperti itu, aku mendesis,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Lâ ilâha illallâh wal hamdu lillâh. Seakan ucapan orang yang bangun dari tidur, padahal tujuanku untuk menghentikan tangisannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika mendengar suaraku, dia terdiam dan tidak lagi terdengar suara rintihannya tersebut.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemuda dari keluarga besar ‘Umar ini banyak berguru kepada ulama’-ulama’ besar pada zamannya sehingga begitu ‘enjoy’ dengan Kitab Allah, kenyang dengan hadits Rasulullah serta pemahaman terhadap agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sehingga dia menjadi seorang yang dapat berkompetisi dengan para ulama kelas atas (ternama) pada zamanya, sekalipun usianya ketika itu masih sangat muda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah mengumpulkan para Qurra` (ahli baca al-Qur’an) dan ahli fiqih negeri Syam. ketika itu, beliau berkata,&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya aku memanggil kalian untuk penanganan tindak kezhaliman yang sekarang ada di tangan keluargaku, bagaimana pandangan kalian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Maka mereka berkata,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya hal itu tidak termasuk kawasan wewenang anda. Dosa-dosa atas tindakan kezhaliman tersebut sepenuhnya berada di pundak orang yang mengambilnya secara tidak benar (merampasnya).”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Rupanya beliau belum puas dengan jawaban mereka tersebut, lalu melirik ke arah salah seorang di antara mereka yang tidak sependapat dengan pendapat mereka itu, seraya berkata kepadanya,&lt;br /&gt;
“Utuslah orang untuk memanggil ‘Abdul Malik, karena dia tidak lebih rendah ilmunya, pemahaman (fiqih)nya ataupun daya nalarnya dari orang-orang telah yang engkau undang.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika ‘Abdul Malik menemuinya, Umar berkata kepadanya,&lt;br /&gt;
“Bagaimana pendapatmu tentang harta orang-orang yang diambil anak-anak paman kita secara dzalim, sedangkan pemilik-pemiliknya telah datang dan memintanya dan kita telah mengetahui hak mereka pada harta itu?!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;‘Abdul Malik berkata, “Menurutku, hendaknya ayahanda mengembalikan harta itu kepada para pemiliknya selama ayahanda mengetahui permasalahannya. Sebab, jika tidak, berarti ayahanda termasuk kongsi orang-orang yang mengambilnya secara dzalim tersebut.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Maka lapanglah seluruh rongga-rongga tubuh Umar, jiwanya menjadi lega dan apa yang menghantuinyapun hilang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Anak muda keturunan Umar ini lebih menyukai “Murabathah” (berjaga-jaga di perbatasan dari serangan musuh) dengan tinggal di salah satu kota yang dekat dengannya ketimbang tetap tinggal di negeri Syam.&lt;br /&gt;
Dia tetap berangkat ke sana sementara di belakangnya kota Damaskus yang bertaman indah, naungan yang rimbun dan memiliki tujuh sungai dia tinggalkan begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Dalam pada itu, sekalipun sang ayah telah mengetahui keshalehan dan ketakwaan anaknya, beliau masih mengkhawatirkannya dan kasihan kalau-kalau dia bisa luluh oleh godaan syaitan dan gejolak-gejolak masa muda serta begitu antusias untuk mengetahui segala-galanya tentang dirinya tersebut selama dia bisa mengetahuinya. Dan beliau tidak pernah melalaikan hal itu dan tidak pernah mengabaikannya sama sekali. &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Maimun bin Mahran, seorang menteri, Qadli sekaligus penasehat ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, pernah bercerita,&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; “Sewaktu menemui ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, aku mendapatinya sedang menulis surat kepada anaknya, ‘Abdul Malik. Dalam suratnya itu, beliau memberikan nasehat, pengarahan, peringatan, berita menakutkan dan gembira. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di antara isinya adalah, ‘Amma ba’du, sesungguhnya engkaulah orang yang paling pantas untuk menangkap dan memahamai ucapanku. Dan sesungguhnya pula, segala puji bagi Allah, Dia telah berbuat baik kepada kita dari urusan sekecil-kecilnya hingga sebeasar-besarnya. Maka ingatlah karunia Allah kepadamu dan kepada kedua orang tuamu. Janganlah sekali-kali kamu berlaku sombong dan bangga diri, karena hal itu adalah termasuk perbuatan syaitan, sedangkan syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi orang-orang yang beriman. Dan ketahuilah, bahwa aku mengirimkan surat ini, bukan karena ada laporan tentang dirimu sebab aku tidak mengetahui tentangmu kecuali hal yang baik-baik. Namun demikian, telah sampai laporan kepadaku bahwa perihal tindakanmu yang suka berbangga-bangga diri. Seandainya kebanggaan ini menyeretmu kepada sesuatu yang aku benci, tentu kamu mendapatkan telah melihat dariku sesuatu yang kamu benci. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Maimun berkata, “Kemudian Umar menoleh kepadaku seraya berkata, ‘Wahai Maimun, sesungguhnya anakku -’Abdul Malik- telah menghiasi mataku (dikasihi dan tidak ada lagi cacatnya) dan aku menuduh diriku telah melakukan itu. Karenanya, aku khawatir kalau rasa cintaku kepadanya telah melebihi pengetahuanku tentang dirinya sehingga apa yang menimpa nenek moyangku dulu yang buta terhadap aib anak-anaknya menimpa diriku juga. Maka pergilah untuk mengawasinya, carilah informasi akurat tentangnya serta perhatikanlah apakah ada padanya sesuatu yang mirip kesombongan dan berbangga-bangg itu, karena dia masih anak muda dan aku belum dapat menjamin dirinya bisa terhindar dari godaan syaithan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Maimun berkata lagi,  “Maka aku segera berangkat hingga bertemu dengan ‘Abdul Malik, lalu minta permisi dan masuk. Ternyata dia adalah seorang yang baru menginjak remaja dan masih muda belia, memiliki pandangan yang ceria dan sangat tawadlu’ (rendah diri). Dia duduk di atas hamparan putih, di atas karpet yang terbuat dari bulu. Lantas menyambutku sembari berkata, ‘Aku telah mendengar ayahanda sering berbicara tentang dirimu yang memang pantas kamu menyandangnya, yaitu seorang yang baik. Aku berharap Allah menjadikanmu orang yang berguna.’ Aku bertanya kepadanya,  ‘Bagaimana keadaanmu?’ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dia menjawab, ‘Senantiasa dalam keadaan baik dan mendapat nikmat dari Allah Azza wa Jalla. Hanya saja, aku khawatir bilamana sangkaan baik ayahanda terhadapku membuatku terbuai sementara sebenarnya aku belum mencapai tingkat keutamaan sebagaimana yang disangkanya itu. Dan sungguh aku khawatir kalau kecintaan ayahanda kepadaku telah melebihi pengetahuannya tentang diriku sehingga aku malah menjadi bebannya.’ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mendengar jawaban itu, aku (Maimun) jadi terkagum-kagum kenapa bisa terjadi kecocokan hati di antara keduanya. Kemudian aku bertanya kepadanya, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;‘Tolong beritahu aku dari mana sumber penghidupanmu.?’ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dia berkata, “Dari hasil tanah yang aku beli dari seseorang yang mendapat warisan ayahnya. Aku membayarnya dengan uang yang bukan syubhat sama sekali sehingga karenanya aku tidak membutuhkan lagi harta Fai’ (yang didapat tidak melalui peperangan-red.,) kaum Muslimin.’ Aku bertanya lagi,&lt;br /&gt;
‘Apa makananmu?’ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;‘Terkadang daging, terkadang ‘Adas dan minyak dan terkadang cuka dan minyak. Dan, ini sudah cukup.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lalu aku bertanya lagi, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Apakah kamu tidak merasa bangga dengan dirimu sendiri?” Dia menjawab, “Pernah aku merasakan sedikit dari hal semacam itu namun tatkala ayahandaku memberikan wejangan kepadaku, dia berhasil membelalakkan mataku akan hakikat diriku dan menjadikannya kecil bagiku dan jatuh harkatnya di mataku sehingga akhirnya Allah Azza wa Jalla menjadikan wejangan itu bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah membalas kebaikan ayahandaku.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Satu jam aku habiskan untuk mengobrol bersamanya dan rileks dengan ucapannya. Rasanya, belum pernah aku melihat pemuda setampan dia, sesempurna otaknya dan seluhur akhlaqnya padahal dia masih beliau dan kurang pengalaman. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika di penghujung siang, pembantunya datang semberi berkata,&lt;br /&gt;
“Semoga Allah memperbaiki dirimu, kami sudah kosongkan!.” Lalu dia diam…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Aku bertanya kepadanya,&lt;br /&gt;
