<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622</atom:id><lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 03:08:37 +0000</lastBuildDate><category>Mendidik Anak</category><category>Kesehatan Anak</category><category>Melatih anak</category><category>Psikologis Anak</category><category>Kecerdasan anak</category><category>Motivasi</category><category>Pendidikan karakter</category><category>Mutiara kata</category><category>Bayi rewel</category><category>Kesehatan</category><category>Konsultasi Dokter Anak</category><category>Peran orangtua</category><category>Tips Anak</category><category>Tips Kesehatan</category><category>Video Bayi</category><category>About Nara</category><category>Anak berbakti</category><category>Anak pemalu</category><category>Inspirasi</category><category>Mainan anak</category><category>Nabila dan Mamah</category><category>Parenting</category><category>Sains</category><category>Warta Balita</category><category>asuransi pendidikan</category><category>≈ Gallery Na-ra ≈</category><title>Na-Ra »»Blog Nabila Rahma ««</title><description>≈¤¤Sebuah blog yang di dedikasikan buat Nabila Rahma yang di dirikan menjelang Ultah pertamanya yang jatuh pada tanggal 11 November 2010.Nabila Rahma lahir di Tangerang Banten pada hari Rabu 11 November 2009.Nabila Rahma lahir di RS Ibu &amp;amp; Anak Bunda Sejati.Blog ini berisi materi tentang anak dan hal berhubungan dengan anak-anak ¤¤≈</description><link>http://na-ra.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>86</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><copyright>Blog Na-ra</copyright><itunes:keywords>Nara,nabila,Rahma,anak,anak,blog,anak</itunes:keywords><itunes:summary>Blog Na-ra,blognya nabila Rahma</itunes:summary><itunes:subtitle>Blog Na-ra</itunes:subtitle><itunes:category text="Kids &amp; Family"/><itunes:author>Nabila Rahma</itunes:author><itunes:owner><itunes:email>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id</itunes:email><itunes:name>Nabila Rahma</itunes:name></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-5730902939858206249</guid><pubDate>Sun, 17 Dec 2017 05:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-12-16T21:42:23.581-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Psikologis Anak</category><title>Anak bisa Sakit Karena Kangen Ayah atau Ibu</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjj2Rm260nLuaxGMYMvmmp0b-8tHEQoUWj6FNGu5QVIjtOdWZyz-2f8pOgnqqcubLMypoFwIdI20ZCrNJrOPf4uY4aTG5UfwtKyJbsdAtn4iUNSPCseVq-ldsScCDISOluGjYUkQHpHFfrB/s1600/Ayah+Tercinta.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="282" data-original-width="426" height="263" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjj2Rm260nLuaxGMYMvmmp0b-8tHEQoUWj6FNGu5QVIjtOdWZyz-2f8pOgnqqcubLMypoFwIdI20ZCrNJrOPf4uY4aTG5UfwtKyJbsdAtn4iUNSPCseVq-ldsScCDISOluGjYUkQHpHFfrB/s400/Ayah+Tercinta.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Umumnya, anak memiliki kecenderungan untuk 
lebih dekat pada ayah atau ibu. Nah, ketika sosok yang selama ini dekat 
dengan dia pergi untuk waktu yang cukup lama, anak bisa merasa 
kehilangan hingga psikisnya menjadi tidak nyaman, bahkan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan
 anak dengan salah satu orang tua pada dasarnya dipengaruhi ole respons 
orang tua pada si anak, demikian dikatakan psikolog anak dan remaja 
Ratih Zulhaqqi, M.Psi. Sebab, anak pun bisa melihat bagaimana reaksi 
yang dikeluarkan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misal anak lagi cerita, ayahnya 
ndengerin, nanggepin, sedangkan kalau sama ibu dicueki atau ibunya asyik
 ngobrol sendiri, pasti anak lebih nyaman sama ayah karena dia nggak 
merasa diabaikan," tutue Ratih saat berbincang dengan &lt;strong&gt;detikHealth&lt;/strong&gt; dan ditulis pada Rabu (4/11/2015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan
 anak dengan salah satu orang tua, misalnya ayah juga bisa terjadi 
karena ayahnya memberi attachment dan respons yahg lebih dibanding 
dengan ibunya. Tapi, Ratih menegaskan bukan berarti si anak tidak sayang
 sama ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, saat anak perempuan lebih nyaman ngobrol
 dengan ayahnya soal hal-hal yang memang sama-sama disukai. Sedangkan 
jika berbicara dengan ibunya sering tidak nyambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dekat dengan
 salah satu orang tua bukan berarti anak cuma sayang sama salah satu 
pihak aja. Bedakan antara merasa dekat dan merasa sayang ya," tegas 
pemilik akun twitter @ratihyepe ini.&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika
 anak cenderung lebih dekat dengan salah satu orang tuam ayah atau ibu 
perlu melihat lagi selama ini respons dia kepada anak bagaimana. Tapi, 
bukan berarti mereka bersikap permissive alias menuruti semua keinginan 
anak. Demi bisa dekat dengan anak, semua yang anak mau dituruti 
merupakan cara yang kurang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Caranya bisa dengan tiap anak bicara, ibu mendengarkan lalu merespons," kata Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihubungi
 terpisah, psikolog Ajeng Raviando mengatakan biasanya memang ketika 
salah satu orang tua yang jauh atau sibuk bekerja, anak pun jadi lebih 
dekat dengan salah satu dari mereka. Dalam kondisi ini, orang tua pun 
harus saling kerja sama aja. Misalnya ketika si ayah kerja di tempat 
yang jauh, nah ibu harus memberi tahu alasan mengapa tempat sang ayah 
bekerja jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi walaupun ayah tidak ada secara fisik nggak 
ada, cuma perannya sebagai ayah diketahui oleh anaknya. Kan sekarang 
juga ada teknologi yang bisa mendekatkan anak kepada orang tuanya 
walaupun secara fisik tidak dekat," tutur Ajeng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;health.detik.com/read/2015/11/04/090539/3061408/775/anak-kangen-dengan-ayah-atau-ibu-sampai-sakit-cuma-sayang-salah-satu-ortu &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2017/12/anak-bisa-sakit-karena-kangen-ayah-atau.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjj2Rm260nLuaxGMYMvmmp0b-8tHEQoUWj6FNGu5QVIjtOdWZyz-2f8pOgnqqcubLMypoFwIdI20ZCrNJrOPf4uY4aTG5UfwtKyJbsdAtn4iUNSPCseVq-ldsScCDISOluGjYUkQHpHFfrB/s72-c/Ayah+Tercinta.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-7796070147084379068</guid><pubDate>Sun, 17 Dec 2017 05:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-12-16T21:19:44.873-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Motivasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Psikologis Anak</category><title>Cara Menjaga Psikologis Anak yang Sering di Tinggal Orang Tuanya</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFeEHFWgFEDA_preEOrzxNQHAo1Vy4_WN9gxIqeIXtBW5MFw8Ijx-JAN7fFbxZ1T1j5y7OSweMxtFZK-O9yTPntTNqFzVUAPxjpQ-_4TOE6KEF8XhuXLjZhGht6nE8DvkWWFiYAmG65w-j/s1600/Ayahdananak.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="360" data-original-width="626" height="230" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFeEHFWgFEDA_preEOrzxNQHAo1Vy4_WN9gxIqeIXtBW5MFw8Ijx-JAN7fFbxZ1T1j5y7OSweMxtFZK-O9yTPntTNqFzVUAPxjpQ-_4TOE6KEF8XhuXLjZhGht6nE8DvkWWFiYAmG65w-j/s400/Ayahdananak.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Si kecil sakit Saat ditinggal pergi tak akan terjadi asalkan selama 
ditinggal si kecil memperoleh pengganti figur yang dapat memahami 
kondisinya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aduh, Keisya sudah tiga hari rewel dan suhu 
badannya meninggi. Penyebabnya, ia pengen ketemu bapaknya. Padahal 
suamiku sedang tugas ke luar kota untuk beberapa hari!" keluh seorang 
ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Ibu-Bapak pernah mengalami kasus serupa, tak perlu langsung panik.&lt;br /&gt;
Wajar
 saja si kecil rewel, enggak mau makan sampai sakit-sakitan ketika 
ditinggal oleh figur yang ia sayangi. Penyebabnya, jelas Evi 
Sukmaningrum, tak lain karena pada masa batita, anak sudah mulai 
menyadari orang-orang yang dekat dengannya atau orang-orang yang 
sehari-hari ada bersamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, batita pun masih 
mengembangkan ketergantungan yang tinggi pada orang yang biasa merawat 
atau yang dekat dengannya. Itu berarti bisa orang tua, babysitter atau 
bahkan kakek dan nenek. "Misal dalam hal ini dengan si bapak. 
Ketergantungan antar bapak dan anak sudah bersifat interdependensi. 
Artinya, bapak dan anak masing-masing merasakan kenyamanan dan keamanan 
ketika berada bersama-sama. Jadi ketika berpisah, bukan anak saja yang 
merasa tidak nyaman, bapaknya pun ketika pergi merasa kangen," ujar 
psikolog dari Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Pada
 umumnya, lanjut Evi, anak akan rewel jika baru pertama kali ditinggal 
dalam jangka waktu lama. Jika sudah terbiasa, umumnya dalam diri si 
kecil sudah terbentuk pola; bila orang tua pergi maka akan kembali lagi 
sehingga anak sudah tidak kaget lagi&lt;/span&gt;. "Jika orang tuanya sudah sering 
pergi lama, namun anak tetap rewel berarti ada yang salah." Misalnya, 
lanjut Evi, karena ketika pulang, orang tua tidak segera kontak dengan 
anak atau langsung pergi lagi. "Ini membuat anak merasa jauh sehingga 
tidak tumbuh kepercayaan kalau orang tuanya pergi akan kembali 'Kok, aku
 ditinggal-tinggal terus, sih?'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lain ketika orang tua 
sering pergi namun ketika kembali langsung memberikan kontak yang 
kualitasnya luar biasa pada hari-hari sesudahnya." Jadi, tegas Evi, anak
 merasa tetap disayang. "Kalaupun orang tuanya pergi lagi walaupun lama,
 ia tetap akan percaya bahwa mereka akan kembali lagi. Ini yang paling 
penting."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;AKAN REWEL&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana
 cara menyiasati bila kita harus meninggalkan si kecil untuk pertama 
kalinya? Menurut Evi, jika kejadian ini baru pertama kali, maka 
persiapannya memang agak sulit, mau tak mau kita tetap akan mendapatkan 
kondisi di mana anak tetap akan rewel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan percuma bila 
kita menjelaskan dengan bahasa, "Dek, Bunda pergi dulu 3 hari, ya!" 
karena batita belum mengetahui konsep waktu. Yang ia tahu hanya 
pengertian hari ini saja, belum paham esok, apalagi perkataan "3 hari 
lagi". Hal itu karena pola pikirnya masih belum konkret, "3 hari itu 
berapa lama, ya?" Sama juga ketika kita mengatakan, "Bunda mau pergi 
dulu, ya, tapi pulangnya lama. Jadi jangan cari-cari Bunda!" Perkataan 
seperti ini juga tidak akan dipahami si kecil karena konsep pergi di 
situ baginya dapat diartikan hanya sebagai pergi ke kantor dan akan 
pulang kembali hari itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Anak batita sudah memiliki 
biological clock. Jadi ketika jam 19. 00 si Ibu belum nongol-nongol, 
padahal biasanya sudah pulang, ia akan merasa kehilangan dan pasti akan 
bertanya, 'Mama mana?' Kalau dijawab, 'Kan, Ayah sudah bilang tadi kalau
 Mama perginya lama!' si kecil tetap tidak akan mengerti. Malah ketika 
si Ibu tidak muncul pada waktu yang diharapkan, rasa amannya pun mulai 
terusik. Tak heran kalau kemudian ia pun gelisah dan rewel."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah,
 yang bisa kita lakukan, Bu-Pak, pastikan segala kebutuhan fisik anak 
terpenuhi saat ditinggal pergi salah satu orang tua atau kedua-duanya. 
Semisal, susu, makanan kesukaan, sampai mainan kesayangan. Lalu carilah 
subtitute/pengganti. Subtitute ini bisa sang ayah bila ibu yang pergi. 
Begitu juga sebaliknya, bisa ibu bila ayahnya yang pergi. Bisa juga 
babysitter atau nenek dan kakek. "Jadi untuk sementara anak mendapatkan 
rasa aman dari si pengganti."&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;Tapi kalau awalnya anak 
tetap rewel, si pengganti harus maklum karena perasaan aman tidak muncul
 seketika. "Sedangkan trust anak dengan si figur sudah terbentuk sejak 
bayi." Tugas subtitute di sini adalah berusaha menenangkan anak ketika 
ia mulai mencari-cari si figur. Katakan "Mama pasti pulang!" Kita bisa 
juga menambahkan dengan cerita yang mengetengahkan anak yang berani 
ditinggal orang tuanya. Semisal, "Dek, si Dino ini kayak Adek, lo. 
Ditinggal Mama dan Papa tapi enggak nangis. Mama dan Papa Dino seperti 
Mama dan Papa Adek, pergi mencari uang buat beli susu." Dari situ si 
kecil memahami bahwa orang tuanya pergi bukan untuk kepentingan mereka 
saja, tapi juga untuk kepentingannya. Artinya, si kecil juga sudah harus
 diajak berpikir untuk tidak melihat dari dirinya sendiri, walau ini 
masih sulit untuk batita, namun tak ada salahnya diperkenalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DUNIA BERMAIN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Jangan
 dilupakan juga bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Dengan bermain si
 kecil dapat melepaskan semua hal yang menyakitkan/melukai dirinya. Jadi
 suguhkan si kecil berbagai aktivitas bermain sehingga membuat anak 
tidak terfokus pada ketidakhadiran orang tua mereka. "Kalau si kecil 
dibiarkan tanpa aktivitas, sementara si pengganti juga tidak tahu apa 
yang harus dilakukan. Maka anak akan terfokus pada rasa kehilangannya, 
'Mama kok, enggak ada, sih!' Maka ia pun akan semakin merasa tidak 
aman.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pengganti pun harus siap si kecil akan melakukan
 perilaku agresif karena marah tidak dapat bertemu orang tuanya. 
"Tanyalah dengan memeluk si kecil, 'Kenapa Adek memukul Nenek?' atau 
'Adek marah karena ditinggal Ayah, ya?'" Lalu carilah aktivitas 
pengganti untuk menyalurkan kemarahannya. "Yuk, Dek, kita cabuti 
rumput-rumput di taman saja!" Atau "Gimana kalau kita kasih makan ayam 
di halaman?" Aktivitas ini membuat reaksi marah anak bisa tersalurkan 
dalam bentuk yang lebih positif. Tentu saja semua ini membutuhkan 
kreativitas dari si pengganti, juga pengertiannya karena anak dalam 
keadaan tidak aman dan nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika si kecil jadi sulit 
makan, menurut Evi, sesekali si pengganti bisa melanggar prinsip gizi. 
Ketika ditanya, "Adek mau makan apa hari ini?" Kalau dijawab 
"Hamburger!", ya, untuk kali ini bolehlah memberinya makanan tersebut 
kendati sebelumnya ia tidak boleh menyentuh junk food. "Kita, kan, juga 
perlu memahami bahwa anak sedang dalam keadaan tidak nyaman." Toh, saat 
sedang tidak mood, orang dewasa pun enggak mau makan apa-apa. Agar anak 
tetap memperoleh energi, ia bisa makan apa yang ia sukai. "Enggak 
mungkin anak dipaksa makan sesuatu yang rutin, padahal waktu itu dalam 
keadaan tidak mood. Jadi, walaupun tidak bergizi tapi yang penting si 
kecil kemasukan energi dulu." Setelah itu baru si kecil bisa dibujuk, 
makan makanan yang bergizi sambil berjalan-jalan. "Sekarang Adek harus 
makan sayur bayamnya, supaya sehat. Kalau Mama pulang, tapi Adek sakit, 
jadi enggak bisa jalan-jalan, dong!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal penting lain, 
&lt;span style="color: blue;"&gt;Ibu-Bapak yang meninggalkan si kecil, sebisa mungkin selalu melakukan 
kontak telepon untuk mengetahui kondisi rumah dan juga memantau keadaan 
si kecil. Kalau si kecil sudah bisa diajak berkomunikasi akan lebih baik
 lagi karena dengan mendengar suara orang yang disayangi setidaknya akan
 menghibur. "Kontak ini dimaksudkan walaupun si kecil jauh dari orang 
yang disayanginya, namun tetap ada suara yang bisa ia dengarkan&lt;/span&gt;," ujar 
Evi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KETIKA SUDAH PULANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saat Bapak
 atau Ibu kembali ke rumah, tak berarti masalah selesai. Karena ekspresi
 si kecil dalam mengungkapkan perasaan tidak aman/nyaman bisa beraneka 
cara. Ingat, lo, rasa kehilangan dapat menimbulkan rasa kangen juga rasa
 marah/jengkel. Perasaan yang sudah berkecamuk dalam diri anak selama 
beberapa waktu, akan segera dilampiaskan ketika si figur datang. "Yang 
ingin dilakukan anak adalah mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam 
perasaannya. Dalam mengungkapkan perasaan ini, kadangkala anak menjadi 
agresif dengan memukuli si ibu atau bapak untuk mengungkapkan, 'Aku 
marah, kenapa Mama atau Ayah meninggalkan aku lama-lama!' Namun 
kemarahan ini biasanya hanya bersifat temporer," kata Evi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi
 lain yang mungkin muncul adalah tak mau berpisah dengan si figur tadi. 
