<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>Column</title> <link>http://www.mossackanme.web.id/column</link> <description>...a citizen journalism...</description> <lastBuildDate>Sun, 05 Jun 2011 13:20:41 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator> <xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /> <atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/MossackAnme/id/Column" /><feedburner:info uri="mossackanme/id/column" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</creativeCommons:license><image><link>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</link><url>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</url><title>Some Rights Reserved</title></image><feedburner:emailServiceId>MossackAnme/id/Column</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><title>Enam Lima, Pensiun Generasi Pertama</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/y3JS0CUhvQU/enam-lima-pensiun-generasi-pertama.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/peristiwa/enam-lima-pensiun-generasi-pertama.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 17 Aug 2010 19:29:19 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Peristiwa]]></category> <category><![CDATA[bangsa]]></category> <category><![CDATA[cita-cita]]></category> <category><![CDATA[enam lima]]></category> <category><![CDATA[generasi]]></category> <category><![CDATA[Indonesia]]></category> <category><![CDATA[karyawan]]></category> <category><![CDATA[kebudayaan]]></category> <category><![CDATA[kemerdekaan]]></category> <category><![CDATA[keragaman]]></category> <category><![CDATA[kolonialisme]]></category> <category><![CDATA[menteri]]></category> <category><![CDATA[merdeka]]></category> <category><![CDATA[negara]]></category> <category><![CDATA[pemuda]]></category> <category><![CDATA[penjajahan]]></category> <category><![CDATA[pensiun]]></category> <category><![CDATA[Presiden]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/column/?p=282</guid> <description><![CDATA[Amputasi massal, mungkin itu mimpi ideal dalam suatu ide yang bengal. Inilah faktanya. Pensiunnya suatu generasi bukanlah akhir dari suatu misi mengelabuhi diri, suatu reformasi menjadi-jadi, namun awal dari misi kemerdekaan hakiki ketika semuanya bahu-membahu di kerangka nilai. Indonesia akan terus merdeka!]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia tidak sehat, namun Indonesia masih dan akan terus mampu ke masa depan melihat. Indonesia tidak berjalan tegak, namun Indonesia masih berjalan dengan gagah dan terus bergerak. Enam lima usianya, masih enam lima dan akan terus bertambah sampai angka tidak terbatas bahkan melebihi googol yang terbatas. Enam lima usianya, masih enam lima dibandingkan banyak negara lain yang melebihi, dan banyak negara lain yang kurang dari.</p><p><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 540px"><img class="   " src="http://www.algearithm.web.id/illustration/Indonesia65.gif?2" alt="" width="530" /><p class="wp-caption-text">Indonesia 65. (Algearithm.web.id)</p></div><span id="more-282"></span></p><p> Entah itu hakim agung, presiden, menteri, atau karyawan swasta, inilah batas alami ketika generasi yang lahir sebelum 45 mencapai titik istirahat. Mereka butuh istirahat sebagaimana profesor-pun membutuhkan ketenangan disaat otaknya masih terlalu brilian untuk diistirahatkan. Enam lima takkan menghapus mereka, namun enam lima adalah saat yang tepat untuk melepaskan segala ambisi yang masih menderu untuk memimpin bangsa. Berubahlah menjadi penuntun, dan teruslah menuntun. Namun tuntunan orang tua jangan pernah menjadi pengendali atas masa depan bangsa ini.</p><p> Bisa dilihat, salah satu tanda dimulai dari dekan termuda suatu fakultas bergengsi, dilanjutkan ketua umum suatu partai besar, dan terus menerus berlanjut menjadi pergantian massal pemegang tongkat estafet itu. Kepercayaan yang tadinya berisi kesinisan mengenai kemampuan, hendaknya dilebur dengan kebutuhan untuk memberdayakan modal. <span class="pullquote">Dua ratus dua puluh juta bukan angka yang kecil untuk mencari jutaan penerus yang (minimal) akan sebanding dengan generasi pertama pada puncak jayanya.</span></p><p> Amputasi massal, mungkin itu mimpi ideal dalam suatu ide yang bengal. Inilah faktanya. Fakta tak kasat mata untuk dapat mengakui bahwa amputasi massal sedang berlangsung. Bukan amputasi karena kecacatan, namun amputasi ranting-ranting sebuah negara untuk mempersilahkan tumbuhnya tunas-tunas baru menjadi batang yang lebih perkasa. Indonesia akan terus merdeka, dulu merdeka dari penjajahan fisik kolonialisme, dan sekarang merdeka dari penjajahan oleh diri sendiri.</p><p> Mengapa diri sendiri? Ya diri sendiri, karena masih terlalu banyak pemuda yang masih tidak memerdekakan diri mereka sendiri. Masih banyak pemuda yang menuntut kemerdekaan tanpa berbuat banyak untuk mengisi kemerdekaan ini. Menjadi oposisi nomor satu, menjadi kritikus nomor satu, namun ternyata sekaligus menjadi penghambat pembangunan nomor satu. Tongkat estafet dirasa begitu berat, ketika diminta untuk memegangnya. Pelarian akan kenyataan, malah menebar isu yang sama sekali tidak tahu dari mana asal dan argumen yang berani dipertanggungjawabkan satu lawan satu.</p><p> Disitulah peran generasi pertama, merangkul membimbing mendidik. Formal dan informal harus selaras, sama seperti kebutuhan dan usaha yang harus juga tak bias. Maka, pensiunnya suatu generasi bukanlah akhir dari suatu misi yang mengelabuhi diri, suatu reformasi yang bablas menjadi-jadi, namun awal dari misi untuk mencapai visi yang selaras, kemerdekaan tanpa keterpaksaan, kemerdekaan hakiki ketika semuanya bahu-membahu dalam kerangka nilai. Nilai kebanggaan menjunjung nama Indonesia, nilai keterbukaan menyatakan keragaman Indonesia, nilai kebudayaan mendukung lintas batas identitas dalam cita-cita Indonesia.</p><p> Mari, tongkat estafet itu sudah dijulurkan. Jangan takut, jangan sinis dengan kenyataan. Bagaimanapun keadaannya, inilah modal kita untuk membangun semuanya menjadi lebih baik. Yang lalu sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah menunggu.</p><p> Enam lima, pensiun generasi pertama.</p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/peristiwa/enam-lima-pensiun-generasi-pertama.html" title="batas pensiun pegawai swasta">batas pensiun pegawai swasta</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/peristiwa/enam-lima-pensiun-generasi-pertama.html" title="gadis amputasi">gadis amputasi</a> (2)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/indonesia-menuju-orde-terbaru.html" rel="bookmark">Indonesia, Menuju Orde terBaru</a></b><br />Reformasi, kata itu masih sering terdengar di telinga kita bahkan -relatif- sudah tertanam dalam diri anak muda yang ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/politik-secawan-air-raksa.html" rel="bookmark">Politik Secawan Air Raksa</a></b><br />PARTAI-partai itu bergerak nyaris tanpa pola. Sebentar ke utara, sebentar ke selatan, lompat ke timur—atau menikung ke barat ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" rel="bookmark">Cicak, Takkan Pernah Punah Menjadi Tanah</a></b><br />Siang tadi kita melihat dengan telinga telanjang bagaimana fakta menelanjangi para penjaganya, bagaimana kredibilitas dipertaruhkan dan coba dipertahankan ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/y3JS0CUhvQU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/peristiwa/enam-lima-pensiun-generasi-pertama.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/peristiwa/enam-lima-pensiun-generasi-pertama.html</feedburner:origLink></item> <item><title>Vox populi, vox Dei : Sebuah Ketidaksempurnaan Pemahaman</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/e3jRw2bAdQM/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html#comments</comments> <pubDate>Sun, 15 Aug 2010 18:05:58 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Filsafat]]></category> <category><![CDATA[Abraham]]></category> <category><![CDATA[Alcuin]]></category> <category><![CDATA[Charlemagne]]></category> <category><![CDATA[golongan]]></category> <category><![CDATA[Manusia]]></category> <category><![CDATA[Menara Babel]]></category> <category><![CDATA[negara]]></category> <category><![CDATA[pemerintahan]]></category> <category><![CDATA[politis]]></category> <category><![CDATA[religiusitas]]></category> <category><![CDATA[sejarawan Inggris]]></category> <category><![CDATA[simbol]]></category> <category><![CDATA[surga]]></category> <category><![CDATA[talenta]]></category> <category><![CDATA[Tower of Babel]]></category> <category><![CDATA[TUHAN]]></category> <category><![CDATA[vox dei]]></category> <category><![CDATA[vox populi]]></category> <category><![CDATA[William of Malmesbury]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/column/?p=258</guid> <description><![CDATA[Secara literasi, "vox populi" mempunyai arti "voice of the people," sedangkan "vox Dei" mempunyai arti "voice of God," dan selanjutnya menjadi sebuah nilai kearifan politis ketika disatukan dan dipergunakan untuk menyimbolkan kekuatan rakyat yang mencerminkan kehendak Tuhan atas suatu keputusan negara. Namun, apakah memang seperti itu?]