“Apa yang mereka kosongkan itu?.”&lt;br /&gt;
“WC.” Katanya&lt;br /&gt;
“Bagaimana caranya.?” Tanyaku lagi&lt;br /&gt;
“Yah, mereka kosongkan dari orang-orang.” Jawabnya&lt;br /&gt;
“Tadinya sikapmu mendapatkan tempat yang agung di hatiku hingga sekarang aku dengar hal ini.” Kataku&lt;br /&gt;
Dia begitu cemas dan mengucap Innâ Lillâhi Wa Innâ Ilaihi Râji’ûn, lalu berkata,&lt;br /&gt;
“Apa itu, wahai paman –semoga Allah merahmatimu-?.”&lt;br /&gt;
“Apakah WC itu milikmu.?” Tanyaku&lt;br /&gt;
“Bukan.” Katanya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; “Lantas apa alasanmu mengeluarkan orang-orang darinya.? Sepertinya dengan tindakanmu itu, engkau ingin mengangkat dirimu di atas mereka dan menjadikan kedudukanmu berada di atas kedudukan mereka. Kemudian engkau juga menyakiti si penunggu WC ini dengan tidak mengabaikan upah hariannya dan membuat orang yang datang ke mari pulang sia-sia.” Kataku lagi &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Dia berkata, “Adapun mengenai penunggu WC ini, maka aku sudah membuatnya rela dengan memberikan upah hariannya.”&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; “Ini namanya pengeluaran foya-foya yang dicampuri oleh kesombongan. Apa sih yang membuatmu enggan masuk WC bersama orang-orang padahal engkau sama saja dengan salah seorang dari mereka.?” Kataku “Yang membuatku enggan hanyalah polah beberapa orang-orang tak beres yang masuk WC tanpa penghalang sehingga kau tidak suka melihat aurat-aurat mereka itu. Demikian pula, aku tidak suka memaksa mereka mengenakan penghalang sehingga hal ini bisa mereka anggap sebagai campur tanganku terhadap mereka dengan menggunakan kewenangan penguasa yang aku bermohon kepada Allah agar kita terhindar darinya. Karena itu, tolong nasehati aku –semoga Allah merahmatimu- sehingga berguna bagiku dan carilah solusi dari permasalahan ini!” Jawabnya. &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Aku berkata,&lt;br /&gt;
“Tunggulah dulu hingga orang-orang keluar dari WC pada malam hari dan kembali ke rumah-rumah mereka, lalu masuklah.!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Kalau begitu, aku berjanji. Aku tidak akan masuk selama-lamanya pada siang hari semenjak hari ini dan andaikata bukan karena begitu dinginnya temperatur di negeri ini (sehingga selalu ingin buang hajat-red.,), tentu aku tidak akan masuk ke WC itu selama-lamanya.” Katanya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dia berhenti sejenak seakan memikirkan sesuatu, kemudian mengangkat kepalanya menoleh ke arahku sembari berkata,&lt;br /&gt;
“Aku bersumpah di hadapanmu, tolong dengan sangat engkau simpan rahasia ini sehingga tidak didengar ayahandaku, sebab aku tidak suka dia masih marah padaku. Aku khawatir bila datang ajal sementara tidak mendapatkan keridlaan beliau.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Maimun berkata,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; “Lalu aku berniat ingin mengetesnya seberapa jauh ke dalaman akalnya, seraya berkata kepadanya, ‘Jika Amirul Mukminin (‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, ayahandanya) bertanya kepadaku, apakah aku melihat sesuatu darimu, apakah engkau tega aku berdusta terhadapnya?.”&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; “Tidak. Ma’adzallâh, akan tetapi katakan padanya, ‘aku telah melihat sesuatu darinya lantas aku nasehati dia, aku jadikan hal itu sebagai perkara besar di hadapan matanya lalu dia cepat-cepat sadar.’ Setelah itu, ayahandaku pasti tidak akan menanyakanmu untuk menyingkap hal-hal yang tidak engkau tampakkan padanya. Sebab, Allah Ta’ala juga melindunginya dari mencari hal-hal yang masih terselubung.” Jawabnya &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Maimun berkata, “Sungguh, aku belum pernah sama sekali melihat seorang anak dan ayah seperti mereka berdua –semoga Allah merahmati keduanya-.“&lt;br /&gt;
Semoga Allah meridlai khalifah ar-Rasyid kelima, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, menyejukkan kuburannya dan kuburan putra serta buah hatinya, ‘‘Abdul Malik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Keselamatanlah bagi keduanya pada hari bertemu dengan Allah Ta’ala, ar-Rafîq al-A’la.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Keselamatanlah bagi keduanya pada hari dibangkitkan bersama orang-orang pilihan dan ahli kebajikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/abdul-malik-bin-umar-bin-abdul-aziz.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-4259514910728433908</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 14:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T15:11:28.256-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Thaawus Ibn Kaisan</title><description>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="storycontent"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; “Aku melihatmu wahai Abu Abdirrahman dalam mimpi, engkau shalat di Ka’bah dan Nabi berada di pintunya, beliau bersabda kepadamu, ‘Bukalah penutup mukamu dan terangkanlah bacaanmu wahai Thaawus’” (Mujahid)&lt;/span&gt;&lt;span id="more-42"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hampir saja khalifah muslimin Sulaiman ibn Abdul Malik sampai dan menetap di ujung al-Baitul ‘Atiq (Ka’bah) dan membasahi kerinduannya kepada Ka’bah yang agung hingga ia menoleh kepada penjaganya dan berkata, “Carilah seorang alim untuk kita yang dapat memberikan pemahaman agama kepada kita dan mengingatkan kita pada hari yang mulia dari hari-hari Allah ini.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Penjaga tersebut pergi memandangi wajah-wajah Ahlul Mausim (kumpulan orang yang berhaji), dan mulai menanyai mereka tentang keinginan amirul mukminin, lalu ada yang memberitahukan kepadanya, “Ini Thaawus ibn Kaisan, Ahli fiqih masanya, orang yang paling jujur bahasanya dalam berdakwah kepada Allah, ambillah ia.!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Penjaga tersebut menemui Thaawus dan berkata, “Penuhilah undangan amirul mukminin wahai syaikh.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Thaawus memenuhi undangan tanpa berlambat-lambat, hal itu karena ia meyakini bahwa wajib bagi para dai kepada Allah ta’ala agar memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan kepadanya di mana mereka pasti sesegera mungkin mengambil kesempatan itu. Ia meyakini bahwa kalimat yang paling afdhal (utama) adalah Kalimatul Haq (Perkataan benar) yang diharapkan dapat meluruskan kebengkokan para pemimpin dan menjauhkan mereka dari kezhaliman serta mendekatkan mereka kepada Allah ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Thaawus pun pergi bersama penjaga. Ketika masuk menemui amirul mukminin, ia menyalaminya. Khalifah membalas salamnya dengan yang lebih baik dari itu dan memuliakan penyambutannya dan mendekatkan majlisnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ia (khalifah) mulai menanyainya tentang apa yang musykil (pelik) dari manasik-manasik haji dan ia (Thaawus) mendengarkannya dengan penuh penghormatan dan pengagungan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Thaawus berkata, “Ketika aku merasa bahwa amirul mukminin telah sampai kepada keinginannya dan tidak tersisa apa yang akan ditanyakannya. Aku berkata dalam diriku, ‘Sesungguhnya majlis ini adalah majlis yang Allah akan menanyaimu tentangnya wahai Thaawus.!” Kemudian aku menghadap kepadanya dan berkata, ‘Wahai amirul mukminin, sesungguhnya ada batu besar berada di tepi sumur di jurang Jahannam. Ia terus menggelinding di sumur tersebut selama tujuh puluh tahun hingga sampai pada dasarnya. Tahukah anda untuk siapa Allah menyiapkan satu sumur dari sumur-sumur Jahannam ini wahai amirul mukminin?.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tanpa berpikir, ia pun menjawab, “Tidak.” Kemudian ia kembali kepada dirinya dan berkata, “Aduh celaka, untuk siapa Allah menyiapkannya.?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Aku menjawab, “Allah telah menyiapkannya untuk orang yang telah Dia jadikan sebagai wali dalam hukum-Nya kemudian ia berbuat aniaya.!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sulaiman terkejut ketakutan dibuatnya. Aku mengira bahwa nyawanya akan keluar dari badannya. Ia mulai menangis tersedu-sedu mengiris urat jantung. Aku meninggalkannya dan beranjak pergi sementara ia mengucapkan terima kasih kepadaku. Ketika Umar ibn Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah, ia mengirim surat kepada Thaawus ibn Kaisan dan berkata kepadanya, “Wasiatilah aku wahai Abu Abdirrahman.