<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>MIRZA FAISHAL</title>
	<atom:link href="http://biologiforum.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://biologiforum.wordpress.com</link>
	<description>Sebarkan Ilmu Kepada yang Lain Agar Lebih bermanfaat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 16 Jun 2012 13:53:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='biologiforum.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/369cd930b6f66520c938d1f77fbcf551?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>MIRZA FAISHAL</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://biologiforum.wordpress.com/osd.xml" title="MIRZA FAISHAL" />
	<atom:link rel='hub' href='http://biologiforum.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SOFTWARE TOEFL</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/software-toefl/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/software-toefl/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 May 2012 16:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[software unik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1042</guid>
		<description><![CDATA[Buat teman-teman yang ingin mengikuti tes toefl namun masih belum tau seperti apakah pelaksanaan tes tersebut. ini saya cantumkan software latihan tes TOEFL. silahkan di donwload di SINI<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1042&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat teman-teman yang ingin mengikuti tes toefl namun masih belum tau seperti apakah pelaksanaan tes tersebut. ini saya cantumkan software latihan tes TOEFL. silahkan di donwload di <a title="SSSEDOOOT" href="http://www.mediafire.com/?nb3q01bnn0l7wdm" target="_blank">SINI</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1042/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1042&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/software-toefl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STUDI KASUS 2</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/studi-kasus-2/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/studi-kasus-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 May 2012 15:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1039</guid>
		<description><![CDATA[BAB 1 PENDAHULUAN A.      Rasional Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai peranan penting dalam mengantarkan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik sesuai dengan yang dicita-citakan. Sekolah juga dapat diartikan sebagai tempat bagi siswa untuk menuntut ilmu mengembangkan bakat dan minat guna membekali diri dalam menggapai masa depan. Sebagai bagian dari keseluruhan sistem pendidikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1039&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB 1</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p align="center">
<ol>
<li><strong>A.      </strong><strong>Rasional</strong></li>
</ol>
<p>Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai peranan penting dalam mengantarkan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik sesuai dengan yang dicita-citakan. Sekolah juga dapat diartikan sebagai tempat bagi siswa untuk menuntut ilmu mengembangkan bakat dan minat guna membekali diri dalam menggapai masa depan. Sebagai bagian dari keseluruhan sistem pendidikan sekolah memiliki tugas pokok untuk meningkatkan kehidupan, kecerdasan, dan kualitas manusia Indonesia sebagaimana dalam tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan hal tersebut, maka proses pendidikan di sekolah tidak hanya sekedar penyampaian materi pelajaran tetapi harus dapat mengembangkan siswanya seoptimal mungkin.</p>
<p>Guru atau tenaga pengajar merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar di sekolah, guru memikul tanggung jawab yang sangat berat dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional. Untuk itu, guru dituntut memiliki keprofesionalan yang tinggi. Guru yang profesional memungkinkan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas dengan baik dan mampu menghadapi segala hambatan dan tantangan dengan baik pula.<span id="more-1039"></span></p>
<p>Dalam kegiatan belajar mengajar tidak jarang dijumpai siswa yang mengalami kesulitan belajar dan memiliki berbagai permasalahan. Kesulitan-kesulitan itu antara lain kesulitan dalam menangkap pelajaran, kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan sebagainya. Selain itu masalah psikologis juga dialami siswa, masalah itu antara lain merasa cepat putus asa, marasa kecewa, merasa pesimis, merasa rendah diri dan lain sebagainya. Untuk itu siswa perlu mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari orang lain yang lebih dewasa dan profesional. Dalam hal ini, guru dituntut mampu memberikan bantuan secara efektif.</p>
<p>Kenyataan diatas menunjukkan bahwa selain sebagai pengajar yang bertugas menyampaikan materi pelajaran, guru juga dituntut mampu membimbing, mengarahkan dan membantu mengembangkan pribadi anak didik menuju pencapaian kedewasaan dan prestasi belajar yang optimal. Guru dituntut mengenal siswanya, baik secara individual maupun secara kelompok baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.</p>
<p>Seorang guru harus memahami dan mengetahui secara obyektif mengenai keadaan siswa, tingkah laku siswa dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa terhadap permasalahan yang dihadapi siswa, guru hendaknya mampu memberikan bantuan untuk mencarikan jalan penyelesaian menuju pemecahan secara optimal.</p>
<p>Studi kasus (Case Study) merupakan metode atau cara untuk mempelajari keadaan dan perkembangan klien secara mendalam dengan cara mempelajari latar belakang klien dan lingkungan serta mempelajari faktor-faktor yang diduga menimbulkan masalah, dengan tujuan membantu klien untuk mencapai penyelesaian diri yang lebih baik. Menurut Winkel (1981) studi kasus adalah metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan siswa secara lebih dalam dengan tujuan terpecahkanya masalah siswa.Jadi penyusunan studi kasus bertujuan untuk memahami siswa atau klien sebagai individu dalam keunikannya dan keseluruhannya.</p>
<p>Adapun tujuan umum dari studi kasus ini yaitu agar bisa mengenal latar belakang pribadi siswa yang mengalami kesulitan belajar dan memahami jenis dan sifat kesulitan belajar serta menetapkan kemungkinan pemecahannya.</p>
<p>Sedangkan tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling kepada siswa adalah untuk membantu siswa agar mampu melakukan atau meraih hal berikut ini :</p>
<p>1.   Mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi hasil belajar serta kesempatan yang ada</p>
<p>2.   Mengembangkan motif-motif dalam belajar sehingga tercapai kemajuan pengajaran yang berarti</p>
<p>3.   Memiliki motivasi di dalam pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan keterlibatan diri dalam proses pendidikan</p>
<p>4.   Memperoleh kepuasan pribadi dalam penyesuaian diri</p>
<p>5.   Menemukan cara mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa</p>
<p>6.   Mengidentifikasi jenis dan sifat kesulitan yang dihadapi siswa</p>
<p>7.   Membantu siswa dalam usahanya untuk mencapai prestasi yang diharapkan</p>
<p>8.   Bagi calon pendidik, untuk lebih memahami karakter dan kesulitan siswa.</p>
<p>Dalam hubungannya dengan dunia pendidikan, maka studi kasus diperlukan untuk membantu siswa yang memiliki permasalahan dan sekiranya dapat mengakibatkan gangguan dalam proses belajar dan mengajar. Hal ini dilaksanakan dengan mengumpulkan data-data penting mengenai siswa, dimana data-data itu sendiri lebih berkaitan dengan pribadi siswa, misal kondisi lingkungan di sekitar siswa, cita-cita, kesulitan yang dihadapi, kondisi keluarga, teman dan seputar kesehatan mereka.</p>
<p>Studi kasus dilaksanakan melalui beberapa fase yaitu : (1) Mengumpulkan data secara mendetail dan secara meluas, (2) Mengamati dan menginterpretasikan data, (3) Menentukan diagnosis sementara mengenai sumber permasalahan dan menemukan cara penyesuaian diri terbaik bagi klien untuk masa yang akan datang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>B.       </strong><strong>Konfidensialitas</strong></li>
</ol>
<p>Pada hakikatnya konfidensialitas atau kerahasiaan merupakan suatu norma atau nilai seorang guru dalam rangka menangani berbagai macam masalah yang dihadapi siswa. Untuk memahami masalah yang dihadapi, dituntut untuk pengumpulan data dari berbagai sumber dan aspek. Data yang diperoleh bersifat rahasia dan pribadi yang tidak perlu diketahui orang lain yang tidak berkepentingan.</p>
<p>Laporan studi kasus ini berisi informasi-informasi tentang klien yang bersifat rahasia dan pribadi. Untuk menjaga kepercayaan dan privasi klien, maka seorang praktikan harus menjaga kerahasiaan informasi tersebut. Praktikan menuliskan data secara fiktif untuk menyamarkan data-data yang berupa identitas diri klien.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>C.      </strong><strong>Identifikasi Kasus</strong></li>
</ol>
<p>Identifikasi kasus adalah suatu usaha atau langkah awal dari kegiatan layanan bimbingan kepada siswa dengan tujuan untuk menemukan adanya permasalahan yang dihadapi siswa tersebut. Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar dan memerlukan bantuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>1.        </strong><strong>Proses Penemuan Kasus</strong></li>
</ol>
<p>Klien adalah siswa kelas X-G MAN 3 Malang. Penemuan kasus ini diperoleh dari observasi ketika pengajaran, wawancara dengan klien dan teman-temannya, angket, hasil DCM, hasil study habit dan tes Who Am I.</p>
<ol>
<li><strong>2.        </strong><strong>Identitas Pribadi siswa</strong></li>
</ol>
<p>Identitas Siswa dan Orang Tua</p>
<ul>
<li>Identitas Siswa</li>
</ul>
<p>Nama                                 : Fawzeya Veerkhazara (fiktif)</p>
<p>Nama Panggilan                : Fawzeya</p>
<p>Jenis Kelamin                    : laki-laki</p>
<p>Tempat/ Tanggal Lahir      : Semarang, 12 November 1991</p>
<p>Agama                               : Islam</p>
<p>Kewarganegaraan             : Indonesia</p>
<p>Klien Anak ke                   : 2</p>
<p>Hobi                                  : Renang, basket, sepak bola</p>
<p>Suku                                  : Jawa</p>
<p>Kelas                                : X_G</p>
<p>Cita-cita                           : Polisi/Dokter</p>
<ul>
<li> Keadaan Fisik dan Keadaan Kesehatan</li>
</ul>
<p>Tinggi Badan                   : 165 cm</p>
<p>Berat Badan                     : 90 Kg</p>
<p>Warna Kulit                     : Sawo matang/coklat</p>
<p>Warna Rambut                 : Hitam</p>
<p>Raut Muka                       : Oval/agak bulat</p>
<p>Golongan Darah               : A</p>
<p>Penyakit Yang Pernah</p>
<p>Diderita                            : bronkhitis</p>
<ul>
<li> Keterangan Tempat Tinggal</li>
</ul>
<p>Alamat                              : Jl. Danau baratan H1-Q36</p>
<p>Tinggal Bersama               : Keluarga (orang tua)</p>
<p>Jarak Dengan Sekolah       : 5 km – 6 km</p>
<ul>
<li>Identitas Orang Tua</li>
</ul>
<p>Nama Ayah                      : Drs. H. Rafael Alfarezel (fiktif)</p>
<p>Usia                                  : 47 th</p>
<p>Agama                              : Islam</p>
<p>Kewarganegaraan                        : Indonesia</p>
<p>Pendidikan                       : S2</p>
<p>Pekerjaan                         : Polisi</p>
<p>Alamat                            : Jl. Danau Bratan H1-Q36</p>
<p>Nama Ibu                                    : Hj. Pitya Anindityas</p>
<p>Usia                                 : 40 th</p>
<p>Agama                              : Islam</p>
<p>Kewarganegaraan                        : Indonesia</p>
<p>Pendidikan                       : S1</p>
<p>Pekerjaan                          : Ibu Rumah Tangga</p>
<p>Alamat                             : Jl. Danau Bratan H1-Q36</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3.      </strong><strong>Gambaran Singkat Klien</strong></li>
</ol>
<p>Klien secara sekilas dapat digambarkan sebagai berikut :</p>
<p>a. Penampilan Fisik</p>
<p>Klien adalah anak dengan perawakan tubuh dengan postur tubuh gemuk (mempunyai berat badan berlebih). Klien memilik rambut agak ikal dan berwarna hitam. Klien memiliki wajah berbentuk bulat dan kulit berwarna sawo matang dengan penampilan rapi.</p>
<p>b. Penampilan Psikis</p>
<p>Ketika pelajaran dimulai, klien memperhatikan penjelasan guru tetapi terkadang terlihat ngobrol dengan temannya. Kadangkala klien diam dan terlihat tidak ada semangat dalam mengikuti pelajaran tertentu. Klien adalah tipe orang yang pemalu ini terbukti pada saat wawancara langsung, pada awalnya klien tidak terbuka tetapi setelah diajak ngobrol akhirnya klien mulai terbuka.</p>
<p><a title="SSSEDOOOT" href="http://www.mediafire.com/?naey86ykqk1mata" target="_blank">DOWNLOAD</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1039/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1039/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1039/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1039&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/studi-kasus-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Kerapatan Konidia dan Frekuensi Aplikasi  Cendawan Entomopatogen Verticillium lecanii (Zimmermann) terhadap Keefektifan Mengendalikan Imago R. linearis (L.) (Hemiptera: Alydidae)</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/pengaruh-kerapatan-konidia-dan-frekuensi-aplikasi-cendawan-entomopatogen-verticillium-lecanii-zimmermann-terhadap-keefektifan-mengendalikan-imago-r-linearis-l-hemiptera-alydidae/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/pengaruh-kerapatan-konidia-dan-frekuensi-aplikasi-cendawan-entomopatogen-verticillium-lecanii-zimmermann-terhadap-keefektifan-mengendalikan-imago-r-linearis-l-hemiptera-alydidae/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 May 2012 15:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penelitian Tindakan Kelas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1036</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN   A. Latar Belakang Masalah             Kedelai merupakan komoditi pangan yang mempunyai prospek tinggi dalam memenuhi kebutuhan akan bahan makanan berprotein tinggi untuk menunjang usaha peningkatan gizi masyarakat. Salah satu hambatan dalam peningkatan produksi kedelai adalah serangan hama yang mengakibatkan hasil panen rendah. Salah satu kelompok hama yang dapat menyebabkan rendahnya produksi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1036&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>A. Latar Belakang Masalah</strong></p>
<p><strong>            </strong>Kedelai merupakan komoditi pangan yang mempunyai prospek tinggi dalam memenuhi kebutuhan akan bahan makanan berprotein tinggi untuk menunjang usaha peningkatan gizi masyarakat. Salah satu hambatan dalam peningkatan produksi kedelai adalah serangan hama yang mengakibatkan hasil panen rendah. Salah satu kelompok hama yang dapat menyebabkan rendahnya produksi kedelai adalah hama perusak polong dan biji. Hama perusak polong dan biji dibagi menjadi 4 golongan, yaitu penggerek polong, pengisap polong, pemakan polong dan puru polong kedelai (Tengkano, Iman, dan Tohir, 1992).</p>
<p><strong>            </strong>Hama pengisap polong kedelai ada tiga jenis yaitu (1) <em>Nezara viridula</em> (Linnaeus),<em> </em>daerah penyebarannya adalah di Afrika, Asia, Australia, Amerika Selatan, dan Amerika Serikat, (2)<em> Piezodorus hybneri </em>(Gmelin), daerah penyebarannya adalah di India Selatan<em>,</em> Birma, Jepang, Formosa, Cina, Afrika Utara, dan Indonesia, dan (3)<em> Riptortus linearis</em> (Linnaeus.), daerah penyebarannya adalah  di India, Filipina, dan Indonesia (Tengkano dan Soehardjan, 1993). <em>R. linearis</em> merupakan salah satu jenis hama pengisap polong kedelai yang sangat penting di antara ketiga jenis hama pengisap polong tersebut di atas. Akibat serangan pengisap polong dapat berupa polong dan biji kempis, polong gugur, biji keriput, biji hitam membusuk, adanya bercak hitam pada biji, dan biji berlubang. (Tengkano, Iman dan Tohir, 1992).<span id="more-1036"></span></p>
<p>Kerugian hasil panen akibat serangan pengisap polong kedelai  mencapai 80% apabila tidak dilakukan pengendalian (Prayogo 2004b). Menurut Winoto (1986) penurunan produksi kedelai dapat mencapai 70% apabila pada saat perkembangan polong dalam satu rumpun ditemukan empat ekor nimfa <em>R</em><em>.</em><em> linearis</em> instar-2.</p>
<p>Pengendalian hama di Indonesia sampai saat ini masih mengandalkan insektisida kimia. Pada beberapa tahun terakhir ini, telah dikembangkan teknologi pengendalian yang ramah lingkungan, yaitu dengan cara pengendalian biologis. Salah satu cara pengendalian biologis, yaitu dengan  memanfaatkan cendawan entomopatogen <em>Verticillium lecanii</em>. Keefektifan cendawan <em>V. lecanii</em> terlihat dari tingkat kematian imago <em>R. linearis</em> dengan kerapatan konidia 10<sup>7</sup>/ml suspensi mencapai 81% (Prayogo, 2004a). Hasil penelitian Mufidah (2007) bahwa kerapatan konidia 10<sup>5</sup>/ml suspensi menyebabkan kematian nimfa<em> R. linearis</em> sebesar 60%.</p>
<p>Salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat kematian larva ulat jengkal adalah kerapatan konidia cendawan entomopatogen (Widayat dan Rayati, 1993). Prayogo dan Tengkano (2004) menyatakan bahwa makin tinggi kerapatan konidia <em>Metarhizium anisopliae</em>, makin tinggi pula kematian larva <em>Spodoptera litura</em>. Kematian larva <em>S. litura</em> juga sangat ditentukan oleh frekuensi aplikasi <em>M. anisopliae.</em> Dengan menggunakan kerapatan konidia 10<sup>7</sup>/ml suspensi, aplikasi <em>M. anisopliae</em> satu kali mampu mematikan larva <em>S. litura</em> hingga 40%, dan meningkat hingga 83% bila aplikasi ditingkatkan tiga kali berturut-turut selama tiga hari. Sementara itu penelitian tentang kerapatan konidia dan frekuensi aplikasi cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> hingga saat ini belum dilaporkan.</p>
<p>Berdasarkan latar belakang masalah, maka dilakukan penelitian  yang berjudul “Pengaruh Kerapatan Konidia dan Frekuensi Aplikasi Cendawan Entomopatogen <em>Verticillium lecanii</em> terhadap Keefektifan Mengendalikan Imago <em>Riptortus linearis</em> (L.) (Hemiptera: Alydidae)”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. Rumusan Masalah</strong></p>
<p>Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini yaitu:</p>
<ol>
<li>adakah pengaruh kerapatan konidia cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> terhadap keefektifan mengendalikan imago <em>R. linearis</em>?</li>
<li>adakah pengaruh frekuensi aplikasi cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> terhadap keefektifan mengendalikan imago <em>R. linearis</em>?</li>
<li>adakah pengaruh interaksi antara kerapatan konidia dan frekuensi aplikasi cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> terhadap keefektifan mengendalikan imago <em>R. linearis</em>?</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C. Tujuan Penelitian</strong></p>
<p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:</p>
<ol>
<li>mengetahui pengaruh kerapatan konidia cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> terhadap keefektifan mengendalikan imago <em>R. linearis</em>,</li>
<li>mengetahui pengaruh frekuensi aplikasi cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> terhadap keefektifan mengendalikan imago <em>R. linearis,</em></li>
<li>mengetahui pengaruh interaksi antara kerapatan konidia dan frekuensi aplikasi cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> terhadap keefektifan mengendalikan imago <em>R. linearis</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>D. Hipotesis Penelitian</strong></p>
<p><strong>            </strong>Hipotesis dari penelitian ini adalah:</p>
<ol>
<li>ada pengaruh kerapatan konidia cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> terhadap keefektifan mengendalikan imago <em>R. linearis,</em></li>
<li>ada pengaruh frekuensi aplikasi cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> terhadap keefektifan mengendalikan imago <em>R. linearis,</em></li>
<li>ada pengaruh interaksi antara kerapatan konidia dan frekuensi aplikasi cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> terhadap keefektifan mengendalikan imago <em>R. linearis.</em></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>E. Kegunaan Penelitian</strong></p>
<p><strong>            </strong>Hasil penelitian diharapkan dapat:</p>
<ol>
<li>memberikan informasi mengenai kerapatan konidia <em>V</em>. <em>lecanii</em> yang tepat untuk mengendalikan imgo <em>R. linearis</em>,</li>
<li>memberikan informasi mengenai frekuensi aplikasi <em>V. lecanii</em> yang tepat untuk  mengendalikan imgo <em>R. linearis</em>,</li>
<li>memberikan informasi mengenai kombinasi antara kerapatan konidia dengan frekuensi aplikasi dari cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> yang tepat untuk mengendalikan imago <em>R. linearis</em>,</li>
<li>Mengetahui perilaku hama <em>R. linearis</em> dalam merusak polong kedelai, biji kedelai, dan jumlah tusukan stilet imago <em>R. linearis</em> pada biji kedelai yang diaplikasi dengan cendawan entompatogen <em>V. lecanii</em> dengan harapan dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pengendalian imago <em>R. linearis</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>F. Asumsi Penelitian</strong></p>
<p>Asumsi dari penelitian ini yaitu:</p>
<ol>
<li>seluruh aspek biologi<em> R. linearis </em>yang digunakan sebagai sampel dianggap sama,</li>
<li>seluruh kondisi lingkungan yaitu suhu, kelembaban, dan tekanan udara selama penelitian diasumsikan sama.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>G. Batasan Penelitian</strong></p>
<p>Penelitian ini terbatas pada:</p>
<ol>
<li>isolat <em>V. lecanii</em> dan <em>R. linearis </em>yang digunakan diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI) Kendalpayak, Malang.</li>
<li>pengamatan hanya dipusatkan pada jumlah imago <em>R. linearis</em> yang mati terinfeksi cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> pada 1-15 Hari Setelah Aplikasi (HSA) yang angka kematiannya di akumulusikan per 3, 6, 9, 12, dan 15 HSA,<em> </em>jumlah polong yang terserang imago <em>R. linearis</em>, jumlah biji  yang terserang imago <em>R. linearis</em> dan jumlah tusukan stilet imago <em>R. linearis </em>pada biji kedelai pada 3, 6, 9, 12, dan 15 HSA,</li>
