<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>nothing is impossible...reach your dream!</title><description>Tak ada kata "luar biasa" dalam kegampangan - 
Tak ada kata "sulit" untuk  sebuah kesuksesan.
Orang yang memberi yang terbaik akan mendapatkan hasil yang terbaik. keep goin'...</description><managingEditor>noreply@blogger.com (benni surbakti)</managingEditor><pubDate>Wed, 28 Aug 2024 12:29:35 +0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">110</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://belajargagal.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:summary>Tak ada kata "luar biasa" dalam kegampangan - Tak ada kata "sulit" untuk sebuah kesuksesan. Orang yang memberi yang terbaik akan mendapatkan hasil yang terbaik. keep goin'...</itunes:summary><itunes:subtitle>Tak ada kata "luar biasa" dalam kegampangan - Tak ada kata "sulit" untuk sebuah kesuksesan. Orang yang memberi yang terbaik akan mendapatkan hasil yang terbaik. keep goin'...</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Menentukan Prioritas</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/11/menentukan-prioritas.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Mon, 19 Nov 2007 17:59:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-8940405059488180347</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada suatu hari, seorang penjaga mercusuar dipercayakan segalon minyak untuk keperluan selama seminggu. Minyak ini ditujukan untuk menjaga supaya lampu mercusuar tetap menyala dan kapal2 yang lewat tidak terhepas karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada esok harinya, lewat seorang nenek tua yg memohon minta sedikit persediaan minyak si penjaga ini untuk memenuhi kebutuhan memasaknya hari itu. Si penjaga ini memberikan sedikit minyak itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Esok malamnya, ada seorang anak kecil yg menangis karena lampu penuntun jalannya mati kehabisan minyak. Si penjaga ini melihat hal tersebut dengan ibaakhirnya memberikan sedikit minyak untuk membuat anak kecil ini bisa pulang dengan selamat. dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati akhir minggu itu, si penjaga juga melihat ada orang yg membutuhkan minyak untuk keperluannya. Karena si penjaga ini menganggap "Apa salahnya sih menolong orang?", maka setiap kali ada yg meminta tolong pasti ia bantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari sebelum akhir minggu itu, malam harinya si penjaga melihat ada kapal yg melintas dan membutuhkan tuntunan dari mercusuar. Ia segera bersiap menyalakan lampunya dan mengarahkan kapal tersebut. Namun ketika ia hendak menyalakan lampu itu, ia mendapati persediaan minyaknya telah habisterjadi tabrakan kapal dengan karang. Beberapa orang tewas dalam kejadian itu. dan pada malam itu juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini,banyak hal yang terlihat baik dan perlu untuk kita kerjakan. Tapi pada dasarnya, hanya ada beberapa hal utama yg TUHAN ingin untuk kita lakukan supaya kita memenuhi rencana-NYA dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRIORITAS adalah memikirkan segala sesuatu berdasarkan urutan kepentingan dan melakukan segala sesuatu berdasar urutan kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ahli Management Waktu</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/10/ahli-management-waktu.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Tue, 16 Oct 2007 00:15:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-5289246680350533520</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara didepan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata, "Baiklah, sekarang waktunya kuis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran satu galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya diatas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?" Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia berkata, " Benarkah? Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah2 batu-batu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, "Apakah toples ini sudah penuh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum", salah satu dari siswanya menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus!" jawabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum!" serentak para siswanya menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi dia berkata, "Bagus!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya, "Apakah maksud dari ilustrasi ini?" Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa : Kalau kamu tidak meletakkan batu besar itu sebagai yg pertama, kamu tidak akan pernah bisa memasukkannya ke dalam toples sama sekali. Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, pendidikanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Hobbymu. Waktu untuk dirimu sendiri. Kesehatanmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar ini sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk melakukannya. "Jika kamu mendahulukan hal-hal kecil (kerikil dan pasir)dalam waktumu maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal kecil, kamu tidak akan punya waktu berharga yg kamu butuhkan untuk melakukan hal-hal besar dan penting (batu-batu besar) dalam hidupmu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Indah pada Waktu-Nya</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/09/indah-pada-waktu-nya.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Thu, 13 Sep 2007 02:29:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-5172251775893880034</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Apa yang sedang kamu alami sekarang !? Sukacita, dukacita, kesengsaraan, patah hati, dsb. Apa kamu pernah mengalami hal-hal tersebut ? Sudah tentu pasti, bukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini tak selalu pahit, pasti ada manisnya koq. Engkau tak selalu mendapatkan warna hitam, pasti suatu saat nanti akan mendapat warna biru, putih, ato pink. Yang penting bagaimana hatimu menyikapinya. Tuhan sesungguhnya melihat sikap kita. Bagaimana kita menyikapi semua keadaan ini. Ingat, sikap itu adalah kuas cat dari pikiran. Warna apa yang akan kita berikan dalam menyikapi suatu pencobaan!? Hitam yang berarti kebencian atau biru yang berarti pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Yang berperan penting dalam semua tindakan kita ini adalah hati. Bagaimana kita menerimanya, juga bagaimana kita melampiaskannya. Guys.... bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki sekarang. Di dunia ini, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita suka. Oleh sebab itu, sukailah apa pun yang kita dapatkan. Kualitas hati tertinggi adalah untuk selalu mengucap syukur kepada-Nya. Jika kau tak memperoleh apa yang kau suka atau yang terjadi itu di luar kehendakmu, renungkanlah! Pasti di balik itu semua ada rencana baik Tuhan yang lebih sesuai denganmu. Karna Tuhan tahu betul bagaimana kepribadianmu. Ia mengenal hatimu. Dan Ia tahu rancangan apa yang terbaik bagimu. Kita hanya melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat jauh ke dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hidup ini penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang terbaik dari Tuhan itu sudah ada &amp; dekat pada diri kita, hanya saja kita yang tak pernah menyadarinya. Seperti ikan yang selalu mencari-cari dimanakah air itu, padahal sebenarnya ia sudah berada dan hidup di dalam air itu. Seperti itu juga-lah manusia. Jadi, jangan khawatir! Bunga Bakung yang tumbuh di lembah saja, diberi keindahan oleh Tuhan, bahkan Raja Salomo pun yang di dalam kemegahannya tak pernah mempunyai baju seindah warna bunga Bakung itu. So, apa yang kamu takutkan s’karang!? Hiduplah di dalam Pengharapan &amp;amp; Tuhan pasti akan mengabulkannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By : Inggou&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Keberanian, Motivasi dan Hasrat</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/08/keberanian-motivasi-dan-hasrat.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Tue, 28 Aug 2007 13:55:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-7958895750402945524</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Aku ingin kuliah di Amerika," tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya," tutur sang guru. "Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada. Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maukah Anda mengirimkan namaku?" pintanya untuk didaftarkan sebagai penerima beasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya," ujar sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk diterima itu tipis, mungkin nihil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat dari asosiasi beasiswa itu. "Inilah saat yang kejam. Penolakan," pikir sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri," tutur sang guru menutup kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship, dan dimuat di buku "Chicken Soup for the College Soul", yang edisi Indonesianya telah diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia terpilih diantara lebih dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan ini yang membuatnya istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya tekad. Tekad untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy Lasorda, "Perbedaan antara yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda memilikinya? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Anak Anjing</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/08/anak-anjing.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Thu, 23 Aug 2007 10:15:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-6895783740416515977</guid><description>&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seorang petani mempunyai beberapa anak anjing yang akan di jualnya. Dia menulisi papan untuk mengiklankan anak-anak anjing tersebut, dan memakukannya pada tiang di pinggir halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia sedang dalam perjalanan untuk memasangnya, dia merasakan tarikan pada bajunya. Dia memandang ke bawah dan bertemu mata dengan seorang anak laki-laki kecil. " Tuan," anak itu berkata, "Saya ingin membeli salah satu anak anjing anda."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;" class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Yah," kata si petani, sambil mengusap keringat di lehernya, "Anak-anak anjing ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu tertunduk sejenak, kemudian merogoh ke dalam saku bajunya, Ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada si petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya punya tiga puluh sembilan sen. Apakah ini cukup untuk membelinya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu," kata si petani yang kemudian bersiul " Dolly, kemari!" panggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dolly keluar dari rumah anjingnya dan berlari turun diikuti oleh anak-anaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar, matanya bersinar-sinar. Sementara anjing-anjing tersebut berlarian menuju pagar, perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yg bergerak di rumah anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan keluarlah seekor anak anjing, lebih kecil dari yang lain. Ia berlari menuruni lereng dan terpeleset. Kemudian dengan terpincang-pincang berlari, berusaha menyusul yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau yang itu," kata si anak, menunjuk pada yg anak anjing kecil itu. Sang petani berjongkok disampingnya dan berkata," Nak, kau tidak akan mau anak anjing yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak anjing lainnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu melangkah menjauh dari pagar, meraih ke bawah, menggulung celana di salah satu kakinya, memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yg di buat khusus untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memandang sang petani, dan berkata, "Anda lihat, tuan, saya juga tidak bisa berlari, dan anak anjing itu memerlukan seseorang yang memahaminya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia penuh dengan orang-orang yang memerlukan seseorang lain yang mau memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengukir Sejarah</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/08/mengukir-sejarah.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Fri, 17 Aug 2007 15:08:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-8983621740119541095</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;"The difference between a successful person and others is in a lack of will"&lt;br /&gt;~ Vince Lombardi, 1913-1970, American Football - Coach ~&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan manusia cukup puas hanya dengan lahir - hidup - dan lalu meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya yang tertinggal hanya 3 baris di batu nisannya : Si X, lahir tanggal sekian, meninggal tanggal sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inginkah Anda menjalani hidup apa adanya seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seperti apa Anda mengukir sejarah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 3 hal yang bisa membedakan Benni dengan kebanyakan orang dalam mengukir sejarah, yaitu Kemauan, Keilmuan dan Kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;1. Kemauan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemauan menjadi kata kunci yang paling penting dalam menentukan sejarah hidup Anda.