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Thaawus menulis risalah kepadanya dalam satu baris yang isinya, “Apabila engkau menginginkan agar seluruh amalanmu baik, maka pekerjakanlah Ahlul Khair (orang-orang yang baik), wassalam.” Ketika Umar membaca risalah tersebut, ia berkata, “Cukuplah ini sebagai mauidzah…cukuplah ini sebagai mau’izhah.!!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ketika khilafah berpindah kepada Hisyam ibn Abdul Malik, ada kejadian-kejadian masyhur yang diriwayatkan antara Thaawus dengannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Di antarnya adalah bahwa Hisyam datang ke Baitul Haram menunaikan haji. Sesampainya di al-Haram, berkatalah ia kepada orang-orang terdekatnya dari penduduk Mekkah, “Carilah untuk kami seseorang dari sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya para sahabat -wahai Amirul Mukminin- telah bertemu dengan Rabb mereka satu demi satu hingga tidak tersisa seorang pun dari mereka.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Kalau demikian, maka dari tabi’inm,” katanya. Lalu didatangkanlah Thaawus ibn Kaisan.Ketika masuk menemuinya, ia melepas kedua sandalnya di ujung permadaninya. Kemudian ia menyalami sang khalifah tanpa memanggilnya dengan sapaan Amirul Mukminin tapi memanggilnya dengan namanya tanpa menggunakan kunyah-nya. Ia juga duduk sebelum diizinkan untuk duduk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kemarahan menyala dalam diri Hisyam hingga terlihat di kedua matanya. Yang demikian itu karena ia melihat tingkah laku Thaawus yang begitu berani terhadapnya dan merendahkan wibawanya di hadapan anggota majlis serta para bawahannya. Hanya saja ia langsung teringat bahwa ia sedang berada di tanah haram Allah . Ia menenangkan dirinya dan berkata kepada Thaawus, “Apa yang membuatmu melakukan hal tersebut wahai Thaawus.?!” “Apa yang telah aku lakukan,?” katanya. Khalifah kembali marah dan murka seraya berkata, “Kamu melepaskan sandallmu di ujung karpetku. Kamu tidak menyalamiku dengan sapaan amirul mukminin tapi kamu memanggilku dengan namaku bukan dengan kunyah-ku, lalu kamu duduk tanpa izin dariku.!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dengan tenang Thaawus menjawab, “Adapun kenapa aku melepas sandalku di ujung karpetmu, maka aku melepaskannya di hadapan Rabbul ‘Izzah setiap hari lima kali sedangkan Dia tidak mencelaku dan marah kepadaku.!? Adapun ucapanmu bahwa aku tidak menyalamimu dengan sapaan amirul mukminin, karena tidak seluruh muslimin ridha dengan kepemimpinanmu sehingga aku takut berdusta bila memanggilmu dengan amirul mukminin. Adapun celaanmu terhadapku bahwa aku memanggilmu dengan namam, bukan dengan julukanmu, maka sesungguhnya Allah memangggil para nabi-Nya menggunakan nama-nama mereka, Allah berfirman, “Wahai Daud…wahai Yahya…wahai ‘Isa!!” namun Dia malah memberikan julukan kepada para musuh-Nya, Dia berfirman, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab (paman Nabi) dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS.al-Masad:1) Adapun perkataanmu bahwa aku duduk sebelum engkau mengizinkan, sesungguhnya aku mendengar amirul mukminin, ‘Ali ibn Abi Thalib berkata, ‘Apabila engkau ingin melihat kepada seseorang dari ahli neraka, maka lihatlah kepada orang yang duduk sedangkan di sekelilingnya orang-orang berdiri di hadapannya,” maka aku tidak mau kalau engkau menjadi orang yang termasuk dari ahli neraka itu.!!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hisyam lalu menundukkan pandangannya ke tanah karena malu, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, “Nasihati aku wahai Abu Abdirrahman.” Ia menjawab, “Aku mendengar ‘Ali ibn Abi Thalib berkata, ‘Sesungguhnya di Jahannam ada ular-ular yang seperti tiang yang tinggi kokoh dan kalajengking-kalajengking yang besarnya seperti Bighal (hasil dari perkawinan antara kuda dengan keledai, penj). Ia menyengat setiap pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya.!!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kemudian ia bangkit dan pergi. Sebagaimana Thaawus mendatangi sebagian ulil amri untuk mengingatkan dan mengarahkan mereka. Ia juga berpaling dari sebagian yang lain untuk merendahkan dan mencela mereka. Putranya menceritakan, “Pada suatu tahun kami keluar bersama ayah untuk menunaikan haji dari Yaman, kami singgah di beberapa kota. Kota tersebut memiliki seorang pejabat yang dikenal dengan sebutan ‘Ibn Nujaih.’ Ia adalah pejabat yang paling busuk, orang yang paling berani terhadap kebenaran dan orang yang demikian banyak terjerumus ke dalam kebathilan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kami mendatangi masjid negeri tersebut untuk melaksanakan shalat fardhu. Ternyata Ibn Nujaih telah mengetahui kedatangan ayahku. Ia datang ke masjid dan duduk di hadapannya serta menyalaminya. Ayahku tidak menjawabnya dan memalingkan punggungnya.!? Ia mendatangi daru sebelah kanannya dan mengajaknya berbicara, namun ayahku tetap berpaling darinya. Ia berpindah ke sebelah kirinya dan mengajaknya bicara, tetapi ia berpaling juga darinya. Ketika melihat hal tersebut, aku bangkit kepadanya dan menjulurkan tanganku ke arahnya. Aku menyalaminya dan berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya ayahku belum mengenalmu.’ Ia menjawab, ‘Bahkan, sesungguhnya ayahmu telah mengenalku. Dan sesungguhnya lantaran begitu kenal denganku membuatnya berbuat seperti apa yang kamu lihat tadi.!’ Ia kemudian pergi, diam dan tidak berkata sepatah pun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ketika kami kembali ke persinggahan, ayahku menoleh kepadaku dan berkata, ‘Wahai dung.! (mengapa) kamu mencela mereka dengan lidah tajammu di saat mereka tidak ada. Dan bila mereka datang, kamu lembutkan perkataanmu kepada mereka!! Bukankah ini benar-benar nifak?!.’”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Demikianlah, Thaawus ibn Kaisan tidaklah mengkhususkan para khalifah dan umara dengan mauidzah-mauidzahnya, akan tetapi mencurahkannya kepada setiap orang yang merasa memiliki hajat dan raghbah (kecintaan) kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Di antaranya yang diriwayatkan oleh ‘Athaa ibn Abi Rabbah, ia berkata, “Thaawus ibn Kaisan melihatku di suatu tempat yang ia tidak merasa senang. Ia berkata, ‘Wahai ‘Athaa, jauhi olehmu untuk mengangkat hajat-hajatmu kepada orang yang menutup pintunya di wajahmu serta menempatkan para penjaganya di depanmu. Akan tetapi mintalah hajatmu dari Dzat yang membuka pintu-pintuNya untukmu dan menuntutmu untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji akan mengabulkan untukmu.!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ia pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, temanilah orang-orang yang berakal, niscaya kamu akan dinasabkan kepada mereka, walaupun engkau tidak termasuk dari mereka (bukan seperti mereka). Janganlah engkau berteman dengan orang-orang yang jahil, karena sesungguhnya bila engkau bersahabat dengan mereka, engkau akan dinisbatkan kepada mereka walaupun engkau tidak termasuk dari golongan mereka (bukan seperti mereka).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ketahuilah bahwa segala sesuatu memiliki tujuan dan sesungguhnya tujuan seorang manusia adalah kesempurnaan agamanya dan kesempurnaan akhlaknya.” Putra beliau, Abdullah telah tumbuh di bawahan asuhan dan didikan sang orang tua, berakhlak seperti akhlaknya dan mengikuti jejak perjalanan hidupnya. Di antaranya, bahwa Khalifah al-‘Abbasi (khalifah Bani Abbasiyah), Abu Ja’far al-Manshur telah memanggil putra Thawus, yakni Abdullah ibn Thaawus serta (memanggil) Malik ibn Anas* untuk menziarahinya. Ketika keduanya masuk menemuinya dan mengambil tempat duduknya di dekatnya, khalifah menoleh kepada Abdullah ibn Thaawus dan berkata, “Riwayatkan kepadaku sesuatu dari hadits yang telah disampaikan ayahmu kepadamu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ia menjawab, “Ayahku telah bercerita kepadaku bahwa manusia yang peling keras adzabnya pada hari kiamat adalah seseorang yang telah Allah jadikan sebagai pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin dalam kekuasaannya, kemudian ia memasukkan kezhaliman dalam putusannya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Malik ibn Anas berkata, “Ketika mendengar perkataannya ini, aku mendekap pakaianku takut darahnya menimpaku. Hanya saja Abu Ja’far terdiam sesaat dan tidak berkata. Kemudian kami berlalu dari situ dengan selamat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Thaawus ibn Kaisan telah diberi umur panjang hingga mencapai seratus tahun atau lebih sedikit. Hanya saja ketuaan dan usia yang lanjut tidak sedikitpun mempengaruhi kejernihan akalnya dan ketajaman pikirannya serta kecepatan dalam menjawab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Abdullah asy-Syaami menceritakan, “Aku mendatangi Thaawus di rumahnya untuk menimba ilmu darinya padahal aku tidak mengenalnya. Maka ketika aku mengetuk pintu, keluarlah seorang syaikh tua menemuiku. Aku mengucapkan salam kepadanya dan aku berkata, ‘Apakah anda Thaawus ibn Kaisan.?” Ia menjawab, “Bukan, aku adalah putranya.’ Aku berkata, ‘Bila kamu adalah putranya, aku tidak merasa aman bila syaikh menjadi pikun dan rusak akalnya (karena ketuaan), sesungguhnya aku menujunya dari tempat yang jauh untuk menimba ilmunya.’ Ia menjawab, ‘Celaka engkau! Sesesungguhnya para pengemban kitab Allah tidak rusak akalnya! Masuklah menemuinya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Aku masuk menemui Thaawus dan menyalaminya seraya berkata, ’Sungguh, aku telah mendatangimu untuk menimba ilmumu dan cinta kepada nasehatmu.’ Ia (Thaawus) berkata, ‘Tanyakanlah dan ringkaslah. ’Aku menjawab, ‘Aku akan menyingkatnya semampuku, insya Allah.’ Ia berkata, ‘Apakah kamu ingin agar aku mengumpulkan untukmu inti dari apa yang ada dalam Taurat, Zabur (kitab Nabi Daud AS), Injil dan al-Qur’an?’ ‘Ya,’ jawabku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ia berkata, ‘Takutlah kepada Allah ta’ala dengan penuh rasa takut dimana tidak ada sesuatupun yang lebih kamu takuti dari-Nya. Dan berharaplah dari Dia dengan pengharapan yang lebih besar dari rasa takutmu kepada-Nya. Cintailah untuk manusia apa-apa yang kamu cintai untuk dirimu.!!’”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pada malam kesepuluh dari bulan Dzulhijjah tahun 106 H, bertolaklah syaikh yang telah berusia lanjut, Thaawus ibn Kaisan bersama para jema’ah haji dari Arafah menuju Muzdalifah untuk yang keempat puluh kalinya. Ketika ia menjejakkan kakinya di tanahnya yang suci dan melaksanakan shalat Maghrib bersama Isya (jamak takdim). Ia merebahkan punggungnya ke tanah dan ingin istirahat sebentar. Sesaat kemudian, kematian menjemput beliau.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ia menemui kematiannya jauh dari sanak keluarga dan kampung halaman, dalam keadaan bertaqarrub kepada Allah. Bertalbiyah dan berihram mengharapkan pahala Allah, keluar dari dosa-dosanya seperti ia dilahirkan oleh ibunya berkat karunia Allah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ketika subuh telah muncul dan orang-orang ingin menguburnya. Mereka tidak mampu mengeluarkan jenazahnya karena saking banyaknya orang yang berdesak-desakan terhadapnya. Maka Emir Mekkah mengarahkan penjaga untuk menggiring kerumunan manusia itu dari jenazahnya hingga memudahkan prosesi penguburannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Begitu banyak orang yang menyalatinya sehingga tidak ada yang bisa menghitung jumlahnya kecuali Allah. Dan di antara kelompok yang menyhalatinya itu adalah khalifah kaum muslimin, Hisyam ibn Abdul Malik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;Sumber: Ath-Thabaqatul Kubra oleh Ibn Sa’d: 5/537, Thabaqat khalifah Ibn Khayyaat: 287, Tarikh khalifah Ibn Khayyaat: 236,. At-Tarikh al-Kabiir: 4/365, Al-Jarh wat Ta’diil: 4/500, Hilyatul Auliyaa: 4/3, 23, Thabaqatul Fuqaha oleh asy-Syiirazi: 73, Al-Lubaab: 1/241, Tahdziibut Tahdziib: 2/101, Tarikhul Islam: 4/126, Tadzkiratul Huffadz: 1/90, Al-‘Ibar: 1/130, Thabaqatul Qurra: 1/341, An-Nujumuz Zaahirah: 1/26, Syadzaratudz Dzahab: 1/133&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/thaawus-ibn-kaisan.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-3138873382246035083</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 14:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T15:11:28.261-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Ummu Salamah r.a</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="storycontent"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;Beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah al-Makhzumiyah al-Qursyiyah. Bapaknya adalah putra dari salah seorang Quraisy yang diperhitungkan (disegani) dan terkenal dengan kedermawanannya.Ayahnya dijuluki sebagai “Zaad ar-Rakbi ” yakni seorang pengembara yang berbekal. Dijuluki demikian karena apabila dia melakukan safar (perjalanan) tidak pernah lupa mengajak teman dan juga membawa bekal bahkan ia mencukupi bekal milik temannya. Adapun ibu beliau bernama ‘Atikah binti Amir bin Rabi’ah al-Kinaniyah dari Bani Farras yang terhormat.&lt;span id="more-26"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Disamping beliau memiliki nasab yang terhormat ini beliau juga seorang wanita yang berparas cantik, berkedudukan dan seorang wanita yang cerdas.Pada mulanya dinikahi oleh Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad al-Makhzumi, seorang shahabat yang agung dengan mengikuti dua kali hijrah. Baginya Ummu Salamah adalah sebaik-baik istri baik dari segi kesetiaan, kata’atan dan dalam menunaikan hak-hak suaminya. Dia telah memberikan pelayanan kepada suaminya di dalam rumah dengan pelayanan yang menggembirakan. Beliau senantiasa mendampingi suaminya dan bersama-sama memikul beban ujian dan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy. Kemudian beliau hijrah bersama suaminya ke Habasyah untuk menyelamatkan diennya dengan meninggalkan harta, keluarga, kampung halaman dan membuang rasa ketundukan kepada orang-orang zhalim dan para thagut. Di bumi hijrah inilah Ummu Salamah melahirkan putranya yang bernama Salamah.&lt;br /&gt;
Bersamaan dengan disobeknya naskah pemboikotan (terhadap kaum muslimin dan kaumnya Abu Thalib) dan setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar bin Khaththab radhiallaahu ‘anhuma , kembalilah sepasang suami-isteri ini ke Mekkah bersama shahabat-shahabat yang lainnya.&lt;br /&gt;
Kemudian manakala Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan bagi para shahabatnya untuk hijrah ke Madinah setelah peristiwa Bai’atul Aqabah al-Kubra, Abu Salamah bertekad untuk mengajak anggota keluarganya berhijrah. Kisah hijrahnya mereka ke Madinah sungguh mengesankan, maka marilah kita mendengar penuturan Ummu Salamah yang menceritakan dengan lisannya tentang perjalanan mereka tatkala menempuh jalan hijrah. Berkata Ummu Salamah:&lt;br /&gt;
“Tatkala Abu Salamah tetap bersikeras untuk berhijrah ke Madinah, dia menuntun untanya kemudian menaikkan aku ke atas punggung unta dan membawa anakku Salamah. Selanjutnya kami keluar dengan menuggang unta, tatkala orang-orang dari Bani Mughirah melihat kami segera mereka mencegatnya dan berkata: ‘Jika dirimu saja yang berangkat maka kami tidak kuasa untuk mencegahnya namun bagaimana dengan saudara kami (Ummu Salamah yang berasal dari Bani Mughirah) ini?’. Kemudian mereka merenggut tali kendali unta dari tangannya dan mencegahku untuk pergi bersamanya. Ketika Bani Abdul Asad dari kaum Abi Salamah melihat hal itu, mereka marah dan saling memperebutkan Salamah hingga berhasil mengambilnya dari paman-pamannya, mereka mengatakan:’Tidak! demi Allah kami tidak akan membiarkan anak laki-laki kami bersamanya jika kalian memisahkan istri dari keluarga laki-laki kami’. Mereka memperebutkan anakku, Salamah lalu melepaskan tangannya, kemudian anakku dibawa pergi bergabung dengan kaum bapaknya, sedangkan aku tertahan oleh Bani Mughirah.&lt;br /&gt;
Maka berangkatlah suamiku seorang diri hingga sampai ke Madinah untuk menyelamatkan dien dan nyawanya. Selama beberapa waktu lamanya, aku merasakan hatiku hancur dalam keadaan sendiri karena telah dipisahkan dari suami dan anakku. Sejak hari itu, setiap hari aku pergi keluar ke pinggir sebuah sungai, kemudian aku duduk disuatu tempat yang menjadi saksi akan kesedihanku. Terkenang olehku saat-saat dimana aku berpisah dengan suami dan anakku sehingga menyebabkan aku menangis sampai menjelang malam. Kebiasaan tersebut aku lakukan kurang lebih selama satu tahun hingga ada seorang laki-laki dari kaum pamanku yang melewatiku. Tatkala melihat kondisiku, ia menjadi iba kemudian berkata kepada orang-orang dari kaumku: ‘Apakah kalian tidak membiarkan wanita yang miskin ini untuk keluar? Sungguh kalian telah memisahkannya dengan suami dan anaknya’. Hal itu dikatakan secara berulangkali sehingga menjadi lunaklah hati mereka, kemudian mereka berkata kepadaku: ‘Susullah suamimu jika kamu ingin’. Kala itu anakku juga dikembalikan oleh Bani Abdul Asad kepadaku. Selanjutnya aku mengambil untaku dan meletakkan anakku dipangkuannya. Aku keluar untuk menyusul suamiku di Madinah dan tak ada seorangpun yang bersamaku dari makhluk Allah.&lt;br /&gt;