Ini juga wajar saja karena selama si figur pergi, si kecil merasa 
kehilangan rasa aman. Jadi ketika si figur kembali, si kecil akan 
mengkompensasi rasa ketidaknyamanannya selama si figur pergi dengan 
memeluk, menangis, dan tidak merelakan si figur pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara
 menyiasati hal seperti ini, untuk sementara anak jangan ditinggal pergi
 dulu. "Pernyataan tidak hanya secara verbal tapi juga nonverbal, yang 
menyatakan bahwa 'Adek tidak akan ditinggal lagi, Ibu atau Ayah akan ada
 di samping Adek.' Jadi untuk sementara turuti kemauan si kecil. Jika ia
 ingin dipeluk, peluklah dia. Jika ingin digendong, gendonglah ia. 
Karena semua itu merupakan ungkapan rasa kangen dan kemarahannya ketika 
ditinggal. Pelukan dapat meredakan/membantu mengeluarkan kemarahan anak,
 dibanding jika si ibu/ayah menolak dengan alasan lelah, misal, maka 
anak akan lebih terluka".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemungkinan lain yang bisa 
terjadi adalah si kecil terlihat lebih akrab dengan si subtitute 
ketimbang sebelumnya. Nah, kalau sudah begini, tak perlu langsung 
khawatir, si kecil akan melupakan kita begitu saja. Coba pikirkan 
bagaimana cara mengambil hatinya kembali. Semisal, dengan memberikan 
pertemuan yang berkualitas. Ketika pulang, kita bisa mengambil alih 
tugas si pengganti, misal menyuapi anak. Ungkapkan juga pada anak secara
 jujur perasaan kita, "Bunda kangen banget sama Adek. Jadi kali ini yang
 nyuapin Bunda aja, ya, Mbak biar istirahat dulu!" misal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi,
 Bu-Pak, kalau hanya terjadi sekali dua kali si kecil jadi rewel, itu 
kondisi yang lazim karena ia merasa tidak nyaman ketika orang tuanya 
tidak ada. Tapi kalau kerewelan itu terus-menerus terjadi setiap orang 
tua pergi, kemungkinan si kecil kehilangan trust. Jangan-jangan kita 
sering meninggalkan si kecil namun ketika kembali tidak membayar kembali
 rasa aman yang hilang pada diri si kecil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala 
sesuatunya berpulang kembali pada diri kita masing-masing. Karena 
ternyata kitalah yang sudah menjadikannya demikian, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan ibu:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Ketika
 ibu bekerja, siapakah      pengganti dari ibu, karena peran pengganti 
figur ibu juga menentukan      keoptimalan dari perkembangan anak. Untuk
 ibu perlu bekerja sama dengan      pengasuh agar dapat&amp;nbsp; terus memantau 
pertumbuhan dan perkembangan      anak. Ibu harus aktif mencari tahu 
segala informasi mengenai pertumbuhan      dan perkembangan anak.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ibu
      harus meluangkan waktu untuk memenuhi waktu yang hilang bersama 
dengan      anak. Dengan demikian kedekatan emosional masih terus 
terjaga dan ibu bisa      terus memberikan stimulus pada anak supaya 
pertumbuhan dan perkembangan      anak dapat berkembang secara optimal.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Anak
      yang tumbuh dengan sehat maka kemampuannya juga akan berkembang 
dengan      baik, dengan kata lain anak yang sehat secara fisik maka 
kecerdasannya      juga akan berkembang sesuai dengan potensi yang 
dimiliki.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kecuali      jika ada kasus-kasus khusus pada anak, 
misalnya autis, hiperaktif, dll      maka hal ini diperlukan penanganan 
khusus.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Untuk Anda yang baik hati, Anda dapat membantu 
tetangga Anda dengan memberikan dukungan untuk selalu memperhatikan 
pertumbuhan dan perkembangan anak. Banyak sekali informasi mengenai 
pertumbuhan dan perkembangan anak dan bagaimana kita merangsang 
pertumbuhan dan perkembangan agar anak dapat berkembang secara optimal. 
Untuk anaknya,&amp;nbsp; jika di lingkungan anda ada PAUD (Pendidikan Anak Usia 
Dini), maka akan lebih baik jika si anak diajak untuk ikut, karena 
disana ia akan belajar bersosialisasi dan mengembangkan keterampilannya 
sehingga dapat meningkatkan kecerdasan anak.&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;fn/cbn/ia/SuaraMedia News &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2017/12/cara-menjaga-psikologis-anak-yang.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFeEHFWgFEDA_preEOrzxNQHAo1Vy4_WN9gxIqeIXtBW5MFw8Ijx-JAN7fFbxZ1T1j5y7OSweMxtFZK-O9yTPntTNqFzVUAPxjpQ-_4TOE6KEF8XhuXLjZhGht6nE8DvkWWFiYAmG65w-j/s72-c/Ayahdananak.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-3748110449300601443</guid><pubDate>Sun, 26 Nov 2017 10:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-11-26T02:29:35.521-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Melatih anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan karakter</category><title>Inilah yang terjadi Pada otak Anak Anda ketika di Bentak</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiq9l0ywgfo3b24-7p9Hb0ZerzssnjPrvLD_PTvOggTVftB1rX_8dDOMwrf7nT3hWUKv7AkJUkN9vBF1U_Pe6wCzNjEjB_ODnw9z-j11FUjiwgwxwdHPmyE9dJd1advspe2UPUrd5BzxCDb/s1600/Membentak+anak_3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="600" data-original-width="800" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiq9l0ywgfo3b24-7p9Hb0ZerzssnjPrvLD_PTvOggTVftB1rX_8dDOMwrf7nT3hWUKv7AkJUkN9vBF1U_Pe6wCzNjEjB_ODnw9z-j11FUjiwgwxwdHPmyE9dJd1advspe2UPUrd5BzxCDb/s320/Membentak+anak_3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Siapa dari Anda yang pernah memarahi anak dengan cara membentak-bentak atau berteriak? Tahukah bahwa cara itu justru berdampak buruk pada perkembangan otak anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter ahli ilmu otak dari Neuroscience Indonesia, Amir Zuhdi, menjelaskan, ketika orangtua membentak, anak akan merasa ketakutan. Ketika muncul rasa takut, produksi hormon kortisol di otak meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="color: blue;"&gt;Otak itu bekerja bukan hanya secara struktural, melainkan ada listriknya, ada hormonalnya. Ketika anak belajar neuronnya menyambung, berdekatan, antar-neuron semakin lama semakin kuat, sistem hormonal juga bekerja&lt;/span&gt;," kata Amir saat ditemui seusai Festival Kabupaten/Kota Layak Anak di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (7/11/2015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada anak-anak, tinginya hormon kortisol itu akan memutuskan sambungan neuron atau sel-sel di otak. Selain itu, akan terjadi percepatan kematian neuron atau apoptosis. Lalu, apa akibatnya jika neuron terganggu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Amir, banyak hal yang bisa terjadi, seperti proses berpikir anak menjadi terganggu, sulit mengambil keputusan, anak tidak bisa menerima informasi dengan baik, tidak bisa membuat perencanaan, hingga akhirnya tidak memiliki kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Neuron ini kan isinya file-file. Kalau dalam jumlah banyak (kematian neuron), dia jadi lelet," kata Amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amir menjelaskan, bagian otak anak yang pertama kali tumbuh adalah bagian otak yang berkaitan dengan emosi. Dalam bagian itu, paling besar adalah wilayah emosi takut. Itulah mengapa saat anak-anak akan mudah merasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Semakin sering dibentak dengan keras dan membuat anak takut, semakin tinggi pula kerusakan pada neuron. Menurut Amir, orangtua juga harus bisa mengelola emosi. Ketika anak berbuat salah, katakan salah dengan memberi pengertian tanpa membentak-bentak&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;http://lifestyle.kompas.com/read/2015/11/08/14030002/.Yang.Terjadi.Pada.Otak.Anak.Ketika.Dibentak.Orangtua?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2017/11/inilah-yang-terjadi-pada-otak-anak-anda.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiq9l0ywgfo3b24-7p9Hb0ZerzssnjPrvLD_PTvOggTVftB1rX_8dDOMwrf7nT3hWUKv7AkJUkN9vBF1U_Pe6wCzNjEjB_ODnw9z-j11FUjiwgwxwdHPmyE9dJd1advspe2UPUrd5BzxCDb/s72-c/Membentak+anak_3.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-6871406647694960830</guid><pubDate>Thu, 23 Nov 2017 08:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-11-23T00:43:41.713-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan karakter</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Peran orangtua</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Psikologis Anak</category><title>Jangan Pernah Membentak Anak-anak</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioFALf-w4ZhyAJUFOJlpjXrOylv60amt-cCUUt_JEfynSNVj1x6Jl_Et04cLAnRqvfvTjbB3pSyln7EOEeXRAjkYGTPQb-v-lr_GI_3S1pfhyphenhyphenrFNW5bIT608xf8rltWUUH-zCr5pMr43-o/s1600/Membentak+anak.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="410" data-original-width="725" height="180" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioFALf-w4ZhyAJUFOJlpjXrOylv60amt-cCUUt_JEfynSNVj1x6Jl_Et04cLAnRqvfvTjbB3pSyln7EOEeXRAjkYGTPQb-v-lr_GI_3S1pfhyphenhyphenrFNW5bIT608xf8rltWUUH-zCr5pMr43-o/s320/Membentak+anak.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="background-color: blue;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Dulu Aku Sering "Bentak-bentak Anakku", Tapi Setelah Membaca "Kalimat yang Satu Ini", Hatiku Langsung Sakit Bagai Ditusuk Jarum Bertubi-tubi!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: #f3f3f3;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu punya anak atau kelak mau punya anak, bacalah sebelum menyesal sepertiku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Menjadi orang tua itu tidak mudah. Kadang kita merasa capek, tapi anak terus bertingkah, membuat kita pun jadi emosi. Ucapan kita jadi kasar dan membentak anak. Tapi, apakah orang tua sekalian sadar? Ketika kita memarahi anak, bukan cuma kita yang sakit, tapi juga anak kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jerman, terbit sebuah buku anak berjudul "Shrill Mother" yang menceritakan kisah seekor ibu penguin yang sering memarahi dan membentak-bentak anaknya. Buku ini mendapat penghargaan tertinggi sastra di Jerman dan telah dibaca lebih dari seratus juta kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, ibuku tiba-tiba kehilangan kesabarannya. Dia berteriak marah padaku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dimarahi olehnya, Aku terkejut takut sampai seluruh tubuhku mental terbang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku mental ke alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perutku mental ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapku jatuh ke hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutku terdampar di pegunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekorku? Tertinggal di jalan seperti anak kehilangan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal sisa sepasang kaki, hanya bisa berlari dan berlari ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin berteriak, tapi tidak ada mulut. Aku ingin mencari, tapi tidak ada mata. Aku ingin terbang tapi tidak ada sayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus lari dan berlari, tidak tahu harus ke mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, sebuah bayangan besar menutupiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata itu adalah ibu! Ia datang mencariku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia telah mengumpulkan semua bagian-bagian tubuhku yang hilang dan membantuku menjahitnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan ibu..", kata ibu kepadaku. Setelah itu, kita berlayar pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini membuatku tersadar akan sesuatu yang sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat beberapa hari yang lalu, anakku berkata kepadaku, "Bu, nanti kalau punya adik, saya akan berbicara baik-baik dengan mereka, tidak akan seperti ibu, marah-marah, keras-keras!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, gara-gara aku marahi, anakku menangis dan berkata, "Ibu bisa lembut dikit gak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku sudah lama berusaha untuk mengontrol dan mengintrospeksi diri, tapi aku sendiri pun tumbuh besar di keluarga yang selalu bentak-bentak, tidak pernah ngomong baik-baik. Nenekku suka marah-marah, ayahku juga suka marah-marah, jadi otomatis sifatku juga sama seperti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kemudian aku sadar betapa besar pengaruh keluarga terhadap anak. Kalau orang tua selalu menumpahkan emosi pada anak, menggunakan nada bicara yang kasar dan memarahi anak, anak-anak akan mengira seperti inilah cara yang "normal" orang-orang dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku juga sadar, seringkali karena aku menggunakan nada suara yang salah, aku jadi menyinggung perasaan orang lain dan sering disalahpahami oleh orang lain. Sekalipun maksudku adalah baik, tapi yang orang lain "tangkap" bukanlah seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari, nada bicara anakku jadi sama persis sepertiku, aku sadar bahwa aku harus berubah. Aku berpesan pada anakku, "Kalau ibu bentak kamu lagi, suruh ibu lembut dikit ya." Meski proses perubahan ini menyakitkan, tapi perlahan aku merasa akan suasana di rumah jauh lebih baik, suasana hati suami dan anak-anak juga jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma dengan mengendalikan emosi kita, kita bisa memberitahu anak: berbicara dengan suara keras tidak dapat memecahkan masalah, marah-marah tidak dapat memecahkan masalah. Sebaliknya, kalau kita sabar dan ngomong baik-baik, sebenarnya kita bisa menyelesaikan masalah dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan setiap orang tua tahu seberapa besar dampak yang kita berikan terhadap anak-anak kita saat kita marah. Seperti penguin kecil dalam buku gambar, merasa takut dengan raungan ibu, seluruh tubuhnya robek. Fisik dan kejiwaannya berantakan, kehilangan arah, tidak ada tempat untuk bersandar. Anak akan sangat ketakutan, tak berdaya, kebingungan, seakan dunia ini mau hancur. Dalam jangka panjang, anak-anak akan meniru pola bicara kita ketika bergaul dengan orang lain, begitu juga ketika mereka dewasa bergaul dengan kekasih dan anak-anak mereka, juga dengan cara seperti ini, karena itu itu satu-satunya cara yang ia tahu sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, tidak ada orang yang sempurna. Kadang kita juga bisa khilaf, capek, dan sontak berbicara dengan nada marah-marah, tapi ingat, setelah itu, mintalah maaf pada anak karena papa dan mama sudah berbicara keras-keras padamu, bukan karena papa mama tidak sayang padamu, tapi karena ada asalan A atau B dan ngomong baik-baik sama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, yang terpenting, belajarlah mengontrol emosi. Jangan biarkan emosi menjadi sesuatu yang "normal" dalam berinteraksi dengan anak. Ketika kecil anak dibentak, nanti sudah besar, jangan salahkan anak apabila mereka memperlakukanmu dengan cara yang sama! Semoga ini menjadi sebuah pelajaran yang berharga bagi semua orang tua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:www.cerpen.co.id&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2017/11/jangan-pernah-membentak-anak-anak.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioFALf-w4ZhyAJUFOJlpjXrOylv60amt-cCUUt_JEfynSNVj1x6Jl_Et04cLAnRqvfvTjbB3pSyln7EOEeXRAjkYGTPQb-v-lr_GI_3S1pfhyphenhyphenrFNW5bIT608xf8rltWUUH-zCr5pMr43-o/s72-c/Membentak+anak.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-3515647148151438507</guid><pubDate>Sat, 30 Sep 2017 03:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-09-29T20:19:24.287-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><title>Sarjana Kok Ngurus Anak? Lulusan SD Juga Bisa!</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbfNnFV52HBNN2J9lcgiXbEqfI-FGoNwrUX5d4d6FxnyZDzpnolfMqbaZkl9f8wzEMkwX3GjzHPukZe8xHh4HO88h8wAjW2BzqrpCELIpxsfh-D94dGiikal7TBtqE_nDOJw5eP7_qzQ2f/s1600/Sarjana.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="420" data-original-width="800" height="168" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbfNnFV52HBNN2J9lcgiXbEqfI-FGoNwrUX5d4d6FxnyZDzpnolfMqbaZkl9f8wzEMkwX3GjzHPukZe8xHh4HO88h8wAjW2BzqrpCELIpxsfh-D94dGiikal7TBtqE_nDOJw5eP7_qzQ2f/s320/Sarjana.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