<li>pengaruh <em>V. lecanii</em> dan pengaruh serangan hama yang diperhitungkan pada penelitian ini adalah persentase kematian imago <em>R. linearis</em>, persentase polong terserang imago <em>R. linearis, </em> persentase biji terserang imago <em>R. linearis</em>, dan jumlah tusukan stilet imago <em>R. linearis </em>(buah) pada biji kedelai.</li>
</ol>
<p><strong>H. Definisi Operasional</strong></p>
<p>Untuk menghindari kerancuan dalam memahami maksud dan isi dari penelitian ini, maka perlu ada beberapa konsep penting yang harus didefinisikan. Konsep-konsep tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>kerapatan konidia merupakan konsentrasi konidia <em>V. lecanii </em>yang digunakan untuk menginfeksi <em>R. linearis</em>,</li>
<li>frekuensi aplikasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah banyaknya kegiatan waktu untuk aplikasi cendawan entomopatogen <em>V. lecanii</em> yang disemprotkan pada serangga uji (<em>R. linearis</em>) dari aplikasi pertama s/d aplikasi terakhir dengan selang waktu tertentu, frekuensi aplikasi pada penelitian ini terdiri dari tiga taraf, yaitu:
<ol>
<li>Fa<sub>1</sub> = Frekuensi aplikasi dengan penyemprotan tiga kali berturut-turut dalam seminggu,</li>
<li>Fa<sub>2</sub> = Frekuensi aplikasi dengan penyemprotan tiga kali dengan selang waktu dua hari dalam seminggu,</li>
<li>Fa<sub>3</sub> = Frekuensi aplikasi dengan penyemprotan dua kali dengan selang waktu tiga hari dalam seminggu.</li>
</ol>
</li>
<li>keefektifan <em>V. lecanii</em> dalam mengendalikan imago <em>R. linearis</em> pada penelitian ini adalah kemampuan <em>V. lecanii </em>dalam menginfeksi imago <em>R. linearis</em>, dimana yang di ukur adalah jumlah imago yang mati selama 15 hari pengamatan yaitu mulai pada 1-15 HSA, polong terserang imago <em>R. linearis, </em>biji terserang imago <em>R. linearis</em>, dan jumlah tusukan stilet imago <em>R. linearis </em>pada biji kedelai yang diamati pada 3, 6, 9, 12, dan 15 HSA.</li>
<li>imago <em>R. linearis</em> adalah stadium dewasa dari <em>R. linearis </em>umur lima hari setelah nimfa-5 jadi imago</li>
</ol>
<p><a title="SSSEDOOOT" href="http://www.mediafire.com/?q9n6s99vlak2c1x" target="_blank">DOWNLOAD</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1036/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1036&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/pengaruh-kerapatan-konidia-dan-frekuensi-aplikasi-cendawan-entomopatogen-verticillium-lecanii-zimmermann-terhadap-keefektifan-mengendalikan-imago-r-linearis-l-hemiptera-alydidae/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Soal Biologi MAN kelas XII semester I</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/soal-biologi-man-kelas-xii-semester-i/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/soal-biologi-man-kelas-xii-semester-i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 May 2012 00:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Soal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[Pertumbuhan suatu tumbuhan dapat dinyatakan dengan hal berikut, kecuali …………… a. Bertambah banyaknya sel-sel b. Sel semakin membesar c. Penambahan substansi sel d. Penambahan panjang sel-sel tubuh e. Merupakan proses yang bersifat reversibel Peristiwa yang menunjukkan adanya perkembangan pada tumbuhan yaitu …………… a. Pucuk tanaman semakin tinggi b. Batang semakin besar c. Daun semakin lebar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1033&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>Pertumbuhan suatu tumbuhan dapat dinyatakan dengan hal berikut, kecuali ……………<br />
a. Bertambah banyaknya sel-sel<br />
b. Sel semakin membesar<br />
c. Penambahan substansi sel<br />
d. Penambahan panjang sel-sel tubuh<br />
e. Merupakan proses yang bersifat reversibel</li>
<li>Peristiwa yang menunjukkan adanya perkembangan pada tumbuhan yaitu ……………<br />
a. Pucuk tanaman semakin tinggi<br />
b. Batang semakin besar<br />
c. Daun semakin lebar<br />
d. Terbentuknya lingkar tahun<br />
e. Terbentuknya bunga</li>
<li>Seorang siswa melakukan percobaaan perkecambahan biji kacang hijau. Pot A yang berisi tanah dan air dengan kondisi dengan kondisi lembap dan terkena cahaya langsung diisi dengan 10 biji kacang hijau. Adapun pot B yang berisi tanah dan air dengan kondisi lembap dan ditutup kertas karbon hitam juga diisi dengan 10 biji kacang hijau. Tujuh hari kemudian, siswa tersebut mengamati adanya perbedaan pertumbuhan biji kacang hijau pada kedua pot. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh ………………….<br />
a. Kualitas biji kacang hijau<br />
b. Suhu lingkungan<br />
c. Jumlah hormon pertumbuhan<br />
d. Intensitas cahaya<br />
e. Kecepatan pertumbuhan</li>
<li>Variabel bebas dari pernyataan “Semakin banyak pupuk, semakin subur tanaman,” adalah ………….<br />
a. Pupuk<br />
b. Tanah<br />
c. Tanaman<br />
d. Banyak tanaman<br />
e. Air</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selengkapnya bisa dilihat n doenload di <a title="docstock" href="http://www.docstoc.com/docs/121600198/SOAL-BIOLOGI-KLS-XII" target="_blank">SINI</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1033/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1033&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/29/soal-biologi-man-kelas-xii-semester-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(PKM) UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN BUNGUR (Langerstromia speciosa) SEBAGAI ZAT ANTI DIABETIK PADA TIKUS DIABET YANG TERPAPAR ALOKSAN</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/pkm-uji-efektivitas-ekstrak-daun-bungur-langerstromia-speciosa-sebagai-zat-anti-diabetik-pada-tikus-diabet-yang-terpapar-aloksan/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/pkm-uji-efektivitas-ekstrak-daun-bungur-langerstromia-speciosa-sebagai-zat-anti-diabetik-pada-tikus-diabet-yang-terpapar-aloksan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2012 02:10:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1030</guid>
		<description><![CDATA[&#160; PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN BUNGUR (Langerstromia speciosa) SEBAGAI ZAT ANTI DIABETIK PADA TIKUS DIABET YANG TERPAPAR ALOKSAN BIDANG KEGIATAN : PKMP Diusulkan oleh : Ida Ayu Gede Prima Wulandari (103341465169/2003) &#160; UNIVERSITAS NEGERI MALANG MALANG 2007 &#160; HALAMAN PENGESAHAN USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA Judul kegiatan : Uji Efektivitas Ekstrak Daun Bungur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1030&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p align="center">PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA</p>
<p align="center">
<p align="center">UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN BUNGUR (<em>Langerstromia speciosa</em>)</p>
<p align="center">SEBAGAI ZAT ANTI DIABETIK PADA TIKUS DIABET</p>
<p align="center">YANG TERPAPAR ALOKSAN</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">BIDANG KEGIATAN :</p>
<p align="center">PKMP</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">Diusulkan oleh :</p>
<p align="center">Ida Ayu Gede Prima Wulandari (103341465169/2003)</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">UNIVERSITAS NEGERI MALANG</p>
<p align="center">MALANG</p>
<p align="center">2007</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">HALAMAN PENGESAHAN</p>
<p align="center">USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA</p>
<p align="center"><span id="more-1030"></span></p>
<ol>
<li>Judul kegiatan : Uji Efektivitas Ekstrak Daun Bungur (<em>Langerstromia speciosa)</em> sebagai zat Anti Diabetik Pada Tikus Diabet Yang Terpapar Aloksan<em> </em>
<ol>
<li>Bidang kegiatan                            : PKMP</li>
<li>Bidang ilmu                                  : MIPA</li>
<li>Ketua Pelaksanaan Kegiatan
<ol>
<li>Nama Lengkap                        : Ida Ayu gede Prima Wulandari</li>
<li>NIM                                        : 103341465169</li>
<li>Jurusan                                    : Biologi</li>
<li>Universitas                              : Universitas Negeri Malang</li>
<li>Alamat rumah /Tlpn                : Jl. Jombang I/11 Malang. No tlpn : 588289</li>
</ol>
</li>
<li>anggota pelaksana kegiatan          : -</li>
<li>Dosen pendamping :
<ol>
<li>Nama lengkap dan gelar         : Drs. Soewolo, M.Pd</li>
<li>NIP                                         : 130261588</li>
<li>Alamat                                                : Jl. Martojoyo M-5 malang</li>
</ol>
</li>
<li>Biaya kegiatan total</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>DIKTI                                           : Rp. 4.795.000</p>
<p>Sumber lain                                   : -</p>
<ol>
<li>Jangka waktu Pelaksanaan            : bulan oktober 2007 s.d januari 2007</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menyetujui,                                                                 Malang,  31 Januari 2007</p>
<p>Ketua Jurusan Biologi                                                 Ketua Pelaksana Kegiatan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Drs. Abdul Ghofur, M.Si                                            Ida Ayu gede Prima W.</p>
<p>NIP. 131475810                                                          NIM. 103341465169</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pembantu rektor III                                                     Dosen Pembimbing</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Drs. Kadim Maskur, M. Pd                                        Drs. Soewolo, M.Pd</p>
<p>NIP. 130899262                                                          NIP. 130261588</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>10.  </strong><strong>Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota kelompok</strong></li>
</ol>
<p>1. Ketua Pelaksanaan Kegiatan</p>
<p>a. Nama Lengkap              : Ida Ayu gede Prima Wulandari</p>
<p>b. NIM                                          : 103341465169</p>
<p>c. Jurusan                          : Biologi</p>
<p>d. Universitas                    : Universitas Negeri Malang</p>
<p>e. Alamat rumah /Tlpn      : Jl. Jombang I/11 Malang. No tlpn : 588289</p>
<p>2. anggota                               : -</p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>11.  </strong><strong>Nama dan Biodata Dosen Pendamping </strong></li>
</ol>
<p>a. Nama lengkap dan gelar            : Drs. Soewolo, M.Pd</p>
<p>b. NIP                               : 130261588</p>
<p>c. Alamat                           : Jl. Martojoyo M-5 malang</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1030/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1030&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/pkm-uji-efektivitas-ekstrak-daun-bungur-langerstromia-speciosa-sebagai-zat-anti-diabetik-pada-tikus-diabet-yang-terpapar-aloksan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PASIFLORACEAE</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/pasifloraceae/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/pasifloraceae/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2012 02:05:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1027</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN   A. Latar Belakang Tanaman suku Araceae, khususnya genus Colocasia merupakan tanaman berupa herba. Tanaman suku Araceae ini ditemukan diberbagai daerah di Indonesia, termasuk diantaranya di Bali. Walaupun demikian sebaran dan populasi tumbuhan suku Araceae tidak sama di tiap daerah. Untuk satu jenis tanaman dari suku Araceae ini memiliki nama berbeda untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1027&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<h1>A. Latar Belakang</h1>
<p>Tanaman suku Araceae, khususnya genus Colocasia merupakan tanaman berupa herba. Tanaman suku Araceae ini ditemukan diberbagai daerah di Indonesia, termasuk diantaranya di Bali. Walaupun demikian sebaran dan populasi tumbuhan suku Araceae tidak sama di tiap daerah. Untuk satu jenis tanaman dari suku Araceae ini memiliki nama berbeda untuk masing-masing daerah. Contohnya, <em>Colocasia esculenta</em> dengan nama daerah talas, bentul, taro, keladi (melayu), cocoyam, eddoe, dasheen, gabi, tari, arvi (india), Tayoba (spanyol), dalo, sato-imo di jepang (Rubatzky dan yamaguchi, 1998 : 204)</p>
<p>Tanaman suku Araceae memiliki beberapa ciri umum yaitu merupakan tanaman herba yang bergetah; batang dibawah tanah membentuk umbi; tinggi batang kira-kira 0,4 sampai 1,5 m; daun sebanyak 2-5 dalam 1 tumbuhan; tangkai daun berwarna hijau, bergaris-garis tua atau keunguan dengan panjang 23 cm-150 cm; pangkal berbentuk pelepah; helaian daun berbentuk bulat telur, elips atau memanjang, ujung daun meruncing, bagian bawah berlilin, pangkal daun membulat (Steenis, 1975).<span id="more-1027"></span></p>
<p>Dalam perkuliahan morfologi tumbuhan, mahasiswa belajar mengenal bentuk dan struktur bagian-bagian tubuh tumbuhan. Secara morfologi yang dapat diamati pada tumbuhan itu sendiri adalah perawakannya, struktur alat vegetatif dan generatif. Pengamatan di dalam kelas mengenai tanaman suku Araceae dirasa kurang oleh karena itu inventarisasi ini diharapkan dapat menunjang pengamatan di dalam kelas baik secara teori maupun praktikum.</p>
<p align="left">Dengan penelitian ini di harapkan bisa dihimpun beberapa informasi mengenai tanaman suku Araceae untuk keperluan lebih lanjut serta untuk menambah khasanah pengetahuan kita mengenai tanaman suku Araceae. Selain itu dengan adanya penelitian ini diharapkan kita sebagai mahasiswa Biologi peka terhadap lingkungan sekitar. Begitu banyak keanekaragaman tanaman suku Araceae di lingkungan sekitar kita, tetapi luput dari pengamatan kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B.  Rumusan Masalah</strong></p>
<p>Bagaimana deskripsi (perawakan, struktur alat vegetatif dan generatif) dari <em>Colocasia esculenta</em> yang terdapat di daerah Tabanan-Bali?</p>
<p>Apa saja manfaat dari bagian-bagian tubuh tumbuhan C<em>olocasia esculenta?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>C.    </strong><strong>Tujuan</strong></li>
</ol>
<p>Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka peneliti ingin mengetahui :</p>
<p>Deskripsi (perawakan, struktur alat vegetatif dan generatif) dari <em>Colocasia esculenta</em> yang terdapat di daerah Tabanan-Bali</p>
<p>Manfaat  dari bagian-bagian tubuh tumbuhan C<em>olocasia esculenta</em></p>
<p><strong>D. Ruang Lingkup</strong></p>
<p>Hasil inventarisasi ini hanya membahas mengenai struktur alat vegetatif dan generatif dari <em>Colocasia esculenta</em> yang terdapat di daerah Tabanan-Bali serta perewakan dan Manfaat tanaman <em>Colocasia esculenta.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>E.  Kegunaan  Penelitian</strong></p>
<ul>
<li>Bagi penulis (mahasiswa):</li>
</ul>
<p>Dapat memperdalam pengetahuan dan meningkatkan kemampuan dalam mencandra tumbuhan serta melatih diri agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar.</p>
<ul>
<li>Bagi dosen:</li>
</ul>
<p>Dapat memperoleh tambahan informasi mengenai tumbuhan suku Araceae yang terdapat di daerah Tabanan-Bali dan menunjang kegiatan perkuliahan morfologi tumbuhan di jurusan Biologi</p>
<ul>
<li>Bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi</li>
</ul>
<p>Dapat menambah inventarisasi keanekaragaman flora diIndonesiaserta menambah data persebaran suku araceae di seluruhIndonesia.</p>
<ul>
<li>Bagi Masyarakat:</li>
</ul>
<p>Dapat memperoleh informasi tentang keanekaragaman tumbuhan diIndonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>METODE PENELITIAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>1.      </strong><strong>Jenis Penelitian</strong></li>
</ol>
<p align="left">Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan mengoleksi, mendeskripsi, dan mendokumentasi jenis yang ditemukan. Identifikasi dilakukan melalui pengamatan langsung dengan mengambil spesimen yang mencakup organ vegetatif dan generatif dari tumbuhan yaitu akar, batang, daun, bunga, dan buah.</p>
<p align="left"><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>2.      </strong><strong>Waktu dan Tempat Penelitian</strong></li>
</ol>
<p>Penelitian dilakukan dalam dua tahap.  Tahap pertama dilakukan selama 2 hari sejak tanggal 22-24 Oktober 2006 di lima desa yaitu desa Dusun Kebayan, Dusun Dukuh, Dusun Carik padang, Dusun Nyambu, Dusun Tohjiwa kecamatan Kediri, Kab. Tabanan-Bali. Penelitian tahap kedua dilakukan setelah menentukan anggota dari suku Araceae yang akan diamati. Pengamatan dilakukan pada tanggal 25 Oktober 2006 di dusun kebayan, Desa nyambu, kecamatan Kediri, Kab. Tabanan-Bali</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3.      </strong><strong> Alat dan Bahan</strong></li>
</ol>
<ul>
<li> pisau</li>
<li>Kamera digital</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>4.      </strong><strong>Prosedur Kerja</strong></li>
<li>Mencari literatur di internet tentang anggota suku araceae</li>
<li>Menjelajah daerah amatan</li>
<li>Menentukan salah satu jenis Araceae yang akan diamati lebih lanjut</li>
<li>Mengambil sebagian spesimen untuk dibuat herbariumnya</li>
<li>Melakukan identifikasi</li>
<li>Memasukkan data hasil pengamatan ke dalam tebel sebagai berikut :</li>
</ol>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="181">No</td>
<td valign="top" width="181">Hal yang diamati</td>
<td valign="top" width="181">Hasil pengamatan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="181">1.</td>
<td valign="top" width="181">&nbsp;</td>
<td valign="top" width="181">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="181">2.</td>
<td valign="top" width="181">&nbsp;</td>
<td valign="top" width="181">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="181">3.</td>
<td valign="top" width="181">&nbsp;</td>
<td valign="top" width="181">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="181">Dst….</td>
<td valign="top" width="181">&nbsp;</td>
<td valign="top" width="181">&nbsp;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ol>
<li>Menentukan spesies tumbuhan yang telah diamati</li>
<li>Mendokumentasikan tumbuhan yang ditemukan dengan media foto, gambar, dan herbarium</li>
<li>Membuat laporan</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>BAB III</p>
<p align="center"><strong>HASIL dan PEMBAHASAN</strong></p>
<p align="center">
<p><strong>1.  Hasil Pengamatan </strong></p>
<p>a. Tabel paparan data</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="43">No</td>
<td valign="top" width="240">Hal yang diamati</td>
<td valign="top" width="260">Hasil pengamatan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43">1.</td>
<td valign="top" width="240">perawakan</td>
<td valign="top" width="260">herba</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43">2.</td>
<td valign="top" width="240">Akar :</p>
<ul>
<li>Sistem perakaran</li>
<li>Tipe akar</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="260">&nbsp;</p>
<ul>
<li>Sistem perakaran serabut</li>
<li>Akar liar/adventif</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43">3.</td>
<td valign="top" width="240">Batang :</p>
<ul>
<li>Jenis batang</li>
<li>Tempat tumbuh</li>
<li>Modifikasi batang</li>
<li>Arah tumbuh batang</li>
<li>Bentuk batang</li>
<li>Bercabang/tidak</li>
<li>Permukaan batang</li>
<li>Warna batang</li>
<li>Buku-buku rapat/renggang</li>
<li>Arah tumbuh cabang</li>
<li>Arsitektur</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="260">&nbsp;</p>
<ul>
<li>Herbaceus</li>
<li>Tumbuh di dalam tanah</li>
<li>Umbi batang</li>
<li>Tehak</li>
<li>Bulat</li>
<li>Bercabang</li>
<li>Memperlihatkan bekas-bekas daun</li>
<li>Cokelat</li>
<li>Rapat</li>
<li>Mendatar</li>
<li>tomlinson</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="43">4.</td>
<td valign="top" width="240">Daun :</p>
<ul>
<li>filotaksis</li>
<li>daun tunggal/daun majemuk</li>
<li>daun lengkap/daun bertangkai/baun berpelepah/daun duduk</li>
<li>bentuk helaian daun</li>
<li>tepi daun</li>
<li>pangkal daun</li>
<li>ujung daun</li>
<li>permukaan daun</li>
<li>pertulangan</li>
<li>peruratan</li>
</ul>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="260">&nbsp;</p>
<ul>
<li>terserak/tersebar</li>
<li>daun tunggal</li>
<li>daun lengkap</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>bentuk jantung</li>
<li>rata</li>
<li>berbelah/berlekuk</li>
<li>meruncing</li>
<li>licin</li>
<li>menjari</li>
<li>memata jala</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Pembahasan</strong></p>
<p>Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil deskripsi, <em>Colocasia esculenta </em>termasuk tanamna herba</p>
<p><strong>Lampiran</strong></p>
<p>1. Biodata diri :</p>
<p>Name                              : Ida Ayu gede Prima wulandari</p>
<p>Short name                     : dayu, gek yude, prima, day</p>
<p>Birth                               : Tabanan, 5 februari 1984</p>
<p>Addres at home             : gria Jero Manuaba, Dsn. Kebayan, Ds. Nyambu, Kec.                                  Kediri, Kab. Tabanan-Bali</p>
<p>Addres atmalang          : Jln. Jombang I/11</p>
<p>F. of Food                      : semua makanan buatan ibu</p>
<p>F. of drink                      : juice wortel</p>
<p>Hobby                            : nari, baca dongeng, nulis cerpen, pencak silat, tidur</p>
<p>Motto                             : chuek is the best</p>
<p>Wishes &amp; Prayer            : menjadi kebanggaan dan penolong semua orang, guru         ideal masa depan, hamba tuhan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2. Refleksi diri</p>
<p>Selama melakukan identifikasi saya tidak terlalu sulit menemukan anggota dari suku Araceae karena berpatokan pada literatur sebelumnya saya sudah mendapatkan informasi tentang anggota dari suku Araceae. Hanya saja di daerah saya jumlah anggota araceae yang teriventarisasi oleh saya sangat terbatas dan yang dominan terdapat di sanaadalah <em>olocasia esculenta</em> maka dari itu, untuk memprmudah pengamatan, saya memilih tumbuhan ini sebagai obyek pengamatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">Daftar pustaka</p>
<p align="center">