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Frase tersebut disebarluaskan oleh seorang sejarawan Inggris, <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://en.wikipedia.org/wiki/William_of_Malmesbury">William of Malmesbury</a>, pada abad ke-12. Jejak sebelumnya ditemukan pada sebuah surat dari <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://en.wikipedia.org/wiki/Alcuin">Alcuin</a> kepada <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://en.wikipedia.org/wiki/Charlemagne">Charlemagne</a> pada akhir abad ke-8.</p><p><em>Vox populi</em> secara literasi mempunyai arti &#8220;<em>voice of the people</em>,&#8221; sedangkan <em>vox Dei</em> mempunyai arti &#8220;<em>voice of God</em>,&#8221; dan selanjutnya menjadi sebuah nilai kearifan politis ketika disatukan dan dipergunakan untuk menyimbolkan kekuatan rakyat yang mencerminkan kehendak Tuhan atas suatu keputusan negara. Namun, apakah memang seperti itu?<span id="more-258"></span></p><blockquote><p style="text-align: center;"><em>Vox populi, vox Dei</em><br /> <em>The voice of the people [is] the voice of God</em></p></blockquote><div class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://www.algearithm.web.id/illustration/350px-Confusion_of_Tongues.png" alt="The Confusion of Tongues by Gustave Doré (1865) Wikipedia" width="250" height="290" /><p class="wp-caption-text">The Confusion of Tongues by Gustave Doré (1865), from Wikipedia</p></div><p>Bercermin pada kenyataan masa lampau, ada sebuah kejadian yag melibatkan <em>populi</em> sebagai tokoh utama, yaitu <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://en.wikipedia.org/wiki/Tower_of_Babel"><em>Tower of Babel</em></a>. Disamping itu pada sebuah simbolisme dalam ajaran salah satu keyakinan Abrahamik, yaitu manusia mempunyai tugasnya masing-masing sebagai anggota dari Tubuh TUHAN.</p><p>Setiap manusia itu spesial, masing-masing merupakan orang biasa bagi dirinya sendiri, namun istimewa bagi orang lain. Keistimewaan masing-masing terletak pada talenta yang diberikan secara khusus, walau dengan kemiripan namun tak pasti sama, akhirnya melengkapi satu dengan yang lain. Ketika satu manusia bersatu dengan manusia lain, maka keistimewaan itu akan melebur. Satu dengan satu, dua ditambah satu, tiga ditambah satu, dan bertambah terus. Renungkan, ketika seluruh manusia bersatu, bagaimanakah hasil dari peleburan itu? Sebuah citra mahadahsyat akan muncul, sebuah kemampuan mahatinggi akan muncul, <em>Vox populi vox Dei</em> yang sebenarnya.</p><p>Ternyata, citra mahadahsyat tersebut merupakan perwujudan kenyataan dari simbolisme dalam ajaran tersebut. Ya, persatuan umat manusia adalah sebuah kesempurnaan Tuhan, dan ketika persatuan umat manusia itu terjadi, muncullah &#8220;Tuhan&#8221; lain. Dan kita tahu, Yang Tertinggi akhirnya menggagalkan rencana itu, lalu memecahbelah umat manusia menjadi bermacam bahasa, untuk mencegah munculnya &#8220;Tuhan&#8221; lain tersebut, yang berasal dari ego persatuan umat manusia.</p><blockquote><p style="text-align: left;"><em>And those people should not be listened to who keep saying the voice of the people is the voice of God, since the riotousness of the crowd is always very close to madness.</em></p><p style="text-align: right;">Alcuin (798 Masehi)</p></blockquote><p>Saat ini, kearifan politis dari frase tersebut ternyata menjadi senjata yang ampuh untuk menekan kekuasaan sebuah negara. Ironis, bahwa <em>vox populi</em> dalam sebuah negara dikendalikan oleh aliran informasi dari sumber yang itu-itu saja, walau melalui banyak orang. <em>Vox populi vox Dei</em> menjadi kabur artinya, dan memunculkan egoisme golongan. Dan banyak orang tidak sadar bahwa <em>vox populi vox Dei</em> adalah nilai seluruh manusia di bumi, bukan secuplik manusia di suatu negara, apalagi sekumpulan manusia dari golongan yang sama.</p><p>Ketika lambat laun cita-cita menyatukan umat manusia di bawah satu pemerintahan kembali muncul, banyak orang tidak sadar bahwa <em>Tower of Babel</em> telah memasuki episode baru. Menara Babel, dibungkus oleh kearifan lain yang memuaskan dahaga kemanusiaan. Ya, <span class="pullquote"><em>vox populi vox Dei</em> menemukan kembali bentuk aslinya, <em>vox populi vox Dei</em> lahir kembali dari rahim politis dan religiusitas golongan.</span></p><p>Lalu, apakah kita akan mengulangi lagi kesalahan masa lalu? Merasa bahwa persatuan umat manusia adalah sebuah tujuan suci, dengan tidak sadar bahwa ketika tujuan tersebut tercapai maka akan muncul &#8220;Tuhan&#8221; lain, <em>vox populi vox Dei</em>? Dengan cara seperti itukah manusia akan mencapai surga, atau malah itu jalan pintas menuju surga?</p><p>Dua pertanyaan terakhir:</p><blockquote><p>Siapakah perencana babak baru <em>Tower of Babel</em> ini?<br /> Siapakah yang berusaha membawa manusia untuk menyamai Tuhan?</p></blockquote><p>Sadarilah hal ini.</p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="vox populi vox dei">vox populi vox dei</a> (48)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="arti vox populi">arti vox populi</a> (5)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="vox populi adalah">vox populi adalah</a> (4)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="pengertian vox populi vox dei">pengertian vox populi vox dei</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="arti vox pupuli vox dei">arti vox pupuli vox dei</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="apa arti dari vox popoli voxdei">apa arti dari vox popoli voxdei</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="vox populi">vox populi</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="pengertian vox populi">pengertian vox populi</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="filosofi ketidaksempurnaan manusia">filosofi ketidaksempurnaan manusia</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html" rel="bookmark">Nyanyi Sunyi Putri Tiri</a></b><br />Bila Nabi Muhammad yang dinista, maka media massa dengan buas melahapnya. Para petinggi dan pesohor pun akan angkat ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html" rel="bookmark">TUHAN itu Ada Apa Ada-NYA</a></b><br />Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku percaya ada "AKU" yang lebih besar dari diriku. Aku percaya TUHAN ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/indonesia-menuju-orde-terbaru.html" rel="bookmark">Indonesia, Menuju Orde terBaru</a></b><br />Reformasi, kata itu masih sering terdengar di telinga kita bahkan -relatif- sudah tertanam dalam diri anak muda yang ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/e3jRw2bAdQM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>2</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html</feedburner:origLink></item> <item><title>TUHAN itu Ada Apa Ada-NYA</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/SyG5qRthMus/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html#comments</comments> <pubDate>Fri, 09 Jul 2010 06:35:14 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Filsafat]]></category> <category><![CDATA[agama]]></category> <category><![CDATA[Dunia]]></category> <category><![CDATA[Hidup]]></category> <category><![CDATA[Iblis]]></category> <category><![CDATA[Iman]]></category> <category><![CDATA[Kalangan]]></category> <category><![CDATA[Kepercayaan]]></category> <category><![CDATA[Lingkungan]]></category> <category><![CDATA[Malaikat]]></category> <category><![CDATA[Manusia]]></category> <category><![CDATA[Mati]]></category> <category><![CDATA[Pemahaman]]></category> <category><![CDATA[Perbedaan]]></category> <category><![CDATA[Persamaan]]></category> <category><![CDATA[Tembok]]></category> <category><![CDATA[TUHAN]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/column/?p=157</guid> <description><![CDATA[Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku percaya ada &#8220;AKU&#8221; yang lebih besar dari diriku. Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku melihat ketidakpastian dunia yang merupakan kenyataan akan apa yang diberikan-NYA pada manusia. Aku peduli pada TUHAN, bukan karena sekedar memanggil-NYA memakai HURUF BESAR, dan bukan karena aku meneriakkan nama-NYA, melainkan karena Diri-NYA adalah [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku percaya ada &#8220;AKU&#8221; yang lebih besar dari diriku.<br /> Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku melihat ketidakpastian dunia yang merupakan kenyataan akan apa yang diberikan-NYA pada manusia.</p><p style="text-align: justify;">Aku peduli pada TUHAN, bukan karena sekedar memanggil-NYA memakai HURUF BESAR, dan bukan karena aku meneriakkan nama-NYA, melainkan karena Diri-NYA adalah Beliau, Ia dan Dia, Diri-NYA-lah Diri-NYA.</p><p style="text-align: justify;"><img style="margin-left:-16px;" src="http://www.algearithm.web.id/illustration/TUHANtu.gif" alt="" width="530" /></p><p style="text-align: justify;">Dia berkuasa, tetapi tetap membiarkan kita tumbuh dewasa dengan digembleng oleh lingkungan yang kita ciptakan sendiri.<br /> Kemandirian yang Beliau harapkan kepada kita, yang akhirnya juga membuat banyak orang bablas pada pemahaman dan kepercayaan mutlak pada diri sendiri.<span id="more-157"></span></p><p style="text-align: justify;">Dia berkuasa atas segalanya, tetapi memberi kesempatan kepada pilihan. Dia bisa, tetapi sayang-NYA kepada kita membuat Dia seperti berdiam diri.<br /> <span class="pullquote">Banyak orang gagal karena protes terhadap diamnya Diri-NYA, tapi aku percaya, bahwa diamnya Diri-NYA bukanlah diamnya kenyataan bahwa kitalah yang seharusnya berbuat, kitalah yang harus menjadi berkah bagi orang-orang yang kita ratapi keadaannya</span>, ironisnya hanya meratap tanpa berbuat sesuatu yang mantap.</p><p style="text-align: justify;">Dia mampu, Dia mau, tetapi Dia selalu memberi perbedaan kepada kita agar bisa menjadi suatu kesatuan tubuh yang utuh.<br /> Ironis bahwa kita menginginkan persamaan sekaligus membangun tembok ganda terhadap perbedaan: tembok agama sebagai kedok imani, dan tembok eksklusivitas kalangan sebagai tembok humani.</p><p style="text-align: justify;">TUHAN itu ada, dan akan selalu ada walau banyak protes terhadap Diri-NYA. Dan walau ketika mati kita tidak bertemu TUHAN, maka jangan kaget kalau sebenarnya kita sendiri yang selama hidup melarang Dia untuk bertemu dengan kita.<br /> TUHAN itu ada, dan akan selalu ada bagi malaikat untuk menuntun kita, dan bagi iblis untuk melindungi kita.<br /> TUHAN itu ada, benar-benar ada, karena aku pernah bertemu dengan-NYA.</p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html" title="filsafat tuhan itu ada">filsafat tuhan itu ada</a> (5)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html" title="aku percaya bahwa tuhan itu ada">aku percaya bahwa tuhan itu ada</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html" title="filsafat dan kepercayaan manusia">filsafat dan kepercayaan manusia</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html" title="filsafat dengan tuhan">filsafat dengan tuhan</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html" title="filsafat tuhan">filsafat tuhan</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" rel="bookmark">Cicak, Takkan Pernah Punah Menjadi Tanah</a></b><br />Siang tadi kita melihat dengan telinga telanjang bagaimana fakta menelanjangi para penjaganya, bagaimana kredibilitas dipertaruhkan dan coba dipertahankan ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" rel="bookmark">Vox populi, vox Dei : Sebuah Ketidaksempurnaan Pemahaman</a></b><br />Frase tersebut disebarluaskan oleh seorang sejarawan Inggris, William of Malmesbury, pada abad ke-12. Jejak sebelumnya ditemukan pada sebuah ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/tak-ada-gadis-yang-tak-retak-renungan-kesucian-wanita.html" rel="bookmark">Tak Ada Gadis yang Tak Retak</a></b><br />Sebuah renungan akan apa yang disebut dengan kesucian Masih relevankah sebuah norma dalam kondisi dewasa ini. Ketika pertanyaan ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/SyG5qRthMus" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>2</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html</feedburner:origLink></item> <item><title>Nyanyi Sunyi Putri Tiri</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/iRjiEe7XwVg/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 26 Jun 2010 14:07:07 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Birokrasi]]></category> <category><![CDATA[Al Masih]]></category> <category><![CDATA[blogger]]></category> <category><![CDATA[demonstrasi]]></category> <category><![CDATA[FPI]]></category> <category><![CDATA[Google]]></category> <category><![CDATA[Halimah]]></category> <category><![CDATA[Isa]]></category> <category><![CDATA[Islam]]></category> <category><![CDATA[Kalamullah]]></category> <category><![CDATA[Khadijjah]]></category> <category><![CDATA[Mabes]]></category> <category><![CDATA[media]]></category> <category><![CDATA[menteri]]></category> <category><![CDATA[Muhammad]]></category> <category><![CDATA[Nabi]]></category> <category><![CDATA[Partai Keadilan Sejahtera]]></category> <category><![CDATA[pesohor]]></category> <category><![CDATA[petinggi]]></category> <category><![CDATA[POLRI]]></category> <category><![CDATA[porno]]></category> <category><![CDATA[RUU ITE]]></category> <category><![CDATA[Sembiring]]></category> <category><![CDATA[Siti]]></category> <category><![CDATA[Tifatul]]></category> <category><![CDATA[umat]]></category> <category><![CDATA[Waraqah bin Naufal]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/column/?p=170</guid> <description><![CDATA[Ketika Nabi Isa Al Masih Al Kalamullah yang dilecehkan, hanya segelintir media berani angkat bicara. Tak ada demonstrasi, tak ada ancaman amuk masa. Apakah karena yang dicela adalah Isa Al Masih sehingga tak ada yang peduli?]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bila Nabi Muhammad yang dinista, maka media massa dengan buas melahapnya. Para petinggi dan pesohor pun akan angkat bicara. Demonstrasi marak dimana-mana, masih ditambah potensi kerusuhan, entah itu skala kecil atau besar. Polisi pun tidak tinggal diam, bergegas menangkap si pelaku. Lalu diikuti pengadilan yang lagi-lagi mendapat sorotan media massa. Manusia-manusia yang sehari-hari tidak peduli pun menjadi pura-pura ikut peduli dan ikut panas.</p><p style="text-align: justify;">Tapi ketika Nabi Isa Al Masih Al Kalamullah yang dilecehkan, hanya segelintir media berani angkat bicara. Itu pun hanya satu hari. Bahkan suatu koran elektronik segera menghapus beritanya, berselang beberapa jam setelah berita tersebut diterbitkan. Tak ada demonstrasi, tak ada ancaman amuk masa. Muncul di halaman satu Kyai Google cuman terhitung sampai 3 hari. Mabes POLRI yang mengetahui berita itu diam seribu bahasa. FPI yang biasanya ganas dan bar-bar ketika ada sosok nabi yang dicelapun terdiam seperti mayat. Apakah karena yang dicela adalah Isa Al Masih sehingga tak ada yang peduli? Ataukah karena yang melecehkan adalah sesosok menteri sekaligus petinggi Partai Keadilan Sejahtera yang notabene adalah partai yang [seolah-olah] Islam sehingga semua terbungkam? Jauh semenjak sebelum negara ini merdeka, umat Al Masih pribumi memang di-anak tiri-kan di negeri ini, tapi sungguh mengerikan bila tindakan peng-&#8221;anak tiri&#8221;-an itu terlalu nampak menyolok seperti saat ini, bahkan jauh lebih menyolok mata dibanding jaman penjajahan.</p><p style="text-align: justify;"><span id="more-170"></span><span class="pullquote">Perilaku sex bintang film memang lumrah untuk di-<em>blow up</em> media masa. Namun, apalah itu bila dibandingkan dengan besarnya kesalahan Tifatul Sembiring yang menghujat Isa Al Masih dengan memperbandingkan sosok mulia itu dengan pemeran utama film porno?</span> Sok Pahlawan dengan berusaha membungkam mulut para blogger dan forumer dengan RUU ITE, sementara yang harusnya dibungkam justru mulutnya sendiri yang tak kenal rasa hormat kepada Isa Al Masih yang dilantik oleh Allah menjadi Raja Diraja. Kiranya Allah menampar &#8220;mulut harimau&#8221; Tifatul Sembiring.</p><p style="text-align: justify;">Sungguh memuakkan menonton &#8220;binatang&#8221; televisi yang dengan buas hendak melahap perilaku seks, tapi tidak doyan melahap perilaku pelecehan yang lebih parah. Apakah itu karena pelaku pelecehan nabi itu menteri yang berkuasa atas media masa sehingga televisi jadi enggan untuk mem-<em>blow-up</em>-nya? Ataukah karena media punya nafsu sex yang besar, lebih dari penghargaannya kepada Isa Al Masih?