“Sekolah tinggi-tinggi sampe S1 malah ngurus anak, buang-buang uang aja. Mau ngurus anak mah lulusan SD juga bisa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tombol sensitif Saya ditekan. Pagi ini Saya dapat nyinyiran begitu dari tetangga. Akhirnya kebagian juga dapat omongan begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi Saya digituin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya senyum sambil bilang, “Kita lihat nanti didikan anak yang diasuh lulusan SD, dengan didikan yang diasuh oleh lulusan sarjana. Seluruh ilmuku semuanya untuk anakku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahu istri BJ Habibie&lt;/b&gt;, Ibu Hasri Ainun Habibie? Beliau seorang dokter di Jerman, dan berhenti menjadi dokter.&lt;br /&gt;“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir, buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahu Dian Sastrowardoyo?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena mereka akan menjadi seorang Ibu. Ibu-ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menurut Agama saya, Seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya, guru pertamanya di dunia. Dan tanggungjawabnya dunia dan akhirat. Bukankah mendidik anak adalah suatu kewajiban? Bukankah mereka hadir dari cinta kedua orang tuanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tugas utama seorang wanita itu apa? Menjamin pendidikan anak. Karen anak kita belum tahu apa yang terbaik untuk dirinya sekarang, dan Ibunyalah yang harus tahu segala yang terbaik untuknya.&lt;br /&gt;Menjadi ibu yang cerdas dan pintar itu wajib. Karena menjadi ibu itu belajarnya sepanjang masa, ilmunya harus tetap di upgrade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar tentang menyusui memang gak perlu ilmu?&lt;br /&gt;Belajar tentang menggendong anak memang gak perlu ilmu?&lt;br /&gt;Memberi makan anak gak pake ilmu?&lt;br /&gt;Belajar tentang mengasuh anak memang gak perlu ilmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi ibu itu harus serba bisa. Bisa menjadi dokter, menjadi ahli gizi, menjadi koki, menjadi psikolog, menjadi guru, menjadi tukang loundry, baby sisster dan menjadi sahabat. Tangan Ibu sendiri yang akan membentuk pribadi dan karakternya. Karena anak hanya butuh Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahhh… Saya tidak sedang membandingkan ibu bekerja dan ibu tidak bekerja, ibu yang berpendidikan tinggi dan tidak berpendidikan tinggi, semua punya porsi masing-masing. Asal kita tidak pernah berhenti belajar untuk mereka. Karena mereka adalah sumber ilmu kita, mereka sumber pahala kita selain suami, mereka profesor-profesor cilik yang unik, yang harus kita bedah tiap detail perilaku dan keinginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Saya bangga menjadi seperti ini, Saya bangga mendidik anak Saya dengan penuh ilmu dan tidak mendidiknya hanya berdasar “kata orang dulu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena menjadi sarjana bukan hanya untuk mencari uang saja, mendapatkan ilmunya itu yang ‘mahal’ dan semua ilmu Saya yang didapatkan akan Saya persembahkan untuk anak Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal rezeki? Tenang… Allah telah menjaminnya. Allah menjamin rezeki orang yang telah menikah, karen dua rezeki menjadi satu. Apalagi anak membawa rezekinya sendiri. Dan, Alhamdulillah sampai sekarang Allah masih mencukupkan rizki kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serius, menjadi ibu rumah tangga bukan proyek kecil, ini proyek besar, proyek akhirat. Tak ada yang sia-sia, setiap ilmu yang Saya dapat kemarin semua untuk anakku, wanita wajib cerdas untuk melahirkan generasi pembaharu yang brilliant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bukankah wanita adalah tiang suatu Negara?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Anakku berhak lahir dari seorang wanita cerdas. Tapi Saya belum menjadi ibu yang pintar dan hebat seperti diluar sana. Saya hanya seorang ibu yang sedang belajar menjadi yang terbaik untuk anak Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anakku lebih membutuhkanku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah tulisan dari Diny Rosdiany Kusnadi, seorang sarjana pendidikan alumni Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purakarta yang kini telah menjadi ibu dari satu anak. Tulisan pada status Facebook pribadinya tersebut sukses menjadi viral untuk beberapa lama di jejaring sosial. Tak kurang dari 24 ribu like dan share menjadi viral pada curahan hati Ibu muda tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;https://www.ruangmuslimah.co/16453-sarjana-kok-ngurus-anak-lulusan-sd-juga-bisa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2017/09/sarjana-kok-ngurus-anak-lulusan-sd-juga.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbfNnFV52HBNN2J9lcgiXbEqfI-FGoNwrUX5d4d6FxnyZDzpnolfMqbaZkl9f8wzEMkwX3GjzHPukZe8xHh4HO88h8wAjW2BzqrpCELIpxsfh-D94dGiikal7TBtqE_nDOJw5eP7_qzQ2f/s72-c/Sarjana.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-7088731399838026553</guid><pubDate>Fri, 29 Sep 2017 15:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-09-29T08:57:16.946-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kesehatan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kesehatan Anak</category><title>Yang perlu Anda ketahui tentang baik buruknya Anti Biotik</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3HwpHOwAPJ-yIEdKcDZCwMA5anQwngG_PYtwlg8LdUhZkLWsEss_l4CPp4GBJTHujxlI2ZhTM2su1edZmpasmm5qVkpo8AtyDBKV_0X2og4nWjxNpmHn4pjvUhx_PKFZ3tcwL2U5XA16W/s1600/Anti+biotik.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="419" data-original-width="630" height="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3HwpHOwAPJ-yIEdKcDZCwMA5anQwngG_PYtwlg8LdUhZkLWsEss_l4CPp4GBJTHujxlI2ZhTM2su1edZmpasmm5qVkpo8AtyDBKV_0X2og4nWjxNpmHn4pjvUhx_PKFZ3tcwL2U5XA16W/s320/Anti+biotik.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di tengah kesibukan kita sebagai individu sehari-hari, baik itu yang masih sekolah ataupun bekerja untuk memenuhi nafkah, terkadang waktu kita untuk menjaga gaya hidup sehat seringkali tersita. Tubuh yang menjadi terlalu lelah akibat beraktivitas sering membuat daya tahan tubuh menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat seperti itu mudah sekali bagi tubuh terserang berbagai jenis penyakit yang tentu sangat membuat kita repot karena terganggunya aktivitas yang harus tetap dilakukan. Pada beberapa penyakit mungkin dapat sembuh cepat hanya dengan beristirahat atau mengonsumsi obat-obatan yang dijual di warung. Namun jika penyakit tersebut ternyata tidak sanggup diobati dan mengharuskan kita memeriksakan diri ke dokter, ada kalanya kita akan diberikan resep obat antibiotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang mengetahui baik dan buruk dari antibiotik yang selama ini kita konsumsi ketika kita sakit. Menurut Dr. Zubairi Djoerban, seorang spesialis penyakit dalam dan guru besar fakultas kedokteran Universitas Indonesia mengatakan, antibiotik adalah zat antimikroba yang asalnya dari mikroba lain yang dapat dibuat secara sintetis ataupun jamur. Ada antibiotik yang dapat membunuh berbagai kelompok kuman penyebab infeksi tetapi ada juga antibiotik yang dibuat khusus mengatasi kuman tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, penggunaan antibiotik juga memiliki efek tidak baik jika dikonsumsi secara sering setiap kali kita terserang sakit. Hal ini mungkin terjadi karena dapat membuat kuman menjadi kebal terhadap antibiotik yang dikonsumsi atau yang biasa disebut resistensi. Resistensi dapat terjadi ketika seseorang yag meminum antibiotik tidak mengikuti saran dan petunjuk yang diberikan oleh dokter, kebanyakan hanya meminum ketika keluhan terjadi pada tubuh dengan pola yang tidak teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hal ini berulang terjadinya maka penyakit yang dialami nantinya akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyembuhkannya dan tentunya biaya yang lebih besar karena memerlukan jenis obat lain yang lebih kuat untuk mematikan kuman tersebut. Oleh karena itulah antibiotik tidak boleh dikonsumsi secara bebas di masyarakat dan hanya boleh dibeli dengan resep dari dokter. Tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik, hanya penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau kuman sajalah yang membutuhkan antibiotik sebagai pembunuh kuman. Penyakit seperti flu batuk yang disebabkan oleh virus sebenarnya tidak membutuhkan antibiotik.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui penyebab penyakit yang dialami sebaiknya kita memeriksakan diri ke dokter. Biarkan dokter yang memutuskan obat apa yang cocok untuk kita. Dengan pengawasan dari dokter kita juga dapat meminimalisir munculnya efek samping yang mungkin ada pada beberapa antibiotik seperti mual, diare, muntah dan kemungkinan alergi akibat kurang cocok dengan antibiotik tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;https://keluarga.com/5924/baik-buruk-antibiotik-yang-harus-anda-ketahui&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2017/09/yang-perlu-anda-ketahui-tentang-baik.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3HwpHOwAPJ-yIEdKcDZCwMA5anQwngG_PYtwlg8LdUhZkLWsEss_l4CPp4GBJTHujxlI2ZhTM2su1edZmpasmm5qVkpo8AtyDBKV_0X2og4nWjxNpmHn4pjvUhx_PKFZ3tcwL2U5XA16W/s72-c/Anti+biotik.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-9181312221467044401</guid><pubDate>Thu, 22 Dec 2016 01:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-12-21T17:40:20.533-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Peran orangtua</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Psikologis Anak</category><title>11 Keajaiban Pelukan Seorang Ibu Yang Luar Biasa</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1crPBm0_yQ_HZQCPzQkdGg-yXFWKqlZ0rrdJzTg55rvcSlPAoSBI9Jq6lpfYd-OwYcG3PPb8yr2zKqmjK5MPiJC3HJfb46lnnYxh7JB3FDyet9GzNFpvKsp-rivndZVG5QSNxjIEewNG7/s1600/pelukan+ibu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1crPBm0_yQ_HZQCPzQkdGg-yXFWKqlZ0rrdJzTg55rvcSlPAoSBI9Jq6lpfYd-OwYcG3PPb8yr2zKqmjK5MPiJC3HJfb46lnnYxh7JB3FDyet9GzNFpvKsp-rivndZVG5QSNxjIEewNG7/s1600/pelukan+ibu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Menurut &lt;b&gt;Melly Puspita Sari&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Psi&lt;/b&gt; selaku psikolog sekaligus penulis buku “&lt;i&gt;The Miracle of Hug&lt;/i&gt;“,
 mengatakan bahwa pelukan pada anak sebaiknya diberikan minimal delapan 
kali dalam sehari dari kedua orangtuanya. Karena hal ini dapat 
memberikan energi baru bagi anak sehingga ia bisa beraktivitas dan 
mengoptimalkan potensinya.&lt;/span&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang ibu memiliki naluri keibuan yang dapat merubah segalanya bagi seorang anak. Begitu banyaknya manfaat yang dapat dirasakan saat seorang ibu memeluk anaknya. Inilah beberapa keajaiban yang dapat dirasakan saat ibu memeluk anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban Pelukan Seorang Ibu Yang Luar Biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak alasan kenapa diharuskan seringnya seorang ibu memeluk anaknya, baik saat anak-anak masih kecil maupun sudah dewasa. Pelukan merupakan salah satu bentuk &lt;b&gt;&lt;i&gt;afeksi &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang paling tepat untuk mengekspresikan rasa kasih sayang kepada anak, dan jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan hadiah atau pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukan juga dapat memberikan rasa aman, nyaman, tentram dan hangat serta dapat menimbulkan rasa empati yang tinggi juga dapat menumbuhkan kasih sayang yang tulus dari hati. Inilah beberapa alasan atau sebab pentingnya memeluk anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Dapat menyehatkan jiwa raganya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukan seorang ibu dapat menurunkan tekanan darah dan juga stress. Selain itu pelukan juga dapat meningkatkan &lt;i&gt;self-esteem&lt;/i&gt; dan mendorong sang anak untuk menjadi lebih baik. Rasa bahagia yang diperoleh dapat membuat jiwa dan raganya lebih sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Mampu menyembuhkan hati yang terluka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan pelukan, hati yang terluka akan terobati. Terlebih pelukan dari seorang ibu yang dapat menentramkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Dapat menguatkan sistem imun&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentuhan yang tepat merangsang kelenjar &lt;i&gt;tymus &lt;/i&gt;yang mana dapat merangsang sel darah putih yang merupakan komponen utama dalam pertahanan tubuh manusia. Maka peluklah anak disaat ia sedang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Dapat meningkatkan Mood&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukan yang lama akan meningkatkan arus hormon &lt;i&gt;serotonin &lt;/i&gt;dalam tubuh. Pelukan dapat meningkatkan skala kegembiraan anak semakin bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan anak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bayi yang sering dipeluk akan tumbuh dan berkembang lebih cepat dibandingkan bayi-bayi yang jarang dipeluk. Jadi banyak memeluk anak saat masih bayi sangat berpengaruh terhadap proses tumbuh kembangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Dapat meningkatkan IQ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukan dan sentuhan seorang ibu akan merangsang aliran darah ke otak. Sehingga dapat meningkatkan IQ anak, anak akan lebih mudah menangkap, lebih cerdas dan mudah paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Dapat meredakan&amp;nbsp; emosi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat anak sedang marah, peluklah ia, karena pelukan seorang ibu dapat meredam amarahnya sehingga anak akan lebih merasa tenang dan mampu mengontrol emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Belajar apa itu artinya menerima dan memberi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukan dan sentuhan itu dapat mendidik sang anak agar lebih memahami pentingnya kasih sayang dan berharganya saling mengasihi dan menyayangi. Ia akan tahu artinya memberi dan menerima serta saling mengasihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Dapat mendekatkan dan menguatkan batin&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pelukan dapat memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara ibu dan anak. Berdasarkan hasil penelitian psikolog &lt;b&gt;Edward R. Christopherson. Ph.D&lt;/b&gt;, pelukan jauh lebih efektif daripada pujian atau ucapan sayang, karena dapat membuat anak akan merasa sangat dicintai dan dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Pelukan yang tulus dapat meluluhkan hati yang keras&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelukan, hati yang keras akan menjadi luluh. Sering-seringlah memeluk anak, meskipun ia telah dewasa. Karena pelukan seorang ibu akan tetap sama hangatnya dirasakan ketika anak-anak masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Mengurangi ketegangan syaraf&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli menemukan bahwa saat melakukan pelukan maka produktivitas hormon &lt;i&gt;endomorfin&lt;/i&gt; meningkat, sehingga hal ini dapat memberi efek ketenangan karena mengurangi ketegangan syaraf dan juga menormalkan tekanan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;b&gt;Melly Puspita Sari&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Psi&lt;/b&gt; selaku psikolog sekaligus penulis buku “&lt;i&gt;The Miracle of Hug&lt;/i&gt;“, mengatakan bahwa pelukan pada anak sebaiknya diberikan minimal delapan kali dalam sehari dari kedua orangtuanya. Karena hal ini dapat memberikan energi baru bagi anak sehingga ia bisa beraktivitas dan mengoptimalkan potensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa point penting tentang Pelukan Seorang Ibu Yang Luar Biasa berpengaruh besar terhadap anaknya. Selain bentuk ungkapan rasa sayang, pelukan juga sangat bermanfaat untuk mengontrol emosi dan menyehatkan jiwa dan raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat dan sekian terimakasih &#128578;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;www.catatanmuslimah.com/2016/04/inilah-11-keajaiban-pelukan-seorang-ibu-yang-luar-biasa.html&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/12/11-keajaiban-pelukan-seorang-ibu-yang.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1crPBm0_yQ_HZQCPzQkdGg-yXFWKqlZ0rrdJzTg55rvcSlPAoSBI9Jq6lpfYd-OwYcG3PPb8yr2zKqmjK5MPiJC3HJfb46lnnYxh7JB3FDyet9GzNFpvKsp-rivndZVG5QSNxjIEewNG7/s72-c/pelukan+ibu.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-7316235591630631401</guid><pubDate>Thu, 15 Dec 2016 12:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-12-15T04:24:01.560-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Parenting</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan karakter</category><title>5 Kesalahan Orangtua yang Membuat Anak Manja dan Nakal</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEge5IqxxJIDxsNv7Jx10u7hMQlCY10o0YVdwbr2But4GUNaAQmEmYRiotspJlxQjt-IGl4mMJnafFLFUJGkl9fWrGB67KHzxPCRUku5dWJGxP5XpNBr2ouDJAIP0oKDijJSvmO1NanUDK1I/s1600/Memarahi+anak.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEge5IqxxJIDxsNv7Jx10u7hMQlCY10o0YVdwbr2But4GUNaAQmEmYRiotspJlxQjt-IGl4mMJnafFLFUJGkl9fWrGB67KHzxPCRUku5dWJGxP5XpNBr2ouDJAIP0oKDijJSvmO1NanUDK1I/s1600/Memarahi+anak.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ketika anak menjadi nakal, banyak orang yang bertanya-tanya apa yang menjadi penyebabnya? Daripada menunjuk diri sendiri, kebanyakan orangtua menyalahkan pergaulan, televisi, dan sekolah sebagai alasan anak menjadi nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperbaiki sikap anak yang nakal dan kurang baik, langkah pertama yang harus dilakukan orangtua adalah menyadari bahwa mereka juga menjadi penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Sadar orangtua Melakukan 5 Kesalahan Ini yang Membuat Anak Manja dan Nakal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Anda menganggap anak hanya mengekspresikan dirinya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak boleh saja menangis atau marah dan mengungkapkannya kepada Anda. Namun, batasi reaksinya dan jangan biarkan dia berteriak-teriak, berguling-guling di lantai, apalagi menggigit Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orangtua yang menganggap perilaku ini sebagai bagian dari fase pertumbuhan anak. Namun, hal ini bisa menyebabkan masalah yang lebih besar ke depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Anda tidak membiarkan anak bertumbuh&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari, banyak hati kecil orangtua yang berharap anaknya akan selamanya bergantung pada mereka. Orangtua yang tidak membiarkan anaknya bertanggung jawab dan mengandalkan dirinya sendiri secara tidak langsung juga menghambat pertumbuhan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Anda menyalahkan orang atau benda lain&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orangtua yang dengan mudah menyalahkan lingkungan, televisi, dan media ketika anaknya nakal. Namun, ingat bahwa orangtualah yang seharusnya bertanggung jawab mengontrol konsumsi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun bukan Anda yang mengajari anak untuk berbuat nakal, tanggung jawab masih tetap pada orangtua untuk mengajari anak bahwa tindakannya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Anda tidak obyektif sebagai orangtua&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah beranggapan bahwa tugas orangtua hanyalah sebagai pelindung, penyemangat, pembantu, dan pengacara bagi anak. Sebaiknya, orangtua tahu kapan harus mundur dan mengamati perilaku anak secara obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada membuat anak percaya bahwa mereka adalah yang terbaik dan paling benar di dunia, orangtua sebaiknya berfokus untuk membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, bertanggung jawab, dan berkontribusi bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Anda membuat anak merasa berhak akan segala hal&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orangtua memang sulit, Anda harus bisa menjawab “tidak” kepada buah hati di saat tertentu. Sebab, selalu menjawab “ya” membuat anak merasa berhak akan segala hal dan harus dituruti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://sayangianak.com/tanpa-sadar-orangtua-melakukan-5-kesalahan-ini-yang-membuat-anak-manja-dan-nakal/&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/12/5-kesalahan-orangtua-yang-membuat-anak.