<p>Anonymous. 2006. <em>Taro</em>. Online,(http//en.wikipedia.org, diakses tanggal 19 oktober 2006)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anonymous. 2006. <em>Talas (Colocasia esculenta)</em>. Online,(http://warintek.progressio.or.id, diakses tanggal 19 oktober 2006)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rubatzky, Vincent E dan Yamaguchi, Mas. 1998. <em>Sayuran</em><em> Dunia I.</em><em> Prinsip, produksi dan gizi.</em>Bandung : ITB</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Steenis, Van Cs. 1975. <em>Flora</em>.Jakarta : Pradnya Paramita</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1027/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1027&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/pasifloraceae/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAKALAH SPESIASI</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/makalah-spesiasi/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/makalah-spesiasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2012 02:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1025</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN A.    Latar Belakang Evolusi merupakan ilmu yang mempelajari perubahan yang berangsur-angsur menuju kearah yang sesuai dengan masa dan tempat. Teori evolusi mempelajari proses perubahan yang terjadi pada makhluk hidup. Pemikiran tentang teori evolusi terus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Pada masa evolusi modern konsep evolusi dikembangkan dengan tinjauan struktur DNA. Saat ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1025&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">BAB I</p>
<p align="center">PENDAHULUAN</p>
<p align="center">
<ol>
<li><strong>A.    </strong><strong>Latar Belakang</strong></li>
</ol>
<p>Evolusi merupakan ilmu yang mempelajari perubahan yang berangsur-angsur menuju kearah yang sesuai dengan masa dan tempat. Teori evolusi mempelajari proses perubahan yang terjadi pada makhluk hidup. Pemikiran tentang teori evolusi terus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Pada masa evolusi modern konsep evolusi dikembangkan dengan tinjauan struktur DNA. Saat ini telaah tentang DNA mengungkapkan bahwa ada mekanisme perubahan pada tingkat molekul DNA, sehingga membawa pemahaman yang lebih baik pada proses perubahan organisasi makhluk hidup.</p>
<p>Seperti diketahui bahwa keanekaragaman muncul melalui <em>cladogenesis</em>. Cladogenesis merupakan bentuk penyimpangan dari perbedaan genetic dari nenek moyangnya. Perbedaan genetic ini disebabkan karena adanya variasi genetic dalam satu keturunan. Variasi ini sebagai hasil meiosis dan rekombinasi pada fertilisasi organisme. Jadi fertilisasi organisme merupakan factor yang sangat penting dalam proses terjadinya variasi ini. Pindah silang, translokasi, dan aberasi kromosom merupakan rekombinasi selanjutnya. Semakin bervariasi, semakin beranekaragam spesies yang dihasilkan, dalam arti semakin banyak spesies baru yang bermunculan.<span id="more-1025"></span></p>
<p>Spesies merupakan unit dasar dalam pengklasifikasian makhluk hidup. Terbentuknya beberapa spesies baru yang berasal dari satu nenek moyang disebut dengan spesiasi. Berdasarkan latar belakang diatas maka di susunlah makalah yang berjudul “<strong>Spesiasi</strong>”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>B.     </strong><strong>Rumusan Masalah</strong>
<ol>
<li>Apa yang dimaksud dengan spesies dan spesiasi?</li>
<li>Bagaimanakah dua pengaruh utama Spesiasi?</li>
<li>Bagaimanakah model-model spesiasi?</li>
<li>Bagaimana perbedaan model spesiasi alotropik, paratrik, dan simpatrik?</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>C.    </strong><strong>Tujuan</strong>
<ol>
<li>Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan spesies dan spesiasi</li>
<li>Untuk mengetahui dua pengaruh utama Spesiasi</li>
<li>Untuk mengetahui model-model spesiasi beserta contohnya</li>
<li>Untuk mengetahui perbedaan model spesiasi alotropik, paratrik, dan simpatrik</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB II</p>
<p align="center">PEMBAHASAN</p>
<p align="center">
<ol>
<li><strong>A.    </strong><strong>Spesies dan Spesiasi</strong></li>
</ol>
<p>Biologi mengenal dua arti pokok spesies yaitu konsep spesies reproduktif dan morfologi (atau fenetik). Menurut konsep spesies reproduktif, spesies adalah komunitas organisme yang bisa kawin satu sama lain, suatu individu termasuk dalam spesies yang anggota-anggotanya berhasil bereproduksi dengannya. Jadi satu definisi spesies yang umum diketahui menurut Ernst Mayr, spesies adalah kelompok populasi alamiah yang secara aktual maupun potensial bisa saling kawin, dan kelompok ini secara reproduktif terisolasi dari kelompok lain. Menurut konsep morfologis, spesies didefinisikan menurut ciri penampilannya. Individu dalam alam masuk ke dalam kategori tersendiri berdasarkan perangkat fenotipnya, kriteria keanggotaan suatu spesies menurut konsep morfologis cukup dengan melihat persamaan ciri anggota yang lain dalam spesies yang bersangkutan.</p>
<p>Jika spesies merupakan satuan-satuan yang secara artifisial dipertemukan dalam alam, seperti yang dikehendaki oleh nominalisme, maka setiap organisme yang hidup (dari setiap spesies) harus bisa saling kawin dengan organisme hidup lain yang berjenis kelamin berbeda, atau setidak-tidaknya harus ada perubahan bertahap, manakala saling kawin menjadi semakin kurang efisien dengan semakin jauhnya jarak individu. Namun hal ini tidaklah benar dalam alam. Organisme hidup benar-benar terjadi dalam satuan-satuan yang cukup jelas berdiri sendiri-sendiri yang didalamnya mereka bisa saling kawin dengan efisiensi yang hampir sama dan yang diluar itu mereka jarang sekali kawin.</p>
<p>Sedangkan Spesies menurut Ernst Meyer adalah kelompok populasi alamiah yang secara aktual maupun potensial bisa saling kawin, dan kelompok ini secara reproduktif terisolasi dari kelompok lain.</p>
<p>Dalam sejumlah referensi menyatakan bahwa dalam membicarakan spesiasi (terbentuknya spesies baru) akan dititiktolakkan pada spesiasi divergen, yaitu satu nenek moyang berkembang menjadi lebih dari satu spesies keturunan, selama mereka berevolusi terjadi penyimpangan yang sangat besar.</p>
<ol>
<li><strong>B.     </strong><strong>Dua Pengaruh Utama Spesiasi</strong></li>
<li>Isolasi Geografis</li>
</ol>
<p>Sebagian besar para ahli Biologi berpendapat bahwa faktor awal yang mempengaruhi spesiasi adalah pemisahan geografi, karena selama populasi dari spesies yang sama masih berhubungan secara langsung atau tidak, gen flow masih dapat terjadi. Namun, jika terbentuk hambatan bagi penyebaran spesies (sebab-sebab geografis) maka, tidak akan ada pertukaran susunan gen dalam sistem populasi dan evolusi akan berlangsung sendiri-sendiri. Semakin lama kedua populasi tersebut akan semakin berbeda karena telah mengalami evolusi dengan caranya sendiri.</p>
<p>Sejalan dengan waktu pemisahan geografi dari sistem populasi akan mengalami penyimpangan, sebabnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>a)      Kedua sistem populasi yang terpisah itu mempunyai frekuensi gen permulaan yang berbeda. Jadi, jika dua populasi memiliki potensi genetik yang berbeda sejak awal pemisahannya, sudah barang tentu akan menempuh jalan yang berbeda.</p>
<p>b)      Mutasi terjadi secara random. Pemisahan dalam dua sistem populasi tersebut mungkin disebabkan adanya mutasi.</p>
<p>c)      Pengaruh tekanan seleksi alam sekeliling setelah mereka menempati posisi pemisahan yang berbeda.</p>
<p>d)     Pergeseran susunan gen (genetic drift). Ini berpeluang bagi terbentuknya koloni baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Isolasi Reproduksi</li>
</ol>
<p>Isolasi geografis di atas dapat dikatakan sebagai faktor luar (ekstrinsik) yang menjadi penyebab terjadinya spesiasi. Selanjutnya, dalam rentang waktu yang lama akan terjadi mekanisme isolasi intrinsik, dimana sifat-sifat yang dipunya oleh populasi tersebut dapat mencegah bercampurnya dua populasi atau mencegah inbreeding jika kedua populasi itu berkumpul lagi setelah batas pemisahannya sudah tidak ada.</p>
<p>Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa spesiasi dimulai dengan adanya penghambat (barier) luar yang menjadikan dua sistem populasi menjadi sama sekali alopatrik (mempunyai tempat yang berbeda). Namun keadaan ini belum sempurna sampai populasi ini mengalami proses intrinsik yang menjaga supaya mereka tetap alopatrik atau gene pool mereka tetap terpisah meskipun mereka dalam keadaan simpatrik (mempunyai tempat yang sama).</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>C.    </strong><strong>Model-model Spesiasi</strong></li>
</ol>
<p>Menurut Starr dan Taggart (1984:492-493) model spesiasi dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:</p>
<ol>
<li>Spesiasi Allopatrik</li>
</ol>
<p>Kata Allopatrik berasal dari bahasa latin <em>allos </em>yang artinya berbeda, dan <em>patria </em>yang artinya daerah asal (Starr dan Taggart, 1984: 492). Odum (1993, 297-298) menyatakan bahwa pengertian alopatrik adalah spesies-spesies yang terdapat di daerah-daerah geografis yang berlainan (atau dipisahkan oleh adanya barier ruang). Spesiasi allopatrik yaitu pembentukan jenis baru yang terjadi melalui pemisahan populasi-populasi yang diturunkan dari nenek moyang bersama dalam geografis yang berbeda. Kebanyakan spesies timbul dikarenakan spesiasi allopatrik ini. Proses spesiasi allopatrik didahului oleh pemisahan suatu populasi menjadi dua group (subpopulasi) yang dikarenakan adanya barier ruang. Selanjutnya kedua subpopulasi tersebut akan menempuh rute evolusi yang berbeda sesuai dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya dan membentuk subpopulasi yang berbeda antara satu dengan lainnya pada akhirnya.  Sehingga pada saat kedua subpopulasi tersebut bertemu kembali di suatu wilayah, mereka tidak dapat melakukan perkawinan (tidak dapat melakukan pertukaran gen-gen) (Wallace, 1992: 266).</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="143" height="22"></td>
<td width="42"></td>
<td width="6"></td>
<td width="26"></td>
<td width="34"></td>
<td width="39"></td>
<td width="33"></td>
<td width="26"></td>
<td width="10"></td>
<td width="42"></td>
</tr>
<tr>
<td height="8"></td>
<td colspan="2"></td>
<td rowspan="5" align="left" valign="top"></td>
<td colspan="3"></td>
<td rowspan="5" align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="12"></td>
<td colspan="2"></td>
<td></td>
<td align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="1"></td>
</tr>
<tr>
<td height="4"></td>
<td rowspan="3" align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="1"></td>
<td></td>
<td colspan="3"></td>
<td></td>
<td rowspan="3" align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="25"></td>
</tr>
<tr>
<td height="5"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Barier</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="191" height="4"></td>
<td width="26"></td>
<td width="34"></td>
<td width="39"></td>
<td width="33"></td>
<td width="26"></td>
</tr>
<tr>
<td height="7"></td>
<td rowspan="3" align="left" valign="top"></td>
<td colspan="3"></td>
<td rowspan="3" align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="12"></td>
<td></td>
<td align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="7"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>A                                 B                           C</p>
<p>Waktu</p>
<p>Gambar: skema terjadinya spesiasi allopatrik: A. Populasi terbagi menjadi 2 subpopulasi; B. Kedua subpopulasi tersebut mengalami seleksi (rute evolusi) yang berbeda; C. Kedua subpopulasi tersebut mengalami isolasi reproduksi sehingga tidak dapat kawin kembali pada saat bertemu di suatu wilayah (sumber: Stearns dan Hoekstra, 2003: 221).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Contoh dari spesies yang mengalami spesiasi allopatrik adalah burung-burung finches di kepulauan Galapagos. 2 jenis “ground finches” (Geopisa) yang terdapat pada beberapa pulau-pulau yang lebih kecil (terisolasi secara geografis) mempunyai kemiripan dalam ukuran dan bentuk paruhnya dan tupai Abert dan Kaibab yang berasal dari Grand Canyon (Wallace, 1992: 266).</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Spesiasi Parapatrik</li>
</ol>
<p>Pada spesiasi ini isolasi reproduksi berkembang dalam beberapa gen flow diantara populasi-populasi. Pada populasi tersebut terdapat suatu alela yang berdampak pada terjadinya isolasi reproduktif pada populasi tersebut. Sehingga spesies-spesies dalam populasi tersebut tidak dapat melakukan perkawinan (pertukaran gen) (Widodo dkk, 2003: 54).</p>
<p>Contohnya adalah munculnya spesies baru tupai tanah terjadi karena munculnya pul gen baru gara-gara spesiasi alopatrik. Aliran genetik terhambat, arus keluar-masuknya alela dari dan ke populasi menjadi terlarang akibat isolasi geografis. Meski hanya terhalang sungai, setelah spesiasi terjadi, kedua populasi tupai tidak bisa lagi saling kawin. Meyr menyebutkan seleksi parapatrik menuntut adaptasi tertentu pada populasi pendiri dibanding populasi induk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Spesiasi Simpatrik</li>
</ol>
<p>Kata Simpatrik artinya adalah daerah asal yang sama (Starr dan Taggart, 1984: 493). Pada spesies simpatrik terdapat pemisahan morfologi yang sangat kuat, sehingga dapat dengan mudah dibedakan antara satu dengan yang lainnya (Odum, 1993: 298). Jadi Spesiasi Simpatrik yaitu terbentuknya jenis baru yang terjadi karena tinggal/terdapat pada daerah yang sama. Dalam hal ini perbedaan-perbedaan yang dimiliki seringkali ditonjolkan sehingga dapat dibedakan dengan mudah. Mekanisme terjadinya spesiasi simpatrik adalah diawali dengan adanya suatu populasi. Selanjutnya bagian dari populasi tersebut mengalami perbedaan genetik. Dari perubahan genetik tersebut maka terjadilah isolasi reproduksi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="119" height="7"></td>
<td width="38"></td>
<td width="10"></td>
<td width="39"></td>
<td width="9"></td>
<td width="38"></td>
<td width="10"></td>
<td width="39"></td>
<td width="9"></td>
<td width="38"></td>
<td width="10"></td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td height="21"></td>
<td rowspan="3" align="left" valign="top"></td>
<td colspan="3"></td>
<td rowspan="3" align="left" valign="top"></td>
<td colspan="3"></td>
<td rowspan="3" align="left" valign="top"></td>
<td></td>
<td rowspan="3" align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="12"></td>
<td></td>
<td align="left" valign="top"></td>
<td></td>
<td></td>
<td align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="5"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>A                                 B</p>
<p>Gambar: skema terjadinya spesiasi simpatrik: A. Pada suatu populasi terjadi perbedaan genetik; B. Karena adanya perubahan genetik, maka terjadilah isolasi reproduksi pada populasi tersebut (sumber: Stearns dan Hoekstra, 2003: 222).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah satu model spesiasi simpatrik adalah spesiasi poliploid. Poliploidi terjadi karena penggandaan perangkat komosom secara keseluruhan. Dalam hal ini individu-individu yang tergolong diploid dapat muncul turunan yang triploid maupun tetraploid. Fenomena poliploidi lebih sering dijumpai pada spesies tumbuhan daripada hewan, tetapi pada kelompok amphibi dan pisces poliploidi masih lazim terjadi (Corebima, 2000: 116).</p>
<p>Pada poliploidi dengan jumlah kromosom homolog yang seimbang (jumlah kromosom genap) lebih berpeluang fertil daripada spesies poliploidi yang kromosom homolognya tidak seimbang (jumlah kromosom ganjil). Spesies poliploidi yang kromosom homolognya tidak seimbang (jumlah kromosom ganjil) umumnya bersifat steril, sehingga tidak dapat dijumpai pada spesies yang bereproduksi secara generatif (Corebima, 2000: 118).</p>
<p>Sebagai contoh spesiasi simpatrik adalah 2 burung kicau (Nuthatches) yang memiliki perbedaan yang sangat kuat dalam hal morfologi sehingga mereka dapat dibedakan dengan mudah. Pada 1 jenis, paruhnya dan garis muka hitam menjadi membesar, sementara jenis yang lain mengecil. Perbedaan yang ditonjolkan tersebut bertujuan untuk mengurangi tumpang tindih relung makanan. Perbedaan yang nyata dalam garis muka meningkatkan pengenalan jenis dan menghalangi terjadinya pembastaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>D.    </strong><strong>Perbedaan model spesiasi allotropik, paratrik, dan simpatrik</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<table width="559" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="187">
<p align="center"><strong>Model Spesiasi Allotropik</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="180">
<p align="center"><strong>Model Spesiasi </strong></p>
<p align="center"><strong>Paratrik</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="192">
<p align="center"><strong>Model Spesiasi </strong></p>
<p align="center"><strong>Simpatrik</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="187">
<ul>
<li>Pembentukan jenis baru yang terjadi melalui pemisahan populasi-populasi yang diturunkan dari nenek moyang bersama dalam geografis yang berbeda. Kebanyakan spesies timbul dikarenakan spesiasi allopatrik ini.</li>
<li>Pada spesiasi ini isolasi reproduksi berkembang dalam beberapa gen flow diantara populasi-populasi. Pada populasi tersebut terdapat suatu alela yang berdampak pada terjadinya isolasi reproduktif pada populasi tersebut. Sehingga spesies-spesies dalam populasi tersebut tidak dapat melakukan perkawinan (pertukaran gen)</li>
<li>Terbentuknya jenis baru yang terjadi karena tinggal/terdapat pada daerah yang sama. Dalam hal ini perbedaan-perbedaan yang dimiliki seringkali ditonjolkan sehingga dapat dibedakan dengan mudah.</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="180"></td>
<td valign="top" width="192">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="187">
<ul>
<li>Model spesiasi alopatrik dapat dibuktikan melalui studi variasi geografi</li>
<li>Model spesiasi parapatrik adanya isolasi reproduktif</li>
<li>Model Spesiasi simpatrik meliputi gradual dan spontan
<ul>
<li>Contoh dari spesies yang mengalami spesiasi allopatrik adalah burung-burung finches di kepulauan Galapagos</li>
<li>Contoh: munculnya spesies baru tupai tanah terjadi karena munculnya pul gen baru akibat spesiasi alopatrik</li>
<li>Contoh: 2 burung kicau (Nuthatches) yang memiliki perbedaan yang sangat kuat dalam hal morfologi sehingga mereka dapat dibedakan dengan mudah</li>
</ul>
</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="180"></td>
<td valign="top" width="192"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="187"></td>
<td valign="top" width="180"></td>
<td valign="top" width="192"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB III</p>
<p align="center">PENUTUP</p>
<p align="center">
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ul>
<li> Spesies menurut Ernst Meyer adalah kelompok populasi alamiah yang secara aktual maupun potensial bisa saling kawin, dan kelompok ini secara reproduktif terisolasi dari kelompok lain.</li>
<li>Spesiasi adalah terbentuknya spesies baru</li>
<li>Biologi mengenal dua arti pokok spesies yaitu konsep spesies reproduktif dan morfologi (atau fenetik)</li>
<li>Dua Pengaruh Utama Spesiasi:</li>
</ul>
<ol>
<li>Isolasi Geografis</li>
<li>Isolasi Reproduksi</li>
</ol>
<ul>
<li>Menurut Starr dan Taggart (1984:492-493) model spesiasi dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:</li>
</ul>
<ol start="1">
<li>Spesiasi Allopatrik yaitu pembentukan jenis baru yang terjadi melalui pemisahan populasi-populasi yang diturunkan dari nenek moyang bersama dalam geografis yang berbeda. Kebanyakan spesies timbul dikarenakan spesiasi allopatrik ini.</li>
<li>Spesiasi Parapatrik</li>
</ol>
<p>Pada spesiasi ini isolasi reproduksi berkembang dalam beberapa gen flow diantara populasi-populasi. Pada populasi tersebut terdapat suatu alela yang berdampak pada terjadinya isolasi reproduktif pada populasi tersebut. Sehingga spesies-spesies dalam populasi tersebut tidak dapat melakukan perkawinan (pertukaran gen).</p>
<ol start="3">
<li>Spesiasi Simpatrik yaitu terbentuknya jenis baru yang terjadi karena tinggal/terdapat pada daerah yang sama. Dalam hal ini perbedaan-perbedaan yang dimiliki seringkali ditonjolkan sehingga dapat dibedakan dengan mudah.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p align="center">
<p>Corebima, A.D. 2000. <em>Genetika Mutasi dan</em> <em>rekombinasi. </em>Malang: UM.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Odum, Eugene. P. 1993. <em>Dasar-dasar Ekologi. </em>Yogyakarta: UGM press</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Starr, Cecie dan Ralph Taggart. 1984. <em>Biology the Unity and Diversity of Life.</em>California: Wadsworth Publishing company.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Stearns, Stephen C dan Rolf. F. Hoekstra. 2003. <em>Evolution an Introduction.</em>USA:OxfordUniversity Press.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Soemarwoto, Idjah, dkk. 1988. <em>Biologi Umum III</em>.Jakarta: PT Gramedia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallace, A. 1992. <em>Biology The World of Life. </em>USA: Harper Collins Publisher Inc.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Widodo, dkk. 2003. <em>Evolusi. </em>Malang: UM.</p>
<p><em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1025/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1025&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/makalah-spesiasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAKALAH WIRAUSAHA</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/makalah-wirausaha/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/makalah-wirausaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2012 01:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN 1. Menumbuhkan Minat Berwirausaha Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik, dan banyak pula orang yang menganggur, maka semakin dirasakan penting dunia wirausaha. Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas. Oleh ssebab itu, wirausaha merupakan potensi pembangunan, baik dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1022&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB I </strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p align="center">