</p><p><img style="margin-left:-16px;" src="http://www.algearithm.web.id/illustration/Agama-Birokrasi-Politik.gif" alt="" width="530" /></p><p style="text-align: justify;">Apakah itu yang disebut sebagai keadilan yang diperjuangkan oleh partainya Tifatul Sembiring yang bernama Keadilan? Partai yang [konon] memperjuangkan keadilan tapi nampak jelas tidak memperjuangkan keadilan ketika bos besarnya yang duduk di dewan syuro justru pelaku ketidakadilan itu sendiri. Kalau begitu, ada baiknya bila partai tersebut berganti nama menjadi Partai Boro-Boro Adil saja.</p><p style="text-align: justify;">Beranikah kita mempercayakan masa depan negeri dan bangsa ini kepada manusia macam Tifatul Sembiring ini? Tidak takutkah kita dengan standar ganda yang dipakainya? Tidak takutlah kita bila suatu saat mereka akan mengkhianati dan menerkam kita seperti rubah menerkam ayam hutam? Relakah kita bila kelak, ketika dia makin berkuasa, maka dia akan semakin getol melecehkan Isa Al Masih junjungan kita dan bahkan mungkin pula nabi-nabi lain?</p><p style="text-align: justify;">Umat nabi Muhammad yang sejati tidak akan mungkin melakukan perbandingan yang tidak senonoh semacam itu, karena nabi Muhammad tidak pernah memperbandingkan Isa Al Masih dengan sesuatu yang tidak sepantasnya. Nabi Muhammad juga berlaku pelindung terhadap umat Al Masih, terlebih istrinya (Siti Khadijjah), pamannya (Waraqah bin Naufal), dan ibu angkatnya (Halimah) adalah umat Al Masih yang saleh. Bahkan Waraqah bin Naufal adalah pemimpin umat Al Masih mekah dan yang menikahkan nabi Muhammad dengan Siti Khadijjah.</p><p style="text-align: justify;">Berdasarkan fakta sejarah ini, maka kita dapat menganggap bahwa Tifatul Sembiring bukan umat sejati Nabi Muhammad, dengan kata lain, dia adalah &#8220;barang palsu&#8221;, &#8220;produk palsu&#8221;, atau &#8220;produk gagal&#8221; . Bila dia adalah &#8220;barang palsu&#8221;, mengapa &#8220;barang palsu&#8221; bisa menjadi anggota Dewan Syuro suatu partai yang katanya partai agamis? Mengapa pula partai itu diam saja ketika nabi Isa Al Masih yang merupakan satu dari 25 nabi dilecehkannya? Apakah itu berarti partai tersebut permisif terhadap tindakan pelecehan kepada nabi asalkan nabi yang dilecehkan itu bukan nabi Muhammad? Ataukah mereka sama palsunya? Untuk membuktikan bahwa partai itu bukan partai yang terdiri dari &#8220;barang palsu&#8221; sungguh mudah: pecat Tifatul Sembiring dari jabatannya secara tidak hormat! Tindakan ini akan meyakinkan umat bahwa partai tersebut tidak mentolerir &#8220;barang palsu&#8221; di dalam jajaran pimpinannya dan akan kembali memulihkan citra partai yang telah tercabik dan terkoyak akibat perilaku oknumnya itu.</p><p style="text-align: right;"><span style="font-size: 70%;">LingkarStudi</span></p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html" title="nyanyian sunyi sang guru">nyanyian sunyi sang guru</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/koalisi-kalang-kabut.html" rel="bookmark">Koalisi Kalang Kabut</a></b><br />APA mau dikata, kita sedang dipimpin oleh rezim yang terbelah setelah presiden dan wakilnya menyatakan siap berlaga dalam ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/politik-secawan-air-raksa.html" rel="bookmark">Politik Secawan Air Raksa</a></b><br />PARTAI-partai itu bergerak nyaris tanpa pola. Sebentar ke utara, sebentar ke selatan, lompat ke timur—atau menikung ke barat ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" rel="bookmark">Vox populi, vox Dei : Sebuah Ketidaksempurnaan Pemahaman</a></b><br />Frase tersebut disebarluaskan oleh seorang sejarawan Inggris, William of Malmesbury, pada abad ke-12. Jejak sebelumnya ditemukan pada sebuah ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/iRjiEe7XwVg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html</feedburner:origLink></item> <item><title>Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Sang Guru Bangsa</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/bu5eX1OQtPk/abdurrahman-wahid-gus-dur-sang-guru-bangsa.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/abdurrahman-wahid-gus-dur-sang-guru-bangsa.html#comments</comments> <pubDate>Thu, 31 Dec 2009 08:10:30 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category> <category><![CDATA[Abdurrahman Wahid]]></category> <category><![CDATA[agama]]></category> <category><![CDATA[bangsa]]></category> <category><![CDATA[bendera]]></category> <category><![CDATA[Guru Bangsa]]></category> <category><![CDATA[Gus Dur]]></category> <category><![CDATA[hina]]></category> <category><![CDATA[ilusi]]></category> <category><![CDATA[kibar]]></category> <category><![CDATA[kritis]]></category> <category><![CDATA[legenda]]></category> <category><![CDATA[lelayu]]></category> <category><![CDATA[meditasi]]></category> <category><![CDATA[negara]]></category> <category><![CDATA[rakyat]]></category> <category><![CDATA[SBY]]></category> <category><![CDATA[spiritual]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/opinion/?p=118</guid> <description><![CDATA[Turunkan bendera itu! Naikkan bendera itu! Jangan, jangan sampai ke ujung yang lain! Di tengah, ya, di tengah saja! Kibarkan sampai hari ketujuh! Kibarkan demi Sang Guru Bangsa yang baru saja pergi! Gus Dur, Guru Bangsa yang lebih besar dari SBY sekalipun! Yang membela ketika yang lain mencela, yang bicara ketika yang lain diam. Yang [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><img style="border:none;" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs173.snc3/20044_1188814852876_1603488963_30593636_6732295_n.jpg" alt="" height="320" /></p><p>Turunkan bendera itu!</p><p>Naikkan bendera itu!</p><p>Jangan, jangan sampai ke ujung yang lain!</p><p>Di tengah, ya, di tengah saja!</p><p>Kibarkan sampai hari ketujuh!</p><p>Kibarkan demi Sang Guru Bangsa yang baru saja pergi!</p><p>Gus Dur, Guru Bangsa yang lebih besar dari SBY sekalipun!</p><p>Yang membela ketika yang lain mencela, yang bicara ketika yang lain diam.</p><p>Yang berjuang ketika yang lain takut, yang sudah berdiri ketika yang lain masih duduk.</p><p><span id="more-118"></span></p><p>Gus Dur, orang yang menyadarkan saya akan sebuah ilusi yang sedang menghantui bangsa ini, yang memperingatkan saya dengan keras dan membangunkan sikap kritis saya terhadap hal terkecil sekalipun, walau itu juga membuat diri dibenci oleh sebagian orang, dan disukai oleh sebagian yang lain.</p><p><span class="pullquote">Gus Dur, bukan seorang guru agama, melainkan guru spiritual</span>, guru yang selalu menjerumuskan muridnya ini ke dalam lembah meditasi yang dalam, yang dicapai bukan dengan seonggok otak, tetapi dengan segunung kelapangan diri untuk diingatkan dengan keras, dengan sebuah kerelaan melakukan segala sesuatu dengan ikhlas.</p><p>Gus Dur, yang selalu menerima orang paling hina sekalipun untuk menghadap di rumahnya. <span class="pullquote">Menyilahkan petinggi, dan merangkul rakyat rendah. Dihormati pengikut, disegani pesaing. Ditelikung, tapi terus berjuang. Dikucilkan, tetapi terus berkarya.</span></p><p>Gus Dur, yang akan terus menjadi Gus Dur di hati ini, seorang Gus yang telah menjadi legenda bangsa, legenda seorang Guru Bangsa.</p><p><img style="margin-left:-16px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs173.snc3/20044_1188814892877_1603488963_30593637_2241362_n.jpg" alt="" width="530" /><strong></strong></p><p><strong>Selamat jalan Gus Dur!</strong></p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/abdurrahman-wahid-gus-dur-sang-guru-bangsa.html" title="sosial budaya abdurahman wahid">sosial budaya abdurahman wahid</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/konflik-matematika.html" rel="bookmark">Konflik Matematika</a></b><br />Suatu saat saya mengalami kejadian menarik. Saat itu saya selesai memberikan evaluasi matakuliah kepada kumpulan guru STM mengenai ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/peristiwa/enam-lima-pensiun-generasi-pertama.html" rel="bookmark">Enam Lima, Pensiun Generasi Pertama</a></b><br />Indonesia tidak sehat, namun Indonesia masih dan akan terus mampu ke masa depan melihat. Indonesia tidak berjalan tegak, ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" rel="bookmark">Cicak, Takkan Pernah Punah Menjadi Tanah</a></b><br />Siang tadi kita melihat dengan telinga telanjang bagaimana fakta menelanjangi para penjaganya, bagaimana kredibilitas dipertaruhkan dan coba dipertahankan ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/bu5eX1OQtPk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/abdurrahman-wahid-gus-dur-sang-guru-bangsa.