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEge5IqxxJIDxsNv7Jx10u7hMQlCY10o0YVdwbr2But4GUNaAQmEmYRiotspJlxQjt-IGl4mMJnafFLFUJGkl9fWrGB67KHzxPCRUku5dWJGxP5XpNBr2ouDJAIP0oKDijJSvmO1NanUDK1I/s72-c/Memarahi+anak.png" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-6013385274659449654</guid><pubDate>Mon, 28 Nov 2016 11:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-11-28T20:48:10.695-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><title>8 Kebaikan yang Bisa Diajarkan Pada Buah Hati Anda</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhT8kvm8gJiZTc4ITw4mNvqQxiLFb4zPNhUCphdbIhB7vpOsgnyjnQlcswK8lAUJE7nFqJ54f8x_3tbzqxGBK-yUG6wCczhbDhdLL9mpWKyFpmvWdEnLzb3h0ocOtRfpzo5qU2lFnlgmR6b/s1600/Mengajari+anak.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhT8kvm8gJiZTc4ITw4mNvqQxiLFb4zPNhUCphdbIhB7vpOsgnyjnQlcswK8lAUJE7nFqJ54f8x_3tbzqxGBK-yUG6wCczhbDhdLL9mpWKyFpmvWdEnLzb3h0ocOtRfpzo5qU2lFnlgmR6b/s1600/Mengajari+anak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto :Google Image&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Anak adalah harta bagi setiap orang tua yang tidak ternilai harganya. Agar tumbuh dengan baik dan memiliki sifat yang terpuji, anak perlu diajarkan kebiasaan yang baik sebagai bekal masa depannya kelak. Sebagai orang tua tentunya Anda tidak ingin melihat si buah hati berlaku kasar dan tidak sopan pada orang-orang di sekitarnya bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua adalah contoh yang paling pertama dilihat oleh anak-anaknya. Anak yang masih dalam masa pertumbuhan akan meniru apapun yang dilakukan orang tuanya. Kegiatan meniru ini biasanya akan menjadi kebiasaan yang dibawa hingga dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar anak tidak salah langkah dan memiliki sifat dan kelakuan yang baik, inilah delapan kebaikan yang bisa diajarkan pada anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;MENGENALKAN ANAK PADA TUHAN DAN MENCINTAINYA AKAN MENIMBULKAN ANAK DENGAN SIFAT YANG BAIK DAN RELIGIUS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebaikan utama yang perlu diajarkan pada anak-anak adalah membuatnya mengenal dan mencintai Tuhan Yang Maha Esa. Anak yang diajarkan tentang agama sejak dini akan menimbulkan pribadi yang baik, menghormati sesama, dan yang penting lagi meyakini adanya Tuhan pemilik segala kehidupan dan alam semesta. Pada diri anak akan tertanam sifat yang enggan sombong karena selalu mengingat Tuhan di dalam kegiatan sehari-harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;AJARKAN ANAK UNTUK SELALU MENYAYANGI DAN MENGHORMATI ORANG TUA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua manapun akan berharap anak-anaknya yang sudah dirawat dapat patuh, sayang, dan selalu mendoakannya kapanpun dimanapun. Mereka selalu ingat untuk membantu orang tua ketika mereka dewasa. Untuk itu penting bagi orang tua membangun sedekat mungkin hubungan antara anak dan orang tua. Ajari cinta dan kasih sayang serta kepedulian pada anak-anak agar mereka menjadi pribadi yang penyayangbaik pada orang tua aupun teman-temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;AJARI ANAK TENTANG PENTINGNYA KEBERSIHAN PADA DIRI SENDRI DAN LINGKUNGAN SEKITAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak merupakan peniru ulung, ketika melihat orang tuanya membuang sampah sembarangan ia pun akan meniru kebiasaan tersebut. Sebelum hal itu terjadi, sebaiknya Anda ajarkan mengenai pentingnya kebersihan untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar. Ketika mereka sudah terbiasa akan lingkungan dan diri yang bersih,, lingkungan pun akan tetap terjaga, Kesehatan anak-anak pun tetap dalam kondisi yang baik karena tidak melakukan kebiasaan yang jorok yang dapat merugikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;ANAK HARUS DIBIASAKAN TEPAT WAKTU, AGAR SAAT DEWASA TIDAK MEMBIASAKAN “JAM KARET”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaan yang baik diajarkan pada anak-anak adalah mengajarinya selalu tepat waktu dalam berbagai hal. Seperti tepat waktu ketika tidur, makan, pergi sekolah, dan lain-lain. buat diri mereka sistematis dengan waktu. Sehingga ketika dewasa kelak ia akan terbiasa tepat waktu dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika janji bertemu dengan seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;KEJUJURAN MERUPAKAN HAL TERPENTING UNTUK BISA DITERIMA MASYARAKAT KELAK, MAKA DARI ITU PENTING UNTUK MENGAJARI ANAK UNTUK JUJUR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak yang dibiasakan berkata dan berperilaku jujur sejak kecil akan ragu atau enggan melakukan kecurangan ketika dewasa nanti. Ajari anak untuk berkata jujur di setiap kesempatan. Jangan langsung marah ketika ia jujur tentang kesalahannya. Marah-lah ketika anak Anda berbohong mengenai perbuatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;BELAJAR MANDIRI SEJAK ANAK-ANAK AKAN MENJADIKANNYA PRIBADI YANG TIDAK BERGANTUNG PADA ORANG LAIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk membuat anak menjadi pribadi yang mandiri. Mulai dari mengajarinya berhemat menggunakan uang yang diperolehnya, memberinya contoh bagaimana susahnya bekerja untuk menghasilkan uang, mengajak anak-anak ke suatu daerah terpencil dimana anak-anak di daerah itu kesusahan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengajarinya hidup mandiri dengan tidak selalu memberikan apa yang menjadi keinginannya akan membuat anak menjadi tidak manja dan tidak terlalu mudah bergantung pada orang lain. biarkan dia beradaptasi dengan caranya sendiri untuk memperoleh sesuatu yang menjadi keinginannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;MENGAJARI ANAK UNTUK TIDUR TEPAT WAKTU DAPAT MEMBUAT ANAK LEBIH PEDULI TERHADAP KESEHATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat penting untuk selalu mengajarkan anak untuk selalu tidur tepat pada waktunya. Jelaskan pada anak-anak sejak dini bahwa tidur terlambat hanya akan berdampak buruk pada kesehatan. Anak yang sudah diajarkan sejak dini mengenai pentingnya tidur tepat akan membuatnya lebih peduli kesehatan sejak kecil. Agar anak lebih percaya bahwa tidur telat dapat berdampak buruk, orang tua sebaiknya memberi contoh yang baik dengan tidak tidur begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;AJARI ANAK MENGENAI PENTINGNYA KETAATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa orang tua mungkin sering menggunakan kekerasan atau kata-kata kasar ketika anak mulai sulit diatur dan tidak taat pada aturan orang tua. Mengajari anak-anak dengan cara seperti itu hanya membuatnya akan terus menjadi anak yang pembangkang. Ajari ketaatan dengan kasih sayang. Beri penjelasan yang jelas dan logis mengapa anak-anak perlu berlaku taat pada orang tua maupun aturan yang berlaku di masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;a href="http://sayangianak.com/8-kebaikan-yang-bisa-diajarkan-pada-buah-hati-anda/" target="_blank"&gt; sayangianak.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/11/8-kebaikan-yang-bisa-diajarkan-pada.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhT8kvm8gJiZTc4ITw4mNvqQxiLFb4zPNhUCphdbIhB7vpOsgnyjnQlcswK8lAUJE7nFqJ54f8x_3tbzqxGBK-yUG6wCczhbDhdLL9mpWKyFpmvWdEnLzb3h0ocOtRfpzo5qU2lFnlgmR6b/s72-c/Mengajari+anak.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-8377131847081442367</guid><pubDate>Tue, 15 Nov 2016 00:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-11-14T16:51:41.355-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><title>7 Karakter Orangtua Calon Pemilik Anak Sukses, Anda Masuk Kategori nomor berapa?</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5PZPuFBMHePQdebtUdHmmIDr7w8KQz49jqcOX_B6UZ8HBpdPIGYm9iY6AbC-cy3Pe8EFjiZeJfMuTR3hmipw3dLSGmSDHuHM_CjKeoMb3La91nhERyDGhSJpUCRxlL_c9wLQ9DTgTFC_R/s1600/suksesanak.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5PZPuFBMHePQdebtUdHmmIDr7w8KQz49jqcOX_B6UZ8HBpdPIGYm9iY6AbC-cy3Pe8EFjiZeJfMuTR3hmipw3dLSGmSDHuHM_CjKeoMb3La91nhERyDGhSJpUCRxlL_c9wLQ9DTgTFC_R/s400/suksesanak.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Orangtua mana yang tak mengharapan anaknya sukses? Semua orang tentu saja&amp;nbsp; mengidamkan anaknya sukses dimasa kini dan masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya tidak&amp;nbsp; ada resep parenting khusus dalam membesarkan seorang anak agar menjadi orang yang sukses hingga mampu menjadi seorang yang sukses. Namun para psikolog menemukan adanya beberapa faktor yang bisa memperkirakan kesuksesan seorang anak. Yang mengejutkan, faktor itu ternyata ada pada orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti dikutif dari businessinsider, Jumat (4/maret/2016), berikut adalah 7 karakter orang tua calon pemilik anak sukses:&lt;span style="background-color: blue;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: blue;"&gt;&lt;span style="background-color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;1.&lt;span style="color: blue;"&gt; Mengajarkan anak keahlian sosial&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peneliti dari Pennsylvania State University and Duke University menelusuri lebih dari 700 anak usia TK sampai 25 tahun dan menemukan hubungan erat antara kemampuan sosial semasa TK menentukan sukses di usia dewasa dua dekade mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. &lt;span style="color: blue;"&gt;Membiasakan anak mengerjakan pekerjaan rumah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantan Dekan Freshmen dari Universitas Stanford AS, Julie Lythcott Haims menganggap anak yang dibiasakan mengerjakan tugas rumah akan menjelma menjadi pegawai yang bisa bekerjasama dengan rekannya. Mereka juga bisa memiliki rasa empati tinggi dan mampu mengerjakan tugas secara mandiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;span style="color: blue;"&gt; Memiliki ekspektasi tinggi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan data survei 6.600 anak yang lahir di tahun 2001, Profesor Neal Halfon dari UCLA menemukan ekspektasi orang tua terhadap anaknya bisa berdampak pencapaian yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orangtua yang berharap anaknya mencapai kuliah terlihat berusaha mengatur agar anaknya bisa mencapai tujuan itu dengan pendapatan mereka atau kekayaan yang dimiliki,” kata Halfon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. &lt;span style="color: blue;"&gt;Memiliki hubungan harmonis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Studi dari Universitas Illinois AS menemukan anak yang berasal dari keluarga penuh konflik, apakah kekerasan atau perceraian, berpotensi menghadapi masa depan lebih suram dibandingkan mereka yang memiliki orang tua harmonis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. &lt;span style="color: blue;"&gt;Mempunyai tingkat pendidikan tinggi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Dalam Survei tahun 2014 dari University of Michigan, Psikolog Sandra Tang menemukan jika ibu yang menamatkan kuliah sampai kuliah cenderung jejaknya diikuti oleh anaknya. Sementara anak yang lahir dari ibu menikah sangat muda, cenderung tak menamatkan sekolah SMA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6.&lt;span style="color: blue;"&gt; Minim stres&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut penelitian yang dikutip dari Brigid Schulte dari Washington Post, jumlah jam yang disediakan ibu dengan anak berusia antara 3-11 tahun bisa memprediksi perilaku, kebahagiaan, dan pencapaian seorang anak. Penelitian lain menyebut, ibu yang stres karena harus bertaruh antara pekerjaan dan mencari waktu bersama anak akan berdampak buruk bagi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;span style="color: blue;"&gt;Menghargai usaha daripada menilai kegagalan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika seorang anak diberitahu mereka lolos tes karena kepintarannya, itu akan menciptakan pikiran yang stagnan. Namun jika mereka sukses karena usahanya, alam pikiran mereka akan berkembang dengan pesat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;sayangianak.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/11/7-karakter-orangtua-calon-pemilik-anak.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5PZPuFBMHePQdebtUdHmmIDr7w8KQz49jqcOX_B6UZ8HBpdPIGYm9iY6AbC-cy3Pe8EFjiZeJfMuTR3hmipw3dLSGmSDHuHM_CjKeoMb3La91nhERyDGhSJpUCRxlL_c9wLQ9DTgTFC_R/s72-c/suksesanak.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-8079585877796848995</guid><pubDate>Thu, 22 Sep 2016 00:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-21T17:44:34.212-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan karakter</category><title>Inilah 14 tantangan menjadi orangtua. Sudahkah Anda menaklukkannya?</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEio5ezcSV5SzjbFveaqZH2wnMczNk1kWY_FAd1Vm3MyTgfFQcNEQZpDTt6ffMlYSleus9-GSmXrtzLBRTG0a1x4nFQM5X-8P92UIcZcUN7YRPBhUYtC-JV6rcuqmcajHl8fJeFyvMwTZVqz/s1600/ayah-dan-anak-perempuan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEio5ezcSV5SzjbFveaqZH2wnMczNk1kWY_FAd1Vm3MyTgfFQcNEQZpDTt6ffMlYSleus9-GSmXrtzLBRTG0a1x4nFQM5X-8P92UIcZcUN7YRPBhUYtC-JV6rcuqmcajHl8fJeFyvMwTZVqz/s1600/ayah-dan-anak-perempuan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Tantangan mengasuh anak di zaman modern tidaklah mudah. Sebagai orangtua Anda harus mampu menghadapinya demi masa depan anak. Kenalilah beberapa hal yang seringkali menjadi hambatan bagi orang tua dalam hal mengasuh anak, dan bagaimana mengatasinya dengan bijak.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;1.&lt;/span&gt; Pengasuhan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Terimalah keadaan anak Anda sebagaimana mereka apa adanya. Tanpa disadari dalam proses pengasuhan, banyak orangtua mengharapkan seorang anak "ideal" seperti yang mereka impikan. Stop membentuk anak seperti yang Anda harapkan, jadikan mereka diri mereka sendiri dengan lebih baik.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;2.&lt;/span&gt; Komunikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bangun kedekatan batin anak dengan komunikasi yang baik dengannya. Apalagi jika anak Anda adalah pribadi yang pemalu. Perlu kepercayaan penuh dari si anak pada orangtuanya. Dekati hatinya, dengarkan dia dan cari tahu keinginannya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;3.&lt;/span&gt; Waktu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesibukan dalam pekerjaan dan kehidupan sosial, akan jadi salah satu tantangan terbesar orang tua dalam mengasuh anak. Luangkan waktu Anda paling tidak sehari dalam satu minggu untuk berkumpul bersama menghabiskan waktu berkualitas bersama anak.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;4.&lt;/span&gt; Budaya 'menyalahkan'&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menjadikan anak sebagai 'kambing hitam' dari segala masalah bukan hal yang sulit. Prestasi di sekolah menurun, belum tentu karena si anak malas belajar. Sudahkah Anda mendampingi mereka dalam belajar? kepada siapa mereka harus bertanya saat menemui persoalan sulit di sekolah? Apakah Anda terlalu sibuk bekerja? Lakukan dialog yang intens dengan anak dan cari titik temunya. Sadarilah, orang tua tidak selalu benar loh.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;5.&lt;/span&gt; Kurang berprestasi di sekolah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kenali terlebih dulu bakat dan kemampuan anak serta cara belajar yang tepat untuk mereka. Buat program kegiatan belajar yang menyenangkan sesuai minat dan bakatnya. Hindari kemarahan. Hal ini hanya makin membuat anak Anda menderita.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;6.&lt;/span&gt; Kemalasan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hidup yang serba mudah cenderung membuat anak menjadi lebih malas dan kurang mau berusaha. Untuk mengatasi hal ini, biasakan memberikan tugas kerja di rumah sesuai usia mereka, dan pastikan mereka melakukannya. Berikan pujian untuk setiap tugas yang diselesaikan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;7.&lt;/span&gt; Sifat manja&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Anak manja meminta apa yang mereka inginkan, bukan yang dibutuhkan. Ajarkan pada mereka sedari dini untuk dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;8.&lt;/span&gt; Perundungan (bullying)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tahukah Anda, tahun-tahun balita dihabiskan bersama orangtua. Contoh perilaku orangtua akan ditiru anak-anaknya. Hindari perundungan dengan pasangan Anda secara mental apalagi fisik. Jauhkan kemarahan yang tidak terkendali.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;9.&lt;/span&gt; Disfabel&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Anak-anak adalah karunia dari Tuhan, termasuk mereka yang dilahirkan disfabel. Carilah bantuan dari pada ahli yang akan menangani disfabilitas secara benar.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;10 .&lt;/span&gt; Pornografi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bila karena satu dan lain hal anak Anda ketagihan pornografi, konsultasikan masalah ini dengan ahli jiwa anak.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;11.&lt;/span&gt; Ketagihan Game&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam musyawarah keluarga bahas cita-cita anak dan bagaimana mencapainya. Buatlah daftar apa yang perlu dilakukan agar tercapai cita-citanya. Game pastilah tidak ada dalam daftar tersebut.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;12.&lt;/span&gt; Memperkuat keluarga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Luangkan waktu bersama antara orangtua dan anak, duduk bersama selama beberapa menit tanpa gangguan dari gadgetyang selama ini sering mengurangi rasa dekat sesama anggota keluarga.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;13.&lt;/span&gt; Ketertarikan sesama jenis&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kecenderungan ini bukanlah kodrat tetapi seperti penyakit yang bisa disembuhkan. Kenali dengan segera dan atasi masalah ini bersama dengan pendekatan dan pendalaman agama lebih baik.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;14. &lt;/span&gt;Perceraian&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak boleh ada kebencian yang membekas dalam perceraian. Persaudaraan harus tetap terbina agar anak-anak tidak terpecah belah dalam kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :Keluarga.com&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/09/inilah-14-tantangan-menjadi-orangtua.