<p><strong>1. Menumbuhkan Minat Berwirausaha</strong></p>
<p>Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik, dan banyak pula orang yang menganggur, maka semakin dirasakan penting dunia wirausaha. Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas.</p>
<p>Oleh ssebab itu, wirausaha merupakan potensi pembangunan, baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri. Sekarang ini kita menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausahaIndonesiamasih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat, sehingga persoalan pembangunan wirausahaIndonesiamerupakan persoalan mendesak bagi suksesnya pembangunan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>* Manfaat wirausaha: </strong></p>
<p>1. Menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi          pengangguran.<strong></strong></p>
<p>2. Sebagai generator pembangunan lingkungan, bidang produksi distribusi, pemeliharaan lingkungan, kesejahteraan dan sebagainya.<strong></strong></p>
<p>3. Menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain, sebagai pribadi tunggal yang patut dicontoh, diteladani, karena seorang wirausaha itu adalah orang terpuji, jujur, berani, hidup tidak merugikan orang lain.<span id="more-1022"></span><strong></strong></p>
<p>4. Selalu menghormati hukum dan peraturan yang berlaku, berusaha selalu menjaga dan membangun lingkungan.<strong></strong></p>
<p>5. Berusaha selalu memberi bantuan kepada orang laindan pembangunan sosial, sesuai dengan kemampuannya.<strong></strong></p>
<p>6. Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri, disiplin, jujur, tekun dalam menghadapi pekerjaan.<strong></strong></p>
<p>7. Memberi contoh bagaimana kita harus bekerja keras, tapi tidak melupakan perintah-perintah agama.<strong></strong></p>
<p>8. Hidup secara effisien, tidak berfoya-foya dan tidak boros.<strong></strong></p>
<p>9. Memelihara keserasian lingkungan, baik dalam pergaulan maupun keserasian lingkungan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>* Dua Darmabakti Wirausaha Terhadap Pembangunan Bangsa:</strong></p>
<p>1. sebagai pengusaha, memberikan darmabaktinya melancarkan proses produksi, distribusi dan konsumsi.<strong></strong></p>
<p>2. sebagai pejuang bangsa dalam bidang ekonomi, meningkatkan ketahanan nasional dalam mengurangi ketergantungan pada bangsa asing.<strong></strong></p>
<p>Penyebab kurangnya dari minat ini mempunyai latar belakang negatip dalam masyarakat terhadap profesi wirausaha. Sekarang ini banyak anak muda mulai tertarik dan melirik profesi bisnis yang cukup menjanjikan masa depan cerah, kaum remaja sekarang dengan latar belakang profesi orang tua yang beraneka ragam mulai mengarahkan pandangannya kebidang bisnis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>* Keuntungan dan Kelemahan Menjadi Wirausaha</strong></p>
<p><strong>   Keuntungan menjadi wirausaha </strong></p>
<p>1.<strong> </strong>Terbuka peluang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki sendiri.<strong></strong></p>
<p>2.Terbuka peluang untuk mendemonstrasikan kemampuan serta potensi seseorang secara utuh.<strong></strong></p>
<p>3. Terbuka peluang untuk memperoleh manfaat dan keuntungan secara maksimal.</p>
<p>4. Terbuka peluang untuk membantu masyarakat dengan usaha-usaha konkrit.</p>
<p>5. Terbuka kesempatan untuk menjadi bos.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kelemahan menjadi wirausaha</strong></p>
<p>1. Memperoleh pendapatan yang tidak pasti, dan memikul berbagai resiko</p>
<p>2. Bekerja keras dan jam kerja panjang.</p>
<p>3. Kualitas kehidupannya masih rendah sampai usahanya berhasil, sebab dia harus</p>
<p>berhemat.</p>
<p>4. Tanggung jawabnya sangat besar, banyak keputusan yang harus dia buat walaupun dia kurang menguasai permasalahan yang dihadapinya.</p>
<p><strong>2</strong>. <strong>Kebutuhan akan wirausaha</strong></p>
<p>Suatu pernyataan yang bersumber dari PBB menyatakan bahwa suatu negara akan mampu membangun apabila meiliki wirausahawan sebanyak 2% dari jumlah penduduknya. Wirausahawan adalah seorang innovator, sebagai individu yang mempunyai naluri untuk melihat peluang-peluang, mempunyai semangat, kemampuan dan pikir untuk menaklukan cara berpikir lamban dan malas,</p>
<p>Seorang wirausahawan mempunyai peran untuk mencari kombinasi baru, yang merupakan gabungan dari 5 hal, yaitu:</p>
<p>1. Pengenalan barang dan jasa baru.</p>
<p>2. Metoda produksi baru.</p>
<p>3. Sumber bahan mentah baru.</p>
<p>4. Pasar-pasar baru</p>
<p>5. Organisasi industri baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Bisakah Kewirausahaan diajarkan?  </strong></p>
<p>Di negara maju pertumbuhan wirausaha membawa peningkatan ekonomi yang luar biasa. Pengusaha-pengusaha baru ini telah memperkaya pasar dengan produk-produk yang inovatip. Transpormasi pengetahuan kewirausahaan telah berkembang pada akhir-akhir ini. Demikian pula di negara kita pengetahuan kewirausahaan diajarkan di sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi dan di berbagai kursus bisnis. Jadi kesimpulannya kewirausahaan itu dapat diajarkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>4. <strong>Dorongan Merintis Wirausaha</strong></p>
<p>Motivasi merupakan aspek utama dalam mendorong berdirinya kegiatan kewirausahaan. Motivasi tersebut antara lain Lingkungan kerja, guru sekolah, sekolah yang memberikan mata pelajaran kewirausahaan yang dapat membangkitkan minat berwirausaha. Dorongan membentuk wirausaha juga datang dari teman sepergaulan, lingkungan keluarga, sahabat, dimana mereka dapat berdiskusi tentang ide wirausaha serta masalah yang dihadapi dalam berwirausaha dan cara-cara mengatasi masalah tersebut. Pendidikan formal dan pengalaman bisnis menjadi potensi utama untuk menjadi wirausaha yang berhasil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>5. Beberapa Faktor Kritis Untuk Memulai Usaha Baru</strong></p>
<p><strong>Beberapa faktor kritis untuk memulai usaha</strong></p>
<p>1. Personal, menyangkut aspek-aspek kepribadian seseorang.</p>
<p>2. sociological, menyangkut masalah hubungan dengan keluarga.</p>
<p>3. Enfironmental, menyangkut hubungan dengan lingkungan.</p>
<p>Seseorang yang mempunyai ide untuk membuka suatu usaha baru akan mencari faktor-faktor lain yang akan mendorongnya. Faktor tersebut antara lain faktor keluarga, teman, pengalaman, keadaaan ekonomi, keadaan lapangan kerja, dan sumber daya yang terserdia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>6. Model Proses Kewirausahaan</strong></p>
<p>Model proses pengembangan kewirausahaan dapat digambarkan sebagai berikut: inovasi→Pemicu→pelaksanaan→pertumbuhan.</p>
<p><strong>a. proses inovasi</strong></p>
<p>Beberapa faktor yang mendorong inovasi adalah: keinginan berprestasi, adanya sifat penasaran, keinginan menanggung resiko, faktor pendidikan, faktor pengalaman, peluang, dan kreatifitas.</p>
<p><strong>b.</strong> <strong>proses pemicu</strong></p>
<p>Beberapa faktor yang memicu sseseorang untuk terjun ke dunia bisnis adalah:</p>
<p>*Adanya ketidak puasan terhadap pekerjaan yang sekarang.</p>
<p>* Adanya pemutusan hubungan kerja, tidak ada pekerjaan lain</p>
<p>* Dorongan faktor usia</p>
<p>* Keberanian menanggung resiko</p>
<p>* Komitmen yang tinggi terhadap bisnis</p>
<p>* Adanya persaingan dalam dunia kehidupan</p>
<p>*Adanya sumber-sumber yang bisa dimanfaatkan, misalnya memiliki tabungan, modal, warisan, memiliki bangunan yang berlokasi strategis.</p>
<p>* Mengikuti latihan-latihan bisnis</p>
<p>*Adanya kemudahan dalam lokasi berusaha atau fasilitas kredit dan bimbingan yang dilakukan oleh Depnaker</p>
<p>* Adanya hubungan atau relasi dengan orang lain</p>
<p>* Adanya tim yang dapat diajak bekerjasama dalam berusaha</p>
<p>* Adanya dorongan dari orang tua untuk berusaha</p>
<p>* Adanya bentuan keluarga dalam berbagai kemudahan</p>
<p>* Adanya pengalaman dalam dunia bisnis sebelumnya.</p>
<p><strong>c. proses pelaksanaan</strong></p>
<p>Beberapa faktor personal yang mendorong pelaksanaan sebuah bisnis:</p>
<p>* Adanya seorang wirausaha yang sudah siap mental secara total</p>
<p>* Adanya menager pelaksana sebagai tangan kanan, pembantu utama</p>
<p>* Adanya komitmen yang tinggi terhadap bisnis</p>
<p>*Adanya visi, pandangan yang jauh kedepan guna mencapai keberhasilan.</p>
<p><strong>d. Proses pertumbuhan</strong></p>
<p>Proses pertumbuhan ini di dorong oleh faktor organisasi antara lain:</p>
<p>* Adanya tim yang kompak dalam menjalankan usaha</p>
<p>* Adanya strategi yang mantap dari produk tim yang kompak</p>
<p>* Adanya struktur dan budaya organisasi yang sudah membudaya</p>
<p>*Adanya produk yang dibanggakan, keistimewaan yang dimiliki, misalnya: kualitas makanan, lokasi usaha</p>
<p>* Adanya unsur persaingan yang cukup menguntungkan.</p>
<p>* Adanya konsumen dan pemasok barang yang kontinu.</p>
<p>*Adanya bantuan dari pihak investor bank yang memberikan fasilitas keuangan.</p>
<p>* Adanya sumber-sumber tersedia yang masih bisa dimanfaatkan.</p>
<p>* Adanya kebijaksanaan pemerintah yang menunjang berupa peraturan bidang ekonomi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>7. Menilai Peluang Membuka Usaha Baru</strong></p>
<p>kadang-kadang seseorang ingin membuka usaha baru didorong oleh rasa optimis berlebihan. Untuk menetralisir rasa optimis berlebihan tersebut perlu dilakukan evaluasi. Masalahnya banyak isu berkembang bahwa satu dari 10 usaha baru yang akan sampai pada ulang tahunnya yang ke-10 dan perusahaan lainnya mati di tengah jalan.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>WIRASWASTA DAN WIRAUSAHA</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1. Pengertian Wiraswasta</strong></p>
<p>Istilah wiraswasta sering dipakai tumpang tindih dengan wirausaha. Di dalam berbagai literature dapat dilihat bahwa pengertian wiraswasta sama dengan wirausaha, demikian pula penggunaan istilah wirausaha seperti sama dengan wiraswasta. Wiraswasta berarti keberanian, keutamaan serta keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri. Manusia wiraswasta mempunyai kekuatan mental yang tinggi</p>
<p>Pernyataan DR. Daoed yoesoef menyatakan bahwa seorang wiraswasta adalah:</p>
<p>1. Memimpin usaha, baik secara teknis dan atau ekonomis, dengan berbagai aspek fungsional sebagai berikut:</p>
<p>a.Memiliki, dipandang dari sudut permodalan</p>
<p>b. Mengurus dalam kapasitas sebagai penanggung jawab atau manager.</p>
<p>c. Menerima tantangan ketidakpastian dan karenanya menanggung ekonomi yang d. Slit diukur secara kuantitatip dan kualitatip.</p>
<p>e. Mempelopori usaha baru, merupakan kombinasi-kombinasi baru.</p>
<p>f. Penemu, peniru dan yang berhubungan dengan ini penyalur memindahkan   teknologi.</p>
<p>2. Memburu keuntungan dan manfaat secara maksimal</p>
<p>3. Membawa usaha kearah kemajuan, perluasan, perkembangan melalui jalan kepemimpinan ekonomi.</p>
<p>*Limapokok wiraswasta</p>
<p>1. Wiraswasta sebagai orang vak, “<em>captain of industry”</em> di suatu bidang tertentu, dimana dia membaktikan prestasi teknik dan mengadakan penemuan ataupun peniruan</p>
<p>2.Wiraswasta sebagai seorang bisnis, yang terus-menerus secara tekun menganalisis kebutuhan dan selera masyarakat, menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru melalui reklame.</p>
<p>3.Wiraswasta sebagai orang uang, yang mengumpulkan dan menyalurkan dana, mendirikan concern, yang pada pokoknya bergerak di pasaran uang dan modal.</p>
<p>4.Wiraswasta sebagai social engginer, pengusaha yang berusaha mengikat para pekerjanya melalui berbagai karya sosial baik diatas pertimbangan moral ataupun berdasarkan perhimpunan mengelakkan kerugian yang diakibatkan pertukaran personil yang terlalu sering dan cepat.</p>
<p>5.Wiraswasta sebagai manajer, yang memajukan usahanya menggunakan pengetahuan-pengetahuan bisnis moderen dan memperhitungkan sepenuhnya asas effisiensi.</p>
<p>Kewiraswastaan terdiri atas tiga bagian pokok yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainya yaitu;</p>
<p>1. Sikap mental wiraswasta</p>
<p>2. Kewaspadaan wiraswasta</p>
<p>3. Keahliuan dan ketrampilan wiraswasta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>DR. Soeparman menyatakan ciri manusia wiraswata sebagai berikut:</p>
<p>1. Tahu apa maunya, dengan merumuskannya, merencanakan upayanya, dan menentukan program batas waktu untuk mencapainya.</p>
<p>2.Berfikir teliti dan berpandangan kreatip dengan imajinasi konstruktip</p>
<p>3. Siap mental untuk menyerap dan menciptakan kesmpatan serta siap mental dan kompetensi untuk memenuhi persyaratan kemahiran  mengerjakan sesuatu yang positip.</p>
<p>4.Membiasakan diri bersikap mental yang positip maju dan selalu bergairah dalam setiap pekerjaan.</p>
<p>5. Mempunyai daya penggerak diri yang selalu menimbulkan inisiatip.</p>
<p>6. Tau mensyukuri dirinya, waktu, dan mensyukuri lingkungannya.</p>
<p>7.Bersedia membayar harga kemajuan, yaitu kesediaan berjerih payah</p>
<p>8. Memajukann lingkungan dengan menolong orang lain, agar orang lain dapat menolong dirinya sendiri.</p>
<p>9. Membiasakan membangun disiplin diri, bersedia menabung dan membuat anggaran waktu dan uang.</p>
<p>10. Selalu menarik pelajaran dari kekeliruan, kesalahan dan pengalaman pahit, serta berprihatin selalu.</p>
<p>11. Menguasai kemampuan jual, memiliki kepemimpinan, dan kemampuan memperhitungkan resiko.</p>
<p>12. Mereka berwatak maju dan cerdik serta percaya diri.</p>
<p>13. Mampu memusatkan perhatianya terhadap setiap tujuannya.</p>
<p>14. Berkepribadian yang menarik memahami seni bicara dan bergaul.</p>
<p>15. Jujur, bertanggung jawab, ulet, tekun dan terarah.</p>
<p>16. Memperhatikan kesehatan diri, tidak suka bergadang, tidak menjadi perokok berat, tidak minum alcohol dan narkotika.</p>
<p>17. Menjauhkan diri dari sikap iri, dengki, rakus, dendam, takut disaingi dan ragu-ragu.</p>
<p>18. Tunduk dan bersyukur kepada TYME</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Pengertian Wirausaha</strong></p>
<p>Menurut josephs chumpetter wirausaha adalah orang yang mendobrak sistim ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahanbakubaru.    Dalam definisi ini ditekankan bahwa seorang Wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Wirausaha Pemerintah</strong></p>
<p>Wirausaha Pemerintah berpijak pada pengertian wirausaha yang dikemukakan oleh Jean B. Say sekitar tahun 1800. Wirausaha adalah memindahkan berbagai sumber ekonomi dari berbagai suatu wilayah dengan produktipitas rendah ke wilayah dengan produktipitas tinggi dan hasil yang lebih besar. Seorang wirausahawan menggunakan sumber daya dengan cara baru untuk memaksimalkan produktipitas dan efektipitas. Pemerintah wirausaha akan mendekatkan diri pada pelanggan. Pemerintah wirausaha berorientasi pada pelanggan akan mendorong karyawan bertanggung jawab dan berprilaku yang fokus pada kepuasan pelanggan, berusaha mendepolitisasi, tidak melibatkan pandangan politik tertentu dalam memberikan layanan, merangsang lebih banyak inovasi, memberi kesempatan memilih alternatip bagi pelanggan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1. Berbagai Macam Tipe Wirausaha</strong></p>
<p><strong> </strong>Dari pengamatan prilaku wirausaha maka dapat dikemukakan tiga tipe wirausaha:</p>
<p>a. Wirausaha yang memiliki inisiatip</p>
<p>b. Wirausaha yang mengorganisir mekanis sosial dan ekonomi untuk menghasilkan sesuatu.</p>
<p>c. Yang menerima resiko atau kegagalan.</p>
<p>Kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasab pribadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>5. Berbagai Macam Profil Wirausaha</strong></p>
<p><strong>a. Women Enterpreneur</strong></p>
<p><strong>            </strong>Banyak wanita yang terjun ke dalam bidang bisnis, alasan mereka menekuni bidang bisnis ini didorong oleh faktor-faktor antara lain ingin memperlihatkan kemempuan prestasinya, membantu ekonomi rumah tangga, frustasi terhada pekerjaan sebelumnya, dan sebagainya.</p>
<p><strong>b. Minority Enterpreneur</strong></p>
<p><strong>      </strong>Kaum minoritas terutama di Negara kitaIndonesia kurang memiliki kesempatsan kerja di lapangan pemerintahan sebagaimana layaknya warga Negara pada umumnya. Oleh sebab itu, mereka berusaha menekuni kegiatan bisnis dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>c. Immigrant  Enterpreneur</strong></p>
<p>Kaum pendatang yang memasuki suatu daerah biasanya sulit untuk memperoleh pekerjaan formal. Oleh sebab itu mereka lebih leluasa terjun dalam pekerjaan yang bersifat non formal yang dimulai dari berdagang kecil-kecilan hingga berkembang menjadi pedagang tingkat menengah.</p>
<p><strong>d. Part Time Enterpreneur</strong></p>
<p><strong>            </strong>Memulai bisnis dalam mengisi waktu lowong merupakan gerbang untuk berkembang menjadi usaha besar.</p>
<p><strong>e. Home-Based Enterpreneur</strong></p>
<p>Adapula ibu-ibu rumah tangga yang memulai kegiatan bisnisnya<strong> </strong>dari rumah tangga misalnya ibu-ibu yang pandai membuat kue dan aneka masakan yang akhirnya semakin lama usaha tersebut semakin maju.</p>
<p><strong>f. Family-Owned Business</strong></p>
<p>Sebuah keluarga dapat membuka berbagai jenis dan cabang usaha yang mungkin saja usaha ini dimulai lebih dulu oleh bapak setelah usaha bapak maju dikelola oleh ibu. Kedua usaha ini maju membuka cabang-cabang baru.</p>
<p><strong>g. Copreneurs</strong></p>
<p>Orang-orang yang ahli diangkat menjadi penanggung jawab divisi-divisi tertentu dari bisnis yang sudah ada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>WANITA WIRAUSAHA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Dorongan R. A. kartini</strong></p>
<p>Surat-surat Ibu Kartini di bukukan pula dengan judul <em>Letters of A Javanese</em> <em>Princess</em> dan beredar di Amerika sejak tahun 1921 oleh Charles Seribner Sons, New York. Penterjemahnya bernama Agnes Louise symmers menyebutkan bahwa Ibu Kartini dalam perjuangannya menyadari bahwa <em>The Freedom Of</em> <em>Women Could Only Come Throught Economic Independence</em> (kebebasan wanita hanya bias dating dari kebebasan ekonomi).</p>
<p>Karya tulis ibu Kartini tidak hanya sumber inspirasi bagi wanita-wanita negeri Belanda, tapi merupakan sumber inspirasi jutaan wanita seluruh dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Skala Mengukur Minat Wirausaha</strong></p>
<p>Mengukur diri sendiri dengan cara melingkari salah satu angka yang sesuai dengan pribadi anda. Arti dari masing-masing angka adalah:</p>
<p>5 = Sangat Kuat</p>
<p>4 = Kuat</p>
<p>3 = Sedang</p>
<p>2 = Lemah</p>
<p>1 = Lemah Sekali</p>
<p>Pedoman wawancara adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Bagaimana sejarah hidup pemiliknya?</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>Apakah salah seorang famili dari pemilik memiliki usaha/</li>
<li>Apakah pemilik ini pernah bekerja di perusahaan sebelumnya?</li>
<li>Pernakah ia memimpin perusahaan sebelumnya?</li>
<li>Adakah dasar pengetahuan yang ia miliki yang mendorong untuk membuka usaha?</li>
<li>Mengapa ia terdorong untuk membuka bisnis/</li>
<li>Mengapa ia memilih bisnis di bidang ini?</li>
<li>Apakah bentuk hokum dari usaha ini?</li>
<li>Apakah ada perijinan yang perku diurus dulu sebelum perusahaan berjalan?</li>
<li>Berapa jumlah uang yang ia miliki pada saat membuka usaha/</li>
<li>Dari mana ia mendapatkan uang itu?</li>
<li>Apakah jumlah uang itu ideal untuk memulai usaha?</li>
<li>Berapa lama ia mampu untuk mencapai titik “break event”</li>
<li>Bagaimanakh perencanaan yang dibuat oleh pemilik sebelum membuka usaha?</li>
<li>Berapa lama ia menyusun perencanaan, dan apakah selalu dikembangkan?</li>
<li>Adakah tenaga ahli yang ia gunakan? Tenaga ahli dalam bidang apa?</li>
<li>Bagaimana dan mengapa ia memilih lokasi di tempat ini</li>
<li>Apakah ia mempromosikan pembukaan usahanya?</li>
<li>Masalah apakah yang ia hadapi sejak membuka usaha sampai sekarang?</li>
<li>Bagaimana mengatasi masalah itu?</li>
<li>Catatan apa saja yang ia buat dalam perusahaan?</li>
<li>Bagaimana reaksi familinya terhadap kegiatan usahanya?</li>
<li>Apakah keuntungan dan kerugian membuka usaha?</li>
<li>Informasi dan keterampilan apa saja yang diperlukan untuk membuka usaha ini?</li>
<li>Nasehat apa yuang ia berikan apabila ada wanita lain yang ingin membuka usaha sejenis?</li>
<li>bagaiman masa depan dari usaha ini?</li>
</ol>
<p>Pada umumnya orang terdorong membuka usaha sendiri karena faktor berikut:</p>
<ol>
<li>Membuka kesempatan untuk memperoleh keuntungan</li>
<li>Memenuhi keinginan dan minat pribadi</li>
<li>terbuka kesempatan untuk menjadi “Bos”</li>
<li>Adanya kebebasan dalam manajeman</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Faktor-faktor Yang Menunjang/Menghambat Wanita Wirausaha</strong></p>
<p>Faktor penunjang wanita karir untuk berkembang dalam bidang wirausaha</p>
<ol start="1">
<li>Naluri kewanitaan yang bekerja lebih cermat, pandai mengantisipasi masa depan</li>
<li>Mendidik anggota keluarga agar lebih berhasil di kemudian hari, dapat dikembangkan dalam personel manejemen perusahaan</li>
<li>Faktor adat-istiadat, contohnya diBalidan Sumatra Barat dimana wanita memegang peranan dalam mengatur ekonomi rumah tangga</li>
<li>Lingkungan kebutuhan hidup seperti jahit menjahit, menyulam membuat kue mendorong wanita pengusaha yang mengembangkan komoditi tersebut.</li>
<li>majunya dunia pendidikan wanita sangat mendorong perkembangan wanita karir, menjadi pegawai atau membuka usaha sendiri dalam berbagai bidang usaha.</li>
</ol>
<p><strong>Faktor-faktor yang menghambat</strong></p>
<ol start="1">
<li>Faktor kewanitaan, dimana sebagai ibu rumah tangga ada masa hamil, menyusui, tentu agak mengganggu jalannya bisnis. Namun hal ini dapat diatasi dengan mendelegasikan tugas kepada karyawan lain.</li>
<li>Faktor sosial budaya, adat istiadat. Wanita sebagai ibu rumah tangga, bertanggung jawab penuh dalam urusan rumah tangga, bila anak atau suami sakit, ia harus memberikan perhatian penuh, dan ini akan menggangu aktivitas usahanya.</li>
<li>faktor emosional yang dimiliki wanita, disamping menguntungkan juga bisa merugikan. Misalnya dalam pengambilan keputusan, karena ada faktor emosional, maka keputusan yang diambil akan kehilangan rasionalitasnya.</li>
<li>Sifat pandai, cekatan, hemat dalam mengatur keuangan rumah tangga, akan berpengaruh terhadap keuangan perusahaan.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. Perbedaan Wanita Wirausaha dan Pria Wirausaha</strong></p>