&lt;br /&gt;Anda mau menjadi apa? Seperti apa? dan di mana? Tentunya hanya Anda yang paling mengetahuinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah untuk mencatat semuanya. Baik itu melalui memori, diary, atau melalui selembar kertas sekali pun! Anda pasti punya kemauan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah katakan Anda tidak punya kemauan. Hidup itu terlalu pendek. Kalau&lt;br /&gt;kita sudah mati, kita tidak bisa punya kemauan kecuali udah mati kita jadi ZOMBIE! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;2. Keilmuan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Percaya, segala sesuatu itu pasti ada ilmunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda punya kemauan dan memiliki ilmunya, maka segala usaha akan tercapai dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya Anda harus mau belajar dan belajar. Anda bisa belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, mengenal, memahami, dan mengamalkan sesuatu hal yang bermanfaat bagi kehidupan Anda, dan mungkin juga untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu lagi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;3. Kesempatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika kemauan ada, keilmuan ada, maka tinggal kesempatanlah yang memutuskan apakah Anda bisa mengukir sejarah dengan baik atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan ini bisa datang dari mana saja, tergantung kecekatan Anda dalam memanfaatkan setiap peluang yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, seringkali kesempatan itu hadir, tapi kita tidak mampu memanfaatkannya dengan benar, karena keilmuannya kurang, meski keinginan kita itu sebenarnya sudah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ini terjadi, tidak jarang orang menyesal dan kadang menjadi berfikir bahwa nasib selalu tidak berpihak padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak demikian! Dia hanya tidak tahu bagaimana cara menyatukan 3K! Yaitu kemauan, keilmuan dan kesempatan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang Anda tahu, apa yang harus dilakukan untuk bisa mengukir sejarah dengan baik dalam hidup Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padukan antara kemauan, keilmuan dan kesempatan. Jika kemauan sudah ada, keilmuan sudah ada, maka kesempatan itu sebenarnya bisa dicari dan diupayakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan percaya... ketika ketiga unsur ini berpadu dalam diri Anda, maka sejarah kebesaran tentang Anda telah dimulai... &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Badai Pasti Berlalu</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/07/badai-pasti-berlalu.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Tue, 31 Jul 2007 18:10:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-2363109968261226223</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Baik…, saya akan bantu. Tagihan ini saya tahan dulu sampai ada informasi lagi. Tapi, kira-kira kapan bisa lunas? Bisa dilunasi dalam 2 minggu?” Tanya pemilik distributor bahan bangunan langganan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, pertanyaan yang sangat sulit dijawab untuk saat itu. “Belum berani janji sekarang pak, tapi 2 minggu lagi saya akan kasih kabar.” Rumitnya, saya sudah nggak punya uang sepeserpun, di kantong saja tinggal beberapa puluh ribu rupiah. Sama sekali nggak terpikir darimana bisa dapat uang untuk melunasi hutang-hutang termasuk ke beberapa supplier lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Habislah, kali ini bener2 bangkrut!” pikir saya. Setelah itu saya segera pulang dengan membawa beban sebesar buah kelapa yang nempel di dada. Kejadian ini berawal dari proyek konstruksi rumah tinggal yang saya bangun beberapa waktu yang lalu. Proyek tersebut milik sebuah developer perumahan di pinggir Jakarta. Rumahnya sudah terbangun tapi ternyata developer tersebut mismanagement dan tidak mampu membayar kewajibannya kepada para kontraktor sesuai perjanjian. Dan…, kontraktor nggak mungkin menarik kembali material yang sudah jadi rumah, kalau dibongkar ya cuma dapat puing2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup selama beberapa bulan berikutnya seperti buronan dan menghindar dari hutang benar-benar sulit. Orang-orang yang bangkrut dan dikejar hutang biasanya pernah mengalami sindrom seperti ini:&lt;br /&gt;• Dunia menjadi gelap, tidak peduli pagi atau siang.&lt;br /&gt;• Setiap kali menarik nafas rasanya berat sekali, mirip judul komik “Bernafas Dalam-&lt;br /&gt;-Lumpur.”&lt;br /&gt;• Tidur tidak nyenyak, sering mimpi buruk dan terbangun di pagi buta.&lt;br /&gt;• Sepertinya semua teman dan saudara menghindar, takut dihutangi, dst&lt;br /&gt;Persis itulah yang saya alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu malam, istri saya berkata “Badai pasti berlalu.” Saya termenung sebentar dan mulai berpikir bahwa memang nggak ada badai yang berlangsung sepanjang tahun. Setelah itu saya coba berpikir kemungkinan terburuk apa yang harus dihadapi? Bisa jadi masuk penjara. Tentunya saya akan mengalami situasi sulit dan keras, misalnya dikerjain sesama tahanan. Tapi kalau dipikir-pikir di penjara mungkin malah bisa punya waktu untuk membaca atau berlatih menulis dan juga mempelajari beberapa hal misalnya meditasi yang selama ini belum sempat dilakukan. Mungkin akan mendapat banyak teman-teman baru dari lingkungan penjara. Mungkin… ini, mungkin… itu. Setelah pikiran melayang kemana-mana hingga lelah, tertidurlah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangun tidur keesokan harinya, saya menjadi lebih tenang dan perlahan-lahan otak mulai berpikir lebih jernih. Seperti mendapat vitamin penambah energi, saya menjadi siap menghadapi apapun yang akan terjadi, toh kemungkinan terburuk sudah saya bayangkan. Badai pasti berlalu dan saya harus siap menyambut hari yang baru. Lewat beberapa hari kemudian saya mulai bisa melihat beberapa peluang pekerjaan sambilan dan mulai timbul semangat merencanakan strategi melunasi hutang. Memang tidak mudah dan penuh perjuangan berat, tapi singkatnya setelah setahun lebih baru saya berhasil melunasi semua hutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sedang menghadapi masalah berat, otak cenderung terbebani hal-hal negatif sehingga sulit sekali berpikir jernih. Maka otomatis peluang tidak akan terlihat, walaupun lewat di depan mata. Beberapa hal yang penting:&lt;br /&gt;• Jangan ambil keputusan penting dalam situasi kalut, lebih baik tunda.&lt;br /&gt;• Pikirkan kemungkinan terburuk, siapkan mental untuk menghadapi kemungkinan tersebut.&lt;br /&gt;• Setelah tenang dan pikiran lebih jernih, bangun semangat positif untuk mulai bangkit.&lt;br /&gt;• Rencanakan strategi baru, karena tidak ada orang lain yang bisa menolong kecuali diri sendiri.&lt;br /&gt;• Bantu dengan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai Pasti Berlalu…, Pasti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman K&lt;br /&gt;Director of SemutApi Colony&lt;br /&gt;www.semutapi.com &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cangkir yang Cantik</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/07/cangkir-yang-cantik.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Tue, 17 Jul 2007 00:39:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-954455759626982008</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik.&lt;br /&gt;"Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang.&lt;br /&gt;Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan&lt;br /&gt;penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti inilah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan&lt;br /&gt;kemuliaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Freddysetiawan.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>4 Alasan Untuk Sukses</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/07/4-alasan-untuk-sukses.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Sat, 14 Jul 2007 02:24:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-3495647786222830050</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Empat alasan seseorang menjadi sukses yang akan disampaikan berikut ini adalah versi Edward D'Bono. Beliau adalah seseorang yang memfokuskan studinya pada bidang psikologi kreativitas. Salah satu buku hasil karya beliau yang terkenal adalah "Lateral Thinking".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam buku tersebut, beliau bercerita tentang tak tik. Dari hasil mencari beberapa kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang sukses, beliau menemukan empat alasan yang mendorong seseorang menjadi sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Pertama adalah "luck" (keberuntungan).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa sukses terjadi karena kebetulan. Menurut Edward D'Bono, memang ada orang sukses karena mendapatkan keberuntungan. Misalnya, tiba-tiba mendapat lotre senilai USD 1 juta (sekitar Rp 8,5 miliar) atau menikah dengan orang yang sangat kaya. Bisa juga tiba-tiba bisnis yang sedang digeluti mendapatkan order dalam jumlah besar. Tiga contoh itu adalah kesuksesan karena kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Kedua adalah "very talented" (sangat berbakat).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Seseorang menjadi sukses karena dia memang mempunyai kapabilitas yang luar biasa di segala sisi. Salah satu contoh konkritnya adalah Mozart. Dalam usia empat tahun dia sudah mampu bermain piano dengan permainan yang luar biasa bagus. Mozart ini adalah salah satu contoh orang yang "very talented". Contoh lain adalah Richard Claiderman,&lt;br /&gt;seorang pianis moderen yang juga sangat berbakat di bidangnya. Di bidang olah raga salah satu contohnya adalah Tiger Wood, seorang pemain golf yang very talented.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Ketiga adalah "you are on a growing business sector".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Anda sukses karena melakukan bisnis di sektor yang sedang tumbuh pesat. Contohnya, orang-orang yang melakukan bisnis komputer di tahun 1985-an kebanyakan relatif berhasil. Orang yang berbisnis internet juga banyak yang mendapatkan sukses.&lt;br /&gt;Jika Anda melakukan bisnis di sektor yang sedang tumbuh, kemungkinan untuk menjadi sukses akan lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Keempat adalah "you are little bit mad".&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Anda harus sedikit gila kalau ingin meraih sukses. Sedikit gila memang tidak selalu menghasilkan hal negatif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Eternal&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Belajar Dari Kesalahan Orang Lain</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/07/belajar-dari-kesalahan-orang-lain.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Mon, 9 Jul 2007 09:25:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-5265474482110756245</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Salah satu premis buku-buku yang saya tulis adalah bagaimana mempermudah hidup seseorang hanya dengan membaca. Buku-buku how-to, bisnis, dan motivasi yang telah saya terbitkan, semua mempunyai premis yang tidak mengenal batas-batas budaya dan geografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mengapa membaca? Karena, dengan membaca tulisan-tulisan yang bermuara dari pengalaman pribadi penulisnya, kita bisa mempelajari kesalahan-kesalahan dan kegagalan-kegagalan mereka sehingga kita tidak perlu mengulanginya. Jelasnya, dengan membaca kita diberi kesempatan untuk test drive dengan simulator secara cuma-cuma, tanpa perlu mengalami kepahitan hidup seperti yang mereka alami. Cukup dengan menerima informasi dengan hati terbuka dan pikiran yang siap menyerapnya, kita mestinya sudah bisa belajar dari kesalahan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lantas, apakah hanya dengan membaca? Jelas tidak. Setiap saat indera kita bekerja, kita sedang belajar dari Universitas Kehidupan. Saya dan Anda, kita semua, dalam setiap detik mengalami pembelajaran baik secara sadar maupun tidak sadar. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan, adalah materi pembelajaran. Bagaimana kita memulung dan menggunakan hasil pulungan itulah yang menjadi bekal hidup di masa kini dan masa yang akan datang. Istilah memulung dari kehidupan ini saya pinjam dari Bung Andrias Harefa (terima kasih, istilah ini kena sekali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kenal banyak orang yang mengulangi kesalahan-kesalahan diri sendiri di masa lampau. Apalagi kesalahan-kesalahan orang lain. Padahal, jelas-jelas hal-hal tersebut terjadi di depan matanya sendiri. Misalnya, menurut data statistik, seseorang yang mempunyai masa kecil kelabu—seperti seringnya dipukul oleh orangtua—kemungkinan besar ketika mempunyai anak sendiri pun akan menjadi orangtua yang gemar memukul. Seseorang yang mempunyai orangtua yang kawin cerai, kemungkinan besar akan menjadi seseorang yang gemar kawin cerai pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ada kata mutiara yang berkata, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Ini jelas merupakan suatu ‘indoktrinasi’ yang terjadi secara tidak disengaja, namun diperkuat oleh kultur yang mengungkung. Saya sendiri seringkali merasa terkungkung oleh nosi yang salah kaprah ini. Bahkan sampai hari ini, kadang-kadang masih timbul suatu keragu-raguan dalam bertindak hanya karena persepsi saya yang salah atas kehidupan dan di mana saya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali, saya merasa ‘tidak berdaya’ karena masa lalu dan kekhawatiran akan masa yang akan datang, yang sesungguhnya hanyalah berasal dari indoktrinasi masa lalu yang salah. (Istilah indoktrinasi di sini saya gunakan dalam konteks yang sangat relaks, yaitu bagaimana suatu proses penempatan konsep diri yang biasanya ‘salah kaprah’ tertanam sedalam-dalamnya sehingga sulit digeser.) Beberapa tahun lalu, saya sangatlah memandang diri sendiri sebagai seseorang dengan latar belakang keluarga yang tidak begitu sempurna serta tidak punya banyak uang, sehingga saya merasa menjadi ‘diri yang cacat’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, dengan tempaan dan mengindoktrinasi diri saya kembali, saya belajar ulang dari kehidupan dan menghapus segala macam informasi yang membuat pikiran saya menjadi ‘cacat’. Ya, bukan saya yang cacat, namun pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana saya belajar ulang atas buku kehidupan yang sudah separuh jalan ini (dengan asumi usia normal manusia 70 tahun)? Mudah saja. Refleksi seperlunya dan lakukan secara pragmatis. Jangan libatkan perasaan. Kalau dilibatkan pun, usahakan seminimal mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap solusi pasti ada pemecahannya yang berasal dari pemikiran jernih saat itu juga. Jelas, pemecahan ini bukan berasal dari pemikiran njelimet tidak karu-karuan. Apalagi kalau dibumbui segala macam nasihat orang lain—yang mungkin pengalaman hidupnya getir dan pahit—sehingga saran-saran mereka malah mengungkung hasil akhir dan bukan memberikan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu diperlukan latihan memenggal-menggal permasalahan dan mengkotak-kotakkannya dalam ukuran yang kecil, sehingga bisa dicerna dengan mudah. Pilah-pilahkan masalah besar menjadi beberapa masalah kecil, lantas dengan visualisasi di dalam benak Anda, bayangkan Anda seorang raksasa yang sedang menghantam masalah-masalah kecil tersebut dalam satu kali sapuan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu juga masalah hendaknya dipecahkan. Jika tidak memungkinkan, tulis tindakan lanjutan yang sebenarnya sudah merupakan pemecahan masalah, namun hanya ditunda sampai waktu dan kesempatan yang tepat. Sesudah itu, jangan dipikir-pikirkan lagi sampai waktunya untuk diangkat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Membandingkan masalah kita dengan masalah orang lain yang serupa. Dari pergaulan sehari-hari dan memperhatikan bagaimana anggota keluarga kita menjalankan kehidupan, kita bisa dengan mudah membandingkan suatu situasi yang kita alami dengan bagaimana cara mereka memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya bukanlah untuk mengikuti cara mereka dalam memecahkan masalah. Namun, untuk melihat secara obyektif bagaimana suatu pemecahan masalah membawa dampak jangka panjang. Misalnya, seorang ibu yang suka memukul anaknya. Dalam benaknya sudah tertanam anggapan bahwa itulah cara terbaik dalam mendidik anak yang sedang bermasalah atau sedang nakal-nakalnya. Lantas, ketika si anak itu sudah mempunyai anak sendiri, cara itu pula yang ia gunakan untuk mendidik anaknya. Ini cara yang salah karena ia tidak melihat dampak jangka panjang dari memukul anak ini secara obyektif. Malah, ia mengulangi luka-luka lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, kita mesti dengan jeli melihat bagaimana orang lain bertindak, mengamati dampak dari perbuatan tersebut, dan mengambil sarinya untuk kepentingan kita sendiri, terutama dalam memecahkan masalah. Jika cara pemecahan masalah tersebut kelihatan overacting, seperti si ibu yang gemar memukul tadi, renungkan cara lain yang lebih kena tanpa menggunakan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri pemecahan masalah yang salah pun perlu diidentifikasi. Apa saja ciri-cirinya? Antara lain adalah terlalu berlebihan, terlalu rumit, dan terlalu mementingkan pandangan sendiri tanpa melibatkan persepsi orang lain. Anda pasti bisa tambahkan lagi ciri-ciri lainnya apabila mampu melihat dengan obyektif dan saksama bagaimana orang-orang di sekeliling Anda memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, suatu masalah dipecahkan dengan solusi yang berasal dari nurani, dari pemikiran yang obyektif serta jernih. Jangan memperpanjang dan memperumit masalah. Pilah-pilah masalah besar menjadi masalah-masalah liliput yang bisa diterjang dalam satu kali hempasan. Belajar dari kesalahan orang lain, jadikan itu menjadi bagian kita, namun pilih pemecahan yang terbaik dalam situasi kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup itu simpel saja, kok! Ada banyak simulator ‘gratis’ yang bisa memperkenalkan kita kepada begitu masalah yang belum kita alami. Test drive your life dengan menggunakan kesalahan orang lain sebagai bahan pembelajaran. Dan, itulah rahasia sukses saya dalam menghadapi setiap masalah.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jennie S. Bev adalah entrepreneur, edukator, kontemplator, motivator dan pelaku seni digital (digital arts) berbasis di California Utara. Ia telah menerbitkan lebih dari 50 ebooks, sedang proses editing beberapa buku print, dan sedang proses produksi film pendek bersetting di Paris, Perancis. Ia bisa ditemui online di JennieSBev.com.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Pemuda Cina Kuno</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/07/pemuda-cina-kuno.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Thu, 5 Jul 2007 09:17:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-4482793579198156139</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3000 tahun lalu, kaum terapung dari negeri Cina kuno tinggal di atas rumah-rumah di atas air. Mereka makan malam di udara terbuka.&lt;br /&gt;Setiap keluarga tinggal di atas panggung di sebuah teluk. Ketika seorang anak lelaki sudah tumbuh dewasa, dia akan berdiri di tepi panggungnya dan memanggil. Gadis yang dicintainya akan memanggilnya kembali. Lalu pemuda itu akan membangun sebuah jembatan dari panggungnya menuju panggung si gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keluarga si pemuda menyukai si gadis, mereka akan membantu membangun jembatan itu. kedua rumah mereka akn digabungkan dan kedua keluarga akan menjadi satu.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, seorang pemuda mendengar bisikan dari cakrawala. Bisikan itu datang dari seorang gadis yang tinggal nun jauh di sana. Mereka memanggil dalam kurun waktu yang lama. Mereka memutuskan untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keluarga si pemuda bilang tidak. Gadis itu berasal dari kalangan berbeda dan terlalu jauh. Tapi si pemuda bersikeras. Ia mulai membangun jembatan menuju cakrawala. Ia menggali dalam ke dasar laut untuk membangun fondasi yang kuat.&lt;br /&gt;Keluarganya tidak membantu. Kata mereka, tradisi menikahi tetangga memberikan kekuatan pada komunitas mereka.&lt;br /&gt;Mereka menamakan jembatan si pemuda ”Jembatan Bisikan”. Mereka menyuruhnya berhenti membangunnya. Namun si pemuda tidak peduli. Ia membangun jembatan itu selama delapan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jembatan selesai, ia bertemu dengan gadis yang berbisik dari cakrawala. Mereka pun menikah di atas jembatan istimewa itu.&lt;br /&gt;Tahun berikutnya, badai besar datang menghantam. Badai itu memusnahkan rumah panggung kaum terapung. Namun jembatan bisikan itu tetap tegar!&lt;br /&gt;Dan begitulah pula dengan kita. Benda yang membutuhkan waktu lama untuk membangunnya akan membutuhkan waktu lama pula untuk memusnahkannya.&lt;br /&gt;Melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan itu memang sulit. Tapi setelah ia tuntas, maka tidak bisa lagi dibuyarkan. Untuk memastikan agar tradisi lama tetap bisa mempertahankan kekuatannya, maka ubahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Kunci-kunci Sukses&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda yang ingin sukses dalam bisnis, maka cerita di atas harusnya memberi inspirasi dan semangat. Dalam cerita itu, terkandung kuknci-kunci sukses yang abadi.&lt;br /&gt;Kunci-kunci itu tak terbantahkan. Ia telah berulang kali digunakan oleh semua orang sukses. Tak peduli orang-orang sukses tersebut tadinya miskin, cacat, didiskriminasi, bodoh, mau bunuh diri, atau bagaimana pun. Kunci-kunci itu telah menolong mereka. Kunci-kunci yang sama akan terus menolong siapa saja yang benar-benar ingin sukses. Apa saja kunci-kunci sukses dalam cerita itu? Saya menemukan tiga kunci utama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;1. Tujuan yang jelas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan sang pemuda jelas. Ia harus menghubungkan rumahnya dengan rumah gadis idamannya dengan sebuah jembatan. Sang pemuda tahu, jembatan itu panjang. Maka ia membangun jembatan yang sangat kuat. Karenanya, jembatan itu harus dibangnun dengan fondasi yang sangat dalam ke dasar laut. Perhitungan tepat. Jembatan itu tahan dihantam badai.&lt;br /&gt;Tujuan jelas sangat penting dalam bisnis. Inilah awal semua cerita bisnis. Apakah tujuan anda berbisnis? Apakah uang dan kekayaan melimpah? Atau kedudukan terhormat? Popularitas? Atau pembuktian diri, atau apa?&lt;br /&gt;Buatlah tujuan bisnis anda untuk: Memberi manfaat besar bagi sesama dengan menggunakan kekayaan berlimpah. Setelah menetapkan tujuan, berhati-hatilah pada Pencuri Mimpi, yaitu orang-orang yang berusaha mencuri tujuan anda. Mereka menghalangi anda, lemahkan semangat anda, mereka ungkapkan masalah dan resiko yang akan anda hadapi. Mereka juga meramal kegagalan anda.&lt;br /&gt;Bila anda turuti mereka, pasti anda akan berhenti. Sang Pemuda Cina akan berhenti membangun jembatan ketika ea mendengar kata-kata keluarganya untuk berhenti dan hanya mencari istri dari tetangganya saja. Keluarga sang pemuda telah berusaha menjadi pencuri mimpi. Untung sang pemuda tak mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;2. Berani Mengubah Tradisi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sang pemuda Cina hidup dalam suatu tradisi. Menikah dengan tetangga. Tapi ia tidak mau menerima tradisi itu. Ia bermaksud mengubahnya. Ia menginginkan sesuatu yang tidak biasa dilakukan orang-orang di tempat tinggalnya. Karena itu ia jadi orang luar biasa. Meski untuk itu ia harus membayar harganya. Tidak didukung keluarga dalam kerja besarnya. Dalam diri setiap manusia, ada hambatan mental. Untuk mengatasinya anda harus fokus pada tujuan. Cara praktis, anda teriakkan tujuan anda berulang kali. Cara kedua, ingatlah bila anda menyerah anda harus memulai berjuang dari awal. Cara ketiga, ingatlah bahwa semua hal buruk itu pasti berlalu. Cara keempat, berkumpullah dengan orang-orang yang sudah sukses mengatasi hambatan mental dalam dirinya. Cara kelima, bacalah kisah-kisah hidup orang-orang sukses. Cara keenam, lihat sekeliling anda. Cari orang gagal, perhatikan hidup orang yang menderita. Jika anda tidak mau seperti mereka, anda harus berbuat yang berbeda dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;3. Kesabaran Tiada Akhir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sang pemuda Cina sukses. Kesuksesan yang ia raih karena ia BERSABAR TIADA AKHIR. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cepat Sabar</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/07/cepat-sabar.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Sun, 1 Jul 2007 01:17:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-6409490783371361313</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Entah karena menganggap saya sebagai orang yang kurang sabar, kurang optimis, atau kurang gigih, seorang kawan mengirimkan surat elektronik berisi cerita inspiratif yang tak jelas asal usulnya. Nama penulisnya pun tak tercantum. Dan karena tidak bersifat rahasia, tidak membahayakan orang, dan tidak mengandung fitnah, maka saya kutip dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kisah Tiongkok dikisahkan, ada seorang pemuda yang hendak belajar kungfu. Datanglah dia pada sebuah perguruan kungfu. Dia menghadap gurunya dan berkata, "Guru, ajarilah saya kungfu!"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sang guru menerima dia menjadi murid, namun keesokan harinya sang guru menugaskan dia menjadi seorang juru masak perguruan. Sambil menyerahkan sebuah cerobong kecil yang terbuat dari besi kasar beliau berkata, "Tugasmu menjadi juru masak dan setiap engkau meniup api dengan cerobong besi ini, tekan dan remas dengan kuat cerobong ini. Aku akan mengajarkan kungfu jika cerobong ini sudah halus dan bayanganku terlihat jelas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun berlalu. Sang murid mulai tak sabar terus-terusan menjadi juru masak. Setiap tahun dia menanyakan kapan dia belajar kungfu, namun sang guru tetap mengatakan sampai cerobong besi itu halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya dia menunjukkan cerobong besi yang sudah halus itu pada gurunya. Sang guru tersenyum dan berkata, "Sekaranglah saatnya. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu yang penting, tetapi carikan dulu aku bambu yang paling keras di hutan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berangkatlah sang murid ke hutan. Ia meremas setiap bambu yang ditemuinya di hutan itu. Herannya tak satu pun dari bambu-bambu itu yang didapatkannya cukup keras. Sampai sore hari pun dia tak menemukan bambu yang keras di hutan itu. Akhirnya sang murid itu pulang dengan tangan hampa. Dengan kelelahan dia berkata pada gurunya, "Guru, maafkan saya. Saya sudah mencari kemana-mana, tetapi ternyata tidak ada bambu yang keras di hutan. Besok saya akan pergi ke hutan lain untuk mencarinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang guru tersenyum sambil berkata, "Muridku, saat ini engkau telah menguasai dua hal. Yang pertama kesabaran dan yang kedua adalah jurus tangan peremuk tulang. Siapa pun lawanmu, engkau bisa meremukkan tulangnya dalam sekejap. Jadi, saat ini engkau sudah menjadi salah satu pesilat tangguh dan sukar dikalahkan. Namun, bukan cuma itu. Engkau juga telah melatih kesabaranmu yang akan membantumu untuk bisa mempelajari ribuan jurus-jurus lainnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan dari kisah di atas, apakah benar dengan kesabaran kita bisa mencapai tujuan kita? Mari kita samakan persepsi kata sabar terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran dalam terminologi masyarakat kita banyak disalahartikan. Masyarakat kita banyak mengartikan sabar sebagai diam, tidak membalas, menerima ataupun pasrah. Pengertian ini sangat berlainan dengan arti dalam bahasa Arab. Sabar dalam bahasa Arab diartikan tetap berusaha, tetap berjuang dan tetap berharap. Sabar adalah kombinasi yang harmonis antara rasa syukur, optimisme dan gigih (persistensi). Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi mempunyai hikmah dan kebaikan. Optimisme adalah kemampuan kita menciptakan harapan. Dan persistensi adalah kesadaran diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Itulah makna sesungguhnya dari kata “sabar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berterima kasih kepada kawan yang mengirimkan cerita di atas dengan cara menuliskan artikel ini untuk dinikmati banyak orang. Sebab cerita sederhana di atas memang mengandung sejumlah pelajaran yang menarik bagi siapa saja yang bersedia belajar. Di tengah masyarakat yang sedang dihalau oleh ajaran-ajaran cepat lulus, cepat kerja, cepat naik jabatan, cepat untung, cepat kaya, cepat langsing, dan serba cepat lainnya, kata “sabar” seolah-olah menjadi kadaluarsa. Orang yang terkesan sabar menjadi aneh dan kurang gaul alias ketinggalan jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kita hidup pada jaman yang bergegas. Informasi, data, dan berita disebar dengan kecepatan yang tak terbayangkan oleh orangtua kita dulu. Pesan pendek alias SMS bertaburan di angkasa untuk kemudian menyusup ke dalam puluhan juta telepon seluler dalam hitungan detik (di Indonesia jumlah ponsel yang aktif tak kurang dari 60-an juta, dan tiap hari lebih dari 80 juta pesan pendek hilir mudik menembus batas-batas geografis yang dulu menjadi kendala). Belum lagi sebaran informasi, data, dan berita yang dikirim lewat jaringan surat-surat elektronik. Semua perangkat teknologi komunikasi dan informasi itu mendukung laju pertumbuhan budaya instan, serba cepat dan bergegas. Sehingga orang-orang yang masih bersedia untuk “sabar” nampak seperti kawan-kawan dinosaurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, dalam satu soal yang amat penting kita ternyata tetap harus bersabar. Dalam soal yang vital ini teknologi tak mampu berbuat banyak. Dan “soal” yang yang penting tersebut adalah soal membentuk watak alias karakter manusia. Berada di wilayah kebudayaan, watak dan karakter—entah itu yang personal maupun komunal—acapkali kita temukan bersitegang dengan teknologi. Sebagaimana setiap kemajuan tarik menarik dengan apa yang disebut tradisi, demikianlah teknologi yang tak sabaran itu bertikai dengan proses pembangunan karakter yang mempersyaratkan kesabaran sebagai salah satu komponen wajibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal tak gampang patah. Apa yang perlahan dibentuk oleh guru kungfu dalam diri pemuda yang mau belajar kepadanya adalah mendahulukan yang utama (first thing first). Yang utama itu adalah watak, karakter, yaitu menjadi orang yang tekun bekerja, gigih berjuang, sabar menanti saatnya. Di atas watak yang demikian ini bisa dibangun kompetensi, keahlian, keterampilan sebagai pendekar peremuk tulang. Keduanya, baik watak maupun kompetensi yang menyertainya, berjalan selaras. Ketekunan bekerja dan kesabaran berproses menjadi jalan menuju lahirnya kompetensi sebagai pendekar peremuk tulang. Sungguh luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya menemukan nasihat kawan saya itu. Ia mungkin mengirimkan cerita tersebut agar saya mau belajar untuk menjadi orang yang ”cepat sabar”, dan bukan orang yang cepat marah. Apakah benar demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Andrias Harefa adalah motivator, trainer, dan penulis 28 buku laris. Ia dapat dihubungi di: aharefa@cbn.net.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cari Peluang Dalam Peluang</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/cari-peluang-dalam-peluang.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Fri, 29 Jun 2007 02:17:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-3167594321189946499</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mungkin Anda bertanya-tanya apa maksud judul di atas. Begini. Dalam setiap peluang, biasanya tersembunyi peluang lain yang juga bisa dimaksimalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis jualan bakso misalnya. Usaha itu bagi banyak orang masih jadi peluang yang cukup menggiurkan. Menurut pengalaman saya ketika melakukan survey kecil, minimal satu mangkuk itu untungnya bisa mencapai di atas 50 persen. Cukup menggiurkan bukan? Nah, yang saya maksud peluang dalam peluang itu adalah bagaimana kita mencoba menggali peluang apa saja yang bisa digarap dari bisnis bakso, selain dari berjualan bakso itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tahukah Anda, banyak pedagang bakso itu tidak membuat baksonya sendiri? Mereka kadang hanya menitipkan daging ke tukang pengolahan daging. Inilah yang saya sebut peluang dalam peluang ini. Mereka yang jeli ternyata bisa mendapat banyak keuntungan dari bisnis pengolahan daging menjadi bakso ini. Itu baru satu peluang. Saya pernah pula menjumpai perajin gerobak bakso. Menurut dia, order dalam seminggu setidaknya minimal 3 gerobak dengan harga satuannya Rp1,5 juta. Misalnya, satu gerobak ambil untung bersih Rp500 ribu, maka seminggu perajin gerobak itu bisa mendapat untung bersih minimal Rp1,5 juta atau Rp6juta sebulan. Lumayan bukan? Saya juga pernah menjumpai pengusaha distributor kelapa muda bagi para pedagang bakso. Menurut penuturannya, dalam sehari, ia bisa mengedrop satu truk kelapa dengan keuntungan bersih di atas Rp1 juta. Yah, hitung saja berarti dalam sebulan dia bisa mendapat untung berapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Ternyata banyak peluang yang saling berkaitan dari satu jenis usaha saja. Dan, saya yakin masih banyak peluang lain yang masih bisa digarap dari usaha bakso tersebut. Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa sebenarnya, dengan kejelian kita, setiap aspek bisnis itu bisa jadi uang. Namun, kadang kita malah ”terjerumus” pada tren semata. Masih teringat ketika beberapa waktu lalu muncul tren usaha jagung manis dengan rasa. Muncul juga tren bisnis burger. Atau, beberapa waktu lampau muncul usaha Factory Outlet (FO) dan pakaian bekas bermerek yang segera menjamur di mana-mana. Semua seolah-olah berlomba-lomba untuk membuka usaha sejenis. Akhirnya, pasar malah jadi jenuh dan penjualan pun menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak melarang siapa saja untuk ikut tren tersebut. Selagi masih menguntungkan, mengapa tidak dicoba? Tapi, dalam artikel ini, saya ingin mencoba menawarkan sudut pandang lain dalam menyikapi tren yang berkembang dalam dunia wirausaha. Untuk bisnis jagung manis misalnya, mengapa tidak mencoba jadi supplier penyedia jagungnya langsung? Atau bisnis burger. Kalau mau, Anda bisa jadi penyedia daging pilihan untuk burger itu atau bisa juga mencoba menjual rotinya. Sedangkan kalau bisnis pakaian bekas bermerek, mengapa tidak mencoba Anda buka usaha cuci khusus pakaian bekas pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda mampu menggali sisi lain dari bisnis-bisnis yang sedang berkembang, bisa jadi Anda justru akan menemukan bisnis baru yang jauh lebih menggiurkan. Ada lagi satu contoh lain. Saat orang ramai-ramai bisnis handphone, ada salah seorang rekan saya yang kemudian malah mendirikan sekolah teknisi handphone. Hasilnya? Sekolahnya tak pernah sepi peminat. Kini sudah puluhan angkatan dengan ratusan siswa yang sudah lulus dari sekolah rekan saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mari kembangkan kreativitas kita. Jangan terjebak tren belaka. Sebab, masih ada peluang di dalam peluang... Selamat berkreasi, temukan, dan segera take action!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agoeng Widyatmoko adalah konsultan independen UKM. Untuk konsultasi dan permintaan pelatihan bisa menghubunginya di email agoeng.w@gmail.com atau 0812 895 0818 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Antara Engkau dan Tuhan</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/antara-engkau-dan-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Wed, 27 Jun 2007 22:48:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-5356720766338054141</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois.&lt;br /&gt;Tetapi, bagaimana pun juga, terimalah mereka apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin&lt;br /&gt;akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk&lt;br /&gt;dibalik perbuatan baik yang kau lakukan itu.&lt;br /&gt;Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan&lt;br /&gt;mempunyai musuh dan juga teman-teman iri hati&lt;br /&gt;atau cemburu. Tetapi, teruskanlah kesuksesanmu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain&lt;br /&gt;mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap&lt;br /&gt;jujur dan terbuka setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya,&lt;br /&gt;dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja.&lt;br /&gt;Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan&lt;br /&gt;dalam hati, orang lain mungkin akan iri kepadamu.&lt;br /&gt;Tetapi, tetaplah berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok&lt;br /&gt;akan dilupakan orang.&lt;br /&gt;Tetapi, teruslah berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu&lt;br /&gt;mungkin tidak pernah cukup.&lt;br /&gt;Tetapi, tetap berikan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarilah bahwa semuanya itu adalah diantara engkau dan Tuhan.&lt;br /&gt;Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik&lt;br /&gt;yang kau lakukan. Tetapi, percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada&lt;br /&gt;orang-orang yang jujur, dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mother Theresa &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sepuluh Pengganjal Kebahagiaan Anda</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/sepuluh-pengganjal-kebahagiaan-anda.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Tue, 26 Jun 2007 00:13:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-7391019203883926539</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tulisan ini disarikan dari "Ten Roadblocks to Happiness and How to Overcome Them". This is not a book to read. This is a philosophy to be lived. For if the principles are not applied, they will be powerless to help bring about change.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF DEMAND&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih, yang sebenarnya membuat Anda marah dan kecewa? Apakah seseorang yang memotong antrian di depan Anda? Pengemudi iseng yang memprovokasi Anda di jalanan? Komputer yang hanya untuk di-boot saja terasa begitu lama? Handphone yang harus berganti setiap bulan dua kali karena terus dicuri? Orang yang mengejek dan mempermainkan Anda? Hujan sepanjang hari? Tagihan bejibun yang membuat Anda marah sampai ke ubun-ubun?