<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Momen Ku - Alawy Aly Imron</title><description>Sebuah Catatan Kehidupan, Kisah Inspirasi Islami, Catatan Faktual, Hukum , Fiqh, Tips dan Solusi ala Islam, Diary dan Berita Islam</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><pubDate>Fri, 18 Apr 2025 03:34:16 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">80</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://momen-ku.blogspot.com/</link><language>en-us</language><item><title>Doa Bahasa Jawa, Rahasia Dahsyatnya Kemantapan Hati</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/04/diaryku-117-doa-bahasa-jawa-d.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 19 Dec 2017 21:50:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-2082513469144871986</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Doa Bahasa Jawa, Rahasia Dahsyatnya Kemantapan Hati&lt;/b&gt; - &lt;a href="https://momen-ku.blogspot.co.id/"&gt;https://momen-ku.blogspot.co.id/&lt;/a&gt; . Setiap pesantren, pasti memiliki ritual baca dzikir atau wirid bersama yang wajib dibaca dan diikuti oleh seluruh santrinya. Bahkan jika berhalangan membaca dzikir, wirid, dan doa tersebut di waktu yang ditentukan, si santri tadi dianjurkan untuk menggantinya di waktu lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alhasil, setiap hari wirid ritual pesantren itu harus dibaca. Malah biasanya para pengasuhnya selalu memberi pesan pada setiap santri yang telah menyelesaikan masa pendidikan di pesantren tersebut, untuk tidak meninggalkan wirid harian tadi. Ini adalah salah satu ekselensi pendidikan ruh dan perlindungan jiwa di dunia pesantren yang tidak dipunyai lembaga pendidikan yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(Analisa dan catatan khusus : santri, atau jebolan pesantren yang memiliki perilaku serta pemikiran menyimpang, dan tidak sesuai dengan yang diajarkan pesantren, adalah mereka-mereka yang malas mengikuti ritual pembangun rohani ini waktu masih mondok. Dan meninggalkannya sama sekali saat keluar pesantren).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nah, tentu saja, setiap pesantren punya wiridnya sendiri-sendiri. Tergantung latar belakang pengasuhnya waktu masih belajar dulu, dan yang pasti bacaan-bacaan wirid itu memiliki transmisi sanad sambung sinambung tak terputus bahkan sampai pada Nabi, dan tentu saja berdasarkan atas dalil, baik umum maupun khusus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beda Parengan Lamongan, Beda pula Pujon Malang, meski pilihan waktu wirid yang ditetapkan dua pesantren ini pada seluruh santrinya adalah sama, jam setengah tiga dini hari (saat enak-enaknya tidur) sampai dengan waktu isyroq (matahari barusan terbit sepenggalah), tentu saja sekaligus subuh, dan hanya dipisah istirahat sejenak setengah jam menjelang subuh untuk meneruskan tahajjud, atau sahur, atau haj'ah (tidur sebentar).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nah, Pujon punya wirid unik, di samping wirid-wirid lain yang semuanya merupakan ma'tsurot dan doa-doa dari para salaf saleh. Wirid tersebut berbahasa jawa ! :D&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebelumnya, dalam ritual baca wirid (di seluruh pesantren juga) semua dilakukan berjamaah dan satu suara, kecuali doa, biasanya sendiri-sendiri, maka tentu saja ada komandan bagian pemimpin wirid.&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
Doa Bahasa Jawa, Khas Pujon Malang&lt;/h3&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kembali ke wirid jawa ala Pujon Batu Malang yang ternyata sangat manjur sekali dan banyak memberi bukti, adalah seperti ini bunyinya, disimak yah, kalau mau menghafal, dan dilakoni, nggak apa-apa, boleh banget. Kami membacanya dengan penuh semangat :D&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(Allahumma Ya Robbana&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cukupono Luberono&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beras Akeh, Duit Akeh&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kanggo Ngaji, Lungo Haji&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Barokahe Nabi Wali) :D .. kami baca 3x biasanya. Tentu saja masih ada doa jawa lain selain doa ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan kenyataan, banyak pembaca doa ini sukses ke Mekkah, bahkan asramaku, Masyru' Rushaifah, 95% penghuninya adalah dari Pujon, pembaca wirid antik ini :D&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;
Rahasia Doa Bahasa Jawa &lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada intinya, yang dibutuhkan dalam doa, dzikir, wirid atau apapun adalah kemantapan dalam membacanya, dan itu akan semakin meyakinkan saat kita tahu arti dan maksud apa yang kita baca, hati semakin mantap, kokoh dan tenang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebab terkabul dan merasuknya khasiat wirid atau doa adalah tergantung oleh kemantapan hati kita. Ini rahasianya. Semakin mantap, maka akan semakin besar dan semakin cepat kemungkinan dikabulkannya sebuah doa, hal yang banyak sekali orang lalai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lah, kok bahasa jawa? Nggak bahasa Arab? Pakai bahasa sansekerta sekalipun tak jadi soal, bukan sebuah kewajiban berdoa dalam bahasa Arab, karena Allah Ta'ala adalah Pencipta bahasa dan tentu saja Paham semua bahasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hanya kalau sholat saja kita diwajibkan berbahasa arab, termasuk doa. So kalau ingin doa yang lain (waktu sujud misalkan) dan tidak bisa bahasa arab, maka ucapkan dalam hati doa dan permintaan itu. Karena kalau pakai bahasa selain arab, batal sholatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kan tidak dari Nabi, bid'ah dong? Haduh, bid'ah lagi. Bab doa itu bab lebar, Nabi memberikan contoh dan membebaskan setiap individu untuk mengajukan permintaan masing-masing. Apalagi ayat doa dalam al-qur'an adalah perintahnya umum, "Berdoalah, mintalah pada-Ku". Tidak ada perintah kamu harus doa dengan kalimat ini, harus meminta dengan doa itu, dan seterusnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski tentu saja, doa dan wirid yang diajarkan langsung oleh Nabi adalah yang terbaik. Bukti daripada itu, para sahabat banyak sekali yang mempunyai doa pribadi, tersebar di berbagai kitab-kitab kebijakan kuno. Salah satunya adalah Doa Saif kepunyaan S. Ali bin Abi Tholib yang panjangnya dari Anyer sampai Panarukan :D&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada akhirnya, dalam setiap hari, jangan sampai ruh dan jiwa kita putus kontak dari Allah Ta'ala. Oke, sholat 5 waktu adalah penyambung utama koneksi akhirat itu, namun itu adalah ibadah protokoler yang memang harus ditempuh. Kita juga harus mencari jalur lain untuk semakin memperbanyak link.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kenalkan dirimu pada Allah di waktu luang, maka Dia akan Mengenalimu (menolongmu) di waktu kamu terdesak dan sangat membutuhkan pertolongan-Nya.. (arrif nafsak ilallah fi rokho', ya'rifka fis syiddah).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebab hukum alam, mengetuk pintu untuk bertamu, adalah keharusan :)&lt;/div&gt;
&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;
Doa Bahasa Jawa, Rahasia Dahsyatnya Kemantapan Hati &lt;/h4&gt;
</description></item><item><title>TKW di Pancung di ARab Saudi, Pandangan dan Solusi Terbaik Menurutku</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/06/catatan-khusus-yang-salah-sebenarnya.html</link><category>Catatan Khusus</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 19 Dec 2017 21:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-9151539139767905204</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;h3&gt;
&amp;nbsp;TKW di Pancung di ARab Saudi, Pandangan dan Solusi Terbaik Menurutku&lt;/h3&gt;
@ Hari ini tadi, saat aku online chat, banyak sahabat bertanya kepadaku tentang kabar yang katanya sedang menghebohkan di tanah air, yaitu kasus TKW yang baru saja dipancung di Saudi Arabia, dan apa komentarku soal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ aku hanya bengong, sebab memang dari dalam Saudi sendiri tidak terdengar apa-apa. Bermacam-macam surat kabar yang aku baca tidak memberitakan hal ini, atau memang aku yang kelewatan ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ aku dengar kabar juga dari teman-teman bahwa pihak KBRI baru tahu sehari setelah pemancungan dan setelah TKW tadi dikuburkan, dan masih menunggu giliran sekitar 23 pesakitan untuk dihukum pancung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ fenomena gunung es, itu yang terlintas di benakku saat mendengar kabar ini. Sebab ternyata permasalahan juga begitu kompleks, sampai membingungkan jika dipelajari detailnya dan saat riset langsung di lapangan. Yang salah ini si TKW, apa majikan, dan yang benar ini si TKW, apa majikan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ bisa jadi, TKW yang terpancung barusan, adalah korban kedzaliman dua kali. Pertama, dia mengalami intimidasi dari majikannya, atau mungkin dilecehkan, dan akhirnya membela diri dengan membunuh majikannya. Yang berusaha kurang ajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ sejenak, jika dari sudut fiqih, yang dilakukan TKW tadi dengan membela diri sebab tersudut, adalah daf'us so-il, caranya benar. Tapi hukum akan berbeda lagi saat dia membunuhnya karena dendam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ apapun, yang pasti aku yakin TKW tadi, kalah di pengadilan sebab kendala bahasa. Keluarga majikan mudah saja bilang bahwa pembantu ini membunuh keluarganya, sementara sang TKW malang tadi (andai benar) sulit mengutarakan pembelaannya sebab bahasa arab yang amburadul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ sering aku bilang, bahwa kebodohan telah merajalela, bahkan di Arab. Jangan dikira orang Arab (karena bicaranya Arab) terus semuanya pintar dan mengerti agama. Teramat banyak orang bodoh di sana, baca al-Qur'an tidak bisa (padahal Arab), dan perangainya beringas luar biasa. Dan pada saat yang sama pula moral runtuh total dari orang-orang jenis ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ anggapan bodoh sebagian orang Arab sendiri bahwa pembantu adalah milkul yamin (budak) yang bisa digagahi kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
TKW di Pancung di ARab Saudi, Pandangan dan Solusi Terbaik Menurutku &lt;/h2&gt;
&lt;br /&gt;
@ fenomena tenaga kerja Indonesia sendiri. Jangan mengira bahwa semuanya yang kerja di sana itu orang indonesia yang lugu-lugu. Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa rusaknya pergaulan sesama tenaga kerja di penampungan-penampungan. Rahasia yang sangat umum sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ hal yang sangat tampak sekali justru pada saat pelaksanaan ibadah Haji, terlebih kala mabit di mina. Bagaimana tingkah para tenaga kerja kita. Yang pasti membuat malu bangsa sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ banyak juga terdapat pembantu rumah tangga, dalam kesehariannya menggunakan pakaian yang mengundang libido majikan atau anak-anak majikannya. Dandan yang menor. Dan seterusnya? Anda sudah bisa memberi penilaian apa yang terjadi jika kucing diberi ikan asin. Terlebih tuan rumah yang imannya setipis rambut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ KBRI di Saudi Arabia, kesehariannya pusing dengan keruwetan-keruwetan yang dilakukan warga negaranya sendiri di tanah orang. Hanya bisa bingung dan akhirnya malas mengurus. Atau diurus tapi seperti ogah-ogahan. Capek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ banyak orang Indonesia, dengan sangat lugu, menganggap bahwa semua orang Arab itu baik. Mengganggap bahwa orang yang berserban itu sangat ahli agama (padahal kuli di sana juga berserban). Rasa besarnya baik sangka yang mengharukan dari sebagian bangsa kita terhadap orang-orang Arab tadi ternyata sering kali menjadi bumerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ atau, TKW yang sangat lugu tadi mengiranya orang Arab, menjalin hubungan dan sebagainya, tetapi ternyata orang Bangladesh, Pakistan, Afganistan, yang sering dikira oleh orang-orang kita sebagai orang Arab (hanya gara-gara tampangnya berewokan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ orang Arab sendiri, jika kejam, na'udzubillah luar biasa, mulutnya sering kali terlempar sumpah serapah, hal yang sangat tidak biasa bagi budaya bangsa kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ yang aku herankan, kenapa kejadian ini kerap terjadi di Arab Saudi saja? Sementara TKI/TKW di negara Arab yang lain (semisal Qatar, Uni Emirat, Yordania, Kuwait, Bahrain) bahkan tenang-tenang saja dan semakin makmur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ aku sangat setuju sekali usulan pemberhentian tenaga kerja wanita ke saudi arabia. Untuk menghentikan segala kemungkinan keburukan dari dua belah pihak. Sebab di manapun tempatnya, jika setannya yang menang, semua sama saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ alhasil, menanggapi hal ini, yang terpenting adalah jangan memukul rata. Sebab ini adalah masalah personal, harus dilihat perkasus. Tidak lantas semua orang Arab itu jahat dan kejam, yang baik juga banyak, dan jika baik, malaikat pun kalah. Begitu juga tidak semua tenaga kerja wanita kita sopan dan santun, sebab yang tingkahnya seperti pelacur juga tidak sedikit. Fenomena yang harus diakui, meski ada yang marah dengan pernyataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ masalah semakin runyam sebab tabiat umum bangsa kita adalah mudah terprovokasi, suka gegabah menanggapi berita dan ujung-ujungnya begitu emosional tanpa sebelumnya lebih dulu tahu apa duduk masalah sebenarnya. Main menyalahkan ini itu, padahal kadang-kadang yang salah juga dari pihak kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ kesadaran selalu saja datang terlambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ pada akhirnya, entah, bingung sendiri melihat kehidupan yang semakin hari semakin aneh ini. Semoga Allah Melindungi kita dan keluarga kita semuanya, amiiin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ yang pasti, tatanan moral, semakin rusak... Itu saja penutup catatan ini. Dan aku berharap pemerintah mengambil kebijakan akhir, menutup pengiriman Tenaga kerja WANITA ke SAUDI ARABIA. by &lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Artikel Islami&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
TKW di Pancung di ARab Saudi, Pandangan dan Solusi Terbaik Menurutku &lt;/h4&gt;
&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Dahsyatnya Rahasia dan Manfaat Shalawat Rosululloh Muhammad</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/01/diaryku-87-pesantren-sejuta-shalawat.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 3 Nov 2017 13:33:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-7710443496606368246</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Dahsyatnya Rahasia dan Manfaat Shalawat Rosululloh Muhammad&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-nbB9YPNyzpTLT32s1mcyeAchiunDUpXtfzieG_5LN7KGbYKtJeK8vBObDhnimk2E9_dzcPLe4VtShj7AJ5XcZgbTyqOraBce1OPsf1PKleD3S9q_SCaz1wpcPQoE_feMO9mB8PSLJnk/s1600/sholawat.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="201" data-original-width="201" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-nbB9YPNyzpTLT32s1mcyeAchiunDUpXtfzieG_5LN7KGbYKtJeK8vBObDhnimk2E9_dzcPLe4VtShj7AJ5XcZgbTyqOraBce1OPsf1PKleD3S9q_SCaz1wpcPQoE_feMO9mB8PSLJnk/s1600/sholawat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Pesantren Sejuta Shalawat&amp;nbsp; - &lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Momenku&lt;/a&gt; . &lt;/b&gt;Setiap malam jumat, setelah sholat isya', di Masjid Jami' desaku rutin diadakan kegiatan baca shalawat bersama yang dihadiri oleh penduduk seisi kampung, dan dipimpin langsung oleh Babaku. (Untuk ibu-ibu dan kaum wanita, acaranya malam kamis).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prosesi acara yang telah berjalan lebih dari 20 tahun itu adalah, pembukaan dengan lantunan beberapa nasyid, dzikir istighfar sejenak, lalu membaca sholawat 1000x dan ditutup dengan pengajian ringkas oleh Babaku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun di luar malam jumat, atau acara-acara resmi shalawatan itu, Babaku selalu menganjurkan seluruh keluarga, seluruh santri, dan seluruh jamaah untuk tak melewatkan hari dengan tak bershalawat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, suasana di Lingkungan sekitar rumahku adalah sangat bernuansa "shalawat" sekali. Tak berlebihan kiranya aku berbicara seperti itu, sebab yang terlihat kemanapun adalah para santri yang di tangannya selalu berputar seuntai tasbih dengan bibir bergerak-gerak berdecak bershalawat seraya berbisik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Energi positif yang terpancar dari pesantren Babaku (PP. Nurul Anwar namanya. Kami menyebutnya, eN-A) ini pun juga merembet hampir ke seluruh kampung. Jadi bukan asing jika waktu sore hari, sembari menunggu maghrib, kita menemukan orang yang mengisi waktu dengan baca shalawat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apalagi jika telah masuk bulan Rabi'ul Awwal, bulan kelahiran Nabi, hawa shalawat serasa sangat pekat sekali di kampung dan di pesantren Babaku. Sampai pesantren yang diasuh Babaku itu mendapat gelar "Pesantren Sejuta Shalawat".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Sehari minimal kalian harus baca sholawat pada Nabi paling tidak 100x". Begitulan nasehat Babaku selalu pada kami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan dari sini, tiap santri pun tak sama perolehan bacaan shalawat pribadi hariannya (ini tak terhitung shalawat-shalawat resmi tiap dzikir usai sholat), tergantung keadaan rohani dan kekuatan iman masing-masing.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada yang sehari rutin baca 500, ada yang 1000, ada yang 5000. Dan pada level-level santri berpower ruhani super, malah kadang ada yang mampu mencapai angka di atas 15.000. Kalau aku? Huhuhu, jangan ditanya, dengan kualitas keimanan yang terbilang menyedihkan, aku baru bisa mencapai level terendah, 100. Itu kalau nggak lupa membaca. Sungguh memprihatinkan.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjslDRCVcoogKKpzcnbpT64s3OT_uNBrW2_DDrqSpP0Z2bjcDEN6-bvvtFtAY1Ftw8LSPg4HBAAagKiLkp1z-2w7okePPMFENy5OOyL_FfCdAObpGG1I4pE2vhlZWHsa3SlXYdlHh20gQ0/s1600/Sejuta+Shalawat.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="182" data-original-width="277" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjslDRCVcoogKKpzcnbpT64s3OT_uNBrW2_DDrqSpP0Z2bjcDEN6-bvvtFtAY1Ftw8LSPg4HBAAagKiLkp1z-2w7okePPMFENy5OOyL_FfCdAObpGG1I4pE2vhlZWHsa3SlXYdlHh20gQ0/s1600/Sejuta+Shalawat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/2011/01/diaryku-87-pesantren-sejuta-shalawat.html" target="_blank"&gt;Manfaat Shalawat Kepada Rosululloh Muhammad&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;
@ @ @&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cinta Rasul, itu adalah misi utama dakwah Babaku selama ini. Beliau begitu getol dan berkonsentrasi penuh menyebarkan dan menanamkan ideologi cinta Nabi di manapun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebab asas kebahagiaan hidup seorang muslim, dan keberuntungan dunia-akhiratnya adalah diukur dengan seberapa besar kecintaan dan ketergantungan hatinya pada Nabinya, yang memotivasinya untuk mengikuti jejak-jejaknya dengan penuh ikhlas dan kesemangatan tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tak cuma mengajak baca shalawat, lebih dari pada itu, di eN-A, biografi Nabi (siroh) dipelajari dengan begitu intensif, mendetail dan mendalam. Mulai dari buku yang terkecil, sampai pada kitab yang tebal berjilid-jilid. Plus buku apapun yang berkenaan dengan Nabi, sebagai dirosah (penelitian) tambahan. Agar kami benar-benar mengenal siapa sosok Nabi, Sang Pengajar Kehidupan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun soal baca sholawat yang sangat ditekankan Babaku itu, tak perlu aku tuliskan ratusan keekselensiannya. Cukup bahwa dengan sekali bershalawat (Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad), kita sudah dibalas pahala 10x, dihapus 10 dosa, dan dinaikkan 10 peringkat. Jika baca 10, maka dilipatkan 100. Dan jika baca 100, maka ada garansi mendapat syafaat (pertolongan Nabi). Dan jika mendapat syafaat Nabi, maka tak ada balasan lagi kecuali surga. Sebagaimana dalam sebuah hadits shahih. Lantas, adakah lebih dari surga dan ridha Allah yang kita cari?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Belum garansi bahwa bacaan shalawat itu pasti diterima. Ikhlas ataupun tidak saat membacanya. Berbeda dengan dzikir lain yang mensyaratkan ikhlas agar diterima.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cukup juga perintah Allah dalam surat al-ahzab ayat 56 yang mengharuskan orang-orang mukmin untuk membaca sholawat dan salam pada Nabi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lagipula, tanda dari pada cinta adalah dengan memperbanyak menyebut nama sosok yang kita cinta, benar kan? Begitu pula shalawat pada Nabi. Apalagi Nabi menyatakan, bahwa setiap orang, kelak akan dibangkitkan dan dikelompokkan bersama orang yang dia cinta. Apa kita tidak mau dibangkitkan dan dikelompokkan dengan Nabi? Shallallahu alaihi wa sallam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pun, suasana lingkungan yang terlingkupi aura shalawat, terasa begitu indah dan menenangkan sekali. Jujur, aku tak pernah menemukan tempat setenang tempat-tempat yang biasa digunakan bershalawat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxUZiiD-wv_1RYN663dgdeIlM-Z7H8YppIyLRtGWHsdduXKA-m4Kn6numa0je3lO2UiKpoyteMJzXpdC-uoLp3nmDaMWqCdv_OyXfzjZf8iHuK6FyGTFrF0BxEhGgp-aqJ6Cf3c6VPwf8/s1600/Pesantren+Sejuta+Shalawat.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="225" data-original-width="225" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxUZiiD-wv_1RYN663dgdeIlM-Z7H8YppIyLRtGWHsdduXKA-m4Kn6numa0je3lO2UiKpoyteMJzXpdC-uoLp3nmDaMWqCdv_OyXfzjZf8iHuK6FyGTFrF0BxEhGgp-aqJ6Cf3c6VPwf8/s1600/Pesantren+Sejuta+Shalawat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/2011/01/diaryku-87-pesantren-sejuta-shalawat.html" target="_blank"&gt;&amp;nbsp;Fadhilah dan Rahasia Sholawat&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;br /&gt;