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/abdurrahman-wahid-gus-dur-sang-guru-bangsa.html</feedburner:origLink></item> <item><title>Cicak, Takkan Pernah Punah Menjadi Tanah</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/h0ssw21IBbY/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 03 Nov 2009 23:32:19 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Hukum]]></category> <category><![CDATA[Buaya]]></category> <category><![CDATA[Cicak]]></category> <category><![CDATA[Entitas]]></category> <category><![CDATA[Kadal]]></category> <category><![CDATA[Kebenaran]]></category> <category><![CDATA[Kejaksaan]]></category> <category><![CDATA[Kepolisian Republik Indonesia]]></category> <category><![CDATA[Komisi Pemberantasan Korupsi]]></category> <category><![CDATA[KPK]]></category> <category><![CDATA[POLRI]]></category> <category><![CDATA[Rumah]]></category> <category><![CDATA[Telur]]></category> <category><![CDATA[Tokek]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/opinion/?p=98</guid> <description><![CDATA[Siang tadi kita melihat dengan telinga telanjang bagaimana fakta menelanjangi para penjaganya, bagaimana kredibilitas dipertaruhkan dan coba dipertahankan tanpa melihat bulu yang paling halus sekalipun. Sebuah tembok yang menghalangi pemahaman dirubuhkan dengan tetap berpegang pada asas praduga tak bersalah. Kecintaan yang bergulir bagai bola salju dari atas gunung salju semakin berkilau disinari angin yang menyegarkan [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Siang tadi kita melihat dengan telinga telanjang bagaimana fakta menelanjangi para penjaganya, bagaimana kredibilitas dipertaruhkan dan coba dipertahankan tanpa melihat bulu yang paling halus sekalipun. Sebuah tembok yang menghalangi pemahaman dirubuhkan dengan tetap berpegang pada asas praduga tak bersalah. Kecintaan yang bergulir bagai bola salju dari atas gunung salju semakin berkilau disinari angin yang menyegarkan bagi sebagian orang, tetapi juga menyesakkan bagi sebagian yang lain, angin kebenaran.</p><p>Sore hingga malam tadi sang aktor utama terlihat bersemangat untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, didampingi kroninya yang setia. Menyelimuti diri dengan sesuatu yang baik bagi dirinya, tetapi apakah benar? Belum ada yang tahu kecuali siapapun yang tahu. Ketika tiba-tiba melihat dirinya telanjang, bak sang Adam beliau mencari dedaunan besar untuk menutupi auratnya yang sesaat sebelumnya dia sadari telah dipertontonkan kepada 200 juta orang bahkan lebih dengan sangat jelas.</p><p><img style="margin-left:-16px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs212.snc1/7935_158944953705_824273705_2623155_1684174_n.jpg" alt="" width="530" /></p><p><span id="more-98"></span>Itulah secuplik resensi dari babak baru dialog panas antara resimen mahabesar di negara ini, antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Kejaksaan, beserta para figuran yang malah berperan lebih dominan di dalam alur cerita yang belum selesai ditulis. Semuanya bermuara pada suatu kenyataan baru bahwa yang selamanya benar adalah kebenaran itu sendiri, walau harus mengorbankan beberapa anggota resimen penjaga menjadi tumbalnya.</p><p>Cicak yang selama ini terlihat kecil dan memang kecil dihadapan sang pemangsa ganas ternyata bertahan hidup dengan tetap menempel pada langit-langit rumah setiap pecintanya, setiap pendukungnya yang memilih memburu tokek daripadanya. Kalau buaya berjaya di rawa, maka cicak takkan pernah berjaya dan lalu takabur, tetapi akan tetap diam menunggu mangsa dan mengawasi setiap pergerakan dari setiap penduduk dalam rumah ini, Indonesia. Kalau buaya terkenal lambat berkembang biak, maka cicak kan selalu berbiak pesat dari telur-telur kecilnya yang diletakkan dimana saja dan kapan saja mempersiapkan generasi baru meneruskan generasi dan menjaga bahwa penduduk rumah selalu aman dari gangguan nyamuk dan binatang-binatang kecil penggerogot kekokohan rumah.</p><p>Semuanya bergerak sedikit demi sedikit, mengembalikan populasi dan ruang gerak cicak, memancing para tokek besar yang selama ini hanya menunjukkan suara paraunya dan membanggakan kulit buruknya ketika memperlihatkan diri, membungkam mulut buaya yang terlalu bergigi besar sehingga sering meloloskan makhluk-makhluk kecil melewati giginya tanpa dikunyah. <span class="pullquote">Bersimbiosis dengan cicak berarti secara tidak langsung membersihkan rumah dari kotoran hidup yang meresahkan secara tak kasat mata, walau cicak sendiri bukan penguasa yang bisa membersihkan dengan tuntas.</span> Penduduk rumahlah yang harus menjaga kebersihan rumahnya sehingga akan tercipta keseimbangan antara kondisi rumah dan keaktifan cicak memberantas entitas-entitas yang selalu berlaku tidak bertanggung jawab terhadap kekokohan rumah.</p><p>Ketika semua kadal dan binatang melata berkaki empat lain berjuang untuk meraih tempat dalam ekosistem ini, ingatlah bahwa cicak takkan pernah punah menjadi tanah.</p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" title="cara cicak berkembang biak">cara cicak berkembang biak</a> (3)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" title="telur cicak berkembang">telur cicak berkembang</a> (3)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" title="cara berkembang biak cecak">cara berkembang biak cecak</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" title="cara berkembang biak cicak">cara berkembang biak cicak</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" title="cara cicak bereproduksi">cara cicak bereproduksi</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" title="cicak berkebang biak secara">cicak berkebang biak secara</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" title="cicak berkembang biak dengan cara apa?">cicak berkembang biak dengan cara apa?</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" title="cicak dan buaya berkembang biak dg cara">cicak dan buaya berkembang biak dg cara</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" title="hewan -hewan yang sudah punah">hewan -hewan yang sudah punah</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/indonesia-menuju-orde-terbaru.html" rel="bookmark">Indonesia, Menuju Orde terBaru</a></b><br />Reformasi, kata itu masih sering terdengar di telinga kita bahkan -relatif- sudah tertanam dalam diri anak muda yang ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/spiritual/cinta-bukan-hanya-soal-bunga.html" rel="bookmark">Tidak Selalu Harus Berwujud Bunga</a></b><br />Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/tak-ada-gadis-yang-tak-retak-renungan-kesucian-wanita.html" rel="bookmark">Tak Ada Gadis yang Tak Retak</a></b><br />Sebuah renungan akan apa yang disebut dengan kesucian Masih relevankah sebuah norma dalam kondisi dewasa ini. Ketika pertanyaan ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/h0ssw21IBbY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html</feedburner:origLink></item> <item><title>Tak Ada Gadis yang Tak Retak</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/4BEOSWuQD5Y/tak-ada-gadis-yang-tak-retak-renungan-kesucian-wanita.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/tak-ada-gadis-yang-tak-retak-renungan-kesucian-wanita.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 27 Oct 2009 13:53:56 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category> <category><![CDATA[Gadis]]></category> <category><![CDATA[Istri]]></category> <category><![CDATA[Kesucian]]></category> <category><![CDATA[Laki-laki]]></category> <category><![CDATA[Martabat]]></category> <category><![CDATA[Paris van Java]]></category> <category><![CDATA[Perempuan]]></category> <category><![CDATA[Peribahasa]]></category> <category><![CDATA[Renungan]]></category> <category><![CDATA[Suami]]></category> <category><![CDATA[Wanita]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/opinion/?p=90</guid> <description><![CDATA[Sebuah renungan akan apa yang disebut dengan kesucian Masih relevankah sebuah norma dalam kondisi dewasa ini. Ketika pertanyaan mengenai sebuah ketidaksucian meluncur begitu saja tanpa rasa bersalah ketika memang benar-benar terjadi. Lagi dijawab dengan suatu kepolosan, mungkin bercanda, mungkin menyamarkan kenyataan dengan bercanda, pastinya tak ada rasa canggung ketika mengamini pertanyaan yang sebenarnya mempertanyakan martabat [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><strong>Sebuah renungan akan apa yang disebut dengan kesucian</strong></em></p><p style="text-align: justify;">Masih relevankah sebuah norma dalam kondisi dewasa ini. Ketika pertanyaan mengenai sebuah ketidaksucian meluncur begitu saja tanpa rasa bersalah ketika memang benar-benar terjadi. Lagi dijawab dengan suatu kepolosan, mungkin bercanda, mungkin menyamarkan kenyataan dengan bercanda, pastinya tak ada rasa canggung ketika mengamini pertanyaan yang sebenarnya mempertanyakan martabat seorang wanita. Nurani ini langsung menjerit, tapi tak ada yang bisa kulakukan, karena kontradiksi hanya akan membawa perpecahan dan bukan pemahaman dalam relasi pertemanan di kota besar ini.