Manakala aku sampai di at-Tan’im aku bertemu dengan Utsman bin Thalhah. Dia bertanya kepadaku:’Hendak kemana anda wahai putri Zaad ar-Rakbi?’. ‘Aku hendak menyusul suamiku di Madinah”, jawabku. Utsman berkata: ‘apakah ada seseorang yang menemanimu?. Aku menjawab: ‘Tidak! demi Allah! melainkan hanya Allah kemudian anakku ini’. Dia menyahut: ‘Demi Allah engkau tidak boleh ditinggalkan sendirian’. Selanjutnya dia memegang tali kekang untaku dan menuntunnya untuk menyertaiku. Demi Allah tiada aku kenal seorang laki-laki Arab yang lebih baik dan lebih mulia dari Ustman bin Thalhah. Apabila kami singgah di suatu tempat, dia mempersilahkan aku berhenti dan kemudian dia menjauh dariku menuju sebuah pohon dan dia berbaring dibawahnya. Apabila kami hendak melanjutkan perjalanan, dia mendekati untaku untuk mempersiapkan dan memasang pelananya kemudian menjauh dariku seraya berkata: ‘Naiklah!’. Apabila aku sudah naik ke atas unta dia mendatangiku dan menuntun untaku kembali. Demikian seterusnya yang dia lakukan hingga kami sampai di Madinah. Tatkala dia melihat desa Bani Umar bin Auf di Quba’ yang merupakan tempat dimana suamiku, Abu Salamah berada di tempat hijrahnya. Dia berkata:’Sesungguhnya suamimu berada di desa ini, maka masuklah ke desa ini dengan barokah Allah’. Sementara Ustman bin Thalhah langsung kembali ke Makka”.&lt;br /&gt;
Begitulah, Ummu Salamah adalah wanita pertama yang memasuki Madinah dengan sekedup unta sebagaimana beliau juga pernah mengikuti rombongan pertama yang hijrah ke Habasyah. Selama di Madinah beliau sibuk mendidik anaknya – inilah tugas pokok bagi wanita – dan mempersiapkan sesuatu sebagai bekal suaminya untuk berjihad dan mengibarkan bendera Islam. Abu Salamah mengikuti perang Badar dan perang Uhud. Pada Perang Uhud inilah beliau terkena luka yang parah. Beliau terkena panah pada begian lengan dan tinggal untuk mengobati lukanya hingga merasa sudah sembuh.&lt;br /&gt;
Selang dua bulan setelah perang Uhud, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendapat laporan bahwa Bani Asad merencanakan hendak menyerang kaum muslimin. Kemudian beliau memanggil Abu Salamah dan mempercayakan kepadanya untuk membawa bendera pasukan menuju “Qathn”, yakni sebuah gunung yang berpuncak tinggi disertai pasukan sebanyak 150 orang. Di antara mereka adalah ‘Ubaidullah bin al-Jarrah dan Sa’ad bin Abi Waqqash.&lt;br /&gt;
Abu Salamah melaksanakan perintah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadapi musuh dengan antusias. Beliau menggerakkan pasukannya pada gelapnya subuh saat musuh lengah. Maka usailah peperangan dengan kemenangan kaum muslimin sehingga mereka kembali dalam keadaan selamat dan membawa ghanimah. Disamping itu, mereka dapat mengembalikan sesuatu yang hilang yakni kewibawaan kaum muslimin tatkala perang Uhud.&lt;br /&gt;
Pada pengiriman pasukan inilah luka yang diderita oleh Abu Salamah pada hari Uhud kembali kambuh sehingga mengharuskan beliau terbaring ditempat tidur. Di saat-saat dia mengobati lukanya, beliau berkata kepada istrinya: “Wahai Ummu Salamah, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
“Tiada seorang muslimpun yang ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), dilanjutkan dengan berdo’a:’Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya’ melainkan Allah akan menggantikan yang lebih baik darinya”.&lt;br /&gt;
Pada suatu pagi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menengoknya dan beliau terus menunggunya hingga Abu Salamah berpisah dengan dunia. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memejamkan kedua mata Abu Salamah dengan kedua tangannya yang mulia, beliau mengarahkan pandangannya ke langit seraya berdo’a:&lt;br /&gt;
“Ya Allah ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan Al-Muqarrabin dan gantikanlah dia dengan kesudahan yang baik pada masa yang telah lampau dan ampunilah kami dan dia Ya Rabbal’Alamin”.&lt;br /&gt;
Ummu Salamah menghadapi ujian tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan dan jiwa yang diisi dengan kesabaran beliau pasrah dengan ketetapan Allah dan qadar-Nya.Beliau ingat do’a Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Salamah yakni:&lt;br /&gt;
“Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini…”&lt;br /&gt;
Sebenarnya ada rasa tidak enak pada jiwanya manakala dia membaca do’a: “Wakhluflii khairan minha” (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya) karena hatinya bertanya-tanya: ‘Lantas siapakah gerangan yang lebih baik daripada Abu Salamah?’. Akan tetapi beliau tetap menyempurnakan do’anya agar bernilai ibadah kepada Allah.&lt;br /&gt;
Ketika telah habis masa iddahnya, ada beberapa shahabat-shahabat utama yang bermaksud untuk melamar beliau. Inilah kebiasaan kaum muslimin dalam menghormati saudaranya, yakni mereka manjaga istrinya apabila mereka terbunuh di medan jihad. Akan tetapi Ummu Salamah menolaknya.&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam turut memikirkan nasib wanita yang mulia ini; seorang wanita mukminah, jujur, setia dan sabar. Beliau melihat tidak bijaksana rasanya apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping. Pada suatu hari, pada saat Ummu Salamah sedang menyamak kulit, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan meminta izin kepada Ummu Salamah untuk menemuinya. Ummu Salamah mengizinkan beliau. Beliau ambilkan sebuah bantal yang terbuat dari kulit dan diisi dengan ijuk sebagai tempat duduk bagi Nabi. Maka Nabi pun duduk dan melamar Ummu Salamah. Tatkala Rasulullah selesai berbicara, Ummu Salamah hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tiba-tiba beliau ingat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Salamah, yakni; “Wakhlufli khairan minha” (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya), maka hatinya berbisik:’Dia lebih baik daripada Abu salamah’. Hanya saja ketulusan dan keimanannya menjadikan beliau ragu, beliau hendak mengungkapkan kekurangan yang ada pada dirinya kepada Rasulullah. Dia berkata:”Marhaban ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku tidak mengharapkan anda ya Rasulullah…hanya saja saya adalah seorang wanita yang pencemburu, maka aku takut jika engkau melihat sesuatu yang tidak anda senangi dariku maka Allah akan mengadzabku, lagi pula saya adalah seorang wanita yang telah lanjut usia dan saya memiliki tanggungan keluarga. Maka Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:”Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita yang telah lanjut usia, maka sesungguhnya aku lebih tua darimu dan tiadalah aib manakala dikatakan dia telah menikah dengan orang yang lebih tua darinya. Mengenai alasanmu bahwa engkau memiliki tanggungan anak-anak yatim, maka semua itu menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita pencemburu, maka aku akan berdo’a kepada Allah agar menghilangkan sifat itu dari dirimu. Maka beliau pasrah dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam . Dia berkata:”Sungguh Allah telah menggantikan bagiku seorang suami yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
Maka jadilah Ummu Salamah sebagai Ummul mukminin. Beliau hidup dalam rumah tangga nubuwwah yang telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu kedudukan yang beliau harapkan. Beliau menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama para ummahatul mukminin.&lt;br /&gt;
Ummu Salamah adalah seorang wanita yang cerdas dan matang dalam memahami persoalan dengan pemahaman yang baik dan dapat mengambil keputusan dengan tepat pula. Hal itu ditunjukkan pada peristiwa Hudaibiyah manakala Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para shahabatnya untuk menyembelih qurban selepas terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika itu, para shahabat tidak mengerjakannya karena sifat manusiawi mereka yang merasa kecewa dengan hasil perjanjian Hudaibiyah yang banyak merugikan kaum muslimin. Berulangkali Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka akan tetapi tetap saja tak seorangpun mau mengerjakannya. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Ummu Salamah dalam keadaan sedih dan kecewa. Beliau ceritakan kepada Ummu Salamah perihal kaum muslimin yang tidak mau mengerjakan perintah beliau. Maka Ummu Salamah berkata:”Wahai Rasulullah apakah anda menginginkan hal itu?. Jika demikian, maka silahkan anda keluar dan jangan berkata sepatah katapun dengan mereka sehingga anda menyembelih unta anda, kemudian panggillah tukang cukur anda untuk mencukur rambut anda (tahallul).