Kesyahduan, ketenangan, keteduhan, keindahan, kuatnya aura ruhani, bahkan pada saat tertentu seolah terasa kehadiran Nabi, adalah ekstase yang selalu dialami oleh orang yang gemar bershalawat. Yang sangat beruntung, adalah yang diberi anugerah mampu bermimpi bertemu Nabi. (semoga kita juga, amin).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan orang yang gemar bershalawat, seperti halnya yang gemar membaca al-Qur'an, selalu mengalami iluminasi tak terputus dalam hidupnya...Allahumma amboi indahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhir catatan.. Alhamdulillah.. Azka Sholatii wa Salamii Li Rosulillah.. :)&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;
Dahsyatnya Rahasia dan Manfaat Shalawat Rosululloh Muhammad &lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-nbB9YPNyzpTLT32s1mcyeAchiunDUpXtfzieG_5LN7KGbYKtJeK8vBObDhnimk2E9_dzcPLe4VtShj7AJ5XcZgbTyqOraBce1OPsf1PKleD3S9q_SCaz1wpcPQoE_feMO9mB8PSLJnk/s72-c/sholawat.jpg" width="72"/></item><item><title>TIPS MENYIKAPI RASA KECEWA Terhadap Kondisi Apapun</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/04/catatan-khusus-belajar-menyikapi-rasa.html</link><category>Catatan Khusus</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 3 Nov 2017 13:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-5710807731259219541</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/2011/04/catatan-khusus-belajar-menyikapi-rasa.html" target="_blank"&gt;Tips Menyikapi Rasa Kecewa Terhadap Apapun&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Momenku&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; . Setiap dari kita, pasti pernah mengalami kekecewaan. Dikecewakan oleh keadaan, dikecewakan teman, kekasih, murid, relasi, anggota keluarga, saudara, bahkan oleh anak sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang tidak mungkin mengecewakan kita adalah hanya orang tua kita. Apapun yang mereka lakukan dan meski mungkin tidak cocok dengan hati kita, tetap kita tidak boleh mengatakan bahwa mereka mengecewakan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lah kok bisa? Ada alasan di sini, intinya, "Anta wa Maluka li abika". Dirimu dan hartamu adalah kepunyaan orang tuamu. Jadi terserah mereka mau apa saja terhadap kita, selama mereka tidak memerintah berbuat dosa. Selain itu, penghormatan dan berbakti adalah segala-galanya, meski orang tua berbeda agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oke, kita bahas lagi tentang kecewa ini. Aku pribadi, pernah merasa sangat dikecewakan, dan kekecewaan itu semakin besar saat sebelumnya kita telah berbuat banyak, telah membantu, namun ternyata pada akhirnya kita ditinggal begitu saja. Aku mengalami hal ini ironisnya di pesantren orang tua sendiri, saat seluruh sistem yang aku kembangkan di organisasi pesantren, dibatalkan dan tidak digunakan lagi tanpa ada alasan jelas yang melegalkan tindakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah juga aku dikecewakan bahkan oleh murid yang aku ajar sendiri dan yang aku menjadi wali kelas mereka saat mereka tak satupun mendukung ide yang aku tawarkan. Walau jauh di kemudian hari mereka menyesal, namun apa gunanya, hati terlanjur kecewa dan semua bayangan sudah buyar. Pasti kita pernah alami hal ini. Hanya berbeda sampel kasusnya saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah juga kecewa oleh ulah rekan redaksi saat masih di majalah. Aku mati-matian kerja siang malam, membangun dari awal, namun saat pertama kali launching jadi majalah, bermetamorfosa dari mading, namaku tidak tercantum di jajaran redaksi, sementara orang yang sejak awal tidak ada kerja atau kontribusi apapun di redaksi, meski satu judul tulisan, tiba-tiba namanya muncul di barisan redaksi. Aku masih ingat kemarahan luar biasa 10 tahun lalu atas tindakan yang sangat mengecewakan. Dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjexo1TB493vitgM1NBw1dqHT4lcidZHC2iMMGJez32KOFR_DP3ZCsg37EYeDZP4w5axgmeV1SGcOL7Zq_yhOGu9iwnLdAlkgythAjwWfXyTqvKWOcqDowefBC39N8rzL7YoAzMaPHS-vM/s1600/TIPS+MENYIKAPI+RASA+KECEWA+Terhadap+Kondisi+Apapun.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="TIPS MENYIKAPI RASA KECEWA Terhadap Kondisi Apapun" border="0" data-original-height="165" data-original-width="306" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjexo1TB493vitgM1NBw1dqHT4lcidZHC2iMMGJez32KOFR_DP3ZCsg37EYeDZP4w5axgmeV1SGcOL7Zq_yhOGu9iwnLdAlkgythAjwWfXyTqvKWOcqDowefBC39N8rzL7YoAzMaPHS-vM/s1600/TIPS+MENYIKAPI+RASA+KECEWA+Terhadap+Kondisi+Apapun.jpg" title="TIPS MENYIKAPI RASA KECEWA Terhadap Kondisi Apapun" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/2011/04/catatan-khusus-belajar-menyikapi-rasa.html" target="_blank"&gt;Cara Menghilangkan Rasa Kecewa&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku akui, aku juga sering mengecewakan orang lain. Maka, jika aku dikecewakan, aku anggap itu balasan atas tindakanku. Dan memang itu adanya. Kamaa tadinu tudan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang pada dasarnya, jika kita bijak menanggapi, kecewa adalah salah satu fakultas dalam universitas kehidupan yang mendidik kita untuk menjadi manusia yang tangguh. Namun fakultas ini begitu keras dan banyak orang tak betah di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam fakultas ini kita banyak sekali mendapat mata kuliah. Belajar untuk legawa, untuk bisa ikhlas, menahan marah, memaafkan, memaklumi, tidak putus asa, berharap besar lagi, memahami takdir, meskipun terasa sangat pahit. Dan bukankah obat yang menyembuhkan rasanya juga pahit?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa dipastikan, jika kita marah, putus asa, tidak legawa, mangkel, maka yang terjadi adalah kita menyiksa diri kita sendiri. Memang ada perasaan dikhianati, dan ini yang sangat menyakitkan, tetapi kita dituntut dewasa menyikapi "pengkhianatan" itu dan tidak membalasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegagalan menyikapi kekecewaan, berdampak sangat negatif sekali dalam kehidupan kita di masa depan jika kita berlarut-larut dalam kekecewaan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran terbesar yang terekam dalam al-Qur'an perilah menahan hati dari kekecewaan, adalah kejadian yang dialami Nabi Ya'qub, ketika dikerjai anak-anaknya dengan memisahkan beliau dari putra kecilnya, Nabi Yusuf, sebelum disusul beberapa tahun kemudian dengan Benyamin. Berpuluh tahun Nabi Ya'qub memendam kecewa, sampai matanya buta, hingga Allah mengobati kesabaran beliau dengan kembalinya kedua putranya dalam keadaan yang luar biasa. Nabi sekaligus penguasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah secara implisit Nabi Ya'qub memberi pelajaran juga pada kita, bahwa keputusasaan bisa menjadikan seseorang kufur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang harus kita ketahui, bahwa langkah terbaik untuk mengobati dan meredam kekecewaan adalah memahami dengan baik tentang takdir itu sendiri. Bahwa Allah telah Mengatur dan tahu apa yang terbaik buat kita. Sekaligus barometer seberapa jauh keikhlasan dalam diri kita juga kejernihan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kejernihan hati, keselamatan jiwa kita dari seluruh penyakit hati, adalah segalanya. Kekecewaan yang ditimbun, bisa sangat membahayakan karena potensi untuk terjangkiti dendam, sombong, iri, dan seterusnya, menjadi sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka yang terbaik, adalah segera menyusun langkah baru, belajar dari kesalahan agar tak dikecewakan lagi, dan melupakan masa lalu. Sebab yang dituntut dari kita adalah, berbuat sebaik-baiknya karena Allah Ta'ala saja, memberi kemanfaatan pada orang lain tanpa mengembalikan jasa itu pada diri kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, jika kita mampu bersikap seperti ini, berbesar hati, kemungkinan besar untuk tidak larut dalam kekecewaan pasti kita miliki. Marah memang wajar, itu manusiawi, tetapi seyogyanya berpikir yang lebih positif untuk mengobati kekecewaan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah orang jawa, anggep ae durung jodone, durung rejekine.. Gitu aja kok repot. Karena orang yang tenggelam dalam kekecewaan, potensi juga untuk mati dalam waktu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir catatan, kita masih perlu belajar banyak menyikapi hidup, dan menjadi dewasa, dengan tidak terpengaruh oleh keadaan :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/2011/04/catatan-khusus-belajar-menyikapi-rasa.html" target="_blank"&gt;Solusi Ampuh Membuang Rasa Kecewa&amp;nbsp; &lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjexo1TB493vitgM1NBw1dqHT4lcidZHC2iMMGJez32KOFR_DP3ZCsg37EYeDZP4w5axgmeV1SGcOL7Zq_yhOGu9iwnLdAlkgythAjwWfXyTqvKWOcqDowefBC39N8rzL7YoAzMaPHS-vM/s72-c/TIPS+MENYIKAPI+RASA+KECEWA+Terhadap+Kondisi+Apapun.jpg" width="72"/></item><item><title>Solusi Tekanan Batin Was Was Najis Wudhu dan Sholat</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/01/diaryku-84-tekanan-batin-d.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 3 Nov 2017 13:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-4307417616699488946</guid><description>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/2011/01/diaryku-84-tekanan-batin-d.html" target="_blank"&gt;Solusi Tekanan Batin Was Was Najis Wudhu dan Sholat&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Momenku&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; . Aku pernah mengalami fase kehidupan yang teramat susah. Susah bagi batin, ribet bagi dhohir, gara-gara kena "penyakit dalam". Penyakit mamang, atau waswas, nah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah pada akhirnya sembuh, namun bekas-bekasnya sesekali muncul sampai sekarang, menyebalkan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ceritanya, entah gimana awalnya, yang pasti aku kena sindrom ragu-ragu ini (dalam istilah psikologi, OCD, atau obsessive-compulsive disorder) sejak memutuskan untuk fokus belajar agama. Tentu saja, siapapun yang mengalami ini, merasakan tekanan batin, biasanya hal ini banyak dialami anak-anak pesantren. Dan yang lebih spesifik, bermadzhab syafi'i.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajaibnya, sindroma ini datang, selalu tiap waktu sholat ! Tiba-tiba kita sering takut najis, khawatir sholat kita tak sah. Dan dalam stadium yang parah, waswas takut najis ini sampai terbawa pada kehidupan sehari-hari. Ribet kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pas wudhu, mesti niat berkali-kali, khawatir niatnya nggak sah. Saat waktu membasuh tangan, mesti harus lama dan berkali-kali, digosok-gosok sampai elek, gara-gara waswas jangan-jangan belum merata dengan asumsi kucluk kalau air belum menyerap ke pori-pori, hhhhh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai wudhu, baru melangkah sebentar, eh, kayak ada angin keluar dari dubur. Kentut nggak ya? Jangan-jangan kentut, akhirnya wudhunya dibatalin dengan nyentuh anu-nya. Wudhu lagi deh. Selesai wudhu, perasaan ngentut lagi, batalin lagi, wudhu lagi. Alhasil keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah kuyup !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nggak sadar kalau barusan melakukan sebuah dosa, yaitu tabdzir, membuang-buang air. Jadi saudaranya setan deh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kasus lain, perasaan "crit", yaitu setiap habis pipis, usai cebok dan berbenah, tiba-tiba ada perasaan kayak keluar lagi. Ini yang sangat menyiksa, mau nggak mau kalau nuruti waswasnya, harus balik ke jeding, menyiram lagi si anu sambil mensucikan pakaian yang kena tetesan kencing virtual tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngeri lagi perasaan itu muncul pas wudhu. Haduh, bayangin saja gimana jadinya pengidap penyakit ini. Bisa dipastikan, orang seperti ini, selalu lama berada di kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu sholat, waswasnya datang diberbagai tempat. Di niat, saat takbir, jadinya takbirnya berkali-kali. Terus dibacaan fatihah, kayak perasaan nggak tepat tajwidnya, akhirnya bacaan fatihahnya dibolak-balik. Begitu juga tahiyyat. Parah lagi, usai sholat, waswasnya datang, kepikiran rakaatnya kurang nggak? Niatnya udah bener nggak? akhirnya kalau nurutin waswas, ngulangi sholat lagi. Capek deh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum waswas kentut nggak kentut di tengah-tengah sholat. Lemes deh pokoknya orang yang kena waswas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang kena waswas najis, malah lebih nggak tenang, kemana-mana takutnya kena najis. Ntar kalau mensucikan, airnya dihitung-hitung, kalau kurang dari dua kullah, bisa beranggapan semuanya jadi najis. Kacau deh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalkan bajunya kena cipratan air, langsung beranggapan, ini najis nggak ya? Terus karena takut najis, akhirnya disiram, saat nyiram, waswasnya masuk, jangan-jangan hasil siramannya ini malah buat najis semua, waduh gawat, najisnya nyebar kemana-mana, panik. Haduh.. Capek deh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenis-jenis waswas itu, semua sempat aku alami.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwdTRm8mvPdp2ncoOdKQrN3Z9BgfGbKiOSDiiLc_jW_mYWbpjIMk2yEGYwyvEKcmmGp8Ji6KMuYWZ2wnOdlIq4MbKiJNpHHcPSfMXdrL3COMFigLnKcH10zmBj3wEo92nj5jz3KMiVAo8/s1600/Solusi+Tekanan+Batin+Was+Was+Najis+Wudhu+dan+Sholat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Solusi Tekanan Batin Was Was Najis Wudhu dan Sholat" border="0" data-original-height="175" data-original-width="288" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwdTRm8mvPdp2ncoOdKQrN3Z9BgfGbKiOSDiiLc_jW_mYWbpjIMk2yEGYwyvEKcmmGp8Ji6KMuYWZ2wnOdlIq4MbKiJNpHHcPSfMXdrL3COMFigLnKcH10zmBj3wEo92nj5jz3KMiVAo8/s1600/Solusi+Tekanan+Batin+Was+Was+Najis+Wudhu+dan+Sholat.jpg" title="Solusi Tekanan Batin Was Was Najis Wudhu dan Sholat" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;
Solusi Tekanan Batin Was Was Najis Wudhu dan Sholat &lt;/h2&gt;
Nah, ada waswas yang ngeri (semoga Allah melindungi kita semua dari waswas ini) yaitu waswas ragu dengan iman sendiri ! Selalu belum yakin kalau dia islam. Akhirnya? Mesti setiap saat syahadat berkali-kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus bagaimana sembuhnya? Kalau aku dulu, ada orang yang mergokin waswasku ini, baik saat wudhu, sholat, dan bingung najis. Kebetulan dia guru ngajiku sendiri. Kayaknya beliau lama memperhatikan keanehanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, setelah beliau memastikan aku kena waswas saat aku sholat di sampingnya dengan membaca fatihah berulang-ulang sembari suara agak keras (bawaan khas orang waswas). Usai salam, beliau menarikku ke belakang, dan memarahiku sambil membodoh-bodohkan aku, alhasil beliau mempermalukanku. &lt;b&gt;"Bodoh, prembik-prembik seperti itu semua setan, awas kamu ulangi lagi, aku akan buntuti kamu terus !"&lt;/b&gt;. Tentu saja aku malu.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;"Terjang saja, jangan beranggapan tidak sah. Pasti sah, andai tidak sah, Allah Maha Pengampun kan?". Sebab orang yang waswas, memang berputarnya di soal sah atau tidak sah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak itu, pelan namun pasti, aku berjuang melawan waswas itu. Setiap datang waswas di wudhu atau sholat. Kayak tengah-tengah sholat serasa kentut, akhirnya aku terjang. Pedomanku, selama nggak ada bau, nggak ada suara, itu bukan kentut. Tapi tiupan setan. Lambat laun, waswasku dalam sholat mulai hilang. Begitu juga wudhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tinggal waswas najis. Nah kalau yang ini, umiku yang mergokin dan marah-marahin aku hebat, gara-gara pernah beranda rumah aku pel semua tanpa alasan jelas sebab waswas najis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat tengah midatoin aku, Babaku datang, dan dengan tajam beliau bilang, &lt;b&gt;"Orang waswasen gini sembuhnya cuma satu, ditempeleng". :-D&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak saat itu waswasku total hilang sama sekali. Alhamdulillah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Solusi Tekanan Batin &lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/2011/01/diaryku-84-tekanan-batin-d.html" target="_blank"&gt;Was Was Najis&lt;/a&gt; Wudhu dan Sholat&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNkR3YGUc5EaFSjiykGkW9NdtCujjn2Sv6hk6Mmtm5TbA3slxneDWWZ1lMNhiX5rP_1TiAvrBCfoJ5qS7pwulzEslt7rZ3RtypFeIEqxoleA5xprceSnvlw3eskcN4sJ-gcc8aje-FJ54/s1600/Solusi+Tekanan+Batin+Was+Was+Najis+Wudhu+Sholat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Solusi Tekanan Batin Was Was Najis Wudhu dan Sholat" border="0" data-original-height="180" data-original-width="280" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNkR3YGUc5EaFSjiykGkW9NdtCujjn2Sv6hk6Mmtm5TbA3slxneDWWZ1lMNhiX5rP_1TiAvrBCfoJ5qS7pwulzEslt7rZ3RtypFeIEqxoleA5xprceSnvlw3eskcN4sJ-gcc8aje-FJ54/s1600/Solusi+Tekanan+Batin+Was+Was+Najis+Wudhu+Sholat.jpg" title="Solusi Tekanan Batin Was Was Najis Wudhu dan Sholat" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/2011/01/diaryku-84-tekanan-batin-d.html" target="_blank"&gt;Solusi Penyakit Was Was &lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;
@ @ @&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku merantau mencari ilmu ke Purworejo, giliran posisiku yang berbalik. Aku jadi tukang teror anak-anak yang waswas :-D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mengira sama sekali, di pesantren ini aku menemukan puluhan orang yang kena penyakit waswas dengan kondisi waswas yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, kalau pas ada teman yang waswasnya pas wudhu, saat dia wudhu dan berlama-lama membasuh, segera kami kagetkan dengan kami tepuk sambil membentak keras sekali, "Woe ! Ojo waswas kang!" seketika dia tergerapap megap-megap dan malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau yang parah, kadang sampai kami ceburkan ke kolam. Yang takut najis, kami kerjain sekalian dengan air yang sekira dia mengiranya air najis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sholatnya waswas, kadang kami kerjai dengan umpatan atau sindiran panjang pendek, atau kami bentak. Alhasil bagaimana dia bisa sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ @ @&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya ini adalah penyakit yang berhubungan dengan psikologi, dan tentu saja permainan setan. Sebab setan tak pernah menjerumuskan orang pada kejelekan, atau menghalangi dari kebaikan secara langsung, namun bertahap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satunya dari waswas ini. Sebab pada stadium 4, seseorang itu kadang sampai tidak mau sholat sama sekali sebab selalu merasa gagal niat, capek takbir bolak-balik. Nah, jadinya malah bisa kacau kan islamnya? Nggak mau sholat sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga yang selalu merasa najis, pada akhirnya juga bisa tergiring tidak mau sholat. Yang ujungnya pun mengancam eksistensi iman (widiw, sampai segitunya ya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar memang kata Babaku, untuk menyembuhkan orang waswas, perlu ditempeleng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi ingat kakekku, pernah kena waswas merasa najis di tangannya, jadi sedikit-sedikit harus cuci tangan. Akhirnya karena capek, beliau masukkan tangannya ke pasir, dan dengan tangan kotor oleh pasir, beliau makan nasi. Setelah itu waswasnya hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab orang waswas, kalau dibiarkan, bisa mati meragan lho. Sebab lemas, capek berjuang melawan batin sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, yang masih suka waswas, hilangkan waswas itu. Sebelum ditampar ama jin yang bosan lihat waswasmu :-D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
....&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;