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bukan, bukan itu semua. Apa yang membuat Anda marah dan kecewa adalah "tuntutan yang kekanak-kanakan" dan "ekspektasi yang tidak realistis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Anda masih bayi, apa yang perlu Anda lakukan untuk mendapatkan sesuatu, hanyalah berteriak menangis sekencang-kencangnya. Dengan modal itu, Anda mendapatkan popok yang baru, susu ibu atau susu sapi, atau barang sepuluh lima belas kerokan pisang ambon untuk dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ciri Anda saat masih helpless dulu. Waktu itu, perilaku demanding Anda masih bisa diterima. Tapi kini Anda telah dewasa. Anda bertanggung jawab pada hidup Anda, dan Anda tidak bisa lagi berharap bahwa dunia akan melayani Anda sebagaimana yang Anda mau. Jika Anda tetap melakukannya sekarang, itu namanya self-induced misery, alias penderitaan yang Anda buat sendiri. Berhentilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang perlu Anda lakukan sebenarnya cukup mudah. Anda hanya perlu mengganti demand dan ekspektasi, dengan preferensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sih nggak nuntut suamiku bangun lebih pagi, tapi aku lebih prefer kalo dia memang bisa melakukannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan lebih mengerti, dan Anda akan menjadi orang yang penuh pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buanglah Pola Pikir yang Tidak Rasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak akan pernah berbahagia kecuali dunia melayani Saya seperti yang Saya mau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tidak rasional. Apa yang bisa Anda kontrol hanyalah diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikaplah Mau Berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, Anda mungkin tidak ingin berbahagia. Anda bisa melepaskan apapun dari diri Anda; uang, harta, waktu, energi, dan bahkan cinta, kecuali satu; penderitaan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia haruslah dimulai dari kemauan Anda sendiri. Anda mau bahagia atau tidak? Secara sadar Anda jelas mau berbahagia. Tapi cobalah selami kembali alam bawah sadar Anda. Bisa jadi, Anda sendiri yang tidak mau berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Anda merasa marah, itu penderitaan yang tidak membahagiakan. Lepaskanlah penderitaan Anda, bukan lampiaskan. Bertanyalah pada diri sendiri, "Bener nih, mau nuker happy sama kemarahan ini?" Perpanjanglah sumbu Anda supaya Anda bisa membuang penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhentilah Mengasihani Diri Sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak akan menjadi pahlawan hanya dengan menderita. Adalah lebih heroik jika Anda tetap riang gembira di tengah penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhentilah Membesar-besarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu mem-blow-up permasalahan sampai keluar dari proporsinya. Itu akan melumpuhkan Anda. Belajarlah obyektif dan jadikanlah itu sebagai motivasi untuk mengambil tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF REGRET&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti pernah menyesali sesuatu tentu saja. Wong kita ini manusia kok. Itu, sebenarnya versi lain dari kata-kata: "Kita tidak sempurna".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu panik atau terobsesi oleh penyesalan. Jadikanlah ia kekuatan positif. Anggaplah itu sebagai wakeup call, sebuah tepukan yang membangunkan Anda dari tidur. Bukankah Anda macan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah menunda tindakan dengan penyesalan. Bertindaklah segera dan Anda tidak akan menyesal lagi, sebab Anda telah melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tutuplah rapat-rapat lebarnya jarak antara Anda yang ideal dan Anda yang sekarang. Nikmatilah Anda yang sekarang dan lakukan apa yang terbaik menurut Anda. Sebab jika Anda punya waktu untuk menyesal, maka Anda pasti punya waktu untuk melakukan sesuatu tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF GREED&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya telah punya semua yang saya mau, dan Saya telah menjadi apa yang Saya ingin, kecuali..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Itulah Anda barangkali. Tidak SEMUA yang Anda mau akan Anda dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, resources Anda terbatas. Kedua, nafsu Anda adalah sesuatu yang tidak akan pernah terpuaskan. Ia seperti air laut. Makin Anda minum, makin kering rasanya tenggorokan. Desire Anda tidak salah, melewati batasnyalah yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarilah bahwa penyebab kerakusan adalah kesenangan. Bisa memiliki memang menyenangkan. Tapi kesenangan itu sendiri bisa menjadi candu. Kita sering lupa, bahwa kesenangan tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Saat Anda menemukan bahwa kesenangan ternyata tidak sama dengan kebahagiaan, muncullah ketakutan dan kekhawatiran. Takut dan khawatir itu, akan memicu desire Anda lebih besar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Anda akan menemukan lingkaran yang abadi di sini: Karena desire Anda tidak pernah punya ujung, maka fear Anda juga tak akan pernah punya muara. Berhentilah menjadi manusia yang terpenjara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya. Tapi bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus dan terapkanlah prioritas. Mulailah dahulu dengan BEING. Soal HAVING, ya belakangan sajalah. Dan untuk BEING, Anda harus DOING. Just DO your best.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF WORRY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu kenapa lagu "Don't Worry - Be Happy" begitu ngetop? Karena itulah panggilan jiwa Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahamilah perbedaan antara "menderita" dan "khawatir". Menderita adalah pesan tentang masalah, sementara khawatir adalah pesan tentang adanya peluang untuk tumbuh dan berkembang. Jadi waspadalah. Apakah Anda memang menderita, atau sebenarnya Anda hanya khawatir saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda hanya khawatir, ketahuilah bahwa sumbernya adalah ketakutan. Anda takut terhadap sesuatu yang masih gelap, blank, dan tidak tahu apa-apa tentangnya. Atau, Anda takut menghadapi tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa setiap detik dan setiap saat, Anda adalah benih. Benih yang mestinya bisa tumbuh menjadi besar dan hebat. Worry can't change the past, but it can ruin the present. Berpengetahuanlah, dan bertindaklah menyambut tantangan. Seperti seekor macan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF DEFENSIVENESS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah itu normal, termasuk jika itu melukai orang lain. Bukan nyuruh nih, tapi kita semua memang pernah berbuat salah. Anda tahu kan kenapa pensil, whiteboard, dan papan tulis itu ada penghapusnya? Karena Anda adalah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda salah apa yang Anda katakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduhhh.. maaf nih. Maaf, namanya juga manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa yang Anda katakan jika orang lain yang salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar Bodoh!"&lt;br /&gt;"Stupid!"&lt;br /&gt;"Bloon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Anda salah, Anda adalah manusia. Saat orang lain salah, mereka bukan manusia. Ini tidak rasional. Maka, maafkankanlah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF GUILT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guilt adalah rasa tidak nyaman saat Anda mengalami perlawanan menentang kesadaran Anda sendiri. Guilt itu sendiri tidak terlalu berbahaya. Apa yang lebih berbahaya adalah ketiadaan solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feeling guilty itu bagus. Itu sinyal lampu merah yang memperingatkan Anda agar stay on course. Maka saat Anda feeling guilty, dengarkanlah isi hati Anda. Manakah yang Anda pilih, short-term pleasure atau long-term gain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bersalah yang tidak menemukan solusi, akan membuat Anda mengalami ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pikiran yang tidak damai.&lt;br /&gt;2. Rasa tidak percaya dan takut pada orang lain, atau bahkan kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;3. Sesuai angka ini, Anda akan menderita tiga kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saat Anda bertindak tidak bertanggung jawab. Kedua, saat Anda melihat orang lain bertindak dengan penuh tanggung jawab. Ketiga, saat Anda harus menanggung konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut inilah yang perlu Anda lakukan saat Anda merasa tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa responsibility, adalah singkatan dari "response-ability". Kemampuan untuk merespon dengan tepat. Bagaimana caranya agar bisa merespon dengan tepat? Anda bisa menggunakan rumus AAA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Admit. Akui bahwa pilihan tindakan Anda adalah salah.&lt;br /&gt;2. Analyze. Analisis perilaku Anda. Apa alasan Anda memilih yang salah? Apa konsekuensinya? Bagaimana tidak mengulanginya? Bagaimana meluruskan pilihan yang sekarang?&lt;br /&gt;3. Atonement, alias integritas. Integritas adalah menyatunya hati, jiwa, sasaran, tindakan, dan keimanan. Saat semuanya menyatu, Anda memasuki tahap atonement, alias at-one-ment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan AAA, Anda bisa memperbaiki keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF SPITE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda, pasti pernah diprovokasi. Oleh pengemudi lain di jalanan, atau oleh orang lain yang mengejek dan melecehkan. Anda pasti pernah merasa diserang. Di kantor, di rumah, di lapangan sepak bola, di kantin, di mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada perlunya Anda melayani yang begituan. Sebab, dunia Anda bisa rusak seharian. Mengalah sajalah, kecuali jika undang-undang dasar Anda yang terlanggar atau terinjak-injak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita cenderung lupa bahwa kita lebih sering menggunakan hati untuk merasakan, ketimbang otak untuk berpikir. Ini sepertinya benar dan wajar. Tapi berhati-hatilah karena itu tidak logis dan tak rasional. Itu emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda merasa perlu melayani serangan, provokasi, dan ejekan orang lain, maka itu tentu ada sebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, rasa keadilan Anda yang terusik. Saat Anda merasa diserang, Anda merasa perlu membalasnya. Tapi, jika serangan itu dilakukan karena tidak sengaja, tidak dimaksudkan untuk menyerang, kesalahpahaman, atau hanya karena mereka bodoh saja, keadilan macam apa sih yang Anda inginkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, logika Anda yang terdistorsi. Anda berasumsi bahwa jika mereka mengalami sakit seperti yang Anda rasakan, maka mereka akan meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Jikapun mereka akhirnya meminta maaf, itu bukan karena sakit yang Anda buat dengan serangan balasan, tapi karena pikiran dan hati mereka yang sudah lurus kembali. Saling menyakiti tidak akan menyelesaikan masalah. Ia bahkan memperuncingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, secara sadar atau tidak Anda mencoba menghindari tanggung jawab untuk membahagiakan diri sendiri. Sebab jika Anda memang mau bertanggungjawab untuk kebahagiaan Anda sendiri, Anda pasti tidak akan melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika begitu, bagaimana caranya memunculkan rasa tanggung jawab untuk kebahagiaan diri sendiri? Awareness-lah jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa rasa sakit yang Anda derita adalah bukan karena serangan mereka, tapi karena reaksi Anda atas perilaku mereka. Mengapa mereka begitu jahat dan kejam kepada Anda? Karena mereka sedang sakit, dan mereka merasa terancam oleh Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Responlah sikap buruk orang lain dengan kebaikan, maka Anda akan mulia dan terhormat. Cobalah selalu untuk bersikap rendah hati tapi bukan rendah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa sabar itu tidak pasif. Ia tidak datang dengan sendirinya, dan ujug-ujug Anda menjadi sabar. Sabar itu kata kerja dan bukan kata sifat. Maka sabar, adalah disabar-sabarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF ENVY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga mungkin pernah merasa kalah. Waspadalah. Salah-salah, kekalahan bisa membuat Anda menjadi orang yang envious, yaitu orang yang penuh dengki dan tidak bisa menerima kekalahan. Tidak senang jika orang lain senang, dan senang jika orang lain tidak senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap envious, bisa berkembang dalam tiga tahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saat Anda merasakan kekalahan. Di tingkat ini, perasaan kalah itu sebenarnya wajar. Apalagi jika Anda bisa memberi selamat kepada pemenang, dan kemudian menjadikan kekalahan sebagai pelajaran. Jika tidak bisa, maka di sinilah bibit envious Anda akan mulai tersemai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, saat Anda mulai mengembangkan perilaku mensabotase orang lain. Mulainya dari yang kecil-kecil saja, seperti menciptakan isu dan gosip buruk, atau berharap dan "berdoa" untuk kemalangan dan kecelakaan bagi orang lain. Anda mungkin mengira ini tidak berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah. Itu sangat berbahaya. Mengapa? Karena harapan buruk seperti itu adalah karatnya jiwa, persis seperti karatnya besi. Merusak, melubangi, merontokkan, dan menggerogoti semua amal baik. Lebih dari itu, dari mana sih datangnya semua tindak kejahatan? Ya dari doa, harapan, fitnah, dan pikiran negatif yang melenceng seperti itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, seperti sudah disebut barusan, semuanya akan termanifestasi menjadi tindak kejahatan. Anda akan menjadi orang yang dengki, dengan sikap dan tindakan yang keji. Anda telah menghancurkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda mulai mengalami gejala penyakit ini, resepnya sederhana. Bertemanlah dengan mereka yang menang. Kemudian, ubahlah cara berpikir Anda. Gantilah "Saya pengen kayak gitu," menjadi "Bagaimana supaya Saya bisa seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF ANGER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANGER itu cuma satu huruf lebih pendek dari DANGER. Dan "D", adalah nilai minusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan yang bagus bagi Anda supaya tidak marah, adalah memahami bahwa kemarahan akan menyebarluaskan kelemahan. Saat Anda marah, Anda sebenarnya berkata, "Saya takut! Saya Terluka! Saya frustrasi!" Itu, adalah kata lain dari "Saya lemah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarilah bahwa orang, barang, atau situasi, akan cenderung