<p>Wanita pengusaha bertumbuh sangat pesat di Amerika, terutama di segmen bisnis kecil. Wanita membuka bisnis dua kali lipat banyaknya dari pria. Pada saat ini wanita memiliki sepertiga dari semua bentuk bisnis, dan diharapkan akan tumbuh menjadi 50% wanita pengusaha pada tahun 2000.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>SIFAT-SIFAT YANG PERLU DIMILIKI WIRAUSAHA</strong></p>
<p align="center">
<p>            Seorang wirausahawan haruslah seorang yang mampu melihat kedepan. Melihat ke depan bukanlah melamun kosong, tapi melihat, berfikir dengan penuh perhitungan. Mencari pilihan dari berbagai alternatip masalah dan pemecahannya. Dari berbagai penelitian di Amerika Serikat, untuk menjadi wirausahawan, seorang harus memiliki cirri-ciri sebagai berkut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="272">
<p align="center"><strong>Ciri-ciri</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="272">
<p align="center"><strong>Watak</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="272">* Percaya diri</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Berorientasikan tugas dan hasil</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Pengambil resiko</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Kepemimpinan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Keorisinilan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Berorientasi ke masa depan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="272">-          Kepercayaan</p>
<p>-          Ketidak tergantungan, kepribadian mantap</p>
<p>-          Optimisme</p>
<p>-          Kebutuhan atau haus akan prestasi</p>
<p>-          Berorientasi laba atau hasil</p>
<p>-          Tekun dan tabah</p>
<p>-          Tekad, kerja keras motivasi</p>
<p>-          Penuh inisiatip</p>
<p>-          Mampu mengambil resiko</p>
<p>-          Suka pada tantangan</p>
<p>-          Mampu memimpin</p>
<p>-          Dapat bergaul dengan orang lain</p>
<p>-          Menanggapi saran dan kritik</p>
<p>-          Inovatip</p>
<p>-          Kreatip</p>
<p>-          Flesibel</p>
<p>-          Banyak sumber</p>
<p>-          Serba bisa</p>
<p>-          Mengetahui banyak</p>
<p>-                                                              Pandangan kedepan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-          Perseptip</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikian banyak cirri khas kewirausahaan dan anda perlu memilikinya. Akan tetapi, jika tidak bisa anda memiliki semua tidak jadi masalah, dengan memilki sebagian pun cukup</p>
<ol start="1">
<li><strong>Percaya diri</strong></li>
</ol>
<p>Orang yang tinggi percaya dirinya adalah orang yang sudah matang jasmani dan rohaninya. Pribadi semacam ini adalah pribadi yang independent dan sudah mancapai tingkat maturity. Karakteristik kematangan seseorang adalah ia tidak tergantung pada orang lain, dia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, obyektip dan kritis. Dia tidak begitu saja menyerap pendapat atau opini orang lain, tetapi dia mempertimbangkan secara kritis.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Berorientasi Pada Tugas Dan Hasil</strong></li>
</ol>
<p>Orang ini tidak mengutamakan prestise dulu, prestasi kemudian. Akan tetapi dia gandrung pada prestasi baru kemudian setelah berhsil prestisenya akan naik. Anak muda yang selalu memikirkan prestise lebih dulu dan prestasi kemudian, tidak akan mengalami kemajuan.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Pengambilan Resiko</strong></li>
</ol>
<p>Anak muda sering dikatakan selalu menyenangi tantangan, mereka tidak takut mati. Ini salah satu faktor anak muda menyenangi olahraga yang penuh dengan resiko dan tantangan, seperti balap motor di jalan raya, kebut-kebutan, balap mobil orang tuanya, tapi contoh-contoh tersebut adalah arti negatip. Olahraga beresiko yang positip adalah panjat tebing, mendaki gunung, arum jeram, motor cross, kerate atau olahraga beladiri. Ciri-ciri atau watak seperti ini dibawa ke dalam wirausaha yang juga penuh dengan resiko dan tantangan, seperti persaingan, harga turun naik, barang tidak laku, dan sebagainya. Namun semua tantangan ini harus dihadapi dengan penuh perhitungan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol start="4">
<li><strong>Kepemimpinan</strong></li>
</ol>
<p><strong>      </strong>Sifat kepemimpinan memang ada dalam diri masing-masing individu. Namun sekarang ini, sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan dilatih, ini tergantung kepada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan organisasi atau orang yang ia pimpin.</p>
<ol start="5">
<li><strong>Keorisinilan</strong></li>
</ol>
<p><strong>      </strong>Sifat orisinil ini tentu tidak selalu ada dalam diri seseorang. Yang dimagsud orisinil disini adalah ia tidak hanya mengekor pada orang lain, tapi memiliki pendapat sendiri, ad aide yang orisinil, ada kemampuan untuk melaksanakan sesuatu.</p>
<ol start="6">
<li><strong>Berorientasi ke Masa Depan</strong></li>
</ol>
<p><strong>      </strong>Seorang wirausaha haruslah perspektip, mempunyai visi ke depan, apa yang hendak ia lakukan, apa yang hendak ia capai? Sebab sebuah uasaha bukan didirikan untuk sementara. Faktor kontinuitas harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh ke depan.</p>
<ol start="7">
<li>Kreatifitas</li>
</ol>
<p>Sifat keorisinilan seorang wirausaha menuntut adanya kreatifitas dalam pelaksanaan tugasnya. Apa yang dikatakan kreatip.</p>
<p><strong>Contoh kegiatan kreatifitas:</strong></p>
<p>-          Pencipta sepatu roda</p>
<p>-                                                                Di laboratorium seorang siswa mencoba berbagai eksperimen</p>
<p>-          Seorang wirausaha membuat berbagai kreasi dalam kegiatan usahanya.</p>
<p>-          Seorang murid membuat karangan bahasaIndonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hubungan Kreatifitas Dengan Intelegensi</strong></p>
<ol start="1">
<li>Kreatifitas rendah, intlegensi rendah</li>
<li>Kreatifitas tinggi, intlegensi tinggi</li>
<li>Kreatifitas rendah, intlegensi tinggi</li>
<li>Kreatifitas tinggi, intlegensi rendah</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>KEPRIBADIAN, TEMPRAMEN DAN WATAK</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Pengertian Kepribadian</strong></p>
<p><strong>            </strong>Kepribadian seseorang tidak persis sama dengan kepribadian orang lain. Kepribadian ini adalah sangat unik, demikian dinyatakan oleh para ahli. Dengan kepribadian yang dimiliki oleh seseorang dia dapat memikat orang lai, orang menjadi simpati padanya, orang dapat tertarik pada pembicaraannya, orang terkesima olehnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Kepribadian Yang Produktip</strong></p>
<p><strong> Macam-macam utility:</strong></p>
<p>- Utility of place (kegunaan tempat)</p>
<p>- Utility of time (kegunaan waktu)</p>
<p>- Utility of form (Kegunaan bentuk)</p>
<p>- Utility of possesion (kegunaan kepemilikan)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dua Dimensi Pokok Dari Social Responsibility:</strong></p>
<p>a. Skill of social Interction, yaitu adanya keterampilan berinteraksi dalam masyarakat</p>
<p>- Qualities of spontaneity</p>
<p>- Friendiiness</p>
<p>- Tolerance</p>
<p>- Open relationship</p>
<p>b. Value structure, memiliki struktur nilai:</p>
<p>- Deep empaty</p>
<p>- concern for others</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Temperament</strong></p>
<p>Istilah temperament menunjukkan cara bereaksi atau bertingkah laku yang bersifat tetap. Sedangkan istilah watak dibentuk oleh pengalaman semasa kanak-kanak dan dapat berubah pada batas-batas tertentu karena diperolehnya pengalaman-pengalaman tertentu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. Watak</strong></p>
<p><strong>            </strong>Menurut ahli psikologi behavioristi, sifat-sifat waak dapat disamakan dengan sifat tingkah laku. Seorang wirausaha yang sukses sebagai salah satu kuncinyaia harus mempunyai kepribadian yang menarik, dengan melihat adanya kekurangan yang terdapat pada dirinya, ia harus berusaha belajar dari sesama manusia atau lingkingannya.</p>
<p>Faktor-faktor yang dapat dipelajari untuk mengembangkan bakat yang kita miliki diantaranya:</p>
<p>- Pikiran</p>
<p>- Perasaan</p>
<p>- Pertimbangan</p>
<p>- Sikap</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB VI</strong></p>
<p align="center"><strong>MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS USAHA MELALUI MOTIVASI</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Pengertian Produktivitas</strong></p>
<p>Produktivitas adalah suatu kuantitas atau volume dari produk atau jasa yang dihasilkan. Akan tetapi banyak yang menyatakan bahwa produktivitas bukan hanya kuantitas, tapi juga kualitas produk yang dihasilkan, yang harus juga dipakai  sebagai pertimbangan mengukur tingkat produktivitas. Dalam menentukan produktivitas tidak hanya dilihat faktor kuantitas saja, tapi juga faktor kualitasnya. Melihat definisi diatas maka produktivitas ini dapat diukur menurut tiga tingkatan, yaitu:</p>
<p>- Individu</p>
<p>- Kelompok</p>
<p>- Organisasi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tiga ukuran produktivitas yang harus dipertimbangkan dalam mengelola organisasi, yaitu:</p>
<p>a. Untuk tujuan strategi, apakah organisasi sudah benar sesuai dengan apa yang   telah digariskan.</p>
<p>b. Effektivitas, sampai tingkat manakah tujuan itu sudah dicapai dalam arti kualitas dan kuantitas.</p>
<p>c. Effisiensi, bagaimana perbandingan output dibagi input, dimana pengukuran output termasuk di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Pengertian Motivasi </strong></p>
<p><strong>            </strong>Motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuatu, sedangkan motif adalah kebutuhan. Motivasi seseorang tergantung pada kekeuatan motifnya. Motif dengan kekuatan yang sangat besarlah yang akan menentukan perilaku seseorang.</p>
<p>Kekuatan motif dapat berubah karena:</p>
<p>- Terpuaskannya kebutuhan</p>
<p>- Karena adanya hambatan, maka orang mencoba mengalihkan motifnya kea arah lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Teori Motivasi Hirarki kebutuhan Maslow</strong></p>
<p>teori motivasi yang sangat popular adalah teori hirarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow. Yang berpendapat bahwa hirarki kebutuhan manusia dapat dipakai untuk melukiskan dan meramalkan motivasinya. Teori tentang motivasi didasarkan oleh dua asumsi, pertama kebutuhan seseorang tergantung dari apa yang telah dipunyainya. Kedua, kebutuhan dilihat dari hirarki pentingnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. Teori Motivasi Hawthorn</strong></p>
<p><strong>            </strong>Suatu hal yang sangat penting dan sangat berarti ditemukan bahwa untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan, perlu adanya faktor relation. Jadi karyawan mendapat perhatiankhusus secara pribadi terhadap dirinya dan juga kelompoknya, maka produktivitasnya akan meningkat. Oleh sebab itu seorang wirausaha harus pandai mendekati dan memperhatikan pekerjaan yang sedang dikerjakan karyawan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>5. Teori X dan teori Y</strong></p>
<p><strong>    Teori X</strong></p>
<p><strong>    </strong>a. Pekerjaan pada dasarnya tidak disenangi orang banyak</p>
<p><strong> </strong>b. Kebanyakan orang lemah tanggung jawabnya dan suka dipimpin.</p>
<p>c. Kebanyakan orang kurang kreatip</p>
<p>d. Kebanyakan orang harus dikontrol secara ketat.</p>
<p><strong>Teori Y</strong></p>
<p><strong> </strong>a. Pekerjaan itu sebetulnya sama dengan bermain</p>
<p>b. Setiap orang mempunyai kemampuan kreativitas</p>
<p>c. Orang mempunyai kemampuan mengawasi diri sendiri guna mencapai tujuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>6. Teori Pola A dan Pola B</strong></p>
<p><strong>            </strong>Teori pola A beranggapan bahwa orang atau individu tidak punya perasaan, tidak terbuka, suka menolak eksperimen, dan tidak mau menolong orang lain.</p>
<p>Pola B beranggapan bahwa setiap orang memiliki perasaan, ada tenggang rasa, bersifat terbuka, mau melakukan eksperimen.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>7. Teori Hygiene dari Frederick Herzberg</strong></p>
<p><strong>            </strong>Kesimpulan Hezberg adalah ada dua kategori yang berlainan yang mempengaruhi perilaku. Ia menemukan bahwa bila orang merasa tidak puas dengan pekerjaannya maka mereka akan memperhatikan lingkungan sekitar tempatnya bekerja. Sebaliknya bila seseorang merasa senang dengan pekerjaannya, maka ia akan memperhatikan pekerjaannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>8. Teori Ekspektsi dari Vroom</strong></p>
<p><strong>            </strong>Teori ini mendasarkan pemikirannya pada dua asumsi:</p>
<p>a. Manusia biasanya meletakkan nilai kepada sesuatu yang diharapkan dari hasil karyanya.</p>
<p>b. Selain mempertimbangkan hasil yang dicapai, juga mempertimbangkan keyakinan orang tersebut bahwa yang dikerjakannya itu akan memberikan sumbangan terhadap tercapainya tujuan yang diharpkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>9. Teori Motivasi Model Porter dan Lawyer</strong></p>
<p><strong>            </strong>Penampilan sesungguhnya dalam suatu pekerjaan ditentukan oleh upaya yang dicurahkan serta dipengaruhi oleh kemampuan untuk melaksanakan dan persepsinya tentang tugas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>10. Teori Prestasi dari Mc Clelland</strong></p>
<p><strong>            </strong>teori ini berusaha menjelaskantingkah laku yang berorientasi pada prestasi yang didefinisikan sebagi tingkah laku yang diarahkan terhadap tercapainya standart of excellent</p>
<p><strong>11. Teori Z dari William G. Ouchi</strong></p>
<p>William G. Ouchi meneliti rahasia kesuksesan yang dinikmati oleh perusahaan-perusahaan jepang yang melejit maju meninggalkan partnernya para pengusaha Amerika. Dikatakan bahwa issu yang popular bagi Amerika untuk decade yang akan dating bukan persoalan teknologi, investsi atau inflasi. Akan tetapi issu pokok adalah bagaimana menghadapi suatu kenyataan keunggulan Jepang yang bekerja jauh lebih baik dari Amerika</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1022/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1022&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/makalah-wirausaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STUDI KASUS</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/studi-kasus/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/studi-kasus/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2012 01:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Rasional Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai peranan penting dalam mengantarkan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik sesuai dengan yang dicita-citakan. Sekolah juga dapat diartikan sebagai tempat bagi siswa untuk menuntut ilmu mengembangkan bakat dan minat guna membekali diri dalam menggapai masa depan. Sebagai bagian dari keseluruhan sistem pendidikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1020&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB 1</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p align="center">
<p><strong>1.1 Rasional</strong></p>
<p>Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai peranan penting dalam mengantarkan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik sesuai dengan yang dicita-citakan. Sekolah juga dapat diartikan sebagai tempat bagi siswa untuk menuntut ilmu mengembangkan bakat dan minat guna membekali diri dalam menggapai masa depan. Sebagai bagian dari keseluruhan sistem pendidikan sekolah memiliki tugas pokok untuk meningkatkan kehidupan, kecerdasan, dan kualitas manusiaindonesiasebagaimana dalam tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan hal tersebut, maka proses pendidikan di sekolah tidak hanya sekedar penyampaian materi pelajaran di sekolah tidak hanya sekedar penyampaian materi pelajaran tetapi harus dapat mengembangkan siswanya seoptimal mungkin.</p>
<p>Guru atau tenaga pengajar merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar di sekolah, guru memikul tanggung jawab yang sangat berat dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional. Untuk itu, guru dituntut memiliki keprofesionalan yang tinggi. Guru yang profesional memungkinkan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas dengan baik dan mampu menghadapi segala hambatan dan tantangan dengan baik pula.</p>
<p>Dalam kegiatan belajar mengajar tidak jarang dijumpai siswa yang mengalami kesulitan belajar dam memiliki berbagai permasalahan. Kesulitan-kesulitan itu antara lain kesulitan dalam menangkap pelajaran, kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan sebagainya. Selain itu masalah psikologis juga dialami siswa, masalah itu antara lain merasa cepat putus asa, marasa kecewa, merasa pesimis, merasa rendah diri dan lain sebagainya. Untuk itu siswa perlu mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari orang lain yang lebih dewasa dan profesional. Dalam hal ini, guru dituntut mampu memberikan bantuan secara efektif.<span id="more-1020"></span></p>
<p>Kenyataan diatas menunjukkan bahwa selain sebagai pengajar yang bertugas menyampaikan materi pelajaran, guru juga dituntut mampu membimbing, mengarahkan dan membantu mengembangkan pribadi anak didik menuju pencapaian kedewasaan dan prestasi belajar yang optimal. Guru dituntut mengenal siswanya, baik secara individual maupun secara kelompok baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.</p>
<p>Seorang guru harus memahami dan mengetahui secara obyektif mengenai keadaan siswa, tingkah laku siswa dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa terhadap permasalahan yang dihadapi siswa, guru hendaknya mampu memberikan bantuan untuk mencarikan jalan penyelesaian menuju pemecahan secara optimal.</p>
<p>Studi kasus (Case Study) merupakan metode atau cara untuk mempelajari keadaan dan perkembangan klien secara mendalam dengan cara mempelajari latar belakang klien dan lingkungan serta mempelajari faktor-faktor yang diduga menimbulkan masalah, dengan tujuan membantu klien untuk mencapai penyelesaian diri yang lebih baik. Jadi mengadakan studi kasus bertujuan untuk memahami siswa atau klien sebagai individu dalam keunikannya dan keseluruhannya.</p>
<p>Dalam hubungannya dengan dunia pendidikan, maka studi kasus diperlukan untuk membantu siswa yang memiliki permasalahan dan sekiranya dapat mengakibatkan gangguan dalam proses belajar dan mengajar. Hal ini dilaksanakan dengan mengumpulkan data-data penting mengenai siswa, dimana data-data itu sendiri lebih berkaitan dengan pribadi siswa, misal kondisi lingkungan di sekitar siswa, cita-cita, kesulitan yang dihadapi, kondisi keluarga, teman dan seputar kesehatan mereka.</p>
<p>Studi kasus dilaksanakan melalui beberapa fase yaitu : (1). Mengumpulkan data secara mendetail dan secara meluas, (2). Mengamati dan menginterpretasikan data, (3). Menentukan diagnosis sementara mengenai sumber permasalahan dan menemukan cara penyesuaian diri terbaik bagi klien untuk masa yang akan datang.</p>
<p><strong>1.2 Konfidensialitas</strong></p>
<p>Pada hakikatnya konfidensialitas atau kerahasiaan merupakan suatu norma atau nilai seorang guru dalam rangka menangani berbagai macam masalah yang dihadapi siswa. Untuk memahami masalah yang dihadapi, dituntut untuk pengumpulan data dari berbagai sumber dan aspek. Data yang diperoleh bersifat rahasia dan pribadi yang tidak perlu diketahui orang lain yang tidak berkepentingan.</p>
<p>Laporan studi kasus ini berisi informasi-informasi tentang klien yang bersifat rahasia dan pribadi. Untuk menjaga kepercayaan dan privasi klien, maka seorang praktikan harus menjaga kerahasiaan informasi tersebut. Praktikan menuliskan data secara fiktif untuk menyamarkan data-data yang berupa identitas diri klien.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.3 Tujuan </strong></p>
<p>Studi kasus adalah kegiatan yang dilakukan oleh praktikan untuk mengenal latar belakang pribadi siswa yang mengalami kesulitan belajar serta memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar, faktor-faktor penyebab dan penetapan kemungkinan pemecahannya baik secara pencegahan maupun penyembuhannya.</p>
<p>Tujuan umum dari studi kasus ini yaitu agar bisa mengenal latar belakang pribadi siswa yang mengalami kesulitan belajar dan memahami jenis dan sifat kesulitan belajar serta menetapkan kemungkinan pemecahannya.</p>
<p>Tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling kepada siswa adalah untuk membantu siswa agar mampu melakukan atau meraih hal-hal berikut ini :</p>
<p>1.   Mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi hasil belajar serta kesempatan yang ada</p>
<p>2.   Mengembangkan motif-motif dalam belajar sehingga tercapai kemajuan pangajaran yang berarti</p>
<p>3.   Memiliki motivasi di dalam pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan keterlibatan diri dalam proses pendidikan</p>
<p>4.   Memperoleh kepuasan pribadi dalam penyesuaian diri</p>
<p>5.   Menemukan cara mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa</p>
<p>6.   Mengidentifikasi jenis dan sifat kesulitan yang dihadapi siswa</p>
<p>7.   Membantu siswa dalam usahanya untuk mencapai prestasi yang diharapkan</p>
<p>8.   Bagi calon pendidik, untuk lebih memahami karakter dan kesulitan siswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>GEJALA DAN ALASAN PEMILIHAN KASUS</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>2.1 Gejala yang tampak </strong></p>
<p>Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, angket, daftar cek masalah(DCM) praktikan selama kegiatan mengajar, maka tampak adanya gejala-gejala masalah yang dialami oleh klien, yaitu :</p>
<p><strong>a. Gejala Fisik</strong></p>
<ol start="1">
<li>Klien di kelas mendengarkan penjelasan guru tetapi selalu mendapat nilai ulangan harian di bawah SKM (&lt;70), misalnya UH1= 31, UH2 = 47</li>
<li>Klien tidak mau bertanya jika ada yang tidak dimengerti dalam kegiatan belajar mengajar</li>
<li>Klien berusaha menyontek  pada saat ulangan</li>
<li>Klien berusaha bertanya pada teman pada saat ulangan.</li>
<li>Klien sering telat mengumpulkan tugas</li>
</ol>