<br /> Mendengar dengan telinga sendiri anugerah Sang Ilmuwan Besar ini, teringat dengan peribahasa yang sedang ramai diperbincangkan,</p><blockquote style="text-align: justify;"><p><span style="font-size: x-large;">Tak ada gadis yang tak retak</span></p></blockquote><p style="text-align: justify;">Semuanya akan musnah bagi seorang laki-laki yang secara hakiki memahami apa yang disebut martabat wanita. Wanita bukan makhluk sembarangan sebagai sebuah obyek. Wanita adalah subyek nyata dalam sebuah kehidupan suci dari relasinya terhadap laki-laki. Wanita tidak boleh macam-macam, tetapi laki-laki juga tidak. Keseimbangan itu yang diciptakan TUHAN seharusnya menjadi jalan yang terang untuk menjaga martabat wanita.<br /> <span id="more-90"></span>Apa lacur, semuanya menjadi buram ketika dunia menjadi lingkungan yang mengerikan. Berkaca pada sebersit tulisan dalam Kitab Suci seorang Guru Besar, bahwa dunia ini dikuasai Sang Penyesat selama waktu yang ditentukan, ternyata benar adanya. <span class="pullquote">Kesenangan pribadi dan ketidakpedulian akan martabat menjadi awal mula dari penginjakan martabat itu sendiri.</span> Aneh bila seorang wanita marah karena merasa tidak dihormati dalam sebuah relasi pertemanan, tetapi malah melakukan penginjakan harga diri dan martabat yang dilakukan oleh dirinya sendiri.</p><blockquote style="text-align: justify;"><p><span style="font-size: x-large;">Habis gadis sepah dibuang</span></p></blockquote><p style="text-align: justify;">Itu yang terjadi, dan sedikitnya ditimbulkan oleh perilaku wanita sendiri. Disini tidak akan bicara mengenai laki-laki, akan dibahas dalam kesempatan lain.<br /> Ada dua jenis wanita di kota besar ini, satu wanita dengan semua atribut keagamannya. Dan satu wanita dengan atribut keberagamannya. Semuanya menjadi semakin jauh dari titik pertemuan untuk membangun kehidupan dengan lebih baik. Yang pertama sibuk dengan dunianya yang serba suci, serba bersih dari keduniawian, tetapi malah lupa untuk memberantas keduniawian itu dalam diri mereka. Mereka terlalu sibuk dengan atribut, terlalu sibuk dengan pertemuan-pertemuan besar dengan pemimpinnya, tanpa berbuat nyata melewati kurungan suami. Yang kedua sibuk dengan semua urusan yang supersibuk, yang soksibuk, dan yang sibuksekalisampaimengingatsajatakbisalagi. Keduanya tak bertemu, satu menjauh, yang satu juga menjauh, jadi dua kali menjauh jarak diantara mereka. Hasilnya, kita melihat sebuah kota besar yang berkembang di luar tetapi hancur di dalam. Sebuah <em>Paris van Java</em> yang agung sebagai raja tetapi bobrok sebagai keluarga.<br /> Lalu, apa arti sebuah kesucian? Sebuah kejujuran akan apa yang disebut anugerah. Hanya satu istri dan satu suami, hanya satu tubuh dalam satu kehidupan yang pernah bersatu dengan seorang pribadi. <em>GOD, what am I supposed to do&#8230;?</em></p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/tak-ada-gadis-yang-tak-retak-renungan-kesucian-wanita.html" title="arti tak ada gadis yang tak retak">arti tak ada gadis yang tak retak</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/tak-ada-gadis-yang-tak-retak-renungan-kesucian-wanita.html" title="maksud tak ada gadis yang tak retak">maksud tak ada gadis yang tak retak</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/spiritual/cinta-bukan-hanya-soal-bunga.html" rel="bookmark">Tidak Selalu Harus Berwujud Bunga</a></b><br />Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" rel="bookmark">Cicak, Takkan Pernah Punah Menjadi Tanah</a></b><br />Siang tadi kita melihat dengan telinga telanjang bagaimana fakta menelanjangi para penjaganya, bagaimana kredibilitas dipertaruhkan dan coba dipertahankan ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/konflik-matematika.html" rel="bookmark">Konflik Matematika</a></b><br />Suatu saat saya mengalami kejadian menarik. Saat itu saya selesai memberikan evaluasi matakuliah kepada kumpulan guru STM mengenai ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/4BEOSWuQD5Y" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/tak-ada-gadis-yang-tak-retak-renungan-kesucian-wanita.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>2</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/tak-ada-gadis-yang-tak-retak-renungan-kesucian-wanita.html</feedburner:origLink></item> <item><title>Satrio Piningit ke-7 : JK2009 atau Prabowo2014?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/rxXc8i-uItw/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html#comments</comments> <pubDate>Sun, 28 Jun 2009 21:13:43 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Politik]]></category> <category><![CDATA[2009]]></category> <category><![CDATA[2014]]></category> <category><![CDATA[Bagus Burhan]]></category> <category><![CDATA[Boyong Pambukaning Gapuro]]></category> <category><![CDATA[Hamong Tuwuh]]></category> <category><![CDATA[Indonesia]]></category> <category><![CDATA[Jawa-Bali Dwipa]]></category> <category><![CDATA[JK]]></category> <category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category> <category><![CDATA[Kalatidha]]></category> <category><![CDATA[Kinujoro Murwo Kuncoro]]></category> <category><![CDATA[Megawati Soekarnoputri]]></category> <category><![CDATA[pemilihan umum]]></category> <category><![CDATA[Pemilu]]></category> <category><![CDATA[Pinandito Sinisihan Wahyu]]></category> <category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category> <category><![CDATA[Presiden]]></category> <category><![CDATA[Raden Ngabehi Ronggowarsito]]></category> <category><![CDATA[Ranggawarsita]]></category> <category><![CDATA[Ratu Adil Herucakra]]></category> <category><![CDATA[Satrio Piningit]]></category> <category><![CDATA[SBY]]></category> <category><![CDATA[Surakarta]]></category> <category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category> <category><![CDATA[Yosodipuran]]></category> <category><![CDATA[zaman keemasan]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/opinion/?p=67</guid> <description><![CDATA[Apakah Jusuf Kalla atau Prabowo Subianto yang menjadi Pinandito? Sebuah kebetulan lagi keduanya mengusung bentuk kemandirian bangsa, yang merupakan ciri menuju Zaman Keemasan. Keduanya mengusung ekonomi kerakyatan sebagai dasar kekuatan menuju kemandirian tersebut.]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan tersebut tiba-tiba menyengat ke dalam otak saya, membangkitkan ingatan saya mengenai hal yang pernah saya baca di berbagai media, mengenai <strong>Satrio Piningit</strong>. Jejak riwayat <strong>Satrio Piningit</strong> berujung pada interpretasi para keturunan <strong>Jawa-Bali Dwipa</strong> terhadap syair seorang pujangga Keraton Surakarta bernama <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://id.wikipedia.org/wiki/Ranggawarsita"><strong>Raden Ngabehi Ronggowarsito</strong></a>.</p><p>Lahir dengan nama Bagus Burhan di Yosodipuran Surakarta, tanggal 10 Dulkaidah,tahun Be 1728, pukul 12.00 siang, wuku Sungsang, atau 15 Maret 1802. Masa kecilnya di asuh dilingkungan keluarga para bangsawan Jawa.Setelah mencapai umur 12 tahun dikirim oleh orang tuanya untuk berguru di pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo, dibawah asuhan Kyai Imam Besari. Akhir hayatnya terjadi pada tahun 1873 atau dalam usia 71 tahun.</p><p><span id="more-67"></span>Diantara karya-karyanya, ada satu karya yang mencuri perhatian banyak orang, dari berbagai lingkungan dan latar belakang profesi. Karya itu adalah <strong>Kalatidha</strong>. Dalam <strong>Kalatidha</strong>, <strong>Ronggowarsito</strong> menuliskan mengenai kedatangan <strong>Ratu Adil Herucakra</strong>. Ratu Adil yang akan memimpin atau memerintah “<em>wilayah seluas bekas Kerajaan Majapahit</em>.” Dewasa ini, cerita <strong>Ronggowarsito</strong> dalam <strong>Kalatidha</strong> tersebut diinterpretasikan sebagai sebuah ramalan akan datangnya para pemimpin <strong>Indonesia</strong> (Presiden) yang berangkai membentuk suatu pola cerita sesuai urutan <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://paranormal-indonesia.blogspot.com/2009/02/satrio-piningit.html"><strong>Tujuh Satrio Piningit</strong></a>.