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEio5ezcSV5SzjbFveaqZH2wnMczNk1kWY_FAd1Vm3MyTgfFQcNEQZpDTt6ffMlYSleus9-GSmXrtzLBRTG0a1x4nFQM5X-8P92UIcZcUN7YRPBhUYtC-JV6rcuqmcajHl8fJeFyvMwTZVqz/s72-c/ayah-dan-anak-perempuan.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-5716276308050132829</guid><pubDate>Wed, 21 Sep 2016 13:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-11-18T16:26:53.938-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Melatih anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><title>Cara melatih anak terbiasa bangun Pagi</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbv2-VdWzYWzPdQ14T8KSRI-RdjLDMLLaRwereB9ii3wC7waeRwZaqB3h9WcdymkK9i0MDVG6CXi7egmHmud4ANBpkzv8r7pErNbRQbJteDO3IOX8yS57GHIq79ynW4QCNGU4r1vXc50us/s1600/Bangun+pagi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="299" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbv2-VdWzYWzPdQ14T8KSRI-RdjLDMLLaRwereB9ii3wC7waeRwZaqB3h9WcdymkK9i0MDVG6CXi7egmHmud4ANBpkzv8r7pErNbRQbJteDO3IOX8yS57GHIq79ynW4QCNGU4r1vXc50us/s320/Bangun+pagi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bangun pagi memberi banyak manfaat untuk kesehatan. Salah satunya adalah udara segar yang dapat meningkatkan hormon menjadi lebih baik sepanjang hari. Bukan hanya itu saja, segala aktivitas yang sudah dimulai sejak pagi hari juga dapat mengurangi dampak stres serta membuat mood menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu banyak manfaat yang dirasakan ketika kita bangun pagi, maka sebaiknya biasakan anak juga melakukan hal serupa. Berikut beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk memulai kebiasaan sehat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Ciptakan rutinitas pola tidur anak sejak dini&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan pola tidur anak sejak dini, biasanya di bawah 3 tahun anak masih terbiasa tidur siang sebanyak 1-2 kali sehari. Semakin besar usia anak kebiasaan tidur siang juga akan semakin berkurang yang nantinya juga akan berpengaruh pada jam tidur anak. Tetapkan kesepakatan batas maksimal tidur anak, tentu saja hal ini bertujuan untuk membuat jadwal rutin dan kebiasaan baik untuk anak kemudian hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Hindari memberi fasilitas elektronik pada anak di dalam kamar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauhkan fasilitas elektronik di kamar anak. Seperti playstation, laptop, komputer, televisi, tablet ataupun handphone. Hal ini guna menghindari anak bermain hingga larut malam, yang akhirnya akan berpengaruh pada jam tidur dan kebiasaan bangun tidur di pagi hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Gunakan alarm untuk membangunkannya di pagi hari&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alarm akan sangat bermanfaat untuk membangunkan anak. Gunakan alarm dari jam weker (bukan dari handphone). Jika perlu alarm diatur oleh orang tua, guna menghindari anak mematikan alarmnya dan kembali tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Berikan konsekuensi agar anak belajar bertanggung jawab&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali-kali biarkan anak bangun siang di jam-jam aktif aktivitasnya. Misalnya saja bangun siang saat paginya harus sekolah. Ketika ia terlambat dan mendapatkan konsekuensi dari pihak sekolah. Atau ketika ia masih terkantuk-kantuk saat pelajaran berlangsung, sehingga mengakibatkan prestasinya mengalami kemunduran. Tentu saja dari pengalaman tersebut diharapkan anak akan belajar bahwa tidur lebih cepat di malam hari akan dapat memudahkan bangun di pagi hari dan meningkatkan konsentrasinya sepanjang hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Buatkan sarapan agar anak bergegas untuk bangun&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa anak sangat ampuh dengan cara ini, dibuatkan sarapan kesukaannya. Tidur sepanjang malam dapat memberi efek rasa lapar ketika bangun tidur dan mencium bau yang sedap sudah menanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Sugesti positif sebelum tidur&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat-kalimat positif tentang pentingnya bangun pagi ataupun obrolan-obrolan ringan tentang aktivitas yang akan dilakukan dengan anak hari, dapat dilakukan Ibu sebelum tidur.&lt;br /&gt;
Perhatikan kenyamanan anak sebelum tidur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mencuci kaki dan tangan, menggosok gigi, periksa kondisi pakaian si anak. Jika terasa basah karena berkeringat, alangkah baiknya mengganti pakaian anak terlebih dahulu. Bersihkan tempat tidur sebelum anak naik ke atas kasur. Perhatikan pula suhu udara kamar anak, apakah terlalu dingin atau terlalu panas, serta pencahayaan di dalam kamar. Bangun ritual bersama-sama seperti membacakan buku cerita atau berdoa bersama.&lt;br /&gt;
Sumber:Keluarga.com&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/09/cara-melatih-anak-terbiasa-bangun-pagi.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbv2-VdWzYWzPdQ14T8KSRI-RdjLDMLLaRwereB9ii3wC7waeRwZaqB3h9WcdymkK9i0MDVG6CXi7egmHmud4ANBpkzv8r7pErNbRQbJteDO3IOX8yS57GHIq79ynW4QCNGU4r1vXc50us/s72-c/Bangun+pagi.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-9128841186080564810</guid><pubDate>Mon, 19 Sep 2016 04:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-18T21:47:22.854-07:00</atom:updated><title>Peran Ibu Menumbuhkan Kecerdasan Anak - Na-Ra »»Blog Nabila Rahma ««</title><description>&lt;a href="http://na-ra.blogspot.co.id/2010/10/peran-ibu-menumbuhkan-kecerdasan-anak.html"&gt;Peran Ibu Menumbuhkan Kecerdasan Anak - Na-Ra »»Blog Nabila Rahma ««&lt;/a&gt;: Hingga kni masih banyak orang (tua) yang memuja kecerdasan intelektual yang mengandalkan kemampuan berlogika semata. Orang tua merasa bangga dan berhasil mendidik anak, bila melihat anak-anaknya mempunyai nilai rapor yang bagus, menjadi juara kelas. Tentu saja hal ini tidak salah, tetapi tidak juga benar seratus persen. Karena beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spirituallah yang lebih berpengaruh bagi kesuksesan seorang anak.</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/09/peran-ibu-menumbuhkan-kecerdasan-anak.html</link><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-975716223192392709</guid><pubDate>Mon, 19 Sep 2016 04:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-18T21:43:50.599-07:00</atom:updated><title>Cara Tingkatkan Rasa Percaya Diri Si Kecil - Na-Ra »»Blog Nabila Rahma ««</title><description>&lt;a href="http://na-ra.blogspot.co.id/2011/12/cara-tingkatkan-rasa-percaya-diri-si.html"&gt;Cara Tingkatkan Rasa Percaya Diri Si Kecil - Na-Ra »»Blog Nabila Rahma ««&lt;/a&gt;: Anak-anak perlu didorong untuk melakukan sesuatu yang lebih agar meningkatkan rasa percaya dirinya. Jika mereka gagal pada satu bidang, mereka akan unggul dibidang yang lainnya.</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/09/cara-tingkatkan-rasa-percaya-diri-si.html</link><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-7027616329361994351</guid><pubDate>Mon, 19 Sep 2016 04:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-18T21:41:14.875-07:00</atom:updated><title>Pentingnya Perhatian Terhadap Anak - Na-Ra »»Blog Nabila Rahma ««</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;a href="http://na-ra.blogspot.co.id/2016/09/pentingnya-perhatian-terhadap-anak.html"&gt;Pentingnya Perhatian Terhadap Anak - Na-Ra »»Blog Nabila Rahma ««&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Bagi seorang anak, perhatian dari orang tua, memiliki arti yang sangat 
penting. Perhatian akan membuat jiwanya menjadi kaya, dan merasa dirinya
 dihargai dan dianggap penting. Sebaliknya, jika anak kurang mendapatkan
 perhatian, dia akan merasa bahwa dirinya tidak penting dan perlahan 
akan timbul kekecewaan dan putus asa. Sekecil apapun perhatian orang tua
 terhadap anaknya, menjadi penting bagi perkembangan jiwanya. Meski 
hanya dalam bentuk belaian, ungkapan/ucapan sayang, senyuman, memuji 
sikap baiknya, menghargai hasil karyanya, mendengarkan kisahnya, 
sesekali menemaninya bermain.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/09/pentingnya-perhatian-terhadap-anak-na.html</link><thr:total>1</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-7741156620730834069</guid><pubDate>Sun, 18 Sep 2016 03:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-17T20:05:03.046-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Melatih anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan karakter</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Psikologis Anak</category><title>Inilah Cara Terbaik Memahami Anak</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirFRk-yKOuxnyStL-yr-pVcdny4CAcnum4XmqE9AZPmWYt3a__L3fSQLoOvinSxOrTrIGOl8CJXHTCYImoeqJzv2HTTxr-0mlHEQFOr5Q-g5w8CqyWhDEvVWGY8rCqhf7_3Jx1dt2K2HHI/s1600/Memahami+anak.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirFRk-yKOuxnyStL-yr-pVcdny4CAcnum4XmqE9AZPmWYt3a__L3fSQLoOvinSxOrTrIGOl8CJXHTCYImoeqJzv2HTTxr-0mlHEQFOr5Q-g5w8CqyWhDEvVWGY8rCqhf7_3Jx1dt2K2HHI/s320/Memahami+anak.jpg" width="289" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Banyak orangtua yang mengikuti seminar saya berkomentar “Oke, teknik yang anda berikan untuk mengatasi masalah anak sangat bagus. Tetapi, saya tidak yakin bisa menerapkan apa yang telah anda ajarkan” lalu tanya saya “Apa sebabnya?”, “Pertama saya tidak disukai anak, berikutnya bagaimana mengkomunikasikan pada mereka?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas ini adalah masalah, tetapi tenang saja karena ada cara untuk memahami perilaku anak. Sebelum membahas hal itu ada bagian yang harus anda pahami terlebih dahulu. Banyak orangtua yang bertanya dalam pikiran mereka sendiri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengapa anak saya tidak peduli dengan masa depannya?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengapa mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengapa mereka tidak mau mendengarkan walupun sudah diingatkan berkali-kali?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengapa anak saya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh teman-temannya dengan hal-hal negatif yang tidak berguna?&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;Nah pertanyaan utama, “Bagaimana cara memahami perilaku dan pemikiran mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabanya adalah EMOSI mereka. Emosi sangat menguasai logika berpikir anak-anak dan remaja. Mereka jauh lebih banyak di dorong oleh perasaan daripada pemikiran mereka. Dengan mengetahui hal ini, maka sia-sia upaya kita mengkuliahi mereka seharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengisi pikiran mereka dengan nasihat positif, dan menjadikan diri kita motivator di depan mereka tidak akan berhasil. Justru akan membuat anak bertambah sebal dengan kelakuan kita. Komentar atau nasihat seperti, “Kamu harus giat belajar”, “Jangan buang waktumu dengan bermain terus”, “Jaga kebersihan kamarmu”, kecuali bila kita sudah terlebih dahulu mengenali perasaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi emosi yang negatif seorang anak tidak dapat menerima input dan nasihat yang dapat mengubah perilaku mereka. Berbeda hasilnya jika kita mampu mengerti dan mengenali perasaan emosi mereka terlebih dahulu, maka mereka akan terbuka dan mendengarkan saran logis dari kita. Anak–anak dan remaja akan melakukan sesuatu jika membuat mereka merasa nyaman di hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melangkah lebih jauh, kita akan belajar bersama, bagaimana reaksi kita dalam menghadapi masalah anak tersebut. Seringkali jika ada masalah maka yang ada di benak kepala kita umumnya ada 3 hal, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memberi nasihat, misalnya “Saya tadi berkelahi dengan Agus di sekolah”, respon kita pada umumnya “Apa-apaan kamu ini, sekolah bukan tempat untuk berkelahi, hanya penjahat yang menyelesaikan masalahnya dengan berkelahi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menginterogasi, misalnya “HP saya hilang di sekolah”, respon kita pada umumnya “Kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Coba di ingat kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menyalahkan dan menuduh, misalnya “Tadi Edo dihukum karena tidak mengerjakan PR”, respon kita pada umumnya “Dasar anak malas, mulai hari ini kamu harus lebih disiplin dan memperhatikan tugas di sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat ketiga contoh diatas, tidak ada satu ruang pun untuk mengakui perasaan atau emosi anak, betul? Seringkali kita ini hanya memberikan masukan tanpa mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi, atau lebih tepatnya perasaan apa yang terjadi pada diri anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika emosi seorang anak diabaikan mereka akan lebih marah dan benci. Selama ini mereka berada dalam keadaan emosi negatif, semua nasihat-nasihat maksud baik kita tidak akan digubris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara terbaik untuk memahami anak kita adalah, mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Caranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berikan perhatian dan pengakuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang yang dibutuhkan anak hanya didengar saja, bukan solusinya. Hanya memberikan perhatian 100% kita bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka, mau berbagi pikiran dan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan berkata “Hmm.. oke, begitu ya.. lalu..” Walau nampaknya sederhana, jujur ini sulit bagi kita orangtua yang terbiasa mau mengambil jalur cepat, dengan memberikan solusi dan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hal itu kita lakukan, justru anak akan menutup diri, dan menghindar untuk bicara dengan kita. Anak hanya akan meyatakan pikiran dan perasaan yang sejujurnya tanpa takut dihakimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita perlu mengenali tipe kepribadian? Karena kepribadian adalah dasar dari pembentukan karakter seseorang, dan pada bagian inilah seseorang memiliki kecenderungan untuk merespon terhadap segala sesuatunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas (saat kita ada untuk memberi dukungan emosional), kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri dengan berpikir untuk dirinya sendiri, dan berani menghadapi tantangan – tantangan hidup. Misalnya “Saya tadi berkelahi dengan Agus, di sekolah”, respon kita “Apa yang terjadi? Lukamu pasti sakit sekali yah..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengenali dan menggambarkan emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak, dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama emosi dan artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Marah – Merasakan adanya ketidakadilan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Takut – Kita diharapkan antisipasi karena sesuatu yang tidak diinginkan bisa saja terjadi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tidak sesuai harapan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar karena ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan baik&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Depresi – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;Baiklah kita mulai dengan satu kasus, jika anak anda datang dan berkata “Joni tidak mau bermain bola denganku” Apa jawab anda? “Sini main sama papa/mama, main sama yang lain saja ya, atau ya sudah main sendiri saja.” Ketiga jawaban ini sekilas adalah jawaban klasik, dan memang dibenarkan karena sering dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya ada emosi apa dibalik kata-kata anak tersebut? KECEWA dan KESEPIAN. Nah, kalau begitu responnya bagaimana? “Hmm.. nak kamu ingin sekali ya bermain dengan Joni?” atau “Hmm.. kamu kesepian yah, ingin bermain ya?” lalu tunggu responnya, biasanya anak akan bercerita panjang lebar, kemudian solusi sebaiknya diserahkan kepada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya “Lalu apa yang bisa Papa/Mama bantu? Ingin bermain dengan Papa/Mama? Atau ada ide lain?” Biarkan anak memilih solusi terbaik bagi dirinya. Perhatikan tabel diatas dan gunakan untuk berkomunikasi dengan anak, pahami seiap kasus yang dialami anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan turut mengerti perasaan emosi anak dan membiarkan menemukan solusi masalahnya sendiri, maka anak akan merasa dipahami dan nyaman. Serta akan tumbuh rasa percaya diri di lingkungan yang menghargai dia. Dan berikutnya akan mudah bagi anak untuk terbuka terhadap orangtuanya, dan sikap saling percaya antara orangtua dan anak akan terbentuk dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kini, kita telah belajar bagaimana caranya agar anak terbuka dan percaya pada kita, betul? Berikutnya bagaimana caranya mengarahkan? Setelah kita mendengar dan mengerti perasaan dan emosi anak, serta menanyakan solusi terbaik menurut anak (jika anak sudah mampu berpikir untuk solusi) tanyakan “Bolehkah Papa/Mama memberi saran?” setelah ada ijin dari anak maka berikan masukan yang anda rasa paling barik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang cara pandang anak tidak sama dengan orangtua, kita tahu jika anak memilih solusi yang kurang tepat (menurut orangtua) dengan nilai atau norma yang berlaku di lingkungan sosial, maka kita bisa mengarahkannya dengan mudah karena langkah 1 dan 2 sudah dilakukan. Tentunya dengan model komunikasi yang sopan dan tetap menghargai anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu gerbang kekerasan hati anak akan terbuka lebar saat kita mau menerima dan mengerti anak, dan mereka akan mempersilahkan kita masuk dan bertamu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ditempat itulah kita dapat meletakan pesan, arahan dan masukan positif bagi kebaikan masa depan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya paham cara ini butuh waktu, semua solusi cerdas untuk meningkatkan kualitas keluarga butuh waktu. Ada namanya “waktu tunggu” untuk suatu hasil yang istimewa. Masakan yang enak dan sehat butuh waktu dan proses di dapur, tidak sekian detik jadi. Nah kualitas apa yang kita mau untuk keluarga kita?