&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menerima usulan Ummu Salamah. Maka beliau berdiri dan keluar tidak berkata sepatah katapun hingga beliau menyembelih untanya. Kemudian beliau panggil tukang cukur beliau dan dicukurlah rambut beliau. Manakala para shahabat melihat apa yang dikejakan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka bangkit dan menyembelih kurban mereka, kemudian sebagian mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian. Hingga hampir-hampir sebagian membunuh sebagian yang lain karena kecewa. Setelah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghadap Ar-Rafiiqul A’la, maka Ummul Mukminin, Ummu Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan kecerdasannya dalam setiap persoalan untuk menjaga lurusnya umat dan mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih lagi terhadap para penguasa dari para Khalifah maupun para pejabat. Beliau singkirkan segala kejahatan dan kezhaliman terhadap kaum muslimin, beliau terangkan kalimat yang haq dan tidak takut terhadap celaan dari orang yang suka mencela dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Tatkala tiba bulan Dzulqa’dah tahun 59 setelah hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta sedangkan umur beliau sudah mencapai 84 tahun. Beliau wafat setelah memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/ummu-salamah-ra.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-1563624119648339694</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 14:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T15:11:28.265-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Az-Zubair bin Al-Awwam</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilahirkan pada tahun 28 sebelum Hijriah. Nama sebenarnya az-Zubair bin ‘Aw-wam bin Khuwailid al-Qursy al-Asady. Biasa dipanggil Abu Abdullah. Beliau bergelar Hawwaari Rasulullah (pengikut Rasul). Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah di kakeknya, Qushai. Khodijah, istri Rasulullah sekaligus Ummul mukminin, adalah bibinya.&lt;span id="more-19"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibunya bernama Shofiah binti Abdul Mutholib. Suatu ketika ibunya sedang memukulinya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari saudaranya lewat. Melihat kejadian itu, saudaranya itu mencela perbuatan itu. Tapi apa jawaban ibunya; “Aku pukul dia agar kelak menjadi pendorong tentara.” Setelah tumbuh dewasa, ternyata apa yang dikatakan ibunya itu betul-betul terwujud. Beliau menjadi seorang satria yang gagah berani.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menikah dengan Asma’ binti Abu Bakar yang digelari Dzat natiqoain. Dari perkawinanya, lahirlah Abdullah bin Az-Zubair (salah seorang amirul mukminin) dan ‘Urwah bin az-Zubair (salah seorang ahli fiqh tujuh yang ada di Madinah).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebanyakan putra beliau dinamai dengan nama para syuhada. Mereka itu al-Mundhir, ‘Urwah, Hamzah, Ja’far, Abdullah, Mush’ab dan Kholid.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kholifah Umar bin Khottob menunjuk beliau diantara enam orang yang lain untuk melakukan musyarawah mengenai pergantian kekhalifahan setelahnya. Pilihan Umar menunjuk az-Zubair dalam musyawarah itu sangat tepat. Sebab beliau diantara orang-orang yang banyak berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sejarah kehadiran Islam di tengah-tengah masyarakat Arab, beliau termasuk 7 orang pertama yang meyakini kebenaran ajaran Islam. Atau dikenal dengan istilah ‘as-sab’ah al-awaail fil Islam’. Seperti pengikut Islam yang lain, beliau juga banyak mengalami banyak siksaan dari orang-orang membenci Islam. Siksaan itu justru datang dari pamannya sendiri. Suatu ketika pamanya memaksa beliau untuk duduk di alas duduk (terbuat dari daun-daun). Dibakarnya alas duduk itu hingga tubuhnya terbakar. Meski demikian beliau tetap berkata; “Saya tidak akan keluar dari Islam sampai kapanpun. Beliau termasuk salah seorang dari 10 orang yang dikabarkan masuk surga sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Di dadanya terdapat bekas luka-luka tusukan dan lempar panah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada waktu terjadi perang Hunain, beliau berhasil memecah kekuatan Malik bin ‘Auf, ketua kaum Hawazan dan pimpinan tentara musyrik. Hingga akhirnya kekuta mereka bercerai-berai dan dapat dilumpuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengenai pribadinya, Rasulullah pernah berkata; “Tholhah dan az-Zubair tetanggaku di surga”(HR.Tirmidhi). Dalam hadits lain disebutkan; “ Setiap nabi mempunyai pengikut (hawari) dan diantara pengikutku adalah az-Zubair.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada waktu terjadi peristiwa hijrah, beliau ikut berhijrah ke Habasyi (Ethopia) yang pertama dan kedua. Selama berjuang membela Islam, beliau ikut dalam semua peperangan yang pernah dilakukan Rasulullah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama ikut berhijrah ke Habaysi (Ethopia) banyak pengalaman yang berharga didapatkan. Dari sinilah muncul persaudaran antara pendatang dan pribumi. Diceritkan bahwa suatu ketika seorang Najasyi pergi berperang melawan musuhnya. Orang-orang Islam ingin sekali tahu hasil dari peperangan itu. Kemudian Az-Zubair pergi untuk melihatnya. Mereka meminta supaya Az-Zubair melihat lebih dekat peperangan itu. Sesampainya di tempat peperangan itu beliau bisa leluasa melihat ke semua arah. Peperangan selesai, beliau pulang dan mengkabarkan umat Islam peperangan itu; “Wahai semuanya, Ingat bahwa kemenangan di pihak Najasyi. Allah telah hancurkan musuhnya dan menjadikan berkuasa di negeri itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada waktu umat Islam berada di depan benteng Babilon untuk menaklukan negeri Mesir dan mengepung benteng itu selama tujuh bulan, az-Zubair berkata kepada Amru bin Ash; “Wahai Amru, saya siap korbankan nyawaku untuk Allah. Saya berdoa semoga Allah memberikan kemenangan atas umat Islam.” Mendengar ucapanya itu, Amru bin Asha pun menyetujuinya. Setelah itu beliau menuju benteng itu dan meletakkan tangga untuk naik ke atas benteng. Sesampainya di atas, beliau bertakbir “Allahu Akbar”. Semua tentara ikut bertakbir. Hingga akhirnya benteng itu dapat ditaklukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keluar dari pasukan Muawwiyah ketika terjadi peristiwa Jamal (mauqi’ah al-jamal), yaitu perselisihan antara Ali dan Muawwiyah. Beliau tidak mau berperang melawan Ali r.a. karena dianggap sebagai kedhaliman. Setelah keluar dari pasukan Muawwiyah, datang laki-laki lain mengantikan posisinya. Laki-laki itu bernama Amru bin Jarmuz. Ketika sholat Subuh, beliau dibunuh oleh pengantinya itu pada tahun 36 Hijriah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum wafatnya, beliau pernah berwasiat kepada Utsman, Abdurahman bin ‘Auf dan Ibn Mas’ud untuk menjaga putra-putranya, menjaga harta bendanya dan memberikan nafkah dari hartanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama bersama Rasulullah, beliau meriwayatkan lebih kurang 38 hadits. Diantara hadits yang diriwayatkannya; “Barang siapa berdusta terhadapku maka nereka adalah tempat tinggalnya”(HR.Bukhori).&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/az-zubair-bin-al-awwam.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-1528742176840375720</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 14:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T15:11:28.269-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Abdurrahman bin Auf</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan sahabat yang mula-mula masuk Islam. Ia termasuk sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasululah. Selain itu, ia juga termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah menggantikan Umar bin Khaththab. Ia adalah seorang mufti yang dipercaya Rasulullah untuk berfatwa di Madinah.&lt;span id="more-27"&gt;&lt;/span&gt; Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah SAW melakukan pembinaan di rumah Arqam bin Abil Arqam, kira-kira dua hari setelah Abu Bakar masuk Islam.&lt;br /&gt;
Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari, salah seorang kaya yang pemurah di Madinah. Abdurrahman pernah ditawari Sa’ad untuk memilih salah satu dari dua kebunnya yang luas. Tapi, Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta kepada Sa’ad ditunjuki lokasi pasar di Madinah.&lt;br /&gt;
Sejak itu, Abdurahman bin Auf berprofesi sebagai pedagang dan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Omset dagangannya pun makin besar, sehingga ia dikenal sebagai pedagang yang sukses.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, kesuksesan itu tak membuatnya lupa diri. Ia tak pernah absen dalam setiap peperangan yang dipimpin Rasulullah. Suatu hari, Rasulullah SAW berpidato membangkitakn semangat jihad dan pengorbanan kaum Muslimin. Beliau berkata, “Bersedekahlah kalian, karena saya akanmengirim pasukan ke medan perang.”&lt;br /&gt;
Mendengar ucapan itu, Abdurrahman bin Auf bergegas pulang dan segera kembali ke hadapan Rasulullah. “Ya, Rasulullah, saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah, dan sisanya aya tinggalkan untuk keluarga saya,” ucap Abdurrahman. Lalu Rasulullah mendoakannya agar diberi keberkahan oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;