Solusi Tekanan Batin Was Was Najis Wudhu dan Sholat &lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwdTRm8mvPdp2ncoOdKQrN3Z9BgfGbKiOSDiiLc_jW_mYWbpjIMk2yEGYwyvEKcmmGp8Ji6KMuYWZ2wnOdlIq4MbKiJNpHHcPSfMXdrL3COMFigLnKcH10zmBj3wEo92nj5jz3KMiVAo8/s72-c/Solusi+Tekanan+Batin+Was+Was+Najis+Wudhu+dan+Sholat.jpg" width="72"/></item><item><title>Sepuing Kenangan dengan Sang Guru Besar Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/06/diary-126-sepuing-kenangan-dengan-sang.html</link><category>Catatan dari Diary</category><category>Guruku</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 3 Nov 2017 12:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-8958508975760502048</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgan1tI-OROpPhjepXEkIyLh5jTLEQA9wEZrJ3zUUtwAXSePH71pR9wIbyidqymk3fTqyRa1E4DEbU7Z0p8c4B8q8lECE_d7UbRNsEXn10gB-jMQyTP2UrEeAC6_leSBnlr5y7wh-QkMvc/s1600/%25D8%25A3%25D8%25A8%25D9%2588%25D9%258A+26.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Sepuing Kenangan dengan Sang Guru Besar Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki" border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgan1tI-OROpPhjepXEkIyLh5jTLEQA9wEZrJ3zUUtwAXSePH71pR9wIbyidqymk3fTqyRa1E4DEbU7Z0p8c4B8q8lECE_d7UbRNsEXn10gB-jMQyTP2UrEeAC6_leSBnlr5y7wh-QkMvc/s320/%25D8%25A3%25D8%25A8%25D9%2588%25D9%258A+26.jpg" title="Sepuing Kenangan dengan Sang Guru Besar Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki" width="230" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/2011/06/diary-126-sepuing-kenangan-dengan-sang.html" target="_blank"&gt;Sepuing Kenangan dengan Sang Guru Besar Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://momen-ku.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Momenku&lt;/a&gt; . Catatan ini, adalah sepuing kenanganku bersama Guru Terbesar dalam kehidupanku, Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky, Qaddasallah Sirroh. Puing-puing kenangan yang justru merupakan bagian terpenting dari seluruh hidupku. Tanpanya, aku tidak akan pernah ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejenak memang kebersamaanku dengan beliau. Aku resmi diakui dan bergabung sebagai murid khusus (thullab dakhili) beliau, sekitar 7 bulan sebelum kembalinya beliau ke hadirat Allah Ta'ala. Kesejenakan yang justru merupakan anugerah indah dan agung yang aku terima.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Abuya (ayahku), itulah panggilan kami, seluruh murid-muridnya kepada beliau. Bagi kami, beliau tidak sekedar Guru, namun juga orang tua, bahkan lebih dari orang tua kami sendiri. Tak mampu aku gambarkan, yang pasti, kami pun bahkan sampai terlupa dengan orang tua kandung kami sendiri setelah menjadi anak-anak beliau.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebelumnya, untuk menjadi murid Abuya, menjadi pelajar yang tergabung di Ribath atau Masyru' Al-Maliky Rusaifah, adalah puncak impian dari seluruh penuntut ilmu agama di Tanah Air. Ma'had ini, bagi dunia pesantren, ibaratnya Sorbonne di Prancis, Harvard di Amerika, dan Oxford di Inggris. Ma'had yang benar-benar bergengsi dan prestisius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;
Sepuing Kenangan dengan Sang Guru Besar Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki &lt;/h2&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
So, bisa masuk ke Ma'had ini, adalah sebuah anugerah yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sangat terkenal sekali tingkat kesulitan untuk bisa masuk ke Ma'had ini, sampai saat ini pun trackrecord itu masih bertahan. Kenyataan inilah yang terkadang menjadi kebanggaanku pribadi, bahwa aku yang bodoh ini, bisa tergabung di Ma'had paling elit sedunia. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lembaga lainnya, anda daftar hari ini, masuk hari ini juga bisa, tapi Rusaifah? Jangan harap, meski anda anak presiden sekalipun, anak wali, atau anak Kyai tenar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jujur, dan dengan tanpa ada rasa pongah, siapapun anak Indonesia yang belajar di Timur Tengah, di manapun, mulai Sudan, Libya, Mesir, Syria, Yaman, atau bahkan yang di Saudi sendiri, mengakui bagaimana nama besar Abuya sekaligus Ma'had ini yang auranya menggetarkan siapapun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ukuran utama untuk bisa masuk ke Ma'had ini, adalah tidak sekedar tingginya prestasi akademis, kekuatan ilmiah, penguasaan bahasa Arab dan kitab, kemampuan hafalan, tetapi juga kesiapan jiwa untuk mau tinggal dengan batas minimal 10 tahun dengan tanpa pulang sama sekali dalam keadaan apapun, kesiapan total untuk berkhidmah, serta yang terpenting adalah, kejernihan hati dan jiwa. Barometer yang pemenuhan kriterianya sudah bukan ditangani oleh orang-orang biasa lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka, jika ada pelajar di Rusaifah pulang kurang dari 10 tahun, selalu menjadi bahan pertanyaan, pasti ada ketidakberesan, entah itu dalam pribadi pelajar itu, atau entah sebab masalah teknis semacam permasalahan izin tinggal yang mengalami keruwetan. Tapi yang pasti, selalu dianggap "kurang" ke-Rusaifah-annya, meski tetap diakui. Paling tidak, jika tidak bisa 10 tahun, minimal 7 tahun lah. Sebelum dapat izin resmi untuk pulang sekaligus izin memulai babak hidup baru sebagai pelayan ummat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nah, di antara hal yang sangat aku kenang dari Abuya adalah, perhatian beliau pada setiap individu murid-muridnya. Tentu saja tidak sama cara bersikap beliau kepada pelajar senior dan junior, namun uniknya cara bersikapnya yang tidak sama itu, bukan lantas membuat perbedaan di antara kami, malah yang muncul adalah perasaan aneh, bahwa "aku adalah murid yang paling disayang Abuya", nah, pernah menemukan Guru Rabbani berkualitas seperti ini?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seluruh detail kehidupan kami langsung beliau kontrol sendiri. Bahkan rahasia jiwa kami (bahasan ini, sudah irrasional tentunya, sulit dinalar akal, tapi memang terjadi dan kami alami sendiri secara nyata). &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada sejuta kisah dengan Abuya yang jika dibukukan, bisa berjilid-jilid. Mulai kisah menegangkan, sampai kisah lucu yang mengundang gelak tawa (dan ini banyak sekali).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secuil dari kisah yang kualami itu adalah, saat beliau hendak mencari sekretaris baru. Memang di antara khas beliau adalah, banyaknya "khatthat" (penulis bantu) di sekitar beliau, hal itu adalah untuk menyalin tulisan, menulis cepat ide-ide beliau, mengingat beliau sendiri adalah penulis kaliber dunia. Dan tentu saja pekerjaan penulis bantu itu bertingkat melihat kerapian tulisan penulis tadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rekan-rekanku yang memiliki tulisan tangan bagus, tentu saja mendapatkan posisi sebagai sekretaris utama. Entah rahasia apa, beliau lebih suka menyukai tulisan tangan daripada ketikan komputer.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nah, saat berlibur ziarah ke Madinah, rupanya beliau ingin mencari penulis bantu baru, pagi itu usai subuh, beliau memanggilku. Seperti biasa, selalu ada rasa takut dan gemetar luar biasa setiap dipanggil Abuya. Rasa ini muncul sebab besarnya aura wibawa beliau. Tak pernah dalam hidupku aku temukan orang yang wibawanya sebesar Abuya almarhum (sesuatu yang kini mulai tampak pada putranya, Guru Besar kami, Abuya Ahmad bin Muhammad Al-Maliky).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mendadak beliau mengambil sesobek kertas kecil, mengambil pena, dan memberikan pena itu padaku serta mengacungkan kertas tadi yang masih beliau pegang di hadapanku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Tulis," ujar beliau.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seketika telingaku serasa memanas, punggung dingin, dan dari pelipis muncul keringat, bagaimana cara nulisnya kalau gemetaran luar biasa gini, mana menulis di udara tanpa tatagan lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski tangan bergemataran, tetap aku kuatkan hati untuk menulis di selembar kertas yang mengawang di tangan beliau itu. Beliau tentu saja membaca perubahan psikologis yang aku alami, dan segera mengajakku bercanda untuk menetralisir rasa takut itu (rasa yang selalu dialami siapapun meski dia telah berpuluh tahun hidup dengan Abuya, rasa aneh yang saat sama pula berbaur dengan cinta luar biasa pada sosok beliau).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Tulis, Aku minta dibuatkan sate", sambil tertawa kecil, aku tentu saja heran, dan mencoba tersenyum sambil aku tuliskan kalimat aneh di kertas yang beliau pegang tadi tetap dengan gemetaran, meski rasa takut telah berkurang banyak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alhasil, sore harinya aku mendapat setumpuk kerjaan dari senior untuk aku salin, ya, beliau mempercayaiku sebagai salah satu penulis bantu lapis ketiga, untuk merapikan tulisan-tulisan yang berserakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pelajaran besar yang aku terima adalah, kebersamaanku dengan beliau, tata cara beliau memperlakukanku, melatihku untuk tidak takut menghadapi siapapun, sebesar apapun orang itu, kamu harus tetap biasa, hanya saya yang harus kamu takuti, itu pesan tersirat beliau yang selalu kurasakan sampai kini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka, jika diperhatikan, seluruh jebolan Rusaifah, selalu memiliki keberanian dan rasa percaya diri aneh yang tak dimiliki orang lain. Menghadapi tokoh-tokoh penting, seperti menghadapi teman, tidak mudah terpukau, meski tentu menghormati melihat bagaimana posisi orang itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kecuali pejabat, ya, pejabat pemerintah, pesan satir Abuya, mereka yang harus mencium tangan, tertunduk tersuruk-suruk kepadamu, kamu harus terlihat besar dan wibawa di mata mereka, jangan sekalipun merendahkan diri di hadapan mereka. Jika perlu, peringatkan dan jewer kuping mereka dengan cara bijak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhir catatan, tiba-tiba hari ini tersedu sedan dengan mengingat kembali sang Guru...&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;
Sepuing Kenangan dengan Sang Guru Besar Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki &lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgan1tI-OROpPhjepXEkIyLh5jTLEQA9wEZrJ3zUUtwAXSePH71pR9wIbyidqymk3fTqyRa1E4DEbU7Z0p8c4B8q8lECE_d7UbRNsEXn10gB-jMQyTP2UrEeAC6_leSBnlr5y7wh-QkMvc/s72-c/%25D8%25A3%25D8%25A8%25D9%2588%25D9%258A+26.jpg" width="72"/></item><item><title>Nu Itu Laut, Sebagaimana Pendirinya </title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2017/10/nu-itu-laut-sebagaimana-pendirinya.html</link><category>Status FB</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 25 Oct 2017 15:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-3954104903256084242</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span class="fbPhotosPhotoCaption" data-ft="{&amp;quot;tn&amp;quot;:&amp;quot;K&amp;quot;}" id="fbPhotoSnowliftCaption" tabindex="0"&gt;&lt;span class="hasCaption"&gt;NU itu laut, sebagaimana pendirinya, sebanyak apapun pembencinya membuang sampah ke dalamnya, tidak ada pengaruhnya apa-apa... &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 itupun gonggongan pembenci-pembencinya hanya keras di dunia maya atau 
di majelis-majelis internal mereka sendiri... Bagai tong kosong...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFyhZFvDRBs7udOU-tQaHQWRmAqwh-5bahQmJ1a5P0g7m0-PaKQj6StDDdD-4hI0Pp7t-T0dsT6nTxzhhZtieu20gzbp6mjWiD52bitXk9WYtKvlDi6_BtpHgNYMQvDu_uzeICDIsjjSE/s1600/Nu+Itu+Laut.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="930" data-original-width="960" height="310" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFyhZFvDRBs7udOU-tQaHQWRmAqwh-5bahQmJ1a5P0g7m0-PaKQj6StDDdD-4hI0Pp7t-T0dsT6nTxzhhZtieu20gzbp6mjWiD52bitXk9WYtKvlDi6_BtpHgNYMQvDu_uzeICDIsjjSE/s320/Nu+Itu+Laut.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Banyak yang mengira dan dengan sangat yakin bahwa dengan banyaknya 
pertengkaran dalam tubuh NU atau ucapan (yang dianggap) kontroversial 
dari sebagian tokohnya, memprediksi bahwa NU sebentar lagi akan bubar. 
Mereka belum tahu dan tidak tahu bahwa justru itulah maziyyah 
(ekselensi) NU, semakin ribut organisasi unik ini, justru di waktu yang 
sama akan semakin solid. NU tidak seperti organisasi lain yang dasar 
perselisihannya karena iri, tetapi karena ukhuwwah dan ghiroh kepada &lt;span class="text_exposed_show"&gt;sesama
 sekaligus ilmiah. Andai ada tendensi lain, yang bubar bukan NU-nya, 
tetapi orangnya itu yang terpental dari NU. NU jangan disamakan dengan 
ormas-ormas lain yang kerap merasa paling Islam sendiri itu. NU itu 
ormas yg berdirinya ditirakati sekian lama, tidak seperti ormas-ormas 
kebanggaanmu itu, yang sekali tengkar, akan bubrah seketika dan tinggal 
nama dalam lembaran-lembaran koran bekas yang jadi bungkus cabe dan 
terasi...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFyhZFvDRBs7udOU-tQaHQWRmAqwh-5bahQmJ1a5P0g7m0-PaKQj6StDDdD-4hI0Pp7t-T0dsT6nTxzhhZtieu20gzbp6mjWiD52bitXk9WYtKvlDi6_BtpHgNYMQvDu_uzeICDIsjjSE/s72-c/Nu+Itu+Laut.jpg" width="72"/></item><item><title>(Catatan Khusus) : Benarkah wanita tali jerat setan?</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/06/catatan-khusus-benarkah-wanita-tali.html</link><category>Catatan Khusus</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 19 Jun 2011 22:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-7809206260000597252</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa waktu yang telah lalu, salah satu sahabat bertanya padaku soal teks hadits yang menyatakan bahwa wanita itu kurang akal dan kurang agama (Naqishotu aqlin wa din). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksud hadits itu? Kok terkesan seperti melecehkan? Bukankah katanya Islam menghargai wanita? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana juga dengan hadits yang menyatakan bahwa wanita itu jika menghadap dalam bentuk setan, begitu pula jika berpaling (aqbalat wa adbarat fi shurotis syaithon) ?? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teks lain (tapi entah hadits entah tidak) juga ada yang menyatakan bahwa wanita itu adalah tali temali penjerat yang dipasang setan (annisa' haba-ilus syaithon). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksud dari semua teks ini? Kok seperti begitu merendahkan wanita? Seolah wanita tak ada harganya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku jawab kejanggalan-kejanggalan itu, perlu sedikit aku terangkan bagaimana tata cara kita menyikapi dan memaknai sebuah teks syariat (baik al-Qur'an atau al-Hadits).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, jika kita melihat sepintas lalu hadits-hadits tersebut --beserta kedangkalan kita akan ilmu bahasa dan sastra arab-- serta ketidak mampuan kita melihat teks yang lain yang berhubungan, maka kita langsung dengan "tega" memvonis bahwa Islam itu diskriminatif terhadap wanita (atau setidaknya, terlintas hal itu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sudah seyogyanya kita harus mendudukkan dan men-jlentreh-kan masalah sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Nabi S.a.w.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasya wa kalla (sangat tidak mungkin) Nabi berbuat tidak adil pada umatnya,terutama kaum wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karenanya, tak bisa kita mengartikan nash Qur'an dan Hadits secara tekstual/literal begitu saja, hanya melihat satu arti daripada kalimat itu tanpa melihat dalil lain yang terkait. Sebab bisa terjadi kesalah fahaman yang berakibat kesalahan menerjemahkan apa yang dimaksudkan oleh syariat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena mashadir tasyri' (sumber hukum) yang kita punyai itu berbentuk global yang membutuhkan penjelasan dan perincian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya ada 10 langkah yang harus ditempuh untuk memahami sebuah nash syariat, so tidak bisa sembarang "semau gue" sendiri juga mengartikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi S.a.w. berstatemen bahwa wanita itu kurang akal, maksudnya adalah dia tak mampu dengan begitu baik mengontrol emosinya, sebab perasaannya (janib athifiy) yang lebih dominan, sehingga menyebabkan keseimbangan berfikirnya (thinking balance) agak berkurang kala sisi perasaan dia bermain. Nabi S.a.w tak pernah menyatakan bahwa wanita itu bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu juga sebab standar kecerdasan manusia itu pada dasarnya tak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, masing-masing memiliki potensi yang sama, bahkan sangat banyak wanita yang lebih cerdas dari pada pria. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kekurangan akal" tadi adalah kembali pada kontrol emosi, tentu saja hal ini melihat makna "al-'aqlu" itu sendiri,yang tak hanya berarti kecerdasan, tapi ada pula yang bermakna kemampuan mengendalikan pikiran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itu sendiri langsung ditafsirkan oleh Nabi bahwa kesaksian wanita harus berbanding 2 : 1 dengan laki-laki (jadi kalau kira-kira satunya nangis, satunya nggak :D) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun soal kurang agama, hal yang sudah maklum, bahwa mereka saat haid, tidak diperbolehkan sholat dan puasa. Ini pun juga hanya syakli (bentuk luar) saja, karena justru sebenarnya wanita saat meninggalkan shalat sebab haid, ia berada dalam pelaksaan ibadah, yaitu tunduk pada perintah Tuhannya. Bukankah jika dia sholat malah justru mendapat dosa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu juga sangat kontradiktif andai maksud Nabi itu bahwa wanita adalah bodoh, sementara beliau sendiri sering mengambil keputusan-keputusan penting setelah bermusyawarah dengan beberapa istri beliau. Atau dengan sangat jelas beliau menitipkan hampir separuh ilmunya pada bunda Aisyah. Lagi pula, bukan akhlak beliau membeda-bedakan apalagi membodohkan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun hadits yang menyatakan wanita kalau menghadap atau berpaling dalam bentuk setan adalah maksudnya dimanfaatkan sebagai media untuk menjerat. Bukan wanitanya itu yang setan. Tapi setan yang memanfaatkan wanita. Begitu juga soal wanita adalah tali temali setan, lalu ketika ada orang terjerat kecantikan wanita lantas menyalahkan wanita itu juga tak tepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab wanita hanya alat saja, sama halnya dengan pembunuh berpistol, kita pasti menyalahkan orangnya bukan pistolnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits-hadits tersebut dan sejenisnya, kerap dimanfaatkan oleh musuh Islam, atau oleh orang islam sendiri yang terpedaya oleh pemikiran orientalis untuk menjudge bahwa islam adalah agama yang merampas kebebasan wanita, agama yang tak menghargai wanita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja orang yang tak memiliki kefahaman yang baik soal hadits-hadits tersebut akan dengan sangat mudah termakan oleh propaganda mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila kita mau teliti, sebenarnya isu-isu yang diangkat untuk menghantam Islam, itu selalu berputar pada dua hal. Pertama, pribadi Nabi. Kedua, segala hal yang berkenaan dengan wanita (ambil saja contoh soal cadar, poligami, pembagian harta warisan, dan sebagainya). Juga hadits-hadits seputar rumah tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum runyamnya kebodohan sebagian kaum pria yang memanfaatkan hadits-hadits tersebut untuk mengintimidasi wanita, juga menyalahgunakan hadits-hadits rumah tangga tersebut untuk kepentingan nafsunya dengan dalih bahwa wanita harus 100% tunduk tanpa ada kata bantah, dengan tanpa melihat bagaimana keadaan wanita itu (hal yang sama sekali tak dimaksudkan oleh syariat, tapi dimodifikasi seolah-olah itu dari syariat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang terpengaruh gerakan feminisme, langsung dengan gaya kritis (tapi tolol) menghantam teks syariat (yang pada saat yang sama, kritikan mereka memantul menghantam telak wajah mereka sendiri).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Repot memang sikap ghuluw (berlebihan itu), yang satu ifroth (teledor) yang satu tafrith (ekstrim).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir catatan, sebenarnya ini hanya satu kasus saja soal kesalah fahaman memahami nash syariat, sehingga tak sesuai dengan apa yang dimaksudkan syariat. Akibatnya banyak kekacauan di sana sini. Masih sangat banyak sampel kekeliruan yang lain yang perlu diluruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, yang pasti kita masih butuh lebih banyak lagi untuk belajar.  Wallahu a'lam :-)&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Diary (128) : Belajar Jadi Tukang Khutbah :D</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/06/diary-128-belajar-jadi-tukang-khutbah-d.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 17 Jun 2011 21:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-8141394792716720295</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumat hari ini tadi, hari yang berat benar bagiku, huffft... Bangun telat, megap-megap sebab jam menunjukkan jika waktu adzan jumat telah lama lewat, bergegas ke toilet, nggak mandi, cuma sempat wudhu, masih terdengar sayup-sayup khutbah dari masjid di utara, cepet-cepetan pakai baju. Pas keluar asrama, masjid utara ternyata udah hampir selesai sholat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesempatan cuma ada di masjid selatan, tapi ternyata pas iqomah juga, sudah terlanjur di luar, harus segera berbelok ke sana, setengah kilometer, mesti sprint berlari-lari kecil (meski sebenarnya di makruhkan menghadiri sholat sambil berlari) di bawah jerangan terik matahari Makkah dan panas 43 derajat, nyampe di sana Imam udah hampir Ruku' rakaat kedua, segera takbir kilat, hufft.. Kalau ketinggalan dua ya jadinya Nawa wa laa sholla (niatnya sholat jumat tapi sholatnya sholat dhuhur). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafas masih tersengal-sengal, keringat bercucuran deras, gerahnya luar biasa. Untung masih bisa jumatan, meski di emperan masjid. Kualitas iman yang benar-benar menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang soal jumat ini seringnya aku berangkat menjelang iqomat. Sangat jarang sekali aku duduk sejak awal imam khutbah. Kebiasaan buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu di Purworejo, keterlambatan menghadiri jumat ini sering disindir oleh Kyaiku, "Biasa, latihan jadi khotib, pantes shalat jumatnya terlambat terus," :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhasil, lutut rasanya ngilu semua sebab harus berlari-lari kecil mengejar ketertinggalan jumat. Mana Imamnya pakai surat pendek lagi, hal yang tidak umum di tanah air, biasanya imam paling tidak membaca surat Hal Ataka, sama Sabbihisma, kalau di Mekkah, kadang imamnya tega banget, cuma baca Inna A'thoinaka sama Qulhuwallah ! Sensasi yang ingin kucoba di tanah air nanti, biar peserta jumatan yang suka berangkat akhir, tercepuk-cepuk berlarian mendengar imamnya berjumat kilat :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Assholatu fi Waqtiha... Sholatlah pada waktunya, itu yang dipesankan Nabi pada kita. Tentu maksudnya adalah jika telah masuk waktu sholat, bersegaralah untuk menegakkannya. Meskipun waktu sholat itu memanjang, tetapi yang terbaik adalah melaksanakannya di awal waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini artinya tentu saja kita harus bersiap-siap terlebih dahulu sebelum masuknya waktu sholat itu sendiri. Paling nggak sepuluh menitan lah. Meski pada kenyataannya, kita lebih suka mengantri kamar mandi saat adzan telah dikumandangkan, terlebih aku pribadi yang sukanya malah tidur-tiduran dulu. Hiks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu bergegas untuk bersiap segera sholat, sama syariat telah dihitung pahala sendiri dan malah masuk bagian ritual itu. Hal ini jika dianalogikan bahwa menunggu waktu sholat saja sudah termasuk sholat, apalagi bersiap diri untuk menghadiri sholat itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi jumat, yang memang ujian tersendiri. Di tengah teriknya matahari dan sedang enaknya tidur. Jadi, kalau kalian tanya padaku, apa tema yang disampaikan khatib jumat hari ini? Maka yang akan kalian temukan adalah wajah yang mirip ikan mas koki, cuma buka tutup mulutnya doang nggak tahu mau bicara apa meski hadir jumatan ! :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada cerita lagi soal jumat, tapi ini bukan aku yang alami. Di pesantren rumahku, santri terbiasa tidur di Masjid Jami Desa yang memang satu komplek dengan pesantren. Kebanyakan memilih tidur di lantai dua mengingat kesejukan hawanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, ini entah namanya santri kebacut atau bagaimana. Pas jumatan, dia memang tidur di masjid, sejak waktu masih dhuha. Tapi dia tidak terbangun bahkan sampai jumatan usai ! Hih nih anak, telinganya bukan cuma dikencingi setan, sampai tidak terdengar suaranya pak khatib yang sampai serak teriak-teriak, tapi udah diberaki kayaknya :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, koreksi dan kontemplasi atas kualitas iman, harus kita lakukan setiap hari. Orang yang beruntung adalah, orang yang hari ini kualitas imannya lebih baik dari hari kemarin. Adapun yang merugi, tentu saja yang menurun, hari ini tak lebih baik dari kemarin. Sebab keimanan dan ketakwaan, adalah hal yang harus selalu terus kita tingkatkan, jika memang ingin memperoleh ketenangan. Saatnya bersama-sama mengkoreksi iman :)&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Catatan dari Diary (127) : Gerhana Bulan, Momentum Gigit Pintu :D</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/06/catatan-dari-diary-127-gerhana-bulan.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 17 Jun 2011 19:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-7121940854659486142</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semalam, siapapun tahu jika terjadi gerhana bulan (lunar eclipse) total  yang dibilang sangat lama sekali, tidak seperti biasanya, dari jam 00.43  sampai 05.45 WIB, atau pukul 20.43 sampai 00.45 waktu Makkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti  biasa pula, jika gerhana, tentu kami seasrama melaksanakan shalat  Khusuf (gerhana), dan untuk menambah kesan kesyahduan malam gerhana itu,  Rusaifah yang biasanya terang benderang oleh puluhan lampu, kami  padamkan semua. Kami sholat khusuf di bawah temaram bulan yang semakin  habis terkikis oleh bayangan bumi yang menghalangi sinar matahari pada  bulan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katanya orang jawa kuno sih, dimakan buto ijo :D. Oh  ya, ada mitos seputar gerhana, katanya kalau pengen tinggi, pas gerhana  gitu maka gantung-gantung di pohon, atau kusen pintu. Kalau pengen awet  muda, pas gerhana, gigit daun pintu. Semalam udah gigit pintu belum? :D  kurang kerjaan banget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau ada yang katanya jika hamil, mesti keluar sambil elus-elus perut buntingnya, ngapain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khurafat edan yang jika masih ada yang melakukan, ketahuan sekali otaknya pindah ke dengkul..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Back  to topic, usai sholat, dan saat tengah menyimak khutbah singkat dari  sesama rekan seasrama, kenanganku mendadak terbang jauh ke masa kecilku,  di saat mengalami peristiwa alam semacam ini, gerhana bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya,  sekedar notifikasi, bahwa gerhana bulan sekaligus purnama sebenarnya  selalu terjadi setiap tanggal 15 penanggalan hijriah, hanya saja gerhana  sebagian, sehingga ada yang melihat ada yang tidak, tergantung posisi  bumi pada porosnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu, jika terjadi gerhana, maka masjid  kampungku segera -dan sahut menyahut diikuti mushalla-mushalla-  mengumandakan istighfar dengan intonasi nada yang meremangkan bulu  kuduk.. Astaghfirullah-al adzim, alladzi laa ilaha illa huwal hayyul  qoyyum, wa atubu ilaih.. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja pula suasana mendadak serasa  seram dan menakutkan, sebelum seisi kampung berduyun-duyun ke masjid  kampung untuk melaksanakan shalat khusuf bersama dan pak imam berkhutbah  memberi peringatan akan dosa-dosa, akan taubat, dan bahwa gerhana  adalah tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhasil, jika  ada gerhana, apalagi kalau gerhananya adalah gerhana matahari, yang  sangat langka terjadi, suasana mendadak seperti dekat sekali dengan  kiamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun jika aku perhatikan secara pribadi, dari tahun ke  tahun, makin beranjak usiaku menjauh dari masa-masa itu, setiap terjadi  gerhana, suasana sakral tadi mendadak semakin memudar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perubahan masa, ataukah memang karena kualitas imanku yang semakin menyedihkan? Ataukah keduanya? Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu,  kami menanggapi fenomena gerhana bulan, dengan begitu ketakutan. Tetapi  sekarang, biasa-biasa saja. Tak ada ubahnya dengan hari-hari biasa.  Ooo, gerhana ya, terus biasanya ngapain? Duh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi beberapa  hari sebelum gerhana, biasanya surat-surat kabar memberi tahu terlebih  dahulu, bahwa pada tanggal sekian jam sekian akan terjadi fenomena alam  yaitu gerhana sebagian yang terlihat di negara ini, ini dan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Fenomena  alam", kalimat yang dengan sukses menggeser kata sakral "kekuasaan  Tuhan" dari perbendaharaan kata di benak ummat. Sehingga akhirnya  mengganggap semua itu wajar-wajar saja. Termasuk bencana alam !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal  Gerhana adalah salah satu momentum untuk mengingatkan manusia dari  kelalaiannya selama ini, bahwa di sana ada Dzat yang berkehendak dan  bisa berbuat apa saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Nabi dan tentu saja para penerusnya,  tidak menganggap bahwa gerhana adalah fenomena alam biasa. Apalagi  sekedar tontonan sampai begadang. Tetapi sebagai salah satu media  tafakkur yang efektif, media untuk mengingat Allah, bahwa Maha Suci dia,  yang bisa membuat bulan yang asalnya terang benderang, hilang dalam  sekejap saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah keadaan gerhana saat purnama itu merupakan  pelajaran tersendiri? Kenapa tidak selain waktu purnama saja? Patut  dijadikan renungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, melalui momentum gerhana  semalam, kita perlu mentafakkuri ulang diri sendiri, banyak yang masih  kurang pada diri kita. Jika bulan yang segede itu tidak sedikitpun  menggerakkan syaraf tafakkur kita, apalagi kejadian-kejadian kecil yang  seolah tampak remeh temeh dan di depan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Subhanaka maa kholaqta hadza bathila :)&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Kekerasan Rumah Tangga... Tidak diajarkan oleh Islam</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/06/kekerasan-rumah-tangga-tidak-diajarkan.html</link><category>Catatan Khusus</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 11 Jun 2011 21:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-8428464703923910156</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam catatan kemarin, sedikit aku memberikan isyarat dalam sebuah paragraf pendek, tentang surat annisa' ayat 34 yang berbicara soal bagaimana cara suami menyikapi istrinya yang sedang ngambek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti lengkap dari ayat itu adalah berikut : "... Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan "pukullah" mereka..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nusyuz sendiri itu semisal ngambek berat sehingga istri tidak patuh lagi pada suami, berani membentak dan membantah, dan bisa jadi kabur dari rumah suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jika melihat teksnya apa adanya, sekilas seolah-olah diperbolehkan kekerasan dalam rumah tangga. Tapi apa memang benar seperti itu? Mengingat Islam dalam intruksi umumnya memerintahkan untuk berkasih sayang terhadap seluruh makhluk, belum lagi luhurnya ajaran moral Islam yang berkenaan dengan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tidak heran jika ayat ini dijadikan target bagi musuh-musuh Islam, sebagai propaganda empuk bahwa Islam tidak menghargai wanita. Dan bagi muslim yang pemahaman akan agamanya kurang, dengan sangat mudah sekali termakan propaganda murahan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas, apa sebenarnya arti kalimat "Wadhribuhunna", (pukullah) di situ? Apa memang benar diartikan sesuai arti kalimat sebenarnya yang memang "memukul"? Ataukah ada arti lain? Mengingat banyaknya kalimat dengan kata sama (dhoroba) dalam al-Qur'an, tetapi ternyata tidak berarti memukul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semisal ada kata "Dhoroba", tetapi berarti "membuat contoh", "mencari rizki", "menegakkan", "bepergian", "pencegahan", "menurunkan dengan cepat", dan lain sebagainya. Intinya kata "Dhoroba" tidak hanya berarti "memukul" saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang dibeberapa ayat, kata "dhoroba" digunakan dengan makna sebenarnya, yaitu memukul, akan tetapi obyek pukulan itu seluruhnya benda mati, semisal batu, laut (dalam kisah Nabi Musa), atau sapi mati (dalam kisah di surat al-Baqoraoh). Atau pada ayat-ayat yang menerangkan kemurkaan Allah pada orang kafir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kepada bahasan, lalu lantas apa arti yang pas bagi kata "dhoroba" dalam ayat annisa' itu? Dibenarkan kah seorang suami memukul istrinya saat dia ngambek?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya, tentu hal yang sangat tidak tepat jika ada seorang suami seketika menggebugi dan menempeleng istrinya dengan alasan diperintahkan dalam ayat ini. Sebab peneguran terhadap istri yang ngambek dan tiba-tiba membangkang, melalui proses dulu. Tidak lantas main tangan seenaknya (itupun jika dibenarkan), di sana ada nasehat, bicara baik-baik, dibiarkan tidur sendirian di ranjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah setelah itu, diapakan? Apakah boleh dipukul? Sebab ternyata pada interaksi yang lebih dari itu, yaitu jika sudah tidak mungkin bersatu lagi, maka solusi terbaiknya adalah bercerai dengan keharusan bersikap baik pada istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, wong yang saat cerai saja masih diharuskan bersikap baik, masa' ketika masih dalam ikatan perkawinan, masih serumah, malah memukul? Sangat kontradiksi sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian ahli tafsir, melihat kenyataan ini, sebagian mencoba mengartikannya dengan memukul tapi hanya pakai sebatang siwak yang kecil. Tetapi kan tetap memukul, dan itu berpengaruh sekali pada psikologi wanita yang perasaan lembutnya lebih dominan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun di sana, ada minoritas ulama' yang mengartikan "dhoroba" tadi dengan "membiarkan serta menahannya di dalam rumah", tidak boleh keluar ke mana-mana, dan dicuekin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja catatan ini adalah sekedar mempertanyakan, tidak memberikan jawaban tetap soal arti "Wadhribuhunna", karena itu tugasnya para Ahli Tafsir yang mumpuni, namun bisa jadi catatan ini (jika sampai pada mereka) menjadi semacam pertimbangan, insyaallah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang pada prakteknya, sekaligus dalil terbesar, bahwa Nabi, orang yang mempraktekkan seluruh isi al-Qur'an dalam hidupnya, sekaligus al-Qur'an itu adalah akhlak beliau, sama sekali tidak pernah melakukan pemukulan meski sedikit saja terhadap istrinya. Paling-paling kalau beliau gemas melihat salah satu istrinya yang ngambek, malah beliau goda dengan mencubit hidungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pula, ketika beliau marah pada mereka, yang beliau lakukan adalah mencueki mereka serta membiarkan mereka di dalam rumah tanpa disapa atau dijenguk, dengan tetap memenuhi nafkah hidup mereka sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir catatan, permasalahan masih membutuhkan pembahasan lebih rinci lagi dan catatan ini tidak memungkinkan untuk itu. Akan tetapi yang terpenting, dalam berumah tangga, contoh terbaik kita adalah Rasulullah Shallallah alaihi wa sallam. (*)&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Belajar Romantis Dari Rasulullah :)</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/06/belajar-romantis-dari-rasulullah.html</link><category>Catatan Khusus</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 6 Jun 2011 21:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-5798949097093528979</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya, catatan ini bagiku pribadi adalah masih sekedar nadhoriyyah (teorema) dan tachlil (analisa) saja, belum sampai pada ranah tathbiq (praktek). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi karena dorongan Tautsiq li amanatil ilm (pesan amanah ilmu), maka tetap harus aku sampaikan, siapa tahu sangat bermanfaat buat sahabat-sahabatku sekalian yang telah berumah tangga, atau yang hendak berumah tangga, sebagai sebuah pelajaran, sekaligus juga sebagai sebuah panjatan doa, semoga aku kelak bisa seperti itu, insyaallah, Amin Ya Rabbal Alamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam berumah tangga, salah satu kunci utama untuk bisa terus berjalan harmonis, seimbang, dan sakinah (penuh ketenangan), maka syarat utama adalah tentu saja adanya sikap saling timbal balik antar suami istri dalam mawaddah (kasih sayang), dan unsur yang sangat dibutuhkan dalam kasih sayang, adalah adanya romantisme yang terjalin dari sepasang suami istri, untuk mengayuh biduk rumah tangganya dengan penuh kebahagiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh dikata, romantis adalah segalanya, dan ternyata hal ini paling dituntut dari pihak laki-laki. Ringkasnya, pemegang kendali permainan Romantis, paling dominan dipegang oleh laki- laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan, dari sekian pengalaman pribadiku juga melalui beberapa percakapan, rata-rata wanita menyukai pria yang romantis, dan sangat berharap pasangannya (terutama suaminya) bisa romantis. Hanya saja, wanita ternyata lebih suka memperoleh romantisme itu tanpa harus memintanya dengan kata-kata (memilih diam). Oleh karena itu, dalam hal ini (keromantisan) lelaki dituntut peka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berani aku bilang, pria yang tidak peka jika istrinya "mengharapkannya" bersikap romantis, adalah pria yang berhati beku. Oke, mungkin dia bisa memberi apapun, uang, anak dan sebagainya, akan tetapi secara fitrah, wanita lebih suka diberi sikap yang romantis, meski mungkin lelakinya kurang secara materi dan finansial, bahkan fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya, pria romantis adalah pria idaman wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, gemulai banget, nggak jantan sama sekali, mungkin sebagian pria berpikir seperti itu, tetapi aku berani bilang, bahwa pria yang berpikir seperti ini, adalah pria yang perasaannya tidak lembut dan kurang peka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab ternyata Rasulullah, adalah sosok agung yang ternyata sangat romantis terhadap istri-istrinya. Nah kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, belajarlah romantisme dari Rasulullah, beliau lah qudwah (panutan) kita dalam segala hal. Bahkan beliau sangat menganjurkan seluruh ummatnya yang laki-laki untuk bersikap romantis pada istrinya, bersikap bijak, tidak sekalipun menggunakan kekerasan fisik dalam segala keadaan. Perintah yang disampaikan langsung baik melalui kata-kata dan perilaku beliau sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan dalam sejarah hidup beliau, tidak sekalipun beliau pernah memukul istrinya, sedikitpun. Tak ada data sejarah yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah memukul istrinya, meski terjadi prahara dalam rumah tangganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, tidak heran jika dalam sebuah artikel, salah satu penulis wanita terkemuka di Saudi Arabia, Halimah Mudhaffar mempertanyakan soal surat annisa' ayat 34, apakah kata "wadhribuhunna" disitu diartikan dengan makna hakikinya, yaitu memukul? Atau adakah arti yang lain? Sebab Rasulullah ternyata sama sekali tidak pernah memukul istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oke, kembali pada topik, mungkin di antara kita ada yang protes, tidak terima, mana bukti Nabi romantis?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat banyak sekali, terutama momen-momen yang terekam dengan Bunda Aisyah. Semisal ketika bunda minum, Rasul lalu mengambil gelas bunda dan minum dari bibir gelas tempat bunda minum tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga menciumnya mesra, saat beliau berpuasa. Atau ketika beliau mengajak bunda untuk menonton anak-anak Abbesinia yang sedang bermain di masjid, dengan manja bunda meletakkan dagunya di pundak Rasul dan Rasul membiarkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang keduanya bercanda saling balap cepat saat berjalan, sesekali Nabi yang menang, dan sesekali bunda yang menang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau jika bunda Aisyah ingin sesuatu yang tentu saja tidak terlarang, Rasul segera menuruti keinginannya. Sampai terkadang Rasul menyuruh beberapa gadis anshar untuk menemani bunda bermain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah dalam suatu pagi, saat bunda sakit, dengan romantis Rasul bertanya, bagaimana keadaanmu sayang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupula dengan istrinya-istrinya yang lain. Sebuah momentum sangat indah, sebagaimana yang sering kita lihat atau kita dengar dalam adegan-adegan antara seorang putri dengan pangeran, ternyata Rasulullah juga melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Bunda Shafiyyah, hendak beliau naikkan ke sekedup di ontanya, dengan sigap dan penuh sikap romantis Rasulullah segera duduk dengan mengangkat salah satu pahanya untuk diinjak oleh bunda shafiyyah agar mudah naik ke atas onta tadi. Laiknya seorang pangeran yang menaikkan tuan putri pada kudanya, atau membukakan pintu mobilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aih, indah bukan buatan kan kawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari itu, beliau sangat perhatian dengan seluruh istrinya. Setiap usai sholat ashar, beliau mengunjungi istri-istrinya satu persatu, sejenak berbincang dengan mereka, sebelum berhenti di kediaman Istri yang menjadi giliran tempat menginap beliau malam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasul pun bergilir mengajak salah satu istrinya untuk menemaninya saat sedang bepergian, dengan cara mengundi mereka agar menyertainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan dikira istri-istri beliau tidak pernah ngambek, dalam rumah tangga hal itu pasti terjadi. Nah bagaimana Rasul bersikap? Bahkan Rasul pun pernah dicuekin sehari semalam oleh salah satu istrinya karena sesuatu hal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ada salah satu istrinya yang mendorong dada beliau saat marah, sampai sang istri tadi dibentak ibunya, tapi bagaimana komentar beliau? "Biarkan, tidak apa-apa, ini sudah biasa kok".