</p><p><strong>Pemilu 2009</strong> berlangsung sebentar lagi, ada 3 capres yang bertarung memperebutkan kursi <strong>Satrio Piningit</strong>. Calon pertama adalah <strong>Hamong Tuwuh</strong> dari <strong>Kinujoro Murwo Kuncoro</strong>, <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://www.megaprabowo.com"><strong>Megawati Soekarnoputri</strong></a>. Calon kedua adalah <strong>Boyong Pambukaning Gapuro</strong>, <strong><a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://www.sbypresidenku.com">Susilo Bambang Yudhoyono</a></strong>. Nha, calon ketiga ini yang masih samar, siapa dia dalam <strong>Kalatidha</strong>? <strong><a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://www.jkwiranto.com">Jusuf Kalla</a></strong>. Satu cerita lagi, Pemilu legislatif lalu menempatkan seorang pemain kuat lagi, tetapi <a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/politik-secawan-air-raksa.html">terpental dari bursa <strong>Satrio Piningit</strong></a>, yaitu <strong><a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://www.prabowosubianto.info">Prabowo Subianto</a></strong>. Akhirnya <strong>Prabowo</strong> menurunkan harga untuk tetap bisa berada pada bursa &#8220;Pendamping Piningit.&#8221;</p><p>Ada suatu kemungkinan unik yang saya lihat. Jika kita berpatokan pada <strong>Kalatidha</strong>, hanya satu orang capres yang belum pernah menjadi <strong>Satrio Piningit</strong>, yaitu <strong>JK</strong>. Tetapi, nilai jual seorang <strong>SBY</strong> masih sangat tinggi untuk ditandingi. Kedua fakta itu memunculkan kemungkinan baru, jika <strong><a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://id.wikipedia.org/wiki/Susilo_Bambang_Yudhoyono">Boyong Pambukaning Gapuro</a></strong> masih melanjutkan amanatnya, maka <strong>Prabowo</strong> bisa jadi <strong>Pinandito Sinisihan Wahyu</strong> pada <strong>2014</strong>. Kemungkinan ini cukup besar mengingat <strong>Prabowo</strong> mempunyai daya massa yang besar karena memproklamirkan diri sebagai anak ideologis <strong><a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno">Kinujoro Murwo Kuncoro</a></strong>. Apakah keideologisan ini merupakan ciri <strong>Sinisihan Wahyu</strong> yang dibisikkan dari <strong>Kinunjoro Murwo Kuncoro</strong> yang kita kenal memang sangat &#8220;<em>taat kepada Yang Kuasa</em>&#8220;? Disamping itu, <strong>Jusuf Kalla juga</strong> dikenal &#8220;<em>taat kepada Yang Kuasa</em>&#8220;, bahkan pernah memimpin presidium suatu cabang organisasi keagamaan besar di Indonesia.</p><p>Jadi, apakah <strong>Jusuf Kalla</strong> atau <strong>Prabowo Subianto</strong> yang menjadi <strong>Pinandito</strong>? Sebuah kebetulan lagi keduanya mengusung bentuk kemandirian bangsa, yang merupakan ciri menuju <strong>Zaman Keemasan</strong>. <span class="pullquote">Keduanya mengusung ekonomi kerakyatan sebagai dasar kekuatan menuju kemandirian</span> tersebut.</p><p>Sekali lagi, apakah <strong>JK</strong>, atau <strong>Prabowo</strong>?<br /> <img src="http://pemilu.inilah.com/data/berita/foto/93703.jpg" alt="" /></p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" title="satrio piningit 2014">satrio piningit 2014</a> (8)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" title="satria piningit 2014">satria piningit 2014</a> (5)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" title="satria piningit sby">satria piningit sby</a> (3)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" title="datangnya satrio piningit">datangnya satrio piningit</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" title="satria piningit ke 7">satria piningit ke 7</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" title="ilmu datang tapi tidak diketahui orangnya dan dia tidak bisa meramal maka tolonglah ultraman">ilmu datang tapi tidak diketahui orangnya dan dia tidak bisa meramal maka tolonglah ultraman</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" title="satrio piningit 2009">satrio piningit 2009</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" title="sosok watak asli satrio piningit">sosok watak asli satrio piningit</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" title="satria piningit itu prabowo">satria piningit itu prabowo</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/politik-secawan-air-raksa.html" rel="bookmark">Politik Secawan Air Raksa</a></b><br />PARTAI-partai itu bergerak nyaris tanpa pola. Sebentar ke utara, sebentar ke selatan, lompat ke timur—atau menikung ke barat ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/koalisi-kalang-kabut.html" rel="bookmark">Koalisi Kalang Kabut</a></b><br />APA mau dikata, kita sedang dipimpin oleh rezim yang terbelah setelah presiden dan wakilnya menyatakan siap berlaga dalam ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html" rel="bookmark">Kekuatan Rantai</a></b><br />Rantai. Kita semua tahu apa itu rantai. Rantai adalah kesatuan dari bagian-bagian terpisah yang membentuk suatu ikatan berurutan/serial. ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/rxXc8i-uItw" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>8</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html</feedburner:origLink></item> <item><title>Koalisi Kalang Kabut</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/TnixQz5fXH8/koalisi-kalang-kabut.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/politik/koalisi-kalang-kabut.html#comments</comments> <pubDate>Wed, 27 May 2009 01:39:22 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Politik]]></category> <category><![CDATA[8 Juli]]></category> <category><![CDATA[Demokrat]]></category> <category><![CDATA[Dewan Perwakilan Rakyat]]></category> <category><![CDATA[Golkar]]></category> <category><![CDATA[JK]]></category> <category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category> <category><![CDATA[Partai]]></category> <category><![CDATA[Pemilu]]></category> <category><![CDATA[Pilpres]]></category> <category><![CDATA[Presiden]]></category> <category><![CDATA[SBY]]></category> <category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category> <category><![CDATA[Wapres]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/opinion/?p=35</guid> <description><![CDATA[”Politik kantor” di kabinet tak boleh terjadi lagi. Kepentingan negara hendaklah diletakkan lebih tinggi daripada kepentingan Partai Demokrat atau Partai Golkar dalam membangun koalisi demi memenangi kursi kepresidenan. Demokrasi kita tak perlu surut hanya akibat kedua tokoh tertinggi Republik berpisah dan bersaing memperebutkan jabatan puncak.]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>APA mau dikata, kita sedang dipimpin oleh rezim yang terbelah setelah presiden dan wakilnya menyatakan siap berlaga dalam pemilihan presiden 8 Juli nanti. Rakyat kudu mulai terbiasa menyaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla tak lagi semesra ketika mereka mulai berduet pada 2004.</p><p>Dalam musim kampanye ini, publik seperti diajari menerima kenyataan tak sedap bahwa kedua pemimpin sekarang semakin gencar melancarkan perang urat saraf, saling kritik, baku sindir. Benar bahwa keduanya teguh menyatakan akan tetap bergandengan tangan sampai akhir masa jabatan, tapi rasanya sulit mengukur seberapa efektif pemerintahan berjalan.</p><p>”Perang bintang” itu dengan gamblang terlihat dari ajang deklarasi sampai tayangan talk show di televisi. Kita pun akhirnya tahu—dan akhirnya juga maklum—mengapa keduanya berpisah. Bukanlah kiamat kalau ”kimiawi cinta” mereka sulit disatukan kembali. Keterbukaan begini malah bagus. Dengan begitu, publik tak lagi dicekoki hipokrisi kedua pemimpinnya, yang dikemas seolah-olah kompak tapi di belakang saling tikam.</p><p>Yang penting, pernyataan kedua pemimpin untuk berjalan seiring sampai akhir janganlah cuma menjadi pemanis bibir. Mereka pantas membuktikan komitmen itu dalam keseharian. Presiden Yudhoyono, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, sebaiknya menjamin bahwa persaingannya dengan Jusuf Kalla tak mempengaruhi pemerintahan.</p><p><span id="more-35"></span>”Politik kantor” di kabinet tak boleh terjadi lagi. Presiden mesti tetap mengundang Wakil Presiden seperti biasa. Sebaliknya Kalla mestinya tetap hadir dalam sidang kabinet, termasuk rapat paripurna dan rapat-rapat terbatas. JK patut berkeras hadir, walaupun ada telepon dari Istana yang mengisyaratkan bahwa kedatangannya tak terlalu diharapkan—seperti yang terjadi pekan-pekan lalu.</p><p><span class="pullquote">Kepentingan negara hendaklah diletakkan lebih tinggi daripada kepentingan Partai Demokrat atau Partai Golkar dalam membangun koalisi demi memenangi kursi kepresidenan.