<p><strong>b. Gejala Psikis</strong></p>
<ol>
<li>Klien kurang dapat berkonsentrasi dalam menerima pelajaran di kelas dapat di lihat dari hasil tes akhir yang langsung diberikan pada akhir pelajaran, dimana siswa selalu berusaha menanyakan jawaban pada teman sebangku.</li>
<li>Klien cepat merasa lelah, pusing, dan bosan jika belajar.</li>
<li>Klien mempunyai masalah yang berhubungan dengan pembagian waktu belajar dan masalah asmara</li>
<li>Klien merasa putus asa karena sering mendapat nilai kurang dalam bidang biologi.</li>
<li>Klien sangat mementingkan masalah pacaran, jika dibandingkan dengan pelajaran. Ini terlihat jika siswa akan diajak ngobrol mengenai pelajaran, klien beralasan ada janji dengan pacar sepulang sekolah.</li>
<li>Klien bingung membagi waktu belajar dengan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan organisasi di luar sekolah.</li>
</ol>
<p><strong>2.2 Alasan pemilihan Kasus </strong></p>
<p>Sesuai dengan gejala-gejala yang tampak dalam diri klien, seperti yang telah disebutkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa klien mempunyai masalah serius yang menyangkut kemampuan klien dalam mengatur waktu untuk belajar. Selain itu klien kurang percaya diri, tidak percaya pada kemampuan yang dimilikinya sehingga klien pada saat ulngan selalu berusaha bertanya pada teman atau menyontek jawaban teman. Namun, pada dasarnya klien adalah seorang siswa yang memiliki potensi sangat besar untuk bisa mengoptimalkan dirinya.</p>
<p>Sampai sekarangpun klien seringkali mengalami kesulitan dalam mangatur waktu pelajaran dan sukar untuk mengemukakan pendapat jika ada pelajaran tertentu yang tidak atau belum faham. Klien sulit memahami isi materi walaupun klien sudah berusaha membaca buku. Sehingga berpengaruh pada nilai ujian klien. Oleh karena itu, Klien perlu segera mendapatkan bantuan untuk menyelesaiakan masalahnya, sehingga klien dapat membuat suatu keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>PROSEDUR DAN METODE PENELITIAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>3.1 Identifikasi Masalah</strong></p>
<p>Identifikasi kasus adalah suatu usaha atau langkah awal dari kegiatan layanan bimbingan kepada siswa dengan tujuan untuk menemukan adanya permasalahan yang dihadapi siswa tersebut. Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar dan memerlukan bantuan.</p>
<p><strong>1.1 Proses Penemuan Kasus</strong></p>
<p>Klien adalah siswa kelas kelas X9 SMA Negeri 5 Malang. Penemuan kasus ini diperoleh dari observasi ketika pangajaran, wawancara dengan klien dan teman-temannya, angket, hasil DCM, hasil study habit.</p>
<p>Klien secara sekilas dapat digambarkan sebagai berikut :</p>
<p>a. Penampilan Fisik</p>
<p>Klien adalah anak dengan perawakan tubuh dengan postur tubuh tidak kurus dan tidak gemuk. Klien memilik rambut agak ikal dan berwarna hitam. Klien memiliki wajah berbentuk oval dan kulit berwarna sawo matang dengan penampilan rapi.</p>
<p>b. Penampilan Psikis</p>
<p>Ketika pelajaran dimulai, klien memperhatikan penjelasan guru tetapi terkadang terlihat ngobrol dengan temannya. Kadangkala klien diam dan terlihat tidak ada semangat dalam mengikuti pelajaran tertentu. Klien adalah tipe orang yang pemalu ini terbukti pada saat wawancara langsung, pada awalnya klien tidak terbuka tetapi setelah diajak bgobrol akhirnya klien mulai terbuka.</p>
<p><strong>1.2 Identitas Pribadi siswa</strong></p>
<ul>
<li><strong>Identitas Siswa</strong></li>
</ul>
<p>a. Nama                                               : mellywati (fiktif)</p>
<p>b. Jenis kelamin                                   : Perempuan</p>
<p>c. Tempat, Tanggal lahir                      : malang, 30-8-1990</p>
<p>d. Alamat                                            : Jl. Lili No: 36 Malang</p>
<p>e. Agama                                             : Islam</p>
<p>f. Status anak                                      : Anak kandung</p>
<p>g. Kedudukan dalam keluarga                        : Anak ke-3dari 3 bersaudara</p>
<p>h. Cita-cita                                          : Pramugari</p>
<ul>
<li><strong>Keadaan siswa</strong></li>
</ul>
<p><strong><em>1. Ayah                                               </em></strong></p>
<p>a. Nama                                               : tengku rafli (fiktif)</p>
<p>b. tempat, Tanggal lahir                      : Malang, 2-02-1963</p>
<p>c. Alamat                                             : Jl. Lili No :36 Malang</p>
<p>d. Agama                                            : Islam</p>
<p>e. Pendidikan terakhir                         : STM</p>
<p>f. Pekerjaan                                         : PNS</p>
<p><strong><em>2. Ibu</em></strong></p>
<p>a. Nama                                               : Diana Saraswati</p>
<p>b. Tempat, Tanggal lahir                     : Malang, 9-04-1959</p>
<p>c. Alamat                                             : JL. Lili No: 36 Malang</p>
<p>d. Agama                                            : Islam</p>
<p>e. Pendidikan terakhir                         : SMKK</p>
<p>f. Pekerjaan                                         : PNS</p>
<p><strong>3. Jumlah dan status keluarga</strong></p>
<p>Jumlah saudara kandung                     : 2 orang</p>
<p>Laki-laki                                              : 1 orang</p>
<p>Perempuan                                          : 1 orang</p>
<p><strong>4. Riwayat Pendidikan Siswa</strong></p>
<ul>
<li>TK</li>
</ul>
<p>Masuk sekolah            : Umur 5 tahun (tahun 1995)</p>
<p>Keluar tahun               : 1996</p>
<p>Nama sekolah              : T.A. Al-Fath</p>
<p>Lama belajar                : 1 tahun</p>
<ul>
<li>SD</li>
</ul>
<p>Masuk sekolah            : umur 7 tahun (1996)</p>
<p>Keluar tahun               : 2003</p>
<p>Nama sekolah              : SDN Pandanwangi IV</p>
<p>Lama belajar                : 7 tahun (pernah tidak naik kelas pada saat kelas 3)</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>SLTP</li>
</ul>
<p>Masuk sekolah            : 2003</p>
<p>Keluar tahun               : 2006</p>
<p>Nama sekolah              : SLTP N 14 Malang</p>
<p>Lama belajar                : 3 tahun</p>
<ul>
<li>SMA</li>
</ul>
<p>Masuk sekolah            : 2006</p>
<p>Nama sekolah              : SMA Negeri 5 Malang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.2 Analisis Data</strong></p>
<p>Tahap analisis data merupakan langkah pengumpulan informasi tentang diri siswa yang menjadi klien beserta latar belakangnya. Informasi atau data yang dikumpulkan mencakup segala aspek kepribadian siswa seperti kemampuan minat, kesehatan fisik dan karakteristik lainnya yang dapat mempermudah ataupun mempersulit klien untuk memperoleh nilai yang optimal. Data yang terkumpul mambantu mengungkapkan masalah yang dihadapi klien, sehingga penulis dapat memberikan bantuan pemecahan masalah. Dalam studi kasus ini, data yang dikumpulkan merupakan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, Daftar Cek Masalah(DCM), dan Study habit.</p>
<p><strong>1. Observasi</strong></p>
<ol start="1">
<li>Klien sulit memahami suatu persoalan dalam tugas dan soal ujian</li>
<li>Klien tergolong pendiam dan ragu-ragu dalam mengemukakan pendapat dan tidak mau bertanya jika ada pelajaran yang tidak di mengerti</li>
<li>Klien sering kali berusaha bertanya pada teman atau menyontek saat ujian</li>
<li>Klien cenderung menunggu perintah guru jika ingin mengerjakan tugas</li>
<li>Klien sering telat mengumpulkan tugas yang diberikan guru</li>
<li>Nilai ulangan klien berada di bawah SKM (&lt;70)</li>
<li>Klien jarang tidak masuk kelas (selalu hadir pada saat pelajaran Biologi)</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Wawancara</strong></p>
<ol start="1">
<li>Klien adalah anak ke-3 dari tiga bersaudara</li>
<li>Klien berangkat ke sekolah dengan naik kendaraan umum atau di jemput pacar</li>
<li>Klien sering mendapatkan nilai rendah dalam ulangan. Hal ini disebabkan karena klien tidak percaya diri dalam mengerjakan soal sendiri dan lupa isi materi yang telah di baca jika sudah menghadapi soal ulangan.</li>
<li>Klien cenderung belajar pada saat akan ulangan atau ada tugas</li>
<li>Klien merasa sukar memusatkan perhatian pada saat belajar di kelas karena ia cepat jenuh, cepat pusing, kurang bersemangat untuk belajar</li>
</ol>
<ol>
<li>f.    Klien ingin melanjutkan studinya ke perguruan tinggi UNIBRAW fakultas ekonomi jurusan Akuntansi</li>
</ol>
<ol start="7">
<li>Klien bercita-cita menjadi pramugari</li>
<li>Waktu klien sedikit untuk belajar karena klien mengikuti ekstrakurikuler paskibraka di sekolah dan ikut organisasi karang taruna di kampungnya.</li>
<li>Klien susah memahami isi bacaan yang telah dipelajari sebelumnya sehingga cepat lupa dengan isi materi pelajaran.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Daftar Cek Masalah (DCM)</strong></p>
<p><strong>a. Masalah Kesehatan</strong></p>
<ul>
<li>Sering sakit</li>
<li>Sering pusing</li>
<li>Merasa lelah dan kurang semangat     Prosentase =</li>
<li>Kesehatan sering terganggu</li>
<li>Sering pingsan</li>
</ul>
<p><strong>b. Masalah Sifat/Kebiasaan</strong></p>
<ul>
<li>Mudah meras gembira, sedih, kecewa, cemas, marah</li>
<li>Menganggap segala sesuatu hal kurang serius</li>
<li>Malas</li>
</ul>
<p>ü  Prosentase =</p>
<p><strong>c. Masalah pergaulan</strong></p>
<p>Klien tidak mengalami masalah dalam pergaulan karena klien mempunyai banyak teman di sekolah maupun teman sekampung.</p>
<p><strong>d. Masalah Asmara / Soal Cinta</strong></p>
<ul>
<li>Merasa bahwa pacar dapat mendorong semangat belajar</li>
<li>Merasa mulai dicintai oleh seseorang</li>
<li>Merasa bahwa pilihan pacar yang sekarang tidak sesuai dengan pilihan orang tua
<ul>
<li>Terpaksa pacaran dengan sembunyi-sembunyi</li>
<li>Sering merasa khawatir terhadap akibat dari perbuatan dalam pacaran</li>
<li>Orang tua melarang klien pacaran</li>
<li>Klien pernah menjadi korban cinta</li>
<li>Takut kehilangan orang yang dicintai</li>
<li>Klien pernah patah hati di tinggal pacar</li>
<li>Klien pernah patah hati di tinggal pacar</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>ü  Prosentase  =</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>e. Masalah kehidupan dan keluarga </strong></p>
<ul>
<li>Ibu bekerja mencari nafkah</li>
<li>Tidak dapat menyenangkan hati orang tua</li>
</ul>
<p>ü  Prosentase =</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>f. Masalah agama / Moral</strong></p>
<ul>
<li>Sulit untuk melakukan ibadah secara teratur</li>
<li>Ingin lebih mengenal kitab suci</li>
<li>Tergoda untuk menyontek saat ulangan</li>
</ul>
<p>ü  Prosentase =</p>
<p><strong>g. Masalah penggunaan Waktu</strong></p>
<ul>
<li>Klien tidak dapat memanfaatkan waktu luang</li>
<li>Klien tidak dapat membagi waktu belajar</li>
</ul>
<p>ü  Prosentase =</p>
<p><strong>h. Masalah Kebiasaan belajar</strong></p>
<ul>
<li>Sulit untuk memulai belajar</li>
<li>Sulit untuk belajar teratur</li>
<li>Sukar memusatkan perhatian pada waktu belajar/sulit konsentrasi</li>
<li>Belajar jika akan menghadapi ulangan</li>
<li>Cepat merasa lelah/pusing/bosan jika belajar</li>
<li>Sulit belajar jika tidak sambil mendengarkan musik</li>
<li>Merasa yang dipelajari mudah hilang</li>
<li>Kurang teliti dalam mengerjakan ulangan</li>
<li>Sering merasa bahwa waktu yang disediakan untuk mengerjakan ulangan terlalu pendek</li>
<li>Hasil ulangan tidaka sesuai dengan hasil yang dibayangkan sebelumnya</li>
<li>Tidak tahu cara belajar yang efesien</li>
</ul>
<p>ü  Prosentase =</p>
<p><strong>i. Masalah Penyesuaian dengan sekolah</strong></p>
<ul>
<li>Merasa putus asa karena sering mendapat nilai kurang (biologi)</li>
</ul>
<p>ü  Prosentase =</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>j. Masalah Cita-cita dan masa depan</strong></p>
<ul>
<li>Merasa bingung setelah tamat sekolah akan melanjutkan sekolah atau bekerja</li>
<li>Ingin tahu lebih banyak tentang perguruan tinggi</li>
<li>Takut tidak diterima di perguruan tinggi</li>
</ul>
<p>ü  Prosentase =</p>
<p><strong>k. Masalah Rekreasi / Olahraga / Hobby</strong></p>
<ul>
<li>Hampir tidak mempunyai waktu luang untuk rekreasi</li>
<li>Lebih sering tinggal di rumah</li>
<li>Senagsekali berolahraga sehingga waktu belajar merasa lelah</li>
</ul>
<p>ü  Prosentase =</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. Data dari Studi Habit</strong></p>
<ol>
<li>Klien mempunyai waktu yang cukup untuk belajar di rumah</li>
<li>Klien tidak mempunyai daftar waktu untuk belajar</li>
<li>Orang tua tidak memperhatikan klien sewaktu belajar di rumah</li>
<li>Klien mempunyai tempat belajar sendiri</li>
<li>Lampu belajar klien sudah memenuhi syarat</li>
<li>Buku belajar klien tidak tercukpi</li>
<li>Buku catatan klien sudah lengkap</li>
<li>Klien belajar kalau ada ulangan</li>
<li>Klien tidak merencanakan bahan yang harus dipelajari</li>
<li>Klien belajar karena dorongan diri sendiri atau terdorong kebutuhan sendiri</li>
<li>Klien terkadang membaca buku di perpustakaan</li>
<li>Klien kadang-kadang bertanya tentang pelajaran kepada Ibu/bapak guru</li>
<li>Klien terkadang bertanya kepada teman tentang pelajaran</li>
<li>Klien di rumah mempunyai kegiatan olah raga, organisasi, dan kegiatan-kegiatan lain selain membantu orang tua</li>
</ol>
<p><strong>3.3 Sintesis</strong></p>
<p>Sintesis merupakan kegiatan pengumpulan data dan penyusunan data agar mendapat gambaran yang jelas tentang kekuatan dan kelemahan klien serta kesanggupan dalam menyesuaikan diri. Dari kegiatan ini akan diperoleh pemahaman tentang diri klien dan gambaran masalah  yang dihadapinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari data yang telah ada dapat disimpulkan bahwa :</p>
<ol start="1">
<li>Klien cenderung belajar lebih serius pada saat akan ulangan atau ada tugas saja</li>
<li>Klien tidak tahu cara belajar yang efektif dan efisien</li>
<li>Klien tidak dapat memanfaatkan waktu luang</li>
<li>Kesehatan klien sering terganggu sehingga dapat mengganggu konsentrasi belajar</li>
<li>Klien tidak dapat membagi waktu belajar</li>
<li>Klien sedikit mempunyai waktu luang untuk belajar karena banyak kegiatan di sekolah dan di luar sekolah</li>
<li>Klien ingin lebih mengenal kitab suci karena ingin lebih mendalami agama yang di anutnya</li>
<li>Klien sulit memahami materi yang dipelajari karena cepat lupa akan materi yang di pelajari</li>
<li>Klien sulit berkonsentrasi dalam mengingat pelajaran yang habis di pelajari</li>
</ol>
<p>Berdasarkan pengamatan tentang diri klien, gejala yang tampak pada dirinya adalah klien merasa kesulitan dalam membagi waktu belajar / cara belajar yang efektif dan efisien, sehingga klien seringkali bersikap acuh tak acuh pada saat pelajaran dan kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Klien sulit memahami materi yang dipelajari karena cepat lupa akan materi yang di pelajari. Klien sulit berkonsentrasi dalam mengingat pelajaran yang habis di pelajari.</p>
<p><strong>3.4 Diagnosis</strong></p>
<p>Diagnosis merupakan tahap penginterpretasian data dalam bentuk pengungkapan problem yang dialami klien. Adapun tujuan diadakannya diagnosis ini adalah untuk menentukan dan menemukan penyebab yang dihadapi oleh klien, sehingga diperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang hakikat masalah yang di hadapi klien. Pada tahap ini ada 2 langkah yang perlu diperhatikan, yaitu :</p>
<p>(1). Masalah pribadi</p>
<p>Klien merasa kurang mendapatkan pangertian dari orang tua karena orang tua klien kolot / kuno dan kesehatan klien sering terganggu terutama perut. Akibat permasalahan pribadi klien tersebut, maka secara tidak langsung berdampak pada kondisi belajar klien di sekolah.</p>
<p>(2). Masalah belajar</p>
<p>Klien merasa kesulitan dalam menemukan cara belajar / membagi waktu belajar yang efektif dan efisien. Hal ini terjadi karena klien tidak dapat memanfaatkan waktu luang dan sulit membagi waktu belajar</p>
<p>Dari hasil analisis permasalahan dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan permasalahan dalam diri klien adalah sebagai berikut :</p>
<p>1. Faktor internal (dari dalam diri siswa / klien)</p>
<ul>
<li>Klien tidak bisa membagi waktu belajar dengan efisien</li>
<li>Sulit memulai untuk belajar</li>
<li>Materi yang di pelajari oleh siswa cepat hilang/cepat lupa</li>
<li>Klien cepat merasa putus asa karena nilai ulangan tidak sesuai dengan harapan sebelumnya</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>2. Faktor Eksternal (dari orang lain / lingkungan)</p>
<ul>
<li>Klien terlalu banyak mengikuti kegiatan di sekolah atau di luar sekolah, misalnya paskibra dan karang taruna</li>
<li>Pacaran mempengaruhi prestasi siswa, hal ini terlihat jika siswa beralasan janjian dengan pacar jjia akan di dekati oleh penulis</li>
<li>Klien lebih ertarik dengan pelajaran sosial (IPS) dibandingkan dengan sains, dimungkinkan hal ini juga bisa mempengaruhi kesulitan siswa dalam belajar biologi.</li>
</ul>
<p><strong>3.5 Prognosis</strong></p>
<p>Prognosis adalah suatu usaha untuk meramalkan yang akan terjadi pada klien jika masalah yang dihadapinya tidak segera terselesaikan atau mendapat bantuan. Ramalan ditetapkan berdasarkan permasalahan yang dihadapi klien. Tujuan dari prognosis adalah untuk menentukan jenis bantuan yang akan diberikan kepada klien maupun teknik yang digunakan untuk memberikan bantuan tersebut.</p>
<p>Berdasarkan permasalahan yang dihadapi klien, maka kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada diri klien apabila tidak segera memdapatkan bantuan adalah sebagai berikut :</p>
<p>a. Jika klien tidak segera mendapatkan bantuan, maka klien tidak akan dapat belajar dengan baik serta tidak dapat megatur waktunya dengan baik yang berdampak pada menurunnya prestasi belajar. Dalam kondisi seperti ini, klien akan tertekan dengan belajar di sekolah, kemudian saat ujian akhir semester (UAS) yang menentukan tingkat kenaikan kelas, di mana tingkat kesulitan belajar semakin tinggi maka klien akan mengalami kejenuhan belajar.</p>
<p>b. Jika klien segera mendapatkan bantuan, maka klien akan lebih bersemangat dalam belajar dan termotivasi untuk belajar sehingga klien dapat merubah sikap dan tingakah lakunya serta meyebabkan prestasi klien akan meningkat sehingga dapat membantu siswa untuk naik kelas. Di samping itu, klien juga dapat lebih berkonsentrasi pada pelajaran, sehingga dia tidak ketinggalan dalam mengikuti pelajaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>USAHA DAN BANTUAN</strong></p>
<p align="center">
<p>Usaha bantuan adalah suatu langkah tindak lanjut dari kegiatan prognosis. Pemberian bantuan ini bertujuan untuk memberikan cara alternatif  kepada klien agar dapat mengatasi masalah dan kesulitan belajar yang sedang di hadapinya sehingga dapat mencapai hasil belajar yang optimal.</p>
<p><strong>4.1 Usaha bantuan yang direncanakan</strong></p>
<p>Berdasarkan hasil pengamatan tentang masalah klien, maka rencana yang di rasa tepat dalam memberikan bantuan kepada klien adalah :</p>
<ol>
<li><strong>a.      </strong><strong>Pemberian motivasi</strong></li>
</ol>
<p>Memberikan motivasi untuk menumbuhkan rasa percaya diri kepada klien dengan memberikan pengertian bahwa manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Memberikan motivasi untuk lebih semangat belajar demi masa depannya karena klien akan atau ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.</p>
<ol>
<li><strong>b.      </strong><strong>Bimbingan belajar</strong></li>
</ol>
<p>Dalam hal ini klien membantu siswa dalam mempelajari mata pelajaran biologi yang menurut siswa suit di pahami. Penulis meminta siswa belajar dengan menggunakan peta konsep untuk mempermudah memahami isi materi yang di pelajari. Materi yang telah di baca siswa di tuangkan dalam peta konsep yang dapat mempermudah siswa dalam belajar</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>c.       </strong><strong>Kerjasama dengan wali kelas</strong></li>
</ol>
<p>Hal ini dilakukan untuk mencari pemecahan masalah yang dihadapi klien karena wali kelaslah yang faham tentang pribadi klien.</p>
<ol>
<li><strong>d.      </strong><strong>Memberikan perhatian Ekstra di dalam atau diluar sekolah</strong></li>
</ol>
<p>Hal ini dilakukan pada jam pelajaran, jam istirahat dan sepulang sekolah dengan maksud agar klien dapat lebih diperhatikan, karena selama observasi klien sulit dalam memahami isi materi pelajaran.</p>
<ol>
<li><strong>e.       </strong><strong>Home visit</strong></li>
</ol>
<p>Home visit adalah kegiatan kunjungan ke rumah orang tua klien, untuk mengadakan hubungan dengan orang tua klien berkaitan dengan permasalahan yang sedang di hadapi oleh klien.</p>
<p><strong>4.2 Usaha bantuan yang telah terlaksana</strong></p>
<p>Berdasarkan rencana pemberian bantuan yang tertera di atas, maka langkah-langkah yang sudah dilaksanakan dalam memberikan bantuan kepada klien adalah:</p>
<p><strong>a. Pemberian motivasi</strong></p>
<p>Pemberian motivasi ini dilakukan dengan tujuan agar klien dapat merubah sikap, mempunyai motivasi untuk lebih semangat dalam belajar. Selama proses pemberian bantuan ini, klien aktif menanggapi masalah yang sedang dihadapinya.</p>
<p>Pemberian bantuan ini dilakukan selam 3 kali pertemuan yaitu tanggal 30 maret dan 2-3 april 2007. Dengan adanya bantuan ini, pada klien dapat dilihat adanya suatu perubahan walaupun secara tidak langsung. Klien mulai terlihat menyadari kesalahannya klien mulai terlihat agak periang, dan mulai mau membuka dirinya untuk orang lain. Dia mulai aktif dalam pembelajaran.</p>
<ul>
<li>Pertemuan 1 (Tanggal 30 maret 2007)</li>
</ul>
<p>Penulis mengadakan pendekatan dengan teman sebangku klien. Penulis menanyakan tentang kebiasaan klien di kelas dan sifat-sifat klien. Sehingga diperoleh keterangan mengenai klien, di mana semua keterangan yang diberikan oleh teman sebangku klien sesuai dengan gejala yang tampak pada diri klien.</p>
<ul>
<li>Pertemuan 2 (Tanggal 2-3 April 2007)</li>
</ul>
<p>Penulis melakukan pendekatan dengan klien. Penulis berbicara pada klien mengenai keluarga, teman-teman dekatnya, kebiasaannya di rumah dan juga masalah yang dihadapinya dalam belajar baik di kelas maupun di rumah. Klien menceritakan masalah yang sedang dihadapinya antara lain masalah-masalah dalam menerima pelajaran di kelas, masalah dengan pacar, masalah dalam memahami suatu materi, masalh tidak bisa membagi waktu belajar karena klien banyak mengikuti kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah.</p>