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;br /&gt;(Sumber :Pendidikankarakter.com )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/09/inilah-cara-terbaik-memahami-anak.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirFRk-yKOuxnyStL-yr-pVcdny4CAcnum4XmqE9AZPmWYt3a__L3fSQLoOvinSxOrTrIGOl8CJXHTCYImoeqJzv2HTTxr-0mlHEQFOr5Q-g5w8CqyWhDEvVWGY8rCqhf7_3Jx1dt2K2HHI/s72-c/Memahami+anak.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-1484415539014305156</guid><pubDate>Wed, 14 Sep 2016 04:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-13T21:38:02.512-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Motivasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Psikologis Anak</category><title>Pentingnya Perhatian Terhadap Anak</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzplp2QwIs-FulFJs6mPnZxIZ-Z3kwh2HoGuGLC7UeQBfxBjz5-lAjR3FrkHpXmUdVYEbX901UNYF-92fAs7BqSuSB-_PtsHGMeYdxqMXpyJ-OP75HqzZXDRzAxjQooGyN2xdZtR2RsVSU/s1600/Perhatian+terhadap+anak.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="207" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzplp2QwIs-FulFJs6mPnZxIZ-Z3kwh2HoGuGLC7UeQBfxBjz5-lAjR3FrkHpXmUdVYEbX901UNYF-92fAs7BqSuSB-_PtsHGMeYdxqMXpyJ-OP75HqzZXDRzAxjQooGyN2xdZtR2RsVSU/s320/Perhatian+terhadap+anak.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Manusia, sebagai makhluk sosial, memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Demikian juga dengan anak-anak, sebagaimana orang dewasa, dia juga butuh berinteraksi dan berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dan komunikasi antara anak dan orang tua sangat penting, di mana hal ini akan membentuk kepribadian anak. Dari interaksi, anak belajar banyak hal, melihat contoh, merasakan dan mengamati. Seluruh sikap dan tingkah orang tua akan menjadi cermin bagi anak-anaknya. Maka orang tua harus memberikan contoh terbaik untuk anak-anaknya. Terlebih lagi ibu, karena secara fitrah, ibulah yang relatif lebih banyak bersama anak. Syair Arab mengatakan bahwa: al Ummu madrasatul ula: ibu adalah sekolah yang pertama (buat anak anaknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang anak, perhatian dari orang tua, memiliki arti yang sangat penting. Perhatian akan membuat jiwanya menjadi kaya, dan merasa dirinya dihargai dan dianggap penting. Sebaliknya, jika anak kurang mendapatkan perhatian, dia akan merasa bahwa dirinya tidak penting dan perlahan akan timbul kekecewaan dan putus asa. Sekecil apapun perhatian orang tua terhadap anaknya, menjadi penting bagi perkembangan jiwanya. Meski hanya dalam bentuk belaian, ungkapan/ucapan sayang, senyuman, memuji sikap baiknya, menghargai hasil karyanya, mendengarkan kisahnya, sesekali menemaninya bermain. Kedekatan secara psikologis akan terjalin dengan berbagai aktivitas tersebut. Anak akan merasa nyaman, jiwanya stabil, dan emosinya terkendali. Semua ini merupakan modal yang sangat penting bagi kehidupan anak di masa yang akan datang. Dalam bergaul di tengah masyarakat kelak, di dalam menghadapi berbagai tugas di tempat kerjanya dan dalam menyelesaikan seluruh persoalan, kestabilan jiwa, pengendalian emosi dan perasaan yang nyaman akan sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya berbagai peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh anak dan remaja, yang membuat kita prihatin, adalah menjadi salah satu indikator adanya sesuatu yang kurang beres dalam interaksi orang tua dengan anak. . Miris mendengarnya, ketika masih dalam suasana peringatan hari anak nasional tanggal 23 juli, di Depok, seorang anak umur 14 tahun , melakukan pembunuhan terhadap 2 orang ( Bapak dan anak), dengan dalih masalah ekonomi, dia diiming-imingi motor oleh orang yang menyuruhnya untuk melakukan pembunuhan. Sering juga kita mendengar, kasus –kasus tawuran pelajar antar sekolah, yang terjadi di berbagai daerah. Kasus-kasus seperti ini, muncul karena anak tidak mendapatkan kehangatan jiwa, emosi yang labil mudah tersulut dan perasaan yang tidak nyaman dalam keluarga dan sekelilingnya. Meski benar bahwa lingkungan akan mempengaruhi perilaku seorang anak, tapi manakala nilai-nilai dalam keluarganya kokoh, lingkungan tidak akan memberikan pengaruh besar. Anak punya imunitas/manaah kuat dari pendidikan orang tua di dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Kisah sedih seputar perhatian terhadap anak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, pernah dimuat sebuah kisah nyata di sebuah harian nasional, kisah sedih dari negeri seberang. Di sebuah keluarga yang cukup berada. Suami istri berkarir di luar rumah. Anak perempuannya selama ini di rumah ditemani oleh pembantunya saja. Suatu hari, anaknya berharap ketika ibunya pulang kantor, dia akan menunjukkan hasil karyanya di sekolah kepada ibunya. Dia berharap sang ibu akan memuji dan menghargai hasil karyanya. Tapi apa yang terjadi, sang ibu pulang dari kantor tidak mempedulikan hasil karya anaknya, dan menyuruhnya untuk disimpan dulu, dia capai mau istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai, betapa sedih dan hancur hati anak tersebut. Harapannya hilang, senyumnya hambar, matanya basah diusapnya dengan ujung jarinya sambil lari menuju kamar pembantunya. Semalaman sang anak meratapi kesedihannya, kecewa batinnya terhadap sikap ibunya. Pikirannya mulai mengembara, gerangan apa yang dilakukannya untuk membalas kekecewaan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syetan pun menggodanya, dan memberikan inspirasi. Pagi hari ketika ibunya mau berangkat ke kantor, betapa kaget dan kesal hati sang ibu, ketika mendapatkan body mobil kesayangannya penuh dengan goresan-goresan kasar dari benda-benda runcing/tajam. Ini semua dilakukan oleh sang anak, sebagai kompensasi kekesalan terhadap ibunya. Ibu karena kalap, begitu mengetahui bahwa semua itu karena ulah anaknya, spontan memukul tangan anaknya dengan sebuah benda. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, ternyata bekas pukulan tadi membuat tangan anak luka dan tak kunjung sembuh, menjadi borok yang oleh dokter direkomendasikan agar diamputasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragis dan miris…….. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Penyesalan besar yang berawal dari kurang kesadaran dan kemauan seorang ibu untuk bisa memberikan perhatian tulus kepada anaknya. Jika sudah seperti ini, siapa yang akan disalahkan? Belajar dari kesalahan orang lain, mestinya membuat kita sebagai orang tua semakin arif /bijaksana dalam berinteraksi dengan anak-anak kita. Anak adalah amanah dari Allah yang kelak harus kita pertanggungjawabkan kepadaNya. Hadir ke dunia dalam keadaan fitrah, harus kembali kepadaNya juga dalam keadaan fitrah. Kullu maulidin yuuladu alal fitrah. Selamat menikmati hari bersama buah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2012/08/03/22086/pentingnya-perhatian-terhadap-anak/#axzz4KCUSTatH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/09/pentingnya-perhatian-terhadap-anak.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzplp2QwIs-FulFJs6mPnZxIZ-Z3kwh2HoGuGLC7UeQBfxBjz5-lAjR3FrkHpXmUdVYEbX901UNYF-92fAs7BqSuSB-_PtsHGMeYdxqMXpyJ-OP75HqzZXDRzAxjQooGyN2xdZtR2RsVSU/s72-c/Perhatian+terhadap+anak.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-8219089437255519813</guid><pubDate>Tue, 13 Sep 2016 16:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-13T09:55:47.763-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kesehatan Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Melatih anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Psikologis Anak</category><title>Cara Mengatasi Anak yang Sakit karena Kangen Seseorang</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTqv5ZR7J7397eMwKEn7XJEnKUaArjobpycI53XmEd-nfEG2zPg4TFg0GkGpG5IuT0wcVWrySM72-DTQo43cRrW3pcjFO85pAW3-yDv0JWGcFBKPPKfg8C15QwPt2X3u0mAC1TwIhRaqlo/s1600/anak-sakit.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTqv5ZR7J7397eMwKEn7XJEnKUaArjobpycI53XmEd-nfEG2zPg4TFg0GkGpG5IuT0wcVWrySM72-DTQo43cRrW3pcjFO85pAW3-yDv0JWGcFBKPPKfg8C15QwPt2X3u0mAC1TwIhRaqlo/s320/anak-sakit.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto :Google&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Pada usia sekitar dua tahun seorang anak yang terpisah dari orang terdekat seperti ayah atau ibu, misalnya, dapat merasakan kecemasan luar biasa hingga tingkat yang bisa memengaruhi tubuh. Reaksi yang muncul bisa bervariasi mulai dari buang-buang air, mengigau, sampai demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan oleh psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi, dari RaQQi - Human Development &amp;amp; Learning Centre, bila anak kangen dan cemas sampai demikian maka hal pertama yang harus dilakukan adalah menenangkannya. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara mulai dari mengajak mengobrol sampai memberikan sesuatu yang bisa mengingatkannya kepada orang yang dikenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita jabarkan kangen itu apa terus gimana ngatasin kangen. Misalnya kangen sama ayahnya yang lagi dinas keluar kota, yuk atasi kangen dengan mendoakan ayah. Jangan terus-terusan diingetin dia lagi sedih ya, lagi kangen ayahnya ya. Usahakan solving the problemlah," kata Ratih ketika dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (4/11/2015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetap komunikasi. Misal anak diberi box of happiness yang berisi foto atau tulisan ayahnya sehingga itu membuat anak merasa ayahnya tetap dekat," lanjut Ratih menambahkan bahwa memang hal ini menuntut kreativitas orang-orang disekitar anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog lain dari Teman Hati Konseling, Ajeng Raviando, sementara itu berpendapat bahwa menyiapkan mental anak sebelum ditinggal juga bisa dilakukan. Jauh-jauh hari beritahu ke anak bahwa misal ayah atau ibunya akan pergi sehingga ada kesiapan mental yang dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasakan anak untuk hidup mandiri sehingga mampu terpisah dari orang tua untuk beberapa waktu. "Sebisa mungkin anak sudah dipersiapkan mentalnya dari awal. Seperti 6 bulan sebelum berpisah anak udah dikasih tau kalau ibunya akan pergi, atau anak diajarkan untuk mulai jauh dari orang tuah seperti menginap dirumah saudara terdekat," ucap Ajeng.&lt;br /&gt;Sumber : &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;http://health.detik.com/read/2015/11/04/140534/3061805/775/cara-tepat-mengatasi-anak-yang-sakit-karena-kangen-seseorang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/09/cara-mengatasi-anak-yang-sakit-karena.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTqv5ZR7J7397eMwKEn7XJEnKUaArjobpycI53XmEd-nfEG2zPg4TFg0GkGpG5IuT0wcVWrySM72-DTQo43cRrW3pcjFO85pAW3-yDv0JWGcFBKPPKfg8C15QwPt2X3u0mAC1TwIhRaqlo/s72-c/anak-sakit.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Pasir Randu, Kadu, Curug, Tangerang, Banten 15810, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2341317 106.5785333</georss:point><georss:box>-6.2499167 106.55836330000001 -6.2183467 106.5987033</georss:box><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-976712285629319433</guid><pubDate>Sat, 18 Jun 2016 03:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-06-17T20:31:00.267-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kesehatan Anak</category><title>Mitos dan fakta tenatang Asi yang perlu Anda Ketahui</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlg1f7PSLl3NMB-M7gTWn0hWQyfU0CHiZcc1QWc-DYgkhJqJ74WwyMMvV6O-tLWhxyrMwsL844Mrg1RQ2xDSp3-Q5d4iNGiZ1rzNeaBZUO6uaknKjYP8yRXpPsS87hjpzE1IM4esiranC-/s1600/Mitos+asi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="210" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlg1f7PSLl3NMB-M7gTWn0hWQyfU0CHiZcc1QWc-DYgkhJqJ74WwyMMvV6O-tLWhxyrMwsL844Mrg1RQ2xDSp3-Q5d4iNGiZ1rzNeaBZUO6uaknKjYP8yRXpPsS87hjpzE1IM4esiranC-/s320/Mitos+asi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sudah diketahui bersama air susu ibu (ASI) adalah makanan yang paling sehat untuk bayi. Namun karena beberapa alasan ada ibu yang enggan memberikan ASI kepada bayinya. Terkait ASI memang ada mitos dan faktanya yang perlu Anda ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dr. Utami Roesli SpA SpA, IBCLC, FABM , IBCLC, FABM dalam talkshow 'Ibuku, InspirASIku- a Tribute to #NenekASI' yang digelar oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan Save The Children Indonesia di FX Lifestyle X'nter Mall, Jl Sudirman, Jakarta, dan ditulis pada Selasa (25/12/2012) memaparkan mitos dan fakta seputar ASI, sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: ASI pertama- colostrum, adalah susu basi yang tidak baik untuk bayi&lt;br /&gt;
Fakta: Colostrum mengandung lebih banyak zat kekebalan tubuh dan zat penting lainnya untuk 'mematang'-kan usus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jadi jangan dibuang colostrum ini, meskipun memang keluarnya hanya sedikit," kata dr Utami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Payudara berukuran kecil tidak dapat menghasilkan ASI banyak&lt;br /&gt;
Fakta: Besar kecilnya payudara ditentukan banyak sedikit lemak, bukan jumlah kelenjar susu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: ASI belum keluar pada hari 1 &amp;amp; 2 atau sedikit, perlu diberi formula /air gula supaya tidak kelaparan&lt;br /&gt;
Fakta: meski tidak terasa keluar, colostrum akan keluar sedikit cukup untuk kebutuhan bayi&lt;br /&gt;
2 x 24 jam tak diperlukan asupan makanan sebab dibekali dari kandungan ibu. Colostrum 1 – 2 hari pertama lebih untuk usus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Formula yang mahal dapat menyamai ASI&lt;br /&gt;
Fakta: Formula semahal apapun tak dapat menyamai ASI sebab ASI cairan hidup yang selalu&lt;br /&gt;
berubah setiap saat sedang formula cairan mati yang tak pernah berubah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Formula yang mengandung DHA dan AA akan membuat anak formula lebih pandai&lt;br /&gt;
Fakta: Lemak ASI sebagian besar adalah PUFA (lemak Ikatan Panjang) bakal DHA dan AA. Lemak&lt;br /&gt;
susu sapi lemak ikatan pendek dan medium hingga harus ditambah DHA dan AA, ASI cairan hidup&lt;br /&gt;
mengandung penyerap lemak selain zat lemak sedang formula cairan mati tergantung penyerapan di usus bayi yang masih sedikit&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Ibu yang minum banyak susu akan menghasilkan ASI banyak&lt;br /&gt;
Fakta: Banyak sedikit produksi ASI ditentukan banyak sedikitnya ASI dikeluarkan. Makin&lt;br /&gt;
banyak dikeluarkan makin banyak diproduksi, tidak dipengaruhi oleh makanan atau minuman ibu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Ibu sakit harus berhenti menyusui karena bisa menularkan pada bayinya&lt;br /&gt;
Fakta: Ibu sakit tetap menyusui sebab ketika sakit, tubuh ibu membuat zat kekebalan&lt;br /&gt;
terhadap penyakitnya. Zat kekebalan ini disalurkan pada bayinya melalui ASI sehingga bayi tidak sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Sebelum menyusui puting susu dibersihkan dengan kapas air panas&lt;br /&gt;
Fakta: Puting susu dibersihkan dengan ASI yang diperah akan lebih baik karena mengandung zat kekebalan thd penyakit. Sedangkan air panas dikapas bisa membawa bakteri yang tidak ada zat kekebalan nya di ASI ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Bayimenangis berartiASInya kurang&lt;br /&gt;
Fakta: Menangis belum tentu bayinya lapar. Sebaliknya bayi yang menangis karena lapar, bayi ini sudah sangat lapar dan biasanya dia akan menolak menyusui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Menyusui menyebabkan payudara kendur&lt;br /&gt;
Fakta: Payudara kendur disebabkan kehamilan dan usia yang bertambah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Puting terbenam tak dapat menyusui&lt;br /&gt;
Fakta: Menyusu pada payudara, bukan pada puting susu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mitos: Memberi ASI mengganggu hubungan suami istri&lt;br /&gt;
Fakta: Lebih cepat kembali ke hubungan sebelum melahirkan.&lt;br /&gt;
(DetikHealth)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/06/mitos-dan-fakta-tenatang-asi-yang-perlu.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlg1f7PSLl3NMB-M7gTWn0hWQyfU0CHiZcc1QWc-DYgkhJqJ74WwyMMvV6O-tLWhxyrMwsL844Mrg1RQ2xDSp3-Q5d4iNGiZ1rzNeaBZUO6uaknKjYP8yRXpPsS87hjpzE1IM4esiranC-/s72-c/Mitos+asi.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-2503001066709729381</guid><pubDate>Sat, 18 Jun 2016 03:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-06-17T20:17:39.411-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Melatih anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Motivasi</category><title>Tips-Tips Mengajarkan Anak-anak untuk Belajar Puasa di Bulan Ramadhan</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;
  &lt;o:AllowPNG/&gt;
 &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHZ8CY3EqFoX2fEXmV0EqCkyaNJKMBhffaOJ8NprngRorDoUVzazCWstyA3QWIYiHRhrlXCtn7h9drjmhDojW637lQsOs7iYMKonkiGeW6tNwEWGWmfXzFrSVAU8-OQCHbGzE5sHWtueBS/s1600/anak-puasa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="189" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHZ8CY3EqFoX2fEXmV0EqCkyaNJKMBhffaOJ8NprngRorDoUVzazCWstyA3QWIYiHRhrlXCtn7h9drjmhDojW637lQsOs7iYMKonkiGeW6tNwEWGWmfXzFrSVAU8-OQCHbGzE5sHWtueBS/s320/anak-puasa.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;KO&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;
   &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;
   &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;
   &lt;w:UseFELayout/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0in;
 mso-para-margin-right:0in;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bagi anak-anak (yang belum baligh)
tidak diperintahkan untuk berpuasa. Namun demikian orang tua sangat dianjurkan
untuk mendorong anak-anak untuk mencoba berpuasa semampunya agar mereka
terbiasa melakukannya ketika mereka tumbuh dewasa, dan mengetahui bahwa ibadah
puasa Ramadhan merupakan salah satu kewajiban yang diperintahkan langsung Allah
SWT melalui firman-Nya :&lt;/span&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa,” (Q.S Al Baqarah, 2:183)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Sementara itu, salah satu hadits
yang mendukung agar anak-anak diajarkan untuk puasa Ramadhan diantaranya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;“Barangsiapa yang tidak berpuasa di
pagi hari, maka hendaklah ia menyempurnakan sisa hari ini dengan berpuasa.