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah juga terjadi cekcok antara beliau dengan Bunda Aisyah sampai sang ayah, Abu Bakar, menengah-nengahi keduanya, dan saking sebelnya, bunda Aisyah sampai bilang, "kamu tuh yang ngaku-ngaku jadi Nabi itu ya?", dan Rasul hanya menanggapinya dengan tersenyum lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak sekalipun beliau menggunakan kata-kata kasar pada para istrinya, para Ummul Mukminin, meski sedang marah. Paling parah adalah pernah saat beliau mendiamkan mereka sekitar satu bulan gara-gara disindir tajam oleh sebagian istrinya dan Rasul memilih menyendiri menenangkan diri untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup banyak sekali dan begitu indah bukan apa yang beliau contohkan? Sosok yang benar-benar sangat romantis sekali, sosok percontohan untuk membina usroh (keluarga) yang sakinah dengan suasana penuh mawaddah dan rahmah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, romantis itu bisa dipelajari, dan harus diingat juga bahwa romantis muncul dari rasa kasih sayang dari hati terdalam. Romantis sangat berbeda sekali dengan penggombalan (meski secara tampilan muka, hampir sama, makanya banyak wanita tidak bisa membedakan), karena gombal identik sekali dengan pembohongan dan memang berangkat dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir Catatan, laki-laki romantis, rata-rata adalah laki-laki yang sangat menikmati ketenangan bersikap dalam dirinya, tidak mudah panik serta biasanya begitu care dengan hal sekecil apapun. Dan bagi wanita sendiri, keberuntungan hidup luar dalam baginya saat dia memperoleh pasangan yang romantis. Wallahu a'lam. (*)&lt;/div&gt;</description></item><item><title>POLEMIK PUASA RAJAB</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/06/polemik-puasa-rajab.html</link><category>Catatan Khusus</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 4 Jun 2011 21:36:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-2887544021016693854</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memasuki bulan Rajab begini, selalu saja ada rasa bahagia dan ketenangan luar biasa yang tak bisa digambarkan, dan itu terbersit dalam diri tiap muslim baik sadar ataupun tidak. Begitu mendengar kata "Bulan Rajab", perasaan itu segera menyeruak dalam segenap jiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa jadi, karena dengan masuknya bulan ini, sebagai tanda awal untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan agung yang kehadirannya selalu ditunggu seluruh muslim, yaitu bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba sekilas saja kita perhatikan, meski belum tahu dalil atau belum tahu anjuran, namun ruhani kita dengan sendirinya mempersiapkan diri untuk memperbanyak beramal shaleh di bulan Rajab ini, dalam bentuk apapun. Seperti sebuah naluri yang berbicara dengan sendirinya tanpa harus ada perintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan keberadaan dalil-dalil Qur'an dan Sunnah, makin memperkuat perasaan itu dan seketika mendorongnya untuk mempraktekkan amal baik itu di bulan mulia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lagi bahwa bulan ini, sangat identik sekali dengan bulan Isro' Mi'roj Nabi, yang artinya, akan banyak pengajian-pengajian di manapun di sudut-sudut negeri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja sayangnya, jika diperhatikan, beberapa tahun terakhir ini ada polemik yang tiba-tiba selalu meledak di bulan ini yang pada saat yang sama pula, agak mengurangi kenyamanan beribadah dan beramal di bulan ini. Polemik yang seharusnya (meski benar dari sudut tertentu) tidak perlu dibesar-besarkan apalagi berujung pada penyesatan orang banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polemik yang berhubung langsung dengan "puasa di bulan Rajab", yang sangat banyak dilakukan oleh umat Islam di manapun sejak dahulu kala yang berkeyakinan akan pensyariatannya. Polemik, apakah puasa dalam bulan ini memang benar disunnahkan? Atau hanya bid'ah sebagian orang sebab terperangah oleh hadits-hadits lemah yang berbicara tentang ekselensi bulan Rajab?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini, banyak berputar di kalangan terpelajar kaum muslimin, sebagai sebuah bentuk kesemangatan dari mereka untuk mengetahui ajaran agamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sayangnya, polemik ini justru menyeret sebagian orang pada debat kusir tidak perlu yang membingungkan banyak umat. Hal yang justru menimbulkan fitnah sebab malah terjadi saling menyesatkan dan menyalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas bagaimana intinya? Boleh tidak berpuasa di bulan Rajab ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya, harus kita jadikan catatan, memang kita mengagungkan bulan Rajab ini sebagai salah satu dari 4 bulan haram dalam Islam (tiga yang lain adalah Muharram, Dzul Qo'dah, dan Dzul Hijjah). Dan kita mengagungkannya sesuai dengan apa yang digariskan syariah, tidak lebih. Karena memang bulan ini memiliki ekselensi khusus itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja sebuah kesalahan bagi mereka yang menyatakan bahwa bulan ini sama dengan bulan yang lain, dan hal itu sama saja dengan mengingkari sesuatu yang telah ditetapkan oleh syariat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang kita akui juga, ada beberapa kesalahan tentang bulan ini, dan itu dari dua segi :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, dari beberapa hadits yang secara spesifik berbicara tentang ekselensi Rajab, yang ternyata hadits-hadits tersebut sebagiannya ada yang sangat lemah (sehingga tidak bisa dipakai hujjah), ada yang munkar, bahkan ada yang palsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, dari segi orang-orang awam yang mengagungkannya dengan amal-amal shaleh tertentu (semisal puasa, shalat Raghaib) dan menganggapnya sebagai salah satu ekselensi Rajab dengan berargumen bahwa itu dilakukan oleh orang shaleh terdahulu lalu berkeyakinan bahwa hal itu dari Nabi, padahal tidak. Dan ini salah satu masalah utama. Sehingga terjadi amalan-amalan baru yang tidak seharusnya ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PUASA RAJAB, TERSYARIATKAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, setelah melalui penelitian atas dalil-dalil yang ada, baik itu dalil umum ataupun dalil khusus, banyak ulama' berpendapat (semisal Imam Annawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani, Jalaluddin Assuyuti, dan Imam Assyaukani) bahwa sebenarnya puasa di bulan Rajab itu tersyariatkan (Masyru'). Dan tentu saja ada yang mengingkarinya (semisal Imam Ibnu Qoyyim) dengan menyatakan hal itu tidak tersyariatkan, masing-masing memiliki argumen atas pendapatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika menilik Dalil umum, ada hadits shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah yang menganjurkan untuk berpuasa di bulan-bulan Haram, periwayatan seseorang dari suku Bahilah yang bertanya pada Nabi soal ini, dan dijawab beliau : "wa Shum Asyhural Hurum", dan puasalah di bulan-bulan haram. Nah, Rajab, dengan tanpa keraguan sedikitpun, masuk dalam bulan Haram secara Ijma'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalil umum kedua terdapat dalam Sunan Abi Daud pada Bab Shoum Syahr Rajab, dengan indikasi sama, bahwa terkadang Rasul puasa dan sama sekali tak berbuka, dan terkadang berbuka sampai sama sekali tidak puasa, hal ini diterangkan Sa'id bin Jubair saat ditanya perihal puasa bulan Rajab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalil umum ketiga, adalah kesunnahan puasa 3 hari di tiap bulan, dan Rajab tentu saja otomatis masuk. Atau puasa senin kamis tiap pekan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula hadits riwayat Usamah bin Zaid saat melihat Nabi lebih banyak puasa di bulan Sya'ban, dan kala bertanya, beliau menjawab, bahwa sya'ban adalah bulan yang banyak dilupakan orang antara Rajab dan Ramadhan. Nah, hadits ini terdapat isyarat akan tidak masalahnya puasa di bulan Rajab, sebagaimana diterangkan oleh Mulla Ali Qori, dan Imam Assyaukani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, adapun dalil-dalil khusus untuk puasa dalam bulan Rajab ini, keutamaannya, dan lain sebagainya, tak terdapat satupun hadits yang shahih atau hasan yang patut dibuat patokan. Bahkan rata-rata lemah dalam transmisi rangkaian sanadnya, namun bisa saling mengkuatkan antar satu dengan yang lain, sehingga layak menjadi hujjah. Apalagi hal ini masuk dalam fadha-il a'mal (keutamaan menambah amal-amal) yang memang tidak membutuhkan kesahihan suatu hadits atau kehasanannya, sebagaimana diketahui oleh siapapun yang mendalami ilmu hadits, dengan catatan hadits tersebut tidak sangat lemah sekali semisal hadits-hadits munkar, yang memang tidak boleh diamalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semisal hadits bahwa puasa sehari dalam bulan Rajab, sama dengan puasa satu bulan. Atau bahwa puasa sehari saja, laksana puasa setahun, dan yang puasa 7 hari, maka pintu neraka ditutup darinya, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, melihat keseluruhan dalil ini, tentu saja tidak dibenarkan mengingkari sesuatu yang telah ditetapkan oleh syariat, meski secara umum. Dengan asumsi, bahwa meski dalil khususnya tidak bisa digunakan, akan tetapi hal itu tidak lantas pula menggugurkan dalil umum, sebagaimana diketahui dalam kaidah yang berlaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, yang terjadi di media saat ini adalah membesar-besarkan permasalahan hadits dho'if tadi, tanpa menyebutkan dalil-dalil umum dan pendapat ulama' yang mendukung puasa Rajab. Sesuatu yang sangat timpang yang ujungnya justru menimbulkan masalah sebab seolah-oleh orang yang melakukan puasa Rajab itu salah, dan sesat. Sangat disayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malah yang terjadi adalah fitnah, memecah belah. Sesuatu yang sangat diharamkan bahkan dilaknat dengan sangat keras oleh syariat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menarik, sebagian dari penentang puasa ini, menggunakan dalil yang terdapat dalam Sunan Ibnu Majah, bahwa Nabi melarang puasa di bulan Rajab, dan ternyata hadits larangan ini juga dho'if !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun ingkarnya sebagian sahabat besar akan puasa bulan Rajab, seperti sayyidina Umar bin Khattab, adalah ingkar terhadap tindakan sebagian orang yang berlebihan mengagungkan bulan ini, sehingga seperti Ramadhan, padahal tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, periwayatan ini pun ternyata juga transmisi sanadnya tidak shahih. Ada masalah di sebagian perawinya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa argumen-argumen penentang puasa Rajab ini pun ternyata tidak cukup dan kurang bergreget untuk mencounter hadits-hadits yang memperkuat disyariatkannya puasa secara umum di bulan Rajab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulan umum, sekaligus akhir catatan, bahwa tidak masalah berpuasa di bulan Rajab, serta tidak ada hari khusus harus tanggal berapa saja. Anjuran juga, bulan ini sangat bagus untuk memperbanyak istighfar, dan amalan apapun di bulan haram pahala selalu dilipat gandakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, yang mau puasa silahkan, yang tidak juga tidak masalah, niat puasanya niat puasa sunnah secara umum saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang bagi kontra puasa sunnah di bulan Rajab, tidak usah lah membesar-besarkan masalah. Yang justru diharamkan adalah bertengkar di bulan haram, termasuk bulan Rajab ini. Bulan-bulan yang bahkan orang kafir jahiliyyah pun menghentikan pertempuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, lantas kenapa kita sebagai sesama muslim malah menjadikannya sebagai bulan untuk ajang bertikai? Sangat kontradiktif dan bertentangan langsung dengan syariat kita. Camkan baik-baik. Wallahu A'lam (*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awy', Makkah 2 Rajab 1432 H.&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Merasa Bangga Sebagai Muslim Lewat Bola</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/merasa-bangga-sebagai-muslim-lewat-bola.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 30 May 2011 21:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-1364825240967946159</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita memperhatikan perkembangan dunia kulit bundar dalam medio 15 tahun terakhir, terlihat sekali beberapa nama besar pesepakbola dengan background sebagai seorang Muslim. Dan yang sangat menonjol, tentu saja Zinedine Zidane.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, siapapun orang Islam (terlebih yang suka bola) akan merasa sangat bangga dengan Islamnya, bahwa ternyata ada orang Islam yang mempunyai prestasi tinggi yang secara tak langsung "mengharumkan" nama agamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum saya teruskan catatan ini, memang sekarang zamannya para artis, para atlit yang menjadi public figure dunia, menjadi pandangan, meski semuanya berupa ghoflah (lalai) dan Lahw (main-main). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau zaman terdahulu, para politikus para Ulama, yang menguasai medan sejarah. Maka untuk zaman ini, giliran mereka menggeser supremasi orang-orang yang sebenarnya berperan penting pada kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba tanyakan secara acak pada siapapun muslim yang kamu temui, siapa ahli fiqih kaliber dunia sekarang? Siapa ahli tafsir masa kini? Siapa ahli hadits saat ini untuk ummat ini? Pasti mereka menjawabnya dengan gelagapan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kalau ditanya siapa tokoh bola? Siapa artis paling top? Bagaimana biodata Justin Bieber, Lady Gaga, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, maka jawabannya pasti lancar kayak membaca al-Fatihah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Muhim, kembali pada topik, meski tentu hal memprihatinkan, tapi masih alhamdulillah lah ada rasa bangga sebagai muslim meski melalui bola. Bagaimanapun mereka juga mengingatkan dan mewarnai, setidaknya orang Islam yang sudah remuk redam, tidak terlalu dipandang sebelah mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
World Cup Germany 2006, jika diperhatikan dengan seksama, mulai awal seremoni pembukaan sampai penutupan, ternyata banyak membangkitkan rasa Izzah, rasa bangga kita sebagai muslim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Flashback ke 5 tahun lalu (terutama untuk penggemar bola), bagaimana perasaan kita sebagai muslim saat parade bendera negara-negara peserta (yang kebetulan masing-masing seukuran sepersepuluh lapangan) dan tepat ketika kita melihat dua bendera besar berlahan memasuki stadion, yang satu bertuliskan kalimat tauhid "Laa ilaha Ilallah Muhammad Rasulullah" (kepunyaan Saudi Arabia) dan yang satu bertuliskan lafdzul jalalah "Allah" (kepunyaan Iran) ? Seketika dada berdebar penuh gemuruh, Allahu Akbar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum saat pertandingan, tiba-tiba ada selebrasi gaya baru usai mencetak gol, bersujud syukur di lapangan yang dipelopori oleh pemain-pemain muslim Saudi Arabia (diawali oleh Sami Al-Jaber dan Yasser Al-Qahtani), lantas diikuti oleh beberapa pemain muslim dari negara lain (termasuk Freddy dari timnas Brazil). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat PD dan berani sekali menunjukkan identitas keislaman di tanah Eropa lagi. Bersujud di stadion, di tengah sorotan milyaran pasang mata dari seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, keberadaan pemain muslim dari negara muslim, adalah hal yang sangat wajar sekali, dan tentu saja tetap membanggakan. Nah, yang luar biasa, adalah keberadaan pemain muslim di tengah tim nasional negara non muslim, apalagi negara bertradisi kristen kuat seperti Prancis, Swedia, Brazil, Belanda, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Prancis kita bisa menemukan nama-nama besar semacam Zinedine Zidane, Samir Nasri, Kareem Benzema, Hateem Benarfa, Nicolas Anelka, Thierry Henry, Lilian Thuram, Frank Ribery, Floren Malouda. Di Belanda kita bertemu pemain Muslim semisal Robin Van Persie, Khalid Boulahrouz. Di Jerman ada Mesut Ozil, Sami Khedira. Di Swedia ada nama moncer Zlatan Ibrahimovic.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu belum nama-nama semisal Frederick Cannoti, Kolo Toure, Yaya Toure, dan sebagainya. Setidaknya, nama mereka sedikit memberikan kesan positif sebagai muslim, meskipun sebagian di antaranya membuat skandal yang sama sekali tak sesuai dengan ruh dan ajaran Islam (semoga Allah mengampuni).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, yang terpenting dari catatan ini, kita harus merasa bangga sebagai muslim, di manapun kita berada. Jangan sekalipun menunjukkan kita lemah, karena kita punya Izzah. Dan tentu saja hal dengan cara yang diridhoi oleh Islam, bukan dengan cara semau sendiri berupa terorisme yang dilakukan sebagian saudara muslim kita yang salah jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir catatan, ada insiden lucu di asramaku, Rusaifah, Makkah, saat beberapa teman sedang nobar pertandingan antara Real Madrid melawan Osasuna. Beberapa sahabat yang Madridisti berat, ribut dengan sendirinya bahwa Madrid harus dibela sebab banyak pemainnya yang Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mungkin karena sebal atau apa, salah satu teman yang sejak awal memegang remote televisi, segera merubah channel, dari pertandingan Real Madrid, ke Liga setempat, Saudian Professional League (kebetulan antara Al-Nasr melawan Al-Ittifaq), dan pergi sambil bicara ketus,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pemain Islam, pemain Islam. Nih liga saudi, semuanya Islam, pemainnya, penontonnya, sampai wasitnya, sa' hakim garisnya. Noh semuanya Islam. Liat bola tu yang tenang, jangan ribut mulu !" :D &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kami yang menonton adegan itu tertawa ngakak, kapok koen :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh ya sahabat, siapa lagi pemain Islam selain nama-nama yang telah kusebut di atas? :)&lt;/div&gt;</description></item><item><title>JUALAN KACANG :D</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/jualan-kacang-d.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 29 May 2011 21:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-2539034704467696828</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(As-syai-u bis-syai-i yudzkar), suatu peristiwa bisa diingat sebab peristiwa yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat yang tepat untuk membuka catatan ini setelah semalam nobar dengan teman-teman seasrama final champion antara MU vs Barcelona, yang dimenangkan Barcelona 1-3 (bravo untuk El Barca, dan buat pendukung MU, udah hilang belum kecewanya? Hahaha :D).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang yang suka bola (bahkan pernah sampai tingkat gila), aku tentu saja mempunyai klub favorit dan klub yang tidak aku suka. Masing-masing negara ada, begitu pula masing-masing benua. Walau secara umum, aku bisa dihitung termasuk dalam Juventini berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Italia, tentu saja Juventus adalah klub favoritku. Kalau Inggris, sejak dulu Arsenal. Buat Spanyol, Barcelona telah memikat hati mulai aku kecil. Jika Belanda, nama Ajax Amsterdam begitu memukau. Ke Jerman, hati nyantol di Bayern Munich. Geser ke barat, Olympique Marseille adalah klub favorit di Prancis. Dari Asia, Al-Ittihad FC Saudi Arabia klub yang paling kusukai. Sedangkan dalam paparan dalam negeri, setelah Persela Lamongan (tentu saja dong), dulu aku fans Berat ASGS (Assyabaab Salim Grup Surabaya) sebelum bubar dan pindah ngefans ke Persebaya Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk ukuran tim nasional, sejak mengerti bola, Timnas Italia adalah tim yang paling aku suka, apapun yang terjadi. Dan dari benua-benua, Saudi Arabia untuk Asia, Argentina untuk Amerika Latin, Mexico untuk concacaf, dan Nigeria untuk Afrika. Semuanya tentu saja setelah Timnas tercinta, Indonesia. Garuda di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, aku pun memiliki deretan daftar tim yang paling tidak aku suka. Inter Milan (Italia), Manchester United (Inggris), Real Madrid (Spanyol), PSV Eindhoven (Belanda), Borrusia Dortmund (Jerman), Olympique Lyon (Prancis), Al-Hilal FC (Saudi Arabia), Persib Bandung, Timnas Thailand, dan yang paling sangat tidak suka, Timnas Brazil. Sentimen ya :P&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, gara-gara ini pula aku sering berlawanan dengan selera teman-temanku yang ternyata lebih banyak ngefans dengan tim-tim yang aku sebeli :P&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab ini pula aku pernah mengalami sebuah insiden (aku ceritakan setelah ini), yang aku simpan dalam-dalam (jeleknya :D), dan aku balaskan 6 tahun kemudian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya, di antara sekian banyak pertandingan yang aku tonton, dan aku begitu puas melihatnya, serta selalu aku kenang, adalah saat Italia menang atas Prancis di Final Piala Dunia 2006, kala Saudi Arabia menghempaskan Uni Emirat Arab di final Piala Asia 1996, dan ketika Juventus menggebuk AC Milan 6-1 di San Siro pada Seri A 1997.