<p>Dalam pemberian bantuan ini, penulis berusaha memberikan saran kepada klien agar dia mampu mengatasi masalahnya dengan memberikan semangat untuk terus maju. Penulis meminta kepada klien untuk terbuka dengan orang lain terutama kepada orang tuanya sehingga dalam menghadapi masalah, klien bisa bertukar pikiran untuk memecahkannya, lebih percaya pada kemampuan diri sendiri sehingga tidak perlu bertanya pada saat ulangan kepada teman sebangku. Pada pertemuan ini penulis juga meminta klien untuk menyusun jadwal kegiatan dalam sehari agar siswa bisa membagi waktu luang antara belajar dan melakukan kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi lain di luar sekolah.</p>
<p><strong>b. Bimbingan Belajar</strong></p>
<p>Dalam hal ini penulis membantu siswa dalam belajar untuk mempermudah mengingat materi yang telah di pelajari. Klien diminta membuat peta konsep untuk untuk membantu dalam belajar.</p>
<p><strong>d. Memberikan perhatian Ekstra</strong></p>
<p>Hal ini dilakukan denga cara mamberikan perhatian di dalam dan diluar kelas. Selain itu penulis juga mencoba untuk bisa menjadi teman bagi klien. Dengan menjadi teman, Klien diharapkan mampu membuka diri dan mau berbagi masalah sehingga beban yang dirasakan oleh klien bisa berkurang.  Mengajukan pertanyaan / menunjuk klien agar klien dapat aktif dalam kelas dan tidak merasa bosan dalam menerima pelajaran.</p>
<p><strong>4.3 Usaha bantuan yang belum terlaksana</strong></p>
<p>Adapun pemberian bantuan yang belum dilaksanakan adalah :</p>
<ol start="1">
<li><strong>Kerjasama dengan wali kelas</strong></li>
</ol>
<p>Kerjasama ini di lakukan untuk mencari pemecahan masalah yang dihadapi klien, karena wali kelaslah yang faham tentang pribadi dan latar belakang klien. Usaha pemberian bantuan ini belum terlaksana di karenakan praktikan tidak sempat melakukan konsultasi dengan wali kelas tentang keadaan klien di kelas dikarenakan penulis jarang bertemu dengan wali kelas siswa di sekolah dan waktu penulis yang sangat singkat selama praktik di SMA 5 Malang.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Home visit</strong></li>
</ol>
<p>Home visit ini tidak terlaksana karena penulis tidak sempat berkunjung ke rumah klien. Penulis tidak mempunyai waktu karena terbentur dengan tugas-tugas yang lain dan waktu Praktik di SMA 5 juga singkat.</p>
<p><strong>4.4 Follow up</strong></p>
<p>Follow up adalah suatu usaha untuk menindak lanjuti semua usaha yang di lakukan sehingga bisa di ketahui tingkat keberhasilan atas usaha yang telah diberikan. Tingkat keberhasilan pemberian bantuan dapat di lihat dari hasil observasi dan wawancara dengan klien.</p>
<p>Dari hasil observasi, klien telah menyusun jadwal pelajaran dan peta konsep pada materi Arthropoda. Hanya saja untuk mengetahui peningkatan hasil belajar secara signifikan pada materi ini belum bisa diketahui karena belum sempat di adakan ujian terkait dengan materi arthropoda. Untuk itu selanjutnya diharapkan kepada guru mata pelajaan biologi untuk melanjutkan tindakan yang telah di usahakan oleh penulis.</p>
<p>Kaarena follow up ini membutuhkan waktu yang lama, maka penulis berharap agar perhatian kepada klien dapat dilanjutkan oleh pihak sekolah, dalam hal ini guru bimbingan konseling yang dapat membantu perkembangan siswa, guru mata pelajaran biologi yang dapat memberi pengarahan dan cara-cara untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, dan wali kelas sebagai orang yang dianggap paling dekat dengan siswa di sekolah sehingga nantinya dapat memberikan perhatian, bimbingan dan arahan kepada siswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>5.1 Kesimpulan</strong></p>
<p>Berdasarkan data-data dan langkah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya menunjukkan bahwa keberadaan studi kasus sangat penting artinya bagi siswa, terutama klien mengalami kesulitan belajar dan mempunyai masalah pribadi sehingga dapat menyelesaikan sendiri masalahnya sesuai dengan kesiapan dan kemampuannya dan dapat meningkatkan prestasi belajarnya secara optimal .</p>
<p>Untuk membantu dalam mengatasi permasalahan yang dialami klien dapat dilakukan dengan menumbuhkan motivasi belajar, memberikan perhatian dan pengarahan. Motivasi ini dapat di pancing dengan imbalan nilai dan pujian-pujian yang dapat membangun kepercayaan diri pda klien. Perhatian ekstra ketika klien berada di kelas juga merupakan sarana yang baik ketika klien sulit untuk berkonsentrasi pada pelajaran.</p>
<p>Dari studi kasus yang telah dlakukan, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa :</p>
<p>v  Dalam rangka mencapai hasil belajar yang optimal banyak sekali faktor-faktor yang menghambat baik yang bersifat intern maupun ekstern</p>
<p>v  Untuk menemukan suatu masalah dan mencari alternatif pemecahan harus dilakukan secara terencana</p>
<p>v  Seorang guru hendaknya tidak hanya menyampaikan materi pelajaran saja, tetapi juga harus mengetahui perkembangan siswa dan masalah yang dihadapi mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>5.2 Saran-saran</strong></p>
<p><strong>a. Kepada Klien</strong></p>
<p>Klien harus mampu membagi waktu secara tepat untuk kepentingan belajar dan tetaplah menjalin komunikasi dengan orang tua dan teman secara baik, agar tidak mengalami kesulitan dalam bergaul. Klien harus berusaha untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan orang tua, keluarga, dan teman-temannya. Sehingga kalau mempunyai masalah dia bisa berbagi cerita dengan mereka.</p>
<p><strong>b. Kepada guru</strong></p>
<p>Guru harus mampu memberikan perhatian yang merata pada siswa di kelas, terutama siswa yang mengahadapi permasalahan. Guru hendaknya menjadi mitra pengurus bimbingan dan penyuluhan (BP) untuk memberikan bantuan pengarahan yang berkaitan dengan cara belajar yang baik dan efisien dan menekankan pada pentingnya pendidikan untuk masa depan anak didik.</p>
<ol>
<li><strong>c.       </strong><strong>Kepada pengurus Bimbingan dan Konseling</strong></li>
</ol>
<p>Pengurus BP diharapkan selalu menjalin komunikasi dengan siswa sehingga dapat mengetahui perkembangan pada diri siswa setelah mendapat bantuan. Secara umum, BP diharapkan menjadi penghubung antara siswa, guru dan orang tua siswa sehingga permasalahan siswa dapat dengan cepat diketahui dan dapat segera terselesaikan.</p>
<ol>
<li><strong>d.      </strong><strong>Kepada Calon praktikan</strong></li>
</ol>
<p>Dapat lebih memahami dan mengerti dunia dan karakter anak didik serta masalah yang dihadapi sehingga menjadi lebih peka. Selain itu, calon praktikan akan mendapatkan pengalaman untuk membantu anak didik dalam mengatasi masalahnya.</p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p align="center">
<p>Rustiani. Umi. 2004. <em>Laporan studi kasus PPL di SMA laboratorium UM</em>. Laporan studi kasus tidak diterbitkan. Malang : FE Univeritas Negeri Malang</p>
<p>Lestari. Ichwayuni. 2006<em>. Laporan studi kasus PPL di SMA laboratorium UM</em>. Laporan studi kasus tidak diterbitkan. Malang : FIP Universitas Negeri Malang</p>
<p>UPT PPL UM. 2006. <em>Petunjuk Pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) keguruan Universitas Negeri Malang.</em> Malang : UM Pres</p>
<p>Ending. W. P. 1993. <em>Dasar-dasar penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah.</em> Malang : IKIP Malang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>PENGARUH SULITNYA MEMBAGI </strong></p>
<p align="center"><strong>WAKTU BELAJAR TERHADAP PRESTASI SISWA</strong></p>
<p align="center"><strong>(Studi Kasus di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang)</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>LAPORAN</strong></p>
<p align="center"><strong>Untuk memenuhi tugas </strong></p>
<p align="center"><strong>Praktek Pengalaman Lapangan</strong></p>
<p align="center"><strong> di SMA Laboratorium UM Malang</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh :</strong></p>
<p align="center"><strong>Robiatul Fitriyah</strong></p>
<p align="center"><strong>203311465731</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>UNIVERSITAS NEGERI MALANG</strong></p>
<p align="center"><strong>FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGERTAHUAN ALAM</strong></p>
<p align="center"><strong>JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA</strong></p>
<p align="center"><strong>April, 2007</strong></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="252" height="60"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>LEMBAR PERSETUJUAN</strong></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="240" height="97"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Laporan studi kasus di SMA Negeri 5 Malang ini disusun oleh :</p>
<p>Nama               : Ida Ayu Gede Prima Wulandari</p>
<p>Nim                 : 103341465169</p>
<p>Jurusan            : Pendidikan Biologi</p>
<p>Telah diperiksa, disetujui, dan disahkan pada tanggal     April 2007 oleh :</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="264" height="60"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Guru Pamong                                                              Koordinator BK</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ninik Kristiani, S.Pd                                                   Dra. Dina Perangin-angin</p>
<p>NIP.132 103 456                                                        NIP. 132 000 372</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">Mengetahui</p>
<p align="center">Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Malang</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">Dra. Hj. Dwi Retno UN, M.Pd</p>
<p>                                                     NIP. 131 268 209</p>
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><em>Assalamualaikum Wr. Wb</em></p>
<p>Teriring salam dan doa semoga Allah SWT melimpahkan rahmat serta hidayahnya kepada kita.</p>
<p>Praktikan menyadari bahwa dalam penyusunan laporan studi kasus ini tidak mungkin terselesaikan dengan baik semata-mata atas usaha pribadi, melainkan berkat kerja sama dan bantuan dari beberapa pihak, baik berupa petunjuk, bimbingan, pengarahan maupun fasilitas yang telah diperoleh. Untuk itu pada kesempatan ini, praktikan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang selama ini telah membantu menyelesaikan tugas ini, terutama kepada :</p>
<ol start="1">
<li>Bpk. Drs. Ridwan Joharmawan. M.si selaku kepala sekolah SMA Laboratorium UM Malang yang telah memberi izin PPL dan penyusunan studi kasus.</li>
<li>Bpk. Sapto Adi. M. Kes selaku koordinator PPL SMA Laboratorium UM Malang</li>
<li>Bpk Dr. Ipung Yuwono, M. S, M. Sc.selaku dosen pembimbing PPL jurusan Matematika</li>
<li>Ibu Riva Husnia. S selaku guru pamong PPL mata pelajaran Matematika</li>
<li>Ibu Farida Nur Malia. S. Pd. Selaku konselor BK SMA Labotarorium UM Malang Yang membantu memberikan konsultasi demi terselesaikan studi kasus ini</li>
<li>Klien yang telah memberikan respon positif dengan kesediaannya di wawancarai</li>
<li>Para guru dan staf tata usaha (TU) SMA Laboratorium UM Malang yang telah banyak memberikan dukungan dan memantau pelaksanaan proses PPL</li>
<li>Teman-teman PPL yang selalu mendukung dan membantu praktikan sehingga penyusunan laporan ini dapat terselesaikan dengan baik</li>
<li>Siswa-siswi SMA Laboratorium UM Malang, Khususnya kelas XI IPS 2 terimakasih atas bantuannya dalam kelancaraan proses PPL, perhatian dan keceriaannya</li>
<li>Terima kasih kepada kedua orang tua yang telah mendukung aktivitas dan mendoakan saya selama ini</li>
</ol>
<p>Praktikan menyadari bahwa dalam penyusunan laporan banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu praktikan mohom maaf dan mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak.</p>
<p>Semoga bantuan dan dukunagn dari Bapak / Ibu / saudara / saudari bermanfaat bagi kita semua dan mendapat ridho dari Allah SWT.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Malang,     April 2007-03-29</p>
<p>Praktikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="240" height="90"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Robiatul Fitriyah</p>
<p>203311465731</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="264" height="60"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>DAFTAR ISI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>HALAMAN JUDUL&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.i</strong></p>
<p><strong>LEMBAR PENGESAHAN&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.ii</strong></p>
<p><strong>KATA PENGANTAR&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;iii</strong></p>
<p><strong>DAFTAR ISI&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.iv</strong></p>
<p><strong>BAB I PENDAHULUAN</strong></p>
<p>1.1  Rasional&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..1</p>
<p>1.2  Kofidensialitas&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.3</p>
<p>1.3  Tujuan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.4</p>
<p><strong>BAB II GEJALA DAN ALASAN PEMILIHAN KASUS</strong></p>
<p>2.1 Gejala yang tampak&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..6</p>
<p>2.2 Alasan pemilihan kasus&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..7</p>
<p><strong>BAB III PROSEDUR DAN METODE PENELITIAN</strong></p>
<p>3.1 Identifikasi Masalah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;8</p>
<p>3.2 Analisis&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;11</p>
<p>3.3 Sintesis&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.16</p>
<p>3.4 Diagnosis&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.17</p>
<p>3.5 Prognosis&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.19</p>
<p><strong>BAB IV USAHA-USAHA BANTUAN (TREATMENT)</strong></p>
<p>4.1 Usaha bantuan yang direncanakan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.20</p>
<p>4.2 Usaha bantuan yang terlaksana&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;21</p>
<p>4.3 Usaha bantuan yang tidak terlaksana&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;23</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>BAB V PENUTUP</strong></p>
<p>5.1 Kesimpulan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;25</p>
<p>5.2 Saran&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..26</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p><strong>LAMPIRAN-LAMPIRAN</strong></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="264" height="88"></td>
<td width="48"></td>
</tr>
<tr>
<td height="36"></td>
<td align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="516"></td>
</tr>
<tr>
<td height="36"></td>
<td align="left" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1020/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1020/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1020/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1020&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/studi-kasus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ORGAN INDRA</title>
		<link>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/organ-indra/</link>
		<comments>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/organ-indra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2012 01:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirza faishal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biologiforum.wordpress.com/?p=1017</guid>
		<description><![CDATA[Indra mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk mengenali perubahan lingkungan. Indra yang kita kenal ada lima, yaitu: Indra penglihat (mata), Indra pendengar (telinga), Indra peraba (kulit), Indra pengecap (lidah), Indra pencium (hidung). Kelima indra tersebut berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan luar, oleh karenanya disebut eksoreseptor.Reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam, misalnya nyeri, kadar oksigen atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1017&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indra mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk mengenali perubahan lingkungan. Indra yang kita kenal ada lima, yaitu: Indra penglihat (mata), Indra pendengar (telinga), Indra peraba (kulit), Indra pengecap (lidah), Indra pencium (hidung). Kelima indra tersebut berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan luar, oleh karenanya disebut <em>eksoreseptor.</em>Reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam, misalnya nyeri, kadar oksigen atau karbon dioksida, kadar glukosa dan sebagainya, disebut <em>interoreseptor.</em>Sel-sel <em>interoreseptor</em> misalnya terdapat pada sel otot, tendon, ligamentum, sendi, dinding saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, sesungguhnya interoreseptor terdapat di seluruh tubuh manusia. Interoreseptor yang membantu koordinasi dalam sikap tubuh disebut <em>kinestesis.</em></p>
<p><strong>INDERA PENGLIHAT (MATA)</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata, tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata, kotak mata (rongga tempat mata berada), kelopak, dan bulu mata.</p>
<p><strong>1. Bola MatA. </strong>Bola mata mempunyai 3 lapis dinding yang mengelilingi rongga bola mata. Ketiga lapis dinding ini dari luar ke dalam adalah sebagai berikut.</p>
<p><em>a. </em>Sklera merupakan jaringan ikat dengan serat yang kuat; berwarna putih buram (tidak tembus cahaya), kecuali di bagian depan bersifat transparan, disebut <em>kornea. </em>Konjungtiva adalah lapisan transparan yang melapisi kornea dan kelopak mata. Lapisan ini berfungsi melindungi bola mata dari gangguan.</p>
<p><em>b. </em>Koroid berwarna coklat kehitaman sampai hitam; merupakan lapisan yang berisi banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi dan oksigen terutama untuk retina. Warna gelap pada koroid berfungsi untuk mencegah refleksi (pemantulan sinar). Di bagian depan, koroid membentuk badan siliaris yang berlanjut ke depan membentuk iris yang berwarna. Di bagian depan iris bercelah membentuk pupil (anak mata). Melalui pupil sinar masuk. Iris berfungsi sebagai diafragma, yaitu pengontrol ukuran pupil untuk mengatur sinar yang masuk. Badan siliaris membentuk ligamentum yang berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi dari otot badan siliaris akan mengatur cembung pipihnya lensa.</p>
<p><em>c. RetinA, </em>Lapisan ini peka terhadap sinar. Pada seluruh bagian retina berhubungan dengan badan sel-sel saraf yang serabutnya membentuk urat saraf optik yang memanjang sampai ke otak. Bagian yang dilewati urat saraf optik tidak peka terhadap sinar dan daerah ini disebut <em>bintik buta.</em> Adanya lensa dan ligamentum pengikatnya menyebabkan rongga bola mata terbagi dua, yaitu bagian depan terletak di depan lensa berisi carian yang disebut <em>aqueous humor </em>dan bagian belakang terletak di belakang lensa berisi <em>vitreous humor. </em>Kedua cairan tersebut berfungsi menjaga lensa agar selalu dalam bentuk yang benar. Kotak mata pada tengkorak berfungsi melindungi bola mata dari kerusakan. Selaput transparan yang melapisi kornea dan bagian dalam kelopak mata disebut konjungtiva. Selaput ini peka terhadap iritasi. Konjungtiva penuh dengan pembuluh darah dan serabut saraf. Radang konjungtiva disebut <em>konjungtivitis.</em>Untuk mencegah kekeringan, konjungtiva dibasahi dengan cairan yang keluar dari kelenjar air mata <em>(kelenjar lakrimal) </em>yang terdapat di bawah alis.Air mata mengandung lendir, garam, dan antiseptik dalam jumlah kecil. Air mata berfungsi sebagai alat pelumas dan pencegah masuknya mikroorganisme ke dalam mata. Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu <em>sel kerucut (sel konus) </em>dan <em>sel batang (sel basilus). </em>Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu. Kedua macam pigmen akan terurai bila terkena sinar, terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari sel konus berfungsi lebih pada suasana terang yaitu untuk membedakan warna, makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang sehingga di daerah bintik kuning hanya ada sel konus saja.</p>
<p><strong>2. Otot Mata</strong></p>
<p>Adaenam otot mata yang berfungsi memegang sklera. Empat di antaranya disebut otot rektus <em>(rektus inferior, rektus superior, rektus eksternal, dan rektus internal). </em>Otot rektus berfungsi menggerakkan bola mata ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Dua lainnya adalah otot obliq atas (superior) dan otot obliq bawah (inferior).</p>
<p><strong>3. Fungsi Mata</strong></p>
<p>Sinar yang masuk ke mata sebelum sampai di retina mengalami pembiasan limakali yaitu waktu melalui konjungtiva, kornea, aqueus humor, lensa, dan vitreous humor. Pembiasan terbesar terjadi di kornea. Bagi mata normal, bayang-bayang benda akan jatuh pada bintik kuning, yaitu bagian yang paling peka terhadap sinar. Pigmen ungu yang terdapat pada sel basilus disebut <em>rodopsin, </em>yaitu suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A. Pembentukan kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap. Untuk pembentukan kembali memerlukan waktu yang disebut <em>adaptasi gelap </em>(disebut juga adaptasi rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit untuk melihat.Pigmen lembayung dari sel konus merupakan senyawa <em>iodopsin </em>yang merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Ada tiga macam sel konus, yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga macam sel konus tersebut mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan salah satu sel konus akan menyebabkan buta warna. Jarak terdekat yang dapat dilihat dengan jelas disebut <em>titik dekat (punctum proximum). </em>Jarak terjauh saat benda tampak jelas tanpa kontraksi disebut <em>titik jauh (punctum remotum). </em>Jika kita sangat dekat dengan obyek maka cahaya yang masuk ke mata tampak seperti kerucut, sedangkan jika kita sangat jauh dari obyek, maka sudut kerucut cahaya yang masuk sangat kecil sehingga sinar tampak paralel. Lihat Gambar 11.18. Baik sinar dari obyek yang jauh maupun yang dekat harus direfraksikan (dibiaskan) untuk menghasilkan titik yang tajam pada retina agar obyek terlihat jelas. Pembiasan cahaya untuk menghasilkan penglihatan yang jelas disebut <em>pemfokusan.</em> Cahaya dibiaskan jika melewati konjungtiva kornea. Cahaya dari obyek yang dekat membutuhkan lebih banyak pembiasan untuk pemfokusan dibandingkan obyek yang jauh. Mata mamalia mampu mengubah derajat pembiasan dengan cara mengubah bentuk lensa. Cahaya dari obyek yang jauh difokuskan oleh lensa tipis panjang, sedangkan cahaya dari obyek yang dekat difokuskan dengan lensa yang tebal dan pendek. Perubahan bentuk lensa ini akibat kerja otot siliari. Saat melihat dekat, otot siliari berkontraksi sehingga memendekkan apertura yang mengelilingi lensa. Sebagai akibatnya lensa menebal dan pendek. Saat melihat jauh, otot siliari relaksasi sehingga apertura yang mengelilingi lensa membesar dan tegangan ligamen suspensor bertambah. Sebagai akibatnya ligamen suspensor mendorong lensa sehingga lensa memanjang dan pipih.Proses pemfokusan obyek pada jarak yang berbeda-berda disebut <em>daya akomodasi.</em></p>