Ketika Rasulullah SAW membutuhkan banyak dana untuk menghadapi tentara Rum dalam perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu pelopor dalam menyumbangkan dana. Ia menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Melihat hal itu, Umar bin Khathab berbisik kepada Rasulullah SAW, “Agaknya Abdurrahman berdosa, dia tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.”&lt;br /&gt;
Maka, Rasulullah pun bertanya kepada Abdurrahman, “Adakah engkau tinggalkan uang belanja untuk keluargamu?”&lt;br /&gt;
Abdurrahman menjawab, “Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripda yang saya sumbangkan.”&lt;br /&gt;
“Berapa?” Tanya Rasulullah.&lt;br /&gt;
Abdurrahman menjawab, “Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah.” Subhanallah.&lt;br /&gt;
Sejak itu, rizki yang dijanjikan Allah terus mengalir bagaikan aliran sungai yang deras. Abdurrahman bin Auf kini telah menjadi orang terkaya di Madinah.&lt;br /&gt;
Suatu hari, iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang terdiri dari 700 ekor unta yang dimuati bahan pangan, sandang, dan barang-barang kebutuhan penduduk tiba di Madinah. Terdengar suara gemuruh dan hiruk-pikuk, sehingga Aisyah bertanya kepada seseorang, “Suara apakah itu?”&lt;br /&gt;
Orang itu menjawab, “Iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman.”&lt;br /&gt;
Aisyah berkata, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada Abdurrahman di dunia dan akhirat. Saya mendengar Rasulullah bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”&lt;br /&gt;
Orang itu langsung menemui Abdurrahman bin Auf dan menceritakan apa yang didengarnya dari Aisyah. Mendengar hal itu, ia pun bergegas menemui Aisyah. “Wahai Ummul Mukminin, apakah ibu mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?”&lt;br /&gt;
“Ya,” jawab Aisyah.&lt;br /&gt;
“Seandainya aku sanggup, aku ingin memasuki surga dengan berjalan. Sudilah ibu menyaksikan, kafilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya kuserahkan untuk jihad fi sabilillah.”&lt;br /&gt;
Sejak mendengar bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat berinfak dan bersedekahnya makin meningkat. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 ekor kuda perang,dan 1.500 ekor unta ia sumbangan untuk peruangan menegakkan panji-panji Islam di muka bumi. Mendengar hal itu, Aisyah mendoakan, “Semoga Allah memberinya minum dengan air dari telaga Salsabil (nama sebuah telaga di surga).”&lt;br /&gt;
Menjelang akhir hayatnya, Abdurrahman pernah disuguhi makanan oleh seseorang — padahal ia sedang berpuasa. Sambil melihat makanan itu, ia berkata, “Mush’ab bin Umair syahid di medan perang. Dia lebih baik daripada saya. Waktu dikafan, jika kepalanya ditutup, makakakinya terbuka. Dan jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Kemudian Allah membentangkan dunia ini bagi kita seluas-luasnya. Sungguh, saya amat takut kalau-kalau pahala untuk kita disegerakan Allah di dunia ini.” Setelah itu, ia menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;
Abdurrahman bin Auf wafat dengan membawa amalnya yang banyak. Saat pemakamannya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Anda telah mendapat kasih sayang Allah, dan anda telah berhasil menundukan kepalsuan dunia. &lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/abdurrahman-bin-auf.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-6581160759012097961</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 14:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T19:37:30.894-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Ali Bin Abi Tholib</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilahirkan di Mekkah 32 tahun sejak kelahiran Rasulullah dan 10 tahun sebelum kenabian Muhammad bin Abdullah (Rasulullah). Nama lengkapnya Ali bin Abu Tholib bin Abdul Mutholib bin Hasyim al-Qursy al-Hasyimy. Satu kakek dengan Rasulullah, yaitu kakek pertama; Abdul Mutholin. Nama panggilannya Abul Hasan, kemudian Rasulullah memberikan nama panggilan lain, yaitu Abu Turob. Ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf al-Qursyiah al-Hasyimiah.&lt;span id="more-18"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengenai pribadinya, wajahnya tampan, beliau berkulit sawo matang, kepalanya botak kecuali bagian belakang, matanya lebar dan hitam, pundaknya lebar (kuat), tangan dan lengannya kuat, badanya besar hampir-hampir gemuk dan tubuhnya tidak tinggi dan tidak pendek (sedang). Beliau adalah sosok laki-laki ceria dan banyak tertawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 2 Hijriah, Rasulullah menikahkan dengan putrinya, Fatimah. Beliau belum pernah menikah ketika menikahi Fatimah hingga wafatnya Fatimah. Fatimah wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah. Selama hidupnya beliau menikahi 9 wanita dengan 29 anak; 14 laki-laki dan 15 perempuan. Diantara putra beliau yang terkenal adalah Hasan, Husain, Muhammad bin al-Hanifah, Abbas dan Umar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masa jahiliyah(zaman sebelum kedatangan Islam), beliau belum pernah melakukan kemusyrikan dan perbuatan yang dilarang oleh Islam. Dalam sejarah kemunculan Islam, beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari anak-anak. Umurnya waktu itu 10 tahun. Pada waktu terjadi peristiwa hijrah umurnya 23 tahun dan ikut berhijrah bersama Rasulullah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah wafatnya Utsman akibat serangan yang dilakukan oleh pembrontak, beliau menjadi kholifah yang keempat pada tahun 35 Hijriah. Selama 4 tahun, 8 bulan dan 22 hari beliau memangku jabatan sebagai kholifah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau wafat pada tahun 40 Hijriah, tanggal 17 ramadhan, ketika hendak sholat subuh, di Kuffah (Iraq) setelah dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam (pengikut Khawarij). Umurnya ketika itu 63 tahun. Beliau wafat sebagai seorang syahid dan termasuk 10 orang yang dikabarkan akan masuk surga sebagaimana disabdakan Rasulullah. Mengenai tempat dikuburkannya para sejarawan berbeda pendapat. Ada yang mengatakan dikubur di Kuffah. Pendapat lain dikuburkan di Madinah. Ada juga yang mengatakan bukan pada keduanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa besar pengorbanan beliau dalam membela Islam. Ketika orang-orang musyrik bersepakat hendak membunuh Rasulullah, beliau menempati tempat tidur Rasulullah di rumahnya. Malam itu Rasulullah berhijrah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum Rasulullah wafat, Rasulullah mengingkat persaudaraan antar Ali dan Sahal bin Hanif. Semua peperangan pada masa Rasulullah kecuali perang Tabuk, beliau tidak ikut. Waktu itu beliau diperintahkan Rasulullah untuk mengurusi dan memimpin kota Madinah. Kemudian orang-orang munafik menyebarkan fitnah atas pribadinya. Beliau pun akhirnya datang kepada Rasulullah melaporkan fitnah orang munafik terhadapnya. “Wahai Rasulullah, Kamu suruh aku memimpin bagi para wanita dan anak-anak?” tanya Ali. Rasulullah menjawab; “ Tidakkah kamu ridho menempati kedudukan Harun bagi kekuasaan Musa (untuk mengurusi perkara yang penting), padahal kamu tahu bahwa tidak ada nabi setelahku”(HR.Muslim). Dalam banyak peperangan, beliaulah yang membawa bendera Rasulullah (Islam).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada waktu terjadi perang Khoibar, Rasulullah bersabda; “ suatu saat nanti, niscaya aku akan berikan bendera (islam) kepada seseorang yang tangganya terbuka, seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Malam itu semua sahabat bertanya-bertanya dalam hati, kepada siapa bendera itu diberikan. Paginya, mereka semua berharap menjadi orang yang diberi bendera itu. Tiba-tiba Rasulullah berkata; “Di na Ali?” seseorang menjawab; “Matanya sedang sakit.” Kemudian Rasulullah mendatanginya. Rasulullah meludahi matanya sambil berdo’a. Dengan izin Allah, sakitnya matanya hilang. Bendera itu pun diberikan padanya(HR.Bukhori).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masa kekhalifannya banyak menghadapi perselisihan. Muawwiyah bin Abu Sufyan r.a. dan beberapa sahabat menentangnya kerena beliau lambat memberikan hukum qisos pembunuh Utsman. Hingga kemudian mereka enggan membaiat dan mengakui menjadi kholifah. Dari sinilah muncul perselisihan antara para sahabat. Pada tahun 36 Hijriah terjadi peristiwa al-Jamal yaitu perselisihan antara Ali dengan Aisyah. Pada tahun 37 Hijriah terjadi pertiwa Shiffin, yaitu perselisihan antara Ali dengan Muawwiyah. Pada tahun 40 Hijriah terjadi peristiwa Nahrawan, yaitu perselisihan antara Ali dengan kaum Khawarij.