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, pertandingan yang membuatku sangat kecewa dan kadang ingat sampai sekarang, ketika ASGS ditahan seri Petrokimia Putra Gresik 2-2 di 8 besar Liga Dunhill 1995 di Senayan, dan waktu Italia dikalahkan Prancis di Final Euro 2000. Juga tentu saja saat Final Sea Games 1997 kala Indonesia kalah adu Penalti dengan Thailand, sampai menangis segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Halah, jadi kayak berita olahraga :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi well, nggak apa-apa, hahay, sekalian bernostalgia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah saat Italia kalah ini (tahun 2000) aku mengalami insiden itu, padahal tengah-tengah dirundung kecewa berat gara-gara Fransesco Toldo dua kali ditaklukkan David Trezeguet, di waktu yang sangat menyedihkan. 1 menit sebelum bubarnya waktu asli, dan 1 menit setelah mulai babak tambahan, padahal sistemnya golden goal. Keok deh Italia hanya dalam tempo 3 menit saja. Padahal sudah unggul 1-0 sejak awal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, waktu itu aku nobar dengan santri-santri di pesantren di rumah. Semuanya mendukung Prancis (karena ada Zinedine Zidane yang Islam), cuma aku yang ngotot dan sendirian mendukung Italia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya setelah Italia kalah, dan aku pergi dengan menahan kecewa, esoknya saat hendak ngajar, aku dikejutkan tulisan besar-besar di Papan tulis di tempat kelas yang aku ajar, ITALIA DODOLAN KACANG ! :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurang ajar betul, siapa ini? Seketika kemarahanku muntab, kuamuk siapa saja kala itu dan kucari biang keroknya, berani-beraninya menghina :D. Kuakui kalah, tapi mbok ya Italia jangan dijual-jualin kacang lah :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mangkel sekali rasanya kala itu, mana sebagian santri yang senior gojlokin aku lagi. Yang takut mau ngeledek sih masih sempat senyam-senyum, melihat aku kebakaran jenggot nggak jelas kayak orang gila :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian itu aku simpan, awas ya, aku balas nanti. Dan benar-benar terbalas berselang 6 tahun kemudian, waktu Prancis kembali bertemu dengan Italia di Final World Cup 2006. Kali ini giliran Italia yang menang setelah tendang penalti David Trezeguet mental kena gawang Gianluigi Buffon, dan setelah tendangan terakhir Fabio Grosso menjebol jala Barthez.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku sudah di Makkah, dan usai seremoni juara, segera aku Sms ke nomer pesantren, dan nomer semua seniorku dulu dengan kalimat yang sama, PRANCIS DODOLAN KACANG ! :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang unik, saat nobar di Rusaifah, lagi-lagi dari seluruh penonton, hanya aku saja yang Italia ! Benar-benar tidak populer timnas satu ini, aneh sekali :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan penting, pada tahun 1994, saat pembukaan World Cup USA, di Stadion Rose Bowl, Washington. D. C, Presidan AS kala itu, Bill Clinton bilang, bahwa sepakbola bisa mengikat persaudaraan, memupuk rasa kebersamaan, menghilangkan semua dendam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa benar gitu? Kenyataannya selalu tidak sama di lapangan. Mungkin kasusku hanya satu sampel di antara sekian juta sampel, bahwa sepakbola kerap menyimpan dendam kesumat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan sepakbolanya yang salah, kita saja yang begitu mudah diperdaya setan, sehingga akhirnya menyimpan dendam segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sering sekali juga gara-gara bola kita cekcok dengan teman-teman. Akhirnya berujung saling olok, dan tentu saja meninggalkan sakit hati. Nah sakit hati inilah yang jika dibiarkan, tidak diwaspadai, bisa melahirkan rentetan penyakit hati yang lain. Dan kuperhatikan, bola kerap sukses menanamkan ini tanpa disadari siapapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dituntut dari kita tentu saja waspada, jika kita bilang bahwa nonton bola adalah hiburan, maka hal itu harus juga kita netralkan dalam hati kita, tak sekedar di lisan. So artinya, kalau hiburan maka jangan sampai sakit hati kalau ada sesuatu tak sesuai harapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kenyataannya sulit kan? Setan memang pintar cari celah, dan kita kerap kali lengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, ini hanya satu catatan negatif saja, masih banyak titik negatif yang lain di sana melihat dari sudut kita sebagai muslim, dan sebagai makhluk yang tujuan awal dari penciptaannya adalah, untuk ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mawas diri diperlukan. Wallahu A'lam.&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Doa Buat Nick :D</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/doa-buat-nick-d.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 27 May 2011 21:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-6614763068870591655</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hehehe, sebelumnya, ini catatan iseng, tapi ada baiknya juga jika kuposting. :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa tahu ada pelajaran yang bisa dipetik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8 bulan lalu, bagi para sahabat yang telah mengenalku dan kebetulan juga aktif di Mig33, pasti akan sangat ingat dan tahu sekali soal kabar menghebohkan. Yaitu hilangnya nick master kepunyaanku, (ameer_qolawun), akibat ulah hacker.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hilangnya nick yang menyebabkan dan menandai awal vakumnya Room diskusi yang selama ini aku kelola, Islam Moderate. Sekaligus awal mulai jarangnya lagi aku aktif di Mig33.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal awal perjuangan dan anugerah yang aku peroleh dari Allah saat ini, semua bermula dari Mig33. Waktu aku memulai segalanya seorang diri tanpa ada satupun yang mengenal siapa Awy' itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, tentu saja id itu sangat istimewa bagiku. Awal hilangnya aku begitu terpukul, yang membuat sebagian teman heran, nick gitu aja kok ya disesalin. Bagiku, bukan masalah nicknya, tapi nilai historisnya yang terpenting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kepada cerita baliknya nickku. Bagaimana ceritanya kok bisa balik? Padahal rata-rata nick yang hacked sulit kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang pada awal hilangnya tentu saja aku berusaha menghubungi teman-temanku yang katanya punya kenalan admin, atau yang katanya punya aplikasi hack untuk mengambil kembali nick itu, tetapi ternyata usaha mereka juga tidak menuai hasil. Dan saking lamanya, sampai semuanya lupa akan nick itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tidak bagi satu sosok. Diam-diam tanpa banyak bicara ternyata dia terus berusaha mencari jalan untuk mengembalikan nick masterku itu. Dia memang tidak banyak bicara, bahkan aku mengenalnya 5 hari sebelum nickku hilang, saat dia enter masuk Room-ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku galau setelah hilangnya nickku, malam hari dia langsung memberiku ganti id baru dengan nama sama, hanya saja pakai titik (ameer.qolawun), bukan garis bawah, nick yang hilang. Dengan negara asal Libya, negara Muammar Gadhafi yang sekarang lagi kacau. Itu pun masih sempat-sempatnya dia begadang untuk mencopas friendlist di nick yang hacked.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa aku tahu, malam itu juga dia menghubungi Contact Mig33. Usaha awalnya memang tidak mendapat respon, tapi dia terus mencoba. Sampai entah bagaimana ceritanya dia bisa kenal dengan salah Staff Mig33, bukan hanya Admin lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan semalam, boleh dibilang, dia memberi kejutan bagiku. Melalui SMS, dia memberi kabar, sekaligus pasword baru atas Id-ku itu. Sebelumnya dia mengirim sekitar 13 pertanyaan dari Mig33 untuk aku jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu yang aku suka dari dia, Emy Rodhiyyah Roddhu, adalah tidak banyak bicara, tapi kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara pribadi, memang aku tak terlalu berharap banyak akan id itu. Tetapi kata hatiku selalu berbicara lain, bahwa aku diam-diam ingin Id itu kembali lagi ke tanganku. Setidaknya untuk kupegang lagi meski nantinya kumuseumkan, tidak aku aktifkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, pernah dalam suatu malam saat di majlis, aku teringat nick yang hilang itu, sejenak aku menarik nafas panjang, sebab rindu, dan terselip doa pendek di hatiku, Ya Allah, meski cuma nick, tapi semoga Engkau Mengembalikannya padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tentu saja setelah itu aku tidak terlalu mengingatnya lagi, walau aku tidak pernah sepenuhnya lega selama 8 bulan ber-id selain ameer_qolawun saat ol. Sesuatu yang membuatku malas online di mig, hingga rumku, Islam Edukatif pun vakum sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan penting, bahwa doa, apapun, selama kita mantap akan terkabulnya, dan kita tulus memanjatkannya, meski hanya sekali saja, pasti didengar dan dikabulkan oleh Allah Ta'ala pada waktunya. Sekecil apapun doa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, jangan pernah putus asa. Kita harus selalu menaruh harapan atas sesuatu yang masih ada kemungkinan untuk bisa kita raih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh lah teman-teman bilang bahwa kelakuanku ini konyol. Tapi aku tekankan, bahwa bagiku nick itu adalah nick bersejarah. Aku tak akan pernah ada di dunia maya ini tanpa nick itu, bahkan teman-teman tak akan pernah tahu catatan-catatan ini jika tak ada nick itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini, menghargai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan perjuangan, adalah salah satu ajaran Islam. Bahwa semuanya berjasa dan kita patut menghargai dan mensyukurinya. Sebuah hal yang sangat manusiawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena hanya orang yang beku hatinya, yang tidak peka saja yang tidak mengingat jasa apa atau siapa yang membantunya. Laa Ya'riful Fadhla li dzawil fadhli illa dzawuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir catatan, sekecil apapun kejadian yang kita alami, semua mengandung pelajaran, tinggal kita saja, bisa tidak memetik pelajaran kehidupan itu?... Wallahu A'lam&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Diaryku (122) : Ditempeleng Guru :D</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/diaryku-122-ditempeleng-guru-d.html</link><category>Catatan dari Diary</category><category>Guruku</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 24 May 2011 21:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-2326212696853833942</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu film yang berkali-kali aku tonton dan tak ada bosan-bosannya, adalah "Kingdom of Heaven". Cukup banyak pelajaran terdapat dalam film ini, apalagi memang film ini adalah film sejarah. Dan sejarah, selalu menyimpan pelajaran-pelajaran besar bagi generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah bangsa yang baik, ummat yang baik, adalah yang mengenal sejarahnya? Dan sejarah adalah pondasi utama daripada kemajuan sebuah peradaban. Tanpa memahami sejarah dengan baik, membuat sebuah bangsa, atau umat, mundur secara teratur. Dan itu kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, di antara sekian puluh scane yang membuatku terpukau, ada dua adegan yang sama yang membuatku teringat dengan sebagian guru-guruku. Momen saat Godfrey menempeleng Balian of Ibelin, di awal film, dan momen saat Balian of Ibelin menempeleng seorang remaja saat hendak mempertahankan Baitul Maqdis, di akhir perjuangan mereka sebelum Baitul Maqdis kembali ke tangan Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi dalam battle of jerusalem itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dua momen ini, keduanya (Godfrey dan Balian), mengucapkan kalimat yang sama setelah menampar. "Kamu tahu kenapa aku menamparmu? Biar kamu ingat aku."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tertegun ketika mendengar kalimat itu, dan mendadak terngiang kalimat yang sama dari guru ngajiku waktu masih kecilku dulu, Ustadz Saifuddin. Sering kali beliau memukulku saat aku salah baca al-Qur'an, dan beliau bilang, "Kamu ngerti Wy? Besok kamu akan mengingatku dengan pukulan ini."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga teringat dengan guru Matematika-ku yang killernya minta ampun, maklum apalagi guru tinggalan pendidikan kolonial Belanda, Pak Mustofa, yang juga melakukan hal yang sama pada murid-muridnya saat gagal menjawab pertanyaan Matematika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan soal tarbiyah (pendidikan jiwa) menggunakan media "pukul memukul" yang kualami (tentu saja bukan pukulan kekerasan, tidak ngawur dalam memukul, ada seninya) adalah yang paling aku ingat dari almarhum Guru Besarku, Abuya Assayyid Muhammad bin Alawy al-Maliky.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Almarhum dikenang seluruh muridnya adalah justru dengan pukulan-pukulannya, bahkan seluruh muridnya selalu merindukan pukulan beliau. Sebagian senior bilang, pukulan Abuya, sekeras apapun, tidak akan mematikan, karena itu adalah pukulan menanamkan ilmu. (jangan coba-coba meniru tarbiyah model ini kalau bukan orang Arif Billah lho ya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh dibilang, dulu setiap aku mendapat giliran untuk memijit kaki beliau, maka entah pukulan pemukul lalat, siraman air, tempelengan, sodokan tongkat, sabetan tasbih, selalu aku terima dari beliau. Dan cerita senior-seniorku yang lain, jauh lebih "seram". Tapi kami justru menikmatinya dan merasakan kepuasan batin tersendiri sehabis itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang dalam kamus pendidikan, sangat tidak dibolehkan penggunaan kekerasan fisik, namun sesekali untuk meluruskan, hal itu diperbolehkan, dan tentu saja tidak pada tempat-tempat yang mengancam nyawa anak didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi omong-omong, anak sekarang sepertinya terlalu manja, dikerasi sedikit saja oleh gurunya, sudah ngambek nggak ketulungan, ngamuk-ngamuk bahwa bapaknya saja nggak gituin dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau boleh membandingkan, generasi sekarang tidak sekokoh generasi dulu. Tidak usah jauh-jauh, mungkin secara ketegaran fisik, kesabaran, generasiku jauh lebih baik daripada generasi adikku yang paling kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali pada "pukulan mengingatkan" yang aku tuliskan di awal catatan ini. Tentu saja ada tujuan khusus kenapa guru memukul, di samping tujuan jangka pendek, juga tujuan jangka panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau jangka pendek, jelas untuk mengingatkan kita dan membenahi dari kesalahan saat itu. Kalau jangka panjang, adalah adanya "irtibath ruuhi", (ikatan jiwa) yang terus tersambung antara murid dan guru, meski telah berpisah puluhan tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan jiwa inilah target utama pendidikan model "aneh" ini, karena dengan itu, si murid akan selalu mengingat gurunya, dan pada akhirnya kemudian mendoakannya. Adakah yang lebih istimewa selain doa? Terutama jika telah meninggal, kiriman doa adalah bingkisan yang selalu ditunggu oleh siapapun di alam baka sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan memang seperti itu kenyataannya. Surveyku pada seluruh sahabatku yang masuk golongan kabel (kelompok anak bangku belakang), yang saat masa sekolah nakalnya laa haula wa laa quwwata illa billah, guru yang selalu mereka ingat adalah guru yang kerap menghukum dan menghajar mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang saat dihukum, selesainya misuh-misuh, tetapi saat aku bertemu sahabat-sahabatku tadi, mereka semua menyatakan rasa berterima kasih tiada terkira pada para gurunya dulu, dan menyesal atas kenakalannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan satu sahabatku ada yang menangis tersedu sedan saat mendengar kabar bahwa guru yang kerap menempelengnya, meninggal dunia. Sebab dia tidak tahu bagaimana cara minta maaf atas kenakalannya dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, yang terpenting dari semua itu adalah kenangan dan ingatan kita serta persambungan ruh kita dengan seluruh guru-guru kita, sehingga kita membalas jasa mereka (yang tidak mungkin terbalas) dengan untaian doa kita untuk mereka, sebagai bentuk daripada berbakti, memasukkan nama-nama mereka dalam doa kita, mengirim surat Fatihah. Bukankah orang kedua yang kita wajib berbakti padanya setelah orang tua adalah guru-guru kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir catatan, untuk seluruh guru-guru kita, Al-Fatihah :)&lt;/div&gt;</description></item><item><title>In Memoriam Sang Bidadari Biru : Nurul F Huda</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/in-memoriam-sang-bidadari-biru-nurul-f.html</link><category>In Memoriam</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 18 May 2011 21:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-3669421688779417840</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Akhi, antum bersedia menjadi Guru Spiritual saya? Notes-notes akhi banyak memberi saya sesuatu yang baru, ringan bahasanya namun memberikan pencerahan ruhani."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hah? Ukhti ni ngarang aja, ya aku ini yang justru belajar pada ukhti, itu mah catatan ngawur ukh, memberikan pencerahan darimananya?" :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku anggap Akhi Guru Spiritualku."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ @ @&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terasa, lebih dari setahun lalu percakapan chatting via YM itu. Aku mengenal namanya jauh saat aku masih di Malang. Aku kenal pertama kali melalui lembaran-lembaran majalah Annida, sebelum kutemukan buku-bukunya mulai menghiasi rak-rak toko buku sekelas Gramedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ramah, mau berbagi, dan banyak bercerita, itu setiap kali aku chat dengannya. Jika online, dan YM dia tidak set busy, maka bisa segera kupastikan sebentar lagi ada kedip-kedip menyapa, "Assalamu alaikum Akh :)" dengan selalu diikuti emoticon smile. Dan kemudian percakapan berlangsung panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukhti Nurul pun juga banyak bercerita padaku soal sakitnya, soal prahara rumah tangganya, dan lain sebagainya. Memang kami belum pernah bertemu sama sekali di nyata, akan tetapi rasanya telah kenal begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun tentu saja selalu memanfaatkan momen percakapanku dengannya untuk minta koreksi dan kritik akan semua catatan-catatanku. Teman-teman pasti memperhatikan jika dalam daftar tag nama (Nurul F Huda Full) selalu ada dalam setiap notesku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Susunan bahasa, tanda tulis, dan yang selalu kuingat Ukhti Nurul selalu mengingatkanku untuk menggunakan bahasa baku, kata beliau lebih enak dibaca, aku saja yang masih sering semau sendiri menggunakan bahasa tidak baku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan saat catatan-catatan itu telah terkumpul, dan sudah saatnya dibukukan, dia adalah orang kedua yang kuberi tahu dan aku hubungi (setelah Mbak Jazimah) untuk mengkoreksi ulang sekaligus memberi endorsment atas calon bukuku itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya kami mulai jarang chat, dan dia mulai jarang kulihat update status karena kondisi kesehatannya semakin memburuk, sesekali masih SMS memberi tahu dan minta doa untuk kesembuhannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun meski dalam kondisi seperti itu, dia tetap gigih untuk menulis, tentu saja aku tahu darinya sendiri jika kebetulan dia online sebentar. Tak pernah kukira jika tulisan yang diceritakan mengenai dirinya sendiri, "Hingga Detak Jantungku Berhenti", adalah ternyata benar-benar goresan terakhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"saya menulis tentang diri saya Akh, tentang sakit saya ini, untuk berbagi kesemangatan pada teman-teman."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Syafakillah Ukh, apa tidak istirahat saja, kok tetap menulis? Oh ya, Azizah bagaimana?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, Azizah adalah putri bungsunya yang kerap diceritakan di status-status FB-nya yang selalu inspiratif dengan bahasa kocak dan membangun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal ini aku pernah tertawa saat dia mentag namaku dalam statusnya, bahwa yang selalu muncul di Berandanya adalah FB-ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun, tak pernah aku kira jika dia akhirnya dengan begitu cepat meninggalkan kita semua, meninggalkan seluruh penggemar dan pembaca berat tulisan-tulisannya. Buku yang menceritakan tentang sakitnya, tentang hidupnya yang harus bergantung pada jantung implanasi, pada obat pencair darah, ternyata adalah pertanda akan kepergiannya selama-selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah apa lagi yang bisa aku tuliskan tentangnya, saat mengetik ini aku pun masih dalam bayang-bayang kegalauan kedua adik kandungku, Lulu dan Ahmad yang juga akrab dengannya, yang belajar banyak kepadanya tentang segala hal yang berhubungan dengan tulisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat jalan ukhti.. Pahala buatmu akan terus mengalir selama buku-bukumu ada dan terus dibaca... Karena perjuangan penulis tidak pernah berhenti dengan wafatnya... Sebagai pembuktian atas Sabda Nabi bahwa semua amal terputus kecuali 3, dan tulisan-tulisan itu sekaligus mencakup 2 dari 3, yaitu ilmu yang dimanfaatkan sekaligus amal jariyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerendahan hatimu di tengah ketinggian kedudukanmu, sebagai penulis nasional adalah pelajaran terbesar bagiku ukh, terima kasih atas semuanya "Bidadari Biru", dan engkau kini telah benar-benar menjadi Bidadari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ @ @&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Membaca tulisan Awy', kita akan disodori dua hal yang sangat menonjol. Pertama, cerita pengantar yang mengalir, apa adanya dan selalu ada kelucuan. Kedua, setelah tersenyum atau tertawa, kita dibuat merenung, terpekur dan mengangguk-angguk atas hikmah dari kejadian yang dialami penulis. Beberapa yang sangat berkesan untuk saya adalah "Aku Diusir". Wew, sampai seperti itu menanamkan konsistensi terhadap nilai dan janji. Yang jelas, tulisan-tulisan Awy' selalu membuat saya tercenung menyadari kebodohan dan kurangnya ilmu saya, baik dalam hal referensi teks maupun dalam konteks. Ini adalah air segar yang melepaskan dahaga (Nurul F. Huda) *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