Barangsiapa yang berpuasa di pagi harinya, hendaklah ia tetap berpuasa.” Ar
Rubayyi’ berkata, “Kami berpuasa setelah itu. Dan kami mengajak anak-anak kami
untuk berpuasa. Kami membuatkan pada mereka mainan dari bulu. Jika saat puasa mereka
ingin makan, maka kami berikan pada mereka mainan tersebut. Akhirnya mereka
terus terhibur sehingga mereka menjalankan puasa hingga waktu berbuka.” (HR.
Bukhari no. 1960).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Ada banyak cara untuk mengajarkan
anak-anak Anda tentang puasa Ramadhan, namun yang terbaik dan yang terpenting
adalah memberi contoh yang baik dengan berpuasa dengan benar dan berperilaku
sesuai dengan ajaran Al Qur’an. Bila Anda memenuhi hal ini, Anda dapat dengan
mudah (dan mereka akan mudah pula dalam menerimanya) mengajari mereka apa yang
Anda inginkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Berikut adalah beberapa tips yang
dapat Anda gunakan bagi anak-anak Anda :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul type="disc"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Doronglah mereka untuk berpuasa dalam beberapa hari
     bahkan hingga setiap hari, tergantung pada usia mereka. Bagi anak-anak
     yang masih berusia 5-6 tahun mungkin belajar puasa setengah hari sudah
     cukup baik. Jangan lupa, pujilah mereka di depan teman-teman dan keluarga
     atas kemauan mereka berpuasa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Biarkan anak-anak Anda pergi dengan ayahnya ke Mesjid,
     untuk berbuka puasa bersama untuk membuat mereka merasakan kebesaran puasa
     Ramadhan dan kesatuan umat Islam dalam menyembah Allah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Jika anak Anda belum mampu berpuasa sehari penuh,
     libatkan mereka berbuka bersama keluarga untuk mengajarkan mereka bahwa
     Anda sedang berbuka puasa, walaupun boleh jadi mereka baru saja makan
     sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Ajarkan anak-anak Anda berdo’a ketika sahur maupun
     berbuka puasa&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Ajaklah anak Anda untuk sholat Tarawih sehingga mereka
     terbiasa dan tahu tentang hal itu sejak usia dini. Mereka bisa dibiarkan
     saja duduk atau berbaring ketika mereka merasa lelah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Ajarkan mereka untuk shodaqoh. Melakukannya di depan
     mereka dan memberitahu mereka bahwa Anda melakukannya karena shodaqoh dan
     amal lainnya di bulan Ramadhan lebih besar pahalanya dari hari-hari biasa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Ajarkan mereka untuk bertadarus membaca Al Quran dan
     memberitahu mereka bahwa Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) selalu
     melakukan itu di setiap bulan Ramadhan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Luruskan mereka jika mereka berperilaku salah atau
     mengucapkan kata-kata kurang baik dan mengingatkan mereka bahwa mereka
     sedang berpuasa, beritahukan mereka bahwa hal itu bisa mengurangi pahala
     puasa Ramadhan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bangunkan mereka untuk makan sahur (walaupun jika
     mereka tidak berpuasa) dan shalat Subuh.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Ajarkan mereka memberi makanan untuk berbuka bagi orang
     berpuasa, dan memberitahu mereka pahala melakukan hal itu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Saat tiba Idul Fitri, bantu mereka mandi, berilah
     mereka pakaian terbaik, dan ajaklah mereka untuk sholat Idul Fitri.
     Ajarkan kepada mereka bahwa inilah perayaan pesta kita, umat Islam, yang
     berbeda dengan perayaan-perayaan lainnya. Khusus bagi anda yang memiliki
     anak perempuan, ingatlah sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
     :&lt;b&gt; "Orang yang diberi tanggung jawab untuk membesarkan anak
     perempuan dan memperlakukan mereka dengan baik, akan menjadi perisai
     baginya dari neraka.&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;(H.R Bukhari dan Muslim)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;.( Pondok Pesantren An-Nabawi
     Bogor )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/06/tips-tips-mengajarkan-anak-anak-untuk.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHZ8CY3EqFoX2fEXmV0EqCkyaNJKMBhffaOJ8NprngRorDoUVzazCWstyA3QWIYiHRhrlXCtn7h9drjmhDojW637lQsOs7iYMKonkiGeW6tNwEWGWmfXzFrSVAU8-OQCHbGzE5sHWtueBS/s72-c/anak-puasa.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-5220251349429875676</guid><pubDate>Thu, 16 Jun 2016 05:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-06-15T22:50:59.183-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><title>Telaten didik buah hatinya, ibu ini buktikan jika tak ada anak bodoh</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9aARD30fWTMasI5QB9z4TNhzWjrj5b2SEI6E38ApqmFnYnZ6H8DmBp3tFBNw0UHqzp6m2Qy6wAhjF3qnvSSNFXYIANZwnAXBA1cw69Rt1HsEWA_OdDuEB7vMaxV1RvJEC24YJ7N9Xq7Lq/s1600/Debra.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="218" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9aARD30fWTMasI5QB9z4TNhzWjrj5b2SEI6E38ApqmFnYnZ6H8DmBp3tFBNw0UHqzp6m2Qy6wAhjF3qnvSSNFXYIANZwnAXBA1cw69Rt1HsEWA_OdDuEB7vMaxV1RvJEC24YJ7N9Xq7Lq/s320/Debra.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Anaknya dianggap guru di sekolah tidak mau belajar.&lt;/blockquote&gt;
&amp;nbsp;Seringkali kamu mendengar ada penyebutan anak pintar dan anak bodoh. Saat nilai ujiannya jauh di bawah siswa lainnya, maka dengan gampang orang akan menyebut anak bodoh. Bahkan sebutan itu bisa jadi datang dari para pendidik sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi cerita ibu muda dari Jakarta ini pasti akan menginspirasimu. Debra Maria Rumpasek membuktikan jika tak ada anak yang bodoh. Menurutnya yang ada hanya proses belajar yang salah, sehingga membuat anak menjadi bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita lulusan Universitas Airlangga ini adalah ibu dari anak bernama Bill yang hiperaktif dan punya nilai jauh di bawah rata-rata nilai temannya. Tahu kalau anaknya punya karakter belajar kinestetik dan auditori, Debra mengubah cara belajar anaknya menjelang Ujian Nasional SMP. Kamu nggak akan mengira jika hasilnya sangat memuaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, berikut cerita lengkapnya Debra di akun Facebooknya yang dikutip brilio.net, Rabu (15/6):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan pernah melabeli anak kita bodoh, walaupun seluruh dunia mengatakan dia bodoh, karena tidak ada seorang anak terlahir bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bill berusia 15 th baru saja mendapatkan hasil nilai Ujian Nasional SMP dengan rata-rata 8. Bukan bermaksud pamer karena pasti ada anak yang nilainya lebih dari itu, tetapi menjadi sangat spesial karena sehari-hari ulangan matematika dan IPA sering mendapat nilai di bawah rata-rata. Sering dia bertanya pada mamanya, "mama aku anak bodoh ya?" Dan selalu saya jawab tegas, "tidak...Bill anak pandai, hanya kamu kurang menyukai proses pembelajarannya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bill tipe anak kinestetik dan auditori. Dia suka bergerak, tidak bisa diam dan sensitif sekali terhadap suara. Dia akan ngantuk sekali kalau disuruh diam di kelas. Sebagai kompensasinya, saat gurunya menerangkan dia suka menggambar atau bercanda maupun ngusilin temannya. Gurunya mengeluhkan kondisi dia karena dianggap dia tidak mau belajar. Akhirnya dipindah duduknya di depan sendiri sehingga dia tidak berkutik. Apakah setelah itu lebih baik untuk dia???. Bill tidak mendapatkan apa-apa dari pelajarannya...nol besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tipe kinestetik, Bill mudah sekali belajar autodidak dan cepat yg berhubungan dg gerak. Bill giat ngegym, dia belajar lewat Youtube bagaimana membentuk otot yg benar, dan berhasil. Bukan ngegym di tempat mahal seperti Celebrity Fitness, melainkan di tempat gym yg perdatangnya hanya bayar Rp 10.000. Karena Bill tipe auditori dia belajar autodidak memainkan gitar dan bisa memainkan lagu apa saja hanya dengan mendengarkan saja. Karena anak auditori, Bill mudah sekali menirukan suara orang dengan dialeknya sehingga membuat kami tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat menghadapi Ujian Nasional, metode belajarnya saya rubah, saya membaca poin-poin dg nada yg penuh tekanan suara dan saya biarkan dia bebas sambil menggambar dan mainan kucing karena dia anak kinestetik dan auditori. Jangan harapkan anak seperti ini untuk membaca, pasti tidak ada yg masuk di kepalanya. Dan setiap saat dia mau tidur malam, saya melakukan hypnotherapy pada dia. Saya berikan sugesti yang positif. Dan hasilnya WOW amazing dengan nilai Ujian Nasional rata-rata 8. Bukan bermaksud pamer, tetapi itu membuktikan bahwa Bill anak yang cerdas. Proses belajar yg salah membuat dia menjadi gagal dan tampak seperti bodoh. Jika saya melabeli dia bodoh, sama artinya kita telah membunuh karakternya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Untuk para orang tua , jadilah orang satu-satunya yang mempercayai bahwa anak kita cerdas sekalipun seluruh dunia mengatakan dia bodoh.&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada anak yang bodoh, melainkan proses belajar yang salah yang membuat anak menjadi bodoh. Dan melabeli anak kita bodoh sama artinya kita membunuh karakter dan masa depannya.(Brilio.net)&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/06/telaten-didik-buah-hatinya-ibu-ini.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9aARD30fWTMasI5QB9z4TNhzWjrj5b2SEI6E38ApqmFnYnZ6H8DmBp3tFBNw0UHqzp6m2Qy6wAhjF3qnvSSNFXYIANZwnAXBA1cw69Rt1HsEWA_OdDuEB7vMaxV1RvJEC24YJ7N9Xq7Lq/s72-c/Debra.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-1380103461178101624</guid><pubDate>Sun, 22 May 2016 10:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-05-23T18:59:12.288-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><title>6 Cara Menjadi Ayah yang Baik untuk Anak Perempuan Anda</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcqtuk20bLTESLvSW41HYQD1tnZN4JgZnOKQ9fZOSY3O7O0qUO60ZNbGa3j1QwOswcIo7K10uCSXaEVFCD-Nx8wL98iD27P2t4tXQfgfOFLsY02RqQDMYlw_NwWV0p4qLu14qb-XVTFTal/s1600/ayah-dan-anak-perempuan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcqtuk20bLTESLvSW41HYQD1tnZN4JgZnOKQ9fZOSY3O7O0qUO60ZNbGa3j1QwOswcIo7K10uCSXaEVFCD-Nx8wL98iD27P2t4tXQfgfOFLsY02RqQDMYlw_NwWV0p4qLu14qb-XVTFTal/s320/ayah-dan-anak-perempuan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Seorang penyair mengatakan bahwa cinta pertama seorang gadis adalah kepada ayahnya, hal tersebut tidaklah berlebihan mengingat peran ayah yang begitu besar bagi keluarganya. Sosok ayah yang baik yang melindungi serta mengayomi keluarganya dapat menginspirasi anak-anaknya untuk melakukan hal yang serupa, khususnya bagi anak perempuan bahwa sosok seperti ayahnyalah yang kelak menjadi idolanya ketika dia memutuskan untuk mencari pendamping hidup bagi dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Para ayah di mana pun Anda berada saat ini, tugas Anda menjadi ayah adalah sebuah amanah agung yang telah dipercayakan oleh Tuhan kepada Anda untuk menjaga, merawat, dan membesarkan anak-anak yang dititipkan sementara kepada Anda. Anak-anak perempuan Anda adalah sangat unik, mereka dibekali dengan perasaan lembut yang tidak dimiliki oleh anak-anak putra Anda, sehingga cara mendidik mereka pun berbeda, jangan pernah menyakiti atau bahkan menghancurkan perasaan mereka yang lembut itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai seorang pria terkadang memang sulit untuk memahami perasaan wanita, bahkan ketika Anda berusaha untuk memahami perasaan anak perempuan Anda, tidak semua ayah mampu melakukan hal ini. Jika semua upaya yang telah Anda lakukan nampaknya tidak membuahkan hasil untuk mendidik anak perempuan Anda, mungkin daripada banyaknya kata-kata atau perintah yang telah Anda buat bagi mereka, sekaranglah waktunya Anda memberikan teladan melalui tindakan nyata Anda.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Mengasihi sepenuh hati istri Anda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengasihi sepenuh hati istri Anda dan memperlakukannya dengan penuh rasa hormat, cara ini sangat ampuh untuk menyentuh ke dalam relung hati terdalam putri Anda. Ketika seorang anak perempuan melihat ayahnya memperlakukan ibunya dengan penuh kasih, maka tak ada alasan lain bagi dirinya untuk menolak saran-saran dari Anda, karena putri Anda akan sangat menghargai dan menghormati Anda, mempercayai Anda bahwa saran-saran dari Anda pastilah benar dan itu demi kebaikan mereka juga.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp; 2. Memperlakukan orang lain dengan penuh rasa hormat dan sopan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketika bertamu atau bertemu dengan orang lain perlihatkan rasa respek Anda dan berlakulah secara sopan di hadapan putri Anda. Lakukanlah secara spontan dan tanpa dibuat-buat dan perkenalkanlah putri Anda kepada mereka, pujilah dia dan bangkitkan rasa percaya dirinya ketika berhadapan dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp; 3. Menghindari kata-kata kasar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketika di dalam rumah atau di tempat umum hindarilah menggunakan kata-kata kasar. Ketika Anda marah atau memiliki masalah dengan istri Anda di rumah berusahalah untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar atau makian kepada istri Anda, atau ketika Anda memarahi anak-anak Anda karena mereka melakukan sebuah kesalahan. Kesabaran Anda sedang diuji, ketika Anda para ayah mampu mengatasi emosi Anda, anak-anak Anda akan melihat bahwa ayahnya adalah seorang yang sabar dan bijaksana dalam mengatasi setiap permasalahan, Anda akan semakin dihormati oleh mereka bukan ditakuti.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Tidak membeda-bedakan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Janganlah pernah bersikap pilih kasih terhadap anak-anak Anda, perlakukan anak perempuan Anda sederajat dengan anak putra Anda. Tidak ada perbedaan tugas dan tanggung jawab di dalam rumah, perlakukalah semuanya dengan adil.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5. Membantu mengerjakan tugas istri Anda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi seorang pria tidak ada salahnya mengerjakan tugas-tugas seorang wanita, seperti: mengendong bayi, memasak, mencuci pakaian, mensetrika baju, menjemur pakaian, menjahit, dan sebagainya. Seorang pria yang bersedia mengerjakan tugas-tugas seorang wanita bukan berarti pria tersebut bersikap feminim, tetapi lebih kepada perhatian serta rasa respek Anda kepada pasangan dan anak perempuan Anda. Tidak banyak pria yang mampu melakukan hal ini, maka jika Anda ingin menjadi seorang "pahlawan" di mata anak perempuan serta istri Anda, Anda tidak perlu sungkan atau ragu-ragu lagi mengerjakan tugas-tugas mereka tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 6. Anak perempuan merasa dicintai dan dihargai apabila ditolong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Terkadang anak perempuan Anda ingin bersikap manja kepada Anda, sebagai seorang pria janganlah menunjukkan kegalakan Anda atau ketegasan Anda kepadanya. Ketika dia mengalami kesulitan dalam mengerjakan sebuah tugas, tolonglah dia untuk mengerjakannya, karena kelembutan hatinya anak perempuan akan merasa lebih dicintai serta dihargai apabila Anda bersedia untuk menolongnya dengan tulus. Bantulah mereka untuk selalu merasa nyaman serta merasa dilindungi bila berada di dekat Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam mendidik anak-anak dalam masa pertumbuhannya, seringkali teladan lebih ampuh digunakan daripada banyaknya kata-kata atau perintah yang diucapkan. Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menjadi ayah yang baik dan berdedikasi, Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi terhadap anak-anak Anda kelak, namun percayalah bahwa teladan-teladan baik Anda tidak akan pernah mereka lupakan sampai selama-lamanya.&lt;br /&gt;