</span> Tak diharapkan urusan koalisi yang kalang kabut, penuh intrik, berubah-ubah, mempengaruhi masa-masa akhir duet kedua pemimpin. Dibutuhkan jiwa besar dan kenegarawanan yang cukup untuk memisahkan dua kepentingan tadi.</p><p>Dengan demikian, kritik sengit Ketua Umum Partai Golkar di pelbagai kesempatan mestinya tak dianggap dosa besar yang tak bisa dimaafkan. Tak bijak jika curahan hati Kalla itu direspons dengan memotong haknya ikut rapat kabinet untuk memikirkan masalah negara. Dalam pemerintahan, SBY bagaimanapun masih atasan JK. Kalau ia merasa ada yang salah dengan wakilnya itu, umpamanya lantaran kerap mengobral ”curhat” di luar kantor, ia berhak menegur pembantunya itu.</p><p>Di lain pihak, dilema Kalla janganlah diterus-teruskan. Kalau dia tetap saja tak puas, dan berkeras menjadikan rahasia dapur pemerintah sebagai bahan kampanye, sebaiknya dia non-aktif atau bahkan mundur. JK diharapkan mengambil posisi yang jelas, walaupun ia merasa ikut dipilih langsung oleh rakyat.</p><p>Setiap menteri hendaknya bertugas seperti sebelum masa pemilu. Aturan libur maupun cuti pejabat tinggi tak bisa dilanggar tanpa alasan. Dalam kaitan ini, kurang elok rasanya mengizinkan Menteri-Sekretaris Negara Hatta Rajasa sebagai ketua tim sukses pasangan SBY-Boediono. Ini sama saja dengan memberikan peluang aparat birokrasi ikut berpihak. Hatta mestinya non-aktif begitu masuk ranah politik praktis, agar tak terjadi benturan kepentingan. Momentum ini bisa sekaligus dijadikan pedoman bagi pejabat negara—dari bupati hingga presiden—agar melepaskan posisi rangkapnya sebagai pengurus partai politik demi menghindari konflik kepentingan.</p><p>Terjadinya kekosongan pemerintahan tak boleh terulang. Kedua pucuk pimpinan negeri tak bisa absen secara bersamaan seperti pada awal April lalu. Ketika itu Presiden SBY menghadiri konferensi tingkat tinggi G-20 di London. Adapun Kalla sedang cuti kampanye ke Malang, Jawa Timur, sehingga Jakarta praktis kosong. Meskipun berhadapan secara politik, keduanya bisa berbagi masa cuti dengan transparan dan adil.</p><p>Sesungguhnya keadaan ini memberikan pelajaran penting: negeri ini membutuhkan aturan main yang jelas tentang lembaga kepresidenan. Konstitusi pun sudah mengamanatkannya. Rancangan Undang-Undang Lembaga Kepresidenan yang sedang dibahas Dewan Perwakilan Rakyat perlu menjadi agenda penting bagi anggota Dewan yang baru terpilih. Dalam undang-undang itu, misalnya, mesti diatur detail ihwal kampanye dan rangkap jabatan presiden dengan ketua partai.</p><p>Demokrasi kita tak perlu surut hanya akibat kedua tokoh tertinggi Republik berpisah dan bersaing memperebutkan jabatan puncak.</p><p style="text-align: right;"><span style="font-size: xx-small;">Copyright © 2009 <a class="broken_link" style="text-decoration: none;" title="MBM Tempo" href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://www.tempointeraktif.com/" target="_blank"><strong>TEMPO|interaktif</strong></a></span></p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/politik-secawan-air-raksa.html" rel="bookmark">Politik Secawan Air Raksa</a></b><br />PARTAI-partai itu bergerak nyaris tanpa pola. Sebentar ke utara, sebentar ke selatan, lompat ke timur—atau menikung ke barat ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" rel="bookmark">Satrio Piningit ke-7 : JK2009 atau Prabowo2014?</a></b><br />Pertanyaan tersebut tiba-tiba menyengat ke dalam otak saya, membangkitkan ingatan saya mengenai hal yang pernah saya baca di ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/indonesia-menuju-orde-terbaru.html" rel="bookmark">Indonesia, Menuju Orde terBaru</a></b><br />Reformasi, kata itu masih sering terdengar di telinga kita bahkan -relatif- sudah tertanam dalam diri anak muda yang ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/TnixQz5fXH8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/politik/koalisi-kalang-kabut.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/politik/koalisi-kalang-kabut.html</feedburner:origLink></item> <item><title>Politik Secawan Air Raksa</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/MossackAnme/id/Column/~3/DKBQ0jIHwKE/politik-secawan-air-raksa.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/politik/politik-secawan-air-raksa.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 26 May 2009 19:22:03 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Politik]]></category> <category><![CDATA[Boediono]]></category> <category><![CDATA[Golkar]]></category> <category><![CDATA[Hatta Rajasa]]></category> <category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category> <category><![CDATA[Komisi Pemilihan Umum]]></category> <category><![CDATA[KPU]]></category> <category><![CDATA[PAN]]></category> <category><![CDATA[Partai Amanat Nasional]]></category> <category><![CDATA[Pilpres]]></category> <category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category> <category><![CDATA[Presiden]]></category> <category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/opinion/?p=63</guid> <description><![CDATA[PARTAI-partai itu bergerak nyaris tanpa pola. Sebentar ke utara, sebentar ke selatan, lompat ke timur—atau menikung ke barat daya. Bak air raksa di dalam cawan, posisi mereka tak bisa dihentikan di satu titik. Pemilu presiden 2009 adalah cawan besar yang menyimpan merkurium yang menggeliang itu.]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">PARTAI-partai itu bergerak nyaris tanpa pola. Sebentar ke utara, sebentar ke selatan, lompat ke timur—atau menikung ke barat daya. Bahkan ketika pendaftaran calon presiden dan wakilnya ditutup Komisi Pemilihan Umum, Sabtu dua pekan lalu —tanda koalisi partai final terbentuk—mereka tetap menggelinjang. Bak air raksa di dalam cawan, posisi mereka tak bisa dihentikan di satu titik.</p><p style="text-align: justify;">Partai Amanat Nasional, yang resminya berada di belakang pasangan Yudhoyono-Boediono, kini pasang kuda-kuda mendukung Kalla-Wiranto. Ditolaknya kader PAN Hatta Rajasa menjadi calon wakil presiden membuat partai matahari biru itu main mata dengan partai lain.</p><p style="text-align: justify;">Golkar, yang resmi mendukung ketua umumnya, Jusuf Kalla, sebagai calon presiden, juga dirundung konflik akut. Sejumlah politikus Beringin kini bersiap menggelar musyawarah luar biasa sebelum hari pencontrengan—entah putaran pertama atau kedua. Skenario mereka: menjatuhkan Kalla dari kursi ketua umum sehingga Beringin bisa mudah berbelok ke kubu pemenang jika saudagar Bugis itu mental dari arena.</p><p><span id="more-63"></span><p style="text-align: justify;">Sebelumnya, kita dengar juga kabar tentang Prabowo Subianto yang terpontal-pontal menggalang dukungan. Dengan modal hanya 4,5 persen suara dalam pemilu legislatif, ia harus bekerja ekstrakeras.</p><p style="text-align: justify;">Partai kecil yang dirangkulnya pasang harga tinggi, bahkan lompat perahu ketika tahu bekas tentara itu hanya jadi orang nomor dua. Di sini cerita tentang politik uang terdengar—meski tak pernah bisa benar-benar dibuktikan.</p><p style="text-align: justify;"><span class="pullquote">Politik memang bisa mempesona, atau menyimpan durjana.</span> Pemilu presiden 2009 adalah cawan besar yang menyimpan merkurium yang menggeliang itu. <strong>AZ</strong></p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/koalisi-kalang-kabut.html" rel="bookmark">Koalisi Kalang Kabut</a></b><br />APA mau dikata, kita sedang dipimpin oleh rezim yang terbelah setelah presiden dan wakilnya menyatakan siap berlaga dalam ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" rel="bookmark">Satrio Piningit ke-7 : JK2009 atau Prabowo2014?</a></b><br />Pertanyaan tersebut tiba-tiba menyengat ke dalam otak saya, membangkitkan ingatan saya mengenai hal yang pernah saya baca di ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/peristiwa/enam-lima-pensiun-generasi-pertama.html" rel="bookmark">Enam Lima, Pensiun Generasi Pertama</a></b><br />Indonesia tidak sehat, namun Indonesia masih dan akan terus mampu ke masa depan melihat. Indonesia tidak berjalan tegak, ...</div></li></ol></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/MossackAnme/id/Column/~4/DKBQ0jIHwKE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/politik/politik-secawan-air-raksa.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> <feedburner:origLink>http://www.mossackanme.web.id/column/politik/politik-secawan-air-raksa.html</feedburner:origLink></item> </channel> </rss><!-- Dynamic page generated in 1.500 seconds. --><!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-10 13:54:13 -->