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kurang lebih ada 586 hadits yang diriwayatkan beliau. Diantara riwayat hadits itu; ketika hari kiamat, Rasulullah bersabda; “Allah mengisi rumah-rumah dan kuburan manusia dengan api. Mereka sibuk hingga melupakan sholat wusto (ashar) hingga matahari terbenam (HR.Bukhori).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantara kata-kata dan nasehat beliau;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;“Takwa adalah takut kepada Dzat yang Agung, melaksanakan perintahnya, ridho dengan yang sedikit, penuh persiapan untuk menghadapi perjalan panjang (kematian).”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;“Berbicaralah dengan manusia dengan bahasa yang mudah dipahami. Apakah kalian ingin mendustakan Allah dan Rasul-Nya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;“Jangan Sekali-kali berbuat dholim jika kamu diberi kekuasaan, kedholiman adalah sumber kejahatan yang menyebabkan penyeselan. Boleh jadi matamu tertidur pulas, sedangkan mata orang teraniaya selalu terjaga, mendoakan kamu (dengan keburukan) sedangkan Allah tidak pernah tertidur.” (diantara syair-syairnya)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sebelum wafatnya beliau berpesan; “Aku nasehatkan kalian supaya bertakwa kepada Allah, Tuhan Kalian. Dan jangan sekali-kali mati melainkan tetap dalam Islam. Firman Allah: “Dan berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah dan jangan sekali-kali bercerai berai.” Saya pernah mendengar&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/ali-bin-abi-tholib.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6429735545190629284.post-1428722482642555495</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 14:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T15:34:27.935-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Para Sahabat Nabi</category><title>Utsman Bin Affan</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilahirkan di Mekkah, 5 tahun setelah kelahiran Rasulullah atau 5 tahun setelah terjadi peristiwa gajah (peristiwa penyerbuan gajah terhadap Ka’bah yang dipimpin oleh Raja Abraha). Peristiwa ini diabadikan dalam salah satu surah al-Qur’an yang dikenal dengan surah al-Feil (gajah).&lt;span id="more-17"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nama lengapnya “Ustman bin Affan bin Abu al-‘Ashi bin Ummayah bin Abdussyam bin Abdul Manaf. Nama panggilannya Abu Abdullah dan gelarnya Dzunnurrain (yang punya dua cahaya). Sebab digelari Dzunnuraian karena Rasulullah menikahikan dua putrinya untukny; Roqqoyah dan Ummu Kultsum. Ketika Ummu Kultsum wafat, Rasulullah berkata; “ Sekiranya kami punya anak perempuan yang ketiga, niscaya aku nikahkan denganmu.” Dari pernikahannya dengan Roqoyyah lahirlah anak laki-laki. Tapi tidak sampai besar anaknya meninggal ketika berumur 6 tahun pada tahun 4 Hijriah. Beliau wafat pada tahun 35 Hijriah berumur 82 tahun. Menjabat sebagai khalifah ketiga selama 12 tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menikahi 8 wanita, empat diantaranya meninggal yaitu Fakhosyah, Ummul Banin, Ramlah dan Nailah. Dari perkawinannya lahirlah 9 anak laki-laki; Abdullah al-Akbar, Abdullah al-Ashgar, Amru, Umar, Kholid, al-Walid, Sa’id dan Abdul Muluk. Dan 8 anak perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama menjabat sebagai kholifah banyak wilayah yang ditaklukan yaitu Afrika, Ciprus, Thabarstan, Khurosan, Armania, Qauqaz, Karman dan Sajastan. Masa kekhalifannya merupakan masa yang paling makmur dan sejahtera. Konon ceritanya sampai rakyatnya haji berkali-kali. Bahkan seorang budak dijual sesuai berdasarkan berat timbangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau adalah kholifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Bagitu juga membangun armada pasukan laut (merine) untuk umat Islam, mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara. Hal ini belum pernah dilakukan oleh kholifah sebelumnya. Abu Bakar dan Umar bin Khotob biasanya mengadili suatu perkara di masjid.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masanya, khutbah Idul fitri dan adha didahulukan sebelum sholat. Begitu juga adhan pertama pada sholat Jum’at. Beliau memerintahkan umat Islam pada waktu itu untuk menghidupkan kembali tanah-tanah yang kosong untuk kepentingan pertanian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau adalah sosok laki-laki yang tampan dan gagah. Kulitnya berwarna agak hitam, botak,berjenggot tegal dan pergelanggan tanggannya besar. Pribadinya sangat pemalu hingga suatu ketika baju Rasulullah tersingkap hingga kelihatan pahanya. Kemudian Abu Bakar dan Umar masuk rumahnya. Pada waktu Utsman hendak minta izin masuk, Rasulullah menutup pahanya yang terbuka. Utsman berkata; “Ingat, aku betul-betul malu dengan seorang yang malaikat sendiri merasa malu dengannya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjuangannya dalam membela Islam tidak hanya dengan hartanya saja. Tapi juga raga dan nyawanya. Beliau sangat senang mengeluarkan hartanya demi kepentingan Islam. Hingga pernah mengirimkan setengah pasukan ke medan perang dengan hartanya. Pernah mendermakan 300 unta dan 50 kuda tunggangan. Begitu juga mendermakan 1000 dinar yang diserahkan langsung kepada Rasulullah. Rasulullah pun berkata; “Apa yang diperbuat pada hari ini, Utsman tidak akan merugi (di akherat)”(HR.Tirmidhi). pada waktu orang-orang membutuhkan air untuk keperluan dirinya dan hewan ternaknya, Utsman membeli sumber mata air dari Raimah, seorang yahudi, untuk diwakafkan kepada umum. Mengenai kedermawannya, Abu Hurairah berkata; “Utsman bin Affan sudah membeli surga dari Rasulullah dua kali; pertama ketika mendermakan hartanya untuk mengirimkan pasukan ke medan perang. Kedua ketika membeli sumber air (dari Raimah)”(HR.Tirmidhi).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau termasuk 10 orang yang dikabarkan akan masuk surga. Dalam menjalani hidupnya, beliau sangat takut dengan azab dan siksa Allah. Hingga suatu ketika berkata; “Sekiranya diriku berada di antara surga dan neraka dan saya tidak tahu mana diantara dua itu saya aka masuk, niscaya saya akan pilih menjadi abu sebelum aku tahu ke mana saya dimasukkan.” Rasulullah pernah mengkabarkan bahwa dirinya termasuk ahli surga karena sabar dan tawakal menghadapi cobaan dan derita dari Allah. Begitu fitnah yang menimpa dirinya hingga akhirnya terbunuh secara kejam dan dholim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada waktu perang Uhud, beliau berdiri bersama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Tiba-tiba gunung itu bergetar, kemudian Rasulullah berkata; “Mohon jangan lari, tetap berada di Uhud. Jangan takut, kamu bersama nabi, Abu Bakar dan dua orang saksi”(HR.Bukhori).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masa kekhalifahanya, Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam, mengumpulkan massa untuk melakukan protes terhadap Utsman. Mereka menuntut Utsman agar tidak menunjuk orang-orang yang duduk di pemerintahannya dari keluarga Utsman. Utsman bukanlah kholifah yang rakus akan harta benda dan kekuasaan. Ijtihad Utsman dalam menentukan orang-orang yang menjabat di pemerintahnya didasarkan pada kompetensi dan kecakapan. Mereka yang dipilih adalah orang-orang yang ahli di bidangnya. Lebih dari itu mereka adalah orang-orang yang takwa. Dalam peristiwa ini, Utsman dibunuh ketika sedang membaca al-Qur’an di rumahnya pada waktu pagi hari raya Idul Adha. Beliau mati syahid pada tahun 35 Hijriah berumur 82.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Abdullah bin ar-Rumy berkata, “Utsman bin Affan biasanya kalau berdiri di depan kubur menanggis hingga air matanya membasai jenggotnya. Seseorang bertanya, “Kamu ingat surga dan neraka tapi kamu tidak menanggis. Kamu ingat kubur tapi kamu menanggis?” Beliau menjawab, “Saya mendengar Rasulullah bersabda “Kubur adalah rumah pertama dari rumah-rumah menuju akherat. Sekiranya orang selamat dari siksa kubur, maka setelahnya akan menjadi mudah. Jika tidak selamat maka setelahnya akan terasa berat dan susah.” Dari al-Hasan berkata, “Saya lihat Utsman tidur di masjid dengan berselimut. Tidak ada seorang pun di sekitarnya. Padahal beliau adalah seorang amirul-mukminin”(al-Hilyah;1/60).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah sejarah kali pertama darah mengalir bercucuran dari tubuhnya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah; “Maka niscaya Allah akan cukupkan bagi kalian…(QS.Al-Baqoroh;138). Beliau dimakamkan di kuburan Baqi’ (kuburan yang berada samping masjid Nabawi) setelah melarang untuk ikut mengantar jenazah bagi orang-orang yang melakukan protes.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmiltelkom.blogspot.com/2010/05/utsman-bin-affan.html</link><thr:total>0</thr:total><author>ntongballer@gmail.com (Ahmil)</author></item></channel></rss>