membuat Anda selalu marah. Udah dari sononya begitu. Anda tidak bisa dengan mudah mengontrol sesuatu di luar diri Anda. Dan jika Anda marah, kemarahan Anda tidak akan membuat dunia berjalan sesuai kemauan Anda. Andalah yang harus menyesuaikan diri dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarilah bahwa jika Anda menghadapi orang yang marah, they're not being mean; they're just being people. Like you. Dan seperti biasa, marah itu muncul disebabkan oleh fear. Rasa takut akan kehilangan kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk mengontrol adalah benar. Tapi, ingin mengontrol orang lain itu salah. Yang benar, ingin memberi contoh teladan kepada orang lain. Mengontrol dengan kekuasaan? Salah juga. Apa yang perlu dikontrol hanyalah diri sendiri. Sekali lagi, maafkanlah mereka yang marah. Tidak ada yang salah saat seorang manusia bersikap dan bertindak sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sendiri, kurangilah marah Anda sebab Anda sendirilah yang akan merugi. Saat Anda marah, apa yang telah keluar sebenarnya tidak perlu keluar dan apa yang terlanjur sebenarnya tidak perlu terlanjur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LET GO OF FEAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Anda menghadapi ketakutan, Anda berada di tengah-tengah persimpangan jalan. Satu cabang menuju kepada kepengecutan, dan satu lagi menuju kepada keberanian. Yang satu menuju harapan dan impian, yang satu lagi menuju kekecewaan dan kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak bisa mundur atau tetap diam, melainkan tetap maju dan memilih salah satu cabang. Dengan diam atau mundur, Anda tidak akan tumbuh dan berubah. Malah, Anda menuju ke kepunahan dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manage-lah fear Anda, sebab fear adalah False Evidence Appearing Real. Asli tapi sebenarnya palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tak usahlah Anda bersedih lagi. Bersenang-senang sajalah. Sibuklah. Lakukan yang terbaik. Tak perlu takut dan tak usah khawatir. Lakukanlah segalanya dengan semangat dan keberanian. Itu lebih baik buat Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya tadi sudah Saya bilang, kalo Anda itu macan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Ingin Anda Sukses,&lt;br /&gt;Saya Harus Membuat Anda Sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan Sopa&lt;br /&gt;Trainer E.D.A.N.&lt;br /&gt;021-70096855&lt;br /&gt;ikhwan dot sopa at gmail dot com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Keyakinan dan Ketekunan</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/keyakinan-dan-ketekunan.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Sun, 24 Jun 2007 23:00:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-6538839775812104482</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sahabat, dalam hidup seringkali kita menerima keadaan dan situasi yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apakah itu dalam bidang pekerjaan, dalam bidang usaha maupun dalam kehidupan keluarga. Ketika kita dihadapkan pada situasi krisis ekonomi yang berkepanjangan misalnya, apakah Anda sedih dan putus asa ? Ketika kondisi negeri kita seringkali dirundung berbagai masalah, musibah dan bencana bertubi-tubi, bagaimanakah kita harus menyikapinya ?. Apakah anda merasa pasrah menerima keadaan tanpa melakukan usaha ? Ataukah kebalikannya anda bertekad untuk berjuang keras untuk keluar dari lubang masalah dan maju meraih kesuksesan ?.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sahabat, pagi hari ini saya ingin berbagi sebuah kisah yang sungguh luarbiasa dan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua mengenai kekuatan dari sebuah keyakinan dan ketekunan dalam berusaha.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Adalah Anthony Faison (36) dan Charles Sheperd (40), keduanya merupakan pria Amerika yang tahun 1987 secara keliru dinyatakan bersalah membunuh seorang sopir taksi. Kedua pria itu divonis hanya atas dasar kesaksian seorang saksi, dan saksi itu pun mengaku sedang mabuk pada malam terjadinya pembunuhan itu. Namun pengadilan telah memutuskan kedua pria itu dengan dijatuhi hukuman seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan, bagaimana kalau anda jadi orang seperti ini ? Apa yang akan anda lakukan bila anda tidak bersalah, tapi akibat suatu kekeliruan anda divonis hukuman seumur hidup di penjara ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bersalah !, namun dipenjara bertahun-tahun tanpa tahu kapan akan bebas. Dan apakah bisa bebas di masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasrah dengan keadaan ? Tidak memiliki keyakinan untuk terus berjuang ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anthony Faison dan Charles Sheperd tidak mau menyerah begitu saja. Dia memilii “keyakinan” bahwa dirinya akan bisa bebas dari penjara karena merasa tidak bersalah. Keyakinannya ini mendorong dirinya untuk memiliki semangat melakukan perjuangan. Dengan “keyakinan” dan “ketekunannya” selama 14 tahun, orang yang tidak bersalah ini terus menerus berusaha mengirimkan surat kepada para detektif, para pengacara dan para tokoh politik untuk mengatakan bahwa dirinya tak bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapakah surat yang telah ditulisnya ? Konon mencapai 62.000 surat !. Dan setelah 14 tahun, dari salah satu surat itu, menggerakkan hati seorang detektif yang akhirnya menemukan fakta sebenarnya dari kisah pembunuhan yang salah tangkap itu. Bayangkan !. Selama 14 tahun dan dari 62.000 surat cuma dapat 1 tanggapan ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya keyakinan dan ketekunannya melakukan perjuangan LUARBIASA ini membuahkan hasil juga. Dia divonis bebas dan mendapatkan ganti rugi rugi sebesar US$ 3,3 juta (sekitar Rp 29 miliar lebih) dari Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat semuanya, cobalah menghitung, kalau selama 14 tahun dia mengirim 62.000 surat. Maka tiap hari minimal dia harus menulis atau mengirimkan sekitar 12 atau 13 surat tanpa henti. Terus menerus selama 14 tahun. Artinya setiap 2 jam dia menulis atau mengirimkan satu surat selama dipenjara. Dan pikirkan, bahwa dia telah ditolak dan gagal sebanyak 61.999 kali, namun tidak pernah putus asa. Hanya 1 kali akhirnya diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, hukum alam itu sesungguhnya sederhana saja. Barang siapa mencelupkan jarinya ke air mendidih, mendapatkan jarinya lepuh. Pasukan yang berani berperang dengan gigih, bertempur dengan gagah berani - tanpa takut akan kegagalan- akan meraih kemenangan. Orang yang memiliki keyakinan dan ketekukan bekerja, lebih giat berusaha, tanpa pernah mudah menyerah dalam berusaha - akan memperoleh keberhasilan dan kesuksesan. Itullah “sunnatullah” atau hukum sebab akibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, banyak orang yang mengingkari hukum “sunnatullah” ini. Hanya karena sebagian orang mempercayai bahwa “langit itu adil” dan kemudian merasa percaya pada sang langit saja, berdoa kepada sang langit saja, mengharap kepada sang langit saja, tanpa pernah mau melakukan usaha nyata, kemudian berharap emas jatuh ke pangkuannya begitu saja. Padahal tiada imbalan yang dapat diraih tanpa usaha. Tiada buah yang dapat dipetik tanpa menaburkan benih-benihd an setia merawatnya. Sesungguhnya keyakinan dan ketekunan tak akan pernah jauh dari imbalan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, sebuah KEYAKINAN dapat memberi makna pada setiap usaha yang kita lakukan. Maka imbalan pun pasti akan memenuhi jiwa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEYAKINAN sesungguhnya akan memperkaya batin kita. Sedangkan KETEKUNAN akan mendekatkan pada keberhasilan usaha. Tentu saja keduanya akan menjadi lebih sempurna kalau disertai dengan DOA kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan.&lt;br /&gt;Sahabat, mari kita pelihara keyakinan dan ketekunan dalam diri kita masing-masing. Kita pertahankan keyakinan dan ketekunan dari dalam hati di setiap langkah kehidupan ini. Karena dengan Keyakinan kita - maka akan memperkaya tangan dan batin kita. Keyakinan dan Ketekunan dalam hidup, dalam karier dalam bisnis akan sangat dahsyat pengaruhnya bagi kesuksesan seseorang jauh melampaui modal harta benda, kedudukan, pangkat, atau ilmu sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Motivasi Nurani !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eko Jalu Santoso adalah seorang professional di dunia usaha, Penulis Buku The Art of Life Revolution, diterbitkan Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Anda bukan orang gagal</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/anda-bukan-orang-gagal.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Sat, 23 Jun 2007 09:04:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-4807473979293249262</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Orang yang gagal berjalan dengan ketekunan yang sangat kecil&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada suatu waktu ada seorang muda yang terlibat dalam usaha pencarian minyak dan karena ia kehabisan uang, ia menjual sahamnya kepada partner bisnisnya yang tetap meneruskan usaha mereka. Setelah waktu dan usaha yang banyak, mereka mendapatkan keberuntungan dan mengenai sebuah sumur semburan minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perusahaan itu belakangan menjadi Cities Service, dan kita mengenalnya sekarang sebagai CITGO. Orang muda yang menarik diri, kemudian menjalankan bisnis garmen dan mengalami pengalaman yang lebih buruk lagi dari bisnis perminyakan. Ia menjadi bangkrut. Sekalipun demikian, ia tidak putus asa. Belakangan ia memasuki dunia politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli sejarah menceritakan banyak hal yang baik mengenai Harry S.Truman, orang yang dua kali mengalami kegagalan tetapi selalu bangkit kembali sampai ia menjadi Presiden Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Anda bukanlah seseorang yang gagal sampai Anda berhenti mencoba.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dimanakah Nyali Anda?</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/dimanakah-nyali-anda.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Thu, 21 Jun 2007 01:28:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-5245957047860993462</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seorang teman baru saja mengalami kebangkrutan. Beberapa teman dan kolega, berbisik-bisik bergosip ria, membahas kebangkrutan itu. Hampir semuanya menyalahkan tentang sikap teman kami yang terlalu berani mengambil resiko besar. Sehingga akhirnya jatuh terperoksok dalam kebangkrutan. Serba salah memang. Terkadang didepan mata datang sebuah peluang. Tetapi kita takut mengambilnya. Sehingga peluang itu raib begitu saja. Dan kita malah diejek tidak punya nyali atau keberanian. Sebaliknya, peluang datang, kita sambar, akhirnya bangkrut, lagi-lagi yang disalahkan nyali dan keberanian kita. Disini kita dianggap ceroboh terlalu bernyali. Serba salah bukan ? Andaikan saja nyali atau keberanian, dijual dalam bentuk permen, saya pasti akan selalu sedia didalam kantong, begitu komentar seorang teman saya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sayangnya nyali atau keberanian tidak dijual sepraktis dalam kemasan permen. Keberanian atau nyali lebih mirip dengan stamina. Bayangkan anda sedang dalam sebuah lomba marathon. Anda sudah berlari sekian lama, otot anda sudah nyeri dan pegal-pegal. Nafas anda pendek-pendek. Tubuh sudah mandi keringat. Dan didepan anda 100 meter lagi terlihat pita garis finish. Pada detik itulah, anda yang memutuskan. Menyerah dan menjatuhkan diri anda kebumi. Atau sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, mengerahkan semua otot dan tenaga anda untuk berlari lagi dan merangkul pita finish. Itulah nyali atau keberanian. Mirip extra stamina. Tidak semua orang memilikinya. Konon hanya para juara yang terlatih memiliki dan memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar baiknya nyali atau keberanian bisa dilatih. Tetapi syarat utama harus dipenuhi terlebih dahulu. Yaitu anda harus punya mental juara. Juara bisnis, umumnya punya naluri untuk masuk ke bisnis yang mereka yakin akan menang. Jadi misalnya ada peluang bisnis dengan resiko kecil, tetapi kita tidak memahami bisnis itu, jangan gegabah untuk mencoba masuk kebisnis itu. Pengalaman saya, lebih dari 70% bisnis yang gagal, kebanyakan disebabkan oleh gagal manajemen. Artinya peluangnya bagus, tetapi gagal karena manajemennya salah urus. Kadang latah dan ikut-ikutan menjadi penyebab gagal manajemen dalam kasus ini. Misalnya saja, sekarang sedang tren membuat toko donat, maka kita rame-rame ikut bikin toko donat. Karena kurang pemahaman, biasanya kita terjebak berbuat kesalahan yang terlihat sepele pada awalnya, lalu menumpuk menjadi kesalahan berlapis yang cenderung menjadi awal bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara bisnis kadang, masuk kedalam sebuah bisnis yang beresiko tinggi. Tapi ia punya pengalaman dan pemahaman yang mendalaman. Dalam kasus ini, ia cuma mengambil posisi ”underdog” saja. Ibarat lomba mobil Formula One, ia tidak mendapat start didepan. Biasanya ia punya perhitungan untuk menyalib didalam pertarungan didepan. Itu sebabnya ia terlihat memiliki nyali atau keberanian. Nyali atau keberanian seringkali datang bukan karena nafsu yang sifatnya tiba-tiba melainkan karena perhitungan khusus, yang didapat para juara bisnis dari bertahun-tahun pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda ingin belajar punya nyali atau keberanian dalam bisnis, saya punya sejumlah tips yang saya kumpulkan dari para juara bisnis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Pertama-tama nyali atau keberanian&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, datang dari pengalaman dan kefasihan. Kalau anda sudah berpengalaman dan fasih naik sepeda, maka anda berani naik sepeda dengan gaya lepas tangan. Bayangkan dirumah anda ada tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai 2. Tangganya sedikit curam. Tetapi karena anda sudah sangat sering menggunakan-nya maka anda bisa saja naik dan turun tangga dengan setengah beralari dan cepat sekali. Jadi nyali dan keberanian, sumbernya adalah pengalaman. Yang anda harus lakukan adalah memberdayakan pengalaman anda. Ini langkah awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Kedua, juara bisnis selalu mulai dengan sesuatu yang kecil dan melakukannya perlahan-lahan.