<p align="center"><em>                                           Gbr. Kelainan mata : (a) Miopi, (b) Hipermetropi</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>a. Akomodasi mata saat<br />
melihat jauh</p>
<p>b. Akomodasi mata saat<br />
melihat dekat</em></p>
<p>Cara kerja mata manusia pada dasarnya sama dengan cara kerja kamera, kecuali cara mengubah fokus lensa. Persamaan dan perbedaannya disajikan pada</p>
<p><strong>4. Kelainan pada Mata</strong></p>
<p>Pada anak-anak, titik dekat mata bisa sangat pendek, kira-kira 9 cm untuk anak umur 11 tahun. Makin tua, jarak titik dekat makin panjang. Sekitar umur 40 tahun &#8211; 50 tahun terjadi perubahan yang menyolok, yaitu titik dekat mata sampai 50 cm, oleh karena itu memerlukan pertolongan kaca mata untuk membaca berupa kaca mata cembung (positif). Cacat mata seperti ini disebut <em>presbiopi </em>atau mata tua karena proses penuaan. Hal ini disebabkan karena elastisitas lensa berkurang. Penderita presbiopi dapat dibantu dengan lensa rangkap. Mata jauh dapat terjadi pada anak-anak; disebabkan bola mata terlalu pendek sehingga bayang-bayang jatuh di belakang retina. Cacat mata pada anak-anak seperti ini disebut <em>hipermetropi.</em>Miopi atau mata dekat adalah cacat mata yang disebabkan oleh bola mata terlalu panjang sehingga bayang-bayang dari benda yang jaraknya jauh akan jatuh di depan retina. Pada mata dekat ini orang tidak dapat melihat benda yang jauh, mereka hanya dapat melihat benda yang jaraknya dekat. Untuk cacat seperti ini orang dapat ditolong dengan lensa cekung (negatif). Miopi biasa terjadi pada anak-anak.<em>Astigmatisma </em>merupakan kelainan yang disebabkan bola mata atau permukaan lensa mata mempunyai kelengkungan yang tidak sama, sehingga fokusnya tidak sama, akibatnya bayang-bayang jatuh tidak pada tempat yang sama. Untuk menolong orang yang cacat seperti ini dibuat lensa silindris, yaitu yang mempunyai beberapa fokus.</p>
<p align="center">
<p>Katarak adalah cacat mata, yaitu buramnya dan berkurang elastisitasnya lensa mata. Hal ini terjadi karena adanya pengapuran pada lensa. Pada orang yang terkena katarak pandangan menjadi kabur dan daya akomodasi berkurang. Kelainan-kelainan mata yang lain adalah:</p>
<ul>
<li>Imeralopi (rabun senja): pada senja hari penderita menjadi rabun</li>
<li>Xeroftalxni: kornea menjadi keying dan bersisik</li>
<li>Keratomealasi: kornea menjadi putih dan rusak.</li>
</ul>
<p><strong>telinga</strong><br />
telinga merupakan organ untuk pendengaran dan keseimbangan, yang terdiri dari telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. telinga luar menangkap gelombang suara yang dirubah menjadi energi mekanis oleh telinga tengah. telinga tengah merubah energi mekanis menjadi gelombang saraf, yang kemudian dihantarkan ke otak. telinga dalam juga membantu menjaga keseimbangan tubuh.<br />
<strong>telinga luar</strong><br />
telinga luar terdiri dari daun telinga (<em>pinna</em> atau <em>aurikel</em>) dan saluran telinga (<em>meatus auditorius eksternus</em>).<br />
telinga luar merupakan tulang rawan (<em>kartilago</em>) yang dilapisi oleh kulit, daun telinga kaku tetapi juga lentur. suara yang ditangkap oleh daun telinga mengalir melalui saluran telinga ke gendang telinga. gendang telinga adalah selaput tipis yang dilapisi oleh kulit, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga luar.</p>
<p><strong>telinga tengah</strong><br />
teling tengah terdiri dari gendang telinga (<em>membran timpani</em>) dan sebuah ruang kecil berisi udara yang memiliki 3 tulang kecil yang menghubungkan gendang telinga dengan telinga dalam.<br />
ketiga tulang tersebut adalah:</p>
<ul>
<li> <em>maleus</em> (bentuknya seperti palu, melekat pada gendang telinga)</li>
<li> <em>inkus</em> (menghugungkan maleus dan stapes)</li>
<li><em>stapes</em> (melekat pda jendela oval di pintu masuk ke telinga dalam).<br />
getaran dari gendang telinga diperkuat secara mekanik oleh tulang-tulang tersebut dan dihantarkan ke jendela oval.</li>
</ul>
<p>telinga tengah juga memiliki 2 otot yang kecil-kecil:</p>
<p>  otot <em>tensor timpani</em> (melekat pada maleus dan menjaga agar gendang telinga tetap menempel)</p>
<p>  otot <em>stapedius</em> (melekat pada stapes dan menstabilkan hubungan antara stapedius dengan jendela oval.<br />
jika telinga menerima suara yang keras, maka otot stapedius akan berkontraksi sehingga rangkaian tulang-tulang semakin kaku dan hanya sedikit suara yang dihantarkan. respon ini disebut <em>refleks akustik</em>, yang membantu melindungi telinga dalam yang rapuh dari kerusakan karena suara. <em>tuba eustakius</em> adalah saluran kecil yang menghubungkan teling tengah dengan hidung bagian belakang, yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga tengah.<br />
tuba eustakius membuka ketika kita menelan, sehingga membantu menjaga tekanan udara yang sama pada kedua sisi gendang telinga, yang penting untuk fungsi pendengaran yang normal dan kenyamanan.<br />
<strong>telinga dalam</strong><br />
telinga dalam (<em>labirin</em>) adalah suatu struktur yang kompleks, yang terjdiri dari 2 bagian utama:  <em>koklea</em> (organ pendengaran) DAN <em>kanalis semisirkuler</em> (organ keseimbangan). koklea merupakan saluran berrongga yang berbentuk seperti rumah siput, terdiri dari cairan kental dan <em>organ corti</em>, yang mengandung ribuan sel-sel kecil (<em>sel rambut</em>) yang memiliki rambut yang mengarah ke dalam cairan tersebut. getaran suara yang dihantarkan dari tulang pendengaran di telinga tengah ke jendela oval di telinga dalam menyebabkan bergetarnya cairan dan sel rambut. sel rambut yang berbeda memberikan respon terhadap frekuensi suara yang berbeda dan merubahnya menjadi gelombang saraf. gelombang saraf ini lalu berjalan di sepanjang serat-serat saraf pendengaran yang akan membawanya ke otak. walaupun ada perlindungan dari refleks akustik, tetapi suara yang gaduh bisa menyebabkan kerusakan pada sel rambut. jika sel rambut rusak, dia tidak akan tumbuh kembali.<br />
jika telinga terus menerus menerima suara keras maka bisa terjadi kerusakan sel rambut yang progresif dan berkurangnya pendengaran. kanalis semisirkuler merupakan 3 saluran yang berisi cairan, yang berfungsi membantu menjaga keseimbangan. setiap gerakan kepala menyebabkan ciaran di dalam saluran bergerak. gerakan cairan di salah satu saluran bisa lebih besar dari gerakan cairan di saluran lainnya; hal ini tergantung kepada arah pergerakan kepala. saluran ini juga mengandung sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan. sel rambut ini memprakarsai gelombang saraf yang menyampaikan pesan ke otak, ke arah mana kepala bergerak, sehingga keseimbangan bisa dipertahankan. jika terjadi infeksi pada kanalis semisirkuler, (seperti yang terjadi pada infeksi telinga tengah atau flu) maka bisa timbul <em>vertigo</em> (perasaan berputar).</p>
<p>Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk keseimbangan.Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.Telinga luar berfungsi menangkap getaran bunyi, dan telinga tengah meneruskan getaran dari telinga luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada pada telinga dalam akan menerima rarigsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah.</p>
<p><strong>1. Susunan Telinga</strong>Telinga tersusun atas tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.</p>
<p align="center">
<p align="center"><em>Gbr. Struktur telinga pada manusia                                                           Gbr. Alat-alat keseimbangan pada telinga</em></p>
<p align="center">
<p><em>a. Telinga luar</em>. Telinga luar terdiri dari daun telinga, saluran luar, dan membran <em>timpani (gendang telinga). </em>Daun telinga manusia mempunyai bentuk yang khas, tetapi bentuk ini kurang mendukung fungsinya sebagai penangkap dan pengumpul getaran suara. Bentuk daun telinga yang sangat sesuai dengan fungsinya adalah daun telinga pada anjing dan kucing, yaitu tegak dan membentuk saluran menuju gendang telinga. Saluran luar yang dekat dengan lubang telinga dilengkapi dengan rambut-rambut halus yang menjaga agar benda asing tidak masuk, dan kelenjar lilin yang menjaga agar permukaan saluran luar dan gendang telinga tidak kering.</p>
<p><em>b. Telinga tengah</em>. Bagian ini merupakan rongga yang berisi udara untuk menjaga tekanan udara agar seimbang. Di dalamnya terdapat saluran <em>Eustachio </em>yang menghubungkan telinga tengah dengan faring. Rongga telinga tengah berhubungan dengan telinga luar melalui membran timpani. Hubungan telinga tengah dengan bagian telinga dalam melalui jendela oval dan jendela bundar yang keduanya dilapisi dengan membran yang transparan.Selain itu terdapat pula tiga tulang pendengaran yang tersusun seperti rantai yang menghubungkan gendang telinga dengan jendela oval. Ketiga tulang tersebut adalah <em>tulang martil (maleus) </em>menempel pada gendang telinga dan <em>tulang landasan (inkus). </em>Kedua tulang ini terikat erat oleh ligamentum sehingga mereka bergerak sebagai satu tulang. Tulang yang ketiga adalah <em>tulang sanggurdi (stapes) </em>yang berhubungan dengan jendela oval. Antara tulang landasan dan tulang sanggurdi terdapat sendi yang memungkinkan gerakan bebas. Fungsi rangkaian tulang dengar adalah untuk mengirimkan getaran suara dari gendang telinga (membran timpani) menyeberangi rongga telinga tengah ke jendela oval.</p>
<p><em>c. Telinga dalam</em>Bagian ini mempunyai susunan yang rumit, terdiri dari labirin tulang dan labirin membran. Ada 5 bagian utama dari labirin membran, yaitu sebagai berikut:Tiga saluran setengah lingkaran , Ampula , Utrikulus ,Sakulus ,Koklea atau rumah siput Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui saluran sempit. Tiga saluran setengah lingkaran, ampula, utrikulus dan sakulus merupakan organ keseimbangan, dan keempatnya terdapat di dalam rongga vestibulum dari labirin tulang. Koklea mengandung <em>organ Korti </em>untuk pendengaran. Koklea terdiri dari tiga saluran yang sejajar, yaitu: saluran vestibulum yang berhubungan dengan jendela oval, saluran tengah dan saluran timpani yang berhubungan dengan jendela bundar, dan saluran (kanal) yang dipisahkan satu dengan lainnya oleh membran. Di antara saluran vestibulum dengan saluran tengah terdapat <em>membran Reissner, </em>sedangkan di antara saluran tengah dengan saluran timpani terdapat <em>membran basiler. </em>Dalam saluran tengah terdapat suatu tonjolan yang dikenal sebagai <em>membran tektorial </em>yang paralel dengan membran basiler dan ada di sepanjang koklea. Sel sensori untuk mendengar tersebar di permukaan membran basiler dan ujungnya berhadapan dengan membran tektorial. Dasar dari sel pendengar terletak pada membran basiler dan berhubungan dengan serabut saraf yang bergabung membentuk saraf pendengar. Bagian yang peka terhadap rangsang bunyi ini disebut <em>organ Korti.</em></p>
<p><strong>TELINGA</strong></p>
<p align="left">Telinga merupakan suatu keajaiban rancangan yang rumit sehingga cukup telinga saja sudah dapat meruntuhkan penjelasan teori evolusi dalam hal penciptaan berdasarkan ‘kebetulan’. Proses mendengar di dalam telinga dimungkinkan oleh suatu sistem yang begitu rumit hingga perincian terkecilnya. Gelombang suara mula-mula dikumpulkan oleh daun telinga (1) dan selanjutnya gelombang menabrak gendang telinga (2). Hal ini menyebabkan tulang-tulang di telinga tengah (3) bergetar. Akibatnya, gelombang suara diterjemahkan menjadi getaran gerak, yang menggetarkan apa yang disebut &#8220;jendela lonjong&#8221; (4), yang selanjutnya menyebabkan cairan yang berada di dalam rumah siput (5) bergerak. Di sini, getaran gerak diubah menjadi denyut syaraf yang bergerak menuju otak melalui syaraf rongga telinga (6). Terdapat cara kerja yang amat rumit di dalam rumah siput. Rumah siput (gambar yang diperbesar di tengah) mempunyai beberapa saluran (7), yang berisi cairan. Saluran rumah siput (8) mengandung &#8220;alat-alat korti (9) (gambar yang diperbesar di kanan), yang merupakan alat indera pendengaran. Organ ini tersusun atas &#8220;sel-sel bulu&#8221; (10). Getaran di dalam cairan rumah siput diteruskan kepada sel-sel ini melalui selaput batang (11), tempat alat-alat korti berada. Adadua macam sel bulu, sel bulu dalam (12a) dan sel bulu luar (12b). Tergantung pada frekuensi suara yang datang, sel-sel bulu ini bergetar berbeda-beda yang memungkinkan kita membedakan beragam suara yang kita dengar. Sel bulu luar (13) mengubah getaran suara yang telah dikenali menjadi denyut listrik dan meneruskannya ke syaraf pendengaran (14). Kemudian informasi dari kedua telinga bertemu di dalam susunan olivari utama (15). Alat yang terlibat dalam jalur pendengaran adalah sebagai berikut: inferior colliculus (16), medial geniculate body (17), dan akhirnya selaput pendengaran (18).<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/rancangan03.htm#dipnot#dipnot">34</a> Garis biru di dalam otak menunjukkan jalan yang ditempuh nada tinggi dan garis merah untuk nada rendah. Kedua rumah siput di dalam telinga kita mengirimkan sinyal pada kedua belahan otak. Jelaslah, sistem yang menjadikan kita dapat mendengar tersusun atas bentuk-bentuk berbeda yang telah dirancang dengan cermat hingga bagian-bagian terkecilnya. Sistem ini tak mungkin muncul ‘setahap demi setahap’ karena ketiadaan satu bagian yang terkecil saja akan menjadikan keseluruhan sistem ini tak berguna. Oleh karena itu, amat jelas bahwa telinga adalah contoh lain dari penciptaan yang sempurna. Daun telinga dirancang untuk menghimpun dan memusatkan suara ke dalam saluran pendengaran. Permukaan dalam saluran pendengaran dilapisi oleh sel dan bulu-bulu yang mengeluarkan padatan berlendir untuk melindungi telinga dari kotoran luar. Di ujung saluran telinga yang menuju awal telinga tengah terdapat gendang telinga. Setelah gendang telinga terdapat tiga tulang kecil yang disebut tulang martil, landasan, dan sanggurdi. Saluran eustasia berguna untuk menyeimbangkan tekanan udara di telinga tengah. Di ujung telinga tengah terdapat rumah siput telinga yang mempunyai mekanisme pendengaran teramat peka dan dipenuhi oleh cairan khusus. Tiga tulang pada telinga tengah berguna sebagai jembatan antara gendang telinga dengan telinga dalam. Tulang-tulang ini, yang terhubung satu sama lain melalui sendi, menguatkan gelombang suara, yang kemudian dikirim ke telinga dalam. Gelombang tekanan yang dihasilkan dari persentuhan antara tulang sanggurdi dengan selaput dari jendela lonjong merambat ke dalam cairan rumah siput. Indera yang didorong oleh cairan tersebut memulai proses ‘mendengar’.</p>
<p><strong><em>Cara kerja indra pendengaran </em></strong><strong></strong></p>
<p>Gelombang bunyi yang masuk ke dalam telinga luar menggetarkan gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang dengar ke jendela oval. Getaran Struktur koklea pada jendela oval diteruskan ke cairan limfa yang ada di dalam saluran vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan membran Reissmer dan menggetarkan cairanlimfa dalam saluran tengah. Perpindahan getaran cairan limfa di dalam saluran tengah menggerakkan membran basher yang dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya membran pada jendela bundar. Getaran dengan frekuensi tertentu akan menggetarkan selaput-selaput basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah. Ketika rambut-rambut sel menyentuh membran tektorial, terjadilah rangsangan (impuls). Getaran membran tektorial dan membran basiler akan menekan sel sensori pada organ Korti dan kemudian menghasilkan impuls yang akan dikirim ke pusat pendengar di dalam otak melalui saraf pendengaran.</p>
<p><strong>2. Susunan dan Cara Kerja Alat Keseimbangan</strong></p>
<p>Bagian dari alat vestibulum atau alat keseimbangan berupa tiga saluran setengah lingkaran yang dilengkapi dengan organ ampula (kristal) dan organ keseimbangan yang ada di dalam utrikulus clan sakulus. Ujung dari setup saluran setengah lingkaran membesar dan disebut <em>ampula </em>yang berisi reseptor, sedangkan pangkalnya berhubungan dengan utrikulus yang menuju ke sakulus. Utrikulus maupun sakulus berisi reseptor keseimbangan. Alat keseimbangan yang ada di dalam ampula terdiri dari kelompok sel saraf sensori yang mempunyai rambut dalam tudung gelatin yang berbentuk kubah. Alat ini disebut <em>kupula. </em>Saluran semisirkular (saluran setengah lingkaran) peka terhadap gerakan kepala. Alat keseimbangan di dalam utrikulus dan sakulus terdiri dari sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang melekat pada <em>otolith, </em>yaitu butiran natrium karbonat. Posisi kepala mengakibatkan desakan otolith pada rambut yang menimbulkan impuls yang akan dikirim ke otak.</p>
<p><strong>HIDUNG</strong></p>
<p>hidung merupakan organ penciuman dan jalan utama keluar-masuknya udara dari dan ke paru-paru.<br />
hidung juga memberikan tambahan <em>resonansi</em> pada suara dan merupakan tempat bermuaranya <em>sinus paranasalis</em> dan saluran air mata. hidung bagian atas terdiri dari tulang dan hidung bagian bawah terdiri dari tulang rawan (kartilago).<br />
di dalam hidung terdapat rongga yang dipisahkan menjadi 2 rongga oleh <em>septum</em>, yang membentang dari lubang hidung sampai ke tenggorokan bagian belakang. tulang yang disebut <em>konka nasalis</em> menonjol ke dalam rongga hidung, membentuk sejumlah lipatan. lipatan ini menyebabkan bertambah luasnya daerah permukaan yang dilalui udara. rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir dan pembuluh darah. luasnya permukaan dan banyaknya pembuluh darah memungkinkan hidung menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk dengan segera. sel-sel pada selaput lendir menghasilkan lendir dan memiliki tonjolan-tonjolan kecil seperti rambut (<em>silia</em>). biasanya kotoran yang masuk ke hidung ditangkap oleh lendir, lalu disapu oleh silia ke arah lobang hidung atau ke tenggorokan. cara ini membantu membersihkan udara sebelum masuk ke dalam paru-paru. bersin secara otomatis membersihkan saluran hidung sebagai respon terhadap iritasi, sedangkan batuk membersihkan paru-paru. sel-sel penghidu terdapat di rongga hidung bagian atas. sel-sel ini memiliki silia yang mengarah ke bawah (ke rongga hidung) dan serat saraf yang mengarah ke atas (ke <em>bulbus olfaktorius</em>, yang merupakan penonjolan pada setiap <em>saraf olfaktorius</em>/saraf penghidu). saraf olfaktorius langsung mengarah ke otak.<br />
<strong>sinus paranasalis</strong><br />
tulang di sekitar hidung terdiri dari sinus paranasalis, yang merupakan ruang berrongga dengan lubang yang mengarah ke rongga hidung. terdapat 4 kelompok sinus paranasalis:  sinus <em>maksilaris</em> ,sinus <em>etmoidalis</em> , sinus <em>frontalis</em>,  sinus <em>sfenoidalis</em>.<br />
dengan adanya sinus ini maka:<br />
- berat dari tulang wajah menjadi berkurang<br />
- kekuatan dan bentuk tulang terpelihara<br />
- resonansi suara bertambah.<br />
sinus dilapisi oleh selapus lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia. partikel kotoran yang masuk ditangkap oleh lendir lalu disapu oleh silia ke rongga hidung. pengaliran dari sinus bisa tersumbat, sehingga sinus sangat peka terhadap ifneksi dan peradangan (<em>sinusitis</em>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia. Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut.Permukaan atas lidah penuh dengan tonjolan (papila). Tonjolan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga macam bentuk, yaitu bentuk benang, bentuk dataran yang dikelilingi parit-parit, dan bentuk jamur. Tunas pengecap terdapat pada paritparit papila bentuk dataran, di bagian samping dari papila berbentuk jamur, dan di permukaan papila berbentuk benang. Indra pembau berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas. Reseptor pencium tidak bergerombol seperti tunas pengecap. Epitelium pembau mengandung 20 juta sel-sel olfaktori yang khusus dengan aksonakson yang tegak sebagai serabut-serabut saraf pembau. Di akhir setiap sel pembau pada permukaan epitelium mengandung beberapa rambut-rambut pembau yang bereaksi terhadap bahan kimia bau-bauan di udara.</p>
<p align="center">
<p align="center"><em>Gbr. Struktur indera pembau</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biologiforum.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biologiforum.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biologiforum.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biologiforum.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biologiforum.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biologiforum.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biologiforum.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biologiforum.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biologiforum.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biologiforum.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biologiforum.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biologiforum.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biologiforum.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biologiforum.wordpress.com/1017/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biologiforum.wordpress.com&#038;blog=7330375&#038;post=1017&#038;subd=biologiforum&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biologiforum.wordpress.com/2012/05/27/organ-indra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64b042c420822c5e9c3c28e1385652e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">biologiforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>