@ @ @&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awy' A. Qolawun .. Makkah, 15 Gumada Thania 1432 H&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* endorsment almarhumah penulis, buat calon buku "Kang Siang-Malam"..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Ruh Ukhti Nurul F Huda... Alfatihah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
تقرير، العاصمة المقدسة مكة المكرمة, تعازيا ورثاء للفقيدة الغالية، وقد فاض روحها إلى بارئها فجر الأربعاء إثر الوكعة الصحية ... نسأل الله أن يكرم مثواها ويسكنها في فراديس جنانه.. وإلى روحها ... الفاتحة&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Diaryku (122) : Kalau Maem, Suka Pake Sendok apa Tangan? :D</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/diaryku-122-kalau-maem-suka-pake-sendok.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 15 May 2011 21:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-7728025969749376460</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan ini terinspirasi gara-gara makan nasi bersama orang Arab. Sebelumnya ini bukan sebagai sebuah bahan tertawaan, karena memang setiap bangsa mempunyai budaya masing-masing, dan tentu saja tata cara makan masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi orang Indonesia seperti kita, makan pakai tangan adalah hal yang sangat biasa dan kita mempunyai seni tersendiri dalam tata cara mengambil sesuap nasi dengan tangan kita. So, makan dengan tangan, kita oke, dengan sendok pun oke (tapi jangan tanya kalau pangsit, megangnya saja belepotan :D)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, orang Arab, sebagai bangsa yang tidak terbiasa makan nasi, tentu saja mereka menemukan kesulitan saat harus makan nasi dengan tangan. Sendok (Mil'aqoh) adalah keharusan jika makan nasi, jadinya kalau tidak ada mil'aqoh, dengan terpaksa mereka mengambil nasi dengan tangannya tapi dikepal-kepalkan dulu sebelum di makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahu anak kecil yang baru belajar makan sendiri dengan tangannya? Ya kayak gitu tu orang Arab kalau makan nasi pakai tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun keseharian mereka, tentu saja roti adalah makanan utama. Wisata kuliner di resto arab manapun, pasti menyediakan roti dengan segala jenisnya (Isy, somuli, khubz, tamis, maryam, qorsh, dan lain sebagainya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tentu saja, karena yang dimakan adalah roti, tidak ada ceritanya pakai sendok, pasti pakai tangan. Jadi mil'aqoh digunakan hanya untuk makanan tertentu saja dan segala hal yang berkuah (syurbah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perihal makan dengan tangan, aku pribadi lebih suka makan menggunakan tangan daripada sendok garpu, meski di restoran mahal dan lux sekalipun, makan menggunakan tangan sendiri adalah pilihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya tidak bisa menggunakan sendok, garpu dan pisau, makan dengan tangan sendiri selalu terasa nikmat dan ada kepuasan yang luar biasa (ini bagiku pribadi lho ya, kan banyak juga yang lebih suka makan pakai sendok daripada tangan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun berbicara soal keberkahan, bagaimanapun tetap berkah makan memakai tangan daripada alat bantu yang lain, sebagaimana petunjuk Nabi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan beliau juga menunjukkan tata cara lain makan menggunakan tangan, semisal cukup tiga jari (tentu saja jika yang dimakan adalah sejenis roti, kurma), atau habis makan, hendaknya tangan dijilati, sebab siapa tahu berkah di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sendiri semakin mantap makan pakai tangan, gara-gara tahu dua cerita unik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, sebuah kisah nyata yang dialami Hasan Al-Banna (pendiri Ikhwanul Muslimin), saat sedang wisata kuliner di sebuah resto mewah di Prancis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai muslim, apalagi orang Arab, dia tetap dengan adatnya, yaitu makan pakai tangan. Nah saat itu, tindakan dia dilirik oleh banyak pengunjung resto yang tentu saja orang-orang Eropa, dan dicibir tuh lihat bagaimana orang Islam kalau makan, pakai tangan, kotor dan jorok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat hal itu, apalagi ada yang menyindirnya langsung, dengan tenang Syaikh Hasan al-Banna bergumam, "Aku makan, dengan tanganku sendiri, dan ini hanya masuk mulutku saja. Coba kalian, makan dengan sendok, itu sendok sudah masuk mulut berapa orang?" Kontan mereka terdiam. :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita kedua, adalah antar para ulama' sendiri, saat bersama-sama diundang dalam sebuah acara jamuan di rumah petinggi negara. Saat makan, ada yang pakai sendok dan ada yang tetap pakai tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah Ulama' yang memakai sendok mengingatkan sahabatnya yang pakai tangan, ini kan di rumahnya pejabat, mbok ya yang agak sopanan dikit lah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tenang, ulama yang makan pakai tangan tadi menjawab menggunakan bait dalam Nadzam Alfiyah, "Wa qoddimil akhosso fittisholi # wa qoddiman maa syi'ta finfisholi" ... Utamakan terlebih dahulu sesuatu yang tersambung (maksud beliau ya tangan), ada yang tidak tersambung, infishol, kapan saja sesukamu :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, melihat keadaan lah soal makan baiknya menggunakan apa. Namun jika sangat memungkinkan, dahulukan penggunaan tangan, dengan niat mengikuti sunnah, di samping itu menurut kedokteran juga bagus, sebab lebih membantu proses pencernaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun jika keadaan menuntut menggunakan sendok, maka gunakan sendok, jangan dicomot pakai tangan. Harus tahu etika dan tahu tempat. Semua baik pada tempatnya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir catatan, jangan tiru kebiasaan di asramaku, berhubung anak banyak, yang namanya sendok pasti hilang, maka dapur tidak menyediakan sendok. So kalau maem berkuah, tentu saja cuma mangkok tanpa sendok, akhirnya untuk ngambil isi kuah, masing-masing harus menunjukkan kesaktian dengan mengobokkan tangannya dalam kuah panas tadi :D .. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga saja kebiasaan ini tidak terbawa saat kami pulang, pasti kalian akan terbengong-bengong saat aku bertamu ke rumah kalian dan aku mengambil isi sayur sop atau sayur bayam langsung dengan tangan tanpa sadar, pasti ntar kalian bergumam, sakti beneran Mas Awy' ini :D&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150192884932630 &lt;/div&gt;</description></item><item><title>Diaryku (121) : Siapa Nih? Berak Nggak Disiram !!! X-(</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/diaryku-121-siapa-nih-berak-nggak.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 14 May 2011 21:53:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-4076905966406782981</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbicara kamar mandi, identik sekali dengan segala hal yang berhubungan dengan kebersihan. Kebersihan badan terutama, dan tentu saja kebersihan kamar mandi itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pribadi, terus terang soal kamar mandi agak ruwet. Entah apa sebabnya, yang pasti di tempat manapun, pertama yang aku kontrol adalah kamar mandi. Kalau kamar mandinya kotor, lumutan parah, apalagi bau tidak karu-karuan, aku lebih memilih tidak memasuki kamar mandi itu (kecuali sangat terpaksa sekali)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Babaku bilang, ukuran kebersihan sebuat tempat itu adalah di lihat dari kamar mandi dan dapurnya. Kalau dua tempat ini bersih dan sehat, maka semua bagian rumah akan ikut bersih dan sehat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dulu waktu kecil, aku paling ogah jika sudah diajak berziarah ke rumah kakekku di Gresik. Sebab aku begitu trauma dengan WC-nya yang hanya berupa dinding gedhek dan galian gitu saja, tidak ada toilet modern seperti sekarang. Bau? Jangan ditanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga faktor utama aku tidak betah mesantren di Purworejo sebab (lagi-lagi) WC-nya, mana nggak ada pintunya lagi, cuma ditutup pake papan plastik doang, akibatnya kalau ada angin bertiup, itu papan seketika roboh menimpa siapapun yang lagi nikmat-nikmatnya mengejan :D sialan bener pokoknya (pernah ngalami sih :D).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pualing benci saat melihat kotoran yang tidak disiram, atau bau pesing yang menyeruak. Dalam hati aku pasti berkomentar ketus, siapa sih ini bodoh banget kayak gini? Apalagi kalau kamar mandinya bagus (seperti saat di Malang atau Mekkah saat ini), kok masih menemukan gitu, aku segera berkomentar, udah mondok di kota, adat ndeso masih dibawa saja. :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebetulan juga, sejak mulai belajar di pesantren, aku selalu mendapat tugas membersihkan kamar mandi (cuma menguras septic tank saja yang aku tidak sanggup melakukan, sebab sudah muntah duluan :D)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan soal apa-apa, memang masalah kebersihan harus sangat diperhatikan. Sekaligus Tathbiq (praktek) atas ilmu kita, bukan cuma sekedar Nadhoriyyah (teori) saja. Karena ironisnya, dalam fiqih, justru bab pertama yang dibahas adalah Thaharah, kesucian yang berhubung langsung dengan kebersihan, nadhofah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah dalam banyak hal Nabi mengisyarahkan dan mengajarkan akan kebersihan? Semua ta'alim (intruksi) dalam agama kita selalu berhubungan dengan kebersihan. Banyaknya mandi sunnah adalah salah satu indikasi daripada itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum pula dinyatakan bahwa kebersihan sendiri adalah termasuk bagian keimanan seseorang. Nabi mempraktekkan dan memberikan contoh langsung soal ini dan sangat banyak kisahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali pada topik, pada akhirnya, seyogyanya mulai saat ini kita memperdulikan kebersihan kamar mandi kita. Sebab kamar ini (meski sebagai tempat pembuangan) adalah bagian hidup kita. Menghargai kamar mandi (dengan menjaga kebersihannya) adalah sama halnya dengan menghargai diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba lihat negara-negara modern, kebersihan adalah hal yang paling mereka utamakan. Semakin bersih bangsa itu, maka akan semakin maju. Sebaliknya, negara-negara yang tertinggal, rata-rata kumuh. Semakin kotor maka bangsa itu semakin terpuruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fenomena yang sangat aneh, saat kebersihan yang merupakan ruh islam justru kini dipraktekkan dengan begitu sempurna oleh negara-negara non islam. Sementara orang islam sendiri begitu cuek dengan kebersihan ini. Maka jangan pernah menyalahkan siapapun kenapa kita benar-benar terbelakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesalahan ada pada diri kita sendiri, fa laa yalumanna illa nafsah. Saatnya perenungan untuk menuju pembenahan, key? Semoga :)&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Ngopi Bareng Raja Abdullah :D</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/ngopi-bareng-raja-abdullah-d.html</link><category>Catatan Khusus</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 6 May 2011 21:51:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-1143345388852470074</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul di atas, jangan lantas terkecoh bahwa aku pernah nyruput kopi bareng Raja Abdullah lho ya :D ... Ini cuma kiasan saja :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bicara soal kesejahteraan, bangsa kita memang sangat terlihat sekali perbedaan dan ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin. Fenomena yang tidak perlu lagi dijabarkan sebab sangat terlihat. Kesenjangan sosial begitu menganga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dasarnya semua bangsa mengalami hal ini. Ada yang kaya dan ada yang miskin adalah sebuah keniscayaan. Namun, bagaimana agar tidak terjadi kesenjangan yang bisa menimbulkan kecemburuan? Sementara cemburu itu seperti api yang bisa membakar dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Data sejarah menyatakan bahwa Revolusi Prancis terjadi sebab atas dasar kesenjangan sosial yang parah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah Islam memberi solusi dan penjembatanan antara yang kaya dan yang miskin, untuk meminimalisir atau bahkan menghapus kesenjangan itu dengan media infaq, shodaqoh, hibah, hadiah, dan yang paling wajib yaitu Zakat (baik fitrah atau harta).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di luar itu, aku yakin, setiap pemerintah suatu negara, pasti berusaha untuk menghapus kemiskinan dan mengangkat kesejahteraan rakyatnya dengan kebijakan masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah masalahnya, pemerintahan kita tampak sangat bingung sekali (kalau tidak boleh dikatakan mentok) menghadapi kenyataan menyedihkan yang terjadi dalam bangsa kita. Angka kemiskinan grafiknya bukan menurun, tapi malah menanjak. Data statistiknya semakin mengharukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab kemiskinan jika tidak ditanggulangi dengan baik, serta kontrol moral dan ruh tidak tersedia dan tidak aktif, maka bisa mendorong seseorang pada tindakan kriminal. Benar apa yang dikatakan Nabi, bahwa kemiskinan (jika tidak ditanggapi dengan bijak) maka bisa saja menjadikan seseorang keluar dari agama dan kewarasannya (Kaada al-faqru an yakuna kufron).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah yang unik adalah yang aku lihat di Saudi Arabia. Semua orang banyak mengira bahwa rakyat negara ini (begitu pula negara arab penghasil minyak yang lain) begitu makmur, sejahtera, dan merata. Siapa bilang? Di lapangan tidak sepenuhnya menunjukkan hal itu. Banyak sekali orang miskin di sana, bahkan lebih miskin dan lebih sulit hidupnya dari yang tinggal di bawah jembatan di negara kita (dari dulu mah orang miskin ya hidupnya sulit).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang penting adalah, tidak adanya kesenjangan sosial dan rasa iri pada kaum miskin terhadap kaum kaya di negara-negara arab ini. Nah di sini titiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sederhana saja, oke orang kaya pasti lah memiliki fasilitas lengkap, mewah, dan segalanya terpenuhi. Tetapi kelengkapan fasilitas itu tidak terlalu membuat orang miskin iri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi dalam masalah yang berhubungan dengan perut, masalah makanan, nah ini baru jadi titik perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di negara kita, sangat terlihat sekali bagaimana pola makan (dan menunya) antara orang yang kaya dan yang miskin. Apalagi kalau ada pesta, acara-acara, bahkan seremonial para pejabat. Sesuatu yang pasti membuat orang miskin hanya bisa menelan air liurnya, dan menyisakan 'sedikit' rasa mangkel dalam hati mereka, bener tidak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kalau di Arab, sangat unik. Acara jamuan resmi Raja, atau acara apapun, menu makanannya, menu jamuannya. Sama dengan yang dikonsumsi orang miskin ! Dengan kata lain, orang miskin bisa merasakan apa yang diminum dan di makan Raja mereka (dan para Pangerannya). Sesuatu yang belum tentu bisa dirasakan orang miskin di negara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlihat di TV secara langsung acara-acara resmi kerajaan dan beberapa kali aku sendiri menghadiri majlis-majlis baik yang diadakan orang kaya raya atau orang menengah, jamuannya adalah Qohwah arabica plus korma, atau halawiyyat. Sama persis yang dinikmati Raja dengan yang dinikmati rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu prasmanannya adalah nasi bukhori dengan lauk kambing atau onta, sesuatu yang juga dinikmati orang miskin. Di mana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarapannya pun sama antara Raja dengan rakyatnya, pasti tamis (roti gandum khas arab) dengan ful (kacang merah yang dilumatkan) atau adas. Beda dengan negara kita, yang kaya makan roti dengan selai, keju, yang miskin makan nasi jagung, atau malah gaplek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oke, yakin sekali para orang kaya itu pasti juga makan makanan khas eropa yang berkelas dan mahal, namun tidak di depan orang miskin. Ataupun jika kebetulan tahu, mereka mau berbagi, atau setidaknya bersedekah. Pemandangan yang sangat biasa sekali pada masyarakat arab teluk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah kebiasaan inilah yang sukses menghapus kesenjangan di negara-negara arab, maka tentu saja efek selanjutnya adalah ketentraman dan ketenangan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dipikir jernih, semua apa yang ada pada syariat kita, seluruhnya berhikmah dan mempunyai dampak langsung pada keseimbangan hidup, dan bahkan keseimbangan ekosistem alam. Hanya kita-nya saja yang masih belum begitu bisa menangkap apa maksud terjauh daripada syariah untuk mengatur keseimbangan yang menjamin pada ketenangan dan kesejahteraan..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih harus lebih banyak belajar lagi tentang kehidupan yang terpancar indah dari cahaya syariat itu sendiri. Wallahu a'lam.&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Diaryku (120) : Dipidatoin Gara-gara Nyenggol Mobil ..:D</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/diaryku-120-dipidatoin-gara-gara.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 5 May 2011 21:51:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-5462068001456707703</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejadian ini, aku alami saat masih SMP. Dulu, jika sekolah, aku selalu bersepeda. Memang sekolahku tidak jauh, 1,5 km lah, tetapi berangkat dan pulang dengan bersepeda adalah hal yang sangat aku nikmati. Tentu saja juga pergi ke manapun aku bersepeda. Masaku saat itu masih belum umum remaja menggunakan motor.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari, aku pulang dari sekolah, usai kegiatan Pramuka, dan aku membawa tongkat pramuka. Karena tidak memungkinkan untuk menentengnya, maka tongkat tersebut aku ikatkan pada sepedaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah saat di tengah jalan, karena tidak memperhitungkan panjang tongkat yang menonjol di depan sepedaku, tanpa sengaja tongkatku menyentuh bagian belakang mobil yang sedang parkir. Tak ayal sepedaku berhenti mendadak dan aku hampir terjatuh. Meski sempat mengerem hanya saja terlambat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seketika itu juga si empunya mobil (yang sedang mencuci mobilnya) menuju ke sumber suara, akibat sentuhan tongkatku tadi. Aku memasang senyum agak takut dan minta maaf.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang tidak aku kira, ternyata dia marah bukan main, membentak-bentakku, yang ugal lah, yang tidak punya mata, sampai bagaimana jika ada gores di mobilnya, bagaimana jika goresannya panjang. Aku hanya ternganga heran, MasyaAllah, sampai segininya? Mobilnya pun tidak apa-apa, tidak gores sedikitpun, karena tongkatku hanya menyentuh sedikit tidak terlalu keras.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang tidak aku kira, kejadian tersebut ternyata diam-diam mengendap dalam ingatanku, dan aku selalu heran setiap ada orang yang begitu ribut ketika mobilnya tergores sedikit saja. Atau begitu hati-hati merawat mobilnya, jangan sampai ada goresan meski satu senti saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan hal ini sangat berbalik jauh sekali dengan tabiat dan kebiasaan orang arab. Tentu saja aku tahu setelah berada di Mekkah. Entah ini tabiat, atau karena mereka tidak terlalu pusing dengan benda dunia, atau karena kesembronoan, tergantung niat masing-masing. Tetapi yang pasti tetap ada pembelajaran dalam tatacara mensikapi harta dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang pasti, kalau orang Arab, mobil sekelas Audy sekalipun, apalagi cuma Camry (yang di negara kita adalah tumpangan pejabat), atau mobil-mobil di bawahnya, bahkan sampai tepos, penyok sana-sini sekalipun mereka tidak ambil pusing, apalagi cuma tergores.