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Istilah keren-nya ”starts small and slow”. Juara bisnis hampir semuanya memiliki rute sukses dengan pola ini, kecil dan perlahan-lahan. Pernah saya berdialog dengan seorang pengusaha tentang teori ini. Beliau menuturkan, bahwa dalam bisnis, hitungan yang paling penting adalah ”exit strategy”. Kalau bioskop atau gedung perkantoran, harus ada ”emergency exit”, maka dalam bisnis situasinya juga mirip. Dalam bisnis, ada pameo yang mengatakan ”jangan mudah menyerah !”. Seth Godin, pengarang buku ”The Dip” mengatakan hal itu adalah nasehat yang buruk. Justru menurut Seth Godin, juara bisnis, umumnya sangat paham dan ahli untuk menyerah. Bukan sembarang menyerah, tetapi menyerah pada waktu yang pas. Nah, kalau anda start bisnis dengan modal dan skala kecil, andaikata macet, maka dengan mudah anda bisa ”exit” tanpa harus menderita kerugian besar. Lagi pula sesuatu yang kecil lebih mudah dikendalikan daripada sesuatu yang besar dan kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Nasehat yang terakhir, rada unik. Menurut seorang juara bisnis, setiap bisnis pasti punya resiko.&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;Ada yang besar dan ada yang kecil. Yang besar resikonya membuat kita tidak nyaman dan mengagalkan nyali atau keberanian kita. Tetapi kalau kita mundur, sebenarnya itu resiko juga. Bisa saja peluang itu akhirnya diambil oleh kompetitor kita, yang belakang hari bukan mustahil akan merepotkan kita. Kadang ini perhitungan yang sering diambil oleh para juara bisnis. Seorang pengusaha bercerita bahwa ia sering dikritik serakah dan tanpa perhitungan, karena banyak mengambil bisnis-bisnis resiko tinggi. Ia bercerita bahwa motif sesungguhnya adalah justru ia ingin memagari kompetitornya. Orang lain yang tidak tahu ceritanya, selalu menganggap ia bernyali besar. Padahal ia justru penuh perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kurnia Rafi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis buku yang kontroversial dengan bukunya "Anti-Marketing".&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Bergerak</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/bergerak.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Thu, 21 Jun 2007 00:11:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-2860189816683226319</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, “Change“.&lt;br /&gt;Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. “Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya. Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ulangi pesan Saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.” Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, “Kembalikan, kembalikan!” Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pikir Bapak cuma main-main ............”&lt;br /&gt;“Nanti uangnya toh diambil lagi.”&lt;br /&gt;“Malu-maluin aja.”&lt;br /&gt;“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”&lt;br /&gt;“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu .....”&lt;br /&gt;“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya....”&lt;br /&gt;“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas.....”&lt;br /&gt;“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang.........”&lt;br /&gt;“Saya, kan duduk jauh di belakang...”&lt;br /&gt;dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai ”gila” nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. ”Gila aja....ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit.....”. Lantas, apa yang kamu maksud ’sakit’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orang ’sakit’ (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari.....,” katanya penuh semangat.” Saya pun mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Winners take action…they simply get up and do what has to be done…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bergerak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rhenald Kasali&lt;br /&gt;Source : http://blog.raditya.net &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>JANGAN TAKUT...</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/jangan-takut.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Tue, 19 Jun 2007 14:05:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-2845028157993795408</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Judul diatas sebenarnya adalah apa yang ada di hati saya beberapa hari yang lalu. Jujur saya katakan kepada Anda, saya takut menghadapi apa yang akan terjadi di depan. Tetapi saya kembali berpikir dan merenung, sekalipun saya takut apakah ada hal-hal yang bertambah dengan ketakutan saya? Apakah ada obat untuk menyembuhkannya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lalu dengan tegas saya jawab kembali...TIDAK ADA! Yang bisa mengobati ketakutan saya adalah saya sendiri. Malah dengan ketakutan, semua akan menjadi tidak terkendali dan saya bisa kehilangan potensi yang ada dalam diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang bilang dia takut menghadapi hidup, takut tidak bisa membiayai keluarganya, membiayai pendidikan anak-anaknya, takut tidak sukses, tidak kaya, dan ketakutan-ketakutan yang lain, tapi tidak dibarengi dengan sikap positif sehingga ketakutan itu menguasai pikiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada juga ketakutan orang lain yaitu takut disaingi oleh orang lain. Orang memiliki bisnis baru dan penghasilan yang melimpah, dia takut tersaingi penghasilannya (padahal bisnis mereke berbeda), takut kehilangan 'kekuasaan' karena ada 'pamor' orang lain yang lebih hebat, takut orang lain lebih maju dan ketakutan-ketakutan negatif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, semua ketakutan-ketakutan diatas tidak akan pernah bisa kita hilangkan dalam hidup kita kalau kita tidak memiliki pengharapan.&lt;br /&gt;Seorang salesman yang dikejar dengan target, kalau rasa takut karena tidak bisa menjual itu lebih besar dari potensi dirinya, dia tidak akan bisa mencapai target itu.&lt;br /&gt;Demikian juga seorang bisnisman, omzet perusahaan yang semakin hari semakin menurun akan menyebabkan rasa takut itu muncul begitu saja dan bisa mengakibatkan stress yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin semua hal sesuai dengan yang kita harapkan. Akan ada pasang surut dalam kehidupan. Tetapi jika kita bisa mengalahkan ketakutan kita dan berpikir positif, hidup kita akan lebih 'hebat' di masa-masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pelanggan berkata 'tidak' kepada produk kita hari ini, mungkin besok atau lusa atau 3 minggu kemudian dia akan berkata 'ya'. Nobody knows what are really happen before us...Yang penting adalah sikap hidup kita menjalani hidup ini dan membuat rasa takut itu menjadi sebuah petualangan dalam perjalanan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 3 kalimat yang saya katakan setiap pagi saat saya bangun. Kalimat ini akan direkam di otak saya sehingga setiap ada ketakutan, kata-kata yang saya ucapkan tersebut akan muncul dan memotivasi hidup saya. what's is that? "AKU ADALAH PEMENANG!" - "I'M THE WINNER".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Anda bangun ucapkan kalimat ini, dan rasakan bedanya.&lt;br /&gt;Karena Otak Anda sudah merekam kalimat positif saat pagi hari, kalimat ini akan muncul secara otomatis saat Anda membutuhkannya dan memotivasi hidup Anda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Tapi, jika saat pagi otak Anda sudah merekam kalimat yang negatif, percayalah...hari ini akan menjadi hari yang 'berat' bagi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benni surbakti &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>TOLOOOOOOOONG!</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/toloooooooong.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Mon, 18 Jun 2007 11:47:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-7958631122563558277</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suatu hari, saya kedatangan seorang teman sekampung beserta istrinya. Keduanya cacat fisik yakni tuna rungu. Dengan komunikasi yang 'seadanya dan sebisanya', saya mendapat informasi bahwa mereka berpenghasilan dari menjual bubur ayam di kantin sekolah tempat anak mereka bersekolah. Beberapa kali kunjungan ke rumah, saya tahu, betapa sulit kehidupan yang harus mereka lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas persetujuan suami, kami memutuskan dalam satu tahun ini (dan ternyata berlanjut ke tahun-tahun berikutnya), membantu secara kontinyu sekarung beras 50 kg setiap bulan, selain bisa untuk berjualan bubur, juga untuk makan mereka. Bila persediaan beras menipis, mereka mengirim pesan melalui sms ke HP saya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saat seorang saudara membutuhkan bantuan karena usahanya sedang terkena imbas pesaing, setelah mendapat persetujuan dari suami, kami pun mengucurkan dana membantu. Dan ini bukan untuk yang pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada teman atau kerabat atau karyawan mengalami kesusahan, mereka datang ke kami dan meminta bantuan karena menganggap kami orang baik, mampu, bijak, dan bisa diandalkan untuk mendapatkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Netter yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun teori yang menyatakan, adalah lebih baik tangan berada di atas, banyak membantu, dari pada meminta bantuan. Benar! Tidak salah sedikit pun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sesungguhnya, jujur saja, sebagai manusia normal yang sering menghadapi urusan begini, saat paling mendebarkan adalah pergumulan batin di detik-detik genting harus memutuskan: haruskah saya bantu orang ini? Pantaskan dibantu? Jangan-jangan, dengan bantuan kita malahan akan merusak mental mereka? Jangan sampai niatnya membantu malah mencelakakan orang, pastilah nyeseeeeel deh di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat niat akan memberi bantuan telah diputuskan (setelah dipikirkan dengan seksama dari berbagai sudut), ulurkan tangan dengan perasaan bahagia. Iringi dengan doa, semoga bermanfaat positif untuk semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kotori perbuatan baik yang telah kita lakukan dengan mengeluarkan kata-kata kasar bahkan kemudian diliputi kebencian bila ternyata bantuan yang kita berikan tidak sesuai dengan kenyataan indah yang kita inginkan.&lt;br /&gt;(Istilah yang sering saya pakai, kalau mau bantu orang, tutup mata, tutup telinga, tutup mulut, buka hati!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah tolong menolong antar manusia, ada sebuah kata indah yang perlu kita cermati, yakni: TULUS!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulus adalah pemberi yang bersifat netral karena,&lt;br /&gt;Orang yang tulus tidak pernah menyesal dalam berbuat baik!&lt;br /&gt;Dan perbuatan baik selalu bertujuan untuk mendatangkan kebahagiaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sukses luar biasa!&lt;br /&gt;Lenny Wongso.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KESUKSESAN SETIAP ORANG BERBEDA-BEDA</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/kesuksesan-setiap-orang-berbeda-beda.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Sat, 16 Jun 2007 00:59:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-4585016459943425412</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya sangat yakin akan judul diatas, karena Tuhan sudah menetapkan kesuksesan setiap orang. Mungkin ada orang yang bisa sukses dalam hal yang sama, tetapi kalau dilihat secara detail, pasti ada perbedaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang sukses dengan bisnis rental mobil, bisnis catering, sukses dalam pekerjaan di kantor dengan karir yang semakin menanjak, sukses menjadi internet marketer, sebagai agen insurance, sebagai bos armada becak, bahkan sukses di bisnis penumpukan sampah-sampah untuk di jual ke pabrik dan di daur ulang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pertanyaannya adalah,"Apakah setelah melihat orang-orang sukses di bidangnya masing-masing kita harus mengikuti jejak mereka?"&lt;br /&gt;Beberapa orang pintar dalam buku-buku mereka mengatakan kita harus melihat cara kerja orang sukses dan mengikuti jejak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benak saya, yang harus diikuiti adalah cara mereka untuk sukses, tidak sepenuhnya mengikuti jejak bisnis mereka.