( &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Sumber,https://keluarga.com/1149/pengasuhan/5-cara-menjadi-ayah-yang-baik-untuk-anak-perempuan-anda&lt;/span&gt; )&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/05/5-cara-menjadi-ayah-yang-baik-untuk.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcqtuk20bLTESLvSW41HYQD1tnZN4JgZnOKQ9fZOSY3O7O0qUO60ZNbGa3j1QwOswcIo7K10uCSXaEVFCD-Nx8wL98iD27P2t4tXQfgfOFLsY02RqQDMYlw_NwWV0p4qLu14qb-XVTFTal/s72-c/ayah-dan-anak-perempuan.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-7598346456786928568</guid><pubDate>Sat, 21 May 2016 15:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-05-21T17:43:15.714-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mendidik Anak</category><title>Bukan rasa cinta yang ingin kita tunjukkan hal ini justru menghancurkan anak kita</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-UAvVUqwr3JplYEYTZN3tU4VNjd8yxGDrS-hiBht7dNdWnbgtKcG79OcOeUmct6McgkQ9fieeuZpqz5mPDQvlnMjbVm7Fgvqly-ug9Y66hPQ-YOaUPvhKeHuxWRHdW0XxzfTcuSgvD10n/s1600/Nabila+dan+ayah3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-UAvVUqwr3JplYEYTZN3tU4VNjd8yxGDrS-hiBht7dNdWnbgtKcG79OcOeUmct6McgkQ9fieeuZpqz5mPDQvlnMjbVm7Fgvqly-ug9Y66hPQ-YOaUPvhKeHuxWRHdW0XxzfTcuSgvD10n/s320/Nabila+dan+ayah3.jpg" width="288" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua dan tidak ada yang dapat menggantikan peran mereka dalam urusan anak. Berbagai pola asuh mungkin sudah mereka lakukan semua mulai dari yang paling demokratis sampai yang paling otoriter dan setiap orangtua memiliki gaya pola asuh yang berbeda - beda. Tak jarang banyak orangtua yang salah menerapkan pola asuhnya kepada anak mereka, karena minimnya pengetahuan mereka sehingga bukan rasa cinta yang mereka tunjukkan tetapi malah pola asuh yang salah yang mereka berikan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Over protective kepada anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena orangtua terlalu sayang, tak sedikit orangtua yang sangat over protective kepada anak mereka. Tidak ingin terjadi apa - apa kepada anak, tindakan yang dilakukan orangtua terkesan berlebihan untuk melindungi anaknya. Hal ini justru mengganggu tumbuh kembang anak, dan bukan hanya itu saja tetapi pengaruh terhadap orangtuanya pun ada. Seperti orangtua yang tidak bisa berpikir tenang, merasa takut, dan berpikir yang tidak - tidak saat anaknya jauh dari mereka atau sedang pergi keluar untuk bermain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt;2. Memberikan tanggung jawab yang tidak sesuai dengan umur dan kemampuannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Terkadang ada orangtua yang menginginkan anaknya untuk bisa berkembang lebih cepat dari anak seusianya, sehingga mereka memberikan tanggung jawab yang cukup besar dibandingkan usia dan kemampuannya. Jika dipaksakan hanya akan membuat anak tidak nyaman dengan keadaannya sekarang. Cara seperti ini sama saja dengan mendorong anak untuk mandiri terlalu cepat dari usianya yang tentunya belum bisa diterima dan dipahami oleh anak kita. Biarkan anak berkembang sesuai dengan semestinya jangan terlalu memaksakan kehendak kepada anak.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Menyelesaikan semua masalah yang dihadapi anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal ini bukan cara yang bijak untuk mendidik anak kita. Cenderung ingin membantu setiap masalah yang dihadapi anak agar cepat selesai dan tidak ingin anak terlalu stres adalah cara yang salah untuk mendidik anak. Walaupun kita sangat menyayangi anak kita, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, dan jika dirasa masalah itu tidak mampu diselesaikan anak barulah orangtua datang untuk menolong menyelesaikannya. Tetap berikan waktu agar anak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;4. Menuruti semua yang diinginkannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal ini yang sering dilakukan orangtua zaman sekarang yaitu dengan menuruti semua hal yang diinginkan anak. Atas dasar rasa sayang kepada anak banyak orangtua yang rela melakukan apa saja untuk membuat anaknya senang. Tetapi sayangnya cara ini akan membuat anak menjadi manja dan kurang menghargai perlunya sebuah kesabaran.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Terlalu mengekang dan membatasi anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena terlalu sayangnya kepada anak, banyak orangtua yang membatasi kegiatan yang dilakukan anak. Seperti tidak boleh ikut ekstrakulikuler tertentu atau tidak diizinkan pulang lebih dari jam 6 malam dan lain sebagainya. Sebaiknya orangtua jangan terlalu mengekang dan membatasi anak karena anak akan cenderung menjadi orang yang minim pergaulan dan sedikit memiliki keterampilan untuk bekal hidupnya kelak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt;6. Terlalu membebaskan anak tanpa arahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Terlalu membebaskan anak juga tidak baik terhadap tumbuh kembangnya. Kebebasan yang diberikan hendaknya tetap terkontrol. Bagaimanapun orangtua harus selalu ada untuk anak dan senantiasa siap untuk memberikan arahan dan masukan kepada anak dalam memilih jalan hidupnya.(&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Sumber:Keluarga.com&lt;/span&gt;)&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/05/bukan-rasa-cinta-yang-ingin-kita.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-UAvVUqwr3JplYEYTZN3tU4VNjd8yxGDrS-hiBht7dNdWnbgtKcG79OcOeUmct6McgkQ9fieeuZpqz5mPDQvlnMjbVm7Fgvqly-ug9Y66hPQ-YOaUPvhKeHuxWRHdW0XxzfTcuSgvD10n/s72-c/Nabila+dan+ayah3.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-8533137688026523731</guid><pubDate>Sat, 14 May 2016 02:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-05-13T19:26:52.881-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tips Kesehatan</category><title>Untuk Para BUNDA, Bacakan Ayat Ini Ketika Anak Anda Sedang Mengalami Demam</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2ZparhWKVkVuMhdt_mxrV8nC9qZjIcbwS2935bF7BZJiKj9XJ5-0KJYCiE159cmBrXbdU54aCU0Qf9NEzQ75dsiLA3VRuP9b-rsK_K2ocFeX3zzZUMPuc284vLRukXDGbY9gvg-CUXrVF/s1600/Demam.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2ZparhWKVkVuMhdt_mxrV8nC9qZjIcbwS2935bF7BZJiKj9XJ5-0KJYCiE159cmBrXbdU54aCU0Qf9NEzQ75dsiLA3VRuP9b-rsK_K2ocFeX3zzZUMPuc284vLRukXDGbY9gvg-CUXrVF/s320/Demam.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sharing untuk para ibu yang memiliki balita (Bila Anda seorang pria, tolong di teruskan ke para ibu di sekitar anda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertolongan pertama bila batita anda demam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- bacakan ayat ayat ruqyah syariyyah dasar berikut ini:&lt;br /&gt;1. Alfatihah 1-7&lt;br /&gt;2. Al Baqoroh ayat 255&lt;br /&gt;3. Al Baqoroh ayat 102&lt;br /&gt;4. Al Baqoroh ayat206&lt;br /&gt;5. Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Baluri seluruh badannya dengan parutan timun&lt;br /&gt;- atau punggungnya dengan sedikit parutan bawang merah + minyak zaytun&lt;br /&gt;- Teteskan madu asli dibawah lidahnya 3 tetes saja&lt;br /&gt;- Usap perlahan area telapak kaki bagian jempolnya bergantian masing-masing selama 20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah reaksinya dalam 30 menitan,...insyaAllah atas ijin Allah panasnya akan turun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips ini berdasar pengalaman empiris pada perawatan ratusan anak bayi &amp;amp; batita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong info ini disebarkan ke banyak wanita yang memiliki balita, baik istri, saudara, maupun teman wanita, sebagai kepedulian kita terhadap sesama. Semoga bermanfaat silahkan disebarkan.( &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Sumber :www.tribunnewz.xyz/2016/05/perhatian-untuk-para-bunda-bacakan-ayat.html&lt;/span&gt;)&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/05/untuk-para-bunda-bacakan-ayat-ini.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2ZparhWKVkVuMhdt_mxrV8nC9qZjIcbwS2935bF7BZJiKj9XJ5-0KJYCiE159cmBrXbdU54aCU0Qf9NEzQ75dsiLA3VRuP9b-rsK_K2ocFeX3zzZUMPuc284vLRukXDGbY9gvg-CUXrVF/s72-c/Demam.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7756258674322070622.post-8731855207795805044</guid><pubDate>Sat, 14 May 2016 01:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-05-13T18:38:41.864-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tips Kesehatan</category><title>JUS AJAIB INI MAMPU MENGHILANGKAN UBAN DAN MENGEMBALIKAN WARNA RAMBUT ANDA</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZYHarals2vkD4T85sfhP8zEccat_SCtSj5hOojOEPnZgzUYsoFl62AHbkfN31IHUKjhPaM2-b48jqDZd5dDXokSK5IplLDZpFyIFIqti1xQyHNIiClY41Mv2O0JebM5kSv0s6lrmdszwK/s1600/wheatgrass.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="172" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZYHarals2vkD4T85sfhP8zEccat_SCtSj5hOojOEPnZgzUYsoFl62AHbkfN31IHUKjhPaM2-b48jqDZd5dDXokSK5IplLDZpFyIFIqti1xQyHNIiClY41Mv2O0JebM5kSv0s6lrmdszwK/s320/wheatgrass.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Uban atau rambut putih yang tumbuh di kepala umumnya terjadi bersamaan dengan usia yang semakin bertambah. Semakin bertambah usia semakin banyak uban yang tumbuh di kepala, karenanya uban terkadang juga disebut sebagai penyakit usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tak berbahaya uban sangatlah dibenci oleh beberapa orang terlebih oleh mereka yang sangatlah mementingkan penampilan. Uban dianggap salah satu penyebab penampilan jadi jelek serta tak enak dilihat mata serta karena itu harus di hilangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cara-cara menyingkirkan uban di kepala, mulai lewat cara menyemir warna rambut menjadi hitam s/d mengkonsumsi obat­obat tertentu. Dalam artikel kesempatan ini kita akan mengulas cara menyingkirkan rambut uban dengan cara alami, yaitu dengan minum jus wheatgrass.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para vegetarian umumnya sangatlah akrab dengan tumbuhan wheatgrass. Wheatgrass atau yang umum juga disebut dengan arti rumput gandum yaitu makanan super yang mengandung sangat banyak nutrisi non hewani yang dibutuhkan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa riset mengatakan bahwa memproses rumput gandum menjadi jus dan diminum setiap hari bisa mencegah serta bahkan menyembuhkan penyakit kanker. Selain itu juga dapat menyingkirkan uban di kepala dengan cara alami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terlebih disebabkan karena kandungan wheatgrass yang sangatlah banyak seperti kalsium, vitamin c, lisin, protein, klorofil, serta beragam jenis asam amino serta enzim yang dibutuhkan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemicu Rambut Beruban&lt;br /&gt;Rambut menjadi putih tak terjadi dengan cara tiba ­tiba, sebenarnya rambut hitam di kepala lah yang berubah warna menjadi putih. Hal itu terjadi karena terjadinya perubahan pigmen rambut yang di kenal dengan arti melanin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa melanin berubah? banyak faktor pemicu, salah satunya karena batang rambut kekurangan konsumsi oksigen atau dapat pula karena faktor emosional yang tidak stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pemicu uban yang lain menurut para ilmuwan yaitu bila terjadi gangguan pada kelenjar tiroid yang mengakibatkan batang rambut kekurangann sebagian vitamin penting seperti B5, B6 serta B12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah Menyingkirkan Uban Di Kepala&lt;br /&gt;Salah satu langkah mengatasi serta menyingkirkan uban di kepala yaitu dengan mengkonsumsi jus wheatgrass setiap hari. Jus itu bukan sekedar akan meregenerasi sel­ sel pada kulit kepala serta rambut namun akan membantu membersihkan darah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Di bawah ini langkah membuat jus wheatgrass, pertama ­tama siapkan bahan­bahan di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Air&lt;br /&gt;-Lemon yang sudah diperas&lt;br /&gt;-30 ml jus wheatgrass&lt;br /&gt;-1 sendok teh madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dapat pula menambahkannya dengan buah yang anda sukai untuk menambah rasanya. Semua bahan diatas lalu diblender hingga halus. Lalu minumlah ramuan wheatgrass diatas sebanyak 2 kali setiap hari untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengkonsumsi jus wheatgrass diatas anda juga perlu memperhatikan nutrisi tubuh supaya jangan sampai kekurangan. Begitupun dengan istirahat yang cukup untuk menghindari stres, karena nutrisi yang kurang serta stres yaitu pemicu utama terjadinya uban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian langkah mudah menyingkirkan uban dengan cara alami menggunakan jus wheatgrass, mudah-mudahan bermanfaat.(&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Sumber :www.tribunnewz.xyz/2015/12/belum-banyak-orang-tahu-jus-ajaib-ini.html&lt;/span&gt;)&lt;/div&gt;
</description><link>http://na-ra.blogspot.com/2016/05/jus-ajaib-ini-mampu-menghilangkan-uban.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZYHarals2vkD4T85sfhP8zEccat_SCtSj5hOojOEPnZgzUYsoFl62AHbkfN31IHUKjhPaM2-b48jqDZd5dDXokSK5IplLDZpFyIFIqti1xQyHNIiClY41Mv2O0JebM5kSv0s6lrmdszwK/s72-c/wheatgrass.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>	anayaadeliashafira@yahoo.co.id (Nabila Rahma)</author></item></channel></rss>