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang kita? Mobilnya tergores sedikit saja menyesalnya minta ampun, mengeluh panjang pendek, apalagi kalau terserempet, pasti misuh-misuhnya tidak berhenti-henti. Bahkan beberapa rekanku sendiri saat mobil Kyai yang dia sopiri mengalami hal sederhana seperti itu (sementara sang Kyai sendiri, yang punya mobil saja tidak pusing, ini sopirnya pusing).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan menjudge, namun sebuah pertanyaan dalam hatiku pribadi, apakah harus sampai seperti itu reaksi terhadap benda dunia? Oke lah merawatnya, adalah sebuah keharusan dan merupakan bentuk penjagaan terhadap nikmat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi apakah ketika kita mengalami "kecelakaan" kecil saja pada benda yang kita punya lalu kita mencak-mencak seperti itu? Sementara "kecelakaan" pada Iman kita kerap melupakannya begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang hal seperti ini terlihat sepele, namun jika kita meremehkannya, maka mental ini bisa menjadi sebuah penyakit hati yang sangat menghancurkan. Virus kecil tak kasat oleh mata hati, namun pada perkembangan berikutnya bisa menghanguskan pahala-pahala amal baik pengidapnya. Cinta dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mbok ya biasa saja lah jika kita mengalami kayak hal-hal di atas. Tidak perlulah mengata-ngatai, apalagi mengeluh merepet panjang pendek. Setidaknya tirulah mental orang Arab dalam hal menyikapi dunia, tidak terlalu memperdulikan (ya meski tentu saja hal ini bisa jadi karena mereka sudah kaya, jadinya biasa saja menanggapi kejadian mobil penyok. Atau bisa jadi karena kesembronoan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun terlepas dari latar belakang tabiat "tidak peduli" itu, adalah bisa kita ambil pelajaran bagaimana kita bersikap terhadap harta dunia. Sebab harta dunia, pasti akan mengalami kerusakan, cepat atau lambat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang terpenting lagi adalah, tidak tergantung dengan harta itu. Sebab ketergantungan inilah yang membunuh, sebagaimana yang aku katakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada akhirnya, dalam tatacara mensikapi harta dunia adalah, jadikan ia hanya ditangan kita saja, dan jangan jadikan ia ada dalam hati kita. Inilah zuhud yang selama ini kerap kali kita dengar. Seyogyanya (dan keharusan) yang menjadi tempat ketergantungan, cuma Allah Ta'ala semata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengutip kalimat Abadi Sultan Nuruddin Mahmud az-Zanky, saat memberikan pelajaran penting kepada seluruh tentaranya, dengan memacu kencang-kencang kudanya bolak-balik pada arah matahari : "Lihat, seperti inilah dunia, ia laksana bayangan. Jika kalian mengejarnya, maka kalian tidak akan pernah bisa menggapainya. Tetapi jika kalian meninggalkannya, maka ia yang akan berlari kencang mengejarmu."&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Diaryku (119) : Aku Kok Nggak Gemuk Gemuk ya :D</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/05/diaryku-119-aku-kok-nggak-gemuk-gemuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 1 May 2011 22:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-1007129490727649249</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan ini, sering sekali ditanyakan kepadaku sejak dulu, dan jawabanku beberapa waktu terakhir ini hanya dengan senyum, sebab aku sudah capek menjawabnya, juga perasaan usahaku untuk itu sudah maksimal. Dan pertanyaan itu adalah, "Kamu kok nggak gemuk-gemuk Wy? Kapan gemuknya?" Nah :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang pasti sampai sekarang aku masih tetap langsing, bahkan menjadi ikon di almamaterku (poin positif sebenarnya, karena justru dengan fisikku ini aku selalu diingat Guruku, Abuya. Sebab jika memberi contoh kurus, pasti beliau menyebutku, tidak teman kurus yang lain).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang seperti ada kebiasaan tidak tertulis, bahwa pelajar di asrama Rushaifah, Masyru' Al-Malikiyyah (tempatku belajar) adalah rata-rata bertubuh gemuk dan segar, apalagi alumnusnya. Hanya bisa dihitung beberapa yang kurus, dan salah satunya adalah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai usaha penggemukan sudah pernah aku lakukan (tentu yang alami), namun hasilnya tetap tidak ada perubahan. Malah yang antik adalah, timbangan berat badanku sejak aku masuk 8 tahun silam sampai sekarang, adalah tetap ! Laa yazid wa laa yanqush (tidak bertambah tidak pula berkurang). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku pikir kurusku adalah sebab sakit, tapi setelah operasi, ternyata tetap saja. Cacingan juga tidak. Ke kamar kecil untuk BAB juga frekwensinya tidak seperti teman-teman yang berbadan jumbo. Lah terus ke mana larinya itu makanan? Kentut doang? :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pribadi sih sebenarnya tidak terlalu memusingkan soal gemuk atau tidak, namun hanya penasaran saja, sebab secara makanan, menunya, alhamdulillah selalu enak. Sangat mendukung sekali untuk proses penggemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebuah momen di madrasah kemarin, membuatku sadar, kalau selama ini, dalam hal bahwa "makan biar gemuk", adalah ternyata cara berpikir yang salah. Cara berpikir yang sama sekali tidak mencerminkan adanya ketawakkalan. Lah kok? Jauh banget hubungannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ustadzku yang menerangkan hal ini, saat membahas tentang hamburger dan fastfood yang lain dan hubungan makan dengan gemuk. Jadi kalau ada yang bilang bahwa makan itu biar gemuk, maka orang seperti ini tidak mengerti dengan baik makna kehidupan. Walah :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
iya, sebab makan adalah untuk bertahan hidup, dan makan adalah salah satu sarana untuk memperkuat punggung agar bisa tegak saat ibadah (maa yasuddu bihir romaq). Soal gemuk atau tidak, itu mutlak kembali kepada Allah, bukan wilayah kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih salah lagi bagi yang kurus dan makan apa saja sambil berpikir, bahwa makanan yang dia konsumsi, tidak akan membahayakan (semisal makanan berkadar gula tinggi dan berkolesterol), karena dia kurus, dan yang bahaya makan kea gituan cuma orang gemuk yang memang mudah kena obesitas, tensi tekanan darah, dan diabetes. Kasusnya hampir sama dengan soal gemuk penggemukan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun keluar dari semua itu, sebenarnya bagiku pribadi banyak hal positif yang bisa aku rasakan dengan fisikku yang kurus dan tidak proporsional. Setidaknya aku merasa sangat santri sekali yang memang identik dengan tubuh kurus sebab ditengarai sering tirakat (bedanya saja, aku sama sekali tidak tirakat :D)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya tetapi tentu saja tetap menyebalkan dan membuat hati dongkol saat ada teman yang gemuk menyinggung kurusku tetapi dengan nada menghina. Nah saat seperti ini, biasanya aku bungkam teman yang seperti ini dengan fakta dan data, bahwa dalam kitab suci manapun dan ajaran para Nabi tak ada satupun yang memuji kegemukan, bahkan dalam Taurat disebutkan bahwa Allah Melaknat Ulama' yang gendut, nah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya sih kubeginikan dia, ayo coba datangkan satu saja dalil ekselensi gemuk. Kamu paling bisanya memberi contoh beberapa ulama' yang gemuk, itu hanya minoritas, lagian mereka juga gemuk ilmu. Nah kalau aku bisa menghadirkan buat kamu puluhan dalil yang memuji kurus dan mengecam gemuk :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang dikatain, Kyai kalau tidak gemuk tidak punya wibawa. Aku hanya menjawab sederhana, memangnya kita belajar ini niatnya jadi Kyai? Lagipula wibawa adalah bukan dari gemuknya, tapi dari ilmu dan kesalehannya itu. Berapa banyak Ulama' bertubuh ceking tapi gertakannya menggoncang dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhasil, soal gemuk-kurus ternyata menjadi pembahasan sendiri dalam ilmu tazkiyatun nafs, ilmu penjernihan hati. Dan bab yang dibahas dalam hal ini sangat lebar sekali. Pada akhirnya adalah intinya bukan pada itu, tetapi pada seberapa ketawakkalan kita dan kejernihan hati kita menanggapi fenomena gemuk kurus, juga seberapa sanggup kita untuk tidak mengurus fisik teman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Allah Ta'ala tidak melihat pada fisik dan bentuk tubuh, tetapi hanya melihat pada taqwa dan hati seorang hamba itu.&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Diaryku (118) : Mudah Menangis ... Wajarkah?</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/04/diaryku-118-mudah-menangis-wajarkah.html</link><category>Catatan dari Diary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 30 Apr 2011 22:01:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-5087162322301699540</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari-hari ini aku dipaksa menangis sebab membaca sebuah novel yang benar-benar menguras air mata. Setiap membaca lembar perlembarnya, bisa kupastikan sendiri bahwa aku segera menangis, menghabiskan banyak tissue untuk menyeka air mata juga membuang ingus cair yang mendadak membuntu hidung setiap aku menangis. Terkadang sampai terbatuk-batuk sebab terlalu lama bersedu sedan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cengeng sekali ya? Cowok kok nangisan. Aku sendiri memang kerap heran, membaca cerita menyentuh, puisi sedih, menonton film-film melankolis, mendengar bencana, atau menghadapi momen mengharukan pasti seketika aku meneteskan air mata. Meski kadang diam saja tanpa harus merubah mimik wajah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah keanehan atau apa ya? Masih ingat sekali saat acara farewell sebelum keberangkatanku ke Makkah (wah, kalau acara-acara bertajuk 'perpisahan', jangan tanya lagi deh, aku sudah nangis-nangis sejak 3 hari sebelumnya). Tepatnya kala keluarga besarku melepas kepergianku ke tanah suci, di Bandara Juanda Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, ibu dan seluruh adikku, juga bibi-bibiku bergantian memeluk dan menciumku, dan tentu saja dengan tangisan dan penuh sekali air mata, aku sendiri tidak bisa berkata-kata sebab tangis. Nah saat itu, aku dengar Babaku berteriak keras sekali kepadaku, "jangan menangis ! Jangan menangis !". Aku hanya menoleh sekilas sebelum kembali tenggelam dalam tangisku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah, secara psikologi, yang aku alami ini apa istilahnya. Tapi aku pribadi memang mudah tersentuh. Jangan-jangan nangis buaya Wy? Haduh, aku paling tidak bisa bersandiwara, kalau tidak nangis, ya tidak bisa, meski upacara pemakaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang aku sangat banyak baca kisah tentang orang-orang shaleh terdahulu yang sering menangis saat malam hari. Tetapi mereka menangisnya karena dosa, karena rindu pada Rasul, rindu pada Sang Pencipta. Tangisan yang jelas sekali targetnya. Lah kalau nangisku ini, nangis apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau biografi Nabi Muhammad sendiri yang memang beliau menangis pada beberapa momen mengharukan, mentrenyuhkan. Semisal ketika melihat jasad pamannya yang dibantai, atau saat menangis kala putranya wafat di pangkuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sahabat bertanya, ya Rasul, engkau menangis? Rasul hanya menjawab, hati bisa bersedih, dan mata meneteskan air matanya, tetapi kita tidak berkata kecuali sesuatu yang membuat Ridho Tuhan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya bisa jadi kesimpulan dari Beliau adalah, kalau sekedar meneteskan air mata sebab tersentuh, tidak jadi masalah, bisa jadi menunjukkan kelembutan hati, seperti Nabi kita yang memang terkenal dengan kelembutan hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah yang nggak boleh itu kan yang nangis sampai teriak-teriak kayak orang gila, mengaduk-aduk rambut, menaburinya dengan debu, merobek-robek baju, memukul-mukul wajah dan tubuh. Apalagi kalau hal ini dilakukan saat kematian, bisa menyebabkan penyiksaan pada si mayat sebab ulah edan keluarga yang ditinggal. Ini yang dalam Islam disebut sebagai Niyahah yang diharamkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permasalah menangis memang sangat aneh sekali. Pasti ada perasaan sangat lega sekali usai kita meneteskan air mata. Dan pada momen tertentu, hati terasa lebih cerah dan lapang, bahkan wajah nampak bercahaya meski mata sembab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang tidak bisa menangis pun diidentifikasi sebagai orang yang keras hati, dan bisa dianggap tidak mempunyai perasaan. Seseorang yang cenderung berdarah dingin dan kejam. Meski tentu tidak semua seperti itu (kayak halnya orang penangis adakalanya tangisannya tangisan kadal saja, untuk menipu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi apapun keadaannya, memang ada iluminasi dan sensasi habis menangis. Bagi yang bisa merasakan, mendadak akan sangat banyak sekali inspirasi usai menangis, entah itu negatif (efek tangisan marah, cemburu), entah itu positif (efek tangisan trenyuh dan belas kasihan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh ya, jadi ingat cerita beberapa hari lalu, saat kami seasram sedang iseng saja nonton film India. Eh tiba-tiba mendadak teman-teman gaduh bukan buatan, ramai, pasalnya di ujung lain, ternyata ada salah satu teman yang menangis tersedu-sedu sebab adegan mengharukan film itu. Apalagi sang teman ini memiliki fisik besar, wajah sangar, eh nangis saat lihat film India. Sebagian teman menggojloknya habis dengan julukan baru, "Gagah gemulai". :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir catatan, menangislah untuk melembutkan hatimu. Kekerasan hati hanya bisa dilunturkan oleh air mata, sebab apapun itu. Dan tak ada di muka bumi ini orang yang paling celaka hidupnya kecuali mereka-mereka yang keras hatinya.. Qolbun Qosi.. Kita berlindung pada Allah, dari perubahan negatif sebab kerasnya hati yang bisa melebihi baja.&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Jabat Tangan.. Cewek-Cowok</title><link>http://momen-ku.blogspot.com/2011/04/jabat-tangan-cewek-cowok.html</link><category>Catatan Khusus</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 27 Apr 2011 22:01:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581257254544916054.post-6236047660411156092</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai pribadi yang sejak lahir hidup dan tumbuh berkembang di area pesantren, tentu saja soal pergaulan antar lain jenis adalah hal yang sangat diperhatikan oleh Babaku terhadapku dan adik-adikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kecil aku dididik bagaimana tata cara bergaul dengan wanita, cara berinteraksi dengan mereka, mana yang baik dan mana yang tidak. Hal yang sangat berbeda saat aku dilepaskan bermain dengan sesama teman laki-laki, paling yang dipesankan adalah hanya menjaga perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi sejak semakin besar, sikap Baba terhadapku dalam masalah pergaulan dengan lain jenis, mulai agak ketat, terlebih aku sendiri belajar di sekolah umum yang campur antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, tentu saja hal itu (singkatnya) membuatku agak menjaga jarak dengan wanita secara langsung, meski aku tidak menutup sama sekali pertemanan dengan mereka. Jadi gampangnya penggambaran, saat teman-temanku yang lain suka berkumpul, berbaur, pergi bersama-sama, bersepeda, rujakan, cewek cowok, maka aku lebih suka menyendiri. Atau jika pas diajak, lebih memilih mojok dan melihat mereka bercanda. Mental yang terbentuk dengan sendirinya. Sebab ternyata juga ada rasa malu yang tidak biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja hal ini berpengaruh juga pada bentuk interaksi sosialku yang lain semisal berjabat tangan. Aku terbiasa melihat teman-temanku cewek cowok saling berjabat tangan, terutama jika hari raya. Namun aku, lebih suka menyelipkan tanganku di saku celana sambil tersenyum saja sembari minta maaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seingatku, wanita non mahram yang aku salami dan aku cium tangannya, hanya Ibu-Ibu Guruku saja. Dan tentu saja kerabat-kerabat dekat, semisal sepupu, yang memang adatnya di manapun sudah seperti saudara, jadi ya salaman biasa saja (malah aku kira dulu bersentuhan dengan sepupu itu tidak membatalkan wudhu, sebab saking dekatnya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sejak masuk pesantren, keketatan sikapku terhadap wanita tentu saja frekwensinya agak meningkat, bahkan mulai merambah pada sepupu-sepupuku cewekku. Pada kesempatan-kesempatan semisal hari raya, aku mulai agak jarak bersalaman. Kecuali jika tidak didahului.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal ini sih memang bagaimana ya, tentu saja kalau ada wanita, siapapun, mengulurkan tangannya padaku, maka mau tak mau aku pasti menyambut menjabat tangannya, dengan reaksi kikuk dan tangan rasanya kayak gatal-gatal setelahnya, sebab risih. Tidak terbiasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah aku pernah mengalami kejadian unik. Seperti biasa, saat hari raya kami berkumpul seluruhnya di rumah Kakek kami. Sebagian sepupu cewek yang usianya lebih tua dariku, tahu sikapku yang menurut mereka semakin tidak familiar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera saja mereka menghampiri dan mengajakku salaman sambil mengambil tanganku dan bilang, "cak, salaman cak, aku wong ndeso, biasa ae salaman karo wong-wong ndeso, ora usah nggayah ra gelem salaman", (Kak, berjabat tangan, aku orang desa, biasa sajalah berjabat tangan dengan orang desa, tidak usah sok gaya nggak mau salaman), gubrak! sembari mereka menggenggam erat tanganku dan menggoyang-goyangkannya keras-keras :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang persoalan jabat tangan antar lain jenis, antar cewek cowok, kerap kali membuat kita serba sulit. Terutama antar kerabat, atau antar sahabat yang lama tak jumpa, atau yang berprofesi dengan pekerjaan yang mengharuskan berinteraksi dengan siapapun semisal di dunia kedokteran dan keperawatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama' sendiri sejak dahulu tarik ulur adu argumen dan dalil soal apakah jabat tangan antar lain jenis itu mutlak haram apa tidak, atau saat kapan saja yang boleh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, ada dua hal yang disepakati bersama dan tidak ada perselisihan sama sekali, serta sekaligus menjadi patokan umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, berjabat tangan haram jika terdapat syahwat saat berjabat tangan dan jika ternyata menimbulkan fitnah. Dalam keadaan ini pun, bahkan jabat tangan yang asalnya boleh, semisal pada bibi, tetapi ternyata disertai oleh libido yang terpancing, maka jabat tangan seketika haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, diperbolehkan berjabat tangan kepada mereka yang tidak membangkitkan syahwat, semisal kepada nenek-nenek, atau kepada cewek cilik yang belum baligh (tapi kalau kamu pedopil, idih amit-amit, ya jelas haram).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, sekarang yang jadi masalah, adalah yang selain itu. Bagaimana jika bersalaman dengan non mahram tetapi tidak rasa syahwat, tidak ada perasaan apapun dan sama sekali tidak akan timbul fitnah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beragam dan bermacam jawaban dengan berbagai dalil dan argumen. Ada yang mengharamkannya sama sekali untuk menutup kemungkinan (ini yang mayoritas dan sangat jamak sejak dulu), daripada terjadi yang tidak-tidak, mending nggak usah salaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ada pula yang membolehkan tapi harus dengan syarat utama tadi, serta jika didahului. Jadi sebaiknya (bagi kita yang mengerti) tidak mendahului bersalaman. Namun jika diajak bersalaman, dan yakin aman serta tidak ada apa-apa, maka terima jabat tangannya. Pendapat ini diuraikan oleh Syaikh Yusuf Al-Qordhowi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab (kata beliau) tidak ada dalil jelas yang mengharamkan. Ketidakpernahan Nabi berjabat tangan dengan wanita, bukan lantas menunjukkan keharaman. Apalagi ada hadits di Bukhori yang menyatakan ada salah satu wanita anshar yang menjabat tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhasil, persoalan ini kita mesti arif menyikapinya. Apalagi di kalangan masyarakat kita yang kebanyakan menganggap berjabat tangan tidak menjadi masalah apa-apa. Soal kemantapan hati ikut yang mana, masing-masing sudah ada jawaban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan bagi yang ikut boleh, harus memperhatikan dua hal utama, yaitu tidak adanya syahwat dan tidak adanya kemungkinan bakal fitnah, jika salah satu syarat ini hilang, maka jabat tangan seketika haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, jika disalami, maka baru membalas uluran salam itu. Dan seyogyanya tidak usah mendahului, biar lah didahului, dan jangan terlalu sering menyalami siapapun lain jenis. Seperlunya saja. Wallahu a'lam...&lt;/div&gt;</description></item></channel></rss>