&lt;br /&gt;Kesuksesan tidak selalu berhubungan dengan uang dan kepintaran, tetapi 'gairah' seseorang untuk tetap melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang memulai bisnis pasti ingin berhasil dan sukses, tetapi kita juga tidak boleh mengesampingkan bahwa ada kemungkinan juga kita akan gagal.&lt;br /&gt;Saya memiliki prinsip bahwa, setiap pekerjaan yang saya lakukan walaupun itu pekerjaan kecil harus dikerjakan dengan cara-cara profesional sehingga saat menghadapi pekerjaan besar semuanya bisa dilakukan karena sudah terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda sudah mengerjakan yang terbaik dan juga gagal, itu bukan merupakan kegagalan, tetapi itu adalah sukses yang tertunda. Yang penting adalah kita sudah mendapatkan ilmu dari setiap kegagalan yang kita alami. Tidak ada orang yang sukses hanya dalam waktu semalam. Kesuksesan itu membutuhkan proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin mengikuti acara AFI, INDONESIAN IDOL, AMERICA IDOL, MAMAMIA di beberapa stasiun TV di Indonesia. Apakah semua peserta akan menjadi pemenang? Tentu tidak, akan ada yang ter-eliminasi dan harus kembali ke rumah. Ada yang menangis, ada yang mengumpat kepada dewan juri, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sebenarnya mereka telah melakukan yang terbaik yang mereka bisa. Walaupun pada akhirnya mereka mungkin gagal, tetapi setidaknya mereka telah mencoba untuk membuktikan kemampuan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebenarnya juri sudah melihat kemampuan dari setiap peserta yang ikut. Ada peserta hanya modal nekad saja, tanpa ada skill untuk menyanyi. Ada yang bisa nyanyi tapi suaranya pas-pasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kalau ditiilik dari sikap 'fair' juri, kontestan malah harus berterima kasih kepada para juri yang menyarankan mereka untuk memilih jalur lain bukan sebagai penyanyi; tetapi memperdalam apa yang mereka sukai dan telah mereka kerjakan selama ini. Mungkin menjadi mekanik, tukang salon, menjadi model, atau bidang lain yang mereka ahli di bidangnya. Tidak mungkin ribuan peserta yang ikut semuanya harus menjadi penyanyi bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menjadi orang sukses jikalau kita menikmati pekerjaan kita, tahu apa yang kita kerjakan dan kemana tujuan dari pekerjaan kita.&lt;br /&gt;Kita tidak akan bisa sukses jika kita hanya mengikuti jejak orang lain. Malah jika kita selalu terfokus kepada kesuksesan orang lain, kita malah akan kehilangan jati diri kita yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;br /&gt;Gunakan kekuatan Anda untuk meraih setiap impian Anda!&lt;br /&gt;Find your way and get action!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kerjakan yang terbaik untuk setiap apa yang kita lakukan dan sisanya serahkan kepada Tuhan. Sukses saya dan Anda berbeda, jadi ciptakanlah sukses Anda sendiri dengan peluang-peluang yang ada di depan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Success is ours!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;benni surbakti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PELUANG ITU SELALU ADA</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/peluang-itu-selalu-ada.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Fri, 15 Jun 2007 17:56:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-2876165090654602960</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sewaktu saya menonton sebuah acara di stasiun TV yang memperlihatkan cerita seorang ibu yang menghadapi kehidupan, membiayai keluarga dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;Ia setiap pagi sebelum fajar menyingsing telah berada di pasar induk untuk mengambil sisa-sisa bawang yang dibuang oleh pedagang yang sudah tidak memerlukannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ia kemudian memilah-milah 'sampah' bawang tersebut dan bisa mendapatkan 6 kg/hari dari kerjanya itu. Kemudian ia menjualnya kembali kepada pedagang rempah-rempah dan di hargai Rp.3000/kg. Penghasilannya dari kerja tersebut bisa mencapai 25 ribu/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pekerjaan ini menurut sebagian orang sangat 'tidak ekslusive'. Bangun di pagi buta, tersengat panas matahari yang membakar kulitnya dan sudah tentu memutuskan 'urat malu'. Tapi apa yang dia kerjakan adalah suatu tindakan nyata untuk menunjukkan bahwa selalu ada peluang jika kita mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pelajaran yang saya dapatkan dari ibu ini?&lt;br /&gt;Tidak ada pekerjaan yang tidak menghasilkan kalau ada kemauan. Banyak orang memilih-milih pekerjaan yang pada akhirnya mereka tetap tidak bekerja dan tidak menghasilkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu ini telah membuktikan bahwa TANPA MODAL sekali pun, dia bisa menghasilkan uang.&lt;br /&gt;Hidup ini adalah perjuangan dan layak untuk diperjuangkan. Alangkah 'malangnya' orang yang hidup selalu berpangku tangan dan tidak pernah berjuang untuk kehidupannya, apalagi hidupnya selalu pesimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan akan terus berjalan tanpa bisa dihentikan oleh siapapun. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dan apa yang akan kita dapatkan dari kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan sudah memberikan banyak peluang bagi kita untuk dikerjakan.&lt;br /&gt;Apakah Anda sudah mengambil peluang itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benni surbakti &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MENCIPTAKAN KESEMPATAN</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/menciptakan-kesempatan.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Thu, 14 Jun 2007 00:29:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-7659829378942484931</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Delapan puluh persen penduduk di muka bumi ini menunggu kesempatan yang datang dan memanggilnya untuk bergerak. Namun hanya sekitar dua puluh persen yang menciptakan kesempatan untuk dirinya sendiri. Hal ini melampaui batas-batas budaya dan geografis, yang sangat menarik untuk diperhatikan dan diterapkan bagi kita semua. Di Indonesia, yang jumlah penganggurannya mencapai angka 20 persen, sampai kapan kita mesti menunggu kesempatan yang memanggil kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada waktu lagi. Waktu untuk bergerak adalah sekarang juga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dibandingkan dengan di negara-negara maju, seperti AS dan Kanada, mendirikan perusahaan sangatlah ribet dan berbelit-belit, begitu banyak izin yang perlu diambil. Contohnya yang paling sederhana adalah membuka salon potong rambut. Di Indonesia, hampir setiap kota dan desa ditemui banyak sekali salon potong rambut. Izin apa yang diperlukan untuk membuka salon tersebut? Tidak ada sama sekali. Cukup punya gunting dan tempat duduk serta cermin saja. Bahkan di bawah pohon rindang pun bisa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan di AS. Di setiap negara bagiannya ada yang disebut Cosmetology Licensing Bureau (Biro Izin Ilmu Kosmetologi, yang di sini maksudnya adalah “Persalonan” bukan kosmetika.) Biro ini mensyaratkan setiap orang yang hendak membuka salon untuk membawa ijazah dan transkrip kursus pelatihan salon yang biasanya sepanjang 6 bulan sampai 1 tahun. Setelah itu, ia harus mengikuti ujian negara bagian teori dan praktik. Setelah itu barulah bisa mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin untuk membuka salon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan izin salon, barulah bisa mengajukan izin usaha. Prosesnya sendiri memakan waktu satu sampai dua tahun dari sejak pelatihan sampai mendapatkan izin usaha dan siap untuk menerima klien. Setelah salon dibuka, jelas ada isyu-isyu lainnya seperti inspeksi mendadak dari Badan Kesehatan untuk memastikan bahwa alat-alat cukur yang dipakai bersih dan sesuai standar.&lt;br /&gt;Sangat ribet dan berbelit-belit, bukan? Ini baru untuk bisnis ringan yang di Indonesia bisa dilakukan di bawah pohon rindang. Anda bisa bayangkan untuk bisnis-bisnis lainnya yang jauh lebih sophisticated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lingkungan bisnis yang serba tertib seperti ini, saya dan suami membangun beberapa perusahaan yang sekarang sudah mulai memperlihatkan hasil. Sangat berbeda dengan di Indonesia, yang dengan sekejap mata sudah bisa memulai bisnis dengan proses yang sederhana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini pula mengapa banyak perantau asal Indonesia yang “ogah” mendirikan perusahaan sendiri, lebih baik menunggu saja kesempatan untuk mengetuk pintunya. Di Indonesia, juga demikian. Mayoritas lebih baik pasif (alias terus melamar pekerjaan yang tidak tahu prospeknya di kemudian hari) daripada membangun usaha sendiri yang dalam satu atau dua tahun sudah menghasilkan jauh melebihi karyawan baru tahun kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menciptakan kesempatan memang kedengarannya sangatlah riskan, namun sebenarnya ini hanyalah salah satu bentuk survival skill yang dimiliki setiap orang. Mulailah dengan tahap-tahap berikut ini, niscaya Anda bisa menjadi lebih berani dalam melihat kebutuhan yang urgen serta lantas terpacu untuk menciptakan kesempatan bagi diri sendiri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hitunglah jumlah pengeluaran ideal Anda dalam satu bulan. Masukkan semua pengeluaran, seperti: makanan, sewa atau cicilan rumah tinggal, uang sekolah, pakaian, entertainment, donasi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagi pengeluaran tersebut dengan 30 hari (per bulan). Lantas bagi lagi dengan 10 jam kerja. Anda akan mendapatkan jumlah uang yang perlu Anda hasilkan per jamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan per bulan adalah Rp5.000.000,-.&lt;br /&gt;Pengeluaran per hari (rata-rata) adalah Rp5.000.000,- : 30 hari = Rp166.700,-&lt;br /&gt;Penghasilan per jam (asumsi 10 jam kerja) yang diperlukan untuk mencukupi di atas adalah Rp16.700,- untuk asumsi kerja 30 hari per bulan. Jika Anda bekerja 20 atau 25 hari per bulan, gunakan angka yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah dari angka ajaib per jam ini. Camkan di dalam benak bahwa Anda tidak bisa mempertahankan gaya hidup jika tidak menghasilkan sekian tersebut. Jadikan ini patokan Anda dalam memilih jenis bisnis dan menjalankannya dengan antusiasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang menciptakan kesempatan itu sulit? Mulai saja dari angka penghasilan per jam dan jalankan dengan blue print ini. Sukses tidak ditanggung, lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jennie S. Bev adalah penulis buku laris “Rahasia Sukses Terbesar” (seluruh royalti yang diterima penulis akan disumbangkan kepada anak-anak terlantar dan yatim piatu). Ia telah menerbitkan lebih dari 60 buku elektronik dan tercetak, serta lebih dari 900 artikel di Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis, Jerman, dan Singapura. Ia dikenal juga sebagai pengusaha serial serta pengajar retorika di sebuah universitas di AS. Prestasinya bisa dibaca di JennieSBev.com.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SEJUTA KODOK</title><link>http://belajargagal.blogspot.com/2007/06/sejuta-kodok.html</link><author>noreply@blogger.com (benni surbakti)</author><pubDate>Wed, 13 Jun 2007 00:01:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1310875298529230547.post-5405299615426471909</guid><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada suatu sore hari seorang petani pergi ke kota dan masuk ke sebuah restoran dan menemui pemiliknya untuk menawarkan apakah mau menerima pasokan ribuan paha kaki kodok setiap hari. Pemilik restoran itu kaget setengah tak percaya dan bertanya balik, dari mana ia kok bisa mendapatkan paha kodok segitu banyaknya! Petani itu menjawab, "Disamping rumahku ada sebuah kolam yang didalamnya berjubel penuh kodok, wuihhh, pasti ada jutaan. Semalaman mereka itu mengorek, suaranya ribut bukan main, pokoknya terus menerus berbunyi dan suaranya benar-benar membuatku hampir gila"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jadi mereka sepakat dan membuat suatu perjanjian dimana dinyatakan bahwa sang petani itu akan memasok paha kodok ke restoran itu, setiap kali kiriman sebanyak seribu ekor yang akan dipasok dalam beberapa minggu mendatang. Esok pagi harinya, petani itu kembali datang ke restoran itu dengan wajah agak lesu dan tanpa semangat, ia membawa serta dua ekor kodok agak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik restoran bertanya, "Lho, mana katamu seribu kodok itu?" Si petani menjawab, "Ternyata saya salah. yang ada cuma dua ekor ini. Tapi mereka kok benar2 membuat keributan luar biasa ya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lain kali bila mendengar ada orang yang mencela atau menjelek-jelekkan anda, ingat !!, itu barangkali hanya ributnya dua ekor kodok saja. Seringkali suatu permasalahan selalu nampak lebih besar di kegelapan.&lt;br /&gt;Pernahkah suatu malam hari anda terbaring diranjang sedang mengkhawatirkan sebuah masalah yang membuat stress dan nampak seperti bunyi ributnya sejuta kodok? Nah, saat fajar menyingsing dan anda renungkan kembali masalah itu, bisa jadi anda tertawa lega, kok semut kau sebut gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haryo Ardito,&lt;br /&gt;Ketua Harian Asosiasi Manajemen Indonesia – DKI Jakarta&lt;br /&gt;Email: haryo.ardito@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>